Temukan Cerita Inspiratif

Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.

Total Cerita

1144

Genre Romance

230

Genre Folklore

228

Genre Horror

228

Genre Fantasy

230

Genre Teen

228

Reset
ASISTEN DOSEN
Romance
14 Feb 2026

ASISTEN DOSEN

" gimana Key? Mahasiswa udah pada ngumpul semua? " tanya Bu Rahma pada ku yang tengah memegang absensi semua mahasiswa yang mengikuti study tour selama dua minggu di Jogja dan Jawa Tengah.Kebetulan aku dan ke dua teman ku di percaya oleh Bu Rahma, Bu Amy dan Pak Husni untuk mengurusi absensi dan segala keperluan semua mahasiswa yang ikut study tour." masih dua orang yang belum sampe bu. Sama dua temen saya kebetulan juga belum dateng. " sahut ku membalas pertanyaan bu Rahma." nanti kalau Putri dan Haris dateng, tolong kalian bertiga koordinasikan sama Aldy ya untuk urusan tiket sama boarding pass anak – anak. " pinta Pak Husni yang berdiri di dekat ku bersama dengan ke dua dosen ku yang lainnya sembari menyebutkan ke dua teman ku yang ikut menjadi asisten dosen menemani ku kali ini." eh? Aldy siapa pak? " tanya ku bingung. Karena Asisten dosen yang kali ini ikut mengawasi study tour ini hanya kami bertiga, yaitu aku dan ke dua teman ku, Putri dan Haris." Bapak lupa bilang sama kamu, jadi pak Agus selaku tour guide kita gak bisa ikut karena harus ngurus travelnya di sini. Jadi yang ngurusin tour kita kali ini di sana istri sama anak ke duanya. Namanya Aldy, itu. Kalo gak salah dia umuran Hendri sih. " jawab pak Husni sembari menyebutkan nama anak ke tiga beliau yang notabene adalah kakak tingkat ku di kampus. Aku pun menganggukkan kepala ku mengerti." eh iya Key, total kita semua ada berapa? Ibu lupa totalnya. " tanya ibu Amy yang semenjak tadi hanya memperhatikan ku yang heboh sendiri karena mengurusi keperluan mahasiswa sendiri tanpa ada yang membantu." mahasiswanya ada 52 bu, trus dosen 3, asdos 3, sama tour guide 2 orang. Jadi totalnya pas 60 orang bu. " sahut ku setelah mentotal semua yang akan berangkat study tour kali ini." udah di hitung cowok ceweknya buat kamar di Jogja sama di kebun kan Key? " tanya bu Amy kembali yang langsung ku balas dengan anggukan kepala ku." ceweknya ada tiga puluh dua orang bu. Sedangkan cowoknya ada dua puluh orang. Jadi saya, Putri sama Haris ngebagi empat orang satu kamar dan totalnya untuk mahasiswa ada tiga belas kamar buat di Jogja bu. Terus untuk kita semua sama tour guide ada tiga kamar yang kami pesen. " jawab ku setelah melihat semua berkas – berkas yang ada di tangan ku." kamarnya kurang bu? Pak? Buat yang di Jogja? " tanya ku memandang ke tiga dosen ku yang tengah memandang ku lekat." sepertinya cukup aja untuk kita semua. Lagian kan satu kamar buat bapak smaa Haris. Bu Amy sama Bu Rahma trus Bu Listy bisa satu kamar sama Aldy dan kamu sama Putri satu kamar lainnya. " ucap pak Husni menyebutkan nama istri pak Agus yang menemani kami bersama putranya kali ini. Bu Amy dan bu Rahma pun menganggukkan kepala menyetujui ucapan pak Husni barusan.Beruntungnya, aku hanya perlu memikirkan hotel kami semua selama di Jogja saja, karena selama kami berada di Jawa tengah, tempat tinggal kami sementara di sana sudah di atur oleh pak Husni, bu Amy dan juga bu Rahma.*****" gila ya, kalian berdua dari mana sih? Kok bisa mepet banget? Anak – anak yang lain sama dosen udah pada ke ruang tunggu. " semprot ku pada Putri dan Haris yang baru saja tiba di depan ku yang tengah menunggu mereka berdua di depan pintu Bandara." sorry sorry. Tadi kita ngambil pin nama sama tanda pengenal buat kita semua. Trus makanya aku ngebut ke sini. Ini aja mobil langsung di bawa adik ku. " ujar Haris ngos – ngosan di depan ku. Putri pun tak jauh berbeda dari Haris yang ngos – ngosan." ya udah kal... "" Keysha ya? " tiba – tiba saja ada seseorang yang memanggil ku dan membuat ku langsung berbalik tanpa menyelesaikan ucapan ku pada Putri dan Haris yang berada di hadapan ku saat ini." eh iya? " sahut ku kaget." saya Aldy. Tadi Pak Husni minta saya buat ngubungin kamu langsung. " ucap pria itu sembari menyalami ku dan membuat ku balas menyalami dirinya." iya kenapa kak? " tanya ku bingung.Pasalnya, semua sudah menunggu di ruang tunggu dan hanya aku sendiri yang belum masuk untuk boading pass dan semacamnya karena menunggu Putri dan Haris. Apalagi ini kali pertama aku bertemu dengan Aldy. Sehingga aku cukup terkejut karena dia mengetahui nama ku terlebih dahulu." tiket kalian bertiga di tempat saya. Makanya saya cari kalian untuk sekalian Boarding pass. " ucap Aldy dan membuat Putri juga Haris langsung meminta maaf pada Aldy karena membuat aku dan juga Aldy kerepotan karena mereka berdua. Aldy pun tertawa maklum sembari menyerahkan tiket kepada kami bertiga dan mengajak kami semua untuk boarding pass.*****" yah, dapet di belakang. " keluh Putri.Begitu dirinya mendapatkan kursi dan membuat ku melirik kertas yang berada di tangannya untuk mengetahui baris duduknya. Aku pun sedikit bersyukur deret kursi ku berada di tengah sehingga tidak terlalu di belakang seperti Putri. Dan ternyata Haris pun juga berada di deretan belakang bersebelahan dengan Putri." ampun deh, Jodoh banget sampe sampingan gitu. " sindir ku sembari tertawa.Aku sudah terlampau sering menjahili mereka berdua dengan menyindir kelakuan mereka berdua yang terkadang tanpa sadar justru selalu bersama sama dalam setiap kesempatan." mau tukeran gak Key? " tanya Haris khawatir pada ku sembari mengajak ku bertukar tempat duduk yang langsung di setujui oleh Putri." iya, tuker aja sama Haris. Kamu masa duduk sendirian. "" enggak ah. Aku males ganggu orang pacaran. " tolak ku cepat pada mereka berdua. Apalagi aku tahu jika ini kesempatan yang langka untuk mereka berdua bisa liburan berdua sekaligus menjadi asisten dosen." tapi kamu kan sendirian Key. " Putri bersikeras agar aku menerima tawaran Haris untuk bertukar dengannya." tenang saja. Kebetulan saya duduk tepat di samping Keysha. Jadi dia aman sama saya. Jangan khawatir. " ucap Aldy secara tiba – tiba muncul sembari berbicara dan membuat ku menghela nafas lega karena tahu siapa yang duduk di samping ku." tuh, udah ada kak Aldy. Jadi kalian berdua aja. Kapan lagi kan kalian bisa liburan bareng berdua. " ujar ku menambahkan ucapan Aldy dan membuat Haris serta Putri tersenyum malu. Aku pun mengajak mereka bertiga untuk menuju ke ruang tunggu, sembari menyusul yang lain yang sudah menunggu di sana.*****" mereka berdua pacaran? " tanya Aldy pada ku begitu kami berdua sudah hendak take off menuju bandara Achmad Yani Semarang." eh? Siapa kak? " tanya ku balik dengan bingung.Karena semenjak di ruang tunggu dirinya sama sekali tak berbicara sedikit pun. Bahkan saat aku, Putri dan Haris membagikan tanda pengenal untuk semua mahasiswa peserta study tour pun dirinya hanya diam saja." itu. Ke dua teman mu? Putri dan Haris? Bener kan nama mereka? " ucapnya tak yakin dengan nama ke dua teman ku." oh itu. Iya. Udah lama sih sebenernya. Nyaris dua tahunan gitu lah. Kenapa memangnya kak? " sahut ku sembari balas bertanya pada dirinya." enggak. Kirain kalian bertiga temenan biasa aja. Soalnya sampe mereka mau tuker duduk sama kamu. " balasnya." ya gitu. Kami emang bertiga temenan. Tapi mereka terus pacaran. Aku juga gak mau ganggu. Mereka emang gak pernah aja liburan ke luar kota kayak gini berdua. Lagian, orang tua Putri susah ngizinin dia pergi gak ada yang jagain. Tahun kemaren kan cuma aku yang jadi Asdos buat mata kuliah ini. Makanya aku males gangguin. Kapan lagi kan mereka punya waktu liburan berduaan. " sahut ku menjelaskan dan membuat Aldy mengangguk – angguk paham.Aku pun memilih untuk sibuk sendiri membaca mengenai jadwal study tour selama seminggu ini. Karena sebenarnya, jadwal kami lebih di sibukkan saat berada di Jawa Tengah karena kami praktek di kebun teh di daerah Pagilaran.Bahkan kami menginap di sana selama satu minggu walau hanya empat hari efektif untuk tour. Sedangkan di Jogja, kami hanya akan sibuk selama dua hari untuk berkunjung ke Universitas Gadjah Mada dan juga ke daerah pertanian di sekitar Merapi." mau ku bantu? " tanya Aldy begitu dirinya yang melihat ku kerepotan." gak usah kak. Udah biasa ini mah. " jawab ku sembari tersenyum berterima kasih." udah sering ya jadi asdos? " tanya dirinya sedikit tertarik." ini tahun ke tiga aku jadi asdos. " ujar ku menjawab pertanyaannya barusan." udah ke mana aja? " ucapnya penasaran." waktu jaman ku yang pergi, kami ke Malang. Tahun pertama jadi asdos ke Malang lagi, tahun ke dua ke Bandung. Tahun ini ke Semarang sama Jogja deh. "" sering ya. By the way, kamu udah lulus? Atau masih skripsian? " tanyanya lagi." udah lulus kok. Udah satu tahun terakhir ini. Sekarang lagi sibuk ngurus master ku. " jawab ku lagi dengan malu karena aku jarang mengumbar jika aku mengambil master ku." oh ya? Sama dong. Aku juga ngambil master di fakultas ekonomi. Baru aja sidang kemarin. Sekarang tinggal tunggu Wisuda. " ucap dirinya membalas ucapan ku dan membuat kami semakin bertukar cerita selama perjalanan kami.*****" Key, anak - anak di bis udah lengkap? " tanya Ibu Amy begitu aku keluar dari bis dan bergabung bersama Pak Husni, Bu Amy, Bu Listy, Haris dan juga Aldy. Sedangkan Putri dan Bu Rahma sejak tadi izin pergi ke toilet saat kami menuju ke bis yang akan mengantar kami selama kami di sini." kayaknya udah kok bu. Tadi saya juga udah minta baris kursi depan sama satu kursi di belakangnya di kosongkan buat ibu sama bapak duduk nanti sama kak Aldy juga. " sahut ku." lho. Cuma lima kursi aja dong berarti? Kenapa cuma lima aja? Kamu, Haris dan Putri gimana? " tanya Ibu Listy dengan kening berkerut karena kami hanya mengosongkan lima buah kursi di bagian depan bis." Jangan khawatir, kami bertiga santai aja kok bu. Kami bisa duduk di mana aja. Lagian hitungannya masih ada sisa enam kursi yang kosong nanti. Jadi kami bisa duduk di mana aja bu. " kali ini bukan aku yang menyahut. Tapi Haris, teman ku sesama Asdos bersama dengan Putri." gak mabuk memang kalian kalau dapet kursi di belakang? Lapula seingat bapak pas angkatan kalian yang study tour, kalian bertiga kan duduk paling depan. Mana rebutan gitu supaya dapet kursi di depan. Kamu juga Key, biasanya kamu duduk di baris depan kok. Yakin mau duduk di belakang? " tanya pak Husni sembari terkekeh, mengingat bagaimana bar - barnya kami dulu berebut kursi untuk duduk di dalam bus.Apalagi angkatan ku menjadi angkatan dengan jumlah study tour terbanyak. sekitar seratus lima belas orang dengan menggunakan dua bis berukuran besar." sekali - kali pak kami ngerasain duduk di belakang. " sahut ku tertawa mengetahui bagaimana pak Husni mengingat kebiasaan ku selama ini yang nyaris selalu dapat kursi di bagian depan. Bahkan beliau masih mengingat bagaimana rusuhnya angkatan kami study tour beberapa tahun lalu.*****" kak, kak. Kak Keysha. " panggil seorang mahasiswi yang duduk di baris ke empat di bus yang memang sedang ku lewati saat ini dan berhasil membuat ku menghentikan langkah ku dan berbalik memandang dirinya.Sebenarnya sekarang aku tengah memeriksa keadaan mereka, apakah sudah siap berangkat atau belum karena bis sudah siap berangkat. Bahkan ke tiga dosen, ibu Listy, Aldy sudah mulai masuk bis mengikuti aku, Haris dan Putri yang sudah terlebih dahulu masuk untuk mengecek semua mahasiswa." hm? Ya kenapa? " tanya ku sembari memandangnya begitu merasa dirinya memanggil ku sembari menarik tangan ku pelan." itu asdos juga kak? " tanya mahasiswi itu sembari menunjuk Aldy yang baru saja masuk ke dalam bis mengikuti bu Listy, ibunya." bukan. " sahut ku singkat yang langsung berpandangan dengan Haris dan Putri mencoba menebak apa yang ada di pikiran mahasiswi ini. Apalagi mahasiswi itu memandang Aldy dengan penuh rasa minat." terus? " tanyanya lagi tak pantang menyerah." emang tadi di ruang tunggu gak denger? Perasaan dia tadi udah ngenalin diri deh. " ujar ku memandang ke arah dirinya dengan pandangan bingung.Pasalnya, Aldy memang sudah memperkenalkan dirinya dan bu Listy saat di ruang tunggu tadi. Rasanya tak mungkin mahasiswi ini tak mendengar ucapan Aldy di sana." enggak kak. Tadi di ruang tunggu gue sibuk touch up. Kan mau jalan - jalan. Harus cetar dong. Lagian gue ikut study tour ini kan buat jalan - jalan. " ucapnya yang langsung membuat ku menarik nafas panjang dan lelah.Sepertinya study tour kali ini gak akan mudah. Dan ku lihat Putri langsung memutar ke dua bola matanya dengan malas karena mendengar jawaban mahasiswi ini." Kita pergi buat study tour dek. Bukan buat jalan - jalan. Nilai mata kuliah mu bergantung sama study tour ini. " ucap ku sepelan dan sejelas mungkin. Bagaimana pun nilai praktek study tour ini penting untuk kelulusan mata kuliah ini bagi mereka." biarin sih kak. Gue ini. Suka - suka gue dong mau gimana. Lagian kan nilai kami pasti A dong. secara kami udah rela ikut praktek beginian. " ujarnya yang terang saja langsung membuat ku malas meladeni. Aku pun memberi isyarat untuk Haris dan Putri menggantikan aku mengurus mahasiswi ini." siapa nama mu? " tanya Haris langsung mengambil alih.Beruntungnya, Haris langsung mengerti jika aku sudah malas mengurus mahasiswi satu ini sehingga dirinya yang menggantikan aku." Gheanda Safitri. Panggil aja Ghea ya kakak ganteng. " sahutnya dengan senyum - senyum tipis dan mencuri pandang ke arah Haris. Ucapannya ini berhasil menggeleng - gelengkan kepala ku tak mengerti dengan sikap mahasiswi satu ini.Sebenarnya jika di lihat - lihat, Haris cukup tampan dan memiliki banyak penggemar di kampus. wajar banyak yang naksir dengan Haris seperti mahasiswi ini. Tapi semenjak berpacaran dengan Putri dan berteman dengan ku, banyak dari fans - fans Haris mundur teratur. Tapi nampaknya ini tak berlaku untuk gadis ini." kenapa nanya - nanya cowok itu? " tanya Putri dengan nada tak bersahabat. Apalagi melihat pacarnya di goda di depan matanya langsung." ganteng. Gue naksir. " sahutnya lempeng seolah - olah itu adalah hal yang biasa saja." iya kak. Kakaknya cakep. "" iya cakep banget ih kakaknya, berasa pengen aku pacarin. "" pokoknya kudu kita bawa jalan keliling dia nanti. " tambah beberapa mahasiswi ikut menyahut membenarkan ucapan Ghea itu sembari memandang Aldy yang tengah berdiri di lorong sembari ngobrol ringan bersama ibunya dengan tatapan yang amat penuh minat." nih ya adek - adek sekalian. Nilai kalian tuh bergantung sama praktek ini. Serius sedikit. Lulusnya kalian semua tuh bergantung gimana kalian di praktikum ini dan gimana kalian bersikap selama praktikum ini. Kami gak akan segan - segan ngasih kalian nilai C bahkan D kalau kalian malah bikin malu kampus dan gak taat peraturan. Kami bertiga ikut buat bantuin Dosen ngurusin segala keperluan kalian. Jadi kalau kalian gak mau di atur ya jangan salahin kami kalo kami ngasih nilai seadanya. " ujar Putri panjang kali lebar guna menasehati gadis itu dan juga yang lain." jangan ngurusin cowok atau cewek cakep aja. " sindir ku pada beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang dari gelagatnya berencana melakukan pendekatan kepada lawan jenis selama study tour ini berlangsung.Dan begitu mendengar sindiran ku ini, beberapa langsung tersenyum malu karena niat mereka langsung terbaca dengan jelas oleh ku. Apalagi study tour kali ini cukup lama, yaitu sekitar lima belas harian. Sehingga tak menutup kemungkinan ada beberapa mahasiswa yang menjadikan study tour ini sebagai ajang pendekatan dengan kawan mereka satu angkatan sembari berjalan - jalan di daerah tempat study tour." Kalian boleh kok deketin siapa yang kalian taksir. Tapi harus inget waktu. Ada waktunya untuk kalian santai dan senggang, ada waktunya kalian harus serius. " tambah Haris sembari tersenyum tipis.Dapat ku lihat beberapa wajah penuh kelegaan beberapa mahasiswa dan mahasiswi begitu mereka mendengar ucapan Haris barusan. Sepertinya di perjalanan panjang kali ini, Haris mengambil peran Angel dan aku beserta Putri harus mendapat peran Devil. Membuat aku dan Putri yang saat ini berfikiran sama pun kembali menghela nafas panjang.*****" ini kalian semua pada gak ada yang mau duduk di depan apa ya? Masih ada lima kursi lho di depan nih. " tanya ku pada mahasiswa sembari mengedarkan pandangan ku kepada mereka semua begitu aku sudah berdiri di depan. ku lihat mereka sudah mendapat pasangan - pasangan duduk kecuali satu orang.Pasalnya, masih ada enam kursi kosong yang masih tersisa di depan selain kursi milik dosen dan bu Listy. Empat kursi di baris ke dua tepat di belakang dosen, satu kursi di baris ke tiga di sebelah kanan bus yang berada di samping Ghea, mahasiswi yang tadi menegur ku dan satu kursi yang terakhir berada di paling belakang di dekat WC bus.Kebetulan yang belum mendapat tempat duduk saat ini hanya tinggal aku, Aldy, Haris dan Putri saja. Sehingga nanti akan ada dua kursi yang kosong tak berpenghuni. Sedangkan koper - koper kami semua sudah di tata sedemikian rupa di bagasi yang ada di bawah bus." enggak kak. Biar kakak - kakak aja di depan. " tolak Bayu yang ku ketahui sebagai ketua angkatan mereka.Dan ucapan Bayu barusan langsung di iyakan oleh yang lain. Membuat ku, Haris dan Putri langsung duduk di tempat pilihan kami masing - masing.Aku memilih untuk duduk sendiri di dekat jendela sebelah kiri bus tepat di belakang Bu Listy dan Bu Amy, sedangkan Putri dan Haris di kursi sebelah Kanan, tepat di depan tempat duduk Ghea dan di belakang kursi Pak Husni yang duduk di samping Bu Rahma. Sedangkan Aldy masih saja mengobrol bersama ibunya dan ke tiga dosen, entah membahas masalah apa semenjak tadi.*****

BUKA HATI
Romance
14 Feb 2026

BUKA HATI

" Ta, Aji pulang tuh. " ujar kak Dhana pelan yang duduk di hadapan ku bersama dengan kak Abas. Saat aku, kak Dhana, kak Abas dan kak Fikri sedang berkumpul bersama di cafe yang tak jauh dari kantor kami masing - masing." oh. Udah pulang ya. " sahut ku tertunduk dengan senyum tipis. Ke tiga orang di hadapan ku ini pun terdiam karena melihat kelakuan ku saat ini." elo mau ketemu Aji gak? " tanya ka Fikri yang tepat duduk di samping ku sembari mengusap surai lembut ku setelah sekian lama terdiam. Membuat ku menoleh ke arahnya." gak usah deh. Gue gak mau bikin ribut kak. Elo semua kan tau sekarang gue salah satu orang yang paling dia benci. " ujar ku menolak penawaran kak Fikri dengan sedikit senyuman yang ku paksakan untuk ku tampilkan di hadapannya. Aku tau jika mereka semua mengerti ke mana arah ucapan ku ini." enggak lah Ta. Aji gak gitu kok. Lo kan tau gimana dia. Lagian lo sama dia kan punya cerita yang belum selesai. Selesaiin dulu. " sahut kak Abas lembut membantah ucapan ku dan mencoba membuat ku tak berfikiran yang macam - macam." ketemuan aja sama Aji, Ta. Sekalian jalin silatuhrami sama Aji. Nanti ketemuannya sama kami semua aja biar elo gak canggung. " ujar kak Dhana pada ku, mencoba untuk memaksa ku bertemu kak Aji dan membuat ku memikirkan bagaimana jadinya aku bertemu dengan kak Aji setelah empat tahun ini dirinya meninggalkan kota ini.*****Semua ini di mulai saat aku masuk kuliah delapan tahun yang lalu. Saat itu Aji adalah ketua himpunan jurusan ku yang baru saja di angkat. Dan kebetulan ketua himpunan sebelumnya adalah kakak sepupu ku yang berada satu tingkat di atas Aji dan ke tiga orang yang bersama dengan ku saat ini. Sehingga aku sudah cukup saling mengenal dengan Aji sebelum aku mulai kuliah di kampus itu karena aku sering ikut ke kampus saat aku masih duduk di bangku SMA.Semenjak aku mulai masuk kuliah, aku mulai dekat dengan kak Aji dan beberapa temannya. Termasuk ke tiga orang di dekat ku saat ini. Bahkan, tanpa sadar, aku sudah menyukai kak Aji semenjak itu. Dia selalu membantu ku dan memprioritaskan ku di atas semuanya. Dia selalu ada setiap aku memerlukan teman dan lagi – lagi, semua sikapnya ini membuat ku semakin menyukainya.Bahkan, untuk urusan kampus, mata kuliah, praktikum dan segala macam nya urusan kampus. Dirinya selalu membantu ku dan mengajari ku. Kak Bayu juga pernah membantu ku untuk mendapatkan beasiswa prestasi dan membuat ku berhasil untuk mendapatkannya.Nyaris semua teman di angkatan ku dan juga semua orang di angkatan dirinya mengira aku dan kak Aji pacaran. Dan itulah di mulai masalahnya. Kak Aji mulai terkesan menjauhi ku. Bahkan beberapa temannya merasa jika Kak Aji memang menjauhi ku. Aku yang tahu diri jika aku bukan siapa – siapanya pun hanya bisa membiarkan dirinya menjauh dari ku dan mencoba untuk melupakannya. Apalagi saat itu dirinya harus cuti kuliah karena sakit dan harus beristirahat. Hal itu sejujurnya membantu ku untuk melupakannya.Tapi, tiba – tiba dirinya kembali mengubungi ku dan menanyakan kabar ku. Dirinya juga menanyakan mengapa aku sudah tak pernah lagi menghubunginya seperti saat dulu kami berdua dekat. Aku yang bingung harus membalas apa pun hanya mengatakan jika aku sama sekali tak berubah dan aku sedang sibuk sehingga tak pernah menghubunginya.Saat itu kami berdua kembali dekat walau beberapa teman dekatnya mendukung kami berdua hanya setengah hati karena tahu jika kedekatan kami hanya akan menyakiti ku jika hal itu kembali terulang. Dan benar saja. Hal itu terjadi lagi untuk ke dua kalinya. Ketika kami sudah kembali dekat bahkan lebih dekat dari dulu, dirinya mulai menjauhi lagi saat di kampus mulai terdengar gosip – gosip miring mengenai kami berdua.Bukan hanya menjauhi ku, akibat gosip itu, kak Aji mulai membenci ku dan tak menyukai ku. Akhirnya, itu adalah alasan ku untuk ikut menjauh dari dirinya. Aku pun sadar diri untuk mundur teratur dari lingkaran hidup seorang Fahraji Saputra dan mulai menjaga jarak dengan dirinya hingga sampai saat ini.*****" mikirin apa Ta? Kok bengong? " tanya kak Fikir lagi sembari mengusap kepala ku karena aku tak membalas ucapan salah satu sahabatnya tadi dan justru melamun di saat mereka sedang memandang ku saat ini." enggak. Enggak papa kok. Tiba – tiba inget sama kak Aji aja pas jaman kuliah. " jawab ku tersenyum lemah dan membuat mereka bertiga mengatupkan bibir mereka.Mereka bertiga justru yang paling tahu bagaimana dulu aku dan Kak Aji. Mereka juga yang tahu bagaimana nyaris hancurnya aku saat itu. Bahkan IPK ku terjun bebas kalau saja setelah itu aku tak mengejar mata kuliah sisa habis – habisan." kenapa di inget terus sih yang dulu Ta? " tanya kak Fikri kesal." Jangan di inget - inget lagi yang udah dulu. Elo tau kan, kami bertiga dan Rian paling gak suka liat elo sehancur dulu. Walau kami sahabat Aji, elo udah kami anggap adik kami sendiri. Dan masa - masa itu sama sekali bukan hal yang enak buat di inget – inget. " ujar kak Abas tak suka.Dirinya marah karena aku mengingat jaman kuliah dulu sembari mengucapkan nama salah satu sahabatnya juga yang ku rindukan karena aku juga cukup akrab dengannya. Bahkan setelah aku lulus empat tahun yang lalu pun, ingatan bagaimana marahnya kak Aji pada ku itu masih saja terus menganggu dan menghantui ku." kalo elo mau, lusa kita ketemu sama Aji. Gimana? Siapa tau dia juga kangen sama lo kan? Lagian udah lama juga kita gak ketemu sama Aji. " tanya kak Dhana hati – hati pada ku. Aku yang memandang mereka satu persatu pun akhirnya menganggukkan kepala ku pelan menyetujui permintaan kak Dhana barusan." iya deh. " sahut ku pelan." santai aja, jangan tegang. Kan sama kita bertiga ketemuan sama Aji. Kita bertiga gak bakal biarin elo berdua aja ketemu Aji. Apalagi lo gak nyaman gini. " ujar kak Fikri sembari menarik tangan ku pelan untuk mendekat padanya dan membuat ku menyandarkan kepala ku di bahunya dengan nyaman." tau aja lo kalo gue gak nyaman. " ucap ku tersenyum tipis." jelas lah. Apa sih yang gak kita tau dari lo. " ujar kak Abas membalas ucapan ku sembari tersenyum memandang ku yang tengah bersandar di bahu kak Fikri. Membuat ku bersyukur karena sudah di anggap adik oleh mereka bertiga.*****" hai kak Aji. Apa kabar? " ujar ku pelan begitu dirinya duduk di hadapan ku yang tengah duduk bersama dengan kak Fikri dan kak Dhana.Sedangkan dirinya duduk di hadapan kami bertiga bersama dengan kak Abas yang memandang kak Aji dengan sedikit rasa khawatir karena pertemuannya dengan ku setelah empat tahun lamanya." ngapain lo di sini? Masih punya muka lo ketemu gue? " sembur kak Aji pada ku dengan nada tak suka yang sangat terasa oleh ku." Ji. " tegur kak Dhana dan kak Abas yang terkejut secara bersamaan, karena tak menyangka respon seperti ini yang akan keluar dari mulut sahabatnya itu. Sedangkan tangan kak Fikri langsung mengenggam tangan ku di bawah meja begitu mendengar bagaimana dinginnya respon sahabatnya itu." lo lupa? Elo udah bikin masa kuliah gue kayak neraka tau gak. Lo udah bikin gue dapet gosip yang enggak – enggak. Bahkan sampai gue lulus itu gosip gak hilang. Dan sekarang elo berani nampakin muka elo di hadapan gue?! Gak punya malu lo? " tanya kak Aji sarkas pada ku dan membuat genggaman kak Fikri di tangan ku semakin mengencang." sorry kak. Gue ke sini mau ketemu elo cuma mau minta maaf aja. Gue gak tau kalau elo sebenci ini sama gue. Gue gak tau kalau gosip yang tersebar dulu ternyata bikin elo gak nyaman. " sahut ku pelan nyaris berbisik dan tertunduk malu. Pasalnya beberapa pasang mata sedang mengarah ke arah kami berlima yang tengah duduk di salah satu cafe yang ada di kota ini." maaf lo bilang?! Gampang banget lo minta maaf! Gue gak butuh maaf lo. Lo udah rusak masa kuliah gue dan itu gak akan balik lagi. Jadi jangan harap gue mau kenal sama elo lagi. Lebih baik, elo pergi sekarang. Gue gak mau liat muka lo lagi. Gue ke sini mau nemuin sahabat – sahabat gue. Bukan orang yang ngancurin hidup gue. Lebih baik lo pergi dari hadapan gue sekarang. " ucapnya panjang lebar sambil menggebrak meja dan membuat ku terpekik tertahan. Bahkan ulahnya ini membuat kak Abas langsung menahan bahunya untuk tak melakukan hal - hal yang di inginkan.Air mata ku pun mulai merebak keluar karena terkejut dan sedih akibat ucapan dan ulahnya kak Aji ini. Dan satu hal yang aku tau, datang ke sini untuk bertemu dengannya adalah kesalahan yang sangat besar dan menyakitkan hati ku." sabar dong Ji. Merta kan cewek. Jangan kasar sama cewek Ji. " tegur kak Dhana yang mengelus punggung ku yang tertunduk tak berani memandang mereka semua karena dirinya tau aku syok akibat ulah kak Aji ini." buat apa sih elo semua bawa dia ke sini?! Gue mau ketemu elo semua karena elo sahabat gue. Bukannya seneng ketemu temen lama malah makan hati ketemu ini perempuan! " umpat kak Aji di hadapan ku dan membuat tubuh ku sedikit bergetar karena terkejut." Ji! " tegur kak Fikri yang buka suara karena merasakan tangan ku yang semakin bergetar karena ketakutan atas ulah kak Aji barusan.Dapat ku dengar nada suara kak Fikri yang dingin dan marah. Aku tau, dirinya saat ini sedang dalam kondisi hati yang tak baik. Bahkan genggaman tangan kak Fikri tetap menguat. Membuat ku mencoba mengelus tangannya yang menggengam tangan ku untuk menurunkan emosinya. Aku tau emosi tak akan bisa di balas dengan emosi jika dalam keadaan seperti ini. Aku pun memilih untuk mengalah dan meninggalkan mereka berempat." ya udah kalau gitu. Gue pamit aja ya. Suasananya udah gak baik lagi kayaknya. Lebih baik gue pulang duluan aja ya. " ucap ku memahami situasi saat ini yang sudah sangat panas." bagus deh lo pergi. Gak usah nampakin muka lo sekalian di depan gue. " ujar kak Aji kasar dan membuat ku menghela nafas sembari menutup ke dua mata ku guna menetralkan hati ku yang semakin sakit mendengar ucapannya." gue pamit ya kak. Duluan ya. " ucap ku sembari berdiri seraya memaksakan tersenyum tipis di hadapan mereka semua untuk mengatakan jika aku baik - baik saja." elo pulang gimana? Tadi di jemput Fikri kan. Di anter Fikri lagi aja ya? " tanya kak Dhana sembari menahan tangan ku." gak usah kak. Gue gampang kok. Nanti gue naik taksi aja. Lagian elo semua udah lama gak ketemu kan. Ngobrol aja dulu. " tolak ku pelan sembari menggelengkan kepala ku.Aku tau jika kak Fikri, kak Abas dan kak Dhana tau alasan ku sebenarnya menolak usulan kak Dhana ini. Aku pun melepaskan tangan kak Dhana dari tangan ku dan mulai beranjak meninggalkan mereka berempat sembari tertunduk menahan tangis.*****" Ta! Tunggu! " seru kak Abas sembari mengejar ku bersama dengan kak Fikri dan kak Dhana. Meninggalkan kak Aji sendirian di meja." kenapa kak? ngapain ngejar gue? Kasian kak Aji sendirian di sana. Sana gih. Temenin kak Aji. " pinta ku pelan dengan suara bergetar dan membuat kak Abas langsung menarik ku ke dalam pelukannya.Membuat ku akhirnya menyerah dan mulai terisak pelan di dalam pelukan hangatnya sembari melingkarkan tangan ku di tubuhnya. Sakit rasanya harus mendapat perlakuan seperti itu dari seseorang yang pernah menjadi laki – laki spesial di hidup ku. Apalagi, aku tetap menyimpan rasa untuknya nyaris delapan tahun ini." bodoh. Gimana gue bisa tenang kalo liat elo jalan sambil nunduk gitu. Elo tuh susah bohong kalo sama kita - kita Ta. "" i'm fine kak. Gue udah duga gak akan bisa minta maaf sama kak Aji. Apalagi dia segitu bencinya dia sama gue. Jadi ya udah. Gue gak apa. " jawab ku terbatas di sela tangis ku dan mencoba untuk menguatkan diri ku sendiri." tapi lo jadi begini kan. Lo nangis gara - gara Aji. " sahut kak Dhana tak suka." gak papa. Gue beneran gak papa kok. Nanti jangan bahas gue lagi ya pas kalian ngobrol. Kasian kak Aji. " pinta ku pada mereka bertiga." lo kenapa masih mikirin dia sih pas udah kayak gini. " sahut kak Abas marah pada diri ku yang masih saja memikirkan orang yang sudah membuat ku menangis seperti ini." kasian dia kak. Dia pasti kangen sama elo semua. Kalian udah lama gak ketemu kan. Jangan bikin mood dia jadi jelek kak. " ujar ku menggelengkan kepala ku seraya meminta pada mereka dan langsung saja mengiyakan permintaan ku barusan." iya, iya. " ujar kak Abas sembari melepaskan pelukannya pada ku dan mengusak - usai kepala ku dengan lembut." gue anter aja ya? Jangan pulang sendiri. Apalagi lo gini. " tanya kak Fikri begitu aku melepaskan pelukan ku dan kak Abas dan membuat ku menggeleng sembari memandang wajah tampannya." gak usah kak. Bener deh. Gue pulang sendiri aja. Gue lagi pengen sendiri soalnya. Ya? " ujar ku meminta pengertian mereka bertiga dan membuat mereka bertiga mau tak mau akhirnya mengiyakan ucapan ku barusan dan membiarkan aku pergi meninggalkan mereka sembari terus menundukkan kepala ku." ya udah. Tapi kalo lo udah sampe rumah nanti, kabarin kami bertiga. " ujar kak Dhana yang hanya ku balas dengan anggukan kepala dan tetap melanjutkan langkah ku untuk pergi." kalo sampe Merta kayak dulu lagi, gue mungkin bakal ngancurin Aji dari sekarang. Bahkan mungkin ngancurin persahabatan kita semua. " ucap kak Fikri pada ke dua sahabatnya ini sembari menatap diri ku yang mulai berjalan menjauh dengan kepala yang terus menerus menunduk. Dan ucapannya ini berhasil membuat kak Abas dan kak Dhana hanya bisa saling berpandangan. Karena jika kak Fikri sudah bertekad, susah untuk di hentikan atau di lawan.*****" elo kenapa sih Ji. Kasar banget sama Merta. Elo gak harus kan sekasar itu sama dia. Kasian Merta, Ji. Delapan tahun dia nunggu lo, tapi lo malah gini. " tanya kak Abas tak habis fikir begitu mereka kembali duduk bersama dengan kak Aji. Apalagi dirinya tau jika kak Aji bukan orang yang sekasar itu." harusnya gue yang nanya. Elo semua kenapa sih pake acara bawa dia segala. Bukannya seneng ketemu kalian, malah emosi gue. Lagian kalian kasian sama dia, kalian mikir gak gimana gue selama kuliah?! Bisa - bisanya kalian malah bawa dia ke sini! " semprot kak Aji tak suka dengan kelakuan ke tiga sahabatnya ini." elo tuh gimana sih Ji. Jelas - jelas selama kuliah, dia selalu elo bantuin dulu. Apa - apa dia, apa - apa dia. Giliran dia suka sama elo sampe sekarang, kenapa elo marah - marah sih. " tanya kak Dhana yang tak mengerti sikap sahabatnya satu ini sembari menyambung pertanyaan kak Abas pada kak Aji." aneh lo! Sikap elo selama ini ke dia yang bikin dia suka sama elo. Terus kenapa sekarang kasar banget sih. Udah berapa tahun ini dia suka sama elo. Malah lo kasar kayak gini. " kak Fikri ikut menanyai kak Aji dengan nada kesal." lo bertiga gak usah ngarang deh! Mana pernah gue baik - baikin dia. Lagian gue selama ini juga biasa aja sama dia. Dia aja yang terlalu baper sama gue! Cewek Halu! " sahut kak Aji dengan nada ketidaksukaan yang sangat tersirat." alah! Bullshit! Semua orang di kampus juga tau kalo elo terlalu baik dan terlalu memprioritaskan Merta. Bahkan perlakuan elo beda ke orang - orang yang ada selain Merta. Lo tanya aja sama anak - anak kampus dulu. Boong mereka gak tau kalo selalu sama Merta dulu! " sahut kak Fikri geram karena ucapan kak Aji ini tak sesuai dengan apa yang mereka lihat." orang - orang kampus juga tau Ji. Elo gimana sama Merta saat kuliah dulu. Kita bertiga saksi hidupnya elo gimana sama Merta dulu. " ucap Kak Dhana ikut kesal pada sahabatnya ini." lo lupa Ji? Dia yang ada di dekat elo selama elo kuliah. Bahkan pas elo sakit sampe masuk rumah sakit dulu aja Merta yang tiap hari jengukin elo. Pas semua temen - temen lo gak ada yang terlalu perduli sama elo yang di rumah sakit, Merta kan yang ngurusin lo? Tiap hari bolak balik kampus rumah sakit buat siapa?! Buat elo Ji! Kenapa sekarang elo jadi kayak orang gak tau terima kasih sih?! " runtuk kak Abas.Pasalnya mereka tau saat kak Aji sakit dulu, dirinya pernah masuk rumah sakit. Dan aku adalah orang yang sering bergantian dengan mereka bertiga bersama kak Rian untuk menjenguk dan menjaga kak Aji selama di rumah sakit. Apalagi keluarga kak Aji saat itu sudah pindah ke kota lain. Sehingga dirinya sendirian di kota ini dan tak ada yang menjaganya selama terbaring di rumah sakit." udah lah. Gak usah lo bahas tuh cewek. Kalo lo bahas dia terus. Mending gue balik aja. Males gue bahas hal yang gak penting beginian. " ujar kak Aji berbalik kesal pada ke tiga sahabatnya ini.Dan membuat ke tiga sahabatnya ini mau tak mau mengiyakan ucapan kak Aji karena mereka tak ingin membuat mood kak Aji semakin buruk. Apalagi mereka sudah berjanji pada ku untuk tak membahas tentang diri ku saat mereka sedang bersama dengan kak Aji seperti saat ini." iya, iya Ji. "" hmm. "" serah lo deh. " bergantian kak Abas, kak Dhana dan kak Fikri akhirnya memilih untuk tak membahas tentang diri ku lagi. Mereka terpaksa menghentikan membicarakan masalah ku dengan kak Aji dari pada membuat sahabatnya ini benar - benar pergi meninggalkan mereka.*****

YOU'RE MY HAPPINESS
Romance
12 Feb 2026

YOU'RE MY HAPPINESS

" kak Suho? " panggil ku tak yakin begitu aku menemukan sosok orang yang tak ku percayai ada di dekat ku saat ini." Ayi? " ucapnya terkejut karena melihat ku ada di dekatnya begitu dirinya keluar dari ruang kedatangan bandara. Dirinya pun bergegas mendekati ku dan langsung menarik ku ke dalam pelukan hangatnya, meninggalkan koper dan tasnya begitu saja." ini beneran kak Suho. " ucap ku masih tak percaya kini aku benar - benar di hadapkan dengan seseorang yang aku rindukan selama beberapa bulan ini." bodoh. Tentu saja ini aku. Astaga Tuhan. Aku benar - benar merindukan mu, Yi. Aku merindukan mu. " ujarnya membalas ucapan ku seraya mengecupi puncak kepala ku berkali - kali.Aku pun mengubur wajah ku di ceruk lehernya dan mengecup ringan lehernya beberapa kali. Tak lupa aku menghirup aroma tubuhnya yang sangat - sangat ku rindukan selama kami berpisah." aku kangen banget sama kak Suho. " ujar ku tanpa sadar terisak masih di dalam pelukannya." hey kenapa nangis. Kok nangis sih, sayang. " balas kak Suho panik begitu mengetahui aku yang terisak di pelukannya. Dirinya pun menguraikan pelukan kami berdua sembari meneliti wajah ku yang langsung memerah." kakak juga kangen sama kamu. Tapi jangan nangis sayang, merah mukamu ini. " tambahnya lagi sambil mengecup ke dua mata ku berkali - kali. Dirinya sama sekali tak memperdulikan tatapan orang - orang di sekitar kami yang melihat kelakuan dirinya pada ku.Membuat ku sekuat tenaga untuk menghentikan tangisan ku karena aku tau, kak Suho akan sekhawatir itu karna melihat wajah ku memerah dan tubuh ku menghangat akibat menangis.*****" kita sekarang ke apartement kakak aja ya? Abis nangis kayak ini badan mu pasti langsung anget deh. " ucapnya sambil berkali - kali mengelus kedua lengan ku yang mulai menghangat.Aku pun mengiyakan ucapannya kali ini seraya memandang wajahnya penuh dengan kerinduan. Apalagi, sudah enam bulan lebih dirinya pergi ke Jepang untuk mengurus salah satu perusahaan miliknya yang berada di sana mengikuti ke dua orang tua dan kakak laki - lakinya yang memang sudah pindah ke sana selama dua tahun terakhir, tempat kelahiran nenek kak Suho dari pihak ayahnya. Dan membuat ku harus terpisah dengan dirinya untuk waktu yang lama. Di tambah lagi, sifat workaholic nya yang belum berubah. Membuat kami sangat jarang berkomunikasi selama kami berpisah.Dirinya pun segera menarik koper miliknya setelah menyampirkan tas ransel hitam miliknya di bahu dengan sebelah tangan. Sedangkan sebelah tangannya lagi kini merengkuh bahu ku dan memeluk ku dari samping." kamu nginep di tempat ya? Kakak mau kangen - kangenan sama kamu. " ujar kak Suho mengecup kepala ku sekali lagi dengan lembut." tapi aku belum bilang sama mama sama papa kalo mau nginep tempat kakak. " ujar ku begitu kami berdua baru masuk mobil miliknya yang ku bawa untuk menjemputnya hari ini sembari memandang dirinya yang semakin tampan dengan kemeja hitam berlengan panjang dan membiarkan rambutnya tertiup angin seperti saat ini." iya. Nanti kakak yang nelpon orang tua mu sekalian bilang kamu nginep di tempat kakak. " balasnya dan langsung ku iyakan. Karna jika kak Suho yang meminta izin langsung, sangat besar kemungkinan nya untuk di setujui oleh orang tua ku.*****" hallo, mama? ini Suho. " kak Suho langsung bicara begitu mama ku mengangkat telepon.Kak Suho memang sedekat ini dengan keluarga ku sehingga dirinya tak segan - segan memanggil orang tua ku dengan sebutan papa dan mama. Bahkan ke dua adik ku pun sudah sangat dekat dengan dirinya." lho Suho? sudah pulang dari Jepang nak? Kapan? "" iya ma sudah, baru aja. Ini baru sampe di apartemen Suho. Makanya ini pakai hp Ayi buat nelpon. Suho mau minta izin ya ma, ngajak Ayi nginep di apartement Suho. Suho kangen banget sama Ayi. Pengen cerita - cerita sama Ayi. " ujar kak Suho langsung meminta izin sembari melirik ke arah ku yang masih setia duduk di sampingnya di dalam mobil. Padahal, kami berdua sudah berada di basement apartemennya sejak tadi." iya sudah kalau begitu. Titip Ayi ya Ho. Baju - baju Ayi masih ada di Tempat mu? Atau mau ke sini dulu ambil baju Ayi? "" tenang aja ma, Pakaian Ayi masih ada kok di tempat ku. Udah di pisahin juga sama baju - baju Suho. Rasanya masih cukup kok kalau Ayi mau nginep lama. "" ya udah. Nanti mampir ke sini ya, sekalian nginep sini. Mama sama papa mau denger cerita kamu. Kangen juga sama kamu lama banget gak ketemu. "" iya ma, nanti aku ke sana sekalian nginep. "" iya. Eh iya, gimana kabar keluarga mu di sana? Ayah bunda sehat? Si kembar apa kabar? "" iya ma, ayah sama bunda sehat kok. Si kembar juga sehat kok mah. Titip salam katanya buat mama papa sekalian adek - adek. "" iya mama sama papa salam balik ya buat keluarga mu di sana. "" iya ma, nanti Suho sampein sama ayah sama bunda. Suho titip salam ya ma buat papa sama yang lain juga. Maaf belum bisa ke sana hari ini. " pamit kak Suho." ... "*****" gimana? Di bolehin gak sama mama? " tanya ku memandangnya dengan tatapan penasaran." jelas dong. Siapa dulu yang ngerayu. " jawabnya seraya mengelus kepala ku dan beranjak turun dari mobil. Aku pun mengikutinya dan berencana membantu membawa tas ranselnya. Namun, upaya ku ini langsung mendapat pelototan mata darinya." jangan bawa yang berat - berat. Kalo kakak bisa, ngapain kamu yang bawa. Mending pegang tangan kakak aja dari pada megang yang lain. " ujarnya saat mengambil tas ransel miliknya dari tangan ku. Kini tangan kanan ku di genggamnya dengan salah satu tangannya yang bebas." ngardus ih. " ucap ku tertawa geli seraya berdiri di depan lift guna menuju lantai 23. Tempat apartement kak Suho berada." kok ngardus? Orang kakak bener kok. " kak Suho tak terima karena aku menyebut dirinya ngardus.*****" eh? Ay, kakak belom mandi lho ini. Main peluk aja. " tegur kak Suho saat aku memeluknya dari belakang setelah kami berdua membereskan semua barang - barang miliknya di dalam kamarnya di apartement.Untungnya aku sudah membersihkan apartemennya tadi pagi begitu dirinya mengabari akan pulang ke Indonesia tadi malam. Sehingga kak Suho bisa langsung beristirahat sehabis ini tanpa perlu membereskan apartemennya lagi.Apartement milik kak Suho ini sebenarnya memiliki dua kamar. Tapi selalu saja setiap aku menginap di sini, aku selalu tidur dengan kak Suho di kamarnya. Bahkan salah satu sudut lemari miliknya yang ada di kamar pun sudah nyaris penuh dengan pakaian milik ku karena aku terlalu sering menginap di sini.Bersyukurnya lagi, ke dua orang tua ku mau pun ke dua orang tua kak Suho sangat mendukung hubungan kami berdua. Bahkan mereka semua tak pernah mempermasalahkan ketika aku menginap di apartemen kak Suho dan tidur bersama dengan dirinya. Karena mereka tau, kak Suho akan selalu menjaga ku dan tak akan mungkin kami berdua melakukan hal - hal yang aneh - aneh.Di tambah lagi, aku juga sebegitu dekatnya dengan ke dua orang tua kak Suho sehingga aku memanggil ke dua orang tuanya dengan sebutan ayah bunda. Apalagi dengan ke dua keponakan kembarnya, anak dari kakak laki - lakinya." biarin. Ayi kangen. " rajuk ku tetap tak perduli dengan kondisi kak Suho yang belum mandi saat ini." hey, kakak mandi dulu. Nanti kamu bebas ngedusel di badan kakak. Kakak bau lho Yi, dari Jepang sampe sini gak ada mandi. " ujarnya terkekeh sembari mengelus tangan ku yang masih melingkar di perut rata nya dengan lembut." kakak mah gak peka. " akhirnya aku melepaskan pelukan ku dan memandang dirinya dengan merengut yang kini tengah berbalik menghadap diri ku." kok merengut gitu. Gak manis lagi nih pacarnya kakak. Jangan cemberut dong. " ucapnya menggoda ku sembari mengecup pipi ku gemas. Dan akhirnya mau tak mau membuat ku berhenti merengut dan tertawa malu." modus. "" kok modus sih? Kamu tiduran aja dulu, atau mau nonton tv, atau mau bikin teh. Kakak mandi bentar ya. Kamu juga ganti baju gih. Biar sekalian istirahat ya. " ujarnya lagi tertawa sembari meninggalkan ku di dekat lemari untuk mengambil pakaian miliknya dan langsung melangkah menuju kamar mandi yang ada di kamarnya.Begitu kak Suho masuk ke kamar mandi, aku pun membuka lemari pakaian kak Suho untuk mengambil pakaian ku dan berganti di kamarnya kak Suho selama dirinya masih berada di kamar mandi.*****" badan kakak anget banget. " ujar ku begitu dirinya ikut berebah di samping ku saat ini dan membuat ku langsung mengubur diri ku di dalam dekapannya.Kini dirinya hanya memakai celana pendek selutut dan baju kaos polos tipis berwarna merah maroon. Bahkan aku bisa melihat bayang - bayang tubuh atletisnya di balik bajunya saat ini. Sedangkan aku memakai hotpants yang berwarna putih dan baju kaos polos berwarna biru." badan kakak emang di atur gini sama Tuhan biar bisa kamu bisa di pelukan kakak terus. " ucapnya memandang wajah ku dan membuat kami tergelak bersama." duh modusnya. "" ini kenapa celananya pendek banget sih. Ganti Yi. Kakak lupa buang celana mu yang ini. " tegur kak Suho saat aku sudah nyaris terlelap di dalam dekapannya." mager udah. " ujar ku tetap mengubur diri ku di dalam dekapannya. Lagi pula aku sudah malas untuk beranjak dari pelukannya ini." ganti Yi. Kakak ini laki - laki lho Yi. Normal pula. Kakak gak mau ngerusak kamu cuma karna kamu pake celana gitu pas tidur sama kakak. Kakak malah gak bisa jamin keselamatanmu nanti. Ganti dulu. " tegas kak Suho menguraikan pelukan nya." males kak. " rengek ku sembari memandangnya dengan wajah mengiba agar dirinya tak menyuruh ku beranjak dari ranjang karna aku sudah terlalu menempel dengan ranjang saat ini." kalau gitu kakak tidur di kamar tamu ya? Kakak takut gak bisa kontrol diri Yi. " ujar kak Suho pelan memberi pengertian pada ku dan membuat ku mau tak mau beranjak ke lemari kak Suho untuk mengambil celana yang lebih panjang dan langsung menggantinya di kamar mandi." iya iya. Ayi ganti celana. " sahut ku akhirnya mengalah. Aku lebih memilih untuk mengganti celana ku di banding membiarkan dirinya tidur di kamar tamu. Apalagi malam ini aku ingin bermanja - manja dengan dirinya.Tak berselang lama pun aku keluar dari kamar mandi dan langsung menuju ke arah kak Suho sembari menenggelamkan tubuh ku di dalam selimut di sampingnya." kakak enam bulan di sana sama sekali gak berubah ih. " ujar ku sambil menowel - nowel pipinya." kamu yang berubah. Makin kurus ih kakak tinggal selama ini. " balas kak Suho seraya mengelus pipi ku yang menurutnya sedikit tirus dari saat kami terakhir ketemu." males makan. Gak ada temennya kalo makan di luar. " sahut ku dan berhasil membuat kak Suho menghela nafas lelah dengan fakta yang baru saja ku ungkap." kebiasaan kan. Kamu nanti sakit lho Yi kalo males makan. Jangan di biasain dong gak makan gitu. Makin kurus gini, gak suka kakak liatnya. " tegur kak Suho pelan dan tak suka." iya iya. Mulai sekarang temenin aku makan ya? " tanya ku terus saja memainkan jari - jemari ku di wajahnya." iya, kakak temenin. Makan yang banyak pokoknya. Harus lebih naikin berat badan mu dari ini ya. Kakak gak suka kamu terlalu kurus gini. " sahut kak Suho dan membuat ku menganggukkan kepala ku untuk mengiyakan ucapannya ini." eh iya, telpon bunda sama ayah dong kak. Ayi kangen. " ujar ku begitu merasa salah satu tangan kak Suho melingkar di pinggang ku dan mulai mengelus lembut punggung ku. Desiran hangat pun langsung terasa di hati ku tak kala kak Suho memperlakukan ku selembut ini." bentar. " balasnya sembari mengambil hpnya di nakas samping ranjangnya yang berukuran king size ini.****" ayah, bunda. " sapa ku begitu video call kak Suho langsung menyambung pada bunda yang rupanya tengah bersama dengan ayah." Ayi. Apa kabar nak? Ya ampun, bunda kangen banget sama kamu nak. " seru bunda tak kala menemukan ku di layar video call miliknya." Ayi sehat nak? Kok makin kurus sih nak? Makan yang bener dong Yi. " tanya ayah yang duduk di samping bunda dan membuat kak Suho menganggukkan Kepalanya menyetujui ucapan sang ayah perihal diri ku yang semakin kurus." Ayi sehat - sehat aja kok bun, yah. Ayah sama bunda gimana? Sehat? Kakak Raiden sekeluarga gimana? " tanya ku semakin merangsek mendekat ke arah kak Suho yang saat ini tengah bersandar di kepala ranjang dan membuat ku merebahkan kepala ku di dadanya sembari menyamankan posisi ku saat ini berbantalkan dadanya." bunda sama ayah sehat kok. Kakak sekeluarga juga sehat tuh. Ini Abay sama Abel lagi ada di sini. " ujar Bunda sembari memanggil ke dua anak kak Raiden, keponakan kak Suho.Kezio Abay Suhodiningrat dan Kezia Abel Suhodiningrat yang saat ini sudah berumur enam tahun adalah anak dari Raiden Suhodiningrat. Kakak dari kak Suho. Umur kak Raiden dan kak Suho memang lumayan memilik jarak cukup jauh, sekitar lima tahun." Ante Ayi!!! " seru duo krucil itu dan langsung mengambil hp dari tangan bunda." halo ponakan ante. Gimana sayang di sana? Sehat? " tanya ku memandang mereka berdua dengan gemas. Di tambah lagi, sudah dua tahun ini aku sudah tak bertemu dengan mereka semua karena mereka sekeluarga pindah ke Jepang. Walau aku sering video call dengan mereka semua." sehat kok. " sahut Abay dan membuat kak Suho cemberut sembari memandang Abay." gitu ya Bay, Bel. Om gak di sapa. "" om kan baru pulang. Ngapain di kangenin. " ujar Abel membuat ku langsung tersenyum lucu mendengar jawaban Abel dengan mimik muka datar." Abay kangen ante. Gak kangen sama om Suho. " ujar Abay tiba - tiba seraya menatap ku." Abel juga kangen sama ante. Sini dong ante. " ujar Abel dengan mata berkaca - kaca nyaris menangis. Aku yang melihat pun tak kuasa menahan tangis melihat mereka berdua saat ini." hey, jangan nangis dong sayang. Nanti kita ke sana ya nengok si kembar. " ucap kak Suho yang merasa diri ku nyaris menangis saat ini dan membuat ku langsung membalikkan wajah ku ke dada kak Suho dan menguburnya di sana." eh, ini kenapa ante di bikin nangis Bay? Bel? " tanya bunda langsung mengambil hp dari tangan Abel dan Abay yang juga ikut menangis karena melihat ku terisak." Ayi kangen katanya sama si kembar bun. " ujar kak Suho tersenyum simpul sembari mengelus punggung ku beberapa kali agar membuat ku meredakan isak tangis ku." ya udah, nanti pas kamu selesai ngurusin urusan kampus kamu, kamu liburan ke sini aja ya nak. Sekalian Suho pulang. Aduh, bunda jadi pengen ke sana. Gak tega liat kamu nangis begini nak. " ujar Bunda tak tega melihat ku. Apalagi dirinya tau jika aku sedekat ini dengan si kembar semenjak aku menjadi pacar kak Suho enam tahun yang lalu saat aku baru masuk kuliah.*****" jangan sedih lagi dong sayang. Kan nanti kita ke sana abis kamu selesai ngurusin urusan kampus? Anget lagi kan ini badannya. Tadi udah reda lho panasnya badan kamu nih. " ujar kak Suho begitu dirinya memutus sambungan video call dengan bunda." Ayi kangen si kembar. Kangen semuanya kak. " isak ku tetap mengubur wajah ku di dadanya." iya, kan nanti kakak ajak ke sana, sekalian kakak pulang. Udah ya jangan sedih lagi? " pintanya sambil tetap mengelusi punggung ku lembut, berupaya untuk meredakan tangis ku saat ini." by the way, gimana kuliah S2 kamu? " tanya kak Suho lagi mencoba mengubah topik pembicaraan kami berdua saat ini." udah mau selesai kok. Tinggal nunggu seminar sama sidang aja lagi. " jawab ku seraya mendongakkan kepala ku dan memandang ke arah kak Suho yang saat ini juga tengah memandang diri ku." bengkak kan tuh matanya. Udah tadi di bandara nangis, sekarang nangis lagi. " tegur kak Suho perlahan saat dirinya mengamati wajah ku dengan seksama. Dirinya malah fokus ke wajah ku dari pada jawaban yang ku berikan untuknya barusan." sakit ih mata ku kak. " keluh ku akhirnya setelah mengerjapkan mata ku beberapa kali dan membuat kak Suho geleng - geleng kepala." kan. Udah di bilang sama kakak kan. Kompres es batu ya matanya sayang? " tanya kak Suho khawatir. Aku yang memang merasakan sakit di ke dua mata ku pun tak membantah ucapannya dan langsung mengiyakan ucapan dirinya. Dan anggukan kepala ku pun langsung membuat dirinya bergegas keluar kamar menuju kulkas untuk mengambil es batu agar mengompres mata ku.*****" Yi, nanti kerja di kantor kakak ya? " pinta kak Suho pada ku begitu dirinya menemukan ku yang tengah sibuk di dapur menyiapkan sarapan untuk kami berdua. Dan begitu ku lirik dirinya, dirinya sudah duduk manis di salah satu kursi makan yang ada di dekat dapur." tumben udah bangun? Udah mandi juga. " balas ku bertanya. Karna aku tau dirinya akan memilih untuk bangun siang saat hari libur kerja seperti ini. Apalagi, kemarin malam kami berdua ngobrol sampai larut malam sembari mengompres mata ku yang sedikit bengkak." gak bisa tidur lagi. Jadinya ya mandi. " sahutnya singkat." kenapa tiba - tiba kakak minta aku kerja di kantor kakak? " tanya ku setelah sarapan kami sudah siap dan mulai menatanya di meja makan di hadapan kak Suho." ada yang mau kakak omongin. Nanti deh, habis kita makan ya. " ucap kak Suho membalas ucapan ku sembari mengambil makanan untuk dirinya." mau ngomong apaan sih kak? ngomong aja sekarang ih. " ujar ku penasaran. Karena aku tau dirinya ingin membicarakan sesuatu pada ku, namun kak Suho masih menimbang - nimbang ingin mengatakannya kepada ku." inget Nadia gak? " tanya kak Suho pelan dan membuat ku langsung meliriknya tajam.Bukannya aku tak tahu siapa itu Nadia. Dia adalah pacar kak Suho sebelum kak Suho dengan ku. Dirinya hanya bertahan dengan kak Suho selama dua tahun saja karena dirinya berselingkuh dengan salah satu sahabat kak Suho dan membuat kak Suho nyaris bunuh diri kalau saja tak bertemu dengan ku dulu untuk pertama kalinya." inget kok. Nadia itu kan. Kenapa memang kak? " tanya ku pelan mencoba untuk tak perduli. Bukannya aku tak menyukai Nadia, apalagi aku juga belum pernah bertemu dengannya satu kali pun. Hanya saja, aku tak menyukainya karena dirinya menyakiti seseorang sampai seperti kak Suho dulu." dia masuk kantor kakak. " akhirnya kak Suho memberitahu apa yang menjadi pikirannya saat ini dan membuat ku menghela nafas. Bahkan membuat ku berhenti makan sembari memandangnya yang duduk di samping ku." Yi? Kok diem? " tanya kak Suho lagi sembari meraih tangan ku dan mengelus punggung tangan ku dengan ibu jarinya secara perlahan." kakak gimana? " tanya ku akhirnya setelah terdiam cukup lama." kok kamu nanya kakak? "" kak, kan selama ini yang kenal Nadia itu kakak. Aku ketemu kakak setelah dia nyakitin kakak, tapi aku sama sekali gak kenal dia. Aku gak tau kepribadian dia gimana kak. Kalau menurut kakak dia memang pantas untuk bekerja di perusahaan kakak, silahkan kalian sekantor. Tapi kalau memang dia gak bisa kerja, buat apa di terima. "" kamu gak marah kakak satu kantor sama dia? Dia kan... " ujar kak Suho tak melanjutkan ucapannya dan lebih memilih untuk memandang diri ku dengan tatapan yang sulit ku artikan." aku tau, tapi aku lebih memilih buat percaya sama kakak. Kakak sudah tau rasanya di sakiti dengan cara di selingkuhi. Dan aku cukup tau kakak gak akan mungkin sebodoh itu melakukan sesuatu hal yang kakak sendiri pernah jadi korbannya. " ucap ku dan berhasil membuat kak Suho terdiam cukup lama." makasih Yi, karna udah percaya sama kakak. " ucap kak Suho menghela nafas lega karena jawaban ku ini." tolong di jaga ya kepercayaan ku. " pinta ku pada dirinya dan langsung di balas anggukan kepala kak Suho sembari menyetujui permintaan ku barusan." iya Yi. Jangan berhenti buat percaya sama kakak ya. "*****

PRETTY BOY
Romance
12 Feb 2026

PRETTY BOY

" Saya Tsevanya Claudiza. Saya pindahan dari Bandung pak. Ini surat - suratnya. " ujar ku pada bapak kepala sekolah." oh, jadi kamu siswa pindahan dari Bandung itu? Bapak sudah di hubungi oleh kepala sekolah kamu sebelumnya, bahwa akan ada anak pindahan ke sekolah ini. Baik. Silahkan kamu ke kelas X-1. Ini nama wali kelasmu dan ini buku – bukunya. Kamu sudah tahukan kalau di sekolah ini adalah sekolah asrama? Semua kebutuhan kamu akan di letakkan kamar kamu. Kamu satu kamar dengan dua orang kakak tingkat. Di kertas itu sudah ada nomor kamar kamu." Ujar bapak kepala sekolah sambil menyerahkan secarik kertas bertuliskan nama wali kelas ku dan juga nomor kamar ku serta beberapa buku tebal untuk pegangan belajar ku.Aku pun beranjak pergi dari ruangan kepala sekolah menuju kelas ku setelah mengucapkan terima kasih. Aku sangat senang akhirnya bisa menjadi salah satu siswa di sekolah yang sangat bergengsi di Jakarta Pusat. Setelah bertanya beberapa kali, akhirnya aku sampai di kelas ku di lantai tiga.Tok.. tok.. tok..Setelah di persilahkan, aku segera masuk dan menjelaskan semua kepada guru yang mengajar di kelas X-1 dan kebetulan yang sangat baik bahwa beliau adalah wali kelas ku. Beliau pun dengan senang hati membantu ku untuk memperkenalkan diri di depan kelas." Baik anak – anak, ada murid pindahan dari Bandung yang masuk kelas kalian. Silahkan kamu perkenalkan diri. "" Perkenalkan teman – teman semua. Nama saya Tsevanya Claudiza. Panggil saja saya Vanya. Saya pindahan dari Bandung. Mohon bantuannya semua. " ujar ku memperkenalkan diri ku di depan kelas." silahkan kamu duduk di sebelah Friza. Di sebelah kanan baris ke tiga. " ujar beliau sambil menunjuk kursi kosong di sebelah seorang cewek cantik yang tengah tersenyum memandang ku sembari tersenyum lebar." hai, Friza kan? Salam kenal. " ujar ku setelah duduk di sampingnya." hai juga Vanya, elo satu kamar sama Siapa? " ujarnya." gue di kamar 007. Berarti di lantai satu. Elo? " tanya ku." gue di kamar 124. Di lantai tiga. Jauh banget kita bedanya. Berarti elo satu kamar sama anak kembar dong? Kak Andrea sama kak Andita. Mereka kelas dua belas. Hati - hati ya elo sama mereka berdua. Mending kalo cuma kak Andita. Kalo kak Andrea nyebelin. Songong. Di tegur gak pernah nyahut. Nggak pernah ngomong sama kita – kita lagi. Dia cuma pernah ngomong sama kak Andita doang. " jelas Friza." hah? Serius? Gue belum ketemu mereka sih. Jadinya gak tau deh. Liat aja nanti. Semoga aja gak ada masalah. " ujar ku sambil tersenyum dan berdoa di dalam hati, semoga hari ku akan baik - baik saja selama berada di sini." ntar kasih kabar ke gue ya? Nih nomor telepon gue. Kalo ada apa – apa telepon gue aja. " ujar Friza sambil memberitahu sederet nomor yang langsung ku catat di handphone ku.****" nah ini kamar elo. Sekaligus kamar kak Dita sama kak Drea. Good luck ya. Gue langsung nih Vanya. Soalnya gue mau istirahat. Capek gue nih. " ujar Friza tertawa seraya beranjak pergi setelah mengantarkan ku ke depan pintu kamar asrama yang akan ku tinggali bertiga bersama kak Dita dan kak Drea.Ku lirik jam tangan ku, ternyata sudah menunjukkan pukul setengah enam sore. Pantas saja Friza mau langsung istirahat. Aku menghembuskan nafas dengan keras dan berharap semua akan baik - baik saja.Aku pun langsung masuk kedalam kamar ku yang ternyata tidak di kunci tanpa mengetuk pintu dulu. Namun aku tertegun di depan pintu yang terbuka setelah melihat ada siapa di dalam kamar.Aku melihat sepasang remaja yang sedikit lebih tua dari ku sedang satu kamar dan wajah mereka mirip bagaikan pinang di belah dua. Anak cowok yang ada di kamar itu langsung menutup pintu dan membekap mulut ku begitu melihat ku di kamar itu." Bodoh banget sih lo Dita! Kenapa pintu gak lo kunci! hah?! Begini kan! Elo lagi! Siapa sih elo masuk ke kamar orang gak pake ketok pintu dulu? Gak pernah di ajarin sopan santun?! Hah? " Bentak cowok itu di depan ku.Tangannya masih membekap mulut ku dan wajahnya begitu dekat dengan ku. Hanya berjarak tak lebih dari dua senti dari wajah ku. Matanya nyalang menatapku dan mengunci tatapan ku kepadanya. Aku mulai berfikir bahwa hidup ku akan berakhir sebentar lagi di tangan cowok ini." Tuhan, selamatkan aku. " batin ku takut. Aku yang mulai gemetar nyaris saja mengeluarkan airmata kalau saja cewek yang ada di dalam kamar itu tak bersuara." Sorry Ndre. Gue beneran lupa. Lagian mana gue tau kalo bakalan ada yang masuk ke sini. Dua tahun lebih kita di asrama gak pernah kan ada orang yang masuk ke sini. Lebih baik lo kunci tuh pintu dan bawa cewek itu kesini sekarang. Percuma elo marahin. Dia udah tau Siapa elo. " ujar kak Dita melerai antara aku dan cowok itu sambil menyuruh kami berdua duduk di depannya." sumpah janji elo gak bakalan teriak apapun yang terjadi? Apapun yang gue jelasin, elo gak boleh teriak! " ujar cowok itu tajam kepada ku.Aku hanya bisa mengangguk mengiyakan. Dengan berat hati cowok itu melepaskan tangannya pada mulut ku. Aku pun langsung menjauhi mereka berdua. Dan membuat jarak dari mereka berdua yang saat ini tengah memandang ku." oke. Kita perlu luruskan ini semua. Gue bakalan jelasin ini semua. Tapi, pertama – tama, elo Siapa? Kelas berapa? Dan elo mau ngapain ke sini? " ujar Kak Dita sambil menatap ku. Nada tegas di dalam suaranya membuat ku tak bisa membantah sama sekali." Ehm.. Saya... Saya Tsevanya Claudiza kak. Saya kelas X-1. Saya pindahan dari Bandung. Tadi pagi kata pak kepala sekolah, saya di suruh buat tinggal di kamar ini. Ini suratnya kak. " Ujar ku sambil menyerahkan secarik kertas yang di beri oleh pak kepala sekolah sebagai bukti." Sialan tuh kepsek. Malah nih anak di kasih di kamar kita lagi. Gak ada kamar laen apa? Sialan! " ujar cowok itu sambil mondar mandir di sekitar kak Dita begitu membaca kertas yang ku berikan padanya dan Kak Dita." udah deh Ndre. Gak ada gunanya elo marah – marah kayak gitu. Sekarang yang penting gimana nasib nih cewek. Jelasin gih. " ujar Kak Dita." Ya udah gue jelasin. Lo anak baru dengerin. Kenalin Gue Andrean Dirgantara. Dan dia Andita Dirgasyifa. Gue di sekolah adalah seorang cewek yang bernama Andreani Dirgantari. Gue sengaja pura – pura jadi cewek dan tinggal di asrama bareng Dita, karena dalam silsilah keluarga dari bokap gue, apabila ada anak kembar beda jenis kelamin bakalan meninggal sebelum umur 17 tahun. " Jelas cowok yang bernama Andre itu sambil menatap marah pada ku tapi tak tau harus bagaimana bersikap pada ku." Lalu? " tanya ku bingung harus berbuat apa." Semua keluarga gue yang kembar tapi beda jenis kelamin selalu aja salah satunya meninggal. Entah anak yang cowok atau cewek. Awalnya gue gak apa – apa sampai SMP karena gue masih bisa saling jaga sama Dita walau pun gue cowok, karena bokap gue bisa ngatur gimana caranya gue selalu sekelas sama dia. Sampai akhirnya Dita menang olimpiade Fisika nasional dan dapat beasiswa di SMA Nirwana ini yang notabene mewajibkan siswa dan siswinya harus tinggal di asrama. Setelah berusaha mencari celah, gue juga masuk sebagai murid di SMA Nirwana. "" Gue awalnya masih bisa terima, tapi kepsek ngelarang anak cowok sekamar sama cewek walau anak kembar sekalipun. Akhirnya gue sekeluarga memutuskan gue menyamar jadi cewek kembaran Dita supaya bisa satu kamar. Sebenernya gue udah mau berhenti waktu kelas dua. Tapi setelah dipikir – pikir, bakalan ribet kalo pindah menjelang kelas tiga. Dan akhirnya gue masih bertahan sampai saat tadi sebelum elo datang. " Ujar Andre mengakhiri penjelasan dan cerita mereka berdua." waw, aku takjub sama cerita kalian berdua. Aku speechless. Aneh banget ih. " kataku sambil geleng - geleng kepala melihat mereka berdua." oh ya, Tsevanya... "" panggil Vanya aja kak. " potong ku pada kak Dita yang memanggil ku Tsevanya." Vanya, Sorry ya tadi Andre agak kasar sama elo. Kita berdua cuma kaget kok. Gak ada unsur kesengajaan. " sahut Kak Dita." Iya kak. Gak papa. Aku juga yang salah, gak ngetok pintu dulu. " ujar ku duduk di salah satu ranjang yang ada di dalam kamar." elo pake bahasa biasa aja. Gak papa juga kok pake 'elo gue'. Gue jelasin, itu pintu yang deket pintu masuk, adalah kamar mandi. Terus, itu ranjang elo, ini ranjang Dita dan ranjang gue di pojok sana. Lemari elo tepat di sebelah ranjang. " Ujar kak Andre sambil menunjuk ke ranjang ku yang bersebelahan dengan jendela dan bersebelahan dengan ranjang kak Dita. Kak Andre pun tak lupa menunjukkan ranjangnya yang sedikit jauh dari ranjang ku dan kak Dita.Aku pun menganggukkan kepala ku tanda bahwa aku sudah paham dengan ucapan dirinya barusan.*****" Vanya, lo gak masuk kelas ya? Kok masih tiduran sih. Ntar elo telat lho. Udah jam berapa nih. " tanya Kak Dita saat bersiap ke sekolah begitu melihat ku masih betah menempel erat dengan bantal, guling serta selimut di atas ranjang ku.Tak terasa aku sudah sebulan lebih tinggal bersama Kak Dita dan kak Andre. Hubungan ku dengan Kak Dita dan Kak Andre pun cukup bisa di bilang aman dan lancar walau pun tak bisa dibilang akrab untuk ukuran teman sekamar. Karena baik aku dan kak Andre sama – sama menarik diri dan tak pernah berusaha untuk mengakrabkan diri satu sama lain. Hanya kak Dita yang berusaha agar aku, dia dan kak Andre bisa akrab dan bisa seperti layaknya 'kawan sekamar'." enggak deh kayaknya kak. Gue hari ini bolos dulu. Gue lagi gak enak badan. Kayaknya gara – gara kemaren aku hujan – hujanan deh sama Friza. Soalnya kemaren badan gue juga udah agak drop sebelumnya. " erang ku malas sambil menenggelamkan kepala ku di bawah selimut seraya mengingat bahwa kemarin sehabis pelajaran bahasa Jepang, aku dan Friza pergi ke danau yang ada di belakang sekolah dan malah asyik bermain di sana, bahkan hingga hujan menguyur pun kami berdua tetap asyik di sana. Dan baru pulang ke asrama begitu senja menjelang dengan keadaan basah kuyup." kok elo bisa sakit sih? Udah minum obat belum? Ya udah deh gue bolos juga. Andre, elo duluan aja ke sekolah. Gue bolos. Gue mau jagain Vanya. " Ujar Kak Dita seraya duduk di ranjang ku, tepat di samping tubuh ku yang terbalut selimut dan langsung bicara pada Kak Andre yang baru saja keluar dari kamar mandi." Elo sakit Van? Kok bisa? Pasti gara – gara elo main ujan – ujanan sama Friza kemaren. Elo balik ke asrama sampe basah kuyup gitu kemaren. " ujar kak Andre mendekati ku dan memegang leher dan pipi ku. Agaknya sakit ku kali ini membuat dirinya juga kuatir dan tanpa sadar, malah menghancurkan dinding pembatas antara aku dan dirinya sendiri." gak papa kok kak. Gue cuma demam aja. Lagian gue udah minum obat. Paling bentar lagi gue udah tidur. Elo berdua pergi ke sekolah aja. Gak papa kok kak. Jangan kuatir sama gue. Lagi pula elo berdua udah kelas tiga. Jangan seenak jidat dong kalo mau bolos. " ujar ku menenangkan Kak Dita dan Kak Andre dan memaksa mereka untuk tetap berangkat ke sekolah." oke fine. Gue udah ngambil keputusan. Dit, gue aja yang bolos dan jagain Vanya, elo kan hari ini ada janji sama Ibu Neni buat lomba Fisika Nasional bulan depan. Jangan bantah omongan gue. Dan elo jangan memaksa buat elo yang bolos dan batal ngurus olimpiade itu Ta. " ujar Kak Andre memandang tajam kak Dita tanpa memperdulikan larangan ku untuk bolos dan tetap nekat untuk bolos hari ini.Dengan keadaan terpaksa dan berat hati akhirnya Kak Dita pun meninggalkan ku berdua dengan Kak Andre di kamar." iya deh. Tapi beneran di jagain ya si Vanya Dre. " ujar kak Dita sebelum dirinya keluar dari kamar dan di balas anggukan kepala oleh kak Andre.*****" elo ngapain sih kak. Pake acara bolos segala. Elo kan udah kelas tiga. Bukannya makin rajin belajar, malah bolos. " protes ku pada kak Andre yang sedang mengganti pakaian sekolahnya menjadi pakaian santai begitu kak Dita keluar." terus siapa yang bakal jagain elo kalo gue gak bolos? Dita? Mana mungkin elo biarin Dita jagain elo kalo elo tau dia ngurus olimpiade. Lagian gue lagi pengen jadi cowok tulen seharian tanpa harus terikat dengan permak – pernik cewek yang bikin gue sakit mata. " ujarnya keki dan berhasil membuat ku tertawa mendengarnya dengan sedikit suara sumbang dan melupakan protes yang baru saja aku keluarkan kepadanya." emangnya harus ya elo berdua sekamar? Bisa aja kan elo di kamar elo sendiri dan kak Dita dikamarnya sendiri? Menurut gue itu lebih meringankan elo dan gak harus membuat elo nyamar jadi cewek. " tanya ku pada Kak Andre.Aku pun berusaha duduk di ranjang ku karena aku mulai merasa tak nyaman harus menempel terus - terusan pada ranjang. Kak Andre cukup terkejut dengan pertanyaan ku yang tiba – tiba membahas masalahnya dan kak Dita." gak harus juga sih sebenarnya. Kalo boleh memilih gue juga pengennya kayak gitu. Jadi diri gue sendiri, terus bisa lulus SMA dengan nama gue sendiri dan gak harus ribet dengan semua ini. Tapi, gue gak mau ngambil resiko. Sodara gue cuma Dita aja. Saat gue dan Dita berumur lima tahun, Rahim nyokap gue harus di angkat karena ada tumor yang muncul begitu kami berdua lahir. Alhasil anak nyokap bokap gue ya cuma gue sama Dita doang. Dan kalo gue atau Dita yang meninggal, gue gak bisa bayangin gimana nyokap bokap gue. " jawab kak Andre sambil duduk di ranjang kak Dita, di samping ranjang ku. Dan membuat ku berhadapan dengannya." tapi itu kan takdir kak. Gimana pun elo sekeluarga nyoba buat saling jaga kalau pada akhirnya takdir berkata lain gimana? Sorry gue ngomong masalah ini pakai bawa – bawa masalah takdir segala. Tapi gue gak habis pikir aja sama pikiran elo sekeluarga. Bisa – bisanya ngorbanin masa muda dan masa SMA elo dan membuat elo terperangkap sebagai Andrea. " ujar ku tetap tak mengerti." yah, kalau ngomongin takdir, gue yakin siapa pun di dunia ini juga gak akan ada yang bisa ngelawan. Tapi setidaknya, kita sekeluarga udah ngelakuin semua cara agar kejadian itu gak terulang lagi. Jadi kalau pun ada yang pergi antara gue atau Dita, gak akan ada penyesalan di sini. " ucap kak Andre sambil menyentuh dadanya berulang kali. Dan berhasil membuat ku menunduk memandang ke dua kaki ku dan terdiam memikirkan perkataannya." jangan terlalu di pikirin. Elo itu lagi sakit dan butuh istirahat. Lagian gue sama Dita ngelakuin ini dengan senang hati karena gue bisa saling jaga sama dia. Jadi elo, jangan terlalu mikirin keadaan kami. Tapi makasih elo udah perhatian sama gue sama Dita. " ujarnya beranjak berdiri dan mengacak rambut ku perlahan. Tak lupa dia memaksa ku untuk istirahat.*****" gimana keadaan elo? Udah mendingan? " Tanya Friza saat kami antri untuk mengambil sarapan yang prasmanan di ruang makan." udah kok. Lumayan kangen lah gue sama elo selama dua hari gak masuk sekolah. " ujar ku tertawa dan membuat Friza ikut tertawa mendengar perkataan ku. Begitu kamu berdua selesai mengantri, aku dan Friza pun mencari tempat yang kosong untuk makan." di sini aja deh. Yang lain kayaknya udah penuh. " ujar ku sambil duduk di tempat yang kosong di dekat pintu masuk. Tak jauh dari posisi duduk Kak Andre dan kak Dita." oh iya. Gimana rasanya sekamar sama kak Drea sama kak Dita? " ujar friza pelan namun membuat ku mati kutu dengan membuka topik yang paling sangat ingin aku hindari untuk saat ini." err... lumayan. Gak begitu buruk lah. Biasa aja sih. Kayak biasa aja. " ujar ku terbata – bata. Aku bingung harus menjawab pertanyaan Friza dengan jawaban yang bagaimana baiknya. Aku tentu saja tak mungkin berkoar - koar masalah kak Andre yang berpura - pura menjadi kak Andrea" masa sih? Trus kak Drea ada ngomong gak sama elo? Gimana sih orangnya? Suaranya gimana? " ujar Friza sambil terus mendesakku dan membuat ku semakin tak nyaman berada di posisi ku sekarang." ya gitu lah. Gue belum terlalu akrab sama mereka. Ya sejenis sama kak Dita juga kok. " ujar ku pelan seraya mencuri pandang ke sosok seseorang yang kini tengah memandang ku dengan pandangan yang tak dapat aku artikan. Kak Andre." gitu ya. Gue fikir dia agak freak gitu. " ujar friza. Untung saja Friza sibuk dengan sarapannya dan tak lagi mendesak ku menceritakan bagaimana sosok kak Dita dan kak Andre. Aku pun hanya mengangkat bahu dan mengikuti apa yang di lakukan Friza. Makan.*****" Mau ke mana elo Van? Rapi bener. Mau ngedate ya? Sama siapa? Anak kelas berapa? " rentetan pertanyaan di keluarkan oleh kak Andre begitu keluar kamar mandi dan melihat ku sudah rapi. Begitu aku melihatnya, kak Andre sedang bertelanjang dada. Masih ada bulir – bulir air yang aku lihat di tubuhnya." aaarggh... Kak Andre. Elo gila apa? Elo lupa ya sama gue? Elo tuh cowok kak. Pake baju kenapa sih. Gue cewek kali. Gak sopan banget sih elo kak. Mana Kak Dita gak ada lagi. Gue risih kak Andre! " teriak ku kaget dan menutup mata ku, begitu melihatnya hanya berkalungkan handuk hitam dan celana hitam hingga lutut. Walau harus ku akui aku sempat melihat tubuh atletisnya sedikit. Walau sudah empat bulan lebih aku sekamar dengan Kak Dita dan Kak Andre, tetap saja aku masih merasa ada yang salah." iya bawel. Gue bakalan pake baju. Heran deh, elo tuh adek kelas gue, tapi cerewetnya ngalahin gue sama Dita. Lagian bisa – bisanya gue tahan sekamar sama elo selama ini. " ujarnya beranjak pergi mengambil baju yang ada di lemarinya.Begitu kak Andre sudah memakai baju, dia langsung mendekati ku dan berdiri di dekat ku. Aku bisa mencium aroma maskulin dari tubuhnya. Aku segera berbalik menghadap ranjang ku dan membelakanginya. Begitu aku sudah membelakanginya, baru aku berani membuka mata ku." Mau ke mana elo, Vanya? " ujarnya lembut sembari mengulang pertanyaannya yang tadi dia lontarkan kepada ku namun belum sempat aku jawab." mau beli novel sama kamus bahasa Jepang di Mall. Kenapa kak? " tanya ku sambil memainkan Handphone ku dan tetap membelakangi kak Andre." elo sendirian atau sama Friza? Atau sama temen elo yang lain? Cewek apa cowok? " tanyanya lagi sambil membalikkan tubuh ku dan membuat ku berhadapan dengannya sehingga aku pun terpaksa menghentikan aktifitas ku dan berganti menatap wajahnya yang berada lima senti di atas kepala ku." gue sendirian kak. Kenapa sih? Aneh banget deh. " tanya ku heran melihat tingkah kak Andre hari ini. Bukan hal yang biasanya, dia begitu mencampuri urusan ku. Hari ini aku seperti melihat sosok lain dari seorang Andrean Dirgantara." gue ikut sama elo. " ujarnya kemudian." hah? Ikut? Ngapain ikut sih? Mau nyamar jadi Andrea lagi? Gak usah deh kak. Gue sendiri aja. " tolak ku halus.Aku tak habis pikir kalau aku harus pergi berdua saja dengan Kak Andre. Aku tak mau mengambil resiko dia ketahuan menyamar menjadi seorang perempuan." gue mau jalan - jalan aja. Elo tenang aja, kali ini gue sebagai Andre kok. Dan elo gak boleh nolak. Titik. " tegas kak Andre sambil mengedipkan mata kanannya ke arahku.Seolah – olah ingin menggoda ku. Dan nyaris saja membuat ku tersipu – sipu kalau tak mengingat betapa jahilnya sesosok manusia di dekat ku ini." mau lewat mana? Mau lewat depan terus ketahuan gitu kalo kakak cowok? gue gak mau dapat masalah, kakak. " tanya ku bingung." santai aja kali. gue udah biasa kalo hal – hal beginian. Udah deh, elo terima beresnya aja. Gue jamin aman. Elo gak usah khawatir. Gue juga gak bakalan bikin elo kenapa – kenapa. Elo gue jamin aman kalo di deket gue. " ujarnya sambil tersenyum penuh kemenangan dan tak lupa mengacak – acak rambut ku dengan pelan. Sambil beranjak pergi ke daerah kekuasaannya." jelasin dulu. gue mau nyari aman, kak Andre. Gue gak mau tiba - tiba mati konyol karena serangan jantung akibat ulah elo. " tandas ku seraya membereskan rambut ku yang berantakan akibat ulah kak Andre. Dan langsung menarik lengannya agar tetap di dekat ku dan memberi ku penjelasan." Jendela di sebelah ranjang gue ini, sebelahan sama pagar belakang asrama. Kalo elo manjat nih pagar, elo bisa langsung berada di jalanan yang ada di belakang area sekolah. Ntar gue ke situ dan nunggu elo di jalan itu. Nah, elo tinggal jemput deh gue. Gampang kan? Udah buruan sana ambil motor. Sekalian bawain helm gue. Awas elo sampai ketahuan. Udah sana pergi, udah cakep kok. " Ujar kak Andre sambil mendorong ku keluar kamar. Dan membuat ku tak bisa melawan perkataannya.*****

TROUVAILLE
Romance
11 Feb 2026

TROUVAILLE

" Tin. Kamu di mana? Aku udah di dalem aula. " ucap ku pada sahabat ku Tina saat aku menelepon dirinya.Kami berdua saat ini memang sedang berada di dalam aula sebuah mall. Karena saat ini, sedang ada acara konser Kahitna di aula tersebut. Aku dan Tina memang sudah berencana lama untuk datang ke konser mereka.Tapi masalahnya, aku dan Tina saat ini terpisah. Sedangkan nyaris semua kursi sudah terisi. Apalagi para penonton tidak di tentukan tempat duduknya. Sehingga kami harus mencari tempat yang strategis untuk menonton penampilan mereka semua." aku juga di dalem Ris. Aku udah dapet kursi. Tapi cuma dapet satu. Ini juga agak di tengah. Gimana ya? " sahut Tina di seberang sana." gitu? Ya udah, aku cari kursi ku sendiri ya. Nanti kita chat-an aja kalo mau pulang. Ya? " ucap ku. Sedikit tenang karena Tina sudah mendapat kursi untuk nya dan tinggal mencari untuk diri ku sendiri." oke deh. Kamu sendiri hati - hati Ris. " balas Tina di seberang sana dan membuat ku akhirnya mematikan sambungan telepon kami setelah mengiyakan ucapannya. Sembari mulai mencari - cari tempat duduk untuk ku.Sebenarnya, saat ini aku melihat ada sebuah tempat strategis untuk diri ku duduk. Apalagi kursi itu berada di depan panggung. Membuat kursi itu menjadi kursi yang sangat strategis untuk diri ku melihat konser Kahitna ini.Tapi sayangnya, kursi itu tinggal satu yang kosong. Sedangkan di sampingnya ada seorang pria yang sedikit lebih tua dari ku yang semenjak tadi terus saja memandang ku lekat. Dan di sampingnya lagi ada sepasang muda mudi yang duduk. Membuat ku yakin jika satu kursi itu juga merupakan kursi dari pasangan pria itu.Dan baru saja aku akan beranjak dari tempat ku berdiri saat ini, pria itu memanggil ku. Membuat ku terkejut karena memang aku tak mengenal dirinya." duduk di sini aja. " ujar pria itu." eh, gak usah kak. Nanti kalau temen kakak datang, malah susah. " jawab ku sopan." gak papa. Aku sendiri kok. Di samping ku memang kosong. Dari pada kamu dapet kursi yang di belakang kan. Mending di sini. " ujarnya dan jujur saja, itu terdengar sangat menggiurkan untuk ku. Membuat ku tanpa sadar mulai berjalan guna mendekatinya." beneran gak papa kak? " tanya ku memandang dirinya dengan seksama. Dan baru ku sadari, jika pria yang menegur ku tadi cukup tampan. Dengan senyum yang manis dan tatapannya yang teduh." iya. Gak papa kok. Duduk aja. " jawabnya dengan senyum yang tak berhenti semenjak tadi. Membuat ku akhirnya duduk di sampingnya dengan perlahan seraya terus memandang dirinya." makasih banyak kak. " ucap ku tulus seraya menundukkan tubuh ku sedikit. Berupaya bersikap sopan pada pria yang sudah berbaik hati ini." it's oke. Santai aja. Oh ya. Nama ku Daniel. Daniel Arditya. " sahutnya tenang." nama ku Risna. Samantha Risnalda. " ujar ku membalas ucapannya." kamu datang sendirian? " tanya dirinya memandang ku. Entah perasaan ku saja, atau tidak. Tapi ku lihat dirinya sedikit khawatir." enggak kok. aku sama temen ku. Tapi pas masuk aula tadi, aku sama dia kepisah. Trus dia udah dapet kursi. Kasian kalo harus ku suruh bareng sama aku. " jawab ku." tapi harus tetep hati - hati. Gak baik cewek jalan sendiri - sendiri kayak gitu. Kalo ada apa - apa kan bahaya. " tegur nya sembari menasehati ku." iya kak. " jawab ku sopan.Apalagi mendengar dirinya yang begitu menasehati ku layaknya seorang keluarga. Membuat ku bersyukur karena bisa bertemu dengan orang baik seperti dirinya. Tak lupa aku mengangguk untuk mengiyakan ucapannya tadi. Dan setelah itu, kami berdua pun sibuk dengan kesibukan kami masing - masing.*****Tak berapa lama aku merasakan pria itu memandang ku dengan seksama. Membuat ku mengangkat kepala dari handphone ku dan balas memandangnya dengan raut wajah kebingungan dan setengah penasaran." ada apa kak? Ada yang aneh ya sama muka ku? " tanya ku pada dirinya dan membuat dirinya tersenyum simpul." enggak kok. Tapi, boleh aku minta tolong padamu? " tanyanya dengan sedikit permohonan yang tersirat pada nada suaranya." mau minta tolong apa kak? " tanya ku pada dirinya." bisa aku titip tas kecil ku ini? Aku mau keluar sebentar, nerima telepon dari teman ku. Di sini agak mulai berisik. " ujar pria itu sembari menunjuk tas selempang kecil miliknya yang ada di belakang tubuhnya.Saat ini dirinya sedang memegang handphonenya yang semenjak tadi berdering tanpa henti. Apalagi, suasana di dalam aula ini memang sudah penuh dengan orang - orang yang ini menonton konser Kahitna. Sehingga suasana memang cukup bising dan berisik.Dan berhubung aku sudah di berikan tempat duduk oleh dirinya. Bahkan secara cuma - cuma, Aku pun menyanggupi permintaannya dan menganggukkan kepala ku. Setidaknya itu sebagai balas budi ku pada dirinya." oh. Boleh kok kak. " sahut ku mengangguk. Kebetulan acara akan berlangsung kurang dari sepuluh menit lagi. Sehingga aku berharap sedikit banyak dirinya akan cepat kembali." aku janji hanya sebentar. I promise. " ucapnya berjanji pada ku sebelum dirinya berdiri. Dirinya cukup sadar jika acara akan segera di mulai. Dan membuat ku menganggukkan kepala ku sembari tersenyum menenangkan nya." iya kak. Santai aja. " ujar ku tersenyum. Dan akhirnya dirinya pun meninggalkan ku sendiri.*****" hai cewek. Kok sendirian aja? Temenin om yuk sayang. "" sini aja sama kita. Dari pada sendirian. Kan. Om gak gigit kok. Om suka liat kamu sayang. "" iya. Mending nemenin kita. Kita cuma ada satu cewek nih. Gabung yuk manis. " dapat ku dengar ada beberapa pria paruh baya yang berbicara seperti itu di belakang ku.Ku rasa mereka duduk tak jauh dari barisan tempat duduk ku. Dan aku yakin, mereka menggoda ku. Karena di beberapa baris ini, hanya aku yang duduk sendiri tanpa teman setelah Daniel yang duduk di samping ku pergi.Dan ucapan pria - pria yang terdengar sudah berumur itu amat sangat menakutkan bagi ku. Tanpa sadar membuat tubuh ku bergetar dan membuat ku menutup ke dua mata ku. Berharap jika ada yang akan menolong ku. Jujur saja, dengan aku yang di goda seperti itu kembali mengingat kejadian menyakitkan dan menyeramkan untuk ku beberapa waktu yang lalu.Apalagi, tidak ada seorang pun yang mau membantu ku saat ini. Atau setidaknya menegur pria - pria itu. Semua orang yang mendengar pun sibuk dengan aktivitas mereka masing - masing.Nyaris saja aku terisak karena godaan dari pria - pria itu tak berhenti, bahkan semakin lama justru semakin parah. Tapi tiba - tiba saja, aku di kejutkan dengan keadaan kursi kosong di samping ku yang terasa di duduki seseorang. Dan langsung membuat ucapan - ucapan menggoda dari arah belakang langsung hilang tak berbekas.Aku pun langsung membuka mata dan menemukan Daniel yang duduk di samping ku kini sudah kembali duduk. Dirinya duduk sedikit mendekat ke arah ku sembari memandang ke belakang dengan tatapan tajamnya. Dengan wajah yang sedikit dingin. Bahkan dapat ku rasakan jika paha dan tubuh ku sedikit bersentuhan dengan paha dan juga tubuhnya. Membuat ku tanpa sadar justru bernafas lega karena dirinya yang langsung duduk di samping ku." kamu gak papa? " tanya Daniel pada ku setelah membuat pria - pria hidung belang itu berhenti menggoda ku. Seraya dirinya mengalihkan pandangannya ke arah ku. Dan memandang ku dengan seksama. Dirinya sadar jika aku begitu ketakutan saat ini." enggak. Gak papa. " jawab ku singkat dengan nada bergetar. Masih dengan posisi yang penuh rasa takut.*****" kak. " panggil ku pada Daniel tak berapa lama dari kejadian tadi." ya? Ada apa Ris? " tanya Daniel yang semenjak datang terus memperhatikan diri ku yang ketakutan." boleh aku megang tangan kakak? Aku takut. " cicit ku lirih. Sedikit takut jika pria itu menolak dan berfikir bahwa aku adalah perempuan yang sedikit nakal. Apalagi kami yang belum terlalu kenal." tentu saja. " sahutnya sembari menarik tangan ku ke dalam genggamannya dan menggenggamnya dengan erat.Tak lupa dirinya mengelus punggung tangan ku untuk menenangkan ku. Ulah nya ini jujur saja, dapat menenangkan ku. Dan tanpa sadar membuat ku merapatkan duduk ke arah dirinya." apa kau ingin minum sesuatu? Aku bisa membelikan mu. Di dekat sini ada food court. " ujar Daniel yang tak tega pada ku. Dirinya juga sadar jika aku semakin merapatkan tubuh ku yang gemetar pada dirinya." ja... Jangan. To... Tolong jangan tinggalkan aku lagi kak. Aku takut. " ujar ku menggeleng cepat dan tanpa sadar, aku memeluk lengannya dengan sebelah tangan ku yang bebas dan tak di genggamnya." oke oke. Aku tak akan ke mana - mana. Aku akan di sini saja. Bersandar lah di lengan ku Ris. Wajah mu pucat. Sepertinya kau butuh sandaran. " pinta Daniel seraya mengamati wajah ku yang masih saja terlihat ketakutan. Dirinya pun memilih untuk tak meninggalkan ku lagi." apa tak masalah? Jika aku bersandar? " tanya ku tanpa ada niat untuk menolak. Karena jujur saja, aku saat ini memang sudah terlalu lemah." sure. Biar mereka mengira kau pacar ku. Itu akan membuat mereka tak menganggu mu lagi. " ujarnya meyakinkan ku.Entah kenapa. Ucapannya ini justru membuat ku merasa yakin dan tanpa ada paksaan dari dirinya, aku pun mulai menyandarkan kepala ku di lengannya dengan perlahan. Membuat Daniel mencoba menyamankan posisi ku di samping dirinya. Kini aku dan Daniel benar - benar terlihat seperti pasangan yang tengah di mabuk asmara." maaf merepotkan kakak. Dan terima kasih karna sudah membantu ku. "" santai saja. Aku senang bisa membantu. " sahutnya. Sembari melirik ku sesekali. Memastikan jika aku sedikit lebih tenang.*****Tak terasa, konser yang sudah lama ku nanti kan ini sudah separuh jalan. Dan aku benar - benar menikmati jalannya konser ini. Apalagi dengan Daniel yang berada di sebelah ku. Kami berdua sering kali mengobrol dan saling bertukar cerita. Sehingga membuat kami mulai cukup dekat. Dirinya pun mencoba untuk tidak membuat ku mengingat kejadian tadi.Tapi sayangnya, pembicaraan kami berdua sedikit terhenti karena host acara mulai kembali memasuki panggung." oke. Karena kita sudah di tengah jalan, kami semua ingin memberi kejutan pada kalian. Kami akan memilih satu penonton untuk bernyanyi bersama dengan Kahitna di atas panggung. Dan kami akan mulai memilih penonton yang beruntung. " ucap host tersebut. Membuat ku sedikit tersenyum dengan ucapan host itu. Seraya menerka - nerka siapa orang yang beruntung bisa bernyanyi di panggung bersama Kahitna.Dan dua buah lampu sorot yang berada di sisi kiri dan kanan pun mulai menyoroti kami para penonton. Tiba - tiba saja, tak berapa lama kemudian, lampu itu menyorot ke arah dirinya ku. Membuat ku merasa sedikit silau dan mengubur wajah ku di lengan atas Daniel. Daniel sendiri yang merasa aku kesilauan pun merentangkan jemarinya di depan wajah ku untuk menghalau kilatan lampu dari wajah ku." euggh. "" silau ya? " tanya Daniel paham seraya memandang ku yang mengubur wajah ku di lengan atasnya." iya. Silau banget. " sahut ku menjawab dan tetap menyembunyikan wajah ku di lengannya. Aku pun mengangguk dan menyebabkan wajah ku langsung bergesekan dengan pakaian milik Daniel.Baru saja Daniel ingin bicara dengan ku lagi, tapi MC itu sudah memanggil ku untuk naik ke atas panggung. Membuat ku akhirnya mengangkat wajah ku untuk memandang Daniel dengan seksama. Dan beruntungnya, aku sudah terbiasa dengan sinar dari lampu sorot yang masih menyorot ke arah ku dan Daniel." naiklah. Dan jika mereka bertanya kau dengan siapa. Bilang saja kau pergi dengan aku sebagai pacarmu dan teman mu. " ucap Daniel mencoba membantu ku sekali lagi." gak papa? Bilang kakak pacar ku? " tanya ku memastikan. Aku hanya tak yakin dengan tawarannya ini." gak apa. Supaya pria - pria yang menganggu mu tau kalau kau sudah punya pacar. Dan biar gak ada yang menggoda mu lagi. Bukan gak mungkin keluar dari aula ini kamu masih di ganggu mereka. " jawab Daniel yang membuat ku menganggukkan kepala ku." baiklah. " jawab ku sebelum aku berdiri dan mulai melangkah menaiki panggung dengan canggung.*****" hallo. Siapa nama mu? " tanya host itu pada ku begitu aku sudah berada di tengah panggung. Bersama dengan ke tiga vokalis Kahitna, Hedi Yunus, Carlo Saba dan Mario Ginanjar." erh, hai. Nama ku Risna. Samantha Risnalda. " jawab ku kikuk. Karna jujur saja, ini kali pertama aku berdiri begitu dekat dengan ke tiga penyanyi favorit ku." santai aja. Jangan tegang begitu. " ucap Hedi Yunus sembari tertawa karna melihat diri ku yang begitu kikuk." i... Iya. " sahut ku. Semakin membuat mereka tertawa karena kekikukkan ku ini." ke sini sama siapa Risna? " tanya Mario mencoba mencairkan suasana. Membuat ku beralih memandang dirinya." erg. Bareng temen ku sama pacar ku kak. " jawab ku memutuskan untuk mengikuti permintaan Daniel tadi sebelum aku naik ke atas panggung.Dan ucapan ku ini berhasil membuat suasana aula bergemuruh. Karna ke tiga vokalis Kahitna ini langsung menggoda ku. Bahkan membuat ku memerah malu. Jawaban ku ini pun akhirnya membuat lampu sorot mulai menyoroti Daniel yang notabene duduk di samping ku dan menjadi sandaran ku saat aku terpilih untuk naik ke atas panggung tadi. Apalagi memang, sampai saat lampu menyorot ku tadi, aku terus menerus bersandar pada Daniel. Dan mengobrol dengan dirinya. Sehingga tak kaget jika mereka langsung mengira Daniel adalah pacar ku." ayo ke sini. " suruh mereka bertiga bersama dengan host saat lampu menyorot Daniel.Membuat Daniel langsung mengikuti ku untuk menaiki panggung. Dan kini dirinya berdiri di samping ku dengan sebelah tangannya yang memegang pinggang ku. Aku sendiri sama sekali tak mencoba untuk menyingkirkan tangan Daniel di tubuh ku. Aku justru mendiamkan ulah nya ini dan menikmati rasa tenang yang langsung hinggap di hati ku saat Daniel berdiri di samping ku.*****" katamu kamu bertiga dengan pacar mu dan teman mu? Di mana teman mu? " tanya Carlo pada ku dan Daniel." teman ku berpisah duduk dengan kami berdua. " sahut ku jujur mengingat aku sebenar nya dengan Tina terpisah bahkan semenjak aku belum kenal dengan Daniel." wah, dia gak mau jadi obat nyamuk ya. " ucap Mario tertawa. Membuat seluruh penonton juga ikut tertawa karena kelakarnya ini." kalian sudah lama pacaran? " tanya Hedi Yunus sembari memandang ke arah ku dan Daniel.Membuat ku tertegun bingung harus menjawab seperti apa. Apalagi, aku dan Daniel yang memang baru mengenal beberapa saat yang lalu. Namun aku di kejutkan dengan Daniel yang begitu saja menjawab dengan amat lancar." gak terlalu lama sih. Tapi aku merasa udah klop sama Risna. " jawab Daniel.Dan jawabannya ini semakin membuat para penonton semakin bersorak. Bahkan aku baru sadar jika aku dan Daniel sama - sama memakai baju berwarna putih. Jika Daniel sedang memakai kemeja berwarna putih. Maka aku sendiri saat. Ini memakai blouse lengan pendek berwarna putih juga.*****" oke. Karena yang maju saat ini adalah pasangan kekasih, bagaimana kalau kita ajak mereka bermain game kecocokkan? " tanya host pada para penonton dan langsung di setujui oleh para penonton dan para personel Kahitna.Membuat ku dan Daniel langsung berpandangan. Pasalnya, kami berdua sama sekali tak mengetahui bagaimana pribadi masing - masing. Dan bisa di pastikan kami akan banyak yang tak cocok.Tapi tatapan Daniel begitu menenangkan ku. Apalagi tangannya yang masih di pinggang ku kini mulai bergerak mengelusi pinggang ku dengan teratur. Membuat ku sedikit tenang dan mengikuti alur permainan saat ini.Dan permainan kecocokan antara aku dan Daniel pun mulai berjalan. Aku yang awalnya begitu takut - takut menjalani game ini pun mulai rileks dan bisa menikmati permainan. Bahkan, aku dan Daniel nyaris menjawab semua pertanyaan dengan benar. Aku dan dirinya hanya salah menjawab empat dari sepuluh pertanyaan yang di ajukan oleh host dan ke tiga vokalis Kahitna. Benar - benar sebuah keberuntungan. Mengingat jika aku dan Daniel baru mengenal satu sama lain.*****Setelah aku dan Daniel turun dari panggung, aku merasakan jika handphone ku yang ku simpan di tas kecil ku bergetar semenjak tadi. Dan rupanya Daniel pun merasa jika ada yang menelepon ku, karena aku langsung memegang handphone ku." siapa? " tanya Daniel memandang ku lembut." temen ku kak. Yang tadi ke pisah sama aku. " jawab ku pada Daniel yang membuat dirinya mengangguk pelan." angkat gih. Dia pasti kaget liat kamu naik panggung sama aku. Apalagi denger kita pacaran kan. " ujar Daniel tersenyum seraya menyarankan pada ku dan membuat ku mengiyakan ucapannya ini." ntar aja kak. Berisik di sini. " ucap ku sembari menggelengkan kepala." ngobrolnya di belakang badan ku aja. Kayaknya bakal ketutupan deh suaranya kalo kamu nerima telepon di belakang badan ku. Kasian dia. Pasti khawatir. " balas Daniel yang mulai mencari cara agar aku bisa mengangkat telepon dari Tina.Aku yang memang sudah tak enak pada Tina karena lama mengangkat teleponnya pun akhirnya mau tak mau mengiyakan ucapan Daniel. Aku juga tak mungkin keluar ruangan ini hanya untuk mengangkat telepon dari Tina. Sehingga aku menerima telepon darinya di tempat duduk ku saat ini." iya deh. " sahut ku dan mulai mengangkat telepon dari Tina, sahabat ku.Beruntungnya, Daniel cukup paham jika ruangan itu cukup berisik. Sehingga, dengan gesture tubuhnya, dirinya meminta aku menelpon di belakang tubuhnya dan membuat ku seperti bersandar di punggungnya. Daniel pun memajukan tubuhnya sedikit untuk menutupi ku yang tengah bicara dengan Tina lewat telepon.******" hallo. "" gila. Siapa tuh? Cerita sama aku. " ujar Tina begitu aku mengangkat telepon." iya iya. Nanti ku ceritain abis kita keluar dari aula. " jawab ku." enggak. Gak ada. Cerita sekarang pokoknya. "" astaga. Maksa deh. " kekeh ku." kudu ah, cepet. Aku penasaran. " ucap Tina memaksa.Membuat ku akhirnya menceritakan awal mula pertemuan ku dengan Daniel hingga akhirnya aku naik ke atas panggung bersama dengan dirinya. Aku juga menceritakan bagaimana aku di goda oleh beberapa pria berumur saat acara belum di mulai. Dan cerita ku ini berhasil membuat Tina tak tenang karena khawatir." kamu gimana? Gak papa? Trauma mu? " tanya Tina. Dapat ku rasakan kekhawatirannya pada ku dalam getar suaranya." gak papa. Untung kak Daniel cepet dateng nolongin. " jawab ku tersenyum mengingat bagaimana Daniel menolong ku tadi." syukurlah. Tolong bilangin rasa terima kasih ku sama dia. Udah jagain kamu. " sahut Tina membuat ku tersenyum haru atas perhatian sahabat ku ini." iya. Nanti aku sampein. " balas ku. Aku dan Tina pun masih terlibat pembicaraan sebentar sebelum akhirnya aku memutuskan sambungan telepon ku bersama dirinya.*****" sudah? " tanya Daniel ketika dirinya merasa aku mulai kembali duduk seperti semula." udah kak. Temen ku bilang makasih. "" makasih? Makasih buat apa? " sahut Daniel tak mengerti dengan ucapan ku." makasih karna kakak udah nolong aku tadi. Dari... " ucap ku terhenti sembari melirik ke arah belakang dan membuat Daniel mengerti." its okay. Santai aja. Lagipula sudah seharusnya perempuan itu di jaga. Bukan di lecehin kayak gitu. " jawab Daniel yang tanpa sadar menambah nilai plus dirinya di mata ku." mm iya. Sekali lagi makasih ya kak. " ujar ku lagi. Membuat Daniel menganggukkan kepala nya menghadap diri ku. Kami pun kembali tenggelam dalam keasyikan menonton konser Kahitna ini hingga selesai.*****

MY HUSBAND
Romance
11 Feb 2026

MY HUSBAND

" mom. " panggil Darren. Anak semata wayang ku pada diri ku yang memang saat ini tengah duduk sendiri seraya menonton televisi." ya? Kenapa nak? " tanya ku memandang dirinya yang berjalan mendekati ku seraya membawa sebuah box berwarna hitam berkelip warna warni yang begitu rapih dan bersih karena selalu ku bersihkan walau ku letakkan di gudang." Darren mau nanya. Boleh? " tanya dirinya duduk di samping ku." sure sayang. Mau nanya apa sama mom? " tanya ku mengelus puncak kepalanya." ini apa mom? Aku tadi bantu bibi bersihin gudang. Dan aku terus ketemu ini. Kata bibi, di dalam kotak ini banyak kenang kenangan mom. " jawab Darren memandang ku dan membuat ku mengambil alih box yang semenjak tadi di pegang oleh Darren." ini kenangan mom dulu. Sebelum ketemu dad mu. " ucap ku tersenyum tipis. Mengingat kenangan yang mulai menyeruak di benak ku." mom? " ujar Darren karena aku terdiam cukup lama seraya membuka box itu dan mulai meneliti isi box tersebut. Darren yang tak bisa diam pun juga ikut mengambil beberapa barang yang ada di dalam situ dan mulai ikut menelitinya." dia siapa mom? Wajah nya seperti tak asing. Iya kan? " tanya Darren menatap lekat kliping yang penuh dengan foto - foto seorang pria yang terlihat cukup muda." dia idola mom dulu. Dia penyanyi yang cukup tampan dengan suara emasnya yang bikin mom jatuh cinta. " ujar ku dan membuat Darren ber-ooh ria." apa sampai sekarang mom masih menyukainya? " tanya Darren memandang ku." tentu saja mom masih menyukainya. Sampai kapan pun mom akan tetap menyukainya. Dia penyanyi kebanggaan mom dan sampai kapan pun akan terus seperti itu. " jawab ku mengangguk." awas dad tau mom. Dia akan marah. " ujar Darren melirik ke arah ku.Anak ku yang kini sudah berusia enam tahun memang sedang aktif - aktifnya bertanya mengenai berbagai hal. Bahkan dirinya cukup mengerti jika ayahnya begitu posessif pada ku." euh? Marah? Kenapa dad harus marah? " tanya ku dengan kening berkerut bingung." mom seperti tak tahu dad saja. Dia akan marah dan cemburu jika mom membicarakan pria lain. " sahutnya dan membuat ku tertawa seraya menganggukkan kepala ku. Mengiyakan ucapan anak lelaki ku ini." ha ha ha. Kau benar. " jawab ku.*****" aku jadi ingin mendengar suara idola mom itu. " ujar Darren memandang ku." kau mau dengar? " tanya ku memastikan." heum. Iya. Aku mau dengar. " jawabnya mengangguk." ajak dad ke sini dulu. " ujar ku dan membuat Darren menggelengkan kepalanya." mom suka sekali mencari perkara dengan dad. Kalau dad cemburu bagaimana? Lebih baik kita berdua saja. " tanya Darren dan sekali lagi membuat ku tertawa." dad tak akan marah, Sayang. Mom yakin itu. Liat saja nanti. " ujar ku." baiklah. Tapi awas ya dad marah pada mom. Darren gak mau belaain mom. " ujarnya. Membuat Darren mengangguk dan mengalah. Dirinya mulai beranjak menuju kamar ku yang tak jauh dari posisi kami berdua sembari memanggil - manggil dad nya." daddy. "" dad. " teriak Darren sembari masuk ke kamar dan menyerbu ke arah suami ku yang memang baru keluar dari kamar mandi." sayang. Jangan teriak - teriak boy. Sakit nanti tenggorokan mu. " ujar suami ku sambil menggendong anak kami dan mulai mengelus leher anak kami berdua. Sangat terlihat suami ini begitu khawatir dengan keadaan tenggorokan anak lelakinya." sorry dad. " cicit Darren menyesal." gak papa. Dad gak marah. Dad cuma khawatir. Nanti kamu serak kalau teriak begitu. Memangnya Darren ada apa manggil dad? " tanya ku." mom manggil dad. Tapi dad jangan marah ya sama mom. " ujar Darren memandang lekat ke arah suami ku." kenapa dad harus marah sayang? Ada apa? " tanya suami ku bingung. Pasalnya di antara aku dan suami memang tak ada masalah sama sekali." tadi aku bantuin bibi beresin gudang. Dan aku ketemu box milik mom. Kata bibi itu box isinya kenang - kenangan mom dulu. Dan pas ku tanya sama mom. Itu kenangan mom sebelum menikah dengan dad. Dan mom bilang mom masih menyukai kenangan mom itu. " jelas Darren dan membuat suami ku tertawa pelan. Tahu mengenai box yang di maksud oleh anak kami ini." apa dad harus marah? " tanya suami ku." no. Dad bilang jangan marah sama mom. Gak boleh marah sama mom karena mom perempuan. Haram hukumnya marah sama perempuan. " ujar Darren menggeleng.Darren begitu mengingat pesan suami ku ini untuk bersikap lembut kepada setiap perempuan. Dan karena gelengan kepala Darren ini lah membuat suami ku mengangguk. Membuat ku bersyukur karena suami ku begitu mengajari Darren tingginya derajat perempuan." oke. Dad gak akan marah sama mom. Ayo kita ke sana. Dad mau liat juga. " ujar nya dan membuat Darren berseru senang.Mereka berdua pun mulai melangkah untuk keluar kamar dan menemui ku yang masih melihat - lihat isi box itu.*****" ayo mom kita dengar. " ujar Darren yang kini duduk di pangkuan suami ku yang sudah duduk di samping ku.Tapi tanpa sepengetahuan Darren, tangan suami ku kini mulai menyusup di belakang tubuh ku dan mengelus pinggang ku lembut. Membuat ku tersenyum ke arah dirinya karena dirinya begitu memanjakan ku." love you sayang. " bisik suami ku tanpa terdengar oleh Darren dan membuat ku membalas ucapannya ini tanpa suara." love you too. "" mau dengar sekarang? Dad nanti marah lho. " ujar ku menggoda Darren seraya tertawa." enggak mom. Dad gak akan marah. Darren sudah minta dad jangan marahin mom. Kalau dad marah, aku yang akan marah sama dad. " ucap anak ku ini dan membuat kami berdua tertawa." memang berani marah sama dad? " tanya ku seraya menaikkan ke dua alis ku. Terus saja menggodanya." kalau dad berani marah sama mom, aku juga akan berani marah sama dad. " ujar nya. Membuat suami ku mengecup puncak kepala Darren." dad gak akan marah sayang. Kamu dan mom kesayangan dad sekarang. Jadi jangan khawatir. " ujar suami ku. Suaranya begitu indah bahkan sampai saat ini." ayo mom. Dad sudah ngizinin. " gumam Darren memaksa ku untuk segera memutar kaset seseorang yang begitu ku idolakan dulu. Sebelum aku menikah dengan suami ku saat ini." ya ya ya baiklah. Ayo kita dengar. " ujar ku langsung memutar kaset yang masih ku jaga agar tetap bisa di pakai walau sudah bertahun tahun lewat.https://youtu.be/jGgXxSnrvuw*****" wow. Suaranya bagus. Pasti dia penyanyi terkenal di jaman mom. " ujar Darren bertepuk tangan." tentu saja. Makanya mom sangat menyukainya. Bahkan sampai sekarang. Walau dia sudah pensiun menjadi penyanyi, mom akan tetap menjadikannya penyanyi kesukaan mom. " jawab ku." apa? Jadi dia sudah pensiun menyanyi mom? Dia udah enggak nyanyi lagi? " tanya Darren memandang ku lekat. Dan membuat ku mengangguk." heum. Iya. Dia sudah berhenti menjadi penyanyi. Dan setahu mom, dia sudah menikah. Sepertinya dia hidup bahagia bersama keluarga kecilnya. " jawab ku. Dan membuat Darren tertunduk lesu." yahhh... "" kenapa? " tanya suami ku pada Darren karena dirinya melihat wajah lesu Darren." aku kesal. Aku penasaran dengan penyanyi yang di sukai mom. Tapi dia sudah berhenti bernyanyi. Padahal aku suka dengan suaranya. " gumam Darren sedih. Dan membuat hati ku tak tega menyembunyikan fakta yang sebenarnya pada dirinya.*****" tapi... " ucap Darren tak Melanjutkan ucapannya." tapi apa sayang? " tanya ku mengelus puncak kepalanya." aku familiar dengan wajah dan suaranya. Mirip dengan seseorang. " ujarnya. Membuat aku dan suami ku tersenyum tanpa sadar memandang dirinya." oh ya? Mirip siapa? " tanya suami ku dengan suara khasnya." mirip dad. Tapi entah lah. Aku bingung. " ujarnya mengubur wajahnya di dada suami ku. Membuat suami ku refleks mengelus belakang kepala Darren dengan lembur." heum. Dia memang dad sayang. " jawab ku tersenyum. Dan refleks membuat Darren mengangkat kepala nya dan memandang ku dengan rasa terkejut yang tinggi." mom serius? Itu dad? Benar dad? " tanyanya takjub dan heboh sendiri. Bergantian memandang ke arah diri ku dan suami ku. Dan membuat kami berdua mengangguk." heum. Itu dad. " jawab ku." serius dad? Dad dulu penyanyi? "" iya sayang. Tapi itu dulu. Setelah dad menikah dengan mom dan kau lahir, dad memang sengaja memilih untuk berhenti menjadi penyanyi. Agar dad bisa ada waktu dengan kalian berdua di sela - sela pekerjaan dad di kantor. " jawab suami ku menguak fakta terbaru yang tak di ketahui oleh Darren selama ini." woah. Ternyata dad ku seorang penyanyi. Pantas suara dad bagus. " ucapnya dengan penuh rasa terpesona." ayo nyanyi lagi dad. Aku mau dengar dad menyanyi secara langsung. " ujar Darren sekali lagi." hm? Mau dad nyanyi? " tanya Chan bertanya pada Darren." iya. Ayo dad. " sahut Darren menganggukkan kepalanya dengan gemas." ayo dad. Mom juga mau dengar dad nyanyi. " ujar ku menambahkan.Membantu Darren agar keinginannya terkabul. Pasalnya, suami ku ini sangat jarang mau bernyanyi di hadapan ku atau pun di hadapan Darren. Sehingga saat ini kami berdua mencoba merayu kepala keluarga kami ini." baiklah baiklah. Dad akan bernyanyi untuk istri dan anak kesayangan dad. " ujarnya mengalah dan mulai mengeluarkan suara emasnya.Membuat aku bersandar di bahunya dan melingkarkan ke dua tangan ku di lengannya. Menikmati suaranya yang begitu indah di telinga ku. Tak berbeda dari diri ku, Darren pun menyandarkan kepalanya di dada suami ku. Membuat dirinya yang kini memang masih duduk di pangkuan suami ku begitu menikmati saat - saat ini.https://youtu.be/nqiUG5bNibs*****" Mey. " Sapa suami ku saat dirinya keluar kamar mandi dan menemukan aku tengah berdiri di dekat jendela besar yang ada di kamar kami berdua." Heum. Kenapa Chan? " tanya ku memandang ke arahnya seraya menyebut nama kesayangan ku pada dirinya." Sedang apa? Jangan melamun malam – malam. " tegurnya sambil mendekati diri ku dan memeluk tubuh ku dari belakang." tidak. Hanya menikmati malam sambal memikirkan sesuatu. " jawab ku." memikirkan apa? Hm? " tanya Chan pada ku." memikirkan apa kau pernah menyesal karena meninggalkan dunia keartisan mu? Memikirkan apa kau pernah menyesal menikah dengan ku dan menyesal karena harus terpaku hanya pada diri ku dan Darren. " jelas ku dan membuat Chan menggelengkan kepalanya kuat." no sayang. Mana mungkin aku menyesal. Kehidupan ku bersama diri mu dan bersama Darren adalah kehidupan ku yang terbaik selama ini. Kau dan Darren adalah nyawa ku saat ini. Jangan punya fikiran yang aneh – aneh Mey. " ucap Chan.Tangannya yang semenjak tadi berada di atas perut ku pun mulai mengelusnya dengan perlahan. Mencoba membuat ku menikmati ulahnya ini. Dan mencoba membuat ku tak memikirkan hal – hal yang aneh lagi saat ini." aku hanya penasaran mengenai itu. Kau cukup lama menjadi penyanyi. Aku tahu susahnya kau menjadi penyanyi. Tapi, kau memilih untuk melepaskan semuanya di saat kamu berada di puncak karir dan memilih untuk menikah dengan ku. Mejadi orang biasa tanpa ada embel – embel artis di nama mu. " jelas ku." tidak. Sama sekali tak pernah ada kata sesal di dalam kamus ku. Itu adalah pilihan ku saat itu dan aku tak pernah menyesal. Aku memang terkadang merindukan masa – masa di mana aku menjadi penyanyi. Bahagia saat semua karya ku di terima oleh semua orang. Tapi, kehadiran mu dan Darren di hari – hari ku dalam beberapa tahun terakhir membuat ku jauh lebih Bahagia. " kali ini bergantian Chan yang bicara Panjang lebar pada ku." terima kasih karena sudah bahagia bersama ku. " ucap ku membalikkan tubuh ku menghadap dirinya." no, honey. Aku yang harus berterima kasih pada mu karena menjadi sumber kebahagiaan dan sumber kekuatan untuk ku dan Darren. Terima kasih karena sudah bersabar menghadapi manusia seperti ku yang pasti tak mudah kau lalui. " ujar Chan.Dapat ku lihat terpancar aura ketulusan di wajahnya saat ini. Dan membuat ku mengangguk seraya mengubur wajah ku di dadanya dan mendekap tubuhnya erat." aku mencintaimu, Chan. " ucap ku mengucapkan kata cinta pada suami yang sudah ku nikahi selama delapan tahun ini." mee to Mey. Mee to. I love you more and more. " balas Chan dengan mengucapkan kata cinta juga pada diri ku.Ucapan cinta kami berdua kini pun ku harap di aminkan oleh seluruh alam semesta. Aku berharap hubungan ku dan Chan akan berjalan baik – baik saja. Tanpa ada sesuatu hal yang akan menyakiti salah satu dari kami berdua. Aku juga berharap kami akan saling membahagiakan hingga nanti. Hingga aku dan dirinya menutup mata dan tertidur selamanya.*****

LIMERENCE
Romance
11 Feb 2026

LIMERENCE

" hai Qi. " sapa seseorang begitu aku keluar dari kamar ku dan membuat ku terkejut." lho? Tante Mega? Kapan pulang dari Jogja? Kok gak ngabarin? " tanya ku sumringah karena menemukan sosok sahabat mama yang sudah ku anggap sebagai keluarga ku sendiri. Aku pun berjalan mendekati dirinya yang tengah duduk bercengkraman bersama dengan mama." udah dua hari sih. Makanya tante ke sini. Sekalian bawain kamu oleh - oleh tuh. Eh iya Qi. Kamu kangen gak sama adik tante? Itu, si Tama? " ujar Tante Mega, membuat ku mengingat teman masa kecil ku dulu yang sampai saat ini selalu menjadi teman terdekat ku. Tama Adiyoga Wijaya." iyalah tan. Kangen banget. Lagian dia masih kerja di Jogja kan? " tanya ku lagi." tuh orangnya. Di belakang kamu. " ucap Tante Mega tersenyum. Membuat ku langsung berbalik dan menemukan sosok pria jangkung berdiri begitu dekat dengan tubuh ku." hai, cantiknya aku. " sapa Tama pada ku seraya dirinya mengelus pipi ku perlahan dengan jemarinya. Ulahnya ini berhasil membuat ku langsung menghambur memeluk dirinya dengan erat." Tam. Aku kangen. " ucap ku di dalam pelukannya.Aku benar - benar merindukan dirinya saat ini. Tama memang sudah dua tahun ini pindah ke Jogja untuk bekerja. Dan itu yang membuat ku harus terpisah dengan dirinya untuk sementara waktu. Padahal, aku sudah begitu dekat dengan pria yang berusia tiga tahun di atas ku ini." iya. Aku juga. Makanya aku pulang ke sini. Aku kangen juga sama kamu. " jawab Tama mengelus punggung ku lembut. Membuat aku semakin mengetatkan pelukan ku di tubuhnya yang begitu ku rindukan." jahat. Bikin aku nangis terus kalo inget kamu. " ucap ku memukul dadanya dengan sebelah tangan ku." kenapa nangis sih, cantik. Kan kita masih bisa video call. Aku juga masih bisa pulang ke sini. Tau kan, aku gak suka kalo kamu nangis. " tegur nya lembut. Tak suka mendengar fakta bahwa aku sering menangis. Apalagi saat - saat aku merindukan dirinya." Jangan pergi lagi, Tam. " pinta ku padanya. Walau ku tau itu percuma." gak bisa Qi. Aku kan kerja di sana. Tau kan kalo aku mau ngerintis dari bawah. Tolong ngerti ya? " jawabnya mencoba meminta pengertian ku. Aku yang masih berat untuk mengerti pilihan dirinya pun hanya terdiam sembari terus memeluknya dalam diam." nanti, kalau kamu libur kerja kan masih bisa ke Jogja. Datengin aku sekalian liburan. Ya? " tambah Tama mencoba membuat ku mengiyakan pilihannya. Aku yang memang tak bisa berbuat banyak pun akhirnya mengangguk pelan. Masih dalam diam.*****" ya ampun, lama banget pelukannya. " goda mama pada diri ku dan Tama. Dan godaan mama ini berhasil membuat aku dan Tama melepaskan pelukan kami berdua." maaf mbak. Aku kangen banget sama anak mbak. " sahut Tama tersenyum malu. Tangannya masih saja merangkul pinggang ku dan tak lupa mengelusnya dengan lembut. Membuat ku juga tersenyum malu." anaknya juga kangen sama kamu, Tam. Suka ngelamun kalo habis video call sama kamu. " jawab Mama tertawa dan membuat ku tersipu malu. Karena apa yang di ucapkan mama memang benar adanya. Aku benar - benar merindukan Tama yang saat ini berdiri di samping ku." katanya kamu mau pergi? Ke tempat teman mu yang ulang tahun? Jadi Tam? " tanya tante Mega pada Tama. Aku yang mendengar ucapan tante Mega pun mulai menoleh memandang Tama yang berdiri di samping ku." iya, jadi mbak. Makanya ini mau ngajak Qia buat ikut sama aku. " jawab Tama dan berhasil membuat ku terkejut." mau ke mana? Baru juga ketemu. Kenapa pergi lagi? " tanya ku pada dirinya." temen lama ku ulang tahun. Di salah satu cafe deket sini. Dari pada aku pergi sendiri, lebih baik aku pergi sama kamu, kan? Gimana? Mau gak? " sahut Tama tersenyum memandang ku." hmm, iya. Boleh deh. Aku kebetulan gak ada acara kok. " ujar ku mengiyakan ajakannya ini." ya udah, siap - siap gih. Ya? Aku tunggu. " ujar Tama lagi dan membuat ku kembali masuk ke kamar ku untuk bersiap - siap.*****" di sini Tam? " tanya ku pada Tama begitu kami berdua sudah memasuki cafe yang menjadi tempat acara." iya. Nant..."" Zasqia? " tiba - tiba saja, ada pria yang menyapa ku dan memotong ucapan Tama yang di tujukan untuk ku dan berhasil membuat ku was - was dengan kehadiran dirinya." Ben? " gumam ku dengan tubuh yang sedikit menegang karena tak menyangka akan bertemu pria brengsek ini lagi di hidup ku." gak nyangka, kamu bakal ke acara ulang tahun ku juga. Kenapa? Masih pengen balikan sama aku? Hm? Masih pengen enak - enakan sama aku? " ucap pria itu dengan senyum meremehkannya pada ku. Membuat tubuh ku yang kini berdiri di samping Tama bergetar hebat Karena ucapannya ini." Qi? Kamu kenal sama Ben? " tanya Tama dan memandang ku. Apalagi saat ini dirinya merasakan tubuh ku yang di rangkulnya sedikit menegang dan bergetar karena pertemuan ku dengan pria ini." kamu sama dia Tam? Dia ini mantan ku. Eh, bukan deh. Selingkuhan ku lebih tepatnya. Lumayan kok Tam. Enak buat di bego - begoin. Enak buat di manfaatin juga. " tawa Beni terdengar begitu meremehkan diri ku." gitu? Sepertinya, salah aku sudah datang ke sini. " ucap Tama dingin dan menarik tubuh ku untuk semakin mendekat ke tubuhnya dan berbalik memunggungi Beni yang berdiri di hadapan kami berdua. Membuat ku langsung menenggelamkan wajah ku di dadanya. Menyembunyikan raut kebencian ku terhadap salah satu mantan ku itu." maksudmu Tam? " tanya Ben bingung." aku gak suka ucapanmu pada pacar ku saat ini. Aku masih gak nyangka sifat playboy mu masih ada. Bahkan sampai bikin pacar ku jadi korban. Sepertinya, aku salah datang ke acara ulang tahunmu. Aku permisi. " ujar Tama semakin sarkas dan menarik bahu ku lembut untuk pergi dari hadapan Beni. Meninggalkan dirinya yang terus saja memanggil nama Tama di cafe itu.*****" stt. Sudah sayang. Gak papa. Gak usah dengerin omongan Ben. Si brengsek itu gak pantes kamu tangisin kayak gini. " ucap Tama masih saja memeluk ku saat kami sudah berada di luar cafe. Tepat di samping mobil milik Tama." aku gak suka Tam. Kenapa harus ketemu dia. Aku gak mau inget - inget lagi soal dulu. " jawab ku kesal dan menangis." kamu kenapa gak bilang orang yang nyakitin kamu pas kuliah itu Ben? Kalau tau itu dia, aku gak bakal ngelepasin dia Qi. Aku akan balas rasa sakitmu itu. " ujar Tama menahan amarahnya pada Ben. Apalagi dirinya mengetahui kisah ku dulu saat kuliah. Saat aku patah hati karena seseorang. Tapi Tama tak pernah tau siapa pria yang sudah menyakiti ku saat itu." gak usah Tam. Aku udah gak mau punya urusan sama dia. Aku gak mau lagi. " jawab ku menggeleng. Membuat wajah ku bergesekan dengan kemeja yang Tama pakai saat ini karena posisi Tama yang masih memeluk ku erat." iya. Aku gak bakal izinin dia ketemu pacar ku lagi. Aku gak akan biarin kamu ketemu si brengsek itu. " sahutnya." pacarmu? " tanya ku mengulang ucapannya seraya mengangkat kepala ku dan membuat kami berdua saling berpandangan." iya. Kamu Qi. Kamu mau gak jadi pacar ku? " tanya Tama tiba - tiba dengan lembut dan perlahan." kenapa tiba - tiba Tam? Setelah sekian lama? Udah bertahun - tahun kita bareng, dan kamu baru minta aku jadi pacarmu sekarang? " tanya ku tak mengerti dan balik bertanya pada dirinya." aku hanya lagi memantaskan diri buatmu. Aku sengaja bekerja di Jogja. Merintis dari bawah. Meninggalkanmu sendiri di sini tanpa aku. Karena aku tau, kamu begitu mencintai kota itu. Aku tau, kamu ingin menghabiskan masa tuamu di kota itu. Maka dari itu, aku ingin berjuang dulu di sana dan begitu aku sudah sukses, aku akan melamarmu. Mengajak mu menikah dan memboyongmu untuk tinggal di sana. " jawabnya dan memberikan bayangan manis mengenai masa depan kami berdua." tapi kenapa? Kenapa aku? " tanya ku masih tak percaya dengan semua yang diucapkan dirinya." kamu tau limerence gak? " tanya dirinya balik pada ku dan tak menjawab pertanyaan ku." limerence? Apa itu? "" limerence itu kondisi di saat kita lagi tergila-gila sama seseorang, dan itu yang kurasakan denganmu. Semenjak dulu, sama sekali tak pernah berubah sampai sekarang. " jawab Tama sembari menyelipkan helaian rambut ku yang terurai saat ini." sejak kapan kamu suka sama aku Tam? "" sejak aaku membantumu saat kamu terjatuh dari sepeda motor. Waktu itu kamu ketabrak mobil di depan kompleks saat aku datang bersama mbak Mega menemui mamamu. Aku membantumu dan aku mulai menyukaimu di saat itu. Ingat gak Qi? " tanya dirinya tersenyum sembari dirinya mengingatkan ku mengenai saat pertama kalinya kami bertemu." iya. Aku ingat banget. Aku gak tau lagi kalau bukan kamu yang nolongin Makasih ya Tam. " ucap ku kembali mengubur wajah ku di dadanya." pertanyaan ku tadi gimana? Mengenai ajakan ku untuk mengajakmu serius? Mau nerima? " tanya Tama lembut. Tak lupa dirinya mengelus puncak kepala ku dan punggung ku dengan kedua tangannya." iya. Aku mau. Aku mau nolak juga gak bisa. Aku suka sama kamu udah dari lama. Tapi aku gak mau ngancurin hubungan kita selama ini. Makanya aku diem aja. Trus kamu malah ninggalin aku ke Jogja kemaren. Aku marah padahal sama kamu. Kamu ninggalin aku. " ucap ku menjawab." bodoh. Kenapa gak dari awal bilang? Mana mungkin aku bisa ninggalin kamu. Hati ku udah ku titip sama kamu. Gak akan aku kasih ke siapa pun lagi. Jadi, sekarang kita resmi? Kamu milik ku sekarang ya? " ujarnya mengetatkan pelukannya terhadap ku dan hanya bisa ku balas dengan juga memeluk dirinya." beneran? Jadi, sekarang kita... "" ya bener lah sayang. Jadi sekarang, kamu udah jadi pacar ku ya? " balasnya dan membuat menganggukkan kepala ku." iya lah. Aku mau. Aku gak nyangka ih. Bakal bisa sama kamu sekarang. " ujar ku mengecup dadanya yang masih terbalut kemeja dan membuatnya tertawa renyah." terima kasih sayang. Terima kasih. Aku janji gak akan nyakitin kamu. Gak akan ada yang boleh bikin kamu nangis juga. " ucap Tama.Sedangkan aku hanya bisa membalas ucapannya ini dengan menganggukkan kepala ku di pelukannya. Aku benar - benar bahagia sekarang. Aku bisa bersama dengan dirinya. Ku harap, dirinya bisa menjaga janjinya ini dan membuat ku bisa melangkah lebih jauh ke jenjang yang lebih serius bersama dengan pria ku saat ini.]

BADMINTON LOVE
Romance
11 Feb 2026

BADMINTON LOVE

BADMINTON LOVE" Aku berangkat dulu ya. Ntar telat lagi. Hari ini kan hari pertama aku di SMA. Dah papa, dah bunda. " ujarku sambil setengah berlari menuju garasi." Nita, sarapan dulu. Nanti Maag kamu kambuh lho nak. " ujar Bunda dari dapur." Ntar aja lah bun, Nita nanti makan di kantin aja. Dah papa dah bunda. Nita berangkat ya. "Aku pun sampai di SMA dan SMP Bhakti Bangsa Bandung sepuluh menit sebelum bel masuk berbunyi. Dan untungnya aku gak terlambat." Heh lo, cewek yang pake tas warna hitam. Sini! " teriak seorang cowok yang memakai jas almamater berwarna hijau yang berarti anak kelas XI. Sedangkan untuk anak kelas X memakai jas berwarna merah dan anak kelas XII berwarna biru.Tiba – tiba bahuku di tepuk dari belakang. Sepertinya dia juga anak kelas satu, karena dia juga memakai jas almamater warna merah sepertiku." Eh, lo di panggil sama kakak yang cowok tuh. " ujarnya sambil menunjuk tempat orang yang sambil menatapku. Aku pun beranjak pergi menemui kakak yang kutahu bernama Neo sang ketua Osis dan salah satu pendiri genk " The Zodiac Four " selain Nickolas Handoko dan Kharisma Putri Nugraha yang sangat berpengaruh di sekolah ini." Elo ikut gue! Nick, Ima Ikut gue. " kami pun menuju danau di belakang sekolah yang kutahu adalah tempat berkumpulnya "The Zodiac Four"." Elo! Nama loe adalah Pranita Alsyafindy Riska. Masuk ke SMA Bhakti Bangsa dengan jalur prestasi Bulutangkis. Bener? " ujar kak Neo.Hening." Jawab! Loe punya mulutkan! " bentak seorang cewek yang kutahu namanya adalah Ima." Hei, udahlah. Jangan marah – marah. Kasian dia. Dia juga gak tau kan apa masalah kita. Oh ya, Jawab aja pertanyaan Neo sebelum dia ngamuk lagi. " ujar Nick sambil tersenyum namun terasa acuh." Iya kak, aku memang masuk dengan jalur prestasi. "" Heh! Loe denger ya. Mulai sekarang, jangan harap elo bisa main bulutangkis di sekolah ini selama gue masih ada di sekolah ini. Dan jangan tanya alasannya. " ujar Neo." Tapi kenapa kak? Aku gak merugikan siapa – siapa kan? " ujarku protes. Kulihat Nick menggelengkan kepalannya sambil tersenyum menatapku. Dan menandakan supaya aku tak membantah ucapan Neo." Diam! Gue bilang jangan nanya. Loe jangan pernah sekali – sekali membantah anak – anak "The Zodiac Four" ngerti loe! Nick, Ima, cabut sekarang! "ujarnya sambil berlalu." Elo, masuk kelas aja sekarang. Pelajaran kedua udah mau mulai. Dan kalau guru nanya elo dari mana, bilang elo habis di panggil sama kami semua. " ujar Nick sambil tersenyum dan mengacak – acak rambutku gemas sambil menyusul Neo. Aku pun segera kembali ke kelasku yang berada di lantai dua yang satu lantai dengan anak – anak kelas XI IPA.*****Untunglah Bu Sarah, guru yang mengajar geografi di kelasku sama sekali tidak mempermasalahkan ketidakhadiranku di mata pelajaran beliau yang pertama setelah beliau tahu aku di panggil oleh " The Zodiac Four ". Kami pun melanjutkan pelajaran di jam Kedua.Namun aku masih kepikiran mengapa anak – anak " The Zodiac Four " yang melarang keras aku untuk bermain bulutangkis. Saat istirahat, aku segera ke meja Rio, yaitu ketua kelasku yang baru dipilih tadi." Rio, sorry, gue mau nanya sedikit dong sama elo. Bisa? " ujarku sambil duduk di sampingnya." Silahkan. Apa Nit? "" Loe pasti kenalkan sama Anak – Anak " The Zodiac Four "? Secara loe sejak SMP disini. Kok mereka ngelarang gue main bulu tangkis sih? Trus, kenapa namanya " The Zodiac Four "? Mereka kan Cuma bertiga. Tolong jelasin sama gue dong. "" Loe serius mau tahu ceritanya? " ujar Rio sambil menatapku. Aku pun mengangguk setuju." Loe mungkin gak tahu tentang mereka karena elo baru masuk Bhakti Bangsa mulai kelas 1 SMA. Beda dengan aku dan anak – anak lain yang kebanyakan udah mulai dari SMP disini. "The Zodiac Four" itu awalnya memang berempat. Yaitu Neo, Nick, Ima dan Lenna. Lenna adalah pacar Neo sejak kelas 1 SMP. Mereka berempat selalu satu kelas sejak kelas 1 SMP hingga kelas 1 SMA. Lenna adalah atlet bulutangkis kebanggaan anak – anak Bhakti Bangsa. Nick juga atlet bulutangkis. Ya, versi cowoknya Lenna-lah. "" Trus? " ujarku." Mereka berdua udah mengharumkan nama SMP dan SMA Bhakti Bangsa sejak awal masuk SMP. Namun naas, saat kelas 1 SMA, Lenna meninggal saat lomba Bulutangis tingkat SMA seluruh Jawa Barat karena asmanya kambuh saat pertandingan. Memang sehari sebelumnya asma Lenna beberapa kali kambuh. Namun ia bersikeras ikut bertanding. Namun fatal akibatnya. Lenna meninggal. Sejak itulah eksul bulu tangkis dilarang di SMP sama SMA Bhakti Bangsa. Itu adalah keputusan dari Neo dan Ima. secara mereka adalah anak – anak yang sangat berpengaruh dan orang tua Neo adalah ketua yayasan di sekolah kita. Jadi genk mereka bebas bikin aturan apa aja. Sedangkan Nick, dia memilih diam dan tak perduli. Tapi Cuma dia yang sangat baik ke anak – anak yang lain di genk " The Zodiac Four " sekarang. "" Sekarang mereka kelas berapa? "" Mereka sama – sama kelas XI jurusan IPA. Neo dan Ima itu kelas IPA 2 dan Nick kelas IPA 4. Kenapa Nit. Kok elo nanyain mereka. "" Oh. Nothing. Makasih informasinya ya Yo. " ujarku kembali ke tempat dudukku." Your welcome Nit. Anything for you. " ujarnya sambil tersenyum.*****" Aaaaaaaaakh... Neo! Loe gila. Loe kelewatan. Cuma gara – gara pacar loe meninggal akibat Asma saat tanding bulutangkis, loe ngelarang ada Bulutangkis di sekolah ini. loe udah ngancurin hidup gue! Loe gila Neo! Aaaaaaakh... sumpah! Gue benci ama loe! Juga ama genk loe " The Zodiac Four"! Gue benci! " teriakku sambil menangis di danau yang sepi saat itu karena anak – anak yang lain sedang latihan ekskul. Sedangkan aku memilih tidak ikut ekskul, karena aku Cuma pengen ikut ekskul bulutangkis." Berarti elo juga benci sama gue dong? " ujar Nick yang ternyata berada di atas pohon yang ada di sampingku. Nick pun segera meloncat turun dan duduk disampingku sambil menghapus airmataku." Eh ka Nick. Sorry ka. Bukannya... "" Udah. Ga apa. Gak usah manggil kakak lagi. Nick aja. Gue paham kok kenapa elo marah ama Neo. Elo gak ikut ekskul? " potong Nick." Enggak. Loe tau sendiri, gue cuma suka bulutangkis. Sedangkan disini gak ada. Jadi ya mending gak usah ikut apa – apa. Toh, gue bakal ngejalanin setengah hati. Kan mending gak usah. Elo sendiri?"" Elo pasti udah denger cerita tentang gue dari Rio. Cerita gue sama kayak elo. Tadi Rio bilang sama gue kalo dia cerita semua sama elo. Oh ya, elo masih mau gak latihan bulutangkis? Kita main di luar sekolah aja. Kan gak ada larangan. Itupun kalo elo mau main sama gue. Gimana? "" Serius Nick? Iya gue mau. Kapan? "" Ya udah. Ntar mulai sore ini aja jam empat sore di gedung Persada di samping sekolah. Gimana? " ujarnya. Aku pun menggangguk. Akhirnya Nick pamit pergi. Sebelum dia pergi, dia masih menyempatkan diri untuk mengacak – acak rambutku dan menyuruhku istirahat.Sudah tiga bulan aku dan Nick latihan bulutangkis di gedung. Dan ternyata Ima dan Neo tahu apa yang kami lakukan berdua. Saat upacara hari senin, Neo memberi pengumuman." Kepada Nickolas Handoko dan Pranita Alsyafindy Riska segera di tunggu oleh saya, Neofal Pratama dan Kharisma Putri Nugraha di danau. Setelah upacara selesai. Terima kasih. "" Wah, Nit, loe nyari masalah apa sama genk " The Zodiac Four " sampe elo dipanggil. " ujar Rio saat aku ke barisan belakang kelasku. Aku pun menggeleng." Eh, Nick. Kenapa? " ujarku saat bertemu dengan Nick. Nick hanya menggelengkan kepala. Aku dan Nick pun pergi ke danau. Di sana udah menunggu Neo dan Ima." Akhirnya. Dua kunyuk ini datang juga! Elo berdua gak usah berlagak gak tau deh. Gue tau, elo berdua selama tiga bulan belakangan ini sering main bulutangkis kan di gedung sebelah! " ujar Neo gusar." Iya. Gue sama Nita emang main bulutangkis di gedung sebelah. Kenapa? Gak suka? Kita juga gak main di sekolahan. Gak ada larangannya. " ujar Nick sambil maju selangkah dan melindungku di belakang tubuhnya." Berarti loe berdua udah cari masalah sama gue dan Ima. Ma, cabut! " ujar Neo sambil pergi menjauh.*****4 hari kemudian yaitu hari kamis...." Sebagai hukuman karena elo melanggar peraturan bahwa dilarang bermain bulutangkis, elo berdua harus bertanding sama kita berdua. Kita punya 3 pertandingan. Yang pertama, dipilih oleh gue dan Ima, yang kedua dipilih sama elo berdua, dan yang ketiga akan dipilih dari semua siswa. Dan semua pertandingan harus di ketahui oleh semua warga Bhakti bangsa. Dan pertandingan ketiga akan diketahui hari senin lusa. Gimana, Setuju? "" Ok. Gue setuju. Dari tim gue, gue milih bulutangkis campuran. Elo? " Ujar Nick saat kami semua berada di lapangan di saksikan oleh semua warga Bhakti bangsa." Tim gue milih Tenis campuran. Kini tinggal nunggu pertandingan ketiga. Sekarang, elo kapan mau mulai pertandingan? "" Mulai minggu depan hari sabtu, lanjut hari senin dan selasa. Gimana? tapi, apa konsekuensinya? " ujar Nick tajam." Oke. kalo tim elo menang, elo berdua gak akan dikeluarin dari sekolah ini, dan eksul bulutangkis akan kembali ada. Tapi, jika elo berdua kalah, jangan pernah kembali ke sekolah ini untuk selamanya. Gimana? berani? "" Kita berani! Gue gak pernah takut sama elo. " ujarku sambil menahan gejolak didadaku." Oke. Kita tunggu sampai senin. Dan sejak senin kita boleh berlatih sampai hari Jumat. Dan mulai sabtu kita akan bertanding. " ujar Neo sambil membubarkan kerumunan.Hari yang di tunggu – tunggu pun tiba oleh seluruh warga Bhakti Bangsa. Karena hari ini adalah hari dimana dua tim akan mempertaruhkan timnya dan akan bertanding dengan sepenuh hati. Dan lomba ketiga selain Bulutangkis dan tenis adalah renang.Hari pun berganti. Tak terasa hari ini adalah hari terakhir pertandingan. Dimana, pertandingan bulutangkis dimenangkan oleh timku, dan pertandingan tennis dimenangkan oleh tim Neo. Setelah bersusah payah untuk bertanding, akhirnya timku memenangkan pertandingan renang dengan perbedaan waktu dengan tim Neo hanya 10 detik saja." Gue minta loe berdua nepatin janji loe! Gimana? " ujar Nick sambil memberikan handuk kepadaku yang masih basah karena perlombaan berenang tadi." Gue dan Ima minta maaf sama elo berdua. Karena kita berdua udah nyusahain kalian berdua. Dan gue serta Ima akan nepatin janji yang kami buat kalian. " ujar Nick sambil menyerahkan handuk pada Ima, lawanku bertanding tadi."Iya. Loe berdua tenang aja. Kita bakalan mencabut putusan yang melarang ada ekskul bulutangkis. " ujar Ima meneruskan.*****Tak terasa sudah 3 bulan eskul bulutangkis kembali berjalan di SMA dan SMP Bhakti Bangsa. Dan aku masuk menjadi anggota "the Zodiac Four". Aku pun semakin akrab dengan Nick.Tiba tiba Nick datang kekelasku..." Eh, nih. Ada browsur tentang perlombaan bulutangkis antar pelajar cewek SMA seluruh Indonesia. Ikutan gih. " ujarnya sambil duduk di sampingku." Serius? Em.... pengen sih. Tapi gue gugup. Gimana dong Nick. " ujarku." Tenang aja. Pasti bisa kok. Ntar gue juga ngebantuin latihan elo kok. Gue temenin daftar deh. Ayo yo. " ujarnya sambil menarikku.Akhirnya aku pun mengikuti perlombaan bulutangkis itu. Tahap demi tahap aku lalui dengan disemangati oleh orang tuaku dan anak – anak Bhakti Bangsa yang sengaja datang saat aku bertanding di Jakarta. Dan yang paling semangat adalah "the Zodiac Four".Hingga akhirnya aku memasuki Final dan melawan wakil dari Banjarmasin. Kami pun bermain sangat sengit. Hingga aku pun memenangkan perlombaan ini dengan skor akhir 21-09, 20-22, dan 21-10. bel pun berbunyi dan menandakan bahwa aku memenangkan kejuaraan ini. Mereka yang mendukungku pun bersorak untuk kemenanganku. Dan anak – anak "the Zodiac Four" pun memasuki lapangan dan segera memelukku." Gue bilang apa. Elo pasti bisa. Gak sia – sia kita terus latihan selama ini. Dan akhirnya elo menang. Gue salut sama elo. " ujar Nick saat yang lain meninggalkan kami sambil membawa piala yang kudapatkan." Makasih. Ini juga berkat elo yang selalu menolong gue dan menyemangati gue, untung aja ada elo. Hehe. " ujarku sambil tertawa lepas. Nick pun memandangku sambil tersenyum." Loe cantik kalo senyum gitu. " ujarnya." Hah? ngomong apa sih loe Nick. " ujarku salting." Bener kok. Loe cantik kalo ketawa gitu. " ujar Nick sambil menatapku." Ya ampun, kalo mau ngerayu jangan disini dong Nick. Di tempat yang romantis dong. " ujar Neo sambil tertawa di samping orang tuaku dan anak – anak yang lain." Apaan sih. Jangan ngaco deh. Bikin geer aja sih elo Nick. Ntar ada yang marah lho." ujarku tersipu." Nit, gue boleh ngomong sama elo? " ujar Nick." Apa? Silahkan aja lagi. "" Loe, Pranita Alsyafindy Riska mau gak jadi pacar gue, Nickolas Handoko? "" Terima dong.... " ujar Neo, Ima dan anak – anak yang lain." Oke. Gue, akan terima elo asal loe jawab jujur pertanyaan gue. Elo kenapa suka sama gue, dan sejak kapan? "" Oke. Gue jawab. Gue suka sama elo, karena elo tu unik, elo bisa jadi diri elo sendiri, dan elo berani mengambil semua resiko agar elo bisa meraih impian elo. Dan satu lagi. Karena gue sayang sama elo. Gue suka sama elo sejak kita pertama kali bertemu. Saat gue jadi kakak pembimbing elo saat acara MOS. Sejak itu gue selalu memperhatikan dan selalu mencari informasi tentang elo. Gimana? sudah puas jawabannya My Princces? " ujarnya sambil tersenyum. Aku pun tersenyum saat dia memanggilku "MY PRINCCES"." Iya gue terima. " ujarku. Karena memang sejak aku dekat dengan Nick, aku mulai merasakan bahwa aku mulai menyukai dan menyayanginya. Anak – anak yang lain pun bersorak saat aku berkata aku menerima Nick menjadi Pacarku.Nick pun langsung memelukku dan berkata lirih di samping telinggaku." Gue janji, gue akan menjaga elo selalu, dan selalu menyayangi elo, everytime. Gue janji Nit. "Ucapan yang langsung membuat wajahku merah merona. Aku pun tersenyum." Gue percaya Nick. Gue juga akan menyayangi Elo, always and forever. "

MAAFKAN
Romance
11 Feb 2026

MAAFKAN

"Ra, kenapa lo gak nyatet? Tumben. Sakit lo? " Tanya Shea, sahabat ku Saat dirinya melihat ku tengah melamun." apaan? " Tanya ku balik sambil tetap memandang seseorang di luar kelas dari jendela di sampingku." kenapa lo ngelamun? Ada masalah? Kok elo gak nyatet? " Tanya Shea lagi sambil menyalin catatan teori kuantum fisika di slide yang di tampilkan depan." Gak papa kok. Gue liat punya elo aja. " jawab ku sambil tetap melamun." masalah sama kak Antra ya? Dari tadi elo ngeliatin dia terus. " Tanya Shea lagi sambil benar - benar menatap ku setelah menyelesaikan satu halaman catatannya." he eh. Gue putus sama dia. Dua hari yang lalu. " ujar ku sambil terus menatap lapangan basket di luar sana.Di luar sana ada kak Antra. Pacar ku selama satu bulan kemarin. Namun kami sudah putus dua hari yang lalu. Aku seakan - akan tak lagi mengenal sosok kak Antra yang ku kenal selama ini.Masih jelas dalam ingatan ku pertengkaran terakhir aku dengan kak Antra dua hari yang lalu. Kami bertengkar di danau tempat kami pertama kali bertemu. Tempat pertama kali kami berdua merubah status kami menjadi pacar.*****" Ra, aku gak suka kalo kamu itu terus – terusan posesif sama aku. Bentar – bentar sms lah, telpon lah. Aku juga butuh privasi Ra. Aku juga butuh bareng sama teman – temanku. Gak harus sama kamu terus. " ujar Antra saat baru tiba di danau." apaan sih Ka. Baru datang juga udah marah - marah. Lagipula, aku posesif gimana? waktu kita berdua itu cuma dari sabtu pagi sampe sabtu malam. Udah kan. Dan hari ini hari sabtu kak. Lalu aku salahnya dimana? " tanya ku yang tersulut emosi karena tiba - tiba kak Antra berucap seperti itu.Tapi sms sama telpon kamu itu ganggu tau gak. Bentar – bentar sms. Kamu gak tau kan kalo aku sibuk. Dasar anak kecil. " jawab Antra." aku bukan anak kecil kak. Terus kakak maunya gimana? " tantang ku." aku mau kita putus. Asal kamu tau, aku nerima kamu karena aku kasian sama kamu kalo pernyataan cinta kamu aku tolak. Lagi pula kamu itu jadi barang taruhan ku sama anak - anak. Aku sama sekali gak cinta sama kamu. Dan satu lagi. Kamu yang selalu ngejar – ngejar aku. " tandas Antra mengejutkan ku.Aku cukup terkejut teryata seorang Vantra Ferdinand Sutedja bisa melakukan hal sejahat itu. Aku pun mengerjapkan mata untuk menahan tangis ku yang hendak menyeruak keluar." oke kita putus. Aku akan mundur dan menjauh dari kakak. Makasih udah mau jadi pacar aku kak selama satu bulan ini. Oh ya. Sebelum aku pergi aku mau ingetin kakak satu hal. " ujar ku dengan suara bergetar menahan tangis." apa? "" tepat tanggal ini dan hari ini, anniversary kita satu bulan kak. Tanggal 24 september. Sekaligus hari ulang tahun aku. Makasih kejutannya kak. Aku sangat – sangat terkejut dan terluka. " tekan ku sambil beranjak pergi bersama air mata ku yang mengalir. Meninggalkan kak Antra dengan keterkejutan dan penyesalannya.*****" Tuh kan, elo ngelamun lagi. Perlu gak gue hajar tuh kak Antra? Keterlaluan tau gak dia bikin elo kayak begini. Padahal kan waktu itu elo ulang tahun? Brengsek tuh ka Antra. " ujar Shea saat lagi – lagi menemui ku tengah melamun sambil menatap sosok Kak Antra yang bermain basket di luar sana." udahlah. Gak usah. Mungkin gue harus mundur dari zona yang udah kak Antra buat. Gue emang gak boleh masuk dalam zona kehidupan kak Antra. Emang pantes buat kita putus. " ujar ku sambil menghela nafas dalam.*****Tok... tok..." Masuk. " ujar bu Lina, guru Biologi di kelas ku, saat ada yang mengetuk pintu kelas. Padahal baru saja beliau selesai mencatat bahan untuk ulangan minggu depan." permisi bu. Saya ada perlu dengan Maura Winarja. " ujar orang yang mengetuk pintu yang ternyata kak Antra." oh, kalau begitu silahkan Maura. Yang lain silahkan lanjutkan mencatatnya. " ujar bu Lina sambil tersenyum." maaf bu. Saya gak mau. Saya mau belajar di sini aja. Kalau pelajarannya terlewat, saya bisa gak ngerti bu. " ujar ku menolak tanpa mau menatap wajah kak Antra. Aku sudah bertekad untuk menjauh dari kehidupan kak Antra." oh ya sudah kalau begitu. Maaf ya Antra. Kalau bisa kamu silahkan keluar dan tutup pintunya. " ujar bu Lina.Kak Antra pun akhirnya keluar dengan wajah kecewa. Dan bisa ku pastikan bahwa hampir semua cewek di kelas ku menatap tajam ke arah ku.Jelas saja. Tidak ada cewek yang gak suka kak Antra di seantero SMA Pusaka." Ra, loe yakin mau kayak gini sama kak Antra? " ujar Shea di sela pembahasan Bu Lina." ya. Lagipula elo kan yang bilang elo gak setuju gue mengharap kak Antra. Dari pada gue sakit hati setiap dekat dia, lebih baik gue menjauh sejauh jauhnya dari dia. " ujar ku." Maura Winarja, Sheanda Zastriani. Kalian mau belajar atau mau ngobrol? Kalau mau ngobrol, nanti saja saat istirahat. " ujar bu Lina. Kami berdua pun langsung tertunduk diam.Hening.*****Aku baru saja menaruh tas ku di kursi saat sebuah tangan menarik tangan ku. Tangan kak Antra." ikut gue! " tariknya." Enggak. Kita udah gak punya hubungan apa – apa lagi. Kakak gak berhak ngatur aku harus ikut atau enggak sama kakak. Lepasin kak! " tolak ku setelah sampai di depan kelas.Tentu saja keributan ku dan kak Antra membuat anak – anak di kelas ku yang memang sudah banyak berdatangan terdiam. Kami berdua akhirnya menjadi tontonan anak – anak kelas ku, juga anak – anak yang sedang lewat di depan kelas ku." elo gak bisa ngebantah omongan gue Maura. " kata kak Antra." oh ya? Tentu aja aku bisa. " tandas ku." elo kenapa sih ngehindar dari gue? Elo cintakan sama gue? " yakin Antra." Ya, memang awalnya aku cinta sama kakak. Tapi inget kelakuan kakak tempo hari, aku udah muak sama kakak. Aku udah benci kakak. Dan aku, udah gak cinta sama kakak. Aku udah bilang kan? Aku mundur dari kakak. Ngerti kan apa yang aku bilang? Ngerti bahasa Indonesia kan? " ujar ku sambil mengibaskan tangan kak Antra." sekarang udah mau masuk. Lebih baik kakak pergi deh. Udah mau bel tuh. " tambah ku sambil kembali masuk ke dalam kelas dan duduk kembali di tempat duduk ku.Meninggalkan sosok kak Antra yang terdiam memandang ku dengan penuh rasa penyesalan karena ulah nya yang membuat ku bersikap seperti ini.*****" Maura! gue punya satu berita buat elo. " teriak Shea saat baru masuk ke kelas sehabis dari kantin." Plis deh Shea. Gak usah teriak - teriak kenapa? Gue gak budek kali. Ada apaan sih? " ujar ku setelah dia duduk di samping ku." tadi waktu gue lagi di kantin, gue di cegat sama kak Antra plus genknya. Di C-E-G-A-T Maura. " kata Shea heboh." terus? " ujar ku acuh tak perduli dengan isi bahasan Shea." ya elah Ra, gue udah heboh gini elo Cuma bilang 'terus'? ngebetein banget sih loe Ra. " ujar Shea sewot." iya. Apaan? " ujar ku serius sambil menghadap Shea." dia bilang dia mau minta maaf. Dia nyesel banget udah mutusin elo. Dia bilang setelah mutusin elo, bukannya seneng dia malah kepikiran elo terus. Dia mau balikkan sama elo. Trus dia bilang dia bakal ngelakuin apa aja buat elo balik lagi sama dia. Menurut gue terima aja lagi. Kayaknya dia jujur kok. Gimana? " ujar Shea panjang lebar." kenapa juga gue harus balikkan sama dia? Lo juga bilang kan lo gak setuju sama dia? "" Tapi Ra, sumpah, mata dia tuh bener bener kelihatan nyesel. Lo tau sendiri kan, mata itu gak bisa bohong. C'mon Ra. " bujuk Shea.*****Tret... Tret..." cek... 1.. 2.. cek... Yaps guy's. Gue Vantra Ferdinand Sutedja. Gue lagi ngebajak sebentar ruang audio mumpung para guru lagi gak ngajar. Gue di sini mau ngasih satu lagu buat cewek yang udah gue sakitin dan udah gue lukain hatinya. Tapi sekarang malah gue yang bisa ngilangin bayangan dia. Gue bener – bener nyesel dan mau ngajak dia balikan lagi. Cewek itu adalah Maura Winarja. Maura, kalo elo denger semua ini, gue harap elo bisa ke sini. check this sound. Letto memiliki kehilangan. " ujar kak Antra sambil memutar sebuah lagu.......Tak mampu melepasnya walau sudah tak adaHatimu tetap merasa masih memilikinyaRasa kehilangan hanya akan adaJika kau pernah merasa memilikinyaPernahkah kau mengira kalau dia kan sirnaWalau kau tak percaya dengan sepenuh jiwaRasa kehilangan hanya akan adaJika kau pernah merasa memilikinya" apaan sih nih anak. Bikin malu aja. " ujar ku keluar kelas ditemani Shea dan di antar tatapan sinis para cewek di kelas ku." itu buktinya kalo dia serius mau balikan sama elo. Tuh dia sampe bikin malu gitu. Udah lah Ra. Terima aja. Gue yakin nih anak tulus kok sekarang. " ucap Shea sambil mengikuti ku menuju ruang Audio." Shea. Lo gak liat tatapan sinis cewek cewek di kelas kita? Itu baru di kelas kita lho Shea. Belum lagi seantero jagad raya ini. Kalo dia bikin malu terus, yang ada gue yang selalu di jadiin bulan – bulanan cewek seantero sekolah. "" itu sih gara – gara mereka sirik aja sama elo. Karena elo pernah pacaran sama seorang Vantra Ferdinand Sutedja. Seluruh planet juga tau kali kalo ka Antra itu cowok yang paling susah banget di kejar. " ujar Shea hiperbolis." udah deh Shea. Gak usah hiperbolis gitu. Ka Antra itu udah nyakitin hati gue. " ujar ku sesampainya di depan ruang Audio.Brakk..." apaan sih maksud lo kak? Lo tuh bikin malu tau gak. Kampungan! " bentak ku begitu melihat dia duduk melamun di samping peralatan Audio sambil menunggu ku." udah datang rupanya elo Ra. Lo ngomong apa barusan? Gue gak denger. " ujarnya memandang ku." Apa maksud lo dengan semua ini? Lo udah bikin malu. " ulang ku dengan nafas memburu." Maaf kalo gue bikin lo malu. Tapi gue bener bener mau minta maaf sekaligus mau ngajak elo balikan. Gue gak tau musti gimana. Elo selalu aja ngindar dari gue. Memangnya gue senista itu ya Maura? " Tanya Ka Antra seraya berjalan mendekati ku dan membetulkan poni ku yang berhamburan karena aku terlalu terburu - buru keruang Audio.Aku diam terpaku tanpa bisa melawan saat ka Antra menyentuh poni ku dan membereskan rambut ku yang berantakan. Wajahnya begitu dekat dengan wajah ku. Hanya berjarak beberapa senti saja.Shea memandang ku dari samping, seolah olah dia berkata " ayo Maura. Lo udah liat perhatiannya. Terima aja kenapa sih? "" loe mau balikan lagi sama gue Ra? " Tanya Kak Antra penuh harap." enggak! Loe tau ka? Hati gue sakit! Gue udah terlalu sayang sama lo. Tapi elo kak? Loe bahkan gak pernah punya perasaan sama gue. Bahkan elo nyakitin gue kak. Lo fikir, dengan lo cuma minta maaf dan minta balikan sama gue, rasa sakit itu akan hilang? Enggak Vantra Ferdinand Sutedja yang terhormat. " ujar ku sambil beranjak keluar dari ruang Audio meninggalkan Shea dan ka Antra yang diam terpaku." kakak gak lupa kan? Maura orang yang sangat keras kepala. " ujar Shea begitu ka Antra beradu pandang dengannya. Dan mau yak mau hati Antra mengakui itu.*****" Heh! Mana yang namanya Maura Winarja?! Ayo jawab! " ujar salah seorang cewek yang bergerombol datang ke kelas ku yang ku tahu anak kelas sebelas, sekelas dengan Kak Antra. Aku sudah merasa jika mereka akan berbuat sesuatu terhadap ku." gue Maura. Kenapa? " tanya ku sambil berjalan menuju mereka berempat." gak usah banyak cingcong deh. Ikut gue! " seret cewek yang tadi bicara. Di bantu teman - temannya, dia menyeret ku menuju gudang di belakang sekolah." lo! Lo tuh udah untung bisa pacaran sama Antra. Gak usah sok kecantikan deh! Cewek kuper kayak lo aja sok keganjenan. Pake acara jual mahal segala lagi. Sok sok-an pake acara menyek – menyek gitu. Berasa paling oke gitu? Hah? " ujarnya sambil menghempas ku ke kursi yang ada di samping gudang. Dapat ku rasakan punggung dan pantat ku langsung nyeri karena terhempas ke kursi yang ada di sana." jawab woy! Punya mulutkan lo! Bisu lo? " ujar teman cewek itu yang bertubuh subur.Aku tetap diam tak bergeming sambil menatap tajam mereka berempat. Aku tak ingin ribut dengan mereka. Apalagi cuma karena masalah laki - laki. Rupanya kelakuan ku mengundang kemarahan mereka. Mereka hampir saja mengeroyok ku kalau saja kak Antra dan Shea tak datang." lepasin Maura! " teriak Antra.Tak pernah ku lihat Antra semarah ini. Matanya menatap mereka berempat dengan penuh kebencian. Ka Antra berjalan tenang mendekati kami. Saat sudah sampai di hadapan ku, Kak Antra langsung menarik ku menjauhi mereka dan langsung memeluk ku." lo gak papa? " bisik ka Antra di dekat telinga ku. Aku pun mengangguk menjawab pertanyaannya. Menutupi kenyataan bahwa tubuh ku sakit karena di dorong oleh mereka.aku sama sekali tak keberatan di peluk olehnya saat ini. Nyaris saja aku menjadi korban kebrutalan fans - fans Antra yang gila ini. Entah kenapa, aku merasa aman di dalam pelukan Antra saat ini" gue gak maafin elo semua gara – gara ulah elo semua. Kalo sampai ada apa – apa sama Maura, habis elo semua di tangan gue! Gue bakalan ngaduin semua ini ke kepala sekolah dan elo semua gue pastiin di keluarin dari sekolah ini. " ucap Antra dingin namun menusuk. Nada suaranya tak tinggi, namun aura Antra sangat terasa mencekam dan menyeramkan." gue punya bukti loe berempat selalu ngebully beberapa anak di sekolahan ini. Dan gue pastiin, Itu cukup kuat ngebuat kalian mendekam di penjara akibat penganiyaan yang menyebabkan salah satu korban kalian harus operasi di kepala akibat ada penggumpalan darah di otaknya. Dan sampai sekarang, anak itu masih koma di rumah sakit. " ujar Shea sambil menunjukan sejumlah foto. Antra dan Shea langsung membawa ku meninggalkan gudang itu. Meninggalkan mereka berempat dalam ketakutan setelah melihat foto - foto yang di beri oleh Shea.*****" elo berdua bakalan beneran ngelaporin mereka berempat ke kepala sekolah sama polisi? " ujar ku saat aku dan Shea di antar pulang oleh kak Antra." iya. Mereka udah terlalu banyak ngeresahin anak - anak yang lain. Lo tahu Ra, siswa yang masih koma itu Siapa? " ujar Shea yang duduk di kursi belakang." Siapa? Kalo gak salah itu angkatan mereka juga kan? " ujar ku berbalik menatap Shea yang berada di belakang. Sedangkan kak Antra masih berkonsentrasi menyetir karena ada kemacetan. Sesekali dia melirik ku untuk memastikan aku tak apa - apa." dia sepupu gue. Udah dua bulan ini dia koma. Sekolah udah bilang kalo mereka sekali lagi bikin kesalahan, mereka langsung di keluarkan. Dan inilah saatnya. Gue sekeluarga udah pernah lapor ke polisi, tapi gak bisa diproses karena gak ada bukti yang memadai. Sampai tadi sebelum nolong elo, gue di kasih bukti bukti foto tadi sama Shea. Shea dapat dari temannya yang rupanya menyaksikan kejadian itu di tempat dia sembunyi. " Ujar kak Antra saat lampu merah." trus? Gimana keadaan sepupu loe kak? " ujarku tanpa sadar mengenggam tangan Ka Antra." gue gak bisa janjiin kapan dia bisa sadar. Bahkan kedua orang tuanya aja udah hampir menyerah melihat anak mereka semata wayang kayak orang meninggal gitu. " balas kak Antra sambil membalas mengenggam tangan ku dengan tanggan kirinya. Sembari mengelus tangan ku yang berada di genggamannya. Kami bertiga pun terdiam, bahkan hingga Shea sudah turun di depan rumahnya." Ra, gue gak nganter loe pulang dulu. Gue mau ngajak elo ke suatu tempat. " ujar kak Antra setelah lumayan jauh dari rumah Shea. Tanpa menunggu jawaban ku, kak Antra menuju arah yang bertolak belakang dari rumah ku." Mau ke mana kak? Lo mau bawa gue ke mana? Gue mau pulang aja. Ka Antra gue mau balik sekarang. " ujar ku kaget. Ka Antra tetap membawa ku pergi tanpa memperdulikan penolakkan ku.*****" Nih loe minum dulu. " ujar Kak Antra sambil menyodorkan sekaleng minuman dingin kepada ku yang sedang duduk di bebatuan yang menjorok ke danau di bawah pohon." Ngapain lo bawa gue ke sini lagi? " ujar ku sambil meletakkan minuman itu di samping ku. Aku melepas sepatu dan kaus kaki ku seraya menengelamkan kaki ku ke danau. Kak Antra pun duduk di sampingku seraya mengikuti ku dan membiarkan celananya basah." kenapa? lo gak suka? " Tanya Ka Antra." gue udah bersumpah buat gak inget semua yang berhubungan dengan lo. Gue udah berusaha ngelupain elo selama tiga bulan ini. Tapi, elo malah selalu nganggu gue di saat gue mati matian ngejauh dari elo. Gue udah terlalu sakit kalo gue deket elo. " jawab ku sambil menatap kosong ujung danau di seberang kami." sebegitu terlukanya elo sama gue Ra? Gue bener bener minta maaf. Gue gak tau bakal ngebuat elo kayak gini. " sesal Ka Antra." Seandainya aja gue gak terlalu sayang sama elo, gue mungkin gak separah ini. Tapi sayangnya gue udah terlampau jauh masuk kedalam ini semua. " sahut ku pelan sambil melempar beberapa batu kecil ke tengah danau." gue fikir, gue bakal bahagia sama elo. Taunya, elo cuma bisa ngasih sakit ke gue. " tambah ku tersenyum sinis." jadi, gue gak ada harapan lagi ya buat memperbaiki semuanya? Gue gak bisa lagi ya ngajak balikan elo? " Tanya kak Antra.Aku cuma bisa diam tanpa berani bicara apa – apa. Di satu sisi, aku masih sakit hati atas perlakuan Kak Antra tempo hari padaku. Tapi di sisi lain, aku gak bisa bohongi perasaan ini kalo aku masih ada sedikit rasa untuk kak Antra. Dan berharap untuk balikan lagi sama kak Antra." Maura, jawab gue. Kalo gue nembak elo sekarang, loe bakal terima gue lagi atau enggak? " Tanya Ka Antra lagi, setelah melihat ku terdiam beberapa saat." Entahlah. Tapi akan gue coba buat nerima elo lagi. " ujar ku lirih." Hah? Apa? Gue gak salah denger kan? Ta~ tapi, tadi lo bilang lo udah terlalu sakit hati sama gue? " Tanya ka Antra bingung atas pernyataan ku yang di dengarnya."Mungkin intuisi seorang wanita. Setidaknya, kalo gue terluka lagi, gue punya alasan yang bagus buat bunuh diri. " jawab ku asal tak perdulu." Ra! jangan ngomong gitu! Gue gak suka. Seakan akan gue bakalan kehilangan elo lagi. Gue sayang elo. Gue gak akan nyakitin elo lagi. "" jangan terlalu maksain. Kita gak tau apa yang akan terjadi didepannya. Jangan berjanji kalo gak yakin bisa di tepati. " ucap ku diplomatis. Aku saat ini sudah tak mau lagi mudah percaya padanya. Biarkan waktu saja yang meyakinkan aku atas dirinya." tapi, elo beneran nerima gue kan Ra? Elo beneran jadi pacar gue lagi kan Ra? Iya kan? " desak Kak Antra sambil menatap ku. Aku pun mengangguk membalas tatapannya seraya tersenyum. Ka Antra pun menarik ku berdiri dan langsung memelukku erat." gue fikir, gue bakal di tolak untuk kedua kalinya. Gue gak siap buat elo tolak lagi Ra. " ujar Ka Antra di sela – sela pelukannya.Semoga saja, pilihan ku kali ini benar dan tak akan menyakiti ku lagi. Semoga saja, harap ku. Aku pun menenggelamkan kepala ku di dada ka Antra.****

ADITYA
Romance
10 Feb 2026

ADITYA

Hari ini tepat tiga bulan aku berada di SMA Husada Solo. Tapi sekarang malah telat gara - gara ada kecelakaan di persimpangan kompleks rumahku. Padahal hari ini jam pertama adalah pelajarannya Pak Oscar, guru Matematika. Aku segera berlari di lorong. Tiba - tiba...Brukk...Sial! Aku nabrak seorang cowok. Tapi dia bukannya membantuku untuk membereskan buku yang berjatuhan, malah sikapnya jutek banget." Kalau jalan liat - liat. Jalan pake Mata jangan pake dengkul. " ujarnya dingin." Sorry ya. Aku jalan pakai kaki. Catet tuh. KAKI! Bukan pake mata atau dengkul. Permisi. " sahutku sambil beranjak pergi meninggalkannya. Dia memandangku dengan senyum misterius.Aku pun langsung berlari menuju kelasku yang berada di lantai dua. Huff. Untung saja Pak Oscar belum datang. Aku pun langsung duduk di kursi tepat di depan meja guru. Saat aku baru duduk, Pak Oscar masuk ke kelas kami. Dua puluh lima menit kemudian cowok yang menabrakku tadi masuk kekelas dan menemui Pak Oscar. Ternyata cowok yang menabrakku tadi adalah teman satu kelasku. Namanya Aditya.Ternyata setelah ku perhatikan. Adit termasuk orang yang cukup keren. Dengan rambut yang sepertinya sengaja jatuh menutup dahinya di tambah kacamata yang nangkring di hidungnya. Sepertinya tak sulit baginya untuk jadi playboy cap kadal." Permisi. Maaf Pak Saya telat datang. Saya tadi di panggil Bapak Kepala Sekolah. " ujarnya sambil duduk." ya sudah. Silahkan duduk. "Pak Oscar pun melanjutkan kembali pelajaran yang sempat terhenti karena Aditya datang. Kami pun kembali fokus ke pelajaran.***" kak Ai, temenin Riko ke toko buku dong. Papa sama Mama Ke Makassar, oma sakit. Sedangkan pak Min nganter ke bandara. " cerita Riko panjang lebar saat aku datang dari kursus komputer. Rupanya dia sudah siap. Kasihan kalau aku tolak." ya sudah, nanti Kak Ai temenin. Tapi nanti saja ya. Kak Ai capek banget nih soalnya. " sahutku masuk kedalam rumah. Riko pun mengangguk senang.Riko bukanlah adik kandungku, orang tua dan Kakakku meninggal saat kecelakaan pesawat. Sedangkan orang tua Riko adalah sahabat orang tuaku, karena itu mereka mengadopsiku untuk menjadi anak mereka. Riko adalah anak kandung mereka satu - satunya. Aku dan Riko berbeda 8 tahun. Walau Riko tahu Aku bukan kakak kandungnya, kami tetap bisa akrab.Jam lima sore akhirnya aku mengantar Riko ke Solo square. Kami pun segera ke gramedia untuk membeli buku." kamu cari aja ke sana. Kak Ai mau nyari buku juga. " ujarku saat sampai di Gramedia. Aku pun langsung menuju kebagian rak buku kesehatan. Aku memilih buku your health guide "ASMA", "DIABETES", "HIPERTENSI", dan "FLU BURUNG". Setelah selesai mencari, aku pun beranjak pergi mencari Riko karena dia belum menemuiku lagi." udah Ko? " tanyaku saat bertemu dengannya." udah kak. Aku beli tiga. Nih. " katanya sambil menunjukkan buku Panduan belajar IPA, IPS, dan buku cerita rakyat dunia." ya udah, bayar yuk. Kita ke kasir sekarang. " ujarku menuju kasir yang ada di dekat pintu masuk." Mas, semuanya berapa? " ujarku di depan kasir sambil mengambil buku yang ada di tangan Riko." semuanya Rp. 180.000,- mbak. Cash atau pakai Kartu ATM Mbak?"" Kartu aja Mas. Nih. "Aku pun mengeluarkan kartu ATM-ku dan menyerahkannya ke bagian kasir.***Tiba - tiba hari ini aku disuruh menghadap Kepala sekolah. Ada apa ya? Rasanya aku tak pernah membuat masalah selama enam bulan di sekolah ini. Aku pun segera beranjak dari tempat dudukku dan menuju ke kantor kepala sekolah yang berada di lantai satu.Saat di depan Ruangan Kepala Sekolah, aku bertemu dengan Adit. Rupanya dia juga dipanggil. Tanpa menghiraukannya, aku segera masuk ke dalam. Adit pun mengikutiku di belakang." permisi Pak. Bapak Manggil Saya? " tanyaku saat bertemu dengan Pak Rahman. Rupanya beliau sedang ada tamu." Iya. Ada yang ingin Bapak bicarakan denganmu dan Adit. Oh, ya. Perkenalkan mereka orangtua Adit. Pak Rahardian dan bu Suk... "" perempuan ini bukan Ibu saya! Dia hanya perempuan yang suka merebut suami orang lain! Jangan pernah bilang kalau Dia ibu saya. " potong Adit Sinis." Adit! Jaga bicara kamu! Dia istri Papa. Jadi dia juga Ibu Kamu! " bentak Pak Rahardian. Kayaknya bakalan ada perang dunia Ke empat nih pikirku." memang dia istri yang diakui! Tapi jangan harap Adit Mau Mengakui atau memanggil wanita ini sebagai Mama. Mama Adit hanya satu dan yang jelas bukan Dia! " ujar adit tajam sambil memandang Tante Sukma yang hanya bisa diam sambil menundukkan kepala.Akhirnya karena Melihat situasi yang semakin memanas, Pak Rahman membuat sebuah keputusan." Aisna, Bawa Adit keluar saja sekarang. Kita bicaranya Nanti saja setelah Adit tenang. "" Ba, Baik Pak. Dit, Ayo. Adit, ayo. " balasku sambil menyeret Adit keluar dari ruangan itu menuju taman.***" Nih. Minum dulu biar kamu tenang. " Ujarku sambil menyodorkan minuman kaleng pada Adit yang aku beli di koperasi tadi saat kami tiba di taman." dua kali aku harus bilang Thanks buat kamu. " ujar Adit sambil mengambil minuman ditanganku dan duduk menghadap Kolam ikan." buat apa Dit? " tanyaku sambil tetap berdiri di samping Adit." yang pertama buat tindakan kamu yang nyeret aku ke luar dari ruangan itu. Kalo enggak, gak tau deh ntar jadi gimana. Mungkin aku bakalan terus berantem sama Papa. Yang kedua buat minuman ini. " ujarnya sambil tersenyum.Gila! Tumben banget nih anak senyum. Biasanya dingin banget. Apalagi sejak tabrakan dulu, pikirku." hehehe... gak apa. Eh, Aku duluan ya. Mau ke perpustakaan nih. Ntar tutup lagi. " ujarku sambil beranjak pergi." tunggu bentar Ai, " ujar Adit sambil menarik tanganku. Namun, karena terlalu kencang, aku pun terjatuh hingga menabrak tubuhnya. Adit pun langsung menangkap dan setengah memelukku." so, sorry banget Ai. Aku gak sengaja narik kamu kekencengan. Aku minta Maaf ya? Sumpah Ai, aku minta Maaf banget. Aku nyesel. " ujarnya sambil memandangku lembut." Gak Papa. Santai aja. Kenapa tadi manggil? " ujarku seraya mengusap tanganku yang tadi menabraknya." Aku cuma Minta temenin kamu di sini. Aku lagi gak pengen sendirian. Sakit ya Ai? " ujarnya sambil mengelus tanganku yang sakit." hmm. Gak apa. Cuma perih. "Adit pun langsung memeriksa tanganku. Rupanya tanganku lecet karena tergores resleting jaketnya."udah. Tenang aja. Aku gak apa. Tenang aja. " ujarku santai." yakin? Bener gak papa? " ujarnya khawatir. Aku pun mengangguk.Adit pun mengela nafas panjang setelah mendengar ucapanku." dulunya aku hidup kayak anak - anak lainnya. Keluarga yang harmonis, menyenangkan, dan bahagia. Bahkan aku sempat bersyukur karena memiliki semuanya dan lengkap banget. Tapi, semua itu langsung musnah ketika dokter memvonis Mamaku menderita Kanker Darah. Sejak itu Mama Jadi pendiam, suka menyendiri, dan suka melamun. Pada suatu hari, tiba - tiba Mama menyuruh Papa untuk menikah lagi karena mama ingin aku dan papa tak terlalu sedih ketika mama sudah tiada. Tentu saja Aku dan Papa menolak habis - habisan. Tapi tetap saja Mama terus memaksa Papa. Akhirnya, Papa menikah juga dengan Wanita itu. Padahal wanita itu sahabat mama. Mama malah mendukung. Namun, hanya aku saja yang tak setuju dengan wanita perebut suami orang itu. Sejak saat itulah, aku selalu menutup mata dan telinga bila ada perempuan itu. "" Maksud Kamu wanita itu, Tante Sukma? " tanyaku hati - hati dan dijawab oleh anggukan kepala Adit." yakin kamu ngasih tau aku tentang semua ini? "tanyaku. Dia pun mengangguk lagi." Kamu ada saran buat aku Ai? " tanyanya dengan tetap menatap kolam." Hmm... Ada. Menurut aku, kamu enggak seharusnya benci sama tante Sukma. Soalnya menurut aku, bukan salah beliau sepenuhnya. "" jadi kamu juga mau membela perempuan itu? " ujar Adit sinis." enggak. Aku gak ngebelain siapa - siapa. Ini kan bukan semua salah tante Sukma. Apalagi beliau sahabat mama kamu. Mama kamu mungkin punya rencana kenapa beliau meminta papa kamu untuk menikah lagi sama tante Sukma. Tuhan mungkin punya rencana untuk keluarga kamu. Gimana kamu tau apa yang dipikirkan oleh semua orang kalau kamu gak membuka mata untuk melihat masa depan? Coba deh kamu liat ke samping kiri kamu. Tante sukma nangis terus sambil ngeliatin kita. Mungkin ini saatnya kamu membuka mata dan telinga untuk tante Sukma. Toh ku lihat tante orang yang baik. Tapi ini terserah kamu sih. Ini kan hidup kamu Bukan hidup aku," ujarku sambil beranjak pergi meninggalkannya saat Adit memandang tante Sukma dengan pandangan yang sulit ku cerna.***Tiba - tiba Aditya datang ke mejaku saat istirahat." thanks ya. " ujarnya sambil duduk di sampingku." hah? " hanya itu yang keluar dari mulutku." iya. Thanks buat kamu yang udah ngomong gitu sama gue waktu tempo hari. Sekarang aku sadar, kalau tante Sukma enggak seperti yang aku bayangin. Aku aja yang terlalu paranoid. Sejak aku mulai mencoba baik sama mama, mama Sukma memang nyatanya baik banget. Dan bisa ngerti sifat aku. "" hah?? Mama? Tante Sukma Kamu panggil Mama? Tumben. Sejak kapan tuh? " ujarku sambil tersenyum." iya. Mama. Sejak dua minggu lalu, aku udah nganggep beliau sebagai mama aku yang kedua. Hehehe... "" dasar. Berarti aku punya andil besar dong dalam membaiknya hubungan kalian? Iya gak Dit? Traktiran. " ujarku sambil tertawa renyah." huuu... maunya... " ujarnya tertawa sambil mengacak - acak rambutku. Aku pun segera memperbaiki rambutku yang berantakan." Aduh Adit. Rambutku rusak nih. Akh. Dasar. Awas ya. Dapet balesan dari aku. " ujarku sambil membalas merusak rambutnya.Sesaat kemudian, tiba - tiba HP Adit berbunyi.Nothing's gonna change my love for youYou ought to know by now how much I love youThe world may change my whole life throughBut nothing's gonna change my love for you" hallo. Kenapa Pa? Tumben nelpon? ""....."" Hah? Apa? i... iya. Adit segera pulang sekarang Pah. " ujar Adit histeris. Seketika itu pula wajah Adit menegang dan memutih seperti kertas setelah mendengar berita dari Papanya." Ai. Cepet ambil tas Kamu dan ikut aku. Sekarang! " perintah Adit saat dia menyambar tasnya dan keluar kelas.Aku pun segera menyusul Adit ke parkiran dan mulai masuk ke dalam mobilnya." hei. Hei. Hei. Ada apa sih Dit? Kenapa? " ujarku saat kami sudah keluar dari lingkungan sekolah.Sesaat kemudian, Adit menghentikan laju mobilnya dan langsung memandangku sambil berkaca - kaca." mama meninggal. aku harus kesana sekarang. Temenin aku ya? "" jelas lah aku mau nemenin. Ayo. " ujarku sambil menyuruh Adit segera pergi.Saat kami sampai dirumahnya Adit, kami berdua di sambut oleh tangis Tante Sukma. Sedangkan Adit hanya terdiam sambil mendekati jenazah ibunya. Aku tak tahu apa yang dilakukan Adit karena aku sambil menenangkan Tante sukma. Saat ku lihat sekeliling tak terlihat pak Rahardian. Papa Adit." Om rahardian mana tante? " Tanyaku pelan." sejak tadi dikamar. Dia sangat terpukul. " ujar tante Sukma sambil terus menangis. Aku pun meminta izin beranjak untuk menemui Adit yang ada di depan jenazah mamanya." Dit, " ujarku pelan sambil menempuk bahunya pelan dan memeluk lengannya. Adit hanya memandangku dengan senyum yang sangat terpaksa sambil menghembuskan nafas keras."kamu ganti baju dulu Dit. "" iya. Kamu ikut aku sekarang. Kamu ganti baju juga, temenin aku ya ke pemakaman mama. " Ujarnya serak." tapi Dit, aku gak bawa baju ganti. " ujarku sambil mengendurkan pelukanku ditangannya, namun Adit menahannya." kita pinjem baju mama Sukma aja. Mungkin ada gaun yang pas buat badan kamu. " ujarnya sambil mencari tante sukma.Tante sukma pun mencarikanku gaun untuk ke pemakaman. Sedangkan Adit ku paksa untuk mengganti baju sekolahnya.***Suasana pemakaman berjalan khidmat. Hanya terdengar isak tangis para pelayat dan suara kicauan burung. Langit tampak berawan seakan tak mau menampakkan kecerahannya.Aku sangat tidak menyukai suasana ini karena mengingatkanku pada acara pemakaman papa, mama dan kak Gio. Tak terasa aku menangis dan langsung mengenggam erat tangan Adit yang ada di sampingku." kenapa Ai? Kok ketakutan gitu? " ujarnya bingung melihatku gemetar sambil melingkarkan tangannya di pundakku untuk menenangkanku." aku inget pemakaman orang tua dan kakakku. " bisikku nyaris tak terdengar. Aku semakin erat memegang tangan Adit.Adit rupanya cukup paham dengan keadaanku sehingga dia tetap memelukku dan menahanku agar tak terjatuh.Lima belas menit kemudian, para pelayat menyingkir satu persatu sehingga hanya menyisakan aku, Adit, tante Sukma dan om Rahardian.Aku hanya bisa diam sambil menarik nafas panjang menyaksikan mereka bertiga dalam duka yang mendalam.***Tiga hari sudah Adit gak masuk sekolah. Hari ini aku menunggunya di depan kelas sambil harap - harap cemas apakah Adit masuk atau enggak." Nunggu siapa Ai? " Tanya roy, ketua kelas. Saat dirinya mau masuk kelas." nungguin Adit. Hari ini kan ulangan Matematika. Masa dia gak ada. " ujarku sambil melipat tangan di depan dadaku." oh Adit. Dia masuk kok. Tadi aku liat lagi main baket sama anak - anak X-2. Cie, kangen ya si pacar gak masuk tiga hari? " ujarnya meledekku." apaan sih Roy, pacar? Siapa pula pacarku ini. jangan - jangan kamu ngambek ya, aku duduk di kursimu disebelah Adit? " ujarku tertawa renyah." hahah sialan kau. Jadi malah aku yang kena. Udah ah. aku mau belajar. Dah cantik " ujarnya jail. Aku hanya bisa geleng - geleng kepala melihat ketua kelasku yang aneh bin ajaib dengan rambut kribonya. Akhirnya aku pun kembali duduk di kursiku lagi sambil membaca komik yang kubawa.Lima menit sebelum bel masuk berbunyi Adit masuk kelas dan duduk di sampingku. Adit segera menaruh tasnya di atas meja dan langsung bersandar di bahuku." Adit, kena~..? "" stt.. jangan dibahas " ujarnya masih tetap bersandar di bahuku. Aku pun akhirnya hanya mendiamkannya sambil membaca komik yang belum selesai tadi." Ai, " tegurnya." ada apa? " ujarku menatapnya dan menutup komik yang baru kubaca." aku mau cerita. Ya? "" tapi pak Oscar? Ulangan kan? " tanyaku." Pak Oscar gak masuk Ai. Sakit. Jadi gak jadi ulangan. Tadi pak Oscar sms aku. " ujar Roy yang duduk di belakang ku dan Adit. Adit langsung menarikku ke kantin dan duduk di tempat yang paling pojok." pak pesen mie ayam sama es jeruk dua. " ujarnya." ada apa Dit? " ujarku." aku masih linglung. Mama meninggal mendadak banget. Dan.... "" Dit, kamu harus move on dong. Jangan gini terus. Mama kamu di surga juga bakalan sedih kalo kamu gini terus. Ayolah come on. Masih banyak yang butuh kamu. Tante sukma, om rahardian, dan juga aku. " ujarku tersenyum dan membuat Adit terperangah." maksud kamu? "" menurut kamu apa? " tambahku sambil tersenyum. Aku dan Adit pun hanya bisa saling berpandangan." mau gak jadi pacar aku? " ujar Adit mendadak." hah? " ujarku kaget." gimana? Mau gak? Inget lho. Aku perlu jawaban. " ujar Adit sambil mengenggam tanganku erat." em, kepo banget sih. Mau tau aja apa mau tau banget? " ujarku sambil tersenyum jahil." mau tau abis. Hahaha... ayolah. Apaan jawabannya? " ujar Adit sambil tertawa lebar." em, iya aku mau. Eh, tapi aku mau tau kenapa kamu suka sama kamu. Padahal masih banyak cewek cewek yang mau banget sama kamu. " ujarku heran." karena kamu satu - satunya cewek yang bisa bikin aku tenang, bisa ngeredam emosi aku, dan bisa bikin aku jungkir balik dan dag dig dug der. " jawab Adit sambil tersenyum." hu~ gombal banget sih kamu tuh. Ntar sama cewek lain gitu juga. " sahutku merajuk padanya. Adit pun mengeser kursinya ke sampingku." enggak bakalan lah. Aku udah naksir sama kamu itu udah dari kita ketemu waktu tabrakan dulu. Gak bakalan aku ngelepasin kamu. Aku itu sayang sama kamu. " tambah Adit sambil mengenggam tanganku." tapi, aku gak mau kamu deket banget sama cewek lain. " ujarku menundukkan kepala." iya lah. Gak mungkin. Aku tau perjuanganku mendapatkanmu. " ujar Adit sambil mengelus kepalaku lembut.Aku pun menatap Adit lembut. Ternyata desember sekarang bukanlah desember kelabu yang sering dinyanyikan penyanyi terkenal. Menurutku saat ini adalah desember ceria yang menanungiku bersama Adit. Saat ini, mungkin hingga seterusnya. Semoga saja. Pikirku.***

CELAH HATI
Romance
10 Feb 2026

CELAH HATI

" Ta, Greta... bangun dong Ta. " ujar mama sambil terus mengetuk pintu kamarku." Ada apa ma? " tanyaku sambil membuka pintu yang memang sedari tadi kukunci." Hari ini tolongin mama jemput anak temen mama yang namanya Robin ya. Kamu inget gak sama Tante Salma? Anaknya akan tinggal sama kita selama dia nerusin SMA di sini. Ya Robin itu. "" Hah? Enggak enggak... males ah mah. Hari minggu ini. Hari santai kali mah. Ngapain juga dia tinggal disini? Dikamar siapa juga mah? Enggak ada ah. " tolakku." dia tinggal disini kan karena orang tuanya masih di London. Dan dia cuma sendirian di Indonesia. Lagi pula yang di pake itu kamar Nicky. Sedangkan Nicky pindah ke kamar kak Gio. Udah deh kamu aja yang jemput dia. Nicky gak bisa, soalnya dia lagi beresin kamar barunya. "" Hah? Berarti dia tidur di sebelah kamar Greta dong mah? Enggak ah. Jangan deh. Kenapa gak tidur di kamar kak Gio aja? " kataku sambil menunjuk kamar yang berada di ujung lorong di sebelah kamar Nicky yang bahkan aku tak pernah mau untuk mengingatnya. Dan aku langsung menyesali ucapan ku barusan. Menyakitkan bagiku mengingat semua tentang kak Gio." kamu sendiri kan yang bilang jangan ada yang pernah menyentuh ataupun masuk kamar Kak Gio selain orang rumah? " Tanya Mama pelan sambil membelai rambut pendekku. Terlihat luka yang mendalam dalam tatapan mama padaku." ya udah. Aku jemput sekarang. " ujarku mengalah dan kembali masuk kedalam kamar sesaat setelah menatap pedih pintu kamar kak Gio. Seorang lelaki yang hanya terpaut lima tahun lebih tua dariku dan Nicky.*****Sudah hampir tiga jam aku menunggu orang yang bernama Robin di bandara bersama Ghina, sahabatku yang juga pacar Nicky, kembaranku." Sialan banget sih tuh cowok. Kata mama dia datang jam sepuluh. Tapi sampe jam setengah dua gini dia gak dateng – dateng juga. Awas aja tuh. Gue sumpahin tujuh turunan deh. " ujarku dongkol sambil menatap pintu kedatangan luar negeri." sabar Ta... kali aja pesawatnya Delay gitu. Kan bukan salah dia. " ujar Ghina mencoba menyabarkanku." Gimana gue mau sabar Na, tuh liat. Pesawatnya udah datang dua jam yang lalu. Ngeselin banget deh tuh cowok. " ujarku sambil menunjuk layar tv yang biasanya menunjukkan jadwal keberangkatan dan kedatangan." kali aja dia nunggu bagasi. Kan dia pindah. Pasti banyak dong bawaannya. Udah deh Greta. " ujar Ghina sambil geleng – geleng kepala.*****" ehm. Elo Greta sama Ghina kan? Udah tau gue kan. Ayo kerumah elo Gre. " ujar seorang cowok yang tiba – tiba saja datang dan langsung memanggil ku dengan nama Gre. Yang tentu saja membuatku dan Ghina tersentak kaget." Elo....! Jangan. pernah. panggil. gue. Gre! " bentakku tertahan dengan segera pada orang yang ternyata Robin. Anak tante Salma. Aku pun segera berlari menuju mobil sambil menangis. Tiba - tiba kejadian tujuh tahun lalu kembali terlintas di benakku.*****" Kak Gio... kak Gio... tungguin Gre dong. " teriakku kepada seorang cowok yang lari mendahuluiku menyebrang jalan bersama kembaranku, Fenandirga Nicky." ih Eta lama. Makanya jangan jadi cewek. Ahaha " Teriak Nicky sambil tertawa." Nick, jangan gitu sama Gre. Kamu tunggu sini. Kaka mau jemput Gre. " peringat Kak Gio. Dan dibalas anggukkan mantap Nicky yang tak tahu bahwa sebentar lagi sang waktu akan melakukan esekusi terhadap orang yang menjadi panutannya itu.Kak Gio pun langsung lari mendatangiku yang hampir saja menangis. Aku hanya bisa diam membeku memandang kejadian setelah itu yang terjadi di depan mataku. Kejadian yang membuat kak Gio pergi dan direnggut dari ku secara paksa dan tiba - tiba oleh sang waktu. Sebuah truk dengan kecepatan tinggi menabrak tubuh jangkung kakak yang begitu ku cintai. Satu - satunya kakak yang ku punya. Dan itu terjadi saat aku berada di hadapannya.*****" Greta... Eta.. Fenandizzy Gretania! " teriak Ghina sambil menguncang tubuhku yang berada di belakang kemudi, membuat aku tersadar dari lamunan tentang kak Gio." apa? " Tanyaku lemah sambil menatapnya dalam. Kemudian tatapanku beralih ke sosok di belakang Ghina yang tampak melihatku dengan tatapan bertanya. Robin." kita pulang. Gue yang bawa mobil. Ini perintah Eta! " tegas Ghina setelah melihat keadaanku. Aku hanya diam dan mengikuti perintah Ghina sambil sesekali aku menatap Robin dan mengela nafas panjang.*****" Kenapa? Greta? " Tanya Nicky saat kami berdua ada di tepi kolam renang di belakang rumah." apa? Apa yang kenapa? " tanyaku sambil memandang Mama dan Papa yang bicara pada Robin di ruang keluarga yang besebrangan dengan tempat kami berdua." apa yang terjadi sama elo sampai harus Ghina yang gantiin elo nyetir. Elo gak bisa boong sama kembaran elo sendiri Ta, gak mungkin elo mau Ghina yang nyetir mobil saat ada elo disana kalo elo gak kenapa - kenapa. " ujar Nicky sambil memasukkan kedua tangannya kedalam saku celananya." Ghina gak bilang? "" dia bilang gue harus tanya elo. Walaupun gue tau apa akar masalahnya. Kak Gio. " ujarnya sambil memberikan tekanan pada suaranya saat menyebut nama Kak Gio." Robin. Dia manggil Gue 'Gre' "" Tapi dia kan gak tau masalah kak Gio. Dia baru aja datang Ta. Dia gak tau masalah kelam di keluarga kita. Dia gak tau ketika masa – masa mama dan elo depresi berat. Sampai sampai mama selalu diberi obat penenang selama tiga tahun lebih. Dan elo yang harus tinggal di rumah sakit jiwa selama setahun, dan membuat kamu harus tinggal kelas waktu itu? " ujarnya sambil menghela nafas panjang." ya. Memang. Untung aja gue masih bisa mengejar elo dan Ghina pas gue ikut akselerasi saat SMP. Dan kembali lagi ke masalah Robin. Tapi dia akan tinggal lama di rumah kita, Nick. Yang mana mau gak mau dia harus tau semua di rumah ini, Nick. Juga tentang kenangan Kak Gio. Suka atau tidak. " ujarku sambil berlalu dari hadapan Nicky.Sedang Nicky hanya memandang kepergianku. Semua orang juga tau betapa aku sangat dekat dengan kak Gio. Bahkan, mungkin aku satu - satunya orang yang sampai sekarang belum bisa merelakan kepergiannya. Aku dan Nicky hanya sempat bersamanya selama sembilan tahun sebelum kak Gio meninggal." bukan cuma elo yang sakit Ta, gue juga. Liat elo kayak sekarang karna kehilangan kak Gio makin bikin gue sakit Ta. "*****" Nick, Eta. Besok tolong kamu anter Robin bertemu kepala sekolah. Robin mulai besok sudah masuk sekolah bersama kalian. Dia sekelas sama kalian berdua sama Ghina. Kalian kalau gak salah di kelas XI ipa 5. " ujar papa saat kami makan malam seminggu setelah kedatangan Robin. Selama itu juga aku tak bertegur sapa dan menjauhi Robin. Kami berdua hanya mengangguk dalam diam." Eta, papa lihat, selama Robin ada disini kamu gak bicara sama sekali sama Robin. Kenapa? " Tanya papa lagi saat melihatku makan tanpa bernafsu." gak kok pah. Perasaan papa aja kali. Aku sama dia baik baik aja. " ujarku sambil menatap Nicky yang berada di seberangku." Ya udah kalau gitu. Besok biar kamu yang duduk sama Robin. " ujar papa sambil tersenyum memandang Robin." tapi pah. Aku duduk sama Ghina. "" Ghina kan bisa sama Nicky? Lagipula mereka pacaran. " tambah mama menyetujui usul papa." Terserah kalian aja. Eta ngantuk. Eta duluan. " ujarku sambil setengah berlari menaiki tangga menuju kamarku. Diikuti tatapan bertanya Papa, mama dan Robin." Nick, Eta kenapa? " tanya mama sedikit khawatir dan langsung di sambar oleh Nicky." gak papa ma, mama santai aja. Eta cuma kecapekan kok. " sahut Nicky mencoba menenangkan mama.*****" Fenandizzy Gretania! "" Ap... Apa Yok? Gue gak denger tadi. " tanyaku saat Yoyok, ketua kelasku memanggil keras namaku." Ta, Eta... jadi dari tadi elo gak dengerin gue ngomong? " Tanya Yoyok Gemas. Sedangkan Robin yang duduk di sampingku hanya tersenyum simpul." sorry... gue ada pikiran. Ada apaan sih? " tanyaku dengan tatapan bertanya pada Yoyok dan tak menghiraukan Robin yang memang sejak awal dia duduk di sampingku. Sedangkan Nicky dan Ghina duduk di depanku dan Robin." oke. Gue ulang lagi. Berhubung tiga minggu lagi kita ulangan semester, mulai minggu depan, kita libur masa tenang. Nah, anak – anak ada yang ngusulin kemah ke puncak di pinggir hutan selama satu minggu. Beberapa anak udah ada yang ikut. Loe gimana? " Tanya Yoyok." gue ikut. " ujarku mantap. Di susul anggukan mantap dari Ghina, Nicky. Dan Robin.*****Tak terasa, besok kelas ku jadi berangkat berkemah di puncak. Aku menyiapkan ransel di bantu Nicky yang sudah selesai dengan ranselnya. Untung saja mama dan Papa dengan gampangnya memperbolehkanku dan Nicky –juga Robin- pergi selama satu minggu." Ta... Elo gak papa kalo Robin ikut? Elo kan lagi diem - dieman kelas berat sama dia? " Tanya Nicky sambil berebah di ranjangku. Dan aku pun ikut berebah di samping badan Nicky." emang kalo apa – apa, dia bakal gak ikut? " tanyaku. Nicky hanya diam dan memandang langit – langit kamarku.Hening*****" Ta, gue kangen sama Kak Gio. Tidur di kamarnya malah bikin gue semakin kangen sama dia. Harusnya saat ini dia udah kerja kali ya. Atau malah masih kuliah tingkat akhir? Atau malah udah nikah muda? Entahlah. Gue kangen banget sama dia. Dia panutan gue selain papa. " ujar Nicky tiba – tiba. Ucapannya barusan membuat air mata ku menyeruak mengingat semua kenangan ku dengan ka Gio." gue apalagi. Dia laki - laki yang paling gue bisa andalkan selain papa. Rasanya baru beberapa hari lalu dia ngajari gue naik sepeda. Dan semua kenangan itu semua ada di memori otak gue. Harusnya... " kataku pelan tak sanggup melanjutkan ucapan ku." harusnya waktu itu gue nungguin elo. Harusnya waktu itu gue cegat kak Gio. Atau harusnya gue nyuruh dia lebih cepet buat nyebrang. "" gue kangen kak Gio, Nick. " ujar ku tak mampu menahan air mata ku lebih lama. Nicky segera berinisiatif menarik ku kedalam pelukannya dan membuat ku mengubur wajah ku di dadanya.Tanpa kami sadari ada seseorang yang berdiri di balik pintu kamar ku yang sedikit terbuka.*****" Ya udah deh, gue balik ke kamar ka Gio ya Ta. Besok jangan telat. Kita kumpul di sekolahan jam setengah tujuh. Langsung naik bus ke puncak. " ujar Nicky setelah sekian lama kami terdiam tanpa kata sambil beranjak pergi dari kamarku.Mencoba agar kami tak kembali mengingat masa – masa suram keluarga kami dengan membicarakan tentang kak Gio. Apalagi Nicky juga tak ingin membuat ku kembali ke Greta pada saat kak Gio baru meninggalkan kami.Aku pun yang sudah agak tenang hanya mengangguk mengiyakan ucapan Nicky tanpa berminat untuk membalas ucapannya barusan.*****" boleh gue duduk disini. " Tanya Robin sesaat sebelum bus berangkat.Aku hanya melirik sekilas dan kembali menatap keluar jendela. Melihat Yoyok menyiapkan bus kedua yang akan diisi anak anak yang lain. Ghina dan Nicky duduk tepat di belakangku. Robin pun akhirnya duduk disampingku karena entah kebetulan atau tidak, kursi didalam bus penuh kecuali di sampingku." kenapa sih elo kayaknya benci banget sama gue? Apa gara – gara gue tinggal dirumah elo, Fernandizzy Gretania? " Tanya Robin. Aku cukup terkejut saat ku tahu Robin hafal namaku. Namun aku bisa mengatasi keterkejutanku dan membalas ucapannya." salah satu faktornya ya. Tapi ada satu faktor utama kenapa gue benci elo, Robin Artanta Ferdino. "" Apa? "Aku pun berpaling menatap Robin. Seingatku ini pertama kalinya aku menatap matanya yang berwarna coklat itu." asal loe tahu. Dari awal sampai sekarang, Cuma satu orang yang pernah manggil gue dengan nama 'Gre'. Seseorang yang di renggut paksa dari gue. Dan gue benci elo. Kenapa elo mesti manggil gue pakai nama itu. Elo, udah ngerobek luka di hati gue yang udah susah payah gue sembuhin. Yang udah gue tutup selama tujuh tahun ini. Tapi elo udah ngerusak pertahanan yang gue bikin. Itu alasan kenapa gue bener - bener luar biasa ngebenci elo. " ujarku nyaris berbisik. Tak terasa, rupanya aku menangis di hadapan Robin.Aku pun berpaling kembali menghadap jendela seraya menyeka air mataku yang tak mau berhenti. Tak kuhiraukan lagi Robin terus bertanya lebih lanjut. Sudah cukup untuk saat ini. Sudah cukup aku mengorek luka lama yang hendak ku kubur saat ini.Untungnya bus sudah beranjak berjalan meninggalkan halaman sekolah menuju puncak. Aku mulai menutup mata untuk menenangkan perasaan yang bergejolak di hatiku.*****" Eta, elo besok pagi pergi cari kayu ya? Sama Robin. " ujar Yoyok saat aku dan Ghina baru saja dari sungai." kenapa mesti sama Robin sih Yok? Gue bosen tiap saat ketemu dia. Gak di rumah, gak di kelas, gak di bus. Gue sama Ghina atau Nicky aja deh, atau yang lain gitu. " tolakku mentah - mentah." gak bisa Ta, Ghina sama Nicky bakal nyari habis kalian. Yang lain udah pada punya pasangan. Ayolah ta. Masa gue juga yang harus turun tangan? " mohon Yoyok padaku. Dengan berat hati, ku paksakan menganggukkan kepalaku." iya iya. Gue deh. "*****" Greta, kenapa elo mau pergi sama gue? Bukannya elo benci sama orang yang ada di belakang elo ini? " sindir Robin saat kami baru saja memasuki hutan untuk mencari kayu bakar." Ter-pak-sa! " ujarku sinis. Kami pun semakin masuk ke tengah hutan. Selama memasuki hutan aku dan Robin tak bicara sepatah katapun. Aku lebih memilih melihat – lihat pemandangan hutan saat tiba – tiba." Greta awas! " ujar Robin sambil menarikku menghindari seekor ular berbisa. Namun ternyata masih belum mampu menyelamatkan kakiku dari sengatan bisa ular." Au... " rintihku sambil terus memegangi kakiku. Sedangkan Robin langsung membunuh ular tersebut dan membuangnya di sungai yang ada di dekat kami berdua." Ta, elo gak papa? " ujar Robin sambil memeriksa kakiku. Aku hanya bisa menjawab dengan rintihan. Robin langsung berusaha untuk membuang bisa ular tersebut dengan cara mengisap dan membuangnya." parah. Greta, elo gue tinggal bentar, gue nyari daun - daun obat dulu. " tambah Robin sambil menyandarkanku di sebuah pohon dan meninggalkan jaketnya untukku.Tak berapa lama, Robin datang membawa beberapa lembar daun dan langsung meramunya untuk kakiku. Sedangkan aku hanya bisa melihat apa yang di lakukan Robin karena badanku terasa sakit dan terasa lumpuh. Mungkin bisa ular tadi sudah menyebar di tubuh ku." Greta, elo jangan pingsan. Elo harus kuat. Elo harus bisa bertahan Greta. " ujar Robin sambil menempelkan dedaunan tadi di kaki ku." Sum.. pah.. Rob.. sa... kit.. bang .. et.. " ujar ku dengan susah payah. Mulut ku terasa mati rasa dan susah untuk di gerakkan." Ta, Greta.. "Pandangan ku semakin lama mulai semakin mengabur. Semua terlihat samar – samar dan akhirnya menjadi hitam. Aku merasa suara Robin semakin jauh dan semakin hilang. Aku pingsan.*****Aku terbangun saat mendengar suara kicauan burung – burung hutan yang saling bersahutan. Saat ku buka mata ku untuk pertama kalinya, aku langsung melihat wajah Robin yang sedang tertidur. Baru ku sadari bahwa aku tertidur di atas kaki Robin. Aku pun berusaha untuk bangun walaupun aku masih merasa kaki kiri ku agak sakit dan kram. Tapi jauh lebih baik dari saat aku sebelum di obati Robin." elo udah bangun Ta? Masih sakit kakinya? " Tanya Robin membenarkan rambut ku yang menutupi setengah wajah ku saat ini. Ternyata dia terbangun akibat aku menggerakkan tubuh ku." udah gak papa kok. Lumayan baik. Tapi masih suka sakit sama kram. Makasih udah nolongin gue. Elo tau dari mana masalah daun daun obat itu? " tanyaku sambil menegakkan tubuh ku dan menyandarkan tubuh ku di pohon di sebelah Robin." lupa ya? Gue kan dulu sempet tinggal di Indonesia sampai lulus SD. Gue pernah pergi kemah dulu di hutan. Nah guru gue ngasih tau jenis - jenis daun yang bisa di jadikan obat di saat mendadak kayak gini. Gue masih hafal kali. Oh ya, elo udah gak marah lagi sama gue? " jelas Robin sambil melihat keadaan kaki ku." mana bisa gue masih marah sama orang yang menyelamatkan hidup gue? " balas ku sambil menggosok gosokkan tangan ku. Udara di sekitar kami terasa dingin. Padahal, pagi sudah menampakkan wajahnya." nih pakai jaket gue. Elo menggigil gitu, sakit ntar. Oh ya Greta, elo kenapa sih bisa sebenci sama semarah itu sama gue? " tanyanya sambil menyodorkan jaketnya pada ku. Aku pun segera memakai jaket miliknya." gara – gara waktu di bandara elo manggil gue 'gre'. Gue gak bisa denger nama itu lagi. " ujar ku perlahan sembari menutup kedua mata ku. Mulailah mengalir kisah ku tentang kenangan kak Gio dan 'Gre'." maaf ya Ta, gue jadi ngebuka luka lama elo. Sumpah, gue gak tau sama sekali. " ujar Robin setelah mendengar kisah ku." gak apa. Makanya gue benci banget sama elo waktu itu. Sorry ya, gue marah marah sama elo selama ini. " balas ku dan langsung di balas Robin dengan anggukan kepala." gak papa. Ngerti kok gue. "" Eh, kita balik ke perkemahan yuk. Kasian kalo mereka nyari kita. " ujar ku sambil bersusah payah berdiri." elo gue gendong aja. " ujar Robin sambil mengangkat tubuh ku. Sekeras apa pun aku protes, Robin tetap bersikeras menggendong ku. Akhirnya aku pun mengalah dan membiarkan Robin untuk mengendong ku hingga ke perkemahan kami. Toh, dia yang memaksa.*****" Ya ampun Greta, Robin. Elo berdua dari mana aja sih? Dari kemaren pagi kalian itu ilang. Kenapa elo di gendong Robin Ta? " ujar Nicky panik. Apalagi dirinya melihat kembarannya yang berada di dalam gendongan Robin." Greta! Kaki elo kenapa? " ujar Ghina yang pertama kali melihat kaki ku di balut dedaunan.Robin pun menjelaskan kejadian kemarin hingga kaki ku tersengat bisa ular setelah membawa ku istirahat di dalam tenda. Namun Robin meyakinkan mereka bahwa kaki ku sudah tidak apa apa dan mereka tak perlu khawatir. Anak – anak pun kembali sibuk dengan kegiatannya yang lain. Kecuali Robin, Nicky dan Ghina." elo udah baikan sama Greta? " Tanya Nicky saat mereka berdiri di luar Tenda sedangkan aku di dalam tenda berganti pakaian. Robin mengangguk ragu – ragu." Greta udah cerita tentang kak Gio? " Tanya Ghina tak yakin yang berdiri di samping Nicky. Kali ini Robin mengangguk pasti sambil tersenyum." thanks ya udah nyelametin Greta. Gue utang budi sama elo. " ujar Nicky menepuk bahu Robin yang langsung membuat Robin membalas perkataan Nicky." santai lah, sama gue ini. "*****Tak terasa besok sore kami sudah harus balik ke Jakarta. Malam ini kami pun mengadakan acara api unggun. Luka di kaki ku pun sudah berangsur – angsur membaik. Ujar Robin, untung saja ular yang menyengat ku bukan golongan ular yang bisa membunuh manusia. Tapi tetap saja kalau di biarkan mungkin bisa terjadi sesuatu hal yang tak di inginkan." Ta, gue mau ngomong. " ujar Robin. Tiba – tiba dia duduk di samping ku menghadap api unggun." apa? " ujar ku sambil merapatkan jaket ku. Udara disini mulai terasa dingin." boleh gak gue jadi pacar elo? "" hah? " hanya kata itu yang bisa keluar dari mulut ku." boleh gak gue jadi pacar elo? " ulang Robin menatap ku." hah? Serius? kok mendadak banget. Romantis sih. Tapi tetep aja gue kaget kali. " ujar ku dengan tatapan bingung." ya elah, mau gimana lagi? Gue udah ngebet. Boleh gak? Kalo enggak gue bunuh diri nih. Gue gak bisa hidup tanpa elo Ta. " ancam Robin yang berhasil membuat ku tertawa. Dia masih SMA dan sudah berani ingin mengancam bunuh diri? Walau aku tau itu tak kan mungkin di lakukannya, tapi tetap saja itu lucu bagi ku." idih, gila ya elo? main ancam - ancam aja. " ujar ku tertawa. Aku bisa pastikan saat itu pipi ku merona merah akibat kata – kata Robin." boleh gak Ta gue jadi pacar elo? " ujar Robin serius." ngg... "" Greta, boleh gak? " desak Robin." iya. Boleh. " ujar ku lirih." apa? Gue gak denger. " ujar Robin menggoda ku. Padahal dirinya sudah mendengar apa jawaban ku barusan." iya boleh. " ujarku sambil menaikkan volume suara ku sedikit." yes! Woy temen – temen. Gue udah jadian sama Greta. " teriak Robin ke semua anak – anak dan langsung membuat anak – anak yang lain segera menyoraki kami berdua sembari memberi selamat pada kami berdua." Astaga. Robin bikin malu nih. " pikir ku saat anak - anak yang lain bersorak sorak heboh.Bahkan Yoyok sempat sempatnya berjoget di depan ku dan Robin. Tapi sudahlah. Toh ini hari bahagia ku dengan mereka. Aku pun ikut bergabung dengan kegilaan mereka malam ini bersama dengan mereka.

RUMAH PELANGI
Romance
10 Feb 2026

RUMAH PELANGI

" permisi, spada, kulonuwon, hello, mas, mbak, siapapun, hallo? " teriak seorang cowok di depan rumah pelangiByuurr... Brukk..." anjrit! Sialan! Brengsek! " teriaknya sambil membersihkan air comberan yang kulemparkan bersama embernya tepat di atas kepalanya dari atas genteng tempatku bersembunyi." astaga. Mampus gue! Ternyata bukan orang gila. " ujarku dari atas genteng. Aku pun segera meloncat turun dan menghampirinya." duh. Maaf ya mas, saya kirain orang gila yang biasanya teriak - teriak di depan sini. Jadi saya tungguin di atas genteng mau nyiram dia. Eh, ternyata malah mas yang teriak. Jadinya kena siraman saya. Maaf yo mas? " ujarku sambil tersenyum malu menundukkan kepala." elo gila ya?! Suara gue yang seksi ini lo bilang suara orang gila? Elo tuh yang gila! Cewek malah naik genteng! Sarap loe! " semburnya." lha? Siapa suruh mas teriak teriak kayak orang gila? Udah tau ada belnya, ngapain teriak kayak di hutan? Mending belnya aja dipencet noh kan lebih efisien daripada teriak mas. " ujarku sambil geleng – geleng kepala." elo tuh ya!~ Eh, bau apaan nih? " ujarnya begitu menyadari bau tak sedap di sekitar kami." ya bau badan elo lah! Kan tadi yang gue lempar ke elo itu air comberan di depan sana. Hahaha. " ujarku sambil tertawa memegangi perutku yang sakit." brengsek! Elo tu ya~ " ujarnya geram sambil menatap tajam padaku. Namun kalimatnya tak selesai karena kemunculan Eyang Sapto. Pemilik rumah Pelangi." siapa Yas ? " kata eyang saat di belakangku." saya anak pak Hendra. " jawabnya sinis sambil mengibas ngibaskan bajunya." ye, santai dong mas. Biasa aja kali suaranya. Katanya seksi. Gak usah belagu. " ujarku sedikit kesal karena melihat sikapnya terhadap eyang." Yas, jangan gitu sama tamu. Oh, kamu pasti Rio? Masuk nak Rio. Tapi kok baju sama celananya basak nak? " ujar eyang." tadi gak sengaja Yayas lempar dia sama seember penuh air comberan eyang dari atas genteng. Yayas kira dia orang gila yang sering teriak teriak di depan rumah. Jadi mau Yayas kerjain. Eh malah kena mas – mas ini. " ujarku tersenyum simpul sambil menahan ketawa saat melihat air mukanya yang sangat masam." kamu tuh Yas. Udah eyang bilanginkan jangan suka main di atas genteng. Sudahlah. Bilangin si Mbok Jah. Bikinin minum buat eyang sama Rio. Maaf ya nak Rio, Yayas memang suka manjat. Orangnya tomboy. " ujar eyang sambil mengajak duduk Rio di ruang tamu. Aku pun kembali kedalam rumah." siapa mbak Yas? " ujar Chacha, salah satu penghuni rumah pelangi yang sedang nonton drama korea "boys before flowers" bersama Andre di ruang tengah saat aku menuju dapur." gak kenal. Kayaknya penghuni baru. Eh mbok ketemu disini, tadi di suruh eyang bikin minum dua. Ada tamu tuh. " ujarku saat bertemu mbok Jah di dekat tangga. Aku pun ikut duduk di samping chacha dan Andre.***Saat makan malam tiba, kami semua disuruh Eyang untuk berkumpul di meja makan, kecuali bang Ray dan Nita. Kami pun makan dalam diam dan tenggelam dalam pikiran masing - masing. Setelah makan, eyang mulai membuka pembicaraan." nah, semuanya. perkenalkan, ini Rio. Dia mulai sekarang anggota rumah pelangi. Nak Rio, perkenalkan. Dari yang di sebelah eyang ini ada Yayas, Andre, dan Chacha. Sebenarnya masih ada dua orang lagi. Ray, lagi nginep di kampusnya dan Nita, dia lagi kerumah temennya di komplek sebelah. " ujar eyang memperkenalkan kami semua." mereka semua cucu eyang? " ujar Rio sambil menatap kami satu persatu dengan tatapan seakan akan kami adalah penjahat kelas kakap yang harus dimusnahkan segera. Apalagi menatapku. Seakan - akan aku adalah seorang musuh besar FBI dan CIA yang sedang menjadi buronan." ndak semua kok. Andre cucu kandung eyang. Yayas cucu angkat eyang. Oh ya kalian, tolong jelaskan semuanya sama Rio. Eyang mau istirahat dulu. Eyang tinggal ya nak Rio. " ujar eyang sambil meninggalkan kami." oke. Gue jelasin. Kamar cowok di lantai tiga. Kecuali kamar eyang sama kamar mbok Jah ada di lantai bawah. Lantai dua kamar cewek. Ada pertanyaan? " ujar Andre mengambil tugas eyang." umur lo semua berapa? " ujarnya sambil makan apel yang ada di atas meja." gue, yayas, sama Nita 19 tahun. Gue sama Nita kuliah di Teknik Sipil semester 3. Chacha 16 tahun baru masuk SMA dan bang Ray 21 tahun dan kuliah di ekonomi semester 5. Kenapa? Elo? " tambah Andre." 20. Gue ngantuk. Gue ke atas duluan. " ujarnya.Aku, Andre dan Chacha hanya bisa berpandangan dan menarik nafas panjang dengan sikapnya." nih anak belagu kayaknya bakal bikin masalah deh. " ucap ku pelan.***" eyang, aku berangkat. " ujarku saat eyang sedang berbicara dengan Andre, Ray dan Rio." kemana dia? " ujar Rio sambil melihatku membonceng Chacha." dia nganter Chacha ke sekolah baru habis itu dia kerja. " ujar Eyang." kerja? " Tanya Rio bingung." iya. Dari jam 8 pagi sampai 12 siang dia kerja di toko roti. Dan dari jam 2 siang sampai jam 8 malam dia kerja di toko buku. " tambah Andre." setiap hari? Dia nggak kuliah? " ujar Rio takjub." dia enggak kuliah. Padahal sudah di suruh eyang. Katanya gak ada biaya. Dia kerja cuma dari hari senin sampai kamis doang. Oh ya eyang, aku, Andre sama Nita kuliah dulu eyang. Cepetan Nita. " ujar Ray sambil memanggil Nita untuk segera berangkat. Mereka pun berangkat dengan mobil Ray. Akhirnya di teras hanya ada Rio dan Eyang." eyang, memangnya beneran Yayas cucu angkat eyang? Kok bisa? " ujar Rio." iya. Kalo Yayas itu udah dari umur 5 tahun eyang rawat sama almarhumah istri eyang. Orang tua yayas meninggal karena kecelakaan. Dia eyang temui pingsan di depan pagar. Sedangkan Andre, ayahnya adalah anak eyang. Awalnya dia cuma tinggal bersama ibunya karena ayahnya yang pilot meninggal karena pesawatnya jatuh di Amerika 10 tahun lalu. Tapi ibunya juga meninggal 3 tahun lalu karena stroke. " jelas eyang." jadi Yayas sama Andre yatim piatu? Lalu, Ray sama Nita? " Tanya Rio." iya mereka yatim piatu. Ray awalnya dipindahkan orang tuanya yang bekerja di department Luar Negeri di Inggris karena nakal sekali saat lulus SMA disana. Kebetulan kakeknya Ray ini sahabat eyang waktu dulu. Jadi ya dia di titipin sama eyang. Sekarang setelah dia sudah jadi anak yang baik, malah gak mau balik lagi ke sana. Katanya lebih enak kumpul disini. Kalo Nita orang tuanya cerai. Jadinya ya dia gak mau ikut siapa – siapa, makanya tinggal di sini. " tambah Eyang. Sedangkan Rio hanya mangut – mangut saja." oh ya eyang, satu lagi. Yayas kerja jadi apa aja? "" kalo di toko roti dia jadi jaga kasir dan bagian pembukuan penjualan, dan kalo di toko buku, biasanya jadi kasir juga atau ngecek barang yang datang. Biasanya tiap minggu, Yayas itu dapet bonus boleh bawa roti yang gak habis hari itu. Makanya di rumah ini banyak roti. Ada lagi? " Ujar eyang sambil tersenyum. Rio pun menggeleng dengan ragu.***" Yas, kamu ndak kerja nduk? Udah jam 8 pagi ini. " ujar Eyang di depan kamarku." masuk yang. Nda Yayas kunci. " ujarku dengan suara lemah." kamu kenapa nduk? " ujar Eyang saat masuk kekamarku dan melihatku masih tiduran di bawah selimut." ndak tau Eyang. Badan Yayas lemes. "" kamu sakit Yas? yo wis. Kamu istirahat aja dulu biar eyang kebawah nelpon bos – bosmu. Nanti eyang panggilin anak – anak yang lain. " ujar eyang sambil beranjak pergi dan meninggalkanku.***" kamu tuh apa – apaan sih Yas. Makanya kerja itu jangan diforsir badannya. Coba sekarang, jadinya sakitkan? " ceramah Ray saat dirinya bersama Rio dan eyang berada di kamarku sambil duduk di ranjangku." iya bang Ray. Habisnya, waktu kalo kerja itu gak kerasa, jadinya gak mikirin badan. Tiba – tiba aja langsung gini. "" dasar. Memangnya ngejar setoran buat apa sih? Mau beli apa? Pokoknya kamu istirahat. Kan eyang atau bang Ray bisa beliin buat kamu. " tambah Eyang gemas melihatku ngotot kerja." ya ampun bang Ray sama eyang ini. Aku kan kerjanya Cuma empat hari. Dalam seminggu lagi. " protesku." gak ada. Aku udah bilang sama kedua bos kamu kalo kamu izin cuti dua minggu. Lagipula kata bos – bos kamu, kamu gak pernah ambil cuti dari awal mula kerja. Memang mau beli apa sih? " Tanya Bang Ray." Yayas mau beli jaket. Sayang kalo makai uang tabungan Yayas. Uang tabungan Yayas kan buat masa depan Yayas. Lagi pula Yayas males ngambil di Bank. Ribet. "" nanti gue beliin. " ujar Rio tiba – tiba." hah? Oh. Oke deh. Makasih ya. " jawabku keheranan melihat sikapnya yang berubah baik padaku." yo wis. Kamu istirahat dulu ditemenin Rio ya. Eyang mau ke bank sama Ray. " ujar eyang sambil beranjak pergi bersama Bang Ray." mulai sekarang gue yang nganter elo kerja. Chacha biar bang Ray atau Andre yang nganter. " kata Rio sambil menatap mataku." tap~... "" gak ada tapi – tapian. Gue udah ngomong sama semuanya waktu elo tidur tadi. " potongnya sengit." enggak ah. Ngapain sih elo Yo? Gue bisa sendiri kok. " protesku. Rio pun langsung duduk di sampingku dan menghadapkan badanku kearahnya." elo itu gak usah protes Yas. Lo sekarang pilih deh. Deket sama gue atau berhenti kerja. " ujar Rio sambil tersenyum sinis." apa sih mau lo sama gue? Ada masalah apa lo sama gue? Atau jangan – jangan elo masih dendam sama gue gara – gara gue nyiram elo pake air comberan dua bulan yang lalu? Iya? Apa yang mau elo lakuin sama gue? " ujarku menatap tajam tepat di matanya." iya! Gue bakalan bikin perhitungan sama elo. Cewek yang berani – beraninya nyiram gue pake air comberan. Tunggu aja pembalasan gue. " ujarnya sambil pergi berlalu meninggalkanku sendiri di kamarku." dih, gila apa ya tuh anak. Aneh deh. "***Kring... kring..." halo? " ujar Andre yang menerima telepon." Ndre, ini gue. Yayas. Rio mana? Gue udah pulang kerja dari satu jam tadi. Katanya dia mau jemput gue. Udah jam Sembilan ini. Ini udah kelima kalinya dia telat jemput gue. Kemaren aja gue disini sampe tiga jam buat nungguin dia. " ujarku dari seberang sana sambil ngomel pada Andre." Rio-nya masih tidur Yas. " ujar Andre pelan." apa?! Masih tidur? Oke. Gak usah di bangunin. Gue pulang sendiri! " marahku sambil mematikan telepon dan langsung menonaktifkannya.Aku pun nekat berjalan kaki mencari taksi menuju rumah Pelangi. Saat di persimpangan jalan tiba – tiba dua buah motor berhenti tepat disampingku dan dua orang preman yang di duduk dibelakang langsung turun dari motor dan langsung mengodaku. Sedangkan dua preman yang lain pun menyusul." hallo manis, sendirian neng? Abang – abang temenin ya? " ujar preman itu sambil mencolek daguku." lo semua jangan kurang ajar deh! Beraninya sama cewek! " ujarku galak." si eneng mah galak pisan euy. Ntar eneng teriak juga gak bakalan ada yang denger. Di ujung jalan sana udah kami pasang tulisan 'jalan ini ditutup'. Jadi eneng gak bisa ngapa – ngapain. " ujar temannya sambil menangkap tanganku.Aku pun hanya bisa melawan semampuku hingga terjadi pertempuran lumayan sengit dan mengakibatkan dua dari empat orang yang mengangguku pingsan tanpa perlawanan hingga mereka dan aku babak belur. Namun dua orang yang masih bertahan langsung menangkapku hingga aku terperangkap diantara mereka. Aku hanya bisa berdoa saja semoga ada pesawat yang tiba – tiba jatuh tepat di tempatku. Walau itu harus membuatku mati sekarang juga.Bruk... Bruk...Tiba – tiba ada yang memukul kedua orang yang menangkapku hingga tersungkur pingsan dan langsung melindungi di dalam pelukannya." elo gak papa? " ujarnya langsung memelukku." Ri.. Rio? Bu... Bukannya elo tidur?" ujarku kaget. Ternyata yang menolong dan memelukku adalah Rio." ntar gue jelasin. Sekarang elo naik motor gue. Ntar mereka bangun lagi. Ayo. " ujarnya sambil tetap memelukku.Kami pun meninggalkan tempat tersebut menuju suatu tempat yang di pilih Rio untuk istirahat karena aku tak ingin pulang ke rumah Pelangi karena anak - anak pasti akan menanyakan luka di wajah dan tangan yang sempat ku dapat karena melawan orang – orang tadi.***" nih. Minum dulu. Sekalia es batu buat ngompres luka elo. " ujar Rio memberiku sekaleng minuman dingin dan sekantong es batu yang dibelinya di pinggir jalan saat kami duduk di sebuah taman." makasih. " ujarku sambil mengambil minuman yang dia berikan walaupun tetap membenamkan kepalaku di kedua lututku." orang rumah udah gue kasih tau kalo kita pulang telat. Elo tenang aja. " sambil menyampirkan tangannya di bahuku." ngapain elo nolongin gue?! " bentakku padanya." apa sih lo? Udah gue tolongin juga. " tanyanya." lo sadar dong ini semua karena elo. Elo telat lagi telat lagi. Ini udah kelima kalinya elo telat! Gue tau. Ini kan maksud pembalasan dari lo! " teriakku padanya." jadi elo marah sama gue?! Hah!" balasnya sengit." iya! Gue marah sama elo. Gue kesel sama elo, gue benci sama elo! Gue muak sama elo! Cowok jahat, angkuh, nyebelin, ngeselin, aneh, galak, jelek! " ujarku lagi. Tak terasa aku pun menangis dihadapannya." gitu?! Kenapa lo gak minta aja sama Ray atau Andre jemput elo hah? Biar puas sekalian. "" gue bisa aja minta sama mereka. Tapi gue kasian sama elo kalo ternyata elo juga jemput gue dan gak nemuin gue di tempat kerja. " bisikku.Aku pun berlari setelah berbisik pada Rio dan mencari taksi untuk pulang dan meninggalkannya sendiri. Meninggalkan Rio dengan sejuta penyesalan di dalam dadanya.***Setelah kejadian beberapa hari itu, aku mengurung diri dikamar. Aku keluar kamar hanya untuk mandi, makan dan sebagainya yang tak banyak memerlukan waktu yang lama. Bahkan aku sudah cuti kerja selama tiga hari dan entah sampai kapan. Akupun cukup beralasan sakit karena kedua bosku sangat royal pada pekerjanya yang sakit. Anak – anak, tak terkecuali Rio mulai mencemaskanku yang seperti mayat hidup. Eyang pun tak bisa berbuat banyak." Yas. Kamu kenapa toh nduk? Sejak pulang kerja senin kemaren kok jadi diem terus? Kamu juga udah izin kerja tiga hari ini. " Tanya eyang saat aku hendak naik menuju lantai dua. Aku hanya menatap eyang tanpa menjawabnya. Akupun berlalu dari hadapan eyang diikuti tatapan anak – anak lain.***Tok... tok... tok.." siapa " tanyaku saat ada yang mengetuk pintu kamarku. Saat aku membukakan pintu, ternyata Rio yang berada di hadapanku." gue mau ngomong. "" kita ngomong diluar. " ujarku sambil berjalan menuju taman dan naik keatas genteng yang sama saat aku menyiramnya dulu." ngapain kita ngomong disini sih. Dibawah kan bisa. " protes Rio sesaat setelah sampai di atas dan duduk di sampingku." gue gak mau anak – anak denger. " jawabku ketus." susah ya punya masalah sama elo. "" udah tau ngapain juga masih bikin masalah. Dasar cowok aneh. "" udah deh. Gue gak mau debat lagi sama elo. Gue tuh punya salah apa sih sama elo? Dari awal kita ketemu, loe udah bikin masalah sama gue? " tanyanya." gue gak pernah punya masalah sama elo! Udah gue bilangkan. Waktu itu gue gak sengaja. Gue gak tau itu elo. Udahlah. Ngomong sama elo itu susah. " ujarku sambil berdiri. Rupanya pijakanku terlalu miring dan aku kehilangan keseimbanganku. Aku pun langsung terjatuh. Aku langsung memejamkan mataku sambil berfikir akan jadi apa aku nantinya.Brukk.."aaakkh.... " teriak seseorang saat aku terhempas di tanah yang boleh kubilang terlalu lembut dan lembek untuk ukuran tanah.Saat aku membuka mata, rupanya aku terjatuh dibadannya Rio yang menangkapku saat aku terjatuh." Ri.. Rio.. lo gak papa? " tanyaku saat dia meringis kesakitan." kayaknya tangan kanan gue patah. Gak bisa di gerakin. Gak papa kok cuma patah ini. " ujarnya memejamkan matanya.Aku pun berteriak memanggil anak – anak. Anak – anak dan Eyang pun langsung berlari keluar rumah. Aku segera berlari menyalakan mobil untuk membawa Rio kerumah sakit.***Setiba di rumah sakit kami langsung membawa Rio ke ruang UGD. Aku hanya ditemani Andre dan bang Ray di depan ruang UGD. Eyang, Nita dan Chacha menunggu di rumah. Sedangkan Rio di periksa didalam." dok gimana keadaan Rio? Apa dia baik baik saja? " tanyaku saat dokter baru saja keluar dari ruang UGD. Bang Ray dan Andre pun langsung berdiri." dia mengalami patah tulang. Dan harus segera di operasi. Apa ada keluarga pasien disini? "" saya kakaknya dok. Lakukan apa saja yang terbaik. Saya akan bayar semuanya. " ujar bang Ray." kalau begitu saya akan lakukan yang terbaik. Silahkan anda mengurus semuanya di bagian administrasi didepan sana. " jawab dokter itu sambil kembali masuk keruangan untuk menyiapkan operasi. Bang Ray dan Andre pun menuju administrasi sedangkan aku menunggu dan ikut membawa Rio ke ruang operasi.***" keluarga pasien yang bernama Rio. " kata perawat saat kami bertiga menunggu di ruang tunggu." kami keluarga Rio sus. " jawab Andre." pasien sudah berada diruang rawat inap. Kalian diperbolehkan untuk menjenguk sesuai jam besuk. "Kami pun berterima kasih kepada suster itu sambil menuju ruang rawat inap Rio di lantai lima. Saat kami masuk kedalam ruangan, Rio sedang menonton tv. Andre dan bang Ray pun langsung ngombrol dengannya. Sedangkan aku sibuk memberitahukan keadaan Rio kepada eyang." Yas, lo laper gak? " Tanya Andre tiba – tiba." iya sih gue laper. "" ya udah, gue sama bang Ray beli dulu didepan. Dagh. " ujar Andre sambil menarik Bang Ray. Kini tinggallah aku berdua dengan Rio. Aku pun mendekati Rio dan duduk di dekat perutnya." sorry ya Yo, gara – gara gue elo jadi gini. " ujarku sambil memainkan ujung selimut yang ia pakai seraya menahan tangis." gak papa. Cuma patah ini. Justru gue takutnya elo yang kenapa – kenapa. Elo gak papa kan? " jawabnya seraya mematikan tv. Hening. Membuat air mataku malah berjatuhan." gue gak papa. Tapi malah elo ya~... "" gue gak papa Yayas. It's okey. Relax. Jangan nangis dong Yas. Gue udah terlalu sering bikin lo nangis " potongnya cepat seraya menghapus airmataku dengan tangan kirinya." oh ya. Ada yang pengen gue omongin sama elo Yas. " ujarnya lagi sambil mengengam tanganku. Aku hanya memandangnya penuh keheranan." gue mau minta maaf buat semua yang gue lakuin ke elo. Gue cuma gak tau apa yang harus gue lakuin biar elo tau kalo gue itu sayang sama elo. Makanya gue selalu bikin masalah sama elo biar gue bisa deket sama elo. Soalnya selama ini gue belum pernah punya pacar. Elo mau gak jadi pacar pertama gue? " tambahnya sambil menghilangkan grogi." hah? Jadi selama ini elo belum punya pacar? Bwahaha. " ujarku sambil tertawa mengejeknya." ye, tau gini gue gak bilang deh kalo elo orang pertama yang gue tembak. " jawabnya sewot." haha.. elo sih lagian, nembak cewek dirumah sakit. Gak romantis banget sih jadi cowok. Dimana kek, di taman kek, di pantai kek minimal di mana gitu. " ujarku tetap mentertawakan dirinya." jawab aja kenapa sih Yas. Mau gak jadi pacar gue? " ulang Rio kedua kalinya untuk memintaku jadi pacarnya." emh... iya deh. Tapi ada syaratnya. "" apapun akan gue lakuin supaya gue bisa dapetin cinta elo. Apaan? " tantangnya." elo harus bisa manjet dan duduk di genteng. Gimana? " ucapku dengan penuh tantangan." siapa takut. Gue bakalan buktiin kalo gue emang pantes jadi pacar loe. Gimana? Mau gak nih jadi pacar gue? " ujarnya sekali lagi." iya gue mau. " ujarku sambil mengangguk mantap.Rio pun langsung menarikku dalam dekapannya. Dan kalau kupikir – pikir aku mulai menyukainya sejak kejadian aku sakit tempo hari lalu. Aku pun tersenyum memikirkannya.*****

My Special Doctor
Romance
07 Feb 2026

My Special Doctor

Sudah dua hari Rony mencari informasi mengenai keluarga Salma. Namun yang ia ketahui, gadis itu adalah seorang diri. Kedua orang tuanya telah lama meninggal di kampung halaman mereka. Kini Salma tinggal di sebuah kontrakan kecil dan bekerja sebagai petugas kebersihan di sebuah hotel.Dua hari lalu, Rony yang sedang sibuk menerima panggilan telepon menjadi tidak fokus saat berkendara. Kelalaiannya menyebabkan ia menabrak seorang gadis yang sedang menyeberang jalan. Tubuh gadis itu terpental cukup jauh akibat kecepatan mobil Rony yang cukup tinggi.Sebagai seorang dokter, Rony segera bertanggung jawab. Ia membawa gadis itu ke rumah sakit tempatnya bekerja dan langsung menangani kondisinya dengan bantuan beberapa perawat. Penyesalan mendalam menyelimuti hatinya sejak kejadian itu.Salma didiagnosis mengalami gegar otak akibat benturan keras di kepala serta gangguan pada saraf motorik yang menyebabkan kelumpuhan sementara. Selama dua hari, Salma dinyatakan dalam kondisi koma, membuat rasa bersalah Rony semakin besar. Ia seorang dokter, namun justru kelalaiannya membuat seseorang terbaring tak berdaya.Setelah mengetahui latar belakang Salma, Rony memutuskan untuk bertanggung jawab penuh. Ia tidak sanggup membiarkan gadis itu kembali menjalani hidup seorang diri dalam kondisi seperti ini.“Bang, Kak Salma masih belum sadar?” tanya Nabila.“Belum, Nab.”“Aku ngerasa Abang jahat banget ya… Abang sampai bikin orang koma karena kelalaian Abang sendiri,” ucap Rony lirih.Nabila adalah adik satu-satunya Rony. Mereka hidup berdua sejak orang tua mereka berpisah. Kehidupan Nabila tidak mudah. Ia pernah tinggal bersama ayah dan ibu sambungnya, lalu bersama ibunya dan ayah sambung lainnya, hingga akhirnya memilih tinggal bersama Rony setelah mengalami perlakuan yang membuatnya tidak lagi merasa aman.Sejak saat itu, Rony berjanji akan selalu melindungi adiknya, bahkan ketika hidup mereka masih serba kekurangan.“Abang nggak jahat,” ujar Nabila lembut. “Ini kecelakaan. Abang sudah mau bertanggung jawab. Nab juga akan bantu Abang ngerawat Kak Salma sampai sembuh.”Rony mengangguk, menahan emosinya.Tiga minggu kemudian, kondisi Salma menunjukkan perkembangan. Jarinya bergerak, dan tak lama kemudian ia membuka mata. Namun kebingungan jelas terlihat—ia kehilangan ingatannya.Dengan sabar, Rony dan Nabila menjelaskan siapa dirinya. Demi ketenangan Salma, Rony menyebut dirinya sebagai keluarga yang akan merawatnya.Beberapa hari kemudian, Salma diperbolehkan pulang dan tinggal bersama Rony dan Nabila. Nabila memberi Salma panggilan “Caca”, yang perlahan membuat suasana rumah menjadi hangat.Hari demi hari, kebersamaan menumbuhkan rasa nyaman. Salma yang lembut dan sederhana membuat Nabila merasa memiliki kakak perempuan, sementara Rony mulai merasakan perasaan yang sulit ia pahami.Di sisi lain, Rony harus menghadapi kenyataan pahit tentang kekasihnya, Jasmine. Pengkhianatan yang ia saksikan sendiri menghancurkan kepercayaannya. Hubungan itu berakhir dengan luka dan kemarahan.Tak lama kemudian, Jasmine datang ke rumah Rony dan membuat keributan. Ucapannya kasar, sikapnya tak terkendali, bahkan sampai menyakiti Salma. Saat itulah Rony benar-benar melihat wajah asli wanita yang selama ini ia bela.Ia mengusir Jasmine dari hidupnya untuk selamanya.Malam itu, Rony menemukan Salma menangis sendirian. Dengan penuh kesabaran, ia mendengarkan keluh kesah Salma—tentang rasa lelah, putus asa, dan perasaan tidak berguna.Rony menenangkan Salma dengan kata-kata penuh keyakinan dan iman. Ia meyakinkan bahwa Salma tidak sendirian dan bahwa hidupnya berharga.Sejak malam itu, jarak di antara mereka perlahan menghilang.Waktu berlalu. Ingatan Salma kembali, dan Rony akhirnya mengakui bahwa dialah penyebab kecelakaannya. Namun Salma memilih memaafkan.Kejujuran itu justru memperkuat hubungan mereka.Rony menyatakan perasaannya dengan tulus. Ia tidak meminta Salma menjadi kekasihnya, melainkan pasangan hidupnya. Meski Salma merasa tidak pantas, keteguhan Rony akhirnya membuatnya menerima.Pernikahan mereka berlangsung hangat dan penuh kebahagiaan. Tiga bulan kemudian, kondisi Salma semakin membaik. Ia mulai berjalan dengan bantuan tongkat.Kehidupan rumah tangga mereka dibangun dengan cinta, pengertian, dan kesabaran. Malam pertama mereka dijalani dengan penuh rasa hormat, kelembutan, dan kasih sayang—tanpa paksaan, tanpa kata berlebihan, hanya ikatan suci antara dua insan yang saling mencintai.Beberapa bulan kemudian, Salma mengandung anak kembar. Kehadiran mereka menjadi anugerah yang melengkapi keluarga kecil itu.Tahun demi tahun berlalu. Anak-anak mereka tumbuh ceria. Rumah mereka dipenuhi tawa, candaan, dan cinta.Meski kehidupan tidak selalu mudah, Salma dan Rony belajar menghadapi semuanya bersama. Dengan saling percaya, saling menguatkan, dan selalu menjadikan keluarga sebagai prioritas utama.Cinta mereka bukan tentang kesempurnaan, melainkan tentang kesetiaan untuk tetap bertahan.TAMAT

Penawar Hati
Romance
07 Feb 2026

Penawar Hati

Salma Alliyah adalah seorang mahasiswi semester empat jurusan seni yang dikenal lembut dan penyabar. Ia memiliki seorang sahabat bernama Nabila Taqiyah. Persahabatan mereka sudah terjalin sejak SMA, bermula dari sebuah kejadian yang tak pernah dilupakan Salma.Saat itu, Nabila menjadi korban perundungan kakak kelas. Tidak ada satu pun yang berani membela, kecuali Salma. Dengan suara tegas dan keberanian yang bahkan tak ia sadari dari mana datangnya, Salma berdiri di depan Nabila dan membela sahabatnya itu. Sejak hari itu, Nabila berjanji pada dirinya sendiri bahwa Salma adalah orang yang akan selalu ia jaga.Mereka tumbuh bersama, saling menguatkan, hingga akhirnya memilih jurusan kuliah yang sama.Namun, hidup Nabila tidak sesederhana yang terlihat. Ia memiliki seorang kakak bernama Rony—sosok yang dulu ceria, hangat, dan penuh ambisi, namun berubah drastis sejak dua tahun lalu.Rony mengalami kecelakaan hebat yang merenggut nyawa sahabat kecilnya, Faldo. Rony selamat, tetapi rasa bersalah menghancurkan jiwanya. Ia meyakini kematian Faldo adalah kesalahannya. Sejak itu, Rony mengurung diri, menghentikan kuliahnya, dan mengalami gangguan psikologis berat. Ia mudah panik, sering menangis, berteriak, dan takut berada dekat dengan orang lain karena merasa dirinya berbahaya.Nabila dan orang tuanya telah melakukan segalanya demi kesembuhan Rony. Namun tidak ada yang benar-benar berhasil—hingga Salma hadir lebih dekat dalam kehidupan mereka.Tanpa Salma sadari, kehadirannya membawa ketenangan yang berbeda bagi Rony. Suaranya yang lembut, caranya berbicara, dan kesabarannya membuat Rony lebih mudah tenang. Atas saran dokter, Salma kerap diminta menemani Rony saat emosinya tidak stabil.Salma melakukannya tanpa paksaan.Ia tidak pernah menghitung lelah.Ia hanya ingin Rony sembuh.Karena kondisi Rony yang sering memburuk ketika Salma tidak ada, orang tua Nabila akhirnya meminta Salma tinggal di rumah mereka. Setelah berkonsultasi dengan dokter, keputusan itu dianggap sebagai langkah terbaik.Salma meninggalkan kosnya dan menetap di rumah itu.Hari-hari mereka dipenuhi dinamika. Rony sering bersikap seperti anak kecil—takut ditinggal, takut kehilangan, takut orang-orang yang dekat dengannya akan celaka. Salma selalu berada di sisinya, memberikan afirmasi positif, memeluknya ketika ia menangis, dan mengingatkannya bahwa tidak semua hal buruk adalah kesalahannya.Perlahan, Rony mulai menunjukkan kemajuan.Ia mulai tertawa kembali.Mulai berani keluar kamar.Mulai berinteraksi dengan orang tuanya.Mulai menjalani hari tanpa kemarahan.Bulan demi bulan berlalu. Tanpa disadari Salma, rasa pedulinya telah berubah menjadi cinta. Ia mencintai Rony dalam diam—tanpa tuntutan, tanpa harapan berlebihan. Baginya, melihat Rony membaik saja sudah cukup.Namun bagi Rony, Salma telah menjadi pusat dunianya.Ia merasa aman hanya ketika Salma berada di dekatnya. Ketika Salma pergi kuliah atau berhalangan datang, kecemasan Rony kembali muncul. Ia takut Salma meninggalkannya seperti Faldo pergi untuk selamanya.Yang tidak Salma ketahui, Rony sebenarnya telah sembuh sepenuhnya.Ia mampu berpikir jernih, mampu mengendalikan emosinya, dan telah berdamai dengan masa lalunya. Namun Rony menunda kejujuran itu karena satu alasan: ia takut kehilangan Salma.Ia takut jika Salma tahu dirinya sudah sembuh, Salma akan pergi dan kembali menjalani hidupnya sendiri.Rony jatuh cinta.Dan untuk pertama kalinya, ia takut mencintai.Akhirnya, Rony memilih jujur.Ia mengumpulkan orang tuanya, Nabila, dan Salma di ruang keluarga. Dengan suara bergetar namun mantap, Rony mengakui bahwa ia telah pulih dan tidak lagi bergantung pada obat-obatan. Ia juga mengungkapkan satu hal yang menjadi alasan terbesarnya untuk sembuh—keinginannya menikahi Salma.Salma terdiam lama.Bukan karena ragu, melainkan karena terharu.Ia menerima lamaran Rony dengan keyakinan penuh.Mereka menikah dalam suasana sederhana namun hangat. Tidak ada kemewahan berlebihan, hanya doa, restu keluarga, dan janji untuk saling menjaga.Beberapa bulan setelah pernikahan, Salma mengandung anak pertama mereka. Rony memulai hidup barunya dengan bekerja di perusahaan ayahnya dari posisi paling dasar. Ia ingin belajar bertanggung jawab, belajar rendah hati, dan belajar menjadi suami serta ayah yang layak.Kebahagiaan mereka sempat terusik ketika Salma mengalami serangkaian teror misterius. Ancaman tertulis, kejadian mencurigakan di kampus, hingga makanan beracun yang hampir membahayakan kandungannya.Pelaku akhirnya terungkap—Flora, mantan kekasih Rony, yang belum mampu menerima kematian Faldo. Flora ingin Rony merasakan kehilangan yang sama seperti yang ia rasakan.Rencana itu gagal. Flora ditangkap dan diproses hukum.Kejadian tersebut hampir menyeret Rony kembali pada rasa bersalah lamanya. Namun kali ini, Salma menggenggam tangannya lebih erat. Ia mengingatkan Rony bahwa masa lalu tidak boleh menghancurkan masa depan.Rony belajar berdamai.Belajar memaafkan dirinya sendiri.Belajar menerima bahwa hidup harus terus berjalan.Salma tidak pernah menyembuhkan Rony dengan obat. Ia menyembuhkannya dengan kesabaran, penerimaan, dan cinta yang tidak memaksa.Kini, Rony menatap istrinya yang tertidur dengan tangan melingkar di perutnya yang membesar. Senyum tipis terukir di wajahnya.Dulu ia hidup dalam rasa bersalah. Kini ia hidup dalam syukur.Salma adalah penawarnya. Dan akan selalu menjadi alasan Rony untuk bertahan, mencinta, dan hidup sepenuh hati.

Memilihmu
Romance
07 Feb 2026

Memilihmu

Salma Alliyah datang ke kafe milik Rony Parulian sebagai kandidat terakhir wawancara hari itu. Sejak pertama kali bertemu, Rony merasakan sesuatu yang berbeda. Bukan karena kecantikan berlebihan, melainkan ketulusan dan kesederhanaan yang terpancar dari cara Salma berbicara.Tanpa banyak pertimbangan, Rony menerimanya bekerja. Keputusan yang kelak mengubah hidupnya.Hari-hari berlalu, Salma bekerja dengan sungguh-sungguh. Ia ramah, cekatan, dan jarang mengeluh. Rony semakin sering memperhatikannya dari kejauhan, bahkan sengaja meminta Salma mengantarkan kopi setiap pagi, hanya untuk sekadar berbincang singkat dan melihat senyumnya.Tanpa Rony sadari, Salma mulai mengisi ruang kosong dalam hatinya.Pada hari libur, Rony bertemu seorang anak kecil yang terjatuh di taman. Anak itu bernama Anaya. Saat ibunya datang dengan wajah panik, Rony terkejut—ibu Anaya adalah Salma.Hari itu membuka mata Rony tentang kehidupan Salma. Ia seorang ibu tunggal yang membesarkan anaknya dengan penuh kasih sayang, meski hidup dalam keterbatasan. Salma bahkan sering membawa pulang makanan sisa dari kafe demi Anaya, bukan karena serakah, melainkan karena tak ingin menyia-nyiakan rezeki.Rony semakin kagum.Ia mulai sering berkunjung ke rumah Salma. Dari ibunya, Rony mengetahui masa lalu Salma—pernikahan yang terpaksa, kekerasan yang dialami, penolakan terhadap anak yang ia kandung, hingga perceraian yang menyakitkan. Semua itu dijalani Salma dengan diam dan keteguhan hati.Rony tersentuh. Ia jatuh cinta—bukan hanya pada Salma, tapi juga pada Anaya.Hubungan mereka semakin dekat. Rony menjadi sosok ayah bagi Anaya, dan kehadirannya membawa rasa aman bagi Salma. Hingga akhirnya, Rony mengajak mereka berlibur ke Puncak.Di sana, kebahagiaan kecil tercipta. Tawa Anaya, kebersamaan sederhana, dan kehangatan yang terasa seperti keluarga utuh. Di balkon vila, Rony akhirnya menyampaikan perasaannya dengan jujur.Ia ingin menjaga Salma dan Anaya. Ia ingin menikah.Salma ragu—bukan karena tak cinta, melainkan karena masa lalu yang meninggalkan luka dan rasa tidak pantas. Namun ketulusan Rony perlahan meluruhkan semua ketakutannya.Salma menerima.Pernikahan mereka berlangsung sederhana, penuh doa dan kehangatan. Tidak ada kemewahan, hanya janji setia dan harapan baru.Tak lama setelah menikah, masa lalu Salma kembali menghampiri. Mantan suami dan mantan mertuanya datang menuntut, mengancam, dan merendahkan. Namun kali ini, Salma tidak sendirian.Rony berdiri di depannya. Tegas. Melindungi.Dengan bukti-bukti yang telah lama ia kumpulkan, Rony menyerahkan semuanya pada hukum. Kejahatan masa lalu akhirnya terbongkar, dan Salma terbebas dari bayang-bayang ketakutan yang selama ini menghantuinya.Waktu berlalu.Salma dan Rony dikaruniai seorang bayi laki-laki. Kehidupan mereka semakin lengkap. Rony mencintai Anaya seperti darah dagingnya sendiri, tanpa perbedaan. Rumah mereka dipenuhi tawa, kehangatan, dan cinta yang saling menguatkan.Salma sering merenung—tentang hidupnya yang dulu penuh luka, dan kini dipenuhi syukur. Rony bukan datang untuk menyelamatkannya, melainkan untuk berjalan bersamanya.Dan di sanalah Salma akhirnya mengerti: tidak semua luka menghancurkan, sebagian justru menuntun pada kebahagiaan yang lebih besar.

Rasa Terdalam
Romance
07 Feb 2026

Rasa Terdalam

"Kamu beneran terima cinta aku, Sal?" Tanya Rony dengan binar mata yang penuh harap, seolah dunia berhenti berputar menunggu jawaban dari bibir gadis di depannya. Salma tersenyum tipis, mencoba menyembunyikan debar jantungnya yang tak kalah hebat. "Kamu maunya gimana?" tanya Salma balik, sedikit menggoda. "Maunya diterima dong," balas Rony cepat. "Yaudah, aku terima," ucap Salma lembut. Seketika, senyum lebar terukir di wajah Rony. Ia merasa menjadi pria paling beruntung karena akhirnya Salma Mahyra, gadis yang ia kagumi sejak masa awal kuliah, resmi menjadi kekasihnya. Rony menggenggam tangan Salma dengan hangat, sebuah gestur sederhana yang menandai awal dari perjalanan panjang mereka.Kebahagiaan mereka disaksikan oleh Raisha, sahabat masa kecil Rony yang tinggal tepat di sebelah rumahnya. Rony sudah menganggap Raisha seperti adiknya sendiri, terlebih karena keluarga Rony sangat peduli pada nasib Raisha yang tumbuh di tengah keluarga yang kurang harmonis. Namun, di balik ucapan selamat yang terlontar dari bibir Raisha, tersimpan rasa tidak rela yang perlahan tumbuh menjadi duri. Raisha yang terbiasa menjadi pusat perhatian Rony, merasa posisinya mulai tergeser oleh kehadiran Salma.Seiring berjalannya waktu, kasih sayang Rony kepada Salma begitu nyata. Ia adalah sosok kekasih yang sangat perhatian; sering berkunjung ke apartemen Salma untuk sekadar membawakan sarapan atau membantu merapikan ruang tamu sambil berbagi cerita tentang perkuliahan. Namun, ujian mulai datang ketika Rony sering kali kesulitan membagi waktu antara kekasih dan sahabatnya. Suatu hari, saat Rony sedang menikmati waktu berkualitas bersama Salma, Raisha menelepon dengan suara panik mengabarkan bahwa ibunya jatuh sakit. Tanpa berpikir panjang dan tanpa memberikan penjelasan yang tenang kepada Salma, Rony langsung bergegas pergi. Kejadian serupa terulang berkali-kali, membuat Salma sering kali merasa ditinggalkan di tengah momen-momen penting mereka.Puncaknya terjadi ketika mereka merayakan hari jadi yang kelima bulan. Di tengah kebersamaan mereka di sebuah mal, Rony kembali menghilang tiba-tiba setelah menerima panggilan dari Raisha. Salma menunggu berjam-jam hingga suasana mal mulai sepi dan lampu-lampu mulai meredup, namun Rony tak kunjung kembali. Kepercayaan yang susah payah dibangun Salma kembali runtuh. Baginya, cinta bukan hanya soal kata-kata manis, tapi tentang menghargai kehadiran satu sama lain. Dengan hati yang hancur, Salma memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka. Ia merasa bahwa Rony belum sepenuhnya mampu menentukan prioritas dalam hidupnya.Perpisahan itu membuat Rony jatuh terpuruk. Ia jatuh sakit karena rasa penyesalan yang mendalam. Kabar sakitnya Rony sampai ke telinga Salma melalui ibunda Rony yang sangat menyayangi Salma. Dengan kebesaran hati dan rasa khawatir yang masih tersisa, Salma datang menjenguk. Di rumah itulah, semua tabir mulai terbuka. Raisha yang awalnya mencoba menghalangi kedatangan Salma, akhirnya mendapatkan ketegasan dari Rony. Untuk pertama kalinya, Rony bicara jujur bahwa meskipun ia menyayangi Raisha sebagai adik, ia tidak bisa membiarkan sikap posesif Raisha menghancurkan hubungannya dengan Salma. Rony memohon maaf kepada Salma dengan penuh ketulusan, mengakui kesalahannya yang terlalu abai terhadap perasaan Salma demi rasa kasihan yang salah tempat.Suasana haru itu membawa perubahan besar. Raisha akhirnya menyadari bahwa tindakannya selama ini hanya menyakiti orang-orang yang ia sayangi. Ia datang menemui Salma dan Rony untuk meminta maaf secara tulus. Raisha mengabarkan bahwa ia dan ibunya akan pindah ke luar kota untuk memulai hidup baru. Ia ingin melepaskan ketergantungannya pada Rony dan belajar untuk berdiri di atas kakinya sendiri. Salma yang pemaaf merangkul Raisha, menghapus segala kesalahpahaman yang sempat menciptakan jarak di antara mereka.Setelah badai mereda, hubungan Rony dan Salma pun pulih dengan fondasi yang jauh lebih kuat. Rony menjadi pribadi yang lebih dewasa dan bijaksana dalam mengambil keputusan. Ia membuktikan bahwa Salma adalah muara dari segala kasih sayangnya. Tak butuh waktu lama bagi Rony untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius. Di hadapan kedua keluarga besar, Rony mempersembahkan sebuah cincin sebagai simbol janji suci. Ia menyatakan keinginannya untuk menjadikan Salma sebagai teman hidup selamanya. Salma menerima pinangan itu dengan air mata bahagia, menyadari bahwa setiap ujian yang mereka lalui adalah cara semesta untuk mendewasakan cinta mereka, hingga akhirnya mereka bersiap melangkah menuju kehidupan baru yang penuh dengan rasa saling percaya dan kasih sayang yang tulus.

Affair
Romance
07 Feb 2026

Affair

Rony dan Salma berdiri terlalu dekat di ruang kerja yang seharusnya menjadi tempat profesional. Rony memeluk Salma dari belakang, menahan rindu yang sudah lama tertahan.“Mas, ini di kantor,” bisik Salma gelisah, berusaha menjaga jarak.“Aku cuma kangen,” jawab Rony pelan. “Aku udah kunci pintu.”Salma menoleh, dan tanpa banyak kata, mereka saling bertukar tatap yang sarat emosi. Rony mendekat, mencium Salma dengan penuh perasaan. Bukan nafsu semata, melainkan luapan rindu yang tak terucap sejak lama. Salma sempat membalas, lalu segera menarik diri.“Kita nggak boleh,” ucapnya lirih.Ketukan pintu membuyarkan segalanya. Salma merapikan dirinya, sementara Rony membuka pintu dengan wajah yang kembali dingin dan profesional. Seorang karyawan memberi tahu bahwa klien dari PT Gemilang sudah menunggu.Salma terdiam. Klien itu adalah suaminya sendiri.Hubungan mereka memang sudah lama berada di wilayah yang salah. Salma adalah sekretaris Rony sejak beberapa tahun lalu, jauh sebelum ia menikah dengan Abimana. Rony sendiri telah menikah dengan Rana—pernikahan yang terjadi bukan karena cinta, melainkan demi menyelamatkan perusahaan keluarga.Pernikahan Salma dan Abimana terlihat baik-baik saja di mata orang lain. Namun kenyataannya, mereka berdua sama-sama merasa ada jarak yang tak bisa dijelaskan. Salma ingin memiliki anak, tapi tak kunjung diberi kesempatan. Abimana semakin sibuk, semakin sering pergi, dan semakin jarang pulang dengan hati yang utuh.Perselingkuhan Rony dan Salma bermula setahun lalu, saat perjalanan dinas ke Surabaya. Kesalahan reservasi hotel memaksa mereka berada dalam satu kamar. Awalnya canggung, lalu percakapan berubah menjadi pengakuan perasaan yang selama ini dipendam.Salma tahu itu salah. Ia tahu ia mencintai suaminya. Namun ia juga tak bisa menepis kenyamanan dan perhatian yang Rony berikan—sesuatu yang perlahan menghilang dari pernikahannya.Sejak malam itu, hubungan mereka semakin dalam. Perjalanan dinas berubah menjadi pelarian. Mereka sama-sama sadar bahwa apa yang mereka lakukan keliru, namun tak satu pun mampu berhenti.Rony semakin terikat. Ia ingin Salma sepenuhnya, ingin Salma meninggalkan suaminya dan membangun hidup bersamanya. Salma terombang-ambing—hatinya terbagi antara rasa bersalah dan rasa cinta yang tumbuh diam-diam.Puncaknya terjadi saat mereka kembali dari Bali lebih awal. Di parkiran apartemen, Salma tanpa sengaja melihat Abimana datang bersama dua perempuan lain. Pemandangan itu menghancurkan sisa keyakinan yang ia miliki.Dengan langkah gemetar, Salma memastikan kebenaran pahit itu. Di balik pintu apartemen suaminya, ia menemukan sisi Abimana yang tak pernah ia kenal—sisi yang membuat hatinya runtuh sepenuhnya.Rony mengumpulkan bukti. Bukan untuk balas dendam, melainkan untuk melindungi Salma agar tak lagi dibohongi.Saat Salma mengonfrontasi Abimana, semua alasan runtuh. Perselingkuhan, kebohongan, dan pengkhianatan terbongkar tanpa sisa. Salma memilih pergi, bukan karena kalah, tetapi karena ingin menyelamatkan dirinya sendiri.Perceraian pun terjadi.Setahun setelahnya, Salma akhirnya menerima Rony sebagai pendamping hidupnya, meski hanya secara sederhana. Mereka memilih menunggu waktu yang tepat untuk meresmikan segalanya dengan sah dan tenang.Tak lama kemudian, Rana justru meminta perceraian. Ia memilih mengejar kariernya di luar negeri, melepaskan Rony dengan ikhlas. Rony tak menahan—ia tahu pernikahan itu memang tak pernah berlandaskan cinta.Dengan restu keluarga, Rony dan Salma akhirnya menikah secara sah, tanpa sembunyi-sembunyi, tanpa rahasia.Kebahagiaan mereka sempurna ketika Salma melahirkan anak kembar perempuan. Dua bayi mungil yang menjadi penutup perjalanan panjang penuh luka dan kesalahan.Rony memandang keluarganya dengan rasa syukur yang dalam. Ia tahu hidup mereka tidak dimulai dengan cara yang benar, namun ia berjanji akan mengakhirkannya dengan cara yang bertanggung jawab.Salma pun akhirnya menemukan rumah—bukan tempat tanpa masa lalu, tetapi tempat di mana ia diterima, dihargai, dan dicintai sepenuhnya.Dan di situlah mereka berdiri, bukan sebagai pasangan tanpa cela, melainkan sebagai dua manusia yang belajar dari kesalahan, lalu memilih untuk bertumbuh bersama.

My Beloved Cousin
Romance
07 Feb 2026

My Beloved Cousin

Salma terpaksa menginap di rumah tantenya karena kedua orang tuanya harus ke luar negeri untuk urusan bisnis. Ia memilih tinggal bersama Tante Rima karena merasa lebih aman dibanding harus sendirian di rumah. Kakaknya, Paul, jarang berada di rumah dan sering pulang larut malam, sehingga Salma tidak merasa tenang jika harus sendirian.Di rumah Tante Rima, Salma tinggal bersama Rony dan adik kecilnya, Safeea. Rony adalah sepupu Salma—anak Tante Rima—yang dikenal usil, cerewet, dan sering menggoda Salma dengan candaan yang terkadang berlebihan. Meski sering bertengkar kecil, mereka sebenarnya sangat dekat.Hari-hari Salma di rumah tantenya diisi dengan kebersamaan sederhana. Mereka makan bersama, menonton film, dan saling berbagi cerita. Di balik candaan dan pertengkaran kecil, Rony diam-diam selalu berusaha menjaga Salma, terutama karena ia tahu Salma sering merasa tidak diperhatikan oleh kakaknya sendiri.Suatu hari, Salma pulang ke rumahnya untuk mengambil pakaian. Di sana, ia kembali bertengkar dengan Paul. Perdebatan mereka memanas hingga membuat Salma menangis. Rony yang melihat kejadian itu segera melerai dan membawa Salma menjauh agar emosinya mereda. Ia menenangkan Salma dengan sabar dan meyakinkannya bahwa ia tidak sendirian.Kedekatan mereka semakin terasa sejak saat itu. Rony sering membantu Salma, mendengarkan keluh kesahnya, dan menjadi tempat aman ketika Salma merasa terluka. Perasaan yang awalnya hanya sebatas perhatian perlahan berubah menjadi rasa yang lebih dalam—sesuatu yang tidak mereka rencanakan, namun tumbuh seiring waktu.Hubungan itu sempat membuat Salma diliputi kebingungan dan rasa bersalah. Ia sadar status mereka sebagai sepupu, dan ia mempertanyakan apakah perasaan itu seharusnya ada. Namun Rony selalu menenangkan Salma, meyakinkannya bahwa ia serius dan berniat bertanggung jawab.Kebenaran akhirnya terungkap di hadapan keluarga. Bukannya ditentang, orang tua mereka justru bersikap bijak. Mereka menjelaskan bahwa secara agama dan hukum, pernikahan sepupu diperbolehkan. Yang terpenting adalah niat baik, tanggung jawab, dan kesiapan membangun rumah tangga.Di sisi lain, keluarga Salma diuji oleh masalah besar ketika Paul harus bertanggung jawab atas perbuatannya kepada Nabila, sahabat Salma. Kejadian itu menjadi titik balik bagi Paul. Ia berubah, belajar bertanggung jawab, dan akhirnya menikahi Nabila dengan penuh kesadaran.Di tengah semua proses itu, Rony membuktikan keseriusannya. Ia menyelesaikan studinya, mempersiapkan masa depan, dan secara resmi melamar Salma di hadapan keluarga besar. Lamaran itu diterima dengan haru dan doa restu.Pernikahan mereka berlangsung sederhana namun penuh kebahagiaan. Salma dan Rony membangun rumah tangga dengan saling menghormati, belajar dari kesalahan masa lalu, dan menumbuhkan cinta dengan cara yang lebih dewasa.Tahun-tahun berlalu. Mereka dikaruniai dua orang anak yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang hangat. Salma merasa bersyukur—ia dicintai sebagai istri dan dihargai sebagai ibu. Rony pun menemukan kebahagiaan sejati bersama wanita yang sejak dulu ia kagumi.Di malam hari, ketika rumah sudah sunyi dan anak-anak terlelap, Rony sering memandang Salma dengan rasa syukur. Perjalanan mereka tidak dimulai dengan mudah, namun berakhir dengan keutuhan dan tanggung jawab.Cinta mereka bukan tentang kesempurnaan, melainkan tentang keberanian untuk memperbaiki diri, bertanggung jawab, dan memilih untuk tumbuh bersama.

Kesempatan Kedua
Romance
07 Feb 2026

Kesempatan Kedua

Bryan berlari masuk ke rumah dengan wajah ceria. Rony yang sudah menunggu sejak sore menoleh dan tersenyum kecil melihat putranya.Ayah dan anak itu saling menyapa, disusul Salma yang datang sedikit terlambat karena perjalanan yang padat. Rony menegur Salma dengan nada dingin, seperti biasa. Salma tidak membantah. Ia hanya meminta maaf dan langsung menjalankan perannya di rumah.Pernikahan mereka bukanlah pernikahan yang lahir dari cinta. Salma menikah dengan Rony karena perjodohan keluarga. Ia masih sangat muda saat itu, sementara Rony adalah seorang duda dengan seorang anak kecil bernama Bryan. Istri pertama Rony, Maura, meninggal dunia saat melahirkan Bryan, meninggalkan luka yang belum sepenuhnya sembuh di hati Rony.Salma menerima pernikahan itu karena kasih sayangnya pada Bryan. Sejak pertama bertemu, Bryan begitu dekat dengannya. Anak kecil itu menemukan sosok ibu pada diri Salma, dan Salma pun menyayanginya sepenuh hati.Namun kehidupan pernikahan mereka jauh dari kata hangat. Selama satu tahun pernikahan, Rony bersikap dingin, kasar dalam kata-kata, dan menjaga jarak emosional dari Salma. Ia menegaskan bahwa Salma hanyalah pengasuh Bryan, bukan pengganti Maura. Kata-kata itu berulang kali melukai Salma, tetapi ia memilih bertahan demi Bryan.Setiap hari Salma menjalani perannya dengan sabar. Ia mengurus rumah, menjaga Bryan, dan tetap melanjutkan kuliahnya. Ia menerima sikap Rony tanpa perlawanan, meski hatinya perlahan terkikis.Suatu hari, konflik besar terjadi ketika orang tua Rony datang dan menyaksikan langsung sikap Rony yang kasar pada Salma. Mereka marah besar. Kata-kata keras terlontar, kekecewaan terungkap. Untuk pertama kalinya, Salma berdiri di tengah badai itu tanpa membela diri, bahkan masih mencoba melindungi Rony dari kemarahan orang tuanya.Ketika orang tua Rony mengajak Salma pergi dan menawarkan untuk membantunya keluar dari pernikahan itu, Salma hampir menyerah. Namun Bryan menangis memeluknya, memohon agar Salma tidak pergi. Tangisan anak kecil itu membuat Salma kembali menahan luka dan memilih bertahan.Hari-hari berlalu tanpa perubahan. Hingga suatu sore, Rony salah paham melihat Salma diantar pulang oleh teman kampusnya. Amarah dan kecemburuan membuat Rony bertindak kasar secara emosional, melontarkan tuduhan yang sangat menyakitkan.Di titik itulah Salma akhirnya runtuh.Dengan air mata dan suara bergetar, Salma mengungkapkan semua luka yang selama ini ia pendam. Ia memilih pergi. Tanpa drama, tanpa balas dendam—ia hanya ingin menyelamatkan dirinya sendiri.Kepergian Salma menjadi titik balik bagi Rony.Rumah terasa kosong. Bryan jatuh sakit karena merindukan Salma dan menolak bertemu ayahnya. Untuk pertama kalinya, Rony merasakan kehilangan yang lebih dalam daripada saat kehilangan Maura. Ia menyadari bahwa Salma telah menjadi pusat kehidupannya tanpa ia sadari.Penyesalan datang terlambat.Setelah sebulan mencari, Rony akhirnya menemukan Salma di rumah lama keluarganya di daerah pegunungan. Salma menolak menemuinya. Namun Rony tetap menunggu, bahkan ketika hujan turun dan udara menjadi sangat dingin.Kondisi Rony memburuk hingga ia jatuh sakit. Salma yang melihat itu akhirnya luluh—bukan karena cinta, melainkan karena kemanusiaan. Ia merawat Rony, memastikan kondisinya membaik.Di sanalah, dengan kerendahan hati, Rony meminta maaf. Ia mengakui kesalahan, kecemburuan, dan ketidakmampuannya melepaskan masa lalu. Ia mengakui bahwa ia mencintai Salma—bukan sebagai pengganti siapa pun, tetapi sebagai dirinya sendiri.Salma tidak langsung menerima. Namun ketika Rony menceritakan kondisi Bryan yang sakit dan sangat merindukannya, hati Salma kembali goyah. Demi Bryan, ia pulang.Perlahan, Rony berubah. Ia menjadi lebih lembut, lebih hadir, dan lebih menghargai Salma. Ia berhenti membandingkan masa lalu dengan masa kini. Foto-foto lama disimpan, bukan untuk dilupakan, melainkan untuk dikenang dengan cara yang lebih dewasa.Salma pun tidak langsung membuka hatinya. Ia memberi jarak, memberi waktu, dan memberi batas. Rony menerima itu sebagai konsekuensi dari kesalahannya.Hingga suatu hari, Rony memberikan kejutan kecil—sesuatu yang sangat berarti bagi Salma. Bukan hadiah mahal, melainkan perhatian yang tulus. Di situlah Salma melihat kesungguhan Rony.Salma akhirnya memberi kesempatan kedua.Bukan karena lupa, tetapi karena melihat perubahan. Bukan karena kasihan, tetapi karena yakin.Mereka belajar membangun kembali rumah tangga mereka dengan komunikasi, rasa hormat, dan tanggung jawab. Bryan kembali ceria. Rumah kembali hangat.Salma memilih memaafkan, dan Rony memilih berubah.Dan dari semua luka itu, mereka belajar satu hal: cinta bukan tentang siapa yang paling benar, tetapi siapa yang mau memperbaiki diri dan bertahan.

Si Culun
Romance
07 Feb 2026

Si Culun

Salsabila Arranda dikenal sebagai siswi tomboy yang tegas, berani, dan tidak takut menghadapi siapa pun. Sejak hari pertama di SMA Bimantara, namanya sudah dikenal—bukan karena popularitas, melainkan karena keberaniannya melawan perundungan.Suatu pagi, Salsa menghentikan sekelompok siswa yang sedang mengganggu murid baru. Tanpa ragu, ia membela anak laki-laki itu dan mengantarkannya ke ruang guru. Murid baru itu bernama Rony Rayandra, siswa pindahan dari Bandung yang pendiam dan lugu.Sejak hari itu, mereka menjadi teman sebangku.Rony sering menjadi sasaran ejekan karena penampilannya yang sederhana dan sikapnya yang pemalu. Namun satu sekolah tahu, selama Salsa ada di sampingnya, tak ada yang berani menyentuh Rony. Persahabatan mereka tumbuh perlahan—bukan yang ramai, tetapi penuh rasa aman.Salsa, yang tumbuh dalam keluarga yang tidak utuh, menemukan ketenangan bersama Rony. Rony tak pernah memaksanya berubah, tak pernah menghakimi amarahnya, dan selalu mendengarkan. Rony pun merasa diterima apa adanya oleh Salsa.Tahun demi tahun berlalu. Mereka naik kelas bersama, duduk sebangku, belajar bersama, dan saling menjadi tempat pulang.Namun, ketenangan itu terusik oleh Dion—siswa bermasalah yang terobsesi pada Salsa. Berkali-kali Dion mendekati Salsa, dan berkali-kali pula ditolak. Penolakan itu berubah menjadi niat buruk.Dion merencanakan sesuatu yang berbahaya. Namun rencana itu diketahui oleh Paul, teman Dion yang diam-diam masih memiliki hati nurani. Paul menggagalkan rencana tersebut dan menyelamatkan Salsa, sementara Rony datang menjemput sahabatnya tanpa tahu bahwa dirinya juga akan menjadi sasaran balas dendam.Akibatnya, Rony diserang dan terluka cukup parah.Kejadian itu menjadi titik balik segalanya.Salsa yang selama ini terlihat kuat, akhirnya runtuh. Ia menyadari bahwa Rony bukan sekadar sahabat baginya. Rony adalah orang yang selalu berdiri di sisinya, bahkan ketika ia sendiri tidak menyadari betapa berharganya kehadiran itu.Dion dan rekannya akhirnya dilaporkan dan dikeluarkan dari sekolah. Kebenaran terungkap. Rony pulih perlahan, dirawat dengan penuh perhatian oleh Salsa.Hubungan mereka pun berubah. Dari persahabatan yang penuh candaan, tumbuh perasaan yang lebih dalam—lebih tenang, lebih dewasa, dan penuh tanggung jawab.Setelah lulus SMA, Rony menepati janjinya. Ia datang menemui orang tua Salsa, meminta izin dengan sungguh-sungguh. Awalnya berat, namun akhirnya restu diberikan setelah melihat ketulusan dan kesungguhan Rony.Mereka menikah sederhana, tanpa kemewahan, namun penuh kebahagiaan.Salsa yang dulu dikenal galak dan tertutup, kini menemukan rumahnya. Rony yang dulu dianggap “culun”, tumbuh menjadi pria yang berani, bukan karena fisik—melainkan karena cinta dan tanggung jawab.Hubungan mereka yang berawal dari bangku sekolah, tumbuh dari persahabatan, dan berakhir dalam ikatan suci, menjadi bukti bahwa cinta tidak selalu datang dari sosok yang paling sempurna—melainkan dari orang yang selalu tinggal, menjaga, dan tidak pergi saat keadaan paling sulit.

Jodoh kedua
Romance
06 Feb 2026

Jodoh kedua

Salma dan Rony mulai menjalin hubungan sejak duduk di bangku SMA. Hubungan mereka tumbuh dari rasa cinta remaja yang intens, penuh ketergantungan emosional, dan kurangnya kedewasaan dalam mengambil keputusan. Salma, seorang gadis yatim piatu yang hidup dengan keterbatasan, menggantungkan hidup dan hatinya pada Rony. Sementara Rony, meski terlihat mencintai Salma, menyimpan trauma keluarga yang membuatnya takut pada komitmen.Masalah besar muncul ketika Salma mengetahui dirinya hamil. Alih-alih bertanggung jawab, Rony diliputi ketakutan dan kepanikan. Ia menolak kehamilan itu, meragukan Salma, dan akhirnya memilih pergi. Hubungan mereka berakhir dengan luka yang sangat dalam, terutama bagi Salma yang harus menghadapi kehamilan itu sendirian.Salma dikhianati tidak hanya secara emosional, tetapi juga secara sosial. Rony menjalin hubungan baru dan membiarkan Salma menanggung stigma di sekolah. Salma akhirnya meninggalkan sekolah tersebut dan, atas bantuan Nabila—sahabatnya—ia tinggal bersama keluarga Nabila. Di sanalah Salma mendapatkan perlindungan, dukungan, dan kesempatan untuk melanjutkan hidupnya.Di rumah itu, Salma bertemu Alan, kakak Nabila. Alan adalah sosok pria dewasa, tenang, dan penuh empati. Ia menerima Salma apa adanya, termasuk masa lalunya dan anak yang sedang dikandungnya. Dengan penuh kesabaran, Alan membantu Salma bangkit, hingga akhirnya mereka menikah dan membangun keluarga kecil bersama putri Salma, Keysa.Bertahun-tahun kemudian, Rony telah berubah menjadi pria sukses dan berkarier tinggi. Takdir mempertemukan kembali Rony dengan Salma secara tak terduga. Rony baru menyadari bahwa Keysa adalah anak kandungnya. Penyesalan besar menghantam dirinya—ia kehilangan kesempatan menjadi ayah sejak awal karena ketakutannya sendiri.Meski terluka, Salma telah berdamai dengan masa lalu. Ia membangun hidup baru bersama Alan. Namun Alan, sebagai pria yang bijak dan tulus, tidak menghalangi Rony untuk mendekati Keysa. Alan percaya bahwa seorang anak berhak mengenal ayah kandungnya.Rony perlahan mendekati Keysa, membangun hubungan sebagai ayah kandung yang menyesal dan ingin memperbaiki kesalahan. Hubungan ini tidak mudah bagi Salma, namun demi kebahagiaan anaknya, ia belajar memaafkan—bukan untuk melupakan, melainkan untuk berdamai.Tragedi terjadi ketika Alan mengalami kecelakaan fatal dan meninggal dunia setelah menyumbangkan penglihatannya untuk Salma. Kepergian Alan mengguncang semua orang. Dalam duka mendalam, Rony berdiri menemani Salma dan Keysa, bukan sebagai pengganti, melainkan sebagai penopang.Sesuai pesan terakhir Alan, Salma akhirnya membuka hatinya kembali. Rony dengan kesabaran luar biasa menemani Salma menyembuhkan lukanya selama bertahun-tahun. Tidak ada paksaan—hanya waktu, tanggung jawab, dan ketulusan.Akhirnya, Salma dan Rony menikah. Mereka membesarkan Keysa bersama dan dikaruniai seorang putra bernama Keyvano. Rony menjalani perannya sebagai suami dan ayah dengan penuh tanggung jawab, belajar dari kesalahan masa lalu yang hampir menghancurkan segalanya.Cerita ini bukan tentang cinta yang sempurna, melainkan tentang kesalahan, penyesalan, pengampunan, dan kesempatan kedua. Tentang bagaimana seseorang bisa kehilangan segalanya karena ketakutan, dan bagaimana cinta sejati terkadang hadir melalui jalan yang paling menyakitkan.

My Enemy My Husband
Romance
06 Feb 2026

My Enemy My Husband

Pagi itu Salma hampir menabrak seseorang di lobi kampus.“Kalau jalan lihat depan, bisa?” omelnya kesal.“Harusnya kamu bersyukur ketemu orang setampan aku,” balas Rony dengan senyum percaya diri.Salma mendengus. “Tampan atau tidak, tetap saja mengganggu.”Begitulah keseharian mereka—dua mahasiswa pintar yang selalu bersaing. Rony dikenal populer dan penuh percaya diri, sementara Salma disiplin, mandiri, dan tak mudah terkesan. Mereka sering berdebat soal apa pun, dari nilai sampai cara bicara.Takdir mempermainkan keduanya ketika keluarga mempertemukan mereka dalam rencana perjodohan. Ayah Salma yang sakit harus berobat ke luar negeri dalam waktu lama. Demi ketenangan keluarga, disepakati Salma akan menikah dengan Rony—anak sahabat ayahnya—agar tetap ada yang menjaga.Salma menolak keras. Rony pun awalnya enggan. Namun keadaan memaksa, dan keduanya akhirnya setuju dengan syarat masing-masing. Pernikahan disiapkan sederhana, dengan harapan waktu akan melunakkan segalanya.Hari pernikahan tiba. Salma terlihat tenang meski hatinya penuh cemas. Rony, yang biasanya santai, justru gugup. Ketika ijab kabul selesai, mereka resmi menjadi pasangan suami istri—dua orang yang belum sepenuhnya saling memahami.Hari-hari awal dipenuhi aturan dan jarak. Mereka sepakat memberi ruang, belajar saling menghormati. Rony berusaha menahan kebiasaan menggoda berlebihan; Salma mencoba membuka diri meski masih kaku.Suatu malam, Salma jatuh sakit karena kelelahan dan rindu keluarga. Rony yang biasanya jahil, berubah sigap. Ia menyiapkan minum, mengecek suhu tubuh, dan menemani Salma sampai tertidur. Tanpa kata berlebihan, perhatian itu perlahan meruntuhkan tembok Salma.“Terima kasih,” ucap Salma lirih keesokan paginya. “Aku tidak menyangka kamu bisa setelaten ini.”Rony tersenyum kecil. “Aku sedang belajar.”Sejak saat itu, mereka mulai berkomunikasi. Pertengkaran berkurang, candaan lebih ringan. Rony berhenti mencari perhatian di luar; Salma mulai mempercayai niat baik suaminya.Cobaan datang ketika Salma mengalami keguguran di usia pernikahan yang masih sangat muda. Keduanya terpukul. Rony menyalahkan diri sendiri, Salma larut dalam duka. Namun keluarga menguatkan, dan mereka memilih berdiri bersama—menggenggam, bukan menyalahkan.“Aku takut kehilangan kamu,” kata Rony suatu malam. “Aku tidak ingin lagi hidup saling melukai.”Salma mengangguk. “Aku ingin kita mulai ulang. Pelan-pelan.”Mereka fokus menyelesaikan pendidikan, membangun karier, dan memperbaiki diri. Waktu mengajarkan kesabaran. Luka menjadi pelajaran.Beberapa tahun kemudian, Salma lulus dan merintis usaha busana. Rony melanjutkan bisnis keluarga dengan cara yang lebih bertanggung jawab. Rumah mereka tak lagi riuh oleh pertengkaran, melainkan tawa sederhana.Kehadiran seorang putri kecil melengkapi segalanya. Mereka menamainya Aira—pengingat bahwa cinta bisa tumbuh dari niat baik dan usaha.Suatu sore, Rony bercerita pada Aira tentang masa lalu. “Dulu Papi dan Mami sering berbeda pendapat.”Aira tertawa. “Sekarang sudah akur?”“Karena Papi belajar mencintai dengan benar,” jawab Salma sambil tersenyum.Rony menggenggam tangan Salma. “Dan Mami mau memberi kesempatan.”Keluarga kecil itu berjalan ke depan—bukan karena tanpa salah, melainkan karena memilih memperbaiki.

Young Wife
Romance
06 Feb 2026

Young Wife

Salma baru saja menyelesaikan pendidikannya dan bermimpi melanjutkan kuliah. Namun hidupnya runtuh dalam waktu singkat. Kedua orang tuanya meninggal dunia, meninggalkan utang besar yang tak pernah ia ketahui sebelumnya. Rumah yang selama ini menjadi tempat berlindungnya disita, dan Salma harus pergi tanpa sempat menoleh ke belakang.Di balik pagar rumah itu, berdiri Rony—pemilik perusahaan yang mengambil alih aset keluarga Salma. Ia menikah dengan Raline, perempuan lembut yang telah mendampinginya selama bertahun-tahun. Pernikahan mereka harmonis, hanya satu hal yang belum terwujud: kehadiran seorang anak.Raline sangat ingin menjadi ibu. Setelah melalui banyak pemeriksaan medis, harapan itu kian tipis. Dalam keputusasaan, Raline mengusulkan jalan yang berat namun ia yakini sebagai satu-satunya harapan: sebuah pernikahan kontrak yang sah dan bermartabat, dengan kesepakatan jelas, tanpa paksaan fisik, dan penuh batasan—agar mereka bisa memiliki anak dan tetap menjaga kehormatan semua pihak.Rony menolak keras pada awalnya. Ia mencintai Raline dan tidak ingin melukai siapa pun. Namun Raline memintanya dengan air mata dan ketulusan, meyakinkannya bahwa niat mereka bukanlah kejahatan, melainkan ikhtiar keluarga dengan syarat Salma harus setuju tanpa tekanan dan hak-haknya dilindungi sepenuhnya.Salma dihadapkan pada pilihan yang mustahil. Masa depan pendidikannya, rumah peninggalan orang tua, dan kesempatan bangkit kembali dipertaruhkan. Setelah melalui pertimbangan panjang, Salma menyetujui pernikahan kontrak yang sah, berjangka, dan transparan, dengan pendampingan hukum dan keluarga.Pernikahan itu berlangsung sederhana. Raline menyambut Salma bukan sebagai saingan, melainkan adik. Ia mendampingi Salma menjalani hari-hari baru dengan penuh empati, mengajarinya beradaptasi, dan memastikan Salma tetap mengejar mimpinya.Waktu berjalan. Hubungan yang awalnya formal perlahan berubah. Rony belajar menahan ego dan bersikap bertanggung jawab. Salma menemukan rasa aman yang tak ia duga. Raline menjadi penopang bagi keduanya, meski hatinya kerap diuji.Takdir kembali menguji. Raline mengalami kecelakaan dan jatuh koma. Rumah yang dulu hangat berubah sunyi. Rony diliputi rasa bersalah, Salma hidup dalam kecemasan. Di rumah sakit, Raline terbangun sesaat dan meminta mereka berdua mendekat.Dengan suara lirih, Raline berpesan agar Salma tidak meninggalkan mimpinya, agar Rony menjaga keluarga dengan hati yang adil, dan agar anak yang dinanti dibesarkan dengan cinta—tanpa kebencian masa lalu. Tak lama setelah itu, Raline berpulang dengan tenang.Kehilangan itu mengubah segalanya.Rony dan Salma belajar berdiri kembali. Mereka menata ulang hidup, bukan karena kontrak, melainkan karena pilihan. Saat anak mereka lahir, air mata dan doa menyatu. Anak itu diberi nama yang mengandung kenangan dan harapan—sebuah cara sederhana untuk menghormati cinta yang pernah ada.Salma melanjutkan pendidikannya. Rony menepati janji-janjinya. Rumah yang dulu hilang kini kembali menjadi rumah—bukan karena temboknya, melainkan karena orang-orang di dalamnya.Cinta tidak selalu lahir dari rencana yang sempurna. Kadang ia tumbuh dari luka, bertahan lewat pengorbanan, dan menguat melalui kejujuran. Mereka memilih melangkah ke depan—lebih dewasa, lebih tenang, dan lebih manusiawi.

Sahabat Istri ku
Romance
06 Feb 2026

Sahabat Istri ku

Salma tiba di Jakarta dengan satu koper dan satu alamat di ponselnya. Alamat itu milik Mita—sahabat yang ia kenal sejak bangku sekolah dasar. Bertahun-tahun berpisah membuat mereka sama-sama berubah, tetapi pelukan di depan rumah Mita terasa sama hangatnya seperti dulu.“Aku masih gak enak, Mit. Aku takut merepotkan,” ucap Salma pelan.“Berhenti mikir begitu. Kamu aman di sini,” jawab Mita mantap.Rony, suami Mita, menyambut Salma dengan sopan. Ia tak banyak bicara, hanya senyum ramah dan sikap tenang yang membuat Salma sedikit lega. Rumah itu besar, rapi, dan terasa sunyi—sunyi yang baru ia pahami beberapa minggu kemudian.Mita sibuk. Sangat sibuk. Ia berangkat pagi dan pulang larut. Rony pun tenggelam dalam pekerjaannya. Tanpa disadari, Salma menjadi pengisi ruang-ruang kosong: menyiapkan minuman hangat, mendengarkan keluh kesah singkat, menjadi teman makan malam ketika Mita belum pulang.Ketika Rony menawarkan pekerjaan sementara sebagai asisten pribadi, Salma ragu. Namun tawaran itu datang dengan janji bimbingan dan batasan profesional. Salma menerima—ia ingin berdiri di kakinya sendiri.Hari-hari kerja mempertemukan mereka lebih sering. Percakapan mereka sederhana, nyaris selalu tentang pekerjaan. Tapi di sela itu, ada tawa kecil, ada rasa saling menghargai, ada empati yang tumbuh pelan-pelan. Salma berulang kali mengingatkan dirinya: ini suami sahabatmu.Retakan mulai terlihat dalam rumah tangga Mita dan Rony. Bukan karena orang ketiga, melainkan karena jarak yang dibiarkan terlalu lama. Mita mencintai kariernya; Rony mendambakan kehadiran. Mereka berdua baik, hanya saja berjalan ke arah yang berbeda.Perjalanan dinas ke luar kota mempertebal konflik batin Salma. Ia dan Rony bekerja hingga larut, berbagi lelah dan kejujuran yang selama ini tertahan. Di malam yang sunyi, mereka duduk berjauhan, berbicara tentang tanggung jawab dan rasa bersalah. Tak ada sentuhan. Hanya pengakuan bahwa perasaan manusia kadang tumbuh tanpa izin.“Aku tidak ingin merusak apa pun,” kata Salma tegas pada dirinya sendiri.Sekembali ke Jakarta, Salma menjaga jarak. Ia meminta dipindahkan ke tim lain. Rony menghormati keputusan itu. Namun rumah itu keburu berubah. Mita mulai pulang lebih sering, mencoba memperbaiki yang retak. Upaya itu terlambat—bukan karena Salma, melainkan karena akumulasi tahun-tahun yang tak terurus.Kebenaran akhirnya muncul. Bukan pengkhianatan fisik, melainkan pengkhianatan emosional yang tak kalah menyakitkan. Percakapan panjang terjadi. Tangis, marah, dan kejujuran yang pahit. Rony mengakui kegagalannya sebagai suami. Mita mengakui prioritas yang keliru. Salma meminta maaf—berkali-kali—dan bersiap pergi.Perceraian berlangsung dengan dewasa. Tak ada saling menjatuhkan. Mita memilih menata hidupnya, menutup lembar lama, dan meminta satu hal pada Salma: jangan memutus persahabatan mereka. Salma mengangguk dengan mata basah.Waktu berjalan. Luka mengering. Salma pindah, bekerja, melanjutkan hidup. Rony belajar sendiri—belajar hadir, belajar menunggu. Ketika mereka bertemu kembali, itu bukan karena kebutuhan, melainkan pilihan yang dipikirkan matang.Pernikahan mereka sederhana, tenang, dan jujur. Tak ada janji berlebihan, hanya komitmen menjaga batas dan menghormati masa lalu. Anak-anak mereka tumbuh dalam rumah yang hangat, mengenal kata maaf dan tanggung jawab sejak dini.Beberapa tahun kemudian, Mita datang berkunjung dengan senyum yang utuh. Ia telah bahagia dengan hidupnya sendiri. Mereka bertiga duduk di ruang tamu, berbagi cerita, tanpa rahasia.Persahabatan mereka tak kembali seperti dulu—ia tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dewasa. Bukan lupa, melainkan berdamai.Dan di sanalah mereka belajar: cinta yang sehat tidak pernah lahir dari perebutan, melainkan dari keberanian mengakui salah, memilih pergi saat perlu, dan kembali hanya ketika semua siap.

Menampilkan 24 dari 230 cerita Halaman 2 dari 10
Menampilkan 24 cerita