MAAFKAN
Romance
11 Feb 2026

MAAFKAN

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download - 2026-02-11T233341.771.jfif

download - 2026-02-11T233341.771.jfif

11 Feb 2026, 16:35

download - 2026-02-11T233340.147.jfif

download - 2026-02-11T233340.147.jfif

11 Feb 2026, 16:35

"Ra, kenapa lo gak nyatet? Tumben. Sakit lo? " Tanya Shea, sahabat ku Saat dirinya melihat ku tengah melamun.

" apaan? " Tanya ku balik sambil tetap memandang seseorang di luar kelas dari jendela di sampingku.

" kenapa lo ngelamun? Ada masalah? Kok elo gak nyatet? " Tanya Shea lagi sambil menyalin catatan teori kuantum fisika di slide yang di tampilkan depan.

" Gak papa kok. Gue liat punya elo aja. " jawab ku sambil tetap melamun.

" masalah sama kak Antra ya? Dari tadi elo ngeliatin dia terus. " Tanya Shea lagi sambil benar - benar menatap ku setelah menyelesaikan satu halaman catatannya.

" he eh. Gue putus sama dia. Dua hari yang lalu. " ujar ku sambil terus menatap lapangan basket di luar sana.

Di luar sana ada kak Antra. Pacar ku selama satu bulan kemarin. Namun kami sudah putus dua hari yang lalu. Aku seakan - akan tak lagi mengenal sosok kak Antra yang ku kenal selama ini.

Masih jelas dalam ingatan ku pertengkaran terakhir aku dengan kak Antra dua hari yang lalu. Kami bertengkar di danau tempat kami pertama kali bertemu. Tempat pertama kali kami berdua merubah status kami menjadi pacar.

*****

" Ra, aku gak suka kalo kamu itu terus – terusan posesif sama aku. Bentar – bentar sms lah, telpon lah. Aku juga butuh privasi Ra. Aku juga butuh bareng sama teman – temanku. Gak harus sama kamu terus. " ujar Antra saat baru tiba di danau.

" apaan sih Ka. Baru datang juga udah marah - marah. Lagipula, aku posesif gimana? waktu kita berdua itu cuma dari sabtu pagi sampe sabtu malam. Udah kan. Dan hari ini hari sabtu kak. Lalu aku salahnya dimana? " tanya ku yang tersulut emosi karena tiba - tiba kak Antra berucap seperti itu.

Tapi sms sama telpon kamu itu ganggu tau gak. Bentar – bentar sms. Kamu gak tau kan kalo aku sibuk. Dasar anak kecil. " jawab Antra.

" aku bukan anak kecil kak. Terus kakak maunya gimana? " tantang ku.

" aku mau kita putus. Asal kamu tau, aku nerima kamu karena aku kasian sama kamu kalo pernyataan cinta kamu aku tolak. Lagi pula kamu itu jadi barang taruhan ku sama anak - anak. Aku sama sekali gak cinta sama kamu. Dan satu lagi. Kamu yang selalu ngejar – ngejar aku. " tandas Antra mengejutkan ku.

Aku cukup terkejut teryata seorang Vantra Ferdinand Sutedja bisa melakukan hal sejahat itu. Aku pun mengerjapkan mata untuk menahan tangis ku yang hendak menyeruak keluar.

" oke kita putus. Aku akan mundur dan menjauh dari kakak. Makasih udah mau jadi pacar aku kak selama satu bulan ini. Oh ya. Sebelum aku pergi aku mau ingetin kakak satu hal. " ujar ku dengan suara bergetar menahan tangis.

" apa? "

" tepat tanggal ini dan hari ini, anniversary kita satu bulan kak. Tanggal 24 september. Sekaligus hari ulang tahun aku. Makasih kejutannya kak. Aku sangat – sangat terkejut dan terluka. " tekan ku sambil beranjak pergi bersama air mata ku yang mengalir. Meninggalkan kak Antra dengan keterkejutan dan penyesalannya.

*****

" Tuh kan, elo ngelamun lagi. Perlu gak gue hajar tuh kak Antra? Keterlaluan tau gak dia bikin elo kayak begini. Padahal kan waktu itu elo ulang tahun? Brengsek tuh ka Antra. " ujar Shea saat lagi – lagi menemui ku tengah melamun sambil menatap sosok Kak Antra yang bermain basket di luar sana.

" udahlah. Gak usah. Mungkin gue harus mundur dari zona yang udah kak Antra buat. Gue emang gak boleh masuk dalam zona kehidupan kak Antra. Emang pantes buat kita putus. " ujar ku sambil menghela nafas dalam.

*****

Tok... tok...

" Masuk. " ujar bu Lina, guru Biologi di kelas ku, saat ada yang mengetuk pintu kelas. Padahal baru saja beliau selesai mencatat bahan untuk ulangan minggu depan.

" permisi bu. Saya ada perlu dengan Maura Winarja. " ujar orang yang mengetuk pintu yang ternyata kak Antra.

" oh, kalau begitu silahkan Maura. Yang lain silahkan lanjutkan mencatatnya. " ujar bu Lina sambil tersenyum.

" maaf bu. Saya gak mau. Saya mau belajar di sini aja. Kalau pelajarannya terlewat, saya bisa gak ngerti bu. " ujar ku menolak tanpa mau menatap wajah kak Antra. Aku sudah bertekad untuk menjauh dari kehidupan kak Antra.

" oh ya sudah kalau begitu. Maaf ya Antra. Kalau bisa kamu silahkan keluar dan tutup pintunya. " ujar bu Lina.

Kak Antra pun akhirnya keluar dengan wajah kecewa. Dan bisa ku pastikan bahwa hampir semua cewek di kelas ku menatap tajam ke arah ku.

Jelas saja. Tidak ada cewek yang gak suka kak Antra di seantero SMA Pusaka.

" Ra, loe yakin mau kayak gini sama kak Antra? " ujar Shea di sela pembahasan Bu Lina.

" ya. Lagipula elo kan yang bilang elo gak setuju gue mengharap kak Antra. Dari pada gue sakit hati setiap dekat dia, lebih baik gue menjauh sejauh jauhnya dari dia. " ujar ku.

" Maura Winarja, Sheanda Zastriani. Kalian mau belajar atau mau ngobrol? Kalau mau ngobrol, nanti saja saat istirahat. " ujar bu Lina. Kami berdua pun langsung tertunduk diam.

Hening.

*****

Aku baru saja menaruh tas ku di kursi saat sebuah tangan menarik tangan ku. Tangan kak Antra.

" ikut gue! " tariknya.

" Enggak. Kita udah gak punya hubungan apa – apa lagi. Kakak gak berhak ngatur aku harus ikut atau enggak sama kakak. Lepasin kak! " tolak ku setelah sampai di depan kelas.

Tentu saja keributan ku dan kak Antra membuat anak – anak di kelas ku yang memang sudah banyak berdatangan terdiam. Kami berdua akhirnya menjadi tontonan anak – anak kelas ku, juga anak – anak yang sedang lewat di depan kelas ku.

" elo gak bisa ngebantah omongan gue Maura. " kata kak Antra.

" oh ya? Tentu aja aku bisa. " tandas ku.

" elo kenapa sih ngehindar dari gue? Elo cintakan sama gue? " yakin Antra.

" Ya, memang awalnya aku cinta sama kakak. Tapi inget kelakuan kakak tempo hari, aku udah muak sama kakak. Aku udah benci kakak. Dan aku, udah gak cinta sama kakak. Aku udah bilang kan? Aku mundur dari kakak. Ngerti kan apa yang aku bilang? Ngerti bahasa Indonesia kan? " ujar ku sambil mengibaskan tangan kak Antra.

" sekarang udah mau masuk. Lebih baik kakak pergi deh. Udah mau bel tuh. " tambah ku sambil kembali masuk ke dalam kelas dan duduk kembali di tempat duduk ku.

Meninggalkan sosok kak Antra yang terdiam memandang ku dengan penuh rasa penyesalan karena ulah nya yang membuat ku bersikap seperti ini.

*****

" Maura! gue punya satu berita buat elo. " teriak Shea saat baru masuk ke kelas sehabis dari kantin.

" Plis deh Shea. Gak usah teriak - teriak kenapa? Gue gak budek kali. Ada apaan sih? " ujar ku setelah dia duduk di samping ku.

" tadi waktu gue lagi di kantin, gue di cegat sama kak Antra plus genknya. Di C-E-G-A-T Maura. " kata Shea heboh.

" terus? " ujar ku acuh tak perduli dengan isi bahasan Shea.

" ya elah Ra, gue udah heboh gini elo Cuma bilang 'terus'? ngebetein banget sih loe Ra. " ujar Shea sewot.

" iya. Apaan? " ujar ku serius sambil menghadap Shea.

" dia bilang dia mau minta maaf. Dia nyesel banget udah mutusin elo. Dia bilang setelah mutusin elo, bukannya seneng dia malah kepikiran elo terus. Dia mau balikkan sama elo. Trus dia bilang dia bakal ngelakuin apa aja buat elo balik lagi sama dia. Menurut gue terima aja lagi. Kayaknya dia jujur kok. Gimana? " ujar Shea panjang lebar.

" kenapa juga gue harus balikkan sama dia? Lo juga bilang kan lo gak setuju sama dia? "

" Tapi Ra, sumpah, mata dia tuh bener bener kelihatan nyesel. Lo tau sendiri kan, mata itu gak bisa bohong. C'mon Ra. " bujuk Shea.

*****

Tret... Tret...

" cek... 1.. 2.. cek... Yaps guy's. Gue Vantra Ferdinand Sutedja. Gue lagi ngebajak sebentar ruang audio mumpung para guru lagi gak ngajar. Gue di sini mau ngasih satu lagu buat cewek yang udah gue sakitin dan udah gue lukain hatinya. Tapi sekarang malah gue yang bisa ngilangin bayangan dia. Gue bener – bener nyesel dan mau ngajak dia balikan lagi. Cewek itu adalah Maura Winarja. Maura, kalo elo denger semua ini, gue harap elo bisa ke sini. check this sound. Letto memiliki kehilangan. " ujar kak Antra sambil memutar sebuah lagu.

......

Tak mampu melepasnya walau sudah tak ada

Hatimu tetap merasa masih memilikinya

Rasa kehilangan hanya akan ada

Jika kau pernah merasa memilikinya

Pernahkah kau mengira kalau dia kan sirna

Walau kau tak percaya dengan sepenuh jiwa

Rasa kehilangan hanya akan ada

Jika kau pernah merasa memilikinya

" apaan sih nih anak. Bikin malu aja. " ujar ku keluar kelas ditemani Shea dan di antar tatapan sinis para cewek di kelas ku.

" itu buktinya kalo dia serius mau balikan sama elo. Tuh dia sampe bikin malu gitu. Udah lah Ra. Terima aja. Gue yakin nih anak tulus kok sekarang. " ucap Shea sambil mengikuti ku menuju ruang Audio.

" Shea. Lo gak liat tatapan sinis cewek cewek di kelas kita? Itu baru di kelas kita lho Shea. Belum lagi seantero jagad raya ini. Kalo dia bikin malu terus, yang ada gue yang selalu di jadiin bulan – bulanan cewek seantero sekolah. "

" itu sih gara – gara mereka sirik aja sama elo. Karena elo pernah pacaran sama seorang Vantra Ferdinand Sutedja. Seluruh planet juga tau kali kalo ka Antra itu cowok yang paling susah banget di kejar. " ujar Shea hiperbolis.

" udah deh Shea. Gak usah hiperbolis gitu. Ka Antra itu udah nyakitin hati gue. " ujar ku sesampainya di depan ruang Audio.

Brakk...

" apaan sih maksud lo kak? Lo tuh bikin malu tau gak. Kampungan! " bentak ku begitu melihat dia duduk melamun di samping peralatan Audio sambil menunggu ku.

" udah datang rupanya elo Ra. Lo ngomong apa barusan? Gue gak denger. " ujarnya memandang ku.

" Apa maksud lo dengan semua ini? Lo udah bikin malu. " ulang ku dengan nafas memburu.

" Maaf kalo gue bikin lo malu. Tapi gue bener bener mau minta maaf sekaligus mau ngajak elo balikan. Gue gak tau musti gimana. Elo selalu aja ngindar dari gue. Memangnya gue senista itu ya Maura? " Tanya Ka Antra seraya berjalan mendekati ku dan membetulkan poni ku yang berhamburan karena aku terlalu terburu - buru keruang Audio.

Aku diam terpaku tanpa bisa melawan saat ka Antra menyentuh poni ku dan membereskan rambut ku yang berantakan. Wajahnya begitu dekat dengan wajah ku. Hanya berjarak beberapa senti saja.

Shea memandang ku dari samping, seolah olah dia berkata " ayo Maura. Lo udah liat perhatiannya. Terima aja kenapa sih? "

" loe mau balikan lagi sama gue Ra? " Tanya Kak Antra penuh harap.

" enggak! Loe tau ka? Hati gue sakit! Gue udah terlalu sayang sama lo. Tapi elo kak? Loe bahkan gak pernah punya perasaan sama gue. Bahkan elo nyakitin gue kak. Lo fikir, dengan lo cuma minta maaf dan minta balikan sama gue, rasa sakit itu akan hilang? Enggak Vantra Ferdinand Sutedja yang terhormat. " ujar ku sambil beranjak keluar dari ruang Audio meninggalkan Shea dan ka Antra yang diam terpaku.

" kakak gak lupa kan? Maura orang yang sangat keras kepala. " ujar Shea begitu ka Antra beradu pandang dengannya. Dan mau yak mau hati Antra mengakui itu.

*****

" Heh! Mana yang namanya Maura Winarja?! Ayo jawab! " ujar salah seorang cewek yang bergerombol datang ke kelas ku yang ku tahu anak kelas sebelas, sekelas dengan Kak Antra. Aku sudah merasa jika mereka akan berbuat sesuatu terhadap ku.

" gue Maura. Kenapa? " tanya ku sambil berjalan menuju mereka berempat.

" gak usah banyak cingcong deh. Ikut gue! " seret cewek yang tadi bicara. Di bantu teman - temannya, dia menyeret ku menuju gudang di belakang sekolah.

" lo! Lo tuh udah untung bisa pacaran sama Antra. Gak usah sok kecantikan deh! Cewek kuper kayak lo aja sok keganjenan. Pake acara jual mahal segala lagi. Sok sok-an pake acara menyek – menyek gitu. Berasa paling oke gitu? Hah? " ujarnya sambil menghempas ku ke kursi yang ada di samping gudang. Dapat ku rasakan punggung dan pantat ku langsung nyeri karena terhempas ke kursi yang ada di sana.

" jawab woy! Punya mulutkan lo! Bisu lo? " ujar teman cewek itu yang bertubuh subur.

Aku tetap diam tak bergeming sambil menatap tajam mereka berempat. Aku tak ingin ribut dengan mereka. Apalagi cuma karena masalah laki - laki. Rupanya kelakuan ku mengundang kemarahan mereka. Mereka hampir saja mengeroyok ku kalau saja kak Antra dan Shea tak datang.

" lepasin Maura! " teriak Antra.

Tak pernah ku lihat Antra semarah ini. Matanya menatap mereka berempat dengan penuh kebencian. Ka Antra berjalan tenang mendekati kami. Saat sudah sampai di hadapan ku, Kak Antra langsung menarik ku menjauhi mereka dan langsung memeluk ku.

" lo gak papa? " bisik ka Antra di dekat telinga ku. Aku pun mengangguk menjawab pertanyaannya. Menutupi kenyataan bahwa tubuh ku sakit karena di dorong oleh mereka.

aku sama sekali tak keberatan di peluk olehnya saat ini. Nyaris saja aku menjadi korban kebrutalan fans - fans Antra yang gila ini. Entah kenapa, aku merasa aman di dalam pelukan Antra saat ini

" gue gak maafin elo semua gara – gara ulah elo semua. Kalo sampai ada apa – apa sama Maura, habis elo semua di tangan gue! Gue bakalan ngaduin semua ini ke kepala sekolah dan elo semua gue pastiin di keluarin dari sekolah ini. " ucap Antra dingin namun menusuk. Nada suaranya tak tinggi, namun aura Antra sangat terasa mencekam dan menyeramkan.

" gue punya bukti loe berempat selalu ngebully beberapa anak di sekolahan ini. Dan gue pastiin, Itu cukup kuat ngebuat kalian mendekam di penjara akibat penganiyaan yang menyebabkan salah satu korban kalian harus operasi di kepala akibat ada penggumpalan darah di otaknya. Dan sampai sekarang, anak itu masih koma di rumah sakit. " ujar Shea sambil menunjukan sejumlah foto. Antra dan Shea langsung membawa ku meninggalkan gudang itu. Meninggalkan mereka berempat dalam ketakutan setelah melihat foto - foto yang di beri oleh Shea.

*****

" elo berdua bakalan beneran ngelaporin mereka berempat ke kepala sekolah sama polisi? " ujar ku saat aku dan Shea di antar pulang oleh kak Antra.

" iya. Mereka udah terlalu banyak ngeresahin anak - anak yang lain. Lo tahu Ra, siswa yang masih koma itu Siapa? " ujar Shea yang duduk di kursi belakang.

" Siapa? Kalo gak salah itu angkatan mereka juga kan? " ujar ku berbalik menatap Shea yang berada di belakang. Sedangkan kak Antra masih berkonsentrasi menyetir karena ada kemacetan. Sesekali dia melirik ku untuk memastikan aku tak apa - apa.

" dia sepupu gue. Udah dua bulan ini dia koma. Sekolah udah bilang kalo mereka sekali lagi bikin kesalahan, mereka langsung di keluarkan. Dan inilah saatnya. Gue sekeluarga udah pernah lapor ke polisi, tapi gak bisa diproses karena gak ada bukti yang memadai. Sampai tadi sebelum nolong elo, gue di kasih bukti bukti foto tadi sama Shea. Shea dapat dari temannya yang rupanya menyaksikan kejadian itu di tempat dia sembunyi. " Ujar kak Antra saat lampu merah.

" trus? Gimana keadaan sepupu loe kak? " ujarku tanpa sadar mengenggam tangan Ka Antra.

" gue gak bisa janjiin kapan dia bisa sadar. Bahkan kedua orang tuanya aja udah hampir menyerah melihat anak mereka semata wayang kayak orang meninggal gitu. " balas kak Antra sambil membalas mengenggam tangan ku dengan tanggan kirinya. Sembari mengelus tangan ku yang berada di genggamannya. Kami bertiga pun terdiam, bahkan hingga Shea sudah turun di depan rumahnya.

" Ra, gue gak nganter loe pulang dulu. Gue mau ngajak elo ke suatu tempat. " ujar kak Antra setelah lumayan jauh dari rumah Shea. Tanpa menunggu jawaban ku, kak Antra menuju arah yang bertolak belakang dari rumah ku.

" Mau ke mana kak? Lo mau bawa gue ke mana? Gue mau pulang aja. Ka Antra gue mau balik sekarang. " ujar ku kaget. Ka Antra tetap membawa ku pergi tanpa memperdulikan penolakkan ku.

*****

" Nih loe minum dulu. " ujar Kak Antra sambil menyodorkan sekaleng minuman dingin kepada ku yang sedang duduk di bebatuan yang menjorok ke danau di bawah pohon.

" Ngapain lo bawa gue ke sini lagi? " ujar ku sambil meletakkan minuman itu di samping ku. Aku melepas sepatu dan kaus kaki ku seraya menengelamkan kaki ku ke danau. Kak Antra pun duduk di sampingku seraya mengikuti ku dan membiarkan celananya basah.

" kenapa? lo gak suka? " Tanya Ka Antra.

" gue udah bersumpah buat gak inget semua yang berhubungan dengan lo. Gue udah berusaha ngelupain elo selama tiga bulan ini. Tapi, elo malah selalu nganggu gue di saat gue mati matian ngejauh dari elo. Gue udah terlalu sakit kalo gue deket elo. " jawab ku sambil menatap kosong ujung danau di seberang kami.

" sebegitu terlukanya elo sama gue Ra? Gue bener bener minta maaf. Gue gak tau bakal ngebuat elo kayak gini. " sesal Ka Antra.

" Seandainya aja gue gak terlalu sayang sama elo, gue mungkin gak separah ini. Tapi sayangnya gue udah terlampau jauh masuk kedalam ini semua. " sahut ku pelan sambil melempar beberapa batu kecil ke tengah danau.

" gue fikir, gue bakal bahagia sama elo. Taunya, elo cuma bisa ngasih sakit ke gue. " tambah ku tersenyum sinis.

" jadi, gue gak ada harapan lagi ya buat memperbaiki semuanya? Gue gak bisa lagi ya ngajak balikan elo? " Tanya kak Antra.

Aku cuma bisa diam tanpa berani bicara apa – apa. Di satu sisi, aku masih sakit hati atas perlakuan Kak Antra tempo hari padaku. Tapi di sisi lain, aku gak bisa bohongi perasaan ini kalo aku masih ada sedikit rasa untuk kak Antra. Dan berharap untuk balikan lagi sama kak Antra.

" Maura, jawab gue. Kalo gue nembak elo sekarang, loe bakal terima gue lagi atau enggak? " Tanya Ka Antra lagi, setelah melihat ku terdiam beberapa saat.

" Entahlah. Tapi akan gue coba buat nerima elo lagi. " ujar ku lirih.

" Hah? Apa? Gue gak salah denger kan? Ta~ tapi, tadi lo bilang lo udah terlalu sakit hati sama gue? " Tanya ka Antra bingung atas pernyataan ku yang di dengarnya.

"Mungkin intuisi seorang wanita. Setidaknya, kalo gue terluka lagi, gue punya alasan yang bagus buat bunuh diri. " jawab ku asal tak perdulu.

" Ra! jangan ngomong gitu! Gue gak suka. Seakan akan gue bakalan kehilangan elo lagi. Gue sayang elo. Gue gak akan nyakitin elo lagi. "

" jangan terlalu maksain. Kita gak tau apa yang akan terjadi didepannya. Jangan berjanji kalo gak yakin bisa di tepati. " ucap ku diplomatis. Aku saat ini sudah tak mau lagi mudah percaya padanya. Biarkan waktu saja yang meyakinkan aku atas dirinya.

" tapi, elo beneran nerima gue kan Ra? Elo beneran jadi pacar gue lagi kan Ra? Iya kan? " desak Kak Antra sambil menatap ku. Aku pun mengangguk membalas tatapannya seraya tersenyum. Ka Antra pun menarik ku berdiri dan langsung memelukku erat.

" gue fikir, gue bakal di tolak untuk kedua kalinya. Gue gak siap buat elo tolak lagi Ra. " ujar Ka Antra di sela – sela pelukannya.

Semoga saja, pilihan ku kali ini benar dan tak akan menyakiti ku lagi. Semoga saja, harap ku. Aku pun menenggelamkan kepala ku di dada ka Antra.

****

Kembali ke Beranda