Temukan Cerita Inspiratif
Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.
Total Cerita
1144
Genre Romance
230
Genre Folklore
228
Genre Horror
228
Genre Fantasy
230
Genre Teen
228
My beautiful ex wife
Hari itu Salma pulang dari rumah sakit dengan langkah ringan, meski hatinya berdebar. Dua tahun menunggu, dua tahun berharap, dua tahun menahan tanya yang tak terjawab—akhirnya dokter tersenyum dan mengangguk. Salma mengandung. Dunia rasanya kembali berwarna.Di dalam taksi menuju kantor Rony, Salma memandangi hasil pemeriksaan yang ia simpan rapi di tas. Ia membayangkan wajah Rony yang akan terkejut, lalu tertawa, mungkin memeluknya. Ia ingin menjadi orang pertama yang membawa kabar ini. Ia ingin momen itu menjadi milik mereka berdua.Namun, takdir memilih cara lain.Saat Salma tiba di kantor, suasana terasa aneh. Meja resepsionis kosong. Ruang kerja Rony pun sunyi. Ia memanggil pelan, tak ada jawaban. Langkahnya terhenti di depan kamar pribadi—pintu sedikit terbuka. Dari celah itu, Salma melihat sesuatu yang seharusnya tak pernah ia lihat.Hatinya seolah runtuh.Ia tak berteriak. Tak menangis keras. Hanya ada rasa dingin yang menjalar dari dada ke ujung jari. Salma berdiri terpaku, menyadari bahwa kebahagiaan yang baru saja ia genggam kini pecah berkeping-keping. Dengan tangan gemetar, ia mengabadikan bukti sekadarnya—bukan untuk balas dendam, melainkan untuk melindungi dirinya sendiri—lalu pergi.Malamnya, Rony pulang dan mendapati rumah kosong. Lemari Salma kosong. Bibi rumah menangis, menyampaikan pesan singkat: Salma pergi dan tak akan kembali. Saat Rony membuka ponselnya, ia melihat kiriman Salma. Dunia Rony berhenti berputar.Penyesalan datang seperti gelombang yang tak memberi jeda.Salma berlindung di rumah Nabila dan Paul. Ia bercerita dengan suara yang sering terputus. Di balik ketegaran yang ia paksakan, ada perempuan yang hancur. Ada calon ibu yang ketakutan. Ada istri yang kehilangan kepercayaan.Paul menyarankan langkah bijak dan tenang. Nabila memeluk Salma erat. “Kamu tidak sendirian,” katanya. Salma mengangguk, menahan air mata. Di dalam dirinya, ia berjanji: anak ini akan lahir dalam lingkungan yang aman dan penuh cinta.Enam bulan berlalu. Perceraian diputuskan. Rony jatuh dalam kesunyian panjang. Ia menutup diri, menyesali satu keputusan yang meruntuhkan segalanya. Ia mencoba meminta maaf, namun Salma telah menutup semua pintu. Bukan karena benci, melainkan karena ia perlu selamat.Tujuh belas tahun kemudian, Salma kembali ke Indonesia bersama Keenan. Ia datang bukan sebagai perempuan yang patah, melainkan ibu yang telah menempuh jalan panjang sendirian. Keenan tumbuh menjadi remaja yang hangat, santun, dan penuh empati—buah dari cinta yang Salma rawat dengan susah payah.Takdir kembali mempertemukan Salma dan Rony. Kali ini, tanpa amarah. Rony yang menua oleh penyesalan, Salma yang matang oleh waktu. Saat Rony menyadari bahwa Keenan adalah putranya, ia menangis—bukan untuk menuntut, melainkan untuk mengakui kehilangan.Salma memaafkan. Bukan karena lupa, tetapi karena ia telah berdamai. Ia memilih membuka pintu bagi Rony sebagai ayah, demi Keenan. Hubungan mereka dibangun pelan-pelan, dengan batas yang jelas dan kejujuran yang tak ditawar.Rony belajar hadir. Belajar menepati janji kecil. Belajar menunggu. Keenan, dengan kebijaksanaan yang tak sesuai usianya, menerima ayahnya dengan hati terbuka namun teguh. “Jaga Bunda,” katanya suatu hari. Rony mengangguk, sungguh-sungguh.Waktu merajut ulang kepercayaan. Bukan seperti dulu, tetapi lebih dewasa. Ketika akhirnya Salma dan Rony memutuskan untuk menyatukan kembali keluarga mereka, keputusan itu lahir dari kesadaran penuh. Tanpa paksaan. Tanpa rahasia.Pernikahan mereka sederhana. Tak ada kemewahan. Hanya doa, harapan, dan komitmen untuk menjaga apa yang pernah hampir hilang. Keenan tersenyum—untuk pertama kalinya, ia melihat kedua orang tuanya berdiri berdampingan dengan tenang.Bagi Salma, cinta kali ini bukan tentang menunggu keajaiban, melainkan tentang memilih setiap hari. Bagi Rony, ini adalah kesempatan kedua yang ia jaga dengan sepenuh jiwa.Dan bagi Keenan, keluarga bukan lagi mimpi—melainkan rumah.
Jatuh Cinta Lagi
Di rumah sakit itu, tangis Salma terdengar pilu, nyaris tak tertahankan. Tubuhnya bergetar saat menatap pintu kamar jenazah—tempat suaminya berbaring tanpa nyawa. Baru setahun mereka menikah, dan kini ia harus merelakan Fajar untuk selamanya.Salma dan Fajar bertemu dua tahun lalu di tempat kerja yang sama. Dari rekan kerja, tumbuh rasa saling peduli. Setahun kemudian, Fajar melamar Salma dengan jujur—tentang penyakit yang ia derita, tentang waktu yang mungkin tak panjang. Salma tahu risikonya, namun ia memilih tinggal. Ia memilih mencintai.Fajar mengidap kanker hati stadium lanjut. Selama setahun pernikahan mereka, Salma setia menemani—di ruang rawat, di lorong rumah sakit, di malam-malam panjang penuh doa. Fajar sering berkata bahwa ia adalah lelaki paling beruntung karena bisa menghabiskan sisa hidupnya bersama Salma, meski sebentar.“Salma?”Suara itu membuat Salma menoleh. Di hadapannya berdiri seseorang dari masa lalu—wajah yang tak pernah benar-benar ia lupakan.“Rony?” suara Salma serak.Rony mengangguk pelan. Mereka pernah saling mencintai di masa SMA, namun perbedaan latar belakang dan penolakan keluarga membuat Salma memilih pergi. Luka itu tak pernah benar-benar sembuh—hanya tertutup waktu.“Maaf… panggil aku Salma saja,” ucapnya lirih.Rony melihat mata Salma yang sembab. “Siapa yang meninggal?”“Suamiku.”Kalimat itu jatuh seperti beban. Rony terdiam, lalu menunduk hormat. Ia menyampaikan belasungkawa dengan tulus. Tak ada pertanyaan berlebihan, hanya doa singkat dan tatapan penuh empati. Sebelum pergi, Rony meminta nomor Salma—bukan untuk apa pun, hanya agar suatu hari bisa menanyakan kabarnya.Salma mengangguk, lalu pergi mengiringi jenazah suaminya. Di dalam hatinya, duka dan kenangan lama bertabrakan.Seminggu berlalu. Salma kembali bekerja. Rekan-rekannya memberi dukungan, termasuk Nabila—sahabat yang tak henti menguatkannya. Saat ditawari proyek besar di Bandung, Salma menerimanya. Ia tahu, kesedihan tak boleh menjadi alasan untuk berhenti hidup.Dua bulan setelah kepergian Fajar, Salma mencoba bangkit. Ia menyimpan rindu dan doa di tempat yang aman di hatinya—tanpa menenggelamkan diri di dalamnya.Di Bandung, takdir kembali mempertemukannya dengan Rony. Mereka tergabung dalam proyek yang sama. Awalnya canggung, lalu perlahan menjadi hangat. Obrolan mereka sederhana—tentang pekerjaan, tentang hidup. Rony menyimpan banyak hal, Salma pun demikian.Suatu sore, di tengah hujan dan gemuruh petir, trauma lama Salma kembali muncul. Ia teringat hari ketika orang tuanya pergi untuk selamanya—tersambar petir di sawah. Hujan selalu memicu ketakutan itu.Rony melihat Salma gemetar di depan pintu kamar. Tanpa banyak kata, ia menenangkan. Tidak ada niat buruk, tidak ada batas yang dilanggar. Hanya kehadiran—dan itu cukup.Malam itu, Salma tertidur dengan rasa aman yang sudah lama tak ia rasakan.Hari-hari berikutnya membawa kedekatan yang jujur. Rony akhirnya menceritakan rumah tangganya—tentang pernikahan yang tak pernah hangat, tentang pengkhianatan yang ia saksikan sendiri, tentang upayanya bertahan dan kegagalannya. Salma mendengarkan tanpa menghakimi.“Aku turut sedih,” ucap Salma pelan. “Kalian sama-sama terluka.”Rony mengangguk. “Aku tidak ingin membenarkan diriku. Aku hanya ingin jujur.”Pelukan itu terjadi bukan karena hasrat, melainkan karena dua orang yang sama-sama lelah. Dua orang yang pernah saling kehilangan.Namun ketika perasaan lama muncul terlalu cepat, Salma menarik diri. “Ini salah,” katanya. “Aku baru kehilangan. Aku butuh waktu.”Rony menghormati itu.Ia melamar Salma dengan cara yang sederhana—tanpa paksaan, tanpa janji berlebihan. “Aku ingin menunggu. Jika kamu siap, aku di sini.”Salma menangis. Bukan karena ragu, tetapi karena akhirnya ia merasa aman untuk memilih.“Aku mau,” katanya. “Tapi beri aku waktu.”Enam bulan kemudian, mereka menikah. Tanpa kemewahan berlebihan. Hanya keluarga, doa, dan komitmen untuk tidak mengulangi kesalahan. Salma menyimpan kenangan Fajar di tempat yang layak—bukan untuk dibandingkan, melainkan dihormati.Rony memahami. Ia tidak cemburu pada masa lalu yang telah mengajarkan Salma tentang ketulusan.Malam pertama mereka tidak diceritakan dengan detail—cukup dengan satu kalimat sederhana: mereka memilih saling menjaga.Hari-hari setelahnya dipenuhi tawa kecil, omelan ringan, dan proses belajar menjadi pasangan yang sehat. Rony yang jahil, Salma yang tegas—keduanya tumbuh bersama.Salma tahu hidupnya penuh kehilangan. Namun kali ini, ia tidak berjalan sendirian.Dan Rony tahu, cinta sejati bukan tentang memiliki, melainkan menjaga.
My Office Girl
My Office GirlSalma yang tengah bekerja di sebuah toko Roti sudah bersiap untuk pulang. Namun, pemilik toko meminta Salma untuk mengantar pesanan terakhir sebelum dia pulang. Dengan berat hati akhirnya Salma harus mengantarkan pesanan tersebut.Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh dari tempat kerjanya, akhirnya Salma tiba di rumah yang cukup besar namun terlihat sangat sepi.Baru sampai di luar gerbang, tiba-tiba hujan turun sangat deras hingga Salma memutuskan untuk masuk ke dalam pelataran rumah besar tersebut. Salma mencoba menggedor pintu rumah, namun masih tak ada jawaban. Terpaksa Salma duduk di depan pintu sembari menunggu hujan reda agar bisa pulang.Di tengah derasnya hujan, tiba-tiba Salma merasa silau kala sebuah mobil tiba di halaman rumah tersebut. Salma merasa lega sang pemilik rumah datang dan dia bisa memberikan pesanan roti padanya."Selamat malam, apa benar ini rumah kediaman Bapak Rony Alexander?" Sapa Salma pada pemilik RumahPemilik rumah yang baru saja tiba adalah Rony, seorang pengusaha kaya dan terkenal. Dia hidup seorang diri di Jakarta karena kedua orang tua nya memilih tinggal di luar negeri. Walaupun kaya, hidup Rony tak sebahagia yang orang kira. Dia selalu kesepian, orang tua nya bahkan jarang sekali mempedulikan nya.Rony selalu melampiaskan kesepiannya dengan pergi ke club' setiap malam hanya untuk minum dan menenangkan pikirannya. Namun, Rony tak pernah minum hingga mabuk berat. Karena dia tak mau, jalang-jalang di club' akan memanfaatkan nya jika dia mabuk. Seperti malam ini, dia datang dengan keadaan yang setengah sadar.Saat melihat wajah Cantik seorang gadis yang menunggunya di depan rumah. Membuat Rony sedikit terheran, siapa malam-malam yang ingin menemuinya. Rony tak merasa memiliki janji pada siapapun.Namun tiba-tiba hasrat Rony seperti di permainkan ketika melihat pakaian Salma yang sedikit menerawang karena sedikit basah akibat Salma yang kehujanan saat di depan gerbang rumah Rony tadi. Rony bahkan bisa melihat dengan jelas bra yang Salma kenakan karena sangat kontras dengan pakaian putih Salma.Merasa pandangan Rony mengarah pada dadanya, Salma lalu menutup dada nya dengan hijab yang sebelumnya ia Selempang kan pada bahu nya."Siapa?" Tanya Rony"Saya Salma dari Nia Bakery pak. Saya ingin mengantarkan pesanan kue ulang tahun untuk Bapak Rony Alexander" Balas Salma dengan senyum ramahnya"Siapa yang pesan?" Tanya Rony"Nyonya Ratih Alexander pak" Balas Salma ramahRony tersenyum getir, ternyata orang tuanya masih mengingat bahwa besok hari ulang tahunnya.Tiba-tiba tubuh Rony terhuyung ke arah belakang, mungkin efek Alkohol yang membuat Rony benar-benar tak kuat menopang tubuhnya sendiri.Dengan cepat Salma membantu menahan tubuh Rony. Salma bisa mencium aroma alkohol yang menyengat dari laki-laki di depannya."Pak, biar saya bantu bapak masuk ke dalam. Sepertinya bapak sedang mabuk ya" Tanya SalmaTak mendapat jawaban, akhirnya Salma merebut kunci rumah yang sudah di genggam Rony. Lalu masuk ke dalam rumahnya. Sedangkan Rony malah memeluk tubuh Salma dan menghirup aroma gadis itu pada ceruk lehernya yang tertutup hijab."Pak, kamar bapak dimana? Saya antar sampai kamar" Ucap SalmaRony hanya bisa menunjuk ke arah atas saat Salma bertanya padanya. Salma pun membawa Rony ke atas sesuai dengan apa yang Rony tunjuk tadi. Setelah sampai di depan pintu kamar, Salma masuk dan merebahkan tubuh Rony di ranjang.Salma yang hendak pergi tiba-tiba tangannya di tarik hingga Salma terjatuh di atas ranjang. Rony pun dengan cepat mengukung tubuh Salma, dia sudah menahan hasratnya sejak tadi bertemu gadis itu. Namun kali ini, ia sudah tak bisa menahan nya lagi.Salma berusaha memberontak dan menyingkirkan tubuh Rony. Namun usahanya sia-sia, tenaga Rony sangat lah kuat. Apalagi saat ini Rony seperti kerasukan setan yang tak mempedulikan sekitarnya. Rasanya dia hanya ingin menerkam Salma saat ini juga."Pak jangan pak, tolong pak. Biarkan saya pulang hiks hiks" Ucap Salma terisak saat merasa dirinya dalam bahaya"Kita senang-senang disini dulu ya Salma. Kamu harus temani saya malam ini cantik" Racau RonyRony pun tak mempedulikan tangisan Salma. Rony justru langsung menyesap bibir Salma dengan sedikit kasar. Salma hanya bisa menangis saat Rony mulai mencium dan menyentuh tubuhnya.Dengan sekali tarikan Rony bahkan sudah berhasil merobek baju milik Salma. Hingga tersisa bra Salma yang sedari tadi mengundang hasrat Rony."Kamu mulus banget sayang, aku suka tubuh kamu" Racau Rony"Hiks hiks jangan pak, tolong" Tangis SalmaSalma yang sudah lemas hanya bisa menangis meminta Rony agar melepaskan nya. Namun sepertinya itu hanya sia-sia, Rony tak akan melepaskan nya begitu saja.Puas membuat kissmark pada leher dan dada Salma, kini ciuman Rony semakin menurun ke arah milik Salma. Dengan cepat Rony menarik celana dan celana dalam Salma lalu membuangnya ke segala arah."Ahhhh Pakkk Ronyy ahhh" Desah Salma saat Rony memainkan lidah dan jarinya di dalam inti Salma"Yess Beby, desahan kamu yang aku tunggu dari tadi hmm" Balas RonyPasalnya Salma hanya bisa menangis, sebisa mungkin dia menahan agar tak mengeluarkan suara menjijikan itu untuk seseorang yang tengah memperkosanya. Salma hanya bisa menahan dengan menggigit bibirnya hingga berdarah.Tubuhnya benar-benar menikmati sentuhan demi sentuhan yang Rony berikan padanya. Namun Salma tak ingin menikmati permainan Rony, dia hanya bisa menangis meratapi masa depannya yang hancur karena customer toko roti nya ini.Rony semakin gencar memainkan inti Salma, dia baru pertama kali melihat milik seorang wanita. Walaupun sedikit tidak sadar namun Rony tau milik Salma sangatlah memukau, wangi dan juga bersih."Ahh Pakkk, sayaaa mau pipishh pak ahh" Desahan Salma akhirnya lolos saat merasa ada sesuatu yang ingin keluar dari dalam tubuhnya"Keluarkan untukku sayang" Balas RonyRony menyesap cairan milik Salma tanpa rasa jijik sedikit pun."Cairan kamu manis sayang, rasanya saya ingin menikmati nya setiap hari" Racau RonyDirasa milik Salma sudah sangat basah, Rony pun membuka seluruh pakaiannya di depan Salma, hingga Salma bisa melihat milik Rony yang sudah berdiri tegak di hadapannya."Kenapa tutup mata, lihat ini. Punya saya akan memuaskan kamu sayang" Ucap RonyLagi-lagi Salma hanya bisa menangis, saat Rony sudah mengarahkan batangnya pada milik Salma."Ahh Pakkk, jangannn Pakkk sakitt" Teriak Salma saat Rony mulai menghentakkan miliknya"Sutss diem sayang, tahan yaa. Sakitnya sebentar doang kok" Ucap RonyRony yang sudah tak sabar pun menghentakkan miliknya dengan cukup kencang hingga berhasil menembus milik Salma."Ahhh pakkkkkkk. Hiks hiks sakit Pakkk hiks hiks" Tangisan Salma pecahSalma merasa bagian inti nya sudah terbagi menjadi dua, rasanya sangat amat sakit."Maaf ya sayang, janji bentar lagi gak akan sakit tapi enak sayang beneran" Racau RonyRony pun mulai menggerakkan miliknya keluar masuk milik Salma."Ahhh shitt!! Enak banget sayang! Ahhh milik kamu jepit banget sayang!! Ahhh" Desah RonySalma hanya bisa menggigit bibir nya, dia sebenarnya merasakan kenikmatan yang sama dengan Rony. Namun dia juga tak ingin menikmati ini bersama dengan laki-laki brengsek yang sedang menikmati tubuhnya saat ini.Rony terus menghujam tubuh Salma, entah sudah mendapatkan pelepasan yang keberapa. Rony seakan tak ada lelahnya untuk terus menikmati tubuh Salma. Sedangkan Salma sendiri sudah pingsan karena sudah tak sanggup menghadapi keganasan Rony."Ahhhhhh" Desah Rony kala mendapatkan pelepasan nya yang terakhirRony ambruk diatas tubuh Salma tanpa melepas penyatuan mereka."Terimakasih cantik, saya janji saya akan tanggung jawab sama kamu sayang. Kamu cuma punya saya cantik, saya tidak rela membagi tubuh kamu yang sangat nikmat ini dengan laki-laki lain" Racau Rony sebelum dia akhirnya tertidur***Tidur Rony terusik kala merasakan sinar matahari masuk ke dalam kamarnya. Rony mengerjapkan matanya, betapa kagetnya dia saat membuka matanya.Dia tidur diatas tubuh seorang wanita tanpa busana. Dia bahkan merasakan miliknya masih bersarang pada tubuh wanita itu."Anjing! Gue ngapain semalem sih bangsat!" Monolog Rony"Eughhh anjing punya gue susah banget keluarnya, dia bangun malah bangun lagi" Gumam RonyMau tak mau, Rony akhirnya kembali menggerakkan miliknya di dalam milik Salma."Sorry ini terakhir ya" Ucap Rony sembari menatap wajah wanita di depannya yang masih memejamkan mataEntah mungkin Salma yang masih pingsan atau sudah tak bisa melawan Rony. Dia hanya diam saat Rony kembali melakukan itu padanya bahkan disaat kesadaran Rony sudah kembali seutuhnya."Ahhh" Desah Rony kala mendapatkan pelepasan lagiRony segera mencabut miliknya dari dalam milik Salma.Dia menatap sendu gadis yang telah ia perkosa semalaman. Rony bisa melihat mata yang sembab dan bekas air mata di ujung mata nya.Rony bahkan bisa melihat ulahnya semalam mungkin sudah sangat keterlaluan pada wanita itu. Banyak bekas cakaran di tubuh Salma dan tentu saja banyak bekas kecupannya di leher dan Dada Salma."Siapa gadis ini, kenapa gue bisa Setega ini sama dia! Apa yang gue pikirin semalem anjing! Kenapa gue bisa ngerusak gadis ini, kenapa gue bisa Setega ini sama dia!" Monolog RonyRony mencoba mengingat kejadian semalam, dan dia ingat siapa wanita ini. Dia hanya pegawai toko roti yang tengah mengantar pesanan roti dari mamanya."Maafin saya Salma, saya janji saya akan tanggung jawab atas semuanya" Ucap Rony sembari mengusap lembut pipi SalmaSalma akhirnya sadar saat merasa seseorang tengah mengusap wajahnya.Salma yang membuka mata dan melihat Rony tepat di depannya seketika kembali menangis mengingat kejadian semalam. Dia bahkan bergerak menjauhi Rony sembari menahan selimut untuk menutupi tubuh polosnya."Jauh jauh dari saya! Bapak belum puas sudah menghancurkan masa depan saya pak! Hiks hiks cukup pak, jangan sentuh saya lagi hiks hiks saya kotor pak, saya kotor dan itu semua karena bapak!!!" Bentak Salma"Sal, maafin saya. Maaf karena saya sudah melakukan hal yang keji sama kamu. Tolong maafkan saya, semalam saya gak sadar Sal. Maafkan saya" Ucap Rony menyesal"Permintaan maaf bapak tidak akan bisa mengembalikan apa yang sudah bapak rusak!! Masa depan saya rusak karena bapak! Hiks hiks" Balas SalmaSetelah mengatakan itu, Salma menarik selimut hendak pergi ke dalam kamar mandi. Namun saat hendak berdiri, rasa sakit dari inti nya membuat Salma kembali terjatuh ke ranjang."Sal sal? Kamu gapapa? Sakit ya? Saya bantu ya Sal?" Ucap Rony panik berusaha membantu Salma"Jangan sentuh sayaaa!!! Jauh-jauh dari saya pak!! Belum puas bapak menyentuh dan menikmati tubuh saya semalaman? Iyaaa!!!" Bentak Salma sembari terisak"Sal, saya minta maaf karena kelakuan bejad saya semalam. Tapi tolong biarin saya tanggung jawab sama kamu, saya bantu kamu ya ke kamar mandi" Ucap Rony lembut"Gaperlu!! Saya bisa sendiri! Bapak jauh jauh dari sayaaa!!!" Ucap Salma lalu mencoba berdiri dengan hati-hatiSalma pun berjalan perlahan sembari menahan rasa sakit yang luar biasa dari dalam inti nya. Dia menggenggam selimut dengan kuat untuk menutupi tubuh polosnya.Saat Salma masuk ke dalam kamar mandi, pandangan Rony tertuju pada sprei miliknya. Rony bisa melihat bercak darah disana, Rony mengusap wajahnya gusar."Gue bajingan! Gue udah ngerusak anak gadis orang!! Anjing!!" Monolog RonyRony segera membantu memunguti pakaian Salma. Namun saat melihat kemeja Salma, Rony teringat dia lah yang merobek pakaian Salma hingga sudah tak layak untuk Salma pakai kembali.Rony mengambil kemejanya di lemari untuk menggantikan baju Salma. Rony bisa mendengar bahwa Salma masih menangis di dalam kamar mandi."Sal, baju kamu saya letakkan di kursi depan pintu kamar mandi ya. Saya keluar dulu, kamu berendam saja dulu biar badan kamu bisa jauh lebih enakan. Sekali lagi maafkan saya Sal" Ucap Rony menyesal***Sudah hampir dua bulan, Rony mencari keberadaan Salma namun hasilnya nihil. Rony benar-benar kehilangan jejak Salma yang bak hilang di telan bumi.Setelah kejadian di rumahnya, Salma menghilang tanpa jejak. Rony takut jika Salma mengalami depresi atau semacamnya karena ulahnya. Bahkan Rony juga khawatir saat ini Salma tengah mengandung anaknya. Rony tidak bisa tenang, ia terus mencari Salma tanpa henti.Setelah kejadian malam itu, Salma bahkan tak pernah datang ke toko Roti nya hingga sang pemilik pun geram dan memutuskan untuk memecat Salma. Rony juga sudah mencari informasi tentang Salma di toko Roti tersebut namun masih saja tak membuahkan hasil.Salma sendiri hanya mengurung diri di kamar kosnya hampir sebulan setelah kejadian, dia benar-benar tidak berani menghadapi dunia luar. Namun ada hal yang harus membuat Salma bangkit dan mencari pekerjaan lagi. Ibu Salma mengabarkan bahwa penyakit ayahnya di kampung kambuh. Ibu Salma membutuhkan biaya untuk pengobatan ayahnya. Mau tidak mau, Salma harus bangkit. Kehidupan keluarga nya saat ini ada di tangan nya.Salma mulai mencari pekerjaan kesana kemari namun tak ada yang bisa menerima lulusan SMA sepertinya. Hingga sampailah Salma di sebuah perusahaan lumayan besar. Disana akhirnya dia bisa di terima bekerja sebagai Office Girl di perusahaan cukup besar. Gajinya pun sangat lumayan bagi Salma. Mungkin ini salah satu berkah dari kejadian kemarin pikir Salma.Gaji yang sangat lumayan walaupun hanya menjadi Office Girl membuat Salma tersenyum seharian. Salma bisa membayangkan nanti uang itu bisa ia kirimkan pada orang tuanya dan sebagian ia tabung. Karena selama ini bekerja di toko roti hanya cukup untuk makan dan dikirim ke kampung. Salma sama sekali tak bisa menabung karena penghasilan nya yang sedikit.Hari ini sudah terhitung sebulan Salma bekerja disana. Salma bahagia, karena hari ini ia bisa menerima gaji pertamanya. Dia juga senang karena teman-teman di tempat kerjanya baik baik dan lingkungan kerjanya juga nyaman."Sal, tolong bikinin kopi buat pak CEO dong. Gue lagi kebelet banget nih. Tolong yaa, gue udah gak tahan" Ucap Kevin"Vin, ruangannya dimana? Gue gatau" Balas Salma"Di lantai paling atas. Lantai 20. Cepetan, bikinin. Aduhh gue tinggal ya udah kebelet banget" Ucap Kevin lalu meninggalkan SalmaKini Salma sudah berada di depan ruangan CEO. Jantung nya berasa ingin copot saat akan menemui pemilik perusahaan ini pertama kali. Salma takut jika kopinya tidak sesuai dengan keinginan Bapak CEO, dia akan di pecat.Salma memutuskan untuk mengetok pintu ruangannya, lalu terdengar suara yang menyuruhnya untuk masuk ke dalam."Pak permisi, ini kopi bapak" Ucap Salma ramahSalma meletakkan kopi di meja kerja milik CEO. Mata Salma membulat sempurna kala kursi kerja itu berputar mengarah nya. Dia bisa melihat dengan jelas pemilik perusahaan tempat ia bekerja saat ini."Salma?""Saya permisi dulu pak, saya mau lanjut kerja" ucap Salma dengan mata berkaca-kaca"Sal, sal. Akhirnya saya ketemu sama kamu. Saya udah hampir dua bulan ini cari kamu, kamu kemana aja sal" Ucap Rony sembari menahan tangan SalmaYa CEO muda di perusahaan tempat Salma bekerja adalah Rony Alexander. Pria yang menghancurkan hidupnya dua bulan lalu. Pria yang dengan tega memperkosa nya di rumahnya. Pria yang tidak ingin Salma temui dan melihat wajahnya lagi."Pak maaf, saya harus lanjut bekerja. Kopinya silahkan di minum" Ucap Salma menepis tangan Rony lalu keluar dari ruangan RonySalma? Akhirnya saya ketemu kamu lagi Sal. Saya gak akan lepasin kamu kali ini. Saya mau tanggung jawab sama kamu. Cukup dua bulan ini saya uring-uringan karena perasaan bersalah ini sal. Sekarang kamu kerja di perusahaan saya, ini bisa lebih mudah buat saya ngawasin kamu sal *batin RonySaat jam istirahat tiba, Rony sengaja ingin mengawasi Salma dari jauh. Dia tau saat ini Salma masih takut jika bertemu dengannya. Maka dari itu Rony hanya bisa menjaga Salma dari kejauhan.Rony merasa tertarik dengan Salma, karena menurut nya dia berbeda dengan wanita lain. Mungkin Jika Rony tak sengaja melakukan hal itu pada wanita lain, bisa saja dia memanfaatkan Rony untuk menguras hartanya. Namun Salma berbeda, dia justru menghilang setelah kejadian itu. Membuat Rony semakin penasaran dan rasa bersalahnya juga semakin besar. Wanita itu bahkan tampak acuh setelah mengetahui perusahaan tempat nya bekerja adalah milik Rony.Rony yang memang sedari tadi berdiri agak jauh dari pantry, tak sengaja melihat Salma yang tengah membersihkan pantry sendirian sedikit oleng. Rony juga bisa melihat Salma memegang kepalanya. Dengan segera Rony menghampiri Salma dan benar saja saat Rony tiba, Salma langsung pingsan***"Gimana kondisi Salma dok?" Tanya Rony"Kondisi Bu Salma baik-baik saja pak, mungkin hanya kelelahan karena kondisi Ibu Salma yang tengah hamil muda jadi sedikit riskan jika terlalu lelah" Balas Dokter"Hah? Salma hamil dok?" Tanya Rony kaget"Iya pak, bapak suami Bu Salma kan? Atau memang kalian berdua belum mengetahui kehamilan Bu Salma?" Tanya Dokter"I Iyah dok, saya suaminya. Saya dan Salma memang belum mengetahui kehamilan istri saya Dok" Balas Rony ragu"Kalau begitu, saya rujuk Bu Salma ke dokter kandungan ya pak. Supaya bisa di periksa lebih jelas" Ucap DokterSalma masih belum sadar juga dari pingsannya, ia juga tak merasakan jika saat ini perutnya tengah di periksa oleh Dokter kandungan."Bisa di lihat di monitor pak, itu janin bapak dan Bu Salma. Janin nya lumayan kuat pak dan usia kandungan Bu Salma sudah masuk tujuh Minggu pak" Ucap Dokter menjelaskanIni beneran anak gue? Gue punya anak? Tujuh Minggu? Gue sama Salma lakuin itu dua bulan yang lalu dan posisi Salma masih perawan, berarti beneran ini anak gue? Gue punya anak *batin RonyRony tersenyum, rasanya dia sangat bahagia bisa memiliki anak secepat ini"Anak saya sehat kan dok? Tolong pastiin anak saya sehat dok saya gak mau anak saya kenapa-napa. Saya akan bayar berapa pun untuk anak saya" Ucap Rony"Tenang bapak, anak bapak sehat anak bapak juga kuat. Mungkin Bu Salma hanya kelelahan saja, tidak ada yang mesti di khawatir kan""Nanti saya resepkan vitamin untuk Bu Salma ya pak" Ucap DokterBerakhirnya dokter memeriksa kandungannya, bertepatan itu pula Salma sadar dari pingsannya. Matanya kembali menatap pria yang sangat ia benci itu.Salma langsung bangun dari brankar dan keluar ruangan pemeriksaan. Dengan cepat Rony menahan Salma."Lepasin pak! Atau saya teriak sekarang!" Ancam Salma"Kamu mau kemana?" Tanya Rony"Bukan urusan bapak!" Bentak Salma"Sekarang dan seterusnya akan jadi urusan saya! Kamu sedang mengandung anak saya Salma! Bisa nurut gak!" Bentak Rony"Apa? Saya hamil? Gak mungkin pak! Gak mungkin saya hamil! Kejadian itu sudah dua bulan yang lalu! Dan saya gak merasa saya hamil! Bapak gausah ngarang!" Tegas Salma"Ngapain saya ngarang? Kamu gak sadar kamu barusan keluar dari ruangan apa? Baca Sal! Kamu baru aja keluar dari ruangan dokter kandungan! Saya juga sudah lihat anak saya yang ada di dalam perut kamu! Dan dia beneran hadir disini Salma, buat apa saya ngarang!" Ucap Rony sembari mengusap perut SalmaSalma terduduk lemas di lantai, rasanya hari ini ia benar-benar hancur. Dia kembali di hancurkan oleh lelaki brengsek di depannya. Saat ia mulai kembali menata kehidupan nya, mengapa rasanya ia kembali di hujani masalah yang lebih besar! Bagaimana dia bisa hamil, bukannya dia hanya melakukan itu sekali dengan Rony? Kenapa dia harus mengandung anak laki-laki brengsek ini.Salma baru mengingat, sebelum kejadian itu terjadi. Salma memang baru saja mengalami haid dan itu haid terakhirnya setelah dua bulan ini ia tidak haid."Bapak mau tanggung jawab kan sama saya? Antar saya gugurkan bayi ini pak! Gatau gimana caranya! Saya gamau hamil anak bapak! Bapak bisa bayar orang berapa pun bapak mau untuk membantu saya menggugurkan bayi ini!""Setelah itu saya janji saya akan maafkan bapak dan saya akan pergi selamanya dari kehidupan bapak! Tolong pak hiks hiks" Ucap Salma menangis"Kamu gila ya!! Saya memang brengsek Salma, saya yang sudah buat kehidupan kamu jadi hancur! Tapi saya gak mungkin bunuh anak saya sendiri! Dia gak berdosa, dia gak salah! Yang salah disini saya! Jangan hukum anak saya atas kesalahan saya Salma!!" Bentak Rony"Oke kalo bapak memang gamau bantu saya! Saya akan gugurkan bayi ini sendiri! Saya gak perlu bantuan bapak!!!" Bentak Salma"Jangan berani macem-macem sama saya Salma! Jangan berani kamu coba membunuh anak saya! Atau kamu yang akan saya bunuh nanti" Ancam Rony"Bunuh aja saya pak! Bunuh! Percuma juga saya hidup! Saya sudah hancur, saya gapunya tujuan hidup lagi!! Saya nyerah pak saya nyerah sama hidup saya hiks hiks hiks" Tangis Salma pecahRony menarik Salma kedalam pelukannya. Dia dekap Salma yang masih terisak di pelukannya."Maafkan saya Sal, maaf. Saya janji saya akan bertanggung jawab atas kamu dan anak saya. Tolong jangan bunuh anak saya Sal, dia gak berdosa. Dia malaikat kecil yang di kirim Tuhan untuk kita. Jangan kamu sakitin dia, saya mohon Sal" Ucap Rony sedikit terisakSalma mendengar ucapan Rony yang sangat tulus di telinganya. Dia juga mendengar Rony menangis. Salma sebenarnya juga tidak tega melenyapkan bayi nya sendiri. Tapi bagaimana jika orang tuanya tau Salma hamil? Ayahnya sedang sakit, dia tidak ingin jika penyakit ayahnya makin parah saat tau kondisi Salma saat ini."Maaf pak, saya gabisa hiks hiks. Saya juga gak tega melenyapkan anak saya sendiri. Tapi saya jauh lebih gak tega saat nanti orang tua saya kecewa dan marah pada saya hiks hiks. Ayah saya sedang sakit pak, saya gamau kondisi ayah makin drop jika tau anaknya hamil di luar nikah hiks hiks hiks" Balas Salma yang mulai melembut dalam pelukan RonyRony mengeratkan pelukannya, dia semakin merasa bersalah pada wanita yang tengah mengandung anaknya. Dia benar-benar menghancurkan hidup wanita yang tengah berjuang menghidupi keluarga nya."Maafkan saya Sal, sekali lagi maafkan saya. Kita cari solusinya sama-sama ya, saya janji saya akan bantu biaya pengobatan ayah kamu hingga sembuh. Setelah ayah kamu sembuh, dan anak kita lahir. Saya akan nikahin kamu Sal, saya akan datang ke rumah orang tua kamu. Tolong biarkan saya bertanggung jawab atas semua kesalahan saya sama kamu. Saya juga gak mau kalo kamu harus hilangin anak saya yang gak bersalah ini Sal, dia anak kita. Walaupun kehadiran nya gak pernah kamu harapkan, nyatanya dia hadir karena takdir Allah sal""Tolong sal, saya minta tolong sama kamu. Pertahankan anak saya ya, jaga dia di dalam perut kamu. Saya janji saya akan bertanggung jawab Sal" Ucap Rony lembut dengan air mata yang masih menetes***"Ini kopinya pak, saya permisi" Ucap Salma setelah mengantarkan kopi pada RonySeminggu setelah kejadian di rumah sakit itu, Salma sudah mulai mau menerima kehamilan nya. Dia juga mulai percaya pada Rony karena dia membuktikan untuk membantu biaya pengobatan ayah Salma. Rony membawa ayah Salma berobat di rumah sakit terbaik di Jogja dan memberikan pelayanan terbaik bagi calon mertuanya.Salma juga meminta untuk tetap bekerja di kantor Rony sebagai Office Girl. Awalnya Rony melarang, namun Salma memaksa dengan sedikit ancaman. Salma mau mempertahankan bayinya tapi ia mau tetap bekerja di kantor Rony. Dia juga meminta agar Rony tak terlalu dekat padanya.Sebagai balasannya Rony menyetujui permintaan Salma. Namun Rony memaksa agar Salma mau tinggal bersamanya di rumah miliknya. Jika Salma tidak mau, Rony akan memecat Salma dan Rony akan nekat memberi tau orang tua Salma tentang mereka. Akhirnya Salma setuju, setelah hari itu Salma pun tinggal di rumah Rony."Sebentar Sal, gimana keadaan anak saya? Baik-baik saja kan? Perut kamu gak sakit kan?" Tanya Rony"Bapak sudah tanya itu hampir sepuluh kali sejak tadi pagi! Saya aman pak, anak bapak juga gak rewel. Jadi tenang aja" Balas Salma datar"Kamu jangan capek-capek Sal. Kalo perlu kamu istirahat saja di kamar pribadi milik saya. Saya janji saya gak akan macem-macem kok" Balas Rony"Tidak perlu pak, saya permisi" Pamit Salma***Dua bulan berlalu, kini usia kandungan Salma sudah masuk empat bulan. Hubungan Salma dan Rony pun semakin dekat. Tak jarang Salma meminta Rony untuk menuruti permintaan anaknya.Rony juga sangat bersyukur, karena merasa anaknya sangat berpihak padanya. Salma semakin manja padanya, Salma bahkan selalu meminta Rony untuk mengusap perutnya yang semakin membuncit sebelum tidur.Kini Rony juga semakin jatuh cinta pada wanita yang tengah mengandung anaknya itu. Entah sejak kapan rasa itu tumbuh, yang pasti kini Rony tak ingin kehilangan Salma dan buah hati nya.Seperti saat ini setelah mengantar kopi, tiba-tiba Salma malah duduk di pangkuan Rony. Rony benar-benar kaget karena Salma berani melakukan ini di kantor. Padahal dulu dia yang sering mengingatkan Rony agar tak terlalu dekat padanya saat di kantor."Hey kenapa? Kok tiba-tiba duduk sini? Hmm?" Tanya Rony lembut sembari mengusap punggung Salma lembut"Gatau, Adek bayi nya mau manja sama ayahnya" Balas Salma manja"Hahaha adek bayi nya atau bunda nya ini?" Tanya Rony menggoda"Adek bayi" Balas Salma singkat"Usapin perutnya pak" Pinta Salma"Iya, ini saya usapin" Balas Rony gemasMakasih ya Adek, berkat kamu. Ayah bisa jadi lebih dekat sama bunda kamu. Walaupun ayah tau bunda kamu masih benci sama ayah, tapi ayah yakin seiring berjalan nya waktu. Bunda kamu pasti bisa cinta sama ayah *batin Rony sembari mengusap perut SalmaSalma juga sudah mengenalkan Rony pada kedua orang tuanya. Kondisi ayah yang sudah jauh membaik membuat Salma memberanikan diri mengajak Rony ke Jogja dan mengenalkan Rony pada kedua orang tuanya. Saat itu perut Salma memang tidak terlihat buncit, orang tua nya pun tak menaruh curiga sedikitpun pada Salma karena yang mereka Lihat Rony adalah laki-laki yang baik untuk anaknya.Salma menyembunyikan wajahnya pada ceruk leher Rony sembari menikmati usapan pada perutnya."Kamu capek ya sayang?" Tanya Rony"Gak kok" Balas Salma singkat"Kalo capek istirahat yaa, aku tau anak kita kuat. Tapi kalo kamu bawa dia kerja terus kasian sayang. Masa anak seorang CEO malah harus kerja bersihin kantor ayahnya sendiri sejak dalam kandungan. Kasian banget anak aku" Goda Rony"Gapapa biar Adek bisa mandiri sejak dini" Balas Salma singkatBalasan Salma membuat Rony terkekeh gemas. Rony dengan sengaja menarik dagu Salma dan mencium bibir Salma. Dia sudah kelewat gemas dengan bumilnya itu.Setelah kejadian itu, ini kali pertama Rony kembali mencium bibir Salma. Tak ada perlawanan dari Salma. Kini Salma malah ikut membalas ciuman dari Rony. Tangan Salma pun sudah bertengger di leher Rony. Rony tersenyum tipis merasakan balasan ciuman Salma yang sedikit agresif. Rony tau hormon Salma untuk bercinta tengah naik karena kemarin saat menemani Salma periksa kehamilan nya dokter menjelaskan semua pada Rony termasuk hasrat ibu hamil yang bisa meningkat saat kehamilan.Tangan Rony yang awalnya mengusap perut Salma, justru naik meremas payudara Salma. Salma sangat menikmati sentuhan Rony. Berbeda dengan malam itu, kini Salma justru sangat nyaman dan menikmati tubuhnya di sentuh oleh Rony.Ciuman Rony kini turun ke leher Salma di balik hijabnya. Rony membuat banyak tanda cinta pada leher Salma. Tangan Rony perlahan membuka kemeja Salma sembari mengeluarkan payudara Salma dari dalam bra Salma."Eughh Pakkk" Lenguh SalmaLidah Rony bekerja memainkan nipple Salma. Salma merasakan kenikmatan saat mulut Rony bekerja pada payudara nya. Salma justru semakin menahan kepala Rony agar memperdalam hisapannya.Saat Rony sibuk menyesap payudara Salma, tiba-tiba saja pintu ruangan nya terbuka. Dengan cepat Rony menutup payudara Salma menggunakan kerudungnya."M maaf pak, saya gatau pak" Ucap Sekertaris Rony gugupSalma bangkit dari pangkuan Rony lalu kembali merapikan pakaiannya."Kamu bisa gak! Ketok pintu dulu! Sejak kapan kamu bisa masuk ruangan saya seenaknya! Gak sopan banget! Kamu ganggu privasi saya! Tau gak!" Bentak Rony"Udah jangan di bentak" Lirih Salma"Saya permisi dulu pak" Pamit Salma malu dan segera pergi***Sejak kejadian di ruangan Rony, banyak tatapan sinis yang Salma terima. Rumor bahwa Salma adalah simpanan Rony pun mencuat dengan cepat. Siapa lagi kalau bukan Reva yang menyebarkan gosip itu.Sekretaris Rony yang memang menaruh hati pada lelaki itu sejak pertama kali dia bekerja disini. Dia heran, mengapa Rony justru tertarik pada office girl yang berpenampilan biasa saja dengan hijabnya. Sedangkan setiap hari dia berusaha berpenampilan seksi untuk menarik perhatian lelaki itu namun tetap saja Rony tak pernah tertarik padanya.Reva bisa melihat jelas saat Rony tengah menyesap payudara Salma yang duduk di pangkuan nya saat itu. Itu membuat Reva panas bukan kepalang, dia merasa Salma adalah saingan beratnya yang bisa berhasil menggoda Rony. Sejak saat itu dia selalu membuat berita yang menyudutkan nama Salma. Namun sialnya, Salma justru seolah tak peduli pada gosip-gosip miring tentang dirinyaHal itu membuat Reva semakin geram dan ingin sekali melihat Salma di pecat dari kantor ini. Salma bahkan lebih sering berani masuk ke dalam ruangan Rony dan berada di dalam cukup lama. Membuat Reva semakin benci pada wanita itu. Reva juga sering kali melabrak Salma, namun nyatanya wanita itu juga bisa melawan Reva dengan menyatakan bahwa Rony mencintainya bukan Reva.Melihat Salma baru saja keluar dari ruangan Rony, Reva menariknya dan membawanya ke gudang dekat tangga darurat. Reva benar-benar jengah melihat kedekatan Rony dan office girl itu."Lu tuh emang gatau malu ya jalang! Udah berapa kali sih gue ingetin lu! Jauhin Pak Rony! Kenapa lu bebal banget anjing!" Bentak Reva"Urusannya sama mba apa? Mba istrinya? Pacarnya? Bukan kan? Udah berapa kali juga saya bilang, mba itu cuma sekertaris nya Pak Rony. Saya calon istrinya! Saya mau nikah sama Pak Rony! Dan Pak Rony cinta sama saya! Jadi harusnya disini mba ya yang sadar diri dan berhenti ganggu saya dan calon suami saya!" Tegas Salma"Kurang ajar kamu ya! Dasar Jalang!!" Ucap Reva sembari mendorong tubuh SalmaSalma saat itu oleng dan tak bisa menahan tubuhnya hingga dirinya jatuh ke bawah dari tangga darurat. Reva yang melihat itu pun panik saat tubuh Salma terus berguling di tangga."SALMAAAAAAAA" Teriak Rony saat melihat Reva mendorong Salma hingga Salma terjatuhRony segera berlari menghampiri Salma dan membawa Salma ke rumah sakit.***Setelah mengalami koma selama dua Minggu. Akhirnya Salma bisa kembali membuka matanya."Mas" Panggil SalmaSemenjak Salma dan Rony semakin dekat, Rony meminta Salma memanggilnya Mas. Bukan lagi bapak seperti sebelumnya, dan Salma pun menyetujui nya."Alhamdulilah sayang, akhirnya kamu bangun. Lama banget kamu bobo sayang, aku sedih kamu gak bangun-bangun" Ucap Rony"Anak kita gimana mas?" Tanya SalmaRony hanya diam, dia bingung menjawab pertanyaan Salma."Mas jawab mas! Kenapa perut ku rasanya kosong? Anak kita baik-baik aja kan mas? Mas??" Ucap Salma takut"Sayang, kamu harus kuat yaa. Anak kita udah di surga sayang. Dia memilih untuk menjaga kita dari surga sayang" Balas Rony terisak"Mas kamu bohong kan mas? Anak kita kuat mas! Dokter selalu bilang anak kita kuat! Gak mungkin dia pergi mas!!""Hiks hiks aku nyesel dulu pernah kepikiran buat gugurin dia mas. Tapi sekarang aku udah sayang banget sama anak aku mas. Aku gamau dia pergi mas, hiks hiks. Kenapa sekarang dia malah pergi mas? Adek gak sayang sama aku ya mas? Aku ibu yang buruk ya mas? Hiks hiks aku gak bisa jagain Adek mas, aku bukan ibu yang baikkk" Teriak Salma sembari menangis"Sayang, tenang sayang. Jangan kaya gini sayang, ikhlas ya sayang. Adek udah bahagia di surga. Kamu jangan kaya gini sayang, nanti adek sedih""Kamu ibu terbaik, kamu ibu yang hebat. Jangan pernah merasa kamu ibu yang buruk sayang. Kamu ibu paling baik untuk Adek. Tapi ini semua kembali sama takdir Tuhan, Adek memilih untuk menjaga kita dari surga sayang. Tolong ikhlas ya sayang" Ucap Rony memeluk Salma sembari menenangkan Salma***Setelah sebulan Salma merenungkan diri, kini Salma mulai mencoba mengikhlaskan semuanya termasuk kepergian anaknya.Salma juga sudah mengetahui bahwa Reva sudah Rony penjarakan karena dengan sengaja mencelakai Salma. Sebenarnya Salma sudah memaafkan Reva, namun Rony tidak. Rony kekeuh untuk memenjarakan wanita itu karena Rony juga sangat marah pada Reva. Karena ulahnya dia hampir kehilangan Salma, dia juga harus kehilangan anaknya."Mas, aku mau jawab pertanyaan kamu semalem" Ucap Salma yang baru saja masuk ke dalam ruangan RonySalma memutuskan untuk tetap bekerja sebagai Office Girl di kantor Rony. Apalagi saat ini dia sudah tak mengandung buah hati Rony, jadi dia memutuskan untuk kembali ngekos dan membiayai dirinya sendiri. Walaupun Rony sudah menolak keputusan Salma, namun Salma tetap keluar dari rumah Rony."Iya sayang, kalo kamu belum siap gapapa kok. Aku akan nunggu sampai kamu siap nikah sama aku" Balas Rony"Aku siap kok nikah sama kamu sekarang, aku juga gatau perasaan nyaman ini mulai kapan ada di hati aku. Tapi yang pasti aku sudah memaafkan semua kesalahan kamu dulu, aku juga mau menerima lamaran kamu mas" Ucap SalmaRony terharu lalu ia pun memeluk Salma dengan erat."Makasih sayang, makasih banget. Adek pasti seneng di surga karena orang tua nya bisa bersatu. Aku janji aku bakalan bahagiain kamu sayang, kita akan hidup sama-sama ya sayang. Aku janji" Balas Rony"Iya mas" Balas Salma"I love you my office girl" Bisik Rony"Terimakasih mas" Balas Salma"Kok terimakasih? Dibales dong sayang" Rengek Rony"Itu udah dibales kan terimakasih?" Tanya Salma"Sayangggg, yang bener ihhh""I love you my office girl" Ulang Rony"Hahahaha love you to my CEO jelek" Balas Salma"Oh nakal ya ngatain aku jelek yaa" Ucap Rony menggelitiki perut Salma"Hahaha jangan mas, ampun hahaha geli ih" Balas Salma"Berani banget ngatain saya jelek yaa, mau di pecat? Hmm?" Goda Rony"Gapapa di pecat, kan bentar lagi jadi nyonya Rony Alexander hahaha" Balas Salma"Bisa aja nih hahaha" Ucap Rony terkekehTiga bulan setelahnya, Rony resmi menikahi Salma di Jogjakarta. Orang tua Rony juga datang dan memberi restu untuk pernikahan anaknya. Orang tua Rony justru berterima kasih pada Salma, karena berkat Salma. Rony banyak berubah, Rony lebih hangat dan bisa lebih menghormati kedua orang tuanya.Salma yang di terima baik oleh keluarga Rony pun merasa bahagia. Kini pria yang dulu sangat ia benci, Pria yang menghancurkan hidupnya sekarang sudah SAH menjadi suaminya. Kini benci itu pun sudah menghilang dan berganti menjadi cinta untuk seorang Rony Alexander.~END~Terimakasih semua atas komen positif di setiap Part One Shoot ini ❤️Kalo kalian mungkin ada ide cerita, Monggo berbagi di komen juga gapapa. Nanti kalo sesuai biar minthor pikirin alurnya gimana ya hehe ✌️Thankyou semuanya ❤️
Cegil
Cegil"Selamat pagi Abang nya Caca yang paling ganteng seantero jagat rayaaa" Sapa Salma"Ck, perasaan gue udah gak enak nih kalo lu sok baik begini" Balas Paul"Titip bekal buat Bang Rony dong bang hehe, bilangin ini bekal dibuat pake cinta dan kasih sama Caca" Balas Salma"Kan, apa gue bilang!""Lu sekolah yang bener kenapa sih! Lu tuh bentar lagi ujian kelulusan, belum lagi ujian masuk perguruan tinggi emang lu gamau apa masuk kampus yang bagus!" Omel Paul"Mau, apalagi sekampus sama bang Rony hehe mau banget""Udah ih bang, ntar kalo Caca gak bisa ujian nya kan uang papa masih banyak. Bisa lah di usahain sekampus sama Abang dan bang Rony hehe" Balas Salma dengan cengirannya"Lu tuh kalo di bilangin ya, ada aja jawabannya!""Yaudah mana! Kalo Rony gamau terima biar gue yang makan" Balas Paul"Ish jahatnya, masa iya bang Rony gamau terima bekal dari cewek cantik kaya Caca sih?" Ucap Salma heran"Ca, yang ngefans sama Rony gak cuma lu doang. Banyak yang lebih cantik dari lu! Jadi gausah ke PD an jadi manusia!"Udah lah ayo cepet berangkat, ntar lu telat. Gue yang di omelin papa mama. Buruan" Ajak Paul"Iya, ntar jangan lupa Salamin buat Abang ganteng nya Caca ya bang. Love you gitu hehe" Balas Salma"Dasar cewek gila!!" Umpat PaulSalma dan Paul merupakan saudara kandung, dimana Paul tiga tahun lebih tua dari Salma.Sedangkan Rony, dia adalah sahabat Paul sejak SMP. Rony sangat dekat dengan Paul, bahkan sering kali Rony menginap di rumah Paul.Rony memang laki-laki yang sangat tampan, dingin dan tidak terlalu banyak bicara. Dia hanya akan banyak bicara jika dirasa nyaman dengan orang tertentu.Salma sudah menyukai Rony sejak Rony pertama kali berkunjung ke rumahnya. Selama ini dia mencoba menunjukkan perasaan suka nya pada Rony. Namun Rony selalu saja menganggapnya hanya seorang adik, karena dia juga ingin memiliki adik perempuan.Rony selalu bilang jika perasaan nya pada Salma tak lebih dari seorang kakak pada adiknya. Tapi Salma tetaplah Salma, dia pantang menyerah untuk selalu menunjukkan perhatian nya pada Rony.Berbeda dengan gadis lainnya, Rony sering kali menerima barang atau apapun dari Salma. Di bandingkan dengan gadis lain yang sering kali Rony tolak mentah-mentah. Bahkan Rony sama sekali tak tertarik untuk dekat dengan seorang gadis.***"Nih, bekal dari Caca" Ucap Paul"Wah, thankyou bro. Kebetulan gue laper banget" Balas Rony"Dih, si anjirr. Dari tadi perasaan banyak tuh yang mau ngasih bekal ke elu tapi gak lu terima. Ini kenapa dari Caca lu langsung mau? Padahal gue udah siap buat makan tuh bekal anjirr kalo lu tolak" Balas Paul"Yeuhh gak ikhlas lu ya nganterin ini. Orang Caca bikinnya buat gue bukan buat lu""Lagian nih ya, gue ngeri kalo terima makanan dari mereka-mereka. Takut ada peletnya. Kalo dari Caca kan gue udah sering makan dan emang terbukti aman jadi gue berani makan. Lagian masakan Caca gak pernah gagal, selalu enak. Yakali gue tolak, rugi dong" Balas Rony"Bajingan, gue juga ngiler Ron. Bagi dikit dong" Ucap Paul memelas"Gak ya anjing, ini khusus buat gue! Lagian lu kenapa gak minta juga sih sama Caca! Malah gangguin gue sekarang!" Omel Rony"Ya kan pikiran gue, lu gak bakal terima itu bekal Ronyyyyy" Ucap Paul"Sejak kapan coba gue tolak bekal Caca? Hah? Perasaan gak pernah deh! Lu aja emang dasarnya gak ikhlas nganterin nih bekal buat gue!" Balas Rony"Ck Yaudah makan Sono sampe kenyang, gausah bagi gue! Pelit banget jadi orang!" Omel Paul"Oh ya jelas, bakalan habis kok. Tenang aja bro" Balas Rony jumawa***Salma yang baru bangun tidur, terasa sangat haus. Dia pun memutuskan keluar kamar untuk mengambil air minum."Ca, bangun tidur?" Sapa Paul"Hmm" Balas Salma"Ganti baju sana, lu cuma pake tanktop sama hotpants gitu pake keluar kamar! Udah gede juga" Omel Paul"Panas Abang, lagian gak ada orang ini ahh" Balas Salma sembari menguncir rambutnyaRony yang sedari tadi di belakang Paul seketika menelan saliva nya melihat Salma yang terlihat begitu seksi saat menguncir rambut."Melek dulu tuh mata mangkanya dek! Liat ada siapa belakang Abang" Omel Paul"Hay Ca?" Sapa RonyTanpa menjawab Salma langsung masuk ke dalam kamarnya dengan cepat. Dia benar-benar malu keluar tanpa hijab nya di depan Rony."Loh kok langsung kabur ul?" Tanya Rony heran"Malu pasti dia, gak pake hijabnya. Dia kira gue doang disini""Udah lah, yuk ke kamar gue main PS" Ajak Paul"Okee" Balas Rony namun tetap memandang kamar SalmaKok gue baru sadar, Caca secantik itu ternyata. Bocil gue udah gede haha *batin RonySaat Rony dan Paul tengah bermain PS, tiba-tiba Salma masuk membawa camilan yang sempat ia buat bersama mama nya beberapa hari lalu. Dia pun duduk di dekat Rony."Hay bang Ron, nih Caca bawain cookies buatan Caca. Cobain dong" Ucap Salma"Iya, bentar lagi ya Ca. Abang lagi main nih" Balas Rony"Caca suapin? Mau gak?" Tanya Salma centil"Dek! Suapin suapin! Centil banget sih! Udah biarin Rony main dulu kenapa sih! Ganggu banget ya nih bocah" Omel Paul"Yeuh apa sih lu bang, biarin kek. Orang Bang Rony juga gak keganggu. Iya kan bang?" Tanya Salma"Iya Ca, gapapa kok" Balas Rony"Gapapa apa nih? Suapin Abang?" Tanya Salma semangat"Iya, kalo ga ngrepotin Caca" Balas Rony yang masih fokus dengan game nya"Ya jelas tidak dong hehe, dengan senang hati malah bang""Nih coba aaaa bang" Ujar Salma sembari menyuapi Rony"Hmm enak Ca? Kamu bikin sendiri?" Tanya Rony"Gak lah! Di bantuin mama itu, bikinnya bareng mama" Balas Paul"Ish, Abang nih yang di tanya siapa, yang jawab siapa!" Omel Salma"Hahaha udah udah, gausah sebel. Sini aja diem Deket Abang, jangan berisik ya Ca. Abang lagi fokus main" Ucap Rony lembut"Oke Abang" Balas SalmaAkhirnya Salma memilih duduk di sebelah Rony sembari memainkan ponselnya.Saat game selesai, Paul langsung berlari ke toilet untuk membuang hajatnya yang tertahan sejak tadi. Hingga meninggalkan Rony dan Salma berdua di kamarnya."Sibuk banget sama hp nya? Lagi chattan sama siapa?" Tanya Rony sembari menatap Salma"Hehe gak ada, cuma scroll tiktok aja bang" Balas Salma"Ohh, kirain chattan sama cowok" Balas Rony sedikit kesal"Gaboleh pacaran sama Abang. Katanya harus fokus belajar" Balas Salma"Paul emang bener Ca, kamu kan bentar lagi ujian terus belum lagi nanti ujian masuk perguruan tinggi. Jadi harus banyak belajar biar bisa lulus" Balas Rony"Iya, tapi kan Caca pengen pacaran. Apalagi kalo pacarannya sama Abang Rony. Pasti Caca seneng hehe" Balas Salma polosSenyum Rony mengembang mendengar ucapan polos yang ia anggap adiknya ini."Apa sih, masa pacaran sama abangnya sendiri. Gaboleh dong""Lagian Caca ini masih kecil, gaboleh ih mikir pacar-pacaran dulu. Fokus belajar yaa, biar bisa masuk kampus favorit loh" Ucap Rony sembari mengusap kepala Salma"Ihh Abang, kok gaboleh pacaran sama Abang sih? Kan bang Rony bukan Abang kandung Caca, berarti boleh dong" Sangkal Salma"Hmm Ca, makasih ya tadi bekalnya enak banget loh. Abang makan sampe habis tak tersisa sedikit pun. Caca jago masaknya deh" Puji Rony berusaha mengalihkan pembicaraan"Seriusan bang?" Tanya Salma"Dua rius malah, beneran enak tau. Caca cocok jadi chef. Keren" Puji RonyUntung gampang banget ke distract nya nih bocah hahaha *batin Rony"Wah makasih pujiannya Abang. Caca jadi makin semangat belajar masak buat Bang Rony deh" Balas Salma"Hahaha iya, Abang juga siap kok cobain masakan Caca terus" Balas Rony"Yeayy, makasih Abang Rony yang paling ganteng" Balas Salma"Sama sama cantik""Eh, tadi kenapa? Pas di sapa Abang, Caca langsung masuk kamar? Hmm?" Tanya Rony"Kapan? Oh yang tadi?""Hehe, Caca malu. Tadi Caca gak pake hijab, kirain tadi bang Paul doang yang dateng, ternyata ada Abang juga di belakang Bang Paul. Jadi Caca langsung kabur deh" Balas Salma"Emangnya kenapa kalo Abang liat Caca gak pake hijab? Kan Abang, abangnya Caca juga" Balas Rony"Gaboleh dong, kan Abang bukan Abang kandung Caca. Jadi gaboleh liat" Balas Salma"Tapi tadi Abang udah lihat, gimana dong? Berarti gapapa liat lagi Ca" Balas Rony"Yang tadi bonus aja bang. Kalo liat lagi gaboleh! No no Abang" Balas Salma gemas"Hahahaha gemes banget sih adik Abang ini. Pipi mochi nya nih yang bikin gemes" Ucap Rony sembari memainkan pipi Salma"Ih Abang sakit tauuu" Rengek Caca"Hahaha maaf maaf gak sengaja, sakit banget ya?" Tanya Rony"Iya sakit Abang. Tapi kaya nya bakal sembuh kalo di cium sama Abang deh" Goda Salma"Haha bisa aja, emang beneran mau di cium Abang? Hmm?" Balas Rony"Mau mau, Caca Mau" Balas Salma semangat"Haha lucu banget sih Ca" Balas Rony terkekehCupCupRony mencium pipi kanan dan Kiri Salma."Ahh Abang? Abang cium Caca?" Tanya Salma tak percaya"Iya, tadi katanya minta di cium kan?" Tanya Rony ragu"Ahh Abang, Caca mau pingsan deh" Balas Salma lebay"Hah? Kenapa? Caca kenapa? Pusing? Atau kenapa Ca?" Tanya Rony panik"Caca mau pingsan karena di cium Abang" Balas Salma"Astaghfirullah Ca! Abang udah kaget tau gak! Kirain Caca beneran kenapa-napa" Balas Rony"Hehe kaya nya Caca gak bakal cuci muka deh seminggu bang. Nanti takut bekas ciuman Abang ilang di pipi Caca. Sayang banget" Ucap Salma"Ya gak gitu dong cantik. Masa gak cuci muka, nanti kalo bekasnya ilang. Abang cium lagi deh yaa hahaha" Balas Rony gemas"Beneran?" Tanya Salma"Iya beneran" Balas Rony"Yeayyy makasih Abang" Balas SalmaRony terkekeh melihat kepolosan Salma, dia benar-benar gemas dengan gadis di depannya.Salma benar-benar definisi cegil yang terlalu polos menurut Rony. Jika Rony tak menganggapnya adik, mungkin saat ini Rony sudah mengurungnya di kamar dan dia peluk seharian. Rony sudah tidak sanggup menahan gemasnya pada gadis di depannya itu.***Enam bulan berlalu, sudah hampir seminggu ini Salma menjalani ospek di kampusnya. Kini dia sudah masuk dalam jadwal perkuliahan nya. Salma sangat bersemangat untuk menjalani perkuliahan nya di hari pertama ini.Namun saat Salma sedang berjalan mencari kelasnya, netra nya tak sengaja menangkap sosok Rony yang tengah jalan bersama seorang wanita. Wanita itu terlihat sangat dekat dengan Rony, bahkan dia memeluk lengan Rony manja.Pemandangan itu berhasil membuat hati Salma sedikit sakit. Lalu ia tersenyum miris, kenapa dirinya harus sakit hati? Bukannya selama ini Rony selalu menegaskan bahwa dirinya hanya Rony anggap sebagai Adik kan, tidak lebih.Salma melenggang pergi, sebelum Rony menyadari bahwa dirinya tengah menatap Rony sejak tadi. Salma juga tak ingin merusak moodnya di hari pertama kuliahnya, jadi ia memilih untuk pergi dan berhenti memperhatikan Rony dengan wanita lain."Hey ca? Ciyee hari pertama kuliah yaa hari ini? Selamat ya cantik, semangat kuliahnya" Sapa Rony ramah ketika tak sengaja bertemu Salma di kantin"Iya bang, makasih" Balas Salma cuek"Dih, kenapa lu? Tumben banget lemes? Hari pertama bukannya semangat malah lemes" Ledek Paul"Nab, cari makanan disana aja yuk" Ajak Salma pada Nabila teman barunya"Eh iya, ayo" Balas NabilaSalma pun pergi tanpa menghiraukan kedua abangnya yang menatapnya heran."Kenapa adik lu?" Tanya Rony"Gatau, tumben amat gak gatel sama lu. Lemes banget malah" Balas Paul"Caca tuh gak gatel sama gue tolol. Dia tuh emang terlalu polos aja, jadi agak blak-blakan kalo ngomong""Kalo gatel kek modelan Flo tuh. Gue di tempelin Mulu, geli banget gue. Udah di tolak berkali-kali tetep aja gatel, pengen gue garuk pake garpu rasanya" Balas Rony"Hahaha iya sih bener, Adek gue masih batas wajar sih demen Ama lu. Gak kek ulet bulu itu" Balas PaulCaca kenapa ya? Kok jadi cuek sama gue? *Batin Rony***"Ul, Adek lu mana sih? Tumben gak gangguin kita?" Tanya Rony"Gangguin elu sih lebih tepatnya" Balas Paul"Iya, kemana sih si Caca. Dari kemarin aneh banget sikapnya" Balas Rony heran"Kenapa lu? Bingung banget keknya gak di cegilin Adek gue? Mulai nyaman lu sama Caca? Hmm?" Tebak Paul"Apaan sih, yakali. Gue nganggep dia Adek gue juga kok gak lebih. Cuma ya penasaran aja, biasanya dia yang bikin rame suasana nya jadi seru kalo ada dia. Eh sekarang malah diem-diem Bae tuh bocah, kan gue kepikiran takut ada salah" Balas Rony"Palingan di kamar, Drakor""Udah gak usah kepikiran, lagi PMS kali mangkanya badmood Mulu dari kemarin" Balas Paul"Ck, yaudah lah. Gue mau bikin kopi dulu di dapur. Lu mau kagak?" Tanya Rony"Gak deh, makin gabisa tidur gue nanti. Udah lu aja sana bikin sendiri. Bibi lagi gak ada soalnya" Balas PaulRony pun turun ke dapur. Matanya langsung menangkap sosok yang dari tadi ia cari. Mata Rony membulat ketika melihat kecantikan Salma tanpa menggunakan hijab dan menggunakan pakaian yang pas badan."Lagi masak apa Ca?" Tanya Rony mengagetkan SalmaSalma yang memang posisinya tengah memakai tanktop dan hotpants sedikit gelagapan ketika mengetahui Rony tengah menginap di rumahnya.Salma yang hendak kabur pun di tahan oleh Rony."Udah gapapa, gausah kabur. Abang merem deh biar gak lihat Caca" Balas Rony sembari menutup mata nya"Beneran ya, jangan buka mata" Balas Salma"Iya beneran" Balas Rony yang masih menutup matanya"Abang nginep?" Tanya Salma sembari melanjutkan memasak"Iya, Paul ngajak Abang nginep katanya Mama Papa Caca lagi ke luar negeri ya. Jadi di rumah ini sepi, mangkanya dia ngajak Abang nginep biar ada temen main PS semaleman" Balas Rony"Iya, baru berangkat tadi pagi" Balas Salma cuek"Caca kenapa? Abang ada salah sama Caca?" Tanya Rony yang tak sadar malah membuka matanyaSalma yang memang posisinya di depan Rony pun tak mengetahui jika Rony sudah membuka matanya"Gak ada bang" Balas Salma"Terus kenapa tiba-tiba Caca cuek? Kaya bukan Caca deh ini" Balas Rony"Gapapa kok bang" Balas Salma"Beneran? Abang sih yakin, pasti Abang ada salah ini jadi bikin Caca cuek sama Abang. Kenapa Ca? Abang salah apa?" Tanya Rony yang semakin mendekat dan berdiri tepat di belakang SalmaCaca wangi banget gilaaa *batin RonySalma yang sudah tak tahan pun akhirnya membalikkan badan dan mengucapkan semua yang ia rasakan."Caca cuma mau belajar lupain Abang! Caca gamau suka lagi sama Abang! Caca gamau kalo Caca jadi perebut pacar orang! Jadi please Abang gausah deket-deket sama Caca lagi! Nanti Caca susah move on nya!" Omel Salma tepat di depan RonySalma baru sadar, jika posisi mereka kini sangat dekat. Bahkan Rony benar-benar berada di depannya saat ini dengan jarak yang sangat dekat. Jantung Salma pun sudah berdegup sangat kencang."Kok Caca gitu? Kenapa harus lupain Abang? Caca gak pernah rebut pacar orang. Siapa pacar orang? Hmm?" Tanya Rony lembut"Ya Abang lah! Siapa lagi!" Balas Salma jutek"Abang gak punya pacar Caca. Abang jomblo kok" Balas Rony"Apaan! Kemarin Caca lihat Abang jalan sama cewek di kampus! Ceweknya mesra banget sama Abang! Dia gandeng-gandeng lengan Abang! Caca aja gak pernah gitu, tapi dia gitu sama Abang! Apa namanya kalo bukan pacaran!" Omel SalmaRony terkekeh, gadis ini benar-benar sangat lucu dan menggemaskan"Ohh si Flo""Dia bukan pacar Abang, dia emang suka sama Abang. Dia selalu deketin Abang, tapi Abang gak suka sama dia. Abang juga gak pernah respon dia""Coba di inget-inget waktu Caca lihat Abang kemarin, ada gak Abang peluk dia balik? Atau Abang respon dia? Gak kan?""Abang tuh kemarin capek banget karena tugas Abang banyak, mangkanya udah gak ada tenaga buat ngusir Flo. Jadi Abang biarin aja tuh dia gelandotan, karena jujur Abang udah capek banget kemarin" Balas Rony"Oh kirain pacar Abang" Balas Salma cuek"Bukan Ca, Abang gak punya pacar""Abang gak suka Caca cuek sama abang. Abang juga gak suka sama ucapan Caca yang bilang mau lupain Abang. Caca jangan pernah berpikiran gitu lagi ya" Balas Rony"Sebenernya Caca juga gamau cuek sama Abang. Tapi kan Caca juga gamau kalo nanti di kira perebut pacar orang. Mendingan Caca cari cowo lain aja, dari pada terus terusan suka sama Abang" Balas Salma"Gaboleh lah, Caca gak boleh suka sama cowo lain. Nanti kalo cowo lain nyakitin Caca gimana?""Abang kan gak punya pacar, Jadi Caca gausah jauhin Abang. Abang gak suka Caca cuekkin Abang kaya kemarin" Balas Rony"Iya iya, yaudah maafin Caca ya bang udah cuekkin Abang dari kemarin" Balas Salma"Iya gapapa, sekarang Caca lagi masak apa hmm?" Tanya Rony yang kini justru meletakkan kepalanya pada bahu Salma yang berdiri membelakangi nya"Lagi masak mie Abang, Abang mau?" Tanya Salma"Abang mau Caca aja boleh gak?" Goda Rony"Hah? Mau Caca?" Tanya Salma polos"Iya, Abang mau mam Caca aja boleh gak?" Goda Rony"Ihh Abang kanibal? Jangan Caca Abang, daging Caca gaenak. Daging bang Paul aja tuh enak pasti" Balas Salma asal"Hahahaha lucu banget sih Caca nya Abang ini" Ucap Rony refleks memeluk Salma dari belakang"Ih Abang jangan gini, nanti Caca bisa pingsan tau di peluk Abang begini" Balas Salma"Hahaha ya gapapa, nanti Abang tangkap Caca kalo Caca pingsan" Balas Rony terkekeh sembari mengeratkan pelukannya"Abang nih, katanya tutup mata tapi malah sekarang peluk-peluk Caca!" Omel Salma"Gapapa lah, kan sama Abang ini bukan cowo lain" Balas Rony santai"Abang tadi mau ngapain ke dapur? Mau mam mie juga?" Tanya Salma"Oh iya, Abang lupa. Abang mau bikin Kopi. Caca bisa bikinin kopi buat Abang gak?" Tanya Rony"Bisa bang. Tapi lepas dulu pelukannya" Balas Salma"Kenapa? Caca gak suka di peluk Abang?" Tanya RonySalma justru membalikkan badannya menghadap Rony. Otomatis jarak mereka sangatlah dekat."Caca mau ambil gelasnya disana Abang" Balas Salma berusaha menetralkan perasaannyaCaca cantik banget kalo di liat dari deket *batin RonyRony mengusap lembut pipi Salma, semakin mengikis jarak dengan perlahan. Hingga akhirnya bibirnya menempel sempurna pada bibir Salma.Rony mulai melumat bibir manis Salma, melumat bibir atas dan bawah Salma secara bergantian. Tangan Rony menuntun tangan Salma agar bertengger pada bahu nya. Sedangkan tangan Rony merangkul mesra pinggang Salma.Salma hanya diam merasakan ciuman Rony, antara kaget, senang dan bingung. Dengan perlahan akhirnya Salma membalas ciuman Rony. Walaupun masih amatir, Salma hanya mengandalkan instingnya untuk membalas ciuman Rony. Rony pun senang kala merasakan ciumannya terbalaskan.Kepala mereka bergerak ke kanan dan ke kiri, menikmati ciuman mereka berdua. Hingga Salma merasakan nafasnya sudah hampir habis, dan dia menepuk pundak Rony menandakan bahwa dia sudah kehabisan nafas.Rony terkekeh melihat Salma dengan nafas terengah-engah."Ih Abang! Abang mau bunuh Caca ya!" Omel Salma"Hahaha maaf cantik, habisnya bibir Caca manis. Abang jadi candu, dan susah lepasinnya" Balas Rony sembari mengusap bibir Salma yang sedikit bengkak karena ulahnya"Udah ah, Caca mau mam mie nya. Abang bikin kopi aja sendiri" Balas Salma lalu pergi meninggalkan RonyRony masih terkekeh, ia tau Salma malu padanya. Terlihat raut wajah Salma yang memerah saat bertatapan dengannya.Gemes banget anying , gue nikahin juga tuh ya si bocil *batin RonyNamun saat Rony baru saja selesai membuat kopi. Ternyata ada yang mengetok pintu rumahnya. Rony pun bergegas membukakan pintu."Cari siapa?" Tanya Rony"Hmm Salma nya ada bang?" Tanya lelaki itu"Ada, kamu siapa? Ngapain malem-malem bertamu ke rumah perempuan?" Tanya Rony sinis"Ada perlu sebentar bang, boleh panggilkan gak?" Tanya laki-laki"Yaudah tunggu, masuk aja dulu" Balas Rony mempersilahkan masukRony masuk ke dalam kamar Salma tanpa mengetuk pintu."Astaghfirullah Abang! Kok gak ngetuk dulu sih! Kalo Caca lagi ganti baju gimana?" Tanya Salma kesal"Ya rezeki nya Abang berarti" Balas Rony santai"Ish untung suka, kalo gak suka udah Caca tendang ya Abang" Omel Salma"Ngapain Abang ke kamar Caca?" Tanya Salma"Itu ada cowo di bawah nyariin Caca? Siapa? Cowo Caca? Abang bilangin bang Paul ya kalo Caca pacaran!" Ancam Rony"Ish ya bukan lah! Caca kan sukanya sama Abang. Caca gak mungkin pacaran sama cowo lain" Balas Salma"Terus itu siapa? Malem-malem nyamperin Caca?" Tanya Rony sinis"Ya gatau, bentar Caca samperin" Balas Salma"Eh eh tunggu! Ganti dulu bajunya! Itu yang nunggu Caca cowok! Masa Caca mau nemuin dia pake tanktop sama hotpants begini! Gak boleh dong!" Omel Rony"Oh iya lupa, yaudah Abang keluar dulu sana. Caca mau ganti baju" Balas Salma"Abang tunggu sini, kamu ganti di kamar mandi" pinta Rony***"Bikin kopi dimana sih lu anjing? Lama banget?" Tanya Paul"Ya di dapur" Balas Rony jutek"Dih kenapa lu?" Tanya Paul"Kesel banget gue sama Adek lu!" Balas Rony"Lah kenapa?" Tanya Paul"Gue tadi lagi bikin kopi, tiba-tiba ada yang ngetok rumah lu dan ternyata cowok nyariin Caca""Pas gue Panggilin, gue temenin tuh dua bocah di ruang tamu. Eh malah si cowok ganjen banget sama Caca! Mana Caca nya mau mau aja lagi di ganjenin tuh cowok! Kesel banget liatnya""Udah gue awasin masih aja begitu, gimana kalo gak di awasin coba! Bisa-bisa tuh cowok modus sama Caca!" Omel Rony"Wuahahaahahahaha pantes si anjing, lama banget bikin kopi doang. Ternyata sambil ngawasin orang pdkt lu ya? Hahaha""Denial aja terosss. Adek gue baru di Pepet cowok aja lu panas dingin begini Ron Ron""Udahlah, stop Denial. Lu tuh sayang Caca bukan sayang sebagai Adek tapi sebagai pasangan. Gue aja udah sadar perasaan lu sejak dulu ya nyet, kenapa lu nya sendiri Denial Mulu sih" Ucap Paul"Apaan sih! Gausah sok tau deh lu Ul! Lagian lu kok bisa santai sih adik lu di Pepet cowok? Kan lu gak tau tuh cowok baik apa gak!" Omel Rony"Lah gue emang tau! Sikap lu aja udah keliatan, lu juga gak pernah tuh coba Deket sama cewek lain selain Caca! Di cuekkin Caca aja lu kelimpungan setengah mati! Sekarang liat Caca di deketin cowok, lu juga marah-marah gak jelas? Itu yang lu anggep sayang ke adik? Hmm?""Gue abangnya, gue biasa aja tuh Caca di Pepet cowok. Gue emang sayang sama dia, tapi gue juga tau kalo Adek gue udah mulai gede dan emang udah sewajarnya dia kenalan atau deket sama cowok. Tugas gue sebagai abangnya ya cuma ngawasin dan nasehatin dia jangan sampe macem-macem. Udah gitu doang, gak harus marah-marah gak jelas kek elu tolol" omel Paul"Apa iya gue beneran cinta sama Caca ul?" Tanya Rony"Ngapain tanya gue! Tanya sama hati lu sendiri! Kenapa lu bisa se marah itu liat Caca di deketin cowok! Tanya kenapa lu bisa se khawatir itu saat Caca diemin lu kemarin! Tanya semua itu sama hati lu" Balas Paul***Sudah tiga hari ini, Rony menginap di rumah Salma dan Paul. Salma tetap dengan segala ke cegilan nya pada Rony, namun Rony yang masih ragu dengan perasaannya sendiri.Malam ini Salma izin pulang telat pada Paul karena masih ada tugas kelompok yang harus di selesaikan."Ron, gue keluar dulu ya. Lu di rumah aja nungguin Adek gue. Dia belum pulang, ntar lu jagain dia deh di rumah" Ucap Paul"Lah! Lu mau kemana anjing?" Tanya Rony"Nih mau nyusulin Nabila sekalian ajak dia jalan hehe" Balas Paul"Lah Adek lu sendiri gimana?" Tanya Rony"Udah jalan pulang, sama temennya kali. Aman dia mah. Dah ya gue keluar dulu" Balas Paul"Yeuh si anjing, enteng banget ninggalin Adeknya" Gumam RonyBaru saja Paul keluar dari gerbang, muncul Salma yang di antarkan pulang oleh teman lelaki yang sebelumnya berkunjung ke rumah.Rony dibuat panas melihat Salma yang di bonceng oleh laki-laki lain. Dia pun menghampiri Salma lalu merangkul pinggang gadis itu mesra."Sayang, lama banget sih pulangnya? Abang udah nungguin dari tadi" Ucap Rony mesra"Maaf bang, emang baru kelar ngerjain tugasnya hehehe" Balas Salma bingung"Yaudah, makasih ya udah nganterin cewek gue. Lain kali gak perlu, gue bisa jemput dia sendiri" Balas Rony dingin"Eh iya bang, kebetulan searah kok""Yaudah Sal, pamit ya" Ucap teman Salma***Rony yang kesal dengan Salma, pergi meninggalkan Salma ke dalam kamar Paul.Salma paham jika Rony tengah ngambek padanya, akhirnya dia memberanikan diri menyusul Rony ke kamar Paul setelah bebersih dan mengganti pakaiannya.Salma memeluk Rony dari belakang yang tengah merokok di balkon kamar Paul."Ca, minggir! Abang lagi ngerokok" Ucap Rony"Gamau! Abang marah sama Caca kan. Karena Caca di antar Leon tadi? Caca minta maaf ya Abang kalo Abang marah sama Caca. Tadi Caca mau naik ojek online, tapi Leon maksa buat anterin Caca. Maaf ya bang" Balas Salma"Huft, kenapa gak telpon Abang? Kan Abang bisa jemput Caca?" Tanya Rony"Ya Caca gamau ngrepotin Abang" Balas SalmaRony memilih mematikan rokoknya, lalu berbalik menghadap Salma."Abang gak akan pernah merasa di repotkan sama Caca. Abang malah seneng kalo selalu Caca libatkan sama kehidupan Caca. Jangan pernah mikir gitu lagi yaa, Abang gak suka Caca mikir gitu sama Abang" Balas Rony"Iyaa, maafin Caca ya bang" Balas Salma"Gak ah, Abang gamau maafin Caca" Goda Rony"Ih Abang? Kok gitu? Terus Caca harus ngapain biar Abang mau maafin Caca?" Tanya Salma sedih"Beneran mau nurutin mau Abang?" Tanya Rony"Iya, asal Abang gak marah lagi sama Caca" Balas Salma"Hmm, Abang mau ini lagi boleh?" Tanya Rony sembari menunjuk bibir Salma"Apa? Mau bibir Caca?" Tanya Salma"Iya, Abang kangen pengen cium bibir Caca lagi. Boleh?" Tanya Rony"Ih gaboleh! Nanti kalo ketahuan bang Paul gimana?" Tanya Salma"Paul baru aja keluar sama Nabila, jadi gak akan ketahuan. Atau kita pindah ke kamar kamu aja? Hmm?" Tanya Rony"Tapi Abang?" Tanya Salma ragu"Kenapa? Udah yuk pindah kamar kamu aja" Balas Rony sembari menggendong Salma ala bridal styleSetelah sampai di kamar Salma, Rony mengunci pintu kamar dan menghampiri Salma yang telah ia dudukan di sofa."Kenapa di kunci bang?" Tanya Salma polos"Biar gak ada yang ganggu kita" Balas Rony"Emang kita mau ngapain? Abang gak akan apa-apain Caca kan?" Tanya Salma ragu"Kan Abang mau cium Caca. Caca gamau di cium Abang? Hmm?" Tanya Rony"Ya ma - "Belum sempat Salma menjawab, bibir Rony lebih dulu membungkam bibir Salma.Ciuman Rony yang awalnya lembut menjadi sedikit kasar karena ia ingin melampiaskan rasa kesal sekaligus cemburunya pada Salma. Ciuman nya juga semakin bernafsu, hingga mereka tak sadar yang semula duduk kini Salma sudah berada di bawah kungkungan Rony.Tangan Rony mulai meremas payudara Salma dari balik piyama tidurnya, sedangkan Salma benar-benar shock saat tangan Rony berani meremas payudara miliknya. Salma berusaha menyingkirkan tangan Rony, namun usaha nya sia-sia. Tenaga Rony lebih kuat darinya.Ciuman Rony turun pada leher Salma, dia hanya mencium dan mengendus leher Salma tanpa meninggalkan jejaknya. Karena Rony tau, dia bakal di hajar habis-habisan oleh Paul jika Paul tau, ia telah mencumbui adiknya saat ini."Eughh Bangghh Ronyyhh" Desah SalmaMata Rony semakin berkabut kala mendengar Caca mendesah dengan menyebut namanya. Tangannya dengan cepat membuka kancing kemeja Salma dan membuka bra milik Salma."Abang malu" Ucap Salma lalu menutup dada nya dengan kedua tangannya"Jangan di tutup sayang, Abang mau liat" balas Rony menyingkirkan tangan SalmaRony tersenyum melihat payudara Salma yang ternyata lebih besar dari perkiraan nya. Rony pun langsung memasukkan nipple Meera ke dalam mulutnya serta memainkan nipple lainnya dengan tangannya. Mengusap dan memilin nipple Meera menggunakan tangannya."Ahhh abanghhh" Desah SalmaSalma tau ini salah, tapi mengapa ia justru menikmati permainan Rony pada tubuh nya. Ia ingin menolak namun tubuhnya justru menginginkan sebaliknya. Tangan Salma justru mendorong kepala Rony agar memperdalam hisapannya.Rony masih belum puas bermain dengan kedua benda kembar milik Salma, ia seakan memiliki mainan baru yang sangat nikmat di mulutnya. Lidah Rony pun tak henti-hentinya memainkan nipple Meera yang sudah tegak berdiri.Setelah cukup puas bermain dengan benda kembar Salma, tangan Rony yang awalnya hendak menjamah milik Salma pun tiba-tiba terhenti.Anjing, gue gak boleh ngerusak Caca! *Batin RonyNiatnya ia urungkan, Rony tidak boleh menjamah milik Caca sebelum Caca Sah menjadi miliknya. Biarlah saat ini ia hanya bermain dengan bagian atas tubuh Salma. Namun Rony janji dengan dirinya sendiri bahwa dia akan menikahi gadis ini setelah lulus kuliah nanti, dia sudah sadar jika perasaan nya bukan hanya sekedar Abang pada adiknya. Namun lebih dari itu, Rony mencintai Salma layaknya pasangan.Rony beralih mencium kening Salma cukup Lama."Maafin Abang ya, Abang hampir khilaf sama Caca. Abang janji Abang gak akan nyentuh milik Caca sebelum Abang nikahin Caca" Balas Rony"M- Maksud Abang?" Tanya Salma"Abang baru sadar, kalo perasaan sayang dan cinta Abang sama Caca itu bukan perasaan untuk kakak buat adiknya. Tapi lebih dari itu, Abang cinta sama Caca layaknya seorang pasangan. Dan Abang janji Abang bakalan nikahin Caca setelah Abang lulus kuliah nanti""Caca mau kan nikah sama Abang?" Tanya Rony"Mau Abang, Caca mau" Balas Salma tersenyum senang"Makasih ya sayang" Balas Rony"Hmm berarti sekarang kita pacaran bang?" Tanya Salma ragu"Iya sayang, Caca sekarang pacarnya Abang" Balas Rony tersenyum"Yeayy, makasih Abang. Akhirnya Caca punya pacar hehe" Balas Salma"Eh sayang, tapi jangan bilang Bang Paul ya kalo kita barusan ngelakuin ini. Nanti Abang bisa di gantung sama Bang Paul kalo tau adiknya udah Abang cium-cium" Ucap Rony"Hehe iya Abang, siap. Caca gak bakalan cerita sama Bang Paul atau siapapun" Balas Salma polos"Bagus, pacar Abang pinter" Balas Rony terkekeh"Abang, baju Caca tadi di buang kemana sama Abang?" Tanya Salma polos"Hahaha maaf ya, itu di bawah. Nanti Abang ambilin deh" Balas Rony"Kok nanti? Ini dingin Abang. Sekarang ambilin dong" Balas Salma"Nanti aja sayang, Abang belum selesai mau nen sama Caca" Balas Rony sembari kembali mendekatkan mulutnya pada nipple Salma"Ih Abang, kan nen Caca gak ada susu nya. Ngapain nen ke Caca" Ucap Salma polos"Gapapa, nen Caca enak kok meskipun gak ada susunya" Balas Rony"Abang kaya bayi ih suka nen" Ledek Salma"Iya, Abang kan bayi nya Caca. Jadi besok-besok kalo Abang minta nen, harus di kasih yaa. Kalo gak di kasih nanti Abang sedih terus nangis" Goda Rony"Hahaha iya iya bayi nya Caca" Balas Salma terkekeh***Seperti malam-malam sebelum nya. Semenjak kejadian malam itu, Rony selalu masuk ke dalam kamar Salma diam-diam setelah Paul tidur.Dia selalu tidur bersama Salma sembari mencumbui gadisnya itu, tak lupa Rony juga akan selalu meminta Salma membuka baju dan bra nya agar dia lebih mudah memainkan payudara Salma.Salma akan mengusir Rony jika sudah terdengar adzan subuh. Karena Salma pun tak ingin jika Paul mengetahui bahwa selama ini Salma telah tidur bersama sahabat abangnya sendiri."Kalian beneran udah pacaran?" Tanya Paul pada Rony dan Salma"Udah Abang, Bang Rony udah nembak Caca hehe" Balas Salma"Abang ikut seneng kalo Caca seneng. Tapi inget Ron! Jangan nyakitin Adek gue lu! Atau bahkan selingkuhin Adek gue! Dan Sampe Adek gue nangis gara-gara lu! Habis lu sama gue!" Ucap Paul"Yeuh si monyet, emang selama ini lu pernah liat gue mainin perempuan? Gak kan? Jadi lu harusnya bisa percaya sama gue! Gue gak bakal nyakitin Adek lu yang cantik ini" Ucap Rony sembari mengusap lembut pipi Salma"Najis banget liat lu bucin Ron! Biasanya kek kulkas, sekarang dah ancur gara-gara Caca""Yaudah, awas aja lu yaa. Gue percaya sama lu, lu pasti bisa jagain Adek gue. Jangan lu sakitin, jangan lu apa-apain juga. Dia masih polos, ntar lu rusak lagi Adek gue" Ucap PaulHehe sorry ya ul, tapi tiap malem gue udah ngapa-ngapain Adek lu masalahnya *batin RonyPadahal tiap malem, Caca udah bobo sama Bang Rony. Maaf ya bang Paul *batin Salma"Iye aman, meskipun gue apa-apain juga pasti gue nikahin Adek lu. Tenang aja" Balas Rony santai"Heh! Si anjir. Berarti ada niat ngapa-ngapain adek gue ya lu!" Omel Paul"Ck, lu kek gak tau orang pacaran aja sih ul! Palingan pelukan sama cium cium dikit lah! Bukan ke arah Sono anjirr, gue gak bakal ngerusak Caca kok tenang aja" Balas Rony"Ya awas aja jangan sampe kelewat batas ya lu berdua!" Omel Paul"Iya Abang" Balas Salma"Iyeee Abang ipar hahahaha" Balas Rony"Yaudah gue ke kamar dulu deh, jangan bucin Mulu lu berdua! Tidur, besok kuliah" Ucap Paul lalu meninggalkan Rony dan Salma di ruang tengah"Bawel ya Abang kamu sayang" Ucap Rony"Hahaha ya kan dia begitu karena sayang sama Caca bang" Balas Salma"Abang juga sayang sama Caca, sayang banget malah" Ucap Rony manja sembari memeluk Salma dan mengendus leher Salma"Ih Abang, nanti kalo Bang Paul lihat gimana?" Tanya Salma panik"Gak akan sayang, dia udah masuk kamarnya kok" Balas Rony dengan tangannya yang sudah meremas payudara Salma"Ih Abang tangannya, nakal banget sih" Omel Salma"Hahaha udah kangen sama nen nya Caca. Nen di sini seru deh kayanya Ca" Ucap Rony asal"Gak ya bang, jangan aneh-aneh deh!" Omel Salma"Hahaha yaudah yuk ke kamar, Abang haus mau nen sama Caca" Balas Rony sembari menarik tangan Salma"Eh, jangan sekarang. Abang ke kamar bang Paul dulu liat dia udah tidur belum. Ntar ternyata dia belum tidur nungguin Abang gimana?" Tanya Salma"Ya tinggal bilang, mau bobo sama pacar Abang yang cantik ini" Balas Rony"Yaudah, kalo emang Abang udah siap di gantung sama Papa dan Bang Paul" Balas Salma"Hahaha nikah yuk Ca besok, Abang gak tahan pengen nikahin Caca. Pengen bebas ngapain aja sama Caca" Balas Rony"Ayoo, Caca mah siap hehe" Balas Salma"Hahahaha gak ada penolakan gitu? Langsung mau aja nih yakin?" Goda Rony"Ya mau lah, yakali gak mau. Udah jadi cegil bertahun-tahun terus di ajak nikah malah nolak mah rugi dong hahahaha" Balas Salma terkekeh"Hahahaha dasar Caca Cegil" Ledek Rony~END~
Ketua Osis Dijodohkan dengan Berandalan Sekolah
Sasa dikenal sebagai sosok ketua OSIS teladan. Rapotnya nyaris tak pernah ada nilai di bawah 90. Rambut dikuncir rapi, roknya tidak pernah di atas lutut, dan suaranya tegas saat memimpin rapat atau apel pagi. Ia panutan siswa dan kesayangan guru.Sebaliknya, Lian adalah mimpi buruk setiap wali kelas. Murid laki-laki yang sering nongkrong di belakang sekolah, berseragam tidak rapi, rambut acak-acakan, dan selalu jadi biang masalah. Tidak pernah ikut upacara, bolos pelajaran, dan prestasinya hanya unggul di satu bidang: bela diri.Sasa dan Lian adalah dua kutub berbeda. Tak ada yang menyangka mereka bisa duduk berdampingan, apalagi menjadi pasangan.Tapi hidup penuh kejutan.Satu hari setelah Sasa genap 17 tahun, orangtuanya mengajaknya makan malam di rumah kakeknya. Ternyata bukan cuma keluarga mereka yang hadir. Ada tamu lain — pasangan suami istri dan seorang remaja laki-laki berpakaian santai, duduk dengan tangan di saku.Itu Lian.Sasa menegang begitu tahu.Ibunya tersenyum. "Nak, kami sudah lama bersahabat dengan keluarga Lian. Waktu kalian kecil, kalian sering main bareng. Kakekmu dan kakek Lian dulu bersumpah menjodohkan cucu mereka. Dan sekarang... saatnya."Sasa terbatuk. "M-ma? Dijodohkan sama... dia?"Lian hanya cengengesan. "Tenang aja, aku juga kaget. Tapi katanya ini demi silaturahmi. Santai, kita masih SMA, bukan langsung nikah."Sasa ingin menolak, ingin kabur dari ruang makan itu. Tapi saat itu, ia hanya bisa diam, shock. Ia tidak mau mempermalukan keluarganya.Setelah malam itu, kehidupan di sekolah jadi canggung. Semua orang mulai tahu kalau si ketua OSIS dijodohkan dengan anak paling berandal. Gosip menyebar, teman-teman Sasa mulai bertanya-tanya. Beberapa merasa Sasa mencoreng nama baiknya sendiri.Sasa dan Lian pun dipaksa menjalani "masa pendekatan".Sasa awalnya bersikap dingin. Ia tetap fokus pada tugas-tugas OSIS, menghindari Lian sebisa mungkin. Tapi Lian? Dengan santainya sering muncul di depan ruang OSIS, pura-pura pinjam spidol atau minta air minum."Ngapain sih kamu gangguin aku terus?" tanya Sasa suatu siang."Aku penasaran. Apa rasanya punya pasangan yang tiap hari bagi-bagi peraturan," jawab Lian santai.Sasa mencibir. "Aku bukan pasangan kamu.""Tapi kata kakekku, sebentar lagi iya."Menyebalkan. Tapi anehnya, Sasa mulai terbiasa dengan kehadiran Lian.Suatu hari, saat pulang rapat OSIS, Sasa dihampiri sekelompok cowok dari sekolah lain yang suka usil dan ganggu murid putri. Mereka mengikutinya sampai gang kecil dekat rumah."Ayo temenin kita ngobrol, ketua OSIS cantik!" teriak salah satu dari mereka.Sasa panik. Tapi tiba-tiba, satu motor berhenti mendadak.Itu Lian.Tanpa banyak bicara, Lian menghajar dua dari tiga cowok itu. Yang satu kabur ketakutan. Sasa berdiri gemetar di tempat."Ngapain kamu di sini?" tanyanya begitu Lian mendekat."Kakekku mimpi kamu bahaya. Katanya suruh jagain kamu."Sasa menunduk. Itu alasan aneh, tapi ia tak bisa menyangkal: ia merasa aman bersama Lian.Sejak kejadian itu, hubungan mereka perlahan berubah. Sasa mulai melihat sisi lain dari Lian. Memang, Lian bandel, tapi ia setia kawan, tidak suka menyakiti yang lemah, dan punya rasa hormat tinggi pada orang tua.Dan Lian mulai berubah. Ia lebih sering masuk kelas, bahkan pernah bantu membersihkan gudang OSIS. Bukan karena dia suka kegiatan OSIS, tapi karena ingin dekat dengan Sasa.Lambat laun, guru-guru pun mulai memperhatikan perubahan itu. Dan yang paling heran adalah Sasa sendiri. Ia jatuh hati, tanpa sadar.Tiga bulan sebelum kelulusan, Sasa mengaku pada ibunya kalau ia tidak keberatan lagi soal perjodohan itu."Aku... nggak benci Lian lagi, Ma."Ibunya hanya tersenyum penuh arti.Sementara itu, Lian yang dulu dikenal brutal, kini jadi sosok yang banyak ditiru anak laki-laki lain. Ia memang tidak jadi siswa teladan, tapi perubahan sikapnya membuat para guru mulai percaya padanya.Saat kelulusan, Lian memegang tangan Sasa di belakang panggung. "Gimana, Ketua? Masih menyesal dijodohin sama anak bengal?"Sasa menoleh dan tersenyum. "Menyesal sih... kenapa baru sekarang kamu berubah?"Lian tertawa. "Karena kamu yang bikin aku berubah."Lima tahun kemudian, mereka menikah. Sasa jadi pengacara muda, Lian membuka dojo bela diri dan bengkel modifikasi motor. Dua dunia berbeda, tapi menyatu dalam kehidupan nyata.Di hari pernikahan mereka, kakek mereka tersenyum puas. Taruhan masa lalu tentang perjodohan ternyata menjadi kenyataan yang manis.Dan cinta yang awalnya terasa seperti paksaan, ternyata jadi takdir terbaik yang pernah mereka terima.Meski kelulusan SMA mereka begitu manis, kehidupan setelahnya tak serta-merta berjalan mulus. Masa kuliah adalah babak baru—dan penuh tantangan.Sasa berhasil masuk Fakultas Hukum di universitas ternama lewat jalur prestasi. Ia hidup di kos-kosan sederhana dekat kampus, belajar keras siang dan malam demi mengejar cita-citanya jadi jaksa. Di sisi lain, Lian , meskipun tak masuk universitas, justru memilih jalur berbeda: ia ikut kursus otomotif dan membuka bengkel kecil bersama temannya. Sempat diremehkan oleh keluarga besar Sasa, Lian tetap bertahan. Ia ingin membuktikan bahwa cintanya untuk Sasa tak sekadar omongan remaja.Hubungan mereka tetap berjalan, meski jarak dan kesibukan sering menimbulkan masalah. Pernah suatu waktu, Sasa merasa terlalu sibuk dengan tugas kuliah dan hampir memutuskan Lian."Aku nggak punya waktu buat pacaran, Lian. Apalagi kalau kamu terus curiga aku deket sama cowok lain di kampus," ucap Sasa, frustasi.Lian diam, menahan emosi. "Aku cuma takut kehilangan kamu. Tapi kalau kamu ngerasa aku beban, aku bisa mundur.""Bukan gitu maksudku..." Sasa mulai menangis, menyadari bahwa yang ia butuhkan bukan perpisahan, tapi pengertian.Hari itu mereka sama-sama belajar. Bahwa cinta bukan cuma soal rasa nyaman, tapi juga perjuangan untuk tetap bertahan.Tiga tahun berlalu.Sasa lulus dengan predikat cumlaude. Di acara wisuda, ia hanya mengundang sedikit orang—dan Lian salah satunya. Saat namanya dipanggil di podium, Lian berdiri dari kejauhan, memakai kemeja putih dan celana jeans paling bersih yang ia punya.Ia tepuk tangan paling keras. Dan saat Sasa turun dari panggung, Lian mendekat sambil menyerahkan satu kotak kecil."Kalau kamu sudah selesai mengejar impianmu... boleh nggak aku mulai mewujudkan impianku?"Sasa membuka kotak itu. Sebuah cincin emas putih sederhana dengan ukiran kecil: "Untuk Perempuan Paling Kuat"Sasa tersenyum, matanya berkaca-kaca. "Impianmu... sama kayak impianku."Dua tahun kemudianMereka resmi menikah di hadapan keluarga, guru-guru SMA, dan sahabat lama. Bahkan, kepala sekolah mereka yang dulu sering memanggil Lian ke ruang BK ikut hadir, meneteskan air mata bangga melihat murid "berandalan" itu kini tumbuh jadi pria sejati.Setelah menikah, mereka membeli rumah kecil hasil tabungan bersama. Sasa bekerja sebagai asisten pengacara muda, dan Lian kini punya bengkel besar dengan lima anak buah. Mereka tidak hidup mewah, tapi cukup. Dan yang paling penting—bahagia.Suatu malam, setelah pulang dari kantor, Sasa duduk di ruang tengah sambil memandangi foto pernikahan mereka."Lian..." panggilnya pelan."Hm?" jawab Lian dari dapur, sedang mengaduk teh hangat."Kalau dulu aku nolak dijodohin sama kamu... kamu bakal apa?"Lian tertawa kecil, lalu mendekat dan duduk di sampingnya."Ya, mungkin aku akan tetap ngejar kamu. Atau mungkin aku bakal jadi cowok yang kamu hukum tiap hari sebagai ketua OSIS."Sasa tersenyum sambil bersandar di bahunya. "Untung kita dijodohin, ya?""Untung kamu sabar ngadepin aku," bisik Lian.Tahun-tahun berikutnya, hidup mereka dipenuhi perjuangan dan kebahagiaan. Ada saat-saat sulit—krisis ekonomi, tekanan pekerjaan, bahkan keguguran pertama Sasa. Tapi mereka selalu kembali saling menggenggam, mengingat masa remaja mereka yang penuh warna.Dan saat anak pertama mereka lahir—seorang putri kecil bernama Kirana —Lian menangis di ruang bersalin. Ia memandangi anaknya, lalu istrinya, lalu berkata, "Aku nggak pernah nyangka anak bengal kayak aku bisa sampai di titik ini."Sasa menggenggam tangannya, lemah tapi penuh cinta. "Dan aku nggak pernah nyangka jatuh cinta sama kamu adalah keputusan terbaik dalam hidupku."~END~
Cinta Karena Taruhan
Caca terkenal di kampus sebagai gadis paling cuek dan dingin. Cantik, pintar, dan mandiri, tapi seperti membangun tembok tinggi di sekelilingnya. Tidak ada yang bisa mendekat terlalu dekat, apalagi menjadikannya pacar. Banyak yang mencoba, dan semuanya gagal—karena Caca terlalu sulit ditaklukkan.Sampai muncul nama Arlian .Cowok populer, tajir, dan jago main basket. Dikenal playboy tapi selalu menang taruhan dengan teman-temannya. Kali ini, taruhan yang dilemparkan oleh teman-temannya cukup gila:"Kalau lo bisa bikin Caca nembak duluan dalam waktu sebulan, semua motor kita jadi milik lo."Dan seperti biasa, Arlian menyanggupi."Aku cuma butuh tiga minggu," jawabnya percaya diri.Pertama-tama, Arlian mendekati Caca dengan cara biasa: ngajak ngobrol di kantin, pura-pura nanya tugas, sampai ngikutin dia pulang. Tapi semua usahanya seperti menabrak tembok. Caca terlalu pintar untuk jatuh dalam pesona murahan."Aku tahu kamu taruhan," kata Caca suatu hari di perpustakaan. Matanya menatap tajam. "Dan kamu gagal."Arlian kaget. Tapi justru itu awal dari sesuatu yang tak ia duga.Ia mulai penasaran. Kenapa Caca bisa sekuat itu? Kenapa tidak seperti cewek lain?Arlian tak lagi mengejar demi taruhan. Ia mulai ingin tahu siapa Caca sebenarnya. Dan saat ia mulai berhenti pura-pura, segalanya berubah.Caca bukan sekadar cewek dingin. Ia membangun benteng karena trauma masa lalu. Ibunya ditinggal ayahnya demi wanita lain. Caca menyaksikan ibunya kerja banting tulang dan menangis malam-malam. Karena itu, Caca bersumpah tak akan pernah jatuh pada pria yang menjadikan cinta sebagai permainan.Tapi Arlian... perlahan berubah.Ia berhenti jadi playboy. Ia benar-benar menjaga jarak, tapi tetap hadir. Ia bantu Caca saat motornya mogok, mengantar pulang saat hujan turun, dan bahkan menunggu di depan rumah saat tahu ibunya Caca masuk rumah sakit."Kenapa kamu di sini?" tanya Caca di tengah malam itu."Karena aku nggak tahu cara ninggalin kamu sendirian sekarang."Tanpa sadar, Caca mulai menurunkan temboknya.Ia mulai tertawa saat Arlian melontarkan candaan. Ia mulai mencari-cari alasan agar mereka bisa ngobrol. Dan ia mulai gelisah... saat Arlian tak ada.Hingga suatu hari, mereka duduk berdua di taman kampus. Angin sore berhembus pelan.Caca menggigit bibirnya. "Aku tahu... taruhan itu nyata."Arlian menunduk. "Iya. Awalnya cuma taruhan. Tapi sekarang... aku nggak peduli lagi soal motor, taruhan, atau gengsi. Yang kupeduliin cuma kamu."Caca menatap mata itu. Mata yang tak lagi main-main."Kamu tahu nggak," kata Caca, "kenapa aku tetap bertahan ngobrol sama kamu? Karena aku nunggu... kapan kamu akan jujur. Dan sekarang kamu jujur."Arlian menarik napas. "Caca... aku jatuh cinta beneran."Caca tersenyum tipis."Aku juga."Mereka resmi pacaran. Tapi bukan kisah cinta yang mulus. Banyak yang mencibir, menyindir bahwa Caca "kalah taruhan", bahkan menyebarkan isu kalau hubungan mereka hanya akan bertahan sebentar.Tapi Caca dan Arlian bertahan.Karena keduanya tidak memulai dari manis-manis palsu. Mereka memulai dari kebohongan, lalu belajar untuk jujur dan mencintai dari nol.Empat tahun kemudian, Arlian berdiri di depan altar. Ia memakai jas abu-abu gelap, matanya berkaca-kaca saat melihat Caca berjalan pelan dalam gaun putih sederhana.Di hadapan semua orang, ia mengucap janji."Dulu aku taruhan untuk menangkan kamu. Tapi ternyata... aku kalah. Karena sejak mencintaimu, aku sadar... yang paling menang itu kamu. Kamu membuatku jadi pria yang lebih baik. Dan untuk itu, aku akan mencintaimu... seumur hidup."Caca tersenyum, lalu menggenggam tangan Arlian erat.Dan di pelaminan itulah, dua orang yang dulu saling curiga akhirnya bersatu — karena cinta yang diawali taruhan, justru tumbuh menjadi kenyataan yang paling tulus.Lima Tahun Setelah PernikahanRumah kecil berwarna krem itu terletak di sudut perumahan yang tenang. Taman mungil di halaman dipenuhi bunga matahari, dan suara tawa anak-anak sering terdengar dari dalam.Itu rumah Arlian dan Caca. Dan dua anak mereka: Alya , gadis kecil yang suka melukis, dan Dio , bayi berusia satu tahun yang baru bisa berdiri dan suka mengejar kakaknya ke mana-mana.Caca kini menjadi dosen tetap di kampus lamanya. Ia dikenal sebagai pengajar yang cerdas dan inspiratif. Sementara Arlian, setelah berhenti jadi "anak motor" dan gaya hidup main-main, membuka bengkel modifikasi motor custom yang cukup terkenal di kota mereka. Ia bahkan pernah masuk majalah otomotif nasional.Tapi kehidupan mereka tak selalu mulus.Masa SulitTahun ketiga pernikahan, Caca pernah keguguran anak keduanya. Saat itu, Arlian sedang berada di luar kota mengikuti pameran motor.Caca merasa sendirian, hancur, dan marah. Ia menyalahkan dirinya, bahkan sempat menyalahkan Arlian karena tak ada di sisinya saat itu."Harusnya kamu di sini!" bentaknya malam itu, setelah pulang dari rumah sakit.Arlian hanya menatap mata istrinya. "Kalau aku bisa, aku rela gantiin sakitmu. Tapi aku nggak bisa, Ca. Yang bisa kulakuin sekarang cuma jadi sandaran kamu, kalau kamu izinkan."Caca menangis, dan malam itu mereka berdua duduk di lantai dapur, saling berpelukan tanpa kata.Sejak saat itu, mereka semakin kuat sebagai pasangan. Cinta mereka bukan lagi soal perhatian kecil, tapi soal bagaimana mereka tetap berdiri meski badai datang.Ketika Masa Lalu Datang KembaliSuatu hari, di kampus, Caca bertemu Rani , mantan gebetan Arlian waktu kuliah — cewek populer yang dulu pernah bersaing diam-diam memikat Arlian, sebelum Arlian jatuh cinta sungguhan pada Caca.Rani kini juga mengajar, dan mereka satu jurusan."Aku kira hubungan kalian nggak bakal lama," kata Rani di ruang dosen. "Ternyata kamu bisa tahan ya, jadi pemenang dari taruhan cinta."Caca tersenyum tenang. "Taruhannya sudah lama selesai. Tapi kami berdua terus bertaruh setiap hari — untuk tetap saling memilih meski kadang lelah."Rani terdiam.Itulah Caca. Tetap anggun, tetap tenang, dan tetap tak mudah diprovokasi.Ulang Tahun Pernikahan Ke-7Arlian menyiapkan kejutan kecil. Di halaman belakang rumah, ia memasang tenda kecil, lampu-lampu gantung, dan meja makan sederhana.Caca baru pulang dari kampus, masih memakai sepatu hak dan tas jinjing."Apa ini?" tanyanya sambil tertawa kecil."Tempat kencan kita malam ini. Gratis, tanpa harus nyuap penjaga bioskop kayak dulu waktu kita mau nonton pas mahasiswa," canda Arlian.Mereka makan malam sambil tertawa, membahas anak-anak, dan impian ke depan.Lalu Arlian mengambil sebuah kotak kecil dari saku bajunya."Apa lagi ini?" tanya Caca, mengernyit.Ia membuka kotak itu, dan di dalamnya ada sebuah cincin dengan ukiran halus bertuliskan:"Cinta karena taruhan, setia karena pilihan."Caca menatapnya, nyaris menangis."Dulu aku jatuh cinta karena ego dan tantangan. Tapi sekarang, aku bangun tiap pagi hanya untuk bersyukur karena kamu masih memilihku."Caca mencium tangan suaminya."Dan aku juga, Lian. Kamu bukan sekadar masa lalu atau cerita taruhan. Kamu masa kini, dan masa depanku."Beberapa tahun kemudian, anak-anak mereka tumbuh besar. Alya mewarisi ketegasan ibunya, sementara Dio mirip Arlian yang suka ngoprek dan tak bisa diam.Caca menulis buku berjudul "Cinta Karena Taruhan" , bukan sebagai kisah roman klise, tapi sebagai refleksi perjalanan hubungan — dari kebohongan ke kejujuran, dari kepura-puraan ke ketulusan.Buku itu menjadi bestseller.Dalam salah satu wawancaranya, Caca pernah berkata:"Cinta itu nggak harus dimulai dengan sempurna. Yang penting, bagaimana kita memperbaikinya setiap hari. Karena kadang, dari taruhan paling bodoh... bisa tumbuh cinta paling jujur."~END~
Janda Anak Dua Dapat Brondong Kaya
Hidup Salca , 33 tahun, adalah tentang bertahan.Ia adalah ibu dari dua anak, ditinggal suami sejak tiga tahun lalu tanpa kabar, tanpa tanggung jawab. Ia bekerja sebagai kasir di minimarket, nyambi jadi penjahit rumahan malam hari demi menghidupi kedua anaknya: Nala (8 tahun) dan Rafi (5 tahun). Baginya, cinta adalah kemewahan, dan harapan adalah sesuatu yang dikubur dalam-dalam.Sampai seorang pria muda— Lian , 26 tahun—datang ke hidupnya. Awalnya, hanya sebagai pelanggan tetap.Lian adalah pria sukses, pemilik startup properti yang baru pindah ke kota kecil tempat Salca tinggal. Penampilannya rapi, tutur katanya halus, dan yang paling menonjol: dia sangat perhatian pada orang-orang kecil. Setiap datang ke minimarket, ia selalu beli satu susu cokelat dan satu permen karet."Buat anak saya?" tanya Salca iseng suatu malam saat kasir mulai sepi.Lian tersenyum. "Buat saya sendiri. Tapi bisa juga dibagi kalau kamu mau."Salca tertawa, tidak menyangka ada pelanggan sehumoris itu.Hari demi hari, pertemuan mereka makin sering. Kadang di minimarket. Kadang tanpa sengaja di warung kopi dekat rumah. Kadang Lian bahkan membeli pesanan jahit dari Salca, seperti sarung bantal atau tas kain yang dia pesan sebagai 'souvenir kantor'.Salca sempat curiga. Tapi Lian hanya berkata, "Aku bantu karena aku bisa. Tapi kalau kamu anggap itu sebagai beban, aku berhenti."Tapi Lian tak pernah benar-benar pergi.Suatu hari, Nala sakit. Salca panik, tak punya cukup uang untuk periksa ke rumah sakit. Ia hampir menangis saat melihat tubuh anaknya panas tinggi.Tanpa diminta, Lian datang malam itu dengan membawa dokter dan obat-obatan. Ia bahkan menunggu di depan rumah sampai Nala tertidur."Kenapa kamu lakukan semua ini, Lian?" tanya Salca dengan suara bergetar.Lian hanya menjawab pelan, "Karena aku peduli. Bukan karena kasihan. Karena kamu wanita kuat. Dan aku... aku suka wanita kuat."Salca hanya bisa menunduk, jantungnya berdetak keras. Ini bukan kali pertama Lian membuatnya merasa dihargai—tapi inilah pertama kalinya ia merasa ingin percaya lagi pada cinta.Tapi tentu saja, kisah mereka tidak mudah.Lingkungan mulai bergosip. "Janda kok deket-deket cowok muda?" "Pasti si Lian itu cuma main-main." Bahkan adik ipar mantan suaminya datang dan berkata, "Kamu pikir laki-laki kaya mau serius sama janda anak dua?"Salca gemetar. Tapi Lian berdiri di sampingnya. "Kalau dunia memandang kamu rendah, aku akan berdiri cukup tinggi untuk menutupi kamu dari semua itu."Hubungan mereka perlahan jadi serius. Lian mulai dekat dengan anak-anak Salca. Ia mengantar Nala ke sekolah, mengajari Rafi main robot, bahkan sering memasak bareng mereka di dapur sempit rumah kontrakan.Salca mulai terbiasa menyebut nama Lian saat membuat teh. Membuat dua gelas, bukan satu.Namun ketakutan tetap membayangi."Saya takut kamu akan nyesel nanti, Lian. Dunia kamu beda. Kamu masih muda, bisa dapat yang lebih dari saya."Lian memegang tangannya. "Kalau cinta ditimbang dari umur dan status, saya nggak akan pernah bisa jatuh cinta sama kamu. Tapi nyatanya... saya jatuh. Dan nggak pernah mau bangun."Hari itu, Salca menangis di pelukannya.Setahun setelah semua itu, Lian melamar Salca.Bukan di restoran mewah. Tapi di dapur rumah Salca, sambil mengupas bawang, dengan cincin sederhana dan dua anak di pangkuannya."Nala, Rafi, boleh nggak kalau Om Lian jadi bagian dari keluarga ini?"Keduanya mengangguk polos. "Boleh, tapi Om Lian harus cuci piring juga kayak Ibu ya!"Tawa pecah. Dan Salca hanya bisa menatap wajah pria itu—pria yang bukan cuma menerima dirinya, tapi juga dua anak kecil yang ikut dalam paket cintanya.Pernikahan mereka sederhana tapi hangat. Tak semua orang setuju, tapi cinta mereka lebih besar dari komentar orang.Kini, Salca tidak lagi berdiri sendirian di ujung kasir, memikirkan cara bertahan hidup.Dia berdiri di sisi pria yang mencintainya tanpa syarat, memegang dua tangan kecil yang menyebutnya "Ibu", dan satu tangan besar yang kini menggenggamnya erat.Bukan lagi sekadar bertahan. Tapi hidup. Dan dicintai.Setelah pernikahan sederhana itu, Salca resmi menjadi istri dari Lian — pria muda, kaya, dan paling penting, paling sabar menghadapi dua anak kecil yang punya energi seperti roket tiap pagi .Pindah ke rumah baru yang lebih besar bukan hanya soal pindah tempat tinggal, tapi juga soal menyesuaikan diri.Salca sempat canggung di awal. Rumah itu terlalu besar, terlalu mewah dibanding rumah kontrakannya dulu. Bahkan mesin cucinya bisa bicara dan nyala sendiri pakai sensor. Tapi yang membuatnya paling gugup... adalah kamar utama yang kini berbagi ranjang dengan suaminya yang tujuh tahun lebih muda."Kalau aku mimpi buruk dan bangunin kamu jam dua pagi, kamu marah gak?" tanya Salca malu-malu.Lian tertawa, memeluknya dari belakang. "Aku gak akan marah. Aku akan bilang, 'Sini, mimpi bareng aku aja.'"Malam pertama sebagai keluarga terasa berbeda. Bukan karena romantis, tapi karena Rafi demam dan muntah-muntah. Salca panik, tapi Lian tetap tenang.Ia menggendong Rafi, menyeka keringatnya, dan menenangkan Nala yang ikut menangis karena takut adiknya kenapa-kenapa.Dan saat semua sudah tertidur, Salca menatap Lian yang duduk di tepi kasur sambil mengipas Rafi."Kenapa kamu nggak pernah terlihat kesal?" bisik Salca.Lian menoleh, matanya lembut."Karena ini bukan beban. Ini yang aku pilih. Kamu. Anak-anak. Semuanya."Salca menggenggam tangannya erat-erat.Hari-hari berlalu. Lian mulai mengajak Salca bergabung dalam usahanya. Ia ingin membuka cabang butik rumahan untuk menjual hasil jahitan tangan Salca yang selama ini cuma untuk tetangga."Aku nggak cuma pengen kamu jadi istriku, Ca. Aku juga pengen kamu punya hidup yang kamu impikan."Tapi Salca masih takut. Ia belum terbiasa jadi "nyonya muda". Ia masih suka menyetrika sendiri, walau sudah ada ART. Ia masih suka masak sambel terasi, walau dapurnya sudah digital semua.Tapi satu hal yang tak berubah: kasih sayang Lian tak pernah berkurang sedikit pun.Tantangan datang dari luar. Terutama dari orang-orang yang tak bisa menerima kenyataan: seorang janda anak dua menikah dengan pria muda dan sukses.Dari tetangga yang bilang Lian dikutuk karena menikahi 'bekas istri orang', sampai keluarga jauh Lian yang berkata secara terang-terangan: "Dia itu cuma bawa beban buat kamu."Tapi Lian bukan pria biasa. Ia berdiri di hadapan semua itu dan berkata lantang:"Salca bukan beban. Dia alasan kenapa aku pulang setiap hari dengan senyum. Anak-anaknya bukan penghalang. Mereka keluarga aku."Dan hari itu, untuk pertama kalinya Salca tidak menahan air mata. Ia menangis dalam pelukan pria yang mencintainya tanpa tapi.Setahun kemudian, ada kejutan lain. Salca hamil.Awalnya ia tidak percaya. Ia pikir sudah terlalu lelah untuk diberi anugerah baru. Tapi dokter berkata lain."Kamu positif hamil, Bu Salca. Lima minggu."Lian yang ikut ke rumah sakit langsung sujud syukur di lantai. "Kita punya bayi kecil, Ca. Kita punya cerita baru lagi."Selama kehamilan, Lian menjaga Salca sepenuh hati. Ia rela bangun malam hanya untuk memastikan istrinya tidak kram. Ia menahan tawa ketika Salca ngidam bakso kuah durian, dan tetap makan bersamanya walau hampir muntah.Nala dan Rafi pun jadi lebih mandiri. Mereka membantu masak, menyapu, bahkan menggambar dinding kamar bayi dengan crayon (meskipun akhirnya harus dicat ulang).Dan saat bayi mereka lahir—seorang bayi perempuan dengan senyum yang mirip sekali dengan Lian—Salca tahu bahwa ia sudah sampai di tempat yang dulu hanya ia impikan: rumah yang benar-benar rumah.Mereka menamainya Aurelia , yang artinya cahaya emas."Aurelia Lianadewi," kata Lian sambil menatap wajah mungil putrinya. "Supaya dia selalu tahu bahwa dia lahir dari cinta yang tak pernah takut dilukai masa lalu."Salca menggenggam tangan suaminya. "Kamu tahu, dulu aku pikir aku cuma layak untuk bertahan hidup. Tapi kamu datang, dan bikin aku percaya... aku juga pantas dicintai."Lian mencium keningnya. "Dan aku bersyukur kamu gak menutup hati waktu aku datang. Karena kalau kamu tolak waktu itu, mungkin hidupku gak akan sehangat sekarang."Kini, Salca dan Lian tinggal di rumah yang selalu dipenuhi tawa. Nala sudah masuk SMP, Rafi mulai bisa bantu jaga adik, dan Aurelia baru bisa bicara satu kata: "Liiin!"Lian pura-pura marah. "Kamu harus panggil aku Ayah, bukan nama depan!"Tapi Aurelia hanya tertawa dan berlari memeluk kakinya.Dan Salca—dengan apron penuh tepung, rambut berantakan, tapi hati penuh syukur—menatap mereka bertiga.Ia tahu, cinta tidak selalu datang tepat waktu. Kadang terlambat. Kadang datang dalam bentuk yang tak disangka—seperti brondong muda yang suka beli susu cokelat dan permen di kasir.Tiga tahun setelah kelahiran Aurelia, kehidupan keluarga kecil Salca dan Lian terlihat nyaris sempurna dari luar. Rumah mereka selalu ramai suara tawa anak-anak. Butik Salca makin berkembang, bahkan sudah dua kali ikut pameran busana lokal. Lian juga berhasil membuka cabang usaha kulinernya sampai ke kota sebelah.Tapi... tidak semua hal bertahan dalam kedamaian.Semua berubah saat Lian makin sibuk dan sering pulang larut malam."Maaf, Sayang... klien dari Jakarta maksa meeting sampai jam sepuluh," kata Lian suatu malam sambil mencium kening Salca yang sudah hampir tertidur.Salca tersenyum kecil, meski hatinya tidak sepenuhnya tenang.Di dapur, piring bekas makan malam Lian masih utuh. Sup yang ia masak khusus — pakai resep warisan ibunya — bahkan tak disentuh. Anak-anak sudah tidur duluan.Salca mulai merasa... sendiri.Awalnya ia berusaha memahami. Tapi lama-lama, ia ragu. Apalagi saat menemukan parfum wanita asing di jas Lian. Bukan parfumnya. Bukan miliknya.Saat Lian pulang malam itu, Salca berdiri di ambang pintu kamar."Kamu... mulai berubah," ucapnya lirih.Lian terdiam. "Kamu curiga?""Aku takut.""Takut aku selingkuh?"Salca mengangguk, meski air matanya jatuh duluan.Lian mendekat, menggenggam bahunya. "Ca, aku gak pernah... dan gak akan pernah nyakitin kamu seperti itu."Salca menarik napas panjang, mencoba percaya. Tapi trauma masa lalu kadang datang tanpa izin. Dulu ia pernah dikhianati. Dan rasa itu, meski sudah lama dikubur, muncul kembali.Beberapa minggu kemudian, kejadian yang ditakutkan benar-benar hampir terjadi.Seorang wanita muda — asisten manajer baru di salah satu proyek restoran Lian — terang-terangan menunjukkan ketertarikan. Ia cantik, pintar bicara, dan punya segalanya... kecuali batas.Ia datang ke rumah suatu hari, berpura-pura mengantarkan dokumen.Saat Salca membuka pintu, wanita itu menatapnya dari ujung kaki sampai kepala dengan senyum mengejek."Eh, jadi ini yang selalu kamu sebut 'istri kerenmu', Mas Lian? Wah... nggak nyangka. Keliatannya kayak... ibu kos ya."Salca membeku.Tapi sebelum ia bicara, suara keras terdengar dari belakang.Lian berdiri di balik pagar, wajahnya dingin seperti batu."Dia bukan cuma istri kerenku. Dia perempuan yang ngajarin aku tentang hidup. Kalau kamu sekali lagi datang ke rumah ini, kamu yang harus siap dilupakan di dunia kerja. Ngerti?"Wanita itu terdiam, lalu pergi dengan wajah merah padam.Lian mendekat ke Salca. Ia tahu Salca sudah menangis sebelum membuka pintu."Kenapa kamu gak bilang kamu ngerasa insecure?"Salca menunduk. "Karena aku takut kamu bosen. Aku bukan gadis muda lagi, Li. Aku bukan tipe yang... bisa bersaing dengan wanita kayak tadi."Lian memeluknya erat. "Justru karena kamu bukan gadis muda. Kamu adalah wanita dewasa yang kuat. Yang punya luka, tapi tetap bisa mencintai. Yang bisa jadi ibu, istri, dan sahabat sekaligus. Gak akan ada yang bisa gantikan kamu."Malam itu, Lian meminta maaf — bukan karena bersalah, tapi karena lalai menjaga hati Salca. Ia tahu, cinta bukan hanya soal kesetiaan, tapi juga kehadiran.Sejak hari itu, Lian mengatur ulang semua jadwal. Ia selalu makan malam di rumah. Setiap Sabtu, mereka berkencan meski hanya nonton film di ruang keluarga.Dan Salca? Ia mulai merawat dirinya lagi. Bukan untuk membandingkan, tapi untuk menghargai dirinya sendiri.Ia ikut kelas yoga. Belajar baking. Dan mulai menulis blog tentang pengalaman menjadi istri brondong.Judul blognya? "Janda Anak Dua, Kini Jadi Ratu Hati Suami Muda."Followers-nya meledak.Anak-anak pun tumbuh dengan penuh cinta.Nala kini remaja yang pintar dan kalem, mirip Salca. Ia mulai belajar menjahit, mengikuti jejak ibunya.Rafi lebih aktif, tapi sangat penyayang. Ia jadi pelindung adiknya, Aurelia, yang kini TK dan suka memeluk ayahnya setiap pagi sambil bilang, "Ayah, aku nanti mau nikah sama kamu aja."Lian tertawa. "Boleh, asal kamu izin sama Mamah ya."Dan Salca, yang menyaksikan semua dari dapur, tersenyum. Hatinya penuh.Suatu malam, Lian duduk di teras, memeluk Salca sambil menatap bintang."Kamu tahu, Ca? Kalau waktu bisa diulang, aku akan tetap pilih kamu. Bahkan jika kamu janda anak lima pun."Salca tertawa sambil mencubit pinggang Lian. "Kalau kamu duda kere pun, aku mungkin tetap kecantol."Mereka tertawa bersama, menyadari bahwa cinta sejati bukan tentang awal yang sempurna, tapi tentang bagaimana mereka bertahan bersama dalam segala musim.Karena cinta... adalah ketika dua orang yang patah, memilih saling memulihkan.Dan kisah mereka — janda anak dua dan brondong kaya — adalah bukti bahwa cinta tidak pernah melihat latar belakang... hanya hati yang saling memilih, dan tak pernah menyerah.~END
Dokter Pribadiku Ternyata Masa Depanku
Hari Senin. Caca baru dua minggu bekerja sebagai dokter pribadi di klinik milik perusahaan tempat Rolly bekerja. Dia terbiasa menghadapi karyawan stres dan lelah mental, tapi Rolly berbeda .Pria itu datang dengan ekspresi datar, duduk diam dan hanya berkata, "Saya insomnia. Obati."Caca menatapnya. "Insomnia itu gejala. Bukan penyakit. Mau kita cari akar masalahnya?"Rolly melirik tajam. "Saya nggak butuh teman curhat. Saya cuma butuh tidur."Caca tersenyum lembut. "Kalau kamu datang ke saya, kamu nggak cuma bawa badan. Kamu bawa cerita. Dan saya siap dengerin—kapan pun kamu siap."Hari itu, Rolly pergi tanpa bicara banyak. Tapi seminggu kemudian, dia kembali.Setiap pertemuan membuat Rolly lebih terbuka. Awalnya, dia hanya membahas kerjaan yang membuatnya stres. Lalu keluarganya. Lalu, akhirnya—tentang rasa kehilangan."Aku kehilangan Ibu tiga tahun lalu. Setelah itu, semuanya runtuh. Aku nggak bisa tidur, nggak bisa percaya siapa-siapa."Caca mendengarkan tanpa menghakimi."Caca... kenapa kamu bisa sabar banget?""Karena aku pernah jadi orang yang kehilangan juga."Mereka mulai bicara bukan sebagai dokter dan pasien, tapi dua orang dengan luka berbeda yang saling memahami.Perasaan muncul. Diam-diam. Lembut.Rolly mulai memperhatikan Caca lebih dari sekadar 'dokter'. Dia datang lebih awal ke jadwal konsul, pura-pura butuh resep baru hanya agar bisa bicara.Suatu malam hujan, Caca kehabisan ojek online. Klinik sepi. Rolly—yang baru selesai konsul—menawarkan antar.Sepanjang jalan, mereka diam. Sampai Rolly berkata pelan, "Kamu bukan cuma nyembuhin aku, Ca. Kamu bikin aku ngerasa hidup lagi."Caca menoleh, menahan degup jantungnya.Tapi dia hanya tersenyum. "Aku senang kamu sudah mulai tidur lebih nyenyak."Hubungan mereka melanggar batas profesional. Dan Caca tahu itu.Suatu hari, ia mengajukan ke klinik untuk mengalihkan Rolly ke dokter lain.Rolly marah."Kenapa kamu jauhin aku, Ca?""Aku doktermu, Rolly. Kalau aku terlalu terlibat, aku nggak netral lagi. Dan kamu... kamu udah lebih dari sekadar pasien buatku."Rolly terdiam.Lalu dengan suara rendah ia berkata, "Kalau gitu, berhenti jadi dokternya aku. Tapi jangan berhenti jadi seseorang yang ada di hidup aku."Dan hari itu, mereka memulai hubungan yang sebenarnya.Caca membuka diri perlahan. Ia menceritakan masa lalunya—bagaimana ayahnya seorang dokter yang selingkuh dengan pasien sendiri. Keluarganya hancur, dan sejak itu Caca benci cinta yang melewati batas."Aku takut jadi seperti ayahku. Aku takut mencintai pasienku... tapi aku lebih takut kehilangan kamu."Rolly menggenggam tangannya. "Aku bukan ayah kamu. Aku nggak mau kamu jadi pelampiasan. Aku mau kamu jadi tujuan."Hubungan mereka diuji saat ayah Caca datang—setelah bertahun-tahun menghilang—dan meminta maaf.Caca goyah.Rolly, yang juga baru dihubungi ayah kandungnya yang dulu meninggalkan ibunya, mendukung Caca sepenuh hati."Terkadang, kita nggak butuh minta maaf untuk mengikhlaskan. Tapi kalau kamu mau maafin, itu bukan kelemahan. Itu kekuatan."Hubungan mereka semakin dewasa. Bukan sekadar cinta, tapi juga tempat pulang.Rolly tidak melamar Caca dengan mewah. Ia datang ke rumah dengan satu map penuh hasil konsulnya selama ini."Dulu aku datang ke kamu sebagai pasien. Sekarang aku datang sebagai laki-laki yang ingin melindungi kamu. Mau jadi rumah aku, Ca?"Caca tak bisa menahan air mata. "Mau. Dengan satu syarat.""Apa?""Kamu tetap tidur cukup, minum air, dan berhenti bilang kamu nggak butuh siapa-siapa. Karena sekarang kamu punya aku."Pernikahan mereka kecil dan sederhana. Hanya dihadiri keluarga, rekan kerja, dan pasien Caca yang sudah seperti keluarga.Kini, Caca membuka klinik kesehatan mental bersama Rolly yang menjadi penggerak edukasi kesehatan kerja.Mereka bukan pasangan sempurna, tapi mereka saling menguatkan.Dan Rolly tahu, malam-malam yang dulu dipenuhi kecemasan... kini dipenuhi pelukan hangat dan suara lembut yang membisikkan, "Aku di sini."Hari pertama setelah akad nikah, Rolly bangun pagi dan menatap wanita di sampingnya.Dia masih belum percaya bahwa dokter yang dulu menegurnya karena kurang tidur... sekarang tidur di sebelahnya setiap malam."Lama-lama aku takut kamu bosen lihat muka aku tiap hari," gumam Caca sambil membuka mata.Rolly tersenyum dan membalas, "Aku justru takut bangun tanpa kamu di sebelah."Pagi mereka diisi dengan sarapan seadanya—telur dadar gosong buatan Rolly dan teh manis kebanyakan gula buatan Caca.Tapi di balik tawa dan candaan, mulai muncul kenyataan: pernikahan bukan hanya tentang jatuh cinta—tapi juga belajar bertahan.Tinggal serumah membuat perbedaan karakter mereka semakin terlihat.Caca adalah tipe yang perfeksionis, disiplin, dan teratur. Sementara Rolly... santai, spontan, dan kadang terlalu cuek."Rol, handukmu jangan ditaruh sembarangan!""Maaf, aku pikir dia pengen jalan-jalan."Kadang berdebat. Kadang saling ngambek. Tapi tak pernah saling diam lebih dari satu jam.Kunci rumah tangga mereka hanya satu: saling bicara, bukan saling mendiamkan.Caca pernah berkata, "Kita dulu sembuhin diri kita masing-masing. Sekarang, kita saling jaga supaya gak saling melukai."Dan Rolly menjawab, "Kamu luka yang jadi obat, Ca. Aku nggak mau sembarangan."Setelah satu tahun menikah, Caca merasa aneh—lelah berlebih, mual, dan emosional."Kayaknya aku harus periksa darah," katanya.Rolly panik, "Jangan bilang kamu sakit..."Beberapa jam kemudian, Caca menunjukkan test pack.Dua garis merah.Rolly terdiam. Lalu memeluk istrinya erat-erat."Kita bakal punya versi kecil dari kamu?" gumamnya."Semoga nggak bawel kayak ayahnya," balas Caca sambil tertawa menangis.Masa kehamilan tidak mudah bagi Caca. Morning sickness parah, mood naik-turun, dan trauma lama muncul: ketakutan menjadi ibu yang gagal."Aku takut anak kita nanti kecewa punya ibu kayak aku."Rolly mencium dahinya."Kamu adalah orang yang nyembuhin aku tanpa nyuruh aku berubah. Kalau kamu bisa sembuhin aku, kamu pasti bisa rawat anak kita."Hari itu, Caca menangis bukan karena takut. Tapi karena merasa dicintai.Delapan bulan kemudian, lahirlah Aira , bayi perempuan mungil dengan mata bulat dan rambut hitam tebal.Rolly menangis saat mengumandangkan azan di telinga anaknya."Ayah dulu susah tidur, Nak. Tapi kamu bikin semua malam jadi indah."Caca menatap mereka sambil tersenyum lemah.Ia tahu, cinta mereka kini tumbuh jadi lebih luas:dari dua orang yang menyembuhkan diri,menjadi dua orang tua yang siap melindungi hati kecil yang mereka ciptakan.Tahun-tahun berlalu. Rolly dan Caca membesarkan Aira dengan cinta dan komunikasi. Mereka tetap aktif dalam kegiatan sosial: Caca membuka klinik keluarga kecil, dan Rolly menjadi edukator kesehatan mental di berbagai komunitas.Mereka tak lagi sempurna. Tapi mereka selalu kembali ke tempat paling aman: satu sama lain.Suatu malam, Aira bertanya,"Ayah dulu ketemu Ibu di mana?"Rolly menjawab sambil tersenyum,"Ayah dulu pasien Ibu. Tapi ternyata, obat paling mujarab ayah bukan pil tidur. Tapi ibu kamu."Caca mencubit pipinya, tertawa. "Gombal sejak belum nikah, nggak sembuh-sembuh."~END~
Ketua Geng Kecantol Mb Panti
Di balik tembok SMA Harapan Bangsa, ada dua dunia yang bertolak belakang.Yang satu penuh suara tawa dan tangisan anak-anak panti asuhan di belakang sekolah, tempat para relawan muda sering datang untuk membantu. Di sanalah Sasa , gadis berhijab dengan senyum tulus, mengabdikan waktunya selepas sekolah. Dikenal sebagai "Mb Panti" , dia bukan siapa-siapa, tapi dihormati karena kebaikan hatinya.Sementara di sisi lain sekolah, ada dunia yang berbeda. Dunia di mana kekuasaan dan kekuatan jadi mata uang. Di sanalah Arlian , ketua geng sekolah paling ditakuti, memerintah. Dingin, cuek, dan jarang bicara, tapi sekali dia bicara—semua diam.Dua dunia ini tak pernah bersinggungan.Hingga suatu sore, hujan deras membuat Arlian berteduh di dekat gedung panti.Dia melihat gadis itu lagi. Gadis yang pernah dia bentak di kantin karena tak sengaja menumpahkan teh manis ke jaket kulit kesayangannya. Waktu itu, dia pikir dia sedang melihat anak baru yang sok alim.Sekarang, Arlian menyaksikan Sasa memapah seorang anak kecil yang demam ke dalam panti. Tanpa payung. Basah kuyup. Tapi senyumnya masih ada. Anjing panti menyalak, dan anak-anak panti yang lain menyambut Sasa dengan pelukan.Ada yang aneh di dada Arlian."Lo ngapain ngeliatin dia?" tanya Daren, tangan kanan Arlian."Enggak."Tapi sejak hari itu, Arlian sering muncul di dekat panti. Kadang pura-pura beli gorengan di depan gerbang. Kadang cuma lewat. Sekali waktu, dia bantuin mbah-mbah ngangkat galon—dan entah kenapa Sasa muncul dari balik pintu panti, bilang, "Makasih, Kak Geng."Sejak kapan dia tahu aku ketua geng?"Lo suka sama Mb Panti?" tanya Daren lagi, nggak percaya."Bodoh amat."Tapi diam-diam, Arlian mulai berubah. Dia jadi sering buang rokok sebelum sampai gerbang panti. Dia ngajarin anak panti main futsal tiap Sabtu sore. Dan anehnya, anak-anak itu suka padanya.Sasa? Awalnya cuek.Tapi dia mulai melihat sisi lain dari si ketua geng."Kenapa lo jadi sering ke sini?" tanya Sasa suatu hari."Karena lo," jawab Arlian jujur, sambil jongkok membersihkan luka si Riko, bocah kecil yang jatuh dari sepeda.Sasa tertawa, "Gombal amat. Udah mandi belum, Kak Geng?""Belum. Tapi udah jatuh cinta."Sasa mendelik, tapi mukanya memerah. Hari itu, langit cerah setelah hujan.Hubungan mereka tak langsung mulus. Nama Arlian masih menakutkan di sekolah. Banyak yang mencibir. Termasuk guru BK yang manggil Sasa dan bilang, "Kamu tahu siapa Arlian? Dia pernah berantem sampai lawannya dirawat dua minggu."Tapi Sasa hanya tersenyum. "Yang saya lihat, dia bisa bikin anak-anak panti ketawa. Itu lebih penting, Bu."Hari-hari berganti. Arlian mulai jarang ikut tawuran. Bahkan dia sendiri yang bubarkan gengnya."Gue nggak butuh jadi ditakuti," katanya, "Gue pengen jadi pantas buat orang yang gue sayang."Daren cuma bisa geleng-geleng, tapi mendukung. "Kalau lo berubah karena cinta... mungkin itu cinta yang benar."Suatu malam di acara panti, ada pentas kecil. Anak-anak tampil nyanyi dan baca puisi. Sasa tampil terakhir. Ia membaca puisi tentang seseorang yang datang dari dunia gelap, tapi bersinar terang karena cinta.Saat itu, Arlian berdiri di belakang, membawa setangkai mawar.Setelah acara selesai, dia menghampiri Sasa dan menyerahkan bunga itu."Kalau lo nggak keberatan, boleh nggak gue serius sama lo?"Sasa menunduk, matanya berkaca."Aku nggak butuh cowok sempurna, Kak Geng. Aku cuma butuh seseorang yang punya hati. Dan kamu... udah punya itu."~~~~~~~~~Arlian sekarang bekerja di LSM yang fokus pada anak-anak jalanan. Sasa menjadi guru TK di panti yang dulu. Mereka menikah sederhana, dengan anak-anak panti jadi pagar ayunya.Dan dari si ketua geng yang keras kepala, kini lahir seorang ayah penyayang.Semua berawal dari satu hal kecil: jatuh cinta... sama Mb Panti.Dulu, orang-orang heran bagaimana bisa seorang mantan ketua geng menikah dengan gadis panti yang kalem dan suka mengurus anak-anak. Sekarang, mereka lebih heran lagi melihat betapa romantis dan noraknya pasangan itu setelah menikah.Pagi itu, di rumah sederhana dekat panti, terdengar suara berisik dari dapur."Lian! Kamu lagi goreng apa? Asapnya kayak mau bakar rumah!"Arlian muncul dari balik pintu dapur, pakai celemek warna pink—hadiah dari anak-anak panti. "Goreng hati aku yang hancur tiap kamu bentak," jawabnya sambil senyum jahil.Sasa hanya bisa menggeleng sambil tertawa kecil. Suaminya memang berubah. Dulu dingin, sekarang bisa jadi drama king kelas kakap.Meski begitu, cinta mereka bukan tanpa cobaan.Sasa sedang hamil 5 bulan, dan mood swing-nya kayak roller coaster. Hari ini ingin rujak. Besok ingin bakso, tapi harus dari abang yang biasa mangkal dekat lampu merah jam 2 siang. Arlian? Nurut. Meski harus naik motor bolak-balik hanya demi satu mangkok bakso."Dulu lo ngeri. Sekarang lo budak cinta," goda Daren saat berkunjung."Dulu gue ngeri karena nggak punya tujuan. Sekarang... istri gue, anak gue nanti—itu tujuan gue," jawab Arlian sambil elus perut Sasa yang membuncit.Setiap malam, Arlian masih suka baca cerita buat anak-anak panti. Tapi sekarang, dia juga suka bisikin cerita buat anak dalam kandungan istrinya."Dek, nanti kalau kamu lahir... jangan kayak ayah ya, dulu bandel banget. Tapi ayah janji bakal jagain kamu dan ibu sekuat mungkin."Sasa pura-pura tidur, padahal matanya panas.Si ketua geng yang dulu sering bikin orang takut... sekarang jadi pria paling lembut yang pernah dia temui.Lalu datang ujian besar.Sasa sempat mengalami pendarahan, dan dokter menyarankan untuk bed rest total. Arlian panik, tapi berusaha tetap kuat. Dia yang ambil alih semua urusan rumah. Nyuci, masak, urus anak panti, bahkan bantu ngajarin anak-anak TK secara daring.Suatu malam, Sasa menangis di ranjang."Aku takut, Lian... kalau anak kita..."Arlian memeluknya erat."Nggak usah takut. Kamu punya aku. Anak kita juga. Kita berjuang bareng, ya?"Akhirnya, tujuh bulan kemudian, lahirlah seorang bayi laki-laki mungil yang mereka beri nama Raka Alfarel , yang artinya cahaya kecil dari masa lalu yang gelap."Wajahnya kayak kamu," bisik Sasa di ruang bersalin."Berarti bakal ganteng dan galak?" canda Arlian."Nggak. Ganteng dan... penyayang."Arlian mencium kening Sasa. "Makasih udah ngasih aku rumah. Dulu hati aku kosong. Sekarang penuh—sama kamu, sama Raka, sama anak-anak panti... semuanya."Arlian dan Sasa kini punya dua anak kandung dan belasan anak panti yang mereka anggap anak sendiri. Rumah mereka selalu ramai, penuh tawa dan pelukan. Meski hidup sederhana, tapi cinta di dalamnya tak pernah kekurangan.Setiap orang yang dulu mengenal Arlian si ketua geng, kini mengenalnya sebagai Pak Lian , suami dari Bu Sasa , si "Mb Panti" yang hatinya selalu hangat.Dan kisah mereka membuktikan satu hal:Cinta bisa mengubah siapa saja. Bahkan ketua geng yang paling keras kepala... bisa tunduk pada satu senyum tulus dari Mb Panti.~END~
Teman Kecilku yang Menghilang, Kembali Menjadi Teman Hidupku
Sasa duduk di bangku taman sekolah dasar lamanya, tangannya menggenggam sebuah foto usang. Di dalamnya, dua anak kecil tersenyum ceria—Sasa dan Lian. Teman kecil yang sudah menghilang lebih dari sepuluh tahun. Tanpa kabar. Tanpa pamit.Dulu mereka seperti kembar tak terpisahkan. Lian selalu menjaga Sasa dari anak-anak yang suka mengejeknya karena tubuhnya yang mungil. Tapi sejak kelas lima SD, Lian dan keluarganya pindah mendadak ke luar kota. Tak ada nomor telepon, tak ada surat. Hanya kenangan yang tertinggal.Kini, Sasa sudah beranjak dewasa. Lulusan psikologi, ia bekerja sebagai konselor di sebuah sekolah internasional di Jakarta. Tapi bayang-bayang masa kecil itu selalu hidup. Kadang, ia bertanya-tanya—apakah Lian juga masih mengingatnya?......Hari itu hujan turun deras. Sasa yang sedang tergesa-gesa menuju halte bus menabrak seseorang di trotoar."Aduh! Maaf banget!" ucap Sasa sambil menunduk, berusaha mengangkat dokumen yang jatuh."Tidak apa-apa. Kamu... Sasa?" suara itu membuatnya tertegun.Ia mendongak. Mata itu, suara itu... seperti hantu dari masa lalu."Lian?" bisik Sasa nyaris tak percaya.Pria itu mengangguk, senyumnya perlahan merekah. "Teman kecilku."......Beberapa hari kemudian, mereka bertemu lagi di sebuah kafe. Lian kini bekerja sebagai arsitek, baru kembali ke Jakarta setelah tinggal di Jerman bertahun-tahun. Sasa merasa emosinya campur aduk. Senang, bingung, dan sedikit marah."Kenapa kamu pergi tanpa kabar?" tanyanya pelan.Lian menatap ke luar jendela. "Ayahku tiba-tiba dipindahtugaskan ke luar negeri. Saat itu, semuanya begitu kacau. Aku bahkan nggak sempat pamit ke siapa pun."Hening sesaat. Lalu Lian melanjutkan, "Tapi aku selalu cari tahu tentang kamu. Sampai akhirnya aku tahu kamu kerja di sekolah ini. Aku sengaja kembali, Sasa. Untuk menemuimu.".....Sejak hari itu, Lian dan Sasa sering bertemu. Jalan-jalan, nonton, bahkan masak bersama. Kedekatan masa kecil mereka seakan tak pernah benar-benar hilang, hanya tidur untuk sementara waktu.Lian sudah tak lagi jadi anak kecil kurus yang suka mengejar layang-layang. Ia tumbuh jadi pria dewasa yang tenang, sopan, dan penuh perhatian. Sementara Sasa—masih seperti dulu—riang, lembut, dan sedikit cerewet.Di suatu malam saat menonton film lama bersama, Lian menatap Sasa lama."Aku dulu pernah janji sama kamu, waktu kita kecil," ujarnya tiba-tiba."Janji apa?" tanya Sasa sambil memutar mata ke arahnya."Aku bilang, nanti kalau udah besar, aku mau nikah sama kamu."Sasa terkesiap. Ia menertawakannya, tapi pipinya memerah."Lucu ya. Tapi... kamu masih serius soal itu?"Lian menggenggam tangannya. "Sekarang lebih serius dari sebelumnya."......Dua tahun kemudian, di taman tempat mereka pertama kali bertemu kembali, Lian berdiri dengan setelan jas. Di hadapannya, Sasa dalam gaun putih sederhana. Sahabat masa kecilnya. Cinta pertamanya.Mereka mengikat janji, bukan hanya sebagai suami istri, tapi juga sebagai sahabat seumur hidup."Aku nggak akan pernah hilang lagi," bisik Lian saat mengecup kening Sasa.Dan kali ini, Sasa tahu, janji itu benar-benar akan dijaga......Setelah pertemuan mereka yang intens dan manis, Lian mulai sering datang menjemput Sasa dari sekolah. Namun suatu hari, Sasa melihat Lian berbicara serius dengan seorang wanita cantik berambut panjang. Perempuan itu memeluk Lian dengan wajah penuh harap.Sasa canggung. "Siapa dia?""Namanya Amara. Dulu dia kekasihku waktu kuliah di Jerman. Tapi kami sudah lama putus."Namun firasat Sasa tak bisa dibohongi—Amara belum benar-benar menyerah.....Hubungan Sasa dan Lian mulai memasuki tahap yang lebih dalam. Mereka mulai bicara soal masa depan, soal rumah impian, anak, hingga pekerjaan. Tapi semua itu terasa rapuh saat Sasa melihat Amara mulai muncul lebih sering.Sasa merasa minder. Ia hanya konselor biasa. Amara? Seorang pengusaha sukses dengan tampilan memukau."Aku takut, Lian," ujar Sasa suatu malam. "Kamu dan dia... kalian lebih cocok.""Aku mencintaimu, Sasa. Bukan dia.".....Lian mengajak Sasa ke rumah lamanya yang telah direnovasi. Di sana, mereka menemukan kotak tua berisi barang-barang masa kecil. Di dalamnya, sebuah surat tertulis tangan Sasa kecil—belum pernah terkirim."Untuk Lian, teman terbaikku. Kalau kamu baca ini, artinya aku kangen banget. Aku harap kamu bahagia di sana. Tapi aku berharap suatu hari kamu balik lagi dan kita main bareng kayak dulu."Lian menggenggam surat itu. Matanya berkaca-kaca."Aku janji, aku nggak akan ninggalin kamu lagi."....Amara tak tinggal diam. Ia mendatangi sekolah Sasa dan menyebar rumor bahwa Sasa merebut tunangannya. Beberapa guru mulai menjaga jarak, dan kepala sekolah mulai mempertanyakan profesionalisme Sasa.Sasa marah. Bukan pada Amara, tapi pada dirinya yang merasa lemah."Aku nggak mau hubungan kita malah jadi beban buat karierku.""Kalau kamu mundur, kamu hanya membiarkan dia menang," tegas Lian.......Sasa mengambil cuti dari sekolah dan pergi ke Bandung, ke rumah neneknya. Ia butuh waktu untuk berpikir. Di sana, ia merenung: apakah cinta masa kecilnya benar-benar layak diperjuangkan? Atau hanya nostalgia semata?Di sisi lain, Lian merasa hampa. Ia menyadari, bukan kenangan yang ia cintai—tapi perempuan itu, Sasa yang sekarang. Kuat, mandiri, tapi juga penuh luka.Saat di Bandung, Sasa bertemu mantan kekasihnya, Bagas. Mereka mengobrol hangat. Bagas menyesal telah mengabaikan Sasa dulu. Ia menyatakan ingin kembali.Namun saat itu juga, Sasa sadar—hanya Lian yang membuatnya merasa seperti rumah.Sasa kembali ke Jakarta. Malam itu hujan deras, seperti malam saat mereka bertemu kembali. Ia menunggu di taman, di bawah pohon besar yang menjadi saksi janji Lian dulu.Lian datang. Mereka berpelukan di bawah hujan. Basah kuyup, tapi hangat."Aku pulang, bukan hanya ke Jakarta. Tapi ke kamu."......Beberapa minggu kemudian, Lian membawa Sasa ke pameran arsitektur. Salah satu desain rumah di sana mirip dengan rumah kayu impian mereka sewaktu kecil.Saat pameran selesai, Lian berlutut."Aku ingin membangun rumah itu... bersamamu. Menjadi teman hidupmu."Sasa menangis sambil mengangguk.Pernikahan mereka tidak megah, tapi hangat. Keluarga, teman lama, dan bahkan beberapa guru SD mereka hadir. Di tengah pesta, slide foto masa kecil mereka ditampilkan. Tawa dan air mata bercampur.Sasa menggenggam tangan Lian erat. "Kamu nggak cuma teman kecilku. Tapi juga rumahku.".....Setahun kemudian, mereka tinggal di rumah kecil yang didesain Lian. Di ruang tengah, tergantung foto kecil: dua anak kecil tersenyum sambil memegang layang-layang.Kini mereka bukan lagi anak kecil. Mereka sudah melewati luka, ragu, dan cinta yang diuji waktu. Tapi satu hal tetap sama:Mereka saling memilih. Hari ini, dan seterusnya.Sasa menulis surat untuk anak mereka yang baru lahir:"Nak, kamu akan bertemu banyak orang dalam hidupmu. Tapi kalau suatu hari kamu bertemu seseorang yang membuatmu merasa pulang... jangan lepaskan dia. Seperti aku dan ayahmu."~END~
Seragam dan Cinta
Kapten Lian datang ke Desa Lembah Hijau dengan misi menjaga stabilitas wilayah karena meningkatnya konflik penguasaan lahan antara warga dan pihak swasta. Pria berusia 32 tahun itu dikenal tenang, keras, dan sangat menjunjung etika militer. Ia tak banyak bicara, namun selalu tegas dalam tindakan.Hari pertama, ia berjalan menyusuri jalanan berbatu desa bersama dua anak buahnya. Wajah-wajah penduduk terlihat enggan menyambut. Mereka hanya melirik tanpa senyum, seolah kedatangan Lian dan timnya adalah awal dari kekacauan baru.Di balai desa, ia bertemu kepala desa dan beberapa tokoh masyarakat. Di sanalah matanya bertemu dengan seorang perempuan berambut ikal sebahu, mengenakan seragam dinas kesehatan yang lusuh namun rapi. Tatapan mereka bertaut, singkat, lalu saling membuang muka."Itu Sasa," bisik kepala desa. "Bidan desa kami. Keras kepala, tapi disayangi warga."Lian hanya mengangguk.....Pagi hari berikutnya, Sasa terburu-buru mengendarai motor bebek tuanya. Jalan menuju kampung atas diblok oleh Lian dan timnya. Ia menghentikan kendaraannya dengan wajah kesal."Permisi, saya mau lewat. Urgen," katanya ketus."Kami sedang lakukan penyekatan untuk keamanan. Silakan putar arah, Bu," jawab Lian."Saya bidan. Ada ibu yang mau melahirkan. Apa tentara lebih penting dari nyawa?"Lian terdiam. Sorot matanya mengeras. Tapi sebelum ia sempat menjawab, salah satu anggotanya berbisik, memberi izin. Lian mengangguk pelan, dan Sasa langsung tancap gas.....Setelah kejadian itu, Lian mulai memperhatikan Sasa. Diam-diam, ia mempelajari jadwal dan kegiatan perempuan itu. Ia melihat bagaimana Sasa menembus hujan untuk mengobati anak-anak. Bagaimana ia bertahan di gunung tiga hari saat terjadi wabah diare."Kenapa kamu sering melamun?" tanya Letda Yuda, salah satu bawahannya."Tidak. Hanya... aku belum pernah melihat orang seperti dia," ujar Lian pelan. "Keras, tapi hatinya lembut."Sementara itu, Sasa pun merasa aneh. Beberapa kali Lian membantunya—membawakan obat, memperbaiki atap posyandu yang bocor, atau hanya mengantar pulang saat malam hujan. Tapi Sasa menolak mengakuinya. "Dia cuma tentara. Nanti juga pergi," batinnya.....Kondisi desa makin memanas. Lian mendapat tugas dari markas untuk menjalin hubungan yang lebih baik dengan warga agar konflik tidak meluas. Ia membuat rencana penyuluhan terpadu bersama Sasa."Kau butuh bantuanku karena warga tidak percaya padamu," sindir Sasa saat mereka bertemu di balai desa."Benar. Tapi aku juga percaya kamu bisa bantu mereka lebih baik dengan tenang, kalau kondisinya aman. Kita sama, ingin desa ini baik."Untuk pertama kalinya, Sasa tidak membalas sinis. Ia mengangguk. Dalam penyuluhan pertama mereka, mereka duduk berdampingan di teras balai desa. Lian menyadari bahwa senyum Sasa lebih menenangkan dari pelatihan militer mana pun yang pernah ia jalani.....Suatu malam, Sasa menunggu hujan reda di teras rumah kliniknya. Lian datang, membawa termos teh dan roti."Kau pikir aku akan terharu?" tanya Sasa."Tidak. Aku hanya ingin duduk di sini sebentar. Tanpa bicara pun tak masalah."Di tengah obrolan, Lian bercerita tentang masa kecilnya. Tentang ayahnya yang gugur saat bertugas dan ibunya yang dingin karena kehilangan. Sasa mendengarkan, pelan-pelan hatinya luluh."Kau bukan sekaku itu ternyata," katanya sambil tersenyum.....Suatu pagi, kabar beredar bahwa aparat akan menggusur sawah rakyat. Massa marah. Warga berkumpul di balai desa. Sasa ada di tengah-tengah, mencoba menenangkan ibu-ibu.Lian mendapat kabar bahwa warga mengepung rumah kepala desa. Ia segera menuju lokasi. Dalam perjalanan, ia mendengar Sasa terjebak di dalam kerumunan. Tanpa ragu, ia menerobos barikade, tubuhnya terkena pukulan dan batu.Ia mendapati Sasa yang ketakutan, memeluk anak kecil."Pegang tanganku," kata Lian. "Aku akan bawa kalian keluar."Dengan penuh keberanian, ia membawa Sasa melewati kerumunan. Suara sorakan, makian, dan tangisan mewarnai perjalanan mereka malam itu.....Situasi mereda. Warga mulai percaya bahwa Lian bukan musuh. Saat perpisahan tugas tiba, Lian berdiri di tengah lapangan desa."Aku tidak tahu bagaimana hidup di luar seragam. Tapi satu hal yang pasti, aku ingin ada kamu di dalamnya."Sasa menatapnya, menahan air mata."Kalau kamu berani mencintaiku tanpa janji-janji manis, aku akan menunggumu pulang dari setiap misi."Mereka menikah seminggu kemudian. Bukan pesta mewah, hanya doa dan tawa hangat di rumah kepala desa. Sasa mengenakan kebaya putih sederhana, Lian dengan seragam lengkapnya.....Tiga tahun berlalu. Klinik Sasa berkembang, Lian tetap mengabdi sebagai Kapten. Mereka dikaruniai seorang anak perempuan yang lincah dan cerdas. Rumah mereka selalu terbuka untuk siapa pun yang butuh bantuan.Di ruang tengah, tergantung foto pernikahan mereka. Di bawahnya, tertulis kalimat:"Seragam bukan penghalang cinta. Justru di balik tugas, ada cinta paling tulus yang pernah tumbuh."Dan malam-malam mereka diisi dengan tawa anak kecil, suara radio tua, dan pelukan hangat setelah seharian mengabdi pada negara.Setelah menikah, Lian dan Sasa pindah ke rumah dinas kecil di pinggir desa. Sasa tetap menjadi bidan, kini dengan dukungan lebih dari warga dan suaminya. Namun hidup tak lantas menjadi mudah. Lian sering harus keluar daerah untuk tugas dinas. Sasa belajar menjalani kesepian dengan doa dan keteguhan hati.Setiap malam saat sendiri, Sasa menulis surat untuk Lian, meski kadang tak tahu kapan akan dikirim. Dalam salah satu suratnya, ia menulis: "Tak apa kita tak selalu bersama, yang penting kamu tahu, aku selalu menunggumu pulang."....Suatu hari, kabar bahwa Lian terluka saat operasi militer di perbatasan membuat Sasa gemetar. Ia segera ke rumah sakit militer terdekat. Lian selamat, tapi kakinya mengalami cedera cukup serius. Di rumah sakit, Lian merasa gagal sebagai suami karena membuat istrinya cemas."Kau tak perlu jadi sempurna," bisik Sasa sambil menggenggam tangannya. "Aku tidak mencintaimu karena kamu Kapten. Tapi karena kamu Lian."....Beberapa bulan setelah Lian pulih, Sasa hamil. Kehamilan itu menjadi hadiah terindah bagi mereka. Tapi di tengah kehamilan, Lian kembali ditugaskan. Sasa menjalani bulan-bulan penuh tantangan seorang diri. Ia menjadi ibu, istri, dan pelindung desanya sekaligus.Saat anak mereka lahir, Lian hanya bisa melihat lewat video call. Ia menahan air mata saat mendengar tangisan pertama sang bayi.Setelah setahun di luar, Lian kembali. Ia disambut anak kecil yang memanggilnya "Ayah" dengan malu-malu. Malam itu, mereka bertiga tidur bersama untuk pertama kalinya. Rumah kecil itu terasa hangat meski tak mewah.Desa kembali terusik. Sebuah perusahaan asing datang dan hendak membeli tanah warga. Warga terpecah. Lian yang kini menjadi instruktur militer regional, tak tinggal diam. Ia kembali ke desa sebagai fasilitator damai, didampingi Sasa.Sasa kembali berdiri di depan warga, bukan sebagai bidan saja, tapi sebagai istri Kapten yang mereka hormati dan percaya.Pemerintah menawarkan promosi untuk Lian—jabatan di ibu kota, dengan fasilitas lebih baik. Tapi itu berarti meninggalkan desa dan memindahkan keluarga. Sasa tak ingin meninggalkan klinik dan warga. Mereka berdiskusi panjang."Apakah kita akan bahagia kalau tinggal di kota tapi tak merasa berguna?" tanya Sasa.Akhirnya mereka memilih tinggal. Lian menolak promosi, memilih menjadi pengajar dan pelatih di akademi terdekat, agar tetap bisa pulang setiap hari.Anak mereka tumbuh sehat dan cerdas. Ia ingin menjadi seperti ayah dan ibunya—berbakti pada negeri. Saat anak itu memakai seragam pramuka pertamanya, Sasa menangis. Ia sadar, cinta mereka telah tumbuh menjadi teladan.Suatu malam, di halaman rumah mereka, Lian memeluk Sasa sambil menyaksikan anak mereka berlari-lari kecil."Dulu aku takut tak layak dicintai, Sa. Tapi kau membuatku percaya bahwa cinta adalah tentang hadir, bukan tentang sempurna."Sasa tersenyum. "Dan kamu membuatku percaya, bahwa seragam tak hanya lambang tugas, tapi juga lambang perlindungan."....Tahun-tahun berlalu. Lian pensiun, Sasa tetap aktif sebagai mentor bidan muda. Mereka membuka klinik pelatihan gratis di desa. Setiap hari mereka berjalan berdua, menggandeng tangan, menyapa warga yang tersenyum hangat.Di ruang tengah rumah mereka, tergantung dua seragam: satu militer, satu kesehatan. Di bawahnya tertulis:"Kami abdi negara, tapi cinta adalah misi terbesar kami."Dan begitulah mereka dikenang, bukan hanya sebagai pasangan, tapi sebagai dua hati yang setia melayani dan saling mencinta.~END~
Cinta di Balik Status
Hujan turun sejak sore, membasahi seluruh halaman rumah keluarga Pramesti—keluarga kaya raya yang dikenal sebagai pemilik PT Pramesti Grup, perusahaan properti besar di Jakarta.Di ruang tamu berdesain klasik modern, seorang gadis duduk dengan tubuh kaku. Gaun pastel yang dikenakannya terasa terlalu sempit di dada. Bukan karena ukurannya salah, tapi karena jantungnya berdebar tak karuan.Salca Pramesti , 22 tahun, anak satu-satunya dari Tuan Bram dan Ny. Ayu, malam itu duduk di antara dua keluarga yang sedang membicarakan masa depan hidupnya —tanpa persetujuannya."Jadi, kita sepakat ya. Lamaran resmi bulan depan, pernikahan bisa menyusul setelah itu," kata Tuan Bram sambil tersenyum ke arah pria muda di depannya.Pria itu duduk tegak. Revan Aryasatya , anak dari pengusaha konstruksi dan teman bisnis lama keluarga Salca. Wajahnya tampan, tubuhnya tegap, pembawaannya sopan. Tapi... hampa."Salca?" tanya Ibunya, menoleh dengan pandangan memaksa. "Kamu setuju, kan?"Salca tidak langsung menjawab. Matanya tertuju pada jendela. Hujan masih turun deras, menampar-nampar kaca jendela seperti gema dari dalam hatinya yang resah.Dia tersenyum kecil. "Kalau ini memang yang terbaik untuk keluarga... aku ikut saja."Dari kejauhan, di lorong menuju dapur , sepasang mata memperhatikannya diam-diam. Mata itu tajam tapi menyimpan kesedihan. Pemiliknya—seorang pria muda dengan pakaian sederhana, mengenakan sweater lusuh dan celana hitam yang sudah memudar warnanya.Namanya Arlian . Anak dari Bu Mirah, pembantu yang sudah bekerja lebih dari dua puluh tahun di rumah keluarga Pramesti.Arlian baru pulang dari pesantren di Jawa Timur. Ia datang karena ibunya memintanya kembali, katanya butuh bantuannya beberapa minggu ke depan. Tapi Arlian tidak pernah menyangka bahwa gadis yang dulu selalu memanggilnya "anak belakang" itu, kini tumbuh menjadi wanita dewasa yang wajahnya tak bisa ia abaikan.Dan malam itu, melihat Salca duduk mematung di antara dua keluarga kaya, mata Arlian tak bisa bohong.Dia jatuh cinta.Tapi siapa dia? Hanya anak pembantu. Bahkan hadir pun seolah tak boleh terdengar.Salca berdiri perlahan dan meminta izin untuk masuk kamar. Ia melangkah cepat, dan tanpa sengaja—tanpa direncanakan—ia berpapasan dengan Arlian di lorong gelap itu.Hanya sebentar. Tapi cukup lama untuk saling menatap.Arlian menunduk. "Selamat ya, Mbak Salca."Salca diam. Hatinya seperti dihantam sesuatu."Kamu pulang?" suaranya nyaris berbisik.Arlian mengangguk. "Iya. Mau bantu Ibu."Salca melangkah lagi, tapi sebelum benar-benar pergi, dia berkata pelan, "Jangan panggil aku 'Mbak'."Arlian menoleh. Mata mereka bertemu sekali lagi."Namaku... Salca.".....Hari-hari setelah lamaran terasa seperti mimpi buruk yang tak kunjung usai bagi Salca. Ia seperti terperangkap dalam dinding rumah besar itu, dengan setiap sudut mengingatkannya bahwa hidupnya telah diputuskan oleh orang lain. Revan, pria yang dipilihkan untuknya, memang tampan dan kaya raya. Namun hatinya tak bergetar. Ia terlalu sopan, terlalu sempurna, terlalu... kosong.Revan datang hampir setiap malam, mengajak makan malam, membawakan bunga, dan kadang buku puisi. Namun, bukan puisinya yang membuat jantung Salca berdetak lebih cepat—melainkan suara gesekan sepatu Arlian di lantai belakang saat menyapu halaman, atau suaranya memanggil ibunya dari dapur.Suatu malam, saat Revan tengah membaca puisi, Salca mencuri pandang dari balkon lantai dua. Di bawah, Arlian sedang menyiram pohon jambu. Ia melirik ke atas, dan mata mereka bertemu. Dalam satu detik itu, Salca merasa lebih hidup daripada sejam duduk bersama Revan.....Salca mulai mencari-cari alasan untuk ke dapur. Kadang hanya untuk mengambil air, kadang pura-pura mengajak bicara ibunya Arlian. Tapi yang ia cari adalah dia—Arlian. Kadang mereka hanya bertukar pandang, kadang saling lempar tanya-jawab pendek."Kamu suka melati, ya?" tanya Salca sambil menunjuk bunga yang selalu disiram Arlian.Arlian tersenyum kecil. "Ibu bilang, bunga itu wangi meski kecil. Harusnya orang juga begitu."Kalimat itu menghantam pelan. Salca merasa kalimat itu lebih jujur dari semua janji Revan.....Suatu pagi, Salca menemukan secarik kertas terselip di antara buku puisinya. Isinya tulisan tangan:"Kadang, cinta tidak datang dari kemewahan atau janji, tapi dari kehadiran yang tak pernah kita sadari telah menjadi bagian hidup kita."....Jejak Rahasia di Taman Hari Minggu pagi, langit mendung namun belum turun hujan. Salca melangkah pelan ke taman belakang rumah, tempat ia mulai merasa dekat dengan seseorang yang selama ini nyaris tak ia perhatikan.Di bawah pohon melati, ia melihat selembar kertas lain terselip di pot bunga. Kali ini tak hanya tulisan puitis, tapi sebuah gambar—sketsa wajahnya, sedang tersenyum. Guratan pensil itu sederhana, namun penuh rasa."Kamu menggambarku?" tanya Salca pelan, ketika ia mendapati Arlian sedang membersihkan kolam ikan tak jauh dari sana.Arlian tampak terkejut, namun tidak menyangkal. Ia hanya menunduk, tangannya terus bekerja."Aku cuma menggambar apa yang... membuatku tenang," katanya akhirnya.Salca tak tahu harus menjawab apa. Hatinyalah yang menjawab: degupnya tak beraturan.Beberapa menit mereka hanya diam, sampai Salca duduk di kursi taman dan menatap Arlian."Kenapa kamu selalu ada di sini? Di taman ini, setiap kali aku butuh udara?"Arlian berhenti bekerja, lalu menatapnya dalam-dalam. "Karena kamu satu-satunya bagian dari rumah ini yang tidak membuatku merasa kecil."Ucapan itu menghentak perasaan Salca. Di dalam rumah, ia adalah putri keluarga terpandang. Tapi di taman ini, ia hanyalah perempuan yang merasa sendiri. Bersama Arlian, ia bisa bernapas tanpa harus menjadi sempurna."Kalau aku bilang, aku takut menikah dengan orang yang tak aku cintai... kamu akan menertawakanku?" bisiknya."Aku akan diam. Tapi dalam diam itu, aku berdoa agar kamu berani memilih hatimu sendiri."Angin berhembus pelan. Melati-melati putih berguguran, seolah ikut mengerti bahwa ada cinta yang sedang tumbuh di tempat tak terduga.....Salca mulai membatalkan beberapa jadwal pertemuan dengan Revan. Orang tuanya mulai curiga. Ketika Revan memergoki Salca sedang berbicara akrab dengan Arlian, benih kecurigaan mulai tumbuh. Arlian dimarahi ibunya karena dianggap melampaui batas.Revan memutuskan untuk bicara empat mata dengan Salca. Ia meminta kejelasan, dan Salca hanya bisa terdiam. Di balik diam itu, Revan tahu bahwa hati Salca bukan miliknya. Ia mulai melaporkan kedekatan Salca dengan Arlian pada keluarga besar.Arlian dipindahkan dari pekerjaan luar ke dalam gudang. Ibunya pun ditekan agar segera berhenti bekerja. Salca yang mengetahui hal itu mulai memberanikan diri menentang keputusan orang tuanya untuk pertama kali dalam hidup.Salca melawan ayahnya. Ia meminta pertunangan dibatalkan. Ketika semua menolak, Salca memilih kabur malam itu juga, membawa tas kecil dan secarik surat untuk Arlian. Mereka bertemu di halte tua dan pergi bersama ke kota kecil tempat paman Arlian tinggal.Salca dan Arlian memulai hidup dari nol. Mereka tinggal di rumah kayu kecil. Salca bekerja di toko buku, Arlian membantu paman beternak. Meski hidup sederhana, Salca merasa bebas untuk pertama kalinya. Tapi bayangan masa lalu masih menghantui.Suatu hari, Revan muncul di toko tempat Salca bekerja. Ia tak marah, hanya menatap sedih. Ia berkata bahwa Salca telah menghancurkan reputasi keluarganya. Namun Salca tetap teguh. Revan pun pergi dengan kata-kata terakhir, "Aku harap kamu bahagia, meski tanpaku."Hubungan Salca dan Arlian sempat renggang. Tekanan ekonomi dan rasa bersalah membuat Salca mudah tersinggung. Arlian pun merasa tak cukup layak untuknya. Namun pada akhirnya mereka memilih duduk bersama, menangis, dan saling menguatkan.Salca mulai mengajar anak-anak kampung secara sukarela. Arlian membuat taman baca kecil dari kayu bekas. Mereka mulai dikenal warga dan dianggap inspiratif. Cinta mereka tumbuh bukan lagi dari pelarian, tapi dari perjuangan bersama.Suatu siang, ibu Salca datang tanpa diduga. Ia membawa surat restu dari ayah Salca. Ternyata diam-diam sang ayah mengikuti perjalanan mereka. Ia melihat ketulusan dan keberanian putrinya. Tangis pun pecah. Luka lama mulai sembuh perlahan.....Di tengah taman kecil di kota itu, di bawah pohon jambu yang dahulu ditanam paman Arlian, berdirilah pelaminan sederhana yang dikelilingi oleh warga kampung. Bunga-bunga liar dirangkai menjadi hiasan. Tak ada gaun mewah, tak ada tamu undangan berdasi. Tapi ada senyum yang lebih jujur dari semua pesta mewah.Salca berjalan perlahan dengan gaun putih sederhana. Di ujung altar, Arlian menunggunya dengan senyum yang gemetar namun bahagia. Ibu Salca menangis pelan di samping paman Arlian. Seorang anak kecil menaburkan bunga di jalan setapak menuju pelaminan."Aku tidak pernah menyangka akan mencintaimu seperti ini," bisik Arlian saat menggenggam tangan Salca."Dan aku tidak pernah menyangka, cinta bisa seteguh ini," jawab Salca dengan mata berkaca-kaca.Dengan saksi langit biru dan tanah yang mereka pijak bersama, mereka mengucap janji. Janji bukan hanya untuk mencintai, tapi juga untuk memperjuangkan. Semua luka, rindu, dan air mata hari itu menjadi saksi pernikahan yang tumbuh dari keberanian.....Tiga tahun telah berlalu sejak hari itu. Rumah mereka kini bukan hanya tempat tinggal, tapi tempat belajar, tempat bermain, tempat tumbuh harapan. Taman baca yang dibangun Arlian dan Salca kini menjadi tempat anak-anak desa bercita-cita. Salca hamil anak kedua, sementara Arlian membuka bengkel kecil di samping rumah.Di ruang tamu, tergantung foto pernikahan mereka: Salca dan Arlian di bawah pohon jambu, tersenyum, dengan cahaya senja sebagai latar. Di bawahnya tertulis:"Cinta bukan tentang seberapa tinggi statusmu, tapi seberapa dalam kamu bersedia merendah untuk saling memahami."Dan begitulah mereka hidup. Bukan dengan segala kemewahan, tapi dengan cinta yang terus diperjuangkan setiap hari.~END~
Elang
Aku pertama kali bertemu dengan Misya dan Nasya saat mereka menjadi murid pindahan di sekolahku. Saat itu, aku sedang mengawasi siswa siswi yang terlambat dan memberi mereka hukuman. Meskipun mereka siswi pindahan, aku tetap berlaku adil memberi mereka hukuman, karena biar bagaimana pun, di sekolah lama mereka pasti menerapkan juga aturan yang sama.Aku akui Misya gadis yang sangat cantik dan periang. Di hari pertama menginjakkan sekolah di sini saja sudah banyak orang yang mengenalnya karena luwesnya dia bergaul. Dan aku tidak berbohong saat aku mengatakan aku tertarik dengannya. Menurutmu apa yang membuat laki-laki tertarik pertama kali dengan perempuan kalau bukan wajahnya. Fokus pertama mereka pasti wajah. Mengenai sikap dan perilaku itu belakangan. Aku tidak akan munafik menyangkalnya.Berbeda lagi dengan saudaranya, Nasya. Yah saat Misya memperkenalkan saudaranya, aku agak bingung pasalnya wajah mereka tidak ada kemiripan sama sekali. Meskipun banyak juga orang bersaudara yang tidak mirip, tapi pasti mereka memiliki sedikit kesamaan kan seperti matanya saja ataupun bibir dan hidung. Dan barulah aku tau kalau mereka saudara tiri.Sifat mereka berbanding terbalik. Kalau Misya sangat ramah dan periang. Nasya malah sangat cuek dan dingin. Aku rasa dia memang tipe pendiam. Tapi harus kuakui dia juga cantik. Tapi jika aku disuruh memilih, aku lebih suka tipe perempuan yang ramah dan mudah bergaul. Karena akupun juga demikian. Tapi entah kenapa aku tidak bisa terlalu akrab dengan Nasya. Sikap cuek dan dinginnya seakan-akan memberi maksud bahwa dia tidak ingin didekati. Bahkan kepada Misya saja yang notabene saudaranya sangat kaku dan datar saat berbicara.***Meskipun aku tidak sekelas dengan mereka, aku tetap akrab dan menjalin pertemanan dengan mereka. Kami sering menghabiskan waktu untuk mengisi waktu luang. Sebenarnya lebih sering aku dan Misya. Nasya sangat jarang ikut kalau Misya tidak memaksanya. See , bagaimana bisa aku akrab dengan Nasya kalau orangnya saja tertutup.Bahkan aku pernah mengajak Misya ke rumahku.Ternyata almarhum mama Misya teman dekat mamaku saat muda dulu. Jadilah Misya sering datang ke rumah karena mama yang menyuruhnya. Mama sangat menyukai kepribadian Misya karena mengingatkannya dengan teman lamanya.Tidak jarang aku juga sering berkunjung ke rumah Misya. Aku sudah bertemu dengan mama tiri Misya yang tidak lain adalah mama kandung Nasya. Entah kenapa aku merasa perlakuan tante Elsa sangat aneh, maksudku dia ramah dan kelihatan baik, tapi seakan-akan dibuat-buat. Nah, kalau Nasya selalu membuatku bingung, kepada mamanya saja dia cuek dan dingin. Apa memang dari lahir dia cuek begitu. Jangan-jangan dia juga tidak pernah menangis. Karena tersenyum atau tertawa pun aku tak pernah melihatnya, wajahnya datar saja seperti papan.***Tapi penilaianku pada Nasya sedikit berubah saat melihatnya bekerja paruh waktu. Yah, saat itu aku sedang berada di sebuah cafe. Aku melihatnya sedang melayani pengunjung. Saat aku bertanya pada pelayan yang melayani pesananku, dia mengatakan bahwa Nasya sudah bekerja paruh waktu di sini sangat lama. Bukankah keluarga barunya, maksudku ayah Misya sangat kaya, mengapa dia tetap bekerja padahal aku yakin semua kebutuhannya terpenuhi. Ke sekolah saja mereka diantar oleh supir pribadi.Tapi yang membuatku speechless , saat aku melihatnya tersenyum melayani pengunjung. Untuk pertama kalinya aku merasakan perasaan aneh menjalari dadaku. Aku suka melihat senyumannya meskipun bukan ditujukan kepadaku. Aku tahu senyuman itu sebagai bentuk profesionalitas sebagai pelayan kepada pengunjung, bukan senyuman seperti memang ingin tersenyum karena bahagia atau apapun, tapi tetap saja aku merasa itu senyuman terindah yang pernah kulihat. Anggaplah aku lebay. Namun, tidak bisa kupungkiri aku sangat mengharapkan senyuman itu ditujukan kepadaku.Akhirnya hari itu, aku bagaikan seorang penguntit yang memerhatikan segala aktivitas Nasya. Aku berusaha tak terlihat olehnya. Untunglah tempatku duduk memungkinkan dia tidak terlalu memperhatikanku. Sampai dia pulang bekerja pun aku mengikutinya. Aku kira dia akan taksi atau angkutan umum, tapi ternyata dia mengayuh sepedanya pulang padahal ini sudah malam. Tanpa berusaha terlihat, aku mengikutinya diam-diam dari belakang dengan mobilku. Sampainya dia di rumah, aku baru merasa konyol karena mengikuti seorang gadis diam-diam yang selalui bersikap cuek dan dingin padaku.Aku menyimpulkan kalau Nasya tipe gadis yang mandiri dan pekerja keras.Sejak itu, aku sering menatap Nasya diam-diam jika dia bersama Misya. Tentunya tanpa disadari oleh mereka. Seringkali kalau aku melihatnya dari kejauhan, aku tidak melepaskan pandanganku darinya. Tapi saat dia akan melihatku ataupun Misya, maka aku akan pura-pura membuang muka. Aku rasa tidak akan ada yang menyadarinya kalau aku sering curi-curi pandang pada Nasya termasuk dirinya.***Namun ada suatu kejadian yang membuatku geram dengan Nasya. Saat itu, aku mendapati Misya yang agak meringis memegang pipinya, setelah kulihat ternyata pipinya kemerahan seperti bekas tamparan. Aku mengintrogasinya. Awalnya Misya tidak mau jujur, akhirnya setelah kupaksa, dia mengaku kalau tante Elsa lah yang habis menamparnya. Bukan hanya itu, ternyata selama ini Misya selalu disiksa oleh mama tirinya. Aku yang mendengar itu langsung geram dan menyangka Nasya juga ikut andil dalam penyiksaan Misya. Mungkin saja sikapnya yang cuek dan dingin memang sesuai dengan kepribadiannya yang jahat. Buktinya, dia cuek dengan Misya selama ini. Berarti dia memang mendukung mamanya untuk menyiksa Misya kan."jadi selama ini mama tiri kamu dan Nasya selalu jahat sama kamu?"."mama tiri aku memang kayak gitu lang, tapi Nasya beda, dia justru baik banget sama aku", jelas Misya."alah..palingan dia cuma pura-pura baik aja di depan kamu padahal dia juga serigala berbulu domba seperti mamanya"."nggak lang. Meskipun Nasya memang cuek, tapi dia sebenarnya baik banget"."tetep aja aku nggak percaya sama dia. Pokoknya kalau lain kali kamu disiksa sama mama tiri kamu ataupun Nasya, kamu harus bilang sama aku".Aku tidak akan percaya begitu saja ucapan Misya kalau Nasya tidak pernah berbuat jahat padanya. Bisa saja kan dia juga jahat seperti mamanya. Tante Elsa saja kelihatan baik dan ramah saat aku bertemu dengannya, tapi ternyata serigala berbulu domba, bisa jadi Nasya tidak jauh berbeda dengan mamanya.***Mama juga sangat geram saat aku menceritakan perilaku mama tiri Misya padanya. Sama seperti aku, mama juga yakin kalau Nasya sama jahatnya dengan mamanya. Aku sudah membujuk Misya untuk melaporkan perbuatan mama tirinya kepada papanya, tapi dia tidak berani, apalagi dia tidak punya bukti.Aku tidak menyangka gadis baik dan periang seperti Misya harus mendapat keluarga baru yang jahat padanya. Aku berharap kejahatan Nasya dan mamanya segera terbongkar.Mama menyuruhku pacaran dengan Misya agar lebih leluasa melindungi Misya. Aku tahu Misya cantik, sangat cantik malah, ditambah lagi dia baik dan mudah bergaul. Aku menyukainya, tapi entah kenapa tidak ada pikiranku sebelumnya untuk pacaran dengannya. Tapi bujukan mama menyadarkanku bahwa tidak ada salahnya aku coba menjalin hubungan dengannya. Mungkin suatu saat aku bisa mencintai Misya, lagian dia sangat cantik dan sebenarnya salah satu tipe idealku, sepertinya akan mudah jatuh cinta padanya. Lupakan Nasya, aku memang sempat tertarik dengannya waktu itu, tapi setelah aku tahu sifatnya, aku malah benci dengannya.Aku mengutarakan perasaanku pada Misya saat dia berada di kelas bersama Nasya dan teman-temannya. Aku memang berharap ada Nasya agar dia bisa melihat bahwa Misya memiliki orang yang menyayangi dan melindunginya. Saat aku mengajak Misya berpacaran, tanpa berpikir dia langsung menyetujuinya. Itu berarti Misya memang ada rasa denganku. Syukurlah, setidaknya aku bisa melindunginya meskipun tidak bisa 24 jam bersamanya.Aku selalu berusaha menjauhkan Misya dari Nasya di sekolah. Aku hanya takut Nasya berusaha mencelakakannya. Apalagi Misya sangat mempercayai dan meyakini bahwa Nasya gadis baik, aku tidak mau dia diperalat oleh Nasya.Setiap aku melihat Nasya bersama Misya, aku selalu menatapnya dengan benci, bahkan terkadang aku mengeluarkan cacian dan memperingatkannya agar dia berhenti menyakiti Misya. Tapi Nasya tidak pernah membela diri, bahkan dia hanya diam dan cuek seperti biasa. Itu menandakan apa yang aku katakan benar kan.***Puncak kemarahanku adalah saat melihat Misya terjatuh dari tangga, dimana saat itu Nasya bersamanya. Aku yakin dia sengaja mencelakai Misya."Gue udah peringatin sama loe kan sebelumnya, kalo loe berani nyakitin Misya loe bakalan berhadapan sama gue !!!"."Loe itu emang cewek terjahat yang pernah gue kenal ! Gue heran, emangnya salah Misya apa sih sama loe, sampai-sampai loe tega nyakitin dia terus, hah !!!".Aku bahkan menamparnya saking kesalnya, padahal aku tidak pernah menyakiti perempuan sebelumnya. Tapi Nasya sudah kelewatan, dan dia berhak menerima itu. Di lubuk hatiku yang paling dalam, aku tahu itu salah karena menampar perempuan. Sejujurnya aku menyesal menampar Nasya, tapi aku juga tidak mungkin minta maaf karena biar bagaimana pun perbuatannya itu keterlaluan.Nasya pun hanya diam tanpa membalas ucapanku. Itu berarti dia memang membenarkannya.Saat aku mengobati luka Misya, dia justru membela Nasya yang mengira tidak ada sangkut pautnya dengan kecelakaan kecil yang dia alami."Nasya sama sekali nggak salah lang. Justru dia yang nolong aku saat jatuh", jelas Misya."Mungkin aja itu cuma akal-akalan dia aja. Dia sengaja membuat kamu jatuh, terus pura-pura nolongin kamu", balasku.Misya menggeleng. "Nasya nggak kayak gitu. Dia saudara yang baik meskipun hanya saudara tiri. Mungkin alasan kamu membenci Nasya karena mengira dia selalu menyakiti dan berbuat jahat sama aku. Tapi nggak lang. Justru Nasya selalu bantuin dan nolongin aku. Apalagi kalo mama nyakitin aku"."Mereka kan ibu dan anak kandung. Jadi bisa aja kan mereka bersekongkol", sahutku kesal."Aku nggak tau kenapa kamu terlalu berpikiran negatif sama Nasya. Tapi emang itulah kenyataannya. Nasya sangat berbeda dari mama Elsa. Meskipun Nasya agak cuek, tapi sebenarnya dia baik banget. Kamu percaya deh sama aku lang. Aku cuma nggak mau kamu terlalu jauh salah paham sama Nasya yang jelas-jelas nggak salah".Aku mencerna ucapan Misya. Kenapa dia selalu menganggap Nasya baik sama dia. Apa benar aku salah paham selama ini?***Saat itu aku mengajak Misya makan malam di luar. Papanya yang kebetulan punya waktu luang ikut serta apalagi dia ingin mengenalku lebih jauh sebagai pacar anaknya. Papanya bahkan mengajak mama tiri Misya tapi untunglah dia tidak jadi ikut karena tidak enak badan. Misya juga berencana mengajak Nasya, tapi Nasya menolak karena kecapekan, apalagi dia habis pulang bekerja seperti biasa.Pada saat kami tengah makan malam bertiga di sebuah restoran, aku sangat shock melihat kedatangan Nasya dengan penampilan yang kusut dan awut-awutan. Yang membuatku tertegun karena Nasya langsung bersujud di depan Misya dan papanya sambil terisak.Aku langsung merasakan hantaman sakit di dadaku saat melihat Nasya menangis untuk pertama kali. Nasya berkali-kali minta maaf sambil menundukkan kepalanya. Rasanya aku ingin merengkuh dia ke pelukanku.Setelah ditenangkan oleh Misya dan papanya, Nasya langsung menjelaskan kenapa dia sampai ke sini sambil menangis. Kabar mengejutkan lagi terkhusus buat Misya dan papanya, bahwa selama ini mama Nasya yang telah membunuh mama Misya. Nasya menjelaskan bahwa dia mendengar mamanya telah menyuruh orang waktu itu untuk membunuh mama Misya. Misya langsung oleng mendengar kabar itu dan ikut menangis. Nasya kemudian menyuruh papa Misya agar membuat mamanya mempertanggungjawabkan perbuatannya.Tante Elsa lengsung bekuk polisi saat kami pulang dari restoran dengan tuduhan pembunuhan di mana saksinya adalah anaknya sendiri. Saat tante Elsa di tangkap, dia meneriaki Nasya berrbagai makian karena menjebloskan mamanya sendiri. Nasya tidak berhenti menangis terutama saat mamanya menuduhnya anak durhaka. Aku ingin sekali menenangkan Nasya yang terlihat rapuh tapi di sisi lain, Misya sedang bersandar padaku dan butuh juga dikuatkan. Hatiku benar-benar sakit melihat Nasya seperti itu.Di lain sisi, aku menyesal karena selama ini telah salah paham pada Nasya. Bahkan aku dengan tega menyakitinya dengan ucapan maupun perbuatan. Mengingat pernah menamparnya, aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri.***Setelah kejadian itu, Nasya berubah drastis. Dulu dia memang cuek dan dingin, tapi sekarang semakin tertutup bahkan jarang bicara. Misya sering curhat padaku bahwa Nasya bahkan sempat ingin pergi dari rumahnya karena merasa tidak pantas berada di rumah itu. Tapi Misya dan papanya memaksa Nasya untuk tinggal. Syukurlah, setidaknya Nasya tidak akan sendiri kalau meninggalkan rumah itu karena aku tau Misya dan papanya sangat menyayangi Nasya.Aku sering berkunjung ke rumah Misya dibandingkan dulu-dulu. Alasannya, aku selalu ingin melihat Nasya. Sebenarnya aku ingin minta maaf, tapi bahkan Nasya tidak pernah membiarkan aku berada di dekatnya. Karena saat aku berkunjung, dia selalu menghindar, bahkan menghindari tatapanku. Sepertinya dia memang benar-benar membenciku.Aku sadar, aku memang pantas dibenci oleh Nasya. Sikapku benar-benar keterlaluan padanya dulu. Tapi aku benar-benar menyesal dan ingin memperbaikinya. Setiap aku melihat tatapan dingin Nasya, ada perasaan nyeri yang menghantam dadaku.Entah kenapa segala perasaan aneh yang kurasakan pada Nasya belum pernah terjadi pada siapapun sebelumnya.***Yang aku ingat, aku kecelakaan mobil. Saat terbangun, ada keluargaku dan Misya. Mereka menceritakan bahwa aku koma selama satu bulan.Aku terkejut saat mama dan Misya menceritakan bahwa Nasya telah mendonorkan darahnya karena diantara keluargaku, hanya golongan darah papa yang cocok, sedangkan riwayat kesehatan papa saat itu tak mengharuskannya donor darah. Aku tidak menyangka Nasya peduli padaku, aku kira dia sangat membenciku akibat perlakuanku padanya dulu. Ternyata dia memang gadis yang sangat baik. Misya benar, meskipun Nasya selalu cuek dan dingin, tapi dia memiliki hati yang sangat mulia. Penyesalanku rasanya semakin bertambah.Tapi yang membuatku semakin terkejut, saat Misya mengatakan Nasya telah pergi meninggalkan kota ini. Dia pindah ke rumah saudaranya dan melanjutkan sekolahnya di sana. Padahal aku belum sempat minta maaf dan bicara padanya. Hatiku nyeri menyadari aku sulit bertemu dengan Nasya lagi. Aku belum mengatakan perasaanku padanya.Aku sekarang sadar, kalau rasa aneh yang selalu menjalari dadaku saat di dekat Nasya adalah tanda bahwa aku mencintainya. Aku tidak mungkin merasa specchles saat melihat senyuman gadis lain kecuali senyuman Nasya. Aku tidak mungkin ikut merasa sedih dan sakit bersamaan melihat orang lain menangis kecuali melihat tangisan Nasya.Dan sekarang, Nasya telah pergi dan tak tahu kapan kembali. Aku ingin menyusul ke tempat dia pergi, tapi Misya bahkan tidak tahu kota mana yang didatangi Nasya. Nasya sengaja merahasiakan keberadaannya. Misya hanya berhubungan dengan Nasya lewat media sosial. Nomornya pun sudah tidak aktif. Aku bahkan pernah men- stalking media sosialnya, tapi dia jarang bahkan hampir tidak pernah aktif.Tapi aku akan tetap menunggu dia sampai kembali. Aku yakin Nasya pasti kembali.***7 tahun telah berlalu, namun tak hentinya aku mengharapkan bertemu lagi dengan Nasya. Percaya atau tidak, seringkali aku melakukan perjalanan bisnis ke berbagai kota hanya berharap bisa bertemu dengannya. Perasaan cintaku padanya tidak pernah hilang. Bahkan dengan statusku yang sekarang menjadi tunangan Misya, aku hanya mencintai Nasya.Anggaplah aku bajingan.Aku mencintai Nasya tapi bertunangan dengan Misya.Aku terpaksa menerima pertunangan ini karena paksaan mama. Menurut mama aku sudah terlalu lama pacaran dengan Misya dan lebih baik segera di sahkan. Selama 7 tahun aku berhubungan dengan Misya, tak sekalipun aku punya perasaan sedikitpun padanya. Awalnya aku mengira mudah mencintai Misya yang ramah dan baik hati, tapi ternyata sampai sekarang hatiku hanya untuk Nasya. Dari awal perasaanku pada Misya hanya kekaguman belaka.Perasaanku pada Nasya belum ada yang mengetahuinya. Aku baru akan mengatakan pada semua orang saat aku menemukan Nasya. Karena aku ingin dia orang pertama yang mendengar pernyataan cintaku.Seandainya aku sudah bertemu dengan Nasya, aku akan membatalkan pertunangan ini. Sebenarnya aku tidak tega mengatakan yang sebenarnya pada Misya bahwa aku hanya mencintai Nasya dan tidak punya perasaan apa-apa padanya. Aku tahu Misya kesepian. Aku selalu menjadi tempatnya curhat dan bersandar jika dia punya masalah. Aku merasa paling bajingan kalau aku malah meninggalkannya saat dia membutuhkanku.Alasan lain aku tidak memutuskannya karena dengan aku meninggalkan Misya, maka kesempatanku bertemu dengan Nasya pasti sangat kecil. Bisa saja suatu saat Nasya kembali ke rumah Misya, dan aku susah bertemu dengannya saat aku berpisah dengan Misya.Yah, lagi-lagi aku tetap jadi bajingan bukan. Aku menyayangi Misya sebagai teman, tapi di lain sisi aku memanfaatkannya.***Penantianku selama 7 tahun akhirnya terbayar juga. Saat itu Misya mengabariku untuk mempertemukanku dengan seseorang. Awalnya aku penasaran, tapi saat aku melihat Misya menggandeng Nasya mendekat, rasanya aku ingin berlari memeluknya saking bahagianya.Pertemuan pertama kami setelah sekian lama cukup canggung. Nasya tidak banyak berubah, mimik wajahnya tetap datar. Namun tak bisa kupungkiri kalau dia semakin cantik dengan kedewasaannya.Aku ingin menyambutnya dengan ramah, namun rasanya tidak pas kalau aku tiba-tiba akrab setelah sekian lama baru bertemu, apalagi hubungan kami dulu bisa dikatakan agak dingin dan kaku. Jadilah sepanjang malam itu hanya Misya yang sangat antusias bicara. Sedangkan aku terus mencuri-curi pandang melihat Nasya yang malah fokus menatap wajah Misya dan hanya sekali-kali melirikku.Aku juga baru tahu mendengar penjelasan Nasya bahwa dia sengaja pindah kembali ke kota ini karena kantor tempatnya bekerja memutasinya ke kota ini. Syukurlah.***Aku seperti penguntit yang terus mengikuti aktivitas Nasya. Terkadang aku seperti orang bodoh yang menunggunya sampai selesai bekerja. Kemudian pura-pura bertemu dengannya dan menawarinya tumpangan pulang. Bukan berarti aku tidak punya pekerjaan. Justru sekretarisku berulang kali menelponku saat aku sedang kelayapan di luar menjadi penguntit Nasya. Pekerjaanku sedikit tercecer, tidak masalah asal aku bisa mendapatkan Nasya.Sebelum aku menyatakan perasaanku padanya, tentu saja aku harus mendekatinya dulu agar dia tidak terkejut saat aku langsung menyatakan perasaanku. Apalagi aku masih berstatus sebagai tunangan Misya, saudaranya.Berulang kali aku menawari mengantarnya, berulang kali pula dia menolak ajakanku. Ada saja alasannya. Entah kenapa Nasya selalu menghindari kontak mata denganku seakan-akan takut perasaannya terbaca lewat mata. Aku curiga, jangan-jangan dia juga punya perasaan yang sama denganku."Kenapa sih kamu selalu nolak setiap aku mau antar pulang, sya?", tanyaku saat aku menawarinya lagi"Apa pacar kamu marah kalo aku antar pulang ?", lanjutku ingin mengorek seputar kehidupan pribadinya."Nggak kok. Lagian kan aku udah biasa naik kendaraan umum kalo pulang. Selain itu, arah kita kan juga beda"."Jadi bukan karena pacar kamu marah ?", pancingku lagi."Ngapain juga pacar aku harus marah. Orang punya pacar aja nggak", jawabnya dengan tersenyum. Yes!"Kalo gitu aku nggak nerima alasan penolakan kamu cuma karena kita beda arah. Sekali-kali nggak apa-apa kan kalo antar kamu", sahutku memaksanya.Akhirnya setelah aku memaksanya lagi, Nasya langsung mengiyakan ajakanku. Aku tersenyum bahagia akhirnya bisa berduaan dengan Nasya di dalam mobil.***Saat mama mengundang Misya dan keluarganya makan malam ke rumah, aku sudah curiga ada hal penting yang ingin mama sampaikan. Dan benar saja, mama membicarakan tanggal pernikahanku dengan Misya yang akan diadakan sebentar lagi. Misya terlihat antusias, tapi aku tidak. Aku masih berusaha mencari cara agar pernikahan nanti dibatalkan. Apalagi kehadiran Nasya di acara makan malam tersebut membuatku semakin serba salah.Jadi saat Nasya izin ke toilet, aku diam-diam mengikutinya. Tau-taunya dia malah ke kolam renang dan merendamkan kakinya. Sepertinya dia sedang melamun."Kamu ngapain disini, sya?", tanyaku setelah mutuskan menghampirinya."Aku....cuma cari angin", jawabnya agak risih, mungkin karena kehadiranku."Emangnya nggak terlalu dingin apa disini ?".Nasya hanya menggeleng.Sepertinya sudah saatnya aku menyatakan perasaanku pada Nasya sebelum semuanya terlambat. "Nasya, kamu ikut aku deh", ucapku langsung menarik tangannya menuju taman belakang.Aku menggenggam tangannya "Aku mau jujur sama kamu sya", ucapku menatapnya lekat."Aku cinta sama kamu", lanjutku kemudian.Nasya terlihat terkejut mendengar ucapanku. Sepertinya dia tidak percaya, karena tiba-tiba dia melepaskan genggaman tanganku."Asal kamu tau sya, perasaan ini sudah ada semenjak 7 tahun yang lalu. Bahkan sebelum kamu donorin darahmu untukku. Aku terlalu malu untuk ngungkapin perasaan ini mengingat perbuatanku yang keterlaluan sama kamu""Ketika aku siuman dan mengetahui kamu sudah pergi, aku bener-bener menyesal telat mengatakannya, ditambah lagi saat aku tahu kamu yang donorin darah untukku", jelasku"Aku sadar kalo perasaanku pada Misya hanya kekaguman saja. Gadis yang bener-bener kucintai adalah kamu sya. Bukan Misya tapi kamu". Aku benar-benar berharap Nasya mempercayai ucapanku."Kamu tau, aku sudah berusaha mencarimu selama ini, tapi aku tidak mendapat petunjuk. Bahkan kata Misya, kamu nggak memberitahunya daerah tempat tinggalmu. Aku sangat bahagia saat tiba-tiba kita dipertemukan. Dan aku sudah bertekad saat kita pertama bertemu tidak akan melepaskan kamu lagi. Aku nggak mau kehilangan kamu untuk yang kedua kalinya. Aku bener-bener sayang sama kamu Nasya".Nasya menggeleng."Kamu bohong lang. Aku nggak percaya sama kamu. Nggak seharusnya kamu ngomong kayak gini. Ini sama saja kamu menghianati cinta Misya"."tapi Nasya...".Nasya sudah berlari meninggalkanku sebelum aku menjelaskan lebih lanjut padanya. Pasti dia pikir aku malah menghianati Misya dengan mengutarakan perasaanku padanya.Entah apa yang harus aku lakukan agar Nasya percaya padaku.***Hari-hari selanjutnya, Nasya benar-benar menghindariku. Bahkan dia tidak pernah memberiku kesempatan untuk bicara apapun padanya.Di sisi lain, keluargaku semakin antusias mengatur acara pernikahanku dengan Misya.Aku ingin mengatakan pada mereka untuk membatalkan pernikahan ini. Tapi setelah aku berpikir, aku akan menunggu pernikahan ini tiba untuk melihat sejauh mana Nasya akan terbuka padaku. Aku semakin yakin kalau Nasya juga memiliki perasaan yang sama. Mungkin saja dia tidak mau jujur karena tidak ingin menyakiti Misya.Namun, pada saat acara pernikahan telah tiba, Nasya malah berencana keluar kota karena urusan pekerjaan. Misya yang mengatakannya saat aku bertanya keberadaan Nasya. Aku tidak menyangka dia justru menghindar. Baiklah, kalau Nasya ingin menghindar, maka aku yang akan mengejarnya.Hari itu juga, aku langsung membatalkan pernikahanku dengan Misya. Aku jujur mengenai perasaanku selama ini bahwa aku hanya mencintai Nasya . Tentu banyak orang yang kecewa teruama dari pihak Misya. Sebenarnya aku tidak tega pada Misya, dia kelihatan sangat sedih dengan batalnya pernikahan ini. Aku memang bajingan karena telah menghancurkan hatinya. Tapi percuma saja aku hidup dengannya disaat aku mencintai gadis lain, ujung-ujungnya dia sendiri yang akan menderita. Aku juga tidak ingin kehilangan Nasya untuk kedua kalinya.Syukurlah Misya mnerima keputusanku dengan lapang dada. Aku hanya berharap Misya bisa mendapatkan laki-laki yang lebih baik, yang bisa mencintainya suatu hari nanti.***Aku langsung mengejar Nasya ke bandara setelah pembatalan pernikahan, berharap dia belum pergi. Dan akhirnya doaku terkabul."Nasya.............!!" Teriakkku menghampiri Nasya dari kejauhan."Kamu mau ninggalin aku lagi ?", cecarku di hadapannya."Elang, kamu kok ?". Nasya terlihat bingung memandangku dan keluargaku serta Misya di belakang."Aku kan udah bilang sama kamu, aku nggak mau kehilangan kamu yang kedua kalinya. Misya udah tau semuanya kalo aku hanya mencintai kamu, jadi jangan pergi dari aku", jelaskuAku melepaskan koper di genggaman Nasya "Aku bener-bener cinta sama kamu sya. Aku tau sikap aku dulu memang sangat kasar dan keterlaluan sama kamu. Tapi kamu harus tahu kalo itu adalah penyesalan terbesar dalam hidupku", ujarku memandangnya sendu."Aku bener-bener nggak ngerti deh, bukannya ini hari pernikahan kamu sama Misya, tapi kok...""Aku sengaja batalin pernikahanku sama dia", jawabku. "Awalnya aku ingin batalin saat kamu datang. Tapi kata Misya kamu akan berangkat ke luar kota hari ini. Makanya aku langsung ke sini"."Kamu kenapa jahat banget sama Misya, lang ? Misya itu sangat mencintai kamu. Dan dengan teganya kamu batalin pernikahan ini"."Kalaupun pernikahan ini berlanjut, aku juga nggak akan bisa bahagiain Misya. Justru akan semakin membuatnya menderita kalau tau selama ini aku nggak mencintai dia, melainkan mencintai saudaranya yaitu kamu". Jelasku lagi berharap Nasya mengerti.Misya menghampiri Nasya "Elang bener-bener mencintai kamu sya", jelas Misya"Misya, Elang, kalian jangan bercanda deh. Ini semua nggak lucu tau". Nasya sepertinya masih tidak percaya."Kami nggak bercanda Nasya", sahutku"Sebenarnya aku udah dengar pembicaraan kamu dan Elang saat malam itu. Dan semenjak itu, aku jadi tau kalo gadis yang dicintai Elang itu kamu, bukan aku". Jawab Misya. Dan aku baru tahu kalau Misya mendengar semuanya malam itu. Tapi dia sengaja menyembunyikannya."Maafin aku Misya, aku nggak bermaksud merebut Elang dari kamu. Kamu tenang aja, aku sama Elang nggak ada apa-apa kok, aku.....""Sya, kamu nggak perlu minta maaf. Kamu nggak salah. Perasaan itu nggak bisa dipaksain. Mulai sekarang aku sama Elang cuma temenan kok. Bahkan mungkin aja sebentar lagi kami akan jadi saudara ipar", jawab Misya tersenyum pada Nasya.Aku ikut tersenyum mendengar pernyataan Misya."Aku bener-bener rela kok kamu bisa bersama dengan Elang. Elang itu sebenarnya baik dan perhatian meskipun dulu dia sempat kasar sama kamu. Aku yakin kamu akan bahagia bersamanya".Misya lalu meninggalkan kami berdua.Aku kembali menggenggam tangan Nasya. "Percaya sama aku sya kalo aku bener-bener mencintaimu"."Sya, kamu dengerin aku kan. Apa yang harus kulakukan agar kamu percaya sama aku ?"Nasya menggeleng. "Aku percaya sama kamu. Cuman aku......aku masih ragu", jawab Nasya menunduk. "Ini terlalu cepat buat aku menerima semuanya", lanjutnya."Aku ngerti. Kita bisa mulai hubungan ini secara perlahan. Aku nggak akan maksain kamu nikah sekarang. Kita coba pacaran dulu sebelum memutuskan ke jenjang yang lebih serius"."Terus bagaimana dengan keluarga kamu ? Aku tau mama kamu nggak suka denganku"."Kamu tenang aja, keluarga aku nggak ada masalah kok. Mereka selalu ngedukung keputusan aku. Sama seperti aku dulu, mama hanya salah paham sama kamu". Jelasku. Mama memang sempat tidak menyukai Nasya karena aku juga, tapi semenjak Nasya mendonorkan darahnya untukku, mama juga mulai menyadari kalau Nasya gadis yang baik."Aku ingin menjalani hari-hariku denganmu. Dan aku akan mencintai kamu selamanya sampai ajal memisahkan kita. Kamu percaya kan ?". Nasya mengangguk. Aku langsung memeluknya dengan perasaan bahagia yang membuncah.Akhirnya aku bisa mendapatkan Nasya.***Sebenarnya sepulang dari bandara, aku menawarkan pada Nasya untuk menikahinya saat itu juga. Tapi Nasya langsung menolak karena terlalu terburu-buru, apalagi dia belum percaya sepenuhnya denganku.Akhirnya hari-hari selanjutnya aku habiskan waktu untuk meyakinkan Nasya bahwa aku tulus mencintainya dan serius ingin menikahinya.Berali-kali aku melamarnya, berkali-kali pula aku ditolaknya.Aku tau Nasya masih tidak enak pada Misya. Dia selalu merasa jahat telah merebutku dari Misya. Andai dia tahu akulah yang paling bajingan di sini karena nyata-nyatanya sedikit memanfaatkan Misya untuk mendapatkannya.Tapi yang aku syukuri, Nasya sudah lebih terbuka padaku. Aku tahu wataknya memang cuek, tapi setidaknya dia sering mengungkapkan ekspresinya padaku, baik itu kesal, tersenyum maupun tertawa. Dan aku sangat bahagia bisa melihat semua itu.Rasanya menyenangkan bisa menghabiskan waktu bersamanya sepanjang hidupku.Aku bahkan menyuruh mama agar membujuk Nasya cepat menerima lamaranku. Oh yah, semenjak aku berhubungan dengan Nasya, mama juga sudah mulai akrab dengannya. Tapi bujukan mama tidak mempang juga ternyata.Tapi aku tidak pernah menyerah membujuk Nasya menerima lamaranku."kamu masih belum mau menerima lamaranku sya. Aku udah beberapa kali lamar kamu loh. Tapi alasan kamu belum siap melulu", cebikku dengan muka memelas pada Nasya."kita kan baru bersama belum satu tahun, lang. Masa langsung ngajak aku nikah"."loh emang kenapa? kan kita saling mencintai. Aku juga nggak mau lama-lama pacaran sama kamu"."dulu kamu aja pacaran sama Misya 7 tahun baru merencanakan pernikahan. Lah, kita belum jalan satu tahun kamu udah ngajak nikah"."kan aku udah jelasin sama kamu sayang kalau aku nggak pernah mencintai Misya. Mungkin aja itu alasan aku selama ini nggak pernah antusias ngajak dia berhubungan serius. Meskipun sebenarnya aku merasa bersalah sih karena merasa mempermainkan Misya selama ini. Hati aku udah yakin bahwa aku cinta sama kamu, tapi aku tetap nggak tega mengatakan pada Misya yang sebenarnya karena bisa melukai hatinya apalagi kalian bersaudara. Ternyata dari awal rasa yang aku miliki padanya hanya kekaguman belaka bukan cinta".Nasya menghela napas. "sejujurnya aku masih nggak enak sampai sekarang lang sama Misya makanya aku masih belum mau menikah sama kamu. Aku ngerasa jadi wanita jahat karena merebut kamu dari Misya". Lihat kan, dia masih tidak enak pada Misya.Aku merengkuh Nasya ke pelukanku. "sayang, kan aku udah bilang kamu nggak perlu ngerasa bersalah. Misya juga udah bilang kan sama kamu kalau dia baik-baik aja"."aku tau. Tapi tetap aja aku nggak enak. Kayaknya aku baru tenang kalau Misya udah punya pasangan yang mencintainya"."jangan bilang kamu baru mau menikah denganku setelah Misya menikah. Aku nggak mau yah sya kamu punya pikiran begitu. Aku tau Misya sangat menyayangi kamu begitupun kamu, tapi kamu nggak perlu mengorbankan apa-apa sayang. Kamu mau ngegantungin aku terus yah. Gini deh, aku akan bilang sama Misya kalau aku ingin segera nikahin kamu"."jangan lang. Kamu nggak boleh ngomong begitu dulu. Lagian kan aku belum menerima lamaran kamu"."terus gimana? Atau kamu mau aku ngenalin Misya ke beberapa temanku, barangkali ada yang cocok sama dia"."loh kok kamu malah mau jodohin dia"."yah habisnya kamu alasannya nggak enak melulu nerima lamaranku kalau Misya belum dapat pasangan, makanya aku sekalian jodohin dia aja"."aku juga bingung lang. Di lain sisi takutnya Misya tersinggung atau terpaksa gitu"."makanya kamu nggak usah nungguin Misya dulu dapat pasangan baru mau menerima lamaranku sya. Biarkan Misya yang memilih pasangannya kelak. Aku yakin kok Misya pasti mendapatkan laki-laki yang akan mencintainya seperti aku mencintai kamu".Nasya terdiam, sepertinya dia mulai memikirkan upacanku"jadi kamu mau yah menerima lamaranku. Aku ingin kamu jadi istriku secepatnya", Aku memandang Nasya dengan lekat.Akhirnya Nasya menganggukkan kepalanya."yes....!!", pekikku bahagia sambil menggendong Nasya memutar.Nasya tertawa melihat ekspresiku. Astaga! Aku menyukai tawa itu." i love you sayang", ucapku." me too ", jawabnya tersenyum.***Harus kukatakan bahwa hari yang paling membahagiakan dalam hidupku adalah hari pernikahanku dengan Nasya.Setelah sekian lama menunggu, akhirnya Nasya resmi menjadi istriku. Oh! Aku adalah laki-laki paling bahagia di muka bumi ini.Nasya dengan gaun pengantinnya sangat bersinar di hari bahagia kami. Terlihat jelas kan kalau dia juga sangat bahagia dengan pernikahan ini.Aku juga bersyukur karena Misya ikut andil dalam membantu pesta pernikahan kami. Setidaknya Nasya akan merasa lega karena dengan itu dia yakin bahwa Misya sudah benar-benar rela melihat aku dan Nasya bersama dan bahagia.Semoga dia juga menemukan kebahagiaannya seperti aku dan Nasya yang bahagia sampai akhir hayat kami.I love you my wifeThe End
Misya
Setelah kematian mama, aku sudah merasakan kesepian. Papa suka sibuk dengan urusan kantornya, bukan berarti beliau tak sayang padaku. Justru papa sangat memanjakan aku meskipun tidak bisa menemaniku sesering mungkin.Keinginan papa untuk memiliki pendamping baru adalah hal yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Tapi aku juga nggak mungkin melarangnya. Papa berhak bahagia. Aku tau papa pasti juga kesepian tidak ada yang menemaninya. Makanya ketika papa membawa tante Elsa ke rumah, aku tidak punya pilihan lain selain menerimanya.Tante Elsa sebelumnya adalah tetangga kami yang tinggal bersama anaknya, Nasya. Aku tidak terlalu mengenal Nasya meskipun rumah kami berdekatan. Bisa dikatakan, dia orangnya agak cuek dan tidak suka terlalu bergaul. Kami tentunya beberapa kali berpapasan, aku berusaha tersenyum menyapanya, tapi dia hanya menyapaku datar. Tapi meskipun begitu, aku tau kalau dia sebenarnya orang baik.Aku nggak terlalu tau gimana papa bisa punya hubungan dengan tante Elsa, bukan berarti selama ini mereka tidak pernah bertemu. Saat mama masih hidup, tante Elsa sebenarnya sering ke rumah, apalagi saat ibu-ibu komplek perumahan mengadakan arisan. Cuma aku memang nggak terlalu akrab dengannya.Jadi, saat tante Elsa sudah menjadi istri papa, kami pindah rumah. Papa bilang, dia sudah membeli rumah sebelumnya untuk kami tempati. Menurutnya terlalu banyak kenangan dengan mama di rumah lama kami, bukan berarti kami ingin melupakan mama.Aku dan Nasya akhirnya juga pindah sekolah. Sebelumnya kami memang tidak pernah satu sekolah. Tapi setelah pindah, papa memasukkan kami di sekolah yang sama agar kami bisa berangkat bareng. Aku dan Nasya memang satu angkatan.Sikap Nasya setelah kami tinggal bersama sebenarnya tidak banyak berubah, meskipun agak cuek tapi dia mulai akrab denganku. Ternyata memang pembawaannya seperti itu, cuek dan tomboy namun sebenarnya baik hati. Yang membuatku kagum padanya karena Nasya selalu kerja paruh waktu setiap pulang sekolah, padahal papa sudah cukup memenuhi kebutuhan kami, tapi tetap saja dia ingin mandiri, apalagi sebelum tinggal bersama kami, Nasya memang selalu kerja. Berbeda denganku yang sedari kecil selalu dimanja papa dan mama apalagi semua yang aku butuhkan selalu terpenuhi.***Aku kira dengan masuknya tante Elsa dan Nasya ke keluarga kami akan membawa kebahagiaan baru untukku dan papa. Tapi ternyata nggak seperti yang kubayangkan.Awalnya tante Elsa sangat baik dan perhatian padaku, tapi lambat laun dia berubah. Dia selalu semena-mena terhadapku. Di depan papa dia berpura-pura baik dan menyayangiku, tapi di belakang tante Elsa selalu menyiksaku. Pekerjaan pembantu terkadang aku yang mengerjakan. Tante Elsa mengancamku kalau aku mengadu pada papa, apalagi aku nggak punya bukti perlakuannya. Tapi setidaknya Nasya berbeda, berulang kali dia sering bertengkar dengan mamanya karena selalu menyiksaku. Nasya selalu membelaku, bahkan ketika aku dihukum atau disuruh mengerjakan pekerjaan rumah, Nasya selalu membantuku. Meskipun dia cuek, dia selalu minta maaf atas perlakuan mamanya.***Kepindahanku bersama Nasya ke sekolah baru membuatku bertemu dengan Elang. Dia adalah kakak kelasku bersama Nasya. Awal pertemuan kami saat aku dan Nasya di hukum karena kami terlambat. Elang sebagai ketua osis yang langsung turun tangan menghukum kami. Awalnya aku merasa Elang sangat galak, tapi lambat laun aku menyadari kalau dia sangat baik dan perhatian.Dan itulah, awalnya aku mulai jatuh cinta dengan Elang.Awalnya kami hanya berteman. Aku dan Elang bahkan Nasya sering keluar bersama, kami mulai mengenal satu sama lain. Elang sering membawaku ke rumahnya. Ternyata mama Elang dulunya bersahabat dengan mamaku, makanya mama Elang langsung menyukaiku saat kami pertama kali bertemu. Sebenarnya aku juga sering mengajak Nasya ikut bersama kami, tapi kadangkala dia selalu menolak dengan berbagai alasan.Elang adalah lelaki yang sangat tampan dan menjadi idola di sekolahku. Sikapnya sangat ramah kepada semua orang. Tapi yang aku bingungkan, dia selalu cuek dengan Nasya berbeda dengan teman yang lain dan denganku, padahal aku dekat dengan Nasya, tapi tetap saja setiap kami dalam keadaan bertiga, Elang dan Nasya jarang bahkan hampir tidak pernah bertegur sapa. Kalau tidak ada aku diantara mereka, pasti selalu terjadi kecanggungan karena mereka sama-sama cuek. Bisa dibilang aku adalah orang yang sangat ceria dan mudah berbaur dengan orang lain. Makanya aku punya banyak teman di sekolah, apalagi kedekatanku dengan Elang membuat banyak orang mengenalku.***Puncaknya saat itu aku disiksa oleh tante Elsa pulang kemalaman karena keluar bersama Elang. Tante Elsa menamparku sampai menimbulkan bekas di pipiku. Elang yang menyadari itu mulai mengintrogasiku. Akhirnya karena paksaan Elang, aku jujur padanya."jadi selama ini mama tiri kamu dan Nasya selalu jahat sama kamu?". Elang sangat marah saat mendengar penjelasanku."mama tiri aku memang kayak gitu lang, tapi Nasya beda, dia justru baik banget sama aku"."alah..palingan dia cuma pura-pura baik aja di depan kamu padahal dia juga serigala berbulu domba seperti mamanya"."nggak lang. Meskipun Nasya memang cuek, tapi dia sebenarnya baik banget"."tetep aja aku nggak percaya sama dia. Pokoknya kalau lain kali kamu disiksa sama mama tiri kamu ataupun Nasya, kamu harus bilang sama aku".Meskipun sudah kujelaskan, Elang tidak pernah percaya pada Nasya. Setiap kami bersama, pasti Elang selalu memandang sinis padanya, bahkan terkadang mengeluarkan kata-kata tajam.***Hal yang membuatku bahagia adalah ketika aku mulai berpacaran dengan Elang. Akhirnya cintaku nggak bertepuk sebelah tangan. Elang menyatakan perasaannya padaku di kelas saat aku bersama Nasya dan teman-temanku. Tentu saja aku langsung menerimanya karena akupun mencintai Elang.Tapi semenjak saat itu juga, tante Elsa semakin menyiksaku karena berpacaran dengan Elang. Aku nggak tau kenapa tante Elsa benci melihatku pacaran dengan Elang. Katanya bukan aku yang pantas mendapatkan Elang.Tapi yang aku syukuri, aku selalu punya tempat curhat, yaitu Elang dan keluarganya. Semenjak mama Elang mengetahui kalau aku disiksa oleh tante Elsa, beliau juga mulai menunjukkan kebenciannya. Sama seperti Elang, mamanya juga tidak menyukai Nasya, padahal aku sudah menjelaskan berulang kali padanya. Bahkan saat itu, aku dan Nasya ke rumah Elang makan malam karena diajak Elang. Sebenarnya dia tidak mengajak Nasya, namun aku memaksanya. Begitupun dengan Nasya, dia menolak kalau bukan aku yang memaksanya juga. Aku hanya ingin hubungan mereka menjadi baik, karena biar bagaimanapun mereka adalah orang yang dekat denganku. Nasya adalah saudaraku sedangkan Elang adalah pacarku.Tapi saat Nasya bertemu dengan mama Elang, dia langsung ditatap dengan kebencian. Bahkan mama Elang mencaci-maki Nasya sebagai orang yang jahat. Nasya yang dicaci maki hanya diam dan pasrah tanpa melawan atau membela diri. Aku juga bingung kenapa Nasya kelewat diam dan cuek saat ada orang yang mencacinya. Begitupun saat dia dicaci maki Elang, dia hanya diam tanpa melawan.Akhirnya semenjak itu, aku nggak pernah lagi memaksa Nasya ke rumah Elang setiap kali Elang membawaku ke sana, karena aku nggak mau Nasya selalu menjadi pelampiasan kemarahan Elang dan keluarganya.***Yang membuatku tidak habis pikir saat aku terjatuh dari tangga sekolah karena terpeleset. Aku yang saat itu bersama Nasya membuat Elang menuduhnya sengaja mencelakanku, padahal aku sendiri yang salah karena tidak hati-hati. Elang bahkan menampar Nasya di depan banyak orang. Aku sudah menjelaskan pada Elang tapi seperti sebelumnya dia nggak percaya dan tetap menganggap Nasya memang orang yang jahat."Nasya sama sekali nggak salah lang. Justru dia yang nolong aku saat jatuh", jelasku pada Elang."Mungkin aja itu cuma akal-akalan dia aja. Dia sengaja yang membuat kamu jatuh, terus pura-pura nolongin kamu", balas Elang dengan mimik wajah kesal.Aku menggeleng."Nasya nggak kayak gitu. Dia adalah saudara yang baik meskipun hanya saudara tiri. Mungkin alasan kamu membenci Nasya karena mengira dia selalu menyakiti dan berbuat jahat sama aku. Tapi nggak lang. Justru Nasya selalu bantuin dan nolongin aku. Apalagi kalo mama nyakitin aku"."Mereka kan ibu dan anak kandung. Jadi bisa aja kan mereka bersekongkol", sahut Elang masih dengan kekeraskepalaannya. Dia selalu meyakinkan dirinya bahwa Nasya adalah cewek jahat."Aku nggak tau kenapa kamu terlalu berpikiran negatif sama Nasya. Tapi emang itulah kenyataannya. Nasya sangat berbeda dari mama Elsa. Meskipun Nasya agak cuek, tapi sebenarnya dia baik banget. Kamu percaya deh sama aku lang. Aku cuma nggak mau kamu terlalu jauh salah paham sama Nasya yang jelas-jelas nggak salah".Kali ini Elang hanya terdiam. Semoga saja dia memikirkan baik-baik perkataanku***Kejadian yang paling membuatku shock adalah saat aku keluar makan malam bersama papa dan Elang, dimana sebelumnya kami sudah mengajak Nasya tapi menolak karena capek habis bekerja.Di saat makan malam sedang berlangsung di restoran yang kami kunjungi, tiba-tiba Nasya datang dengan wajah awut-autan dan dipenuhi keringat seperti habis berlari dan terburu-buru ke sini, ditambah lagi dia terisak dan bersujud di depan kaki papa dan aku sambil meminta maaf. Kami, aku, papa dan Elang tentu saja terkejut. Tapi yang lebih membuatku terkejut saat Nasya menjelaskan kalau tante Elsa adalah dalang dari kematian mama. Tante Elsa sengaja mencelakakan mama karena ingin masuk ke keluarga kami. Motif utamanya adalah harta.Nasya bahkan memohon untuk memenjarakan mamanya karena dia malu dengan perbuatan mamanya selama ini. Aku nggak habis pikir, tante Elsa tega melakukan itu pada mama yang selama ini baik padanya.Sepulang dari restoran tante Elsa langsung ditangkap polisi karena papa sudah melaporkannya disertai saksi yanitu Nasya sendiri. Tante Elsa sempat mencaci maki Nasya karena dia menjerumuskan ibunya sendiri ke penjara. Nasya hanya terdiam sambil terisal mendengar segala caci maki mamanya. Aku tau Nasya juga tidak tega mamanya di penjara, tapi dia juga tidak ingin kejahatan mamanya disembunyikan. Aku sangat kagum padanya. Aku tau dia memang gadis yang sangat baik.***Semenjak kejadian itu, Elang sudah nggak memandang lagi Nasya dengan sinis ataupun mencaci makinya. Tapi tetap saja sikap mereka selalu datar saat bertemu. Nasya sempat ingin keluar dari rumah karena merasa tak pantas, tapi aku dan papa bersikeras melarangnya. Biar bagaimanapun Nasya sudah kuanggap sebagai saudaraku terlepas dari kelakuan mamanya yang jahat. Tapi semenjak saat itu juga, Nasya semakin tertutup.Entah hanya perasaanku saja, tapi ada yang beda dengan tatapan Elang setiap kali bertemu dengan Nasya. Sebenarnya dari dulu aku sudah menyadarinya, tatapan mata Elang sangat berbeda saat memandang Nasya dan saat memandangku. Aku juga tidak bisa mengartikannya. Berbeda lagi dengan Nasya yang selalu sulit kutebak. Tapi yang ku sadari, dia semakin cuek dengan Elang dan selalu menghindar setiap kali aku bersama Elang. Apa dia juga sudah mulai membenci Elang? Entahlah.***Saat Nasya memutuskan untuk pindah kota ke rumah jauh sudaranya, aku mati-matian menolak karena nggak mau berpisah dengannya, biar bagaimanapun aku sangat menyayangi Nasya sebagai saudaraku. Tapi Nasya bahkan lebih ngotot ingin pergi dan berjanji akan terus mengabariku. Akhirnya aku merelakannya meski membuatku sedih, apalagi Nasya pergi sebelum Elang sadar dari komanya.Yah, Elang kecelakaan mobil dan tidak sadar selama sebulan. Dalam waktu sebulan itu, banyak yang terjadi, Elang kehilangan banyak darah dan membutuhkan donor. Papa Elang yang golongan darahnya sama tidak bisa saat itu karena riwayat penyakitnya. Entah kebetulan atau tidak, golongan darah Nasya sama dengan Elang. Akhirnya dia yang mendonorkan darahnya buat Elang. Aku nggak menyangka Nasya begitu baik menolong Elang padahal hubungan mereka sebelumnya tidak baik. Seandainya Nasya benar-benar membenci Elang, pasti dia nggak akan repot-repot menawarkan diri mendonorkan darahnya.Saat Elang sadar dari komanya, aku menjelaskan semuanya pada Elang. Elang memang tak berkomentar apa-apa, tapi aku tau dia juga merasa bersalah karena selama ini selalu berpikiran negatif pada Nasya. Namun sayang, Elang dan Nasya nggak bisa bertemu lagi, padahal aku yakin hubungan mereka pasti membaik dan akur.Setelah kejadian itu, aku mulai merasa sikap Elang semakin aneh. Bukan berarti dia kasar atau acuh padaku. Elang tetap perhatian seperti biasanya. Tapi saat bersamaku, aku terkadang mendapatinya melamun dan tidak berfokus padaku.***Setelah 7 tahun akhirnya Nasya kembali. Aku sangat bahagia bisa bertemu lagi dengannya. Selama ini kami hanya berhubungan lewat media sosial. Tapi bukannya tinggal bersama, Nasya lebih memilih mengontrak rumah yang tak terlalu jauh dari kantor tempatnya bekerja. Bukan tanpa alasan Nasya pindah, itu karena pekerjaannya.Aku biasa melihat ekspresi shock di mata Elang saat aku mengajak Nasya pertama kali bertemu dengannya. Sama seperti 7 tahun yang lalu, mereka tetap saling cuek. Aku semakin bingung dengan mereka.Aku dan Elang sudah bertunangan setahun yang lalu. Lebih tepatnya keluarga Elang yang memaksa kami bertunangan secepatnya. Elang pernah mengatakan padaku bahwa dia belum siap bertunangan apalagi menikah, tapi karena paksaan dari mamanya, akhirnya kami bertunangan. Aku tentu sangat bahagia karena aku mencintai Elang, tapi entah kenapa Elang nggak terlalu antusias sepertiku. Saat pertunangan, aku sudah mengundang Nasya tapi dia nggak sempat datang karena pekerjannya. Dan sebentar lagi kami akan menikah. Syukurlah Nasya sudah bisa menghadiri pernikahanku nanti karena kami tinggal di kota yang sama sekarang. Sebenarnya pernikahan ini pun atas paksaan dari mama Elang karena katanya kami sudah terlalu lama berpacaran.***Kejadian lain yang membuatku tidak pernah membayangkan sebelumnya ketika kami, aku, papa dan Nasya diundang makan malam ke rumah Elang untuk membicarakan pernikahan kami. Nasya yang kalau bukan karena paksaan tidak bakalan datang karena merasa keluarga elang masih memusuhinya, namun aku sudah menjelaskan kalau keluarga Elang sudah menerimanya.Aku melihat Elang menghampiri Nasya yang sedang duduk di pinggir kolam. Aku pikir Elang ingin memperbaiki hubungannya dengan Nasya yang selama ini terasa kaku. Tapi saat Elang meraih tangan Nasya dan mengajaknya ke taman belakang, aku mulai curiga dan mengikuti mereka. Dan benar saja, Elang mengakui perasannya selama ini pada Nasya bahwa Elang mencintai Nasya bukan diriku. Selama ini dia hanya kagum pada kecantikanku. Elang juga mengaku sangat menyesal pernah berbuat kasar pada Nasya. Perasaanku hancur dan patah hati, tentu saja. Aku nggak menyangka selama 7 tahun kami berpacaran, Elang sama sekali tidak menaruh perasaan cinta padaku. Itu kah sebabnya dia tidak terlalu antusias dengan pertunangan kami. Bahkan aku baru menyadari sikap Elang selama kepergian Nasya adalah bentuk cintanya pada Nasya. Dan itu berarti Elang memang sudah mencintai Nasya pada awalnya. Yang nggak aku habis pikir, kenapa justru Elang menembakku dan malah bersikap cuek pada Nasya. Mungkin saja karena sikap Nasya yang selama ini juga cuek pada sekitar terutama pada Elang.Nasya yang mendengar pernyataan Elang tidak percaya bahkan mengatakan kalau Elang malah menghianatiku. Aku memang merasa sakit hati karena orang yang kucintai selama ini ternyata mencintai saudaraku sendiri. Aku marah pada Elang karena nggak jujur selama ini. Aku juga nggak menyalahkan Nasya, karena dia nggak pernah bermaksud menarik perhatian Elang.***Aku pura-pura nggak tau mengenai pernyataan cinta Elang pada Nasya. Aku ingin tahu sejauh mana Elang menyembunyikan perasaannya pada Nasya, apalagi sebentar lagi kami menikah. Semenjak kejadian itupun Nasya selalu menghindar setiap bertemu dengan Elang apalagi kalau ada aku. Aku nggak tau bagaimana perasaan Nasya yang sebenarnya pada Elang. Aku sulit menebak isi pikirannya, tapi aku tau kalau Nasya tidak pernah menatap Elang dengan lama seakan-akan takut perasaannya bisa dilihat. Apakah Nasya juga mencintai Elang?Elang juga semakin murung setelah kejadian itu, aku bisa melihat dia tidak pernah melepaskan pandangannya setiap kali bertemu dengan Nasya.Puncaknya saat hari pernikahan kami. Entah kenapa Nasya tiba-tiba nggak bisa datang karena harus keluar kota mengurus pekerjaannya. Setelah aku menjelaskan pada Elang bahwa Nasya nggak bisa hadir, Elang seketika membatalkan pernikahan kami. Dia mulai menjelaskan kepadaku dan keluarganya bahwa dia hanya mencintai Nasya. Kenapa dia tidak membatalkan pernikahan ini setelah pernyataan cintanya pada Nasya karena ingin melihat sejauh mana Nasya menutupi perasaannya. Elang merasa kalau Nasya juga mencintai dirinya. Dia menunggu pernikahan ini untuk melihat sejauh mana tindakan Nasya, tapi justru Nasya semakin menghindar. Elang berkali-kali meminta maaf padaku dan papaku. Dia nggak bermaksud mempermainkan perasaanku.Sejujurnya aku masih sakit hati. Bayangkan laki-laki yang kamu cintai mencintai saudarimu sendiri dan membatalkan pernikahan kalian. Tapi aku sadar, cinta memang nggak boleh dipaksakan. Kalau Elang dan Nasya memang saling mencintai, aku nggak mungkin tega menentang mereka.Setelah aku menjelaskan kepergian Nasya, Elang menyusul Nasya ke bandara berharap Nasya belum pergi. Dan syukurlah, Nasya memang belum berangkat saat Elang menghampirinya. Dari jauh aku bisa melihat Elang memeluk Nasya. Saat aku mendekat, Nasya menjelaskan kalau dia nggak bermaksud merebut Elang, dan aku percaya karena aku yakin Nasya gadis yang baik. Bahkan dia nggak langsung menerima Elang, tapi setelah Elang memohon-mohon, barulah dia memberikan kesempatan pada Elang. Nasya juga meminta maaf berkali-kali pada ku karena tidak pernah bermaksud merebut Elang. Meskipun aku mencintai Elang, aku bahagia kalau mereka bisa bersama karena mereka adalah orang yang aku sayangi.***Author's pov"kamu masih belum mau menerima lamaranku sya. Aku udah beberapa kali lamar kamu loh. Tapi alasan kamu belum siap melulu", cebik Elang dengan muka memelas pada Nasya."kita kan baru bersama belum satu tahun, lang. Masa langsung ngajak aku nikah"."loh emang kenapa? kan kita saling mencintai. Aku juga nggak mau lama-lama pacaran sama kamu"."dulu kamu aja pacaran sama Misya 7 tahun baru merencanakan pernikahan. Lah, kita belum jalan satu tahun kamu udah ngajak nikah"."kan aku udah jelasin sama kamu sayang kalau aku nggak pernah mencintai Misya. Mungkin aja itu alasan aku selama ini nggak pernah antusias ngajak dia berhubungan serius. Meskipun sebenarnya aku merasa bersalah sih karena merasa mempermainkan Misya selama ini. Hati aku udah yakin bahwa aku cinta sama kamu, tapi aku tetap nggak tega mengatakan pada Misya yang sebenarnya karena bisa melukai hatinya apalagi kalian bersaudara. Ternyata dari awal rasa yang aku miliki padanya hanya kekaguman belaka bukan cinta".Nasya menghela napas. "sejujurnya aku masih nggak enak sampai sekarang lang sama Misya makanya aku masih belum mau menikah sama kamu. Aku ngerasa jadi wanita jahat karena merebut kamu dari Misya".Elang merengkuh Nasya ke pelukannya. "sayang, kan aku udah bilang kamu nggak perlu ngerasa bersalah. Misya juga udah bilang kan sama kamu kalau dia baik-baik aja"."aku tau. Tapi tetap aja aku nggak enak. Kayaknya aku baru tenang kalau Misya udah punya pasangan yang mencintainya"."jangan bilang kamu baru mau menikah denganku setelah Misya menikah. Aku nggak mau yah sya kamu punya pikiran begitu. Aku tau Misya sangat menyayangi kamu begitupun kamu, tapi kamu nggak perlu mengorbankan apa-apa sayang. Kamu mau ngegantungin aku terus yah. Gini deh, aku akan bilang sama Misya kalau aku ingin segera nikahin kamu"."jangan lang. Kamu nggak boleh ngomong begitu dulu. Lagian kan aku belum menerima lamaran kamu"."terus gimana? Atau kamu mau aku ngenalin Misya ke beberapa temanku, barangkali ada yang cocok sama dia"."loh kok kamu malah mau jodohin dia"."yah habisnya kamu alasannya nggak enak melulu nerima lamaranku kalau Misya belum dapat pasangan, makanya aku sekalian jodohin dia aja"."aku juga bingung lang. Di lain sisi takutnya Misya tersinggung atau terpaksa gitu"."makanya kamu nggak usah nungguin Misya dulu dapat pasangan baru mau menerima lamaranku sya. Biarkan Misya yang memilih pasangannya kelak. Aku yakin kok Misya pasti mendapatkan laki-laki yang akan mencintainya seperti aku mencintai kamu".Nasya terdiam mencerna ucapan Elang."jadi kamu mau yah menerima lamaranku. Aku ingin kamu jadi istriku secepatnya", Elang memandang Nasya dengan lekat.Akhirnya Nasya menganggukkan kepalanya."yes....!!", pekik Elang bahagia sambil menggendong Nasya memutar. Nasya tertawa melihat ekspresi Elang."i love you sayang".***Misya's povSaat mendengar Elang dan Nasya akan menikah, tentu saja aku bahagia untuk mereka. Meskipun mereka belum lama bersama, tapi aku yakin mereka akan langgeng dalam pernikahan. Sebenarnya aku tau hari di mana pembatalan pernikahanku dengan Elang dulu, Elang ingin langsung menikahi Nasya, tapi Nasya menolak karena dia masih ragu pada Elang.Aku sudah menghapus perasaan cintaku pada Elang. Aku yakin suatu saat bisa mendapatkan laki-laki yang mencintaiku. Seringkali aku melihat tatapan nggak enak Nasya padaku saat dia bersama Elang, seperti saat kami makan malam pasti Nasya masih canggung. Berbeda dengan Elang yang benar-benar luar biasa santai, bahkan seringkali aku melihatnya berusaha menggoda Nasya, tapi memang pada dasarnya Nasya yang cuek. Aku nggak cemburu, malahan terkadang aku tersenyum geli melihat tingkah Elang bila sudah bersama Nasya. Elang yang luwes dan sangat suka menggoda dan Nasya yang suka acuh tak acuh. Tapi aku yakin mereka saling mencintai. Aku bahkan baru menyadari tatapan cinta Elang pada Nasya yang berbeda dengan ku dulu. Elang nggak pernah menatapku seperti dia menatap Nasya yang membuatku yakin bahkan perasaan Elang dahulu memang hanya sebatas kagum.Untuk membuktikan pada Nasya bahwa aku benar-benar baik saja dia bersama Elang, aku ikut andil dalam persiapan pernikahan mereka. Semenjak Elang dan Nasya punya hubungan, mama Elang mulai akrab dengan Nasya. Seringkali mereka menghabiskan waktu bersama, Nasya bahkan selalu mengajakku. Sebenarnya mama Elang memang sudah menyadari kalau Nasya gadis baik semenjak dia mendonorkan darahnya saat Elang kecelakaan. Mama Elang juga pernah cerita bahwa Elang sangat berubah setelah menjalin hubungan dengan Nasya. Dia lebih terbuka dan bahagia. Bahkan Elang selalu menyuruh mamanya agar merayu Nasya supaya lamarannya cepat diterima.Dan disinilah aku, menyaksikan pernikahan Elang dan Nasya yang sangat mewah dan meriah. Terlihat sepasang pengantin begitu bahagia dan bersinar. Dari Elang dan Nasya aku belajar yang namanya cinta sejati. Meskipun awalnya mereka saling cuek dan saling menyembunyikan perasaan masing-masing, bahkan mereka pernah berpisah begitu lama, tetap saja mereka kembali bersama karena cinta yang kuat diantara mereka.Aku bahagia melihat Elang dan Nasya bahagia.Kini giliranku yang akan menjemput kebahagiaanku sendiri.The End
Alice
"bukankah sudah kukatakan, jangan biarkan putri Aneth selalu keluyuran tanpa seizinku !"."maafkan saya pangeran. Saya dan para pengawal lain sama sekali tidak menyadari kalau putri Aneth keluar secara diam-diam"."kalian memang tidak becus dalam menjaga satu orang saja. Sekarang kalau sudah begini bagaimana? Kalau sampai ayah dan ibu kembali dan tidak melihat Aneth, saya yang akan dianggap tidak bisa menjaga adik sendiri. Dasar Aneth.., sudah besar masih susah diatur"."maafkan saya sekali lagi pangeran"."tidak ada gunanya minta maaf. Sekarang kerahkan seluruh pengawal untuk mencari putri Aneth sampai ketemu. Cepat laksanakan..!"."baik pangeran". Para pengawal lalu berpencar untuk mencari putri Aneth ke seluruh pelosok wilayah kerajaan Western.Pangeran Arnold terus mondar mandir di ruang kerja karena mencemaskan putri Aneth, adik satu-satunya. "awas saja kalau dia sudah kembali. Akan kumarahi dia habis-habisan. Berani-beraninya dia selalu mengacuhkan perintahku ".***"apa tidak apa-apa putri, jika putri selalu datang ke tempat ini ? Bukankah putri pernah bercerita bahwa putri selalu dilarang untuk keluar jika bukan berhubungan dengan masalah kerajaan"."tenang saja Alice, itu tidak masalah. Meskipun aku tau, setelah aku pulang akan mendapatkan kemarahan dari istana, tidak apa-apa. Yang penting sekarang aku bisa bersama denganmu Alice dan anak-anak asuhanmu yang lain"."saya hanya tidak menyangka, putri kerajaan negeri ini bisa pergi ke tempat seperti ini. Putri terhormat seperti anda bisa berbaur dengan para rakyat miskin di sini"."bagaimana pun, mereka semua tetap rakyatku. Justru aku heran denganmu, meskipun aku belum terlalu tahu asal usulmu, tapi dari segi penampilanmu kamu tidak seperti orang biasa. Setiap hari kamu selalu datang ke tempat ini mengurus anak-anak yang terlantar, membantu rakyat miskin. Apa sebenarnya kamu berasal dari keluarga bangsawan ?".Alice tersenyum. "saya hanya rakyat biasa putri".Tiba-tiba para pengawal kerajaan datang. "maaf putri, kami diperintahkan pangeran Arnold untuk membawa putri kembali ke istana"."bagaimana kalian bisa tahu aku berada di sini ?"."itu tidak penting putri. Yang jelas silahkan ikut kami sekarang ke istana. Jika putri masih menolak, sesuai perintah pangeran Arnold, kami harus membawa putri dengan paksa"."putri Aneth, lebih baik anda segera kembali ke istana. Pangeran Arnold pasti cemas dengan keadaan anda".Putri Aneth akhirnya ikut bersama pengawal kerajaan.***"sudah berulang kali kukatakan, kau jangan terlalu mencampuri urusanku !"."bagaimana bisa aku tidak ikut campur. Ayah dan ibu menyuruhku untuk mengawasimu agar tidak selalu keluar dari istana. Ke mana saja kau seharian ini Aneth ?"."itu bukan urusanmu. Aku paling tidak suka dilarang-larang"."oh aku tahu. Pasti kau habis bertemu lagi dengan Alice. Gadis yang merubahmu menjadi seorang pembangkang"."kau jangan menyalahkan Alice. Aku ke sana bukan semata-mata ingin bertemu dengannya, tapi aku peduli dengan rakyat miskin disana. Bukankah itu memang yang seharusnya dilakukan sebagai penguasa di negeri ini"."kau jangan mengambil alasan terus Aneth. Ini terakhir kalinya aku peringatkan kepadamu".Putri Aneth langsung meninggalkan pangeran dan menuju ke kamarnya.***Putri Aneth masih tidak jerah juga. Meskipun sudah diperingatkan oleh pangeran Arnold, dia tetap mengunjungi tempat itu."apa keluarga kerajaan tidak akan marah jika putri datang lagi ke sini ?"."aku tidak peduli lagi Alice. Aku sudah muak dengan peraturan istana yang melarangku keluar-keluar. Terlebih pangeran Arnold, sungguh menyebalkan"."bagus yah, kau memang tidak pernah mendengarkan aku Aneth !", kata pangeran yang secara tiba-tiba datang diikuti pengawalnya di belakang.Mereka kaget bukan main. "apa yang kau lakukan disini ?"."harusnya aku yang bertanya balik, bukankah sudah kuperingatkan agar tidak ke tempat ini lagi. Dan kau Alice. Sampai kapan kau akan terus menghasut putri Aneth ? Apakah kau ingin dihukum oleh pihak kerajaan karena beraninya melakukan ini"."maafkan hamba pangeran, hamba tidak bermaksud...."."jangan salahkan Alice", potong Aneth. "dia sama sekali tidak bersalah. Ini kemauanku sendiri untuk datang ke tempat ini"."kau memang tidak bisa ditoleri Aneth. Sekarang cepat ikut aku ke istana"."aku tidak mau"."baik. Kalau begitu, pengawal akan membawamu dengan secara paksa".Aneth kemudian dibawa paksa oleh para pengawal yang dibawa pangeran Arnold."apa kau punya rencana licik terhadap kerajaan Western, Alice ?"."maafkan saya pangeran, saya tidak punya niat apa-apa"."kau jangan berbohong. Berapa jumlah uang yang kau inginkan, agar tidak terus mempengaruhi pikiran putri Aneth ?"."saya sama sekali tidak membutuhkan uang dari anda pangeran"."ternyata kau memang gadis yang pandai bersandiwara. Ku ingatkan kau Alice, jangan berani membuat masalah jika kau tak ingin dibawa ke istana untuk menerima hukuman". Pangeran Arnold langsung pergi.Alice menatap kepergian pangeran dengan wajah datar.***"aku heran denganmu. Mengapa kau begitu membenci Alice ?"."karena dia sudah mempengaruhimu "."Alice bukan gadis jahat seperti yang kau pikirkan. Apa kau tidak bisa menilai saat pertama melihatnya. Dia begitu lembut, tidak terlihat seperti gadis jahat. Justru aku kagum padanya. Dia tidak tanggung-tanggung untuk membantu rakyat miskin meskpun aku tidak tahu asalnya"."itulah yang kukhawatirkan. Bagaimana mungkin kau berani bergaul dengan gadis bahkan tidak kau tau asal-usulnya. Bisa saja kan dia dari keluarga penjahat. Sengaja mendekatimu karena ada niat jahat. Apalagi dia tahu kalau kau adalah adikku. Calon raja di negeri ini"."aku rasa penilaianmu sangat salah. Aku bisa melihat kalau Alice tidak seperti dugaanmu. Dia sangat murah hati, begitu mencintai rakyat. Andai saja dia menjadi ratu dimasa yang akan datang, aku yakin rakyat Western akan makmur dan tentram"."apa secara tidak langsung kau mengatakan agar menyuruhku untuk memilihnya sebagai calon istriku Aneth ? Jangan pernah bermimpi. Kau tahu, aku hanya akan menikahi gadis bangsawan. Bukan seperti Alice"."kenapa kau selalu melihat orang hanya dari segi martabat dan kekuasaannya. Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiranmu. Mungkin kau memang berbeda dari pemuda-pemuda disana. Mereka begitu tergila-gila dengan Alice karena kecantikan dan kelembutannya.Tidak sedikit dari mereka yang mengajukan diri untuk menikahi Alice. Tapi kau, malahan membencinya. Benar-benar aneh "."mungkin mata para pemuda itu saja yang tidak beres"."bukan, tapi mata kaulah yang tidak beres. Jika aku seorang pria, mungkin aku juga akan menyukai Alice. Sekarang aku tanya kepadamu, apakah kau sama sekali tidak ada perasaan suka terhadap Alice ?"."pertanyaan konyol apa yang kau tanyakan itu Aneth ?". Pangeran Arnold langsung meninggalkan Aneth."sepertinya, dia tidak jujur dengan perasaannya", pikir Aneth.***Kala itu pangeran tengah berburu ke hutan tanpa diikuti pengawalnya. Karena sudah terlalu jauh memasuki hutan, tanpa disadari pangeran sudah tersesat tidak menemukan jalan keluar."akh sial..! mengapa aku bisa tersesat ? ini sudah hampir petang, dan persediaan makananku pun sudah habis. Kalau aku menunggu sampai pagi, aku bisa-bisa kelaparan disini".Pangeran bisa melihat dari kejauhan seorang gadis membawa lentera. Gadis itu menuju ke arah pangeran.Oh, betapa kagetnya dia saat mengetahui gadis yang menghampirinya itu adalah Alice."pangeran ? apa yang anda lakukan disini pangeran ?"."itu bukan urusanmu !", kata pangeran dengan nada kasar."sepertinya anda tersesat. Bagaimana kalau anda ikut bersama saya. Tidak jauh dari hutan ini ada sebuah perumahan penduduk. Dan saya tinggal disana. Mungkin anda bisa beristirahat disana sampai menunggu matahari terbit dan pangeran baru bisa kembali ke istana"."apa kau punya niat jahat terhadapku ?"."tidak pangeran. Sebagai rakyat biasa, saya hanya berniat menolong anda, seorang calon pemimpin di negeri ini. Saya tidak ada maksud lain, hanya menawarkan bantuan. Karena saya lihat sepertinya pangeran sangat kelelahan dan tentunya lapar". Pangeran Arnold menatap Alice ."percayalah pangeran, saya tidak punya niat jahat dengan anda. Saya hanya berniat menolong. Tapi jika anda tidak mempercayai saya dan tidak ingin ikut, tidak apa-apa"."baiklah. Kali ini saya menerima bantuanmu. Tapi hanya untuk kali ini saja. Saya juga tidak ingin mati kelaparan dan kedinginan di sini".Pangeran Arnold lalu mengikuti Alice.Setelah mereka sampai, Alice mempersilahkan pangeran Arnold untuk masuk ke sebuah rumah yang kecil, yaitu tempat tinggalnya. Pangeran yang sedang duduk di ruang tamu kecil mengamati seluruh isi rumah. Tidak lama setelahnya, datanglah Alice membawa secangkir teh hangat."silahkan diminum teh hangatnya pangeran. Saya tahu tubuh anda pasti kedinginan".Pangeran Arnold lalu menyesap teh hangatnya. "tunggulah sebentar disini pangeran, saya akan membuatkan makan malam untuk anda". Alice lalu masuk ke dapur memasak.Beberapa lama kemudian, karena merasa penasaran, pangeran Arnold lalu menyusul Alice ke dapur.Pangeran mendapati Alice sedang mempersiapkan makanan di meja makan yang menurut pikiran pangeran juga sangat kecil.Alice menyadari keberadaan pangeran. Dia begitu terkejut saat melihat pangeran Arnold berdiri di dekat pintu. "Pangeran ? Apa yang anda lakukan disini ? Saya baru saja ingin memanggil anda setelah mempersiapkan makanan ini"."aku hanya penasaran, makanya ke sini"."kalau begitu, silahkan duduk disini pangeran. Maaf saya hanya menyiapkan seadanya. Dan tentu makanan ini tidak ada apa-apanya dibanding makanan yang anda makan di istana".Pangeran Arnold lalu duduk. Alice juga ikut duduk berhadapan dengan pangeran. Pangeran kemudian mencicipi makanan tersebut. "maafkan saya jika makanan ini tidak sesuai selera anda pangeran"."tidak. Justru makanan ini sangat lezat. Kau sangat pandai memasak Alice".Alice hanya tersenyum.Pangeran tertegun melihat Alice tersenyum. Dia memang sangat cantik , pikirnya."apa kau tinggal sendiri di sini ?"."iya pangeran"."apa kau tidak takut tinggal sendiri ?".Alice hanya menggeleng."orang tuamu di mana ?"."maaf pangeran, saya tidak bisa memberi tahu siapapun tentang keluarga saya"."yah aku tau. Aku rasa, kau hanya akan memberi tahu jati dirimu kepada orang yang kau anggap penting dan istimewa di hatimu".Alice mengerutkan dahinya mendengar perkataan pangeran."setelah ini, aku hanya ingin istirahat. Aku harus kembali ke istana pagi-pagi sekali agar para orang istana tidak merasa khawatir"."jika anda ingin beristirahat, anda bisa tidur di kamar dekat ruang tamu pangeran"."bukankah dirumahmu hanya ada satu kamar. Apa secara tidak langsung kau ingin kita tidur satu kamar".Wajah Alice menunjukkan keterkejutan. "tidak pangeran. Silahkan anda tidur di kamar. Saya bisa tidur di ruang tamu"."meskipun aku seorang pangeran, aku tidak mungkin membiarkan seorang gadis tidur di sebuah kursi yang keras dan dingin sedangkan aku enak-enakan tidur di sebuah kasur. Lebih baik, aku saja yang tidur di ruang tamu, dan kau tetap tidur di kamarmu"."jangan pangeran. Lebih baik anda tidur di kamar. Saya tidak apa-apa jika harus tidur di ruang tamu. Saya sudah terbiasa"."tapi tetap saja aku tidak bisa membiarkanmu. Sudah, jangan membantah lagi".Pangeran kemudian keluar menuju ruang tamu. Alice menyusul pangeran."kalau bisa, aku hanya minta engkau memberikanku selimut"."anda yakin ingin benar-benar tidur disini ?, saya benar-benar tidak enak membiarkan anda yang seorang pangeran negeri ini tidur di sebuah kursi yang keras"."apa aku harus mengatakannya beribu kali agar kau baru percaya ?"."kalau begitu baiklah pangeran, saya akan mengambilkan anda selimut". Alice lalu masuk ke dalam untuk mengambil selimut.Setelah itu dia memberikannya pada pangeran Arnold."maafkan saya pangeran, karena tidak bisa melayani anda dengan baik"."aku yang seharusnya minta maaf karena telah merepotkanmu"."tidak pangeran. Anda tidak merepotkan saya sama sekali".Pangeran Arnold menatap Alice lekat. "aku juga ingin minta maaf atas sikap kasarku padamu waktu itu. Aku sudah menuduhmu menghasut Aneth. Ternyata dia benar, kau memang gadis baik. Aku menyesal pernah menuduhmu"."sudahlah pangeran. Anda tidak perlu mempermasalahkan itu"."terima kasih Alice".***Keesokan paginya, pangeran Arnold berpamitan untuk pulang. "sekali lagi terima kasih atas bantuanmu kemarin Alice"."sama-sama pangeran"."kalau begitu, aku akan kembali sekarang ke istana"."hati-hati pangeran".Pangeran berjalan menuju kudanya.Tapi tiba-tiba dia kembali menghampiri Alice."ada apa pangeran ?"."em..., apa boleh aku berkunjung ke sini lagi".Alice terkejut mendengarnya."kenapa engkau terkejut ?, atau ada yang marah jika aku menemuimu ?"."tidak pangeran. Saya sama sekali tidak keberatan jika anda berkunjung ke sini lagi".Pangeran Arnold tersenyum. "terima kasih Alice".Pangeran Arnold lalu kembali ke istana.***Setelah kejadian itu, pangeran Arnold seringkali datang ke tempat Alice, terkadang ikut membantu saat Alice mengurusi para orang miskin yang sakit . Bahkan pangeran Arnold sering menyuruh pengawal untuk membawakan makanan kepada mereka. Jika tidak ada tugas negara, pangeran Arnold selalu menyempatkan diri ke rumah Alice.Bahkan dia sering diam-diam ke sana, seperti yang pernah dilakukan oleh Aneth."pasti kau merasa bosan bukan, karena aku sering mengunjungimu"."tidak pangeran. Anda jangan berpikir seperti itu"."apakah kekasihmu tidak akan marah jika ada laki-laki yang selalu datang ke tempatmu ?".Alice tersenyum. "saya tidak punya kekasih pangeran"."aku tidak percaya. Aneth bilang, sudah banyak lelaki yang mengajukan diri untuk melamarmu. Dan pastinya tidak mungkin kau tidak menerima salah satu diantara mereka"."tapi saya memang belum mempunyai kekasih pangeran"."apa karena kamu belum menemukan lelaki yang cocok ?".Alice hanya tersenyum."kalau aku yang mengajukan diri untuk melamarmu, bagaimana ?".Alice terkejut "ba..bagaimana bisa pangeran bercanda seperti itu ?"."aku tidak bercanda Alice. Jujur, aku memang sudah menyukaimu sejak pertama aku melihatmu. Tapi aku terlalu naif. Dan semakin lama aku dekat denganmu, aku tidak bisa membohongi perasaanku kalau aku sungguh mencintaimu"."pangeran, saya hanya seorang rakyat biasa. Pangeran lebih berhak menikah dengan gadis bangsawan"."aku tidak peduli Alice. Awalnya, aku memang berniat menikahi seorang gadis bangsawan. Tapi sekarang, aku tidak bisa. Aku sudah terlanjur mencintaimu"."saya..."."apakah kau ingin aku bawa ke istana ?, aku ingin memperkenalkanmu pada orang tuaku ?"."maaf pangeran, saya belum siap dengan itu. Apakah pangeran bisa memberi saya waktu untuk berpikir"."baiklah Alice, aku juga tidak akan terlalu memaksamu untuk memberi jawaban sekarang"."jawaban apa yang kau tunggu dari Alice pangeran ?", kata Aneth yang datang secara tiba-tiba.Pangeran Arnold terkejut melihat Aneth. "Aneth ?, apa yang kau lakukan di sini ?"."justru aku yang seharusnya bertanya. Mengapa kau bisa berada di sini. Bukankah sekarang kau yang melanggar aturan istana"."hey Aneth, kau tau aku datang ke sini karena urusan yang sangat penting"."urusan penting apakah dengan Alice yang membuatmu datang ke sini secara diam-diam ?"."kamu mau tahu saja urusan orang".Aneth mendekati Alice dan memegang lengannya. "Alice, cobalah kau ceritakan kepadaku, hal penting apa yang dia katakan kepadamu ?".Alice melihat ke arah pangeran."aku meminta Alice untuk menjadi istriku. Sudah puas kau sekarang ?".Aneth terkejut, kemudian langsung tersenyum. "ternyata dugaanku benar, kalau kau memang ada perasaan pada Alice"."tapi Alice masih meminta waktu untuk memikirkan tawaranku"."yah, aku setuju dengan Alice. Kau memang tidak harus menjawabnya sekarang Alice. Kau harus memberi pelajaran kepada pangeran yang sombong ini. Biar bagaimana pun, dulu dia pernah menghinamu"."heh Aneth, aku sudah menyesali perbuatanku dulu. Dan sebagai adikku, tidak seharusnya kau berkata seperti itu, menjelek-jelekkanku di depan Alice".Alice hanya tersenyum melihat adik kakak itu adu mulut.***Seluruh keluarga istana berkumpul di ruang tamu."Arnold, ayah sudah sepakat dengan kerajaan Adorra, kerajaan tetangga untuk menjodohkanmu dengan putrinya".Arnold dan Aneth kaget sekali mendengarnya."bagaimana pendapatmu. Ayah yakin kau akan setuju, dengan umurmu yang sekarang, kau sudah pantas untuk menikah. Apalagi calon ratumu nanti bukanlah orang biasa, dia adalah putri dari kerajaan yang sangat terkenal itu"."aku tidak bisa ayah. Aku tidak bisa menikah dengan putri dari kerajaan Adorra"."kenapa ? Putri itu terkenal sangat cantik dan lembut. Dia pintar dan sangat berjiwa besar. Walaupun ayah belum pernah melihat wajahnya, tapi ayah yakin dia memang seperti itu"."ayah, aku tidak peduli dia secantik apa. Aku tidak bisa menikah dengannya karena aku mencintai gadis lain. Dan aku hanya ingin menikah dengan gadis yang aku cintai itu"."memangnya siapa gadis itu ?"."dia hanya seorang rakyat biasa yang tinggal di negeri kita"."apa ?, kau tentu tahu sendiri Arnold, ayah hanya ingin kau menikah dengan gadis bangsawan"."aku tahu ayah, tapi aku tidak mungkin meninggalkan gadis itu, aku sangat mencintainya. Selain cantik, dia juga berjiwa besar"."yang dikatakan Arnold benar ayah, Alice adalah gadis yang sangat baik. Dan aku setuju jika dia yang menjadi ratu di masa yang akan datang, karena dia begitu mencintai rakyat", bela Aneth."tapi kau tetap harus bertemu dengan putri dari kerajaan Adorra, Arnold"."baiklah, aku tetap akan menemuinya. Tapi hanya itu, aku tidak akan menikahinya".***Pangeran Arnold datang ke tempat Alice dengan wajah murung."kenapa wajah pangeran begitu murung, apakah pangeran ada masalah ? apa ini masalah kerajaan ?"."Alice, aku dijodohkan oleh ayahku dengan putri dari kerajaan tetangga".Alice terkejut."tapi aku menolaknya. Aku tidak mungkin menikah dengannya karena gadis yang ingin aku nikahi hanya dirimu. Tapi ayah terus memaksaku untuk bertemu dengannya"."kalau begitu, anda harus menemui putri itu"."iya, aku memang akan menemuinya. Dan aku akan berkata kepadanya kalau aku mencintai gadis lain". Pangeran Arnold menatap Alice lekat. "tapi seharusnya kau memberi jawaban sekarang Alice, katakan kalau kau juga mencintaiku. Jadi aku lebih mantap mengatakan kepada putri itu bahwa kita saling mencintai"."saya akan mengatakan itu apabila pangeran sudah bertemu dengannya. Karena bisa saja saat melihat putri itu, pangeran langsung jatuh hati padanya"."itu tidak mungkin Alice. Walaupun kata ayahku dia sangat cantik, tapi bagiku tidak ada gadis yang lebih cantik dibandingkan dirimu. Dan aku hanya mencintaimu"."tapi dia sederajat dengan anda pangeran. Anda dan dia sama-sama bangsawan"."sudah kukatakan, aku tidak peduli dengan derajat atau martabat. Yang kubutuhkan sekarang hanyalah cinta".Arnold memegang kedua tangan Alice. "kau harus berjanji bahwa setelah aku menemui putri itu, kau harus mengatakan kalau kau juga mencintaiku dan bersedia menikah denganku".Alice mengangguk sambil tersenyum.Pangeran Arnold juga tersenyum. "Alice, bolehkah aku mencium keningmu ?".Alice terkejut dan langsung melepaskan tangannya yang dipegang pangeran Arnold."kenapa ? aku hanya ingin mencium keningmu, hanya itu. Apakah tidak boleh ?"."belum saatnya juga pangeran"."terus kapan ? apakah setelah aku menemui putri itu lagi ?".Alice hanya mengangguk.Pangeran Arnold mendengus kesal. "kau memang sangat suka menggantungku Alice".Alice tersenyum tipis.***Pesta dilaksanakan oleh kerajaan Adorra. Semua bangsawan dari kerajaan tetangga menghadiri pesta tersebut. Terlihat raja kerajaan Adorra memberikan senyum kepada para tamu yang datang.Raja dan ratu kerajaan Western beserta pangeran Arnold dan putri Aneth menghampiri Raja Charles."akhirnya anda dan sekeluarga datang raja Ferrald. Aku jadi iri dengan keluarga besar kalian. Didampingi ratu dan putra putri yang tampan dan cantik"."anda bisa saja". Raja Ferrald tersenyum. "ngomong-ngomong, dimana putrimu yang cantik itu ?"."mungkin sebentar lagi dia akan datang. Apa pangeran Arnold sudah tidak sabar melihatnya", ucapnya melirik ke arah pangeran Arnold."maafkan aku raja Charles. Aku tidak bisa menikah dengan putri anda. Aku sudah mencintai gadis lain"."apa-apaan kau ini Arnold. Beraninya berkata seperti itu pada raja Charles", ucap raja Ferrald geram."aku hanya ingin mengatakan yang sebenarnya ayah sebelum raja Charles salah paham. Dan sebelum putri raja Charles juga salah paham".Raja Charles malah tertawa. "tidak apa-apa raja Ferrald. Aku kagum dengan keterus terangan pangeran Arnold. Kalau memang dia sudah punya calon istri lain, tidak apa-apa. Bukankah pernikahan tidak bisa dipaksakan"."maaf atas kelancangan anakku raja Charles"."maafkan saya Raja Charles. Saya tidak bermaksud..."."tidak apa-apa, aku maklum. Tenang saja pangeran Arnold, aku hanya ingin mengenalkanmu dengan putri semata wayangku. Jika kalian tidak bisa menikah, kalian kan bisa berteman. Lagipula, aku bisa menikahkan putriku dengan pangeran lain dari dari negara tetangga, karena memang sudah banyak yang mengajukan diri untuk melamarnya"."terima kasih raja".Beberapa lama kemudian, turunlah seorang gadis cantik dari tangga yang membuat semua orang terpukau terutama kaum pria.Gadis itu mendekat ke arah raja Charles."nah, itu dia putriku", ucap raja Charles menunjuk.Pangeran Arnold dan putri Aneth begitu terkejut melihatnya. "Alice ?".Yah, putri Alice mendekati raja Charles dengan tersenyum. "ini dia putriku yang telah aku ceritakan".Pangeran Arnold seperti tidak percaya yang dilihatnya adalah Alice."ternyata putrimu memang sangat cantik. Sungguh disayangkan aku tidak bisa menjadikannya sebagai menantuku"."Alice ? benarkah ini kau ?"."loh Pangeran sudah mengetahui nama putriku ?"."Arnold, darimana kau tahu nama putri raja Charles, bukankan aku tidak pernah memberitahumu".Pangeran Arnold masih terpaku menatap Putri Alice yang tersenyum padanya.Seorang pangeran mendekati Alice. "maaf raja Charles, bolehkan saya mengajak putri Alice untuk berdansa ?, saya mendengar bahwa anda sudah menjodohkan putri Alice dengan pangeran lain. Apakah dia yang calon suaminya ?", ucapnya menunjuk pangeran Arnold.Pangeran Arnold terkejut mendengarnya."itu terserah dari Alice. Kebetulan perjodohan mereka dibatalkan. Jadi Alice bukan milik siapa-siapa untuk sekarang"."baiklah. Putri Alice, apakah anda ingin berdansa denganku ?", ucapnya mengulurkan tangan.Alice hanya tersenyum. Saat dia ingin memegang tangan pangeran tersebut..."hentikan !". Semuanya kaget. "jangan berani kau ajak dia berdansa denganmu karena dia milikku"."apa yang kau katakan Arnold ?", raja Ferrald tampak bingung."Alice, kenapa kau diam saja ? bukankah kau harus menjelaskan ini semua padaku. Kau sudah tidak jujur padaku. Kau bilang hanya rakyat biasa dari kerajaan Western. Tapi nyatanya, kau adalah putri raja Charles dari kerajaan Adorra"."iya Alice. Aku kira kau hanya rakyat biasa", tambah Aneth."tunggu, apa kalian sudah saling mengenal sebelumnya ?, kau juga Aneth ?", tanya raja Ferrald."Alice, jadi kau sudah kenal dengan pangeran Arnold ?", tanya raja Charles."raja Charles dan ayah serta semuanya, dengar..., sebenarnya gadis yang aku cintai itu adalah Alice. Aku tidak tahu ternyata Alice adalah putri dari kerajaan Adorra. Selama ini aku hanya mengenal dia sebagai rakyat biasa yang tinggal disebuah kampung terpencil di wilayah kerajaan Western"."oh rupanya selama ini kau ke sana Alice, yang katamu sedang mengerjakan urusan penting, makanya meninggalkan istana beberapa hari ?". Tanya raja Charles memicingkan mata."itu memang urusan penting ayah. Aku ke sana membantu para warga miskin, karena mereka begitu menderita"."baiklah aku terima.Tapi bagaimana tentang pangeran Arnold ?"."aku sudah lama mengenalnya ayah"."dan kau juga sudah berhubungan dengannya ?"."saya memang sering menemui putri Alice, raja Charles. Saya begitu mencintainya, makanya saya menolak saat ayah ingin menjodohkan saya, karena saya hanya ingin menikah dengannya", ujar Arnold angkat bicara."aku benar-benar tidak menyangka dengan semua ini", ucap raja Charles."bukankah kau harus menepati janjimu Alice ?"."apa itu masih perlu pangeran ?"."tentu saja. Aku ingin kau mengatakan kalau kau mencintaiku dan bersedia menikah denganku di hadapan semua orang"."baiklah. Aku..., aku mencintai pangeran Arnold dan bersedia menikah dengannya. Apakah sekarang anda puas pangeran ?".Pangeran Arnold tersenyum. Bukan hanya dia, tapi raja Charles beserta orang tua pangeran Arnold dan putri Aneth tersenyum bahagia."tentunya aku puas Alice, tapi masih ada satu lagi yang kau lupa ". Pangeran Arnold mendekati putri Alice kemudian mencium keningnya mesra.Putri Alice jadi tersipu malu. "tidak seharusnya anda melakukan ini di tempat ramai pangeran"."aku tidak peduli. Dan ini hukumanmu karena tidak jujur padaku ".The End
Girl Security
"Bintaaannnggg......!!", teriak Mini."ada apa sih teriak-teriak segala ?", tanya Bintang yang tiba-tiba masuk ke dalam rumah."heh, kamu dari mana aja sih. Belum bersih-bersih sana"."aduh Mini, gue kan bukan pembantu disini. Gue cuma ngegantiin ayah gue jadi satpam"."yeh sama aja..!"."yah beda lah. Satu pembantu, satu satpam. Dan satpam tugasnya cuma jaga diluar, gak kayak loe ngurusin rumah. Ngerti ?". Ketika Bintang ingin keluar lagi..."eits tunggu..."."apa lagi sih ?"."sebentar lagi tuh tuan muda bakalan datang dari luar negeri. Jadi kamu harus bantuin aku beres-beres"."belum ngerti juga yah. Tugas gue itu cuma jaga diluar. Itu sih urusan loe beres-beres di dalam". Bintang lalu keluar."heh bintang...! Dasar yah, pak Bondan orangnya ramah dan lembut, tapi kok bisa punya anak tomboy dan urakan kayak dia".***Gue berdiri di dekat gerbang sambil jaga-jaga. Biasalah tugas satpam. Selama ayah sakit, gue yang gantiin pekerjaannya jadi satpam. Setiap pulang dari kuliah, gue selalu singgah bekerja di rumah tempat ayah bekerja. Jadi kuliah beres, pekerjaan juga beres.Gue denger-denger dari Mini, katanya tuan muda yang sudah lama tinggal di luar negeri akan pulang hari ini. Gue juga belum pernah ngeliat mukanya sih. Tapi dari tadi pagi, Mini sibuk banget beresin rumah. Gue malah kena juga disuruh beresin taman gara-gara nggak ada kuliah tadi pagi.Terlihat ada mobil mewah menuju ke rumah ini. Tiba-tiba mobil tersebut membunyikan klaksonnya. Gue tersentak kaget. Jangan-jangan tuan muda. Gue langsung membuka pintu gerbang.Kaca pintu mobil depan terbuka. "loe siapa ?", tanyanya.Ternyata ini toh yang dibilang tuan muda. Gantengnya.."gue..., em maksud saya..., saya satpam disini"."hah ?", katanya melongo. Kayaknya dia kaget banget ngedengernya. "kok cewek yang jadi satpam ?"."emangnya gak boleh yah tuan. Lagian kan gak ada larangan cewek gak boleh jadi satpam".Kaca pintu mobil depan kembali tertutup. Kemudian mobil masuk ke dalam menuju parkiran.Terlihat Mini menyambut tuan muda dengan senang kemudian membuka bagasi mobil lalu menurunkan kopernya. Tuan muda sempat balik melihat gue. Tiba-tiba aja gue langsung nunduk.Tidak lama kemudian ada mobil lagi yang ingin masuk. Lagi-lagi membunyikan klaksonnya. Gue yang setengah berkhayal langsung kaget."heh.., lo gak liat ada mobil yang mau masuk !", kata seorang cewek di dalam mobil.Busyet deh, galak banget yah. Gue langsung buka gerbang.Setelah memarkirkan mobilnya, cewek itu langsung masuk ke dalam rumah. Dari penampilannya sih kelihatan banget cewek berkelas. Wajahnya indo, bodynya seksi, terus rambutnya pirang.Gue mendekat ke pintu, pengen liat apa yang cewek itu lakuin. Kelihatannya dia sedang bicara sama tuan muda yang sedang duduk di sofa. Gue bisa denger cewek itu nyebut nama 'Andre'. Oh, jadi namanya tuan muda Andre ?.Woaa.., kok tuan muda kayaknya marah."loe tau kan gue baru pulang. Dan gue capek. Jangan ganggu gue lagi", katanya.Tiba-tiba tuan Andre ngeliat gue yang sedang ngintip di pintu. "heh...!, loe ngapain disitu ?".Aduh, ketahuan gue..."maaf tuan.."."sini loe", katanya manggil gue. "kok diem aja, gue bilang kemari..".Gue langsung mendekat ke tuan Andre dan cewek itu."dia siapa sih ndre ? bukannya dia cuma pembantu. Ngapain kamu manggil dia segala ?"."dia bukan pembantu, tapi satpam.."."apa ? Satpam ? nggak salah ?, dia kan cewek. Terus ngapain kamu manggil dia segala ditengah-tengah kita. Tugas dia kan cuma ngejaga diluar"."gue kan udah pernah bilang, kita gak ada hubungan apa-apa lagi. Kita udah putus yah waktu di London"."tapi aku nggak mau putus. Aku masih sayang sama kamu"."ah, terserah loe deh. Yang jelas bagi gue kita gak ada hubungan lagi. Mendingan sekarang loe pergi dari rumah gue ! Eh elloe..", katanya nunjuk gue. "cepet usir dia..!"."saya tuan ?, tapi.."."tapi apa ? loe kan satpam disini, jadi usir dia dari rumah ini"."kamu gak bisa perlakuin aku kayak gini ndre". Cewek itu merajuk."kok loe malah diem aja. Loe mau gue pecat karena gak nurutin kemauan gue ?"."ba..baik tuan. Maaf mbak, silahkan pergi dari sini"."mbak mbak. Emangnya gue mbak loe..!".Busyet deh, gue disemprot lagi sama nih cewek. Perasaan gue selalu salahin.Cewek itu langsung pergi dengan wajah kesal. Kata-kata terakhirnya sebelum dia pergi, gini : " ingat yah ndre, aku bakalan balik lagi ke sini. Kamu itu hanya milik aku, hanya milik aku" .Kayaknya tuh cewek suka banget sama tuan Andre. Kayak gak ada cowok lain aja. Emang sih tuan Andre ganteng banget. Jadi wajarlah kalo cewek itu suka banget sama dia."eh elloe. Kalo tuh cewek datang lagi ke sini, usir aja. Ngerti ?"."tapi kalo dia maksa tuan ?"."yah ello larang. Kalo lo gak bisa lawan dia, mendingan gak usah jadi satpam !"."i..iya tuan". Tuan Andre langsung naik ke atas. Ternyata dia galak juga. Heran, semua orang kaya gitu kali yah ?***Kali ini gue disuruh Mini untuk jaga sampai tengah malam. Berarti gue gak bisa pulang dong. Katanya sih gue nginap aja disini. Busyet deh . Mentang-mentang tuan muda datang, gue disuruh jaga sampai tengah malam. Lagian gak ada juga kali yang bakalan nyulik tuan muda kalo gue gak jaga sampai tengah malam.Gue sengaja bikin kopi supaya gak cepat ngantuk. Sayangnya daerah ini sepi kalo malam, coba banyak orang yang lalu lalang , pasti gue ngajak salah satunya main kartu supaya gak bosan duduk terus di pos jaga. Gue nyesep kopi sambil memandang kosong ke depan."he..!". Gue dikagetkan sama suara tuan muda. "kok malah ngayal disini ?"."eh maaf tuan.."."lo minum kopi ?"."iya tuan. Supaya gak ngantuk"."emangnya loe mau begadang sampai tengah malam ?"."iya. Disuruh sama Mini. Tumben-tumbenan sih tuan. Biasanya saya cuma jaga sampai jam 9, terus pulang. Mungkin karena tuan muda datang makanya saya disuruh jaga sampai larut"."loh, apa hubungannya ?"."mungkin aja Mini takut nanti ada yang nyulik tuan muda". Gue cengingiran.Tapi tuan muda malah biasa aja, dia mandang gue tanpa berkedip. Gue rasa omongan tadi gue gak lucu nih menurut dia."loe udah lama kerja disini ?"."belum sih tuan. Saya cuma ngegantiin ayah saya selama dia sakit"."sebelumnya loe kerja dimana ?"."gak ada sih tuan. Saya cuma kuliah aja. Tapi saya buka bengkel di depan rumah. Biarpun cewek, tapi saya sedikit ngerti urusan mesin loh tuan. Barangkali aja mobil tuan bermasalah, tinggal bilang aja sama saya sebelum dibawa ke bengkel. Mungkin aja bisa saya perbaikin. Hitung-hitung gratis buat tuan". Gue cengingiran lagi. Kali ini tuan muda juga ikut tersenyum."ternyata loe lucu juga. Ngomong-ngomong loe kuliah udah semester berapa ?"."udah semester 7 tuan". Tuan muda hanya manggut-manggut. "oh yah tuan, maaf kalo boleh saya nanya. Cewek yang tadi siang itu pacarnya tuan yah ?"."Cuma mantan. Gue udah putus sama dia saat masih di london. Tapi kayaknya dia masih belum rela"."kok cewek secantik itu diputusin tuan ?"."emangnya harus yah gue ngasih tau semuanya sama loe ?"."yah gak juga sih tuan"."kalo cewek itu datang lagi, usir aja. Ngerti ?"."sip tuan..".***"hei..", panggil tuan Andre saat gue jaga di pos."iya tuan". Gue menghampiri tuan Andre yang ada di dalam mobil."loe masuk di mobil gih.."."masuk di mobil ? untuk apa tuan ? mobil tuan ada yang masalah ?"."ya nggak. Gue mau keluar jalan-jalan. Udah lama gue gak keliling kota Jakarta semenjak tinggal di London. Jadi loe temenin gue ?"."emangnya tuan udah lupa jalan ?"."ya nggak. Emangnya kenapa sih, loe keberatan nemenin gue ?"."nggak kok tuan. Saya kan lagi kerja sekarang"."ya ellah. Gue kan majikan loe. Jadi loe nurutin perintah gue"."baik tuan"."sekarang naik gih"."iya". Gue lalu naik ke mobil, tapi di belakang. Tuan andre kemudian balik melihat gue. "emangnya gue sopir loe ?"."hah ?"."lo ngapain duduk di belakang. Ayo ke depan. Kalo kayak gini, gue seakan-akan jadi sopir loe". Gue cengingiran. Gue lalu turun kemudian duduk di depan."emangnya tuan udah lama banget yah di luar negeri ?"."iya. Semenjak umur gue 10 tahun. Tapi gue pernah pulang 6 tahun yang lalu. Itupun cuma bentar, lalu balik lagi ke london".Gue manggut-manggut."ngomong-ngomong, gue belum tau nama loe"."oh, nama saya Bintang tuan".Tuan Andre langsung natap gue."loe ngingetin gue sama seseorang. Namanya juga Bintang. Dia teman kecil gue sebelum gue pergi ke London"."kata orang sih, muka saya emang familiar tuan".Gue sama tuan muda pergi ke mall. Kita jalan-jalan mengelilingi isi mall."dari tadi, gue mulu yang belanja. Kok loe gak sih ?"."saya kan cuma nemenin tuan"."iya, tapi kalo ada sesuatu yang loe suka. Lo ambil aja. Gue yang bayarin kok"."makasih tuan, tapi gak usah".Tiba-tiba aja, tuan muda singgah dipakaian cewek. Dia ngambil satu baju kemudian mencocokkannya di badan gue. "kayaknya ini bagus deh buat loe"."gak usah tuan. Lagian saya gak pantas pake baju kayak gini. Saya kan cuma seorang satpam"."yah gak apa-apa. Kalo gue liat, loe itu selalu berpenampilan tomboy. Gak apa-apa kan sekali-kali loe berpenampilan feminim"."itu kan bukan gaya saya tuan. Saya lebih enjoy kalo pake pakaian kayak gini"."coba deh loe pake baju ini. Gue yakin, loe akan semakin cantik kalo pake ini"."apa ?, tuan muda bilang apa ?"."ng..nggak, nggak bilang apa-apa".Gue bisa liat muka tuan muda keliatan gugup.Saat kita ingin keluar dari mall, tiba-tiba cewek yang kemarin menghampiri tuan Andre."jadi kamu disini yah sama satpam kampung ini..!"."heh, bisa gak jangan ngomong sembarangan gitu sama Bintang"."kok kamu malah marah sih kalo aku jelek-jelekin dia. Kamu lebih belain dia daripada aku"."iya..! lagian loe ngapain lagi sih ngehampirin gue. Emangnya masih ada yang belum jelas, hah..?"."aku kan udah bilang, aku masih gak rela kita putus. Aku masih sayang sama kamu ndre"."dan gue juga udah bilang, kalo gue gak suka lagi sama loe. Ayo Bintang, kita pergi". Tuan andre narik tangan gue keluar dari mall. Gue bisa denger, cewek itu teriak-teriak manggil nama tuan Andre."kenapa tuan ninggalin dia ?"."gue males berurusan lagi sama dia"."dia masih sayang banget sama tuan"."tapi gue gak suka lagi sama dia. Loe kenapa sih nanya-nanya gitu ?."nggak kok tuan"."kalo gue suka sama cewek lain gimana ?"."yah nggak masalah sih. Itukan terserah tuan. Terus kenapa tuan gak bilang aja sama mantan tuan, kalo tuan suka sama cewek lain"."kalo gue bilang sama dia siapa orangnya, pasti dia gak akan percaya"Gue hanya diam."loe gak mau tau siapa orang itu ?".Gue menggeleng. "saya gak ada hak untuk ikut campur sama urusan pribadi tuan".***Saat itu, gue bukain gerbang untuk tuan muda. Tiba-tiba dia berhenti dan menengok ke arah gue."Bintang, sekarang gue mau ke luar kota untuk beberapa hari karena urusan pekerjaan"."oh, iya tuan"."kalo gue pulang, loe mau oleh-oleh apa ?".Gue kaget. "nggak usah tuan"."bilang aja loe mau gue bawain loe apa kalo pulang ?"."bener deh tuan nggak usah. Saya gak butuh apa-apa kok. Tuan udah pulang dengan selamat, itu udah syukur banget".Tuan Andre tersenyum. "ya udah deh. Loe jaga diri baik-baik yah. Kalo kangen telpon aja"."hah ?". Gue melongo. Sebelum gue lanjutin ngomong, tuan muda udah keburu pergi. Tadi gue liat dia senyam-senyum liat gue. Maksudnya apa yah..?***Setelah sakit beberapa hari, akhirnya ayah sembuh juga. Sekarang ayah lagi yang bekerja di rumah tuan Andre. Berarti gue gak kerja lagi. Yah, setidaknya gue udah bisa buka bengkel lagi di depan rumah setiap pulang kuliah, gak kayak dulu karena gue harus jadi satpam. Itu berarti juga, gue gak ketemu lagi sama tuan Andre. Sebenarnya sih, gue mau pamitan sama dia, tapi dia kan ada di luar kota sekarang. Mau nelpon, gue juga malu. Padahal beberapa hari yang lalu dia udah ngasih nomornya sama gue. Tapi ya udahlah....***Andre sudah kembali dari luar kota. Saat ingin masuk ke dalam rumah. Dia kaget karena yang membukakan pintu adalah pak Bondan. Andre segera turun dari mobil menghampiri pak Bondan."kenapa tuan ?"."loh, bapak pak Bondan kan. Satpam yang bekerja disini waktu saya masih kecil"."iya tuan. Saya kira tuan Andre sudah lupa dengan saya"."kok pak Bondan bisa ada disini ? Bukannya yang jadi satpam itu Bintang yah. Sekarang Bintang dimana ?"."saya kan memang bekerja disini tuan. Beberapa hari yang lalu saya memang sakit, terus digantiin sebentar sama Bintang anak saya"."apa ?". Andre sangat kaget. "ja..jadi, Bi..Bintang itu anak pak Bondan ? Bintang yang selalu bapak ajak ke sini saat masih kecil dulu. Yang selalu nemenin bapak di pos jaga ?"."ternyata tuan Andre masih ingat. Oh iya saya ingat, tuan Andre dulu kan sering ngajakin Bintang main bersama. Saya kira tuan Andre sudah lupa karena kalian sama-sama sudah besar"."astaga.. pantesan aja saat saya ngeliat Bintang, mengingatkan saya sama Bintang kecil dulu. Tapi.., seharusnya kan Bintang ingat sama saya pak. Inikan tetap rumah yang dulu. Masa dia tidak tahu kalo saya Andre kecil yang selalu mengajaknya main dulu. Apa dia memang sengaja nggak mau mengingatnya ? sikap dia biasa-biasa aja saat melihat saya"."saya kira, Bintang memang tidak mengingatnya tuan. Saat umur 10 tahun, Bintang pernah kecelakaan. Dan itu membuatnya hilang ingatan. Jadi sampai sekarang, dia tidak pernah mengingat masa-masa kecilnya. Dan itupun juga termasuk tuan Andre. Bukankah dia berteman dengan tuan Andre saat umurnya masih 8 tahun"."pantesan aja dia nggak mengenali saya... Sekarang Bintang ada dimana pak ?"."sepertinya dia masih kuliah. Semenjak saya sudah bekerja lagi disini, dia kembali membuka bengkelnya di depan rumah setiap pulang kuliah. Saya aja heran tuan, Bintang tumbuh menjadi anak yang tomboy, suka mengerjakan pekerjaan laki-laki"."kalo begitu saya pergi dulu yah pak. Saya harus segera ketemu sama Bintang".Andre langsung pergi ke kampus bintang tanpa masuk dulu ke rumahnya...Setelah sampai, dia sengaja menunggu Bintang di luar kampus. Setelah beberapa lama kemudian, Bintang akhirnya keluar juga. Andre langsung menghampiri Bintang."Bintang..."."loh, kok tuan Andre bisa ada di sini ? Tuan Andre udah pulang dari luar kota yah ? Oh yah, saya belum bilang kalo saya gak bekerja lagi di rumah tuan Andre karena ayah saya sudah sembuh. Saya....".Belum selesai ngomong, tuan Andre langsung memeluk gue.. Gue bener-bener terkejut. Gue segera melepas pelukan tuan Andre. "maaf tuan, tuan Andre kenapa ?"."Bintang, ternyata dugaan aku selama ini benar, Kamu adalah Bintang teman kecil aku dulu "."hah ?"."iya, kamu adalah Bintang kecil yang selalu aku ajak main saat kamu ikut sama pak Bondan ayah kamu bekerja di rumah aku". Gue bingung dengan omongan tuan Andre. "kamu bener-bener nggak ingat ?".Gue hanya menggeleng. "saya bener-bener nggak ngerti apa yang tuan Andre maksud"."aku tau kamu memang nggak ingat. Kata ayah kamu, kamu hilang ingatan saat berumur 10 tahun akibat kecelakaan. Dan saat itu, aku emang udah ada di luar negeri"."ayah memang bilang kalo saya hilang ingatan semenjak kecelakaan itu. Makanya saya nggak ingat masa-masa kecil saya"."jadi kamu sama sekali nggak ingat sama aku walaupun hanya sedikit ?". Gue hanya menggeleng. "kamu tau nggak Bintang. Saat aku pamit ingin pergi ke luar negeri. Aku masih ingat, kamu nangis kencang waktu itu. Kamu gak rela kalo aku pergi"."masa sih saya gitu tuan ?"."iya emang gitu. Akhirnya setelah aku bujuk kamu kalo aku nggak akan pergi lama, kamu akhirnya berhenti nangis. Dan kamu tau, waktu 6 tahun yang lalu aku kembali ke Indonesia karena pengen ketemu sama kamu. Tapi aku nggak nemuin kamu. Satpam yang bekerja waktu itu bukan ayah kamu. Aku udah cari alamat kamu, tapi nggak pernah ketemu. Makanya aku kembali lagi keluar negeri untuk lanjutin sekolah".Meskipun gue masih bingung dan nggak ingat apa-apa sama sekali tentang masa kecil gue sama tuan Andre, tapi gue percaya apa yang diomongin tuan Andre."kamu masih bingung yah ?".Gue hanya mengangguk."tapi nggak apa-apa. Aku akan bantu kamu agar ingatan kamu bisa kembali"."sebenarnya saya udah pernah coba tuan, tapi nggak bisa"."tapi aku yakin, setelah aku ada, kamu pasti bisa. Aku akan sering bawa kamu ke tempat yang biasa kita kunjungi agar kamu bisa mengingat dengan perlahan. Kamu maukan ?".Gue hanya mengangguk. "oke, jadi mulai sekarang, setiap pulang kuliah kamu harus mau jalan sama aku"."tapi..."."nggak ada tapi-tapi. Kamu denger baik-baik yah Bintang. Mulai saat ini dan untuk selamanya, Bintang hanya akan jadi milik Andre"."tapi tuan..."."eits satu lagi. Jangan panggil aku tuan lagi. Panggil aja nama aku 'Andre'. Dan kamu harus biasain itu mulai sekarang. Aku hanya akan bilang ini satu kali, jadi denger baik-baik : "aku cinta sama kamu ".Gue bener-bener terkejut."kok diem aja sih. Jawab dong.."."memangnya saya harus jawab apa ?"."ya ampun Bintang. Jangan pura-pura bloon deh".Gue hanya tersenyum malu-malu. Andre juga tersenyum sambil ngacak-ngacak rambut gue.The End
Taksi
Taksi adalah seorang gadis manja dan kesayangan orang tuanya.Hari ini adalah hari pertama Taksi di ospek di kampusnya.Taksi keluar dari kamarnya dengan pita warna-warni yang menghiasi rambutnya."aduh, anak mama kok cantik banget sih".Meskipun sudah dipuji, tetap aja Taksi masih cemberut."kok muka kamu ditekuk gitu sayang ?", tanya papa Taksi."papa sama mama nggak liat, pakaian aku ini kayak ondel-ondel tau nggak", jawabnya masih cemberut."namanya juga diospek sayang. Oh yah, ini mama udah buatin bekal untuk kamu"."mama, kan Taksi bukan anak kecil lagi. Ngapain dibuatin bekal segala sih. Kalo Taksi laper, kan bisa makan di kantin"."tapi mama nggak jamin kebersihan makanan di kantin sayang. Makanan buatan mama ini lebih sehat bergizi"."ya ampun mama. Aku bisa diketawain sama temen-temen aku kalo mereka liat aku bawa bekal"."nggak bakalan sayang. Udah, kamu nggak usah protes, nurut aja apa kata mama"."oke hari ini Taksi bakalan bawa bekal ini. Tapi besok-besoknya nggak lagi yah"."iya".Setelah sarapan, papa ngantar aku ke kampus. Setelah sampai di kampus aku melihat banyak anak yang dihukum karena terlambat.Oh my god !B erarti aku juga udah terlambat dong.Seorang senior menghampiri aku. "hei anak baru, napa loe terlambat. Ini udah jam berapa hah ?". bentaknya."udah jam 8"."loe disuruh datang jam berapa ?"."setengah 8"."terus kenapa loe masih aja terlambat"."aku kan cuma terlambat setengah jam. Gitu aja kok sewot sih", ucap Taksi cemberut."wah nih anak baru mulai ngelawan nih".Tiba-tiba seorang cowok datang menghampiri kami. Kayaknya dia juga kakak senior deh."napa Hen ?", tanyanya."ini nih Tris anak baru. Udah terlambat masih aja mau ngelawan"."nama loe siapa ?", tanyanya dengan galak."Taksi...".Mereka tertawa saat aku nyebut namaku. "kenapa kalian ketawa, ada yang lucu ?"."heh..! Kenapa nggak sekalian aja nama loe bus, becak atau bajaj. Lebih cocok tuh". Mereka tertawa lagi."jangan ngeledek aku yah. Kayak nama kamu bagus aja ?"."emangnya loe tau nama gue ?"."ng..nggak"."makanya jangan sok tau. Sekarang sebagai hukumannya loe jalan bebek 50 kali"."hah ? Kok banyak banget sih ?"."malah protes lagi. Atau loe mau gue tambahin jadi 100 kali"."nggak nggak. Iya 50 kali aja". Aku kemudian jalan bebek. Sesekali aku melirik ke senior yang tadi. Aku sih nggak tau namanya. Tapi tadi aku denger temennya manggil nama Tris. Oh atau jangan-jangan namanya Trisno kali. Ha ha ha....***Saat istirahat aku dan sahabatku Diana makan bareng di kantin. Diana kaget saat ngeliat aku ngeluarin bekal dari dalam tas."Taksi, kamu bawa bekal, nggak salah ? Kita ini udah kuliah Taksi, bukan anak sd, smp atau sma. Kamu jangan samain lagi deh. Oke waktu masih sma aku masih maklumin, tapi sekarang..."."ini itu kemauan mama aku Di. Aku udah nolak tadi, tapi mama tetep aja maksa. Ya udah deh. Tapi besok-besoknya nggak lagi kok".Tiba-tiba senior yang tadi ngehukum aku datang bersama teman-temannya. Dia langsung ngetawain aku."eh, ini nih kampus bukan tk. Ngapain bawa bekal segala sih ?".Mereka tertawa lagi.Aku langsung berdiri dengan marah. "emangnya kenapa ?, masalah buat kamu ? Kenapa kamu yang jadi sewot. Suka-suka aku dong"."keliatan banget anak manja"."aku bukan anak manja !"."kalo bukan, terus kenapa masih bawa bekal". Dia tertawa lagi. Setelah itu dia ninggalin kantin.Kurang ajar, berarti dia ke sini cuma mau ngeledek aku, bukan untuk makan . Aku kemudian duduk kembali. "dasar senior nyebelin.."."sabar aja Taksi. Eh, tapi aku denger-denger yah, nama kakak senior tadi tuh..."."Trisno", kataku memotong omongan Diana."kok Trisno sih, Tristan. Namanya Tristan bukan Trisno. Dia itu jadi incaran cewek-cewek di kampus ini. Udah ganteng, keren, kaya raya lagi. Perfect banget kan"."ganteng dari hongkong. Gitu aja dipuji-puji. Malahan menurut aku, dia itu cowok paling nyebelin di dunia. Males aku berurusan sama dia"."bener males ? Nanti jadi suka loh"."nggak bakalan..!".***Setelah seminggu masa ospek, akhirnya kelar juga. Sekarang aku udah mulai kuliah. Mama juga nggak buatin aku bekal lagi. Tapi yang masih bikin aku kesel, aku masih sering ketemu sama senior nyebelin itu. Terus kalo ketemu, ujung-ujungnya pasti aku cuma diledekin. Dibilangin cewek manja lah, cengenglah. Dasar.., emangnya situ pernah liat aku nangis.Setiap aku diantarin sama papa, pasti dia ngeledek aku lagi. Kayak nggak pernah dianterin aja..."wah, cewek manja udah datang lagi nih", katanya waktu aku baru datang ke kampus."heh..! Aku males yah berantem sama kamu. Minggir sana, ngerusak suasana aja"."ih galak banget. Takuutt...", ledeknya.Dia bener-bener nyebelin. Nggak tau kenapa dia hobby banget ngeledek dan ngegangguin aku. Kayaknya kalo sehari aja dia nggak ngeledek aku mulutnya udah gatel. Sebelum aku pergi, aku masang tampang galak sama dia. Eh, dia malah nyengir. Nyebelin banget kan...***"Taksi Taksi...", panggil Diana terburu-buru lari ke arah aku."ada kabar heboh nih"."kabar heboh apaan ?"."aku denger, Tristan udah putus sama pacarnya"."apa ? Jadi itu yang kamu bilang kabar heboh ?"."ya iya. Kan kamu tau, Tristan itu populer banget di kampus ini. Jadi kalo dia udah ngejomblo sekarang, pasti banyak cewek-cewek nih yang pada ngantri mau jadi pacar dia. Kamu nggak mau coba ngantri ?"."ogah..! kayak nggak ada cowok lain aja yang bisa disukai. Emangnya cuma dia cowok ganteng di dunia ini. Masih banyak kali..."."ye..h, tapi dia itu yang paling ganteng di kampus ini. Kamu beneran nggak suka sama dia ?"."nggak..!"."emangnya loe pikir gue juga suka sama loe ?", kata Tristan yang datang tiba-tiba. "walaupun cuma loe satu-satunya cewek di dunia ini, gue juga nggak bakalan mau sama loe. Dasar cewek manja !".Meskipun kaget melihat kedatangan Tristan yang tiba-tiba, Taksi tetap membalas perkataannya."baguslah. Aku juga nggak akan mau sama kamu walaupun cuma kamu satu-satunya cowok di dunia ini..!". Aku langsung pergi ninggalin Tristan. Aku bisa denger Diana teriak-teriak manggil aku.***Udah dari tadi aku nunggu kendaraan, tapi nggak ada yang lewat-lewat juga. Malah langit mendung banget lagi, kayaknya sebentar lagi bakalan hujan nih. Kalo kayak gini terus bisa-bisa aku akan kehujanan.Tiba-tiba aja ada sebuah mobil sport mewah yang berhenti di depanku. Ternyata yang turun dari mobil adalah Tristan.Ngapain lagi sih dia ?"ada orang yang lagi nunggu kendaraan nih yeh. Tumben-tumbenan gak dijemput sama bokap", ledeknya."kamu nggak usah mulai lagi yah. Mendingan pergi aja deh, nggak usah gangguin aku terus !"."yeh malah ngusir. Gue bukannya sok baik yah. Tapi mendingan loe naik aja gih ke mobil gue. Gue anter loe pulang. Mau nggak ? Kalo nggak mau hujan gini, sebenarnya sih gue juga ogah nawarin loe ikut. Tapi setidaknya gue masih punya hati nurani"."aku nggak butuh bantuan kamu !"."yeh masih aja sok jual mahal. Jadi loe malah lebih milih kehujanan ? Ya udah, gue cuma nawarin sekali yah". Saat Tristan ingin kembali ke mobilnya..."eh tunggu...".Tristan menghentikan langkahnya."aku..aku ikut".Tristan berbalik kemudian memunculkan smirk nya padaku."ya udah cepetan naik sana".Aku kemudian naik ke mobil tristan. Setelah mobil berjalan, hujan langsung turun dengan deras.Tanpa kusadari, aku tertidur di dalam mobil.....***Aku bangun karena mencium aroma masakan mama, kayaknya enak banget. Aku langsung keluar menuju meja makan."eh sayang kamu udah bangun, padahal mama baru aja mau bangunin kamu untuk makan. Tadi kamu kan nggak makan siang karena ketiduran".Oh iya aku baru ingat, tadi kan aku ketiduran di mobil Tristan. "ma, pa kok aku bisa..."."kamu heran yah kenapa kamu bisa tidur di kasur padahal tadi kamu tertidur di mobil Tristan ?"."mama sama papa tau Tristan ?"."ya taulah. Awalnya tadi papa salah paham saat nelpon kamu, tiba-tiba yang ngangkat suara laki-laki, terus dia bilang kamu lagi tidur. Papa kirain dia udah macam-macam sama kamu. Ternyata setelah dia jelasin, papa baru percaya. Terus dia nanya alamat rumah kita. Kamu ini kalo diantarin sama orang, kasih tau alamat rumah dulu dong. Malah asyik ketiduran. Untung aja Tristan pemuda yang baik, jadi dia nggak ngambil kesempatan saat kamu tidur di mobilnya"."jadi pas aku sampai, papa langsung ngegendong aku masuk ke kamar ?"."bukan papa yang gendong kamu, tapi Tristan"."hah..? Papa jangan bercanda ah"."ngapain papa bercanda. Tadi Tristan yang gendong kamu turun dari mobil. Ceritanya sih papa tadi mau ambil kamu bawa ke kamar. Tapi kata Tristan, dia aja karena udah terlanjur. Ya udah, papa biarin dia yang gendong kamu sampai di kamar"."apa.. ?, kok papa malah ngebiarin Tristan sih gendong aku"."karena papa liat dia anak yang baik. Orangnya bertanggung jawab"."iya lohTaksi. Mama suka banget sama Tristan. Kalo aja mama seumuran kamu, pasti mama akan suka sama dia. Dia anaknya sangat baik dan ganteng. Kalo dia yang jadi pacar kamu, mama pasti ngedukung"."iya, seharusnya pemuda seperti Tristan yang cocok jadi pacar kamu"."papa sama mama apaan sih. Dia itu cuma senior aku di kampus. Aku nggak suka sama dia..!"."kalau nggak suka, kenapa kamu mau dianterin coba ?"."ih papa mama..". Aku langsung lari masuk kekamar dengan tampang cemberut."loh Taksi, kamu belum makan sayang ?"."udah nggak mood..... !". teriakku.***Aku nggak sengaja ketemu sama Tristan di coridor kampus."eits tunggu...", cegatnya."apalagi..!", kataku judes."yeh galak banget sih. Nggak usah pura-pura lagi. Pasti papa sama mama loe udah bilang tentang kemarin"."terus kenapa ? Apa kamu mau aku berterima kasih sekarang sama kamu ?"."yah harus dong"."makasih..!", kataku judes. "udah puas ?"."belum", jawabnya singkat. "gue baru akan puas kalo loe nraktir gue makan di kantin"."hah ? Kok gitu sih ? Kamu kan orang kaya, masa minta ditraktir ?"."ini bukan masalah kaya atau nggaknya yah. Kalo loe nggak mau nraktir gue, berarti loe masih berhutang sama gue"."apa ? i..iya iya, aku mau..". Aku akhirnya mentraktir tristan di kantin. Nyebelin banget sih nih orang..Aku melirik ke kiri kanan saat duduk bersama Tristan di kantin. Semua mata tertuju pada kami. Pandangan cewek-cewek tajam banget ke aku. Kayaknya mereka heran aku bisa makan sama Tristan di kantin.Berarti aku udah bikin cewek-cewek kampus cemburu karena deket sama Tristan yang katanya paling populer di kampus. Ha ha ha...Sedangkan Tristan dari tadi cuma cuek aja. Malahan dia tetep sibuk nyantap makanannya. Aku heran, sebenarnya apa sih yang ada di pikiran cowok ini ? Kalo dia nggak nyebelin, pasti kegantengannya semakin terpancar di mata aku. Apalagi dia udah nolong aku. Dari lubuk hati yang paling dalam, aku sebenarnya kagum sama dia. Tapi sikapnya susah banget ditebak. Bener-bener buat aku bingung."woi...". Tristan mengagetkan aku. "ngelamun aja....Oh gue tau, pasti loe heran yah, kok ada cowok seganteng gue", katanya menaikturunkan alisnya."ih dasar GR, kayak kamu aja yang paling ganteng. Masih banyak kali cowok ganteng di luar sana"."emang masih banyak di luar sana. Tapi cuma gue yang paling ganteng di sini"."ya iya, karena cuma kamu cowok yang aku liat di depanku"."alah, pinter banget sih ngelesnya"."bodo' ". Aku kembali menyantap makananku.Tiba-tiba aja Tristan megang tangan kiriku."meskipun bukan hanya gue cowok ganteng yang pernah loe liat. Tapi bisa nggak, cuma gue cowok satu-satunya yang loe simpen dalam hati loe ?". Aku langsung tersedak mendengarnya."kamu ngomong apa ?"."jangan bilang loe nggak ngerti maksud omongan gue. Meskipun loe cewek manja dan cengeng, tapi nggak berarti kan loe cewek oon".Aku langsung memukul tangan Tristan. "masih sempet aja yah ngeledek aku. Emangnya kamu pernah liat aku nangis, pake ngatain aku cengeng segala"."nggak. Tapi biasanya kalo cewek manja, pasti cengeng juga"."ih, kamu nyebelin banget sih. Hobby banget ngeledek aku"."kalo loe mau berhenti gue ledekin terus, ada syaratnya..."."apa ?"."loe harus jadi pacar gue ?"."hah ?" Aku melongo."kalo nggak mau, berarti loe harus siap gue ledekin setiap hari'"."ih kok ngancam sih. Emangnya kayak gini yah cara kamu kalo nembak cewek ?"."nggak, ini pertama kalinya gue kayak gini. Karena bagi gue, cewek yang satu ini langka banget"."kurang ajar, emangnya aku apaan dibilang langka"."sekarang jawab dong. Mau nggak jadi pacar gue ?"."kok maksa sih ? Tapi tunggu deh, kamu kan pernah bilang kalo kamu nggak akan mau sama aku meskipun cuma aku satu-satunya cewek di dunia ini"."itukan cuma bercanda Taksi. Habisnya loe sendiri yang mulai"."enak aja. Yang mulai pertengkaran kamu yah. Kamu yang pertama kali ngeledek aku"."ya udahlah, itu kan udah lewat. Yang gue mau sekarang, loe tinggal bilang kalo loe mau jadi pacar gue"."nggak, aku nggak suka cara kamu yang maksa"."ya ampun, nih cewek yang satu ribet banget sih. Oke..".Tristan langsung berdiri. "gue bakalan bikin jadi romantis".Tristan mendekat ke aku kemudian berjongkok sambil megang tanganku."KALIAN SEMUA DI SINI HARUS DENGERIN BAIK-BAIK.....", teriak Tristan sehingga seluruh isi kantin mendengarnya."GUE...., TRISTAN ANGGARA SANGAT MENCINTAI TAKSI RENATA....". Gue bener-bener nggak nyangka Tristan seberani itu."jadi apa kamu mau jadi pacar aku..?"."kamu kok bisa tau nama lengkap aku ?"."itu nggak penting. Yang lebih penting sekarang adalah kamu harus jawab aku ? Mau yah jadi pacar aku, please..?"."harus aku jawab sekarang yah ?"."ya iyalah Taksi, masa tahun depan sih. Biar semua orang denger dan tau"."ya udah deh.."."Ya udah apa ?".Aku mengangguk."jangan hanya ngangguk dong. Bilang apa ?"."ya ampun.., iya Tristan, aku mau jadi pacar kamu".Tristan langsung memeluk aku. Semua orang bertepuk tangan melihat kami. Tapi ada juga sebagian cewek yang pergi. Mungkin kecewa karena mengetahui aku udah jadian sama Tristan.Aku langsung melepas pelukan Tristan. "pelan-pelan dong meluknya"."iya cewek manja", kata tristan mencubit hidungku."kok cewek manja sih. Kamu kan udah janji nggak akan ngeledek aku lagi".Tristan cengengesan. "iya sayang. Gitu aja marah.., bercanda doang".The End
Cowok Misterius
Kring..kring...kring......Suara berisik jam weker membuat gue langsung terbangun. "berisik banget sih...". Gue ngucek-ngucek mata gue, kemudian memandang jam weker."oh my god....!". Ini sudah pukul 8, sedangkan gue masuk pukul setengah 8. Tumben mami nggak bangunin gue.Akh.., gue lupa, mami kan udah berangkat ke bandung tadi malam, pantesan aja gak ada yang bangunin gue. Kalo bi Sumi, nggak usah ngarep ngebangunin...Gue langsung ngambil handuk dan buru-buru mandi, walaupun gue tau pasti udah telat banget ke sekolah, tapi gak apa-apa deh, daripada gak datang sama sekali, he he he..."mau ke sekolah non ?", tanya bi Sumi ketika gue baru aja turun dari atas."nggak, mau ke pasar..!Yah mau ke sekolahlah bi, gak liat apa aku lagi pake seragam gini". Sahutku ketus."yah habisnya ini udah pukul 8 non. Non Nina kan masuknya setengah 8"."ini semua gara-gara bibi, kenapa coba nggak bangunin aku. Aku jadi telat kan". Sahutku masih ketus."kan non nggak nyuruh bibi buat ngebangunin non". Katanya dengan nada polos."ya ampun.., yah meskipun aku nggak nyuruh seharusnya bibi tetap harus bangunin aku dong"."maaf non". Bi Sumi cengengesan sambil garuk-garuk kepala.Yeh, malah cengengesan..., dari dulu penyakit oon bi Sumi nggak berubah juga. Yah meskipun rada'oon, tapi sebenarnya bi Sumi baik sih. Kalo nggak, buat apa coba mami masih mempekerjakan bi Sumi. Apalagi bi sumi sudah bekerja saat gue masih kecil."ya udah, aku pergi dulu..."."nggak sarapan dulu non"."mana sempat sih, aku udah telat banget nih..."."tapi non...". Gue langsung cabut sebelum bi Sumi ngelanjutin ucapannya.***Untung aja jalanan tadi nggak terlalu macet, jadi gue nggak harus nunggu lama di dalam taksi.Setelah sampai, gue langsung berlari menuju gerbang pintu yang sudah tertutup. Dan mendapati pak satpam sedang berdiri."pak..., bukain dong", rengekku dengan wajah memelas."nggak bisa. Kamu lupa yah peraturannya, kalau siswa yang sudah terlambat, tidak diijinkan masuk"."yah bapak..., masa tega sih sama saya. Ayolah pak, kali ini saja yah. Please..?"."No..!", bentak pak satpam.Idih.., nih pak satpam galak banget sih. Malah ngebentaknya pake bahasa inggris lagi. Sok deh..!."pak, saya kasih kesempatan bapak berpikir yang kedua kalinya untuk ngijinin saya masuk"."dan saya kasih kamu kesempatan untuk pergi sebelum saya laporin sama kepala sekolah !".Ya ellah, nih satpam malah ngancem segala lagi. Masa gue harus kembali ke rumah. Nanti kan jam ketiga gue ulangan kimia. Malah pak Ferry guru kimia gue galak banget lagi. Kalo gue gak ngikutin ulangannya, bisa-bisa nama gue tercoreng merah dimata pak Ferry.Hem..., gue harus mikir.., kalo nggak ada rotan, akar pun jadi...Aha..., gue punya ide. Gue langsung berlari menuju belakang sekolah. Seingat gue, disana ada sedikit jalan yang bisa dimasuki , moga aja masih ada.Setelah sampai, ternyata...yes.., akhirnya masih ada juga, gue kirain udah diperbaikin, he he he...Tanpa pikir panjang gue langsung menerobos masuk..Gue kaget saat ngeliat seorang cowok duduk disebuah bangku. Entah kenapa gue tertarik ingin menghampiri dia, seperti ada suatu magnet yang narik gue. Besi kali gue, he he he .."permisi..", sapa gue.Cowok itu menoleh ke arah gue. Tatapannya lurus banget, terus mukanya pucat pasi, apa dia sakit kali yah ?."kok loe ada di sini ?, inikan udah jam pelajaran. Loe nggak masuk ?".Cowok itu nggak ngejawab, malah natap gue terus tanpa berkedip. Dia bisu kali yah ?."halo, kok diem aja sih ? loe bisa ngomong kan ?"."bisa", jawabnya datar. Akhirnya dia ngejawab juga, gue kirain beneran bisu."loe kok bisa ada di sini ?, loh dari kelas mana ? Gue baru liat loe di sekolah ini".Lagi-lagi dia hanya diem. "kok malah diem aja sih ?, jawab dong"."kamu sendiri ngapain disini?"."em gue..., gue terlambat, makanya lewat belakang, abisnya satpam galak banget nggak ngebolehin gue masuk lewat depan. Lo sendiri ?".Cowok itu hanya ngangkat kedua bahunya. Aneh.."nama lo siapa ?", tanya gue .Lagi-lagi dia hanya diam natap gue. "nama lo siapa ?" tanya gue lagi."Nando", jawabnya singkat.Heran deh, dia baru ngejawab kalo gue udah dua kali nanya."kalo gue Nina. Anak X IPA 3. Kalo lo ?".Dia hanya menggeleng."maksudnya ?". Gue gak ngerti maksud dia menggeleng apa ?"bukannya kamu sudah terlambat, kok masih di sini", ucapnya.Astaga, kok gue bisa lupa gini sih dan malah keasyikan ngobrol sama dia. "ya udah gue duluan yah", kata gue kemudian berlari menuju kelas.***Bener dugaan gue, gue dimarahin habis-habisan sama guru pkn gue gara-gara telat satu jam masuk di kelasnya. Dan lebih marahnya lagi saat beliau nyuruh gue untuk ceritain sejarah G30 S/PKI gue malah nggak bisa. Gue akuin, otak gue emang lemah kalo pelajaran pkn, tapi jangan salah, kalo pelajaran hitungan kayak matematika atau kimia, gue jagonya. Hua ha ha..., bukannya sombong nih yeh."tumben lo telat datangnya tadi Nin ?", tanya Leni teman sebangku gue."gue kesiangan tadi Len . Mami yang seharusnya selalu bangunin gue tiap hari, malah nggak ada. Pergi ke bandung tadi malam"."bukannya ada pembantu lo ?"."kalo dia, nggak usah nanya lagi deh. Malas gue ngomongin pembantu gue yang rada'oon itu". Ucap gue mendesah.Gue ceritain semua kejadian yang gue alami tadi sama Leni. Dia malah tertawa terpingkal-pingkal dengerin cerita gue saat diusir sama satpam."berarti hari ini loe emang sial banget Nin. Tapi tadi cowok yang lo temui itu anak mana ?"."yah mana gue tau, saat gue nanya dia hanya geleng-geleng"."aneh.., jangan-jangan bukan siswa dari sekolah ini kali"."nggak mungkin, orang seragamnya sama kok sama kita"."emangnya lo beneran nggak pernah liat dia sebelumnya di sekolah ini ?".Gue hanya menggeleng. Tapi meskipun Leni bilang gue sial banget hari ini, tapi bagi gue nggak juga tuh, apalagi saat gue ketemu sama cowok yang tadi. Buat cewek yang punya mata normal, pasti bakalan bilang kalo tuh cowok ganteng banget. He he he....***Sepulang sekolah, gue iseng-iseng pergi ke belakang. Barangkali aja tuh cowok masih ada disana. Ngarep banget sih. Entah kenapa gue penasaran banget sama tuh cowok.Oh my god.. Tuh cowok beneran ada loh. Gue hampirin ah..."hei, kok loe ada lagi di sini sih ?, tadi loe masuk belajar kan ?".Lagi-lagi dia hanya menatap lurus ke gue. Sumpah, baru kali ini gue ketemu sama cowok aneh kayak dia."loe sakit yah, makanya pendiem banget ?".Dia menggeleng."muka lo pucat banget". Saat gue ingin megang jidatnya, dia langsung menghindar, dan malah natap gue tanpa berkedip lagi kayak tadi pagi."aku nggak apa-apa. Dan aku nggak suka disentuh", katanya datar.Gue kaget mendengarnya. Lagian gue juga sih mau main pegang-pegang aja, baru kenal tadi pagi juga. Sok akrab deh..."maaf yah, gue nggak bermaksud...". Gue nggak bisa ngelanjutin omongan gue, nggak tau deh mau ngomong apa sama dia."kenapa kamu ada lagi disini ?", tanyanya kemudian."gue...". Gue harus ngejawab apa yah ?, kalo gue bilang gue sengaja datang karena pengen ketemu sama dia, gengsi dong.."gue sih cuma iseng-iseng doang ke sini, ternyata ketemu lagi sama loe".Dia memandang lurus ke depan."loe suka banget nongkrong sendirian di sini yah ?".Dia diem lagi. "emangnya loe nggak kesepian sendirian di sini ?".Dia hanya menggeleng."rumah loe di mana ?", tanya gue lagi."setelah jalan cenderawasih ", katanya lagi datar."setelah jalan cenderawasih ?, emangnya jalan apa setelah jalan cenderawasih ?. Gue lupa bagian jalan di sana, karena seingat gue, gue hanya sekali datang ke jalan cenderawasi, itu pun saat masih kecil".Nando kemudian berdiri dan ingin pergi."loe mau ke mana ?, mau pulang ?".Dia hanya mengangguk."em.., sebelum loe pulang, gue..., gue mau ngajak loe temenan. Gimana ?, mau nggak temenan sama gue ?, walaupun kita baru kenalan, tapi gue liat lo orangnya baik".Dia hanya mengangguk." Gue boleh minta nomer hp loe nggak ?".Dia lalu menyebut nomor hpnya, dan gue segera ambil hp gue disaku kemudian mencatatnya.Setelah itu dia pergi...Heran deh gue, tuh cowok kok nggak pernah senyum sih. Nggak senyum aja dia ganteng, apalagi kalo senyum yah.., he he he.***Gue langsung nelpon Nando ketika sampai di rumah.Tapi kok...., nomernya nggak aktif. Ini nomor beneran nggak sih?, tapi masa Nando bohongin gue, nggak mungkin. Tapi tadi dia nggak ngasih tau alamat rumahnya loh.Akh..., kenapa gue jadi penasaran gini sih ?.Usai ganti baju gue langsung keluar rumah, ceritanya sih pengen ke rumah Nando. Dan tiba-tiba gue berpapasan sama Leni didekat gerbang rumah gue."eh, loe mau ke mana Nin ?"."loe sendiri ngapain ke sini ?"."ya ellah, yah mau ketemu sama loe lah. Kayak biasa..".Gue tau, setiap kali Leni datang ke rumah gue, pasti ujung-ujungnya cuma ngajak ngegosip doang..."oh yah, karena kebetulan lo datang, loe harus temenin gue pergi ke rumah Nando"."hah ?, ke rumah Nando ?, siapa tuh, gebetan loe ?".Gue ngejitak kepala Leni. Yah, meskipun omongannya nggak salah juga, tapi tetep aja, gue nggak mau dibilang ngejar-ngejar cowok. Gengsi dong. Sebelum Leni ngoceh, gue langsung narik tangan dia naik ke taksi yang sudah berhenti di depan.Setelah sampai di jalan cenderawasih, gue bingung sendiri."rumah cowok yang lo maksud dimana Nin ?"."gue juga nggak tau"."loh, kok malah nggak tau sih ?", tanya Leni melongo kaget."Nando hanya bilang kalo rumah dia setelah jalan cenderawasih"."setelah jalan cenderawasih ?, berarti bukan jalan cenderawasih dong"."tau ah. Gue itu nggak tau lokasi di sekitar sini"."gimana sih ngasih alamat nggak jelas".Ketika ada orang yang lewat, gue berhentiin."permisi pak. Saya mau nanya, setelah jalan cenderawasih, jalan apa lagi yah ?".Ekspresi muka Bapak itu terlihat kaget. "setelah jalan cenderawasih kan, udah bukan jalan lagi neng, tapi perkuburan umum."hah..?", gue sontak kaget bersamaan dengan Leni."ah, bapak jangan bercanda deh", kata gue cengingiran."bapak nggak bercanda neng. Serius.., setelah jalan cenderawasih memang langsung perkuburan umum. Memangnya kenapa neng nanyain itu segala ?"."soalnya saya punya teman, katanya rumah dia setelah jalan cenderawasih. Atau barangkali aja bapak kenal sama dia. Namanya Nando pak"."wah, setau bapak di jalan cenderawasih ini nggak ada yang bernama Nando neng. Mungkin aja neng salah alamat kali".Gue nggak mungkin salah alamat, jelas-jelas gue denger Nando bilang rumahnya setelah jalan cenderawasih. Apa Nando sengaja ngerjain gue ?, nggak mungkin..."gimana sih Nin, kok cowok itu ngasih alamat yang salah. Setelah jalan cenderawasih kan perkuburan, atau emang cowok itu tinggal di perkuburan kali. Jangan-jangan hantu nin...".Gue ngejitak kepala Leni. "jangan ngomong sembarang deh loe. Masa ganteng-ganteng gitu dibilang hantu"."yah barangkali aja hantu versi 2017 udah jadi berubah, jadi cakep-cakep semua, he he he..".Leni malah cengengesan. Gue langsung ngejitak kepala dia lagi."candaan lo nggak lucu tau nggak.."."yeh, emangnya siapa bilang lucu ?"."mendingan sekarang kita pulang aja. Moga aja gue bisa ketemu sama Nando besok, jadi gue bisa minta penjelasan sama dia. Dan loe ikut gue besok ke belakang, biar loe ngeliat gimana cakepnya Nando"."oke..".***Esoknya di sekolah, gue langsung narik tangan Leni ke belakang sekolah.Dan ternyata...., si Nando udah nggak ada lagi."dianya mana Nin?"."hufh.., dia udah nggak ada. Malah gue nggak tau lagi dia di kelas mana"."loe payah banget sih ketemu sama cowok"."jangan mulai lagi deh loe".Tiba-tiba pak satpam sama Leo kakak kelas gue datang."kalian ngapain disini ?", tanya pak satpam."bapak sendiri ngapain ke sini sama kak Leo ?"."ditanya malah balik nanya".Gue cengingiran. "sorry pak. Saya datang ke sini sama Leni mau ketemu sama teman saya"."teman kamu siapa ?"."kemarin saya ketemu sama dia disini. Kirain masih ada, ternyata nggak ada. Namanya Nando. Bapak kenal nggak sama dia ?"."hah..?". Pak satpam dan Leo sontak kaget."loe jangan ngawur deh Nin. Nando kan udah meninggal satu tahun yang lalu"."hah..?", gue yang giliran kaget banget bersamaan dengan Nina."kak Leo kalo bercanda jangan keterlaluan dong. Masa tega ngomong kayak gitu tentang Nando", kata gue nggak percaya."gue serius Nin, nggak bohong. Nando itu sahabat dekat gue. Dia udah meninggal sebelum loe masuk ke sekolah ini. Satu tahun yang lalu tepat kemarin, dia meninggal di tempat ini karena memang ada penyakitnya. Kebetulan pak Wayan juga dekat sama Nando, makanya kita datang ke sini, kemarin lupa. Yah kita cuma mau mengenang satu tahun kematian Nando, makanya datang ke sini tempat dia meninggal".Gue syok banget ngedenger penjelasan kak Leo."berarti loe itu udah ngeliat hantu Nando kemarin nin. Gue jadi merinding nih..", ucap Leni dengan gemetar."ka..kalo tem..pat Nando dimakamkan di..di mana ?", tanya gue dengan suara gemetar."diperkuburan umum, setelahnya jalan cenderawasih", jawab Leo."hah..?", gue tambah kaget lagi."bener kan Nin. Berarti Nando emang nggak salah ngasih loe alamat. Dia kan udah meninggal, jadi emang tinggal diperkuburan"."Len..Len", kata gue megang lengan Leni dengan lemas. Seluruh badan gue lemas banget."gue.. gue masih ada kan. Lo masih liat gue kan ?".Leni langsung mencubit pipi gue dengan keras."aww....!", jerit gue.Gue langsung ngejitak kepala Leni lagi."Gila, sakit banget tau.."."abisnya loe sih ngomongnya ngelantur.."."abisnya gue nggak percaya bisa ketemu sama hantu Nando kemarin. Pantesan aja mukanya pucat pasi banget, nggak kayak manusia normal. Ternyata..."."ternyata benerkan omongan gue, hantu versi 2017 cakep-cakep. He he he..".Perasaan gue nggak mimpi serem kemarin malam, tapi kenapa bisa ketemu sama hantu yah ?, tapi nggak apa-apa deh, yang penting hantunya cakep banget, nggak kayak di film-film. He he he....Sekarang gue tau, kenapa gue bisa ngeliat hantu Nando kemarin, sedangkan hari ini nggak. Karena kemarin tepat satu tahun hari kematian dia, makanya muncul di tempat ini, tempat dimana ia meninggal gitu, mungkin gue bisa ngeliat dia lagi satu tahun kemudian kali yah tepat hari kematian dia.Nggak apa-apa deh tiap hari gue ketemu sama hantu, asalkan cakep kayak Nando.He he he....Dananehnya, kenapa cuma gue yang kebetulan bisa ngeliat dia kemarin...........The End
Gerhana Bulan
"woi Gerhana......! Mau ke mana loe....", teriak gue.Si Gerhana bener-bener buat gue naik darah. Tiap hari dia cari masalah terus sama gue. Dan kalo udah gitu, gue harus cari cara lagi untuk ngebales dia. Dia baru aja ngebuat ban sepeda gue bocor. Terpaksa deh gue harus jalan kaki pulang nanti sambil ngedorong sepeda gue ke bengkel. Kayaknya, dia emang sengaja nggak bawa motornya ini hari. Mungkin takut kalo gue juga bikin ban motornya bocor. Awas loe yah, besok-besoknya gue bales loe. Malah tadi dia cuma cengengesan lagi pas ngeliat ekspresi marah muka gue.Gue sama dia udah tetanggaan cukup lama. Semenjak dia pindah di samping rumah gue satu tahun yang lalu, gue sama dia bagaikan kucing dan tikus. Selalu aja berantem tiap hari. Padahal yah, ortu kami akur-akur aja tuh."hai Bulan. Kok muka loe ditekuk lagi sih. Perasaan tiap hari muka loe selalu aja jutek", kata Tari waktu gue berpapasan sama dia di dekat pintu kelas.Tari itu pacarnya Gerhana. Itu sih cuma penafsiran gue aja. Habisnya mereka sering banget jalan bareng. Gue sering liat Gerhana ngebonceng Tari kalo pulang sekolah. Makanya itu gue langsung nyimpulin kalo mereka pacaran. Gue sih ogah cari tau yang sebenarnya tentang mereka."loe nggak usah mancing emosi gue deh. Loe itu sama aja tau nggak kayak pacar loe itu"."pacar gue ? Siapa ?", tanya Tari kayak nggak ngerti. Aduh, pura-pura bloon deh."yah siapa lagi kalo bukan Gerhana. Emangnya loe punya banyak pacar. Wah, kasian juga Gerhana udah diselingkuhin ". Gue langsung masuk ke kelas sebelum ngedengerin omongan Tari.Lagi-lagi gue ngeliat Gerhana. Gue emang sekelas sama dia. Padahal yah, gue enek banget kalo tiap hari ngeliat dia. Tapi yang anehnya, Lola teman sebangku gue malah terus muji-muji dia. Tiap hari malahan. Udah tau gue benci banget sama Gerhana, malah dipuju-puji lagi di depan gue.Gerhana balik ke arah gue. "heh Bulan, gimana kejutan gue tadi pagi ? Seru kan ?", katanya dengan smirk menyebalkannya." Awas loe yah, gue bales perbuatan loe"."oke deh gue tunggu. Kapan rencana loe mau ngebales gue ?", ledeknya."ih malah ngeledek". Gue langsung ngejitak kepala Gerhana."aw...". Dia nahan tangan gue. "loe jadi cewek kasar banget sih. Nanti nggak ada yang suka loh"."bodo' !". Gue berantem sama gerhana di kelas."Gerhana ! Bulan !", bentak bu Merry guru matematika gue.Gue dan Gerhana seketika berhenti."kalian ini bener-bener yah. Tiap hari kerjaannya berantem terus".Gue dan Gerhana saling melirik."kalian berdua maju ke depan ! cepat..!".Gue dan Gerhana lalu maju dan berdiri di depan kelas. "apa kalian ini nggak bisa akur sedikit.."."nanti kalo matahari udah terbit dari barat bu", kata Gerhana."dan kalo matahari udah terbenam dari timur bu", lanjutku."kalian ini bener –bener keras kepala. Seharusnya kalian ini tetap akur. Karena biar bagaimana pun ada yang namanya gerhana bulan. Gerhana nggak mungkin sendiri. Pasti kalo bukan gerhana bulan, maka gerhana matahari"."kalo gitu, saya mau cari cewek aja bu yang namanya Matahari. Lebih cocok tuh gerhana matahari daripada gerhana bulan. Kalo dia, lebih cocok cari cowok yang namanya Sabit, biar jadi bulan sabit bu. Atau nggak, cowok yang namanya Purnomo. Jadi bulan purnomo deh. Ha ha ha", kata Gerhana tertawa meledek.Gue langsung nginjak kaki Gerhana"aw..", katanya menjerit."heh kutu kupret. Adanya bulan purnama kali. Bukan bulan purnomo"."biarin aja, suka-suka gue dong"."dasar loe yah.."."sudah sudah.. Kalian ini memang bener-bener nggak bisa disatuin. Emangnya kalian nggak takut nanti saling jatuh cinta. Benci sama cinta itu beda tipis loh. Apa kalian nggak tau kepanjangan dari benci"."emangnya apa bu. Benci itu kan cuma satu kata"."benci itu kepanjangan dari 'benar-benar cinta' "."hoek..". kata gue bersamaan dengan Gerhana.***"Bulan, kamu bawain kue ini ke tetangga sebelah"."sebelah mana ma ?"."yah dimana lagi kalo bukan di rumahnya tante Siska, mamanya Gerhana"."hah ? Kok aku sih ma ?"."emangnya siapa lagi. Ayo cepetan"."tapi ma.., kan aku sama Gerhana nggak akur. Kalo aku ketemu sama dia gimana ?"."lagian kamu kenapa sih kok benci-bencian sama Gerhana ?, dia anaknya baik kok"."itukan di depan mama. Tapi kalo di depan aku, ampun deh nyebelin setengah mati"."sudah-sudah. Cepetan kamu bawain ini ke tante Siska. Lagian cuma bentar kok"."ya udah deh, sini..". Gue lalu ke rumah tante Siska.....Setelah sampai, untungnya tante Siska yang bukain pintu. Tante Siska langsung nyuruh gue masuk."seharusnya kamu nggak usah repot-repot loh ngasih kue segala sama tante"."nggak apa-apa tante. Lagian kan tante juga sering ngasih kami makanan. Jadi saling membalas kan"."kamu ini. Oh yah, ngomong-ngomong kamu mau ketemu sama Gerhana nggak ?".Gue kaget, "nggak kok tante. Bulan mau langsung pulang aja"."loh kenapa ? Gerhana ada di kamarnya. Tante panggilin yah"."nggak usah tante. Bulan bener-bener mau pulang aja sekarang"."bener ?"."iya tante. Kalo gitu Bulan permisi yah tante"."oh iya. Salamin yah sama mama kamu. Bilangin makasih atas kuenya"."iya tante". Gue langsung keluar dari rumah tante Siska.Setelah sampai di pintu gerbang, gue dikagetkan sama kehadiran Gerhana. "ngapain loe disini ?, ada urusan sama gue ?".Loh, bukannya Gerhana ada di kamarnya kata tante Siska ?"nggak ! Gue cuma ada urusan sama tante Siska"."loe bawain kue untuk mama gue"."nah itu tau, pake nanya lagi"."mau cari perhatian sama gue, makanya bawain kue segala ?"."enak aja. Jangan GR yah. Gue itu cuma disuruh sama mama gue". Gue langsung cabut ninggalin Gerhana."eh ada yang lupa tuh.....!", teriak Gerhana."apa ?", kata gue balik."jejak kaki loe. Ha ha ha..", katanya tertawa menyebalkan.Gue pasang tampang marah. Dasar cowok nyebelin...***"eh lan, loe kan tetanggaan sama gerhana, Gue minta disalamin dong sama dia", kata Lola waktu gue makan di kantin sama dia.Gue langsung tersedak. "apa loe bilang ? minta disalamin ? nggak salah ?"."apanya yang salah coba. Lo tau nggak sih. Gue itu udah lama naksir sama Gerhana. Semenjak dia jadi siswa pindahan di sini. Sebagai sahabat, loe harus bantuin gue"."ogah..! udah tau gue sama Gerhana musuhan, pake minta disalamin lagi sama dia. Kenapa nggak sekalian aja loe yang nyamperin dia. Lagian kita kan sekelas"."gue kan malu lan. Masa cewek yang duluan sih"."ya udah kalo malu. Lupain aja.., lagian kayak nggak ada cowok lain aja yang bisa loe taksir. Terus kenapa pake malu segala lagi sama Gerhana. Apa yang loe maluin coba ?"."elloe tuh yah. Nggak ngerti banget perasaan gue"."udah, lupain aja si kutu kupret itu. Cari cowok lain aja gih. Lagian, bukannya Gerhana udah punya pacar yah ? Dia kan pacaran sama Tari"."hah ? Siapa yang bilang ?"."loe nggak liat mereka sering barengan. Gerhana sering banget ngeboncengin Tari"."tapi belum tentu mereka pacaran kali"."menurut gue mereka itu pacaran"."nggak. Mereka nggak pacaran"."ya udah, terserah loe..".***Waktu itu gue pulang malam karena ada yang gue kerjain di sekolah. Gue kan aktif banget di sekolah, jadi kalo ada kegiatan gue selalu ikut berpartisipasi.Jalanannya sepi banget sih...Tiba-tiba aja ada segerombolan preman yang menghampiri gue."mau ke mana neng ?".Aduh ,mukanya sengar banget sih..."mau ke mana neng ? kita anterin yah"."nggak usah bang".Saat gue ingin lari kayak di film-film, tangan gue dicekal."lepasin.."."buru-buru amat sih neng. Temenin kita dulu dong"."nggak..! lepasin...". Preman itu tertawa, mungkin karena melihat gue yang begitu ketakutan."heh.., lepasin cewek itu..!".Gerhana tiba-tiba aja datang."siapa loe ? Nggak usah jadi pahlawan kemalaman yah"."gue bilang lepasin cewek itu. Kalian langkahin dulu mayat gue sebelum gangguin cewek itu".Gerhana berani banget...Para preman itu malah tertawa. "anak ingusan mau ikut campur"."ayo maju kalo berani", tantang Gerhana. Preman itu kemudian maju melayani gerhana berkelahi.Mereka sudah cukup lama berkelahi. Tiba-tiba aja seorang preman yang tadi jatuh tersungkur dibuat Gerhana, langsung bangun dan dengan cepat menusuk perut Gerhana dengan pisau."Gerhana..... !", teriakku.Tubuh Gerhana langsung limbung. Para preman itu langsung kabur. Gue segera menghampiri Gerhana."Gerhana.., bangun Gerhana..". Gerhana sudah tak sadarkan diri."tolo..nngg". Gue teriak minta tolong. Tanpa sadar gue nangis melihat perut Gerhana yang berlumuran darah. "Gerhana...".Setelah gue teriak minta tolong berkali-kali. Akhirnya orang-orang datang. Salah satu dari mereka menghubungi ambulance. Kemudian beberapa saat kemudian, Gerhana sudah dibawa ke rumah sakit..Gue nggak henti-hentinya menangis. Bahkan setelah Gerhana masuk ke ruang UGD. Gue ngerasa bersalah banget sama Gerhana. Gara-gara gue keadaannya jadi kritis. Kata dokter Gerhana masih koma. Dan gue bener-bener syok ngedengernya.Beberapa lama kemudian orang tua Gerhana sudah datang bersama dengan orang tua gue."gimana keadaan Gerhana, Bulan ?", tanya tante Siska cemas."kata dokter Gerhana masih koma tante", kataku masih menangis."maafin Bulan tante, ini semua gara-gara Bulan. Kalo aja Gerhana nggak nolongin Bulan, pasti dia nggak akan kayak gini"."sudahlah bulan nggak apa-apa. Ini semua sudah takdir. Yang penting kita berdoa aja, semoga Gerhana keadaannya bisa membaik"."iya tante".Mama menenangkan gue yang nggak henti-hentinya menangis. Ini untuk pertama kalinya gue nangis karena cowok. Itupun cowok yang jadi musuh gue selama ini.***Hari ini gue sengaja nggak ke sekolah karena nungguin Gerhana. Mama sama tante Siska sebenarnya udah ngebujuk gue ke sekolah, tapi tetep aja gue nggak mau. Gue nggak mau ninggalin Gerhana sampai dia siuman. Lagian walaupun gue ke sekolah, pasti gue juga nggak akan konsentrasi belajar karena mikirin Gerhana terus.Semalaman gue nggak bisa tidur karena ngejagain Gerhana. Sampai-sampai mata gue bengkak, ditambah lagi habis nangis. Tanpa sadar gue tertidur di dekat Gerhana sambil megang tangannya.Tiba-tiba aja gue ngerasa tangan Gerhana bergerak. Gue langsung manggil dokter. Setelah diperiksa, akhirnya dokter bilang kalo Gerhana udah melewati masa komanya. Alhamdulillah...Gerhana membuka matanya perlahan. "Gerhana, syukurlah loe udah siuman. Gue khawatir banget sama loe"."Bulan ?". Kelihatannya Gerhana kaget ngeliat gue. "gu..gue a..da di mana ?"."loe ada di rumah sakit. Loe lupa yah , tadi malam kan loe ditusuk pisau sama preman yang mau gangguin gue. Sekarang ini udah pagi, dan syukurlah loe udah bisa sadar"."kok loe bisa ada di sini ? Nggak ke sekolah ?"."gimana gue bisa ke sekolah coba kalo tadi loe belum siuman. Gue khawatir banget sama loe. Walaupun gue ke sekolah, gue juga nggak akan bisa konsen. Jadi gue mutusin nungguin loe sampai siuman. Orang tua loe tadi pulang bentar ke rumah. Nanti juga balik kok".Gerhana mencoba bangun."sini gue bantuin". Gue bantuin Gerhana bangun."aw..", jerit Gerhana memegang perutnya. Kelihatannya perutnya masih sakit."hati-hati. Perut loe kan belum pulih. Oh yah, loe harus makan sekarang. Gimana kalo gue suapin"."kok loe tiba-tiba baik banget sama gue ?"."yah abisnya loe udah nolongin gue tadi malam. Dan gue berhutang nyawa sama loe. Gue nggak tau harus balas loe kayak gimana ?"."jadi seandainya tadi malam gue nggak nolongin loe, loe nggak akan sebaik ini sekarang ? Kalo gitu mendingan gue sakit terus aja supaya loe bisa perhatian terus sama gue"."husy.., kok loe ngomong gitu sih. Dengan loe udah siuman aja, itu udah buat gue lega banget"."loe bener-bener khawatir sama gue ?"."ya iyalah"."loe peduli sama gue ?"."kok loe nanya gitu ?"."selama ini loe benci banget yah sama gue ? Apa gue terlalu nyebelin jadi orang ?"."gue itu nggak akan mulai, kalo bukan loe yang duluan. Bukannya loe yang nggak suka sama gue yah. Gue kira loe yang benci sama gue ?".Gerhana megang tangan gue. "gue nggak pernah benci sedikit pun sama loe Bulan"."terus kenapa lo selalu jailin gue ?"."karena gue mau cari perhatian sama loe. Loe selalu aja jutek sama gue. Nggak pernah sedikit pun tersenyum. Makanya satu-satunya cara gue bisa cari perhatian sama loe, yaitu dengan jailin loe terus"."jadi selama ini loe nggak beneran benci sama gue ?".Gerhana menggeleng. "semenjak gue pindah di sebelah rumah loe dan juga di sekolah loe, gue udah mulai suka sama loe ?"."apa ? Te..terus Tari gimana ?, kalo emang loe suka sama gue, kenapa loe bisa pacaran sama Tari ?"."hah ? Siapa yang pacaran sama Tari ?"."gue sering liatin kalian berdua. Loe sering boncengin Tari kan ?"."gue emang sering boncengin dia. Gue selalu ajak Tari bersama saat gue ngeliat loe, Itu karena gue mau ngetes loe. Gue pengen tau apa yang loe rasain saat ngeliat gue sama cewek lain. Lagian nggak mungkin lah gue pacaran sama Tari. Dia kan sepupu gue"."hah ? Kok Tari nggak pernah bilang sih ?"."gue emang sengaja nyuruh dia nyembunyiin. Terutama sama loe"."kok loe tega sih sama gue ?"."emangnya kenapa ? Apa itu pertanda loe juga suka sama gue ?".Gue mengangguk malu. "tapi gue langsung mundur saat gue kira lo udah punya pacar. Apalagi banyak cewek-cewek cantik yang suka sama loe di sekolah. Dibandingin mereka, gue nggak ada apa-apanya lah"."gue nggak peduli itu semua Bulan. Yang gue peduliin sekarang adalah perasaan loe sama gue".Gue tersenyum. "jadi loe mau kan jadi pacar gue ?".Gue mengangguk tersenyum.Gerhana juga ikut tersenyum."tapi gue nggak mau kejadian tadi malam terulang lagi. Seharusnya loe langsung aja bawa gue lari tadi malam tanpa harus ngelawan para preman itu"."itu berarti pengecut dong. Lagian gue rela kok pertaruhin nyawa gue asalkan loe selamat. Gue nggak akan biarin orang lain ngegangguin loe sebelum ngelangkahin dulu mayat gue".Gue hanya tersenyum. Gue bener-bener bahagia. Ternyata bener, setiap kejadian itu pasti ada hikmahnya....The End
Sorry
"ini semua gara-gara loe tau nggak Gin, andai aja tadi loe nggak teriak-teriak. Kita nggak bakalan ketahuan sama Niko. Sampai-sampai dia ngeliat kita kabur segala"."yah maaf Ray. Gue kan gak tau loe mau menghindar dari Niko. Emangnya kenapa sih, loe kayak nggak suka banget sama dia. Padahal kan dia perhatian banget sama loe. Seneng lagi punya pacar kayak dia"."pacar dari hongkong ! Kapan coba gue jadian sama dia. Dia aja tuh yang suka ngaku-ngaku jadi pacar gue. Sukanya cari perhatian mulu, apalagi sama papa dan mama".Siapa yang nggak kesel coba, tiap hari si Niko yang ngakunya keren dan ganteng terus datang ke rumah gue. Malah sok perhatian lagi. " udah makan belum Ray. Tadi malam tidur loe nyenyak nggak ? Loe makin cantik aja deh hari ini dan bla bla bla ".Hoek.., gue kayak mau muntah kalo inget kata-kata si Niko. Emangnya dia pikir, gue cewek yang mudah digombalin. Dasar playboy kampungan.. !."wah, kasian Niko dong kalo gitu. Masa lo gantungin dia terus sih"."siapa juga yang ngegantungin dia. Gue itu udah beberapa kali nyuruh dia berhenti ngedeketin gue terus, tapi tetep aja dia nggak nyerah dan cari perhatian terus sama ortu gue. Nyebelin banget kan !"."lo tuh yah"."jangan-jangan loe suka lagi sama Niko, Gin ? makanya lo belain dia terus"."yah nggaklah. Gue cuma heran aja. Kalo diliat selama ini, Niko itu baik banget dan perhatian sama lo, gue heran aja kenapa loe nggak suka banget sama dia. Jadi karena lo ngira dia playboy".Braaakk...... !"oh my god Raya, loe nabrak orang".Gue kaget banget. "gara-gara loe tau nggak karena ngajakin gue ngomong terus dari tadi"."kok loe malah nyalahin gue sih"."mendingan kita turun sekarang". Gue dan Gina lalu turun dari mobil.Orang yang gue tabrak terkapar di jalan, gue bisa lihat kepalanya berdarah. Ya ampun, mati gue...Orang-orang lalu datang melihat keadaan ibu-ibu yang gue tabrak. Mereka nuntut gue untuk bertanggung jawab. Akhirnya gue segera nelpon ambulance. Tidak lama kemudian, ambulance datang dan membawa ibu tersebut ke rumah sakit. Gue dan Gina langsung nyusul ambulance tersebut.Setelah sampai, bukannya gue ke ruang rawat ibu yang tadi gue malah singgah di bagian administrasi ngurusin semuanya. Setelah selesai, gue masih nggak beranjak juga."Raya, lo kenapa sih ? Ayo kita ke ruang rawat ibu yang tadi"."gue takut Gin. Gue takut kalo ibu yang tadi gue tabrak kenapa-napa. Kalo sampe dia meninggal, pasti gue bakalan masuk penjara"."husy.., lo itu jangan ngomong sembarangan. Kita kan belum tau keadaan ibu itu. Mendingan sekarang kita pergi lihat keadaan dia. Barangkali aja keluarganya belum datang, dan dokter membutuhkan seorang wali"."justru itu, kalo misalnya keluarganya udah datang pasti mereka akan nyalahin gue"."belum tentu Ray. Lagian kita kan udah tanggung jawab dengan nolongin ibu itu. Jadi bukan salah kita lagi. Kalopun ibu itu sampai kenapa-napa, emang udah takdirnya dan bukan kesalahan kita. Kita hanya sebagai perantara". Tumben omongan si Gina bijak banget. Gue dan Gina lalu ke ruang rawat ibu tersebut.Saat kita sampai, terlihat ada seorang pemuda yang mondar-mandir dengan wajah cemas di depan kamar rawat ibu tersebut. Gue dan Gina lalu mendekat ke arah pemuda tersebut."maaf mas", sapa gue. Dia lalu menoleh ke arah kami. Wah.., nih cowok ganteng banget.Gue melirik ke arah Gina, dan ternyata dia juga sama lagi mesem-mesem. Dari gelagatnya gue udah tau kalo Gina punya pikiran yang sama kayak gue saat ngeliatin ini cowok."em.., mas ini keluarga dari ibu yang ditabrak tadi yah ?", tanya gue setengah takut."iya. Kalian siapa ?", tanyanya datar."em.. kita.....kita..".Gue melirik lagi ke arah Gina. Gue bener-bener takut bilang yang sebenarnya sama cowok ini. Gina hanya mengangguk dengan maksud mengiyakan atau menyetujui gue jujur.Cowok itu menatap gue dengan penuh tanda tanya."maaf yah mas, sebenarnya saya yang tadi nggak sengaja menabrak ibu yang dirawat didalam". Ucapku menunduk.Wajah datar cowok itu berubah sangat kaget."saya...."."terus kamu masih punya muka untuk datang ke sini !", katanya marah.Gue bener-bener kaget dengerin omongan dia. Wajahnya bener-bener diliputi rasa amarah."kalian orang kaya memang nggak punya perasaan. Kalian beranggapan segala sesuatu hanya bisa diselesaiin dengan uang !"."nggak. Saya mohon jangan salah paham. Saya nggak sengaja menabrak ibu yang tadi".Tiba-tiba seorang dokter keluar dari kamar rawat ibu itu."dokter, bagaimana keadaan ibu saya ?".Astaga, jadi orang ini adalah anak ibu tadi ? ."keadaan ibu anda masih kritis. Tapi kami akan berusaha melakukan yang terbaik untuk kesembuhannya". Dokter itu lalu pergi."jadi, ibu itu adalah ibu kamu ? Saya bener-bener minta maaf. Tapi kamu tenang aja, saya sudah bayar semua kok biaya administrasinya. Kalo pun ibu kamu masih perlu perawatan yang lain, saya juga akan menanggungnya"."apa kamu pikir segala sesuatu hanya bisa diselesaiin dengan uang !".Gue belum pernah liat ada cowok semarah ini sama gue."sekarang kamu dan teman kamu itu pergi dari sini. Saya nggak mau ngeliat muka kalian".Astaga , segitu marahnya orang ini ?"masih nggak denger juga ! saya bilang pergi dari sini !"."udah Ray, kita pergi aja dulu", bisik Gina."tapi Gin...".Gina langsung narik tangan gue pergi dari sana."nggak seharusnya tadi loe narik tangan gue Gin. Gue masih harus berada disana untuk ngejelesin sama cowok itu"."tapi tadi loe liat sendiri kan dia uda ngusir kita. Kalo loe mau datang, besok aja lagi deh. Mungkin aja amarah tuh cowok udah mereda. Lagian, gue paling nggak suka kalo liat cowok ganteng marah".Akhirnya gue dan Gina lalu pergi.***Esoknya, gue datang lagi ke rumah sakit. Dan seperti kemarin cowok itu sedang duduk di kursi tunggu di depan ruang rawat ibunya."gimana keadaan ibu kamu ?", tanya gue menghampiri cowok itu.Muka cowok itu seketika kaget campur marah saat ngeliat gue. Gue jadi takut lagi nih ngehadapin dia.."ngapain lagi kamu ke sini ?", tanyanya sinis. "masih berani juga ngemunculin muka kamu ! "."aku cuma mau buktiin sama kamu, kalo aku bukan orang yang akan lari dari tanggung jawab"."Raya ! Loe ngapain disini ?", kata Niko yang tiba-tiba datang."loe ngapain disini ko ?",tanya gue terkejut melihatnya."seharusnya gue yang nanya balik sama loe. Ngapain loe disini dan ngomong sama...". Niko memandang hina cowok itu. "sama orang berpenampilan miskin kayak dia"."Niko, jaga omongan loe ! Nggak sopan banget sih".Niko kemudian menarik tangan gue menjauh dari cowok itu.Walaupun berpenampilan miskin, itu nggak mengurangi kegantengannya loh ...Gue langsung menghentakkan tangan gue yang ditarik Niko. "loe sengaja yah ngebuntutin gue ?"."iya, karena loe terus ngehindarin gue. Pasti karena cowok tengik tadi kan ?"."heh.., dia nggak ada hubungannya yah sama kita. Gue aja baru kenal dia kemarin. Gue nggak sengaja nabrak ibu dia, makanya gue datang ke sini sebagai rasa tanggung jawab gue"."alah.., loe kan bisa tinggal ngasih dia uang. Selesai kan"."loe itu masih nggak ngerti juga yah. Loe pikir dengan hanya uang bisa nyelesaiin semuanya ?".Cieh, kenapa gue jadi ikutan kayak cowok itu."sekarang loe pergi dari sini. Jangan ngebuntutin gue terus, kayak nggak ada kerjaan lain aja. Dan satu lagi, berhenti ngedeketin gue ataupun ortu gue. Gue udah beberapa kali ngasih tau kan kalo gue nggak pernah suka sama loe !".Gue langsung pergi ninggalin Niko dan kembali ke tempat tadi.Ternyata cowok itu udah nggak ada. Eits.., pintu kamarnya terbuka . Ibu itu udah siuman, gue bisa dengar cowok itu sedang nanyain keadaan ibunya. Kemudian gue memberanikan diri masuk."permisi bu. Keadaan ibu bagaimana ?", tanya gue berusaha ramah.Cowok itu kaget lagi pas ngeliat gue. "kamu ngapain lagi ke sini ?"."dia siapa Rio ?". Oh, jadi namanya Rio toh ?"perkenalkan, nama saya Raya bu. Saya mau minta maaf atas kejadian kemarin. Saya bener-bener nggak sengaja menabrak ibu".Ibu itu kelihatan sedikit kaget. "saya tau, mungkin ibu sangat membenci saya, sama halnya seperti Rio. Saya berjanji untuk menebus kesalahan saya. Saya akan membiayai perawatan ibu sampai ibu pulih total"."kamu nggak usah sok baik yah", kata Rio dengan sinis."Rio, nggak boleh ngomong kasar sama perempuan", kata ibu Rio lembut."dia ini cuma mau cari muka bu. Biasalah kerjaan orang kaya"."aku bener-bener nggak ada maksud apa-apa kok. Aku tulus"."dan kamu pikir aku percaya. Udah deh, mendingan sekarang kamu pergi !"."Rio, setidaknya nak Raya sudah mau bertanggung jawab".Gue heran, kan yang ditabrak mobil ibunya Rio, tapi kenapa Rio yang lebih marah-marah. Ibunya aja udah maafin gue ."ya sudah bu, kalo gitu saya pulang dulu. Besok saya akan ke sini lagi menjenguk ibu"."terima kasih yah nak"."justru saya yang berterima kasih pada ibu karena sudah memaafkan saya". Gue langsung pergi setelah pamitan sama ibunya Rio.***Esoknya gue ke rumah sakit lagi. Tapi ternyata kata suster, ibu Rio sudah pulang tadi pagi. Untung aja suster ngasih tau alamat mereka jadi gue langsung ke sana.Rumah Rio emang sederhana banget. Tapi gue nggak pernah permasalahin masalah ekonomi seseorang. Yang paling penting itu hatinya .Emangnya loe apanya Rio..?.Iya juga yah, masa gue udah jatuh cinta sih pada pandangan pertama sama Rio.Nggak mungkii....nnn.. !Gue lalu beri salam, dan ternyata ibu Rio yang bukain pintu. "nak Raya ?"."apa kabar bu ?", sapa gue tersenyum. "tadi saya datang ke rumah sakit. Tapi kata suster, ibu udah keluar tadi pagi. Makanya saya langsung datang ke sini. Memangnya keadaan ibu sudah membaik ?"."iya. Ibu sudah membaik kok. Ya sudah, ayo masuk nak". Gue lalu masuk dan duduk.Gue berbincang-bincang sama ibu Rio. Ternyata Rio itu kerja di bengkel. Kata ibunya, mungkin sebentar lagi dia akan pulang. Gue juga nggak tau, kenapa gue pengen banget ketemu sama dia, meskipun dia masih jutek sama gue, tapi gue bakalan bikin dia jadi baik sama gue. Liat aja entar...Tidak lama kemudian, Rio datang dengan wajah berkeringat, mungkin lelah karena habis bekerja.Ya ampun, berkeringat aja dia ganteng banget.... Kayaknya gue beneran jatuh cinta nih sama Rio."ngapain lagi kamu disini !".Gue kaget banget saat Rio ngebentak gue."Rio, kamu jangan kasar gitu sama nak Raya. Dia datang ke sini dengan baik-baik. Dia sengaja mau menjenguk ibu"."ibu seharusnya nggak nyuruh dia masuk"."kamu segitu bencinya yah sama aku sampai-sampai nggak ngebolehin aku masuk ke rumah kamu"."kamu lihat sendiri kan rumah kami. Begitu kecil dan sempit. Kalo nggak ada maksud tertentu, nggak mungkin orang kaya kayak kamu mau menginjakkan kaki di rumah ini"."sumpah, aku nggak ada maksud apa-apa kok. Aku bener-bener tulus"."Rio, kita seharusnya menghargai nak Raya karena mau datang ke sini". Rio langsung masuk ke dalam dengan wajah kesal."nak Raya jangan ambil hati yah omongan Rio"."nggak apa-apa bu", kata gue berusaha terlihat baik-baik saja.Rio kenapa sih benci banget sama gue..?***Gue masih nggak nyerah juga untuk datang ke rumah Rio. Kali ini gue datang bersama Gina. Gue sengaja minta dia nemenin gue, supaya kalo Rio marah, bukan hanya gue yang kena, tapi Gina juga.Hehehe....tega banget sih loe jadi temen.."rumah Rio sederhana banget yah Ray", kata Gina saat kami berada di depan rumah."iya. Tapi itu nggak masalah buat gue. Gimana pun keadaan keluarga Rio, itu nggak merubah perasaan gue sama dia"."tunggu tunggu..., perasaan loe ?, maksudnya apa nih ? Jangan bilang loe suka sama Rio ?".Gue cengingiran. "jadi bener Ray lo suka sama Rio ?"."iya Gin, gue nggak bisa bohongin perasaan gue"."jadi makanya itu loe sengaja bawa makanan segala untuk cari perhatian"."yah bukan gitu juga kali". Gue dan Gina lalu memberi salam.Lagi-lagi ibu Rio yang bukain pintu. Saat gue kasih makanan, ibu Rio malah jadi nggak enak.Tiba-tiba aja Rio keluar dari dalam. Dia kaget saat tau gue bawa makanan ."kamu pikir kami kekurangan makanan sampe harus bawa makanan segala !".Ya ampun, Rio kenapa sih sentimen mulu sama gue ? Kali ini gue hanya diem. Gue serasa mau nangis ngedengerin omongan kasar Rio. Kalo aja nggak ada ibunya yang ngebelain gue, mungkin aja gue udah nangis didepan dia. Setelah ibunya ngomong, Rio langsung keluar rumah. Oh my god...."jadi meskipun Rio nggak suka sama loe. Loe tetap pengen ngejar dia ?", tanya Gina."yah gimana lagi. Gue udah terlanjur cinta sama Rio. Gue yakin kok, suatu saat Rio bakalan suka sama gue".Gina hanya menggeleng, merasa heran dengan sikap gue. Iyalah, baru kali ini gue ngejar-ngejar cowok.***Gue sengaja datang ke bengkel tempat Rio bekerja.Saat gue sampai, gue bisa liat Rio sedang sibuk ngotak-ngatik mesin nobil. Gue lalu ngehampirin dia."hai Rio ?", sapa gue tersenyum walaupun gue tau pasti Rio bakalan jutek lagi.Ternyata bener kan, pas ngeliat gue wajah Rio jadi berubah kaget. Tapi kali ini dia nggak ngomong. Dia hanya menoleh sebentar, kemudian melanjutkan kembali pekerjaannya. Diacuhin nih..Gue lalu jongkok . " Rio, aku mau ngomong sama kamu. Bisa nggak kasih waktu aku sebentar". Dia hanya diam. "Rio.."."kamu nggak liat aku lagi kerja !"."aku tau. Tapi emangnya nggak bisa kita ngomong sebentar".Rio tiba-tiba berdiri. Gue kaget dan ikut berdiri. "kamu jadi cewek emang nggak punya malu yah ! Masih beraninya juga ngemunculin muka kamu di hadapan aku !"."kenapa sih kamu benci banget sama aku Rio ? Ibu kamu aja udah maafin aku, tapi kenapa kamu nggak. Lagian ibu kamu kan baik-baik aja".Rio tidak menjawab dan hanya menatap gue."apa yang harus aku lakuin supaya kamu mau maafin aku ?, apa nggak boleh kita temenan ?".Rio kemudian mengulurkan tangannya. "kamu mau kita temenan kan. Ya udah kamu jabat tangan aku". Rio mau ngetes aku atau apa ? Tangan Rio kotor, penuh dengan oli sehingga jadi hitam. Kalo aku jabat tangan Rio, tangan aku juga bakalan ikutan kotor dan hitam."kenapa ? jijik ? Hem.., aku tau cewek kaya yang manja kayak kamu nggak mungkin mau melakukannya".Saat Rio ingin menurunkan tangannya, gue langsung menarik lengan dan menjabat tangannya.Rio tersentak saat gue menjabatnya."jadi kita udah temenan kan ?", tanya gue tersenyum.Rio menatap gue seperti tidak percaya.Tiba-tiba aja Niko langsung datang menarik bahu Rio. "heh...!!". Niko langsung memukul Rio."Niko apa-apaan sih !".Rio memegang mulutnya yang sedikit lecet dan memandang Niko tajam."dasar cowok kampung ! Berani-beraninya yah loe ngedeketin Raya !"."Niko ! loe jangan keterlaluan yah !"."loe yang keterlaluan Ray. Bisa-bisanya loe lebih milih deketin cowok kampung ini dibanding gue !"."emangnya loe pikir perasaan bisa dipaksain ?"."jadi loe mau bilang kalo loe suka sama dia !"."iya ! Gue suka sama Rio !", kata gue tegas. Gue sama sekali nggak liat gimana ekspresi Rio saat gue bilang kayak gitu. Lagian gue berani banget sih ngomong kayak gitu. Niko tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia langsung pergi dengan perasaan kesal.Gue langsung ngehampirin Rio. "Rio, maafin aku yah, gara-gara aku kamu jadi kena pukul oleh Niko"."lain kali jangan bikin pacar kamu jadi salah paham !"."dia bukan pacar aku kok. Dia emang suka sama aku. Tapi aku nggak suka sama dia.Aku sukanya...."."aku nggak peduli kamu mau suka sama siapa", kata Rio motong omongan gue.Saat dia ingin pergi.."aku suka sama kamu Rio". Rio langsung berhenti. "aku serius"."mana mungkin gadis kaya seperti kamu suka dengan pemuda miskin seperti aku"."tapi aku bener-bener serius. Aku nggak peduli perbedaan status diantara kita. Yang aku cintai itu hati kamu Rio"."Raya...".Gue megang tangan Rio sebelum dia ngomong. "aku akan buktiin sama kamu kalo aku bener-bener cinta sama kamu"."kamu itu perempuan. Emangnya nggak malu ngomong kayak gitu sama laki-laki".Gue menggeleng."nggak ada kata malu untuk cinta".Rio masih menatap seperti tidak percaya."kasih aku kesempatan Rio.., please.."."aku bukan orang yang mudah percaya sama seseorang, apalagi orang yang belum lama aku kenal"."aku tau, makanya itu kasih aku kesempatan untuk deket sama kamu. Jangan menghindari aku terus. Yah...".Rio berpikir sejenak."jawab dong Rio"."oke, aku akan kasih kesempatan sama kamu"."bener ?", kataku nggak percaya.Rio mengangguk.Gue langsung meluk dia. Eits.... Rio tentu spontan kaget. Gue lalu lepasin Rio. "Maaf yah, aku terlalu seneng", kata gue tersenyum.Akhirnya Rio juga ikut tersenyum.Sumpah..... senyumnya manis banget.... !!The End
Kalo Jodoh Gak Akan Ke mana
Bruk.... !Semua buku-buku gue jatuh karena bertabrakan dengan seorang cowok di koridor kampus." sorry sorry ..", ucapnya.Gue langsung jongkok buat ngeberesin buku-buku gue. "gimana sih kalo jalan, pake mata dong..!", omel gue ke dia tanpa ngeliat mukanya dan tetap konsen ngeberesin buku gue.Cowok itu langsung ngejongkok juga ngeliat gue. Gue kirain mau bantuin beresin, taunya nggak."kalo orang jalan itu pake kaki, bukan pake mata. Loe udah kuliah semester berapa sih, kok masih nggak bisa ngebedain kaki digunain buat apa dan mata digunain buat apa ?".Gila, nih omongan orang ngeselin banget sih.. Gue hanya balik mandang dia dengan tatapan kesal."natapnya biasa aja dong loe. Kayak mau bunuh gue aja. Tapi.., loe tau kan ngebedain mulut sama telinga ? Barangkali aja telinga loe yang dipake buat ngomong", katanya menunjukkan smirk menyebalkan.Wah, nih orang bener-bener cari masalah..."emangnya loe nggak liat mulut gue tadi yang ngomong..!"."judes banget sih jadi cewek.."."bodo'..". Gue langsung berdiri dan cabut ninggalin tuh cowok. Abisnya dia ngeselin banget. Moga-moga gue nggak pernah ketemu lagi sama tuh cowok rese' . Biar pun gue sekampus sama dia, gue berharap ini terakhir kalinya gue ketemu sama dia.***"Laras banguu..nn. Woi..", teriak Levi adik gue yang masih sma. Bikin tidur gue keganggu aja. Dia malah narik-narik tangan gue buat bangun."apaan sih loe Levi..., ganggu aja"."loe tuh yah masih molor aja. Heran deh, kok gue bisa punya kakak kayak loe yang kerjaannya tidur mulu, nggak pagi, nggak siang dan nggak.. sore..".Gue langsung bangun melototi Levi."apa loe bilang tadi ?".Dia malah cengengesan."lagian nggak tiap hari kali gue kayak gini". Gue langsung tidur lagi."yeh malah tidur lagi. Woi..., ada tamu tuh.., mama nyuruh loe keluar"."terus apa hubungannya coba sama gue. Itu kan tamu mama, bukan tamu gue", kata gue dengan mata yang masih merem."tapi mama pengen loe keluar supaya kenalan sama tamu mama"."akh, tumben-tumbenan mama mau ngenalin gue sama tamunya. Emangnya dia konglomerat dari mana sih ?"."loe tuh yah. Dia sahabat mama. Gue liat tadi, dia datang sama anak laki-lakinya. Cepetan keluar, barangkali aja dia naksir sama lo, supaya lo nggak ngejomblo terus. Walaupun gue Cuma yakin 5 % sih dia bakalan suka sama loe".Gue ngejitak kepala Levi."aw.., loe kasar banget sih"."maksud loe ngomong gitu apa coba ?".Dia malah nyengir. "cowok yang biasa-biasa aja sering kabur kalo ketemu sama loe, apalagi cowok ganteng kayak dia", katanya sambil ngeledek.Wah, nih anak satu juga udah mulai ngeselin nih."kalo loe nggak mau keluar, mama yang bakalan masuk lagi ke sini untuk nyuruh loe turun. Emangnya nggak malu apa sama temen mama sama anaknya, udah gede masih aja kayak anak kecil harus dibujuk"."iya gue turun.., puas loe..!".Levi malah mengangguk dengan menunjukkan wajah sok polos. Kemudian keluar dari kamar gue.Kenapa juga gue harus ikut-ikutan sih ketemu sama temen mama. Kalo gue ikut duduk di sana, ujung-ujungnya cuma ngedengerin mereka ngomong panjang lebar sambil ngenang masa lalu. Ngebosanin banget kan. Mending gue tidur sambil mimpi indah.Oh yah, tadi gue mimpi loh ketemu sama pangeran berkuda putih, kayak di dongeng-dongeng gitu, he he he...Tapi gara-gara Levi bangunin gue, mimpi indah gue jadi gak nyampe. Malah nggak kayak sinetron-sinetron lagi yang bisa bersambung...Setelah cuci muka, gue langsung keluar dari kamar dan menuju ke ruang tamu.Dan... Oh my godItu kan cowok ngeselin yang kemarin, yang udah nabrak gue. Nggak mungkin, gue pasti mimpi nih. Gue ngecubit lengan gue sendiri "aw..", ternyata gue nggak mimpi. Dia malah senyam-senyum nggak jelas ngeliat gue."wah, ternyata ini toh anak kamu yang bernama Laras. Sudah gede yah ?".Sudah pasti itu adalah teman mama, dan..., oh berarti cowok ngeselin ini adalah anak dari teman mama.Mama hanya tersenyum mendengar perkataan temannya."ras, ini loh teman mama, tante Maya sama anaknya Pandu. Ayo salam".Gue lalu nyalamin tante Maya, tapi nggak sama si..si Pandu itu. Dia malah senyam-senyum dari tadi."hei, kenalin gue Pandu", katanya ramah.Sok ramah deh loe, pikir gue.Gue hanya tersenyum masam. Walaupun sebenarnya gue nggak mau senyum sama dia, cuma nanti disangkanya sombong sama tante Maya."gue..."."Laras kan", potong dia tiba-tiba. "gue nggak tuli kok. Telinga gue berfungsi dengan baik sesuai dengan tempatnya", ucapnya lagi tersenyum yang dibuat-buat.Kayaknya dia nyindir gue nih karena masalah kemarin.Dasar..!Dan tiba-tiba dia narik tangan gue. "oh yah ma, tante. Kita lebih baik ngobrol-ngobrol di luar aja yah".Sebenarnya gue mau ngelepasin tangan gue yang ditarik sama dia, tapi gue nggak bisa, dia megangnya terlalu erat banget. Malah mama dan tante maya hanya senyam-senyum lagi....Gue langsung sentakin tangan dia saat sampai di teras. "loe nggak usah sok akrab yah jadi cowok !"."orang tua kita aja akrab, jadi kenapa kita nggak bisa akrab coba"."ih nggak usah ngarep gue bakalan mau akrab sama loe..".Dia hanya tersenyum."loe gila yah dari tadi senyum melulu"."loe itu emang udah dari sananya yah judes dan galak"."iya ! Dan semua cowok kalo ngeliat gue bakalan kabur. Loe nggak ada niat pengen kabur..!"."nggak tuh. Yah, barangkali aja kita jodoh, iya kan ?".Beh.., nih orang pede banget yah."nggak usah ngarep..!", ucap gue kasar."lagian kalo jodoh nggak akan ke mana kok", ucapnya lagi dengan santai.Gue nggak tau harus ngejawab apa lagi sama nih cowok. Gue langsung masuk sebelum dia ngomong lagi...***Tangan gue udah penuh sama belanjaan. Lagian gue juga sih, belanja kok nggak kira-kira. Lagian kapan lagi coba gue belanja sebanyak ini. Mumpun kan gue libur, jadi digunain aja buat seneng-seneng. Nanti deh kalo pulang baru tidur lagi di rumah. He he he...."butuh bantuan nggak ?", ucap suara cowok tiba-tiba terdengar di belakang gue. Gue langsung balik. Oh my god , dia lagi..."halo, butuh bantuan nggak..?", ucapnya lagi."nggak.. !", ucap gue ketus.Dia hanya tersenyum ngeliat gue."loe ngapain di sini ? Loe sengaja yah ngikutin gue ?"."ada orang yang ke-pd an nih".What ?"emangnya nih mall punya nenek moyang loe. Cuma loe yang boleh datang ke sini ? Berarti semua orang yang datang ke sini ngikutin loe dong..", ucapnya santai.Gue nggak tau harus ngejawab apa sama dia."terus kenapa loe ngehampirin gue ?"."jadi loe mau gue pura-pura nggak ngenal lo gitu ? Gue kan nggak sombong kayak loe".Beh.., omongan nih cowok pedes banget sih..."emangnya kita nggak bisa temenan yah ? Biar bagaimana pun, nyokap kita kan temenan, masa kita juga nggak bisa temenan"."nggak ! Gue nggak mau temenan sama loe..!"."oh, loe nggak mau temenan sama gue ? Berarti lo mau yah pacaran sama gue ?", ucapnya mesem-mesem.Gila nih cowok...."loe itu nggak usah semakin ngelantur yah. Males gue ngomong sama loe". Gue langsung pergi ninggalin dia.***Sepulang dari kampus, tiba-tiba gue dihadang sama dua orang preman. Ih.. mukanya serem-serem. Ya iyalah serem Laras. Kalo lucu, bukan preman namanya, tapi badut.." minta duit loe dong..". Wah, dia mau meres gue nih. Emangnya dia pikir gue takut ?"nggak malu apa badan segede gitu minta duit sama cewek, apalagi cuma seorang mahasiswi kayak gue", ucap gue berani."wah, dia berani ngejawab bos.."."eh, loe mau cari mati ?", kata preman yang satunya lagi."ngapain mati dicari segala mas, kalo udah waktunya bakalan datang juga kok", kata gue santai. Padahal sebenarnya takut sih.."nih anak berani nantangin nih. Loe belum tau siapa kita, hah ?", ucapnya galak."tau kok. Kalian preman kan ?". Sempet aja sih bercanda...Kedua preman tersebut sudah mulai geram. Dia semakin mendekat sama gue, sedangkan gue mulai melangkah mundur.Tapi tiba-tiba pundak mereka dipegang seseorang dari belakang.Oh my god..? , itukan Pandu ? kok dia bisa ada lagi sih. Tapi nggak apa-apa deh, waktunya tepat banget dia datang."eh, bos..", ujar kedua preman itu nyengir.What ? Mereka manggil Pandu dengan sebutan bos. Maksudnya apa ? jangan-jangan ....."kalian ngapain di sini ?", tanya Pandu dengan nada biasa."nggak bos, cuman iseng-iseng doang gangguin cewek"."kalian nggak tau yah. Cewek yang kalian gangguin ini cewek gue".Apa ? Gue kaget banget dengerin omongan pandu. Bisa-bisanya dia ngaku-ngaku pacar gue."kalo gitu maap bos. Kita cabut dulu deh. Maaf yah neng..". Kata preman itu ke gue kemudian cabut.Gue mandangin pandu dengan geram. "loe kan yang nyuruh preman itu untuk gangguin gue ?"."jangan nuduh sembarangan yah. Kan tadi gue yang nolongin loe. Buat apa coba gue nyuruh preman gangguin loe kalo gue juga yang nolongin loe"."tadi tuh preman bilang bos sama loe"."dia emang anak buah gue. Tapi gue sama sekali nggak pernah nyuruh mereka gangguin loe. Paling dia cuma iseng tadi"."iseng apanya ? Orang tadi dia udah mendekat banget sama gue. Ngaku deh, loe sengaja nyuruh mereka kan ?"."loe itu jadi cewek sentimen banget sih. Bukannya sekarang malah terima kasih".Iya juga sih, kalau nggak ada pandu mungkin aja tuh preman udah berbuat macam-macam sama gue, walaupun preman itu emang anak buah Pandu. Yang namanya preman tetep aja preman."ya udah, mendingan sekarang gue antarin loe pulang, biar loe percaya kalo gue nggak ada niat jahat sama loe". Pandu langsung narik tangan gue sebelum gue ngomong. Dan entah kenapa gue nurut aja ditarik sama dia.Setelah sampai , gue masih aja diam-diaman sama pandu di dalam mobilnya. Akhirnya gue duluan yang cairin suasana."makasih udah ngantar gue", kata gue masih judes.Pandu mesem-mesem ngeliatin gue. "ternyata loe tau juga yang namanya terima kasih".Gue mandang Pandu dengan sinis, walaupun sebenarnya dalam hati gue seneng sih diantarin sama dia. He he he..."lain kali boleh kan gue antar loe lagi ?", katanya.What ? Apa gue nggak salah denger ?"lo nggak usah ngejawab. Mendingan sekarang loe turun, nanti nyokap loe nyariin lagi., Dan satu lagi yang harus gue tegesin dan harus loe ingat, kalo jodoh itu nggak akan ke mana ?", katanya tersenyum penuh arti.Gue hanya melongo...***Semakin hari, hubungan gue sama Pandu makin akrab aja. Dia duluan yang sering nyamperin gue di kampus meskipun fakultas gue sama dia beda jauh banget. Dia juga selalu ngantarin gue pulang. Dan selalu singgah sebentar ngobrol-ngobrol sama papa dan mama, atau nggak sama si Levi. Malahan menurut gue, Levi lebih akrab sama Pandu ketimbang gue. Mungkin karena sama-sama cowok kali yah."kak Pandu tahan juga deket sama Laras, hebat..kakak satu-satunya cowok yang masih bisa bertahan lama sama dia", ucap Levi ngejelekin gue di depan Pandu. Dan tiap kali Levi ngomong kayak gitu, dia hanya senyam-senyum. Jujur, gue suka banget sama sikap Pandu. Nggak pernah gue sedekat ini sama cowok. Dia juga asyik banget diajak ngobrol, selalu nyambung dan humoris kadang-kadang.***"kira-kira loe setuju nggak ras, kalo tiba-tiba hubungan kita lebih dari seorang temen atau sahabat". Gue kaget ngedenger penuturan Pandu. Sebenarnya sih gue seneng dengerin ucapan dia, tapi gue malu-malu ngungkapin perasaan gue."kan loe sendiri yang bilang, kalo jodoh nggak akan ke mana".Hanya itu yang bisa gue ungkapin sama Pandu. Dan dia hanya manggut-manggut sambil tersenyum.***Udah seminggu sejak penuturan Pandu dan gue nggak pernah liat dia. Nggak tau ke mana ? Setiap gue nanyain kabar dia sama teman-teman sejurusannya, mereka hanya menggeleng. Dan gue coba minta tolong sama mama untuk nanyain kabarnya sama tante Maya.Dan ternyata..., tante Maya bilang kalo Pandu ke luar negeri untuk beberapa bulan dengan suatu alasan yang mama nggak dikasih tau oleh tante Maya.Gue bener-bener nggak habis pikir, Pandu tega banget ninggalin gue tanpa ngasih tau apa-apa. Walaupun gue sama dia nggak pacaran, tapi bukannya dia udah ngungkapin perasaannya sama gue. Atau jangan-jangan dia hanya ingin mempermainkan gue.Tega banget sih loe Pandu . Padahal gue udah terlanjur sayang sama loe."loe napa sih, kok akhir-akhir ini sering banget murung ? Lagi mikirin kak Pandu yah ?", goda Levi."udah deh Levi, jangan ganggu gue. Urusin aja urusan loe sendiri.."."galak banget sih. Tinggal bilang kangen sama kak Pandu kok susah banget sih".Gue memelototi Levi. Levi langsung cengengesan kayak biasanya. Emang sih yang dibilang Levi emang bener. Gue kangen banget sama Pandu. Sumpah..! . Tapi seharusnya gue nggak mikirin dia, karena belum tentu dia juga mikirin gue.***"Laras bangun.., Laras..".Terdengar suara mama ngebangunin gue. Tapi gue malas ngebuka mata gue. Gue masih ngantuk."ini anak ampun deh..., Laras.., Laras..", mama menggoncang badan gue."ada apa sih ma ngebangunin Laras pagi-pagi gini..", kataku dengan mata masih merem."ini tuh udah jam 9, bukan pagi-pagi lagi. Ayo bangun..., mama mau ngomong sesuatu penting sama kamu"."mama ini jadi mulai kayak Levi deh. Malas ah bangunnya. Kalo mau ngomong, nanti aja.."."nggak bisa nanti, harus sekarang Laras. Ini penting banget. Ayo bangun..". Mama narik-narik tangan gue."iya iya, aku bangun". Aku langsung bangun dengan malas.Mama menepuk-nepuk pipi gue. "eh dengerin mama"."hm..?", kataku masih dengan nada malas."ada yang datang ngelamar kamu tuh"."hah..?". Mata gue langsung membulat ngedengerin ucapan mama. Apa gue nggak salah dengar ? Ada orang yang datang ngelamar gue ? Mimpi apa gue semalam..?"orang yang mau ngelamar kamu ada di luar. Kamu mau terima nggak lamarannya. Kalo mau, mama tinggal bilang sama dia dan keluarganya"."mama ini gimana sih. Aku kan belum pernah ngeliat orangnya. Lagian aku rasanya nggak percaya kalo tiba-tiba ada orang yang datang ngelamar aku. Selain itu, aku nggak mau nikah sekarang, kan masih kuliah ma"."siapa bilang sih langsung nikah. Makanya kamu keluar dulu ketemu sama orangnya. Ayo cepetan mandi. Mama tunggu kamu di luar. Kalo dalam waktu 15 menit kamu belum keluar, mama langsung terima lamaran mereka"."ih mama, ngancam segala. Sama anak sendiri juga"."makanya cepetan keluar". Mama langsung keluar dari kamar gue.Entah kenapa gue deg-degan banget. Tapi gue nggak akan semudah itu nerima lamaran orang. Apalagi dengan orang yang gue nggak kenal. Selain itu, gue masih belum bisa ngelupain Pandu......Tangan gue gemeteran ketika keluar dari kamar dan menuju ke ruang tamu. Gue bisa denger dari kejauhan mama sedang ngobrol sambil ketawa sama tamu yang datang.Oh my god.. ?Itu kan Pandu sama keluarganya?Pandu langsung berdiri dan tersenyum ngeliat gue. Tapi gue hanya mandang lurus ke arah dia. Gue nggak percaya yang gue liat adalah Pandu. Bukannya dia..."Laras, ini Pandu sama keluarganya datang, ayo sayang...", panggil mama.Gue masih syok ngeliat Pandu. Kayaknya pandu nyadar kegugupan gue. Dia lalu mendekat ke gue."hei..", sapanya tersenyum. "kaget yah ngeliat gue ?".Gue nggak bisa nahan lagi unek-unek gue selama 2 bulan ini saat dia ninggalin gue. Gue rasanya pengen marah banget sama dia karena udah ninggalin gue tanpa ngasih kabar."loe marah yah sama gue ras karena udah ninggalin loe cukup lama tanpa ngasih kabar ?"."kalo tau kenapa nanya lagi. Apa alasan loe ninggalin gue selama ini. Gue kirain loe nggak akan balik lagi selamanya", kata gue sinis."yah nggak mungkinlah gue nggak balik lagi. Kan belahan jiwa gue ada disini. Buktinya gue balik lagi kan"."jadi loe yang kata mama datang ngelamar gue ?". Pandu mengangguk tersenyum."maksudnya apa datang ngelamar gue ?"."yah mau apa lagi kalo bukan karena mau milikin loe selamanya. Loe mau kan nerima lamaran gue ?"."tetep aja loe udah ninggalin gue lama. Dan gue benci karena loe nggak ngasih kabar apa-apa".Pandu memegang kedua pundak gue. "kalo gitu gue minta maaf yah. Tapi yang penting kan gue udah kembali. Dan kalo jodoh emang nggak akan ke mana kan ?".Akhirnya gue tersenyum juga melihat Pandu. Sumpah gue seneng banget hari ini karena ternyata orang yang lamar gue nggak lain adalah Pandu, cowok yang gue cintai...The End
Marry Young
"be, babe harus percaya sama Jelita. Jelita kagak pernah ngapa-ngapain sama Bara. Sumpah be. Babe harus tolak lamaran oma Yasmin"."ditolak gimane. Kan tadi babe udah nerima lamarannye. Seharusnya loe bersyukur karena Bara masih mau tanggung jawab sama loe"."tanggung jawab apaan sih babe ? Kagak ada yang perlu dipertanggung jawabin. Jelita sama Bara kagak pernah ngapa-ngapain"."kalo loe sama dia kagak pernah ngapa-ngapain, kenape dia dan omanya kesini segale buat ngelamer loe ?"."ini tuh hanya kesalahpahaman. Jelita udah jelasin ama oma Yasmin, tapi dia tetep kagak percaye"."pokoknye loe tetep kudu nikah sama cucunya bu Yasmin. Lagian loe kagak bakalan sengsare, dia dari keluarga kaye-raye. Dan pastinya hidup loe bakalan terjamin"."aduh babe. Buat apa banyak harta kalo nggak cinta. Lagian kan Jelita masih sekolah. Asal babe tau aja yah, Jelita sama bara itu musuh bebuyutan di sekolah. Jadi kagak masuk akal kan kalo kita sampe nikah"."apapun itu, yang penting loe kudu nikah sama Bara. Titik..".***Sengsara deh hidup gue kalo harus nikah sama si Bara hidung belang itu. Sebelum gue masuk ke sekolah yang sama dengan Bara, gue udah musuhan sama dia. Ditambah lagi saat gue jadi siswa pindahan, tiap hari gue sama dia bagaikan tikus dan kucing. Ada aja akal-akalan dia ngerjain gue tiap hari. Tentunya gue juga nggak tinggal diam dong.Waktu itu, seluruh siswa dari sekolah gue ngadain pariwisata diluar kota. Nah, kita kan nginep tuh.Nggak tau kenapa saat gue keluar dari kamar mandi, tiba-tiba aja gue udah ngeliat dia telanjang dada. Yah gue kaget banget lah. Dia bilang dia nggak tau kalo ini kamar gue, kirain kamar temennya. Kebetulan kamar gue sama kamar temennya itu bersebelahan. Cuma numpang ganti baju doang. Gue ngedorong-dorong dia untuk keluar, eh dia malah nahan karena masih belum ganti baju. Dan tanpa sengaja kita jatuh berdua di kasur. Dan sialnya, pada saat bersamaan sebagian temen-temen dan guru langsung masuk ke kamar gue karena denger ada yang ribut, ada juga oma Yasmin, omanya Bara yang juga kebetulan ikut pariwisata karena sekolah itu emang milik keluarga Bara. Nah, semua orang jadi salah paham sama kita, ditambah lagi Bara yang nggak pake baju. Gimana semua orang nggak berpikiran macem-macem coba. Saat itu gue dan Bara udah jelasin yang sebenarnya, tapi nggak ada yang percaya. Akhirnya oma Yasmin putusin akan nikahin kami. Emang sih oma Yasmin suka sama gue, dulu dia ingin buat gue akur sama Bara, tapi tetep aja nggak bisa. Dan baginya, mungkin ini kesempatan buat gue akur sama Bara dengan nikahin gue sama dia. Ya ampuun..Terus babe lagi, pake nerima lamaran oma Yasmin. Bener-bener sial hidup gue...Terus yah, bisa-bisa gue dilabrak sama cewek-ceweknya Bara. Dia kan playboy hidung belang di sekolah. Gue yakin 100 %, seluruh sekolah bakalan gempar kalo denger gue dan Bara akan nikah.***Gue nemuin Bara paginya saat dia sedang ngumpul sama teman-temannya. Seluruh orang terutama cewek-cewek mandang gue dengan sinis. Gue yakin nih, pasti kabar kalo gue dan Bara mau nikah udah tersebar."heh tokek belang ! Pokoknya loe harus bilang sama oma yasmin buat ngebatalin pernikahan kita"."emangnya loe pikir gue nggak pernah bilang apa ? Gue udah mohon-mohon yah sama oma untuk ngebatalin, tapi tetep aja dia nggak mau ! Pasti loe nih yang sengaja pengaruhin oma gue supaya jadiin loe cucu menantunya. Iyakan ? Ayo ngaku, cewek mana coba yang nggak suka sama gue". Kata Bara ke-pd-an."heh..! Loe ke Gr-an banget sih jadi orang. Loe tau, kejadian tersial gue seumur hidup saat nikah sama loe. Mimpi apa gue semalem bisa nikah sama tokek belang kayak loe"."emangnya gue juga mau nikah sama tikus got kayak loe. Mendingan gue nikah sama kambing daripada sama loe"."ya udah, nikah aja coba sama kambing..!". Gue langsung ninggalin Bara. Kayaknya semua orang merhatiin kita. Bodo' amat...***Tibalah hari pernikahan gue sama Bara. Mulai dari didandanin, muka gue udah cemberut, ditambah lagi saat Bara ngucapin ijab kabul dihadapan penghulu, gue nggak henti-hentinya manyun. Babe sempat negur gue karena gue nggak pernah senyum sedikit pun, tapi gue cuekin aja. Kayaknya Cuma gue dan Bara yang nggak bahagia disini, yang lainnya pada senyum semua. Termasuk juga sahabat gue Amelia. Eh, dia malah ikut tersenyum, udah tau gue Cuma kepaksa nikah. Kayaknya penderitaan gue udah bakalan dimulai.Setelah pernikahan, gue dan Bara cuma disuruh tinggal berdua di rumah yang udah disiapin oma Yasmin. Rumahnya gede banget. Babe malah ngeiyain aja. Seneng banget sih pisah sama anak..Terus yang lebih parahnya lagi, gue disuruh sekamar sama dia. Awalnya sih gue udah kompak sama Bara nurutin kemauan oma, tapi kalo oma nggak ada, gue sama dia pisah kamar. Lagian kan nggak tiap hari oma datang ke rumah. Semenjak gue dan Bara udah nikah, gue udah barengan terus sama dia ke sekolah. Itupun kemauan oma yah. Gue sih ogah bareng terus sama dia. Pernah yah sekali dia nurunin gue dijalanan. Nyebelin banget kan coba. Terus kalo di sekolah, kita kayak biasanya aja. Kayak orang yang nggak pernah nikah. Gue masih terus berantem sama dia. Tapi lebih parah kalo udah di rumah, selalu berantem tiap hari. Bahkan pernah dia bawa cewek malam-malam ke rumah. Gue langsung usir aja cewek itu. Gue bukannya cemburu yah, gue Cuma nggak suka Bara bawa cewek ke rumah untuk mesra-mesraan. Mentang-mentang nggak ada oma."eh tikus got...!", teriak Bara.Gue langsung keluar ke ruang tamu. "ada apa sih teriak-teriak segala ? Loe pikir ini hutan ?"."cepet buatin minum sana". Bara membawa seorang cewek ke rumah, kayaknya cewek barunya deh. Pake nyuruh gue segala lagi buatin minum..."ogah..!, loe sendiri aja yang buatin. Itu kan tamu loe..!"."ye..h, malah ngebantah. Denger yah, loe itu sekarang istri gue. Jadi loe harus nurutin perintah gue"."heh, kita cuma suami istri bohongan yah. Jadi nggak usah bersikap seakan-akan gue istri beneran loe. Ngerti..!". Gue langsung masuk ke dalam."dasar tikus got.. Nyebelin banget sih tuh cewek..!".***Waktu itu, oma Yasmin ingin nginap di rumah. Terpaksa deh gue sama Bara harus pura-pura lagi sekamar. Dan parahnya, gue harus satu kamar tidur sama dia malam ini."karena malam ini oma nginep disini, jadi terpaksa malam ini kita harus tidur sekamar. Tapi gue nggak mau satu ranjang sama loe. Loe harus tidur dibawah"."enak aja. Loe kali yang harus tidur dibawah. Loe kan cowok, jadi harus ngalah sama cewek"."ogah banget gue harus ngalah sama loe. Ini rumah gue, jadi gue yang berkuasa. Loe yang harus ngalah sama gue, ngerti..?". Bara langsung berbaring di kasur. Gue mendekati dia."pokoknya gue nggak mau tidur dibawah"."ya udah terserah..!, loe keluar aja sana tidur di kamar loe kembali"."oke..". Gue lalu keluar. Tiba-tiba aja gue berpapasan oma didepan kamar."loh Jelita, kamu mau kemana ?, Bara mana ?"."Ba..ra udah.. tidur oma", jawab gue gugup."kok kamu belum tidur"."em... aku..aku tadi juga udah tidur oma, tapi..mau ke dapur sebentar"."oh gitu. Oh yah tadi kok ada pakaian kamu di kamar sebelah? "Mati gue, itukan emang kamar yang selalu gue tempati. Gue nggak tau kalo oma nginep di kamar itu. Padahal ceritanya tadi gue mau kesana. "em.. anu oma. Itu.. Jelita sering nginep dikamar sebelah"."hah ? Kok gitu, tapi sama Bara kan ?"."i..iya. Kita biasanya pindah-pindah kamar oma. Kalo bukan di sini, di kamar sebelah". kata gue cengingiran."oh, oma ngerti. Kalian kan masih suasana pengantin baru. Jadi nggak betah kalo cuma satu kamar", kata oma senyam-senyum.Kalo gue sedang makan, pasti gue udah kesedek dengerin omongan oma."gimana kalo oma atur bulan madu kamu sama Bara ?"."apa ?", gue kaget banget. "ng..nggak usah oma"."loh kenapa ? Kalian kan memang seharusnya harus pergi bulan madu ke luar kota atau dimana gitu"."beneran oma nggak usah. Aku sama Bara nggak perlu bulan madu sampai jauh-jauh gitu"."ya udah deh. Tapi kalo kamu dan Bara butuh sesuatu, bilang-bilang aja yah sama oma"."i..iya oma".Setelah pura-pura ke dapur, gue langsung masuk lagi ke kamar Bara. Gue duduk di kasur, disamping Bara yang udah tidur. Gue heran sama nih orang, bukannya gelisah kayak gue, dia malah nyenyak tidur. Nyebelin banget sih... Gue sengaja pelan-pelan naik di kasur supaya Bara nggak bangun. Gue sengaja kasih guling diantara gue dan dia. Jadi gue sama dia nggak bisa bersentuhan. Meskipun gue udah merem, tetep aja gue nggak bisa tidur gara-gara ada Bara di samping gue. Hufh.., tersiksa banget sih hidup gue.......Paginya gue terbangun, gue langsung duduk di kasur sambil ngucek-ngucek mata. Kayaknya gue bangun agak kesiangan, untung aja gue libur hari ini. Gue ngeliat ke samping, Bara udah nggak ada.Tiba-tiba aja Bara keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk yang meliliti pinggangnya. Spontan gue langsung teriak. "a........!".Bara tersentak. "heh..!. apaan sih loe teriak-teriak segala ?, ngagetin aja.."."elloe tuh yang ngagetin, keluar dari kamar mandi langsung telanjang. Loe nggak liat ada gue ?"."emangnya kenapa kalo ada loe ? Gue kan cuma telanjang dada".Gue cemberut."kenapa ? Loe nggak usah pura-pura kaget gitu deh. Sebenarnya loe suka kan liat gue kayak gini. Gue pake baju aja, cewek-cewek pada tertarik, apalagi kalo nggak pake baju, keindahan tubuh gue semakin terpampang. Boong banget kalo loe nggak tertarik".Hoek.. , nih orang satu pd nya tinggi banget sih. "ngapain juga gue harus tertarik sama tokek belang kayak loe. Nggak usah ke pd-an deh"."alah, masih aja mungkir. Terus kenapa tadi malam loe tidur disini segala ? Di samping gue lagi".Bara menyeringai "Loe udah sadar yah kalo hanya gue satu-satunya cowok yang mempesona. Ayo ngaku.."."ih, apaan sih. Sebenarnya gue mau tidur di kamar sebelah yah, tapi ternyata oma tidur disitu. Waktu gue keluar dari kamar loe tadi malam, gue langsung berpapasan sama oma didepan pintu. Untung aja gue pinter cari alasan. Terpaksa deh gue balik ke sini. Dan tentang kenapa gue tidur di kasur juga. Gue.. loe kan tau lantai ini dingin banget, selimut juga gak ada. Di kasur aja gue tidur gak pake selimut gara-gara loe. Tapi gue nggak nyentuh loe sedikitpun yah. Loe liat kan ada guling yang mengantarai kita. Untung aja nih kasur gede banget"."alasan loe cukup masuk akal juga. Tapi gue kurang percaya tuh. Bisa aja kan saat gue tidur loe ngambil kesempatan meluk-meluk gue atau apa gitu"."apaan sih. Jangan nuduh sembarangan yah. Meskipun kata orang loe itu ganteng atau apalah gitu, gue nggak bakalan tertarik sama loe. Sekarang loe minggir, gue juga mau masuk ke kamar mandi"."galak banget sih.."."bodo". Saat gue mau masuk ke kamar mandi......"tapi tadi pagi loe nggak sadar yah gue apain loe ?".Gue langsung berhenti dan balik ngeliat Bara. Dia menyeringai."e...emangnya loe..ngapain gue ?"."gue itu kan bangun lebih awal dari loe. Pas gue bangun loe udah menghadap ke gue. Terus gue....".Bara berhenti sejenak. Nih orang bikin penasaran aja. "loe percaya nggak kalo tadi gue cium loe"."apa ?". Gue kaget banget. "elloe...", gue nunjuk Bara.Sesaat kemudian dia tertawa. "kok muka loe merah gitu ? Gue cuma bercanda kali. Ogah banget kalo gue harus cium loe", katanya masih tertawa.Gue marah banget. "ih Bara...".Gue langsung pergi mukul Bara. "nyebelin banget sih loe"."eh eh..." Dia malah lari. Gue kejar aja dia. Meskipun gue kejar, dia masih aja ketawa. "sini nggak loe. Dasar nyebelin..". Gue mukul dia lagi saat gue tangkap. Ya iyalah, dia kan lari nggak sampai keluar kamar. "eh eh gue kan cuma bercanda"."loe pikir candaan loe lucu, hah ?"."oh gue tau, loe marah karena tadi gue cuma boongin loe yah kalo gue cium. Sebenarnya loe ngarep banget kan gue cium"."apaan sih.., pd-an loe itu nggak pernah hilang yah.."."tinggal ngaku aja kok susah banget sih"."ngapain juga gue harus ngaku kalo kenyataannya nggak kayak gitu".***"loe kenapa ta, kok muka ditekuk gitu. Seharusnya sekarang loe itu happy terus karena udah jadi istri Bara. Semua cewek-cewek pada sirik tau sama loe. Mereka yang selama ini berharap dijadiin pacar sama Bara, eh taunya loe udah dijadiin istri sama dia. Apalagi kan, loe sama Bara masih dalam suasana pengantin baru. Harus happy dong.."."happy dari hongkong. Justru sekarang yah, hidup gue bakalan suram terus. Gue nggak betah serumah tau nggak sama dia. Tiap hari gue harus liat muka dia yang super nyebelin. Malah dia terus ngegodain gue lagi"."ngegodain gimana ?"."masa dia ngira gue udah tertarik sama dia. Ke pd-an banget jadi orang"."emangnya loe beneran nggak tertarik sama dia. Bara itu ganteng banget ta, keren lagi. Seandainya gue yah yang jadi istrinya, tiap hari gue ambil kesempatan terus mesra-mesraan sama dia".Hoek, gue mau muntah dengerin Amelia. "kenapa sih semua orang itu pada ngenilai dari ukuran gantengnya doang ? Gue mah ogah deket-deket terus sama dia, apalagi mesra-mesraan"."tunggu deh, loe sama Bara...., belum pernah ngapa-ngapain ?"."ya nggaklah, amit-amit deh. Kan loe tau sendiri mel, gue sama Bara itu nikah cuma karena kesalahpahaman. Kita itu nggak pernah ngapa-ngapain. Oma Yasmin aja yang nggak percaya sama penjelasan kita"."tapi kan tetep bagus. Berarti.., loe sama Bara nggak tidur sekamar dong ?"."ya nggak lah. Kita tuh cuma sekamar kalo ada oma yang nginep. Pura-pura gitu"."tapi tetep aja kan loe udah pernah tidur bareng sama Bara"."kalo seranjang iya. Tapi kita gak pernah ngapa-ngapain yah"."masa sih Bara nggak pernah nyentuh loe sedikit pun. Nyium juga nggak pernah ?"."ih apaan sih loe mel. Gue bilang nggak pernah yah nggak pernah. Lagian gue tau selera cewek Bara. Cantik, seksi terus keganjengan. Emang cocok tuh ama dia"."loe kan juga cantik ta. Masa Bara nggak tertarik sedikitpun sama loe"."udah deh, kenapa omongan kita jadi ke arah sana. Bagi Bara, gue itu cuma tikus got jelek. Gue yakin 100%, dia nggak bakalan pernah tertarik sama gue. Buktinya dia nggak segan-segan tuh sering telanjang dada di hadapan gue. Emangnya dia pikir gue bakalan tertarik dan terpesona kalo dia kayak gitu. Hem.., nggak.."."terserah loe deh. Gue bener-bener bingung yah sama kisah cinta loe sama Bara"."kisah cinta apaan. Emangnya gue sama Bara saling cinta. Dan emangnya loe pikir ini sinetron atau novel, yang mulanya benci-bencian terus saling cinta. Nggak yah, gue sama Bara itu beda"."terserah loe deh".***"heh., loe ikut gue sekarang juga", kata Bara ngehampirin gue."ikut ke mana ?"."kita disuruh oma ke acara aqiqah cucu temannya. Oma udah ada disana, jadi dia udah nunggu kita"."kenapa bukan loe aja yang pergi. Gue masih ada urusan di sekolah"."yehhh, gue juga males kali ajak loe kalo bukan karena kemauan oma. Udah, ayo cepetan kita pulang ganti baju terus langsung ke acara teman oma. Lagian daerahnya nggak jauh kok".Walaupun gue cemberut, gue tetep masuk ke mobil Bara. Kita balik ke rumah ganti baju. Setelah itu, kita langsung ke acara teman oma.Setelah sampai, kita langsung masuk. Ternyata ramai banget,kelihatan banget pesta orang kaya. Oma langsung ngehampirin kita. "eh kalian udah datang. Ayo"."iya oma". Oma ngajak kita menghampiri keluarga yang ngadain aqiqah."ini loh jeng cucu saya Bara sama cucu menantu saya Jelita"."wah, cucu menantu jeng Yasmin cantik banget yah". Gue bisa liat jidat Bara berkerut saat teman oma muji gue. "mereka pasangan serasi loh jeng".Whatt ?, Serasi dari hongkong ?Sementara oma hanya tersenyum.Beberapa lama kemudian, bayi yang di aqiqah tiba-tiba nangis. Ibunya mencoba menenangkannya."mbak, bisa saya coba gendong nggak. Bayinya lucu banget"."oh iya". Ibunya memberikan bayi itu ke gue. Ih lucu banget... "nah sayang, cup cup cup..". Tiba-tiba bayinya langsung berhenti nangis."wah jeng, cucu menantu jeng ini pinter banget ngegendong bayi. Udah punya rencana nggak pengen punya bayi juga".Whatt ? Gue kaget banget, kayaknya Bara juga gitu."udah pantas loh punya bayi". Malah oma cuma cengengesan lagi, kayaknya ngedukung banget omongan temennya."ki..kita belum...a..da rencana nek. A..ku sama Bara kan masih sekolah. I..iya kan Bara". Gue mencubit lengan bara memberi isyarat."i..iya nek. Kita inikan masih sekolah. Kita nggak mau mikirin itu sekarang, kita hanya mau fokus belajar".Mereka hanya tersenyum.***Waktu itu tiba-tiba aja Dimas sahabat gue juga di sekolah datang ke rumah. Nggak biasanya sih."eh Dimas, tumben ke sini ?"."loe lupa yah, kita kan udah janji mau belajar bareng"."oh iya, tapi kan maksud gue bukan disini"."jadi ceritanya ngusir nih ?"."nggak nggak. Loe kan tau sendiri kalo ada Bara, kita jadi nggak tenang. Dia suka banget ngecekcokin orang"."ya udah, gimana kalo kita keluar aja. Ke mana gitu, cari tempat yang tenang".Jelita berpikir sejenak. "tapi gue males keluar hari ini. Ya udah deh di rumah aja, kita ke belakang. Pasti Bara nggak bakalan gangguin deh, palingan sebentar lagi dia akan keluar lagi"."bener nggak apa-apa ?". Gue mengangguk. Setelah itu gue dan dimas ke halaman belakang untuk belajar........***"ehem..ehem..".Gue langsung balik ke belakang saat mendengar Bara berdehem. Entah berapa lama dia sudah berdiri bersandar di dinding sambil melipat tangannya diatas dada."ada yang lagi pacaran nih ", sindirnya.Gue dan Dimas kaget. Sembarangan banget sih ngomongnya.."loe ngapain disitu ?", tanya gue ketus."justru gue yang nanya, kenapa pacaran disini. Diluar sana..!"."ye..h sembarangan. Siapa juga yang pacaran, loe nggak liat gue lagi belajar bareng sama dimas"."iya, loe jadiin belajar sebagai alasan, tapi sebenarnya loe mau mesra-mesraan sama dia"."terserah loe mau ngomong apa ?". Gue kembali ngeliat buku tanpa memperduikan Bara. Nggak tau deh ekspresi wajahnya kayak gimana ?."ta, nggak apa-apa nih kita tetap belajar disini ?", tanya Dimas setengah berbisik."iya nggak apa-apa. Loe nggak usah peduliin dia deh. Setiap hari dia emang kayak gitu. Gak bisa banget ngeliat orang seneng, apalagi gue".Setelah Dimas pulang, gue langsung masuk ke kamar. Gue kaget banget saat ngeliat Bara duduk di kasur kamar gue. "loe ngapain disini, ngagetin aja tau nggak ?"."dia udah pulang ?", tanya Bara dengan nada ketus. "lain kali jangan bawa dia ke sini ....!"."kenapa loe yang jadi sewot. Gue aja nggak pernah protes tuh kalo loe bawa cewek ke sini, kenapa loe malah protes"."Karena ini rumah gue. Jadi gue berhak bawa siapa aja. Sedangkan loe..". Bara seperti susah melanjutkan kata-katanya.Gue udah mulai tersinggung. "sedangkan gue hanya orang lain. Itukan yang loe mau bilang"."gue tau, pernikahan ini hanya dipaksakan. Jadi menurut loe, meskipun kita udah nikah, tetep aja kan kita seperti orang lain. Gue sadar kok dengan hubungan kita sekarang. Tapi nggak berarti kan loe bisa ngatur-ngatur siapa aja yang gue bawa ke sini. Gue kan juga nggak ngelanggar norma. Gue nggak berbuat macem-macem ataupun yang senonoh. Jadi kenapa loe yang jadi sewot. Dan kalo loe emang nggak betah kalo gue masih ada disini. Mendingan loe kasih tau aja oma supaya kita cerai. Beres kan ?".Wajah Bara kayaknya tampak kaget. "gue yakin kok oma bakalan ngerti. Karena seharusnya dia tau dari awal kalo kita nikah karena dipaksa".Gue langsung keluar dari kamar berlari menuju keluar. Tiba-tiba terbersit dibenak gue untuk pulang ke rumah babe.***Bara masih duduk melamun di kasur kamar Jelita. Pikirannya benar-benar terganggu dengan perkataan Jelita tadi.Tiba-tiba ponselnya bunyi. "babe ?", dahi Bara berkerut.Tiba-tiba aja perasaannya nggak enak. Bara kemudian mengangkat telponnya. Setelah mendengar perkataan babe Jelita. Ekspresi Bara langsung syok. Tanpa sengaja dia menjatuhkan ponselnya ke lantai. Tanpa berpikir panjang dia lalu bergegas keluar, langsung menyetir mobilnya .Setelah sampai, Bara berlari di koridor rumah sakit dengan pikiran cemas. Yah, tadi babe menelponnya mengabarkan kalo Jelita kecelakaan dan masuk rumah sakit. Dia bisa mendengar suara panik babe tadi. Saking kaget dan syoknya, Bara lupa menanyakan kamar rawat Jelita. Untungnya dia segera bertanya ke bagian administrasi. Setelah tau, Bara langsung lari menuju kamar rawat Jelita.Terlihat babe Jelita mondar-mandir didepan ruang UGD. "be, gimana keadaan Jelita ?". tanya Bara dengan wajah yang masih cemas."babe nggak tau. Jelita masih ditangani same dokter"."kenapa Jelita bisa kecelakaan be ?"."babe juga nggak tau. Tadi babe langsung dapet telpon dari pihak rumah sakit kalo Jelita kecelakaan ditabrak mobil".Bara langsung mengingat kejadian tadi saat dia marah pada Jelita. Ini semua karena dia, andai aja tadi dia nggak marah-marah, mungkin Jelita nggak akan keluar rumah dan akhirnya kecelakaan. Kalo sampai terjadi apa-apa dengan jelita, Bara tidak akan memaafkan dirinya sendiri. Pikirnya.....Bara juga heran kenapa dia bisa semarah itu hanya karena Jelita membawa Dimas ke rumahnya. Padahal Jelita sudah menjelaskan kalo mereka hanya belajar bersama. Tapi tetap saja Bara marah dan tidak terima. Apakah dia cemburu..?Yah, Bara tidak mungkin marah pada Jelita karena membawa Dimas ke rumah kalo dia tidak cemburu. Buktinya dia juga cemas banget saat mengetahui kondisi Jelita. Bukan hanya babe Jelita yang mondar mandir dari tadi, Bara juga ikut mondar mandir menunggu dokter keluar.Tidak berapa lama kemudian, oma Yasmin datang bersama Amelia . "Bara, bagaimana keadaan Jelita ?"."Bara juga belum tau oma. Dokter belum keluar-keluar dari tadi".Mereka menunggu cukup lama sampai dokter keluar. Bara langsung mendekati dokter. "dokter, bagaimana keadaan Jelita ?"."apa anda keluarganya ?"."iya, saya suaminya". Untuk pertama kalinya Bara mengaku sebagai suami Jelita.Dokter itu tersenyum. "untunglah kami bisa mengatasi pendarahan yang ada di kepalanya. Jadi keadaan pasien sudah membaik". Semuanya tampak lega mendengarnya."kalo gitu, apa boleh saya masuk melihat keadaannya ?"."silahkan. Tapi saya harap kalian bisa tenang, karena pasien belum boleh terganggu"."baik dokter". Mereka lalu masuk ke ruangan JelitaJelita terbaring begitu lemah dengan inpus selang oksigen yang ada di hidungnya . Meskipun dokter sudah mengatakan bahwa keadaan Jelita sudah membaik, tetap saja wajah Bara masih menunjukkan ekspresi cemas. Bara langsung duduk disamping Jelita. Entah kenapa, dia langsung memegang tangan Jelita dengan lembut. Mungkin bagi babe dan oma Yasmin itu hal biasa, tapi nggak bagi Amelia. Dia terkejut melihatnya, karena setau dia Bara sama Jelita itu musuhan dan nggak saling suka. Dan yang lebih membuat Amelia terkejut saat Bara mengecup tangan Jelita. "gue mimpi atau apa yah ?", itulah yang ada dibenak Amelia.Amelia keluar dari ruangan Jelita seperti masih nggak percaya apa yang dilihatnya.Tiba-tiba Dimas datang dengan wajah cemas juga. "Mel, gimana keadaan Jelita ? Dia baik-baik aja kan ?".Amelia mengangguk. "keadaan Jelita udah membaik Dim. Sekarang di dalam ada Bara, oma Yasmin sama babe Jelita".Tiba-tiba oma Yasmin dan babe Jelita juga keluar."biar aja Bara yang nungguin Jelita di dalam. Sepertinya dia benar-benar cemas melihat keadaan Jelita", kata oma Yasmin."namanya juga seorang suami yang mengkhawatirkan istrinye" , kata babe Jelita.Dimas lumayan terkejut mendengarnya. Oma Yasmin dan babe Jelita lalu pergi meninggalkan Dimas yang bengong."Mel, gue salah denger atau apa ?"."nggak Dim. Gue juga heran, tadi gue liat ekspresi Bara begitu cemas ngeliat Jelita. Padahal kan mereka musuhan. Dan yang lebih mengejutkan gue, saat Bara tiba-tiba mengecup tangan Jelita. Masuk akal coba nggak Dim ?"."hah ?" ,Dimas melongo. "kok bisa sih ?"."mana gue tau"."jangan-jangan Bara emang suka lagi sama Jelita. Tadi waktu gue datang ke rumahnya, dia marah banget ngeliat gue belajar bareng sama Jelita. Gue aja kaget benget saat ngedenger Jelita kecelakaan. Padahal tadi baik-baik aja. Dia juga bilang kalo hari ini dia males keluar-keluar"."entahlah, yang jelas gue bingung sekarang. Pokoknya kita liat aja lah nanti perkembangan Jelita. Dan kalo gue boleh saranin, mendingan loe nggak usah masuk deh Dim. Apalagi kata loe tadi, Bara sempat marah-marah sama loe. Mendingan kita tunggu di luar aja"."ya udah deh".Bara terus memandang jelita yang masih belum siuman sambil memegang tangannya.Tiba-tiba aja tangan Jelita bergerak. Tentunya Bara terkejut.Jelita membuka matanya perlahan. Dan langsung menatap Bara yang juga menatapnya tanpa berkedip. Jelita ingin melepas selang oksigennya, tapi tiba-tiba Bara menahannya dengan memegang tangannya."jangan dilepas dulu,kamu kan baru siuman". Entah kenapa, Bara jadi ngomong 'aku kamu'.Jelita mengerutkan dahinya merasa aneh dengan ucapan Bara. Dia lalu menggeleng dengan maksud bahwa dia tidak apa-apa. Dia lalu membuka selang oksigen di hidungnya. "ini dimana ?"."di rumah sakit. Tadi kamu kecelakaan". Jelita lalu mengingat kecelakaan yang menimpanya. Dia sedang berlari sambil memikirkan perkataan Bara, sehingga tidak konsentrasi. Bahkan dia tidak menyadari ada mobil di depan.Jelita mencoba bangun. Dengan segera Bara membantunya, merangkul tubuh Jelita yang masih lemah. "seharusnya kamu baring aja". Yah, lagi-lagi Jelita terkejut."kok cuma kamu disini ? Babe mana ?". Entah kenapa, Jelita juga jadi ngomong 'aku kamu' pada Bara."mereka tadi keluar sebentar, makanya aku yang jagain kamu. Gimana kondisi kamu sekarang ? Apanya yang sakit ?. Aku panggilin dokter yah ?". Jelita menggeleng."kenapa kamu bisa ada disini ?"."tadi babe nelpon aku. Aku bener-bener khawatir sama kamu"."kamu khawatir sama aku ?". Jelita bertanya seperti anak kecil.Bara mengangguk. "ini semua kesalahan aku. Tadi kamu keluar dari rumah karena gara-gara aku. Andai aja aku nggak marah-marah pasti kamu nggak akan kayak gini. Maafin aku yah".Lagi-lagi Jelita mengerutkan dahinya. "kamu beneran Bara kan", pertanyaan Jelita membuat Bara terkejut."kamu baik-baik aja kan Jelita ?'."justru aku yang harus bertanya. Kamu kesambet setan apa bisa jadi ngomong kayak gitu ?". Ya ampun, masih bisanya yah Jelita bercanda.Bara sadar apa yang baru dia omongin tadi. Dia jadi gugup mau bilang apa sama Jelita."em..Jelita, aku....aku minta maaf atas omongan aku tadi. Aku nggak bermaksud untuk marahin kamu. Aku..."."udah lupain aja. Nggak apa-apa kok. Kamu berhak marah, karena itu emang rumah kamu"."nggak. Maksud aku bukan kayak gitu. Aku... pada dasarnya aku marah kamu membawa Dimas ke rumah bukan hanya karena itu rumah aku. Tapi..."."tapi apa ?"."karena aku....aku nggak suka kamu bawa laki-laki ke rumah. Aku... aku marah ngeliat kamu sama Dimas berdua-duaan. Aku....aku rasa aku cemburu".Jelita benar-benar terkejut."aku sendiri juga masih bingung dengan perasaan aku sama kamu. Tapi aku marah kalo kamu berdua-duaan dengan cowok lain. Aku juga cemas banget ngeliat keadaan kamu tadi. Jadi aku rasa, itu semua karena aku udah mulai sayang sama kamu".Jelita hanya menatap Bara tanpa berkata apa-apa. "kenapa kamu diam aja Jelita ?"."aku harus bilang apa ?"."masa kamu nggak tau harus ngomong apa. Setidaknya kamu juga ngungkapin perasaan kamu sama aku". Jelita masih terdiam. Ekspresi wajahnya seperti sedang berpikir."kasih aku kesempatan"."apa ?"."kasih aku kesempatan untuk membuktikan kalo aku beneran sayang sama kamu. Please". Bara memegang tangan Jelita sambil memandang sendu kepadanya."kamu tetap mau jadi suami aku ?"."kenapa kamu ngomong kayak gitu ?"."aku kira kamu akan ceraiin aku. Aku kira kamu ingin bilang yang sebenarnya sama oma"."itu emang pernah terbersit dipikiranku. Tapi sekarang nggak lagi. Kenapa kita nggak coba untuk menjadi suami istri yang sesungguhnya"."suami istri yang sesungguhnya ?"."iya. Tapi kita kan emang suami istri yang sah secara hukum. Cuma sikap kita aja selama ini yang nggak menunjukkan suami istri. Jadi aku mau, mulai sekarang kita baikan. Aku males berantem terus sama kamu". Bara mendekatkan jari kelingkingnya ke Jelita tanda meminta perdamaian.Tanpa pikir panjang Jelita langsung mengaitkan kelingkingnya di kelingking bara."jadi sekarang kita udah damai yah. Nggak boleh berantem lagi".Jelita hanya mengangguk.Tiba-tiba aja Bara mencubit pipi jelita dengan lembut."aku sayang sama kamu". Jelita hanya membelalakkan matanya."heh.., jawab dong".Jelita mengangguk sambil tersenyum malu. "aku...aku juga","juga apa ?"."juga... juga sayang sama kamu."Bara spontan memeluk Jelita.Dimas dan Amelia yang dari tadi mengintip diluar tersenyum bahagia melihat mereka.The End
Selingkuhan CEO
Ponsel Aidan berbunyi pukul lima tepat. Setiap pagi rutinitasnya selalu sama, menguras keringat di gym pribadi, mandi, sarapan bersama istri tercinta, lalu berangkat ke kantor untuk menjalankan tugas sebagai CEO.Istri tercinta. Aidan yang masih setengah sadar menyadari sosok wanita di sampingnya. Bergelung nyaman dalam selimut, melindungi diri dari dinginnya penyejuk udara. Wajah tanpa riasan sang istri tampak muda dan mirip malaikat. Kejantanan Aidan teracung tegak sekeras tongkat kayu. Normal, dalam istilah medis disebut nocturnal penile tumescence (NPT). Sebelum tidur semalam, dia menonton film horor baru yang diunduhnya. Sang sutradara tampaknya menyasar kaum pria. Bukan hanya adegan tegang penuh darah, tetapi bertebaran adegan penuh birahi.Aidan mengecup hidung istrinya dan membelai pipi sehalus sutra. Wanita itu belum merespons. Aidan menyingkap selimut. Sial, lingerie hitam transparan membungkus tubuh seksi mulus ditambah bongkahan padat dadanya sungguh menyiksa. Aidan mengecup leher jenjang istrinya, mengisapnya lembut."Aidan, ini masih pagi." Wanita itu akhirnya terbangun.Aidan mendongak. Sepasang mata cokelat karamelnya menatap penuh gairah. Senyum iblis penggoda terukir. "Semalam kamu pulang kemalaman. Aku hampir mati nunggu kamu, Wulan." Lidahnya menyapu kulit Wulan, bermain di puncak dadanya.Wulan mengerang ketika merasakan tangan suaminya menyentuh titik sensitif. Aidan seringkali panas pada pagi hari, waktu yang dibenci Wulan untuk bercinta sehingga dia menolak. Namun kali ini Wulan menyerah, membiarkan gairah membakarnya, manyambut lumatan bibir kenyal Aidan yang dengan sigap meloloskan lingerie itu lalu melemparnya sembarangan. Wulan menarik ujung kaus suaminya, melepaskannya juga.Dada bidang dan otot perut maskulin milik Aidan terasa mengintimidasi tubuh ramping Wulan. Ciumannya semakin panas bernafsu."You are fucking beautiful," ceracau Aidan sembari melebarkan sepasang kaki jenjang Wulan, menyuguhkan permainan lidah yang tak pernah gagal memuaskannya. Wulan melenguh memejamkan mata. Gelenyar terkumpul pada pusat tubuhnya, menunggu untuk meledak.Kowe ra iso mlayu saka kesalahanAjining diri ana ing lathi.Sara Fajira menyanyikan nada mistis. Aidan mengangkat wajah, meraih ponsel di atas nakas. Wulan mengerang kecewa. Sedikit lagi tubuhnya akan meraih sensasi memabukkan itu, tetapi ponsel Aidan meraung-raung kurang ajar. Seketika mood bercinta Wulan hancur berantakan."Sini aku lempar," sergah Wulan."Papa kamu," bisik Aidan, terlalu masa bodoh untuk mengenakan pakaian kembali. Dia berjalan menjauh, berbicara serius dengan si penelepon yang mengganggunya sepagi ini."Papa kenapa?" tanya Wulan tanpa menutupi kekesalan ketika Aidan mengakhiri percakapan."Memastikan aku datang ke TwentyFour untuk memasok brokoli dan paprika.""Hah," Wulan mendengus, "Masa harus kamu sendiri yang ke sana? Pegawai Organext nggak makan gaji buta, 'kan?"Aidan memungut kausnya, menutupi tubuh yang membuat tatapan kaum hawa tak sanggup beralih. "Nggak masalah. Aku juga sekalian mau mengantarkan pesanan teman-temanmu."Fakultas Kebanyakan Gadis, julukan yang pas untuk FKG. Jumlah makhluk berkromosom XX melimpah, miskin laki-laki. Akibatnya, Aidan dijadikan sasaran fantasi sesama dosen. Wulan tahu bahwa teman-temannya memesan sayur organik dari Aidan hanya akal-akalan agar suaminya sering ke sana. Namun, otak bisnis Aidan memanfaatkannya dengan baik."Udahlah, aku aja yang bawa pesanan Batari dan Alicia," ujar Wulan menyebutkan nama koleganya dari departemen Orthodonsia dan Pedodonsia."Aku mesti mengambil di gudang. Seingatku ada dua belas orang yang memesan hari ini, makanya nggak bisa kubawa pulang.""Dua belas?" Mata Wulan membelalak seperti melihat setan. Tahtanya sebagai Nyonya Fitzgerald kian terancam. Memiliki suami tampan berparas setengah bule baik untuk kebanggaan, tetapi buruk untuk kesehatan.Aidan mendekat, hendak mengecup Wulan. Namun Wulan menghindar."Kenapa kamu bagikan nomer telepon kamu ke mereka?""Memangnya kenapa?" Aidan terkekeh. "Mereka calon pembeli potensial.""Kamu pura-pura nggak tahu niat mereka ya?""Tahu," jawab Aidan tegas, "dan memang aku manfaatkan untuk memajukan bisnis.""Tapi aku nggak suka cara mereka natap kamu. Kayak...." Napas Wulan memburu. Aidan menunggunya melanjutkan. "Kayak mau nerkam kamu."Tawa Aidan meledak. Apa istrinya berpikir dia akan melemparkan diri ke pelukan salah satu pengagumnya?Wulan melempar bantal ke muka Aidan. "Nggak lucu, tahu!""Kamu tambah cantik kalau marah gitu. Jadi pengen...." Aidan berusaha menyergap istrinya yang langsung kabur, memungut lingerie lalu mengunci diri di kamar mandi.Satu jam kemudian Wulan masuk ke ruang makan yang menyambung dengan pantry. Blus merah pas badan dipadu bandage skirt hitam sedikit di atas lutut memeluk pinggulnya. Wulan tampak profesional dan menarik.Mbak Marni, asisten rumah tangga mereka yang sedang menyedot debu tergopoh menghampiri. "Mau sarapan apa, Bu?""Nggak usah, Mbak. Lanjut bebersih aja," sahut Wulan seraya mengambil empat lembar roti gandum dan memanggangnya."Baik, Bu." Mbak Marni kembali melanjutkan pekerjaan.Wulan mengolesi roti panggang dengan selai nanas organik produksi Organext. Aidan menyusul ke ruang makan, sibuk membalas chat customer garis miring pengagum. Wulan berkacak pinggang. Dalam balutan kemeja slim fit biru gelap yang memamerkan perut datarnya saja, Aidan sanggup mengacaukan ritme jantungnya. Padahal mereka telah menikah empat tahun, tetapi sel-sel femininnya belum beradaptasi. Bagaimana kaum wanita di luar sana mengatasi pesona suaminya?"No cellphone for breakfast." Wulan merampas ponsel Aidan, membaca sekilas chat yang dikirimkan teman-temannya. Batari sudah memesan empat kilo nanas dan tiga kilo wortel minggu ini. Seingatnya, Batari tidak memelihara kelinci."Kamu bikin customer-ku kabur. Jangan cemburuan gitu lah." Aidan berhasil mengambil ponselnya kembali."Mereka nggak beneran mau beli produk Organext, cuma mau ngeliat kamu!" Wulan melotot."Nggak masalah. Aku nggak pernah menanyakan motif Pak Surya ke klinik kamu beneran mengantar anaknya yang kontrol behel atau cuma mau melototin paha kamu," balas Aidan seraya mengisi cangkirnya dengan kopi dari mesin."Jadi kamu nggak cemburu kalau istri kamu main sama laki-laki lain?""Kita hanya bisa mempertahankan pernikahan yang langgeng dengan orang yang kita percaya. Kecurigaan berlebih akan mengancam keutuhan rumah tangga. I trust you." Aidan duduk di stool, menggigit roti gandum panggang."Jangan-jangan kamu memang suka dikagumi perempuan ya?" tuduh Wulan sinis.Aidan tertawa. Wulan yang dulu manis dan membuatnya jatuh cinta berubah menjadi posesif dan pencuriga. Dia menenggak kopi hitamnya hingga tandas, malas berdebat. "Aku berangkat," ujarnya singkat seraya mengecup pipi istrinya.Wulan menghabiskan sarapan sendirian. Mercedes Aidan terdengar meninggalkan rumah besar mereka. Sepi, hampa. Dia berangkat ke kantor membawa perasaan kacau. Belakangan Wulan terpikir untuk mundur sebagai dosen Orthodonsia agar teman-temannya berhenti menggoda Aidan.***Selain julukan Fakultas Kebanyakan Gadis, orang iseng bilang FKG kependekan dari Fakultas Kebanyakan Gosip. Wulan membenarkan. Buktinya ketampanan Aidan menyebar sampai seantero kampus. Kabar keretakan rumah tangga karena belum adanya momongan berembus entah dari mana sehingga fans Aidan semakin gencar mengejar.Wulan melangkah cepat ke mejanya ketika tiba di ruangan dosen Orthodonsia."Pagi Wulan," sapa Batari, "aku pesan nanas dan wortel loh sama Mas Aidan."Mas Aidan? Kenapa suara Batari melembut ketika menyebut nama suaminya?"Nggak usah panggil 'Mas' segala," sahut Wulan ketus."Lho, terus panggil apa? Kan Mas Aidan lebih tua dariku.""Panggil Pak aja. Sopan sedikit. Dia bukan kakakmu.""Ya ampun, Wulan. Gitu aja sewot." Batari menggeleng. "Dasar ML," bisiknya."Eh, bilang apa?" Wulan memicingkan mata, menusuk Batari yang langsung kabur. Wulan menyibukkan diri dengan menilai tugas paper mahasiswa sampai jadwal kelas skills lab agar tak perlu mengobrol dengan koleganya.Ketika waktunya tiba, Wulan menuju kelas. Pintu kayu berderit. Mahasiswa yang tadi bergosip kembali ke meja masing-masing, mengunci mulut. Semua mata menatap high heels merah runcing yang kalau dipakai menggetok kepala akan langsung bolong. Naik ke betis putih mulus. Naik lagi ke rok hitam ketat. Terakhir jas putih. Inilah sosok Dokter ML yang membuat umur mahasiswa berkurang satu menit setiap kali mendapat kelasnya."Selamat pagi." Wulan menatap tajam para mahasiswa.Terdengar gumaman, "Selamat pagi, Dok.""Hari ini kalian belajar membuat finger spring. Guna kawat gigi ini untuk menormalkan gigi yang miring, misalnya pada anak-anak. Dekatkan bangku ke sini."Para mahasiswa menggeser kursi mengelilingi Dokter Wulan yang mengambil kawat 0.6 dan tang. Tanpa basa-basi langsung mendemonstrasikan cara membentuk kawat. Setiap lekukannya mereka perhatikan baik-baik."Coba kalian buat."Aruna, salah satu mahasiswi yang baru saja kembali dari upacara pemakaman ayahnya sulit berkonsentrasi. Siapa yang bisa fokus dalam keadaan dukacita?"Aduh!" pekik Aruna ketika ujung kawat menusuk jarinya."Pelan-pelan aja," bisik Ilham, mahasiswa laki-laki di sebelahnya."Aduh." Kawat itu sepertinya sedang alergi dipegang Aruna. Memberontak terus.Ilham mencuri pandang kepada Wulan yang sibuk dengan ponsel. Aman. "Sini gue bantu. Punya gue dikit lagi beres," bisiknya."Jangan, nanti dimarahin.""Nggak pa-pa. Eh, tangan lo berdarah.""Dikit doang."Gemeletuk high heels terdengar mendekat. "Kalau mau pacaran, di luar."Saking kagetnya, Ilham menjatuhkan kawat Aruna yang masih tak berbentuk. Wulan memungutnya."Punya kamu, Ilham?"Ilham diam saja."Itu yang di meja punya siapa? Punya Aruna?" tanya Wulan lagi."Itu punya Aruna, Dok." jawab Ilham takut-takut."Kenapa ada dua? Punya kamu mana, Aruna?""Itu," ruangan berpendingin udara terasa panas, "yang dipegang Dokter,""Kenapa punya kamu dipegang Ilham?""Tangannya Aruna berdarah, Dok." Perlu perjuangan ekstra keras bagi Ilham untuk mengucapkan kalimat singkat itu."Jangan cengeng lah. Aruna, kamu mau jadi dokter gigi nggak? Gini aja udah manja.""Saya yang...."Ucapan Ilham sontak berhenti ketika ditatap tajam Wulan."Jangan, Dok!"Terlambat, kawat Aruna sudah meluncur turun ke ubin, lalu diinjak high heels Wulan. Tidak, kawat itu tidak hancur, hanya sedikit penyok. Masih ada kawat baru dalam kotak perlengkapan. Hati Aruna yang hancur. Dia sedang berusaha bangkit dari keterpurukan, tetapi cobaan datang bertubi-tubi. Air matanya lolos."Keluar sana, saya nggak suka lihat calon dokter gigi cengeng." Dagu Wulan menunjuk pintu.Aruna mengemasi peralatannya. Kesal, marah, sedih, terhina. Campur aduk tak karuan. Dia menuju toilet, membasuh muka. Aruna menatap cermin besar di atas wastafel. Manik mata cokelat tuanya balik menatap, membuncahkan kerinduan pada sosok yang telah pergi. Bibir pink tipisnya, serta wajah berbentuk hati, semua warisan almarhumah Ibu. Dilepaskannya ikatan rambut sehingga jatuh lembut melewati bahu. Perutnya lapar. Aruna menuju kantin untuk mengisi perut."Mang, jus sirsak ada?" Aruna bertanya pada Mang Dadang."Ada, Neng. Pake es?""Pake deh. Susunya dikit aja. Jangan pake gula.""Siap, mau diantar ke mana?"Mahasiswa teknik yang sebagian besar cowok, bergerombol memadati sebagian besar meja, merokok pula. Beginilah akibat fakultas teknik yang miskin kaum hawa. Mahasiswanya hijrah ke FKG.Aruna benci asap rokok. Selain baunya busuk, juga menimbulkan karang gigi. Uh, dia teringat baksos semester dua harus membersihkan karang gigi seorang perokok berat.Di depan kios bakso, seorang laki-laki duduk menghadap laptop. Kemeja slim fit biru tua, celana panjang khaki, dan sepatu pantofel, tidak merokok. Serius dan tampak baik."Antar ke sana aja, Mang." Aruna menunjuk meja yang ditempati laki-laki itu."Siap."Aruna menjauhi kerumunan anak teknik, mendekati bangku pria slim fit."Maaf, boleh duduk di sini?"Pria slim fit berhenti mengetik. Ketika dia mendongak dan tatapannya bersirobok dengan Aruna, jantung gadis itu tiba-tiba berdetak lebih cepat. Adrenalinnya melonjak.Rambut ikal hitam, alis tegas, dan rahang yang kokoh. Jelas laki-laki tadi berdarah separuh bule. Manik mata cokelat karamel itu menatap intens. Kulitnya putih tetapi tidak selicin artis Korea. Ganteng yang macho. Arloji yang melingkari pergelangan tangan kirinya tampak berkelas. Dari dekat, laki-laki ini menarik dan dewasa. Bukan mahasiswa ingusan lagi. Apakah dosen baru?"Silakan.""Makasih."Laki-laki itu menatap logo hijau putih di dada kanan jas praktikum Aruna."Anak FKG?""Iya, Om."Laki-laki itu tertawa."Kenapa?" tanya Aruna heran."Om," ulangnya.Aruna nyengir. Memangnya minta dipanggil apa? Sayang? Eh! Kenapa dia jadi kurang ajar?"Silakan, Neng." Mang Dadang meletakkan gelas plastik berembun yang terlihat menyegarkan. Aruna menggumamkan terima kasih."Om calon dosen kah?" Aruna kembali fokus pada laki-laki itu."Ada lowongan?" Laki-laki slim fit kembali mengetik."Langsung daftar aja sepertinya bisa." Aruna menyedot jusnya.Si laki-laki slim fit mengulum senyum geli. "Kira-kira cocoknya saya mengajar apa?""Om spesialis apa?""Hmm.... Ortho?"Aruna mulai curiga. Kenapa si Om bisa tidak yakin dengan gelar sendiri? Dia tepis pikiran buruk. Tidak baik buat kesehatan jiwa."Oh, ngajar Ortodonsia, Om.""Bukannya di sini sudah ada? Kalau nggak salah ada drg. Wulan, drg. Minerva, drg. Aldion, dan drg. Batari."Aruna manggut-manggut. Rupanya si Om ganteng sudah riset siapa saja calon temannya. "Iya, Dokter Aldion baik. Sayang saya nggak diajar beliau, malah dapat Dokter Wulan.""Memangnya Dokter Wulan kenapa?"Aruna mencondongkan tubuh, lantas berbisik, "Galak. Finger spring saya diinjek sampai peyot, pokoknya Om jangan sampai berurusan sama beliau. Bakal menyesal dunia akhirat," keluhnya yang ditanggapi Laki-laki slim fit dengan mengulum senyum. Lesung pipinya mengalihkan dunia Aruna. Dia menyedot jus lagi demi meredakan debar jantung kampungannya."Suka jus ya?""Suka, Om." Sebetulnya Aruna lapar, tetapi dalam rangka penghematan, dia puasa makan."Suka jus buah atau sayur?""Jus buah."Laki-laki itu mengeluarkan kartu nama dari dompetnya. "Pernah dengar Organext? Kami menjual buah dan sayur organik. Bisa pesan lewat Website, Instagram, Shopee, Tokopedia, atau Blibli. Kalau mau memilih langsung, tersedia di supermarket TwentyFour."Aruna membaca nama yang tertera. "Aidan Fitzgerald, CEO.""Betul. Panggil Aidan saja, nggak usah pakai Om."Pipi Aruna terasa panas. Namanya saja sudah ganteng. Kalau tidak melihat sendiri, dia akan menyangka Aidan mengedit foto wajahnya."Aidan lagi nunggu orang?""Iya. Dokter gigi di sini pesan sayur dan buah. Sekalian mau ketemu istri saya. Hari ini ulang tahun perkawinan ke-empat kami."Aruna menghela napas sedikit kecewa. "Siapa istrinya?""drg. Wulan Elsari, Sp.Ort."Jus sirsak Aruna pun tersesat ke jalur napas. Terbatuk-batuk sampai matanya berair dan sedikit sesak napas.***Ada orang-orang yang meskipun sudah kita kenal lama, tidak meninggalkan kesan. Sebaliknya, ada seseorang yang baru bertemu sebentar mampu menjungkir balikkan dunia. Terlalu cepat mengatakan Aidan Fitzgerald menjungkir balikkan dunia Aruna. Namun, senyum berlesung pipinya bagai mantra sehingga menyihir Aruna berselancar di Google dan YouTube, melupakan segunung tugas.Segerombolan kakak tingkat kerap membahas keberuntungan drg. Wulan mendapatkan suami bak model internasional. Pujian setinggi langit disahuti ungkapan kasihan karena beristrikan ML alias Mak Lampir. Aruna tak acuh. Jangankan membicarakan suami orang, pria lajang saja tak menarik. Dia hanya berharap lulus tepat waktu. Pacaran menempati daftar terbawah prioritas hidup. Seharusnya Aidan tak perlu ke kampus. Jemari Aruna bandel, ingin mencari sebanyak mungkin berita tentangnya.Aruna merasa hidup dalam gua bersama text book. Belajar terus sampai tidak tahu banyak kanal YouTube mewawancarai Aidan. Perhatiannya teralih pada ponselnya yang bergetar. Ilham mengirimkan chat.Ilham:Jari lo gimana?Aruna memplester jarinya. Sedikit keluar darah karena tertusuk kawat tadi.Aruna:Udah baikan. Makasih ya.Ilham tidak lagi membalas. Cowok berkaca mata itu biasanya pendiam. Sulit baginya beradaptasi di lingkungan penuh mahasiswi. Kalau ada waktu luang, Ilham sering mojok main game. Aruna mengira Ilham tidak peduli. Namun dia salah."Cie, mau jadi petani, Bu?" Nabila mengibaskan rambut bercat pirang di samping Aruna yang melanjutkan menonton vlog Aidan menjelaskan cara menanam selada organik. "Oh, Aidan Fitzgerald, CEO Organext," celetuknya."Kenal?" Aruna merutuk dalam hati karena gagal menutupi antusiasme. Dia mengklik tanda pause di layar laptop. Terakhir kali darahnya berdesir karena lelaki adalah saat Song Joong-ki menikahi Song Hye-kyo. Hari patah hati sedunia dialami olehnya. Kini Aidan mengambil alih posisi Joong-ki menciptakan desir aneh."Lagi naik daun kan setahun belakangan. Dulu tuh, CEO identik sama om-om buncit macam Om Ihsan." Pipi Nabila bersemu ketika menyebut nama Ihsan Malik, direktur utama sebuah perusahaan eksportir buah dan sayur yang banyak membantunya. Bukan jenis bantuan gratis tentu saja mengingat dia bukan pegawai dinas sosial."Om Ihsan?" beo Aruna."Iya. Om Ihsan bilang, sekarang banyak CEO muda macam Yasa Singgih, Belva Devara, dan Aidan Fitzgerald pastinya.""Om Ihsan siapa?" Dua tahun berkawan dengan Nabila, baru sekarang Aruna mendengar nama tersebut. Dia pernah memergoki ibu kost mendamprat Nabila karena pulang melebihi jam malam diantar mobil mewah. Tetapi setiap ditanya, Nabila selalu mengalihkan pembicaraan."Dia yang bantu biaya kuliah gue," bisik Nabila. Pertama kali menerima kemurahan hati pria beristri dengan empat orang putra putri, dia melawan hati nurani. Namun, manusia paling suci bisa berubah menjadi iblis paling durjana karena uang. Nabila berusaha menyangkal statusnya sebagai simpanan. Netizen maha benar halal menghakimi pelakor tanpa memahami problem yang dihadapi.Apakah para penghujat peduli napas kembang kempis orang tuanya yang hanya pegawai biasa? Apakah para pencibir tahu biaya kuliah mahasiswa FKG? Manusia memang lebih cepat membuka mulut untuk mencaci ketimbang membuka tangan untuk membantu.Aruna menggigit bibir. Dua hari yang lalu ayahnya meninggal akibat penyakit jantung. Usaha bakery keluarga terancam gulung tikar karena pandemi. Tante Amelia, ibu tirinya, memecat beberapa karyawan. Sebetulnya Tante Amelia sudah meminta Aruna untuk berhenti kuliah dan membantu mengurus usaha bakery yang morat-marit. Aruna sungguh dilema. Pesan almarhumah ibunya terngiang di kepala. Dia harus menjadi dokter gigi, meneruskan profesi sang Ibu, mewarisi klinik gigi yang sementara dikelola Tante Siska, sahabat beliau semasa kuliah.Tante Amelia hanya memberikan bekal sedikit uang untuk membayar indekos dan makan sekali saja sehari. Keuangan keluarganya memburuk setelah Ayah operasi jantung."Sebenernya.... Gue juga butuh," lirih Aruna."Pasti berat banget ya ditinggal orang tua. Lo harus kuat, Na." Nabila merangkul bahu Aruna.Air mata Aruna menitik. Dia benci dikasihani, dianggap gadis rapuh meskipun kenyataannya demikian. Aruna kalut. Bagaimana cara mencari uang tambahan? Ibunya dulu hanya menekankan pentingnya kepintaran akademik. Nilai rapor harus baik. Ayahnya mendukung anjuran Ibu. Akibatnya fatal, Aruna tidak punya skill yang bisa dijual. Michelle, salah satu teman kuliahnya bisa menggambar. Dia menjual ilustrasi di Fiverr dan mendapatkan sampai tujuh ratus dollar sebulan. Maya, adik tingkatnya, jago memasak nasi kebuli dan punya bisnis kecil dengan kakaknya. Dulu Aruna merasa tidak perlu bekerja selagi kuliah karena orang tuanya mampu membiayai pendidikannya. Tak disangka, Tuhan mengambil Ayah dan Ibu secepat ini."Zaman sekarang skill lebih penting daripada school, koneksi lebih berguna daripada prestasi," ucap Aruna sembari mengusap air mata."IP semester lo kan bagus, nggak coba daftar beasiswa?""Kan baru buka awal semester."Nabila mengeratkan pelukan. "Gue kenalin sama Om Ihsan mau? Kali dia bisa bantu."Terlalu buntu berpikir, Aruna mengangguk samar. Biarlah Om Ihsan membantunya dengan risiko yang dia pikirkan nanti. Nabila mengambil ponsel."Halo, Om Ihsan, Bila kangen deh," ujar Nabila cekikikan menanggapi godaan Om Ihsan. "Ih, nakal. Om kapan balik dari Belanda?"Aruna mengamati gaya bicara manja merayu Nabila. Apakah dia harus bersikap begitu?"Oh besok malam, Om. Bisa dong. Bila mau kenalin Om Ihsan sama teman Bila. Namanya Aruna. Dia juga lagi kesusahan, Om. Tolongin ya, please," rajuk Nabila. "Oke, Om."Aruna memberikan tatapan, "gimana?" pada Nabila."Beres." Nabila membentuk simbol oke dengan telunjuk dan ibu jari. "Besok Om Ihsan minta ketemu."***Besok yang ditunggu berjalan cepat. Sepulang kampus, Nabila menyuruh Aruna masuk ke kamarnya."Ini punya lo?" tanya Aruna agak terkejut saat melihat koleksi sepatu bertabur kristal yang terlihat mewah berlabel Jimmy Choo."Dari Om Ihsan," sahut Nabila singkat.Mungkinkah pengusaha sekelas Om Ihsan membeli barang palsu seharga dua ratus ribu?"Duduk sini." Nabila menepuk-nepuk kursi rias. Bermacam botol, tube, lipstik, maskara, dan kuas tertata di atas meja. Aruna terkadang menonton channel beauty vlogger di YouTube. Sedikit banyak dia tahu harganya.Nabila cekatan merias wajah Aruna. Primer, foundation, loose powder, eye shadow berwarna tanah yang membuat area matanya seperti habis ditonjok Chris John, eye liner yang menyebabkan matanya seperti punya sayap, masih ditambah maskara pula. Nabila membubuhkan perona pipi lalu terakhir, lip cream."Ah, cantik kebingitan," Nabila memuji hasil kerjanya."Lo mendingan bikin channel YouTube," saran Aruna yang takjub."Terus saingan sama Tasya Farasya? Eh, sesama dokter gigi jadi beauty vlogger gitu ya," ucap Nabila sambil membuka lebar pintu lemarinya. "Nah ini bagus." Dia melepas dress penuh mote mengkilap dari penggantung pakaian.'"Kita mau ketemu Om Ihsan di mana kok mesti heboh gini?" Aruna menurut saja memakai dress."Baltimore Club. Tempatnya eksekutif muda dan ekspatriat." Nabila sekarang mendandani dirinya dengan riasan persis Aruna. Mereka jadi pinang dibelah dua, saudara kembar hanya karena make up.Nabila melapisi dress-nya dengan kardigan hitam, meminjamkan kardigannya pula untuk Aruna. Pagar indekos akan dikunci pukul sepuluh malam. Maka mereka harus bergegas keluar sekarang. Aruna memesan Grab car dari depan Alfamart.Arus kendaraan menuju pusat kota masih padat. Mobil mengarah ke kawasan hutan pencakar langit, Jalan MH. Thamrin. Aruna sekali mengunjungi Plaza Indonesia. Selebihnya dia lebih nyaman belanja di Kelapa Gading atau ITC."Itu Kaiser Tower, Mas." Nabila menunjuk gedung bernuansa moderen.Pengemudi Grab car menurunkan Nabila dan Aruna di lobi. Petugas berseragam hitam tersenyum ramah memeriksa clutch dua perempuan muda itu, lantas mengarahkan ke lift khusus yang mengantar sampai lantai 25.Penjaga pintu Baltimore Club telah mengenal Nabila. Om Ihsan sering mengajaknya bersenang-senang melepas penat. Biasanya setelah menyogok istrinya dengan Hermes. Nyonya Ihsan tak pernah curiga suaminya main serong dengan gadis awal dua puluhan. Kehidupan seks mereka membara. Malah belakangan Om Ihsan tak pernah lupa membelikan bunga setiap akhir pekan. Romantis bagai pemuda kasmaran.Musik lembut mengalun dan penerangan temaram menunjukkan kelas Baltimore Club. Tiga orang ekspatriat berwajah Kaukasia ditemani perempuan berperawakan mungil duduk di sofa dekat bar membahas bisnis sembari bersenang-senang."Tunggu di situ yuk." Nabila menunjuk sofa. "Om Ihsan barusan WA, udah otw kok."Aruna menurut. Mereka memesan minuman tanpa alkohol serta sepiring churros. DJ memainkan musik nge-beat. Nabila melepas kardigan sehingga bahu telanjangnya terpampang. Berjoget mengikuti irama."Om Ihsan." Nabila melambai pada laki-laki gempal yang baru datang ditemani sesosok pria tinggi menjulang."Halo sayang." Om Ihsan mencium pipi Nabila, membelai bahu telanjangnya penuh minat. "Aruna ya?" sapanya ramah. Pipi berlemaknya mengkilap tertimpa cahaya redup.Aruna mengangguk rikuh, terkejut memandang laki-laki yang menemani Om Ihsan. "Aidan," gumamnya."Wah, Mas Aidan memang terkenal. Di grup kolektor Panerai pun ada. Semakin mantap saya kerjasama dengan Organext.""Aruna." Aidan menyalaminya.Dua jam kemudian, Aruna dan Nabila bertingkah layaknya pajangan, mendengarkan negosiasi Om Ihsan dan Aidan. Organext memiliki perkebunan edamame di Temanggung. Berkat promosi Om Ihsan, Belanda yang sedang menyukai kedelai jepang setuju menjajaki kerjasama dengan Organext."Oke, Mas Aidan. Tinggal urus dokumen aja ya." Om Ihsan mengangkat gelas berisi bir. "Cheers.""Cheers." Aidan menyentuhkan gelasnya ke gelas Om Ihsan, demikian pula Aruna dan Nabila."Nggak suka ya?" Om Ihsan memperhatikan mimik Aruna. Sangat tersiksa saat bir membakar kerongkongan."Maklum Om, teman Bila nih gadis pingitan," sahut Nabila.Aruna tersenyum canggung. Ingin ke toilet memuntahkan isi perutnya, tetapi khawatir dikatai kampungan. Pengunjung semakin padat. Musik lembut bertransformasi menjadi EDM. Penuh semangat, mengundang orang melantai. Asap vape diembuskan banyak tamu bergulung mengaburkan pandangan."Kita turun." Om Ihsan menggandeng Nabila.Aidan melirik Aruna lalu mengulurkan tangan. Aruna sedikit gemetar saat menerimanya. Clubbers bersorak menikmati dunia. Nabila menyapa teman-temannya, sesama daun muda seksi."Kamu belum pernah clubbing?" tanya Aidan pada Aruna yang mematung di tengah keramaian."Hah?" Aruna berteriak mengalahkan kebisingan.Aidan menggenggam telapak tangan sedingin es Aruna."Kamu nggak suka di sini?" tebak Aidan to the point."Nggak biasa."Aidan membimbing Aruna kembali ke sofa lantas meminum sisa bir dalam gelas. Apa enaknya minuman berbusa itu? Kepala Aruna pening padahal hanya minum seteguk."Belum pernah clubbing ya?" ulang Aidan tersenyum geli. Perempuan kebanyakan mempertontonkan kemulusan. Perawatan mahal memang bertujuan untuk dipamerkan. Hanya Aruna yang mengancingkan kardigan rapat-rapat.Orang buta pun tahu betapa salah tingkahnya Aruna. Percuma berbohong. Jam ponsel menunjukkan pukul sebelas. Pagar indekosnya sudah ditutup. Ke mana dia pulang setelah ini?"Saya juga nggak suka. Pak Ihsan memaksa ke sini. Sebenarnya kami janji mau ketemu siang. Tapi beliau meeting mendadak dengan orang dari Badan Karantina Pertanian.""Aidan mau ekspor edamame?" Aruna berbasa-basi."Iya. Wulan ada lahan di Temanggung. Sejak setahun lalu Organext mulai menggarap edamame. Baru tahu kalau Belanda impor dari Indonesia.""Asik banget pacarannya." Om Ihsan kembali bergabung. Napasnya terengah. Staminanya digerogoti usia. "Udah malam nih," ucapnya sembari merengkuh pinggang Nabila yang bersandar manja."Iya, kita pulang," sahut Aidan."Pulang?" Om Ihsan terbahak, "Saya sudah reservasi kamar. Kayaknya bakal sibuk ditemani dua gadis manis." Tangannya bergerilya meremas bokong Aruna.Kamar yang dimaksud apa lagi kalau bukan kamar hotel. Nabila masih betah bergelayut, sebaliknya Aruna mengkerut tidak siap melayani Om Ihsan. Perlahan dia mendongak, mencari manik mata cokelat karamel Aidan, meminta tolong.“Mas Aidan mau main bareng juga boleh. Makin ramai makin asyik kan?” Seringai Om Ihsan melebar tidak sabar mencoba mainan baru. Sebelum ke sini dia telah meminum obat kuat agar tahan minimal dua ronde.“Sepertinya lain kali saja. Istri saya menunggu di rumah,” tolak Aidan halus.“Ah, istrinya kurang sesajen makanya rewel. Ya kan, Sayang?” Om Ihsan mengerling pada Nabila. "Oke Mas Aidan. Nanti kita contact-contact lagi.”Aruna ingin berteriak. Dia menautkan alis menatap Aidan agar tak meninggalkannya bersama Om Ihsan."Pak Ihsan, keberatan kalau Aruna saya bawa?" Aidan berkata sopan.Om Ihsan terbahak. "Tentu tidak. Silakan, silakan. Mau saya reservasikan kamar?"Aruna menghela napas lega. Aidan memang juga pria seperti Om Ihsan, tetapi ada sebuah magnet dalam dirinya yang menarik kepercayaan Aruna. Kalau harus menghabiskan malam, setidaknya bersama pria yang dia suka.Aidan mendekap mahasiswi istrinya. "Saya punya hotel langganan. Terima kasih, Pak. Sampai ketemu."***
Terpaksa menikahi Ceo Kejam
"Nona, tuan Muda ada di sini."Aku mengangguk ragu. Tuan yang mereka bicarakan, akankah dia seorang ceo kejam?Seorang lelaki duduk di kursi yang terbatas tirai tembus pandang. Bisa kulihat, lelaki itu begitu angkuh dan sombong."Nama?" tanyanya singkat."Zevanya Clarissa.""Tanda tangani surat kontraknya!"Lihat, sudah jelas bukan dia adalah seorang yang arogan dan sombong!Tanganku gemetaran saat memegang pulpen untuk menandatangani surat kontrak di depanku. Aku masih tidak menyangka apa yang menimpaku kali ini."Jika aku menandatangani surat kontrak ini. Hutang keluargaku akan lunas, bukan?" tanyaku padanya. Ini bukan hanya pertanyaan, tapi sebuah permintaan."Cih." Lelaki itu mendecih meremehkan."Setelah kamu tanda tangani, kamu harus setuju dalam tiga tahun lahirkan aku satu putra!"Aku melebarkan mata tak percaya. Enak saja. Itu bahkan tidak ada dalam perjanjian kita."Kamu--""Tidak tahu malu!"Lelaki itu berdiri setelah mendengar umpatanku tentangnya. Rupanya dia marah padaku."Zevanya Clarissa. Kamu tidak memiliki jalan keluar. Jika kamu menolak, keluargamu yang akan menanggungnya!"Sial. Rupanya lelaki itu memiliki kartu As ku. Argh … ingin sekali rasanya aku mencabik wajah monsternya itu.Lelaki itu bersmirk penuh kemenangan, "Kenapa? Apa tidak setuju?"Aku bingung. Bagaimana jika aku menolak permintaannya, apakah seperti apa yang dia katakan? Akankah keluarga yang terkena imbasnya?"Baiklah."Lelaki itu kembali bersmirk, "Bagus sekali!"Srak!Bruk!Tubuh Zevanya dilempar dengan kasar di kasur over size berwarna putih itu. Pelaku utamanya ada lelaki berwajah dingin yang sialnya hari ini telah resmi menjadi suaminya.Andrian menghampiri tubuh Zevanya yang ketakutan. Gadis itu memeluk tubuhnya sendiri dengan menangis dalam diam.Srak!Dalam sekali tarikan, tubuh Zeva kini berada di pangkuannya. Tentu mudah bagi Andrian karena Zevanya memiliki tubuh yang mungil.Andrian membelai wajah ketakutan Zevanya, "Cantik juga," gumamnya dengan menampilkan smirk andalannya.Jangan tanyakan bagaimana detak jantung gadis itu. Rasanya seperti akan melompat dari tempatnya. Darahnya pun berdesir mendengar pujian melayang dari bibir suaminya."Tetapi sayangnya kau hanyalah wanita yang kubayar!"Bak disambar petir, hati Zevanya seperti teriris belati. Suaminya tega menyebutnya sebagai wanita murahan."Ouh, bagus. Karena saat ini aku ingin dipuaskan!"Tubuh Zevanya dalam sekali hentakan telah kembali ke ranjang. Sedangkan Andrian mulai melepas kancing bajunya dan membuat gadis itu ketakutan."Kumohon, jangan," ucapnya lirih. Zevanya ingin melawan, tetapi dia terikat sumpah pada sang ayah. Dia tidak ingin ayahnya kecewa dan mengalami serangan jantung akibatnya."Wah-wah, apakah aku tidak salah dengar? Kau memohon? Padaku?" Pertanyaan itu terdengar sangat meremehkan Zevanya. Pertanyaan yang seharusnya dilontarkan kepada gadis murahan di luaran sana."Kali ini, lahirkan seorang putra untukku!" ucapnya penekan kalimat terakhir.Zevanya panas dingin. Ingin sekali dirinya berteriak namun ia tak kuasa.Gadis itu semakin beringsut takut saat tangan Andrian mulai nakal dan menjamah tubuhnya."Sekarang, ini adalah awal dari kisahmu. Selamat datang, Nona Zevanya!"Malam ini, Andrian berhasil merampas kesucian gadis yang tidak memiliki kekuatan untuk melawannya. Lelaki itu bahkan melakukannya secara kasar dan egois."Aku harap, calon putraku tumbuh dalam rahimmu."***Pukul 23.15 seorang gadis meringkuk memeluk tubuhnya sendiri. Kekacauan yang terjadi padanya benar-benar membuatnya ingin bunuh diri.Pernikahan macam apa ini? Kehidupan apa yang ia jalani? Kenapa semesta tidak membiarkannya bahagia walau hanya sesingkat senja."Kamu kejam. Lelaki berhati batu. Egois!"Sepanjang malam Zevanya mengumpati lelaki berhati dingin itu. Setelah mendapat apa yang ia mau, Andrian pergi meninggalkannya begitu saja bak wanita murahan yang ia sewa."A--ayah, kenapa harus lelaki itu?!""Dia itu iblis, Ayah!""Tuhan, kenapa kau tidak adil denganku!"Hanya suara tangisan yang dominan di kamar berlampu temaram ini. Tangisan pilu yang membuat siapapun ikut merasakan kesedihannya.Tangis Zevanya berhenti saat gadis itu menatap sebuah pisau buah yang tergeletak di nangkas. Ide gila memenuhi pikirannya."Pisau?" lirihnya masih menatap pisau itu tanpa berkedip.Keberanian telah membawa tangannya memegang pisau tersebut. Zevanya menatap kosong pergelangan tangannya.'Haruskah?' pikirnya.Saat pisau itu akan menggores lengannya, Zevanya tersentak melihat pisau itu tiba-tiba melayang dari genggamannya."Tidak semudah itu. Aku tidak akan membiarkanmu pergi semudah itu, sebelum kau menepati janjimu!"Dengan telaten, Andrian mengobati luka di lengan Zevanya. Gadis yang tadi berencana bunuh diri dengan menggores lengannya. Jika saja Andiran tidak datang lebih cepat, mungkin gadis itu tidak akan selamat."Kenapa?" Tiba-tiba pertanyaan itu terlontar dari bibir mungil Zevanya.Andrian sedikit terkejut, namun lelaki itu pandai mengatur air wajahnya sehingga kembali tenang seperti semula."Kenapa kamu menyelamatkanku?"Kini, Zevanya menatap wajah lelaki yang tengah sibuk melilitkan perban di tangannya."Apa itu penting?" Andrian menatap manik mata gadis di depannya dengan sangat tajam. Sedikit marah."Hahaha." Zevanya tertawa seperti orang gila."Aku tau, kamu hanya ingin seorang putra dariku, bukan?" tanya Zevanya. Matanya memandang kosong ke depan.Sekarang Andrian tau, gadis itu rupanya tengah berada di dalam alam sadarnya. Gadis itu terpengaruh alkohol, terbukti di meja Pantas saja, dia berani bertindak bodoh seperti tadi."Tidurlah," ucap Adrian dingin. Itu bukan sekedar ucapan, itu perintah."Pergilah!" bentak Zevanya mendorong tubuh besar Andrian."Cih, kau pikir aku perduli padamu?" decihnya. Lelaki itu berdiri dari sisi ranjang, kemudian berjalan pergi meninggalkan Zevanya yang mematung di tempatnya.Miris. Zevanya meratapi hidupnya sendiri. Betapa kejamnya dan kelamnya dunia ini untuknya. Pertama, dipaksa menikah untuk menggantikan posisi sang kakak dan berakhir menjadi istri Ceo kejam seperti Andrian."Kamu kuat, kamu pasti bisa. Semangat, Zevanya," lirih gadis itu berusaha membangkitkan semangat dalam dirinya.***Pagi hari, seorang gadis berjalan mengendap-endap keluar dari kamarnya. Kebetulan, jendela kamarnya tidak dikunci. Itu memberinya akses untuk melarikan diri.Zevanya celingak-celinguk untuk memastikan kondisinya aman. Senyum di bibirnya terbit saat melihat hanya dua orang yang menjaga kamar. Tidak seketat sebelumnya."Bagus, aman," ucapnya tersenyum bangga.Zevanya mengambil langkah seribu untuk berlari. Aksinya lolos dari kedua penjaga itu. Kini, dirinya sampai di pintu belakang yang hanya terlihat dari kamarnya saja. Pintu ini ia temukan saat tak sengaja menatap luar jendelanya.Ceklek!"S*al. Pake bunyi lagi!" umpat gadis itu saat mendengar bunyi nyaring yang ia buka."Aman nggak, nih?" Zevanya kembali celingak-celinguk melihat situasi kembali. Aman, dirinya bertepuk tangan riang."Berhenti di situ!"Tubuh Zevanya mematung. Suara itu sempat membuatnya terkejut. Namun, sedetik kemudian dia mengambil langkah seribu dan berlari sekencang mungkin."Nona! Berhenti atau tuan akan marah!"Sosok berbadan besar itu mengejar seorang gadis dengan rambut berkuncir kudanya. Gadis itu takut sekaligus panik sampai masuk ke dalam mobil orang asing."Tolong, biarkan aku bersembunyi di sini," ucap gadis itu gemetaran dengan menundukkan wajahnya takut."Turun. Ini bukan taksi!" ujar lelaki yang memiliki mobil tersebut.Para pria berbadan besar itu berhenti di depan mobil, menatap lurus ke arah jendela."Kumohon," rengek Zevanya tanpa melihat siapa yang berada di samping."Rupanya kau ingin melarikan diri?"Suara itu. Tunggu, Zevanya sangat kenal dengan suara itu. Itu suara ... lelaki berwajah kejam dan merupakan suaminya!'D*mn it! Aku dalam bencana!' batin Zevanya."Bagus, apa ini caramu membayar janjimu?""Rupanya kau ingin melarikan diri?"Suara itu. Tunggu, Zevanya sangat kenal dengan suara itu. Itu suara ... lelaki berwajah kejam dan merupakan suaminya!'D*mn it! Aku dalam bencana!' batin Zevanya."Bagus, apa ini caramu membayar hutangmu?"Tangan Zevanya ditarik secara kasar oleh Andrian. Lelaki itu membawa istrinya masuk ke dalam mansion mewahnya.Bruk!Andrian mendorong tubuh kuat Zevanya sampai membuatnya limbung dan jatuh di atas ranjang kamarnya. Dengan gerakan cepat, lelaki itu kini berada di atas tubuh Zevanya dan menindihnya."Ini hukumanmu karena berusaha kabur!"Tangannya bergerak melepas dasi di bajunya kemudian ia gunakan untuk mengikat kedua tangan Zevanya. Agar gadis itu tidak melakukan banyak gerakan saat ini Andrian menghukumnya nanti."A--apa yang akan kau lakukan?" gugup gadis itu saat tangan Andrian bergerak melepas kancing bajunya."Tentu saja menghukummu, apalagi?" jawab Andrian enteng.Keringat bercucuran dari kening Zevanya. Gadis itu bahkan susah payah menelan ludahnya.Andrian mulai bergerak menjamah tubuh istrinya. Setetes butiran liquid mengalir dari pipi Zevanya. Hatinya merasa dikoyak habis saat mendapat perlakuan egois suaminya."Hiks hiks ...." rintih gadis itu mulai terdengar di telinga Andrian.Apakah lelaki itu merasa bersalah? Tentu! Jauh dalam lubuk hatinya, Andrian merasa sangat bersalah telah memperlakukan kasar Zevanya. Wanita itu tidak seharusnya ia kasari. Terlebih, dia akan melahirkan penerusnya kelak.Tanpa secercah kata, Andrian melepas ikatan di tangan Zevanya. Lelaki itu berdiri dan berjalan keluar dari kamarnya. Pikirannya kacau. Hati dan batinnya saat ini tengah berperang.'Bodoh!' umpat Andrian dalam hatinya.Sedangkan Zevanya semakin terisak. Dirinya bahkan terlihat seperti jal*ng daripada seorang istri. Zevanya muak dengan tubuhnya, dia benci dirinya sendiri."Andai saja, kalian tidak memiliki hutang kepada lelaki kejam itu."***Jam menunjukan 23.00. Tetapi, Zevanya malah meringkuk di atas lantai, tanpa memperhatikan keadaan tubuhnya. Gadis itu memandang kosong ke depan. Pikirannya membawa dirinya menjelajah ke masa dulu."Yah, aku tidak ingin menikah!" ucap Zevanya lantang.Lelaki berumur paruh baya itu menggelengkan kepala tidak setuju."Zevanya, ini demi kebaikan keluarga kita. Jika kamu tidak menjadi istrinya, keluarga kita akan menjadi musuhnya.""Lagian, hutang keluarga kita sangat banyak dan bukankah bagus menjadi menantu Ramatha? Statusmu akan naik dan terkenal sebagai menantu mereka.""Tapi, Yah. Bukan Zevanya yang harusnya menikah, tetapi kak Venilla!" tolak gadis itu mentah-mentah.Nyatanya memang bukan dirinya yang menikah. Kakaknya lebih dahulu setuju untuk dijodohkan. Tetapi saat dekat dengan hari H, kakaknya itu tiba-tiba tidak setuju untuk menikah.Tangan Zevanya di genggam oleh sang ayah. Sosok yang menjadi penguat satu-satunya setelah sang bunda tiada dan meninggalkan."Ayah mohon, cuman kamu satu-satunya harapan Ayah.""Oke, Zeva setuju."Brak!Suara pintu yang didobrak keras membuat Bella tersadar dari lamunannya. Zevanya melihat ke sumber suara. Ternyata itu ulah dari suaminya."Zeva."Zevanya mengerutkan keningnya saat melihat lelaki berwajah dingin itu berjalan sempoyongan untuk menghampiri dirinya."Apa kau baik-baik saja?" khawatir Zevanya menghampiri Andrian"Antarkan aku ke kamar!" titah lelaki itu dengan nada tak terbantahkan.Zevanya langsung menutup hidungnya tatkala mencium bau alkohol keluar dari mulut suaminya.Setelah menghukumnya habis-habisan ternyata Andrian keluar untuk meminum alkohol dan membuatnya mabuk seperti sekarang.Plak!"Apa kau tuli?!"Perih, sakit, panas menjalar dari pipinya. Bekas tamparan tadi saja masih belum hilang dan sekarang dirinya mendapat tamparan kembali."B--baik, maaf," ucap Zevanya menyesal karena telah mengabaikan tugasnya."Tapi di mana kamarnya? Aku saja tidak mengetahui letak rumah ini."Zevanya dengan telaten memapah Andrian dari kamarnya hingga ke kamar sang pemilik istana. Kamar yang begitu besar juga luas dengan dipenuhi berbagai macam benda untuk berolahraga itu pasti kamar suaminya. Zevanya memapah dan masih tidak menyangka sekaligus terpesona, kamar suaminya ternyata serapih dan senyaman ini.'Mengagumkan,' batin Zevanya menatap sekitar.Dengan hati-hati, gadis itu membaringkan tubuh suaminya di ranjang berukuran size berwarna putih polos.Wajah yang terlelap itu terlihat damai bak malaikat. Hidung macung, mata sipit, alis tebal, rahang kokoh, bulu mata lentik. Semua itu bisa dilihat ketika Andrian terlalap dalam tidurnya.'Tidak. Bagaimanapun dia adalah iblis!' ucap Zevanya dalam hatinya.Pergerakan lelaki itu yang tiba-tiba membuat Zevanya terjatuh di atas dada bidang suaminya."Jika tidur begini, dia terlihat seperti malaikat," gumam Zevanya mengagumi wajah di depannya."Berhenti menatapku, jika kau sayang nyawamu!""Berhenti menatapku, jika kau sayang nyawamu!"Zevanya langsung berdiri dari posisinya setelah mendengar ancaman dari suaminya."Kau mau ke mana?" Suara berat Andrian berhasil membuat Zevanya terpaku ditempatnya.Wajahnya berubah pucat pasi saat Andrian terbangun dari ranjangnya dan berjalan menghampiri dengan sempoyongan."A--apa yang akan kau lakukan?" gugup Zevanya saat lelaki berwajah dingin itu semakin mendekati dirinya.Grep!Tanpa diduga Andrian ternyata malah memeluk erat tubuh istrinya. Sedangkan gadis itu, ia merasa posisinya dalam bahaya. Bagaimana tidak, jangankan dipeluk, ditatap oleh Andrian saja dia ingin pingsan.'Mati aku!' umpat Zevanya dalam hatinya."Jangan bergerak. Ini perintah!" tegas Andrian saat menyadari pergerakan gusar dari istri mungilnya."Ta--tapi--"Cup!Bibir Andrian mengecup bibir Zevanya dan membuatnya diam di tempat."Apa kau ingin mati?!"Glek!Lepas dari cengkraman Andrian memang sangat sulit. Bahkan sangat mustahil. Andrian adalah sosok lelaki yang begitu egois. Dia tidak pernah memikirkan perasaan orang lain. Lelaki tidak punya hati, sombong dan angkuh.setengah jam berdiri, membuat Zevanya merasa bosan sekaligus pegal. Akhirnya gadis itu memilih memapah tubuh besar Andrian dan membawanya ke ranjang milik lelaki itu."Astaga, aku merasa seperti habis memapah 10 lelaki. Dia itu sangat berat!" gerutu Zevanya setelah membenarkan posisi Andrian di ranjang.Zevanya tak henti-hentinya menatap kagum wajah tampan suaminya yang damai dalam tidurnya. Wajah lelaki itu bak malaikat saat tertidur. Begitu menawan. Sayangnya, semua itu berubah saat ia terbangun."Pria tidak punya hati!"Sudah cukup. Zevanya tidak sanggup lagi jika terus-terusan menatap wajah itu. Lelaki yang terkadang membawanya terbang ke awan-awan dan kadang pula menjatuhkan sejatuh-jatuhnya."Sadar Zeva!"Zevanya memilih melangkah keluar dari kamar Andrian. Tetapi, belum sempat dirinya menutup pintu kamar, gadis itu mendengar rintihan dari arah Andrian. Karena penasaran, akhirnya ia menghampiri lelaki yang gelisah dalam tidurnya."Emm … Andrian? Apa kau tidak apa-apa?" tanya Zevanya khawatir dan menggengam tangan suaminya tanpa sadar.Tiba-tiba Andrian menjadi tenang saat Zevanya menggengam tangannya. Tetapi, saat gadis itu ingin melepas genggamannya, Andrian kembali gelisah dalam tidurnya."Apa yang harus aku lakukan? Jika dia tau aku berada di kamarnya, habislah aku di tangannya!" gumam Zevanya menatap cemas Andrian yang tertidur pulas."Apa aku harus di sini sampai dia tidur dengan nyenyak?" pikirnya."Iya, aku harus menunggu sampai Andrian benar-benar tenang dalam tidurnya."Akhirnya Zevanya mengalah. Dia memilih menunggu Andrian agar lebih dulu nyaman dalam tidurnya. Walaupun suaminya itu kejam, tetapi sebagai istri mana tega dia meninggalkan Andrian dalam keadaan seperti ini?Tidak terasa rasa kantuk juga menyelimuti dirinya, Zevanya akhirnya ikut terlelap di samping Andrian tanpa melepas genggaman tangan mereka.Ke esokan harinya ...."Eugh," lenguh Zevanya saat sorot matahari berusaha menerobos penglihatannya.Zevanya memandang sekitar seraya mengucek-ngucek matanya khas bangun tidur. Matanya membola saat mengetahui dirinya berada."Mampus! Matilah aku! Bagaimana jika dia tau aku berada di kamarnya dari semalam?"Ke esokan harinya ...."Eugh," lenguh Zevanya saat sorot matahari berusaha menerobos penglihatannya.Zevanya memandang sekitar seraya mengucek-ngucek matanya khas bangun tidur. Matanya membola saat mengetahui dirinya berada."Mampus! Matilah aku! Bagaimana jika Andrian tau aku berada di kamarnya?"Tanpa Zevanya sadari, sebenarnya Andrian sudah terbangun sedari tadi dan mengetahui bahwa gadis itu semalam tidur bersamanya. Tetapi lelaki itu enggan membangunkan istrinya karena sepertinya dia terlihat sangat lelah.Andrian tersenyum tipis saat melirik Zevanya yang tengah berfikir sembari mengigit kuku jarinya. Dari gadis itu berjalan mondar-mandir ketakutan sampai saat Zevanya berbicara sendiri, semua itu tak luput dari pandangan lelaki berwajah dingin itu.'Manis,' ucapnya dalam hati."Mau kemana, hm?" Andrian menahan lengan Zevanya saat mengetahui gadis itu ingin pergi dari kamarnya.'Aduh, mampus kamu Zeva!' batin Zevanya merasa ketakutan dirinya baru saja tertangkap basah oleh suami kejamnya."A--aku emm …." ucap gugup Bella.Andrian berdiri dari baringnya dan berdiri di depan sang istri yang saat ini berdiri mematung di tempatnya. Smirk Andrian muncul saat melihat wajah istrinya berubah pucat pasi. Gadis itu berjalan mundur saat Andrian semakin mendekatinya. Sampai akhirnya, tubuh Zevanya membentur tembok di belakangnya.Hap!Andrian berhasil menggengam tangan Zevanya, dan saat lelaki itu semakin mendekatkan wajahnya, dengan si*alnya tiba-tiba pintu dibuka secara kasar dari luar dan membuat aksinya gagal.Brak!Melihat ada celah dirinya lolos, Zevanya langsung berlari keluar saat mendapatkan kesempatannya dan melepas cengkraman Andrian pada pergelangan tangannya. Di pintu dia berpas-pasan dengan ajudan yang menjadi kepercayaan Andrian'Si*lan!' umpat Andrian dalam hatinya. Siapa orang yang berani merusak momennya pagi ini? Kurang ajar sekali dia!"Kenapa?" tanya Andrian dingin dan menusuk."Ma--maaf mengganggu, Tuan. Di bawah ada ayah nona Zeva."