Temukan Cerita Inspiratif
Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.
Total Cerita
830
Genre Romance
166
Genre Folklore
166
Genre Horror
166
Genre Fantasy
166
Genre Teen
166
Terakhirnya di Kehidupanku
Rinai menari-nari di nabastala. Memancarkan mega rucita. Dayita gata meninggalkan bekas di indurasmi. Headphone telah terpasang di kedua telinganya, tiada terpengaruh kampa di sekitarnya.Memandangi halaman depannya membuatnya bernapas lelah. Dia sadar, hidupnya tidak lama lagi. Tetapi, dia berusaha terlihat baik dan kuat walau sebenarnya dia sangat rapuh. Bahkan, tidak ada kata kokoh lagi di hatinya.Lampu merah berubah ke warna kuning, menandakan khalayak umum boleh melewatinya tanpa merasakan takut akan kecelakaan nantinya. Dia mulai melangkahkan kakinya dengan kekuatan setengahnya.Dia tidak bisa memaksakan hasratnya. Dia harus bisa membagi waktu antara atma dan kampusnya. Terlihat sepele, tetapi baginya itu butuh kekuatan dan kesabaran untuk menahan sakitnya yang dia derita tersebut.Kini, kampus terlihat seperti pasar. Iya, pasar, di sana tempatnya sangat ramai. Ada yang berbahagia, tertawa, tersenyum, bahkan gila di tempatnya. Namun, untuknya? Ha-ha, terasa konyol."Selamat pagi, bro," sapanya.Aku menoleh ke belakang. Anggukan kecilku, dia memahaminya. Bisa dikatakan, dialah yang dekat denganku. Namun, dekat-dekatnya denganku. Dia juga tidak tahu kalau aku memiliki penyakit."Ngomong-ngomong, kamu sudah selesai tugas yang diberikan Pak Ardan?" tanyanya."Pasti. Belum?" tanyaku.Terlihat giginya putih bersih membuatku mengangkat kedua bahu acuh. Dia itu pintar sebenarnya cuman ... entahlah. Aku akan menunggunya untuk merubah pola pikirnya itu.Bel kampus terdengar di telinga kami. Kami mempercepat langkah kami agar tidak terlambat di ruangan nantinya. Tepat bel ketiga, kami tiba di sana. Jangan lupakan seseorang yang akan mengisi hari ini.Bapak Pandiwijaya, dipanggil Pak Jaya. Siapa yang tidak mengenalinya? Jangan harap kampus sini tidak mengenalinya. Pasti kenal dengan beliau. Beliau termasuk jajaran dosen killer di kampus Gandaria.Bagi mereka, bagiku dan Charlie, temanku. Pak Jaya adalah dosen yang paling kami sayangi dan banggakan. Ditanyakan, alasannya? Apakah harus ada alasan untuk menaruh perhatian dan kasih di sana? Tidak, bukan?Tidak hanya Pak Jaya saja. Ada dosen yang membuatku kagum dengan beliau. Namanya adalah Bapak Zein Ahmad, dipanggil Sen Mad. Lucu, bukan? Bagi kalian, bagiku, tidak. Mengapa beliau dipanggil begitu? Kata beliau, teman-temannya sering memanggilnya dengan sebutan Mad. Sedangkan, Sen diambil nama ujung gelar dari 'Dosen', yaitu 'Sen'. Jadi, kalian pikirkan saja.Bianglala memenuhi atma. Chandra menampakkan visus nya. Harsa sahaja sudah aku miliki tanpa dari orang lain melainkan dari diriku sendiri. Usai kampus, aku jalan-jalan sebentar. Ingin memberikan ruang untuk jiwaku.Mataku menangkap seorang anak kecil. Ditangannya ada setangkai bunga anggrek. Teringat temanku, Rena. Dia sangat mencintai bunga anggrek. Eh, sebentar. Aku melupakannya. Di manakah dia sekarang? Dia juga teman terdekatku.Saking nyamannya di bawah akara. Ujung kaos oblongku ditarik-tarik oleh seseorang. Aku menyadarkan kepalaku dengan gelengan kecil dan menoleh ke bawah. Anak kecil ini? Barusan aku bicarakan tadi. Mengapa dia mendekatiku?Aku berjongkok guna mensejajarkan diriku dengannya. Lalu, aku berkata, "Halo, manis. Ada yang bisa Kakak bantu?" tanyaku sambil tersenyum tipis.Dia juga membalas senyumanku. Tiba-tiba, dia menyerahkan sebuah kotak kecil yang biasanya terisi oleh cincin. Mengernyit heran, jelas. Aku tidak mengerti apa-apa dengan kotak kecil ini. Lagian, buat apa aku menyimpannya?"Simpan ini baik-baik, Kak. Ini akan berguna nantinya, Kak. Kalau boleh tahu, nama Kakak siapa, ya?" tanyanya.Wajahnya bulat, putih dan bersih. Aku melihatnya jadi lucu sendiri. Sebentar, wajahnya mirip seseorang. Tetapi, siapa? Oh ya, apakah dia sendirian di sini? Mana orang tuanya?"Panggil kakak, Rel, okay? Ngomong-ngomong, kotak kecil ini kok buat Kakak, sih? Lalu, kamu sama siapa di sini?" tanyaku sedikit penasaran.Dia tersenyum dan berkata, "Kakak lupa denganku, ya? Aku adiknya Anty Rena, Kak. Kalau masalah kotak kecil ini. Aku tidak tahu, Kak. Ini itu pesan dari Anty Rena, Kak," jawabnya.Sebentar, Rena? Rena memiliki adik perempuan. Sejak kapan? Kok aku baru tahu? Terus, pesan dari Rena. Di mana dia sekarang? Jantungku sedikit berdebar mendengar penjelasannya."Hm, begitu. Anty Rena-nya, di mana, Dek?" tanyaku pelan seolah-olah ada sesuatu yang hinggap di benakku. Namun, aku tangkis dan yakin sepenuhnya."Anty Rena sudah tiada, Kak Rel," ucapnya.Wajahku tegang. Duniaku seolah-olah terhenti dan meninggalkan retisalya. Ba-bagaimana bisa? Bukankah dia sehat-sehat saja, apakah dia menyembunyikan sesuatu dariku? Mengapa dia menutupinya? Ataukah, dia tidak ingin aku kesepian walau sebenarnya aku kesepian. Bahkan, sangat kehilangan saat dirinya tidak bersamaku lagi."Maksudmu, Anty Rena telah meninggal, Dek?" tanyaku pelan. Bahkan, tidak kedengaran lagi."Benar, Kak Rel. Oleh karena itu, aku sebagai adiknya harus melaksanakan amanahnya. Sudah dulu ya, Kak Rel. Aku mau pulang. Takut Bunda mencariku. Ingat, simpan baik-baik, jumpa lagi, Kak Rel," pamitnya.~~~Apa kabar, hawk!Jangan menyembunyikan sesuatu dariku, hawk.Aku tahu, kamu memiliki penyakit.Parahnya, penyakit kita sama, hawk.Huh', udaranya sangat dingin di sini, hawk.Oh ya, berapa tahun kita tidak bertemu, hawk?4-5 tahun, 'kan?Aku kangen kamu, hawk.Kamu tetap semangat, hawk.Hatiku selalu ada nama mu, hawk.Um ....Sebelumnya, aku minta maaf sama kamu, hawk.Kali saja, aku pernah menyakitimu melalui perbuatan dan perkataanku ini padamu, hawk.Huffttt ....Dekorasinya sangatlah jelek.Sampai-sampai, aku bosan melihatnya.Eh, hawk?Kamu jangan sampai sepertiku ini, ya.Aku jahil sekali dengan diriku ini.Jadi, kamu tidak boleh jahil, hawk.Huh' ....Sudah dulu, ya, hawk.Napasku sudah sampai ubun-ubun, nih.Kalau kamu mendapatkannya ....Tandanya, aku sudah berada di langit.Kalau kangen, lihat ke langit, okay.Love u, Hawk.Rumah Sakit, Rena Jayanda.~~~Satu minggu, waktuku yang dihabiskan hanya membaca berulang-ulang surat mini dari Rena. Aku tak menyangka kalau di kotak kecil itu terdapat kertas gulungan. Tak lupa, cincin perak bertuliskan namaku dan namanya di sana.Sebegitu dalamnya dia mencintaiku? Padahal, aku tidak menaruh harapan padanya. Akan tetapi, dirinya? Sungguh, ini membuatku bingung dengan keadaannya yang sudah diambil oleh-Nya.Sang adiknya juga tidak memberitahu apa-apa selain kotak kecil ini. Apakah adiknya tidak berniat untuk menjelaskan tentangnya padaku? Ataukah, dia ingin merahasiakannya padaku juga, begitu?Argh! Mengapa alur hidupku seperti ini. Aku masih merindukan sosoknya. Hanya dia ... dia yang memahami ku setelah Ibuku wafat. Lalu, sekarang? Aku melupakan kampusku hanya memikirkannya.Bukannya aku menyalahkan diriku ataupun adiknya. Tetapi, hatiku merasa bersalah karena tidak mengetahui hal ini.Aku akan mencintaimu sampai hayatku datang, Rena.Rumah kayu, Arel Pramana Aksa.[ E N D ]
Maaf Gue Gak Jujur Jiana
Zildi sedang berjalan mengikuti Jiana dari belakang, bahkan ia tidak mempedulikan Jiana mengoceh dan meminta Zildi untuk berhenti mengikutinya.Ish , nih anak ngikutin mulu dah kaya anak gajah ketinggalan rombongan . Batin Jiana sebal.Akhirnya Jiana dan Zildi pun sedikit dekat. Hingga suatu hari, Zildi meminta berteman dengan Jiana, "Ana, jadi temen gue ya. Gue udah gak tau lagi harus temenan sama siapa," ucap Zildi dengan raut wajah memelas."Umm, boleh banget jadi gue punya temen cowo gitu yang bisa di ajak ngobrol, hehe," ucap Jiana senang sambil tersenyum menunjukkan kedua lesung pipinya.Akhirnya Jiana mau menerima Zildi sebagai temannya. Sehingga saat di sekolah, pulang sekolah, pergi ke minimarket, bermain pun mereka selalu bersama. Zildi selalu menemani Jiana kapan pun dia membutuhkannya, dengan hati tulusnya Zildi.Jiana ingin seterusnya hubungan pertemanan ini menjadi sahabat, begitu pun Zildi, ia ingin seterusnya bersahabat dengannya. Walau mereka satu tahun lagi akan lulus dari SMA dan juga mereka tak mau bergaduh jika ada suatu masalah kecil, akan mereka bereskan dengan bersama. Jiana pun, meminta satu hal lagi."Didi, gue gak mau hubungan persahabatan kita di kacau kan karena sebuah cinta, jika memang ingin bersahabat ya sudah bersahabat saja," ujar Jiana sambil menggenggam satu tangan Zildi."Eh-emm, i-iya iya bener banget tuh Ana mending bersahabat seperti ini saja sampai kapan pun," kata Zildi dengan lagak yang ragu, sambil mengerat kan genggaman Jiana.Jiana pun tersenyum manis ke arah Zildi sambil melihat kan kedua lesung pipinya dan mata sipitnya. Zildi pun tertegun melihat wajah cantik milik Jiana.Hal itu terus berlanjut hingga pada suatu hari Jiana merasa curiga dengan Zildi yang mulai berperilaku aneh kepada Jiana, apa lagi saat mereka berada di sebuah cafe dekat sekolahnya. Zildi sangat salah tingkah, padahal sebelu nya ia tak pernah seperti itu.Saat itu Jiana sedang memainkan ponsel milik Zildi di balkon milik Zildi. Ya karena mereka sudah terbiasa seperti itu, hingga akhirnya Jiana memperhatikan galeri Zildi yang tersembunyi dan benar saja semua keanehan sikap Zildi terjawab sudah. Zildi menyimpan banyak foto Jiana di galerinya itu, dan menandai bahwa dia milik Zildi seutuhnya, bukannya Jiana tak ingin memiliki hubungan cinta dengan Zildi, tapi ia telah mengkhianati ucapan Jiana.Jiana memang sudah curiga sejak pertama kali melihat Zildi yang seperti menyukai Jiana, kenapa ia harus berlagak ingin bersahabat dengannya. Tentu saja Jiana marah dengan Zildi yang membohonginya sekaligus mengkhianati ucapan Jiana dan mereka saling adu mulut."Di, kenapa sih lo harus bohongin gue dengan cara ini," ucap Jiana dengan mata yang sudah berkaca-kaca."Gue gak bohongin lo Ana," cakap Zildi dengan pelan sambil memegang pergelangan tangan Jiana."Lepas! Lo udah berkhianat sama gue Di! Lo udah berkhianat!" ujar Jiana sambil terisak dan melepaskan genggaman Zildi."Ana, dengerin gue dulu Na," ucap Zildi dengan nada masih sama seperti tadi."Gak, gak, gak gue gak mau dengar ucapan yang keluar dari mulut lo yang berdosa itu," ucap Jiana yang masih terisak sambil menunjuk ke arah Zildi.Tenaga Jiana terkuras hebat dan air matanya yang masih mengalir deras. Ia pun lemas dan menjatuhkan tubuhnya ke lantai hingga tersungkur. Zildi yang melihatnya langsung berlari ke arah Jiana sambil menahan tubuhnya yang sudah lemas bak tanaman layu."Na, dengerin ucapan gue dulu Na," ucap Zildi lembut ke arah telinga Jiana."Nggak, gue nggk mau," kata Jiana lemas dengan mata yang tertutup.Karena tidak kuat Jiana pun pingsan.Zildi pun menghela nafasnya panjang.Mungkin belum saat nya. Batin Zildi.Ia pun menggendong Jiana ala bridal style , ke kamar Zildi lalu merebahkan tubuh Jiana yang lemas.Setelah kejadian itu Jiana masih marah terhadap Zildi, sampai ia meminta maaf lebih dari seratus kali kepada Jiana namun tak ada balasan apa pun, persahabatan nya kini renggang. Mereka tak seperti biasanya yang kemana-mana selalu bersama dan jika jalan-jalan mereka selalu memakai baju Couple , tapi kini tidak, mereka memisahkan diri masing-masing.Hingga akhirnya Zildi mengajak Jiana pergi ke sebuah tempat yang dimana mereka selalu datang kan ketika ada masalah. Dan di selesai kan bersama. Tapi kini mereka masih saling diam sambil merasakan terpaan angin sepoi-sepoi.Setelah suasana hati Jiana sudah sedikit tenang, Zildi ingin mulai bicara dengan Jiana. Walaupun Jiana tak menggubris ocehan Zildi namun saat itu ucapan Zildi membuat pupil Jiana memebesar dan menyadarkan Jiana."Gue bukan mau nipu atau khianatin ucapan lo jiana, tapi gue benaran mau bersahabat sama lo dan niat gue juga baik, karena emang gak ada cewe sebaik lo," ucap Zildi dengan suara khasnya yang lembut sambil memegang tangan Jiana."Lepas, Kenapa lo gak bilang dari awal kalau lo suka sama gue," ucap Jiana dengan pandangan yang masih melihat ke arah langit-langit biruZildi pun menarik pergelangan tangan Jiana hingga ia masuk kedalam pelukan Zildi. "Maaf. Ini emang salah gue kan? Maaf gue gak jujur dari awal karena gue gak mau ngecewain lo Jiana gue gak mau kehilangan lo. Kalau dari awal kita udah ada hubungan cinta pasti bakal kacau dan gak akan kaya gini. Saat itu gue emang-emang gak rasain yang namanya cinta. Tapi karena hubungan persahabatan kita semakin dekat, hati gue ngerasa nyaman sama diri lo. Gue tulus mau sahabatan sama lo Jiana, dan lo juga tulus udah nerima gue padahal gue anaknya bobrok, dan lo nerima gue apa adanya dan gue merasakan rasa nyaman sama lo, " tutur Zildi dengan nada lembutnya di dekat telinga Jiana.Jiana pun menangis dan terisak mendengar Zildi yang selama ini rela berbohong demi persahabatannya dan sudah berjalan jauh demi bersamanya.Akhirnya Jiana pun sadar dan ia juga merasa bersalah, "Gue yang harusnya minta maaf, hiks," ucap Jiana yang masih terisak di pelukan Zildi."Suutt, kita salah bukan lo aja. Udah nangisnya mata lo sembab gitu," ucap Zildi lembut sambil mengelus punggung Jiana perlahan.Jiana pun melepas pelukan Zildi dan tersenyum di hadapan Zildi dengan mata yang sembab, begitupun Zildi membalas senyuman Jiana.[ E N D ]
Harus Pergi
Namaku Carisa. Umurku 22 tahun. Aku baru saja lulus sarjana dan baru saja memulai kerja di salah satu perusahaan BUMN. Aku punya pacar, namanya Daniel. Dia seumuran denganku. Sama-sama baru lulus sarjana dan sama-sama baru memulai kerja. Bedanya dia kerja di sebuah perusahaan swasta.Hubunganku dan Daniel baik-baik saja. Kami sudah berpacaran sekitar 3 tahun. Kami bertemu di kampus, kenal, dekat, lalu pacaran. Sesimpel itu. Kami saling mengerti satu sama lain, menurutku. Kami juga jarang bertengkar. Banyak orang menyebut kami couple goal. Siapa sih yang tidak senang dengan sebutan itu?Aku juga sudah kenal dengan keluarga Daniel. Keluarganya harmonis, seperti keluargaku. Mama dan Papanya juga welcome terhadapku. Kadang aku juga sering jalan hanya berdua dengan Mamanya. Mamanya sudah menganggapku seperti anaknya sendiri.Tapi...Aku mulai merasa semua berubah. Daniel jauh lebih sibuk dari biasanya. Bahkan kadang sekedar membalas pesanku saja dia tidak sempat. Seperti saat ini. Aku baru saja pulang kerja, kembali mengecek kembali ponselku untuk memastikan Daniel sudah membalas pesanku atau belum.Me : Pagi sayangMe : Kamu udah sarapan?Me : Kamu nanti pulang jam berapa?Me : Pulang kerja kita nonton yuk, bisa gak?Beberapa hari ini aku memang terlihat mengantuk di kantor karena tidur cukup larut untuk menunggu balasan pesan dari Daniel yang kadang di balas pada malam hari. Aku membaca chat terakhir dia.Mine : Maaf aku ketiduranHanya itu.Seperti pagi ini. Bangun tidur, aku buru-buru mengambil ponsel untuk memastikan apakah Daniel membalas pesanku. Jam 1 malam.Mine : Aku abis nobar bola sama anak2Lalu kembali aku membalas pesannya dengan semangat.Me : Kok gak ngabarin?Yang tentu saja tidak langsung di baca apalagi di balas. Aku juga sambil siap-siap untuk berangkat ke kantor.Hari ini ternyata aku harus lembur. Kembali aku mengambil ponselku dan berniat memberi kabar pada Daniel. Aku membaca pesan-pesanku dari pagi sampai sore yang tidak di baca sekalipun olehnya.Me : Kok gak ngabarin?Me : Selamat makan siangMe : Kamu pulang kerja ada rencana kemana?Me : Sayang, hari ini aku lembur, kamu pulang bisa tolong jemput aku?Aku tersenyum setelah mengirim pesan. Aku berharap apa? Dia datang tiba-tiba? Menjemputku? Tanpa membaca pesanku sebelumnya? Ajaib sekali! Itu hanya ada dalam anganku."Ris, lo pulang sendiri? Gue anter aja ya? Udah malem!" tawar Mario, rekan kerjaku."Eh, gak usah, Yo, gue naik taksi online aja.""Udah malem, Ris, bahaya! Pokoknya gue anter!"Karena Mario setengah memaksa, akhirnya aku pulang di anter Mario. Selama perjalanan kami diam. Tiba-tiba Mario buka suara, mengajakku berbincang. Obrolan kami mendalam."Lo pacaran 3 tahun sama cowok lo, pernah ngerasa bosen gak sih, Ris?"Dari obrolan kami, akhirnya aku sadar, kalau Daniel saat ini sedang bosan. Tidak pernah sekalipun aku berpikir kalau Daniel akhirnya akan merasa bosan dengan hubungan ini. Namun aku memang harus bertemu dan membicarakan hal ini berdua dengan Daniel agar semuanya jelas.Me : Kamu besok ada waktu?Aku menunggu hampir setengah jam dan berharap Daniel menbaca pesanku dan membalasnya. Sambil menunggu membalas pesannya, aku membuka sosial media, melihat akun Daniel, dan melihat foto-foto yang di tandai oleh temannya. Ternyata ada beberapa foto terbaru yang ditandai oleh sebuah akun bernama Miranda. Seminggu yang lalu dia foto bersama Miranda di sebuah kafe, besoknya kumpul bersama teman-teman, sampai ternyata Miranda ikut nonton bola bareng bersama teman-teman Daniel. Yang membuat Carisa kesal adalah Carisa tidak tahu dan tidak kenal dengan perempuan bernama Miranda ini, namun dia memang cantik.Me : Kamu besok ada waktu?Me : Aku mau kamu luangin waktu besok, ada hal penting yang mau aku omonginMine : Oke, dimana?Me : Kafe biasaPulang kerja, aku langsung buru-buru dateng ke kafe tempat kami biasa bertemu. Disitu sudah ada Daniel dengan pakaian kerjanya yang sudah sedikit berantakan. Kami hanya memesan minuman untuk kami saja."Aku langsung ke intinya aja ya, Ris, aku rasa hubungan kita udah hambar gak sih? Aku ngerasa monoton, gini-gini aja. Udah gak ada hal-hal baru di hubungan kita. Kita udah sama-sama sibuk, buat ketemu aja susah kan? Kamu sependapat gak?""Sependapat."Daniel cukup terkejut melihat reaksiku. Panjang lebar dia berbicara, namun aku hanya mengeluarkan satu kata. Lalu aku tersenyum."Karena gak ada yang namanya sibuk untuk sekedar membalas pesan kalo kita adalah prioritas. Jadi pertanyaannya adalah apakah aku masih prioritas kamu atau engga?" tanyaku pelan.Daniel terdiam. Menunduk."Kamu mau kita gimana? Putus?" lanjutku."Ya aku rasa baiknya gitu. Aku yakin kamu bakalan dapet yang lebih baik dari aku.""Aamiin.""Atau memang udah ada penggantinya?"Aku tersenyum. Mengapa pertanyaannya seolah-olah penyebab hubungan ini kandas adalah aku?"Syukurlah kalo gitu." ucapnya."Makasih ya, Niel, buat 3 tahunnya. Sama kamu aku bahagia. Kamu banyak ngasih tau aku hal baru. Maaf kalo aku banyak kurangnya selama 3 tahun ini. Aku berdoa supaya kamu selalu bahagia. Aku pamit ya, Niel. Salam buat keluarga kamu, dan Miranda."Ada raut wajah terkejut saat aku menyebut nama perempuan itu. Namun aku hanya tersenyum dan meninggalkan tempat itu setelah aku pamit.Memang rasanya sakit, begitu banyak kenangan yang kami ukir selama itu. Suka duka kami lewati. Kalau ditanya obat paling ampuh untuk patah hati adalah jatuh cinta lagi, aku belum siap untuk itu.Bagiku, saat kamu siap untuk jatuh cinta lagi adalah saat kamu sudah memaafkan dirimu dan masa lalumu agar kamu bisa jatuh cinta dengan orang yang baru, bersama dirimu yang baru."Ris, gue sebenernya udah lama merhatiin lo, suka sama lo." kata Mario."Maaf, Yo, gue belum siap nerima orang baru, gue gak mau lo cuma jadi pelampiasan."Mario tersenyum, "Oke, gue tunggu kapanpun itu."Beberapa bulan setelah kabarku dan Daniel putus, Mario datang membawakan cinta yang baru. Aku sudah menolaknya dengan halus dan dia terima. Dia bilang akan menunggu sampai aku siap menerima orang baru.Setahun kemudian, aku melihat foto Mario bersama kekasihnya."Selamat ya, Yo." ucapku sungguh-sungguh."Makasih ya, Ris, semoga lo bisa ketemu orang yang tepat buat lo.""Makasih ya, Yo."Benar kata, Mario. Aku tidak harus menjadi terburu-buru untuk menemukan seseorang yang tepat, tapi seseorang yang tepat akan bertemu denganku di waktu yang tepat.* * *END
Kata Terakhir
"Bali yuk!"Salah satu temen kantor gue mencetuskan ajakan itu. Gue dan temen-temen gue yang lain langsung mengiyakan, dan akhir pekan ini kami semua berangkat ke Bali. Nama gue Alvaro, biasa di panggil Alva, kecuali... ah, udahlah! Kenapa gue inget-inget dia terus?!Pesawat yang kami tumpangi mendarat di Bandar Udara Internasional Ngurah Rai, Bali. Waktu kini menunjukkan pukul 13.00 WITA, satu jam lebih cepat dari Jakarta. Gue dan temen-temen kantor gue langsung makan di salah satu restaurant cepat saji di Bandara sambil menunggu pegawai rental mobil sampai untuk memberikan kunci mobil.Gue dan temen-temen kantor gue yang ikut kesini bersembilan, empat orang cowok dan lima orang cewek, tapi gue janjian sama cewek gue, yang kebetulan lagi dinas luar di Bali, jadi total kami bersepuluh.Setelah mengisi perut, dan pegawai rental datang untuk memberikan kunci mobil, kami bersama-sama menuju villa yang terletak di daerah Gianyar.Gue gak ngerti kenapa mereka iya-iya aja waktu gue rekomendasiin villa di daerah Gianyar. Padahal biasanya orang-orang pasti akan lebih suka ke daerah Kuta atau Nusa Dua."Serius nih, Al, belok sini? Jalannya sempit gini?" tanya Rio yang duduk di sebelah gue."Iyee, bawel!""Lu tau ada villa masuk plosok gini darimana sih?"Gue hanya terdiam, tanpa sadar bibir gue tersenyum. Terngingat masa lalu." Ay, serius belok sini? Gak nyasar?" tanya gue tidak yakin pada perempuan di sebelah gue, Ailin namanya. Panggilannya Ay.Waktu itu gue dan Ailin yang baru saja lulus SMA memutuskan untuk ke Bali bersama teman-teman satu geng. Kami sahabatan bertujuh, dari kelas 1 SMA.Ailin tersenyum, "Engga, Var, bener disini kok! Kata si peta begitu soalnya." jawab sekenanya.Dan benar saja, setelah jalan sempit hanya muat satu mobil, kita memasuki pelataran luas. Sebuah villa nyaman, jauh dari peradaban, lengkap dengan restaurant cozy dan kekinian.Benar saja, ekspresi temen-temen gue saat ini persis dengan yang gue rasakan waktu itu.Setelah selesai parkir, gue melakukan check in di resepsionis dan kami semua di antar ke salah satu villa.Gue mensejajarkan jalan gue di samping Tasya, pacar gue yang langsung gue jemput sebelum kesini."Suasananya enak banget, Al, untung aku ikut kesini." ucapnya.Gue tersenyum sambil mengelus puncak kepalanya lembut. "Oh iya, gimana sosialisasinya? Lancar?" tanya gue membuka obrolan."Wah, lumayan seru! Soalnya audiencenya antusias semua, jadi aku ngasih materi ada timbal baliknya dari mereka. Seksi acaranya juga ramah-ramah.""Bagus dong!"Sebelum masuk ke villa, Tasya sempat melirik ke salah sebuah arah, sebuah rumput luas dengan banyak batu tinggi disana."Itu apa, Al?""Disitu kan restaurant. Namanya Standing Stone. Konsepnya ya batu berdiri gitu. Makanannya juga enak-enak kok! Dulu sih aku makan disitu sistemnya per voucer. Nanti kita coba ya.""Oke!"Tempat ini gak berubah. Tetap masih seperti dulu waktu gue kesini. Villanya juga masih tetap bersih.Sore itu, Tasya menagih janji gue untuk mencoba restaurant. Dia antusias banget karena banyak spot foto bagus, dan seperti biasa, gue satu-satunya photographer andalannya wajib fotoin dia di tempat yang dia mau.Pas dia lagi asik-asiknya liat-liat foto, mata gue menyapu pemandangan sekeliling. Gue ngeliat ada seorang Ayah muda, kira-kira usianya 30 tahunan, sedang mengejar anak perempuannya yang kelihatannya umur setahunan dan baru bisa berjalan. Sekilas gue ngeliat anak itu, kenapa mirip Ailin? Mungkin cuma perasaan gue aja karena gue lagi ada disini, jadi kadang de ja vu." Varo, coba lo berdiri disitu, nanti gue fotoin!" ucap Ailin.Saat itu, gue hanya bisa pasrah oleh ucapan perempuan menggemaskan yang pernah gue temuin. Dia memang suka foto. Objek fotonya bisa pemandangan, benda mati, atau manusia. Hasil fotonya selalu bagus. Hasil fotonya itu bahkan gue jadiin wallpaper ponsel dan baru gue ganti setahun belakangan, sebelum gue jadian sama Tasya.Gue dan Ailin temenan udah cukup lama, dari kelas 1 SMA, dan dari saat itu juga gue udah naksir sama dia. Dia cantik, dia juga pinter matematika, dan dia terlalu menggemaskan. Tapi waktu itu Ailin punya pacar, dan memasuki kelas 3, dia putus karena pacarnya sibuk kuliah.Gue melihat bola mata indahnya yang melihat gue dengan sedikit terkejut. Dari ekspresi wajahnya gue bisa membaca dia sedang menimbang-nimbang kira-kira kalimat apa yang pas untuk menjawab pertanyaan gue barusan. Iya, barusan! Barusan gue nembak dia!" Gue juga suka lo, Var! Tapi kan kita berdua tau, lo bakal kuliah di Yogya, sementara gue disini. Kita bakal LDR, terus nanti...""Ay, kita gak akan pernah tau hasilnya sebelum mencoba. Iya kan? Yang jelas saat ini gue bener-bener gak bisa mundur."Ailin menimbang-nimbang lagi, lalu akhirnya dia menatap mata gue dan tersenyum. Dan hari itu kita jadian. Di Bali. Kurang romantis apa gue coba?Kata siapa LDR itu keras? Buktinya gue sama Ailin baik-baik aja. Kuliah tahun pertama kita lewatin dengan enjoy. Setiap libur semester gue selalu balik ke Jakarta dan kita selalu ketemu. Kadang Ailin ke Yogya buat nemuin gue.Tahun kedua kami juga masih oke-oke aja. Malah kami berdua makin ngerasa kalo ngejalanin LDR itu asik, jadi kita bakal menghargai waktu pertemuan kita yang singkat itu.Memasuki tahun ketiga, kami mulai sibuk masing-masing. Waktu liburan kami pakai untuk magang, jadi tidak sempat bertemu, tapi kami tetap video call dan menceritakan kegiatan kami masing-masing.Tiba saatnya wisuda, Ailin datang waktu gue wisuda, sedangkan gue datang juga sih, tapi gue bener-bener telat. Gue dateng di saat acaranya udah selesai. Lo tau apa yang saat itu gue tangkep dari wajahnya Ailin? Dia kecewa, bener-bener kecewa. Pesawat gue delay. Dan gue bener-bener nyesel kenapa gue gak ambil flight semalem. Tapi saat itu dia masih berusaha senyum buat nutupin rasa kecewanya itu.Waktu usia kami 22 tahun, gue dapet kerja di salah satu perusahaan gas terbesar di Indonesia, penempatan Jakarta, sedangkan Ailin dapet kerja di salah satu perusahaan minyak terbesar di Indonesia, penempatan Bali. Kami kembali LDR.Dari situ masalah mulai bermunculan. Di mulai dari masalah kecil yang bisa di maklumi hingga akhirnya kami malah lebih sering bertengkar, bahkan karena masalah kecil. Akhirnya Ailin mutusin gue. Dan gue yang merasa di putusin sepihak akhirnya memblokir komunikasi gue dengan Ailin. Persahabatan kami rusak.Di umur 24, gue dapet kabar Ailin nikah, di Jakarta, karena saat itu gue lagi dinas di Manado, gue gak bisa datang, dan Ailin juga gak ngundang gue. Setelah di pikir-pikir lagi, gimana dia mau ngundang, kan dia gak punya kontak gue sama sekali.Sesekali gue tau kabar Ailin dari postingan sahabat-sahabat gue dan Ailin. Tahun lalu, Ailin baru melahirkan. Anaknya perempuan. Cuma sampai situ yang gue tau."Al, kita foto berdua yuk!" ajak Tasya. Lamunan gue buyar. Gue mengiyakan. "Tapi siapa yang fotoin ya? Minta tolong pelayannya aja apa ya?"Sambil celingukan cari pegawai restaurant, mata gue tertuju pada sosok perempuan, mengenakan kemeja putih, celana jeans biru dongker, rambutnya ikal panjang di kuncir, dan menggunakan kacamata. Dia cantik."Mba!" Tasya memanggil perempuan itu, dia menoleh ke arah kami. Wajahnya juga terkejut. Tasya mendekatinya, berbicara sedikit yang langsung di angguki perempuan itu, Tasya memberikan ponselnya.Setelah perempuan itu mengambil foto beberapa kali, gue menahan lengan Tasya yang ingin mendekati perempuan itu untuk mengambil ponselnya."Kenapa?" tanyanya."Coba kamu cek, makanannya udah dateng belum?""Oh, oke!"Tasya masuk ke dalam restaurant untuk mengecek pesanan kami, sementara gue melangkah, mendekati perempuan itu. Iya, Ailin.Dia tersenyum, "Gak nyangka ketemu disini.""Iya," jawab gue sekenanya, "by the way, thanks ya.""Sama-sama.""Itu anak sama suami lo, Ay?""Iya.""Mirip banget sama lo.""Masa sih?""Iya." kami kehabisan topik pembicaraan karena sama-sama canggung. "Yaudah, Ay, gue ke dalem dulu ya.""Oh ya, Var,""Ya?""Selamat ya.""Selamat apa?"Pandangan Ailin melihat ke dalam restaurant, gue paham."Dan selamat tinggal, Var." lanjutnya. Nada bicaranya yang lirih itu entah kenapa mengoyak kembali luka di hati gue yang dengan susah payah gue obati itu.Ekspresi Ailin yang tersenyum dengan tatapan mata sedih itu bener-bener gak bisa gue lupain. Mungkin hati gue sakit waktu itu, tapi gue juga gak pernah mikir gimana perasaan Ailin waktu itu.Gue masuk ke dalam restaurant dengan ekspresi bingung, campur sedih."Al, ini makanannya udah dateng. Ini onion ringnya enak loh, cobain deh." ucap Tasya.Tasya memperhatikan gue yang benar-benar gak fokus. Dia meraih tangan gue, mengelusnya pelan."Al, liat aku!" pinta Tasya, gue menuruti pintanya. "Yang tadi Ailin kan?" tebaknya. Melihat gue terkejut, sepertinya tebakannya gak salah. "Aku pernah cari tau foto Ailin, aku pernah stalker dia. Dia cantik, aku tau. Aku juga tau gak mudah buat kamu lewatin semuanya. Tapi sekarang dia udah bahagia sama keluarganya, dia udah bahagia sama pilihannya. Dan kamu juga harus bahagia sama hidup kamu, sama pilihan kamu. I am your first support system. Always."Tatapan mata Tasya, kata-katanya yang ngebuat gue percaya kalo gue harus bahagia sama hidup gue dan pilihan gue, membuat gue yakin kalo Tasya adalah perempuan yang diciptakan memang buat gue.Mungkin selama ini gue selalu mikirin Ailin karena perpisahan kita terlalu tiba-tiba sehingga gue ngerasa gak siap buat kehilangan Ailin. Padahal kita bisa kehilangan seseorang kapan aja, atau bahkan bisa bertemu dengan orang baru yang memang ditakdirkan untuk kita di waktu tertentu. Kita gak akan pernah tau.* * *END
Destiny
Takdir itu lucu ya. Kadang ada yang benci tapi tiba-tiba takdir mereka malah bersama. Ada yang sama-sama suka tapi takdir mereka malah berpisah. Kadang udah saling suka, saling mengerti satu sama lain, tapi takdirnya malah tidak bisa bersama.Aku juga tidak tahu takdirku akhirnya harus dibawa kemana. Aku sedang di fase mengikuti alur takdir.Namaku Asia. Ini kisahku...Saat ini aku duduk di bangku SMA, tempat yang kata kebanyakan orang adalah tempat terbaik menghabiskan masa remaja. Entahlah. Yang jelas di masa ini aku mempunyai 3 orang sahabat cowok. Kenalin, mereka Alva, Arya, dan Adam.Kami di kenal dengan Quadruple A, dan tentunya eksistensi kami tidak perlu di pertanyakan lagi. Alva terkenal tampan dan jago berbahasa asing. Dia menguasai 3 bahasa yang di pelajari di sekolah, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan bahasa Korea. Arya, di atlit perwakilan sekolah. Hampir menguasai semua olahraga, terutama basket dan berenang, tambahan juga Arya ini ketua ekskul basket di sekolah. Adam si ketua osis. Dan aku si peringkat pertama dalam satu angkatan.Kalo kalian pernah atau mungkin berteman dengan cowok, kalian sedikit banyak pernah merasakan selesai makan dan minum langsung pergi dari kantin, semua harus serba cepat, tidak boleh lemah.Itu yang aku rasakan."Arya sama Adam mana?" tanya Alva begitu bel masuk berbunyi."Dispen. Arya latihan basket, besok turnamen, kalo Adam rapat osis.""Oh. Peer fisika udah?"Tanpa menjawab pertanyaan Alva, aku langsung memberikan buku tulisku agar di salin olehnya.Tidak ada pertemanan murni antara cewek dan cowok. Hahaha, aku tertawa pastinya. Ada dong! Aku berteman murni tanpa perasaan apapun dengan Arya dan Adam. Tapi Alva...Aku terjebak!Bisa jadi karena selama ini hanya Alva yang tidak pernah absen makan di kantin saat jam istirahat. Tapi tidak sesimpel itu.Pertama kali melihat Alva, wajah tampannya saja sudah membuatku terpana. Tapi ternyata kami malah bersahabat, sampai sekarang.Kalau kami mau hangout di luar, kami selalu janji bertemu di tempat, kecuali Alva yang memang menjemputku ke rumah dan mengantarku pulang.Alva juga guru bahasa terbaikku. Dia pintar, wawasannya luas. Bukan hanya bahasanya yang dia kuasai, dia juga tahu berita terbaru tentang negara itu.Seperti saat ini, hari kelulusan kami. Dengan brutal kami mencoret-coret seragam kami. Dan akhirnya berkumpul di rumah Arya yang merupakan basecamp kami.Alva saat ini ada di hadapanku, dengan spidol di tangannya, terlihat celingak-celinguk mencari tempat yang masih kosong di seragamku yang sudah penuh dengan coretan.Aku tersenyum, membalikkan tubuhku, memunggunginya, lalu membuka kerah seragamku."Selalu ada tempat buat lo." ucapku.Tanpa suara, dia mulai mencoret seragamku.Dan kini aku yang gantian mencoret bajunya. Kulakukan dengan sama, mencoret serangkai kata di kerah bajunya. Tanpa bersuara.I love you.Tulisku.Dan sesampainya di rumah, aku buru-buru mengganti bajuku. Setelah selesai bersih-bersih, aku tersenyum melihat satu per satu tulisan di seragamku.Congratulation!Si rangking 1Jangan lupakan akuDan masih banyak lagi tulisan-tulisan klise di seragamku. Hingga aku membuka kerah seragamku. Tersentak dengan apa yang di tulis Alva di sana.I love you.Tulisnya.Aku buru-buru meneleponnya yang tak lama dijawab olehnya."Alva!""Asia!"Ucap kami berbarengan. Lalu kami berdua tertawa. Kami mulai mencurahkan perasaan kami masing-masing, dan mulai hari itu kami jadian.Setelah lulus, kami semua berpencar. Aku dan Alva masuk ke sebuah universitas negeri di Jakarta. Arya melanjutkan kuliah di Bandung, dan Adam melanjutkan kuliah di Surabaya.Hubungan kami selalu klik selama tiga tahun ini. Jarang sekali bertengkar, saling berbagi. Teman-teman kami iri. Couple goal katanya.Hingga akhirnya kami datang ke sebuah reuni SMA. Mereka tidak terlalu terkejut dengan hubunganku dan Alva. Tapi mereka iri setelah tahu kalau kami masih bersama selama 3 tahun ini.Dan saat ini hubunganku dan Alva ada di tahun kelima. Saat ini aku kerja di salah satu perusahaan sebagai auditor dan sedang lanjut kuliah s2 yang sebentar lagi sidang thesis, sedangkan Alva bekerja di pemerintahan yang berkaitan dengan Hubungan Internasional.Kami sudah sibuk masing-masing. Jarang sekali memberi kabar kalau di jam kerja. Bahkan kadang kamu lupa memberi kabar satu sama lain hari itu.Pertengkaran-pertengkaran kecil di mulai. Awalnya karena kami sama-sama lelah dengan urusan pekerjaan, tapi lama-lama pertengkaran itu membesar.Hubungan kami pernah berakhir. Namun setelah tidak bersama, kamu malah memikirkan satu sama lain. Dan setelah bertemu, kami menjalin hubungan kasih lagi."Asia. Aku rasa kita harus putus. Hubungan kita udah gak sehat gak sih?"Aku tersenyum. Ini sudah kesekian kalinya. Harus berapa kali lagi hubunganku dan Alva harus putus nyambung ketika kami bertengkar? Seolah pertengkaran ini selesai hanya dengan satu kata putus, dan kembali lagi dengan satu kalimat manis."Alva, kita udah hampir tujuh tahun. Dan usia kita saat ini jalan 25 tahun. Aku pikir semakin dewasa, kita makin bisa nyikapin perbedaan, bukan dikit-dikit putus. Seolah kata putus itu suatu gertakan buat aku.""Aku capek, Asia!""Kamu yakin mau putus?" tanyaku memastikan. Alva mengangguk yakin. "Yaudah kalo itu mau kamu." Aku menghela nafas kasarku. "Jaga diri kamu baik-baik ya. Aku gak menyesali semuanya. Dan aku mau kita tetep sahabatan, bareng Adam, bareng Arya."Alva mengangguk.Aku mengecup kening Alva. Aku pikir ini untuk terakhir kali."Bye, Al!"Aku meninggalkan Alva sendiri.Dan beberapa bulan kemudian, sesuai dugaanku, Alva menghubungiku dan mengajakku untuk bertemu. Aku tahu kemana arah pertemuan itu. Dan aku mengiyakan."Kita mau kemana?" tanya Alva lembut."Aku mau karoke.""... Sudah coba berbagai caraAgar kita tetap bersamaYang tersisa dari kisah iniHanya kau takut kuhilangPerdebatan apapun menuju kata pisahJangan paksakan genggamanmuIzinkan aku pergi duluYang berubah hanyaTak lagi kumilikmuKau masih bisa melihatkuKau harus percayaKutetap teman baikmu..."Alva tertegun."Al, sekarang kita, udah kayak lirik yang aku nyanyiin barusan. Im so sorry kalo aku gak bisa nerima ajakan balikan kamu. Aku harap kamu ngerti." kataku pelan. "Oh iya, minggu depan aku berangkat ke Seoul. Aku keterima di Kedubes Indonesia buat disana.""Aku... nyesel...""Maaf, Al. Aku bener-bener gak bisa lanjutin hubungan kita lebih dari ini."Alva memelukku. Erat. Menangis. Yang bisa aku lakukan saat ini hanya menepuk-nepuk punggungnya agar dia tenang.Dan saat ini aku di Seoul. Sudah hampir 2 tahun disini. Pria korea sama saja seperti pria Indonesia. Karena yang manis itu hanya di drama saja."Daem dare ballisomero yoheng gagiro heyo." ucap Kim Aera. Salah satu temanku. (Bulan depan saya mau piknik ke pulau Bali.)"Yohengi olma gollil goyeyo?" tanyaku. (Mau berapa lama disana?)"Sambak sairieyo." jawabnya. (4 hari 3 malam)."Haepi hollidei." ucapku. (Selamat berlibur.)"Gamsa haeyo." (Terima kasih.)Lalu tiba-tiba muncul Ririn. Temanku dari Indonesia yang juga bekerja disini."Mau makan siang apa?" tanyanya."Jajangmyeon!" sahut Aera.Kami berdua tertawa. Akhirnya aku menceritakan pada Ririn kalau bulan depan Aera ingin liburan ke Bali, dan dia sedang belajar bahasa Indonesia sedikit-sedikit."Asia, tau Lee Jun?""Tau. Kenapa?""Ganteng banget ya! Hahaha...""Lee Jun? Neohuideul Lee Jun yaegihaneungeoya?" sambar Aera. (Kalian membicarakan Lee Jun?)"Aniyo!" (Tidak!)"Neohuideul Lee Jun i malhaneun geol deul eosseo!" (Tadi aku mendengar kalian membicarakan Lee Jun!)"Aniyo!" (Tidak!)Aku hanya tertawa mendengar Aera yang tetap kekeuh dengan pendengarannya sementara Ririn tidak mau mengaku.Akhirnya aku hanya mengikuti takdir. Dan saat ini aku sedang berada disini. Dikelilingi oleh orang-orang yang membuat hariku menyenangkan. Oh iya, kami bertiga masih single.* * *SELESAI...
Perasaan Baru
POV WinaPada akhirnya gue disini, duduk bersama seorang pria yang gak gue kenal, baru kenalan hari ini tepatnya. Orangnya ganteng sih! Tapi terakhir kali gue putus sama seseorang, gue punya keinginan kalau gue gak akan pernah mau pacaran lagi. Kalo bisa gue gak usah nikah sekalian. Toh sekarang kayaknya gue hanya perlu menghabiskan waktu gue untuk bekerja supaya gue tetep hidup, lanjutin kuliah sampai selesai supaya bisa dapet pekerjaan yang gajinya lumayan.Semua ini gara-gara gue cerita sama Wulan, salah satu sahabat gue di kampus, kalo gue putus sama pacar gue kemarin karena gue udah gak punya apa-apa sejak orang tua gue meninggal kecelakaan. Lalu dia mulai mandang gue sebelah mata dan mulai bersikap kasar.Bener kata orang, kalo lo akan tahu sifat asli seseorang saat lo udah gak punya apa-apa. Lo akan tahu mana orang yang pura-pura baik dan mana yang baik beneran baik sama lo. Salah satu orang yang masih mau berteman sama gue adalah Wulan. Dan dengan sok ngide, dia malah memperkenalkan gue dengan temennya yang lain.Pria ganteng yang saat ini duduk di depan gue namanya Tara. Kuliah di salah satu Universitas yang terkenal orang-orang berada. Padahal Wulan tahu, ketika semuanya terjadi, gue jadi anti dengan orang-orang berada.Tanpa gue duga, obrolan gue dengan Tara cukup menarik. Menurut gue Tara adalah tipe orang yang peka. Karena pada awalnya dia membahas tentang kisah percintaan dan melihat gue gak tertarik, dia menggiring pembicaraan kita ke hal-hal yang menarik."Lo mendingan kerja aja di kafe gue, Win, kebetulan gue butuh orang untuk ngatur pembukuan di kafe gue. Terus lo juga bisa jadi kasir, kebetulan juga kasir gue resign kemarin. Karena lo double job, fee-nya juga lumayan. Jadi lo bisa bayar kuliah juga kan dari gaji lo." katanya.* * *POV TaraAda kalanya lo harus bersabar untuk mendapatkan seseorang yang benar-benar lo butuh dan lo ingin. Buat gue, orang itu adalah Wina. Sudah hampir 2 tahun dia kerja di kafe gue sebagai bagian keuangan merangkap kasir. Kerjanya rajin, dia juga tekun. Mungkin emang semangat berjuangnya tinggi. Padahal dulunya dia anak dari keluarga berada.Wina. Dari awal gue ngeliat dia, gue udah suka. Anaknya cantik, gak neko-neko. Tapi satu yang gue tahu, dia lagi anti banget sama hubungan percintaan sejak putus sama cowoknya yang katanya kasar itu. Jangan tanya gue tau darimana, yang jelas Wina gak pernah mau cerita tentang hubungan asmaranya. Wulan yang cerita sama gue di awal dia mau ngenalin gue sama Wina.Gue jadi penasaran, kira-kira cowok brengs*k kayak apa yang tega ke cewek secantik Wina. Ditambah Wina itu ternyata pinter. Dia selalu seneng banget kalo nilai dia itu bagus. Dan kalo dia udah seneng gitu, biasanya kerjanya jadi makin rajin. Katanya itu bentuk terima kasih ke gue karena gue udah banyak bantu dia. Padahal dia juga bantu gue.Dan kalo ditanya effort apa yang udah gue lakuin buat ngambil hati Wina? Sebenernya gue gak perlu effort apa-apa selain ngasih perhatian secukupnya ke dia. Karena dia juga terlihat risih kalo ada orang yang ngasih perhatian berlebihan ke dia.Kayak sekarang, gue baru aja sampe kafe dan gue ngeliat kalo di jam segini, Wina masih ngelayanin orang dengan senyum ramahnya seakan itu anak gak kenal capek. Itu alasan gue kenapa tiap gue pulang kerja, gue selalu sempetin diri untuk mampir ke kafe, supaya gue bisa belajar dari Wina kalo lo harus tetap bersyukur meskipun lo capek."Minum dulu, Bos!" kata Rio sambil meletakkan secangkir kopi di atas meja gue."Tengkyu, Yo! Gimana hari ini? Rame?""Lumayan, Bos!""Udah close kan ya? Yaudah lo lanjut beres-beres dulu deh. Nanti kalo udah beres, bilangin ke anak-anak ada yang mau gue omongin.""Oke, Bos!"Waktu menunjukkan pukul 10 malam. Mereka semua beberes, sedangkan gue masih di tempat yang sama, duduk, baca pembukuan minggu lalu, sambil sesekali curi-curi pandang kea rah Wina yang masih sibuk nyocokin struk sama sistem. Dan sesekali juga mata kami bertemu, biasanya dia ngasih senyum duluan ke gue. Senyumnya itu bikin penat gue hilang."Jadi gini, besok rencana gue sama temen-temen gue mau kumpul. Di kafe ini. Mulainya malem sih, sekitar jam 7 gitu. Karena besok juga malem minggu, kemungkinan rame. Kalian besok pasti bakalan capek banget. Tapi yang gue harap kalian tetep hati-hati.""Baik, Mas Tara!""Oh iya, Win, besok lo ujian jam berapa?""Pagi sih, Mas, siang juga udah selesai kok!""Yaudah, lo juga jaga kondisi ya. Good luck ujiannya.""Makasih, Mas Tara."Meskipun interaksi gue dan Wina hanya sebatas itu di tempat kerja, tapi gue tetep bersyukur bisa denger suara dia hari ini. Setelah selesai, gue membiarkan mereka semua pulang. Dan seperti biasa, gue nganterin Wina pulang karena ini udah malem dan dia emang satu-satunya perempuan yang kerja di kafe gue.* * *POV WinaAkhirnya selesai juga ujian hari ini. Gue harus optimis kalo nilai gue bakalan bagus juga semester ini. Gue gak boleh ngecewain Tara yang udah banyak bantu gue.Sebenarnya salah satu motivasi gue adalah Tara. Dia semuda itu udah bisa ngembangin usahanya sendiri, orangnya juga gak sombong sama karyawan-karyawannya, dan dia selalu bantu karyawannya sebaik mungkin.Dan salah satu motivasi gue harus belajar sebaik mungkin adalah karena Tara emang udah niat bantuin gue dari awal. Supaya gue bisa kuliah dan bisa hidup lebih baik. Supaya gue gak di anggap sebelah mata sama orang lain. Dan dalam proses ini, Tara juga bener-bener gak anggap gue sebelah mata. Makanya gue selalu ngasih tau Tara nilai gue supaya dia merasa kalo bantuannya itu gak sia-sia.Hari ini mungkin gue harus kerja lebih ekstra dari sebelumnya. Benar kata Tara. Ketika gue baru aja sampai, kafe udah rame banget karena jam makan siang di tambah promo cashback karena Tara baru saja kerjasama dengan salah satu lembaga keuangan.Kami semua baru bisa agak lenggang setelah sore. Dan sore itu, Tara baru datang lagi setelah siang tadi dia pulang. Tara datang dengan setelan kemeja hitam lengan panjang yang di gulung, serta celana panjang berwarna cream. Dia masih ganteng seperti dulu. Wangi parfumnya mendominasi ruangan yang awalnya wangi kopi memang.Dia datang ke depan gue, tersenyum, dan"Gimana ujiannya?" tanyanya."Lancar, Mas Tara.""Syukur deh! Oh ya, Win, gue lupa kasih tau lo ya?""Soal apa?""Kalo gue udah suka sama lo dari awal. Tapi lo gak usah khawatir, gue gak akan maksa lo. Hari ini lo lakuin aja kerjaan kayak biasa, gak usah terbebani sama temen-temen gue. Kalo ada dari mereka nanya-nanya nomor hape lo, gak usah lo kasih ya. Inget, jangan lo kasih! Ini perintah!"Gue gak tahu kenapa gue deg-degan denger pernyataan Tara yang tiba-tiba itu. Mungkin aja gue terbawa suasana karena Tara hari ini lebih ganteng dari biasanya. Di tambah lagi sikap posesifnya itu. Tapi di balik itu, dia gak maksa atau minta jawaban ke gue, dan itu bikin gue merasa lega.* * *POV AuthorWaktu kini menunjukkan pukul 7, beberapa dari teman-teman Tara sudah datang. Meskipun teman-temannya, Tara meminta mereka untuk langsung pesan di kasir. Setiap ada salah satu temannya ke kasir, pandangan Tara selalu kesana. Memantau kalau temannya meminta nomor Wina. Benar saja, beberapa dari mereka memang meminta nomor Wina."Kasir lo oke juga! Minta nomornya dong!" ucap Angga, salah satu temannya. Tara hanya tersenyum."Tar, ini dari tadi gue selidikin, mata lo kayaknya selalu kesana tiap kali ada kita yang mau ke kasir. Jangan bilang lo naksir kan sama kasir lo. Siapa namanya tadi? Wina ya?" sahut Willy."Eh iya, gue juga sadar sebenernya. Bener kan, Tar? Ngaku lo!" Andri menimpali."Nah, ini dia! Bro kita yang suka telat dateng!" ujar Angga.Seorang pria yang baru saja datang langsung duduk di antara mereka semua. Wajahnya tidak kalah tampan dengan Tara."Kok gue gak di pesenin sih?" tanya pria itu. Namanya Byan."Nih, yang punya kafe bilang kalo kita harus pesen sendiri kesana." jawab Willy.Byan bangkit dan mendekati kasir. Seperti biasa pandangan Tara ke arah sana, membuat teman-temannya tambah yakin kalau Tara menyukai kasirnya.Tara mengerutkan kening melihat ekspresi wajah Wina yang pucat. Dia terlihat tegang."Hai, Win! Ternyata sekarang kerja jadi kasir! Capek ya? Pegel dong ya sekarang kerjanya berdiri! Masih mending jadi pacar gue kan?"Wina berusaha tersenyum meskipun saat ini kakinya lemas. Kenapa dirinya harus bertemu lagi dengan orang yang tidak ingin di temuinya, di tempat kerjanya, dan terlebih dia adalah salah satu teman Tara, pemilik kafe tempatnya bekerja."Halo, selamat malam, Kak, mau pesen apa?"Byan setengah tertawa, "Wah, masih bisa pura-pura, Win? Apa karena Bos lo ngeliatin dari sana?"Tara semakin yakin ada yang tidak beres disana."... Wina itu dulu putus sama pacarnya karena pacarnya udah semena-mena sama dia. Mungkin semakin kesini semakin kasar. Wina paling takut kalo suatu saat ketemu cowok itu lagi. Tapi lo cukup tau aja ya, Tar, jangan di konfirmasi lagi ke Wina. Soalnya ini rahasia dia. Tapi gue rasa, kalo lo emang mau ungkapin perasaan lo ke dia, minimal sedikit lo tau tentang masa lalunya." ujar Wulan mengingatkan tentang kisah percintaan Wina yang tidak indah itu semalam saat Tara bilang ingin menyatakan rasa pada Wina.Tara bangkit, mendekati Wina dan Byan."Ada apa ini? Win, you okay?""Gak apa-apa, Mas Tara." jawab Wina."Americano satu ya, Win!" ucap Byan."Bro, gue mau ngomong sebentar." kata Tara pada Byan.Tara membawa Byan ke balkon atas. Byan menyalakan sebatang rokoknya, dan menawarkan kepada Tara yang di tolak pria itu."Kenapa, Bro?" tanya Byan."Lo mantannya Wina?"Byan tersenyum, "Dia cerita?""Gue nebak aja. Karena dia sama sekali gak pernah cerita tentang kehidupan percintaannya ke gue." jawab Tara. "Wina, dia orangnya rajin, ceria, pinter. Tapi orang yang seperti itu bisa keliatan pucet waktu ngadepin lo tadi, gue yakin ada yang gak beres.""Iya, dia mantan gue.""Kenapa, Bro? kenapa putus?""Ya, karena udah gak suka aja, Bro.""Yaudah. Karena lo udah gak suka, dan lo udah gak ada hubungan apa-apa lagi, berarti gue boleh maju tanpa persetujuan lo kan? Lagian lo juga udah punya pacar baru kan?"Byan tersenyum, "Ambil aja, Bro! Lagian apa bagusnya Wina selain cantik?"Tara tersenyum, "Gue bersyukur karena lo gak tau apa bagusnya dia, Bro! Yaudah, lanjutin nyudutnya. Nanti kalo udah selesai ke bawah lagi ya, Bro!""Oke!""Oh iya, lo sekarang pacaran sama Kenny kan?""Iya, kenapa, Bro?""Cuma mau bilang ati-ati aja. Kalo lo mau tau watak asli Kenny, lo cukup nolak bayarin belanjaan dia, minimal tiga kali."Setelah turun, Tara meminta Wina untuk berbicara empat mata dengannya di belakang."Win, mungkin gue belum tau banyak soal masa lalu percintaan lo yang kelam itu. Karena lo selalu menghindar kalo gue udah mulai membahas sesuatu yang berurusan sama cinta. Tapi please, kali ini lo dengerin gue. Cukup satu kali. Gue udah suka sama lo dari awal. Semakin kesini gue ngerasa beruntung karena lo hadir di hidup gue. Mengenal lo itu membuat gue merasa kalo gue harus bersyukur dengan apa yang udah gue raih. Itu salah satu motivasi gue untuk bekerja lebih keras dan berusaha gak ngeluh. Dan dengan adanya lo, gue jadi tau kalo yang namanya usaha gak akan menghianati hasil. Lo kerja, lo belajar mati-matian supaya nilai lo bagus, dan waktu nilai lo bagus, gue adalah orang pertama yang lo kasih tau. Gue suka dengan kebersamaan kita yang sederhana seperti itu. Bersama lo gak harus mahal, tapi justru itu yang membuat nilai lo di mata gue jadi mahal. Gue menawarkan lo sebuah hubungan special atas dasar cinta. Kapanpun lo siap, lo bisa bilang ke gue. Gue gak ngasih batas waktu. Karena gue harap hubungan kita juga gak ada batas waktu.""Lo serius, Tar?" tanya Wina. Tara mengangguk yakin, "Tara, gue gak punya apa-apa, gue gak bisa buat lo bangga dengan punya gue. Gue gak...""Cukup lo pertimbangkan aja tawaran gue!" potong Tara."Kalo lo siap dengan konsekuensi itu, gue terima tawarannya."Tara tersenyum, dia langsung menggandeng Wina dan membawanya ke hadapan teman-temannya."Bro, kenalin! Wina, kasir dan bagian keuangan di kafe gue. Sekarang jadi pacar gue!"Tara tersenyum. Gue gak perlu orang-orang tahu tentang kelebihan Wina dari mulut gue. Cukup mereka melihat dan menilai Wina dengan sudut pandang mereka. Karena menurut gue, nilai Wina di mata gue sangat tinggi. Dan beruntungnya gue, sekarang dia ada di sisi gue . Batin Tara.* * *SELESAI ...
Jadikanku yang Terbaik
Siang itu matahari tampak malu-malu menyinari bumi karena tertutup awan yang siap menitikkan air. Gue berjalan gontai karena kelelahan berjalan dari sekolah. Ini adalah hari tersial dalam hidup gue karena motor gue tiba-tiba saja mogok di tengah jalan sehingga gue terpaksa berjalan kaki sampai rumah yang jaraknya lumayan jauh."Desi kamu kok baru pulang. Terus motor kamu mana kok pulangnya jalan kaki?" tanya mama panik ketika gue sampai di depan pintu."Motor aku mogok di tengah jalan ma makanya aku terpaksa jalan kaki." Jawab gue dengan malas."Kenapa kamu gak telpon mama? Mama kan bisa jemput kamu sayang.""Hp aku mati ma. Jadi gak bisa ngabarin pulang." Gue mekangkah menuju kamar dengan langkah yang dipaksakan karena kaki gue sudah terasa pegal kalau harus berjalan lagi."Ya sudah kamu ganti baju dulu lalu makan. Mama udah siapin makanan kesukaan kamu." Kata mama.gue bergegas ke kamar dan mengganti pakaian beberapa menit kemudian gue sudah berada di meja makan di temani oleh mama."Ma mas Afin kapan pulang sih?" gue menanyakan kakak sematawayang gue yang beberapa hari lalu pergi berkemah untuk acara kampusnya."Mama juga belum tau tuh. Kenapa kamu kangen ya di jahilin sama kakak kamu itu?" tanya mama."Ah mama bisa aja. Aku kan Cuma pengen tau.""Ya sudah kamu makan dulu keburu dingin tuh makananya kalau kamu ngomong terus.""Iya deh ma. Tapi mama temanin aku makan ya."Mama menemani gue makan siang sambil mengobrol kecil."Assalamualaikum" terdengar salam dari pintu."Waalaikumsalam." jawab gue dan mama hampir bersamaan. Gue bergegas menuju pintu dan membukakan pintu untuk tamu itu."Mas Afin. Kok baru pulang sih aku kan kangen." Gue langsung menghambur ke dalam pelukan kakak kesayangan gue ini walaupun terkadang dia sangat menyebalkan."Duh so sweetnya ternyata ada yang kangen toh." Canda mas Afin. Gue buru-buru melepaskan pelukan gue dari mas Afin."Ah mas Afin aku serius tauk." gue memasang wajah sok imut gue."Mas Afin juga serius dedek bahkan dua rius." Jawab mas Afin."Sudah sudah, Desi jangan ganggu masmu dulu dia pasti capek baru pulang udah diberondong dengan seribu pertanyaan." Kata mama melerai perdebatan kami."Ya udah masku tersayang mandi dulu sana udah bau asam kayak gitu untung tadi aku gak pingsan." Ujar gue pada mas Afin."Ah tadi aja dipeluk-peluk sekarang malah dikatain bau dasar kamu." Kecam mas Afin geram."Udah buruan sana mandi." Kata gue sambil menutup hidung."Iya bawel." Jawab mas Afin berlalu. Mama hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah gue sama mas Afin yang gak ada ubahnya kayak anak kecil.Pagi ini gue harus berangkat sekolah dengan angkutan umum karena motor gue masih belum selesai diperbaiki dan mas Afin tidak dapat mengantar gue karena sekolah gue dan kampus mas Afin berlawanan arah.Sampai di sekolah gue langsung menuju kelas. Hari masih terlalu pagi saat gue sampai di sekolah."Tumben Lo datang cepat." Suara itu adalah suara yang amat gue kenali. Itu adalah suara Bintang anak sok cool dan tengil di sekolah ini dan dia selalu tidak menyukai gue entah apa dosa gue padanya hingga dia begitu membenci gue."Maksud Lo apa?" kecam gue."Alah gue tau pasti Lo mau dibilang anak rajin kan. Heh julukan itu Cuma pantas buat gue dan gak ada yang bisa ngambil julukan itu dari gue." Sumpah nih anak selalu terobsesi buat jadi nomor satu di sekolahan."Gue gak ngerti maksud Lo apa.""Ah udah lah Lo itu selalu pengen bersaing sama gue dan gue gak akan biarin Lo ngalahin gue."Gue benar-benar gak ngerti sama makhluk satu ini. Padahal gue gak pernah pengen bermusuhan dengan siapaun di dunia ini. Tapi dia selalu mandang gue sebagai musuhnya yang harus dia kalahkan. Mungkin itu karena nilai gue yang lebih tinggi dari dia hingga membuat dia tambah membenci gue. Memang Bintang adalah sosok yang dibangga- banggakan di sekolah ini. Dia selalu menjadi yang terbaik dalam segala bidang baik akademik maupun non akademik tapi itu sebelum gue pindah ke sekolah ini. Setelah gue pindah ke sekolah ini dia merasa gue menyaingi dia untuk menjadi yang terbaik di bidang akademik karena nilai-nilai gue lebih tinggi dari nilainya."Udah deh. Gue udah jelasinkan sama Lo kalau gue gak pengen musuhan sama siapapun.""Tapi sekarang Lo adalah musuh gue.""Plis deh Bin. Gue sekolah bukan buat nyari musuh tapi buat nyari ilmu." Jelas gue walaupun sebenarnya gue tau gak ada gunanya gue ngejelasin ini sama makhluk yang bernama Bintang karena sampai seribu kalipun gue jelasin dia akan tetap musuhin gue tapi gue gak akan nyerah gitu aja buat jelasin sama dia."Gue gak percaya sama Lo." Dia berlalu pergi meninggalkan gue yang kini terpaku.Seharusnya gue sadar yang akan terjadi. Dia memang tak pernah suka gue sekolah di sini karena gue bisa mengancam juara umumnya di sekolah itulah kata teman-teman gue."Lo kenapa Des?" suara itu mengagetkan gue."Lo Din, gue bingung harus gimana sama Bintang Din.""Udah lah Des gak usah Lo pikirin tuh anak.""Tapi dia kayaknya benci banget sama gue Din.""Dia emang kayak gitu jadi Lo gak usah pikirin lagi ok?" Dinda adalah sahabat terbaik gue. Dia selalu kasih gue semangat dan selalu dukung gue dalam kondisi apapun."Tapi kenapa dia selalu terobsesi buat jadi nomor satu Din? Gue benar-benar gak ngerti apa hebatnya jadi nomor satu kalau gak punya teman yang ngertiin kita?" Dinda tersenyum mendengar pertanyaan gue."Bintang itu orang tuanya kurang mampu itu sebabnya dia ingin jadi yang terbaik di sekolah supaya dia bisa mendapatkan beasiswa ke universitas yang bagus agar dia bisa ngerubah kehidupan keluarganya." Jelas Dinda. Sungguh mulia hati anak itu dia ingin membahagiakan keluarganya gue jadi malu karena selama ini berpikir dia ingin menjadi yang terbaik hanya untuk ongeh-ongehan.Seketika pandangan gue terhadap Bintang berubah. Gue pengen banget bantu dia, dia selalu lemah di nilai kimia mungkin karena terlalu banyak rumus yang harus dihafalkannya belum lagi dia harus mengurus banyak hal. Gue bertekad akan membantu Bintang agar dia bisa meraih impian mulianya itu. Kalau dia berhasil gue pasti akan ikut bahagia."Bintang tunggu." Gue menghentikan langkah Bintang sepulang sekolah. Dia membalikkan badan tapi setelah melihat gue dia kembali berjalan menjauhi gue bahkan mempercepat langkahnya."Bintang tunggu." Gue mengejar Bintang dan menghadang langkahnya hingga dia tak punya pilihan lain selain menanggapi gue."Lo mau apa?" dia bicara setengah membentak."Gue mau bantuin Lo." Dia terlihat kaget mendengar perkataan gue barusan. Gue sendiri aja kaget kenapa gue ngomong gitu."Seingat gue, gue gak pernah minta bantuan sama Lo.""Memang gak pernah tapi ini adalah inisiatif gue sendiri buat bantuin Lo." Dia tambah heran dengan jawaban gue."Bantuin apa ya?" dia bertanya serius banget sambil mandang lekat mata gue bikin gue salting aja nih anak."Gue pengen bantuin Lo buat jadi nomor satu di sekolah." Jawab gue. Dia kembali memandang gue lekat kemudian dia tertawa."Lo mau ngejek gue. Mau buktiin kalau gue udah kalah dari Lo?""Gak. gak gue sama sekali gak bermaksud kayak gitu Bin. Gue serius pengen bantuin Lo.""Kenapa. Gue kan saingan Lo.""Gue kan udah pernah bilang sama Lo kalau gue gak pernah nganggap Lo saingan gue. Jadi izinin gue buat buktiin kata-kata gue itu.""Ok. Tapi gimana cara Lo buat bantuin gue?""Nilai Lo selalu dibawah gue ketika pelajaran kimia dan bahasa inggris jadi gue akan bantuin Lo dalam dua pelajaran itu.""Maksud Lo, Lo mau ngajarin gue?" tanya nya."Yap." Jawab gue mantap."Ok gue akan lihat kemampuan Lo kenapa gue bisa kalah dari Lo dalam pelajaran itu dan sehebat apakah Lo sebagai seorang guru." Tantang Bintang."OK gue akan buktiian sama Lo semuanya hingga rasa penasaran Lo terhadap gue hilang."Bintang tersenyum melihat kepercayaan diri gue. Dan entah kenapa gue jadi gugup bukan karena tantangan dari Bintang tapi karena pemuda ini tersenyum sangat indah.Ini adalah hari pertama gue bantuin Bintang dan kebetulan jam pertama pagi ini adalah kimia. Setelah pelajaran kimia selesai dan semua anak berlarian pergi ke kantin Bintang menghampiri gue. Gue jadi gugup sendiri dan gak tau apa penyebabnya."Kenapa?" tanya gue pada pemuda tampan di hadapan gue."Tadi ada yang belum gue pahami. Lo bisa jelasin lagi gak sama gue?" tanya Bintang."Oh ok. Yang mana yang Lo kurang paham?" tanya gue. Bintang langsung duduk di sebelah gue dan gue menjelaskan materi yang belum di pahaminya tersebut. Dinda yang melihat kejadian itu heran kenapa Bintang bisa beda banget sama gue hari ini. Setelah Bintang pergi Dinda mewaancarai gue. Ya apa lagi namanya kalau bukan wawancara."Kenapa Bintang bisa baik sama Lo gitu?" tanya Dinda memulai wawancaranya."Jadi ceritanya gue lagi di wawancara nih." Canda gue pada sahabat gue itu."Udah jawab aja kenapa sih. mau wawancara kek mau introgasi terserah Lo yang jelas jawab pertanyaan gue." Dia malah marahin gue."Iya deh. Pertanyaannya apa barusan?""Kenapa Bintang bisa baik gitu sama Lo. Lo guna-gunain dia ya karena Lo sakit hati sama dia?" dia malah nuduh gue. Wah parah nih anak."Tega amat sih Lo nuduh sahabat Lo sendiri kayak gitu Din.""Ya trus kenapa Lo pasti ada apa-apakan sama dia?""Gak ada apa-apa kok. Tadi dia Cuma nanya sama gue karena dia belum paham sama penjelasan Buk Ani." Jelas gue."Kok gue ngerasa aneh ya. Kemaren-kemaren kan dia benci banget sama Lo.""Mana gue tau Dinda sayang. Lo tanya langsung aja sama orangnya. Kenapa Lo malah nanya sama gue?"Entah kenapa gue jadi sering mikirin Bintang apa jangan-jangan gue udah jatuh cinta kali ya sama Bintang. Duh mikir apaan sih gue, gue mukul jidat sendiri."Kenapa Dek lagi galau yah?" mas Afin datang ngagetin gue."Apaan sih mas. Kalau mau masuk kamar orang itu ketuk pintu dulu jangan nyelonong aja kayak maling." Omel gue pada mas Afin."Kayaknya ada yang beneran galau nih." Mas Afin malah ledekin gue bikin gue geram aja."Siapa lagi yang galau? Gak tuh aku mah biasa aja. Ada apa mas tumben kesini pasti mau curhat yah?" gue segera mengalihkan pembicaraan kalau gak bisa sampai pagi mas Afin ledekin gue."Tau aja sih." jawab mas Afin cengengesan."Ada apa?" tanya gue. Mas Afin memang sering banget curhat sama gue kalau dia lagi ada masalah sama teman ataupun pacarnya. Gue juga gak tau kenapa dia milih curhat sama gue tapi karena hal itu gue sama mas Afin jadi sangat dekat.***Ada perasaan aneh yang menyelimuti hati gue saat gue dengan Bintang tapi gue gak bisa memahami hati gue sendiri. Gue merasa senang saat di dekat Bintang dan kalau jauh darinya gue merasa rindu. Entah ini hanya karena akhir-akhir ini gue sering ngabisin waktu bareng Bintang atau gue udah jatuh cinta sama Bintang. Entahlah yang jelas gue selalu kepikiran Bintang dimanapun gue berada. Gue akui sejak awal gue emang udah merasakan getaran tertentu pada Bintang bahkan saat pertama kali gue ngeliat dia di sekolah ini tapi saat itu Bintang masih membenci gue dan menganggap gue adalah musuhnya tidak seperti sekarang."Bin Lo pernah jatuh cinta gak?" tiba-tiba saja gue punya keberanian buat menanyakan pertanyaan itu sama Bintang gak tau keberanian dari mana. Gue udah nahan napas sejenak karena belum siap menerima jawabannya nanti."hmm.. jatuh cinta?" dia seperti tengah berpikir."Iya." jawab gue cepat, gak sabar ingin segera mendengar pendapatnya. Apakah dia juga merasakan getaran aneh yang gue rasakan atau malah dia gak merasa apa-apa."Kalau menurut gue jatuh cinta itu gak ada gunanya. Gak penting. Jatuh cinta hanya akan membuat kita gak fokus sama belajar dan malah mikirin hal-hal gak penting seperti malam mingguan fungsinya apa coba? Cuma buang-buang waktu lebih baik belajar dirumah lebih bermanfaat." Ujar Bintang. Gue tertegun mendengar penuturan Bintang. Itu artinya dia gak ngerasain hal yang sama kayak yang gue rasa dan hal itu membuat gue sedih. Entah kenapa gue merasa hati gue perih mendengar penuturan Bintang."Kenapa Lo tiba-tiba nanya kayak gitu? Apa mungkin Lo sedang jatuh cinta?" Bintang menatap gue curiga."Apaan sih Lo." Gue mengelak, gue gak mau dia sampai sadar kalau gue emang lagi jatuh cinta dan itu padanya."Sama siapa sih?" tanya Bintang. Gue jadi bingung harus menjawab apa, gak mungkin gue jujur dan bilang kalau gue lagi jatuh cinta sama dia kan? Orang dia aja gak ngerasain apa-apa."Ada deh. Gue rasa Lo juga kenal sama orangnya." hanya jawaban ini lah yang terpikirkan di otak gue."Kenapa Lo bisa suka sama dia?" gue berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan itu."Karena dia tampan?""Gue udah tau lo akan jawab gitu.""Karena dia baik, dia lucu dia juga pintar dan anaknya rajin banget lagi. Pokoknya dia perfect di mata gue.""Kayaknya dia tipe ideal Lo ya?""Yap." Gue gak tau kenapa hati gue sakit kalau harus mengetahui bahwa Bintang gak memiliki perasaan apa-apa sama gue. Tapi gue gak bisa memperlihatkan kekecewaan gue karena dia gak salah, di sini hanya gue sendiri yang salah karena menaruh hati pada tempat yang salah."Dari gue umur 10 tahun gue udah buat prioritas hidup kalau gue gak akan jatuh cinta sampai gue jadi orang yang berhasil dan bahagiain orang tua gue." Lirih Bintang, gue hanya mendengarkan dalam diam."Kenapa Lo gak mau jatuh cinta?" pertanyaan itu spontan keluar dari mulut gue."Karena itu akan ngerusak prioritas hidup yang selama ini gue pegang teguh. Jatuh cinta hanya akan membuat kita lemah dan membuat gak fokus sama pelajaran.""Lo salah Bin, cinta gak membuat seseorang menjadi lemah tapi membuat seseorang menjadi kuat membuat kita semangat dalam menjalani kehidupan.""Tapi jatuh cinta gak akan membuat gue jadi yang terbaik di sekolah kan?" tanya Bintang."Apa gunanya menjadi yang terbaik kalau gak punya seseorang yang menyayangi kita dengan tulus. Apa gunanya menjadi yang terbaik kalau gak punya teman yang selalu ada buat Lo dalam segala situasi?""Gue gak butuh semua itu yang gue butuh hanya menjadi yang terbaik." Gue kecewa mendengar jawaban Bintang.Bukan, gue kecewa bukan karena perasaan gue gak sama seperti yang dia rasa tapi karena pemikiran sempitnya mengenai cinta, dalam hidup gak segalanya akan berjalan seperti harapan kita dan saat itulah kita butuh sosok seseorang yang mendukung kita untuk terus maju.Gue hanya tertegun mendengar penuturan Bintang, gue gak bisa bicara apa-apa lagi. Bahkan untuk menangis pun gue gak punya hak karena disini hanya gue seorang yang salah dan pantas untuk di salahkan.Dua minggu yang lalu kepala sekolah minta gue buat jadi perwakilan sekolah dalam olimpiade kimia tingkat provinsi tapi gue belum cerita sama Bintang. Gue takut Bintang akan marah saat tau hal itu. Tapi sekarang gue gak berminat buat ikut olimpiade itu Lagi. Gue bahkan gak berminat lagi buat bersaing sama Bintang, biarlah dia mencapai tujuannya yang sudah ia rencanakan sejak awal dan gue tau betul gue gak termasuk dalam rencana hidupnya itu."Maaf pak sepertinya saya gak bisa mewakili sekolah kita untuk olimpiade kimia." Jelas gue pada kepala sekolah. Dia hanya manggut-manggut dengan penolakan gue."Tapi sekolah kita membutuhkan kamu Desi." Kata kepala sekolah."Sekali lagi saya minta maaf pak. Saya benar-benar gak bisa karena alasan tertentu. Tapi sebagai gantinya bapak bisa ngirim Bintang untuk mewakili sekolah kita.""Baiklah kalau begitu keputusan kamu." Kepala sekolah menurut apa yang gue sarankan dengan mengirim Bintang untuk mewakili sekolah dalam olimpiade kimia.Beberapa hari terahkir gue sengaja ngindarin Bintang. Gue udah gak marah sama dia mana tahan sih gue marah lama-lama sama dia, gue hanya belum siap aja ketemu lagi sama dia karena gue belum bisa ngelupain dia."Desi Lo bisa ngajarin gue lagi gak?" Tanya Bintang."Sorry ya Bin tapi gue mau ke kantin sama Dinda." Itu hanya alasan gue aja."Kalau gitu Lo bisa ngajarin gue di kantin kok. Kita ke kanting bareng aja.""Tapi gue mau ngomongin sesuatu sama Dinda dan ini hanya antara gue dan Dinda." Jelas gue."ok gue ngerti." Kata Bintang kemudian."Lo lagi marahan ya sama Bintang?" tanya Dinda saat di kantin."Gak kok." Elak gue."Yakin lagi gak marah sama dia terus kenapa Lo pakai alasan mau ngomong penting sama gue segala? Emangnya Lo mau ngomong apa?" tanya Dinda."Itu Din. Sebenarnya mas Afin minta nomer hp Lo boleh gak gue kasih?" beberapa hari lalu mas Afin nanyain Dinda sama gue dan bilang kalau dia suka sama Dinda."Hah. Lo bilang mas Afin?" gue hanya mengangguk."Trus Lo udah kasih?" tanya Dinda semangat banget."Belum makanya gue tanya dulu sama Lo boleh gak?""Boleh. Boleh banget malah." Gue tersenyum melihat reaksi sahabat gue ini."Jangan-jangan Lo naksir yah sama kakak gue?" tanya gue menyelidik. Yang ditanya malah senyum penuh arti dan gue membalas senyuman itu dengan sedikit ejekan tapi gue senang kalau sampai mas Afin jadian sama Dinda.Hari ini mas Afin yang ngantar gue sekolah gue tau itu pasti Cuma modus biar bisa ketemuan sama Dinda. Saat sampai di depan gerbang sekolah gue ngeliat Bintang yang melihat gue dengan tatapan tajam yang gak bisa gue artikan. Gue pura-pura gak tau aja kalau dia dari tadi mandangin gue dan mas Afin. Gue segera turun dari motor mas Afin dan berjalan memasuki gerbang sekolah."Dek nanti pulang sekolah mas jemput ya." Teriak mas Afin."Iya mas." Jawab gue lalu melanjutkan langkah gue menuju kelas. Mas Afin bilang kalau nanti pulang sekolah dia ingin ketemuan sama Dinda makanya dia bikin alasan buat jemput gue padahal mah ada udang dibalik bakwan. Hehehe...Di kelas gue terus memperhatikan Bintang yang dari tadi terus melamun dan tak memperhatikan penjelasan Pak Hamdan. Gue belum pernah liat Bintang kacau seperi hari ini. Biasanya dia selalu fokus belajar sebesar apapun masalah yang dihadapinya tapi hari ini dia benar-benar tak memperhatikan penjelasan Pak Hamdan sedikitpun. Pikirannya terus menerawang memandang ke luar kelas ke arah gerbang sekolah entah apa yang menarik disana yang mampu mengalihkan perhatiannya.Saat istirahat berlangsung gue hendak pergi ke perpustakaan dan melewati lapangan basket namun langkah gue terhenti di dekat lapangan basket ada yang menarik perhatian gue di sana."Kamu harus fokus, kita bermain sebagai sebuah tim bukan perorangan." Seseorang disana sedang dimarahi oleh pelatih Basket sekolah ini, Pak Samuel."Maaf pak." Terdengar sahutan dari anak itu. Suara itu gak asing di telinga gue. Gue mencoba lebih dekat agar bisa melihat siapa yang tengah di tegur oleh pak Sam."Apa kamu ada masalah Bintang?" tanya Pak Sam lagi.Bintang? Barusan pak Sam menyebut nama Bintang? Apa mungkin gue salah dengar ya? Bintang selalu melakukan sesuatu dengan hati-hati mana mungkin dia melakukan sebuah kesalahan. Gue mengintip dari balik dinding dan ternyata orang yang sedang di tegur oleh pak Sam adalah Bintang. Dia benar-benar Bintang. Masalah macam apa yang tengah dihadapi oleh Bintang sehingga dia membuat kesalahan? Dan tadi di kelas dia juga gak memperhatikan pelajaran. Gue ingin mendekati Bintang dan menayakan padanya tapi gue belum siap harus berhadapan lagi dengan pria ini."Din Lo tau gak barusan Bintang habis di tegur sama Pak Sam karena dia main gak fokus." Gue langsung cerita sama Dinda saat sampai di kelas."Ya terus?""Lo coba pikir deh apa mungkin seorang Bintang melakukan kesalahan dia kan selalu terobsesi buat jadi yang terbaik di sekolah. Trus kenapa dia bisa bikin kesalahan dan tadi pagi dia gak dengerin penjelasan Pak Hamdan Din. Pasti dia lagi ada masalah.""Ciee... perhatian banget sih sama Bintang." Dinda malah ledekin gue. Bukannya ngasih solusi malah bikin gue tambah pusing."Bukan gitu Din. Gue Cuma penasaran aja masalah macam apa yang tengah di hadapinya hingga membuat semangatnya jadi hilang gitu?" gue berpikir keras tapi gue tetap gak nemuin jawabanya."Mungkin dia lagi patah hati Des. Cuma orang yang lagi galau yang kehilangan semangat hidup." Jawaban Dinda sungguh membuat gue terkejut. Galau? Apa mungkin Bintang lagi galau yah."Udahlah ngapain sih mikirin hal itu. Mas Afin gimana kabarnya?" tanya Dinda bersemangat."Dia mau jemput gue pulang sekolah. Tapi gue yakin itu Cuma modus biar bisa ngeliat Lo.""Ya udah nanti kita keluar bareng ya?""Siap bos."Gue masih memikirkan Bintang. Apa benar dia lagi patah hati tapi sama siapa bukankan dia bilang dia gak mau jatuh cinta karena hanya akan membuat kita gak fokus belajar? Tapi kenapa dia galau sekarang. Siapa wanita yang berhasil membuat dia gak fokus belajar. Huh lihat saja gue gak akan maafin tuh anak karena udah bikin Bintang sedih dan kacau hari ini."Desi!" terdengar suara memanggil nama gue, gue mengentikan langkah gue sejenak dan orang yang tadi manggil gue mensejajari langkah gue dan berjalan beriringan dengan gue. Orang itu adalah Bintang."Ada apa?" tanya gue tanpa menoleh pada lawan bicara gue."Lo berhutang maaf sama gue." Gue menghentikan langkah gue mendengar kata-kata itu."Hutang maaf? Maksud Lo?" gue heran apa kesalahan yang gue lakukan sama Bintang sampai di bilang kalau gue berhutang maaf sama dia."Iya sekarang Lo harus ikut sama gue kalau Lo mau gue maafin.""Tapi gue udah di jemput." Gue melihat mas Afin yang melambaikan tangan ke arah gue."Ok itu artinya gue gak akan maafin Lo." Bintang berjalan menjauhi gue tapi entah kenapa gue gak rela dia pergi."Bintang tunggu. Gue akan ikut sama Lo." Gue berjalan mendekati mas Afin dan bilang kalau gue akan pergi dengan Bintang. Untung mas Afin ngerti dan gue nyuruh dia jalan-jalan dulu sama Dinda tentu saja mereka setuju.Bintang membawa gue ke sebuah taman di tepi danau tempat ini sungguh indah dan sejuk. Gue duduk di kursi kayu yang berada di bawah sebuah pohon."Kenapa Lo bawa gue kesini?" gue membuka pembicaraan."Bukankah gue udah bilang. Gue bawa Lo kesini karena Lo berhutang maaf sama gue?""Kesalahan apa yang udah gue perbuat sama Lo sehingga gue harus minta maaf?""Lo gak sadar udah ngelakuin kesalahan?" Dia malah balik bertanya sama gue. Gue menggelengkan kepala gue karena gue benar-benar gak tau salah gue dimana."Memang ya cewek itu gak peka." Dia berbicara setengah berbisik tapi gue mendengar cukup jelas."Maksud Lo?""Tadi pagi Lo berangkat sekolah sama siapa?" gue heran kenapa dia malah balik bertanya sama gue."Lo belum jawab pertanyaan gue." Ujar gue."Sebelum Lo jawab pertanyaan gue maka gue gak akan jawab pertanyaan Lo." Gue hanya bisa geleng-geleng kepala karena tingkah Bintang hari ini."Ok gue jawab. Tadi pagi gue sekolah sama mas Afin." Jawab gue."Kenapa?""Tadi mas Afin nawarin buat nganterin gue yah gue mau mau aja. Emang kenapa sih?""Trus Afin itu siapa?" gue udah muak sama semua pertanyaan Bintang. Tapi gue tetap bersikap baik karena gue ingin tau kesalahan apa yang udah gue perbuat sama dia."Dia kakak gue. Memangnya ada apa sih Bin? Gue udah jawab pertanyaan Lo sekarang Lo juga harus jawab pertanyaan gue." Sikap anak ini lama-lama bikin gue panas.Bukannya menjawab pertanyaan gue Bintang malah menyeringai gak jelas sambil memperlihatkan deretan giginya yang rapi. Dia memandang gue dengan tatapan seperti seorang anak kecil yang habis melakukan kesalahan sambil menggaruk-garuk kepalanya yang gue yakin gak gatal."Jawab Bin. Apa kesalahan gue?" Gue berbicara dengan nada yang keras membuat Bintang terlonjak kaget."Karena hari ini Lo udah bikin gue kacau." Dia berujar lirih tanpa memandang wajah gue."Gue? Memangnya apa yang udah gue perbuat?"Bintang diam tak menjawab pertanyaan gue. Dia terus memandang gumpalan awan yang berarak menuju suatu tempat untuk menumpahkan segala beban yang di bawanya. Bintang sama sekali tak melihat gue membuat gue jadi risih. Kenapa gue membuat harinya jadi kacau? Hal apa yang telah gue perbuat hari ini? Gue coba mengingat hal yang gue lakukan yang mungkin membuat Bintang jadi merasa kacau tapi gue gak menemukan jawabannya."Bintang apa yang sudah gue lakukan Bin. Hal apa yang gue lakukan sehingga membuat hari Lo jadi kacau?" Bintang memandang wajah gue dipandangi seperti itu membuat gue jadi gugup."Kesalahan Lo adalah Lo udah bikin gue jatuh Des." Gue benar-benar gak ngerti seingat gue, gue gak pernah tuh bikin dia jatuh. Kapan dan dimana? Gue benar-benar gak bisa ngungat itu."Lo itu udah bikin gue jatuh cinta sama Lo." Kini mulut gue benar-benar terkunci mendengar kata-kata Bintang. Gue gak percaya Bintang bilang hal ini sama gue."Hari ini gue kacau karena gue ngeliat Lo di boncengin sama cowok dan itu bikin hati gue sakit kayak di tusuk pakai panah beracun. Gue cemburu ngeliat Lo sama orang itu. Maaf ya gue udah salah sangka sama Lo. Gue kira dia adalah pacar baru Lo taunya kakak Lo." Dia cengengesan dan garuk-garuk kepala yang gak gatal.Gue masih diam bagai patung. Tak sepatah katapun yang berhasil keluar dari mulut gue meskipun gue udah berusaha keras. Kini tangan Bintang menggenggam tangan gue hasilnya tubuh gue gemetar karena genggaman itu."Gue gak tau sejak kapan tepatnya gue ngerasain hal ini. Tapi sejak Lo ngejauhin gue seperti ada yang hilang dari hati gue. Separuh dari hati gue terbawa sama Lo Des. Gue jatuh cinta sama Lo. Lo mau gak jadi kekasih gue. Lo mau gak jadiin gue yang terbaik di hati Lo?" tak terasa pipi gue udah panas dan merasakan cairan hangat membanjiri pipi gue."Bukankah Lo harus jadi yang terbaik di sekolah? Dan jatuh cinta hanya akan membuat Lo gak fokus belajar." tanya gue"Buat apa jadi yang terbaik kalau gak memiliki seseorang yang akan menyayangi kita dan mendampingi kita saat senang dan susah? Gue udah sadar Des kalau yang terbaik buat gue itu Lo." Gue udah gak peduli lagi air mata yang membanjiri pipi gue. Gue langsung menghambur ke pelukan Bintang."Gue juga tau kalau orang yang Lo ceritain waktu itu adalah gue. Karena ciri-ciri yang Lo bilang persis kayak gue." Bisik Bintang tepat di telinga gue yang membuat gue melepaskan pelukan gue."Kok dilepas sih?" Bintang menarik gue kembali ke pelukannya."Biarin aja kayak gini. Aku sayanggg banget sama kamu Desi." Bintang kembali berbisik di telinga gue namun kali ini gue tak akan melepaskannya lagi untuk selamanya.Selesai.
Terima Kasih, Teman!
Pagi ini tampak cerah, sang raja siang nampak bersemangat menyinari bumi sebagaiman semangatku yang membara hari ini. Lagi asyik-asyiknya nyatat catatan di papan tulis dari luar terlihat pak Zul, wali kelas kami memasuki kelas bersama seseorang yang tak ku kenal. Aku belum pernah melihatnya di sekolah ini sebelumnya, mungkin saja anak baru."Assalamu'alaikum." Suara pak Zul ketika sampai di dapan pintu."Wa'alaikumsalam" jawab kami serentak."Anak-anak hari ini kita kedatangan murid baru dan kebetulan di tempatkan di kelas ini. Bapak berharap kalian bisa menerimanya dengan baik."jelas pak Zul."Ya Pak" jawab kami hampir bersamaan."Sekarang silahkan perkenalkan diri kamu pada teman-temanmu" kata pak Zul pada anak baru."Baik pak. Teman-teman perkenalkan nama saya Indah Syafitri, saya pindahan dari Bandung. Saya harap bisa menjadi teman baik teman-teman semua. Demikian perkenalan saya, terima kasih." Katanya menyudahi perkenalan."Ya sudah anak-anak, kalau begitu kalian lanjutkan belajarnya. Bapak masih ada urusan di kantor, bapak permisi." Pamit pak Zul.Awalnya aku berpikir aku tidak akan bisa dekat dengan indah karena kelihatanya dia berasal dari keluarka yang bisa dibilang mapan, bagaimana tidak dia adalah anak tunggal dari orang tua yang sama-sama menjabat sebagai kepala sekolah di sekolah yang berbeda. Sedangkan diriku hanya seorang anak dari keluarga yang kurang mampu, kedua orang tuaku haris bekerja membanting tulang untuk membiayai sekolahku dan untuk hehidupan sehari-hari.Namun ternyata semua yang kupikirkan meleset dari kenyataannya. Indah adalah anak yang baik, dia tak pernah membeda-bedakan teman seperti kebanyakan anak orang kaya. Indah tak pernah membedakan status sosial seseorang. Semakin lama berteman dengan Indah aku semakin menyayanginya. Banyak sekali hal yang ku lalui bersamanya.Dia adalah sosok sahabat yang sangat baik, yang mampu membuatku tersenyum dalam kesedihanku, yang memelukku saatku menangis dan selalu ada di sisiku. Aku tak tau apa masih ada orang sebaik dia didunia ini, entahlah. Yang pasti Indah adalah sahabat terbaik dalam hidupku.Senin depan kelas VII-4 ditugaskan sebagai pelaksana upacara bendera dan Indah menjadi salah seorang penggerek bendera, sedangkan aku cukup menjadi anggota upacara bendera saja. Hari ini aku dan Indah piket kelas."Des hari ini kamu piket sendiri dulu ya" kata Indah sepulang sekolah."Memangnya kamu kenapa Ndah? Kamu sakit?" tanyaku heran tak biasanya Indah seperti ini."Gak kok. Hari ini aku mau latihan buat upacara bendera untuk hari senin jadi aku harus buru-buru kumpul di lapangan tapi kamu gak apa-apakan piket sendiri?" tanya Indah."Oo gitu, ya gak masalah kok. Kamu buruan ke lapangan urusan piket mah biar aku yang beresin" ujarku sambil memamerkan ibu jari ke arahnya pertanda OK."Kalau gitu makasih ya Des" katanya sambil meninggalkanku di kelas."Beres" ucapku lagi-lagi memamerkan ibu jariku padannya.Hari sabtu kali ini sikap Indah memang sedikit berbeda dari biasanya, dia tampak sangat bahagia dan jadi sering tersenyum, ah mungkin itu karena dia akan menjadi anggota upacara bendera makanya dia terlihat sangat bersemangat untuk latihan. Indah sangat antusias latihan upacara sabtu itu aku jadi bingung sendiri melihat semangatnya yang mengebu-gebu.Sore itu hujan turun dengan semangat. Awan hitam tak memberi celah pada sang surya bahkan untuk mengucapkan 'selamat sore'. Aku bingung apa yang tengah terjadi padahal ini bukanlah musim penghujan tapi beribu tetesan air itu seperti tak mau berhenti membasahi bumi. Ditengah guyuran hujan yang sangat lebat di selingi oleh teriakan petir yang sahut-sahutan sebuah ambulanc lewat dengan kecepatan tinggi. Mungkin inilah penyebab hujan ini, bisikku dalam hati.Minggu sore selesai mandi aku bergabung dengan keluargaku yang tengah serius membicarakan sesuatu. Dan ternyata mereka tengah membicarakan perihal ambulanc yang lewat dibawah guyuran hujan kemarin."Kasihan ya?" kata tanteku. Disana ada tante, ibuku dan kakak sulungku."Lagi ngomongin apaan sih? aku kepo nih?" kataku mendekat pada mereka."Itu loh, ambulanc yang kemarin lewat, ternyata orangnya meninggal." Jelas tanteku."Meninggal kenapa? Sakit?" tanyaku lagi."Bukan. Kecelakaan, seorang wanita dan anak gadisnya yang baru duduk di kelas 1 SMP meninggal akibat kecelakaan itu." Tanteku menjelaskan."Innalillah..." bisikku lirih prihatin mendengar cerita itu."Padahal itu adalah anak satu-satunya, kamu kenal gak Des? Kalau gak salah dia juga sekolah di sekolah kamu." Kata kakakku."Mhh... siapa ya?" aku mencoba berfikir."Katanya dia baru pindah ke sana beberapa bulan yang lalu. Mungkin kamu belum kenal Des." Kata ibuku kemudian.Aku terkejut mendengar itu. Mungkinkah itu Indah? Kata ku dalam hati. Jantungku berdetak sangat cepat kakiku terasa lemas dan tak kuat menyangga tubuhku."Kamu kenapa Des?" tanya kakakku."Mungkinkah itu?" aku tak kuat lagi menyangga tubuhku. Aku terduduk di lantai dengan air mata yang siap untuk keluar."Des kamu kenapa? Ada apa?" tanya ibuku melihat kondisiku seperti itu."Kamu mengenalnya Des?" tanya Kakakku lagi."Dia adalah sahabat sekaligus teman sebangku ku." Kini aku benar-benar menangis. Aku berlari menuju kamarku dan menangis sejadi-jadinya.Aku mencoba menenangkan hatiku. Bisa saja itu bukan Indah, mungkin saja itu orang lain aku terus menolak kalau itu adalah Indah. Tapi ternyata itu benar-benar Indah. Duniaku terasa hancur, bumi yang kupijaki terasa runtuh. Aku tak bisa menerima kenyataan bahwa sahabatku telah pergi untuk selamanya. 'Aku mohon jangan pergi Ndah, kembalilah' tangisku pilu.Aku benar-benar tak menyangka sahabat yang baru ku dapati kini telah pergi meninggalkanku dan takkan pernah kembali lagi. Aku bagai dalam mimpi buruk yang panjang, dan aku terperangkap dalam mimpi itu dan tak tau jalan untuk terjaga."Ya Allah kenapa secepat ini Kau ambil lagi hak-Mu? Kenapa harus Indah sahabatku? Kenapa Ya Allah? Padahal aku baru merasa bahagia karena memiliki sahabat sepertinya dan sekarang dia sudah pergi meninggalkan ku untuk selamanya." Isakku tak sanggup membendung air mata ini.Sampai di sekolah aku masih tak percaya bahwa Indah benar-benar telah pergi. Aku tak sanggup lagi menahan kepiluan yang menyesakkan dada ini. Aku menangis, ya aku menangis tepat di kursi dimana biasanya Indah duduk.Aku tak peduli lagi semua anak memandangiku dengan tatapan sedih dan kasihan. Aku hanya merasa sedih kehilangan sahabatku dan sekarang saat aku menangis takkan ada lagi yang akan memelukku dan membuatku tersenyum. Masih kental di ingatanku saat pertama kali Indah datang ke sekolah ini dan sekarang dia telah pergi.Senin ini kelasku tetap melaksanakan upacara bendera. Upacara berlangsung sangat kacau kami semua larut dalam kesedihan dan rasa kehilangan. Saat penggerekan sang merah putih yang seharusnya di gerek oleh Indah aku tak sanggup lagi menahan tangisku.Aku mulai tersedu di tengah barisanku. Duka ini sungguh sangat menyisakan kepiluan yang mendalam, aku merasa hancur atas kepergian Indah. Tapi aku mencoba ikhlas, aku ingin Indah damai di sana. Aku tak mau dia sedih melihatku terus menangisi kepergiannya."Ndah aku ikhlas jika ini memang yang terbaik. Aku juga ikhlas persahabatan kita didunia berakhir sampai di sini tapi aku janji kamu akan selalu menjadi sahabat terbaik di hatiku Ndah." Do'aku ikhlasNdah aku sayang banget sama kamu, akankah aku bisa dapat sahabat sebaik kamu selain dirimu Ndah?=Selesai=
Your Smile
Ku lihat weker, ternyata jam 5 pagi aku bergegas bangun setelah itu aku sholat, dalam sholat aku berdoa semoga hari ini lebih baik dari kemaren.Kenalkan namaku Annisa. pagi ini seperti biasa aku berangkat ke sekolah dengan diantar ayahku. Hari senin, kami akan melaksanakan upacara bendera. Upacara adalah momen yang selalu aku nantikan karena saat berbaris di lapangan karena aku dapat melihat seseorang yang aku kagumi.“kamu lagi nyari siapa Ca?” pertanyaan itu membuatku kaget dan menghentikan mataku yang terus mencari seseorang sejak tadi.“Hmm,, gak lagi nyari siapa-siapa kok Din” jawabku cuek.“Masak sih? Kamu jujur aja deh Ca?”“Tapi aku gak lagi nyari siapa-siapa, suer deh”“Iya deh aku percaya.”Aku memang belum menceritakan tentang seseorang yang aku kagumi itu kepada siapapun termasuk si Dinda sahabatku yang mulutnya ember banget. Dia gak bisa menyimpan rahasia dalam satu minggu pun. Aku takut menceritakan pada Dinda tentang pria itu. Bisa-bisa Dinda akan menyebarkannya dalam dua hari saja, dan aku gak mau itu sampai terjadi.Aku selalu memendam perasaanku ini hingga tak seorang pun yang tau.Oh ya aku lupa ada seseorang yang tau, dia adalah sahabatku sewaktu SMP dan sekarang dia sudah berada jauh di luar kota untuk melanjutkan sekolahnya. Terkadang aku merasa sakit dan butuh teman curhat namun rasa takutku dipermalukan jauh lebih besar. Jadi aku lebih memilih menyimpanya rapat-rapat dalam hatiku. Selain temanku waktu SMP tak ada lagi yang tau perasanku selain aku, Tuhan dan diaryku.Pada awalnya aku tak percaya cinta pada pandangan pertama itu ada, mana mungkin seseorang akan jatuh cinta saat dia baru pertama kali melihat seseorang tersebut dan bahkan belum mengenalnya, bagaimana bisa jatuh cinta? Namun semua itu hilang saat kejadian itu.TIGA TAHUN YANG LALU...Hari ini adalah hari pertama sekolah sejak aku naik ke kelas VIII. Karena hari pertama jadi tidak ada pelajaran tapi karena kos ku sagat dekat dengan sekolah aku tetap datang setidaknya untuk melihat siswa kelas VII yang sedang melaksanakan MOS.“Ca temanin ke kelas kak Sri ya?” ajak Tari sahabatku.“Mau ngapain Ri? Nanti pulang sekolah kamu juga ketemu kan?” jawabku. Aku merasa malas harus berjalan siang ini.“Iya tapi aku pengen liat anak-ank yang lagi MOS. Lagian ngapain kita duduk aja dikelas dari tadi.” Dia terus membujuk.“Ya udah deh. Yuk” akhirnya aku tak menolak lagi.Sesampai di kelas kak Sri, Tari langsung menemui kak Sri. Aku hanya menunggu di depan kelas. Karena bosan menunggu aku berjalan menuju kelas di sebelah kelas kak Sri yang merupakan kelas VII yang sedang melaksanakan MOS. Namun karena hari sudah siang mereka sudah istirahat, namun pandanganku tersita oleh sebuah senyuman disana, seseorang yang tengah terenyum pada perempuan yang berdiri di depannya.Aku terpaku karena senyuman itu, jantungku berdegup sangat kencang, lidahku terasa kaku dan keringat membasahi tubuhku seperti hujan. Aku benar-benar tak mengerti apa yang sedang melandaku.“Aku kembali ke kelas ku dulu ya” ujarnya pada perempuan di depannya lagi-lagi tersenyum yang membuatku detak jantungku tak menentu.“Ya, hati-hati” balas perempuan itu.“Kamu disini toh Ca? Aku nyariin tauk.” Tari datang mengejutkanku dan membuyarkan lamunanku barusan.“Eh, udah Ri?” jawabku gugup.“Udah, bagaimana kalau kita keliling dulu liat anak-anak lagi MOS.” Ajak Tari.“Ini kan udah jam istirahat Tar, mereka pasti lagi nyari makan karena habis dikerjain.”“Iya juga ya Ca. Trus kita mau kemana?” tanya Tari.“Terserah kamu.”“Gimana kalau kita ke kantin juga, laper nih.”“Boleh tuh.” Jawabku.Semenjak hari itu aku jadi sering memperhatikan pria yang memiliki senyuman indah itu dari kejauhan, tapi aku tak berani untuk mendekatinya ataupun bertanya tentang dia pada seseorang. Pada awalnya untuk mengetahui namanya saja sangat sulit bagiku yang tak berani menanyakan perihal pria yang membuatku jatuh hati saat pertama melihat senyumannya. Untung saja kakak kos ku adalah sahabat dari kekasih pria itu sehingga darinya lah aku mengetahui nama pria itu.Kakak kos ku selalu menceritakan kisah cinta lelaki itu dengan kekasihnya yang tak lain adalah sahabat kak rani. Aku adalah pendengar yang setia dari perjalan kisah cinta pasangan itu. Meskipun memiliki pacar yang dua tahun lebih tua darinya tapi aku tau dari cerita kak Rani mereka merupakan pasangan yang sangat romantis. Aku makin mengagumi lelaki itu mendengarkan kisah cintanya.Aku benar-benar menikmati sekali cerita kak Rani dengan topik yang sama, bahkan aku selalu menanti- nanti karena dengan mendengarkan cerita kak Rani aku mengetahui banyak hal tentang dirinya meski tanpa mengenal dirinya. Meskipun terbesit rasa cemburu yang sebenarnya tak wajar aku rasakan padanya karena aku hanyalah pengagum rahasia lelaki itu.“Hari ini Yoli mutusin Randi.” Kata kak Rani tampak senang.“Kenapa kak?” aku mendekati kak Rani untuk bertanya lebih jelas.“Entahlah, aku sendiri gak tau apa masalah mereka.”“Tapi bukannya mereka itu pasangan yang romantis kak?” aku masih merasa bingung.“Aku sendiri juga bingung, tapi Yoli bilang dia gak mau pacaran sama anak kecil dan Yoli gak nganggap bahwa dia pernah pacaran sama Randi.” Jelas kak Rani.“Tapi aku merasa sangat senang, karena pasti anak jahil itu lagi patah hati sekarang.” Ucap kak Rani terlihat senang.Perasaanku saat itu campur aduk antara sedih, senang dan kasihan membayangkan orang yang aku kagumi sedang patah hati dan pasti dia dalam suasana hati yang buruk. Tapi dibandingkan rasa senang aku jauh merasa sedih mengetahui hal itu karena aku gak mungkin bisa bahagia atas kesedihannya, karena kesedihannya adalah kesedihanku juga dan melihatnya bahagia akan membuatku jauh lebih bahagia. Apa mungkin ini yang di sebut cinta sejati? Atau cinta buta? Entahlah.Yang jelas semakin hari aku semakin memperhatikan pria itu dari kejauhan tanpa sepengetahuannya dan tanpa sepengetahuan siapapun.Waktu terasa berjalan sangat cepat, kini aku sudah duduk di kelas IX dan sebentar lagi akan meninggalkan sekolah ini. Aku merasa takut tidak bisa melihat Randi lagi, aku takut tak bisa melihat senyuman indahnya lagi aku benar-benar merasa takut.Hari ini aku dan Tari sedang berjalan pulang. Aku dan Tari bertemu dengan Randi yang sedang nongkrong dengan teman-temannya.“Kok pulangnya lama sekali kak?” kata Randi sambil tersenyum ke arah kami. Mungkin itu adalah sapaan pertamanya untukku meskipun bukan khusus untukku.“Masalah buat Lo!” jawab Tari enteng. Sedangkan diriku jangankan untuk menjawab sapaan itu untuk tersenyum saja terasa hambar.“Kamu kenapa Ca?” Tanya Tari setelah kami berlalu darinya.“Gak apa-apa kok.” Jawabku sambil tersenyum pada Tari dan mendelikkan mata.“Jadi dia?” tanya Tari.Aku hanya mengangguk lemah. Tari mungkin melihat pipiku memerah karena sapaan itu atau tubuhku yang gemetar mendengar suaranya.***Hari itu datang juga. Hari kelulusanku, aku merasa bahagia karena aku dinyatakan lulus dari sekolah menengah pertama ini tapi aku juga merasa sedih karena mungkin aku tak bisa lagi melihat senyuman Randi, tak dapat lagi melihat dirinya meski hanya dari kejauhan.Aku merasa sangat sedih untuk meninggalkan semua kenangan yang ku lalui di sekolah ini, aku sedih meninggalkan mimpi-mimpiku, aku sedih meninggalkan cinta pertamaku. Cinta pada pandangan pertamaku. Dan cintaku tertiggal di SMP, aku harap dia akan menyusulku ke SMA yang sama setidaknya untuk melihat senyuman itu lagi.SETAHUN KEMUDIAN...Dalam satu tahun itu aku tak pernah bisa melupakan Randi. Sampai saat ini aku masih mengingat senyuman pertamanya walaupun senyuman itu untuk Yoli tapi sedikitpun aku tak pernah bisa melupakannya. Dan aku masih berharap dia akan menyusulku ke sekolah ini tak mengapa aku hanya menjadi pengagum rahasia seperti dulu asalkan aku dapat melihat senyum itu sekali lagi.Harapanku dikabulkan oleh Tuhan. Randi benar-benar sekolah di sini. Aku tidak sanggup untuk tidak melihat senyuman itu, senyuman pertama yang meninggalkan kesan selamanya dihatiku. Sekarang senyuman itu masih sama seperti tiga tahun yang lalu saat pertama kali aku melihatnya dan senyuman itu masih sama bukanlah untukku melainkan untuk seseorang yang entah siapa.Pemilik senyum itu masih orang yang sama, orang yang tak pernah menganggap keberadaanku,orang yang tak pernah tau perasaanku terhadapnya dan aku juga berharap orang itu tak mengetahui perasaanku saat ini karena aku masih belum benar-benar melupakan dirinya.Aku bahagia karena Tuhan izinkan aku mengenalnya. Aku tak pernah merasa menyesal pernah mengenalnya walaupun aku hanya menjadi pengagum semata. Aku juga tak berniat untuk melupakan Randi begitu saja, aku hanya ingin menghapus rasa cintaku pada Randi yang tak semestinya aku miliki.Terima kasih Randi, kamu membuat aku mengerti arti cinta sesungguhnya. Arti mencintai tanpa harus memiliki seperti aku yang mencintaimu tapi aku tak harus memilikimu dan Aku tak harus memilikimu untuk mencintaimu.Aku hanya berharap suatu saat nanti Randi akan mengerti perasaanku terhadapnya, dia tak perlu membalas perasaan itu, cukup dia mengetahui bahwa dirinya pernah bersemayam sangat lama di hati ini dan merupakan kenangan termanis dalam kisah cintaku semanis senyuman pertamamu.=TAMAT=
Kata Cinta
Pagi ini sangat cerah seperti biasa aku bangun dan bergegas berangkat sekolah. Kenalkan aku Fandy sekarang aku duduk di kelas XI MIPA.Pagi ini aku berangkat sekolah dengan teman yang selalu setia mengantarku kemana saja. Dia adalah sepeda motor. Kendaraan pertama yang dibelikan ayah sebagai hadiah ulang tahun ku.Setiba di sekolah aku pergi ke kantin untuk mengisi perut yang selalu ribut setiap pagi. selesai makan aku menyusuri koridor menuju kelasku. Fikiranku melayang pada kejadian beberapa bulan belakangan ini.Kedua orang tuaku ribut besar dan rumah tangga orang tuaku diambang kehancuran. Kemudian aku merasakan seseorang menubruk tubuhku dari depan yang berhasil membuyarkan lamunanku. Bajuku basah karena minuman yang dibawa seseorang yang menubruk tubuhku barusan."Eh..sorry,sorry" Ujarnya sambil membersihkan bajuku yang basah dengan tangannya."Tidak apa-apa"Balasku sambil menatap wajah bgersalahnya."Tapi baju kamu jadi kotor begini gara-gara aku,aku mintak maaf ya tadi aku tak melihatmu karena aku jalan sambil mendengarkan earphone,sekali lagi aku mintak maaf ya." Katanya lagi penuh penyelasan."Tidak apa-apa aku juga bersalah, tadi aku jalan sambil melamun" Kataku."Kalau begitu aku akan membersihkan bajuku di toilet dulu."Sambungku dan berlalu meninggalkanya, sebelum aku pergi dia sempat meminta maaf sekali lagi.Aku tidak ingin membersihkan bajuku ini, biarlah baju ini menjadi saksi bisu perbincangan ku dengan gadis yang ku puja.Akhir-akhir ini aku sering menjadikan kertas dan pena sebagai teman. Tempat aku mencurahkan segala isi hatiku dan mengembangkan menjadi cerita atau puisi terlebih setelah retaknya rumah tangga orang tuaku."Fan hari ini ada rapat pengurus mading, lo udah tau belum?" Tanya Meli saat aku baru sampai di kelas."Oh ya, Kapan?""Sekarang, barusan sarah telpon katanya disuruh kumpul di ruang OSIS" Jelas Sarah.Akhirnya aku dan Meli memutuskan untuk pergi bersama ke ruang osis.Semenjak aku hobi menulis aku memutuskan bergabung menjadi pengurus mading untuk menyalurkan bakatku.Rapat anggota pengurus mading kali ini dalam rangka memperingati hari ulang tahun sekolah. Mading akan menerbitkan artikel tentang berbagai persiapan dan kegiatan apa saja yang akan ditampilkan pada hari ulang tahun sekolah nanti."Fan kamu akan mewawancarai dan meliput persiapan masing-masing ekskul" Kata Kak Arif selaku ketua pengurus mading."Baik Kak" Jawabku yakin.Aku sangat senang bisa mengemban tanggung jawab ini karena salah seorang anak ekskul seni yang aku kagumi sejak lama. Aku sudah tidak sabar untuk memulaitugas ini.Kegiatan pertama yang aku liput persiapanya adalah ekskul keagamaan kemudian ekskul olahraga dilanjutkan dengan pramuka dan paskibraka dan yang terakhir persiapan ekskul seni. Inilah yang sangat aku tunggu-tunggu.Aku berdiri mematung dihadapanya,aku bingung harus memulai wawancara ini. Aku tidak tahu bagaimana memulai wawancaranya.Akhirnya tugasku pun selesai, sekarang hanya tinggal menyusun hasil liputan dan wawancaraku menjadi sebuah artikel untuk diterbitkan di mading. Aku merasa sangat senang hari ini meskipun hanya tanya-jawab biasa saja.***Sepulang sekolah aku langsung menuju kamar,maklumlah semenjak rumah tangga orang tuaku retak ayah sudah tak tinggal di rumah ini. Aku hanya menjadikan kamar sebagai tempat ternyaman. Pulang sekolah aku akan langsung menuju kamar dan hanya akan keluar jika ada perlu saja jika tidak maka aku akan mengurung diri di kamar seharian.Setelah aku mengganti pakaianku aku duduk di meja belajarku. Pikiranku kembali mengingat kejadian tadi siang.Akhirnya aku mengetahui namanya,Bunga. Sesuai dengan namanya dia adalah bunga di hati yang menambah warna di hidupku. Siang itu ditemani oleh pena dan kertas aku menuangkan semua perasaanku pada Bunga dalam sebuah puisi.Pagi ini seperti biasa aku berangkat sekolah. Aku sengaja berangkat lebih awal pagi ini karena hasil wawancaraku kemarin menghilang. Aku rasa kertas tersebut tertinggal di ruang ekskul seni. Dan ternyata benar saja hasil wawancaraku kemarin tertinggal di ruangan itu.Saat aku kembali menuju kelasku aku teringat akan puisi yang kemarin aku tulis sebagai ungkapan isi hatiku pada Bunga. Aku membaca puisi itu sepanjang perjalanan menuju kelasku sampai semua kertas di tanganku berhamburan ke lantai termasuk puisiku karena seseorang menabrak tubuhku."Maaf, aku gak sengaja..Kamu?" ujarnya sambil memunguti kertas yang bertebaran di lantai.Aku tertegun sejenak setelah mengetahui siapa yang menabrak tubuhku barusan."Maafkan aku, aku tidak sengaja."ujarnya lagi"tidak apa-apa""Maaf ya, seharusnya aku tidak mendengarkan earphone sambil jalan hingga menabrakmu sampai dua kali" Sesalnya."Tidak apa-apa kok." Kataku."aku malah merasa senang." kataku dalam hati.Setelah mengambil kertas di tangan Bunga yang tadi dipungutinya akupun berlalu meninggalkanya bersama dengan rasa bersalahnya. Setelah aku menjauh ku dengar dia memanggilku namun aku tak menghiraukan panggilan itu,malah aku mempercepat langkahku meninggalkan gadis cantik itu.Aku terhenyak dikursiku dan mengingat kembali kejadian tadi. Bagaimana mungkin seseorang yang sangat mencintai musik seperti Bunga bisa bersatu denganku yang hanya terfokus pada barisan kata yang rapi dan indah. Munkin kata dan nada memang tak mungkin pernah bersatu."Fan ada yang nyari tuh." Aku tersadar mendengar suara itu."Siapa?""Tuh" Tunjuknya ke arah jendela.Ku lihat seorang gadis tengah duduk disana tapi aku tak melihat wajahnya karena membelakangi jendela. Aku segera menghampiri gadis itu. Aku sangat terkejut ternyata yang mencariku adalah Bunga. Ku lihat dia tersenyum saat aku menghampirinya."Kamu Fandy?" tanya BungaAku hanya mengangguk karena terlalu gugup berhadapan dengan Bunga."Aku kesini mau mintak maaf atas kejadian tadi,...""Oh tidak masalah, lupakan saja" putusku sebelum dia menyelesaikan ucapanya."Bukan bukan itu, sebenarnya aku mencarimu karena ingin mengembalikan ini."ujarnya memperlihatkan sebuah kertas."ini puisimu kan?"tanyanya kemudian.Aku terkejut melihat puisiku berada di tangan Bunga. Aku merasa senang sekaligus malu, aku senang karena puisi yang ku tulis untuk Bunga sekarang ada di tanganya dan aku merasa malu karena menghiraukan panggilanya tadi."Hei kenapa diam? Apa benar ini puisimu?""I..iya""Tadi setelah membaca puisimu aku jatuh cinta dengan kata-katanya,begitu indah seperti ungkapan perasaan seseorang." Aku hanya diam menunggu kalimat berikutnya."Kalau kamu tidak keberatan aku ingin menjadikan puisimu menjadi lirik lagu untuk ku nyanyikan pada acara ulang tahun sekolah nanti"Deg!! Jantung ku berdegup sangat kencang. Aku tak percaya Bunga akan menyanyikan puisi yang ku ciptakan khusus untuknya."Bagaimana, Kamu tidak keberatan kan?""Oh tidak sama sekali, malahan aku merasa sangat terhormat kalau kamu bisa menyanyikan itu di acara ulang tahun sekolah nanti."Semenjak saat itu aku dan Bunga sering betemu. Aku dan Bunga menjadi sahabat. Bunga sering mengatakan bahwa dia menyukai karyaku, aku hanya membalas dengan mengatakan bahwa aku juga mengagumi suara dan kemampuanya bermain musik.Ternyata pemikiranku selama ini salah. Kata dan nada dapat diatukan bahkan mereka tidak dapat terpisahkan. Kata- kata yang indah jika diberikan nada yang bagus akan menjadi sebuah karya seni yang Wow.Acarapun dimulai. Berbagai aksi pun ditampilkan aku turut ambil bagian didalamnya yaitu membacakan sebuah puisi yang berupa ungkapan isi hatiku pada Bunga. Aku sudah menyiapkanya sejak beberapa hari terakhir. Sudah berbagai aksi ditampilkan kini giliran Bunga dan bandnya. Bunga berperan sebagai vokalis. Bunga tampak anggun di atas panggung dan menyanyikan puisi yang kuciptakan khusus untuknya.Aku merasa senang karena Bunga bisa menyanyikan perasaanku padanya yang tak dapat ku ungkapkan secara langsung. Setelah penampilanya Bunga menghampiriku."Fan" sapanya sambil tersenyum. Aku menjadi sangat gugup karena gadis cantik itu berjalan menghampiriku."Makasih ya Fan" ujarnya sambil memeluk tubuhku setelah cukup dekat denganku.Aku sungguh tak percaya sekarang aku berada dalam pelukan gadis yang selama ini hanya bisa ku perhatikan dari kejauhan. Sungguh ini suatu keajaiban untuk diriku. Entah setan apakah yang telah memasuki tubuhku hingga aku membalas pelukan itu dan membisikkan sesuatu ke telinganya tanpa ku sadari."Bunga sebenarnya aku sayaang banget sama kamu, aku udah suka sama kamu saat pertama kali melihatmu." aku sendiri bingung dari mana datangnya kata-kata itu hingga meluncur begitu saja dari mulutku.Aku menjadi sangat gugup dan takut Bunga akan marah dan menjauhiku atau bahkan lebih parah mungkin saja dia akan membenci diriku karena kebodohanku sendiri. Tubuhku terasa bergetar seperti sedang terjadi gempa besar disini dan hanya aku sendiri yang merasakanya."Aku juga sayang sama kamu Fan" Bunga berbisik tepat di telingaku dan mempererat pelukanya padaku.Semuanya terasa seperti mimpi bagiku. Ternyata opiniku benar-benar salah tentang kata dan nada, kata dan nada seperti aku dan bunga tidak dapat dipisahkan itulah kenyataanya.=Selesai=
Jangan Rubah Takdirku
Jangan pernah bilang jika kamu tidak pernah butuh bantuan orang lain. I ngatlah kita ini manusia, ma kh luk sosial yang selalu membutuhkan bantuan orang lain. Dan kamu sangat membutuhkan bantuan aku untuk membuat dongeng ini menjadi lebih indah .***Impian adalah sebuah angan-angan yang dimiliki semua orang. Percaya atau tidak, kita adalah manusia hebat. Semenjak kita lahir di dunia, kita sudah termasuk orang-orang yang hebat. Dari dalam rahim Ibu kita, yang dulunya kita adalah kumpulan sperma yang memperebutkan sel telur, tantangan demi tantangan kita lalui dan sampai akhirnya kita tumbuh dan lahir di dunia.Betapa nikmatnya hidup itu, walaupun dalam hidup selalu ada masalah yang terkadang sangat berat, tetapi seberat apa pun itu kita lalui semuanya dengan senyuman. Hidup adalah sebuah proses antara harus memilih melepaskan atau bertahan dengan kondisi apa pun.***Yogi Sandy Pratama. Cowok yang memiliki sejuta impian. Cowok jangkung nan putih itu sering dipanggil dengan nama Sandy. Seorang introver , yang memiliki tatapan dingin.Di keluarganya, Sandy di perlakukan seperti robot. Semua kegiatan ataupun aktivitasnya selalu di atur oleh orang tua Sandy. Jika Sandy melawan atau tetap dengan pendiriannya yang selalu bertentangan dengan isi pikiran orang tuanya, ia akan merasa, telah menyakiti hati mereka.Di sekolah, Sandy selalu membuat masalah. Sejatinya, semua kenakalan yang ia lakukan ada tujuan yang sangat dalam yang ingin Sandy sampaikan.Sandy berjalan di koridor sekolahnya, dengan tangan di masukan ke dalam saku celananya. Lagi dan lagi Sandy bolos dari mata pelajaran yang menurutnya sangat membosankan yaitu otomatisasi perkantoran. Bukan tanpa alasan Sandy tidak menyukai mata pelajaran itu, ia di paksa oleh orang tuanya untuk masuk di jurusan perkantoran, yang sama sekali tidak ia minati. Dengan menggunakan alasan klasik untuk pergi dari kelas, kini Sandy sudah berada di rooftop sekolahan. Ia duduk di pinggir pembatas membiarkan angin meniup rambut nya yang sedikit panjang itu. Melihat langit biru yang begitu cerah, ia tersenyum ngejek pada dirinya sendiri."Mau sampai kapan kau berdrama, San!" ucap Sandy pada dirinya sendiri. Sebenarnya ia sudah capek dengan semua ini, tapi ia terlalu pengecut untuk menyampaikan semuanya.BrakSuara pintu terbuka dengan keras, Sandy yang duduk di pinggir pembatas itu terkejut dan hampir terjatuh, kalau saja dia tidak memegang pembatas itu. Sandy melihat kearah sumber masalah itu."Apa lo mandang-mandang?" tanya cewek mungil dengan galak, ia menutup pintu yang ia buka tadi dengan kuat. Cewek itu berjalan berlawan arah dari tempat Sandy."Ih, sebel, sebel, sebel, masa iya gue cuman memberi kritikan terus di suruh keluar, tidak boleh ikut pelajaran. Dasar guru aneh!" teriak cewek mungil itu di seberang sana. Sandy benar-benar merasa terganggu dengan teriakan dan hentakan kaki yang cewek itu ciptakan. Sandy berjalan ke arah cewek mungil itu. Cewek itu melihat Sandy dengan tatapan kesel."Eh cowok tukang cabut, jangan ikut campur deh," ucap cewek mungil itu pergi berjauhan dari Sandy. Sandy melihat kepergian cewek itu dengan kebingungan. Cewek mungil itu adalah Rahma teman sekelas Sandy, yang dimana Sandy sendiri tidak mengetahui itu.***Claudia Valen Dinata, cewek sejuta cahaya. Cewek cantik yang sering di panggil Valen itu adalah seorang wanita yang kuat, dan pandai menjaga perasaan pasangannya, dan tidak lupa kalau Valen itu adalah orang yang peka sekali dengan keadaan."Kenapa lagi?" tanya Valen yang duduk di samping Sandy."Gue capek Len, gini terus," ujar Sandy menyadarkan kepalanya di bahu Valen. Valen diam, memberi ruang untuk Sandy agar bertenang dan juga berpikir apa yang harus dia lakukan sekarang. Valen tau apa yang membuat Sandy harus berpikir keras dengan keadaannya. Beberapa minggu lagi, Valen dan Sandy akan lulus dari SMK, benar benar hal yang menyenangkan, tapi itu untuk semua orang saja, bukan untuk Sandy yang harus melawan dengan takdir.BrakLagi dan lagi suara pintu di buka dengan keras, oleh pelaku yang sama si Rahma, cewek mungil yang hari-harinya di sekolah selalu kesel dan marah marah."Ih, kalian lagi, kalian lagi, nggak bisa apa, mesra-mesranya di tempat lain. Gue itu mau teriak," ucap Rahma yang masih berdiri di ambang pintu, memandang Valen dan Sandy dengan wajah marah."Ya udah, teriak aja, lo. Sekalian kalau mau lompat, noh, silakan!" Valen menarik Sandy untuk berdiri dan pergi sana.***Di sepanjang perjalanan menuju rumah Sandy, Valen dan Sandy saling berdiam diri, tidak ada yang berani membuka suara. Sampai di depan pagar rumah yang sangat megah itu, Sandy membuka suara dan berkata, "Nanti, kamu jadi diri kamu sendiri, jangan jaga image, bagaimanapun situasinya." Sandy membawa Valen masuk ke dalam rumahnya, yang sudah terdapat orang tua Sandy yang duduk di sofa ruang tamu. Tidak lupa Sandy memberi salam kepada orang tuanya, Sandy membawa Valen duduk di sampingnya."Ma, Pa, Sandy mau bicara sama kalian berdua!" orang tua Sandy sudah memasang wajah tidak bersahabat, saat yang melihat Sandy dari ambang pintu sampai ke tempat mereka berdua. Mama Sandy memberi kode kepada Sandy untuk menjelaskan siapa perempuan yang ada di samping Sandy. Sandy menjelaskan terlebih dahulu siapa Valen dalam hidupnya, dengan menunjukkan ekspresi tenang agar orang tuanya bisa memberi ketenangan kepada tamu yang ia bawa ke rumah. Tapi Sandy salah, orang tuanya malah bertambah tidak suka dengan kehadiran Valen. Valen yang menyadari perubahan sikap orang tua Sandy, ia hanya bisa diam, dan akan berbicara jika ia di perlukan."Bawa dia keluar sekarang!" Perintah Papa Sandy, yang sudah memasang ekspresi datarnya. Ia benar-benar tidak menyetujui Sandy berpacaran dengan Valen."Pa, Ma, jangan pergi dulu!. Bukan itu yang mau Sandy bicarakan dengan kalian berdua." Sandy menghadang orang tuanya untuk pergi, Sandy menundukkan kepalanya, untuk mengumpulkan semua keberanian yang ia miliki."Maaf Pa, Ma, Sandy untuk kali ini tidak mau ikut perkataan Papa dan Mama. Lebih tepatnya Sandy tidak mau kuliah di luar negeri." Sandy memberanikan dirinya untuk melihat ke arah depan, ia melihat orang tuanya sudah melihat dirinya dengan wajah yang menahan amarah. "Pasti gara gara cewek itu kan?" Papa Sandy menuju Valen yang berada di samping Sandy."Bukan Pa, semua ini tidak ada sangkut-pautnya dengan Valen," bela Sandy kepada Valen."Alah, jangan banyak alasan kamu, Papa sudah tau, ini semua pasti sudah kamu rencanakan dengan perempuan itu kan! membujuk Papa agar kamu tidak kuliah luar negeri, agar kalian bisa bersama-sama. Pujukan kalian tidak akan mempan buat saya! mau kalian sudah pacaran 1 tahun lebih, ingat! Papa tidak peduli. Dan kamu Sandy putusi segera cewek itu," Papa Sandy pergi dari hadapan Sandy membawa istrinya untuk pergi dari sana."Om, Tante, maaf jika saya lancang berbicara. Disini saya cuman mau membantu Sandy, bukan bermaksud apa apa. Jika Om, Tante tidak menyukai saya, itu wajar, kita baru ketemu 1 kali ini dan di dalam situasi seperti ini, saya maklumin. Tapi tolong kalian dengarin dulu apa alasan Sandy untuk tidak mau kuliah di luar negeri. Dia hanya ingin selalu bersama dengan Om dan Tante. Ia tidak mau pisah dengan kalian, selama ini Sandy membuat kenakalan di sekolah, ia hanya ingin Om dan Tante datang ke sekolahan untuk mendengar apa yang mau Sandy katakan, tapi apa Om dan Tante malah menyuruh Assisten untuk mengurus semua keperluan Sandy sesuai dengan rencana yang sudah kalian buat. Sandy itu ingin bebas dan selalu mau bersama Om dan Tante. Dia bukan robot yang semau Om dan Tante atur semua aktivitasnya dan impian dia. selama belasan tahun ini Sandy sudah bercerita kepada saya kalau dia itu stres dengan semuanya, ia seperti tahanan yang selalu di awasi. Dia hanya mau satu hal, tolong jangan membatasi semua aktivitas yang mau Sandy lakukan. Jika Om dan Tante tidak memperbolehkan Sandy untuk berpacaran, ok saya siap putus dari Sandy, tapi asalkan Om dan Tante mengizinkan Sandy untuk berteman dengan siapa pun, jangan membuat Sandy seorang diri di dunia ini." ucap Valen sangat lantang, membuat orang tua Sandy yang ingin masuk ke dalam kamar, berhenti dan mendengar perkataan Valen. Tanpa ingin membalikan badan ke arah anak satu satunya yaitu Sandy, air mata keduanya mengalir dengan deras mendengar perkataan Valen yang mewakili isi hati Sandy. Sandy hanya diam, menundukkan kepalanya lagi, ia tidak berani melihat ke arah depan."Om, Tante, Valen permisi dulu," pamit Valen kepada orang tua Sandy yang masih dengan posisi yang sama. Valen menepuk bahu Sandy yang masih terdiam itu, Valen memberi senyuman semangat buat Sandy agar dia bisa melanjutkan dengan mulut nya sendiri tanpa di wakilkan oleh orang lain."Valen!" Valen memberhentikan langkahnya, ia melihat Sandy yang mengejar dirinya. "Jangan pergi!" ucap Sandy yang sudah berdiri di depan pintu mobil Valen."Aku memang harus pergi, San. Dalam situasi seperti ini, aku tidak berhak ada di sini. Tenang kita pasti akan berjumpa jika Tuhan mengizinkan, aku tidak apa-apa, dan ingat jangan nangisi orang yang belum tentu menjadi milik mu.""Tante, Om, sekali lagi Valen pamit ya," pamit Valen dengan senyuman, Valen memasuk kedalam mobilnya, melihat dari arah cermin mobilnya Sandy dan kedua orang tuanya berpelukan, Valen tersenyum melihat itu. biarlah dirinya berpisah dari Sandy, asalkan Sandy tidak berpisah dari keluarganya. Valen merasa beruntung mendapatkan Sandy dalam kehidupannya. Benar benar butuh perjuangan ia mendapatkan Sandy yang begitu dingin dengan lawan jenis. Walaupun dengan segala kekurangan yang ada pada diri Sandy, tapi Valen tidak pernah mempersalahkan masalah itu. Ia lebih bahagia jika ia bisa memberi cahaya dan kebahagian pada orang orang yang ia sayangi.TAMAT.
VALENTINE DAY "ALEANGGA"
Alea Putri Hendra, anak bungsu dari keluarga Hendra si pengusaha sukses. Alea hanya tinggal bersama sang kakak yang bernama Andrean, orang tua Alea sudah meninggal 5 tahun yang lalu. Alea merupakan anak baru di SMA Yawira, dan sekarang Alea duduk di bangku kelas XII."Al!" panggil Zaskia kepada Alea yang sudah begitu lemas untuk berdiri."Apaan," ucap Alea dengan tidak semangat."Lihat kedepan," Zaskia menyenggol bahu Alea."Apaan?" tanya Alea yang celingga celinggu tidak tau apa yang harus di lihatnya, padahal di depan hanya ada kepala sekolah yang sedang memberi kata sambutan kepada siswa siswi yang menang lomba olimpiade kimia."Itu tu, cowok yang di tengah, coba deh lo perhatikan baik baik," Zaskia menunjuk cowok yang ia maksud, Alea menajamkan perlihatannya, ia merasa tidak asing dengan wajah cowok itu."Siapa?" tanya Alea menyatukan alisnya."Masa lo lupa?" tanya Zaskia yang tidak percaya, jika sahabatnya ini melupakan sosok cowok itu, "Dia Angga, Al," ucap Zaskia, Alea terkejut mendengar nama itu, ia benar tidak percaya sosok yang di depan itu adalah kawan SMPnya dulu yang begitu jail dan pecicilan pada dirinya."Hahaha canda lo receh Ki," ketawa Alea, tidak percaya dengan perkataan Zaskia."Yang di belakang, kalian berdua, kedepan sekarang!" perintah kepala sekolah dengan suara lantang, Zaskia dan Alea saling mandang, kepala sekolah menunjuk mereka berdua, dengan saling tolak menolak Alea dan Zaskia sudah di depan dengan menundukkan kepalanya, sangat malu di lihat seluruh penghuni sekolah."Baiklah, sampai disini dulu kata sambutan saya, sekali lagi terimakasih kepada ananda Angga, Iqbal, dan juga Naura yang sudah membawa nama baik sekolah kita." Kepala sekolah turun dari podion. "Kalian berdua ikut saya!" ucap kepala sekolah kepada Zaskia dan Alea.***"Al, apes banget sih kita," ngeluh Zaskia, dia memilih duduk di lapangan yang luas dan begitu kotor dengan dedaunan kering berserakan, daripada menjalanin hukumannya.Alea menggeleng gelengkan kepala, melihat tingkah Zaskia yang belum mengerjakan apa apa sudah capek duluan, Alea pergi menjalankan hukumannya sendirian."Eh ada Leale nya, Angga nih," ucap seorang cowok yang datang ntah dari mana. Alea melihat cowok itu, penuh dengan ketelitian."Tidak nyangka ya, kita ketemu lagi," Alea menaikan satu alisnya, dengan gaya bertangan pinggangnya, Alea melihat Zaskia yang asik bermain Handphone."Mau apa lo?""Gue? Gue tidak mau apa apa," jawab Angga meletakkan tangan nya di depan dadanya. "Gue cuman kaget aja jumpa lo lagi, perasaan terakhir kita berjumpa itu pada saat elo pergi ke london," lanjut Angga."Gue rindu lo, Alea," ucap pelan Angga yang masih bisa di dengar oleh Alea."ALEA!" panggil Zaskia yang sudah berlari menghamperi Alea yang asik berdebat argumen dengan Angga."Selamat datang kembali di dunia gue," Angga mencubit pipi tembem Alea, dan langsung pergi sebelum Zaskia sampai di sana, "Sampai jumpa Leale.""Al, lo tidak apa apa kan? Tadi gue lihat, Angga...hmm...itu...hmm...," ucap Zaskia yang tidak bisa berkata kalau ia melihat memegang pipi Alea. Alea menggelengkan kepalanya, "Gue tidak kenapa napa kok," Alea menepuk pelan bahu Zaskia, dan ia menlanjutkan hukumannya lagi.***Alea memasuki kelasnya dengan seribu kelelahan di badannya, ia duduk di bangkunya dengan bersandar dan berkipas kipas karena kepanasan."APA APAAN INI?" teriak Alea yang terkejut di mejanya sudah penuh dengan coret coretan kata "Leale". Alea naik pitam ketika melihat sosok Angga yang lewat di depan kelasnya, buru buru ia keluar dari kelas."Eh Angga paok," Alea menarik kerah baju Angga dari belakang."Woi woi woi," Teman Angga yang jalan bersama Angga tadi, mencoba melepaskan tangga Alea dari baju Angga. "Lepasin tu tangan," teman Angga memukul mukul tangan Alea dan menarik Alea jauh dari sana."Lepas!" teriak Alea tidak terima di tarik dengan kasar."Bal, lepasin!" ucap Angga yang langsung di turuti oleh iqbal melepaskan genggamannya di lengan Alea. Angga mendekat Alea yang memegang tanganya karena kesakitan di genggam oleh Iqbal tadi."Ada apa?" tanya Angga sok cool. Alea tersenyum miring melihat tingkah Angga yang aneh menurut Alea."Tidak berubah ya lo, maksud lo apa? Coret coret di meja gue, lo kira gue minuman? Gue manusia tau," ujar Alea dengan nada tinggi, tidak terima dengan coretan di mejanya."Maksudnya?" ucap Angga pura pura tidak tau."Jangan sok bego deh lo," Alea melihat sekelilingnya, dengan suara lantang Alea yang memanggil Angga, dia sudah mengundang banyak orang untuk berkumpul disana. Alea mendengar siswa siswi lain membisiki dirinya lagi caper kepada Angga."Dasar, P E N C I T R A A N," ucap Alean penuh penekanan di depan wajah Angga, Alea pergi dari sana, ia malu sekali, semua orang menuduhnya kalau dia berbohong dan caper kepada Angga si idola SMA Yawira.***"Ih, Sebel Sebel Sebel," teriak Alea memukul mukul bantal di atas pahanya."Udah deh marahnya, nih angkat dulu telepon dari ayang ebeb lo," Zaskia memberi Handphone Alea yang sengaja ia jauhkan darinya."Lo aja yang angkat, gue lagi gak mood," Zaskia memberi kode "Ok" kepada Alea."Hallo." Ucap Zaskia sok imut."...""Alea nya sudah tidur yan, besok aja lo teleponnya," ucap Zaskia berbohong kepada Adrian pacar jarak jauh Alea."Udah kali marahnya," bujuk Zaskia yang ikut berbaring di samping Alea."Kesel gue Ki, tau gak sih lo, anak anak pada mengira, gue lagi caper sama tu orang, lo tau gak..." ucap Alea terhenti oleh tingkah Zaskia yang buru buru berdiri dan keluar dari kamarnya. Alea cemberut melihat Zaskia, "Tu kan belum juga selesai cerita, udah pergi aja.""Tada, ini dia, makan dulu deh, kasian tu perut asik berbunyi dari tadi," ujar Zaskia membawa mangkok yang berisi seblak, yang tadi sempat ia pesan saat ia selesai bertelepon dengan Adrian.Alea memakan seblak dengan lahap, sampai ia tidak tau kalau Zaskia membuat vidio dirinya lagi makan dan di masukkan di instastory.***Alea yang sedari tadi risih karena Handphone nya terus bergetar, ia tidak bisa bermain Hp disaat jam pelajaran berlangsung, di tambah lagi guru yang sekarang mengajar dirinya merupakan guru killer, dan dirinya tidak mau mengambil resiko jika Hp nya di tangkap oleh sang guru.Bel istirahat pun berbunyi, cepat cepat Alea membuka kunci Hpnya, ia melihat begitu banyak pesan dari Adrian, ia membaca satu per satu pesan tersebut. Entah sejak kapan Air mata Alea keluar dari tempat persembunyiannya.Zaskia yang melihat Alea menangis dalam diam, ia ikut melihat apa yang sedang Alea lihat, Zaskia memeluk bahu Alea, memberi ketenangan buat Alea. Alea menghapus air mata, ia keluar kelas dengan berlari, ia mencari tempat persembunyian untuk meluapkan kesedihannya.Berkali kali Alea menelepon Adrian, tetapi Adrian tidak mengangkatnya juga. Saat ini Alea butuh seseorang di sampingnya, Alea menangis dengan wajahnya di tutup oleh tangannya.Angga yang sedari tadi melihat Alea dari kejauhan, kini ia berjalan mendekati Alea yang masih dengan posisi sama. Angga memanggil Alea dengan pelan, Angga terkejut dengan tingkah Alea yang tiba tiba memeluk dirinya. Angga yang bingung harus bagaimana, ia hanya mengelus punggung Alea, dan membiarkan Alea mengeluarkan semua kesedihannya."Nih minum dulu," ucap Angga memberi air putih kepada Alea."Tidak mau masuk kelas ni?" tanya Angga, karena sudah 10 menit bel masuk berbunyi, tetapi ia melihat Alea tidak mau masuk, dan iya berinisiatif menemani Alea. Alea menggelengkan kepalanya."Nanti malam ada acara tidak?" Angga membuka suara dari suasana keheningan yang mereka ciptakan. Lagi lagi Alea hanya menggelengkan kepalanya."Jalan yuk," tawar Angga. Alea langsung menyetujui itu.Malam harinya Alea bersiap siap pergi bersama Angga, dari pagi tadi dirinya hanya galau karna di putusin oleh Adrian begitu saja tanpa alasan apapun, kini ia harus bersenang senang walau itu dengan teman lamanya.Selama 15 menit Alea bersiap dan menunggu jemputan dari Angga, kini dengan waktu 10 menit saja mereka berdua sudah sampai di pasar malam, Angga mengajak Alea menaik semua permainan disana, tujuan Angga membawa Alea ke pasar malam, ia ingin melihat Alea tersenyum lagi, dan kini tujuan ia terwujud."Naik itu yuk?" Angga menunjuk bialalang yang di penuhi lampu itu. Alea yang sedang makan permen kapan, ia hanya menganggukan kepalanya. Angga pergi ke tempat jual tiket, Angga menyuruh Alea masuk duluan. Angga melihat pemandangan yang bagus sekali dari atas, ia melihat kearah Alea yang sudah bergeteran dan keringat dingin."Le, lo kenapa?", "Lo takut ketinggian?" Angga memegang tangan Alea begitu erat. Alea hanya diam saja, ia begitu takut dengan ketinggian, ia menyesali menyetujui tantangan dari Angga, Alea tidak mau di katakan pengecut oleh Angga."Ga, gue takut," Alea bertambah bergeteran karena dirinya dan Angga berhenti di bagian atas."Hei tidak apa apa, sini sini lihat gue," Angga mengambil wajah Alea yang sedari tadi menunduk."Buka mata nya, lihat gue, Lea." Alea mengikuti perintah Angga, ia melihat Angga yang tersenyum manis. Seketika hati Alea berdeguk dengan kencang. Angga mengusap ucapkan tangan Alea agar tidak bergemeteran lagi."Udah tenang kan?" tanya angga begitu lembut. Alea menganggukan kepalanya lagi."Angga, angga, lo mau apa?" Angga melepaskan tangannya dari genggaman Alea."Suit, lo tenang aja," Angga mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Alea terkejut dengan benda yang ada di tangannya sekarang ini."Happy Valentine, Alea," ucap angga memeluk Alea begitu erat.Dihari special ini, Angga tidak mau melihat sang ratu nya bersedih, walau dengan sederhana seperti ini, Angga mampu mengembalikan senyum seorang Alea Putri Hendra.
SANTET
"Nia, akhirnya aku menemukanmu," cewek bertubuh tinggi, berkulit sawo matang, kini duduk dengan napas yang ngos ngosan, akibat berkeliling wilayah kampusnya untuk mencari satu orang saja, yaitu Nia, teman dekatnya.Dia adalah Linda, cewek yang mempunyai seribu masalah tentang masalah percintaannya. Linda tidak begitu cantik, dan juga tidak jelek jelek amat. Linda hanya gadis biasa yang selalu di sakiti oleh kaum adam."Kenapa?" tanya Nia si cewek gendut yang asyik makan mi rebus buatan bude kantin di kampusnya."Gue memimpikan itu lagi," ucap Linda memajukan wajahnya agar orang di sekitar tidak mendengar percakapan mereka berdua. Nia tetap asyik memakan mi rebus itu, sambil menunggu kelanjutan cerita tentang apa yang dialami Linda semalam."Gue bermimpi pocong serem itu lagi, berwarna hitam, yang selalu menatapku," Nia yang mendengar itu tersedak kaget, bagaimana bisa temannya ini selalu bermimpi hal begituan sudah seminggu ini.Ini pasti ada yang tidak beres, batin Nia, mengeluarkan benda pipih yang berada di dalam tasnya, ia memberi pesan kepada seseorang yang Linda tidak ketahui."Besok ikut gue, jumpa sama papa gue, gue tunggu jam 8 malam," ucap Nia yang langsung pergi dari sana setelah ia membayar mi yang ia makan tadi.***Linda sudah sampai di sebuah rumah yang cukup mewah, ia termenung melihat betapa besarnya rumah itu daripada rumahnya."Oik, mau sampai kapan berdiri di situ?" Linda tersadar dari lamunannya, akibat teriakan Nia dari ambang pintu.Linda hati-hati masuk ke dalam,takut menyengol sesuatu dirumah itu, selain barang barang di sana termasuk barang yang mahal, di rumah itu juga banyak penjaga yang kasat mata."Ini pa, teman Nia, yang kemaren Nia ceritakan," Linda duduk di hadapan laki laki baru baya yang sedang bermain handphone sambil merokok, lelaki paruh baya itu adalah ayah Nia yang bernama Putra. Putra melihat kedatangan Linda dengan tatapan tajam.Dengan diberi waktu untuk bercerita apa yang sedang Linda alami selama ini, ia gunakan itu dengan maksimal mungkin, walaupun ia begitu gugup dan takut."Besok kamu bawa buah kelapa muda kecil, ingat!, belinya jangan di tawar!" hanya itu perkataan Putra selama Linda menunggu. Linda pun pulang dari rumah itu dengan suasana aneh di dalam tubuhnya.***Keesokan harinya, Linda di suruh menginap di rumah Nia, di karenakan ritual nya di mulai tengah malam, itu juga membantu untuk papa nya Nia mengawasi ku untuk sementara agar Linda tidak kenapa napa setelah selesai menjalani ritual itu.Sebelum mulai, papa nya Nia menghidupkan lidi china, dan menghidupkan lagu lagu khas jawa, Linda berusaha untuk tidak takut, lama kelamaan bahu Linda sebelah kanan berat sebelah, disana tidak hanya ada Linda dan juga papa nya Nia, Nia pun ikut Menemani Linda, agar Linda tidak perlu takut."Jangan takut, semuanya akan baik baik saja," ucap Nia memeluk bahu Linda dan mengelus elus, agar Linda tenang.Linda melihat Pak Putra alias papa nya Nia memotong buah kelapa yang Linda bawa tadi, membuat sedikit lubang agar Linda meminum air itu sampai habis."Ini, kamu minum di depan pintu itu," Putra menunjuk pintu belakang rumahnya yang mengarah keluar bagian belakang, Linda berjalan kearah pintu itu, Putra sudah berada di belakang Linda, untuk mengeluar apa yang ada di tubuh Linda.Linda membaca doa dan berharap semuanya baik baik saja, dan mimpi aneh itu tidak datang kembali, Linda menyatukan buah kelapa itu ke mulut nya. Linda merasa kesusahan untuk meminum air kelapa itu, ia merasa ada yang mendorong buah kelapa itu agar buah kelapa itu terjatuh dan Linda tidak bisa meminumnya.Sebagian air buah kelapa itu bertumpah tumpah sampai baju nya basah.Linda memberhentikan meminim air itu, dia melihat kebelakang, mukanya sudah sangat sedih dan memohon, dia sudah tidak sanggup meminumair kelapa itu lagi. Tapi Putra tetap menyuruh Linda meminum air itu sampai habis, mau tidak mau Linda melakukannya.Seteguk demi seteguk Linda memasuk air buah kelapa itu ke tenggorokannya, ia merasa air itu tidak habis juga, padahal ia merasa sudah meminum air itu sudah banyak dan baju yang ia pakai sudah basah juga."Huft," akhirnya selesai sudah, Linda memberi buah kelapa itu yang sudah kosong kepada putra. Linda terduduk lemas, sebenarnya dari semalam ia mau bertanya kenapa dirinya sampai ia harus melakukan itu, tapi karna hari sudah malam dan sudah jam 03.00 pagi, Nia mengajak Linda untuk kekamar membersihkan diri setelah itu tidur.***Selama tidur, Linda gelisah, ia takut sekali, tetapi matanya tidak bisa di buka. Sampai akhirnya Linda terhanyut dalam mimpi itu."Linda, lin, bangun," Nia menggoyang goyangkan tubuh Linda. Linda langsung terbangun dengan terduduk, membuat Nia yang di sampingnya terkejut."Lin, ada apa?" Tanya Nia memastikan, bahwa temannya ini baik baik saja. Linda menggeleng dan langsung pergi ke kamar mandi.Akhirnya aku bisa terbangun juga, pikir Linda di kamar mandi."Lin, makan dulu," panggil Nia melihat Linda keluar kamar yang sudah berpakaian rapi.Selama di meja makan, Linda makan dengan tenang, walaupun pikirannya lagi berpikir apa maksud mimpi terakhirnya itu."Lin, lo kenapa sih? Dari tadi diam aja, ada yang ganjal di kepala mu, di ceritain atuh,"ucap Nia yang sudah tidak tahan dengan sikap temannya itu."Kemaren," gantung Linda."Kemaren, gue mimpi itu lagi,"Linda menundukkan kepalanya."Tapi ini beda dari yang dulu dulu,"Linda menggangkat kepalanya, melihat Nia dengan lekat."Gue mimpinya, pocong itu kemaren ada di delan gue pada saat gue minum air kelapa itu," Nia masih diam mendengarkan."Terus, setelah gue selesai minum air kelapa itu, pocong itu kayak marah gitu, dan muka seramnya tu terzoom zoom gitu di kepala gue," Nia langsung menarik Linda untuk bertemu dengan sang papa.Linda menceritakan ulang kejadian tadi. "Alhamdulilah, itu tidak apa apa, berarti kamu sudah terbebas," ucap Putra sambil memain handphone nya dan mendengarkan cerita dari Linda."Terbebas dari apa om? Emangnya aku kenapa?" Tanya Linda yang sudah penasaran."Kamu di guna guna oleh seseorang," Linda tidak percaya dengan itu, ia menutup mulutnya dengan tangannya, kenapa tega sekali orang itu guna gunakan Linda, apa salah Linda? Sampai orang itu berani bermain hal begituan.Selama Linda hidup, setahu Linda dirinya lah yang paling menyedihkan, terlebih lagi dalam hal percintaan, dia selalu di sakitioleh orang orang yang ia sayangi. Dan sekarang, ditambah lagi dengan orang yang berani menyantet Linda selama 8 bulan ini."Kenapa tega banget ya Jovan melakukan itu kepada gue Ni?" Tanya Linda yang sudah tersedu sedu akibat menangis orang itu lagi. Lebih tepatnya ia masih belum percaya, bahwa pelaku di balik ini semua adalah Jovan mantan pacarnya selama 8 bulan mereka menjalin hubungan pacaran."Sebenarnya dari dulu gue udah mau bilang, kalaulo harus jauh jauh dari Jovan, tapi gue terlambat lo sudah terlalu jatuh di pelukan Jovan," Nia memeluk Linda yang masih tersedu."Dari dulu gue sudah sadar dengan sikap aneh lo, yang nangis karna Jovan kecelakaan dan lo gebet banget ingin menjeguk dia yang jauh itu,""Terus di tambah lagi, lo sudah di putuskan dengan cara tidak baik, dia mengeluarkan kata mutiaranya kepada lo, tapi lo tetap ingin dia kembali lagi di pelukan lo,""Dan sampai akhirnya lo bercerita semua yang lo alami, dari lo yang drop lah, sampai ke mimpi itu, dan akhirnya gue bisa menolong lo terbebas, dari santet nya yang Jovan gunakan untuk lo, walau itu sangat terlambat,""Tidak nya, tidak ada kata terlambat, ini semua hanya butuh proses, sampai akhir waktu yang menentukannya," Linda mempererat pelukan Nia.Ini adalah pelajaran untuk Linda, maupun untuk semuanya. Jangan mudah percaya seseorang, dan jangan mudah terbuai dengan kata kata manis seseorang. Kita memang tidak tahu apa yang bisa mereka lakukan kepada kita. Tapi setidaknya kita bisa berjaga jarak untuk me n yelamatkan kita dari hal hal yang tidak kita inginkan.
PENGORBANAN YANG ABADI VIAN & VIA
"Gue kan udah bilang sama loe kalau gue tu jahat. Kenapa masih dekatin gue sih?" Teriak cewek berseragam SMA di gerbang sekolah.Orlinda Via Besta, adalah cewek tinggi 160, cuek, dingin, dan pencinta game. Dia tidak terlalu cantik dan terkenal di sekolahnya. Karena dia adalah orang yang susah sekali bergaul di dunia nyata, beda hal nya dengan dunia mobile nya.Di dunia mobile, Via selalu memakai nama samaran, dan selalu menghidupkan mikrofon nya memberitahu strategi atau pun menyapa kepada teman online nya. Hal itu yang membuat Via mempunyai banyak teman online. Karena ia begitu ramah dan lembut memberitahu kepada teman temannya.Tetapi ada suatu hal yang paling Via benci sekali yaitu orang yang mengganggu ketenangannya di dunia nyata. Sebisa mungkin Via menutup dirinya dengan orang orang terdekat. Di sekolah ia tidak mempunyai teman. Setiap jam istirahat ia lebih memilih pergi ke perpus ketimbang ke kantin, bukan halnya Via anak yang rajin membaca, ia memilih ke perpus karena perpus adalah tempat yang sepi dan enak untuk tidur dan bersantai.Gedebuk!Suara benda jatuh begitu keras di ruangan perpustakaan, membuat Via yang sedang tertidur, terkejut terbangun.Bangsat , umpat Via mengucek matanya.Via berdiri memastikan apa yang terjatuh itu. Ia berjalan dari rak ke rak, sampai menemukan seorang cowok sedang membereskan buku buku yang berantakan di lantai begitu banyak.Cowok itu melihat Via sambil tersenyum bersalah. "Sorry, loe pasti terganggu ya bacanya." Ucap cowok itu merasa bersalah kepada Via. Via yang masih dengan muka datarnya, tidak merespon omongan cowok itu, ia pergi keluar dari perpus, dan memilih tempat untuk ia beristirahat.*****"Vian." Dengar namanya di panggil dari belakang, cowok tinggi 170 dan tidak terlalu putih itu berbalik badan."Iyaa buk, kenapa?" Tanya Vian kepada bu guru yang ada di depannya sekarang."Bisa bantu ibu gak?" Vian mengangguk."Itu, ibu minta tolong sama kamu, bantuin ibu ambilkan buku cetak sejarah 20 buah, bisa gak Vian?" Tanya bu guru dengan nada lembut."Bisa buk." Jawab Vian mau tidak mau harus membantu."Ya sudah nanti bawa ke ruangan guru ya." Bu guru dan Vian pergi berlawanan arah. Sampainya di perpustakaan. Vian langsung masuk menjelajah satu per satu rak rak buku yang ada di sana, matanya fokus mencari buku sejarah kelas XI .Ya yang meminta tolong itu adalah guru sejarah yang mengajar di kelas XI. Dulu waktu Vian kelas XI pernah diajarkan oleh guru tersebut. Di sekolahnya guru sejarah ada 6 orang, kebetulan Vian mengenali dan mengingat guru yang meminta bantuannya, karena Vian adalah orang yang susah mengingat dan mengenal seseorang. Vian adalah anak kesayangan dari bu guru itu. Pembelajaran sejarah Vian selalu mendapat A+."Aduh mana ni buku nya." Vian kebingungan mencari buku yang ia cari, 6 rak sudah ia lewati dan tidak mendapatkan buku itu.Vian menyandarkan badannya di rak yang berada di belakangnya. Begitu lelah menyelusuri perpustakaan sekolahnya yang begitu besar.Gedebuk!Buku buku yang ada di belakangnya jatuh berserakan, karena Vian begitu kuat bersandar membuat rak di belakangnya jatuh ke lantai serta dirinya."Aduh punggung gue retak." Teriak Vian terlentang diatas rak jatuh itu.Vian tidak akan berteriak jika perpus itu berisi, walaupun pada saat ia terluka. Ia ingat sekali ngomong pelan saja di kenakan denda, walaupun dendanya tidak seberapa ia tidak akan mau mengeluarkan uangnya dengan sia sia.Tidak ada yang membantu Vian berdiri. Vian berdiri sendiri dan membereskan semuanya dengan sendiri, sebelum penjaga perpus itu datang. Vian mendengar langkah kaki dari arah belakangnya, Vian takut takut mandang kebelakang, jika itu penjaga perpusnya otomatis Vian akan kena omelan dengan penjaga perpus tersebut."Eh..." Vian terkejut ternyata yang datang cewek cantik siswi dari kelasnya."Sorry, loe pasti terganggu ya bacanya." Ucap Vian bersalah, tanpa melihat ke arah cewek itu, Vian tetap lanjut membereskan buku buku itu.Tidak ada respon dari cewek itu, Vian lihat ke belakang, ternyata cewek itu sudah pergi dari sana.Tak pernah berubah dia dari dulu , ucap Vian pelan.Vian Orlando Bramista , adalah cowok yang terkenal dengan wajah manisnya, Vian memang bukan cowok yang berkulit putih, tetapi cewek cewek di sekolahannya tanpa bosan melihat muka Vian yang begitu tampan di manapun Vian berada.Vian juga di kenal orang yang ramah, dan suka menolong jika teman maupun guru nya meminta pertolongannya, dengan sungkan ia membantu mereka.Vian juga di kenal sebagai cowok yang humoris, tetapi ia akan bersikap itu dengan cewek idamannya. Kelakuan konyol apa aja ia keluarkan ketika dengan cewek idamannya itu.Dan Vian juga merupakan orang yang berjuang keras, apapun yang ia inginkan ia akan berjuang sendiri, walaupun itu berat baginya. Termasuk meluluhkan hati cewek idamannya. Tanpa kenal lelah ia tetap berjuang untuk mendapatkan belahan jiwanya.*****"Kopi sudah, laptop sudah, hp sudah, charger sudah, AC hidup, pintu terkunci, dan tempat duduk ternyaman." Ucap Vian sambil menunjuk nunjuk benda yang di sebutinnya."Oke saatnya bermain." Vian menekan tombol on pada laptopnya.Selama loading berlangsung, ia menyempatkan menghirup aroma kopi buatannya.Minuman paling menyegarkan untuk malam hari , ucap Vian senang. Vian fokus tatap pada layar laptopnya sambil Menyeruput kopinya.Srup.....srup.....srup.....Clin...Notif pada laptop nya berbunyi, Vian cepat cepat meletakan kopi itu di mejanya. Tangannya dengan cepat mengklik notif itu."Akhirnya Besta on." Ucap Vian senang, sambil mengetik sesuatu.Bramista : Mabar kuy?Besta : Okey.Vian langsung mengklik kata mulai di dekstop. Memasang handset di telinga nya, meletakan jari jari tangannya pada keyboard.Siap , teriak Vian mengisi ruang kamarnya. Vian bersemangat sekali memainkan game dengan teman online favorit nya selama 3 jam."Dasar keras kepala." Ucap Via tersenyum sinis pada layar komputernya.Ia tau orang yang bertanding dengannya di dunia game, adalah Vian teman sekelasnya.Dari dulu Vian tanpa kenal lelah selalu mengejar Via. Tetapi Via tidak pernah merespon perasaan atau pun perkataan Vian pada dirinya. Hanya lewat dunia game lah, kesempatan Vian untuk bisa berteman dengan Via.Via tau Vian adalah orang tidak suka bermain game online. Karena tujuannya hanya satu, Vian rela belajar mati matian tentang dunia gamers seperti apa, yang dulunya dia nob dan sekarang dia menjadi pro.Kerja kerasnya pada dunia game berhasil, tapi kerja kerasnya pada Via belum berhasil juga.*****"Hai Vian." Sapa Vian kepada Via segaja di buat salah."Eh Vian, salah loe tu manggil nya, masa nama dirinya di panggil." Kata seorang cewek yang duduk di belakang Via. Vian yang mendengar perkataan cewek itu hanya tercengir bahagia.Garing , gumam Via tapi bisa di dengar oleh Vian."Apa sayang aku lucu." Ucap Vian antusias."Alhamdulillah akhirnya sayang ku sudah membuka hatinya." Kata Vian bersorak di tempat duduknya. Via yang melihat tingkah Vian gak berubah dari dulu, muak sudah. Ia pergi meninggalkan kelas, masih ada 15 menit sebelum pelajaran pertama di mulai.*****"Lo kok gak kapok kapok sih memperjuangkan tu cewek." Ucap dirga sambil memakan gorengan."Penasaran gue sama tu cewek." Jawab asal vian. Sebenarnya vian tidak tau alasan dia berkorban, memperjuangan seorang orlinda via besta yang terkenal cuek abis itu.Vian termenung, tak segaja ia melihat via berjalan ke arah kantin, ini perdana seorang via mau ke kantin. Tapi pandangan dia berubah terarah ke orang yang bermain basket di dekat via berjalan.Filling gue berkata lain ni , gumam vian. Ia berdiri dan berjalan dengan cepat kearah via."Via awas!." Teriak Vian memperingati Via harus mengelak cepat dari lemparan bola basket itu."Aww, sakit...." Lambat sudah, bola basket itu berhasil mengenai kepala Via. Via mengadu kesakitan."Via apa yang terluka? Kasi tau gue. Kita ke UKS ya." Vian langsung mengendong Via untuk bawa ke UKS.Via yang terkejut tubuhnya di gendong, ia berontak minta turun. Segala cara ia keluarkan dari pukulan cubitan sampai makian. Tetapi Vian tetap membawanya ke UKS."Loe budek atau apa sih. Kan gue udah bilang turunin." Ucap Via marah yang sudah terduduk di tempat tidur."Kan udah gue turunin Via sayang." Jawab enteng Vian sambil mencari kotak P3K."Ya maksud gue, turunin nya tu dari tadi. Loe gak nampak apa anak anak mandang kita tu aneh kali." Ucap Via kesel. Via membaringkan tubuh nya di tempat tidur dan menghadap ke lain arah dari Vian berdiri.Bugh...Pukulan keras dari Via mengenai dada Vian."Sakit bego.""Ya gue tau itu sakit, tapi loe kan bisa nahan sebentar." Vian mengoleskan obat merah ke luka yang ada di tangan via. Selesai sudah Vian mengobati luka Via, Vian menyuruh Via untuk istirahat. Ia menutup gorden dan meletakan kotak P3K itu di tempat semula. Sedari tadi Vian menahan sakit di dadanya, yang akibat pukulan keras dari Via."Cantik cantik tapi galak."*****Vian tau, Via selama 2 tahun ini merasa risih ia dekati.Apa sampai sini perjuangan Vian untuk mendapati hati Via?Oh tentu tidak, mungkin cara dekati secara langsung Via memang risih, tapi dengan suatu perhatian pasti Via akan luluh kepadanya.Setiap pagi Vian meletakkan kotak bekal makanan di bawah meja Via. Tidak lupa pula surat yang ia selipkan."Ini kotak bekal siapa di dalam meja gue." Teriak Via kesel. Tidak ada yang merespon omongannya. Via melihat ke arah Vian yang asik membaca komik."Punya loe kan?" Via melempar kotak bekal itu ke meja Vian. Vian pura pura terkejut, ia melihat ke arah Via, dan ke kotak bekal itu secara bergantian."Bukan." Ucap Vian dan melanjutkan baca komik. Via yang merasa ada yang berbeda dengan Vian, ia menyipitkan matanya menatap fokus ke arah Vian."Mandang nya jangan gitu kali, jatuh cinta baru tau." Ucap Vian, yang langsung Via duduk di tempatnya dan mengambil kotak bekal itu di meja Vian.Bel istirahat berbunyi, Vian dan teman sekelasnya keluar serentak. Tinggal seorang Via di dalam kelas.Via lapar sekali, ia malas sekali pergi ke kantin, takut musibah itu terulang kembali. Ia teringat kalau di bawah mejanya ada kotak bekal. Ia mengambil kotak bekal itu dari bawah mejanya.Ia membuka kotak bekal itu, sungguh Via terkejut dengan isi nya. Lauk kesukaan Via. Yang sudah lama Via memakan itu, karena ibunda nya sibuk dengan dunia kerja. Via melihat surat yang ada di penutup kotak bekal itu, dia membuka surat itu.Selamat makan tuan putri, jangan lupa di habiskan ya. Mungkin rasanya memang tidak terlalu enak, tapi lihatlah dari proses masaknya.-O"Inisial O? Perasaan di kelas gak ada yang namanya O."Sambil memikirkan nama dari surat itu, Via baca doa dan makan makanan dari seseorang misterius itu.Tanpa Via sadari, sedari tadi ada seseorang yang merhatikan Via dari luar.Sudah seminggu Via mendapatkan kotak bekal di dalam mejanya. Ia kira orang yang ngasih itu ingin mencelakai nya, tetapi ia salah selama ini ia baik baik saja memakan makanan itu. Penasaran Via semakin meraja rela, ia sangat kepo, siapa kah orang yang baik hati memasak makanan kesukaannya untuk dirinya makan.Via segaja datang pagi pagi untuk memastikan orang di balik kotak bekal makanannya."Kayaknya ni tempat cocok untuk gue bersembunyi." Via mengintip di balik jendela. Via terkejut, ternyata yang ia pikir selama ini salah. Bukan Vian yang memberi kotak bekal itu. Via menajamkan penglihatannya. Ia tidak mengenali lelaki itu. Setelah lelaki itu keluar dari kelasnya, Via keluar dari tempat persembunyiannya.Ternyata selain Vian ada seseorang yang suka kepada dirinya. Via terduduk lesu, entah mengapa hatinya mendadak sesak, karena mengetahui seorang misterius itu bukan Vian.Via melihat Vian masuk ke dalam kelas dengan muka lesu juga. Via yang gak mood ia langsung menenggelamkan kepalanya di dalam tangannya.*****Vian lesu saat di parkiran ia tak bersemangat untuk ke sekolah. Ia juga lupa membawa kotak bekal untuk Via."Aduh gimana ya, Via bisa kelaparan nih." Ucap Vian, kakinya yang berjalan terus sampai ke kelas. Vian melihat muka Via yang lesu juga."Tukan pasti dia belum makan." Batin Vian, ia duduk di bangku nya, ia melihat Via yang sudah tertidur dengan kepala di tutup dengan tangannya.Selama pelajaran Vian curi curi pandang ke arah Via. Tetap sama ekspresi Via saat pertama ia masuk kelas.Bel istirahat berbunyi, Vian cepat cepat ke kantin untuk membeli roti untuk Via. Sampai di kelas, ia melihat Via memakan makanan yang ada di kotak bekal."Tumben dia bawa bekal?" Tanya Vian memasuki kelas dengan 2 roti di tangannya.Seperti biasa di jam istirahat Via memakan makanan dari kotak bekal yang selalu di beri lelaki yang belum ia ketahui namanya."Agak berbeda rasanya dari kemaren." ucap Via sambil mengunyah.Walaupun rasanya berbeda, dengan lahap dia menghabiskan makanan yang ada di kotak bekal itu. Sampai sampai ia tidak mengetahui kalau Vian sudah tertidur di bangkunya.Selama pelajaran Via gelisah. Perutnya sakit, ia keringat dingin. Sesekali ia melihat jam di tangannya."Oke bentar lagi, tahan Via tahan." Ucap via menenangkan dirinya.Vian yang melihat Via gelisah, menjadi tidak fokus dengan guru yang sedang menerangkan materi di depan.Bel pulang pun berbunyi. murid di kelasnya dan juga guru sudah keluar. Tinggal Vian yang segaja melambatkan membereskan buku di meja nya, dan via yang sibuk mencoba telpon seseorang."Mau gue antar?" Tawar Vian pada Via. Via hanya melihat sebentar ke arah Vian, dan mencoba telpon supirnya yang gak di angkat angkat sedari tadi. Vian tetap diam, sambil menunggu Via berkata iya atau tidak.Sudah tidak tahan lagi, via menangis sejadi jadi nya. Membuat Vian yang masih berada di sana terkejut."Loe kenapa?" Tanya via sambil menahan Via agak tidak terjatuh di tempat duduknya."Perut gue sakit Vian, hiks...hiks...""Ya udah, kita ke dokter ya. Biar gue antar." Vian membantu via untuk berdiri dan berjalan ke arah parkiran."Pegangan." Perintah Vian kepada Via, yang langsung Via peluk Vian dengan erat.Anjir kenceng banget pelukannya , batin Vian sambil menahan sakit akibat pelukan dari Via.*****"Kok bisa seperti ini nak Vian?" Tanya mama nya Via. Keluar dari kamar Via"Kata dokter Via keracunan makanan tan." Jawab Vian yang sedari tadi berdiri di luar kamar Via."Kok bisa sih?" Mamanya via dan Vian menuruni tangga menuju ke ruang tamu."Setau saya tadi Via makan makanan dari bekal dia tan.""Bekal? Setau tante Via gak pernah ke sekolah bawa bekal." Vian yang mendengar penurutan mamanya Via terkejut.Kalau bukan via yang bawa bekal sendiri, berarti ada seseorang yang ingin mencelakakan Via , gumam Vian yang masih bisa di dengar oleh mamanya Via."Siapa?" Vian terkejut."Eh, Saya juga gak tau tante, tapi nanti saya usahakan cari tau siapa pelakunya.""Saya pamit pulang ya tan, semoga Via cepat sembuh, kirim salam juga untuk papanya Via." Pamit Vian menyalim tangan mamanya Via.3 hari Via tidak masuk sekolah. Vian suntuk sekali, tidak ada yang mau dia lihat sebagai penyemangatnya.*****Ting tong ting tong"Is siapa sih yang datang sore sore ini." Repet Via membuka pintu."Hai cantik." Via terkejut langsung menutup pintu.Tok...tok...tok"Gak ada orang." Teriak Via."Gak ada orang, kok nyaut sih.""Ngapain sih loe datang ke rumah gue." Via membuka pintu rumah nya langsung menyomprot kata pedas ke Vian.Vian tersenyum melihat muka kesel Via, ia mengangkat sesuatu di tangannya."Ma, mama kok izinkan budak tu masuk sih, dia tu modus ma." Ucap Via sambil mengambil mangkok."Dia tu orang jahat ma." Bisik Via kepada mamanya yang langsung di tepuk"Eh kamu ni, orang baik kayak gitu di bilang jahat.""Iya ma, dia tu hanya modus dan jahat, berbuat baik terus ninggalin Via kalau lagi sayang sayangnya.""Gak kok tante." Ucap Vian keras, Via dan mamanya terkejut."Lo ngu..." Ucap Via terpotong oleh Vian yang buru buru ke kamar mandi."Tante numpang kamar mandi dong, udah gak tahan ni." Mamanya Via menunjukkan kamar mandi yang ada di belakang Vian.*****"Nanti pulang sekolah jumpai gue di belakang sekolah." Via terkejut mendengar ucapan Vian yang begitu serius.Selama pelajaran Via melihat Vian begitu berbeda dari biasanya, pakaiannya begitu rapi, Vian potong rambut, muka tampannya jelas terlihat."Astaga gue ngayal apaan sih." Via kembali fokus ke depan.Bel pulang sekolah sudah berbunyi Vian memang benar benar berbeda hari ini, tumben dia gak ganggu Via, jailin Via, dan ngajak Via bicara.Via melihat Vian keluar dari kelas, Via ragu apa dia ikuti kata kata Vian tadi pagi atau dia langsung pulang."Bodo amat..... Bodo amat, palingan dia mau bicara tentang perasaan nya." Via keluar dari kelas, dan berbelok ke kanan mengarah ke gerbang sekolah.Vian melirik jam tangan nya, cukup lama ia menunggu Via. Padahal ada sesuatu hal yang sangat penting ia beri tau ke Via."Vi gue mohon datang." Harapan Vian menanti ke hadiran Via yang berjalan ke arah nya."1...2...3..." Sudah cukup Vian membuang buang waktunya yang gak pernah di hargai oleh Via.Vian pergi ke parkiran sekolahnya, dan pergi dari sana dengan ngebut.Sungguh Vian sangat kecewa untuk saat ini. Tapi ia masih bingung ia kecewa dengan hal apa. Jika marah dengan Via tidak datang ke belakang sekolah, itu sangat tidak pantas karna itu ada juga hak Via untuk datang atau tidak, mungkin dia saja yang terlalu berlebihan dengan keadaan sekarang ini.Apa Vian sampai disini perjuangannya kepada Via?Hanya karena sepele Vian berhenti, di detik ini juga? I dont know.
Potret Usang Tentang Kita
Ali :Dulu, aku selalu memandang wajahnya. Wajahnya yang penuh bahagia dan girang. Dan hingga membuatku ingin sekali bersamanya untuk selamanya.Akan tetapi, seiring waktu berlalu dan pergi meninggalkanku. Takdir mengatakan kami harus berpisah. Aku tak bisa memilikinya.Aku hanya bisa menahan kerinduan terbata ini dengannya. Aku mengurungkan semua niat nekadku agar aku bisa bertemu dengannya. Aku tak ingin Milan curiga.“Ehh.. Milan. How are you, bro?” sapaku setelah aku sadar bahwa Milan sedari tadi sedang mengintaiku.Semuanya seakan hanyalah angin lewat baginya. Dia tidak mengacuhkanku dan hanya terdiam. Memandangku dengan murung.“Ali..”“Ya, mil?”“Sekali lagi, lo lirik-lirik Nila nanti. Gue gak segan-segan bunuh lo nanti.” ancamnya seakan menjadi sebuah batu besar yang menimpaku.“Ingat itu!” Aku meneguk ludahku, ketakutan.Ketahuilah, diantara Milan denganku. Milanlah yang paling kuat daripadaku. Paling tampan mungkin aku. Tapi jika paling jago berantam yaitu dia.Aku mengangguk mengerti. Hanya itulah salah satu cara agar selamat darinya. Hanya itu pula caraku agar bisa mempertahankan hidupku.Nila :Setiap hari, dia selalu memarahiku, mengintaiku saat pergi bersama teman-temanku, dan selalu berlebihan dalam menanggapi pesan dari teman-teman lamaku yang bergender laki-laki. Aku risih! Aku tak suka lelaki posesif seperti Milan ini! Aku lebih menyukai lelaki jenaka daripada lelaki ke-overproctetive-an seperti Milan.Seandainya, aku melihat Ali disini. Saat ini! Kalau bisa kami bisa dinner bareng disini.Ali, kamu apa kabar, ya, disana?Aku mengambil ponselku dan memeriksa sesuatu.Ali :“Halo?” aku mengambil bantal gulingku dan duduk di sofa. “Ini siapa?”Hening.Aku hanya menyandarkan diri dan hanya termangu tak paham. “Halo?”Hening kembali.Aku tak suka berlama-lama tanpa bicara. Langsung ke intinya saja, aku langsung memutuskan panggilan itu dan membiarkan ponselku terdiam di atas sofa.Aku mau ambil cheeky-cheeky kesayanganku di kulkas.Ponsel masih berbunyi. Hmm, siapa sih itu?Aku menghampiri ponselku dan mengangkatnya lagi.“Ali? Ini aku Nila.”Aku terpaku. Semuanya tampak seperti jatuh berbalik di mataku.“Ali, aku kangen sama kamu.”Aku masih terdiam.“Ali? Aku kangen sama kamu. Kamu kangen juga kan?”Aku harus tahan! Tahankan niatmu! Jangan nekad!Tanpa membuang waktu, aku langsung mematikan ponselku dan menjauhkan diri dari ponselku.Nila :Dia tidak mengangkat telepon aku? Kenapa Ali tidak mengangkatnya?Sudah berkali-kali. Dan sudah puluhan kali kulakukan. Dia tetap tidak mengangkat ponselku. Walaupun hanya sekali, tapi dia tampak bisu. Tak berbicara apapun padaku.Aku nyerah sajalah! Untuk malam ini, aku tak usah meneleponnya lagi. Mungkin dia sibuk dengan pekerjaannya.Aku menyandarkan diri pada sofaku. Aku hela napasku.Ali, aku kangen sama kamu.Aku mengambil sepucuk amplop coklat dari dalam laci lemariku.For Nila Septiany Claudyana. Ini seperangkat potret cinta antara kita berdua untuk dirimu. Meskipun nanti akan usang, tapi ini akan tetap menjadi potret cinta kita berdua untuk selamanya.Aku tersenyum.Aku membuka amplop itu dan mengambil potret kami berdua.Kupandang wajah kami berdua saling tersenyum bersama. Riang bersama. Dia memelukku dengan erat dan aku memegang sebuah bouquet bunga mawar yang terikat indah dengan pita merah muda.Aku ingat, potret ini diambil pada hari valentine pertama kami. Sudah lama kami tidak bersama lagi.Sekarang potret ini semakin menguning. Tampak usang dan tak terurus lagi.Sekarang aku sadar. Semuanya hilang begitu saja, ketika Milan membuatku buta akan cinta dan membuatku terperosok atas cintanya. Dan akhirnya aku menyesal sekarang.“Ali, aku kangen bertemu denganmu. Aku ingin meminta maaf padamu.”Ali :“Ali!”Aku masih meminum pop ice kesayanganku dengan santai. Siapa sih yang sudah menggonggong siang-siang bolong gini? Sudah tahu aku haus!Aku berbalik. Dan tanpa kusadari, sebuah gumpalan batu keras kini menghampiri pipiku yang semakin lama semakin menembem.“Auww.” Aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi. Wajahku mungkin semakin lebam untuk kali ini.“Lo sudah berani, ya? Dekatin cewek gue seenaknya!” aku memandang Milan dengan tidak mengerti. Masalah ceweknya lagi?“Apaan, mil? Aku dekatin Nila?”“Iya! Gue punya buktinya. Lo nelpon Nila kan kemarin?”Aku terdiam.Dan semuanya seakan menjadi kecam. Semakin lama mereka semakin menghimpitku. Milan dan teman-temannya yang dulu sahabatku kini menghantamku dengan beribu gumpalan batu keras. Aku tak tahu, entah nasib apa yang kualami pada saat ini? Semuanya seakan membuatku menjadi manusia paling malang dari semua manusia yang berada di dunia ini.Aku tak tahu, entah sudah berapa kali pukulan yang menghantam wajahku. Tapi, aku tak bisa bertahan lagi. Perlahan, tanpa sepengetahuanku, aku merasa lemah dan ingin tidur lama disini.“ALI!”Nila :“Kau gila?” aku menampar wajahnya dengan keras di depan ruang gawat darurat.“Kau tak waras lagi? Kenapa harus Ali yang kau incar duluan? Bukan dia yang menelponku duluan! Malahan aku, Mil! Aku!” Dia berlutut. Tapi aku menendangnya.“Aku minta maaf, Nil.”“Aku gak butuh!”“Tapi, aku mencintai kamu, Nil.”“Cinta? Ini yang namanya cinta? Untuk mempertahankan sebuah hubungan, kau harus pakai kekerasan fisik dengan orang yang dulu pernah menjadi orang yang kusayangi? Kau pecundang! Bukan pahlawan cinta! Aku tak suka sama orang yang kayak dirimu ini!”“Tapi..”“Aku tak peduli!"“Kau tetaplah pecundang di mataku!”“Nila, aku mohon sama kamu.”“Aku tak butuh! KITA PUTUS!”Ali :Aku merasa ada sebuah sentuhan hangat di tangan kananku. Perlahan, aku membuka mataku. Dan…“Ali? Kamu sudah sadar?”Nila sudah berdiri memandangku dan memegang tangan kananku.“Nila?”Dia memandangku dengan sedih.“Ali, untunglah kamu sudah sadar sekarang. Aku bersyukur. Kamu masih bisa diberi kesempatan hidup untuk kali ini.”Aku masih terpaku.“Ali! Aku kangen sama kamu, Li.” Dia memelukku.“Aku kangen sama kamu, Ali!”Aku ingin menangis tapi tak bisa.Dia melepaskan diri dariku dan mengambil sebuah amplop dan…“Aku ingin menjadi kita seperti di potret usang ini, Li.”Aku tersenyum ketika melihat potret usang itu. Potret usang tentang kami. Dia masih mengingatku.“Ayo, kita menjadi kita dahulu lagi.”Aku mengangguk.“Kau ingin?”Dia tersenyum dan mengangguk.“Iya, Li. Aku menyesal karena meninggalkanmu. Aku minta maaf, Li.”Aku berusaha duduk dan menyandarkan diri pada dinding kamar perawatanku. Aku memandangnya dan memeluknya.“Tidak apa-apa. Yang penting sekarang, waktu dan cinta sudah membuatmu tersadar bahwa masih ada hati yang sedang merindukanmu disini. Yaitu diriku, Nil.”Kini kami saling memandang dan tersenyum bersama.Aku mencintaimu, Nila!
He Is A Ghost
HE IS A GHOST"Maksud lo, lo itu indigo?" Tanya Sephia pada Larasati yang dibalas gadis itu dengan dengusan."Gue gak ngomong gitu loh Ya, gue itu cuma bisa lihat mereka kadang-kadang doang. Lagian gue gak bisa liat masa depan ataupun masa lalu" Larasati mengelak. Lalu dia bangun dari posisi duduknya kemudian meninggalkan Sephia dengan dua mangkok bakso yang belum tersentuh.Setelah meninggalkan kantin, Larasati menyusuri koridor menuju kelasnya. Gadis itu baru saja bercerita dengan teman sebangkunya perihal dia melihat sosok perempuan bergaun putih dengan rambut menjuntai melewati pinggang dikamar nya semalam.Namun, respon Sephia membuatnya jengah. Dia bukan anak indigo, dia tidak bisa melihat mereka yang tak kasat mata. Lagipula dia yakin itu hanya imajinasi.Larasati lagi lagi menghela nafas dengan kasar. Dia jenuh, sangat. Kenapa bisa akhir-akhir ini dia sering melihat penampakan. Padahal dia bukan anak yang dibilang spesial.Larasati mendongak kalau mendengar suara sepatu mendekatinya. Suasana kelas saat itu sepi karena masih jam istirahat.Gadis itu menaikkan sebelah alisnya ketika seseorang mendekatinya."Apa?" Tanya Larasati sarkastik. Dia sedang pusing, dan cowok ini brani sekali mendekatinya."Kamu jutek banget ya ternyata," Balas cowok itu sambil menyunggingkan senyum."Saya Aldy, kalau kamu pengen tau" Lanjutnya.Mata Larasati berotasi. Ada apa dengan cowok ini? Kenapa tiba-tiba dia memperkenalkan diri begitu tiba-tiba pikir Larasati."Gak penting""Kamu jutek banget ya?" Senyum Aldy belum juga terlepas dari bibirnya dan itu membuat Larasati muak."Lu gila ya?" Tanya Larasati tak segan segan.Aldy menggeleng lalu dia menarik kursi yang berada didepan Larasati dan duduk dengan posisi berhadapan dengan Larasati."Trus kenapa dari tadi senyum senyum gak jelas? Sori ya, lo emang ganteng. Tapi senyum lo gak mempan buat ngegaet hati gue," Terang Larasati."Ternyata kamu gak jutek aja ya, tapi pede juga. Saya boleh tau nama kamu gak?""Kalo gak?""Gak papa. Saya gak maksa" Kembali senyum merekah dibibir Aldy."Larasati. Lo ada perlu apa kesini? Dan cari siapa?Sebelum Aldy sempat menjawab. Larasati mendengar pintu berderit, iapun menoleh ke asal suara."Ngomong sama siapa tadi Ras?" Tanya Sephia.Ia baru saja kembali dari kantin. Setelah menghabiskan dua mangkok bakso miliknya dan milik Larasati."Sama..." Ucapan Larasati terpotong ketika mendapati kursi didepan nya kosong."Loh, dia kemana?" Tanyanya heran."Dia siapa?""Gak penting," Ketus Larasati sambil mengeluarkan novel dari ranselnya."Gue punya novel baru nih. Lo mau baca?" Tawar Larasati yang dibalas anggukan oleh Sephia.Dengan cepat ia mengambil novel tersebut dari tangan Larasati sembari membuka halaman demi halaman dengan antusias."Gue mau ke perpus. Kalo guru masuk, bilang sama dia gue izin. Kayanya gue gak masuk sampe beli pulang berbunyi" Larasati berkata sambil mengemasi buku yang berserakan diatas meja dan memasukkannya ke dalam ransel berwarna pinknya."Lo yakin? Abis ini guru Fisika loh Ras, gue gak tanggung jawab kalo lo dibuat cabut lagi sama tuh guru killer" Sephia mencoba mengingatkan.Larasati menoleh pada Sephia yang berada disampingnya sebentar. Lalu kembali mengecek isi ranselnya."Bodo amat," Cetusnya cuek.Sambil menggendong ransel yang haya berisikan beberapa buku, Larasati melangkah keluar kelas tanpa memperdulikan temannya yang telah tenggelam didalam fantasi novel.Koridor masih ramai ketika Larasati melewatinya. Ia melirik jam yang melingkar di tangan kirinya. Masih 5 menit lagi bel masuk berbunyi. Dengan langkah cepat ia segera menaiki tangga yang menghubungkan kelasnya dengan perpustakaan.Larasati sampai didepan pintu perpustakaan ketika bel pertanda masuk berbunyi. Setelah melepas sepatunya, ia masuk sambil mengucapkan salam pada pengawas perpus. Sementara pengawas hanya melirik sekilas dan kembali lagi dengan rutinitasnya.Larasati menyusuri rak mulai dari buku pelajaran, majalah hingga novel dan komik. Kali ini pilihannya jatuh pada komik serial kartun dari negeri sakura.Ketika ia berbalik, ia dikejutkan oleh seseorang yang baru ditemuinya beberapa menit yang lalu dikelasnya."Lu bikin kaget aja," Desis Larasati."Lu ngapain disini?"Tanya gadis tiba tiba bernada curiga." Kamu mau baca buku apa?" Tanya Aldy.Ya, orang yang membuat Larasati kaget itu Aldy."Ohh. Doraemon," Ucapnya sambil melihat sekilas pada buku yang ada digenggaman nya.Larasati pun berlalu dan berjalan menuju meja yang berderet dibalik rak rak buku. Meja tersebut merupakan tempat ternyaman bagi Larasati karena jauh dari meja pengawas.Sementara Aldy juga duduk disebelahnya. Cowok itu tampak misterius bagi Larasati karena kehadirannya yang tak dapat ditebak."Kamu kayak lagi bete. Kalau boleh tau, kenapa? Kamu bisa cerita ke saya" Cowok itu menatap Larasati tak henti sementara gadis itu sibuk dengan buku bacaannya."Bacod" Sepenggal kata tersebut mampu membungkam Aldy.Namun senyum tak memudarkan senyum di wajah tampannya.Tak terasa bel pulang berbunyi. Larasati menatap heran sekitar. Bertanya dalam hati kapan cowok itu pergi. Lalu mengangkat bahu pertanda dia tidak peduli. Mungkin saja karna dia terlalu asik dengan bacaannya Aldy pun pergi tanpa pamit.°°°Hari berganti minggu berlalu begitu saja tanpa terasa, rutinitas Larasati tetap tak berubah. Kecuali kehadiran Aldy yang kerap kali membuat matanya berotasi dan menghela nafas panjang.Pada hari ini saja, cowok itu kembali menghampirinya ketika ia sibuk mengerjakan latihan kimia."Ada apa lagi?" Tanya Larasati tanpa basa basi sementara tangan nya masih sibuk mencoret buku buramnya."Pengen ketemu aja," Ucap cowok itu lirih."Tiap hari lo nyamperin gue. Emang lo gak bosen? Gue yakin, dengan tampang lo yang mirip artis barat gini banyak cewek diluar sana yang ngejar ngejar lo""Jadi kamu mengakui kalau saya itu ganteng?" Demi mendengar penuturan beserta pertanyaan yang meluncur dari bibir Aldy, Larasati menghentikan kegiatan menulisnya ia menatap wajah Aldy dengan seksama lalu kembali berkutat dengan soal soal." Sedikit," Ucap gadis itu jujur.Karena tak ada balasan, Larasati kembali mendongakkan kepalanya. Heran. Cowok itu kembali menghilang tanpa pamit padanya.Setelah selesai dengan soal soal yang disukainya itu dan telah mengecek bahwa jawaban nya benar, Larasati meninggalkan mejanya untuk mengisi perutnya yang dari tadi sudah mendendangkan suara alam yang menandakan bahwa ia lapar.Setelah sampai di kantin dan memesan semangkuk bakso, Larasati menghampiri meja dimana Sephia duduk. Teman sebangkunya itu tak sendiri, ia bersama Ovanita."Hay Ov, Ya," Sapa Larasati.Mereka Menghentikan menyendok makanan masing masing lalu menatap gadis itu." Hay," Balas mereka serentak."Udah selesai ngerjain latihannya Ras? Kalau udah, ntr contek ya," Seru Sephia tanpa rasa malu.Larasati hanya mengangguk sebangai jawaban atas permintaan itu.Pesanan Larasati telah datang, asap mengepul menandakan bahwa bakso tersebut masih panas. Setelah memberi saudara dan kecap iapun melahap dengan tenang."Ras.." Panggil Ovanita yang dibalas gadis itu dengan mengangkat sebelah alisnya.Ia tak suka ada orang yang menggangunya ketika sedang makan."Gue denger ada desas desus tentang lo Ras. Yakan Ya?" Ovanita menoleh pada Sephia seolah meminta persetujuan yang dibalas anggukan.Larasati meletakkan sendok dan garpunya. Menatap serius pada dua teman dekatnya itu. Ia tak suka ketika ada yang membicarakannya dibelakang. Jika seseorang ada masalah dengannya, dia siap melayani orang tersebut dengan senang hati."Lo suka bicara sendiri," Kata Ovanita pelan, seolah olah ucapannya takut membuat Larasati meledak."Maksud lo?" Larasati mengerutkan keningnya.Ia sungguh tak mengerti dengan ucapan Ovanita. Siapa yang telah mlakukan fitnah seperti itu Padanya."Bicara sendiri Ras. Banyak yang udah liat pake mata mereka sendiri. Dari mulai dikelas, perpus bahkan koridor sekolah," Tambah Sephia menjelaskan.Larasati sempat bergidik ngeri. Bagaimana bisa dia dikatakan seperti itu. Karena jelas jelas dia berbicara jika hanya ada lawan bicara saja."Gue gak pernah bicara sendiri Ya, Ov. Percaya sama gue," Ucap Larasati putus asa. Kedua temannya saling berpandangan."Kita percaya sama lo kok Ras" Sephia mencoba menenangkan, Ovanita ikut mengangguk sambil tersenyum."Tapi ada satu hal yang pengen gue tanyain sama lo," Lanjut Sephia menatap Larasati tanpa berkedip."Apa?""Lo inget waktu lo ninggalin gue dikantin terus abis itu gue nyamperin lo dikelas" Ucapan Sephia dibalas anggukan oleh Larasati." Lo bilang lo ada orang yang ngomong sama lo sebelum gue dateng, itu siapa?" Sambungnya lagi."Aldy," Jawab Larasati cepat."Kenapa?""Hm. Lo yakin dia manusia? Maksud gue ya gitu deh" Sephia menatap Larasati dengan Ovanita secara bergantian." Ya ini cuma pemikiran gue aja," Tambahnya.Larasati tercekat. Lalu dengan cepat ia berdiri dari posisi duduknya lalu meninggalkan kantin tanpa sepatah katapun. Ia berlari disepanjang koridor dengan mata menatap sekitar. Ia mencari seseorang.Namun, sudah tiga kali ia mengitari sekolah dari mulai halaman, koridor, perpus, ruang olahraga, ruang osis bahkan halaman belajkang sekolah ia tak kunjung menemukan seseorang yang ia cari.Larasati menyerah. Ia berjalan gontai menuju kantin. Ia lelah, bahkan ia tidak sempat minum dikantin sebelum pergi tadi. Dan sekarang ia rela bolos demi mencari Aldy." Kamu nyari saya?" Tepat didepan ruang musik.Suara yang amat dikenal Larasati terdengar dari arah belakang. Ia segera memutar badannya 180 derjat. Dan mendengua tertahan." Lo darimana aja?" Ucapnya kesal sambil balik badan dan kembali melangkah. Aldy dengan cepat mensejajarkan langkahnya dengan Larasati."Kenapa kamu nyari saya? Tumben banget," Ucap cowok itu sambil memainkan gelang nya yang berada ditangan kirinya."Atau kamu sudah tau siapa saya?"Langkah Larasati terhenti. Ia menatap ragu ragu ke arah Aldy yang berada tepat di sampingnya. Ada rasa takut menghampirinya namun dengan cepat ia tepis."Kamu ... Beneran hantu?" tanyanya hati hati.Dengan tenang, Aldy menjawab 'iya' tanpa suara. Ia menatap lekat pada manik abu abu milik Larasati. Larasati meringsut menjauh secara perlahan dari Aldy."Kamu takut sama saya?" Tanya Aldy.Larasati mengangguk pelan. Ia tak berbohong. Ia takut, sangat. Untung saja Aldy tidak Berpenampilan seperti yang kerap ia lihat sehingga ia mampu bertahan bersama Aldy. Jika tidak ia mungkin akan menjerit."Saya gak berbahaya. Saya gak bakal ngelukain kamu. Kamu mau ikut saya sebentar? Saya hanya ingin mengobrol. Jujur, kamu orangnya menyenangkan walaupun kamu terkesan cuek tapi saya memakluminya" Larasati hanya terdiam kala Aldy berbicara.Alih alih mendengarkan, ia hanya sibuk menatap ujung sepatunya dengan pikiran yang entah kemana."Larasati," Panggil Aldy lembut seraya hendak menyentuh pundak Larasati.Namun tangannya hanya menerpa angin, sementara Larasati mendapatkan sensasi dingin hingga bulukuduknya berdiri.Mata nya melotot menatap Aldy tak percaya."Jangan sentuh gue," Ucapnya bergetar."Kamu mau ikut?""Kemana?" Meski tak percaya sepenuhnya Larasati menjawab dengan nada setenang mungkin."Mari," Ujar Aldy.Ia hanya ingin berbicara dengan Larasati tak lebih tak kurang. Ia mengajak gadis itu keluar dari area sekolah melewati pagar samping. Lalu ia melewati jalan setapak yang terlihat sudah berumout dan sedikit bersemak dikarenakan jarang dilewati. Diujung jalan ada sebuah lama yang terlihat sudah tak berpenghuni."Kamu takut?" Tanya Aldy.Larasati mengangguk patah patah." Saya suka kamu. Kamu gadis yang jujur," Ucapnya lagi.Aldy menatap rumah yang berada 3 meter didepan nya dengan pandangan sendu." Itu rumah saya," Ujarnya membuka cerita." Namun orangtua saya pindah sejak setahun yang lalu karena kepergian saya. Kuburan saya ada disamping rumah itu" Aldy menghentikan ceritanya seraya menoleh ke sisi kirinya ketika mendapati Larasati tengah menatapnya tanpa berkedip. Gadis itu tampak terkejut karena ketauan mencuri pandang ke Aldy. Aldy terkekeh sesaat."Saya tau saya ganteng," Ucapnya percaya diri.Larasati hanya bisa merutuki diri sendiri. Lalu berucap pelan seperti berbisik"Iya, gue akui ko kalau lo ganteng"" Saya dengar Larasati," Balas Aldy. Namun ia kembali melanjutkan cerita yang sempat terputus." Mereka sudah lama tidak melihat saya, membersihkan tempat peristirahatan saya. Saya hanya ingin kamu membantu saya Larasati"Larasati menelan salivanya kuat kuat."Apa?" Tanyanya tak sabaran."Tolong temui orangtua saya. Bilang sama mereka bahwa saya sayang banget sama mereka. Bilang kuga sama mereka sering sering jengukin saya," Pintanya." Saya tau kamu gadis yang spesial dan baik hati Larasati," Lanjutnya." Ayo kita ke sekolah. Berlama lama disini membuat saya sedih," Ujar cowok itu jujur dan dibalas anggukan oleh Larasati.°°°Hari hari berlalu, Larasati tak pernah absen mencari keberadaan orangtua Aldy. Dan tak bisa dipungkiri, ia dan Aldy semakin akrab bahkan tak jarang jika pipi Larasati bersemu merah kala Aldy melontarkan candaannya."Al..," Panggil Larasati. Mereka tengah berada ditaman belakang sekolah karena disana satu satunya tempat yang tepat untuk bertemu.Aldy menoleh, ia menatap pemilik mata abu abu itu."Apa hubungan kita bisa lebih dari sekedar orang yang minta bantuan dan orang yang ngasih bantuan?" Tanya Larasati.Mereka saling tatap dalam waktu yang lama, Aldy terdiam sesaat mendengar pertanyaan Larasati."Jangan berharap lebih Ras," Ujar Aldy membuat Larasati memalingkan wajahnya ke arah lain.Tak bisa dipungkiri ada sesak didalam jiwa masing masing. Tak hanya Larasati yang merasakan nya. Aldy juga merasakan hal yang sama." Kenapa?" Tanya Larasati sedikit parau.Ia kembali menatap Aldy, namun Aldy mengarah kan pandangan ke arah lain."Ras, kita beda alam. Kamu jangan lupakan itu. Jika kamu ingin diperjelas, saya sudah mati Ras. Kamu gak bisa abaiin fakta itu. Mending kamu fokus aja sama tugas kamu," Ujar Aldy."Tapi gue gak bisa boong sama perasaan gue sendiri Al" Larasati tetap bersikeras. Bagaimanapun ia berharap bisa bersama Aldy.Aldy tak punya pilihan. Tiba tiba dari tangannya keluar darah segar, begitupun kepalanya. Larasati yang melihat itu menjerit ketakutan dan pergi meninggalkan Aldy dengan air mata menetes perlahan." Maafkan saya Ras. Andai kamu tau, saya juga mencintai kamu. Tapi saya tau bahwa itu tidak mungkin," Ucap Aldy lirih.°°°°Keringat tak henti gentinya membanjiri Larasati sehingga seragamnya sedikit basah. Nafasnya masih menderu, ia segera menuju kelasnya dan mendapatkan Sephia sedang menyalin latihannya."Lo kenapa Ras?" Tanya Sephia ketika melihat tampilan sahabatnya yang jauh dari kata rapi."Kaya habis ngeliat setan aja" Sambung gadis itu sambil mengangkat bahu."Lo tau sama keluarga Yulianchan gak Ya?" Alib alih menjawab pertanyaan Sephia.Larasati malah melontarkan pertanyaan ke Sephia."Keluarga Yulianchan? Ya tau lah Ras, siapa yang gak kenal sama keluarga tajir itu sih. Emang kenapa?" Tanya Sephia menyelidik."Lo tau rumah mereka gak? Yang mereka tempati sekarang?" Tanya Larasati dengan nafas memburu.Ia tak sabar ingin bertemu dengan orangtua Aldy."Ayah gue kayanya tau soalnya dua salah satu kolega dari perusahaan Yulianchan," Jawab Sephia santai.Larasati mengangguk mantap."Lo hubungin ayah lo sekarang, tanyain. Pulang sekolah kita pergi ke alamat yang dikasih ayah lo" Meski sempat heran dengan Larasati, Sephia tetap mengangguk.°°°°Setelah mengecek alamat yang dikirim ayah Sephia dengan alamat yang tertera, mereka mengetuk pintu sembari mengucapkan salam. Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya pintu besar denan ukiran rumit itu terbuka."Cari siapa?" Tanyanya. Sepertinya ia asisten rumah tangga dirumah tersebut. Dan berusia lebih dari 40 an dilihat dari wajahnya."Tante Charolina ada?" Tanya Laras sopan." Ada. Kalian siapa ya? Ada perlu Apa ingin menemui nyonya?" Tanya ART tersebut. Sepertinya ia enggan menerima tamu untuk nyonyanya."Penting. Bisa kami bertemu?" Tanya Larasati lagi. ART tersebut mengangguk sembari kembali masuk kedalam rumah besar itu. Beberapa saat kemudian ia kembali dan mempersilahkan Larasati dan Sephia masuk."Kalian siapa ya?" Itu pertanyaan pertama dari wanita cantik yang duduk dengan anggun disofa ruang tamu itu." Saya Larasati tante. Ini teman saya Sephia. Kami temannya Aldy" Sedikit tersentak mendengar penuturan Larasati namun Charolina kembali tenang meski ada sorot sedih dimatanya."Ada perlu apa menemui saya?" Tanya Charoline to the point."Aldy berpesan ke saya..." Belum sempat Larasati menyelesaikan ucapan nya namun Charollina telah memotong dengan kalut."Gak mungkin. Gak. Gak mungkin. Aldy udah meninggal. Dia gak mungkin temuin kalian," Ujarnya sambil berteriak."Tenang tante tenang. Teman saya ini memiliki kemampuan istimewa meski ia tak mengakuinya. Ia Indigo tante" Sephia mencoba menjelaskan, Larasati menyikut dengan sikunya yang dibalas cengiran oleh Larasati.Charolina tampak sedikit tenang dengan penuturan itu. Keadaan nya lebih stabil."Apa pesannya?" Tanya wanita paru baya itu."Dia sayang sama tante sama om. Katanya, tolong seringjengukin dia. Bersihin pemakaman nya. Dia sedih melihat tante gak pernah ketempat istirahat terakhir nya," Jelas Larasati.Seketika butiran kristal menggenangi mata Charolina dan perlahan jatuh setetes demi setetes. Ia menyadari kesalahannya itu."Baik, mulai saat ini tante akan sering kesana. Terimakasih telah menyampaikan pesan dari Aldy. Tante juga menyayangi nya dan tante menyesal karena jarang ke pemakaman nya. Jujur, tante sangar sedih jika mengingat Aldy. Maka dari itu, tante jarang mendatanginya. Tante gak nyangka kalau itu bikin Aldy sedih," Tutur Charolina sambil terisak."Sama sama Tante. Yaudah ikhlasin Aldy tante. Biarin dia tenang." Charolina mengangguk menyetujui ucapan Larasati.Setelah berbasa basi dan makan malam bersama akhirnya Larasati dan Sephia pamit pulang dengan alasan sudah malam. Meski sempat ditawarkan menginap mereka menolak ajakan itu dengan lembut.°°°Larasati datang terlambat hari ini. Ia berlari menyusuri koridor dengan cepat. Namun, langkahnya terhenti ketika melihat Aldy dengan bersandar di dinding koridor."Jangan temui gue lagi," Ucap Larasati dingin. Ia berbalik dan hendak pergi ketika ucapan Aldy menahannya untuk tetap bertahan disana."Saya tau kamu udah benci sama saya sekarang. Tapi saya pengen bilang makasih sama kamu. Mama udah bersihin pemakaman saya. Saya senang akan hal itu. Dan itu semua karna kamu. Saya pengen sehari ini saya ngabisin waktu bareng kamu Ras. Semua terserah kamu. Kalau kamu gak mau juga gak papa saya gak maksa"Hari itu Larasati tidak masuk kelas. Ia bolos dan menerima ajakan Aldy. Mereka menghabiskan waktu seharian hingga sore menjelang. Banyak hal yang mereka lakukan. Dari bercerita, main dan banyak hal lainnya."Udah sore. Kamu harus pulang. Saya yakin kamu gak mau lihat saya berubah lagi" Larasati mengangguk patuh. Meski setengah hatinya tidak menyetujui hal itu." Saya akan pergi jauh. Jiwa saya sekarang lebih tenang. Makasih buat sepenggal kisah ini" Aldy masih tetap berbicara ketika mereka melintasi lorong koridor sekolah. Sementara Larasati hanya diam mendengar penuturan Aldy."Jujur, saya gak bisa bohongi perasaan saya. Saya nyaman sama kamu" Langkah Larasati terhenti demi mendengar sepenggal kalimat tersebut ia menatap Aldy dengan sedikit tersenyum."Gue pulang dulu ya. Udah sore," Ujar Larasati kemudian.Gadis itu berjalan menunduk meninggalkan Aldy, dan Aldy tau Larasati tengah menangis.°°°°Waktu begitu cepat. Seminggu tak terasa telah dilalui Larasati tanpa bertemu Aldy, ada sepercik rindu tertanam didalam diri Larasati meski mati matian ia menguburnya. Ia menyadari hal yang tak mungkin terjadi, ini Salahnya. Mencintai makluk tak kasat mata. Bermain dengan kenyamanan yang diberikan Aldy padanya.Walau tak bisa ia pungkiri. Setiap malam ia menangis kalau memikirkan Aldy.Tepat ke hari sepuluh. Ia mendatangi pemakaman Aldy sendirian. Ia memberanikan diri mendekati rumah tak berpenghuni dan berjalan menuju pemakaman Aldy.Larasati meletakkan sebuket bunga. Pemakaman itu bersih, tidak ada rumput atau tanaman liar disana. Setelah membaca doa, Larasati menatap nisan Aldy dengan perasaan rindu bergejolak."Hay," Sapa Larasati seolah ia tengah berbicara dengan orang sungguhan."Aku kangen," Ujarnya. Untuk kali pertama Larasati memakai kata aku ketika berbicara."Kamu tau? Seminggu ini aku ngerasa sepi tanpa kamu. Aku kangen ngobrol sama kamu. Becanda. Apalagi lihat senyum kamu. Itu bagian terfavorit buat aku. Andai kamu tau Al. Meski aku kenal kamu sebatas imajinasiku aku sangat mencintai kamu Al. Semoga kamu tenang ya disana. Dan aku selalu berharap kita akan bertemu lagi. Dan disatuin ditempat yang abadi nanti. Lucu sebenarnya. Tapi itu yang aku inginkan Al." Setelah mengatakan itu. Larasati berdiri. Untuk terakhir kalinya ia menatap nisan Aldy. Lalu beranjak pergi."Larasati," Panggil seseorang dengan suara familiar. Larasati terhenti. Ia menoleh dan mendapatkan Aldy berada tak jauh darinya."Saya juga merindukanmu Ras. Dan saya juga sangat mencintai kamu Ras. Semoga tuhan mempersatukan kita," Sambungnya. Senyum merekah dibibir Aldy usai mengatakan itu. Begitupun Larasati ikut tersenyum menatap lembut kepada pemilik hatinya itu. Rindu pun meluruh seiring memudarnya bayangan Aldy."Selamat jalan sayangku," Bisik Larasati.
Pekan Raya Fisika
“Rita…” suara heboh Ellin memanggil Rita dari pintu kelas.“Apaan sih lin pagi-pagi udah ribut aja lo,” jengkel Rita pada Ellin.“Ada berita penting nih buat lo”“Berita apaan, gosip mulu kerjaan lo” Rita selonjoran di kursinya memandang ellin jengah.“nama lo ada di mading, lo lulus di tahap pertama seleksi olimpiade fisika ta” dengan antusias Ellin memberikan informasi yang diliatnya di mading.“yang bener lo, demi apa kok bisa sih” Rita terkejut dengan yang di katakan sahabatnya ini dan langsung pergi untuk melihat sendiri nama nya di madding.“eehh.. mau ke mana lo ta, gue bener kok ga percayaan amat sih nih anak, heh tunggu gue napa” Ellin menyusul langkah Rita menuju mading.Sampainya di mading dengan teliti Rita melihat pengumuman yang di temple.“nama gue lin, ini nama gue” Rita sungguh tidak menyangka jika namanya muncul dan lulus tahap pertama di seleksi olimpiade fisika ini, dan Rita langsung memeluk sahabatnya Ellin. Dan terjadilah kehebohan lokal diantara mereka berdua.****“Eehh bro gue dapet info terbaru nih tadi, lo tau ga?” tanya Alan dengan antusias kepada Jojo.“Buset… mana gue tau sih lan kan lo belum ngasih tau,” jawab Jojo kesal.“Dasar bego,” tukas Rahmad.“Hahaa… jadi infonya nama lo jo, si jojo arsento lulus di tahap pertama seleksi olimpiade fisika” beritahu Alan dengan cengengesan.Jojo hanya menampilkan wajah datar.“Ouhh yang itu ketinggalan berita lo lan, Jojo mah udah tau kali orang yang nempelin kertas seleksinya dia kok di suruh pak didit tadi,” jelas Rahmad pada Alan.“kok gue ga di kasih tau sih, apa yang kalian lakuin itu jahat!” Alan menunjuk Jojo dan Rahmad bergantian.“udah deh ga usah drama” timpal Jojo tidak berminat bermain drama dengan Alan.“Yokk masuk kelas, bentar lagi bu sima masuk nih.” Rahmad melihat jam di tangannya.Dan akhirnya mereka pun masuk kekelas dan dengan khidmat mengikuti pelajaran sejarah.*****Hari ini peserta yang lolos di seleksi di kumpulkan kelapangan basket. Ada sepuluh orang siswa-siswi yang lulus di tahap pertama. Mereka di beri pengarahan untuk mengikuti seleksi tahap kedua. Dan yang lulus di tahap pertama seleksi olimpiade fisika akan mulai lagi seleksi yang kedua pada hari selasa pas pulang sekolah.Dan hari selasa pun tiba, semua siswa-siswi berkumpul di lab fisika sekolah. Termasuk Rita yang duduk di pojok ruangan. Yang awalnya ribut seketika hening karena bu wati memasuki lab fisika.“Assalamualaikum anak-anak dan selamat sore”“Walaikumsalam bu, selamat sore,” jawab mereka serempak.“baiklah terima kasih sudah mau meluangkan waktunya hari ini untuk mengikuti seleksi tahap kedua dari olimpiade fisika ini, Apakah sudah datang semua?” tanya Bu Wati.Salah satu siswa mengangkat tangan bernama Wina.“Belum bu, Jojo masih belum datang,” jawab Wina.“Permisi bu, maaf saya terlambat.” terdengar suara dari arah pintu.“Silahkan masuk jo.” bu wati menyuruh jojo untuk masuk.“Baiklah, karena sudah kumpul semua kalian akan di seleksi untuk tahap kedua hari ini. Pengumuman tahap kedua akan di umumkan hari senin depan. Kalian akan mengisi lembar pertanyaan ini. Kalian akan mengisi 50 soal. Saya akan mengawasi kalian. Saya akan beri waktu 60 menit. Saya memilih 3 orang di sini untuk mengikuti olimpiade antar nasional di Jakarta nanti. Andi tolong bagikan ini kepada teman-teman mu” Andi berdiri dari kursinya dan memberikan lembar pertanyaan kepada teman-temannya.Yang mengikuti olimpiade tidak hanya dari jurusan Ipa, ada juga jurusan Ips yang lulus di tahap seleksi yang pertama misalnya Jojo dan Wina.Mereka berdua diikutkan karena pada kelas X, mereka mendapat nilai terbaik dan di kelas XI mereka memilih jurusan Ips. Jadi masih bisa di ikutkan untuk seleksi olimpiade tahap pertama.“ waktu tersisa tinggal 15 menit” peringatan dari Bu Wati.“bu saya sudah selesai” Rita mengangkat tangan.“silahkan kumpulkan Rita, dan kamu boleh pulang” Rita berdiri dari tempat duduknya kemudian berjalan menuju kedepan untuk menyerah kan lembar jawabannya.Setelah Rita menyusul-lah Jojo, dan teman-teman yang lain. Begitu selesai semua Bu Wati langsung keluar ruangan dan mengunci ruangan lab fisika.****Rita yang datang awal kesekolah langsung menuju ke tempat mading berada. Dan menunggu di depan mading dari setengah jam yang lalu,dia duduk di kursi didepan mading.“kapan sih di tempel nama-nama nya nih ga sabar gue,” guman Rita.Datanglah Jojo dari ruangan guru menuju kearah mading, dan menempel satu kertas.Rita melihat gerak-gerik Jojo.“ jangan-jangan orang ini yang bakal nempel nama-namanya nih” dan tebakan Rita benar.Selesai Jojo menempel satu kertas dan menuju kekelasnya di lantai 2.Dengan sigap Rita dan siswa yang lewat seketika melihat mading dan di situlah Rita berteriak dengan hebohnya menandakan dia lolos di tahap kedua untuk seleksi olimpiade fisika.Rita menuju kelas dengan berlari, sesampainya di kelas XI IPA 2 dia langsung menghampiri ellin yang sedang menulis.“Ellin… gue lulus lin, gue lulus” Rita memberitahukan kelulusannya dengan suka cita kepada Ellin.“iya” Ellin melihat Rita sebentar dan kembali menulis.“Lin… kok reaksi lo kayak gitu sih ga seneng yaa kalo gue lolos?” protes Rita.“nanti dulu ta, gue lagi nyalin tugas pak handoko nih gue belum selesai nanti gue di hukum lagi kalo ga selesain nih tugas,” ucap Ellin menjelaskan masalah nya mengapa dia tidak antusias mendengar informasi Rita.“Emang ada tugas ya.. perasaan ga ada deh” tanya Rita mengingat tugas yang kemarin.“Sebaiknya lo kerjain deh bareng gue, nanti lo di hukum lagi kalo ga ngerjain, gue tau lo pasti belum ngerjain kalo lo masih nanya kaya gini” Rita cengengesan.“Tau aja lo lin gue lupa kok kalo ada tugas,yaudah mana tugasnya?”“Ga usah ngeles deh lo, nih” Ellin mengeser bukunya agar dapat dilihat oleh Rita.*****Hari ini ada tiga orang yang terpilih sebagai perwakilan dari sekolah SMA NEGERI 1 NUSA JAYA. Mereka di kumpulkan ke ruangan bapak kepala sekolah.“Selamat untuk kalian, kalian akan berlomba pada bulan februari jadi kita akan melakukan pelatihan dari sekarang agar persiapan kita matang”“Baik pak, kami akan melakukan pelatihan dengan baik dan akan berusaha menjadi yang terbaik” Rita hanya diam mendengarkan dua orang yang saat ini berbicara.“padahal gue juga ada disini tapi ga di omongin,” batin Rita jengkel.“Dan mana satu orangnya, mengapa kalian hanya berdua?” tanya Bapak kepala sekolah.“Ohh itu, dia ijin hari ini pak karena ibunya masuk rumah sakit,” jawab Jojo dengan sopan.“Nanti beritahu dia bahwa kalian akan pelatihan untuk persiapan olimpiade fisika ini”“Baik pak akan saya sampaikan nanti”Akhirnya mereka keluar dari ruang kepala sekolah.Mereka berjalan menuju ruang lab fisika tanpa ada percakapan. Rita sungkan untuk menyapa Jojo dan Jojo juga sebaliknya. Padahal mereka satu sekolah tetapi mereka berdua jarang berinteraksi dengan orang lain selain sahabat-sahabat mereka. Rita asik dengan pikirannya sendiri dam membayangkan bagaimana dia nanti akan berlomba. Ini adalah perlombaan pertama bagi Rita, tidak dengan Jojo yang waktu smp sudah pernah mengikuti olimpiade fisika. Begitu sampainya diruangan lab fisika mereka duduk bersebelahan dengan canggung.“Hhhmm gue asmarita” Rita memberanikan diri untuk berbicara kepada rekannya yang sedang sibuk melihat kertas.Jojo diam sesaat dan melihat Rita.“huhh nama lo Asma?” tanya Jojo bingung dia hanya mendengar nama awal Rita.“Yaa nama gue Asmarita, lo bisa panggil gue Rita,” jelas Rita.“Kalo gue mau panggil bengek gimana”“Eeeh enak aja gue ga ada penyakit bengek atau asam yaa”“Tapi nama lo Asma”“Kenapa emang nya kalo nama gue ada Asmanya, yang penting gue ga ada penyakit asma” Rita jengkel kepada Jojo.“Terserah gue dong mau manggil lo apa, kan yang punya mulut gue,” jawab Jojo santai sambil masih melihat soal latihan yang dia pegang.“Tapi kan…” ucapan Rita terpotong karena ada Bu Wati yang masuk ke lab fisika.“Kenapa rita?” Tanya Bu Wati kepada Rita.“Eehh ibu udah datang, ga kenapa-kenapa kok bu” Rita menjawab dengan cengengesan.“Baiklah kita mulai sekarang yaa di mulai dengan kalian menjawab soal-soal yang ibu bawa ini,” perintah Bu Wati kepada Rita dan Jojo.“Bu, Anis Wulandari hari ini ijin karena Ibunya masuk rumah sakit,” beritahu Jojo kepada Bu Wati.“Iya jo, tadi juga anis ada nelpon ibu kalo dia ga bisa ikut latihan sama kita”Akhirnya Rita dan Jojo mengisi soal yang di berikan Bu Wati.****“Ta, semalam gue di chat sam anak Ips, nama nya” Ellin berhenti bicara saat menoleh Rita yang di sebelahnya yang sedang tertidur pulas.“Ta bangun ta ada bu wati”“Huhh mana mana” Rita langsung bangun dan menanyakan keberadaan Bu Wati.“hahahahahahha” Ellin tertawa sambil memegangi perutnya.Rita sadar bahwa dia sedang di bohongi.“kurang asem lo lin, gue lagi tidur juga”“Lo sihh gue lagi cerita lo malah tidur dan ga dengerin,” bela Ellin.“Gue ngantuk lin, semalem gue begadang gara-gara si jojo tuh,” jelas Rita kesal.“Wait wait… siapa Jojo?” tanya Ellin bingung dan melihat Rita dengan curiga.“Itu temen satu olimpiade gue lin, masa lo ga tau sih”“Oh… Jojo Arsento”“Nah tuh lo tau”“Ya tau lah gue, siapa sih yang ga tau sama Jojo Arsento”“Tumben lo lin ga kekantin” Rita mencoba mengalihkan pembicaraan.“Lagi ga mood jalan gue” alasan Ellin untuk bertanya lebih lanjut tentang Jojo dari Rita sahabatnya.Rita adalah tipe orang yang jarang bicara dengan orang lain dan termasuk dengan teman-temannya di kelas. Dan dikelas dia hanya punya satu teman yaitu Ellin. Berbeda dengan Rita, Ellin adalah anak yang aktif dalam berorganisasi dan pintar dalam bergaul. Biarpun banyak temannya tapi Ellin tetap memilih untuk bersama Rita di waktu istirahat.****Sudah 2 minggu Jojo, Rita dan juga Anis melakukan perlatihan untuk perisapan olimpiade fisika. Mereka biasanya mengerjakan soal latihan yang di berikan Bu Wati. Dan Rita juga Jojo semangkin dekat. Setiap malam Jojo akan mengirimkan chat dengan Rita.Ting ting tingRita mendengar pesan masuk di handphonenya.Jojon kuker : uhuk uhukRita : batuk pak hajiJojo : nyanyi nengRita: ohJojo: oh doangRita : mau apa lagi emang nyaJojo: gimana asma lo dah baikan?Rita : apaan sih jo, gue ga asma kaliJojo : tapi nama lo ada asmanya, dasar bengekRita: lo tuh jojonJojo: enak aje lo nama gue bagus yaa, kaya pemain badminton tuh yang ada di tv lo tau kagakRita: ga tau tuh gue, dan gue ga ngurusin orang yang namanya lo sebut itu yee.Hari sudah semangkin malam, mereka berdua masih saling bertukar pesan.****Besok adalah pertandiangan olimpiadenya di mulai. Rita, Jojo dan juga Anis berangkat kejakarta hari ini, yang ditemani Bu Wati dan Bapak Handoko. Mereka berangkat memakai mobil yang sudah disediakan oleh sekolah. Setibanya sampai dihotel Rita, Anis dan Bu wina berada di satu kamar sedangkan Jojo dan juga Pak Handoko juga satu kamar. Rita sedang duduk di kursi kamar hotel dan tiba-tiba mendapat pesan.Rita berdiri dari duduknya dan memanggil Anis.“nis gue kebawah bentar ya, bilangin ke Bu Wati gue beli mie kedepan”“iya nanti gue bilangin” Anis bingung sendiri bukannya hotel banyak makanan ngapain masih mau beli mie lagi pikir Anis.Rita turun dan berjalan menuju pintu keluar hotel. Dan didepan pintu hotel sudah berdiri seseorang yang dikenal oleh Rita yaitu Jojo.“Ngapain nyuruh gue kesini”“eehh dari mana lo datang nya, kok gue ga liat?”“Yaa ga liat lah muka lo kemana gue kemana”“yok jalan keburu sore nanti” Jojo menarik tangan Rita.“Eeh mau kemana nih, nanti bu wati marah sama gue”“Gue udah ngasih tau bu wati kalo lo pergi sama gue”“kapan lo ngasih tau bu wati”“Tadi sebelum gue chat lo, gue chat bu wati dulu”“oh gitu, jadi kita mau kemana nih dan mau ngapain?” tanya Rita sambil melihat tangan nya yang di genggam oleh Jojo.“kita ke rumah nenek gue bentar” Jojo masih fokus mencari mobil yang dikirim neneknya ke hotel tempat mereka menginap.“jo,” panggil Rita.“apaan sih,” gumam Jojo yang menemukan mobil neneknya.“Tangan gue”“Hah tangan lo” Jojo langsung melihat tangannya sendiri dan cepat-cepat melepaskan tangan Rita.“Maaf ta gue sengaja, biar tangan lo anget hehehe tuh mobil nenek gue” Jojo mengajak Rita menuju mobil. Dan akhirnya mereka naik kedalam mobil. Di dalam mobil suasananya menjadi canggung.“Den Jojo udah lama ya ga main ke rumah nyonya?”“Iya pak, emang udah lama saya ga ke rumah nenek” Jojo menjawab pertanyaan pak sopir.Jojo melihat Rita yang berada di samping nya. Diperjalan mereka hanya diam dan tidak bicara apa-apa. Akhirnya mobil berhenti didepan gerbang rumah neneknya Jojo. Mereka berdua turun, Jojo memimpin jalan. Sedangkan Rita berjalan di belakang Jojo.“assalamualaikum...” Jojo mengucapkan salam di depan pintu rumah yang tertutup.“waalaikumsalam” terdengar suara sautan dari dalam rumah. Pintu terbuka dan muncullah seseorang.“Jojo ya ampun sudah besar ternyata kamu udah lama kita ga ketemu kamu mangkin tinngi saja, ayo masuk” Jojo langsung di peluk oleh neneknya dan menyuruh Jojo untuk masuk ke dalam.“Nek, Jojo ga datang sendiri Jojo datang sama temen Jojo” Jojo menoleh kebelakang dan melihat Rita yang juga melihatnya. Nenek melihat kebelakang dan melihat Rita yang sedang tersenyum canggung. Dan juga menyuruh Rita untuk masuk bersama mereka.****Selama 2 jam mereka berbincang-bincang dan sekitar jam 5 sore mereka berdua sampai kehotel. Rita langsung keluar mobil dan menuju ke kamarnya tanpa menunggu Jojo.“Perempuan emang selalu benar, dan cowo selalu salah” pikir Jojo karena sempat berdebat dengan Rita tentang hubungan mereka.Tibalah dimana mereka akan melakukan pertandingan.“Ta, perut gue sakit banget” Anis memegang perutnya.Rita memberikan minum kepada Anis“minum dulu nis”“Anis lo kenapa kok muka lo pucet banget, bentar lagi kita tanding nih” Jojo melihat Anis dengan sedikit khawatir karena mereka akan bertanding sebentar lagi.“Jojo, Anis, Rita kalian sudah siap nak, sebentar lagi pertandingannya dimulai” Bu Wati bertanya dengan anak didiknya.“Tapi bu-” ucapan Rita terpotong oleh Anis.“Gue gapapa kok ta”Mereka bertanding dengan sangat sengit banyak sekolah yang mengirim perwakilannya yang pintar-pintar. sempat mereka ketinggalan poin. Tetapi mereka masih tetap berusaha untuk menjawab pertanyaan yang di ajukan oleh juri. Dan ini adalah saat-saat pengumuman kemenangan.Akhirnya jerih payah mereka berlatih selama hampir sebulan membuahkan hasil. Mereka menang dan berada di urutan pertama juara nasioanal sejakarta.****“Ritaaaaa” Ellin berteriak dengan heboh setiba sampai dikelas.“Apaan sih lo lin, sakit nih kuping gue” Ellin mengedipkan sebelah matanya.“gimana hubungan lo sama jojo, ada perkembangan ga?”Rita senyum malu-malu.“ hhmm kami udah pacaran”“Udah gue duga, selamat ya yang udah ga jomlo lagi” Ellin duduk di samping Rita.Dengan berakhirnya olimpiade fisika akhirnya Jojo dan Rita pacaran. Sebenarnya mereka sudah pacaran saat pulang dari rumah neneknya Jojo. Jojo mengajak Rita ke luar hotel, awalnya Rita menolak karena masih marah dengan Jojo pas di dalam mobil. Tapi malam itu Jojo meyakinkan Rita, bahwa dia sangat menyayangi Rita. Karena Rita juga ada perasaan lebih kepada Jojo, akhirnya Rita memutuskan untuk menerima perasaan Jojo. Walau pun pada awalnya mereka menyembunyikan hubungan mereka, sebenarnya hanya Rita yang tidak mau teman-temannya di sekolah mengetahui hubungan nya bersama Jojo. Tetapi karena mulut ember sahabatnya sendiri si Ellin, akhirnya hubungan mereka berdua terbongkar hanya dengan hitungan menit. Jojo tidak masalah jika hubungan nya dengan Rita di ketahui semua orang di sekolah, karena percuma di sembunyikan ujung-ujungnya juga pasti juga nanti ketuan. Dan akhirnya sekarang sudah terbongkar juga karena Rita sendiri yang menceritakan hubugan mereka berdua terbongkar dan menjadi gosip terhangat disekolah.
Serena
" Kerap terjadi, ketika kita menyukai seseorang ia malah berpaling muka seolah tidak perduli tetapi ketika kita sudah menjauh ia malah balik mengejar, memang benar cinta butuh kesepakatan namun apa lantas bisa aku jatuh cinta kepadanya yang sedingin kutub Utara? "S erena🍅🍅🍅"Sebenernya lo itu cantik, deh Ser. Mata lo hazel, bibir lo mungil, senyum lo manis." Aci duduk khidmat di samping temannya itu sambil menatap lekat wajah Serena."Baru sadar lo?" Jawab Serena tidak menanggapi lebih lanjut perkataan Aci, karena ia tengah sibuk menata bungkusan camilan yang ia beli tadi."Ya seharusnya lo bisa nyari cowok yang menganggap lo ada, yang bangga punya elo."Serena melirik Aci sinis tanpa menolehkan kepalanya, "Kenapa lo ngurusin urusan gue? Kenapa lo nggak nyelesaiin masalah lo sama kak Ramond yang playboy itu?""Kalo gue jadi elo ya, Ci. Si Ramond udah gue tendang jauh-jauh dari hidup gue.""Bisa-bisanya dia jalan sama cewek lain, terus masih sempat-sempatnya selfie bareng!" Serena bergidik membayangkannya."Urusan gue sama kak Ramond udah kelar kok, malah gue sempet ketemu sama ceweknya." Nada suara Aci yang terlihat santai membuat serena gemas."Gila lo?! Berarti lo putus dong sekarang?" Sontak Serena memutar badannya 360° menghadap Aci.Aci menggelengkan kepalanya, "Bukan putus tapi baikan."Serena langsung menoyor kepala sahabatnya, "Bego! Gue kasih tau ya sama lo, cowok kalo udah berani selingkuh selamanya dia enggak akan berubah!""Lebih begoan mana sama lo yang hobinya ngejar Dendra padahal dia ga respect sama lo." Aci mengulum senyumnya melihat serena memutar bola matanya malas." For you information, ya Serena. Yang kemarin jalan sama kak Ramond itu saudara kembarnya yang baru balik dari jogja bukan selingkuhannya, mana ada spek bidadari semacam gue di selingkuhin.""Serah!"🍅🍅🍅"Pagi sayang!!!" Sapa Serena renyah kepada pemuda yang berdiri tidak jauh di depannya."Sayang, tadi aku bangunin kamu kesiangan enggak?" Pemuda yang di panggil sayang itu hanya melirik Serena yang sekarang sudah ada di sebelahnya tanpa berniat menjawabnya."Yaudah deh, besok aku bangunin kamu lebih pagi lagi. Belajar yang pinter ya, sampai ketemu istirahat nanti!" Senyum di bibir Serena tidak pernah surut jika sudah bertemu dengan kekasih hatinya."Iya." Dendra langsung memasuki ruang kelasnya tanpa menghiraukan gadis yang berdiri di depan kelasnya sambil melambai-lambaikan tangannya."Woe, udah lonceng!" Tepukan tangan di pundaknya membuat Serena mengumpat kesal."Apasih! Rival!""Biasalah, Rival kan emang gajelas," sahut Wildan yang berkata lebih kalem kepada Serena."Makanya otak sering-sering di cuci biar kelakuan lo ga kaya ...." Ucapan Serena menggantung di udara ketika pandangan matanya bertemu dengan Dendra."Ssst ... Udah, bubar, masuk kelas masing-masing," kali ini Joy yang bersuara.Sejurus kemudian rival langsung menarik lengan Serena menjauh dari kelas XII ipa 1."Ngapain, sih, Val!" Serena menepiskan tangannya kesal."Mau nganterin lo ke kelas lo, lah.""Heh, ubi jalar, lo gausah sok pahlawan! minggir!" Jo dengan sengaja menabrak tubuh Rival lalu berdiri di depan Serena."Gue aja yang nganterin lo ke kelas, ya?" Ucap Jo lembut. Sedangkan Rival yang mendengarkan langsung berlagak ingin muntah.Serena berdecak kesal, "Ga perlu, gue masih punya kaki, dan masih normal. jadi, gue bisa jalan ke kelas tanpa bantuan kalian."Wildan yang sedari tadi diam kini ikut angkat bicara, "Iya, kita semua tau Ser. tapi yang jadi masalah lo itu deket sama Dendra. Lo tau kan hampir 95% cewek gasuka sama orang yang ngedeketin dia.""Kita takut lo di apa-apain."Serena mengerutkan alisnya tidak terima, "Buktinya hampir tiga bulan gue sama Dendra, adem ayem aja. Mereka cuma berani ngatain gue di belakang dan itu ga masalah.""Hati-hati aja, Ser. Kalo lo butuh, gue akan selalu ada kok.'"Aseek piwwit, cuit ... cuit ...," teriak Rival heboh lantaran melihat Dendra yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik mereka dari dalam kelas."Dahlah, gue balik dulu papay sayaaang ...." Serena memberikan kiss bye pada Dendra membuat pemuda itu mengalihkan pandangannya dengan raut datar.***Dendra, Rival, Jo, dan Wildan baru saja sampai di sebuah kafe milik Dendra."Widih makin rame aja, nih kafe." Rival sudah mulai tebar pesona pada perempuan-perempuan yang ada di kafe tersebut.Mereka duduk di salah satu kursi pengunjung sedangkan Dendra sedang berbicara kepada waiters kepercayannya."Lo mau ngapain?" Tanya Jo pada Rival yang seolah sedang menelpon seseorang."Nyuruh pacar kesini," jawabnya enteng."Tumben, pacar yang mana Val?""Ayang Bila.""lo ga takut Bila naksir gue?" Jo menaikkan sebelah alisnya menggoda Rival."Enggak lah, kan stoknya masih banyak, ambil aja kalo lo emang naksir.""Dasar buaya!" seru Jo."Heh, buaya teriak buaya. Sakit lo pada." Dendra yang baru ikut bergabung langsung angkat bicara.Wildan yang sejatinya tidak memiliki mulut comel hanya bisa tersenyum melihat ketiga temannya."Nah, gini kan enak. Damai.""Ndra?" panggil Wildan pelan"Paan?""Lo sebenernya suka kan sama Serena."Dendra diam sejenak sebelum berkata, "Pertanyaan lo itu nggak bermutu.""Bukan apa-apa kalo lo ga bisa buat Serena bahagia, gue siap kok gantiin posisi lo." Dendra yang duduk di depan Wildan langsung melayangkan tatapan tajamnya.Ditatap seperti itu Wildan langsung mengulum senyum, "bercanda elah."Dendra langsung mengalihkan pandangannya pada ponselnya yang terus memberinya singal nontifikasi.SerenaSayang lagi dimana?Kata Rival kalian lagi nongkrongAda Bila juga ya katanya?Dendra hanya membaca chat dari Serena tanpa membalasnya, tidak lama Dendra mendapatkan panggilan video dari Serena. Ia membiarkannya tanpa ada niatan sedikit pun untuk mengangkatnya, ia malah lanjut mengobrol bersama Wildan.Berkali-kali panggilan video masuk di ponsel Dendra membuat pemiliknya kesal.SayangkuuhKenapaSerenaKangeeeenMau ketemu:(DendraIyaSerenaAku dataaang mwahSerena berjingkrak senang akhirnya ia bisa bertemu dengan kekasih hatinya. Ia segera berganti pakaian lalu menelpon Aci untuk menemaninya pergi ke kafe milik Dendra.Di sepanjang perjalanan Serena hanya membahas Dendra, Dendra, dan Dendra membuat kepala Aci pening rasanya. Tadi saja ia memaksa Aci untuk menemaninya meskipun Aci sudah menolak sekuat tenaga tetapi tetap saja, Serena sudah berada di depan rumah menjemputnya.Sesampainya di sana, Serena masih dengan hati yang berbunga-bunga. Menebarkan senyum kepada pengunjung yang melihatnya."Itu, Dendra." Aci menunjuk menggunakan dagu empat orang yang duduk tidak jauh dari tempatnya berdiri."Sayaaaang." Cicitnya nyaris tidak berbunyi takut mengganggu pengunjung lain. Serena langsung mengambil tempat di samping Dendra lalu mendekap sebelah lengan kekar pemuda tersebut."Aaaaa gue juga mau Serena!" Rival berteriak heboh membuat Jo langsung menyumpal mulut Rival menggunakan tissue."Ahahaha mampus!" Jo tertawa terbahak-bahak begitupun yang lainnya hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya heran.Terkecuali Wildan, pemuda itu hanya tersenyum tipis alih-alih memandangi Rival yang mendumel kepada Jo. Ia malah memandangi Serena di depannya yang terlihat bahagia."Hai baby!" Bila dan antek-anteknya datang ke meja mereka membuat suasana langsung hening.Bila yang pada dasarnya pernah memiliki hubungan dengan Dendra, ketika di beri kabar oleh Rival jika ia dan Dendra sedang berada di kafe. Ia pun segera datang."Hai ayang Bila, baru dateng ya, sini duduk samping aak." Rival menepuk kursi kosong di sebelahnya.Melihat Bila datang Dendra langsung menyingkirkan tangan Serena yang menggelayut di lengannya sedikit kasar membuat Serena menyebikkan mulutnya."Gue maunya duduk di samping Dendra, jadi tolong dong lo cewek yang di samping Dendra minggir."Aci mengerutkan keningnya merasa tidak nyaman, sedangkan Serena langsung menatap Bila terang-terangan."Lo siapa?" Ejeknya sambil tersenyum."Gue mau duduk di samping Dendra, lo tuli?!" Bila sedikit nyolot."Apa susahnya lo pindah duduk di samping Rival?" Serena pikir kalimat yang Dendra lontarkan untuk Bila tetapi ternyata untuk dirinya."Gamau ayaaang." Serena memeluk lengan Dendra merengek seperti anak kecil."Minggir!" Bila sudah berdiri di samping Serena yang tengah bergelayut di lengan Dendra.Suasana langsung memanas, seluruh pengunjung memusatkan perhatiannya kepada mereka.Tidak ada yang berani angkat bicara, termasuk Rival ia hanya mengamati apa yang selanjutnya akan terjadi.Serena memejamkan matanya sedikit lama sebelum akhirnya ia bangkit berdiri menghadap Bila, "Lo siapa?! Hah!""Lo cuman masalalunya Dendra, hubungan diantara kalian berdua udah selesai! Dan gue, gue pacar sekaligus masa depannya Dendra. Ngerti lo!""Jadi, lo ga berhak ngusir gue!""Serena!" Jantung Serena terasa berhenti berdetak ketika Dendra berteriak menyebut namanya."Malu-maluin aja, sih lo!" Serena berbalik menatap Dendra yang terlihat menahan amarah."Sayang, Bila yang mulai duluan. Bukan aku." Serena merengek lagi bahkan sekarang sambil menyebikkan bibirnya terlihat menggemaskan."Kita, putus!"Bila dan antek-anteknya yang mendengarkan langsung tersenyum bahagia.Sedangkan Rival, Jo, dan Aci mentap tidak percaya."Gamau! Pokoknya aku gamau putus." Mata Serena mulai berkaca-kaca ia menahan malu di jadikan bahan tontonan pengunjung kafe."Sayang aku gamau putus hiks," Serena mencoba meraih tangan Dendra tetapi langsung di tepis oleh pemiliknya."Bisa nggak lo gausah kasar!" Wildan bangkit berdiri lalu menarik tangan Serena menjauh dari Dendra."Ucapan gue tadinya cuman bercanda, tapi karena kelakuan lo udah kelewat batas. Gue bakal lakuin apa yang udah gue omongin tadi." Tegas Wildan.Dendra menatap Wildan dengan tatapan membunuh, "Lepasin, tangan dia.""Lo siapa?" Tanya Wildan mengejek."Lo sama Serena udah putus!"Wildan mengajak Serena yang menangis sesenggukan meninggalkan kafe tersebut."Sabar bro, sabar." Rival menepuk pundak Dendra lalu menuntunnya agar kembali duduk.🍅🍅🍅Seminggu setelah kejadian itu. Serena benar-benar merasa kecewa dengan laki-lakinya. Ia bahkan tidak memiliki semangat untuk sekedar makan bahkan bersekolah. Setiap hari Aci lah yang membujuknya tetapi nihil.Begitupun dengan Wildan ia selalu setia menemani Serena, membelikannya makanan sampai barang kesukaannya. Wildan juga membujuk anak yang hidup jauh dari orangtuanya ini untuk pergi ke sekolah."Ke sekolah bareng gue ya?" Serena diam tidak menjawab. Wildan mengelus rambut Serena lembut lalu meninggalkan Serena sendirian di kamarnya untuk bersiap-siap.Sesampainya di sekolah, tidak sengaja Serena bertemu dengan Dendra, Jo, dan Rival. Pandangan mata Serena dan Dendra bertemu. Serena yang biasanya langsung menghampiri dan bermanja-manja kepada Dendra sekarang hanya diam, sedangkan Wildan di sampingnya menghela nafas lalu mengajak Serena pergi masuk ke dalam kelas."Gue ke kelas dulu ya, nanti pulangnya bareng gue. Semangat Serena cantik." Wildan berucap lembut sambil mengelus puncak kepala Serena. Ketika Wildan sudah berlalu tiba-tiba sudut bibir serena terangkat ke atas."Aaaaa Serena, akhirnya lo berangkat juga!" Aci yang baru datang langsung menghambur ke pelukan Serena.Tidak lama segerombol teman sekelasnya yang terkenal julid memasuki kelas."Eh, si cewek gatau diri berangkat sekolah guys. Gue kira udah ga berani lagi nunjukin mukanya di sini.""Ga punya malu, ih."Serena menatap datar teman-temannya yang dengan terang-terangan mengatainya."Mulut lo belum pernah gue gampar ya, Na? Lemes banget perasaan!""Upss ... Sorry!" Ketiganya tertawa mengejek."Udah gapapa, sabar yaa." Aci mengelus pundak Serena menguatkan.🍅🍅🍅Bel sekolah berbunyi seluruh siswa siswi SMA karang bintang menghambur keluar kelas.Serena berjalan menuju parkiran bersama Aci, entah mengapa ia tidak memiliki semangat sedikitpun bahkan untuk sekedar berjalan.Ia memandangi ujung kakinya sambi terus berjalan sampai langkahnya terhenti karena ada sesuatu menghalangi.Serena menatap sepasang sepatu yang pemiliknya begitu ia kenali. Perlahan Serena mendongak menatap datar wajah Dendra yang menampilkan senyum manis."Selama lo belum punya pacar, gue masih cowok lo.""Stres." Serena berlalu begitu saja namun lagi-lagi di hentikan."Pulang bareng gue, jauhin Wildan. Gue gasuka lo deket sama dia.""Apaan sih!""Love you serena."Serena mengedipkan matanya cepat. Berusaha mencerna apa yang baru saja laki-laki ini katakan."Maafin Dendra ya Serena. Selama ini belum bisa jadi pacar yang baik buat Serena. Tapi mulai sekarang Dendra bakalan buktiin kalo Dendra pantes buat Serena."Aci melotot tidak percaya pertama kali ini ia mendengar suara lembut Dendra begitupun dengan Serena."Iyain Ser," bisik Aci gemas.Di satu sisi ada Wildan yang memperhatikan dari jauh, hatinya seperti tercelos sesuatu. Tapi bibirnya tetap tersenyum."Gue rela Ser, asal lo bahagia," bisiknya dari kejauhan.Serena mengangguk bersamaan dengan itu air matanya menetes."Aku kangen sama ayang, mau peyuk." Akhirnya Serena bisa merengek lagi namun kali ini rengekannya berujung pelukan, perhatian, serta senyuman."Love you, love you Serenaku." Dendra memeluk erat tubuh Serena sambil menghirup aroma strawberry di rambutnya.End
Don't bet on it
Aleta menghempaskan bokongnya ke jok mobil Tiara, mulutnya sudah menguap berulang kali."Yuk, gas," Serunya tak bertenaga."Kasian banget, sih lo. Udah gue bilang nggak usah dateng ke tempat kek gini masih aja ngeyel." Tiara yang memegang kemudi hanya bisa mendengus kesal melihat temannya tepar."Tiara, gue juga mau kaya lo. Gue mau kaya anak cewek pada umumnya.""Tapi nggak gini juga!""Lo beda, Let. Lo cewek baik-baik."Tidak ada sahutan, karena selanjutnya dengkuran haluslah yang Tiara dengar. Memang salah Tiara mengajak temannya yang masih bau popok emaknya itu ke tempat party. Tiara menggeleng pelan mengingat Aleta yang banyak meminum minuman beralkohol, mungkin malam ini Aleta akan ia ajak pulang ke indekosnya.****"Huaa...!"Seisi penghuni kos berlari tergopoh-gopoh menuju sumber teriakan."Ada apa yak?""Enek opo to?""Ana apa kue?"Hening. Sampai kemudian Tiara muncul dengan handuk yang melilit di atas kepalanya."Eh, kenapa pada ke sini?" Tanyanya bingung ketika melihat tiga orang temannya berdiri di depan kamarnya."Itu, ada yang tereak di kamar lu.""Aleta!" Tiara segera menggedor pintu kamarnya."Leta! Buka Ta! Lo nggak papa kan?""Huaaa....!" Teriakan kembali terdengar membuat empat gadis di depan pintu kamar Tiara kembali gaduh."Jangan jangan koncomu arep bundir?""Hus, lambene lah nik ngomong oradi saring sik.""Minggir!" gadis keturunan betawi mengusir teman-temannya agar menyingkir dari depan pintu. Tiara lupa jika Neli punya bakat bela diri.SatuDuaTigaDan...Gubrak!Neli terjerembab ke lantai, seluruh temannya hanya terpaku lantaran terkejut melihat pemandangan di depannya."Bwahahahaha! Ngapain lo?"Aleta?" Tiara ikut menahan senyum pasalnya ketika Neli mendobrak pintu tiba-tiba saja Aleta membukanya."Aduh, sealan!" Umpat Neli lantas berdiri sambil mengusap-usap wajahnya."Sorry, sorry. Lagian lo ngapain main dobrak kamar orang?" Aleta masih cekikikan melihat wajah Neli yang kini membiru akibat ulahnya sendiri. Ralat akibat ulah Aleta. Sebenarnya."Oke, balik ke topik awal. Lo ngapain teriak-teriak, Let?" Tiara berkacak pinggang sembari menaikkan sebelah alisnya."Gue... Gue berubah jadi ayam!"Tiara hanya mengedikkan bahunya, "Mungkin efek karena semalem lo minum terlalu banyak. Fine, sekarang kenapa kalian masih pada di sini?" Ketiganya menyengir lantas membubarkan diri. Menyisakan Tiara dan Aleta."Yaudah masuk, gue mau ganti baju." Tiara mendorong tubuh Aleta kembali masuk ke dalam kamarnya.****Pasca kejadian semalam. Aleta di buat mengantuk pagi ini. Dia mendengarkan materi pelajaran sambil sesekali menguap. Bahkan kondisinya saat ini sangat mengenaskan. Rambutnya awut-awutan di tambah lingkaran hitam di sekeliling matanya membuatnya seperti Mak lampir. Boro-boro make up-an, mandi aja enggak!What the...FuckTuk! Kepala Aleta terkatuk meja. Ia hanya meringis lalu kembali memejamkan matanya sampai sebuah suara mengerikan bergaung."Leta, cuci muka. Sekarang!""Leta!" Melihat siswinya itu hanya mengangguk-angguk tanpa arti akhirnya Pak Jojon pun bertindak.Byuur...Nasi sudah menjadi bubur. Aleta terperangah merasakan guyuran hujan menimpa tubuhnya. Aleta mendongak untuk melihat siapa pelakunya yang tak lain adalah guru kimianya sendiri."Hehe..." Aleta hanya meringis melihat pak Jojon yang mendelik menatapnya."Keluar dari kelas! Murid krucil ini sukanya bikin ulah saja."Aleta menurutinya tanpa banyak bicara. Lagipula kesadarannya masih belum sempurna. Ia akan tidur di tempat lain yang pastinya lebih nyaman dari ruang kelas. Yap! Perpustakaan. Ide bagus.Aleta berjalan perlahan menyusuri anak tangga karena perpustakaannya berada di lantai atas. Namun, tiba-tiba suara maskulin menyapanya membuat Aleta terperangah."Hai, Aleta.""Eh, hai!" Aleta semakin canggung ketika melihat pemuda yang baru saja menyamakan langkahnya."Lo, mau kemana?" Tanyanya sambil memiringkan kepala menatap Aleta."Gu... Gue mau ke... Ke perpustakaan. Lo sendiri?" Aleta menoleh menatap pemuda berkumis tipis di sampingnya."Oh, gue mau juga mau ke sana.""Dih cie... Samaan!""Hehe iya. Btw bukannya kelas lo lagi ada guru, ya?"Keduanya melangkah masuk ke dalam perpustakaan. "Iya ada guru. Gue di suruh belajar sendiri. Gatau itu pak Jojon jahat banget sama gue.""Eh, curhat?""Bukan gitu Rafael. Yaudahlah." Aleta mengibaskan tangannya lantas mengisi daftar hadir diikuti Rafael.Setelah mengisinya. Mereka berjalan mulai membiak ratusan buku yang tertata rapi di atas rak."Lo mau nyari buku apa, sih?""Gue?" Tanyanya sambil menunjuk dirinya sendiri."Hm.""Mau cari buku yang tebel.""Buku tebel? Buku apaan?""Ya, pokoknya buku yang tebel!""Heh, kalian berdua. Udah tau tata tertib di sini, kan?" Petugas perpustakaan mengangkat tongkat panjang yang diacungkan tepat ke arah Aleta dan Rafael."Iya, kak. Sorry." Aleta memutar tubuhnya namun malah tersandung kakinya sendiri alhasil tubuhnya limbung, belum sempat punggungnya menyentuh lantai Rafael sudah menyangganya.Keduanya bertatapan sama-sama canggung sampai deheman penjaga perpustakaan menyadarkan mereka."Ehm....""Eh.""Lo, lo, ga papa?" Tanya Rafael gugup."Gue... Gapapa kok."Setelah mengambil buku keduanya berjalan dan duduk di meja melingkar. Semula keduanya hanya diam namun, setelah penjaga perpustakaan keluar dari ruangan barulah Rafael bergumam, "Aleta, semalem lo ke bar, ya?"Aleta yang masih membaca sambil terkantuk-kantuk pun mendongak lantas menyengir kuda. "Iya hehe lo, tau darimana?""Yah, semalem gue juga ada di sana."Bibir Aleta membentuk huruf O."Lo nanti balik sama siapa?"Aleta menaikkan sebelah alisnya.' kenapa Rafael jadi care sama gue, duh jadi melting kan!!!'"Leta...""Eh, iya?""Gue balik sama Tiara kaya biasanya, lah.""Oh, kalo baliknya sama gue gimana?""Hah?" Terlihat Rafael memutar bola matanya sekilas sambil tersenyum."Gue anterin ke kosan lo, Mau?""Enggak tau.""Oke gue anterin.""Lho?" Aleta memasang wajah cengo sedangkan Rafael hanya tersenyum sekilas.****Ketiganya berjalan beriringan menuju parkiran."Rafael mau nganterin gue balik, lo beneran, nih gapapa nyopir sendirian?""Gapapa lah, yaudah sono. Rafael tiati bawa ni bocah."Rafael menyengir sambil mengacungkan jempolnya. "Siap, gue duluan ya.""Bye."Keduanya meninggalkan Tiara menuju mobil Rafael. Rafael sendiri hanya senyam-senyum sedari tadi."Lo, kenapa, sih, Raf senyum-senyum sendiri?""Gapapa, cuma gatau kenapa gue gemesh sendiri sama muka lo.""Hah! Muka gue?""Iya muka lo itu imut jadi pengen gigit tau."Aleta menggembungkan pipinya.Masa gue mau di gigit sih, mending juga di tium terus di coyong coyong ya kan:(Rafael yang masih mengemudi sekilas menoleh. "Ngambek?""Kagak, siapa juga yang ngambek!""Lah itu ngegas, berarti lo ngambek.""Enggak Rafael.""Kok berhenti?" Aleta berkedip pelan ketika Rafael mematikan mesin mobilnya."Donat.""Hah?!""Gue mau beli donat.""Oh.""Lo suka donat?"Enggak, gue gasuka donat, gue sukanya Lo"Aleta, kok malah ngelamun, sih?""Lo gasuka donat?"Enggak! Dibilangin gue sukanya elo bukan donat ga peka banget sih_-"Leta," panggil Rafael untuk kesekian kalinya, namun kali ini sambil menepuk lengan Aleta."Iya kenapa? Gimana?""Gue nanya, lo suka donat enggak?""Oh, gue sih ga terlalu suka.""Yaudah kalo gitu, lo tunggu sini bentar."Setelahnya Rafael pun keluar dari mobilnya lalu berjalan memasuki sebuahBakery cake yang cukup terkenal.Aleta menghembuskan nafasnya berat."Dua tahun lebih gue suka sama lo, Raf dan sekarang lo datang tanpa gue minta," lirihnya.Aleta menoleh ketika Rafael masuk kembali ke dalam mobil sambil membawa selusin donat kacang di tangannya.Ternyata lo ga perduli sama gue yang ga terlalu suka donat. Buktinya tuh lo beli donatnya, selusin lagi!"Sorry, ya lama nunggu."Aleta mengangguk. Rafael kemudian melanjutkan perjalanan mereka.Setelah beberapa lama, Rafael kembali membanting setir menepikan mobilnya ke pinggir jalan."Kenapa lagi?""Lo suka bunga kan?"Senyum Aleta mengembang, matanya memancarkan harapan yang teramat besar. Ia mengangguk, "Gue suka... elo Banget.""Yaudah, yuk turun."Aleta dan Rafael melihat lihat berbagai macam bunga, Aleta nyaris berteriak ketika matanya melihat bunga berwarna putih"Daisy!""Apa, Let?" Rafael menoleh melihat Aleta yang sudah berlari memeluk bunga berwarna putih itu."Gue mau ini!" Katanya setengah berseru."Oke.""Mbak bunganya yang itu, ya. Dua."Alis Aleta berkerut, "Dua?"Rafael tersenyum sambil mengangguk, "Lo mau nemenin gue sebentar nanti?""Kemana?""Secret...."Aleta mendengus namun kembali tersenyum ketika pegawai toko menyodorkan bunga Daisy kesukaannya.Aleta berjalan membawa dua bunga sekaligus, hatinya berbunga-bunga."Let."Aleta yang baru saja menutup pintu mobil pun menoleh."Kenapa?""E... Jangan jauh dari gue ya nanti."Mata mereka bertemu, pipi Aleta memanas ketika Rafael mendekatkan kepalanya ke kepala Aleta. Aleta memejamkan matanya dan..."Pipi ke tempelan daun."Yah gue kira mau di ciumHup...Kening Aleta terasa panas oleh benda kenyal yang tak lain adalah bibir Rafael yang menempel di sana.Jantungnya sudah berlari kesana kemari bahkan perutnya terasa mual mungkin ini yang di sebut butterfly syndrome?***"Kita mau kemana, sih Raf?"Mereka sampai di sebuah apartemen. Rafael tidak menjawab hanya saja ia langsung menyuruh Aleta turun, tidak lupa ia mengambil donat yang tadi ia beli.Rafael mengotak-atik ponselnya, tidak lama kemudian seorang cewek berpipi chubby keluar dalam apartemen tersebut."Rafael?" Cewek itu tersenyum membuat matanya menyipit.Rafael balas tersenyum, ia menoleh ke arah Aleta yang hanya mematung di tempat dengan wajah penuh tanda tanya.Selanjutnya, Rafael menggandeng tangan Aleta mendekati cewek berpipi chubby tersebut.Rafael melepaskan tangannya dari tangan Aleta ketika mereka sudah berdiri tepat di depan cewek itu."Kenalin ini Aleta, temen aku.""Aleta ini pacar gue, Wulan."Aleta mendengus, "Wulan kan punyanya Joko, ngapain lo pacarin!"Kenapa, kenapa Rafael setega ini!"Garing tau Let."Rafael menganggap ini guyonan?! Enggak enggak gue ga bisa ngalah lagi sekarang."Nama gue Wulan intan Nuraini, kalo menurut lo Wulan itu punyanya Joko, lo bisa panggil gue Intan karena Intan itu punyanya Rafael." Cewek itu tersenyum manis membuat Aleta jengah bahkan ingin menangis sekarang.Aleta tidak menjawab, hatinya dongkol pada makhluk mungil bantat di hadapannya. Saat ini ia benar-benar bernafsu untuk mencabik-cabik serta memolor pipinya yang tembam itu."Kamu udah makan?" Wulan menggeleng."Makan donat dulu nih buat ganjel perut, aku masakin gurame ya?" Wulan mengangguk."Pinter." Rafael tersenyum lalu mencubit pipi Wulan gemas.Aleta mendengus, bisa-bisanya dia diajak ke sini hanya untuk menyaksikan ke-uWuan mereka berdua."Aku ke mobil sebentar ada yang ketinggalan."Aleta mengedikkan bahunya acuh, sementara Wulan mengangguk."Lo anggep Rafael pacar Lo?" Kali ini Aleta bersuara."Iya, ada masalah?""Lo anggep dia budak atau pacar? Bisa-bisanya dia mau repot masakin lo.""Rafael itu... kerjaannya ngurusin gue, macarin gue, ngedate sama gue, ngurusin gue, jalan bareng gue, ngurusin gue, merhatiin gue, ngurusin gue," terangnya polos."Lo...." Aleta menahan ucapannya ketika Rafael datang dan langsung menyodorkan bunga Daisy kepada Wulan."Wah indah banget." Wulan terkagum-kagum melihat satu buket bunga di tangannya."Iya, Aleta yang milihin."Aleta memutar bola matanya malas, kalau saja dia tau akhirnya akan seperti ini tidak akan dia memilih bunga Daisy untuk cewek ini."Gue mau balik.""Aleta, kenapa?" Rafael menarik lengan Aleta, mencegahnya untuk pergi."Terlalu berharap sama orang itu... Ribet!" Aleta menepis tangan Rafael kasar sebelum akhirnya ia berlari meninggalkan apartemen Wulan.Gue ga sedih, gue ga kecewa, cuma nyesek aja kenapa bisa Rafael milih wulannya Joko ketimbang gue, cewek bantat kaya dia yang bisanya cuma ngerepoti doang. The right, gue bakalan nyari yang lebih pantes dari lo Rafae l.End
Sweetest
Ada yang cinta tapi bukan lauraCirah membereskan kelas barunya sambil bersiul menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia, dia sangat senang karena hari ini adalah hari pertama ia menyandang status baru yakni menjadi seorang senior sekolah, lebay memang tapi begitulah Cirah mengekspresikan dirinya. Padahal ia bukanlah siswu berprestasi atau berbakat dalam bidang apapun dia hanyalah Cirah, gadis dengan segala kesantuyannya."Lagi bersih-bersih, Reng?" Cirah menoleh lantas memutar bola matanya malas, ia bahkan menggantungkan pertanyaan yang memang ditujukan untuknya di udara tanpa berminat untuk menjawab."Sombong, nih sombong!""Lo bersihin kaca deh, timbang bicit aja," ujar Cirah kepada pemuda yang sedari tadi hanya duduk di atas meja sambil memandangi para siswa lain membersihkan ruang kelas."Si Bima sama si deglek udah gue utus, tuh." Pemuda itu mengarahkan pandangannya kepada dua orang laki-laki yang sama sibuknya dengan siswa lain."Reng, gue duduk di sebelah lo."Alis Cirah langsung menjengit sebelah seolah tak rela. "Lo manggil gue apa barusan? Reng? Lo kira gue Gareng apa." nada suaranya yang santuy memang selalu menjadi nilai tersendiri bagi Yoyon untuk terus menggoda Cirah.Yoyon terkekeh kecil lantas turun dari meja dan berjalan mendekati Cirah yang sudah selesai menata bangkunya."Gue di sini." Yoyon mengambil tempat di sebelah Cirah tanpa sadar ia tersenyum melihat gadis bertubuh bantat itu tidak menggubrisnya."Mau kemana?" Yoyon mendongak ketika melihat Cirah sudah mencangklong tasnya hendak keluar kelas."Mau bolos di hari pertama? Gila ya lo! Tunggu woe!" Yoyon ikut ikutan mencangklong tasnya lantas menyusul Cirah yang sudah menghilang lebih dahulu."Percuma kalik gue masuk kelas kalo gurunya masih pada stand di kantor.""Lo hobi banget, sih, bolos," gerutu Yoyon yang memegangi perutnya lantaran berlari mengejar Cirah tadi."Lah, emang lo nggak?""Ya, kan bedaa cireng.""Stop, panggil gue cireng, nggak enak di denger.""Ya iyalah Cireng nggak enak buat di denger, Cireng enaknya kan, di makan," kelakar Yoyon."Aci di goreng maksud lo?"Yoyon mengangguk lantas menghentikan langkah Cirah."Ada, apa?" Cirah menoleh dengan raut wajah bingung."Ada yang cinta tapi bukan laura." Yoyon mengekspresikan wajahnya secengo mungkin dan sedetik kemudian wajah malas Cirah lah yang menyambut Yoyon."Kita mau loncat pager, lo duluan abis itu gue.""Siap, mulai," Cirah mengintrupsi.Yoyon hanya mengangguk lalu melompat keatas pagar dengan begitu lincahnya begitupun dengan Cirah, meskipun ia seorang wanita yang memiliki berat badan lumayan tetapi, jangan remehkan attaksi lompat melompatnya apalagi jika hanya melompati pagar sekolah yang tingginya sekitar satu meter setengah."Lo, ninggalin Bima sama Angga di sekolahan?""Iyalah, biarin aja ntar juga mereka nyusul kok," sahut Yoyon sembari menyedot es degan."Gue mau pulang ke rumah," Cirah bangkit berdiri sudah bersiap untuk meninggalkan Yoyon."Lo bolos bareng gue, masak mau ninggalin gue sih, Reng.""Yang suruh lo ikut gue, siapa?" Cirah menatap Yoyon teduh dengan suara yang datar."Gue,""Ya udah berarti itu urusan lo, bukan urusan gue. Bye," kata Cirah diiringi senyum tipis."Dasar Cireng! Di ikutin malah ninggalin, untung sayang kalo nggak udah gue buang.""Ini cendolnya, kenapa sih, kok ngedumel aja dari tadi?" Seorang pedagang cendol memberikan segelas cendol kepada Yoyon lantas ikut duduk di sebelahnya."Enggak papa bu, cuma kesel aja sama Cireng yang nggak pernah peka ups.""Siapa nama ceweknya? Cireng? Kok kaya makanan begitu ya?" Bu Pur tertawa kecil lantas bangkit berdiri."Bu," panggil Yoyon ketika sang pemilik kedai mulai masuk kedalam untuk membuatkan minuman kepada pelanggan lain."Iya nak?""Cendolnya satu lagi, hehe."Bu Pur tersenyum lembut lantas mengangguk. "Dari SD tidak pernah berubah kamu itu, ya, Favoritnya cendol.""Enggak papa lah bu, enak soalnya." Yoyon menggaruk kepalanya ketika para pelanggan imut tersenyum.🌺🌺🌺Corona jangan sentuh!Penyebaran virus corona benar-benar meresahkan masyarakat. Sama halnya yang terjadi di Jakarta pusat. Akibatnya, masyarakat berlomba-lomba membeli masker untuk mencegah tertular virus mematikan itu."Reng, masker lo buluk tuh, nih pake masker gue aja masih wangih tauk." Jika bukan Yoyon pasti Cirah sudah menendangnya."Sorry masker gue sekali pakai, kok. Dan ini masih baru." Cirah memasang maskernya menutupi sebagian wajahnya lantas memasuki ruang kelas."Smart," kikik Yoyon."Hai Cirah, good morning hony!" Nelson menghampiri Cirah ingin menjabat tangannya dan melakukan cipika cipiki tetapi ..."Corona jangan sentuh!" Yoyon membuka kedua tangannya menghadang tubuh tinggi Nelson yang sudah merentangkan tangannya. Sedetik kemudian tawa Cirah lah yang pecah melihat dua orang lelaki yang berdiri berhadapan dengan kedua tangan terentang seolah ingin berpelukan."Ih, najis!""Lo kali yang najis, pake mau peluk peluk Cireng segala," ketus Yoyon lantas menarik tangan Cirah agar menjauh."Kenapa sih, lo Yon?""Gue? Kena Corona!""Kok, ngegas?""Tauk!""Jangan panggil gue Cireng lagi, sih. Nama gue kan Cirah." masih dengan nada santai Cirah meletakkan tangannya di atas meja untuk menopang wajahnya."Cirah bukannya ini, ya kalo dalam bahasa Jawa?" Yoyon memegang kepala Cirah."Itu ...." Cirah yang memang bukan orang Jawa hanya bisa memasang muka cengok."Sirah, sayang.""Oh.""Ntar ikut gue, yuk." Yoyon membuka buka buku pelajarannya tanpa berniat untuk membacanya."Kemana?""Ada, deh. Ke sebuah tempat favorit gue dari zaman esde."Cirah hanya mengangguk sekilas lantas bangkit berdiri."Mau kemana?""Toilet." Yoyon hanya mengangguk membiarkan Cirah pergi sendirian, biasanya tidak. Dimana pun Cirah pergi di situlah Yoyon mengintili.Satu jamDua jamYoyon resah karena sudah dua jam Cirah pergi ke toilet tanpa kembali. "Atau jangan-jangan Cireng kebebelan lagi!" Yoyon segera meminta izin kepada guru yang mengajar saat itu untuk mencari Cirah dan hasilnya nihil."Sinting! Dia bolos lagi." Yoyon kembali ke kelas sebelum sebuah suara yang bersumber dari kantor kembali membuatnya merinding."Sekali lagi, untuk pemilik tas ransel wanita berwarna pink yang di temukan di dalam kelas XII IPA 2 segera datang untuk mengambilnya."Tidak salah lagi, itu adalah tas milik Cirah. Allahu alam karena pemiliknya pasti jelas sudah merebah dan berguling-guling diatas kasur tanpa memikirkan nasib tasnya yang tertinggal.Yoyon sudah menghubungi Cirah berkali-kali dan hasilnya nihil!"Untung sayang!" Akhirnya Yoyon lah yang mengakui jika tas ransel itu miliknya meski harus berdebat dahulu dengan beberapa guru yang ada di sana. Parahnya seisi teman sekelasnya tidak tahu jika tas itu adalah milik Cirah lalu, selama ini mereka ngapain aja? Njemur semvak?🌺🌺🌺"Kopinya satu, jangan terlalu manis.""Iya, pak, silahkan tunggu sebentar.""Mbak, es tehnya dong kaya biasanya.""Oke.""Cendolnya, Bu kaya biasanya ya.""Loh? Yoyon?" Mata Cirah mengerjap cepat ketika mendapati Yoyon tengah duduk nyaman di kedainya."Lah? Lo kok disini Reng? Kerja tempatnya Bu Pur?" Yoyon sama bingungnya dengan Cirah."Gue, anaknya Bu Pur. Lo pelanggannya Yon?"Yoyon menggaruk tengkuknya salah tingkah, jadi selama ini yang ia jahili adalah anak dari Bu Pur. Dan kenapa selama ini mereka tidak pernah bertemu padahal Yoyon selalu datang ke kedai ini dari SD sepulang sekolah berhubung sekarang Yoyon sudah SMA jadi ia lebih sering membolos dan datang ke sini semata mata hanya demi cendol buatan Bu Pur? Entahlah."Yoyon kan, gimana ya, cool gitu kenapa sukanya minum cendol udah kaya banci aja," ejek Cirah."Diem lo, Reng." Terlihat jelas jika Yoyon tengah menahan malunya."Ah, sekali-kali gue sebar ke kelas biar viral gitu.""Jangan, ih!""Bodo wlee." Cirah berbalik lantas membuatkan minuman untuk para pelanggannya termasuk Yoyon."Nih." Cirah meletakkan segelas cendol di atas meja Yoyon."Ibu lo kemana emang? Baru tau gue kalo lo anaknya dia.""Ibu gue di rumah, lagi sakit. Iyalah orang nyokap gue selalu ngelarang gue buat datang kesini.""Why?""Takut ketemu sama lo dan ikutan sinting."Tapi malah gue udah kenal sama lo batinnya miris.🌺🌺🌺Cirah menggigiti pensilnya sambil menatap nanar lembar soal PTS di hadapannya. Ia sama sekali tidak mudeng dengan soal matematika yang satu ini. Ia kemudian menoleh ke arah Yoyon yang kelihatannya sedang sibuk menghitung."Sst ... Yhon" bisik Cirah berusaha sepelan mungkin agar pengawas tidak mencurigainya."Yhooyooon!"Yoyon menoleh dengan wajah cengok lantas mengangkat dagunya seolah menjawab 'apa?'"Nyontek siih""Ha?" Yoyon membuka mulutnya."Conteekin!" Yoyon mengangguk mengerti."Itu yang dibelakang harap tenang karena kalau tidak tenang saya akan ambil lembar jawabannya dan saya sobek!" Keduanya merapatkan bibir lalu mengangguk.Setengah jam kemudian Cirah sudah berhasil mengerjakan 45 dari 50 soal pilihan ganda, ralat ia berhasil mencontek dari Yoyon."Yon, ikut gue jualan cendol yuk.""Hayok!" Seru Yoyon dengan semangat45 ia merasa senang akhirnya walaupun dengan perlahan Cirah mengerti perasaannya. Meskipun tidak pesat tapi ini sudah termasuk kemajuan bukan?End
Cetak Rindu
Gajah di depan mata tak tampak, semut di ujung jalan nampakYuk yang mau ralat, author lupa itu pepatahnya. Mon maap! Ye ya nggak usah ngegad bisa kan Thor?Huhu so pasti bisa. Lama nggak update nih lagi dilanda sejuta kemiskinan imajinasi huhu. Cus lanjut aja! Siap, mulai ...Malam ini bener bener gabut. Orangtua ke luar kota, do'i nge-game mulu kerjaannya, temen pas butuh doang muncul. Sedangkan aku, aku tertinggal disini dikamar sendirian tanpa makanan."enaknya ngapain, nih, njir." Ucapku pada diri sendiri. Yang kulakukan saat ini adalah rebahan di samping stop kontak, yah you know lah apa yang sedang aku lakuin.Layar ponselku menyala, Azril, nama itu tertera di layar ponselku. Dengan gerakan malas aku membuka chat darinya.Azril : Woi bukain pintu .Seutas kata namun berhasil mengembangkan senyumku. Akupun membalas chat darinya dengan sigap.Gue : Gue bakal bukain, asal lo beliin gue nasi Padang:)Akupun mengklik send.Azril : gue ga beli nasi Padang, tapi gue beli ayam bakar lo mau nggak?Pemberitahuan itu masuk dengan cepat di layar ponselku.Gue : Ok! karena lo baik hati, gue meluncur sekarang.Dengan girang akupun turun dari tangga untuk membukakan pintu untuknya.Ckleak...Bunyi pintu yang ku buka perlahan. Kulihat Azril tengah berdiri di teras, bajunya basah kuyup dan OMG! gue bener bener ga sadar kalo di luar lagi..."Ehm ...." Azril berdehem melihat ku melamun."Eh, ya udah yuk, masuk." Akupun mengambil kantong plastik yang ada ditangannya."Lo bego banget si Zril, udah tauk ujan kenapa nekat kesini," Ucapku kesal."Karena gue tauk lo lagi kelaparan sekarang," Ucapnya sembari menoyor kepalaku."Ya udah tunggu sini, gue ambilin handuk dulu, lo jangan duduk di sofa ntar basah lagi sofa gue." Tidak ada jawaban tapi sekilas ku lihat dia menggelengkan kepalanya."Nih keringin dulu badan lo, abis itu lo ganti baju di kamar tamu." Akupun kembali sambil menyodorkan handuk dan pakaian untuknya."Baju siapa nih." Azril mengerutkan keningnya mihat kaos oblong berwarna hitam."Itu baju Kenzo, kemaren dia nginep sini," Jawabku santai."Hm." Aku tidak memperdulikan dia lagi karena sekarang perhatian ku sepenuhnya tertuju pada kantong plastik yang tergeletak di atas meja. Dengan cepat aku membuka kantong plastik itu, aroma ayam yang menggiurkan langsung membuat cacing di perutku meronta-ronta minta jatah."Ck ck ck, udah makannya?" Suara Azril mengagetkan ku."Mau?" Ucapku lirih karena tidak rela aku berbagi makanan dengannya."Enggak buat lo aja." Huft... Untung aja Azril nolak, nih, ayam bakar karena yang tersisa hanya tulangnya saja.selesai makan akupun duduk di samping Azril, "Kenyang?" Tanyanya padaku, dengan cepat aku mengangguk."Thanks, ya lo baik banget hari ini," kataku tulus sambil bersandar di bahunya. Kebiasaanku untuk bersandar di bahunya sudah seperti candu, karena setiap kali aku dan Azril duduk berdampingan, aku selalu tertarik untuk meletakkan kepalaku di bahunya. Toh dia pun tidak bergeming."Sya?" Suaranya menggugah lamunanku."Hm..." Jawabku malas"Lo ngantuk ya?""Dikit doang," Sahutku lirih."Tidur gih gue mau pulang, lagian dirumah ga ada siapa siapa ntar gue digebukin massa lagi." Mendengar itu akupun menegakkan kepala."Ya udah deh, pulang sono oh ya besok lo mau nganterin gue ke mall gak?" Tanyaku padanya."Besok?" Tanyanya memastikan."Iya," jawabku. Kemudian Dia menatapku lekat entah apa yang ada di pikirannya."Oke, jam delapan gue jemput," katanya final lalu beranjak dari duduknya."Oke!" Dengan semangat aku mengikutinya untuk menutup pintu."See you," Azril tersenyum manis.Dan aku? apa yang aku lakukan, aku hanya terpaku melihatnya. Nghehehe.Who is Azril? Sahabat ku, yah, dia selalu ada untuku setiap saat, setiap waktu, bahkan setiap detiknya rela ia habiskan untuk diriku. Meskipun aku sering sekali membuat dia kecewa, kemarin saja aku membuat dia panas panasan karena menungguiku bersama Kenzo, biasalah mantai sambil foto foto syantiks.Anehnya setiap aku mulai tidak enak karena sering merepotkannya dia selalu berkata, "Elisya lo nggak perlu sungkan minta tolong ke gue." Akupun menutup pintu lalu beranjak tidur."Non, bangun non!" Suara pembantuku menggema memenuhi ruangan."Eum..." Aku menggeliat, mataku perlahan terbuka."Ehm, iya Bik?" Ucapku malas."Azril, nak Azril kecelakaan!" Ucap pembantuku panik. Akupun langsung terduduk dengan mata terbelalak."Hah Azril!" Seruku tak percaya dengan cepat aku berlari, mengeluarkan mobil jazz putih ku lalu pergi ke RS. Aku tidak menghiraukan perkataan pembantuku yang aku dengar Faro dilarikan ke RS indah purnama.Sesampainya di RS aku langsung masuk ke dalam belum sempat aku bertanya kepada resepsionis mataku sudah menangkap sosok lelaki tinggi, putih, dengan luka di kepala, tangan, serta kakinya. Darah mengalir deras di sekitar kepalanya."Azril," lirihku, kugunakan sisa tenagaku untuk menghampirinya."Azril!!" Tangisku pecah.Beberapa suster sempat menenangkan ku. Di dorongnya Faro menuju sebuah ruang akupun berhenti sejenak.Ruang mayatTulisan itu tertera di depan pintu masuknya, "Yang sabar ya mbak." seorang suster memelukku erat. Tubuhku lunglai hingga akhirnya kesadaran ku pudar."Azril kecelakaan saat ingin menjemput Elisya, mobilnya menabrak mobil truk di depannya, korban mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi, hingga akhirnya nyawa korban melayang," keterangan dari Salsa salah seorang saksi mata.Aku baru saja selesai menaburkan bunga diatas makam sahabatku, Kenzo masih setia menungguiku meratapi kebodohan yang aku buat sendiri. Satu persatu para pelayat sudah melenggang pergi.Dear ElisyaGue seneng lo udah mau jadi sahabat gue, gue seneng akhirnya gue bisa lebih deket sama lo. Astaga terserah kalau lo mau bilang gue alay atau apalah itu karena jujur gue bener bener nge-fly ketika kepala cantik lo bersandar di bahu gue. Asal lo tau gue setengah mati nahan detak jantung gue yang melompat lompat mau keluar dari tempatnya, gue ingin nyatain perasaan gue selama ini Sya, perasaan yang terkubur selama 17 tahun tetapi gue nggak bisa, orang bilang cinta gue kejebak friend zone. Entah kenapa gue tiba-tiba bahagia karena berhasil jadi penyelamat lo malam ini. Besok gue akan jujur mengenai perasaan gue, gue tau lo masih punya Kenzo. Tapi, tenang aja karena gue cuma mau lo tau perasaan gue ke elo. Good night Elisya wijaya-,Diary yang baru saja aku baca ini adalah diary terakhir sebelum Azril meninggalkanku untuk selama lamanya. Selain selembar diary ini masih banyak lembaran lain yang aku sendiri dibuat menangis karenanya. Semua diary ini bertuliskan tentangku, mulai dari aku yang baru saja bertemu dengannya di TK dahulu, aku yang marah karena ingin naik kuda sewaktu SMP, sampai aku yang menangis haru karena Kenzo menembakku, semuanya tertulis jelas disini.Azril I'm so sorry gue terlalu cupu buat peka terhadap perasaan lo. Gue bahkan nggak menangkap singal singal yang lo kasih. Azril, lo sadar kalau lo pergi dengan membawa perasaan yang terpendam? Kamu pergi tanpa ucapan selamat tinggal dan kamu pergi meninggalkan aku yang kini hanya bisa menyesal.End
Never the twain shall meet
"Cinta memang katarak sampai mendekati picek ."Vivi Permatasari"Gue nggak bisa deket sama dia!""Enggak akan pernah bisa. you know it is something that is impossible!" Ujarnya tanpa menurunkan nada bicaranya. Mata Abrizio memicing terus menatap ponsel yang menampilkan foto seorang gadis."Kenapa?! Dia terlalu baik buat lo? Terlalu lembut untuk ukuran cowok bad kaya lo?!" Zen yang geram langsung menyaut ponsel Abrizio, lantas memandangi sekali lagi wajah imut cewek yang paling di benci sahabatnya itu.Abrizio menghisap rokoknya dalam dalam hingga perlahan asapnya keluar melalui lubang hidung."Gue enggak bisa biarin cewek itu terus terusan ngintilin gue.""Tapi ..." Perkataan Zen terputus karena Abrizio yang mengambil ponselnya lalu melenggang pergi tanpa menghiraukan Zen di belakangnya.💔💔💔"Zio ntar malem gue ikut ...""Gak.""Ih gue belom selesai ngomong tauk.""...""Abrizio jalannya jan cepet cepet." Abrizio menghentikan langkahnya, ia mengatur nafasnya yang memburu menahan amarah. Diliriknya gadis yang sedang menyebikkan bibirnya, jujur Abrizio begitu gemas ingin sekali ia mengecupnya. Argh! Ada yang lebih penting dari gadis ini yakni menjauhinya."Capek?" Tanya Abrizio dan gadis itu hanya mengangguk tetapi kali ini dengan mata mengerling, kapan lagi ye kan di tanyain seperhatian gitu sama kecengan! Hoho."Gue mau naik tangga lo naik lift biar nggak capek.""No way. Capek gue udah ilang kok sayang hehe." Abrizio melirik sinis gadis yang tingginya hanya sebatas bahunya. Ia kembali berjalan tanpa memperdulikan gadis di belakangnya yang terus saja mengejarnya mencoba menjajari langkah panjang Abrizio."Zio, gue er- ke kelas dulu ya. Bye!" Serunya ketika Abrizio sudah sampai di ambang pintu kelasnya. Sekali lagi Abrizio menghela nafas panjang sambil menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.Mana ada coba orang yang rela relain naik tangga ke lantai tiga cuma demi nganterin kecengan gajelass macam zio sedangkan kelasnya sendiri IPA 3 berada di lantai paling bawah. Kebutaan cinta membuat kita goblog nggak ketulungan ."Hei. Ngapain nganyer di depan pintu, pamali." Zen yang baru saja datang langsung menyeret Abrizio yang mematung di tempatnya masuk ke dalam kelas."Ardania udah balik ke kelasnya?" Pertanyaan Zen hanya mendapat anggukan samar dari Abrizio. Sepertinya Abrizio mulai linglung setelah kurang lebih setengah bulan gadis bernama Ardania itu mengejar ngejarnya dengan tidak tahu malu."Dahlah, mending lo sikat aja tuh cewek. Gue kasian ngeliat dia pantang mundur gitu.""Kalo bisa udah gue sikat dari kemarin-kemarin, tapi gue nggak bisa karena dia itu spesies cewek yang paling gue hindari seumur hidup.""Nggak bodygoals? Kaya si Lisa? Xixi?""Yeah. Dia terlalu child buat gue.""Entah apa yang merasukimu Ardania sampai-sampai suka sama bad boy cem Abrizio." Setelah mengucapkan itu Zen mendapatkan bogem gratis tepat di kepalanya."Hei, Be." Gadis berpakaian serba ketat berjalan mendekati Abrizio lalu dengan tidak tahu malunya ia bergelayut manja di lengan kekar Abrizio."Gue cabut bentar mau ngambil rokok di kantin," kata Zen seraya memutar bola matanya malas ketika melihat Lisa."Oke, Xixi juga ada di kantin kok." Lisa menyaut, Zen tersenyum samar lantas bangkit berdiri dan berjalan meninggalkan kelas. Alih-alih ke kantin Zen malah turun ke lantai 1 menuju kelasnya Ardania.Tok ... tok ... tok ..."Permisi, Bu saya minjem Ardania sebentar, boleh?" Seluruh murid termasuk seorang guru berperawakan tinggi putih itu menoleh kearah pintu masuk kelas."Mau apa kamu Zen?! Buat ulah lagi? Kenapa keluar waktu jam pelajaran?! Mana Abrizio?" Mata sipitnya menjelajah ke belakang punggung Zen mencari sosok Abrizio dan hasilnya nihil."Maaf, Bu. Saya minjem Ardania sebentar kenapa Ibu malah nyari temen saya?" Tanyanya balik.Ardania menggeleng pelan sambil mengulum senyum melihat teman kecengannya yang mendadak goblok."Memangnya Ibu ini tolol apa, kalo ada Zen malik Ibrahim pasti ada Abrizio mungkar nakir!" Serunya seraya berkacak pinggang.Hah? Apa? Jadi nama kecengannya Ardania itu Abrizio mungkar nakir ? Astaga nggak ada keren kerennya begitu! Iya masak nama malaikat yang bertugas di alam kubur. Enggak banget deh padahal tuh ya nama depannya udah kece abis ABRIZIO tuh kan kek nama Inggris ke Korea korean begitu kok. Emaknya ngidam apaan sih?!."Senakal nakalnya saya, saya tidak pernah mengajak Abrizio kemana mana Bu paling cuman main solo di kamar mandi." Seketika semburat merah di kedua pipi guru mata pelajaran fisika itu terlihat jelas, tentu saja dia tau apa yang dimaksudkan.Zen bermain solo dikamar mandi pula akh, sudah sudah jangan sang'e readers!"Ardania 10 menit." Ardania yang masih menyalin rumus rumit di papan tulis itu langsung bangkit lalu berjalan mendekati Zen yang tersenyum lebar."Kenapa Zen?" Tanya Ardania setelah mereka berbicara di depan tangga."Lo beneran suka sama Abrizio?""Hah? Ya iyalah Zen gue suka dia.""Maka dari itu lo berjuang?" Ardania mengangguk."Kenapa, sih?""Dia nggak suka lo, udah berapa kali sih dia ngomong begitu ke elo." Ujar Zen mulai gerah."Gue tauk, tapi gue bakalan berjuang buat dapetin Abrizio.""Nggak akan dapat.""Why?""Kalian nggak seimbang. Kalian berbeda, lo ngerti kan?" Zen menatap gadis di depannya yang tengah menggembungkan kedua pipi gembulnya. Huah Zen dibuat gemas ingin menelan bulat bulat gadis ini!"Sebenarnya maksud kedatangan lo apa Zen?""Memperingatkan lo, gue udah ngasih lampu kuning ke lo. Inget Abrizio berbahaya."Setelah mengucapkan itu Zen langsung berbalik arah dan melenggang pergi meninggalkan Ardania yang menghela nafas panjang.🌺🌺🌺Ardania memandangi foto yang terpajang besar besar di dinding kamarnya lekat-lekat, pertanyaannya kenapa ia bisa jatuh hati kepada Abrizio yang notabennya adalah cowok nakal, suka ngerokok, minum minuman beralkohol, suka merawani anak orang sampe keluar masuk penjara karena balapan motor liar. Kenapa hatinya terpatri kepada sosok yang baru ia sadari getarannya di Indomaret bulan lalu. Ardania tersenyum geli membayangkan pertemuan pertamanya dengan Abrizio yang bisa dikatakan gila.Flash backGadis berpakaian serba pink berjalan melihat-lihat rak makanan yang berjejer rapi, tentu saja ia terngiler ! Tetapi ia langsung kebingungan ketika ingat sesuatu, Bibinya menyuruhnya membeli barang sakral!!Barang yang Ardania sendiri tidak tau gunanya untuk apa, tetapi dari covernya saja ia sudah bergidik ngeri. Apalagi setelah ia iseng membaca bagian belakang bungkusnya, setelah tau apa kegunaannya. Cepat-cepat Ardania menjauh bahkan ia sempat berjongkok membelakangi rak barang yang dianggapnya sakral itu akibat malu ketika sadar kalau ada CCTV tengah mengintainya.Ia menggigit bibir bawahnya gugup harus berbuat apa, pasalnya jika ia tidak membelikan pesanan Bibinya ia pasti akan mendapat seember omelan panjang yang kalau didengarkan bisa sampai seminggu suntuk."Minggir, jangan di jalan." Suara tegas penuh penekanan membuat Ardania mendongak mendapati seorang laki-laki berperawakan tinggi, berponi, berkulit putih yang menatapnya aneh."Maaf, hehe." Ardania segera berdiri membuka jalan untuk laki-laki berbaju putih polos itu."Eh sebentar. Lo bisa bantuin gue nggak?" Cegah Ardania sebelum punggung pemuda itu menjauh."Apa?"" Ambilin itu, dong." Pintanya memelas. Abrizio melirik rak besi yang di tunjuk lewat gerakan mata oleh Ardania."Hah! Kondom?"" Sst , jangan kenceng kenceng." Bisik Ardania seraya menyentuhkan jari telunjuknya ke bibir."Lo gila?" Abrizio menatap tak percaya gadis mungil itu."Cewek sepolos lo beli begituan buat apa? Masih kecil ga usah aneh aneh.""Wait ... Wait ... Wait ... Gue nggak asing deh sama muka lo?" Ardania mencoba mengingat-ingat kembali apakah mereka pernah bertemu sebelumnya."Lo Two Z kan?!" Serunya dengan mata mengerling. Ardania mengamati lebih detail wajah laki-laki dihadapannya sambil mengulum senyum."Yang suka bikin rusuh di sekolah, kita se- SMA." Lanjutnya.Berbeda dengan Ardania yang langsung terlihat bersemangat, Abrizio malah mengedikkan bahunya acuh. Ia tidak pernah melihat gadis ini sebelumnya, mungkin dia tidak terkenal di sekolah. Entahlah."Nama lo Zio kan, ya? Satu lagi si Zen, kemana anaknya?" Ngapain sih nanyain Zen! Bukan apa apa kenapa gadis imut ini malah mencari yang tidak ada sedangkan yang ada saat ini wajahnya tampan luar biasa, kurang apa lagi coba?"Gue, Ardania rifda." Ardania mengulurkan tangannya untuk bersalaman, tadinya Abrizio enggan untuk menjabat tangan mungil nan lembut milik gadis itu. Tetapi karena dia tidak tega mengabaikannya akhirnya Abrizio membalas jabatan tangannya."Udah kan, gue cabut." Abrizio hendak berbalik namun lagi lagi Ardania mencegahnya."Tunggu, ih. Buru buru amat." Ardania menyebikkan bibirnya."Gue sibuk Ar-nia .""Ardania." Ralat Ardania."Iya, gue sibuk Ardania rifda ." Ulang Abrizio."Lo IPA berapa?" Tanya Ardania, meski sikap Abrizio terbilang tidak cukup baik padanya tetapi ia seolah mendapat lampu hijau karena Abrizio sudah mau menjabat tangannya."IPA 2.""Lantai atas dong, wih gue jarang tuh ke lantai atas. Mentok jalan jalan sampek lantai 2.""Terus?" Abrizio menaikkan sebelah alisnya."Tolong ambilin itu." Pintanya lagi."Buat apaan, lo masih kecil.""Ralat, masih polos.""Bukan buat gue, tapi buat saudara gue." Belanya tak terima."Ya, ya, ya?" Ardania menarik ujung kaos oblong Abrizio hingga molor ke bawah."Apaan sih." Abrizio menghempaskan tangan gadis itu lalu sedikit mundur kebelakang."Enggak mau, nih?" Tanyanya hampir menyerah."Males, gue lagi sibuk.""Beneran?""Gue cabut.""Yakin," katanya lagi."Permisi.""Tega?" Ardania menyebikkan bibirnya." Sssh , iya dah." Abrizio menghela nafasnya panjang lantas melangkah maju menuju rak besi yang berisikan barang barang sakral."Mau berapa?" Tanya Abrizio."Dua." Sahut Ardania seraya tersenyum lebar.Setelah mengambil dua bungkus benda sakral yang bertuliskan kondom sutera itu, ia lalu berjalan menuju kasir.Mbak mbak penjaga kasir mengulum bibir ketika melihat tiga buah barang yang disodorkan Abrizio. "Kondom sutera 2 sama Pocary Sweet 1, ya?" Abrizio menggaruk tengkuknya sambil mengangguk, ia sedikit melirik kebelakang dimana tubuh Ardania berdiri tepat dibelakangnya.Setelah selesai membayar Abrizio keluar dahulu, ia menunggui Ardania selesai melakukan pembayaran."Nih." Disodorkannya dua kondom berwarna merah itu pada Ardania dengan kasar."Huah makasih." Ardania yang baru keluar pun langsung menerimanya."Nih uangnya, gw gantiin.""Nggak perlu." Tanpa menunggu apa-apa lagi Abrizio langsung meninggalkan Ardania begitu saja.Tidak pernah Ardania sadari, diam diam ia kagum kepada seorang Abrizio padahal lebih dari 5 tahun ia tidak pernah merasa seperti sekarang ini, bahagia ketika melihat Abrizio kesal. Sejak saat itulah Ardania memutuskan untuk mengejar cinta pertamanya.Flashback off"let's say I'm crazy for chasing after men with no embarrassment. even though I have often been rejected outright, but maybe because of this first love, I consider this a challenge."Ujar Ardania pada dirinya sendiri. Seharusnya ia mundur tetapi tidak meski ditolak mentah-mentah dia harus tetap bertahan. Dia yakin seyakin-yakinnya kalau Abrizio akan melihatnya, Abrizio akan mencintainya. Itu pasti itu.Pikiran jahil terlintas dalam benaknya, Ardania menghidupkan ponselnya lantas masuk ke dalam aplikasi foto. Dengan gayanya yang khas ia menckrek/selfie🤳, setelah selesai ia membuka aplikasi WhatsApp dan langsung menemukan kontak milik Abrizio di bagian paling atas lalu Ia mengirimkan fotonya dengan caption ...Secantik cantiknya gue, gue enggak pernah jelek karena lo tolakTidak masuk akal memang, tapi biarlah. Ia mengklik tombol send, ia langsung melempar ponselnya ke sembarang arah.Di rumah lain, Abrizio baru saja selesai mandi. Ia menyempatkan diri untuk melihat ponselnya yang sedari tadi berbunyi. Ia melihat ada 87 notifikasi salah satunya milik Ardania. Karena ingin tahu ia pun melihat pesan darinya.Abrizio hampir tak berkedip melihat foto yang dikirimkan Ardania untuknya. Gadis cantik berponi tipis tengah tersenyum manis sambil meletakkan jari telunjuknya di sudut bawah bibir orangenya. Cantik, batinnya.Tetapi Abrizio mendadak geli ketika membaca tulisan di bawahnya."Kurang kerjaan." Abrizio hanya me-read pesan Ardania begitu saja, meskipun ia sempat tenggelam oleh kecantikan Ardania.💔💔💔Ardania ArdaniaArdania ArdaniaArdania ....Nama yang selalu memenuhi kepalanya hingga ia merasa pusing. Malam minggu, seperti biasanya ia menghabiskan malamnya di sebuah club ternama di Jakarta. Abrizio sudah menghabiskan 10 botol white wine tanpa sadar. Ia ingin mengenyahkan nama Ardania dari kepalanya, sungguh gadis itu mengusik hatinya, Mengusik ketenangannya."Zio, gue ke toilet bentar." Zen yang menemani Abrizio ke bar sedikit risih karena para jalang melingkarinya dengan gaya aneh aneh. Ada yang memonyongkan bibir sambil menungging, ada yang memutar mutar matanya seolah ingin menunjukkan bahwa bulu matanya anti badai dan masih banyak lagi."Hm ..." Abrizio sudah tidak kuat membuka matanya, matanya teramat sangat berat namun tubuhnya terasa ringan raungan raungan nama Ardania lenyap begitu saja. Apalagi di pangkuannya terdapat wanita bertubuh gempal yang terus saja menyodorkan white wine.Kepalanya berputar, pandangannya kabut. Abrizio yang sudah berada di ambang batas kesadarannya merogoh saku untuk mengambil rokok, dibantu wanita gempal yang melayaninya akhirnya Abrizio dapat merokok meski agak kesusahan karena kepala gembul wanita yang ada di pangkuannya menghalanginya.Lama, hingga rokok yang disulutnya sudah menjadi putung. Abrizio benar benar teler, ia di papah oleh wanita sebut saja mutan (mon maap namanya begitu, author benci jalang soalnya. Berdoa aja semoga Zen segera datang!)Baru beberapa langkah Abrizio di papah sebuah teriakan menghentikannya. Mutan menoleh kearah teriakan tersebut seraya menaikkan sebelah alis tebalnya."Ada apa?" Tanyanya."Maaf, itu pacar gue.""Pacar lo?" Mutan menyebikkan bibirnya mengejek, dari penampilannya saja sudah jelas bahwa gadis itu sangat tidak cocok dengan Abrizio. Gadis berpakaian serba orange itu mengangguk lalu dengan gesit mengambil alih Abrizio dari mutan."Mau bawa kemana, eh?""Terserah gue dong, kan ini pacar gue." Ujarnya lalu melangkah keluar club.Mutan mendengus kasar sambil mendumel ala emak emak sampai bahunya terasa di tepuk oleh sebuah tangan."Abrizio mana?" Zen menyipitkan matanya melihat mutan yang masih memasang muka jutek."Temen gue mana?!" Karena suara musik yang terlalu keras Zen pikir suaranya tidak terdengar oleh Mutan."Dibawa cewek. Puas!" Teriaknya lalu meninggalkan Zen yang mematung di tempatnya."Njir! Kok gue di bentak sih." Setelah memastikan sekali lagi kalau Abrizio tidak ada di dalam club, Zen pun berjalan keluar club sambil menggaruk kepalanya yang pusing dengan hilangnya Abrizio.Zen lupa dia punya ponsel, lalu apa guna ponsel itu sendiri kalau pemiliknya goblog? Tapi tidak masalah yang penting TAMPAN nice."Bego! Gue kan bawa handphone." Kesalnya. Setelah mendial nomor Abrizio yang tak kunjung tersambung akhirnya ia baru sadar kalau kondisi Abrizio sedang mabuk dan sekarang yang harus digoblogkan siapa!💔💔💔"Cowok bandel. Padahal kan tadi gue udah chat dia banyak banyak supaya nggak ke club lagi ...""Untung aja nyokap gue lagi nggak dirumah." Iya, Ardania membawa Abrizio ke rumahnya. Hanya ada dia dan Abrizio saja di sana."Zio, kok lo ganteng sih?" Parahnya Ardana membawa Abrizio ke dalam kamarnya."Bau lo alkohol, lepas baju ya. Pake baju papa gue." Setelah bermonolog Ardania mendekatkan dirinya kepada Abrizio untuk melepas Hoodie hitam yang dikenakannya setelah Hoodie nya lolos, hanya tersisa kaos oblong putih. Kaos yang mirip dikenakannya pertama kali mereka bertemu.Senyum Ardania mengembang mendengar Abrizio meracau, meski kurang jelas tapi cukup untuk di dengar."Ardamia ... Ardamia ... Ardamia.""Kenapa?" Jawab Ardania pelan sambil memajukan wajahnya ke wajah Abrizio."Ardamia .... Arh.""Shit!" Umpat Ardania ketika tangan kekar Abrizio dengan lancang memeluk pinggangnya erat."Zio, Zio, lepas.""Love you." Bisik Abrizio setengah sadar tepat di telinga Ardania. Mau tidak mau Ardania tetap tersenyum, pertama kali dalam sejarah hidupnya seorang Abrizio mengatakan cinta padanya."Love you to." Perlahan Ardania melepaskan tangan Abrizio di pinggangnya, setelah usaha beratnya setelah beberapa kali tidak sengaja jatuh ke pelukan Abrizio berkali-kali ia akhirnya lolos.Ardania berdiri tegak sambil mengelap peluhnya yang sudah sebesar jagung karena menahan nafas. Ia tidak bisa melihat human sesempurna ini!"Abrizio bangun, bangun Zio.""Lo nggak sekolah?""Abrizio!"Bulu mata lentik Abrizio bergerak gerak sebelum akhirnya matanya terbuka, ia langsung melotot ketika rentina matanya menangkap sosok Ardania."Morning!" Sapa Ardania yang sudah mengenakan seragam sekolah."Lo ngapain disini!" Abrizio menggelengkan kepalanya seolah kehadiran Ardania sangat mustahil."Lah, ini kan kamar gue." Bola mata Abrizio hampir lolos dari tempatnya. Ia mengedarkan pandangannya menyapu bersih setiap sudut ruangan dengan warna dominan pink."Lo gila!" Abrizio segera bangkit lalu keluar dari kamar Ardania."Zio, kita berangkat sekolah bareng.""Nggak.""Kenapa kita kan searah.""Gue bilang enggak ya enggak!" Ardania tertegun efek dari bentakan keras Abrizio namun ia tidak mundur begitu saja."Zio tunggu!" Meskipun Abrizio tidak membawa mobil tetapi ia menaiki taksi."Zio!" Langkah kecilnya tertinggal jauh dengan langkah besar Abrizio yang bahkan sekarang sudah masuk kedalam taksi."Abrizio tungguin gue!!" Teriaknya lagi dengan nafas memburu, bahkan setetes bening sempat mengalir di kedua pipinya.Ia memegangi perutnya yang terasa sakit hingga suara klakson mobil berbunyi nyaring.Hingga"Aaaaaaaaaaaaaaaaa ....!!!!"Abrizio menoleh kebelakang melihat lewat lewat kaca mobil. Ia segera menyuruh sopir taksinya berhenti. Ia terkejut luar biasa melihat gadis yang dihindarinya sekarang terpelanting ke sisi jalan. Bahkan mobil yang menabraknya sama sekali tidak bertanggung jawab memilih tancap gas."Ardania!" Teriak Abrizio yang tidak sabar, ia keluar dari mobil lalu berlari sekuat tenaga."Ardania, lo nggak papa kan?" Abrizio berjongkok mengangkat kepala Ardania ya bersimbahan darah akibat menghantam pembatas jalan.Abrizio ketakutan melihat banyaknya darah yang mengalir di kepala Ardania, ia menduga kepala Ardania bocor.Ardania masih sadar meski matanya hanya terbuka sayu."Zio mmm ...." Rintihnya menahan sakit."Lo nggak papa, lo akan baik baik aja.""Ayo kita ke dokter." Ardania tersenyum samar. Air matanya mengalir. Ia melihat ketulusan seorang Abrizio, ia melihat ketakutan seorang Abrizio, ia melihat kekhawatiran seorang Abrizio, Ardania melihatnya!"Abrizio ..." Ardania ingin berbicara tapi mulutnya kelu, ia hanya pasrah ketika Abrizio menggendongnya ala bridal style.💔💔💔Bau antiseptik yang begitu menyengat membuat mual siapa saja yang benci dengan bau obat-obatan. Persetan dengan bau obat-obatan, Abrizio gelisah menunggu Ardania yang sedang di tangani oleh dokter."Bro! Gimana keadaannya." Zen menepuk keras bahu Abrizio yang membelakanginya, Zen sendiri baru datang setelah tadi dikabari oleh Abrizio."Ck cepet amat lo datangnya, gue ngabarin lo baru 5 menit yang lalu."Zen menyengir kuda "Gue tadi lompat gerbang belakang kek biasanya, untung aja ada mobil Reno yang parkir di luar. Ya gue embat lah." Katanya menyombongkan diri."Oh."Abrizio tidak tertarik lagi untuk bertanya ataupun menjawab pertanyaan Zen sebelumnya. Karen keinginannya saat ini hanya satu yakni melihat Ardania baik-baik saja."Bagaimana keadaan Ardania Dok?" Tanya Abrizio tepat setelah dokter berperawakan tinggi itu keluar dari ruangan Ardania."Bisa saya berbicara dengan orang tua atau saudaranya." Abrizio menoleh ke samping, ia bahkan tidak mengabari orang tua Ardania lagi pula dirinya sama sekali tidak tahu menahu soal keluarga gadis itu."Dia tunangannya, Dok." Zen menunjuk Abrizio yang masih menatapnya, Abrizio ingin menggeleng namun urung."Jadi anda tunangannya, baiklah mari ikut saya."Tidak sampai 30 menit Abrizio sudah selesai berbicara dengan dokter, dokter mengatakan bahwa Ardania kehilangan banyak darah sehingga membutuhkan donor darah, untungnya rumah sakit memiliki kantung darah golongan B. Goresan goresan di sekitar tangan tidak terlalu parah hanya saja kali Ardania harus di amputasi karena Kaki kirinya mengalami patah tulang.Abrizio mengacak rambutnya frustasi melihat gadis mungil yang selalu menganggu hidupnya tengah terbaring lemas. Ia bingung harus mengatakan apa kepada orang tua Ardania dan lagi bagaimana dia memberitahu Ardania jika kakinya akan diangkat sebelah."Kasian Ardania, cantik dan sekarang harus cacat karena lo."Abrizio tidak mengelak ia bahkan mengangguk setuju. "Gue emang brengsek, Zen." Zen mengelus punggung Abrizio menenangkan."Semua akan baik-baik saja asalkan lo mau bertanggung jawab.""Gue takut Ardania akan benci sama gue.""Karena gue dia jadi kehilangan kakinya, karena gue dia jadi kehilangan banyak darah, karena gue dia jadi kaya gini ..."Dua hari berikutnya hanya senyap, Zen memberikan waktu kepada Abrizio untuk berdua saja dengan Ardania yang baru saja sadar."Zio ..." Nama itu yang pertama kali ia sebut setelah 48 jam tertidur. Bibirnya pucat."Gue disini Dania." Lirih Abrizio seraya menggenggam lembut jemari Ardania."Gue panggil dokter dulu ya." Abrizio hendak bangkit berdiri namun Ardania mencegahnya."Please, jangan ...""Jangan tinggalin gue ..." Suaranya seringan bulu membuat siapa saja yang mendengarnya akan luluh begitu saja."Ya udah gue di sini aja." Abrizio ingin menekan interkom lagi lagi Ardania menggeleng keras kepala."Jangan .... Jangan panggil dokter.""Tapi kamu harus di periksa dulu." Senyuman tipis terbit di bibir pucat Ardania mendengar Abrizio menggunakan kata aku-kamu.Abrizio menoleh menatap Ardania yah masih tersenyum, rasa bersalah semakin bergumul di dalam hatinya. Ia ingin mengucapkan kata maaf tetapi sepertinya itu saja tidaklah cukup untuk membayar apa yang sudah ia lakukan kepadanya.Kening Ardania berkerut merasakan sesuatu di kaki kirinya. Ia mencoba menggerakkan kakinya tetapi nihil meski ia telah berusaha sekuat tenaga."Kaki gu .... E ke ... Napa susah di ... Gerakin."Abrizio menelan ludahnya pahit, ia bingung harus berkata apa. Tadi Abrizio sudah menghubungi keluarga Ardania, Ayah dan ibu Ardania mungkin sebentar lagi sampai dan yang ia takutkan akan terjadi dibenci gadis yang dahulu mengejarnya, Ia akan di bayangi oleh rasa bersalah."Kita harus panggil dokter dulu ya." Kata Abrizio lembut, ia berjanji kepada dirinya sendiri kalau ia yang akan mengatakan sendiri tentang aputasi di kaki Ardania.Ardania kembali tersenyum merasakan jemari ramping Abrizio mengelus rambut poninya.Abrizio menekan interkom dua kali, tidak sampai tiga menit dokter yang menangani Ardania datang ke ruangannya.Orang tua ardania datang bersamaan dengan keluarnya dokter yang menangani Ardania. Abrizio menengguk ludah menatap sendu dua orang pasangan yang berjalan kearahnya dengan raut wajah cemas."Anak saya dimana?" Wanita berumur akhir tiga puluhan bertanya kepada Abrizio dan dokternya."Ibu orang tua dari saudari Ardania rifda?" Wanita itu mengangguk."Anak ibu sudah sadar dan kondisinya mulai membaik namun kakinya harus segera di amputasi karena kalau tidak tulangnya yang hancur akan membusuk." Mata ibu Ardania sudah berlinangan air mata, ia tidak tahu lagi harus bagaimana. Tanpa pikir panjang keduanya langsung masuk ke dalam untuk menemui Ardania."Ardania ....""Sayang ...." Ibu Ardania langsung menubruk tubuh Ardania."Mama, Papa." Ardania ikut menangis."Ardania bakalan nggak punya kaki Ma, Pa." Tutur Ardania. Sementara itu Abrizio hanya terdiam membisu bersandar di samping pintu, ia lebih hancur lagi ketika mendengar suara pilu Ardania.Ayah Ardania keluar dari ruangan dengan wajah dingin. Abrizio menoleh dan balik menatap ayah Ardania sendu."Kamu laki-laki yang menyebabkan anak saya menjadi cacat?" Abrizio mengangguk."Kamu laki laki yang di cintai anak saya?" Abrizio kembali mengangguk."Brengsek!" Ayah Ardania meninju tembok di samping Abrizio yang menutup matanya pasrah. Keduanya tampak tidak baik-baik saja sekarang."Maaf Om.""Maaf?!""Saya akan melakukan apapun agar Om mau memaafkan saya.""Saya tidak mau apapun dari kamu. Pergi sekarang dan jangan temui Ardania." Abrizio menggeleng."Saya tidak bisa jauh dari Ardania om.""Kenapa?! Bukannya kamu senang sudah bisa lepas dari anak saya?""Baiklah kalau itu yang Om mau, tapi izinkan saya bertemu dengan Ardania sekali saja.""Baiklah." Setelah menghela nafas panjang akhirnya ia mengiayakan."Ardania." Ardania melengoskan kepalanya menghindari kontak mata dengan Abrizio."Maafin gue," Abrizio mendekati Ardania mencoba meraih jemarinya namun Ardania menepisnya kasar."Ar ...""Apalagi! Lo puas kan sekarang.""Ardania dengerin gue, gue cuma mau bilang.""Bilang apa! Nggak cukup selama ini pengorbanan gue ngejar ngejar Lo?!""Pergi sekarang gue nggak butuh cowok berhati ...""I love you.""I love you, Ardania." Satu kalimat itu membuat Ardania bungkam. Ia mencoba membuka mulutnya namun gagal.Rasa sakit yang mendera seluruh tubuhnya menghilang entah kemana yang timbul sekarang malah perasaan bahagia yang teramat sangat."Gue nggak akan pergi kemanapun, meskipun bokap lo nyuruh gue pergi sejauh-jauhnya dari lo.""Gue baru sadar kalo gue jatuh cinta sama lo Ardania."Ardania hanya mampu tersenyum manis sembari menganggukkan kepalanya.End
Takdir Cinta
Ponselku berdering berulang kali, aku belum sempat mengangkat sebab aku sedang berusaha membopong temanku, Nayla ke rumahnya karena ia terjatuh."Hallo" ucapku mengangkat panggilan itu namun tak ada suara"Hallo" ucapku kembali"Hallo, pak... Are you okay? " Ucapku kembali dengan nada sejenaka mungkin"Gea" jawab suara diseberang dengan lesuAku langsung menegakkan badanku dan menjawab dengan nada khawatir "Kamu dimana?" Sambil berjalan keluar rumah mengambil kunci mobil di dalam tas dengan tergesa memasuki mobil"Gea" ucap suara itu kembali"Iya.. Kamu dimana?" Aku mulai melajukan mobilku ke apartementnyaTanpa menjawab panggilan terputus, bukan apa-apa aku hanya takut dia melakukan hal yang tidak diinginkan. Usai kebanyakan nonton film menghasilkan cemasku berlebih. Dan dia juga pernah menyiksa dirinya sendiri hanya karena kesalahan yang bukan dirinya lakukan. Orang tuanya.Sialan kamu Arman, gimana sih?Memakan perjalanan 15 menit sampai disana, aku berjalan tergesa ke unitnya memencet bel berulang kali tanpa jawaban. Persetan tidak ada jawaban aku langsung memencet sandinya namun di dalam tak ku temukan siapapun."Arman kamu dimana?" PanggilkuSeketika aku mengingat tempat yang sering dikunjunginya apalagi saat dia ingin mencari udara segar.Aku bergegas kembali menaiki lift disana menuju lantai paling atas, kembali bergegas jalan dengan tergesa menaiki undakan tangga menuju rooftop.Aku bernafas lega menemukannya di sudut sambil menekuk lututnya, menetralkan nafas yang tak beraturan.Kemudian aku mendekat ke arahnya, berdiri tepat di depannya."Gea" ucapnya parau, kemejanya yang biasa rapi kini 2 kancingnya sudah terbuka, lengan kemeja di gulung hingga siku. Rambutnya yang biasa di tata dengan rapi kini juga terurai berantakan.Tapi sungguh, Arman tetap terlihat tampan dan em... Seksi. Ah maksudku bagaimanapun dia tampan."Aku tahu, pasti kamu menemukanku. Lagi"Aku menghela nafas sejenak, kemudian ikut berjongkok dan memeluknya yang ia balas tak kalah erat memelukku."Ge.. Hatiku sakit melihat mama sedih. Papa Ge, akhirnya papa kembali."Aku menepuk mengusap-usapnya perlahan "Semua pasti akan baik-baik saja"Dia menggeleng di dalam pelukanku "Akan lebih baik dia gak kembalikan daripada mengusik kehidupanku dengan mama yang sudah tentram"Aku hanya berusaha menenangkannya karena kehidupannya sudah pelik. Dulu sekali ia pernah menyayat lengannya dengan silet hanya karena tidak tahu harus bagaimana saat melihat ibunya seperti ingin bunuh diri.Papanya yang suka marah tanpa tentu arah."Mama kamu pasti sekarang sudah lebih kuatkan, buktinya mama kamu berusaha kuat meski di depan kamu. Tidak histeris seperti dulu"Ia mengangguk kemudian mengangkat wajahnya "Terima kasih""Tadinya rasanya tidak nyaman, tapi lihat kamu disini jadi lebih baik" ucapnya lagi.Aku tersenyum lalu mengangguk "Oke sekarang gimana? Betah banget peluk aku terus ni?" Tanyaku dengan meledekIa terkekeh geli "Yasudah usap ni air matanya" ucapku sambil mengusap air matanya dengan ibu jariku.Arman yang sekarangku kenalkan berbeda, sekarang dia lebih ke galak gak sih? Karena mengingat dia sedang jadi dosen di kampusku. Salah satu kampus ternama di kotaku.Dia juga adalah pimpinan di perusahaan, milik mamanya. Aku tahu ini dari dia yang bercerita, yah sepertinya dia ingin pamer padaku.Kalau begini aku jadi ingat awal pertemuan kami, dimana saat itu ia sedang berdiri di pinggir jembatan saat malam hari. Aku yang kebetulan pulang dari rumah Eriska teman SMP ku melewati jembatan itu melihatnya sedang berdiri dengan posisi kaki naik ke pembatas.Spontanitasku sebagus itu dan menghentikan laju mobil dengan segera ku tarik dan ku dekap sambil berkata "Mas... Please mas.. jangan gegabah. Hidup ini memang berat tapi semua pasti ada hikmahnya""Ha?" Jawabnya"Iya, mas. Percaya deh. Aku gak bohong. Dengan mas bunuh diri bukan berarti masalah mas selesai. Ih gak tau aja ntar di akhirat serem loh mas."Tapi jawabannya malah tertawa "Kamu mikir saya mau bunuh diri?"Aku mengangguk "Iya, jangan ya mas ya. Setidaknya jangan ada saya bunuh dirinya. Kan jadi pertanggungjawaban saya juga di akhirat nanti""Ntar malaikat nanya gini, heh kamu kenapa gak mencoba menolongnya gitu gimana dong?" TambahkuDia semakin tertawa dengan keras "Kamu kebanyakan nonton tv deh, korban sinetron. Saya gak mau bunuh diri."Aku tertawa kecil mengingat awal pertemuan kami itu yang berlanjut bertemu sebagai dosen yang kini dia mengajar di kampusku. Saat bertemu bukannya tidak syok, aku sengaja menghindar awalnya tapi dia mulai merecokiku dengan mengingatkan kejadian itu. Hih.. gemes. Lama-lama ntah bagaimana kami jadi dekat. Mungkin juga karena sering terpergokku kala ia sedang dalam masa sulit."Kamu mikir apa sih?" Tanya Arman menarikku dari ingatan masa lalu, kini kami sudah berada di unitnya dengan teh hangat.Aku menggeleng sambil tersenyum "Ingat dulu lucu aja. Aku kira kamu bakalan bunuh diri""Enggaklah. Gak sependek itu juga""Lah terus dulu pernah...""Kan gak bunuh diri." Potongnya"Tapi nyakitin diri sendiri tau gak" balasku ketus"Kan sudah berubah" jawabnya kalemTanganku terangkat merapikan rambutnya, yang terasa halus di jemariku. Lalu ku usap pipinya perlahan tangannya juga merangkum tanganku di pipinya."Semua pasti akan baik-baik saja." Ucapku lalu ku tarik tanganku lalu ia mengangguk"Oke, aku balik dulu ya kalau gitu dah malam ini""Karena itu, menginap disini saja""Besok akutuh ada kuliah pagi""Dosennya aku juga"Aku memang beberapa kali pernah menginap disini salah satunya saat ia begini tapi jangan salah paham loh ya, kamar kan gak cuma satu."Bajunya kan di kos. Gak bawa baju" kilahku"Perasaan kamu selalu bawa persediaan baju deh di mobil"Aku tertawa, bangkit dari kursi setelah sebelumnya melempar bantal sofa ke arahnya yang di balas dengan tawanya juga."Duh.. Aku ngantuk banget deh" berjalan memasuki kamar ke dua di unit apartemen milih Arman.----------"Ngeliatin apa sih Ge?" Suara Nayla mengingatkanku, saat ini kami sedang di kantin kampus.Aku menggaruk tengkukku "Enggak, lihat Kevin gak muncul ya" kilahkuPadahal di depan sana aku melihat Arman sedang berbincang dengan bu Rani. Sepertinya seru sekali.Mendadak makanannya jadi gak enak.Tak lama ponselku berdenting, pesan dari Arman mengajakku nonton bioskop.Mas ArmanNtar ketemu di parkiran, kita nonton bioskop ada yang mau aku lihat bareng kamuWah... Asik nih nonton dan makan gratis. Ku tatap ia yang duduk di depan sana yang ternyata juga menatapku sambil tersenyum. Ku peringatkan, nama Mas Arman di ponsel, dialah yang memberi nama itu."Demi apa coba? Pak Arman senyum coy" pekikan Nayla heboh "Dan sama lo senyumnya"Aku tertawa kecil menanggapinya"Seriusan gue kepo, lo gak pacaran sama pak Arman?""Enggak" balasku"Gila ya.. sedekat itu bisa gak jadian""Emang gimana sih?" Balasku tak ramah"Ya gimana ya, Ge. Saling berbagi kasih tapi kek gada apa-apa gitu. Pahamlah maksudnya ya""Ya jalanin aja sih, Nay. Belum mau nikah cepat juga""Gaya lo. Lo bilang mau nikah muda. Makanya dipepet Kevin mau aja. Tapi Kevin juga ganteng dan kaya sih. Cocok buat lo yang banyak maunya""Kakak gue kan belum menikah""Gampanglah. Langkahin aja. Dah gak zaman bahela ini. Lengkapin permintaannya yang minta emas 24 karat itukan? Halah.. bisa di aturlah itu" papar Nayla panjang lebarTapi masalahnya, aku gak cinta sama Kevin. Dia memang baik tapi hati gak bisa di paksakan.Ponselku kembali berdering menampilkan nama kak Ayasha"Ya hallo kak"" Dek jadi pulangkan minggu depan?""Kenapa kak?"" Kan sudah janji. Libur semester pulang ""Iya kak. Aku pulang kok. Sampaikan salam sama mama papa ya kak."" Telpon dong mereka ""Nanti aku di introgasi pacar mana pacar mana kak. Ah bosan"Kak ayasha tertawa " Ya sudah, kakak cuma mau mengingatkan saja "Dan sambungannya terputus, aku mendesah pelan."Kenapa sih?" Desak Nayla"Lo taukan, Nay. Salah satu alasan gue kuliah jauh karena kak Ayasha juga. Gue gak tega kak Ayasha di pojokkan selalu harus cepat menikah lalu ujungnya ke gue, karena gue belum punya pasangan kak Ayasha jadi bersantai dengan pasangannya karena karir mereka"Kak Ayasha memang sedang bagus-bagusnya berkarir. Dia baru saja di angkat menjadi manajer pemasaran di perusahaan ternama, memang usianya hanya terpaut 4 tahun dariku. Saat ini usiaku 22 tahun."Lagipula kak Ayasha masih 26 tahun ya kenapa di buru nikah terus sih?""Sebenarnya bukan itu pokok permasalahnnya, Nay. Karena Mas Brendon sudah 2 tahun belum pulang dari London. Mama cuma gak mau kakak di gantungin gitu"Aku mengerti maksud orang tuaku, mereka memang berhubungan dengan serius tapi bisa sajakan waktu yang berkhianat.Misal ni mereka saling cinta tapi tiba-tiba mas Brendon dijodohkan mamanya. Seperti di novel yang pernah kita baca. Orang tuaku hanya tidak ingin kak Ayasha mendapat harapan palsu yang berujung patah hati.Mengenai tunangan? Mas Brendon tidak ingin ada lamaran, ia ingin langsung menikah saja.Nayla mengangguk-angguk "Sebenernya alasan lo aja kan libur semester, kita juga cuma nyusun skripsian doang ini. Yah kalau mau kabur bisa aja" balas Nayla sambil tertawa kecil.---------"Ya ampun pak Arman romantis syekali ya" ucapku kemudian setelah keluar dari bioskop dan membelokkan langkah ke tempat makan, masih di mall yang sama tempat kami menonton film.Bagaimana tidak? Aku itu penakutkan, katanya tadi mau lihat film romantis, eh taunya malah film horor, sepanjang film aku sibuk menutup mata dan Arman sibuk dengan tawa nya menertawakan aku."Serukan filmnya? Teman-temanku banyak bilang ini seru makanya aku mengajakmu""Bodo amat, pak.""Yasudah pesan, mau apa?" Dia menyodorkan menunya padaku"Mm.. yang paling mahal ya" balasku dengan tawa kecil tapi aku hanya bercanda, nyatanya aku hanya pesan nasi goreng pataya dengan segelas lemon tea saja.Tak lama pesanan kami datang dan mulai memakannya perlahan."Akhir pekan mau kemana?""Pulang ke Bandung, mama nyuruh pulang""Kenapa? Mau di jodohkan"Aku mengangkat bahu, "Kakakku kan belum menikah. Masih menunggu pacarnya. Gak yakin juga jodohku bisa nyanggupin permintaannya ketika di langkahin kan" jelasku sambil menyuapkan sesendok nasiArman mengangguk-angguk lalu berkata "Tapi aku bisa nyanggupin permintaannya kalau cuma perihal materi""Iya iyaa orang kaya mah bebas ya" balasku sambil meledeknya. Jangan baper, ini sudah biasa terjadi.Ia melihat ponselnya sebentar sebelum kembali berkata padaku "Wah. Kebetulan dong, aku juga mau kesana. Bareng aja bagaimana?""Kemana?" Tanyaku"Semarang""Jangan deh, merepotkan gak sih""Enggak kok""Nanti aku pikir-pikir dulu""Ge, kayaknya aku lagi tertarik deh sama seseorang"Aku mengangkat wajahku ke arahnya "Siapa?" Balasku"Nanti aku beritahu, mungkin karena nyaman bicara aja sih. Aku ketemu dia saat ke Semarang bulan lalu, ketemuannya juga gak sengaja ternyata dia bekerja di kantor....""Oh jadi nanti ke Semarang sekalian mau bertemu dengannya?" Potongku"Tidak juga. Mama barusan kabarin aku disuruh mengecek ke sana, jadi yasudah sekalian ajakan. Kamu juga mau ke Semarang."Aku mengangguk, "Iya sih" tapi aku masih penasaran sih "Kamu... Suka sama perempuan itu?" Tambahku"Gak bisa dikatakan begitu juga." Aku hanya diam sambil menganggukkan kepala."Sudah selesaikan? Kamu ikut aku dulu ya. Aku ambil berkas di rumah dulu ada yang tertinggal. Sekalian ketemu sama mama. Aku belum pernah ajak kamu ketemu langsungkan?""Wah.. gak bisa berkata-kata akutuh sama pak Arman." Balasku tapi dia hanya tertawaLalu kamipun keluar menuju perjalanan ke rumahnya. Hanya perasaanku saja atau bagaimana ya, ia terus memegang tanganku. Aku menatapnya lamat-lamat.Ku perhatikan wajahnya saat fokus mengemudi lalu beralih ke tangannya yang memegang tanganku.Bolehkah aku jatuh hati padanya Tuhan?Bahkan sebelum meminta izin aku sudah jatuh hati duluan padanya tanpa ku sadari. Ya mau bagaimana jika keseharianku selalu banyak diisi oleh kehadirannya."Kenapa sih?" Tanyanya padaku"Ha? Tidak apa-apa" balasku sambil menarik tanganku darinya"Ohiya mama kamu galak gak?" TambahkuDia tertawa "Mungkin lebih ke cerewet kali ya"Tiba di rumahnya kami berjalan mulai memasuki rumah, tiba di pintu utama ia terdiam aku yang di belakangnya bingung.Menyentuh lengannya aku bertanya "Arman, ada apa?" Dia diam menatapku lalu menatap ke dalam. Ku ikuti arah pandangnya terdapat pria paruhbaya yang sedang menatapnya juga. Yang kuyakini itu adalah papanya."Ayo" ajaknya"Mm.. Arman, aku tunggu di sini saja ya"Ia menaikkan alis tanda tak mengerti. Maksudnya gimana ya aku juga bingung, kayak akutuh orang lain. Gak enak aja gitu.Ia menarik tanganku membimbingku masuk ke dalam rumahnya yang besar, wah ku ralat ini besar sekali.Aku menganggukkan kepalaku saat melewati papanya Arman dan beliau tersenyum ramah padaku."Kamu tunggu di sini dulu ya" ia menyuruhku duduk di ruang tamunya dan aku mengangguk. Memangnya mau kemana lagi?Lalu papa Arman tiba-tiba datang, "Kamu kekasih Arman?""Ah? Bukan, om. Hanya teman"Papa Arman tersenyum "Saya berharap kamu yang mendampinginya." Lalu ia pergi dari sanaTak lama seorang wanita yang ku yakini adalah mama Arman masuk berjalan ke arahku, dengan segera aku bangkit."Hallo, tante. Aku temannya Arman"Ia menatapku sekilas tersenyum lalu pergi menyusul Arman ke suatu ruangan yang dimasuki Arman tadi. Tampak terburu-buru.Aku menghela nafas, meminum jus jeruk yang di buatkan oleh ART.Lalu tak lama Arman keluar dari ruangan itu diikuti mamanya."Arman" ucap papanyaJadi kini situasinya aku sedang menyaksikan drama keluarga ini. Pahamkan maksudnya bagaimana? Tentu tidak enakTerlihat Arman menghela nafas sejenak, lalu mengangguk mengikuti langkah papanya.Mamanya datang duduk di sebelahku "Kamu Gea, kan?"Aku tersenyum "Iya, tante""Arman banyak cerita soal kamu. Tante senang" Mama Arman memegang tanganku "Terima kasih sudah bersama Arman selama tiga tahun terakhir ini, tante berharap kamu terus bersamanya""Mm... Tante, aku sama Arman gak punya hubungan apa-apa kok" jawabku kalemIa tertawa "Arman sama seperti papanya. Ia hanya belum menyadari mungkin. Mengenai hubungan kami, pasti Arman banyak cerita sama Gea. Tapi sebenarnya papa Arman baik. Mungkin lebih tepatnya sudah berubah menjadi lebih baik"Aku tidak tahu seperti apa wanita di hadapanku ini tapi dia sungguh baik sekali. Bisa berbijaksana memaafkan keadaan yang sudah-sudah.Perasaan Arman yang tak menyadari aku tidak ingin berharap, karena Arman baru saja mengatakan tertarik pada seseorang.Juga... Aku tidak ingin mengakui perasaanku padanya.Aku dan mama Arman berbincang kecil tak jarang kami tertawa, rasanya baru sebentar saja kami sudah terlihat akrab. Mama Arman sungguh ramah dan terlihat hangat padaku."Kalian bicarakan apa?" Arman datang lalu duduk di sebelahku."Ah rahasia ya, Ge" balas mamanya "Sudah bicara pada papa?" Tanyanya lagiArman mengangguk singkat"Mama harap, semoga bisa mengubah pandanganmu, nak. Papa tidak seperti yang kamu pikirkan"Arman menunduk seperti sedang memikirkan sesuatu, aku menggenggam tangannya lembut dan ia mendongak. Tersenyum padaku lalu mengangguk."Kalian mau kemana? Makan malam disini aja bagaimana" tawar mamanya"Tidak, ma. Kami mau pulang saja. Gea juga sibuk. Iyakan?"Aku mengerutkan kening tapi mengangguk juga.Mama Arman tertawa "Kamu posesif sekali, Arman""Ayo" ajaknya padaku. Akupun mengikutinya setelah sebelumnya berpamitan pada orang tuanya.Arman melajukan mobilnya perlahan keluar dari komplek perumahan itu."Ke apartemenku ya, Ge?""Mm.. lain kali ya. Aku mau berkemas. Besok aku mau ke Semarang""Bukannya akhir pekan ya?" Tanyanya"Tadinya. Tapi orang tuaku menyuruh segera. Katanya mereka kangen"Arman diam sebentar sebelum menjawab "Oke. Kalau begitu, minggu depan setelah aku tiba disana. Aku akan menemuimu lalu kita jalan-jalan"Aku tersenyum lalu mengangguk ke arahnya "aye.. aye, Capten!"Tiba Arman menghentikan laju mobilnya, aku melirik sekitar tidak ada apa-apa hanta jalanan biasa. Tadinya aku pikir ia ingin membeli sesuatu.Ia menarik tubuhku, memeluknya menyandarkan kepalanya pada bahuku."Ge.. ""Ya?""Ternyata selama ini aku salah paham. Aku pikir papa dengan sengaja beberapa tahun belakangan ini menyakiti mama. Tapi ternyata papa punya misi khusus"Sungguh aku tidak mengerti maksudnya tapi karena dia membutuhkan pelukan maka akan kuberikan, padahal jika ia meminta ciuman manis pasti aku akan berikan juga.Aduhh.. pikiran kotorku ini. Mungkin efek cuaca yang mendadak turun rintik ya"Ge""Ya?""Sekarang tugas papaku sudah selesai, misi yang dikatakannya sudah selesai dengan baik. Dia sengaja melakukan itu demi melindungi kami. Bahkan mamaku yang seperti berniat membunuh diri diluar kendali papa. Intinya adalah papa begini demi pekerjaannya""Aku gak mengerti kamu bicarakan apa. Misi atau apapun itu. Tapi, Ar. Bukankah papa kamu bekerja sebagai Arsitektur""Yang orang tahu" balasnya "Sebenarnya papa juga anggota BIN"" Whatt !" Pekikku lalu melepaskan pelukan darinya kemudian menatapnya "Beneran?"Dia merengut sebal melihatku lalu kembali memelukku."Beneran?" Tanyaku lagi, ia mengangguk "Aku cuma cerita ini ke kamu""Oke. Tapi aku gak ngerti kenapa bisa begitu" aku mendesah kesal bercampur tidak percaya lalu berkata "Lihat apa yang kamu dan mama kamu laluin selama ini"Arnan mengangguk "Tapi aku bersyukur juga. Ternyata pandanganku terhadap papaku tidak seburuk itu."Aku ikut mengangguk, mengusap rambutnya dengan lembut "Hikmahnya, kamu sudah jadi yang terbaik untuk mama kamu""Ah, Arman!" Protesku, bagaimana tidak jika ia mengecup leherku. Mendadak begini membuatku aneh.Lalu tangannya mengusap pipiku perlahan "Ge, boleh aku cium kamu?"Ha? Apa aku tidak salah dengar. Ini untuk pertama kalinya, sungguh.Belum sempat aku melayangkan jawaban tapi dia sudah membungkamku dengan ciumannya. Awalnya hanya diam sejenak lalu perlahan bibirnya bergerak, aroma mint dan rasa manis dari bibirnya menyapaku dan kegilaan dari mana akupun membalasnya. Membalas ciuman manisnya.Ia menarik diri membuatku merasa kehilangan, ia menyatukan kening kami memberi jeda mengambil nafas karena terengah. Tapi nyatanya belum usai, ia kembali menyatukan bibirnya padaku mencecap kembali melumat hingga sebagian akalku hilang di telan cecapan manisnya padaku.Ia menarik diri mengusapkan wajahnya yang nampak frustasi atas apa yang dia lakukan padaku. Aku membuang wajah ke arah luar. Menghindarinya.Menunduk dan memegang kemudi lalu menjalankan kembali mobilnya.Tangannya menggemgam tanganku melirikku singkat lalu berkata" Sorry , Ge. Tapi aku gak menyesal uda cium kamu"---------Sudah seminggu ini aku di Semarang tapi kejadian tempo lalu yang terjadi padaku dengan Arman masih terasa manis. Entahlah, harusnya tidak boleh beginikan.Aku ingat ketika turun dari mobil yang mengantarkan aku ke kos-kosan saat itu. Ia berkata " Aku ingin sekali mengantarmu besok. Tapi pekerjaanku tidak bisa tinggal begitu saja. Jadi, sampai bertemu di Semarang, Ge." Ucapnya padaku lalu mengusap rambutku.Aku berguling-guling di tempat tidurku, sudah mandi dan rapi tapi yang ku lakukan seminggu ini memang hanya di rumah saja. Hanya beberapa kali menyapa tetangga dan teman dekat di sekitar. Tidak ada kegiatan khusus.Aku memekik perlahan ketika mendapati Arman menelponku."Halo"" Ge, tebak aku dimana?"Aku diam seperti berpikir sejenak "Di kampus?" BalaskuDia tertawa " Salah. Aku di Semarang""Wahh beneran, pak?"" Sudah 4 hari yang lalu tapi aku belum bisa menemuimu. Banyak sekali yang harus aku cek disini "Aku mengangguk paham "Mau aku yang kesana menemuimu?" Ucapku" Ini bukan di Jakarta, Ge ." Balasnya ambigu tapi memang benar, dia punya pekerjaan di Semarang tapi tidak pernah terlibat langsung padaku atau main ke rumahku, misalnya. Kami juga baru kali ini bisa di Semarang secara bersamaan. Itupun lagi-lagi karena pekerjaannya."Iya deh "" Kamu kira-kira kapan balik ke Jakarta?""Hari kamis rencanya sih"" 4 hari lagi. Oke aku usahakan segera selesai kerjaanku .""Memangnya mau kemana? Kalau gak bisa ketemu, di Jakartakan juga bertemu."" Mana bisa begitu, Ah iya, Ge, nanti aku hubungi lagi. Aku sudah tiba di kantor ni""Sebentar" ucapku cepat" Ya ?""Kamu sudah bertemu dengan cewe itu?" Tanyaku raguArman tertawa sebelum menjawab " Sudah "" Tapi aku lebih gak sabar bertemu kamu sih" tambahnya. Lalu panggilan terputus, aku menatap ponselku lalu tersenyum."Seneng banget kayaknya anak mama" celetukan khas suara mamaku yang super kepo menyapa indraku, aku menoleh langsung berkata"Iya dong""Pacar kamu?"Aku terkekeh kecil "Belum sih, ma"Mamaku duduk di atas ranjang bersebelahan denganku "Ayo ceritakan sama mama"Aku nampak berpikir tapi kami berdua tertawa "Dia dosen di kampus, ma. Tapi juga mengurus perusahaan.""Sudah tua dong?""Ih, mama.. ya gak gitu juga. Beda... 6 tahun gak terlalu tua kan?"Mama mengangguk "Memangnya dia sudah bilang suka sama kamu? Sampai kamu sesenang ini"Ah aku melupakan fakta, bukankah dia mengatakan padaku tertarik dengan seseorang. Di Semarang apa dia juga bertemu dengan perempuan itu.Melihat ekspresiku agak murung, mama memegang pergelangan tanganku. "Tidak apa-apa. Kita boleh berharap tapi jangan terlalu ya, nak. Mama khawatir kamu patah hati. Sama seperti mama khawatir terhadap kak Ayasha, dia setia sekali dengan Brendon.""Iya, ma"Begitulah mamaku....Usai berbincang sedikit dengan mamaku, ia keluar dari kamarku. Aku memainkan ponsel di kamar, hanya sekedar lihat-lihat medsos.Ku lirik jam dinding menunjukkan pukul 4. Tidak tahu mau melakukan apa, berjalan menuju pekarangan depan lalu menghidupkan keran air untuk menyiram bunga-bunga milih mamaku yang tersusun rapi di pekarangan.Seingatku pagi tadi tidak di siramkan? Cuaca juga lumayan terik jadi lumayan kerjaan untuk menghilangkan kebosananku.Ku lihat ada mobil berhenti, kak Ayasha turun dari mobil itu. Ah mungkin dia naik taksi online, tapi berikutnya melihat yang turun membuatku mengumpat tertahan. Mematikan keran, aku berbalik ingin menyapa tapi keberadaan kak Ayasha ditengah-tengah membuatku kembali bungkam.Aku menatap penuh minat pada Arman, tapi..."Mm... Mas kenalin. Ini adik aku, Gea. Dan Gea, ini Arman." oke, mas. Kata yang disematkan kak Ayasha membuatku bingungDia tersenyum canggung, menaikkan tangannya "Hallo. Aku Arman."Aku mendengus tidak percaya tapi juga menjabat tangannya "Gea" ucapkuTHE END
Dia, Rio.
Aku melihat tangan kami yang saling menggenggam memberikan kehangatan melalui genggaman, berjalan mengelilingi pantai dengan senyum yang tak lepas dari bibir kami. Sesekali kami saling pandang mencurahkan isi hati melalui tatapan mata kami.Untuk kali ini biarkan kami menikmati keindahannya.Untuk kali ini biarkan kami melepaskan gejolak kami.Sekali lagi, untuk kali ini biarkan kami menjadi satu tanpa ada yang lain."Ih, Rio gimana sih? Aku lapar tahu" aduku karena sedari tadi ia terus menggandengku berputar-putar.Ia mengusap keningku, "Lapar ya makan" jawabnya acuhAku tahu, tapi bagaimana mau makan jika ia terus menarikku berkeliling terus."Kamu tahukan besok kita pulang?"Aku menghela nafas lalu mengangguk "Bisa rubah keputusan yang sejak awal kedatangan kita?"Aku bimbang, ini terasa memabukkan tapi juga terasa tidak nyata. Akhirnya aku hanya diam."Maksudku, bisakan kita disini hanya berlibur tanpa bekerja atau lainnya?" LanjutnyaAku tertawa kecil lalu mengangguk.Rio menggiringku duduk di tempat makan yang ada di dekat pantai ini, tak lupa memesankan makanan kesukaanku."Terima kasih" ucapku padanyaIa menggeleng, "Harusnya aku, terima kasih untuk kesempatan ini"Aku menyenderkan kepalaku pada bahu kekarnya, ia balas memelukku. Nyaman sekali.Menikmati hembusan angin bersama seorang lelaki, Rio. Namanya sudah ku kenal dari jaman putih biru.Benar, tidak salah putih biru, SMP.Lucu sekali saat itu. Kami yang saling pandang. Aku tahu dia tertarik padaku tapi aku berpikir jika masa itu hanya terkesan cinta monyet.Saat berada di kantin, matanya juga selalu menatapku yang selalu ku balas dengan senyuman.Iseng, aku mengikutinya dengan masuk ekskul pramuka di sekolahku. Saat itu permainan game petunjuk jadi tiap tim terdiri dari 3 orang. 1 menutup mata sedangkan 2 orang lainnya memberi arahan.Aku tahu, Rio adalah orang yang paling bersemangat dan itu hal yang menarik yang paling ku sukai darinya.Ia sebagai pihak penutup mata yang diberikan petunjuk, entah bagaimana yang memberi arahan salah atau bagaimana berakhir dia tertabrak tembok menyebabkan keningnya bengkak. Sontak permainan dihentikan memusatkan perhatian padanya.Tapi ia menatapku dalam diam, aku tersenyum dan ia balas pula dengan senyuman konyolnya. Melalui tatapan mata dan senyumnya menyampaikan bahwa aku baik-baik saja.Bodoh.Itu pasti sangat menyakitkan."Sayang, boleh malam ini aku menginap di kamarmu?" Tanyanya menarikku dari potongan ingatan masa SMP kami yang lucu.Aku tertawa kecil "Bukankah tadi malam juga menginap."Ia tertawa geli "Satu minggu ini harus dimanfaatkan sebaik mungkin" ucapnya mengulang kataku saat kami pertama kali menginjakkan kaki di pulau dewata.Aku mengangguk "Menurutmu, Kenapa laki-laki dan perempuan bisa menikah?" Tanyaku sambil menggambar abstrak di lengannya.Ia mengernyit heran atas pertanyaanku tapi juga menjawab "Karena cinta, mungkin""Apakah cinta saja cukup? Bukankah banyak pertengkaran karena ekonomi""Benar, tapi ekonomi bisa dicari dan tergantung perempuannya bagaimana kan. Bertahan atau meninggalkan""Lalu menurutmu aku bagaimana?"Ia mencubit gemas hidungku "Itu adalah ujian dari rumah tangga, Mey. Dan aku percaya kamu gak akan goyah hanya karna perekonomian"Aku tersenyum "Lalu jika karena pria, apakah aku bisa goyah?"Dia menatapku cukup lama lalu mengatakan "Entahlah, aku harap tidak""Jika tidak ada cinta, tidak mungkinkan akan bersatu dalam pernikahan" tambahnya"Lalu kita?""Bukankah kita juga saling mencintai" balasnya"Apakah cinta bisa bertahan jika tidak ada kepercayaan?" Tanyaku lagiDia menghela nafas, "Berputar-putar. Apa yang ingin kamu ketahui, sayang?"Aku mengangguk, "Jika kamu diberi kesempatan mengulang waktu, apakah kamu menyesali bertemu denganku?"Ia menatapku dalam, memegang erat tanganku, "Aku menyesal baru menemuimu sekarang. Harusnya aku lebih berani sejak dulu" balasnya yakin."Bahkan sekalipun kita tidak bertemu?""Aku yang akan mencarimu.""Baiklah, buka mulut. Aku ingin menyuapimu"Ia berdecak tapi juga mengikuti kemauanku"Meysa, aku mencintaimu" ucapnya disela kunyahannya ku balas senyuman.Benar, ia dulu terlalu pengecut menurutku. Jika dulu ia suka kenapa hanya saling curi pandang saja. Yaya masa SMP tapikan bisa dimulai dari berteman.Biar begini, akukan perempuan. Gengsi dong. Gimana sih!Haripun menjelang sore kami kembali ke kamar kami masing-masing, untuk mandi dan beristirahat.Rio juga kembali ke kamarnya untuk mandi dan pergi bergegas menemuiku lagi.Aku menatap pemandangan pantai dari balkon kamarku sambil memandang cincin di jari manisku, tangan melingkar di perutku menambah sensasi kehangatan.Mengecup pipku lalu berkata "Kita seperti bulan madu ya" ucap Rio sambil tertawaAku tersenyum "Tidak ada bulan madu yang kamarnya terpisah, sayang""Tapi setiap malam kita selalu bersama""Mau berenang bersama?" Tanyaku mengambil bikini di dalam koperku"Kamu membawa bikini?""Tentu saja, aku belum memiliki kesempatan menggunakannya""Kalau begitu jangan"Aku mengernyitkan dahiku, dia mengusapnya lalu berkata "Aku takut khilaf"Setelah itu ia menempelkan bibirnya padaku, melumatnya perlahan tapi memabukkan, tanganku ku kalungkan di lehernya, ia memperdalam ciuman kami yang ku balas dengan senang hati. Lalu melepasnya menempelkan kening kami sembari menghirup oksigen."Tapi ini sudah khilaf" ucapku, dia melarangku menggunakan bikini tapi juga menciumku."Kamu terlalu sayang untuk dilewatkan" jawabnya dengan tawa"Aku lapar""Perasaan kamu lapar mulu""Aku ingin dimasakkan sama kamu" balasku manja yang kini sudah memeluknyaIa melepaskan pelukannya, " Okay , aku masakkan nasi goreng saja ya. Katanya nasi goreng buatanku bisa meluluhkan hati wanita."Aku tersenyum yang sudah entah keberapa kalinya "Tapi aku sudah luluh, Rio""Menikahlah denganku jika begitu""Nanti akan aku pikirkan" ucapku sambil mengedipkan mata jahilTak lama ponselnya berdering, ia hanya menatapnya tanpa berniat mengangkat.Ia menghela nafas lalu pergi ke dapur yang kebetulan ada di dalam kamar ini, tidak luas tapi lumayan, tak lama ia kembali padaku. Pasti disana tidak ada apa-apa."Aku akan membeli beberapa bahan. Tunggu disini ya" ucapnya seraya mengecup keningku lalu pergi keluar.Sembari menunggunya aku jadi ingat saat dulu, ia selalu menungguku di depan kelasnya. Kelas kami berbeda, dia sebagai siswa pintar di kelas A, unggulan tentu letaknya di depan sedangkan aku kelasnya di nomor 2 akhir dari 8 kelas masa itu, jangan salah biar begini aku tetap dapat peringkat 1."Si Rio perasaan liatin kamu terus deh" ucap Devi membisikku saat kami melewati kelasnya, saat itu ia duduk di depan kelasnya. Ah membuatku salah tingkah di jaman putih biru kelas 2 saat itu.Melewatinya, kami saling tersenyum."Demi apa, dia ganteng banget" kata Devi"Hai, Mey" sapa Alfer di kelas yang sama dengan Rio."Oh hai, tumben cepat datang" balaskuIa mengangguk "Iya pengen liat kamu"Aku tertawa lalu melanjutkan langkahkau, Alfer ini dari kelas 1 sudah mendekatiku. Berbeda dengan Rio yang tidak punya nyali untuk berdekatan denganku padahal aku sudah memberikan sinyal. Meskipun Alfer ini ku ketahui menyukaiku tapi dia tak kunjung menyatakannya, aku cukup bersyukur karena aku hanya menganggapnya teman. Dan kedekatan kami ini bahkan berlanjut sampai aku kuliah, mungkin sekitar semester 4 kami lepas kontak.Begitulah kisahku dengan Rio hingga tamat SMP tidak ada saling kata hanya penyampaian lewat mata dan senyum.Saat SMA, aku mulai berpacaran dengan beberapa pria. Kami hanya saling menyapa lewat media sosial itupun hanya dengan mengklik tanda suka atau love. Tidak lebih dari itu, tak ada kata sedikitpun, seakan sekedar menyapa bahwa kami pernah saling mengenal.Tak lama dari itu, tepatnya 4 tahun usai lulus dari SMP aku berpacaran dengan teman sekelasnya SMP dulu, Afsyah. Dia lelaki yang cukup rumit hanya bertahan 2 tahun. Usai putus dengannya, dia menanyakannya lewat media sosial. Percakapan awal kami. Aku tahu dari media sosialnya, ia sudah cukup sukses untuk karirnya."Hai, kamu beneran putus sama Afsyah?" Chatnya kala itu, untuk pertama kalinya.Aku hanya menjawab, "Hehe kenapa?"Dia menjawab, "Tidak ada, hanya bertanya" balasnya di chat itu yang hanya ku baca saja.Tak lama dari itu, aku memposting foto terbaruku dengan kekasihku, dia mengomentarinya "Baru, wak?"Ku balas "Hehe.. Iya ni"Lalu ia membalas lagi "Kenapa bisa putus?"Akupun hanya menjawab seadanya "Gak jodoh"Dia membalasnya lagi tapi ku hiraukan.Aroma masakan tercium, tak sadar Rio sudah kembali dan memasak disana, segera ku hampiri dan memeluk tubuhnya dari belakang dan ia membalas sambil memegang tanganku yang melingkar di perutnya."Kenapa?" Tanyanya, aku menggelengIa mengusap tanganku perlahan masih terus memasak."Dari aromanya sih, enak."Dia tertawa kecil "Kamu akan luluh setelah memakannya""Aku sudah luluh, gimana dong?"Dia balas tertawa lagi, "Yasudah, ayo kita makan""Enak sekali..." Pekikku ketika kurasakan masakannya"Kan sudah ku katakan" jawabnya sombong sambil mengakhiri acara makannya.Aku berdecih tapi ada yang hampir terlupa kutanyakan "Rio, kenapa sih dulu gak pernah deketin aku. Bukannya gimana ya, saat SMP kan kamu terlihat gimana gitu ke aku"Dia sedikit tertawa "Jangan GR kamu""Aku gak GR tapikan memang iya, terus bisa jelasin arti curi pandang kamu ke aku?" Tanyaku lagi tak mau kalahDia tertawa mengusap kepalaku "Lucu banget sih, aku akuin, aku takut dekatin kamu. Ya gimana, yang deketin kamu kebanyakan tampangnya lumayan.""Tapikan kamu juga ganteng" ucapku kalem"Makasih.." jawabnya dengan senyum dan mencuri satu kecupan di pipi "Tapi saat itukan pikiran SMP tu ya malu, kamu SMA, aku pilih SMK nah disitu aku juga belum berniat dekatin kamu karena kamu terlanjur jadian sama mas-mas kantor pemerintahan itu""Aku baru sadar, kamu update banget ya soal aku." Jawabku terkikikDia mendengus "Terus giliran aku mau deketin lagi kamu malah pacaran sama temen satu kelasku. Kejutan apalagi coba? Setelah putus, kamu malah cepat langsung jadian. Aku jadi mikir, apa sebegitunya aku gak punya kesempatan? Putus bentar langsung disambar aja"Aku terbahak "Ya gimana, kamu juga gak gerak cepat. Akukan suka yang sat set sat set""Seneng banget kayaknya" ucapnya padaku lalu melangkahkan kaki ke arahku, mengelap sudut bibirku.Matanya menatap mataku, mempersempit jarak kami. Bibirnya menempel ke bibirku, awalnya hanya menempel kemudian ia memberi kecupan.Dari kecupan menjadi lumatan dan semakin liar, tangan kanannya meraih tengkukku memperdalam sedang satunya merengkuh pinggangku. Tanganku bergerak meremas rambutnya.Badanku di angkat ke pangkuannya menambah keintiman kami, masih saling menempel.Tak lama ia mengangkatku menuju ranjang, dihempaskan perlahan dengan cepat ia memposisikan di atas tubuhku, kembali memberikan ciuman panas, dari bibir turun ke leherku memberi sensasi remang padaku.Tangannya tak henti memberi usapan-usapan pada tubuhku "ahh" sebuah lenguhan lolos dari bibirku dan bibirnyaIa mencium telingaku kembali merambat ke leher dan membuka kancing kemeja atas, memberikan pijatan disana sambil menciumnya.Kembali aku melenguh dengan sensasi dahsyat ini. Tangannya turun mengusap bagian bawahku yang masih tertutup celana pendekku."Ah.. Ri.o""Mm.. Meysa..""Cukup" ucapku tak ingin dibantah"Meysa, aku gak tahan" balasnya dengan mata yang dipenuhi kabut gairahAku menggeleng tegas, "Maaf, Rio. Aku ingin memberikannya hanya pada suamiku""Tapi..""Kita belum menikah" tukasku.Ia menghela nafas, memegang pelipisnya lalu bangkit dari atas tubuhku, menjambak rambutnya. " Sorry , Mey. Aku kelepasan"Lalu ia berlalu pergi ke kamar mandi, entahlah apa yang dia lakukan. Biarkan saja. Saat ini aku ingin tidur saja, menarik selimut menutupi tubuhku.Tak lama ku rasakan ranjangku bergerak, Rio datang masuk ke dalam selimutku memeluk tubuhku. Aroma sabun menyeruak dalam indra penciumanku, aku yakin dia usai mandi."Rio, kamu..""Diam, Mey. Aku ngantuk. Tidur saja ya" ucapnya parau, aku hanya membalasnya mengangguk.Saat ini kami telah tiba di bandara ngurah rai. Waktu seminggu full ku habiskan bersama Rio, sebenarnya 2 minggu tapi 1 minggu adalah waktu yang menakjubkan bagiku dan Rio.Tangan kami masih saling bertaut. Bersama menaiki pesawat ini duduk bersebelahan, sama seperti halnya pertama kali kami datang.Aku menyandarkan kepalaku di bahunya, dia membalas mengusap kepalaku."Apakah memang sudah tidak ada kesempatan untukku, Mey?""Aku sudah memberimu kesempatan, Yo. Maafkan aku""Aku rela meninggalkan segalanya demi kamu"Aku menggeleng "Maafkan aku, Rio. Aku tidak bisa""Apa waktu kita bersama tidak berharga untukmu?" Tanyanya menatapkuKu bingkai wajahnya dengan tanganku "Ini sangat berharga, Rio. Aku menikmati hari-hari kita. Tapi ini juga sudah terlambat. Aku tidak bisa menjadi egois""Tapi egois untuk diri sendiri juga tidak apa, Mey. Untuk masa depan kita" balasnya tak terima dengan memegang tangankuKu tarik tanganku dari genggamannya, "Harusnya kita sadar sedari awal, Rio. Kalau aku sama kamu, sudah tidak bisa bersama. Kita sudah memiliki tujuan sendiri."Rio menggeleng dengan tegas. "Kata siapa? Kamu yang menyimpulkan itu. Sedari awal aku sudah mengatakan jika aku mau bersama kamu."Aku menghela nafas, "Maafkan aku, mungkin di kehidupan selanjutnya kita akan dipertemukan."Ia diam, tidak menjawab. Memilih menutup mata dan mengeratkan genggaman tangan kami.Tak terasa kami sudah tiba di Jakarta, masih saling menggengam tanganku ia bertanya, "Kamu sudah yakin dengan keputusanmu, Mey? Aku siap meninggalkannya demi kamu" tatapannya lurus kedepan tanpa menolehku."Maafkan aku, Yo" balasku"Baiklah.. Itu artinya hubungan kita akan seperti dulu" balasnya yang aku akan tahu pada intinya.Di depan sana terlihat lelaki yang dua minggu ini ku hindari tersenyum senang menatapku."Kamu mencintainya?" Tanyanya lagi masih dengan tatapan lurus.Aku mengangguk "Sangat" balaskuPerlahan genggaman kami mengendur dan terlepas begitu saja, Aku memperlambat langkahku dibelakangnya.Lelaki disana, Janu. Memandangku dengan binar bahagia. Maafkan aku, maafkan aku. Bisikku perlahan, aku menuduhmu tapi aku malah terlena meski sesaat.Di belakang tubuh Janu tampak berjalan dengan tergesa seorang wanita dengan teriakan "Rio..."Dan menubruk pada tubuh Rio, memeluknya dengan erat "Aku rindu sekali. Kenapa tidak memberiku kabar" ku lihat Rio tak menjawab hanya mengusap punggungnyaJanu merentangkan tangannya memberi pelukan padaku, yang ku balas dengan pelukan erat."Terima kasih sudah kembali, Sayang. Maafkan aku. Aku mencintaimu, sangat."Aku mengangguk dalam pelukannya, "Aku mencintaimu. Maafkan aku, maafkan aku" rapalku.Dia mengurai pelukannya, "Maafkan aku juga. Tapi sungguh tidak ada yang lain. Kamu salah paham""Aku tahu. Kamu cuma mencintaiku. Persiapannya sudah semuakan?" Tanyaku dengan senyuman manisku dan dia mengangguk antusiasTuhan, bagaimana mungkin aku bisa meninggalkan lelaki sebaik ini. Aku tak ingin kehilangannya, pernikahan kami akan segera berlangsung.Dia menarik jemari manisku dan tersenyum lega, aku mengernyit heran "Syukurlah, kamu memakainya. Jangan berani melepaskan cincin itu"Aku tertawa, "Nanti aku mau cincin 24 karat ya, Janu""Iya, sayang. Apapun" balasnya seraya mengambil alih koper di sampingku."Ayo, Rio. Kita pulang. Lama banget kamu dinasnya dua minggu. Biasa juga cuma seminggu, mana tanpa kabar" tutur wanita bersama Rio ku dengar.Aku meliriknya ia hanya patuh berjalan mengikuti wanita itu. Setelah menatapku sesaat."Kamu sudah menghukumku dua minggu ini. Jadi, sudah puaskan? Ayo kita pulang"Aku sontak menatapnya, apakah Janu tahu kelakuan dua mingguku ini dengan Rio? Tapi ungkapan selanjutnya membuat hatiku tenang, sungguh aku mencintainya, tak ingin kehilangannya. Aku khilaf."Jangan meninggalkanku lagi, apalagi tak memberiku kabar. Aku uring-uringan disini. Ingin menyusul tapi kamu sudah mengancamku di awal"Benar, saat itu terjadi kesalahpahaman antara aku dengan Janu. Mantan Janu menemuinya untuk kembali tapi Janu menolak, adegan mantannya memeluk Janu untuk terakhir kalinya, aku melihatnya membuatku terbakar api cemburu.Dan aku bilang sebelum menikah dengannya, aku ingin dua minggu berjauhan dengannya karena aku marah. Dan tak ingin ia menyusul, karena aku pasti akan kembali. Aku sudah berjanji padanya.Lalu bertemu dengan Rio, mengiming-imingku dengan segala keindahan, memporak-porandakan hatiku. "Berikan aku kesempatan untuk semua moment yang sudah kita lewatkan. Meski pada akhirnya kamu akan tetap memilihnya" ucapnya kala itu yang tanpa sadar, ku iyakan dan terjadilah, aku khilaf."Ayo" ucap Janu merangkulku, meninggalkan bandara.Tiga bulan kemudian kamipun menikah, semua berjalan dengan baik. Maafkan aku Janu telah berbohong, dan akan selalu ku simpan. Aku tidak mau kehilanganmu.Setahun kemudian, undangan pernikahan Rio datang padaku. Mungkin ini yang terbaik untuk kita, senyumku menatap undangan itu yang ditatap curiga oleh suamiku."Kenapa?" TanyanyaAku menggeleng dengan senyuman "Kamu ingatkan teman SMP aku yang gimana gitu sama aku. Dia nikah" jawabku sambil mengangkat undangannya.Dia hanya tertawa, karena dulu di awal pertunangan, aku pernah bercerita tentang Rio padanya. Jadi aku tak bisa membayangkan bagaimana marahnya Janu jika ia tahu yang aku perbuat di Bali.Katanya, ingin menikah itu banyak Rintangan. Aku sudah rasakan, aku sempat terlena dengan Rio. Janu dengan datangnya mantan padanya.Tapi kami memilih untuk bertahan.Mengingat ucapanku tempo lalu pada Rio, meski dikehidupan selanjutnya aku dipertemukan kembali padanya, aku akan tetap memilih Janu.Rio hanyalah suatu tantangan. Karena nyatanya aku memilih Janu, Suamiku.END