PRETTY BOY
Romance
12 Feb 2026

PRETTY BOY

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download - 2026-02-12T234523.909.jfif

download - 2026-02-12T234523.909.jfif

12 Feb 2026, 17:06

download - 2026-02-12T234525.269.jfif

download - 2026-02-12T234525.269.jfif

12 Feb 2026, 17:06

" Saya Tsevanya Claudiza. Saya pindahan dari Bandung pak. Ini surat - suratnya. " ujar ku pada bapak kepala sekolah.

" oh, jadi kamu siswa pindahan dari Bandung itu? Bapak sudah di hubungi oleh kepala sekolah kamu sebelumnya, bahwa akan ada anak pindahan ke sekolah ini. Baik. Silahkan kamu ke kelas X-1. Ini nama wali kelasmu dan ini buku – bukunya. Kamu sudah tahukan kalau di sekolah ini adalah sekolah asrama? Semua kebutuhan kamu akan di letakkan kamar kamu. Kamu satu kamar dengan dua orang kakak tingkat. Di kertas itu sudah ada nomor kamar kamu." Ujar bapak kepala sekolah sambil menyerahkan secarik kertas bertuliskan nama wali kelas ku dan juga nomor kamar ku serta beberapa buku tebal untuk pegangan belajar ku.

Aku pun beranjak pergi dari ruangan kepala sekolah menuju kelas ku setelah mengucapkan terima kasih. Aku sangat senang akhirnya bisa menjadi salah satu siswa di sekolah yang sangat bergengsi di Jakarta Pusat. Setelah bertanya beberapa kali, akhirnya aku sampai di kelas ku di lantai tiga.

Tok.. tok.. tok..

Setelah di persilahkan, aku segera masuk dan menjelaskan semua kepada guru yang mengajar di kelas X-1 dan kebetulan yang sangat baik bahwa beliau adalah wali kelas ku. Beliau pun dengan senang hati membantu ku untuk memperkenalkan diri di depan kelas.

" Baik anak – anak, ada murid pindahan dari Bandung yang masuk kelas kalian. Silahkan kamu perkenalkan diri. "

" Perkenalkan teman – teman semua. Nama saya Tsevanya Claudiza. Panggil saja saya Vanya. Saya pindahan dari Bandung. Mohon bantuannya semua. " ujar ku memperkenalkan diri ku di depan kelas.

" silahkan kamu duduk di sebelah Friza. Di sebelah kanan baris ke tiga. " ujar beliau sambil menunjuk kursi kosong di sebelah seorang cewek cantik yang tengah tersenyum memandang ku sembari tersenyum lebar.

" hai, Friza kan? Salam kenal. " ujar ku setelah duduk di sampingnya.

" hai juga Vanya, elo satu kamar sama Siapa? " ujarnya.

" gue di kamar 007. Berarti di lantai satu. Elo? " tanya ku.

" gue di kamar 124. Di lantai tiga. Jauh banget kita bedanya. Berarti elo satu kamar sama anak kembar dong? Kak Andrea sama kak Andita. Mereka kelas dua belas. Hati - hati ya elo sama mereka berdua. Mending kalo cuma kak Andita. Kalo kak Andrea nyebelin. Songong. Di tegur gak pernah nyahut. Nggak pernah ngomong sama kita – kita lagi. Dia cuma pernah ngomong sama kak Andita doang. " jelas Friza.

" hah? Serius? Gue belum ketemu mereka sih. Jadinya gak tau deh. Liat aja nanti. Semoga aja gak ada masalah. " ujar ku sambil tersenyum dan berdoa di dalam hati, semoga hari ku akan baik - baik saja selama berada di sini.

" ntar kasih kabar ke gue ya? Nih nomor telepon gue. Kalo ada apa – apa telepon gue aja. " ujar Friza sambil memberitahu sederet nomor yang langsung ku catat di handphone ku.

****

" nah ini kamar elo. Sekaligus kamar kak Dita sama kak Drea. Good luck ya. Gue langsung nih Vanya. Soalnya gue mau istirahat. Capek gue nih. " ujar Friza tertawa seraya beranjak pergi setelah mengantarkan ku ke depan pintu kamar asrama yang akan ku tinggali bertiga bersama kak Dita dan kak Drea.

Ku lirik jam tangan ku, ternyata sudah menunjukkan pukul setengah enam sore. Pantas saja Friza mau langsung istirahat. Aku menghembuskan nafas dengan keras dan berharap semua akan baik - baik saja.

Aku pun langsung masuk kedalam kamar ku yang ternyata tidak di kunci tanpa mengetuk pintu dulu. Namun aku tertegun di depan pintu yang terbuka setelah melihat ada siapa di dalam kamar.

Aku melihat sepasang remaja yang sedikit lebih tua dari ku sedang satu kamar dan wajah mereka mirip bagaikan pinang di belah dua. Anak cowok yang ada di kamar itu langsung menutup pintu dan membekap mulut ku begitu melihat ku di kamar itu.

" Bodoh banget sih lo Dita! Kenapa pintu gak lo kunci! hah?! Begini kan! Elo lagi! Siapa sih elo masuk ke kamar orang gak pake ketok pintu dulu? Gak pernah di ajarin sopan santun?! Hah? " Bentak cowok itu di depan ku.

Tangannya masih membekap mulut ku dan wajahnya begitu dekat dengan ku. Hanya berjarak tak lebih dari dua senti dari wajah ku. Matanya nyalang menatapku dan mengunci tatapan ku kepadanya. Aku mulai berfikir bahwa hidup ku akan berakhir sebentar lagi di tangan cowok ini.

" Tuhan, selamatkan aku. " batin ku takut. Aku yang mulai gemetar nyaris saja mengeluarkan airmata kalau saja cewek yang ada di dalam kamar itu tak bersuara.

" Sorry Ndre. Gue beneran lupa. Lagian mana gue tau kalo bakalan ada yang masuk ke sini. Dua tahun lebih kita di asrama gak pernah kan ada orang yang masuk ke sini. Lebih baik lo kunci tuh pintu dan bawa cewek itu kesini sekarang. Percuma elo marahin. Dia udah tau Siapa elo. " ujar kak Dita melerai antara aku dan cowok itu sambil menyuruh kami berdua duduk di depannya.

" sumpah janji elo gak bakalan teriak apapun yang terjadi? Apapun yang gue jelasin, elo gak boleh teriak! " ujar cowok itu tajam kepada ku.

Aku hanya bisa mengangguk mengiyakan. Dengan berat hati cowok itu melepaskan tangannya pada mulut ku. Aku pun langsung menjauhi mereka berdua. Dan membuat jarak dari mereka berdua yang saat ini tengah memandang ku.

" oke. Kita perlu luruskan ini semua. Gue bakalan jelasin ini semua. Tapi, pertama – tama, elo Siapa? Kelas berapa? Dan elo mau ngapain ke sini? " ujar Kak Dita sambil menatap ku. Nada tegas di dalam suaranya membuat ku tak bisa membantah sama sekali.

" Ehm.. Saya... Saya Tsevanya Claudiza kak. Saya kelas X-1. Saya pindahan dari Bandung. Tadi pagi kata pak kepala sekolah, saya di suruh buat tinggal di kamar ini. Ini suratnya kak. " Ujar ku sambil menyerahkan secarik kertas yang di beri oleh pak kepala sekolah sebagai bukti.

" Sialan tuh kepsek. Malah nih anak di kasih di kamar kita lagi. Gak ada kamar laen apa? Sialan! " ujar cowok itu sambil mondar mandir di sekitar kak Dita begitu membaca kertas yang ku berikan padanya dan Kak Dita.

" udah deh Ndre. Gak ada gunanya elo marah – marah kayak gitu. Sekarang yang penting gimana nasib nih cewek. Jelasin gih. " ujar Kak Dita.

" Ya udah gue jelasin. Lo anak baru dengerin. Kenalin Gue Andrean Dirgantara. Dan dia Andita Dirgasyifa. Gue di sekolah adalah seorang cewek yang bernama Andreani Dirgantari. Gue sengaja pura – pura jadi cewek dan tinggal di asrama bareng Dita, karena dalam silsilah keluarga dari bokap gue, apabila ada anak kembar beda jenis kelamin bakalan meninggal sebelum umur 17 tahun. " Jelas cowok yang bernama Andre itu sambil menatap marah pada ku tapi tak tau harus bagaimana bersikap pada ku.

" Lalu? " tanya ku bingung harus berbuat apa.

" Semua keluarga gue yang kembar tapi beda jenis kelamin selalu aja salah satunya meninggal. Entah anak yang cowok atau cewek. Awalnya gue gak apa – apa sampai SMP karena gue masih bisa saling jaga sama Dita walau pun gue cowok, karena bokap gue bisa ngatur gimana caranya gue selalu sekelas sama dia. Sampai akhirnya Dita menang olimpiade Fisika nasional dan dapat beasiswa di SMA Nirwana ini yang notabene mewajibkan siswa dan siswinya harus tinggal di asrama. Setelah berusaha mencari celah, gue juga masuk sebagai murid di SMA Nirwana. "

" Gue awalnya masih bisa terima, tapi kepsek ngelarang anak cowok sekamar sama cewek walau anak kembar sekalipun. Akhirnya gue sekeluarga memutuskan gue menyamar jadi cewek kembaran Dita supaya bisa satu kamar. Sebenernya gue udah mau berhenti waktu kelas dua. Tapi setelah dipikir – pikir, bakalan ribet kalo pindah menjelang kelas tiga. Dan akhirnya gue masih bertahan sampai saat tadi sebelum elo datang. " Ujar Andre mengakhiri penjelasan dan cerita mereka berdua.

" waw, aku takjub sama cerita kalian berdua. Aku speechless. Aneh banget ih. " kataku sambil geleng - geleng kepala melihat mereka berdua.

" oh ya, Tsevanya... "

" panggil Vanya aja kak. " potong ku pada kak Dita yang memanggil ku Tsevanya.

" Vanya, Sorry ya tadi Andre agak kasar sama elo. Kita berdua cuma kaget kok. Gak ada unsur kesengajaan. " sahut Kak Dita.

" Iya kak. Gak papa. Aku juga yang salah, gak ngetok pintu dulu. " ujar ku duduk di salah satu ranjang yang ada di dalam kamar.

" elo pake bahasa biasa aja. Gak papa juga kok pake 'elo gue'. Gue jelasin, itu pintu yang deket pintu masuk, adalah kamar mandi. Terus, itu ranjang elo, ini ranjang Dita dan ranjang gue di pojok sana. Lemari elo tepat di sebelah ranjang. " Ujar kak Andre sambil menunjuk ke ranjang ku yang bersebelahan dengan jendela dan bersebelahan dengan ranjang kak Dita. Kak Andre pun tak lupa menunjukkan ranjangnya yang sedikit jauh dari ranjang ku dan kak Dita.

Aku pun menganggukkan kepala ku tanda bahwa aku sudah paham dengan ucapan dirinya barusan.

*****

" Vanya, lo gak masuk kelas ya? Kok masih tiduran sih. Ntar elo telat lho. Udah jam berapa nih. " tanya Kak Dita saat bersiap ke sekolah begitu melihat ku masih betah menempel erat dengan bantal, guling serta selimut di atas ranjang ku.

Tak terasa aku sudah sebulan lebih tinggal bersama Kak Dita dan kak Andre. Hubungan ku dengan Kak Dita dan Kak Andre pun cukup bisa di bilang aman dan lancar walau pun tak bisa dibilang akrab untuk ukuran teman sekamar. Karena baik aku dan kak Andre sama – sama menarik diri dan tak pernah berusaha untuk mengakrabkan diri satu sama lain. Hanya kak Dita yang berusaha agar aku, dia dan kak Andre bisa akrab dan bisa seperti layaknya 'kawan sekamar'.

" enggak deh kayaknya kak. Gue hari ini bolos dulu. Gue lagi gak enak badan. Kayaknya gara – gara kemaren aku hujan – hujanan deh sama Friza. Soalnya kemaren badan gue juga udah agak drop sebelumnya. " erang ku malas sambil menenggelamkan kepala ku di bawah selimut seraya mengingat bahwa kemarin sehabis pelajaran bahasa Jepang, aku dan Friza pergi ke danau yang ada di belakang sekolah dan malah asyik bermain di sana, bahkan hingga hujan menguyur pun kami berdua tetap asyik di sana. Dan baru pulang ke asrama begitu senja menjelang dengan keadaan basah kuyup.

" kok elo bisa sakit sih? Udah minum obat belum? Ya udah deh gue bolos juga. Andre, elo duluan aja ke sekolah. Gue bolos. Gue mau jagain Vanya. " Ujar Kak Dita seraya duduk di ranjang ku, tepat di samping tubuh ku yang terbalut selimut dan langsung bicara pada Kak Andre yang baru saja keluar dari kamar mandi.

" Elo sakit Van? Kok bisa? Pasti gara – gara elo main ujan – ujanan sama Friza kemaren. Elo balik ke asrama sampe basah kuyup gitu kemaren. " ujar kak Andre mendekati ku dan memegang leher dan pipi ku. Agaknya sakit ku kali ini membuat dirinya juga kuatir dan tanpa sadar, malah menghancurkan dinding pembatas antara aku dan dirinya sendiri.

" gak papa kok kak. Gue cuma demam aja. Lagian gue udah minum obat. Paling bentar lagi gue udah tidur. Elo berdua pergi ke sekolah aja. Gak papa kok kak. Jangan kuatir sama gue. Lagi pula elo berdua udah kelas tiga. Jangan seenak jidat dong kalo mau bolos. " ujar ku menenangkan Kak Dita dan Kak Andre dan memaksa mereka untuk tetap berangkat ke sekolah.

" oke fine. Gue udah ngambil keputusan. Dit, gue aja yang bolos dan jagain Vanya, elo kan hari ini ada janji sama Ibu Neni buat lomba Fisika Nasional bulan depan. Jangan bantah omongan gue. Dan elo jangan memaksa buat elo yang bolos dan batal ngurus olimpiade itu Ta. " ujar Kak Andre memandang tajam kak Dita tanpa memperdulikan larangan ku untuk bolos dan tetap nekat untuk bolos hari ini.

Dengan keadaan terpaksa dan berat hati akhirnya Kak Dita pun meninggalkan ku berdua dengan Kak Andre di kamar.

" iya deh. Tapi beneran di jagain ya si Vanya Dre. " ujar kak Dita sebelum dirinya keluar dari kamar dan di balas anggukan kepala oleh kak Andre.

*****

" elo ngapain sih kak. Pake acara bolos segala. Elo kan udah kelas tiga. Bukannya makin rajin belajar, malah bolos. " protes ku pada kak Andre yang sedang mengganti pakaian sekolahnya menjadi pakaian santai begitu kak Dita keluar.

" terus siapa yang bakal jagain elo kalo gue gak bolos? Dita? Mana mungkin elo biarin Dita jagain elo kalo elo tau dia ngurus olimpiade. Lagian gue lagi pengen jadi cowok tulen seharian tanpa harus terikat dengan permak – pernik cewek yang bikin gue sakit mata. " ujarnya keki dan berhasil membuat ku tertawa mendengarnya dengan sedikit suara sumbang dan melupakan protes yang baru saja aku keluarkan kepadanya.

" emangnya harus ya elo berdua sekamar? Bisa aja kan elo di kamar elo sendiri dan kak Dita dikamarnya sendiri? Menurut gue itu lebih meringankan elo dan gak harus membuat elo nyamar jadi cewek. " tanya ku pada Kak Andre.

Aku pun berusaha duduk di ranjang ku karena aku mulai merasa tak nyaman harus menempel terus - terusan pada ranjang. Kak Andre cukup terkejut dengan pertanyaan ku yang tiba – tiba membahas masalahnya dan kak Dita.

" gak harus juga sih sebenarnya. Kalo boleh memilih gue juga pengennya kayak gitu. Jadi diri gue sendiri, terus bisa lulus SMA dengan nama gue sendiri dan gak harus ribet dengan semua ini. Tapi, gue gak mau ngambil resiko. Sodara gue cuma Dita aja. Saat gue dan Dita berumur lima tahun, Rahim nyokap gue harus di angkat karena ada tumor yang muncul begitu kami berdua lahir. Alhasil anak nyokap bokap gue ya cuma gue sama Dita doang. Dan kalo gue atau Dita yang meninggal, gue gak bisa bayangin gimana nyokap bokap gue. " jawab kak Andre sambil duduk di ranjang kak Dita, di samping ranjang ku. Dan membuat ku berhadapan dengannya.

" tapi itu kan takdir kak. Gimana pun elo sekeluarga nyoba buat saling jaga kalau pada akhirnya takdir berkata lain gimana? Sorry gue ngomong masalah ini pakai bawa – bawa masalah takdir segala. Tapi gue gak habis pikir aja sama pikiran elo sekeluarga. Bisa – bisanya ngorbanin masa muda dan masa SMA elo dan membuat elo terperangkap sebagai Andrea. " ujar ku tetap tak mengerti.

" yah, kalau ngomongin takdir, gue yakin siapa pun di dunia ini juga gak akan ada yang bisa ngelawan. Tapi setidaknya, kita sekeluarga udah ngelakuin semua cara agar kejadian itu gak terulang lagi. Jadi kalau pun ada yang pergi antara gue atau Dita, gak akan ada penyesalan di sini. " ucap kak Andre sambil menyentuh dadanya berulang kali. Dan berhasil membuat ku menunduk memandang ke dua kaki ku dan terdiam memikirkan perkataannya.

" jangan terlalu di pikirin. Elo itu lagi sakit dan butuh istirahat. Lagian gue sama Dita ngelakuin ini dengan senang hati karena gue bisa saling jaga sama dia. Jadi elo, jangan terlalu mikirin keadaan kami. Tapi makasih elo udah perhatian sama gue sama Dita. " ujarnya beranjak berdiri dan mengacak rambut ku perlahan. Tak lupa dia memaksa ku untuk istirahat.

*****

" gimana keadaan elo? Udah mendingan? " Tanya Friza saat kami antri untuk mengambil sarapan yang prasmanan di ruang makan.

" udah kok. Lumayan kangen lah gue sama elo selama dua hari gak masuk sekolah. " ujar ku tertawa dan membuat Friza ikut tertawa mendengar perkataan ku. Begitu kamu berdua selesai mengantri, aku dan Friza pun mencari tempat yang kosong untuk makan.

" di sini aja deh. Yang lain kayaknya udah penuh. " ujar ku sambil duduk di tempat yang kosong di dekat pintu masuk. Tak jauh dari posisi duduk Kak Andre dan kak Dita.

" oh iya. Gimana rasanya sekamar sama kak Drea sama kak Dita? " ujar friza pelan namun membuat ku mati kutu dengan membuka topik yang paling sangat ingin aku hindari untuk saat ini.

" err... lumayan. Gak begitu buruk lah. Biasa aja sih. Kayak biasa aja. " ujar ku terbata – bata. Aku bingung harus menjawab pertanyaan Friza dengan jawaban yang bagaimana baiknya. Aku tentu saja tak mungkin berkoar - koar masalah kak Andre yang berpura - pura menjadi kak Andrea

" masa sih? Trus kak Drea ada ngomong gak sama elo? Gimana sih orangnya? Suaranya gimana? " ujar Friza sambil terus mendesakku dan membuat ku semakin tak nyaman berada di posisi ku sekarang.

" ya gitu lah. Gue belum terlalu akrab sama mereka. Ya sejenis sama kak Dita juga kok. " ujar ku pelan seraya mencuri pandang ke sosok seseorang yang kini tengah memandang ku dengan pandangan yang tak dapat aku artikan. Kak Andre.

" gitu ya. Gue fikir dia agak freak gitu. " ujar friza. Untung saja Friza sibuk dengan sarapannya dan tak lagi mendesak ku menceritakan bagaimana sosok kak Dita dan kak Andre. Aku pun hanya mengangkat bahu dan mengikuti apa yang di lakukan Friza. Makan.

*****

" Mau ke mana elo Van? Rapi bener. Mau ngedate ya? Sama siapa? Anak kelas berapa? " rentetan pertanyaan di keluarkan oleh kak Andre begitu keluar kamar mandi dan melihat ku sudah rapi. Begitu aku melihatnya, kak Andre sedang bertelanjang dada. Masih ada bulir – bulir air yang aku lihat di tubuhnya.

" aaarggh... Kak Andre. Elo gila apa? Elo lupa ya sama gue? Elo tuh cowok kak. Pake baju kenapa sih. Gue cewek kali. Gak sopan banget sih elo kak. Mana Kak Dita gak ada lagi. Gue risih kak Andre! " teriak ku kaget dan menutup mata ku, begitu melihatnya hanya berkalungkan handuk hitam dan celana hitam hingga lutut. Walau harus ku akui aku sempat melihat tubuh atletisnya sedikit. Walau sudah empat bulan lebih aku sekamar dengan Kak Dita dan Kak Andre, tetap saja aku masih merasa ada yang salah.

" iya bawel. Gue bakalan pake baju. Heran deh, elo tuh adek kelas gue, tapi cerewetnya ngalahin gue sama Dita. Lagian bisa – bisanya gue tahan sekamar sama elo selama ini. " ujarnya beranjak pergi mengambil baju yang ada di lemarinya.

Begitu kak Andre sudah memakai baju, dia langsung mendekati ku dan berdiri di dekat ku. Aku bisa mencium aroma maskulin dari tubuhnya. Aku segera berbalik menghadap ranjang ku dan membelakanginya. Begitu aku sudah membelakanginya, baru aku berani membuka mata ku.

" Mau ke mana elo, Vanya? " ujarnya lembut sembari mengulang pertanyaannya yang tadi dia lontarkan kepada ku namun belum sempat aku jawab.

" mau beli novel sama kamus bahasa Jepang di Mall. Kenapa kak? " tanya ku sambil memainkan Handphone ku dan tetap membelakangi kak Andre.

" elo sendirian atau sama Friza? Atau sama temen elo yang lain? Cewek apa cowok? " tanyanya lagi sambil membalikkan tubuh ku dan membuat ku berhadapan dengannya sehingga aku pun terpaksa menghentikan aktifitas ku dan berganti menatap wajahnya yang berada lima senti di atas kepala ku.

" gue sendirian kak. Kenapa sih? Aneh banget deh. " tanya ku heran melihat tingkah kak Andre hari ini. Bukan hal yang biasanya, dia begitu mencampuri urusan ku. Hari ini aku seperti melihat sosok lain dari seorang Andrean Dirgantara.

" gue ikut sama elo. " ujarnya kemudian.

" hah? Ikut? Ngapain ikut sih? Mau nyamar jadi Andrea lagi? Gak usah deh kak. Gue sendiri aja. " tolak ku halus.

Aku tak habis pikir kalau aku harus pergi berdua saja dengan Kak Andre. Aku tak mau mengambil resiko dia ketahuan menyamar menjadi seorang perempuan.

" gue mau jalan - jalan aja. Elo tenang aja, kali ini gue sebagai Andre kok. Dan elo gak boleh nolak. Titik. " tegas kak Andre sambil mengedipkan mata kanannya ke arahku.

Seolah – olah ingin menggoda ku. Dan nyaris saja membuat ku tersipu – sipu kalau tak mengingat betapa jahilnya sesosok manusia di dekat ku ini.

" mau lewat mana? Mau lewat depan terus ketahuan gitu kalo kakak cowok? gue gak mau dapat masalah, kakak. " tanya ku bingung.

" santai aja kali. gue udah biasa kalo hal – hal beginian. Udah deh, elo terima beresnya aja. Gue jamin aman. Elo gak usah khawatir. Gue juga gak bakalan bikin elo kenapa – kenapa. Elo gue jamin aman kalo di deket gue. " ujarnya sambil tersenyum penuh kemenangan dan tak lupa mengacak – acak rambut ku dengan pelan. Sambil beranjak pergi ke daerah kekuasaannya.

" jelasin dulu. gue mau nyari aman, kak Andre. Gue gak mau tiba - tiba mati konyol karena serangan jantung akibat ulah elo. " tandas ku seraya membereskan rambut ku yang berantakan akibat ulah kak Andre. Dan langsung menarik lengannya agar tetap di dekat ku dan memberi ku penjelasan.

" Jendela di sebelah ranjang gue ini, sebelahan sama pagar belakang asrama. Kalo elo manjat nih pagar, elo bisa langsung berada di jalanan yang ada di belakang area sekolah. Ntar gue ke situ dan nunggu elo di jalan itu. Nah, elo tinggal jemput deh gue. Gampang kan? Udah buruan sana ambil motor. Sekalian bawain helm gue. Awas elo sampai ketahuan. Udah sana pergi, udah cakep kok. " Ujar kak Andre sambil mendorong ku keluar kamar. Dan membuat ku tak bisa melawan perkataannya.

*****

Kembali ke Beranda