Gambar dalam Cerita
" Ta, Greta... bangun dong Ta. " ujar mama sambil terus mengetuk pintu kamarku.
" Ada apa ma? " tanyaku sambil membuka pintu yang memang sedari tadi kukunci.
" Hari ini tolongin mama jemput anak temen mama yang namanya Robin ya. Kamu inget gak sama Tante Salma? Anaknya akan tinggal sama kita selama dia nerusin SMA di sini. Ya Robin itu. "
" Hah? Enggak enggak... males ah mah. Hari minggu ini. Hari santai kali mah. Ngapain juga dia tinggal disini? Dikamar siapa juga mah? Enggak ada ah. " tolakku.
" dia tinggal disini kan karena orang tuanya masih di London. Dan dia cuma sendirian di Indonesia. Lagi pula yang di pake itu kamar Nicky. Sedangkan Nicky pindah ke kamar kak Gio. Udah deh kamu aja yang jemput dia. Nicky gak bisa, soalnya dia lagi beresin kamar barunya. "
" Hah? Berarti dia tidur di sebelah kamar Greta dong mah? Enggak ah. Jangan deh. Kenapa gak tidur di kamar kak Gio aja? " kataku sambil menunjuk kamar yang berada di ujung lorong di sebelah kamar Nicky yang bahkan aku tak pernah mau untuk mengingatnya. Dan aku langsung menyesali ucapan ku barusan. Menyakitkan bagiku mengingat semua tentang kak Gio.
" kamu sendiri kan yang bilang jangan ada yang pernah menyentuh ataupun masuk kamar Kak Gio selain orang rumah? " Tanya Mama pelan sambil membelai rambut pendekku. Terlihat luka yang mendalam dalam tatapan mama padaku.
" ya udah. Aku jemput sekarang. " ujarku mengalah dan kembali masuk kedalam kamar sesaat setelah menatap pedih pintu kamar kak Gio. Seorang lelaki yang hanya terpaut lima tahun lebih tua dariku dan Nicky.
*****
Sudah hampir tiga jam aku menunggu orang yang bernama Robin di bandara bersama Ghina, sahabatku yang juga pacar Nicky, kembaranku.
" Sialan banget sih tuh cowok. Kata mama dia datang jam sepuluh. Tapi sampe jam setengah dua gini dia gak dateng – dateng juga. Awas aja tuh. Gue sumpahin tujuh turunan deh. " ujarku dongkol sambil menatap pintu kedatangan luar negeri.
" sabar Ta... kali aja pesawatnya Delay gitu. Kan bukan salah dia. " ujar Ghina mencoba menyabarkanku.
" Gimana gue mau sabar Na, tuh liat. Pesawatnya udah datang dua jam yang lalu. Ngeselin banget deh tuh cowok. " ujarku sambil menunjuk layar tv yang biasanya menunjukkan jadwal keberangkatan dan kedatangan.
" kali aja dia nunggu bagasi. Kan dia pindah. Pasti banyak dong bawaannya. Udah deh Greta. " ujar Ghina sambil geleng – geleng kepala.
*****
" ehm. Elo Greta sama Ghina kan? Udah tau gue kan. Ayo kerumah elo Gre. " ujar seorang cowok yang tiba – tiba saja datang dan langsung memanggil ku dengan nama Gre. Yang tentu saja membuatku dan Ghina tersentak kaget.
" Elo....! Jangan. pernah. panggil. gue. Gre! " bentakku tertahan dengan segera pada orang yang ternyata Robin. Anak tante Salma. Aku pun segera berlari menuju mobil sambil menangis. Tiba - tiba kejadian tujuh tahun lalu kembali terlintas di benakku.
*****
" Kak Gio... kak Gio... tungguin Gre dong. " teriakku kepada seorang cowok yang lari mendahuluiku menyebrang jalan bersama kembaranku, Fenandirga Nicky.
" ih Eta lama. Makanya jangan jadi cewek. Ahaha " Teriak Nicky sambil tertawa.
" Nick, jangan gitu sama Gre. Kamu tunggu sini. Kaka mau jemput Gre. " peringat Kak Gio. Dan dibalas anggukkan mantap Nicky yang tak tahu bahwa sebentar lagi sang waktu akan melakukan esekusi terhadap orang yang menjadi panutannya itu.
Kak Gio pun langsung lari mendatangiku yang hampir saja menangis. Aku hanya bisa diam membeku memandang kejadian setelah itu yang terjadi di depan mataku. Kejadian yang membuat kak Gio pergi dan direnggut dari ku secara paksa dan tiba - tiba oleh sang waktu. Sebuah truk dengan kecepatan tinggi menabrak tubuh jangkung kakak yang begitu ku cintai. Satu - satunya kakak yang ku punya. Dan itu terjadi saat aku berada di hadapannya.
*****
" Greta... Eta.. Fenandizzy Gretania! " teriak Ghina sambil menguncang tubuhku yang berada di belakang kemudi, membuat aku tersadar dari lamunan tentang kak Gio.
" apa? " Tanyaku lemah sambil menatapnya dalam. Kemudian tatapanku beralih ke sosok di belakang Ghina yang tampak melihatku dengan tatapan bertanya. Robin.
" kita pulang. Gue yang bawa mobil. Ini perintah Eta! " tegas Ghina setelah melihat keadaanku. Aku hanya diam dan mengikuti perintah Ghina sambil sesekali aku menatap Robin dan mengela nafas panjang.
*****
" Kenapa? Greta? " Tanya Nicky saat kami berdua ada di tepi kolam renang di belakang rumah.
" apa? Apa yang kenapa? " tanyaku sambil memandang Mama dan Papa yang bicara pada Robin di ruang keluarga yang besebrangan dengan tempat kami berdua.
" apa yang terjadi sama elo sampai harus Ghina yang gantiin elo nyetir. Elo gak bisa boong sama kembaran elo sendiri Ta, gak mungkin elo mau Ghina yang nyetir mobil saat ada elo disana kalo elo gak kenapa - kenapa. " ujar Nicky sambil memasukkan kedua tangannya kedalam saku celananya.
" Ghina gak bilang? "
" dia bilang gue harus tanya elo. Walaupun gue tau apa akar masalahnya. Kak Gio. " ujarnya sambil memberikan tekanan pada suaranya saat menyebut nama Kak Gio.
" Robin. Dia manggil Gue 'Gre' "
" Tapi dia kan gak tau masalah kak Gio. Dia baru aja datang Ta. Dia gak tau masalah kelam di keluarga kita. Dia gak tau ketika masa – masa mama dan elo depresi berat. Sampai sampai mama selalu diberi obat penenang selama tiga tahun lebih. Dan elo yang harus tinggal di rumah sakit jiwa selama setahun, dan membuat kamu harus tinggal kelas waktu itu? " ujarnya sambil menghela nafas panjang.
" ya. Memang. Untung aja gue masih bisa mengejar elo dan Ghina pas gue ikut akselerasi saat SMP. Dan kembali lagi ke masalah Robin. Tapi dia akan tinggal lama di rumah kita, Nick. Yang mana mau gak mau dia harus tau semua di rumah ini, Nick. Juga tentang kenangan Kak Gio. Suka atau tidak. " ujarku sambil berlalu dari hadapan Nicky.
Sedang Nicky hanya memandang kepergianku. Semua orang juga tau betapa aku sangat dekat dengan kak Gio. Bahkan, mungkin aku satu - satunya orang yang sampai sekarang belum bisa merelakan kepergiannya. Aku dan Nicky hanya sempat bersamanya selama sembilan tahun sebelum kak Gio meninggal.
" bukan cuma elo yang sakit Ta, gue juga. Liat elo kayak sekarang karna kehilangan kak Gio makin bikin gue sakit Ta. "
*****
" Nick, Eta. Besok tolong kamu anter Robin bertemu kepala sekolah. Robin mulai besok sudah masuk sekolah bersama kalian. Dia sekelas sama kalian berdua sama Ghina. Kalian kalau gak salah di kelas XI ipa 5. " ujar papa saat kami makan malam seminggu setelah kedatangan Robin. Selama itu juga aku tak bertegur sapa dan menjauhi Robin. Kami berdua hanya mengangguk dalam diam.
" Eta, papa lihat, selama Robin ada disini kamu gak bicara sama sekali sama Robin. Kenapa? " Tanya papa lagi saat melihatku makan tanpa bernafsu.
" gak kok pah. Perasaan papa aja kali. Aku sama dia baik baik aja. " ujarku sambil menatap Nicky yang berada di seberangku.
" Ya udah kalau gitu. Besok biar kamu yang duduk sama Robin. " ujar papa sambil tersenyum memandang Robin.
" tapi pah. Aku duduk sama Ghina. "
" Ghina kan bisa sama Nicky? Lagipula mereka pacaran. " tambah mama menyetujui usul papa.
" Terserah kalian aja. Eta ngantuk. Eta duluan. " ujarku sambil setengah berlari menaiki tangga menuju kamarku. Diikuti tatapan bertanya Papa, mama dan Robin.
" Nick, Eta kenapa? " tanya mama sedikit khawatir dan langsung di sambar oleh Nicky.
" gak papa ma, mama santai aja. Eta cuma kecapekan kok. " sahut Nicky mencoba menenangkan mama.
*****
" Fenandizzy Gretania! "
" Ap... Apa Yok? Gue gak denger tadi. " tanyaku saat Yoyok, ketua kelasku memanggil keras namaku.
" Ta, Eta... jadi dari tadi elo gak dengerin gue ngomong? " Tanya Yoyok Gemas. Sedangkan Robin yang duduk di sampingku hanya tersenyum simpul.
" sorry... gue ada pikiran. Ada apaan sih? " tanyaku dengan tatapan bertanya pada Yoyok dan tak menghiraukan Robin yang memang sejak awal dia duduk di sampingku. Sedangkan Nicky dan Ghina duduk di depanku dan Robin.
" oke. Gue ulang lagi. Berhubung tiga minggu lagi kita ulangan semester, mulai minggu depan, kita libur masa tenang. Nah, anak – anak ada yang ngusulin kemah ke puncak di pinggir hutan selama satu minggu. Beberapa anak udah ada yang ikut. Loe gimana? " Tanya Yoyok.
" gue ikut. " ujarku mantap. Di susul anggukan mantap dari Ghina, Nicky. Dan Robin.
*****
Tak terasa, besok kelas ku jadi berangkat berkemah di puncak. Aku menyiapkan ransel di bantu Nicky yang sudah selesai dengan ranselnya. Untung saja mama dan Papa dengan gampangnya memperbolehkanku dan Nicky –juga Robin- pergi selama satu minggu.
" Ta... Elo gak papa kalo Robin ikut? Elo kan lagi diem - dieman kelas berat sama dia? " Tanya Nicky sambil berebah di ranjangku. Dan aku pun ikut berebah di samping badan Nicky.
" emang kalo apa – apa, dia bakal gak ikut? " tanyaku. Nicky hanya diam dan memandang langit – langit kamarku.
Hening
*****
" Ta, gue kangen sama Kak Gio. Tidur di kamarnya malah bikin gue semakin kangen sama dia. Harusnya saat ini dia udah kerja kali ya. Atau malah masih kuliah tingkat akhir? Atau malah udah nikah muda? Entahlah. Gue kangen banget sama dia. Dia panutan gue selain papa. " ujar Nicky tiba – tiba. Ucapannya barusan membuat air mata ku menyeruak mengingat semua kenangan ku dengan ka Gio.
" gue apalagi. Dia laki - laki yang paling gue bisa andalkan selain papa. Rasanya baru beberapa hari lalu dia ngajari gue naik sepeda. Dan semua kenangan itu semua ada di memori otak gue. Harusnya... " kataku pelan tak sanggup melanjutkan ucapan ku.
" harusnya waktu itu gue nungguin elo. Harusnya waktu itu gue cegat kak Gio. Atau harusnya gue nyuruh dia lebih cepet buat nyebrang. "
" gue kangen kak Gio, Nick. " ujar ku tak mampu menahan air mata ku lebih lama. Nicky segera berinisiatif menarik ku kedalam pelukannya dan membuat ku mengubur wajah ku di dadanya.
Tanpa kami sadari ada seseorang yang berdiri di balik pintu kamar ku yang sedikit terbuka.
*****
" Ya udah deh, gue balik ke kamar ka Gio ya Ta. Besok jangan telat. Kita kumpul di sekolahan jam setengah tujuh. Langsung naik bus ke puncak. " ujar Nicky setelah sekian lama kami terdiam tanpa kata sambil beranjak pergi dari kamarku.
Mencoba agar kami tak kembali mengingat masa – masa suram keluarga kami dengan membicarakan tentang kak Gio. Apalagi Nicky juga tak ingin membuat ku kembali ke Greta pada saat kak Gio baru meninggalkan kami.
Aku pun yang sudah agak tenang hanya mengangguk mengiyakan ucapan Nicky tanpa berminat untuk membalas ucapannya barusan.
*****
" boleh gue duduk disini. " Tanya Robin sesaat sebelum bus berangkat.
Aku hanya melirik sekilas dan kembali menatap keluar jendela. Melihat Yoyok menyiapkan bus kedua yang akan diisi anak anak yang lain. Ghina dan Nicky duduk tepat di belakangku. Robin pun akhirnya duduk disampingku karena entah kebetulan atau tidak, kursi didalam bus penuh kecuali di sampingku.
" kenapa sih elo kayaknya benci banget sama gue? Apa gara – gara gue tinggal dirumah elo, Fernandizzy Gretania? " Tanya Robin. Aku cukup terkejut saat ku tahu Robin hafal namaku. Namun aku bisa mengatasi keterkejutanku dan membalas ucapannya.
" salah satu faktornya ya. Tapi ada satu faktor utama kenapa gue benci elo, Robin Artanta Ferdino. "
" Apa? "
Aku pun berpaling menatap Robin. Seingatku ini pertama kalinya aku menatap matanya yang berwarna coklat itu.
" asal loe tahu. Dari awal sampai sekarang, Cuma satu orang yang pernah manggil gue dengan nama 'Gre'. Seseorang yang di renggut paksa dari gue. Dan gue benci elo. Kenapa elo mesti manggil gue pakai nama itu. Elo, udah ngerobek luka di hati gue yang udah susah payah gue sembuhin. Yang udah gue tutup selama tujuh tahun ini. Tapi elo udah ngerusak pertahanan yang gue bikin. Itu alasan kenapa gue bener - bener luar biasa ngebenci elo. " ujarku nyaris berbisik. Tak terasa, rupanya aku menangis di hadapan Robin.
Aku pun berpaling kembali menghadap jendela seraya menyeka air mataku yang tak mau berhenti. Tak kuhiraukan lagi Robin terus bertanya lebih lanjut. Sudah cukup untuk saat ini. Sudah cukup aku mengorek luka lama yang hendak ku kubur saat ini.
Untungnya bus sudah beranjak berjalan meninggalkan halaman sekolah menuju puncak. Aku mulai menutup mata untuk menenangkan perasaan yang bergejolak di hatiku.
*****
" Eta, elo besok pagi pergi cari kayu ya? Sama Robin. " ujar Yoyok saat aku dan Ghina baru saja dari sungai.
" kenapa mesti sama Robin sih Yok? Gue bosen tiap saat ketemu dia. Gak di rumah, gak di kelas, gak di bus. Gue sama Ghina atau Nicky aja deh, atau yang lain gitu. " tolakku mentah - mentah.
" gak bisa Ta, Ghina sama Nicky bakal nyari habis kalian. Yang lain udah pada punya pasangan. Ayolah ta. Masa gue juga yang harus turun tangan? " mohon Yoyok padaku. Dengan berat hati, ku paksakan menganggukkan kepalaku.
" iya iya. Gue deh. "
*****
" Greta, kenapa elo mau pergi sama gue? Bukannya elo benci sama orang yang ada di belakang elo ini? " sindir Robin saat kami baru saja memasuki hutan untuk mencari kayu bakar.
" Ter-pak-sa! " ujarku sinis. Kami pun semakin masuk ke tengah hutan. Selama memasuki hutan aku dan Robin tak bicara sepatah katapun. Aku lebih memilih melihat – lihat pemandangan hutan saat tiba – tiba.
" Greta awas! " ujar Robin sambil menarikku menghindari seekor ular berbisa. Namun ternyata masih belum mampu menyelamatkan kakiku dari sengatan bisa ular.
" Au... " rintihku sambil terus memegangi kakiku. Sedangkan Robin langsung membunuh ular tersebut dan membuangnya di sungai yang ada di dekat kami berdua.
" Ta, elo gak papa? " ujar Robin sambil memeriksa kakiku. Aku hanya bisa menjawab dengan rintihan. Robin langsung berusaha untuk membuang bisa ular tersebut dengan cara mengisap dan membuangnya.
" parah. Greta, elo gue tinggal bentar, gue nyari daun - daun obat dulu. " tambah Robin sambil menyandarkanku di sebuah pohon dan meninggalkan jaketnya untukku.
Tak berapa lama, Robin datang membawa beberapa lembar daun dan langsung meramunya untuk kakiku. Sedangkan aku hanya bisa melihat apa yang di lakukan Robin karena badanku terasa sakit dan terasa lumpuh. Mungkin bisa ular tadi sudah menyebar di tubuh ku.
" Greta, elo jangan pingsan. Elo harus kuat. Elo harus bisa bertahan Greta. " ujar Robin sambil menempelkan dedaunan tadi di kaki ku.
" Sum.. pah.. Rob.. sa... kit.. bang .. et.. " ujar ku dengan susah payah. Mulut ku terasa mati rasa dan susah untuk di gerakkan.
" Ta, Greta.. "
Pandangan ku semakin lama mulai semakin mengabur. Semua terlihat samar – samar dan akhirnya menjadi hitam. Aku merasa suara Robin semakin jauh dan semakin hilang. Aku pingsan.
*****
Aku terbangun saat mendengar suara kicauan burung – burung hutan yang saling bersahutan. Saat ku buka mata ku untuk pertama kalinya, aku langsung melihat wajah Robin yang sedang tertidur. Baru ku sadari bahwa aku tertidur di atas kaki Robin. Aku pun berusaha untuk bangun walaupun aku masih merasa kaki kiri ku agak sakit dan kram. Tapi jauh lebih baik dari saat aku sebelum di obati Robin.
" elo udah bangun Ta? Masih sakit kakinya? " Tanya Robin membenarkan rambut ku yang menutupi setengah wajah ku saat ini. Ternyata dia terbangun akibat aku menggerakkan tubuh ku.
" udah gak papa kok. Lumayan baik. Tapi masih suka sakit sama kram. Makasih udah nolongin gue. Elo tau dari mana masalah daun daun obat itu? " tanyaku sambil menegakkan tubuh ku dan menyandarkan tubuh ku di pohon di sebelah Robin.
" lupa ya? Gue kan dulu sempet tinggal di Indonesia sampai lulus SD. Gue pernah pergi kemah dulu di hutan. Nah guru gue ngasih tau jenis - jenis daun yang bisa di jadikan obat di saat mendadak kayak gini. Gue masih hafal kali. Oh ya, elo udah gak marah lagi sama gue? " jelas Robin sambil melihat keadaan kaki ku.
" mana bisa gue masih marah sama orang yang menyelamatkan hidup gue? " balas ku sambil menggosok gosokkan tangan ku. Udara di sekitar kami terasa dingin. Padahal, pagi sudah menampakkan wajahnya.
" nih pakai jaket gue. Elo menggigil gitu, sakit ntar. Oh ya Greta, elo kenapa sih bisa sebenci sama semarah itu sama gue? " tanyanya sambil menyodorkan jaketnya pada ku. Aku pun segera memakai jaket miliknya.
" gara – gara waktu di bandara elo manggil gue 'gre'. Gue gak bisa denger nama itu lagi. " ujar ku perlahan sembari menutup kedua mata ku. Mulailah mengalir kisah ku tentang kenangan kak Gio dan 'Gre'.
" maaf ya Ta, gue jadi ngebuka luka lama elo. Sumpah, gue gak tau sama sekali. " ujar Robin setelah mendengar kisah ku.
" gak apa. Makanya gue benci banget sama elo waktu itu. Sorry ya, gue marah marah sama elo selama ini. " balas ku dan langsung di balas Robin dengan anggukan kepala.
" gak papa. Ngerti kok gue. "
" Eh, kita balik ke perkemahan yuk. Kasian kalo mereka nyari kita. " ujar ku sambil bersusah payah berdiri.
" elo gue gendong aja. " ujar Robin sambil mengangkat tubuh ku. Sekeras apa pun aku protes, Robin tetap bersikeras menggendong ku. Akhirnya aku pun mengalah dan membiarkan Robin untuk mengendong ku hingga ke perkemahan kami. Toh, dia yang memaksa.
*****
" Ya ampun Greta, Robin. Elo berdua dari mana aja sih? Dari kemaren pagi kalian itu ilang. Kenapa elo di gendong Robin Ta? " ujar Nicky panik. Apalagi dirinya melihat kembarannya yang berada di dalam gendongan Robin.
" Greta! Kaki elo kenapa? " ujar Ghina yang pertama kali melihat kaki ku di balut dedaunan.
Robin pun menjelaskan kejadian kemarin hingga kaki ku tersengat bisa ular setelah membawa ku istirahat di dalam tenda. Namun Robin meyakinkan mereka bahwa kaki ku sudah tidak apa apa dan mereka tak perlu khawatir. Anak – anak pun kembali sibuk dengan kegiatannya yang lain. Kecuali Robin, Nicky dan Ghina.
" elo udah baikan sama Greta? " Tanya Nicky saat mereka berdiri di luar Tenda sedangkan aku di dalam tenda berganti pakaian. Robin mengangguk ragu – ragu.
" Greta udah cerita tentang kak Gio? " Tanya Ghina tak yakin yang berdiri di samping Nicky. Kali ini Robin mengangguk pasti sambil tersenyum.
" thanks ya udah nyelametin Greta. Gue utang budi sama elo. " ujar Nicky menepuk bahu Robin yang langsung membuat Robin membalas perkataan Nicky.
" santai lah, sama gue ini. "
*****
Tak terasa besok sore kami sudah harus balik ke Jakarta. Malam ini kami pun mengadakan acara api unggun. Luka di kaki ku pun sudah berangsur – angsur membaik. Ujar Robin, untung saja ular yang menyengat ku bukan golongan ular yang bisa membunuh manusia. Tapi tetap saja kalau di biarkan mungkin bisa terjadi sesuatu hal yang tak di inginkan.
" Ta, gue mau ngomong. " ujar Robin. Tiba – tiba dia duduk di samping ku menghadap api unggun.
" apa? " ujar ku sambil merapatkan jaket ku. Udara disini mulai terasa dingin.
" boleh gak gue jadi pacar elo? "
" hah? " hanya kata itu yang bisa keluar dari mulut ku.
" boleh gak gue jadi pacar elo? " ulang Robin menatap ku.
" hah? Serius? kok mendadak banget. Romantis sih. Tapi tetep aja gue kaget kali. " ujar ku dengan tatapan bingung.
" ya elah, mau gimana lagi? Gue udah ngebet. Boleh gak? Kalo enggak gue bunuh diri nih. Gue gak bisa hidup tanpa elo Ta. " ancam Robin yang berhasil membuat ku tertawa. Dia masih SMA dan sudah berani ingin mengancam bunuh diri? Walau aku tau itu tak kan mungkin di lakukannya, tapi tetap saja itu lucu bagi ku.
" idih, gila ya elo? main ancam - ancam aja. " ujar ku tertawa. Aku bisa pastikan saat itu pipi ku merona merah akibat kata – kata Robin.
" boleh gak Ta gue jadi pacar elo? " ujar Robin serius.
" ngg... "
" Greta, boleh gak? " desak Robin.
" iya. Boleh. " ujar ku lirih.
" apa? Gue gak denger. " ujar Robin menggoda ku. Padahal dirinya sudah mendengar apa jawaban ku barusan.
" iya boleh. " ujarku sambil menaikkan volume suara ku sedikit.
" yes! Woy temen – temen. Gue udah jadian sama Greta. " teriak Robin ke semua anak – anak dan langsung membuat anak – anak yang lain segera menyoraki kami berdua sembari memberi selamat pada kami berdua.
" Astaga. Robin bikin malu nih. " pikir ku saat anak - anak yang lain bersorak sorak heboh.
Bahkan Yoyok sempat sempatnya berjoget di depan ku dan Robin. Tapi sudahlah. Toh ini hari bahagia ku dengan mereka. Aku pun ikut bergabung dengan kegilaan mereka malam ini bersama dengan mereka.