TROUVAILLE
Romance
11 Feb 2026

TROUVAILLE

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download - 2026-02-12T003113.956.jfif

download - 2026-02-12T003113.956.jfif

11 Feb 2026, 17:33

download - 2026-02-12T003112.951.jfif

download - 2026-02-12T003112.951.jfif

11 Feb 2026, 17:33

" Tin. Kamu di mana? Aku udah di dalem aula. " ucap ku pada sahabat ku Tina saat aku menelepon dirinya.

Kami berdua saat ini memang sedang berada di dalam aula sebuah mall. Karena saat ini, sedang ada acara konser Kahitna di aula tersebut. Aku dan Tina memang sudah berencana lama untuk datang ke konser mereka.

Tapi masalahnya, aku dan Tina saat ini terpisah. Sedangkan nyaris semua kursi sudah terisi. Apalagi para penonton tidak di tentukan tempat duduknya. Sehingga kami harus mencari tempat yang strategis untuk menonton penampilan mereka semua.

" aku juga di dalem Ris. Aku udah dapet kursi. Tapi cuma dapet satu. Ini juga agak di tengah. Gimana ya? " sahut Tina di seberang sana.

" gitu? Ya udah, aku cari kursi ku sendiri ya. Nanti kita chat-an aja kalo mau pulang. Ya? " ucap ku. Sedikit tenang karena Tina sudah mendapat kursi untuk nya dan tinggal mencari untuk diri ku sendiri.

" oke deh. Kamu sendiri hati - hati Ris. " balas Tina di seberang sana dan membuat ku akhirnya mematikan sambungan telepon kami setelah mengiyakan ucapannya. Sembari mulai mencari - cari tempat duduk untuk ku.

Sebenarnya, saat ini aku melihat ada sebuah tempat strategis untuk diri ku duduk. Apalagi kursi itu berada di depan panggung. Membuat kursi itu menjadi kursi yang sangat strategis untuk diri ku melihat konser Kahitna ini.

Tapi sayangnya, kursi itu tinggal satu yang kosong. Sedangkan di sampingnya ada seorang pria yang sedikit lebih tua dari ku yang semenjak tadi terus saja memandang ku lekat. Dan di sampingnya lagi ada sepasang muda mudi yang duduk. Membuat ku yakin jika satu kursi itu juga merupakan kursi dari pasangan pria itu.

Dan baru saja aku akan beranjak dari tempat ku berdiri saat ini, pria itu memanggil ku. Membuat ku terkejut karena memang aku tak mengenal dirinya.

" duduk di sini aja. " ujar pria itu.

" eh, gak usah kak. Nanti kalau temen kakak datang, malah susah. " jawab ku sopan.

" gak papa. Aku sendiri kok. Di samping ku memang kosong. Dari pada kamu dapet kursi yang di belakang kan. Mending di sini. " ujarnya dan jujur saja, itu terdengar sangat menggiurkan untuk ku. Membuat ku tanpa sadar mulai berjalan guna mendekatinya.

" beneran gak papa kak? " tanya ku memandang dirinya dengan seksama. Dan baru ku sadari, jika pria yang menegur ku tadi cukup tampan. Dengan senyum yang manis dan tatapannya yang teduh.

" iya. Gak papa kok. Duduk aja. " jawabnya dengan senyum yang tak berhenti semenjak tadi. Membuat ku akhirnya duduk di sampingnya dengan perlahan seraya terus memandang dirinya.

" makasih banyak kak. " ucap ku tulus seraya menundukkan tubuh ku sedikit. Berupaya bersikap sopan pada pria yang sudah berbaik hati ini.

" it's oke. Santai aja. Oh ya. Nama ku Daniel. Daniel Arditya. " sahutnya tenang.

" nama ku Risna. Samantha Risnalda. " ujar ku membalas ucapannya.

" kamu datang sendirian? " tanya dirinya memandang ku. Entah perasaan ku saja, atau tidak. Tapi ku lihat dirinya sedikit khawatir.

" enggak kok. aku sama temen ku. Tapi pas masuk aula tadi, aku sama dia kepisah. Trus dia udah dapet kursi. Kasian kalo harus ku suruh bareng sama aku. " jawab ku.

" tapi harus tetep hati - hati. Gak baik cewek jalan sendiri - sendiri kayak gitu. Kalo ada apa - apa kan bahaya. " tegur nya sembari menasehati ku.

" iya kak. " jawab ku sopan.

Apalagi mendengar dirinya yang begitu menasehati ku layaknya seorang keluarga. Membuat ku bersyukur karena bisa bertemu dengan orang baik seperti dirinya. Tak lupa aku mengangguk untuk mengiyakan ucapannya tadi. Dan setelah itu, kami berdua pun sibuk dengan kesibukan kami masing - masing.

*****

Tak berapa lama aku merasakan pria itu memandang ku dengan seksama. Membuat ku mengangkat kepala dari handphone ku dan balas memandangnya dengan raut wajah kebingungan dan setengah penasaran.

" ada apa kak? Ada yang aneh ya sama muka ku? " tanya ku pada dirinya dan membuat dirinya tersenyum simpul.

" enggak kok. Tapi, boleh aku minta tolong padamu? " tanyanya dengan sedikit permohonan yang tersirat pada nada suaranya.

" mau minta tolong apa kak? " tanya ku pada dirinya.

" bisa aku titip tas kecil ku ini? Aku mau keluar sebentar, nerima telepon dari teman ku. Di sini agak mulai berisik. " ujar pria itu sembari menunjuk tas selempang kecil miliknya yang ada di belakang tubuhnya.

Saat ini dirinya sedang memegang handphonenya yang semenjak tadi berdering tanpa henti. Apalagi, suasana di dalam aula ini memang sudah penuh dengan orang - orang yang ini menonton konser Kahitna. Sehingga suasana memang cukup bising dan berisik.

Dan berhubung aku sudah di berikan tempat duduk oleh dirinya. Bahkan secara cuma - cuma, Aku pun menyanggupi permintaannya dan menganggukkan kepala ku. Setidaknya itu sebagai balas budi ku pada dirinya.

" oh. Boleh kok kak. " sahut ku mengangguk. Kebetulan acara akan berlangsung kurang dari sepuluh menit lagi. Sehingga aku berharap sedikit banyak dirinya akan cepat kembali.

" aku janji hanya sebentar. I promise. " ucapnya berjanji pada ku sebelum dirinya berdiri. Dirinya cukup sadar jika acara akan segera di mulai. Dan membuat ku menganggukkan kepala ku sembari tersenyum menenangkan nya.

" iya kak. Santai aja. " ujar ku tersenyum. Dan akhirnya dirinya pun meninggalkan ku sendiri.

*****

" hai cewek. Kok sendirian aja? Temenin om yuk sayang. "

" sini aja sama kita. Dari pada sendirian. Kan. Om gak gigit kok. Om suka liat kamu sayang. "

" iya. Mending nemenin kita. Kita cuma ada satu cewek nih. Gabung yuk manis. " dapat ku dengar ada beberapa pria paruh baya yang berbicara seperti itu di belakang ku.

Ku rasa mereka duduk tak jauh dari barisan tempat duduk ku. Dan aku yakin, mereka menggoda ku. Karena di beberapa baris ini, hanya aku yang duduk sendiri tanpa teman setelah Daniel yang duduk di samping ku pergi.

Dan ucapan pria - pria yang terdengar sudah berumur itu amat sangat menakutkan bagi ku. Tanpa sadar membuat tubuh ku bergetar dan membuat ku menutup ke dua mata ku. Berharap jika ada yang akan menolong ku. Jujur saja, dengan aku yang di goda seperti itu kembali mengingat kejadian menyakitkan dan menyeramkan untuk ku beberapa waktu yang lalu.

Apalagi, tidak ada seorang pun yang mau membantu ku saat ini. Atau setidaknya menegur pria - pria itu. Semua orang yang mendengar pun sibuk dengan aktivitas mereka masing - masing.

Nyaris saja aku terisak karena godaan dari pria - pria itu tak berhenti, bahkan semakin lama justru semakin parah. Tapi tiba - tiba saja, aku di kejutkan dengan keadaan kursi kosong di samping ku yang terasa di duduki seseorang. Dan langsung membuat ucapan - ucapan menggoda dari arah belakang langsung hilang tak berbekas.

Aku pun langsung membuka mata dan menemukan Daniel yang duduk di samping ku kini sudah kembali duduk. Dirinya duduk sedikit mendekat ke arah ku sembari memandang ke belakang dengan tatapan tajamnya. Dengan wajah yang sedikit dingin. Bahkan dapat ku rasakan jika paha dan tubuh ku sedikit bersentuhan dengan paha dan juga tubuhnya. Membuat ku tanpa sadar justru bernafas lega karena dirinya yang langsung duduk di samping ku.

" kamu gak papa? " tanya Daniel pada ku setelah membuat pria - pria hidung belang itu berhenti menggoda ku. Seraya dirinya mengalihkan pandangannya ke arah ku. Dan memandang ku dengan seksama. Dirinya sadar jika aku begitu ketakutan saat ini.

" enggak. Gak papa. " jawab ku singkat dengan nada bergetar. Masih dengan posisi yang penuh rasa takut.

*****

" kak. " panggil ku pada Daniel tak berapa lama dari kejadian tadi.

" ya? Ada apa Ris? " tanya Daniel yang semenjak datang terus memperhatikan diri ku yang ketakutan.

" boleh aku megang tangan kakak? Aku takut. " cicit ku lirih. Sedikit takut jika pria itu menolak dan berfikir bahwa aku adalah perempuan yang sedikit nakal. Apalagi kami yang belum terlalu kenal.

" tentu saja. " sahutnya sembari menarik tangan ku ke dalam genggamannya dan menggenggamnya dengan erat.

Tak lupa dirinya mengelus punggung tangan ku untuk menenangkan ku. Ulah nya ini jujur saja, dapat menenangkan ku. Dan tanpa sadar membuat ku merapatkan duduk ke arah dirinya.

" apa kau ingin minum sesuatu? Aku bisa membelikan mu. Di dekat sini ada food court. " ujar Daniel yang tak tega pada ku. Dirinya juga sadar jika aku semakin merapatkan tubuh ku yang gemetar pada dirinya.

" ja... Jangan. To... Tolong jangan tinggalkan aku lagi kak. Aku takut. " ujar ku menggeleng cepat dan tanpa sadar, aku memeluk lengannya dengan sebelah tangan ku yang bebas dan tak di genggamnya.

" oke oke. Aku tak akan ke mana - mana. Aku akan di sini saja. Bersandar lah di lengan ku Ris. Wajah mu pucat. Sepertinya kau butuh sandaran. " pinta Daniel seraya mengamati wajah ku yang masih saja terlihat ketakutan. Dirinya pun memilih untuk tak meninggalkan ku lagi.

" apa tak masalah? Jika aku bersandar? " tanya ku tanpa ada niat untuk menolak. Karena jujur saja, aku saat ini memang sudah terlalu lemah.

" sure. Biar mereka mengira kau pacar ku. Itu akan membuat mereka tak menganggu mu lagi. " ujarnya meyakinkan ku.

Entah kenapa. Ucapannya ini justru membuat ku merasa yakin dan tanpa ada paksaan dari dirinya, aku pun mulai menyandarkan kepala ku di lengannya dengan perlahan. Membuat Daniel mencoba menyamankan posisi ku di samping dirinya. Kini aku dan Daniel benar - benar terlihat seperti pasangan yang tengah di mabuk asmara.

" maaf merepotkan kakak. Dan terima kasih karna sudah membantu ku. "

" santai saja. Aku senang bisa membantu. " sahutnya. Sembari melirik ku sesekali. Memastikan jika aku sedikit lebih tenang.

*****

Tak terasa, konser yang sudah lama ku nanti kan ini sudah separuh jalan. Dan aku benar - benar menikmati jalannya konser ini. Apalagi dengan Daniel yang berada di sebelah ku. Kami berdua sering kali mengobrol dan saling bertukar cerita. Sehingga membuat kami mulai cukup dekat. Dirinya pun mencoba untuk tidak membuat ku mengingat kejadian tadi.

Tapi sayangnya, pembicaraan kami berdua sedikit terhenti karena host acara mulai kembali memasuki panggung.

" oke. Karena kita sudah di tengah jalan, kami semua ingin memberi kejutan pada kalian. Kami akan memilih satu penonton untuk bernyanyi bersama dengan Kahitna di atas panggung. Dan kami akan mulai memilih penonton yang beruntung. " ucap host tersebut. Membuat ku sedikit tersenyum dengan ucapan host itu. Seraya menerka - nerka siapa orang yang beruntung bisa bernyanyi di panggung bersama Kahitna.

Dan dua buah lampu sorot yang berada di sisi kiri dan kanan pun mulai menyoroti kami para penonton. Tiba - tiba saja, tak berapa lama kemudian, lampu itu menyorot ke arah dirinya ku. Membuat ku merasa sedikit silau dan mengubur wajah ku di lengan atas Daniel. Daniel sendiri yang merasa aku kesilauan pun merentangkan jemarinya di depan wajah ku untuk menghalau kilatan lampu dari wajah ku.

" euggh. "

" silau ya? " tanya Daniel paham seraya memandang ku yang mengubur wajah ku di lengan atasnya.

" iya. Silau banget. " sahut ku menjawab dan tetap menyembunyikan wajah ku di lengannya. Aku pun mengangguk dan menyebabkan wajah ku langsung bergesekan dengan pakaian milik Daniel.

Baru saja Daniel ingin bicara dengan ku lagi, tapi MC itu sudah memanggil ku untuk naik ke atas panggung. Membuat ku akhirnya mengangkat wajah ku untuk memandang Daniel dengan seksama. Dan beruntungnya, aku sudah terbiasa dengan sinar dari lampu sorot yang masih menyorot ke arah ku dan Daniel.

" naiklah. Dan jika mereka bertanya kau dengan siapa. Bilang saja kau pergi dengan aku sebagai pacarmu dan teman mu. " ucap Daniel mencoba membantu ku sekali lagi.

" gak papa? Bilang kakak pacar ku? " tanya ku memastikan. Aku hanya tak yakin dengan tawarannya ini.

" gak apa. Supaya pria - pria yang menganggu mu tau kalau kau sudah punya pacar. Dan biar gak ada yang menggoda mu lagi. Bukan gak mungkin keluar dari aula ini kamu masih di ganggu mereka. " jawab Daniel yang membuat ku menganggukkan kepala ku.

" baiklah. " jawab ku sebelum aku berdiri dan mulai melangkah menaiki panggung dengan canggung.

*****

" hallo. Siapa nama mu? " tanya host itu pada ku begitu aku sudah berada di tengah panggung. Bersama dengan ke tiga vokalis Kahitna, Hedi Yunus, Carlo Saba dan Mario Ginanjar.

" erh, hai. Nama ku Risna. Samantha Risnalda. " jawab ku kikuk. Karna jujur saja, ini kali pertama aku berdiri begitu dekat dengan ke tiga penyanyi favorit ku.

" santai aja. Jangan tegang begitu. " ucap Hedi Yunus sembari tertawa karna melihat diri ku yang begitu kikuk.

" i... Iya. " sahut ku. Semakin membuat mereka tertawa karena kekikukkan ku ini.

" ke sini sama siapa Risna? " tanya Mario mencoba mencairkan suasana. Membuat ku beralih memandang dirinya.

" erg. Bareng temen ku sama pacar ku kak. " jawab ku memutuskan untuk mengikuti permintaan Daniel tadi sebelum aku naik ke atas panggung.

Dan ucapan ku ini berhasil membuat suasana aula bergemuruh. Karna ke tiga vokalis Kahitna ini langsung menggoda ku. Bahkan membuat ku memerah malu. Jawaban ku ini pun akhirnya membuat lampu sorot mulai menyoroti Daniel yang notabene duduk di samping ku dan menjadi sandaran ku saat aku terpilih untuk naik ke atas panggung tadi. Apalagi memang, sampai saat lampu menyorot ku tadi, aku terus menerus bersandar pada Daniel. Dan mengobrol dengan dirinya. Sehingga tak kaget jika mereka langsung mengira Daniel adalah pacar ku.

" ayo ke sini. " suruh mereka bertiga bersama dengan host saat lampu menyorot Daniel.

Membuat Daniel langsung mengikuti ku untuk menaiki panggung. Dan kini dirinya berdiri di samping ku dengan sebelah tangannya yang memegang pinggang ku. Aku sendiri sama sekali tak mencoba untuk menyingkirkan tangan Daniel di tubuh ku. Aku justru mendiamkan ulah nya ini dan menikmati rasa tenang yang langsung hinggap di hati ku saat Daniel berdiri di samping ku.

*****

" katamu kamu bertiga dengan pacar mu dan teman mu? Di mana teman mu? " tanya Carlo pada ku dan Daniel.

" teman ku berpisah duduk dengan kami berdua. " sahut ku jujur mengingat aku sebenar nya dengan Tina terpisah bahkan semenjak aku belum kenal dengan Daniel.

" wah, dia gak mau jadi obat nyamuk ya. " ucap Mario tertawa. Membuat seluruh penonton juga ikut tertawa karena kelakarnya ini.

" kalian sudah lama pacaran? " tanya Hedi Yunus sembari memandang ke arah ku dan Daniel.

Membuat ku tertegun bingung harus menjawab seperti apa. Apalagi, aku dan Daniel yang memang baru mengenal beberapa saat yang lalu. Namun aku di kejutkan dengan Daniel yang begitu saja menjawab dengan amat lancar.

" gak terlalu lama sih. Tapi aku merasa udah klop sama Risna. " jawab Daniel.

Dan jawabannya ini semakin membuat para penonton semakin bersorak. Bahkan aku baru sadar jika aku dan Daniel sama - sama memakai baju berwarna putih. Jika Daniel sedang memakai kemeja berwarna putih. Maka aku sendiri saat. Ini memakai blouse lengan pendek berwarna putih juga.

*****

" oke. Karena yang maju saat ini adalah pasangan kekasih, bagaimana kalau kita ajak mereka bermain game kecocokkan? " tanya host pada para penonton dan langsung di setujui oleh para penonton dan para personel Kahitna.

Membuat ku dan Daniel langsung berpandangan. Pasalnya, kami berdua sama sekali tak mengetahui bagaimana pribadi masing - masing. Dan bisa di pastikan kami akan banyak yang tak cocok.

Tapi tatapan Daniel begitu menenangkan ku. Apalagi tangannya yang masih di pinggang ku kini mulai bergerak mengelusi pinggang ku dengan teratur. Membuat ku sedikit tenang dan mengikuti alur permainan saat ini.

Dan permainan kecocokan antara aku dan Daniel pun mulai berjalan. Aku yang awalnya begitu takut - takut menjalani game ini pun mulai rileks dan bisa menikmati permainan. Bahkan, aku dan Daniel nyaris menjawab semua pertanyaan dengan benar. Aku dan dirinya hanya salah menjawab empat dari sepuluh pertanyaan yang di ajukan oleh host dan ke tiga vokalis Kahitna. Benar - benar sebuah keberuntungan. Mengingat jika aku dan Daniel baru mengenal satu sama lain.

*****

Setelah aku dan Daniel turun dari panggung, aku merasakan jika handphone ku yang ku simpan di tas kecil ku bergetar semenjak tadi. Dan rupanya Daniel pun merasa jika ada yang menelepon ku, karena aku langsung memegang handphone ku.

" siapa? " tanya Daniel memandang ku lembut.

" temen ku kak. Yang tadi ke pisah sama aku. " jawab ku pada Daniel yang membuat dirinya mengangguk pelan.

" angkat gih. Dia pasti kaget liat kamu naik panggung sama aku. Apalagi denger kita pacaran kan. " ujar Daniel tersenyum seraya menyarankan pada ku dan membuat ku mengiyakan ucapannya ini.

" ntar aja kak. Berisik di sini. " ucap ku sembari menggelengkan kepala.

" ngobrolnya di belakang badan ku aja. Kayaknya bakal ketutupan deh suaranya kalo kamu nerima telepon di belakang badan ku. Kasian dia. Pasti khawatir. " balas Daniel yang mulai mencari cara agar aku bisa mengangkat telepon dari Tina.

Aku yang memang sudah tak enak pada Tina karena lama mengangkat teleponnya pun akhirnya mau tak mau mengiyakan ucapan Daniel. Aku juga tak mungkin keluar ruangan ini hanya untuk mengangkat telepon dari Tina. Sehingga aku menerima telepon darinya di tempat duduk ku saat ini.

" iya deh. " sahut ku dan mulai mengangkat telepon dari Tina, sahabat ku.

Beruntungnya, Daniel cukup paham jika ruangan itu cukup berisik. Sehingga, dengan gesture tubuhnya, dirinya meminta aku menelpon di belakang tubuhnya dan membuat ku seperti bersandar di punggungnya. Daniel pun memajukan tubuhnya sedikit untuk menutupi ku yang tengah bicara dengan Tina lewat telepon.

******

" hallo. "

" gila. Siapa tuh? Cerita sama aku. " ujar Tina begitu aku mengangkat telepon.

" iya iya. Nanti ku ceritain abis kita keluar dari aula. " jawab ku.

" enggak. Gak ada. Cerita sekarang pokoknya. "

" astaga. Maksa deh. " kekeh ku.

" kudu ah, cepet. Aku penasaran. " ucap Tina memaksa.

Membuat ku akhirnya menceritakan awal mula pertemuan ku dengan Daniel hingga akhirnya aku naik ke atas panggung bersama dengan dirinya. Aku juga menceritakan bagaimana aku di goda oleh beberapa pria berumur saat acara belum di mulai. Dan cerita ku ini berhasil membuat Tina tak tenang karena khawatir.

" kamu gimana? Gak papa? Trauma mu? " tanya Tina. Dapat ku rasakan kekhawatirannya pada ku dalam getar suaranya.

" gak papa. Untung kak Daniel cepet dateng nolongin. " jawab ku tersenyum mengingat bagaimana Daniel menolong ku tadi.

" syukurlah. Tolong bilangin rasa terima kasih ku sama dia. Udah jagain kamu. " sahut Tina membuat ku tersenyum haru atas perhatian sahabat ku ini.

" iya. Nanti aku sampein. " balas ku. Aku dan Tina pun masih terlibat pembicaraan sebentar sebelum akhirnya aku memutuskan sambungan telepon ku bersama dirinya.

*****

" sudah? " tanya Daniel ketika dirinya merasa aku mulai kembali duduk seperti semula.

" udah kak. Temen ku bilang makasih. "

" makasih? Makasih buat apa? " sahut Daniel tak mengerti dengan ucapan ku.

" makasih karna kakak udah nolong aku tadi. Dari... " ucap ku terhenti sembari melirik ke arah belakang dan membuat Daniel mengerti.

" its okay. Santai aja. Lagipula sudah seharusnya perempuan itu di jaga. Bukan di lecehin kayak gitu. " jawab Daniel yang tanpa sadar menambah nilai plus dirinya di mata ku.

" mm iya. Sekali lagi makasih ya kak. " ujar ku lagi. Membuat Daniel menganggukkan kepala nya menghadap diri ku. Kami pun kembali tenggelam dalam keasyikan menonton konser Kahitna ini hingga selesai.

*****

Kembali ke Beranda