Temukan Cerita Inspiratif
Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.
Total Cerita
1144
Genre Romance
230
Genre Folklore
228
Genre Horror
228
Genre Fantasy
230
Genre Teen
228
Sorry Friend
"Kenalin Zaf, ini sahabat aku Lea" kata Sasa."Oh yang sering kamu ceritain itu ya?" Tangan Zafran terulur bermaksud berkenalan."Zafran" sebutnya, aku tersenyum saja menyahutinya.Aku menyukai senyumnya sejak pertama kali, perkenalan ini bukanlah pertemuan pertama kami. Aku pernah melihatnya di acara pesta pernikahan putra dari rekan kerja ayah ku.Aku ingat sekali bagaimana caranya tersenyum hangat menyambut setiap tamu yang menghampirinya. Kala itu aku sedang berdiri di samping ayah ku yang sedang bercanda gurau dengan temannya, sang ayah mempelai.Dia masih sama. Selalu tampan, gagah dan ramah. Jas kerjanya itu seolah tak dapat lepas dari genggaman meskipun ini sudah bukan jam kantor lagi.---Makan malam telah kami bertiga selesaikan. Senyum ramah terus ku tebar meski kenyataan pahit sudah daritadi menusuk-nusuk.Kalian tahu alasan makan malam ini apa? Sasa sahabat ku ini, berjanji akan memperkenalkan aku dengan lelaki yang berhasil menarik hatinya.Dan yah.. satu-satunya lelaki pujaan Sasa yang diperkenalkan pada ku malam ini ya hanya Zafran, yang ternyata pujaan hati ku juga.Jujur saja, aku menyesal penasaran. Aku memang senang bisa tahu nama lelaki yang ku kagumi, tapi bukan seperti ini caranya.Kini langkah kami menuju keluar, bersiap-siap pulang ke rumah masing-masing.Sial! Aku lupa, aku kan tidak bawa mobil sendiri hari ini. Menelpon sopir pasti kelamaan, mengingat alamat rumah ku jauh dari daerah sini."Lea""Hmm?" Kata ku tertegun dan langsung menatap Sasa."Kamu ga bawa mobil?"Aku tersenyum masam sambil geleng-geleng. Sasa meraup lengan baju Zafran sampai tubuh Zafran tertarik kemari."Kamu anterin Lea ya" pinta Sasa yang diangguki ringan oleh Zafran.Ah Sasa kamu beruntung punya pacar seperti Zafran yang tak menolak kehendak mu. Batin ku semakin kagum dibuatnya.Sebelum aku dan Zafran masuk ke mobil, kami berdua berdiri di area parkir ini untuk melihat Sasa yang pulang dengan mobilnya sendiri.Rumah ku dan Sasa berbeda arah, dan jaraknya juga sangat jauh. Itulah mengapa Sasa tak berani mengantar ku pulang dengan mobilnya, apalagi sudah larut malam seperti ini.Ku lirik Zafran sedang melambai kecil ke mobil Sasa. Lalu dia meminta aku untuk segera masuk ke dalam mobil.Selama diperjalanan baik aku maupun dia, kami sama-sama terdiam. Berdebar hati ku diposisi sedekat ini, aku ingin mengenalnya lebih jauh tapi Lea sahabat ku?"Zaf" panggil ku takut-takut."Hmm?" Dia masih fokus pada jalanan.Ternyata aku benar-benar tak ada artinya untuk seorang Zafran. Hati ku sedikit sakit menyadari dirinya yang memang tak mungkin tertarik pada ku."Boleh aku minta nomor ponsel mu?" Tanya ku.Aku masih memberanikan diri, kalau-kalau saja diperbolehkan kan?"Boleh, simpan lah"Hati ku girang sendiri. Padahal aku tahu meskipun ini peluang, tetap saja aku tak mampu untuk menyakiti sahabat ku sendiri.Ingin rasanya ku bunuh sahabatku saat ini, tapi tak mungkin kan? Lagi pula aku tak se-psiko itu! Aku masih waras dan masih menyayangi Sasa juga.Setelah ku catat nomornya, aku kembali bingung. Aku sendiri tidak tahu harus ku apakan nomor ini nanti? Ah sudahlah, aku bisa menggunakan nomor ini untuk memantau fotonya, atau enggak minimal aku tahu kapan terakhir kali dia online.Semiris itu loh guys nasib cinta ku.Aku menelpon nomor Zafran. Bermaksud memberinya nomor ponsel ku juga.Ponsel pria itu berdering. Panggilan masuk itu tentunya dari ku, tapi ia tak menggubrisnya."Zaf, itu nomor ponsel ku" kata ku akhirnya."Iya" jawabnya, masih dengan fokus menyetir.Astaga, rasanya saat ini yang lebih baik ku bunuh duluan bukan Sasa, melainkan Zafrannya!Dia tak berniat menyimpan nomor ku atau bagaimana? Gak ngerti lagi aku.Jutek! Beda sekali dengan Zafran yang diperkenalkan dengan ku di dalam restaurant tadi. Apa jangan-jangan dia memiliki kepribadian ganda? Psiko? Argh mikir apa aku ini!?---Sesampainya di depan rumah ku, dia tak sedikit pun membuka kaca mobil barang sekejap melambai kecil pada ku, seperti yang ia lakukan pada Sasa tadi.Dia hanya memberi klakson satu kali, lalu mobilnya melesat pergi.Ya sudahlah ada baiknya aku segera masuk, cuci muka lalu tidur.---Seminggu berlalu, dan ini adalah hari Minggu yang paling cerah. Karena hari ini aku memutuskan untuk meliburkan diri sampai lusa nanti!Aku tidak ada acara pergi kemana-mana, jadi aku sudah berencana setelah selesai sarapan ini aku mau menyambung tidur lagi.Baru saja aku selesai menenggak habis susu ku, tiba-tiba ponsel ku berdering. Kalian tau apa yang membuat ku lebih senang lagi?Zafran is calling!Asiikkkk dia menelpon ku untuk pertama kalinya. Artinya malam itu nomor ponsel ku disimpannya! Oh my God, jantung ku kontrol Lea, kontrol!"Halo" sapa ku penuh semangat."Maaf mengganggu mu, apa kau sedang sibuk?" Tanyanya ragu-ragu.Aduh ingin ku jawab emangnya kapan aku sibuk kalau untuk kamu!?"Emm nggak. Ada apa?""Temani aku keluar hari ini""Oh ya udah ayok!" Kata ku antusias.Ya ampun mulut ku ini!Tapi tumben, kemana aura pria berdarah dingin malam itu? Belum sempat aku bertanya-tanya.."Bersiaplah aku akan menjemputmu sekarang!" Katanya lalu memutuskan sambungan telepon.Aku pun lantas bersiap-siap. Untung saja aku punya kebiasaan mandi pagi buta, kalau nggak, bisa kelamaan dia nungguin aku.Beberapa menit berselang..Tin. tin.Suara klakson mobilnya sudah berbunyi, aku pun keluar menenteng tas sandang ku."Hai" sapa ku yang disambutnya dengan senyuman."Ada apa? Kok tiba-tiba mengajak ku pergi?" Tanya ku setibanya di dalam mobil.Dia memasang cengiran kuda yang tak biasanya.Ah aku baru tahu, ternyata dia bisa juga ya menampilkan cengiran seperti itu?Mobil perlahan melaju, ku lihat dia memasukkan makanan ke dalam mulutnya sebelum bicara."Ini coba lah!" Katanya menawarkan aku camilan yang ia makan barusan.Aku pun mengambil beberapa di tangan ku, hanya untuk menghargainya."Aku hari ini mengosongkan jadwal kerja ku, sengaja untuk menghabiskan waktu bersama Sasa. Kau tahu Sasa ada dimana?"Mendengar penjelasan barusan, rasanya aku ingin menangis, guling-guling, teriak-teriak, dan semuanya! Aaaahhhh hati ku sakit mendengarnya.Ternyata dia hanya ingin menanyakan Sasa! Kalau tahu begitu lebih baik aku berlibur di rumah saja, TANPA PANGGILAN DARINYA!"Maaf Zaf, aku tidak tahu. Yah kau tahu sendirilah kami berdua sama-sama sibuk bekerja" ujar ku jujur."Lalu kenapa kau bilang tadi kau sedang tidak sibuk?" Tanyanya lagi."Aku mengambil cuti sampai lusa""Oh bagus kalau begitu!"Bagus? Apa maksudnya? Apa dia berniat meminta ku untuk menemaninya berduaan dengan Sasa? Shit!"Kau mau kan menemani ku jalan-jalan hari ini?"Aku menatapnya cengo, otak ku mendadak lemot, emm gimana-gimana? Jalan-jalan? Menemaninya? Telingaku tak rusak kan?"Emm maksud mu?" Tanya ku tanpa menyembunyikan raut kebodohan."Iya jalan-jalan dengan ku, bagaimana? Kau tidak mau ya?""Ah tidak-tidak. Aku mau kok"Setelah itu terbit lah senyum merekahnya, aku pun ikut tersenyum girang melihatnya. Ahhh dia semakin manis saja.---Kami pun jalan-jalan mengitari kota, lalu pergi ke toko roti, mencicipi kue-kue yang sangat aku suka, lalu mencoba ice cream yang kata Zafran terkenal enak. Dan emang enak hehe.Lalu terakhir..."Naik rollercoaster yuk!" AjaknyaWhat!!?"Tidak mau. Aku takut ketinggian!" Tolak ku.Argh melihat mesin gila itu saja rasanya perut ku sudah mual, apalagi jantungku yang bergidik ngeri hanya dengan mendengar namanya."Ayolah. Tak akan terjadi apa-apa, kau bisa menggenggam tangan ku kalau kau takut" Katanya meyakinkan ku.Baru saja aku mau mencoba melarikan diri, tiba-tiba tangan ku tertarik. Dan tubuh ku pun sudah digeretnya menuju mesin gila itu.Ntah kenapa tiba-tiba saja aku teringat mama.Permainan ini sudah membuat ku hampir jantungan rasanya, dia meluncur lalu naik lagi lalu meluncur lagi, seolah tak kenal dosa astaga.Rasanya mual sekaligus senang. Yah untunglah orang yang menjadi tempat ku berpegangan adalah Zafran. Coba kalau orang lain, semakin merugi lah aku.Sekarang aku sedang duduk di mobil, tubuh ku bersandar, leher ku lemaskan, kaki ku luruskan. Aku merasa sangat lemas. Untung saja kue dan ice cream yang ku makan tak ku muntahkan.Inikah jalan-jalan yang ditawarkan?"Ini minum dulu" tawar Zafran.Pintu mobil sengaja ku buka agar aku mendapat pasokan angin yang banyak.Zafran duduk di kursi kemudinya. Tangannya terulur memeriksa dahi ku yang berkeringat dingin.Ingin ku serapahi, tapi sayang."Wajah mu pucat sekali"Hadeh. Ya iyalah bodoh! Kepala ku pusing sekali rasanya. Umpat ku diam-diam."Maaf.." ujarnya terdengar menyesal dan khawatir. Tapi tak ku gubris, mulut ku sulit sekali untuk diajak mengobrol saat ini.Ku lirik dia sedang menelpon seseorang, menyuruh orang itu datang kemari. Aku tidak tahu itu siapa, aku ingin istirahat rasanya tapi mual.Beberapa menit setelahnya, ada seseorang sedikit tua datang menghampiri mobil ini.Zafran keluar dari mobil, dan bapak itu menggantikan alih kemudinya.Apa yang direncanakan Zafran? Astaga setelah membuat ku terkapar lemas, apa dia tega menjual ku juga?Ku lihat Zafran membuka pintu penumpang yang belakang, lalu dia menghampiri ku, dan menggendong/? Ku."Kita duduk dibelakang saja, agar kau dapat beristirahat" tuturnya.Ia menaruh ku di kursi, setelah menutup pintu lalu dia pergi masuk dari pintu sebelahnya.Dia menepuk-nepuk pahanya."Berbaring lah" arahnya sembari menarik tubuh ku perlahan.Aku pun merebahkan kepala ku di atas pangkuannya. Aku bingung, tapi aku senang! Dia benar-benar berbeda dengan orang yang malam itu mengantar ku."Pejamkan lah mata mu" perintahnya dengan nada lembut, jangan lupakan dengan tangannya yang membelai rambut ku.Ya ampun dia sangat hangat. Oh God, jika ini mimpi aku mohon jangan bangun kan aku.---Malam ini tubuh ku jauh lebih segar daripada saat pulang bersama Zafran tadi.Aku duduk di balkon kamar ku, tangan ku terus memainkan gelas susu coklat yang isinya tinggal separuh.Memikirkan Zafran rupanya sangat baik untuk kesehatan psikis. Bibir ku masih senantiasa tersenyum, bolehkah aku jujur? Aku ingin lagi.Ingin bersamanya sehari lagi.Tapi jika hal tadi terjadi lagi, aku yakin yang kedua pasti hanya mimpi.Aku pun menenggak susu ku sampai habis..Tring!Ada satu pesan masuk. Aku pun meletakkan gelas dan meraih ponselku diatas meja, mengeja kata demi kata di pesan itu. Lagi-lagi garis bibir ku hampir terangkat.ZafranBagaimana kondisi mu? Jangan lupa makan dan jangan istirahat terlalu larut.Setelah ku eja semuanya, senyum yang ku tahan daritadi sudah tak bisa disimpan lagi.Aku berlari masuk ke dalam, lalu meloncat ke atas kasur dengan posisi terlungkup.Ku guling-gulingkan tubuh ku sembari menjerit kecil penuh rasa gemas. Aaaahhh dia begitu perhatian pada ku!! Bolehkah aku bertanya? Cara ku mengekspresikan perasaan bahagia ini tidak konyol kan!?END
Pacar Online
Paras cantik, menawan dan prestasi juara taekwondo ternyata tidak menjamin seseorang dapat memiliki kekasih seperti para playgirl yang bar-bar.Xaviera Angela contohnya. Dia sama sekali tak tertarik pada semua lelaki yang menggandrunginya. Dan karena julukan anti cowok-nya itulah, dia justru dijauhi oleh teman-temannya. Mereka khawatir aja Xaviera memiliki kelainan seksual lesbianisme alias penyuka sesama jenis.Padahal Xaviera normal kok. Dia jaga jarak sama lelaki-lelaki modus itu karena ada hati yang harus dia jaga. Hati milik lelaki ghaibnya, eh maksudnya pacar online-nya. Namanya Diorama.Nama akunnya:Xaviera: @ a rraDiorama: @rama_dMereka berdua sudah 4 tahun dekat. Mereka sama-sama tidak tahu rupa sesungguhnya itu seperti apa, karena selama ini mereka hanya fokus pada komunikasinya aja. Foto unggahan? Mereka tak pernah mengunggah foto apapun, termasuk profil. Kalaupun minta pap, paling keduanya usil terus yang dikirim adalah foto artis."Ram ram tolongin aku!" Jerit Arra histeris."Sabar kali Ra. Lagi otw nih" jawab Rama dengan mulut yang dipenuhi snack tapi dengan nada kesal karena mendengar suara Arra yang tidak sabaran dari earphone-nya.Itulah rutinitas mereka dalam menghabiskan seperempat hari mereka. Bermain game online-_-BRUAAKKK!"Aw sakit!"Seseorang menabrak Arra, dan diseberang sana seseorang juga sedang menabrak Rama.Sebenarnya mereka sudah bertemu dikehidupan nyata namun dalam keadaan yang berbeda. Dimana mereka tidak menyadari bahwa mereka tinggal di satu kota yang sama, sekolah yang sama dan bahkan barusan mereka saling tabrakan."Dior!?""Xaviera"Ujar mereka bersamaan. Game yang sedari tadi mereka mainkan bernasib naas, karena ponsel mereka terjatuh beserta earphone dan snack-nya juga."Ya ampun perintilan ponsel ku!" Xaviera langsung membungkuk memunguti muntahan ponselnya.Sementara Dior hanya memasang tampang acuh sambil ikut memunguti ponsel dan earphone-nya. Sesekali ia mendengus pasrah kala melihat takdir remahan snack-nya yang meninggal dengan cara yang tidak wajar."Kamu tuh jalannya gimana sih?" Ujar Xaviera yang sudah berdiri sambil membungkus ponselnya yang berantakan.Dior berdiri lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku celana."Ya pake kaki lah. Dengan cara melangkah, sama aja seperti kamu"Xaviera rolling eyes, lalu mendongak menatap cumi-cumi raksasa menyebalkan."Ponsel dan earphone ku jadi berantakan tau!" Sungut Xaviera tak dapat menahan diri lagi menghadapi Dior yang selalu acuh setiap berdebat dengannya."Emang yang kamu doang?" Dior pun pergi dari sana dengan tampang acuhnya lagi."DIORR!!" Jerit Xaviera dengan suara kecil namun penuh penekanan.Xaviera mencoba meredam amarah dengan menutup erat matanya. Lalu melanjutkan langkah yang sempat tertunda sembari mengaktifkan ponselnya.a rraMaaf ram, tadi tiba-tiba off.rama_dSantai. Aku juga sempet dapet masalah dadakan kok.arraOh ya?rama_dIya. Tadi waktu kita lagi seru-serunya main, tiba-tiba ketabrak gadis rusuh terus ponselnya jatuh deh.arraEh beneran? Kok bisa samaan yah?rama_d- Haha aneh emang.- Kamu udah sarapan?arraBelumrama_dSarapan gih! Mumpung belum bunyi belarraTau ajarama_dYa dong. Jadwal kita kan selalu samaan.---Sekolah mereka merupakan sekolah yang paling banyak peminat dan berlahan luas, membuat pihak sekolah tentu dapat menampung siswa dalam jumlah yang tidak sedikit. Hal itu menyebabkan pembagian kelas setiap satu tingkatnya bisa 9 sampai 10 kelas.Yah tak jarang pihak sekolah dibuat bingung untuk membuat jadwal pelajaran. Kadang jadwal satu kelas harus terbentur dengan kelas yang lain.Contohnya seperti sekarang ini, kelas yang ditempati Xaviera selalu belajar berdampingan saat pelajaran olahraga dengan kelas Diorama. Dan itu terjadi setiap Minggu.Baik Xaviera maupun Diorama selalu berujar syukur karena mereka tak perlu belajar bersama, secara mereka kan memiliki guru yang berbeda.Tapi syukur itu harus disingkirkan dulu hari ini karena salah satu guru olahraga mereka berhalangan hadir. Mereka mau tak mau harus campur kelas.Priittt!!Bunyi peluit sudah ditiup, tanda bahwa seseorang dapat memulai servis.Mereka tengah bergilir memainkan bola voli, masing-masing tim dibagi berdasarkan kelas. Adu hujat dan adu smash terus terjadi silih berganti, suara saling sorak-menyorak ikut mendominasi lapangan.Mereka tetap bermain sportifitas dan solidaritas, tak ada rasa permusuhan di hati mereka. Semua persaingan murni hanya di dalam permainan. Kecuali dua orang, Diorama dan Xaviera. Dua sejoli itu memang selalu saling lempar sengit daritadi.Xaviera sedang ada di lapangan, jiwanya bergelora kala menghantam bola ke kelas lawan. Mungkin dia menganggap semua manusia yang bermain adalah Diorama, makanya dia mainnya sadis. Lebih sadis lagi setiap netranya bertemu dengan mata milik Dior yang sedang beristirahat di pinggir lapangan.Sampai gadis itu tak memperhatikan bahwa ada bola yang datang dengan kecepatan tinggi ke arah wajahnya.BUKKHH!Benar saja. Bola itu mengenai wajah berkeringatnya. Ia kaget, belum sempat ia meringis tiba-tiba kesadarannya hilang.Jeritan para penonton dan pemain lain terdengar ricuh. Mereka langsung mengerubungi sang korban, termasuk Diorama.Bahkan dia lebih terlihat panik daripada yang lain saat melihat wajah pucat gadis itu. Saking paniknya, ia sampai tak sadar bahwa dia langsung membopong tubuh gadis yang dianggapnya sebagai tukang rusuh itu ke dalam UKS."Minggir! Kalian bisa membuatnya pengap" interupsinya.---Karena kejadian itu, gurunya menduga bahwa mereka kenal dekat dan akhirnya mempercayakan Xaviera sepenuhnya pada Diorama.Meski terkesan acuh, Diorama tak menolak permintaan gurunya. Xaviera juga begitu, mungkin efek terlalu lemas setelah pingsan. Jadi dia menurut saja, daripada tidak diantar pulang."Aku pulangnya jalan kaki, masih mau ikut?" Tanya Dior. Sementara yang ditanya hanya mengangguk lesu."Juara taekwondo bisa tepar juga yah" sindir Dior.Xaviera mencibir."Mau aku pukul?" Ancamnya sambil berjalan mendahului Dior."Wajar saja kamu tidak punya kekasih sampai sekarang, ganas gini" Dior masih tak henti menyindir Xaviera yang berjalan di depannya."Bilang aja kamu mau ngatain aku lesbi!""Dih nggak tuh. Ngerasa yah?" Ya ampun Dior rese banget sih.Xaviera menghentikan langkahnya. Ia akui Dior memang menyebalkan, tapi dia berhenti karena kepalanya terasa berat. Ingin rasanya dilepaskan terlebih dahulu sebelum sampai rumah, tapi gimana caranya?"Kenapa Vier?" Tanya Dior yang cepat merangkul pundak Xaviera khawatir."Kepala ku pusing" Ujarnya susah payah sembari merunduk.Dior lantas membungkuk sedikit berjongkok di depan Xaviera, bersedia menawarkan pundaknya yang nyaman.Namun sepertinya otak Xaviera bergeser sampai tak mengerti kode yang diberikan. Dia justru kaget akan tindakan Dior yang tiba-tiba."Kamu nemu koin ya?" Tanyanya polos. Dior tak sedikit pun kesal akan ke-lemotan-nya, justru dia berbalik mengambil tangan Xaviera lalu diletakkan di pundaknya."Biar aku gendong"Xaviera tak merespon tapi tak menolak juga.Dior melirik sekilas wajah Xaviera dari samping karena gadis itu hanya diam tak menyahutinya. Melihat reaksi Xaviera yang menunduk dengan pipi semerah tomat, membuat Dior menyunggingkan senyumnya. Lalu dengan yakinnya menempelkan tubuh Xaviera untuk digendong belakang.Dior tak merasa keberatan dengan posisi ini. Dimana dia harus berjalan sambil memikul bobot beberapa puluh kilogram milik Xaviera, baginya ini nyaman."Aku baru sadar kalau kamu normal" Dior membuka obrolan lagi.Xaviera mengernyit bingung."Kok bisa?""Buktinya pipi mu merespon saat tahu aku mau menggendong mu. Kenapa?""Kenapa apanya?" Tanya Xaviera dengan wajah yang sudah memanas gemas lagi."Kenapa lebih milih dibilang lesbi?"Xaviera hanya membulatkan mulutnya ber'O'ria."Gak tertarik pacaran" Jawabnya simpul.---"Dior" panggil Xaviera saat sudah tiba dirumah."Hmm" Dior sambil menaikkan alis."Terimakasih. Maaf kalau selama ini aku menganggap mu menyebalkan, padahal ternyata..""Ternyata aku lelaki tampan yah?" Goda Dior.Xaviera memutar bola matanya kesal."Ternyata kamu memang menyebalkan!" Xaviera pun memalingkan wajah, pura-pura merajuk."Hahaha"Xaviera hanya menyengir kuda melihat Dior tertawa puas.Sejurus kemudian tangan Dior sudah berada diatas kepala Xaviera, diiringi dengan wajahnya yang mendekat."Cepat sembuh yah" setelah membuat Xaviera membeku ditempat, Dior dengan seenaknya melambaikan tangan lalu pamit pulang tanpa bertanggung jawab.---Setelah perdamaian secara tidak langsung itu terjadi, Xaviera tak pernah memberi kabar pada pacar online-nya si Rama lagi. Dia terus memikirkan Dior yang padahal adalah orang yang sama. Dior juga mengalami hal yang sama.Tetapi saat di sekolah, Xaviera justru menghindari Dior. Dia takut perasaannya semakin membesar pada Dior kalau dibiarkan bertemu terus. Tapi dia juga tak dapat menyangkal bahwa perasaannya semakin terasa nyata dan tak dapat ditahan.Inilah yang ia takutkan, jatuh cinta pada lelaki lain sebelum ia sempat bertemu dengan Rama. 4 tahun mereka saling menjaga perasaan, dan dia tak mungkin merusaknya hanya karena satu hari bersama Dior.arraRam, aku mau cerita sama kamur ama_dDih dateng-dateng langsung mau cerita. Gak mau bilang kangen dulu?arraHehe sorry. Iya aku kangen kamurama_dKetauan banget bohongnyaarraRam.. aku seriusrama_dIya sorry. Cerita giharraTapi kamu gak boleh marah, dan kamu juga harus janji pertemuan kita dipercepet .rama_dIya bawel ih. Emangnya ada apa sih?Arra merasa sangat gugup. Seberat inikah rasanya mengkhianati seseorang? Sungguh sulit. Aneh bila difikir-fikir, heran aja sama orang-orang yang hobi selingkuh. Tidak gelisah kah mereka?arraSebenarnya aku gak kabarin kamu karena aku mulai menyukai orang lainrama_dSiapa?arraTemen sekolah kuRama membalasnya lama, dia berfikir kenapa harus samaan? Kecewa? Tentu saja. Tapi dia juga tak bisa menyalahkan Arra disaat dia juga merasakan hal yang sama.rama_dBagus dong. Kamu jadi gak perlu diejek lesbi sama temen-temen kamu lagi.arraBukan itu tujuan aku cerita. Aku ingin ketemu kamu, seenggaknya aku mau nyoba belajar mencintai kamu dulu. Aku gak mau ngecewain kamu.rama_d- Terimakasih Ra, kamu masih mau bertahan sama aku.-Ra , sebenarnya aku juga mulai menyukai orang lain. Temen sekolah ku juga.arraJadi hubungan kita cuma sampai sini aja?rama_dYa nggak gitu juga. Aku maunya ketemu dulu sama kamu, aku pengen menghapus perasaan aku ke dia. Aku maunya sama kamu. Kita jadi kan ketemu?arraJadi kamu setuju?rama_dYa iyalah. Mana mungkin aku mau ninggalin kamu yang udah bertahan lama sama aku demi orang lain yang aku sendiri gak tau bisa seperti kamu atau tidak.---Hari ini rencananya mereka mau bertemu di taman, dengan harapan dapat saling mencintai dan saling melupakan teman sekolah mereka.Diorama sudah datang 30 menit yang lalu. Dia sengaja datang lebih dulu, ini kan pertemuan pertama mereka. Dior hanya tidak mau Xaviera menunggunya terlalu lama.Alangkah terkejutnya dia saat kemarin Arra menunjukkan alamatnya yang ternyata satu kota dengannya.Dior semakin tak sabar menanti duduk di kursi taman. Matanya terus menelisik sampai akhirnya ia merasakan seseorang duduk disebelahnya. Ia pun langsung menoleh dengan riang, menebak bahwa itu pasti Arra.Dan bener saja itu memang Xaviera, alias Arra. Tetapi karena berhubung tidak tahu jadi yahhh.."Xaviera!" Katanya kaget."Dior!" Xaviera tak kalah kaget. "Kamu ngapain disini?""Lagi jalan-jalan aja. Kamu sendiri?""Sama"Mereka berdua sama-sama berbohong, lalu keduanya berkutat dengan ponselnya. Berkecimpung dalam dunia kegelisahan.Dior menyukai Xaviera, tapi dia berencana bertemu dengan Arra. Begitu juga sebaliknya Xaviera menyukai Dior, tapi dia berencana bertemu dengan Rama.Rasanya canggung dalam waktu yang lama sekali.rama_dKamu dimana?Merasakan getaran dari ponselnya, Xaviera pun cepat-cepat mengecek notif pesan itu.arraKamu yang dimana?rama_dKok malah nanya balik sih?arraAku sudah nunggu daritadi Ram!rama_dAku juga nungguin kamu lagi Ra.arraKamu dimana sekarang? Biar aku jemput!rama_dEh jangan. Aku aja yang jemput.arraYa udah iya serah.Xaviera pun berdiri hendak ikut mencari seonggok daging menyebalkan bernama Rama."Vier kamu mau kemana?" Xaviera menoleh ke belakang, hampir saja Xaviera lupa kalau ada Dior disini.Dia pun memasang cengiran kuda"Cari angin lain" katanya lalu mencoba meneruskan langkah. Xaviera lantas menekan beberapa kombinasi angka di ponselnya.Arra is calling..Dior tertegun kala melihat nama Arra menelponnya, dia lupa kalau dia harus mencari sosok gadis itu."Ya halo Ra?"Xaviera terkejut bukan main, pertama bunyi dering yang berasal dari belakangnya saat ia baru saja menelpon Rama. Kedua suara yang menjawab telponnya juga berasal dari belakangnya.Xaviera pun menoleh ke belakang lagi."Dior.. Rama?" Ujarnya lirih namun terdengar jelas. Dior menatap Xaviera yang menunjukkan layar ponselnya yang menampilkan nama sosmednya.Dior memasang raut wajah tak kalah terkejutnya."Arra?"Mereka menatap cengo untuk waktu yang lama, masih sulit menerima kenyataan.Bagaimana mungkin 4 tahun mereka saling dekat dan saling membenci dalam waktu bersamaan?Bagaimana mungkin mereka saling menyukai dan saling merasa bersalah dalam waktu bersamaan pula?Gadis yang suka merusuh, dan lelaki yang bersikap acuh.Bagaimana mungkin itu adalah yang selama ini saling menjaga perasaan?Jadi yang selama ini yang menjadi rekan game online dan rekan berkelahi dikehidupan nyata, adalah orang yang sama?"Jadi kamu Rama?" Tanya Arra masih dalam fase kagetnya."Jadi kamu Arra? Cewek rusuh? Lesbi?"Xaviera mengerucut sebal"Dasar pengacau! Noob! Aku gak suka sama kamu!!" Cercah Xaviera."Aku lebih gak suka kali!"Baiklah.. ego, gengsi dan jiwa permusuhan lah yang sedang menguasai mereka. Hingga mereka saling berpaling badan hendak pergi meninggalkan."Hey!!" Panggil Xaviera, Dior menoleh."Dengar, mulai hari ini kita bukan lagi kita!"END
Curious
Angin menyebalkan ini sibuk meniup helai rambut ku yang tak terambil kuncir, sampai-sampai membuat hidungku gatal karena sentuhannya.Aku tak bisa fokus mendribble bola gara-garanya, bola langsung ku oper pada teman yang lain.Kami membentuk sebuah lingkaran besar, melakukan teknik dasar dalam permainan. Yaitu bergantian mendribble dan mengoper bola.Hari ini adalah hari pertama aku ikut ekskul basket. Kalian tahu kesan pertama ku tentang basket apa? Menyesal! Aku lelah, tak ada yang bisa ku takluki perihal permainan ini.Bukkhh!"Aw!" Ringis ku setelah objek bulat keras itu menghantam wajah cantikku.Ya ampun aku terkena lemparan bola. Siapa sih yang ngelempar? Gak tau apa kalau aku belum siap? Ini semua ulah angin! Andai kata rambut ini tak menggelitik hidungku, tak mungkin atensi ku dari bola teralihkan."Christie!" Sambar pak Anton, sang pelatih.Aku menoleh ke pak Anton, sambil memegangi tulang pelipis dan tulang pipi ku yang berkedut nyeri."Menepi atau lanjut?" Tanyanya tegas.Sungguh aku ingin memilih opsi yang pertama karena aku sudah muak sekali untuk melanjutkan kegiatan tak berfaedah ini, tapi gengsi ku tak kenal kata minggat ."Lanjut pak!" Putusku mantap."Emm, tidak usah kamu menepi saja. Pergilah ke UKS sekarang!" Interupsinya.Yeay, miracles are on my side. Aku mengangguk seraya berlari kecil menuju ruang UKS."Yang lain, ayo fokus-fokus!"---Terdengar suara bersorak ria dari luar, sepertinya sekarang sudah jam istirahat.Dari sini aku dapat mendengar derap langkah seseorang menuju kemari.I don't know, I'm either too famous or Im too... Kuper ? Pasalnya aku merasa semua orang selalu mengenalku sementara aku tak tahu satu pun diantara mereka. Kecuali Miracle sahabatku dan teman-teman sekelas ku sendiri.Ternyata seorang gadis yang memasuki ruangan ini, yah aku mengenalnya. Dia Echa, wakil ketua kelas yang kebetulan ikut ekskul basket juga."Christie" panggilnya yang tak ku gubris, aku hanya menatapnya datar."Ini minumlah!" tawarnya sambil memberiku sebuah botol berwarna peach yang isinya tak lain adalah air mineral."Terimakasih" ujar ku yang langsung menggenggam botol itu tanpa meminum airnya. Bukan tak menghargai, tapi aku bisa kembung kalau terlalu banyak minum.Dia tersenyum tulus, sekarang tatapannya tertuju ke arah kepalaku. Paling dia ingin melihat memar bekas bola tadi."Sorry. Karena ulah ku kamu jadi terluka" ujarnya lagi.Sekarang aku tahu pelaku yang menyebabkan wajah cantikku lebam. Tapi ya sudahlah."Tidak masalah. Aku juga kurang fokus tadi""Mari keluar, gabung istirahat bareng yang lain!" Ajaknya.Sebenarnya aku ingin menolak, karena aku tak suka berteman. Tapi ya sudahlah, toh setelah ini belum tentu aku mengingat wajah mereka.Kami berjalan beriringan ditemani kesunyian. Dari kejauhan perhatian ku terpusat pada seorang laki-laki bertopi hitam tengah duduk berbincang dengan gadis lain di tangga.So cool. Pujiku dalam hati untuk lelaki itu. Jantungku ikut berdebar menatap pahatan sempurna ciptaan Tuhan di sana.Apa dia salah satu pemain basket yang ikut ekskul? Apa aku terlalu acuh sampai tak melihatnya?Tunggu, kenapa Echa menuntun langkah ku kearahnya?Bahkan sekarang aku dan Echa berada dihadapan lelaki itu, dan gadis disampingnya juga.Gadis disamping lelaki itu menoleh kearah kami, dan disaat itu juga aku mengerti mengapa Echa menuju kemari. Rupanya itu Adriana teman akrabnya Echa. Adriana tersenyum menyapaku yang ku balas dengan hal sama.Senyum kagum yang ku persembahkan untuk lelaki itu seketika luntur menjadi senyum masam. Lelaki yang baru ku puja itu pasti kekasih Adriana!Ekor mataku melirik lelaki itu, sekedar menyapanya lewat tatapan ringan saja. Ku lihat dia hanya mengendikkan alis menatap ku lalu memainkan ponselnya.Hehe Adriana bolehkah aku menyukai kekasihmu? Kelakar ku dalam hati.Kami pun ikut duduk bersama, mereka bertiga jadi berbincang ringan sementara aku hanya diam memperhatikan mereka - lelaki itu saja maksudku.---Ekskul basket sudah selesai setengah jam lalu, dan sopir ku bahkan belum datang sampai sekarang.Di ujung sana, tersisa satu motor besar tanpa pemilik tengah terparkir. Dan setelah motor itu pergi, itu artinya aku akan benar-benar sendirian menunggu.Aish! Kalau tahu begini, aku bawa mobil sendiri saja tadi. Baiklah daripada aku menggerutu terus, lebih baik aku memesan GoCar saja.Baru saja aku mau mengeluarkan ponselku dari dalam tas, sebuah motor besar yang ku lihat tadi sekarang berhenti didepan ku.Aku langsung melihat wajah si pengendara yang tengah membuka kaca helmnya.Astaga, ternyata dia! Bolehkah aku senang? Tapi mau apa dia?"Ayo naik! Aku akan mengantarmu pulang" ajak sang pujaan hati.Aku tak langsung naik, justru aku bertanya dulu padanya."Kamu tahu rumah ku?" Tanya ku. Aduh pertanyaan bodoh! Tentu saja aku yang akan menunjukkan jalannya nanti."Maksud ku, apa kamu tidak keberatan? Rumah kita belum tentu searah kan?" Baiklah aku merasa konyol sendiri sekarang.Aku menyelipkan sisa rambutku yang tak terambil ke belakang telinga sembari menunduk menahan malu."Tidak apa-apa. Ini pakailah!"Ragu, aku mengambil helm yang ia sodorkan.Sepanjang perjalanan, kami hanya ditemani keheningan, aku mencoba memutar otak untuk membuat sebuah perbincangan basa-basi.Anggap saja ini adalah caraku berterima kasih. Jarang-jarang aku mau berbicara dengan manusia, biasanya lebih banyak acuh karena malas."Ngomong-ngomong, apa pacarmu tidak marah jika tahu kita pulang bersama?" Tanya ku takut-takut.Sebenarnya itu hanya alibi ku saja, aku hanya ingin memastikan apakah Adriana itu kekasihnya atau bukan."Jika saja aku punya, mungkin iya""Maksudmu?" Tanyaku sok polos.Aku paham dengan ucapannya, kalau dia memang tak punya pacar. Haruskah aku senang? Belum. Aku kurang puas dengan jawabannya, aku masih penasaran antara dia dan Adriana ada hubungan apalagi selain teman biasa? Kenapa mereka terlihat akrab sekali tadi?Dia tak menjawab lagi, sampai akhirnya kami sampai di depan rumah ku.Wait, wait, wait? My home? Jadi dia tahu alamat ku? Ah terserahlah. Aku lekas turun begitu saja dari motornya. Persetan lah dengan rasa penasaran ku.Mata ku mengerjap beberapa kali memperhatikan wajahnya yang kian mendekat, sementara tangan lelaki itu sibuk membuka ikatan helm ku.Astaga ulahnya ini membuat ku harus bersusah payah menahan nafas. Harus banget yah bikin anak orang makin baper?"Makanya jadi orang itu jangan sibuk mikirin pertanyaan aja, pikun kan!" Sindir dia.Aku semakin menatapnya cengo. Dia tahu apa yang ku pikirkan? Heran sih tapi malas juga bertanya banyak."Ya udah aku pamit pulang" katanya yang ku angguki.Setelah punggungnya menjauh dari pandangan, aku pun menyadari satu hal. Aku lupa berterimakasih.Ngomong-ngomong namanya siapa?---Setelah dari hari itu, aku tak bisa berhenti membayangkan wajahnya. Waktu senggang ku selalu terisi oleh kegelisahan memikirkannya.Setiap hari aku berusaha menyemangati diriku sendiri, celingukan sampe gak jajan waktu istirahat cuma buat nyari dia tapi gagal terus. Aku sadar aku akan terus kesulitan mencarinya karena aku tidak tahu namanya, aku juga tidak tahu dia dikelas berapa. Entahlah, dia sekolah dimana sih?Pagi ini aku membawa mobil sendiri ke sekolah. Ku lihat pemandangan gedung berbaris disepanjang kota dihadapan ku, sungguh cerah hari ini.I'm gonna search you again my future, are you ready?Njrt!Apaan nih? Kok mobilnya berhenti?Aihh, mogok!? Ya ampun aku bisa telat ke sekolah kalau seperti ini. Wajah ku sudah merah masam, buru-buru aku melepas seat belt setelah berhasil meluapkan emosi dengan memukul stir lalu mengambil tas ku dan keluar dari mobil itu.Hari ini sial sekali aku, sudah mogok telat sekolah pula. Aku memasuki gerbang sekolah dengan tergesa-gesa, dari kejauhan koridor sekolah dapat ku lihat pintu kelas ku sudah tertutup. Itu artinya guru biologi ku sudah masuk.Cepat-cepat aku berlari menghampiri kelas ku. Aku tak sempat mengatur nafasku sampai membuat ku mendobrak pintu kelas sedikit kasar. Ah terserahlah aku bisa mengganti pintunya jikalau rusak nanti.Plak!Seketika aku merasa ditampar kenyataan. Malu sungguh malu aku, dihadapan semua teman kelas ku, dengan wajah pucat, panik, berantakan, aku dibuat bodoh hari ini. Guru ku belum masuk ternyata, sementara kondisi wajah ku?Katakan selamat tinggal pada harga diri ku...---Aku dan sahabatku Miracle sedang melangkah keluar dari kelas, tapi baru saja aku menengok ke kiri aku disuguhkan pemandangan yang sangat indah.Jantung ku memompa lebih cepat dari sebelumnya, mata ku terpaku menatapnya. Dia yang selama ini aku cari ada di hadapan ku.Dia sedang bersandar di dinding depan kelas sebelah kelas ku, dengan tangan kanan yang masuk ke saku celananya, topi hitam yang sama seperti yang ia pakai sewaktu aku menemuinya pertama kali.Kadar ketampanannya tak berkurang sedikit pun, apalagi memperhatikannya tengah menikmati obrolan seperti itu. Aku tak mengenalnya tapi melihatnya seperti sekarang ini rasanya aku merindukannya.Puk puk.."Kamu liatin siapa?" Tanya Miracle diiringi dengan telapak tangannya yang menepuk bahu ku. Dahinya ikut berkerut memandangi lelaki itu dan teman-temannya satu persatu.Aku menoleh ke arah Miracle, tanpa menjawab pertanyaannya. Aku bingung mau jawab apa."iih malah bengong. Ya udah sih ayo jalan keburu pingsan kelaperan nih" eluhnya sambil menarik kasar tangan ku.Sementara aku tak memberontak, dan masih sibuk memperhatikan lelaki itu tak peduli leher ku sudah ngilu karena menoleh kearahnya. Ya ampun aku tak pernah jatuh cinta, aku tak pernah peduli dengan manusia manapun. Tapi kenapa sekalinya cinta menjadi separah ini?Miracle terlihat lahap menyantap makanannya, sementara aku hanya memandangi snack ku sambil membayangi wajah bersinarnya."Mikirin siapa sih?" Tanya Miracle geram.Aku mendongak menatapnya datar"Hanya memikirkan quiz besok" elakku.---Quiz telah berlalu beberapa menit lalu, aku dan Echa berjalan membawa setumpuk kertas tipis quiz untuk dibawa ke kantor. Sebenarnya yang disuruh hanya Echa, secara dia kan pembantunya ketua kelas. Tapi aku mengekor karena aku masih harus mencarinya.Echa sempat bertanya akan keanehan ku, tapi untunglah kecerdasan ku ini tiada batas, aku beralasan bahwa aku ingin membayar denda telat datang kemarin.Seperti biasa mata ku tak akan beristirahat jika sedang melakukan pengintaian, mata ku akan jelih dalam mengawasi setiap sudut. Dan dapat!Dia sedang berjongkok di dekat toilet, mencuci tangan dan kakinya. Tubuhnya yang ku yakini menyimpan postur atletis itu terbalut oleh kostum basket perpaduan warna hitam merah.Aku menyenggol lengan Echa pelan, membuat langkahnya terhenti."Ada apa?" Tanyanya."Aku ingin ke toilet, kamu duluan aja gak usah nungguin aku" pamit ku. Aku pun berlari kecil menuju toilet.Astaga semakin dekat kaki ku melangkah, semakin menggila detak jantungku dibuatnya.Kini aku berada di sebelahnya, berpura-pura ikut mencuci tangan. Padahal mata ku sibuk mencuri pandang."Mencariku?" Tanyanya pada seseorang.Tak ada yang menjawab pertanyaannya, pada siapa dia bertanya? Aku?"Aku bertanya pada mu. Kamu mencari ku?" Tanyanya sekali lagi.Ku beranikan diri menjawab pertanyaannya, tanpa melihat wajahnya."Ti-tidak.. untuk apa?" Gugup ku kentara sekali.Dia memutar kran air dihadapannya, sambil mengeringkan tangannya dia berbicara lagi."Kalau tangannya bersih, jangan dicuci terus" sindirnya.Aku mengeratkan pejaman menahan malu, mengutuk diriku sendiri atas kebodohan yang ku perbuat. Aku mematikan kran air, lalu merubah posisi menghadapnya.Aku tak menatapnya. Kepala ku menunduk, mata ku memperhatikan ujung sepatu, sedang tanganku saling mengaitkan jari berusaha menepis gugup.Ku lihat tangannya terulur meminta dijabat. Untuk apa? Aku mendongak menuntut jawaban lewat tatapan.Dia tak menjawab, justru tangannya itu bergerak mengambil telapak tangan kanan ku."Gattan!"Setelah ia menyebutkan kata itu, bibir ku langsung membentuk sebuah lengkungan panjang bernama senyum."Christie" sahut ku."Sudah tahu" aku sedikit kaget mengetahuinya, tapi aku mencoba menutupinya dengan wajah datar ku. Lalu ku lepas kan tautan tangan kami.---Setelah berhasil kabur dari sekolah, disinilah aku sekarang, duduk dikursi taman sambil menikmati es krim bersama lelaki yang sekarang ku tahu namanya adalah Gattan."Kenapa?" Tanyanya."Kenapa apanya?""Kenapa mencari ku?" Aku terdiam mulai gugup lagi, Aku mulai memutar otak ku mencari obrolan lain untuk mengalihkan pertanyaannya. Tapi apa!?Sementara matanya sudah memicing mencurigai ekspresi ku. Melihat ku yang tak menjawab sama sekali dia memasang wajah pura-pura sedihnya "Padahal kelas kita tetanggaan"Mata ku membola mendengarnya..Jeng jeng jeng!" Sesempit itukah dunia? Kenapa aku tidak tahu!?" Sambar ku tak tahan menyembunyikan rasa penasaran."Segitu kangennya yah?" Katanya penuh percaya diri."Dih mimpi aja sana!" Umpat ku."Oh iya ngomong-ngomong kekasihmu tidak marah apa kita bolos berdua?" Alih ku mencairkan suasana yang sempat tak jelas.Dia mengernyit keheranan."Ohh jadi kamu masih penasaran soal itu"Astaga aku salah bicara. Kenapa aku malah menjerumuskan diriku sendiri?"Apaan? Gak jelas!" elak ku yang mungkin sudah terlambat.Dia mencibir ku."Aku berkata jujur waktu itu""Lalu Adriana?" Pertanyaan polos itu meluncur saja dari mulut ku, dasar bucin bucin! Lagi-lagi aku merunduk menahan malu sembari mengutuk kebodohan ku."Kamu cemburu?"Sontak wajah ku mendongak menatapnya. Cemburu kah aku? Sementara yang ditatap malah tersenyum aneh."Ayo pergi!" Ajaknya sambil menggenggam tangan ku yang tak ku tolak."Kemana?""Balik lah. Udah jam pulang sekolah ini"---Setibanya dirumah, seperti sebelumnya. Dia selalu bisa membuat ku menahan malu, menggagalkan fokus ku, sampai akhirnya dia lah yang membukakan helm dari kepala ku.Aku tak terbiasa dengan detak jantung yang abnormal seperti ini Gattan!Dia sudah menaiki motornya, dia meminta ku untuk mendekat lantas ku turuti. Ku lihat matanya semakin bersinar saja, dia diam beberapa saat dalam kegiatan lempar pandang ini.Lalu dia menutup kaca helmnya dan pergi melesat setelah berhasil mengatakan suatu kalimat menyenangkan. Kalimat yang mampu membuat ku merasa terbang, wajah ku kian memanas menahan rona."Bolehkah aku menyukai mu?" Begitulah ujarnya.
To Fine Life
Pernah gak sih kalian ngerasa hidup tuh kok gini-gini aja? Bosen, pengen nyari perubahan. Tapi disaat kalian sendiri aja kesulitan ngerubahnya, eh orang-orang pada ikutan ngeribetin. Ngerti gak?Oke kenalin nama gue Miki. Emm tapi bukan Mickey mouse!Jadi gini, gue sebagai anak sulung dikasih beban tanggung jawab penuh atas kelangsungan masa depan adik-adik gue yang jumlahnya bejibun.Kenapa gitu? Karena gue bukan anak dari keluarga tajir melintir. Jadi kepaksa deh gue harus jadi tulang punggung keluarga. Girlfriend? Gak punya. Meskipun gue tampan gini, tapi gue masih tahu diri. Gue mana berani macarin anak orang sementara keluarga gue lebih butuh peran gue.Gue baru aja lulus SMA tahun ini. Pengen lanjut kuliah tapi gak punya duit. Nyoba jadi kuli bangunan, tapi keknya kebutuhan adik-adik gue gak bakal cukup dengan penghasilan harian gue. Nyoba ngelamar kerja jadi karyawan di minimarket hewan lebah. Tapi belom bisa karena usia gue belom 18 tahun. Udah ikut tes kerja dimana-mana tapi masih aja ditolak.Ujung-ujungnya sebulan penuh ini gue mendep doang di kamar. Emang mulai males dan bosen sih, tapi alasan kenapa gue mendep dikamar kek anak rumahan, itu karena gue lagi nunggu lowongan kerja lagi.Banyak sih kerjaan lain, tapi pada jauh-jauh. Gue kasian sama nyokap kalo harus buang-buang duit untuk gue mulu, ntar udah gaya-gayaan pergi eh masih kagak lulus juga. Maklumlah otak gue kan minim banget.Minta sama bokap? Halah paling terkabulnya nunggu kucing pindah ke mars. Bokap gue emang gitu, dia lagi nerusin karir lamanya- fokus nganggur.Singkat cerita gara-gara gue bobok manis sebulan dirumah, orang-orang kampung gue yang julidnya tembus sampe ke tulang sibuk ngerumpiin ke-pengangguran gue. Ck.ck.ck! Kurang kerjaan emang.Gue mah kagak ngapa-ngapa, lah keluarga gue apa kabar?Emang sialan itu mulut si ibu-ibu kampung. Anak mereka segimana bagus sih nasibnya sampe udah berani banget ngehina nasib anak orang!? Gerem gue. Tangan gue udah gatel banget ini pengen remek itu mulut, tapi masa iya gue ngelawan emak-emak?Sekarang gue lagi duduk di teras depan rumah, scroll instagram kek biasanya. Nge-game? Sorry gue bukan orang yang demen begituan. Kaki gue sengaja selonjoran, pegel soalnya ketekuk mulu waktu di rahim.Eh nenek gue dateng nyamperin. Wih ada apa nih? Pakek duduk sebelah gue segala. Jarang-jarang loh nenek gue mau deket-deket sama gue yang katanya bau pengangguran. Aish gue tau! Nih nenek pasti mau nyeramahin gue!Kaki gue otomatis langsung ketekuk silang. Hp gue taro di sebelah gue. Bagaimanapun menghormati orang tua itu harus yah!"Ada apa nek?" Tanya gue to the point. Gak sopan sih, tapi kalo basa-basi? Aih bukan style gue banget."Gak ada apa-apa. Ibu Mirna sama ibu Windi kemarin ngobrol sama nenek, inget mereka bilang apa?" Tanya nenek balik.Gue geleng aja.Yah emang gak inget gue!"Mereka bilang, gak ada guna piala berbaris di lemari kaca, gelar sarjanahan, wajah bagus.. sekarang itu yang lebih penting adalah uang. Gitu katanya" nenek ngehela nafas dulu "nenek ngerasa dia nyindir keluarga kita. Kamu kan punya piala banyak dirumah hasil main bola, terus Om Mawan juga sarjanahan tapi masih nganggur"Sebagai cowok, emosi gue terpancing lagi sumpah. Sekarang gue inget soal dua ibu-ibu itu, malah waktu itu gue sempet bales gini ucapan mereka " Ooh berarti kak Oka sama kak Ipung masuk kerja karena nyogok dong!" Gue bukan cowok yang suka nyinyir kek banci, cuma gak tau kemarin itu reflek keluar aja itu omongan.Astaga kalo inget sama dua ibu-ibu itu, rasanya pengen gue bongkar semua kedok keluarganya. Pengen gue ingetin waktu ibu Mirna dulu susah, curhatnya ke siapa? Ibu Windi juga waktu pengen pisah sama suaminya, ngeluhnya ke siapa? Sampe nangis-nangis malah.Gue yang denger mereka dateng kerumah ini dulu sambil nangis-nangis aja sampe haru. Eh sekarang udah bisa yah ngomong gitu ke nenek gue. Kalo nenek kenapa-kenapa gimana!? Nenek kan udah tua, jadi jijik gue!"Sekarang tuh gini Ki," nenek ngomong lagi. Gue mulai dengerin dia lagi."Kalo kamu di hina orang gitu jangan dengerin. Kalo kedenger, jadikan itu sebagai semangat buat kita. Kejer terus cita-cita kamu sampe kesampean. Mungkin itu ujian karena kita mau naik derajat. Kerja dimana aja jalani, soal gaji kecil gpp, ntar kan ada loncatannya. Rejeki kita tetep milik kita, gak akan ketuker.Kalo kita gak kerja, mau wajah sebaguusss apapun, kita tetep gak akan dihargai orang nak. Carilah kerjaan lagi, usaha dan doa. Inget Ki, kesuksesan itu hanya milik orang-orang yang mau berusaha"Gue gak tau kenapa, kalo yang nasehatin gue adalah nenek. Hati gue langsung luluh gitu."Nenek kan tau Miki udah usaha cari kerjaan ini, kerjaan itu tapi masih gagal. Miki santai sebulanan dirumah bukan karena Miki nyerah, tapi emang lagi istirahat aja. Sambil nunggu lowongan lagi" ujar gue apa adanya."Iya nenek paham kok. Nenek cuma mau ingetin lagi aja, gak baik Ki menunda-nunda terlalu lama. Kamu memang bisa bersikap acuh dengan omongan tetangga, tapi ibumu gimana? Jujur.. nenek, kakek, dan semuanya, gak tega denger mereka ngehina-hina keluarga kita terus"Anjirr gue lupa, kalo keluarga gue juga punya perasaan! Mereka gak bisa diginiin terus.Bener juga kata nenek, gak seharusnya gue nunggu lowongan kerja sampe sebulanan kek gini. Gue gak boleh lemah cuma gara-gara sempet gagal beberapa kali. Mungkin ini yang disebut "rejeki kudu di jemput""Ki coba kamu koreksi diri kamu sendiri, kesalahan apa yang kamu perbuat sampai kamu merasa gagal?" Gue diem aja. Gue udah usaha, dan gue gak tau salah gue dimana."Ibadah nak. Bagaimana pun Gusti Allah lebih tau kesulitanmu, jadi mengaduhlah pada Yang seharusnya"---Sejak esoknya, gue berangkat ke kota buat cari kerjaan. Apapun yang penting halal.---END
Package Love
Beby adalah gadis cantik dan sangat berbakti pada orang tuanya. Dia sangat mencintai hidupnya dan- pasangannya. Bukan suami, tapi baru pacar. Nama lelaki itu Vigo. Vigo juga mencintainya tapi juga tidak, eh? Gimana sih? Pokonya gitu!Mereka berdua kini tengah berbincang hangat di sebuah cafe, ditemani dengan dua cangkir latte matcha."Kamu kapan mau nikahin aku?" Tanya Beby dengan raut wajah cerahnya.Wajah Vigo mendadak pucat, dia menyesap latte matcha-nya lalu mengalihkan mata ke arah luar jendela."A-aku belum siap Beb" jawabnya terbata. Terlihat jelas wajah cerah itu berubah kecewa. "... maaf" kata lelaki itu lagi."Lalu kapan kamu mau ngenalin aku ke orang tua kamu? Terus mengakui hubungan kita ke orang-orang?""Entahlah. Tapi yang jelas aku memang belum punya keinginan untuk berkeluarga"Kalimat yang Vigo lontarkan, membuat Beby beranjak dari kursinya. Tak ada tempat untuk mendapatkan kepastian atau pengakuan disini. Begitulah fikirnya.Cepat-cepat Vigo memegang tangan gadis itu. Gadis itu menatap ke arah Vigo sembari merebut tangannya kembali dari tautan."Maaf Beb" ujarnya lirih.Beby langsung melesat saja dari tempat itu, tentunya ditemani air mata yang sudah mengalir di pipinya.Tak perduli dengan kondisi wajahnya, dia langsung naik taksi ketika ada taksi yang berhenti.Dia fikir dia siapa ngegantungin perasaan gue hampir 5 tahun ini? Dia lupa kalau usia gue bahkan udah 26 tahun? Dan perasaan gue ke dia rasanya sudah menjamur di dalam sana, saking lamanya. Keluhnya dalam hati, sembari menghapus foto-fotonya dengan Vigo di ponsel.Sesampainya dirumah dia langsung memasuki kamarnya tak mau tahu tentang beberapa pasang mata yang menatapnya heran. Orang-orang itu tak lain adalah Abi, Ummi dan Kakaknya.Kini dia hanyut dalam tangisannya, mengurung diri seharian dikamar.---Keesokan harinya..Wajahnya masih pucat, Vigo juga belum memberi kabar. Dia sudah hafal betul dengan lelaki itu yang akan bersikap seperti ini dikala ada masalah atau putus secara tidak langsung."Beby?" Panggil Ummi dari luar pintu."Iya mi?" Beby bergegas membuka pintu kamarnya.Munculah seorang wanita paruh baya tengah membawa sepotong kue. Mereka berdua pun masuk dan duduk nyaman di kasur."Ada apa Ummi?" Tanya Beby."Tidak apa-apa. Ummi lihat kemarin sepertinya kamu sedang ada masalah. Dengan siapa memangnya?" Umminya tentu tak tahu soal hubungannya dengan Vigo.Yang Ummi tahu, Beby selalu menolak ajakan ta'aruf dari pria-pria yang ditawarkan Ummi selama 3 tahun ini."Gak tahu Ummi. Tiba-tiba aja pengen nangis" Rengeknya manja."Oalah, Ummi kirain ada apa" Katanya tersenyum sambil mengelus lembut bahu putrinya. "Oh iya, Ummi mau tanya. Kalau ada pria yang mengajak mu ta'aruf, kamu menerimanya atau menolaknya lagi?"Sekarang mata gadis itu berkeliaran seolah tengah memutuskan sesuatu yang berat."Emm.. emangnya Ummi mau banget yah kalau Beby buru-buru nikah?" Tanya Beby balik."Ya iyalah sayang. Ummi mana mau liat kamu jadi perawan tua" Kelakar Ummi."Astaghfirullah Ummi, Beby lebih gak mau kali mi.."Hening.Ummi menunggu ucapan selanjutnya dari Beby."Ya udah kali ini Beby mau deh. Tapi yang ganteng ya mi" ujar Beby kelewat enteng. Kalimatnya barusan bahkan lebih mirip seperti memesan mie ayam.Tapi Ummi menanggapinya dengan senyum kegirangan. Tentu saja Beby merasa aneh. Ada apa dengan ummi-nya?"Asik! Anak Ummi tahun ini menikah!!""Hah? Apasih Ummi?""Hehe. Jadi... kemarin Pak Ustad Zulkarnain kesini sama anak tunggalnya si Afif. Pak Ustad Zulkarnain bermaksud menjodohkan anaknya dengan mu. Ummi lihat sepertinya Afif adalah anak yang baik dan ganteng juga" jelas Ummi panjang lebar ditambah bumbu-bumbu racun yang secara tidak langsung agar Beby menerima lamaran ini."Emm.. kalau menurut Ummi baik, ya udah deh, kuy lah" jawab Beby seenteng-entengnya. Ya ampun gadis ini, apa dia lupa bahwa dia habis patah hati? Ini perkara menikah loh Beb!"Beby-beby" helaan nafas Ummi terdengar diujung kalimatnya."Tapi kamu boleh kok minta tempo waktu agar lebih mengenal siapa dia dan keluarganya terlebih dahulu""Oke Ummi""Ya udah. Ini kuenya dimakan, Ummi mau ke warung" pamit Ummi yang disambut oleh senyum hangat milik Beby.Eh? Jadi kue ini termasuk sogokan?---Ketika pernikahan sudah terjadi...Seminggu yang lalu, Pak Ustad Zulkarnain dan Afif datang lagi memastikan apakah niat baiknya diterima atau tidak. Dan itu adalah pertama kalinya Beby melihat Pak Ustad Zulkarnain dan calon suaminya- kalau jadi.Saat sedang berbincang-bincang, Pak Ustad Zulkarnain meminta mereka langsung menikah saja. Ummi-nya Beby tentu kaget, dan seharusnya Afif dan Beby juga kaget. Tapi tidak! Mereka malah mengatakan bahwa pernikahan mereka lebih baik dilakukan secepatnya.Yah dan terjadi begitu saja, hingga malam ini adalah hari yang sakral karena mereka berdua resmi menjadi suami-istri."Beb, maaf sebelumnya..." Tutur Afif membuka pembicaraan, Beby hanya menatap heran."Pernikahan ini jadi terkesan aneh yah" senyum tipis canggung menghias wajah pemuda itu."Dan maaf kalo gue bukan tipe suami yang lo harepin. Ayah... mungkin emang seorang ustad yang disegani, tapi berbeda dengan gue. Lo bisa liat sendiri kan? Orang-orang juga tau kalau gue.." Afif memberanikan diri menatap Beby"Gue bukan anak pondok, apalagi ustad kayak Ayah. Gue cuma lelaki biasa.Tapi tenang aja, nggak ada alasan khusus kok kenapa gue nyetujui perjodohan ini.Gue gak bermaksud jadiin lo pelarian, karena emang gue gak punya masalah apapun tentang cewek. Gue gak punya mantan, gue gak punya pacar. Lo cewek pertama, dan sekarang jadi istri gue" Afif mendeskripsikan dirinya, semakin menatap lekat kedua mata Beby.Beby masih terdiam kaku, setia mendengarkan penjelasan suaminya. Ceh elah suami."Selama seminggu ini kita cuman cerita tentang keluarga dan pengalaman kerja, karena itu mulai malem ini gue berniat mau belajar untuk terbuka tentang kehidupan pribadi gue sama lo. Menurut gue, lo berhak tau. Sangat berhak malah" Afif senyum di ujung kalimat yang berhasil menyihir hati istrinya."Kalau lo sendiri? Ada alasan khusus? Soalnya semua hal ini emang sangat mendadak" sekarang Afif bertanya balik, membuat Beby terpaksa harus berhenti memperhatikan pemandangan indah yang tengah berbicara kepadanya ini."Kalau gue.. emm gue juga bukan orang yang kalem kek Ummi, bukan orang yang keren kek Abi juga.Gue sempet punya pacar kemarin, namanya Vigo. Gue sama dia udah sekitar 5 tahun, tapi gak terjadi pergaulan bebas yah! Karena berhubung dia gak pernah ngasih kepastian ke gue.. yah akhirnya kita udahan secara tidak langsung deh.Dan kalo soal alesan gue nerima perjodohan ini, jujur.. gak ada alesan khusus" Beby menjelaskan ringkas namun kategori lengkap."Lo masih cinta sama cowok lo itu?" Pertanyaan yang dihindar-hindari Beby!"Masih" terlihat ada gurat kesedihan di wajah tampan Afif. "Tapi gue mau kok berusaha move on, demi.... Suami gue" Ucap Beby susah payah sambil merunduk menahan malu. Tentu saja itu membuat Afif tersenyum.Ahh dia imut banget sumpah!Untuk pertama kalinya bagi Afif merasakan sesuatu yang aneh dari dalam hatinya. Entahlah, namun kata-kata barusan berhasil membuat Afif merasa tak rela membagi. Bolehkah dia egois soal Beby, istrinya?---Dihari-hari berikutnya, semua terasa berjalan lancar. Afif selalu menyempatkan diri untuk berleha-leha menemani istrinya memasak, makan, belanja, tidur, mandi, eh?Dan Afif sudah melepas game kesayangannya demi istri yang mungkin sekarang sudah beralih posisi menjadi kesayangannya yang baru.Oh satu lagi, ini sekedar info yah.. mereka berdua juga sudah sepakat untuk membiasakan diri dengan sebutan aku-kamu."Ini apa?" Tanya Afif menunjuk sebuah mangkuk putih."Ini sayuran" jawab Beby seadanya."Itu apa?" Tanyanya lagi, masih senang menggoda istrinya."Itu monster laut!" Ujarnya kesal "Udah tau ikan""Kalau ini apa?" Afif mencondongkan wajah ke arah Beby."Eehhhhh.." Geram Beby yang langsung menoleh ke arah mahluk menyebalkan disampingnya ini.Cup!Kecupan manis mendarat mulus di bibir Beby. Beby tentunya kaget, tapi Afif juga tak kalah kaget. Pasalnya, Afif hanya berniat mencium pipi istrinya tadi, tapi gara-gara Beby menoleh eh malah jadi salah sasaran. Bukan salah Afif dong?Mata yang tadi membola kini menatap tajam. Afif yang merasakan hawa-hawa horor langsung cepat-cepat mengatakan."Bukan salahku, aku hanya salah sasaran" Belanya dengan ucapan yang terdengar aneh dimata Beby.Beby mendengus."Kamu tuh!" Beby menduduki diri di kursi meja makan, masih dengan kesibukannya membumbui monster laut (eh maksudnya ikan yah ibu ibu)- sekalian menyembunyikan wajah merona dan debaran jantungnya.Afif terus mengekori Beby dan berdiri di samping istrinya itu. Tangannya yang jahil mulai menyisir surai istrinya dengan penuh sayang. Lalu menyelipkannya dibelakang telinga.Sikap seperti inilah yang membuat Beby benar-benar lupa pada Vigo, bahkan Beby selalu menegaskan kalimat bahwa tidak ada alasan untuk tidak mencintai Afif! Dihatinya."Aw!!" Beby meringis kesakitan.Baru saja dipuji, Afif sudah mulai bertingkah dengan mencabut 2 helai rambut Beby."Kenapa harus imut sih, jadi pengen sarapan kamu aja!" Mulut Afif makin asal. Dan inilah fakta terbaru tentang Afif, ternyata Afif bukanlah lelaki biasa seperti yang dikatakannya waktu malam pertama, karena Afif adalah pria gila yang memiliki sifat asal-asalan."Jahat banget sih, nyamain aku kayak monster laut!" Kesal Beby yang sekarang mulai menggoreng monster laut."Abis kamu gemesin sih" ucapan Afif tak digubris. Lalu dia ngomong lagi "mirip squishy!"Beby hanya rolling eyes saja.---Sebentar lagi Afif akan mengantar Beby belanja bulanan, dan pria itu tidak tahu kapan mereka akan berangkat. Afif sudah siap dari tadi di ruang tengah, tapi dia harus menunggu istrinya yang cantik mempercantik diri lagi dengan serangkaian debu-debu yang dipoles di wajah.Sementara di dalam kamar, Beby yang baru selesai dandan menyempatkan diri untuk melihat ponselnya. Tapi diponselnya itu dia menemukan status sosmed dari Vigo yang memposting sebuah undangan, undangan pernikahannya dengan gadis lain.Sakit hati? Sedikit. Iri? Iihh nggak banget!"Beby...! Sayang.!!" Panggil Afif- teriak maksudnya."Iya iya. Iih kamu gak sabaran banget" Beby pun keluar menampakkan diri."Masya Allah, istri siapa sih ini cantik banget" puji Afif sekalian menggoda istrinya."Istri Pak Tito!" Jawab Beby asal didominasi dengan rasa kesal.Beby pun melangkah mendahului Afif, tanpa menoleh kearah pria itu."Pak Tito siapa Beb?" Tanyanya penasaran. Aish dasar ogeb! Orang Beby-nya aja gak kenal siapa Pak Tito.---Setibanya di supermarket Afif tak membiarkan Beby sedikit pun menyentuh cart belanjaan, tentu saja dia tak mau Beby mendorong beban yang berat seperti ini.Tiba-tiba sesuatu tak terduga terjadi, disana dihadapan mereka. Ada seseorang yang tengah dihindari Beby, yaitu Vigo. Dan Vigo membawa seorang gadis yang tak lain adalah calon istrinya.Baik Vigo maupun Beby, mereka sama-sama memaku ditempat, menatap satu sama lain. Arti tatapan Vigo seolah mengatakan Beby aku kangen, beda halnya dengan Beby yang justru menatap datar dan ingin mengatakan jijik deh. Kenapa mesti ketemu coba!? Saat Vigo melihat keberadaan Afif, Vigo pun langsung kaget dan menghampirinya.Tanpa basa-basi Vigo berniat melempar sebuah pukulan pada Afif, tapi Afif lantas menepisnya sembari menatap heran dengan wajah marahnya."Lo ngapain sama cewek gue!?" Tanya Vigo emosi. Tahu siapa yang paling kaget mendengarnya? Bukan Afif atau Beby tapi calon istrinya Vigo!Afif awalnya heran dengan lelaki dihadapannya, dia tidak kenal tapi dia ingin dipukul sama pria itu. Tidak waras! Tapi setelah pertanyaan itu disebutkan, Afif sudah terlalu pandai hanya untuk menebak bahwa pria itu adalah Vigo."Lo yang ngapain nanya-nanyain istri orang" jawab Afif dengan nada suara yang santai namun terkesan menyudutkan.Kini Vigo yang merasa kaget dan bingung. Sejurus kemudian emosi Vigo kian memuncak."Jangan asal ngomong lo!""Lo yang asal ngomong daritadi. Kita memang sudah menikah, jadi jelas dia istri gue dan gue cinta sama dia" akuan Afif yang sukses membuat hati Beby bergetar senang.Mata Vigo menuju ke arah Beby, menuntut penjelasan."Apa!?" Tanya Beby dengan aura harimaunya. Jadi ngegas kan!"Beb, kamu kenapa tega kek gini?" Tanya Vigo lirih."Heh gurita darat! Gak kebalik? Sewaktu gue minta kepastian dan pengakuan dari lo, lo kemana!? Dasar gila! Lo gak malu diliatin sama calon istri lo? Dan satu lagi, gue emang istrinya dia. Istri dari lelaki terbaik dalam hidup gue setelah Abi, PUAS LO!" Pekik Beby penuh amarah dan anehnya merasa lega.Beby langsung pergi dari hadapan sepasang kekasih itu, disusul dengan langkah Afif- dan cart belanjaannya.---Malam terasa lebih dingin dari sebelumnya, tapi Beby malah memanjakan diri di balkon kamarnya sembari menatap bintang.Pikirannya melayang ke peristiwa di supermarket tadi. Dia bangga pada dirinya sendiri, keberanian darimana tadi itu? Perlukah dirayakan? Astaga ini bahkan lebih memuaskan daripada mendapatkan peringkat pertama dikelas.Tiba-tiba sebuah lengan kekar menyusup, melingkari pinggang rampingnya. Tahu sendirilah siapa pelakunya.Pria itu bahkan menyamankan diri di ceruk leher Beby yang selalu wangi aroma buah strawberry."Mikirin Vigo?" Tanya Afif yang sepertinya merasa gelisah."Hmm..""Masih punya rasa?" Beby hanya menggeleng."Lalu?" Beby memutar tubuhnya membalik ke hadapan suaminya, sembari mengalungkan tangan dileher pria itu."Aku hanya bangga pada diriku sendiri karena sudah berhasil mengungkapkan kalimat tadi siang. Kamu tahu tidak? Aku merasa sangat puas!" Ungkapnya, jangan lupakan dengan senyum sombong dari seorang Beby shark. Respon Afif? Tentu saja dia lega. Dia sempat berfikir Beby masih menyukai Vigo tadi.Afif sekarang terdiam dalam tundukkannya. Gelisah lagi, itu raut yang terpancar dari gelagatnya. Baby ikut tertegun melihat perubahan wajah Afif lagi."Kamu kenapa sih fif? Kerasukan setan supermarket yah? Atau jangan-jangan ketularan virus sok polos dari roh kutu bernama Vigo?"Afif mendongak sembari menggeleng."Please deh fif jangan nakutin gini, gak lucu tau! Jujur yah, kamu gak cocok kalau normal gini" ledek Beby dengan muka sok seriusnya."Cocok gak cocok apa bedanya? Toh kadar ketampanan ku tak berkurang sedikit pun" Sahutnya dengan penuh kebanggaan yang anehnya terkesan menjijikan dimata Beby."Aiihh pede banget. Suami siapa sih ini!?""Suami Pak Tito" jawab Afif asal."Jauh-jauh deh. Dasar homo!" Beby mencoba mendorong tubuh Afif yang justru semakin mendekatinya.Tahu apa yang Afif pikirkan tadi?Mereka memang bersuami istri, tapi tetap saja tak menutup kemungkinan bahwa suatu saat Beby bisa saja meninggalkannya karena beberapa alasan.Bagaimana pun Beby adalah perempuan, dia butuh kepastian dan ingin merasa dimiliki. Mungkin benar selama hidup bersama, Afif selalu menunjukkan sikap manja sekaligus perhatiannya, mengakui bahwa Beby adalah istri tercintanya pada semua orang.Tapi Afif yakin bahwa Beby butuh uangkapan secara langsung. Begitulah fikiran Afif, yang membuat mahluk halus itu mendadak gelisah.Perlahan tangannya merebut kedua tangan Beby yang sedari membrutal. Lalu..?"Beb, aku sedang serius loh ini!" Katanya dengan wajah yang tak kalah serius. Membuat istrinya itu mendadak kicep dan langsung nurut diem. Lalu dia melanjutkan kalimatnya."Mungkin awal hubungan sakral diantara kita memang tak beralasan, tapi saat aku memutuskan untuk menikah denganmu, aku udah janji sama diri ku sendiri bahwa aku akan selalu terbuka tentang apapun padamu. Gak ada cewek lain yang aku istimewain selain kamu.Mungkin aneh kalau aku baru bilangnya sekarang, tapi aku gak bisa menahannya lagi. Aku takut kehilangan kamu, semakin aku mencoba menjadi suami yang baik untuk kamu, semakin aku merasa bahwa aku juga mulai jatuh cinta pada mu. Istriku sendiri. Apa kamu bersedia menerima hati ku?" Penuh kesungguhan, sampai membuat Beby terpaku dengan detak jantung yang menggila.Reflek Beby mengangguk kikuk menanggapinya. Karena tak bisa dibohongi bahwa dia juga merasakan hal yang sama. Jatuh cinta.Afif yang semula tersenyum tulus tiba-tiba melepas tautan tangannya, lalu menarik genggaman tangannya tanda mengatakan 'yes'"YES!! udah aku tebak kamu gak akan mungkin nolak cowok ganteng"Sekarang wajah Beby berubah menjadi tampang jijik, kesal, dan langsung saja dia cemberut."Eh tapi aku serius loh. Aku emang beneran cinta sama kamu" Afif merubah ekspresinya menjadi serius lagi. Beby ikutan serius"Aku juga..... Tapi tadi sebelum gila mu kumat!" Katanya datar lalu segera melesat masuk ke kamar, meninggalkan Afif dan wajah bodohnya."Beb aku beneran serius!" Teriaknya tidak jelas, sama tidak jelasnya kayak orangnya.Yah Beby percaya dengan ungkapan hati Afif, dan dia juga serius dengan hatinya yang memang jatuh cinta. Tadi itu hanya respon agar siluman cicak itu berhenti bersikap pede.Cowok ganteng?Dih menjijikan sekali. Siapa bilang dia ganteng? Gantengan juga platipus! Eh? Tapi emang ganteng sih, Beby saja yang terlalu enggan untuk mengakui."BEBYY... Jarang-jarang loh ada cowok yang gantengnya sampe mendarah daging kayak aku mau bilang cinta ke kamu"Tuh kumat kan!?Oke skip aja. Intinya yah setiap hubungan itu harus ada perhatian, kepastian dan pengakuan. Paket komplit!Perhatian, biar merasa disayang.Kepastian, biar merasa dimiliki.Pengakuan, biar merasa dianggap.BUCIN AJA TEROS SAMPE BEGO!!END17 Agustus 2019Makasih untuk readers yang mau repot-repot baca cerita gaje ini
JAGA DIRIMU SAHABAT
Hari jumat putri mengajakku untuk pergi ke rumah temannya, putri masih sekolah di Madrasah Aliyah, aku menjemputnya di sekolahan. Saat itu aku menyuruhnya untuk di depan naik motor dan aku di belakang karena aku gak tau jalan rumah temannya itu.“Beb kamu aja yang depan ya soalnya aku gak tau rumah temen kamu”Setelah di jalan putri nyuruh aku bawa hpnya “beb bawain hp aku dong tolong chat temen aku, tanyain dia ada dimana ini aku udah otw gitu ya” aku bilang “iya..” pas aku megang hp tiba tiba hp putri diambil orang dari sebelahku orang itu berdua membawa motor beat putih, aku kira orang itu temanku yang iseng ngambil hp ternyata mereka adalah seorang jambret. “beb itu hp kamu diambil sama itu orang gimana nih” putri gugup dan dia ngebut banget naik motor “hah kok bisa aduh gimana beb aku takut kalo dimarahin nenek” secara itu hp juga baru, hpnya mahal dibeliin neneknya. “Beb gak usah ngebut tu orang gak bakalan bisa dikejar” kataku. Kami pun teriak Jambreeet jambreet dan banyak orang yang mengikuti jambret itu.Aku melihat ada jembatan beton di depan “beb pelan pelan ada jembatan” tapi putri sudah hilang kendali karena yang dia pikirkan saat itu adalah hpnya bukan keselamatan kami. Dan tiba tiba dyarrr aku jatuh di bawah jembatan itu, posisiku jatuh di sungai bawah jembatan dadaku terpental tembok, alhamdulillah aku masih bisa sadar, saat itu aku merasa dadaku sulit untuk bernafas kaki dan tanganku berdarah.Putri terpental di tengah jalan, mulutnya yang sudah banyak darah keluar dikerubungi banyak orang, kakinya sebealah kiri patah, tangannya pun juga. Motorku pun hancur belah menjadi 2 sekaligus, ban depan posisinya teselip ke belakang. (busyet dah itu motor kayak barang rongsok aje kalo diliat).Kami berdua segera dilarikan ke rumah sakit, setelah di rumah sakit aku melihat putri yang menjerit menangis aku juga menangis melihat keadaannya yang seperti itu. Sebelum kami dilarikan ke rumah sakit aku sempat memberi kabar dengan teman temanku yang lain dan mereka orang pertama yang datang.Setelah kejadian itu putri sudah tidak bisa melanjutkan sekolahnya, karena keadaannya seperti itu dia dirawat di rumah sakit selama berbulan bulan dan proses kesembuhan kakinya pun membutuhkan waktu cukup lama. Karena kejadian itu dia cacat fisik, aku sangat merasa bersalah karena kejadian itu dia kehilangan semuanya. Tapi dibalik itu semua kami bisa merasakan mana teman yang baik dengan yang munafik, karena setelah kejadian itu teman teman yang pertama kali menjenguk kami di rumah sakit sekarang sangat peduli dengan kami mereka yang selalu memberi semangat, selalu ada disaat keadaan kami seperti ini, dan teman yang lain malah sebaliknya.Hubungan keluargaku dengan putri pun bertambah baik bukan sebaliknya, “dek kalo masalah motor kamu gak usah khawatir, pihak keluarga putri pasti mengganti, yang terpenting kesehatan kalian berdua” ujar kakaknya putri.. putri pernah bilang dengan neneknya “nek, masalah hp gak usah minta ganti ya, kasian dhawii juga gak punya bapak ikhlasin aja hpnya aku gak papa” putri seorang yatim ibunya telah meninggal dan ayahnya pergi meninggalkannya dan menikah dengan wanita lain. Dan aku juga yatim aku sudah tidak punya orangtua laki laki maka dari itu kami saling mengerti satu sama lain.Dengan kejadian itu jadikan saja sebagai motivasi dan pelajaran untuk kita. setiap aku ada waktu aku selalu menjenguknya di rumah, alhamdulillah sampai saat ini hubungan silaturahmi itu tetap baik meskipun kami sekarang pisah.Semangat untuk menjalani kehidupan ini ya putri, jangan dengarkan kata orang ikuti kata hatimu. Keluargamu dan Terimakasih untuk ketulusanmu selama ini masih tetap ingin berteman denganku. Semoga kamu selalu dilindungan allah.The end
Sahabat baru
Aku adalah Andi anak yang baru pindah dari provinsi sebelah. Sekarang aku tinggal di kota Lamongan. Aku tidak menyangka ternyata kota Lamongan itu indah banget. Tempatnya yang asri, bukit yang menjulung, daerah yang masih hijau, aku senang berada di sini.Di setiap harinya, aku bisa melihat lautan yang luas. Jarang sekali aku bisa main. Di tempat tinggalku dulu, aku bahkan hampir tidak pernah mainan air. Aku bisa mainan air sama keluargaku jika waktu liburan dan mampir di suatu wahana.Kebetulan saat di sana, ada tetanggaku yang bernama Luqman. Dia juga seumuranku, masih duduk di bangku kelas 3 SD.Karena aku akan menetap di kota ini, maka aku juga harus pindah sekolah. Nah kebetulan aku satu sekolahan sama Luqman, teman baruku.Setiap hari aku berangkat sekolah bersama, pulang sekolah juga. Kami sering bermain di pesisir pantai. Kami hanya membutuhkan waktu beberapa menit untuk pergi di bibir pantai.“Luqmaann ..” panggiku dari depan rumah temanku.“Iya sebentar”“ayok cepetan kita main”“ayok .. ayok ..”Hampir setiap hari libur kami menghabiskan waktu untuk bermain air. Tentunya sudah izin dengan orang tua kami masing-masing.Terkadang juga kami menonton film kartun bersama.Pernah juga saat kita asik bermain di pantai, ada anak dari teman kami sekelas datang kesana. Namanya Anton.“Hai.. Antoonn” teriaku pada sedikit kejauhanDia pun menoleh, dan dia langsung menghampiri kami berdua.“kalian sedang apa” kata Anton.“kami sedang bermain air, sambil cari kerang ini” kata Luqman.“eh bagaimana kalau kita lomba lempar batu aja ke sana. Siapa yang paling jauh maka itu pemenangnya.” Anton menjelaskan.Kami pun saat itu ikut saran dari teman kami Anton, mengambil bebatuan karang yang cukup untuk dilemparkan sejauh yang kami bisa.Pertama aku yang menang, terus disusul oleh Anton lalu Luqman. Permain itu sudah cukup menggembirakan buat kami. Menurut kami bahagia itu sederhana, tinggal kitanya saja dapat bersyukur atau tidak.Kami mengulang-ngulangi permainan itu sampai kami puas. Kadang juga Anton duluan yang menang, kadang juga Luqman, kadang juga aku yang paling akhir.Itulah persahabatan kami yang sungguh menyenangkan. Semoga kalian juga memiliki sahabat yang baik seperti teman-temanku.Tamat
Antara bulpen,aku dan cinta
Bagiku hari ini adalah hari yang paling membahagian. Bagaimana tidak, di hari pertama aku masuk sekolah, aku diajak kenalan oleh seorang wanita. Sungguh aku malu sekali.Aku tak bisa menolaknya, karena aku adalah anak pindahan dari sekolah sebelah. Jujur, aku tidak pernah mempunyai teman wanita semenjak SD.Aku bingung harus bagaimana saat dia menjulurkan tangan dan meberitahukan namanya sembari berkata “namaku Dewi, salam kenal”Dengan polosnya aku juga mengenalkan diriku, Miqdad. Setelah berjabat tangan dia langsung pergi dan tak memedulikanku. Tapi dengan diriku sendiri, aku tidak bisa bergerak setelah jabatan itu terlepas. Tubuhku gemetaran dan aku bingung mau berbuat apa.Aku paksa kaki ini melangkah masuk kelas dan berusaha berbuat sebiasa mungkin, jangan sampai kekonyolan terlihat banyak murit di kelas. Bisa-bisa aku akan hanya menjadi bahan tertawaan.Saat itu, bel berdering menandakan pelajaran pertama dimulai. Aku duduk dibangku paling belakang, berharap tidak ada yang melihatku. Aku masih belum terbiasa dengan murit-murit di sini.Bu guru juga menyuruhku perkenalan di depan kelas. Aku memperkenalkan diriku singkat dan bergegas menuju tempat dudukku lagi. Aku tak begitu memedulikan sekitar, aku hanya menatap buku kosong dan berusaha tidak melakukan hal yang membuat perhatian anak-anak menuju padaku.Seketika itu bu guru membuka materinya dan aku pun melihat ke depan. Tanpa ku sadari, setelah aku melirik sedikit bangku kiriku, ternyata dia adalah wanita yang mengajakku kenalan tadi.Aku semakin gemetaran, kenapa sih cewek ini kok bisa pas ada di bangku paling belakang, di sampingku lagi. Kenapa dia gak duduk di depan saja, kenapa pas ketika aku masuk di hari pertama. Gerutuku dalam hati.Pas guru menyuruh kami untuk mencatat, aku pun merombak tas ku dan mencari pena yang aku sudah siapkan. Aku merogok tas ku sampai terdalam, ternyata bulpen yang telah aku siapkan dari tadi malam lupa aku masukan tas.Akhirnya aku meminjam pulpen temanku laki-laki di bangku sebelah.“bro pinjem bulpen dong, aku lupa gak bawa nih”“wah aku cuma punya satu” kata temenku.Aku berusaha meminjam ke bangku depan. Ternyata dia juga gak punya.Malahan dia menyarankan untuk pinjam ke temen perempuan.“itu tu pinjem Dewi aja, dia punya banyak bulpen.”Whatt ..?, Sebetulnya hari ini kenapa sih, kenapa coba kok pas banget. Ketemu sama cewek la, sebelahan la, sekarang aku harus pinjam bulpen.Karena terpaksa aku pinjam kepada cewek yang disebelahku, pun juga aku seorang murit baru, aku tidak mau tiba-tiba dianggap murit yang jelek karena tidak mencatat, dan yah aku bilang kepadanya,“eh pinjem bulpen dong” kataku sambil malu-malu.“ohh bulpen, bentar ya”Dia mengeluarkan wadah pensilnya dari samping, dan kulihat ada mungkin sepuluh bulben yang berbeda warna dan jenisnya. Wih banyak banget nih anak bulpennya, kataku dalam hati.Seketika itu tangannya menjulur memberi bulpen yang warna pink, aku pun langsung menangkapnya. Lalu bilang padanya,“kok pink yang lain kan ada, itu aja tuh yang hitam”“oh gak suka ya, ya udah sini”Dia mengambilnya kembali sambil memberikan yang baru yang aku minta. Saat itu juga tangannya menjulur dan aku hendak mengambilnya lalu tangannya kembali sambil mendekap bulpen tersebut.“kalo ini jangan ah, kan ini pemberian ibu ku dari Malaysa.”“ya udah yang lain saja” kataku.Dia memberikan yang warna biru, aku pun hendak meraihnya. Tapi lagi-lagi dia menggugurkan niatannya.“ini juga jangan ah, ini juga susah belinya gak ada di sini”Aku mulai kesal.“yang ini aja” katanya.Aku pun mengambilnya dengan sedikit malas, tapi sekali lagi, dia memberi harapan palsu. Tanganku yang sudah ingin merainya dianya dengan sergap mendekap pulpen yang hendak iya berikan.Aku benar-benar kesal sekarang.“aghh.. ya udah yang mana saja napa sih, ini sudah ketinggalan jauh nulisnyaaa..”Dia pun tertawa kecil seraya memberikan bulpen yang mana saja dan aku sudah tak memperhatikan warna yang dia berikan. Aku pun segera menulis ketinggalanku.Sekilas, aku teringat kejadian itu di rumah. Di dalam kamar yang sunyi sendiri ini, aku membanyangkan kejadian tadi pagi. Menurutku itu adalah hal terindah sepanjang hidupku.Kring .. Kring .. (Dering hp berbunyi)Aku membuka sms dan membaca pesan tersebut. Di sana bertuliskan“Hai Miq, ini Dewi”Haaaaaa ….???Ini ada apa sih, kenapa cobak kok bisaaa …Dia tahu nomerku dari mana, kita tak membicarakan tentang nomer tadi pagi, aku juga ngobrolnya nggak banyak sama dia. Kenapa sih dia bikin degdegan terus, baru saja memikirkannya kok bisa-bisanya ada SMS langsung dari dia.Aku pun bingung dan tak membalasnya. Tapi tak lama setelah itu, hp_ku berdering lagi.“Datang ke sekolahan sekarang!”Ya Tuhaann..Ini cobaan macam apaaa??Baru saja kenal, kok dia sok akrab begitu, apa salahku Ya Tuhann..Kenapa juga aku harus mempercayainya, bisa jadi itu nomer nyasar. Kenapa juga aku harus menuruti perintahnya. Dia bukan siapa-siapaku, mungkin teman tapi belum cukup akrab, kita juga baru kenal tadi pagi.Tapi karena aku yang tak tega meninggalkan perempun sendiri apa lagi malam seperti ini maka aku berangkat ke sekolahan. Kebetulan jarak rumahku dengan sekolah tak terlalu jauh.Datanglah aku dan mendapatinya sedang menunggu di depan pintu kelas. Ada kursi panjang di sana dengan cahaya lampu jalan kuning remang-remang. Sekolahku memang pinggir jalan dan dekat dengan rumah warga.Aku menghampirinya.“nih bukumu yang ketinggalan.” Kata dia.“ohh iya makasih” jawabku dengan malu-mulu.Aku bingung mau berkata apa, aku pun menjawab dengan ala kadarnya. Ternyata aku baru paham dia mendapatkan nomerku dari buku milikku yang ketinggalan.“lain kali bawa bulpen, dan jangan sampai meninggalkan buku di meja guru. Karena kau bisa menurunkan citra baiku sebagai ketua”“hehe, iya maap” jawabku singkat.Malam itu kita membicarakan banyak hal. Aku juga belajar banyak darinya, dari apa saja yang harus aku persiapkan, aku harus membawa apa saja, guru mana yang biasanya terlihat seram dan menjengkelkan dan lain sebagainya.Sejak hari itu aku dan Dewi menjadi teman akrab. Setiap hari kita saling menghubungi lewat SMS dan kalian tau apa yang lebih membahagiakan?Kami jadian setelah 2 bulan.Tamat
Perasaan saya
Sebuah halusinasi datang menghampiriiku, aku hanya terdiam tanpa berkata apapun. Hari ini aku sungguh kesal, coba aku selalu dikhianati oleh temanku sendiri. Aku berasal dari keluarga yang kaya dan hidup berkelimpahan. Aku tak suka menghamburkan uang karena orangtuaku mendidikku untuk selalu hemat jika ingin hidup senang. Semua berubah ketika anak itu muncul dalam hidupku.Namanya en reley, yang disebut “n” nama yang cukup aneh bahkan sangat aneh menurutku. Aku benci dia berusaha mengambil alih peringkat dan temanku satu-satunya. Ya itu sudah jelas dengan wajah, mata dan senyum mautnya kata mereka sih, temanku jelas sangat mengidolakannya, dan itu membuatku cukup untuk membencinya.“Maaf lor aku bukan menjauhimu” perut mantananku itu berusaha meyakinkanku.“Aku tau kok maksudmu berteman denganku hanya untuk keuntunganmu sendiri kan, gak papa kok belly aku tau kok” meninggalkan belly dan pergi.Sambil berjalan ke arah taman seperti biasa aku sambil mengomel karena ulah temanku itu, “apa bagusnya sih orang aneh itu, dia mengambil segala hal yang kupunya, apalagi belly hanya satu-satunya temanku, dia menyebalkan.” Tanpa sadar aku ditertawai seseorang.“Siapa yang berani menertawaiku dasar makhluk aneh” kataku kesal.Sambil memegang perutnya, “I gak percaya kamu begitu iri denganku wahai princess, kau terlihat cantik ketika marah” jawab seseorang yang ternyata en si orang aneh.“Eh kau orang aneh, aku gak akan kalah darimu, camkan itu wahai orang aneh.” kataku mengancamnya dan berlalu pergi ke kelas.En hanya tersenyum pada lory. “Susah sekali kamu putri ku” en pun beranjak.Sesampai di kelas, lory hanya duduk diam sambil berpikir keras bagaimana caranya menjatuhkan dari kepopulerannya. Jam masuk kedua berlangsung, dan hari ini adalah jam ibu nery yaitu tentang praktek ipa yang membahas tentang balon, hal yang paling menakutkan dari menonton film horor.“Baik anak-anak, hari ini semuanya bawa balon yang ibu suruh”“ya bu” jawaban serentak anak ipa.“Sebelumnya ibu harap kalian segera meniup balonnya ya anak-anak” sambung bu nery lagi.Aku udah meniupnya dan hasilnya balonku sendiri yang paling kecil. “Emmm, lory, sepertinya balonmu sangat kecil, ibu mau kamu meniupnya lebih besar lagi.” Kata bu nery kepadaku.Aku berusaha sekuat mungkin tapi tanganku mulai bergetar dan aku keringat dingin, aku gak mau bilang ke bu nery kalau aku phobia dengan balon.“Namun aku harus bisa meniup ini” kataku menyakinkan diriku sendiri.Entah bagaimana caranya dia datang dan mengambil balonku dan meniupnya agak jauh dariku.“Gak usah dipaksakan jika itu tidak bisa kau paksakan putriku,” katanya berbisik di telingaku.Aku melongo melihatnya dan ia hanya tersenyum manis padaku.Istirahat berbunyi dan itu sangat melegakan bagiku, karena praktek balon yang menyeramkan itu pun selesai.“Hei, orang aneh makasih udah bantu aku tadi” kataku cuek tanpa melihat mukanya.“Kau pikir ini gratis, sebagai balas budimu aku mau kamu hari ini mengantarku pulang sekolah.” Jawab en tanpa menoleh juga padaku.“Ha, apa kau bilang tadi jadi kau gak ikhlas bantu tadi, nyesal aku terima bantuanmu” aku marah-marah.“Aku menyelamatkan hidupmu, kau phobia balon kan terlihat dari mukamu pucat dan keringat dingin, mana ada orang yang tiup balon sampai kayak gitu kalau bukan dia phobia balon, kamu mau aku bilang ke semua orang kalau kamu phobia balon.” jawab en ancamanku. Dengan pasrah aku pun menerima tawarannya dari pada seisi kelas tau aku phobia balon.“Ih dasar orang aneh, oke aku akan ngantar kamu pulang dan hanya hari ini aja” jawabku sambil berlalu menuju bangkuku.Bel pulang sekolah pun berbunyi, aku lansung mengemasi tas dan berdiri pulang.“Hey my princess gak lupa kan sama janjimu” kata en menoleh padaku.“Cepat lah dasar lelet, aku gak punya banyak waktu untuk mengantarmu” jawabku cuek.Kami berdua menuju parkiran motor. “Bukankah kau bawa motor?” tanyaku.“Gak, aku malas makanya aku nuruh kamu ngantar aku.” Jawabnya sambil mengambil motorku. Aku pun dibonceng en denag menjaga jarak."Kau gila, cepat pegangan pegangan nanti kita bisa jatuh""aku dah kok" kataku yang hanya memegang switernya saja.“Pegangan tu kayak gini” katanya menarik tanganku ke pinggangnya. Entah mengapa aku merasa deg-deg kan.Selama di jalan kami tidak ada apapun dan ini sungguh membuatku canggung.“Lory, aku gak tau kamu benci benar denganku,” katanya sambil memberhentikan motor di salah satu taman kota.“Aku gak tau mau bagaimana lagi akhirmu, kamu sangat dingin dan aku semakin suka itu. Aku ingin lebih dekat denganmu seperti ini, aku selalu melihatmu dari jauh dan aku pernah melihat senyummu, mungkin itu karenaku. tapi apapun itu gak akan ngerubah rasa sukaku, kamu cukup spesial sehingga aku pernah bisa ngelirik yang lain. Jadi apakah kamu mau menerimaku sebagai temanmu dulu? ” kata en sambil menoleh padaku.Aku gak tau harus jawab apa, perasaanku campur aduk karena dia biang masalahku meminta tolong berteman denganku.“Hei orang aneh kamu ngomong apa sih, aku gak ngerti” jawabku cuek menghindari tatapan tajamnya.“Hahaha kamu lucu kalau grogi my princess, mulai sekarang aku temanmu dan aku harap kita akan lebih dari teman nanti” sambung en sambil menjalankan motor lagi.Aku cukup senang mendengar kalimat terakhirnya, mungkin aku akan menebaknya nanti kalau sebenarnya aku cukup mengerti dan meneliti. Pangeran saya en.
Cintaku tak terbatas waktu
Seorang cowok bertahan tanpa lelah sembari memacu keringatnya yang bercucuran membasahi tubuhnya. Nafasnya mulai terengah-engah sejalan dengan waktu. Banyak orang yang ingin memberinya seteguk air, tapi ia menghiraukannya. Ia tetap melanjutkan kegiatannya itu. Matahari mungkin sekarang tak bersahabat, karena memancarkan terik yang menyengat. Tetapi angin segar memberinya kenikmatan yang tak terbatas. Bersama detak jantung yang tak terkendali ia merasa bahwa kini ia telah bebas. Gemuruh-gemuruh riuh menyemangatinya seraya ingin mendapat perhatian darinya. Ia merespon dengan tampilannya yang membuatnya menjadi juara, menjadi idola, dan menjadi yang paling keren di antara mereka.Tiba-tiba kesenangan yang ia rasakan saat itu luntur seketika. Disaat bola yang ia mainkan mendarat di kepala seseorang yang tak pernah ia duga.“Hei… lo nggak papa?.” tanyanya panik saat itu.“Ng… nggak, nggak papa kok.” ucapan orang itu terbata sambil memegangi kepala yang kian menjadi.“Hei, liat gue!. Biar gue bisa liat keadaan lo!.”Ia pun menegakkan kepala orang itu yang sedari tadi tertunduk. Lalu menatap matanya dengan tajam.“Aiska…!” kagetnyaSejenak hening!!!“Mungkin ini kedua kalinya lo natap gue dengan tatapan yang sama.” orang itu mulai angkat bicara, setelah tertunduk tak berdaya.“Mungkin juga perasaan lo sama kayak waktu gue natap lo untuk pertama kalinya.”“Bisa aja enggak, kali ini gue nggak akan ngerasain hal yang sama.” jawabnya terlihat sinis.Saat itu juga…“Devan… siapa tadi yang kena bola? Dia nggak kenapa-napakan?.” tanya Yasmeen (kapten cheerleader).Devan hanya terdiam, entah ia harus bicara apa.Devano Alandana Zaind. Itulah kapten basket yang jadi idola di seluruh sekolah di daerahnya.“Gue nggak papa, gue harus pergi. Ada tugas yang belum gue selesain.” pamit AiskaAiska Valencia Adhnand. Teman SMP Devan, yang dulu pernah debat heboh sama Devan gara-gara salah paham. Sampai Aiska harus pindah sekolah sesuai keinginannya agar tidak berselisih lagi dengan Devan. Sekarang ia bertemu lagi dengan Devan dan satu SMA dengannya.Salah paham itu dimulai ketika Devan menuduh Aiska yang membeberkan trik basket clubnya ke club lawan Devan. Devan dan Aiska satu club di salah satu club olahraga Bandung. Devan basket sedangkan Aiska tennis lapangan. Aiska mengelak apa yang dikatakan Devan, Aiska mengaku ia tidak ikut campur tentang masalah basket Devan. Ia tidak berbicara apapun dengan Roni, kapten tim basket musuh Devan. Akan tetapi Devan tak mempercayainya. Karena tim basket Roni bisa sampai mengalahkan timnya. Padahal sejak dulu tim Roni tak pernah bisa mengalahkan timnya. Dan selalu menjadi Runner Up. Karena sangat terpukul dengan omongan Devan akhirnya pun Aiska keluar dari club dan pindah sekolah.Kejadiannya begini,Beberapa pekan yang lalu…Waktu itu Aiska dan Roni ketemuan. Aiska mewakili ayahnya yang tidak bisa bertemu dengan ayahnya Roni untuk menyerahkan dokumen perusahaan. Ayah Aiska dan ayah Roni terikat kerja sama perusahaan. Karena ayah Aiska sedang di luar kota. Dan ibunya sibuk mengurus fashion weeknya, dengan terpaksa Aiska harus bertanggung jawab atas dokumen itu. Sedangkan ayah Roni asam muratnya kambuh kambuh, saat bersiap ingin menerima dokumen itu. Kebetulan Roni sedang santai di rumah. Jadi dia yang nganbil dokumennya. Sementara ibunya mengantar ayahnya ke rumah sakit.Mereka janjian di sebuah caffe. Di sana sudah ada Roni yang menunggu Aiska. Beberapa saaat kemudian terlihat seorang cewek menuju meja Roni.“Sorry, lo udah nunggu lama ya?” maaf Aiska.“Nggak kok, biasa aja. Cepetan mana dokumennya!” jawab kasar Roni.“Iya, iya. Dingin banget jadi cowok!” protes Aiska.“Oke. Emang gue nggak kayak cowok lo itu!”“Cowok gue? Siapa? Perasaan gue belum punya pacar deh!”“Siapa lagi, si kapten basket tuh!”“Devan? Gue nggak pacaran ama dia. Kita cuma temenan.” ngaku Aiska.“Masa’ sih, keliatannya nggak gitu!”“Mata lo aja yang nggak bener!”“Sekarang mana dokumennya?”“Nih!. Dasar bawel!.”Saat itu juga Devan memperhatikan mereka dari mejanya yang tidak jauh dari meja Aiska dan Roni. Devan berpikir dokumen yang diberikan Aiska ke Roni berisi tentang trik-trik basket club Devan. Mulai saat itu timbul rasa benci dalam hati Devan terhadap Aiska.Keesokan harinya…“Ngapain lo masih ke sini?.” tanya kasar Devan.Aiska hanya bingung tentang pertanyaan Devan.“Apa maksud lo Van? Gue nggak ngerti, emang gue masuk club ini kan?”“Dasar penghianat!. Masih sempet-sempetnya lo bilang ini club lo!.”“Jadi orang jangan munafik gitu!.” ditambah kata menyakitkan dari Yasmeen.“Maksud kalian pengkhianat apa?”“Jangan sok melas deh lo!. Nggak merasa bersalah lagi!” bentak Devan.“Ngaku aja deh, lo ngasih tau trik basket club kita kan ke Roni?” tanya sewot Yasmeen.“Enggak, aku… aku nggak ngasih!.”“Diem! Gue tuh percaya banget sama lo lebih dari siapapun. Tapi, sekarang gue ragu dan nggak mau lagi percaya sama lo!” potong Devan.“Van, lo tuh salah paham!.”“Iya, gue salah… udah percaya ama lo!. Lebih baik lo tinggalin club ini. Lo pergi jauh dari gue. Dan jangan pernah nemuin gue lagi. Gue muak liat muka lo.”Aiska kaget mendengar kata kata yang belum pernah ia dengar dari mulut Devan.“Oke!. Gue akan turutin semua mau lo!. Thanks, udah ngusir gue… secara… baik-baik!.”Aiska berlalu.Setelah beberapa pekan Aiska pindah. Devan dan teman-teman clubnya menyadari bahwa yang membeberkan trik milik club basketnya ialah temannya sendiri, bukan Aiska. Dia Nolan yang ternyata sepupu Roni.Kembali ke lapangan basket“Ka, sorry untuk kesalahan besar gue sama lo…!” ucap Devan saat Aiska mulai bergegas pergi.“Sorry aja nggak cukup Van, lo bisa bilang sorry sama gue. Udah gue maafin, dari dulu. Tapi kesalahan lo nggak akan pernah bisa gue lupain. Lo bisa aja ngelakuin ini sama gue. Tapi gue nggak akan ngerasain perlakuan lo lagi untuk kedua kalinya. Maaf, gue nggak bisa jadi temen lo!.”Aiska berlalu.Setelah Aiska sudah pergi Devan dan Yasmeen kembali ke gerombolan clubnya.Devan hanya berlutut sambil memukul lapangan dengan kepalan tangannya.“Devan… Devan!. Udah Van itu kesalahan masa lalu.” tenang Yasmeen.“Van… loe jangan frustasi kayak gini. Sekarang loe harus lihat masa depan, bukan masa lalu!.” tambah Albert, teman club Devan.“Gue nggak bisa kayak gini terus, gue nggak mau hidup dengan kekangan kesalahan.”Hari Minggu yang menyenangkan, mungkin sekarang tinggal kenangan. Hari dimana hanya ada senyum di antara Aiska dan Devan. Toko buku, yang jadi tujuan mereka untuk dikunjungi. Sekarang mungkin ketika Devan pergi ke toko buku, ia hanya memandangi buku-buku berjejer rapi, melamun mengenang masa indah dulu. Begitu juga Aiska. Dulu Devan dan Aiska cukup dekat. Karna Devan dan Aiska pernah satu bangku bus pengantar atlet untuk ke Jakarta, jadi mereka bisa kenal satu sama lain. Saat itu Aiska terlambat masuk ke bus, entah karena apa ia sampai terlambat. Pas itu juga Devan lagi duduk sendiri. Devan lihat Aiska waktu itu panik banget, jadi Devan nawarin tempat duduk. Beruntung banget Aiska… bisa satu bangku sama cowok paling ganteng se-club basket di Bandung.Pagi ini di lapangan basket sudah ada Devan dengan lincah memainkan bola basketnya. Sendirian…Sesaat kemudian, Devan menyadari bahwa ada seseorang yang memperhatikannya dari tadi. Ia menoleh…Saat orang yang memperhatikan Devan mengetahui bahwa Devan tahu ia sedang memperhatikannya dengan jeli, ia bergegas pergi.“Aiska, tunggu!.” cegah Devan dengan nada dingin sambil memegangi tangannya.Mereka menatap satu sama lain seperti hanya hati mereka yang berbicara.“Kenapa Van…?.”“Gue mungkin punya kesalahan besar sama lo, gue udah minta maaf. Entah lo maafin atau enggak. Entah lo dendam sama gue. Terserah lo mau ngelupain gue atau jauhin gue. Tapi plis, gue mau ngomong sesuatu sama lo… dan ini penting.”“Apa yang perlu lo omongin lagi, maaf lagi?.”“Gue mohon dengerin gue!. Ini menyangkut perasaan dan masa depan gue!.”Akhirnya Aiska menyerah.“Ya… tapi jangan lama-lama.”“Oke!. Gue tahu lo nggak bakal mau nerima gue, entah jadi temen lo atau lebih dari itu.”“Maksudnya ‘lebih dari itu’?.”“Gue udah nunggu sejak lama momen ini. Mungkin lo nggak percaya gue ngomong gini!. Ka… dulu gue pernah nyakitin lo. Sampek lo pergi dari kehidupan gue. Tapi itu nggak akan terulang lagi, gue akan slalu jagain lo, gue akan slalu ngelindungin lo. Gue sayang sama lo Ka…!.” jelas Devan.“Maksudnya lo… itu?.”“Iya, gue cinta sama lo. Gue mau lo jadi yang terindah di hati gue. Lo mau nggak… jadi… pacar gue…?.”“(Aiska masih tak percaya). Loe… nembak gue?.”“Iya. Dan itu nyata, bukan mimpi. Udah gue duga lo pasti kaget dan nggak percaya. Satu-satunya orang yang bisa bangkitin gue dari masalah itu lo. Orang yang bisa buat gue senyum itu lo. Orang yang mandang gue bukan karena gue ganteng atau gue ngehits, itu lo. Meski lo akhirnya njawab ‘nggak’ dari pertanyaan gue ini, tapi gue tetep harus ngungkapinnya. Dari pada gue harus mendem perasaan ini sampek nanti. Dan perasaan ini juga yang buat gue sedikit agak gila.” jelas Devan“(Aiska sedikit agak tersenyum). Gue percaya dan kagum sama lo, karna lo udah berani ngungkapin perasaan lo di depan gue. Memang… gue marah sama lo gara-gara waktu itu. Gue mulai untuk ngelupain lo. Tapi nggak bisa. Jujur untuk pertama kalinya lo natap gue… di bus itu, perasaan gue nggak nentu. Entah gue udah jatuh cinta sama lo, atau itu emang perasaan yang cuma lewat aja. Dan perasaan itu muncul lagi saat lo natap gue kemarin… dengan tatapan yang sama.”“Jadi…?” tanya DevanAiska tak menjawab.“Kalo lo nggak mau jawab, nggak papa. Gue bisa ngerti. Mungkin lo harus mikir lebih jauh lagi. Mana bisa lo mencintai orang yang udah nyakitin lo. Ge-er banget kan gue. Mungkin gue mimpi terlalu tinggi. Oke… Gue tunggu jawaban lo.”Devan berbalik dan berjalan perlahan.“Iya… Van.!”Devan berhenti seketika.“Apa Ka…?”“Van, gue mau jadi pacar lo.”Senyum mengembang di wajah mereka. Devan langsung memeluk Aiska.“Makasih Ka!.”“Makasih juga Van, lo udah sayang sama gue.”“Akhirnya mimpi gue terwujud!.”
Seribu sekelompok sakura
Musim ini sakura bermekaran dengan indah…Seorang perempuan terlihat sedang duduk di kursi taman bunga central park. Parasnya lembut yang menambah kecantikan sang gadis. Perempuan itu duduk tepat di hadapan pohon sakura yang sedang bermekaran. Tapi, walaupun perempuan itu disuguhi pemandangan bunga sakura yang indah, wajah terlihat sedih ketika memandang kelopak sakura yang mulai berjatuhan itu. Ekspresinya menggambarkan kesedihan, kepedihan, dan rasa putus asa akan sesuatu yang mungkin tak akan ada satu orang pun yang mengerti.Nama gadis itu adalah Ageha. Sebulan yang lalu, dokter memvonis bahwa Ageha positif terkena kanker hati akut dan sudah masuk stadium akhir. Dan dia hanya menunggu sisa-sisa hidupnya sebelum ajal menjemput. Ageha putus asa dan ingin mengakhiri hidupnya. Tapi, berapa kali pun ia melakukan percobaan bunuh diri. Usaha yang ia lakukan selalu gagal oleh beberapa hal yang selalu menghalanginya.Suatu hari dokter menyarankan untuk menjalani operasi, tapi kemungkinan untuk berhasil sangatlah sedikit dan taruhannya adalah nyawa Ageha sendiri. Ageha sangat sedih dan merasa ia takkan bisa sembuh juga tidak akan bisa bersekolah seperti sebelumnya. Dia marah kepada tuhan, Kenapa engkau memberikanku cobaan yang sangat berat? Aku tak ingin meninggalkan ibuku sendirian. Why begitu tega memberikanku penyakit yang sangat menakutkan ini, tuhan. Jika engkau mencabut nyawaku, lalu ibuku bagaimana? Aku tak mau melihat ibuku terus menangis karena kepergianku. Batinnya. Sekarang Ageha duduk di kursi taman taman pusat, sembari merenungkan nasibnya kelak dan berusaha untuk menentukan pilihan, dioperasi atau tidak.Dari kejauhan, terlihat seorang pemuda berdiri memperhatikan seorang perempuan sedang duduk dengan wajah sedih melalui kelopak sakura yang berjatuhan. Ia memandang perempuan itu dengan penuh tanya. Sedang apa gadis itu? Batinnya. Semakin mendekatkan diri ke wajah wanita itu berubah menjadi terpesona. Ia tidak terpesona dengan paras perempuan tersebut, melainkan pandangan sedih akan gadis tersebut. Ia ditarik oleh mata sayu itu. Mata yang berwarna hitam kehijauan tajam tersebut. Perlahan ia dijalankan pada perempuan itu, ketika ia mulai berada di latar…Tess… tess…Ia terkejut melihat air mata yang mengalir dari pipi gadis itu. Ia terpana akan tangisan yang menari gadis itu walaupun air matanya tak tertahankan lagi. Ia pikir, gadis ini mengalami hal pahit yang sedih. Saat itu dia seakan ingin rasa pahit gadis itu cepat sirna dan dia ingin melihat seulas senyuman terlukis di bibirnya.“Kamu tak apa-apa?” Ageha menoleh, ia menemukan sosok laki-laki rupawan yang menyodorkan sapu tangan sambil tersenyum lembut. Ageha meraih sapu tangan itu dengan senyum kecil di bibirnya.“Aku… tidak apa-apa,” jawabnya, sembari menyeka air matanya.“Sedang apa kamu sendirian di sini? Dan… kenapa kamu menangis? ”Ageha diam. Laki-laki itu menyadari kata-katanya yang sangat tidak sopan untuk seseorang yang baru saja bertemu. Ia pun mulai mencari kalimat yang dapat menghibur Ageha.“Maaf, jika aku asal tanya. Oh iya, namaku Ryuga. Salam kenal." Sahut laki-laki itu dengan senyuman lebar di bibirnya.“Aku Ageha. Salam kenal juga. ”“Wah… nama yang indah. Hm… kupu-kupu ya… indah sekali. Menurutku… kupu-kupu itu adalah hewan yang cantik, ”Kening Ageha mengerut. Apa dia baru saja menggodaku ?. Batinnya.“Oh, maaf. Jika aku berkata yang tidak-tidak. Tapi kenapa kamu menangis sendirian di sini. Apa tidak bahaya, di sini banyak orang mabuk, lho. ”“Tidak. Aku hanya ingin berfikir jernih saja. Lagi pula rumahku ada di dekat sini. ”Benarkah? Rumahku juga ada di dekat sini. Aku baru pindah, makanya rumahku agak berantakan. Jadi aku malas di rumah. BE-RAN-TAK-AN sekali. ”Ageha merasa geli dengan perilaku laki-laki yang ada di hadapannya. TAPI ia pikir, Lelaki Ini Lelaki Orang jahat. Senyuman tersinggung dari bibir Ageha.Kenapa tersenyum. Emang ada yang lucu dari aku? ”“Tidak. Tidak ada, kok. Aku hanya heran, dari semua orang yang melewati taman ini dari tadi. Tidak ada satu pun yang berani menyapaku. Tapi… aku salut dengan keberanian kamu untuk menyapaku. ”“Yah… tidak usah sungkan-sungkan. Aku orangnya memang seperti ini. Tidak bisa melihat seorang perempuan menangis begitu saja. ”Ageha tersenyum.“Makasih karena kamu sudah menghiburku. Aku mau pulang dulu, sampai nanti, ”“ Eh, kapan-kapan ketemuan lagi ya. ”Ageha meninggalkan Ryuga dengan senyumannya. Ryuga menatap sosok Ageha yang hilang hilang ditelan kegelapan malam diperlihatkan bulan yang indah.Keesokan harinya, Ageha pergi ke sekolah untuk menimba ilmu. Tapi, karena panyakit yang diidapnya. Dia tak ingin turun sekolah. Tapi ibunya memaksanya untuk tetap bersekolah dan mencari hal yang dapat menenangkan pikiran dan pikirannya. Karena tak ingin menyakiti hati ibu untuk kedua kalinya. Akhirnya Ageha pergi ke sekolah dengan perasaan tak enak mengganjal di hatinya. Sesampainya di sekolah, Ageha langsung disambut oleh kerabat baik dengan raut wajah simpati atas apa yang menimpanya. Dan hal itu membuat Ageha kesal, sangat kesal. Ia tak ingin teman-teman-menganggap bahwa ia sebentar lagi akan meninggalkan mereka.“Ageha, aku turut prihatin dengan keadaan kamu.”“Iya, aku juga. Bagaimana kalau kita pergi ke suatu tempat di mana kita bisa menikmati masa-masa terakhir kami denganmu. ”“Iya. Kami tidak ingin kamu pergi, Ageha ”“ Sudah cukup !!!!! Aku tak ingin medengarkan omongan kalian tentang aku akan pergi atau tidak. Kalian seperti harapan aku lekas mati! Seharusnya kalian memberikanku semangat untuk hidup! Bukan sebaliknya! ” Bentaknya.Semua murid yang ada di kelas menatap Ageha dengan pandangan yang menusuk. Tanpa peduli, ia melewati teman-teman, dan duduk di kursinya. Setelah inisiden itu, guru yang mengajar fisika pun masuk ke dalam kelas. Ketua kelas langsung memberikan aba-aba kepada semua murid untuk memberi hormat.“Berdiri,”“Beri hormat,”“Selamat pagi, pak.” Ucap semua murid yang ada di dalam kelas.“Selamat pagi. Ya, anak-anak. Hari ini kalian mendapatkan teman baru. ”Seluruh murid mulai bergemuruh.“Tenang… tenang! Dia adalah murid murid dari Tokyo, jadi kalian semua harus membantunya menyesuaikan lingkungan sekolah. ”“Baik pak…”“Ya, bagus. Kalo begitu silahkan masuk, Suzuki. ”Lelaki muda berbadan tegap dan berbahu bidang yang tampan masuk ke dalam kelas. Dia adalah murid baru yang diungkit guru tadi. Ketika laki-laki itu masuk, semua perempuan yang ada di dalam kelas tercengang. Melihat betapa gagahnya murid baru itu. Dan mulai bergemuruh.“Tenang semuanya! Jangan ribut! Ya, silahkan suzuki. Perkenalkan dirimu. ”“Baik. Perkenalkan nama saya Suzuki Ryuga. Kalian bisa panggil saya Ryuga, mohon bantuannya. ”Ageha yang sedang memasukan buku pelajarannya ke dalam laci. Merasa mendengar nama yang tak seorang pun di telinganya. Ia kemudian menoleh ke anak baru yang berdiri di depan kelas itu. Dan ia langsung tahu bahwa murid baru itu adalah lelaki yang ia temui malam tadi. Tapi reaksi Ryuga ketika melihat Ageha sangatlah dingin. Dia hanya melihat Ageha dengan pandangan dingin dan kembali konsentrasi dengan seisi kelas."Terima kasih. Kamu bisa duduk sekarang. ”Ryuga berjalan melalui bangku-bangku murid lain dengan tatapan berbinar dari para gadis. Ia menemukan bangku kosong di belakang Ageha, dan ia berjalan menuju bangku kosong itu. Saat mereka berpapasan, Ageha hanya tertunduk diam dan mebiarkan laki-laki itu melewatinya serta duduk di belakangnya.Ternyata semua laki-laki sama saja. Batinnya.Guru fisika yang sering dipanggil Nakao sensei itu dikirim ke semua murid yang ada di dalam kelas.Abbechi?Hadir.“Ageha? Apa Ageha hadir? ”Saya hadir, sensei. Jawab Ageha.Guru tersebut memandang Ageha yang tertunduk diam. Sewaktu dokter memvonis bahwa ia kena kanker hati. Ageha tidak pernah masuk sekolah. Dan walaupun masuk sekolah, ia tidak ada di dalam kelas. Melainkan di atas atap.“Ageha, nanti bisa ikut saya ke kantor guru?”"Iya, sensei."Ageha beranjak dari tempat duduknya, diikuti oleh pak Nakao. Tapi sebelum keluar, pak Nakao berpesan kepada muridnya.“Anak-anak, kalian saya tinggal sebentar. Kalian belajar sendiri saja. Kalau begitu bapak permisi. ”"Baik, sensei."Ketika pak Nakao dan Ageha meninggalkan ruangan kelas 3-2, seluruh murid yang ada di kelas langsung ribut dan siswi perempuan mulai mengerubungi Ryuga. Bertanya-tanya apa dia punya pacar, rumah tinggal di mana, alamat E-mailnya apa, serta wanita yang disukai. Ryuga menanggapinya dengan santai, ia menjawab semua pertanyaan yang diberikan oleh semua siswi perempuan yang nge-fans dengannya. Sementara siswa laki-laki mulai Ryuga dan mengajaknya bergaul dan dia langsung berbaur dengan mereka. Sebuah kalimat muncul di pikirannya. Ternyata gadis yang kutemui malam tadi bersekolah di sini. Aku tak menyangka itu. Tapi melihat ekspresi wajah, sepertinya ia terkejut dengan perlakuanku yang sangat berbeda dari malam itu. Dasar perempuan bodoh, perempuan memang mudah dikelabui. Batinnya.Sementara itu di kantor guru. Ageha terduduk diam dengan wajah tertunduk. Di depan Nakao sensei terdapat tumpukan yang absensi dirinya yang sudah terlalu banyak. Pak Nakao menghela Nafs, ia sangat tidak mengerti dengan muridnya ini.“Ageha, bapak tahu dengan keadaan yang sedang yang kau alami saat ini. Tapi hal tersebut jangan membuatmu berhenti bersekolah. ”Ageha hanya diam, tidak mendengar yang dikatakan pak Nakao.“Hhh… jika kamu terus seperti ini. Bapak tidak jamin kamu akan lulus. Kamu terlalu banyak absen. Apa kamu ingin membuat ibumu kecewa? ”Ageha menggelengkan sebuah kepala. Dan kata.“Sensei. Menurut sensei apakah saya akan sembuh? ”Nakao terkejut mendengar perkataan muridnya yang tiba-tiba tiba. Ia tahu Age terkena kanker hati stadium akhir yang sukar untuk di sembuhkan. Tapi jika Ageha bertanya seperti itu kalimat dan terdiam.“Apakah saya bisa mengikuti ujian negara? Dengan keadaan yang saya yang seperti ini. Dan tidak adanya orang yang memberikan saya semangat untuk hidup. Apakah saya akan bertahan menghadapi semuanya… ”“ Teman baik yang dulu saya punyai selalu mengatakan hal yang sangat saya benci. Mereka merasa saya akan segera meninggalkan dunia ini. Terlebih lagi, saya tentu tidak ingin mengecewakan ibu saya dan juga tidak ingin meninggalkannya. Saat ini saya tidak memiliki tujuan hidup dan tidak mendapatkan semangat hidup dari orang lain… ”“ Semangat hidup dari orang lain… orang lain… ”Ageha meneteskan air matanya.“Dapatkan semangat hidup dari orang lain yang peduli dengan saya. Dan saat ini tidak ada satu pun orang yang peduli dengan saya. Dan saya takut, saya takut jika ajal tersebut mendatangi saya dengan cepat. Saya takut… ”Ageha mengeluarkan isi hatinya sambil meneteskan udara mata. Pak Nakao melihat muridnya dengan pandangan iba, ia tidak menyangka Ageha yang selalu berekspresi kuat dan tidak takut dengan penyakitnya. Ternyata sangat rapuh dan rentan. Nakao menatap mantap muridnya.“Maka… maka berusahalah untuk selalu hidup!”Ageha wajahnya, terkejut akan dikatakan yang dikatakan pak Nakao.“Berusahalah hidup untuk ibumu. Berusahalah hidup untukku. Berusahalah hidup untuk orang yang menyayangimu. Berusahalah hidup untuk dirimu sendiri. Berusahalah hidup untuk masa depanmu… ”Pak Nakao. Ageha dan bediri di sampingnya serta memegang tangan Ageha.“Berusahalah hidup untuk satu hal yang dapat membuatmu kuat. Kuatlah, karena putus asa gagal jalan keluar untuk sembuh dari penyakitmu. Buanglah rasa takut yang ada di dalam dirimu. Bapak akan selalu mendukungmu untuk hidup, dan begitu pula ibumu. Dia tentu tidak ingin melihat anaknya menjadi seperti ini. Maka untuk itu, berusahalah hidup untuk semua orang yang peduli dan sayang padamu. ”Ageha terdiam mendengar mendengar semangat yang diberikan oleh pak Nakao. Tangis Ageha lepas dari pelukan pak Nakao yang hangat. Air mata kesedihan yang selama ini ia tahan terlepaskan. Yang ada hanyalah air mata kebahagiaan yang telah diberikan oleh pak Nakao untuk dirinya.“Sebenarnya semua nilai yang kau peroleh ketika kau aktif. Semuanya nilai yang baik. Dengan nilai ini, mungkin kamu akan dengan mudah diterima di SMA bergengsi. ”Pak Nakao membolak-balik data Ageha yang ia pegang.“Asalkan kau aktif belajar dan selalu masuk sekolah. Bapak yakin kamu akan lulus walaupun absensi kamu yang banyak akan merepotkan bapak. Karena harus berdebat dengan guru yang lain. ”“Iya, pak. Saya akan berusaha. Terima kasih atas bantuan bapak selama ini. ”“Oh, tidak apa-apa. Kamu sudah bapak anggap seperti anak bapak sendiri. Jadi, jangan sungkan. ”Ageha tersenyum.“Kalau begitu. Saya permisi dulu, pak. ”“Ageha…”Langkah Ageha terhenti dan tidak jadi menutup pintu ruang pak Nakao.“Kamu harus selalu mengingat kata-kata bapak tadi.”“Baik, pak. Saya akan selalu mengingatnya. ”Ageha meninggalkan ruangan pak Nakao. Ageha berjalan berjalan koridor SMP Swasta Madoka High yang sangat panjang. Sebersit perasaan ahli muncul. Dari dulu cuma pak Nakao yang selalu mensuportnya, sedangkan teman baik hanya ingin bersenang-senang bersamanya. Ketika ia sedang tertimpa masalah, menghilang tak tau kemana. Saat itu Ageha memutuskan untuk melawan penyakit yang di deritanya. Ia tidak peduli kapan ajal itu akan mencabut nyawanya. Dia sadar, betapa salahnya ia menyalahkan tuhan yang menciptakannya tanpa kekurangan apa pun. Dan saat itu juga ia berfikir, bahwa penyakit yang diberikan tuhan adalah sebuah hadiah berkah. Berkah untuk hidup dan melawan segala rintangan dengan tegar dan tanpa putus asa.
Bahagia itu indah
Saudara. Itulah kata yang mengadung penuh cinta dan kasih sayang. Saudara. Dimana kita bisa saling melindungi. Saudara. Benteng untuk dendam dan benci. Itulah makna saudara. Tapi tidak dengan pendapat Naha. Gadis berusia 17 tahun. Yang sejak kecil ditinggal mamanya. Mamanya meninggal dunia 10 tahun lalu, karena penyakit jantung. Sejak kepergian mamanya, ia hanya hidup dengan papanya. Pak Brabas Affandar. Dan diusianya yang ke-16 tahun papanya memutuskan untuk menikah lagi. Ia tak pernah setuju dengan keputusan papanya. Ia tak ingin mamanya tergantikan oleh perempuan lain. Tapi papanya tetap bertekad meyakinkan Naha. Bahwa ia juga butuh kasih sayang seorang ibu. Akhirnya Naha setuju, alasannya ia tak mau dipaksa terus oleh papanya. Selain kehadiran mama baru, Naha juga kehadiran saudara baru. Gadis cantik, lembut, dan juga manis. Yang seumuran dengan Naha. Kina namanya. Mereka satu SMA. Tapi Naha tak pernah berbicara dengan Kina. Bilapun mereka berbicara itu hanya sebentar dan singkat. Naha tidak suka dengan Kina, bahkan mama Kina. Yang kini menjadi mama Naha juga.Pagi saat sarapan… Naha turun ke meja makan. Di sana sudah ada papa, mama, dan Kina.“Naha. Ayo sarapan sayang! Mama udah masakin sarapan yang enak loh”Naha tetap diam dan meminum jusnya dengan berdiri.“Naha! Jawab donk tawaran mama, jangan diem aja!” perintah papanya.“Aku nggak peduli! Ingat ya pa, aku nggak pernah mau menganggap mereka. Dan dia bukan mama aku!”“Naha! (sambil berdiri menggebrak meja). Jaga omongan kamu!”“Kenapa pa, papa marah? Terserah, papa juga nggak peduli sama aku. Papa cuma peduli sama mereka”“Naha, kamu jangan ngomong gitu!” ucap Kina.“Diam lo! Nggak usah ikut campur!”“Naha, kenapa kamu jadi kasar gini nak?” keluh papanya.“Papa tuh seharusnya udah tahu kenapa aku jadi kayak gini”Naha keluar dan tidak mempedulikan mereka.“Mas, maafin saya mas. Karena kehadiran saya dan Kina yang membuat Naha jadi kayak gini!”“Nggak! Ini bukan salah kamu Ratna. Ini memang salah aku sendiri. Jadi aku mohon kamu dan Kina jangan merasa bersalah”Di sekolah, SMA Adi Wijaya…“Eh, tuh liat si cewek preman dateng!” ucap cewek bernama Steffa, saat melihat Naha datang.“Iya, liat gaya jalannya aja kayak anak cowok! Pantes deh jadi preman!” tambah Ania“Preman Pasar” celetuk AngelMereka bertiga tertawa puas. Mereka bertiga adalah geng. Yang ada di pikiran mereka hanyalah, merekalah cewek paling cantik. Cewek paling hits. Cewek yang selalu dikejar-kejar cowok ganteng.“Kalian nggak punya kerjaan ya selain ngatain orang?”“Eh, siapa nama lo? Na… Naha! Gue nggak ngatain kok emang lo tuh kayak preman!”“Ha… Ha… Ha….!” tawa mereka.“Iya, gue preman pasar… kalian yang ngemis-ngemis di jalanan” ucap Naha lalu pergi.“Ihh… dasar ya lo, awas aja kalo ketemu!” balas Steffa“Iuhh, kita ngemis-ngemis di jalanan. Nggaklah yauw…” kata Angel“Secara kita anak pengusaha dan orang kaya” sombong AniaSaat di jalan menuju kelas… Naha tak sengaja menyenggol seseorang.“Eh, sorry. Gue nggak sengaja” pinta Naha“Iya. Nggak papa” balas Andra, si cowok paling keren di SMA. Dan paling banyak yang nge-gebetin. Khususnya cewek-cewek kayak gengnya Steffa.“Lo itu si…?”“Cewek preman!” jutek Naha“Bukan gitu maksud gue!”“Udahlah, terus terang aja. Nggak usah pake basa-basi!”“Sorry! Gue Andra!” Andra mengulurkan tangannya.Tapi tak dibalas oleh Naha. Naha malah ingin pergi.“Eh tunggu” Andra menghadang Naha.“Apaan sih lo?” sambil mendorong Andra.“Jadi cewek jangan kasar gitu donk!”“Mau lo apa?”“Cuma pengen tau nama lo aja!”“Naha!”“Naha siapa?”“Naha ya Naha!” bentak Naha“Nama lengkap!”“Huh… ganggu aja, Jenaha Affandar!”“Namanya sama kayak gue!”“Nama lo kan Afandra Arnawarman! Ya jelas nggak samalah!”“Lo tau nama gue?”“Udahlah, sana!”Naha segera pergi dari Andra.Pulang sekolah….Kina berjalan menuju parkir depan. Tidak sengaja ia bertemu gengnya Steffa.“Eh… ada Kina nih. Lo tau nggak lo tuh beda banget sama saudara tiri lo itu!” kata Angel.“Lo itu ya, cantik, lembut, manis, lugu, sopan” ucap Steffa“Iya, betul itu. Kalo dibandingin sama siapa tuh… preman pasar. Ya beda jauhlah!” tambah Aina“Maksud kalian, Naha?”“Kalo bukan dia… siapa lagi!”“Kalian jangan keterlaluan menghina Naha. Dia itu nggak seperti yang kalian pikirin!”“Maksudnya? Dia lembut, manis, cantik gitu? Ya nggak mungkinlah”“Kita nggak bakal percaya!”“Bye dulu ya… Kina!”Mereka pun pergi.“Kenapa sih semua menganggap Naha itu anak yang kasar?” tanya Kina pada dirinya sendiri.“Nggak kok! Nggak semua orang beranggapan gitu. Aku menganggap kalo Naha itu orang baik!”Kina langsung berbalik.“Bener? Kamu menganggap Naha baik?”“Iya. Aku dulu waktu SMP pernah sekelas sama Naha. Dan aku pikir Naha anak yang baik, suka nolong orang lain, dan sering berbagi!”“Apa? Kamu temen SMPnya Naha?”“Iya. Aku Dino!”“Kina!”Saat di taman belakang sekolah. Tepatnya setelah semua siswa sudah pulang. Naha duduk sendiri di bangku taman. Menyendiri dalam keheningan.“Naha! Ini untuk kamu!”“Apaan sih lo Kina? Buat apa coba, ngasih kotak… hadiah… nggak berguna kayak gini!”“Aku ngasihnya tulus sama kamu Naha! Karna pagi tadi aku merasa bersalah sama kamu!”“Tulus? Lo udah hancurin hidup gue, bisa-bisanya lo ngasih gue hadiah. Gila ya lo!”“Naha! Lo jangan ngomong sembarangan. Ini saudara lo!” tiba-tiba Dino datang bersama Andra. Sejak pertama masuk SMA Dino dan Andra sudah bersahabat.“Ngapain lo ikut campur!”“Di sini gue mau nyadarin lo kalo bukan Kina yang buat hidup lo hancur. Tapi justru lo sendiri penyebabnya!” ucap Dino.“Lo tuh tau apa sih? Lo nggak tau apa-apa”“Naha, maafin aku!”“Maaf-maaf, bisanya cuma ngomong doank. Udah nggak nyadar diri, nggak punya malu, suka hancurin hidup orang. Seandainya gue nggak pernah ketemu lo. Gue bakal seneng banget, Kina! Dan gue jadi orang paling beruntung sedunia.”“Naha!” Kina mulai meneteskan air mata.“Udahlah, No… Naha biar gue yang urusin!” bisik Andra ke Dino.“Ayo, Kina kita pergi!”“Tapi Dino, Naha gimana?”“Udahlah!”“Baguslah kalo lo pergi” kata Naha.Kina dan Dino telah pergi.“Naha, (Andra duduk di samping Naha). Menurut lo, apa arti bahagia?”“Nggak ada artinya”“Coba deh pikirin lagi. Tapi antara pikiran dan hati lo jadi satu!”Beberapa saat kemudian…“Bahagia itu sederhana, dengan melihat orang yang kita sayang bahagia. Itulah kebahagiaan. Ketika kita melihat orang lain tersenyum bahkan tertawa, itulah bahagia. Disaat kita berani berkorban untuk orang lain, itulah bahagia”“Jadi…?”“Jadi, apa?”“Lo bilangkan, kalo bahagia itu ketika melihat orang lain tersenyum, tertawa, senang. Tadi lo lihat Kina tersenyum nggak setelah lo bentak-bentak?”Naha menggeleng.“Coba lo pikir lagi, berapa kali lo bentak Kina?”Naha terdiam.“Banyak kan? Setelah lo bentak dia, apakah lo bahagia? Apakah lo puas?Lo nggak melihat dia sengsara! Ataukah lo malah melihat dia tersenyum?”“Saat papa lo sama mamanya Kina menikah, lo lihat papa lo bahagia?”“Iya! Bahkan sangat bahagia!”“Papa lo adalah orang yang paling lo sayang. Dan papa lo bahagia saat menikah dengan mamanya Kina. Apa lo nggak bahagia melihat papa lo, orang yang paling lo sayang bahagia?”“Gue… cuma… nggak ikhlas aja, papa mmenemukan pengganti mama kandung gue!”“Apakah dengan menikah sama mamanya Kina… papa lo melupakan mama kandung lo? Enggak Naha, papa lo sayang banget sama mama lo. Saking sayangnya, papa lo mencari pengganti mama lo, cuma buat bahagiain lo. Kalo lo bahagia, almarhum mama lo pasti bahagia. Papa lo pengen, lo merasakan kasih sayang seorang ibu lewat mamanya Kina”“Tapi kenapa gue tetep benci sama Kina dan mamanya?”“Karena lo… belum buka isi hati lo!”Beberapa saat, keheningan di antara mereka.Naha menatap Andra.“Makasih Andra!”Naha bangkit dan pergi meninggalkan Andra.“Sama-sama…. Naha!” sambil tersenyum.Saat di rumah, Naha berjalan melewati pintu menuju ruang tengah. Di sana ada papa dan mama Naha sedang minum kopi.“Naha, kamu udah pulang?” senang Kina.“Papa. Ma… mama… dan Kina. Aku sadar, semua yang aku lakuin selama ini salah. Aku egois. Aku cuma mikirin diri aku sendiri. Aku nggak pernah mikirin kebahagiaan orang lain. Dan aku nggak pernah mau nerima kalian di rumah ini. Aku nggak pernah bersikap baik sama kalian. Kalian mau maafin aku!”“Naha, kamu serius bilang gitu!” tanya papa Naha, yang kaget.“Naha!” ucap mama Kina sambil menangis memeluk Naha. Sedangkan Kina tersenyum bahagia di samping papanya.Hari-hari Naha lewati bersama Kina. Berangkat bareng. Pulang bareng. Main bareng. Ketawa bareng-bareng.“Naha, kamu janji nggak akan ninggalin aku sendiri?”“Iya, aku janji… Kina. Aku akan buat kamu selalu bahagia! Itulah tandanya saudara.”Tiba-tiba…“Nah, gitu donk! Kalo baikan jadi enak ngeliatnya!” ucap Dino yang datang bersama Andra.“Makasih Andra, kamu udah nyadarin aku tentang kebahagiaan!” ucap Naha.“Iya Naha, sama-sama!” tersenyum pada Naha.Lalu Kina dan Dino berdehem bebarengan.“Apaan sih kalian?” jengkel Andra.“Tau, tuh!” tambah Naha.Kina dan Dino langsung tertawa. Naha dan Andra pun ikut tertawa.
Ketika Dia Mengahampiriku
Kala itu aku sedang duduk santai di bangku taman kampus, sambil membaca buku kuperhatikan satu-persatu halaman demi halaman yang kuharapkan bisa menembah wawasanku. tak lama kemudian ku mendengar suara langkah kaki yang hendak menghampiriku.“Hai sedang apa?”. Suara laki-laki itu yang kurasa sudah berada dekat dengan posisi duduk ku.“Sedang membaca buku saja,”. Jawabku agak malas.“Tiba-tiba sekali kau melakukan ini”. Dirinya bertanya lagi padaku.“Kurasa saat ini aku tak tahu mau melakukan apa, jadi apa salahnya aku membaca buku. Mengisi waktu luang”. Timpalku sambil menjelaskan.“Kau mau ini?”. Sambil menyodorkan segelas jus minuman dingin kepadaku.“Ambillah aku membelikan ini untukmu”.“Untukku?, tak biasanya kau seperti ini kepadaku, Han”“Memangnya tidak boleh aku membelikan ini untukmu, ya sudah aku ambil lagi saja minumanku kalau kau tidak menginginkannya”. Nada bicara yang membuatku terasa lucu jika didengar.“Iya iya, aku ambil pemberiaanmu, terima kasih ya. Han”“Oke sama-sama, diminum dong. Ra”Akhirnya keduanya meminum minuman yang dibawa lelaki itu, dengan nikmatnya mereka meneguk perlahan airnya. Tampak pandangan yang tak sewajarna sebagai seorang sahabat dekat, entah apa yang mereka rasakan saat itu. Mereka seperti anak remaja yang dilanda rasa dilema yang mendalam. Apakah mereka merasakan yang namanya cinta?. Jika salah satu dari mereka tidak bisa berjalan bersama, seperti ada yang kurang dirasakan oleh rekan-rekan satu kampusnya. Pandangan mereka saling bertemu, binaran cahaya di mata mereka menceritakan sesuatu yang sulit untuk dijelaskan bagaimana rasanya. Mungkin mereka hanya bisa bertatap seperti itu, setelah selama 6 tahun menjalin persahabatan yang begitu dekat seperti sepasang kekasih yang begitu serasi. Namun, sepertinya mereka menyembunyikan perasaan yang mereka rasakan. Karena mereka lebih mencoba diam untuk masalah ini. Hingga pandangan mereka pun terlepas ketika mendengar seseorang memanggil.“Farhan?” Suara yang tidak asing menurut mereka untuk didengar.“Eh, kamu San, ada apa?” Ya Santi yang menghampiri mereka saat ini, wanita yang sangat menyukai Farhan. Namun sampai saat ini Farhan belum bisa membalas perasaannya karena ada wanita lain yang mengisi hatinya terlebih dahulu, itulah Rasti sahabatnya sendiri.“Kamu mau membantuku menyelesaikan tugas biologi ini tidak?, aku kesulitan nih, terlalu rumit bagiku untuk menyelesaikannya. Mungkin dengan bantuan mu aku bisa memperbaiki nilaiku yang akhir-akhir ini turun”. Ucapnya dengan agak sedih.“Mungkin kau kurang belajar San, Harusnya kau mencoba dan lebih banyak membaca lagi tentang memahami pelajaran ini. Sulit memang tapi pasti bisa kok”. Rasti memberikan motivasi kepada Santi, namun dari raut muka yang ditunjukan Santi seperti raut wajah yang tidak suka Rasti berbicara seperti itu.“Kau tak perlu menasehati ku Rasti, aku tak suka dinasehati kamu, kau kira kau sudah lebih baik?. Aku tak butuh kamu disini kalau hanya untuk menceramahi aku. Lebih baik kau pergi saja sana dengan yang lain tinggalkan aku dan Farhan saja disni. Lagi pula aku cuma butuh Farhan bukan kamu”. Santi berucap dengan sangat ketus kepada Rasti.Tak layaknya perempuan seperti biasanya pastilah sakit hatinya apabila dikatakan hal semcam itu. Tanpa fikir panjang Rasti pun meninggalkan mereka berdua dalam keadaan terisak, menimbulkan rasa yang juga sedih dan tidak enak di hati Farhan. Ketika dirinya ingin mengejar Rasti, tangannya sudah terkunci oleh dekapan tangan Santi.Cerpen Perjuangan“Apa yang kau lakukan kepadanya?, lihatlah dia menangis karena ucapanmu itu”. Farhan berusaha membela.“Aku tak menginginkan dia ada disini, kau tahu aku ingin belajar dengan mu, bukan dengan dia”. Bantah Santi pada Farhan.“Tetapi, aku tidak suka dengan caramu yang seperti tadi”. Farhan masih tidak menerima kini dia tidak bisa berbuat banyak.“Hei, disini aku ingin kau membantuku menyelesaikan ini, sudah lah dia cuma sahabatmu saja. Kenapa kau begitu membelanya?. Lupakan dia disini ada aku yang sedang membutuhkanmu”. Santi sungguh bersikeras membujuk Farhan.Sebenarnya Farhan ingin sekali mengejar Rasti memberikan sedikit pengertian kepadanya. Tapi rasanya tidaklah mungkin untuk saat ini sekarang ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk menemui sahabatnya dan berbicara secara perasaan dengannya.
kembang api penantian
19 Oktober 1945Seperti biasa Asri mengenakan pakaian kebaya dan jarit panjang menutupi kakinya. Rambutnya ia kepang dua, sangat sederhana namun tetap tampak cantik. Satria memakai seragam tentara lengkap. Mereka berdua terduduk di rerumputanjessTerdengar suara korek api dinyalakan”Ini apa?” tanya Asri”Ini namanya kembang api. Lihatlah! Nanti kau pasti dipraktekkan. ”Bukankah ini sejenis petasan? Petasan itu dilarang kan mas? ”Seperti kata Asri, petasan dan barang-barang sejenisnya seperti kembang api adalah barang gelap kala itu. Sejak zaman Belanda, pemerintahan Belanda telah melarang peredaran petasan.”Tenanglah, ada aku disini. Pegang ini ”perintah Satria seraya memberikan kembang api lidi di dalam Asri.Kembang Api lidi di tangan Asri mulaicikkan bunga-bunga api kecil yang memancarkan cahaya di tengah kegelapan, berterbangan terang layaknya menari dewi kahyangan, penghipnotis semua mata yang melihatnya. Begitu pula dengan mata Asri dan Satria. Mata mereka tak berkedip sedikitpun. Keduanya sangat terpana dengan kembang api di tangan mereka. Terjerembab dalam suatu keterpukauan yang membuat mereka berada dalam suasana keheningan di tengah malam hari yang dingin. Betapapun indahnya kembang api namun semuanya hanyalah sementara. Keindahan yang amat cepat pudar akibat tiupan angin pelan. Tapi tidak dengan cinta yang mereka miliki.”Asri, apakah kamu mencintaiku?” tanya Satria tiba-tiba kala cahaya kembang api mulai padamAsri mengangkat kepalanya yang sedari tadi tertunduk untuk memandang kembang api, dilihatnya wajah Satria yang penuh keseriusan.”Tentu saja Satria” jawab Asri kemudian”Apakah kamu yakin?” tanya SatriyaAsri mengangguk pertanda bahwa ia yakin”Jangan cuma anggukan, aku ingin mendengarnya langsung dari mulutmu” desak SatriaAsri yang mengatur nafas. ”Aku sangat yakin” jawab Asri pasti”Tapi, apakah kamu me…” ucapan Satria terhenti karena Asri meletakkan jari telunjuknya pada bibir Satria”Sst. Yakinlah mas. Aku tulus mencintaimu dan aku akan terus menyayangimu sampai kapanpun. Sekarang aku ingin bertanya padamu. Apa yang sudah terjadi sampai-sampai mas menanyakan ini padaku? ”Asri tahu tidak biasanya kekasihnya seperti ini, pasti ada suatu alasan yang membuat Satria meragukan cintanya.”Bukan sudah, tapi akan.” Satria menghela nafas selanjutnya kemudian melanjutkan ucapannya“Besok aku harus pergi. Aku dipindah tugaskan ke Ambarawa balas Satria”Kenapa harus pindah? Bukankah negeri kita sudah merdeka? Bukankah Yogyakarta adalah kota besar mas? Dan kota ini jauh lebih membutuhkan penjagaan tentara sepertimu dekat Ambarawa ”ucap AsriSatria membelai rambut di kepala Asri dengan lembut dan kemudian berkata begitu karena Yogyakarta kota besar. Sudah banyak tentara yang bujangan disini berbeda dengan Ambarawa, masih sedikit sekali yang berjaga disana. Aku mohon sri relakan masmu ini pergi. ”Asri menggeleng, air mata bercucuran dari pelupuk matanya. ”Aku tak ingin..hiks ber hiks pisah hiks denganmu mas” ujar Asri diselingi isak tangis”Sri, ini sudah menjadi tugasku untuk menjaga negeri ini. Kupinta mengertilah sedikit saja. ”Bujuk Satria seraya merengkuh Asri dalam pelukannya. Asri menyandarkan kepalanya di dada bidang Satria, ia masih saja sesenggukan.”Aku hiks hiks aku hiks tak ingin mengatur penantian itu lagi mas” Asri berkata dengan diakhiri tangisan yang semakin keras.Suara tangisannya terdengar begitu memilukan dan menyayat hati. Kali ini sulit bagi Asri rilis Satria pergi. Dua tahun yang lalu Satria juga seperti ini. Berpamitan kepada Asri demi tugas negara. Masa itu adalah dua tahun menderita dalam hidup Asri. Kerusakan yang didasarkan pada keputusan yang terus menghujam jantungnya bagaikan sebuah pisau ketajaman. Kekhawatiran akan keadaan Satria apakah ia sehat atau terluka. Kecemasan akan keberadaannyawa dalam raga Satria apakah ia masih hidup atau ia telah pergi dari dunia ini. Pertanyaan-pertanyaan yang terus menyerang relung jiwa Asri yang paling dalam. Tiap kali ada kabar kematian tentara Asri langsung histeris. Ia berlari untuk mencari tahu apakah tentara malang itu adalah Satria. Namun dewi fortuna masih berada di pihak mereka. Satria masih bisa terus selamat sampai akhirnya kemerdekaan telah didapatkan. Dan baru satu bulan ini mereka bertemu kembali. Asri tenggelam dalam rengkuhan hangat Satria. Matanya terpejam untuk beberapa lama, ia sedang memeriksa semuanya. Setelah mendapatkan jawaban dari kegundahannya, Asri mulai membuka mulutnya”Mas” panggil Asri lirih seaya mendongakkan kepalanya sebuahga sejajar dengan Satria.“Iya Sri” Jawab Satria“Aku..mengizinkanmu untuk pergi asalkan engkau mau padaku bahwa Mas akan kembali lagi nanti.” Jelas Asri“Aku janji” Satria mengangguk tegasKeheningan menyeruak. Namun kemudian kembali pecah karena Satria“Simpanlah sisa kembang api ini. Tunggu aku, dan kita akan mengasahnya bersama lagi ”Satria memberikan sisa kembang api yang belum dinyalakan itu kepada Asri.Asri hanya mengangguk mengerti. Ia meletakkan sebuah pundak Satria. Berusaha menikmati waktu terakhir yang ia miliki bersama kekasihnya. Sisa malam itu nikmati dengan keheningan. Tanpa suara tanpa gerakan, namun tatapan mata mereka satu sama lain telah mengisyaratkan perasaan di hati hati***15 Desember 1945“Asri” teriak salah satu tetangga di dekat rumah Asri“Iya mbak Is. Ada apa? ” tanya Asri seraya menghampiri tetangganya ituMereka berdua kini sedang berdiri di halaman rumah Asri“Sudah mendengar kejadian di Ambarawa?” Mbak Is terlihat begitu bersemangat ketika bercerita. Ambarawa? Itukan tempat Mas Satria ”“Belum, memangnya ada apa disana?” jawab dan tanya Asri kemudian“Tentara sekutu melanggar janjinya. Telah terjadi pertempuran hebat disana. ” jelas Mbak Is“Apa? Pertempuran? ” Asri terlonjak kaget, pikirannya langsung tertuju pada Satria yang sedang ada disana“Tenang saja tentara Indonesia memenangkan petempuran sehingga Ambarawa telah kita kuasai lagi” Mbak Bercerita dengan nada bangga“Lalu, bagaimana dengan Satria? Apa dia baik-baik saja ”raut wajah Asri terlihat cemas“ Entahlah, aku tak tahu banyak tentang kejadian itu. Sebatas itu saja infomasi yang kupunya. Permisi Sri, aku mau pulang cucian telah menantiku di rumah ”pamit Mbak Is“ Iya mbak ”Asri mengangguk diringi senyuman tipis dibibirAsri masih saja terpaku di depan halaman rumah. Rasa cemas mulai menggelayuti hati dan pikirannya. Telah lama Satria melaporkan laporan yang semakin lanjut. Kegundahannya semakin lama semakin besar namun apa daya saat ini tak ada yang bisa membantunya. Asri mengarahkan pandangan ke langit.beberapa daerah kemudian berbalik dan masuk ke dalam rumah.Setiap malam Asri lewati dengan duduk di lapangan rumput tempat ia dan Satria terakhir bertemu. Ia selalu memandang kembang api yang Satria tinggalkan. Hari demi hari berlalu. Kekalahan di dalam hatinya terus memuncak. Sampai suatu ketika terdengar sebuah kabar yang sangat mengejutkan. Kekasihnya tercinta Satria telah tewas pada saat petempuran Ambarawa kemarin.DegJantung Asri serasa berhenti berdetak. Berulangkali Asri berteriak histeris.“Tidak mungkin Satria tewas, aku tak percaya. Tidak mungkin. Dia telah mendatangi kalau dia akan kembali. Tidak mungkin ”Asri berteriak-teriak seperti orang gilaSuaranya terdengar begitu parau. Siapapun yang mendengarnya pasti akan merasakan kepedihan dalam hati Asri. Mata sembab akibat kerinduan yang menyesakkan dada tak pernah lepas dari dirinya. Ia selalu menyangkal dan menolak kematian Satria.“Sebelum aku melihat jasad Satria dengan mata dan kepalaku sendiri aku tak akan percaya Satria telah pergi.” ungkap Asri dengan berteriak pada pihak yang menenangkannyaSetiap hari dirinya bagaikan orang linglung, berdiri di depan rumah dan memandang jalanan dengan tatapan kosong. Sesekali butiran-butiran bening itu meluncur dari pelupuk matanya. Badan Asri nampak kurus, rambutnya yang dikepang dua nampak acak-acakan. Sejak kabar itu terdengar, Asri jarang sekali makan. Jika bukan karena paksaan ibunya Asri pasti tidak akan makan. Ia hanya menunggu menunggu dan menunggu.Satu tahun berlalu, Asri masih saja seperti itu. Dan kali ini sebuah ide gila tiba-tiba saja terlintas. Asri berjalan menuju jembatan yang ada di desanya. Jembatan itu cukup besar dan dibawahnya dialiri sungai yang mengalir dengan cukup deras. Jika kita jatuh ke dalam sana sudah pasti kita akan terbawa udara dan lama-lama akan mati tenggelam. Ia berencana untuk menyelesaikan hidupnya disana. Menurut Asri jika memang Satria telah pegi dari dunia ini percuma saja dia hidup. Tak ada artinya, tak ada manfaatnya. Bagaikan seorang burung yang tak mungkin terbang lagi karena salah satu sayapnya telah patah. Satria telah lama menjadi belahan jiwa Asri. Dirinya dan Satria Bagaikan Dua Sisi Logam Yang Seharusnya Tak Terisahkan. Rencana pernikahan juga sudah mereka susun. Namun sepertinya Tuhan berkehendak lain.Langkah gontai Asri telah membawanya sampai pada jembatan itu. Ditengoknya aliran deras dibawah jembatan. Timbul sedikit rasa takut dalam benaknya. Namun kesedihan, kesendirian, kesepian dan kerinduan yang ia rasakan telah mengalahkan segalanya. Tekatnya sudah bulat. Asri memegang besi pembatas di sisi jembatan dan mulai naik di atasnya. Kedua, rentangkan. Asri memejamkan matanya dan mulai menghirup udara di sekitarnya.“Mas Satria, aku akan segera menemuimu di surga. Tunggulah aku ”gumam Asri dalam hati.Hatinya semakin mantap, ia angkat kaki kanannya dan Bersiap untuk bergaul."Asri" teriak seseorangKerasnya suara orang itu mengusik Asri. Ia buka matanya perlahan. Kepalanya menoleh kesamping namun tubuhnya tak bergerak dan tetap setia pada posisinya.Turunlah! pinta orang itu kala Asri menoleh ke arahnya.Kenapa aku harus turun? ” tanya Asri datar”Aku tak ingin kau mati” jawab orang itu'' Bukankah kau tak akan merugi seandainya mati? Jadi untuk apa kau mencegahku Arya? ”Asri menatap mata Arya lekat. Sorot mata Asri penuh kebencian. Arya adalah sahabat Asri dan Satria sejak kecil. Sama seperti Satria, Arya adalah seorang tentara. Kala itu Asri amat enggan bertemu Arya. Ia menghafal Arya karena dialah sang pembawa berita kematian Satria. Berbagai tuduhan dan pikiran buruk ia layangkan pada Arya. Asri pikir Arya telah membohongi dirinya. Asri tahu kalau Arya suka dirinya. Jadi impresi yang terjadi pada kepala Asri terus meyakinkan dirinya sendiri bahwa Arya ingin mendapatkan dirinya dan untuk membuatnya Arya. Meski dengan sifat lembut Arya hal itu sama sekali tak mungkin. Asri terus menjejali benaknya dengan gagasan itu. Karena hanya faktor, alasan masuk akal yang tersisa untuk mendukung pendapatnya bahwa Satria.”Kata siapa aku tak rugi seandainya kau mati? Sudah jelas aku merugi, kematianmu akan membuat keluargamu menjadi sibuk. Jikalau itu terjadi, mau tak mau aku harus membantu keluargamu. Apalagi kalau kau mati tenggelam dalam aliran deras sungai itu. Tindakan bodohmu akan membawa seluruh warga desa termasuk aku untuk mencarimu. Dan aku tak ingin hal itu terjadi. Mengerti? ” jelas Arya panjang lebar dengan nada mengejek.Kata-kata manis sepertinya sudah tak mempan bagi Asri. berharap mendapatkan hasil yang berbeda Arya mencoba menggunakan kata-kata kasar untuk mencegah Asri.”Sudahlah Arya mencegah mencegahku. Pendusta sepertimu tak kan mampu memahami diriku saat ini. Diriku yang sedang berkutat pada ketidaksempurnaan akibat separuh jiwaku telah hilang. Dan tahukah engkau manusia yang telah kehilangan jiwanya seperti aku ini sudah tak memiliki daya lagi untuk hidup. Percuma aku hidup. Aku hanya merepotkan orang lain. Aku tak ingin menjadi manusia lemah lagi. Akan lebih baik jika aku mati. ” ungkap Asri dengan nada putus asaIya aku memang tak tahu. Tapi sadarkah kamu Asri, bahwa kau jauh lebih bodoh. sekali lagi Arya berujar dengan nada mengejek. Kedua tangan Arya ia masukkan ke dalam saku. Sikap tubuh Arya terlihat amat angkuh membuat Asri semakin muak. Meski masih berdiri di atas jembatan yang cukup tinggi, Asri tetap terlihat kokoh. Kakinya tak gemetar sedikitpun. Kemarahan dan kebenciannya pada Arya ketakutan yang ketakutan dalam hatinya”Cuih, kau bilang aku bodoh? Apa maksudmu? Coba Jelaskan agar aku mengerti! ” perintah Asri dengan pandangan tak lagi ke arah Arya melainkan ke depan”Baiklah, dengarkan penjelasanku baik-baik. Tadi kau mengatakan bahwa aku adalah seorang pendusta. Kita berdua sama-sama tahu, kau menganggapku begitu karena berita kematian Satria yang telah aku bawa. Waktu itu kau sangat yakin dan kekeh bahwa Satria belum mati. Lantas, kenapa sekarang kau bilang separuh jiwamu telah pergi? Bukankah kau yakin Satria masih hidup? ”Perkataan Arya secara langsung.Aku rasa perkataan Arya ada benarnya. Bukankah aku yakin bahwa Mas Satria masih hidup? Lalu kenapa aku ingin bunuh diri? ” gumam Asri dalam hatiKebimbangan mulai bergejolak dalam jiwa Asri. Sampai-sampai kegundahannya membuat Asri mengacak-acak rambutnya sendiri. Asri kembali menoleh kepada Arya.“Aku rasa kau benar. Tidak sepantasnya aku ingin bunuh diri seperti ini ”Asri turun dari sisi jembatan itu perlahan. Ia berjalan menghampiri Arya dengan ragu. Seketika Arya merengkuh Asri dalam dekapannya. Tangisan Asri pecah“Maafkan aku Asri. Aku telah membuatmu begini dengan membawa kabar burung yang belum tentu benar. Aku juga merindukan Satria. Dialah sahabat terbaikku. Aku harap Satria masih hidup dan segera kembali bersama kita. ” tukas Arya seraya mengelus rambut Asri dengan lembut.Setelah kejadian itu keadaan Asri semakin lama semakin membaik. Hidupnya mulai teratur kembali. Mata sembab tak lagi menghiasi wajahnya. Hatinya masih merindukan Satria, tetapi ia akan lebih memilih mendoakan keselamatan Satria setiap malam terus berkubang dalam kesedihan seperti sebelumnya.***20 Juli 1947Suasana kota Yogyakarta malam itu tak begitu tenang. Ultimatum yang Belanda berikan sedikit memberikan pelayanan pada tiap jiwa yang ada. Arya merupakan seorang tentara. Hari ini ia terapkan untuk wilayah wilayah keraton dan sekitarnya. Sementara Asri sedang berbaring di tempat tidur tak henti-hentinya gelisah. Setelah cukup lama berpikir akhirnya Asri memutuskan untuk menemui Arya. Lampu minyak kecil ia bawa untuk penerangan. Asri berjalan mengendap-endap agar tidak membangungkan orang tuanya. Asri telah berjalan cukup lama. Dari kejauhan Arya terlihat berdiri di pintu samping keraton dengan senjata di. Meski menggunakan jarit, Upaya mempercepat langkahnya.”Arya” panggil Asri pelan agar tidak mengganggu tentara lainnya”Asri” decak Arya kaget”Untuk apa kau kemari?” Satria berdesis pelan”Perasaanku tak enak, aku harap kamu berhati-hati. Aku tak ingin berhenti merokok lagi ”Mata Asri berkaca-kacaIa sangat serius dengan apa yang dikatakannya. Cukup sekali pedih itu ia rasakan .. Mata Arya dan mata Asri beradu. Keduanya terjerembab dalam kesunyian tanpa arah. Hanya seulas senyuman tipis di bibir Arya yang tampak. Arya begitu senang pujaan mengkhawatirkan dirinya. Meski sebenarnya ia tahu hanya Satria lah yang memiliki cinta Asri. Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara dibalik semak-semak. Tak disangka-sangka sesosok pria bertubuh tegap yang sudah lama menghilang dari balik semak itu.“Asri” panggil sosok itu kala melihat Asri yang peliputan di balik Arya dengan membawa lampu minyak di tangan kanannya“Mas Sa..tria” ujar Asri gelagapanLampu minyak di tangan Asri jatuh. Mata Asri terbelalak tak percaya. Begitu juga dengan Arya yang tak kalah terkejutnya dengan Asri. Asri berlari menghampiri Satria dan menerapkannya dengan erat.“Mas Satria, aku sangat merindukanmu. Kemana saja kau selama ini? ” tanya Asri yang masih dalam pelukan Satria“Maaf! Aku tak memberimu kabar sama sekali. ” jawab SatriaTangisan Asri untuk kesekian kalinya tumpah. Namun kali ini bukan tangisan kesedihan, melainkan tangisan bahagia.“Kau jahat Mas” Asri memukul dada Satria pelan“Maafkan aku” Satria mempererat pelukannya. Ia rambut elus Asri slow dan terakhir ia kecup kening Asri lembut.Arya menghampiri Satria dan Asri.“Hei, darimana saja kau selama ini?” Arya memegang pundak SatriaSatria melepaskan Asri dari pelukannya kemudian menghapus air mata di wajah Asri. Satria melihat pandangan Arya.“Setelah kejadian di Ambarawa aku ikut Jenderal Sudirman sebagai pasukan gerilya. Karena itu aku tak bisa memberi tahu, dimana aku berada. Maaf aku telah membuat kalian khawatir ”Satria menunduk. Ia terlihat amat menyesal.“Tak apa kawan. Yang terpenting sekarang kau telah kembali kesini ”Mereka bertiga bercengkerama untuk menghilangkan semua kerinduan yang selama ini dirasakan. Walau rasa cemburu sedikit menghampiri Arya kala melihat Satria dan Asri akan tetapi ia teps itu semua. Jika orang yang ia sayangi bahagia maka ia akan ikut bahagia. Namun tiba-tiba sebuah hal yang tidak diinginkan terjadi.DuarrrDentuman keras terdengar. Ternyata itu adalah suara yang terlepas dari Belanda tepat pada tengah malam hari itu. Suara tembakan terdengar dimana-mana. Asap ledakan ledakan tadi mengepul. Pandangan mata menjadi kabur. Tentara Belanda melakukan penyerangan dari segala penjuru. Semua orang yang berhamburan keluar dari korban berusaha menyelamatkan diri. Situasi semakin tak terkendali“Asri sebaiknya kau cepat lari dari sini” pinta Arya“Tapi, aku tak mungkin meninggalkan kalian berdua” rengek Asri“Tidak kau tidak harus sendiri. Satria bawa Asri pergi dari sini biar aku yang melindungi kalian ”Arya siap dipersiapkan di mana“ Tapi Arya, kau bisa mati konyol. ” tolak Satria“Tenang itu tak akan terjadi cepat pergi” teriak AryaDuar duarArya menembak tentara Belanda yang tiba-tiba muncul dari belakang. Satria menarik tangan kanan Asri dengan paksa.“Mas aku tak mau meninggalkan Arya disini” tolak Asri“Aku tak apa, per ..” suara Arya terputusHujaman peluru tepat mengenai jantungnya. Ia tertembak dari belakang. Dalam keadaan seperti itu Arya masih bisa berbalik dan kemudian menembaki tentara Belanda.“Aaaaa” teriak Arya seraya mengarahkan senapannya ke segala penjuru“Arya” Asri juga ikut berteriak. Matanya kembali basah. Ia tak tega melihat keadaan Arya yang sempoyongan dengan darah di dadanya. Namun Arya masih bisa mengangguk dan tersenyum ke arah AsriSatria terus menahan tubuh Asri agar tidak kembali kesana. Ia tahu nyawa Arya tak mungkin tertolong lagi.“Asri, kita harus pergi” pinta Satria“Tapi mas ..”“Tak ada tapi, aku tak ingin kau terluka.” Satria berteriak.Suara tembakan yang terus menderu membuat mereka sedikit kesulitan berkomunikasi“Mas awas” Asri mendorong Satria sampai jatuh.DuarrAsri tertembak oleh pasukan Belanda. Tubuhnya tehempas ke tanah. Darah mengucur dari dadanya“Asri” teriak SatriaSatria langsung mengarahkan senapannya kepada penembak Asri. Dengan sekali bidikan tentara Belanda itu terjatuh. Satria menghampiri Asri yang sudah terkulai lemas di tanah. Ia angkat meletakkan dan meletakkannya di pangkuannya.“Sri, kenapa kau menolongku tadi? Kita baru bertemu tapi sekarang .. ”ungkap Satria diselingi dengan isak tangis“Tak apa mas .. aku ikhlas menolongmu. Seperti Mas Arya menyelamatkanku. Ia telah menyelamatkanku sebanyak dua kali. Jadi kenapa aku harus menolak kesempatan untuk menyelamatkanmu mas? ” Asri berujar dengan pelan. Bukan hanya pelan suaranya lebih mirip sebagai bisikan. Asri pergi dengan senyuman dibibir. Wajahnya nampak tenang dan tak terlihat guratan kekecewaan sedikitpun. Penantiannya telah usai. Ia telah bertemu dengannya kembali. Meski sangat singkat itu sudah cukup. Satria terus menangis malam itu. Sampai-sampai ia menyadari bahwa ia sudah terkepung oleh tentara Belanda.“Angkat tangan” perintah pasukan BelandaSatria tetap duduk disitu dan tak bergeming sedikitpun. Ribuan tembakan meluncur dari senapan para tentara Belanda mengenai tubuh Satria. Namun ia tetap disitu. Duduk dan menerapkan tubuh Asri yang sudah tak bernyawa lagi. Bom yang lepas lepas tentara Belanda bagaikan kembang api di malam itu. Menutup kisah tragis cinta mereka.Cinta tak harus memilikiPenantian panjang juga tak selalu berujung manisTapi bukan berarti kita harus berhenti karenacinta adanya di hati bukan di ragaSetidaknya sekali rasa itu pernah hadirJiwa ini kan tenang kala menghadap ilahiMeski ruh telah pergiMeski cinta tak diraih lagi
Bahagia itu indah
Saudara. Itulah kata yang mengadung penuh cinta dan kasih sayang. Saudara. Dimana kita bisa saling melindungi. Saudara. Benteng untuk dendam dan benci. Itulah makna saudara. Tapi tidak dengan pendapat Naha. Gadis berusia 17 tahun. Yang sejak kecil ditinggal mamanya. Mamanya meninggal dunia 10 tahun lalu, karena penyakit jantung. Sejak kepergian mamanya, ia hanya hidup dengan papanya. Pak Brabas Affandar. Dan diusianya yang ke-16 tahun papanya memutuskan untuk menikah lagi. Ia tak pernah setuju dengan keputusan papanya. Ia tak ingin mamanya tergantikan oleh perempuan lain. Tapi papanya tetap bertekad meyakinkan Naha. Bahwa ia juga butuh kasih sayang seorang ibu. Akhirnya Naha setuju, alasannya ia tak mau dipaksa terus oleh papanya. Selain kehadiran mama baru, Naha juga kehadiran saudara baru. Gadis cantik, lembut, dan juga manis. Yang seumuran dengan Naha. Kina namanya. Mereka satu SMA. Tapi Naha tak pernah berbicara dengan Kina. Bilapun mereka berbicara itu hanya sebentar dan singkat. Naha tidak suka dengan Kina, bahkan mama Kina. Yang kini menjadi mama Naha juga.Pagi saat sarapan… Naha turun ke meja makan. Di sana sudah ada papa, mama, dan Kina.“Naha. Ayo sarapan sayang! Mama udah masakin sarapan yang enak loh”Naha tetap diam dan meminum jusnya dengan berdiri.“Naha! Jawab donk tawaran mama, jangan diem aja!” perintah papanya.“Aku nggak peduli! Ingat ya pa, aku nggak pernah mau menganggap mereka. Dan dia bukan mama aku!”“Naha! (sambil berdiri menggebrak meja). Jaga omongan kamu!”“Kenapa pa, papa marah? Terserah, papa juga nggak peduli sama aku. Papa cuma peduli sama mereka”“Naha, kamu jangan ngomong gitu!” ucap Kina.“Diam lo! Nggak usah ikut campur!”“Naha, kenapa kamu jadi kasar gini nak?” keluh papanya.“Papa tuh seharusnya udah tahu kenapa aku jadi kayak gini”Naha keluar dan tidak mempedulikan mereka.“Mas, maafin saya mas. Karena kehadiran saya dan Kina yang membuat Naha jadi kayak gini!”“Nggak! Ini bukan salah kamu Ratna. Ini memang salah aku sendiri. Jadi aku mohon kamu dan Kina jangan merasa bersalah”Di sekolah, SMA Adi Wijaya…“Eh, tuh liat si cewek preman dateng!” ucap cewek bernama Steffa, saat melihat Naha datang.“Iya, liat gaya jalannya aja kayak anak cowok! Pantes deh jadi preman!” tambah Ania“Preman Pasar” celetuk AngelMereka bertiga tertawa puas. Mereka bertiga adalah geng. Yang ada di pikiran mereka hanyalah, merekalah cewek paling cantik. Cewek paling hits. Cewek yang selalu dikejar-kejar cowok ganteng.“Kalian nggak punya kerjaan ya selain ngatain orang?”“Eh, siapa nama lo? Na… Naha! Gue nggak ngatain kok emang lo tuh kayak preman!”“Ha… Ha… Ha….!” tawa mereka.“Iya, gue preman pasar… kalian yang ngemis-ngemis di jalanan” ucap Naha lalu pergi.“Ihh… dasar ya lo, awas aja kalo ketemu!” balas Steffa“Iuhh, kita ngemis-ngemis di jalanan. Nggaklah yauw…” kata Angel“Secara kita anak pengusaha dan orang kaya” sombong AniaSaat di jalan menuju kelas… Naha tak sengaja menyenggol seseorang.“Eh, sorry. Gue nggak sengaja” pinta Naha“Iya. Nggak papa” balas Andra, si cowok paling keren di SMA. Dan paling banyak yang nge-gebetin. Khususnya cewek-cewek kayak gengnya Steffa.“Lo itu si…?”“Cewek preman!” jutek Naha“Bukan gitu maksud gue!”“Udahlah, terus terang aja. Nggak usah pake basa-basi!”“Sorry! Gue Andra!” Andra mengulurkan tangannya.Tapi tak dibalas oleh Naha. Naha malah ingin pergi.“Eh tunggu” Andra menghadang Naha.“Apaan sih lo?” sambil mendorong Andra.“Jadi cewek jangan kasar gitu donk!”“Mau lo apa?”“Cuma pengen tau nama lo aja!”“Naha!”“Naha siapa?”“Naha ya Naha!” bentak Naha“Nama lengkap!”“Huh… ganggu aja, Jenaha Affandar!”“Namanya sama kayak gue!”“Nama lo kan Afandra Arnawarman! Ya jelas nggak samalah!”“Lo tau nama gue?”“Udahlah, sana!”Naha segera pergi dari Andra.Pulang sekolah….Kina berjalan menuju parkir depan. Tidak sengaja ia bertemu gengnya Steffa.“Eh… ada Kina nih. Lo tau nggak lo tuh beda banget sama saudara tiri lo itu!” kata Angel.“Lo itu ya, cantik, lembut, manis, lugu, sopan” ucap Steffa“Iya, betul itu. Kalo dibandingin sama siapa tuh… preman pasar. Ya beda jauhlah!” tambah Aina“Maksud kalian, Naha?”“Kalo bukan dia… siapa lagi!”“Kalian jangan keterlaluan menghina Naha. Dia itu nggak seperti yang kalian pikirin!”“Maksudnya? Dia lembut, manis, cantik gitu? Ya nggak mungkinlah”“Kita nggak bakal percaya!”“Bye dulu ya… Kina!”Mereka pun pergi.“Kenapa sih semua menganggap Naha itu anak yang kasar?” tanya Kina pada dirinya sendiri.“Nggak kok! Nggak semua orang beranggapan gitu. Aku menganggap kalo Naha itu orang baik!”Kina langsung berbalik.“Bener? Kamu menganggap Naha baik?”“Iya. Aku dulu waktu SMP pernah sekelas sama Naha. Dan aku pikir Naha anak yang baik, suka nolong orang lain, dan sering berbagi!”“Apa? Kamu temen SMPnya Naha?”“Iya. Aku Dino!”“Kina!”Saat di taman belakang sekolah. Tepatnya setelah semua siswa sudah pulang. Naha duduk sendiri di bangku taman. Menyendiri dalam keheningan.“Naha! Ini untuk kamu!”“Apaan sih lo Kina? Buat apa coba, ngasih kotak… hadiah… nggak berguna kayak gini!”“Aku ngasihnya tulus sama kamu Naha! Karna pagi tadi aku merasa bersalah sama kamu!”“Tulus? Lo udah hancurin hidup gue, bisa-bisanya lo ngasih gue hadiah. Gila ya lo!”“Naha! Lo jangan ngomong sembarangan. Ini saudara lo!” tiba-tiba Dino datang bersama Andra. Sejak pertama masuk SMA Dino dan Andra sudah bersahabat.“Ngapain lo ikut campur!”“Di sini gue mau nyadarin lo kalo bukan Kina yang buat hidup lo hancur. Tapi justru lo sendiri penyebabnya!” ucap Dino.“Lo tuh tau apa sih? Lo nggak tau apa-apa”“Naha, maafin aku!”“Maaf-maaf, bisanya cuma ngomong doank. Udah nggak nyadar diri, nggak punya malu, suka hancurin hidup orang. Seandainya gue nggak pernah ketemu lo. Gue bakal seneng banget, Kina! Dan gue jadi orang paling beruntung sedunia.”“Naha!” Kina mulai meneteskan air mata.“Udahlah, No… Naha biar gue yang urusin!” bisik Andra ke Dino.“Ayo, Kina kita pergi!”“Tapi Dino, Naha gimana?”“Udahlah!”“Baguslah kalo lo pergi” kata Naha.Kina dan Dino telah pergi.“Naha, (Andra duduk di samping Naha). Menurut lo, apa arti bahagia?”“Nggak ada artinya”“Coba deh pikirin lagi. Tapi antara pikiran dan hati lo jadi satu!”Beberapa saat kemudian…“Bahagia itu sederhana, dengan melihat orang yang kita sayang bahagia. Itulah kebahagiaan. Ketika kita melihat orang lain tersenyum bahkan tertawa, itulah bahagia. Disaat kita berani berkorban untuk orang lain, itulah bahagia”“Jadi…?”“Jadi, apa?”“Lo bilangkan, kalo bahagia itu ketika melihat orang lain tersenyum, tertawa, senang. Tadi lo lihat Kina tersenyum nggak setelah lo bentak-bentak?”Naha menggeleng.“Coba lo pikir lagi, berapa kali lo bentak Kina?”Naha terdiam.“Banyak kan? Setelah lo bentak dia, apakah lo bahagia? Apakah lo puas?Lo nggak melihat dia sengsara! Ataukah lo malah melihat dia tersenyum?”“Saat papa lo sama mamanya Kina menikah, lo lihat papa lo bahagia?”“Iya! Bahkan sangat bahagia!”“Papa lo adalah orang yang paling lo sayang. Dan papa lo bahagia saat menikah dengan mamanya Kina. Apa lo nggak bahagia melihat papa lo, orang yang paling lo sayang bahagia?”“Gue… cuma… nggak ikhlas aja, papa mmenemukan pengganti mama kandung gue!”“Apakah dengan menikah sama mamanya Kina… papa lo melupakan mama kandung lo? Enggak Naha, papa lo sayang banget sama mama lo. Saking sayangnya, papa lo mencari pengganti mama lo, cuma buat bahagiain lo. Kalo lo bahagia, almarhum mama lo pasti bahagia. Papa lo pengen, lo merasakan kasih sayang seorang ibu lewat mamanya Kina”“Tapi kenapa gue tetep benci sama Kina dan mamanya?”“Karena lo… belum buka isi hati lo!”Beberapa saat, keheningan di antara mereka.Naha menatap Andra.“Makasih Andra!”Naha bangkit dan pergi meninggalkan Andra.“Sama-sama…. Naha!” sambil tersenyum.Saat di rumah, Naha berjalan melewati pintu menuju ruang tengah. Di sana ada papa dan mama Naha sedang minum kopi.“Naha, kamu udah pulang?” senang Kina.“Papa. Ma… mama… dan Kina. Aku sadar, semua yang aku lakuin selama ini salah. Aku egois. Aku cuma mikirin diri aku sendiri. Aku nggak pernah mikirin kebahagiaan orang lain. Dan aku nggak pernah mau nerima kalian di rumah ini. Aku nggak pernah bersikap baik sama kalian. Kalian mau maafin aku!”“Naha, kamu serius bilang gitu!” tanya papa Naha, yang kaget.“Naha!” ucap mama Kina sambil menangis memeluk Naha. Sedangkan Kina tersenyum bahagia di samping papanya.Hari-hari Naha lewati bersama Kina. Berangkat bareng. Pulang bareng. Main bareng. Ketawa bareng-bareng.“Naha, kamu janji nggak akan ninggalin aku sendiri?”“Iya, aku janji… Kina. Aku akan buat kamu selalu bahagia! Itulah tandanya saudara.”Tiba-tiba…“Nah, gitu donk! Kalo baikan jadi enak ngeliatnya!” ucap Dino yang datang bersama Andra.“Makasih Andra, kamu udah nyadarin aku tentang kebahagiaan!” ucap Naha.“Iya Naha, sama-sama!” tersenyum pada Naha.Lalu Kina dan Dino berdehem bebarengan.“Apaan sih kalian?” jengkel Andra.“Tau, tuh!” tambah Naha.Kina dan Dino langsung tertawa. Naha dan Andra pun ikut tertawa.
Seandainya senpaiku tampan
Keringat mengucur deras di wajahku, padahal ini baru saja selesai belum masuk pada latihan inti. Aku rasa senpaiku yang satu ini lebih tidak manusiawi dari senpai yang satunya. Huh, padahal usianya sama denganku ya mungkin karena sabuknya saja yang sudah hitam jadi dia bisa bebas mau memberikan latihan seperti apa pun. Satu hal lagi yang membuatku tidak begitu populer, dia tidak begitu tampan dan wajahnya tampak cuek. Pokoknya tidak mengenakkan deh dipandang.Hari sudah semakin sore namun latihan inti baru saja dimulai. Aku tidak begitu fokus mengikuti latihan karena kepikiran untuk ulangan harian MM dan sosiologi besok karena itu aku beberapa kali salah mempraktekan gerakan. Buta, gerakan-gerakan itu sudah serasa di luar kepala bagiku namun namanya juga tidak fokus jadinya gerakanku sedikit kacau deh. Waduh, kalau gerakanku nanti berarti aku tidak bisa ikut UKT 2 minggu lagi. Ah, aku harus fokus. Ayo, fokus Anna fokus.“Sekarang kita latihan Kata 1.” Kata Ivan senpai yang tadi aku bilang seumuran denganku itu. Kata 1 bagiku sudah di luar kepala, ya aku memang sudah hafal betul Kata 1. Ivan berkeliling untuk melihat apakah ada gerakan yang kurang tepat atau bahkan salah, seperti guru pada umumnya dia pun membenarkan gerakan-gerakan yang salah. Aku pun berhasil mempraktekkan Kata 1 dengan benar.Setelah latihan Kata 1 latihan pun berlanjut ke Kata 2. Gawat, aku tidak begitu gerakan pada Kata 2, bagaimana ini? Aha, di sekelilingku kan banyak anak aku kan gerakan mereka. Latihan Kata 2 pun dimulai, di awal-awal gerakan aku bisa mempraktekannya dengan benar namun ketika masuk bagian gerakan akhir. “Hei, kakimu salah. Yang maju kaki kiri bukan kaki kanan. ” Kata Ivan lalu ia menendang pelan kakiku yang salah dan aku pun membenarkan cara kakiku, “Kamu ini sudah kelas 11 bikin malu saja.” Lanjut Ivan seusai membenarkan cara kakiku. Apa? Aku malu-maluin? Biasa aja deh, Van. Tuh anak sekolah sebelah yang ikut latihan dari tadi juga salah mulu nggak kamu benerin kok. Aku tuh dibilangin aja juga tahu, nggak usah diejek seperti itu juga kenapa sih. Aku pun hanya diam dan memandangi pandangannya yang kian menjauh, “Kalau saja kau tidak sabuk hitam… kamu tidak akan jadi senpaiku, kan?” Batinku.Tepat seperti dugaanku sebelumnya, gerakanku pun masih ada beberapa yang salah dan Ivan pun yang terus membetulkan gerakannku tentunya bukan dengan cara yang lembut dan aku pun tidak berharap demikian karena itu justru akan membuatku jijik. Zahra, pasanganku dalam aplikasi Kata ajakanku pindah ke bagian depan. Aku sebenarnya tidak mau karena di sana ada banyak anak latihan, aku malu kalau mereka tahu aku masih banyak salah dalam gerakan. “Aaaah, Zahra kenapa harus pindah ke depan sih?” Tanyaku pada Zahra dengan gaya berharap dia akan membatalkan niatnya. Tiba-tiba saja aku mendengar suara seorang laki-laki menirukan ucapanku tadi, aku pun menoleh ke arah pemilik suara itu dan ternyata dia adalah Ivan. “Apa-apa sih kamu menirukanku?” Tanyaku pada Ivan dengan nada kesal. “Memangnya kenapa? Suka-suka aku dong. ” Jawabnya dengan enteng.Latihan pun memerintahkan untuk istirahat. Aula pun mendadak sepi karena sebagian besar anak pergi ke mushola untuk menjalankan sholat. Namun aula tidak benar-benar sepi karena masih ada aku, Zahra, Ivan, dan beberapa anak lain yang tidak sholat. Badanku benar-benar lelah sekali dan aku pun mulai mengantuk. Aku pun menegak air mineral yang baru aku beli di kantin, rasanya begitu segar mengaliri tenggorokanku yang rasanya kering sekali. Seusai minum air aku pun melihat ada seseorang memasuki aula. Dia tampak asing, dan tampaknya senior juga karena dia sudah bersabuk hitam. Aku pun terpaku menatapnya karena dia begitu tampan. Dalam hati aku berkata “Seandainya senpaiku setampan dia, pasti aku jadi sangat semangat dan tidak mengomel saat latihan meski ditendang sekalipun.” Baru saja aku berkata seperti itu, dia pun menoleh ke arahku kemudian tersenyum sambil berjalan ke arahku. Oh, apakah ini mimpi? Lelaki setampan itu datang menghampiriku? Apakah mungkin ini saatnya aku bertemu seorang pangeran? Eh, salah bukan pangeran tapi jodoh maksudku.Hai, Anna. Sapa pangeran tampan itu, dari mana dia tahu namaku? “Ha-hai, juga.” Balasku aku pun kemudian berdiri dan memberi salam padanya “Osh!” Dia tersenyum ramah dan ramah salamku. “Anna, kamu sepertinya kesulitan ya dalam latihan kali ini apa lagi senpaimu itu agak menyebalkan bagimu, kan?” Tanya pangeran itu.“Bukan agak, tapi sangat menyebalkan.” Jawabku.“Kalau begitu, boleh kan aku mengajarimu? Gerakan mana saja yang masih belum kamu kuasai? ”“Mau gerakan dasar sampai aplikasi Kata pun aku mau diajari semuanya asalkan senpai yang mengajariku.”Baiklah, ayo kita mulai latihan kita.Dia mengajari semua gerakan yang belum aku kuasai, semuanya sampai aku benar-benar bisa. Tidak seperti Ivan, senpai yang satu ini lebih sabar dan yang penting lebih tampan. “Anna, sepertinya kamu sudah siap untuk UKT 2 minggu lagi. Semoga kamu lulus dan dapat nilai bagus, ya. ” Kata senpai tampan itu “Terimakasih banyak sudah mengajari saya.” Kataku, dia pun tersenyum ramah dan menambah rasa sejuk di hatiku.“Kak, bangun. Latihannya mau dimulai lagi, nih. ” Kata Zahra sambil mengguncang-guncangkan pundakku. Aku pun mengucek mataku yang masih terasa berat. Eh, di mana senpai tampan yang tadi? Aku pun menoleh ke segala arah mencari sosok senpai tampan tadi. “Kakak mencari siapa?” Tanya Zahra “Ehm, bukan siapa-siapa kok.” Elakku. Jadi, yang tadi itu hanya mimpi. “Dek, aku tadi ketiduran ya?” Tanyaku pada Zahra “Iya, Kak Ivan yang nyuruh aku bangunin kakak.” Jawab Zahra. Yah, Ivan lagi. Ivan pun berjalan ke arah kami, “Cepat masuk barisan.” Perintah Ivan kepada kami. Aku dan Zahra pun berjalan ke arah barisan. Ketika aku berjalan melewati Ivan dia pun memanggil namaku “Anna”. Aku pun menoleh “Apa lagi?” Tanyaku. “Kalau latihan yang serius dan satu lagi, jangan tertidur lagi di sini. Apa kamu tidak malu saat mengigau dilihat orang? ” Kata Ivan setelah itu dia ganti berjalan melewatiku untuk memimpin latihan. Aku hanya diam mematung mendengar perkataan Ivan dan saat itu aku sadar kalau aku memang memalukan.
Lebih baik padam dari pada pudar
Aku tak pernah menyangka bahwa semuanya datang dan pergi begitu cepat bagaikan kilatan petir di langit yang menghitam.-Tempat kos yang aku tempati ini lebih nyaman dari yang terdahulu. Kamar-kamar yang menghadap ke sebuah halaman yang maha luas memberi keleluasan pandangan. Pertama kali aku menginjakkan kaki di sini semua orang menyambutku dengan tangan terbuka kecuali satu orang, Sean.Menurut Bianca, Sean itu anti sosial. Ia sering mengurung diri dalam ruangan, wap, wafel musiknya keras atau meliuk-liukan suara gitar listriknya tanpa tenggang rasa. Telah seminggu aku tinggal di sini baru dua kali aku melihat Sean, itu pun hanya berupa kelebatan.Sore itu aku tengah kepayahan pelacakan setumpuk barang dan tanpa sengaja kakiku tersandung batu yang membuat tubuhku terpelanting dan barang-barang yang ada di dalam dekapanku berhamburan. Sean menghampiriku, alih alih menolongku ia hanya langkah awal batu yang telah menghalangiku. Lalu ia kembali ke teras kamar, memangku gitarnya dan mulai memainkannya. Aku terpana atas kepeduliannya yang aneh.Bila melihat sekilas, sosok sean mengingatkanku akan seorang dewa. Penampilannya, gesturnya bahkan suaranya ketika ia menyanyi sangat mirip dengannya.“Sean, itu tidak kidal. Namun ia belajar memainkan gitar secara kidal. ” Bianca menunjuk kamar Sean dengan dagunya.Aku terpana mendengarnya. Belajar menjadi anak usia yang sekarang ini? Usaha yang sangat luar biasa dan memerlukan kesungguhan.“Kapan-kapan, semisal kamu sudah mulai akrab dengannya dan itu sepertinya tak mungkin. Tengoklah kamar, dindingnya dipenuhi oleh poster idolanya. Sudah seperti wallpaper saja. ” Aji ikut nimbrung.Sementara itu aku hanya bisa manggut-manggut.Setiap hari, aku disuguhi musik-musik yang menghentak dari balik dinding kamarku. Terkadang aku mendengar teriakan garang Sean di sela-sela lagu yang tengah diputarnya. Aku yang awalnya tidak begitu suka dengan komposisi musik yang mendadak menjadi liriknya. Kadang secara tak sengaja, umpan-umpan lagu itu meluncur begitu saja dari mulutku. Lagu-lagu itu bagai bayangan yang terus mengikutiku, sejak bangun sampai akan berangkat tidur. Berputar-putar dalam labirin di otakku. Menetap bagai kerak.Sampai suatu hari ketika aku tengah mengikat tali sepatu ketsku, satu umpan lagu keluar dari mulutku. Lagu yang baru saja aku dengar dari balik dinding kamarku ketika aku tengah merapikan rambutku.“Tak kukira, tetangga sebelahku ternyata memiliki kegemaran yang sama denganku.”Mendadak aku mengatupkan bibirku rapat-rapat demi mendengar suara itu. Aku tengadah memandang Sean yang juga tengah memandangku. Senyumnya mengembang.Dan mulai saat ini, aku dan Sean sering bercakap-cakap. Lebih tepatnya, aku mendengarkan dia bicara.Suatu hari Sean membuka pintu kamar lebar-lebar, mempersilahkanku masuk dengan sopan. Aku terpana, apa yang pernah Aji bilang benar adanya. Dinding kamar dipenuhi dengan poster-poster sang dewa. Ada beberapa gitar yang menggantung di sana, salah satunya adalah Fender Stratocaster, jenis gitar yang kerap dimainkan idolanya. Kumpulan CD dan kaset tertata rapi di meja bersama buku-buku serta majalah yang aku tebak pasti berisi semua hal tentang idolanya itu. Kamarnya bagaikan museum yang dipenuhi memorabilia. Sepanjang hidupku aku belum pernah melihat yang seperti ini. Aku ternganga, ini semua luar biasa. Sang dewa memang telah menyihir banyak anak muda namun aku tak menyangka sampai seperti ini.Dengan sopan pula, Sean mengajakku untuk ikut berkumpul dengan komunitasnya. Dan hal ini tak kalah luar biasanya. Aku kembali ternganga, banyak sekali orang yang memirip-miripkan dirinya dengan idolanya. Aku seakan berada di tengah-tengah kloningan sang dewa.Siang itu awan hitam bergumpal di kepalaku. Hujan mulai turun, satu persatu tetesnya pegang kepalaku. Aku berlari menyelamatkan diri, menyelipkan tubuhku di antara orang-orang yang tengah berteduh di emperan toko. Di sana, di antara orang-orang yang berdiri mematung menunggu hujan reda, pemuda terselip dengan rambut gondrongnya tengah membaca sebuah surat kabar dengan serius. Dengan susah payah, aku menggeser tubuhku sedikit demi sedikit sampai akhirnya berada di sampingnya.“Hei, sedang baca apa?” sapaku basa basi.Sean menatapku sekilas lalu kembali menekuri artikel yang tengah dibacanya.Aku terhenyak, mengapa Sean tidak seperti biasanya. Ia terlihat sangat muram.Tiba-tiba Sean menyerahkan surat kabar itu kepadaku, lalu pergi menembus hujan yang pekat.Jawabannya ada di sana. Sosok yang didewakan oleh Sean, secara resmi telah menggabungkan diri ke dalam sebuah kumpulan bernama 27 klub yang beranggotakan Jim Morisson, Jimmy Hendrik, Janis Joplin, dan Mia Zapata. Aku sulit membayangkan apa yang akan terjadi dengan fans-fans fanatiknya termasuk Sean.Beberapa minggu ini aku tak pernah melihat Sean. Ia seakan hilang ditelan bumi. Rupanya kesedihan telah membuat enggan untuk menyapa dunia. Suatu malam aku pernah melihatnya dari balik gorden jendelaku. Ia datang dengan dua pesan, masuk kamar kecil lalu pergi lagi. Walaupun kamar kami bersebelahan, tapi tidak membuatku menjadi tahu semua tentang Sean.Libur semester telah usai, gerbang tempat kos ku telah berganti warna. Dengan ringan aku langkahkan kakiku menuju kamarku. Namun langkahku terhenti demi melihat sesuatu yang ganjil di depan pintu kamar Sean. Selembar pita kuning bertulis “Dilarang melintas garis polisi” melambai ditiup angin sakit. Aku sangat terkejut, di kepalaku mulai berkumpul banyak pertanyaan yang membutuhkan jawaban segera.“Dua hari lalu dia ditemukan tak bernyawa oleh pak Rusli di kamar.” Aji berbisik lirih di telingaku. Aku menahan nafasku.“OD.” Aji kembali berbisik. Aku terhenyak.Hari ini tanggal 10 berarti dua hari yang lalu adalah tanggal 8. Angka yang sama, dimana sang dewa grunge ditemukan tak bernyawa di rumah sakit sendiri. Entah kebetulan atau apa, aku tak tahu.Aku menggelengkan kepalaku tak percaya, ada rasa kehilangan dan kecewa. Baru saja aku mengenalnya, namun kini dia telah pergi untuk selamanya.Ketika aku melangkah ke dalam kamarku, telapak kakiku pegang selembar kertas yang terkulai lemas di lantai. Tanganku gemetar ketika aku meraih kertas itu. Selanjutnya lembar kertas itu pun basah oleh tetesan air mataku.Dia adalah penyelamat hidupku.Tanpa dia, mungkin aku masih menjadi orang yang apatis terhadap kehidupan.Hanya dia yang selalu memberiku semangat, mendukungku dan menyayangiku dengan caranya sendiri melalui musiknya.Namun itu semua telah berakhir.Dia selesai, aku pun demikian.Lebih baik padam dari pada pudar.
Salah paham
Apa yang harus Aku lakukan ketika Sahabatku membenciku hanya karena hal sepele? Haruskah penjelasan itu Ia abaikan? Setidak pentingkah suatu penjelasan itu? Hingga akhirnya suatu kesalah pahaman pun muncul di antara kami.“Main yuk?”Satu pesan masuk melalui ponselku. Aku terkejut. Sangat terkejut. Dia Nita. Sahabbatku. Aku benar benar tak percaya. Pasalnya setelah kita pisah sekolah, karena kita hendak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, Ia jarang mengabariku. Atau mungkin kita bisa sebut lost kontak. Akhirnya aku menjawab dengan ekspresi yang sangat bahagia. “Yukk”. Sehrian itu kuhabis kan sisa pulsaku hanya untuk membalas pesan darinya sampai kita menyepakati waktu dan tempat yang telah kita setujui untuk pergi main.Singkat cerita. Akhirnya sampai hari dimana kita bertemu untuk yang pertama kalinya kembali. Aku segera menunjukan senyum bahagia. Begitupun dengannya. Ia langsung menghampiriku, memeluku yang masih berada di motor. “gimana, sehat?” tanyaku padanya. Ia tersenyum seolah masih tak menyangka kita bertemu. Ia tak menjawab pertanyaanku, hanya menganggukan kepalanya sebagai simbol bahwa ia menjawab Ya.Di perjalanan kita saling bertukar cerita. Tertawa kembali. Aku pun masih tak percaya bahwa kita sekarang sedang bersama. Sampai titik pembicaraan kita“Amel?” tanyanya padaku.Aku yang sedang berkonsentrasi membawa motor terpaksa harus mengalihkan wajahku ke spion motor agar dapat melihat wajahnya.“Ya, ada apa?”“Atikah sekarang lagi deket sama Adnan, emang bener?” tanyanya serius mengenai Atikah, temen sekelas kita sewaktu SMP, dan Adnan, mantan pacarnya.“kurang tau Nit. Emang kamu tau dari siapa?” aku balik bertanya.“Aku lihat sendiri di pesan Adnan” jawabnyaAtikah. Dia walaupun bukan sahabatku, tapi dia sangat baik. Ketika Aku dan Nita sedang ada masalah, Aku mencurahkan sedikit keluhku padanya. Dan Ia sangat menyambutku kapan pun. Bagaimana pun Atikah, dia tetap temanku. Teman yang selalu menolongku. Aku dilema sekarang. Bagaimana ini? Tanyaku dalam hati. Aku akan beritahu Atikah agar tidak dekat dengan Adnan. Tapi sama saja aku melarangnya untuk dekat dengan siapapun. Begitu juga dengan Nita. Jika aku tak memberitahu Atikah, pasti dia akan sakit hati. Tapi Nita dan Adnan sudah tak ada hubungan lagi.Setelah sampai di rumah, aku segera memberitahu Atikah. Bukan karena Adnan, tapi memberitahukannya agar tidak dekat dengan Fino. Karena jujur Aku menyukai Fino. Akhirnya Atikah menyurah kan semuanya lewat facebook dan Nita membacanya. Satu kata yang di postingnya ‘Maaf’. Lalu Aku mengomentarinya “Iya Atikah tak apa, semua bukan salahmu”. Tak kusangka, postingan Atikah dan komentarku membuat Nita marah. Lalu Nita juga memposting kata kata untuk menyindirku selama menjadi sahabatnya.Tak selamanya sahabat yang dibangga banggakan menjadi yang terbaik. Selamat telah berhasih membuatku terluka dan telah berhasih membuat retakan di antara kita.Aku yang membaca postingan tersebut langsung menangis sejadi jadinya. Ia salah paham. Apa yang harus kulakukan? Menyerah? Membiarkan persabatan ini rusak? Ini semua salahku. Seharusnya Aku tak memberitahu Atikah secepat itu. Nita mengira Aku memberitahu Atikah mengenai Adnan. Tapi itu salah.Segera Aku menghubungi Atikah. Betapa baiknya dia. Dia mau menjelaskan semuanya pada Nita. Langsung Aku berterimakasih padanya. Aku yang melarangnya agar tidak dekat dengan Fin, sekarang mau membantuku untuk merapikan masalah Aku dan sahabatku.Waktu berlalu begitu cepat. Selama 2 bulan ini, Aku dan Nita kembali hilang komunikasi. “kringgg”. Tiba tiba suara teleponku terdengar nyaring di kamar. Aku segera mengangkatnya.“Hallo?” Aku berusaha mengetahui siapa yang menelponku. Karena di sana tak ada nama yang tercantum.“Mel?” dia mulai berbicara. Aku kenal suara ini. Seperti suara… Nita.“Nita?”“Mel, maafkan Aku. Aku salah faham. Aku menjauhimu, Aku menyindirmu lewat medsos, Aku mengganti nomor teleponku. Aku mainta maaf Mel..”“Nit, selama ini Aku merasa tak ada yang salah darimu”“Tidak mel. Kau tak paham. Aku mengira kau memberitahu Atikah tentang Adnan, tapi aku salah..”“dan mulai sekarang coba untuk saling megerti”Akhirnya, kami tak hilang komunikasi lagi. Hubungan Nita dan Atikah pun sekarang sudah seperti teman. Sama halnya seperti Aku dan Atikah. Namun Aku dan Nita, kami masih bersahabat.
Bangku Sisi Jendela
Tampak sosok lelaki bertubuh agak gelap duduk menghadap ke arah jendela. Sesekali mengaduk sendok pada jusnya. Sesekali pun mengecek handphone untuk menantikan kabar. Posisi yang benar-benar menunggu."Ale...!!"Terdengar suara perempuan dari arah pintu masuk cafe. Yang dipanggil pun menengok dan melambaikan tangan dengan girang. Sang perempuan, Mala namanya, segera menuju Ale. Aroma lavender tercium oleh Ale dari tubuh Mala. Perempuan cantik nan anggun itu entah mengapa telah menjatuhkan hati kepada Ale-lelaki kosan sederhana.Menjadi mahasiswa baru di ibukota, membuat mereka saling jatuh cinta. Pertemuan pertama mereka adalah gerbang menuju kehidupan Ale dan Mala yang baru. Dan aku, selalu sendiri melihat mereka di pojok dunia yang tak tampak. Memandang dengan iba apa yang telah terjadi pada Ale selepas kecelakaan itu."Mal, ada yang mau aku omongin," Ale bersua menatap Mala yang masih memesan makanan."Hmm," Mala bergumam lalu menutup buku pesanan dan menatap Ale. "Kamu nggak bakal ngomongin putus kan?"Ale menatap lekat pancaran nanar mata Mala. Pikiran negatifnya justru hal tersebut akan terjadi, meski Ale pun tak mau itu terjadi. Sesungguhnya ia hanya ingin menyampaikan kebenaran, walau justru hal itu sangatlah menyakitkan."Aku tak bisa melupakan Jinan. Ia amat melekat di aku, di hatiku. Apakah lebih baik...""Stop! Aku tahu maksud kamu apa. Jinan sudah tenang dan itu bukan salah kamu, bukan, Le."Aku tersenyum mendengar ucapan Mala. Benar, kecelakaan yang kami alami berdua bukanlah salahnya, bukan salah siapa-siapa. Tapi, Ale selalu berpikir itu salahnya dan ia tak bisa melupakanku, walaupun ia sudah berusaha mencobanya dengan Mala."Mala, terima kasih sudah membantuku sejauh ini. Kamu yang tahu rasa sakitku seperti apa. Tetapi, aku yang tahu sendiri batas kesanggupanku seperti apa. Dan aku nggak mau berbagi rasa sakit itu denganmu. Aku nggak mau nyakitin kamu. Jadi, hargai keputusanku untuk tak pernah bisa melupakan Jinan."Satu per satu air mata Mala terjatuh. Sementara Ale bangkit berdiri, menepuk pundak Mala lembut, dan pergi meninggalkannya. Entah aku harus sedih atau senang Ale tak bisa melupakanku. Tetapi, sementara ada air mata wanita lain yang ditinggal Ale pergi. Di ujung dunia, aku berharap Ale menemukan kebahagiaanku, walau tanpaku.
Cinta Tak Bisa Ditebak
Aku siswa baru kelas X SMA. Semua temanku memanggil aku Tari. Meskipun aku baru, namun di hari pertama aku sekolah, aku telah menemukan teman yang sekarang menjadi sahabat baikku, yaitu Lili dan Fani. Mereka selalu mengajariku banyak hal dan selalu mau berbagi cerita denganku.Siang itu, saat jam istirahat tiba, aku mendapatkan tugas dari guru untuk mencari novel kemudian aku harus menulis resensinya. Aku mengajak Lili ke perpustakaan untuk mencari novel.Ketika aku sedang berjalan menyusuri rak demi rak, aku melihat seorang pria yang sedang membaca buku di bagian kiri sebelah rak dengan raut wajah yang serius. Entah apa yang terjadi, jantungku seakan ingin berhenti ketika aku melihatnya, sosok wajahya yang tampan dan kalem, membuatku kagum padanya.Setelah aku perhatikan, aku bisa membaca name tag-nya, ternyata ia bernama Faid. Ia adalah murid satu angkatan dengan ku. Seketika itu aku menceritakan apa yang ku alami kepada Lili, Lili pun menanggapi cerita ku dengan antusias.Hingga aku memperoleh informasi bahwa, Faid mengikuti olimpiade. Seketika itu, aku langsung belajar dengan giat, agar aku bisa mengikuti olimpiade yang sama dengan Faid. Akhirnya aku pun lolos seleksi olimpiade, dan aku selalu belajar bersama sebelum olimpiade dengan Faid.Namun, di pertengahan ketika waktu olimpiade telah dekat, aku baru tahu bahwa Faid telah menjalin hubungan dengan adik kelas. Perasaanku pun menjadi hancur kala itu. Dan akhirnya aku pun berusaha menjauhi Faid.Waktu pun berganti, setelah aku belajar 3 tahun lamanya, aku sekarang tengah mengikuti acara lepas pisah kelas XII, tanpa mengetahui kabar Faid, aku tetap tidak bisa melupakannya. Aku juga tidak berusaha mencarinya. Aku sendiri termenung melamun di gazebo."Tari, aku sudah mencarimu ke mana-mana, ternyata kamu ada di sini," ucap Faid, membuyarkan lamunanku. Aku agak sedikit gugup sebenarnya jika harus bertemu secara langsung dengannya."eh... iya," jawabku"Tari, aku tahu kamu mau pergi, aku tahu kamu dapat beasiswa. Aku ingin mengatakan hal yang sangat penting padamu. Kumohon dengarkan aku. Apakah kamu bersedia untuk menungguku hingga nanti aku menikahimu," ucap Faid.Seakan tubuhku lemas tak percaya, dengan cepat kubalas, "Iya". Aku tidak menduga, perasaan yang selalu kusimpan selama 3 tahun, ternyata mendapat balasan yang sangat indah.
Plester Cinta
Gema bola basket yang memantul di lapangan parket terdengar berirama, membaur dengan derap kaki para pemain yang berlari kesana-kemari. Bola cokelat itu seolah hidup, melesat cepat mengikuti arahan tangan-tangan terampil para remaja yang sedang asyik berebut dan berlari. Di bangku penonton, suasana tidak kalah panas. Sorak-sorai gembira serta pekikan histeris silih berganti, menciptakan atmosfer yang begitu hidup di gedung olahraga sekolah.Walaupun hari ini merupakan pertandingan basket antar kelas untuk kategori remaja putri, pertandingan ini tetap saja tak kalah seru saat remaja putra yang bertanding. Semua itu karena para pemainnya memang sudah cukup jago dan memiliki kemampuan yang mumpuni untuk membuat siapa pun yang menonton terpesona. Gerakan-gerakan lincah, umpan-umpan akurat, dan strategi yang diterapkan di lapangan membuktikan bahwa basket putri juga punya daya tarik yang luar biasa.Di tengah hiruk-pikuk pertandingan, perhatian penonton tertuju pada seorang cewek dengan rambut panjang terikat rapi ke belakang. Dengan konsentrasi penuh, ia berusaha membawa bola menerobos pertahanan lawan menuju ring. Namanya Tania, kapten tim basket putri kelas XII IPA 2 yang dikenal sebagai pemain andalan. Namun lawan tidak tinggal diam. Hadangan demi hadangan terus terjadi, membuat pergerakan Tania semakin terhimpit. Dengan sisa tenaga dan tekad bulat, ia melompat mencoba melakukan shoot meskipun dalam posisi tidak seimbang. Bola pun berhasil masuk ring dengan sempurna, tetapi tubuh jangkung Tania harus jatuh tersungkur keras setelah berbenturan dengan lawan yang berusaha menghadangnya dari arah berlawanan."Priiiitt!" Suara peluit wasit yang memimpin pertandingan menggema memecah hiruk-pikuk sorak penonton. Wasit segera mengangkat tangan memberi isyarat."Medis! Medis! Cepat, Tania luka! Tolong bantu!" teriak wasit dengan suara keras penuh cemas.Dari pinggir lapangan, seorang pria dengan tubuh mungil namun gerakannya gesit datang berlari membawa kotak P3K besar. Wajahnya tampak pucat pasi, campuran antara khawatir dan panik. Pertandingan pun mau tak mau akhirnya dijeda terlebih dulu. Para pemain dari kedua tim berkumpul mengelilingi Tania yang meringis kesakitan, sebelum akhirnya ia dituntun untuk dibawa ke pinggir lapangan agar pertandingan bisa segera berjalan lagi.Di area pinggir lapangan yang sedikit lebih tenang, Rido—pria mungil yang tak lain adalah kekasih Tania—dengan cekatan membuka kotak P3K-nya. Tangannya yang sedikit gemetar berusaha tetap tenang saat membersihkan luka lecet di siku dan lutut Tania dengan cairan antiseptik. Tania meringis kecil, tetapi berusaha tegar."Aku nggak kenapa-napa kok, Do," ucap Tania pelan, berusaha meyakinkan Rido yang terlihat sangat khawatir.Rido menghela napas panjang, mencoba menahan emosi campur aduk yang memenuhi dadanya. "Iya aku tahu. Tapi hati-hati kan bisa dong, Tan. Kamu tuh cewek, masak banyak lecet di mana-mana begini. Nanti lukanya lama sembuh, terus bekasnya hitam."Tania cemberut, bibirnya mengerucut lucu meskipun dagunya baru saja ditempeli plester. "Terus... kalau aku penuh luka kayak gini, kamu bakal nggak suka sama aku lagi, gitu?" nada bicaranya bercanda tetapi ada kerutan khawatir di matanya.Rido berhenti sejenak dari aktivitasnya membalut luka. Ia menatap wajah Tania dengan serius, kemudian melanjutkan tugasnya menempelkan plester dengan hati-hati pada dagu dan lutut Tania. Setelah selesai, tanpa banyak bicara, Rido mengulurkan tangannya dan mengacak-acak rambut panjang Tania dengan lembut. Wajahnya yang biasanya datar kini tersungging senyum tipis penuh ketenangan."Tenang aja, Tan. Aku bakal jadi plester kamu. Setiap kali kamu luka, aku yang akan obatin. Setiap kali kamu sakit, aku yang jagain. Jadi nggak usah khawatir." Suaranya pelan tetapi penuh keyakinan, seperti janji yang diukir dalam hati.Tania tersenyum, namun sebelum sempat membalas ucapan Rido, sebuah teriakan usil datang dari pinggir lapangan. Seorang pemain tim lawan yang kebetulan berada sedikit ke pinggir sambil minum, berteriak dengan nada menggoda."Heh! Kalau udah kelar diobatin, bisa kalian pacarannya nanti dulu aja! Ini pertandingan penting, lho! Masih semifinal, Tan!"Tania dan Rido sama-sama tersipu. Tania segera menepuk-nepuk pipinya yang terasa panas, lalu berdiri dan berlari kecil mendekati wasit sambil mengangkat tangan, memberi isyarat bahwa dirinya sudah siap kembali bertanding. Wasit mengangguk, dan pertandingan pun dilanjutkan dengan semangat baru.Dari kejauhan, Rido duduk di bangku cadangan tim medis, tersenyum bangga melihat Tania kembali berlincah di lapangan. Mereka berdua sangat jelas berbeda, bahkan nyaris semua orang di sekolah tahu dan sering meledek pasangan ini. Bagaimana tidak, mereka ternyata mempunyai tinggi badan yang bisa dibilang outlier di antara pasangan pada umumnya. Tania, dengan postur jangkung atletisnya, menjulang sekitar 172 cm. Sementara Rido... yah, Rido hanya sekitar 163 cm. Perbedaan mencolok itu sering menjadi bahan candaan, baik di kantin, di kelas, bahkan di grup obrolan siswa. "Si Cemiti sama Si Menara," begitu kira-kira julukan yang kadang terdengar.Tetapi Rido sudah bertekad bulat dalam hatinya. Sejak pertama kali jatuh cinta pada Tania di kelas X, saat melihat Tania berlari di lapangan dengan semangat membara, Rido tahu bahwa perbedaan tinggi bukanlah halangan. Bahkan saat ia memutuskan untuk mengikuti ekstrakurikuler Palang Merah Remaja (PMR) di awal tahun ajaran, semua temannya heran. Rido yang dikenal pendiam dan tidak terlalu suka keramaian, tiba-tiba bergabung dengan ekskul yang penuh dengan kegiatan sosial dan pertolongan pertama.Namun hanya Rido yang tahu alasan sebenarnya. Itu semua untuk Tania. Supaya Rido bisa selalu ada di dekatnya, di setiap pertandingan, di setiap latihan, di setiap kemungkinan Tania jatuh dan terluka. Ia ingin menjadi orang pertama yang akan mengobati lukanya, bukan hanya luka fisik di lapangan, tetapi juga luka hati jika suatu saat Tania membutuhkan tempat bersandar. Dan hari ini, tekad itu terbayar sudah. Melihat senyum Tania setelah dibalut, mendengar candaannya yang manis, Rido merasa bahwa perbedaan tinggi bukanlah apa-apa dibandingkan dengan besarnya cinta yang ia rasakan.Pertandingan berakhir dengan kemenangan tim Tania. Dengan semangat meluap-luap, Tania berlari ke arah Rido dan tanpa ragu memeluknya erat, membuat Rido hampir terhuyung. Sorak-sorai penonton kembali bergemuruh, kali ini bercampur dengan siulan dan teriakan menggoda. Tania hanya tertawa, lalu berbisik pelan di telinga Rido."Makasih udah jadi plester aku hari ini, dan setiap hari."Rido tersipu, memeluk balik pinggang Tania dengan erat. Dalam hati ia bersyukur pada takdir yang mempertemukannya dengan perempuan luar biasa ini. Dan pada keputusannya untuk mengikuti PMR, yang ternyata membawanya bukan hanya pada keterampilan pertolongan pertama, tetapi juga pada kebahagiaan sejati.
Truth or Dare
Saat itu, tahun terakhir di sekolah menengah. Udara terasa berbeda, ada semacam getaran campur aduk antara euforia dan kecemasan yang menyelimuti lorong-lorong sekolah. Prom night, malam dansa kelulusan yang paling ditunggu-tunggu, semakin dekat. Setiap sudut sekolah dipenuhi bisik-bisik tentang gaun, mobil yang akan disewa, dan tentu saja, pasangan kencan. Mike, seorang remaja dengan rambut yang selalu sedikit berantakan meski sudah disisir rapi, merasa dirinya seperti sebuah pulau kecil di tengah lautan persiapan pesta. Semua gadis tampaknya sudah, atau sedang dalam proses, berkencan dengan seorang pria tampan. Sementara Mike, yang menyadari dirinya tidak setampan model di majalah remaja dan tidak sepandai Bruce membual di kantin, merasa seperti tidak memiliki magnet sama sekali untuk menarik perhatian lawan jenis.Suatu sore sepulang sekolah, saat Mike sibuk mengunci lokernya yang berisik, sahabatnya, Joe, datang dengan langkah gembira dan menyenggol pinggangnya."Hei, Mike! Kurasa aku sudah menemukan solusi untuk masalah prom night-mu," kata Joe dengan nada penuh teka-teki dan senyum yang sedikit menyeringai.Mike menghela napas panjang. Dia sudah hafal dengan ide-ide gila Joe. "Apa lagi kali ini?""Mengapa kamu tidak mengajak Rita berkencan? Sejauh yang aku tahu, belum ada satu pun pria di sekolah ini yang menanyainya," ujar Joe, seringainya kini melebar.Mike tahu persis alasan di balik seringai Joe. Rita. Gadis yang selalu duduk paling pojok di perpustakaan itu. Bayangan Rita langsung melintas di benaknya: kacamata tebal dengan bingkai hitam yang tampak terlalu besar untuk wajahnya, kawat gigi yang sesekali berkilau terkena sinar mataja, dan rambut cokelatnya yang selalu diikat asal-asalan. Di mata siswa lain, Rita adalah definisi dari "gadis paling tidak populer." Mike mengerang pelan, suaranya bercampur frustrasi dan rasa kasihan yang aneh. "Oh, tidak! Bukan Rita!" Namun, di lubuk hatinya yang paling dalam, dia tahu Joe tidak sepenuhnya salah.Waktu terus berjalan dengan cepat, bagaikan pasir yang mengalir di sela-sela jari. Poster-poster prom night dengan warna-warna cerahnya semakin sering terpampang di dinding, dan Mike merasa seolah-olah poster-poster itu sedang menatapnya dengan tatapan menghakimi. Dia tahu dia harus melakukan sesuatu dengan cepat, atau dia akan menjadi satu-satunya lelaki di angkatannya yang duduk termenung di rumah pada malam istimewa itu. Perasaan malu yang membayangi itu lebih berat daripada rasa gengsinya. Maka, dengan desahan panjang yang keluar dari lubuk hati yang paling dalam, dan dengan langkah gontai yang penuh gemetar karena gugup, dia memberanikan diri mendekati Rita di perpustakaan. Di sela-sela tumpukan buku, dengan suara terbata-bata, dia mengajaknya kencan. Di luar dugaannya, Rita mengangkat wajahnya dari buku, tersenyum tipis yang sedikit canggung karena kawat giginya, dan mengangguk setuju.Malam prom night pun tiba. Ketika Mike tiba di depan rumah Rita yang sederhana, jantungnya berdebar lebih kencang dari biasanya. Bukan karena gugup, tapi karena rasa penasaran. Dan saat pintu depan terbuka, semua ekspektasi Mike buyar seketika.Rita berdiri di ambang pintu, dan Mike hampir tidak bisa bernapas. Dia mengenakan gaun berwarna biru dongker yang jatuh indah hingga mata kaki, dengan potongan sederhana namun elegan yang membuatnya tampak begitu berbeda. Seseorang—mungkin Rita sendiri—telah melakukan sesuatu yang ajaib pada rambutnya. Rambut cokelat yang biasanya tak teratur itu kini tersusun dalam gelombang lembut yang membingkai wajahnya dengan sempurna. Yang paling mengejutkan, Rita melepas kacamatanya yang tebal. Tanpa kacamata itu, mata cokelatnya yang hangat dan jernih tampak bersinar. Mike bergumam dalam hati, andai Rita memutuskan untuk mengabaikan kacamatanya yang besar malam itu, dia mungkin akan mengatakan—tidak, dia harus mengakui—bahwa Rita terlihat menakjubkan. Matanya sedikit melebar, dan dia terpaku sejenak sebelum bisa berkata, "Kamu... kamu terlihat cantik, Rita."Rita tersipu, dan untuk pertama kalinya, Mike melihat bahwa di balik kawat gigi itu ada senyuman yang sangat manis.Begitu tiba di aula pesta yang gemerlap dengan lampu disko dan dekorasi mewah, mereka hampir segera ditarik ke lantai dansa oleh irama musik yang ceria. Awalnya, Mike merasa canggung, kakinya seperti dua batang kayu yang kaku. Tapi Rita meraih tangannya dengan lembut, dan mereka mulai bergerak mengikuti irama. Saat mereka menari, Mike menyadari dengan penuh keheranan bahwa Rita sebenarnya adalah penari yang luar biasa. Gerakannya luwes dan penuh percaya diri, benar-benar berbeda dari sosok pendiam yang selama ini dikenalnya di sekolah. Di sela-sela lagu yang berganti, mereka mulai mengobrol. Rita ternyata bisa bercakap-cakap dengan sangat menyenangkan. Bukan obrolan basa-basi, tapi percakapan yang hangat dan cerdas, penuh dengan pertanyaan-pertanyaan tulus tentang minat Mike, dan cerita-cerita lucu tentang buku-buku yang dia baca. Mike, yang biasanya kesulitan mencari topik pembicaraan, mendapati dirinya tertawa lepas karena sebuah komentar Rita yang jenaka. Tawanya ringan dan menular, seperti suara lonceng kecil yang berdering di malam yang hening. Mike menyadari dengan sedikit keterkejutan bahwa dia sangat menikmati suara tawa itu.Prom night itu, yang awalnya dia bayangkan akan menjadi malam penuh keringat dingin dan rasa canggung, justru memuncak menjadi sebuah pengalaman yang begitu indah dan tak terduga. Malam dansa itu menjadi awal dari segalanya. Mike dan Rita mulai sering menghabiskan waktu bersama, pergi ke bioskop, ngobrol panjang lebar di telepon hingga larut malam, atau sekadar duduk di taman sambil berbagi es krim. Tak lama kemudian, persahabatan yang baru terjalin itu berkembang menjadi hubungan yang serius, sebuah hubungan yang dibangun di atas fondasi saling menghargai dan menemukan keindahan di balik lapisan luar seseorang.Kini, lima tahun telah berlalu. Mike duduk di kursi pengemudi, tangannya sedikit berkeringat memegang setir. Dia melirik ke kursi penumpang, di mana Rita duduk dengan gaun biru dongker kesayangannya—gaun yang sama saat pertama kali dia benar-benar melihat Rita. Malam ini, dia berencana untuk mengulangi keajaiban itu. Mike mencintai Rita lebih dari apa pun di dunia ini. Dia mencintai cara Rita tersenyum, cara Rita memeluknya saat dia sedih, dan caranya yang khas saat mengoreksi buku catatan lamanya. Cincin pertunangan itu tersimpan rapat di saku jaketnya, terasa berat namun penuh makna. Dia berencana untuk mengajukan pertanyaan paling penting dalam hidupnya malam ini, tepat di tempat yang sama di mana dia untuk pertama kalinya melihat Rita yang sesungguhnya: di ambang pintu rumah Rita, di bawah cahaya lampu teras yang hangat.Sambil menunggu lampu merah menyala, Mike bergidik membayangkan apa yang akan terjadi jika lima tahun lalu dia terlalu gengsi untuk mengajak Rita kencan. Dia membayangkan dirinya duduk sendirian di kamar pada malam prom, dikelilingi keheningan, dan kehilangan kesempatan untuk menemukan belahan jiwanya. Senyum kecil merekah di bibirnya. Kadang, keberuntungan terbesar dalam hidup datang dalam paket yang paling tidak kita duga, dan seringai jahil seorang sahabat.
Secret Admirer
"YEEEEEEAAAAYY!" Terdengar sorak sorai para siswa siswi murid SMA Bina Bangsa. Mereka bersorak gembira pasalnya Tim Basket sekolah mereka memenangkan pertandingan basket melawan SMA Angkasa siang ini. Akhirnya kerja keras Tim Basket SMA Bina Bangsa selama ini membuahkan hasil yang begitu memuaskan. Dua tahun terakhir ini Basket SMA Bina Bangsa memang selalu kalah ketika melawan tim Basket SMA Angkasa. Dan saat ini untuk pertama kalinya mereka dapat mengalahkan kembali lawannya itu. Mungkin ini disebabkan oleh kerja keras kapten Tim Basket yang tidak pernah berhenti menggembleng anggotanya, memang sejak kapten basket di jabat oleh Davindra Gabriel, SMA Bina Bangsa selalu memenangkan lomba termasuk memenangkan pertandingan ini, berbeda dengan kapten basket tahun-tahun lalu.Wajah Gabriel terlihat sangat sumringah, senyum terus terpancar dari wajahnya yang penuh keringat. Namun, hal ini tidak sedikitpun mengurangi ketampanan yang dimilikinya. Siapapun wanita pasti akan terpesona melihatnya, termasuk gadis yang satu ini, Grashilla Andara.Yap! Grashilla Andara atau yang lebih akrab disapa Shilla ini memang tergila-gila akan sosok Gabriel. Shilla mulai jatuh cinta pada kakak kelasnya itu sejak awal dia memulai masa orientasi sebagai siswi baru yang masuk di SMA Bina Bangsa. Apalagi waktu itu Gabriel lah yang mengampuh kelas Shilla. Hingga saat ini, saat Shilla sekarang sudah duduk dibangku kelas sebelas ia masih saja mengagumi sosok Gabriel. Sejak tadi pula, sejak pertandingan basket dimulai hingga Gabriel memenangkan pertandingan, Shilla tidak mengalihkan pandangannya dari Gabriel. Senyum juga terus memancari wajahnya yang cantik.' Ah, andai aja gue bisa deket sama lo gab! ' lagi-lagi hati Shilla terus meminta ingin bersama dengan Gabriel."SHILLAAAA BALIK YUUK!" Sebuah suara menyadarkan Shilla dari lamunannya. Akhirnya Shilla melepaskan pandangannya dari sosok Gabriel dan beralih ke asal suara tersebut."Apasih Fy? Diem deh nggak usah ganggu" ucapnya kemudian beralih lagi kearah Gabriel. Namun, hatinya kecewa, sosok Gabriel sudah tidak ada disana."Tuhkan Fy gara-gara lo sih, Gab ngilang kan Fy, lo pake acara ganggu gue sih Fy, ngeselin deh" Rengek Shilla kepada seseorang yang ia panggil dengan sebutan 'Fy'. Ya, orang yang Shilla panggil 'fy' tadi adalah sahabatnya sejak ia masih duduk di Sekolah Menengah Pertama. Namanya, Marsha Arify. Hingga saat ini pun mereka berdua masih menjalin persahabatan dan bahkan mereka pun selalu satu kelas."Plis deh Shill, sampai kapan lo bakal suka sama dia? Dia aja nggak kenal sama lo Shill, masih aja lo terus-terusan suka sama dia. Oh ya coba lo liat disekeliling lo deh..." Ify tersenyum devil"Lah loh fy.. Kok sepi, kok tinggal kita berdua disini? Kok lo ga bilang gue kalo udah pada pulang?" Wajah Shilla terlihat kebingungan setelah melihat bahwa disana sudah tidak ada siapapun lagi kecuali dirinya dengan Ify. Bukannya menjawab Ify malah menertawai Shilla."HAHAHAHA Shill shill makanya gausah ngeliatin Gabriel terus. Dari tadi gue juga udah ngajak lo balik kali, tapi yang ada gue malah dicuekin. Udah deh sekarang kita balik. Mau lo disini sendiri?" Ucap Ify seraya berlalu dari hadapan Shilla.***Shilla berjalan di koridor sekolahnya yang masih sangat-sangat-sangat sepi. Jelas saja sepi, lihat saja sekarang jam berapa. Jam 05.30! Untuk ukuran orang malas, di jam setengah enam pasti masih asik dengan mimpinya, sedangkan Shilla? Sudah tiba di sekolah! Untuk apalagi jika bukan memberikan 'sesuatu' untuk Gabriel, namun Shilla hanya meletakannya di kolong meja milik Gabriel. Jika hari sebelumnya ia memberikan sebuah puisi –yang ia buat semalaman- hari ini Shilla akan memberikan coklat.Shilla mengeratkan kembali jaket yang ia pakai, sesekali menggosok-gosokan tangannya sendiri. Jelas saja, udara di pagi ini begitu dingin. Akhirnya sampai juga Shilla di depan kelasnya, disana Ify sudah menanti dengan wajah kesal. Siapa coba yang tidak kesal, harus berangkat pagi buta seperti ini. Namun, Ify sudah terbiasa menemani Shilla untuk melakukan hal 'ini. Shilla tersenyum senang melihat Ify sudah setia menunggunya disana."Yuk fy langsung melaksanakan misi" Ujar Shilla. Karena, ruang kelas dua belas ada diatas mereka pun harus menaiki tangga agar samapi di kelas Gabriel. Kebetulan, kelas Ify dan Shilla bersebelahan dengan tangga itu. Setelah sampai dan memastikan kelas itu kosong Shilla pun langsung meletakan coklat ke dalam laci meja Gabriel. Sedangkan Ify bertugas mengawasi siapa tahu tiba-tiba ada yang datang.***Gabriel bersenandung seraya melangkahkan kakinya menuju ke kelasnya. Dia sudah tidak sabar untuk melihat apa yang ada di dalam lacinya setelah sebuah puisi."Pagi bro! Darimana aja lo udah mau bel baru dateng?" Gabriel disambut hangat olehkedua sahabatnya Alvin dan Rio"Males aja, ngapain coba berangkat kesekolah pagi-pagi. Ngga guna" Gabriel menjawab sekenanya."Eh, lu berdua udah liat belum di laci gue ada apaan?" lanjut Gabriel. Alvin dan Rio pun langsung melihat ke dalam laci Gabriel. Tangan Rio mengambil sesuatu dari dalamnya."Waaah coklat bro! Enak nih. Eh ada suratnya nih" Rio pun langsung memberikan surat tersebut kepada Gabriel. Sedangkan coklatnya dimakan Alvin dan Rio. Gabriel segera membaca surat dari penggemar rahasianya tersebut.To : Davindra GabrielSelamat pagi gab! Semangat buat hari ini ya, semoga suka coklat dari aku. Dan aku selalu berdoa supaya kita bisa deket.Fr : S****A"Gue penasaran deh siapa sih orang yang selalu ngasih gue ini itu tiap pagi?" ujar Gabriel setelah melipat surat tersebut dan memasukan ke dalam saku celananya."Kalo gue liat sih itu cewe yel" celetuk Alvin dan langsung mandapat jitakan dari Rio dan Gabriel."yaiyalah Vin cewe, masa iya cowo. Kalo iya berarti cowo itu homo dong ihhh" Rio bergidik. "Yakan gue cuma nebak" Alvin membela diri"Pokoknya lo berdua harus cari tau itu siapa. Enam huruf dengan inisial 'S'" ujar Gabriel dingin. Tak lama kemudian terdengar suara bel***Bel berbunyi kembali. Kali ini menandakan bahwa pelajaran telah usai. Shilla dan Ify segera keluar dari kelasnya, menghirup udara segar setalah berkutan dengan soal-soal fisika yang membingungkan pada jam pelajaran terakhir."Fy, ini hari Rabu kan ya? Seperti biasa dong Fy, nanti gue beliin ice cream deh buat lo" Shilla tersenyum manis. Seperti biasa, hari Rabu adalah hari Tim Basket mengadakan latihan. Ify dan Shilla tidak pernah absen melihat mereka berlatih, ya walaupun Shilla harus membujuk Ify terlebih dahulu agar ia mau menemaninya melihat latihan basket, lebih tepatnya melihat Gabriel. Ify mendesah, sebenarnya hari ini ia sangat malas menemani Shilla tapi ini sebagai tugasnya menjadi sahabat yang s-e-t-i-a."Iya bawel. Cepet deh yuk" Mereka berduapun segera menuju ke lapangan basket. Shilla dan Ify berdiri di pinggir lapangan untuk menyaksikan latihan mereka. Bukan hanya mereka yang menonton, anak-anak lainnya juga banyak yang menyaksikan.Saat mereka sedang asik melihat tiba-tibaaDUGG!Shilla langsung berteriak "Ifyyyyyy!!". Bola basket itu mengenai kepala Ify dan alhasil Ify pun pingsan. Gabriel, Rio, Alvin dan anggota tim basket lainnya langsung menghampiri Ify dan Shilla."Sorry, kita ngga sengaja" ujar salah satu anggota tim basket."Mendingan gini, gue bawa dia ke UKS. Kalian lanjutin latihan dan lo pulang aja dianter Rio, dia aman sama gue. Gue yang bakal anter dia pulang" Gabriel menatap Shilla. Shilla menelan ludah. Hatinya berdebar. Untuk pertama kalinya dia ngobrol dengan orang yang sudah dia taksir selama satu tahun ini. Tapi.... Shilla tidak bisa membiarkan Gabriel berdua dengan ify. Apalagi mengantar Ify pulang."Tapi..gue sahabatnya, guemau nemenin dia" elak Shilla"Nggak lo harus pulang sama Rio! Dan ngga ada tapi-tapian" Gabriel langsung mengangkat Ify dan menuju ke UKS meninggalkan Shilla.'Tau gitu gue aja yang pingsan kena bola, enak banget si Ify!' rutuk Shilla dalam hati. Shilla pun pergi meninggalkan lapangan tersebut dan diantar pulang oleh Rio.***"Lo udah bangun?" ujar Gabriel setelah melihat Ify sadar. Ify membelalakan matanya, tak menyangka siapa yang ada di depannya kini. Sosok yang telah lama dicintai sahabatnya walau dalam diam."Shilla mana shillaaa?!" Ify kebingungan mencari Shilla. Gabriel terdiam sejenak mendengar nama Shilla, dia kemudian menghitung jumlah huruf yang ada dalam nama "SHILLA"'Enam. Apa mungkin? Ah mungkin hanya kebetulan'"Oh Shilla temen lo? Dia udah gue suruh pulang tadi. Dan lo pulang sama gue""HAAAAH?!" Ify hanya membulatkan mulutnya mendengar perkataan Gabriel tadi. Perasaannya menjadi tidak enak, ia teringat kepada Shilla. Tanpa mengucapkan apa-apa lagi Gabriel segera menuntun Ify ke mobil dan mengantar Ify pulang."Gue minta nomer handphone lo" ujar Gabriel singkat setelah sampai di depan rumah Ify."Buat?""Udah cepet kasih ke gue, siapa tau gue bisa minta bantuan lo" Tanpa izin dari Ify, Gabriel segera mengambil handphone yang ada dalam tas Ify."Udah dapet nomer lo nih. Turun gih" Ify pun segera turun dari mobil Gabriel dengan kesal. Gabriel segera menjalankan mobilnya lagi.Ify segera memasuki rumah. Betapa kejutnya ia, ternyata Shilla sudah ada di dalam rumahnya dengan wajah seperti ingin memakan Ify. Ify merasa bersalah. Ify kemudian menceritakan semuanya. Untuk kali ini Shilla bisa memaafkan Ify.***Keesokan harinya Shilla dan Ify melancarkan aksinya lagi. Namun, kali ini tanpa sepengetahuan mereka ada sepasang mata yang mengawasi mereka. Orang –yang mengawasi- itu pun tersenyum.Tiba-tiba handphone di saku Ify bergetar. Ternyata ada sebuah pesan dari nomor tak dikenal. Ify segera membuka pesan ituTo : IfyFr : +6283866582xxxPulang sekolah temui gue di taman belakang sekolah. Ada yang mau gue omongin. Lo kesini sendiri tanpa Shilla! GabrielIfy menarik nafas."Kenapa fy?" Tanya Shilla"Shill, ini nyokap gue sms gue nanti suruh pulang cepet. Nanti lo duluan aja gausah bareng gue ya" jelas Ify. Shilla mengernyitkan dahinya heran. Karena biasanya jika Ify diminta pulang lebih cepat mereka tetap pulang bersama. Tapi kenapa kali ini tidak?***"Jadi gadis itu namanya Shilla?" gumam Gabriel"Kenapa emang?" Ify terlihat bingung.Saat ini Gabriel dan Ify sudah duduk dibangku taman di belakang sekolah mereka. Ify sebenarnya malas sekali bertemu dengan Gabriel. Dia takut shilla akan marah jika mengetahuinya. Lagian ada urusan apa Gabriel dengan dirinya?"Dia gadis yang gue incer selama ini" Lagi-lagi Ify dibuat bingung oleh ucapan Gabriel. Gabriel melanjutkan ceritanya"Gue jatuh cinta sama Shilla sejak kita pertama ketemu. Sejak dia pertama masuk di sekolah ini. Gue lihat dia gadis yang beda. Tapi sayangnya gue ngga punya keberanian buat deketin dia. Untuk kenalan aja gue ngga mampu. Gue juga ngga tau nama dia siapa. Yang gue tau gue jatuh cinta sama dia. Lo tau fy? Gue selalu semangat main basket karena apa? Karena ada dia yang nonton. Mungkin kalian ngga tahu kalo gue sering merhatiin Shilla. Maka dari itu pas kejadian kemaren gue ngga ngebolehin Shilla buat nemenin lo. Karena gue tau lo sahabat dia, dan gue butuh bantuan lo supaya gue bisa deket sama dia. Gue takut fy, gue takut dia nggak suka sama gue. Gue takut di tolak fy. Dan akhirnya gue ngga bisa mendem lagi. Jadi sekarang gue minta tolong sama lo, tolong deketin gue sama dia"Ify tertawa mendengar cerita Gabriel tapi setelah itu ify justru memaki Gabriel. Rasa senang menyelinap di hatinya, berarti selama ini cinta sahabatnya tidak bertepuk sebelah tangan."Lo bego yel! Lo pengecut! Lo cowo harusnya lo berani! Shilla aja berani yel deketin lo tanpa sepengetahuan lo. Shilla aja selama ini bisa yel jadi secret admirer lo! Asal lo tau shilla cinta anget sama lo yel! Dia yang selama ini kasih coklat, puisi ke elo! Dia rela berangkat pagi buta buat lo yel! Tapi kenapa lo ngga pernah berani? Lo cewe apa cowoo?!""Gue udah tau kalo shilla yang kasih itu semua ke gue. Gue tadi pagi ngeliat kalian berdua masuk ke kelas gue. Gue baru tau kalo 'Enam Huruf' itu Shilla. Dan saat gue tau itu gue semakin berniat buat deketin shilla. Maafin gue" Jelas Gabriel. Tiba-tiba ada suara yang memotong pembicaraan mereka"I...i....fy... gue gue ga nyangka lo setega ini sama gue fy! Lo bilang lo mau pulang cepet, eh taunya lo disini sama Gab! Jangan-jangan lo berdua ada yang disembunyiin ya dari gue? Untung gue tadi lewat sini fy. Gue kecewa!" Shilla langsung pergi meninggalkan Ify dan Gabriel dengan air mata yang mengalir di pipinya. Ify langsung mengejar shilla, sedangkan Gabriel hanya diam di tempat.***Drrttt... Drrtt...Handphone Shilla bergetar, sebenarnya Shilla malas sekali membuka handphone itu, air mata masih mengalir di pipi shilla saat ini setelah kejadian tadi siang yang ia alami. Bahkan Shilla tidak mau bertemu dengan Ify.Fr : +6283866582xxxSelamat Malam putri cantik. Hapus air mata mu ya. Aku tidak suka melihat mu menangis xxShilla tidak memperdulikan pesan tersebut. Hati nya terasa sangat sakit sakit sekali! Melihat apa yang dilakukan sahabat dan orang yang sangat di cintainya tersebut.***Sudah seminggu Shilla dan Ify bermusuhan, shilla sudah tak mau mendengar penjelasan Ify. Sudah seminggu pula, nomor asing tersebut terus memberi pesan kepada shilla. Isi pesannya bermacam-macam. Bahkan dalam pesan tersebut bomor itu menyatakan cinta kepadanya! Shilla benar-benar penasaran dengan orang tersebut. Orang itu telah membuatnya risih.Kali ini Ify pergi kerumah Shilla, ia ingin meminta maaf lagi."Shill" panggil Ify"Ngapain lo kesini? Mau nyakitin gue lagi? Belum puas lo pengkhianat?" Shilla tersenyum devil. Sebenarnya hatinya sakit memanggil Ify dengan pengkhianat"Dengerin gue dulu shill. Gue mau jelasin semuanya" Ify kemudian menjelaskan percakapan antara dirinya dengan Gabriel. Shilla yang mendengarnya kemudian menangis. Menangis karena rasa bersalah telah memusuhi Ify dalam waktu seminggu ini."Lo ga bohong kan fy? maafin gue" Shilla menunduk"Buat apa gue bohong sama lo shill? Lo sahabat terbaik gue" Shilla langsung memeluk Ify"Selamat sayang cinta lo berarti terbalaskan..." bisik Ify***Sepulang sekolah lagi-lagi shilla mendapat sebuah pesan dari nomor tersebutFr : +6283866582xxxSiang cantik. Kalo kamu penasaran siapa aku temui aku sekarang di taman belakang sekolahxxShilla mengernyitkan dahinya kemudian menatap Ify. Ify sudah tau bahwa itu adalah Gabriel. Ify lalu tersenyum yang artinya menyetujui bahwa Shilla harus bertemu pemilik nomor tersebut.Shilla kemudian menuju taman belakan sekolah.Sepi. Tidk ada siapa-siapa. Shilla duduk di sebuah bangku disana menunggu orang tersebut. Lama sekali orang itu tidak dating. Shilla hampir saja pergi dari tempat itu. Namun ada sebuah suara yang mencegahnya"Mau kemana cantik?" Shilla menoleh kebelakang. Hatinya berdebar kencang melihat sosok itu, Gabriel."Nggg...ngapain kamu disini?" Shilla menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal untuk mengurangi rasa gugup"Kamu sendiri ngapain disini?""Loh kok balik tanya? Aku mau ketemu sesoran disini""Kamu udah ketemu orang itu kok" Gabriel tersenyum. Apa maksud Gabriel itu? Shilla terlihat bingung"Aku orang itu shill,aku penggemar rahasiamu yang selama ini mengirim pesan-pesan itu. Maaf atas kejadian seminggu yang lalu. Maaf atas sifatku yang pengecut. Aku tahu shill kamu yang selama ini memberiku coklat dan puisi, kamu juga pasti sudah tau atas cerita Ify kan? Maaf shill, aku ngga bisa romantic. Tapi satu hal yang harus kamu tau, aku sayang sama kamu shill. Apa kamu mau nerima aku sebagai pacar kamu shill?"Seketika wajah Shilla memerah. Ternyata yang dikatakan Ify kepadanya benar. Ah bodohnya ia telah memaki Ify waktu itu."Jadi kamu orangnya ya Gab." Shilla memasang wajah kecewa. Melihat wajah shilla, Gabriel menjadi takut bahwa ia akan di tolak oleh Shilla. Kemudian Shilla tersenyum."Aku mau kok jadi pacar kamu" Gabriel langsung memeluk shilla dan mengelus kepala Shilla. Ah akhirnya penantian dia terbayarkan sudah, begitupun shilla tidak sia-sia ia menjadi seorang Secret Admirer untuk Gabriel.END
TROUVAILLE
" Tin. Kamu di mana? Aku udah di dalem aula. " ucap ku pada sahabat ku Tina saat aku menelepon dirinya.Kami berdua saat ini memang sedang berada di dalam aula sebuah mall. Karena saat ini, sedang ada acara konser Kahitna di aula tersebut. Aku dan Tina memang sudah berencana lama untuk datang ke konser mereka.Tapi masalahnya, aku dan Tina saat ini terpisah. Sedangkan nyaris semua kursi sudah terisi. Apalagi para penonton tidak di tentukan tempat duduknya. Sehingga kami harus mencari tempat yang strategis untuk menonton penampilan mereka semua." aku juga di dalem Ris. Aku udah dapet kursi. Tapi cuma dapet satu. Ini juga agak di tengah. Gimana ya? " sahut Tina di seberang sana." gitu? Ya udah, aku cari kursi ku sendiri ya. Nanti kita chat-an aja kalo mau pulang. Ya? " ucap ku. Sedikit tenang karena Tina sudah mendapat kursi untuk nya dan tinggal mencari untuk diri ku sendiri." oke deh. Kamu sendiri hati - hati Ris. " balas Tina di seberang sana dan membuat ku akhirnya mematikan sambungan telepon kami setelah mengiyakan ucapannya. Sembari mulai mencari - cari tempat duduk untuk ku.Sebenarnya, saat ini aku melihat ada sebuah tempat strategis untuk diri ku duduk. Apalagi kursi itu berada di depan panggung. Membuat kursi itu menjadi kursi yang sangat strategis untuk diri ku melihat konser Kahitna ini.Tapi sayangnya, kursi itu tinggal satu yang kosong. Sedangkan di sampingnya ada seorang pria yang sedikit lebih tua dari ku yang semenjak tadi terus saja memandang ku lekat. Dan di sampingnya lagi ada sepasang muda mudi yang duduk. Membuat ku yakin jika satu kursi itu juga merupakan kursi dari pasangan pria itu.Dan baru saja aku akan beranjak dari tempat ku berdiri saat ini, pria itu memanggil ku. Membuat ku terkejut karena memang aku tak mengenal dirinya." duduk di sini aja. " ujar pria itu." eh, gak usah kak. Nanti kalau temen kakak datang, malah susah. " jawab ku sopan." gak papa. Aku sendiri kok. Di samping ku memang kosong. Dari pada kamu dapet kursi yang di belakang kan. Mending di sini. " ujarnya dan jujur saja, itu terdengar sangat menggiurkan untuk ku. Membuat ku tanpa sadar mulai berjalan guna mendekatinya." beneran gak papa kak? " tanya ku memandang dirinya dengan seksama. Dan baru ku sadari, jika pria yang menegur ku tadi cukup tampan. Dengan senyum yang manis dan tatapannya yang teduh." iya. Gak papa kok. Duduk aja. " jawabnya dengan senyum yang tak berhenti semenjak tadi. Membuat ku akhirnya duduk di sampingnya dengan perlahan seraya terus memandang dirinya." makasih banyak kak. " ucap ku tulus seraya menundukkan tubuh ku sedikit. Berupaya bersikap sopan pada pria yang sudah berbaik hati ini." it's oke. Santai aja. Oh ya. Nama ku Daniel. Daniel Arditya. " sahutnya tenang." nama ku Risna. Samantha Risnalda. " ujar ku membalas ucapannya." kamu datang sendirian? " tanya dirinya memandang ku. Entah perasaan ku saja, atau tidak. Tapi ku lihat dirinya sedikit khawatir." enggak kok. aku sama temen ku. Tapi pas masuk aula tadi, aku sama dia kepisah. Trus dia udah dapet kursi. Kasian kalo harus ku suruh bareng sama aku. " jawab ku." tapi harus tetep hati - hati. Gak baik cewek jalan sendiri - sendiri kayak gitu. Kalo ada apa - apa kan bahaya. " tegur nya sembari menasehati ku." iya kak. " jawab ku sopan.Apalagi mendengar dirinya yang begitu menasehati ku layaknya seorang keluarga. Membuat ku bersyukur karena bisa bertemu dengan orang baik seperti dirinya. Tak lupa aku mengangguk untuk mengiyakan ucapannya tadi. Dan setelah itu, kami berdua pun sibuk dengan kesibukan kami masing - masing.*****Tak berapa lama aku merasakan pria itu memandang ku dengan seksama. Membuat ku mengangkat kepala dari handphone ku dan balas memandangnya dengan raut wajah kebingungan dan setengah penasaran." ada apa kak? Ada yang aneh ya sama muka ku? " tanya ku pada dirinya dan membuat dirinya tersenyum simpul." enggak kok. Tapi, boleh aku minta tolong padamu? " tanyanya dengan sedikit permohonan yang tersirat pada nada suaranya." mau minta tolong apa kak? " tanya ku pada dirinya." bisa aku titip tas kecil ku ini? Aku mau keluar sebentar, nerima telepon dari teman ku. Di sini agak mulai berisik. " ujar pria itu sembari menunjuk tas selempang kecil miliknya yang ada di belakang tubuhnya.Saat ini dirinya sedang memegang handphonenya yang semenjak tadi berdering tanpa henti. Apalagi, suasana di dalam aula ini memang sudah penuh dengan orang - orang yang ini menonton konser Kahitna. Sehingga suasana memang cukup bising dan berisik.Dan berhubung aku sudah di berikan tempat duduk oleh dirinya. Bahkan secara cuma - cuma, Aku pun menyanggupi permintaannya dan menganggukkan kepala ku. Setidaknya itu sebagai balas budi ku pada dirinya." oh. Boleh kok kak. " sahut ku mengangguk. Kebetulan acara akan berlangsung kurang dari sepuluh menit lagi. Sehingga aku berharap sedikit banyak dirinya akan cepat kembali." aku janji hanya sebentar. I promise. " ucapnya berjanji pada ku sebelum dirinya berdiri. Dirinya cukup sadar jika acara akan segera di mulai. Dan membuat ku menganggukkan kepala ku sembari tersenyum menenangkan nya." iya kak. Santai aja. " ujar ku tersenyum. Dan akhirnya dirinya pun meninggalkan ku sendiri.*****" hai cewek. Kok sendirian aja? Temenin om yuk sayang. "" sini aja sama kita. Dari pada sendirian. Kan. Om gak gigit kok. Om suka liat kamu sayang. "" iya. Mending nemenin kita. Kita cuma ada satu cewek nih. Gabung yuk manis. " dapat ku dengar ada beberapa pria paruh baya yang berbicara seperti itu di belakang ku.Ku rasa mereka duduk tak jauh dari barisan tempat duduk ku. Dan aku yakin, mereka menggoda ku. Karena di beberapa baris ini, hanya aku yang duduk sendiri tanpa teman setelah Daniel yang duduk di samping ku pergi.Dan ucapan pria - pria yang terdengar sudah berumur itu amat sangat menakutkan bagi ku. Tanpa sadar membuat tubuh ku bergetar dan membuat ku menutup ke dua mata ku. Berharap jika ada yang akan menolong ku. Jujur saja, dengan aku yang di goda seperti itu kembali mengingat kejadian menyakitkan dan menyeramkan untuk ku beberapa waktu yang lalu.Apalagi, tidak ada seorang pun yang mau membantu ku saat ini. Atau setidaknya menegur pria - pria itu. Semua orang yang mendengar pun sibuk dengan aktivitas mereka masing - masing.Nyaris saja aku terisak karena godaan dari pria - pria itu tak berhenti, bahkan semakin lama justru semakin parah. Tapi tiba - tiba saja, aku di kejutkan dengan keadaan kursi kosong di samping ku yang terasa di duduki seseorang. Dan langsung membuat ucapan - ucapan menggoda dari arah belakang langsung hilang tak berbekas.Aku pun langsung membuka mata dan menemukan Daniel yang duduk di samping ku kini sudah kembali duduk. Dirinya duduk sedikit mendekat ke arah ku sembari memandang ke belakang dengan tatapan tajamnya. Dengan wajah yang sedikit dingin. Bahkan dapat ku rasakan jika paha dan tubuh ku sedikit bersentuhan dengan paha dan juga tubuhnya. Membuat ku tanpa sadar justru bernafas lega karena dirinya yang langsung duduk di samping ku." kamu gak papa? " tanya Daniel pada ku setelah membuat pria - pria hidung belang itu berhenti menggoda ku. Seraya dirinya mengalihkan pandangannya ke arah ku. Dan memandang ku dengan seksama. Dirinya sadar jika aku begitu ketakutan saat ini." enggak. Gak papa. " jawab ku singkat dengan nada bergetar. Masih dengan posisi yang penuh rasa takut.*****" kak. " panggil ku pada Daniel tak berapa lama dari kejadian tadi." ya? Ada apa Ris? " tanya Daniel yang semenjak datang terus memperhatikan diri ku yang ketakutan." boleh aku megang tangan kakak? Aku takut. " cicit ku lirih. Sedikit takut jika pria itu menolak dan berfikir bahwa aku adalah perempuan yang sedikit nakal. Apalagi kami yang belum terlalu kenal." tentu saja. " sahutnya sembari menarik tangan ku ke dalam genggamannya dan menggenggamnya dengan erat.Tak lupa dirinya mengelus punggung tangan ku untuk menenangkan ku. Ulah nya ini jujur saja, dapat menenangkan ku. Dan tanpa sadar membuat ku merapatkan duduk ke arah dirinya." apa kau ingin minum sesuatu? Aku bisa membelikan mu. Di dekat sini ada food court. " ujar Daniel yang tak tega pada ku. Dirinya juga sadar jika aku semakin merapatkan tubuh ku yang gemetar pada dirinya." ja... Jangan. To... Tolong jangan tinggalkan aku lagi kak. Aku takut. " ujar ku menggeleng cepat dan tanpa sadar, aku memeluk lengannya dengan sebelah tangan ku yang bebas dan tak di genggamnya." oke oke. Aku tak akan ke mana - mana. Aku akan di sini saja. Bersandar lah di lengan ku Ris. Wajah mu pucat. Sepertinya kau butuh sandaran. " pinta Daniel seraya mengamati wajah ku yang masih saja terlihat ketakutan. Dirinya pun memilih untuk tak meninggalkan ku lagi." apa tak masalah? Jika aku bersandar? " tanya ku tanpa ada niat untuk menolak. Karena jujur saja, aku saat ini memang sudah terlalu lemah." sure. Biar mereka mengira kau pacar ku. Itu akan membuat mereka tak menganggu mu lagi. " ujarnya meyakinkan ku.Entah kenapa. Ucapannya ini justru membuat ku merasa yakin dan tanpa ada paksaan dari dirinya, aku pun mulai menyandarkan kepala ku di lengannya dengan perlahan. Membuat Daniel mencoba menyamankan posisi ku di samping dirinya. Kini aku dan Daniel benar - benar terlihat seperti pasangan yang tengah di mabuk asmara." maaf merepotkan kakak. Dan terima kasih karna sudah membantu ku. "" santai saja. Aku senang bisa membantu. " sahutnya. Sembari melirik ku sesekali. Memastikan jika aku sedikit lebih tenang.*****Tak terasa, konser yang sudah lama ku nanti kan ini sudah separuh jalan. Dan aku benar - benar menikmati jalannya konser ini. Apalagi dengan Daniel yang berada di sebelah ku. Kami berdua sering kali mengobrol dan saling bertukar cerita. Sehingga membuat kami mulai cukup dekat. Dirinya pun mencoba untuk tidak membuat ku mengingat kejadian tadi.Tapi sayangnya, pembicaraan kami berdua sedikit terhenti karena host acara mulai kembali memasuki panggung." oke. Karena kita sudah di tengah jalan, kami semua ingin memberi kejutan pada kalian. Kami akan memilih satu penonton untuk bernyanyi bersama dengan Kahitna di atas panggung. Dan kami akan mulai memilih penonton yang beruntung. " ucap host tersebut. Membuat ku sedikit tersenyum dengan ucapan host itu. Seraya menerka - nerka siapa orang yang beruntung bisa bernyanyi di panggung bersama Kahitna.Dan dua buah lampu sorot yang berada di sisi kiri dan kanan pun mulai menyoroti kami para penonton. Tiba - tiba saja, tak berapa lama kemudian, lampu itu menyorot ke arah dirinya ku. Membuat ku merasa sedikit silau dan mengubur wajah ku di lengan atas Daniel. Daniel sendiri yang merasa aku kesilauan pun merentangkan jemarinya di depan wajah ku untuk menghalau kilatan lampu dari wajah ku." euggh. "" silau ya? " tanya Daniel paham seraya memandang ku yang mengubur wajah ku di lengan atasnya." iya. Silau banget. " sahut ku menjawab dan tetap menyembunyikan wajah ku di lengannya. Aku pun mengangguk dan menyebabkan wajah ku langsung bergesekan dengan pakaian milik Daniel.Baru saja Daniel ingin bicara dengan ku lagi, tapi MC itu sudah memanggil ku untuk naik ke atas panggung. Membuat ku akhirnya mengangkat wajah ku untuk memandang Daniel dengan seksama. Dan beruntungnya, aku sudah terbiasa dengan sinar dari lampu sorot yang masih menyorot ke arah ku dan Daniel." naiklah. Dan jika mereka bertanya kau dengan siapa. Bilang saja kau pergi dengan aku sebagai pacarmu dan teman mu. " ucap Daniel mencoba membantu ku sekali lagi." gak papa? Bilang kakak pacar ku? " tanya ku memastikan. Aku hanya tak yakin dengan tawarannya ini." gak apa. Supaya pria - pria yang menganggu mu tau kalau kau sudah punya pacar. Dan biar gak ada yang menggoda mu lagi. Bukan gak mungkin keluar dari aula ini kamu masih di ganggu mereka. " jawab Daniel yang membuat ku menganggukkan kepala ku." baiklah. " jawab ku sebelum aku berdiri dan mulai melangkah menaiki panggung dengan canggung.*****" hallo. Siapa nama mu? " tanya host itu pada ku begitu aku sudah berada di tengah panggung. Bersama dengan ke tiga vokalis Kahitna, Hedi Yunus, Carlo Saba dan Mario Ginanjar." erh, hai. Nama ku Risna. Samantha Risnalda. " jawab ku kikuk. Karna jujur saja, ini kali pertama aku berdiri begitu dekat dengan ke tiga penyanyi favorit ku." santai aja. Jangan tegang begitu. " ucap Hedi Yunus sembari tertawa karna melihat diri ku yang begitu kikuk." i... Iya. " sahut ku. Semakin membuat mereka tertawa karena kekikukkan ku ini." ke sini sama siapa Risna? " tanya Mario mencoba mencairkan suasana. Membuat ku beralih memandang dirinya." erg. Bareng temen ku sama pacar ku kak. " jawab ku memutuskan untuk mengikuti permintaan Daniel tadi sebelum aku naik ke atas panggung.Dan ucapan ku ini berhasil membuat suasana aula bergemuruh. Karna ke tiga vokalis Kahitna ini langsung menggoda ku. Bahkan membuat ku memerah malu. Jawaban ku ini pun akhirnya membuat lampu sorot mulai menyoroti Daniel yang notabene duduk di samping ku dan menjadi sandaran ku saat aku terpilih untuk naik ke atas panggung tadi. Apalagi memang, sampai saat lampu menyorot ku tadi, aku terus menerus bersandar pada Daniel. Dan mengobrol dengan dirinya. Sehingga tak kaget jika mereka langsung mengira Daniel adalah pacar ku." ayo ke sini. " suruh mereka bertiga bersama dengan host saat lampu menyorot Daniel.Membuat Daniel langsung mengikuti ku untuk menaiki panggung. Dan kini dirinya berdiri di samping ku dengan sebelah tangannya yang memegang pinggang ku. Aku sendiri sama sekali tak mencoba untuk menyingkirkan tangan Daniel di tubuh ku. Aku justru mendiamkan ulah nya ini dan menikmati rasa tenang yang langsung hinggap di hati ku saat Daniel berdiri di samping ku.*****" katamu kamu bertiga dengan pacar mu dan teman mu? Di mana teman mu? " tanya Carlo pada ku dan Daniel." teman ku berpisah duduk dengan kami berdua. " sahut ku jujur mengingat aku sebenar nya dengan Tina terpisah bahkan semenjak aku belum kenal dengan Daniel." wah, dia gak mau jadi obat nyamuk ya. " ucap Mario tertawa. Membuat seluruh penonton juga ikut tertawa karena kelakarnya ini." kalian sudah lama pacaran? " tanya Hedi Yunus sembari memandang ke arah ku dan Daniel.Membuat ku tertegun bingung harus menjawab seperti apa. Apalagi, aku dan Daniel yang memang baru mengenal beberapa saat yang lalu. Namun aku di kejutkan dengan Daniel yang begitu saja menjawab dengan amat lancar." gak terlalu lama sih. Tapi aku merasa udah klop sama Risna. " jawab Daniel.Dan jawabannya ini semakin membuat para penonton semakin bersorak. Bahkan aku baru sadar jika aku dan Daniel sama - sama memakai baju berwarna putih. Jika Daniel sedang memakai kemeja berwarna putih. Maka aku sendiri saat. Ini memakai blouse lengan pendek berwarna putih juga.*****" oke. Karena yang maju saat ini adalah pasangan kekasih, bagaimana kalau kita ajak mereka bermain game kecocokkan? " tanya host pada para penonton dan langsung di setujui oleh para penonton dan para personel Kahitna.Membuat ku dan Daniel langsung berpandangan. Pasalnya, kami berdua sama sekali tak mengetahui bagaimana pribadi masing - masing. Dan bisa di pastikan kami akan banyak yang tak cocok.Tapi tatapan Daniel begitu menenangkan ku. Apalagi tangannya yang masih di pinggang ku kini mulai bergerak mengelusi pinggang ku dengan teratur. Membuat ku sedikit tenang dan mengikuti alur permainan saat ini.Dan permainan kecocokan antara aku dan Daniel pun mulai berjalan. Aku yang awalnya begitu takut - takut menjalani game ini pun mulai rileks dan bisa menikmati permainan. Bahkan, aku dan Daniel nyaris menjawab semua pertanyaan dengan benar. Aku dan dirinya hanya salah menjawab empat dari sepuluh pertanyaan yang di ajukan oleh host dan ke tiga vokalis Kahitna. Benar - benar sebuah keberuntungan. Mengingat jika aku dan Daniel baru mengenal satu sama lain.*****Setelah aku dan Daniel turun dari panggung, aku merasakan jika handphone ku yang ku simpan di tas kecil ku bergetar semenjak tadi. Dan rupanya Daniel pun merasa jika ada yang menelepon ku, karena aku langsung memegang handphone ku." siapa? " tanya Daniel memandang ku lembut." temen ku kak. Yang tadi ke pisah sama aku. " jawab ku pada Daniel yang membuat dirinya mengangguk pelan." angkat gih. Dia pasti kaget liat kamu naik panggung sama aku. Apalagi denger kita pacaran kan. " ujar Daniel tersenyum seraya menyarankan pada ku dan membuat ku mengiyakan ucapannya ini." ntar aja kak. Berisik di sini. " ucap ku sembari menggelengkan kepala." ngobrolnya di belakang badan ku aja. Kayaknya bakal ketutupan deh suaranya kalo kamu nerima telepon di belakang badan ku. Kasian dia. Pasti khawatir. " balas Daniel yang mulai mencari cara agar aku bisa mengangkat telepon dari Tina.Aku yang memang sudah tak enak pada Tina karena lama mengangkat teleponnya pun akhirnya mau tak mau mengiyakan ucapan Daniel. Aku juga tak mungkin keluar ruangan ini hanya untuk mengangkat telepon dari Tina. Sehingga aku menerima telepon darinya di tempat duduk ku saat ini." iya deh. " sahut ku dan mulai mengangkat telepon dari Tina, sahabat ku.Beruntungnya, Daniel cukup paham jika ruangan itu cukup berisik. Sehingga, dengan gesture tubuhnya, dirinya meminta aku menelpon di belakang tubuhnya dan membuat ku seperti bersandar di punggungnya. Daniel pun memajukan tubuhnya sedikit untuk menutupi ku yang tengah bicara dengan Tina lewat telepon.******" hallo. "" gila. Siapa tuh? Cerita sama aku. " ujar Tina begitu aku mengangkat telepon." iya iya. Nanti ku ceritain abis kita keluar dari aula. " jawab ku." enggak. Gak ada. Cerita sekarang pokoknya. "" astaga. Maksa deh. " kekeh ku." kudu ah, cepet. Aku penasaran. " ucap Tina memaksa.Membuat ku akhirnya menceritakan awal mula pertemuan ku dengan Daniel hingga akhirnya aku naik ke atas panggung bersama dengan dirinya. Aku juga menceritakan bagaimana aku di goda oleh beberapa pria berumur saat acara belum di mulai. Dan cerita ku ini berhasil membuat Tina tak tenang karena khawatir." kamu gimana? Gak papa? Trauma mu? " tanya Tina. Dapat ku rasakan kekhawatirannya pada ku dalam getar suaranya." gak papa. Untung kak Daniel cepet dateng nolongin. " jawab ku tersenyum mengingat bagaimana Daniel menolong ku tadi." syukurlah. Tolong bilangin rasa terima kasih ku sama dia. Udah jagain kamu. " sahut Tina membuat ku tersenyum haru atas perhatian sahabat ku ini." iya. Nanti aku sampein. " balas ku. Aku dan Tina pun masih terlibat pembicaraan sebentar sebelum akhirnya aku memutuskan sambungan telepon ku bersama dirinya.*****" sudah? " tanya Daniel ketika dirinya merasa aku mulai kembali duduk seperti semula." udah kak. Temen ku bilang makasih. "" makasih? Makasih buat apa? " sahut Daniel tak mengerti dengan ucapan ku." makasih karna kakak udah nolong aku tadi. Dari... " ucap ku terhenti sembari melirik ke arah belakang dan membuat Daniel mengerti." its okay. Santai aja. Lagipula sudah seharusnya perempuan itu di jaga. Bukan di lecehin kayak gitu. " jawab Daniel yang tanpa sadar menambah nilai plus dirinya di mata ku." mm iya. Sekali lagi makasih ya kak. " ujar ku lagi. Membuat Daniel menganggukkan kepala nya menghadap diri ku. Kami pun kembali tenggelam dalam keasyikan menonton konser Kahitna ini hingga selesai.*****