ADITYA
Romance
10 Feb 2026 10 Feb 2026

ADITYA

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download - 2026-02-10T234328.603.jfif

download - 2026-02-10T234328.603.jfif

10 Feb 2026, 16:47

download - 2026-02-10T234327.404.jfif

download - 2026-02-10T234327.404.jfif

10 Feb 2026, 16:47

download - 2026-02-11T000632.140.jfif

download - 2026-02-11T000632.140.jfif

10 Feb 2026, 17:11

download - 2026-02-11T000630.486.jfif

download - 2026-02-11T000630.486.jfif

10 Feb 2026, 17:11

Hari ini tepat tiga bulan aku berada di SMA Husada Solo. Tapi sekarang malah telat gara - gara ada kecelakaan di persimpangan kompleks rumahku. Padahal hari ini jam pertama adalah pelajarannya Pak Oscar, guru Matematika. Aku segera berlari di lorong. Tiba - tiba...

Brukk...

Sial! Aku nabrak seorang cowok. Tapi dia bukannya membantuku untuk membereskan buku yang berjatuhan, malah sikapnya jutek banget.

" Kalau jalan liat - liat. Jalan pake Mata jangan pake dengkul. " ujarnya dingin.

" Sorry ya. Aku jalan pakai kaki. Catet tuh. KAKI! Bukan pake mata atau dengkul. Permisi. " sahutku sambil beranjak pergi meninggalkannya. Dia memandangku dengan senyum misterius.

Aku pun langsung berlari menuju kelasku yang berada di lantai dua. Huff. Untung saja Pak Oscar belum datang. Aku pun langsung duduk di kursi tepat di depan meja guru. Saat aku baru duduk, Pak Oscar masuk ke kelas kami. Dua puluh lima menit kemudian cowok yang menabrakku tadi masuk kekelas dan menemui Pak Oscar. Ternyata cowok yang menabrakku tadi adalah teman satu kelasku. Namanya Aditya.

Ternyata setelah ku perhatikan. Adit termasuk orang yang cukup keren. Dengan rambut yang sepertinya sengaja jatuh menutup dahinya di tambah kacamata yang nangkring di hidungnya. Sepertinya tak sulit baginya untuk jadi playboy cap kadal.

" Permisi. Maaf Pak Saya telat datang. Saya tadi di panggil Bapak Kepala Sekolah. " ujarnya sambil duduk.

" ya sudah. Silahkan duduk. "

Pak Oscar pun melanjutkan kembali pelajaran yang sempat terhenti karena Aditya datang. Kami pun kembali fokus ke pelajaran.

***

" kak Ai, temenin Riko ke toko buku dong. Papa sama Mama Ke Makassar, oma sakit. Sedangkan pak Min nganter ke bandara. " cerita Riko panjang lebar saat aku datang dari kursus komputer. Rupanya dia sudah siap. Kasihan kalau aku tolak.

" ya sudah, nanti Kak Ai temenin. Tapi nanti saja ya. Kak Ai capek banget nih soalnya. " sahutku masuk kedalam rumah. Riko pun mengangguk senang.

Riko bukanlah adik kandungku, orang tua dan Kakakku meninggal saat kecelakaan pesawat. Sedangkan orang tua Riko adalah sahabat orang tuaku, karena itu mereka mengadopsiku untuk menjadi anak mereka. Riko adalah anak kandung mereka satu - satunya. Aku dan Riko berbeda 8 tahun. Walau Riko tahu Aku bukan kakak kandungnya, kami tetap bisa akrab.

Jam lima sore akhirnya aku mengantar Riko ke Solo square. Kami pun segera ke gramedia untuk membeli buku.

" kamu cari aja ke sana. Kak Ai mau nyari buku juga. " ujarku saat sampai di Gramedia. Aku pun langsung menuju kebagian rak buku kesehatan. Aku memilih buku your health guide "ASMA", "DIABETES", "HIPERTENSI", dan "FLU BURUNG". Setelah selesai mencari, aku pun beranjak pergi mencari Riko karena dia belum menemuiku lagi.

" udah Ko? " tanyaku saat bertemu dengannya.

" udah kak. Aku beli tiga. Nih. " katanya sambil menunjukkan buku Panduan belajar IPA, IPS, dan buku cerita rakyat dunia.

" ya udah, bayar yuk. Kita ke kasir sekarang. " ujarku menuju kasir yang ada di dekat pintu masuk.

" Mas, semuanya berapa? " ujarku di depan kasir sambil mengambil buku yang ada di tangan Riko.

" semuanya Rp. 180.000,- mbak. Cash atau pakai Kartu ATM Mbak?"

" Kartu aja Mas. Nih. "

Aku pun mengeluarkan kartu ATM-ku dan menyerahkannya ke bagian kasir.

***

Tiba - tiba hari ini aku disuruh menghadap Kepala sekolah. Ada apa ya? Rasanya aku tak pernah membuat masalah selama enam bulan di sekolah ini. Aku pun segera beranjak dari tempat dudukku dan menuju ke kantor kepala sekolah yang berada di lantai satu.

Saat di depan Ruangan Kepala Sekolah, aku bertemu dengan Adit. Rupanya dia juga dipanggil. Tanpa menghiraukannya, aku segera masuk ke dalam. Adit pun mengikutiku di belakang.

" permisi Pak. Bapak Manggil Saya? " tanyaku saat bertemu dengan Pak Rahman. Rupanya beliau sedang ada tamu.

" Iya. Ada yang ingin Bapak bicarakan denganmu dan Adit. Oh, ya. Perkenalkan mereka orangtua Adit. Pak Rahardian dan bu Suk... "

" perempuan ini bukan Ibu saya! Dia hanya perempuan yang suka merebut suami orang lain! Jangan pernah bilang kalau Dia ibu saya. " potong Adit Sinis.

" Adit! Jaga bicara kamu! Dia istri Papa. Jadi dia juga Ibu Kamu! " bentak Pak Rahardian. Kayaknya bakalan ada perang dunia Ke empat nih pikirku.

" memang dia istri yang diakui! Tapi jangan harap Adit Mau Mengakui atau memanggil wanita ini sebagai Mama. Mama Adit hanya satu dan yang jelas bukan Dia! " ujar adit tajam sambil memandang Tante Sukma yang hanya bisa diam sambil menundukkan kepala.

Akhirnya karena Melihat situasi yang semakin memanas, Pak Rahman membuat sebuah keputusan.

" Aisna, Bawa Adit keluar saja sekarang. Kita bicaranya Nanti saja setelah Adit tenang. "

" Ba, Baik Pak. Dit, Ayo. Adit, ayo. " balasku sambil menyeret Adit keluar dari ruangan itu menuju taman.

***

" Nih. Minum dulu biar kamu tenang. " Ujarku sambil menyodorkan minuman kaleng pada Adit yang aku beli di koperasi tadi saat kami tiba di taman.

" dua kali aku harus bilang Thanks buat kamu. " ujar Adit sambil mengambil minuman ditanganku dan duduk menghadap Kolam ikan.

" buat apa Dit? " tanyaku sambil tetap berdiri di samping Adit.

" yang pertama buat tindakan kamu yang nyeret aku ke luar dari ruangan itu. Kalo enggak, gak tau deh ntar jadi gimana. Mungkin aku bakalan terus berantem sama Papa. Yang kedua buat minuman ini. " ujarnya sambil tersenyum.

Gila! Tumben banget nih anak senyum. Biasanya dingin banget. Apalagi sejak tabrakan dulu, pikirku.

" hehehe... gak apa. Eh, Aku duluan ya. Mau ke perpustakaan nih. Ntar tutup lagi. " ujarku sambil beranjak pergi.

" tunggu bentar Ai, " ujar Adit sambil menarik tanganku. Namun, karena terlalu kencang, aku pun terjatuh hingga menabrak tubuhnya. Adit pun langsung menangkap dan setengah memelukku.

" so, sorry banget Ai. Aku gak sengaja narik kamu kekencengan. Aku minta Maaf ya? Sumpah Ai, aku minta Maaf banget. Aku nyesel. " ujarnya sambil memandangku lembut.

" Gak Papa. Santai aja. Kenapa tadi manggil? " ujarku seraya mengusap tanganku yang tadi menabraknya.

" Aku cuma Minta temenin kamu di sini. Aku lagi gak pengen sendirian. Sakit ya Ai? " ujarnya sambil mengelus tanganku yang sakit.

" hmm. Gak apa. Cuma perih. "

Adit pun langsung memeriksa tanganku. Rupanya tanganku lecet karena tergores resleting jaketnya.

"udah. Tenang aja. Aku gak apa. Tenang aja. " ujarku santai.

" yakin? Bener gak papa? " ujarnya khawatir. Aku pun mengangguk.

Adit pun mengela nafas panjang setelah mendengar ucapanku.

" dulunya aku hidup kayak anak - anak lainnya. Keluarga yang harmonis, menyenangkan, dan bahagia. Bahkan aku sempat bersyukur karena memiliki semuanya dan lengkap banget. Tapi, semua itu langsung musnah ketika dokter memvonis Mamaku menderita Kanker Darah. Sejak itu Mama Jadi pendiam, suka menyendiri, dan suka melamun. Pada suatu hari, tiba - tiba Mama menyuruh Papa untuk menikah lagi karena mama ingin aku dan papa tak terlalu sedih ketika mama sudah tiada. Tentu saja Aku dan Papa menolak habis - habisan. Tapi tetap saja Mama terus memaksa Papa. Akhirnya, Papa menikah juga dengan Wanita itu. Padahal wanita itu sahabat mama. Mama malah mendukung. Namun, hanya aku saja yang tak setuju dengan wanita perebut suami orang itu. Sejak saat itulah, aku selalu menutup mata dan telinga bila ada perempuan itu. "

" Maksud Kamu wanita itu, Tante Sukma? " tanyaku hati - hati dan dijawab oleh anggukan kepala Adit.

" yakin kamu ngasih tau aku tentang semua ini? "tanyaku. Dia pun mengangguk lagi.

" Kamu ada saran buat aku Ai? " tanyanya dengan tetap menatap kolam.

" Hmm... Ada. Menurut aku, kamu enggak seharusnya benci sama tante Sukma. Soalnya menurut aku, bukan salah beliau sepenuhnya. "

" jadi kamu juga mau membela perempuan itu? " ujar Adit sinis.

" enggak. Aku gak ngebelain siapa - siapa. Ini kan bukan semua salah tante Sukma. Apalagi beliau sahabat mama kamu. Mama kamu mungkin punya rencana kenapa beliau meminta papa kamu untuk menikah lagi sama tante Sukma. Tuhan mungkin punya rencana untuk keluarga kamu. Gimana kamu tau apa yang dipikirkan oleh semua orang kalau kamu gak membuka mata untuk melihat masa depan? Coba deh kamu liat ke samping kiri kamu. Tante sukma nangis terus sambil ngeliatin kita. Mungkin ini saatnya kamu membuka mata dan telinga untuk tante Sukma. Toh ku lihat tante orang yang baik. Tapi ini terserah kamu sih. Ini kan hidup kamu Bukan hidup aku," ujarku sambil beranjak pergi meninggalkannya saat Adit memandang tante Sukma dengan pandangan yang sulit ku cerna.

***

Tiba - tiba Aditya datang ke mejaku saat istirahat.

" thanks ya. " ujarnya sambil duduk di sampingku.

" hah? " hanya itu yang keluar dari mulutku.

" iya. Thanks buat kamu yang udah ngomong gitu sama gue waktu tempo hari. Sekarang aku sadar, kalau tante Sukma enggak seperti yang aku bayangin. Aku aja yang terlalu paranoid. Sejak aku mulai mencoba baik sama mama, mama Sukma memang nyatanya baik banget. Dan bisa ngerti sifat aku. "

" hah?? Mama? Tante Sukma Kamu panggil Mama? Tumben. Sejak kapan tuh? " ujarku sambil tersenyum.

" iya. Mama. Sejak dua minggu lalu, aku udah nganggep beliau sebagai mama aku yang kedua. Hehehe... "

" dasar. Berarti aku punya andil besar dong dalam membaiknya hubungan kalian? Iya gak Dit? Traktiran. " ujarku sambil tertawa renyah.

" huuu... maunya... " ujarnya tertawa sambil mengacak - acak rambutku. Aku pun segera memperbaiki rambutku yang berantakan.

" Aduh Adit. Rambutku rusak nih. Akh. Dasar. Awas ya. Dapet balesan dari aku. " ujarku sambil membalas merusak rambutnya.

Sesaat kemudian, tiba - tiba HP Adit berbunyi.

Nothing's gonna change my love for you

You ought to know by now how much I love you

The world may change my whole life through

But nothing's gonna change my love for you

" hallo. Kenapa Pa? Tumben nelpon? "

"....."

" Hah? Apa? i... iya. Adit segera pulang sekarang Pah. " ujar Adit histeris. Seketika itu pula wajah Adit menegang dan memutih seperti kertas setelah mendengar berita dari Papanya.

" Ai. Cepet ambil tas Kamu dan ikut aku. Sekarang! " perintah Adit saat dia menyambar tasnya dan keluar kelas.

Aku pun segera menyusul Adit ke parkiran dan mulai masuk ke dalam mobilnya.

" hei. Hei. Hei. Ada apa sih Dit? Kenapa? " ujarku saat kami sudah keluar dari lingkungan sekolah.

Sesaat kemudian, Adit menghentikan laju mobilnya dan langsung memandangku sambil berkaca - kaca.

" mama meninggal. aku harus kesana sekarang. Temenin aku ya? "

" jelas lah aku mau nemenin. Ayo. " ujarku sambil menyuruh Adit segera pergi.

Saat kami sampai dirumahnya Adit, kami berdua di sambut oleh tangis Tante Sukma. Sedangkan Adit hanya terdiam sambil mendekati jenazah ibunya. Aku tak tahu apa yang dilakukan Adit karena aku sambil menenangkan Tante sukma. Saat ku lihat sekeliling tak terlihat pak Rahardian. Papa Adit.

" Om rahardian mana tante? " Tanyaku pelan.

" sejak tadi dikamar. Dia sangat terpukul. " ujar tante Sukma sambil terus menangis. Aku pun meminta izin beranjak untuk menemui Adit yang ada di depan jenazah mamanya.

" Dit, " ujarku pelan sambil menempuk bahunya pelan dan memeluk lengannya. Adit hanya memandangku dengan senyum yang sangat terpaksa sambil menghembuskan nafas keras.

"kamu ganti baju dulu Dit. "

" iya. Kamu ikut aku sekarang. Kamu ganti baju juga, temenin aku ya ke pemakaman mama. " Ujarnya serak.

" tapi Dit, aku gak bawa baju ganti. " ujarku sambil mengendurkan pelukanku ditangannya, namun Adit menahannya.

" kita pinjem baju mama Sukma aja. Mungkin ada gaun yang pas buat badan kamu. " ujarnya sambil mencari tante sukma.

Tante sukma pun mencarikanku gaun untuk ke pemakaman. Sedangkan Adit ku paksa untuk mengganti baju sekolahnya.

***

Suasana pemakaman berjalan khidmat. Hanya terdengar isak tangis para pelayat dan suara kicauan burung. Langit tampak berawan seakan tak mau menampakkan kecerahannya.

Aku sangat tidak menyukai suasana ini karena mengingatkanku pada acara pemakaman papa, mama dan kak Gio. Tak terasa aku menangis dan langsung mengenggam erat tangan Adit yang ada di sampingku.

" kenapa Ai? Kok ketakutan gitu? " ujarnya bingung melihatku gemetar sambil melingkarkan tangannya di pundakku untuk menenangkanku.

" aku inget pemakaman orang tua dan kakakku. " bisikku nyaris tak terdengar. Aku semakin erat memegang tangan Adit.

Adit rupanya cukup paham dengan keadaanku sehingga dia tetap memelukku dan menahanku agar tak terjatuh.

Lima belas menit kemudian, para pelayat menyingkir satu persatu sehingga hanya menyisakan aku, Adit, tante Sukma dan om Rahardian.

Aku hanya bisa diam sambil menarik nafas panjang menyaksikan mereka bertiga dalam duka yang mendalam.

***

Tiga hari sudah Adit gak masuk sekolah. Hari ini aku menunggunya di depan kelas sambil harap - harap cemas apakah Adit masuk atau enggak.

" Nunggu siapa Ai? " Tanya roy, ketua kelas. Saat dirinya mau masuk kelas.

" nungguin Adit. Hari ini kan ulangan Matematika. Masa dia gak ada. " ujarku sambil melipat tangan di depan dadaku.

" oh Adit. Dia masuk kok. Tadi aku liat lagi main baket sama anak - anak X-2. Cie, kangen ya si pacar gak masuk tiga hari? " ujarnya meledekku.

" apaan sih Roy, pacar? Siapa pula pacarku ini. jangan - jangan kamu ngambek ya, aku duduk di kursimu disebelah Adit? " ujarku tertawa renyah.

" hahah sialan kau. Jadi malah aku yang kena. Udah ah. aku mau belajar. Dah cantik " ujarnya jail. Aku hanya bisa geleng - geleng kepala melihat ketua kelasku yang aneh bin ajaib dengan rambut kribonya. Akhirnya aku pun kembali duduk di kursiku lagi sambil membaca komik yang kubawa.

Lima menit sebelum bel masuk berbunyi Adit masuk kelas dan duduk di sampingku. Adit segera menaruh tasnya di atas meja dan langsung bersandar di bahuku.

" Adit, kena~..? "

" stt.. jangan dibahas " ujarnya masih tetap bersandar di bahuku. Aku pun akhirnya hanya mendiamkannya sambil membaca komik yang belum selesai tadi.

" Ai, " tegurnya.

" ada apa? " ujarku menatapnya dan menutup komik yang baru kubaca.

" aku mau cerita. Ya? "

" tapi pak Oscar? Ulangan kan? " tanyaku.

" Pak Oscar gak masuk Ai. Sakit. Jadi gak jadi ulangan. Tadi pak Oscar sms aku. " ujar Roy yang duduk di belakang ku dan Adit. Adit langsung menarikku ke kantin dan duduk di tempat yang paling pojok.

" pak pesen mie ayam sama es jeruk dua. " ujarnya.

" ada apa Dit? " ujarku.

" aku masih linglung. Mama meninggal mendadak banget. Dan.... "

" Dit, kamu harus move on dong. Jangan gini terus. Mama kamu di surga juga bakalan sedih kalo kamu gini terus. Ayolah come on. Masih banyak yang butuh kamu. Tante sukma, om rahardian, dan juga aku. " ujarku tersenyum dan membuat Adit terperangah.

" maksud kamu? "

" menurut kamu apa? " tambahku sambil tersenyum. Aku dan Adit pun hanya bisa saling berpandangan.

" mau gak jadi pacar aku? " ujar Adit mendadak.

" hah? " ujarku kaget.

" gimana? Mau gak? Inget lho. Aku perlu jawaban. " ujar Adit sambil mengenggam tanganku erat.

" em, kepo banget sih. Mau tau aja apa mau tau banget? " ujarku sambil tersenyum jahil.

" mau tau abis. Hahaha... ayolah. Apaan jawabannya? " ujar Adit sambil tertawa lebar.

" em, iya aku mau. Eh, tapi aku mau tau kenapa kamu suka sama kamu. Padahal masih banyak cewek cewek yang mau banget sama kamu. " ujarku heran.

" karena kamu satu - satunya cewek yang bisa bikin aku tenang, bisa ngeredam emosi aku, dan bisa bikin aku jungkir balik dan dag dig dug der. " jawab Adit sambil tersenyum.

" hu~ gombal banget sih kamu tuh. Ntar sama cewek lain gitu juga. " sahutku merajuk padanya. Adit pun mengeser kursinya ke sampingku.

" enggak bakalan lah. Aku udah naksir sama kamu itu udah dari kita ketemu waktu tabrakan dulu. Gak bakalan aku ngelepasin kamu. Aku itu sayang sama kamu. " tambah Adit sambil mengenggam tanganku.

" tapi, aku gak mau kamu deket banget sama cewek lain. " ujarku menundukkan kepala.

" iya lah. Gak mungkin. Aku tau perjuanganku mendapatkanmu. " ujar Adit sambil mengelus kepalaku lembut.

Aku pun menatap Adit lembut. Ternyata desember sekarang bukanlah desember kelabu yang sering dinyanyikan penyanyi terkenal. Menurutku saat ini adalah desember ceria yang menanungiku bersama Adit. Saat ini, mungkin hingga seterusnya. Semoga saja. Pikirku.

***

Kembali ke Beranda