Temukan Cerita Inspiratif

Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.

Total Cerita

830

Genre Romance

166

Genre Folklore

166

Genre Horror

166

Genre Fantasy

166

Genre Teen

166

Reset
Senja Di Ujung Rahasia
Teen
23 Jan 2026

Senja Di Ujung Rahasia

Senja baru saja menyentuh cakrawala saat Salsa berdiri di balkon apartemennya. Angin musim panas membelai rambut panjangnya yang tergerai, dan pikirannya melayang pada hari itu—hari yang seharusnya biasa, sampai dia bertemu lelaki asing itu di studio tari.Arlian.Nama itu masih terngiang di telinganya. Mata pria itu begitu tajam, seakan bisa menembus dinding pertahanan yang telah ia bangun bertahun-tahun. Ia bukan hanya pelatih tamu dari luar kota—Arlian membawa sesuatu yang sulit dijelaskan. Aura. Dominasi. Dan tatapan yang membuat jantung Salsa berdetak tidak karuan."Langkahmu bagus, tapi kamu menahan diri," suara Arlian siang tadi masih terngiang, pelan namun penuh tekanan."Aku... aku hanya mengikuti irama," jawab Salsa, mencoba tenang."Tubuhmu bicara, Salsa. Tapi jiwamu masih ragu," katanya sambil mendekat.Saat Arlian berdiri hanya beberapa inci darinya, Salsa bisa mencium aroma parfum maskulin yang samar tapi memabukkan. Ada ketegangan di antara mereka. Bukan karena amarah, bukan juga karena persaingan. Itu... gairah. Sebuah tarikan yang tak bisa mereka hindari.Dan malam itu, saat Arlian muncul di pintu apartemennya tanpa aba-aba, membawa sebotol anggur dan sepasang mata yang masih menyimpan tanya, Salsa tahu ini bukan sekadar latihan tari.---Anggur merah di gelas kristal bergetar pelan saat Arlian menaruh botolnya di meja."Maaf kalau tiba-tiba," ucapnya dengan suara rendah."Tapi aku merasa... kita belum selesai."Salsa menatap pria itu dari balik rambutnya. Jantungnya berdetak cepat, tapi tubuhnya tak bergerak. Dia tidak mengusirnya. Itu saja sudah cukup sebagai jawaban."Apa yang belum selesai, Arlian?" tanyanya, setengah berbisik."Rasa ingin tahuku tentang kamu..." Arlian mendekat, menelusuri ruang sempit antara mereka. "Dan mungkin... rasa ingin tahumu tentang aku."Salsa tertawa kecil, gugup tapi tak menolak."Dan kamu pikir kamu bisa temukan jawabannya malam ini?"Arlian hanya tersenyum. Ia mengangkat tangan, perlahan menyentuh rambut Salsa dan menyelipkan helaian yang menutupi pipinya."Aku tidak datang untuk jawaban," bisiknya."Aku datang untuk merasakan... apa yang kita tahan sejak tadi siang."Salsa tidak berkata apa-apa. Tapi ketika bibir mereka akhirnya bersatu, semuanya menjadi jelas. Tak ada lagi latihan. Tak ada lagi jarak. Yang tersisa hanya dua tubuh yang menari dalam diam, di ruang yang mereka ciptakan sendiri.Arlian mencium Salsa perlahan, penuh rasa, namun dengan api yang tersimpan di dalamnya. Tangannya menyusuri punggung Salsa, lembut tapi pasti. Salsa membalas dengan sentuhan yang gemetar, tapi penuh keyakinan.Malam itu, mereka tak hanya menyatu secara fisik—mereka membongkar lapisan emosi yang lama tersembunyi. Setiap sentuhan adalah ungkapan dari sesuatu yang selama ini tidak terucap. Luka. Rindu. Hasrat. Dan kerinduan akan kehangatan yang lebih dari sekadar gairah.---Pagi menyelinap masuk lewat tirai putih yang setengah terbuka. Matahari belum tinggi, tapi sinarnya cukup untuk membangunkan Salsa dari tidurnya yang tak biasa—tidur dalam pelukan seorang pria yang belum sepenuhnya ia kenal, tapi entah kenapa, terasa seperti rumah.Salsa menoleh. Arlian masih terlelap, wajahnya tenang, napasnya teratur. Ada garis keras di rahangnya, tanda bahwa dia bukan pria yang mudah terbuka. Tapi tadi malam, garis itu sempat lunak. Ia membiarkan Salsa melihat bagian dirinya yang tidak banyak orang tahu—rapuh, penuh luka, tapi hangat ketika disentuh dengan benar.Salsa turun dari ranjang perlahan. Mengenakan kemeja Arlian yang tadi malam tergeletak di lantai, ia berjalan menuju balkon. Di sana, angin pagi menyapa, membelai wajahnya yang masih menyimpan sisa-sisa gairah dan keraguan.Apa yang sedang aku lakukan?Pertanyaan itu menghantam keras di dalam kepalanya.Salsa bukan gadis polos. Ia tahu bagaimana rasanya disentuh, dicintai untuk semalam, lalu ditinggalkan seolah tidak pernah berarti. Tapi dengan Arlian... semuanya terasa berbeda. Terlalu dalam. Terlalu cepat.Suara langkah kaki terdengar di belakangnya."Sudah bangun?" suara Arlian pelan, berat.Salsa tidak menoleh. "Aku nggak nyangka kamu masih di sini.""Aku juga nggak nyangka kamu membiarkanku tetap di sini," jawab Arlian jujur.Diam."Aku punya masa lalu yang berantakan, Salsa. Mungkin lebih gelap dari yang kamu pikir," katanya tiba-tiba.Salsa menatapnya, pelan. "Kamu pikir aku nggak?"Tatapan mereka saling menembus. Ada semacam pengakuan di dalamnya."Aku nggak akan janji apa pun. Aku nggak yakin aku tahu cara mencintai seseorang dengan benar," ujar Arlian, nyaris seperti permohonan.Salsa tersenyum tipis. "Aku nggak butuh janji. Aku cuma butuh kamu jujur. Bahkan kalau itu berarti kamu akan pergi."Arlian mendekat, menyentuh wajahnya dengan lembut."Kalau aku bilang... aku takut pergi?"Salsa menggenggam tangannya."Maka tetaplah."---Sudah seminggu sejak malam itu. Salsa dan Arlian tak lagi saling berpura-pura bahwa semua hanya kebetulan. Mereka bertemu hampir setiap hari—kadang di studio, kadang hanya untuk makan malam singkat yang berakhir dengan ciuman panjang di ambang pintu.Tapi malam ini berbeda.Arlian datang terlambat ke studio. Raut wajahnya lebih dingin dari biasanya. Salsa melihatnya dari cermin besar saat mereka berlatih—langkah-langkah tari yang biasanya lembut kini berubah kaku, terburu-buru, seolah tubuhnya ingin lari dari sesuatu."Arlian, ada apa?" tanya Salsa, menghentikan musik.Pria itu menatapnya sesaat, lalu menarik napas panjang. "Kamu nggak perlu tahu."Salsa maju selangkah. "Kita sudah terlalu jauh untuk mulai pakai tembok, kan?"Arlian akhirnya bicara, tapi nadanya rendah dan berat."Dulu aku pernah bertunangan," katanya pelan."Namanya Maira. Kami merencanakan semuanya—rumah, anak, masa depan. Tapi aku hancurkan semua itu dalam satu malam."Salsa terdiam. Jantungnya berdetak lebih cepat, bukan karena cemburu, tapi karena rasa takut: takut bahwa Arlian akan kembali terperangkap dalam masa lalunya."Kenapa?" tanyanya akhirnya.Arlian tersenyum pahit. "Karena aku nggak bisa miliki satu orang... tanpa merasa kehilangan semuanya. Aku takut pada keterikatan. Takut bahwa kalau aku mencintai, aku akan hancur lagi."Salsa mendekat, menatap mata pria itu dalam-dalam."Aku nggak minta kamu cintai aku sekarang. Tapi jangan hukum dirimu karena masa lalu. Aku bukan Maira... dan kamu bukan dirimu yang dulu."Arlian menunduk. Tangannya meraih tangan Salsa, menggenggam erat, seperti memohon agar waktu berhenti. "Kalau kamu pergi suatu hari nanti... aku nggak tahu apakah aku bisa pulih."Salsa menggenggam balik. "Maka pastikan aku punya alasan untuk tetap tinggal."---Sudah tiga hari sejak Arlian datang ke studio tanpa menyapa. Tiga hari sejak sentuhan terakhir mereka menghilang tanpa kejelasan. Salsa mencoba menepis perasaannya—berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Tapi kenyataannya, setiap ruang di dalam hatinya mulai terasa kosong.Ia berdiri di tengah studio, menyalakan musik yang dulu mereka latih bersama. Tubuhnya mulai bergerak mengikuti irama, tapi langkah-langkahnya terasa kehilangan makna. Salsa menari bukan untuk tampil—ia menari untuk bertahan.Di sudut lain kota, Arlian duduk sendiri di atas motor sport hitamnya, menatap laut yang luas. Di tangannya, masih tergenggam foto kecil—gambar dirinya dan Maira lima tahun lalu, di malam pertunangan mereka. Matanya memerah, bukan karena rindu, tapi karena kebingungan.*Kenapa aku begitu takut bahagia?* pikirnya.Dia tahu perasaannya untuk Salsa nyata. Tapi justru karena itu, dia takut. Salsa membuatnya merasa utuh, dan itu menakutkan—karena jika ia kehilangannya, ia akan hancur lagi. Seperti dulu, ketika Maira pergi karena ia terlalu dingin, terlalu tertutup, terlalu... terluka.---Salsa duduk sendiri di kafe langganannya. Di depannya, ada dua cangkir kopi—satu untuknya, satu lagi yang sengaja ia pesan untuk Arlian, walau ia tahu lelaki itu takkan datang."Kamu bisa kuat, Sal," gumamnya pelan.Saat itulah notifikasi di ponselnya berbunyi. Sebuah pesan singkat dari nomor tak dikenal.*Kamu luar biasa malam itu. Aku lihat video kompetisimu. Kamu bersinar bahkan tanpa aku di sana. A*Hanya itu. Tapi cukup untuk mengguncang seluruh perasaan yang berusaha ia pendam.*Dia melihatku... tapi tidak datang?**Dia peduli... tapi memilih menjauh?*Salsa menahan air mata yang menggantung di pelupuk. Ia tahu ini bukan tentang cinta yang tidak saling, tapi tentang cinta yang belum siap.---Malam itu, Salsa pulang dan menemukan sesuatu di depan pintu apartemennya: seikat bunga lili putih—bunga favorit ibunya, dan juga yang pernah Arlian sebut ketika mereka pertama kali berbicara soal masa kecil.Di bawah bunga itu, ada sepucuk surat.> *Aku butuh waktu. Bukan untuk memilih antara kamu atau dia, tapi untuk memastikan bahwa ketika aku bersamamu... aku benar-benar utuh. Aku ingin datang bukan sebagai pria yang setengah hancur, tapi sebagai seseorang yang bisa menopangmu, bukan malah menuntutmu untuk menambal lukaku. – A*Salsa memeluk surat itu. Tidak ada marah. Tidak ada kecewa. Hanya air mata yang jatuh dalam diam—karena ia tahu, cinta sejati tidak selalu datang dalam bentuk hadir yang pasti, tapi juga dalam bentuk keberanian untuk mengakui ketidaksiapan.---Langit mendung saat Arlian turun dari mobil di depan sebuah rumah di pinggir kota, jauh dari keramaian. Rumah itu sederhana, namun rapi. Di teras, seorang wanita duduk sambil membaca buku. Matanya langsung menatap ke arahnya, dan tanpa banyak kata, ia berdiri."Maira," sapa Arlian pelan.Wanita itu tersenyum, tipis namun tulus. "Akhirnya datang juga."Mereka masuk ke dalam, duduk di ruang tamu yang masih menyimpan aroma lavender, aroma yang dulu selalu menenangkannya."Aku datang bukan untuk membuka luka," kata Arlian. "Aku datang untuk benar-benar menutupnya."Maira menatapnya lama, lalu mengangguk. "Aku sudah lama menutupnya, Lian. Tapi mungkin kamu belum."Arlian menghela napas. "Aku kira aku sudah. Tapi ketika aku mulai mencintai seseorang lagi... semuanya muncul. Ketakutan. Rasa bersalah. Luka-luka yang kupikir sudah hilang.""Kamu mencintai dia?" tanya Maira."Iya," jawab Arlian tanpa ragu."Bagus. Karena kamu pantas bahagia, Lian. Kita memang tidak berhasil, tapi itu bukan akhir. Itu cuma jalan memutar."Hening meliputi ruangan beberapa saat sebelum Maira berdiri dan berjalan ke lemari. Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil."Ini foto-foto kita. Kenangan yang dulu berarti, tapi kini bukan milikku lagi. Simpan, atau buang. Terserah kamu. Yang jelas, aku tidak menyimpannya karena masih berharap. Tapi karena aku ingin kamu tahu bahwa aku telah memaafkan. Kamu juga harus memaafkan dirimu sendiri."Arlian menunduk. Air matanya jatuh tanpa ia sadari. Kali ini bukan karena luka, tapi karena beban yang perlahan terangkat dari dadanya.---Di sisi lain kota, Salsa kembali ke studio untuk berlatih. Tubuhnya bergerak dengan presisi, tapi ada kekosongan dalam gerakannya. Ia tidak tahu apakah Arlian akan kembali. Ia tidak tahu apakah surat itu adalah salam perpisahan atau janji diam-diam untuk kembali.Namun ia tetap menari. Karena menari adalah satu-satunya hal yang membuatnya merasa hidup ketika cinta terasa menggantung.Ketika sesi latihannya selesai, ia duduk bersandar di lantai kayu yang dingin. Lalu tiba-tiba, pintu studio terbuka.Seseorang berdiri di ambang pintu, membawa dua cangkir kopi."Aku salah satu murid yang lari dari latihan," suara itu terdengar akrab—dan penuh penyesalan.Salsa menoleh. Matanya langsung membasah."Arlian...""Aku kembali. Bukan sebagai pecundang yang takut luka. Tapi sebagai laki-laki yang tahu siapa yang ingin ia perjuangkan."Ia mendekat, menyerahkan kopi yang masih hangat. "Kamu masih suka kopi pahit, kan?"Salsa mengangguk. Lalu tersenyum. "Aku suka apapun... selama kamu yang bawakan."---Studio itu gelap ketika Salsa datang malam itu. Ia tak mengundang siapa pun. Hanya dirinya, sepatu dansa, dan lagu kenangan yang ia simpan di playlist pribadinya.Ia menyalakan lampu di tengah ruangan. Suasana lengang. Tapi di sinilah semuanya dimulai. Di tempat inilah tubuh dan hatinya mulai belajar bicara lewat tarian. Dan di sini pula, Arlian datang kembali ke hidupnya.Musik mulai mengalun. Perlahan, tapi dalam. Salsa mulai melangkah. Setiap gerakan seperti menciptakan ruang untuk semua rasa yang pernah mengganggu: rindu, marah, kecewa, takut.Dan di tengah putarannya, ia berhenti. Jantungnya berdetak lebih cepat, bukan karena tarian—tapi karena pintu studio terbuka.Langkah kaki itu ia hafal. Nada napasnya ia kenali. Dan saat Salsa menoleh, ia melihat Arlian berdiri di sana, dengan wajah lelah namun matanya penuh api."Aku mau menari denganmu... bukan untuk pertunjukan. Tapi untuk hidupku," ucap Arlian sambil melangkah mendekat.Tanpa aba-aba, tubuh mereka langsung menyatu dalam irama. Tangan Arlian di pinggang Salsa, mata mereka saling terkunci. Tidak ada kata-kata, hanya gerak yang menggantikan suara.Dalam setiap putaran, ada pengakuan.Dalam setiap sentuhan, ada permohonan maaf.Dan dalam pelukan terakhir di akhir tarian itu, ada satu hal yang tak perlu diucap lagi: *Kita pulang.*Mereka terdiam. Musik berhenti. Dunia di luar menghilang. Yang ada hanya mereka berdua—duduk di lantai studio, berkeringat, bernapas cepat, dan saling menatap."Sekarang aku tahu, Sal," ujar Arlian pelan. "Aku tak bisa menjadi utuh tanpamu. Tapi bukan karena aku butuh kamu untuk menyembuhkan. Melainkan karena kamu... adalah bagian dari diriku."Salsa mengangguk. "Dan kamu adalah rumah yang tak pernah berani aku minta."Mereka saling mendekat, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, mereka berciuman tanpa beban. Tanpa ragu. Tanpa bayang-bayang masa lalu. Hanya dua jiwa yang akhirnya berhenti melawan takdirnya sendiri.---Setahun telah berlalu sejak malam itu—malam di mana tarian menjadi bahasa pengampunan, dan pelukan menjadi titik awal kebersamaan. Banyak yang berubah, namun yang paling terasa adalah cara Salsa dan Arlian kini melihat dunia: dengan lebih tenang, lebih jujur, dan lebih saling menerima.Studio yang dulu hanya digunakan untuk latihan kini berganti nama: *Studio Senja*. Tempat itu bukan hanya ruang berkeringat, tapi rumah bagi puluhan pasangan muda yang belajar menari dan mencintai—pelan-pelan, tanpa terburu-buru.Salsa berdiri di balik kaca besar studio, memperhatikan murid-murid barunya. Di tangannya, selembar undangan pernikahan. Nama mereka terukir rapi di atasnya. Bukan pesta mewah, bukan acara besar. Hanya pernikahan kecil di tepi pantai, di waktu senja, tempat di mana langit dan laut bersentuhan diam-diam.Sementara itu, Arlian sibuk di bagian belakang, memeriksa pengeras suara yang akan mereka gunakan untuk pertunjukan murid malam ini. Setiap beberapa detik, ia melirik ke arah Salsa, seolah belum percaya wanita itu benar-benar memilih tetap bersamanya."Lian," panggil Salsa dari seberang ruangan.Ia menoleh."Kita sudah sampai, ya?"Arlian berjalan mendekat. Ia menyentuh pipinya pelan. "Belum. Tapi sekarang aku tahu, kita berjalan ke arah yang sama."Salsa tersenyum. "Lalu bagaimana jika suatu hari kita tersesat lagi?"Arlian menggenggam tangannya erat. "Kita berhenti, duduk... dan menari."Sebuah tepuk tangan terdengar dari para murid. Pertunjukan mereka baru saja selesai. Tapi bagi Salsa dan Arlian, pertunjukan sejati baru saja dimulai—bukan di atas panggung, tapi di kehidupan nyata.Mereka melangkah keluar studio. Langit mulai berwarna jingga. Senja kembali menyapa. Namun kali ini, senja tak lagi jadi tanda perpisahan.Kini, senja adalah rumah.Tempat di mana semua rahasia yang dulu mengaburkan cinta... akhirnya menemukan cahaya.---~End~

OTTO SI MOBIL KESAYANGAN AYAH
Teen
23 Jan 2026

OTTO SI MOBIL KESAYANGAN AYAH

Hai teman-teman! Namaku Otto. Coba tebak apakah aku ini? Apa aku manusia atau hewan? Bukan. Bukan. Aku adalah mobil. Mobil Jeep berwarna putih kesayangan Ayah.Aku lahir di tahun 2010, tahun yang sama di mana Ayah membeliku dari dealer mobil di kota. Aku senang sekali! Teman-teman iri karena Ayah memilihku.Selain warnaku yang putih cerah, ukuranku cukup mungil, hanya muat untuk lima orang, berisi satu kursi pengemudi dan empat kursi penumpang. Berukuran 4x4 dengan kapasitas 2000 cc. Aku muat untuk Ayah dan keluarganya.Ayo kukenalkan kepadamu keluarga Ayah. Selain Ayah, ada Ibu, wanita yang cantik dan bersahaja sekali. Ibu sudah melahirkan dua anak, nama panggilan mereka adalah Kakak dan Adik. Kakak lebih tua tiga tahun dari Adik, mereka kadang seperti dua sahabat karib, tetapi juga kadang menjadi musuh bebuyutan.Pada hari pertama Ayah membawaku ke rumah, Ayah mengenalkanku kepada keluarganya."Kakak, Adik ... ini mobil pertama Ayah, namanya Otto." Begitu Ayah mengenalkanku sekaligus memberiku nama.Sejak hari itu, sudah menjadi tugasku membawa Kakak dan Adik pergi ke sekolah setiap hari. Tidak hanya itu, di hari Sabtu dan Minggu, Ayah juga akan membawa keluarganya jalan-jalan. Bila hari ini ke mal, maka esok harinya akan diajak jalan-jalan ke pantai atau gunung. Ayah senang sekali setiap berjalan-jalan, beliau akan menyalakan radioku dan menyenandungkan lagu dangdut dari penyanyi bernama Elvi Sukaesih atau Rhoma Irama.Kakak dan Adik tidak suka lagu dangdut, Kakak suka lagu dari sebuah sinema anak-anak berjudul Power Ranger, setiap saat ia akan berteriak "Power Ranger!" Sembari menirukan Power Ranger merah. Kebalikannya, Adik lebih senang mendengar lagu-lagu dari Barbie: Princess and The Pauper.Ayah sering bertanya ke Kakak dan Adik, "Kakak, Adik, kalau sudah besar mau jadi apa?"Kakak segera menjawab, "Mau jadi dokter, Yah!""Kalau, Adik?"Adik membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menjawab sebelum akhirnya berkata, "Aku ikut Kakak aja, deh.""Jadi dokter juga?""Enggak." Adik menggeleng polos. "Aku mau jadi suster, biar bisa jadi asistennya Kakak."Ayah dan Ibu tertawa mendengar jawaban Adik. Apalagi Adik yang suka mengganti cita-citanya setiap tahun, sering kali ketika melihat si Merah, mobil milik para pemadam kebakaran, Adik akan berseru, "Aku mau jadi seperti mereka!""Kenapa?" Kakak bertanya dengan dahi berkerut dalam, di tangannya tergenggam sebuah mainan mobil-mobilan berwarna putih yang menyerupai aku."Aku mau naik mobil merah dengan suara ' niuniuniu '! Pasti seru sekali!" Mata Adik selalu berkilat senang setiap kali melihat si Merah yang melesat di antara kerumunan mobil-mobil lain, dipersilakan lewat terlebih dahulu di antara kami para mobil keluarga.Selain si Merah, Adik juga suka sekali dengan Lili si mobil polisi. Dia juga suka dengan seragam yang para polisi kenakan."Aku ingin menangkap para penjahat! Dor ! Dor !" Adik akan meloncat-loncat senang di atas jokku yang empuk.Setiap kali Adik meloncat-loncat, Kakak yang kalem akan menegur adiknya dan memintanya duduk dengan tenang sembari memakai sabuk keamanan. "Jangan loncat-loncat!" Kakak menegur dengan suara keras.Tidak hanya ada si Lili atau si Merah, Adik juga akan berseru setiap kali melihat mobil baru yang terlihat unik di matanya. Suatu hari dia bertanya kepada Ayah, "A-N-T-O-N," Adik mengeja tulisan di badan sebuah truk tronton. "Nama mobilnya Anton. Itu mobil apa, Yah?""Itu truk tronton, Dik." Ayah tersenyum melihat anaknya itu."Wah, rodanya banyak sekali, ya." Adik berusaha menghitung jumlah roda yang Anton miliki. Belum selesai menghitungnya, aku sudah menyalip lebih dahulu dan berada jauh di depan kumpulan truk-truk yang membawa aneka benda; ada semen, kadang pasir, kadang pula bebatuan, dan kerikil untuk jalanan yang baru saja ingin dibangun. "Yah, Ayah! Adik, kan, belum selesai menghitung."Ayah dan Ibu akan tertawa mendengar seruan Adik. Sesaat kemudian Adik kembali bertanya tentang aneka mobil lainnya, di mulai dari Bang Toyib—si bus antarkota, Anton si truk tronton, hingga aneka mobil keluarga lainnya."Udah, ah, Dik. Tidur." Kakak akan mengeluh kesal tiap kali mendengar Adik menunjuk mobil-mobil lain dan terus menerus bertanya ke Ayah tipe-tipe mobil apa saja yang lewat di sebelah mereka.Ibu akan tertawa mendengarkan kakak adik itu saling bersahut-sahutan atau berebut memutar lagu kesukaan mereka juga menceritakan pengalaman seru mereka di sekolah, sementara Ayah akan mendapatkan giliran paling akhir.Sst ... Ibu tidak bisa menyetir, jadi sering kali Ibu pergi ke pasar bersama Juki. Motor bebek Suzuki yang menjadi temanku di garasi. Omong-omong, Juki Itu berisik sekali. Jangan bilang-bilang ke siapa-siapa, ya!Tidak terasa sudah beberapa tahun aku menemani keluarga Ayah. Kakak dan Adik sekarang sudah besar, loh! Mereka tidak lagi suka berebutan radio untuk mendengarkan lagu. Ayah masih setia mengantar Kakak dan Adik ke sekolah denganku.Suatu hari Kakak membawaku untuk menjemput pacarnya. Mereka mau berkencan. Selama ini Kakak naik motor kalau membawa pacarnya berkencan, tapi karena hujan deras, kali ini jadi tugasku membawa mereka jalan-jalan.Malang nian nasibku kali ini. Aku yang sudah mulai sakit-sakitan, tiba-tiba saja mogok di tengah jalan! Tepat sebelum lampu merah. Kakak malu sekali. Hujan deras membasahi bajunya yang apik ketika membuka kapku, untuk memeriksa bagian mesin mana yang rusak.Aku terbatuk-batuk, uap yang mengepul dari kapku menghalau pandangan Kakak.Tak lama kemudian, Kakak menelepon Ayah. Meminta Ayah untuk menjemputnya, sementara ia sendiri memanggil taksi untuk mengantar kekasih hatinya. Aku sedih sekali karena tidak bisa menjalankan tugasku dengan baik.Hari itu, mobil derek, yang omong-omong namanya juga Derek—sok kebule-bulean sekali, ya?!— menjemputku dari tengah jalan raya. Aku terpaksa menginap di bengkel selama beberapa hari. Tugas mengantar Adik ke sekolah pun digantikan oleh Kakak dan si Juki.Di usiaku yang sudah sepuh ini, Ayah masih setia menggunakan jasaku. Setiap pagi Ayah akan menyabuniku dengan sabun khusus mobil lalu memeriksa mesin-mesinku.Namun, akhir-akhir ini baik Ayah dan keluarganya tidak pernah lagi jalan-jalan. Bahkan si Juki pun jarang diajak keluar ke pasar bersama Ibu. Kakak dan Adik juga tidak lagi ke sekolah, mereka semua di rumah! Ada apa, ya?Sesekali Ayah menggunakanku ketika pergi ke kantor. Beliau menyalakan siaran radio, tepat ke bagian berita. Wah, rupanya ada penyakit baru yang bernama Covid-19 dan kini menjadi pandemi sehingga Ayah dan keluarganya jadi nyaris tidak pernah keluar rumah. Ayah tampak sedih, belakangan ini Ayah juga tidak lagi menyanyikan lagu dangdut kesukaannya.Di jalan raya, aku sering menyapa mobil-mobil lain. Lili si mobil polisi yang lebih sering parkir di depan kantor polisi, kini juga ikut parkir di tepi jalan. Banyak polisi berlalu lalang yang memeriksa kelengkapan berkas pengemudi kendaraan.Yang paling sering kulihat di jalan raya saat ini adalah si Alan, mobil ambulans. Alan sering menyapa ketika dia berhenti di sebelahku saat tidak sedang membawa pasien. Namun, Alan pun sibuk sejak penyakit yang disebabkan oleh virus corona itu membuatnya bolak-balik ke rumah sakit.Tanggal 17 Juni 2021, Ayah masuk rumah sakit karena tertular dari teman kantornya saat WFO. Kakak dan Ibu membawa Ayah ke rumah sakit bersamaku. Keadaan Ayah tiba-tiba memburuk setelah sempat demam dan meriang beberapa hari lalu, batuknya terdengar berat dan tidak kunjung berhenti, Ibu, Adik, dan Kakak pun tetap memakai masker walaupun berada di dalam rumah."Otto! Ayo, Otto!" Kakak berseru ketika men- starter mesinku, memaksaku untuk menyala dan meraung kencang. "Ayo, Bu!" Menggunakan masker yang didobel dengan masker kain, Kakak dan Ibu mengantar Ayah ke rumah sakit sementara Adik menunggu di rumah.Di hari Sabtu ini, jalanan ramai sekali. Kakak memencet klaksonku berulang kali, sementara aku berteriak agar diberikan jalan oleh mobil-mobil lain. Situasi Sabtu ini berbeda dengan saat ketika pandemi baru pertama kali muncul, jalanan yang dulunya lenggang kembali ramai dan macet seperti pandemi telah berakhir.Beberapa pesepeda motor dan pesepeda balap berada di tengah jalanan yang ditujukan untuk mobil."Minggir! Ayo, minggir!" Aku membunyikan klaksonku, meminta mereka menyingkir dari jalanan agar aku bisa melaju cepat dan membawa Ayah ke rumah sakit.Pada akhirnya, Kakak berhasil menyetir mobil hingga sampai di rumah sakit terdekat. Kakak memarkirkanku di parkiran dekat UGD lalu terburu-buru Kakak dan Ibu membopong Ayah ke UGD sementara aku menunggu.Selama aku di parkiran, aku melihat banyak mobil yang berlalu lalang, salah satunya si Alan, mobil ambulans yang bekerja keras membawa pasien kritis ke rumah sakit."Hai, Otto!" Alan menyapaku."Hai, Alan! Kamu kelihatannya sibuk sekali akhir-akhir ini.""Iya, nih. Pak Joko, lengkap dengan pakaian hazmat -nya, membawaku ke mana-mana. Sayangnya, jalanan ramai sekali dan mobil-mobil lain sulit memberikan jalan. Seringnya kita tidak bisa tiba lebih cepat ke rumah sakit atau rumah warga yang membutuhkan bantuan." Alan menghela napas keras. "Akhir-akhir ini, pasien semakin bertambah. Jadi, banyak yang membutuhkan jasaku."Benar saja, seperti kata Alan, tidak lama kemudian ada mobil ambulans lain yang membawa pasien, sementara Alan pun tidak bisa menemaniku berbincang lebih lama karena Pak Joko, supir yang membawa Alan, harus menjemput pasien lain.Aku menatap pintu UGD, tampak Kakak dan Ibu tengah berbincang. Mereka tidak bisa masuk lebih jauh menemani Ayah, ada manusia-manusia lain berpakaian hazmat yang mengambil alih Ayah. Ibu terlihat lelah, sementara Kakak mengelus punggung Ibu. Semoga saja Ayah cepat sembuh.Tak dapat berbuat banyak dan karena ruang isolasi hanya terbatas untuk pasien positif dan kritis, Kakak dan Ibu pun beranjak pulang.Hari demi hari berlalu, tidak ada Ayah yang mencuci dan mengelap kacaku di pagi hari. Kakak, Ibu, dan Adik pun melakukan isolasi mandiri di rumah, mereka menghindari keluar rumah dan bertemu orang-orang. Aku sedih sekali karena rumah tampak sepi tanpa senda gurau Ayah dan keluarganya.Tanggal 20 Juni 2021, tepat pada Hari Ayah, Ayah telah tiada. Kakak, Ibu, dan Adik tidak bisa melihat Ayah untuk terakhir kalinya secara langsung, menggunakan video call yang disambungkan oleh suster di rumah sakit, keluarga menyampaikan salam perpisahan untuk Ayah.Kakak, Adik, dan Ibu sedih sekali, aku juga sedih karena tidak ada lagi yang memandikanku setiap pagi atau memutar lagu dangdut dengan suara kencang. Si Juki pun turut sedih hingga mogok berhari-hari.Ah, seandainya saja teman sekantor Ayah tidak terkena Covid-19, seandainya saja aku bisa berlari lebih cepat membawa Ayah ke rumah sakit, seandainya saja mobil-mobil di jalanan itu tetap di rumah mereka masing-masing, mungkin saja Ayah masih akan ada saat ini.Aku tidak bisa mengubah keadaan saat ini, tetapi aku berharap mobil-mobil lain tetap di rumah mereka masing-masing dan tidak jalan-jalan terlebih dahulu agar pandemi ini segera berakhir.Hari demi hari berlalu, Ibu, Kakak, dan Adik tidak lagi memakai masker di dalam rumah, pelan-pelan mereka berusaha bangkit setelah kepergian Ayah. Sesekali aku masih mogok di jalan karena bukan Ayah yang memanasi mesinku ataupun memandikanku. Gantian Kakak dan Adik memandikanku di pagi hari lalu membawaku sesekali berjalan-jalan ke kota lengkap dengan masker dan protokol kesehatan yang ketat untuk memanaskan mesinku tak jauh dari kompleks perumahan. Tanpa Ayah, mobil tidak seseru biasanya, tidak ada yang menyanyikan lagu dangdut dengan suara keras ataupun melemparkan candaan yang membuat Kakak dan Adik mengerutkan kening berpikir keras sebelum akhirnya mengerti apa maknanya.Sementara itu Alan dan Pak Joko serta mobil-mobil ambulans lainnya masih bekerja keras berusaha memerangi virus corona ini. Sering kali Kakak menekan klaksonku setiap kali mereka lewat sebagai tanda kasih atas segala jasa Alan dan Pak Joko di masa pandemi ini.Aku tidak tahu kapan Covid-19 akan berlalu, tetapi melihat mobil-mobil tidak lagi sebanyak saat Kakak mengantar Ayah ke rumah sakit, aku berharap manusia-manusia pun mulai sadar bila pandemi dapat lebih mudah diatasi bila semua tetap di rumah dan jaga jarak.

Don't Avoid Me
Teen
22 Jan 2026

Don't Avoid Me

" sorry sorry, aku nggak sengaja ".Itulah kata yang ku ucapkan saat pertama kali bertemu dengan Kaffa di mall. Aku nggak sengaja bertabrakan dengan dia waktu itu ." lain kali hati-hati kalo jalan ". Hanya itu yang diucapkannya kemudian berlalu meninggalkan aku. Mungkin ini yang dinamakan cinta pandangan pertama. Aku sudah menyukai Kaffa sejak pertama kali aku melihatnya. Awalnya aku merasa ini hanya perasaan sementara. Tapi setelah aku bertemu lagi dengannya, aku yakin kalo ini bener-bener cinta.Aku bertemu Kaffa saat dia menjadi mahasiswa pindahan di kampusku. Kebetulan aku satu jurusan sama dia, tapi nggak satu kelas. Saat aku mengajaknya bicara, dia hanya cuek. Hanya bicara seperlunya. Sepertinya aku hanya dianggap teman kampus biasa. Walaupun aku selalu mendekatinya dan selalu mencari perhatian, tetap saja dia mengacuhkanku. Aku rasa Kaffa memang sengaja menghindariku. Padahal sesama teman yang lain tidak juga. Dia juga tidak dekat dengan teman cewek. Aku mengambil kesimpulan kalo Kaffa mempunyai sifat tertutup."kamu udah mau pulang yah ?", tanyaku pada Kaffa saat diparkiran."iya", jawabnya cuek tanpa memandang aku."aku boleh nebeng nggak ?". Sebenarnya sih bisa aja aku naik kendaraan lain. Cuman aku mau basa-basi aja sama dia. Barangkali aja kalo aku terus deketin dia, dia jadi mulai ramah sama aku."jalur kita kan berbeda. Aku juga ada urusan penting, jadi nggak bisa numpangin siapa-siapa. Sorry", katanya dengan suara dingin."ya..ya udah deh. Tapi lain kali aku boleh nebeng kan ?"."aku nggak janji". Dia lalu masuk ke mobilnya kemudian pergi. Walaupun aku agak kecewa, tapi nggak apa-apa deh. Lagian ini kan bukan pertama kalinya aku ditolak sama dia. Entah kenapa, aku nggak mau nyerah untuk deketin Kaffa.***"eh Kin, kok Kaffa orangnya cuek banget yah jadi orang. Nggak pernah senyum sedikit pun sama kita. Semenjak dia jadi mahasiswa pindahan. Aku sama sekali nggak pernah dia senyum sedikitpun sama kita semua", kata Windy temen deket aku saat kami berada di kelas."apa karena dia pintar kali, makanya jadi sombong gitu"."husy, kamu nggak boleh ngomong kayak gitu win. Aku yakin kok, Kaffa itu nggak sombong. Mungkin aja itu emang sifatnya yang pendiam dan tertutup"."iya, tapi bisa kan dia bersikap ramah sedikit aja sama kita. Kalo aja dia ramah dan seneng bergaul sama kita, pasti banyak cewek yang ngejar-ngejar dia, orang dia ganteng gitu"."mungkin aja Kaffa punya alasan kenapa dia kayak gitu"."kamu tuh yah Kin, emang selalu aja belain Kaffa. Kamu bener-bener suka yah sama dia ?".Aku kaget. "kapan aku bilang kalo aku suka sama Kaffa ?"."nggak usah mungkir deh Kin. Emangnya aku nggak pernah lihat apa kamu sering merhatiin Kaffa, dan juga sering ngehampirin dia. Kentara banget tau kalo kamu suka sama dia "."masa sih ?"."tapi kayaknya Kaffa nggak ngerespon kamu sama sekali deh kin. Mendingan kamu berhenti aja deh ngejar-ngejar Kaffa". Aku hanya tersenyum samar mendengar omongan Windy. Memang mudah mengatakan, tapi aku sudah terlanjur cinta sama Kaffa. Tidak mudah untuk melupakannya dalam sekejap. Aku tau cinta aku memang bertepuk sebelah tangan. Tapi selama aku masih mampu untuk bertahan, aku nggak akan berhenti mencintai Kaffa. Meskipun aku tau, mungkin selamanya dia nggak akan pernah melirik aku.***Waktu itu aku sengaja menghampiri Kaffa yang sedang duduk membaca di perpustakaan. "hai Kaffa, bisa duduk disini nggak ?". Kaffa melirik aku sebentar kemudian kembali fokus ke buku."ini kan tempat umum, jadi siapapun boleh duduk", katanya tanpa melihat aku lagi. Aku kemudian duduk berhadapan dengannya. Dia kelihatan fokus banget belajar."oh yah Kaffa, kamu tau nama aku kan ?"."apa ?", katanya dengan sedikit terkejut."yah, selama ini kan kita nggak akrab. Kamu juga tertutup banget pada semua orang. Yah barangkali aja kamu nggak tau nama aku, kita kan emang nggak sekelas"."emangnya penting yah tau nama kamu ?", katanya cuek.Buarrrr.....! Aku bagaikan disambar petir saat mendengar perkataan Kaffa. Ternyata benar, aku sama sekali nggak ada arti apa-apa dimata Kaffa selama ini."aku tau, aku memang bukan orang yang penting. Tapi nggak apa-apa kan, setidaknya kita bisa jadi seorang temen. Kenalin, nama aku Kinar", kataku mengulurkan tangan. Dia tetap saja mengacuhkanku. Tetap fokus pada bukunya tanpa melirik aku sedikit pun. Aku sedikit kecewa dengan sikap acuh Kaffa. "kamu nggak mau temenan sama aku yah ?. Emangnya tipe orang yang mau kamu ajak berteman kayak gimana sih".Kaffa langsung menghempaskan bukunya di meja. Kelihatannya dia mulai marah. "bisa nggak kalo masuk di perpus itu diam. Udah baca aturannya kan ?". Dia langsung berdiri untuk mengembalikan buku itu pada rak. Kemudian berjalan keluar dari perpus meninggalkan aku. Padahal aku hanya ingin mencoba temenan sama dia. Tapi kenapa dia seperti itu ? Apa benar kata Windy kalo Kaffa itu emang sombong..?Tapi aku selalu merasa kalo dia punya alasan kenapa melakukan itu. Dia tidak terlihat seperti orang sombong.***Aku kira setelah kami lulus kuliah, aku bisa melupakan Kaffa karena mungkin kita tidak akan bertemu lagi. Tapi ternyata takdir mempertemukan kami kembali. Aku sekantor dengan dia. Dia adalah seorang direktur di kantorku, sedangkan aku hanya karyawan biasa.Saat pak Randy ayah Kaffa memperkenalkan dia sebagai direktur di kantor, aku sangat kaget karena tidak menyangka bisa melihatnya lagi. Dan setelah itu aku baru tau kalo kantor tempat aku bekerja adalah milik keluarga Kaffa. Aku nggak tau ini kebetulan atau apa. Yang jelas, aku bener-bener bingung. Apalagi saat aku bertemu dengan Kaffa, sikapnya terhadap aku seakan-akan kami tidak pernah bertemu sebelumnya. Dan terpaksa aku juga harus pura-pura bahwa aku nggak pernah bertemu sebelumnya dengan dia.Sikapnya masih sama 2 tahun yang lalu saat dia pindah sebagai mahasiswa baru. Dia tetap cuek, sampai-sampai saat aku sedang bekerja, aku sering mendengar para karyawan lain membicarakan Kaffa tentang sikap dingin dia pada semua orang.Waktu itu, tanpa sengaja kami masuk dalam lift berdua. Seperti biasa, sikapnya kaku dan cuek. Aku juga cukup lama diam, sampai akhirnya aku memberanikan diri untuk menyapanya."permisi pak".Yah, semenjak dia menjadi direktur, aku selalu memanggilnya dengan sebutan bapak, karena biar bagaimana pun, dia adalah bos ku, dan sudah sepantasnya aku menghormatinya.Kaffa hanya menoleh , memandangku datar. "bapak masih kenal kan sama saya ?", pertanyaan yang sama saat aku menyapanya di perpustakaan dulu. Lagi-lagi dia hanya diam. "saya..."."kamu Kinar karyawan di kantor ini", katanya memotong ucapanku. "bukannya dulu sudah perkenalan kan. Ingatan saya masih cukup kuat untuk mengingat nama karyawan di sini", katanya dengan masih nada dingin."maksud saya..., dulu kita kan..". Aku ingin bilang kalo dulu kita satu kampus. Tapi lift sudah keburu terbuka. Aku mengikuti Kaffa di belakang. "pak Kaffa...".Aku langsung berhenti saat Kaffa balik melihatku. "sepertinya nggak ada hal penting yang ingin kamu bicarakan sama saya. Jadi kenapa terus ngikutin saya ?"."maaf pak, saya hanya....".Belum selesai ngomong Kaffa langsung pergi. Astaga, sampai kapan dia akan terus bersikap seperti ini...***Malam itu aku baru saja selesai bekerja. Aku memang sengaja lembur karena banyak pekerjaan yang harus aku selesaiin. Aku terpaksa menunggu di lobi karena hujan turun dengan deras. Aku juga tidak punya payung, makanya aku lebih memilih menunggu hujannya reda.Tiba-tiba Kaffa juga keluar. Dia memegang sebuah payung. Dan sepertinya sudah siap untuk melintasi hujan. "maaf pak ", aku mendekati Kaffa. "saya boleh minjam payungnya nggak kalo bapak sudah selesai ?"."saya kan mau pulang, jadi saya harus bawa payung ini"."saya tau. Begini saja pak, saya antar bapak pake payung itu sampai di mobil bapak, setelah bapak masuk, saya ambil payungnya. Saya janji akan kembalikan besok". Sepertinya Kaffa berpikir sejenak."ya sudah". Aku tersenyum. Baru kali ini dia mau menolongku. Aku dan Kaffa lalu menuju ke mobilnya sambil membawa payung. Yah, kalo dibilang aku memang dekat sekali dengannya saat berjalan ditengah hujan.Sesekali aku memandangnya. Tapi seperti biasa, pandangan dia hanya ke depan terus tanpa sedikit pun melirik aku. Setelah kami sampai di mobil Kaffa. "sini biar saya pegang pak. Bapak masuk aja ke mobil". Kaffa langsung masuk ke mobilnya.Tiba-tiba aja dia membuka kaca pintu mobilnya. "saya janji akan mengembalikannya besok. Makasih sebelumnya pak". Saat aku ingin pergi.."Kinar tunggu..". Aku lalu balik. "lebih baik kamu naik ke mobil saya. Saya antar kamu sampai rumah". Aku bener-bener terkejut mendengarnya, tidak menyangka Kaffa menawari aku untuk diantar."tidak usah pak. Nanti saya naik kendaraan lain saja. Jalur kita kan berbeda"."nggak apa-apa. Lagian ini kan sudah hampir larut malam. Hujan lagi. Sepertinya sudah tidak ada kendaraan yang lewat".Dalam hati, aku seneng sekali, tapi aku juga bingung dengan sikap Kaffa. Akhirnya aku naik saja ke mobilnya."rumah kamu apa masih yang dulu"."iya pak". Kaffa lalu menyetir mobilnya.Tapi tunggu..., kenapa dia bisa tau rumah aku. Dia kan nggak pernah pergi sebelumnya."kok bapak bisa tau rumah saya ? Saya kan nggak pernah ngasih tau. Bapak juga nggak pernah datang sebelumnya". Aku bisa melihat raut wajah Kaffa berubah seketika."sa..saya ngeliat data kamu di kantor", katanya agak sedikit terbata.Sebenarnya aku masih bingung dengan jawaban Kaffa. Yah, akhirnya aku memutuskan untuk diam saja. Mobil jadi sunyi, hanya suara gemuruh hujan yang terdengar. Aku dan Kaffa sama-sama memandang ke depan tanpa melirik satu sama lain. Pikiranku bener-bener berkecamuk.Setelah sampai, hujan juga sudah mulai reda. "makasih pak udah nganter. Saya turun dulu. Hati-hati di jalan". Aku lalu turun dari mobil. Setelah itu Kaffa pulang tanpa mengatakan apa-apa. Sepertinya aku harus benar-benar melupakan Kaffa. Aku yakin, tadi dia mengantarku hanya karena kasihan. Yah, setidaknya Kaffa masih punya belas kasihan terhadapku.Yah, aku sudah memutuskan untuk tidak memikirkan Kaffa lagi. Aku terus fokus pada pekerjaanku. Bahkan aku sengaja membawa makanan siang di ruanganku. Aku berencana untuk tidak keluar-keluar ruangan saat istirahat. Karena bisa saja aku tidak sengaja berpapasan dengan Kaffa . Makanya aku hanya dimeja kerjaku sampai pulang. Teman-teman kerjaku merasa heran dengan sikapku. Bahkan kalo ada berkas yang tidak terlalu penting ingin aku kumpul, aku hanya menitipkannya."Kinar, kok kamu aneh banget sih akhir-akhir ini ? Jarang banget keluar", tanya teman kerjaku."nggak apa-apa". Hanya itu yang kujawabkan ketika ada yang bertanya......***Waktu itu aku disuruh masuk ke ruangan Kaffa untuk memberikannya berkas penting. Terpaksa aku masuk karena tidak bisa juga menolak.Aku mengetuk pintu ruangan Kaffa berulang kali, tapi tak ada yang menyahut. Akhirnya kuberanikan diri membukanya.Setelah aku membuka pintu.....Astaga, aku melihat Kaffa di lantai memegang perutnya seperti sedang kesakitan. Dia berkeringat dingin. Sepertinya dia berusaha ingin mengambil sesuatu di meja kerjanya. Aku bener-bener kaget."pak Kaffa...".Aku langsung lari mendekati Kaffa. Wajahnya bener-bener pucat."pak Kaffa kenapa ? Pak Kaffa sakit ? Saya bawa ke dokter yah pak. Sebentar saya panggil...", saat aku ingin berdiri, Kaffa tiba-tiba memegang tanganku. Dia menggeleng, memberikan isyarat agar aku tidak memanggil siapa-siapa. "am..ambilkan", katanya terbata-bata. "apa pak ?". Dia menunjuk ke meja kerjanya. "apa yang harus saya ambilkan ?", aku juga sangat cemas melihat keadaan Kaffa. "di.. di laci". Aku langsung ke meja kerja Kaffa membuka lacinya ."o..bat", katanya lagi. Iya, aku menemukan banyak obat. Akhirnya aku membawa semuanya pada Kaffa. Dengan segera, dia memakan semua obat itu. Aku langsung mengambil air diatas meja, kemudian memberikannya pada kaffa untuk diminum.Setelah itu, tiba-tiba saja Kaffa langsung membaik. Kelihatannya perutnya sudah tidak sakit lagi. Meskipun keringatnya masih bercucuran."pak Kaffa baik-baik saja ? Apa perlu saya bantu pak Kaffa pergi ke dokter"."nggak usah. Lebih baik kamu keluar aja sekarang. Simpan berkas itu diatas meja"."tapi tadi pak Kaffa kenapa ? Saya bisa lihat pak Kaffa begitu kesakitan. Apa pak Kaffa sakit ?"."kamu nggak usah banyak nanya, lebih baik kamu keluar sekarang !", ucapnya tegas."tapi pak..., saya.."."keluarrr...!!", bentaknya dengan suara tinggi. Aku langsung kaget dan ingin menangis saat dibentak. Tentu saja, aku yang tadi begitu khawatir melihat keadaannya, tiba-tiba saja dibentak disuruh keluar. Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Aku takut campur bingung melihat Kaffa. Aku langsung berlari keluar. Aku nggak tau keadaan Kaffa setelah itu. Hati aku bener-bener sakit saat dibentaknya. Apa karena aku masih punya perasaan untuknya..?***Saat itu aku baru saja menjenguk teman kerja aku yang baru saja melahirkan di rumah sakit.Saat aku ingin pulang, tiba-tiba saja aku berpapasan dengan pak Randy yang kelihatan panik menemani seseorang yang berbaring di kasur rumah sakit yang didorong oleh para suster dan bersama seorang dokter.Ketika semakin dekat....Astaga itu kan Kaffa yang sedang diimpus. Aku sangat kaget. Tiba-tiba saja mata kami bertemu. Kaffa seperti kaget melihat aku. Kami saling memandang cukup lama sampai akhirnya aku tidak bisa melihatnya karena dibawa masuk ke ruangan UGD.Aku masih terpaku di tempat, berharap itu hanya mimpi. Tapi itu emang kenyataan. Aku langsung mengingat kejadian tadi pagi. Apa ini ada hubungannya dengan rasa sakit yang dialami Kaffa tadi pagi di ruangannya. Aku semakin cemas, pikiranku berkecamuk. Akhirnya aku menghampiri pak Randy yang sedari mondar-mandir di depan kamar rawat Kaffa. Sepertinya beliau juga sangat cemas."maaf pak..". Aku masih bisa melihat Kaffa dari jendela terbaring di dalam. Kaffa sempat melirik ke arahku. Tapi aku langsung memalingkan wajahku melihat pak Randy, berharap penjelasan darinya tentang kondisi Kaffa."Kinar ? Apa yang kamu lakukan disini ?". Sepertinya pak Randy terkejut melihatku."saya kebetulan jengukin teman pak. Dan saya lihat bapak di sini beserta pak Kaffa yang dirawat. Kalo boleh saya tahu, pak Kaffa sakit apa yah pak ? Yang pastinya ini mungkin bukan kecelakaan. Karena saya tidak melihat luka dibagian tubuh pak Kaffa ?"."Kaffa memang tidak kecelakaan. Dia..."."dia kenapa pak ?". Sepertinya pak Randy berat untuk mengatakannya."pak Kaffa kenapa pak ? Apa dia sakit ? Sakit apa ?", tanyaku cemas campur penasaran."dia mengidap kanker.., kanker lambung..".Bagaikan petir disiang bolong yang langsung menyambarku saat mendengar perkataan pak Randy. Tiba-tiba saja semua tubuhku langsung lemas.Untungnya aku segera bersandar di dinding."pak Randy pasti bercanda ?"."tidak. Kaffa sudah divonis mengidap penyakit ini 4 tahun yang lalu. Saat dia masih kuliah di jogja. Karena bapak ingin terus memantau keadaan dia, makanya bapak menyuruh Kaffa pindah kuliah ke Jakarta. Jadi bapak bisa menemaninya. Tidak tahu kenapa, akhir-akhir ini keadaannya mulai drop lagi", kata pak Randy dengan nada sedih. Sebenarnya aku ingin menangis, tapi aku berusaha menahannya. Aku lalu berpikir, apa karena penyakit Kaffa makanya dia selalu cuek dan bersikap dingin selama ini.....?Setelah dokter keluar dari ruangan. Aku minta izin pada pak Randy untuk masuk ke dalam. Akhirnya pak Randy mengizinkanku...Kaffa masih terbaring. Aku berjalan pelan mendekati Kaffa. Tanpa kusadari air mataku menetes.Saat Kaffa melihatku, aku langsung mengusap air mataku. Aku nggak mau Kaffa curiga melihatku menangis. Mana mungkin karyawan biasa sepertiku menangis melihat direkturnya yang sedang terbaring sakit. Pasti Kaffa akan berpikiran seperti itu.."kamu ngapain disini ?", katanya dengan masih nada dingin."saya..., saya hanya ingin lihat keadaan pak Kaffa"."sekarang kamu udah liat aku kan. Apa sekarang kamu mau menertawai aku. Orang yang selama ini kamu lihat selau cuek, dingin dan sombong kayak aku ternyata hanya seorang yang berpenyakitan, dan nggak akan hidup lama lagi"."kenapa pak Kaffa ngomong kayak gitu ? Apa bapak pikir saya seneng dengan keadaan bapak seperti sekarang ? Apa pak Kaffa selalu menilai negatif tentang saya ? Apa pak Kaffa begitu membenci saya ?". Tanpa kusadari air mataku jatuh lagi. Dengan segera aku mengusapnya."saya tahu pak Kaffa bukan orang yang sombong. Alasan bapak bersikap cuek dan dingin selama ini hanya karena penyakit bapak kan ? Tapi mengapa bapak selalu menghindari dan menjauhi saya. Kenapa bapak berpura-pura tidak mengenal saya di kantor. Padahal kita satu kampus dulu. Kasih tau saya alasannya, apa yang membuat pak Kaffa membenci saya ?".Kaffa menatapku lembut. Tatapan dinginnya telah hilang. "aku nggak pernah membenci kamu Kinar. Aku sama sekali nggak pernah bermaksud untuk menjauhi kamu"."terus kenapa selama ini......"."aku selalu menghindar dan menjauhi kamu karena penyakit aku", potong Kaffa."itu nggak masuk akal. Mana mungkin hanya karena penyakit yang pak Kaffa derita, pak Kaffa menjauhi saya. Padahal pak Kaffa jelas-jelas tau, kalo dulu saya selalu berusaha mendekati bapak"."justru karena itu, aku nggak mau kalo kita dekat. Karena itu hanya akan membuat aku menderita"."maksud bapak ?"."aku.......Sebenarnya sudah sejak lama aku menyukai kamu Kinar. Aku selalu menjauhi kamu agar aku bisa melupakan kamu. Aku nggak mau jatuh cinta sama kamu. Karena biar bagaimanapun, aku nggak akan bisa membahagiakan kamu. Hidup aku nggak akan lama lagi. Aku.........".Aku langsung memeluk Kaffa sebelum dia ngomong lagi."Kinar kamu..."."aku nggak peduli. Aku nggak peduli kalo kamu sakit atau apa. Yang penting jangan menjauhi aku, jangan hindarin aku. Bukan dokter yang menentukan kapan kamu mati tapi tuhan."."tapi kamu pasti tau kalo penyakit aku ini mematikan. Sewaktu-waktu keadaan aku bisa saja langsung drop kayak tadi"."aku nggak peduli. Asal kamu tau, aku bener-bener tulus mencintai kamu. Aku nggak peduli kamu sakit atau apa "."apa kamu bilang ? Kamu cinta sama aku ?".Aku mengangguk."aku sudah jatuh cinta sama kamu sejak lama, saat kita masih kuliah dulu. Saat aku ingin dekat sama kamu, kamu selalu aja menghindar dan menjauhi aku. Aku kira kamu membenci aku"."ini yang aku nggak inginkan kinar. Kamu seharusnya nggak mencintai aku. Aku bukan orang yang pantas kamu cintai, aku nggak mungkin selamanya menemani kamu"."Kaffa, aku nggak peduli itu semua. Yang aku butuhkan sekarang hanyalah cinta tulus dari kamu. Aku menerima keadaan kamu apa adanya. Aku akan selalu menemani kamu untuk melawan penyakit kamu. Aku yakin pasti kamu bisa. Kamu harus mengalahkan penyakit ini. Janji sama aku ?".Kaffa langsung memelukku. "aku janji, demi kamu aku akan bertahan. Demi kamu aku akan mengalahkan penyakit ini. Aku ingin segera sembuh agar aku bisa menjaga dan membahagiakan kamu. Aku sayang sama kamu Kinar"."aku juga Kaffa"."maafin sikap aku selama ini yah sama kamu. Apa yang aku lakuin semata-mata hanya tidak ingin membuat kamu menderita"."tapi sekarang aku mau kamu harus terus jujur sama aku. Ceritain semuanya tanpa ada dirahasiain"."iya aku janji", jawab Kaffa tersenyum, kemudian mencium keningku.The End

Not Her, but You
Teen
22 Jan 2026

Not Her, but You

Nasya's pov"Gue udah peringatin sama loe kan sebelumnya, kalo loe berani nyakitin Misya loe bakalan berhadapan sama gue !!!"."Loe itu emang cewek terjahat yang pernah gue kenal ! Gue heran, emangnya salah Misya apa sih sama loe, sampai-sampai loe tega nyakitin dia terus, hah !!!".Kata-kata Elang terngiang terus dibenakku. Nggak pernah ada sebelumnya orang yang ngatain aku cewek jahat. Dan yang lebih menyakitkan saat dia datang-datang langsung nampar aku di depan semua teman-teman.Dia juga mengatai-ngataiku dengan kasarnya.Karena tidak ingin terlihat lemah, aku berusaha menahan air mataku.Aku nggak tau kenapa Elang selalu berpikiran aku nyakitin Misya. Meskipun Misya hanya saudara tiriku, aku nggak mungkin nyakitin dia. Nggak kayak mama yang memang dari awal nggak menyukai Misya.Sejujurnya, sejak pertama kali aku ngeliat Elang, aku langsung suka sama dia. Tapi ternyata Elang gak suka sama aku. Dia hanya merhatiin Misya terus. Belum lagi dia nganggap aku saudara tiri yang jahat.Aku sadar, dibandingkan denganku Misya jauh lebih cantik dan feminim.Aku ?Banyak orang yang ngatain aku tomboy. Dan aku akui penampilanku memang tidak feminin seperti Misya.Waktu itu Misya terjatuh dari tangga. Aku yang melihatnya tentu saja kaget dan langsung menghampirinya bermaksud membantunya. Namun lagi-lagi Elang salah paham sama aku dengan mengira aku yang menyebabkan Misya jatuh.Bahkan tanpa bertanya, dia langsung menuduhku.Aku sebenarnya ingin menjelaskan, tapi dia keburu pergi sambil menggendong Misya.Dan itu bukan pertama kalinya Elang menuduhku.Dia bahkan menghasut teman-teman sekelas membenciku karena menganggap aku jahat pada Misya.***Author's pov"Nasya sama sekali nggak salah lang. Justru dia yang nolong aku saat jatuh", jelas Misya pada Elang."Mungkin aja itu cuma akal-akalan dia aja. Dia sengaja yang membuat kamu jatuh, terus pura-pura nolongin kamu", balas Elang dengan mimik wajah kesal.Misya menggeleng."Nasya nggak kayak gitu. Dia adalah saudara yang baik meskipun hanya saaudara tiri. Mungkin alasan kamu membenci Nasya karena mengira dia selalu menyakiti dan berbuat jahat sama aku. Tapi nggak lang. Justru Nasya selalu bantuin dan nolongin aku. Apalagi kalo mama nyakitin aku"."Mereka kan ibu dan anak kandung. Jadi bisa aja kan mereka bersekongkol", sahut Elang masih dengan kekeraskepalaannya. Dia selalu meyakinkan dirinya bahwa Nasya adalah cewek jahat."Aku nggak tau kenapa kamu terlalu berpikiran negatif sama Nasya. Tapi emang itulah kenyataannya. Nasya sangat berbeda dari mama Elsa. Meskipun Nasya agak cuek, tapi sebenarnya dia baik banget. Kamu percaya deh sama aku lang. Aku cuma nggak mau kamu terlalu jauh salah paham sama Nasya yang jelas-jelas nggak salah".Kali ini Elang hanya terdiam mendengar perkataan Misya. Dia memikirkan baik-baik apa yang Misya katakan tentang Nasya.***Nasya dan Misya memang sudah menjadi saudara agak lama. Waktu itu papa Misya menikahi mama Nasya setelah 2 bulan kematian istrinya. Awalnya Misya sangat senang saat tahu mama Nasya akan menjadi ibu tirinya, karena sebelum mamanya meninggal, mama Nasya sering datang ke rumahnya untuk sekedar beramah tamah ataupun mengantarkan makanan karena mereka bersebelahan rumah. Bedanya, kalau keluarga Misya bisa dikatakan kaya raya, maka keluarga Nasya dikatakan hidup sederhana.Demi membantu mamanya, Nasya harus kera part time di sebuah cafe. Bahkan meskipun mamanya sudah menikah dengan papa Misya, dia tetap kerja part time karena tidak ingin terlalu bergantung dengan keluarga Misya.Mereka, Nasya dan Misya mengenal Elang saat mereka pindah sekolah. Keduanya sama -sama tertarik pada Elang saat pandangan pertama. Namun tentu saja Elang lebih tertarik pada Misya dibandingkan Nasya karena Misya lebih feminim. Meskipun tidak bisa dipungkiri kalau mereka sama-sama cantik. Penampilan tomboy Nasya lah yang membuat kecantikannya tidak terlalu tampak.Awalnya Nasya tentu merasakan sakit saat Elang dan Misya berpacaran. Namun dia berusaha melupakan perasaannya kepada laki-laki yang tidak mungkin meliriknya sama sekali, bahkan membencinya.Perasaan suka Nasya pada Elang hanya dirinya yang tahu. Dia selalu memendam perasaannya. Berbeda dengan Misya yang selalu curhat kepadanya tentang hubungannya dengan Elang.***Nasya's pov"Mama heran yah sama kamu. Kok bisa-bisanya sih kamu selalu belain Misya !", ucap mama saat masuk ke kamarku."Denger yah Nasya, Misya itu sudah merebut Elang dari kamu !!"."Ma cukup !! Emangnya kapan sih aku jadi milik Elang, sampai-sampai mama nganggap Misya ngerebut Elang dari aku. Dari dulu Elang memang hanya menyukai Misya. Dan dia hanya menganggapku sebagai musuhnya"."Justru mama yang sudah merebut kebahagiaan Misya. Semenjak kita masuk di rumah ini, Misya jadi menderita karena ulah mama !"."Berani yah kamu ngomong begitu sama mama kamu sendiri !!"."Karena kenyataannya emang kayak gitu ma !".Aku masih nggak ngerti dengan jalan pikiran mama. Dia udah dapetin apa yang dia mau, tapi masih aja serakah. Seharusnya mama bersyukur bisa dinikahin oleh papa Misya, tapi ternyata itu semua belum cukup membuat dia puas. Mama selalu aja memperlakukan Misya dengan tidak baik.Seandainya aja aku boleh memilih, lebih baik kami hidup miskin seperti dulu, daripada sekarang kaya, tapi membuat orang sengsara.Kapan mama bisa berubah ?Mama memang sangat terobsesi ingin menjodohkanku dengan Elang.Keluarga Elang dan keluarga papa Misya sudah lama saling kenal, bahkan sebelum aku dan mama jadi bagian keluarga Misya.Mama ngotot ingin menjodohkanku dengan Elang karena dia berasal dari keluarga kaya-raya. Dari dulu sampai sekarang, mama memang matre. Bahkan aku tau saat mama menerima lamaran papa Nasya, itu dikarenakan keluarga Nasya yang kaya.Keluarga Elang sebenarnya tidak menyukaiku dan mama. Aku bisa memperhatikan raut wajah tidak suka mereka saat keluarganya mengundang keluarga Misya makan malam. Mama Elang selalu memandangku dan mama dengan tatapan sinis.Mungkin saja Elang yang memberitahu mamanya kalau aku dan mama tidak memperlakukan Misya dengan baik.***Aku baru saja sampai di rumah, dan mendapati Elang dan Misya yang baru keluar dari rumah."Nasya, kamu kok baru pulang sih ? Tadi aku hubungi ponsel kamu tapi nggak aktif".Elang hanya diam seperti biasa saat kamu bertiga bersama. Karena dia nggak mungkin memaki aku di depan Misya.Tapi ada yang sedikit berubah. Matanya nggak lagi memandangku tajam. Malahan terlihat biasa-biasa aja."Aku tadi emang nggak ngaktivin ponselku", jawabku."Terus kamu dari mana aja, kok baru pulang ? Masih pake baju seragam lagi", tanyanya."Tadi ada keperluan sebentar", jawabku singkat."Oh kalo gitu cepet ganti baju gih. Aku, Elang sama papa mau pergi ke restoran Melati. Mama nggak bisa ikut karena nggak enak badan katanya. Papa juga masih ganti baju tuh. Kamu cepetan yah"."Kayaknya aku nggak usah ikut deh sya, kalian aja yang pergi", jawabku."Loh, kok gitu sih sya. Kamu juga harus ikut dong. Iya kan lang ?". Tanya Misya meminta persetujuan pada Elang.Sepertinya Elang sedikit terkejut saat namanya disebut Misya.Sedetik kemudian, dia hanya menganggukkan kepalanya."Aku beneran nggak usah ikut deh sya. Aku kan baru pulang, lagian aku juga agak capek. Jadi aku nggak usah ikut yah", kataku memelas.Tiba-tiba papa udah keluar dari rumah. "Loh Nasya, kamu sudah pulang. Ya sudah kamu ganti baju dulu sana baru kita pergi bareng"."Maafin Nasya pa. Nasya nggak bisa ikut kayaknya. Nasya agak capek, nggak apa-apa kan?" Jawabku."Yah, padahal ceritanya kita sekeluarga mau pergi bareng. Mama kamu tadi juga nggak bisa pergi karena nggak enak badan"."Lain kali aja yah pa Nasya ikut"."Ya sudahlah kalau begitu", jawab papa menghela napas pasrah.***Saat ingin memasuki kamar mama, aku mendengar mama berbicara dengan seseorang di ponselnya.....Aku tidak langsung masuk, melainkan menguping pembicaraannya yang terlihat serius.Beberapa menit kemudian , aku dikejutkan dengan pernyataan mama kepada si penelponnya di seberang sana.Bagaimana tidak, itu tentang kematian tante Arini, mama Misya.Bahkan aku sangat syok saat mendengar dari mulut mama sendiri kalau dia yang menyebabkan tante Arini meninggal agar bisa menikah dengan papa Misya dan menguasai hartanya.Sedetik kemudian, mama terkejut menyadari kehadiranku."Nasya ?"."Aku nggak nyangka mama bener-bener sejahat itu pada keluarga Misya", ucapku dengan menangis."Nasya, dengerin penjelasan mama dulu".Sebelum mendengar penjelasan mama, aku langsung berlari meninggalkan rumah sambil menangis tersedu-sedu.Aku terus berlari di jalan sampai tiba-tiba terbersit di pikiranku untuk menyusul papa Misya ke restoran Melati seperti yang disebutkan tadi.Aku langsung menyetop taksi yang lewat dan mengantarku ke restoran melati.***Sesampainya disana, aku yang masih menangis langsung menghampiri papa saat aku melihatnya bersama Misya dan Elang.Mereka begitu terkejut saat melihat penampilanku yang urak-urakan masih mengenakan baju seragam, ditambah lagi menangis dengan tersedu-sedu.Bahkan aku jadi bahan perhatian pengunjung restoran. Namun aku tidak memperdulikan mereka."Nasya, kamu kenapa ? Kok nangis ? Dan kenapa kamu bisa tiba-tiba ke sini, bukannya...""Papa...", aku langsung memotong ucapan papa.Sedetik kemudian, aku langsung bertekuk lutut dihadapannya sambil menggumamkan kata-kata maaf berulang kali."Nasya, ada apa sebenarnya ? Kenapa kamu minta maaf terus ? Ayo bangun dan cerita sama papa"."Iya sya, kamu kenapa sih". Misya jadi ikut cemas melihat keadaan aku.Setelah menarik napas dengan panjang, aku memberanikan untuk menceritakan semuanya pada mereka tentang mama yang terlibat dengan kematian tante Arini.Mereka langsung syok. Terutama Misya yang langsung oleng, untung saja Elang menahannya.Kemudian aku meminta pada papa agar mama mempertanggungjawabkan perbuatannya.Papa langsung menyetujui dan memintaku menjadi saksi.***Mama langsung dibawa oleh polisi begitu sampai di rumah.Mama meneriaki dan memaki-makiku saat tangannya diborgol. Katanya aku adalah anak yang tidak berguna karena menjerumuskan mamanya sendiri ke penjara.Aku hanya bisa menangis tersedu-sedu mendengar teriakan mama yang histeris.Aku tau aku berdosa membiarkan mama di penjara. Tapi disisi lain, aku tidak mau mama menjadi serakah, menikmati kekayaan papa Misya. Membiarkan Misya menderita karena ulah mama.***Papa masih membiarkan aku tinggal di rumahnya, begitupun Misya.Tapi aku cukup tau diri. Aku tidak ingin membebani keluarga ini karena kehadiranku. Aku ingin pergi dari rumah dan hidup sendiri.Tapi Misya tidak merelakanku pergi. Dia sudah menganggapku seperti saudara kandungnya. Betapa mulia hatinya.Akhirnya karena desakan darinya, aku mengalah untuk tetap tinggal. Setidaknya bagiku untuk sementara sampai keadaan lebih membaik. Karena nantinya aku bener-bener ingin meninggalkan rumah ini.***Sikap Elang juga akhir-akhir ini berubah. Dia lebih banyak diam entah kenapa.Setidaknya dia tidak lagi menatapku tajam seperti dulu. Malahan tatapannya sangat datar setiap kami bertemu.Dari raut wajahnya, dia seperti ingin mengatakan sesuatu setiap kami bertemu. Namun tidak pernah ada yang keluar sama sekali.Aku ?Semenjak kejadian itu, sikapku semakin cuek daripada biasanya kecuali pada papa dan Misya. Aku juga jarang tersenyum pada orang-orang.***Saat itu aku mendengar Misya menangis terisak karena Elang kecelakaan ditabrak mobil.Aku yang sedang bekerja di restoran tentu saja terkejut. Sedetik kemudian, aku langsung menyusul ke rumah sakit.Biar bagaimanapun, aku tetap harus menemani Misya disaat dia bersedih.Sesampainya aku di rumah sakit, keadaan Elang masih kritis. Dia kehilangan banyak darah.Untung saja ada papanya yang mendonorkan darah untuknya. Namun ternyata, itu belum cukup.Misya dan papa juga ikut tes darah namun tidak cocok. Akhirnya aku merelakan diri untuk tes darah.Aku tidak menyangka ternyata golongan darahku cocok dengan Elang. Jadilah aku mendonorkan darah untuknya.***Meskipun Elang sudah melewati masa kritis, namun dia belum menyadarkan diri.Bahkan sebelum dia sempat sadar, aku sudah pergi meninggalkan kota ini.Sebelum Elang kecelakaan, aku memang sudah membicarakan perihal kepindahanku pada papa dan Misya.Aku mempunyai saudara jauh di luar kota. Jadi aku putuskan untuk pindah dan melanjutkan sekolah disana.Awalnya papa dan Misya tidak setuju. Namun setelah aku memohon berkali-kali, akhirnya mereka setuju juga.Kalau boleh jujur, aku sebenarnya memang ingin menghindari keluarga ini. Bukan karena tidak suka, hanya saja perbuatan jahat mama membuatku enggan untuk tinggal berlama-lama di rumah papa. Aku sebagai anak mama tentu merasa malu.Makanya itu, setelah berpikir matang-matang aku putuskan untuk menjauh dari orang-orang terdekatku sekarang.Karena aku yakin waktu bisa menyembuhkan keadaan, meskipun tidak akan sama lagi.***7 tahun kemudianAkhirnya aku kembali lagi ke Jakarta karena pekerjaan menuntutku disana.Sebelum kembali ke kota yang pernah kutinggali 7 tahun yang lalu, aku memang sudah terlebih dahulu menghubungi papa dan Misya.Selama tinggal di luar kota, aku memang terkadang berkomunikasi jarak jauh dengan papa ataupun Misya.Saat mengetahui aku akan kembali ke Jakarta, papa dan Misya malahan menyuruhku tinggal di rumah mereka. Tapi aku menolak dan lebih memilih tinggal di rumahku sendiri.Meskipun sederhana aku tetap bahagia karena rumah itu aku beli dengan hasil jerih payahku sendiri.***"Kita mau ke mana sih Misya ?", tanyaku saat kami sedang di dalam taksi.Yah, aku sudah tinggal di kota ini selama seminggu.Saat memiliki waktu luang, tiba-tiba Misya mengajakku makan malam di restoran bersama seseorang. Tapi dia belum memberitahu identitas orang itu.Kami langsung masuk setelah sampai.Dari kejauhan aku bisa melihat orang yang dimaksud Misya dari belakang.Elang ?Saat kami menghampirinya, aku bisa melihat raut wajah Elang terkejut melihatku.Aku harap dia tidak membenciku lagi.Misya tersenyum senang saat mempertemukan kami.Untuk mencairkan suasana yang sempat tegang, aku langsung mengulurkann tanganku untuk menyapa Elang. Hanya sekedar berlaku sopan.Dan saat kami bersalaman, aku bisa melihat kecanggungan diantara kami.Kami bagaikan orang yang baru saling mengenal.Untung saja ada Misya yang selalu mencairkan suasana dengan candaannya.Oh yah, aku juga tidak lupa memberikan selamat atas pertunangan mereka.Mereka memang sudah bertunangan sekitar 1 tahun yang lalu, namun aku tidak sempat hadir karena pekerjaan.Dan yang aku dengar dari Misya, tidak lama lagi mereka akan melangsungkan pernikahan.Semoga mereka bahagia.Saat kami akan pulang, Elang menawarkan mengantarku pulang bersama Misya. Namun aku menolak dan lebih memilih naik taksi.Bukan apa-apa, hanya saja aku merasa risih dan tidak enak hati berada diantara mereka.Alias jadi obat nyamuk.***Hari-hari yang kujalani semenjak tinggal di Jakarta memang tidak seperti di luar kota dulu.Mungkin saja karena aku sudah kembali berbaur dengan orang-orang dari masa laluku.Tapi untuk mengusir kepenatan itu, aku sibukkan diri dengan pekerjaanku.Bagiku, pekerjaan adalah sarana untuk melupakan keadaan sekitar untuk sejenak.Saat ingin pulang dari kantor tempatku bekerja, tiba-tiba aku tidak sengaja bertemu dengan Elang.Dia sepertinya sudah mulai ramah terhadapku. Buktinya dia menawariku untuk diantar.Tapi tentunya aku menolak.Entah kenapa aku selalu ingin menghindar darinya.***Bahkan bukan waktu itu saja, dia sudah beberapa kali menawariku tapi selalu kutolak.Entah kenapa, aku sering bertemu dengannya akhir-akhir ini."Kenapa sih kamu selalu nolak setiap aku mau antar pulang, sya ?", tanyanya saat aku bertemu lagi dengannya."Apa pacar kamu marah kalo aku antar pulang ?", lanjutnya sopan."Nggak kok. Lagian kan aku udah biasa naik kendaraan umum kalo pulang. Selain itu, arah kita kan juga beda"."Jadi bukan karena pacar kamu marah ?", tanyanya lagi.Aku menggeleng. "Ngapain juga pacar aku harus marah. Orang punya pacar aja nggak", jawabku tersenyum tipis.Entah kenapa perasaanku saja atau tidak melihat tatapan aneh Elang saat menyebut kata 'pacar'."Kalo gitu aku nggak nerima alasan penolakan kamu cuma karena kita beda arah. Sekali-kali nggak apa-apa kan kalo antar kamu", sahutnya.Karena dipaksa beberapa kali, akhirnya aku pasrah saja diantar oleh Elang.Selama aku mengenalnya, ini pertama kalinya aku melihat senyuman tulus di wajahnya.***Waktu itu papa dan Misya mengajakku ke rumah keluarga Elang untuk makan malam karena diundang. Aku sudah menolak, tapi Misya begitu ngotot memaksaku. Akhirnya aku mengiyakan saja.Saat sementara kami makan malam, aku bisa melihat tatapan kebencian dimata mama Elang untukku.Aku tau, dari dulu dia memang tidak pernah menyukaiku.Rasanya aku ingin cepat pergi dari rumah ini.Semakin lama pembicaraan mereka mengarah ke pernikahan Elang dan Misya yang ingin dilangsungkan secepatnya.Tapi yang membuatku heran, kenapa mimik wajah Elang seperti tidak suka saat membicarakan hal itu. Sedangkan Misya begitu antusias.Bukankah Elang seharusnya bahagia karena sebentar lagi akan menikah dengan Misya, gadis yang dicintainya.Karena sudah jenuh duduk terlalu lama, aku pura-pura menanyakan toilet untuk menghindar dari mereka.Bukannya ke toilet, aku malah ke halaman belakang.Aku menemukan kolam renang, dan memutuskan untuk duduk dipinggir dan merendam kakiku disana.Tidak lama kemudian, aku dikagetkan dengan kehadiran Elang yang duduk disampingku."Kamu ngapain disini ?", tanyanya."Aku....cuma cari angin", bohongku."Emangnya nggak terlalu dingin apa disini ?".Aku hanya menggeleng.Tidak lama kemudian."Nasya, kamu ikut aku deh", ucapnya tiba-tiba.Sebelum aku sempat menjawab, dia sudah duluan menarik tanganku ke suatu tempat yang tidak terlalu jauh dari kolam renang itu.Tempat ini bisa dibilang seperti taman mini. Banyak bunga-bunga disekelilingnya. Di tengahnya ada ayunan untuk dua orang.Sedetik kemudian, Elang langsung menggenggam tanganku dengan lembut."Aku mau jujur sama kamu sya", ucapnya dengan nada serius.Aku mengernyit bingung menatapnya."Aku cinta sama kamu", lanjutnya kemudian.Aku membulatkan mataku terkejut mendengar ucapannya.Namun lagi-lagi dia mengulang ucapannya.Tentu saja aku nggak percaya. Aku menganggap Elang hanya bercanda mengatakannya.Saat aku ingin meninggalkannya, dia menahan tanganku. Dia mengataakan kalau ucapannya serius tidak main-main.Itu impossible.Mana mungkin Elang yang selama ini mencintai Misya tiba-tiba bilang cinta sama aku."Asal kamu tau sya, perasaan ini sudah ada semenjak 7 tahun yang lalu. Bahkan sebelum kamu donorin darahmu untukku. Aku terlalu malu untuk ngungkapin perasaan ini mengingat perbuatanku yang keterlaluan sama kamu", sahutnya."Ketika aku siuman dan mengetahui kamu sudah pergi, aku bener-bener menyesal telat mengatakannya, ditambah lagi saat aku tahu kamu yang donorin darah untukku", lanjutnya."Aku sadar kalo perasaanku pada Misya hanya kekaguman saja. Gadis yang bener-bener kucintai adalah kamu sya. Bukan Misya tapi kamu".Aku bener-bener syok mendengarnya."Kamu tau, aku sudah berusaha mencarimu selama ini, tapi aku tidak mendapat petunjuk. Bahkan kata Misya, kamu nggak memberitahunya daerah tempat tinggalmu"."Aku sangat bahagia saat tiba-tiba kita dipertemukan. Dan aku sudah bertekad saat kita pertama bertemu tidak akan melepaskan kamu lagi. Aku nggak mau kehilangan kamu untuk yang kedua kalinya. Aku bener-bener sayang sama kamu Nasya".Aku menggeleng."Kamu bohong lang. Aku nggak percaya sama kamu. Nggak seharusnya kamu ngomong kayak gini. Ini sama saja kamu menghianati cinta Misya"."Tapi Nasya...".Aku langsung lari meninggalkan Elang masuk ke rumah sebelum dia melanjutkan ucapannya.Kejadian ini bener-bener diluar dugaanku. Elang yang dulu begitu membenciku, tiba-tiba saja bilang cinta kepadaku.Terus apa arti hubungannya dengan Misya selama ini ?Bukankah mereka sudah bertunangan dan akan menikah sebentar lagi ?Meskipun aku masih memiliki perasaan pada Elang, tapi nggak ada niatku sedikit pun untuk menghancurkan hubungan mereka. Aku tidak ingin menyakiti Misya.Sudah cukup mama yang menghancurkan keluarga Misya. Nggak perlu ditambah lagi denganku.***Aku sudah tau ternyata saat makan malam waktu itu, mereka membicarakan pernikahan Elang dan Misya yang dilangsungkan 3 minggu ke depan.Dan aku berencana tidak ingin menghadirinya.Tuhan mengabulkan doaku.Tepat di hari pernikahan mereka, tiba-tiba saja aku dapat tugas ke luar kota dari bosku di kantor untuk waktu yang sangat lama. Dan mungkin ini memang kesempatan buatku untuk lagi-lagi menghindar dari mereka, terutama Elang.Semenjak kejadian di rumahnya, dia sering menemuiku. Tapi aku selalu mengambil alasan menghindar darinya."Kok kamu gitu sih sya. Ini kan hari penting dalam hidupku. Masa saudaraku sendiri nggak bisa hadir sih", rengek Misya saat aku menelponnya."Aku bener-bener minta maaf sya. Pekerjaanku bener-bener mendesak. Meskipun aku nggak hadir, tapi aku selalu mendoakan kebahagiaan kamu bersama Elang".Akhirnya setelah kubujuk cukup lama, Misya merelakan juga aku ke luar kota.Syukurlah..***Aku berjalan di bandara sambil menenteng satu koper besar.Sesekali aku celingak-celinguk ke belakang seperti menunggu seseorang.Dalam hati aku berharap Misya dan Elang akan hidup bahagia. Semoga pernikahan mereka lancar hari ini.Semoga saja keputusanku sudah benar.Saat aku kembali melangkah, tiba-tiba aku mendengar seseorang meneriakkan namaku dari belakang."Nasya.............!!"Aku sangat terkejut ketika aku berbalik melihat Elang berlari ke arahku diikuti oleh Misya, papa dan orang tua Elang di belakang."Kamu mau ninggalin aku lagi ?", tanya Elang begitu didepanku."Elang, kamu kok ?"."Aku kan udah bilang sama kamu, aku nggak mau kehilangan kamu yang kedua kalinya".Aku masih terkejut melihat mereka disini. Kemudian aku melirik ke arah Misya. Dia hanya tersenyum sambil mengangguk."Misya udah tau semuanya kalo aku hanya mencintai kamu".Aku membulatkan mataku terkejut."Jadi jangan pergi dari aku", lanjutnya.Elang melepaskan koper yang ada digenggamanku. "Aku bener-bener cinta sama kamu sya. Aku tau sikap aku dulu memang sangat kasar dan keterlaluan sama kamu. Tapi kamu harus tahu kalo itu adalah penyesalan terbesar dalam hidupku", katanya sendu."Aku bener-bener nggak ngerti deh, bukannya ini hari pernikahan kamu sama Misya, tapi kok...""Aku sengaja batalin pernikahanku sama dia", potongnya."Awalnya aku ingin batalin saat kamu datang. Tapi kata Misya kamu akan berangkat ke luar kota hari ini. Makanya aku langsung ke sini". Lanjutnya."Kamu kenapa jahat banget sama Misya, lang ? Misya itu sangat mencintai kamu. Dan dengan teganya kamu batalin pernikahan ini"."Kalaupun pernikahan ini berlanjut, aku juga nggak akan bisa bahagiain Misya. Justru akam semakin membuatnya menderita kalo tau selama ini aku nggak mencintai dia, melainkan mencintai saudaranya yaitu kamu".Aku terdiam mendengar ucapan Elang.Tiba-tiba Misya menghampiriku."Elang bener-bener mencintai kamu sya", katanya dengan nada biasa. Bahkan tidak ada raut kesedihan di wajahnya."Misya, Elang, kalian jangan bercanda deh. Ini semua nggak lucu tau"."Kami nggak bercanda Nasya", sahut Elang."Sebenarnya aku udah dengar pembicaraan kamu dan Elang saat malam itu. Dan semenjak itu, aku jadi tau kalo gadis yang dicintai Elang itu kamu, bukan aku".Astaga, jadi Misya udah lama tau."Maafin aku Misya, aku nggak bermaksud merebut Elang dari kamu. Kamu tenang aja, aku sama Elang nggak ada apa-apa kok, aku.....""Sya, kamu nggak perlu minta maaf. Kamu nggak salah. Perasaan itu nggak bisa dipaksain. Mulai sekarang aku sama Elang cuma temenan kok. Bahkan mungkin aja sebentar lagi kami akan jadi saudara ipar", katanya tersenyum.Aku membulatkan mata terkejut."Aku bener-bener rela kok kamu bisa bersama dengan Elang. Elang itu sebenarnya baik dan perhatian meskipun dulu dia sempat kasar sama kamu. Aku yakin kamu akan bahagia bersamanya".Misya lalu meninggalkan kami berdua.Elang kembali menggenggam tanganku. "Percaya sama aku sya kalo aku bener-bener mencintaimu".Aku masih menatap Elang seperti tidak percaya akan semua ini."Sya, kamu dengerin aku kan. Apa yang harus kulakukan agar kamu percaya sama aku ?"Aku menggeleng. "Aku percaya sama kamu. Cuman aku......aku masih ragu", kataku menunduk."Ini terlalu cepat buat aku menerima semuanya", lanjutku."Aku ngerti. Kita bisa mulai hubungan ini secara perlahan. Aku nggak akan maksain kamu nikah sekarang. Kita coba pacaran dulu sebelum memutuskan ke jenjang yang lebih serius"."Terus bagaimana dengan keluarga kamu ? Aku tau mama kamu nggak suka denganku"."Kamu tenang aja, keluarga aku nggak ada masalah kok. Mereka selalu ngedukung keputusan aku. Sama seperti aku dulu, mama hanya salah paham sama kamu"."Aku ingin menjalani hari-hariku denganmu. Dan aku akan mencintai kamu selamanya sampai ajal memisahkan kita. Kamu percaya kan ?"Aku hanya mengangguk.Bagiku ini terlalu tiba-tiba. Tapi jujur, aku sangat bahagia bisa dicintai oleh Elang, laki-laki yang juga memang aku cintai dari pertama bertemu sekitar 7 tahun yang lalu.The End

Malas to Panik
Teen
21 Jan 2026

Malas to Panik

Taufan lemas sekali hari ini. Matanya terasa berat, juga kakinya yang malas bergerak, membuatnya hanya bisa merebah dengan malas di atas sofa panjang di ruang tengah, ditemani televisi yang sudah menyala semenjak dia duduk di sana-menampilkan kartun kereta api yang bisa bicara.Lagipula, ia sedang puasa. Apalagi yang bisa ia lakukan selain bermalas-malasan sambil menunggu saudara-saudaranya pulang dari sekolah?Jangan salah paham. Dia sebenarnya baru saja pulang sekolah beberapa saat lalu, mendahului Halilintar dan Gempa yang masih berada di sekolah karena ekstrakurikuler mereka.Blaze dan Ice tidak tau ke mana. Tapi biasanya, kedua adiknya itu akan pergi bermain ke rumah teman mereka setelah pulang sekolah. Sedangkan Duri dan Solar baru saja pergi berbelanja bersama kedua orang tua mereka, mencari perbukaan-berburu takjil, tau lah.Taufan menghela napas panjang-entah untuk ke berapa kalinya-mengekspresikan betapa bosan dirinya yang hanya bermalas-malasan di sofa ruang tengah. Tangannya bergerak mengambil remot TV di atas meja, berniat mematikan TV dan pergi ke kamar untuk tidur.Setelah mematikan TV, kakinya melangkah malas menuju tangga untuk mencapai kamarnya yang berada di lantai dua. Mata Taufan terlalu berat sekarang, sampai pandangannya tidak fokus karena kantuk yang menyerang.Tubuhnya berjalan dengan sempoyongan, kadang tangannya terentang spontan untuk menjaga keseimbangan, berusaha agar tidak terjatuh sebelum sampai di kamar. Namun, sepertinya hari ini jadwalnya untuk mendapat kesialan.Kakinya menginjak genangan air yang berada di dekat tangga, membuat tubuhnya limbung dan langsung terjatuh dengan posisi miring di dekat tangga. Untungnya, Taufan berhasil memposisikan tubuhnya agar kepalanya tidak terbentur lantai. Jadi hanya bahu kanannya saja yang terasa sedikit nyeri karena menjadi tumpuan saat ia jatuh ke lantai."Aduh.." keluhnya malas. Tubuhnya terlalu malas untuk bergerak, jadi dengan kesadaran penuh, Taufan mencari posisi nyaman di lantai dan langsung memejamkan matanya dengan nyaman-Taufan tidur dalam keadaan tergeletak di depan tangga.▵▾▵▾▵▾▵Taufan mengernyitkan dahinya kala mendengar suara-suara yang tak asing memasuki indera pendengarannya. Matanya mengerjap pelan sebelum terbuka sepenuhnya."Kak Upan udah bangun!"Taufan mengernyitkan dahinya kembali setelah mendengar suara nyaring Duri di sebelahnya. Tangannya bergerak mengucek matanya kali ini, bersamaan dengan bibirnya yang menguap kecil, Taufan mengubah posisinya menjadi duduk.Setelah pandangannya kembali fokus, betapa terkejutnya dia melihat seluruh anggota keluarganya sedang mengerubunginya dengan tatapan khawatir-bahkan wajah datar Halilintar kini hilang, tergantikan dengan wajah paniknya yang terlihat begitu kentara."Kalian kenapa?" tanya Taufan. Matanya bergerak menghitung jumlah saudaranya."Ada yang sakit? Kepalanya masih pusing, gak? Mau langsung buka aja? Kakinya gak terkilir, kan? Atau ada lecet?" Pertanyaan beruntun dengan nada khawatir terdengar dari Halilintar. Tatapan saudara tertuanya itu tak beralih sedikitpun darinya sedari tadi.Taufan cengo, bingung dengan maksud pertanyaan beruntun dari Halilintar. Ayolah, dia baru saja bangun tidur. Kenapa langsung disuguhi dengan pertanyaan tidak jelas seperti ini?"Kepala Kakak kebentur kuat banget tadi? Mau di bawa ke rumah sakit aja?" Kali ini giliran Gempa yang bertanya. Wajahnya sama seperti Halilintar-penuh kekhawatiran yang begitu kentara."Kakak gak kena gegar otak, kan, gara-gara jatuh dari tangga tadi?"Taufan mengernyit. Apa maksud adik bungsunya ini? Jatuh dari tangga? Kapan dia jatuh dari tangga?"KAK UPAN, MAAFIN KAMI! KAMI LUPA BERSIHIN AIR YANG TUMPAH DI TANGGA!"Taufan reflek menutup telinganya kala teriakan Blaze dan Ice berbondong-bondong memukul gendang telinganya. Sementara keduanya langsung menangis tersedu-sedu sambil memegangi kedua tangannya di masing-masing sisi."Taufan, kamu jatuh dari tangga tadi," suara Ayahnya terdengar lebih bersahabat sekarang-tidak seberisik saudara-saudaranya yang grasak-grusuk menanyainya dari A sampai Z dengan volume tinggi.Taufan terdiam sejenak, lalu mendesis pelan saat mengingat apa yang dilakukannya beberapa saat-mungkin jam-lalu sebelum seluruh keluarganya kembali ke rumah.Ah, Taufan jadi bingung bagaimana cara mengakuinya. Ia kasihan pada Blaze dan Ice yang masih menangis di kiri dan kanannya, tapi ia juga tidak berani mengaku jika ia hanya tidur di tangga. Apalagi setelah melihat betapa khawatirnya seluruh keluarganya saat ini.Baru Taufan ingin membuka mulut, tiba-tiba suara bedug terdengar nyaring dari masjid setelah sholawat sebelum adzan maghrib berkumandang, menandakan bahwa waktunya berbuka telah tiba."Eh! Bunda belum nyiapin buka puasa!" seru Bunda dengan panik. Matanya lalu melirik ke arah Taufan, membuat Taufan menatapnya dengan bingung."Bunda tinggal dulu, ya? Kamu istirahat aja dulu kalau masih pusing, nanti biar Gempa atau Hali yang nganterin makanan buat kamu," ucap Bundanya sambil mengelus kepalanya, lalu berniat beranjak ke dapur."Udah enakan, Bun. Upan bantu aja buat nyiapin perbukaannya," putus Taufan akhirnya. Lalu beranjak mengikuti langkah Bundanya ke dapur, diikuti ayah dan keenam saudaranya di belakang.▵▾▵▾▵▾▵

Sahur Day 1
Teen
21 Jan 2026

Sahur Day 1

Langit masih gelap. Suhu pagi ini bahkan masih terlalu dingin untuk memulai aktivitas seperti biasa. Namun, hal ini sepertinya tidak mempengaruhi rumah beranggotakan sembilan orang ini."JANGAN LARI-LARIAN. INI MASIH SUBUH, BERISIK!!"Itu suara Hali. Manik merahnya melotot lebar pada Blaze, yang saat ini tengah diseretnya menuju ruang keluarga. Di tangan Blaze terdapat sebuah panci yang berisikan air dan seekor ikan cupang berwarna merah tengah berenang-renang di dalamnya, entah dari mana ia mendapatkan ikan itu."Buat wadah ikannya, Kak. Kasihan ikannya, masa tinggal di wastafel? Tadi aja hampir meregang nyawa dia gara-gara airnya dikuras sama Ice," ujar Blaze sambil memeluk erat panci berwarna merah di tangannya."Ya gak panci juga dong. Minimal tupperware, atau enggak ya pake akuarium bekas ikan peliharaan Solar di gudang itu. Mau kamu ikannya direbus sama Gempa?" tanya Halilintar. Sebelah tangannya kini bertumpu pada pinggang sembari menatap Blaze dengan pandangan malas.Kedua saudara yang identik dengan warna merah -meski berbeda tone-itu terus saja berdebat. Dari awal keduanya memasuki dapur, sampai makanan untuk sahur yang sedang dipanaskan oleh Gempa dan Bunda selesai ditata ke atas meja.Di sisi lain, Taufan dan Ice masih tenang tidur berpelukan di atas sofa ruang keluarga tanpa mempedulikan suara-suara berisik yang ada di sekitar mereka. Selimut tebal membungkus tubuh keduanya, menghalau udara dingin yang terasa menusuk kulit.Suhu udara menunjukkan angka 20°C sekarang. Wajar saja jika Taufan, sebagai makhluk yang sangat anti dengan dingin, memilih bergelung dalam selimut bersama Ice daripada merencanakan kejahilan-kejahilan kecil bersama Blaze dan Duri. Sementara Ice, dia memang penyuka tidur. Tidak heran jika dia tertidur bersama Taufan di sofa.Derap langkah kaki terdengar dari arah tangga, membuat Halilintar dan Blaze yang masih berdebat mengalihkan pandangan ke arah sana. Di sana, terlihat sang ayah turun sembari menggandeng tangan kedua adik bungsu mereka yang tampak masih mengantuk.Solar langsung melangkahkan kakinya menuju dapur-menghampiri Bunda dan Gempa-setelah sampai di lantai bawah. Sementara itu, Duri kini menyelusup masuk ke dalam selimut yang berisi Taufan dan Ice, berniat menyambung tidurnya kembali.Ayah menggelengkan kepalanya sembari tersenyum kecil, lalu beralih menatap Halilintar dan Blaze yang kini terdiam dalam keheningan-menatap sang ayah dengan pandangan kebingungan."Apa?" tanya Ayah. Dia juga ikut kebingungan melihat tatapan aneh kedua anaknya yang ditujukan padanya.Halilintar dan Blaze menggeleng bersamaan. Tampaknya ingatan mereka ter-reset tiba-tiba setelah melihat ayah dan kedua adik mereka turun dari atas.Tak lama setelahnya, teriakan kembali terdengar dari Halilintar kala Blaze melarikan diri membawa panci yang sedari tadi di peluknya menuju dapur.Dan cerita ini berakhir dengan seruan Bunda yang memanggil mereka ke dapur untuk melaksanakan sahur, kemudian benar-benar ditutup dengan Blaze yang merengek pada Gempa untuk menemaninya mengambil akuarium Solar yang sudah tidak dipakai di gudang.

Bapak-Bapak Gondrong
Teen
20 Jan 2026

Bapak-Bapak Gondrong

"JAUH-JAUH, ANJING!! LO UDAH DIKASIH KEKURANGAN, BUKANNYA SADAR, MALAH KURANG AJAR!!"Suara botol plastik dan kaleng bekas minuman terdengar memantul ke sana kemari waktu Taufan ngelempar kedua benda itu asal. Dadanya naik turun cepat, sementara kakinya berlari tunggang langgang menjauhi bapak-bapak berambut gondrong yang sekarang lagi ngejar dia sambil bawa boneka.' Gila! Kenapa gue bisa nyasar di sini, anjing!! ' batin Taufan nelangsa. Matanya meliar, lirik kanan kiri, nyari sesuatu yang seenggaknya bisa dia pakai buat ngehambat pergerakan bapak-bapak di belakangnya.Taufan terus memacu kakinya, berlari sekuat tenaga. Dia beneran cuman fokus nyari cara biar bisa keluar dari gang sempit ini secepatnya. Kepalanya noleh kiri kanan, berusaha nyari celah kecil yang harapannya cukup buat dia pake biar bisa kabur dari tempat mengerikan ini.Namun, sepertinya usaha yang dia lakuin cuman nambah kekecewaan. Karena yang muncul di depannya sekarang bukannya jalan buat kabur, malah dinding semen tinggi yang keliatannya mustahil buat dia panjat sendiri.'Mati gue..' Taufan natap nanar tembok itu. Tanpa aba-aba, otaknya mutar ulang kejadian beberapa saat sebelum dia berakhir di tempat ini.Beberapa saat sebelumnya..."Gue nunggu depan gerbang ya, Lin, Gem. Mau jajan batagor," kata Taufan sambil gendong tas birunya di sebelah bahu. Dia lalu jalan duluan ninggalin Halilintar dan Gempa yang masih ngobrol sama teman-teman OSIS mereka—entah ngomongin apa.Kakinya jalan santai sambil sesekali nendang kerikil yang ada di jalan. Pas dia sampai di luar gerbang—tepatnya di depan gerobak abang-abang batagor—dia liat ada beberapa anak kecil lari-larian sambil ketawa.Posisi Taufan agak jauh dari abang-abang batagornya. Dia agak ke tepi jalan, lagi bersihin bawah sepatunya yang penuh tanah—tapak sepatunya di gesekin ke sudut trotoar. Gak lama setelahnya, anak-anak yang lari-larian di depan Taufan tadi teriak ke arahnya."Bang! Lari! Orang gilanya suka cowok!" kata mereka sambil nunjuk ke belakang Taufan.Taufan yang denger itu langsung noleh ke arah yang di tunjuk anak-anak itu. Matanya ngebulat panik waktu liat bapak-bapak rambut gondrong lari cepat ke arah dia sambil nyengir lebar."ANJIRR! ORANG GILA!!!"Taufan langsung lari tunggang langgang waktu liat bapak-bapak itu makin dekat ke arah dia. Abang-abang batagor yang teriak manggilin dia udah gak dipeduliin lagi. Pokoknya dia cuman mau lari nyelamatin diri dari bapak-bapak yang masih ngejar dia—kali ini sambil ketawa.Dan berakhirlah dengan Taufan yang sekarang udah nyandarin badannya pasrah di tembok tinggi yang ada di gang gelap tadi. Dadanya masih naik turun cepat buat ngambil napas, sementara matanya natap bapak-bapak di depannya takut."Alin, Gemmy, tolongin guee..." Taufan nendang-nendang apa pun yang ada di dekat kakinya. Idungnya udah merah nahan nangis gara-gara takut sama bapak-bapak di depannya.Kaki yang tadi digunain Taufan buat nendang angin, sekarang udah ditekuk sambil di peluk erat. Mukanya udah di benamin ke lututnya yang dia peluk sekarang. Bisa dipastiin bentar lagi Taufan nangis.BUGH !"Kak Ufan! Gapapa, 'kan?"Taufan ngangkat kepalanya pelan waktu denger suara Gempa ada di dekat dia. Matanya udah merah berair, siap nangis kapan aja kalo gak cepat-cepat di peluk Gempa.Bapak-bapak gondrong yang tadi ngejar dia sekarang udah ilang entah ke mana. Takut, kayanya, dia abis kena tinju sama Halilintar.Akhirnya, kisah ini ditutup sama Halilintar dan Gempa yang ngegotong Taufan ke mobil gara-gara suhu tubuhnya tiba-tiba naik drastis. Mungkin efek takut sekaligus kecapekan.▵▾▵▾▵▾▵

Trio Bencana Alam
Teen
20 Jan 2026

Trio Bencana Alam

Bel istirahat telah berbunyi beberapa saat yang lalu, disusul dengan suara nyaring murid-murid kelaparan yang berlarian keluar kelas menuju kantin, tepat setelah guru yang mengajar mereka keluar dari kelas.Seperti biasanya, kantin terlihat ramai hari ini. Ditambah cuaca yang sedang panas-panasnya, membuat teriakan kesal bersahutan dari antrian di depan meja pemesanan.Namun, lain di meja pemesanan, lain juga suasana di beberapa meja murid yang sudah mendapatkan makanannya. Contohnya pada meja berisi tujuh murid yang saat ini sedang menikmati makanannya masing-masing dengan khidmat: Halilintar, Taufan, Gempa, Gopal, Yaya, Ying, dan Fang.Mereka menikmati makanan masing-masing dalam diam, kecuali Fang dan Gopal yang sedang sibuk dengan ponsel yang berada di tangan Fang, entah melakukan apa."Oi, lo bedua lagi ngapain, dah? Sibuk bener perasaan, ngalahin grasak-grusuknya murid di antrian malah," tanya Ying yang sudah jengah memperhatikan keduanya sedari tadi.Bagaimana tidak jengah? Fang dan Gopal kadang tertawa kerasa menatap ponsel itu, tapi di beberapa waktu lain malah sibuk berdebat sampai hampir membuat ponsel milik Fang terhempas ke lantai—untung Halilintar dengan refleks yang tinggi selalu berhasil menangkapnya sebelum menyentuh lantai."Ssttt!" Gopal menaruh jari telunjuknya di depan bibir, mengode Ying untuk diam.Decakan kesal keluar dari sela bibir Ying, disusul dengan kedua matanya yang berotasi malas. Ia lalu kembali menyantap makanan di depannya dengan tenang, sesekali mengajak bicara Yaya yang berada di sebelahnya."Baiklah, sebelumnya, selamat siang Tuan-Tuan dan Puan-Puan sekalian yang sudah bersedia menyempatkan diri untuk menonton live krusial dari kelas kami," suara Gopal yang terdengar dibuat-buat akhirnya mengudara, membuat beberapa murid di kantin melirik penasaran ke arah meja mereka.Entah sejak kapan, Gopal kini sudah berdiri membelakangi mereka sembari memegang botol minum milik Yaya. Di depannya, terdapat Fang yang sedang memegang kamera ponsel dan mengarahkan kameranya tepat di wajah Gopal."Pembahasan kita kali ini bukan hanya tentang anak dari kelas 11 RPL 2 saja, tapi akan ada gabungan dari anak kelas lain. Hari ini, Saya akan mewawancarai ketiga murid yang cukup populer di kelas 11 ini, yaitu Halilintar, Taufan, dan Gempa. Ya, ya, ya, benar sekali. Trio bencana alam."Gempa yang sedari tadi hanya memperhatikan tiba-tiba tersedak kuah baksonya kala mendengar namanya disebut oleh Gopal. Ia menepuk-nepuk dadanya pelan, lalu segera menerima uluran gelas berisi air putih dari Taufan."Woy, kalo mau ngewawancarain orang tuh kasih tau dulu, dong! Kesian ini adek gue keselek gara-gara kaget," seru Taufan pada Gopal. Tangannya sudah bersiap melempar jeruk sambal sebelum ditahan Halilintar.Gopal menoleh sekilas, lalu terkekeh. Tak lama setelahnya, Gopal mengode Fang untuk mendekatkan kameranya ke arah Halilintar yang kembali sibuk dengan makanannya sendiri."Baiklah, saat ini Saya sudah bersama dengan Bapak Halilintar—""Bapak gue lagi kerja, anjir. Ngapain lo bawa-bawa," potong Taufan, membuat Gopal berdecak kesal sementara Ying dan Yaya cekikikan."Hak bicara lo gue cabut! Diem lo!" hardik Gopal pada Taufan, membuat Taufan tertawa keras."Mohon maaf atas gangguan kecilnya, ya, Tuan-Tuan dan Puan-Puan. Oke, mari kita kembali lagi pada Kak Halilintar," Gopal menetralkan ekspresi wajahnya kembali, lalu menyuruh Fang untuk mengarahkan ponselnya ke arah Halilintar yang kini beralih meminum es tehnya."Kak Halilintar, kenapa kakak bisa terlahir sebagai anak kembar? Langsung tiga pula, tuh."Halilintar yang sedang mengelap tangannya dengan tisu setelah meminum es tehnya pun seketika terdiam. Manik merah delimanya menatap tajam Gopal yang kini tertawa canggung melihat tatapan itu."Pertanyaan bodoh macam apa itu?""Pfftt!" Taufan dan Gempa mengalihkan pandangannya dari Gopal, menahan tawa yang akan segera meluncur. Sementara itu, Yaya dan Ying tertawa kecil mendengarnya. Bahkan ponsel yang bertugas merekam mereka pun bergetar, menandakan jika Fang sedang berusaha menahan tawanya."Jawab spontan aja, jawab spontan. Request paling banyak dari penonton ini, Li!"Halilintar menghela napasnya, lalu beralih menatap kamera ponsel yang berada di depannya. "Biar gue gak tua sendirian." Halilintar benar-benar menjawab pertanyaan itu spontan, membuat getaran pada kamera semakin kuat karena Fang yang kesusahan menahan tawa."Lo aja kali yang tua, gue mah awet muda, coyy! Jeg menyala wii!" seru Taufan. Beberapa murid yang sebelumnya sudah menonton mereka dari awal pun kini ikut tertawa mendengar ucapan kedua anak kembar itu.Halilintar mendelik sinis, lalu mengibaskan tangannya ke depan kamera, mengusirnya.Gopal mengangguk, lalu beralih mendekati Taufan yang saat ini sedang berbicara dengan Gempa. "Baiklah, kita beralih ke Kak Taufan. Setiap anak kembar pasti punya sesuatu yang berbeda, bukan? Jadi, mari kita tanyakan bagaimana pendapat Kak Taufan.""Kak Taufan, menurut Kakak, kenapa kalian bisa terlahir sebagai anak kembar? Dan kenapa Kakak terlahir sebagai anak kembar kedua?""..." Taufan diam, tak mengeluarkan sepatah kata pun. Ia hanya menatap Gopal dan kamera secara bergantian."Kak Taufan?" panggil Gopal, namun Taufan tetap diam."Ngomong, anjir!" hardik Gopal lagi, hilang sudah kesabarannya menghadapi manusia pecinta biru di depannya ini.Taufan mengernyitkan dahinya, lalu mengambil ponsel dan mengetikkan beberapa kata di catatan. " Katanya hak bicara gua di cabut, " isi catatan itu, membuat Gopal mengusap wajahnya frustasi.Ia kemudian mengambil kertas dari dalam saku, lalu meminjam pulpen milik Yaya—menuliskan kalimat "Hak bicara" di kertas itu, kemudian memberikannya pada Taufan."Noh, hak bicara lo gue kembaliin," ucap Gopal. Tangannya mengulurkan gulungan kertas, yang langsung di sambut dengan tatapan berbinar dari Taufan."Kak Taufan terlalu menghayati peran," komentar Gempa. Kepalanya menggeleng maklum, lalu meminum es tehnya seraya memperhatikan kegiatan kakak kedua dan temannya itu."Oke, lanjut. Menurut Kakak, kenapa kalian bisa lahir sebagai anak kembar? Dan kenapa Kakak terlahir sebagai kembar yang kedua?" tanya Gopal kembali, ekspresinya sudah di netralkan kembali sekarang."Gatau. Tanya ke orang tua gue, lah," jawab Taufan santai, membuat Gopal geram. "Fan!"Taufan terkekeh sekilas, lalu menatap kamera; kali ini tatapannya lebih tenang. "Karna gue gak cocok jadi sulung, dan gak mau jadi bungsu," jawab Taufan, lalu menyuapkan satu sendok besar nasi goreng ke dalam mulutnya, agar tidak di tanya-tanya lagi oleh Gopal.Gopal mengangguk, kali ini kembali beralih pada kandidat terakhir; Gempa, bungsu si trio bencana alam."Nah, kita beralih ke Kak Gempa. Kak Gempa terkenal paling tenang di antara kedua kembarannya, pasti gak bakal bertele-tele ini jawabannya," senyum cerah terbit di wajah Gopal sekarang. Sepertinya ia juga lelah setelah berurusan dengan Halilintar dan Taufan."Kak Gempa, kenapa Kakak bisa terlahir kembar dan menjadi bungsu dari trio bencana alam?""Biar lo nanya," balas Gempa asal, kemudian menarik tangan kedua kakaknya dan berlari menuju keluar dari kantin. Halilintar menggelengkan kepalanya sembari tersenyum kecil, sementara Taufan tertawa nyaring sembari mengikuti langkah Gempa.Di sisi lain, Gopal menjatuhkan rahangnya, lalu duduk kembali pada kursi sembari menghela napas panjang. "Salah emang gue berharap lebih sama mereka. Sama aja semuanya, pantesan kembar," ucapnya nelangsa.Siaran live dari akun kelas siang itu berakhir dengan suara tawa yang menggema di seluruh penjuru kantin. Semua murid yang sedari tadi menonton kegiatan mereka tertawa keras melihat wajah pasrah Gopal yang kini memakan nasi gorengnya yang baru di sendok sedikit.▵▾▵▾▵▾▵

Biar Nurut
Teen
19 Jan 2026

Biar Nurut

Halilintar sadar, meskipun ia memiliki enam orang adik, yang selalu memanggilnya dengan embel-embel "Kak" tanpa berubah-ubah itu hanya lima orang: Gempa, Blaze, Ice, Duri, dan Solar.Lalu, bagaimana dengan Taufan? Ah, Halilintar bingung bagaimana cara menjawabnya.Taufan itu, selalu punya variasi panggilan yang berbeda untuk Halilintar. Terkadang Taufan akan memanggilnya dengan nama kecil yang Ia miliki: Alin. Namun di beberapa waktu lainnya, Taufan akan memanggilnya dengan panggilan "Kak". Tapi, pada saat-saat yang berbeda, Ia akan memanggil Halilintar dengan panggilan "Bang".Pada awalnya, kebiasaan baru Taufan ini memang membingungkan. Namun, setelah beberapa lama, Halilintar akan menoleh dengan sendirinya kala suara ceria Taufan menyapa indera pendengarannya.Tidak sekali dua kali Halilintar mendapatkan pertanyaan tentang bagaimana cara Taufan memanggil dirinya. Namun, Halilintar hanya mengedikkan bahunya tak tau, lalu melirik Taufan yang selalu memiliki kesibukan sendiri di sela-sela kegiatan mereka.Bahkan sekarang, saat matahari sedang bersinar terik di langit dan riuhnya suara murid-murid yang sedang mengantri di meja kantin, Halilintar kembali mendapatkan pertanyaan serupa dari sosok gadis berjilbab di depannya, Yaya."Taufan manggil lo itu sebenernya gimana, sih, Li?" tanya Yaya pada Hali sembari mengaduk-aduk es tehnya di atas meja.Hali menghela napas lelah, bosan dengan pertanyaan yang selalu didapatkannya dari orang-orang berbeda setiap hari. Manik merah delimanya melirik Taufan yang saat ini sedang sibuk menyusun puzzle dengan kedua temannya—Fang dan Gopal."Entahlah. Panggilannya berubah tergantung mood," jawab Hali acuh, lalu menghabiskan es cappuccino di hadapannya dengan sekali teguk.Yaya menganggukkan kepalanya paham, lalu merengsek mendekati Ying yang duduk berhadapan dengan Gempa; keduanya sama-sama menghadap buku pelajaran.Hali, yang tidak memiliki kegiatan, kini mengaduk-aduk gelas kosongnya dengan sedotan. Kedua alisnya bertaut, sementara kedua manik delimanya menerawang, mengingat saat Taufan pertama kali memanggilnya dengan panggilan yang berbeda-beda setiap saat."Lin. Alin, woy! Halilintar!"Hali tersentak. Kepalanya menoleh kaku pada Taufan yang kini menatapnya sembari mengelus lembut bahu Halilintar yang baru saja dipukulnya."Kenapa?" Tanya Hali. Kali ini, ekspresi wajahnya sudah kembali seperti semula.Taufan membenarkan posisi duduknya—bersila di atas kursi dengan tubuh menghadap Halilintar. Manik biru safirnya kini berbinar cerah menatap Halilintar."Tadi gue denger Gentar dipanggil Mas sama adeknya."Halilintar menaikkan sebelah alis, menatap Taufan yang kini grasak-grusuk di depannya dengan tatapan bertanya. Sementara Taufan mengulas senyumnya kian lebar menatap Hali."Dia keliatan keren banget waktu dipanggil Mas sama adeknya. Gue juga mau keliatan keren."Alis Halilintar kini bertaut. Apakah adiknya ini meminta Hali untuk memanggilnya Mas ?Sebuah pertanyaan terbesit di benak Hali. Ia lalu menatap Taufan dengan tatapan serius. "Bentar, lo denger Gentar dipanggil Mas sama adiknya di mana?""Waktu adeknya nelpon Gentar."Mata Halilintar kini memicing, menatap Taufan dengan penuh peringatan. "Ayah pernah bilang soal ini, 'kan? Nguping pembicaraan orang di telpon itu gak sopan."Aura menyeramkan kini menguar dari Halilintar, membuat orang-orang di meja itu sontak menoleh ke arah kakak beradik yang sedang duduk berhadapan."Kenapa, Kak?" tanya Gempa. Tubuhnya dibawa mendekati Halilintar yang masih mengeluarkan aura mencekam, lalu menepuk-nepuk bahu Kakaknya pelan.Taufan yang berada di seberangnya terlihat panik. "Enggak, Lin. Gue gak nguping. Gentar sendiri yang nyuruh gue ngangkat telponnya, terus nyalain speaker. Dia lagi ngangkatin kursi pas itu," jelas Taufan, kentara sekali raut panik di wajahnya kala melihat ekspresi tidak bersahabat dari Hali.Halilintar yang mendengar itu menghela, lalu menganggukkan kepalanya. "Jadi, alasan lo mau dipanggil Mas karna apa?""Ya, karna keren. Gentar kayak Mas-Mas Jawa yang sering muncul di TV waktu dipanggil Mas sama adeknya," jelas Taufan. Manik safirnya kembali berbinar menatap Halilintar, lalu beralih menatap Gempa memelas. Gempa yang melihat itu langsung bergidik ngeri melihat tatapan Kakak pertamanya."Gentar kan emang orang Jawa," suara Gopal mengalun, membuat Taufan menoleh ke belakang, menatap Gopal yang ada di belakangnya."Orang Jawa biasanya keren-keren. Lah dia, keren enggak, jamet iya."Mata Gopal melotot dramatis menatap Taufan, lalu menutup mulutnya dengan sebelah tangan. "Gue aduin Gentar, lo ngatain dia jamet."Taufan mengernyitkan dahi kesal, lalu berniat menjawab ucapan Gopal sebelum suara Fang yang berasal dari sebelah Gopal terdengar."Berisik lo pada," ujar Fang tanpa mengalihkan pandangannya dari puzzle di hadapannya. Kali ini, dia menyusun puzzle tersebut dengan bantuan Yaya dan Ying yang entah sejak kapan sudah berpindah posisi.Taufan mendecak kesal, lalu mengalihkan pandangannya kembali pada Halilintar dan Gempa yang sedari tadi memperhatikannya."Kata Bunda, kalo mau adik-adik nurutin apa yang kita mau, kita harus ngasih contohnya dulu ke mereka, biar mereka ngikutin."Manik Taufan menatap Gempa yang masih mendengarkannya dalam diam, lalu beralih kembali pada Halilintar yang kini menatapnya datar."Jadi, gue manggil lo Mas ya, Lin? Biar Gempa nurut manggil gue Mas, " kata Taufan memohon, menatap Hali dengan tatapan memelas, membuat Gempa yang duduk di belakang Hali menutup mulut menahan tawa."Gue gak ikutan, ya, Kak," Gempa mengangkat kedua tangannya, lalu bangkit dari posisinya yang duduk di belakang Hali, dan beralih mengambil tempat di kursi depan Fang.Taufan menatap Gempa yang melarikan diri dengan mata memicing, lalu menoleh ke arah Hali yang masih menatapnya datar."Lo telat kalo mau ngajarinnya sekarang. Kita udah 16 tahun, dan itu gak bakal ngaruh."Taufan mendesah lelah, lalu menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi usai mendengar ucapan Hali. Di sisi lain, Gempa diam-diam melirik kedua kakaknya sembari terkekeh kecil.Kedua manik Taufan mengedar ke sekeliling kantin dengan alis berkedut, seperti sedang memikirkan sesuatu. Tak lama setelahnya, ia kembali menegakkan tubuhnya cepat menghadap Halilintar, membuat Hali yang tadi sedang memainkan ponselnya seketika menoleh."Gue pastiin rencana gue berhasil, liat aja. Hahaha!"Halilintar menggelengkan kepalanya, pasrah dengan apa pun yang akan dilakukan oleh adik pertamanya itu.▵▾▵▾▵▾▵Gempa mengucapkan terima kasih sembari mengulas senyum pada teman-teman OSIS-nya yang satu per satu mulai berjalan keluar dari ruang rapat, kala kegiatan yang dilangsungkan sejak pulang sekolah tadi akhirnya selesai.Biasanya, mereka akan pulang saat bel berbunyi pada pukul 14.50. Namun, di hari-hari tertentu, akan ada beberapa murid yang tinggal di sekolah untuk mengikuti ekskul sekolah, contohnya ekskul OSIS. Dan hari ini, Gempa harus menjadi salah satu murid tersebut.Gempa menghidupkan ponsel di genggamannya, melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 16.45. Helaan napas berat terdengar dari sela bibirnya kala menyadari sudah hampir dua jam ia berada di sekolah di luar jam pelajaran.Ditangkinnya tas yang tadi ia sampirkan di sandaran kursi, lalu berjalan menuju pintu keluar—menuju ke parkiran—seraya bersenandung kecil.Manik emasnya sedikit menyipit kala mendapati sosok familiar sedang bersandar pada mobil hitam di parkiran: Halilintar."Kak Hali!" seru Gempa, lalu memacu langkahnya lebih cepat mendekati Hali, yang kini mengantongi ponselnya kala melihat sang adik datang."Udah lama, Kak?""Kurang lebih tujuh menit."Gempa mengangguk, lalu membuka pintu mobil dan duduk di kursi samping kemudi. Hali menyalakan mesin mobil, kemudian mulai mengendarai kendaraan roda empat itu menuju rumah.▵▾▵▾▵▾▵Halilintar membuka pintu rumah perlahan, matanya mengedar menatap ke dalam rumah yang tumben-tumbenan masih sepi. Biasanya, adik-adiknya—terutama Taufan, Blaze, dan Duri—akan berlarian ke sana kemari entah memperebutkan sesuatu, atau menjahili Solar yang sedang belajar. Tapi sore ini, keadaan rumah cukup lenggang."Huh? Kemana orang-orang?" Gempa bertanya, melangkah masuk sembari menoleh ke kiri dan kanan, lalu mulai menjelajahi seisi rumah.Halilintar mengikuti langkah Gempa dari belakang, lalu menoleh ke arah dapur saat mendengar suara cekikikan seseorang."Gem, di dapur." Halilintar meraih tangan Gempa, lalu menariknya ke arah dapur.Keduanya berjalan pelan mendekati dapur yang hanya dibatasi dinding sebagai sekat dengan ruang tamu. Semakin mereka mendekat, semakin jelas pula suara cekikikan seseorang di baliknya."Selamat datang, Mas Hali! Mas Gempa!"Gempa dan Halilintar memasang wajah cengo bersamaan, bingung harus memberi respon seperti apa pada orang-orang di depan mereka saat ini.Taufan, Blaze, Ice, Duri, Solar, Ayah, dan juga Bunda, berdiri sejajar menyambut mereka. Di kedua tangan mereka terdapat masing-masing piring yang berisi makanan berbeda."Ini... kenapa?" Gempa bertanya, menatap satu per satu anggota keluarganya yang masih menatap mereka berdua dengan senyum lebar.Ayah mereka tertawa sejenak, lalu meletakkan piring berisi ikan goreng yang dipegangnya ke atas meja. "Gabut," jawabnya singkat, sebelum duduk di kursi dan mencomot satu ikan goreng dari piring."Hah?""Kata Mas Taufan, ini hari orang Jawa. Jadi, kita semua harus manggil saudara yang lebih tua dengan panggilan Mas, " jelas Duri, matanya berbinar menatap Halilintar dan Gempa sembari bergelayut manja pada lengan Taufan, yang wajahnya sudah merah menahan tawa.Halilintar menatap Taufan, lalu mengusak rambutnya frustasi. "Hari orang Jawa, Kau bilang? Dan Kalian percaya?"Adik-adiknya mengangguk kompak, sementara Hali hanya bisa tersenyum pasrah melihat kepolosan adik-adiknya."Ayah sama Bunda juga percaya?" Gempa menatap kedua orang tuanya bergantian, menanti jawaban.Bunda mereka tertawa kecil. "Jelas enggak. Tapi Taufan ngerengek ke Bunda sama Ayah. Mukanya melas banget tadi, kayak mau nangis," terang Bunda, lalu melirik ke arah Taufan yang kini sibuk menggoda Halilintar.Gempa tersenyum pasrah, lalu menggelengkan kepalanya pelan sembari menarik kursi dan mendudukkan diri di sana."Ayo main," Taufan tiba-tiba berseru."Yang kedapatan ga nyebut saudara yang lebih tua pake sebutan Mas , harus nyuci piring selama seminggu," usul Taufan, membuat Blaze dan Duri berseru semangat."Ah, memang sebaiknya Aku tidur saja.""Aku sudah kehabisan kata-kata untuk menanggapi situasi ini."Ice dan Solar mengeluh bersamaan, sementara Gempa dan Halilintar hanya bisa tersenyum pasrah mendengar usulan aneh lainnya dari kembaran mereka.Dan, ya. Keempat adik mereka benar-benar berusaha memanggil mereka dengan sebutan Mas semalaman, bukan Kak seperti biasanya.▵▾▵▾▵▾▵

Bu Dokter
Teen
19 Jan 2026

Bu Dokter

Derap langkah kaki terdengar jelas melewati lorong sepi sekolah. Ini pukul 7 pagi, lebih tepatnya setengah 8 lewat, yang menandakan jika kegiatan belajar-mengajar telah dimulai.Beberapa kelas terlihat hening dengan penampakan jika penghuninya sedang mencatat atau mengerjakan tugas. Sementara itu, di sisi lain tampak sebagian kelas yang riuh dengan suara murid dan guru yang bersahutan saat kuis sedang berlangsung.Lain di kelas, lain lagi di lorong. Lorong sekolah saat ini sangat lenggang dikarenakan semua murid sudah memasuki kelas untuk mengikuti pelajaran. Semuanya—kecuali murid dengan tubuh gempal dan jaket hijau—yang kini sedang berlari tunggang-langgang melewati satu per satu kelas di lorong panjang.Semakin cepat kakinya dipacu, semakin terlihat jelas pula sebuah pintu yang terbuka setengah dengan suara teriakan yang bersahutan dari dalamnya. Gopal memacu langkahnya lebih cepat, lalu menggebrak pintu dengan sangat kuat, Ia berdiri dengan napas terengah di tengah pintu.Teman sekelas yang awalnya riuh secara bersamaan langsung menatapnya dengan pandangan bertanya—beberapa bahkan menatap dengan pandangan kesal."Ngapain sih? Abis dikejar bison, lo?" Tanya seorang gadis yang duduk di pojok ruangan bersama beberapa temannya.Gopal melirik sekilas, lalu mengatur napasnya sebentar sebelum menjawab pertanyaan dari gadis itu. "Ada dokter, anjir. Bawa tas gede. Curiga kita bakal divaksin sekelas buat ngurangin penularan virus rabies," jelas Gopal, mendapatkan delikan tajam dari gadis yang bertanya tadi.Beberapa anak laki-laki dikelas itu meneguk ludah kasar, lalu menatap Gopal takut-takut. "Jangan boong lo. Lo boong, lobang idung lo makin gede ntar."Gopal mengangkat sebelah tangannya, mengacungkan dua jari membentuk peace sign disertai dengan raut wajah seriusnya yang jarang terlihat. "Serius, anjir. Sumpah, ga boong gue. Lo kalo gak percaya, liat aja noh ke ruang TU," jawabnya sungguh-sungguh, membuat murid laki-laki yang berdiri di pojok ruangan semakin pucat.Belum sempat murid lain mengeluarkan suara, tiba-tiba saja terdengar suara guru dan langkah kaki yang berjalan mendekati ruang kelas, membuat mereka semua secara bersamaan menoleh langsung ke arah pintu, menanti siapa yang akan segera muncul dari balik pintu."Lho, kalian kenapa posisinya acak-awur begini? Lagi main drama?" Itu Bu Risa, wali kelas mereka, yang bertanya dengan wajah cantiknya yang senantiasa menampilkan senyum manis.Kelas hening. Tidak ada satupun yang merespons pertanyaan Bu Risa—mereka semua terlalu fokus, hingga ada beberapa siswa yang melongo melihat tiga orang dewasa dengan jas putih dan seseorang yang membawa kotak besar ditangannya.'Anjir, terakhir kali gue suntik pas SD aja sampe kudu diregang Ayah, bangsat.'Bu Risa tertawa kecil melihat reaksi anak muridnya yang tercengang melihat 3 orang dokter yang berdiri sambil mengulas senyum kecil di sampingnya."Pasti udah tau dong ya siapa yang ada di sebelah Ibu ini? Yap, benar! Ini Bu Dokter sama Kakak-Kakak Perawat yang tugasnya meriksa kesehatan kalian-"Click! WHOOSH !Suara jendela, yang kuncinya baru saja dibuka, terdengar dari arah pojok; di susul dengan suara angin yang tiba-tiba berembus kencang memasuki ruang kelas, membuat atensi mereka semua beralih pada jendela yang kini tirai biru mudanya terayun mengikuti tiupan angin.Kelas kembali hening. Mereka menatap jendela yang tiba-tiba terbuka itu dengan pandangan bingung sebelum tiba-tiba seorang murid laki-laki, yang merupakan ketua kelas, tiba-tiba berseru, "Lah, Taufan mana?"▵▾▵▾▵▾▵Suasana kelas Halilintar cukup hening saat ini, hanya suara diskusi dari beberapa murid yang sesekali terdengar dari arah belakang.Kelas mereka sedang tidak ada guru saat ini. Guru mereka hanya datang dan memberikan sedikit catatan, lalu kemudian menutupnya dengan beberapa tugas kelompok dikarenakan beliau sedang ada kesibukan.Halilintar membaca soal di bukunya dengan tenang, sesekali menoleh pada teman satu kelompoknya saat Ia menanyakan pendapat mereka tentang jawaban yang didapatnya.Ting!Atensi Halilintar yang semula fokus pada buku kini teralihkan pada layar HP-nya yang menyala, menampilkan sebuah notifikasi pesan. Ia meraih HP-nya dari atas meja, lalu membaca sekilas nama si pengirim pesan.TaufanLin😭😭😭07.43Halilintar membaca pesan itu dengan alis sedikit berkedut, lalu menggerakkan jarinya untuk mengirimkan balasan pada si pengirim.Kenapa?07.45Pesan yang baru saja dikirimnya itu langsung dilihat oleh Taufan. Tak lama kemudian, muncul gelembung yang menandakan jika seseorang di seberang sana sedang mengetikan balasan.Lin, gua ketemu monster, anjir07.46Bibir Halilintar mengulas senyum tipis, terlampau hapal dengan pikiran aneh adik pertamanya ini. 'Bocah gajelas.'Lin, balas kek, elahh07.46Iya, apa?07.47Gua tadi ketemu monster. Bajunya putih, pake kacamata07.47D-dia bawa rombongan 20 orang di belakangnya. Masing-masing pake baju zirah putih07.47Lin, tolongin gua pliss07.48Halilintar kembali mengernyit, memikirkan sejenak maksud dari perkataan adiknya. Lalu Ia teringat dengan beberapa tenaga medis yang berada di ruang TU saat Ia mengantarkan absen kecil tadi. Tanpa sadar, Ia terkekeh kecil mengingat jika adiknya ini sangat takut pada para tenaga medis.Oh, Bu Dokternya udah sampai sana? Kenapa lo masih bisa main hp?07.48Hah? Udah sampai sini?!07.48Anjir, sia-sia doang gua loncat dari jendela tadi07.48Loncat dari jendela? Tunggu, jadi maksudnya lo lagi gak ada dikelas sekarang?07.49Oh.. itu..07.49Hehehe, gua loncat dari jendela waktu liat rombongannya masuk kelas tadi..07.49Hehehe07.50Hehehehehehe, Lin?07.50Helaan napas berat keluar dari bibir Halilintar, membuat teman-temannya yang sedari tadi mengawasinya saling berpandangan dengan raut bertanya-tanya.Tangannya kembali mengetikan balasan pada Taufan, lalu menyandarkan punggungnya pada kursi selagi menunggu balasan.Di mana?07.51Belakang kelas lo..07.52Halilintar melongo, membaca ulang pesan yang baru saja dikirimkan Taufan.Taufan berada di belakang kelasnya? Benar-benar di belakang kelasnya? Tunggu, bukankah belakang kelasnya itu penuh semak-semak dan sampah dari beberapa murid yang suka membuang sampah sembarangan? Dan Taufan? Sembunyi di sana? Astaga.."Kenapa lo?" Tanya seorang murid laki-laki, membuat Halilintar menoleh ke arahnya dengan raut wajah yang sudah kembali netral.Halilintar memijit pelipisnya sejenak, lalu bangkit dari kursi dan menatap teman satu kelompoknya sejenak. "Adek gue ngulah. Gue izin keluar bentar, ya?"jawab Halilintar, yang langsung diangguki oleh teman-temannya yang sudah dapat menebak siapa adik yang dimaksud Halilintar itu.Halilintar mengulas senyum tipis, lalu melangkahkan kakinya dengan cepat keluar kelas, berjalan dengan langkah lebar menuju belakang kelasnya.▵▾▵▾▵▾▵Taufan menatap sekelilingnya dengan waspada, sesekali mengusap lengannya yang dirayapi oleh semut karena Ia yang sedang duduk berjongkok dibalik semak-semak."Ah elahh, ini kapan kelarnya, anjir. Kaki gue pegel,"gerutunya kesal.Manik biru safir miliknya yang sedari tadi berpendar ke kiri dan kanan kini memicing kala mendapat sosok berjaket hitam yang berjalan tegap ke arahnya. Lebih tepatnya, mungkin ke arah semak yang ditempatinya saat ini."Fan? Lo di mana?" Panggil suara itu, membuat Taufan diam sesaat, memikirkan harus keluar dari persembunyian atau tidak.'Kalo gue keluar, pasti di seret ke kelas. Tapi kalo ga keluar, kaki gue pegel.'Terlalu lama berdebat dengan pikirannya sendiri, Taufan sampai tidak menyadari jika Halilintar sudah berhasil menyingkirkan semak-semak yang berhasil menyembunyikan tubuhnya tadi."Fan." Panggil Halilintar dengan manik merah delimanya yang menatap datar ke arah Taufan.Taufan menoleh patah-patah ke arahnya, lalu dengan cepat berdiri dan membersihkan seragamnya yang terkena tanah.Manik biru safirnya menatap Halilintar dengan tatapan takut, lalu mengulas cengiran lebar yang terkesan canggung sembari menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal."Hai.. Alin.. Apa kabar?"tanya Taufan, sebelah tangannya melambai dengan kaku ke arah Halilintar.Halilintar mendengus, lalu dengan cepat meraih tangan Taufan dan menariknya menjauh dari semak-semak.Taufan yang tangannya ditarik tiba-tiba sontak memberontak, berusaha melepaskan genggaman Halilintar dari tangannya meskipun percuma."Lin! Jangan seret gue ke ruangan monster itu, anjir! Lo mau gue is det di tusuk mereka pake tombak?" protes Taufan, masih setia menggerakkan tangannya secara brutal di genggaman Halilintar.Halilintar tetap diam, tak peduli dengan pemberontakan sia-sia yang dilakukan adiknya. Ia hanya terus berjalan, mengacuhkan teriakan Taufan."Hali! Jangan seret gue, anjir! Gue bukan kambing!" teriak Taufan lagi. Kali ini matanya memandang Halilintar dengan tatapan memelas.Helaan napas berat lagi-lagi keluar dari bibir Halilintar. Halilintar menghentikan langkahnya tiba-tiba, membuat Taufan yang tidak siap pun langsung menabrak punggungnya."Anjing."Halilintar menatap Taufan malas, lalu tanpa aba-aba menggendongnya ala karung beras dan kembali berjalan."Bukan kambing, tapi karung beras." ujarnya santai sembari berjalan keluar dari area belakang kelas.Taufan yang masih kaget pun terdiam, lalu kembali menggelepar di gendongan karung beras Halilintar, minta untuk di turunkan— yang hanya dibalas deheman singkat dari Halilintar.Halilintar terus berjalan menuju kelas Taufan, mengacuhkan teriakan Taufan dan pandangan jenaka dari beberapa murid yang dilewatinya di lorong."Gem, itu kembaran lo gak, sih?" Tanya salah satu murid yang sedang berjalan di tepi lorong pada murid dengan manik emas di sebelahnya. Ia sedikit menahan tawanya kala melihat dua orang yang tidak asing berjalan melewati mereka berdua.Gempa, yang merasa namanya dipanggil, langsung menoleh, melirik ke kiri dan kanan sebelum akhirnya tercengang melihat kelakuan kedua kakaknya yang memang kadang sulit diprediksi.Ia segera menutup wajahnya, merasa malu setelah melihat kedua saudaranya yang telah menghilang di telan pintu kelas paling ujung—kelas kakak keduanya yang menjadi asal muasal kejadian aneh pagi hari ini.▵▾▵▾▵▾▵"Permisi, Bu. Saya bawa pasien yang kabur tadi," ujar Halilintar seraya mengetuk pintu kelas Taufan pelan. Ia membungkukkan tubuhnya sekilas sebelum masuk dan meletakkan Taufan di depan kelas.Taufan yang semula masih terus menggelepar kini terdiam dengan tatapan tajamnya yang ditujukan pada Halilintar— yang saat ini berbalik berbicara dengan wali kelasnya."Terima kasih,ya, Hali. Udah susah-susah bawain pasien Ibu yang kabur aja." Canda Bu Risa.Wali kelas Taufan ini memang masih tergolong cukup muda, jadi selera humornya masih lumayan nyambung dengan murid-muridnya.Halilintar hanya terkekeh kecil, lalu berpamitan untuk keluar kelas sebelum suara salah satu murid menginterupsi pergerakannya."Gue kalo jadi lo sih gak bakal keluar sebelum si Taufan selesai di periksa, Li," celetuk Gopal, membuat Taufan menatapnya dengan tajam.Halilintar kembali terkekeh kecil mendengar ucapan Gopal, "oh iya.. Saya izin jagain pasien Ibu sebentar ya, Bu." Katanya pada Bu Risa.Seketika, suara gelak tawa memenuhi ruangan kelas disertai wajah Taufan yang semakin masam kala Bu Dokter mulai melakukan pemeriksaan padanya setelah puas tertawa.

Dia Indy
Teen
18 Jan 2026

Dia Indy

"Nnti kalau aku udah besar aku mah pergi ke Australia. Aku mau lihat kanguru di sana mau lihat koala juga jadi kalau aku gak ada pasti aku lagi di sana, yaa tinggal di sana" Ucap Indy waktu itu. Dia gadis lucu, aku belum pernah mengenal gadis selugu dia tapi impian nya sungguh tak wajar, suatu hari pernah aku bertanya padanya."Mimpi itu jangan ketinggian nanti kalau gak ke capai malah kecewa." Ucap ku dengan datar. Dia langsung menengok ke arahku, lalu menampakan wajah kesal, sangat lucu."Gak papa, kan biar semangat belajarnya. Dari pada kak Rafa gak punya impian kan?" Ucap nya membuat aku terseyum. "Tentu ada, impian ku ingin membahagiakan semua orang" Jawbaku dengan mantap, di luar dugaanku Indy malah tertawa lalu aku yang di tertawakan langsung mengejar dia yang duluan berlari.Hmm kenangan itu selalu ada, bayangan Indy tak pernah lepas dari pikiranku. Aku tau aku bodoh, aku tak pernah memikirkan perasaan Indy, aku selalu saja mengabaikan nya. Ardy juga tak akan memutuskan tali persahabatan kami.Bila saja aku lebih peka. Bila saja aku lebih mengerti dan bila saja aku jujur akan perasaanku, semua takkan pernah terjadi.B eberapa Tahun yang lalu"Eh Ardy, apa kabar bro " sapa ku ketika tiba tiba aku melihat Ardy di mall. Ardy sahabatku, kami satu angkatan dan seumuran. Ardy langsung menyapa dan berbasa basi. Di sampingnya berdiri seorang gadis manis, dengan tatapan datar pasti dia adik Ardy bisa ku lihat karena wajah mereka mirip."Ini Indy adikku satu satunya." Ucap Ardy dengan ramah. Sedangkan Indy malah menatapku penuh curiga lalu Ardy menyenggol Indy pelan. "Hallo namaku Indy" ucap Indy langsung mengulurkan tangan."Aku Rafa." Ucapku dengan sedikit senyuman. Setelah itu persahabatan aku dan Ardy semakin erat, aku sering main ke rumah Ardy begitupun Ardy. Karena kebetulan jarak rumah kami tak jauh dan perlahan lahan juga tanpa sengaja aku mulai mengenal Indy dia gadis yang ramah dan sangat baik.Dia selalu saja berhasil membuat aku tertawa dengan candaan konyolnya. Aku jadi semakin dekat dengannya. Setelah aku mulai kuliah aku jadi sedikit sibuk, jadi tanpa aku sadari aku mengabaikan Indy.Tapi Indy selalu saja mengerti, kami tak pacaran kami hanya berteman seperti adik dan kakak. Pernah suatu hari saat hari minggu, aku jatuh sakit. Entah bagaimana aku tak ingat yang pasti Indy ketiduran di sofa dan aku melihat ada air hangat dan handuk pasti Indy yang mengompres ku.Setelah hari hari berlalu aku akui aku mulai menyukai Indy tapi tak mungkin bisa berlanjut karena Indy adik dari Ardy sahabatku. Hingga aku menepis semua yang aku anggap beda, aku kira Indy juga menganggap aku sebagai kakak.Bertahun tahun lagi aku telah menjadi seorang dokter, impian ku dari kecil telah terwujud. Indy terlihat sangat senang dia terus saja memujiku memberi ucapan selamat. Aku hanya mengucapkan terimakasih. Bukan hanya kepada Indy, tapi juga kepada Tuhan yang selalu membantu dan mengabulkan semua doaku termasuk doa agar Indy selalu di sisiku.Hari hariku sebagai dokter berjalan normal, aku mulai terbiasa mengobati dan berinteraksi dengan pasien dan orang orang yang baru aku temui. Indy? Dia sebentar lagi lulus kuliah, aku terus mensupport agar dia secepatnya lulus.Hingga tiba waktu itu, hari wisuda Indy aku datang dan memberikan dia buket bunga kesukaan nya. Wajahnya semakin cantik, dia sudah dewasa, kami berfoto bersama Indy dan keluarganya. Indy sekarang sibuk begitu pun aku lalu waktu terus bergulir aku mulai kenal dengan Maya.Dia dokter spesialis mata, dia cantik dan baik hati.aku kira tak apa kami mulai dekat. Indy memang takut datang ke rumah sakit, dia takut darah dan orang orang yang kecelakaan dia jarang menengokku. Aku pun berfikir untuk mengenalkan pada Indy perihal Maya, tapi aku. masih ragu dan harus berfikir dua kali takut apa yang aku lakukan salah."Indy?" Sapaku saat Indy sedang membaca sebuah Novel tebal. Indy seketika menengok dan langsung menghampiriku. Ia terus saja bicara,"Kak Rafa kok jarang ke sini? aku udah lama gak ketemu kak Rafa, pasti sibuk ya? hmm seorang dokter memang selalu sibuk, oh iya kak, aku sekarang lagi mikirin keberangkatanku ke Australia." Ucap nya tanpa mengenal titik dan koma."Wahh kapan?" Tanyaku, dia diam "Gak tau, aku bingung gak mau ke sana sendiri." Ucap nya. Aku merutuki diriku, andai aku mengerti apa maksud Indy waktu itu. Kami lalu melanjutkan mengobrol dan tertawa bersama, aku bertanya pada Indy.Di mana Ardy, Indy menjawab bahwa Ardy sedang ingin menyendiri, ku tanya lagi ternyata kekasih nya telah memutuskan hubungan tanpa sebab. Aku mengerti dan mengenal Ardy, dia memang tipikal orang yang sulit jatuh cinta hingga saat seseorang meninggalkannya ia akan sangat lama untuk mencari pengganti.Sebelum aku bertanya, aku benar benar telah memikirkan apakah semua akan baik baik saja? "Indy?menurutmu aku ini sudah pantas punya pacar?" Tanya ku hati hati. Indy tersenyum "Kak Rafa Ini sudah sangat pantas" Ucapnya dengan senyum yang sangat sukses membuat aku salah tingkah.Aku pun yakin bahwa mengenalkan Maya adalah hal yang benar. Aku dan Indy merencanakan untuk kami bertemu, tujuanku sebenarnya adalah untuk mengenalkan Maya padanya. Hingga di sebuah kafe tempat yang kami pilih, Maya belum datang sedangkan aku sudah duduk menunggu.Ponsel ku berdering ternyata Indy. Indy mengatakan bahwa Ardy juga akan bertemu dengan klien nya di cafe itu dan Indy akan berangkat bersama Ardy, tentu saja aku tak keberatan.Indy datang dengan penampilan manis, Ardy lalu berada di meja yang lain. Entah kenapa, hatiku gusar merasa akan terjadi sesuatu."Baju mu bagus" puji ku. Indy tersenyum dia tampak salah tingkah."Ini kan hadiah dari kak Rafa." Ucap Indy dengan tenang.Saat aku dan Indy sedang asyik mengobrol Maya datang, lalu duduk di sampingku. Aku dapat melihat perubahan raut wajah Indy, dia terlihat pucat dan bibir nya yang dari tadi terangkat kini tak lagi.Aku bergetar dan bingung harus mulai dari mana. "Kak! Dia siapa?" Tanya Indy dengan nada agak tinggi."Kenalin ini Maya, pacarku." Ucapku. Tanpa ku sangka Indy menangis, di depanku, aku berusaha menenangkan nya.Tapi dia menolak."Tak usah, aku kira kak Rafa akan menjadikan aku pacar kak Rafa, tapi ternyata bukan, aku sudah merencanakan dan membayangkan bila aku dan kak Rafa berlibur ke Australia, tapi semua pupus dan kak Rafa..." Indy menangis, Maya bingung melihat ini.Ardy datang dan menarik Indy,"Jangan pernah dekati adikku!" Bentaknya. "Kau penghianat Rafa, aetelah kau dekati Adikku lalu kau rebut Maya dariku? dasar pecundang, kita bukan lagi sahabat!" Ucapan Ardy saat itu bagaikan sambaran petir yang berhasil membuat aku kaget tak mampu bicara,ternyata Maya adalah wanita yang telah memutuskan Ardy demi aku?***Berminggu minggu, aku menjauhi Maya. Setelah kejadian itu, Indy tak lagi main ke rumah ku begitu pun Ardy hubungan kami benar benar retak. Aku menyesal, tak ada lagi tawa Indy ,tak ada lagi suara Indy, tak ada lagi cerita Indy tetang impian nya tinggal di Australia.Aku merindukannya, andai saja aku mengakui bahwa aku mencintai Indy dan tak mencari orang lain. Mungkin Indy masih di sampingku. Aku memberanikan diri main ke rumah Ardy, ku ketuk pintu nya tapi tak ada yang membukakan.Ada seorang pembantu di rumah itu mengatakan bahwa tadi Ardy menyusul Indy yang akan pergi ke Australia. Aku pun secepatnya menuju bandara. Saat aku tiba di sana, aku tak mekihat Indy hanya ada Ardy yang sedang tampak frustrasi.Aku mendekatinya."Menjauh kau gara gara kau Indy kabur ke Australia!" Ucap Ardy lalu pergi meninggalkanku. Aku mengerti sekarang, Indy?kau benar benar akan tinggal di sana?Saat aku sedang merebahkan tubuhku di sofa rumah, ku lihat tayangan berita yang menyiarkan bahwa sebuah pesawat yang menuju Australia telah jatuh. Gelas yang sedangku genggam jatuh dan pecah di lantai.Aku menuju rumah Ardy. Ia tampak kacau dan dia sama sekali tak mau melihatku. Beberapa hari kemudian Jasad Indy telah di temukan, dengan bagian tubuh yang tak utuh.***Ku lihat batu nisan yang tertulis nama Indy dan tanggal kematiannya. Ardy sangat terpukul oleh kepergian Indy, begitupun aku, aku bisa di bilang penyebab tersiksa nya Ardy dan Indy. Hidupku kacau, aku tak lagi memikirkan pacar atau sebagainya."Kak Rafa? Indy sekarang ada di Australia, Indy bahagia ada di sini. Padahal Indy berharap kak Rafa selalu di samping Indy, tapi tak apa ini takdir dan kita harus mengikuti jalan takdir.Kak, Indy sangat kecewa pada kak Rafa, kak Rafa ternyata tak menyukai Indy kan? hmm Indy memang tak peka ya.. Semoga bahagia bersama kak Maya, Indy baru tau ternyata kak Maya adalah mantan dari kak Ardy tapi tak apa jangan hiraukan kak Ardy.Indy tadinya sengaja menuliskan surat ini dan menitipkan nya pada mbok Sum agar di berikan pada kak Rafa saat nanti mbok Sum menerima kabar bahwa Indy telah sampai di sana. Tapi bila Indy tak sampai maka Indy mohon agar surat ini menjadi bukti dan pamit bahwa Indy menyukai kak Rafa telah tinggal di Australia atau mungkin sebagainya."Indy

Pangeran itu Berkopiah
Teen
18 Jan 2026

Pangeran itu Berkopiah

Dia Baik, kata itulah yang muncul di pikiran ku saat pertama melihat Hendra. Umi nya bernama Aisyah adalah teman sekaligus sahabat bagi bundaku yang bernama Anjani.Kata bunda aku harus memanggil Ibu Hendra dengan panggilan umi, aku tak keberata umi Aisyah adalah seseorang yang baik dan lembut. Kata bunda Abi nya Hendra telah tiada, pantas saja Hendra sangat menyayangi umi nya.Hendra dia adalah seseorang yang sangat menghormati wanita, terutama ibu nya. Yang aku tau Almarhum Abi nya adalah pendiri pondok pesantren. Pekerjaan umi nya adalah mengajar santri wanita mengaji. Hendra tingggal di pondok pesantren itu, pernah suatu hari saat aku dan teman ku tak sengaja melewati area pesantren itu aku mendengar suara lantunan ayat suci Al Qur'an.Saat ku tanya pada bunda, kata bunda itu adalah suara Hendra, sejak hari itu aku yakin Hendra memang pemuda yang Shaleh. Sedangkan aku? aku hanyalah wanita biasa yang tak pintar ilmu agama bukan nya aku tak mau tapi aku hanya takut bila harus pesantren dan jauh dari bunda, mungkin aku memang terlalu di manja.Tapi sampai saat ini, aku masih sangat ingat waktu aku menginjak kelas 3 SD saat bu guru bertanya apa cita cita ku, aku menjawab bahwa aku ingin menjadi guru ngaji. Dan pada saat aku kelas 4 SD aku kembali merubah cita citaku, yakni menjadi seorang pendakwah yang pintar, awal nya karena aku sering menonton tv tentang tayangan dakwah, lalu aku berfikir Betapa hebat nya.Saat aku lulus SD, aku sangat ingin mondok di pesantren, aku sudah membayangkan hidup di sana pasti sangat menenangkan. Tapi saat itu Bunda ku sakit tumor yang bersarang di lehernya aku menemani bunda berobat dan sampai saat ini bunda belum di operasi karena menurut bunda ini tidak lah parah.Aku jadi sering menangis tengah malam, aku takut bila bunda pergi, hingga saat itu aku jadi tak mau pergi jauh dari bunda. Ayahku ada, tapi selalu meratau pergi ke kota untuk mencari nafkah bagi keluarga kami tanpa di beri tahu aku sudah merasa bahwa bunda adalah tanggung jawabku.Bertahun tahun berlalu.Aku telah lulus SMP dan kini akan melanjutkan ke SMA, masih ada keinginan pesantren, namun semua tertutupi karena ketakutanku kehilangan Bunda.Suatu hari saat aku sedang menulis diary di kamar, aku mendengar suara ketukan pintu, dengan segera aku berlari dan membukakan pintu. Masih ingat baju ku saat itu berwarna abu dengan celana di bawah lutut dan tanpa kerudung.Saat pintu terbuka, aku melihat Hendra dan Umi Aisyah datang untuk menjenguk ibuku. Ada rasa malu saat tanpa sengaja ku tatap mata Hendra dan dia memalingkan wajah nya, aku pun mempersilahkan Umi dan Hendra duduk.Aku ingat suatu hari umi pernah masuk ke dalam kamarku saat aku sedang menyisir rambutku. Beliau datang dengan senyuman manisnya lalu berdiri di belakang ku saat aku sedang duduk menghadap cermin.Di usap nya rambut ku dengan lembut lalu beliau menatapku lewat cermin."Azizah kamu cantik nak." Ucap nya masih mengelus rambutku. Aku tersenyum malu lalu mengucapkan terima kasih."Umi lebih cantik." Ucapku.Beliau terkekeh."Kamu lebih cantik Azizah, apalagi bila rambut indah mu ini di tutupi oleh hijab." Ucap umi aku jadi diam."Dan hanya suami mu yang bisa melihat nya nanti, sangat istimewa kan?"ucap umi, aku masih diam saja.Umi mengucapkan salam lalu keluar karena sudah sore, aku melihat wajahku dan membayangkan bila rambut ku di tutupi hijab, apakah aku semakin cantik?***Keadaan bunda semakin parah setiap hari nya, aku jadi takut tapi umi selalu menguatkan aku dan mengatakan semuanya baik baik saja. Aku sering menangis sendiri. Suatu hari saat Hendra dan umi baru datang untuk menjenguk Bunda.Tiba tiba Bunda memanggilku, aku segera menghampirinya.saat aku datang ku lihat bunda sedang berbincang dengan Hendra tampak serius.Lalu betapa terkejutnya aku saat ku tahu, bahwa bunda dan Umi Aisyah menjodohkan aku dengan Hendra? Aku malu, tak terbayangkan bila aku bersanding dengan Hendra seorang santri yang berilmu.Sedangkan aku? tidak semua tak mungkin terjadi, terus saja ku tolak dengan alasan bahwa aku masih sekolah. Tapi bunda memohon agar aku mau, toh Hendra pun sanggup menungguku. Akhirnya aku pun mau demi bunda apapun akan ku lakukan.Tiga tahun berlalu, aku tinggal menunggu hasil ujian ku yang baru di laksanakan bulan lalu. Masih ingat tentang perjodohanku, dan satu minggu lagi akan di laksanakan tunangan. Aku semakin resah. Tunangan baru terlaksanan, aku tak tau tiba tiba aku menangis.Aku terisak sendiri di balkon rumahku, tiba tiba Hendra datang dengan mengucap salam."Azizah kamu kenapa?" Tanya Hendra tanpa menatapku. Aku kembali terisak, "Jangan menangis cerita lah padaku bukan kah aku adalah calon suami mu?" Ucap nya membuat aku berhenti menangis.Aku menarik nafas panjang,"Aku..aku hanya merasa tak pantas untukmu, kau yang sangat shaleh dan aku?" Ucapku, Hendra diam mendengarkan. "Aku aku sangat takut bila tidak menjadi pendamping yang baik."ucap ku dengan nada bergetar.Hendra berdehem, "Apakah ini yang membuat Azizah sedih?" Tanya Hendra. Aku mengangguk. "Aku sebenarnya tak keberatan, namun bila Azizah mau mari hijrah aku dan umi akan membimbingmu untuk menjadi seorang wanita yang lebih baik." Ucap Hendra membuat aku tenang.Hendra, terima kasih atas segalanya. Terimakasih karena telah menjadi seseorang yang berarti dalam hidupku. Aku merasa bahwa aku adalah wanita beruntung yang bisa menjadi seorang yang kau jaga,Terima kasih. Terima kasih karena hadirnya dirimu dapat membuat aku menjadi wanita yang lebih baik.Bunda telah meninggal, aku begitu terpukul. Namun Hendra selalu ada di sampingku bersama umi yang selalu menguatkan aku untuk tetap tabah.Aku kehilangan bidadari dalam hidupku namun Allah mengantikan nya dengan malaikat seperti umi dan pangeran tanpa kuda dia Hendra suamiku.***end.

Sekotak Senja di Balik Rumah Pohon
Teen
17 Jan 2026

Sekotak Senja di Balik Rumah Pohon

Angin senja menerpa wajahku, mataku terpejam menikmati semilir angin yang menyejukan, rambutku yang terurai tanpa ikat bergerak mengikuti gerakan angin senja.Saat berada di sini rasanya semua masalah yang ku pikul seperti hilang, masalah yang selalu berhasil membuatku terpuruk lenyap, seperti aku lupa semua nya.Aku Raina, gadis penikmat hujan dan senja, setiap ada masalah yang membuatku bimbang aku selalu datang ke rumah pohon ini.Aku menyukai hujan, bagiku hujan adalah peristiwa alam yang menyejukan butiran butiran air menetes dari awan yang selalu ingin aku datangi, hujan indah mengalir dengan teratur.Aku juga penikmat senja, senja begitu indah di mataku karena selalu datang di waktu yang sama namun yang aku tidak sukai di senja adalah hanya datang sesaat “Tuhan, mengapa hal yang indah selalu datang sesaat? adakah hal indah yang selalu ada selama nya?" Ucap ku suatu malam saat senja telah berganti.***“Raina, kamu liat Andra gak?" Tanya Silvia teman sekaligus sahabat ku saat bel istirahat baru berdering. Dia adalah sahabat ku dari mulai kami kecil, kami sudah saling mengenal satu sama lain, dan aku juga sudah tahu bahwa dia menyukai Andra.“Gak tahu, paling juga di perpustakaan biasanya kan dia pergi ke perpustakaan pas jam istirahat." Ucap ku. Silvia hanya mengangguk dan menarik tangan ku menuju perpustakaan, sudah pasti menemui Andra, siapa lagi?.Aku dan Silvia berjalan memasuki perpustakaan tempat favorit Andra, dan benar saja Andra ada si sana duduk dengan tenang sedang membaca sebuah buku yang aku tidak tahu apa judul nya.Senyum Silvia langsung mengembang begitu melihat Andra, pangeran Idamannya. Silvia kembali manarik tangan ku dan berjalan menuju bangku yang Andra duduki, aku pasrah saja.“Andra." Panggil Silvia dengan senyum manis nya, dia memang cantik gadis pintar dengan prestasi yang pantas untuk di banggakan. Andra tersenyum manis bahkan sangat manis, terlalu manis, tidak bukan ke arah Silvia tapi Andra tersenyum untuk ku.“Aku ke toilet " ucapku sembari berjalan meninggalkan mereka, ada sesuatu yang akan menetes.***Aku sesenggukan di dalam toilet, menangis sejadi jadi nya, ku tumpahkan semua rasa sakit yang menjalar membakar hati ku. Tapi bukan hanya air mata yang menetes, hidungku mengeluarkan darah segar sudah kesekian kali nya.Ada sedikit rasa ngilu dalam hati ku. Sakit saat melihat Silvia dan Andra bersama, aku sudah lama menyembunyikan rasa cemburu ku terhadap mereka, namun tetap saja mata ku tak sekuat hati ku yang tetap tegar.Apakah kalian tahu rasanya saat melihat orang yang kita cintai bersama orang lain?apalagi orang itu adalah sahabat mu sendiri, rasanya sakit saat berusaha tersenyum kaku di depan mereka.Aku ingat senja itu.“Raina, mengapa kamu selalu menghindar dari ku?" Suara Andra terdengar pilu, aku hanya menangis tak mampu bicara.“Aku tahu Raina, aku tahu kau juga mencintaiku, tapi mengapa kau bertingkah seperti ini?"Hujan perlahan turun, aku meremas jari tangan ku aku bingung harus mengatakan apa pada Andra. “Apa karena Silvia?" Seketika tenggorokan ku terasa tercekat, benar Andra benar aku mencintai nya namun karena Silvia sahabatku, aku tak ingin membuatnya terluka.Mulutku bungkam, tak mau berkata apa pun, air mata menetes bersama deras nya hujan dan kilatan petir. Aku menyeka air mata ku “Apa yang membuat mu yakin bahwa aku mencintai mu?" Tanya ku pada Andra yang masih tersenyum pilu.Langkah Andra mendekat, aku dapat melihat mata nya yang berkaca kaca, aku tahu dia menangis namun dia tak mau terlihat rapuh, bukan kah lelaki hanya bisa menahan kepedihan di dalam dadanya?“Aku telah membaca buku diary mu, aku telah membaca hingga halaman terakhir Raina, apa kau berfikir aku buta?." Jawaban Andra membuat tenggorokan ku tercekat, aku ingat buku diary ku hilang dua hari yang lalu.“ Tidak sopan membaca diary orang lain tanpa izin." Ucap ku kasar pada Andra, dia malah tertawa sambil melambungkan pandangan nya pada runtikan air hujan senja itu. “Bila membaca buku diary orang adalah hal yang salah, apakah berbohong kepada orang yang jelas sudah tahu kebenaran nya adalah hal yang benar bagi mu Raina?" Jawab Andra, Andra benar aku telah berbohong.Andra mengeluarkan sebuah buku bersampul hitam dan abu abu, itu dairy ku.“Ini milik mu." Aku menerima dan melihat isi nya benar ini buku ku. “Andra,bmenjauhlah dariku!."bentak ku pada nya, dia kaget,"Aku akui aku memang mencintai mu, tapi mengertilah aku takkan mungkin menyakiti hati Silvia, dia adalah sahabat ku," ucap ku dengan nada bergetar.“Apakah kau tega menyakiti dua hati hanya untuk menyelamakan satu hati? Kau bukan hanya menyakiti hatimu Raina, tapi kau juga menyakiti hatiku." Ucap Andra dengan raut wajah sulit di artikan.Aku mematung Andra benar, iblis macam apa aku sekarang? “Aku mohon mengertilah, jika sungguh kau mencintaiku maka aku mohon lakukan apa yang aku ingin Andra suatu hari kau akan mengerti kau akan pahami bahwa ini adalah keputusan terbaik." Ucap ku.Andra bungkam saat itu, menatapku memikirkan sebuah jawaban. “Apa kau yakin?" Tanya nya. Aku mengangguk.“Sangat yakin, aku mohon cintai Silvia seperti kau mencintaiku." Ucap ku dengan sebuah senyuman palsu.Andra menangguk dan tersenyum aku tahu itu bukan senyuman kebahagiaan itu adalah senyuman kekecewaan, maafkan aku Andra. Andra menuruni rumah pohon dan berjalan menembus hujan yang semakin menggila,ku tatap punggung Andra yang semakin menjauh. Itu adalah punggung yang selalu aku pandangi saat semua orang tak menyadari.***Hari hari ku setelah itu berubah seketika aku jadi seorang gadis yang pendiam dan sering melamun. Aku jadi jarang berada di rumah, aku lebih suka pergi ke rumah pohon dan menyendiri di sana.Aku sering menangis padahal tadi nya aku adalah seorang gadis yang tegar dan tak suka menangis, entahlah semenjak hari itu aku menjadi seorang gadis cengeng.Hari ini aku hanya diam bersama sunyi, aku hanya melamun dan terus berandai andai. Rasa nya ada yang hilang dari diriku,ada sesuatu yang pergi dan menyisakan luka terdalam.“Bunda,,,jangan tinggalin Raina, Raina takut bun, Raina takut, orang orang di dunia ini jahat bun, Raina gak mau di tinggalin nanti kalau Raina sakit lagi siapa yang mau anter Raina ke dokter?bbunda bangun bun." Seorang anak kecil memeluk tubuh yang terbujur kaku sambil menangis histeris.Orang orang begitu tersentuh melihat pemandangan yang begitu memilukan. Gadis itu aku Raina.“Raina, jangan nangis, kan masih ada Ayah sayang." Seseorang memelukku, dia ayahku. Aku mendorong tubuh yang tengah memelukku .Aku mengusap air mata yang tanpa ku sadari telah menetes membasahi pipi ku, masa lalu begitu jahat. Aku marah pada diri ku takdir ku dan juga semuanya, mengapa keluarga dan semua hal selalu saja mengecewakan ku, aku lelah rasanya ingin sekali aku pergi dari dunia ini.“Raina?" Panggil seseorang. Aku menengok dan aku melihat Andra tengah berdiri di belakang ku. Dia mendekat dan duduk di sampingku,“Mengapa kau menangis?" Tanya nya saat melihat wajah ku yang merah karena menangis, aku tersenyum pilu.Ku sandarkan kepala ku, aku menangis sejadi jadi nya. Dia mengusap kepala ku, dia tahu pasti tahu tentang luka yang tengah aku rasakan. Aku nyaman berada di samping Andra,namun aku tak bisa memiliki nya, aku tak ingin semua nya hancur karena ego ku.Andra selalu ada untuk ku, dia adalah teman berbagi cerita, meskipun ini diam diam tanpa sepengetahuan Silvia, maafkan aku Sil.***“Dasar wanita tak punya hati!" Bentak Silvia, aku terlonjak kaget saat melihat Silvia datang ke rumah pohon dan marah marah, aku sudah menduga hal ini pasti akan terjadi, hal yang aku takut kan pasti akan terjadi.Andra baru saja pulang dan aku kaget karena kedatangan Silvia yang tiba tiba.Dia terlihat marah bahkan sangat marah.“Aku tahu Raina, aku tahu bahwa Andra sering datang kemari dan duduk berdua dengan mu, aku tahu Raina, mengapa kau lakukan itu semua Raina? bukan kah kau tahu bahwa aku menyukai nya?" Ucap Silvia bertubi tubi.Aku diam mencerna dan berusaha memahami maksud dari kata kata Silvia. “Apa katamu Sil?" Tanya ku pada nya,dia hanya menyeringai sinis ke arah ku. “Aku tak percaya Raina,kau adalah sahabat yang sangat aku percayai, lalu mengapa kau lakukan itu? kau jahat Raina," Teriak Silvia dengan wajah merah padam,aku tahu Silvia pasti marah, sangat marah padaku.Aku diam,btak tahu harus marah sedih atau ketakutan,r asanya aku sudah mati rasa untuk semua hal yang terjadi di sekitar ku.“Maafkan aku Sil." Hanya kata itu yang terucap oleh ku aku bingung harus berkata apa lagi pada nya. “Kau ini sebenarnya siapa hah? kau ini sahabat? musuh? atau musuh berbentuk sahabat? aku tak percaya Raina aku tak percaya." Keluh Silvia menggelengkan kepala nya, tatapan mata nya sudah tak seteduh biasa nya dia marah pada ku.Aku tak bisa membayangkan apa kah aku begitu hina nya di mata Silvia? apa aku begitu hianat nya di mata Silvia? Aku bahkan telah merelakan Andra untuk Silvia, aku telah melepasnya untuk mu Sil, aku telah menahan sakit untuk membuatmu bahagia, aku telah merelakan kebahagiaan satu satu nya di hidupku agar kau dapat tersenyum setiap hari, aku telah mati matian menahan luka karena mu.Lantas sejahat itu kah aku di mata mu? mulut ku bungkam tak mau bicara, aku sudah berjanji takkan menceritakan tentang aku dan Andra kepada Silvia tentang rasa kami yang tumbuh dan selalu berusaha kami bunuh.Pandangan ku kabur, aku terus memanggil nama Silvia meminta pertolongan, namun Silvia melangkah pergi meninggalkan aku di rumah pohon ini, aku sakit Sil apakah kau tahu?Tolong aku siapa pun.***Aku duduk di bangku rumah pohon kesayangan ku, rasanya aku akan tetap di sini aku tak punya rumah lagi. Seseorang duduk di sampingku, dia Andra pandangan nya kabur menyapu seluruh pojok rumah pohon.Aku melihat ada cairan bening jatuh di pipi nya,dia Andra menangis. Aku pertama kali nya melihat Andra menangis,aku belum pernah melihat nya menangis. Entah apa alasan nya yang pasti,hal itu adalah hal yang sangat memilukan bagi nya, hal itu pasti adalah hal yang sangat berharga bagi nya.Aku hanya menatap nya, melihat berbagai perubahan raut wajah nya, dia tampak kecewa, sedih dan marah. Aku ikut menangis melihat Andra menangis,ada getaran pilu melihat nya menangis.Sesorang tiba tiba datang “Andra maafkan aku." Dia Silvia, ada apa ini? mengapa Silvia menangis? apakah mereka sedang bertengkar? Silvia mendekati Andra dan memohon untuk meminta maaf pada Andra, Andra hanya bungkam menangis, dia tampak sangat rapuh.Andra hanya bungkam tak ucapkan apa pun, sedangkan Silvia menangis histeris, ini adalah pemandangan yang sangat memilukan. Kedua sahabatku menangis,hingga rumah pohon ku hanya terdengar suara tangis Silvia memecah keheningan.“Pergi kamu" Ucap Andra, aku hanya mematung melihat nya. Silvia kasihan dia, mengapa Andra memperlakukan nya seperti itu? apa masalah nya? “Kamu adalah seorang sahabat terbusuk yang pernah Raina miliki."Apa? apa? Andra menyebut nama ku. Silvia menangis,“Aku tak tahu Andra, yang aku tahu dia berusaha merebut mu dari ku, dia mendekatimu di belakangku." Lirih nya.Aku mematung, mengapa mereka membicara kanku? “Kamu egois Silvia apakah kau tahu Raina telah merelakan aku untuk mu, dia memendam perasaan nya untuk kau bahagia." Ucap Andra dengan kasar, aku tak tega melihat nya.“Raina...mengapa kau tak ceritakan pada ku bahwa kau punya penyakit tumor otak Raina, mengapa kau rahasia kan ini dari ku." Lirih Andra mengacak acak rambut nya.Aku diam mematung, aku mendekati Andra dan menyentuh wajah nya, namun tangan ku tak bisa menyentuh wajah nya. “Dan kau tak punya perasaan, meninggalkan Raina saat dia sedang kesakitan, apa kau tak punya perasaan Silvia? aku tak mengerti." Ucap Andra dengan pilu.“Dan saat pemakaman nya, mengapa kau tak datang?" Lanjut Andra kepada Silvia. Silvia mengatur nafas nya “Aku kaget, aku tak percaya bahwa Raina benar benar telah pergi, aku fikir ini hanya mimpi tapi aku salah ini benar, aku menyesal." Lirih Silvia dia tak henti menangis.Aku diam air mata menetes, terjawab sudah pertanyaan yang bermunculan di benak ku, mengapa Andra dan Silvia bertengkar, itu karena kematian ku kemarin, pantas saja Andra dan Silvia tidak bisa melihat ku, ternyata aku hanyalah arwah.Senja tiba, begitu pun hujan mulai turun dengan damai, menjelaskan tentang luka yang baru saja tergores. Aku berjalan dan berdiri di antara Andra dan Silvia, mereka sama sekali tak bisa melihat ku, aku hanya arwah yang tak tau harus pergi ke mana.Ingin rasa nya aku berkata dan memeluk mereka tapi tak bisa, aku telah berbeda dunia.aku bingung harus bagimana. “Raina maafkan aku."Lirih silvia.Aku tersenyum,“Aku telah memaafkan mu bahkan sebelum kau meminta maaf Sil, terima kasih." Ucap ku berharap Silvia mendengar. Aku berjalan dan kembali duduk di samping Andra yang masih tampak frustasi, “Andra maafkan aku karena aku merahasiakan tentang penyakit ku, aku hanya tak mau kau tahu bahwa hidupku memang sudah tak lama lagi, dan aku merelakan kau untuk Silvia agar kau dapat melupakan aku secepat nya "Aku tak peduli meski pun aku tahu berbicara pada mereka adalah hal yang percuma, aku tak peduli yang pasti aku sudah jelaskan. Andra berpelukan dengan Silvia membuat aku tersenyum bahagia “Aku akan mengikuti apa yang Raina mau, menjaga mu." Ucap Andra sambil merangkul Silvia dan menuruni rumah pohon.Aku tersenyum bahagia,"Andra ternyata sampai kini kau masih mengingat permintaan ku." Mereka berjalan menembus hujan, aku kembali menangis ini adalah tangis bahagia, aku bahagia melihat mereka bersama.Aku sekarang telah bebas dari kesakitan ku, rasa sakit karena kanker otak yang membuat sakit menjalar ke seluruh tubuh ku tanpa orang lain ketahui, aku juga telah bebas dari rasa sakit hati karena melihat Andra dan Silvia, sekarang aku telah merelakan mereka bersama, aku berharap kematian ku adalah awal dari kebahagiaan Andra, Silvia dan aku.“Raina, sayang." Aku mengenal suara itu suara yang aku rindukan, aku berbalik dan melihat bunda yang tersenyum ke arah ku. Aku berlari menghampiri nya,“Aku rindu bunda." Ucapku.Bunda tersenyum dan menarik ku ke alam ku yang baru. Selamat tinggal rumah pohon dan kutitipkan sekotak Senja terakhirku.***end.

Yang Terlupakan
Teen
17 Jan 2026

Yang Terlupakan

"Vio cepetan ini udah kelewat subuh." Suara Dena terus membuat aku mempercepat aku yang serdang menggunakan baju kebaya. Segera aku dan Dena menuju sebuah salon. Hari ini adalah hari perpisahan.Dan dengan berat hati aku terpaksa harus menggunakan baju kebaya yang telah mama ku pilihkan. Itu mendingan hal yang paling tak aku suka make up, hari ini aku harus menggunakan make up seharian. Benar benar tak terbayangkan.***Acara pengalungan medali telah selesai aku telah resmi menjadi alumni. Hingga di lanjutkan dengan acara foto bersama teman sekelas. Dan teman lainnya. Ada yang beda pikir ku saat kami akan melaksanakan salam salaman dengan teman satu angkatan.Hingga setelah selesai, aku pun pulang bersama teman ku Dena, huh hari yang melelahkan.***Aku merebahkan tubuhku di kasur sambil memandangi langit langit kamarku. Ada rasa was was dalam benakku tapi aku juga tak tahu apa itu, ku ambil ponselku dan ku lihat foto ku bersama Revan, dia teman spesialku.Namun sepertinya ada yang kurang tapi aku tak tau apa itu, aku pun berusaha tak peduli dengan perlahan memejamkan mataku, waktunya tidur siang.***Beberapa tahun setelah kelulusan, aku pun sudah melakukan aktivitas seperti biasa. Hari ini aku telah selesai belanja, bukan belanja baju dan alat kecantikan seperti gadis lainnya hari ini aku di tugaskan belanja bahan masakan yang telah habis.Gerah, matahari menyorot wajahku aku pun memasuki sebuah cafe, lalu memesan es krim dan duduk di sebuah kursi, sendirian. Saat sedang sibuk dengan es krim ku, tiba tiba seorang lelaki duduk di depan ku, aku lalu mendongakkan kepala, siapa dia?Aku sama sekali tak mengenalnya, dia bisa di bilang hmm tampan."Kehabisan kursi?" Tanyaku karena aku mulai risih dengan tatapan nya. Dia tersenyum lalu menggeleng "Tidak" ucap nya aku pun berdiri berniat untuk pergi dari cafe ini."Elta vionita" ucap lelaki itu aku langsung membeku kaget mengapa dia tau nama lengkap ku? Aku berbalik dan dia masih dengan ekspresi yang cool, sambil meminum kopi di meja nya. Aku lalu duduk kembali. "Siapa kamu ini?" Tanyaku dengan dahi berkerut."Dari tadi kau baru bertanya." Ucap nya dengan sedikit senyuman "kau bahkan langsung pergi begitu saja, seperti aku ini orang gila." Ucapan nya membuat aku tercengang. "Maaf, ku kira kau orang jahat." Ucap ku seadanya.Dia mengangguk dan kembali diam."Siapa nama mu? mengapa kamu tahu nama lengkap ku?" Tanya ku tanpa berkedip. "Kan ku jawab pertanyaan mu satu satu." Lalu dia menarik nafas panjang, aku seperti mengenalinya."Namaku Alvin Chandra." Ucap nya aku langsung tercengang. Aku ingat nama itu, itu adalah nama teman ku yang selalu aku hindari dan abaikan. Dulu berpenampilan bak preman dan sekarang? dia hampir mirip dengan aktor terkenal."What? yaampun Alvin ku kira siapa, kamu ini jauh berubah." Ucap ku sambil tersenyum girang dan menatap dari atas hingga bawah, hingga aku dapat melihat sepatu hitam berkilau nya. "Hahaha sepertinya kau sudah melupakan ku ya Vio." Ucap nya dengan nada tak bisa ku jelaskan.Aku hanya tersenyum. "Kenapa kau masih mengingatku?" Tanya ku ketus, dia tersenyum lalu memandangku. "Ya pastilah bagaimana mungkin aku bisa melupakan seseorang yang aku kagumi?" Ucap nya, aku membeku."Kau ini selalu bercanda." Ucap ku, padahal aku sudah dag dig dug di buat nya. "Aku tak bercanda, aku serius." Ucap nya masih dengan ekspresi tenang. Aku diam kikuk rasanya,"Haha santai saja Vio, kau ini kenapa?""Hmm tidak" Ucapku. "Kau sudah punya pacar?" Tanya Alvin membuat aku tersentak "Sudah pacarku Revan." Ucapku hati hati. Jujur aku juga menyukai Alvin, aku juga kagum pada nya, tapi aku telah memilki Revan yang aku sukai semenjak masa putih abu.Alvin tersenyum,"Aku bahagia Vio menurutku kamu dan Reva sangat cocok, Revan yang rajin, pintar, baik dan sopan." Ucap nya sambil membuang muka. "Jujur Vio, jika aku boleh jujur?" Tanya Alvin pada ku. "Tentu saja boleh" ucap ku."Aku menyukai mu, bahkan saat kau masih mencintai Revan, yah seperti sekarang ini, aku menyukai mu semenjak kamu menguatkan aku, waktu penolakkan oleh Sherin, kau wanita yang berbeda begitu polos dan apa adanya, kau berbeda cuek dan tak peduli hingga aku berpikir siapa kah lelaki yang akan beruntung selalu kau pikirkan?Kau pintar dan cerdas selalu membuat aku semangat, bahkan saat aku selalu di hukum guru, aku tahu kah begitu jijik padaku? aku Alvin yang nakal dan berandalan, sering kau marah padaku.Kau membuat aku berubah, aku akui ingin aku menjadi pelindungmu namun aku terlalu nakal untuk kau yang baik kau wanita baik aku tak ingin menyakitimu.Kau pantas dengan Revan, dia tampan pantas dengan kau yang cantik, aku mengerti bahkan kau sama sekali tak mengingatku dengan begitu kau sudah menjawab pertanyaan ku, aku tak pernah penting di hidup mu." Ucap Alvin lalu beranjak pergi.4 Tahun yang lalu."Vio minjem pensil dong" bisik Dena padaku. Tanpa pikir panjang aku pun mengeluarkan pensil 2b dan memberikan nya pada Dena. Tiba tiba Alvin datang "Mana tugas lo?" Tanya nya, aku hanya diam tak merespon."Apaan si lo, ngerjain sendiri punya otak kok gak di pake entar karatan loh." Ucap Dena pada Alvin. Karena berisik mendengarkan adu mulut mereka, tanpa pikir panjang aku pun mengeluarkan buku tugas tanpa mengucapkan sepatah kata pun."Makasih Vio." Ucap Alvin lalu berlalu dengan senyuman merekah di wajahnya. "Lo gimana si? masa gue gak boleh nyontek tapi Alvin boleh?" Protes Dena pada ku. Aku hanya diam tak peduli, malas bahkan sangat malas untuk bicara.***Aku melihat Alvin di lapangan, ia sangat pintar bermain basket, tampak lebih gagah. "Yaampun Alvin keren abis," Ucap Citra temanku, huh aku tau dia menyukai Alvin, aku juga sadar bahwa aku mengagumi nya ingat hanya sekedar kagum jadi tak masalah.***Telepon ku berdering aku segera berlari dan mengangkat nya."Halo?""Vio please bantuin gue." Aku kenal suara ini dia Sherin."Kenapa?""Bantuin gue buat nolak Alvin." Ucap Sherin, demi apapun saat itu rasanya sesak, rasanya tak percaya ternyata Alvin suka pada temanku, dan itu Sherin.***Sekarang tinggal satu tahun lagi aku bisa menyelesaikan sekolah SMA ku. Semua ku persiapkan untuk menghadapi ujian, mulai dari belajar dan belajar, mengurangi waktu main dan sebagainya."Woy!" Teriak seseorang di kelas sebelah ku lihat, dia Alvin. Baju tak rapi, rambut berwarna pirang menatapku dengan tajam,aku sudah biasa melihat penampilan nya seperti ini. Kemana Alvin yang aku kenal?dia sudah seperti bukan Alvin lagi.Tapi dia tak pernah berani mengganggu ku, padahal aku tau dia selalu menggoda gadis gadis yang lewat, tapi tidak padaku. Aku mengerti kehilangan seseorang yang sangat di sayangi memang menyakitkan, saat aku mendengar berita kematian ibu Alvin awalnya aku tak percaya.Tapi benar dia Alvin temanku, aku selalu menguatkan nya. Satu tahun berlalu penampilan Alvin perlahan berubah, namun sifat lucu nya masih bisa ku lihat. hubungan persahabatan Citra dengan Sherin kini mulai memudar mereka tak sedekat dulu lagi, aku jadi merasa bahwa cinta adalah salah satu penyebab retak nya hubungan persahabatan. Bahkan setelah perpisahan, kami yang biasa berempat kini hanya tinggal aku dan Dena.***Aku diam merenung di jendela kamar, dengan sweter tebal membungkus tubuhku. Entah lah setelah pertemuan ku dengan Alvin, aku tak bisa berhenti memikirkan nya, ada rasa sesak dan perih yang ku rasakan.Aku tahu Alvin adalah lelaki baik baik, hanya saja dia terbawa ke jalan yang salah. "Non, minum obat nya." Ucap bi Arni pembantu di rumah ku. Aku hanya diam tak merespon sedikitpun. Bibi langsung ke luar saat aku hanya diam, bibi mengerti aku ingin sendirian.Aku berjalan dan melihat pantulan di cermin, lalu wajahku bucat, dengan mata sayu.Pintu kamar kembali terbuka, ku lirik sebentar dia Revan, aku tak bergeming sedikit pun. Ku lihat Revan membawa setangkai bungan dan coklat kesukaan ku di tangan nya, tampak biasa saja."Vio" lirih Revan saat aku masih diam.Perlahan tangan nya mengelus rambut ku lembut. "Kamu sudah makan?" Tanya Revan sambil menatap mataku. Aku mengangguk.Lalu Revan mengambil gelas dan obat, aku menolak. "Vio ayolah, aku mohon minumlah obat ini." Ucap Revan. Aku sama sekali tak menatap wajahnya."Besok hari pertunangan kita." Ucap Revan sambil terseyum.Aku menatap Revan, dia tersenyum sangat bahagia."Jangan sakit, besok adalah hari besar." Ucap Revan mengecup tangan ku yang dingin. Aku sekuatnya mencoba terseyum.***Aku berusaha memakai sweter tebal ku, dengan syal berwarna abu abu pemberian Revan. Rumah ku agak ramai, keluarga berdatangan untuk mempersiapkan hari besok. Aku sudah mendingan. Tapi aku tahu orang orang pasti takkan mengizinkan aku ke luar, aku pun keluar mengendap endap.***Aku berjalan di trotoar jalan. Mencari Alvin padahal aku tak tau di mana dia. Aku hanya berharap dia masih di kota ini,aku ingin berbicara dengan nya sebelum hari pertunangan ku dengan Revan di mulai.Namun aku tak menemukan Alvin di manapun, waktu mulai malam aku takut Revan mencari ku. Langkah lesu, aku melihat ke arah orang orang yang sedang berkumpul.Telah lama sendiri dalam langkah sepiTak pernah ku kira bahwa akhirnya tiada dirimu di sisiku.Dia Alvin aku langsung berlari mendekati panggung.Meski waktu datang dan berlaluSampai kau tiada bertahanSemua takkan mampu mengubahkuHanyalah kau yang ada di benakku.Hanyalah dirimu yang mampu membuatkuJatuh dan mencinta kau bukan hanya sekedar indah....Alvin kaget saat aku tiba tiba naik panggung dan bernyanyi.Kaau tak akan terganti....Riuh tepuk tangan menggema."Vio?."Alvin memelukku.***"Kamu sakit?" Tanya Alvin sambil memberi ku teh hangat. "Tidak " ucap ku sambil tersenyum. "Tapi wajahmu pucat." Ucapnya. Aku hanya terseyum, sambil memandangi Alvin yang sedang menghirup teh nya."Alvin jangan berubah " Ucapku, seketika Alvin tersedak. Ia memandangiku dengan wajah kaget," Apa?" Tanya nya. "Bila kamu memintaku untuk datang ke acara pertunanganmu, aku akan datang Vio, tenanglah." Ucap nya.Entah kenapa, mataku memanas saat mendengar ucapan Alvin. "Alvin.." lirihku. Dia lalu menatapku masih dengan raut tenang padahal aku begitu sakit."Alvin aku..." ragu harus memulai dari mana, maafkan aku Revan. "Aku sejak dulu kagum padamu, aku mohon mengertilah." Ucap ku tak ada perubahan di raut wajah nya.Dia masih tenang seperti tak terjadi apapun, mataku memanas melihat tingkah Alvin yang begitu menyebalkan. Aku pergi Alvin bodohnya aku yang percaya semua omongan busuk mu, kamu mempermainkan ku.***Acara pertunangan telah selesai, aku telah terikat menjadi calon pe pendamping Revan seorang laki laki yang aku pilih. Bahagia nya aku saat ku lihat cincin yang terselip di jari manisku. Aku dan Revan sangat bahagia, kami menghabiskan waktu berkumpul bersama keluarga kami.Sambil mendiskusikan tanggal pernikahan, semua berpendapat agar kami segera menikah. Toh Revan telah menjadi pengusaha yang sukses, ah hari yang sangat bahagia.***Aku berjalan ke luar saat suara bel terus berbunyi, orang tuaku sedang ada acara jadi aku hanya berdua dengan bibi. Ku buka tak ada siapapun, aneh pikirku, ku lihat sekali lagi benar benar tak ada. Tak sengaja ku lihat, seikat bunga mawar putih dan boneka beruang tergeletak di lantai.Aku tersenyum geli pasti Revan, pikirku. Ku ambil dan ku hirup, ku peluk boneka beruang ini, ini boneka pertama yang Revan berikan.Sebelum nya tak pernah, buket bunga tadi jatuh di lantai, saat ku abil ada sepucuk surat terjatuh dari sela sela bunga itu. Dengan amplop pink.Dear:Elta VionitaSalam rindu dari ku untuk kau wanita yang istimewa. Maafkan aku yang mungkin salah, awal nya rencana ku untuk mengungkapkan perasaan ku adalah hal yang benar. Tapi aku salah, kamu telah terikat dengan Revan.Kau tau Vio? Aku telah berusaha pergi jauh darimu. Tapi semua yang ku lakukan malah menyakiti diriku sendiri. Aku telah berusaha untuk menerima takdir, bahwa kita tidaklah berjodoh.Kau pantas dengan Revan, maafkan pertemuan kita yang kemarin. Kau tau? saat kau menanti jawaban ku saat itu jiwaku sedang bergejolak.Mungkin ini adalah surat yang terakhir, bila boleh aku jujur aku sangat ingin menjadi pria yang selalu di samping mu. Tapi aku tak bisa, orang tua ku telah menjodohkan aku dengan wanita yang tak aku kenali.Aku juga tak ingin menyakiti Revan, dia terlalu baik untuk aku sakiti dan kau terlalu indah untuk aku milikki. Jadi aku setuju saja untuk di jodohkan, katakan pada Revan dia adalah orang yang beruntung. Aku pamit yaa.Dan setelah pernikahan ku aku dan keluarga berencana untuk pindah ke Australia, selamat tinggal.AlvinTanganku bergetar saat ku baca terakhir surat ini, Alvin? kamu di mana? Kamu gila, aku sangat merindukan mu. Dan kau dengan mudah pergi, kamu tak tau Betapa aku takut jau takkan kembali lagi. Luluh semua harapanku, untuk kembali melihatmu. Kamu pergi akan menjadi kenangan yang takkan aku lupa kan.Kubaca tulisan di balik surat.Menangislah, keluarkan semua nya.Aku sebenarnya ingin menjadi bahu tuk kau bersandar, tapi takdir kita tak searah lagi .“Alvin!!!" Jeritku, ku peluk boneka beruang pemberian darinya. Mataku kini telah basah.***end.

Catatan Terakhir
Teen
16 Jan 2026

Catatan Terakhir

"Kamu bukan mama ku." Jerit seorang anak perempuan sambil menutup telinga nya, dia menangis tepat di depan seorang wanita yang berdiri dengan raut wajah kebingungan. "Kesalahan apa yang mama lakukan pada mu Keyla?" Tanya wanita itu dengan lembut pada seorang anak kecil yang masih menjerit dan menangis."Kamu bukan mamaku, aku takut." Jerit anak itu. Wanita itu hanya menghembuskan nafas berat berusaha tetap sabar, walau wajahnya tampak bingung harus melakukan apa lagi. Dia Sarah mama tiri Keyla, Keyla tak menyukai keberadaan Sarah dalam hidupnya. Dan Sarah menyadari itu.***Waktu perlahan berputar cepat, Keyla kini telah menginjak umur 17. Namun Keyla masih sama tak menyukai keberadaan mama tiri dalam hidupnya, ia selalu membantah apapun yang di katakan mama tirinya walau Keyla tau itu untuk kebaikan dirinya sendiri.Suatu malam ketika Keyla tengah menatap bintang di langit terdengar suara nyaring yang membuyarkan lamunannya "Keyla makan sayang." Suara Sarah di ruang makan, tanpa banyak bicara atau berpikir seketika Keyla turun dan duduk untuk makan."Kenapa wajahmu pucat?" Tanya papa Keyla yang menyadari ada yang aneh, Keyla hanya diam tak bergeming fokus pada makanan yang dia santap. Sarah yang melihat sikap Keyla langsung angkat bicara "Keyla kalau ada yang nanya jawab yaa."Emosi yang Keyla tahan seketika meluap ia berdiri dan menggebrak meja makan "Kenapa sih? kenapa Keyla selalu salah di mata kalian?apakah tak pernah Keyla terlihat benar kenapa dinia selalu tak berpihak pada Keyla?" Ucap Keyla dengan air mata berlinang."Keyla rindu bunda, Keyla gak mau hidup, Keyla cape hidup Keyla itu selalu di kekang, Keyla mau mati." Ucap Keyla lalu segera berlari ke luar rumah, mama dan papa nya langsung berlari mengejar Keyla namun Keyla telah lari cepat, keluar gerbang tanpa menghiraukan panggilan papa dan mamanya. Mama dan papa Keyla khawatir lalu mereka mencari Keyla ke luar, dengan perasaan yang tak bisa di jelaskan***Keyla sesenggukan di sebuah cafe, dia menangis tak peduli dengan tatapan aneh dari pengunjung cafe. Seketika matanya tak sengaja bertatapan dengan seorang pemuda, dia menatap Keyla dengan tatapan tak bisa di artikan.Keyla merasa risih dan mengira pemuda itu menertawakan nya atau mungkin menganggapnya gila seketika berfikir untuk beranjak dari tempat itu. Saat Keyla baru saja berdiri ada sebuah tangan yang menggengam tangan Keyla, Keyla berbalik dan melihat ternyata dia adalah pemuda tadi.Keyla berjalan dan melepaskan genggaman pemuda tadi, dia benar benar lancang."Keyla?" Ucap pemuda itu.Keyla berbalik,dahi nya berkerut."Siapa kamu?" Tanya Keyla.Pemuda tadi tersenyum dan mengulurkan tangan "Aku Kelvin." Keyla membalas uluran tangan masih dengan wajah tanpa eksepsi "Keyla." Mereka saling berjabat tangan, walau masih terlihat wajah tak nyaman yang Keyla tunjukkan."Kenapa kamu tahu namaku?" Tanya Keyla. Kelvin terlihat tenang "Ibuku sering bercerita tentang kamu padaku, makannya aku tahu hehe." Jawab Kelvin masih dengan wajah tenang.***"Keyla mama mohon, tolong kamu bersikap sopan pada tamu, bersikaplah layakanya gadis seusia mu, kamu sudah dewasa janganlah bersikap kekanak kanakan ya sayang." Ucap Sarah pada Keyla. Hari ini Keyla melakukan hal yang tidak sopan, Keyla tak menjawab atau pun tersenyum saat teman papa nya bertamu ke rumah nya.Sarah berusaha tetap sabar, namun menurutnya kali ini kelakuan Keyla benar benar sudah melewati batas.Brag gSuara pukulan dimeja membuat perdebatan antara Keyla dan Sarah terhenti,papa Keyla tiba tiba datang. "Kamu ini,tak punya sopan santun"Plak kTangan papa Keyla mendarat di pipi kiri Keyla, Keyla memegang pipinya yang merah, mata nya memanas, memperlihatkan butiran air yang siap menetes. "Pa, jangan main kasar" Bela Mama Keyla, papa Keyla diam tak menyadari apa yang telah di lakukan pada Keyla, matanya memerah menahan emosi."Tak usah membelaku, tak usah bertingkah baik di depan ku." Jerit Keyla, Keyla berjalan menuju ke luar berlari sambil air mata bercucuran membasahi wajah manis nya.***Keyla berlari di tengah padatnya kota, jam telah menunjukan pukul 20.00 Keyla tak ingin pulang, Ia berjalan dan melihat orang orang ramai di depan sebuah gedung. Mereka memakai baju sexy, Keyla melangkah menuju tempat itu, semakin dekat dan akhirnya Keyla memasuki ruangan itu, diskotik.Di dalam diskotik Keyla bingung tak ada seorang pun yang Ia kenal. Ia tak tahu mengapa dia ingin memasuki ruangan ini. Tiba tiba seorang pemuda menghampiri Keyla memberikan segelas minuman dan mengatakan Untuk meminum nya, Keyla hanya diam menolak tawaran pemuda yang tampak setengah sadar itu.Akhirnya pemuda itu memaksa Keyla untuk meminumnya, Keyla tetap menolak hingga gelas itu jatuh dan pecah di lantai. Pemuda itu marah dan mendekat ke arah Keyla. Keyla takut Ia pun berlari keluar tetapi pemuda itu tetap mengejar Keyla. Kelvin tak sengaja melihat Keyla yang di kejar seseoang, Kelvin kaget dan mengikutinya.Keyla berlari secepatnya Ia takut, takut pemuda itu melakukan hal yang menyeramkan. Keyla berlarian di trotoar dan menyeberang jalan, tanpa dia sadari ada sebuah mobil dengan kecepatan tinggi yang melaju ke arahnya."Aghhhhhhhhh"Jeritan itu menembus malam yang pekat.***"Keyla bangun sayang maafin mama."suara tangis terdengar pilu itu suara Sarah. Semalam Keyla kecelakaan tertabrak mobil, kini Keyla kritis, sudah 2 hari Keyla tak sadarkan diri.Kelvin hanya diam membeku, rasanya tak percaya bahwa Keyla benar benar kecelakaan. Ia masih sangat ingat saat mobil itu menabrak dan membuat tubuh mungil Keyla terbanting.Kelvin menyesal, menurutnya ini adalah salahnya, harusnya Ia berlari cepat, lebin cepat agar Keyla dapat di kejar, namun semuanya sudah terjadi kecelakaan itu telah terjadi. Sekarang hanya bisa berdoa agar Keyla dapat segera sadarkan diri.***Pov Keyla"Bunda?" ucapku dengan suara parau, aku lupa bahwa Bunda telah tiada. Ku coba membuka mataku namun setelah ku buka semuanya gelap, aku takut di mana aku sekarang?mengapa gelap?di mana mama?papa?atau Kelvin?Dapat ku rasakan seseorang membelai kepalaku, aku kenal tangan ini, ini tangan Mama. Mama seperti sedang terisak "Mama?kenapa gelap?" Tanya ku pada mama, tapi mama malah memeluku.Aku tak mengerti dan tak ingat apa yang terakhir terjadi yang aku ingat adalah pertengkaran ku dengan mama. Dan aku ingat saat aku memasuki diskotik dan di kejar oleh pemuda aneh, dan saat itu...Aku menangis aku ingat bahwa aku mungkin kecelakaan, tapi mengapa sekarang semuanya gelap? apa aku buta? aku takut."Sayang, kamu yang sabar." Aku kenal suara itu, itu suara papa."Papa mata ku kenapa? kenapa gelap?" jeritku pada papa dan ku rasakan pekukan mama semakin kencang."Aku tak mengerti" keluh ku hampir tak terdengar."Dokter mengatakan kamu tidak akan bisa melihat Kayla, kecelakaan itu penyebabnya, matamu terbentur keras." Ucap mamaku "Kecuali bila ada yang bersedia mendonorkan mata untuk mu,tapi itu sulit Keyla." Ucap mamaku.Aku menjerit sekencang nya, Tuhan bantu aku.***"Keyla?" Panggil seseorang aku yang sedang duduk segera berdiri dan berjalan ke sumber suara. "Tak usah berjalan duduk saja." Ucap seseorang itu, aku tahu dia Kelvin."Mau ikut ke kebun teh?" Tawar Kelvin, aku memang tak bisa melihat raut wajahnya namun dari suaranya aku dapat merasakan bahwa Kelvin sangat ingin aku ikut.Aku menangguk ,dan mengambil tongkat Kelvin berjalan di sampingku. Aku dapat mersakan sejuknya angin menyentuh kulit wajahku. "Kamu tahu Keyla?" Tanya Kelvin saat kita sedang duduk di sebuah batu besar.Aku menggeleng "Tidak."Kelvin tertawa,"Aku sangat senang saat ku tahu kamu sudah dapat kembali menerima mamamu dalam hidupmu," ucap nya. Aku tersenyum."Iyaa emang kenapa?" Tanya ku, "Berati kau telah siap dan bahagia ya?" Tanya Kelvin sambil tangannya merangkulku.Aku terdiam tak mengerti ucapan nya "Siap apa?" Tanyaku lagi. Kelvin tiba tiba batuk, sangat keras aku kaget dan memberinya air minum dari tas ku, tapi dia malah menolak. "Aku minta tisu." Ucap Kelvin, tanpa pikir panjang aku segera mengeluarkan tisu untuk nya sambil meraba tasku mencari tisu."Kamu kenapa?" Tanya ku aku cemas "Hanya pilek." Ucap Kelvin. Aku terdiam, benarkah?."Aku dengar ada seseorang yang bersedia mendonorkan matanya untuk mu." Ucap Kelvin sambil mengacak rambutku.Aku tersenyum bahagia dan tak percaya, ternyata setelah sekian lamanya akhirnya Tuhan mengirimkan ku manusia yang bersedia mendonorkan matanya, siapapun dia terimakasih.***"Siap Keyla?" Tanya dokter, aku diam aku marah pada Kelvin mengapa saat seperti ini dia tak datang, padahal yang aku ingin saat perban pembungkus mataku ini di buka,aku ingin melihat mama, papa dan Kelvin, tapi entah kenapa Kelvin tidak datang. "Kelvin mana?" Tanyaku pada mama dan papa yang sedari tadi membujukku untuk segera membuka perban ini."Kelvin menunggumu Key, di luar."ucap mama dengan nada tak bisa aku jelaskan, aku tersenyum. Di pikiranku mungkin Kelvin akan menyiapkan kejutan untuk ku aku pun bersedia untuk di buka perban mataku.***Aku merengek kepada mama dan papa agar aku segera bertemu Kelvin, tapi mama dan papa membisu aku jadi kesal bagaimana tidak, sudah dari kemarin aku ingin bertemu Kelvin, tapi selalu saja mama menolak.Akhirnya hari ini mama dan papa bersedia mengantarku bertemu Kelvin, aku sangat bahagia. Aneh ada yang aneh mengapa mama dan papa menuju jalan yang tidak aku ketahui,aku mulai merasa tak tenang.Ku lemparkan pandanganku ke seluruh penjuru, mataku tak salah, ini tempat pemakaman, untuk apa mama dan papa mengajakku ke sini? bukankah kita ingin bertemu dengan Kelvin? namun aku tetap berusaha tenang."Ma?kita mau ke mana?" Tanya ku hati mulai tak tenang pikiran buruk menyerbu. Namun mama dan papa tetap diam, aku gusar sendiri ada rasa takut dalam hati ku. Langkah mama dan papa akhirnya berhenti di samping sebuah makam, aku diam mematung tak berani membaca batu nisan yang tertulis nama seseorang itu."Sayang Kelvin ada di sini." Ucap mama. Aku membeku dan membaca nama yang tertulis di nisan itu.Kelvin AndikaDegggAku menangis memeluk batu nisan itu, Kelvin bagaimana ini semua bisa terjadi?Ku lihat ternyata Kelvin meninggal tetap saat aku sedang melakukan operasi mata, pantas saja dia tak datang, Kelvin maafkan aku yang marah padamu karena kau tak datang."Ma?Kelvin kenapa ma? pa? kenapa?" Tanya ku di sela isakan."Kelvin sudah di vonis memiliki penyakit jantung Key, dan tidak memiliki uang untuk membeli obat, papa sudah mengajak nya untuk melakukan operasi dan membeli obat, tapi penyakit nya itu tak bisa di obati lagi, dia meminta kepada papa untuk mendonorkan matanya untuk mu, dan semua nya telah terjadi."Aku ingat terakhir bertemu Kelvin, saat dikebun teh aku ingat saat dia menanyakan apakah aku siap? siap apa? Apa ini maksud mu Kelvin?jika benar sampai kapan pun aku takan siap, kenapa?karena aku mencintaimu.Ku raba mata ini, ini mata yang biasa Kelvin gunakan untuk melihat dunia? dan kini sekarang dia telah tiada, aku kembali terisak, Kelvin.Mama menyodorkan sebuah surat.Ku bukaDear: KeylaKeyla kamu tahu? saat kau sedang dirawat karena kecelakaan, aku sangat takut kehilanganmu aku takut tak bisa kembali melihatmu tapi takdir sangat baik kepada kita, kau sembuh. Kau tahu?aku selalu melihatmu menangis sendiri, aku tahu kau ingin kembali seperti semula.Dan maafkan aku yang jarang menemanimu, aku memiliki banyak urusan, seperti berobat, kerja dan menyakinkan ibuku agar ibu iklas akan kepergianku . Dan hal yang paling aku ingat adalah saat di kebun teh, aku sangat menikmati saat terakhir bersamamu, sebenarnya aku takut karena aku tak akan bisa lagi melihat mu lagi. Tapi selalu ku yakinkan bahwa semuanya adalah yang terbaik.Ku titipkan mata ku padamu, agar kau bisa kembali melihat indah dunia,dan aku tahu kau sangat menyukai senja, haha aku selalu benar kan?tentang mu aku akan selalu mengingat dan mengetahui. Aku pamit Keyla, terimakasih atas kehadiran mu di sisa hidupku. Keinginan terakhirku,aku mohon jadilah gadis cantik dan tetap baik.Kelvin Andika:)

Waktu Singkat untuk Salma
Teen
16 Jan 2026

Waktu Singkat untuk Salma

Ku pandangi seluruh penjuru kelas, tak ada Fahri. Aku duduk dan menghela nafas berat, kemana anak itu? “Salma?" Ucap seseorang aku menengok ke sumber suara, dia Lisa temanku bukannya menyahut aku hanya diam, dia lalu mengerutkan dahi lalu menghampiriku sambil tangan nya mencubit pipi cabi ku.Aku berusaha melepaskan tangan nya dari pipi ku bisa bisa semakin melebar jika di biarkan terus begini. “Galau terus kerjaan nya" ucap Lisa sambil duduk di sampingku, aku hanya diam rasanya sangat malas untuk bicara. “karena Fahri?" tanya Lisa saat keadaan hening beberapa saat. Tapi aku tetap diam tanpa ekspresi, rasanya tak perlu dijawab toh Lisa pasti tahu.“Sabar Sal, mungkin Fahri izin karena ada acara keluarga atau semacam nya." Aku masih saja diam, walau aku sadar ucapan Lisa ada benar nya, tapi semua ini tak adil seperti ada hal yang aneh, tapi aku sendiri tak tahu.~~~“Bunda Salma pulang." Ucap ku sambil mendorong pintu rumah, ku lihat Bunda sedang memasak sesuatu di dapur. Aku datang dan mencium punggung tangannya, lalu duduk di kursi sambil tanganku melonggarkan dasi di leherku. Bunda menengok ke arah ku “kenapa muka kok di tekuk gitu" tanya bunda heran.“Fahri gak masuk lagi bun" Ucap ku dengan nada merendah mirip rengekan anak kecil, bunda terkejut. “Kok Fahri jadi jarang masuk ya?" Tanya bunda, aku mendengus kesal, bila aku tahu aku juga tak akan gelisah seperti ini. Aku hanya menggeleng, lalu beranjak menuju kamar meninggalkan bunda yang menunggu jawabanku "Dasar Salma." Ucap bunda.~~~Aku diam dan duduk memandangi jam dinding, tak punya kerjaan. Tiba tiba aku mendengar sebuah ketukan di pintu, ini pasti bunda membawakan ku makan siang, karena aku tak mau makan dari pagi. “Masuk aja gak di kunci kok," ucapku tanpa beranjak dari kursi. Pintu terbuka mataku melebar tak percaya dengan penglihatanku, dia bukan bunda tapi Fahri.Aku berdiri dan berjalan ke arahnya, dia terseyum lebar dengan jaket abu abu yang Ia kenakan. Senyum ku hilang seketika saat aku ingat aku sedang marah dan kesal padanya, aku berbalik dan duduk di kursi. Fahri mengerutkan kening, dan ikut duduk di sampingku aku diam tanpa ekspresi. “Salma kau kenapa?vmarah padaku?" Tanya Fahri.“Tidak." Jawabku cepat “Syukurlah." Ketus nya, aku jadi semakin kesal Fahri ini sangat tidak peka. “Fahri..." Ucap ku dengan wajah masam “Apa?" Tanya nya, aku menghela nafas “Aku marah, kenapa kau tak peka? dasar lelaki." Ucapku ketus. Fahri malah tertawa “Tadi ku tanya katanya gak marah, dasar wanita." Ucapnya sambil tertawa, aku tak ikut tertawa tak ada yang lucu.“Baiklah kenapa kau marah Salma?" Tanya Fahri menyadari raut wajah ku “Kau selalu menghilang" ucapku. Seketika aku dapat melihat perubahan raut wajah nya “Adikku sakit Sal" ucap nya aku kaget dan mengerti “Fahri kenapa kau tak memberi tahu ku? masa aku temanmu saja tak kau beri tahu." Ucap ku cepat.“Maaf Sal," ucap Fahri dengan raut tak bisa di tebak.~~~“Apa? jadi adiknya Fahri sakit?" Tanya Lisa saat aku selesai curhat tentang Fahri kemarin.Aku mengangguk "Fahri memang kakak yang baik ya." Ucap Lisa, aku mrngangguk menandakan setuju dengan nya. “Gimana kalo kita ngejengukin adik nya?" Tawar Lisa "Ide bagus" Ucapku antusias. “Ada apa nih?" Suara Fahri tiba tiba. “Kita mau nengokin adikmu Fah" jawab Lisa seketika, aku hanya mengangguk."Eh serius? Yaudah Salma nanti ku jemput ya?" Tawar Fahri dengan seyuman khas nya, aku melihat ke arah Lisa. “Iya aku setuju soal nya aku mau berangkat sama kak Elang, kakak ku." Ucap Lisa, aku dan Fahri berpandangan.“Aku tak mau." Ucap ku pada Fahri,dia kaget dan melihat ke arah ku,“Kenapa?" Tanya nya.“Kamu selalu berbohong, kemarin kau berjanji akan masuk sekolah buktinya? tidak ada." Jawab ku ketus. Lisa hanya diam tak menanggapi. “Itu karena adikku kemarin sakit Salma." Jawab Fahri, aku diam memang benar.Fahri menghela nafas, kami sudah saling mengetahui sifat masing masing “Aku janji kali ini aku akan datang, aku akan berusaha." Ucap Fahri dengan sungguh sungguh. Aku bingung, bukan kah hanya menjemputku hingga berusaha? apakah sulit? Aku berbicara dalam hati, tapi tak apa lah mungkin bagi Fahri menepati janji adalah hal yang sulit,aku tak berfikir panjang.~~~“Sal? kamu di mana?" Suara Fahri dalam telepon, aku mendengus kesal,dia ini dari tadi ditunggu dan sekarang baru menelepon?“Aku di rumah, kamu di mana? kan janji jam 19.00 sekarang udah jam 19.34, dari tadi di tugguin." Ucap ku dengan helaan nafas, bosan Fahri selalu mengingkari.“Maaf tadi abis pulang sekolah, aku gak pulang ke rumah langsung aja ke rumah sakit, ehh itu Lisa udah dateng ke sini, tungguin aku jemput kamu." Ucap Fahri.“Iya,cepetan." Ucap ku.“Okeee waktu singkat." Ucap Fahri lalu mematikan telepon aku tak mengerti, waktu singkat?~~~Aku berjalan mondar mandir di teras rumah menunggu Fahri yang tak kunjung tiba, dia itu selalu saja begini. Ku putuskan ku tunggu dia 5 menit lagi,jika dia tak datang maka aku akan memilih tudur, dari pada menuggu dia yang tak pasti.Lima menit berlalu Fahri tak datang juga, aku kesal. Benar kata orang, orang yang mudah berjanji adalah orang yang mengingkari. Aku berjalan menuju rumah, ku lihat ada Fahri berjalan ke arah rumah ku dia berjalan kaki dengan wajah menunduk, aku tak menghiraukan nya.Aku masuk saja ke rumah ku. Dan mengurung diri di kamar, kesal sangat kesal ku tunggu Fahri tapi dia tak mengetuk pintu sama sekali, ahh Fahri aku semakin kesal, aku diam saja tapi Fahri tak juga mengetuk pintu atau memanggil namaku.Ponselku tiba tiba bergetar, ada panggilan masuk,tertera nama Lisa di layar. “Halo?" Ucap ku. Lisa tak berbicara apa pun, tapi aku dapat mendengar suara isakan tangis, Lisa menangis.“Sal..." ucap Lisa di sela isakan nya. “Lis, kamu kenapa?" Tanya ku dengan tangan bergetar. “Fahri Sal, Fahri " ucap Salma, aku terkejut bukan kah Fahri ada di sini?“Fahri kecelakaan dan meninggal di perjalanan ke rumahmu." Ucap Lisa dengan suara getar. Aku diam perlahan air mata jatuh menetes, dan ku buka jendela kamar ku untuk melihat ke teras, tak ada Fahri di sana. Apakah halusinasi ku sendiri?Fahri, kau memang tak menjemputku tapi kau datang, untuk terakhir kali nya, ini kah yang kau sebut sebagai waktu singkat? dan itu untukku?~~~end.

Kisah Tahun Lalu
Teen
16 Jan 2026

Kisah Tahun Lalu

Aku tahu hal yang indah takkan datang dua kali. Sekuat apapun kita menahan agar semua tetap sama, tapi bila sudah takdir kita bisa apa?Namaku Icha aku sekarang bekerja sebagai jurnalis. Setiap hari ku hanya menulis berita dan peristiwa. Hingga suatu hari aku mendatangi sebuah kecelakaan. Seorang pemuda terluka parah, aku datang untuk meliput kejadian sebagai berita terkini. Namun suatu kejadian mampu membuat kenangan itu kembali.Ketika seorang gadis datang dengan histeris, menangis dan terus berdoa untuk kesembuhan pemuda itu, yang bisa ku tebak mungkin mereka pacaran? Aku merasa sedikit pusing tapi tetap berusaha bertaha dan fokus dengan apa yang aku kerjakan, namun berkali kali aku hampir pingsan. Lalu aku pun pergi ke dalam mobil dan menenangkan diri.Hidupku seperti ini, kepalaku selalu pusing dan sakit saat aku melihat atau mendengar apapun yang bersangkutan dengan peristiwa hari itu. Aku pun pulang dan menenangkan diri di rumah. Tiba tiba terbesit sebuah nama "Alan?" Aku diam, seolah tak sadar akan apa yang aku ucapkan barusan.Lalu kenangan itu kembali.1 tahun yang lalu.Aku tergesa gesa, berlari menuju perpustakaan karena ku tahu hari ini akan datang buku novel yang aku tunggu tunggu. Saat sibuk berlari seseorang menabraku dari belakang, hingga membuat aku jatuh ke jalan yang kebetulan terdapat batu tajam di sana.Aku meringis menahan perih kaki ku yang mengeluarkan banyak darah. Lalu dengan sigap pemuda yang menabrakku membopong tubuhku dan membawa aku ke rumah sakit. Setelah kejadian itu, aku jadi tahu nama pemuda itu adalah Alan. Dia adalah anak dari Pak Wiryono, kepala sekolah di SMA kami waktu itu.Aku tau Alan adalah anak yang disiplin dan patuh. Hingga saat Pak Wiryo tahu bahwa aku mendapat 6 jahitan di betis karena ulah Alan Pak Wiryono marah, dan memberikan Alan hukuman. Hukuman nya mampu membuat aku tak bisa tidur semalaman.Apa? Hukuman nya adalah Alan di tugaskan untuk menjemput dan mengantarkan aku pulang sekolah selama 4 bulan. Aku tahu Alan tak suka pada hukuman ini. Dan aku tahu kalau Alan sudah punya pacar hingga hal itu membuat aku takut, jujur saja aku takut mendapatkan masalah dari itu semua.Setiap hari sikap Alan selalu dingin, ia diam dan tak mengeluarkan sepatah katapun membuat aku merasa sangat bersalah. Aku juga ingat pernah di jahili oleh Sasa pacar Alan. Waktu itu dia mengotori baju ku dengan minumannya terkadang mengerjaiku dengan membuang atau menyembunyikan sebelah sepatu ku.Namun aku tak bercerita tentang hal itu pada Alan. Hingga tiga bulan berlalu, Alan masih saja banyak diam, tak banyak bicara. Dasar kulkas berjalan.***Suatu siang Sasa tiba tiba menarik rambutku hingga aku meringis kesakitan, dia marah padaku dan menuduh bahwa aku berusaha merebut Alan darinya, aku menjerit sekuat nya karena cengkraman tangan Sasa sangat kuat. Tiba tiba Alan datang, lalu menolongku. Entah karena apa yang pasti saat itu Alan tiba tiba memutuskan hubungan Sasa. Aku hanya diam melihat dua manusia yang sedang bertengkar.Lalu Alan mengajakku pulang, di perjalanan Alan terus saja menanyakan keadaan ku, dan meminta maaf atas sikap Sasa. Aku hanya mengangguk. Entah kenapa sikap Alan berubah dan aku merasa ada ribuan kupu kupu terbang di perutku,ada apa ini?***Empat bulan berlalu. Aku masih ingat saat tanggal akhir di bulan ke empat, Alan menanyakan boleh kah dia tetap mengantar jemput ku? Aku memikirkan jawaban yang tepat dan ku kira aku tak keberatan. Hingga aku dan Alan semakin akrab, setiap hari kami sering belajar bersama untuk sekedar mengerjakan PR atau tugas.Semakin hari Sasa semakin menghilang aku mulai jarang di ganggu oleh nya, syukurlah.Hingga aku sudah kelas 12 SMA. Hanya tinggal beberapa bulan lagi untuk lulus. Aku mempersiapkan segalanya untuk mengahadapi ujian nasional.Dan akhirnya aku dan Alan lulus dengan nilai memuaskan. Semua sangat indah, saat Alan mengungkapkan perasaan nya dan kami mulai pacaran. Kejadian itu berlangsung saat kami akan berkunjung ke sebuah Universitas untuk melihat lihat fasilitasnya. Aku masih ingat saat itu Alan datang dengan baju berwarna abu abu, warna kesukaanku. Kami sempat bercanda dan tertawa di dalam perjalanan.Namun sayang. Rem mobil Alan blong, Alan tak mampu mengendalikan mobil nya hingga mobil Alan jatuh ke jurang.***Aku membuka kedua mataku, ada ayah, ibu yang tampak cemas akan keadaan ku. Aku mencari Alan. Saat ku tahu kepala Alan mengalami pendarahan dan harus di operasi. Aku kaget hingga terus mencari keberadaan Alan saat itu. Namun betapa sakit nya, saat aku melihat Sasa tengah menunggu Alan yang terpejam. Aku sakit, melihat Sasa di sana.Akupun berlari masuk sambil bernait memeluk Alan yang terpejam, namun Sasa langsung mendorong tubuh ku yang masih lemas. Aku pun terjatuh lalu Pak Wiryono datang dan membantuku. Saat aku tahu Alan masih koma sesudah operasi itu, membuat aku terpukul. Namun itu tak seberapa sakit nya di banding aku tahu Pak Wiryono menjodohkan Sasa dengan Alan.Aku terpuruk beberapa minggu, hingga Alan mulai sadar dari koma. Saat Alan membuka mata nya Alan langsung memanggil nama Sasa. Aku kaget dan bingung, apakah Alan tidak mengingatku? Dokter mengatakan kalau Alan mengalami Amnesia, ia hanya bisa mengingat sedikit tentang dirinya.Hingga aku pun memilih kalah, aku tahu Alan bukan lupa padaku dia hanya sakit. Aku juga sudah tahu kalau Sasa adalah penyebab kecelakaan aku dan Alan. Namun biarlah, aku pun memilih mundur melepaskan Alan, aku yakin cepat atau lambat mungkin Alan akan mulai ingat padaku. Dalam benak ku bila mungkin Alan di ditakdirkan untukku seberapa jauhnya ia melangkah kami akan tetap di pertemukan.Namun bila tidak, biarlah Alan menjadi mantan terindah yang pernah hadir dengan cara yang istimewa. Aku pun sadar dari lamunan ku, pusing memang bila mengingat hal yang menyakitkan.***Aku kembali bertugas dengan dunia jurnalis ku. Pergi ke sana kemari, mencari berita menarik hmm rasanya aku mulai menyukai pekerjaan ku. Yaa dan sekarang aku sudah bertunangan dengan Arga. Dia adalah teman ku dari kecil, tapi entah kenapa aku rasanya baru mengenali nya sekarang, hmm jodoh memang unik ya. Tentang Alan? Aku tak mencari bukan tak ingat,hanya saja aku sudah memilih Arga kan?Brukk, aku menabrak seseorang."Ichaa? Kamu Icha kan? Inget aku? Aku Alan chaa.."***end.

CLAIRE
Teen
16 Jan 2026

CLAIRE

Aku tersenyum mengamati sekeliling. Seorang wanita paruh baya sedang membersihkan pekarangan. Rambut putih keperakan tak dapat bersembunyi meski tertutup topi anyaman bambu. Cukup lebar melindungi dari sengatan sinar matahari. Tampak beberapa orang mondar-mandir menata ruang tamu. Dapur tak kalah menunjukkan kesibukan."Claire, kita harus membuat pesta ulang tahun besar-besaran untukmu" kata Mama antusias satu minggu lalu."Ngapain sih, Ma? Males deh" aku kembali sibuk membaca komik."Kalo gitu, bagaimana kalo kita ngerayainnya di rumah aja?" memberikan pilihan lain."Iya aja sayang?" sahut Papa, duduk di sebelah Mama.Setiap sore kami selalu berkumpul di taman rumah. Menikmati udara segar di sore hari sambil menikmati teh panas. Aku meletakkan komik di meja dan kembali meresapi aroma lemon di dalam cangkir."Aku udah gedhe, Ma" meminum sedikit teh sambil melihat ekspresi Mama, "Bukankah terlalu kekanak-kanakkan merayakannya besar-besaran?"."Kekanak-kanakkan? wanita berambut pirang tersenyum, " Seventeen Party isnt ?"."Apa kado yang kamu pengen?" potong Papa."Aku ingin kita bertiga pindah rumah" pintaku membuat Mama urung cemberut, "Suasana rumah ini sangat membosankan, jadi kita bertiga bisa menikmati hidup"."Bukan hadiah yang buruk kan, Pa?" mata Mama berbinar.Meski masih dalam kata-kata namun persetujuan mereka membuatku cukup membuatku bahagia. Menyaksikan kesibukan hari ini semakin menambah bunga dalam hatiku. Sebenarnya aku tak perlu repot berkeliling memeriksa persiapan dan pekerjaan tiap orang. Menyewa seorang event organizer telah sangat cukup membantu, tapi aku melihat rumah ini untuk terakhir kalinya. Firasatku tepat tak meleset."Tasya, apa yang sedang kamu lakukan di sini? tanya wanita baju ungu.Suara itu kembali merusak suasana hati. Pemandangan indah di hadapanku seketika menghilang. Rumah megah berubah menjadi gubuk reyot tanpa atap menaungi."Tidak ada bu, saya sedang membaca buku" jawabku sekenanya.Ibu menghela napas berusaha tidak marah hari ini. Aku dapat melihat ia tidak percaya. Ia selalu memberikan pekerjaan dan tak membiarkan sendirian. Perintah untuk mengerjakan ini, melakukan itu tanpa memberikanku kesempatan menikmati duniaku."Bukankah ibu sudah bilang untuk tidak bermain di halaman belakang? Kenapa kamu selalu main ke sini?".Ia mulai membombardir dengan pertanyaan sama. Apa yang aku cari di halaman belakang? Kenapa aku suka main ke tempat menyeramkan ini? Berkali-kali pertanyaan itu dilemparkan seakan-akan dia merasa khawatir."Ada apa ibu mencari saya?" tanyaku mengalihkan perhatian."Oh..." teriak Ibu. Aku dapat matanya bersinar. Tatapan mengingatkanku pada Papa dan Mama saat mendengarkan keputusan hakim."Hari ini ada seseorang yang ingin bertemu denganmu" penuh semangat ia menarik tanganku.Seorang wanita memiliki wajah bagaikan malaikat, tersenyum menyambut kedatanganku. Dia memelukku sejenak terasa hangat. Setelah mencium keningku, kami duduk berhadapan dengan Ibu."Ibu ini langsung tertarik saat melihat foto kamu langsung saja ia sangat ingin segera menemuimu" kata Ibu."Bagaimana dia bisa tinggal di sini?" tanya wanita calon ibu angkatku.Ibu melemparkan senyum padaku. Aku mengerti dan segera berdiri berpura-pura keluar dari ruangan penuh dokumen itu."Saya akan jujur menjelaskan tentang dia, namun saya sangat berharap ibu tidak membatalkan niat baik ibu" perkataan kepala panti asuhan seperti mengatakan ketakutan kehilangan uang."Silahkan"."Dia anak yang baik, sopan dan manis seperti yang anda lihat tapi dia termasuk anak yang antisosial dan pendiam" tampak wanita itu menunggu penjelasan latar belakangku,"Hari itu Tasya sendiri yang datang ke tempat ini. Beberapa hari kemudian, saya baru tahu kalau Tasya yatim piatu saat berumur enam tahun dan tinggal bersama adik laki-laki ayahnya. Sepupu Tasya ditemukan meninggal di rumah menjelang pesta ulang tahunnya. Hal ini membuat bibinya menjadi gila dan pamannya mengalami kebangkrutan setelah memimpin perusahaan ayah Tasya selama dua tahun"."Pasti itu sangat berat baginya" wanita berwajah malaikat itu tampak tersentuh.Aku segera pergi menuju bangku di taman Panti Asuhan. Kini giliranku memainkan peran sesuai rencana yang telah kami sepakati. Wanita malaikat itu menghampiriku kembali mendekapku. Kurasakan getaran tubuh dan terdengar suara Isak tangis."Mulai hari ini aku adalah ibumu" katanya di sela-sela tangisannya."Benarkah, nyonya?" ku lepaskan pelukannya.Aku yakin wajah polosku cukup mengelabuhi.Wanita itu segera menghapus air matanya, "Mulai sekarang Tasya panggil Mama bukan nyonya".Aku tersenyum menatap ibu kepala panti asuhan. Semua berjalan sesuai rencana. Mama segera mengurus semua surat adopsiku. Tak lupa Mama mengajakku untuk berpamitan ke semua penghuni panti."Semoga kamu betah tinggal bersama ibu angkatmu" kata Ibu saat tepat Mama datang setelah dari parkir.Aku mengangguk dan melambaikan tangan pada semua sebelum masuk ke dalam mobil, duduk di samping Mama."Kerja bagus, Claire" puji Mama tetap menyetir tanpa memandangku, "Kau memilih tempat yang tepat".Tamat

Mama Papa
Teen
14 Jan 2026

Mama Papa

Bella senang melihat Albert menjemputnya dengan mengendarai mobil berwarna silver."Mobil baru?" goda Bella saat Albert keluar dari mobil."Silahkan masuk, permaisuriku" Albert membukakan pintu mobil.Bella tersenyum. Senyuman berubah menjadi rasa kaget dan kecewa. "Albert, apa-apaan nih?"." Sorry , di rumah lagi ada arisan ibu-ibu kompleks jadi aku disuruh ngajakin mereka keluar biar nggak ganggu. Nggak apa-apa ya?".Bella tetap cemberut melihat di belakang ada anak-anak kecil. Ia menghitung dalam hati." Satu...Dua...Tiga...Empat...Lima. Hah... Albert emang raja tega. Bodohnya aku. Seharusnya curiga waktu ngeliat dia datang pakek mobil biasanya Vespa " keluh Bella dalam hati.Sesampainya di taman Albert segera memasang tikar. Ia menata bekal dan beberapa bawaannya di atas tikar. Sementara Bella merasa kesulitan menggendong Sasya, bayi yang baru saja berusia 13 bulan."Mama... tolong bukain sepatu Casey" suara mungil itu mengejutkan Bella."Tadi aku bilang ke mereka, kita akan main rumah-rumahan. Mereka jadi anaknya, kita jadi orangtua".Penjelasan Albert sukses membuat Bella melongo."Ini makanan favorit keluarga kami. Tada... Lumpia rebung ayam" tunjuk Albert dengan penuh kebanggaan."Aku mau... aku mau" teriak yang lainnya kecuali Bella."Sayang, kamu mau?" tawar Albert."Huwek...." Bella merasa ingin muntah. Gadis berdarah Jawa ini tidak menyukai rebung, terutama baunya yang menyengat."Aduh... mereka gak ikutan KB ya? Masak udah punya lima anak, mau hamil lagi?" Bisik salah satu ibu."Iya ya. Kok mereka masih muda udah punya lima anak?" sahut ibu bergaun merah muda."Mungkin mereka menikah muda" kata ibu yang pertama."Atau mungkin mereka itu hamil sebelum nikah".Tampak kedua wanita itu lebih menyetujui alasan kedua.Albert menggenggam tangan Bella. "Ini teh hangat, maaf aku nggak tau kamu nggak suka rebung"."Aku sebal sama ibu-ibu itu. Gosip dan Fitnah aja yang diomongin".Albert terkekeh melihat tingkah Bella."Bella, maafin aku ya?"."Nggak apa-apa. Emang tuh ibu-ibu" gumam Bella.Albert kembali menggoda Bella, "Ma demi anak ke enam kita yang kuat ya?" Albert sengaja mengeraskan suaranya.Tanpa melihat ibu-ibu itu, Bella dapat merasakan ibu-ibu itu semakin panas menjadikan dia bahan gosip di pagi hari."Albert" rengek Bella."Kamu ngidam apa sayang?" Albert memperhatikan gerombolan ibu-ibu telah pergi."Puas?" Bella kesal."Mama, papa, kita main ke sana dulu ya?" teriak James"Hati-hati ya sayang adiknya dijaga" Albert terlihat menikmati permainan,"Ma, si kecil mulai ngantuk ya?".Bella mendengus kesal. Sementara Albert menggendong bayi itu, menyanyikan lagu nina bobo."Menyenangkan, bukan?" bisik Albert sambil meletakkan bayi itu ke tikar.Mau tak mau gadis itu tersenyum. Bella teringat perkataan Albert di mobil bahwa ia sangat menyukai anak kecil."Hai..." Sheryn tiba-tiba datang."Sheryn, kamu buat orang kaget aja" kesal Bella namun seketika wajahnya kembali cerah, "Sheryn..."."Ada apa sayang?" Sheryn sangat tidak suka saat Bella mulai merajuk."Hari ini Albert nyebelin banget" adu Bella."Kamu apain sahabatku?" Sheryn memukul Albert dengan kipas tangannya."Nggak aku apa-apain kok" jawab Albert enteng, "Pelan-pelan ya kalo ngomong si kecil baru ja tidur"."Oke" Sherly mulai memelankan suaranya, "Sebuah Hil yang awalnya mustahal hingga mustofa. Sahabatku yang gak ada cantik-cantiknya ini..."Bella menyenggol bahu Sheryn, "Maksudnya, sahabatku yang biasa-biasa aja ini nggak mungkin tiba-tiba merengek gak jelas"."Kamu bisa diam nggak?" Albert kesal."Nggak" jawab Bella dan Sheryn barengan."Aduh... aku tadi ngomong sama Sheryn" jelas Albert.Bella dan Sheryn diam."Sayang, aku nggak maksud..." kata Albert."Apa? Kamu manggil Sheryn 'sayang'?" potong Bella tak terima."Itu tadi buat kamu, Bella" Albert menarik rambutnya frustasi."Kalo ngomong itu yang jelas dong" omel Sheryn."Mama, Papa adek mukulin aku" teriak Casey.Albert segera pergi menghampiri gadis cilik berambut pirang"Albert udah punya anak?"."Ya nggaklah..." kemudian Bella menjelaskan hal yang telah terjadi."Pantesan aja si bule itu kesal, kamunya aja nggak bantuin dia"."Trus aku harus ke sana?" tanya Bella."Ya nggaklah ini bayi siapa yang jaga?""Kamu"."Enak aja, nggak bisa. Nggak mau. Aku ke sini mau jalan-jalan. Refreshing . Bukan jadi babysitter " kata Sheryn sebelum bersiap pergi." Please bantuin aku" pinta Bella. Memelas."Bel, ikhlas ya? Itung-itung latihan jadi ibu" Sheryn segera pergi sebelum mendapatkan cubitan dari sahabatnya.Bella merengut menatap bayi tertidur lelap. Berpacaran dengan Albert selalu tak romantis seperti pasangan yang lain. Tiba-tiba ia merasa bahagia, setidaknya Albert tak pernah melirik cewek lain.Selesai

Me Vs Tukang Ojek
Teen
14 Jan 2026

Me Vs Tukang Ojek

Nanda merasakan terik matahari ditambah debu jalanan aspal tanpa tanaman asri penghias kota. Polusi semakin memperparah. Ia merasa sangat gerah berada di bis yang penuh sesak dengan penumpang. Kondektur tidak peduli keadaan penumpang yang berdesak-desakan. Ia selalu menambah penumpang di setiap pemberhentian.Alhasil, Nanda harus berjuang melewati beberapa penumpang untuk keluar selamat dan aman. Maklum, keadaan seperti ini selalu dimanfaatkan tangan panjang merajai barang penumpang. Jangan lupakan tangan mesum dapat sewaktu-waktu ambil kesempatan.“Mbak ngojek? Mbak mau kemana? Mbak sudah dijemput?” beberapa tukang ojek berebut saat Nanda turun dari bis antar kota.Nanda bingung harus memilih tukang ojek. Ia tidak mau memilih bapak yang menggunakan jaket abu-abu. Bulan lalu hampir sesak napas menahan bau badan pak ojek, melebihi bau amoniak. Ia tidak menyukai bapak berkumis tebal selalu mengajak ngobrol sepanjang jalan. Bapak klimis itu terlihat tak pernah ganti jaket. Hampir seluruh tukang ojek sudah pernah mengantar pulang.Mata Nanda tertumbuk pada pria duduk di atas motor gedhe, asyik memainkan smartphone. Tanpa ragu gadis berkerudung itu menghampiri.”Mas, Kandangan Slamet ya?”.Pria itu menatap Nanda. Terdiam sesaat. Beberapa saat kemudian ia menghidupkan mesin motornya.“Ayo mbak, naik”.Nanda merasa ada hal tidak beres. Pria ini tidak melakukan tawar-menawar ongkos seperti biasa.“ Mungkin nanti di jalan ” mencoba menenangkan diri.Nanda menurut saat pria itu menyuruh untuk naik.“ Aneh. Udah gak nanya soal ongkos, trus gak ngasih helm, lo… lo… ini mau kemana? kok lewat gang perumahan gini. Jangan-jangan… ” pikiran Nanda mulai tidak karuan, " Ok… ok… tenang. Kalo ada apa-apa, aku harus siap-siap lompat ”.Nanda menelan ludah. Mengumpulkan keberanian. “Mas, terminal ke kandangan slamet berapa?”.“Kira-kira 20 km, mbak”.“Mas ngajak bercanda?” keluh Nanda dalam hati."Maksudnya ongkos” kata gadis berlesung pipi ini sambil mengesekkan ibu jari ke jari tengah dan telunjuk.“Oh… biasanya berapa mbak?” tanya tukang ojek santai.Tiba-tiba Nanda berpikir jahil. ”Lima belas ya, mas?”.“Ok”.Seketika Nanda melongo. Ini artinya ia hemat 50% dari harga biasanya. Tukang ojek ini benar-benar aneh. Nanda ingin bertanya, apakah hari ini adalah hari perdana tukang ojek ini bekerja. Namun urung, takut harga lima belas ribu akan melayang.Tiba-tiba motor berhenti.“Kenapa, Mas?”“Mogok, mbak” jujur tukang ojek.”Pantas aja mau dibayar lima belas ribu, ternyata mesinnya mogokkan” gerutu Nanda.“Mbak, tolong jalan kaki dulu ya?” pinta tukang ojek itu sambil cengengesan.“Kenapa bisa mogok mas? Mesinnya rusak?” tanya Nanda pura-pura prihatin.“Bukan mesinnya mbak, bensin saya yang habis” jujur tukang ojek itu malu, “Pom bensin 15 meter lagi kok mbak”.Nanda menggelengkan kepala keheranan.“Mbak” saat mereka berjalan beberapa langkah.“Hhmmm…” sahut Nanda jengkel.“Nanti tolong bayarin bensin” pinta tukang ojek itu lagi.“Apa?” Nanda tidak percaya dengan telinganya.“Tolong bayarin mbak, pakek uang bayaran ojek aja” sambil tetap mendorong motor.Mau tidak mau, Nanda mengangguk. Ia berjanji dalam hati, takkan naik ojek dengan mas ini lagi.“Mbak darimana?”Pertanyaan yang selalu ditanyakan oleh tukang ojek. “Dari Malang, mas”“Mbak kerja? Apa kuliah?” tanyanya lagi.“Kuliah” jawab Nanda malas.Motor kehausan segera diisi bensin seharga lima belas ribu. Beruntung tidak antri. Dengan wajah tertekuk, perasaan penuh kecewa dan lelah, Nanda membayar bensin tersebut.“Wah… Kok yang bayarin bensin ceweknya? Putusin aja mbak” goda petugas pom bensin.Seketika mata Nanda melotot. Ingin rasanya Nanda membalas namun ia lebih memilih untuk tidak meladeni.“Mbak….” Panggil tukang ojek setelah sekian lama mereka diam.“Apa?” jawab Nanda malas.“Maaf ya mbak?” Nanda melongo.“Sepertinya ada yang gak beres nih. Harus siap-siap lompat nih” kata Nanda dalam hati. Mulai ambil ancang-ancang.“Mbak… ini udah masuk ‘Kandangan Slamet’ tapi rumah mbak ‘Kandangan Slamet’ yang nomor berapa?” tanya tukang ojek polos.“Ooh… gang enam nomor 36, mas” tukang ojek mengangguk.“Mas, itu warna pagarnya cokelat” tunjuk Nanda.“Iya Mbak” tukang ojek itu memperlambat laju motornya.Nanda menghela napas. Ia merasa lega sebentar lagi sampai tujuan.“Mbak sebenarnya aku ini bukan tukang ojek. Tadi aku habis nganterin sepupuku terus iseng duduk-duduk sebentar di dekat pangkalan ojek. Eh… mbak ngira aku tukang ojek tapi gak apa-apa kok mbak. Terima kasih bensinnya” akunya malu-maku.“Apa???” tanya Nanda tak percaya bersamaan motor berhenti.“Maaf ya mbak” tukang ojek gadungan itu masih menghidupkan mesin motornya.“Iya” Nanda segera turun dari motor." Pantesan tampangnya terlalu ganteng buat jadi tukang ojek ” keluh Nanda dalam hati.“Mbak” Nanda batal melangkahkan kakinya.“Ada apa?”“Ini tasnya ketinggalan” Tukang ojek gadungan itu menyerahkan tasnya.“Mbak” membuat Nanda berhenti setelah berhasil berjalan satu langkah.“Apa lagi?” ketus Nanda.“Mbak, kenalin nama aku Abi. Boleh gak minta no hape atau nama ig deh mbak”.“Gak mau mas, thanks ” tolak Nanda.Bergegas ia mencoba membuka pagar rumahnya.”Assalamu’alaikum…” teriak Nanda.“Mbak” panggil tukang ojek gadungan alias Abi lagi.“Apaan sih?”“Dada bubay. Salam buat keluarga ya? Lain kali aku main ke sini ya?” segera Abi pergi.Nanda heran dengan tingkah Abi. Ia menggelengkan kepalanya.“Mimpi apaan sih aku tadi malem?”.Setelah memastikan tukang ojek gadungan pergi. Nanda tertawa. Berjalan menuju rumah bercat biru di sebelah rumah kosong tak berpenghuni itu.Tamat

Friendship or?
Teen
13 Jan 2026

Friendship or?

Cahaya matahari menembus jendela kamar Bella. Bella membuka matanya, lalu meregangkan tubuhnya yang terasa kaku. Bella bangkit dari tempat tidurnya, lalu berjalan ke arah balkon, sekedar untuk menghirup udara segar.Pandangannya teralih pada jendela di seberang sana, jendela kamar milik Ardega, sahabat sekaligus orang yang Bella suka. Ya, mereka bertetangga. Bella tak menyadari, jika jendela itu terbuka, dan Dega sedang menatapnya."Bella?" Dega menyapanya sambil melambaikan tangan, namun Bella tak kunjung merespon. Hal itu membuat Dega tersenyum tipis."ARABELLA GIANICA?" Dega memanggil dengan lantang, hal yang membuat Bella terkaget lalu memandang Dega."Gue kaget woe." Bella cemberut, tapi tak lama kemudian ia tersenyum saat Dega mengangkat ponselnya dan menggoyangkannya."Chat aja ya, gue mau siap-siap ke sekolah. Nanti pergi bareng." Dega tersenyum, lalu berbalik dan menutup kain jendela.Bella tersenyum saja, lalu menghela nafasnya sesaat, sebelum akhirnya ia masuk dan bersiap.___Bella duduk di teras rumahnya, sambil menggoyangkan kakinya pelan, menunggu Dega menjemputnya. Ia berdecak pelan, saat menyadari Dega tak kunjung datang. Ia memutuskan untuk mendatangi rumah Dega.Bela berjalan menyusuri jalanan kompleks, tak sampai satu menit, ia sampai di depan rumah Dega.Di sana, ia menemukan Dega yang sedang duduk sambil berbincang dengan Tiara, sahabat Bella.Rumah mereka memang satu kompleks, jadi sangat mudah untuk bertemu.Bella tersenyum tipis, lalu melangkahkan kakinya mendekat."Gak jadi pergi bareng, ya?" Bella memandangi Dega sekilas, lalu tersenyum manis pada Tiara."Maaf ya Bel, gue harus nganterin Tiara, papanya pergi duluan tadi, jadi Ara sama gue. Gapapa kan?" Dega berucap sambil menarik Tiara mendekat.Namun, Tiara memandangi Bella dengan tatapan bersalah. Ini salahnya, padahal, Bella sudah memiliki janji untuk pergi bersama Dega."Bella, kalo lo mau pergi sama Dega, pergi aja, gue bisa kok nyari taksi atau naik bus aja. Serius. Gue jadi ngerasa gak enak sama lo." Tiara meraih tangan Bella, lalu menggenggamnya erat.Bella tahu, sejak lama bahwa Tiara menyukai Ardega. Namun, ia juga menyukai Dega, sehingga Bella tak mampu berbuat apapun."Lo aja deh yang pergi sama Dega, gue bisa sendiri kok, santai aja. Ya udah, gue pamit." Bella tersenyum lebar, lalu menepis pelan tangan Tiara.Setelah Bella pergi, Dega dan Tiara segera menuju ke sekolah. Tiara tersenyum tipis, ia senang hari ini. Karena setelah sekian lama, Tiara memiliki kesempatan untuk pergi sekolah bersama Dega.Tak sengaja, matanya menatap ke arah pinggir jalan, dan menemukan Bella yang sedang berjalan kaki. Tiara mengernyit, rasa bersalahnya kembali muncul.Tiara masuk ke dalam lorong ingatannya, mencoba berbalik arah, menyelami waktu. Ingatannya berputar, pada masa dulu.Saat itu, ia baru saja pindah rumah, lalu menemukan dua orang anak kecil seumurannya yang sedang bermain bersama. Tiara memandangi mereka dengan tatapan iri. Ia tak pernah diperbolehkan untuk bermain di luar rumah karena kondisi kesehatannya yang lemah.Namun, salah satu dari mereka menyapanya. Namanya Bella. Itu teman pertama Tiara. Dari Bella, Tiara mengenal Dega, anak lelaki yang nakal.Hari-hari Tiara menjadi lebih berwarna, saat orangtuanya melarang supaya tidak bermain di luar, Bella selalu datang bersama Dega untuk menemaninya bermain.Seiring berjalannya waktu, Tiara mulai menyukai Dega, sahabat lelaki pertamanya. Tetapi, Tiara bisa apa? Bella lebih dekat dengan Dega. Tiara takut jika Bella menyukai Dega juga. Namun ia hanya diam.Tak terasa, Tiara dan Dega sampai ke halaman parkir sekolah. Mereka berjalan beriringan, sambil berbincang tentang hal-hal ringan.Mereka masuk ke dalam kelas, bertepatan dengan Bella yang datang berlarian dari koridor.Bella menyusul mereka, lalu segera duduk di samping Tiara."Hadeh, akhirnya gue nyampe." Nafas Bella tak beraturan, hal itu membuat Tiara tertawa."Lo jalan kaki?" Tiara menyodorkan botol air mineral miliknya, lalu diserahkan pada Bella."Iya, gue pengen jalan aja." Bella berucap setelah meminum air yang diberikan Tiara."Soal tadi, gue..., " ucapan Tiara terpotong saat Bella berbicara."Udahlah, gak usah dibahas ih." Bella berucap sambil meraih buku dari dalam tasnya.Dega datang, lalu mengusap rambut Tiara, hal itu membuat Bella kaget. Sedangkan Tiara hanya tersenyum malu."What? Kalian kenapa? Ada something?" Bella menatap mereka dengan tatapan meledek. Hal itu membuat Tiara tertawa kecil dan menutup wajahnya."Something gimana?" Dega tersenyum pada Bella, senyuman tipis yang memiliki arti.Bella mengernyit melihat senyum itu, lalu meraih ponselnya. "Ya gak gimana-gimana."Bel masuk berbunyi, pertanda pelajaran akan segera dimulai. Dega kembali ke tempat duduknya.Bella menatap Tiara yang duduk di samping kirinya. Tiara mengerjap polos, hal itu membuat Bella mengalihkan pandangannya."Bella? lo tau ga?...," ucapan Tiara terpotong oleh Bella."Ngga, gue ga tau.""Ish, gue belum selesai." Tiara merengek kecil, membuat Bella mendelik. Baiklah, Bella mengakui jika Tiara memiliki wajah polos dan imut. Tidak sepertinya, yang wajahnya amit-amit."Hm, apa?" Bella menatap ke papan tulis, memperhatikan Bu Ina yang sedang menjelaskan materi."Em... Gini aja deh, lo suka sama seseorang gak?" Tiara bertanya serius."Dih, lo kenapa? Gue masih suka cowo." Bella terkaget mendengar pertanyaan Tiara."Ck, bukan gitu. Ah, lo mah ngeselin." Tiara mengalihkan pandangannya. Tak berniat untuk melanjutkan pertanyaannya.___Bel istirahat berbunyi, Dega menarik tangan Bella, membuat Bella kaget."Nanti malem gue jemput, gue mau ngajak lo ke suatu tempat." Dega berbisik di telinga Bella, lalu tersenyum misterius.Bella mengangguk saja. "Pake baju apa?"Dega memandangi Bella dari atas hingga bawah, lalu tersenyum manis. "Dress aja." Setelahnya, Dega melangkah pergi.Tiara datang." Dia bilang apa?"Bella yang sedang tersenyum sendiri merasa kaget, dengan cepat, ia menggelengkan kepalanya. "Gak ada apa-apa."___Malam pun tiba, sesuai ucapan Dega, ia menjemput Bella.Mereka berangkat menuju restoran ternama, hal ini membuat Bella mulai menerka apa yang akan Dega lakukan, karena biasanya, Dega selalu makan bersamanya di pinggiran jalan.Sesampainya di restoran, mereka ditunjuk ke tempat khusus, lalu memesan makanan. Tiba-tiba, Dega meraih tangan Bella, Bella tersenyum gugup."Lo mau ngapain?" Bella bertanya terbata.Dega tersenyum menenangkan, lalu menarik nafasnya sejenak. "Gue udah suka sama lo sejak dulu, lo mau gak, jadi pacar gue?"Bella terdiam, mencerna kata-kata Dega. "Gue...."Dega tertawa, lalu melepaskan tangan Bella. "Gimana? Bagus ga?"Bella mengernyit. "Maksud lo?"Dega tertawa lagi. "Gue mau nembak Tiara, menurut lo gimana? Tadi gue cuman latihan."Bella menatap Dega tak percaya. "Gue bahan percobaan lo??"Dega mengangguk, lalu tersenyum. "Bagus ga? Kalo ada salah, lo bisa koreksi."*Plak!*Dega memegang pipinya yang panas. "Lo kenapa?""Kenapa???? Lo tau gak? Gue suka sama lo." Bella berucap lirih, matanya berkaca-kaca. Tak menyangka dengan perbuatan Dega.Dega terkaget, sungguh, ia tak berniat membuat keadaan seperti ini."Lo? Suka sama gue? Gue sukanya sama Tiara, Bel." Dega berucap lirih, tak tega, namun lebih baik dikatakan sekarang, agar tak semakin menyakiti.Bella terisak pelan. Tak sadar jika Tiara sudah datang sejak Bella menampar Dega.Tiara berjalan mendekati Bella lalu memeluknya. Pandangan Tiara teralih pada Dega."Dega? Maksud semua ini apa?" Tiara bertanya serius. Tak tega melihat Bella menangis.Dega hanya diam, lalu berkata, "gue gak niat gitu...."Tiara menghembuskan nafasnya, lalu mengusap punggung Bella. "Bella, gue tau semuanya, gue denger."Dega kaget. "Lo juga tau? Kalo gue...."Tiara mengangguk. "Gue tahu, gue paham.""Gue ga mau pertemanan kita hancur cuman gara-gara cowok." Bella yang sudah mulai tenang mulai membuka suara."Gue tahu, kalian saling suka. Iya kan? Jujur aja, gue ga bakalan marah." Bella mengusap sisa-sisa air matanya.Dega menatap Tiara, mata gadis itu berkaca-kaca."Dega? Gue yakin, Tiara juga suka sama lo. Kalian mau jadian? Ya udah, gue gapapa." Bella merangkul Tiara, mencoba tersenyum lebar."Gue ga bisa bertindak lebih, gue cuman gak mau, kehilangan sahabat karena lebih memilih cowok. Paham kan? Kalian saling suka, sedangkan gue? Perasaan gue gak berbalas. Jadi, buat apa gue tetap bertahan? Gue mundur aja, kalian maju, berjuang bersama." Bella meraih tangan Dega, lalu meraih tangan Tiara, menyatukan tangan keduanya dengan tangannya."Kita sahabat. Dan ternyata emang bener, gak ada yang namanya sahabat dalam lingkup pertemanan antara cewek dan cowok." Bella tertawa. Jika ini memang yang terbaik, Bella ikhlas, sungguh."Kita, tetap berteman. Kita, bertiga. Meskipun status kalian berubah, kita tetap bersama." Bella melepaskan tangannya, lalu menepuk pundak Dega."Gue pamit, kalian bisa bicarain ini berdua. Dan untuk Dega, gue mau bilang, jaga Tiara baik-baik." Bella melambaikan tangannya, lalu berbalik arah, berjalan menuju pintu keluar, dan pergi.___Bel pulang sekolah berbunyi, Dega keluar dari ruang kelas bersama dengan Tiara dan Bella. Masalah malam tadi, semuanya sudah mereka selesaikan. Tiara berpacaran dengan Dega. Namun mereka tetap mengutamakan persahabatan.Bella turun dari mobil Dega, lalu melambaikan tangan pada Tiara yang masih ada di mobil.Bella tersenyum, ini keputusannya. Ini yang terbaik. Ia berjalan riang menuju kamarnya. Lalu merebahkan diri ke atas kasur.Ternyata, ia lebih bahagia saat melihat Tiara tertawa bersama Dega. Jika seperti ini, maka ia memutuskan untuk melupakan perasaannya.Karena memang benar, cinta itu, tak harus memiliki.[ E N D ]

I'll Be There For You
Teen
13 Jan 2026

I'll Be There For You

Seorang gadis bername tag Salwa Maharani sedang duduk di halte dekat sekolah. Kepalanya celingak-celinguk mencari keberadaan seseorang yang ditunggunya. Bel pulang sekolah sudah lama berbunyi, namun pemuda itu belum juga menampakkan batang hidungnya.Sebuah mobil yang sangat ia kenali tepat berhenti di depannya. Terlihat seorang pemuda keluar dari mobil, dan menghampirinya."Masih nunggu Raka?" tanya pemuda itu seraya duduk di samping sang gadis."Iyaa ... awa udah nunggu daritadi, tapi Raka nggak muncul muncul." Ia mengerucutkan bibirnya. "Eh, Argha kenapa masih disini?" sambungnya."Gue nemenin lo," tutur Argha. Salwa hanya mengangguk. Lantas ia mengeluarkan ponsel dari sakunya, menanyakan kabar pemuda yang telah menjadi pacarnya dari seminggu yang lalu._"Kok handphone-nya nggak aktif ya?"_ batin Salwa."Pulang aja yuk, Wa. Mungkin dia udah balik duluan," ajak Argha.Dengan cepat Salwa menggelengkan kepalanya. "Enggak! Nanti bentar lagi juga muncul."Argha menghela napasnya. Matanya menatap dalam gadis di sampingnya itu. " Bertahun-tahun gue jadi sahabat lo, Wa. Gue tahu banget, lo tipe orang yang nggak suka nunggu. Segitu cintanya lo sama dia sampe rela nunggu lama begini? " Batin Argha.Hari kian sore. Argha beranjak dari duduknya. "Gue anterin lo pulang, dia nggak bakal dateng Wa," tuturnya. Kini Salwa menurut. Dengan muka yang ditekuk, Ia masuk ke dalam mobil Argha.Akhirnya mobil mereka pun meluncur menuju rumah Salwa.___Setelah mengantar Salwa, kini Argha dalam perjalanan pulang menuju rumahnya. Namun, netranya tidak sengaja menangkap pemuda yang sedang membonceng seorang gadis. Wajah pemuda itu nampak tidak asing.Argha mendengus ketika menyadari bahwa pemuda itu adalah Raka, pacar Salwa. Ia memutuskan untuk mengikuti motor itu.Tibalah mereka di sebuah cafe . Sebelum keluar dari mobil, Argha menyempatkan mengambil kacamata hitam di dashboard -nya agar keberadaanya tidak diketahui.Ia memilih duduk di tempat yang tidak jauh dari Raka dan gadis itu agar bisa menguping pembicaraan mereka.Tidak sia sia, Argha dapat mendengar samar samar percakapan mereka."Hahaha, kamu beneran cemburu?" Pertanyaan dari seorang pemuda membuat sang gadis di depannya mengangguk dan memanyunkan bibirnya."Dia cuma dijadiin taruhan, Rin ... kamu tenang aja."Argha menajamkan telinganya. "Dia?" gumamnya."Syukur, deh. Lagian masih cantik aku daripada Salwa," balas sang gadis.Kini Argha mengepalkan tangannya. Bibirnya tak henti hentinya mengumpati Raka."Uang taruhannya bakal dikasih setelah 2 minggu pacaran, jadi kamu tunggu sampe minggu depan ya ... pasti aku bakal putusin dia kok." Raka mengusap lembut surai gadis di depannya.Cukup! Argha sudah tidak dapat lagi menahan emosinya. Ia beranjak dan menghampiri Raka.Bugh!Dengan brutal, Argha meninju rahang Raka.Bugh!Tangannya beralih meninju pelipisnya hingga mengeluarkan darah segar.Setelah mengatur napasnya yang memburu, Argha segera meninggalkan tempat itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun.___Kini Salwa sedang memandang langit langit kamarnya. Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam namun ia belum mendapat kabar dari pacarnya itu.Sepersekian detik kemudian dering telepon berbunyi. Senyumnya mengembang ketika melihat nama yang tertera di layar ponselnya."Halo, Raka!" sapa Salwa ketika panggilan tersambung." Halo sayang, maafin aku ya ... tadi siang aku jemput bunda ke bandara, jadi nggak bisa nganter kamu pulang, deh. ""Hm, iya deh nggak papa," balas Salwa." Besok kamu berangkat sendiri dulu ya? Nanti kita ketemu di kantin. "Salwa mengerucutkan bibirnya. "Yah ... Emang kenapa ka?""Eh, aku udah di panggil bunda, Wa. Aku tutup teleponnya ya ... bye , good night sayang."Panggilan terputus.Salwa menghela napasnya. Tak apa lah. Setidaknya, perkataan manis Raka mengurangi rasa kesal yang menyelimuti dirinya.___Keesokan paginya, Salwa berangkat sekolah diantar oleh Pak Dirman, supir pribadinya.Niat hati ingin berangkat bersama sahabatnya, namun Argha tidak membalas chat-nya.Ketika ia tiba di kelas pun, ia tidak menemukan Argha. Padahal bel masuk sudah hampir berbunyi.Kring kring .Benar saja, pembelajaran sudah akan dimulai, kemana pemuda itu?___Kini, sudah waktunya istirahat. Ketika Salwa ingin beranjak ke kantin, betapa terkejutnya ia mendapati Argha yang baru masuk kelas dengan menenteng tasnya."Argha darimana aja?" tanya Salwa menghampiri pemuda itu.Argha diam. Ia tak berniat membalas perkataan Salwa. Sebenernya, sejak jam pertama ia berada di rooftop untuk menenangkan diri.Entahlah, ia masih terbayang bayang ucapan Raka tempo lalu. Sungguh, ia tak ingin melihat sahabatnya sakit hati.Sepersekian detik berikutnya, Argha menarik Salwa ke dalam dekapannya."Gue kemarin liat Raka sama cewe, Wa. Dia cuma jadiin lo taruhan ...," lirih Argha.Tubuh Salwa menegang. Ia langsung melepaskan pelukannya."Ngaco deh, Gha. Orang kemarin Raka ke bandara kok," elak Salwa.Argha menggelengkan kepalanya. " Please , percaya sama gue, Wa. Akhiri sekarang, gue nggak mau lo jatuh lebih dalam.""Salwa ...." Teriakan dari luar kelas menginterupsi pembicaraan mereka.Lagi lagi Salwa terkejut mendapati Raka dengan lebam di wajahnya."Raka, kamu nggak papa?" panik Salwa seraya mendekat ke arah Raka.Raka melirik Argha sebentar. "Pasti dia udah bicara yang enggak enggak tentang aku kan, Wa? Jangan percaya ... Dia emang keliataannya nggak suka sama aku, Wa. Buktinya kemarin dia nonjok aku tanpa sebab," dusta Raka.Argha membulatkan matanya. " Brengsek ." batinnya.Sedangkan Salwa memandang Argha tak percaya. "Kenapa sih Gha? Argha mau bikin Awa sakit hati, iya? Nggak gini caranya Gha!" sentak Salwa.Diam diam Raka mengeluarkan smirk -nya. " Nggak semudah itu lo hancurin rencana gue ," batinnya.Argha menggeleng. "Awa, bukan begitu. Dia bohong, Wa. Percaya sama gue," tutur Argha.Salwa mengangkat tangannya di udara. " Stop ! Awa kira kamu sahabat yang baik buat Awa ... tapi, nyatanya enggak!"Salwa segera beranjak dari kelasnya. Sebelum menyusulnya, Raka menyempatkan diri memandang remeh ke arah Argha dan menertawainya. "Ck, kasian banget lo.""Argh!" Argha menarik rambutnya frustasi.___Semenjak kejadian itu, baik Salwa maupun Argha tidak pernah sekalipun bertegur sapa. Entahlah, padahal setiap hari mereka bertemu di kelas. Namun, seakan ada jarak membentang di antara keduanya.Kini, sudah menginjak minggu pertama setelah pertengkaran Salwa dan Argha. Sedengkan hubungannya dengan Raka masih baik baik saja."Salwa," panggil Raka. Wajah sendu Salwa berubah menjadi sumringah ketika mendengar suara Raka. Sekarang, ia berada di kelas disaat teman teman kelasnya sudah berpencar menuju kantin.Keadaan kelas sepi, hanya ada mereka berdua di dalam kelas itu. Eh tunggu! Ada seseorang yang menelungkupkan kepalanya di bangku belakang."Gue mau kita putus." Perkataan Raka berhasil membuat tubuh Salwa menegang. Ia mengerutkan keningnya. Sepersekian detik kemudian, kekehan keluar dari mulutnya. "Kamu lagi nge-prank?""Gue mau kita putus," ulang Raka dengan wajah seriusnya. "Temen lo bener, lo cuma dijadiin taruhan."Deg .Bak disambar petir, tubuh Salwa seolah tidak berkutik. Pernapasannya tercekat, seakan pasokan udara kian menipis."Jangan ganggu gue lagi," tutur Raka seraya beranjak keluar dari kelas.Tak berselang lama, bulir berjatuhan dari pelupuk mata Salwa.Isakkan terdengar. Kenapa gue harus ngalamin ini? Batinnya.Ternyata, sedari tadi Argha menyimak pembicaran dua insan itu di bangku belakang. Ia mendekat ke arah Salwa. Sungguh, ia tidak kuasa melihat sahabatnya itu terpuruk dalam kesedihan.Argha menarik Salwa ke dalam dekapannya. "Udah, udah ... jangan nangis ah, masih ada gue disini," ucapnya seraya mengusap kepala Salwa.Bukannya reda, tangisan Salwa pecah mendengar penuturan sahabatnya itu. Ia merasa tak enak hati telah berprasangka buruk padanya minggu lalu."Maafin Awa, Gha...," lirih Salwa."Iya iya...." Pelukan terlepas, Argha menangkup kedua pipi gadis di depannya itu."Gue nggak mau liat lo sedih," ucapnya seraya menuntun bibir Salwa agar tersenyum. "Nah, gini kan Awa cantik," lanjutnya diiringi kekehan."Makasih, Argha."" Mungkin saat ini gue masih jadi sahabat lo , Wa . Tapi gue yakin , suatu saat nanti gue yang akan ngisi tempat di hati lo ."[ E N D ]

Pulang
Teen
12 Jan 2026

Pulang

Matahari nampak malu-malu menampakkan cahaya nya, justru embun pagi yang menyeruak membuat pagi itu terasa lebih dingin. Seorang gadis terbangun dari tidur nya saat mendengar gedoran jendela yang semakin lama semakin berisik."Siapa sih pagi-pagi ganggu tidur aja." Gadis itu membatin kesal.Akhirnya dia pun membuka jendela. Betapa terkejut nya dia melihat lelaki yang sedang menyengir tak berdosa."Astaghfirullah, Devan lo ngapain pagi-pagi datang ke rumah gue?" tanya Aira."Ya mau ngajak lo jalan pagi, gue tau lo orang nya mageran parah," jawab Devan dengan santai."Yaudah bentar gue mau siap-siap dulu, tunggu aja," ucap Aira dengan kesal.Raka dan Aira adalah sahabat dari kecil entah satu dari mereka menaruh perasaan nya atau sama-sama punya rasa, hanya tuhan dan mereka yang tahu.Mereka menyusuri taman bermain yang sangat ramai di pagi hari. Devan melihat di samping taman ada tukang bubur, dia pun menarik tangan Aira untuk berjalan di samping nya sambil menuju tukang bubur tersebut."Kita makan dulu ya, ntar lanjut jalan-jalan lagi," ucap Devan."ya deh," jawab Aira.Sembari menunggu bubur nya disiapkan, Aira melihat Devan yang raut mukanya seperti gelisah. Aira menepis pikiran itu lalu beralih ke bubur yang baru saja datang.Mereka makan dalam diam. Setelah selesai mereka kembali ke taman dan duduk di salah satu bangku taman."Ra, kalo suatu saat gue ga ada di samping lo gue mohon lo tetep bahagia," ucap Devan sambil menatap dalam mata Aira."Kenapa Dev? Tumben banget lo ngomong kaya gini, seakan akan lo bakal ninggalin gue," ucap Aira sambil menahan air mata yang sebentar lagi akan jatuh.Devan enggan menjawab, mereka menangis dalam diam."Lo udah janji buat ga ninggalin gue, tapi kenapa arghh," tangis Aira pecah.Devan pun memeluk Aira yang masih dalam keadaan menangis.Devan melepaskan pelukannya, mengangkat kepala wanitanya."Gue bakal ke Jerman besok, untuk ngelanjutin sekolah gue di sana. Bunda di sana sendirian Ra, gue harus jagain dia di sana." Devan menjelaskan sambil memegang tangan Aira.Setelah itu tidak ada lagi yang mengeluarkan suara, sibuk dengan pemikiran masing-masing.Devan berdiri sambil menatap lurus ke depan, dia tak sanggup lagi menatap Aira yang sedang menangis."Gue harap lo bakal ikut ngantar gue ke bandara, kalo engga juga gapapa gue ngerti. Gue cuma mau bilang kalo selama ini sebenarnya gue sayang bahkan cinta sama lo. Maaf banget baru ngucapin sekarang."Devan pergi, ya dia pergi dengan segala kenangan nya. Meninggalkan tanpa tau jawaban apa yang akan di berikan gadis itu.“ Manusia akan datang dan pergi, singgah di suatu tempat tapi pasti akan kembali ke rumah. Rumah adalah tujuan akhir .”[ E N D ]

Le Triangle Amourex
Teen
12 Jan 2026

Le Triangle Amourex

BRUKK!!DUGH!!"Liaaa, hati hati sayang," peringat mama Lia yang mengetahui anaknya terbentur pintu."Iya maaaah, tapi Lia buru buru ini.""Mah, Lia berangkat dulu yah, assalamu'alaikum!" pamit Lia."Waalaikumsalam, ga sarapan dulu?""Ga deh mah, takut telat nih."___Hari ini hari adalah hari dimana ujian kenaikan kelas dilaksanakan. Dan seminggu terakhir ini Lia belajar dengan giat untuk mempersiapkan diri naik ke kelas 12."Untung ga telat.""Ish, kenapa pagi tadi ke bentur segala si, dahi gua kan jadi merah," omel Lia pada dirinya sendiri."Pagi cantik!" Cowok tampan yang bernama Romeo itu menyapa Lia. Romeo adalah kekasih dari seorang Alia Oktalyana. Ia kakak kelas Lia. Orangnya dingin, cuek, namun hanya pada Lia dan sahabatnya, Romeo bisa bersifat hangat. Berbanding terbalik dengan Lia yang ceria dan ramah."Pagi juga Romeo!" jawab Lia."Mau ke kelas?" tanya Romeo."Iya""Aku antar," kata Romeo dan langsung merangkul kekasihnya itu.Lia sudah terbiasa dengan sikap Romeo yang se enaknya.Sesampainya di depan kelas Lia, Romeo melepaskan rangkulannya dari Lia."Belajar yang rajin, nanti jawab soalnya yang teliti," pesan Romeo."Siap kapten!" jawab Lia sambil hormat layaknya menghormati bendera. Romeo gemas dengan tingkah laku Lia, ia mengacak acak rambut hitam Lia."Ih Romeoooo, kan berantakan jadinya rambut Lia!" kesal Lia."Udah udah, masuk sana," kata Romeo setelah merapikan rambut Lia kembali.Lia pun masuk ke kelasnya dan duduk di bangku nya."Tumben baru dateng li?" tanya Syifa. Asyifa aulia adalah sahabat Lia yang sifatnya sama periang dengannya."Iya, tadi telat bangun," jawab Lia."Lu udah siap li naik kelas 12?" tanya Syifa basa basi sambil menunggu bel berbunyi."Siap siap aja," jawab Lia santai."Oh ya, gimana hubungan lu sama Romeo? Baik baik aja kan? Soalnya lu kalo mau ujian gini ga ada yang lu perhatiin sama sekali," tanya Syifa kepo."Apaan sih, baik baik aja kok," jawab Lia.___Ujian kenaikan kelas sudah selesai dan para murid murid diliburkan beberapa minggu. Dan sekarang sudah saatnya masuk sekolah lagi.Sekarang Lia sedang di lorong sekolah bersama Syifa."Liaa!" panggil Romeo dari kejauhan."Iya? Ada apa Rom?" tanya Lia."A ... aku mau ngomong sama kamu," gugup Romeo."Ck ... pacaran aja terus, dunia serasa milik berdua ye? Yang lain ngontrak ... dahlah mending pergi gue dari pada pagi pagi liat keuwu an orang lain," cerocos Syifa lalu meninggalkan Lia dan Romeo.Lia hanya terkekeh dan Romeo tak mengindahkan kekesalan Syifa. Yang terpenting ia mengungkapkan apa tujuan utamanya."Oh ya, tadi Romeo mau ngomong apa sama Lia?" tanya Lia."Maaf ... aku terpaksa ngomong ini ... Aku akan melanjutkan kuliah ke singapura sesuai permintaan papa," ucap Romeo.Tentu saja Lia terkejut dengan apa yang di ungkapkan Romeo."Dan aku minta kita putus, aku ga bisa LDR," pinta Romeo.Dan saat itu Lia langsung menatap Romeo tak percaya. Bulir bulir air mata Lia jatuh begitu saja."R ... rom? Kamu bercanda kan? Gak mungkin kita putus," kaget Lia."Aku beneran Li"Lia menangis dan langsung saja ia berlari meninggalkan Romeo dengan rasa kecewa. Perjuangannya melelehkan hati Romeo berakhir begitu saja?Lia menangis di dalam toilet sangat lama, bahkan bel masuk sudah berbunyi. Bahkan Syifa sampai mencarinya.Syifa mencari namun Lia belum ketemu, sekarang ia berada di toilet untuk memeriksa apakah ada Lia disana. Dan ia mendengar suara sesenggukan dari dalam toilet, hanya saya pintu itu terkunci. Sial.*Brak!*Syifa mendobrak pintu toilet, untung pintunya bukan pintu kayu atau bahkan besi.Setelah mendobrak pintu, ia menemukan Lia yang sedang menangis di lantai toiletHari ini Lia memutuskan untuk izin pulang terlebih dahulu dengan alasan sakit dan diantar oleh Syifa.Sesampainya di rumah Lia, Syifa menemani Lia di kamar sampai Lia tidur. Untung saja mama Lia sedang ke kantor.Karna Lia sudah tidur Syifa pulang, hari juga sudah sore.___2 minggu setelah perginya Romeo ke singapura Lia sudah menjalani hidupnya seperti biasanya, walau belum sepenuhnya sakit hatinya sembuh dan melupakan Romeo.Hari ini Lia berinisiatif untuk pergi ke pantai. Ia sebenarnya ingin mengajak Syifa, hanya saja Syifa tidak bisa dihubungi. Dan akhir akhir ini juga sibuk katanya.Sesampainya di pantai, Lia duduk di bangku yang sudah disediakan dekat pantai. Ia melihat sekeliling. Indah. Itu kata yang pas untuk menggambarkan pantau ini.Namun tatapan matanya menangkap sosok pria yang sepertinya ia kenali dengan seorang perempuan. Mereka seperti sedang berkencan. Lia mempertajam penglihatannya."Romeo?! Syifa?!" kaget Lia dengan apa yang di lihatnya sekarang.Mendengar suara samar samar yang seperti memanggil namanya, Romeo melihat siapa yang memanggilnya. Syifa juga menoleh ke belakang dan mendapati sahabatnya yang sedang terkejut karna melihat dirinya dengan mantan kekasihnya.Lia menghampiri meja Romeo dan Syifa."K ... kalian pacaran?" tanya Lia dengan air mata yang mengalir.Romeo dan Syifa hanya diamLia berbalik dan berlari meninggalkan Romeo dengan rasa sakit yang sama saat Romeo memutuskan hubungan dengannya.Romeo dan Syifa mengejar Lia.Tanpa Lia sadari, ia berada di jalanan dan dari arah kiri ada truk yang berkecepatan tinggi. Karna tak sempat menghindar, Lia tertabrak truk tadi."LIAAAAA!" teriak Romeo dan Syifa terkejut dengan apa yang mereka lihat.___Romeo langsung membawa Lia ke rumah sakit dan Syifa menghubungi Mama Lia.Pintu UGD terbuka dan menampakkan seorang dokter."Dok! Bagaimana anak saya?" tanya mama Lia tanpa basa basi."Pasien mengalamai gagal ginjal karna kecelakaan yang menimpanya, dan secepatnya harus ada yang mendonorkan ginjalnya kepada pasien.""Aku aja tan, dok," ujar syifa."Syifa? Apa kau yakin?" tanya mama Lia."Iya tan, golongan darah Syifa juga sama kok, O. Ini juga untuk menebus kesalahan saya pada Lia," Yakin Syifa."Baiklah, mari ikut saya untuk melihat kesehatan ginjal yang akan kau donorkan," kata dokter.Syifa mengikuti dokter itu, sebelumnya ia tersenyum pada mama Lia dan Romeo untuk menyakinkan mereka.___Sudah beberapa jam operasi dilakukan. Dan akhirnya pintu ruangan terbuka dan menampilkan seorang dokter."Bagaimana dok? Apakah operasinya lancar?" tanya mama Lia."Maaf, kami sudah memberikan yang terbaik, namun tuhan sudah berkehendak lain. Pendonor dan pasien tidak bisa diselamatkan," ucap dokter dengan berat hati."Gak! Gak mungkin!""Lia sama Syifa masih bisa diselamatkan dok!" Romeo sangat frustasi sekarang.Mama Lia sudah menangis sesenggukan di lantai rumah sakit yang dingin. Mereka sangat terkejut dengan kenyataan ini.Romeo dan mama Lia diperbolehkan masuk untuk melihat Lia dan Syifa untuk yang terakhir kalinya.___Terkadang semesta hanya mampu mempertemukan dan memperkenalkan, bukan untuk mempersatukan hingga akhir hayat.[ E N D ]

Menampilkan 24 dari 166 cerita Halaman 1 dari 7
Menampilkan 24 cerita