Temukan Cerita Inspiratif
Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.
Total Cerita
1144
Genre Romance
230
Genre Folklore
228
Genre Horror
228
Genre Fantasy
230
Genre Teen
228
Bahagia di akhir cerita
Dengan langkah malas aku berjalan ke koridor sekolah, melihat nilai ujian sekolah yang sudah tertera di papan informasi. Sebenarnya aku tak perlu melihat ini, toh nilaiku juga rendah.Yaps! Tak meleset perkiraanku, nilai 55 tercantum di situ.Kulihat nama Reyhan, pria yang kusukai, ia memperoleh nilai 100. Tak kisadari senyum terlukis di wajahku, bukannya sedih dengan nilaiku, aku malah senang jika Reyhan memperoleh nilai tinggi.“Eh, senyum-senyum sendiri. Nilai lo 55, bahagia lo?” Tanya Killa temanku.Aku menanggukan kepala, mungkin ia benar-benar anggap aku gila.“minggu lalu 50, sekarang 55. Meningkat kan?” Kataku.Aku langsung pergi menuju kelas, ada Reyhan.Keringat dingin mengalir di wajahku.“Hay Reyhan. Selamat, nilai kamu 100” kataku pelan“Udah biasa dan makasih” Jawabannya cuek dan pergi begitu saja.Cuek banget, pikirku!!Jam pulang.Aku menuju parkiran, ada Reyhan di sana. Senyum ini kembali mengembang. Aku pun menghampirinya.“Reyhan, pulang bareng yok. Kita nonton dulu yuk, ada film enak loh hari ini” kataku semangat.“Kia! Gue gak suka nonton” katanya“Ah, anak sepertimu emang tidak suka seperti itu. Kalau begitu bagaimana jika ke toko buku”“Kia! Apa lo gak sadar? Tindakan lo ini benar-benar bodoh tau gak? Oh ya, gue baru ingat, lo bodoh kan? Sana pergi lo ke toko buku sendiri, gue gak suka jalan sama orang bodoh kaya elo”Aku benar-benar sakit. Aku ingin menangis, tapi aku tau aku kuat.“Kak rey, gimana udah lama nunggui Mika? Maaf ya kak, Mika tadi ke ruang guru sebentar”Gadis itu, siapa dia? Dia cantik, lesung pipinya dalam, hidung mancung, dan matanya besar, tinggi.“Enggak kok Mik, kakak baru aja nunggu, kalau gitu ayo kita pergi” kata Reyhan sambil sinis denganku.Aku benar-benar benci hal ini. Mereka meninggalkanku sendiri di parkiran ini. Kaki ini tak sanggup lagi berdiri, aku terjatuh. Tapi tidak pingsan seperti di sinetron. Tapi tangisan ini nyata!Hujan turun aku masih di sini. Menikmati basahan air. Jam pukul 15:30. Aku masih di sekolah, toh kalau aku tetap di sini sampai malam tak mengapa, karena ku yatim piatu. Tante akan mengunjungiku 3 hari sekali.Jam 18:25 aku, pulang dengan basah kuyup.Rumah mewah ini sangat sepi. Karena aku sendiri, pembantu kusuruh berhenti karena aku malas bersama orang.Badanku demam, ditambah kepikiran Reyhan. Kenapa aku harus mikirin orang yang membenciku?Keesokan harinya aku tidak sekolah! Aku benar-benar sakit, tapi aku tetap belajar di rumah, walaupun aku tak mengerti tapi aku harus tetap belajar, aku mengikuti bimbel di mana mana. Sampai sampai aku berubah menjadi pendiam, gak care sama teman, yang kupentingkan aku harus berubah!!Sampai pada akhirnya ulangan dimulai, dengan mudah kupelajari. Aku bahagia, nilaiku tertinggi, dan Reyhan nilainya 99.Aku sedih, tentu saja. Yang kumau aku dan dia nilai 100.“Kia! Si gadis bodoh ini berubh menjadi anak pintar” kata Reyhan di belakangku.Aku memutar badanku, jantungku berdetak tidak normal. Aku bingung, yang biasanya aku caper, kini aku salting di depannya!“Hanya kebetulan” kataku pelan.“Ha? Kebetulan? Mana mungkin! Kecuali lo nyontek sama orang pintar. Tapi kan lo di kelas low, itu artinya isi kelas lo bodoh semua. Lo mau nyontek siapa? Gue yakin. Lo jadikan peristiwa di parkiran itu sebagai motivasi lo kan? Lo marah gue bilang bodoh, dan pada akhirnya lo berubah! Kia. Liat gue, lo gak perlu harus benar benar bersikap bodoh untuk nunjukin diri lo yang sebenarnya. Lo berubah karena gue kan? Lo suka kan sama gue?” Kata Reyhan panjang lebar. Aku benar benar grogi.“Aku gak suka” aku benar benar gugupReyhan mendekatkan wajahnya ke wajahku. Aku berpikir ini seperti dram Korea. Aku gugup.Kini pikiranku gak meleset lagi, bibir kami bertemu. Ini tempat sepi, namun bisa menjadi ramai.Reyhan mengangkat kepalanya.“Lo gak suka sama gue?” Tanyanya lagi.Aku langsung memeluknya dan menangis.“Reyhan! Aku benci sama kamu. Aku bencii! Kamu selalu buat aku terus memikirknmu, kamu selalu ngasi soal tanpa jawaban yang kutau! Kamu selalu bersikap cuek sama aku, kamu selalu bikin jantungku berdetak lebih kuat. Aku benci sama kamu. Pelukan ini kueratkan, dan Reyhan membalas pelukanku.“Maaf kia, aku cinta sama kamu, dari dulu. Aku gengsi”Reyhan kembali melakukan adegan kiss padaku. Sungguh hari ini, aku bahagia.
Tidak sekalem yang aku pikirkan
Siang itu aku sedang memainkan instagram. di Beranda, aku melihat akun temanku si Ayu mengupload foto, terlihat beberapa orang terdapat di dalam fotonya, mungkin dia bersama teman-teman sekelasnya. kemudian aku melihat siapa saja yang ditag dalam foto tersebut, dan aku menemukan akun bernama “Nadanyasiapa”, karena penasaran kemudian aku lihat, ah ternyata akunnya privacy, sekilas aku dapat melihat foto profilnya, wah ternyata benar, ini Nada anak kelas A yang cantik itu. Aku sering melihatnya di sekolah, tapi mungkin dia tidak mengenaliku. Dengan perasaan galau akhirnya aku follow akun instagramnya, yah dikonfirmasi saja tanpa difollback juga aku udah sangat senang. Aku memang sering melihat Nada, dia cantik dan terlihat kalem. aku suka wanita yang kalem hehe.Malam harinya saat aku membuka instagram, aku terkejut setengah mati. Nada tidak hanya mengkonfirmasi instagram aku, tetapi dia juga follback. Sejenak aku terbawa perasaan.Menjelang Uas aku diajak belajar bareng oleh si Ayu, aku langsung menyetujui karena aku juga bingung tidak mempunyai bahan untuk belajar, belajar kelompok sama anak anak kelas tempatnya kejauhan. Ayu adalah teman sekelasku saat smp, jadi aku sangat mengenalnya.Saat tiba di rumah Ayu aku dipersilahkan masuk oleh pembantu rumahnya, dan alangkah kagetnya saat aku melihat di sana ternyata juga ada Nada, Nada yang membuatku baper setengah mati hanya karena masalah instagram. kemudian aku duduk menghampirinya.“Ayu nya mana?”, tanyaku memulai.“si Ayu katanya lagi jajan dulu”, jawabnya sambil memainkan sebuah tab, ada sedikit kejanggalan pada nada bicaranya.“oh iya”, kemudian suasana menjadi hening, Nada fokus pada tab nya, dan aku fokus memandangi Nada hehe.“btw katanya anak anak kelas D ngadain belajar bareng”, Nada kemudian bicara.hah? dia tau aku kelas d, atau dia bicara pada orang lain. aku hanya diam dan pura-pura membaca buku.“yah dia diem aja”, ucap Nada. kemudian aku perlahan melihat ke arahnya“kamu nanya siapa?”, tanyaku gugup.“duh, emang di sini ada siapa lagi selain kita?”, dia balik bertanya.“oh hehe iya katanya”, jawabku konyol.Suara motor terdengar dari luar, rupanya Ayu sudah datang.“eh Ay ternyata udah di sini”, sapa Ayu padaku. aku tersenyum.“lu lama banget sih yu, dia udah beku tuh nungguin lu”, ucap Nada.“hehe maaf”, jawab Ayu.Aku dibuat spechless, ternyata Nada yang selama ini aku anggap kalem bisa bicara sekasar dan sekeras itu, malahan lebih kalem Ayu daripada Nada. Aku melongo.“Ay lu mau gak?”, tanya Nada ke Ayu menawarkan makanan.“buset dari tadi gue dikacangin terus sama ni orang”, lanjutnya.“oh iya iya nanti kalau mau juga ngambil sendiri”, jawabku, ternyata Nada bertanya padaku. aku benar-benar belum percaya dengan apa yang terjadi.Saat sedang belajar dan membahas soal-soal, Nada memang terlihat sangat pintar, sudah kuduga. yang tidak kuduga sama sekali adalah gaya bicaranya yang kasar dan nyeplos, tidak sekalem yang aku pikirkan selama ini. aku benar-benar dibuat kaget.Belajar selesai saat waktu menunjukkan pukul 11 malam, “nad, kamu pulangnya sama Ay aja, kan sejalur”, ucap Ayu.“lah bilang aja lu males nganterin”, balas Nada. aku hanya terdiam dan memasukkan buku pelajaran ke dalam tas.“say gimana? lu mau gak nganterin gue?”, tanya Nada. sumpah aku tidak salah dengar, dia manggil Say. (aku memang rada baperan).“gak bakalan kotor dan harus dibersihin pake air tujuh ember ini kok motornya”, lanjutnya.“oh i i iya ayo, ayo kalau mau bareng”, responku.Kemudian aku pulang dengan membonceng Nada di motorku. dia memeluk sangat erat, tangannya melingkar di perutku. entah sudah berapa kali aku dibuat baper olehnya, meskipun aku sudah tau dia tidak sekalem yang aku kira sebelumnya.“cieee pegangannya erat banget Nad”, goda Ayu.“berisik lu ah, gue takut”, balas Nada.“lagian kamu gak apa-apa kan Ay aku peluk seperti ini?”, goda Nada padaku, ternyata bisa juga dia bicara selembut itu, ucapku dalam hati.“iya gak papa”, jawabku.Setelah pamitan pada Ayu, aku menjalankan motorku. di perjalanan, Nada banyak bercerita tentang teman-teman di kelasnya padaku, termasuk Ayu. Ternyata Nada benar-benar gampang ramah terhadap orang. Saat aku tanya kok dia tau aku dari kelas D, dia jawab “karena kamu terkenal”, tentunya itu hanya jawaban candaan. Lama-lama aku mulai terbiasa dan aku juga banyak bercerita padanya.Sesampainya di depan rumah Nada, “Ay maaf ya, bicara gue emang kayak gini, nyeplos, tapi aslinya gue kayak cewek biasanya kok hehe”, ucap Nada.“iya gak papa kok, santai aja”, jawabku.“aku masuk dulu ya Ay, kamu hati-hati di jalannya, supaya nanti bisa ketemu aku lagi hehehe”, ucap Nada lagi.“manis banget”, ucapku.“besok kita ketemu lagi ya Ay, yang lancar Uas nya”,“iya Nada, kamu juga yang lancar ya”.Kemudian aku melanjutkan perjalanan, di jalan aku senyum-senyum sendiri. Aku benar-benar senang bisa akrab dengan Nada. Semoga besok dan kapan-kapan kita bisa melewati waktu bersama lagi hihi.. meskipun aku tau kamu tidak sekalem yang aku pikirkan.
Aku mencintaimu
Pukul 05.30 aku mandi, tiba tiba handphoneku berbunyi aku segera mengambilnya ternyata ada sms dari temanku bahwa aku piket hari ini.Oh iya kenalin nama aku Vino Alvian Pratama. Saat ini aku berusia 15 tahun.Di sekolah aku buru buru masuk kelas, tidak sadar aku menabrak seorang cewek dan dia teman sekelasku“Brukkkk…” aku tersandung“Eh… kamu ndak apa apa, maaf ya aku nggak sengaja” ucap Olin teman sekelasku“Enggak apa” kok justru aku yang seharusnya minta maaf soalnya tadi aku buru buru banget” jawabku“Oh… ya udah kalo gitu aku balik ke kelas dulu ya” ucap Olin“Iya” jawabkuLalu aku diberi tugas Bu Rina mengerjakan soal matematika bersama Olin.“Vino nanti sore ke rumahku ya jam 03.00 aku tunggu!” ucap Olin“Iya, nanti aku ke sana” jawabkuSepulang sekolah aku diajak Arvi, Bimo, dan Doni nonton bola secara live, cukup jauh tempatnya. Ada banyak orang di sana rata rata semuanya bersama pasangan mereka kecuali aku dan temanku. Tapi kami tetap enjoy menonton bola bersama.Jam 03.00“Mampus… guys hari ini ada tugas kelompok nih, aku harus ke rumah Olin sekarang juga.gimana nih?” tanyaku pada teman”“Alah lo batalin aja tugas kelompoknya, kita nonton bola aja” jawab temanku“Nggak bisa, besok harus dikumpulin” tanyaku“Yaudah, terserah elo Vin” jawab teman temanku“Oke, aku cabut dulu…” sambil meninggalkan mereka“Aduh gimana nih, udah jam 3 lewat lagi” ucapku dalam hatiAku sampai di rumah Olin jam 04.00Olin menungguku aku takut dia marah padaku.“Kamu gimana sih Vin udah jam segini baru nyampe, lama tau aku nunggu kamu” ucap Olin sambil kesal dan marah padaku“Sorry Lin aku tadi baru aja nonton bola sama teman aku, aku baru inget kalo kita ada tugas kelompok” jawabku“Tau ah.. nggak peduli pokoknya aku ngambek sama kamu” ucap Olin“Ya udah, gini kalo kamu masih ngambek sama aku gimana kalo besok sepulang sekolah aku traktir kamu” jawabku“Nggak, mau ah” ucap Olin“Aku janji bakal traktir kamu sepuasmu” jawabku“Ya udah deh aku mau, janji ya” tanya Olin“Iya aku janji” jawabku“Jangan cemberut gitu jelek tau, senyum dong” jawabkuOlin pun terenyum“Nah, kalo senyum kan cantik” ucapku“Apaan sih kamu Vin” Olin sambil malu malu2 jam kemudian Olin dan Aku selesai mengerjakan tugas dan langsung pulang karna udah jam 06.00“Lin aku pulang dulu ya” tanyaku“Iya, hati hati Vin” jawab OlinSampai di rumah aku langsung mandi dan solat maghrib. Setelah mandi dan solat aku ke kamar. Di kamar kok rasanya ada yang aneh, kenapa aku bisa nyaman di dekat Olin. Aku menghubungi temanku katanya aku proses menuju jatuh cinta. Tapi masa iya aku jatuh cinta, sampai akhirnya aku tertidur pulas sampai pagi.Aku segera bangun dan mandi, bersiap ke sekolah. kali ini aku berjalan kaki“Vino… kamu kok jalan kaki sih, nanti cape lho” ujar mamahku“Ndak apa apa kok mah” jawabkuAku berjalan kaki sendiri, Lalu aku melihat seorang cewek berjalan sendiri, ciri cirinya Putih, Tinggi, Berambut hitam panjang dan Lurus. Dia seperti Olin. Aku menghampiri cewek itu“Hei…” sambil menepuk pundak cewek ituCewek itu kaget, ternyata dia Olin“Kok tumben jalan sendiri Lin” tanyaku“Iya, nih Vin sekali kali lah. Kamu juga kok jalan” jawab Olin“Pengen aja sih. Gimana kalo kita jalan bareng?” tanyaku“Boleh juga, ayo” jawab OlinDi jalan aku bercerita dengan Olin bagaimana rasanya jatuh cinta.sampai sampai cerita yang nggak masuk akal pun kami bicarakan. Tak terasa kami sampai di sekolah“Cie… cie… Olin dan Vino” sorak teman sekelas kami“Apaan sih kalian” jawab OlinKami mengumpulkan tugas kelompok bersama dan senangnya kami mendapat nilai tertinggi“Kring… kring…” bel sekolah berbunyi waktunya pulang sekolah“Vin aku mau es krim beliin dong, katanya kamu janji sama aku” ucap Olin“Iya iya… ayo” jawabkuSetelah membeli es krim kami pergi ke taman dan makan es krim bersama“Kamu ini kalo makan es krim seperti anak kecil aja, belepotan” ucapku“Masak sih, Vin” jawab OlinAku mengusap bibir Olin. Aku dan Olin berpandangan“Kok kamu liat aku terus” tanya Olin“Ihh… geer banget, siapa coba yang liat kamu, kamu juga kok liat aku terus dari tadi” jawabku“Enggak, apaan sih” ucap Olin“Vin ajari aku naik sepeda dong” tanya Olin“Ayo, aku ajari”Aku pun menyewa sepedaDari tadi Olin jatuh dari sepeda, aku mencoba membantunya“Kamu kok naik di belakangku sih Vin, aku bisa sendiri tau” tanya Olin“Udah kamu diam aja nggak usah bawel” jawabkuNggak sengaja aku memegang tangan Olin, Olin menengok ke arahku, jantungku berdebar kencang, aku dan olin saling salah tingkah“Kita pulang yuk udah sore” tanyaku“Oke, kita pulang” jawab OlinDi Kamar aku kepikiran Olin terus entah apa yang terjadi denganku. Aku berfikir dan terus berfikir akhirnya aku menemukan jawabannya bahwa aku suka sama OlinDi Sekolah…“Vin ajari aku soal ini, soalnya sulit banget?” tanya Olin“Yang ini, Ambil penghapus ini salah jawaban kamu” jawabkuOlin mencari penghapus tapi tidak ketemu aku menemukannya lalu Olin juga menemukannyaAku mengambil penghapusnya Olin memegang tanganku dan kita saling berpandangan.“Cie…cie…”Lama berpandangan kami tidak sadar bahwa kami saling berpandangan di dalam kelas“Eh sorry Vin” tanya Olin“Ndak apa apa aku malah seneng kok” ups aku keceplosan“Apa katamu” ucap Olin“Eh ndak apa apa, lupain aja” jawabkuDi Kantin kami makan bersama“Lin coba deh, kamu ke lapangan nanti aku nyusul ke sana” tanyaku ke Olin“Ngapain Vin” jawab Olin“Udah ke sana aja, mungkin ada surprise” ucapku“Ya udah deh aku ke sana”Di lapangan Olin bertanya di mana aku“Eh kamu tau nggak Vino di mana” tanya Olin“Nggak tau”“Coba deh Lin kamu lihat di belakang ada tulisan apa buat kamu”Olin berbalik badan dan ada tulisan dari lantai 2VIOLINA I LOVE YOU“Itu maksudnya apa” tanya OlinAku menepuk pundak Olin“Olin…” ucapku“Vino jelasin ke aku ini maksudnya apa” tanya Olin kebingungan“Olin sebenarnya aku mau ngomong sesuatu sama kamu” jawabku“Ngomong ap Vino” jawab Olin“Olin sebenarnya aku udah suka sama kamu, entah kenapa saat kau berada bersamaku aku merasa nyaman, setiap malam aku selalu memikirkanmu, aku menunggu waktu yang tepat untuk mengutarakan perasaanku ini, dan hari ini adalah waktu yang tepat. Olin aku sangat mencintaimu. Kamu mau jadi pacar aku?” tanyaku sambil memegang tangan Olin“Emt… oke aku jawab. Sebenarnya aku juga suka sama kamu dan aku nyaman banget saat berada di dekatmu” jawab Olin“Jadi gimana Lin kamu mau kan jadi pacar aku?” Tanyaku“Iya, aku mau jadi pacar kamu” jawab Olin“Cie… cie… jadian nih” sorak teman kamiAku langsung memeluk Olin di depan teman temanku.Hari ini adalah hari yang sangat bahagia buatku.
My Ending
Braak!Aku membanting pintu kamarku Tanpa menghiraukan teriakan mamaku. Aku sangat kesal karena pacarku yang bernama Angel itu selingkuh sama sahabatku sendiri, Storm. Yah gimana lagi Masa sih aku mau marahin dia, Kan itu keputusannya sendiri.Tak terasa aku tidur setelah membaringkan diriku di kasurku yang empuk ini. Jam 16:30 aku terbangun.“Ya Allah hampir buka. Aku ini kok selalu ketiduran sih?!” marahku pada diriku sendiri. Gile kali ye?Aku pun menuju dapur dan melihat kulkas. Ternyata masih Ada ikan salmon dan tuna. Setelah dicek lagi bumbunya juga ada. Garam, gula, sayur, margarin, dan sebuah minyak zaitun. Aku pun memanaskan wajan dengan minyak goreng. Lalu mencelupkan 4 potong ikan tuna. Atasnya diolesi margarin, Dan minyak zaitun. Tunggu 5 menit, masukan Sayur kecil Dan dibolak-balik ikan tunanya. Selesai deh.Aku mengambil 4 piring Dan menata layaknya seorang Master chef sejati. Aku pun menghidangkan itu di meja makan. Setelah selesai aku segera menuju kamar ibuku, ayahku, Dan kakakku Reno. Aku membangunkan mereka Dari tidurnya. Setelah itu kami ke meja makan Dan duduk di kursi masing masing.“Dug… dug… dug… Allahu Akbar… Allahu… Akbar”Kami mendengar suara adzan maghrib berkumandang. Setelah membaca doa aku pun segera makan dengan lahap.“Ting Ting” bunyi line i-phoneku menunda makan. Aku segera melihatnya Dan tertera nama Rizal di situ. Aku lihat line-nya.Rizal OnRizal: Hei, Ra. Ada kabar bagus, kamu lulus!?Mira: Oh, beneran? thank you?Rizal: Gak usah lebay gitu deh!yang lulus cuma kamu Dan lainnya jeblok termasuk aku?! jadi Pak Rudi nyuruh semua ulangan lagi termasuk kamu! hahahahahaha!?!Mira: Eh, beneran?!?Rizal: BenerMira: Ya udah bye!Rizal: Bye!Rizal OffHadeh hadeh, beneran gak kuat gue hidup kaya gini. Tapi mau apa lagi gue terpaksa kan? Langsung ku berlari menuju kamarku Dan berganti pakaian selutut karena Ada janji Jalan sama Sally. Kukendarai motor ini dengan kecepatan melebihi 20 Dan akhirnya Aku sampai di rumah Sally.Ting Tong. Kupencet belnya berkali-kali namun tak seorang pun keluar Dari rumah mewah tegak itu. Temanku Sally orang kaya. Karena aku pasrah aku memutuskan Akan kembali ke rumah. Namun sebuah BMW silver berhenti di depan rumah Sally Dan aku lihat itu Ternyata Sally dengan pacarnya Dimas.“Lo udah nunggu Dari tadi? Ayo masuk!” ucap Sally.“Iya” jawabku.Kami bertiga pun duduk di sebuah sofa ruang tamu dengan tv LED 60 inc di depan kami. Nama film yang kami tonton adalah film romantis “Don’t Like Your Enemies”. ‘Hem, boleh juga film in nih’ aku mengatakannya dalam hati. Kenapa kalian tahu aku bicara begitu? Karena semua film yang kutonton sangat membosankan. Dan ini yang Hanya membuatku kagum. Tentang bahwa kau jangan pernah menyukai musuhmu, jika itu terjadi maka kau Akan menyukainya, Asli!! Tiba-tiba lampu mati Dan kami semua panik. Aku merasa seperti sedang Ada yang memegang tanganku Dan kemudian mengikatnya dengan rantai.Lampu dihidupkan kembali kami bertiga sudah dirantai. Bukan bertiga, tapi berdua. Aku Dan Sally. Dimas pun tersenyum sinis. Di belakangnya terlihat Angel yang juga tersenyum sinis. Aku ingin memberontak namun Tiba-tiba? tubuhku dipegang Dan aku didudukan di kursi lalu diikat. Angel perlahan mendekatiku.“Apa kau puas ha?!” teriak Angel tepat di depan wajahku.Aku hanya diam tak menjawab.Plaak!Sebuah tamparan mendarat di pipiku.“Jawab!” bentak Angel lagi.“Ya Dan kau bisa pergi kah?!” balasku tak mau kalah.Plaak!Sebuah tamparan lagi mendarat di pipiku.Angel mundur Dan Dimas mendekatiku.“Sally sudah kubunuh! lihat sebelahmu!” perintah Dimas lalu memgang daguku Dan mengarahkannya kepada Sally. Dia di ******* berkali-kali sampai tubuhnya lemas. Namun karena tak kuat akhirnya Sally mati.Dia mengembalikkan daguku seperti tadi. Lurus menghadap Dimas Dan Angel. Mereka berdua mendekatiku Dan mengelus lembut pahaku. Setelah itu Angel mencium bibirku. Aku hanya menangis Dan terkulai lemah tak berdaya di depan mereka berdua. Setelah itu aku sudah tak virgin lagi. Aku memutuskan untuk bunuh diri saja.Dan inilah akhirku yang menyedihkan.
Karamel
Rey lupa kalau dasinya terbawa oleh Pandu. Sialnya Pandu udah ngebut sama motornya. Ah! Bagaimana ini, jika dasinya tidak ada Rey akan kena hukuman saat upacara hari senin.Rey berlari mengejar Pandu, semoga belum jauh. Karena jam pulang sekolah yang sudah tiba, banyak siswa-siswi yang berlalu lalang ingin pulang. Membuat Rey susah untuk berlari cepat. Tiba-tiba…“BUG!”Seseorang terjatuh tertabrak Rey. Ternyata siswi memakai hijab yang terbentur oleh Rey.“Eh maaf, maaf. Gue gak sengaja. ”Cewek itu tidak apa-apa, tapi ia seperti mencari sesuatu.“Tapi, novel punya gue…”Rey segera mencari novel di sekitarnya. Tertemu! Rey mengambilnya, membaca sekilas judulnya."Moccacino." batin rey. Dan, ia segera memberikannya, lalu meminta maaf.Hujan langsung turun deras tiba-tiba. Membuat Rey mampir ke kedai yang berada di dekat sekolahnya. Itung-itung sambil meminum kopi.Ia duduk di kursi dekat dengan jendela, dan memesan kopi kesukaannya. Pesanan datang. Ia segera meminunnya sebelum kopinya dingin. Sekali-kali melihat hujan lewat jendela, melihat orang yang baru saja memasuki kedai.Tanpa sengaja, melihat sesuatu yang ia kenal dari bangku pojok. Novel itu! Novel yang sedang dipegang seseorang dengan menutupi wajahnya. Novel yang dua hari lalu tidak sengaja ia lepas.Seorang cewek berseragam putih abu-abu mengenakan hijab. Apakah dia yang kemarin? Pemilik novel yang tidak sengaja terbentur? Hari itu Rey tidak melihat wajah jelas. Rey terfokus oleh dasinya yang terbawa oleh Pandu. Dan, novel itu apakah dia?Tapi, novel itu tidak hanya dimiliki oleh cewek yang kemarin, bukan?Rey menepis jauh-jauh pikirannya tentang novel dan pemiliknya. Tapi Rey juga penasaran.Rey kembali meminum kopinya. Nampaknya hujan di luar sudah reda. Cewek itu pergi pergi meninggalkan kedai. Ah, sialnya Rey tidak melihat wajah lagi.Seusai shalat Dzuhur di masjid dekat sekolahnya ia segera memakai sepatu. Sambil tersenyum dan mengingat kejadian Edyta ucapan terimakasih kepada Rey karena telah menjawab bukunya yang tertinggal di kelas. Edyta, cewek yang diam-diam Rey kagumi, tapi sayang Edyta sudah menjadi milik.Sambil terus memakai sepatu, matanya tertarik pada sneakers putih yang terjejer di rak. Pasti ini sepatu cewek, batin Rey. Sepanjang memakai sepatu matanya masih memperhatikan sepatu kets putih tersebut.Rey mampir lagi ke kedai. Ternyata di situ ada Pandu. Anak pemilik kedai. Rey menghampiri Pandu. Mereka melakukan salaman ala mereka setiap bertemu.“Tumben.” kata Pandu, mengisyaratkan Rey yang selalu mampir ke kedainya. “Iya, lagi mau istirahatin pikiran. Jadi ketua kelas ribet. Belum lagi tugas, anak-anak yang diatur! ” jelas Rey.“Eskul lo gimana, bro? Jadi ketua eskul enak nggak? ”“Pusing juga. Anggota lukis masih dikit. Gue sih berharap banyak yang minat dilukis. ”Cerita rey dengan muka sok-sokan capek. Tapi dia emang capek beneran.“Ya udah, gue udah pesenin kopi kesukaan lo. Maccacino. ” Rey menerimanya.Keduanya menyeruput perlahan kopinya.Lagi dan lagi. Sosok cewek di sudut kedai isi informasinya dan membuat ia kepo. Cewek itu masih dengan pose membaca buku seperti menutupi, menutupi wajahnya. Rey mencolek Pandu.“Lo liat cewek di pojok sono gak? Itu siapa sih? ” Pandu memperhatikan sebentar.“Gak tau gue. Gak kenal. Gak pernah liat juga. ”“Siapa ya?”“Tapi yang pasti sih, tadi gue denger dia mesen Moccacino.”“Apa ?!” Rey mengerutkan dahinya.“Lo kenapa, laki-laki?”“Nggak, gue aneh aja. Dia mesen kopi kesukaan gue juga. ” Pandu mendorong pelan bahu Rey.“Yang suka Mocca banyak kali, Rey.”“Dan, yang lebih aneh, novel yang dia baca dengan judulnya Moccacino!”Pandu tidak percaya. “Masa? Eh tapi simple sih, tandanya dia suka Moccacino. Gak usah histeris deh. ”Rey masih menerka-nerka dan masih sangat penasaran dengan cewek itu. Ya, si Moccacino.Pandu dan Rey berjalan menuju Masjid untuk menunaikan shalat Dzuhur.“Nanti lo promosiin eskul lukis ke temen-temen lo.” pinta rey."Menyesap."Shalat Sesudah Dzuhur, Rey segera memakai sepatunya. Tiba-tiba ia teringat si Moccacino. “Nanti gue mampir ke kedai lo, ya?”“Yah, Rey. Hari ini mau tutup cepet, gue sekeluarga mau jenguk nenek gue, sakit. Makanya ini gue mau pamit duluan, ya? ”Pandu langsung pergi.Rey mengangguk. Matanya tertuju pada sneaker putih di rak.“Itu kan sepatu yang kemarin.”Rey salut sama pemiliknya, pihak itu. Ketika bel pulang dibunyikan semua sibuk untuk cepat-cepat pulang, karena memang bel pulang pas dengan adzan dzuhur, tapi tidak dengan pemilik sepatu itu, ia malah mendahulukan kewajibannya terlebih dahulu. Rey tersenyum ke arah arah sepatu itu. Dan, segera pergi.Rey jadi jarang ngeliat si 'Moccacino' itu di sudut kedai. Biasanya ia di situ. Rey masih penasaran. Dan, akhir-akhir ini ia jadi sering melihat sneakers putih di rak masjid seusai shalat.Rey lagi capek banget sama semuanya. Tugas yang tidak pernah ada habisnya. Anak-anak yang diatur, eskul yang anggotannya masih sedikit.Ia rebahkan tubuhnya di rumput taman, dibawah pohon yang rindang. Langit yang biru. Semoga cara ini bisa meminimalisir penatnya.Angin yang berhembus membuat Rey ingin tertidur. Perlahan ia pejamkan matanya. Baru saja ingin tertidur, ada panggilan masuk dari hp Rey dan ia segera mengangkatnya. Dari Pandu.Oit?“Lo di mana? Tadi ada cewek nunjukin hasil lukisannya ke gue. Dia mohon-mohon biar masuk ke eskul lo. Gue bilang, gue bukan ketuanya, temen gue ketuanya. ” suara Pandu di seberang sana.“Ya udah, nanti lo ajak ke sini aja. Gue di taman biasa. ”“Oh, ya udah. Oke. ”Rey menutup teleponnya. Langit biru, angin sepai-sepoi, mengantuk. Dan, akhirnya Rey tertidur pulas.Rey merasa gempa bumi. Ia membuka matanya sedikit demi sedikit. Pandu membangunkannya dengan mengoyak-oyak tubuh Rey.“Eh!”Rey bangkitkan tubuhnya. Nyawanya belum lengkap kumpul.“Edyta mana? Ah, dia jalan sama Gilang! ” ucap Rey ngaco.“Elo kenapa, sih? Mimpi, ya? ”Rey menepuk dahinya secara berulang-ulang.“Cuma mimpi, sialan!”“Tapi emang Edyta udah jadian sama Gilang. Udahlah, ayo lanjutkan. Jangan terus-terusan berharap, Rey. ”Rey merasa udah waktunya buat nggak ngarepin Edyta lagi.Cewek yang mau masuk eskul lo, tuh!Cewek itu menghampiri. Rey menoleh. Cewek tersenyum sambil menunjukan hasil lukisannya yang bergambar secangkir kopi.Rey melihati cewek itu dari atas hingga bawah. Oh, tuhan! Novel yang dipegang itu, novel yang dibaca oleh cewek yang di kedai, bukan? Ah iya!Apalagi ini? Sepatu. Sepatu yang ia kenakan sekarang. Sepatu yang sering ia lihat dimasjid usai shalat. Beneran itu sepatunya.Rey kembali melihat wajah cewek itu. Ia tersenyum. Sesekali nyengir kawat giginya. Ah, manis.Gue mau masuk eskul lo. Gimana lukisan gue? ” dia Berbicara dengan Rey.“Oke, bagus kok. Eskul hari senin sama kamis. " Rey Berbicara agak sedikit gugup. Rey melihat cewek ini seperti melihat hijab Ashilla Zee vesi.“Lo anak kelas?”“Sebelas Bahasa.”“Kok gue gak pernah li…”“Iya, tadinya gue di Ipa, karena Bahasa peminatan baru, gue pindah.”Kenapa?“Karena, gue rasa di Bahasa ada jalan menuju cita-cita gue.”Rey melihat novelnya. Ah, cita-citanya pasti mau jadi penulis. Tapi, kenapa bicaranya mirip Ashilla Zee juga.“Terus nama lo?”"Karamel.""Hah?"“Ya, Karamel. Dan, saya suka Moccacino. ”Ah, benar! Ini cewek yang tidak sengaja terbentur oleh Rey waktu kejadian dasi itu. Semoga ia tak ingat!Ada suara panggilan masuk dari hp Pandu. Setelah diangkat ternyata dari Ibunya untuk segera kekedai untuk membantu melayani. Pandu pamit kepada Rey dan Caramel.Rey jadi penasaran banget sama cewek ini. Setelah melihat sepatu yang dikenakan Karamel, ia mengingat sepatu yang berada di rak. Dan, ketika tahu pemiliknya, Rey jadi jatuh cinta untuk pertama kalinya bertemu. Sekarang.Rey ajakan Caramel berjalan-jalan sekitar taman. “Alesan lo lukis gambar kopi itu, apa?”“Ini Moccacino sebenernya. Gue suka aja sama kopi. Dari kopi lo bisa belajar ngga selamanya hidup lo pait. Buat jadi manis kadang lo harus ngasih sesuatu di kehidupan lo biar jadi manis; gula. "Rey ngerti sekarang, kenapa sewaktu dikedai ia memesan Moccacino, novelnya juga, bahkan lukisannya.“Tapi kalo hidup lo gaselamanya manis, gue sih lebih banyak deketin diri sama yang maha kuasa.”Rey berfikir lagi, mungkin ini alasan sang sepatu itu selalu ada di rak.'Gila nih cewek dari ngomongnya aja udah puitis banget' batin Rey.Rey? panggil Caramel. Rey yang sedari tadi diam saja.“Lo tau nama gue?”“Ya taulah. Reynaldi Adiyoda, sebelas sosial, ketua kelas? ”Lo kepoin gue?“Nggak, Rey. Tadi temen lo ngasih tau gue. ”Rey kege'eran. Ia menggaruk sebuah kepalanya yang tidak gatal. Rey ajakan Caramel duduk di kursi yang belakangnya air mancur. Caramel lagi sibuk balas chat sepertinya, sesekali ia selfie, dan ajak Rey untuk selfie besamanya.Ternyata Caramel bukan cewek yang cuek dan dingin. Rey jadi senyum-senyum sendiri. Karamel sibuk berselfie. Rey menulis sesuatu di kertas, kemudian diberikannya pada Caramel.Buat gue?Karamel mambacanya dalam hati.“Aku jatuh cinta padamu, sejak pertama kali kita ketemu. Novel waktu lo jatuh. Kedai kopi. Sepatu di rak masjid. Walupun hari itu gue galiat jelas lo, dan sekarang gue bisa liat lo secara jelas. ”
Aku jatuh cinta
Aku merasakan cinta untuk pertama kalinya, saat ini aku tengah duduk di kelas 2 smp, aneh memang, menurutku usia itu belum cukup dewasa untuk merasakan cinta, namun itu lah kenyataannya aku jatuh cinta padanya, dia tidaklah badboy di sekolahku, dia juga tidak begitu aktif dalam organisasi.Kebanyakan dari temanku mengatakan, “lihatlah dia tidak begitu tampan, lalu mengapa kau menyukainya?” ucap mereka, namun sayang aku tak peduli dengan ucapan mereka, tidakkah mereka pernah mendengar cinta tidak memandang fisik!! dia manis sangat manis malahPagi ini aku berangkat ke sekolahku, pukul 6.15 yah aku termasuk murid yang cukup rajin, tidak sulit kan bangun pukul 05.00 dan datang lebih awal ke sekolah? aku memasuki kelas yang terpampang dengan jelas “8.4” sepertinya aku tidak sendiri, karena aku mendapati tas yang ada di bangku urutan pertama di sudut kelas, dialah orang yang aku suka, dia menatap layar ponselnya, dia sangat manis, setelah itu aku melihatnya mengeluarkan sebuah buku, aku mengenal buku itu, buku petak petak yang sering dianggap pelajaran tersulit di sekolah, matematika, 5 menit berlalu dia tampak menggaruk tengkuknya kebingungan, aku mengeluarkan buku yang sama dengannya dan menghampiri tempat duduknya, “ini!” ucapku mengulurkan buku itu mengingat hari ini ada pekerjaan rumah yang kuyakini dia pasti lupa memgerjakannya, dia menatapku, dan dengan segera mengambil buku yang aku ulurkan itu, dia tidak mengatakan apapun! namun disaat dia sedikit menunduk untuk menyalin pekerjaan rumahku, aku melihatnya tersenyum sangat manis. aku pun ikut tersenyum.Semenjak kejadian itu, aku semakin berani untuk menatapnya, di saat dia membalas tatapanku, aku tidak lagi memalingkan wajahku, terkadang dia lah yang terlebih dahulu memalingkan wajahnya, pertanda dia agak salah tingkah dengan tatapanku, sepertinya dia tau bahwa aku menyukainya. mungkin..Selama beberapa bulan hubunganku dan dia tidak berjalan membaik, hanya biasa biasa saja, kami hanya layaknya teman, pernah waktu itu pembagian kelompok dan dia menyarankanku untuk satu kelompok dengannya, saat itu aku mendengarnya berbicara dengan teman karibnya, “kania dia pintar, bagaimana kalau dia satu kelompok dengan kita?” ucapnya, lalu temannya memjawab “kania sudah mempunyai kelompok!” apa aku hanya dimanfaatkan olehnya? apa cintaku untuk pertama kali ini harus disia sia kan olehnya? seiring waktu aku mulai menyadari bahwa dia memang memanfaatkanku! buktinya di setiap ada tugas di pasti meminta bantuanku, dan setelahnya itu dia menghabiskan waktunya untuk bercanda ria dengan teman cewek di sekitar barisan bangkunya.“kau lihat, seharusnya kau melupakannya!” ucap wita padaku, dia teman satu banngku denganku dia cukup dekat denganku,“iya kau benar!” balasku padanyaSetelah kenaikan kelas 9 ini aku mencoba melupakannya, seringkali aku melihat di akun sosial medianya, kalau dia sudah menjalin hubungan dengan perempuan kelas lain, aku hanya menantinya! ya padahal aku sudah mencoba untuk melupakannya, namun nihil.. Cinta ini masih menancap di relung hati ku, benar kata orang “cinta pertama sulit untuk dilupakan”
Sebatang coklat
Setelah usai pembagian kelompok untuk mengikuti kegiatan MPLS SMAN 22 Bandung selama 3 hari kedepan, akhirnya aku mendapat kelompok 3 “Panda”, bergegas aku memasuki ruangan kelas tersebut untuk mendapatkan tempat duduk dan berhubung aku siswa baru pindahan dari padang tentunya belum ada teman yang kukenal. Aku memberanikan diri untuk say hay ke teman lainnya walau hampir satu kelompok itu kebanyakan anak cowok.Tak lama kemudian datanglah rombongan kakak kelas yakni OSIS ke ruangan kami, dengan gaya dan karakter yang berbeda tentunya, mereka memperkenalkan diri dan menjelaskan acara kegiatan MPLS selama 3 hari kedepan. Sekitar ada 4 anak OSIS yang stay di ruangan kami untuk mengawasi kegiatan MPLS dan pastinya mereka baik, ramah dan cakep-cakep.Acara selanjutnya ialah pemilihan ketua pleton serta pengenalan diri kepada teman lainnya. Lantaran aku anak pindahan dari luar kota jadinya aku ditunjuk untuk menjadi ketua pleton. Di sini aku harus kerja keras mendekatkan diri pada mereka dan membuat kelompok ini menjadi yang terbaik dari yang terbaik.Dihari pertama tentunya kami hanya melakukan pengenalan diri satu sama lain, dengan cara bermain berbagai game untuk lebih dekat satu sama lain. Asyik bareng teman baru itu ternyata lebih seru deh apalagi dikoordinir sama kakak kelas yang cakep-cakep. Seharian penuh kita asyik main game bersama sehingga membuat mereka iri dengan kelompok kami. Dan lantaran kakak kelas itu selalu dekat sama aku ketika mengatur permainan tiba-tiba dateng lah seorang cewek yang langsung marah-marah sama aku,dan ternyata itu pacarnya kakak kelas yang cakep itu. OMG!emang nasib anak baru itu gini kali yah? sial mulu…Untunglah kakak kelas itu justru membelaku dan malah balik marah sama pacarnya. Agar tidak merusak hubungan mereka aku akan menjauhi kakak itu selamanya, walau sulit untuk diwujudkan.Di hari Ke-2 kegiatan kami ialah diluar kelas, kami akan mengamati secara langsung lingkungan SMA tersebut dengan diGuide sama kakak OSIS yang kemarin. Seharian penuh kami berada di luar kelas, mengamati lingkungan sekolah yang luas nan hijau. Alangkah indah dan segar alamku apalagi bisa menikmatinya bersama teman baru yang luar biasa ini.Di-3 jam terakhir sebelum kami pulang kami diberi tugas kelompok oleh kakak OSIS untuk mencari benda yang telah ia sembunyikan. Berhubung aku lagi menjauh dari kakak kelas yang kemarin, jadinya aku mengatur timku sendiri dan tampak nya kakak itu selalu ingin membantuku tetapi aku menolaknya. Ketika Kakak itu mulai heran ada apa denganku tiba-tiba menjauh darinya akhirnya, ia memnyuruhku untuk tidak bergabung dengan yang lain melainkan melakukan tugas secara individu. OMG! Hellow aku ini siswa baru belum tau benar isi SMA ini, malah disuruh cari barang secara individu lagi, nasib nasib…Sudah hampir 2 jam aku mencari benda itu tak kunjung ketemu, keluh kesalku mulai terlihat ketika melihat teman yang lain sudah dapat banyak bendanya. Hmm apalah dayaku, akhirnya aku memutuskan untuk menyerah dan tentunya aku harus terima hukumannya dari kakak kelas itu. Dan hukumannya aku disuruh dateng ke kelas lain terus aku harus menunjukkan bakatku seperti menyanyi, puisi, speech, main gitar, bahkan nembak cowok.. Gila kan? pembalasan macam apa ini. singkat cerita aku lakuin semua perintah dan disitu aku sungguh malu, dan langsung pulang tanpa pamit lagi seusai melakukannya.Keesokan harinya aku menemukan sebatang coklat di mejaku, kuabaikan coklat itu lantaran aku telat dan langsung menuju lapangan untuk baris karena ini hari terakhir MPLS nya, ketika mau turun tangga aku terkujut aku melihat ada sebatang coklat lagi di tangga, “heran coklat siapa sih itu dibuang-buang” ujarku.Setelah selesai baris aku menuju kelas lagi untuk mengambil tas dan bergegas pulang karena aku akan pergi untuk selamanya dari SMA itu alias aku pindah Sekolah lagi, karena ada sesuatu yang gak bisa dijelasin. Di sisi lain kakak itu kaget mendengar kabar bahwa aku mau pindah, singkat cerita ia mengejarku saat aku mau mengambil tas dan ketika aku keluar kelas hampir saja aku jatuh dan untung aku diselamatin kakak itu. Dan dia berkata ‘kamu mau ke mana? jangan pergi ya, tetaplah di sini bersamaku, maaf jika kakak kemarin udah nyusahin kamu tapi sebenarnya.. langsung aku potong “hmm iya kak gak papa, maaf kak aku mau pindah sekolah jadi gak bisa stay di sini lagi, oh ya makasih ya kak 2hari nya, senang bisa kenal kakak,oh ya udah kalo gitu aku pamit ya kak.. permisi byee.“eitss tunggu” smbil menarik tanganku “terimalah coklat ini,walau hanya Sebatang Coklat namun ketahuilah dengan coklat inilah yang bisa mewakili perasaan kakak ke kamu yang gak ada habis-habis nya ya kayak SEBATANG COKLAT ini” ujar kakak OSIS sambil memberikan Coklat.“Uhh makasih ya kak aku sayang kakak, cinta pandangan pertama saat MPLS” sambil pelukan “Kamu hati hati ya di sana bye love u i’l miss u forever… kamu adalah pengagum rahasiaku” ujar kakak OSIS
Persahabatan
Mentari begitu terang menyinari bumi ini memberikan efek terbakar saat menembus permukaan baju dan mengenai kulit. Pelajaran olahraga kali ini adalah permainan bola besar. Pasti tak asing lagi di telinga kalian ketika mendengar nama permainan ini.Bola yang sekelingnya ada empat garis berwarna hitam serta dengan warna dasar oranye. Sekilas saat sedang haus melihat bola ini sama seperti melihat sebuah jeruk.Setelah melakukan pegambilan nilai praktek, kami diberikan waktu istirahat.Dengan cepat aku melesat pergi ke kantin, aroma sejuk dan dingin dari dalam kulkas langsung menyentuh kulit. Kuambil sebotol air mineral dan langsung meminumnya, rasanya begitu nikmat saat segerombolan air yang lewat melalui tenggorakkanku ini memberikan sensasi yang begitu dingin.Dengan mengeluarkan uang sepuluh ribu, aku pergi keluar kantin.“Kania, main basket tuh.”“Iya,”Aku berjalan melalui koridor kelas yang mengarah langsung ke lapangan basket.Mataku tertuju kepada orang yang ada di depanku, ia sedang menonton permainan basket yang ada di depannya.“Eh, Dek. Bisa tolong kasihin minum ke orang itu. Jangan bilang dari saya, tapi bilang aja dari kamu ya,” mintaku padanya.“Oke kak,” balasnya.Aku melanjutkan langkah kaki ini menuju kelasku. Lelah. Itulah yang kurasakan kini. Aku merebahkan badanku ke kursi setidaknya rasa lelah ini bisa berkurang sedikit.Langit begitu biru namun setelah beberapa saat semuanya berubah. Tiba-tiba saja angin bertiup dengan sangat kencang, menerbangkan daun-daun dari pohon dan langit begitu gelap sehingga membuat aroma mistis yang terasa begitu kental.Aku langsung menambah kecepatan untuk berlari, tetes demi tetesan mulai berjatuhan. Semakin lama tetesan itu semakin cepat dan sebuah kilatan tajam melintas di depan mataku.Langkahku terhenti sesaat memandang lurus ke depan. Air mata sudah memenuhi kelopak mata membuat penglihatan mataku sedikit kabur. Saat aku memejamkan mata secara perlahan, saat itu juga bulir ini mengalir melintasi wajahku bersamaan dengan tetesan hujan.Tak ada yang spesial dalam diriku. Aku sama seperti yang lain, seorang remaja yang mulai mengerti akan kata suka. Jika boleh memilih aku tak ingin memliki rasa suka tapi sayang semua itu sudah takdir.“KANIA!!”Aku langsung menoleh kepadanya, “Enggak usah teriak juga manggilnya, bisa?”Dia menatap tajam ke arahku dan tiba-tiba tersenyum yang menimbulkan sejuta tanya dalam hati.“Aku udah panggil kamu lebih dari 10 kali, makanya aku teriak,” balasnya. Aku hanya terdiam karena, memang aku tidak mendengar apapun kecuali yang dibagian dia teriak.“Kamu mikirin apa?” tanyanya. Aku menggerakkan kepala ke kiri dan ke kanan tandanya tidak. Ia menghelah nafas dengan berat, “Apapun itu saya cuma bisa doa yang terbaik,” ucapnya.Jam pelajaran dilanjutkan kembali, penjelasan dari guruku dengar dengan baik. Tiba-tiba lonceng berbunyi, membuat guru mengakhiri pelajaran dan semua siswa berhamburan keluar.“Fif, dia itu beneran?” tanyaku.“Sepertinya iya, tapi aku kurang tau. Kamu masih?” balasnya menatapku. Aku menganggukkan kepala tanda iya.Kami berjalan keluar menuju gerbang sekolah, sudah tak ada siapapun di sini hanya ada aku dan Afifah yang ada di sebelahku. Mataku menerang ke segala penjuru. Sudah pulang.Saat hampir tiba di gerbang sekolah, titik fokus lensa mataku tiba-tiba saja berhenti dan tidak mau bergerak. Aku mencoba memfokuskan penglihatanku. Aku benar, tidak salah lihat.Aku mencoba menahan semuanya, hingga seorang menepuk pundak ku. Aku hampir melupakannya dari tadi aku masih bersama Afifah. “Aku cuma ingin kamu tau yang sebenarnya kalau yang aku bilang itu benar Kania,” ucapnya berat.Contoh PaperDengan satu tarikan nafas, “Makasih atas semuanya Fif, kamu memang sahabat aku.”Aku langsung pergi meninggalkan Afifah yang masih ada di sana. Aku berjalan dengan cepat dan menambah volume lagi hingga bisa berlari. Langit yang tadinya biru dalam sekejap berubah menjadi hitam.Angin meniup semua yang menghalangi jalannya termasuk daun yang sekarang berterbangan. Dingin. Itu kesan pertama yang kurasakan saat angin menyentuh kulitku. Aku merasakan aroma mistis yang begitu kental.Seharusnya aku sudah mengerti tentang ini. Kenapa aku yang harus merasa tersakiti. Batinku yang berbicara.Setetes, dua tetes, tiga tetes sampai berlanjut dengan tetesan. Ternyata saat ini langit lagi bersedih, bersamaan dengan itu sebuah kilat tajam melintas di depan mataku.Kaki ini sudah tak sanggup lagi melangkah, pandangan ini sudah kabur tergenang oleh air mata. Perlahan mataku sedikit terpejam menahan perih dan sakit.Samar-samar aku mendengar rintihan seorang, pandangan ku kabur sekali seperti ada halangan untuk melihat dengan jelas. Aku merasa diatas kepalaku ada beban yang berat sehingga sulit untuk digerakkan.“A-Fifah” ucapku susah payah menyebut namanya. Dia langsung menoleh ke arahku, “Kania, kamu udah sadar. Sebentar aku panggil dokter dulu,” balasnya sambil menuju kearah dinding dekat pintu.Tak lama seorang berseragam putih memasuki ruangan. Hanya satu hal yang kupikirkan saat ini. Aku kenapa. Itulah yang kupikirkan.Setelah cukup lama, ia keluar dari ruanganku berganti dengan Afifah. Aku menatap Afifah bingung. “Aku kenapa Fif?” tanyaku. Bukannya menjawab, dia malah menangis sambil menatapku.“Maafin aku, enggak bisa bantu kamu waktu itu. Waktu aku datang kamu udah jatuh di jalan karena ditabrak oleh mobil, aku minta maaf Kania,” balasnya dengan air mata yang sangat deras.Aku mengerti berarti aku di sini karena kecelakaan. Tak masalah yang penting aku masih hidup walaupun beberapa anggota tubuhku luka-luka.Aku tersenyum padanya, “Enggak apa-apa. Saat takdir datang tidak ada yang bisa menolak. Ini bukan salah kamu,” jawabku.“Makasih Kania,” balasnya menahan air mata yang berikutnya akan jatuh. Aku menganggukkan kepala, lalu ia pergi dari ruangan ini karena aku sendiri ingin beristirahat.Terasa begitu menyebalkan sekali, aku tidak diizinkan sekolah hari ini. Hanya dengan satu alasan ‘Kamu lagi sakit, lebih baik istirahat.’ Aku menjadi tidak nyaman kalau sendirian di rumah, rumah ini terlalu besar atau aku yang terlalu kecil. Aku yakin pernyataan kedua yang benar.Dengan langkah seperti seorang maling, aku berjalan melewati ruangtamu yang nampak kosong. Masih sama aku berjalan dengan sangat hati-hati, sedikit kepala ini kuarahkan ke kiri dan kanan untuk melihat apakah ada yang tau aksi yang kulakukan ini.“Mas, tadi tuan pesan. Kita harus memantau non Kania jangan sampai keluar rumah,” ucapnya seorang wanita. “Siap, kalau gitu saya mau jaga gerbang,” balas seorang laki-laki.Aku langsung melangkah jauh dari mereka. Sungguh menyebalkan, semua orang jadi khawatir denganku. Sudah dapat dipastikan aku tidak akan bisa keluar dari gerbang depan. Aku berlari ke arah gudang belakang.Mataku menelusur ke segala penjuru hingga terhenti pada sebuah tangga. Aku berusaha mengangkat tangga itu tapi tidak bisa, tanganku masih sakit. Tanpa sengaja aku melihat gerbang belakang rumah belum ada orang. Secepat kilat aku keluar dari gerbang.Aku melihat jam yang ada ditanganku, sudah pukul 14.00 artinya sekolah telah pulang. Aku memberhentikan taksi lalu pergi menuju rumah Afifah.Setelah sampai di sana aku melihat sebuah motor terparkir. ‘Wahh.. kak Arga pasti udah pulang nih’ batinku senang. Namun, langkahku terhenti ketika melihat seorang di sana. Dia bukan kak Arga.“Gara-gara rencana kamu, Kania jadi celaka,” ucap Afifah pada orang itu.Aku yang penasaran akhirnya memberanikan diri untuk menguping pembicaraan mereka.“Yah harus gimana lagi. Kita udah pacaran tapi kamu enggak mau sahabat kamu itu tau. Itu satu-satunya cara biar dia berhenti suka sama aku,” balasnya.Kania kenal suara itu bahkan sangat hafal. Itu suara Dito, sosok laki-laki yang ia sukai sejak dua tahun terakhir.“Tapi aku enggak enak sama Kania,” jawab Afifah.“Dengerin aku, terkadang cinta itu butuh yang namanya keegoisan. Kamu suka aku, aku juga suka kamu,” jelas Dito yang meyakinkan Afifah.“Kalian enggak perlu cemas, aku ikhlas kamu sama Dito. Semoga bahagia dan langgeng. Aku juga enggak suka kamu lagi,” ucap Kania yang tiba-tiba ada di depan gerbang rumah Afifah.“A-aku min-ta maaf Kan, aku enggak ada maksud-”“Diam Fif. Cukup penjelasannya, lo udah terlalu baik sama gue dan mungkin saatnya lo bersikap jahat sama gue. Gue ngerti tapi gue mohon setelah ini lo jangan pernah temuin gue lagi. Anggap kita enggak saling kenal.”Setelah mengucapkan kata tersebut, Kania langsung pergi dari rumah Afifah. Dia tidak peduli dengan Afifah yang meneriaki namanya.4 bulan berlalu…Hubungan persahabatan Kania dan Afifah tidak seperti dulu. Kania tidak ingin membahas masa lalunya itu. Dia ingin melupakan semuanya.“Kan, udah tau kalo Afifah putus sama Dito?” Ucap Rinda yang menjadi teman sebangku Kania.“Enggak tau. Emang benar?” Tanya Kania balik.Rinda menganggukkan kepalanya. “Katanya Dito pacaran sama Afifah, karena dia dapat tantangan dari temannya aja.”Kania mengangguk paham. Ia melihat ke arah meja Afifah, wajar saja Afifah tidak masuk hari ini. Tak lama bel pulang berbunyi.Kania mengetuk pintu sambil mengucapkan salam. “Eh Kania. Sudah lama enggak mampir ke sini,” sapa perempuan itu ramah.“Hehe.. sibuk sekolah tan, Afifahnya ada tan?” Tanya Kania.Perempuan itu menampakkan wajah sedihnya. “Dia enggak mau keluar kamar, dia juga enggak mau makan. Kamu bujuk dia yah?” Mohonnya.Kania berdiri di depan kamar Afifah. Dia mencoba membuka pintu kamar Afifah. Tapi dikunci.“Fif buka,” ucap Kania.Pintu itu langsung terbuka menampakkan wajah gadis yang terlihat sembab. “Kania, aku minta maaf karena udah buat kamu luka. Ternyata dia jahat Kan,” ucap Afifah sambil menangis.“Kamu enggak salah. Itu masalah yang kemarin enggak usah dibahas. Kamu makan dulu,” ucap Kania.Afifah langsung memakan makanan yang dibawa Kania. Setelah selesai dia langsung menangis kembali sambil menatap Kania.“Aku salah udah berbuat jahat sama kamu, Kania. Aku siap kalo kamu mau marah sama aku.” Afifah menangis tersedu-sedu.“Kita terlalu bodoh Fif. Persahabatan hancur hanya karena satu cowok. Aku enggak mau itu terjadi lagi. Aku pengen kita tetap sahabatan seperti dulu,” tutur Kania lembut.“Setelah hal jahat yang aku lakuin, kamu masih nganggep aku sahabat kamu?” Tanya Afifah seakan tak percaya.Kania mengangguk. “Aku maafin kamu. Aku pengen kita jadi sahabat selamanya.” Alya mengarahkan jari kelingking yang dibalas oleh Afifah.Mereka bercerita bersama sambil tertawa. Mereka melupakan kejadian pahit waktu itu. Karena, tidak ada gunanya kita mengingat hal pahit.Jangan pernah khianatin persahabatan kalian apalagi hanya untuk satu orang yang enggak guna bagi hidup. Terkadang kalian harus menelan hal pahit dengan jalan memaafkan. Tapi, percayalah itu akan membuat kamu menjadi manusia kuat.
Lagu kita
Ketika cahaya bersinar, menembus celah-celah kecil jendela. Udara sejuk menyentuh hingga ke raga. Hembusan angin terdengar mendesah berirama. Bunga pagi serentak merekah merona. Ketika bunga tidur terbuyarkan oleh mata. Mata yang awalnya terpejam, kini terbuka nyata. Aroma sarapan menggugah selera. Ingin rasanya cepat-cepat menikmatinya.“Wah, tumben ma… masaknya enak-enak?”“Jadi menurut kamu selama ini masakan mama nggak ada yang enak?”“Maksud aku bukan gitu ma, ya… tumben aja masaknya nggak kayak biasanya”“Emang nggak boleh sekali-kali kita sarapan beda?” tanya papa“Boleh sih pa, bahkan kalo tiap hari kita sarapan beda terus, bisa habis dua piring aku!”“Kamu tuh ya, ada-ada aja!” ucap mama“Erfa, Erfa!” tambah papaSetelah menikmati lezatnya sarapan dan hangatnya obrolan, Erfa pamit untuk berangkat.Ini adalah awal Erfa masuk SMA. Sekolah dimana kita mulai untuk berpikir dewasa. Dimana sikap mandiri nomor pertama. Dan teliti dalam memilih pergaulan. Setelah sampai, Kaila menunggu Erfa di tempat parkir. Kaila adalah sahabat SMP Erfa. Sejak masih duduk di kelas 1 SMP, Erfa dan Kaila sudah berteman baik. Belum pernah terjadi pertengkaran dan permusuhan di antara mereka.“Sorry! Udah nunggu lama, kamu juga sih kebiasaan nungguin aku!”“Kitakan sahabat, kita harus masuk sama-sama!”“Oke, oke!”Mereka masuk kelas bersama.Sebelum sah jadi siswa SMA, harus ada yang namanya MOS. Dan hari ini adalah MOS pertama.Saat di kelas…Kakak OSIS memberikan semuanya tantangan.“Kalian semua harus mencari satu pasangan untuk kalian ajak kerja sama. Yang cowok milih yang cewek. Dan yang cewek milih yang cowok. Tapi… milihnya harus temen yang beda kelas. Jelas…!”“Jelas, kak!”Semua yang ada di kelas berhamburan keluar.Begitu pun Kaila. Mereka semua berlari mencari yang mereka cari. Tapi berbeda dengan Erfa. Ia terlihat santai dan masa bodo. Sambil berjalan pelan di antara desakan banyak orang. Dengan santainya, Erfa duduk di salah satu kursi di bawah pohon depan kelas.“Kamu kelihatannya kok santai banget! Nggak panik?”“Panik untuk apa? Dan kenapa harus panik?”“Soal tantangan dari kakak OSIS!”“Entahlah, aku juga bingung kenapa aku nggak panik atau cepet-cepet cari pasangan buat kerja sama”“Aneh kamu!”“Aneh gimana?”“Lupain aja! Oh, ya… Richard!”Tangannya terulur manis. Terlihat kulit putih nan bersih. Senyum mengembang yang disertai tatapan tajam.Erfa tak menanggapi uluran tangannya. Erfa malah menatap bingung Richard.“Kamu gimana sih, diajak kenalan kok malah nggak jelas? Siapa nama kamu?” ucap Richard.“Erfa…!” jawab Erfa cuek memalingkan wajahnya.Lalu… salah satu kakak OSIS cewek menghampiri mereka.“Kalian kok malah pacaran, ini kan waktunya MOS!”Mereka berdua langsung berdiri.“Enggak kok kak, kita nggak lagi pacaran.” ucap Richard.“Iya, kak!” tambah Erfa.“Oh, iya. Kamu itu ketua organisasi musik yang terkenal ganteng itu kan?” tanya kakak OSIS kepada Richard.“Iya, kak!” sambil tersenyum.“Em… kakak boleh minta foto nggak? Ya, sekali-kali foto sama cowok seganteng kamu!”“Boleh kok kak!”Erfa terlihat bingung nggak jelas. Sementara kakak OSIS yang bernama Distya itu asyik berfoto dengan Richard.“Oh, maaf ya… pacar kamu aku ajak foto bareng. Kamu nggak marah kan?” tanya kak Distya ke Erfa.“E… kak, dia itu bukan…”“Pacar aku pasti nggak marah kok kak. Tenang aja dia orangnya pengertian!” potong Richard.Erfa langsung menatap sinis Richard.“Kalian cepetan ke aula, kumpulnya ke sana!”“Makasih kak!” ucap Erfa.Mereka bergegas ke aula.“Kamu tuh gimana sih, akukan bukan pacar kamu!” jengkel Erfa.“Ya mau gimana lagi, kalo aku nggak bilang kamu itu pacar aku… aku pasti dikejar-kejar sama kakak OSIS tadi”“Ya itu derita kamu!”Erfa berjalan cepat meninggalkan Richard.Erfa masuk aula diikuti dengan Richard di belakangnya.“Hey, kamu!” kakak OSIS laki-laki bernama Joy memanggil Erfa.Erfa menunjuk diriya sendiri.“Iya kamu! Dan kamu, si ahli musik. Ke sini!”Yang dimaksud si ahli musik itu Richard. Richard adalah salah satu remaja yang mendapat penghargaan dalam pagelaran musik simphoni. Dan dinobatkan sebagai ketua organisasi musik sedaerah.“Kenapa ya kak?”“Masih tanya kenapa?! Dari mana kalian?”“Nggak dari mana-mana kak, cuma dari kelas!” jawab Erfa.“Dari kelas? Kalian berdua ada di kelas, bareng?”“Kelas kita beda kak!” ucap Richard.“Oke! Cepetan duduk!”“Makasih kak!” ucap mereka bersama.Setelah itu, para kakak OSIS mulai mengerjai satu persatu siswa. Tiba-tiba… kakak Joy memanggil Erfa.“Kamu!”Erfa menoleh menanggapi.“Sekarang kamu maju dan mainkan gitar ini!”“Hah, aku kak?”Kakak Joy mengangguk.“Nggak salah nih kak, tapi kok aku?”“Kalo nggak kamu, siapa lagi!”“Kan bisa yang lain kak!”“Ngeselin kamu!”“Aku cewek kak bukan ngeselin!”Seisi aula tertawa.“Hih… cepetan maju, sekarang!”“Kalo nggak mau gimana kak?”“Apa kamu bilang?”“Eng… enggak kok kak”“Gitu aja kok marah!” celoteh Erfa lirih.“Hey, kamu tu ngapain sih. Maju sana!”Terpaksa Erfa menuruti perintah kak Joy.Dengan sedikit gugup Erfa menata gitar di pangkuannya. Mulai memetik senar dengan patah-patah.“Kalo main gitar yang bener!” kata kak Joy.Erfa mulai berkonsentrasi dengan musiknya.Suasana terlihat hening. Suara dan petikan gitar Erfa mulai terdengar. Suaranya sangat merdu, saat menyanyikan lagu. Semua tertegun mendengarnya. Setelah Erfa selesai bernyanyi suasana seketika sepi. Setelah itu, Richard tiba-tiba berdiri dan memberi tepukan. Diikuti dengan Kaila. Dan seluruh yang ada di aula.“Kenapa harus tepuk tangan?”“Gimana sih kamu Er, kamu nyanyinyakan bagus ya harus diapresiasikanlah!” jawab Kaila.“Ya… dikasih hadiah kek, dikasih sesuatu kek, atau apa gitu. Biar beda!”Semua kembali tertawa.“Ya udah, biar beda kamu sekarang duet sama si ahli musik. Richard Ardeva.” saran kak Joy.Seketika Erfa dan Richard kaget.“Maksudnya bukan itu yang aku…”“Maksudnya itu yang kamu mau!” potong kak Joy.Semua bersorak tak karuan.“Ayo Richard, ayo Richard, ayo Richard!!!”Akhirnya setelah dipaksa, Richard pun maju.Duduk di kursi samping Erfa.“Jujur… ini baru pertama kali aku duet sama cewek. Rasanya agak beda. Dari pada duet sama cowok, aku lebih deg-degan duet sama cewek!” ucap Richard.Semua kembali bersorak.Mereka menyanyikan lagu yang sangat indah dan romantis. Yang membuat semua terbawa suasana dan perasaan.Setelah lagu selesai Richard memandangi Erfa dengan sejuta senyum di wajahnya.“Kamu kenapa mandangin aku kayak gitu?” tanya Erfa.“Nggak papa, cuma pengen aja. ”“Pengen?”“Iya, ada masalah?”“Aneh aja dengernya”“Kalo nggak pengen aneh, jangan dibuat aneh!”Erfa hanya tertawa kecil.Inilah awal pertama pertemuan Erfa dan Richard. Lagu yang mereka nyanyikan akan mereka kenang. Meskipun pertemuan mereka tidak disengaja, tapi itu moment yang indah bukan?. Entah bagaimana kelanjutan hubungan mereka. Tapi bertemu dengan Erfa merupakan hal yang mengagumkan bagi Richard. Erfa… Cewek aneh, beda, humoris lagi. Cewek yang belum pernah ditemui oleh Richard selama ia dicap cowok ganteng.
Diam-diam suka
Aku… Siswa biasa yang bersekolah di SMA favorite. Entah apa yang aku harapkan saat itu. Kenapa aku bisa masuk SMA, yang notabennya adalah siswa-siswa famous dan berprestasi. SMA Tuna Bakti. SMA yang paling banyak memenangkan kejuaraan. Baik dalam bidang pelajaran, olahraga, seni dan bidang umum lainnya. Aku termasuk siswa di bidang olahraga. Khususnya tenis lapangan. Aku sering menjuarai kejuaraan. Sebenarnya, aku nggak tertarik sedikit pun dengan tenis. Awalnya… aku cuma keseringan nemenin mama kursus tenis. Lama kelamaan, kayaknya tenis menyenangkan. Aku mulai mencoba. Dan akhirnya berani ikut pertandingan. Sudah banyak pertandingan yang aku ikuti. Nggak disangka, karena kerja kerasku aku bisa juara satu Indonesia.SMA Tuna Bakti bukan sekolah pilihanku. Aku masuk ke sana gara-gara papa ngebet banget aku sekolah di sana. Ya… mau nggak mau aku harus nurut. Namaku Vaisha Hashkara. Biasa dipanggil Vaisha.Kelas 11 IPS 2. Di SMA ini ada satu cowok yang bikin aku heran.Yaitu Ajun. Ajun Aldevaro. Kelas 11 IPS 1. Kapten basket yang famouuusss banget. Hampir semua cewek-cewek di sekolah ngefans sama dia. Rebutan, siapa duluan yang jadi pacarnya. Aku nggak mau ikutan acara kayak begituan. Ngrebutin cowok yang nggak jelas.Ajun emang ganteng, pinter, jago basket, ramah, pokoknya multi talent. Tapi kalo mandang cowok dari kelebihannya aja, itu sih bukan tulus namanya.Hari ini pertandingan basket rutin SMA Tuna Bakti dengan SMA Merah Putih. Semua siswa, apalagi yang cewek-ceweknya berteriak memanggil nama Ajun. Itu sudah menjadi hal biasa. Jadi nggak heran lagi itu terjadi setiap Ajun tanding. Aku sama sekali nggak berminat untuk nonton. Tapi kali ini aku nggak bisa menghindar. Secara aku ketua PMI terbaik sedaerah tahun ini. Jadi terpaksa, aku harus nonton sampai selesai. Kalo aku nggak nonton, nanti ada yang cidera… trus akunya nggak ada, bisa abis dimarahi aku.Pertandingan sudah setengah jalan. SMA Tuna Bakti tetap memimpin. Sorak-sorak penonton terdengar semakin keras. Dan itu yang membuat aku semakin bosan untuk nonton.Saat Ajun ingin melakukan slum dunk, tiba-tiba ia didorong lawan sampek kakinya terkilir. Ia terlihat kesakitan, tapi ia tetap tegar dan bertahan. Aku hanya melihatnya dengan lamunan.“Vaisha, itu ada yang cedera. Cepetan bantuin!” ucap Chika, salah satu anggota PMR.“Vais, apa yang kamu lakuin” kata Sheina, sahabatku sekaligus satu-satunya anggota PMI sepertiku.Aku tetap tak menggubris.“Vaisha!” teriak Sheina sambil menepukku.Aku tersadar dan langsung berdiri menuju Ajun.“Biarin aja dia yang nolongin. Dia kan nggak suka basket. Mungkin kalo nolongin kapten basket, dia bisa suka basket!” ucap Sheina.“Suka basket, atau suka yang main basket?” canda Chika.Mereka berdua saling tatap dengan senyum.“Ka… kamu nggak… papa? Kamu bisa tahan kan?” tanyaku sedikit terbata dan gugup.“Aku bisa tahan kok” jawabnya singkat.Tanpa basa-basi aku langsung meraih tangannya dan menaruhnya di pundakku. Lalu membawanya ke UKS. Entah aku sadar atau tidak telah melakukan hal itu. Tapi jujur aku benar-benar tidak sadar. Hal pertama yang aku lakukan, adalah melepas sepatunya.“Eh… tunggu-tunggu, biar aku sendiri aja yang nglepasin sepatuku.”“Kok gitu?”“Udah biar aku sendiri” pintanya.“Aku aja”“Udahlah aku aja”Tanpa panjang lebar aku membentaknya.“Kamu itu gimana sih, udah bagus-bagus aku bantuin, malah sok pinter bisa sendiri. Mendingan tadi nggak usah aku tolongin. Toh kamu bisa sendiri” emosiku kuluapkan dalam kata demi kata.Sejenak aku terdiam. Ajun masih memandangiku. Anehnya ia sedikit tersenyum.Aku tersadar.“Ma… maaf! Aku kebablasan!” ucapku“Nggak papa! Nggak ada masalah kok.” jawabnya, lagi-lagi dengan tersenyum.“Kamu kok senyum sih, nggak malah marah?”“Buat apa marah, kalo orang di depan aku ini nggak ngebuat aku marah”“Tapi aku kan udah bentak-bentak kamu”“Itu bukan bentak, tapi berjuang untuk membantu. Aku berpikir kalau kamu berjuang buat bantuin aku”“Nggak juga!”“Itu kan pendapat aku”Aku melepas sepatunya dan mulai mengobatinya.“Aduh, sakit tau!” helanya.“Maaf!”Lalu ia senyam-senyum lagi melihatku.Aku balik menatapnya.“Kamu, kenapa senyam-senyum gitu. Ihh… ngeri deh!”“Kamu… cantik!” ucapnya.“Heleh, aku nggak akan terbujuk rayuan kamu. Meskipun semua temen bahkan semua cewek di sekolah ini suka dan ngefans banget sama kamu, aku nggak bakal kayak mereka. Camkan itu!”“Aku nggak ngeharusin kamu suka sama aku. Tapi kayaknya… ”“Apa?” tanyaku penasaran“Aku… suk…”Tiba-tiba…Semua cewek-cewek yang tadi nonton pertandingan masuk dan ngerumunin Ajun. Saking banyaknya aku sampek terdorong ke belakang.“Vaisha, kamu nggak papa kan?” tanya Sheina.“Nggak papa kok. Tenang aja, Vaisha tahan banting”“Iya, percaya. Eh… gimana Ajun?”“Udah aku obatin. Oh yaa, tadi Ajun tuh senyam-senyum sama aku. Aku jadi ngeri deh”“Apa, senyam-senyum? Itu tandanya… Ajun, suka sama kamu”“Ya nggak mungkin lah. Kamu tuh ada-ada aja”“He, em!!!”Hari ini bete banget rasanya. Sheina nggak masuk sekolah, padahal dia yang nemenin aku setiap saat. Pelajaran semuanya jamkos, karena hari ini ada event pertandingan gitu di sekolah. Jadi lariku ya… ke taman sekolah.“Kalo kebanyakan ngelamun, nanti bisa kesambet lo”“Siapa juga yang ngelamun”“Ih.. ih.. ih… udah ketauan tapi nggak mau ngaku”“Kamu kenapa sih gangguin aku?”“Emang nggak boleh, akukan juga butuh temen”“Temen kamu kan banyak, nggak aku aja. Lagi pula aku bukan temen kamu, kenal aja enggak.”“Kalo aku maunya kamu yang jadi temen aku, gimana? Meski kamu belum kenal aku, aku kan bisa kenal kamu.”“Terserah deh mau kamu!”Hening di antara kami.“Oh ya, gimana kaki kamu?”“Udah mendingan kok. Kan yang ngobatin, ngobatinnya pake… cinta”“Kamu apaan sih? Nggak jelas”“Boleh ngomong sesuatu nggak?”Aku mengangguk.“Aku sebenernya, udah tau kamu sejak kelas 10. Saat itu kamu lagi sendirian, sambil baca buku di taman ini. Padahal semua cewek bahkan semua murid lagi nonton pertandingan basketku. Sejak itu aku penasaran sama kamu. Kamu tuh terlihat beda sama cewek-cewek yang lain. Tapi aku nggak berani deketin kamu, aku kira kamu nggak bakal suka sama aku. Oh ya, soal kemarin aku sengaja ngebuat diri aku cedera. Aku dapat informasi kalo yang jadi PMInya itu kamu. Aku minta bantuan ama kapten basket Merah Putih untuk sengaja dorong aku saat aku slam dunk. Agar aku bisa ketemu, dan bisa bicara sama kamu. Jadi aku minta maaf, udah ngerepotin kamu. Dan thanks juga!”Aku hanya terdiam tak percaya. Bukan masalah Ajun udah kenal aku, tapi kemarin Ajun udah sengaja nyelakain dirinya sendiri dan bohong, cuma buat bisa ngomong sama aku.“Jadi kamu bohong sama aku”“Bukan gitu maksud aku Va, dengerin aku dulu!”“Tapi kamu bohong kan sama aku. Aku nggak percaya kamu bisa lakuin itu. Kamu mau ngomong sama aku, ya ngomong aja, nggak perlu bohong segala”“Emang jadi masalah kalo aku bohong sama kamu?”“Ya Iyalah, akukan paling nggak suka sama orang yang bohong. Meskipun Bohongnya sekecil apapun. Apalagi bohongnya sampek nyelakain dirinya sendiri, kayak kamu!”“Kamu tuh lebay ya! Kayak anak kecil!”“Kamu bilang apa, aku lebay, kayak anak kecil? Kamu tuh yang kayak anak kecil. Apa-apaan coba, pake bohong segala!”“Eh, kamu kok ngomong gitu. Aku kan cuma becanda. Kamu malah ngata-ngatain aku!”“Yang mulai duluan siapa, kamu!”“Eh, cewek nggak jelas… kamu tuh emang agak sinting ya! Nyesel aku ngomong sama kamu!”“Ya udah, trus kenapa masih di sini? Males tau ngeliat kamu!”“Oke! Aku pergi. Jangan harap aku bicara lagi sama kamu!” Ajun berlalu. Sepertinya ia sungguh-sungguh marah.Matahari bersinar dengan hangatnya. Burung-burung terbang melintasi angkasa. Semua orang berusaha bangun dari mimpi mereka. Segera melakukan apa yang telah menjadi tradisi mereka. Entah kenapa aku bangun kesiangan hari ini. Mungkin aku lelah. Atau terlalu memikirkan masalah kemarin.“Aduh… ma, aku udah telat nih. Aku nggak usah sarapan ya!”“Makanya kalo tidur jangan larut malam, kesiangankan jadinya!”“Siapa yang tidur larut malam. Aku tuh kemarin tidur jam 10. ”“Ya udah, kamu bawa bekal aja!”“Nggak usah, aku langsung berangkat. Assalamuallaikum!”“Eh… ya nggak boleh gitu. Nih bawa!Kalo nanti tiba-tiba kamu pingsan gimana?”Mama mengulurkan sekotak sandwich padaku.Aku terpaksa menerimanyanya, nanti kalo nggak aku terima bisa panjang urusannya. Dan aku malah makin telat.Dengan sigap aku melajukan motorku.Sesampainya di sana bel sudah berbunyi. Turun dari motor aku langsung berlari. Berlari cepat, sangat cepat.Tiba-tiba…Brukkkk…Hatiku seperti melayang di angkasa. Bersama peri-peri yang asyik berdansa. Dengan cinta dan bahagia. Senyum tawa menyertainya.Saat kutatap matanya aku langsung bangkit.“Maaf, aku nggak sengaja. Aku nggak bermaksud nabrak kamu” ucapku tertunduk.“Nggak papa, nggak masalah kok, cewek aneh”Aku tak menganggapnya dan segera pergi…Waktu kujalani seperti biasa.Pulang sekolah…“Vaisha… aku duluan ya. Bye!” pamit Sheina, saat aku masih merapikan bukuku.Aku tersenyum kepadanya.Kelas mulai sepi…Tiba-tiba hp-ku bergetar. Nomornya nggak dikenal. Tapi aku tetap membacanya.To: Vaisha Nohan Hashkara‘Aku minta maaf! Sekarang aku tunggu di lapangan basket. Jangan takut aku bukan orang jahat. Aku mohon. Plisss Vaish!Aku bingung, tapi aku tetap menemuinya. Kulangkahkan kakiku segera. Sebelum waktu berlalu dengan sendirinya.Aku berdiri di tepi lapangan basket. Lama sekali. Hingga aku tak sabar.“Sorry, udah nunggu lama ya? Malah jadi kamu yang nungguin aku.”Aku berbalik ke suara itu.“Ajun!” ucapku lirih“Aku minta maaf, soal kemarin. Aku udah emosi sama kamu. Dan aku udah ngata-ngatain kamu. Abisnya kamu juga sih! Kamu yang mulai duluan!”Aku sedikit menatapnya tajam.“Udahlah, lupain masalah itu! Sekarang yang mau aku omongin bukan masalah itu. Aku mau ngomong kalo aku… emm… aku… aku…”Aku tetap mendengarkanya meski kata-katanya tidak terlalu jelas dan patah-patah.“Oke! Jujur, pertama kali ketemu kamu aku udah tertarik sama kamu. Dan aku… suka sama kamu”“Suka dalam arti?”“Aku… mencintai kamu”Hening seketika.“Kamu mau nggak, jadi… pacar aku!”Aku tetap diam.“Kamu nggak suka dengan perkataan aku?”“Bukan! Bukannya gitu. Aku kaget aja, orang sebaik kamu, seganteng kamu, sepinter kamu, dan… seperfect kamu, suka sama aku. Cewek nggak jelas, yang nggak sesempurna malaikat.”“Liat orang jangan luarnya aja. Mandang orang jangan kelebihannya aja. Itu kan yang ada di pikiran kamu. Dan aku suka cara berpikir kamu”“Gimana ya. A… aku bingung”“Kalo kamu nggak mau nerima aku, nggak papa”“Kamu serius?”“Iya!”“Aku… nggak bisa”“Nggak papa, itu hak kamu!”“Maksudnya aku nggak bisa nolak kamu!”“Beneran? Serius?”Aku mengangguk.
Bukan benci tapi takut
Aku tetap menahan kakiku untuk tetap berdiri di depan pintu kelas. Fikiranku berputar-putar dari itu ke itu saja. Aku merasa gelisah setelah rombongan teman-temanku mengatakan bahwa aku berhasil menjuarai lomba bernyanyi tingkat kabupaten dan akan segera dikirim ke tingkat provinsi. Perasaanku was-was teringat pesan-pesan ayah padaku.“Jangan bernyanyi lagi! Jika masih bernyanyi ayah sumbat mulutmu pake sendal untuk ke sawah itu.”Dari kecil memang aku selalu dilarang oleh ayah untuk bernyanyi, ayah selalu menakut-nakutiku dengan hal yang aneh-aneh jika ia mendengarku menyanyikan sebuah lagu.“Sudah ayah bilang, kalau hantu suka sekali mengikuti orang yang suka menyanyi karena ia menganggap orang itu temannya.”Aku selalu takut mendengar kata-kata aneh yang dilontarkan ayah, namun tak bisa kupungkiri aku sangat suka menyanyi hingga tanpa sepengetahuan ayah, aku menyanggupi amanah dari guruku untuk mewakili sekolah mengikuti lomba bernyanyi tingkat kabupaten. Tanpa harus diminta, aku mendadak berhasil mengharumkan nama sekolah sehingga semua guru menebarkan senyuman terindahnya setiap mereka melihatku. Namun, mataku layu memandangi mereka semua. Aku takut sebentar lagi langit akan segera runtuh dan menghimpitku. Apalah dayaku untuk bertahan dan tetap berdiri tegak jika ditimpa benda seberat itu. Tak terbayang ayah akan segera memarahiku, menampar pipiku yang mungil. Senyumku tertahan saat aku berusaha untuk membukanya. Aku sama sekali tidak bangga pada diriku sendiri, melainkan menyesal telah melanggar janjiku pada ayah.“Kamu janji tak bernyanyi lagi kan?”“Iya aku janji ayah.”Pernyataanku waktu itu membuat aku merasa dihantui sepanjang waktu, jika ayah sampai tahu apa yang telah aku lakukan, dia pasti marah besar padaku.Aku berusaha menutupi semua ketakutanku, namun percuma tubuhku terasa lemas untuk menutupinya. Tanpa kusadari ternyata dari awal aku berdiri di sini ada sepasang mata yang memperhatikan kegelisahanku, aku baru menyadarinya setelah sepasang mataku bertemu dengan matanya. Mataku membesar karena kaget yang tak tersembunyikan. Ia mulai bergerak, berdiri dari tempat duduknya dan melangkah sedikit demi sedikit ke arahku. Aku berdebar dan menyembunyikan kedua tanganku ke belakang karena jari-jariku tak bisa berhenti menari. Entah gerogi, entah takut, yang jelas aku tak kuasa berdiri di depannya. Ia sudah tepat di depanku dan memberikan senyumannya padaku.“Kamu sakit Nel? Kok pucat?” tanyanya penuh perhatian, tak kusangka ia akan sebaik ini padaku. Aku berusaha untuk senyum dan menjawab pertanyaannya walau agak terbata-bata. Namun, dari matanya seolah-olah ia tak percaya dengan apa yang aku katakan, seperti ia tahu apa yang sedang aku rasakan. Aku tertunduk lemas dan berusaha mengakhiri percakapanku dengannya.Dia adalah sosok yang kukagumi semenjak aku melangkahkan kaki ke SMA ini, tepatnya satu tahun yang lalu. Hari ini adalah hari pertama aku berbicara dengannya karena selama ini aku tak pernah menyempatkan diri untuk menyapa atau berbicara padanya. Bukan karena sibuk namun karena sedikit gerogi.Perasaanku yang seharusnya senang lenyap dilahap oleh rasa takut. Aku tetap memikirkan apa yang akan terjadi nanti. Inginku mengatakan pada guru-guruku bahwa aku tak bisa mengikuti lomba itu ke tingkat provinsi, tapi kutakut akan banyak yang kecewa padaku. Tapi, kalau aku tetap mengikutinya, ayah yang akan kecewa. Aku tak bisa memilih di antara keduanya. Ingin ayah kecewa atau semua guru dan teman-temanku kecewa? Pilihan yang sangat sulit bagiku. Meskipun ayah cuma seorang namun ia adalah sosok yang berharga bagiku. Sosok yang selalu menjagaku dari aku belum mengetahui apa-apa hingga aku sudah besar seperti ini. Ia selalu melindungiku semenjak ibu pergi meninggalkan kami berdua. Pergi jauh hingga kami takkan mungkin lagi bertemu dengannya, pergi untuk selama-lamanya. Semenjak aku masih berumur dua tahun. Semenjak itu pula aku tak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu, hanya ayah yang setia menjaga dan selalu bersamaku. Ayah tak menikah lagi karena ia ingin aku beribu tiri, tak ingin hatiku terluka nantinya. Namun, akhirnya aku tetap merasakan betapa terlukanya hatiku, betapa sedihnya aku sebab ayah melarangku melakukan hobiku, bakatku, dan aku sangat kecewa karena itu. Ayah tak pernah mengatakan alasan kenapa dia melarangku menyanyi. Kenapa ia benci dengan nyanyian. Ia tak pernah menjawabnya saat aku tanyakan. Aku ingin mengatakan pada ayah bahwa aku juga ingin seperti teman-temanku yang orangtuanya selalu memberi dukungan untuk mengembangkan bakat anak-anaknya, tidak seperti aku yang selalu dipatahkan.Aku sengaja melangkah kecil-kecil menyusuri jalan ke rumah. Aku ingin berlama-lama di jalan karna tak sanggup berbicara pada ayah ataupun minta izin padanya. Selama di perjalanan aku berusaha melawan fikiranku untuk menuruti nasihat ayah. Aku mencoba menetapkan hati dalam sebuah pilihanku untuk tetap ikut dalam lomba itu. Aku sangat berharap bisa memberanikan diri untuk mengungkapkan itu pada ayah.
Surat lorong
Sebuah suara dari seseorang membangunkan Ayu yang masih tertidur pulas. Ayu pun kembali melanjutkan tidurnya. Dan suara itu terus menganggu Ayu. Ayu pun membuka matanya dan melihat Riska yang sedang membangunkannya.“Udah Ris, nanti aja aku masih ngantuk nih?..”“Ehh Ayu. Ayo kita sudah telat nih..”“Telat apa coba, ini kan masih gelap..”“Kita harus sholat..”“Sholat? malam malam kayak gini? Sholat apa? Aku masih ngantuk Riska, Ihh nyebelin bangett”“Sholat tahajud Ayu.” Riska sambil menarik tangan Ayu untuk bangun.“Nanti aja deh yaa, aku baru aja tidur..”“Ehh Ayu. Ayo ada Ali..”Ayu pun bangun dari tempat tidurnya dan berlari menuju cermin.“Ayo Ris, nanti kita telat lho..”“Wow cepat banget..”Ayu dan Riska bejalan menuju masjid dan terlihatlah seorang pemuda berjalan menghampiri mereka berdua. Dan ternyata dia Ali.“Assalammualaikum..” Ucap Ali.“Walaikumsalam..”Tanpa sepatah kata lagi Ali pun pergi meninggalakan mereka berdua.“Ehh.. Ali..” Panggil Ayu.“Iya ada apa?” Jawab Ali menghentikan langkahnya dan menghampiri Ayu.“Anuu. Kamu mau ngapain berjalan di sana kita kan mau sholat..”“Aku sudah kok..” Jawab Ali sambil tersenyum.“Oh. ya udah aku pergi dulu ya..”“Iya hati-hati..”“Assalammualaikum..”“Walaikumsalam..”Ayu semakin penasaran dengan Ali. Setelah sholat tahajud Ayu menunjukkan surat yang ditemukannya tadi kepada Riska. Riska pun membacanya, ternyata surat itu memang untuk Ayu.-Untuk Ayu-Aku sudah melihatmu pada saat pertama kali kamu memasuki pesantren. Dan aku merasakan ada suatu hal yang sangat istimewa pada dirimu. Aku mencari tahu tentang dirimu dari beberapa santriwati. Lebih semangat belajar ya.. Kalau kamu butuh bantuan aku bisa bantuin kamu. Tapi kamu harus izin dulu sama Kiai.. Jangan pernah menyerah Aku akan selalu mendukungmu.– M. Ali Sholehudin –Betapa terkejutnya Ayu ternyata surat itu dari Ali. Ayu sangat bingung dan Riska pun tersenyum melihat tingkah Ayu yang semakin aneh.“Apa benar ini dari Ali?..” Tanya Ayu.“Iya Ayu, temanku yang paling imut.”“Yess, aku seneng banget Ris, peluk Ris”“Sini sini, dasar cewek ini yaa”“ahh kamu bau”“Ehh.. Enggak Ayu, kamu ngajak berantem ya?”“Wekk, tangkap aku dong”“Gamau ahh capek”Suara adzan telah memanggil mereka untuk melaksanakan sholat shubuh. mereka berdua segera kembali menuju masjid.Setelah Sholat shubuh Ayu dan Riska menuju kamar mandi untuk mandi, dan bersiap untuk belajar. Setelah mandi Ayu meninggalkan kamar mandi tanpa di temani Riska. Di perjalanan menuju asrama putri, Ayu melihat Ali, Ayu sangat cangung bertemu dengan Ali. Ali pun mengajak Ayu untuk keluar dari pesantren dan mencari makan di luar. Ayu mengiyakan ajakan Ali, mereka berdua menuju pintu keluar pesantren. Dan menuju sebuah warung makan. Ali memesan makanan banyak sekali. Ayu terkejut, Ali menjelaskan bahwa itu untuk semua santri dan santriwati. mereka berdua makan di sana. Di tengah Ayu memakan makanan Ali mengatakan sesuatu yang mengejutkan dan tidak akan bisa dilupakan oleh Ayu.“Ayu?.” Panggil Ali.“Iya, Kenapa?..”“Aku suka sama kamu..”Gemetar hati Ayu mendengar ucapan dari Ali.“Hahaha, kamu bercanda ya..”“Enggak aku serius, Aku suka sama kamu..” Ungkap Ali menatap mata Ayu.Ayu batuk dan mengajak Ali untuk kembali. Ali mengiyakan ajakan Ayu.“Habis ini kamu ikut Aku ya. Aku mau mengajari kamu sesuatu..”“Apa?..” Tanya Ayu.“Membaca Al-Qur’an..”“Ohh.. Enggak perlu kok..”“Eits. Kamu jangan menolak, ini perintah dari Pak Kiai..”“Loh kok?..”“Iya, kalau gak percaya tanya saja sama Pak Kiai..”Masuklah mereka menuju pesantren. Dan Ayu meninggalkan Ali sendirian. Ayu ingin menemui Kiai. Ayu bertanya tentang perintah yang diterima Ali, Dan ternyata itu benar. Ayu pun kembali dan mencari Ali. Ayu melihat Ali membagikan makanan ke santri dan santriwati. Ayu menunggu Ali selesai membagikan makanan. Setelah selesai Ali menghampiri Ayu dan mengajaknya. Ali mengajak Ayu ke sebuah ruangan untuk belajar. Ayu pun teringat bahwa dia lupa membawa tilawati Ayu pun ingin kembali ke asrama putri, tapi dihentikan oleh Ali.“Loh, Katanya kamu mau mengajari aku..”“Iya, enggak usah pakai tilawati..”Ali memberi saran kepada Ayu dan mengatakan sesuatu yang mengejutkan“Kamu hanya perlu mendengarkan..” Ucap Ali.“Iya..”“Ayu kamu tidak boleh menyerah.. Kamu harus terus belajar ingat kata kataku ini Tidak ada namanya terlambat untuk belajar.. Oh, ya Aku harus pergi besok. Ibuku sakit jadi Aku akan kembali lagi setelah ibuku sembuh.. Kamu belajar yang giat di sini..”“Iya. Aku akan menunggumu. Tapi kamu harus janji untuk kembali..”“Insyaallah..”Keesokan harinya,Ali pun meningalkan pesantren dan Ayu, untuk menemui ibunya.Hari demi hari berganti Ali sudah 7 bulan pergi meningalkan pesantren dan belum kembali.. Kini Ayu sudah bisa membaca Al-Qur’an dan hafal 28 juz Al-Qur’an. Ayu masih menunggu datangnya Ali. Ayu tetap besabar. Ayu pun kehilangan sahabat terdekatnya di pesantren Riska yang sudah pergi meningalkan pesantren 2 bulan yang lalu..Ayu terus menunggu Ali.. menunggu dan menunggu.. Dan akhirnya Ali menepati janjinya, Ali kembali ke pesantren untuk mengajak Ayu pulang ke rumahnya.. Sebelumnya Ali dan Ayu berpamitan dengan Kiai. Ayu sangat senang karena Ali datang dan mengajaknya untuk pulang. Ali menginjak pedal gas dan segera menuju rumah Ayu, Di perjalanan Ayu pun tersenyum bahagia, kebahagiaan Ayu sungguh sangat lengkap karena Ali mengatakan akan secepatnya melamar Ayu..Sesuai janjinya akhirnya Ali melamar Ayu, mereka berdua sangat bahagia.. Setelah 1 bulan menikahlah Ayu dengan Ali. Hari itu sangat indah, berawal dari awal yang gelap kemudian terbitlah sebuah cahaya kehidupan yang sesunguhnya. Ayu pun sangat bersyukur kepada Tuhan karena mempunyai suami yang baik, Sholeh dan hafal seluruh isi Al-Qur’an yaitu Muhammad Ali Sholehudin.“Tidak ada kata terlambat untuk belajar.”
Satu per Satu
Yang bisa bertahan hidup dialah yang akan menjadi penguasa. Begitulah hukum rimba yang berlaku. Kita hanya bisa mensyukuri betapa nikmatnya hidup walau kadang-kadang kita juga harus hati-hati dengan kematian. Saat ini aku berada dalam sebuah lingkungan yang dekat dengan kematian dan tidak adanya sebuah kedamaian. Kekerasan selalu menyapaku di setiap hari. Namun hati sebenarnya Berbicara lain. Hati ini situasi cocok dengan lingkungan seperti itu. Lalu dari manakah aku berasal? Apakah itu juga menjadi penting bagi kalian? Justru mulai dari pertanyaan seperti inilah bahkan pertengkaran-pertengkaran itu terjadi.Sebagai petarung sejati, tak terbersit sama sekali untuk menyebut dari mana aku berasal dan siapakah aku? menurutmu masih perlukah jika aku mengatakan bahwa aku ini berasal dari papua atau dari makasar, atau bahkan Madura dan lain sebagainya? Bukankah itu berarti hanya mengandalkan etnis yang sangat menakutkan dan tangguh? TIDAK… .ini langkah langkah seorang kesatria. Bahkan yang demikian itu terlihat sebagai langkah yang sombong. Tapi sebagai lelaki seharusnya. “One by one”… .begitulah kata yang selalu terlontar ketika saat akan disitulah.Tiba-tiba handphoneku bergetar dalam celana saku, itu pertanda bahwa ada temen-temenku yang terlibat dalam sebuah pertarungan. Merke telah memanggilku untuk ikut mempertaruhkan nyawa dalam medan yang selalu terhias oleh pedang ganasnya sayatan, clurit, belati, yang haus akan darah. Tapi aku tak ingin lagi ikut dalam pertempuran-pertempuran itu sehingga aku harus membuat beberapa alasan pada temen-temenku kali ini.Kemudian setelah kejadian-kejadian seperti itu, kalian akan mendengar bahwa ada beberapa mayat ditemukan di dalam jembatan kolong yang mati mengenaskan. Dan kalian hanya bisa pasrah. Siapa yang telah membunuhnya? Tidak akan ada yang tahu. Jangankan kalian, aku sendiri tak pernah tahu siapa yang telah membunuh mereka. Aku kini sering merenung, Apa yang diperebutkan aku dan mereka selama ini hingga diantara kita akhirnya harus berjumpa dengan kematian? Betapa berartinya sebuah kekuasaan bagi kita. Apa untungnya jika harus membunuh saudara kita sendiri sebagai manusia yang sama-sama makhluk Tuhan?Mengenai diriku, sekarang bahkan kau takkan anggapan bahwa aku ini mantan petarung. Aku sendiri merasa nyaman dengan penampilanku saat ini. Yang dulunya mungkin bertampang seram, Wawasan panjang, jenggot belah dua, dan tato srigala di lengan kiriku yang selalu melekat mengidentitaskan bahwa aku ini adalah srigala yang beraura kekerasan. Namun kini semuanya telah berubah dan zaman pun telah berubah. Kini tibalah pada zaman dimana seharusnya kita menghargai sebuah perbedaan. Zaman yang kita anggap sebagai zaman yang harus menghargai sesama manusia. Kata kaum humanis Memanusiakan manusia.Dengan rambut yang tersisir rapi, kini aku benar-benar sadar bahwa aku tak ingin kembali ke dunia kelam itu. Dunia yang serba tidak jelas dalam menjalani hidup. Saatnya menatap masa depan yang jelas. Demi persahabatan, cinta, dan cita-cita kita berlomba-berlomba untuk menjadi yang terbaik dimata Tuhan. Dan dengan cinta, semua ini karena wanita yang saat ini berada tepat disampingku. Senyumnya yang selalu menggetarkan jiwa dan membuatku tak mampu untuk berucap satu kata apapun ketika berhadapan, sangat berbeda ketika menghadapi musuh-musuhku, dulu.Di malam yang damai itu berdua sudah cukup lama duduk berduaan, dan diam tanpa sepatah katapun. Dengan rasa yang selalu kusimpan selama ini aku sudah tidak kuat lagi untuk menahannya. Awalnya kukira ini adalah sesak nafas karena nafasku sering tak beraturan jika berada disampingnya. Namun, kini aku tahu bahwa ini adalah cinta pertamaku yang baru kutemui setelah menjalani beberapa cinta palsu yang bulshit. “Love is Bulshit” begitulah aku menganggap cinta sebelum aku bertemu dengan gadis iniBaiklah, memang harus kuakui sekarang bahwa sebagai mantan perarung aku mungkin memang tak punya pengalaman untuk masalah batin seperti ini. Lagi pula, memang, sejak dulu aku kurang pandai dalam masalah cinta (cinta yang sebenarnya), inilah yang pertama kalinya. Baru kali ini aku merasa kulitku seakan tersayat-sayat ketika melihatnya sedang bersama lelaki lain. Walaupun dia adalah seorang sahabatnya. kini, aku benar-benar tenggelam dalam irama cinta yang mengalun indah. Walau untuk sementara ini hanya mengalun dalam hatiku seorang. Aku ingin hati ini berirama cinta dengan hatinya.baru kusadari bahwa selama ini aku lebih memikirkan keahlianku dari pada berpikir tentang cinta yang dulu selalu kuanggap masalah yang cengeng, seperti film-film drama korea. Tapi saat ini bahkan aku tak tahu apa yang telah kurasakan. Gundah, gelisah, dan yang terbayang hanyalah seorang bidadari tanpa sayap itu. Sebenarnya jika kalian ingin tahu, wajah wanita yang sanggup menaklukkan sang Srigala ini tidak begitu cantik. Tapi sungguh teramat manis, seperti tebu.Dengan goncangan batin yang seperti itu aku tetap tidak sanggup untuk mengungkapkannya. Namun sebenarnya meski kita saling mengungkapkan rasa, kita sudah tahu bahwa kita saling mencintai. Karena aku tak perlu takut lagi untuk mengatakannya.sebagai mantan petarung. malulah jika tidak berani dalam hal ini. Lalu, pelan-pelan kupegang, dan berbisik “aku mencintaimu”. lalu gadisku tersipu malu dan mengangguk pelan-pelan. Tahukah kalian? Dia anggun sekali dengan baju warna ungu malam ini.***Sebagai lelaki, sudah sepatutnya melindungi wanitanya dengan segenap rasa cinta yang sebenarnya. Tidaklah seseorang yang dilakukan para remaja saat ini, mereka banyak terlanjur dalam melakukan hubungan seks sebelum menikah. Bukankah jika aku mengajukan seorang gadis untuk melakukan perbuatan mesum seperti itu akan merusak masa? berarti jika aku melakukan itu, aku tidak menyayanginya. Dan malulah yang harus ditanggung jika itu benar-benar terjadi. Jadi, Harus berpikir dua kali untuk melakukan hal semacam itu. dari sejelek-jeleknya perbuatanku selama ini, syukurlah hal demikian yang tidak pernah kulakukan. Aku kasihan pada gadis-gadis yang telah kehilangan keprawanannya itu. Bagi lelakinya mungkin berpikir berbekas jika do, namun si ceweklah yang akan meninggalkan bekas.Hidup memang penuh rintangan. Dan aku harus menghadapi rintangan-rintangan itu untuk mendapatkan apa yang aku inginkan. Setelah beberapa bulan kita menyatukan hati dalam bingkai asmara. Beredarlah kabar tak sedap tentang kekasih yang sedang jauh disana. Kabarnya Niken, nama gadisku, telah diculik oleh segerombolan anak muda yang berpenampilan macam preman. Ada beberapa warga yang melihat kejadian itu. Namun, tak ada yang berani untuk menolong Niken, karena segerombolan anak muda tersebut membawa beberapa senjata tajam. Saat mendengar kabar itu, aku bingung dan bertanya-tanya siapakah yang berani menculik gadis pujaanku itu.?Tapi, tak lama kemudian berderinglah handphoneku.“Halo…? Siapa ?.“Halo… aku Bajing. Masihkah kau ingat padaku kawan… hahaha? jawab orang itu sambil ketawa.Ternyata memang benar dugaanku bahwa yang telah melakukan semua ini adalah musuh lamaku. Tanpa pikir panjang kemudian berangkat aku berangkat-jauh dari jogja menuju Surabaya untuk mendatangi markas si bajing. Saat ini mataku telah gelap dan tidak lagi memandang bulu, siapa yang akan saya hadapi nanti. Kemarahanku tidak dapat di tolak lagi. Bisa-bisanya mereka tema pengecut seperti itu. Jhancuk .. !!!Saat ini aku berada di tengah-tengah anak buah Bajing. Setiap saat bahkan mereka bisa saja menuukkan bebarapa belati pada perutku, tapi aku tetap tidak peduli tentang hal itu. kematian itu sendiri bagiku bukan apa-apa lagi karena kematian yang paling menyakitkan dalam hidup ini adalah kematian orang yang teramat kucintai. Keadaan yang tak pernah kubiarkan terjadi.Aku tahu, bahwa aku pernah melakukan kesalahan beberapa tahun yang lalu. Aku secara tidak sengaja telah membunuh adik kandung si bajing saat ini, namanya Joni. Tapi, pembunuhan itu kulakukan karena tidak udah. Saat itu, dia hampir saja membunuhku dengan clurit. Tapi beruntunglah aku bisa menangkisnya kala itu. Dan clurit itu berbalik menusuk perut Joni. Jadilah bumerang.Mulai saat laporan, bajing manaruh dendam padaku. Namun, akankah dendam ini terus berlanjut sampai pada keluarga-keluarga kita berdua selanjutnya? Berlanjut pada anak-anakku, kemudian sampai pada cucuku sehingga permusuhan ini tak ada akhir. Hal semacam itu, bahkan telah membudaya di daerahku, tapi aku tak mau mengikuti budaya sesat seperti itu.Di kampungku, jika salah satu dan salah satunya mengalami kekalahan dan mati, maka anaknya harus menyerahkan dendamnya. Dan ini berarti darahku atau darah si bajing harus dikurangi oleh salah satu anak kita berdua saat nanti. Seperti sistem budaya yang sedang berjalan. Tapi, saat ini aku sadar bahwa budaya itu baik-baik. Dan aku sudah sering mengajar oleh khotbah-khotbah pesan bahwa dendam itu baik. Oleh karena itu, saat ini aku ingin menutup budaya macam itu.“Hai bajing, sebelum kita memberi aku punya suatu tawaran buatmu” teriakku ditengah-tengah anak buah bajing.Kemudian bajing berjalan mendekatiku dan memutakhirkan sombongnya yang penuh dengan kebencian “hah…? kau kira ini pasar pakek tawar menawar segala hah? ” teriaknya lantang.“Tapi ini demi anak cucu kita kelak cuk, agar mereka tidak ikut menyimpan dendam sepertimu. Dan setelah ini tidak ada bunuh lagi ”teriakku sedikit terpancing.Bajing terlihat sedang berpikir, dan aku tak sabar menunggu persetujuannya.“Baiklah kalau begitu, kita akan membuat perjanjian” kata bajing tiba-tiba. Tak kusangka juga bahwa dia akan menerima tawaran itu.Lalu kuucapkan perjanjian “baiklah, siapa yang kalah dalam pertarungan ini, tidak akan lagi menyimpan rasa dendam. Dan tidak ada lagi yang harus meminum darah. anak buahmu semua ini telah menjadi saksinya ”“Baiklah .. !! aku setuju ”katanya.Sekarang, saatnyalah menentukan siapa yang paling tangguh antara srigala hitam versus harimau putih. Perlu diingatkan juga oleh semuanya, bahwa pertarungan ini dilayani oleh kelompok-kelompok-kelompok. Tapi, pertarungan antara kita berdua secara jantan, satu per satu. Aku mau untuk cintaku, dan bajing ing untuk dendamnya padaku.Saatnya memutuskan kuda-kuda karena bajing sudah sejak tadi memesang kuda-kudanya. Tanpa bisa dihalangi lagi, pertarungan itupun benar-benar terjadi. Jika kalian terjadi, kecepatan tentulah menjadi kuncinya. Kecepatan menangkis pukulan, kecepatan memukul, menendang, dan mengelak. Seperti komunikasi yang tengah diperagakan oleh kita berdua.Brak… !!!Lalu aku terlempar jauh terkena tendangan bajing, kini semakin bengis. Dia bahkan mengeluarkan sebuah belati dari jaket coklatnya. Ternyata dia benar-benar sangat bernafsu ingin menghabisiku. Tapi, justru saat inilah kesempatanku untuk memangkan pelarungan ini. Karena orang yang sedang dibalut oleh emosi lebih gampang ditaklukkan. Lalu, kuatur nafasku dan mencoba untuk lebih rileks dalam membendung serangannya.Nafas bajing sudah mulai terkuras habis karena diperbudak oleh nafsu, saatnya aku beraksi. Dengan dua kali gerakan lalu kupukul sehingga belati itu terlempar ke tanah. Kupukul mukanya, kuhantam perutnya dengan kaki sehingga bajingpun terkapar lemas dan jatuh.Baiklah, pertarungan ini sudah berakhir bajing. Aku tidak akan membunuhmu. Tapi, ingat janjimu tadi ”lalu kumelangkah pergi menuju Niken yang masih terikat tali di sebuah kursi. Kubuka tali-tali itu. Kemudian dia langsung menerapkanku. Kemudian dia berbisik, “aku sangat mencintaimu…”. pekukannya benar-benar hangat dan gadisku kini bisa kembali kubawa pulang.Tentang hidup, bersukurlah bagi orang-orang yang sadar akan hidup. Bahwa hidup di dunia ini adalah berita kehidupan yang kekal, hidup ini adalah sesuatu yang sementara. Jadi, aku pun harus kembali ke jalan Tuhan menata hidup yang lebih baik lagi untuk menuju Tuhan sang penguasa alam. Kini Aku dan Niken ingin hidup berdampingan dampingan pada Tuhan dengan segala apa yang kita punya. Inilah semua kulakukan untuk menebus dosa-dosaku yang dulu. Tapi, dosaku-dosaku dulu harus ditebus dengan perbuatan macam apa Tuhan?
Dahan Dahan yang Rindang
Malam semakin larut. Aku memandang laptopku lekat-lekat yang sedari tadi memang sudah kupandang. Beruasaha menetralisir rasa kantukku yang pelan-pelan membelai kelopak mata yang memang sejak dari tadi pun ingin diistirahatkan. Malam ini rasanya sangat sulit untuk mendapatkan tidur yang cukup. Ujian semester semakin dekat. Tugasku masih ada yang menumpuk. Belum lagi masalah kegiatan organisasi yang membuat otakku semakin melilit dibuatnya.Jariku sedari tadi memang mengetik sesuatu. Tugas resensi buku. Momok bagiku yang bisa dibilang sangat membenci tulisan. Sudah tiga jam. Tiga paragraf. Jujur aku tidak pandai dalam hal tulis menulis. Tugas ini membuat otakku yang melilit lebih melilit lagi. Hingga jam menunjukkan pukul 12 malam. Aku tidur. Tapi rupanya tidak bisa lagi. Sepertinya ada sesuatu yang mengganjal di kepalaku.Pagi menyongsong. Aku segera bangun dari mimpi singkatku untuk menunaikan shalat subuh. Kembali setelah itu aktivitas pagi kulaksanakan. Seperti itu setiap paginya. Aku memang tipe orang yang sangat menyukai pagi. Entah kenapa jika kulihat siluet jingga diam-diam muncul dari arah timur sambil melewati dahan pepohonan, rasa-rasanya itulah waktu yang paling baik untuk mencari inspirasi. Merilekskan otakku yang sejak tadi malam melilit karena urusan tugas ini itu.“Nabil…!” suara mama memanggilku.Aku beranjak dari beranda kamarku yang juga menjadi tempat favoritku selama ini. Segera turun ke lantai bawah menuju sumber suara di mana mama memanggilku. Aku menuju dapur. Kelihatannya mama sudah menyiapkan sarapan. Nasi goreng ikan tuna kesukaanku.“Kapan ujian semestermu?” mama mengawali percakapan pagi itu. Aku yang masih mengenakan pakaian tidur duduk di meja makan sambil mengisi gelas dengan air minum.“Sebulan lagi ma” jawabku sambil menyendok nasi goreng yang super lezat itu.“Tugasmu? Menumpuk lagi?” mama selalu begitu. Selalu menanyakan tugas. Mama tipe orang yang perhatian dengan tugasku. Karena sejak aku masuk sekolah, bisa dibilang suatu kebanggaan jika tugasku tidak menumpuk di akhir semester.“Begitu deh ma. Habis mau gimana lagi” semangat sarapanku pagi ini hilang karena persoalan tugas dan ujian semester.“Mama kan selalu bilang. Kalau ada tugas selesaikan hari itu juga. Jangan ditunda-tunda. Begini kan jadinya. Setiap semester numpuk terus, numpuk terus. Nggak bakal berubah kalau bukan kamu yang mengubanya Nabil” iya ma, iya batinku“Nggak terasa Nabil, nggak cukup setahun kamu sudah jadi mahasiswa. Sebulan lagi kamu akan jadi siswa kelas dua belas. Kalau bukan kamu yang merubah sifat “tunda-tunda” ini, sampai kakek nenek kamu begitu.”“Susah ma. Tugasnya berat-berat. Terus tempat untuk kerja tugasnya nggak ada yang asik”“Kalau persoalan berat, itu bukan alasan yang baik Nabil. Kuli bangunan saja yang tiap hari kerja seberat itu, nggak pernah tuh mama dengar ngeluh berat kayak kamu. Lagian kalau kamu mau cari tempat yang asyik untuk kerja tugas, kamu salah kalau kamu bilang tidak ada”Batinku menebak-nebak. Apa tempat yang asyik untuk kerja tugas yang setiap hari bertambah terus. Kalau tugasnya main bola, setiap hari pasti aku akan kerjakan. Tapi ini persoalannya lain. Tugasnya bukan main bola. Tapi bermain dengan tulisan yang sejak SD sudah aku benci mati-matian.Hari ini memang hari libur. Setelah sarapan aku kembali ke kamarku untuk kembali memandang matahari yang semakin naik. Dahan yang diterpa angin pagi diam-diam membuatku tersenyum. Ada sesuatu yang sangat indah muncul pagi itu yang selama ini tidak terpikirkan olehku. Mama benar. Tempat yang asyik itu memang ada dan setiap hari kukunjungi.Kupandang dahan pohon yang diterpa sinar matahari itu. Sinarnya menembus celah-celah dahan pepohonan membuat lukisan bayangan yang indah dan enak dipandang. Aku suka bagian ini. Tapi kenapa tidak sejak awal terpikirkan olehku. Tempat yang asyik itu ada di beranda kamarku sendiri. Dengan semangat aku segera membuka laptopku sambil memandang indahnya matahari pagi yang semakin naik semakin membuat dahan-dahan yang diterpanya juga menjadi lebih indah lagi.Aku sadar. Sebenarnya bukan tentang tempatnya kita bisa tenang dalam mengerjakan sesuatu. Tapi tentang suasana hati yang memang dengan ikhlas menerima amanah yang telah diberikan kepada kita. Aku berjanji di tahun terakhir aku bersekolah saat ini, akan kubuat sebuah prestasi baru dalam hidupku. Berproses dengan baik maka hasil yang akan kudapatkan akan baik juga. Mengerjakan sesuatu dengan hati yang ikhlas dan penuh keyakinan. Seperti ikhlasnya dahan diterpa sinar matahari yang membuatnya indah dipandang sampai kapanpun.Kalian mungkin bertanya-tanya, lalu apa maksud dahan yang rindang itu? Dahan yang rindang itu adalah perumpamaan suasana hati yang tenang dalam menghadapi sesuatu.
CINTA DI BANGKU SEKOLAHAN
Aku mengenal cinta ketika menginjak sekolah menengah pertama negeri yang ada di daerahku. Sekolah itu tidak jauh dari rumah dimana aku tinggal bersama orang tuaku dan adik-adikku. Untuk menuju ke sekolahku itu, aku hanya berjalan kaki agar sehat jasmani dan rohani.Itu kata orang lho.Sekitar lima hingga tujuh menit lamanya sampai ke sekolah tercintaku itu. Kata teman-temanku aku termasuk seorang siswa yang cukup pandai dan selalu taat pada peraturan-peraturan yang ada di sekolah. Makanya orang tuaku tidak pernah mendapat surat panggilan dari sekolah tentang kenakalan yang ku perbuat di sekolah sehingga orang tuaku tidak pernah datang ke sekolah gara-gara surat panggilan itu.Namun bagiku itu sebagai cambuk atau pemicu untuk lebih giat lagi belajar. Dari kelas satu (1) SMP aku mendapatkan juara atau rangking di kelas.Mungkin hal ini yang mengundang simpati dari teman-teman di kelas terutama yang perempuan. Bukan maksud pamer atau riya’.Atau hanya perasaanku saja.Tapi kadang-kadang bisa menjadi kenyataan yang berasal dari sesuatu yang semu belaka.Sewaktu berada di kelas dua (2) SMP, teman-temanku yang laki-laki agak usil terhadapku yaitu seperti menjodohkan atau mencari pasangan dengan teman-teman di sekolah kami yang pasti lawan jenis yaitu yang perempuan tentunya.Mereka menjodohkan aku dengan teman sekelas sebelah. Setelah ku pikir-pikir ia cukup cantik dan pintar. Mungkin karena sebab itulah aku dipasang-pasangkan.oleh teman-temanku yang usil tadi.Mereka usil tapi baik lho.Pernah suatu ketika mereka berkata,” Di, ada yang titip salam tu buat awak lah.”Aku pun tanpa pikir panjang lagi langsung saja menjawab ,” Siape die ?” Lalu mereka berkata lagi,” Itu yang cewek yang rambutnya kepang dua dan pakai kacamate same dengan awak tu la? “Yang mane satu ?” jawab aku penasaran. “Itu ...tu...tu...Anak PN.” kata mereka serempak. “Oh, yang itu.” “Iyelah .Walaikumsalam.” langsung aku menjawab. Dadaku langsung berdetak dengan cepat dan tak karuan. Tanda apa nih. Apa maknanya.Suatu ketika ada acara untuk melakukan acara upacara memperingati hari pendidikan nasional di sekolah. Secara kebetulan aku dan dia tergabung dalam tim atau regu paduan suara atau padsu. Kami berlatih bersama-sama dengan teman-teman yang lain. Regu paduan suara kami itu berjumlah sekitar dua puluh (20) orang yang terpilih dari seluruh kelas yang ada. Setelah selesai latihan paduan suara kami beristirahat dan mencari tempat yang cocok untuk berteduh.Teman-temanku yang usil itu datang lagi menghampiriku. Aku sudah menduga apa yang ada di benak mereka dan kata-kata yang akan mereka katakan. Langsung mereka bertanya,” Wak, dah jumpe makwe awak tu ?” ujar mereka. “Makwe ape?” jawabku dengan cepat. “Yang itu...tu...!” Pura-pura tak tahu pula !” seru mereka. “Ok yang itu .Dah jumpe dah. Tapi kawan tak ada perasaan ape-ape.” Lanjut mereka ”Jangan tunggu lame-lame nanti kene kebas orang pula.Dah lepas baru menyesal.” “Baiklah kalau begitu akan kawan usahakan.” Jawabku dengan semangat agar tidak menghampakan permintaan teman-temanku yang usil itu.Sejak pertemuan pertama kami sering bertemu. Itu pun ketika ada acara-acara penting di sekolah. Tak lebih dari itu. Waktu itu kau masih malu-malu kucing untuk mengatakan untaian kata-kata yang menyatakan suka terhadap lawan jenis.Maklum kata orang masih bau kencur atau anak kemarin sore. Yang mana arti dari istilah itu pun aku tak mengerti. Sehingga aku berada di kelas tiga (3) SMP aku menganggap dia sebagai teman biasa dan tidak punya perasaan apapun terhadap perempuan yang dijodohkan atau dipasangkan oleh teman-temanku yang usil itu.Yang ada didalam pikiranku ketika itu hanyalah bagaimana aku menamatkan studiku untuk meraih cita-cita dan mengukir masa depanku yang lebih baik nantinya.Setelah menamatkan studi di sekolah tingkat lanjutan pertama negeri, aku melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi lagi yaitu sekolah menengah atas. Lokasi sekolah itu bersebelahan dengan sekolahku sebelumnya. Di SMA aku mulai berani melihat atau melirik lawan-lawan jenisku. Ia tidak sekelas denganku. Aku suka melihatnya lalu aku mencoba untuk menyatakan suka kepadanya. Namun ketika aku jarang menemuinya karena aku sibuk ketika itu ditunjuk oleh teman-teman sekelasku menjadi ketua kelas, kelihatannya ia selalu menghindarkan diri dariku.Sepertinya ia tidak ingin lagi bertemu lagi denganku .Entah apa sebabnya aku pun tahu.Lalu ku tanyakan kepada teman karibnya.Temannya itu mengatakan tidak mengetahui sebab mengapa ia melakukan hal itu. Mungkin karena kesibukank sebagai ketua kelas jadi tidak sempat untuk bertemu dengannya.Tibalah waktu ketika aku naik ke kelas tiga, tanpa dinyana aku sekelas dengan gadis yang kusukai dari kelas satu (1).Aku mencari tahu sebabnya.Ternyata majelis guru mencampur adukan siswa-siswanya untuk terbentuk kelas yang baru.Bertemu dengan teman-teman yang baru.Mungkin itu penyebabnya.Ketika pengumuman nama-nama untuk kelas tiga(3) yang baru sudah ditempelkan di papan pengumuman kami langsung menyerbu kantor majelis guru. Setelah ku amati dan perhatikan ada nama gadis yang ku sukai itu.Tapi aku tidak merasa apa-apa pun.Tidak ada getar-getar suka lagi terhadapnya.Entahlah hanya Allah yang tahu segalanya.Ketika memasuki kelas yang baru dan mencari tempat duduk yang pas buatku untuk menuntut ilmu .Dia sudah ada di dalam ruangan kelas kami yang baru itu. Aku langsung menyapanya sekedar saja.Ku anggap dia hanya teman biasa saja.Begitulah kisah kasihku di sekolahku yang sangat ku cintai sekitar dua puluh delapan tahun yang lalu yang tak kan pernah ku lupakan sepanjang hidupku.
Kesal Kepada Kakak
Namaku Andi. Setiap hari aku selalu berusaha bangun pagi sebelum matahari benar-benar tinggi. Udara pagi yang masih sejuk dan sinar mentari yang masuk melalui jendela kamar membuatku semangat memulai hari. Setelah merapikan selimut dan bantal, aku membersihkan tempat tidurku dengan rapi. Bagiku, memulai hari dengan kamar yang bersih membuat pikiran terasa lebih ringan.Setelah itu, aku membantu membersihkan rumah. Aku menyapu lantai ruang tamu, merapikan sandal di teras, dan sesekali membantu ibu mencuci piring jika ada yang tersisa di dapur. Walaupun terkadang terasa melelahkan, aku merasa senang karena bisa membantu orang tua. Setelah semua selesai, aku biasanya menyempatkan diri untuk belajar sebentar, membaca ulang pelajaran yang akan diajarkan hari itu agar lebih siap saat di sekolah.Namun, akhir-akhir ini semangat belajarku sedikit terganggu. Kakakku, Dian, sering bangun siang. Hampir setiap pagi saat aku sudah selesai menyapu dan bersih-bersih, ia masih tertidur di kamarnya. Awalnya aku tidak terlalu mempermasalahkan hal itu, tetapi lama-kelamaan aku merasa kesal. Aku merasa bekerja sendirian sementara ia tidak melakukan apa pun.Suatu pagi, saat aku sedang menyapu ruang tamu, kak Dian akhirnya keluar dari kamar. Rambutnya masih berantakan, matanya setengah terpejam sambil mengucek-ucek wajahnya. Tanpa memperhatikan sekeliling, ia berjalan melewati tumpukan debu yang sudah susah payah kukumpulkan. Debu itu kembali berhamburan dan sebagian menempel di telapak kakinya, lalu terbawa ke area yang sudah bersih.Aku terdiam sejenak, menatap lantai yang kembali kotor. Rasa kesal yang selama ini kupendam tiba-tiba memuncak. Lebih menyebalkan lagi, kak Dian tidak mengucapkan maaf sedikit pun. Ia hanya berjalan ke dapur untuk minum air seolah tidak terjadi apa-apa.“Aduh, Kak! Tadi aku sudah susah payah menyapu!” seruku dengan nada tinggi.Kak Dian hanya menoleh sebentar dan berkata singkat, “Iya, nanti juga bisa disapu lagi.”Jawaban itu membuatku semakin marah. Aku merasa usahaku tidak dihargai. Tanpa sadar, aku mulai memarahinya dengan suara yang cukup keras.Ibu yang mendengar keributan itu segera datang dari dapur dan menanyakan apa yang terjadi. Dengan nada masih kesal, aku menceritakan semuanya. Namun ibu justru berkata bahwa aku sedikit berlebihan dan seharusnya bisa bicara lebih baik.Aku merasa tidak dimengerti. Dengan perasaan kecewa, aku meninggalkan sapu begitu saja dan masuk ke kamar. Di dalam kamar, aku duduk termenung. Perasaanku campur aduk antara marah, sedih, dan merasa tidak adil.Tak lama kemudian, ayah datang menghampiriku. Ia duduk di tepi tempat tidur dan bertanya dengan lembut apa yang sebenarnya terjadi. Kali ini aku menceritakan semuanya dengan lebih tenang, termasuk kekesalan yang sudah kupendam beberapa hari terakhir.Ayah mendengarkan dengan sabar tanpa memotong pembicaraanku. Setelah itu, ia mengangguk pelan dan berkata bahwa setiap masalah sebaiknya diselesaikan bersama, bukan dengan emosi.Ayah lalu memanggil kak Dian yang sedang minum air di dapur dan memintaku duduk di kursi ruang tamu. Kami duduk berhadapan. Suasana terasa sedikit tegang.Ayah mulai bertanya kepada kak Dian mengapa akhir-akhir ini ia sering bangun siang. Kak Dian meletakkan gelasnya dan menjelaskan bahwa ia sedang mengerjakan sebuah proyek bersama teman-temannya. Ia sering begadang untuk menyelesaikan tugas tersebut agar hasilnya maksimal.Aku terkejut mendengarnya. Selama ini aku tidak tahu soal proyek itu. Sedikit demi sedikit, rasa kesalku mulai mereda. Aku mulai memahami alasan kak Dian bangun siang.Namun ayah tetap menegaskan bahwa meskipun memiliki kesibukan, tanggung jawab di rumah tidak boleh diabaikan. Ia mengatakan bahwa kak Dian harus belajar mengatur waktu dengan lebih baik agar tetap bisa membantu di rumah tanpa mengorbankan proyeknya.Sebagai konsekuensi, ayah memberikan hukuman ringan kepada kak Dian, yaitu ia harus membantu pekerjaan rumah selama beberapa hari ke depan dan tidak boleh begadang terlalu larut.Kak Dian menatapku dan dengan tulus berkata, “Maaf ya, Andi. Kakak tidak bermaksud membuatmu kesal. Mulai sekarang kakak akan atur waktu lebih baik.”Aku pun mengangguk dan meminta maaf karena tadi sempat berbicara dengan emosi. Kami akhirnya saling memahami.Sejak hari itu, suasana pagi di rumah terasa lebih menyenangkan. Kak Dian tetap mengerjakan proyeknya, tetapi ia juga bangun lebih awal untuk membantu. Aku pun belajar bahwa sebelum marah, sebaiknya mencari tahu dulu alasan di balik suatu tindakan.Dan yang terpenting, aku belajar bahwa setiap masalah bisa diselesaikan dengan komunikasi yang baik dan saling pengertian.
Masa Indah Waktu Sekolah
Umur 5 tahun aku masuk sekolah TK. Aku disekolahkan di TK paramitha, sekolah dekat rumahku biar gak repot kali ya buat orangtuaku yang harus antar jemput aku tiap hari hehe. Waktu masih TK aku manja banget kalau ditinggal ibuku pulang aku selalu rewel bahkan nangis. Jadi kalau ibuku mau pulang harus ngumpet-ngumpet biar gak ketahuan aku. Nah alhasil aku selalu di marahi ibu, bahkan pernah dicubit. Seneng banget waktu masih TK tau kenapa? karena masih belum tau apa-apa jadi mikirnya gak terlalu berlebihan gitu deh. Dulu waktu TK sering diajarin menyanyi, menggambar, menulis bahkan pada hari tertentu diadakan gosok gigi bareng-bareng sama teman-teman, pokoknya seru, asyik. guru yang paling aku suka dari TK itu Bu Min, guru yang agak gendut tapi orangnya baik banget sampai-sampai Bu Min kenal dekat sama ibuku.Umur 7 tahun aku masuk sekolah SD. Aku sekolah di SDN Gading II. Dulu waktu pertama masuk SD kan ada tesnya nah waktu tes aku sakit jadinya nyusul deh. Jaman SD sama kayak jaman TK sama-sama serunya. Waktu SD aku senang banget karena aku mempunyai banyak teman cewek ataupun cowok. SD juga aku masih sering diantar jemput sama orangtua padahal ya gak jauh-jauh amat dari rumahku.Waktu aku duduk di kelas 2 atau kelas 3 gitu, aku pernah naksir temanku sebut saja namanya igon. Dia cakep terus rambutnya jabrik pokoknya bagiku dia cakep banget. Terus waktu aku duduk di kelas 4, aku juga pernah naksir kakak kelas namanya ijal. Jadi dulu kalau dia masuk pagi, aku selalu naruh surat di sepedanya ijal tapi aku selalu ditemenin temanku namanya Dila. Terkadang suratku gak dibaca sama dia, dia itu cuek banget. Jadi ya sudah aku sama dila sudah jarang naruh surat lagi di sepedanya ijal.Waktu kelas 5, aku pernah buat masalah sama temanku cewek namanya nadia. Masalahnya sih menurut aku tapi mungkin nadia ngadu ke orangtuanya jadi aku dinasihatin bla.. blaaa.. blaa hahaha.Menginjak kelas 6, aku mulai banyak teman bahkan aku hafal nama temen-temenku yang sekelas sama aku. Mereka seru banget, gokil dan asyik. Di kelas 6 inilah aku punya banyak sahabat, mulai dari bella, dilla, sella, gabby, audy, dian, elky, rere dan masih banyak lagi. Aku senang plus bahagia kenal sama mereka semua karena berteman sama mereka gak bakalan jadi jenuh adanya ketawa terus. oh iya, kelasku dulu sempat tawuran (ceweknya) sama SDN Gading I, kan Gading I sama Gading II itu sehalaman gitu, gak tau apa masalahnya. Jadi pulang sekolah itu menuju gang sepi, terus disitu deh tawuran mulut sama-sama ceweknya (gak anarkis kok, Cuma mulut aja yang main).Kelas 6, aku baru pergi ke sekolah bareng teman-teman naik sepeda. Kadang aku jemput teman dan terkadang aku yang dijemput sama mereka. Aku juga pernah suka sama temanku namanya erik, sampai-sampai kau benci sama orang yang dekat sama dia meskipun dia temanku sendiri. Padahal tuh ya dia jelek item tapi gak tau kenapa aku suka sama dia ya?, pertanyaan yang aku gak tau jawabannya hehhe. Namanya anak SD paling juga cintanya cinta Monyet kan anak SD gak tau apa-apa masih rada polos. UN pun datang, aku waktu SD gak pernah tau apa UN itu dan waktu dilaksanakan UN aku kira itu ulangan biasa hahah. dan waktu danem keluar, danemku kecil deh.Umur 13 aku sekolah swasta di sekolah islam ternama di Surabaya utara. Pertama masuk aku sama temanku SD namanya tira. Aku disekolahkan satu sekolah sama dia karena orangtuaku sama orangtua tira itu sangat dekat jadi kaya saudara gitu. Masuk awal sudah dimulai MOSnya. Waktu di kelas kan ditanya sama kakak OSIS “yang belum dapet topi angkat tangan?” ya sudah aku angkat tangan, terus ada yang bilang “kalau cewek gak pakai topi”. duh sumpah aku malu banget.Aku menjalani MOS selama 3 hari dan pulangnya itu sore banget, benar-benar tega tuh kakak OSIS. Waktu kelas 1, aku duduk satu bangku sama yeni, dia gendut tapi hatinya baik banget, selalu ngasih solusi kalau aku curhat sama dia. Dulu aku pernah dihajar habis-habisan sama orangtua gara-gara aku mokong bahasa jawanya. Aku pernah gak dikasih uang saku sama orangtuaku, yeni baik sampai aku dibeliin jajan sama dia. Dulu aku juga pernah tengkar sama temenku namanya dwi Cuma gara-gara cowok yang gak jelas asal-usulnya hahaha.Kelas 2, aku duduk sama anak yang namanya alviola. Dia baik sih tapi terkadang pelit banget. kelas 2, kelasku itu kaya kelas neraka. Anak cowoknya bandel-bandel sampai wali kelasku yang cowok aja dibikin nangis sama anak-anak, benar-benar terlalu memang mereka. Aku juga banyak teman kayak entik, indah, Zahra dan ada lagi di lain kelas. Kalau entik, dia baik banget kadang aku diajak sholat bareng dia dan gengnya, malu sih kalau pertama kali tapi sudah keseringan jadinya gak malu lagi. Kalau indah itu, dia sering main ke rumahku sama bawa pacarnya. Aku juga pernah ribut sama kakak kelas hahha (aku memang selalu cari ribut ya).Kelas 3, aku duduk sama mitha, dia baik banget curhat ya sama dia istirahat juga bareng sama dia tapi gara-gara ada konflik musuhan deh sama dia hahhaha, trus cari temen lagi. Sampai kau punya 2 sahabat cowok yang setia sama aku, namanya hoki sama roni. Mereka kalau ada apa-apa biasanya sering main ke rumahku.Umur 16, lagi-lagi aku sekolah di sekolah swasta islam ternama di Surabaya utara. Waktu MOS, sumpah susah banget, disuruhnya bawa yang aneh-aneh sama OSISnya dan OSISnya itu galak banget. Tapi untung saja masih ketemu teman SMP jadinya gak kayak orang bego yang gak punya teman hahha…Waktu kelas 1 aku masuk ke geng x tapi gak tau kenapa dimusuhi sama mereka semua, ya sudah aku ngejauh dan deket sama temen yang lainnnya dan untungnya mereka menerima aku tapi lama-lama aku juga musuhan sama mereka semua hahaha..Naik kelas 2, aku kayak orang bego yang gak punya teman. Tapi aku duduk sama rosa, dia baik dia cerewet tapi asyik. Lama kelamaan aku mengenal teman sekelasku mulai dari eka, nanda, nita dan lain lain. Aku pernah naksir sama wicak, smsan manggilnya beb kalau gak sayang hehe padahal wicak sudah punya pacar dan pacarnya ya sama sekelas sama kita. Tapi lama-kelomaan aku udah gak naksir sama wicak. Kelas 2 ini, aku mulai nyaman sama mereka, mereka gak tau kenapa aku cocok temenan sama mereka. Kalau lagi jam kosong atau gak ada gurunya, tujuan utama kita selalu ke kantin makan kalu gak ya Cuma beli jajan dan dimakan di kelas.Dulu aku dekatnya sama rosa, kalu ada apa-apa aku selalu cerita ke dia begitupun sebaliknya tapi setelah aku tau dia seperti apa akhirnya aku cerita ke teman yang lain kalu rosa anaknya seperti itu (jahatnya aku hahaah) dan anak-anak juga ngejauhi dia karena di sisi lain, dia juga lenjeh terus malesan. Dulu juga pernah buber (buka bareng) sama mereka semua, mblakrak kemana-mana. Kelas 2 juga sering buat guru jadi ngambek, marah dan gak mau ngajar kelas kami lagi sebelum kami semua buat surat pernyataanNaik kelas 3, kami pun pisah kelas. di kelas 3 juga sama kaya kelas 2 yang sering membuat jengkel semua guru yang mengajar di kelas. Sampai-samapi wali kelas kewalahan buat ngatur kelas. Waktu menjelang UNAS kelas kami jarang serius, bimbel pun jarang masuk hhaa.. Aku dekat banget sama nita, rumah kita dekat jadi kalau aku gak ada yang jemput biasanya aku nebeng ke dia. Tapi kita juga pernah tengkar gak tau aku punya salah apa sama nita tiba-tiba dia gak menyapa aku dan menjauh dari aku ya sudah aku diem aja, untung teman kalau gak sudah aku ajak berantem tuh orang!. gak tau kesambet apa, tiba-tiba dia minta maaf sama aku dan ngejelasin semuanya, akhirnya kita balik lagi jadi temen dekat kaya sahabat.UNAS datang dan kamipun harus belajar giat dan mengurangi main-main. Setelah UNAS baru kami bermain lagi sambil menunggu pengumuman danem dan hasil SNMPTN. Akhir cerita, aku ketrima di SNMPTN dan teman-teman gak ada yang ketrima.Singkat cerita, jangan pernah sia-siakan masa sekolahmu karena masa sekolah gak akan pernah terlupakan. Apalagi masa SMA, memang bener kata orang masa SMA adalah masa yang paling seru, bahagia, merdeka. Apalagi teman-teman yang sudah ngebuat kita senyum, marah, jengkel, senang. Teman SMA gak bakalan ditemuin di jenjang manapun
Hargai Waktu Dengan Hari Yang Layak
Saat jam istirahat sekolah, Bulan membaca buku novel berjudul The Magician's Nephew di perpustakaan. Bulan sudah hampir selesai membaca novel tersebut dan rencana akan melanjutkan membaca seri kedua dari novel The Magician's Nephew. Perpustakaan SMA N 1 Pengasih menyediakan buku lengkap dari buku non fiksi maupun fiksi. Tidak sulit untukmencari Bulan karena setiap waktu jam istirahat berada di perpustakaan. Bulan senang membaca buku fiksi maupun non fiksi tidak heran jika Bulan peringkat satu dikelas.Bulan baru saja selesai membaca novel dan hendak mengembalikan novel tersebut ke rak buku. Saat itu juga suara riang menyapanya, "Bulan!" begitu Bulan menoleh, ia melihat Amel kawan sekelasnya. "Halo... Amel!" Bulan membalas sapaanya. "Kamu nanti mau ikut ke rumah Asri tidak? Kita mau memasak kue bersama lho! Ikut ya..." Amel membujuk Bulan dengan muka memelas. "Maaf aku tidak bisa ikut, hari ini aku ada les sore" Terang Bulan. "Kamu tidak capek setiap hari les terus?", "Sebenarnya sih capek, tapi ini demi kebaikanku juga, aku harus belajar keras supaya bisa masuk di Harvard" Bulan berkata sambil memijit kepalanya karena terasa pusing. "'Tapi kamu juga butuh refreshing, mungkin kamu bisa ijin tidak ikut les sekali saja." saran Amel. "Tidak bisa aku harus konsisten, jika sejak awal aku ingin masuk ke Harvard maka aku harus belajar dengan giat." Bulan berbicara sambil bersandar di rak buku. "Oke baiklah jika kamu tidak mau ikut, kita ke kelas saja yuk sudah bel nih." Ajak Amel. "Oke baiklah." Kata Bulan menggandeng tangan Amel kawannya menuju ke kelas.Di kelas, Bulan mengikuti pelajaran matematika hari ini dengan tidak semangat. Bulan merasa letih dan pusing tanganya menyangga kepalanya agar tidak tertidur saat pelajaran."Kamu kok terlihat pucat Bulan kamu sakit?" tanya Amel teman sebangkunya. "Iya nih kepalaku dari tadi pusing."" "Mau aku antar ke UKS supaya kamu bisa istirahat?" Ajak Amel denganmuka khawatir karena takut terjadi hal buruk pada sahabatnya seperti pingsan di kelas. "Tidak terima kasih aku harus mengikuti pelajaran matematika."Bel pulang berbunyi semua murid memasukkan buku kedalam tas untuk berkemas pulang. Sebelum pulang Pak Solihin mengumumkan informasi. "Baik siswa-siswa sekarang kelas sudahberakhir. Saya berharap kalian semua bisa ikut seleksi olimpiade matematikayang diadakan besok pukul empat sore di sekolah. Siswa terpilih akan mengikuti olimpiade matematika yang diselenggarakan tiga bulan lagi di Jakarta. Sekian pengumuman hari iniselamat siang." Kata Pak Solihin sambil pergi meninggalkan kelas.Bulan dan siswa lainpun pulang. Sesampainya di rumah Bulan berencana akan mengikuti seleksi tersebut karena yakin bahwa Bulan yang akan terpilih. Bulan sangat suka pelajaran matematika Bulan pernah juara beberapa kali olimpiade matematika saat SMP. Saat akan belajar untuk persiapan seleksi tiba-tiba kepalanya pusing kembali dan badannya sangatlemas sekali Bulanpun memutuskan untuk tidur siang dan terbangun sorenya karena di sorehari Bulan ada les privat.Esoknya di sekolah Bulan berjalan dengan lambat menaiki tangga sekolah. Tiba-tiba kepalanya sakit lagi, Bulanpun terjatuh dari tangga dan semua buku yang ada ditangannya ikut jatuh pula. Namun untungnya Bulan dapat menyelamatkan diri, Bulan melihat kseluruh tubuhya apakah ada yang terluka atau tidak. Semuanya baik-baik saja."Bulan, kok bisa terjatuh, kamu tidak apa-apa? Sini aku bantu." Asri bertanya sambil membantu mengambil buku Bulan yang terjatuh. "Emm aku tidak apa-apa. Terima kasih ya Asri, sudah ya aku pergi dulu." Bulan berusaha berdiri dan lalu pergi ke kelasnya. Sesampainya di kelas Bulan langsung duduk di bangkunya. "Hai Bulan, kamu kok masihterlihat pucat kamu masih sakit?" tanya Amel sahabat Bulan. "'Aku sehat kok." Jawab Bulan singkat. "Kamu yakin?" Amel bertanya lagi. "Iya aku yakin."Tanya Amel lagi. "Aku baik-baik saja Amel. Berhenti terlalu mengkhawatirkanku!" Bulan berkata dengan keras. "Mmm maaf, aku sangat khawatir padamu karena kau sahabat terbaikku. Aku tidak ingin hal burukterjadi padamu." Amel berkata meninggalkan Bulan. Bulan merasa bersalah karena telah memarahi Amel. Bulan bisa melihat kekecewaan Amel dari raut mukanya.Bel pulang berbunyi, Bulan dan Amel tidak berbicara sepatah katapun sedari pelajaran pertama tadi. Bulan ingin meminta maaf pada Amel tapi mungkin ini belum waktu yang tepat. Semua siswa telah pulang ke rumah masing-masing, tapi Bulan masih menunggu ibunya menjemput. Beberapa lama kemudian ibunya datang dengan mobil segera Bulan menghampiri ibunya. Di dalam mobil Bulan merasa ada sesuatu yang berbeda pada tubuhnya, Bulan merasa sangat letih. "Bulan kamu baik-baik saja?" tanya ibunya. "Ya Bu aku baik-baiksaja!"jawab Bulan. " Kamu tidak boleh berbohong pada ibu Bulan, kamu sangat lelah pasti. Mukamu terlihat pucat sampai dirumah nanti kamu harus tidur oke!" suruh ibu Bulan. "Tidak tidak Bu aku harus belajar lagi di rumah lalu pergi ke sekolah jam empat sore untuk ikut seleksi olimpiade matematika." Terang Bulan. "Bulan Ibu tahu kamu sangat suka matematika. ibu mengjinkanmu ikut seleksi tapi kamu harus tetap sehat. Dan kamu juga harus pintar membagi waktu." Ibu Bulan memberi saran lagi. "Terima kasih Bu, aku akan tidur siang nanti." Kata Bulan sambil memeluk ibunya.Sesampainya di rumah Bulan segera menuju kamarnya untuk istirahat. Tiba-tiba kepalanya pusing kembali, ibunya benar bahwa Bulan harus istrirahat. Bulanpun tidur siang di kamarnya."Ya ampun aku terlambat!' Bulan berkata dengan keras. Jam telah menunjuk pukul tepat empat sore. Bulan segera mandi dengan cepat. Setelah selesai mandi lalu mengenakan baju yang rapi dan menyiapkan buku matematika kedalam tas. Saat keluar kamar Bulan merasa lelah dan bibirnya sangat pucat, badanya panas Bulan berjalan lambat. Dan Bulan pingsan di ruang tamu. "Bulan!"teriak ibu dan ayah Bulan. "Cepat bawa ke rumah sakit." ibu Bulan berkata dengan keras karena sangat khawatir pada anaknya. Bulan membuka mata perlahan, pertama-tama penglihatannya kabur namun beberapasaat kemudian penglihatannya semakin jelas. Bulan melihat sekeliling, ruang yang tampak asing serta ibu dan ayahnya, juga Amel serta teman-teman yang lain ada di sampingnya."Ibu aku dimana? kenapa teman-temanku disini?" Bulan berkata dengan lirih. "Kamu berada di rumah sakit sekarang, teman-teman menjengukmu. Dokter bilang kamu terkena tipes." kata ibu Bulan merasa lega karena Bulan telah sadar dari pingsan. "Oh ya ampun aku lupa, aku harus pergi ikut seleksi!" ucap Bulan dengan panik. "Tenang, tenang Bulan, seleksinya telah berakhir enam jam yang lalu Asri yang terpilih untuk mengikuti olimpiade matematika."Terang ayah Bulan. "Apa itu tidak mungkin, ayah hanya bercanda kan?Hiks...hiks...bagaimana bisa aku melewatkan seleksi itu?" Bulan berkata sambil menngis kecewa. "Ayahmu tidak bercanda Bulan, yang sabar oke. Kamu masih punya banyak waktu untuk meraih mimpimu setinggi langit jadi jangan menyerah. Sekarang yang paling penting kamu harus sehat dulu sehingga kamu bisa meraih cita-citamu dengan mudah." ucap Amel sambil memeluk Bulan.Kemudian Bulan tersadar bahwa dirinya salah. Bulan terlalu fokus pada belajarnya hingga lupa akan kesehatan tubuhnya. "Amel, terima kasih telah mendukungku. Aku minta maaf, aku terlalu egois, sehingga aku lupa pada yang lainnya. Bahkan sampai-sampai akumemarahimu padahal kamu peduli denganku. Maafkan aku Amel." Terang Bulan sambil memeluk Amel dengan erat. "Tidak apa-apa aku sudah memaafkanmu duluan, aku paham bahwa kamu sangat ingin ikut olimpiade tersebut. Ini aku membawa novel The Magician's Nephew untuk kamu baca selama dirawat di rumah sakit." Amel membawakan Bulan buku novel. "Wahhh terimakasih, kamu memang shabat terbaikku." Ucap Bulan dengan sangat senangSemenjak kejadian itu Bulan berjanji akan lebih menghargai waktu, karena waktulah yang mengetahui segalanya tentang apa yang akan terjadi dan yang sudah terjadi. Bulan ingin waktu itu dimanfaatkan sebaik-baiknya serta menjadi hari yang layak. Tidak hanya untuk dirinya namun juga orang lain terutama orang tuanya dan sahabatnya.
Tidak Semua Seberuntung Kita
Malam minggu sehabis pulang dari rumah teman, ibu mengajakku ke pasar tradisional yang letaknya di perempatan, kira-kira sekitar 500 meter dari rumah."Ky, besok pagi temani Ibu ke pasar ya, mumpung besok kamu libur sekolah. Bapak kamu pengen dimasakin sayur buncis dan ikan asin...", ucap ibu."Baik bu...," jawabku sembari membaringkan badan di tempat tidur.Keesokan harinya, sehabis mandi aku memanaskan motor dan mengisi bensin di warung sebelah sebelum menuju pasar, aku pun melihat ibu sudah bersiap-siap untuk berangkat.Sesampainya di pasar, sungguh tersentuh hatiku melihat seorang peminta-minta di samping tempat parkir, memegang sebuah buku bertuliskan "Belajar Menulis dan Membaca".Sontak saja air mataku mengalir perlahan menyaksikan kenyataan tersebut. Aku mulai menyadari betapa banyaknya orang-orang di luar sana yang tidak punya kesempatan bersekolah secara formal.Karena merasa iba dan kasihan, aku berinisiatif untuk memberikannya makanan serta beberapa buku pembelajaran, tanpa sepengetahuan ibu.Sembari menunggu ibu selesai belanja, aku bergegas membeli beberapa jenis makanan serta buku bahan bacaan untuk si peminta-minta tersebut.Di tengah obrolan dengan anak itu, aku melihat ibu sudah sampai di parkiran. Aku pun pamit dari anak tersebut dan dia benar-benar berterima kasih kepadaku."Bu, udah lama...?" Tanyaku."Belum. Kamu dari mana aja tadi...?" Tanya ibu penasaran."Dari situ, Bu...." ucapku sambil menunjuk ke arah anak tersebut."Aku membelikannya makanan dan buku. Aku sangat kasihan dengannya yang kurang beruntung baik dari segi ekonomi maupun pendidikan," sambungku."Bagus, akhirnya kamu menyadari bagaimana dunia ini menciptakan perbedaan, dan itulah yang harus selalu disyukuri setiap manusia. Jadikan kenyataan pagi ini sebagai motivasi dan inspirasi bagi kamu, untuk tidak bermalas-malasan dalam menuntut ilmu..." tuntas ibu."Baik bu, aku tidak akan menyia-nyiakan setiap kesempatan yang ada.." tutupku.Kemudian aku dan ibu langsung pulang menuju rumah
Kisah Dua Sahabat dan Waktu
Dikisahkan ada dua sahabat yang berasal dari kampung yang sama. Mereka seumuran dan sejak SD sampai SMA selalu sekelas. Hal ini pun membuat bumbu kedekatan mereka samakin kuat.Meskipun mereka akur, namun ada perbedaan dalam prinsip menggunakan waktu. Aldo adalah pemuda rajin yang selalu optimis menyambut masa depan. Sedangkan Doni, adalah pemuda yang selalau mengedepankan "nyelow" dalam hidupnya.Aldo rajin membaca buku utuk investasi masa depan, ia berfikir bahwa ilmu yang ia dapat dari buku akan berguna bagi hidupnya di masa depan. Sedangkan Doni, ia pebih suka main sosmed, baginya hidup itu simpel, jalani dan juga nikmati.Saat SMA, Aldo sudah memberanikan diri untuk berinvestasi. Uang yang ia dapat dari orang tunya ia belikan emas. Sedikit demi sedikit, emas Aldo sudah membukit. Sedangkan Doni lebih suka membeli pakaian, handphone baru dan lainya.Tibalah saat masa kuliah. Keduanya berpisah. Aldo mengambil jurusan kehutanan dan Doni mengambil jurusan manajemen bisnis. Walau beda kampus, mereka selalu menyempatkan berkomunikasi, bahkan setuap sebulan sekali mereka sering ngobrol di warung kopi.Sifat keduanya tidak berubah. Aldo tetap dengan optomisme menyambut masa depan, sedangkan Doni selalu "nyelow". Hingga kemudian secara perlahan mulai terlihat beberapa perbedaan atas apa yang mereka miliki.Saat kuliah Aldo sudah bisa membeli tanah untuk kebun kayu dari uang tabungan emasnya. Sedangkan Doni masih 0 besar, hidupnya masih tergantung dari kiriman orang tua.Aldo pun berhasil mendapat beasiswa, berkat ia rajin membaca buku. Sedangkan Doni justru sering mengulang mata kuliah sehingga haru membayar SPP 2 tambahan. Kemudian beberapa tahun kemudian mereka pun lulus.Singkat cerita, 15 tahun kemudian kondisi sudah sangat berbeda. Aldo menjadi orang yang sukses dengan segudang usaha. Sedangkan Doni menjadi karyawan di salah satu perusahaan swasta. Dititik inilah Doni kemudian sadar bahwa dia telah menyianyiakan waktu, dia mengaku tidak belajar dari Aldo dan terlalu "nyelow" menyukapi hidup.Aldo sudah menabung sejak muda, kini beberapa tabungan yang ia investasikan di kebun kayu pun menuai hasil miliyaran. Emas di tabungan Aldo juga sudah sangat banyak. Sedangkan Doni hanya mengandalkan gaji untuk memenuhi kebutuhan hidup.Dari cerita ini kita bisa mengambil pelajaran berharga tentang memakai waktu saat ini untuk merencanakan dan membantu masa depan. Dengan tabungan dan investasi, kita bisa mengunduh penghasilan berlipat dimasa depan. Namun jika kita hanya leha leha saya, maka masa depan menjadi taruhan nya. Kesimpulanya, waktu adalah modal terbaik dalam menjemput suskes, dengan catatan memaksimalkan penggunaan waktu.
Pelukis Bertarif Mahal
Ada cerita seorang ibu dengan anaknya umur 7 tahun sedang makan di restoran mewah. Tiba-tiba anak tersebut menangis dan merengek-rengek pada orang tuanya itu. Barang saja mamanya langsung kebingungan dan gugup. Makan baru saja mau selesai, belum juga minum sudah ada gangguan.Sambil celingukan ibunya pandang sana-sini, selain untuk memastikan keadaan di sekitar juga hendak mencari solusi. Siapa tahu ada hal yang bisa membuat anaknya terdiam. Tak dinyana, ternyata ia menemukan seorang pelukis terkenal yang juga ikut makan. Duduknya di meja ujung ruangan.Tanpa pikir panjang dan basa-basi ibu itu menghampiri si pelukis bersama anaknya yang masih sesenggukan. Anaknya berhasil dirayu untuk mengakhiri tangisan dengan iming-iming akan memperoleh lukisan. Akhirnya muka melasnya mulai sedikit hilang. Ia tergoda rayuan maut mamanya.Setelah menyapa, mama muda itu bertanya pada pelukis "Pak, boleh minta tolong menggambar untuk anak saya ini? Maaf, nanti saya beri uang sebagai gantinya untuk menghormati Bapak."Pelukis itu menanggapi "Baik Bu, kebetulan saya sedang menunggu pesanan makan. Akan saya buatkan lukisan indah khusus untuk usia anak anda."Ibu itu gembira mendapat kehormatan tersebut. Ia berucap penuh syukur "Terima kasih banyak Pak, jadi tidak enak nih."Setelah 10 menit-an akhirnya lukisan itu selesai. Pelukis itu penuh semangat memberi tahu "Ini bu, lukisan untuk anak anda telah selesai. Silakan... ini."Ibu itu ikut melihat hasil akhirnya "Wah bagus banget Pak, anak saya pasti senang.... ooh iyaa.. biayanya berapa pak?"Dengan enteng pelukis itu bilang "500 ribu saja bu, harga khusus untuk anak anda."Ibu itu sungguh kaget. Wajahnya lebih pucat dari saat anaknya tadi menangis. Sekonyong-konyong ia bilang "Loh Pak, kok mahal banget? Kan bapak melukisnya cuma kurang dari 10 menit. Cepat banget dan terlihat begitu mudah."Pelukis itu tidak tersinggung dan tak emosi. Ia tahu risikonya. Ia menjawab sambil berusaha memberi "inspirasi" bagi ibunya. Lagian pelukis itu menyadari bahwa mereka berada di tempat makan ekslusif. Tujuan orang-orang kaya berkumpul. Menurutnya harga sebesar itu sudah wajar. Sesuai dompet.Lintas ia memberi penjelasan pada si Ibu "Begini bu, memang saat membuat lukisan ini saya lakukan dengan cepat dan terlihat mudah. Namun, agar mempunyai kemampuan melukis seperti ini saya butuh waktu lama. Butuh mencari ilmu yang tak mudah. Serta butuh kerja keras di masa lalu yang tak bisa dibilang gampang."Pelukis itu menambahi "Sejatinya, ibu tidak membayar apa yang sedang saya lakukan sekarang ini. Begitu pula tidak membayar waktu 10 menit saya untuk melukis. Ibu membayar apa yang saya lakukan di masa lalu. Ibu membayar semua yang telah saya lakukan untuk bisa menjadi pelukis seperti sekarang ini... Lagian uang 500 ribu untuk ibu sangat sedikit. Ibu mampu makan di restoran mewah ini tentu akan jauh lebih mampu ketika membayar lukisan saya ini."
Ingin Kamu Yang Dulu
Menatap langit yang hanya dipenuhi asap gelap. Rintikan hujan turun membasahi tiap sudut kota. Udara dingin serentak memeluk erat tubuhnya. Acha menghela nafas. Helaan nafas berat yang selalu ia hembuskan setiap kali air dari langit itu turun. Helaan nafas sesak yang selalu terasa dua tahun ini.dirogohnya ponsel hitam polos miliknya di saku seragam sekolahnya. Ditekannya salah satu tombolnya. Menyala, dan Acha tersenyum hambar. Wallpaper ponsel itu bahkan masih belum mau berubah. Tetap wajah seorang lelaki tampan yang tiba-tiba menghilang entah ke mana."Aku kangen kamu Zy , aku kangen kamu yang dulu .." ujar AchaDua tahun berlalu , kini Acha sudah duduk di bangku kelas 1 SMA , masih teringat jelas dibenaknya masa-masa dua tahun yang lalu saat ia bersama lelaki itu"Cha , gua janji sama lo gak akan buat lo sedih apalagi sampai meneteskan air mata , gua janji bakal jagain lo selamanya Cha .." Ujar lelaki ituTapi itu hanyalah sebuah masa lalu , kini sosok lelaki itu telah menghilang . bukan lelaki itu yang menghilang tapi sifat lelaki itu yang kini menghilang . Perubahan itu terjadi saat Ozy melihat Acha sedang bersama seorang lelaki padahal saat itu Ozy dan Acha masih berstatus berpacaran . Ozy terlihat sangat marah terhadap Acha mulai sejak saat itulah Ozy memendam rasa benci dan selalu bersikap semena – semena kepada Acha , dan Acha hanya bisa sabar menerima perlakuan kasar dari Ozy ."Tuhan .. kembalikan Ozy seperti yang dulu .." Lirih Acha"Hey Cha , lo kenapa ??" Ujar seorang temannya seraya menepuk pundaknya"Eh elo Ik .. enggak kenapa-kenapa kok Ik ..!""gua tau kok Cha , pasti lo sedih liat Ozy yang sekarang kan ??"Acha hanya bisa mengangguk pelan , air mata Acha perlahan mulai turun . ia hanya bisa menangis seraya memeluk erat tubuh sahabatnya itu , tangisannya seakan menjadi bukti bahwa ia sangat merasakan kesedihan mendalam terhadap perubahan sifat Ozy yang seperti ini."Cha lo yang sabar ya . gua janji kok sama lo bakal bantuin lo ""Makasih ya Oik ..""Iya sama – sama . ya udah gua keluar dulu ya ..""Iya .."Dari kejauhan dilihatnya lelaki itu sedang bercanda tawa dengan teman – temannya , Acha hanya bisa tersenyum miris melihat Ozy bisa tertawa lepas seperti itu , Acha mulai berjalan keluar kelas nya menuju suatu tempat yang bisa memberikan ketenangan baginya ."Biasanya gua sama Ozy selalu bercanda bareng disini , tapi itu dulu . Tuhan , sampai kapan gua harus kaya gini .." Gumam AchaHembusan angin terasa sangat menyejukan suasana hari ini , daun – daun pepohonan mulai berjatuhan meninggalkan batangnya , Acha hanya bisa memeluk lututnya untuk melampiasan rasa sedihnya tersebut . bendungan kecil di matanya pun tak mampu tertahan lagi"Dreetthh .." Handphone Acha bergetar dilihatnya ada 1 pesan dari Oik , setelah membaca pesan tersebut Acha segera berlari kembali kesekolahnya"Ada apa sih Ik ..?? " Tanya Acha saat sudah berada di depan Oik"Panjang ceritanya , ayo lo ikut gua ke UKS .." Ujar Oik menarik tangan AchaSesampainya di UKS dilihatnya seorang lelaki berpostur tinggi dan berkulit hitam manis itu sudah terbaring kaku dengan beberapa memar di bagian wajahnya , Acha terlihat sangat shock , mata Acha mulai berbinar dan segera mendekati lelaki tersebut"Ozy , lo kenapa ?? Ozy bangun .. jangan bikin aku khawatir .." Lirih Acha"Cha , dari pada lo goyang – goyangin tubuh Ozy kaya gini , mending lo obatin luka dia aja , kasian dia , liat mukanya berdarah babak belur .." Ujar Oik"Iya Ik .."Acha bangkit dari duduknya dan segera mencari air hangat untuk membersihkan sisa – sisa darah di wajah Ozy , sesaat kemudian Acha sudah kembali dengan membawa air hangat"Ik , kok bisa kaya gini sih , gimana ceritanya ??" Tanya Acha seraya membersihkan luka Ozy"Tadi kata deva , ozy berantem sama ray cha .." jawab Oik"Kok bisa ??""Gua gak tau cha , lo Tanya aja deh nanti sama ray .."Acha hanya mengangguk pelan , dengan perasaan yang lembut dan penuh kasih sayang Acha dengan hati – hati mengobati luka Ozy . Air mata Acha mulai terbendung di pelupuk mata nya , Acha menatap miris wajah lelaki yang masih berstatus pacarnya itu ."Aku tetep sayang sama kamu zy , walaupun kamu udah benci sama aku tapi sampai kapan pun kamu tetep pacar aku .." Lirih AchaAcha menghapus air mata nya yang perlahan mulai mengalir di wajah cantik nya , acha menengadah melihat langit langit UKS , melintas sejenak di pikirannya saat ia dan ozy sedang berada di sebuah pantai sedang membuat istana pasir mereka secara bersamaan ."Yee , Istana nya udah jadi .." Girang Acha"Iya cha , nanti kalo kita udah nikah , nanti kamu aku buatin istana yang nyata , bukan cuma istana pasir seperti ini .." ujar Ozy memeluk tubuh Acha dari belakang"Makasih ya zy .. aku sayang banget sama kamu ..""Aku juga sayang sama kamu , Sampai kapan pun kamu akan tetap jadi pacar aku walaupun nanti kamu nikah sama orang lain pokoknya kamu tetep pacar aku , dan aku janji bakal rebut kamu lagi dari orang itu kalo itu sampe terjadi .." Tegas ozy mencium pipi AchaAcha hanya bisa tersenyum miris saat mengingat hal tersebut , bendungan kecil itu tak mampu ia tahan lagi , dengan derasnya bendungan tersebut mengalir membasahi wajah manis gadis ini . dengan cepat Acha lansung menghapusnya dengan tangannya , di lihatnya ozy masih belum sadarkan diri ."Andaikan aja kamu tau zy kenyataan yang sebenarnya , orang itu bukan pacar aku atau pun selingkuhan aku , dia itu kakak aku zy . kakak aku dari malang , tapi kamu gak pernah mau dengerin penjelasan aku . apa kamu emang udah benci banget sama aku .." Lirih Acha seraya menyentuh lembut wajah ozy"Sabar ya Cha .. Gua janji sama lo bakal bantuin lo , bakal buat ozy kaya dulu lagi . lo jangan nangis , gua gak mau liat lo nangis gini .." Ujar Oik memeluk tubuh sahabatnya ini"Iya , makasih ya ik .."Oik melepaskan pelukannya , kemudian pergi meninggalkan UKS mebiarkan Acha bersama Ozy . Hanya ini lah kesempatan Acha untuk bisa melihat wajah ozy sedetail ini untuk melampiaskan rasa rindu nya selama ini kepada Ozy . Acha tersenyum manis menahan pahit yang ia rasakan ."Aku percaya , suatu saat kamu bakal berubah kaya dulu lagi . Aku cuma buat kamu , dan aku gak mau yang lain karena aku cuma mau kamu .." Lirih Acha mencium kening OzyTak bisa aku berdiri tegap sampai hari iniBukan karna kuat da hebat dan hebatkuSemua karena cinta , semua karena cintaTak mampu diriku dapat berdiri tegap"Aku jaga hati ini cuma buat kamu , sampai kapan pun aku akan slalu ada buat kamu , dan hati ku selalu akan menerima mu.." Ujar AchaSudah setengah jam berlalu tapi ozy tak kunjung sadarkan diri , Acha masih tetap setia menemani ozy yang masih tak sadarkan diri itu . Acha menyandarkan tubuh nya di dinding UKS, air mata nya terus mengalir tanpa henti nya , hanya selang beberapa saat tangan tangan mungil ozy mulai bergerak , Acha yang menyadari hal itu lansung mendekati ozy ."Ozy .. Kamu udah sadar . lo gak apa – apa kan ??" Ujar Acha dengan meta berbinar"Gue dimana ..??" Lirh Ozy dengan nada yang masih lemas"kamu di UKS , tadi kamu pingsan .." jawab Acha lembut"Ngapain lo disini .. pergi lo sana .." Bentak ozyDengan sisa sisa tenaga nya yang masih terkumpul Ozy lansung mendorong tubuh Acha sampai acha terhempas di lantai dan kepala nya membentur tembok , Ozy terlihat sangat murka saat melihat Acha tadi . Acha meringis kesakitan tapi ozy tak memperdulikannya , Ozy hanya diam menatap acha sinis ."Aww .." Rintih Acha memegangi kepala bagian belakangnya yang terbentur tembok"Ya allah , .." Lirih AchaTangan Acha telah berlumuran cairan merah yang bersumber dari bagian belakang kepalanya yang terbentur tembok tadi , Badan Acha mulai melemas , Acha menangis menahan sakit akan benturan di kepalanya , darah itu telah mengalir di leher dan di baju Acha ."Udah gak usah Ackting , gua gak kasian liat muka melas lo .." Ketus Ozy"Udah cepet lo pergi dari sini .." Tambah OzyAcha tak menghiraukan ucapan Ozy tadi , Acha terus menangis menahan rasa sakit yang ia rasakan , Acha memejamkan matanya seraya berdoa meminta pertolangan dari yang maha kuasa , tubuh acha benar – benar sudah tak berdaya , tubuhnya terkulai lemah di lantai tak sadarkan diri , menyadari hal itu Ozy lansung bangkit dari kasur dan mendekati Acha ."Lo kenapa ?? Bangun ! jangan ngerepotin gua kenapa .." Kesal Ozy"Ahh , sialan ini anak . kalo aja gua gak kasian sama lo udah gua biarin deh lo , biar lo mati .." Dumel OzyOzy menganggkat tubuh Acha ke atas kasur , Ozy lansung berlari keluar UKS untuk mencari Oik , Ozy berlari sekencang mungkin tanpa memperhatikan keadaan sekitar dan memperdulikan keadaanya , setelah sampai di kelas Oik Ozy lansung menghampiri Oik ."Kok lo disini Zy ..??" Tanya Oik heran"Udah deh gak usah bawel , itu temen lo sekarang udah mau mati di UKS .." Cerocos OzyOik kaget bukan main saat mendengar ucapan Ozy yang sangat kasar itu , Oik sudah sangat murka dengan ucapan Ozy , Emosi telah merasuki tubuh Oik tanpa pikir panjang tangan mungil Oik lansung mendarat keras di wajah Ozy ."Jaga ya omongan lo , lo itu biadab tau gak zy . Acha itu udah bela – belain ngobatin luka – luka lo tadi , lo malah ngomong kaya gitu .." Bentak Oik dengan nada yang sangat tinggiOzy masih tak percaya melihat oik semarah ini kepada nya , Ozy terus memegangi wajahnya yang di tampar Oik tadi , Oik memalingkan tubuhnya dari Ozy melenggang akan pergi menjauh dari lelaki tersebut , Oik benar – benar murka dengan lelaki tersebut ."Dan asal lo tau ya , yang nyelamatin lo pas lo hampir mati di tabrak mobil itu Acha . dan akibat nya dia 1 bulan di rawat di rumah sakit , dan itu cuma demi lo yang gak punya hati ini .." Bentak oik meletakan jari telunjuknya di kening Ozy"Dasar manusia gak tau terima kasih .." tambah oikKali ini oik benar – benar pergi meninggalkan Ozy yang masih tercengang melihat amarah Oik , sementara Oik sudah berlari menuju UKS untuk melihat keadaan sahabat nya itu . kaget bukan main , saat Acha melihat baju dan tangan Acha sudah berlumuran darah ,"Acha , lo kenapa ?? bangun cha bangun .." Histeris Oik"Lo sabar ya , gua bakal cari bantuan buat lo Cha .." tambah oikOik lansung berhamburan keluar dari dalam UKS mencari bantuan dengan wajah yang sudah di penuhin oleh air mata , setelah menemukan bantuan Acha pun lansung di bawa kerumah sakit sekitar , Oik tak lansung ikut kerumah sakit tak melainkan pergi ke kelas dahulu untuk mengambil tas acha . dilihatnya masih ada Ozy di sana , Dengan emosi yang meledak ledak Oik kembali medaratkan tangan nya ke wajah ozy dan kali ini lebih keras dari pada yang tadi ."Biadab lo ya , apa yang lo lakuin ke Acha haa ??" Bentak Oik"Gua gak ngapa – ngapain dia , gua cuma dorong dia pelan .." jawab ozy dengan ekspresi tanpa dosa"Lo memang bener – bener biadap . gak punya hati , lo liat aja gua bakal aduin kelakuan lo sama kakak lo , kak dayat biar lo tau rasa .." Ujar OikOzy kaget bukan main saat mendengar Oik akan memberitahukan hal ini kepada Kak Dayat kakak kandung Ozy , kak dayat memang orang nya keras dan kasar Ozy sudah membayangkan apa yang akan terjadi padanya selanjutnya , Ozy mencoba menahan Oik tapi oik sudah berlari jauh meninggalkan Ozy ."Argghhhh .." Ozy mengacak frustasi rambutnyaOik sudah di perjalanan menuju ke rumah sakit bersama dengan deva sepupu Acha , tak lama kemudian Deva dan Oik telah sampai dirumah sakit mereka dengan sesegera mungkin langsung berlari menuju UGD melihat keadaan Acha ."Acha tidak apa - apa , untung saja benturan itu tidak terlalu keras , kalau saja itu terjadi terlalu keras nyawa nya pasti tidak akan terselamat kan .." Ujar sang dokter kepada Oik dan Deva"Jadi Acha gak perlu di rawat dok ??" tanya Oik"Enggak perlu , Acha bisa lansung pulang tapi sebaiknya dia harus istrihat yang cukup bila dirumah nanti .." Saran dokter"baiklah dok terima kasih .." ujar OikDokter itu hanya tersenyum kemudian berlalu meninggalka oik bersama teman - temannya , dari dalam ruangan terlihat Acha tersenyum manis kearah teman - temannya yang sedang menunggunya di luar , dengan di temani oleh seorang dokter Acha pun keluar dari ruangan tersebut ."Lo gak apa - apa kan Cha ?? Gua Khawatir tau sama lo .." Ujar Oik memeluk sahabatnya ini"Iya gua gak apa apa kok Ik , Kita pulang yuk . gua gak betah sama bau' obat disini .." Pinta AchaTeman - temannya hanya mengangguk meng-iyakan permintaan Acha , Oik Acha dan Deva pun lansung pulang kerumah deva sedangkan yang lainnya kembali ke sekolahan . Acha memang sudah sejak lama tinggal di rumah deva dan keluarga nya karena kedua orang tua Acha tinggal di luar negri ." Aku yakin yang nolongin aku tadi kamu zy , walaupun kamu tadi gak ikut ke rumah sakit .." Batin Acha"Cha , kok lo bisa kaya gini sih ??" Tanya Oik"Tadi gua kepleset Ik , kepala gua ngebentur tembok .." Alibi AchaOik hanya bisa menggeleng mendengarkan kebohongan dari sahabat nya itu , sementara Acha hanya tersenyum kecil . Oik masih tak mengerti mengapa Acha tak mau mengatakan sebenarnya , cinta nya kepada ozy telah membutakannya ." Lo terlalu baik Cha , Lo sampe tega bohongin gua cuma demi ngelindungin Ozy . Gua kasian liat lo cha , kenapa lo harus selalu berkorban buat lelaki gak punya hati itu ??" batin OikAkhirnya kini mereka telah sampai dirumah Deva , keadaan rumah deva terlihat sangat sepi . ya wajar saja mereka disini hanya tinggal berempat deva acha dan kedua orang tua Deva , dan sudah beberapa hari yang lalu sampai hari ini kedua orang tua deva sedang ada tugas di luar kota ."Lo baik - baik ya disini . gua mau pulang dulu , nanti kalo ada apa - apa lo telfon gua aja .." Ujar Oik"Iya ik , makasih ya ik udah banyak berkorban buat gua .." Ucap acha"Iya sama - sama Cha .."Oik pun pergi meninggalkan rumah deva menggunakan mobil berwarna merah miliknya , Oik tak lansung pulang , ia sebelumnya mampir ke rumah ozy untuk terlebih dahulu , dilihatnya dari luar mobil ozy belum ada disana , yang ada hanya mobil kak dayat , Oik pun lansung memencet bel rumah Ozy tak lama kemudian kak dayat pun keluar dari dalam rumah ."Ehh Oik , tumben kesini . ayo masuk , tapi ozy nya belum pulang .." Ujar kak dayat ramah"Iya kak , lagian oik bukan mau ketemu ozy . oik ada perlu nya sama kakak .." Ucap OikSetelah berada di ruang tamu dan kak dayat sudah mempersilahkan Oik untuk duduk , oik lansung duduk tepat di depan kak dayat . Oik tak mau berlama - lama , oik lansung to the point dan menceritakan hal yang sebenarnya kepada kak dayat tentang perlakuan ozy kepada Acha selama ini ."Astaga .. kasian Acha . lo tenang aja , kakak bakal kasih perhitungan buat bocah satu itu . kakak ikut prihatin ya atas keadaan acha .." Ujar kak dayat"Iya kak .. Ya udah kalo gitu Oik pulang dulu ya kak . Maaf udah ganggu waktu nya .." Ucap Oik"Iya .. Enggak kok ik . hati - hati di jalan .."Oik hanya tersenyum kemudian pergi meninggalkan rumah ozy , sementaria Acha tengah terbaring di kasur nya memeluk erat sebuah photo nya saat bersama Ozy . Pikiran nya mulai kembai ke masa lalu nya saat bersama Ozy ."Aww .." Lirih Acha"Kamu kenapa Cha ??" Tanya Ozy khawatir"Kaki aku berdarah Zy , kena batu karang .." Manja Acha"ya udah sini aku obatin ya .."Ozy membawa Acha ke pinggiran pantai dan mengobati luka yang ada di kaki Acha dengan penuh rasa kasih sayang , Acha hanya bisa tersenyum saat melihat ozy mengobati lukanya ."Aku janji gak akan biarin kamu di jahati apalagi sampai di celakain sama orang lain . aku bakalan selalu jagain kamu cha .." ujar Ozy memeluk AchaTapi itu hanyalah sebuah masa lalu , masa lalu yang indah bagi Acha . tapi sekarang semua nya telah berbalik , Ozy malah mengingkari janji nya bahkan dia sendiri yang mencelakai Acha , Kini acha hanya bisa menangis menerima perlakuan dari Ozy ."Zy , andai kamu tau yang ada di benak ku , aku rela kehilangan segalanya bahkan nyawaku sekali pun demi kamu zy . aku terlalu sayang sama kamu .." Lirih AchaAcha terus menangis tersendu memeluk photo itu , sementara Ozy sedang tertidur pulas di sofa ruang tamu rumah nya . tak lama kemudian kak dayat keluar dari kamar nya dan melihat ozy dalam keadaan seperti itu , Kak dayat lansung menarik Ozy dari kursi tersebut dan bangkit berdiri ."Lo enak - enakan tidur disini , gak mikirin acha yang ke sakitan gara - gara ulah lo . manusia macam apa lo ini zy ?? lo cowok atau bukan .." bentak kak dayat"Kakak apa - apaan sih . tiba - tiba marah , ungkit - ungkit cewek itu pula .." Heran Ozy"Lo gak usah pura - pura begok . gua udah tau semua nya . Gua malu punya adek kaya lo , dan bukan hanya gue yang malu bahkan kalo mama sama papa tau tentang kelakuan lo pasti mereka juga malu punya anak kaya lo .." Ujar kak dayat panjang lebar dengan nada yang sangat tinggi dan tempo yang beraturanOzy hanya diam tak berani menjawab kata kata ka dayat , ozy hanya menunduk tak mempunyai nyali untuk menatap kak dayat yang sepertinya sudah marah besar kepada nya ."Lo bukan adek gua , Gua gak punya adek yang biadap kaya lo .." tegas kak dayatJantung Ozy berdegup kencang , matanya membulat mendengar ucapan yang keluar dari mulut kakak nya yang kini telah lenyap dari pandangannya , Ozy hanya bisa mengacak frustasi rambutnya . keesokan hari nya ozy telah berada di depan kelas Acha , ntah angin apa yang menggiringnya ke sini ."Ehh itu ozy kan ik ??" Tanya Acha kepada oik"Iya .. ngapain ya tu anak di depan kelas kita .." heran Oik"tau deh ik , udah yuk cepetan . gua mau ngejauh dulu dari dia .." Ujar AchaAcha dan Oik pun kini sudah mendekat dengan Ozy setelah berada tepat di depan Ozy mereka berdua lansung berlari masuk kedalam kelas tanpa memperdulikan kehadiran ozy di depan kelas nya ."Tumben lo ngejauh dari ozy ??" Tanya Oik"hehehe , lagi gak mood aja Ik .." Jawab Acha"dasar lo ini .."Saat jam istirahat Acha tengah berada di dalam kelasnya sendirian karena oik sedang pergi ke perpustakaan , di ambang pintung acha melihat ada seseorng yang tak asing lagi bagi nya . orang tersebut pun mendekati Acha , acha seakan acuh melihat kedatangan orang tersebut ."mau apa kamu kesini ?? mau marah - marahin aku lagi ?? Mau ngebenturin kepala aku di tembok lagi ?? atau mau bunuh aku ?? Silahkan , asal kamu seneng .." Ujar Acha"udah diem deh lo gak usah sok di depan gua . asal lo tau ya , gara - gara lo kak dayat marah sama gua . cewek sialan lo itu , ngapa lo gak mati aja sih kemaren ??" Bentak ozy menjambak rambut Acha"Sakit zy .. Sakit . lepasin rambut gua zy ,," lirih Acha menahan Sakit"gak akan gua lepasin .."Ozy terus menjambak rambut Acha padahal kepala Acha masih di perban gara - gara kemarin , Acha hanya bisa menangis menahan sakit di kepala nya . air mata nya telah mengalir deras tak ada henti nya , Acha memegangi kepalanya semakin keras acha menagis semakin keras juga Ozy menjambak rambut Acha ."Ozyyy .. Berhenti .." Ujar oikOik berlari menghempaskan buku nya kelantai mendekati ozy dan Acha , Emosi nya mulai memuncak Oik mendorong keras tubuh ozy menjauh dari Acha , Oik lansung memeluk erat tubuh sahabat nya ini , untung saja darah d kepala acha tidak kembali mengalir ."Lo gak apa - apa kan Cha ??" Tanya Oik yang merasa khawatir dengan Acha"Gua enggak apa - apa kok .." jawab AchaOik melepaskan pelukannya dari tubuh Acha kemudian mendekati Ozy yang masih terkulai di lantai kelas , Emosi benar - benar sudah menguasai diri Oik sehingga ia tak mampu mengendalikannya lagi , oik sangat murka melihat perlakuan semena - mena Ozy kepada Acha ."bangun lo bangsat . kemaren gua cukup sabar sama lo , sekarang kesadaran gua udah abis . lo itu gak pantes idup , mending lo itu mati .." bentak Oik"Oik udah , lo gak boleh kaya gitu . gua gak apa - apa kok .. kita pergi aja dari kelas ini .." ujar Acha bangkit dari tempat duduk nyaAcha menarik paksa tangan Oik meninggalkan kelas tersebut . lapangan basket terlihat sepi tak ada yang berlatih disana , Oik dan Acha pun duduk di pinggir lapangan tersebut , Acha menyenderkan kepalanya di bahu Oik . Air matanya terus mengalir tanpa henti ."Udah lo gak usah nangis lagi Cha , dia itu gak pantes buat lo tangisin .. " hibur Oik"Tapi gua sayang sama dia Ik .." jawab AchaOik hanya diam tak bisa menjawab perkataan yang keluar dari mulut sahabat nya ini , telukis indah dibenak Acha kejadian beberapa tahun silam saat kedua orang tua nya akan pergi ke luar negri , saat itu Acha dan Ozy tengah berada di bandara mengiringi kepergian kedua orang tua Acha keluar negri ."Udah dong cantik jangan nangis lagi . kan disini ada aku yang slalu sayang sama kamu , aku gak suka liat kamu nangis gini , pokok nya aku gak akan biarin kamu nangis lagi . aku janji .." Ujar Ozy mengenggam erat kedua tangan AchaTapi kenyataan yang terjadi apa ?? sekarang ozy sudah lupa dengan kata katanya , dia malah membiarkan acha menangis dan parahnya lagi Acha menangis karena Ozy . memang sakit , sangat sakit tapi Acha selalu berusaha untuk tegar .Menangis aku kenang saat hati ku kau tinggalkanHanya sakit yang aku pendam dalam rindu yang semakin dalamTak tau harus dimana ku temukan jawabnyaKau pujaan ku dimana , ku sakit harus menunggu lamaMerana hati merana dan rindu aku bertanyaKekasih kau yang ku kenang , jatuhkan ku dalam rintanganWalau sakit yang aku pendam , rindu ini tak kunjung padamTak tau harus dimana ku temukan .."Tuhan berikan aku kekuatan untuk menghadapi semua ini tuhan , Bantu lah aku aku untuk mengembalikannya seperti dulu .." batin kuKini acha telah berada di rumah deva , kini ia sedang duduk termenung di teras depan rumah acha ditemani Gitar kesayangan pemberian dari ozy saat ulang tahunnya . di peluknya erat - erat gitar tersebut , masih teringat jelas di benak nya saat Ozy mengajarkan nya cari bermain gitar ."Gini lo cha .. Aduh susah deh ngajarin kamu .." Ujar OzyOzy duduk tepat berada dibelakang Acha jika dilihat dari belakang mereka seperti sedang berpelukan , Ozy memegang kedua tangan Acha dan mengrahkan Acha ke kunci dan cara memetik gitar yang benar , ozy dengan sabar mengajarkan Acha , sampai Akhirya Acha sudah mahir bermain gitar ."Zy aku kangen kamu yang dulu .." gumam AchaAcha diam duduk mematung menatap kosong kedepan ,ia sadar dari lamunnya setelah mendengar ponselnya berbunyi , dilihatnya ada telfon dari nomor baru , dengan sedikir ragu Acha akhirnya mengangkat telfon tersebut ."Halo ..." Ujar Acha lembut"Ehh cewek sialan , gua harep lo besok udah gak ada di dunia ini lagi . mending lo bunuh diri deh sana , dari pada lo hidup bisanya cuma nangis doang . mending lo mati sana , setan - setan pasti seneng deh kalo lo mati kan mereka daper temen baru .."Acha sangat mengenal suara itu , ya itu suara Ozy . Acha hanya diam dan terus mendengarkan ocehan ozy yang sebenarnya sudah sangat keterlaluan itu dan bisa di bilang sudah tidak pantas untuk di dengar , tapi Acha tetap sabar padahal kata - kata ozy itu sangat menyayat - nyayat hatinya ."Kenapa lo diem ?? apa lo udah mati ?? bagus deh kalo lo udah mati biar ngurangin manusia manusia yang tidak berguna di dunia ini . jangan ngarep kalo gue bakal baik sama lo ..""Thanks saran nya .." Jawab AchaAcha lansung memutuskan sambungan telfon dari Ozy , ia langsung berlari masuk kedalam kamar nya , di banting nya kuar kuat pintu kamar tersebut untuk melampiaskan rasa kesal dan rasa sakit yang tengah mengisi hati nya saat ini . sementara ozy hanya tertawa renyah merasa puas akan perlakuannya terhadap Acha ."mampus lo .. hahaha . dasar cewek gak berguna , coba aja ya tu cewek bener - bener mati , pasti aman banget hidup gua .." cerocos Ozy"Plakkkk .." Kak dayat yang murka mendengar ucapan ozy lansung mendarat kan tangannya di wajah Ozy dengan sangat keras . sebenarnya kak dayart tidak tega melakukan hal ini kepada Ozy tapi ini demi kebaikan ozy agar setan yang menempel di tubuh ozy cepat keluar dari tubuhnya ."Mulut lo emang ga punya aturan lagi , hati lo udah gak ada . mending lo pergi dari rumah ini , gua gak sudi tinggal satu rumah sama setan kaya lo .." bentak Kak dayat"Kakak gak ada hak buat ngusir gua ,." Protes Ozy"Gua punya hak , gua anak tertua di rumah ini . mama dan papa pun pasti setuju jika tau yang sebernarnya . liat aja gua bakal kasih tau semua ini sama mama sama papa .." Ancam kak dayat"jangan kak , jangan kasih tau mama papa tentang semua ini , gua janji besok bakal minta maaf sama Acha . Gua janji kak gua bakal berubah .." ujar ozy"gua janji kak .." tambah nuaKak dayat menatap ozy dengan tatapan tak percaya , lama kelamaan ekspresi Ozy semakin lucu yang membuat kak dayat menahan tawa nya , karena sudah tak kuat menahan tawa lagi kak Dayat lansung menggangguk percaya kemudian masuk kedalam kamarnya tertawa lepas mengingat wajah ozy tadi .***Sang mentari pagi mulai menampakkan dirinya , ia bergerak perlahan namun pasti , terlihat malu-malu ia ingin muncul namun akhirnya ia memberanikan dirinya menampakan wujud nya untuk menyinari seluruh alam semesta , Cahaya nya membuat udara terasa sedikit hangat , di sudut kelas terlihat oik dan Acha tengah asik membicarakan sesuatu ."Achaaa .."Acha melihat kearah sumber suara tepatnya di ambang pintu kelas nya , Acha sudah tau orang itu siapa dan tebakannya benar . Acha dan Oik memandang acuh bahkan merasa tidak senang akan kehadiran orang tersebut ."Gua bener - bener mau minta maaf sama lo Cha , gua janji bakal nebus semua kesalahan gua sama lo . gua janji bakal memperbaiki semua kelakuan gua buat lo ..""basi tau zy .. " ketus Acha"Tapi gua serius Cha , ini bener - bener dari hati gua . jujur gua masih sayang banget sama lo , gua minta maaf , gua udah tau yang sebenernya , gua minta maaf Cha ..""Udah ah Ik bosen gua di kelas ini . Pergi yukk .." Ujar Acha tanpa menghiraukan perkataan OzyAcha telah berlalu dari kelas itu begitupun dengan oik , Ozy mengacak frustasi rambutnya . mungkin kali ini giliran acha yang marah dengan ozy , ya wajar saja kata - kata ozy selama ini terlalu menyakitkan bagi Acha , semua orang pasti akan bersikap seperti itu jika menerima perlakuan kasar seperti ini dari orang lain ."Gua emang bodoh , selama nya gua terlalu dendam sama rasa cemburu gua . gua terlalu bodoh udah nyia - nyiain cewek sebaik Acha , gua terlalu bodoh nyakitin cewek sepolos dia . gua memang bodoh , mungin ini hukum karma bagi gua .." Lirih Ozy"Sabar bro , gua yakin Acha gak akan lama kok marah sama lo , gua tau dia cewek yang baik . lo sabar aja .." Ujar seseorang"Ray ?? Ray maafin gua waktu itu udah bikin lo masuk rumah sakit gua bener - bener minta maaf ray .." Ujar Ozy"Iya gak apa - apa kok bro .." Jawab raySaat sesudah pulang sekolah Ozy sudah bersiap - siap untuk pergi kerumah deva untuk kembali menemui Acha . Setelah sampai dirumah Deva , Ozy lansung memencet bel di rumah Deva , hanya selang beberapa saat saja deva keluar dari dalam rumahnya ."Mau ngapain lo disini ?? kurang puas lo nyakitin Acha ??" bentak Deva"Enggak dev , gua cuma mau minta maaf sama Acha .." Ujar Ozy"Acha udah pergi , dia udah di bandara mau pergi ke Sidney nyusul mami papi nya .." jawab Deva"Lo serius ..??" Tanya Ozy tak percaya"Iya lah , mendingan lo cepetan ke bandara deh sebelum acha pergi .." Saran DevaOzy lansung mengangguk kemudian lansung memasuki mobilnya dengan secepat kilat Ozy telah meninggalkan rumah deva dan lansung menuju bandara , setelah sesampainya di bandara Ozy lansung mencari Acha ."Lo dimana sih Cha ?? apa lo udah bener - bener pergi . Pliss kasih gua kesempatan buat ngungkapin semua ini .." lirih ozyOzy mulai putus asa saat sudah sekian lama mengelilingi bandara dan tidak menemukan Acha , Ozy kembali mengedarkan pandagannya . seorang gadis dengan tas ungu miliknya tengah berdiri di dekat pintu keberangkatan , dengan langkah cepat ozy lansung mengjampiri wanita tersebut ."Achaa tunggu .." teriak ozyAcha lansung menoleh kearah ozy mengangangkat sebelah alisnya , Ozy lansung menghampiri Acha dan lansung memerat tubuh mungil gadis yang masih berstatus pacar nya ini ,"Pliss Cha jangan pergi , gua sayang sama lo . gua gak mau kehilangan lo lagi untuk yang kedua kali nya , gua minta maaf atas perlakuan gua selama ini ke elo . itu semua gua lakuin karena gua sakit hati sama lo , tapi gua udah tau kebenarannya dari oik , gua bener - bener minta maaf Cha , pliss jangan pergi . jangan tinggalin gua disini .." Ucap ozy panjang lebar"Gua rela ngelakuin apa aja asal lo mau maafin gua dan asal lo tetep di Indonesia jangan pergi dari Indonesia , gua mohon Cha jangan pergi , gua sayang sama lo .." tambah ozy"kamu kenapa sih zy ?? siapa yang mau pergi ??" heran Acha"Bukannya lo mau pergi ke Sidney mau ikut mami papi lo ..??" ujar OzyAcha tertawa mendengarkan ucapan Ozy kemudian melepaskan pelukan ozy dari tubuhnya , di tatapnya dalam- dalam kedua bola mata lelaki yang ada di depannya itu . kedua tangannya ia letakan di atas bahu Ozy , Acha mulai tersenyum manis kepada Ozy ."Aku itu gak mau ke Sidney , yang mau ke Sidney itu kak Zahra kakak aku . aku ke bandara cuma mau nganterin dia aja .." jelas acha"kok kata Deva tadi ..??" Ujar Ozy"Oh deva yang ngasih tau kamu , hahaha dia cuma ngerjain kamu doang . lagian mana mungkin aku bisa ninggalin Indonesia mana tega aku ninggalin kamu disini , kan kita udah janji bakal sama - sama terus sampai kapan pun .." Ujar Acha"Lo beneran kan gak ke Sidney ..??" Tanya ozy memastikan"Iya beneran ozy .." jawab AchaOzy tersenyum bahagia sekaligus tersenyum lega , kembali di peluknya tubuh gadis pujaan hatinya ini . Ozy tak perduli lagi bahwa ini tempat umum , sementara Acha hanya bisa tersenyum Bahagia karena ozy telah kembali kepadanya ."Aku sayang banget sama kamu . aku minta maaf ya atas semua nya sama kamu .." ujar Ozy"Iya , aku juga sayang kamu .. sebelum kamu minta maaf aku pasti udah maafin kamu kok . ya udah kita pulang yuk .." Ujar AchaOzy mengangguk mengiyakan perkataan Acha , kedua insan itu kini telah kembali bersama . meniti hidup berdua seperti dahulu , mereka membiarkan kejadianhari kemarin sebagai pelajaran dan sebagai kenangan yang akan selalu mereka ingat selama nya .
Kiss Me, Please! I know you love, but why you didn't kiss me???
Seorang gadis berlari memecah keheningan malam. Membuat nada antara langkah kaki dan deru nafas yang sudah tersenggal.Berkali-kali ia sambil menoleh kebelakang. Sosok bayangan hitam di belakangnya masih mengikutinya membuatnya semakin melebarkan langkahnya.Hoss... hosss...Ia berhenti disebuah pertigaan jalan. Ia sudah tidak tahu dimana dirinya berada. Malam semakin larut dan ia semakin ketakutan.Sosok hitam itu masih mengikutinya, semakin lama semakin dekat.Bulu kuduknya meregang. Ia menyeret kedua kakinya yang sudah sangat kelelahan. Ia berpegangan pada tembok menyusuri jalan dingin yang sepi itu.Ia mengedarkan padangannya. Bangunan tua bekas kebakaran. Ia membekap tangannya mencoba meredam tangisnya.Pluk...Ia menoleh dan mendapati bayangan hitam itu menepuk bahunya.Bayangan hitam itu kini jelas dalam matanya. Seseorang yang bukan karena gelap jadi terlihat hitam. Tapi dia benar-benar hitam. Matanya berkilat merah dan dari seringainya keluar dua buah taring."Hentikan ku mohon." Ucap gadis itu penuh takut."Semuanya akan berakhir, jika kamu mencium seorang pria yang berusia 25tahun sebelum kamu menginjak 20tahun." Sosok hitam itu semakin mendekat.Gadis itu bisa menemukan panas nafas sang monster hingga ia merasakan sesuatu yang tajam menusuk lengannya."Kenapa kamu lakukan ini padaku?" Ucap gadis itu saat melihat tanda dilengan kirinya."Kamu pernah dengar bila seorang yang sudah patah hati akan melakukan apapun untuk balas dendam?" Sosok hitam itu mengecup luka dilengan sang gadis, "Dan aku terjerumus ke lembah hitam ini karena kamu. Tapi apa yang ku dapat kamu malah tidak memperdulikanku."Gadis itu terdiam menatap sang monster, "Sudah ku katakan padamu, aku tidak menyukaimu.""TAPI AKU MENCINTAIMU."Gadis itu terdiam menatap sang monster, air matanya sudah jatuh membanjiri bumi."Tidak ada yang mencintaimu setulus aku.""Ta... tapi...""Aku hanya ingin bertaruh." Makhluk itu menatap tajam mata sang gadis, "Adakah pria yang mencintaimu lebih dari aku? Dan jika kamu tidak menemukannya maka kamu milikku seutuhnya."Makhluk hitam itu menghilang, menyisakan tangis sang gadis.29 Januari 2011"Dia mengamuk lagi." Ucap seorang gadis saat melihat seorang gadis yang sedang menangis histeris di ruang kesehatan."Dia siapa? Memangnya kenapa dia?" Tanya pria disampingnya."Alyssa Saufika atau Ify. Dulu katanya saat SMA, dia pernah pulang malam dan tersesat saat itu ia sering berteriak histeris jika berada di ruangan gelap atau melihat bayangan atau benda hitam yang besar."Pria itu membulatkan bibirnya. "Oo... beruntung sekali pria yang menjemputnya.""Alvin Sindhunata... dia itu kalau mengamuk sangat mengerikan, seperti monster." Ucap sang gadis."Tapi dia cantik Ashilla Zahrantiara." Pria bernama Alvin itu tidak lepas menatap gadis yang sedang menangis tersedu itu, "Mana ada monster secantik itu.""Ya ya ya... terserah elo aja tuan Sindhunata. Tapi dia gak akan milih lo." Ucap Shilla enteng."Kenapa? Gue tampan... kaya..."Shilla mencibir, "Dia hanya mau pacaran dengan pria yang usianya 25tahun."Alvin menatap Shilla tidak percaya."Ayolah gue gak mau Angel marah karna lo telat nganter gue." Shilla berjalan di depan Alvin.Alvin melirik gadis yang masih menangis itu, "Gadis yang menarik."---**---"Siapa dia?" seorang wanita paruh baya melipat tangannya di depan dada saat melihat anaknya tersenyum manis dengan pria yang mengantarnya."Dia temanku." Ucap sang anak santai."Kamu tidak akan melakukan hal semesra itu dengan pria jika itu bukan pacarmu Alyssa Saufika ."Ify menghela nafasnya, "Iya dia pacarku Bunda."Sang ibu menggeleng melihat perlakuan anaknya, "Pria berbeda lagi. Seminggu yang lalu juga kamu membawa pria yang berbeda.""Aku hanya sedang memilih pria yang cocok denganku.""Bunda sudah bosan dengan ucapanmu itu. Bunda juga sudah bosan mendengar cibiran tetangga. Mereka menganggapmu bukan perempuan baik-baik. Bunda malu Ify."Ify memeluk sang ibu."Maaf bunda tapi aku harus menemukan pria yang tepat sebelum ulang tahunku yang ke 20. Aku tidak ingin hidup bersama monster itu." Batin Ify."Sebentar lagi ulang tahunmu yang ke 20. Bunda akan mengenalkanmu pada anak teman Bunda."Ify menatap ibunya tidak percaya."Dia masih muda, usianya masih 24tahun. Bunda sudah bertemu dengannya, dia sangat sopan dan ramah.""24tahun." Ucap Ify lirih."Iya kalian hanya beda 5tahun. Cocok kan?"Ify tidak bisa menjawab pertanyaan dari ibunya. Pikirannya berkelebat ke mana-mana.Kau harus mencium pria berusia 25tahun yang mencintaimu sebelum usiamu 20 tahun.Ify memandang ibunya yang berbinar saat membicarakan calon menantu idamannya. Ify tidak tega untuk menolaknya, tapi disisi lain ia takut melihat makhluk itu.Ify merasa kepalanya berputar. Setiap kali ia membayangkan makhluk itu. Ia merasa perutnya mual dan kejadian empat tahun yang lalu kembali teringat dikepalanya.Ia berlari dan berteriak tapi tidak ada seorang yang mendengarkan.Nafasnya tersenggal dan ia kembali melihat makhluk itu."Aaarrrrghhhhh....""Fy... Ify..." Nyonya Gina menepuk pipi putrinya yang memucat, "Ify."3 February 2011Alvin duduk di meja yang merupakan tempat strategis untuk melihat keseluruh penjuru perpustakan.Matanya terus terpaku pada gadis yang sedang sibuk dengan buku tentang mitos, dongeng dan cerita Beauty and the Beast. Alvin mengerutkan keningnya sesaat, untuk apa seorang mahasiswa membaca dongeng seperti itu.Dari jam ke jam Alvin terus memperhatikan gadis itu dengan seksama. Setiap gerak tubuhnya cara dia bicara. Cara dia tersenyum bahkan cara dia bernafas membuat Alvin tertarik."Apa yang akan dia lakukan jika dia tahu bahwa aku tunangannya?" Batin Alvin.Alvin tidak berani mendekat atau berbicara pada gadis itu. Ia takut gadis itu akan berteriak histeris, karena dia punya trauma masa lalu.Alvin mempelajari sesuatu tentang gadis itu. Ada sesuatu yang janggal dengan gadis itu. Tapi ia tidak tahu.Ia tidak ingin berpikiran buruk pada gadis itu.---**---Ify memandangi buku-buku tentang mitos dan sebagainya. Mungkin orang-orang akan mengira dia sedang mengumpulkan tugas beritanya tapi ia bukan mencari berita. Ia ingin mencari fakta.Ia mencari fakta untuk mengalahkan monster itu.Ify menemukan fakta bahwa makhluk itu tidak bisa menahan serangan pisau perak. Karena makhluk itu masih berupa makhluk setengah manusia.Masih bisa diselamatkan meski keseimbangannya akan rusak dengan kata lain hidup tapi jiwanya sudah terbagi dua.Untuk makhluk yang dikutuknya.Tidak ada jalan keluar selain mengambulkan syarat yang diminta atau mati. Mati sebelum kutukan itu tercapai.Ify menghela nafasnya dalam. Bagaimana cara ia mendapatkan pria 25tahun yang mencintainya."Apakah ada yang mencintaiku tulus tanpa ada yang berusaha menyakitiku." keluh Ify dalam hati.4 Maret 2011Alvin menarik bibirnya saat melihat gadis bergaun ungu itu berjalan kehadapannya. Gadis itu sama sekali tidak memberikan kesempatan padanya untuk mendekat. Tapi justru itulah membuat Alvin semakin penasaran."Ify, ini calon suamimu, Alvin Sindhunata." Ucap Nyonya Gina saat melihat Ify menghindari Alvin terus, "Kalian mengobrolah."Ify menarik senyum tipisnya. Matanya kembali menatap hampa gelas-gelas dihadapannya."Hai..." Alvin mencoba mendekati Ify saat Nyonya Gina pergi, tapi Ify malah berbalik dan meninggalkanya sendirian.Alvin menatap Ify dengan penuh tanya. Gadis itu sangat dingin. Alvin mencium parfumnya. Ia ingat ia sudah menyemprotkan parfum termahal yang ia punya.Alvin melihat dirinya dalam pantulan gelas. Tidak ada yang salah dengan penampilannya.Alvin mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru pesta. Pesta pertunangannya ini terasa neraka baginya.Ia mendekati Shilla yang tengah berbicara dengan teman-temannya. Ia menarik Shilla menjauhi teman-temannya."Shill, lo kenal dekat sama Ify?"Shilla menggeleng, "Nggak deket, cuma pernah satu sekolah di sekolah menengah dulu.""Kenapa dia ngehindar terus yah?" Tanya Alvin polos."Udah gue bilang, dia hanya tertarik dengan pria 25tahun.""Gue serius Shill.." Ucap Alvin penuh nada frustasi."Entahlah, sejak kejadian itu dia sedikit menyendiri, dia hanya akan dekat dengan pria-pria dewasa.""Kenapa dengan pria dewasa?"Shilla tampak berpikir, "Dulu gue dan teman-teman gue penasaran dengan sikap Ify terus kita mengadakan survei kecil-kecilan dan hasilnya Ify hanya akan berpacaran dengan pria yang usianya 25tahun.""Semua pacarnya berusia 25 tahun?"Shilla mengangguk.Alvin mengerutkan, ia semakin penasaran dengan sikap Ify.---**---Ify terduduk di sudut kamarnya. Ia memandang fotonya yang diapit seorang perempuan dan laki-laki.Ia benci foto itu. Ia sangat benci. Tapi ia tidak sanggup untuk membuang foto itu.Ia melihat tanggal yang di lingkari di kalendernya. 8 April 2011 tepat saat usianya 20 tahun dan kutukan itu menjadi nyata."Sivia... bagaimana ini? Apa yang harus gue lakukin? Katakan pada gue.." Isak Ify sambil memeluk bingkai fotonya."Kenapa kamu menghindariku terus?"Ify menoleh dan mendapati Alvin sudah berdiri di pintu kamarnya.Ify menghapus pipinya yang sudah basah lalu memalingkan wajahnya dari Alvin. Ia tidak ingin Alvin melihatnya menangis."Kenapa kamu malah menangis disini, apa kamu tidak suka bertunangan denganku?"Ify tidak menjawab."Fy... katakanlah sesuatu." Alvin duduk dihadapan Ify, "Kenapa kamu begitu membenciku?"Ify menatap Alvin untuk pertama kalinya. Ia akui wajah Alvin sangat tampan. Senyumnya sangat manis.Ify menghela nafasnya berat. Ia tidak tega melihat Alvin berurai air mata."Aku monster." Ucap Ify dinginAlvin terkekeh, "Kau monster tercantik yang pernah aku temui."Ify menatap Alvin tajam, "Aku serius tuan Sindhunata."Alvin memegang pipi Ify, "Disetiap diri manusia ada sisi buruk dan baiknya. Karena kita bukan malaikat yang selalu sempurna dan bukan setan yang selalu salah. Yang jadi permasalahannya adalah bagaimana cara kita untuk menjadi yang lebih baik.""Kamu tidak mengenalku" Ify menepis tangan Alvin, "Aku punya trauma pada beberapa pria. Aku takut itu terulang lagi."Alvin memiringkan kepalanya, "Iya aku paham, kamu boleh waspada pada siapapun, tapi bukan berarti kamu dapat berpikiran negatif pada orang lain."Ify memandang Alvin, seandainya lo pria berusia 25 tahun.11 Maret 2011Alvin mengepal tangannya mencoba tetap berjalan di samping Ify meski ia sangat ingin menggenggam tangan gadis itu. Ia mencoba untuk bersabar. Ia tidak ingin Ify kabur lagi. Ia juga merasa sangat berterimakasih saat Ify mau menerima ajakannya untuk jalan-jalan ditaman."Fy..." panggilnya lembutIfy menoleh danKrek...Lampu blizt mengenai wajah mulus Ify. Alvin terkekeh saat melihat hasil jepretannya.Ify hendak marah tapi Alvin sudah mengenggam tangannya meredam amarahnya."Kamu tahu kisah Beauty and the Beast?" Alvin menarik Ify duduk di sebuah bangku taman.Ify menggangguk, "Siapapun tau cerita itu."Alvin menatap Ify lembut membuat gadis itu kehabisan nafas, "Seperti Beast aku juga akan menunggumu mencintaiku."Ify tertegun mendengar kata-kata Alvin, kau bukan beast akulah beastnya."Aku butuh waktu, Alvin." Ucap Ify."Untuk itu aku menikahimu."Ify menatap kedua mata Alvin mencari kebohongan di kedua celahnya tapi ia tidak menemukan apapun."Aku sudah menyiapkan tanggal yang bagus, 7 April 2011." Alvin menyunggingkan senyum khasnya yang bisa membuat wanita manapun jatuh cinta.7 April.Itu artinya sehari sebelum ulang tahunnya yang ke 20. Ify menghela nafasnya. Tidak dipungkiri jika Alvin itu tampan dan ia jatuh cinta pada pria itu. Tapi dirinya sendirilah yang tidak mampu untuk membalas semua cinta Alvin."Kenapa kamu tetap mempertahankanku?" ucap Ify putus asa."Karena aku mencintaimu, aku ingin melindungimu, aku ingin selalu disisimu."Ify melemparkan tatapan dinginnya, masih bisakah Alvin berkata seperti itu jika ia tahu hal sebenarnya, "Aku mencintaimu ataupun tidak, kamu tetap tidak bisa memilikiku."Ify meninggalkan Alvin yang masih duduk di taman sendirian.Alvin melihat sosok Ify yang sudah menjauh. Ia rogoh sakunya mengambil sebuah kotak berwarna transparan. Ia membuka kotak itu lalu mengambil sebuah cincin di dalamnya."Aku mencintaimu Ify."31 Maret 2011Ify tidak menolak atau berkomentar saat keluarga Alvin melamarnya. Banyak teman-temannya di kampus yang bertanya tentang kabar itu. Wajar saja Alvin adalah anak magister (S2) yang sering jadi sasaran kecengan teman-teman Ify.Tapi Ify tidak berniat sama sekali. Ia hanya mencari pria yang berusia 25tahun untuk melepas semua kutukannya.Kini harapannya untuk terbebas dari kutukan itu sudah musnah.Mencintai Alvin ataupun tidak, tidak akan merubah apapun. Yang bisa merubahnya adalah ciuman dari seorang yang mencintainya, pria berusia 25tahun.Masalahnya kini, bagaimana dia bisa mencari pria itu jika Alvin terus disampingnya.Ify melihat luka dilengannya. Luka itu tidak hilang, kutukan itu masih.Waktu yang tersisa tinggal 9 hari lagi, dan Alvin akan menikahinya tetap sebelum ia menjadi monster.Ify mengambil bingkai fotonya. Ia mencopot fotonya dengan paksa. Ia merobek foto itu menjadi dua bagian. Ia menatap bagian foto pria tersebut lalu merobeknya menjadi beberapa bagian.Ify kemudian menatap fotonya dan seorang gadis dengan sedu."Sivia.." lirihnya.Ify mengambil spidol lalu menuliskan sesuatu. Ini adalah jalan terakhir yang dia punya.7 April 2011Alvin menatap Ify yang sudah resmi jadi istrinya. Ify memeluk ibunya sangat erat seolah akan berpisah jauh sekali.Alvin sedikit heran saat Ify tidak menolak atau mengeluh dengan rencana pernikahan mereka. Ify lebih banyak terdiam dari pada menghindar membuat Alvin menjadi serba salah. Dia ingin melepaskan Ify jika Ify merasa terbebani dengan pernikahan ini.Ify selalu menjawab bahwa ia gugup jika ada yang bertanya tentang keadaannya.Alvin tahu Ify tidak gugup, Ify ketakutan.Pesta pernikahan telah selesai, selama itu Alvin terus menutupi tingkah laku Ify meski ia sendiri bertanya-tanya tentang tingkah Ify. Berkali-kali Ify melihat ke jam. Ia seperti menunggu sesuatu. Ia juga sering mengedarkan pandangannya tidak menentu seakan sedang mencari seseorang."Bunda... kami pergi dulu." Pamit Alvin pada mertuanya."Hati-hati ya, Ify ingat jaga suamimu." Ucap Bunda.Alvin membukakan pintu mobilnya untuk dimasuki Ify.Ify tidak melepaskan pandangannya saat mobil yang dikendarai Alvin melaju meninggalkan rumah Ify."Jika ada waktu aku pasti mengantarmu ke rumah Bunda." Ucap Alvin seolah memberi jawaban tatapan Ify, "Kalau kamu merindukannya kamu juga boleh menginap disana.""Aku hanya memikirkan bagaimana mereka jika aku meninggalkan mereka selamanya.""Apa yang kamu katakan?""Aku menikahimu, tapi kamu juga masih anak mereka. Aku tidak akan menghapuskan tali keluarga itu.""Kamu tahu hidup dan mati itu ditangan Tuhan, kita tidak pernah tahu kapan kita mati.""Hentikan Ify!" Alvin membanting lengannya ke stir. "Hentikan pembicaraan yang seolah aku mengantarmu ke neraka."Ify terdiam, ia menahan air matanya sekali saja."Aku ingin ke toilet." Ucap Ify saat mereka berhenti untuk mengisi bensin.Alvin hanya menggangguk.Alvin tidak banyak bicara lagi sejak ia membanting stirnya.Tapi itu membuat Ify merasa sedikit tega, ia ingin Alvin membencinya. Dengan begitu ia bisa dengan tenang melepas Alvin.Ify sengaja tidak membawa ponsel atau dompetnya. Ify menuliskan sebuah pesan di dalam dompetnya kemudian dia pergi.Ia melihat Alvin sebelum pergi meninggalkan pria itu.Ify mengeratkan tali sepatunya sebelum ia pergi dari sana. Dengan mengendap-endap ia berhasil lolos dari perhatian Alvin.Ify segera menyetopkan sebuah bis. Ia melihat Alvin yang kaget saat menyadari dirinya sudah tidak ada lagi."Maaf." hanya itu yang diucapkan oleh Ify.---**---Alvin berlari disepanjang rumah sakit. Ia tidak perduli dengan para perawat yang meperingatinya agar tidak mengganggu pasien yang sedang dirawat."Suster dimana saya bisa menemui Sivia Azizah?""Ada keperluan apa?"Alvin memandang suster itu dengan ragu. Ia sendiri tidak tahu kenapa ia pergi ke Rumah Sakit Jiwa ini.Alvin memegang kepalanya dengan frustasi saat ia tidak menemukan Ify di toilet. Ia sudah mengecek keseluruh toilet tapi tidak menemukan Ify. Gadis itu seolah raib seketika.Alvin mencoba menghubungi ponsel Ify. Ia kaget saat mendengar ponsel Ify di mobilnya. Ia membuka tas kecil Ify dan mendapati sebuah pesan dan secarik foto yang sudah robek.Jangan tunggu aku. Hiduplah dengan perempuan yang mencintaimu.Alvin memperhatikan foto itu dengan seksama, Sivia Azizah. Itu nama yang terbaca di name tag gadis itu.Alvin meraih ponselnya lalu mecari sebuah nama."Hallo?" ucap suara jernih di seberang sana."Shill, lo kenal dengan Sivia Azizah ?""Sivia?"Alvin mengangguk meski ia tahu Shilla tidak mungkin melihatnya."Oh... Dia ada di Rumah Sakit Jiwa Harapan."Alvin mengerutkan keningnya, "Rumah sakit Jiwa?""Kenapa lo..."Alvin langsung mematikan ponselnya tanpa menjawab pertanyaan Shilla. Ia memutar stirnya menuju Rumah Sakit Jiwa Harapan. Ia tidak berhenti berfikir tentang tingkah laku Ify yang semakin aneh.Alvin menadang suster dihadapannya, "Please, katakan dimana dia?""Kamu ingin bertemu denganku?" Alvin menoleh dan mendapati seorang gadis seumuran Ify memakai jas lab putih."Sivia Azizah?" tanya Alvin ragu. Ia melihat foto yang dibawanya sedikit berbeda dengan keadaan gadis itu sekarang."Iya itu aku.""Bisa aku bicara denganmu, dokter Sivia."Sivia terkekeh, "Gue belum jadi dokter, gue masih praktek."Alvin menghembuskan nafas lega.FlashbackSeptember 2008Musim gugur hampir tiba. Daun berguguran perlahan menjatuhkan satu per satu kenangan."Wah gak kerasa tahun depan kitalah yang akan merayakan kelulusan." Ucap Sivia sambil menghidrup udara sebanyak-banyaknya."Lo yakin akan lulus tahun depan? gue ragu." Ucap Ify."Ya, gue akan jadi dokter spesialis dan gue akan ngerawat lo.""Heh! Lo pikir gue gila..." Ify menjitak kepala Sivia."Tapi lo bikin cowok-cowok jatuh cinta dan mencampakannya, bikin mereka gila.""Sivia Azizah, gue bersumpah, gue hanya nganggap mereka teman gak lebih. Gue cuma ingin berteman.""Lo yakin cuma berteman?"Ify menatap sahabatnya, "Suatu saat gue akan milih seorang cowok yang benar-benar mencintai gue.""Woii!" seorang anak laki-laki merangkul Ify dan Sivia, "Ngomongin gue yah?""Dih PeDe banget lo.." Ify mencubit hidung anak laki-laki itu."Kalian tega ninggalin gue di kelas." Anak laki-laki itu mengembungkan pipinya.Mereka berjalan dengan santai bertukar cerita. Menceritakan cerita yang tak pernah habisnya untuk diceritakan. Kadang-kadang mereka menggerakan tubuh untuk meniru sesuatu yang aneh."Kenapa lo nyenggol gue.." Ucap seorang gadis saat anak laki-laki itu tanpa sengaja menyenggolnya."Maaf." Anak laki-laki itu membungkuk."Gue gak mau disentuh sama anak pembunuh." Ucap gadis itu sebelum pergi.Anak laki-laki itu menatap si gadis dengan tatapan dingin, Keceriaan, canda, tawa yang tadi menghiasi wajahnya seakan musnah begitu saja."Gabriel kita makan eskrim." Ify menarik Gabriel ke sebuah kedai.Gabriel menatap Ify, gadis itu masih mau berteman dengannya meski gadis itu tahu segala keburukannya."Udahlah jangan dipikirin, kita hidup untuk masa depan bukan untuk melihat masa lalu." Ucap Ify saat Gabriel sedang sedih.Gabriel selalu merasa tenang saat Ify menghiburnya. Kadang-kadang Gabriel menatap dalam kedalam mata Ify tapi Ify hanya mengganggapnya sebagai teman.————-Gabriel merasakan cemburu saat Ify dekat dan tertawa dengan pria lain. Ia takut jika Ify dekat dengan pria lain itu akan membuat Ify melupakannya."Gue suka sama lo, Ify.""Kitakan sahabat." Balas Ify."Tapi gue cinta sama elo. Gue gak mau lo ninggalin gue .""Gue gak akan ninggalin lo. Kita sahabat. Gue, elo, dan juga Sivia."Gabriel tersenyum meski hatinya terluka.————-"Gue nungguin elo, tapi lo malah berduaan bareng ketua OSIS itu." Ucap Gabriel seraya menahan emosi"Gue dan Cakka cuma membicarakan proposal." Ucap Ify."Lo pikir gue buta hah, lo jelas-jelas lagi kencan dengan dia." Gabriel sambil menunjuk Cakka."Lo salah Gabriel, gue...""Kalau kita lagi kencan kenapa? Gue suka sama dia dan dia juga suka sama gue."Ify menoleh pada Cakka, "Lo ngomong apa sih?""Kita lagi kencan kan." Cakka memamerkan evil smile nya.Gabriel sudah mengepal tangannya menahan emosi, "Gue pikir lo beda dengan gadis lain tapi lo sama aja." Gabriel mengebrak meja lalu meninggalkan mereka.Flashend7 April 2011"Gue gak tahu apa yang mendasari Gabriel buat ngambil langkah itu. Ia menukar jiwanya dengan sebuah kekuatan mistis yang jahat." Ucap Sivia."Pantas aja, ada hal yang aneh dari sikapnya. Dia gak terlihat kaya orang trauma dia lebih terkesan menjauhi orang-orang.""Lo benar, dia menghindari orang yang ingin dekat dengannya untuk mengantisifasi kemungkinan yang buruk.""Apa gak ada cara untuk menyelamatkan Ify?" tanya Alvin."Hanya ciuman dari seorang pria berusia 25tahun yang mencintainya."Alvin menenggelamkan kepalanya diantara lengannya."Hari ini ulang tahun gue yang ke 25." Lirih Alvin.Sivia tersentak, "Kenapa lo gak menciumnya?""Dia selalu menghindar dan gue gak akan memaksanya."Sivia memutar otaknya untuk mencari jawaban yang terbaik. Ia tahu kondisi psikis Alvin sedang goyah."Besok ulang tahun Ify, lo harus menemukannya terlambat atau lo gak akan kan melihat dia selamanya.""Besok?""Mungkin itu alasan Ify pergi. Ia nggak mau lihat lo terluka. Mungkin juga ify cinta sama lo."Sebuah senyum merekah di bibir Alvin, "Dia mencintaiku."Alvin mengemudikan mobilnya dengan kencang. Sivia memberitahukan tempat yang mungkin Ify datangi saat ini. Sivia juga memberitahunya beberapa trik mengalahkan Gabriel.Alvin memasang aerphonenya dan menyambungkannya dengan sang ibu."Mama..." Begitu teleponnya tersambung."Ada apa Alvin?""Jam berapa aku lahir ke dunia ini?""Hah... kamu kenapa?""Jawab sajalah Ma...""Jam sebelas malam. Kamu kenapa Alvin kenapa suaramu seperti orang panik."Alvin tersenyum, "I love you Ma.."---**---"Kamu masih ingat tempat ini?" Ucap sebuah bayangan hitam dihadapan Ify."Aku ingat wajah yang selalu tersenyum padaku, hangat.""Musim telah berganti, senyum itu sudah berubah menjadi seringai yang jahat.""Setiap manusia mempunyai sisi jahat dan baik. Aku menutup mataku dan aku hanya melihat kebaikan dari sisimu." Ify mengeratkan pisau peraknya dengan erat."Gabriel sudah mati, Alyssa Saufika sayang.""Tidak, dia hidup dihatiku. Dia yang memberikanku rasa percaya bahwa kamu akan kembali berubah menjadi sosok baik seperti dulu."Makhluk itu bergerak ke hadapan Ify dengan cepat. Ify tersentak ia tetap pada posisi siaga.Ify bisa melihat makhluk itu dua kali lebih besar dari tubuhnya. Ia bisa merasakan nafas panas pada tubuh makhluk itu. Ia masih bisa melihat detak jantung makhluk itu. Gabriel masih hidup."Kamu menyesal menyakitiku.. Kamu ingin bersamaku?""Dia sudah menikah, bung..." Ify menoleh dan mendapati seseorang dengan senyum tipisnya berlari kehadapannya.Alvin berjalan terengah-engah, ia mendekati Ify lalu membelai lembut kepala Ify."Katakan kamu mencintaiku, fy." Ucap Alvin lembut.Ify menggeleng."Lihatlah aku sebagai seorang pria yang akan melindungimu selalu, Ify.""Fantastik, tapi itu tidak akan terjadi." Ucap Gabriel yang kembali ke wujud aslinya."Pergilah Alvin, dia bukan tandinganmu." Ucap Ify"Lalu kamu pikir dia sebanding denganmu?" Jawab Alvin, "Berhentilah untuk selalu terlihat kuat dan tegar.""Dia milikku." Ucap Gabriel dingin.Alvin menerjang Gabriel. Ia memberikan pukulan berkali-kali ke arah Gabriel. Gabriel tersenyum tipis. Ia tidak merasakan sakit di setiap pukulan Alvin.Alvin memutar otaknya. Bagaimana ia mengalihkan perhatian Gabriel. Ia melirik jam ditangannya. 10.05 PM. Ia mendesah frustasi.Gabriel mencekram kerah Alvin, ia mengangkat tubuh Alvin kemudian menghempaskannya ke tanah.Alvin meringis saat tubuhnya menerjang tanah. Ia merangkak menghindari Gabriel. Ia hanya bisa menghindari Gabriel tanpa bisa melawannya.Ify hanya bisa pasrah saat melihat Alvin bertahan dari pukulan Gabriel.10.45 PM.Ify menghela nafas panjang. Tidak ada waktu lagi yang tersisa. Ia masih bisa mati hari ini namun jika kutukan itu terjadi ia tidak bisa melakukan apapun."Gabriel, inikan yang lo inginkan?" Ify meletakkan ujung pisau silvernya di atas urat nadinya.Gabriel memicingkan matanya. Jaraknya dan Ify yang jauh membuatnya sulit melihat dengan jelas.Gabriel menggeram saat melihat apa yang berada ditangan Ify ia menerjang Ify. Melemparkan benda perak itu menjauhi Ify.Alvin mengambil kesempatan itu untuk mengambil pisau Ify lalu menerjang Gabriel. Gabriel tersungkur hingga jatuh.Alvin mendekati Gabriel lalu menusukkan pisau itu di lengannya.Gabriel meringis kesakitan pisau perak itu telah melukai darahnya.Alvin meraih Ify, ia melihat kesekujur tubuh Ify, "Kamu tidak apa-apa?"Ify menggeleng, "Berikan pisau itu sekarang."Ify mencoba merebut pisau itu tapi Alvin malah membuangnya, "Katakan kamu mencintaiku.""Nggak.""Katakan kamu mencintaiku, atau kamu tidak akan melihatku lagi."Ify menatap Alvin, "Iya aku mencintaimu, sangat. Aku mencintaimu."Alvin merengkuh leher Ify lalu mencium bibir Ify dalam. Ify memiringkan kepalanya menerima ciuman dari Alvin yang lembut."Arrrrghhhh..." Gabriel mengerang membuat Alvin dan Ify melepaskan ciuman mereka.Ify melihat tanda dilengannya, "Masih ada."Alvin melirik jam ditangannya, "Aissshhh masih lima menit lagi."Alvin menerjang Gabriel, ia mengambil sebungkus garam lalu ditaburkannya ke tubuh Gabriel."Garam?" Tanya Ify."Sivia bilang garam itu bisa sebagai menetral racun, aku harap garam-garam ini cukup untuk menertalkan kutukan Gabriel." Ucap Alvin sambil memamerkan senyum tipisnya.Gabriel mengerang saat ditaburi garam oleh Alvin. Tubuhnya berpendar kembali ke wujudnya sebagai manusia biasa.Alvin menghela nafas saat melihat reaksi Gabriel. Ia menatap Ify, "Sekarang giliranmu."Ify melirik jam 11.02 PM"Sekarang usiaku genap 25 tahun, apa kamu masih menolakku?"Ify mengerutkan keningnya."Cium aku seperti kamu tidak akan menciumku lagi." Alvin merengkuh leher Ify lalu menyapu bibir Ify.Ify membalas ciuman Alvin ia membiarkan lidah Alvin bermain di mulutnya dan mereka saling bertukar air ludah.Gabriel bisa melihat sebuah cahaya yang menghapus tanda kutukannya. Segelnya telah lepas dan Ify tidak akan pernah kembali padanya.Gabriel menutup matanya, pedih tubuhnya tidak sebanding dengan sakit hatinya.Next week"Ciumanmu ganas sekali, beib" Ucap Alvin saat melihat bercak merah di leher dan tubuhnya.Ify menyembunyikan wajahnya di bawah bantal, "Kamu yang mengajariku."Alvin menarik bantal Ify, "Aku pikir kamu sudah ahli berciuman dengan pria 25tahun mu itu."Ify menggeleng, "Kamu yang merebut ciuman pertamaku."Alvin mengerutkan kening meminta penjelasan lebih detail lagi."Aku berpacaran dan dekat dengan mereka, kami selalu putus karna aku merasa mereka tidak benar-benar mencintaiku."Alvin tersenyum puas saat mendengar rahasia kecil dari Ify. Ia menarik selimut Ify.Ify menatap Alvin tajam, "Jangan! aku tidak pakai baju."Alvin mendekatkan wajahnya ke wajah Ify.Ify menahan nafasnya, ia bisa merasakan nafas Alvin diwajahnya, "Katanya kita akan menjenguk Gabriel di tempat Sivia?" Ify mendorong Alvin.Begitu Alvin menjauh, Ify langsung menarik selimutnya lalu pergi ke kamar mandi.Alvin mendengus kesal saat kesempatannya hilang."Beib, kamu yakin mau mandi sendiri?"---**---Flashback"Gabriel, Sivia." Ify melambaikan tangannya kepada sahabatnya, "Ayo kita berfoto bersama."Mereka masuk ke box foto. Gabriel dan Sivia mengapit Ify, mereka memasang wajah tersenyum.Mereka tertawa saat melihat hasilnya."Kita akan menjadi sahabat sampai kapanpun." Ucap Ify.Gabriel menatap Ify. Sekali saja ia tidak ingin berharap Ify bisa menatap kedalam matanya.Namun sialnya ia tidak bisa. Ia terus berharap dan terus berharap.Angin musim gugur berhembus meniupkan berbagai macam daun.Sebuah kertas melayang dihadapan Gabriel. Gabriel mengambil kertas itu.Musim gugur akan berlalu dan tergantikan musim dingin lalu musim semi. Sebelum keinginanmu gugur datanglah dan tukarkan jiwamu dan lihatlah saat musim semi keiinginanmu tercapai.---**---Musim apapun akan terasa indah jika kita bersama dengan orang yang kita cintai. Sahabat, keluarga, teman bahkan seseorang yang spesial.END
Aku dan Dia
Aku teringat saat itu. Senyumnya, tawa lepasnya, kerutan dahinya, semua tentangnya. Aku ingat dia, seperti setiap momen dengan dia membekas dalam otak dan hatiku. Bukan, dia bukan pacarku. Dia berarti bagiku namun takdir belum membiarkan kita bersatu.**"Cakka, cakka!" panggil Agni setelah melihat sosok bagas mulai terlihat dari gerbang sekolah."Eh,elo, Ag? Ada apa?""Dicariin Alvin tuh. lo abis cari gara-gara apalagi emangnya? Si Alvin marah besar! Dia bikin ultimatum ke gue tadi pagi-pagi banget pas gue piket. Katanya,kalo lo nggak datengin dia pas jam istirahat pertama,dia bakal ngacak-ngacak kelas kita. Lo gila, ya? kalo punya masalah,jangan sama Alvin dong, Kka"Cakka mengerutkan dahinya sejenak, setelah itu ia tersenyum meremehkan. "Tuh anak ya,suka banget maen frontal. Oke, bakal gue ladenin. Liat aja,siapa yang bakal menang nanti.""Kka, lo jangan aneh-aneh sama Alvin. Alvin kan –"Cakka menjitak agni pelan, "Lo jangan cerewet deh. lo kira gue cowok umur 12 tahun? Yang dipukul bakal ngadu ke bonyok? Gue udah tujuh belas tahun,agnI! Dan lo tau itu"Agni meringis. "Iya sih,tapi tetep aja. Lo tau sendiri kan,Alvin itu gangster sekolah kita. Nggak mungkin lah,lo bisa menang lawan dia. apalagi nyentuh sehelai rambutnyapun,gue rasa lo nggak bisa." Remeh agni sambil terkekeh"jadi lo ngeremehin cakka? oke! Lo liat nanti,siapa yang jadi pemenang. Kadang,buat jadi pemenang yang sesungguhnya bukan orang yang bersenang –senang diawal. Pemenang itu cerdas. Dan cerdas itu nggak diperluin otot. Tapi otak.""cih,bahasa lo gaya amat. Kaya lo punya otak aja!" cibir agniCakka melotot kearah agni sambil melipat tangannya.Agni tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi cakka yang menggemaskan. "Piss, kka" ujar agni sambil membentuk tanda V di tangannya."Udah deh ag,ikutin aja permainannya alvin. Gue pengen tau,sejauh mana Alvin bertindak. Dan siapa yg jadi pemenang dari tantangan Alvin itu. Yuk,cabut. Gue belum ngerjain PR bahasa mandarin, nih."Agni menggeleng-geleng. Hampir tiga tahun bersahabat dengan cakka membuatnya sangat hafal rutinitas sahabatnya itu setiap pagi. Dengan langkah yang tak kalah semangatnya dengan cakka, ia berjalan meninggalkan lapangan menuju ruang kelas XII IPS 2.~~"Gimana? Sakit?" tanya Alvin dengan tangan yang dirangkulkan pada tubuh Cakka. "Lo udah rebut Sivia dari gue jadi lo harus terima semua pembalasan gue!" desisnya tajam.Muka cakka sudah biru penuh lebam. Cakka meringis kesakitan saat Alvin menjitak kepala cakka. ia tidak bisa melawan,karena ada 2 orang bodyguard Alvin yang Alvin sebut sebagai bagian dari 'genk'-nya yang siap membuatnya lebih babak belur jika ia melawan Alvin.Hantaman demi hantaman Alvin layangkan pada cakka. dada, perut, hingga wajah. Cakka hanya diam mengikuti seluruh permainan Alvin. Ntah karena nyalinya yang terlalu besar,atau memang dia berniat ingin bunuh diri. Yang pasti,cakka sama sekali tidak melawan Alvin."Gue mau saat ini juga lo putusin sivia! Jauh-jauh dari sivia! Gue nggak akan pernah bikin hidup lo bahagia kalau lo masih pacaran sama sivia! Gue anggap lo pengecut kalo lo nggak mau nurutin omongan gue!" ancam Alvin disela permainannya."Sekarang siapa yang pengecut? Lo? Ato gue?" lirih cakka buka suara setelah terbungkam selama hampir setengah jam di dalam ruang basket.Alvin terperangah,ketika hendak menghantamkan tinjunya ke rahang cakka,cakka kembali berujar, "Lo nggak berani ngutarain perasaan lo ke sivia. Iya? Terus,apa salahnya gue yang akhirnya jadi tempat hati sivia berlabuh? Itu semua salah siapa? Salah gue? Gue nggak pernah ada niatan ngerebut sivia dari lo. Lo terlalu pengecut buat ngelindungi sivia secara terang-terangan. Lo terlalu pengecut buat ngungkapin perasaan lo ke sivia. Apa itu masih salah gue, Alvin Jonathan??"Alvin mengeratkan cengkraman tangannya pada kerah cakka. "ELO!!!""STOP!! STOP!!" pekik sivia saat masuk bersama Agni kedalam ruang basket."Alvin! STOP!!" agni ikut berteriak ketika tangan Alvin hendak melayangkan tinjunya pada cakka.BUKKK....Terlambat. Pukulan terakhir, cakka sudah tak sadarkan diri. Sayup sayup,cakka mendengar suara histeris agni dan sivia memanggil namanya.~~"Cakka, udah sadar?" tanya sivia ketika melihat mata cakka mulai terbuka perlahan.Agni yang duduk dibelakang sivia spontan berdiri ,mendekati cakka."kamu nggak papa? Apa yang sakit?" tanya sivia khawatir. Agni hanya melirik tak senang pada sivia.Cakka menggeleng, lalu tersenyum,"aku nggak apa-apa kok, via. Udah deh,kamu nggak perlu sekhawatir itu.""Beneran nggak papa? Aku ini bener-bener khawatir ,cakka! aku udah aduin Alvin sama pak duta,kali kali aja dia bisa di skors abis bikin kamu babak belur gini. Kamu ada masalah apa sih sama dia?""nanti aja ya jelasinnya,mulut aku masih agak...ehm..sakit" cakka meringisSivia mengangguk dan menggenggam tangan cakka lebih erat. Sebuah pemandangan yang mampu mengundang derai air mata agni,jika tidak di hentikan.Agni menghela napas berat. Menyaksikan pemandangan didepannya tersebut. Cukup memilukan,dan mengiris hatinya. Juga perasaannya. Sebulir air mata jatuh mengalir di pipinya. Dengan buru-buru ia mengusapnya. Dia tak terlihat.**Aneh memang ketika engkau tahu semua tentang dia namun tidak bisa bersama. Terkadang,aku berfikir untuk apa dua orang saling bertemu namun pada akhirnya mereka tidak bisa bersama? Bahagia, sakit hati. Tawa dan tangisan, semuanya sudah kurasakan. Dia pergi lalu datang kembali. Dia menyakiti, lalu memperbaiki.**Cakka menghempaskan napasnya kesal. Sudah satu jam, nomor sivia tidak bisa dihubungi. Bbm nggak deliv. Sms apalagi."dia sebenernya kemana sih,ag?" tanya cakka sambil mengoper bola basketnya pada agni.Agni mendribble bola tersebut dan lay up. Dan sempurna, three point untuk agni. Agni pun berbalik pada cakka yang sudah lebih dulu duduk di pinggir lapangan."Lo udah coba hubungin rumahnya belum?"Cakka menggeleng. "Selama dia belum di bolehin pacaran,mana berani gue telfon rumahnya! Gila aja,bisa di putusin gue. Lo tau sendiri kan gimana sayangnya gue sama sivia?"Agni tersenyum, perih. Dengan terpaksa ia mengangguk. "Tau kka, tau banget." Jawabnya penuh artiCakka lagi lagi menghempaskan napasnya, kali ini lebih berat daripada sebelumnya. "kalo sivia selingkuh, gimana? Kalo anceman Alvin sewaktu seminggu abis gue balik dari rumah sakit kejadian, gimana? Gue belum siap kehilangan sivia, ag..."'dan gue belum siap nangis didepan lo sekarang, cakka...' batin agni pedih. Melihat cakka yang frustasi gara-gara satu gadis bernama Sivia itu sudah mampu membuat batin agni bergejolak menyala-nyala terbakar api cemburu. Apalagi mendengar dai mulut cakka sendiri betapa ia menyayangi Sivia. Rasanya,hati agni tercabik-cabik."udah ah kka, lo nggak boleh suudzon gitu ke sivia. Lo tau sendiri kan,sivia tuh kapten cheers. Lo harus tau kesibukan dia.mungkin hapenya lowbatt dan dia lagi latian cheers. Udah sekarang kita seneng-seneng aja. Lagian, kita udah kelas tiga. Waktu luang buat basketan berdua kaya dulu tuh nggak dateng seminggu sekali, bisa sebulan sekali,atau dua bulan sekali. Kita nikmati aja yang ada,kka. Biarin semuanya mengalir..."Cakka menyendenkan kepalanya pada bahu agni. Membuat jantung agni seperti melompat keluar karena aksi spontan cakka. seperti disengat listrik,tubuh agni pun beraksi cepat. Namun sepertinya,cakka tak mempedulikan itu."Lo ngomong apaan sih ag? Kok jadinya ngelantur kemana-mana"gumam cakka sambil memejamkan matanya.Agni menghembuskan napas gelisah. 'cakka, sampai kapan lo nggak bisa ngeliat gue? Apa perasaan gue begitu buram,sampe lo nggak bisa membacanya?'~~Agni sibuk membolak-balik buku Sosiologi yang belum juga ia temukan jawabannya. Sambil berjalan,ia terus membuka buku yang tebalnya hampir 200 halaman tersebut."Kamu itu pacar aku apa bukan, sih? Aku tuh udah berusaha ngertiin kamu! Kamu nggak pernah ngertiin aku! Aku kurang apa,sih.vi?? apa aku belum sempurna juga di mata kamu? Apa malah,aku nggak ada artinya?""Usaha kamu yang kurang,kka! Kamu bilang,kamu berusaha ngertiin aku? Mana,kka? Mana? Sampe sekarang aku nggak pernah tau kamu 'berusaha ngertiin aku'. Oke, aku terima kamu sahabatan sama agni! Tapi,nggak dengan kamu jalan berdua tiap weekend kan?"Telinga dan mata agni melebar ketika mendengar pertengkaran yang berada di ruang Pecinta Alam yang sepi karena letaknya di ujung koridor kelas X, yang jauh dari gerbang. Bahkan terletak dibelakang sekolah.Agni pun memberanikan diri untuk mendekatkan telinga pada salah satu jendela yang sedikit terbuka. Mengintio sosok cakka yang jakung menggunakan sweeter putih-biru kebanggaanya,dan sivia yang masih dalam balutan seragam cheers."kenapa jadi bawa-bawa agni?!""Aku cemburu, cakka! aku nggak suka kamu sering jalan sama agni...""aku sering jalan sama agni karena kamu nggak pernah ada waktu buat aku. Asal kamu tau aja""tapi tetep aja,kka. Aku tuh cemburu. Awalnya fine fine aja. Aku juga tau sedeket apa kamu sama agni. Tapi,nggak dengan anak-anak yang lain kan? Sakit, kka, saat ada orang lain yang bilang 'siv cowok lo jalan sama cewek lain tuh. kok nggak lo marahin sih? Lo nggak cemburu?'."Dengan tangis yang mulai mengucur,sivia melanjutkan penjealsannya. "awalnya aku abaiin semua kata kata anak-anak,kka. Tapi makin lama mereka tuh makin gencar ngasih aku info. Soal kamu sama agni. Aku pengen nggak percaya,kka. Tapi banyak banget yang tau. Semua orang nuduh kamu sleingkuh. Padahal aku tau maksud kamu nggak gitu.""tapi aku tetep punya batas, kka. Karna aku cewek. Aku...jujur...juga sakit banget. Tapi mau gimana lagi...""kita kan bisa ngomongin ini baik-baik, via. Nggak perlu maen kucing kucingan gini. Aku tuh bingung harus nyari kamu kemana. Nomer kamu jarang aktif kalo pulang sekolah. temen-temen kamu bilangnya juga nggak tau mulu. Kalo aku telfon rumah kamu, nggak mungkin juga,kan?"Isakan sivia makin keras,menggema di dalam ruangan tersebut. Cakka selangkah lebih maju dan dengan sekali kedipan mata,agni melihat cakka sudah merengkuh sivia.Padahal disini, badan agni telah bergetar. Menyaksikan adegan Cuma Cuma yang dipertontonkan takdir untuknya ,secara langsung. Dan mendengar kata demi kata yang terucap dari kedua insan di dalam ruangan itu."aku janji,nggak bakal deket deket agni lagi. tapi,kamu jangan matiin hape kamu lagi ya.."Telak. Setelah mendengar ucapan lirih cakka tersebut,agni langsung berlari dari sana. Menumpahkan segala tangisnya di danau yang tak jauh dari sekolah mereka. Tak peduli tatapan penuh tanya orang-orang yang adai disekitar danau tersebut. Yang ia inginkan hanya sendiri. menangis. Hingga lega."kenapa? Putus cinta? Patah hati? Cinta bertepuk sebelah tangan? Apa diselingkuhi?" tanya sebuah suara yang asing di telinga agni. Agni tak menoleh. Ia masih diposisi yang sama. Menenggelamkan wajahnya pada lututnya."kalo nangis nanti jelek, lho" ujar pemuda yang agni tak tau siapa itu. Agni masih enggan menoleh."lo nggak malu diliatin sama orang orang disini? Apa lo nggak punya malu?""diem lo.. ngeselin banget sih!!" rutuk agni. Agni yang jengah pun akhirnya mengangkat wajahnya,menatap pemuda bermata sipit didepannya itu. Sedikit kaget,mengetahui siapa sosok didepannya."oh, agni tri nubuwati! Cewek yang selalu jadi bodyguard cakka itu? Ckckck. Ternyata,walopun tampang lo sangar gini,lo bisa nangis juga"Agni melirik Alvin kesal,sedikit tak terima dibilang bertampang sangat dan bodyguard cakka. tapi,ia juga tidak ingin merusak imagenya didepan pemuda berkulit putih tersebut yang ia anggap sebagai musuhnya."jadi, lo nangis karena apa? Disakitin cowok? Diselingkuhin cowok? Di PHPin cowok? Di manfaatin cowok? Atau..." Alvin mengamati wajah agni lekat-lekat. Dan berbisik, "...atau ngeliat cakka sama sivia pelukan?"Agni reflek menjauhkan kepalanya dari kepala Alvin,ketika bisikan Alvin mampu membuat bulu kuduknya meremang,berdiri."sepertinya,dari semua opsi,jawabannya udah jelas. Yang terakhir. Ya,kan?"Agni melengos. Tak ingin membongkar aibnya sendiri. apalagi didepan musuh cakka."nona agni, anda nggak perlu sungkan-sungkan buat bercerita kepada saya. Karena saya adalah penjaga rahasia nomor satu didunia." Bangga Alvin sambil merebahkan dirinya diatas rerumputan.Agni tak bergeming ditempatnya. Ia sibuk memandangi wajah pemuda disampingnya ini. tidak menemukan ekspresi licik yang biasanya terpampang jelas pada wajah Alvin. Walaupun rasa-rasanya,apa yang Alvin ucapkan bisa dipegang dan dipertanggung jawabkan,agni masih bungkam. Sama sekali tidak ingin membagi kesedihannya pada siapapun. Termasuk pada orang yang masih berstatus musuh sahabatnya itu."gue sih nggak maksa lo buat cerita. Tapi,gue bakal ada kalo lo butuh gue. Gue disini tiap hari rabu, jumat, sama sabtu. Pulang sekolah,sampe jam 8 malem. Karena ini hari selasa,dan bukan jadwal gue ada disini,jadi...gue pergi dulu. Lo bisa contact gue via twitter,kok. Bye, agni.." Alvin bangkit dan menepuk-nepuk kepala agni lembut.Agni menatap Alvin dengan tatapan bingung, heran, sekaligus aneh.~~Keesokan harinya, agni melangkahkan kakinya gontai. Menatap kebawah,pasrah dengan langkah yang membawanya pergi. Sebenarnya dia tidak ingin masuk hari ini,tapi karena ulangan harian setumpuk ia terpaksa harus masuk.Ia sendiri bingung, sibuk bertanya pada perasaannya. Gimana kalo ketemu cakka? gue harus ngapain? Gue harus gimana? Diem kah? Sok nggak tau apa apa kah? Marah marahin cakka kah? Nangis didepan cakka kah?Ketika agni mengangkat wajahnya,matanya tak sengaja bertumbukan dengan cakka. dengan cepat ia mengalihkan pandangannya. Saat ia melirik cakka yang tengah berjalan kearahnya, sebuah tangan besar dan kokoh menyambar lengannya dan menyapanya riang"pagi agni! Lo keliatan tambah kusem aja? Kebanyakan nang...AWW!!!" dengan kesal agni mencubit pinggang Alvin kuat kuat,takut Alvin kelepasan bicara. Apalagi jarak cakka dan mereka hanya beberapa langkah.Cakka membeku ditempatnya. Melihat agni dan Alvin yang terlihat akrab. Sejak kapan agni begitu akrabnya dengan Alvin?"ag... gue...""Ag, gue laper nih. Kita sarapan dulu yuk di kantin. Yuk ah" Alvin menggeret lengan agni paksa. Agni tak ingin meronta,karena air matanya sendiri berlomba lomba ingin keluar dari pelupuk matanya. Hanya karena pemuda yang sedang berusaha berbicara padanya, cakka.Cakka menatap pemandangan itu bingung. Antara tak suka, dan lega. Melihat gelagat agni yang seperti ingin menjauhinya, ia diam diam merasa lega. Karena bisa menjauhi agni tanpa kentara. Sedangkan tak suka,ketika melihat sosok Alvin ada disamping agni.Alvin menghentikan langkahnya, menoleh kearah agni yang sudah terisak hebat. "sabar, ya. gue tau kok perasaan lo." Ujar Alvin sambil menghela napas."lo nggak tau vin. Lo nggak akan pernah tau..""lo lupa? Gue sama-sama ada dipihak lo. Di posisi lo. Gue dan sivia. Dan lo dengan cakka. sederhana,kan?"Agni menatap Alvin . pandangannya mulai mengabur tertutup selaput bening yang mulai mengalir. Alvin menggenggam tangan agni erat, dan menghembuskan napas berat.**Aku ingat saat pertama kami bertemu,suatu kebetulan yang tak pernah ku ketahui akan begitu membekas dan berarti. Awalnya, hanya sebuah perkenalan singkat,lalu kami berkirim pesan dan kami menjadi cukup dekat. Satu bulan,dua bulan, tiga bulan berlalu tiba-tiba perasaan itu muncul. Perasaan yang berlalu tak bisa aku hindari. Lucu ketika mengingat semuanya terjadi secara tidak sengaja. Sesuatu yang awalnya biasa menjadi begitu berarti. Empat bulan,lima bulan, enam bulan,aku menyadari bahwa aku benar-benar menyayanginya. Namun segala sesuatu tentu berubah bukan? People change, feelings change. Sometimes when people grow, they grow apart. He turned my world upside down .**Sudah hampir dua bulan agni mati-matian menghindari Cakka. dan tentu cakka tidak keberatan, karena sesuai janjinya pada sivia,dia tidak perlu lagi berada dalam jarak dekat dengan agni. Dan selama dua bulan itulah, agni menemukan sahabat baru. Alvin. Walaupun Alvin dan dia mengalami persamaan nasib,Alvin sama sekali tidak terlihat terluka seperti agni.Selama dua bulan terakhir ini agni mendiamkan cakka. bicara jika ada hal penting saja. Dan lebih sering menghabiskan waktu luangnya bersama Alvin. Alvin tidak jago basket seperti cakka. tapi Alvin jago lari. Mungkin karena kebanyakan menjaili orang orang disekitarnya dan menjadi kepala gangster sekolahnya,Alvin menjadi sangat gesit dengan olahraga yang satu itu. Agni bahkan tak percaya bahwa pentolan gangster yang paling ditakuti di sekolahnya kelakuan Alvin bisa seabsurd itu."cakka sama sivia putus ya? wah, berita bagus dong!" pekik dea pada oik yang ada didepannya.Agni dan Alvin yang sedang makan bakso bersama pun menghentikan aktifitasnya. Lalu menoleh bersamaan kearah suara."Iya, mereka putus. Dua hari yang lalu. Kasian ya? si cakka kayaknya stress berat tuh. apalagi sahabatnya, si agni, ngejauhin dia. apa gara-gara cakka keasyikan pacaran sama sivia ya?"Dea mengedikkan bahunya. "tapi bisa jadi .mereka sih,nempel mulu kaya perangko. Siapa juga yang mau deket deket mereka. Gue sih,bakal ngelakuin hal yang sama kaya agni."Agni bangkit dari duduknya. Membuat dea dan oik melotot kaget melihat target yang mereka bicarakan ada dibelakangnya. Alvin langsung mengejar agni."Lo kenapa? Bukannya ini kabar bagus?""kabar bagus?" tanya agni tak berselera"iya,.ini kabar bagus. Lo bisa balik sama cakka. dan gue bisa sama sivia. Bukannya bagus,ya?""lo nggak ngerti vin..." agni menghentikan langkahnya dan menggapai kursi yang tak jauh darinya. "...gue ssayang sama cakka itu tulus,gue lebih milih sahabatan aja. Biar nggak ada kata putus. Biar nggak jauh dari cakka. ""Ag..n..i...?" cakka membeku ditempatnya, tak jauh dari agni dan Alvin yang sedag duduk berdua di lapangan."c...ak..ka..." lirih agni tak kalah kagetnya melihat orang yang menjauhinya selama ini berada didepannya.Alvin hanya menoleh sekilas,lalu melengos."l..o..." cakka meneguk ludahnya. Agni hanya menunduk dalam diam.~~"Jadi lo udah tau perasan gue sekarang. Gue nggak pengen karena lo tau ini,persahabatan kita rusak. Gue pengen kita kaya dulu,nggak usah peduliin perasaan gue. Karena gue udah nggak papa."Cakka menghela napasnya,"maaf ag kalo gue nggak pernah peka""nggak papa. Bukan salah lo. Ini salah gue. Nggak harusnya gue punya perasaan sama lo,sahabat gue sendiri."Cakka menyandarkan kepalanya pada bahu agni,seperti kebiasaannya setiap bersantai dengan agni di lapangan basket rumah cakka."gue salah ag. Gue nggak bisa dibilang sahabat yang baik karena gue nggak bisa ngertiin lo. Nggak bisa tau perasaan lo. Dan gue salah,udah ngejauhin lo beberapa bulan terakhir ini. gue nggak tau harus mulai darimana,gue minder. Lo udah ada Alvin. Sedangkan gue dengan bodoh nya nyia-nyiain lo. Gue...gue...""udah,kka. Gue nggak papa,kok. Lo nggak perlu sungkan gini ,lagi. kita hampir tiga tahun sahabatan. Tiga tahun tuh bukan umur yang panjang, ibaratnya kita masih kaya nasi yang belum mateng. Tapi,tiga tahun juga bukan umur yang singkat. Kita masih sama-sama belajar memahami, dan memaafkan. Mau kita kaya gimanapun,kita tetep sahabat."Cakka tersenyum lalu mengacak-acak rambut agni. "makasih,agni""anytime,kka" agni tersneyum penuh kelegaan. Lalu ia menoleh "jadi,gimana bisa lo putus sama sivia? Mengingat lo dan dia hampir setengah tahun pacaran?""dia selingkuh sama Rio, sepupunya Alvin."Kening agni berkerut, "rio? Sodaranya Alvin?"Cakka mengangguk. "selama ini, sivia terkenal player. Dari SMP, dia nggak pernah cukup kalo punya satu cowok. Mantannya segudang. Mantan gebetannya juga segudang. Alvin adalah korban PHP sivia. Dan gue juga. Bodohnya gue nurutin kemauannya sivia buat ngorbanin persahabatan. Maaf ag. Gue dibutain sama cinta. Maaf ag,beribu maaf"Agni terkekeh "udah lah kka,ngapain lo mintaa maaf terus ke gue. Gue udah maafin lo kok.""sekalii lagi thanks, ag. Gue bukan apa-apa tanpa lo."Agni tersenyum tipis. Mulai menikmati desau angin yang menerpa wajahnya.~~♫ Saat berjumpa dan kau menyapa indah parasmu hangatkan suasanaBuatku tak percaya mimpi indahku jadi nyataSaat sendiri jalani hari bayang bayangmu slalu menghampiriDan aku pun mengerti apa maunya hati ini...♫**Kamu tahu rasanya ketika seseorang yang sangat berarti tiba-tiba pergi dari hidupmu? Kecewa, sedih. Kamu tahu ketika orang itu pergi dan kita berusaha melupakannya namun seketika dia hadir lagi? sulit. Dia selalu begitu,detik ini dia datang,detik berikutnya ia pergi. Tapi aku tidak peduli. Aku masih disini,menunggunya.**"Ag tau nggak anak pindahan di kelas gueitu? Cantik, ya?" ujar cakka suatu hari.Agni hanya menghembuskan napas berat sambil mengangguk tak acuh"kalo gue pedekate sama dia, lo keberatan nggak?"HAH! PEDEKATE? TENTU AJA KEBERATAN!!! Teriak agni dalam hatinya."Ag? Kok diem?"Agni tersneyum tipis,"nggak kok kka. Lagian,dia baik banget sama kita. Kenapa harus keberatan?""beneran ag?? Lo nggak keberatan?"Agni mengangguk terpaksa. Merutuki kebodohannya yang sudah entahlah yang keberapa kalinya menyetujui cakka dekat dengan gadis manapun.Hari ini menginjakk bulan kedua mereka berkuliah di salah satu universitas swasta kota mereka. Agni pada jurusan Ekonomi, dan cakka Hukum. Mereka masih tetap bersahabat. seperti dulu. Cakka yang sering bergonta-ganti pacar. Agni yang masih terus-terusan berharap cakka bisa mengerti perasaannya. Alvin yang masih bersahabat bahkan sekelas dengan agni di kampus.Sejak putusnya cakka dan sivia, cakka berubah. Dia memang tidak menjauhi agni,tapi dia sering bergonta ganti pacar. Karena sepertinya ia terlalu sayang pada sivia. Hingga mencari pengganti sivia sangatlah susah.♫ Namun tiba tiba kau ada yang punya hati ini terlukaSungguh kecewa ingin ku berkata...♫~~"Kenapa lagi? kok kusem terus sih wajah lo akhir akhi ini?" tanya Alvin pada agni setibanya mereka di tepi danau. Seperti setahun yang lalu."cakka suka sama shilla, anak baru dikelasnya"Alvin menyerngit, "kok gitu? Bukannya..""percuma vin. Dia nggak pernah bisa ngehargai perasaan gue. Gue ini bodoh banget. Nggak bisa ngilangin perasaan gue ke dia. bingung deh guenya. Padahal dia berkali kali nyakitin gue. Kenapa ujung ujungnya gue balik ke dia? uurgh pengen banget gue buang hati gue biar nggak berfungsi lagi. biar nggak punya hati."Alvin terkekeh "jangan. Tampang lo aja udah serem. Apalagi kalo lo nggak punya hati""sabodo deh"Alvin menghentikan tawanya lalu menatap agni, "lo fikir fikir dulu,beneran mau ngilangin perasaan ke cakka atau nggak. Lo harus mantep,kalo lo nggak mantep sama keputusan lo,lo bisa goyah dan makin terpuruuk,lho."♫ Kasih maafkan bila aku jatuh cintaMaaf bila saja ku suka saat kau ada yang punyaHaruskah ku pendam rasa ini saja ataukah ku teruskan sajaHingga kau meninggalkannya dan kita bersama...♫"apa...sampe sekarang lo masih punya prasaan sama sivia?"Alvin berdecak "dia udah bahagia sama sepupu gue. So? Buat apa gue terus terusan sedih dibalik kebahagiaan sodara gue sendiri? lagian,cewek kan banyak. Nggak Cuma sivia. Gue nggak mau dong stuck di satu orang aja. Hidup gue masih panjang,kali. Mana mungkin gue sebodoh itu dengan menghabiskan seluruh sisa hidup gue buat nungguin sivia""lo nyindir gue?"Alvin meringis, "piss. Tapi ya ag,gue Cuma heran aja. Cakka selalu dateng disaat dia tengkar sama cewek-ceweknya. Itu kaya manfaatin lo, karena Cakka udah tau perasaan lo yang sebenernya dari mulut lo sendiri. anehnya, kenapa cakka nggak pernah ngerti? Paling nggak, berusaha ngerti. Kenapa cakka cari cewek lain padahal jelas jelas didepannya udah ada cewek yang cinta dia mati matian, ngorbanin perasaannya berkali kali...""udah ahh gue males bahas ini. sekarang,lo ajarin gue move on dari cakka ya?""Oke! Siap jenderal! Hahaha"Mereka menghabiskan sepanjang sore tertawa di tepian danau.♫ Akankah ada kesempatanUntuk diriku menyatakan rasa yang slama ini ada...♫(HIVI! – Orang ketiga)**Enam bulan setelahnya, dia benar-benar pergi. Dia mendapatkan seseorang, namun orang itu bukanlah aku. Sedih? Sudah pasti. Namun rasa sayangku masih lebih kuat untuknya,terlalu naïf memang. Tapi aku merasa dia yang terbaik untukku, dia akan kembali padaku, mungkin tidak saat ini tapi dia pasti kembali padaku. Sugesti-sugesti seperti itu yang selalu aku terapkan, namun kenyataannya seperti memusuhiku. Memang benar terkadang apa yang kita harapkan tidak sesuai dengan kenyaataan. Lalu aku sampai pada titik lelah. Mengetahui kenyataan bahwa ia takkan kembali.**Agni menangis tak henti-hentinya. Membuat Alvin kelimpungan mencari cara membuat agni terdiam. Undagan itu tersebar di seluruh angkatan mereka. Orang orang terdekat cakka selama SMP, SMA , hingga kuliah. Undangan pertunangan cakka dan shilla yang sampai pada tangan agni pagi ini membuat seluruh pertahanan agni runtuh.Ia terima,jika cakka berganti ganti pacar. Ia terima,kalau harus dinomor duakan. Ia terima,jika cakka pacaran didepannya. Tapi pertunangan? Agni bahkan tidak pernah berfikir cakka dan shilla bisa seserius itu.Alvin yang mengetahui perjalanan hidup agni selama hampir dua tahun ini selalu setia berada disamping agni. Menenangkan agni. Menguatkan agni. Segalanya. Alvin punya sesuatu yang tidak dipunyai cakka untuk agni. Kepedulian. Perasaan. Kepekaan. Semuanya.Alvin yang mukai khawatir dengan keadaan agni pun memeluk agni. "ag udah dong ag,lo udah dua hari nangis kaya gini tiap ketemu gue. Lo harus kuat ag. Lo tunjukin sama cakka kalo lo kuat. Kalo cakka bakal nyesel nyianyiain lo. Lo bukan agni yang gue kenal. Gue pengen lo ceria.. lo...""udah cukup vin kepurapuraan gue sama hidup! Gue udah nggak kuat lagi pura pura ceria. Pura pura bahagia. Cukup ngeliat cakka ngabaiin gue dari hatinya aja udah bikin gue sakit banget, lah ini? dia mau tunangan vin! Tunangan!!" agni mulai histeris sendiriAlvin menepuk bahu agni. "ag, gue yakin lo bisa laluin ini semua. Gue aja bisa,masa lo nggak bisa?""vin,lo cowok dan gue cewek.kita beda.""ohya? Oke., gue akuin kita beda. Gue kenal sivia dari lahir,sedangkan lo kenal cakka pas masuk SMA. Gue suka sivia pas kelas 3 SD, lo suka cakka kelas 1 SMA. Gue di buat pelampiasan sama sivia selama hampir 6 tahun, dia dateng dan pergi dari hidup gue gitu aja, sedangkan lo baru 3 tahun. Iya, kita emang beda. Luka yang kita punya juga beda."Agni menatap Alvin lama, bingung mau menanggapi apa. Tangan Alvin bergerak menghapus air matanya. "gue tau lo terluka. Gue juga sama terlukanya sama lo, dulu. Sebelum gue kenal sama lo. Sebelum gue jadi sahabat lo."Agni yang tak mengerti arah pembicaraan Alvin hanya menatap Alvin dalam diam."Gue bisa setegar ini ngejalanin hidup gue,karena lo. Agni. Kalo nggak ada lo,nggak bakal ada Alvin yang sekarang. Kalo nggak ada lo,mungkin gue udah nggak ada lagi didunia ini malah. Apa lo nggak mau ta perasaan gue saat liat lo kaya gini? Lo hancur,gue juga hancur ag. Hancur banget ngeliat orang yang kita sayang nangisin orang lain..."Agni mengerjapkan matanya,bingung dnegan pendengarannya. Apakah ia budek? Atau sedang bermimpi?"agni... lo adalah orang yang Tuhan kirim buat gue, untuk ngisi kekosongan hati gue. Semua udah rencana Tuhan, ketemuin kita berdua sore itu. Bikin kita sahabatan. Bikin kita deket. Dan semuanya. Semua yang kita lalui. Gue tau,Tuhan punya rencana lain di balik itu..."Masih dengan keterdiaman agni,Alvin melanjutkan "Maka dari itu. Maukan lo menata masa depan lo sama gue, ag? Kita bangun semuanya dari nol. Gue tau,ngilangin perasaan ke seseorang nggak semudah membalik telapak tangan. Tapi... gue nggak mau dibilang pengecut karena lebih melindungi persahabatan daripada perassaan gue. Gue Cuma pengen buktiin,kalo gue nggak akan ngulan kesalahan yang sama gue dulu, buat hari ini,detik ini. gue Cuma pengen lo tau,kalo gue disini,juga sayang sama lo. Gue cinta sama lo. Sesuatu yang nggak cakka punya buat lo.""a..l..v..i..n..."Alvin merengkuh agni lagi dalam pelukannya. "Gue nggak mau lihat lo nangis buat cakka, ag"Ntah ada angin apa,agni mengangguk dalam dekapan Alvin. Lalu dengan tekad yang bulat,agni berbisik "ajarin gue... mencintai lo,Alvin..."**Aku terlalu bodoh karena tidak bisa melihat kebahagiaan dalam sisi yang lain. Karena selama ini yang aku tahu, kebahagiaan ku adalah dia. terkadang Tuhan membanting kita jatuh untuk menyadarkan kita bahwa apa yang kita pertahankan selama ini salah. Aku sayang dia,tapi bagaimana dengannya? Dan aku pun sadar bahwa titik puncak tertinggi cinta itu ketika merelakan kepergiannya.**"selamat ya! sahabat gue udah jadi ibu-ibu sekarang hihi" ujar cakka sambil meringis."lo apaan deh kka, hehehe itu istri lo udah punya anak berapa? Sebelas?"Cakka menjitak agni gemas "Lo kira pemaen sepak bola!!"Agni tertawa, "lah lo dulu pernah bilang sama gue,kalo udah nikah,pengen punya anak sebelas""hahaha kalo diinget inget lucu juga ya masalalu kita? Lo berusaha nyadarin gue,gue berusaha menghindar. Gue emang takut persahabatan kita rusak,ag. Bukan karena gue nggak ada perasaan sama lo. Gue ada... tapi...gue nggak rela kalo perasaan gue sama lo berakhir dengan nama CINTA. Gue nggak mau ada hubungan spesial antara kita. Dan gue tau,takdir bener bener memilih kemana cinta itu berlabuh. Gue dengan shilla,lo dan Alvin. Tuhan adil, kan?"Agni tersenyum "iya kka, gue terlalu fokus sama cinta gue ke lo, selalu nyalahin diri gue sendiri yang bodoh mengharap lo,selalu ngeluh karena lo nggak peka. sampe sampe nggak pernah sadar kalo gue sendiri nggak peka. Sampe nggak sadar kalo ada orang bodoh lainnya yang mengharapkan gue. Sebenernya gue sama lo sama aja""nggak lah! Kalo sama aja,aku nggak bakal mau nikah sama kamu" ujar Alvin yang tau-tau sudah berada diambang pintu bersama shilla."kalian..." kaget agni"dengerin semua??" tanya cakka tak kalah kagetnyaAlvin dan shilla meringis lalu mendekat. Shilla bersama seorang anak laki laki kecil berusia satu tahun empat bulan. Sedangkan Alvin dengan sekresek snack ditangannya."sekarang udah tau kan,mana cinta sejati dan jodoh kita masing-masing? Kalopun kita dibuat sakit di awalnya,kita bakal diberi keindahan pada akhirnya. Tuhan nggak buta,nggak tuli kok. Selama kita berusaha,apa yang kita pengen juga tercapai."Cakka agni dan shilla tersenyum kepada Alvin. Alvin hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena salah tingkah ditatap ketiga orang sekaligus."anak kalian mau di namain siapa?""Marsha..." jawab agni dan Alvin kompak"gimana kalo kita jodohin anak kita aja?" usul shilla jahil"jodohin?"Shilla mengangguk "marsha dan rafli... kalian berdua bakal jadi pasangan di masadepan nanti." Ujarnya sambil menerawangAgni cakka dan Alvin mengangguk angguk setuju.END