Gambar dalam Cerita
Pagi itu Salma hampir menabrak seseorang di lobi kampus.
“Kalau jalan lihat depan, bisa?” omelnya kesal.
“Harusnya kamu bersyukur ketemu orang setampan aku,” balas Rony dengan senyum percaya diri.
Salma mendengus. “Tampan atau tidak, tetap saja mengganggu.”
Begitulah keseharian mereka—dua mahasiswa pintar yang selalu bersaing. Rony dikenal populer dan penuh percaya diri, sementara Salma disiplin, mandiri, dan tak mudah terkesan. Mereka sering berdebat soal apa pun, dari nilai sampai cara bicara.
Takdir mempermainkan keduanya ketika keluarga mempertemukan mereka dalam rencana perjodohan. Ayah Salma yang sakit harus berobat ke luar negeri dalam waktu lama. Demi ketenangan keluarga, disepakati Salma akan menikah dengan Rony—anak sahabat ayahnya—agar tetap ada yang menjaga.
Salma menolak keras. Rony pun awalnya enggan. Namun keadaan memaksa, dan keduanya akhirnya setuju dengan syarat masing-masing. Pernikahan disiapkan sederhana, dengan harapan waktu akan melunakkan segalanya.
Hari pernikahan tiba. Salma terlihat tenang meski hatinya penuh cemas. Rony, yang biasanya santai, justru gugup. Ketika ijab kabul selesai, mereka resmi menjadi pasangan suami istri—dua orang yang belum sepenuhnya saling memahami.
Hari-hari awal dipenuhi aturan dan jarak. Mereka sepakat memberi ruang, belajar saling menghormati. Rony berusaha menahan kebiasaan menggoda berlebihan; Salma mencoba membuka diri meski masih kaku.
Suatu malam, Salma jatuh sakit karena kelelahan dan rindu keluarga. Rony yang biasanya jahil, berubah sigap. Ia menyiapkan minum, mengecek suhu tubuh, dan menemani Salma sampai tertidur. Tanpa kata berlebihan, perhatian itu perlahan meruntuhkan tembok Salma.
“Terima kasih,” ucap Salma lirih keesokan paginya. “Aku tidak menyangka kamu bisa setelaten ini.”
Rony tersenyum kecil. “Aku sedang belajar.”
Sejak saat itu, mereka mulai berkomunikasi. Pertengkaran berkurang, candaan lebih ringan. Rony berhenti mencari perhatian di luar; Salma mulai mempercayai niat baik suaminya.
Cobaan datang ketika Salma mengalami keguguran di usia pernikahan yang masih sangat muda. Keduanya terpukul. Rony menyalahkan diri sendiri, Salma larut dalam duka. Namun keluarga menguatkan, dan mereka memilih berdiri bersama—menggenggam, bukan menyalahkan.
“Aku takut kehilangan kamu,” kata Rony suatu malam. “Aku tidak ingin lagi hidup saling melukai.”
Salma mengangguk. “Aku ingin kita mulai ulang. Pelan-pelan.”
Mereka fokus menyelesaikan pendidikan, membangun karier, dan memperbaiki diri. Waktu mengajarkan kesabaran. Luka menjadi pelajaran.
Beberapa tahun kemudian, Salma lulus dan merintis usaha busana. Rony melanjutkan bisnis keluarga dengan cara yang lebih bertanggung jawab. Rumah mereka tak lagi riuh oleh pertengkaran, melainkan tawa sederhana.
Kehadiran seorang putri kecil melengkapi segalanya. Mereka menamainya Aira—pengingat bahwa cinta bisa tumbuh dari niat baik dan usaha.
Suatu sore, Rony bercerita pada Aira tentang masa lalu. “Dulu Papi dan Mami sering berbeda pendapat.”
Aira tertawa. “Sekarang sudah akur?”
“Karena Papi belajar mencintai dengan benar,” jawab Salma sambil tersenyum.
Rony menggenggam tangan Salma. “Dan Mami mau memberi kesempatan.”
Keluarga kecil itu berjalan ke depan—bukan karena tanpa salah, melainkan karena memilih memperbaiki.