Temukan Cerita Inspiratif

Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.

Total Cerita

1144

Genre Romance

230

Genre Folklore

228

Genre Horror

228

Genre Fantasy

230

Genre Teen

228

Reset
Kisah Malim Deman
Folklore
25 Feb 2026

Kisah Malim Deman

Pada zaman dahulu kala di suatu daerah di Sumatera Barat, hiduplah seorang pemuda yatim piatau ia bernama Malim Demam. Pemuda ini sangat rajin dalam bekerja dan akhlaknya sangat baik, sehingga ia cukup terkenal di desanya. Hampir setiap hari ia gunakan waktunya untuk menggarap sawah dan beberapa ladang sayuran sepeninggalan kedua orangtuanya. Letakkanya pun cukup jauh dari rumahnya. Ia bekerja dengan pamannya.Di sekitar sawah yang ia garap, terdapat rumah yang ditempati oleh janda tua seorang diri. Masyarakat setempat memanggil janda tua ini dengan nama Mandeh Rubiah. Karena letak sawah dan rumah janda tua ini sangat dekat. Malim Deman sangat akrab dengan janda tua ini, bahkan Malim Daman sudah dianggap sebagai anaknya sendiri. Kearaban yang terjalain terjadi karena setiap istrihat dari menggarap sawah, Malim Daman selalu menggunakan teras rumah janda tua ini sebagai tempat berteduh dan istirahat, terkadang janda tua ini memberikan minum dan makanan seadanya yang ada dirumahnya. Karena hal inilah terjalin hubungan seperti seorang ibu dan anak.Pada suatu malam, seperti biasanya Malim Deman kembali kesawah untuk menjaga tanaman padinya. Ia sendirian menjaga padi ditengah-tengah sawah tanpa ada rasa takut sedikit pun, karena hal tersebut sudah sering dilakukannya. Beberapa jam menunggu sawah Malim Deman merasa tenggorokannya kering, sehingga ia berniat untuk meminta air minum dirumah Mandeh Rubiah janda tua yang rumahnya di dekat sawanya. Lantas ia lansung menuju rumah Mandeh Rubiah untuk segera meminta air minum. Sebelum Malim Deman tiba di rumah Madeh Rubiah, Malim Deman mendengar ada suara beberapa perempuan di belakang rumah Mandeh Rubiah. Dengan berjalan pelan-pelan agar tidak diketahui kedatangannya, Malim Deman segera menuju sumber suara yang didengarnya itu.Malim Deman terkejut dan dengan perasaan tidak percaya, ternyata suara yang ia dengar merupakan suara tujuh bidadari yang sedang mendi di kolam yang berada tepat di belakang rumah Mandeh Rubiah. Malim Deman sangat terpesona dan seakan-akan jantungnya berhenti berdetak tatkala melihat kecantikan para bidadari itu yang wajahnya begitu bersinar ketika para bidadari terkena sinar rembulan yang tengah purnama. Malim Deman juga melihat tujuh selendang yang tergeletak tepat di dekat kolam itu. Malim Deman berpikir bahwa selendang itu digunakan para bidadari untuk terbang kekhayangan. Maka, dengan pikran seperti itu, Malim Deman dengan berjalan mengendap-endap dia mendekati tujuh selendang bidadari itu dan mengambil salah satu dari selendang. Setelah mengambil salah satu dari selendang bidadari itu, Malim Deman dengan cepat langsung menyembunyikan dan ia kembali mengintip ketujuh bidadari yang sedang mandi tersebut.Menjelang waktu pagi datang, tujuh bidadari telah selesai dan memakai dari mandinya dan berniat untuk kembali kekhayangan, kemudain para bidadari mengambil selendang mereka masing-masing. Tetapi salah satu bidadari yaitu bidadari yang paling muda sendiri umurnya, terkejut ketika melihat selendangnya tidak ada, setelah beberapa saat mencari tetap saja ia tidak dapat menemukan selendangnya. Para bidadari-bidadari lainpun mengerahkan kemampuannya untuk ikut mencari selendangnya, nemun hingga menjelang fajar selendang bidadari yang paling muda tetap saja tidak ditemukan. Karena matahari tidak lama lagi akan terbit, maka dengan terpaksa keenam bidadari yang sudah mendapatkan selendangnya meninggalkan bidadari yang paling muda ini. Dengan selendangnya itu para bidadari terbang secara bersamaan menuju ke khayangan.Sepeninggalan bidadari-bidadari yang lain, bidadari yang paling muda ini menangis. Ia ketakutan untuk tinggal di bumi seorang diri. Melihat secara langsung kejadian tersebut, Malim Deman lantas mendekati dan menghibur bidadari itu dan menanyakan siapa sebenarnya namanya, bidadari menjawab bahwa namanya adalah putri bungsu. Malim Deman kemudian mengajak bidadari itu kerumah Mandeh Rabiah. Dengan hati yang sangat gembira Mandeh Rabiah menerima bidadari itu dan mengakuinya sebagai seorang anak.Setelah mengantarkan bidadari yang bernama putri bungsu itu, Malim Deman kembali kerumahnya. Sesampainya dirumah, Malim Deman menceritakan kejadian yang dialaminya kepada pamannya. Dan dijelaskan pula jikalau dirumah Mandeh Rabiah ada bidadari yang sangat cantik sekali. Kemudian Malim Deman menyembunyikan selendang yang ia ambil tanpa sepengetahuan bidadari.Sejak saat itu Malim Deman semakin rajin berkunjung kerumah Mandeh Rabiah untuk sekedar menemui putri bungsu. Malim Deman dan putri bungsu pun semakin mengenal dan semakin akrab. Tidak lama kemudian dari keakraban tersebut mulailah muncul perasaan saling jatuh cinta. Kemudian setelah memadu kasih beberapa saat akhirnya Malim Deman dan putri bungsu melangsukan pernikahan. Tidak beberapa lama mereka dikaruniai anak laki-laki yang gagah dan memberinya nama Sultan Duano untuk anak tercintanya itu.Putri bungsu semula sangat merasakan kebahagiaan yang tiada terkira memiliki suami seperti Malim Deman. Namun sejak Sutan Duano lahir, sikap Malim Deman menjadi berubah sedikit demi sedikit. Malim Deman menjadi lebih banyak menghabiskan waktunya disuatu tempat perjudian. Ia mulai menyukai menyabung ayam dengan menggunakan taruhan. Begitu menyukainya dengan dunia perjudian, Malim Deman seringkali tidak pulang berhari-hari lamanya.Putri bungsu sangat bersedih melihat sikap sang suami yang semakin berubah menjadi sangat buruk. Ia terkadang menangis sendiri meratapi nasib yang dijalaninya. Kerinduannya untuk pulang kembali ke asalnya sekilas sering muncul tatkala ia meratapi nasibnya. Hingga semakin lama rasa untuk pulang ke khayangan semakin besar. Hingga pada suatu saat dia secara tidak sengaja menemukan selendang yang di sembunyikan oleh Malim Deman. Lantas dengan menemukan selendang tersebut, putri bungsu menemui teman dari Malim Deman. Dan meminta tolong untuk disampaikan kepada Malim Deman, bahwa dirinya dan putranya Sutan Duano akan kembali ke tempat asalnya yaitu khayangan.Teman dari Malim Deman segera mencari dimana Malim Deman berada, ternyata Malim Deman sedang berada di tempat perjudian. Setelah bertemu dengan Malim Deman, temannya itu menyampaikan pesan yang telah diberikan putri bungsu.Mendengar berita tersebut, Malim Deman panik dengan terburu-buru ia segera pulang kerumah untuk menemui istrinya dan anaknya. Namun sudah terlambat. Sesampainya dirumah, istri dan anaknya sudah tidak ada. Istrinya telah membawa anak kesayangannya kembali ke khayangan. Malim Deman hanya dapat menyesali kepergian anak dan istrinya. Namun penyasalan hanyalah sebuah penyesalan, yang tidak mungkin akan bisa dikembalikan seperti semula. Akibat sikap buruknya tersebut, Malim Deman harus kehilangan keluarga yang sebenarnya sangat ia cintai.Pesan Moral : Kita dapat mengambil hikmah dari kisah Dongeng/cerita rakyat Sumatera Barat (Kisah Malim Deman), salah satu hikmah yang dapat kita ambil adalah berjudi hanyalah akan merugikan diri sendiri dan keluarga di kemudian hari. Hendaknya kita menghidari perbuatan buruk tersebut agar tidak mengalami kerugian di kemudian hari. Kita juga harus berhati-hati dalam bertindak karena penyesalan dikemudian hari tidak ada gunanya.

Si Lebai
Folklore
25 Feb 2026

Si Lebai

Si Lebai adalah seorang guru agama. Ia dikenal sebagai pemuda yang baik hati. Semua orang menyukainya. Namun sayang, ia memiliki satu kekurangan, yaitu selalu bimbang. Ya, si Lebai tidak bisa dengan cepat mengambil keputusan. Ia selalu bimbang apakah harus begini, atau harus begitu. Akibat kebimbangannya, si Lebai sering kali gagal mencapai tujuannya.Suatu pagi, si Lebai pergi memancing. Rupanya ia kehabisan bahan makanan. "Makan siang dengan lauk ikan goreng, hmmm... pasti nikmat," katanya dalam hati. Untuk bekal selama memancing, si Lebai membungkus singkong rebus. Ia lalu mengajak anjing kesayangannya.Setelah menunggu beberapa lama, tiba-tiba pancingnya bergerak-gerak. "Asyik... umpanku kena!" teriaknya kegirangan. Ia menarik pancingnya, tapi susah sekali. Sepertinya kail itu tersangkut sesuatu. Si Lebai pun memutuskan untuk terjun ke sungai. Ia ingin melihat, apa yang menyebabkan kaiinya tersangkut.Si Lebai melepas bajunya. Ia sudah hampir terjun ke sungai, ketika tiba-tiba teringat sesuatu. "Waduh, jika aku terjun ke sungai, bagaimana dengan singkong rebusku? Nanti dimakan anjingku?" katanya dalam hati. Akhirnya ia tidak jadi terjun ke sungai. "Lebih balk kucoba lagi menarik pancinganku ini." Setelah berkali-kali mencoba, pancingnya tetap tak bergerak.Setelah berpikir lagi, si Lebai memutuskan untuk terjun ke sungai. Namun lagi-lagi ia bimbang. "Bagaimana dengan singkong rebusku?" Si Lebai bingung. Setelah lama bimbang, ia pun Iangsung terjun ke sungai. Ternyata benar, kailnya tersangkut di batu besar. Wah, apa itu? Ternyata pancingan si Lebai mengenai ikan mas yang sangat besar. Si Lebai berusaha melepaskan kailnya dari batu. Ia pun menarik-narik ikan itu supaya lepas. Bayangan akan ikan goreng yang lezat membuatnya bersemangat menarik ikan itu.Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Ikan mas besar yang ditariknya itu malah lolos. Ikan mas itu lalu berenang dengan cepat meninggalkan si Lebai yang melongo. Dengan hati kesal, si Lebai kembali ke perahu. Perutnya sungguh lapar. Ia berpikir, sepotong singkong rebus akan membuatnya kengang. Setelah itu ia akan memancing lagi."Aduhh... anjing nakal! Kau makan semua singkong rebusku?" teriak si Lebai kesal. Bungkusan singkong rebusnya sudah robek dan isinya sudah raib. Si Lebai sangat kesal, ikan tak didapat, singkong rebus pun hilang dari genggaman. Andai saja ia tidak bimbang sana, bimbang sini, pasti perutnya sudah dikenyangkan oleh singkong rebus.Di hari yang lain, si Lebai mendapat dua undangan perkawinan. Satu dari kerabat jauhnya di hulu sungai, dan satu lagi dari muridnya di hilir sungai. "Wah, aku menghadiri yang mana ya?Keduanga diadakan pada jam yang sama," pikir si Lebai bimbang. Sampai pada harinya, si Lebai tetap tak bisa memutuskan, undangan siapa yang akan ia hadiri. Menjelang sore, barulah si Lebai bersiap dan mulai mendayung perahunya. Ia menuju ke hulu sungai. Ia dengar, pesta di hulu sungai itu akan memotong dua ekor sapi, dan dua kepala sapi itu akan diberikan kepada si Lebai. "Hmmm, lumayan juga jika aku diberi dua kepala sapi. Bisa untuk persediaan makanan selama seminggu," katanya dalam hati.Sampai di tengah sungai, si Lebai mulai bimbang. "Apa sebaiknya aku ke hilir saja ya? Meskipun pesta di hulu memotong dua ekor sapi, tapi kata orang masakannya hanya sate dan gulai sapi saja. Tidak ada makanan lain. Lagi pula, katanya masakannya kurang enak."Tanpa pikir panjang, si Lebai memutar perahunya ke arah hilir. Yang ia dengar, pesta di hilir hanya memotong seekor sapi, dan kepalanya juga akan diberikan pada si Lebai. Meskipun hanya seekor sapi, tapi jenis masakan yang akan dihidangkan di hilir lebih banyak. Bahkan katanya ada juga kue-kue lezat. Selain itu, si Lebai kenal baik dengan tuan rumah di hilir. Rasanya sungkan jika tak memenuhi undangan mereka."Hai Lebai, kau mau ke mana?" tanya teman-temannya. Mereka naik perahu dari arah hilir. "Aku hendak ke pesta perkawinan muridku di hilir sungai ini," jawab Si Lebai mantap."Oh, kami baru saja dari sana. Kue-kuenya memang enak, juga makanan yang lain. Tapi tamunya sangat banyak, kami tidak bisa makan sepuasnya. Lebih baik kami ke hulu saja, katanya di sana makanannya Iebih banyak. Sapi yang disembelih juga Iebih gemuk," jawab teman-temannya.Si Lebai mulai bimbang lagi. "Bagaimana ini? Jika aku terus ke hilir, mungkin makanannya sudah habis. Atau sebaiknya aku ke hulu saja, ya? Meskipun hanya ada sate dan gulai, tapi aku bisa makan dengan kenyang." Akhirnya ia memutar perahunya kembali ke arah hulu.Namun si Lebai tetaplah si Lebai. Tiap kali ia sampai di tengah sungai, selalu ada saja yang membuatnga ragu meneruskan perjalanan. Sore itu, ia menghabiskan waktu dengan mondar-mandir di sungai saja. Ia tak juga bisa memutuskan apakah ke hulu atau ke hilir. Setelah lelah mendayung perahunya, akhirnya si Lebai memutuskan. "Apa pun yang terjadi, aku ke hilir saja. Aku kenal baik dengan tuan rumah, tak elok rasanya jika aku tak datang," katanya.Si Lebai terus mendayung sampai ke hilir sungai. Akhirnya tibalah ia di desa tempat pesta perkawinan diadakan. Si Lebai yang kelelahan dan kelaparan ingin segera makan. Tapi apa yang terjadi? Ternyata pesta telah usai dan semua makanan habis. Bahkan kue pencuci mulut pun tidak bersisa. Lemaslah si Lebai. Terpaksa ia hanya mengalami tuan rumah dan berpamitan pulang. "Maafkan kami Tuan Lebai. Kami kira Tuan tak datang, jadi kepala sapinya kami berikan pada orang lain," kata sang tuan rumah. Si Lebai hanya bisa mengangguk.Si Lebai lalu menuju ke perahu dan mendayungnya ke hulu sungai. Ia berharap, makanan di sana tidak lekas habis. Dengan sisa-sisa tenaganya, akhirnya sampai juga ia ke hulu sungai itu. Namun sama seperti pesta di hilir, semua makanan juga telah habis. Pesta itu telah usai, dan semua tamu undangan sudah pulang. Tuan rumah menyambut si Lebai dan meminta maaf, "Maafkan kami Tuan Lebai. Kami pikir Tuan tak datang. Kedua kepala sapi itu sudah kami berikan pada orang lain." Si Lebai sekali lagi hanga bisa mengangguk. Ia pun duduk lemas di kursi.Tuan rumah tadi kasihan, lalu memberinya secangkir kopi hangat dan singkong rebus. Begitulah si Lebai, jauh-jauh mendayung perahu hanya untuk mendapatkan secangkir kopi dan singkong rebus. Semua itu akibat sifat bimbang dan ragu yang dimilikinya."Pesan moral dari Cerita Rakyat Sumatera Barat : Dongeng Anak Si Lebai untukmu adalah Bertindaklah tegas. Sebelum memutuskan sesuatu, pikiran dengan balk. Jangan mudah mengubah keputusan karena itu bisa merugikan dirimu sendiri"

Kisah Si Pahit Lidah
Folklore
25 Feb 2026

Kisah Si Pahit Lidah

Hari ini hati Serunting kesal sekali. Lagi-lagi ladang miliknya tak menghasilkan apa-apa, kecuali rumput ilalang yang tinggi. Apapun yang ditanamnya selalu mati. "Apa yang harus kulakukan? Ladangku hanya sejengkal dari ladang Aria Tebing, tapi mengapa ladangnya begitu subur?" tanyanya heran. "Aria Tebing pasti telah berbuat curang pada ladangku." pikir Serunting dengan curiga.Serunting pulang ke rumah dan marah-marah pada istrinya. Istrinya adalah kakak Aria Tebing. "Bilang pada adikmu, jangan curang. Jika berani, suruh ia bertarung melawanku," katanya. Istringa tak habis pikir karena menurutnya, adiknya tak mungkin curang.Suatu hari, Aria Tebing berkunjung ke rumah Serunting. Tujuannya untuk menemui kakaknya. Tapi apa yang terjadi? Serunting malah marah-marah dan mengajaknya berduel. "Apa yang kau lakukan pada ladangku? Semua yang kutanam mati tak berbekas. Sedangkan tanaman di ladangmu tumbuh dengan subur, padahal letaknya hanya sejengkal dari ladangku!"Aria Tebing kebingungan, "Aku tak melakukan apa-apa. Aku bahkan tak pernah menginjakkan kaki ke ladangmu," jawabnya."Dasar pembohong! Kau menantangku? Jika memang itu maumu, ayo kita berduel sampai mati. Kutunggu kau besok di tanah lapang!"Aria Tebing tak bisa menghindar. Ia harus menghadapi tantangan Serunting. Ia yakin, ia pasti kalah menghadapi Serunting yang jauh lebih sakti darinya. Karena itu ia memutuskan untuk menemui kakaknya untuk menanyakan apa kelemahan kakak iparnya itu.Pagi-pagi buta, Aria Tebing menyelinap ke rumah Serunting. "Kak, tolonglah aku. Beritahu apa kelemahan suamimu. Jika Kakak tak memberitahuku, aku pasti akan mati siang ini," pinta Aria Tebing. Istri Serunting bimbang. Di satu sisi ia tak ingin mengkhianati suaminya, namun di sisi lain ia tak ingin adiknya mati terbunuh. Akhirnya ia berkata, "Berjanjilah, untuk tidak membunuh suamiku." Aria Tebing menyanggupi, maka istri Serunting pun memberitahu rahasia kelemahan suaminya.Tibalah saat yang ditentukan. Aria Tebing telah siap dengan senjata yang bisa melumpuhkan Serunting. Menurut istri Serunting, tumbuhan ilalang yang bergetar adalah senjata yang bisa melumpuhkan Serunting. Mereka berdua pun memulai pertarungan. Di saat Serunting lengah, Aria Tebing menyabetkan ilalang itu pada tubuh Serunting. Benar saja, dalam sekejap Serunting langsung terluka parah. Aria Tebing dengan mudah memenangkan pertarungan itu.Serunting sangat malu. Ia heran bagaimana Aria Tebing bisa mengetahui rahasianya. Untuk menutupi rasa malunya, ia pergi mengembara dan meninggalkan rumah. Ia berjalan tak tentu arah sampai akhirnya tiba di Gunung Siguntang. Di situlah ia tinggal dan bertapa mengasah ilmunya.Suatu hari, saat sedang bertapa, ia mendengar bisikan gaib. "Serunting anakku, aku akan mengajarimu kesaktian yang kumiliki. Apakah kau mau melaksanakan syarat dariku sebelum aku mengajarirnu?" bisik suara itu. Serunting membuka matanya. Ia menengok ke kanan dan ke kiri, tak ada siapa-siapa. Berarti bisikan itu datang dari penunggu Gunung Siguntang. "Ya, aku mau belajar ilmu darimu," jawab Serunting."Jika begitu, bertapalah di bawah pohon bambu sampai seluruh tubuhmu tertutup oleh daunnya. Jika itu terjadi, kau berhasil mewarisi kesaktianku," jawab suara gaib itu.Dua tahun lamanya Serunting bertapa di bawah pohon bambu. Setelah semua tubuhnya tertutup oleh daun bambu, ia pun mendapatkan kesaktiannya, ia memiliki kemampuan untuk mengutuk apa pun yang ditemui nya.Dengan kesaktiannya itu, Serunting ditakuti oleh banyak orang. Mereka menjulukinya "Si Pahit Lidah". Sejak itu, Serunting menjadi sombong dan sering berbuat semena-mena. Jika tak menyukai seseorang, ia tak segan- segan mengutuknya menjadi batu!Tahun demi tahun berlalu. Suatu saat Serunting merasa rindu pada istrinya. Ia ingin pulang ke rumahnya. Selain itu, ia ingin membalas dendam pada Aria Tebing. Ia ingin menunjukkan kekuatannya pada Aria Tebing, Serunting pun berkemas dan pulang ke rumahnya.Sepanjang perjalanan, Serunting masih bersikap semena-mena. Orang-orang yang bertemu dengannya segera menyingkir. Mereka takut terkena kutukan si Pahit Lidah.Setelah berjalan seharian, Serunting ingin beristirahat. Ia berjalan menuju bukit, berharap dapat tidur sejenak. Ternyata tak ada sebatang pohon pun di situ. Ia jengkel sekali karena panas Matahari yang sangat menyengat. Ia mengedarkan pandangannya, rerumputan di bukit itu mulai menguning. Ia kecewa dengan keadaan bukit itu. Ia lalu berujar, "Aku ingin bukit ini penuh dengan pepohonan."Dalam sekejap, bukit itu menjadi teduh dan rindang. Sejak itu banyak orang yang mampir ke sana untuk sekadar beristirahat. Serunting sangat senang. Ternyata, ia bisa menggunakan kesaktiannya untuk hal yang baik.Setelah puas beristirahat, Serunting melanjutkan perjalanannya. Ketika melewati sebuah desa, ia melihat sepasang kakek dan nenek renta sedang menebang pohon. Hati Serunting merasa kasihan. "Mengapa mereka masih bekerja keras di usia setua itu?"Serunting menghampiri mereka, "Kek, Nek, mengapa anak kalian tak membantu?" tanyanya."Kami tak punya anak, kami hanya tinggal berdua," jawab si Kakek. Serunting terdiam, ia sungguh merasa iba melihat kakek dan nenek itu. "Kek, jika sekarang ini kalian dikaruniai seorang bayi laki-laki dan anak perempuan untuk membantu kalian, apakah kalian mau?"Kakek dan nenek itu berpandangan, "Tentu saja kami mau, tapi apakah itu mungkin? Kami sudah tua, tak mungkin bisa punya anak."Serunting menjawab, "Semuanya mungkin saja. Kakek dan Nenek akan punya seorang bayi laki-laki dan anak perempuan yang akan membantu kalian."Setelah berkata demikian, terdengar suara tangis bayi dari dalam rumah. Kemudian seorang anak gadis dari rumah muncul sambil menggendong seorang bagi laki-laki. Kakek dan Nenek itu sangat bahagia, mereka tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih pada Serunting.Serunting juga bahagia. Ia sadar, sebenarnya lebih menyenangkan melihat orang-orang berbahagia daripada melihat mereka ketakutan. Sarunting bertekad akan menggunakan kesaktiannya untuk hal-hal baik, bukan untuk mencelakai orang. Selama sisa perjalanannya, ia menolong semua orang yang membutuhkan pertolongannya. Dan ia tidak sombong lagi."Pesan moral dari Cerita Rakyat Sumatera Selatan – Si Pahit Lidah adalah Gunakan kelebihanmu untuk membantu orang lain, bukan untuk menyombongkan diri."

Legenda Pulau Kemaro
Folklore
25 Feb 2026

Legenda Pulau Kemaro

Konon dahulu kala, di Bhumi Sriwijaya memerintahlah seorang raja yang adil dan bijak sana. Raja ini memiliki seorang puteri yang cantik jelita bernama Siti Fatimah. Banyak pemuda-pemuda tampan dari berbagai penjuru nusantara datang, namun tidak satu pun yang bisa menaklukkan hati puteri Siti Fatimah.Namun pada suatu hari, datanglah sebuah kapal besar dari negeri Cina, bersama dengan rombongan yang dipimpin seorang pangeran bernama Tam BUn An.“Hmmm… Haiya…. Ini ternyata kerajaan Sriwijaya yang terkenal itu. Kotanya memang megah, penduduknya ramah-ramah dan makanan pempeknya uenak sekali, ya. Haiya….” Kata sang pangeran.“Pangeran Tam Bun An mau langsung menemui puteri Siti Fatimah?” Tanya sang nahkoda kapal.“Iyalah. Aku kan jauh-jauh ke Bhumi Sriwijaya ini karena tertarik kecantikan sang puteri Siti Fatimah, haruslah aku datang menemuinya sesegera mungkin.” Kata pangeran Tam Bun An.“Ayo, pengawal. Kita langsung ke istana untuk menemui puteri raja. Siapkan barongsai dan musik perkusi yang meriah untuk menarik hatinya.” Kata sang nahkoda kapal.Lalu rombongan pangeran dari Cina ini masuk ke kota Sriwijaya dengan meriah, di depan ada barongsai singa dengan dua orang pembawa pangeran Tam Bun An dan sang nahkoda. Di belakangnya ada 10 orang pengawal dengan barongsai naganya. Kemudian yang terakhir adalah rombongan 10 orang membawa serta menabuh gendang dan perkusi lainnya.Rombongan barongsai ini memainkan musik dan atraksinya tepat di depan istana raja Sriwijaya dan keramaian itu membuat puteri Siti Fatimah tertarik melihatnya.“Dayang, ada apa gerangan di luar sana? Seperti ada keramaian dan musik yang menarik?” Kata sang puteri.“Sepertinya ada rombongan penari barongsai tuan puteri. Kabarnya sudah dua hari mereka berlabuh di dermaga dipimpin oleh pangeran tampan dari Cina.” Kata si dayang.“Oh, aku ingin sekali melihat atraksi mereka dayang. Mari kita ke pintu gerbang!” Dan puteri Siti Fatimah bersama dayang serta beberapa pengawal menonton pertunjukan barongsai itu sambil bertepuk tangan senang sekali.“Wah, tarian dan gerakan silat serta musik kalian begitu indah sekali, dari manakah gerangan tuan?” Tanya sang puteri.“Haiya..Saya Tam Bun An dari negeri Cina, ingin sekali bertemu dengan puteri Siti Fatimah yang cantik jelita. Segala musik dan gerak tari serta gerakan kung-fu yang tadi kami peragakan, semuanya untuk dipersembahkan pada sang puteri jelita…Haiya..”“Oh, terima kasih pangeran tampan. Kalau boleh saya tahu apakah maksud kedatangan pangeran ke mari ?” Tanya sang puteri dengan pipi merona merah.“Haiya….Saya datang kemari hanya untuk satu tujuan menemui sang puteri Siti Fatimah yang kabarnya seperti bidadari. Ternyata kabar itu benar sekali, saya malahan seperti melihat 7 bidadari dari kahyangan. Haiya…” Sang pangeran merayu, membuat puteri tambah malu-malu. Begitu banyak pangeran di nusantara yang menyatakan rasa suka, namun baru sekali ini hati puteri Siti Fatimah menjadi bergelora oleh rasa cinta.Seperti sudah ada perasaan kenal lama, keduanya pun saling suka dan dalam 3 kali pertemuan bertekad menyatukan cinta.Lalu ada bangsawan istana yang pernah ditolak cintanya oleh Siti Fatimah iri hati dan memberitahukan ke raja tentang hal ini. Dia mengatakan bahwa sang pangeran mau membawa puteri pergi ke negeri Cina.“Cepat panggil pangeran Cina itu menghadapku!” Kata Raja Bhumi Sriwijaya.“Hamba menghadap raja.” Kata sang pangeran Cina.“Apa benar kau dan puteriku Siti Fatimah saling mencinta?”“Benar raja. Hamba benar-benar mencintai puteri raja yang gagah perkasa.”“Anak muda, adat istiadat kita berbeda dan beta tidak bersedia anakku kau bawa ke negeri Cina!” Kata sang Raja.“Haiya…Saya sudah belajar adat istiadat sini raja dan saya bersedia tinggal dan bekerja dagang di Bhumi Sriwijaya duhai raja.” Sang pangeran Cina menyanggupi.“Kalau begitu duduk perkaranya. Baiklah, kau boleh menjadi menantuku dengan syarat, kau memberikan uang mahar sejumlah 9 guci besar berisi emas untuk meminang puteriku.” Kata sang raja.“Baiklah raja, permintaan raja akan saya sampaikan.”Lalu pangeran membuat surat yang dititipkan ke merpati pos yang terbang sampai ke istana orang tuanya di negeri Cina.Ayahanda sang pangeran mengirim surat balik dan menyatakan menyanggupinya.Lalu bangsawan Cina itu mengirimkan 9 buah guci berisi emas batangan. Akan tetapi supaya jangan diincar oleh penjahat bajak laut dari Somalia, maka ayah si pangeran memerintahkan, “Masukkan sayur-mayur di bagian paling atas guci-guci itu, supaya para bajak laut Somalia tidak tertarik merampok dan menguasai kapal kita”.“Perintah dilaksanakan tuan!” Kata si pelayan bangsawan Cina.Dan 2 bulan kemudian, sampailah kapal beserta 9 guci itu ke Bhumi Sriwijaya. Pangeran dengan bahagia menyampaikan kabar itu pada puteri Siti Fatimah dan ayahandanya.“Haiya…Sembilan guci kiriman ayahanda sudah datang tuanku Raja. Mari kita ke kapal untuk melihatnya.”“Mari para pengawal dan puteriku. Kita pergi ke dermaga.” Kata sang raja.“Haiya…Itu guci ada 9 dan besar-besar sekali. Itu persembahan dari papa dan mama saya tuanku raja..” Si pangeran Tam Bun An pun tertawa senang.Tetapi saat dia membuka ke 9 guci tersebut, dia melihat isinya hanya sayur-sayuran yang sudah membusuk.“Ha? Kenapa papa dan mama tega berbuat seperti ini? Papa dan mama berjanji kirimkan 9 guci berisi emas untuk meminang kekasihku Siti Fatimah? Tetapi kenapa dikirimkan sayur-sayuran dalam guci-guci ini? Maaf, saya malu tuanku raja. Biarlah saya buang guci-guci ini ke Sungai Musi. Papa dan mama jahat sekali dengan aku anaknya”“Sudahlah, kakanda. Janganlah berburuk sangka dengan ayahanda di Cina sana. Mungkin saja ada orang lain yang jahat menukar isinya dengan sayur-sayuran. Jangan marah dengan orang tua kakanda.” Kata sang puteri menyabarkannya.“Tidak bisa! Ini benar-benar kelewatan. Saya benci pada papa dan mama saya. Saya buang saja guci-guci bersayur busuk itu!” Sang pangeran pun melempar guci-guci yang berat itu ke sungai.Satu! Dua! Tiga!4,5,6,7,8…….Dan Saat guci ke-9 dia angkat, pangeran Tam Bun An sudah kecapaian. Lalu guci terlepas dan pecah di lantai kapal.“Olala…..Tampaklah diantara pecahan guci itu emas batangan yang berkilauan.“Ha? Emas batangan?”“Iya, kakanda, ternyata benar papa dan mama kakanda mengirimkan emas-emas batangan di guci-guci lainnya juga. Sayur-sayuran tadi hanya untuk mengelabui saja kakanda.” Kata puteri Siti Fatimah.“Ya, sudahlah pangeran. Saya percaya akan niat baik orang tuamu. Biarlah saja guci-guci yang sudah jatuh ke Sungai Musi itu. Tanpa itu semua kau masih kuijinkan menikahi puteriku.” Kata Raja.“Tidak tuanku Raja. Saya menyesal telah berburuk sangka dengan papa dan mama di Cina. Saya telah durhaka memarahi mereka. Biarlah saya mengambil kembali semua emas-emas yang saya buang ke sungai itu. Tunggu aku adinda.” Dan walaupun sudah berusaha dicegah oleh puteri dan pengawal istana pangeran Tam Bun An tetap terjun ke Sungai Musi.Satu jam, dua jam, setengah hari pangeran Tam Bun An tidak muncul-muncul lagi.“Kanda, saya sangat mencintai kakanda. Saya akan menyusul kakanda mencari emas itu. Bila saya tidak kembali dan muncul endapan tanah di tengah sungai ini, anggaplah itu tempat kami berdua memadu janji.” Lalu tanpa diduga si puteri pun melompat ke Sungai Musi dan tidak muncul-muncul lagi.Bertahun-tahun kemudian, lambat laun muncullah endapan tanah di tempat kedua kekasih itu terjun di tengah Sungai Musi.Di sana dibuatkan oleh penduduk setempat sebuah kelenteng dan sebuah mesjid tempat sembahyang yang berdampingan.Setiap perayaan Cap Go Meh pulau itu ramai dikunjungi warga Palembang.Nah, adik-adik, dari cerita ini dapat diambil pelajaran adalah: Jangan sekali-sekali menganggap jelek pemberian orang tua kepada kita dengan marah-marah dan mencaci makinya. Mungkin saja menurut kalian pemberian atau didikannya tidak cocok dengan yang kau inginkan. Akan tetapi pasti ada nilai kebaikan di dalamnya yang walaupun tidak langsung terlihat manfaatnya saat ini, tetapi akan tampak bersinar terang-benderang pada waktunya nanti.Ingatlah! Semua orang tua yang baik pasti akan memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya.Sekian dan terima kasih.

Ratu Bagus Kuning dan Siluman Kera
Folklore
25 Feb 2026

Ratu Bagus Kuning dan Siluman Kera

Pada abad ke 16 wilayah Batanghari Sembilan, Sumatra Selatan, agama Islam mulai menyebar, Salah satu tokoh penyebaranya adalah Bagus Kuning, murid Walisongo, Ia merupakan perempuan suci yang mempunyai kesaktian tinggi.Saat memasuki wilayah, Batanghari untuk menyebarkan agama Islam, ia pun harus berhadapan dengan para pendekar, Namun, ia bisa mengalahkan para pendekar itu.Para pendekar itu pun akhirnya memeluk agama Islam dan di jadikan penghulu oleh Bagus Kuning.Ada sebelas penghulu yang jadi pengikut setia Bagus Kuning. Mereka adalah Kuncung Emas, Datuk Buyung, Panglima Gede, Panglima Bisu. Syekh Akbar , Panglima Apo, Syekh Maulana Malik Ibrahim, Syekh Idrus, Putri Kembang Dadar, Putri Rambut Salaku dan Bujang Juara.Setelah mengusai wilayah Batanghari, Putri Bagus Kuning dan pengikutnya beristirahat, Tempat itu terletak di sebuah dataran yang letaknya di bagian hulu kota Palembang.Teryata tempat itu merupakan kerajaan siluman kera, Para siluman itu tergganngu dengan kehadiran rombongan Putri Bagus Kuning, lalu menakut - nakuti mereka .Putri Bagus Kuning menjelaskan bahwa mereka hanya beristirahat, Namun, para siluman kera tidak peduli dan menyerang mereka.Kemudian, terjadilah perkelahian antara dua kelompok itu, Wahai Raja Siluman, begini saja lebih baik pertarungan ini hanyalah antara kau dan aku sebagai pemimpin. Aku tak ingin pengikutku menjadi korban, Siap pun yang kalah harus tunduk kepada yang menang, kata Putri Bagus Kuning.Raja Siluman kera menyanggupinya,Pertarungan berlangsung sengit, Dengan kesaktianaya, Putri bagus Kuning bisa mengalahkan Raja siluman Kera. Raja Siluman kera itu pun bersujud memberi hormat di ikuti seluruh rakyatnya.Kalian tak perlu bersujud kepadaku, Hanya Allah yang patut disembah... ujar Putri Bagus Kuning, Setelah itu Putri Bagus Kuning dan pengikutnya menetap di sana, Mereka membangun kerajaan. Putri Bagus Kuning menjabat sebagai ratu.Hingga akhir hayatnya, Ratu Bagus Kuning tidak pernah menikah, Ketika Ratu Bagus Kuning wafat. para pengikutnya tetap setia menyebarkan ajaran Islam ke wilayah - wilayah lain. Makam Ratu Bagus Kuning di percaya ada sampai sekarang. Tempatanya terletak di dalam kompleks Perumahan Bagus Kuning di Plaju, Palembang di tempat itu, masih berkelian kera- kera jinak yang jumblahnya tidak bertambah ataupun berkurang. Menurut sebagian masyarakat kera - kera tersebut adalah keturunan kera - kera siluman pengikut Ratu bagus Kuning.

Semesat Dan Semesit
Folklore
24 Feb 2026

Semesat Dan Semesit

Alkisah, di daerah Sumatra Selatan tersebutlah seorang raja yang sudah beberapa tahun menduda. Permaisurinya meninggal tidak lama setelah melahirkan kedua putra mereka yang kembar. Kini, kedua putranya yang diberi nama Semesat dan Semesit tersebut telah beranjak remaja. Setiap hari kedua putra raja itu kerjanya hanya bermain bola. Saking gemarnya bermain bola, mereka terkadang lupa makan dan tidak mempedulikan keadaan di sekelilingnya. Sang Raja sangat sedih melihat perilaku kedua putra kesayangannya itu. Ia ingin sekali mendidik mereka, namun ia tidak mempunyai waktu karena sibuk mengurus tugas-tugas kerajaan. Oleh karena itu, ia menikah lagi dengan harapan ada orang yang bisa merawat dan mendidik kedua putranya.Namun, harapan sang Raja hanya tinggal harapan. Permaisurinya yang baru itu bersedia menikah dengan dirinya karena hanya menginginkan harta dan kedudukan. Ia tidak senang terhadap Semesat dan Semesit yang kerjanya hanya bermain bola. Akan tetapi, sikap ketidaksenangannya terhadap kedua anak tirinya itu tidak diperlihatkan kepada sang Raja.Suatu pagi, sang Raja akan mengadakan rapat di Balai Panjang. Sebelum berangkat, ia berpesan kepada permaisurinya, “Wahai, permasuriku! Tolong siapkan jamuan makan siang untuk para peserta rapat!”“Baiklah Kanda, Dinda akan menyiapkan makan siang secukupnya!” jawab permaisuri Raja.Setelah sang Raja berangkat, permaisuri bukannya menyiapkan jamuan makan siang, melainkan mengambil cabe merah lalu mengoleskannya pada wajahnya. Dalam sekejap, seluruh wajahnya menjadi bengkak dan memerah. Begitu hari menjelang siang, rombongan peserta rapat pun datang hendak makan siang. Alangkah kecewa dan malunya sang Raja karena tak sedikit pun hidangan makan siang yang tersedia. Sang Raja pun menjadi murka dan marah kepada permaisurinya.“Dinda, apakah Dinda tidak mendengar pesan Kanda tadi pagi? Kenapa Dinda tidak menyediakan hidangan makan siang?” tanya sang Raja dengan wajah merah.“Ampun, Kanda! Kanda jangan marah dulu. Coba lihatlah wajah Dinda ini!” jawab permaisurinya sambil menunjukkan wajahnya kepada sang Raja.“Hai, apa terjadi dengan wajahmu? Kenapa bisa bengkak dan merah seperti itu?” tanya sang Raja dengan heran.“Ampun, Kanda! Semua ini terjadi akibat dari ulah Semesat dan Semesit,” jawab permaisuri dengan nada mengadu.“Apa yang mereka lakukan terhadap Dinda?” tanya sang Raja penasaran.“Begini, Kanda! Ketika mereka sedang asyik bermain bola, tiba-tiba bola mereka melesat dengan kencang dan mengenai wajah Dinda,” ungkap permaisuri.“Sekarang Kanda boleh menentukan pilihan, mau memilih Dinda atau kedua putra Kanda. Jika Kanda masih sayang kepada Dinda, maka buanglah mereka ke tengah hutan. Sebaliknya, jika Kanda masih menyayangi mereka, Dinda pun siap untuk dibuang,” hasut permaisuri.Rupanya, sang raja termakan oleh hasutan itu sehingga ia percaya begitu saja pada ucapan permaisurinya tanpa terlebih dahulu mencari tahu kenyataan yang sebenarnya.“Baiklah, Kanda lebih memilih Dinda. Semesat dan Semesit harus diberi pelajaran. Mereka harus kita asingkan ke tengah hutan,” tegas sang Raja.Keesokan harinya, Semesat dan Semesit pun diasingkan ke hutan. Betapa senangnya hati permaisuri terhadap keputusan yang diambil sang Raja. Dalam hatinya ia berkata bahwa tidak ada lagi orang yang akan menghalanginya untuk menguasai seluruh harta kerajaan karena kedua pewarisnya telah pergi.Sementara itu, Semesat dan Semesit terus berkelana keluar masuk hutan. Mereka berjalan tanpa arah dan tujuan dengan menyeberangi sungai, menaiki dan menuruni lembah-lembah. Suatu hari, sampailah mereka di sebuah hutan yang di dalamnya terdapat berbagai jenis pepohonan yang tumbuh dengan subur dan burung-burung yang berkicauan. Kedua putra raja yang malang itu memutuskan untuk beristirahat di bawah pohon besar dan rindang. Mereka duduk seraya menyandarkan tubuh pada batang pohon itu. Semesit pun langsung tertidur lelap karena kelelahan setelah berhari-hari menempuh perjalanan jauh. Sementara Semesat masih tetap terjaga. Walaupun badannya terasa lelah, ia sulit untuk memejamkan matanya karena memikirkan nasib mereka.“Sungguh malang nasib kami ini. Kenapa ayahanda lebih percaya kepada permaisurinya dari pada putranya? Oh Tuhan, berilah kami petunjuk-Mu!” keluh Semesat dalam hati.Selang beberapa waktu setelah Semesat berucap begitu, tiba-tiba seekor burung datang bertengger di atas pohon tempat mereka berteduh. Ajaibnya, burung itu dapat berbicara seperti manusia dan berpesan kepada Semesat.“Siapa yang memakan dagingku ini, maka dia akan menjadi kaya mendadak,” ucap burung itu.Tanpa berpikir panjang lagi, Semesat langsung mengambil batu lalu melempar burung itu hingga terjatuh dari atas pohon. Ketika ia akan mengambil burung itu, tiba-tiba datang lagi seekor burung bertengger di atas pohon itu dan berpesan kepada Semesat.“Barang siapa yang memakan dagingku, entaklah lemak nanggung kuda (menderita dulu baru kemudian mendapat bahagia),” ucap burung itu.Semesat pun kembali mengambil dan melempar burung itu hingga terjatuh dari atas pohon. Setelah mengambil kedua burung tersebut, ia segera membangunkan adiknya seraya menceritakan perihal kedua burung yang diperolehnya itu. Semesat kemudian menyerahkan salah satu dari burung itu kepada adiknya.“Wahai, Adikku! Ambillah burung yang pertama ini agar Adik cepat menjadi orang kaya! Biarlah Abang memilih burung yang kedua ini. Tidak apa-apa Abang menderita dulu baru bahagia,” ujar Semesat.Setelah memamakan burung tersebut, mereka pun melanjutkan perjalanan. Mereka terus menyusuri hutan belantara hingga akhirnya tiba di sebuah negeri. Menurut cerita, raja di negeri itu baru saja wafat dan belum ada penggatinya dan penduduk negeri mengangkat Semesit menjadi raja. Sementara Semesat melanjutkan perjalanan hingga tiba di daerah paling ujung negeri adiknya. Di sanalah ia tinggal menetap dengan keadaan hidup miskin. Untuk bertahan hidup, ia memakan hasil-hasil hutan yang tersedia di sekitarnya.Suatu hari, Semesat secara tidak sengaja mengambil buah dari hasil kebun penduduk di sekitarnya karena mengira pohon itu tidak ada pemilikinya. Akhirnya, ia pun dituduh sebagai pencuri dan dibawa oleh penduduk menghadap kepada Raja Semesit untuk diadili. Raja Semesit tidak mengetahui bahwa pemuda itu adalah kakaknya. Ia pun menghukumnya dengan cara menguburnya setengah badan di dalam sekam yang disebut Bujud Keling.Beberapa hari kemudian, terdengarlah kabar tentang seorang putri yang cantik jelita di negeri seberang lautan hendak mengadakan sayembara mencari jodoh. Isi sayembara tersebut adalah barangsiapa yang dicium oleh kuda milik sang putri maka dialah yang berhak menikah dengan putri itu. Raja Semesit yang mendengar kabar itu segera memerintahkan pengawalnya agar menyiapkan kapal untuk berangkat ke negeri itu.Pada saat hari menjelang siang, berangkatlah Raja Semesit bersama para pengawalnya dengan membawa berbagai perhiasan dan hasil bumi untuk dipersembahkan kepada sang putri. Begitu berada di tengah-tengah laut, kapal yang mereka tumpangi tiba-tiba kandas sehingga mereka tidak dapat melanjutkan perjalanan.“Hai, Pengawal! Apa yang terjadi dengan kapal ini?” tanya Raja Semesit bingung.“Ampun, Baginda! Jika Baginda ingin tetap melanjutkan perjalanan, sebaiknya Baginda membawa Bujud Keling,” kata seorang pengawal.Raja Semesit pun segera memerintahkan pengawalnya agar memutar haluan kapal kembali ke istana untuk mengambil Bujud Keling. Setelah memasukkan Bujud Keling ke dalam karung, mereka kembali melanjutkan perjalanan dan akhirnya selamat sampai di negeri seberang. Di sana para raja dan pangeran dari berbagai negeri telah berkumpul untuk mengikuti sayembara. Sang Putri tampak sedang duduk di depan istana bersama keluarganya. Di halaman istana tampak pula kuda kesayangan sang putri sedang ditambatkan di bawah sebuah pohon.Begitu gong dibunyikan sebagai pertanda acara sayembara dimulai, sang putri segera menunggangi kudanya. Kuda itu kemudian berjalan di antara para peserta untuk mencarikan jodoh yang cocok bagi tuannya. Kuda itu sudah hampir melewati seluruh peserta, namun belum satu pun yang diciumnya. Ketika akan melewati tempat duduk Raja Semesit, kuda itu tiba-tiba berhenti. Hati sang raja pun mulai berdebar kencang karena mengira dirinyalah yang akan dicium oleh kuda itu. Namun, apa yang diharapkannya itu tidak terjadi. Kuda sang putri justru mencium-cium karung yang berisi Bujud Keling yang ada di belakang kursinya. Melihat hal itu, sang putri pun segera memerintahkan salah seorang pengawal istana untuk membuka karung itu.“Pengawal, bukalah karung ini! Jodohku ada di dalamnya,” seru sang putri.Begitu karung itu terbuka, keluarlah seorang pemuda yang dipenuhi dengan sekam. Raja Semesit pun tersentak kaget karena tidak mengira jika karung itu berisi manusia. Rupanya, ketika pengawal Raja Semesit memasukkan Bujud Keling ke dalam karung, pemuda itu ikut masuk ke dalamnya. Dengan perasaan jengkel, Raja Semesit pun berkata kepada seluruh orang yang hadir di tempat itu bahwa dirinyalah yang dicium oleh kuda sang putri, bukan Bujud Keling itu. Ia tidak rela jika pemuda Bujud Keling itu yang menjadi suami sang putri.“Aku tidak terima jika Tuan Putri menikah dengan pemuda Bujud Keling itu,” tegas Raja Semesit, “Pengawal, ayo kita tinggalkan tempat ini dan bawa pemuda itu kembali ke kapal!”Akhinya, Raja Semesit pulang dengan perasaan kecewa. Di tengah perjalanan, tiba-tiba timbul niat jahatnya ingin mencelakai pemuda yang tak lain adalah kakaknya sendiri. Ia memerintahkan pengawalnya agar membuang pemuda itu ke laut. Tak ayal lagi, pemuda Bujud Keling itu pun menjadi santapan ikan besar. Namun ajaibnya, justru ikan itu yang mati dan terdampar di sebuah pantai di negeri sang putri. Ikan itu kemudian ditemukan oleh seorang nelayan. Alangkah terkejutnya nelayan itu pada saat membelah ikan itu. Ia mendapati seorang pemuda yang tidak asing lagi baginya.“Hai, Anak Muda! Bukankah engkau ini si pemuda Bujud Keling yang telah dicium oleh kuda sang putri?” tanya nelayan itu.“Benar, Tuan! Nama saya Semesat, kakak kandung Raja Semesit,” ungkap Semesat.“Syukurlah kalau begitu, Tuan. Mari hamba antar untuk menemui sang putri. Beliau telah menunggumu di taman bunga istana,” ujar nelayan itu.Akhirnya, Semesat menikah dengan sang putri. Beberapa hari setelah menikah, Semesat membuka rahasianya kepada sang istri. Sang putri pun tersentak kaget dan hampir tidak percaya terhadap hal itu. Setelah itu, Semesat bersama istrinya pergi menemui Raja Semesit untuk membuka rahasia tersebut.“Ketahuilah Adikku, pemuda Bujud Keling yang telah kamu buang ke laut beberapa waktu yang lalu adalah saya, dan saya ini adalah kakak kandungmu, Semesat,” ungkap Semesat.Raja Semesit tersentak kaget mendengar keterangan kakaknya itu. Ia sangat menyesal karena tidak mengetahui akan hal itu. Dengan berderai air mata, Raja Semesit pun langsung merangkul kakaknya.“Maafkan aku, Bang! Adik sangat menyesal karena telah memperlakukan Abang dengan kasar,” ucap Raja Semesit dalam pelukan sang abang.“Sudahlah, Adikku! Ini sudah menjadi takdir. Abang memang harus menderita dulu baru merasakan kebahagiaan sebagaimana yang kurasakan saat ini,” kata Semesat dengan perasaan haru.Menurut cerita, Raja Semesit mengundurkan diri dan mengangkat kakaknya sebagai raja. Raja Semesat dengan dibantu Semesit memerintah negeri itu dengan arif dan bijaksana. Rakyatnya pun hidup damai dan tenteram.Pesan moral yang dapat diambil dari cerita di atas adalah bahwa orang yang teraniaya akan mendapat pertolongan dari Tuhan Yang Mahakuasa, baik langsung maupun tidak langsung. Pesan moral lainnya adalah bahwa sesama saudara harus selalu saling menolong dan menghargai seperti Semesat dan Semesit.

Raden Alit
Folklore
24 Feb 2026

Raden Alit

Alkisah, di Negeri Tanjung Kemuning, Sumatera Selatan, tersebutlah seorang raja bernama Ratu Ageng yang menikah dengan seorang Dewa Kahyangan. Mereka tinggal di langit dan telah dikaruniai dua orang putra, yaitu Raden Kuning dan Raden Alit, serta seorang putri bernama Dayang Bulan. Ketiga anak raja tersebut saling menyayangi satu sama lain. Raden Kuning dan Raden Alit adalah orang yang sakti mandraguna. Sejak kecil hingga dewasa, mereka berguru berbagai macam ilmu kesaktian kepada Nenek Dewi Langit.Setelah hampir dua puluh tahun menjalani kehidupan di Langit, Ratu Ageng merasa rindu ingin kembali ke Bumi. Oleh karena itu, ia bermaksud mengajak seluruh keluarganya pindah ke Bumi.“Wahai, permaisuri dan anak-anakku! Entah kenapa, tiba-tiba Ayah merasa rindu pada tanah kelahiran Ayah. Ayah ingin sekali kembali ke bumi dan hidup di sana. Apakah kalian merasa keberatan jika Ayah mengajak kalian turut serta ke Bumi?” tanya Ratu Ageng.“Tentu tidak, Ayah! Aku akan ikut bersama Ayah ke Bumi. Bukankah kami semua anak-anak Ayah belum pernah melihat tempat kelahiran Ayah?” kata Raden Alit.“Benar, Ayah! Kami juga ikut!” sahut Raden Kuning dan Dayang Bulan serentak.Ratu Ageng tersenyum gembira mendengar jawaban putra-putrinya. Ia sangat memahami perasaan mereka karena ketiga anaknya tersebut dilahirkan di Langit sehingga sejak kecil mereka tidak mengetahui tentang kehidupan di bumi.“Baiklah kalau begitu! Besok pagi-pagi sekali kita berangkat ke Bumi,” ujar Ratu Agung.Keesokan harinya, berangkatlah Ratu Ageng bersama keluarga serta sejumlah pengawalnya ke Bumi. Di Bumi, mereka membangun sebuah istana yang tidak begitu megah sebagai tempat tinggal mereka. Ratu Ageng beserta keluarga dan para pengikutnya hidup layaknya manusia bumi pada umumnya.Selang beberapa tahun tinggal di Bumi, malapetaka menimpa keluarga Ratu Ageng. Putrinya Dayang Bulan meninggal dunia lantaran digigit ular lidi. Kematian putrinya itu membawa duka yang dalam bagi Ratu Ageng dan permaisurinya. Namun, Raden Kuning dan Raden Alit tidak dapat menerima kematian saudara perempuan mereka itu. Mereka yakin bahwa Dayang Bulan belum saatnya meninggal. Oleh karena itu, keduanya memohon izin kepada sang ayahanda untuk pergi mencari Dayang Bulan.“Ampun, Ayah! Kami yakin Dayang Bulan belum meninggal, Ayah! Izinkanlah Ananda dan Raden Kuning untuk pergi mencarinya!” pinta Raden Alit.“Wahai, Anakku! Bukankah kalian menyaksikan sendiri bahwa Dayang Bulan telah meninggal dan dimakamkan di kebun bunga?” ujar Ratu Ageng.“Benar, Ayah! Tapi kami yakin bahwa yang dimakankan pada saat itu hanya bayangannya saja. Wujud aslinya telah diculik oleh seseorang yang sakti mandraguna,” sahut Raden Kuning.Pada mulanya, Ratu Ageng tidak begitu yakin dengan apa yang dikatakan oleh kedua putranya itu. Namun, karena Raden Kuning dan Raden Alit terus mendesaknya, akhirnya Ratu Ageng mengizinkan mereka untuk mencari Dayang Bulan.Setelah berpamitan kepada kedua orangtuanya, berangkatlah Raden Kuning dan Raden Alit mencari Dayang Bulan. Mereka berjalan selama berbulan-bulan tanpa tentu arah. Begitu mereka tiba di sebuah pantai, terlihatlah sebuah rejung, yaitu kapal besar dan megah, yang sedang berlabuh. Seketika itu pula mereka langsung melompat ke atas rejung itu karena mengira Dayang Bulan berada di dalamnya. Namun, setelah memeriksa seluruh ruangan di kapal itu mereka hanya menemukan dua orang laki-laki sedang tidur di dalam sebuah kamar. Raden Kuning pun membangunkan kedua orang itu seraya bertanya kepada mereka.“Wahai sahabat, siapakah kalian ini! Mengapa rejung kalian berhenti di pantai ini?”“Maaf, sahabat! Kami tertidur karena kelelahan setelah cukup lama dalam perjalanan mencari saudara perempuan kami yang bernama Dayang Ayu,” jawab salah seorang pemilik kapal yang bernama si Ulung Tanggal.“Kalau kami boleh tahu, bagaimana saudara perempuan kalian bisa hilang?” tanya Raden Alit.“Begini, sahabat,” sahut adik si pemilik kapal yang bernama Serincung Dabung. “Saudara perempuan kami telah meninggal karena digigit ular lidi. Namun, kami yakin bahwa dia sebenarnya tidak meninggal. Ia diculik oleh putra raja Negeri Salek Alam yang bernama Malim Putih.”“Hai, sahabat! Bagaimana kamu bisa tahu kalau putra raja itu yang menculik saudara perempuan kalian?” tanya Raden Kuning penasaran.Rupanya, Serincung Dabung adalah seorang ahli nujum. Raden Kuning dan Raden Alit pun meminta bantuan kepadanya untuk mencari tahu keberadaan Dayang Bulan. Setelah Serincung Dabung melakukan nujum, akhirnya diketahui bahwa Dayang Bulan juga diculik oleh putra raja Negeri Salek Alam yang bernama Malim Hitam.Keempat orang tersebut ternyata memiliki tujuan yang sama, yaitu mencari saudara perempuan mereka yang diculik oleh kedua putra Raja Negeri Salek Alam. Namun, karena Serincung Dabung tidak dapat menerawang letak Negeri Salek, akhirnya mereka pun berpencar. Si Ulung Tunggul berjalan di atas Kahyangan, Raden Kuning terbang di angkasa bagai burung, dan Serincung Dabung berjalan di dalam air.Sementara itu, Raden Alit berjalan di daratan dengan menyusuri hutan belantara serta menaiki dan menuruni bukit. Dalam perjalanannya, Raden Alit bertemu dengan seorang nenek yang berpakaian sangat rapi.“Nenek hendak pergi ke mana?” tanya Raden Alit.“Nenek hendak ke pesta pernikahan, Cucuku!” jawab nenek itu.“Siapa yang akan menikah, Nek?” tanya Raden Alit ingin tahu.“Putra Raja Negeri Salek Alam, Malim Hitam dan Malim Putih,” jawab nenek itu.“Maaf, Nek! Kalau boleh saya tahu, mereka menikah dengan siapa?” tanya Raden Alit penasaran.“Malim Hitam akan menikah dengan Dayang Bulan sedangkan Malim Putih akan menikah dengan Dayang Ayu,” jawab nenek itu.Mendengar jawaban nenek itu, Raden Alit pun semakin yakin bahwa Dayang Bulan dan Dayung Ayu masih hidup. Maka dengan kesaktiannya, Raden Alit menyamar menjadi budak banden, yaitu merubah bentuk wajahnya. Setelah itu, berangkatlah ia ke Negeri Salek Alam.Setibanya di negeri itu, Raden Alit bertemu dengan Raja Jin dan menceritakan maksud kedatangannya ke negeri itu. Raja Jin itu sangat baik hati dan dan mempunyai seorang putri yang cantik jelita bernama Salipuk Jantung Pandan. Raden Alit pun langsung jatuh hati kepadanya pada saat pandangan pertama. Dalam waktu singkat, mereka langsung menjalin hubungan kasih dan berjanji akan menikah. Dengan hubungan itu, Raden Alit pun semakin dekat dengan keluarga Raja Jin. Raden Alit kemudian meminta pertolongan kepada Raja Jin untuk membebaskan Dayang Bulan dan Dayung Ayu.Dengan kesaktiannya, Raja Jin merubah bentuk Dayang Bulan dan Dayung Ayu menjadi dua tangkai bunga sebelum mereka naik ke pelaminan. Kemudian, tanpa sepengetahuan Malim Hitam dan Malim Putih, Raden Alit berhasil menyelinap masuk ke dalam kamar Dayang Bulan dan Dayung Ayu. Begitu ia masuk ke dalam kamar tersebut tampaklah dua tangkai bunga yang tergeletak di lantai. Tanpa berpikir panjang, Raden Alit segera mengambil kedua tangkai bunga yang merupakan perwujudan Dayang Bulan dan Dayung Ayu tersebut.Namun, begitu Raden Alit keluar dari kamar, tiba-tiba Malim Hitam dan Malim Putih datang menghadangnya.“Hai, siapa kamu dan mau dibawa ke mana calon istri kami!” seru Malim Hitam dengan wajah memerah.“Serahkan kedua tangkai bunga itu! Atau kami akan menghajarmu!” tambah Malim Putih dengan geramnya.“Tidak! Aku tidak akan menyerahkan kedua tangkai bunga ini. Kalian telah menculik saudara perempuan kami,” bantah Raden Alit.Pertempuran sengit pun tak terelakkan lagi. Pada mulanya, Raden Alit masih mampu mengimbangimbangi kesaktian kedua putra Raja Negeri Selak Alam tersebut. Namun, setelah pertempuran tersebut berlangsung selama berhari-hari, akhirnya Raden Alit kewalahan dan terlempar ke langit. Untungnya, pintu langit ketika itu terbuka sehingga ia tidak jatuh terhempas ke bumi. Akhirnya, Raden Alit menemui Nenek Dewa Langit untuk meminta pertolongan.“Ampun, Nenek Dewa! Tolonglah aku agar bisa mengalahkan kedua musuhku, Malim Hitam dan Malim Putih, yang ada di Bumi!” pinta Raden Alit.“Wahai, Cucuku Raden Alit! Kedua musuhmu itu tidak dapat dibunuh. Akan tetapi, kamu bisa melemparkannya ke langit. Setibanya di langit, aku akan memasukkan mereka ke dalam sangkar besi,” ujar Nenek Dewa Langit.“Baiklah, Nek! Izinkanlah aku kembali ke Bumi!” pamit Raden Alit.Setibanya kembali di Bumi, Raden Alit mengeluarkan seluruh kesaktiannya sehingga mampu melemparkan kedua musuhnya tersebut ke langit. Begitu mereka tiba di langit, Nenek Dewa segera memasukkannnya ke dalam sangkar besi yang telah disiapkan sebelumnya sehingga mereka tidak dapat lagi kembali ke bumi. Sementara itu, Dayang Bulan dan Dayung Ayu kembali berwujud manusia.Tak berapa lama kemudian, datanglah Raden Kuning, Si Ulung Tanggal, dan Serincung Dabung. Raden Alit kemudian menceritakan semua yang telah terjadi.“Terima kasih, Sahabat! Engkau telah menyelamatkan saudara perempuan kami Dayung Ayu,” ucap si Ulung Tanggal usai mendengar cerita Raden Alit.“Sama-sama, Sahabat! Keberhasilan ini tidak terlepas dari kerjasama kita dan bantuan Raja Jin,” kata Raden Alit.“Hai, siapa Raja Jin itu?” tanya Serincung Dabung.“Dia adalah Raja Jin di negeri ini dan sangat baik hati,” jawab Raden Alit.Akhirnya, Raden Alit dan Si Ulung Tanggal bersaudara segera menemui Raja Jin untuk menyampaikan ucapan terima kasih karena telah membantu mereka mengalahkan kedua putra Raja Negeri Selak Alam. Setelah itu, mereka berpamitan untuk kembali ke negeri masing-masing.Sementara itu, di istana, Ratu Ageng dan permaisurinya sudah berbulan-bulan diselimuti perasaan cemas menunggu kepulangan anak-anak mereka. Namun, begitu melihat Raden Kuning dan Raden Alit kembali bersama Dayang Bulan, keduanya tidak sanggup menahan rasa haru. Untuk menyambut kepulangan ketiga anaknya, Ratu Ageng mengadakan pesta besar-besaran selama tiga hari tiga malam.Usai pesta, Raden Alit datang menghadap kepada kedua orangtuanya dan mengatakan bahwa sebenarnya ia telah mengikat janji untuk menikah dengan putri Raja Jin yang cantik itu. Akhirnya, Ratu Ageng beserta seluruh keluarganya datang ke tempat Raja Jin untuk mengadakan pesta perkawinan Raden Alit dengan Salipuk Jantung Pandan. Selanjutnya, Raden Alit dan istrinya pun hidup bahagia."Pesan Moral : ada tiga pelajaran yang dapat dipetik dari cerita di atas, yaitu pertama, sesama saudara harus saling menyayangi seperti yang ditunjukkan oleh sikap dan perilaku Raden Alit dan Raden Kuning, kedua, dengan kerjasama yang baik, maka kejahatan dapat ditumpas dengan mudah, dan ketiga, orang yang berbuat jahat akan menanggung sendiri akibatnya, seperti Malim Hitam dan Malim Putih yang mendapat hukuman dari Nenek Dewa karena mereka telah menculik Dayang Bulan dan Dayung Ayu

Asal Muasal Pulau Sangkar
Folklore
21 Feb 2026

Asal Muasal Pulau Sangkar

Di wilayah Indragiri Hilir, hiduplah dua orang pendekar. Pendekar pertama bernama Tuk Solop, ia tinggal di sekitar Pantai Solop. Tuk Solop sudah berusia senja dan rambutnya sudah memutih. Namun, Tuk Solop tidak pernah sombong, ia ramah dan disukai banyak orang.Semula ia mempunyai murid yang banyak, tetapi satu persatu muridnya pergi. Karena tidak ada lagi yang berguru kepadanya, Tuk Salop pun pergi meninggalkan Pantai Solop.Di luar Pantai Solop, ada seorang pendekar lain yang sangat sakti bernama Pendekar Katung. la adalah pendekar yang kaya raya dan sombong. Sebagian besar kekayaannya, didapatnya dari bertaruh dan menyabung ayam. Ayam andalannya sudah mengalahkan banyak ayam petandingan di daerah itu.Pendekar Katung mempunyai adik angkat bernama Suri. la adalah seorang gadis yang cantik jelita. Sebetulnya, Suri adalah anak Iawan sabung ayam Pendekar Katung yang telah tewas.Semenjak ibunya meninggal dunia, Suri dirawat oleh ayahnya. Pendekar Katung membujuk ayah Suri untuk bertarung ayam dengannya. Setelah mengalami berbagai kekalahan dan tidak ada lagi yang dapat dipertaruhkan, ayah Suri mempertaruhkan dirinya sendiri. Ternyata, ayamnya kalah oleh ayam milik Pendekar Katung. Ayah Suri dibuang ke tengah hutan. Hingga kini, Suri diasuh oleh Pendekar Katung.Suatu hari, seorang pengembara bernama Bujang Kelana datang ke Pantai Solop untuk berguru kepada Tuk Solop. Namun, ia mendapati daerah itu kosong dan tidak menemukan siapa pun. Ketika sedang beristirahat, ia bertemu dengan Suri yang sedang melintas di sana, mereka pun berkenalan.Bujang Kelana terpesona dengan kecantikan Suri.°Apa yang Abang cari di sini?" tanya Suri setelah mereka berbincang-bincang."Abang kemari ingin berguru kepada Tuk Solop," kata Bujang Kelana. "Tuk Solop memang telah meninggalkan tempat ini semenjak murid-muridnya pergi berguru kepada Pendekar Katung," jelas Suri."Sepertinya, Abang pernah mendengar nama itu. Apakah adik mengenal Pendekar Katung?" tanya Bujang Kelana.Suri terdiam mendengar pertanyaan Bujang Kelana. la lalu bergegas pergi."Jika Abang ingin bertemu, temui aku lagi besok di sini," kata Suri yang berlari pergi.Bujang Kelana dibuatnya bingung. Ketika sedang termenung itu muncullah seorang tua yang buta dari batik semak-semak ke arahnya."Maaf, siapakah Bapak ini?" tanya Bujang Kelana."Aku Datuk Buta. Kau jangan takut, aku telah mendengar pembicaraan kalian tadi. Suri adalah adik Pendekar Katung.""Mengapa ia pergi ketika aku singgung tentang kakaknya?""Pendekar Katung adalah pendekar dengan ilmu aliran hitam. la menghasut murid-murid Tuk Solop. Sampai akhirnya, Tuk Solop pergi entah ke mana," kata Datuk Buta.Kemudian, Datuk Buta bergegas pergi. la merasa ada yang sedang memata-matainya.Selang beberapa waktu, datanglah Suri berlari ke arah Bujang Kelana."Bang! Tolong aku! Pendekar Katung ingin menikahiku! Bawa aku pergi Bang, nanti aku akan menceritakan yang sebenarnya!" kata Suri panik.Mereka berlari mencari tempat yang aman. Di sanalah Suri menceritakan siapa ia sebenarnya. la juga menjelaskan bahwa ayahnya meninggal dunia karena mempertaruhkan nyawanya dalam pertaruhan sabung ayam.Tiba-tiba, seketika Datuk Buta muncul lagi di hadapan mereka.“Aku mendengar ceritamu, Nak. Jika benar yang kau ceritakan, berarti kau adalah anakku. Akulah orang yang telah mempertaruhkan nyawaku dan dikalahkan oleh Pendekar Katung.""Ayah? Jadi, ayah masih hidup?"Lalu, mereka bertiga menyusun siasat untuk memusnahkan Pendekar Katung. Bujang Kelana akan menantang Pendekar Katung untuk menyabung ayam. Sebelumnya, mereka akan mengganti ayam milik Pendekar Katung dengan seekor ayam milik Datuk Buta yang mirip sekali dengan ayam Pendekar Katung. Pertarungan tersebut disaksikan juga oleh orang-orang dari desa lain.Pendekar Katung mengalami kekalahan. Ayamnya mati. Ayam Bujang Kelana yang sebetulnya adalah ayam Pendekar Katung menang dalam pertarungan tersebut. Pendekar Katung yang tidak terima dengan kekalahannya memerintahkan pengawalnya untuk mengejar Bujang Kelana.Bujang Kelana sempat mendapatkan beberapa pukulan. Ketika Pendekar Katung lengah, Datuk Buta menyergapnya dari belakang."Bujang Kelana, cepat serang orang ini! Dia hanya bisa dikalahkan ketika disergap oleh orang buta!" teriak Datuk Buta. Bujang Kelana tidak menyianyiakan kesempatan itu, ia segera menyerang Pendekar Katung hingga lemas tak berdaya.Datuk Buta berkata kepada Pendekar Katung, “Katung, aku adalah ayah Suri yang kau kalahkan waktu itu. Tuk Sulop yang menyelamatkanku. ia juga yang memberitahukan kepadaku kelemahan ilmumu!"Pendekar Katung lalu tewas. Tiba-tiba, Suri berlari ke arah mereka. Tubuhnya penuh luka. Rupanya ia telah diserang oleh pengawal Pendekar    Katung.Tubuh Suri yang lemah tidak memungkinkan baginya untuk bertahan hidup.Kemudian Suri berkata kepada Bujang Kelana, “Abang, maaf sepertinya takdir tidak mengizinkan kita untuk bersama."Suri meninggal dunia. Hancur hati Bujang Kelana menyaksikan kekasih hatinya pergi selama-lamanya.Setelah menguburkan jasad Suri di dekat pondok Datuk Buta, Bujang Kelana pun pamit untuk meninggalkan desa tersebut. Sebelum pergi, ia mengambil sebuah sangkar ayam yang terletak di pondok Datuk Buta dan melemparkannya ke tengah laut. Untuk menghapus kesedihannya, Bujang Kelana berjanji tidak akan kembali ke Pulau Solop. Lalu, ia pergi mengembara entah kemana.Konon, setelah beberapa tahun kepergian Bujang Kelano, sangkar ayam tersebut pun muncul di permukaan dan menjadi sebuah pulau. Masyarakat menyebutnya dengan Pulau Sangkar Ayam."Pesan moral dari Kumpulan Dongeng Nusantara Pendek : Asal Mula Pulau Sangkar adalah jangan sombong dengan segala kelebihan yang kita miliki. Sesungguhnya setiap orang memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing."

Kisah Si Burung Bayan dan Si Penggetah
Folklore
20 Feb 2026

Kisah Si Burung Bayan dan Si Penggetah

Tersebutlah seorang lelaki pada zaman dahulu. Tidak jelas siapa nama dia sesungguhnya, namun dia dikenal dengan nama si Penggetah. Si penggetah ini diambil dari pekerjaan lelaki itu sebagai penangkap burung dengan menggunakan getah. Si Penggetah sangat mahir dalam pekerjaannya. Burung-burung hasil tangkapannya kemudian dijual, dan uang hasil penjualan digunakan untuk kehidupan sehari-hari.Si penggetah sudah menjalani pekerjaanya bertahun-tahun, namun masih ada yang mengganjal dalam hatinya. Ratusan burung telah berhasil dia tangkap, namun dia belum berhasil menangkap burung bayan yang terkenal dapat berbicara seperti manusia. Oleh karena itu pada hari yang telah dia tentukan, dia berangkat ke hutan yang terkenal tempat bersarangnya burung bayan. “ Jika nanti aku berhasil menangkap burung Bayan, aku akan mengurungnya dengan sangkar emas. Aku juga akan merawatnya dengan baik.” Janji si Penggetah dalam hati. Sambil menaburkan getah pada batang phon yang diduga tempat persinggahan Burung bayan.Pada saat kesokan harinya si Penggetah memeriksa hasil pekerjaannya kemarin. Dia sangat bergembira setelah mendapati seekor burung Bayan terjebak dalam getah buatannya. Si Penggetah lantas membersihkan bulu-bulu burung Bayan yang masih ditempeli getah. Seraya memasukan baurung bayan hasil tangkapannya, si Penggetah berujar pelan.” Sesungguhnya aku telah berjanji jika berhasil menangkapmu, maka aku akan memasukan kedalam sangkar emas dan memeliharamu dengan baik. Namun saat ini aku sangat sulit melaksanakan janjiku karena kondisiku sangat miskin.”Secara tidak terduga, burung Bayan itu menukas ucapan si Penggetah.” Jika engkau memang menghendaki emas, tampunglah kotoranku. Percayalah, kotoranku itu kelak akan berubah menjadi emas.”Meski awalnya ragu, namun si Penggetah melaksanakan nasihat si burung Bayan. Dia menampung kotoran si burung bayan dan menyimpannya. Kejaiban terjadi, pada saat esok hari nya kotoran si Burung bayan berubah menjadi butiran-butiran emas. Si Penggetah lantas mengumpukan butiran-butiran emas tersebut. Sampai dirasanya cukup, dia menjual butiran-butiran emas itu dan membeli sebuah sangkat emas besar untuk si burung Bayan. Si penggetah tidak melupakan janjinya pada si burung Bayan, dia juga membeli makanan dan buah-buahan yang sangat disukai si burung bayan.Berita mengenai Burung Bayan ajaib yang dimiliki si Penggetah dalam waktu singkat langsung menyebar. Kabar keberadaan burung Bayang yang kotorannya dapat berubah menjadi emaspun sampai ke telinga Raja Helat yang merupakan raja yang berkuasa di wilayah si Penggetah tinggal. Raja Helat sangat rakus dan kejam orangnya. Jika dia menginginkan sesuatu, maka apa yang diingikan tersebut harus menjadi miliknya. Dia tidak akan segan-segan merampas dan menggunakan kekerasan untuk mewujudkan setiap keinginannya. Tidak berapa lama setelah mendengar kabar tersebut, Raja Helat langsung memerintahkan hulubalangnya yaitu Bujang Selamat untuk merampas Burung Bayan ajaib itu dari tangan si Penggetah. “ Minta burung bayan itu agar dapat kumiliki, namun jika pemiliknya menolak, rampas saja dengan kekerasan.”Bujang Selamat lantas berangkat menuju gubug tempat dimana Si Penggetah tinggal. Sesuai perintah raja Helat, Bujang Selamat meminta si Penggetah menyerahkan Burung Bayan miliknya kepada Raja Helat.Sesungguhnya Si Penggerah sangat enggan menyerahkan Burung Bayan tersebut kepada Bujang Selamat, namun untuk menolakpun dia tidak memiliki keberanian. Dia tahu hukuman berat yang sedang menunggunya jika dia menolak keinginan Raja Helat. Dai pun memberikan usul.” Bagaimana jika kamu tanya sendiri saja perihal keinginan Sri Baginda kepada Burung Bayan peliharaanku.”Bujang Selamat setuju dengan usula dari Si Penggetah.“Wahai Burung Bayan.” Kata si Penggetah.” Tentu engkau sudah mendengar pembicaran aku dengan Hulubalang istana ini. Sekarang jawablah, apakah engkau bersedia menjadi peliharaan Raja Helat atau tidak. “Burung Bayan menatap bujang Selamat lekat-lekat sebelum menjawab.” Bujang Selamat, jika Raja Helat mampu memenuhi syarat-syarat yang kuajukan, aku bersedia dengan suka rela menjadi peliharaan Raja Helat.”“Syarat apa yang engkau kehendaki?” Tanya Bujang Selamat.“Syarat yang kuajukan sangat mudah.” Ucap burung Bayan.” Aku akan bercerita tentang berbagai kisah. Aku ingin Raja Helat dan keluarganya mendengarkan ceritaku sampai selesai. Sebelum ceritaku berakhir, aku tidak boleh berpindah kepemilikan. Sampaikan kepada Raja Helat mengenai permintaanku ini. Jika Raja Helat bersedia, maka aku juga akan bersedia pula menjadi peliharaanya.”Bujang Selamat segera melaporkan persyaratan yang diajukan Burung Bayan kepada Raja Helat. Mendengar cerita hulubalangnya, Raja Helat tanpa berpikir panjang segera menyetujui persyaratan itu. Raja helat berpendapat syarat yang diajukan Burung Bayan sangat mudah. Burung Bayan pun lantas dibawa ke Istana kerajaan.Dihadapan Raja Helat dan keluarganya burung Bayan mulai bercerita. Sangat menarik ternyata cerita yang disampaikan si Burung Bayan. Raja Helat dan keluarganya yang mendengar seperti disihir untuk terus mendengarkan kisah-kisah yang diceritakan si Burung Bayan. Mereka ingin terus mendengarkan cerita itu sampai selesai. Melihat antusiasme Raja Helat dan keluarganya, Si Burung Bayan kembali mengajukan syarat.” Hendaknya Paduka membayar cerita hamba ini dengan segantang emas murni, makanan dan minuman untuk ku.”“Segantang emas murni?” bola mata Raja Helat membesar, sifat aslinya yang kikir terlihat jelas diwajahnya.” Aku harus membayar ceritamu dengan segantang emas murni, makanan dan juga minuman untukmu?”“Benar.” Jawab Si burung Bayan. “ Sesuai perjanjian kita sebelumnya, jika hamba belum selesai bercerita, maka hamba tidak boleh berpindah pemilik. Untuk cerita hamba ini paduka harus membayar kepada pemilik hamba yaitu si Penggetah.”Raja Helat terpaksa memenuhi permintaan si burung Bayan. Segantang emas memang jumlahnya sangat banyak bagi rakyat, namun bagi Raja Helat jumlah itu sedikit jika dibandingkan dengan hartanya yang disimpan di gudang istana. Gudang kerajaan sangat banyak menyimpan emas, makanan dan minuman. Itu didapatkan dari pajak kepada rakyat yang sangat tinggi. Semua harta dan makanan itu ditimbun hanya untuk kesejahteraan dirinya dan keluarganya. Sama sekali tidak terpikir olehnya mengenai kesejahteraan Rakyat yang dipimpinnya. Karena dia berpikir bahwa hartanya tidak akan habis untuk membayar seluruh cerita si burung Bayan, Raja Helatpun memberikan permintaan si Burung Bayan kepada Si penggetah.Si Penggetah yang merasa harta yang diberikan kepadanya bukalah haknya, melainkan hak seluruh rakyat miskin yang selama ini mebayar pajak tinggi untuk kerajaan. Oleh karena itu si Penggetah justru membagikan kembali harta dan makanan yang diterimanya kepada rakyat yang ada dikerajaan tersebut. ]Diluar dugaan Raja Helat, Si Burung Bayan benar-benar cerdik. Ceritanya tidak hanya menarik, namun juga panjang dan terus bersambung. Raja Helat dan keluarganya seperti terkena candu untuk terus mendengarkan cerita dari si Burung Bayan. Setiap kali menyelesaikan satu bagian dari cerita panjuangnya, si Burung Bayan meminta bayaran segantang emas murni, makanan dan minuman. Raja Helat terus memenuhi permintaan tersebut. Karena cerita itu terus berkembang, hingga berbulan-bulan kemudian cerita itu belum juga selesai. Telah berpuluh-puluh gantang emas diberikan Raja Helat kepada si Penggetah, disamping berkarung karung makanan, buah-buahan dan minuman. Raja Helat tidak menyadari bahwa gudang penyimpanan hartanya semekin lama semakin kosong. Sampai akhirnya tibalah saat dimana seluruh harta Raja Helat yang disimpan digudangnya habis. Raja Helat yang kikir saat ini tidak memiliki harta. Rakyat yang selama ini dibantu oelh si Penggetah jadi tahu perilaku buruk Raja mereka yang suka menimbun harta untuk dirinya sendiri. Mereka melihat Raja Helat tidak pernah memikirkan kesejahteraan mereka. Rakyat yang marah akhirnya bersatu padu dengan perajurit dan hulubalang kerajaan untuk menggulingkan kekuasaan Raja Helat dan keluarganya.Rakyat, hulubalang dan para perajurit sepakat untuk mengangkat si Penggetah menjadi raja mereka menggantikan Raja Helat yang kikir dan kejam.Bertahtalah si penggetah selaku Raja. Dia mengangkat Si Burung Bayan menjadi penasehat kerajaan. Karena saran dan nasihat si Burung Bayan yang cerdas dan bijak, si Penggetah dapat menjalankan kerajaan itu dengan baik. Kesejahteraan Rakyat senantiasa menjadi prioritas utama, dia tidak pernah menumpuk kekayaan seperti yang dilakukan oleh Raja Helat.Segenap Rakyat kerajaan dapat hidup dengan tenang, damai dan sejahtera dalam pemerintahan si penggetah. Sementara si Penggetah pun hidup berbahagia bersama si burung Bayan yang tetap ditunjuknya selaku penasihat kerajaan."Pesan Moral dari Cerita Anak Indonesia Kisah Si Burung Bayan dan Si Penggetah adalah kekejaman dan keserakahan penguasa akan ditumbangkan oleh kekuatan rakyat yang dipimpin oleh penguasa. Hanya penguasa yang senantiasa memikirkan dan mengusahakan kesejahteraan rakyatnya saja yang akan dicintai oleh rakyatnya. Pesan moral lainnya adalah jangalan berlaku kikir dan kejam, karena kebahagiaan sejati akan didapatkan dari kedermawanan dan kasih sayang."

Kisah Ketobong Keramat
Folklore
20 Feb 2026

Kisah Ketobong Keramat

Alkisah pada zaman dahulu kala, di negeri Pelalawan berkuasalah seorang raja yang dikenal sebagai Raja Pelalawan. Penduduknya hidup tenteram, sejahtera dan rukun. Namun, di antara penduduk tersebut, terdapat seorang laki-laki setengah baya yang hidup sangat miskin. Meskipun miskin, ia gemar menolong orang lain. Setiap hari ia pergi menajuh di Sungai Selempaya yang mengalir di negeri itu. Dari hasil menangkap ikan itulah ia bisa menghidupi istri dan anak-anaknya.Selain menangkap ikan, si Miskin itu memiliki kepandaian mengobati orang sakit. Kepandaiannya itu ia gunakan untuk menolong setiap orang yang datang kepadanya. Karena ia suka menolong orang sakit, maka ia pun dipanggil Bomo Sakti (Tabib Sakti). Ia sangat pandai mengambil hati masyarakat. Jika ada orang membutuhkan pertolongannya, ia tidak pernah menolak. Selain itu, ia juga tidak pernah meminta bayaran atas bantuan yang telah diberikannya. Sifatnya yang rendah hati itu, membuat masyarakat di negeri Pelalawan senang kepadanya. Berbeda dengan bomo-bomo lainnya, mereka memiliki sifat angkuh. Untuk setiap obat yang diberikan kepada orang sakit, ia selalu meminta bayaran yang sangat tinggi dan selalu menolak apabila dimintai pertolongannya oleh orang miskin.Suatu hari, kepandaian Bomo Sakti mengobati orang sakit itu terdengar oleh Raja Pelalawan. Maka diutuslah dua orang pengawal istana untuk menjemput Bomo Sakti untuk dibawa ke istana. Sesampainya di hadapan raja, Bomo Sakti langsung memberi hormat, “Ampun Baginda Raja! Ada apa gerangan Baginda memanggil saya menghadap?” tanya Bomo Sakti penasaran. “Wahai Bomo Sakti! Aku sudah mendengar tentang kepandaian kamu mengobati orang sakit. Bersediakah kamu aku angkat menjadi bomo di istana ini?” tanya Baginda Raja kembali. “Ampun beribu ampun, Baginda! Saya ini hanya orang miskin dan bodoh. Tuhanlah yang menyembuhkan mereka, saya hanya berusaha melakukannya,” jawab Bomo Sakti merendah. Baginda Raja pun mengerti kalau Bomo Sakti menerima tawarannya itu dengan bahasa yang sangat halus. Akhirnya, Bomo Sakti pun diangkat menjadi bomo resmi di Kerajaan Pelalawan. Sejak itu, Bomo Sakti semakin terkenal hingga ke berbagai negeri. Kehidupan keluarganya berangsur-angsur menjadi makmur. Meskipun namanya sudah terkenal di mana-mana, Bomo Sakti tetap bersikap rendah hati. Ia masih mengerjakan pekerjaannya yang dulu yaitu pergi menangkap ikan di sungai Selempaya.Suatu waktu, Baginda Raja memanggil Bomo Sakti menghadap kepadanya. Setelah Bomo Sakti menghadap, Baginda Raja pun berkata, “Wahai Bomo Sakti, sudah lama aku menginginkan anak. Aku sudah mendatangkan bomo dari berbagai negeri, namun belum ada yang berhasil. Untuk membuktikan kesetiaanmu padaku, aku berharap kamu mau mengobati permaisuriku agar kami bisa mendapatkan keturunan,” pinta Raja Pelalawan dengan penuh harapan. Karena permintaan raja, Bomo Sakti tidak bisa menolak. “Hamba akan berusaha, Baginda! Semoga Tuhan Yang Mahakuasa mengabulkan keinginan Baginda,” jawab Bomo Sakti dengan rendah hati.Setelah itu, Bomo Sakti pun mengeluarkan seluruh kepandaiannya. Dengan takdir Tuhan Yang Mahakuasa, usahanya berhasil. Beberapa hari setelah diobati, permaisuri pun mengandung. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, genaplah 9 bulan kandungan permaisuri. Maka lahirlah seorang putri yang cantik jelita. Sejak itu, semakin masyhurlah nama bomo yang sakti itu. Raja dan permaisuri serta seluruh penduduk negeri Pelalawan sangat senang dan gembira menyambut kelahiran sang Putri kecil yang cantik itu. Akan tetapi, Bomo Sakti yang telah berhasil mengobati sang permaisuri justru merasa menyesal, karena telah melanggar larangan yang pernah ditetapkan oleh gurunya. Larangan tersebut adalah ia tidak dibenarkan mengobati orang yang sehat dan orang yang sudah mati. Jika ia melanggar larangan itu, hidupnya akan teraniaya.Jika berladang, padinya takkan berisi. Jika mencari ikan, takkan dapat. Jika berlayar, angin berhenti. Jika beternak, takkan berkembang biak. Oleh karena itu, ia berniat untuk berhenti menjadi bomo. Akan tetapi, jika ia berhenti begitu saja, tentu Baginda Raja akan murka kepadanya. Ia pun kemudian mencari akal bagaimana caranya agar ia bisa berhenti menjadi bomo tanpa membuat Baginda Raja merasa kecewa.Setelah beberapa lama berpikir, Bomo Sakti pun menemukan cara yang baik. Keesokan harinya, ia mengutarakan isi hatinya kepada Raja Pelalawan. “Ampun, Baginda Raja!Bukannya hamba tidak hormat terhadap titah Baginda. Tadi malam hamba bermimpi bertemu dengan seorang kakek. Ia menyuruh hamba berhenti menjadi bomo. Jika hamba tidak menuruti perkataan kakek itu, maka keluarga hamba akan teraniaya,” cerita Bomo Sakti pada Raja. Mendengar cerita Bomo Sakti, Baginda Raja bisa memakluminya. “Baiklah, Bomo Sakti. Aku rela kamu berhenti menjadi bomo kerajaan ini,” jawab Baginda Raja tersenyum. Sejak saat itu, Bomo Sakti resmi berhenti menjadi bomo. Penduduk negeri pun tidak lagi datang untuk meminta bantuannya. Bomo Sakti kembali menjalani hidupnya sebagai penajuh untuk menghidupi keluarganya.Seiring dengan berjalannya waktu, sang Putri pun sudah berumur lima belas tahun. Sebagai anak satu-satunya, sang Putri sangat disayangi oleh Baginda Raja dan permaisuri. Ke mana pun ia pergi selalu dikawal oleh puluhan dayang-dayang. Suatu hari, sang Putri jatuh sakit keras. Penyakitnya semakin hari semakin parah. Sudah puluhan bomo didatangkan dari berbagai negeri, namun belum ada seorang pun yang bisa menyembuhkan sang Putri. Baginda raja dan permaisuri semakin cemas melihat kondisi putrinya yang semakin lemas. Dalam suasana cemas itu, tiba-tiba Baginda Raja teringat dengan Bomo Sakti yang pernah dilantiknya sebagai bomo resmi kerajaan lima belas tahun yang lalu. Maka diperintahkannya beberapa pengawal untuk mencari Bomo Sakti itu. Sudah berhari-hari pengawal istana mencari Bomo Sakti, namun tak kunjung mereka temukan. Karena terlalu lama menahan sakit, akhirnya dengan kehendak Tuhan Yang Mahakuasa, meninggallah Putri Kerajaan Pelalawan tersebut. Tersebarlah berita kematian sang Putri hingga ke seluruh pelosok Negeri Pelalawan. Baginda Raja sangat sedih dan menyesal, karena Bomo Sakti yang sangat diharapkan untuk menyembuhkan putrinya tidak pernah datang.Melihat putri tunggalnya telah meninggal, Baginda Raja segera mengutus beberapa pengawal untuk mencari Bomo Sakti yang selama ini belum berhasil ditemukannya. Malam itu juga dengan susah payah pengawal istana berhasil menemukan Bomo Sakti di sebuah pondok dekat sungai Selempaya. Karena Baginda Raja yang memanggil, maka berangkatlah Bomo Sakti ke istana. Sesampainya di istana, Raja berkata, “Hai Bomo Sakti, hidupkanlah kembali putriku ini. Buktikanlah kesetiaanmu sekali lagi kepadaku.Jika kamu menolak permintaanku, maka kamu dan keluargamu akan aku pancung di depan orang ramai.” Mendengar ancaman Baginda Raja, Bomo Sakti pun menjadi ketakutan. Demi keselamatannya dan keluarganya, terpaksalah ia menuruti kehendak rajanya. Saat itu juga Bomo Sakti segera mempersiapkan perlengkapan untuk upacara pengobatan yang belum pernah dilakukannya.Bomo Sakti mulai menyalakan puluhan lilin dan memasangnya di seluruh sudut istana. Kemudian membakar kemenyan hingga baunya menyebar ke seluruh ruangan. Semua yang hadir di tempat itu harus diam di tempat masing-masing. Sambil membaca doa, Bomo Sakti menepungtawari sang Putri yang sudah meninggal itu. Setelah itu, ia pun memukul ketobong sambil mengucapkan doa. Tubuhnya mulai mengeluarkan keringat, setiap kali ia memukul ketobongnya tampak ketobong itu seperti berapi-api. Setelah hampir dua jam lamanya ia memukul ketobongnya sambil membaca doa, selubung yang menutupi sang Putri tiba-tiba bergerak. Semua orang yang melihat kejadian itu sangat kagum bercampur rasa takut. Tak lama, terdengar sang Putri bersin. Kemudian sang Putri duduk, seolah-olah baru bangun tidur. Akhirnya, sang Putri pun hidup kembali.Baginda Raja dan permaisuri sangat senang atas hidupnya kembali putri tunggalnya itu. Sebaliknya, Bomo Sakti merasa sangat menyesal menghidupkan kembali sang Putri. Ia pun segera kembali ke perahunya yang tertambat di tepi sungai. Sambil mengayuh perahunya meninggalkan Kerajaan Pelalawan, Bomo Sakti menangis karena telah melanggar larangan gurunya yang kedua kalinya. Tengah mengayuh perahunya, ia melihat pengawal istana sedang mengejarnya di belakang. Tak lama, ia mendengar suara teriakan dari arah perahu itu. “Hai Bomo Sakti! Tungguuu…tungguuu…! Baginda Raja memanggilmu kembali ke istana!” teriak seorang pengawal. Bomo Sakti terus saja mengayuh perahunya.Ia tidak menghiraukan suara teriakan itu.Setelah sampai di muara sungai, perahu Bomo Sakti tiba-tiba berhenti. Tak lama kemudian, perahu pengawal pun menyusul dan mendekati perahu Bomo Sakti. Sebelum turun dari perahunya, Bomo Sakti berpesan kepada pengawal istana yang mengejarnya. “Hai Pengawal, sampaikan kepada rajamu, perintahnya telah saya laksanakan, hingga saya harus melanggar perintah guru saya. Saya bersumpah tidak akan menginjak bumi Pelalawan ini selagai saya masih hidup,” tegas Bomo Sakti kepada pengawal. Setelah itu, ketobong yang digunakan untuk menyembuhkan sang Putri dibuangnya ke dalam sungai. Ketika ketobong itu dibuang, tiba-tiba air sungai menjadi berombak. Pada saat itu pula, Bomo Sakti melompat ke darat sambil berteriak, “Jika kalian sampai di Pelalawan, sampaikan salamku kepada istri dan anak-anakku. Katakan kepadanya, jika mereka ingin bertemu denganku, suruh mereka datang ke Selempaya setiap hari Jumat pagi.” Setelah ia berpesan, tiba-tiba ombak kembali menjadi tenang. Namun, dari dalam air terdengar bunyi ketobong seperti dipukul orang. Bomo Sakti pun menghilang dan tak pernah kembali.Sejak peristiwa itu, masyarakat setempat mempercayai bahwa Bomo Sakti masih hidup sebagai orang hunian (makhluk halus). Masyarakat yang menajuh di Sungai Selempaya sering melihatnya dalam wujud seperti manusia biasa. Konon, hingga kini apabila terjadi hujan panas, sering terdengar bunyi ketobong di sungai itu.

Kisah Bujang Buta
Folklore
20 Feb 2026

Kisah Bujang Buta

Alkisah, zaman dahulu kala, di sebuah kampung di Riau, hiduplah seorang janda tua bersama tiga orang anak laki-lakinya. Anaknya yang sulung bernama Bujang Perotan, anak kedua bernama Bujang Pengail, dan bungsunya bernama Bujang Buta. Namun, ketiga anaknya tersebut memiliki perangai berbeda-beda. Bujang Perotan dan Bujang Pengail memiliki sifat buruk, mereka selalu berniat mencelakakan adiknya. Sebaliknya Bujang Buta, meskipun buta, ia adalah anak yang sabar dan tekun bekerja.Pada suatu hari, ketiga bersaudara tersebut pergi ke hutan untuk merotan dan mengail ikan. Di tengah mereka asyik mengail ikan, Bujang Perotan dan Bujang Pengail meninggalkan Bujang Buta sendirian di hutan belantara. Saat Bujang Buta tersadar kedua abangnya meninggalkannya, ia pun berteriak-teriak memanggil abangnya. “Abaaang… ! Kalian di mana?” teriak Bujang Buta. Berkali-kali sudah Bujang Buta berteriak memanggil abangnya, namun ia tidak mendengar jawaban. Hingga malam menjelang, Bujang Buta tidak menemukan kedua abangnya.Dengan tertatih-tatih dan disertai perasaan yang takut, Bujang Buta terus berjalan mengikuti kaki melangkah. Baru beberapa langkah, tiba-tiba ia merasakan kakinya menginjak sesuatu. Ia pun meraba-raba dan mengambil benda itu. “Ah, sepertinya ini buah mangga,” gumam Bujang Buta. Digigitnya buah itu sampai hanya bijinya yang tersisa. “Mmm, manis sekali mangganya,” kata Bujang Buta dalam hati. Oleh karena masih merasa lapar, Bujang Buta menghisap-hidap biji mangga tersebut. Karena asyiknya, tanpa diduga biji mangga tertelan.“Adooi Mak!‘ pekik Bujang Buta. Bersamaan dengan itu, matanya terbelalak. Ia sangat terkejut ketika ia bisa melihat dedaunan dan ranting-ranting kecil yang bergoyang di hadapannya. Bujang Buta kemudian melihat ke langit dan ia bisa melihat indahnya sinar rembulan. “Alhamdulillah…! Terima kasih ya Allah! Mataku sudah dapat melihat dunia,” ucap Bujang Buta sambil memejamkan matanya.Namun, ketika ia membuka matanya kembali, di hadapannya sudah ada dua ekor beruk dan seekor harimau. Bujang Buta menjadi ketakutan, dikiranya harimau itu mau menerkamnya. “Jangan takut, Orang Muda!” seru si Harimau. Bujang Buta kaget bukan main, ia tidak menyangka kalau harimau itu berbicara.“Hendak ke manakah engkau ini, Orang Muda?” tanya si Beruk. “Saya hendak mencari kampung,” jawab Bujang Buta pelan karena takut. “Mengapa begitu?” tanya si Harimau pula. Lalu, Bujang Buta pun menceritakan semua kejadian yang telah dialaminya.Setelah mendengar cerita Bujang Buta, mengertilah ketiga binatang itu bahwa Bujang Buta adalah anak yang baik. Lalu ketiga binatang itu memberinya senjata.“Hai, orang muda! Karena engkau adalah orang yang baik, maka kami membekalimu terap dan keris,” katakedua beruk itu sambil menyerahkan senjata itu kepada Bujang Buta. “Jangan khawatir, Orang Muda! Senjata itu bisa bergerak sendiri sesuai dengan keinginanmu,” tambah seekor beruk.Si Harimau pun tidak mau ketinggalan. “Untuk melengkapi senjatamu, aku membekalimu penukul yang bisa memukul sendiri sesuai dengan perintahmu,” jelas si Harimau sambil menyerahkan senjata itu kepada Bujang Buta. “Terima kasih, sobat! Kalian memang binatang yang baik hati,” kata Bujang Buta.Usai berpamitan, Bujang Buta meninggalkan hutan itu menuju ke kampung yang telah ditunjukkan oleh ketiga binatang tersebut. Setelah jauh berjalan, sampailah ia di sebuah negeri. Ketika ia akan memasuki sebuah kampung, terlihatlah seorang nenek yang sedang merangkai bunga. Bujang Buta kemudian mendekati nenek itu.“Nenek sedang kerja apa?” tanya Bujang Buta dengan sopan.“Merangkai bunga,” jawab nenek itu.“Siapa engkau ini Orang Muda?” nenek itu balik bertanya.“Orang Muda, Nek,” jawab kisah Bujang Buta. Kini ia tidak lagi menyebut dirinya Bujang Buta.“Bolehkah saya membantu, Nek?” tanya Bujang Buta menawarkan diri.“Tentu saja, tapi cobalah dulu,” jawab nenek itu.Karena sifatnya yang rajin dan suka menolong, ia pun membantu usaha nenek itu dan diizinkan untuk tinggal bersamanya. Sejak itu, setiap hari Bujang Buta membantu sang Nenek merangkai bunga. Ia sudah menganggap nenek itu seperti emaknya sendiri.Pada suatu hari, ketika mereka asyik merangkai bunga, nenek itu bercerita kepada Bujang Buta. “Ketahuilah, Orang Muda! Raja Negeri ini sedang dilanda kesedihan. Putri bungsunya ditawan oleh Raja Gajah untuk dikawini. Hingga kini, tidak seorang pun yang mampu membebaskan sang Putri dari tawanan Raja Gajah.” Mendengar cerita nenek itu, timbul niat Bujang Buta ingin menolong sang Purtri. “Bolehkah saya membantunya, Nek?” tanya Bujang Buta. “Oh, jangan Orang Muda! Gajah itu sangat tangguh. Ia memiliki kesaktian yang sangat tinggi,‘ cegah nenek itu.Bujang Buta hanya terdiam melihat kekhawatiran nenek tua itu. Namun, ia tetap bertekad untuk menyelamatkan sang Putri. Ketika malam sudah larut, diam-diam Bujang Buta pergi ke tempat Putri Bungsu ditawan oleh gajah itu. Tak lupa ia membawa ketiga senjata pemberian beruk dan harimau.Sesampainya di tempat gerombolan gajah, Bujang Buta dihadang oleh sejumlah gajah, termasuk di antaranya Raja Gajah yang menawan sang Putri. Tanpa berpikir panjang, Bujang Buta pun mengeluarkan ketiga senjatanya. Setelah berdoa kepada Tuhan, ia mulai memusatkan perhatiannya pada ketiga senjata tersebut. Tak berapa lama, tiba-tiba terap itu terbang ke arah gerombolan gajah itu lalu melilit mereka. Setelah gajah-gajah tersebut terikat, penukul dan keris pun ikut meluncur memukul dan menikam gerombolan gajah tersebut hingga mati bergelimpangan.Sang Putri Bungsu yang menyaksikan kejadian itu, sangat kagum melihat kesaktian Bujang Buta. Setelah melihat gerombolan gajah itu tidak bergerak lagi, sang Putri menghampiri Bujang Buta untuk mengucapkan terima kasih. “Terima kasih, Orang Muda! Engkau telah menyelamatkan nyawa Putri. Hadiah apa yang engkau inginkan, Orang Muda?” tanya Putri Bungsu menawarkan. “Maaf, Tuan Putri! Hamba tidak menginginkan hadiah apa pun,” jawab Bujang Buta memberi hormat.Tidak kehabisan akal, sang Putri kemudian meminjam baju Bujang Buta. Setelah merobek bagian lengannya, baju itu dikembalikannya lagi kepada Bujang Buta. Sambil terheran-heran, Bujang Buta kemudian pulang ke rumah nenek itu. Dalam perjalanan, Bujang Buta terus bertanya-tanya dalam hati, “Apa maksud tuan Putri merobek lengan bajuku?”Keesokan harinya, kabar kematian gerombolan gajah itu tersebar ke seluruh pelosok negeri. Setelah mendapat cerita dari putrinya, Raja Negeri mengundang seluruh rakyatnya ke istana. Tak berapa lama, seluruh rakyat sudah berkumpul di depan istana. Tampak pula Bujang Buta hadir di tengah-tengah undangan dengan bajunya yang berlengan satu.Seluruh undangan harus memperlihatkan semua pakaian yang mereka miliki. Satu per satu pakaian-pakaian tersebut disesuaikan dan robekan baju bagian lengan yang ada di tangan Putri Bungsu. Sudah hampir semua pakaian diperiksa, namun tak satu pun yang sesuai. Sampai pada akhirnya ditemukan pakaian Bujang Buta-lah yang sesuai dengan robekan lengan baju itu.“Hai, Orang Muda! Karena engkau telah menyelamatkan putriku, maka engkau berhak menikah dengan putriku. Tahta kerajaan ini aku serahkan pula kepadamu untuk memimpin negeri ini,” kata sang Raja. Bujang Buta pun menerima hadiah pemberian Raja itu.Usai pesta pernikahan, Bujang Buta menghadap untuk memohon sesuatu kepada Raja Negeri. “Ampun, Baginda! Perkenankanlah hamba untuk mencari emak hamba dan membawa mereka serta hidup di negeri ini,” pinta Bujang Buta kepada Raja. “Engkau anak yang berbakti. Baiklah! Pergilah mencari emakmu itu. Pengawalku akan mengantarmu ke mana engkau pergi,” kata sang Raja mengizinkan. “Beribu terima kasih hamba haturkan di hadapan Baginda,” kata kisah Bujang Buta sambil memberi hormat.Keesokan harinya, tampak rombongan Bujang Buta dan Putri Bungsu meninggalkan istana menuju kampung Bujang Buta. Setelah berminggu-minggu berjalan, sampailah mereka di sebuah gubuk reyot. Di depan gubuk itu, Bujang Buta memanggil emaknya. “Emaaak…! Bujang Buta Pulang, Mak!” teriak Bujang Buta. “Masuklah, Anakku! Pintunya tidak dikunci,” jawab emak Bujang Buta. Mendengar suara orang tua itu, Bujang Buta masuk dan memeluk emaknya yang sedang terbaring lemas di atas pembaringan karena sakit.“Ini Bujang Buta, Mak!” kata Bujang Buta meyakinkan emaknya. “Benarkah itu, mengapa engkau bisa melihat, bukankah anakku buta?” tanya emaknya tak percaya. Lalu Bujang Buta menceritakan perjalanannya dan kejadian yang menyebabkan matanya bisa melihat.Setelah mendengar kisah Bujang Buta, tahulah emaknya siapa sebenarnya yang berniat jahat kepada anak bungsunya itu. Namun karena kemuliaan hati Bujang Buta, maka dimaafkannya kesalahan kedua abangnya itu.Sejak saat itu, Bujang Buta membawa serta emak dan kedua abangnya untuk hidup bersama di negeri yang dipimpinnya. Semakin lengkaplah kebahagian Bujang Buta, ia bisa hidup tentram bersama Putri Bungsu dan seluruh keluarganya, termasuk Emak Bunga. Kebahagiaan yang dirasakan Bujang Buta itu berkat kerendahan hatinya, suka menolong dan ketaatannya kepada orang tua.

Kisah Dang Gedunai
Folklore
20 Feb 2026

Kisah Dang Gedunai

Pada zaman dahulu di Riau, tinggal seorang anak bernama Dang Gedunai. Dia tinggal bersama ibunya. Dang Gedunai adalah seorang anak yang keras kepala. Dia adalah anak satu-satunya, tapi dia tidak pernah bahagia. Suatu hari, Dang Gedunai pergi ke sungai untuk menangkap ikan.“Ibu, aku ingin pergi ke sungai. Aku ingin pergi memancing ”“diluar mendung. Hujan akan segera turun. Kenapa tidak tinggal di rumah saja.Seperti biasa Dang Gedunai mengabaikannya. Dia kemudian pergi ke sungai. Hari mendung ketika ia tiba di sisi sungai. Gerimis pun turun, tapi Dang Gedunai masih sibuk memancing. Kemudian hujan lebat. Dang Gedunai akhirnya menyerah. Namun tepat sebelum ia meninggalkan, ia melihat sesuatu yang bersinar di sungai. Itu telur sangat besar. Dang Gedunai mengambilnya dan kemudian membawa pulang telur itu.“telur apa itu? Di mana kau menemukannya? ”“Di sungai, Ibu.“Hati-hati dengan telur. Ini bukan milikmu. kamu harus mengembalikannya, ”Seperti biasa, Dang Gedunai mengabaikan nasihat ibunya. Ia berencana untuk makan telur meskipun ibunya mengatakan tidak. Di pagi hari, ibunya sudah siap untuk pergi ke sawah. Sekali lagi, ia menyarankan Dang Gedunai untuk mengembalikan telur itu ke sungai. Dang Gedunai tidak mengatakan apa-apa. Ketika ibunya meninggalkan rumah, ia segera merebus telur. Lalu ia memakannya. Itu begitu lezat. Dia sangat kenyang dan tiba-tiba ia tertidur. Dalam tidurnya ia bermimpi. Seekor naga raksasa datang kepadanya.“Dang Gedunai, kamu mencuri telur aku! Untuk hukuman, kamu akan menjadi seekor naga. ”Dang Gedunai bangun dengan ketakutan. Dia merasa sangat haus. Kemudian ibunya pulang.“Apa yang terjadi … apa yang terjadi dengan kamu, Dang Gedunai?“aku tidak tahu, Ibu. Tiba-tiba aku merasa sangat haus ….. ….. Tenggorokanku sangat panas ”Ibunya kemudian memberinya segelas air. Ini tidak cukup. Dia minum segelas, dan kemudian gelas lain sampai tidak ada air yang tersisa di rumah. Tapi itu tidak cukup. Ibunya menyuruhnya pergi kolam. Dang Gedunai minum semua air sampai kolam hingga kering. Tapi itu tidak cukup. Kemudian mereka pergi ke sungai. Sekali lagi itu tidak cukup. Dang Gedunai tau mimpinya akan menjadi kenyataan. Dia akan menjadi seekor naga.Ibu, maafkan aku. …… Aku mengabaikan nasihatmu. aku memakan telur. Itu telur naga. …… Aku akan berubah menjadi seekor naga. aku tidak bisa hidup denganmu lagi. ……… aku akan hidup di laut. …………… Jika kamu melihat gelombang besar di laut, itu berarti aku sedang makan. Tetapi jika gelombang yang tenang, saat itu berarti aku sedang tidur, ”“Dang Gedunai …… Kenapa tidak kau dengarkan aku ………. Semuanya sudah berakhir sekarang. kamu berubah menjadi naga raksasa. Selamat tinggal anakku. ……. Kemudian Dang Gedunai meninggalkan ibunya. Dia menuju laut. Ibunya tidak bisa berbuat apa-apa untuk menghentikannya. Dia hanya menangis.

Kisah Dayang Kumunah
Folklore
20 Feb 2026

Kisah Dayang Kumunah

AIkisah di sebuah dusun di daerah Riau, hiduplah seorang laki-laki tua bernama Awang Gading. Ia hidup sebatang kara karena istrinya sudah meninggal tanpa meninggalkan seorang anak.Sehari-hari, pekerjaan Awang Gading adalah menangkap ikan di sungai. Jika beruntung, ia akan mendapatkan banyak ikan yang bisa ditukar dengan beras di pasar. Meskipun hidup sederhana, Awang Gading tak pernah mengeluh. Ia bahagia dan selalu bersyukur dengan keadaannya itu.Pagi itu, seperti biasanya Awang Gading pergi ke sungai. Sambil berdendang, ia menanti ikan memakan umpannya. Tapi, sepertinya hari itu bukanlah hari keberuntungannya. Sudah berkali-kali umpannya dimakan ikan, tapi ikan itu lepas saat Awang Gading menarik pancingnya."Hmm... mungkin nasibku hari ini kurang balk. Lebih baik aku pulang saja, aku akan kembali besok. Siapa tahu aku Iebih mujur," katanya sambil mengemasi peralatan pancingnya."Oweekkk... owekkk...," tiba-tiba terdengar suara bayi menangis. Langkah kaki Awang Gading terhenti. "'Suara tangis bayi siapa itu?"Ia mencari-cari sumber suara itu. Oh, ternyata suara bayi merah yang tergeletak di semak-semak. Awang Gading menoleh ke kanan dan ke kiri. Tak ada seorang pun di sana, lalu bayi siapa itu? Awang Gading bingung, tapi akhirnya memutuskan untuk membawa dan merawat bayi itu. Ia menamainya Dayang Kumunah.Seluruh penduduk dusun menyambut kehadiran Dayang Kumunah dengan sukacita. Kepala dusun pun mengunjungi rumah Awang Gading, "Bayi ini adalah titipan dari raja penghuni sungai. Rawatlah dengan balk," kata kepala dusun. Awang Gading sangat bahagia. Apalagi Dayang Kumunah tumbuh menjadi gadis yang cantik clan berbudi luhur. Tingkah lakunya sopan, ia pun ramah pada semua orang. Hanya satu kekurangannya, Dayang Kumunah tak pernah tertawa.Kecantikan Dayang Kumunah terdengar sampai ke telinga Awangku Usop, seorang pemuda kaya dari luar dusun. Penasaran, Awangku Usop pun datang berkunjung. Benar saja, ia Iangsung jatuh cinta pada pandangan pertama. "Dayang, maukah kau menikah denganku? Aku berjanji akan membahagiakanmu," pinta Awangku Usop."Sebelum menikahiku, Kanda perlu tahu, aku adalah penghuni sungai. Dunia kita berbeda, tapi jika Kanda mau menerimaku apa adanya, aku bersedia menjadi istri Kanda," jawab Dayang Kumunah. "Satu lagi, jangan pernah memintaku untuk tertawa. Aku tak bisa dan tak boleh melakukannya."Awangku Usop menyetujui semua permintaan Dayang Kumunah. Pesta pernikahan pun digelar dengan meriah. Semua tamu bersenang-senang. Menurut mereka, Dayang Kumunah dan Awangku Usop adalah pasangan yang serasi.Bertahun-tahun kemudian, rumah tangga Dayang Kumunah dan Awangku Usop dihiasi oleh tawa riang lima orang anak. Dayang Kumunah benar-benar melaksanakan tugasnya sebagai istri dan ibu yang baik. Awangku Usop tak pernah meragukannya. Namun suatu hari kebahagiaan mereka terusik. Awang Gading meninggal. Dayang Kumunah sangat sedih sepeninggal ayah angkatnya itu. Setiap hari mukanya murung. Biasanya, meskipun tak pernah tertawa, Dayang Kumunah masih tersenyum.Namun sekarang senyumnya tak pernah tampak lagi. Awangku Usop tak ingin istrinya bersedih terus. Ia berusaha de ganse gala cara agar Dayang Kumunah kembali tersenyum.Usahanya tak sia-sia. Perlahan-lahan, Dayang Kumunah mulai merelakan kepergian ayah angkatnya dan menjalani kehidupannya seperti biasa.Tapi, Awangku Usop tak puas. Ia penasaran sekali, mengapa Dayang Kumunah tak pernah tertawa. Ia ingin agar sesekali istrinya tertawa, menunjukkan kebahagiaan hidup bersamanya dan anak-anak.Anak bungsu mereka mulai bisa berjalan. Cara berjalannya lucu sekali. Dengan kakinya yang montok, ia tertatih-tatih berusaha berjalan lurus. Awangku Usop dan kakak-kakak si Bungsu tertawa menggoda si bungsu. Si bungsu pun tertawa terkekeh-kekeh dan berusaha mendekati ayahnya."Lihat istriku, anak kita mulai berjalan. Mengapa kau tak ikut bergembira bersama kami? Tertawalah, apakah kau tak bahagia melihat kelucuan si bungsu?" tanya Awangku Usop pada Dayang Kumunah.Dayang Kumunah terdiam. Sebenarnya ia ingin tertawa, tapi tak boleh. Suaminya terus memaksa, akhirnya Dayang Kumunah tertawa juga. Ia tertawa terbahak-bahak, karena memang tingkah polah si bungsu sangat menggemaskan.Saat Dayang Kumunah tertawa, Awangku Usop dan anak-anaknya tertegun. Mereka melihat insang ikan dalam mulut Dayang Kumunah. Hal itu menandakan bahwa ia keturunan ikan.Dayang Kumunah tersentak, ia menyadari kesalahannya serta berlari meninggalkan suami dan anak-anaknya."Dayang... tunggu... kau mau ke mana?" Awangku Usop berlari mengejarnya. Kelima anaknya mengikuti dari belakang. Si bungsu digendong oleh kakaknya.Dayang Kumunah terus berlari menuju sungai. Sesampainya di sungai, ia segera menceburkan diri. Aneh, tak lama kemudian tubuhnya berubah menjadi ikan. Ikan itu berenang meninggalkan Awangku Usop dan anak-anaknya.Awangku Usop sadar telah berbuat salah dan menangis menyesali perbuatannya, "Mengapa aku memaksanya tertawa? Maafkan aku istriku, kembalilah, kami semua membutuhkanmu," ratapnya.Kelima anaknya juga menangis. Tapi semuanya sudah terlambat. Meskipun telah menjadi ikan, Dayang Kumunah tetap cantik. Ikan jelmaan Dayang Kumunah itu berkulit mengkilat tanpa sisik, wajahnya cantik, dan ekornya bagaikan sepasang kaki wanita yang bersilang.Masyarakat menyebutnya ikan patin. Karena itulah banyak masyarakat Riau yang tidak mau menyantap ikan patin. Mereka beranggapan ikan patin adalah jelmaan Dayang Kumunah yang masih merupakan kerabat mereka."Pesan moral dari Cerita Rakyat Riau : Kisah Dayang Kumunah untukmu adalah mengingkari janji pada orang lain pasti akan menimbulkan kekecewaan. Jadi, berusahalah untuk menepati janji yang telah kau ucapkan."

Kisah Hang Tuah Kesatria Melayu
Folklore
20 Feb 2026

Kisah Hang Tuah Kesatria Melayu

Menurut alkisah, pada jaman dahulu kala di Pulau Bentan dekat Temasik terdapat lima teruna gagah perkasan. Mereka adalah Hang Tuah, Hang Jebat, Hang Kasturi, Hang Lekir, dan Hang Lekiu. Pada zaman itu tidak ada yang dipikirkan, kecuali mereka ingin pergi merantau ke tempat lain untuk mengubah nasib supaya hidupnya senang.Agar di rantau tidak percuma begitu saja, seperti mengadu air dengan garam, mereka bersepakat mencari tahu tentang ilmu beladiri. Kemudian Hang Tuah memberi petunjuk kepada teman-temannya dan terlebih dahulu melihat kebolehannya untuk bermain tangan. Setelah mereka cukup berbekal ilmu beladiri, pergilah berlayar menuju ke Negeri Melaka.Sampai di suatu pantai Semenanjung Melaka, salah satu kawannya ada yang merasa penat lalu ingin berehat dahulu. Di antara mereka sedikit berbeda pendapat. Ada yang ingin terus melanjutkan perjalanan dan ada yang ingin istirahat. Kemudian Hang Tuah berkata : “Tak baik kita berbantah, bukankah kita ini bersaudara dan sama-sama merantau ke lurah sama menurun bukit sama mendaki, baiklah kita berehat sebentar di sini.”Begitu Hang Tuah dan sahahat-sahabatnya istirahat, terdapat gerombolan perompak lanun datang mendekatinya. Perompak lanun itu menggertak Hang Tuah dan sahabat-sahabatnya yang sedang istirahat. Gerombolan lanun merasa bahwa daerah itu adalah wilayah kekuasaannya dan tidak boleh seorang pun berada di situ. “Kalau engkau semuanya hendak hidup dan selamat serahkan semua barang-barang bawaanmu kepadaku”, kata pimpinan lanun. Hang Tuah mencoba menyadarkan lanun tersebut, bahwa dirinya dan kawan-kawan hendak merantau ke Melaka, oleh karena itu ia minta kepada lanun agar jangan mengganggu perjalanan ini. Akhirnya terjadi perkelaian seru yang menewaskan semua gerombolan lanun tersebut.Perkelahian yang menewaskan gerombolan lanun itu dilihat dari jauh oleh para pengawal istana yang sedang berjaga-jaga di kawasan pantai. Setelah perkelahian selesai, seorang pengawal datang mendekat dan bertanya kepada Hang Tuah dan kawan-kawannya mengenai apa yang sedang terjadi. Terlebih dahulu Hang Tuah memperkenalkan diri dan mengatakan bahwa ia dan teman-temannya ini berasal dari Bentan, setelah itu ia menjelaskan maksud dan tujuannya kemari yaitu ingin merantau ke Negeri Melaka namun dicegat orang tidak dikenal sehingga terjadi perkelahian.Kemudian pengawal itu bercerita bahwa Negeri Melaka ini telah lama dikacau oleh perompak lanun. Lanun-lanun tersebut tidak mudah dimusnahkan, bahkan panglima Negeri Melaka tidak sanggup menentang mereka. Kejadian yang telah dilihat pengawal itu dianggap aneh, karena lanun-lanun itu dalam prakteknya dapat ditewaskan oleh rombongan Hang Tuah. Selanjutnya pengawal itu minta kepada rombongan Hang Tuah agar mau ikut ke istana untuk dipersembahkan ke hadapan Sultan Negeri Melaka.Pada saat itu Sultan mengadakan pembincaraan penting dengan para pembesar kerajaan bertempat di Balairung. Datuk Bendahara dan para Menteri telah melaporkan keadaan terakhir di Negeri Melaka yang menunjukkan tidak aman karena diganggu oleh perompak lanun yang merajalela di sepanjang pantai. Tiba-tiba pengawal datang untuk mempersembahkan Hang Tuah dan kawan-kawannya yang baru saja selesai menewaskan gerombolan perompak lanun. Setelah mendengar persembahan tersebut, Sultan sangat gembira dan minta Hang Tuah dan kawan-kawannya sudilah menghadap.Berhubung Sultan sangat puas atas keluguan dan keperkasaan Hang Tuah, Hang Jebat, Hang Kasturi, Hang Lekir, dan Hang Lekiu, atas bukti nyata yang disaksikan para pengawal istana, maka pada saat itu Hang Tuah hendak diangkat sebagai Laksamana dan keempat temannya diangkat sebagai pegawai utama istana Negeri Melaka. Setelah Hang Tuah dilantik sebagai Laksamana, Patih Kermawijaya merasa tidak puas. la merasa dirinya sudah lama mengabdi kepada Sultan Negeri Melaka, untuk itu ia patut dilantik sebagai Laksamana. Sultan dianggapnya “tidak mengenang budi dan jasa”, katanya.Menghadapi keadaan Negeri Melaka seperti itu, Patih Kermawijaya berusaha mengatur siasat untuk menggulingkan Hang Tuah. Pada suatu hari Permaisuri Tun Tijah sedang memanggil laksamana Hang Tuah ke tempat kediamannya. Laksamana Hang Tuah datang menghadap dan mohon ampun samba bertanya apakah gerangan tengku permaisuri memanggilnya. Tun Tijah mengaku sudah lama ingin berjumpa dengan Datuk Laksamana, akan tetapi ia merasa ragu. Kemudian Tun Tijah berpantun:Cendana bukan sembarang cendanaCendana dibawa ke InderagiriLaksamana bukan sembarang LaksamanaLaksamana perkasa berbudi tinggiMendengar pantun tersebut, Hang Tuah ketakutan dan mohon ampun kepada tengku permaisuri, lalu ia mohon diri sebelum Sultan murka nantinya. Tun Tijah makin menjadi-jadi dan melanjutkan pantunnya:Wahai Datuk LaksamanaBukan hati memuji LaksamanaBukti nyata di seluruh MelakaJejaka perkasa di pandang mataMenegak bangsa dan negaraWalaupun Hang Tuah telah memohon ampun berulangkali, Tun Tijah pun tetap tidak peduli. Dengan disaksikan oleh dayang-dayang istana, Hang Tuah memaksakan diri untuk pulang, sambil berpantun:Ampun tuanku permaisuriBiarlah patik bermohon diriJanganlah patik dipanggil lagiAkhirnye buruk name negeriKeadaan di kediaman Tun Tijah itu diketahui oleh Patih Kermawijaya, sehingga ia manfaatkan peristiwa ini untuk mengatur siasat. Kemudian ia menghadap Sultan dengan mengatakan bahwa “Laksamana Hang Tuah berperilaku sungguh memalukan dan berani berbuat melanggar pantang, ceroboh, berani bersendau-gurau dengan tengku permaisuri Tun Tijah”. Selama ini Sultan tidak pernah mendengar berita buruk, tetapi Patih Kermawijaya sangat meyakinkan Sultan, sehingga Sultan segera memanggil Datuk Bendahara dan memutuskan hukuman mati terhadap Hang Tuah.Datuk Bendahara ragu terhadap keputusan Sultan tersebut, apakah benar Hang Tuah melakukan pelanggaran seperti yang dikemukakan Patih Kermawijaya? Untuk itu Datuk Bendahara mohon kepada Sultan hendaknya menyelidiki terlebih dahulu benar salahnya berita ini. Akan tetapi Sultan sudah terlanjur percaya kepada Patih Kermawijaya karena Patih tersebut sudah lama mengabdi kepada kerajaan Negeri Melaka. Datuk Bendahara pun tidak berdaya kemudian memanggil Hang Tuah untuk diajak menghadap Sultan dengan mengatakan suatu hal yang sesungguhnya. Sejak peristiwa ini Hang Tuah dipecat sebagai Laksamana dan diputuskan hukuman mati di tengah hutan yang akan dilaksanakan oleh Datuk Bendahara.Sebagai penggantinya diangkatlah Hang Jebat menjadi Laksamana Negeri Melaka. Pada masa transisi seperti ini Sultan sering pergi ke negeri jajahannya dan lama tidak pulang ke istana. Kemudian dimanfaatkan oleh Hang Tuah untuk membalas bela kematian sahabatnya Hang Tuah. Oleh karena itu, Hang Jebat mengamuk di istana dan siapa pun yang mendekatinya ia tikam hingga tewas. Dayang-dayang dan Permaisuri Tun Tijah yang cantik rupawan diminta menghibur Hang Jebat. Tidak seorang pun berani menangkap Hang Jebat yang sedang durhaka. Ketika Sultan mengetahui peristiwa ini, ia pun tidak berani pulang ke istana, melainkan mengungsi di kediaman Datuk Bendahara.Dengan segala penyesalan, Sultan berkeluh di hadapan pembesar kerajaan dengan mengatakan bahwa “bila Tuah masih hidup mungkin tak kan sampai Jebat berani mendurhaka”. Kemudian Datuk Bendahara bersembah di hadapan Sultan dengan reaksi, “apabila Hang Tuah masih hidup, sudikah Paduka Sultan memaafkannya?” Sultan terkejut sambil berseloroh, “bicara apa pula yang datuk sampaikan kehadapan beta, tak kan lah mungkin orang yang sudah mati akan hidup kembali, mustahil… tapi …tapi … apa maksud datuk sebenarnya?”Sewaktu Sultan memerintahkan untuk menghukum mati Hang Tuah, Datuk Bendahara tidak sampai hati melakukannya. Pada saat itu Hang Tuah disembunyikan di hulu sungai Melaka untuk berguru di sana. Lalu Datuk Bendahara segeri menjemputnya untuk dipersembahkan ke hadapan Sultan. Sultan pun mengampuni kesalahan Hang Tuah dan langsung menugaskan Hang Tuah untuk segera menangkap Hang Jebat.Hang Tuah berangkat menuju ke istana untuk membujuk Hang Jebat supaya menyerah dan berhenti berbuat durahaka. Hang Jebat tidak mau menyerah begitu saja, malah ia bicara dengan nada menantang : “Biar Jebat dikatakan mendurhaka, tak jadi apa, karena beta ingin membela kebenaran atas kematian kak Tuah!” Selanjutnya terjadi pertarungan hebat antara Hang Tuah dengan Hang Jebat. Pertama-tama mereka saling merebut keris Taming Sari, seterusnya saling tikam-menikam. Akhirnya Hang Jebat memberikan keris kepada Hang Tuah sambil mengatakan: “Kak Tuah silahkan bunuhlah beta!” Hang Tuah menghujamkan keris Taming Sari ke dada Hang Jebat hingga tewas mengenaskan.

KISAH PENGERAN SUTA DAN RAJA BAYANG
Folklore
17 Feb 2026

KISAH PENGERAN SUTA DAN RAJA BAYANG

Pada zaman dahulu, di Kerajaan Indragiri yang berkedudukan di Japura. Kerajaan Indragiri yang di pimpin oleh seorang Raja yang sangat bijaksana dan adil bernama Sultan Hasan. Selama masa pemerintahannya, rakyat hidup dengan damai dan aman. Selain ia seorang Raja yang sangat arif, ia juga mempunyai seorang Putri yang sangat cantik jelita yang bernama Putri Halimah. Kerena kecantikannya terkenal sampai keberbagai negeri.Suatu hari, datanglah seorang Raja yang bernama Raja Bayang. Ia datang ke Kerajaan Indragiri di temani oleh ketiga orang saudaranya yang bernama Raja Hijau, Raja Mestika dan Raja Lahis. Keempat Raja tersebut datang dengan pengawal yang sangat gagah perkasa.Kedatang mereka ke Kerajaan Indragiri membuat kekacauan dan perilakunya sungguh tercela. Tindakan mereka dan pasukkannya yang bertindak semena-mena membuat rakyat sangat ketakutan.Mendengar keempat Raja tersebut membuat kekacauan dan membuat rakyat resah, Raja Sultan Hasan sangat sedih dan gelisah. Ia pun segera memanggil seluruh menterinya untuk bermusyawarah. Raja pun bertanya bagaimana menghadapi Raja Bayang dan pasukannya tersebut. Semua menteri pun sangat kebingungan. Karena mereka sangat tangguh dan sudah terbiasa hidup dalam rimba.Beberapa hari kemudian, Rombongan Raja Bayang di Japura. Raja Hasan sebenarnya sangat marah karena, Raja Bayang dan pasukannya sudah membuat kekacauan. Namun, ia tetap menyambutnya dengan sopan dan tidak menunjukkan kemarahannya.‘’ Raja Bayang! Apa maksud dari kedatanganmu ke Kerajaanku?’’ Tanya Raja Hasan tegas.‘’ Kedatangan ku kesini , tidak lain untuk meminang Putrimu yang sangat cantik!’’ jawab Raja Bayang dengan angkuh.Raja Hasan sangat terkejut mendengar jawaban dari Raja Bayang. Pinangan tersebut langsung di tolak mentah-mentah. Raja Bayang pun sangat marah dengan penolakkan Raja Hasan. Wajahnya pun berubah menjadi merah terbakar.‘’ Hei kau Raja Hasan yang sangat bodoh! kau akan menyesal karena sudah menolak pinanganku!’’ jawab Raja Bayang dan pergi meninggalkan Istana.Suatu hari, Raja Bayang kembali dengan pasukannya. Ia pun membawa persenjataan yang sangat lengkap. Mereka pun segara menyerang Kerajaan Indragiri. Kerajaan Indragiri diporak-porandakan dalam waktu yang sangat singkat. Raja Hasan pun mengerahkan seluruh pasukkannya untuk melawan pasukkan dari Raja Bayang. Namun, mereka tidak mampu menandingi pasukan Raja Bayang yang sangat kuat. Akhirnya, Raja Hasan dan pasukkannya terpaksa meninggalkan Japura. Dan berembunyi ketempat yang aman bernama Gaung.Dalam persembunyianya tersebut, Raja Hasan dan menteri serta para pasukkanya yang masih selamat berkumpul dan bermusyawarah untuk merebut kembali Kerajaan Indragiri dari tangan Raja Bayang.‘’ Baginda! Prajurit banyak sekali yang tewas di tengah pertarungan. Pasukkan kita semakin sedikit.’’ Kata seorang Menteri yang menghampiri Raja.‘’ Kau benar, banyak Prajurit tewas dalam pertempuran! Apa yang haru kita lakukan sekarang?’’ Tanya Raja gelisah.‘’ Baginda, Hamba pernah mendengar, ada seorang Pangeran yang sangat baik budi pekertinya dan kemampuannya sangat tidak di ragukan lagi dalam medan pertempuran.’’ Jelas seorang menteri.‘’ Siapa nama Pangeran tersebut?’’ Tanya Raja Hasan dengan penasaran.‘’ Kami tidak tahu persis siapa namanya. Namun, kami mendengar orang-orang menyebutnya Pangeran Suta.’’ Jawan Menteri tersebut.Setelah berunding. Akhirnya, mereka sepakat untuk mencari Pangeran Suta. Keesokan harinya. Raja mengutus Datuk Tumenggung, ia pun segera berangkat dengan sebuah kapal kecil. Berhari-hari berlayar. Akhirnya, Datuk Tumenggung sampai di perairan Jambi. Ia pun menanyakan keberadaan Pangeran Suta. Ia pun mendapat informasi bahwa Pangeran Suta berada di Selat Malaka.Datuk Tumenggung berkeliling setibanya di Selat Malaka untuk mencari Pangeran Suta. Suatu hari, ia pun berhasil menemukan Pangeran Suta. Datuk Tumenggung pun langsung menceritakan kesulitan yang di hadapi Kerajaan Indragiri. Setelah menjelaskan panjang lebar. Akhirnya, Pangeran Suta bersedia untuk membantu Kerajaan Indragiri. Mereka pun akhirnya berangkat ke Gaung.Mereka pun akhirnya sampai di Gaung. Kedatangan Pangeran Suta, di sambut dengan baik oleh Raja Hasan. Keesokan harinya, Pangeran Suta mulai menyiapkan alat-alat untuk berperang. Ia pun melatih Prajurit Indragiri. Pada awalnya Raja Hasan beserta pasukkanya berkecil hati untuk menerima kekalahan. Namun, kedatangan Pangeran Suta membuat mereka kembali bersemangat.Suatu hari, setelah semua pasukkan siap untuk berperang. Mereka kembali ke Japura untuk melawan Raja Bayang.Pertempuran pun terjadi. Pertempuran berlangsung sampai berhari-hari. Kedua Kerajaan sama-sama kuat. Namun, Pasukkan Raja Bayang mulai kewalahan. Banyak pasukannya yang tewas dan luka-luka. Akhirnya, Raja Banyang dan ketiga saudaranya memutuskan untuk bersembunyi kedalam hutan yang lebat. Namun, pangeran Suta tetap memerintahkan pasukannya untuk menejar mereka.Melihat pasukan dari Raja Hasan terus mengejar. Mereka terus di buru Pangeran Suta. Akhirnya, mereka kehilangan tenaga. Mereka pun terluka semakin parah.Keempat Raja yang sangat sombong tersebut pulang ke negerinya dengan menanggung rasa malu karena kekalahan. Pangeran Suta kembali ke Japura. Ia pun menemput Raja Hasan dari Gaung. Raja Hasan sangat berterima kasih, karena Pangeran Suta lah yang menolongnya dalam kesulitan. Ia pun berniat untuk menikahkan Putrinya dengan Pangeran Suta.Mendengar permintaan tersebut, Pangeran Suta sangat senang. Akhirnya, seluruh rakyat pun sibuk mempersiapkan pernikahan Pangeran Suta dan Putri Raja Hasan. Mereka sibuk membersihkan istana. Acara pernikahan pun berlangsung dengan sangat meriah. Pangeran Suta akhirnya, menjadi Raja Japura. Pangeran Suta dan Putri hidup sangat bahagia. rakyat pun kembali aman, damai dan makmur."Pesan moral dari Cerita Rakyat Indonesia : Kisah Pangeran Suta adalah jangan jadi anak nakal yang suka mengganggu orang lain. Orang yang yang baik dan suka membantu akan disukai oleh semua orang."

Asal Muasal Kota Dumai
Folklore
17 Feb 2026

Asal Muasal Kota Dumai

Dahulu, di Dumai ada sebuah kerajaan yang dipimpin oleh seorang ratu bernama Cik Sima. Kerajaan tersebut bernama Kerajaan Seri Bunga Tanjung. Cik Sima mempunyai tujuh orang putri yang cantik-cantik. Di antara ketujuh putrinya, putri bungsulah yang paling cantik. la bernama Mayang Sari.Suatu hari, ketujuh putri ini sedang mandi di Lubuk Sarong Umai. Mereka tidak menyadari bahwa ada orang yang sedang memerhatikan mereka. Pangeran Empang Kuala yang secara tidak sengaja sedang melewati daerah itu terkagum-kagum dengan kecantikan ketujuh putri itu. Namun, matanya terpaku pada Putri Mayang Sari."Hmm, cantik sekali gadis itu. Gadis cantik di Lubuk Umai. Dumai... Dumai," bisiknya pada diri sendiri.Sekembalinya ke kerajaan, Pangeran Empang Kuala memerintahkan utusannya untuk pergi ke Kerajaan Seri Bunga Tanjung untuk meminang Putri Mayang Sari. Secara adat, Cik Sima menolak dengan halus pinangan kepada putri bungsunya, karena seharusnya putri tertualah yang harusnya menerima pinangan lebih dahulu.Pangeran Empang Kuala murka mendengar pinangannya ditolak. Lulu, ia mengerahkan pasukannya untuk menyerbu Kerajaan Seri Bunga Tanjung. Mendapat serangan tersebut, Cik Sima segera mengamankan ketujuh puterinya ke dalam hutan. Mereka disembunyikan di sebuah lubang yang ditutupi atap terbuat dari tanah dan dihalangi oleh pepohonan. Cik Sima juga membekali ketujuh puterinya bekal makanan selama tiga bulan. Setelah itu, Cik Sima kembali ke medan perang.Pertempuan berlangsung selama berbulan-bulan. Telah lewat tiga bulan pertempuran tidak juga selesai dan pasukan Cik Sima semakin terdesak. Korban sudah banyak sekali berjatuhan dan kerajaan pun porak poranda. Akhirnya, Cik Sima meminta bantuan jin yang sedang bertapa di Bukit Hulu Sungai Umai.Ketika Pangeran Empang Kuala dan pasukannya sedang beristirahat di bagian hilir Sungai Umai pada malam hari, tiba tiba saja ribuan buah bakau berjatuhan menimpa pasukan Pangeran Empang Kuala yang sedang beristirahat. Sebentar saja pasukan tersebut dapat dilumpuhkan. Pangeran Empang Kuala pun terluka.Dalam kondisi yang lemah itu, datanglah utusan Ratu Cik Sima."Hamba datang sebagai utusan Ratu Kerajaan Seri Bunga Tanjung. Ratu meminta Tuan untuk menghentikan peperangan ini. Peperangan ini tidak ada kebaikannya bagi kedua belch pihak. Hanya akan menimbulkan kesengsaraan," kata utusan Ratu Cik SimaPangeran Empang Kuala menyadari bahwa pihaknyalah yang memulai semua kerusakan ini. Akhirnya, ia memerintahkan pasukannya untuk mundur.Sepeninggal pasukan Pangeran Empang Kuala, Ratu Cik Sima bergegas menuju tempat persembuyian ketujuh putrinya. Namun, ia sangat terpukul, karena dilihatnya ketujuh puterinya telah meninggal dunia, karena kelaparan. Peperangan berlangsung Iebih lama dari perkiraan mereka, sehingga bekal makanan yang ditinggalkan tidak cukup.Ratu Cik Sima tak kuasa menahan sesal dan kesedihan atas kehilangan putri-putrinya. la jatuh sakit dan meninggal dunia.Konon, kata Dumai diambil dari kata-kata Pangeran Empang Kuala ketika sedang melihat Putri Mayang Sari di sungai. Kini, di Kota Dumai terdapat situs bersejarah, yaitu sebuah persanggrahan Putri Tujuh yang letaknya di daerah wilayah kilang Minyak PT Pertamina Dumai."Pesan moral dari Cerita Rakyat Riau Putri Tujuh : Asal Usul Dumai adalah permusuhan akan menimbulkan kerugian dan penyesalan."

Persahabatan Androcles dan Singa
Folklore
16 Feb 2026

Persahabatan Androcles dan Singa

Dahulu kala, pada masa kejayaan Kekaisaran Romawi yang membentang luas dari Britania hingga Mesopotamia, hiduplah seorang budak asal Yunani bernama Androcles. Ia adalah seorang pemuda dengan rambut ikal cokelat dan mata yang selalu tampak lelah, hasil dari kerja keras tanpa henti di rumah seorang perwira Romawi yang kejam. Tuannya, seorang senator bernama Lucius, dikenal sebagai pria yang mudah marah dan suka menghukum budak-budaknya untuk kesalahan sekecil apa pun.Setiap hari, Androcles bekerja dari pagi buta hingga larut malam. Ia membersihkan kandang kuda, menyapu halaman istana yang luas, dan kadang dipukuli jika tuannya sedang dalam suasana hati buruk. Hidupnya terasa seperti neraka di dunia. Tak ada hari tanpa rasa sakit, tak ada malam tanpa air mata.Hingga suatu malam, ketika bulan bersinar terang dan seluruh penghuni istana tertidur lelap, Androcles mengambil keputusan berani. Ia akan melarikan diri.Dengan jantung berdebar kencang, Androcles merayap keluar dari kamar budak yang sempit. Ia mengambil sepotong roti basi dan sebotol air yang disembunyikannya selama berminggu-minggu. Dengan langkah hati-hati, ia melewati pintu belakang, memanjat pagar batu, dan mulai berlari.Pelarian ke dalam HutanAndrocles berlari sekuat tenaga menjauhi kota Roma yang gemerlap. Kaki-kakinya yang telanjang terasa perih menginjak batu-batu tajam, tetapi rasa takut tertangkap lebih besar dari rasa sakit. Ia terus berlari melewati ladang gandum, melewati sungai kecil, hingga akhirnya sampailah ia di tepi sebuah hutan lebat yang tampak menyeramkan.Hutan itu dikenal oleh penduduk sekitar sebagai Hutan Gelap, tempat tinggal binatang-binatang buas dan roh-roh jahat. Namun bagi Androcles, hutan itu adalah harapan terakhirnya.Setelah lama berlari menembus kegelapan hutan, Androcles keletihan. Badannya sudah tidak kuat lagi. Otot-ototnya terasa remuk, napasnya tersengal-sengal. Perutnya juga sangat lapar, tetapi roti basi yang ia bawa sudah habis dimakan saat istirahat sebentar tadi. Ia mencari tempat untuk beristirahat dan menemukan sebuah pohon besar dengan akar-akar menjulang dan daun-daun rindang yang menaungi area di sekitarnya.Dengan susah payah, Androcles duduk bersandar di batang pohon itu. Matanya mulai terasa berat. Angin malam berdesir lembut, membawa aroma tanah basah dan dedaunan. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Androcles merasa sedikit aman. Ia mulai terlelap.Namun tiba-tiba, keheningan malam dipecahkan oleh suara yang membuat bulu kuduknya berdiri."Aurgghhhh... Aurgghhhhh!"Suara auman singa menggema di seluruh hutan. Begitu kerasnya hingga dedaunan berguncang dan burung-burung malam terbang panik dari sarang mereka.Androcles tersentak bangun. Jantungnya berdebar begitu kencang seakan ingin melompat keluar dari dadanya. Ia tahu betul suara itu: suara singa, raja hutan, binatang buas pemakan daging yang bisa mencabik-cabiknya dalam hitungan detik.Dengan sisa tenaga yang ada, Androcles bangkit dan berlari lagi. Kali ini ia berlari bukan karena dikejar majikannya, tetapi karena dikejar rasa takut yang mencekik. Namun malang, di tengah pelariannya yang panik, kakinya tersandung sebuah akar pohon yang besar. Tubuhnya terhempas keras ke tanah.Pertemuan yang Tak TerdugaSaat Androcles berusaha bangkit, ia mendengar suara langkah berat mendekat. Perlahan ia mendongak, dan apa yang dilihatnya membuat darahnya seolah membeku.Di hadapannya, berdiri seekor singa besar dengan bulu cokelat keemasan yang lebat. Matanya bersinar di kegelapan, dan dari mulutnya yang sedikit terbuka, tampak taring-taring tajam yang mengkilat. Singa itu jauh lebih besar dari yang pernah ia bayangkan. Androcles yakin inilah saat terakhirnya.Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, pasrah menanti ajal. Namun detik demi detik berlalu, dan tidak terjadi apa-apa. Tidak ada cakaran, tidak ada gigitan.Dengan hati-hati, Androcles membuka matanya dan melihat pemandangan aneh. Singa itu tidak menyerangnya. Ia justru duduk di tanah, mengangkat satu kaki depannya ke arah Androcles. Dari sela-sela jari kakinya, tampak luka besar yang menganga, penuh nanah dan darah kering. Seekor duri besar menusuk di sela jari kakinya, membuat singa itu tak bisa berjalan dengan normal.Androcles, yang seharusnya ketakutan, justru merasakan gelombang kasihan. Di matanya, singa yang besar dan buas itu kini tampak seperti makhluk lemah yang membutuhkan pertolongan. Dan sebagai manusia yang pernah merasakan sakit, Androcles tahu bagaimana rasanya terluka tanpa ada yang menolong.Dengan hati-hati, Androcles mengulurkan tangannya. Singa itu hanya menggeram kecil, seolah memberi isyarat bahwa ia boleh mendekat. Perlahan, Androcles meraih kaki singa itu. Kaki itu hangat dan kasar, tetapi singa itu tetap diam, hanya sesekali menggeram pelan saat Androcles menyentuh bagian yang sakit.Androcles melihat duri besar yang tertancap dalam di sela jari singa. Ia tahu ia harus mencabutnya, tetapi itu akan menyakitkan. Dengan napas tertahan, ia menjepit duri itu dengan jari-jarinya dan menariknya kuat-kuat.Singa itu mengaum keras, suara yang menggema di seluruh hutan, tetapi tidak ada serangan balasan. Ia hanya menjilati lukanya yang mulai mengeluarkan darah segar. Androcles kemudian merobek sedikit kain dari bajunya yang sudah compang-camping dan dengan hati-hati membalut luka itu sebisanya.Setelah selesai, Androcles duduk lagi bersandar di pohon. Tubuhnya masih lelah, tetapi anehnya, ia merasa sedikit lebih tenang. Singa itu berbaring tidak jauh darinya, menjilati lukanya sesekali sambil mengawasi Androcles dengan mata yang kini tampak lebih lembut.Kelelahan akhirnya mengalahkan ketakutan Androcles. Ia terlelap di bawah pohon itu, ditemani oleh seekor singa di dekatnya.Persahabatan di Tengah HutanSaat matahari pagi mulai menyinari hutan, Androcles terbangun. Tubuhnya pegal, tetapi ia masih hidup. Ia menoleh dan melihat singa itu masih berbaring di tempat yang sama. Namun kali ini, di samping singa itu, tergeletak bangkai seekor rusa yang cukup besar.Androcles terkejut. Ia mendekati singa itu dengan hati-hati. Singa itu hanya mendengkur pelan, lalu mendorong bangkai rusa itu ke arah Androcles dengan hidungnya. Saat itulah Androcles mengerti: singa itu telah berburu untuknya. Ini adalah cara singa itu berterima kasih atas pertolongannya semalam.Androcles tersenyum. "Kau benar-benar makhluk yang luar biasa," bisiknya sambil mengelus kepala singa itu. Bulunya lembut di telapak tangannya. Singa itu menggeram pelan, terdengar seperti dengkuran kucing raksasa yang puas.Sejak hari itu, Androcles dan singa itu hidup bersama di hutan. Androcles belajar membuat api dari batu dan kayu kering. Ia memasak daging rusa itu dan berbagi dengan singanya. Mereka tidur berdekatan di malam hari, saling menghangatkan. Di siang hari, Androcles merawat luka singa itu hingga sembuh total, sementara singa itu kadang pergi berburu dan membawa pulang hasil buruannya untuk dimakan bersama.Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Androcles yang tadinya budak yang ketakutan kini hidup sebagai "penghuni hutan" dengan seekor singa sebagai sahabat karibnya. Ia tidak lagi merasa takut atau kesepian. Di matanya, singa itu bukan binatang buas, melainkan teman setia yang takkan pernah menyakitinya.Kembali ke Dunia ManusiaNamun kebahagiaan Androcles tidak bertahan selamanya. Suatu hari, saat Androcles sedang duduk di tepi sungai membersihkan diri, rombongan prajurit Romawi yang sedang berburu babi hutan melintas di dekat situ. Mereka melihat Androcles dari kejauhan."Hei! Ada orang di sana!" teriak salah satu prajurit.Androcles panik. Ia bangkit dan berlari, tetapi prajurit-prajurit yang menunggang kuda jauh lebih cepat. Dalam hitungan menit, Androcles sudah dikepung. Ia berteriak memanggil singa sahabatnya, tetapi singa itu sedang pergi jauh berburu.Prajurit-prajurit itu mengikat tangan Androcles dan menyeretnya kembali ke Roma. Singa itu, yang pulang dan mendapati sahabatnya hilang, hanya bisa mengaung pilu di tengah hutan.Androcles dibawa kembali ke hadapan tuannya, Senator Lucius. Lucius marah besar melihat budaknya yang kabur."Budak durhaka! Kau pikir kau bisa lari dari tuanku?" Lucius berteriak dengan wajah merah padam. "Kau akan kuhukum dengan cara paling kejam! Masukkan dia ke arena! Biar singa-singa yang menghabisinya!"Di Arena MautHari eksekusi tiba. Colosseum, arena raksasa di tengah kota Roma, dipenuhi ribuan penonton yang bersorak-sorai. Mereka datang untuk menyaksikan tontonan berdarah: manusia melawan binatang buas. Di kotak khusus, Senator Lucius duduk dengan sombongnya, menanti balas dendamnya.Androcles didorong masuk ke tengah arena. Pasir putih di bawah kakinya terasa panas. Di sekelilingnya, tembok tinggi menjulang, menghalangi semua jalan keluar. Ia hanya bisa pasrah. Di dadanya, ia berdoa kepada para dewa Yunani, memohon agar kematiannya cepat dan tidak terlalu menyakitkan.Gerbang besi di seberang arena mulai terangkat dengan suara berderit. Dari balik gerbang itu, terdengar auman yang menggema. Seekor singa besar melompat keluar.Penonton bersorak histeris. Mereka menanti pertumpahan darah.Namun Androcles tertegun. Singa itu... ia mengenali singa itu. Bulu cokelat keemasan yang lebat, mata yang hangat, dan cara ia berlari. Itu adalah singa sahabatnya!Singa itu juga berhenti sejenak. Ia menatap Androcles, lalu perlahan berjalan mendekat. Androcles berlari ke arahnya. Mereka bertemu di tengah arena, dan alih-alih menerkam, singa itu justru menjilati wajah Androcles dengan lidah kasarnya, mengibas-ngibaskan ekornya seperti anjing gembira.Seluruh Colosseum hening. Penonton yang sedetik tadi bersorak kini terpaku diam. Mereka tidak percaya dengan apa yang mereka saksikan. Singa buas itu tidak memakan manusia itu, ia justru bersikap jinak seperti anak kucing.Senator Lucius bangkit dari duduknya. Wajahnya campuran antara marah dan bingung. "Apa artinya ini?!" teriaknya.Kebenaran yang MengharukanLucius memerintahkan pengawalnya untuk membawa Androcles ke hadapannya. Dengan suara gemetar, ia bertanya, "Budak, katakan padaku! Bagaimana bisa singa itu tidak menyerangmu? Apa kau seorang penyihir?"Androcles menunduk sopan, lalu mulai bercerita. Ia menceritakan pelariannya ke hutan, pertemuannya dengan singa yang terluka, pertolongannya mencabut duri, dan persahabatan mereka selama berbulan-bulan di hutan. Air mata mengalir di pipinya saat bercerita, bukan karena takut, tetapi karena haru bertemu lagi dengan sahabat setianya."Ia bukan binatang buas, Tuanku," kata Androcles di akhir ceritanya. "Ia adalah sahabatku. Ia lebih setia dari kebanyakan manusia yang pernah kukenal. Ia tidak pernah menyakitiku, dan kini, bahkan di arena ini, ia memilih untuk menjilatiku daripada menerkammu."Seluruh arena sunyi. Banyak penonton, terutama para wanita, menangis mendengar kisah itu. Bahkan beberapa prajurit yang biasanya keras hati terlihat mengusap mata.Senator Lucius terdiam lama. Ia menatap Androcles, lalu menatap singa itu yang duduk tenang di samping tuannya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa malu. Malu karena selama ini ia memperlakukan budaknya seperti binatang, sementara binatang ini justru menunjukkan kesetiaan yang luar biasa."Androcles," panggil Lucius dengan suara yang berubah lembut. "Kau telah menunjukkan padaku arti kebaikan dan kesetiaan yang sejati. Kau bukan budak biasa. Kau manusia dengan hati mulia."Lucius berdiri dan mengumumkan di depan ribuan orang, "Dengan kekuasaan yang diberikan kepadaku sebagai senator Romawi, aku bebaskan Androcles dari status perbudakannya! Ia sekarang adalah warga negara merdeka! Dan sebagai hadiah atas pelajaran berharga yang ia berikan, aku berikan ia kebebasan penuh dan cukup emas untuk kembali ke tanah kelahirannya!"Sorak-sorai bergemuruh di seluruh Colosseum. Kali ini bukan sorak haus darah, tetapi sorak kebahagiaan dan kekaguman.Kembali ke YunaniAndrocles dan singa sahabatnya diizinkan meninggalkan arena bersama-sama. Mereka berjalan melewati kerumunan yang bersorak dan bertepuk tangan. Anak-anak kecil mendekat dengan takjub melihat singa yang jinak itu. Beberapa bahkan berani mengelus bulunya.Beberapa hari kemudian, Androcles bersiap untuk kembali ke Yunani, tanah kelahirannya yang telah lama ia rindukan. Sebuah kapal dagang setuju membawanya pulang, dan dengan sedikit negoisasi—serta bujukan emas—kapten kapal setuju untuk membawa serta singa itu.Saat kapal berlayar meninggalkan pelabuhan Roma, Androcles berdiri di geladak sambil memeluk leher singa sahabatnya. Angin laut berhembus lembut, matahari terbenam di ufuk barat. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Androcles merasa benar-benar bebas dan bahagia."Kau tahu, sahabatku," bisiknya pada singa itu. "Aku dulu berpikir bahwa kebebasan adalah ketika tidak ada yang memerintahku. Tapi sekarang aku tahu, kebebasan sejati adalah ketika kita memiliki teman setia yang selalu ada, apa pun yang terjadi."Singa itu menggeram pelan, seolah mengerti.Hidup Bahagia SelamanyaDi Yunani, Androcles menetap di sebuah desa kecil di pinggir pantai. Ia membangun rumah sederhana dengan kayu dan batu. Singa itu tinggal bersamanya, berkeliaran bebas di sekitar desa. Awalnya penduduk desa ketakutan, tetapi setelah melihat sendiri betapa jinaknya singa itu, mereka mulai terbiasa. Anak-anak bahkan sering bermain di dekat singa itu, yang dengan sabar membiarkan mereka menarik-narik ekornya.Androcles menjadi semacam legenda lokal. Orang-orang dari desa tetangga datang untuk melihat sendiri "manusia yang bersahabat dengan singa." Namun Androcles tidak pernah sombong. Ia selalu menceritakan kisahnya dengan rendah hati, menekankan bahwa kebaikan kecil yang ia lakukan pada singa yang terluka telah berbalas seribu kali lipat.Sampai akhir hayatnya, Androcles hidup dengan damai. Ketika ia meninggal di usia tua, singa itu dikabarkan tidak mau makan selama berhari-hari. Ia berbaring di samping makam Androcles, dan beberapa hari kemudian, ia pun ditemukan telah mati dengan tenang, seolah memilih untuk mengikuti sahabatnya ke alam baka.Penduduk desa memakamkan singa itu di samping makam Androcles, dan di atas kedua makam itu, mereka menanam pohon zaitun yang tumbuh besar dan rindang. Konon, hingga kini, jika angin berdesir di antara dedaunan pohon itu, orang-orang bisa mendengar suara seperti auman lembut bercampur tawa manusia—tawa dua sahabat sejati yang telah bersatu kembali di alam keabadian.

Pangeran Berhidung Besar
Folklore
16 Feb 2026

Pangeran Berhidung Besar

Dahulu kala, di sebuah kerajaan yang subur dan makmur bernama Kerajaan Aldovia, hiduplah seorang raja yang dikenal bijaksana namun juga memiliki satu kelemahan besar: ia terlalu suka bercanda, bahkan kadang melewati batas. Raja Aldovian, yang bernama Raja Leon, adalah pemimpin yang dicintai rakyatnya karena keadilannya, tetapi di balik itu ia sering melontarkan lelucon yang melukai perasaan orang lain tanpa ia sadari.Suatu hari, saat mengadakan jamuan makan besar di istana untuk merayakan panen raya, Raja Leon duduk di singgasana dikelilingi para bangsawan dan tamu kehormatan. Di antara para tamu itu, hadir seorang penyihir tua bernama Magda. Magda dikenal sebagai penyihir yang sakti tetapi juga sangat sensitif. Ia telah membantu kerajaan berkali-kali dengan ramuan dan mantranya, namun fisiknya sering menjadi bahan ejekan karena hidungnya yang memang besar dan bengkok.Di tengah jamuan yang meriah, Raja Leon yang mulai dipengaruhi anggur melontarkan candaan. "Lihatlah hidung penyihir Magda! Hidungnya sebesar belalai gajah! Mungkin dengan hidung sebesar itu ia bisa mencium bau musuh dari seberang lautan!" Para bangsawan tertawa terbahak-bahak, mengikuti candaan raja.Magda yang mendengar itu langsung bangkit dari tempat duduknya. Wajahnya merah padam menahan amarah. Dengan mata menyala-nyala, ia menunjuk ke arah Raja Leon dan mengucapkan kutukan dengan suara yang menggema di seluruh ruangan."Raja Leon! Karena kau telah menghina fisikku di depan seluruh kerajaan, aku kutuk kau dan keturunanmu! Suatu saat, kau akan memiliki anak yang berhidung besar, lebih besar dari hidungku! Dan hidung itu tidak akan pernah mengecil kecuali anakmu dengan jujur mengakui keanehannya sendiri!"Semua orang di ruangan itu terdiam membeku. Sebelum Raja Leon sempat berkata apa-apa, Magda menghilang dalam kepulan asap ungu, meninggalkan suasana canggung yang mencekik. Raja Leon hanya bisa tertunduk, menyadari bahwa candaannya telah membawa petaka.Kelahiran Pangeran Berhidung BesarBeberapa bulan kemudian, tepat seperti kutukan Magda, Ratu Elara melahirkan seorang bayi laki-laki yang tampan, sehat, dan sempurna—kecuali satu hal. Bayi itu memiliki hidung yang sangat besar, jauh lebih besar dari hidung bayi normal. Bahkan bidan yang membantu persalinan terkejut melihatnya.Raja Leon memeluk bayinya dengan perasaan campur aduk: cinta, penyesalan, dan tekad. Ia tidak akan membiarkan kutukan penyihir itu menghancurkan masa kecil putranya. Maka, ia memanggil para penasihat dan pembantu istana."Dengarkan perintahku," kata Raja Leon dengan tegas. "Mulai hari ini, kalian semua akan mengajarkan kepada Pangeran Andre bahwa hidung besar adalah hidung yang normal, indah, dan ideal. Sebaliknya, hidung kecil adalah hidung yang aneh, tidak normal, dan jelek. Tidak boleh ada satu pun orang di istana ini yang mengatakan sebaliknya. Pangeran Andre harus tumbuh dengan keyakinan itu."Para pembantu dan penasihat saling pandang, tetapi mereka menurut. Mulai hari itu, Pangeran Andre dibesarkan dalam lingkungan yang sepenuhnya membalikkan realitas. Setiap kali ia bertanya tentang hidungnya, para pembantu akan berkata, "Hidung Anda sangat indah, Pangeran. Hidung besar adalah tanda kebangsawanan, kekuatan, dan ketampanan. Orang-orang dengan hidung kecillah yang patut dikasihani."Pangeran Andre tumbuh menjadi pemuda yang ceria, percaya diri, dan tampan—setidaknya di matanya sendiri. Ia tidak pernah merasa aneh dengan hidung besarnya karena ia tidak pernah tahu ada ukuran hidung lain yang dianggap normal. Dalam pikirannya, hidung besar adalah standar kecantikan, sementara hidung kecil adalah kelainan.Perjalanan Menuju LamaranTahun-tahun berlalu. Pangeran Andre kini telah berusia dua puluh tahun, seorang pemuda gagah dengan hidung yang semakin besar seiring pertumbuhannya. Raja Leon memutuskan sudah waktunya putranya menikah. Ia memilih Putri Rosebud dari Kerajaan Tetangga, Floravia, seorang putri yang terkenal karena kecantikan dan kebaikan hatinya."Anakku, kau akan pergi ke Istana Floravia untuk melamar Putri Rosebud. Bawalah rombongan terbaik dan hadiah-hadiah termewah. Tunjukkan siapa dirimu," perintah Raja Leon.Pangeran Andre berangkat dengan rombongan besar. Ia didampingi oleh beberapa pembantu setia, termasuk kepala pelayan istana yang bernama Jafar—orang yang paling setia menjalankan perintah raja untuk selalu meyakinkan Andre tentang kenormalan hidungnya.Di sepanjang jalan menuju Floravia, rombongan melewati desa-desa dan kota-kota kecil. Di setiap tempat yang mereka lewati, penduduk berhenti dan menatap Pangeran Andre dengan pandangan aneh. Beberapa tersenyum kecil, beberapa berbisik-bisik, beberapa bahkan terbahak-bahak tetapi segera menutup mulut mereka. Pangeran Andre yang melihat reaksi-reaksi itu mulai kebingungan."Jafar, mengapa orang-orang itu tersenyum dan berbisik ketika melihatku?" tanya Andre polos.Jafar yang sudah siap dengan jawabannya segera berkata, "Oh, Yang Mulia, mereka pasti iri melihat hidung Anda yang begitu agung. Lihatlah hidung mereka yang kecil dan pesek—sungguh tidak normal dan memprihatinkan. Wajar jika mereka iri dan berbisik mengagumi Anda."Andre mengangguk-angguk, menerima penjelasan itu. Namun di dalam hatinya, ada sedikit ganjalan. Mengapa orang yang iri tersenyum seperti mengejek? Mengapa tidak ada satu pun yang datang memuji secara langsung?Kedatangan di Istana FloraviaAkhirnya, setelah perjalanan berhari-hari, rombongan Pangeran Andre tiba di Istana Floravia. Istana itu megah dengan menara-menara putih menjulang dan taman-taman yang dipenuhi bunga mawar merah. Pangeran Andre disambut dengan upacara kebesaran, tetapi saat ia melangkah masuk ke ruang singgasana, suasana berubah.Raja Floravia, Raja Gustav, dan para pembesar istana yang berkumpul di ruangan itu melihat Pangeran Andre. Untuk sesaat, hening. Lalu, satu per satu, mereka mulai tersenyum. Beberapa menutup mulut dengan tangan. Yang lainnya terbatuk-batuk menahan tawa. Akhirnya, seorang bangsawan muda tidak kuasa menahan tawanya dan terbahak-bahak, diikuti yang lainnya. Ruangan singgasana dipenuhi tawa yang berusaha disembunyikan tetapi gagal.Pangeran Andre berdiri di tengah ruangan dengan perasaan sangat aneh. Ia melihat ke arah Jafar yang hanya bisa menunduk. Kemudian ia melihat ke arah raja dan para bangsawan yang tertawa. Hidung mereka kecil, sangat kecil dibandingkan hidungnya. Tapi mengapa mereka yang berhidung kecil menertawakannya? Bukankah seharusnya sebaliknya?"Selamat datang, Pangeran Andre," sapa Raja Gustav akhirnya setelah meredakan tawanya. "Silakan duduk. Kita akan segera memulai perjamuan."Pangeran Andre duduk dengan perasaan tidak nyaman. Sepanjang perjamuan, ia merasa semua mata tertuju padanya, terutama pada hidungnya. Para pelayan yang membawa makanan juga tidak bisa menyembunyikan senyum mereka. Andre mulai sadar bahwa ada sesuatu yang tidak beres, tetapi ia masih berpegang pada apa yang selama ini diajarkan di istananya.Saat Kebenaran TerungkapSetelah perjamuan, Pangeran Andre dipertemukan dengan Putri Rosebud di taman istana. Saat pertama kali melihat putri itu, Andre terpesona. Rosebud begitu cantik dengan rambut panjang keemasan dan mata biru sebening danau. Senyumnya lembut, meskipun ada sedikit kebingungan di matanya saat melihat hidung Andre."Selamat datang, Pangeran Andre. Aku senang akhirnya bisa bertemu denganmu," sapa Rosebud dengan sopan.Andre membalas salam dan kemudian, mengikuti protokol kerajaan, ia hendak mencium tangan sang putri sebagai tanda hormat. Ia membungkuk, mengulurkan tangannya untuk meraih tangan Rosebud, tetapi... hidungnya yang besar menghalangi. Ia mencoba memiringkan kepala ke kiri, tetap tidak bisa. Ke kanan, juga tidak bisa. Ia mencoba menjulurkan leher, tetapi hidungnya seperti tembok yang tak bisa ditembus. Beberapa kali ia mencoba dengan berbagai sudut, namun selalu gagal. Rosebud menutup mulutnya menahan tawa, sementara para dayang yang menemani sudah tidak kuasa menahan geli.Pangeran Andre berhenti. Ia menegakkan badannya dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia melihat dirinya sendiri dari sudut pandang orang lain. Ia melihat betapa sulitnya melakukan hal sederhana seperti mencium tangan karena hidungnya sendiri. Ia melihat tawa orang-orang di sekitarnya, tawa yang tidak mungkin palsu. Ia mendengar bisik-bisik para dayang, "Kasihan sekali, hidungnya sebesar itu."Dan pada saat itu, seperti petir di siang bolong, kesadaran menghantamnya."Ah... rupanya hidungkulah yang tidak normal," gumamnya pelan, hampir tidak terdengar.Seketika itu juga, keajaiban terjadi. Hidung besar Pangeran Andre perlahan mengecil, menyusut, hingga akhirnya menjadi hidung yang proporsional dan normal seperti orang kebanyakan. Semua orang di taman itu terkesima, tidak percaya dengan apa yang mereka saksikan.Pangeran Andre meraba hidungnya dengan kedua tangan. Hidungnya kini kecil, halus, dan tidak menghalangi apa pun. Air mata haru menggenang di matanya. Selama ini ia hidup dalam kebohongan, dan kebenaran telah membebaskannya—secara harfiah.Dari balik semak-semak taman, sosok penyihir Magda muncul dengan senyum puas. "Akhirnya kau jujur pada dirimu sendiri, Pangeran. Kutukanku tidak akan pernah hilang selama kau terus membohongi diri dengan berpikir bahwa hidung besarmu normal. Kejujuran, bahkan pada hal yang pahit sekalipun, adalah kunci kebebasan."Magda kemudian menghilang, meninggalkan taman yang sunyi tetapi penuh keajaiban.Akhir yang BahagiaPutri Rosebud yang sejak tadi terpana, akhirnya tersenyum lebar. Ia berjalan mendekati Andre dan mengulurkan tangannya. Kali ini, tanpa halangan apa pun, Andre mencium tangan Rosebud dengan lembut. Semua orang bertepuk tangan.Raja Gustav yang mendapat laporan tentang kejadian itu segera datang ke taman. Ia memeluk Andre dan berkata, "Anak muda, kau telah membuktikan bahwa kau bukan hanya pangeran tampan, tetapi juga pribadi yang jujur dan rendah hati. Itu lebih berharga daripada bentuk hidung mana pun."Pernikahan Pangeran Andre dan Putri Rosebud dilangsungkan sebulan kemudian dengan kemeriahan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kedua kerajaan bersatu dalam ikatan persahabatan dan cinta. Andre dan Rosebud hidup bahagia selamanya, dikaruniai anak-anak yang cantik dan tampan dengan hidung yang normal.Raja Leon, ayah Andre, datang ke pernikahan itu dengan perasaan bersalah. Ia memeluk putranya erat dan berbisik, "Maafkan Ayah, Nak. Ayah hanya ingin melindungimu, tetapi justru menjebakmu dalam kebohongan. Syukurlah kau menemukan kebenaran sendiri."Andre menjawab dengan bijaksana, "Ayah, perlindungan Ayah adalah bentuk cinta. Tapi kadang cinta sejati adalah membiarkan seseorang melihat kenyataan, bukan menciptakan ilusi. Aku memaafkan Ayah, dan aku bersyukur karena semua ini membuatku mengerti arti kejujuran."Pesan MoralKisah Pangeran Andre mengajarkan kita bahwa kejujuran, terutama kejujuran pada diri sendiri, adalah kunci kebahagiaan dan kebebasan. Berlindung di balik kebohongan, meskipun dimaksudkan untuk melindungi, hanya akan menjauhkan kita dari realitas dan membuat kita sulit berkembang. Ketika kita dengan rendah hati mengakui kekurangan atau keanehan diri kita sendiri, di situlah kita menemukan kedamaian sejati.Selain itu, cerita ini juga mengingatkan kita untuk berhati-hati dalam berkata-kata, karena kata-kata yang menyakiti orang lain dapat berakibat panjang, bahkan melintasi generasi. Namun di atas segalanya, cinta dan kejujuran selalu dapat memperbaiki kesalahan masa lalu dan membawa kita menuju masa depan yang lebih cerah.

Nilai Sebuah Kehormatan
Folklore
16 Feb 2026

Nilai Sebuah Kehormatan

Pada suatu ketika, di negeri Arab yang luas dengan padang pasir membentang dan langit yang selalu cerah, hiduplah seorang saudagar kaya raya bernama Hashim. Ia dikenal bukan hanya karena kekayaannya yang melimpah, tetapi juga karena kebijaksanaan dan kejujurannya dalam berdagang. Setiap bulan, Hashim selalu pergi ke pasar besar di kota tetangga untuk berbisnis, membawa kafilah unta yang sarat dengan muatan rempah-rempah, kain sutra, dan permata berharga.Suatu pagi yang cerah, saat mentari baru saja muncul dari ufuk timur, Hashim bersiap untuk perjalanan dagangnya yang rutin. Namun kali ini berbeda. Putra semata wayangnya, seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun bernama Karim, memohon dengan sangat untuk ikut serta."Ayah, aku sudah besar. Aku ingin belajar berdagang seperti Ayah. Bolehkah aku ikut?" pinta Karim dengan mata berbinar penuh harap.Hashim menatap putranya dengan bangga. Karim memang anak yang cerdas dan pemberani. Meskipun sang istri sempat khawatit, Hashim akhirnya mengizinkan. "Baiklah, Nak. Tapi kau harus selalu dekat dengan Ayah. Pasar sangat ramai dan kau bisa tersesat."Karim melompat gembira dan segera bersiap. Tak lama kemudian, berangkatlah mereka berdua menuju pasar, ditemani beberapa kafilah dan pembantu.Hilang di Keramaian PasarPasar di kota itu memang luar biasa ramainya. Ribuan orang lalu-lalang di antara lapak-lapak pedagang yang menjajakan berbagai macam barang. Suara tawar-menawar bercampur dengan ringkik keledai, lenguh unta, dan teriakan anak-anak kecil yang bermain di sela-sela keramaian. Karim yang pertama kali merasakan suasana pasar sebesar itu terkesima. Matanya tak henti-hentinya memandangi ke sana ke mari, melihat barang-barang yang belum pernah ia lihat sebelumnya."Ayah, lihat! Ada pedagang karpet terbang! Itu benar-benar bisa terbang?" tanya Karim setengah bercanda sambil menunjuk seorang pedagang yang menjajakan karpet-karpet indah.Hashim tertawa. "Itu hanya dongeng, Nak. Tapi karpet-karpet itu memang buatan tangan terbaik dari negeri Persia."Sayangnya, saat Hashim sedang asyik menawar rempah-rempah dengan seorang pedagang tua, Karim melihat seekor kucing kecil yang lucu berlari di antara kerumunan. Tanpa berpikir panjang, Karim mengejar kucing itu, menerobos sela-sela orang dewasa yang berdesakan. Beberapa saat kemudian, ketika ia sadar, ayahnya sudah tidak ada di mana-mana. Yang ada hanyalah lautan wajah asing yang lalu-lalang tanpa mengenalnya."Ayah! Ayah!" teriak Karim panik. Namun suaranya tenggelam dalam hiruk-pikuk pasar.Seorang pria berjubah hitam dengan sorban yang menutupi hampir seluruh wajahnya melihat Karim yang kebingungan. Dengan pura-pura ramah, ia mendekati Karim."Nak, kau tersesat? Mari, paman antar mencari ayahmu," katanya dengan suara lembut tetapi matanya menyipit licik.Karim yang masih polos dan ketakutan langsung percaya. Ia mengulurkan tangannya, dan pria itu menggenggamnya erat. Namun bukannya membawanya ke tempat yang aman, pria itu justru menyeret Karim ke gang sempit di belakang pasar, lalu dengan paksa membawanya pergi ke sebuah rumah tua di pinggir kota. Karim baru sadar bahwa ia telah diculik.Strategi Sang SaudagarHashim yang baru selesai bertransaksi dan berbalik untuk berbicara dengan Karim, terkejut bukan main karena putranya tidak ada di sampingnya. Ia segera mencari ke sana kemari, bertanya kepada setiap pedagang, tetapi tak seorang pun melihat Karim. Jantung Hashim berdegup kencang. Ia seorang saudagar kaya, dan ia tahu bahwa orang kaya sering menjadi target kejahatan. Pikiran terburuk langsung menghampirinya: penculikan.Dengan sigap, Hashim mengumpulkan beberapa orang kepercayaannya. "Cari informasi diam-diam. Tanyakan kepada para pedagang apakah ada yang melihat anak kecil dibawa paksa atau mencurigakan. Sementara itu, aku akan menyiapkan uang tebusan."Tak butuh waktu lama bagi Hashim untuk memastikan bahwa Karim memang diculik. Seorang pengemis tua yang duduk di dekat gang buntu melihat seorang pria berjubah hitam membawa anak kecil yang meronta-ronta. Hashim menghela napas lega sekaligus cemas. Lega karena anaknya masih hidup, cemas karena tidak tahu kondisi Karim.Hashim memanggil seorang pembantunya yang setia, seorang pemuda bernama Zayd. "Zayd, kau akan pergi ke pasar dan lakukan persis seperti yang aku perintahkan. Jangan kurang dan jangan lebih."Keesokan harinya, Zayd pergi ke pasar. Ia berdiri di tengah keramaian, tepat di tempat yang paling sering dilalui orang. Dengan suara lantang, ia berteriak, "Dengarkan! Bagi penculik anak saudagar Hashim, ketahuilah! Seribu dinar telah disiapkan sebagai uang tebusan! Seribu dinar! Ambillah uang itu dan kembalikan anak itu dengan selamat!"Orang-orang pasar terkejut dan mulai bergunjing. "Wah, saudagar Hashim benar-benar kaya raya. Seribu dinar tebusan untuk anaknya!" bisik mereka.Di rumah tua tempat Karim ditahan, penculik yang bernama Jabir itu mendengar berita dari kaki tangannya yang ada di pasar. Ia tersenyum puas. Mulutnya melebar membayangkan tumpukan emas seribu dinar."Bagus. Tapi tunggu dulu," pikirnya serakah. "Saudagar itu pasti sangat menyayangi anaknya. Mungkin ia akan menambah tebusan jika aku tunggu sehari lagi. Siapa tahu jadi dua ribu dinar?"Jabir memutuskan untuk diam dan menunggu.Esok harinya, Zayd kembali ke pasar. Kali ini, ia berteriak dengan suara tak kalah lantang, "Dengarkan! Bagi penculik anak saudagar Hashim! Lima ratus dinar telah disiapkan sebagai uang tebusan! Lima ratus dinar!"Orang-orang pasar terperanjat. "Apa? Kok malah turun? Kemarin seribu, sekarang lima ratus? Aneh sekali saudagar itu!"Kabar itu sampai ke telinga Jabir. Ia terkejut setengah mati. "Apa? Lima ratus? Kok malah turun?" pikirnya geram. Namun keserakahannya masih berbicara. "Mungkin ini strategi. Mungkin besok dia naikkan lagi. Aku tunggu sehari lagi."Hari ketiga pun tiba. Zayd kembali ke pasar dengan setia menjalankan perintah majikannya. Kali ini teriakannya mengagetkan semua orang yang mendengar."Dengarkan! Bagi penculik anak saudagar Hashim! Seratus dinar telah disiapkan sebagai uang tebusan! Seratus dinar!"Orang-orang pasar tertawa, ada yang menggeleng-geleng heran. "Saudagar Hashim ini gila atau bagaimana? Masa tebusan anak sendiri malah diturunkan jadi seratus dinar?"Namun Jabir yang mendengar kabar ini langsung pucat pasi. Ia tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Seratus dinar lebih baik daripada tidak sama sekali, pikirnya. Jika ia tunggu lagi, bisa jadi besok saudagar itu hanya menebus sepuluh dinar, atau bahkan tidak sama sekali. Dengan perasaan kesal dan kecewa, ia segera membawa Karim ke tempat yang sudah disepakati.Pertemuan yang MenegangkanHashim menerima kepulangan Karim dengan suka cita. Ia memeluk putranya erat-erat, meneteskan air mata haru. Karim juga menangis di pelukan ayahnya. Namun di balik kebahagiaan itu, ada satu sosok yang masih berdiri dengan perasaan campur aduk: Jabir, sang penculik. Ia tidak bisa menerima kenyataan bahwa tebusan yang ia terima hanya seratus dinar, padahal di hari pertama ia bisa mendapat seribu."Tuan Hashim," panggil Jabir dengan nada setengah menuntut. "Sebelum aku pergi, aku ingin bertanya sesuatu. Aku sangat penasaran. Mengapa tuan justru menurunkan jumlah tebusan setiap harinya? Bukankah seharusnya tuan menaikkannya karena cemas anak tuan dalam bahaya? Atau jangan-jangan tuan tidak benar-benar menyayangi anak tuan?"Hashim menatap penculik itu dengan sorot mata tajam namun tenang. Ia tersenyum kecil, senyum yang membuat Jabir merinding. Hashim tidak menjawab langsung. Sebaliknya, ia mengajukan pertanyaan lebih dulu."Katakan padaku, penculik. Pada hari pertama anakku bersamamu, apakah ia mau makan makanan yang kau berikan?"Jabir mengerutkan kening, sedikit heran dengan pertanyaan itu. "Tidak. Ia menolak. Ia memalingkan muka dan tidak mau menyentuh makanan sama sekali."Hashim mengangguk, seolah sudah menduga. "Lalu hari kedua? Apakah ia masih menolak?"Jabir berpikir sejenak. "Hari kedua... ia mulai terlihat lapar. Tatapannya kosong ke arah makanan, dan akhirnya ia mengambil roti yang kusediakan. Ia makan, meskipun dengan ragu-ragu.""Dan hari ketiga?" tanya Hashim lagi.Jabir menghela napas, mulai mengerti arah pembicaraan ini. "Hari ketiga... ia meminta makanan sendiri. Ia bilang, 'Paman, aku lapar. Beri aku makan.'"Hashim mengangguk pelan, matanya berkaca-kaca tetapi juga bersinar bangga. Lalu ia berkata dengan suara tegas namun penuh hikmah:"Dengarkan baik-baik, penculik. Aku tidak menebus anakku, aku menilai kehormatannya.Pada hari pertama, anakku menolak makan dari orang yang menculiknya, dari musuhnya. Itu artinya ia masih memegang teguh harga diri, ia masih tahu siapa dirinya. Ia lebih memilih lapar daripada menerima belas kasihan orang yang menyakitinya. Itulah kehormatan sejati. Maka, pada hari itu aku menilai ia pantas ditebus seribu dinar.Pada hari kedua, rasa lapar mulai mengalahkan harga dirinya. Ia menerima makanan dari penculiknya. Ia mulai berkompromi dengan situasi. Ia mungkin berpikir, 'Ah, sekali-sekali tidak apa-apa, aku sangat lapar.' Kehormatannya mulai luntur. Maka, pada hari itu aku hanya menilai ia pantas ditebus lima ratus dinar.Pada hari ketiga, ia justru meminta makanan. Ia merendahkan diri di hadapan orang yang menyakitinya. Ia sudah tidak punya malu, tidak punya kehormatan lagi. Jika ia rela meminta-minta kepada musuhnya, maka ia pantas ditebus hanya seratus dinar."Jabir terpaku mendengar penjelasan itu. Dadanya sesak, bukan karena marah, tetapi karena malu. Ia baru menyadari bahwa selama ini ia hanya melihat anak itu sebagai komoditas, sebagai alat untuk mendapatkan uang. Namun di mata ayahnya, anak itu adalah cerminan nilai-nilai luhur yang diajarkan sejak kecil.Hashim melanjutkan, "Uang seribu, lima ratus, atau seratus itu sebenarnya bukan untukmu. Itu untukku sendiri, untuk mengukur seberapa besar nilai kehormatan anakku di mataku. Dan ternyata benar dugaanku. Hari pertama ia bertahan, hari kedua ia mulai goyah, hari ketiga ia jatuh. Syukurlah kau mengembalikannya di hari ketiga, karena jika sampai hari keempat, mungkin aku hanya akan menebusnya dengan segenggam kurma."Jabir tertunduk malu. Ia tidak bisa berkata-kata. Perlahan, ia meletakkan uang seratus dinar itu di atas meja."Aku tidak pantas menerima uang ini, Tuan. Ambil kembali. Aku sudah belajar sesuatu yang lebih berharga dari seribu dinar hari ini. Maafkan aku."Namun Hashim mengangkat tangannya. "Tidak. Uang itu untukmu. Seperti yang kukatakan, itu adalah tebusan untuk anakku yang sudah kehilangan kehormatan di hari ketiga. Tapi ingatlah, penculik. Ada pelajaran yang bisa kau petik dari sini. Seperti anakku yang belajar tentang harga diri di saat sulit, kau juga bisa belajar bahwa keserakahan hanya akan membawamu pada kerugian. Jika kau menerima tebusan di hari pertama, kau akan mendapat seribu dinar dan pergi dengan puas. Karena keserakahanmu, kau hanya mendapat seratus."Jabir menghela napas panjang. Ia mengambil uang itu dengan tangan gemetar, lalu berbalik dan pergi meninggalkan rumah saudagar. Langkahnya gontai, pikirannya penuh dengan penyesalan. Namun di sudut hatinya, ada secercah cahaya baru. Mungkin, pikirnya, inilah saatnya ia berhenti menjadi penculik dan memulai hidup baru yang lebih terhormat.Pelajaran BerhargaSetelah kejadian itu, Hashim mengajari Karim tentang arti kehormatan yang sesungguhnya. Bukan hanya dalam situasi sulit seperti penculikan, tetapi dalam kehidupan sehari-hari."Anakku," kata Hashim suatu malam sambil duduk di samping Karim yang sedang menatap bintang-bintang. "Kehormatan adalah sesuatu yang mudah hilang tetapi sulit didapatkan kembali. Ia seperti vas kristal yang indah. Begitu jatuh dan pecah, meskipun kau rekatkan kembali, retak-retaknya akan tetap terlihat. Maka jagalah selalu kehormatanmu, dalam keadaan lapar maupun kenyang, dalam keadaan sulit maupun senang."Karim mengangguk dengan mata berbinar. "Aku mengerti, Ayah. Mulai sekarang, aku akan selalu ingat bahwa meminta-minta kepada musuh adalah kehinaan. Lebih baik sabar dan bertahan, karena Allah pasti akan memberi jalan keluar."Hashim tersenyum bangga. Ia memeluk putranya erat. Di kejauhan, bintang-bintang berkelip seolah menyetujui kata-kata bijak yang baru saja diucapkan.Sejak saat itu, hubungan ayah dan anak itu semakin erat. Karim tumbuh menjadi pemuda yang tidak hanya cerdas dalam berdagang, tetapi juga teguh memegang prinsip dan kehormatan. Dan cerita tentang tebusan yang menurun ini pun menyebar ke seluruh penjuru negeri, menjadi pelajaran berharga bagi siapa pun yang mendengarnya: bahwa kehormatan manusia tidak bisa diukur dengan uang, dan bahwa kesabaran serta prinsip yang teguh pada akhirnya akan membawa kemenangan, meskipun harus melalui ujian yang berat terlebih dahulu.

Ito dan Laba-laba
Folklore
16 Feb 2026

Ito dan Laba-laba

Pada zaman dahulu kala, di sebuah desa kecil yang tersembunyi di antara perbukitan hijau dan hamparan sawah yang menghijau, hiduplah seorang petani bernama Ito. Ia adalah seorang lelaki paruh baya yang hidup sederhana seorang diri di sebuah gubuk bambu di pinggir desa. Kesehariannya dihabiskan dengan membajak sawah, menanam padi, dan kadang-kadang pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar. Meskipun hidupnya pas-pasan, Ito dikenal sebagai pria yang baik hati dan tidak pernah tega melihat makhluk lain dalam kesusahan.Suatu hari, saat sedang membersihkan rumput liar di pinggir ladangnya, Ito mendengar suara gemerisik yang tidak biasa dari semak-semak terdekat. Ia menghentikan pekerjaannya dan mengendap-endap mendekati sumber suara. Di sela-sela dedaunan, ia menyaksikan pemandangan yang membuat jantungnya berdegup kencang. Seekor ular berbisa dengan sisik hijau gelap dan mata yang tajam sedang melingkar di ranting, siap menerkam. Dan di hadapan ular itu, di atas sehelai daun, seekor laba-laba kecil berwarna keemasan tengah terpaku ketakutan. Laba-laba itu mencoba bergerak mundur, tetapi kakinya yang mungil tak mampu berlari lebih cepat dari ancaman maut di depannya.Tanpa berpikir panjang, Ito mengangkat parang yang selalu ia bawa ke ladang. Dengan sekuat tenaga, ia memukul-mukulkan parangnya ke batang pohon sambil berteriak nyaring."Hus! Pergi kau, ular jahat! Jangan kau sakiti makhluk kecil itu!"Suara bising dan kilatan parang di bawah sinar matahari membuat ular itu terkejut. Dengan desisan marah, ular itu akhirnya mengendurkan lilitannya dan merayap pergi menjauh, menghilang ke dalam semak-semak yang lebih dalam. Ito menghela napas lega. Ia menunduk dan melihat laba-laba kecil itu masih gemetar di atas daun, seolah belum percaya bahwa nyawanya baru saja terselamatkan."Sudah, sudah. Tenanglah, kau sudah aman sekarang," gumam Ito dengan suara lembut.Yang mengejutkan, laba-laba itu seolah mengerti perkataannya. Ia berdiri diam di atas daun, menggerakkan kedua kaki depannya seolah sedang membungkukkan badan, memberi hormat dan berterima kasih. Beberapa detik kemudian, laba-laba itu melompat ringan dan menghilang di balik rerumputan hijau. Ito hanya tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya, menganggap kejadian itu sebagai pertemuan kecil yang tak akan berarti banyak.Hari-hari berlalu seperti biasa. Ito terus bekerja di ladang dari pagi hingga petang, pulang ke gubuknya yang sunyi, memasak makanan sederhana, lalu tidur untuk kembali bekerja esok hari. Namun ada satu hal yang mulai mengusik pikirannya akhir-akhir ini: pakaiannya yang mulai usang. Kimono katun yang ia pakai setiap hari sudah penuh tambalan dan warnanya memudar. Ia sebenarnya ingin memesan kain baru dari penenun desa, tetapi ongkosnya mahal dan Ito tidak punya cukup uang. Ia juga tidak pandai menenun, pekerjaan yang biasanya dilakukan para wanita di desa.Suatu pagi yang cerah, tidak lama setelah kejadian penyelamatan laba-laba, Ito sedang duduk di beranda rumahnya sambil menikmati secangkir teh hangat. Matahari baru saja naik di ufuk timur, menyinari embun di dedaunan. Tiba-tiba, ia mendengar suara kecil yang memanggil-manggil namanya dari luar pagar bambu."Tuan Ito... Tuan Ito..."Suara itu lembut bagaikan aliran sungai di musim semi, merdu dan menenangkan. Ito menaruh cangkir tehnya, bangkit, dan berjalan menuju pintu. Saat membuka pintu kayu yang sedikit berderit, matanya membelalak tak percaya.Di halaman rumahnya, berdiri seorang gadis dengan kecantikan yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Gadis itu mengenakan kimono sederhana berwarna krem dengan motif bunga-bunga kecil yang tampak seperti ditenun dari cahaya bulan. Rambutnya hitam legam terurai lembut hingga ke pinggang, dihiasi jepit bambu sederhana. Wajahnya putih bersih dengan mata yang bulat dan bersinar, seperti dua buah batu giok yang jernih. Ada senyum tipis mengembang di bibirnya yang kemerahan.Ito tertegun sejenak, hampir tidak percaya bahwa seorang gadis secantik itu berdiri di depan gubuk reotnya."Maaf mengganggu pagimu, Tuan Ito," ucap gadis itu dengan suara merdunya. "Aku dengar dari orang-orang di desa bahwa engkau sedang mencari seseorang untuk menenunkan baju dan kain untukmu."Ito mengangguk perlahan, masih setengah terpana. "Be-benar. Aku memang membutuhkan kain baru. Punyaku sudah usang semua."Gadis itu tersenyum lebih lebar. "Kalau begitu, bolehkah aku tinggal di rumahmu dan menenun untukmu? Aku bisa menenun. Aku berjanji akan bekerja dengan baik."Kebahagiaan meluap di hati Ito. Selama ini ia tinggal sendirian, dan kehadiran seseorang—apalagi seorang gadis yang menawarkan bantuan yang sangat ia butuhkan—terasa seperti jawaban atas doa-doanya yang tak pernah ia ucapkan."Tentu! Tentu saja boleh!" seru Ito dengan wajah berseri. "Mari, masuklah. Aku akan menunjukkan ruang tenunnya."Ito membawa gadis itu masuk ke bagian belakang rumah, di mana terdapat sebuah ruangan kecil berdebu yang sudah lama tidak digunakan. Di sudut ruangan, berdiri sebuah alat tenun kayu tua warisan mendiang ibunya. Ito membersihkannya sesekali, tetapi sudah bertahun-tahun tidak dipakai."Maafkan keadaan ruangan ini. Sudah lama tidak diurus," kata Ito sedikit malu.Gadis itu menggeleng lembut. "Tidak apa-apa, Tuan. Ini sempurna. Aku akan membersihkannya dan mulai bekerja."Ito mengangguk dan meninggalkan gadis itu di ruang tenun. Ia kembali ke ladangnya, namun pikirannya tidak bisa lepas dari kehadiran sang tamu misterius. Siapa sebenarnya gadis itu? Dari mana asalnya? Namun ia memilih untuk tidak bertanya lebih jauh, bersyukur atas bantuan yang datang.Sore harinya, saat matahari mulai condong ke barat dan langit berwarna jingga keemasan, Ito pulang dari ladang dengan langkah lelah. Begitu membuka pintu, ia mencium aroma teh hangat dan makanan sederhana yang tersaji di atas meja. Namun perhatiannya segera beralih ke suara berirama dari ruang belakang: tek… tek… tek… suara alat tenun bekerja.Ito berjalan mendekati ruang tenun dan membuka pintu sedikit. Apa yang dilihatnya membuatnya terkesima. Di dalam ruangan yang pagi tadi masih berdebu dan berantakan, kini tergantung delapan lembar kain kimono yang indah. Kain-kain itu berwarna-warni: ada yang biru seperti langit sore, hijau seperti dedaunan, merah seperti bunga sakura, dan krem seperti bulir padi. Motifnya rumit dan halus, seolah ditenun oleh peri.Gadis itu sedang duduk di depan alat tenun, namun ia segera berdiri ketika melihat Ito. Wajahnya sedikit berkeringat, tetapi tersenyum ramah."Selamat sore, Tuan Ito. Bagaimana menurutmu?" tanyanya sambil menunjuk kain-kain yang tergantung.Ito melangkah masuk dengan mata masih terbelalak. Ia mengelus salah satu kain dengan tangannya yang kasar dan kapalan. Kain itu begitu halus, lebih halus dari kain apa pun yang pernah ia lihat di pasar desa."Bagaimana... bagaimana bisa engkau menenun sebanyak ini hanya dalam waktu setengah hari?" tanya Ito tidak percaya. "Delapan kain dalam waktu singkat? Ini seperti... sulap!"Bukannya menjawab pertanyaan dengan penjelasan, gadis itu justru memasang wajah serius. Matanya yang lembut tiba-tiba berubah tajam, namun tetap tenang. Ia menatap Ito dalam-dalam."Tuan Ito, aku mohon. Jangan pernah menanyakan hal itu kepadaku," ucapnya pelan tapi tegas. "Dan yang terpenting, jangan pernah masuk ke ruang tenun ini saat aku sedang bekerja menenun. Apakah Tuan mengerti?"Ito mengerjapkan mata, sedikit terkejut dengan permintaan aneh itu. Namun ia mengangguk patuh. "Baiklah, aku mengerti. Aku tidak akan bertanya dan tidak akan masuk saat kau menenun."Gadis itu tersenyum lega. "Terima kasih, Tuan Ito."Hari-hari berikutnya berjalan dengan damai. Setiap pagi, Ito pergi ke ladang, dan setiap sore ia pulang menemukan makanan tersedia serta kain-kain baru yang indah tergantung di ruang tenun. Kadang dua kain, kadang tiga, kadang bahkan lima. Ito mulai menjual kain-kain itu ke pasar, dan permintaannya luar biasa. Para pedagang dari desa tetangga bahkan datang khusus untuk membeli kain tenunan dari "gadis misterius" di rumah Ito. Kehidupan Ito perlahan berubah. Dari petani miskin yang hidup pas-pasan, ia mulai memiliki simpanan uang, dapat memperbaiki atap bocor, dan membeli perabotan baru.Namun rasa penasaran terus menggerogoti hatinya. Siapa sebenarnya gadis itu? Bagaimana ia bisa menenun begitu cepat? Mengapa ia melarangnya masuk ke ruang tenun? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar-putar di kepalanya setiap malam, seperti kaset rusak yang diputar berulang-ulang.Suatu sore, saat matahari mulai tenggelam dan langit berwarna jingga, Ito pulang lebih awal dari biasanya. Ia bermaksud membawakan beberapa buah kesemek segar untuk gadis itu sebagai tanda terima kasih. Namun begitu memasuki halaman, ia mendengar suara alat tenun bekerja sangat cepat, lebih cepat dari biasanya. Rasa penasaran yang selama ini tertahan akhirnya memuncak.Hanya mengintip sedikit, pikirnya. Hanya sedikit. Untuk memuaskan rasa ingin tahu.Dengan hati-hati, ia mengendap-endap mendekati ruang tenun. Jendela kayu ruangan itu sedikit terbuka. Ito menjulurkan leher dan mengintip melalui celah sempit.Apa yang dilihatnya membuat darahnya seolah membeku.Di dalam ruangan, bukan gadis cantik itu yang duduk di depan alat tenun. Yang ada adalah seekor laba-laba raksasa dengan tubuh sebesar dua kepalan tangan manusia. Bulu-bulu halus berwarna keemasan menutupi seluruh tubuhnya, dan delapan matanya yang hitam berkilat fokus pada pekerjaannya. Delapan kakinya yang panjang dan ramping bergerak lincah dengan kecepatan luar biasa.Ito menyaksikan dengan napas tertahan bagaimana laba-laba itu mengambil kapas yang tersimpan di keranjang. Dengan mulutnya, ia memakan kapas itu sedikit demi sedikit. Lalu, dari dalam perutnya yang tembus pandang, kapas itu berubah menjadi benang halus berwarna-warni, seolah dicelup oleh pelangi di dalam tubuhnya. Benang itu kemudian keluar dari mulutnya, dan dengan delapan kakinya yang cekatan, laba-laba itu menenun benang menjadi kain dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Gerakannya begitu sinkron dan indah, seperti orkestra yang dimainkan oleh delapan tangan sekaligus.Ito menutup mulutnya sendiri agar tidak berteriak kaget. Namun setelah keterkejutan pertamanya reda, ia mulai memperhatikan lebih detail. Warna keemasan pada tubuh laba-laba itu... matanya yang bulat... cara ia menggerakkan kaki depan seolah membungkuk... Tiba-tiba, ingatan itu kembali.Laba-laba kecil di ladang. Yang diselamatkannya dari ular. Yang membungkuk berterima kasih sebelum menghilang."Itu dia..." bisik Ito pelan. "Itu laba-laba yang dulu kuselamatkan."Gadis cantik yang menawarkan diri menenun, yang merawat rumahnya, yang memasak untuknya setiap hari, adalah jelmaan dari laba-laba kecil itu. Ia datang bukan karena kebetulan, tetapi karena ingin membalas budi atas kebaikan Ito yang telah menyelamatkan nyawanya.Perlahan, tanpa membuat suara, Ito menjauh dari jendela. Ia kembali ke beranda dan duduk termenung lama, memandangi langit senja yang mulai gelap. Air mata haru menggenang di sudut matanya. Selama ini ia hanya melakukan kebaikan kecil tanpa mengharapkan imbalan, namun alam memberinya balasan yang tak terduga.Ketika gadis itu keluar dari ruang tenun dengan senyum lelah namun puas, ia melihat Ito duduk di beranda. Untuk sesaat, ada kilatan kekhawatiran di matanya. Apakah Tuan Ito tahu? Apakah ia melihat?Namun Ito hanya tersenyum seperti biasa, bangkit, dan menyodorkan buah kesemek yang ia bawa."Ini untukmu. Kerjamu hari ini pasti melelahkan."Gadis itu menerima buah itu dengan ragu, tetapi senyum lega segera menghias wajahnya. "Terima kasih, Tuan Ito. Kau sangat baik."Malam itu, saat mereka makan malam bersama, Ito tidak mengatakan sepatah kata pun tentang apa yang dilihatnya. Ia hanya bersyukur dalam hati. Dan mulai saat itu, ia tidak pernah lagi melanggar larangan gadis laba-laba itu. Ia tidak pernah masuk ke ruang tenun saat gadis itu bekerja. Ia juga tidak pernah lagi bertanya tentang asal-usulnya.Tahun-tahun berlalu. Kain tenunan dari rumah Ito menjadi terkenal di seluruh provinsi. Orang-orang menyebutnya "Kain Laba-laba Keemasan" karena kehalusan dan keindahannya yang tak tertandingi. Ito hidup berkecukupan, bahkan kaya raya, namun ia tetap rendah hati. Ia membangun kembali gubuknya menjadi rumah yang lebih besar dan nyaman, menyisakan satu ruangan khusus di belakang yang tidak pernah dimasuki siapa pun: ruang tenun ajaib itu.Gadis laba-laba itu tetap tinggal bersamanya, menenun setiap hari, dan merawat Ito hingga tua. Mereka tidak pernah menikah, tetapi ikatan antara mereka lebih dalam dari sekadar hubungan darah atau pernikahan. Itu adalah ikatan antara dua makhluk yang saling menyelamatkan: satu menyelamatkan nyawa, satu lagi menyelamatkan dari kesepian dan kemiskinan.Dan ketika suatu hari Ito terbaring lemah karena usia, di ambang ajalnya, gadis laba-laba itu duduk di sampingnya sambil memegang tangannya. Untuk pertama kalinya, tanpa diminta, ia berkata dengan suara bergetar."Tuan Ito... aku tahu kau tahu siapa aku sebenarnya. Aku melihatmu mengintip waktu itu, bertahun-tahun lalu."Ito tersenyum lemah. Matanya yang sayu menatap wajah cantik di depannya. "Aku tahu. Dan aku tidak pernah menyesal menyelamatkanmu, atau merahasiakanmu. Kau telah memberiku lebih dari yang pantas kuterima."Gadis laba-laba itu menangis, air matanya yang jernih jatuh membasahi tangan Ito yang keriput. "Terima kasih, Tuan Ito. Terima kasih untuk semuanya. Untuk nyawaku, untuk kebaikanmu, untuk tidak pernah mengusirku meski kau tahu aku hanya seekor laba-laba."Ito menggeleng pelan. "Kau bukan 'hanya' laba-laba. Kau adalah teman. Kau adalah keluargaku."Beberapa saat kemudian, dengan senyum damai di wajahnya, Ito menghembuskan napas terakhir. Gadis laba-laba itu tetap duduk di sampingnya hingga fajar menyingsing, lalu perlahan, tubuhnya berubah kembali menjadi laba-laba kecil berwarna keemasan. Ia merayap ke atas bahu Ito yang sudah tak bergerak, duduk di sana sejenak, lalu menghilang melalui celah jendela, kembali ke alamnya.Keesokan paginya, penduduk desa menemukan Ito telah berpulang. Namun di sampingnya, tergantung sebuah kain kimono yang paling indah yang pernah mereka lihat. Kain itu bercerita tentang seekor laba-laba kecil yang diselamatkan, tentang seorang petani tua yang baik hati, dan tentang ikatan persahabatan yang melampaui batas antara manusia dan makhluk lain.Kain itu kemudian disimpan sebagai pusaka desa, dan cerita tentang Ito dan laba-laba penenun diceritakan turun-temurun, sebagai pengingat bahwa kebaikan sekecil apa pun, pada makhluk sekecil apa pun, dapat kembali kepada kita dalam bentuk keajaiban yang tak terduga.

Asal Mula Nama Palembang
Folklore
14 Feb 2026

Asal Mula Nama Palembang

Pada zaman dahulu, daerah Su­matra Selatan dan sebagian Pro­vinsi Jambi berupa hutan belan­tara yang unik dan indah.Puluhan su­ngai besar dan kecil yang berasal dari Bukit Ba­ris­an, pegunungan sekitar Gunung Dempo, dan Danau Ranau mengalir di wila­yah itu. Maka, wilayah itu dikenal dengan nama Ba­tanghari Sembilan. Sungai besar yang meng­alir di wilayah itu di antaranya Sungai Komering, Sungai Lematang, Sungai Ogan, Su­ngai Rawas, dan beberapa su­ngai yang ber­­mu­ara di Sungai Musi.Ada dua Su­ngai Musi yang ber­muara di laut di da­er­ah yang ber­dekat­an, yaitu Sungai Musi yang me­­lalui Palembang dan Sungai Musi Ba­nyuasin agak di sebelah utara.Karena banyak sungai besar, dataran ren­dah yang melingkar dari daerah Jambi, Su­ma­tra Selatan, sampai Provinsi Lam­­­pung merupakan daerah yang banyak mem­­­­pu­nyai da­nau kecil. Asal mula danau-danau kecil itu ada­lah rawa yang di­ge­nangi air laut saat pasang. Sedangkan kota Palem­bang yang dikenal sekarang me­­nu­rut se­­jarah adalah sebuah pulau di Su­ngai Me­layu. Pulau kecil itu berupa bu­kit yang di­­beri nama Bukit Seguntang Mahameru.Keunikan tempat itu selain hutan rim­ba­­nya yang lebat dan banyaknya danau-danau kecil, dan aneka bunga yang tumbuh subur, sepanjang wilayah itu dihuni oleh seorang dewi bersama dayang-dayangnya. Dewi itu disebut Putri Kah­yangan. Sebenarnya, dia bernama Putri Ayu Sundari. Dewi dan dayang-dayang­­nya itu mendiami hutan rim­ba raya, lereng, dan puncak Bukit Baris­an serta ke­pulauan yang sekarang dikenal dengan Ma­laysia. Mereka gemar da­tang ke daerah Batanghari Sembilan untuk ber­cengke­rama dan mandi di danau, sungai yang jernih, atau pantai yang luas, landai, dan panjang.Karena banyaknya sungai yang ber­­muara ke laut, maka pada zaman itu para pe­layar mudah masuk melalui sungai-sungai itu sampai ke dalam, bah­kan sampai ke kaki pe­gunung­an, yang ter­nyata dae­­rah itu su­bur dan makmur. Maka ter­jadi­­lah ko­muni­­ka­si antara para pe­dagang ter­masuk pedagang dari Cina de­ngan pen­­­duduk setempat. Daerah itu men­jadi ramai oleh per­da­gang­an antara pen­duduk setempat denga­n pe­dagang. Akibat­nya, dewi-dewi dari kah­yangan merasa ter­gang­gu dan men­cari tempat lain.Sementara itu, orang-orang banyak datang di sekitar Sungai Musi untuk mem­buat rumah di sana. Karena Sumatra Sela­tan merupakan dataran rendah yang be­rawa, maka penduduknya membuat rumah yang disebut dengan rakit.Saat itu Bukit Seguntang Mahameru menjadi pusat perhatian manusia karena tanahnya yang subur dan aneka bunga tubuh di daerah itu. Sungai Melayu tempat Bukit Seguntang Mahameru berada juga menjadi terkenal.Oleh karena itu, orang yang telah ber­­­­mukim di Sungai Melayu, terutama pen­duduk kota Palembang, sekarang me­nama­kan diri sebagai penduduk Sungai Melayu, yang kemudian berubah menjadi pen­duduk Melayu.Menurut bahasa Melayu tua, kata lembang berarti dataran rendah yang ba­nyak digenangi air, kadang tenggelam kadang kering. Jadi, penduduk dataran ting­gi yang hendak ke Palembang sering me­ngatakan akan ke Lembang. Begitu juga para pendatang yang masuk ke Sungai Musi mengatakan akan ke Lembang.Alkisah ketika Putri Ayu Sundari dan pengiringnya masih berada di Bukit Segun­tang Mahameru, ada sebuah kapal yang mengalami kecelakaan di pantai Sumatra Selatan. Tiga orang kakak beradik itu ada­lah putra raja Iskandar Zulkarnain. Mere­ka selamat dari kecelakaan dan terdampar di Bukit Seguntang Mahameru.Mereka disambut Putri Ayu Sundari. Putra tertua Raja Iskandar Zulkarnain, Sang Sa­purba kemudian menikah dengan Putri Ayu Sundari dan kedua saudaranya me­nikah dengan keluarga putri itu. Karena Bukit Seguntang Mahameru ber­diam di Sungai Melayu, maka Sang Sa­purba dan istrinya mengaku sebagai orang Melayu. Anak cucu mereka kemudian ber­­­kem­bang dan ikut kegiatan di daerah Lem­bang. Nama Lembang semakin terke­nal. Kemudian ketika orang hendak ke Lembang selalu mengatakan akan ke Pa­lem­bang.dalam bahasa Melayu tua menun­juk­kan daerah atau lokasi. Per­tum­buh­an ekonomi semakin ramai. Sungai Musi dan Su­­­­ngai Musi Banyuasin menjadi jalur per­dagangan kuat terkenal sampai ke negara lain.

Beginde Lubuk Gong
Folklore
13 Feb 2026

Beginde Lubuk Gong

Alkisah, pada zaman dahulu kala, di daerah Sumatra Selatan, ada seorang beginde (kepala desa) yang kaya raya bernama Beginde Lubuk Gong. Ia sangat ketat menjalankan adat dan tidak segan-segan memberi hukuman kepada warganya yang melanggar adat tersebut. Meski demikian, rakyatnya merasa tidak terbebani dengan hal itu. Justru dengan aturan adat itu, rakyatnya dapat hidup aman dan makmur.Beginde Lubuk Gong mempunyai anak gadis yang cantik dan cerdas bernama Putri Lubuk Gong. Kecantikan dan keelokan perangainya senantiasa mengundang decak kagum setiap pemuda yang melihatnya. Tak heran banyak pemuda dari desa-desa lain datang melamarnya. Namun, Beginde Lubuk Gong selalu menolak setiap lamaran yang datang, karena belum satu pun pelamar yang mampu memenuhi persyaratan yang diajukannya.Pada suatu hari, datanglah utusan putra seorang Beginde dari sebuah desa hendak melamar Putri Lubuk Gong. Lamaran itu mereka sampaikan langsung kepada Beginde Lubuk Gong.“Maaf, Tuan! Maksud kedatangan kami kemari adalah ingin menyampaikan lamaran putra Beginde kami,” ungkap juru bicara utusan itu.“Ketahuilah, wahai utusan! Sudah banyak utusan yang datang kemari, tapi belum ada yang sanggup memenuhi persyaratanku,” kata Beginde Lubuk Gong.“Kalau boleh kami tahu, apakah persyaratan Tuan itu?” tanya ketua utusan itu.“Pakaian tujuh pasang, baju kain salinan 42 lusin, itik dan ayam sekandang penuh, merpati *seraban,kayu bakar setinggi bukit, batang tujuh buah, dan serai kunyit seladang lebar,” jawab Beginde Lubuk Gong.“Bagaimana? Apakah kalian sanggup memenuhi syarat tersebut?” Beginde Lubuk Gong balik bertanya kepada utusan itu.“Sesuai dengan pesan Beginde kami, sebesar apapun permintaan yang Tuan ajukan, Beginde kami akan menyanggupinya,” jawab utusan itu.“Baiklah kalau begitu, lamaran kalian aku terima,” kata Beginde Lubuk Gong.“Terima kasih, Tuan! Berita gembira ini akan kami sampaikan kepada Beginde kami,” kata ketua utusan itu.Setelah mendapat persetujuan dari Beginde Lubuk Gong, para utusan putra Beginde kembali ke desanya untuk menyampaikan berita gembira itu kepada Beginde mereka. Alangkah senang hati Beginde mendengar berita gembira itu. Ia pun memerintahkan kepada seluruh warganya untuk mengumpulkan barang-barang bawaan sesuai dengan permintaan Beginde Lubuk Gong. Sudah berminggu-minggu mereka bekerja keras, namun hingga pada hari yang telah ditentukan barang-barang bawaan yang mereka kumpulkan belum memenuhi permintaan Beginde Lubuk Gong.Sementara itu di tempat lain, Beginde Lubuk Gong bersama keluarga dan warganya sibuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyambut kedatangan rombongan dari pihak pelamar yang akan mengantarkan barang-barang bawaan. Sudah seharian penuh mereka menunggu, namun belum ada tanda-tanda kedatangan rombongan tersebut. Pada hari-hari berikutnya, Beginde Lubuk Gong terus menunggu kedatangan rombongan tersebut, namun mereka tak kunjung datang.Hari, pekan, dan bulan, bahkan tahun telah berlalu, rombongan dari pihak pelamar belum juga datang. Pada awal tahun ketiga barulah mereka datang dengan arak-arakan laki-laki dan perempuan yang memikul dan menjunjung barang bawaan. Beginde Lubuk Gong pun menyambut kedatangan mereka secara sederhana. Ia pun segera menerima dan memeriksa barang-barang bawaan dan ternyata semuanya lengkap dan sesuai dengan permintaannya.Hatinya pun sangat senang dan terpukau karena semua permintaannya terpenuhi. Namun satu hal yang membuat hatinya kecewa, karena keterlambatan para utusan mengantar barang-barang bawaan tersebut.“Kalau boleh aku tahu, mengapa kalian terlambat mengantarkan barang-barang bawaan ini kemari, sehingga kami harus menunggu selama dua tahun?” tanya Beginde Lubuk Gong.“Maafkan kami atas keterlambatan ini, Tuan! Untuk memenuhi seluruh permintaan Tuan, ternyata kami memerlukan waktu yang cukup lama. Sudilah Tuan memakluminya dan menerima barang-barang bawaan ini,” jawab ketua rombongan itu.Mulanya Beginde Lubuk Gong ingin marah dan membatalkan pertunangan putrinya dengan Putra Beginde. Namun setelah mendengar penjelasan dari ketua rombongan tersebut, akhirnya ia memakluminya.“Baiklah, barang-barang bawaan ini aku terima. Sekarang tinggal menuggu hari baik untuk melangsungkan pernikahan putriku dengan putra Beginde kalian. Pesta pernikahan ini akan dilangsungkan selama tujuh hari tujuh malam. Untuk itu, aku harus mempersiapkan segala keperluan pesta besar ini,” ungkap Beginde Lubuk Gong.“Baiklah, Tuan! Kami akan menunggu kabar selanjutnya dari Tuan,” kata ketua rombongan itu seraya berpamitan dan meninggalkan rumah Beginde Lubuk Gong.Keesokan harinya, Beginde Lubuk mengumumkan kepada seluruh rakyatnya bahwa dia akan segera menikahkan putrinya. Rakyatnya pun sangat senang karena akan ada pesta besar selama tujuh hari tujuh malam. Mereka pun segera mempersiapkan segala keperluan untuk menyambut pernikahaan Putri Beginde. Mereka mulai menghias jalan-jalan dan rumah Beginde Lubuk Gong.Untuk memenuhi kebutuhan pesta besar itu, Beginde Lubuk Gong harus pergi ke negeri lain untuk berbelanja. Ia berangkat bersama para pembantunya dengan menggunakan **rejung.Karena begitu banyak barang harus dibeli, sehingga sebulan lamanya Beginde Lubuk Gong belum juga kembali.Putra Beginde, calon mempelai laki-laki, tidak sabar lagi menunggu hari pernikahannya. Pada suatu hari, ia mendengar desas-desus bahwa putri Beginde Lubuk Gong telah dipersunting oleh raja negeri yang didatangi oleh Beginde Lubuk Gong. Ia pun percaya begitu saja pada desas desus tersebut, tanpa terlebih dahulu menyelidiki kebenarannya.“Barangkali kabar ini ada benarnya. Sudah sebulan Beginde pergi ke negeri itu, tapi belum juga kembali. Padahal ia memiliki kesaktian yang tinggi, dalam waktu sekejap saja ia dapat berlayar ke negeri sejauh mana pun,” pikirnya.Semakin hari desas-desus tersebut semakin memekakkan telinga Putra Beginde. Ia mendengar kabar bahwa utusan raja yang akan melamar Putri Lubuk Gong telah tiba di Dusun Kertajaya, tidak jauh dari desa tempat tinggal Putri Lubuk Gong. Hati Putra Beginde pun semakin kesal sehingga timbul niatnya untuk membunuh calon istrinya. Tanpa berpikir panjang lagi, ia segera menuju ke rumah Beginde Lubuk Gong dengan membawa sebuah pedang panjang.Sementara itu, Putri Lubuk Gong yang mengetahui kedatangan tunangannya merasa sangat gembira dan segera bersolek dengan hiasan yang menawan. Ia mengira bahwa kedatangan tunangannya itu untuk bersilaturrahmi. Alangkah terkejutnya ia ketika hendak menemuinya di ruang tamu rumahnya, ia melihat calon suaminya itu sedang menggenggam sebuah pedang dengan wajah yang beringas. Tanpa diduganya, tiba-tiba sang Tunangan menebas lehernya. Putri Lubuk Gong pun tewas seketika. Ibu Putri Baginda yang melihat kejadian itu langsung menjerit dan bertanya kepada calon menantunya itu.“Hai, kenapa kamu membunuh calon istrimu? Apa salahnya? Padahal ia sangat mengharap kedatanganmu,” kata ibu Putri Lubuk Gong.“Tidak usah banyak dalih! Kalian telah memperdayaiku. Utusan raja yang akan melamar Putri Lubuk Gong telah tiba di Dusun Kertajaya. Beginde Lubuk Gong telah membuat janji untuk menikahkan Putri Lubuk Gong dengan raja itu!” seru Putra Beginde, calon suami Putri Lubuk Gong.Ibu Putri Lubuk Gong berusaha menjelaskan kepada calon menantunya bahwa desas-desus tersebut hanyalah fitnah. Namun, calon menantunya tidak mau menerima alasan apapun. Ibu Putri Gong pun tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali menangisi kematian putri semata wayangnya. Sementara Putra Beginde itu segera pergi meninggalkan rumah itu. Tak berapa lama kemudian, warga pun berdatangan ke rumah Beginde Lubuk karena mendengar ada suara tangis histeris. Mereka sangat terkejut ketika melihat Putri Lubuk Gong tergeletak bersimbah darah.“Apa yang terjadi dengan Putri Lubuk Gong?” tanya seorang warga kepada ibu Putri Lubuk Gong.Ibu Putri Lubuk Gong pun menceritakan semua kejadian yang menimpa putrinya. Setelah mendengar cerita itu, salah seorang warga segera menyampaikan berita duka itu kepada Beginde Lubuk Gong yang masih berada di negeri lain. Dengan kesaktiannya, Beginde Lubuk Gong memerintahkan angin berhembus, sehingga dalam sekejap rejungnya tiba di pelabuhan negerinya. Sesampainya di rumah, ia bersama warga segera mengebumikan putrinya. Setelah itu, ia memerintahkan para pengawalnya untuk menangkap calon menantunya itu.“Segera tangkap pembunuh itu dan bawa dia kemari hidup-hidup!” seru Beginde Lubuk Gong.Mendengar perintah itu, para pengawal itu segera mencari Putra Beginde. Tak beberapa lama kemudian, mereka pun kembali membawa Putra Beginde dengan tangan terikat.“Hai, Putra Beginde! Kamu telah membunuh putriku. Kamu harus mengganti nyawa putriku. Mulai detik ini, kamu tidak boleh lagi kembali ke rumahmu dan harus tinggal di sini sebagai ganti putriku!” seru Beginde Lubuk Gong.Keesokan harinya, Beginde Lubuk Gong membuang segala barang persiapan pernikahan putrinya ke dalam sungai, termasuk barang-barang bawaan Putra Beginde.

Cerita Putri Kembang Dadar
Folklore
13 Feb 2026

Cerita Putri Kembang Dadar

Ribuan tahun yang lalu sebelum berdiri kerajaan besar, telah berdiri kerajaan-kerajaan kecil, yang memiliki rajanya masing-masing.Salah satu kerajaan itu adalah kerajaan Hulu, juga berdirinya kerajaan yang dinamakan kerajaan Hilir.Diantara kerajaan ini terjadi suatu perselisihan, sehingga tampaknya tak pernah damai diantara keduanya, ada saja keributan yang terjadi diantara mereka.Disebuah pendopo kerajaan Hilir terlihat bersama-sama dengan para penggawanya dan juga para prajurit kerajaan, sepertinya tengah mengadakan rapat.Sepertinya raja Hilir tengah memimpin sebuah rapat, tampak jelas ada masalah yang penting tengah mereka bahas.“Apakah persiapan pasukan sudah betul-betul handal?” tanya raja Hilir yang sedang memimpin rapat tersebut.Seorang Panglima kerajaan berdiri dengan gagahnya,”baginda Raja, pasukan sudah siap untuk berangkat.”Di luar, dihalaman kerajaan, para prajurit tengah berbaris siap untuk menerima suatu perintah dari raja mereka , yaitu dari raja Hilir.Keluarlah Sang Raja dengah penampilan yang sangat perkasa, sembari ia memperhatikan pada semua yang ada, disaat itu ia berkata,”para prajurit sekalian, saya harapkan tugas kalian kali ini untuk mengalahkan kerajaan Hulu itu akan berhasil.” Perintah raja Hilir pada semua prajuritnya yang hadir.Setelah mereka mendengarkan perintah dan seruan itu, mereka berangkat dengan penuh semangat sekali.Pasukan kerajaan Hilir berangkat dengan menggunakan perahu yang besar, kini setiap tahun sekali bentuk perahu ini di meriahkan dengan cara lomba bidar.Yaitu setiap pada hari kemerdekaan republik Indonesia atau hari ulang tahun kota Palembang. Disebut perahu Bidar.Di kerajaan Hulu, seorang prajurit pengintai dengan sangat tergesa-gesa berlari-lari. Sepertinya ia akan menuju atau menghadap raja Hulu yang tengah berada di ruang kumpul istana raja.“Raja yang mulia, terlihat rombongan pasukan datang kemari,”ungkap prajurit itu ketika ia berada di hadapan raja Hulu.Dimana pada saat itu Sang raja tengah mengadakan rapat, karena terlihat semua para penggawa dan juga prajurit, serta  panglimanya juga hadir pada waktu itu.Raja Hulu hanya tersenyum, raja muda yang perkasa itu terdiam sembari ia berkata,”persiapkan pasukan, tunggu mereka datang di perbatasan kerajaan, lalu habisi mereka.”Ternyata benar bahwa kedatangan pasukan kerajaan Hilir itu, sesungguhnya sudah di ketahui oleh Raja Hulu, sehingga mereka telah mempersiapkan untuk penyambutan kedatangan mereka.Terdengar dengan lantang seruan dan teriakan, suatu aba-aba penyerangan yang di perintahkan oleh Raja Hulu, sepertinya pasukan Raja Hilir mendengar seruan itu dari arah kiri mereka.“Kudengar dengan jelas bahwa pasukan itu datang dari arah kiri, ungkap pimpinan pasukan kerajaan Hilir.Disisi lain pasukan prajurit kerajaan Hulu tengah bersiap-siap akan menyerang, sambil mereka mengendap-endap dibalik semak belukar itu, yang tepat berada di belakang mereka.“Aku mendengar langkah yang segera mendekat,”ungkap pemimpin pasukan dari kerajaan Hilir.Mereka merasa yakin bahwa mereka sudah di dekati oleh pasukan dari kerajaan Hulu, jelas menurut mereka itu datang dari sebelah kiri mereka, oleh karena itu mereka tengah mempersiapkan untuk melakukan penyerangan.“Serang.......kawan-kawan, saya akan memberikan tanda lemparan keatas,”seru pemimpin pasukan dari kerajaan Hilir, dengan segera ia memberikan tanda penyerangan.Serentak saja mereka melakukan penyerangan itu sesuai dengan petunjuk yang disampaikan oleh pemimpin mereka pada waktu itu. Segera saja mereka melakukan penyerangan itu.Hanya dengan satu teriakan mereka segera melakukannya, namun serangan itu dilakukan betapa sangat terkejutnya mereka bahwa , penyerangan itu sangat sia-sia sekali.Disaat itulah munculnya serangan dari arah kanan mereka, sehingga dengan sangat kacau balaunya, pasukan Hilir jadi berantakan, sangat tidak terduga sekali bahwa serangan itu akan datang dari sebalah kanan itu, sehingga pasukan kerajaan Hilir tak dapat berbuat apa-apa lagi.Usai perang itu, pemimpin pasukan kerajaan Hulu, hanya dengan mengambil potongan kepala dari pimpinan pasukan kerajaan Hilir saja, hal itu sebagai bukti nyata bahwa pasukan kerajaan Hilir sudah takluk.Dari pihak kerajaan Hilir, sepertinya sudah mengetahui bahwa prajuritnya yang mereka kirim itu mengalami suatu kekalahan, Raja merasa ini suatu kekalahan yang besar.Sepertinya raja Hilir marah besar dengan kekalahan ini, ia menjadi merah padam, bertambah berang hatinya, karena mengalami kekalahan ini, ia juga tahu bahwa pimpinan pasukan yang dia kirim juga mati terbunuh.“Sekarang ingatlah, ini adalah suatu kekalahan yang besar bagi kita, kita harus pikirkan apa yang harus kita lakukan selanjutnya,” seru Raja Hilir.Para prajurit dan juga para pemimpin, dan juga penasehat Raja disaat itu hanya diam seribu bahasa, mereka tanpa ada suara yang terdengar, mereka hanya pandangi tindak tanduk yang dilakukan Raja.Pada saat itu, seorang putri yang cantik jelita, tengah memperhatikan apa yang dilakukan oleh orang tuanya, ia hadir pada saat itu.Putri ini sering dipanggil dengan nama Putri Kembang Dadar, kecantikannya sangat terkenal dipenjuru kerajaan, banyak para raja yang tertarik akan kecantikannya.Sesaat Raja mengatakan, “adakah diantara kalian yang akan sanggup untuk memimpin pasukan, hal ini bukan kita takuti tapi harus kita lawan.”Namun tak seorangpun ada yang berani menyatakan pendapatnya, mereka hanya diam.Raja memandang pada semua arah, pada semua yang hadir pada waktu itu, sehingga ia tertuju pada anak kesayanganya,”wahai anaku, apakah ada pendapatmu tentang kejadian ini, sepertinya kau tampak tenang, tanpa terlihat gelisah apalagi takut.”Putri Kembang Dadar hanya tersenyum mendengar seruan dari orang tuanya itu, sembari ia berkata,”ayah handa ,jika di izinkan ananda mau berpendapat, tentang persoalan ini.”Raja memandangnya dengan sangat penuh perhatian sekali, ia pandangi anak kesayangan itu,”silahkan ananda untuk menyatakan pendapatnya, siapa saja yang akan mengajukan pendapatnya.Mendengar dari ucapan yang disampaikan oleh orang tuanya itu, Putri Kembang Dadar merasa lega, ia senyum dengan lantang ia mengatakan, “ayah izinkan aku untuk berangkat menuju kerajaan Hulu, ananda tak akan pulang jika ananda tidak berhasil.”Suatu pernyataan yang tak terduga dari suara anak kesayanganya itu, apalagi anaknya adalah seorang putri , seakan ia tak percaya itu keluar dari hati dan suara yang keluar seorang yang cantik jelita seperti anaknya itu.“Tidakah ananda sadar apa yang telah di sampaikan ini, apakah ini suara dari lubuk hati yang paling dalam,”ungkap Raja Hilir kepada anak kesayanganya itu.Mendengar itu, Raja dari suara hatinya berbisik, betapa berani anaknya ini, tidak perduli bahwa dia seorang perempuan, tak sedikit pun terlihat bahwa ada rasa takut di raut wajahnya.“Ini aku sampaikan dengan penuh kesadaran, aku sudah bulat tekatku,” ungkap Putri Kembang Dadar , dengan suara yang merdu, sehingga membuat kagum para hadirin yang ada dalam ruang .Raja Hilir merasa sangat yakin, apa yang telah disampaikan oleh anaknya itu,”anaku jika itu sudah menjadi tekatmu, tak dapat aku mengahalanginya, aku hanya berdoa kau akan berhasil nantinya.”Semua yang hadir terkagum-kagum, mereka memandangi Putri Kembang Dadar , yang berangkat meninggalkan kerajaan Hilir, yang hanya didampingi dengan beberapa orang saja.Raja Hilir hanya memandang kepergian anaknya, ia tak menduga sama sekali bahwa anaknya yang akan pergi untuk menyelidik, hal itu juga di iringi oleh para penggawa kerajaan, serta juga disaksikan oleh rakyatnya.Putri Kembang Dadar Hanya menggunakan pakaian layaknya seorang rakyat biasa saja.Ia berjalan  dengan gemulainya, mendekati keramaian, ini berada di sekitar istana Raja Hulu.Walaupun demikian keberadaan Putri Kembang Dadar itu, tetap saja di awasi oleh para prajurit kerajaan dari kejauhan, ia menyamar sebagai seorang penjual sayuran yang berada di pinggiran istana.Tentu saja penyamaran ini dia lakukan agar melihat dengan dekat wajah Raja Hulu, tentu saja meskipun ia menyamar sebagai seorang tukang sayur, kecantikanya tak dapat di sembunyikan.Disaat itu Raja Hulu yang tampan dan muda belia, sekilas ia memandang bahwa ada seorang pedagang sayur yang begitu cantiknya,”Prajurit kau panggil wanita itu, bawa dia kemari!”Tanpa banyak bicara prajurit itu mendakati pedagang , yang tiada lain itu adalah Putri Kembang Dadar, yang menyamar sebagai seorang pedagang sayuran.Putri Kembang Dadar tahu, ia hanya merasa dan berkata dalam hatinya, bahwa Raja Hulu ternyata adalah seorang yang tampan. Tetapi di juga sadar bahwa ini perangkapnya sudah kena.Bukan main terpesonanya Raja Hulu, ia hanya berkata dalam hatinya, begitu cantiknya wanita ini, “kau ikut keistana sekarang juga, kau adalah layak jadi seorang permaisuri saja.”Ternyata bukan hanya Raja yang terpesona, tetapi beberapa pengikutnya, spertinya sadar bahwa benar bahwa wanita itu memang cantik sekali, tidak salah Raja kita memilih wanita ini, seorang prajurit berbisik lembut.Bukan itu saja tetapi Sang Raja juga merasa, bahwa menurut hatinya , wanita ini adalah benar bahwa dia bukan orang sembarang, tapi seorang putri yang datang dari langit.Segera saja raja berserta dengan rombongan dengan memboyong Putri Kembang Dadar ke istana Raja Hulu. Ketika sampai di istana, Raja segera memanggil dayang-dayang,”Hei dayang-dayang ,coba kau ganti pakaian wanita ini lalu kau berikan ia pakaian yang terbaik yang kita punya.Jika tidak ada kau cari di penjuru kerajaan, bila perlu kau beli keluar.”Sehingga di istana tampak terjadi suatu kesibukan yang mendadak, para prajurit, juga rakyat tersebar sudah bahwa Raja mereka telah menemukan seorang putri yang cantik jelita.Pesan Raja yang disampaikan itu, menjadi suatu kesibukan bagi dayang-dayang, penghias raja itu, menjadi terpesona, ketika ia melihat wanita itu , ia juga ikut kagum dengan kecantikan yang di miliki Putri Kembang Dadar itu, sehingga tanpa sadar dayang itu berkata,”pantas raja jadi bersemangat, kecantikan wanita ini luar biasa, tak satupun ada gadis yang ada di kerajaan ini, yang  dapat menandingi kecantikannya.”Ketika Putri Kembang Dadar bagun dari tidur, dan ia dihiasai dengan cantiknya oleh dayang, dengan pakaian yang layaknya seorang putri dan calon seorang permaisuri, para penggawa terpesona melihatnya.Disaat itulah muncul Raja Hulu, tetapi ia tersentak bukan kepalang, ketika ia melihat Putri Kembang Dadar, kecantikan itu kini juga disaksikan oleh semua orang yang ada. Semua yang hadir terpikat memandangnya.Raja Hulu berdiri dengan gagah perkasa, ia memandangi semua prajurit juga para penggawanya, yang juga diwakili oleh rakyatnya yang menyaksikan perayaan itu.“Para hadirin yang hadir, mulai saat ini , kalian telah memiliki seorang putri, wanita yang ada di hadapan kalian ini adalah sebagai permaisurinya. Ia adalah yang bernama Putri Kembang Dadar,”jelas Raja Hulu kepada semua penggawanya, juga pada para prajuritnya, dan rakyatnya yang hadir.Sejak itu Putri Kembang Dadar telah menjadi istri dari Raja Hulu, berita ini sudah sampai pada Raja Hilir. Karena itu dikala Permaisuri Putri Kembang Dadar tengah beristirahat datanglah secara rahasia seorang utusan dari Raja Hilir.“Katakan saja, bahwa aku akan segera datang ,”ungkap Permasuri Raja Hulu itu, yang tida lain adalah Putri Kembang Dadar.Segera saja prajurit itu meninggalkan istana raja Hulu, ia segera menuju pulang, untuk melaporkan keadaan yang terjadi.Belum prajurit itu tiba di istananya, tetapi Putri Kembang Dadar sudah berada di istana orang tuanya, karena ia dapat menghadirkan diri langsung tanpa harus menggunakan jasat yang menjalani secara kasar seperti manusia  biasanya.“Anaku kau tampak makin cantik, aku tahu kalau sudah menjadi istrinya Raja Hulu,”tutur Raja Hilir pada anaknya yang kini menjadi seorang permasuri .“Ayahanda adalah benar, aku bangga dengan perkawinan ini, namun aku hanya memohon, agar tidak lagi terjadinya suatu permusuhan diantara kedua kerajaan ini,’ungkap Putri Kembang Dadar pada orang tuanya itu.Pada akhirnya Putri Kembang Dadar dapat menyatukan kedua kerajaan, sehingga tidak lagi terjadinya permusuhan.Putri Kembang Dadar, mempersembahkan satu tubuhnya untuk istana kerajaan Hilir, namun di lain pihak ia tetap berada di istana kerajaan Hulu, sehingga terjadilah suatu perdamaian, yang tiada lagi terjadinya perselisihan di antara mereka.Perdamaian kedua kerajaan menjadi senangnya para rakyat, karena telah menyatukan dua kerajaan yang selama ini bermusuhan kini menyatu, sungguh besar pengorbanan yang dia berikan untuk ini.Sekian Cerita dari putri kembang dadar semoga bisa dipetik makna yang ada didalamnya.

Asal Muasal Pulau Sangkar
Folklore
13 Feb 2026

Asal Muasal Pulau Sangkar

Di wilayah Indragiri Hilir, hiduplah dua orang pendekar. Pendekar pertama bernama Tuk Solop, ia tinggal di sekitar Pantai Solop. Tuk Solop sudah berusia senja dan rambutnya sudah memutih. Namun, Tuk Solop tidak pernah sombong, ia ramah dan disukai banyak orang.Semula ia mempunyai murid yang banyak, tetapi satu persatu muridnya pergi. Karena tidak ada lagi yang berguru kepadanya, Tuk Salop pun pergi meninggalkan Pantai Solop.Di luar Pantai Solop, ada seorang pendekar lain yang sangat sakti bernama Pendekar Katung. la adalah pendekar yang kaya raya dan sombong. Sebagian besar kekayaannya, didapatnya dari bertaruh dan menyabung ayam. Ayam andalannya sudah mengalahkan banyak ayam petandingan di daerah itu.Pendekar Katung mempunyai adik angkat bernama Suri. la adalah seorang gadis yang cantik jelita. Sebetulnya, Suri adalah anak Iawan sabung ayam Pendekar Katung yang telah tewas.Semenjak ibunya meninggal dunia, Suri dirawat oleh ayahnya. Pendekar Katung membujuk ayah Suri untuk bertarung ayam dengannya. Setelah mengalami berbagai kekalahan dan tidak ada lagi yang dapat dipertaruhkan, ayah Suri mempertaruhkan dirinya sendiri. Ternyata, ayamnya kalah oleh ayam milik Pendekar Katung. Ayah Suri dibuang ke tengah hutan. Hingga kini, Suri diasuh oleh Pendekar Katung.Suatu hari, seorang pengembara bernama Bujang Kelana datang ke Pantai Solop untuk berguru kepada Tuk Solop. Namun, ia mendapati daerah itu kosong dan tidak menemukan siapa pun. Ketika sedang beristirahat, ia bertemu dengan Suri yang sedang melintas di sana, mereka pun berkenalan.Bujang Kelana terpesona dengan kecantikan Suri.°Apa yang Abang cari di sini?" tanya Suri setelah mereka berbincang-bincang."Abang kemari ingin berguru kepada Tuk Solop," kata Bujang Kelana. "Tuk Solop memang telah meninggalkan tempat ini semenjak murid-muridnya pergi berguru kepada Pendekar Katung," jelas Suri."Sepertinya, Abang pernah mendengar nama itu. Apakah adik mengenal Pendekar Katung?" tanya Bujang Kelana.Suri terdiam mendengar pertanyaan Bujang Kelana. la lalu bergegas pergi."Jika Abang ingin bertemu, temui aku lagi besok di sini," kata Suri yang berlari pergi.Bujang Kelana dibuatnya bingung. Ketika sedang termenung itu muncullah seorang tua yang buta dari batik semak-semak ke arahnya."Maaf, siapakah Bapak ini?" tanya Bujang Kelana."Aku Datuk Buta. Kau jangan takut, aku telah mendengar pembicaraan kalian tadi. Suri adalah adik Pendekar Katung.""Mengapa ia pergi ketika aku singgung tentang kakaknya?""Pendekar Katung adalah pendekar dengan ilmu aliran hitam. la menghasut murid-murid Tuk Solop. Sampai akhirnya, Tuk Solop pergi entah ke mana," kata Datuk Buta.Kemudian, Datuk Buta bergegas pergi. la merasa ada yang sedang memata-matainya.Selang beberapa waktu, datanglah Suri berlari ke arah Bujang Kelana."Bang! Tolong aku! Pendekar Katung ingin menikahiku! Bawa aku pergi Bang, nanti aku akan menceritakan yang sebenarnya!" kata Suri panik.Mereka berlari mencari tempat yang aman. Di sanalah Suri menceritakan siapa ia sebenarnya. la juga menjelaskan bahwa ayahnya meninggal dunia karena mempertaruhkan nyawanya dalam pertaruhan sabung ayam.Tiba-tiba, seketika Datuk Buta muncul lagi di hadapan mereka.“Aku mendengar ceritamu, Nak. Jika benar yang kau ceritakan, berarti kau adalah anakku. Akulah orang yang telah mempertaruhkan nyawaku dan dikalahkan oleh Pendekar Katung.""Ayah? Jadi, ayah masih hidup?"Lalu, mereka bertiga menyusun siasat untuk memusnahkan Pendekar Katung. Bujang Kelana akan menantang Pendekar Katung untuk menyabung ayam. Sebelumnya, mereka akan mengganti ayam milik Pendekar Katung dengan seekor ayam milik Datuk Buta yang mirip sekali dengan ayam Pendekar Katung. Pertarungan tersebut disaksikan juga oleh orang-orang dari desa lain.Pendekar Katung mengalami kekalahan. Ayamnya mati. Ayam Bujang Kelana yang sebetulnya adalah ayam Pendekar Katung menang dalam pertarungan tersebut. Pendekar Katung yang tidak terima dengan kekalahannya memerintahkan pengawalnya untuk mengejar Bujang Kelana.Bujang Kelana sempat mendapatkan beberapa pukulan. Ketika Pendekar Katung lengah, Datuk Buta menyergapnya dari belakang."Bujang Kelana, cepat serang orang ini! Dia hanya bisa dikalahkan ketika disergap oleh orang buta!" teriak Datuk Buta. Bujang Kelana tidak menyianyiakan kesempatan itu, ia segera menyerang Pendekar Katung hingga lemas tak berdaya.Datuk Buta berkata kepada Pendekar Katung, “Katung, aku adalah ayah Suri yang kau kalahkan waktu itu. Tuk Sulop yang menyelamatkanku. ia juga yang memberitahukan kepadaku kelemahan ilmumu!"Pendekar Katung lalu tewas. Tiba-tiba, Suri berlari ke arah mereka. Tubuhnya penuh luka. Rupanya ia telah diserang oleh pengawal Pendekar    Katung.Tubuh Suri yang lemah tidak memungkinkan baginya untuk bertahan hidup.Kemudian Suri berkata kepada Bujang Kelana, “Abang, maaf sepertinya takdir tidak mengizinkan kita untuk bersama."Suri meninggal dunia. Hancur hati Bujang Kelana menyaksikan kekasih hatinya pergi selama-lamanya.Setelah menguburkan jasad Suri di dekat pondok Datuk Buta, Bujang Kelana pun pamit untuk meninggalkan desa tersebut. Sebelum pergi, ia mengambil sebuah sangkar ayam yang terletak di pondok Datuk Buta dan melemparkannya ke tengah laut. Untuk menghapus kesedihannya, Bujang Kelana berjanji tidak akan kembali ke Pulau Solop. Lalu, ia pergi mengembara entah kemana.Konon, setelah beberapa tahun kepergian Bujang Kelano, sangkar ayam tersebut pun muncul di permukaan dan menjadi sebuah pulau. Masyarakat menyebutnya dengan Pulau Sangkar Ayam."Pesan moral dari Kumpulan Dongeng Nusantara Pendek : Asal Mula Pulau Sangkar adalah jangan sombong dengan segala kelebihan yang kita miliki. Sesungguhnya setiap orang memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing."

Menampilkan 24 dari 228 cerita Halaman 1 dari 10
Menampilkan 24 cerita