Temukan Cerita Inspiratif
Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.
Total Cerita
1144
Genre Romance
230
Genre Folklore
228
Genre Horror
228
Genre Fantasy
230
Genre Teen
228
Magic Seal
Matahari pagi berwarna kuning keemasan menyorot wajah Ammara. Gadis itu sedang duduk bersandar pada batang pohon oak dengan mata tertutup di kebun Ailfryd. Seperti biasa, ia tidak tertidur, tetapi kepalanya terasa sangat berat sejak ia terlalu banyak menangis beberapa hari yang lalu.Di sampingnya, Selly berdiri tegak dengan mata memicing awas menatap sekitar. Unicorn bersurai putih itu tak henti-hentinya mengunyah plum yang membuat sekitar mulutnya menjadi kemerahan. Ia tak boleh mengantuk dan tertidur karena Ella dan Ailfryd menugaskannya untuk menjaga Ammara dengan lebih ketat."Ammara!" sapa sebuah suara.Gadis itu terkesiap dan langsung membuka matanya. Tubuhnya masih bersandar malas pada batang pohon, tetapi netranya telah menangkap sosok peri laki-laki yang berjalan memasuki kebun plum Ailfryd."Elwood?" sapa Ammara seraya mengucek matanya. Gadis bersurai keemasan itu segera bangkit dari posisinya dan merapikan permukaan gaun lilac -nya yang sedikit berantakan.Selly tiba-tiba meringkik nyaring . Unicorn itu melotot tidak suka begitu melihat kedatangan Elwood. Makhluk itu dengan sigap mendekati Ammara dan mengelilingi tubuh si gadis dengan protektif."Hei, Selly, tenanglah. Dia hanya Elwood. Kau mengenalnya, bukan?" ucap Ammara lembut. Ia membelai surai putih unicornnya sekilas untuk menenangkan makhluk itu.Selly tak jua tenang. Unicorn itu kembali meringkik gusar sambil mengenduskan moncong hidungnya pada Elwood.Elwood mundur beberapa langkah saat hidung Selly nyaris mengenai pipinya. Peri laki-laki itu berdecak kesal.Hidung Selly mengernyit dan bibirnya mengerucut tidak suka."Wah, sepertinya Pangeran Elwood sedang dalam mood yang buruk," sindir Ammara sambil terkekeh. Gadis itu menarik tubuh Selly menjauhi Elwood. Namun, makhluk bersurai putih itu kembali mendekat dan mengitari Elwood dengan tatapan waspada.Elwood menghindar. Kali ini ia bersembunyi di balik tubuh Ammara. "Tolong, singkirkan makhluk ini, Ammara," ujarnya kesal."Selly! Cukup. Elwood bukan makhluk asing. Kau mengenalnya bukan?!" sergah Ammara. Kedua lengannya membentang untuk menghalangi unicorn yang hendak mendekati Elwood lagi.Selly sama sekali tak mendengarkan. Ia menggeram dan meringkik beberapa kali. Unicorn itu bahkan berusaha menerobos lengan Ammara untuk menyeruduk Elwood.Wajah Elwood seketika memerah saat kepala unicorn itu akhirnya mengenai perutnya. Peri laki-laki itu jatuh terduduk. Bokongnya menghantam tanah dengan keras hingga menimbulkan bunyi gedebuk."Kau tidak apa-apa, Elwood?" jerit Ammara yang sontak menghampiri peri laki-laki itu. Ia memeriksa keadaan Elwood sekilas kemudian mengalihkan pandangannya pada Selly yang terlihat masih menggeram marah."Makhluk sialan!" umpat Elwood berang.Ammara terkesiap. Gadis itu melotot pada Elwood ketika mendengar umpatan marahnya. Elwood yang ia kenal tidak seperti ini."Maafkan Selly, Elwood. Ia sedang mengalami hari yang buruk belakangan ini," cicit Ammara seraya membantu Elwood berdiri. "Mari kita masuk ke rumah cendawan. Selly tidak akan mengganggumu di sana," usul Ammara.Elwood menggeleng cepat. "Di sini saja," tolaknya. Netra birunya masih lekat menyorot Selly dengan waspada.Selly mulai meringkik lagi."Selly, cuk--""Maaf aku harus melakukan ini," potong Elwood cepat. Ia menjentikkan jarinya ke udara di hadapan Selly. Unicorn putih itu seketika jatuh tertidur. Tubuhnya yang besar ambruk ke tanah.Elwood tersenyum. "Beres!" serunya senang. Kekesalannya terhadap makhluk itu menguap begitu saja.Ammara melongo."Tenang saja. Dia hanya tertidur," sahut Elwood seolah tahu apa yang dipikirkan oleh Ammara."Aku kira kau tidak bisa menggunakan sihir," imbuh Ammara. Ia mengerjapkan matanya. Gadis itu benar-benar merasakan ada yang aneh dengan Elwood hari ini.Dahi Elwood mengerut, tetapi sedetik kemudian ia mengubah ekspresinya. "Ah ... Em, itu sihir yang sangat mudah. Seluruh peri pasti bisa melakukannya," tukasnya seraya mengendikkan bahu. "Sebenarnya, ada hal penting yang ingin aku sampaikan, Ammara. Ini mendesak," lanjutnya. Kegusaran seketika menyergap wajah rupawan pangeran peri itu."Ada apa?" tanya Ammara yang mulai ditulari rasa khawatir."Elijah!""Elijah kenapa?" potong Ammara."Dia pergi dari istana tadi malam ... setelah bertengkar dengan Ratu Serenity. Ia pergi begitu saja dalam keadaan marah," terang Elwood gusar.Wajah Ammara seketika menegang. "Dia pergi ke mana?" tanya Ammara. Sebuah tempat yang mungkin dikunjungi Elijah terlintas dalam pikirannya. Ia harus memastikan asumsinya tersebut.Elwood menggigit bibir bawahnya. Peri laki-laki itu merasa sedikit ragu untuk menjawab pertanyaan Ammara. Setelah menimbang beberapa saat, akhirnya Elwood membuka suara."Beberapa Pixie dan kesatria Elf mengatakan kalau Elijah pergi ke Hutan Larangan dan hingga kini belum kembali. Aku merasa sangat khawatir. Andai aku bisa masuk ke sana dengan selamat, maka aku kan menjemput Elijah," ucap Elwood. Pangeran peri itu mengusap wajahnya kasar."Apa?!" pekik Ammara. Matanya sontak membelalak. "Untuk apa dia ke sana? Akan tetapi, bukankah Elijah memang sering ke Hutan Larangan?" tanya Ammara lagi.Elwood mengendikkan bahu. "Kau tahu, ibu kandungnya tinggal di sana. Ibunya adalah peri Unsheelie yang menculik Putra Mahkota Albert. Aku takut jika ibunya menahannya di sana. Unsheelie selalu punya rencana jahat," tukasnya. Suaranya terdengar bergetar."Ibu Elijah?!" ulang Ammara. Gadis itu benar-benar shock mendengar perkataan Elwood. Ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Pikirannya berkelana pada peristiwa penculikan Putra Mahkota Albert di Kastil Larangan. Mungkinkah Elijah pergi menemui ibunya untuk ...."Kita harus segera ke sana. Sepertinya aku tahu dia di mana!" putus Ammara. Ia menarik salah satu lengan Elwood dan hendak beranjak dari tempat itu."Tunggu!" sergah Elwood seraya menahan lengannya hingga Ammara urung melanjutkan langkah."Ada apa?" tanya Ammara. Dahinya mengerut."Kita harus membuat rencana terlebih dahulu. Aku tidak bisa masuk ke dalam Hutan Larangan. Namun, aku tahu satu cara agar hutan itu tidak terkutuk lagi, sehingga kita bisa masuk bersama," pungkasnya. Netra biru Elwood melebar.Ammara berpikir sejenak. "Kita bisa minta bantuan Archibald!" usulnya.Elwood menggeleng cepat. Raut wajahnya seketika menjadi suram. "Jangan!" pekiknya gelagapan. "Maksudku, aku tidak dapat menemukan Archibald di istana tadi. Dia pergi. Mungkin ke tempat ibunya. Entahlah," terangnya terbata-bata.Ammara memicingkan mata. "Aneh sekali," gumamnya lebih kepada diri sendiri. Setelah menarik napas panjang, gadis itu berkata. "Jadi, apa saranmu?"Elwood melipat kedua lengannya di dada. Wajahnya berubah serius. "Di perbatasan Hutan Larangan terdapat sebuah segel. Segel itu terselubung dan sangat sulit untuk dibuka oleh bangsa peri. Segel tersebutlah yang menyebabkan peri Sheelie dan Unsheelie tidak bisa keluar masuk Hutan Larangan dengan leluasa. Peri sakti sekali pun tidak akan bisa menghancurkan segel tersebut. Tetapi aku yakin kau bisa, Ammara ...."Ammara membelalak. "Aku?!" semburnya. Kepalanya menggeleng cepat. "Jangan bercanda, Elwood. Tidak mungkin!"Elwood menatap tajam pada sepasang iris mata Ammara. Ia merendahkan suaranya. "Aku tahu siapa sebenarnya kau, Ammara. Aku tidak perlu menyebutkannya. Kau bukanlah makhluk peri, bukan?" bisik Elwood penuh selidik.Ammara terkesiap. Tanpa sadar, mulutnya menganga. Jantungnya terasa hendak melompat keluar dari dada. Bagaimana mungkin Elwood mengetahui rahasianya. Apakah Claude telah dengan lancang menceritakannya pada peri laki-laki di hadapannya ini."Aku tidak mengerti apa yang kau ucapkan Claude," kilahnya. Ammara mengalihkan pandangan. Ia menghindari penghakiman yang diberikan Elwood melalui netranya."Jangan mengelak, Ammara. Baumu ... yang khas telah mengungkapkan semuanya," decak Elwood. Wajahnya mendekat hingga membuat gadis itu sedikit risih, sementara hidungnya mengendus Ammara. "Jangan khawatir, rahasiamu aman denganku," sambungnya, berbisik di telinga Ammara.Ammara bergidik seketika. Ia merasa diancam oleh Elwood. Yang benar saja, mengapa pangeran peri satu ini jadi berubah drastis setelah Putra Mahkota wafat. Ammara segera menepiskan prasangka itu. Yang terpenting saat ini adalah menyelamatkan Elijah. Setelah menghirup napas dalam-dalam, gadis itu membuka suara. "Katakan bagaimana aku bisa membuka segel di perbatasan Hutan Larangan?" tanya Ammara tak sabar.Salah satu sudut bibir Elwood terangkat. Pangeran peri itu menyeringai. Namun, sedetik kemudian ekspresinya berubah datar, tak terbaca. "Kau tidak perlu menghancurkan segelnya. Kau hanya perlu menemukan, kemudian membukanya. Segel putih itu diciptakan oleh para penyihir peri Sheelie. Ia terselubung dan sama sekali tak bisa disentuh oleh seluruh bangsa peri, Sheelie maupun Unsheelie. Hanya manusia terpilih yang dapat membukanya. Aku yakin kau adalah manusia terpilih Ammara. Kau ada di Fairyverse ini karena takdir yang telah memilihmu. Jadi kau pasti bisa dengan mudah menemukan segel itu," terangnya panjang lebar.Ammara mengerjap. Ia berusaha memahami apa yang baru saja dijelaskan oleh Elwood. Semuanya terdengar tak masuk akal. Bagaimana mungkin makhluk lemah seperti dirinya bisa melepaskan segel Hutan Larangan, yang bahkan peri terkuat sekali pun tak akan bisa menemukan dan melepaskannya."Kau bersedia membantuku, 'kan, Ammara? Kita tidak punya banyak waktu," desak Elwood. Peri laki-laki itu kembali meraih salah satu lengan Ammara."Aku--""Kau pasti bisa, Ammara," potong Elwood dengan nada mantap.Ammara menghembuskan napas panjang. "Tapi, aku ... bagaimana caranya kita ke sana? dan ...." Ammara mengedarkan pandangannya ke sekeliling kebun buah plum Ailfryd. Hatinya mendadak was-was, bagaimana jika Ailfryd ataupun Ella memergokinya dan mengetahui rencananya untuk pergi ke Hutan Larangan."Aku punya unicorn. Kita akan melakukannya dengan cepat. Aku berjanji. Jika segel itu terbuka, aku akan langsung masuk ke Hutan Larangan untuk menyelamatkan Elijah. Aku akan meminta bantuan istana juga," ucap Elwood begitu menangkap keraguan di wajah Ammara.Setelah berpikir beberapa saat, akhirnya Ammara menyetujui permintaan Elwood. Dengan tergesa, mereka menunggangi unicorn bersurai cokelat menuju perbatasan Hutan Larangan.* * *Seekor unicorn berhenti tepat di depan perbatasan Hutan Larangan. Dari punggungnya, Elwood dan Ammara melompat turun dengan tergopoh-gopoh.Ammara memerhatikan perbatasan Hutan Larangan yang masih sama persis dengan keadaan saat terakhir kali ia kunjungi. Hutan yang gelap dan suram. Perbatasan hutan itu diselimuti kabut tipis yang seolah menghantam sebuah dinding kaca besar tak kasat mata yang menjadi pembatas dengan Fairyhill."Bagaimana, apa kau menemukan segel itu?" tanya Elwood dengan nada mendesak.Ammara menggeleng pelan. "Aku tidak melihat--""Ammara, aku akan mencari bala bantuan ke Istana Avery. Kau tunggulah di sini. Setelah segelnya terbuka, kita akan masuk bersama. Bagaimana menurutmu?" potong Elwood tiba-tiba. Raut wajah pangeran peri itu terlihat menegang."Baiklah," sahut Ammara seraya mengangguk pelan. Netranya sedang fokus menyisir perbatasan untuk mencari segel yang dimaksud.Tanpa menunggu waktu lama, Elwood memacu unicornnya menjauhi perbatasan Hutan Larangan. Ammara dapat mendengar derap langkah unicorn yang semakin lama semakin menjauh.Ammara mengembuskan napas panjang, setelah kepergian Elwood seolah keberadaannya mengurangi keleluasaan gadis itu. Ia lebih dekat menyusuri perbatasan, bahkan sesekali masuk ke dalam Hutan Larangan untuk mencari segel yang dimaksud.Entah kenapa, hal-hal yang ditakuti oleh para peri di tempat itu sama sekali tidak berpengaruh untuk Ammara. Kabut Hutan Larangan serta kutukannya tak menimbulkan reaksi apa pun bagi gadis itu. Ah ya, bukankah ia memang bukan peri, tetapi manusia.Haruskah aku masuk saja sendirian dan melupakan segel itu? Tapi bagaimana jika di dalam aku bertemu makhluk-makhluk kegelapan yang haus darah manusia seperti dulu? Ammara seketika bergidik. Ia memutuskan untuk mengikuti rencana Elwood.Tiba-tiba iris mata hijau Ammara menangkap kilauan cahaya yang tak biasa dari salah satu sudut perbatasan Hutan Larangan. Ammara berjalan mendekati asal kilatan cahaya tersebut.Sebuah bejana transparan yang terbuat dari kaca tergeletak begitu saja di bawah sebatang pohon oak besar. Di dalam bejana kaca tersebut terdapat benda-benda kecil berbentuk seperti bintang dengan cahaya terang berwarna putih. Dari situlah asal cahaya yang tertangkap iris mata Ammara.Namun, seketika langkah Ammara meragu. Terlebih saat melihat sebatang pohon oak besar yang menaungi bejana. Pohon itu memiliki ranting-ranting pohon yang lebih besar dari ranting biasa, seperti tangan monster, membuat bulu kuduk Ammara meremang.Aku tidak punya banyak waktu, atau Elijah berada dalam bahaya , batinnya.Ammara menarik napas dalam-dalam, kemudian mengembuskannya untuk menenangkan diri. Tekadnya telah bulat. Gadis itu kembali melangkah mendekati bejana bercahaya yang sedari tadi tertangkap netranya.Ammara berjongkok di hadapan bejana itu, seraya memutar tutupnya perlahan tanpa mengangkat benda tersebut. Gadis itu menahan napas ketika ia merasa tutup bejana itu mulai longgar. Dengan tangan gemetar, Ammara melepas tutupnya.Cahaya-cahaya kecil berwarna putih terang satu per satu mulai keluar dari bejana kaca. Mereka berterbangan bebas ke segala arah hingga meninggalkan bejana bening dalam keadaan kosong.Ammara terpesona beberapa saat lamanya ketika melihat cahaya putih laksana bintang-gemintang itu terbang bergerombol memenuhi langit perbatasan Hutan Larangan. Namun, ia segera tersadar saat kabut dari Hutan Larangan mendadak mulai memenuhi tempatnya berdiri. Langit Fairyhill seketika menggelap.Tanpa Ammara sadari, pohon oak besar yang menaungi bejana itu perlahan bergerak. Seraut wajah monster seketika muncul pada batang pohon oak. Sepasang mata terbuka. Sepasang mata putih yang menyala milik si monster pohon menyorot gadis itu marah. Tanpa suara dan dengan gerakan yang cepat, monster itu menggerakkan ranting-rantingnya. Ranting-ranting mengumpulkan garis-garis cahaya dari seluruh cabang dan pucuk daunnya, kemudian mengumpulkan kekuatan itu di tengah-tengah batang hingga sebuah bola cahaya berwarna putih terbentuk di sana.Bola putih itu kemudian dilesatkan dengan kecepatan luar biasa oleh si monster pohon kepada Ammara. Sontak tubuh kecil Ammara terlempar ke belakang tanpa sempat menghindar.Ammara terkesiap. Rasa sakit dan panas menghantam perut bagian belakang tubuhnya. Tubuhnya kini terbaring di atas permukaan tanah yang tertutupi kabut tebal. Perlahan gadis itu memaksa tubuhnya untuk bangkit."Apa ini?!" lirih Ammara saat mengedarkan pandangan ke sekitar.Kabut tebal Hutan Larangan telah memenuhi Fairyhill. Langit Fairyverse pun seketika berubah menjadi kelabu. Batas antara Hutan Larangan dan Fairyhill mendadak hilang tanpa bekas, seolah perbatasan itu tak pernah ada."Tolong! Tolong!"Sayup-sayup pendengaran Ammara menangkap suara teriakan peri perempuan. Gadis itu mencari sosok empunya suara dengan sepasang netra hijaunya. Akan tetapi jejak pemilik suara itu seolah tak terlihat. Kabut terlalu tebal.Tiba-tiba sebuah suara raungan monster terdengar. Ammara terkesiap. Tubuhnya menegang di tempat. Dari balik kabut, tepat di hadapannya, sebuah bayangan besar berwarna hitam dengan mata putih menyala meraung tepat di depan wajahnya."Dasar manusia lancang! Berani-beraninya kau membuka segel Hutan Larangan yang telah dipasang oleh para leluhur bangsa peri. Tidakkah kau tahu, jika segel itu terlepas, maka seluruh makhluk kegelapan akan terbebas. Keseimbangan Fairyverse akan terganggu!" hardik bayangan hitam itu. Suara beratnya yang menggelegar seolah memenuhi Fairyhill.Angin berhmembus dan mengusir sebagian kabut yang menyelubungi makhluk besar itu. Kini tampaklah pohon oak besar yang hidup dengan wajah menyeramkan terukir pada batangnya. Ranting-ranting besar pohon itu berubah jadi tangan-tangan yang bergerak-gerak liar mencoba menggapai tubuh Ammara.Ammara terhenyak di tempatnya. Wajahnya pucat seketika. Tubuhnya gemetar. Tangan dan kakinya mendadak dingin dan kaku.Apa yang harus kulakukan ?!"Karena kelancanganmu, wahai manusia, aku akan menghukum mu!" sambung si monster dengan suara yang lebih menggelegar. Salah satu ranting monster pohon yang menyerupai tangan tiba-tiba terangkat ke atas.Ammara membelalak saat netra hijaunya menangkap kilatan cahaya dari sebilah tongkat sabit dengan mata runcing di genggaman si monster. Tongkat sabit itu terhunus tinggi. Dalam sepersekian detik, tongkat sabit itu mengayun cepat ke arahnya.Ammara menutup kelopak matanya erat-erat. Tak ingin menyaksikan kematian yang rasanya sebentar lagi akan menyergapnya. Jadi, inikah akhirnya ?
Broken Princess
Tatianna duduk termenung di bawah gazebo taman Istana Avery, tempat ia dan saudara-saudaranya biasa bermain, bersenda gurau dan menghabiskan waktu. Netra peraknya menyorot danau dengan permukaan air berwarna kehijauan yang terhampar di depan gazebo. Bunga Lupin berwarna merah muda dan ungu mengelilingi danau itu, menjadi pagar hidup, dengan para Pixie beraneka warna berterbangan di permukaannya.Tatianna mengingat bahwa di danau itu ia dan kakaknya pernah berlayar dengan perahu sederhana buatan Elwood. Putra Mahkota Albert dengan susah payah mendayung untuk mereka, sementara ia dan Elwood bernyanyi dan bersenang-senang dengan para nimfa penghuni danau.Tatianna tersenyum sekilas saat bayangan masa lalu yang menyenangkan itu hadir di pandangannya. Namun, wajahnya kembali muram saat teringat bahwa sang kakak kini telah tiada. Bahkan, kini salah satu saudaranya yang lain, Elijah, telah pergi dari istana. Semua tidak sama seperti dulu lagi.Tatianna mengembuskan napas panjang, merasa sakit setiap kali mengingat kenangan yang pernah ia lalui bersama saudara-saudaranya, terutama Albert, kakak kandungnya. Para nimfa sering mengatakan bahwa semua hal-hal buruk akan menghilang bersama berjalannya waktu. Namun, kali ini Tatianna tidak yakin. Baginya, berjalannya waktu bisa saja malah memperburuk keadaan, seperti saat ini.Tiba-tiba suara gemerisik daun mengagetkannya. Tatianna memalingkan wajah dari danau dan mendapati sosok sang ibu yang berjalan mendekat. Gaun panjang sang ratu menyapu dedaunan kering di sepanjang jalan yang ia lalui hingga menimbulkan bunyi tersebut."Aku mencarimu ke mana-mana, ternyata kau ada di sini," sapa Ratu Serenity seraya duduk di samping putrinya. "Apa yang kau lakukan di sini, Putri? Kau melewatkan pelajaranmu lagi?" tanyanya dengan tatapan menelisik.Tatianna mendengkus. "Aku merindukan Albert, Bu," sahutnya pelan. Ia kembali melayangkan pandangan pada danau kehijauan di hadapannya.Ratu Serenity mengikuti arah pandang putrinya. "Ibu juga merindukannya," ucap sang ratu. "Dia pribadi yang sangat menyenangkan, bukan? Ia selalu ingin membuat orang-orang di sekitarnya bahagia."Hening sesaat. Dua peri perempuan itu sama-sama larut dalam lamunannya masing-masing untuk beberapa saat lamanya.Tatianna tiba-tiba berpaling pada ibunya. "Ibu, kenapa Pangeran Elijah pergi pada saat pertemuan di balairung? Apa dia marah pada kita? Apa dia membenci Ibu?" tanya Tatianna dengan wajah polos.Ratu Serenity mengerutkan keningnya. Ia menarik napas dalam-dalam, sebelum membuka suaranya dengan hati-hati. "Kau ingat peri unsheelie yang datang pada saat penaburan abu Albert di Taman Peristirahatan Terakhir?" tanya sang ratu. Setelah Tatianna mengangguk pelan, ia melanjutkan kata-katanya. "Dia merupakan ibu biologis Pangeran Elijah. Peraturan Dewan peri jelas mencantumkan bahwa keturunan peri Unsheelie tidak dapat menjadi Putra Mahkota. Tentu saja Elijah marah dan membenci ibu karena ibu bersikeras menentangnya menjadi putra mahkota. Ibu sudah tahu betapa ambisiusnya Elijah untuk menjadi raja sejak dulu. Ia selalu membayangi Albert, karena pangeran itu ingin menjadi seperti kakakmu. Wafatnya Albert membuat Elijah kembali berharap dan Ibu tidak akan membiarkan itu terjadi," ucapnya panjang lebar dengan pandangan menerawang."Bagaimana mungkin Ibu Elijah adalah peri unsheelie? Apakah Raja Brian menikah dengan unsheelie?" tanya Tatianna sambil mengernyitkan alis.Ratu Serenity menggeleng. "Ibu Elijah berubah menjadi unsheelie setelah menikahi Raja Brian. Banyak yang mengira peri perempuan itu meninggal saat peristiwa pengusiran mantan ratu. Namun, ternyata ia masih hidup dan berubah menjadi peri unsheelie yang sangat kuat," paparnya. Sang Ratu mengembuskan napas panjang. "Kembalinya Minerva sudah pasti ada hubungannya dengan keinginan Elijah untuk menjadi raja. Semuanya pasti sudah ia rencanakan, Tatianna. Semua. Hingga kematian kakakmu!" imbuh sang ratu dengan suara bergetar. Matanya memicing setiap kali menyebut nama Minerva.Tatianna membelalak seraya menggeleng cepat. "Ibu, Pangeran Elijah tidak mungkin merencanakan pembunuhan Putra Mahkota Albert. Ia sangat baik pada kakak. Ia menyayangi kakak sama seperti kita. Ia bahkan yang menyelamatkan kakak saat diculik makhluk Hutan Larangan," bantah Tatianna yang tak percaya dengan perkataan ibunya."Jangan terlalu polos, Putriku. Elijah tidak sebaik yang kau kira. Terlebih, dia adalah putra peri unsheelie, tidak menutup kemungkinan sifat jahat ibunya menurun padanya. Bisa saja pertolongannya saat itu untuk menyembunyikan kedok dan rencana busuknya. Kita tidak bisa membiarkan ia menggantikan Albert, Tatianna," ujar Ratu Serenity. Kebencian terdengar jelas dalam suaranya.Tiba-tiba Ratu Serenity menatap ke dalam netra perak Putri Tatianna lekat-lekat. "Tatianna ... Bagaimana jika kau yang menjadi Ratu. Kaulah satu-satunya penerus Avery dengan darah peri sheelie murni. Kau anakku dan adik Putra Mahkota Albert. Kaulah satu-satunya peri yang layak memimpin Avery!" ucapnya setengah berbisik.Tatianna mengerutkan kening, kemudian menggeleng cepat. "Ti-tidak, Bu. Aku sama sekali tidak tertarik! Yang benar saja, aku sama sekali tidak berbakat memimpin, Ibu," bantahnya.Ratu Serenity mengernyit tidak senang. "Kau tidak bisa berkata seperti itu, Tatianna," sergahnya. "Kau harus menggantikan Albert menjadi pemimpin Avery. Aku tahu kau bisa Tatianna, meskipun kau tak ahli bela diri. Namun, kau bahkan memiliki kemampuan sihir dan kemampuan membaca rahasia yang lebih baik dari kakakmu. Itu cukup untuk menjadi bekalmu memimpin Kerajaan, Tatianna."Putri peri itu melotot pada sang ibu. Ratu Serenity ternyata masih bersikeras untuk memaksanya menjadi ratu. "Ibu, aku benar-benar tidak bisa menjadi pemimpin dan tidak mau. Saudara-saudaraku yang lain lebih baik untuk memimpin. Bagaimana dengan Pangeran Archibald atau Pangeran Claude atau Pangeran Elwood? Mereka sangat pintar. Ibu bisa meminta salah satu di antara mereka. Mereka pasti bersedia," sahut Tatianna seraya mendengkus."Tatianna!" bentak sang ratu marah.Tatianna terkesiap."Archibald tidak jauh berbeda dengan Elijah. Ibunya adalah pengkhianat, Tatianna, ratu yang terusir. Sementara Claude, ibunya yang telah wafat juga merupakan penyihir hitam. Dan Elwood, dia tidak suka belajar dan sangat tidak layak untuk menjadi raja, Tatianna, kau tahu itu, 'kan? Jadi, Tolong jangan sebut mereka lagi. Anak ibu kini tinggal dirimu, Tatianna. Kaulah satu-satunya yang berhak menjadi pemimpin Kerajaan Avery," ucapnya berapi-api. "Apa bisa ibu mengandalkanmu, Tatianna?" tanyanya lagi dengan mata berkaca-kaca.Tatianna menggeleng mantap. "Aku tidak bisa, Bu. Aku tidak mau, seberapa keras pun Ibu memaksa akan sia-sia. Jadi, tolong, jangan paksa aku, Bu," lirihnya pelan.Ratu Serenity melotot geram. Rahangnya mengeras. "Kau tidak punya pilihan lain, Tatianna. Apa kau mau kita terusir dari istana? Para selir tidak menyukai ibu. Mereka akan dengan mudah menjatuhkan ibu jika ibu tidak lagi memiliki kuasa. Apa kamu tega jika ibu diperlakukan seperti itu?" tanya sang ratu dengan wajah memelas yang terlalu dibuat-buat.Tatianna mendengkus, kemudian kembali menggeleng mantap. "Tidak, ibu!" jawab sang putri tegas.Seketika wajah Ratu Serenity menjadi muram. Netra peraknya menatap tajam pada Tatianna. Sang ratu mendekat pada wajah anaknya, kemudian merenggut dagu sang putri. "Ibu benar-benar kecewa padamu, Tatianna. Ibu beri satu kesempatan lagi. Ibu memberi waktu tiga hari bagimu untuk berpikir, Tatianna. Ingat ini, aku tidak menerima jawaban selain 'iya' atau kau akan merasakan akibatnya!" ancamnya dalam suara rendah yang menusuk.Tubuh Tatianna menegang karena rasa takut yang menyergap seketika. Bola mata sang putri seketika memanas dan pandangannya menjadi buram. Setetes air bening lolos pada pipi putihnya ketika Ratu Serenity melepaskan dagunya kasar.Sang ratu segera beranjak dari taman istana itu dengan tampang kesal. Wajahnya memerah padam. Sementara, Tatianna yang tertinggal sendirian, perlahan larut dalam tangisan pelan yang semakin lama semakin keras dan menyayat hati.* * *Archibald berjalan perlahan melewati pintu gerbang taman istana Avery yang setengah terbuka. Peri laki-laki itu mengerling sekilas pada gerbang taman, ketika sebuah suara tangisan tertangkap pendengarannya.Archibald mendekati gerbang taman itu untuk mendengar lebih jelas, sekaligus mengintip empunya suara. Peri laki-laki itu mengerutkan kening saat iris matanya menangkap sosok peri perempuan bersurai perak yang sedang duduk di tengah-tengah gazebo di seberang danau. Peri perempuan itu pastilah empunya suara tangisan karena kedua telapak tangan terlihat menutupi wajah.Archibald mengenali sosok itu. Ia berjalan memasuki taman istana dengan langkah pelan, tidak ingin mengganggu peri perempuan yang sedang menangis itu. Peri laki-laki itu berjalan mengitari separuh danau untuk mencapai gazebo."Tatianna?" sapa Archibald setelah melihat sosok peri perempuan itu dari dekat.Peri perempuan itu sontak mengangkat wajahnya yang sembab, berurai air mata. Mata bengkaknya menyorot Archibald yang baru saja memasuki gazebo. Tatianna bangkit dari duduknya dan menyongsong Archibald dengan pelukan. Tangis putri peri itu pecah lagi saat ia menenggelamkan wajahnya di dada Archibald.Archibald terkesiap. Tubuhnya mendadak kaku saat Tatianna tiba-tiba memeluknya seraya menangis. Ini perkara sulit baginya, menghadapi seorang peri perempuan yang menangis tanpa mengetahui penyebab tangisnya.Kedua lengan Archibald terangkat untuk membalas pelukan Tatianna. Namun, seketika pangeran peri itu ragu dan kembali menurunkan lengannya."Hei, apa yang sebenarnya terjadi, Tatianna?" tanya Archibald bingung.Tatianna terlihat masih enggan membuka suara. Peri perempuan itu masih larut dalam tangisannya, menumpahkan setiap tetes air mata yang ia miliki di dada Archibald.Beberapa peri Pixie yang kebetulan lewat atau yang memang berdiam di pinggir danau mulai memperhatikan Archibald dan Tatianna. Hati mereka yang masih diliputi kesedihan pasca meninggalnya Putra Mahkota Albert merasa terenyuh. Mereka iba terhadap sang putri karena mereka mengira pastilah Tatianna sedang memikirkan kakaknya.Untuk beberapa saat lamanya mereka berdiam di sana dengan hanya suara tangis Tatianna yang terdengar.Setelah tangisnya reda, Tatianna mengangkat wajah dari dada Archibald. "Terima kasih," lirihnya seraya menyedot ingus. Kedua tangannya sibuk membersihkan sisa-sisa air mata di kedua pipi.Archibald mengangguk pelan seraya mengembuskan napas lega. Peri laki-laki itu kemudian mengikuti Tatianna yang mengajaknya duduk di tengah-tengah gazebo. Berbagai pertanyaan berputar di dalam kepalanya mengenai mengapa peri perempuan itu menangis. Namun, mengingat kepergian Putra Mahkota Albert yang baru beberapa hari, kemungkinan besar, Tatianna menangis karena teringat akan kakaknya. Lagi pula, Archibald merasa ada yang perlu ia sampaikan pada peri perempuan itu."Aku minta maaf, Tatianna," ucap Archibald dengan suara yang tercekat. Ada emosi tertahan yang sulit untuk ia keluarkan.Tatianna mengangkat wajahnya. Manik mata peri perempuan itu beradu dengan manik mata Archibald.Archibald menunduk. "Kau pasti sudah tahu, kalau aku yang menusuk Putra Mahkota Albert. Aku ... aku tidak punya pilihan lain. Aku hanya ingin menyelamatkan jiwanya, walaupun sedikit terlambat. Akan tetapi, aku tahu, ia pasti akan berterima kasih padaku," paparnya getir.Tatianna menggeleng pelan. "Aku tahu, ini bukan salahmu. Berhentilah mendengarkan para peri yang menyalahkanmu, Archibald," sahut Tatianna lirih. Ia menyedot hidungnya lagi, kemudian melanjutkan ucapan. "Aku tahu, saat seperti ini juga sangat berat bagimu ... bagi kita semua. Aku hanya berandai-andai jika segala sesuatunya dapat kembali seperti dulu."Hening seketika di antara mereka. Archibald maupun Tatianna sama-sama terdiam menatap danau hijau dengan permukaan berkilauan memantulkan cahaya matahari. Kenangan tentang kebersamaan mereka bermain di danau itu terlintas begitu saja di dalam pikiran Archibald. Hingga tanpa sadar, peri laki-laki itu mengembuskan napas dengan berat."Archibald!" sapa Tatianna.Archibald mengalihkan tatapannya dari danau dengan gelagapan. Lamunannya mendadak buyar. Netra hazel gree n-nya mendapati netra perak Tatianna yang sedang menatapnya intens."Ada apa?" tanya Archibald seraya mengangkat salah satu alisnya."Aku ..." Kalimat Tatianna menggantung, penuh keraguan. Tatianna meneguk salivanya. "Ada yang ingin aku sampaikan," katanya dengan suara bergetar."Katakan saja," sambut Archibald tak acuh. Ia baru saja hendak beranjak dari duduknya, tetapi saat mendengar kalimat Tatianna, peri laki-laki itu urung melakukannya.Tatianna terlihat menunduk sebentar sambil memainkan salah satu ujung gaunnya. Peri perempuan itu menggigit bibir seraya mengerling sekilas ke arah Archibald yang sedang menanti ucapannya. "Aku sebenarnya ... aku menyukaimu Archibald," cetusnya cepat. Ia menunduk, tak berani menatap netra peri laki-laki di hadapannya. Pipinya seketika memerah dan terasa panas."Apa katamu?!" seru Archibald terkejut. Ia menatap lurus wajah Tatianna yang tertunduk malu. Bibirnya terkatup, sementara wajahnya menjadi datar tanpa ekspresi.Tatianna menggigit bibir bawahnya lagi. Dadanya berdebar sangat kencang saat mendengar respon pangeran peri itu. Setelah menguatkan hati, ia akhirnya mengangkat wajah dan mendapati netra Archibald menatapnya tajam, seolah menghakimi. "Aku menyukaimu, Archibald. Aku ... jatuh cinta padamu sejak lama. Dapatkah kau menerima cintaku?" ulang Tatianna dengan suara bergetar.Archibald terkesiap. Peri laki-laki itu tanpa sadar membuka mulutnya. "Kau ... tidak bersungguh-sungguh, kan?" tanyanya dengan kening berkerut."Aku bersungguh-sungguh," sahut Tatianna lirih. Matanya berkaca-kaca menatap Archibald.Archibald menarik napas dalam-dalam. Peri laki-laki itu membalas tatapan Tatianna, sementara wajahnya menunjukkan ekspresi yang tak dapat ditebak. "Maafkan aku Tatianna, aku tidak bisa. Kau sudah aku anggap seperti adik kandungku sendiri ... aku tidak bisa," ujar pangeran peri bersurai keemasan itu dengan nada mantap.Setetes air bening langsung luruh dari salah satu pelupuk mata Tatianna, saat mendengar jawaban itu. Sesuatu di dalam dadanya terasa pedih dan sakit, serupa pedang yang dicabut paksa keluar dari tubuh yang terluka. "Tidak bisakah kau mencoba menerimaku?" tanya Tatianna masih mencoba peruntungannya. "Aku tidak akan pernah mengecewakanmu, Archie. Aku berjanji!"Archibald menggeleng pelan. "Tidak bisa, Tatianna," tolak Archibald lembut. "Hatiku sudah milik yang lain. Aku juga tidak ingin kau terluka. Jadi, jangan pernah berharap padaku," imbuhnya lagi.Tatianna sekuat tenaga menahan tangisnya yang hampir meledak. Ia menghirup napas dalam-dalam, memenuhi paru-parunya dengan udara agar kepalanya dapat berpikir jernih. Dengan gerakan cepat, Tatianna meraih salah satu tangan Archibald dan menggenggamnya erat selama beberapa detik, sementara Archibald yang sangat terkejut segera menarik kembali tangannya.Bayangan tentang sesosok peri bersurai keemasan hadir dalam penglihatan di alam bawah sadar Tatianna. Sosok peri itu berdiri di tengah-tengah sebuah padang Dandelion yang tampak asing. Peri perempuan itu menoleh, kemudian tersenyum dengan sepasang netra hijau yang begitu ekspresif. Tatianna terkesiap saat mengenali peri perempuan itu. Ammara ...."Kau?! apa yang kau lakukan?!" teriak Archibald gusar. Ia memicingkan matanya. Ia tahu persis apa yang telah dilakukan Tatianna. Peri perempuan itu baru saja membaca rahasianya, yang memang merupakan keistimewaan dan keahlian Tatianna.Tatianna menggeleng cepat seraya menutup mulutnya dengan kedua tangan. Matanya membelalak. Tangisnya mendadak pecah tak terbendung lagi. Secepat kilat ia bangkit dari duduknya dan berlari menjauhi Archibald. Hatinya hancur berkeping-keping karena cintanya yang tertolak, seperti yang selama ini ia takutkan. Ditambah lagi dengan kenyataan bahwa sang pangeran pujaan hati ternyata menyukai peri lain, dan peri itu adalah Ammara, peri perempuan biasa dari Fairyfarm yang tidak begitu ia sukai.Tatianna berlari dan terus berlari meninggalkan Istana Avery, membawa tangis dan sakit hatinya. Ia tak ingin menoleh ke belakang, di mana terdengar suara-suara yang memintanya untuk berhenti dan memintanya kembali. Ia hanya ingin sendirian dan berharap sakit hatinya sembuh setelah ia menjauh dari istana.* * *Tatianna terengah-engah ketika ia berhenti berlari. Telapak kakinya yang telanjang terasa perih dan melepuh. Peri perempuan itu meringis seraya meluruskan kakinya saat ia terduduk di bawah sebatang pohon wilow.Tatianna bersandar pada sebatang pohon wilow seraya menatap ke sekelilingnya. Entah telah berapa jauh dan berapa lama ia berlari, yang jelas saat ini ia merasa sangat kelelahan. Pelipisnya basah oleh peluh, sementara napasnya turun naik dengan cepat.Netra perak Tatianna menangkap pemandangan hutan yang rimbun berwarna hijau di salah satu sisi, sementara sebuah hutan berkabut di sisi lainnya. Dari kejauhan, ia dapat melihat siluet gunung-gunung yang mengelilingi tempat itu. Tidak salah lagi, ia pasti sedang berada di Fairyhill sekarang. Berlari sambil menangis ternyata membuatnya tak sadar betapa telah sangat jauh ia dari Istana Avery.Pandangan Tatianna kemudian sepenuhnya teralih pada pemandangan hutan berkabut yang terlihat jauh lebih gelap dan suram daripada daerah lain di sekitarnya. Ia tak pernah melihat tempat seperti itu sebelumnya di sekitar Istana Avery, karena ia memang tidak pernah pergi jauh dari kediamannya. Namun, ia dapat menebak dan ia yakin tebakannya tidak meleset, tempat itu adalah Hutan Larangan.Tiba-tiba Tatianna melihat sebuah pergerakan di salah satu sisi perbatasan Hutan Larangan dan Fairyhill. Punggungnya seketika menegak. Peri perempuan itu menyeret tubuhnya yang masih kelelahan untuk bersembunyi di balik sebatang pohon wilow. Ia menajamkan penglihatannya. Pergerakan itu semakin lama semakin jelas, menampakkan sesosok peri Elf bersurai keemasan.Tatianna menahan napas, takut jika sosok itu tiba-tiba menyadari keberadaanya. Sosok peri bersurai keemasan itu bergerak keluar dari kabut tipis di depan Hutan Larangan, hingga Tatianna dapat melihat parasnya. Sosok itu mendekati sesuatu yang tak dapat Tatianna lihat dengan jelas.Tatianna beringsut maju pada sebatang pohon wilow di hadapannya, agar dapat melihat sosok itu lebih jelas. Peri perempuan itu membelalak seraya menutup mulutnya saat mengenali sosok peri di perbatasan."Ammara?! Apa yang ia lakukan di tempat itu?!" decak Tatianna dengan suara tertahan.Dari kejauhan, Tatianna tiba-tiba melihat sosok Ammara yang mendadak terjengkang beberapa meter ke belakang. Pada saat yang bersamaan, kabut dan kegelapan yang memenuhi Hutan Larangan seolah terlepas oleh sesuatu yang selama ini menahannya.Kabut tipis perlahan memenuhi Fairyhill, tempat di mana Tatianna bersembunyi dari balik sebatang wilow, hingga peri perempuan itu memekik panik. Ia mencari sosok Ammara yang tadi dilihatnya, tetapi sosok itu telah menghilang seolah tertelan kabut.Langit Fairyverse seketika berubah menjadi kelabu, dengan kilat yang sesekali menyambar. Suara raungan dan lolongan makhluk-makhluk kegelapan mendadak terdengar memenuhi tempat itu.Tatianna terkesiap saat sebuah sosok hitam besar tiba-tiba telah berdiri di hadapannya, diselimuti kabut tipis. Peri perempuan itu berteriak ketakutan saat sosok makhluk hitam dengan mata merah menyala merangsek mendekatinya.Tubuh Tatianna bergetar hebat, sementara kakinya seolah terpaku pada tanah hingga tak mampu beringsut sedikitpun. Ia hanya dapat berteriak dengan suara parau."Tolong! Tolong!"
Brotherhood
Elijah meninggalkan balairung Istana Avery dengan wajah merah padam. Kemarahan jelas terpancar dari sepasang netra birunya. Peri laki-laki itu sama sekali tak mengacuhkan panggilan Raja Brian dan para keluarga kerajaan lainnya yang coba mencegahnya pergi."Pangeran Elijah, jangan pergi!" teriak Elwood.Claude yang melihat Elijah telah menghilang dari pandangannya, sontak berdiri dan mengejar pangeran peri bersurai cokelat itu. Ia memohon ijin sekilas pada Raja Brian untuk menyusul saudaranya, sementara Elwood menyusul di belakangnya.Archibald mendengkus saat melihat Claude dan Elwood sibuk membuntuti Elijah. Setelah Raja membubarkan pertemuan di balairung, peri laki-laki itu lantas menyusul kedua saudaranya yang sedang bersama Elijah di istal kerajaan."Jangan dengarkan mereka, Elijah!" seru Claude.Elijah berbalik dan menatap Claude dengan wajah yang masih merah padam. Matanya melotot pada Claude nyalang. "Sayang sekali, telingaku menangkap jelas apa yang dikatakan sang ratu. Dan, mataku menangkap sangat jelas pandangan-pandangan meremehkan dari seisi ruangan. Jangan membodohiku, Claude. Apa aku kurang menyedihkan bagimu?!" decak Elijah kesal.Claude menggeleng cepat, tak habis pikir dengan ucapan Elijah. "Kau salah besar. Kata-kata sang ratu tidak berarti apa pun. Demikian pula kata-kata orang lain. Perkataan mereka tidak akan bisa melukaimu, jika kau tidak mengijinkannya. Jadi, jangan biarkan kata-kata mereka melukaimu, Elijah," ucap Claude lirih."Kau tahu Claude, andai yang kualami sesederhana yang kau katakan, aku tidak perlu merasa seperti ini!" seru Elijah marah. Napasnya turun naik dengan cepat. Ia berbalik memunggungi Claude, kemudian berlari cepat menuju kandang unicorn. Di belakangnya, Claude, Elwood dan Archibald yang baru saja bergabung, ikut berlari, membuntutinya."Kau mau ke mana?" tegur Claude saat mendapati Elijah mempersiapkan tunggangannya."Tidak ada hubungannya denganmu!" bentak Elijah seraya mendorong pelan Claude yang menghalangi jalannya. Ia bersiap hendak naik ke atas punggung unicorn bersurai hitam."Kau sudah siap, Tuan?" tanya unicorn hitam itu pada Elijah.Elijah mengangguk.Namun, Ellwood dengan sigap, maju lebih dulu ke hadapan unicorn hitam. Pangeran peri bermata biru itu merentangkan kedua tangannya, menghalangi Elijah yang hendak menaiki unicornnya.Elwood menggeleng pelan. "Tidak baik pergi dalam keadaan marah," decaknya.Elijah menghela napas kasar. "Kalian ini benar-benar merepotkan!" geramnya. Pangeran peri dengan wajah memerah itu kini memegang gagang pedangnya seraya mendelik ke arah Elwood.Elwood sontak mundur beberapa langkah, menatap Elijah tak percaya."Elijah, tenanglah. Kami saudaramu. Kau selalu bisa berbagi dengan kami, jika ada yang membebani pikiranmu. Akan tetapi jangan pernah pergi dalam keadaan marah seperti ini," timpal Claude seraya mengangkat tangannya dan menyentuh pundah Elijah.Dengan berang, Elijah menepis lengan Claude terlalu keras, hingga peri laki-laki itu terhuyung mundur. Tubuh Claude tanpa sengaja menabrak Archibald yang berdiri di belakangnya."Elijah!" teriak Elwood. Emosinya sedikit tersulut. Refleks, ia mendorong tubuh Elijah hingga tubuh peri itu hingga terjengkang menghantam tumpukan buah di dekat istal unicornya.Elijah mengernyit menahan sakit pada punggungnya. "Kurang ajar!" raung Elijah. Ia bangkit dengan cepat sambil mencabut pedang sihir dari sarungnya. Matanya melotot marah pada Elwood. Tanpa berpikir panjang, peri laki-laki itu mengayunkan pedang sihirnya menyerang Elwood.Dengan gelagapan, Elwood menghindar. Sabetan pedang sihir Elijah luput mengenai salah satu bahunya. Namun, sepersekian detik kemudian, Elwood harus menangkis lagi serangan Elijah yang datang bertubi-tubi. Lambat laun, wajah Elwood mulai memucat dan napasnya terengah."Cukup, Elijah!" seru Archibald. Peri laki-laki bersurai keemasan itu merangsek maju mendekati Elijah yang masih menyerang Elwood tanpa ampun.Elijah tak menghiraukan seruan itu. Ia tetap fokus pada Elwood yang mulai kewalahan. Sebuah sabetan pedang sihir akhirnya berhasil mengenai salah satu lengan Elwood.Elwood berteriak kesakitan, tetapi peri laki-laki itu sama sekali tak merasakan iba sedikit pun terhadap saudaranya.Elijah mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, setelah berhasil membuat Elwood terjengkang ke tanah oleh serangannya yang terakhir. Ia mengambil kesempatan lagi untuk menghunjamkan pedang sihirnya pada tubuh Elwood.Saat mata pedang itu nyaris menancap pada dada Elwood, Archibald tiba-tiba melesat cepat ke arahnya, menangkis pedang sihir Elijah. Bunyi pedang berdenting memenuhi istal. Kini kedua peri itu saling berhadapan dengan dua bilah pedang yang saling beradu di antara mereka.Rahang Elijah mengeras dan mulutnya terkatup rapat, tetapi urat-urat tersembul di lehernya mengutarakan betapa kuatnya tenaga yang ia gunakan untuk mendorong pedang sihir Archibald. Iris mata birunya menghunjam netra hazel green Archibald. Amarah dan benci tergambar jelas di mata sang peri."Berhentilah ikut campur urusanku!" geram Elijah.Salah satu sudut bibir Archibald terangkat. "Aku tidak berniat ikut campur dalam urusanmu. Namun, kau menyerang saudaraku!" balas Archibald sengit.Elijah semakin kuat mendorong Archibald dengan pedangnya, hingga tubuh peri bersurai keemasan itu terdesak mundur beberapa langkah. Elijah berteriak parau. Bersamaan dengan itu, tubuh Archibald terjengkang dan bokongnya medarat terlebih dahulu ke atas tanah. Elijah terengah-engah. Napasnya memburu dan keringat membanjiri pelipisnya.Archibald meringis pelan dan susah payah berusaha bangkit dari duduknya. Netranya menatap Elijah dengan waspada, berjaga-jaga jika peri laki-laki itu akan kembali menyerangnya."Sudah cukup!" sergah Claude, yang kini berdiri di antara mereka. Peri laki-laki bersurai hitam itu menyorot pada Elijah dengan tatapan serius. "Elijah, aku melarangmu pergi karena aku melihatmu di dalam mimpiku. Aku bermimpi tentang sesuatu yang ... tidak baik. Untuk itu, aku mohon kau jangan pergi. Kali ini, percayalah padaku," lirihnya.Elijah menggeleng cepat. "Omong kosong!" bentaknya. "Kenapa aku harus mempercayai kalian?! Kalian adalah para pangeran yang berpotensi untuk menggantikan Putra Mahkota. Kalian pasti mengincar posisi itu juga, 'kan? Kalian bukan saudaraku, kalian adalah sainganku! Tidak ada yang bisa menjamin jika kalian tidak akan mencelakaiku. Aku tidak akan mempercayai kalian!"Claude terkesiap mendengar ucapan Elijah. Tanpa sadar mulutnya ternganga. Kepalanya menggeleng pelan, menolak untuk mempercayai ucapan Elijah yang baru saja didengarnya. Ia tidak menyangka jika Elijah tidak pernah menganggap ia dan saudara-saudaranya yang lain tulus."Betapa kotornya pikiranmu tentang kami, Elijah!"decak Archibald seraya bangkit dari posisinya. Pedang sihirnya belum lagi kembali pada sarung kulit yang tersampir di pinggang. Pedang itu masih terhunus siaga sebagai respon dari Elijah yang mulai berjalan mendekatinya."Terutama kau!" teriak Elijah berang. Pedang sihirnya mengacung pada Archibald, meskipun jarak mereka tidak terlalu dekat dan Claude masih berdiri diantara mereka. "Kau ingin menjadi raja bukan? aku ingatkan kau sekali lagi, kita sama-sama keturunan unsheelie. Jadi kita sama-sama tidak berhak menggantikan Albert. Dan, kau harus tahu, aku sangat tidak menyukaimu!" hardiknya.Wajah Archibald seketika memerah begitu mendengar Elijah menyinggung tentang ibunya. Matanya membelalak menatap Elijah sengit. "Kau tidak tahu apa-apa tentang ibuku!" balas Archibald seraya mengayunkan pedang sihirnya, melewati Claude yang mencoba menangkap tangannya. Arcibald, tentu saja, jauh lebih cepat dan lebih kuat, hingga Claude tersingkir beberapa langkah dari tempatnya berdiri.Elijah menyambut serangan Archibald dengan seringai penuh kemenangan. Ia sengaja memancing emosi Archibald. Kata-katanya berhasil memancing peri angkuh itu untuk bertarung dengannya. Dengan sigap Elijah menangkis setiap serangan yang datang dari Archibald.Denting pedang sihir yang beradu nyaring, memancing beberapa kesatria Elf untuk hadir dan menonton perkelahian antar pangeran di istal. Namun, tak satu pun di antara mereka yang berani melerai dan memisahkan dua pangeran yang sedang berduel."Kau sama sepertiku, Archibald. Tidak pantas menjadi raja!" teriak Elijah di tengah-tengah pertarungan mereka.Kata-kata itu semakin membuat darah Archibald mendidih. Semangatnya untuk menyerang dan melukai Elijah semakin berkobar. Archibald mengayunkan pedang sihirnya semakin cepat dan kuat hingga Elijah mulai terlihat kewalahan. Saat pangeran peri itu terlihat lengah, dengan gesit Achibald menebaskan pedang ke salah satu bahu Elijah.Elijah yang tak sempat lagi mengelak tebasan Archibald akhirnya harus merelakan salah satu bahunya sobek dan berdarah. Tubuhnya seketika jatuh terkulai dengan darah yang mengucur deras membanjiri separuh pakaiannya. Pedang peraknya terpental dan terjatuh di bawah kaki Archibald.Demi melihat itu, seketika Archibald berhenti menyerang Elijah. Ia menurunkan pedang sihirnya yang kini bernoda darah. Peri laki-laki itu terengah-engah, nyaris kehabisan napas. Tubuhnya mendadak limbung, ia terjatuh di atas lututnya sendiri. Netranya menyorot Elijah dengan tatapan getir.Elijah menyunggingkan seyum asimetris, saat merasakan bahu kanannya basah oleh darah sendiri. Sedetik kemudian ia tertawa terbahak-bahak. "Kita saling membenci, Archie. Sejak dulu. Bagaimanapun juga, kita tidak akan pernah menjadi saudara," ucapnya dengan suara parau. Ia meringis menahan sakit lukanya. "Kita akan selalu berakhir seperti ini. Siapa pun yang menjadi raja ...."Archibald mengembuskan napas panjang. Sesuatu di dadanya terasa nyeri saat mendengar kata-kata saudaranya. "Aku ... tidak pernah ingin peduli padamu. Namun, kali ini, aku mohon tinggalah di sini. Jangan pergi. Karena sekali kau keluar dari gerbang itu, kau tidak akan pernah bisa kembali pada kami," tukasnya dengan suara melembut.Elijah bungkam. Ia bangkit dari posisinya seraya menekan lukanya dengan tangan. Peri laki-laki itu berjalan tertatih, menjauhi Archibald, Claude dan Elwood, sementara darahnya berceceran di sepanjang jalan yang ia lalui. Ia mendekati unicorn hitamnya."Elijah, kau terluka. Setidaknya biarkan aku membawamu untuk menemui Penyembuh Istana," tawar Elwood yang mengikutinya. Peri laki-laki bersurai cokelat itu meraih pergelangan tangan Elijah, untuk membantunya berjalan. Namun, dengan kasar, Elijah menepis tangannya."Jangan khawatir. Aku akan kembali untuk merebut apa yang seharusnya menjadi milikku," ucap Elijah sinis. Matanya menyorot pada Archibald, Elwood dan Claude bergantian. Setelah itu, Ia menaiki unicornnya dengan susah payah. Elijah menendang perut unicornnya dengan salah satu tumit, makhluk itu sontak melaju kencang melewati pintu gerbang Istana Avery.Archibald mengela napas berat saat menatap tubuh Elijah yang semakin menghilang ditelan kegelapan malam Fairyverse. Ia menyarungkan kembali pedang sihirnya. "Semoga kau tidak akan pernah berubah, Elijah," gumamnya tertelan deru angin malam.* * *Raja Brian bergeming di atas balkon salah satu biliknya, yang menghadap tepat ke arah istal Kerajaan Avery. Ia berdiam dalam kegelapan di sana cukup lama, hingga ia dapat menyaksikan pertengkaran putra-putranya dari tempat itu.Sang raja mengembuskan napas panjang saat melihat kepergian Elijah sebagai akhir dari pertengkaran yang diamatinya dari atas balkon. Keningnya mengerut dan rahangnya mengeras. Tanpa sadar, Raja Brian bahkan mengepalkan kedua tangannya."Yang Mulia, apakah Yang Mulia mencari Hamba?" tanya Maurelle. Suara peri laki-laki itu seketika membuyarkan lamunan sang raja.Raja Brian menoleh dan mendapati Maurelle sedang membungkuk takzim di sampingnya. Sang raja mengangguk dan serta merta peri peramal itu menegakkan tubuhnya."Ya," sahut Raja Brian. Pandangannya teralih kembali pada istal istana yang kini telah sepi. Para pangeran tampaknya telah kembali ke istana utama. "Katakan padaku, Maurelle, siapa yang akan menjadi Raja Avery dalam penglihatanmu?" tanyanya.Maurelle tersentak, benar-benar tak menyangka dengan pertanyaan yang terlontar dari mulut sang raja. "I-itu ... penglihatan Hamba bersifat subjektif, Yang Mulia. Lagi pula, nasib sesosok peri bisa saja berubah jika pilihan hidup mereka berubah," sahut Maurelle, mencoba menjawab sediplomatis mungkin.Raja Brian menggeleng cepat. Tubuhnya kini menghadap Maurelle dan menatap peri laki-laki itu serius. "Apa yang kau lihat dari Putra-putraku? Apakah kau sudah tahu bahwa Albert tidak akan pernah menjadi raja?" desak sang raja. Netra cokelatnya tampak berkaca-kaca.Maurelle menarik napas panjang. Pandangannya menerawang ke langit Fairyverse yang dipenuhi bintang-gemintang beberapa saat, kemudian kembali menyorot sekilas kepada Raja Brian. "Ampun, Yang Mulia. Putra Mahkota Albert memang tidak ditakdirkan menjadi Raja," jawabnya dengan suara tercekat . Ia memperhatikan perubahan raut wajah sang raja yang mendadak sendu. "Hamba melihat dua putra Yang Mulia lainnya memiliki aura raja yang sangat kuat, tetapi hanya satu yang akan menjadi raja sejati--"Raja Brian mengangguk mantap seraya menghembuskan napas lega. "Cukup, Maurelle!" sergah Raja Brian dan Maurelle sontak menghentikan ucapannya. Seketika kedua sudut bibir Raja Brian tertarik ke atas. Senyumnya terkembang. Kelegaan tergambar jelas di wajahnya. "Malam ini sepertinya aku akan tidur dengan nyenyak. Aku akan menunggu takdir itu menunjukkan jalannya sendiri. Jadi Maurelle, kau tak perlu repot-repot menyebutkannya. Terima kasih," ucap Raja Brian. Ia menatap Maurelle yang sedang menatapnya heran. "Terima kasih karena telah setia menemaniku selama ini," lirih sang raja.Maurelle hendak membuka suara untuk mengucapkan sesuatu, tetapi Raja Brian telah beranjak meninggalkan balkon. Kini tinggallah Maurelle yang bergeming menatap bintang-gemintang di langit Fairyverse yang sepenuhnya gelap. Ia menghela napas beras, raut wajahnya gusar. Betapa ia sangat ingin menceritakan tentang Ratu Serenity yang membubuhkan wolfsbane di dalam minuman sang raja. Namun, sebagian hatinya menentang keinginan itu, mengingat kondisi Raja Brian yang sangat rapuh. Ia tak punya kesempatan.Maurelle meneguk ludahnya kasar. Matanya menyorot pada sebuah bintang dengan sinar paling terang, yang dikelilingi beberapa bintang kecil di sekitarnya. Cahaya bintang itu terlihat berkedip-kedip. Jika peri kebanyakan melihat pemandangan itu sebagai bintang, maka netra Maurelle menangkapnya sebagai pertanda. Semoga Kerajaan Avery baik-baik saja, batinny a.* * *Elijah memerintahkan unicornnya untuk berhenti tepat ketika ia mencapai perbatasan Hutan Larangan. Kabut tipis perlahan hadir menyelimuti permukaan tanah di sekitar Elijah. Unicorn bersurai hitam yang ditunggangi Eijah tiba-tiba meringkik gusar seraya berputar-putar di tempatnya. Beberarpa kali Elijah menepuk punggung makhluk tersebut untuk menenangkannya, tetapi kegusaran makhluk itu tak kunjung reda.Elijah berdecak kesal menanggapi unicornnya yang tak kunjung tenang. Sedetik kemudian, peri laki-laki itu melompat turun dari punggung tunggangannya, sementara makhluk itu masih meringkik seolah melarang empunya untuk mendekati Hutan Larangan."Dasar makhluk pengecut!" gerutu Elijah. "Kalau kau takut, tunggulah di sini," ucap peri laki-laki itu seraya menggeleng cepat.Elijah mengeluarkan pedang sihir dari sarungya. Pedang itu memancarkan cahaya sangat terang sebagai respon terhadap kekuatan sihir hitam yang terasa sangat pekat dari Hutan Larangan. Dengan langkah hati-hati, Elijah melewati perbatasan. Tubuhnya seketika tertelan oleh kabut tebal yang menjadi pembatas antara Fairyhill dan Hutan Larangan.Elijah terbatuk hebat saat memasuki kabut di perbatasan. Ia terus berjalan dengan tersuruk-suruk dalam minimnya cahaya serta permukaan tanah yang tidak rata. Berapa kali, peri laki-laki itu jatuh terguling karena tersandung akar-akar besar yang nyaris tak terlihat.Sayup-sayup suara-suara bisikan mulai menghampiri pendengaran Elijah. Bisikan-bisikan yang tak terdengar begitu jelas itu sontak membuatnya gelagapan. Tubuhnya bergetar bersamaan dengan rasa takut yang perlahan menyelinap dalam benaknya. Panik melandanya.Elijah berlari tak tentu arah, sekencang mungkin. Dari kegelapan di sepanjang jalan yang Elijah lalui, muncullah berpasang-pasang mata merah menyala yang seolah melotot tajam ke arahnya.Sang pangeran telah tiba.Calon raja! Anak Ratu Kegelapan!Hari kebebasan kita akan segera tiba.Suara bisikan yang awalnya terdengar bagaikan gumaman itu perlahan semakin jelas hingga Elijah dapat memahaminya.Selamat datang, Pangeran Elijah!Apakah dia bisa mendengar dan memahami kita?Hmmm ... sepertinya aku pernah melihat peri tampan itu, tapi di mana ya.Elijah menutup kedua telinganya dengan tangan. Ia telah menghentikan larinya karena merasa mata-mata merah itu bukanlah sesuatu yang mengancamnya. Peri laki-laki itu terus berjalan dengan langkah-langkah lebar dan napas terengah.Tiba-tiba bunyi kepakan sayap makhluk yang besar memenuhi Hutan Larangan. Suara bisikan-bisikan tadi seketika menghilang, bersamaan dengan lenyapnya berpasang-pasang mata merah yang muncul dari kegelapan.Elijah mengacungkan pedangnya dengan waspada, menatap nyalang pada kegelapan pekat di sekitarnya. Ia memasang telinganya, mencoba menerka dari mana asal bunyi kepakan sayap besar itu. Napasnya memburu, tak beraturan, sementara pedang sihir yang teracung itu bergerar.Dalam sepersekian detik, sebuah cahaya yang sangat terang mendadak muncul di hadapan Elijah. Makhluk dengan kepakan sayab sesar itu berubah menjadi cahaya.Elijah bergeming.Sesosok naga besar berwarna hitam tiba-tiba muncul di hadapannya. Naga itu kemudian berubah menjadi Lucifer. Peri laki-laki unsheelie itu menyunggingkan seulas senyum lebar, seraya memberi salam takzim pada Elijah."Selamat datang di Hutan Larangan, Putra Mahkota Elijah. Ratu Minerva telah menanti!" sambutnya ramah.Elijah terkesiap. Tanpa sadar mulutnya ternganga. Sebutan 'Putra Mahkota' benar-benar telah membuat jantungnya berdetak lebih kencang. Tanpa suara, pangeran periitu mengikuti Lucifer yang menuntunnya berjalan ke pinggir jurang. Jurang yang dulu pernah ia lalui untuk menyelamatkan Putra Mahkota Albert.Di tepi jurang, sosok Lucifer berubah kembali menjadi naga hitam besar. Naga itu menunduk rendah saat Elijah melompat duduk ke atasnya. Sang naga terbang tinggi menembus kegelapan jurang menuju salah satu menara tertinggi Kastil Larangan.
The Crown
Elijah berjalan tergesa memasuki gerbang utama Istana Avery yang masih dijaga ketat oleh puluhan kesatria Elf. Langit Fairyverse telah sepenuhnya gelap dan kelopak bunga bercahaya, saat Elijah menyusuri lorong istana yang terlihat lebih ramai dari biasanya.Elijah berjalan dengan wajah ditekuk. Kedua netra birunya menatap kosong pada jalan di hadapannya. Beberapa kali ia menghela dan mengembuskan napas berat. Pikirannya sedang suntuk dipenuhi banyak hal. Pada sebuah persimpangan koridor istana, Elijah berpapasan dengan beberapa kesatria dan dayang peri Elf. Elijah terkesiap lamunannya buyar saat melihat gelagat aneh para rombongan peri itu.Rombongan peri Elf itu sama terkejutnya dengan sang pangeran. Mereka segera menyingkir dari jalan sambil menundukkan wajah mereka dalam-dalam. Namun, belum lagi Elijah berjalan menjauh, suara bisik-bisik terdengar."Jadi, Pangeran Elijah sebenarnya adalah anak Ratu Kegelapan? Anak peri unsheelie?!" tanya sebuah suara cempreng."Aku sangat kecewa karena wajah setampan itu ternyata diwariskan dari peri Unsheelie," timpal yang lain."Dia cerdas dan berbakat. Namun tidak dapat menjadi Putra Mahkota pasti karena ibunya peri Unsheelie."Kedua tangan Elijah terkepal."Tidak menutup kemungkinan lambat laun kutukan itu akan menurun padanya, 'kan?""Aku lebih memilih Pangeran Archibald Yang jelas le--""Hentikan!" bentak Elijah berang. Ia telah berbalik menghampiri para kesatria Elf yang sedang membicarakannya. Wajahnya merah padam. Napasnya memburu, sementara kedua iris matanya memicing menatap satu per satu wajah kesatria Elf yang menggunjingnya.Para kesatria Elf itu sontak membelalak. Mereka gemetar ketakutan, tak menyangka jika sang pangeran mendengarkan pembicaraan mereka."Ma-maafkan ka--""Maaf katamu?!" desis Elijah. Ia menarik kerah baju salah satu kesatria Elf yang terjangkau olehnya. Matanya menatap nyalang pada kesatria Elf malang yang kini menggigil ketakutan itu."Kesatria Elf sepertimu layak untuk dihukum!" bentak Elijah marah.Elijah mengempaskan tubuh kesatria Elf yang malang itu hingga menghantam sebuah tiang di koridor. Dengan sigap, ia mengeluarkan sebilah pedang sihir dari sarung yang tersampir di pinggangnya. Tanpa keraguan, Elijah menebaskan pedang sihir itu pada leher kesatria Elf yang hendak bangkit dengan susah payah. Percikan darah segar mengenai wajah sang pangeran disertai dengan suara teriakan tercekat dari si peri malang.Demi melihat kejadian itu, rekan-rekan kesatria Elf yang lainnya berteriak ketakutan seraya melangkah mundur. Mereka melotot tak percaya pada Pangeran Elijah yang tanpa ekspresi telah mengembalikan pedang sihir itu ke dalam sarungnya.Elijah menyeka bekas darah yang menempel di salah satu pipinya, kemudian menepiskan tangannya dengan kasar. Ia mendelik ke arah para kesatria Elf di depannya. "Pergilah. Bereskan mayat teman kalian, sebelum aku berubah pikiran!" teriaknya berang.Sontak para kesatria Elf itu berlutut dengan tubuh gemetar. "Ampuni kami, Pangeran Elijah! Ampuni kami!" ratap mereka. Suara tangis ketakutan memenuhi koridor istana.Beberapa sosok kesatria Elf berdatangan untuk melihat apa yang terjadi. Namun, langkah mereka terhenti saat melihat mayat sesosok kesatria Elf tergeletak bersimbah darah dengan leher yang nyaris putus. Yang lebih mengejutkan lagi adalah sosok Pangeran Elijah berwajah berang berada di dekat mayat peri itu. Pangeran peri itu sedang memegang gagang pedang dengan wajah memerah dan rahang yang mengatup rapat."Cih! Dasar kesatria Elf tidak berguna!" umpatnya. Elijah berbalik dan melanjutkan langkah menuju balairung Istana Avery di mana seluruh keluarga kerajaan telah berkumpul.Pintu emas dengan ukiran lambang kerajaan Avery di depannya terbuka dari dalam, setelah salah satu kesatria Elf yang berjaga di luar mengetuk sebanyak dua kali."Syukurlah, kau sudah datang Pangeran Elijah!" sambut Raja Brian seraya tersenyum lemah.Elijah mengangguk takzim, kemudian duduk di salah satu kursi emas di antara Elwood dan Claude. Netra birunya bertemu tatap dengan dengan netra hazel green Archibald. Ia dan Archibald sama-sama membuang muka cepat."Karena seluruh anggota keluarga kerajaan telah berkumpul, aku akan segera mengutarakan maksud dan tujuanku mengundang kalian semua berkumpul di balairung ini," terang Raja Brian.Raja Brian mengedarkan pandangannya menyapu balairung. Ia menatap satu per satu wajah anggota Kerajaan Avery yang hadir di ruangan itu. "Sebagaimana kita ketahui bahwa Kerajaan Avery sedang dalam keadaan berkabung karena wafatnya Putra Mahkota Albert. Namun, untuk memulihkan stabilitas kerajaan, Kerajaan Avery tidak bisa terus berlarut dalam kesedihan, terutama karena kerajaan baru saja diserang monster yang terkena sihir hitam. Kejadian ini tentu sangat meresahkan seluruh peri di Fairyverse," ucapnya lantang.Raja Brian menarik napas. "Untuk mengembalikan stabilitas Kerajaan Avery dan meminimalisir keresahan di Fairyverse, maka Raja dan Dewan Peri memutuskan untuk segera menunjuk Putra Mahkota baru dalam waktu dekat," putus sang raja.Balairung hening seketika. Setiap mata yang hadir menyorot serius kepada sang raja dengan pikiran masing-masing."Yang Mulia." sapa Ratu Serenity seraya mengangkat salah satu tangannya.Raja Brian mengangguk, memberi kesempatan kepada sang ratu untuk berbicara."Terima kasih, Yang Mulia. Hamba merasa keberatan jika kita harus membicarakan mengenai pengganti Putra Mahkota saat ini. Setidaknya, kita perlu menunda keinginan untuk mencari pengganti Putra Mahkota Albert selama beberapa purnama. Untuk urusan stabilitas kerajaan dan kedamaian Fairyverse, hamba percaya, kami masih bisa mengandalkan Anda, Yang Mulia," terang Ratu Serenity.Raja Brian mengangguk pelan. Pandangannya menerawang ke arah langit-langit balairung Istana Avery. Ia mempertimbangkan saran dari sang ratu. "Apa ada masukan lain?" tanya Raja Brian beberapa saat kemudian.Elijah dengan sigap mengacungkan salah satu tanganya.Suara gumaman mulai terdengar memenuhi balairung. Beberapa peri anggota Kerajaan Avery terlihat sedang berbisik-bisik dengan sesamanya seraya mengerling Elijah dengan tatapan meremehkan.Elijah mengembuskan napas kasar. Ia menenangkan diri sesaat sebelum membuka suara. "Terima kasih, Yang Mulia. Hamba sepakat dengan keputusan Yang Mulia Raja Brian untuk segera menunjuk pengganti Putra Mahkota Albert. Stabilitas kerajaan dan kedamaian Fairyverse lebih utama daripada berlarut-larut dalam kesedihan. Bukankah Putra Mahkota Albert gugur sebagai pejuang yang melindungi istana? Putra Mahkota pasti tidak suka jika kita terlalu lama menangisinya," tukasnya panjang lebar. Ekor matanya mengerling Ratu Serenity yang melotot marah kepadanya. Salah satu sudut bibir Elijah terangkat dan senyum asimetris tersungging di bibirnya.Raja Brian mengangguk pelan. Pandangannya masing menerawang mencari pertimbangan, sementara balairung terdengar makin riuh. Para peri anggota Kerajaan Avery sibuk mengeluarkan pendapatnya masing-masing."Yang Mulia!" sela Ratu Serenity. "Hamba hanya ingin memberikan pandangan," serunya lantang.Seketika balairung menjadi hening kembali. Seluruh anggota Kerajaan Avery kembali fokus menyorot Ratu Serenity."Silahkan, Ratu!" sambut Raja Brian. Ia menyandarkan tubuhnya pada sisi kanan singgasana, sementara salah satu tangannya menopang dagu."Apa pun keputusan Anda, Yang Mulia, satu hal yang harus Anda pertimbangkan," ujar Ratu Serenity. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling balairung. Iris matanya berhenti pada netra Elijah yang juga sedang menatap tajam kepadanya."Pengganti Putra Mahkota haruslah Pangeran atau Putri berdarah murni. Penyerangan sihir hitam hingga monster Hydra yang terkena sihir menunjukan betapa lemahnya pertahanan Kerajaan Avery dan betapa tidak berdaulatnya kita di mata para unsheelie. Kehormatan Raja dan Dewan Peri dipertaruhkan di sini. Jika kita ingin memulihkan nama baik dan kehormatan Kerajaan Avery, maka Raja dan Dewan Peri harus menunjuk pengganti Pangeran atau Putri sheelie berdarah murni untuk memimpin Avery. Hanya dengan itulah stabilitas dan kedamaian di Fairyverse dapat tercipta.""Satu hal yang kita anggap remeh adalah pemberontakan unsheelie melalui kasus Ammara dan penyerangan Hydra. Jangan pernah beri celah pada makhluk-makhluk terkutuk itu untuk keluar dari Hutan Larangan. Raja juga harus memikirkan untuk memperkuat atau menyegel ulang perbatasan agar makhluk terkuat unsheelie sekali pun tidak akan dapat melewatinya."Elijah sontak mengangkat lengannya begitu Ratu Serenity selesai bicara. Begitu Raja Brian mengangguk, Elijah langsung mengajukan keberatannya. "Maaf Yang Mulia, apa yang dimaksud Ratu Serenity dengan pangeran berdarah murni? Bukankah seluruh keturunan Raja Brian adalah peri berdarah murni. Hamba rasa ada yang perlu diluruskan dari perkataan Ratu Serenity!" semburnya dengan nada meninggi. Wajah rupawannya mulai memerah."Kau tidak berhak memberi pendapat di sini, keturunan Unsheelie! Aku merasa khawatir jika penyerangan terhadap Putra Mahkota Albert dan Istana Avery ada sangkut pautnya denganmu. Bukankah dengan jelas Minerva telah mengakui kau sebagai putranya!" bentak Ratu Serenity berang. Napasnya memburu, sementara wajahnya mulai memerah."Tenang, Yang Mulia Ratu," sergah Raja Brian."Apa yang membuatmu setakut ini Ratu Serenity?! Kau takut jika aku menjadi Putra Mahkota? Apa kau tidak punya pion lagi untuk melanggengkan kekuasaanmu?!" balas Elijah tak kalah sengit.Wajah Ratu Serenity seketika merah padam. Ia berdiri dari kursi emasnya hendak merangsek maju ke arah Elijah yang duduk tepat di hadapannya. Namun, sesosok dayang menahan tubuhnya dan menenangkannya.Tanpa sadar, Elijah mengepalkan dua tangannya. Rahangnya mengeras dan perlahan wajah rupawannya menjadi merah padam demi mendengar kata-kata sang ratu."Yang Mulia!" seru Archibald di tengah-tengah keriuhan Balairung. Ia mengangkat salah satu tangannya. Pangeran peri itu mengangguk sekilas dan membuka suara ketika sang raja telah menganggukkan kepala untuk menyilakannya berpendapat."Terima kasih, Yang Mulia. Hamba sebagai pangeran Kerajaan Avery akan mendukung sepenuhnya keputusan Raja Brian. Untuk masalah pemberontakan unsheelie, kita tidak boleh gegabah dan menganggap itu sebagai sebuah pemberontakan. Kita harus menyelidikinya lebih lanjut. Dan, sebaiknya, seluruh anggota kerajaan Avery saling membantu untuk meredam isu-isu yang dapat meresahkan penghuni Fairyverse. Setelah kondisi Fairyverse lebih stabil dan kondusif, barulah Raja dan Para Dewan Peri memikirkan langkah selanjutnya untuk pemilihan Putra Mahkota yang baru," papar Archibald tenang.Mata sang Raja tampak berbinar seketika. "Kau benar Pangeran Archibald. Kita tidak boleh gegabah. Aku akan menugaskanmu dan Maurelle untuk mengawasi perbatasan Hutan Larangan. Sementara untuk keamanan dan perbaikan Istana Avery akan aku serahkan kepada Pangeran Claude dan Pangeran Elwood untuk mengawasinya. Untuk permasalahan pemilihan Putra Mahkota baru, aku akan merembukkannya dengan Dewan Peri," pungkasnya.Maurelle, Archibald, Claude dan Elwood serempak mengangguk takzim begitu mendengar titah Raja Brian.Elijah ingin menyela. Namun, Raja Brian terlebih dahulu mengibaskan salah satu tangannya pertanda ia tak menginginkan ada yang bicara lagi. Sang pangeran peri menggeram dalam diam. Semakin lama emosinya tak lagi dapat terbendung. Pangeran peri itu menggebrak meja batu di hadapannya hingga retak. Ia menatap nyalang kepada seluruh anggota keluarga kerajaan. Terakhir, tatapannya menghujam Raja Brian.Claude dan Elwood sontak berdiri, berusaha menenangkan saudaranya. Namun dengan kasar, Elijah menepis tangan kedua pangeran peri itu.Balairung kembali riuh dengan bisik-bisik penghuninya yang rata-rata menatap tidak senang pada Elijah.Elijah mengembuskan napas kasar, kemudian dengan cepat beranjak keluar dari Balairung tanpa pamit. Wajahnya merah padam. Emosinya tak terbendung lagi, hingga ia sama sekali tak menghiraukan panggilan Raja Brian.* * *Putri Serenity berjalan mondar-mandir di depan jendela besar kamarnya. Alisnya bertaut. Ia sesekali menggigit bibir bawahnya dengan decakan kesal."Ada apa, Ratuku?" tanya Raja Brian seraya mengangkat wajahnya dari dokumen kerajaan yang sedang ia baca. Ia meletakkan dokumen itu di atas meja batu dan mengamati Ratu Serenity.Ratu Serenity mengembuskan napas panjang. Kegusaran jelas meliputi wajahnya. "Yang Mulia, bagaimana kalau Anda mengangkat Putri Tatianna sebagai Putri Mahkota. Berikan kesempatan pada Putri Tatianna untuk menjadi Ratu Kerajaan Avery yang pertama?" tanya Ratu Serenity setengah mendesak."Mengapa harus Tatianna, Ratu?" tanya Raja Brian dengan tatapan menelisik."Karena dia satu-satunya keturunan peri berdarah murni. Keturunan langsung kita berdua," jelas Ratu Serenity.Raja Brian menggeleng pelan. "Ia tidak pernah dididik untuk menjadi pemimpin seperti kakak-kakaknya, Ratu. Lagi pula belum tentu Putri Tatianna bersedia," sahut Raja Brian.Ratu Serenity mendengkus. "Tentu saja Putri Tatianna bersedia. Aku yang akan mempersiapkannya. Raja harus ingat bahwa kita harus menjaga kemurnian darah pemimpin kerajaan, jangan sampai Unsheelie yang mengambil alih," ujar Ratu Serenity dengan mata memicing.Raja Brian memiringkan kepalanya seraya menatap mata Ratu Serenity intens. "Ratuku, tidak cukupkah aku bagimu? Kau tetap akan menjadi Ratuku walaupun aku tidak lagi menjadi raja," ucap Raja Brian dengan tatapan menggoda. "Lagi pula, untuk masalah pemilihan Putra Mahkota, aku akan meminta pertimbangan Maurelle. Dia cenayang, Ratuku. Dia pasti telah mengetahui sesuatu mengenai pesan dari masa depan."Ratu Serenity bungkam. Bibirnya mengerucut. Kedua tangannya terkepal kuat hingga memperlihatkan buku-buku jarinya yang memutih. Sedetik kemudian, ia meninggalkan bilik Raja Brian dengan langkah cepat penuh kemarahan.Bunyi gaun Ratu Serenity yang menyapu lantai terdengar kasar di telinga Raja Brian. Sementara sang raja mengikuti kepergian ratunya dengan ekor mata seraya menggelengankan pelan.* * *Ratu Serenity membuka perlahan sebuah pintu berwarna perak di hadapannya. Salah satu tangannya menggenggam erat sebuah teko yang terbuat dari emas berisi seduhan teh. Sebelum melangkahkan kaki masuk ke ruangan itu, sang ratu menoleh ke kiri dan ke kanan, memastikan tak ada peri lain di sekitarnya.Bau herbal yang tajam menguar dari dalam ruangan berpintu perak. Ratu Serenity sampai harus menutup hidungnya dengan wajah mengernyit. Seberapa sering pun ia masuk ke ruangan itu, ia tetap tak pernah terbiasa dengan baunya.Setelah menutup pintu di belakangnya, Ratu Serenity menjentikkan jari ke udara dan seketika beberapa bola api berwarna perak menyala di sekelilingnya. Pemandangan botol-botol kaca beraneka warna yang tersusun rapi dalam deretan rak besar langsung menyergap netra sang ratu.Ratu Serenity memicingkan matanya, meneliti botol-botol pada barisan paling atas. Dengan sigap ia menurunkan dua botol sekaligus dan meletakkannya pada sebuah meja batu kecil yang menempel ke dinding ruangan. Dari balik gaun, sang ratu mengeluarkan sekuntum kelopak bunga berwarna ungu.Dengan cekatan, kedua tangannya yang terbungkus sarung tangan, melumat kuntum bunga berwarna ungu itu menjadi halus. Ratu Serenity kemudian mengambil sedikit lumatan itu dan memasukannya ke dalam teko yang ia bawa. Tak lupa ia membubuhkan isi dari dua botol kaca yang telah diambilnya dari rak.Bibir merahnya menyeringai dalam keremangan ruangan seraya merapatkan kembali tutup teko emas di hadapannya. Ia hendak berbalik keluar dari ruangan, ketika pintu ruangan tiba-tiba terbuka dengan keras.Ratu Serenity terkesiap. Teko yang dibawanya terjatuh menghantam lantai marmer, menimbulkan suara kelontang yang nyaring.Maurelle masuk dengan tergopoh-gopoh. Wajah peri laki-laki itu merah padam. Matanya melotot, menghakimi Ratu Serenity dengan pandangannya."Apa yang Anda lakukan di sini, Ratu? Ini bukanlah tempat yang lazim untuk didatangi seorang Ratu?" selidik Maurelle. Tatapannya memicing bagaikan elang yang sedang mengincar mangsa.Wajah Ratu Serenity mendadak pucat pasi. Lidahnya menjadi kelu untuk menjawab pertanyaan Maurelle. Ia hanya bergeming, dengan tubuh bergetar.Maurelle melangkah maju dan mengedarkan pandangannya pada seisi ruangan. Iris mata cokelatnya menangkap sisa lumatan kelopak bunga berwarna ungu yang sangat mencolok di atas meja batu. Kengerian tiba-tiba terbayang jelas di wajah peri laki-laki itu.Maurelle beralih menatap Ratu Serenity tak percaya. " Wolfsbane ?!" pekiknya tertahan. Ia melotot pada sang ratu.Ratu Serenity menggeleng cepat. Ia gelagapan. Panik. "I-ini tidak seperti yang kau bayangkan, Maurelle. A-aku bisa menjelaskan," sahut sang ratu dengan suara bergetar."Apa pun yang Anda rencanakan, Ratu, aku harap Anda menghentikannya sekarang. Aku tidak akan membiarkan siapa pun mencelakai Raja Brian!" kecam Maurelle. "Ini peringatan terakhir, Ratu Serenity. Selanjutnya, aku akan langsung bertindak dan tidak akan pernah memaafkan Anda!"Maurelle langsung pergi meninggalkan ruangan itu dengan langkah menghentak kasar, meninggalkan Ratu Serenity yang bergeming shock .Di dalam keremangan ruangan, tangis Ratu Serenity mendadak pecah. Dengan marah, ia menendang teko emas yang tergeletak di lantai dengan genangan air seduhan teh di sekitarnya seraya menjerit. Maurelle sialan. Tunggu saja pembalasanku!
Maiden
Archibald duduk termangu di salah satu sudut taman Peristirahatan Terakhir di saat semua peri telah kembali ke Kerajaan Avery. Ia masih enggan beranjak dari tempat penebaran abu Putra Mahkota Albert, penyesalan demi penyesalan terus menderanya hingga yang dirasakannya hanyalah sesak. Sang pangeran peri terlihat berkali-kali menarik dan mengembuskan napasnya dengan berat.Langit senja yang mendung dan muram menaungi taman itu, sementara benih-benih dandelion berterbaran di udara menambah kesyahduan tempat itu. Archibald bergeming. Selain penyesalan, bayangan masa lalu bersama Albert datang silih berganti menggelayuti pikirannya hingga membuatnya tak sanggup beranjak dari tempat itu. Jauh di dalam lubuk hatinya, ia masih ingin bersama sang putra mahkota.Akan tetapi, keheningan yang melingkupinya segera terusik. Sayup-sayup pendengarannya menangkap suara langkah kaki berjalan di suatu tempat di dalam taman. Langkah kaki itu kemudian berhenti tak jauh dari tempat Archibald duduk termangu. Archibald masih bergeming. Ia sama sekali tak berminat untuk mencari tahu siapa gerangan pemilik langkah kaki tersebut.Tiba-tiba suara bersitan ingus mengganggu pendengaran Archibald. Keningnya berkerut dan wajahnya mengernyit masam. Dengan malas Archibald menolehkan pandangan ke arah suara. Ia menangkap sosok peri perempuan berambut keemasan di balik rimbun dedaunan yang tepat berada di balik punggungnya. Suara tangis tertahan mulai terdengar pelan dari sosok itu.Archibald menggeser duduknya hingga dari samping ia dapat melihat getaran pada bahu peri perempuan yang berdiam di balik semak itu. Lambat laun suara tangisan itu terdengar semakin keras bahkan terkesan meraung.Archibald mendengkus, mulai merasa terganggu dengan ulah peri perempuan yang sepertinya tidak menyadari keberadaannya di sekitar tempat itu. Keheningan yang menemani lamunannya kini sirnah sudah. Archibald lantas berdeham keras beberapa kali agar peri perempuan itu menyadari keberadaannya.Peri perempuan yang menangis itu seketika terdiam, meredam tangisnya dengan paksa. "Maaf Tuan, aku tidak tahu jika masih ada peri lain di tempat ini," ucapnya sesenggukan.Suara itu. Archibald mengenali suara itu .Archibald menghembuskan napas kasar. "Tidak masalah. Aku sudah selesai!" sahutnya ketus. Ia lantas berdiri dari posisinya dan mendekati asal suara. "Apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya dingin seraya berbalik menyorot tajam kepada Ammara.Ammara sontak mengangkat wajah. Kedua tangannya membersihkan sisa-sisa air mata yang menggenang di pipi. Begitu matanya beradu dengan mata Archibald, air mukanya berubah masam. "Bukan urusanmu!" jawab Ammara tak kalah ketus.Archibald menggeram pelan. Ia hendak beranjak dari tempat itu dan mengacuhkan Ammara, tetapi sesuatu dalam hatinya menahannya untuk tidak meninggalkan peri perempuan itu seorang diri di sana. Ia berbalik dan duduk di samping Ammara seraya mengembuskan napas panjang. Untuk beberapa saat lamanya mereka duduk di sana dalam hening."Untuk apa bunga matahari itu?" tanya Archibald datar saat melirik bunga matahari di dalam genggaman Ammara. Ia menyandarkan tubuhnya pada rimbun dedaunan di belakang mereka.Ammara mendengkus. Matanya menyorot pada sekuntum bunga matahari besar di pangkuannya. Bunga Matahari itu tertanam dalam sebuah wadah berwarna gelap. "Aku ingin memberi Putra Mahkota Albert bunga ini," jawabnya lirih."Bunga Matahari?" Archibald menaikkan salah satu alisnya.Ammara mengangguk pelan. Setetes air bening mengalir di pipinya. "Bunga Matahari adalah bunga yang akan bercahaya paling terang di malam hari. Aku harap bunga ini dapat menerangi peristirahatan terakhir Putra Mahkota di tempat ini. Aku harap dia tidakakan kesepian." Ammara kembali terisak.Archibald mengembuskan napas pelan. "Dia tidak akan pernah kesepian di sini," tuturnya pelan. Pandangannya menerawang menatap langit mendung yang menaungi taman.Ammara mengangkat wajahnya, menatap Archibald, menunggu penjelasan."Dia bersama keluarganya di sini dan tempat ini juga dekat dengan Istana Avery. Jadi, mana mungkin dia kesepian," lanjutnya seraya membalas tatapan Ammara.Peri perempuan itu segera membuang pandangan. Tanpa ia sadari, semburat merah samar terbit di kedua pipinya. Entah mengapa, berada sedekat ini dengan Archibald membuatnya salah tingkah.Salah satu sudut bibir Archibald terangkat. "Aku rasa, apa pun yang kau berikan untuknya, ia akan merasa senang.""Benarkah?" tanya Ammara. Sebuah binar terbit di matanya.Archibald mengangguk mantap. Kini kedua sudut bibirnya tertarik ke atas. Peri laki-laki itu tersenyum. Namun, sedetik kemudian ia menundukkan wajahnya, merasa canggung dengan tingkahnya sendiri.Mereka terdiam untuk beberapa saat, menikmati langit senja yang semakin menggelap."Harusnya aku yang menghiburmu..." sesal Ammara lirih."Kau tidak perlu berpura-pura kuat di saat kau merasa tidak baik-baik saja.""Kau benar. Aku tidak baik-baik saja. Aku... Aku menyesal karena belum sempat mengucapkan terima kasih padanya karena telah berusaha menolongku dan ibuku. Aku menyesal. Andai umurnya lebih panjang. Andai aku bisa bertemu dengan Putra Mahkota lagi---""Aku rasa Putra Mahkota menyukaimu," potong Archibald cepat.Ammara membelalak, menatap Archibald tak percaya. Peri perempuan itu menggeleng cepat.Archibald melanjutkan kata-katanya. "Aku juga menyesal tidak menjaganya dengan baik. Aku menyesal karena sering membantahnya. Namun, aku tidak menyesal dengan apa yang aku lakukan untuknya di saat terakhir hidupnya. Hanya itu yang dapat kulakukan untuk menyelamatkan jiwanya."Setetes air bening terbit di pelupuk mata Archibald. Ia berkedip sehingga bulir bening itu jatuh menyusuri salah satu pipinya. "Aku merindukannya ...."Ammara refleks menggosok punggung Archibald saat ia menyadari bahwa peri laki-laki di sampingnya sedang berusaha sekuat tenaga menahan tangis. Ia menggeser duduknya mendekati Archibald, sementara salah satu lengannya merangkul peri itu.Archibald tertunduk, menangis tanpa suara. Tangisan pertamanya sejak Albert wafat.Untuk beberapa saat lamanya mereka terdiam. Hanya embusan angin yang sesekali terdengar menimbulkan gesekan pada dedaunan dan kelopak bunga." Lost my partner, What'll I do?Lost my partner, What'll I do?Lost my partner, What'll I do?Skip to my lou, my darlin'. Skip, skip, skip to my Lou, Skip, skip, skip to my Lou, Skip, skip, skip to my Lou, skip to my Lou, my darlin'."Archibald terkesiap mendengar lagu yang sangat familier di telinganya. Lagu yang mengingatkannya pada masa lalu. Ia mengangkat wajahnya dan mendapati Ammara sedang bernyanyi pelan di sampingnya."Chiara...?" gumamnya pelan. Terlalu pelan hingga desau angin menelannya.Ammara membalas tatapan Archibald dengan tersenyum sekilas. Peri perempuan itu terus bernyanyi untuk menenangkan perasaannya.Jantung Archibald tiba-tiba berdetak lebih kencang. Pipinya memanas. Betapa ia merindukan seorang gadis manusia yang mirip dengan Ammara. Iris mata hazel green- nya menatap lekat peri perempuan di sampingnya. Warna kulit itu. Warna rambut keemasannya. Bentuk bibir dan warna mata itu. Suara dan nyanyiannya. Semua terasa sama seperti dulu.Tiba-tiba sosok seorang gadis kecil hadir tepat di samping Archibald. Gadis manusia dengan rambut keemasan dan gaun berwarna lilac selutut itu sedang bernyanyi. Lagu yang sama, yang pernah Archibald dengar dulu."Chiara?" tanpa sadar, Archibald menggumamkan nama itu lagi."Kau bilang apa?" tanya gadis itu seraya menoleh pada Archibald. Ia menghentikan nyanyiannya.Archibald bergeming. Mulutnya tanpa sadar membuka dan pupil matanya membesar. Gadis manusia di sampingnya kini telah berubah menjadi seorang gadis, dengan paras yang masih sama, bahkan semakin cantik.Kau kah itu Chiara? Tetapi mengapa kau tak mengenaliku?Archibald menggeleng pelan. Matanya berkaca-kaca. "Aku hanya sedang merindukan seseorang," lirihnya sambil mengalihkan pandang dari Ammara.Ammara tersenyum kecut. "Aku tahu. Kita sama-sama merindukan Albert."Mereka sama-sama terdiam.Kelopak-kelopak bunga mulai menyala pertanda malam telah menjejak Fairyverse. Kunang-kunang perlahan bermunculan dari sela-sela dedaunan.Di balik sebuah pohon willow berbatang besar, Elijah menyembunyikan diri. Iris mata birunya menyorot sepasang peri yang sedang duduk bersebelahan di salah satu sudut taman Peristirahatan Terakhir. Dalam cahaya remang, air muka Elijah terlihat keruh. Bibirnya terkatup rapat dengan rahang mengeras. Salah satu tangannya mengepal, menekan pada batang kayu di hadapannya. Entah mengapa, Ia merasa tidak terima dengan kedekatan Archibald dan Ammara.Peri laki-laki itu mengembuskan napas kasar sebelum akhirnya beranjak dari persembunyiannya tanpa suara. Ia melangkah cepat meninggalkan Taman Peristirahatan Terakhir yang kini telah gelap sepenuhnya.* * *"Ammara," sapa Ella lembut ketika mereka telah tiba di Rumah Cendawan.Kali ini mereka pulang ke rumah menggunakan sihir Ella sehingga perjalanan pulang hanya memakan waktu kurang dari satu jam.Ammara menghentikan langkahnya yang baru saja hendak memasuki bilik tidur, saat Ella menyebut namanya. Ammara menoleh dan mendapati Ella tengah menatapnya dengan sorot yang tak dapat Ammara artikan."Ada apa, Bu?" tanya Ammara dengan kening mengerut."Ada yang ingin ibu sampaikan padamu," ucap Ella ragu. Di sampingnya, Ailfryd menggenggam tangan peri perempuan itu erat seolah sedang memberikan kekuatan.Kerutan di kening Ammara semakin dalam. "Ada apa sebenarnya, Bu?"Ammara kemudian mengikuti Ella dan Ailfryd yang menuntunnya menuju sebuah meja batu bundar dengan kursi-kursi di sekelilingnya. Mereka duduk mengelilingi meja bundar tersebut dalam hening untuk beberapa saat lamanya."Ada sesuatu yang sangat penting yang ingin Ibu sampaikan, Ammara." Ella berkata, memecah keheningan di antara mereka. Netra hijaunya menatap Ammara lekat. Sementara, Ailfryd yang duduk di samping peri perempuan berambut keemasan itu terlihat menunduk.Ada apa ini? batin Ammara.Ammara berdeham beberapa kali, membersihkan tenggorokannya yang tiba-tiba terasa tercekat. Ia menegakkan punggung seraya memasang wajah setenang mungkin. Ia mengangguk terlalu cepat saat membalas tatapan ibunyadengan canggung.Ella mengembuskan napas panjang. "Kau ingat, saat kami bilang kau terjatuh saat menunggang unicornmu dan kau kehilangan seluruh ingatanmu?"Ammara mengangguk pelan. Tanpa sadar kedua tangannya terkepal di atas pangkuan. Tubuhnya menegang. Ia menatap netra hijau Ella tanpa berkedip."Kami berbohong saat itu... " ungkap Ella lirih. Sorot matanya meredup dan terlihat berkaca-kaca.Ammara melotot mendengar ucapan ibunya. Tanpa sadar mulutnya menganga. Kepalanya menggeleng pelan, menolak percaya dengan kata-kata yang barusan ia dengar. Namun, sebisa mungkin Ammara mengendalikan diri."Ibu, apa yang Ibu bicarakan?!"Ella mengangguk pelan. Setetes air bening mengalir di salah satu pipinya. Ia menyahut dengan suara serak. "Maafkan Ibu dan ayah. Kami tidak bermaksud berbohong padamu. Kami hanya ingin melindungimu, Ammara."Ammara merasakan sakit yang seketika menyerang kepalanya. Ia memegang salah satu pelipisnya seraya menggeleng lemah. Mulutnya membuka dan menutup seolah ada kata yang terasa berat untuk diucapkan, tetapi ia tetap bungkam.Ella menghela napas berat, sebelum melanjutkan ucapan. "Jadi ... sebenarnya, kau bukanlah anak kami. Saat kami menemukanmu, ingatanmu hilang, Nak. Kau bahkan tak mengingat namamu sendiri. Jadi kami menamaimu Ammara. Namun, ada sesuatu yang lebih penting terkait dengan identitasmu ... " terang Ella susah payah. Kalimatnya menggantung di udara ruangan yang mendadak terasa membeku. Sesekali iris matanya beradu dengan iris mata Ailfryd.Bagaikan tersambar petir, sesuatu di dalam dada Ammara terasa nyeri. Sakit yang tak terlihat itu terasa menggerogotinya. Ia lantas menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan. Setetes air bening luruh di pipinya. Ia berusaha keras menahan gejolak di dalam dadanya, dengan memilih bungkam, menanti Ella melanjutkan kata-kata.Ella menarik napas panjang. Air mata bergulir perlahan di pipinya. "Maafkan aku ... Kau sebenarnya tidak sama dengan kami," lirihnya tertelan rasa bersalah.Ailfryd meneguk salivanya susah payah, akhirnya sebelum membuka suara. "Waktu itu, kami menemukanmu di dekat portal utara, tergeletak tak sadarkan diri. Saat itu Ella mengetahui bahwa kau dibawah pengaruh sihir hitam hingga tak sadarkan diri dalam waktu yang cukup lama." Ailfryd mengjeda kata-katanya, mengumpulkan segenap kekuatan yang ia miliki untuk melanjutkan ucapannya. "Saat itu kami menyadari bahwa kau sedang berada dalam bahaya. Ella menyamarkan sosokmu dengan menaburkan serbuk peri ke sekujur tubuhmu. Namun, saat kau terluka, khasiat serbuk itu otomatis menghilang ...."Ammara tak dapat lagi membayangkan bagaimana ia terlihat saat itu. Yang jelas, sekujur tubuhnya gemetaran. Dadanya sesak dan kepalanya terasa berputar. Saat Ella berpindah duduk di sampingnya, Ammara merasa sedikit lebih baik, meski sentuhan tangan itu kini terasa sangat asing."Maafkan kami, Ammara," ucap Ella lirih. "Kami merahasiakan semua ini demi melindungimu. Kami tidak tahu siapa yang menyihirmu. Namun, kami tidak bisa membiarkanmu begitu saja di portal Utara, terlebih saat aku mengetahui bahwa seluruh ingatanmu tersegel di suatu tempat oleh sihir hitam. Oleh karena itu, kami mengangkatmu sebagai anak dan membawamu tinggal di Fairyfarm. Kami juga sangat keras melarangmu untuk meninggalkan Fairyfarm karena kami tahu, sesuatu pasti sedang mengincarmu."Ammara terisak pelan. "Jika aku tidak sama seperti kalian, jadi aku ini apa?" tanya Ammara getir di sela-sela isak tangisnya.Ella menghela napas dalam-dalam. Ia menggigit bibirnya seraya berpikir mencari kata-kata yang tepat untuk disampaikan pada Ammara. Setelah menimbang beberapa saat lamanya, akhirnya Ella membuka suara. "Kau adalah manusia. Aku bisa mengetahuinya dari baumu. Selama ini, aku memberimu serbuk pelindung agar bau dan bentuk telingamu menjadi samar. Sungguh, tempat ini bukanlah tempat yang aman bagi manusia sepertimu, Ammara.""Ma-manusia?!"Tangis Ammara semakin kencang. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Kedua bahunya berguncang, sementara suara raungannya teredam telapak tangan."Namun satu hal yang harus kau ingat, Ammara, aku dan ibumu tulus menyayangimu dan ingin melindungimu," timpal Ailfryd lirih.Ella mengeratkan rangkulannya pada pundak Ammara. Peri penyembuh itu turut menitikkan air mata. Ia bungkam dan membiarkan Ammara menumpahkan seluruh kesedihannya dalam pelukan.* * *Seekor rajawali besar terbang melesat melewati jurang menganga di depan Kastel Larangan. Salah satu tentakel makhluk besar yang menempel di dinding jurang nyaris saja meraih sebelah sayapnya. Beruntung sang rajawali bermanuver cepat untuk menghindarinya. Rajawali itu memekik marah, sebelum akhirnya memasuki salah satu jendela menara Kastel Larangan.Burung rajawali itu langsung berubah menjadi kepulan asap hitam begitu melewati jendela menara seraya mendarat dengan sempurna. Dari kepulan asap yang kian lama kian menipis itu munculah sosok Lucifer.Lucifer membungkuk seraya tersenyum lebar, memberi hormat kepada Minerva yang telah menantinya dengan tidak sabar. Sang ratu kegelapan mengangguk sekilas, kemudian kembali menekuri kitab-kitab sihir yang tengah ia baca. "Aku harap kau membawa kabar yang menarik," ucapnya acuh.Lucifer mengangguk takzim. Senyum lebar masih tersungging di bibirnya. Lucifer seolah menjadi makhluk paling bahagia saat itu. "Banyak sekali kabar menarik yang kubawa, Ratuku," ujarnya.Minerva menoleh padanya. Manik kelam milik sang ratu kegelapan menyorot tajam pada netra cokelat Lucifer. Peri perempuan itu kemudian beranjak dari kursi batu yang sedang ia duduki dan mendekati Lucifer dengan langkah perlahan.Hening seketika. Lucifer dan Minerva saling tatap. Seolah dapat membaca pikiran Lucifer, ratu kegelapan itu kemudian menyeringai lebar dalam redup cahaya di menara kastel."Jadi menurutmu, sudah waktunya manusia kecil itu kita tuntun untuk melenyapkan sihir putih di perbatasan Hutan Larangan?" tanya Minerva seraya memicingkan matanya.Lucifer mengangguk mantap. "Lagi pula, setelah kedatangan Yang Mulia Ratu pada penaburan Abu di Taman Peristirahatan Terakhir, Elijah pasti akan berpihak pada kita," sahutnya."Kau terdengar sangat yakin, Lucifer?" decak Minerva."Yang Mulia Ratu bisa mengandalkanku.""Baiklah," sahut Minerva. "Jika rencana ini gagal, apa yang kau pertaruhkan?"Lucifer membelalak. Namun, sepersekian detik kemudian, ia menjatuhkan lutut di hadapan sang ratu kegelapan. "Jika rencana ini gagal, kepalaku sepenuhnya akan menjadi milik Yang Mulia Ratu!""Bagus!" desis Minerva. Ia kembali menyeringai. "Aku tidak bisa menerima kegagalan. Lakukan apa pun untuk membuat rencana ini berjalan lancar. Dan, kau ... tetap awasi mereka, jangan sampai ada hal yang luput!" bentak Minerva dengan nada dingin.Lucifer mengangguk takzim. Rahangnya terkatup rapat, sementara pandangannya menyiratkan tekad yang kuat."Pergilah!" titah Minerva. Peri perempuan itu mengibaskan salah satu tangannya, kemudian duduk kembali menghadap meja batu yang dipenuhi tumpukan kitab sihir.Sekali lagi, Lucifer mengangguk. Dengan cepat ia mengubah dirinya menjadi seekor rajawali. Rajawali itu lantas terbang cepat keluar jendela, menembus kegelapan di luar Kastil Larangan.
Mourning Kingdom
Kereta Ailfryd tiba di Kerajaan Avery hampir tengah hari. Padahal mereka berangkat dari rumah cendawan pada sore hari sebelumnya. Jarak antara Fairyfarm dan Avery memang sangat jauh jika ditempuh melalui jalan darat. Andai saja Ailfryd bisa menggunakan sihir seperti yang biasa dilakukan Ella, maka jarak Fairyfarm dan Avery hanya memakan waktu beberapa jam saja.Sepanjang perjalanan Ammara hanya membisu seraya memandang keluar jendela. Matanya bengkak karena separuh perjalanan ia habiskan dengan menangis sesenggukan. Entah apa yang ia tangisi. Pikirannya terus dipenuhi dengan percakapan para kepik ajaib, terlebih sepanjang perjalanan matanya menangkap bunga-bunga Camellia yang terus tumbuh. Ammara berjuang sekuat tenaga untuk mengenyahkan berbagai asumsi buruk yang menggelayuti pikirannya, tetapi sepertinya ia gagal.Begitu kereta berhenti, Ammara langsung melompat turun tanpa memedulikan panggilan ayahnya. Jantungnya berdebar kencang saat melihat keramaian yang tidak biasa di Avery. Bahkan, telinganya menangkap sayup-sayup tangisan dan lolongan sedih.Ammara terus berlari, mencari wajah yang mungkin ia kenali untuk bertanya. Ia menyusup di antara peri-peri berwajah sedih dan bermata bengkak seperti dirinya. Tunggu dulu. Apa yang sebenarnya terjadi. Apa benar ada anggota kerajaan yang meninggal ?Ammara mencari jalan menuju istana utama, tetapi beberapa gerbang dan pintu masuk terlihat diblokade oleh para kesatria Elf. Istana Avery juga sangat kacau dengan bekas reruntuhan bangunan yang berserakan di mana-mana. Sesuatu yang buruk benar-benar telah terjadi di tempat itu rupanya.Ammara semakin panik. Ia berlari tak tentu arah, bahkan sempat beberapa kali menabrak tubuh peri di hadapannya. Tiba-tiba ekor matanya menangkap salah satu sudut halaman istana yang dipadati peri Elf.Ammara mendekat pada kerumunan itu, mengintip di balik punggung peri Elf yang sedang berkumpul dengan wajah-wajah sedih. Matanya membelalak saat menangkap pemandangan mengerikan di balik kerumunan itu.Mayat-mayat peri terlihat sedang di bakar dalam api-api biru yang cukup besar. Ammara segera menyadari bahwa bau aneh yang menyeruak ke seluruh penjuru istana sejak ia menjejakkan kaki di sana adalah bau mayat peri yang sedang dibakar. Namun, siapa mereka dan mengapa ada begitu banyak mayat peri yang dibakar, pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepalanya.Iris mata hijau Ammara tiba-tiba menangkap sosok-sosok yang ia kenal sedang berkumpul di satu sudut, dengan blokade ketat dari para kesatria Elf. Peri-peri yang berkumpul di sudut itu terlihat jauh lebih ramai. Ammara dapat melihat Putri Tatianna, Pangeran Archibald, Pangeran Claude dan Pangeran Elwood berjajar dengan wajah sedih dari posisinya. Mereka mengelilingi sebuah nyala api biru yang paling besar.Ammara terkesiap. Ia mencari sosok Pangeran Elijah dan Putra Mahkota Albert di antara kerumunan itu. Namun, ia tak dapat menemukannya. Hatinya mendadak tidak enak.Ammara berusaha mendekati tempat putri dan pangeran berdiri. Ia menyelinap melewati tubuh-tubuh peri yang saling berhimpitan. Begitu sampai di depan blokade kesatria Elf, ia tidak dapat masuk. Tak peduli seberapa keras ia berusaha memohon bahkan mendorong, para kesatria Elf tetap menghalanginya dengan tombak-tombak yang menyilang.Ammara mulai merasa tenaganya terkuras. Pelipisnya dibanjiri keringat, sementara napasnya terengah-engah. Ia nyaris putus asa ketika tubuhnya membentur dada bidang sesosok peri laki-laki."Aww...!" desis Ammara seraya memegang keningnya yang terasa berdenyut."Kau mencariku?" tanya suara peri laki-laki berdada bidang di hadapan Ammara. Suaranya terdengar familier.Ammara mengangkat wajahnya dan mendapati raut Elijah yang terlihat kaget. "Pangeran Elijah!" seru Ammara lega. "Apa yang terjadi?" tanyanya tanpa menunggu respon Elijah. Kekalutan membayangi wajahnya.Sorot mata Elijah berubah sendu. "Monster Hydra menyerang Istana Avery. Darah dan Napas beracunnya membuat para peri berubah jadi mayat hidup... Mayat-mayat hidup yang terinfeksi menularkan racun yang sama..."Kalimat Elijah menggantung di udara, sementara mata pangeran peri itu mulai berkaca-kaca. Ia membuang pandangan, tak mampu menatap iris mata hijau Ammara yang menuntut penjelasan."Lalu?" desak Ammara dengan suara tercekat.Elijah kembali menatap mata peri perempuan itu, mulutnya membuka dan menutup sebelum akhirnya menemukan kata-kata yang tepat untuk menjawab desakan Ammara. "Putra Mahkota Albert terinfeksi mayat hidup. Archibald terpaksa harus menusuknya," ucap Elijah getir."A-apa?!" Ammara membelalak. Ia menggeleng cepat, menolak untuk mempercayai kata-kata Elijah. Ia segera membalik badan dan berlari ke arah blokade kesatria Elf. Ia menabrakkan tubuhnya sekuat mungkin, mencoba untuk menerobos blokade tersebut. Matanya fokus menyorot tubuh peri yang terbakar di dalam api biru besar di balik blokade."Ammara!" panggil Elijah yang menyusul di belakangnya. Ia mencoba meraih tubuh peri perempuan itu.Ammara menepis kasar tangan Elijah seraya mendelik sekilas ke arah pangeran peri yang mengekorinya. "Kau pasti salah!" desisnya marah.Peri perempuan itu mencoba sekali lagi menerobos blokade. Kali ini salah satu kesatria Elf mendorong tubuhnya sedikit keras hingga Ammara terpental.Dengan sigap Elijah menyambut tubuh terhuyung Ammara. Ia membalik tubuh Ammara dan membenamkan wajah peri perempuan itu ke dadanya. Ia memeluknya erat seraya menepuk lembut punggung Ammara yang kini mulai menangis dalam pelukan."Kau pasti salah!" raung Ammara. Suaranya teredam di dalam pelukan Elijah. Sesekali tangannya memukul gusar pada dada sang pangeran peri.Elijah bungkam, membiarkan Ammara meluapkan kesedihan untuk beberapa saat lamanya."Semua akan baik-baik saja," bisik Elijah, setelah tangis Ammara lamat-lamat mulai mereda. Sorot matanya menerawang ke arah langit kelabu yang menaungi Fairyverse.Ammara mengangkat wajah dan merenggangkan tubuhnya dari dada Elijah. Ia menatap api biru yang membakar tubuh Putra Mahkota Albert dari kejauhan. Air mata masih terus mengalir di kedua pipinya seolah enggan berhenti."Sebelum peristiwa ini, Putra Mahkota sempat menemui Dewan Peri untuk memberikan kesaksian bahwa Ibumu bukan pelaku kekacauan di Pesta Putri Tatianna." Elijah akhirnya membuka suara. Ia berbicara cukup hati-hati sembari memperhatikan perubahan raut wajah Ammara.Perkataannya sontak membuyarkan lamunan Ammara. Ia menatap Elijah dengan kening berkerut, meminta penjelasan lebih pada peri laki-laki yang kini berdiri sejajar dengannya.Elijah mengendikkan bahunya. "Ibumu sudah dibebaskan dari segala tuduhan. Semua itu berkat Albert."Suara isak tangis kembali terdengar. Ammara menutup mulutnya dengan telapak tangan agar suara tangisnya sedikit teredam. Ia menghela napas kasar melalui hidung yang telah dipenuhi cairan. "Aku bahkan tak sempat mengucapkan terima kasih padanya!""Maaf jika ceritaku malah membuatmu semakin sedih. Aku hanya ingin kau mengetahuinya," ucap Elijah lirih.Ammara menggeleng, masih dengan tangis yang sulit dibendung. "Kau benar. Aku sangat menyesal karena tak sempat mengucapkan terima kasih padanya," kata Ammara di sela-sela tangisnya."Semua akan baik-baik saja, Ammara. Dia sudah berada di tempat terbaik," sahut Elijah seraya menepuk punggung Ammara pelan.Seketika mereka bungkam. Ammara dengan tangisnya, sementara Elijah dengan lamunannya. Mereka sama-sama menyorot api biru yang kini tengah melahap tubuh tak bernyawa sang putra mahkota.Jasad para peri yang dibakar api biru akhirnya berubah menjadi abu. Api-api biru itu secara ajaib mengecil dan menyisakan tungku-tungku menghitam yang dipenuhi abu.Suara tangis dan lolongan sedih perlahan mereda. Para pelayat perlahan-lahan pergi meninggalkan tempat itu. Namun, prosesi belum usai, selanjutnya mereka akan berpindah menuju Taman Peristirahatan Terakhir yang tak jauh dari lingkungan Istana Avery. Setelah para petugas kremasi dalam pakaian formal kerajaan mengumpulkan abu Putra Mahkota Albert dan peri Elf lainnya dalam masing-masing bejana yang terbuat dari perak, rombongan peri yang menyaksikan prosesi kremasi segera ikut berpindah ke Taman Peristirahatan Terakhir. Lambat laun, suasana halaman utama Istana menjadi lenggang."Apa kau ingin bertemu ibumu?" tanya Elijah memecah keheningan di antara mereka.Ammara mengangguk pelan seraya mengusap sisa air mata yang menggenang di pipi. Wajah pucatnya terlihat sembab dengan mata bengkak dan hidung yang memerah."Kau tidak ke Taman Peristirahatan Terakhir?" Ammara balik bertanya dengan suara serak."Aku akan ke sana, setelah mengantarmu bertemu Nyonya Ella," sahut Elijah saat mereka berjalan menjauhi tempat kremasi."Aku bisa menemukan Ella sendiri," tolak Ammara. Ia mengembuskan napas pelan. "Lebih baik kau segera pergi ke Taman Peristirahatan Terakhir. Aku tidak ingin kau melewatkan ritual penting, penghormatan terakhir untuk Putra Mahkota Albert."Elijah menatap Ammara ragu, tetapi segera mengangguk pelan. "Aku akan segera menemuimu setelah prosesi di taman selesai." Elijah menepuk bahu peri perempuan di sampingnya pelan.Ammara mengangguk cepat, berusaha terlihat mantap dengan keputusannya. "Sampaikan salamku pada Putra Mahkota Albert." Setetes air bening mengalir di salah satu pipinya. Ammara mengusapnya cepat.Elijah terlihat enggan beranjak dari sisi Ammara. Namun, Ammara segera mendorong bahu peri laki-laki itu pelan seraya menggerakkan mulutnya tanpa suara, mengatakan kalau ia baik-baik saja."Aku akan segera kembali," ucap Elijah lagi seraya berlari meninggal Ammara menuju Taman Peristirahatan Terakhir.Ammara mengangguk pelan, mengiringi kepergian sosok Elijah yang menghilang di balik benteng Kerajaan dan tak lagi menoleh kepadanya. Kini tinggallah Ammara bergeming di posisinya di antara para pelayat yang mulai menyusut jumlahnya. Kakinya terasa lemas untuk sekadar berjalan kembali kepada sang ayah."Ammara!" Sesosok peri Elf menepuk pundak Ammara. Peri perempuan itu sontak menoleh ke arah suara yang menyapanya.Pupil matanya melebar saat mengenali sosok peri yang menyapanya, "Ayah!"Ella muncul dari balik punggung Ailfryd dan langsung memeluk putrinya erat.Ammara membalas pelukan Ella dengan tangis yang kembali pecah. Ammara meraung lagi. Tangis kelegaan dan sedih bercampur jadi satu."Aku merindukanmu, Nak!" lirih Ella di sela-sela isak tangisnya.Tangis Ammara semakin kencang begitu mendengar ucapan sang ibu. Ia tak sanggup menjawab, tetapi pelukannya semakin mengerat. Kedua bahunya bergetar.Ailfryd yang berdiri di samping Ammara, menghela napas berat. Susah payah ia menahan diri agar tidak ikut larut dalam kesedihan istri dan anaknya. Namun, setetes air bening akhirnya turut lolos dari pelupuk matanya.Setelah beberapa saat lamanya, Ammara mengangkat wajah dan melepaskan diri dari pelukan Ella. Ia mengusap air mata di pipinya dengan punggung tangan, seraya membersit ingus. Dengan suara serak, ia berucap, "Ibu, apakah ibu tahu jika Putra Mahkota Albert meninggal?"Ella mengangguk pelan seraya berkata di sela-sela isak tangisnya. "Ibu menyaksikan semuanya, Ammara!"Ammara membelalak mendengar jawaban Ella. Tanpa sadar mulutnya membentuk bulatan."Pangeran Claude mengeluarkan ibu dari ruang tahanan bawah saat Istana Avery sedang kacau." Ella melanjutkan kata-katanya. "Ia berharap ibu dapat menolong Putra Mahkota. Namun, saat ibu tiba, semuanya sudah terlambat. Ibu tidak dapat merasakan lagi denyut nadi di pergelangan tangannya."Ammara menutup mulutnya dengan kedua tangan. Air mata kembali mengalir di pipinya."Percayalah, ini yang terbaik untuk Putra Mahkota, yang terbaik untuk seluruh kerajaan Avery," ucap Ella lagi.Ammara mengangguk pelan seraya mengusap lagi air mata yang baru saja membasahi pipinya. Ia merebahkan kepalanya di pundak sang ibu, menutup matanya agar segala kesedihan dapat menghilang. Namun, saat ia menutup mata, yang hadir justru adalah bayangan Putra Mahkota Albert.Ammara kembali terisak. Bulir-bulir air mata kembali mengalir di pipinya.* * *Seusai prosesi penaburan abu Putra Mahkota Albert di Taman Peristirahatan Terakhir, Raja Brian masih enggan beranjak dari tempat itu. Untuk menghormati sang Raja, keluarga kerajaan lainnya pun ikut tak beranjak dari tempat itu, sementara para pelayat umum telah pergi meninggalkan Taman Peristirahatan Terakhir beberapa saat yang lalu.Raja Brian terlihat sangat pucat. Ia bahkan tak mampu berdiri sendiri. Pangeran Claude dan Pangeran Elwood memapahnya di sisi kiri dan kanan. Namun, ia tetap memaksakan diri untuk mengikuti seluruh prosesi kremasi dan penebaran abu di Taman Peristirahatan Terakhir .Maurelle berdiri membelakangi Raja Brian, di salah satu sisi Ratu Serenity yang tak henti-hentinya menangis histeris sepanjang prosesi. Dua peri perempuan sampai harus memegangi sang Ratu agar dapat tetap berdiri di tempat. Kedua matanya telah bengkak, tetapi sang ratu peri seolah tak lagi peduli dengan penampilanya.Iris mata kelam Maurelle mengamati keluarga kerajaan yang hadir di taman itu satu per satu dengan tatapan awas hingga pandangannya menangkap sesosok peri asing yang berdiri pada posisi paling belakang. Sosok itu bukan sosok yang familier baginya, sosok peri berjubah hitam dengan tudung yang menutupi sebagian besar wajah.Pandangan Maurelle dan sosok itu beradu, saat sosok peri misterius itu tanpa sengaja melemparkan pandangan sekilas ke arah Raja Brian. Sosok berjubah hitam itu terkesiap lalu menundukkan kepalanya dengan cepat. Ia segera berbalik dan hendak beranjak dari Taman Peristirahatan Terakhir."Tunggu!" sergah Maurelle yang membuat mata semua peri elf di taman itu membelalak. Sontak mereka menoleh ke arah sosok bertudung hitam. Mereka menepi memberi jalan pada Maurelle untuk mendekati sosok itu.Sosok bertudung hitam itu berhenti dengan posisi membelakangi Maurelle.Maurelle seketika menghentikan langkah dan memberi jarak dengan sosok misterius itu. Ia bertanya lantang, "Siapa kau?!"Dengan gerakan cepat, sosok bertudung hitam itu berbalik seraya membuka tudung kepalanya.Para anggota keluarga kerajaan terkesiap. Beberapa di antara mereka terdengar menjerit kaget. Sementara peri lain terlihat shock begitu melihat sosok peri bertudung hitam di hadapan mereka."Apa kabar semuanya? Masih ingat padaku?" tanya peri bertudung hitam dengan nada sinis. Suara tawanya terdengar begitu dingin. Suasana Taman Peristirahatan Terakhir itu seketika diliputi aura gelap."Apa yang kau lakukan disini, makhluk unsheelie?!" hardik Ratu Serenity. Wajah sembabnya seketika diliputi amarah.Suara tawa memecah di taman yang harusnya hening itu. Dengan sigap, peri bertudung itu melepas keseluruhan jubahnya hingga menampilkan gaun ungu gelap dan rambut hitam tergerainya. Wajah cantik nan bengis itu menyunggingkan senyum asimetris."Bukankah kita teman lama, Ratu Serenity? Aku hanya datang untuk mengunjungi teman lamaku yang sedang bersedih karena kehilangan putranya," jawabnya dengan suara meninggi. Sosok itu kini mengalihkan pandangannya dari Ratu Serenity ke Raja Brian. "Aku juga ingin menjenguk mantan suamiku!"Seluruh mata sontak mengarah pada Raja Brian yang terpaku di tempatnya. Peri laki-laki itu bergeming."Minerva? Kaukah itu?" tanya Raja Brian dengan suara tercekat. Matanya memicing, membalas tatapan sengit peri perempuan bersurai gelap di hadapannya.Senyum asimetris di bibir Minerva menghilang, berganti wajah dingin dengan tatapan tajam. "Aku harap kau tidak benar-benar melupakanku, Raja Brian. Kau bahkan tidak pernah mencariku saat aku dibuang ke Hutan Larangan. Namun, tenang saja, aku sudah memaafkanmu. Aku tidak membutuhkanmu lagi. Aku sudah tumbuh menjadi sangat kuat dan tak terkalahkan!""Pangawal! Bunuh peri Unsheelie itu!" teriak Ratu Serenity kalap. Wajahnya memerah dan napasnya memburu. Ia nyaris berlari mencengkeram Minerva jika saja kedua peri perempuan di sisinya tidak menahan lengannya.Sejumlah kesatria Elf lantas maju membentuk lingkaran mengelilingi Minerva, dengan tombak dan pedang sihir terhunus di tangan.Minerva menyeringai, sebelum akhirnya mengibaskan kedua belah tangannya menyilang dengan kasar. Angin yang tercipta dari sekali kibasan tersebut kemudian membuat seluruh kesatria Elf di sekelilingnya terpental.Suara teriakan panik para keluarga kerajaan tiba-tiba memenuhi Taman Peristirahatan Terakhir. Beberapa peri berlari pergi meninggalkan taman itu dengan ketakutan, sementara sisanya bergerombol untuk saling melindungi.Maurelle dan para pangeran peri maju ke hadapan Minerva dengan pedang sihir terhunus di tangan mereka masing-masing, sementara kerabat kerajaan lainnya berlindung di belakang mereka.Minerva bersedekap. Ia mengerling tanpa minat pada Maurelle, pangeran Archibald dan pangeran Elijah yang menghunus pedang ke arahnya. "Aku kemari bukan untuk membuat keributan. Aku hanya ingin berbelasungkawa atas meninggalnya Putra Mahkota Albert. Jadi... Kembalikan saja pedang kalian ke dalam sarungnya sebelum aku berubah pikiran!""Apa maumu sebenarnya, Minerva?" tanya Raja Brian dengan suara bergetar."Apa mauku?" ulang Minerva dingin. Matanya kembali menyorot tajam pada Raja Brian. "Apa kau akan memberikan apa yang kumau jika aku mengatakannya?!""Hentikan omong kosongmu!" bentak Ratu Serenity berang.Minerva menyeringai melihat tingkah Ratu Serenity. Peri perempuan itu berjalan perlahan mendekati Ratu Serenity. Pada satu titik ia berhenti, kemudian berdecak dengan tatapan meremehkan. "Lihatlah dirimu, Ratu! Kau sangat berantakan. Bahkan dalam situasi seperti ini, kau masih saja cemburu padaku! Kecemburuanmu itu lambat laun akan menghancurkanmu!"Ratu Serenity hendak menyerang Minerva, tetapi lagi-lagi kedua lengannya terkekang. Ia menggerak-gerakan tubuhnya kasar ke segala arah, mencoba melepaskan kekangan dua peri perempuan di sampingnya, tetapi tak bisa."Tutup mulutmu, Peri terkutuk!!" raung Ratu Serenity berang. Wajah rupawan sang ratu merah padam, sementara matanya melotot menatap Minerva. "Pergi kau dari tempat ini. Ini bukan tempatmu, makhluk terkutuk!" semburnya lagi.Minerva mendelik. Namun, sedetik kemudian ia tertawa terbahak-bahak. Saat tawanya mereda, tatapan menusuknya kembali menyorot pada Ratu Serenity "Aku harap kau tidak lupa, kalau aku adalah ibu salah satu pangeran di Avery. Aku kemari juga ingin melihat keadaan putraku."Ratu Serenity terkesiap.Demikian pula halnya dengan Raja Brian. Tanpa sadar mulut menganganya membentuk bulatan.Kasak-kusuk mulai terdengar. Keluarga kerajaan dan para pelayat yang tersisa mulai berbisik-bisik saat mendengar pengakuan Minerva.Minerva menyapukan pandangannya sekilas pada Maurelle dan jajaran pangeran kerajaan Avery yang sedang menghunus senjata ke arahnya.Dari sudut matanya, Minerva dapat melihat Elijah yang membelalak menatapnya. Rahang pangeran peri itu terkatup rapat sementara kegusaran perlahan meliputi wajah sang pangeran.Salah satu sudut bibir Minerva terangkat."Kembalilah ke asalmu, Minerva. Atau Dewan Peri akan menghukummu," sela Raja Brian. Seketika bisik-bisik para pelayat mereda saat mendengar sang raja angkat bicara.Minerva menghela napas panjang seraya bersedekap. Ia menoleh tanpa minat ke arah Raja Brian. "Betapa sombongnya kalian para kaum Sheelie hingga peri Unsheelie yang ingin berbelasungkawa dengan tulus, kalian usir. Aku hanya ingin mengingatkan bahwa tidak ada yang abadi. Kelak bisa saja kalian yang berada di posisiku.""Kau datang ke sini dengan dengan membawa ancaman dan teror, apa itu bisa dikatakan tulus?!" Ucap Elijah setengah berteriak.Minerva terkesiap, tak menyangka jika putranya akan melontarkan kata-kata yang begitu tajam untuknya. Namun, ia segera menguasai dirinya dan kembali memasang wajah yang dingin tanpa ekspresi."Lihat bagaimana para peri Sheelie ini mengubahmu menjadi peri yang tak menghormati ibumu!" desis Minerva. Ia mendelik pada Elijah.Sontak seluruh mata di Taman Peristirahatan Terakhir menyorot pada Elijah. Bisik-bisik kembali terdengar di antar para pelayat.Demi mendengar perkataan Minerva, Elijah bungkam. Wajah tampannya mendadak merah padam. Ia mengatupkan rahangnya kuat-kuat hingga urat-urat di lehernya samar-samar terlihat. Sedetik kemudian, ia membuang muka."Sepertinya upacara penaburan abu Putra Mahkota Albert ini tidak lagi menyenangkan!" seru Minerva. Pandangan dinginnya menyapu seluruh pelayat yang hadir di taman itu."Bersiaplah, karena setelah ini, aku akan datang kembali untuk mengambil apa yang seharusnya kumiliki," ucapnya lagi seraya melirik sekilas ke arah Elijah yang sedang tertunduk. Pandangannya kemudian beralih pada Raja Brian dan Ratu Serenity yang terlihat shock .Minerva mengibaskan salah satu sisi gaunnya yang panjang. Cahaya keunguan muncul dari balik jubahnya. Dalam sepersekian detik cahaya keunguan itu seolah melahap tubuhnya. Minerva menghilang, meninggalkan berkas cahaya keunguan yang melesat terbang meninggalkan Taman Peristirahatan Terakhir."Tangkap dia! Bunuh peri Unsheelie itu! Cepat!" teriak Ratu Serenity panik begitu cahaya ungu keluar dari taman. Tubuhnya meronta-ronta agar terlepas dari kekangan.Raja Brian mendekati Ratu Serenity seraya menenangkan istrinya. "Tenanglah istriku, semua akan baik-baik saja. Aku berjanji, ia tidak akan bisa berbuat kekacauan di Avery."Ratu Serenity berdecak kesal. "Ini semua gara-gara peri itu!" tudingnya pada Elijah yang bergeming. "Jika saja kita tak membawanya ke Istana, maka Minerva tidak akan punya alasan untuk datang lagi. Benar-benar menyusahkan!""Sudahlah. Tenanglah, Ratuku. Mari kita kembali ke Istana Avery," bujuk Raja Brian. Ia melirik khawatir kepada keluarga besarnya yang mulai memperhatikan dan mengomentari tingkah sang ratu.Dengan berat hati, Ratu Serenity menuruti Raja Brian untuk meninggalkan Taman Peristirahatan Terakhir. Kesatria Elf dan para pelayat lainnya mengiringi kepergian sang raja dan ratu.Sementara Pangeran Elijah tetap bergeming di tempatnya dengan tangan terkepal. Rahangnya mengeras. Sesuatu yang berat seolah menghimpit dadanya, terasa sakit dan menyesakkan.Andai aku tidak terlahir sebagai anak peri unsheelie, pasti rasanya tidak akan sesakit ini.
Red Camellia
Tidak ada yang lebih menyakitkan daripada harus menyaksikan saudara sekaligus sahabat karib meregang nyawa di depan mata, dengan cara yang sangat mengenaskan.Archibald tak berkedip memandang tubuh Albert di pangkuannya yang perlahan bertransformasi akibat terinfeksi darah hydra. Entah berapa kali Maurelle menarik bahunya agar ia segera menjauh sebelum Albert benar-benar berubah menjadi mayat hidup dan menyerangnya, tetapi ia tetap bergeming.Iris mata hazel green nya terpaku pada Albert, seolah benar-benar enggan melepas kepergian Albert dari tubuh fananya. Tak ada air mata. Namun, awan kesedihan jelas menaungi pangeran peri bersurai keemasan itu.Di pangkuan Archibald, Albert yang tak lagi merintih kesakitan, mulai mengalami perubahan pada fisiknya. Kulit tubuhnya yang putih perlahan-lahan berubah menghijau dengan warna urat dan pembuluh darah yang jadi lebih terang serta menonjol. Rambut peraknya yang berkilau dan halus berubah perlahan menjadi kusam dan kasar seolah cahaya keindahan fisik sang peri telah terangkat dari mahkotanya. Bibir kemerahan Albert kini telah menghitam seutuhnya. Perlahan, luka-luka di tubuhnya juga mengering dan menghitam, diikuti dengan kuku-kuku yang juga menghitam dan memanjang penanda bahwa tubuh fananya telah mati."Pangeran Archibald, Putra Mahkota Albert akan segera bangkit dan berubah menjadi mayat hidup. Pangeran harus berhati-hati," ucap Maurelle untuk yang kesekian kalinya. Peri laki-laki itu berdiri tepat di samping Archibald. Ia mengguncang salah satu pundak Archibald.Archibald bergeming."Pangeran... Relakanlah kepergian Putra Mahkota. Ia bukan lagi Putra Mahkota Albert yang kita kenal!" bujuk Maurelle nyaris putus asa. Akhirnya ia ikut berlutut di samping Archibald. Matanya lekat menatap jasad Putra Mahkota Albert. Setetes air bening mengalir di salah satu pipinya.Archibald masih bergeming. Namun, air mukanya menegang."Albert... tidak boleh berakhir seperti mereka," gumamnya terbata-bata. Archibald mengedarkan pandangan pada segerombol mayat hidup yang merangsek maju ke arah mereka.Maurelle mengangkat wajahnya mengamati Archibald, menanti apa yang hendak dilakukan pangeran peri itu dengan tegang."Archibald!" seru Claude yang datang tergesa. Ella mengekor tepat di belakangnya."Pangeran Claude! Ella!" sapa Maurelle seraya mengembuskan napas lega. "Syukurlah kalian datang. Tolong, sembuhkan Putra Mahkota Albert."Tanpa aba-aba, Ella segera berlutut di hadapan Archibald yang memangku tubuh Albert. Dengan sigap, peri penyembuh itu meraih salah satu pergelangan tangan Albert untuk mencari nadinya."Bagaimana, Nyonya Ella?" tanya Claude dengan raut khawatir. Ia ikut berlutut di samping Ella.Ella menggeleng pelan. Raut wajahnya menjadi suram seketika. "Kita terlambat. Putra Mahkota Albert sudah tiada," lirihnya."Apa?!" pekik Claude dan Maurelle nyaris bersamaan."Putra Mahkota Albert sudah terinfeksi sepenuhnya. Tidak lama lagi ia akan bangkit," sahut Ella getir.Keempat peri Elf itu kini membisu untuk beberapa waktu lamanya seraya menatap tubuh tak bernyawa Albert yang secara fisik telah serupa mayat hidup.Suara raungan tiba-tiba terdengar tidak jauh dari tempat mereka berkumpul. Segerombol mayat hidup yang tadi mengikuti Claude dan Ella ternyata telah tiba di halaman utama Istana Avery. Beberapa mayat hidup yang tersisa di halaman itu ikut bergabung mendekati Maurelle, Claude, Ella dan Archibald.Dengan sigap, Maurelle dan Claude serta beberapa kesatria Elf yang tersisa di halaman istana mengambil ancang-ancang untuk bertahan sekaligus menyerang. Pedang sihir terhunus di tangan mereka masing-masing.Rahang Archibald mengeras. Kedua tangannya terkepal.Ella yang mengamati perubahan sikapnya, mencoba menenangkan. "Apapun keputusanmu, Pangeran Archibald, tidak ada yang berhak menyalahkanmu. Kami semua akan mendukungmu."Archibald menatap Ella. Kata-kata peri penyembuh itu seolah-olah memberinya kekuatan dan menguatkan keputusannya. Sementara peri penyembuh itu membalas tatapan Archibald dengan sebuah anggukan mantap.Archibald mengedarkan pandangannya ke sekitar, pada rekan-rekannya yang tengah bersiaga menyambut kedatangan mayat hidup yang jumlahnya dua kali lipat lebih banyak dari mereka. Ia tak boleh kehilangan lebih banyak lagi. Tidak kali ini. Kehancuran ini harus segera diakhiri, sebelum korban bertambah.Tepat saat Archibald meraih pedang sihirnya dan matanya kembali menyorot tubuh Albert, Albert membuka mata. Archibald terkesiap. Tatapan mereka beradu. Namun, Archibald segera sadar jika sorot mata dan seringai yang tersungging pada bibir hitam si mayat hidup tidak seperti Albert yang selama ini ia kenal. Tanpa keraguan, Archibald mengangkat pedang sihirnya lalu menancapkan benda itu tepat di jantung Albert.Albert mengerang hebat, tetapi sedetik kemudian tubuhnya terkulai tak bersuara. Seberkas cahaya keunguan keluar dari tubuh Albert. Cahaya itu pun menghilang dalam sekejap mata. Bersamaan dengan itu, gerombolan mayat hidup lain yang nyaris menerkam Maurelle, Claude dan beberapa kesatria Elf mendadak roboh. Warna kehijauan di tubuh mereka serta-merta memudar.Archibald dan Ella saling pandang dengan wajah shock .Hening seketika menyergap halaman Istana Avery."Albert! Putraku!"Ratu Serenity yang tiba-tiba muncul, berlari histeris mendekati tubuh Albert yang terbujur kaku di atas pangkuan Archibald. Matanya membelalak begitu melihat pedang sihir tertancap di jantung putranya, terlebih ketika mendapati bahwa Archibald-lah yang sedang memegang gagang pedang tersebut.Archibald mengangkat wajahnya, memberi hormat sekilas kepada Ratu Serenity. Kemudian mencabut pedangnya perlahan dari tubuh kaku Albert.Ratu Serenity menjerit seraya mendorong tubuh Archibald hingga jatuh terjengkang. Kemudian, ia mencekik leher Archibald berang.Archibald hanya terdiam, tanpa perlawanan. Sekuat tenaga ia menahan rasa sakit akibat cekikan sang ratu."Tenanglah, Ratu!" Maurelle meraih pundak Ratu Serenity untuk melepaskan cekikanya dari leher Archibald. Archibald memucat dan mulai kehabisan napas."Bagaimana aku bisa tenang?!" hardiknya. Ia sontak melepaskan cengkeramannya pada leher Archibald, kemudian menepis kasar lengan Maurelle dari bahunya. "Dia membunuh putraku! Calon Raja Avery!" jeritnya lagi seraya menuding ke arah Archibald."Yang Mulia, ini tidak seperti yang Anda lihat. Archibald tidak membunuhnya. Putra Mahkota terinfeksi. Archibald berusaha menyelamatkannya. Ia menyelamatkan seluruh kerajaan Avery." Claude menjelaskan."Benar, Yang Mulia Ratu. Putra Mahkota sendiri yang memintanya pada Pangeran Archibald, sebelum ia terinfeksi." Maurelle menimpali."Bohong! Kalian berdua bersekongkol! Bohong!" Jerit Ratu Serenity histeris. Ia berlutut dan meraih tubuh Albert, kemudian mendekapnya erat. Tangisnya pecah.Archibald bergeming. Wajahnya tertunduk. Tiba-tiba sebuah sentuhan lembut mendarat di pundaknya."Terima kasih telah menyelamatkan Avery hari ini, putraku." ucap Raja Brian lembut. Entah sejak kapan, sang raja telah berdiri di samping Archibald. Di samping Raja Brian, Elijah bergeming dengan raut wajah yang tak dapat diartikan.Archibald mengangkat wajahnya, menatap Raja Brian sendu."Jika ada yang patut di salahkan, maka Hamba-lah orangnya, Yang Mulia. Hamba telah gagal melindungi Putra Mahkota Albert. Hamba pantas mati!" seru Maurelle seraya bersujud di hadapan Raja Brian.Raja Brian menggeleng lemah. Ia menyentuh pundak Maurelle dan menuntunnya berdiri. "Akulah yang lalai menjaga putraku sendiri. Dengan kondisiku yang seperti ini, harusnya aku mundur dan menyerahkan takhta pada Putra Mahkota Albert sejak lama," sesal Raja Brian dengan suara bergetar. Setetes air bening terbit di pelupuk matanya."Yang Mulia...!" lirih Maurelle dengan tangis tertahan.Raja Brian menghela napas pelan. Ia melangkah melewati Maurelle dan Archibald yang masih berlutut. Ia menghampiri Ratu Serenity yang menangis sesenggukan seraya memeluk erat tubuh tak bernyawa putranya."Maafkan aku, Ratuku..." ucap Raja Brian lirih. Hanya itu yang mampu ia ucapkan. Tangisnya seketika pecah saat ia memeluk tubuh Ratu Serenity.Seluruh peri Elf yang masih tersisa di Istana Avery berkumpul di halaman utama, mengelilingi Raja dan Ratu mereka yang sedang bersedih. Mereka berlutut seraya menundukkan wajah, turut hanyut dalam kesedihan.Perlahan-lahan dari setiap sudut permukaan tanah Istana Avery pucuk-pucuk daun mulai tumbuh. Tanaman-tanaman itu tumbuh dengan cepat hingga mengeluarkan kuntum-kuntum bunga berwarna merah menyala. Saat kelopak-kelopak bunga merah itu membuka, tanaman itu langsung berhenti tumbuh.Suara tangisan dan lolongan sedih perlahan memenuhi istana. Angin yang berembus membawa sayup-sayup suara tersebut, menyampaikan berita sedih ke seluruh penjuru Fairyverse.Seolah turut berduka, langit di Fairyverse perlahan menggelap. Awan kelabu sekonyong-konyong berarak menaungi langit yang tepat berada di atas Istana Avery.* * *Angin berhembus kencang menerpa wajah Minerva yang sedang menantang salah satu jendela menara di Kastel Larangan. Iris mata ungunya memandang jauh menembus kabut Hutan Larangan yang semakin pekat. Salah satu sudut bibirnya terangkat."Akhirnya hari itu akan segera tiba!" gumam Minerva.Minerva beranjak dari ambang jendela. Langkahnya berhenti tepat di depan sebuah cermin besar yang memantulkan seluruh bayangan tubuhnya. Ia menyeringai menangkap sorot matanya sendiri di depan cermin itu."Apa yang harus aku kenakan agar terlihat cantik untuk melayat ke Istana Avery, ya?" tanya Minerva pada bayangan dirinya di cermin. Ia berputar-putar seraya melebarkan gaun hitamnya seperti sedang mematut diri.Minerva membelalak, tiba-tiba ia mengingat sesuatu. "Ada hal yang lebih penting yang harus kulakukan!" gumamnya lagi seraya beranjak kembali menuju ambang jendela.Kini langit Hutan Larangan telah sepenuhnya gelap. Angin malam bertiup semakin kencang, menerbangkan surai hitam Minerva. Peri perempuan itu membentangkan tangannya menantang ambang jendela. Wajahnya menengadah menatap langit yang menggelap.Dalam sepersekian detik matanya memutih, sementara bibir merahnya mengalunkan mantra dalam suara rendah.Suara deru angin terdengar lebih kencang. Ranting-ranting dan serangga-serangga kecil berterbangan terbawa pusaran angin yang tercipta dari rentangan tangan Minerva."Wahai budak kegelapan, seluruh penghuni Hutan Larangan!" seru Minerva dengan lantang di tengah-tengah lantunan mantranya. "Aku memanggil kalian untuk mengikuti titahku. Bersiaplah! Kita akan membalas dendam pada para peri yang mengutuk kita di sini! Pada waktu yang aku tentukan, seorang manusia akan menghancurkan segel putih di Perbatasan Hutan Larangan. Kalian akan bebas. Aku akan membawa kalian keluar dari kutukan dan kegelapan selamanya!"Setelah Minerva menyerukan titahnya, tiba-tiba kilat membelah langit gelap Hutan Larangan. Gemuruh terdengar sahut-sahutan. Suara-suara seruan dan lolongan dari makhluk-makhluk kegelapan di Hutan Larangan terdengar seolah menyahuti perkataan Minerva. Untuk beberapa saat lamanya Hutan Larangan menjadi riuh.Minerva melanjutkan mantranya kembali dalam suara rendah. Pusaran angin yang tercipta di antara dua rentangan tangannya memecah ke segala penjuru Hutan membawa berkas cahaya keunguan. Bersamaan dengan itu, gemuruh serta suara-suara makhluk dari Hutan Larangan menghilang. Angin juga seakan berhenti bertiup. Suasana kembali hening.Minerva menurunkan kedua lengannya. Peri perempuan itu menatap jauh pada pemandangan yang tak terlihat di balik Kabut Hutan Larangan. Senyum asimetris kembali tersungging di bibirnya.* * *Ammara duduk termangu di ambang jendela rumah cendawan. Matanya menatap lekat pada semak bunga Marigold di luar halaman yang bergerak lembut tertiup angin. Tak ada lagi suara yang terdengar dari sana.Ammara mendesah pelan. Berbagai pikiran buruk tengah menggelayuti otaknya. Ia tak dapat melakukan apa pun untuk mengenyahkan pikiran-pikiran itu. Terlebih setelah mendengar percakapan kepik-kepik ajaib yang telah menghilang entah kemana.Tiba-tiba ekor mata Ammara menangkap pucuk-pucuk tanaman yang mendadak tumbuh di beberapa sudut halaman rumah cendawan. Ammara terkesiap. Punggungnya sontak menegak. Ia mengeluarkan kepalanya melalui bingkai jendela untuk dapat melihat lebih jelas.Tanaman-tanaman ajaib itu terus tumbuh hingga menyembulkan kuntum-kuntum bunga berwarna merah darah. Ketika kelopak-kelopak bunganya telah mekar, tanaman itu berhenti tumbuh.Bersamaan dengan tumbuhnya tanaman itu, langit Fairyhill mendadak mendung. Langit yang semula putih berubah menjadi abu-abu.Ammara menengadah ke langit menyaksikan langit Fairyhill yang biasanya selalu cerah dengan kening berkerut."Ayah!" teriaknya gusar tanpa beranjak dari ambang jendela."Ada apa, Ammara?" tanya Ailfryd yang datang tergopoh begitu mendengar kecemasan di suara Ammara."Ayah, Coba lihat!" seru Ammara seraya menunjuk pada tanaman-tanaman berbunga merah yang baru tumbuh di beberapa sudut rumah cendawan. "Dan, lihat langit itu!" kemudian Ammara mengalihkan telunjuknya ke atas.Ailfryd mengeluarkan kepalanya melewati ambang jendela. Ia mengikuti arah telunjuk Ammara.Ailfryd terkesiap. Wajahnya memucat. "Ada anggota kerajaan Avery yang wafat, Ammara," sahutnya dengan suara bergetar."A-apa maksud, Ayah? Dari mana ayah tahu?" tanya Ammara. Raut wajahnya mulai panik.Ailfryd menghembuskan napas berat. Air mukanya berubah muram. "Itu adalah bunga Camellia merah. Setiap kali ada anggota Kerajaan yang wafat, tanaman itu akan tumbuh dan bertahan selama beberapa hari.""Camellia merah?" Ammara tertegun. "Ayah, aku dengar ada hal buruk yang terjadi di Istana Avery. Aku tidak sengaja mendengar percakapan para kepik yang bertengger di atas mahkota bunga Marigold. Jangan-jangan... "Ammara dan Ailfryd saling pandang. Mata mereka sama-sama menyiratkan kengerian."Aku harap ibumu baik-baik saja..." sahut Ailfryd pelan, lebih seperti gumaman.Ailfryd menarik tubuhnya dari ambang jendela dan berjalan mondar-mandir. Ia mengusap wajahnya dengan kasar berkali-kali."Ayah, bagaimana kalau kita ke Kerajaan Avery sekarang?" tanya Ammara sejurus kemudian.Ailfryd tampak berpikir. "Jangan. Kau jangan ikut. Biar ayah yang pergi ke Kerajaan Avery," putusnya.Ammara menggeleng cepat. "Tidak Ayah. Aku harus ikut.""Tidak Ammara, ayah tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu. Kau aman di sini karena tabir yang dibuat Claude," tolak Ailfryd.Ammara bersikeras. "Tidak Ayah. Aku tidak ingin berdiam di sini tanpa mengetahui kondisi Ibu!"Ailfryd menghembuskan napas kasar. "Kau benar-benar keras kepala, Ammara!" decaknya kesal.Ammara menautkan alisnya, memasang tampang memohon."Baiklah, kita akan menggunakan kereta. Ah, ya, jangan lupa kenakan jubah agar baumu tidak terlalu kentara. Semoga semuanya baik-baik saja dan kita bisa sampai di Kerajaan Avery dengan selamat." Ailfryd menghela napas panjang. "Perjalanan ini memakan waktu setidaknya seharian. Kita akan bermalam di tengah perjalanan," ucap Ailfryd pelan.Kedua sudut bibir Ammara sontak terangkat ke atas. "Terima kasih, Ayah!"Beberapa saat kemudian, kereta Ailfryd yang ditarik oleh dua ekor unicorn telah siap di halaman rumah cendawan. Ailfryd dan Ammara segera memasuki kereta itu dengan tergesa.Derap langkah unicorn yang berlari kencang seketika memenuhi Fairyfarm.Tanpa mereka sadari, di atas salah satu ranting pohon, seekor burung rajawali bertengger tenang. Burung itu menyorot tajam ke arah kereta yang baru saja keluar dari halaman rumah cendawan. Setelah kereta Ailfryd terlihat cukup jauh, burung rajawali itu kemudian terbang melesat membuntutinya.
Ladybug
Ella berbaring gelisah di atas lantai batu ruang tahanan Kerajaan Avery. Pelipisnya dibanjiri keringat dingin. Napasnya memburu. Tiba-tiba ia berteriak nyaring bersamaan dengan matanya yang membelalak terbuka.Ia mengedarkan pandangan ke sekitar dan hanya ruang gelap dan nyaris pekat yang menyambut penglihatannya. Aroma lembab dan amis seketika menyergap hidungnya. Bau yang sangat ia kenali. Bau darah.Ella menggeser tubuhnya dengan panik ke arah jeruji besi berkarat yang terkunci. Ruangan tahanan itu terasa begitu lenggang, tidak seperti biasanya. Tidak ada pula suara obrolan para penjaga yang biasanya bergema di sana.Tunggu dulu, sepertinya ada yang aneh di sini, batin Ella.Ella terkesiap, jangan-jangan mimpinya barusan adalah sebuah pertanda. Baru saja ia memimpikan melihat bunga Camelia merah tumbuh di setiap penjuru istana Avery. Bunga Camelia merah yang biasanya hanya tumbuh jika ada peri anggota kerajaan yang wafat.Apa jangan-jangan ...Bulu kuduk Ella meremang, membayangkan siapakah gerangan yang akan wafat. Semoga mimpi itu tidak menjadi kenyataan, batin Ella lagi."To-tolong! Tolong...!" Tiba-tiba sebuah suara parau terdengar dari kegelapan di luar jeruji besi.Ella berusaha menajamkan penglihatannya, mencari berkas cahaya yang memungkinkannya untuk melihat sedikit saja. Namun, sia-sia. Kegelapan itu terlalu pekat."Tolong!" Suara itu terdengar lagi. Kali ini seperti suara tercekik disertai bunyi napas yang memburu.Ella mendekatkan telinganya ke sela-sela jeruji besi di hadapannya, memberanikan diri. "Si-siapa?!" tanyanya dengan suara bergetar. Sedikit rasa takut terbit di hatinya.Suara itu mendadak lenyap. Hening yang janggal mendadak hadir di kegelapan ruang tahanan. Ella tanpa sadar menahan napas dan bergeming di tempatnya. Ia menajamkan pendengarannya dan menegakkan punggung waspada.Suara geraman perlahan tertangkap telinga Ella. Suara itu semakin lama semakin nyaring dan terdengar mendekat. Ella sontak mundur, menjauhi jeruji besi, seraya memeluk tubuhnya yang menggigil ketakutan.Tiba-tiba suara hantaman jeruji besi menggema, disusul dengan suara raungan marah.Ella terhenyak di tempatnya meringkuk. Ia semakin erat memeluk tubuhnya sendiri.Segaris cahaya dari sela-sela pintu tahanan membentuk siluet mengerikan peri Elf yang meraung marah di depan jeruji besi tahanannya. Makhluk itu masih menggeram marah dan menghantamkan tubuhnya pada jeruji besi tahanan Ella berkali-kali. Ia seolah dapat melihat raut ketakutan Ella dari balik kegelapan dan ingin menyergap Ella.Tubuh Ella gemetar tak terkendali. Ia membungkam mulutnya dengan telapak tangan agar suara tangisnya teredam.Bunyi dobrakan pada pintu tiba-tiba terdengar. Pintu berayun terbuka dan menutup kembali, bersamaan dengan langkah kaki lain mendekati ruang tahanan Ella. Makhluk yang meraung di depan jeruji besi itu sontak mengalihkan fokusnya pada sosok si pendatang.Ella mengangkat wajahnya setelah rasa takut mereda. Ia segera menyadari jika ia tidak sendirian lagi di ruang tahanan bawah tanah itu. Sesosok makhluk serupa peri Elf dengan luka-luka menganga yang mengerikan di sekujur tubuhnya, berdiri tepat di depan jeruji besi. Liur kental berceceran dari sela-sela gigi runcingnya. Sesuatu yang buruk pasti telah terjadi pada peri Elf itu. Sementara, sesosok kesatria Elf, berdiri di depan ambang pintu tahanan menantang makhluk mengerikan itu dengan pedang terhunus canggung dan gemetaran.Namun, dengan sekali tebas, Claude berhasil menancapkan ujung pedang sihirnya tepat pada jantung mayat hidup yang meraung bringas itu. Seketika, si mayat hidup ambruk dan tergeletak tak bernyawa. Setelahnya, Claude mendekati jeruji besi ruang tahanan Ella."Ella?" panggilnya pelan. "Ini aku, Claude.""Pangeran Claude?" sahut Ella dengan suara bergetar menahan tangis. Ia masih terlalu shock dengan kejadian di hadapannya. "A-apa yang terjadi?" tanya Ella lirih. Suaranya tertelan isak tangis. Peri perempuan itu meraba di dalam kegelapan hingga tangannya mencapai jeruji besi.Claude mengembuskan napas pelan, bahkan di dalam kegelapan itu, Ella dapat melihat kesedihan pada air mukanya. "Sesuatu yang buruk telah terjadi di Kerajaan Avery," sahutnya lemah. "Monster Hydra menyerang, kemudian napas beracunnya menginfeksi para peri Elf. Napas beracunnya membunuh para peri, kemudian membuat mereka bangkit lagi menjadi mayat hidup.""Mayat hidup?!" Ella membelalak. "Apakah ada anggota kerajaan Avery yang terluka?!" tanya Ella kalut. Ia kembali teringat akan mimpinya tentang bunga Camellia merah."Putra Mahkota..." sahut Claude dengan suara tercekat."A-apa maksudmu, Pangeran Claude?!""Putra Mahkota Albert dalam bahaya. Seorang kesatria Elf menyampaikan itu padaku, Ella. Maka dari itu, aku menjemputmu kemari... Aku harap kau bisa menyelamatkan Putra Mahkota."Claude meraba dalam gelap, mencari gembok yang mengunci jeruji Ella. Pedang sihirnya memendarkan cahaya redup yang hilang timbul. Awalnya, ia kesulitan menemukan gembok itu, hingga tangannya menyentuh permukaan besi berkarat nan dingin yang berbentuk setengah lingkaran. Claude mencoba memasukkan anak kunci pada lubang gembok dengan satu tangan, sementara tangan yang lainnya berusaha menerangi dengan pedang sihir. Namun, sepertinya ia sedikit kesulitan."Biar kubantu, Pangeran!" Ella menawarkan bantuan seraya meraih pedang sihir dari salah satu sela jeruji besi yang lebih lebar. Ia mengarahkan cahaya pedang sihir itu untuk menerangi Claude yang sedang mencoba anak-anak kunci satu per satu pada gembok.Klik!Salah satu anak kunci akhirnya berhasil menancap dengan pas pada gembok jeruji. Claude mengembus napas lega, kemudian mendorong pintu jeruji hingga terbuka. Bunyi derit besi berkarat yang saling beradu seketika bergema dalam ruang tahanan gelap itu."Mari, Ella!" seru Claude sembari menuntun salah satu lengan Nyonya Ella keluar dari balik jeruji.Ella berjalan tergesa di samping Claude. Langkahnya sempat tersandung mayat peri Elf yang tergeletak melintang di depan pintu jeruji. Ia bergidik ngeri, lalu mempercepat langkahnya.Mata Ella membelalak begitu sampai di luar ruang tahanan bawah tanah Kerajaan Avery. Ia menangkap pemandangan yang lebih mengerikan berupa mayat-mayat mengenaskan tewas bergelimpangan di berbagai penjuru istana. Tidak hanya itu, beberapa sosok mayat hidup yang menyerupai monster berkeliaran menyerang peri Elf yang mereka jumpai. Di salah satu sudut istana, beberapa sosok mayat hidup bahkan tampak sedang berkumpul, menggerogoti sesosok kesatria Elf malang yang sedang berteriak-teriak minta tolong.Ella menutup mulutnya, tak kuat menyaksikan pemandangan mengerikan itu."Kira harus berlari untuk mencapai halaman utama Istana Avery, Nyonya Ella... sebelum mereka menyadari keberadaan kita. Anda bisa berlari, 'kan?" Bisik Claude. Iris mata kelamnya menyorot waspada pada sekumpulan mayat hidup yang tengah mengoyak mangsa.Ella mengangguk cepat. Raut wajahnya terlihat sangat shock hingga ia tak dapat berkata apa-apa. Jika keadaan di sini saja sekacau ini, bagaimana lagi kekacauan yang menyebabkan Putra Mahkota Albert dalam bahaya. Ella bergidik, tak sanggup membayangkan lebih jauh, Camellia merah di dalam mimpinya kembali terkenang. Ella mulai menerka-nerka lagi, siapakah anggota Kerajaan Avery yang akan meninggal.Tanpa aba-aba, Claude segera menyeret lengan Ella untuk berlari bersamanya, tanpa peduli bahwa ternyata beberapa sosok mayat hidup mulai berjalan tertatih mengikuti mereka dari belakang.* * *Ammara terkesiap mendengar ringkikan Selly yang bernada marah. Selly meringkik seperti itu jika ia bertemu dengan makhluk-makhluk asing atau merasa terganggu. Ammara langsung menghentikan aktivitasnya membuat mahkota bunga. Ia bangkit dari duduknya dan memandang keluar jendela yang tepat berhadapan dengan istal Selly.Selly meringkik lagi. Mata unicorn itu menyorot pada semak bunga Marigold yang ada di luar halaman rumah cendawan Ella.Ammara mengikuti arah pandang Selly. Peri perempuan itu memicingkan mata menatap semak bunga Marigold yang bergerak-gerak pelan. Awalnya, Ammara mengira semak bunga Marigold itu bergerak karena embusan angin, tetapi jika diperhatikan lebih seksama, ada beberapa makhluk mungil dengan warna menyala di atas mahkota Marigold.Ammara menajamkan pendengarannya dan sayup-sayup terdengar suara-suara bisikan dari semak Marigold yang bergerak itu.Kerajaan Avery dipenuhi Mayat Hidup.Aku tidak ingin kembali ke sana.Ya, aku juga! Lebih baik aku tinggal di Hutan Larangan.Mungkin sementara kita akan aman di sini.Ya kau benar! Sekalian menunaikan tugas Sang Ratu.Ammara menutup mulutnya dengan tangan. Pupil matanya membesar. Makhluk-makhluk kecil itu berbicara. Terlebih, Ammara sangat tertarik dengan isi percakapan mereka.Selly meringkik lagi. Kali ini lebih nyaring.Ammara berdecak sebal, merasa kegiatan mengupingnya terganggu oleh Selly. Ia melotot ke arah Selly, memperingatkan yang ternyata dibalas juga dengan tatapan yang sama.Unicorn bersurai putih itu mendengus dan meringkik pelan, menuruti perintah Ammara dengan berat hati. Selly duduk, kemudian kembali mengunyah plumnya dengan malas.Aku dengar Putra Mahkota di serang mayat hidup!!Benarkah?!Ammara kembali menajamkan pendengarannya.Apa dia meninggal? Ah, dia begitu tampan. Sayang sekali kalau harus mati muda!Putra Mahkota Albert meninggal?!Kudengar itu perbuatan sang Ratu!Huss ! Jangan mengada-ngada. Fokus pada tugas kita. Atau kita akan hangus!Ammara membelalak. Tanpa sadar mulutnya membulat.Kudengar Putra Mahkota Albert tidak mati! Dia berubah jadi mayat hidup.Jangan mengada-ada!Seekor kepik berwarna merah menyala terbang melesat kemudian hinggap pada salah satu puncak mahkota Marigold, sementara di puncak Marigold terlihat bercak kemerahan yang serupa. Ammara menduga, kepik yang baru saja bergabung dengan rekan-rekannya itulah yang membawa berita terbaru mengenai keadaan Istana Avery.Ammara semakin penasaran. Ia melihat ke arah Selly yang mulai jatuh tertidur dengan salah satu pipi menggembung berisi plum yang belum dikunyah sempurna. Unicorn itu sama sekali tidak memperhatikannya lagi. Lantas Ammara menoleh ke kiri dan ke kanan, mencari sosok Ailfryd atau peri pekerja lainnya. Tidak ada siapa-siapa.Oke. Aman. Keluar sebentar mungkin tidak apa-apa .Perlahan, Ammara memanjat bingkai jendela di hadapannya. Bingkai jendela itu memang rendah dan sangat mudah untuk dilewati. Ammara tidak ingin mengambil risiko akan membangunkan Selly jika harus melewati pintu rumah cendawan.Setelah berhasil melewati jendela, Ammara berjingkat pelan menuju gerbang halaman rumah cendawan. Matanya kini tertuju pada beberapa ekor kepik yang bercahaya di salah satu puncak mahkota Marigold. Namun, langkahnya terhenti tepat di depan tabir transparan pada gerbang pembatas yang pernah dibuat oleh Claude. Ammara teringat akan pesan Claude untuk tidak melewati tabir itu agar 'bau manusia'nya tidak tercium oleh makhluk lain.Ammara bergeming di depan tabir itu seraya menatap kepik-kepik bercahaya yang semakin riuh berbincang satu sama lain. Ammara membuang napas kasar, bibirnya mengerucut. Betapa ingin ia bergabung dengan makhluk-makhluk kecil itu untuk mengetahui lebih banyak perihal Pangeran Albert, tetapi ia tidak bisa.Kudengar, hampir seluruh penghuni Kerajaan Avery berubah menjadi mayat hidup.Ya, para tahanan juga melarikan diri. Aku bertemu dengan Aubrey yang berlari ketakutan menuju Hutan Larangan!Aubrey si Dwarf malang yang dituduh sebagai penyihir itu?!'Aubrey', 'tahanan' kata-kata itu sontak membuat gusar Ammara. Peri perempuan itu langsung berpikir tentang ibunya."Bagaimana dengan ibu?" gumamnya pelan. Ammara berjalan mondar-mandir di depan tabir penghalang Claude. Matanya sesekali mengerling ke arah Marigold tempat para kepik bertengger. Batinnya sedang bergolak hebat, bertahan di rumah cendawan dengan kekhawatiran di kepalanya atau melewati tabir penghalang Claude dengan risiko 'bau manusia'nya tidak dapat terlindungi."Bau manusia?! Yang benar saja! Jelas-jelas secara fisik aku adalah peri Elf!" gumam Ammara seraya mengendus-endus aromanya sendiri. Kedua tangannya menelusuri rambut emasnya yang dikuncir sebagian. Tangan itu turun meraba kedua telinganya. Tunggu dulu, ada yang aneh!Daun telinganya yang runcing memanjang kini mengecil. Ammara terkesiap. "Te-telingaku, ada apa dengan telingaku?!" gumamnya kalut."Apa aku benar manusia?" Ammara tertegun. Matanya masih lekat menatap bunga Marigold yang kini bergoyang-goyang lebih kuat. Beberapa ekor kepik terbang berhamburan dari mahkota Marigold. Suara-suara berisik dengan nada melengking menyadarkan Ammara dari lamunannya."Hei! kalian mau kemana?!" jerit Ammara refleks berlari mengejar kepik-kepik yang berterbangan. Tanpa sadar ia melewati tabir Claude.Psst ... siapa dia?Baunya. Bau ini 'kan yang kita cari!"Hei, kepik kecil. Apa benar Kerajaan Avery diserang monster?" tanya Ammara pada dua ekor kepik yang masih tertinggal di atas mahkota bunga Marigold.Dua ekor kepik merah dengan bintik kuning menyala itu menatap Ammara membelalak. Mereka bergeming.Ammara melambaikan tangannya sambil tersenyum lebar. "Jangan takut! Aku tidak akan mengganggu kalian. Aku hanya ingin bertanya? Tanpa sengaja, aku mendengar percakapan kalian tadi."Apa dia adalah manusia yang dimaksud sang Ratu?"Eh, apa maksud kalian?" tanya Ammara seraya menaikkan salah satu alisnya. Ia mulai sedikit kesal karena merasa tak diacuhkan oleh makhluk-makhluk kecil itu. "Hello! Aku bicara dengan kalian! Apa kalian tidak mendengarku?!"Entahlah. Tapi kurasa gadis manusia ini cukup menyebalkan dan suka menguping.Aku harus segera melaporkan kepada Ratu."Hello!" pekik Ammara lagi.Salah satu kepik menyembunyikan diri di balik kelopak bunga Marigold karena ketakutan mendengar teriakan Ammara, sementara kepik lainnya terbang menjauh menginggalkan Ammara yang gelagapan ingin menangkapnya."Dasar kepik kurang ajar!" gerutu Ammara sambil bersedekap."A-aku mendengarmu. Ja-jangan berteriak," sahut seekor kepik yang kini tertinggal sendirian. Makhluk kecil itu mengintip dari balik kelopak Marigold. Setelah merasa aman, makhluk kecil itu lantas keluar dari balik kelopak Marigold."Maafkan aku," ucap Ammara lembut seraya mengulas senyum. Peri perempuan itu kini berjongkok di depan rerimbunan semak bunga Marigold. "Tolong, ceritakan padaku tentang keadaan Kerajaan Avery? Aku mohon. Ibuku di sana. Aku sangat khawatir."Kepik kecil itu menatap Ammara lekat-lekat, sebelum akhirnya membuka suara. "Baiklah, aku akan menceritakan apa yang aku dengar. Namun, kau harus berjanji, setelah ini kau harus kembali ke rumahmu dan jangan pernah keluar dari sana. Apa kau bisa berjanji?"Ammara mengernyit bingung. Namun, akhirnya dia mengangguk pelan seraya mengacungkan jari kelingkingnya. "Aku janji!" ucapnya mantap.Kepik kecil itu membuka mulutnya, bersiap untuk bercerita. Namun, tiba-tiba sebuah suara membuatnya kembali berlindung di balik kelopak Marigold."Ammara! Kembali ke rumah!" teriak Ailfryd yang baru saja kembali dari kebun Plum. Ia sangat terkejut melihat Ammara yang tanpa sepengetahuannya melewati tabir pelindung yang telah dibuat oleh Pangeran Claude."Tunggu sebentar Ay--""Masuk sekarang!" ucap Ailfryd tegas. Peri laki-laki itu menarik lembut salah satu lengan Ammara dan membawanya masuk.Dengan berat hati Ammara mengikuti ayahnya kembali ke rumah mereka. Padahal ia sangat ingin mendengar cerita dari si kepik.Ammara menoleh sebentar ke arah mahkota bunga Marigold tempat si kepik bertengger. Kepik kecil itu membalas tatapan Ammara dengan sorot yang tak dapat Ammara artikan.Semoga Ibumu baik-baik saja. Jaga dirimu baik-baik, gadis manusia!* * *Seekor kepik berwarna merah menyala terbang melintasi jurang menganga menuju Kastil Larangan. Kepik itu akhirnya hinggap di salah satu bingkai jendela menara setelah melalui perjalanan yang panjang dan melelahkan.Sesosok peri perempuan cantik bersurai hitam mendekati ambang jendela, menyambutnya. Iris mata ungunya menangkap warna menyala dari tubuh si kepik."Kau sudah datang rupanya," sapa Minerva dalam suara rendah. Ia tersenyum asimetris menyambut kedatangan makhluk kecil itu seraya mengulurkan salah satu lengannya. "Aku harap kau membawa berita bagus!" ucapnya sambil terkekeh.Dengan ragu-ragu, kepik kecil itu terbang dan hinggap di salah satu telapak tangan Minerva.Minerva mendekatkan telapak tangannya ke depan wajah. Iris mata ungunya menatap lekat pada kepik malang yang tubuhnya kini gemetar."Katakanlah! Apakah kau sudah menemukan makhluk manusia itu?!" titah Minerva dengan suara tegas.Kepik kecil itu mulai menceritakan pertemuannya dengan sesosok yang menurutnya adalah manusia. Kepik itu mencium bau kuat yang ia kenali sebagai bau manusia ketika berada di Fairyfarm. Suara melengkingnya yang bernada tinggi menggema memenuhi ruangan menara itu saat ia bercerita."Jadi kau bertemu makhluk itu di Fairyfarm?" ulang Minerva ketika kepik kecil itu mengakhiri laporannya.Si kepik mengangguk cepat."Bagus! Sekarang pergilah. Aku akan mencabut kutukanku pada bangsa kalian," tutur Minerva seraya melepas kepergian kepik itu melalui jendela menara.Salah satu tangan Minerva menjentik ke udara, bersamaan dengan itu cahaya keunguan memercik dari tubuh si kepik, kemudian menghilang dalam sekejap."Lucifer," panggil Minerva dengan suara rendah.Dari balik keremangan ruangan menara kastel, sesosok peri laki-laki berkulit kehijauan muncul tepat di belakang Minerva. Lucifer mengangguk takzim, meski Minerva membelakanginya. "Hamba di sini, Ratuku.""Pergilah ke Fairyfarm. Awasi gadis manusia itu. Sampaikan padaku apa pun dan siapa pun yang berhubungan dengannya," titah Minerva. Peri perempuan itu menyeringai. "Ini akan semakin menarik!"Lucifer mengangguk takzim seraya membungkukkan tubuhnya. Sedetik kemudian tubuhnya mengepul menjadi asap hitam yang pekat. Perlahan, asap itu menipis dan munculah seekor burung rajawali. Burung itu kemudian melesat keluar dari jendela menara menembus keremangan Hutan Larangan.
Fairy Corpses
"Tatianna!"Albert menghambur ke arah Tatianna yang lehernya nyaris di gigit Thomas. Kedatangan sang putra mahkota sontak memecah fokus Thomas yang telah bangkit kembali dan berubah menjadi mayat hidup. Gigi-gigi tajamnya yang nyaris menggigit kulit mulus sang putri tertahan saat ia menyeringai menyambut kedatangan Albert.Albert melayangkan sebuah tinjuan ke wajah Thomas seraya berteriak berang, hingga mayat hidup itu terpental menghantam tembok taman istana. Albert tahu jika tinjuannya tidak akan berdampak besar bagi si mayat hidup. Namun, setidaknya, ia dapat melampiaskan amarahnya sekaligus menggagalkan upaya makhluk yang nyaris membunuh adiknya.Napas Albert terengah. Ia mundur beberapa langkah dan segera merengkuh Tatianna yang menggigil ketakutan ke sisinya."Kau baik-baik saja?" tanya Albert dengan kening berkerut.Tatianna mengangguk pelan. Wajahnya terlihat pucat. Ia menggigil dan memeluk tubuhnya sendiri."Tenang, ada kakak-kakakmu di sini!" hibur Albert seraya mengeratkan rangkulannya pada pundak Tatianna.Sebuah raungan berat terdengar membuat Albert dan Tatianna sontak mengarahkan pandangannya pada asal suara. Mata membulat membulat ketika mendapati sosok Thomas yang bangkit dan berjalan tertatih menuju mereka. Albert terkesiap, sementara Tatianna membuang pandangannya dari sosok itu dan berlindung di balik tubuh Albert.Albert harus mengakui jika Thomas adalah mayat hidup yang terlihat paling mengerikan di antara mayat hidup lainnya, dengan usus terburai dan beberapa luka menganga di wajahnya. Thomas telah bertarung sekuat tenaga, sebelum akhirnya luka terbukanya terkena percikan darah Hydra.Albert meraih sebilah pedang sihir yang tergeletak tak jauh dari tempatnya berdiri. Ia menghunuskan pedang itu, bersiap menangkis kedatangan Thomas.Thomas merangsek maju. Dengan sekali kibasan pedang Albert, salah satu tangan Thomas terputus dan terpental ke arah Archibald, Elwood dan Claude yang baru saja melewati gerbang taman. Mereka sontak memundurkan langkah agar tak terkena percikan darah Hydra.Thomas, tidak seperti mayat hidup lainnya. Ia jauh lebih kuat, lebih tangkas dengan gerakan yang lebih gesit. Thomas meraung marah menampakkan gigi-geliginya yang menghitam, dengan liur kehijauan berceceran membasahi sekitar mulut dan dagunya. Dengan cepat, mayat hidup itu melompat ke arah Albert, berusaha menerkamnya.Dengan gesit, Albert menahan tubuh Thomas yang hanya berjarak beberapa jengkal lagi darinya dengan bilah pedang. Kedua lengan Albert gemetar, seiring bobot tubuh Thomas yang semakin menekan ke arahnya.Thomas dengan mulut menganga yang menampakkan gigi-geligi yang siap menancap pada salah satu bahu Albert. Beberapa tetes lelehan liur Thomas membasahi salah satu pundak sang pangeran peri.Albert berteriak nyalang. Urat-urat timbul pada kedua lengan dan lehernya, menandakan besarnya tenaga yang ia keluarkan untuk menahan tubuh Thomas. Namun, salah satu lengannya lambat laun mulai melemah.Demi melihat kesusahan kakaknya, Putri Tatianna mencoba membantu dengan memukulkan barang apa pun yang dapat ia temukan di sekitarnya pada punggung Thomas. Mayat hidup itu bergeming, bahkan semakin mengeratkan cengkeramannya pada tubuh Albert.Albert kepayahan. Bulir-bulir keringat mengalir deras di pelipisnya. Lengannya bergetar hebat dan genggamannya mulai mengendur.Tiba-tiba, suara raungan Thomas terdengar keras diiringi suara tusukan pada jantungnya yang terdengar brutal. Tubuh mayat hidup itu roboh nyaris menghantam Albert yang terhuyung. Namun, Tatianna dan Elwood serta merta segera menarik tubuh sang putra mahkota munghindari percikan darah Thomas. Akhirnya sosok Thomas jatuh tertelungkup menghantam tanah.Archibald menarik pedangnya dari tubuh Thomas dengan raut wajah dingin, kemudian kembali memasang kuda-kuda, bersiap menghalau mayat hidup lain yang merangsek maju."Cepat pergi dari sini, Tatianna. Bersembunyilah di ruang bawah tanah. Kau akan aman di sana. Claude dan Elwood, tolong lindungi Tatianna!" titah Albert seraya menggenggam erat jari-jemari sang adik. Ia mengecup punggung tangan Tatianna sekilas, kemudian melepaskan genggamannya."Aku tak bisa pergi tanpa kakak," rengek Tatianna, enggan meninggalkan sisi Albert."Aku akan segera menyusul. Aku janji, Tatianna..." ucap Albert lirih. Bola matanya tampak berkaca-kaca.Elwood dan Claude segera mengarahkan tubuh Tatianna untuk menjauhi taman istana yang kini mulai dipenuhi mayat hidup. Mereka mengangguk sekilas pada Albert, yang disambut seulas senyum sedih dari sang putra mahkota.Tatianna menoleh kembali pada Albert untuk yang terakhir kali, sebelum Elwood dan Claude menyeretnya pergi dari tempat itu.Sesosok mayat hidup menerkam Albert yang lengah karena memandangi kepergian Tatianna. Albert terjengkang dengan luka gores memanjang di salah satu lengannya akibat cakaran kuku-kuku si mayat hidup. Beberapa tetes darah segar mengalir dari luka gores itu. Di luar dugaannya, luka itu serta-merta memancing kedatangan mayat hidup lainnya.Albert mundur beberapa langkah seraya menutupi luka yang mengucur di salah satu lengannya. Beberapa mayat hidup terlihat mengganas dan mendekat lebih cepat ke arahnya. Sepasang tungkai Albert mulai goyah dan ketakutan menyergapnya seketika.Namun, dengan sigap, Maurelle dan Archibald memposisikan diri siaga di sisi Albert, dengan pedang sihir terhunus di tangan masing-masing. Mereka menangkis serangan demi serangan dari mayat hidup yang ditujukan kepada Albert.Mayat-mayat hidup semakin banyak, berdatangan dari arah gerbang taman yang terbuka. Sementara kesatria Elf yang tersisa jumlahnya semakin berkurang karena sebagian telah meninggalkan taman dan sebagian lagi telah berubah menjadi mayat hidup. Beberapa mayat hidup merangsek maju bersamaan, mengepung Albert, Maurelle dan Archibald yang mulai kewalahan di salah satu sudut taman."Kita terdesak," keluh Maurelle. Keringat membanjiri pelipisnya. Napasnya memburu, sementara para mayat hidup semakin brutal menyerang saat mencium bau darah Albert.Di atas mereka, beberapa sosok peri Pixie terbang berputar, mencari celah untuk menyerang. Peri Pixie yang telah terkontaminasi darah Hydra terlihat sangat menyeramkan dan ganas. Tak ada cahaya keemasan yang melingkupi tubuh mereka, cahaya itu telah redup saat mereka berubah menjadi mayat hidup. Gaun dari kelopak bunga yang mereka kenakan terlihat rusak dan bernoda darah. Pun sayap-sayap mereka yang semula indah telah berubah rusak kehitaman. Para Pixie juga mengintai Albert."Sial!" umpat Albert gusar. Tangannya sibuk mengayun pedang ke atas, menghalau para peri Pixie ganas yang terbang mendekat. Suara dengungan peri Pixie yang telah berubah menjadi mayat hidup itu sangat mengganggu pendengaran Albert. Pertahanannya mulai melemah. Beberapa kali kibasan pedangnya meleset, tak mengenai peri Pixie yang disasarnya. Fokus Albert mulai terganggu.Sesosok peri Pixie terbang mendekat dari arah punggung Albert. Sementara Albert sibuk menghalau beberapa Pixie di depannya, peri Pixie itu menyelinap perlahan dan menggigit bagian belakang leher Albert. Taring mungilnya yang beracun sontak melunturkan pertahan diri sang putra mahkota."AAARRKHHHHH!"Archibald segera menghampiri Albert yang tiba-tiba terduduk bersimpuh sambil mengerang. Salah satu lengannya bertumpu pada pedang sihir yang ia hunjamkan ke tanah. Sementara Maurelle masih sibuk menghalau peri-peri pixie lain yang terbang berputar di sekitar mereka."Apa yang terjadi?!" tanya Archibald setengah berteriak. Matanya membelalak ketika menyorot sebuah luka gigitan di belakang leher yang ditutupi Albert dengan salah satu tangannya. Teror membayang jelas di wajahnya.Albert mengangkat wajahnya yang pucat dengan raut ngeri. Ia tidak kesakitan, tentu saja bekas gigitan sekecil itu tak akan membuatnya kesakitan. Ia meringis, ada sesuatu yang lebih mengerikan dari sekedar gigitan. "Pixie itu menggigitku!""A-apa maksudmu, Putra Mahkota?!" Archibald mengernyit, sebelah tangannya tersampir pada salah satu pundak Albert."Archibald..." lirihnya dengan napas tersengal. Ia seperti sedang berjuang melawan sakit yang tak kasat mata. "Jika... sesuatu yang buruk terjadi padaku," ucapnya seraya meneguk ludah kasar. "Tolong... Jangan ragu untuk... " Albert menghela napas dengan berat. Tangannya yang bertumpu pada pedang bergerak pelan, berusaha mencabut pedang sihir dan menyerahkannya pada Archibald.Archibald menggeleng pelan. Matanya membelalak pada Albert, sementara rahangnya mengeras. "Tidak akan terjadi apa-apa padamu. Claude akan menyembuhkan mu!" Sergahnya kalut.Albert tersenyum miring. "Aku yang akan mengakhiri ini semua. Karena dari awal, mereka memang mengincarku 'kan...?" Napasnya kembali tersengal. Pelipisnya telah dibanjiri bulir-bulir keringat dingin. Kulitnya semakin memucat."Tidak! TIDAK! Albert kau harus bertahan! Tidak bisa begini!" racau Archibald panik. Ia membopong tubuh Albert dan membawanya keluar dari taman Istana. Maurelle membuntuti mereka seraya melindungi para pangeran peri itu dari serangan mayat hidup."Archibald, ayolah. Ini tidak akan berhasil... " Albert menghentikan langkah lemahnya. Kulit wajah dan tubuhnya perlahan-lahan menghijau. Racun Hydra telah bereaksi. Albert kembali terduduk seraya memegangi perutnya yang terasa nyeri."Claude! Kemarilah! Carikan penawar untuk Putra Mahkota!" teriak Archibald gusar. Ia memandang ke sekitar mencari-cari sosok Claude, yang ternyata tidak ada di dekatnya. Kemudian, ia meraih kasar lengan salah satu kesatria Elf yang berlari melewatinya. Kesatria Elf itu berhenti dan membungkukkan badan. "Temui Pangeran Claude, katakan padanya untuk mencari penawar bagi Putra Mahkota Albert! Cepat!"Kesatria Elf itu mengangguk dengan tampang panik. Kemudian, berlari dengan pedang terhunus memasuki Istana utama."Bertahanlah, Putra Mahkota!" pekik Maurelle gusar.Archibald hendak menaikkan Albert ke atas punggungnya, tetapi Albert segera menepis tangan peri itu kasar. Matanya melotot pada Archibald. Tubuhnya bergetar menahan sakit yang terus mendera. Dengan terbata, Albert berucap, "jika waktunya telah tiba, jangan ragu untuk membunuhku, Archie. Berjanjilah... padaku!"Archibald menggeleng putus asa. Matanya berkaca-kaca mengamati kondisi Albert yang kian memburuk."Ammara... sampaikan salamku padanya," lirih Albert susah payah. Napasnya terasa semakin sesak. Sesuatu yang tak kasat mata mencekik lehernya kuat hingga napasnya terputus. Cahaya di mata Albert akhirnya redup. Tubuh hijaunya terkulai di pangkuan Archibald.Archibald bergeming. Matanya menatap nanar tubuh kaku Albert di pangkuan. Tidak ada derai air mata maupun Isak tangis. Namun, tangannya mengepal keras menahan bermacam-macam emosi yang hendak meledak. Archibald benar-benar terguncang.Di sampingnya, Maurelle terkesiap menatap tubuh kaku Albert dan tubuh bergeming Archibald. Peri cenayang itu serta merta menjatuhkan lututnya di atas tanah, menunduk dalam dengan tangis tertahan. Ia telah gagal melindungi Putra Mahkota Kerajaan Avery. Rasanya, ia pantas mati.* * *"Aku tidak bisa berdiam diri seperti ini, Ratu!" decak Raja Brian lemah. Ia berjalan mondar-mandir di dalam ruang bawah tanah di dalam biliknya. Suara genderang penanda bahaya tak terdengar lagi sejak kepergian Maurelle, tetapi Raja Brian tidak merasakan kelegaan. Ia bahkan bertambah khawatir, terlebih Murelle tidak kunjung kembali."Tenanglah, Raja Brian. Murelle pasti sedang mengatasinya," bujuk Ratu Serenity yang setia menemaninya di dalam ruangan remang yang minim perabot itu.Raja Brian menggeleng pelan. Ia menghela napas kasar, kemudian berjalan mendekati tangga batu yang mengarah ke biliknya."Yang Mulia, mau kemana?" tanya Ratu Serenity bimbang. Ia mengekori suaminya dengan langkah gusar."Aku tidak bisa berdiam diri saja, Ratuku. Para Pangeran dan para abdi pasti sedang kesulitan saat ini. Setidaknya, aku ingin mengangkat pedang kali ini dan berjuang bersama mereka..." sahut Raja Brian lirih. Ia melangkahkan kaki pada undakan pertama tangga batu itu. Langkahnya terhenti saat Ratu Serenity menarik salah satu lengannya."Jangan pergi, Yang Mulia... aku mohon, Anda sedang tidak sehat. Bagaimana kalau Anda terluka atau bahkan--""Tenanglah, Ratuku! Jika aku terluka kali inI, aku akan terluka dengan rasa bangga karena itu berarti aku berjuang untuk melindungi abdi kita dan seluruh peri di Kerajaan Avery." Raja Brian menghela napas seraya menatap pintu ruang bawah tanah yang tertutup. Pandangannya kemudian teralih pada istrinya. "Ratuku, tinggalah di sini sampai situasi benar-benar aman."Raja Brian mengumpulkan seluruh kekuatannya, menarik napas dalam-dalam, lalu melangkah menaiki undakan tangga batu perlahan. Di luar dugaannya, Ratu Serenity mengikutinya dengan berjinjit.Raja Brian menoleh pada istrinya. "Tunggulah di sini, Ratuku. Aku akan segera kembali!"Ratu Serenity menggeleng cepat. "Tidak. Aku akan mengikutimu. Kau akan berjuang membantu abdi dan para peri penghuni Avery, aku juga akan melakukan hal yang sama!"Sudut-sudut bibir Raja Brian tertarik ke atas. "Kau begitu mencintaiku, ya, Ratuku?" ledeknya.Ratu Serenity tak menjawab, ia hanya membuang wajahnya untuk menutupi rona merah yang tiba-tiba muncul di pipinya."Baiklah, pegang tanganku. Tetaplah di balik punggungku. Aku akan berusaha melindungimu, Ratu," ucapnya sambil melanjutkan langkah dan membuka pintu ruang bawah tanah dengan mudah. Pintu itu tak memiliki kunci dan tersegel dari luar, sehingga sangat mudah untuk dibuka dari dalam.Langkah Raja Brian terhenti tiba-tiba saat matanya menangkap sesosok kesatria Elf berdiri membelakanginya di dalam biliknya, sementara pintu bilik tampak tertutup. Raja Brian mengernyitkan alisnya, merasa tidak familier dengan sosok tersebut. Dengan pelan, Raja Brian meraih sebuah tongkat besi yang entah bagaimana bisa berada di atas pintu ruang bawah tanah.Raja Brian menggenggam tongkat besi itu erat dalam posisi siaga. Ratu Serenity yang sedari tadi mengekor di belakangnya, mengintip dari balik punggung Raja Brian dengan was-was."Siapa kau?! Beraninya kau memasuki bilik Raja?!" hardik Raja Brian. Matanya menatap nyalang pada sosok peri itu.Tidak ada jawaban. Sosok kesatria Elf itu bergeming di tempatnya, tetapi kepalanya terlihat bergerak liar seolah mencari asal suara Raja Brian."Mungkin ia tak dapat mendengar, Yang Mulia!" bisik Putri Serenity.Raja Brian berpikir sembari mengamati gerak-gerik kesatria Elf itu. "Aku harap kau memiliki alasan yang bagus hingga tersesat masuk ke dalam bilikku!" bentak Raja Brian dengan suara lebih nyaring.Sosok itu bergerak perlahan, berbalik menghadap Raja Brian dan Ratu Serenity.Raja Brian membelalak dan mundur beberapa langkah. Betapa terkejutnya Raja Brian dan Ratu Serenity melihat sosok peri Elf dengan penampilan yang sangat mengenaskan di hadapannya.Sosok peri Elf yang telah terinfeksi darah hydra itu memandang Raja Brian dan Ratu Serenity dengan mata melotot yang tidak fokus. Tubuh peri Elf itu dipenuhi luka menganga yang terlihat membusuk. Rambutnya tergerai kusut dan tak bercahaya. Gigi-geliginya yang menghitam terlihat dari balik bibirnya yang tersenyum menyeringai. Peri itu mendesis bagai monster kelaparan ke arah Raja Brian, sebelum akhirnya merangsek maju.Raja Brian bergidik ngeri melihat penampilan tak biasa peri Elf di hadapannya. Namun, sedetik kemudian ia tersadar dan segara mengangkat tinggi-tinggi tongkat besi di tangannya.Ujung tongkat besi itu telak menghantam kepala peri elf itu tepat di tengah-tengah kepalanya. Daging di bagian keningnya tampak berkerut dan sedikit terbelah menampakkan celah menghitam. Peri Elf itu meraung keras untuk beberapa saat, lalu rubuh menghantam lantai marmer di bawahnya.Raja Brian terengah, keringat membanjiri pelipisnya. Wajahnya memucat seketika. Demikian juga dengan Ratu Serenity yang berlindung di balik punggung suaminya karena tak kuat melihat penampakan mengerikan per Elf itu.Peri Elf itu mengerang marah. Dalam sepersekian detik, ia bangkit dan berjalan tertatih mendekati Raja Brian."A-apa ini?!" pekik Raja Brian seraya mundur beberapa langkah sehingga Ratu Serenity yang berdiri di belakangnya terdesak pada dinding bilik.Raja Brian mengangkat tongkat besinya dengan susah payah, hendak memukul kepala mayat hidup itu lagi. Namun, kali ini pukulannya meleset, tongkat besi menghantam lantai marmer dan menimbulkan retakan halus pada permukaannya. Sementara sosok peri Elf itu merangsek maju tanpa hambatan ke arah Raja Brian.Raja Brian tak lagi sempat menghindar, ketika dua tangan berkuku tajam milik peri Elf itu mencekik lehernya kuat. Raja Brian sontak berteriak tertahan. Kedua lengannya mencoba menahan tangan mayat hidup itu untuk merenggangkan cekikan."Tidak! Tolong!" jerit Ratu Serenity dengan suara melengking. Ia berlari menghindar ke sudut lain bilik..Raja Brian mulai kehabisan napas. Sementara, mayat hidup itu semakin keras mencekik leher sang raja. Tubuh Raja Brian perlahan mulai terangkat.Ratu Serenity yang ketakutan, mengambil apa pun yang dapat ia jangkau dan angkat, kemudian menghantamkannya ke tubuh mayat hidup yang mencekik Raja Brian.Mayat hidup itu menjerit parau saat sebuah kendi air menghantam kepalanya dan sontak melepaskan cekikannya pada leher Raja Brian. Tubuh Raja Brian terjatuh menghantam lantai marmer di bawahnya sambil terbatuk-batuk. Fokus mayat hidup itu kini teralih pada Ratu Serenity."Ti-tidak! Pergi kau makhluk jahat!" jerit Ratu Serenity ketika sosok peri Elf itu berbalik mendekatinya. "Pergi kau!" Ratu Serenity kembali melempar barang-barang ke arah mayat hidup yang mendekat. Seolah mampu mendeteksi ketakutan Ratu Serenity, peri Elf dengan rupa mengerikan itu menyeringai memamerkan gigi-geliginya yang menghitam dan runcing. Langkah anehnya yang terseok menapak semakin cepat."Tidak. Lepaskan Ratuku!" Raja Brian berang, tetapi ia bahkan tak mampu mengangkat tubuhnya yang lemah akibat kehabisan napas. Teror membayang di wajahnya saat menyaksikan makhluk mengerikan itu mulai mencekik Ratu Serenity.Di tengah-tengah ketegangan dan ketakutan yang melingkupi bilik, pintu ruangan itu mendadak terbuka. Elijah dengan pedang terhunus berdiri di ambangnya, siap menyerang. Iris mata birunya menatap nyalang pada peri Elf yang sedang mencekik Ratu Serenity di salah satu sisi bilik.Dengan gesit, Elijah menghampiri peri Elf yang telah berubah menjadi mayat hidup itu. Elijah mengangkat pedang sihirnya tinggi, kemudian dalam hitungan detik ia menancapkan pedang sihir itu pada jantung si mayat hidup. Mayat hidup itu menjerit sembari menggeliat sesaat, sebelum terkulai tak bernyawa dalam posisi menggantung pada pedang Elijah yang menembus tubuhnya.Ratu Serenity merosot jatuh ketika cekikan mayat hidup itu terlepas dari lehernya. Wajahnya pucat pasi. Napasnya terengah. Matanya kembali membelalak begitu melihat ujung pedang sihir Elijah yang menembus tubuh mayat hidup itu berada tepat di atas kepalanya. Ratu Serenity sontak menjerit seraya menutup mulutnya.Salah satu sudut bibir Elijah tertarik ke atas, melihat gelagat sang Ratu yang menurutnya sangat menggelikan. Elijah kemudian mencabut pedangnya dari tubuh kaku si mayat hidup. Tubuh itu jatuh terhempas di hadapan Ratu Serenity."AAAAAARRKKHH!!" jerit Ratu Serenity begitu melihat tubuh mengerikan mayat hidup dengan lubang menganga di dadanya."Tenang, Ratu. Mayat hidup ini bukan apa-apa jika dibandingkan dengan mayat hidup lainnya yang berkeliaran di luar bilik," ucap Elijah sarkas seraya menyarungkan pedang sihirnya kembali pada sarung yang tersampir di pinggang. Elijah kemudian berbalik dan memberi hormat pada Raja Brian dengan membungkuk dalam. Setelah itu, ia membantu sang Raja berdiri dari posisinya."Apa yang sebenarnya terjadi, Pangeran Elijah?" tanya Raja Brian dengan suara parau."Ampun, Yang Mulia. Monster Hydra menyerang istana. Namun, ketika monster itu tewas, ia berhasil menginfeksi para kesatria Elf dengan napas beracunnya sehingga para kesatria Elf berubah menjadi mayat hidup, Yang Mulia!" jelas Elijah."Hydra? Hydra yang berasal dari Fairyfall?! Bagaimana bisa? Apakah Hydra itu ingin dibuang ke Hutan Larangan?!" tanya Raja Brian dengan suara tinggi. Kekesalan terpancar jelas dari wajahnya.Elijah menyahut takzim. "Hydra sudah tewas, Raja Brian. Pangeran Archibald dan Ratu Breena yang membunuhnya.""Apa?! Breena? beraninya ia datang kemari?!" Ratu Serenity seraya bangkit sendiri dengan susah payah sambil menepis kotoran di gaunnya dan mendekati Raja Brian."Tenanglah, Ratuku."Elijah menghela napas pelan, kegundahan menyambangi wajah tampannya. "Akan tetapi, Yang Mulia, kondisi Kerajaan Avery sangat kacau. Banyak peri Elf yang berubah menjadi mayat hidup, banyak juga yang meninggal. Saya menyarankan agar Raja dan Ratu tetap berdiam di ruang bawah tanah sampai keadaan benar-benar aman.""A-apa?!" Raja Brian membelalak. Ia kemudian menggeleng cepat. "Aku tidak bisa bersembunyi sementara para peri di bawah kuasaku sedang terancam. Aku tidak ingin menjadi Raja yang pengecut. Apa pun yang terjadi, aku harus menyelamatkan mereka!""Yang Mulia.... Pangeran Elijah benar, lebih baik kita menunggu di sini," bujuk Ratu Serenity.Raja Brian menggeleng mantap. "Kita harus melindungi rakyat kita, Ratu. Jika kau takut melihat kekacauan di luar, lebih baik Ratuku tinggal di sini," ucapnya pada Ratu Serenity lembut seraya mengecup punggung tangan Ratu sekilas. Ia kemudian berbalik menatap Elijah. "Mari kita keluar, Pangeran Elijah!"Elijah mengangguk tazim, membungkukan setengah badannya kemudian berjalan mengiringi Raja Brian.Kedua sudut bibir Ratu Serenity menurun. Dengan berat hati, ia mengikuti langkah Elijah dan Raja Brian yang telah mendahuluinya. Bagaimanapun, lebih baik menghadapi kengerian bersama sang Raja daripada harus tinggal seorang diri di dalam ruang bawah tanah.
Under the Spell
Sabetan pedang berwarna putih bercahaya membelah salah satu leher Hydra yang hampir menyemburkan napas di depan wajah Claude dan Elwood. Kepalanya terputus dan menggelinding ke bawah kaki Elwood. Sang pangeran peri bergidik ngeri, sontak ia mengangkat kakinya menghindari percikan darah hijau yang keluar dari potongan kepala Hydra tersebut.Sebuah nyala api putih menyambar tunggul leher Hydra sebelum kepala baru sempat tumbuh. Nyala api yang sama juga menyambar potongan kepala Hydra yang tergeletak di dekat kaki Elwood. Monster Hydra meraung keras, tubuhnya terhuyung tak tentu arah. Beberapa saat kemudian makhluk itu roboh menghantam salah satu sisi benteng. Namun sepersekian detik kemudian, monster itu bangkit lagi."Archibald!" pekik Claude yang baru saja menyadari jika peri yang menolongnya saat itu adalah Archibald.Archibald yang kini berada di sampingnya mengangguk pelan sebagai respon. Napasnya memburu, sementara matanya masih fokus menatap Hydra yang perlahan kembali bangkit. Sang pangeran peri tidak datang sendiri. Tak jauh dari tempatnya berdiri, Ratu Breena muncul dengan kedua telapak tangan yang menggenggam dua bola api putih."Breena?!" pekik Maurelle dengan mata membelalak.Ratu Breena mengerling sekilas ke arah Maurelle dengan salah satu sudut bibir tertarik ke atas. "Sudah lama tidak bertemu, Maurelle!" sapanya sarkas. Sorot matanya kembali fokus pada Hydra yang mulai mendekatinya. "Apa kau sudah bisa mengetahui di mana kepala abadinya, Maurelle?"Maurelle terhenyak. Sang cenayang lantas mengalihkan pandang ke arah kepala-kepala Hydra yang bergerak liar sembari menyemburkan napas hijaunya, berusaha menemukan kejanggalan pada setiap kepala Hydra yang nyaris terlihat serupa. Namun, Maurelle gagal mengembalikan fokusnya dan berdecak frustrasi. "Di mana kepala abadinya?""Kukira mata batinmu sudah semakin tajam, Maurelle. Ternyata masih sama saja seperti dahulu!" ejek Ratu Breena yang sedang melompat untuk membakar salah satu tunggul leher Hydra yang baru saja ditebas putranya.Rahang Maurelle mengeras, sementara salah satu tangannya sibuk mengayun pedang sihirnya untuk menangkis napas hijau Hydra yang mengarah padanya. Tidak dapat dipungkiri bahwa perkataan Breena barusan merupakan sindiran keras terhadap kesalahannya di masa lampau."Aku tahu yang mana kepala abadinya!" teriak Claude, menyela ketegangan yang tercipta di antara Ratu Breena dan Maurelle.Archibald dan Ratu Breena yang berdiri bersisian sontak memandangi Claude. "Cepat katakan yang mana kepala abadinya!" jerit Archibald.Claude menatap monster Hydra di hadapannya dengan sengit. "Itu kepala yang itu!" tunjuknya pada salah satu kepala Hydra yang sedang menatap lurus ke depan, berbeda dengan kepala lainnya yang menatap liar ke sembarang arah. "Kepala yang selalu menatap ke arah Putra Mahkota Albert!" sambungnya mantap.Mendengar itu, Albert mundur beberapa langkah dengan raut wajah mencekam. Sementara, Archibald dan Ratu Breena merangsek maju, menjadi tameng bagi Albert."Dia benar!" desis Ratu Breena. Serta merta, kedua telapak tangannya memunculkan kepulan bola api putih yang lebih besar. Kedua tangannya terangkat dalam posisi siaga.Di sisinya, Archibald melompat dengan bertumpu pada satu kaki. Pedang perak bercahaya putih terhunus mantap dengan kedua tangan yang menggenggam erat pada gagangnya.Kepala Hydra yang tadinya bergeming seraya menatap tajam Putra Mahkota Albert kini meraung dan hendak menyembur. Namun, kalah cepat dengan kibasan pedang Archibald yang lebih dulu membelah lehernya.Dengan sigap, Ratu Breena memancarkan api putihnya yang langsung membakar tunggul leher dan potongan kepala Hydra. Serta merta, monster besar itu roboh menghantam tumpukan reruntuhan benteng. Tubuh monster itu bergeming dengan kepulan asap tipis yang menguar dari lehernya yang terbakar. Makhluk itu telah meregang nyawa."Hebat sekali kau, Claude!" puji Elwood dengan senyuman lebar, merasa lega karena Hydra sudah mati.Claude menggeleng pelan, tatapannya masih melekat pada tubuh Hydra yang teronggok tak bernyawa. "Kau tidak perlu sihir untuk melihat sesuatu yang janggal. Kau hanya perlu melihat dengan mata hatimu," sahutnya."Kau benar. Sayang sekali, sesosok peri yang pernah kukenal lebih percaya sihir daripada mata hatinya sendiri!" ucap Ratu Breena menimpali.Claude dan Elwood mengangguk pelan, menyetujui ucapan tersebut. Tak jauh dari tempat mereka berdiri, Maurelle mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Rahangnya terkatup, berusaha menahan semburan kata-kata untuk menjawab ucapan Ratu Breena.Putra Mahkota Albert yang menyadari munculnya ketegangan di antara Maurelle dan Ratu Breena berupaya mencairkan suasana. "Terima kasih banyak Ratu Breena dan Pangeran Archibald. Kalian telah menyelamatkanku dan seluruh kerajaan Avery," tuturnya takzim.Archibald menyunggingkan senyum asimetris. "Aku heran, belakangan begitu banyak makhluk yang ingin menyelakaimu, Putra Mahkota!" ucapnya."Entahlah, mungkin bintangku sedang redup," sahut Albert asal sambil terkekeh.Claude dan Elwood serentak tertawa mendengar jawaban Albert, sementara Archibald hanya mengulas senyum tipis."Kau harus lebih berhati-hati, Putra Mahkota. Tentu saja banyak yang mengincarmu karena posisimu, terlebih saat ini kudengar Raja Brian sedang sakit keras." Ratu Breena menimpali."Terima kasih telah mengkhawatirkanku, Ratu Breena. Aku akan lebih berhati-hati." Albert membungkuk hormat."Baiklah, sepertinya aku harus segera pamit." Ratu Breena tersenyum kecil. Pandangannya beralih dari Albert kepada Archibald. "Jaga dirimu baik-baik, Nak."Archibald menjawab dengan anggukan takzim pada sang ibu. Dalam hitungan detik, sosok Ratu Breena menghilang.Maurelle, Putra Mahkota Albert, Claude dan Elwood hendak beranjak memasuki Istana bersama beberapa kesatria Elf yang tersisa dari pertempuran melawan monster Hydra, ketika suara jeritan panik kembali terdengar. Mereka urung melanjutkan langkah dan menoleh pada sumber teriakan."A-apa itu?!" tanya Elwood panik.Iris mata birunya menangkap beberapa makhluk mengerikan berjalan tertatih ke arah mereka. Makhluk-makhluk itu adalah para kesatria Elf yang sebenarnya telah tewas terkena napas beracun Hydra. Mereka bangkit kembali dengan kondisi yang sangat mengenaskan, dengan kulit menghijau, kuku-kuku dan gigi-gigi yang memanjang serta tatapan mata yang kosong."Mayat hidup?! Mayat hidup!"Tiba-tiba suasana kembali gaduh. Para peri yang masih hidup menghambur berlarian menuju pintu-pintu terbuka di istana utama untuk menyelamatkan diri. Beberapa peri yang berhasil selamat lantas langsung menutup pintu di belakang mereka, tanpa peduli terhadap peri lain yang masih tertinggal.Salah satu peri kesatria Elf yang tertinggal tanpa senjata diterkam mayat hidup dari arah belakang. Lehernya terkoyak dan mengeluarkan darah kental. Mendadak beberapa mayat hidup lain datang menghampiri peri nahas itu. Mereka mencakar, merobek serta menggigit peri malang itu dengan brutal.Dalam hitungan detik, peri malang itu juga berubah menjadi mayat hidup dengan rupa yang jauh lebih mengerikan akibat luka-luka yang dialaminya. Dengan cepat, jumlah mayat hidup itu bertambah drastis dan bergerak menuju ke arah istana utama.Archibald kembali menghunus pedangnya. Matanya memicing ke arah mayat hidup yang berjalan tertatih mendekatinya. Ia mengayunkan pedangnya, menebas salah satu lengan si mayat. Lengan itu terputus dan terpental ke sembarang arah, tetapi mayat hidup itu terus merangsek maju mendekatinya."Sial!" desisnya kesal. Ia kembali menebaskan pedangnya ke arah salah satu bahu si mayat hidup. Bahunya terbelah dalam, menampakkan luka hitam yang menganga. Tak ada darah yang mengucur, pun tak ada erangan sakit dari si mayat hidup.Archibald mengernyitkan keningnya. Tangannya terus mengayun pedang melukai tubuh si mayat, berharap menemukan cara yang tepat untuk membunuh mayat hidup itu. Ia mengerling ke arah Maurelle yang berhasil menancapkan sebilah pedang tepat di jantung salah satu mayat hidup. Cara itu ternyata berhasil membuat mayat hidup benar-benar mati.Archibald lantas melakukan persis seperti yang dilakukan Maurelle. Peri itu mengangkat pedang sihirnya tinggi-tinggi dengan kedua tangan, kemudian dalam sekali hentakan keras, ia menancapkan ujung pedang yang runcing tepat pada jantung si mayat hidup. Makhluk itu kontan jatuh tersungkur, tak sadarkan diri.Archibald menyeringai. Permainan itu rasanya mulai sedikit menyenangkan. Gerakan sang pangeran peri semakin lincah menghabisi mayat-mayat hidup yang menyerangnya. Namun, jumlah mayat hidup itu terus bertambah semakin banyak dan semakin cepat. Semakin banyak yang tergigit atau terinfeksi mayat hidup, maka semakin banyak pula pasukan mereka."Bagaimana menghentikan mereka?" tanya Albert setengah mengeluh. Keringat telah membanjiri pelipisnya. Sementara gerakan pedangnya semakin melemah dan sering tak tepat sasaran."Mereka semua berada di bawah pengaruh sihir!" sahut Claude di tengah-tengah pertarungannya dengan sesosok mayat hidup yang sedang menggigit sebongkah kayu yang dijadikannya senjata. Napasnya tersengal. "Kita harus menemukan siapa di balik sihir ini agar dapat menghentikan sihirnya!""Apa?!" pekik Elwood yang sedang berlari menghindari sesosok mayat hidup seraya melemparkan barang-barang yang ia temukan. "Jika seperti ini lebih lama, kita akan berubah jadi mayat hidup sebelum kita menemukan penyihirnya!" racaunya panik."A-aku perlu berpikir dengan tenang! Aku tidak bisa berpikir dalam keadaan seperti ini!" Claude yang terhimpit kayu yang membatasi lehernya dan gigi mayat hidup berteriak panik. Ia meringis ngeri melihat gigi-geligi si mayat yang berlumur air liur.Dengan sigap, Archibald menusuk jantung mayat hidup yang nyaris menggigit leher Claude dari belakang. Sementara Claude terkesiap karena ujung pedang Archibald yang nyaris menyentuh permukaan perutnya. Ia menelan ludah. "Kau nyaris membunuhku, Archibald!"Archibald menyeringai. "Aku akan benar-benar membunuhmu jika kau tak dapat menemukan cara lain untuk memusnahkan sihir ini, Claude!"Claude bergidik. Ancaman Archibald, meskipun hanya kelakar, baginya lebih mengerikan dari pada pasukan mayat hidup yang kini sedang mereka hadapi."AAARRKHHHHH Tolong! Tolong!"Tiba-tiba sebuah teriakan melengking terdengar dari salah satu sudut taman Kerajaan Avery. Suara teriakan yang terdengar tidak asing di telinga mereka. Padahal pintu gerbang taman kala itu telah ditutup agar para mayat hidup tak menerobos ke dalamnya.Archibald, Claude dan Elwood sontak memandang gerbang taman yang tampak terkunci itu. Beberapa peri Pixie kerajaan terlihat terbang menghambur dengan wajah panik dari bagian atas taman yang tak tertutup."Apa yang terjadi?" tanya Elwood pada sesosok peri Pixie yang terbang melewatinya.Wajah peri Pixie itu terlihat pucat dan gusar. Dengan gelagapan, ia menjawab. "Jendral Thomas, ia menggigiti dan membunuh para kesatria Elf. Kemudian peri-peri yang ia gigit mulai menggila dan mengejar kami! Lalu... Putri juga dalam bahaya! Tolong selamatkan Putri Tatianna!"Peri Pixie itu kemudian terbang berputar-putar tak tentu arah dengan panik, sebelum menghilang di balik kekacauan Istana Avery.Demi mendengar itu, Putra Mahkota Albert langsung berlari ke arah pintu gerbang taman yang terkunci. Archibald mengekor di belakangnya, seraya menangkis serangan dari para mayat hidup yang mengincar mereka.Dengan sekali dobrakan Albert, gerbang besi itu rusak dan terbuka. Albert membelalak ngeri begitu melihat pemandangan yang terpampang di balik gerbang taman itu."Tatianna!"* * *Suara tawa menggema dari salah satu menara di Kastel Larangan. Suara itu adalah suara tawa Minerva yang sedang menonton bayangan-bayangan bergerak tentang kekacauan yang terjadi di Istana Avery pada sebuah bola kristal yang bercahaya terang di hadapannya.Lucifer yang bergeming di belakangnya mengerutkan alis. "Apakah ada hal yang sangat menyenangkan, Ratuku?" tanyanya ingin tahu.Minerva terbahak, alih-alih menjawab pertanyaan Lucifer. Peri bersurai hitam itu semakin menikmati bayangan yang ditampilkan bola kristalnya.Lucifer mendengkus sebal, merasa tak diacuhkan. "Jika tidak ada lagi yang Ratu inginkan---""Tunggu sebentar, Lucifer!" seru Minerva seraya melirik sekilas ke abdinya. Pandangannya kembali menyorot serius pada bola kristal di hadapannya. Kali ini tanpa tawa sedikit pun.Dengan patuh Lucifer kembali mematung di tempatnya, menanti apa pun yang akan diucapkan dan dititahkan sang ratu. Tiba-tiba suara gonggongan Max memecah keheningan ruangan menara kastel. Anjing golden retriever itu berjalan mengitari kaki Lucifer."Diamlah, Makhluk Berbulu. Aku akan memberimu makan setelah ini!" hardik Lucifer dengan suara rendah pada anjing yang kini terduduk gelisah di dekat kakinya.Minerva tersentak. Bola kristalnya otomatis padam saat ia membalikan tubuhnya menatap Max. Anjing berbulu keemasan itu meringkik ketakutan. Pandangan Minerva kemudian beralih pada Lucifer. "Apa kau sudah menemukan manusia bernama Chiara itu?" Jejaknya menghilang ketika kita meninggalkannya di dekat portal Utara," decak Minerva. Kedua lengannya terlipat di dada. Tatapannya dingin, tetapi Lucifer dapat melihat penghakiman tersirat disana.Lucifer menundukkan kepalanya, merasa terintimidasi oleh tatapan sang ratu kegelapan. "Ampun, Ratuku. Hamba merasa ada sesosok peri yang melindungi gadis manusia itu. Hamba kesulitan mengendus jejaknya.""Cih! Kau benar-benar tidak becus, Lucifer!" bentaknya berang. Minerva memalingkan wajahnya dari Lucifer. Tatapannya menerawang menatap langit kelabu Hutan Larangan yang terpampang dari jendela menara.Lucifer terhenyak. Menunduk semakin dalam dan tak berani menyahut bentakan Ratunya."Sepertinya aku juga harus mengerjakannya sendiri!" gumam Minerva pada dirinya sendiri.Minerva kemudian membentangkan kedua belah tangannya seraya merapal mantra dengan suara rendah. Mendadak angin bertiup masuk ke arah jendela menara di hadapan Minerva, semakin lama semakin kencang. Suara dengungan sayap serangga tiba-tiba memenuhi ruangan itu. Puluhan, ratusan, ribuan serangga beraneka jenis terbang memasuki jendela, terbang mengambang di hadapan Minerva.Sang ratu kegelapan menyeringai bengis di dalam keremangan ruangan menara. Seekor kepik merah menempel pada salah satu telapak tangannya. Minerva lantas mendekatkan telapak tangannya itu ke bibir, kemudian menggumamkan sebuah mantra singkat. Setelahnya, ia meniup kepik kecil di permukaan telapak tangannya, sebelum meniupkan udara ke arah serangga lainnya yang terbang mengambang di hadapannya. Cahaya keunguan muncul dan berpendar dari tubuh serangga-serangga itu."Pergilah, para serangga kegelapan! Temukan gadis manusia itu untukku!" titahnya.Setelah mendengar Titah sang ratu kegelapan, para serangga itu terbang menghambur ke luar jendela menara membawa pendar keuangan di tubuhnya masing-masing. Titah sang ratu adalah mutlak, yaitu menemukan gadis manusia bernama Chiara secepatnya.
Hydra
Minerva menatap tajam kepergian Archibald bersama naga putihnya, sementara salah satu sudut bibirnya tertarik ke atas. Peri perempuan itu menyeringai, kemudian tertawa kecil."Apa yang kau lakukan padanya?" tanya Elijah yang ternyata masih berdiri tak jauh di belakang Minerva. Di sisi lainnya, Lucifer yang bergeming sontak mengarahkan pandang kepada Elijah.Minerva menoleh sekilas kepada putranya, tersenyum sinis. "Aku hanya membantunya mengingat masa lalu.""Apa... apa kau ingin membangkitkan kemarahannya?" decak Elijah."Kemarahan adalah kelemahan setiap makhluk, Elijah," imbuh Minerva lagi. Ia menoleh kembali pada Elijah. "Sekarang pergilah dari tempat ini, pulanglah ke Avery. Lihat dan saksikan, aku akan menepati janjiku!"Elijah terhenyak di tempatnya berdiri. Sebagian dari dirinya ingin tinggal dan menyaksikan apa yang akan dilakukan Minerva dan mencegahnya, tetapi ambisi memaksanya pergi meninggalkan tempat itu. Akhirnya, Elijah memutuskan untuk bergegas pergi dan mencoba mempercayai kata-kata peri perempuan itu sekali saja.Sepeninggal Elijah, Minerva mengembalikan fokusnya menatap Danau Cermin yang terhampar luas di hadapannya. Danau dengan air yang paling jernih di seluruh penjuru Fairyverse itu menampakan kelebat bayangan hitam pada permukaannya.Minerva menyeringai, seraya mengangkat kedua belah lengannya menengadah pada langit. Mantra-mantra melantun pelan dari bibirnya yang semerah darah, makin lama semakin keras. Bersamaan dengan itu, bola matanya memutih dan bercahaya.Langit Fairyfall yang biru cerah mendadak mendung. Awan-awan hitam perlahan muncul menutupi sinar matahari. Bunyi gemuruh tiba-tiba terdengar bersahutan. Angin pun mulai bertiup, kian lama kian kencang.Sebuah sambaran kilat muncul dari langit Fairyfall menyambar permukaan danau, bersamaan dengan puncak mantra yang dirapalkan Minerva setengah berteriak. Sementara angin kencang bertiup mengibarkan surai kelam dan jubahnya.Gelombang air muncul perlahan di atas permukaan Danau Cermin yang mulanya tenang. Lama-kelamaan gelombang itu berubah menjadi pusaran air yang berpusat tepat di tengah-tengah Danau Cermin. Permukaan danau berubah menggelap.Seekor makhluk hitam besar dengan sembilan kepala berbentuk ular perlahan muncul dari dasar danau. Kesembilan kepala monster itu meraung keras, sementara dari masing-masing mulutnya mengeluarkan kepulan asap berwarna hijau.Sepasang kaki besar sang monster akhirnya menapaki tanah Fairyfall, membawa serta air danau yang meluap naik akibat mengeluarkan tubuhnya yang besar. Bunyi berdebam ekor makhluk besar itu mengiringi tubuhnya yang jatuh di tanah. Makhluk itu meraung dengan mata merah menyala.Minerva selesai merapalkan mantra. Ia menatap bengis makhluk di hadapannya. Salah satu sudut bibir peri perempuan itu terangkat. "Hydra, hambaku! Pergilah menuju kerajaan Avery. Hancurkan dan bunuh Putra Mahkota Albert serta seluruh makhluk yang menghalangimu!" teriaknya. Mata Minerva menyala.Seolah memahami apa yang dikatakan Minerva, makhluk berkepala sembilan itu meraung panjang sebelum melangkah pergi meninggalkan Minerva dan Lucifer. Bobot tubuhnya yang besar menyebabkan Fairyfall bergetar.Lucifer membelalak menyaksikan monster besar yang dibangkitkan oleh Minerva. Teror menyambangi wajahnya. Ia membayangkan kemungkinan paling mengerikan yang akan terjadi di Kerajaan Avery.* * *Ratu Serenity menyibakkan tirai yang terbuat dari dari surai jagung, membiarkan garis-garis cahaya menembus jendela besar di hadapan Raja Brian yang sedang terduduk lemah. Sinar matahari pagi menyinari kulit pucat sang raja.Sang raja bergeming. Tubuh lemahnya tersandar pada sebuah kursi. Tatapan matanya kosong. Tarikan napasnya pelan dan sangat lemah.Di sisinya, Ratu Serenity tengah menyeduh minuman dalam sebuah gelas perak. Asap tipis mengepul dari permukaan gelas, menandakan minuman yang masih hangat disertai aroma herbal yang menguar kuat memenuhi bilik sang Raja. Perlahan, sang ratu menyuapkan minuman itu dengan sebuah sendok kecil kepada Raja Brian.Raja Brian menggeleng pelan. Ia mengatupkan rahangnya sekuat tenaga, sementara matanya masih terpejam menghindari silaunya sinar matahari pagi.Ratu Serenity berdecak pelan, kemudian meletakan gelas perak yang digenggamnya pada sebuah meja bundar dengan putus asa. Ia membersihkan sisa-sisa minuman yang tumpah membasahi dagu sang raja."Permisi, Yang Mulia Ratu!" sapa sebuah suara dari balik pintu bilik yang tertutup."Masuklah!"Suara derit pintu memecah keheningan bilik. Dua orang kesatria Elf membuka pintu tersebut dan menyilakan Maurelle memasuki bilik.Maurelle membungkuk takzim begitu memasuki bilik. Bau herbal yang sangat tajam menusuk penghidunya, sehingga ia sontak sedikit mengernyitkan hidung."Bagaimana keadaan Putra Mahkota Albert?" tanya Ratu Serenity.Maurelle memfokuskan dirinya kembali, setelah sedikit terganggu karena aroma herbal di dalam bilik. Ia menyahut takzim. "Putra Mahkota Albert terlihat jauh lebih baik, Yang Mulia Ratu. Hamba kemari ingin menyampaikan sebuah kabar.""Kabar apa?" tanya Ratu Serenity. Keningnya berkerut ketika menangkap kegusaran di wajah Maurelle.Maurelle mendadak gelagapan. Ia terdiam beberapa saat, berusaha mencari kata-kata yang tepat untuk menyampaikan berita yang dibawanya. Setelah berdeham beberapa kali, Maurelle akhirnya membuka suara. "Ampun, Yang Mulia Ratu. Hamba mendapat kabar jika seorang peri unsheelie telah menembus perbatasan Hutan Larangan. Kabar terakhir yang hamba dengar, mereka berada di Fairyfall...""Apa katamu?!" desis Ratu Serenity dengan suara rendah. Ia mengerling sekilas ke arah Raja Brian yang masih bergeming dengan mata tertutup rapat, seolah tak ingin berita itu didengar oleh raja.Maurelle mengangguk takzim. Ia ikut mengerling ke arah Raja Brian. Namun, tak ada respon sedikitpun dari peri laki-laki yang tampak bersandar kepayahan di kursinya."Cari tahu siapa peri Unsheelie yang telah lancang melewati perbatasan Hutan Larangan itu!" titahnya gusar. Manik matanya terlihat menerawang ke luar jendela. Rahangnya mengeras. "Siapkan para pasukan untuk segera menangkap peri itu dan langsung penjarakan. Jangan sampai keberadaan satu peri Unsheelie merusak keseimbangan di Fairyverse."Maurelle mengangguk pelan. Titah sang ratu sangat jelas. "Baik, Yang Mulia Ra---""Maurelle!" suara parau Raja Brian tiba-tiba menggema di dalam bilik. Langkah Maurelle tertahan.Ratu Serenity dan Maurelle sontak menoleh ke arah Raja Brian.Sang Raja beringsut pelan di atas kursinya. Kelopak matanya yang tertutup bergerak, perlahan-lahan membuka."Yang Mulia Raja!" pekik Maurelle dan Ratu Serenity hampir bersamaan. Serta merta, mereka membungkukkan tubuh, memberi hormat kepada sang raja.Raja Brian dengan susah payah mengangkat salah satu tangannya, memberi tanda pada Maurelle dan Ratu Serenity agar menyudahi penghormatan mereka."Apakah ada yang kau inginkan, Yang Mulia?" tanya Ratu Serenity lembut setelah ia menegakkan tubuhnya.Raja Brian menggeleng pelan. Wajah dan bibirnya sangat pucat, sementara matanya menatap sayu ke arah Maurelle. "Apakah kau telah menemukan manusia itu, Maurelle?" tanyanya parau."Ampun, Yang Mulia Raja!" Maurelle menjatuhkan tubuhnya, berlutut di hadapan Raja Brian. Wajahnya menunduk, tak berani menatap sang Raja. "Hamba belum menemukannya. Namun, hamba telah menyebar para Kesatria Elf ke seluruh pelosok Fairyverse untuk menemukan manusia itu."Raja Brian memegang dadanya dengan salah satu tangan. Ia mengernyit sesaat. "Cepat temukan manusia itu, Maurelle!" Sergahnya pelan. Napasnya memburu. "A-aku tidak tahan menanggung rasa sakit ini!""Yang Mulia... !" isak Ratu Serenity. Demi mendengar perkataan sang raja, peri perempuan itu sontak menghambur ke arah Raja Brian.Raja Brian menggeliat pelan menahan sakit. Beberapa saat kemudian, tubuhnya kembali tenang. Ia mengerling sekilas ke arah Ratu Serenity. Dekapan sang ratu, seolah memberinya kekuatan. Kemudian, mata sayunya kembali menyorot Maurelle. "Segera temukan manusia itu Maurelle, bagaimanapun caranya!" serunya dengan suara bergetar."Baik, Yang Mulia!" sahut Maurelle seraya menganggukkan kepala. Namun, ada sesuatu yang membuatnya masih ragu untuk beranjak meninggalkan bilik."Ada yang ingin kau sampaikan, Maurelle?" tanya Ratu Serenity dengan mata memicing ketika menangkap gelagat Maurelle."Mohon ampun, Yang Mulia Ratu! Hamba hanya ingin menyampaikan sebuah pendapat, jika Raja dan Ratu tidak keberatan---"Ratu Serenity hendak membuka suaranya, tetapi kalah cepat dengan jawaban Raja Brian. "Sampaikan, Maurelle."Maurelle mengangguk pelan. "Ampun, Yang Mulia. Menurut hamba, penyebab sakitnya Raja Brian bukan berasal dari keberadaan manusia di Fairyverse." Maurelle menarik napas pelan seraya mengamati perubahan raut wajah Raja Brian dan Ratu Serenity. Ia kemudian melanjutkan perkataanya. "Jika melihat beberapa kejadian yang menimpa Kerajaan Avery dan beberapa kerajaan kecil di Fairyverse, maka hamba menyimpulkan bahwa para peri Unsheelie mulai melakukan pemberontakan. Hamba dapat melihat aura kegelapan telah melewati perbatasan Hutan Larangan, Yang Mulia.""Apa katamu?!" Ratu Serenity meninggikan suaranya. "Jadi kau meragukan hasil pemeriksaan para peri penyembuh Kerajaan Avery?!"Tenang lah, Ratu," bisik Raja Brian.Maurelle terkesiap. "Ampun, Yang Mulia Ratu. Hamba tidak bermaksud demikian. Hanya saja, hamba tidak melihat adanya hubungan antara keberadaan manusia dan kesehatan Raja Brian. Lagi pula, sampai sekarang kita tidak dapat menemukan jejak keberadaan manusia tersebut."Mendengar perkataan Maurelle, Ratu Serenity semakin tersinggung, karena bagaimanapun para peri penyembuh kerajaan berada di bawah kuasanya. "Lancang sekali kau, Maurelle! Bukankah kau sendiri yang meramalkan kedatangan manusia yang akan merusak tatanan di Fairyverse. Jadi mungkin saja, keberadaan manusia itu telah membawa pengaruh buruk bagi Raja Brian. Bukankah makhluk bernama manusia bahkan sering merusak alamnya sendiri!" hardik Ratu Serenity.Maurelle terhenyak. Ia tak dapat menjawab perkataan Ratu Serenity, meskipun berbagai asumsi berkelebat di dalam kepalanya. Namun, Maurelle memutuskan untuk bungkam, tak ingin menambah kemarahan sang ratu.Raja Brian tak menanggapi pernyataan Maurelle. Bukan berarti ia tak memikirkannya, bagaimanapun juga Maurelle adalah penasihat pribadinya, selain statusnya sebagai cenayang resmi kerajaan. Kondisi Raja Brian membuatnya urung untuk berdiskusi dengan Maurelle seperti biasanya.Keheningan menyelimuti bilik Raja Brian. Namun, sepersekian detik kemudian, suara genderang yang ditabuh dengan panik menggema di seluruh pelosok Kerajaan Avery.Maurelle, Ratu Serenity dan Raja Brian terkesiap. Gendang telinga mereka sama-sama menangkap bunyi genderang yang telah lebih dari seratus tahun tidak ditabuh itu. Genderang yang menandakan sebuah keadaan darurat."Apa itu?!" pekik Ratu Serenity seraya mengeratkan genggamannya pada lengan Raja Brian."Maurelle, cepat periksa keadaan Istana!" titah Raja Brian yang mulai panik.Maurelle mengangguk pelan, tetapi terlihat enggan beranjak. Pandangannya sedang menangkap apa yang sedang terjadi di luar bilik sang raja. Kengerian tergambar jelas di wajah cenayang peri itu. Ia menggeleng cepat. "Raja dan Ratu harus segera bersembunyi di ruang bawah tanah!""A-apa?!"Tanpa menunggu lebih lama lagi, Maurelle segera menuntun Raja Brian dan Ratu Serenity menuju sebuah ruangan tersembunyi yang terdapat di salah satu sudut bilik.Maurelle menyibakkan sebuah permadani keemasan yang menutupi permukaan lantai. Kemudian, ia mengetukkan tongkat sihirnya di atas lantai pualam di balik Permadani itu. Garis keemasan berbentuk segi empat tiba-tiba bersinar dan membuka, menampakkan sebuah tangga yang turun ke dalam sebuah ruangan di bawahnya.Dengan sigap, Maurelle membantu Raja Brian dan Ratu Serenity menuruni ruangan itu bergantian. Setelah itu, ia kembali menyembunyikan pintu masuk menuju ruang bawah tanah kerajaan yang baru saja dibukanya. Lalu, Maurelle bergegas keluar dari bilik sang raja.Suara genderang kembali ditabuh bertalu-talu. Samar-samar, Maurelle mendengar kegaduhan lainnya, yaitu suara jeritan para penghuni Istana Avery.* * *Claude baru saja menjejakkan kakinya di halaman Istana Avery. Ia menengadahkan pandangannya pada langit Avery yang terlihat kelabu, tidak secerah biasanya.Angin sepoi-sepoi berembus pelan menggoyangkan semak lavender yang memenuhi halaman istana. Desau angin juga membelai surai kelam Claude. Sang pangeran peri nyaris terlena dengan kesyahduan suasana saat suara raungan monster terdengar samar-samar terbawa angin.Claude terkesiap. Sebuah firasat buruk menyelinap dalam hatinya. Samar-samar sebuah pemandangan mengerikan terpampang di dalam kepalanya. Dengan tergopoh, ia memasuki istana utama kerajaan Avery. Pada sebuah lorong istana, Claude bertemu dengan pemimpin pasukan perang Kesatria Elf."Jenderal Thomas, siapkan pasukanmu dan perketat penjagaan di depan benteng Kerajaan Avery. Sesuatu yang buruk----"Tiba-tiba bunyi genderang perang ditabuh bertalu-talu. Claude dan Kesatria Elf bernama Thomas sontak saling tatap. Ketegangan tergambar jelas di wajah mereka.Tanpa kata dan tanpa membuang banyak waktu, Claude dan Thomas beserta pasukannya berlari menuju pintu gerbang benteng Kerajaan Avery. Raut gusar dan tegang tersirat jelas pada wajah-wajah mereka. Setelah seratus tahun genderang tak pernah ditabuh, kini bunyi tabuhan yang menandakan peperangan atau kekacauan kembali terdengar.Seekor monster setinggi lima belas kaki dengan sembilan kepala yang serupa ular dan ekor panjang berduri seperti ekor naga telah berdiri di depan pintu benteng Kerajaan Avery. Tak ada yang tahu dari mana asalnya dan bagaimana caranya hingga makhluk mengerikan itu dapat mencapai Avery. Dari setiap mulut monster tersebut mengepul asap tipis berwarna hijau. Kesembilan kepalanya meraung keras, menggentarkan para Kesatria Elf yang menghadang di balik pintu benteng.Dua orang Kesatria Elf yang berjaga di luar benteng rupanya tergeletak tak sadarkan diri di atas tanah dengan kulit tubuh berwarna kehijauan. Pintu benteng bergetar beberapa kali, saat sembilan kepala monster bergantian menubruknya.Putra Mahkota Albert, Elwood dan Maurelle bergabung bersama Claude di belakang pasukan blokade, bersiap menanti Hydra menerobos gerbang benteng kerajaan Avery. Kengerian dan keteguhan hati jelas tergambar pada wajah-wajah mereka, dengan pedang-pedang dan tombak-tombak sihir terhunus siap menghalau kedatangan monster Hydra.Akhirnya, pintu benteng berhasil dihancurkan.Beberapa kesatria Elf yang berada tepat di balik pintu gerbang benteng terpental, terkena semburan napas monster itu. Tubuh mereka berubah kehijauan dengan cepat lalu ambruk tak sadarkan diri. Sementara pasukan kesatria Elf lainnya bergerak menjauh beberapa langkah agar tak terkena napas beracun Hydra.Monster Hydra terus merangsek maju. Menggeram dan meraung."Hindari semburan napasnya!" teriak Maurelle. "Aku akan berusaha memasang tabir pelindung!"Maurelle melangkah mundur, sementara kesatria Elf lain merangsek maju dan menyerang monster Hydra dengan pedang sihir dan tombak mereka. Maurelle merapal mantra pelan, seraya mengangkat tongkat sihirnya ke langit. Sebuah tabir tipis hadir melindungi para kesatria Elf di tempat itu.Setelah memiliki tabir pelindung dari Maurelle, para kesatria Elf semakin agresif menyerang Hydra.Putra Mahkota Albert yang masih belum pulih benar, merangsek maju, mendekati salah satu sisi monster Hydra. Pedang sihirnya diayunkan ke arah salah satu leher Hydra. Pedang itu meninggalkan bekas luka sayatan yang menampakan warna hijau menyala darah Hydra. Namun, sedetik kemudian luka itu menghilang tanpa bekas seolah makhluk itu tak pernah terluka."Kita harus menebas lehernya!" teriaknya pada Jendral Thomas dan Claude. Kedua orang itu mengangguk pelan.Claude yang tidak terlalu mahir menggunakan pedang menyerang ekor monster Hydra, berusaha mengalihkan perhatian monster berkepala sembilan itu. Sang monster meraung marah ketika mendapat tebasan di ekornya.Tiga dari sembilan kepalanya lantas menoleh ke arah Claude dengan tatapan marah. Mata-matanya merah menyala, menggetarkan nyali Claude. Tiga kepala itu kemudian menyemburkan napas hijau beracun. Beruntung, tabir Maurelle masih melindungi hingga semburan napas itu seolah menghantam dinding tak kasat mata di hadapan Claude.Sementara dari sisi lain, Putra Mahkota Albert dan Jendral Thomas serentak menebas dua kepala Hydra. Dua buah kepala monster yang serupa ular itu jatuh terguling ke tanah, disertai raungan mengerikan yang menekakkan telinga. Darah kental berwarna hijau menyala mengotori pedang sihir mereka. Sedetik kemudian pedang sihir yang terkena darah Hydra itu hancur.Putra Mahkota Albert dan Jendral Thomas terhenyak. Mereka membelalak dengan ngeri ke arah monster Hydra. Tidak hanya wujudnya yang mengerikan, bahkan racun dalam darahnya sangat mematikan dan menghancurkan.Monster Hydra yang kehilangan dua buah kepala terlihat sempoyongan untuk beberapa saat. Namun, tidak butuh waktu lama, dua leher yang terkulai tanpa kepala itu kemudian menumbuhkan kepala baru dengan raut wajah yang lebih mengerikan dari sebelumnya."A-apa?! Ti-tidak mungkin?!"Raungan monster Hydra semakin keras, seolah-olah mengejek Albert dan Thomas yang gagal membunuhnya. Monster itu merangsek maju, menatap sengit ke arah Maurelle. Monster itu tidak hanya kuat, ternyata juga memiliki insting yang luar biasa tajam. Ia segera mengetahui peri yang membuat penangkal bagi napas beracunya.Kepala-kepala Hydra masih menyemburkan napas hijau ke segala arah. Walaupun gagal menumbangkan para kesatria Elf di sekitarnya, tetapi semburan napas itu berhasil mengenai bangunan dan tanaman di sekitarnya. Bangunan dan tanaman itu kontan menghitam dan menguarkan bau hangus.Maurelle menggigil di tempatnya berdiri. Tangannya yang bergetar menghunuskan pedang sihir lain untuk menantang Hydra. Namun, belum sempat sang cenayang melayangkan serangannya, sang monster dengan gesit menyerang Maurelle lebih dulu. Ia membenturkan kedua kepalanya ke tubuh peri cenayang itu.Maurelle terpental ke atas hingga menubruk dinding benteng. Darah segar keluar dari salah satu sudut bibirnya. Kekuatannya otomatis berkurang drastis, sehingga tabir pelindung yang dibuatnya mendadak hilang."Semuanya menghindar! Masuk ke ruang bawah tanah!" Teriak Maurelle seraya meringis menahan sakit.Sebagian pasukan kesatria Elf berlari pontang-panting meninggalkan tempat itu. Sementara sebagian lagi masih bertahan untuk melindungi Putra Mahkota Albert dan para pangeran.Mata-mata merah monster Hydra seolah terpaku pada sosok Maurelle, belum puas menyiksanya. Monster itu kembali mendekati Maurelle yang masih berusaha untuk berdiri. Salah satu kepala monster Hydra mengayun ke arah tubuh Maurelle. Akan tetapi, dengan sigap, Putra Mahkota Albert menangkis kepala itu dengan pedang sihirnya.Salah satu kepala Hydra jatuh menggelinding ke arah kaki Maurelle. Dalam hitungan detik, dua kepala mulai tumbuh dan kembali menyembur Maurelle dan Putra Mahkota Albert dengan napas beracunya.Albert dengan sigap mengangkat tamengnya dan serempak berguling ke samping bersama Maurelle, sehingga semburan napas Hydra luput mengenainya. Alhasil, racun itu menyambar dan menghancurkan dinding benteng di belakangnya."Aku tahu cara menghancurkannya!" teriak Claude dari sisi berlawanan. Mendengar jeritan Claude, Hydra mengalihkan pandang ke arahnya dan berjalan mendekatinya.Claude gelagapan, ia mengacungkan pedang patahnya ke arah Hydra dengan tangan bergetar. "Pergi kau monster! Jika aku menemukan kepala abadimu, kau pasti akan mati!" ancamnya.Salah satu kepala monster itu meraung keras tepat di depan wajah Claude. Claude sontak menutupi mulut dan hidungnya dengan telapak tangan agar tak terkena napas beracun Hydra. Kepala Hydra yang lain mendekat dan hendak menyembur Claude, tetapi Elwood terlebih dahulu menebas kepalanya dengan pedang.Dua kepala Hydra kembali tumbuh. Kini jumlah kepala monster itu telah bertambah dua kali lipat. Setiap kepala meraung, lalu menyemburkan napas hijaunya ke segala arah. Selain menyembur, monster itu dengan membabi-buta menghantam siapa pun dengan kepalanya.Tepat saat monster Hydra hendak memukulkan salah satu kepalanya ke arah Elwood, anak-anak panah dengan mata api melesat cepat ke arah sang monster. Sepasukan kesatria Elf dengan busur dan anak panah sihir muncul dari bagian atas benteng.Beberapa anak panah api itu berhasil mengenai beberapa bagian tubuh Hydra. Monster itu meraung kesakitan sehingga menggerakkan tubuhnya dengan liar. Beberapa kepalanya membentur dan menghancurkan dinding benteng, sehingga deretan kesatria Elf yang berada di bagian atas benteng terjatuh. Tubuh-tubuh melayang kesatria Elf itu langsung disambut oleh napas beracun Hydra. Akhirnya, para kesatria Elf pemanah yang terkena napas beracun tewas bergelimpangan dengan tubuh kehijauan.Putra Mahkota Albert, Elwood, Claude, Jendral Thomas dan Maurelle mulai dilanda keputusasaan. Sesering apa pun mereka menebas leher Hydra, maka kepalanya akan selalu tumbuh dengan jumlah dua kali lipat. Sementara, tenaga mereka telah hampir terkuras, monster Hydra malah semakin bertambah kuat.Monster Hydra terus menyemburkan asap dari mulut-mulutnya, tanpa ada yang menghalangi. Monster itu merangsek masuk dengan langkah besar yang menggetarkan tanah pijakannya. Halaman benteng Kerajaan Avery mulai dipenuhi kabut asap berwarna hijau yang beracun.Para kesatria Elf yang masih tersisa mulai mengalami kesulitan bernapas dan batuk hebat, termasuk Putra Mahkota Albert, Claude, Elwood dan Maurelle. Mereka tak sanggup berdiri lagi.Dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya, Jendral Thomas menyeret langkahnya mendekati monster Hydra dari arah belakang. Ia menggenggam sebilah tombak. Tanpa keraguan sedikit pun, Thomas mengayunkan tombaknya menancapkan mata tombak runcing itu pada punggung Hydra. Tombak itu tertancap, serta-merta darah segar Hydra mengucur mengenai wajahnya.Thomas menyeringai puas. Namun, seringainya langsung redup saat monster Hydra dengan cepat berbalik dan mengoyak tubuhnya dengan gigi-geliginya yang tajam. Thomas berteriak kesakitan, sebelum akhirnya tewas dengan isi perut terburai."Thomas!" pekik Claude dengan wajah pias. Elwood segera membekap mulutnya agar Hydra tak mendengar teriakan Claude.Namun, mereka terlambat, sedetik kemudian, monster Hydra berbalik menatap Claude. Mata-mata merah Hydra menyorot bengis seolah akan menelan Claude bulat-bulat.Claude terkesiap. Di sampingnya, Elwood juga terhenyak dengan tubuh gemetar. Mereka bergeming. Sementara Hydra meraung keras, sebelum akhirnya menyemburkan napas beracun tepat di depan wajah mereka.
The Truth Untold
"Archie?!"Ammara terbangun dari tidurnya dengan napas terengah-engah. Pelipisnya dibanjiri keringat. Mimpi-mimpi aneh barusan masih berkelebat silih berganti dalam pikirannya. Mimpi-mimpi yang sangat asing sekaligus terasa familier.Ia bahkan memimpikan Archibald. Ya, peri sombong yang paling ia benci. Ammara memegang pelipisnya yang mendadak terasa nyeri.Benar-benar mimpi yang menyebalkan!"Kau sudah bangun?" tanya Claude. Kedua lengan peri laki-laki itu terlipat di depan dada. Sementara matanya memicing pada Ammara.Ammara terperanjat. Kilatan-kilatan mimpi di kepalanya sirnah dalam sekejap. Ia balas menatap peri itu dengan kening berkerut. Claude dengan ekspresi dingin dan ketus adalah pemandangan yang sangat aneh bagi Ammara. Sesuatu pasti telah terjadi di luar sepengetahuannya.Ammara memilih bungkam, ia enggan menjawab pertanyaan basa-basi Claude. Peri perempuan itu kemudian mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Pemandangan biliknya di Fairyfarm terpampang jelas. Bilik kecil minim perabot yang dipenuhi sinar matahari, dengan jendela besar yang terbuka lebar menghadap ke arah kebun. Ammara mengembuskan napas lega saat menyadari jika sekarang ia sudah berada di rumah cendawan. Di samping Claude, iris mata hijaunya menangkap sosok Ailfryd yang sedang menekuri lantai, tertunduk dalam diam.Lagi-lagi pemandangan yang janggal , batinnya.Tiba-tiba ia teringat sesuatu. "Di mana ibu?" tanya Ammara. Manik matanya dengan liar mencari ke setiap sudut bilik, ke arah pintu dan jendela yang terbuka. Namun, sosok sang ibu tidak ia temukan."Ibu?!""Ibu! Ibu!" pekiknya lagi, berharap mendapat jawaban dari Ella. Wajah pucatnya mulai terlihat gusar. Sebutir air mata tanpa sadar terbit di salah satu pelupuk mata peri perempuan itu."Tenangkan dirimu, Nak. Ibumu baik-baik saja!" lirih Ailfryd. Ia meraih kedua lengan Ammara yang hendak beranjak dari pembaringan."A-apa maksud ayah? Aku ingin bertemu dengan ibu!" Ammara bersikeras, berusaha menepis genggaman ayahnya. Sesuatu yang sangat buruk pasti telah terjadi. Ailfryd bersikap aneh, sama halnya dengan Claude. Kesabaran Ammara nyaris habis, ia benar-benar ingin mengetahui apa yang terjadi dengan Ella.Claude mendekatkan wajahnya pada Ammara. Ia menatap peri perempuan itu dengan tatapan menghunus tajam.Ammara sontak terdiam. Bibirnya bergetar menahan suara tangis yang hendak meledak keluar dari tenggorokan. Matanya berembun akibat genangan air yang nyaris meluruh turun."Ibumu sedang ditahan di penjara bawah tanah Kerajaan Avery. Dia akan segera diadili oleh para Dewan Peri pada purnama yang akan datang atas tuduhan sebagai pemilik kalung zamrud yang menyebabkan kekacauan di Istana Avery," jelasnya ketus. Peri laki-laki itu melanjutkan ucapannya lagi. "Jadi jangan pernah bertindak gegabah lagi. Kau tidak akan bisa menyelamatkannya. Lagi pula kau berhutang sebuah penjelasan padaku!"Ammara membelalak. Iris mata hijaunya lekat menatap iris mata hitam Claude seraya menggeleng pelan. Bulir-bulir air mata satu per satu lolos dari pelupuknya. Perlahan bunyi isakan terdengar dari mulut peri perempuan yang tertutup telapak tangan. Bahunya bergetar."Ibuku tidak bersalah. Kalung itu milikku! Tolong selamatkan ibuku. Ibuku tidak bersalah!" teriaknya histeris.Ailfryd serta-merta menjatuhkan lututnya di hadapan Claude seperti orang yang sedang menyembah. Tubuhnya bangkit dan bersujud beberapa kali di hadapan Claude. Kedua belah pipinya telah basah bersimbah air mata. "Aku mohon Pangeran, ini bukan salahnya. Kami tidak sengaja menemukannya di dekat Perbatasan Hutan Larangan dan Ella merasa kasihan akan keadaannya. Oleh karena itu, kami menolongnya. Dia sama sekali tidak berbahaya dan tidak tahu apa-apa!"Ammara kontan memalingkan wajahnya pada Ailfryd di sela-sela isak tangisnya. Keningnya mengernyit semakin dalam. "Ayah, apa maksud ayah?!""Maafkan kami Ammara. Kami telah memboho--""CUKUP!" sergah Claude mendiamkan dengungan suara isak tangis Ammara dan Ailfryd. "Aku sudah cukup mendengar darimu, Tuan Ailfryd. Kini aku ingin mendengarnya dari Ammara.""Baiklah, Pangeran," sahut Ailfryd lirih. Dengan berat hati, ia beranjak keluar dari bilik Ammara untuk membiarkan Claude dan Ammara berbicara empat mata.Setelah kepergian Ailfryd, Claude kembali menyorot Ammara dengan tatapan penuh selidik. "Kau tahu, luka-luka di tubuhmu menyebabkan tabir pelindung yang dibuat Ella rusak, sehingga aku bisa melihat jelas sosokmu yang sebenarnya. Aku benar-benar tidak menyangka bahwa Ella dan Ailfryd berusaha keras melindungimu, hingga mereka tak mengacuhkan keselamatan mereka sendiri. Menyelamatkanmu benar-benar sangat berisiko untuk mereka," desisnya.Ammara mengangkat wajah, bekas air mata masih tergenang jelas di kedua pipinya. "Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan, Claude..." lirihnya di sela-sela isak tangis.Claude mengernyit. "Apa maksudmu tidak mengerti? Kau berpura-pura menjadi peri. Begitu tabir yang Ella buat rusak, aku langsung bisa mengenali siapa dirimu sebenarnya. Kau bukanlah bangsa peri. Kau adalah manusia!""A-aku manusia?!""Kau sudah membohongi kami semua, Ammara. Terlebih, keberadaanmu di sini telah membuat Ella berada dalam masalah. Aku harus mengakhiri ini semua, sebelum pihak Istana menemukanmu!" ucapnya tegas. Rahangnya mengeras saat mengucapkan kata-kata tersebut. Dengan gerakan cepat sebelah tangannya meraih salah satu lengan Ammara, sementara tangan lainnya menghunus sebilah pedang sihir.Ia mengacungkan pedang sihir itu ke leher Ammara."Apa maksudmu?! Aku benar-benar tidak mengerti apa yang kauucapkan, Claude!" Ammara menegang. Tubuhnya kaku merasakan hawa dingin dari bilah pedang perak yang menempel di lehernya."Kau harus pulang! Aku akan mengantarmu menuju portal Utara!"Claude menarik paksa salah satu lengan Ammara, kemudian menyeret gadis itu turun dari pembaringannya keluar bilik, sementara pedang perak menempel ketat di lehernya.Ailfryd yang sedang berada di beranda terkejut saat melihat sang pangeran yang sedang menodongkan pedang perak ke leher putrinya seraya menyeret paksa tubuhnya."Pangeran Claude?! Ada apa?! Tolong turunkan pedang itu dari leher Ammara!" teriaknya gusar. Ailfryd mengikuti mereka."Aku akan mengembalikannya ke tempat asalnya, tuan Ailfryd!" sahut Claude tegas."Akan tetapi, seluruh portal terkunci, Pangeran. Kita tidak bisa melewatinya begitu saja. Portal akan terbuka secara alami jika bulan purnama merah terjadi di dunia manusia. Dan, kita tidak tahu kapan itu akan terjadi!""Apa? Bagaimana kita tahu jika purnama merah sedang berlangsung di dunia manusia? Lagi pula purnama merah setahuku terjadi setiap 150 tahun sekali di dunia manusia." Claude berpikir sejenak. Langkahnya terhenti dan genggaman tangannya melemah. Pedang yang tadinya terhunus melintang di leher Ammara kini telah kembali ke dalam sarungnya. Ia berbalik menghadap Ailfryd yang mengekor di belakangnya. "Apa tidak ada cara lain?"Ailfryd menggeleng lemah, tetapi sepersekian detik kemudian pupil matanya membesar. "Ada satu cara, Pangeran! Akan tetapi, tampaknya akan sangat mustahil. Cara itu adalah dengan meminta ijin kepada Raja. Satu-satunya kuasa yang dapat membuka portal di Fairyverse adalah dengan menggunakan tongkat milik sang Raja. Namun, dalam kondisi seperti sekarang ini, bukankah sang Raja malah akan membunuh Ammara jika ia mengetahui bahwa Ammara adalah manusia?""A-aku manusia??" tanya Ammara tiba-tiba. Wajah piasnya kebingungan menatap Claude dan Ailfryd bergantian.Pertanyaan itu sontak mengalihkan perhatian Ailfryd dan Claude kepadanya. Mereka terdiam menatap Ammara untuk beberapa saat lamanya."Sudah kubilang, Pangeran. Ingatannya masih tersegel. Ella mengatakan jika peri unsheelie yang melakukannya. Ella juga dapat merasakan aura kehadirannya di saat kami menemukan Ammara. Aku mohon beri dia waktu, Pangeran Claude. Aku akan mengawasinya dengan ketat agar ia tidak keluar dari rumah ini." Ailfryd memohon. Suaranya bergetar menahan kesedihan sekaligus pengharapan.Claude berpikir sejenak, sebelum akhirnya ia memutuskan. "Baiklah Tuan Ailfryd. Kita harus sama-sama merahasiakan ini. Jika tidak, kita semua akan berada dalam bahaya .... "Ammara bungkam, kerutan di antara kedua alisnya tidak juga menghilang. Ia menatap Ailfryd dan Claude bergantian untuk meminta penjelasan lebih, tetapi sepertinya tak seorang pun di antara mereka yang akan membuka suara.Perlahan, Ailfryd mengambil alih lengan Ammara dan menuntun peri perempuan itu kembali memasuki rumah.Claude yang berdiri di depan beranda rumah beratap cendawan itu kemudian mengeluarkan tongkat sihirnya. Ia merentangkan kedua lengannya ke arah langit. Mulutnya berkomat-kamit perlahan, sementara sebuah mantra mengalun pelan di antara desau angin. Manik matanya menghilang bersamaan dengan cahaya yang menyala dari tongkat sihirnya. Perlahan-lahan cahaya itu memecah menjadi butiran-butiran sinar yang terbang melingkupi rumah Ailfryd.Sebuah tabir samar-samar terbentuk mengelilingi rumah kecil beratap cendawan itu. Tabir tipis itu memanjang menembus langit biru di atasnya. Saat rapalan mantra selesai dilantunkan, tabir itu pun perlahan menghilang.Claude menghembuskan napas pelan. "Semoga tabir ini dapat menyamarkan baumu."* * *Seekor naga putih terbang cepat membelah langit Fairyverse, menembus awan-gemawan, menuju salah satu dataran tertinggi di Fairyhill. Para peri menyebut tempat itu sebagai Frozen Land karena merupakan satu-satunya tempat di Fairyverse yang selalu ditutupi salju sepanjang tahun.Sejauh mata memandang, tempat itu hanyalah hamparan salju yang memutih, bahkan ranting-ranting pohon tanpa daun pun berwarna putih tertutup salju. Namun, hanya sedikit peri yang dapat melihat bahwa sebenarnya di Frozen Land terdapat sebuah kerajaan kecil bernama Aethelwyne. Kerajaan itu dipimpin oleh seorang ratu bernama Ratu Breena.Sang naga putih menukik turun begitu sampai di halaman Istana Aethelwyne yang dipenuhi tanaman winter jasmine dan snowdrop . Begitu sang naga telah mendarat sempurna, Archibald melompat turun dari punggungnya dengan gesit.Peri laki-laki bersurai keemasan itu melangkah tergesa memasuki pintu gerbang Istana Aethelwyne. Tangannya terkepal dan rahangnya mengeras. Sementara wajahnya terlihat merah padam.Para kesatria Elf yang menjaga gerbang serta lorong-lorong Istana Aethelwyne saling bertukar pandang saat Archibald melewati mereka. Tak satu pun dari mereka memiliki keberanian untuk menyapa sang pangeran saat itu."Ibu!" teriaknya lantang begitu memasuki balairung Istana Aethelwyne, di mana Ratu Breena sedang duduk merenung di atas singgasananya.Sang Ratu mengangkat wajahnya dengan tenang. Iris mata hazel green nya menangkap raut gusar di wajah Archibald. Sang Ratu telah tahu penyebab sikap putranya. Namun, ia memilih diam, menunggu Archibald memuntahkan kemarahannya."Mengapa ibu menyegel ingatanku?! sembur sang pangeran.Ratu Breena memiringkan kepalanya. "Apa maksudmu, Nak?" sambutnya tenang. Sementara jari-jemarinya meremas salah satu sisi gaun.Archibald memicingkan matanya penuh selidik. "Ibu jangan berpura-pura tidak tahu. Apa maksud semua ini, Bu? Mengapa Ibu menghilangkan semua ingatanku tentang pengusiran Ibu dari Kerajaan Avery dan ..." Archibald mendesah pelan, sorot matanya meredup. "... dan tentang Chiara?""Jadi, kau telah bertemu dengan Minerva?" imbuh Ratu Breena pelan. Pandangannya menerawang. "Ibu tidak menyangka jika kejadiannya akan secepat ini. Apakah kau bertemu dengannya di Hutan Larangan? atau ... dia telah berani melanggar peraturan Dewan Peri dengan melintasi perbatasan?"Archibald mengembuskan napas dengan kasar. "Minerva yang menculik Putra Mahkota Albert, Bu. Aku bertemu dengannya di Fairyfall. Dia membuka ingatanku dan menunjukan semuanya?! Semuanya! Jika aku tahu semuanya dari awal, aku tidak akan sudi tinggal di istana itu! Aku akan menghancurkan semuanya. Semua yang telah menyakiti ibu!""Dan menjadi terkutuk sebagai Unsheelie?" sergah Ratu Breena. Sang Ratu menggeleng cepat, sementara ekspresi wajahnya mengeras. "Ibu tidak akan membiarkan kemarahan membakar habis nuranimu. Ibu tidak ingin kau hidup dengan kemarahan dan dendam. Apa pun alasannya, Archie. Balas dendam tidak akan memperbaiki keadaan, justru akan merusak dirimu dan orang-orang yang kau sayangi."Archibald bergeming."Ibu hanya ingin kau hidup tenang dan bahagia tanpa menyimpan dendam dan kemarahan. Hanya itu, Archie," timpalnya. Mata Ratu Breena mengerjap dan setetes air bening luruh di salah satu pipinya.Archibald membuang muka, tak sanggup melihat kesedihan sang ibu. Amarahnya menguap seketika."Dan, tentang Chiara..." Ratu Breena melanjutkan. "Kalian adalah dua makhluk berbeda, Archie. Langit tidak akan membiarkan kalian bersatu dengan mudah, sebelum salah satu dari kalian melakukan pengorbanan yang sangat besar. Gadis manusia itu tidak tercipta untuk makhluk seperti kita."Archibald membelalak saat mendengar penuturan ibunya barusan. Sesuatu di dalam dadanya bagaikan dicabut dengan paksa. Sakit, tetapi tidak berdarah. Tatapan matanya berubah sendu. "Maafkan ibu...!" lirihnya. "Maafkan ibu, Archie."Beberapa saat lamanya mereka terdiam. Hanya suara tarikan dan embusan napas yang bergema halus di dalam Balairung istana Aethelwyne.Tiba-tiba sesosok kesatria Elf menerobos masuk dengan tergopoh-gopoh. Setelah membungkuk sebentar, kesatria Elf itu langsung mengumumkan kabar yang dibawanya. "Mohon ampun Yang Mulia Ratu, seekor Merpati emas telah datang sebagai utusan dari Raja Brian. Tampaknya sesuatu yang buruk telah terjadi di Istana Avery!""Di mana merpatinya?" tanya Sang Ratu dengan raut menegang.Serta-merta sepasang Kesatria Elf yang berjaga di depan pintu Balairung membuka pintu masuk menuju balairung. Bunyi derit pintu menggema.Seekor merpati terbang perlahan ke arah Ratu Breena, sementara sang ratu mengangkat salah satu lengan hingga merpati berwarna keemasan itu bertengger di atasnya. Iris mata sang ratu menatap burung itu beberapa saat. "Benar, ini adalah merpati yang kuberikan pada Raja Brian. Ia akan mengirimkan kembali merpati ini padaku jika Avery dalam bahaya!" serunya. Kengerian tergambar jelas di wajahnya.Archibald bergeming. Sejak ingatannya kembali, rasa kecewa terhadap Raja Brian dan segenap penghuni Kerajaan Avery meliputi hatinya. Benar kata sang ibu, harusnya ia tak pernah mengingat kejadian buruk apa pun di masa lalu. Kedua tangannya terkepal, sementara kedua rahangnya mengatup.Ratu Breena menyadari keengganan untuk menyelamatkan sang raja dalam diri Archibald. "Archie, Ibu tahu ini akan sangat berat bagimu, tapi bagaimanapun juga Raja Brian adalah ayahmu. Saat ini kerajaan Avery sedang membutuhkan pertolongan. Namun, ibu tidak akan memaksa. Kau berhak memilih, Archie. Menyelamatkannya sekarang atau menyesalinya seumur hidup kelak."Kata-kata Ratu Breena bagaikan pecut listrik yang menyengat perasaannya. Tanpa membuang waktu lagi, Archibald segera melangkah keluar meninggalkan Balairung menuju naga putih yang sedang mendengkur pulas.Dengan beberapa kali tepukan di punggung, akhirnya sang naga terbangun. Archibald melompat ke atas punggung sang naga, kemudian memerintahkan sang naga terbang membelah langit Fairyverse.Ratu Breena menatap kepergian Archibald dengan mata berkaca-kaca. Sudut-sudut bibirnya terangkat. Beberapa saat kemudian sosok Sang Ratu menghilang, meninggalkan garis-garis cahaya yang yang memenuhi balairung.
Scattered Memories
Naga putih menukik turun begitu melewati perbatasan Hutan Larangan.Para kesatria Elf yang berjajar rapi di depan perbatasan Hutan Larangan serentak melangkah mundur memberi tempat pada naga putih untuk mendarat. Pasukan tersebut adalah pasukan resmi dari kerajaan Avery yang diutus untuk menyisir Hutan Larangan dalam rangka mencari Putra Mahkota Albert dan Ammara yang dinyatakan hilang. Namun, sebelum para kesatria Elf sempat memasuki hutan, naga putih yang membawa Archibald, Albert, Ammara dan Elijah telah tiba di Fairyhill terlebih dahulu.Dua sosok peri berbaju zirah mendekati naga putih, membantu Archibald dan Elijah membopong turun tubuh putra mahkota Albert yang terlihat lunglai tak sadarkan diri. Mereka adalah Elwood dan Claude.Claude tampak mengernyit ketika ia melihat tubuh pucat Albert yang mulai membiru dan teraba dingin. Dengan tergopoh, ia merogoh kantung kulit yang terikat di pinggangnya. Ia mengeluarkan segenggam serbuk peri dari kantung itu dan menaburkannya ke sekujur tubuh Albert.Serbuk peri itu sedikit bercahaya saat menyentuh permukaan kulit Albert. Perlahan tapi pasti kebiruan di kulit Albert mereda. Albert terbangun dengan terbatuk hebat. Setelah itu, tubuhnya kembali terkulai tak sadarkan diri."Hampir saja!" desah Claude lega."Apa dia akan baik-baik saja?" tanya Ammara khawatir."Ya, dia akan baik-baik saja. Racunnya telah sirna. Untung saja kalian segera keluar dari hutan itu. Kalau tidak ... Albert mungkin tidak akan tertolong!"Claude mengedarkan pandangannya pada Archibald, Elijah, kemudian Ammara. Ia lantas menatap lekat peri perempuan itu."Kau baik-baik saja?" tanya Claude.Ammara mengangguk ragu. Wajahnya terlampau pucat untuk mengaku baik-baik saja. Sesuatu mendesak tenggorokannya. Dalam hitungan detik, peri perempuan itu berlari menjauh dari sisi naga putih, kemudian memuntahkan seluruh isi perutnya."Benar-benar peri yang aneh. Aku tidak pernah melihat peri yang begitu lemah sepertimu. Kau muntah hanya karena menunggangi seekor naga?!" cibir Archibald dari balik punggung Ammara. Dengan sigap peri itu menangkap tubuh Ammara yang mendadak limbung.Ammara terlalu lemah untuk membalas cibiran Archibald tersebut, tetapi dalam hati ia mengumpat. Ia hanya menunduk pasrah, saat Archibald mengarahkan kembali tubuhnya ke sisi naga putih."Mari kita pulang, Nak. Biar aku yang merawatmu di rumah," ucap Ailfryd seraya berjalan mendekati Ammara. Rupanya sedari tadi Ailfryd berada dalam rombongan para kesatria Elf."Ayah!" sapa Ammara seraya tersenyum lemah. "Aku rindu ibu, aku ingin pulang sekarang."Ailfryd bergeming sesaat, kemudian ia mengubah ekspresinya dengan cepat. "Tentu saja, putriku. Mari kita pulang sekarang!"Para pangeran peri saling bertukar pandang. Mereka sama-sama menangkap ketidaktahuan Ammara bahwa ibunya telah ditahan di Kerajaan Avery."Aku ikut, Tuan Ailfryd. Kondisi Ammara sangat tidak baik. Tubuhnya penuh luka dan ... makhluk-makhluk terkutuk itu sepertinya masih mengincarnya. Aku dapat melihat mereka mengintip dari balik perbatasan Hutan Larangan. Aku memang tidak semahir Ella dalam pengobatan, tetapi mungkin aku bisa menggunakan sihirku untuk membantu Ammara."Tanpa membuang waktu lagi, Ailfryd, Ammara, Claude serta beberapa kesatria Elf meninggalkan Fairyhill menuju Fairyfarm. Derap langkah kaki unicorn terdengar makin lama semakin menjauh.Tak berselang lama, rombongan kesatria Elf yang dipimpin oleh Pangeran Elwood juga meninggalkan Fairyhill. Mereka membawa serta putra mahkota Albert yang masih tak sadarkan diri.Kini tinggalah Archibald dan Elijah di tempat itu. Archibald terlihat sedang mengelus-elus punggung naga putihnya. Sementara, di dekatnya Elijah berdiri gusar, hendak mengatakan sesuatu pada Archibald.Tiba-tiba suara kepak sayap seekor makhluk yang besar memecah keheningan Fairyhill yang damai. Sontak, Archibald dan Elijah menghunus pedang mereka hampir bersamaan. Mereka mendongak menatap asal bunyi tersebut.Seekor naga hitam terbang melintasi Fairyhill, tepat di atas mereka. Sesosok peri berjubah gelap menunggangi naga tersebut."Itu dia! Itu dia si penyihir! Dia melanggar peraturan Dewan Peri dengan melintasi perbatasan Hutan Larangan. Ayo kita tangkap dia!" teriak Archibald seraya melompat ke atas naga putihnya. Elijah mengikuti peri elf itu dengan perasaan campur aduk.Naga putih yang hampir jatuh tertidur itu terkejut akibat tepukan dari Tuannya. Serta merta, makhluk besar itu berdiri dan mulai mengepakkan sayapnya.Tumbuhan di sekitar naga itu bergoyang hebat, terkena embusan kepakan sayap sang naga putih yang beranjak naik.Dari kejauhan, Archibald dapat melihat naga hitam yang ditunggangi peri penyihir Unsheelie itu memasuki Fairyfall. Archibald segera mengarahkan naga putihnya untuk mengikuti naga hitam itu. Kali ini, ia berharap naga hitam itu tidak lagi bisa lolos.Naga putih menukik turun memasuki rerimbunan hutan Fairyfall. Suara air terjun yang sangat deras mulai terdengar di telinga Archibald dan Elijah, sementara pemandangan hijau menyambut kentara.Archibald menangkap sosok peri penyihir Unsheelie yang diburunya sedari tadi sedang berdiri menghadap ke sebuah danau besar yang bernama Danau Cermin, sementara sang naga hitam tidak terlihat lagi. Di sisi sang penyihir, sesosik peri elf bermahkota dedaunan bergeming mengawasi suasana di sekitar Fairyhill. Benar saja dugaan Archibald dari awal, bahwa naga hitam itu adalah naga jadi-jadian. Naga itu pasti telah berubah wujud menjadi peri elf yang saat ini berdiri di samping peri penyihir.Peri elf bermahkota daun itu menyeringai saat iris matanya beradu dengan iris mata Archibald.Naga putih memelankan terbangnya, ketika mendapat perintah dari sang tuan untuk berhenti di sekitar Danau Cermin. Setelah sang naga berhenti pada salah satu sisi danau, Archibald dan Elijah dengan cepat turun dari punggungnya bergantian.Dengan pedang terhunus, Archibald mendekati peri Unsheelie berjubah gelap yang sedang mematung menatap Danau Cermin. Sementara Elijah mengekor di belakang Archibald dengan raut was-was."Archibald putra Breena. Akhirnya kita bertemu juga setelah sekian lama!" sapa peri Unsheelie itu seraya berbalik menatap Archibald dengan sorot dingin.Archibald terperangah."Siapa kau?! Aku tidak mengenalmu! Tapi aku tahu jika kaulah yang menculik Putra Mahkota Albert!" bentak Archibald. Pedang sihir peraknya bersinar terang sebagai respon keberadaan makhluk unsheelie. "Lagi pula, kau telah melanggar peraturan Dewan Peri dengan melewati perbatasan Hutan Larangan. Kau harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu!"Alih-alih merasa terancam dengan perkataan Archibald, peri Unsheelie itu terbahak seraya membuka tudung jubahnya. Rambut hitamnya tergerai, dengan manik mata berwarna ungu yang menyiratkan kebengisan.Elijah membelalak saat melihat peri Unsheelie di hadapannya. Peri itu adalah ibunya, Ratu Minerva. Ia memang sudah mengira jika peri itu adalah ibunya, tetapi ia tak menyangka jika Ratu Minerva akan berkonfrontasi sedekat ini dengan Archibald."Kau pikir kau bisa dengan mudah menangkapku, Pangeran! Aku bahkan telah mengenalmu sejak kecil!" desis Ratu Minerva. Ia memiringkan kepalanya mengamati Archibald yang terkejut mendengar ucapannya, "Tunggu dulu ... kau tak mengingatku? Ah ya! Tentu saja! Breena pasti melindungimu dengan mengunci ingatanmu waktu itu!""A-apa maksudmu?" tanya Archibald tergagap.Di sisinya, Elijah juga sama terkejutnya dengan Archibald. Ia menatap Ratu Minerva dan Archibald bergantian, mencoba menerka hubungan masa lalu di antara kedua peri itu.Minerva menyeringai lebar. "Aku akan mengembalikan ingatanmu yang terkunci itu!"Peri perempuan itu menyibakkan jubah yang menutupi salah satu tangannya dengan sekali kibasan. Sebuah tongkat sihir besar yang menjejak ke tanah terlihat, sebuah bola kristal ungu bertakhta di puncak tongkat yang bercahaya. Minerva lantas mengarahkan tongkat sihir itu kepada Archibald. Sebuah mantra bergaung dari bibir merahnya seolah memenuhi Fairyfall.Tiba-tiba, langit menggelap. Suara gemuruh terdengar bersahut-sahutan di langit Fairyfall. Kilatan-kilatan petir menyambar kristal ungu di puncak tongkat Minerva.Archibald bergeming. Kedua kakinya tak mampu bergerak, seolah tertanam di atas permukaan tanah Fairyfall.Secepat kilat, segaris cahaya ungu keluar dari bola kristal itu, menerpa tubuh bergeming Archibald. Sinar ungu itu melingkupi seluruh tubuhnya dalan sekejap mata.Archibald berteriak. Sekujur tubuhnya bergetar. Ia merasa bagai tersengat petir.Seberkas cahaya menerpa pandangan Archibald, erang dan menyikaukan. Bagi Archibald, waktu seakan terhenti saat itu.* * *Fl ashbackTahun 1856, Cottingley, Pinggiran Kota Bradford, West Yorkshire, Inggris (Dunia Manusia).Archibald berjalan mondar-mandir di depan sebuah mulut gua yang tertutup rapat oleh tanaman merambat. Wajahnya gusar. Ia mencoba menarik dan memutuskan tanaman merambat yang menutupi pintu itu, tetapi sia-sia. Kekuatannya seakan menghilang sama sekali setelah melewati portal tersebut.Archibald mendesah lemah. Ia berjongkok di depan mulut gua dengan putus asa, seakan dengan memandanginya sulur-sulur tanaman itu dapat hancur dengan sendirinya."Archie?" sapa sebuah suara gadis kecil dari balik punggungnya.Archibald sontak menoleh waspada. Tatapan matanya melembut ketika iris mata hazel green -nya menangkap sosok seorang gadis berambut keemasan yang ia kenal."Kau sudah datang?" tanya Chiara riang, gadis manusia yang ia temui sehari sebelumnya di padang Dandelion.Seulas senyum terbit di bibir Archibald. "Aku di sini sepanjang malam."Iris mata hijau gadis itu membola. "Kau tidur di hutan ini sepanjang malam? Mengapa kau tidak mengatakan padaku jika kau tidak punya tempat untuk menginap. Nenek mungkin akan mengijinkanmu menginap semalam."Archibald tersenyum lemah seraya mengendikkan bahunya.Chiara ikut berjongkok di samping Archibald. Matanya menyorot pada mulut gua yang tertutup tanaman merambat di hadapannya, mengikuti arah pandang Archibald."Mengapa kau menatap gua itu?" tanya Chiara. Ia mengernyitkan keningnya keheranan."Rumahku ada di balik pintu itu.""Rumahmu? Yang benar saja. Kata orang-orang gua itu kosong," terang Chiara. Gadis itu kemudian sedikit merendahkan suaranya. "Bahkan katanya banyak hantu di dalam sana.""Hantu?!" Archibald terkekeh geli. "Jadi kalian menganggap para peri sepertiku ini sebagai hantu?" tanya Archibald dengan salah satu alis terangkat.Chiara mengendikkan bahu. Bibir mungilnya menyunggingkan seulas senyum saat melihat Archibald tertawa. "Kau sama sekali tidak terlihat seperti hantu.""Terima kasih. Aku anggap itu sebagai pujian.""Kenapa kau tidak kembali ke rumahmu? Apa kau bertengkar dengan orang tua atau saudaramu?" tanya Chiara penuh rasa ingin tahu. Iris mata hijaunya membulat, menatap wajah Archibald dengan seksama.Sementara wajah sang pangeran memerah. Archibald membuang muka, menghindari tatapan Ammara yang membuat pipinya memanas. "Sesuatu yang buruk sedang terjadi di rumahku. Keluargaku, mereka menuduh ibuku mengkhianati ayahku. Mereka mengusir ibuku. Mereka juga ingin membunuhku. Ibuku menyembunyikanku di sini. Ia akan menjemputku saat keadaan membaik. Namun, aku sudah sangat merindukannya."Archibald menundukkan wajah, mencoba menahan bulir air mata yang hampir jatuh dari pelupuknya.Demi melihat itu, Chiara merapatkan duduknya pada Archibald. Lengan kecilnya merangkul pundak kokoh peri laki-laki di sampingnya. Dengan lembut ia berkata, "hei, Archie, tenanglah. Aku ada di sampingmu. Aku akan menemanimu sampai ibumu datang menjemput."Archibald diam tak menjawab. Guncangan pelan bahunya menandakan bahwa ia sedang terisak. Keheningan yang damai tercipta di antara mereka.Seekor anjing kecil berbulu keemasan mendekati Chiara dan Archibald. Anjing golden retriever itu mengenduskan moncongnya pada kaki Archibald. Setelah itu, ia mengibaskan ekornya dengan riang seraya berlari kecil mengelilingi Archibald dan Chiara."Hai, Max!" sapa Chiara sambil mengacak puncak kepala anjing itu."Di sini juga ada anjing?" tanya Archibald dengan takjub. Tangisnya mendadak berhenti saat kedatangan Max. Rupanya tampang lucu Max berhasil mengalihkan kesedihannya."Tentu saja!" Chiara tergelak. "Namanya Max. Sepertinya dia menyukaimu.""Halo, Max!" sapa Archibald sambil tersenyum. Tangannya ikut mengacak puncak kepala Max, seperti yang dilakukan Chiara. "Anjing di tempatku ukurannya lebih besar dari ini. Mereka bertanduk, dengan bulu-bulu indah dan lebat. Mereka terkadang punya sayap kecil di punggung.""Benarkah?" tanya Chiara dengan mata berbinar."Kau mau ikut ke tempatku untuk melihat anjing yang kumaksud?" Archibald bertanya dengan penuh semangat. Namun, senyumnya tiba-tiba menguap saat pandangannya kembali menumbuk pada pintu Gua yang tertutup. Archibald mendadak tersadar bahwa kali ini ia bahkan tidak dapat kembali ke rumahnya karena portal yang tertutup rapat."Sudahlah. Tidak apa-apa." Chiara tersenyum simpati. "Bagaimana kalau kita bermain bersama Max di padang Dandelion?"Archibald mengalihkan pandangannya pada Chiara. tersenyum. Ia mengangguk pelan seraya meraih lengan Chiara dan mengikuti gadis manusia yang menuntunnya menuju padang Dandelion.Max berlari mengikuti mereka di belakang, seraya sesekali menggonggong riang.Sinar matahari pagi menyelusup melalui celah-celah rimbun dedaunan dan ranting yang menaungi padang Dandelion. Suara cuitan burung di puncak pepohonan menambah syahdu suasana.Dua makhluk berbeda alam itu sedang asyik bermain, berkejaran dan menyibak rerimbunan Dandelion, melompat dan bersembunyi. Tertawa dan bersenandung dengan riang hingga mereka kelelahan dan duduk beristirahat di bawah sebatang pohon willow.Sayup-sayup Chiara bersenandung pelan. Sebuah mahkota bunga Dandelion bertengger miring di atas surai emasnya.Sementara Archibald yang duduk bersandar di pohon Willow menatap gadis manusia itu dengan takjub."Lost my partner, What'll I do?Lost my partner, What'll I do?Lost my partner, What'll I do?Skip to my lou, my darlin'. Skip, skip, skip to my Lou, Skip, skip, skip to my Lou, Skip, skip, skip to my Lou, skip to my Lou, my darlin'."Tanpa mereka sadari, mulut gua bercahaya terang. Sulur-sulur tanaman merambat yang ketat menutupinya, perlahan bergerak membuka. Sesosok peri Elf bersurai panjang keemasan berjalan melewati portal tersebut.Dari kejauhan, Iris mata hazel green -nya membelalak lebar saat menangkap sosok Archibald yang sedang bercengkrama dengan seorang gadis manusia di sampingnya. Peri elf itu bergeming, mengurungkan langkahnya. Ia memutuskan untuk menunggu sampai gadis manusia itu pergi meninggalkan Archibald.
Battle of the Dragons
Tubuh Elijah yang jatuh melayang di atas jurang tiba-tiba disambut oleh sesosok peri yang menunggangi seekor naga putih.Suara raungan sang naga terdengar dari balik kabut yang menutupi jurang. Naga berwarna putih itu menyeruak keluar dari jurang, setelah tubuh Elijah berada di atasnya.Albert dan Ammara menatap naga putih itu terkesima. Namun, keterkejutan mereka tidak selesai sampai di situ saja. Di atas punggung sang naga, sesosok peri elf duduk seraya menopang tubuh Elijah. Saat jarak di antara sang naga dan menara Kastel Larangan itu terkikis, sosok penunggan naga putih terlihat jelas."Syukurlah, Archibald. Kau datang tepat waktu!" teriak Albert lega.Archibald memerintahkan naganya mendekati menara tempat Albert dan Ammara berada. Naga itu kemudian mendarat melewati ambang pintu.Dengan sigap Albert menaikan tubuh Ammara pada punggung sang naga. Sementara Elijah yang telah merasa lebih baik, membantu dengan menyambut salah satu tangan Ammara. Setelah itu barulah Albert melompat ke atas naga.Archibald yang mendadak berdiri, nyaris melompat turun dari punggung sang naga. Akan tetapi, Ammara meraih lengannya."Kau mau ke mana? kastel ini berbahaya. Ada seekor naga hitam besar dan sesosok peri penyihir!" cegah peri perempuan itu."Apa menurutmu aku terlihat lemah hingga tidak mampu menghadapi seekor naga jadi-jadian dan peri unsheelie?" sahut Archibald dengan pongahnya. Ia menepis genggaman tangan Ammara, lalu menghunus pedang perak sihirnya."Sungguh keras kepala," gerutu Ammara."Kau terdengar seperti membicarakan dirimu sendiri!" balas Archibald sengit."Kenapa kalian selalu bertengkar? Bahkan di saat-saat seperti ini!" keluh Albert menengahi kedua peri itu.Archibald dan Ammara sontak terdiam."Aku ikut!" ucap Ammara sejurus kemudian. "Aku ingin menyelamatkan Max." Ia telah berdiri dan akan mengikuti jejak Archibald yang telah mendaratkan kakinya di lantas menara."Max?!" Albert mengerutkan alisnya, mengingat nama seekor anjing berbulu keemasan yang ada di Kastel Larangan."Lebih baik kau tinggal saja di sini, Ammara. Kau hanya akan menyusahkanku jika kau ikut." Archibald mengukir sebuah senyum asimetris yang meremehkan."Aku?! Menyusahkanmu? Wah, lihat apa yang dikatakan peri sombong ini. Aku susah payah datang kemari berniat untuk menyelamatkanmu. Kau bilang aku menyusahkan!" teriak Ammara berang. Ia hendak menerjang ke arah Archibald. Pikiran menghajar sang pangeran peri sombong berkelabat di dalam kepalanya, tetapi Elijah menangkap tubuhnya."Kali ini Archibald benar Ammara, jangan membahayakan dirimu," ujar Elijah.Ammara mendengkus kesal."Aku harus memeriksa kastel ini. Kalian tunggulah di sini. Aku harus tahu siapa sebenarnya yang menculik Albert__""Seekor naga besar!" seru Albert dan Elijah nyaris bersamaan.Bunyi raungan yang sangat keras tiba-tiba terdengar dari menara tertinggi Kastel Larangan. Seekor naga hitam terbang melayang mengelilingi kastel itu."Apa?!"Archibald membatalkan rencananya untuk mengecek kastel dan kembali melompat ke atas punggung naga putihnya. Kini mereka duduk berdesakan di atas punggung sang naga.Suara raungan naga hitam terdengar lagi. Kali ini lebih dekat.Tubuh naga putih kemudian terangkat perlahan. Sayap besarnya mengepak. Namun, tiba-tiba sebuah semburan api nyaris menyambar salah satu sayapnya. Naga putih berhasil menghindar, kemudian terbang menjauhi dinding kastel yang menghitam terkena semburan api naga hitam.Naga hitam itu mengejar naga putih yang terbang menjauh menembus awan. Ia menyemburkan apinya lagi.Beruntung sang naga putih berhasil mengelak."Aaaaaarrkkkkhh!"Suara teriakan histeris mengumandang dari punggung naga putih. Albert, Ammara dan Elijah serentak menjerit saat naga putih yang mereka tunggangi diserang semburan api dan saat sang naga bermanuver untuk menghindarinya.Sementara Archibald yang berada di posisi paling depan, tetap fokus mengamati pergerakan naga hitam dengan pedang sihir terhunus di genggamannya."Pegangan yang kuat! Kita akan mendekatinya dan menusuknya. Aku yakin itu hanyalah naga sihir!" ucap Archibald setengah berteriak."Apa?! Kau gila? Kita akan hangus terbakar sebelum kau menusuknya!" bantah Elijah."Diam dan lihatlah!""Whoaaa!"Albert, Ammara dan Elijah serentak berteriak lagi saat naga putih berbelok tajam dan menukik ke arah naga hitam.Naga hitam bermata merah menyala itu kembali menyemburkan napas apinya. Kali ini semburan yang jauh lebih besar.Naga putih berhasil menghindar dengan sigap, kemudian kembali melesat lebih cepat mendekati naga hitam.Saat tubuh kedua naga hampir bersinggungan, Archibald mengayunkan pedang sihirnya hingga melukai leher sang naga hitam. Sontak naga hitam itu meraung keras sebelum akhirnya berubah menjadi kepulan asap hitam pekat yang perlahan menipis dan menghilang bersatu dengan kabut Hutan Larangan.Namun, tiba-tiba, dari atas menara tertinggi Kastel Larangan terdengar raungan lainnya. Raungan dari beberapa ekor naga. Naga-naga itu terbang keluar dari menara kastel dengan mata merah menyala, mendekati naga putih."Empat ekor naga menuju kemari?!" pekik Albert panik.Setelah dekat, salah satu naga hitam menyemburkan api ke arah sayap kiri naga putih. Dengan gesit naga putih menghindar. Akan tetapi, Naga hitam tak putus asa, ia kembali menyemburkan api, kali ini ke arah sayap kanan naga putih. Sementara naga putih lagi-lagi berhasil menghindar diiringi dengan jeritan para peri elf yang menunggangi punggungnya.Naga putih melesat turun ke dalam jurang menganga yang tertutup kabut. Naga itu nyaris menghantam seekor kraken yang menempel pada dinding tebing. Namun, naga putih berhasil berbelok tajam, yang menyebabkan Archibald, Albert, Ammara dan Elijah nyaris terlempar dari punggungnya. Beruntung, tangan mereka masing-masing masih merengkuh erat punggung sang naga.Di belakang naga putih, seekor naga hitam yang berukuran lebih kecil melesat laju dengan jarak hanya beberapa jengkal saja dari sang naga putih. Ketika naga putih berhasil berbelok, naga hitam dengan kecepatan tinggi itu gagal berbelok sehingga menghantam kraken yang menempel di dinding jurang. Serta merta makhluk berbentuk gurita raksasa dengan banyak tentakel itu menjerit dan tentakel-tentakel hitamnya melilit naga hitam. Naga hitam itu hancur seketika menjadi asap hitam yang pekat dan menghilang.Tiga naga hitam yang tersisa mengekori naga putih yang berhasil melayang naik dari dasar jurang. Mereka terbang dengan cepat mengelilingi Kastel Larangan."Apa yang harus kita lakukan?!" teriak Elijah di antara deru angin."Bertahan. Bertahanlah sekuatnya!" sahut Archibald."AAAAARKKKHHHH!"Mereka serentak berteriak saat naga putih terbang menerobos pintu terbuka di salah satu menara Kastel Larangan, tanpa peringatan. Archibald, Albert, Ammara dan Elijah menundukan tubuh mereka serendah mungkin agar tidak tersangkut pada langit-lagit ruangan. Sementara sang naga putih terus melaju, menabrak benda apa pun yang menghalagi tubuh dan kedua sayap besarnya. Bahkan, sebagian dinding menara terlihat hancur dihantam tubuh besar sang naga.Saat keluar dari pintu lain menara Kastel Larangan, naga putih itu tiba-tiba berbalik dan langsung menyemburkan api dari mulutnya ke arah naga hitam yang masih tersangkut di ambang pintu menara, tepat di belakangnya.Naga hitam nahas itu tak sempat menghindar. Tubuhnya langsung terbakar terkena semburan api naga putih. Tubuh naga hitam itu pun menghilang menjadi asap hitam.Kini tersisa dua ekor naga hitam yang tampak masih melaju mengekori sang naga putih. Mereka masih terbang berputar mengitari Kastel Larangan."Mari kita pergi dari tempat ini. Kedua naga hitam itu pasti berhenti mengejar kita jika kita keluar dari Hutan Larangan!" teriak Elijah di antara deru kepak sayap sang naga."Tidak bisa," sahut Archibald tanpa menoleh ke belakang. Matanya menatap awas menyelidiki Kastel Larangan. "Kita harus menemukan si penyihir Unsheelie. Kita harus tahu apa motifnya menculik Albert dan apakah ada hubungannya dengan kekacauan di pesta Tatianna waktu itu."Elijah terkesiap. Ia merasa tidak nyaman, pikirannya berkecamuk. Jikalau Ratu Minerva tertangkap, maka rencana pengkhianatannya akan terungkap."Seingatku, yang menculikku adalah peri elf laki-laki yang dapat berubah bentuk menjadi naga hitam." Albert menimpali dengan tatapan menerawang."Kau yakin tidak ada peri lain?" tanya Archibald penuh selidik.Albert mengendikkan bahunya. "Entahlah, seingatku tidak. Maksudku, aku tidak melihat peri lain."Elijah menghembuskan napas lega, tetapi buru-buru ia memasang tampang acuh agar Archibald tidak mencurigainya."Awas!"Ammara menjerit saat melihat seekor naga hitam mendadak berbalik arah dan mengepung naga putih di hadapan. Sementara naga hitam lainnya masih mengekor di belakangnya.Dengan tenang, Archibald memerintah naga putihnya untuk menukik kembali ke dalam jurang berkabut. Teriakan rekan-rekannya mengiringi gerakan gesit sang naga.Naga hitam yang masing-masing melaju kencang dari arah berlawanan tak mampu menghindar. Mereka bertabrakan dan sama-sama terpental seraya meraung keras."Pegang yang kuat!" teriak Archibald.Naga putih hampir menyentuh dasar jurang yang ternyata adalah lautan dengan berbagai jenis makhluk mengerikan dan suara-suara nyanyian menyeramkan para nimfa terkutuk. Namun, sang naga berbelok dan kembali mengangkat tubuhnya, di antara tentakel-tentakel Kraken yang melambai-lambai di sepanjang dinding jurang, berusaha meraih tubuh naga putih.Salah satu tentakel Kraken yang menyasar naga putih akhirnya hanya meraih udara kosong setelah gagal menaut ekor naga putih. Suara jeritan berang sang Kraken terdengar hingga ke atas permukaan jurang.Sang naga putih kembali melaju menuju salah satu naga hitam yang menghantam dinding luar kastel. Naga hitam yang belum sepenuhnya pulih itu tak siap, ketika naga putih Archibald menyemburkan napas api besar. Satu naga hitam hancur seketika menjadi kepulan asap hitam.Kini tersisa satu naga hitam yang mengepakkan sayapnya mendekati naga putih. Naga hitam itu meraung bengis melihat naga lainnya telah dibinasakan oleh naga putih. Tiba-tiba makhluk itu menyemburkan napas apinya pada naga putih dalam jarak yang cukup dekat.Naga putih yang kurang waspada itu mendadak oleng. Meskipun semburan api gagal mengenai tubuhnya, tetapi sang naga terpental tinggi ke udara hingga menyebabkan pegangan Ammara terlepas dari punggungnya."AAAAAARRKKKKHH!!""Ammara!" teriak Albert dan Elijah nyaris bersamaan.Archibald terkesiap, rahangnya mengeras. Ia menepuk punggung naganya beberapa kali untuk menenangkan. Setelah sang naga kembali terbang dengan stabil, Archibald mengarahkan naganya untuk melesat mendekati Ammara.Ammara terjun bebas memasuki jurang berkabut. Salah satu tentakel hitam di dinding jurang nyaris meraih tubuhnya, tetapi kalah cepat dengan Archibald yang tiba-tiba melompat dari punggung naga untuk meraih tubuh peri perempuan itu.Tubuh mereka yang melayang bersama langsung disambut oleh sang naga putih yang terbang lebih dahulu ke arah jurang. Dua sosok peri itu akhirnya berhasil kembali bertengger di atas punggungnya. Naga putih meraung sekilas sebelum melesat naik.Di atas permukaan jurang, ternyata naga hitam telah menghilang. Suasana menjadi hening seketika.Archibald menegakkan punggungnya. Ia menatap awas ke sekelilingnya dengan pedang sihir terhunus di salah satu tangan. Sang naga putih mengepakkan sayapnya perlahan, mengikuti gestur sang pangeran peri."Ke mana naga itu?" desis Archibald. Ia memicingkan matanya mengamati pintu-pintu dan menara-menara pada Kastel Larangan. Sementara naga putih masih terbang perlahan memutari kastel itu.Tiba-tiba ekor mata Archibald menangkap sekelebat gerakan dari puncak tertinggi menara Kastel Larangan. Seekor naga hitam terbang cepat memasuki hutan di seberang jurang."Ayo ikuti naga itu!" teriak Archibald pada naganya. Salah satu tangannya menepuk leher naga putih beberapa kali.Sang naga putih segera terbang melaju mengekori naga hitam, memasuki hutan. Dari jarak yang cukup jauh, Archibald dapat melihat sesosok peri unsheelie berjubah gelap bertengger di atas punggung naga itu."Ada sesosok peri di punggung sang naga!" jerit Albert.Elijah terkejut. Sontak ia menegakkan punggungnya untuk melihat sosok yang dimaksud Albert. Sebersit rasa khawatir menyelinap di dalam hatinya."Aku tahu, kita harus menangkap si penyihir itu!" seru Archibald antusias. Ia memacu naganya terbang lebih kencang agar tak kehilangan jejak naga hitam itu lagi.Naga putih melesat kencang hingga mematahkan ranting-ranting dan menumbangkan pepohonan hitam yang menghalangi terbangnya. Beberapa bagian hutan tampak rusak setelah dilewati naga-naga yang saling berkejaran.Serpihan dan patahan ranting-ranting pohon mengenai beberapa bagian kulit Ammara yang terbuka. Patahan ranting yang tajam bahkan menggoreskan beberapa luka kecil di lengan dan kakinya. Kulitnya berdarah.Berpasang-pasang mata merah mulai muncul di sepanjang sisi Hutan Larangan yang mereka lalui. Mereka mencium bau darah Ammara. Hutan Larangan mendadak dipenuhi oleh bisikan-bisikan makhluk terkutuk.Bau darah.Ya, seperti bau darah manusia.Peri itu datang lagi.Aku tidak sabar untuk mencicipi darahnya.Ammara bergidik. Ia nyaris melepaskan kedua rengkuhannya pada punggung naga untuk menutup kedua telinganya, tetapi Elijah dengan sigap menahan tangannya."Jangan dengarkan mereka, Ammara!" Elijah mengingatkan dari balik punggung Ammara."Mengapa makhluk-makhluk terkutuk itu bermunculan?!" teriak Albert mulai ketakutan."Mereka mencium bau darah!" sahut Archibald.Albert bungkam. Ia bergidik ngeri membayangkan tentang makhluk-makhluk terkutuk yang haus darah di Hutan Larangan. Ia pernah mendengar kisah-kisanya, tetapi baru kali ini ia memasuki Hutan Larangan. Tiba-tiba napasnya terasa sesak dan berat. Bulir-bulir keringat dingin membasahi pelipis. Pandangannya mulai berkunang-kunang. Sesekali kepalanya terantuk menyentuh belakang punggung Archibald."Albert?" tegur Ammara begitu melihat gelagat Albert."Kita harus segera keluar dari Hutan ini, Archibald. Sebelum kabut sihir ini mulai mempengaruhi Albert!" teriak Elijah khawatir.Archibald terkesiap, menyadari situasi mereka. Para peri sheelie memang tidak akan tahan dengan kabut Hutan Larangan yang mengandung kutukan. Matanya memincing menatap seluruh penjuru Hutan Larangan yang hening. Ternyata, naga hitam itu telah menghilang dari pandangannya. Mereka telah kehilangan jejak penyihir yang berasal dari Kastil Larangan."Sial!" decak Archibald kesal.Archibald mengarahkan naga putihnya untuk terbang melewati puncak pepohonan, menghindari kabut yang makin lama semakin meninggi. Dari kejauhan seberkas cahaya terang terlihat kontras dengan suasana Hutan Larangan yang kelabu dan suram bersinar laiknya bintang penunjuk. Perbatasan Hutan Larangan telah terlihat di depan mata.Sementara di balik punggungnya, Albert mengerang hebat. Tubuhnya yang bergetar telah rebah di dalam pelukan Ammara. Wajah tampannya memucat, matanya tertutup menahan sakit.Naga putih melajukan terbangnya. Ia berlomba dengan sang waktu. Jika naga itu terlambat sedikit saja, putra mahkota akan berubah menjadi makhluk terkutuk, dan tak bisa keluar dari Hutan Larangan selamanya.
The Queen of Darkness
Elijah berjalan perlahan, mengekori Lucifer dengan jantung berdetak tak karuan. Sesekali ia menoleh ke belakang, melihat sosok Ammara yang semakin samar ditelan jarak dan kegelapan lorong kastil."Jangan khawatir, Tuan Elijah. Setelah ini, aku akan kembali untuk menjaga temanmu," ucap Lucifer yang menangkap gelagat Elijah.Elijah menyahut, "baiklah, terima kasih Lucifer. Jika terjadi sesuatu padanya, aku tidak akan memaafkanmu."Lucifer menyeringai di dalam keremangan ruangan. "Aku tidak akan berani macam-macam, Tuan Elijah, karena ini adalah perintah sang Ratu."Elijah mengernyit, kedua alisnya bertaut. Lagi-lagi perintah Ratu. Rahang Elijah mengeras. Raut wajah tampan itu menyiratkan kegelisahan. Benaknya dipenuhi bebagai pertanyaan mengenai sosok Sang Ratu dari Kastel Larangan yang dimaksud Lucifer. Sejujurnya, Elijah tak mengenal sosok Ratu itu, tetapi ada sesuatu yang ingin ia pastikan. Apakah sosok ratu yang dimaksud Lucifer adalah sosok yang sama dengan yang selama ini ia cari di Hutan Larangan?Elijah dan Lucifer telah tiba di depan sebuah pintu batu besar berwarna hitam dengan ukiran yang sangat mirip dengan lambang kerajaan Avery. Namun, tak satu pun pengawal yang terlihat berjaga di depan pintu itu laiknya ruang singgasana ratu di Kerajaan Avery."Silakan masuk, Tuan Muda Elijah!" Lucifer membungkukan tubuhnya di depan pintu batu yang membuka dengan sendirinya.Elijah memasuki ruangan itu perlahan. Dari kejauhan, matanya telah menangkap sesosok peri perempuan bersurai hitam tergerai tanpa jalinan, membelakanginya. Surai peri perempuan yang tergerai itu memperlihatkan jati dirinya dengan jelas, bahwa ia adalah sesosok peri unsheelie. Di belakang sosok sang ratu berjubah gelap yang sedang bergeming itu sebuah singgasana dari batu-batu kristal besar berwarna hitam berdiri kokoh seolah menantang siapa pun yang memasuki balairung."Ratu Minerva, Pangeran Elijah sudah datang!" Lucifer mengumumkan dengan takzim seraya membungkukan tubuhnya.Serta-merta sang ratu berbalik lantas menyongsong Elijah yang berjalan ke arah singgasana. Iris mata ungu peri cantik dengan raut bengis itu berbinar begitu melihat Elijah."Pangeran Elijah, kau sudah datang?" sapa peri perempuan itu dengan senyum mengembang.Elijah terkesiap kala bersitatap dengan sang ratu, hingga refleks mundur beberapa langkah. "Ka-kau?!" desisnya tertahan."Ya, ini aku. Kau mengingatku? Kita bertemu di dalam mimpi-mimpimu dan pada saat pesta ulang tahun Putri Tatianna. Aku senang kau masih mengingatku, Elijah." Ratu Minerva menjeda kalimatnya seraya memperhatikan perubahan raut wajah Elijah. "Aku adalah ibumu, peri terkuat di Hutan Larangan."Elijah membelalak. Tubuhnya bergetar menahan emosi yang mendadak mulai menguasai diri. Apa yang ia takutkan akhirnya terjadi juga. Elijah tahu bahwa cepat atau lambat dirinya akan bertemu dengan peri perempuan itu, peri perempuan yang kerap hadir dalam mimpinya dan mengaku sebagai ibunya."Aku tahu, kau juga mencariku selama ini. Para pengikutku melaporkan bahwa kau sering berkeliaran di Hutan Larangan. Tidak ada peri sheelie yang berjalan-jalan ke dalam Hutan Larangan tanpa tujuan yang penting. Darahku yang mengalir dalam tubuhmu adalah alasan kuat yang menyebabkan kau terbebas dari kutukan Hutan Larangan."Elijah masih terdiam. Matanya menatap peri perempuan di hadapannya dengan nanar. Pikirannya nyalang, mencerna setiap perkataan sang ratu. Ia ingin tak percaya, tetapi jauh di lubuk hatinya, alasan itu terlalu meyakinkan untuk disangkal."Ternyata sangat sulit juga memancingmu datang padaku," lanjut Ratu Minerva dengan nada sedih. "Aku harus mengorbankan banyak pihak, banyak hal.""A-apa?! Apa maksudmu?" Elijah akhirnya membuka suaranya dengan gusar.Seulas senyum asimetris tersungging di bibir merah Minerva. "Aku sampai harus menculik Putra Mahkota Albert supaya bisa bertemu denganmu!"Elijah membelalak. "Jadi, Putra Mahkota Albert ada di sini?!""Mengapa kau berhenti mencariku, Elijah. Kau tahu, aku telah menunggumu begitu lama. Apa kau malu dengan kenyataan bahwa ibumu adalah seorang peri Unsheelie?"Elijah bungkam. Wajahnya tertunduk. Pertanyaan Ratu Minerva benar-benar menohok hatinya. Kenyataan bahwa ibunya adalah sesosok peri Unsheelie sangat membuatnya terpukul."Tidak ... Ibuku tidak mungkin seorang peri Unsheelie!" Elijah menggeleng pelan, matanya menyorot tidak percaya pada Ratu Minerva."Aku adalah ibumu, Elijah! Kekebalan mu terhadap Hutan Larangan adalah bukti yang tak terbantahkan. Hanya keturunan Unsheelie yang dapat keluar masuk Hutan Larangan tanpa terkena kutukan!""Aku tidak percaya! Kau pasti sedang berbohong!" Teriak Elijah marah seraya menghunuskan pedang sihirnya ke arah Minerva.Minerva bergeming. Matanya redup, menatap sedih pada Elijah. "Jadi apa yang akan kau lakukan. Apakah kau akan membunuh ibumu? Itukah yang kau inginkan? Lakukanlah, jika membunuhku dapat menghilangkan rasa malumu."Pedang di tangan Elijah bergetar."Bunuh aku, Elijah. Lakukan apa pun yang membuatmu bahagia.""AAARRKHHHHH!!!" Elijah berteriak meluapkan seluruh kemarahan dan kekecewaannya seraya membanting pedang sihirnya ke lantai. Pedang itu patah dan cahayanya padam. Elijah kemudian tersungkur di atas lututnya sendiri dengan suara tangis tertahan.Demi melihat itu, Minerva menghambur dan menyongsong tubuh putranya. Ia juga tak dapat menahan tangisnya yang pecah begitu saja.Lucifer yang tadinya berdiri di samping singgasana Minerva, membuang muka. Ia tak sanggup melihat suasana pertemuan ibu dan anak yang sangat emosional itu. Buru- buru ia menghambur keluar dari balairung.Elijah seolah tersadar saat lengan Minerva yang terasa dingin melingkari bahunya. Sontak, ia menggeser tubuhnya seraya menyorot marah ke arah peri perempuan itu."Seorang ibu tidak akan pernah meninggalkan anaknya, seburuk apa pun keadaan!" desis Elijah marah."Aku sama sekali tidak berniat meninggalkanmu, Elijah. Semua ini kulakukan untuk melindungimu. Lagi pula, aku tidak ingin kau tumbuh dan besar di hutan terkutuk ini," lirih Minerva.Elijah menggeleng frustrasi. "Dan, kau kembali di saat yang tidak tepat. Kau benar-benar telah menghancurkan anakmu sendiri!"Minerva menatap Elijah tidak percaya. Ia seolah sedang membaca pikiran putranya. "Apa maksudmu? Aku menghancurkanmu? Apa kau berniat menjadi raja?" Ia menatap iris mata putranya dalam-dalam. "Kau ingin menjadi raja, bukan? Itu kah yang kau inginkan?" tanyanya lagi.Elijah terkesiap. Ia menyadari tatapan ibunya yang menyelidik, lantas ia membuang muka. "Keinginan itu telah hancur berantakan karena aku adalah putra seorang Unsheelie."Minerva membelalak demi mendengar pengakuan putranya. "Jadi benar, kau memang ingin menjadi Raja?"Elijah menjauhi Minerva beberapa langkah dan dengan kasar menepis tangan sang Ratu yang mencoba meraihnya. "Jangan berani-berani menyentuhku. Harusnya kau tidak datang lagi, setelah meninggalkanku. Aku akan lebih bahagia. Aku tidak perlu kau dihidupku!""Elijah, dengarkan aku." Minerva masih berusaha meraih hati putranya. "Aku bisa mengabulkan apa pun yang kau inginkan. Asalkan kau bersedia menerimaku sebagai ibumu."Elijah yang hendak melangkah meninggalkan balairung mendadak berhenti. Ia menoleh ke arah Minerva. "Dapatkah kau menjadikanku Raja terkuat di Fairyverse dengan mengeluarkan darah terkutukmu dari tubuhku?!" bentaknya sarkas. "Tentu saja kau tidak bisa!"Minerva bergeming. Perkataan Elijah seolah pedang perak yang menusuk tepat di dadanya, menghancurkan hatinya. Ia adalah makhluk terkutuk yang telah merasakan segala derita dan deraan di Hutan Larangan. Namun, tidak ada yang lebih menyakitkan daripada mendengar ucapan Elijah, darah dagingnya yang tak dapat menerima dirinya. Iris matanya yang ungu mendadak berubah menjadi merah menyala, bersamaan dengan emosi yang meluap menguasai logika."Aku akan menjadikanmu raja, Elijah. Aku akan membunuh Putra Mahkota Albert sekarang juga, jika itu maumu!" teriak Minerva dengan sebelah tangan yang memegang tongkat sihir terangkat tinggi melebihi kepalanya. Bola kristal besar berwarna hitam yang bertakhta di tas tongkatnya menyala merah terang.Tiba-tiba suasana di sekitar Kastel Larangan menggelap. Gemuruh saling bersahutan. Kilat menyambar-nyambar dan angin berhembus kencang.Elijah yang hendak melewati ambang pintu balairung segera berbalik dengan panik. Matanya membelalak demi melihat pemandangan di atas singgasana. Minerva dengan mata menyala merah dan badai brutal yang melatarinya seolah nyaris meledak dan siap menghancurkan apa pun.Seberkas cahaya petir menyambar pada bola kristal Minerva. Alih-alih membuat bola itu hancur, cahaya petir itu malah membuat bola kristal pada tongkatnya mengeluarkan percikan-percikan api. Iris mata peri itu hampir menghilang dan menyisakan bola mata putih yang tampak mengerikan.Sebelum sebuah kutukan terucap dan tak dapat ditarik kembali, Elijah harus menghentikannya."Hentikan!" teriak Elijah yang tertelan suara gemuruh dan pusaran angin. "Hentikan Ibu!"Telinga Minerva menangkap panggilan ibu yang bergema hingga mengguncang hatinya, menyentuh kesadarannya. Kemarahannya lenyap seketika. Suasana Kastel Larangan kembali hening dalam sekejap mata."Kau, me-memanggilku ibu?" sang ratu bertanya dengan suara bergetar.Elijah membuang muka, tak mampu menatap kesedihan yang terpancar jelas di mata sang Ratu. Sebagian dari dirinya merasa rindu, tetapi sebagian lagi terasa sangat sakit dan terluka."Buktikan padaku bahwa kau bisa menjadikanku raja, menggantikan Raja Brian. Maka aku akan memanggilmu ibu dan membawamu berada di sisiku selamanya." Setetes air mata terbit di pelupuk matanya. Elijah berusaha tegar. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan kata-katanya. "Kali ini, tolong biarkan Putra Mahkota Albert pergi bersamaku. Jangan sampai Istana Avery tahu bahwa kau telah menculik Putra Mahkotanya. Jaga dirimu baik-baik!"Setelah mengatakan itu, Elijah segera berlalu meninggalkan sang Ratu yang tergugu dalam kesedihan di atas singgasananya.* * *Pintu batu ruangan itu berderit terbuka perlahan, Lucifer yang berwujud peri Elf memasuki ruangan. "Max, kau kah itu? Di mana kau, anjing kecil?" Suara paraunya menggema.Anjing berbulu keemasan itu seolah menyahut. Suara dengkingannya terdengar dari salah satu sudut ruangan.Lucifer menyalakan sebuah bola api kecil di atas permukaan telapak tangannya. Bola api berwarna ungu menerangi ruangan yang gelap itu. Suara kakinya yang menyentuh lantai menimbulkan gema dalam ruangan yang nyaris kosong. Matanya menyorot liar ke setiap sudut yang dapat dijangkau cahaya mencar.i pergerakan janggal yang menimbulkan suara berisik dari luar bilik.Tiba-tiba bunyi dengkingan Max yang pelan berubah menjadi gonggongan marah. Anjing itu mendadak muncul dari kegelapan kemudian berlari kencang ke arah Lucifer.Peri Elf jelmaan itu sontak terjengkang. Tubuhnya jatuh menghantam lantai batu yang dingin."Dasar anjing sialan! Tunggu kau. Aku akan menghajarmu!" umpatnya seraya meringis memegangi punggungnya yang terasa nyeri. Matanya memicing marah menatap Max yang telah lari melaju meninggalkan ruangan.Dengan susah payah, Lucifer bangkit dan serta merta melupakan keinginannya untuk memeriksa seluruh penjuru ruangan. Ia keluar dari ruangan itu dengan langkah terseok untuk mengikuti Max.Sementara, di salah satu sudut lemari, Ammara menggigil sembari membekap mulutnya sendiri agar tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Keringat dingin membanjiri pelipisnya. Jantungnya masih berdebar sangat kencang. Di sampingnya, sosok Albert terlihat masih belum sadarkan diri. Kepala pangeran peri itu bersandar pada salah satu pundak Ammara.Setelah Ammara yakin Lucifer telah pergi menjauh dari ruangan, ia bersusah payah menggerakan tangannya untuk menyandarkan kepala Albert pada dinding bagian dalam lemari. Ammara mendesah sedikit lega saat kepala Albert telah berpindah dari bahunya"Putra Mahkota Albert, bangunlah! Aku mohon, kita harus segera keluar dari tempat ini!" desis Ammara kalut seraya menggoyang-goyangkan tubuh peri laki-laki itu. "Aku tidak mungkin menggendongmu 'kan?!" gerutunya kesal.Albert tak juga menunjukkan tanda-tanda akan sadar."Bangun!" teriak Ammara nyaris lupa jika ia tengah berada dalam persembuyian. Namun. sedetik kemudian ia menutup mulutnya saat mengingat posisinya kala itu. Ammara mendengkus lalu menatap wajah Albert yang masih tak sadarkan diri. Pikirannya yang kalut tengah berkelana mencari cara untuk membangunkan sang putra mahkota.Setelah beberapa saat, sebuah ide kemudian melintas dalam pikirannya. Binar pengharapan terpit dari kedua netranya. Ia lantas mendekatkan wajah pada Albert, mengamati wajah rupawan itu sesaat. "Maafkan aku Putra Mahkota, tapi aku harus membangunkanmu supaya kita berdua bisa selamat dan keluar dari tempat ini."Dengan mengumpulkan sisa-sisa tenaganya, Ammara menarik napas dalam-dalam sebelum menampar salah satu pipi sang putra mahkota. Namun, sang putra mahkota belum juga bereaksi. Ammara tak patah semangat. Dengan dada bergemuruh khawatir, ia kembali menampar pipi Albert dengan lebih keras, tetapi berusaha untuk tak menimbulkan bunyi yang kentara. lagi-lagi Albert tak bereaksi.Ammara berdecak frustrasi. Dengan kegusaran yang menjadi-jadi, peri perempuan itu lantas memutuskan untuk mencoba tinjuannya. Setelah meniup kepalan tangannya, dalam gerakan cepat, Ammara kemudian melayangkan tinjuan ke arah hidung."AAARRKKKHH!!!" Albert sontak tersadar sambil menjerit. Peri laki-laki itu refleks memegang hidungnya yang berkedut nyeri.Ammara beringsut mundur, memberi ruang bagi Albert. "Sstt! Jangan berteriak Putra Mahkota, nanti naga itu datang dan menyergap kita di sini!"Albert membelalak, seraya menepis tangan Ammara. Namun, sedetik kemudian kesadarannya terkumpul. "Ammara?!" tanya Albert dengan alis berkerut bingung. Ia tambah bingung ketika mendapati dirinya berdesak-desakan dengan peri perempuan itu di dalam sebuah lemari sempit."Kau terluka, Putra Mahkota?!" Ammara terkesiap melihat setetes darah kental mengintip dari lubang hidung Albert."Tentu saja, kau meninjuku barusan," sahut Albert sambil mengerucutkan bibirnya. Ia berusaha meregangkan tubuh di dalam lemari sempit itu. Namun ternyata sangat sulit.Ammara mendapati kerutan kecil di antara kedua alis Albert. Peri itu terlihat seperti sedang menahan sakit. Akan tetapi, ia tetap saja berpura-pura terlihat tegar di depan Ammara. Ammara jadi merasa tidak enak. "Maafkan aku Putra Mahkota jika aku membangunkanmu dengan kekerasan. Aku sudah membangunkanmu dengan cara yang lebih baik, tetapi kau tak kunjung sadar. Aku harus segera membangunkanmu. Supaya kita bisa sama-sama keluar dari tempat ini.""Sudahlah, Ammara. Aku tidak apa-apa. Terima kasih telah menyelamatkanku," tutur Albert seraya menyunggingkan seulas senyum. "Namun, tolong jangan panggil aku Putra Mahkota. Itu membuat bekas tamparanmu terasa sangat menyakitkan."Ammara hendak tersenyum mendengar kelakar Albert, namun ia tersadar bahwa mereka harus segera pergi dari tempat itu, sebelum sang naga sadar bahwa Max hanya berusaha mengalihkan perhatiannya."Mari kubantu!" Ammara meraih pergelangan tangan Albert. Peri perempuan itu telah berdiri dan hendak membuka pintu lemari perlahan.Suara gemuruh dan kilatan petir tiba-tiba menyambar. Lemari tempat mereka bersembunyi terasa bergetar. Bunyi tersebut mengejutkan Ammara terkejut hingga nyaris hilang keseimbangan. Peri perempuan itu nyaris jatuh terjengkang di dalam lemari, tetapi dengan sigap Albert meraih tubuhnya."Seorang peri unsheelie sepertinya akan segera mengeluarkan kutukan!" gumamnya pelan. Albert kemudian memapah Ammara berdiri dan membawanya keluar dari lemari. "Kita harus segera pergi!"Albert dan Ammara keluar mengendap-endap. Pintu batu yang mereka buka, nyaris tak menimbulkan suara. Setelah dirasa cukup aman, Albert lantas menarik lengan Ammara dan membawanya berlari menyusuri lorong gelap Kastel Larangan. Mereka tidak peduli ke mana mereka akan menuju, yang terpenting adalah mereka harus terus bergerak untuk mencari jalan keluar.Suara raungan tiba-tiba terdengar di belakang mereka, disertai suara langkah kaki yang menggema dan menggetarkan lorong yang mereka lalui. Suara langkah kaki itu kian lama kian mendekat.Sesosok naga besar berwarna hitam dengan mata merah menyala marah berjalan dengan langkah-langkah besar memburu Ammara dan Albert. Naga itu menyemburkan api dari mulutnya."Ammara! kau harus lari duluan. Aku akan menahan naga itu!" teriak Albert dengan napas terengah. Ia melambatkan larinya seraya melepaskan tangan Ammara."Tidak! Kau tidak punya senjata apa-apa Albert. Kau bisa terluka!" peri perempuan itu ikut memelankan langkah.Albert menatap Ammara jengkel, kemudian mendorong tubuh peri perempuan itu ke samping untuk menghindari jilatan api lain yang nyaris membakar tubuh Ammar. Tubuh peri perempuan itu terpental ke dinding lorong.Naga yang semakin marah menyemburkan apinya sekali lagi. Kali ini lebih besar, disertai suara raungan yang memekakkan telinga.Sebilah pedang sihir tiba-tiba menangkis api itu. Pedang sihir yang terhunus itu membentuk sebuah dinding perisai tak kasat mata yang menghalangi semburan api yang hampir saja mengenai tubuh Albert.Albert terkesiap ketika menyadari siapa sosok yang menolongnya. "Elijah?!"Elijah menoleh sekilas ke arah Albert seraya menyunggingkan senyum asimetris. "Syukurlah kau selamat, saudaraku."Naga itu semakin kalap dan berlari kencang ke arah Elijah dan Albert yang berdiri berjajar."Apa yang harus kita lakukan?" tanya Albert panik."LUCIFER!" teriak sebuah suara peri perempuan yang bergema dari bagian lain Kastel Larangan. Teriakan itu menggetarkan seluruh bangunan kastel.Sang naga sontak menghentikan pengejarannya. Kemudian, ia berbalik dan berlari kembali memasuki kegelapan kastel, memenuhi panggilan sang Ratu.Albert dan Elijah saling bertukar pandang. "Yang harus kita lakukan adalah lari, sebelum Sang Ratu berubah pikiran!" Serta merta Albert dan Elijah berlari menuju ke lorong lain yang tampak bercahaya di penghujungnya. Albert meraih pergelangan tangan Ammara dan menarik lengan peri perempuan itu berlari mengekori Elijah.Ammara mati-matian menyesuaikan kecepatan larinya dengan dua pangeran peri yang mendahuluinya. Napasnya memburu dan jantungnya berdetak kencang. Ammara mulai kelelahan.Akhirnya, pemandangan langit kelabu mulai terpampang jelas dari balik pintu, setelah sederetan lorong gelap yang mereka lalui. Mereka lantas memacu tunkai agar dapat berlari lebih cepat. Tanpa menyadari bahwa di balik pintu itu adalah jurang yang menganga."Awas Jurang!" teriak Elijah. Namun tubuhnya telah terlebih dahulu melayang melampaui ujung lorong yang terbuka. Ia lalai untuk menghentikan larinya, hingga tanpa sadar terperosok ke dalam jurang."ELIJAH!" teriak Albert dan Ammara bersamaan.Albert nyaris saja ikut terperosok masuk ke jurang, jika Ammara tidak menarik lengannya dengan kuat."TOLONG ...!"Elijah menjerit. Suaranya bergema, sementara tubuhnya terjun bebas ke dalam jurang hitam berkabut.
Kastel Larangan
Claude dan Elwood baru saja melompat turun dari unicornnya masing-masing, kemudian menuntun tunggangan mereka masing-masing menuju ke halaman rumah Ammara di Fairyfarm. Namun, seekor unicorn putih tiba-tiba melesat cepat melewati mereka seraya meringkik gusar. Claude nyaris terjengkang, jika saja Elwood tidak dengan sigap menarik salah satu lengannya agar peri itu menyingkir dari jalanan.Kedua pangeran itu lantas saling bertukar pandang saat menyadari unicorn itu ternyata menuju ke istal di samping rumah cendawan."Unicorn berwarna putih itu mirip sekali dengan unicorn milik Ammara," gumam Elwood sembari mengamati gelagat makhluk itu.Claude membelalak. Selintas pikiran menakutkan memenuhi kepalanya. "Jangan-jangan---Pangeran peri itu tak melanjutkan kata-katanya, kemudian serta-merta berlari menghampiri Selly. Sementara, Elwood mengikutinya dengan raut penasaran.Di depan istal, Ailfryd telah menyambut unicorn milik Ammara terlebih dahulu dengan wajah kalut. Ella yang menyerahkan diri menjadi tawanan Kerajaan Avery, ditambah lagi putrinya yang tidak kembali menambah kesusahan hatinya."Tuan Ailfryd!" sapa Elwood."Pangeran Elwood, Pangeran Claude?" Ailfryd tak bisa menahan raut terkejutnya karena dikunjungi oleh dua orang Pangeran dari Kerajaan Avery. "Ada apa?" tanyanya sembari berusaha menyembunyikan kegusaran."Apakah Ammara belum kembali, Tuan?" tanya Claude dengan nada khawatir.Ailfryd menggeleng lemah."Ini aneh. Harusnya Ammara sudah kembali. Ia sudah dibebaskan dini hari tadi dan para kesatria Elf yang menjaga kastilnya juga mengatakan bahwa Ammara telah pergi."Elwood mendekati Selly dan mengelus Surai putih unicorn itu. Selly meringkik pelan, terdengar sangat sedih. "Bukankah ini Selly, unicorn Ammara, Tuan Ailfryd?" tanyanya mencari kepastian."Benar, Pangeran Elwood. Unicorn ini baru saja kembali setelah berhari-hari ikut tertawan di istana. Namun, dia hanya kembali sendiri, tanpa membawa Ammara bersamanya," tutur Ailfryd sedih. "Aku mengkhawatirkan Ammara."Claude dan Elwood serta merta bertukar pandang penuh arti."Tuan Ailfryd izinkan aku untuk mengetahui keberadaan Ammara melalui Selly. Aku akan mencoba membaca kenangan Selly."Tuan Ailfryd mengangguk pelan. Baginya, tak ada pilihan selain menerima bantuan dari kedua pangeran peri itu.Claude mendekati Selly yang masih meringkik sedih. Salah satu tangannya terulur menyentuh satu sisi wajah unicorn itu. Claude seperti merapal mantra singkat sebelum manik matanya menghilang beberapa saat.Sebuah bayangan peri perempuan berjubah cokelat menunggang unicorn berkelebat dalam penglihatan Claude. Peri perempuan berambut keemasan itu adalah Ammara. Dalam penglihatan Claude, Ammara melaju menuju Fairyhill dan berhenti tepat di depan perbatasan Hutan Larangan. Peri perempuan itu berbicara pada Selly, sebelum akhirnya memasuki Hutan Larangan .Claude terkesiap dan refleks melepaskan sentuhannya pada Selly. Manik matanya telah kembali normal."Apa yang terjadi dengan Ammara?" tanya Ailfryd kalut.Raut wajah Elwood juga berubah cemas. Ia menantikan penjelasan dari Claude dengan gusar."Ammara memasuki Hutan Larangan!""Apa?! Aku harus segera menyusulnya! Apa yang dia pikirkan?! Tempat itu sangat berbahaya!" Ailfryd tak dapat lagi menyembunyikan kepanikannya. Ia hendak meninggalkan istal untuk mengambil senjata yang dimilikinya, tetapi Elwood menahan langkahnya."Jangan gegabah, Tuan Ailfryd. Kita tidak bisa masuk sembarangan ke dalam hutan itu. Bagaimana jika sebelum menyelamatkan Ammara, kita sudah terkena kutukan terlebih dahulu. Maka semuanya akan sia-sia." Elwood mengingatkan."Jadi apa hal terbaik yang dapat kita lakukan, Elwood?" tanya Claude."Kita harus minta bantuan istana atau setidaknya kita temui Maurelle terlebih dahulu. Asumsiku Ammara pasti ingin menyelamatkan Archibald dan Putra Mahkota Albert sehingga dengan nekat ia memasuki Hutan Larangan.""Akan tetapi, kita tidak punya banyak waktu. Jika Ammara berubah menjadi makhluk terkutuk, kesempatan kita untuk menyelamatkannya sangat kecil." Claude menerawang, seolah-olah sedang melihat ke dalam Hutan Larangan dari posisinya berada saat itu."Ella tidak akan memaafkanku jika terjadi sesuatu pada Ammara." Ailfryd mendesah sedih. Kedua tangannya ia tangkupkan menutup wajahnya."Semuanya akan baik-baik saja, Tuan Ailfryd. Kami berjanji, kami pasti akan menyelamatkan Ammara," bujuk Elwood berusaha menenangkan."Bagaimana kalau kita kembali ke istana sekarang?" Usul Claude."Izinkan aku ikut, Pangeran?" Ailfryd memohon. Hanya itu satu-satunya yang dapat ia lakukan untuk menyelamatkan Ammara. Ia tak ingin hanya duduk diam dan menunggu kabar yang tak pasti.Claude dan Elwood saling pandang beberapa saat untuk memutuskan. Akhirnya Claude mengangguk mantap. "Mari, Tuan Ailfryd."Beberapa saat kemudian suara kepak sayap unicorn terdengar membelah ketenangan Fairyhill. Tiga ekor unicorn terbang melesat membelah langit Fairyverse menuju istana Avery.* * *Waktu seakan terhenti sesaat ketika Ammara berhasil meloloskan langkah melewati sebuah tabir tak kasat mata. Matanya menangkap pemandangan sebuah kastel berwarna gelap yang berdiri tegak di atas sebuah tebing, tak jauh dari tempatnya berdiri. Aura kastel itu sangat kelam, sepi seolah tak berpenghuni. Pun langit yang melingkupi tempat itu berwarna kelabu pekat. Tak ada awan-gemawan maupun pepohonan yang dapat sedikit memperindah tempat itu.Ammara mengira jika kastel itu dapat ditempuh hanya dengan berjalan kaki. Namun, ia salah. Matanya membelalak saat mendapati sebuah jurang menganga di antara tempatnya berdiri dan kastel itu. Jurang menganga yang diselimuti kabut tebal hingga dasar jurang tak dapat terlihat. Meski tak dapat melihatnya langsung,Ammara yakin jika jurang itu sangat dalam.Suara koakan gagak dan kepakan sayap burung-burung yang sangat besar sesekali terdengar bergema di tempat itu."Tempat apa ini?" bisik Ammara. Suara bisikannya sendiri bahkan menciptakan gema yang terdengar mengerikan. Ammara bergidik. Namun, segera saja ia merasakan genggaman tangan Elijah yang menguat seolah mencoba menenangkannya.Elijah masih bergeming di sisinya, seraya menatap waspada keadaan di sekitar. Satu tangannya menggenggam erat tangan Ammara, sementara tangannya yang lain menghunuskan pedang sihir yang bercahaya putih. Pedang sihir itu tak lagi berpendar seperti biasanya, tetapi bercahaya konstan sebagai penanda jika di tempat itu terdapat sihir hitam yang sangat kuat."Kita berada di ujung jurang," gumam Elijah pelan. Matanya menyorot pada jurang berkabut yang membentang di hadapan mereka. Tak ada jembatan atau apa pun yang dapat membawa mereka menyeberangi jurang berkabut itu."Akan tetapi, sepertinya kita memang diundang untuk masuk ke tempat ini." Ammara menimpali. Tatapannya menyorot tajam pada bangunan hitam yang menjulang tinggi di seberang jurang. Dadanya berdentum kencang seolah ada sesuatu yang menantinya di sana."Jika memang demikian, mereka pasti akan menjemput kita, Ammara."Ammara menyetujui ucapan Elijah dalam diam. Jika mereka benar-benar diundang, maka mereka harus bersiap-siap untuk dijemput oleh tuan rumah pemilik kastel yang mengerikan itu. Jika kastelnya saja sudah begitu mengerikan, Ammara tak sanggup untuk membayangkan bagaimana rupa penghuninya.Tiba-tiba suara kepakan sayap terdengar dari kejauhan. Sesosok makhluk hitam besar bersayap keluar dari salah satu menara tertinggi di kastil itu. Makin lama suara kepakan sayap itu semakin keras terdengar. Makhluk itu terbang menyeberangi jurang sehingga sosoknya terlihat jelas. Naga itu lantas terbang rendah saat menemukan Elijah dan Ammara. Mereka benar-benar telah diundang.Ammara dan Elijah sontak berlari menjauhi ujung tebing tempat mereka berdiri. Tabir tempat mereka masuk beberapa saat lalu telah menghilang, menyisakan hutan lebat menghitam dan berkabut. Hutan tanpa dedaunan, hanya ranting-ranting hitam pekat yang merimbun.Permukaan tanah tempat Ammara dan Elijah berpijak sedikit berguncang saat sang naga menjejakkan kaki di ujung tebing. Sayapnya yang hitam besar terkulai di kedua sisi tubuh, sementara sepasang mata merah menyala makhluk itu menyorot pada Ammara dan Elijah.Elijah mengacungkan pedang sihirnya ke hadapan sang naga seraya memasang kuda-kuda. Elijah siap menerjang kapan pun sang naga merangsek maju. Meski tangannya sedikit gemetar, tetapi sang pangeran berusaha keras menyembunyikan kegentarannya.Di sisi lain, Ammara yang berdiri di sampingnya merasa shock . Seumur hidup, ia tidak pernah melihat makhluk sebesar itu. Sang naga bukanlah makhluk mengerikan pertama yang ia lihat di Hutan Larangan sehingga Ammara lebih bisa mengendalikan diri untuk tetap terlihat tegar.Dalam sekali kedipan mata, naga hitam besar itu mendadak berubah menjadi kepulan asap hitam yang pekat dan membumbung tinggi. Kepulan asap itu kian mengecil hingga mewujud menjadi sesosok peri Elf berbaju zirah. Peri Elf jelmaan itu menggenggam sebilah pedang dan sebuah perisai di kedua belah tangannya.Elijah terkesiap. "Siapa kau dan apa maumu?!" hardiknya.Alih-alih menyerang, peri Elf jelmaan itu justru membungkuk memberi hormat dengan takzim. "Selamat datang di Kastel Larangan. Perkenalkan namaku Lucifer. Aku adalah pelayan Ratu Minerva, Ratu di Kastel Larangan. Aku kemari untuk membawa kalian ke Kastil Larangan atas perintahnya. Ratuku ingin bertemu," tutur Lucifer takzim.Ammara dan Elijah saling bertukar pandang. Perkirakan mereka ternyata benar. Makhluk penghuni kastel telah mengetahui keberadaan mereka dan mengundang mereka memasuki kastel. Mulanya Ammara dan Elijah ragu untuk mengikuti sang utusan. Namun, rasa penasaran agaknya menempati porsi lebih besar di benak mereka. Selain itu, sebuah pengharapan mengenai petunjuk petunjuk keberadaan Putra Mahkota Albert menjadi motivasi terbesar untuk memasuki kastel itu."Baiklah, kami akan ikut," sahut Elijah mantap.Demi mendengar jawaban Elijah, Lucifer mengangguk dengan salah satu sudut bibirnya tertarik ke atas. Ia menyeringai. "Silakan naik ke atas punggung naga. Aku akan membawa kalian menuju Kastil Larangan."Dalam sepersekian detik, sosok Lucifer memecah menjadi kepulan hitam. Kepulan asap itu semakin lama semakin membesar, membentuk sesosok naga dengan sayap hitam. Sang naga meraung sebelum meletakkan leher panjangnya yang berwarna hitam ke atas permukaan tanah dan merendahkan punggungnya.Dengan cepat, Elijah menarik pergelangan tangan Ammara dan membawa peri perempuan itu menaiki sang naga. Sang naga berdiri dan mulai mengepakkan sayap besarnya saat Ammara dan Elijah telah duduk di atas punggungnya dengan stabil. Perlahan naga hitam itu mengangkat tubuhnya dan terbang melintasi jurang berkabut menuju ke salah satu menara tertinggi di Kastel Larangan.Ammara melihat sekilas ke arah jurang menganga dari balik punggung naga hitam yang mereka tunggangi. Bulu kuduknya meremang, saat menangkap suara-suara jeritan monster dari dalam dasar jurang yang tak terlihat. Ammara bahkan sempat melihat beberapa tentakel kehitaman yang bergerak-gerak liar di salah satu dinding jurang, sehingga refleks menjerit."Jangan lihat ke bawah!" seru Elijah mengingatkan.Ammara memalingkah wajahnya sembali membekap mulut. Namun, pemandangan di sisi lain tempat itu tak kalah mengerikan. Sesuatu yang besar, bulat, dan mengerikan mengintip dari balik kabut sebelum menggemakan auman. Tubuh Ammara kembali menggigil, tetapi telapak tangan Elijah segera menutup pandangannya."Jangan lihat," ulang peri laki-laki itu lagi.Setelah beberapa saat penuh teror, kepakan sayap naga hitam akhirnya terdengar memelan. Mereka hampir mendarat pada salah satu balkon menara. Dari kejauhan balkon menara itu tampak sempit, tetapi dalam jarak sedekat ini ternyata balkon itu cukup luas. Bahkan, balkon itu bisa menampung dua atau tiga naga yang akan mendarat sekaligus.Sang naga manapakkan kaki hitamnya yang bercakar besar pada pagar balkon menara yang kokoh. Ia membiarkan Ammara dan Elijah melompat turun dari punggungnya, sebelum berubah kembali menjadi sesosok peri Elf jelmaan.Lucifer lantas menyunggingkan senyum hormat pada Elijah. "Tuanku, selamat datang di Kastel Larangan. Aku akan menuntunmu menuju Balairung Larangan. Ratu Minerva menanti Anda di sana. Mari ikuti aku!" ucapnya seraya berjalan mendahului Elijah dan Ammara. Namun, langkah Lucifer terhenti kemudian berbalik cepat. "Akan tetapi, Mohon maaf, teman Anda tidak bisa ikut serta.""Apa? Aku tidak bisa meninggalkannya sendirian di tempat ini," bantah Elijah."Tenang saja tuanku, teman Anda bisa menunggu di dalam sebuah bilik yang paling aman di kastel ini."Elijah melirik Ammara sekilas, meminta pertimbangan dari peri perempuan yang berdiri tepat di sampingnya.Ammara menjawab tatapan Elijah dengan anggukan pelan. Ammara tidak bisa memungkiri kegentaran yang ia rasakan saat itu. Namun, di sisi lain, ia merasa sedikit lega karena dengan demikian ia dapat dengan leluasa mengelilingi kastel untuk menemukan jejak keberadaan Putra Mahkota Albert.Setelah punggung Lucifer dan Elijah menjauh, Ammara masih bergeming menatap pintu besar sebuah ruangan yang berukir sepasang peri yang terasa familier dalam ingatan Ammara. Ammara menyentuhkan jari-jemarinya menyusuri ukiran tersebut berusaha mengingat-ingat di mana ia pernah melihat ukiran serupa.Iris mata hijaunya membelalak, ketika selintas ingatan berhasil memunculkan gambar ukiran yang sama persis di kepalanya, yaitu ukiran yang pernah Ammara lihat pada pintu ruangan balairung Ratu Serenity. Ukiran itu sama persi. Perbedaanya hanya pada material yang digunakan untuk membuat pintu. Jika pintu di hadapan Ammara saat ini terbuat dari batu berwarna hitam, maka pintu yang pernah Ammara lihat di Istana Avery terbuat dari emas murni.Tiba-tiba pintu besar di hadapan Ammara terdengar berderit, lalu membuka dengan sendirinya. Ammara terkesiap, tetapi dengan cepat ia dapat menguasai dirinya. Ia buru-buru masuk ke dalam ruangan itu karena mengingat pesan Lucifer jika ia dapat menanti Elijah di sana .Ruangan gelap itu mendadak terang-benderang setelah beberapa bola kristal yang menggantung di langit-langit ruangan serta merta menyala saat Ammara memasuki ruangan. Ammara terpana saat melihat ruangan indah terbentang di hadapannya. Ia nyaris tak percaya bahwa kastel yang dari luar terlihat mengerikan, memiliki sebuah ruangan yang indah di dalamnya.Netra Ammara kemudian menyisir seisi ruangan hingga pandangannya menangkap sebuah ranjang besar berwarna putih dengan tirai transparan yang bergulung-gulung membentuk pita cantik di kepala ranjang di salah satu sudut ruangan. Sementara, sebuah meja bundar dan sepasang kursi berwarna hitam berpelitur dengan ukiran-ukiran yang indah berada di tengah-tengah ruangan. Di atas meja dan di sudut ruangan tampak vas-vas yang terbuat dari kaca dengan beberapa kuntum mawar merah tanpa daun menghiasinya.Ammara baru saja hendak mendudukan bokongnya pada salah satu kursi, ketika sebuah suara terdengar sayup-sayup mengisi pendengaran. Peri perempuan itu lantas berdiri dengan waspada, menajamkan pendengaran. Sedetik kemudian, suara itu menghilang. Namun, terdengar lagi hingga membuat peri perempuan itu penasaran.Ammara mendekati pintu yang tertutup, menempelkan telinganya pada permukaan pintu yang berukir. Samar-samar, telinganya menangkap suara lolongan anjing yang terdengar familier di telinga Ammara.Rasa penasaran yang kuat mendorong Ammara untuk menarik daun pintu. Dengan perlahan, peri perempuan itu membukanya hingga menimbulkan suara derit pintu. Derit pintu yang menggema pelan di kastil membuat jantung Ammara berdetak lebih kencang, adrenalinya terpacu. Ia melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu, mengabaikan pesan Lucifer.Suara lolongan masih terdengar samar-samar. Ammara berjalan cepat menyusuri lorong gelap kastel Larangan, berusaha mencari sumber suara yang hilang datang.Dalam keremangan, Ammara mengamati figura-figura yang terpajang di sepanjang dinding lorong. Figura-figura itu berisi lukisan yang sebagian besar adalah lukisan keindahan pemandangan alam Fairyverse. Ammara bahkan dapat mengenali beberapa lukisan yang merupakan pemandangan Fairyhill dan Fairyfall.Langkah Ammara terhenti di depan sebuah lukisan istana yang dominan putih berdiri kokoh di atas tebing yang dipenuhi semak bunga lavender. Istana itu adalah istana Avery. Pikiran Ammara mulai menghubung-hubungkan semua yang ia lihat di Kastel Larangan dengan Istana Avery. Pemilik kastel pastilah memiliki hubungan dengan Istana Avery.Ammara kembali melanjutkan langkah, sementara pandangannya kembali berkelana menyusuri lukisan lain yang ada di lorong remang itu. Pandangannya kemudian menumbuk pada lukisan peri perempuan cantik bersurai hitam legam tergerai dengan manik mata berwarna ungu. Peri perempuan itu sangat cantik, tetapi Ammara dapat melihat sorot kejam menyirat pada tatapannya. Ammara mulai menduga-duga, barangkali peri perempuan itu adalah sang Ratu yang dilayani oleh Lucifer.Di sebelah lukisan itu, terdapat lukisan peri laki-laki yang menarik perhatian Ammara. Ammara bergeser dari posisinya untuk melihat lukisan itu dengan seksama. Lukisan sesosok peri laki-laki dengan iris mata berwarna biru dan surai cokelat bergelombang yang membingkai wajah tampannya. Dua buah anting emas menghiasi bibir tipisnya yang kemerahan.Ammara terkejut. Gambar itu mirip dengan peri laki-laki yang ia kenal. Ia sampai harus memicingkan matanya untuk memastikan sosok di dalam lukisan itu. Ia mengucek matanya beberapa kali, namun sosok di lukisan itu tetap menunjukan kemiripan dengan Pangeran Elijah.Kekhawatiran mendadak muncul di benak Ammara. Beribu pertanyaan menggelayuti pikirannya mengenai hubungan antara Ratu Kastel Larangan dan Pangeran Elijah. Ammara mulai menerka-nerka dengan berbagai asumsi di kepalanya, menyatukan potongan-potongan penemuan yang baru saja dilihatnya. Ammara menyimpulkan pasti empunya tempat ini memiliki hubungan dengan kerajaan Avery, terutama dengan Pangeran Elijah.Lamunan Ammara dibuyarkan oleh lolongan yang terdengar lebih kencang dan tak putus-putus. Ammara seakan tersadar, ia kembali melanjutkan langkahnya menyusuri lorong remang itu hingga ke ujung. Di ujung lorong, Ammara menemukan sebuah tangga berliku yang menuju lantai di bawahnya.Tanpa berpikir panjang Ammara menuruni tangga itu. Suara lolongan anjing terdengar semakin kentara. Akhirnya, Ammara tiba di depan sebuah ruangan dengan pintu batu tertutup. Pintu itu sama persis dengan pintu ruangan sebelumnya yang Ammara singgahi, berukir lambang kerajaan Avery.Dengan tergesa, Ammara meraih daun pintu di hadapannya dan mendorong pintu batu tersebut. Pintu itu terasa lebih berat dari pintu sebelumnya, tetapi dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya, Ammara mendorong pintu itu.Suara lolongan anjing tiba-tiba tak terdengar lagi saat Ammara menjejakkan kaki ke dalam ruangan gelap itu. Tak lupa, ia menutup kembali pintu di belakangnya. Dalam kegelapan ruangan, Ammara dapat mendengar deru napas makhluk yang gusar dan langkah-langkah kaki kecil yang tidak tenang."Permisi ... !" sapa Ammara ragu. Suaranya bergetar karena menyadari ada makhluk lain di ruangan itu.Suara geraman terdengar dari salah satu pojok ruangan yang bercahaya lebih terang dari sudut lainnya. Ammara mendekati sudut itu. Ia lantas menangkap sosok seekor anjing berbulu keemasan sedang menggeram ke arahnya dengan waspada. Di samping makhluk itu, sebuah pendar cahaya berwarna ungu terang yang melingkupi sesuatu yang setinggi ukuran tubuh peri Elf.Ammara mendekat perlahan. Matanya kini dapat melihat dengan jelas sosok seorang peri Elf berdiri mengambang dengan mata tertutup di dalam cahaya ungu yang seolah melingkupinya. Ammara terkesiap, saat menyadari jika sosok peri Elf itu ternyata adalah Putra Mahkota Albert. Ammara serta-merta berlari tergopoh menghampiri cahaya ungu itu, tanpa memperdulikan seekor anjing yang terus-terusan menggeram ke arahnya.Anjing berbulu keemasan yang sedari tadi menggeram mendadak tenang demi melihat sosok Ammara dalam terang. Anjing itu bahkan mendekati Ammara dan mengenduskan hidungnya pada kaki Ammara, seolah telah lama merindukan sosok itu. Setelah puas mengendus Ammara, anjing itu lantas berlari mengitari sekeliling Ammara dengan langkah riang."Kau tidak takut lagi denganku?" tanya Ammara heran. Pandangan dan perhatiannya teralihkan dari sosok Pangeran Albert kepada anjing berbulu keemasan yang berlari-lari kecil mengitarinya. Seulas senyum muncul di bibir Ammara. Ia mulai terbawa suasana.Namun, tiba-tiba ia tersadar. "Kau mengalihkan perhatianku, Anjing Manis. Aku harus menyelamatkan temanku. Akan tetapi, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku benar-benar peri yang payah!" rutuk Ammara kesal pada dirinya sendiri.Ammara menatap ke sekeliling, mempelajari situasi ruangan tempatnya berada. Ruangan itu terlalu gelap untuk dapat melihat dengan jelas. Selain lemari dan beberapa kursi yang letaknya tidak beraturan, Ammara tidak dapat menemukan benda lainnya.Ekor mata Ammara tiba-tiba menangkap sebuah batu yang berbentuk pipih di bawah tubuh Albert yang tengah mengambang tak sadarkan diri. Cahaya ungu itu tampak keluar dari batu pipih tersebut. Logika Ammara mulai bermain, ia akan mencoba mengangkat atau menggeser atau bahkan menghancurkan batu pipih itu, siapa tahu cahaya ungu itu menghilang jika batu pipih di bawahnya tidak berada pada tempatnya atau dihancurkan.Ammara mencoba mendorong batu itu dengan kakinya. Ia menendang perlahan batu itu. Namun, batu itu tampak bergeming. Sekali lagi, Ammara menendang dengan lebih keras hingga wajahnya meringis menahan perih di kakinya sendiri. Batu pipih itu tetap bergeming."Bagaimana ini?" lirih Ammara hampir putus asa.Anjing berbulu keemasan yang tadi berlari mengitari Ammara, kini berlari ke salah satu pojok ruangan yang lain. Anjing itu menyalak pelan seolah memberi kode kepada Ammara bahwa ada sesuatu di sana.Ammara memperhatikan anjing itu sambil mendesis pelan. "Ssstt, jangan ribut. Nanti ada yang mendengarmu."Ammara segera berlari sambil berjinjit menyusul anjing itu. Mata peri perempuan itu membelalak melihat tumpukan tengkorak, tulang belulang serta baju zirah di sekitar sudut itu. Peri perempuan itu refleks menutup mulutnya dengan tangan. Tak jauh dari tumpukan itu, sebilah mata tombak yang berwarna platinum tergeletak dalam keremangan. Dengan terburu-buru, Ammara meraih mata tombak itu dan menggenggamnya erat seolah-olah takut ada yang akan merampasnya."Terima kasih!" ucap Ammara riang seraya mengelus puncak kepala anjing itu sekilas. Si anjing meloncat-loncat kegirangan. Kemudian, Ammara melesat kembali ke tempat Albert, di sudut ruangan lainnya.Ammara menatap mata tombak yang kini ada di genggamannya. Sekelebat ingatan melintas di pikirannya mengenai hal-hal yang dapat melunturkan sihir hitam yang pernah dikatakan oleh ibunya, salah satunya adalah senjata berbahan perak. Entah mengapa benda berbahaya bagi peri Unsheelie itu mendadak ada di kastel itu. Ammara segera mengenyahkan pikiran-pikiran lainnya dan fokus untuk menyelamatkan Putra Mahkota Albert.Dengan keyakinan penuh, Ammara mengayunkan mata tombak perak di genggamannya ke arah cahaya ungu yang melingkupi Albert. Serta merta, cahaya ungu itu sirna dan tubuh Albert yang tadinya mengambang, mendadak ambruk. Dengan sigap, Ammara menangkap tubuh itu. Namun, tubuh Albert yang lebih besar dari tubuhnya terasa sangat berat, hingga tubuh peri laki-laki itu jatuh menimpanya.Ammara refleks menjerit kesakitan. Salah satu tangannya menutup mulutnya sendiri agar suaranya tidak keluar dan membuat kegaduhan. Dengan susah payah, ia mendorong Albert dari atas tubuhnya dan menggeser tubuhnya sendiri. Ia menarik napas panjang, merasa lega karena telah berhasil membebaskan Albert.Tiba-tiba, Anjing berbulu keemasan yang masih berada di pojok lain ruangan, menggonggong pelan. Semakin lama, gonggongannya semakin keras. Anjing itu bergerak gusar seraya menatap ke arah pintu ruangan yang tertutup.Ammara segera menyadari kegusaran anjing itu. Ia turut mengalihkan pandangan pada pintu batu ruangan yang sedang tertutup. Samar-samar, Ammara dapat mendengar suara langkah kaki mendekat. Semakin dekat, semakin terdengar jelas.Ammara membelalak. Jantungnya berdetak sangat kencang, sementara bulir-bulir keringat dingin perlahan menetes dari pelipisnya. Tubuhnya mendadak kaku. Apa yang harus ia lakukan dengan tubuh terkulai Albert yang berat ini. Ia tak akan bisa mengangkatnya. Matanya nyalang menatap liar ke seluruh ruangan gelap itu. Sorot matanya mendadak menumbuk pada sebuah lemari terdekat."Max, kaukah itu?" panggil Lucifer dari balik pintu. Langkahnya terdengar semakin keras.Ammara bergeming. Tubuhnya menggigil ngeri. Sang naga telah datang. Ia harus segera berlindung.
Darkest Side
Ammara menjejak Fairyhill beberapa saat sebelum fajar menyingsing. Ia mengabaikan jalanan sepi dan berkabut yang ditempuh untuk menuju perbatasan Hutan Larangan, menyingkirkan segenap rasa takut dan kegentaran yang menggerogotinya. Tekadnya hanya satu, ia harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkan Putra Mahkota Albert dan Pangeran Archibald. Bagaimanapun, kedua peri elf itu menghilang karena hendak membantunya, sehingga ia harus bertanggung jawab.Derap langkah kaki Selly berhenti tepat di perbatasan Hutan Larangan. Unicorn itu meringkik gelisah, ketika Ammara melompat turun dari punggungnya."Aku akan baik-baik saja, Selly. Jangan khawatir. Aku janji aku akan segera kembali," ucap Ammara sambil mengelus pelan surai putih Selly, berusaha menenangkan kegelisahan makhluk itu.Selly menyahuti perkataan Ammara dengan ringkikan sedih, seolah enggan melepas kepergian tuannya memasuki Hutan Larangan. Seluruh makhluk di Fairyverse tahu, bahwa tidak ada yang bisa menjamin keselamatan peri sheelie saat masuk ke hutan yang penuh kutukan itu.Ammara menarik napas dalam-dalam, sebelum mengembuskannya bersama segenap keraguan yang tiba-tiba saja menggelayuti pikirannya. Ia menatap mata Selly yang menyiratkan kesedihan. "Jika lewat tengah hari aku belum juga keluar dari Hutan Larangan, kau harus pergi dari tempat ini Selly. Kembalilah ke Fairyfarm."Kata-kata itu terdengar bagai pesan terakhir, bahkan di telinga Ammara sendiri.Lagi-lagi, unicorn itu meringkik sedih. Selly mendekatkan hidung besarnya pada wajah Ammara, mengendusnya pelan seakan menyampaikan pesan perpisahan pada peri perempuan itu.Di saat yang sama, Ammara juga mendekatkan wajahnya pada Selly. Suaranya bergetar. "Aku akan baik-baik saja, Selly. Percaya padaku."Setelahnya, Ammara mengumpulkan seluruh tekad dan melangkah mantap memasuki Hutan Larangan. Ringkikan Selly yang terdengar sedih mengiringi langkahnya, hingga akhirnya menghilang saat batas tak kasat mata telah ia lewati. Ammara menoleh ke belakang sejenak. Sepasang netranya masih menangkap sosok Selly, tetapi anehnya suara ringkikan itu sama sekali tak terdengar. Suasana di sekitar Ammara mendadak sunyi.Dengan waspada, Ammara melanjutkan langkahnya. Kegelapan Hutan Larangan telah melingkupinya dan untuk bertahan, peri perempuan itu harus menajamkan indera penglihatan dan pendengarannya.Langit Hutan Larangan yang tak berawan berwarna kelabu pekat dengan asap tipis yang memenuhi langit. Padahal seharusnya fajar telah menyingsing, tetapi tanda-tanda munculnya sinar matahari sama sekali tak terlihat sehingga susana pagi menjadi serupa malam.Ammara berjalan sangat hati-hati mengarungi kabut tebal yang menutupi permukaan tanah Hutan Larangan, hingga sebatas pinggangnya. Sesekali kakinya tersandung akar-akar besar yang muncul ke atas permukaan tanah yang tak terlihat oleh Ammara. Hawa dingin juga menyergap tubuh Ammara sejak memasuki Hutan Larangan. Peri itu menggigil seraya memeluk tubuhnya.Suara gemeretak ranting yang terinjak kaki Ammara memecah keheningan Hutan Larangan. Ammara terkejut, jantungnya berdebar kencang. Ia takut jikalau suara yang ia buat mengganggu makhluk-makhluk mengerikan yang mungkin saja bersembunyi di balik kegelapan. Ketakutannya sontak menjadi nyata saat sepasang mata berwarna merah menyala muncul dari salah satu sudut gelap Hutan Larangan.Ammara refleks menutup mulutnya yang hendak menjerit ketakutan, saat melihat sepasang mata yang tampak berkedip-kedip seolah mengawasinya. Ammara mempercepat langkah, nyaris berlari menjauhi sepasang mata itu. Namun, kakinya tersandung sesuatu di balik kabut di permukaan tanah. Ammara terjerembap dan merasakan perih yang menyayat lututnya. Dengan tergesa ia berdiri dan melanjutkan langkah kaki dengan terpincang-pincang.Setelahnya, berpasang-pasang mata merah menyala mendadak muncul di sepanjang sisi kiri dan kanan kegelapan yang Ammara lalui. Mata-mata itu tak berwujud apa pun, selain kegelapan pekat yang melingkupinya.Ammara terkesiap. Ia berusaha menyeret langkahnya lebih cepat.Keheningan Hutan Larangan juga terenggut bersamaan dengan munculnya berpasang-pasang mata itu. Suara bisikan samar-samar mulai terdengar bersamaan dengan gerakan mengedip. Mata-mata merah itu menyorot Ammara seraya menggunjingnya.Lambat-laun bisikan terdengar semakin jelas.Aku mencium bau darah.Sepertinya darah dari peri itu.Ammara bergidik.Tunggu dulu. Baunya sangat amis. Tidak seperti bau darah peri Sheelie lainnya.Apakah ia peri Sheelie?Aku rasa bukan.Aku pernah mencium bau ini dari Negeri di balik portal Utara.Bau manusia.Ammara menutup kedua telinganya dengan tangan. Tak kuasa mendengar suara-suara parau dari berpasang-pasang mata merah yang penuh penghakiman. Ia terus berlari dengan tangis tertahan, berharap makhluk-makhluk itu berhenti mengganggunya. Langkah kaki Ammara terhenti seketika saat tubuh ringkihnya menabrak sesuatu di hadapannya. Tubuhnya terdorong kuat ke belakang dan terduduk menghantam permukaan tanah.Ammara meringis. Namun, sepersekian detik kemudian matanya membelalak, menatap sesosok monster hitam besar yang telah berdiri di hadapannya.Sosok hitam itu memiliki sepasang mata merah menyala yang besar, yang sekarang menyorot Ammara dengan tatapan marah. Sang monster meraung keras hingga gigi-geliginya yang tajam dan berliur terlihat.Bersamaan dengan suara raungan itu, berpuluh pasang mata merah menyala dan suara-suara yang muncul dari kegelapan mendadak menghilang. Hutan Larangan kembali hening dan mencekam.Ammara membekap mulutnya dengan tangan sendiri. Ia tak pernah melihat makhluk mengerikan seperti yang saat ini berdiri di hadapannya. Ammara ketakutan. Air mata mengalir deras di pipinya yang pucat. Tubuhnya menggigil. Ia bergeming pasrah, tak kuasa bergerak dari hadapan monster mengerikan itu.Seberkas cahaya mendadak muncul, menghantam tubuh hitam sang monster di hadapan Ammara. Suara raungan monster yang kesakitan membelah Hutan Larangan, menandakan bahwa kilatan cahaya barusan telah melukai bagian tubuhnya. Monster itu terhuyung mundur, menjauhi Ammara.Sesosok peri elf muncul di hadapan Ammara dalam posisi memunggunginya, sehingga Ammara tak dapat melihat wajah peri itu. Sebilah pedang sihir bercahaya putih terhunus pada salah satu tangannya. Pedang itulah yang telah melukai si monster.Peri laki-laki itu kembali menyerang seraya mengayunkan pedangnya dengan membabi-buta ke arah monster di hadapannya. Tiga sabetan mengenai tubuh monster itu sehingga si monster kembali meraung sejadi-jadinya. Cairan kental berwarna hijau menyala keluar dari lukanya. Tubuh besar yang mengerikan itu akhirnya tumbang tanpa perlawanan.Ammara bergeming. Tubuhnya gemetar hebat menatap monster hijau yang roboh dalam keadaan mengenaskan.Tubuh besar monster itu dalam sekejap mata berubah menjadi sesosok peri elf berambut panjang berwarna kemerahan. Peri itu tertelungkup dengan beberapa luka sayatan yang berdarah di tubuhnya. Namun, dalam hitungan detik, sosok itu berubah lagi menjadi kabut asap berwarna hitam yang lambat-laun menghilang, menyatu dalam kegelapan."Apa kau baik-baik saja Ammara?" tanya sosok penyelamat itu tanpa menoleh.Suaranya terdengar sangat familier. "A-aku baik-baik saja,"sahut Ammara dengan suara bergetar. Ia mengernyit untuk dapat melihat sosok itu lebih jelas. Cahaya pedang sihir yang terhunus di salah satu tangan peri itu menyediakan seberkas cahaya temaram yang menerangi sekeliling Ammara.Dalam keremangan, Ammara mengenali sosok yang telah menyelamatkannya. "Pangeran Elijah?!"Peri laki-laki itu mendekati Ammara untuk membantunya berdiri. Seulas senyum asimetris tersungging di bibir Elijah. "Apa kau bisa berdiri? Atau perlukah aku menggendongmu?"Ammara merasakan pipinya memanas. Jika suasana hutan itu lebih terang, pastilah rona merah yang membayang di pipinya akan terlihat. Ammara menggeleng gugup. "Ti-tidak perlu. Aku bisa sendiri."Ammara berusaha berdiri, meluruskan kakinya perlahan. Punggungnya yang terasa nyeri menyusahkan kakinya untuk berdiri dengan seimbang. Tubuhnya limbung dan nyaris terjatuh lagi.Dengan sigap, Elijah menangkap tubuh peri perempuan itu dan menggendongnya."Aku bisa berjalan sendiri!" sergah Ammara seraya meronta-ronta di dalam gendongan Elijah. Namun, rengkuhan Elijah yang kokoh dan rasa sakit menghalangi gerakannya. Akhirnya, peri perempuan itu hanya bisa pasrah membiarkan Elijah menggendong tubuhnya."Apa yang dilakukan peri cantik sepertimu di Hutan mengerikan ini? Kau tidak melarikan diri dari istana, kan?" tanya Elijah seraya menaikkan salah satu alisnya. Iris mata birunya beradu dengan iris mata hijau peri perempuan di dalam gendongannya.Ammara membuang muka, tak sanggup menatap iris mata biru Elijah dalam jarak sedekat ini. Lagi pula, keremangan Hutan Larangan tak mampu menyamarkan pesona sang pangeran peri. "Aku ingin mencari Archibald dan Putra Mahkota Albert," sahutnya singkat.Elijah tergelak. "Kau ingin menyelamatkan Archibald dan Albert, sementara kau sendiri perlu diselamatkan. Sudahlah, Ammara. Aku antar kau keluar dari Hutan ini. Tempat ini terlalu berbahaya untukmu. Untung kau tidak terkutuk seperti monster tadi dan yang kau alami adalah keajaiban sekaligus anomali.""Apa maksudmu?" tanya Ammara bingung."Monster itu dulunya adalah peri Sheelie. Namun, peri itu terkena kutukan ketika memasuki Hutan Larangan dan menjadi monster yang mengerikan. Kau beruntung karena tidak langsung terkena kutukan. Mungkin karena kau adalah keturunan peri penyembuh seperti ibumu."Ammara mencoba mencerna kata-kata Elijah. Akan tetapi, ia mendadak teringat suara dari berpasang-pasang mata merah yang muncul sepanjang perjalanannya tadi. Makhluk-makhluk itu menyebutnya manusia karena bau darah yang menguar dari luka di lututnya. Ammara ingin menanyakan hal itu pada Elijah, tetapi urung karena langkah peri itu tiba-tiba terhenti."Ada apa?" tanya Ammara."Sepertinya ada yang mengikuti kita," bisik Elijah.Ammara kembali bergidik. Ia mengalungkan lengannya di leher Elijah erat seraya menajamkan telinganya waspada untuk memahami pertanda. Namun, ia tak dapat mendengar apa pun selain detak jantung Elijah yang bertalu cepat."Aku harus segera mengeluarkanmu dari sini," gumam Elijah lebih kepada dirinya sendiri."Tidak. Aku harus menemukan Archibald dan Albert terlebih dahulu!" tolak Ammara."Biar aku yang menyelamatkan mereka. Mereka adalah saudaraku. Sudah seharusnya aku yang menyelamatkan mereka.""Tidak. Aku akan ikut denganmu. Mereka tertangkap karena berusaha menolongku. Aku tidak bisa berdiam diri saja!"Elijah mengembuskan napas panjang. "Benar-benar peri cantik yang keras kepala. Tempat ini tidak cocok untukmu. Tempat ini terlalu berbahaya. Aku tidak bisa menjagamu sekaligus menyelamatkan mereka. Lagi pula, aku tidak mau kau terluka."Ammara kembali meronta-ronta di dalam gendongan Elijah. Ia tak menghiraukan beberapa bagian tubuhnya yang terasa nyeri. Ia ingin turun dan tidak mau dibawa keluar dari Hutan Larangan sebelum menyelamatkan Archibald dan Albert. Tekadnya sudah bulat.Dengan berat hati, Elijah menurunkan tubuh peri perempuan itu. Iris mata birunya menangkap luka menganga di lutut Ammara. "Ternyata luka inilah yang telah mengundang mereka!" gumam Elijah."Mereka siapa?"Elijah menatap iris mata hijau Ammara lekat-lekat. "Makhluk-makhluk terkutuk seperti monster yang menyerangmu tadi. Di Hutan Larangan ini, selain makhluk terkutuk juga banyak makhluk yang haus darah Ammara."Sang pangeran peri kemudian berlutut di hadapan Ammara. Ia mengeluarkan sebuah kantung berwarna gelap dari sakunya, kemudian, menumpahkan serbuk bercahaya yang berwarna putih ke atas telapak tangan. Mulutnya berkomat-kamit beberapa saat, sebelum meniupkan serbuk itu ke arah lutut Ammara yang terluka. Serbuk-serbuk peri itu berhamburan mengenai permukaan luka Ammara, hingga serta merta luka menganga yang tadinya berdarah mengering.Ammara terpana. "Ini luar biasa!" Ia berdecak kagum.Elijah menaikkan salah satu sudut bibirnya. Ia tersenyum. "Ini tidak sehebat yang kau bayangkan. Lukamu hanya luka luar, jadi aku bisa mengobatinya. Kurasa ibumu jauh lebih hebat. Percayalah, ini bukan apa-apa."Ammara mengamati Elijah yang sedang membersihkan sisa-sisa serbuk peri di permukaan lututnya. Ia sama sekali tidak menyangka jika Elijah adalah pangeran yang perhatian, terlepas dari sikapnya yang sering memancing emosi saudara-saudaranya yang lain.Sebuah pertanyaan melintas di benak Ammara saat itu, ia tidak bisa menahan untuk tidak mengutarakannya. "Kau sepertinya sangat familier dengan tempat ini? Apakah kau sering kemari? Apa kau juga seperti Archibald?""Kau sangat ingin tahu ya," sahut Elijah tergelak. Kemudian, ia mengerucutkan bibirnya berpura-pura sedang berpikir. Ia telah bangkit dari posisinya dan berdiri sejajar di samping Ammara."Tidak masalah kalau kau tidak mau cerita. Yang jelas aku tetap akan ikut denganmu mencari Archibald dan Putra Mahkota Albert.""Kau semakin menggemaskan jika keras kepala seperti ini." Elijah menepuk pelan puncak kepala Ammara seraya menampilkan cengiran di bibirnya.Ammara mengelak cepat ketika Elijah akan mengacak rambutnya. "Tidak ada yang lucu di sini!" desis Ammara sedikit kesal.Mereka terdiam beberapa saat, sementara langkah mereka memasuki Hutan Larangan lebih jauh. Jalanan yang mereka lalui tidak segelap tadi karena hari telah beranjak siang. Meskipun Hutan Larangan yang berkabut tidak dapat menangkap sinar matahari secara langsung, tetapi kabut yang menyelimuti langit perlahan menipis. Sesekali, sepasang mata merah bercahaya masih mengintai Ammara dan Elijah dari balik bayangan pepohonan yang gelap untuk kemudian bersembunyi kembali."Archibald kebal terhadap kutukan Hutan Larangan karena ia adalah keturunan peri Sheelie yang sangat sakti di Fairyverse. Sedangkan aku, hanya kebal terhadap kutukan Hutan Larangan karena di dalam darahku mengalir darah peri unsheelie," tutur Elijah memecah keheningan. Iris mata birunya menatap Ammara. "Aku harap kau tidak takut padaku, Ammara."Ammara mengernyitkan alisnya bingung. "Kenapa aku harus takut padamu?" Ia lantas mengerling ke arah Elijah yang tampak terkejut mendengar perkataannya."Jadi kau tidak takut padaku?" Elijah memasang tampang jahil seraya menaikkan sebelah alisnya."Jangan macam-macam," desis Ammara.Elijah tergelak mendengar kata-kata peri perempuan itu. Namun, wajahnya mendadak serius. "Terima kasih karena tidak takut padaku. Aku anggap kau telah bersedia menjadi temanku. Kau tahu, baru kali ini aku jujur mengakui bahwa aku adalah keturunan unsheelie. Aku bahkan selalu menyangkal jika saudara-saudaraku menyinggung soal ini. Rasanya sangat menyenangkan karena aku bisa jujur tentang diriku sendiri.""Eh, aku ...""Terima kasih karena kau sudah mau menjadi temanku dan mendengarkanku," sambungnya lagi, tanpa memberi kesempatan Ammara untuk menyela ucapannya. Dengan gerakan cepat, peri laki-laki itu mengecup puncak kepala Ammara sekilas, sebelum berjalan lebih dahulu meninggalkan Ammara yang sangat terkejut atas perilaku Elijah barusan."Hei, tunggu aku!" Ammara berlari menyusulnya dengan terseok-seok. Peri perempua itu ingin memprotes perlakuan Elijah barusan kepadanya. Namun, ia mengurungkan niatnya saat langkah Elijah akhirnya terhenti di dekat sebatang pohon besar berwarna hitam yang tak memiliki sehelai daun pun."Ada apa?" tanya Ammara bingung.Elijah menghunus pedang perak sihirnya dan mengayunkannya ke arah pohon tersebut. Ujung pedang perak yang lancip itu menghilang seperti masuk ke dalam dimensi lain yang tak tertangkap mata mereka. Pedang sihir itu mendadak memancarkan cahaya putih yang menandakan bahaya atau keberadaan peri unsheelie di sekitar tempat itu."Ada sesuatu di sini. Kita harus menemukannya,"gumam Elijah pelan. Ia sedang sibuk mengayun-ayunkan dan mengibas-ngibaskan pedangnya ke segala arah. Tiba-tiba, ujung pedang itu tampak menghilang lagi.Ammara dan Elijah saling bertatap. Mereka sama-sama terkesiap. Ini artinya mereka telah menemukan pintu ke dimensi lain tersebut.Elijah meraih salah satu lengan Ammara, mendekatkan peri perempuan itu ke sisinya. Dalam gerakan cepat, ia merangkul Ammara masuk melewati celah tak kasat mata. Dalam hitungan detik, tubuh mereka menghilang di balik kegelapan Hutan Larangan.* * *Archibald membuka matanya perlahan. Kala kesadarannya telah terkumpul sepenuhnya, Archibald menyadari bahwa ia sedang berada di tempat familier yang sudah lama tidak ia kunjungi. Dengan susah payah, Archibald bangkit dari pembaringannya. Iris mata hazel kehijauan menangkap sosok seorang peri perempuan bersurai emas yang memunggunginya dan menatap ke luar jendela.Archibald menatap ke sekeliling, sebuah ruangan dominan putih dengan hiasan tanaman bunga merambat beraneka warna. Archibald sangat mengenali tempat itu, istana Ratu Breena, ibu kandungnya."Kau sudah bangun, Archie?" sapa suara lembut Ratu Breena."Ibu? Kenapa aku di sini. Aku harus segera menemukan Putra Mahkota Albert. Dia dalam bahaya," sahut Archibald yang sedang memegangi pelipisnya.Peri perempuan itu mendekati Archibald dan duduk di sisinya. Iris matanya yang berwarna serupa dengan milik Archibald menyorotnya dengan iba."Lukamu sangat parah. Kau harus istirahat dulu untuk memulihkan tenagamu," cegah Ratu Breena. Kekhawatiran kentara terlihat di wajah cantiknya."Aku tidak apa-apa, Bu. Aku merasa baik-baik saja," bantah Archibald seraya bersusah payah bangkit dari ranjang. Namun, tangan Ratu Breena menahannya."Sudah cukup, Archie. Jangan terlibat lebih jauh lagi dengan para peri yang haus kekuasaan itu. Kau hanya akan menjadi korban mereka. Albert menghilang pasti ada alasannya. Apalagi kudengar Raja Brian belakangan ini sedang sakit. Itu artinya, sebentar lagi Putra Mahkota Albert akan naik takhta. Sementara, orang-orang yang haus kekuasaan sedang memanfaatkan situasi seperti ini."Archibald bergeming. Ia menatap ibunya dengan tatapan skeptis. Ia sama sekali tidak meragukan ibunya, hanya saja hati kecilnya menolak untuk mempercayai kebenaran tersebut."Akan tetapi, dia adalah saudaraku, Bu. Aku tetap harus menyelamatkannya."Breena menggenggam jari-jemari Archibald erat, menatap iris peri itu dalam-dalam. Ia mendesah pelan sebelum melanjutkan kata-katanya. "Tolong, dengarkan ibu kali ini saja. Ibu tidak ingin kau terluka. Ibu mohon, jangan terlibat lagi Archibald."Archibald masih bergeming.Breena menghela napas berat. "Kecuali jika kau ingin maju menjadi Raja, maka aku akan mendukungmu sekuat tenaga."Kata-kata Ratu Breena membuat Archibald terkesiap. Ia menemukan kesungguhan tersirat pada netra sang ibu. Secara tidak langsung, Ratu Breena telah memintanya untuk menjadi raja di kerajaan Avery. Jika ia menuruti permintaan itu, maka sama halnya dengan mengkhianati saudara-saudaranya sendiri.Sekali lagi, Archibald hanya bisa bungkam tanpa jawaban. Raut wajahnya memang terlihat tenang, tetapi pikiran di dalam kepalanya berkecamuk dengan liar.Anomali adalah sebuah keanehan atau ketidakwajaran. Ammara yang notabene adalah sesosok peri sheelie tidak terpengaruh oleh Hutan Larangan.
The Crack of the Dawn
Suara derap langkah unicorn memecah keheningan Fairyhill. Archibald terkesiap. Ia menajamkan penglihatan dan pendengarannya di dalam kabut yang mulai menipis. Tangannya yang gemetar menghunus sebilah pedang perak dengan waspada. Tubuh Archibald menegang.Siluet sepasukan peri elf yang menunggang unicorn mendekati perbatasan Fairyhill dan Hutan Larangan. Jubah berwarna merah marun para peri elf itu berkibar seirama guncangan tubuh mereka di atas unicorn yang berlari kencang.Archibald mengenali pasukan tersebut sehingga sontak menurunkan pedang dan memasukannya kembali ke dalam sarung yang tersampir di salah satu sisi pinggang. Mereka bukan ancaman. Mereka adalah para kesatria elf dengan jubah formal Kerajaan Avery. Dari balik kabut yang kian menipis, Archibald mengenali jika pasukan itu dipimpin oleh Maurelle.Setelah jarak rombongan itu dengan perbatasan Hutan Larangan sang peri cenayang lantas memerintahkan para kesatria elf untuk menghentikan unicorn mereka. Suara derap langkah unicorn serentak berhenti.Maurelle melompat turun dari unicornnya. Raut waspadanya seketika berubah panik saat mendapati Claude, Elwood, dan Elijah yang tergeletak tak sadarkan diri. Segera ia menghampiri Archibald yang bergeming di dekat perbatasan."Apa yang terjadi pada para pangeran?" tanya Maurelle kalut. Ia menatap para pangeran yang tergeletak tak sadarkan diri itu bergantian, sekali lagi. Kengerian mendadak menyelimuti wajahnya saat tak mendapati sosok Albert di sana. Sekali lagi, peri cenayang itu memutar tubuhnya melihat ke tempat-tempat yang dapat dijangkau oleh pandangan. Namun, ia tak juga menemukan sosok Putra Mahkota Albert di mana pun. Sosok sang Putra Mahkota seolah menghilang tanpa jejak. "Di mana Putra Mahkota Albert?" ulangnya sekali lagi.Archibald mengembuskan napas panjang. "Kami baru saja diserang para orc . Setelah penyerangan itu Putra Mahkota Albert menghilang.""A-apa? Para orc ? Mana mungkin mereka bisa memasuki Fairyhill!" Maurelle membelalak."Kabut dari Hutan Larangan juga masuk ke tempat ini. Kabut itulah yang membuat para orc dan Putra Mahkota Albert tiba-tiba menghilang. Apa kau mengetahui sesuatu, Maurelle? Apakah segel putih di perbatasan Hutan Larangan telah melemah?" Archibald balik bertanya penuh selidik."Ba-bagaimana bisa, Pangeran?!"Archibald menaikkan salah satu sudut bibirnya, tersenyum asimetris. "Kau adalah peri cenayang, Maurelle. Mengapa kau sangat tidak peka untuk hal-hal seperti ini!"Maurelle terdiam. Ia menundukkan pandangan, tak mampu membalas tatapan penuh selidik Archibald. Agaknya peri cenayang itu telah menyadari untuk kemudian menekuri kesalahannya."Bawa para pangeran ke istana! Batalkan saja misi apa pun yang akan kalian kerjakan di Fairyhill saat ini. Tempat ini tidak aman!" perintah Archibald."Baik, Pangeran!" sahut Maurelle. Ia mengangkat wajahnya melihat Archibald yang hendak berbalik menjauhinya. "Anda mau ke mana, Pangeran?""Aku harus menemukan Putra Mahkota Albert," sahut Archibald penuh tekad."Tidakkah lebih baik jika Anda membawa sebagian pasukan, Pangeran?" Maurelle memberi saran. Kekhawatiran tergurat jelas pada wajahnya.Archibald lagi-lagi menyunggingkan senyuman miring. "Cih! Aku tidak memerlukan pasukan yang hanya akan menyusahkanku!"Maurelle bungkam, menelan ludahnya dengan susah payah. Ia paham betul sifat sombong dan keras kepala yang dimiliki Archibald. Lebih baik ia mengalah dan membiarkan sang pangeran melakukan apa pun yang ingin dilakukannya. Setelahnya, Maurelle segera memerintahkan para kesatria elf untuk membawa tiga pangeran yang tengah tak sadarkan diri itu dan beranjak dari Fairyhill. Misi mereka untuk penyelidikan Dewan Peri otomatis dibatalkan.Setelah pasukan Maurelle dan para kesatria elf pergi menjauh, Archibald melanjutkan langkahnya memasuki Hutan Larangan. Pedang perak telah terhunus di salah satu tangannya. Sementara, matanya dengan awas mengamati keadaan di sekitar.Hutan Larangan masih sama seperti terakhir kali ia kunjungi; sepi dan magis. Kabut yang sangat tebal menyelimuti tempat itu hingga sebatas pinggang peri elf dewasa. Ranting-ranting pepohonan yang menghitam tanpa dedaunan, mencengkeram langit kelabu, menambah kesuraman hutan itu. Sejauh mata memandang, hitam, putih dan abu-abu adalah warna yng mendominasi Hutan Larangan. Bahkan, langit yang melingkupi hutan itu terlampau pekat, tanpa awan atau pun sinar matahari.Suara koakan gagak terdengar dari berbagai penjuru hutan mengiringi langkah Archibald. Lolongan, rintihan maupun suara-suara raungan makhluk peri terkutuk lainnya juga terdengar sayup-sayup dari kedalaman hutan yang sepenuhnya berwarna hitam di hadapannya. Permukaan tanah yang tertutup kabut sedikit menghambat langkah Archibald karena ia tak dapat melihat dengan jelas akar-akar pohon besar yang menjalar di sepanjang permukaan tanah. Sesekali ia tersandung dan jatuh terguling, tetapi dengan sigap ia bangkit dan kembali berjalan.Archibald sebenarnya telah terbiasa dengan medan Hutan Larangan. Ia sering ditugaskan sang raja secara pribadi untuk mengawasi pergerakan makhluk-makhluk unsheelie di tempat itu, karena ia adalah satu-satunya peri sheelie yang terbebas dari kutukan Hutan Larangan. Namun, kali ini rasanya sedikit berbeda. Archibald tak hanya memata-matai, tetapi juga harus mencari dan menyelamatkan Putra Mahkota Albert tanpa petunjuk yang memadai. Archibald juga tidak tahu persis siapa sebenarnya yang menculik Albert, tetapi intuisinya mengatakan jika Albert telah diculik dan dibawa ke Hutan Larangan.Tiba-tiba, pandangan Archibald menangkap sekelebat cahaya di balik kabut tepat di bawah kakinya. Jantungnya mendadak berdentum tidak karuan. Rasa takut dan penasaran berkecamuk di kepalanya hingga akhirnya sang pangeran peri menunduk dan meraba-raba permukaan tanah yang terasa bergelombang untuk menemukan benda tersebut. Setelah beberapa saat, tangannya menyentuh sebuah benda kecil berbentuk lingkaran yang terbuat dari logam.Archibald meraih benda itu dan mengeluarkannya dari kabut, kemudian memperhatikannya dengan seksama. Matanya membelalak. Ia mengenali benda itu. Gelang keberuntungan yang diberikan Tatianna kepada Albert sebelum mereka berangkat ke Fairyhill. Rupanya dugaan Archibald benar, Albert pasti berada di suatu tempat di Hutan Larangan.Archibald setengah berlari, menerobos Hutan Larangan lebih jauh. Pengharapannya akan keberadaan Albert tumbuh. Namun, kewaspadaannya meningkat. Pedang peraknya yang sedari tadi terhunus kini memendarkan cahaya putih, menandakan adanya bahaya yang datang mendekat. Seluruh pedang milik para pengeran peri elf di Kerajaan Avery adalah pedang sihir yang akan memberikan peringatan tanda bahaya ketika memasuki Hutan Larangan. Pedang-pedang itu dilapisi semacam sihir putih pelindung untuk mendeteksi kekuatan sihir hitam dan keberadaan peri unsheelie jika dalam keadaan terhunus.Sekelebat bayangan hitam yang melesat cepat seketika muncul di hadapan Archibald. Archibald berhasil menghindar saat bayangan itu nyaris menabraknya untuk kemudian menghilang kembali di balik kegelapan.Archibald kian meningkatkan kewaspadaan, memasang kuda-kuda siaga. Matanya menatap nyalang ke sekeliling, sementara pedang peraknya masih berpendar, yang menandakan bahwa makhluk unsheelie tadi masih berada di sekitarnya.Tiba-tiba embusan angin yang terasa janggal meniup punggung Archibald. Hawa dingin sontak menjalari rubuhnya. Archibald lantas menggeser tubuh, kemudian berbalik dengan pedang terhunus. Sekelebat bayangan hitam kembali muncul dan menyerang Archibald dengan cepat. Archibald sontak mengayunkan pedangnya, tetapi meleset. Pedangnya berdesing menyabet udara kosong di sekitarnya.Bayangan hitam yang ternyata menyimpan sebilah senjata tajam itu berhasil melukai lengan atas sang pangeran peri. Di saat bersamaan, energi kuat makhluk itu membuat Archibald terpental ke udara dengan segaris luka gores menganga tertinggal pada lengan atasnya, lalu bayangan hitam itu kembali menghilang tertelan kabut tebal di salah satu sisi hutan.Archibald meringis seraya membekap lukanya dengan telapak tangan, sebelum kembali berdiri dengan posisi siaga. Meski sepasang tungkainya gemetaran, ia bertekad untuk tidak lengah.Beberapa saat kemudian, keheningan yang janggal menyergap Hutan Larangan. Suara koakan gagak yang tadi berbunyi ramai mendadak menghilang. Raungan monster dan jeritan banshee pun mendadak senyap. Dalam sepersekian detik, sekelebat bayangan hitam yang sama kembali menyerang Archibald dari arah yang tak terduga dengan sangat cepat. Archibald kehilangan fokus sehingga serangan makhluk itu membuat tubuhnya melambung tinggi menghantam ranting-ranting kering yang menghitam pada salah satu pohon. Ranting-ranting kering yang rapuh itu patah sehingga tubuh sang pangeran peri serta-merta jatuh dari ketinggian.Archibald menjerit kesakitan bersamaan dengan tubuhnya yang berdebum menghantam tanah. Bunyi gemeretak tulang terdengar, sementara Archibald merasa tubuhnya mendadak kaku dan tak bisa digerakkan.Sesosok makhluk menyeramkan perlahan muncul dari gelapnya kabut Hutan Larangan. Makhluk itu berkulit hijau dengan telinga runcing dan rupa menyeramkan. Sepasang sayap besar yang mirip sayap kelelawar berwarna hitam membentang, menambah kengerian sosok tersebut. Dari mulutnya yang bertaring keluarlah suara raungan keras hingga memenuhi seluruh Hutan Larangan. Gagak dan kelelawar berhamburan dari sudut-sudut tergelap hutan demi mendengar suara itu. Makhluk itu adalah goblin, makhluk peri paling jahat yang menghuni Hutan Larangan.Archibald meringis menahan sakit saat darah segar keluar dari lubang telinganya. Belum reda sakit yang mendera sekujur tubuhnya, sang pangeran peri dihadapkan dengan kenyataan nyaris kehilangan pendengaran.Goblin berjalan mendekati Archibald perlahan. Bibirnya menyeringai menatap tubuh malang Archibald yang tak mampu bergerak. "Kau ingin menyelamatkan saudaramu dengan kondisi seperti ini?" tanya makhluk itu dengan nada mengejek."Katakan di mana Putra Mahkota Albert?!" bentak Archibald berang. Wajah pucatnya terlihat memerah diliputi emosi yang sedang memuncak dan rasa sakit luar biasa yang menggerogoti tubuh."Dasar peri sombong! Kau bahkan tidak dapat menyelamatkan dirimu sendiri dariku!" desis Goblin marah.Kedua mata makhluk itu menyala berwarna merah. Sebelah tangannya terangkat, memunculkan sebuah bola api yang kian lama kian membesar. Bola itu menyala, dengan lidah-lidah api berwarna kuning yang memancarkan suhu yang teramat panas. Sang goblin menyeringai jahat, sebelum mengambil ancang-ancang, bersiap untuk melemparkan bola api panas itu pada Archibald.Archibald menatap tajam pada mata merah menyala goblin, seakan menantang. Ia menunjukkan bahwa ia sama sekali tidak takut dan tidak akan tunduk, apa pun yang terjadi."Aku tidak takut!"Bola api berwarna kemerahan itu akhirnya terlempar ke arah Archibald. Panas yang menguar dari permukaan bola api itu membuat sang pangeran peri seketika pingsan tak sadarkan diri, bahkan sebelum lidah api itu sempat menyentuh kulit Archibald. Namun, keajaiban terjadi. Sebuah bola api berwarna putih melesat dari arah lain dan berhasil menghalau bola api Goblin. Bola api goblin mendadak hancur menjadi serpihan-serpihan kecil yang langsung hilang begitu menyentuh udara.Goblin membelalak. Ia tak menyangka bola api andalannya bisa hancur begitu saja. Makhluk itu menggeram marah dan mengalihkan pandangan pada sosok yang tiba-tiba muncul merusak rencananya.Tak jauh dari tempatnya berdiri, ia menangkap sesosok peri cantik, yang seluruh tubuhnya diliputi cahaya putih. Peri itulah yang mengeluarkan bola api putih penghancur bola api Goblin. Rambut pirang peri itu berkibar terlihat kontras dengan jubahnya yang berwarna hijau tua.Manik matanya yang berwarna hazel kehijauan membalas tatapan goblin dengan sorot mengintimidasi. "Beraninya kau menyentuh putraku, Wahai Makhluk Terkutuk?!"Sang goblin terlihat gentar untuk beberapa saat. Seringainya menghilang berganti dengan keterkejutan. Sebuah ingatan melintas dalam benak goblin, mengenali peri perempuan itu.Peri perempuan cantik itu lantas mengetukkan tongkat putihnya ke bumi. Kepala tongkat yang berbentuk bulat bertabur batu-batu mulia itu perlahan mulai bercahaya. Bersamaan dengan itu, manik mata sang peri menghilang meninggalkan bola mata putih, sementara mulutnya merapalkan mantra dalam suara rendah. Tongkat itu terangkat dengan sendirinya ke udara, lalu memunculkan garis-garis cahaya yang menyerang ke arah goblin dengan cepat.Goblin yang lengah, menjadi gelagapan saat segaris cahaya mengenai salah satu betisnya. Garis cahaya itu meninggalkan rasa panas yang tak terbayangkan, membuat sang goblin meraung. Garis-garis cahaya lainnya kembali menyerang Goblin, silih berganti tanpa jeda. Goblin yang awalnya bisa menghindari garis-garis cahaya itu lambat-laun merasa kewalahan dan kelelahan. Beberapa garis cahaya menyabet bagian tubuhnya. Bahkan, salah satu garis cahaya berhasil menyabet dadanya hingga menembus punggung. Akhirnya Goblin itu jatuh menggelepar di atas tanah. Tubuh hijaunya yang hangus mengepulkan asap tipis beraroma daging terbakar.Peri perempuan itu mendekati Archibald, mengangkat tubuh peri laki-laki yang tak sadarkan diri itu dengan kekuatan telekinesisnya, sebelum akhirnya menghilang di balik kabut Hutan Larangan.* * *Suara ketukan pintu membangunkan Ammara dari alam mimpi. Ia bergegas bangkit dari peraduannya dan berlari panik ke arah pintu bilik. Tidak pernah ada yang bertamu sepagi ini, bahkan mahkota bunga saja masih bercahaya. Pertanda pagi belum kunjung tiba. Sebuah perasaan aneh menyusupi hati Ammara.Ammara terkesiap kala melihat beberapa sosok prajurit elf telah berbaris di depan pintunya dengan gaya formal. Sesosok kesatria elf berjubah merah marun dengan lambang Kerajaan Avery menempel di dadanya maju ke hadapan Ammara."Ada apa ini?" tanya Ammara bingung."Maaf menganggu Anda pagi-pagi buta begini, Nona Ammara," ucap kesatria Elf itu seraya membungkukkan badannya sebentar. "Ada yang ingin saya sampaikan.""Katakanlah, ada apa?" tanya Ammara lagi. Wajahnya gusar. Ia sudah tidak sabar menanti apa yang ingin disampaikan utusan resmi kerajaan itu."Saya membawa sebuah kabar gembira. Nona Ammara dinyatakan bebas dari segala tuduhan yang berkaitan dengan sihir hitam yang menimpa para pangeran dan putri Kerajaan Avery. Nona Ammara juga dinyatakan bebas dari segala tuduhan persekongkolan dengan para peri unsheelie dari Hutan Larangan. Mulai detik ini juga, Nona Ammara dinyatakan bebas dan dapat kembali ke Fairyfarm kapan pun Nona siap."Ammara membelalak tak percaya. Di satu sisi, ia merasa sangat senang, tetapi di sisi lain ia merasa ada sesuatu yang tidak beres. "Tidak mungkin!" desisnya pelan. Ia lantas menatap peri elf yang baru saja menyampaikan keputusan itu. "Apa yang sebenarnya terjadi?"Peri elf perwakilan kerajaan Avery itu membalas tatapan Ammara bingung. "Pihak Kerajaan Avery telah menemukan pelaku sebenarnya. Raja dan Ratu meminta maaf yang sebesar-besarnya atas kesalahpahaman dan tuduhan yang diberikan kepada Nona Ammara."Peri Elf itu melanjutkan. "Dan, sebagai permintaan maaf kerajaan Avery, Raja dan Ratu Kerajaan Avery kelak akan mengundang Nona Ammara menghadiri sebuah perjamuan resmi.""Benar-benar sulit di percaya!" gumam Ammara pelan. Raut wajah bingungnya dalam sekejap kemudian berubah menjadi ceria. Ammara nyaris melompat-lompat di tempatnya berdiri. Namun, ia segera sadar ada banyak peri elf yang tengah memperhatikannya saat itu sehingga ia berusaha menahan diri."Baiklah, terima kasih. Apakah aku boleh pergi sekarang?" tanya Ammara antusias."Tentu saja, Nona. Namun, apa tidak lebih baik jika Anda menunggu sampai matahari terbit untuk pulang ke Fairyhill?"Ammara menggeleng cepat. "Tidak! Tidak masalah. Aku harus segera pulang. Ayah dan Ibuku pasti sangat mencemaskanku!"Kesatria Elf itu mengangguk takzim, memaklumi keputusan Ammara. Para kesatria Elf itu mengatur barisan untuk memberi jalan kepada Ammara.Ammara dengan sigap meraih jubah cokelatnya dan segera melesat turun dari kastel Timur. Ia tidak ingin menunggu pagi. Ia sudah sangat merindukan ibunya.Langkahnya terhenti pada sebuah taman khusus para unicorn istana. Di sana ia mendapati Selly yang sedang tertidur. Suara dengkuran halus terdengar dari mulut makhluk putih yang setengah terbuka."Selly!" Panggil Ammara setengah berbisik. Ia tak ingin membangunkan seluruh unicorn yang ada di sana."Psstt ... Selly, bangunlah. Ini aku!" desis Ammara pelan sembari berusaha membangunkan Selly dengan lemparan-lemparan batu kecil."Dia tidak akan bangun dengan kekerasan seperti itu," sela sebuah suara lemah lembut yang kontan mengagetkan Ammara.Ammara menoleh ke arah suara dan mendapati sosok Putri Tatianna telah berdiri di sampingnya. Salah satu tangan peri perempuan itu menjinjing sekeranjang penuh berisi buah Plum."Putri Tatianna?!""Aku senang karena akhirnya kau terbukti tidak bersalah," ucap Tatianna tanpa memandang ke arah Ammara. Tangannya sedang sibuk melempari buah Plum ke sekitar tempat Selly tertidur.Selly yang masih tertidur seakan dapat mencium aroma buah Plum. Hidung besarnya bergerak-gerak mengendus aroma yang paling ia sukai itu. Perlahan mata Selly terbuka, kemudian menguap beberapa kali sebelum akhirnya benar-benar bangun dari tidurnya. Selly lantas mencomot buah-buah plum di sekitarnya satu per satu.Ammara hendak memanggil Selly lagi, tetapi Tatianna terlebih dahulu melanjutkan perkataannya. "Apakah kau tahu bahwa Kerajaan Avery sedang berkabung?" Tatianna menatap kosong ke arah Selly. Kesedihan jelas membayang pada sorot matanya."Berkabung?"Tatianna mengangguk pelan. "Putra Mahkota Albert menghilang. Kemungkinan besar ia diculik, dan para pangeran terluka," tuturnya dengan dramatis. Sang putri kemudian menatap Ammara lekat-lekat. "Semua ini karena kamu. Karena mereka bersikeras menyelamatkan seorang peri biasa sepertimu.""A-apa?!" Ammara membelalak. Ia sangat terkejut mendengar apa yang baru saja dikatakan Tatianna. Sesuatu di dalam dadanya terasa sangat sakit."Kau tahu apa bagian terburuknya? Archibald pergi seorang diri memasuki Hutan Larangan untuk menyelamatkan Putra Mahkota Albert. Dan, hingga kini ia belum juga kembali!" Tatianna mengatakan itu dengan menatap tajam iris mata hijau Ammara. Tatapan yang penuh dengan kebencian dan penghakiman.Ammara menggeleng tak percaya. Wajahnya memucat. Sesuatu terasa menyesakkan dadanya.Tatianna menangkap gelagat ketidaknyamanan dalam ekspresi Ammara, ia kemudian melanjutkan perkataannya. "Tolong, jauhi para pangeran. Segala sesuatunya berubah jadi tak terkendali karena pertemuan mereka denganmu. Kembalilah dengan tenang ke Fairyhill. Dan, jangan pernah menginjakkan kakimu ke istana ini lagi." Setelah menyelesaikan kalimatnya, peri cantik itu segera berlalu begitu saja dari hadapan Ammara. Ia meninggalkan Ammara yang masih tampak syok dengan semua perkataannya.Putra Mahkota Albert di culik. Para pangeran Kerajaan Avery terluka dan Pangeran Archibald juga menghilang. Batin Ammara terus mengulang-ulang pernyataan itu hingga raut wajahnya berubah menjadi panik seketika.Dini hari itu juga, Ammara menunggang unicornnya keluar dari Istana Avery, menembus embun yang masih menggantung pekat di langit Fairyverse. Tujuannya hanya satu, yaitu Hutan Larangan.
The Orc
Archibald menggenggam beberapa buah apel merah, kemudian mengarahkan lemparan pada seekor unicorn putih yang sedang terdiam lesu di sudut taman Istana Avery. Unicorn itu sepertinya tidak tertarik sedikit pun dengan apel ranum di hadapannya.Archibald mendengus kesal seraya melempar apel itu ke sembarang arah. Ia sudah menawarkan unicorn itu beberapa jenis buah yang ada di Istana Avery, tetapi tampaknya unicorn itu tak tertarik sama sekali. Padahal unicorn berwarna putih itu telah berdiam di sana untuk beberapa hari tanpa makan."Apa maumu, hah?!" desis Archibald sambil memelototkan matanya ke arah unicorn malang di hadapannya. Unicorn putih itu meringkik pelan. Sebuah ringkikan yang bernada sedih."Sayang sekali sepertinya unicorn itu tidak dapat berbicara," ucap sebuah suara lembut yang datang mendekati Archibald. Sesosok peri cantik bersurai panjang berwarna perak telah berdiri tepat di sampingnya.Archibald menoleh sekilas, kemudian kembali fokus menatap unicorn putih di hadapannya. "Kau sudah sembuh?" tanyanya datar."Aku sudah merasa jauh lebih baik," sahut Tatianna. "Aku dengar kau akan pergi ke Hutan Larangan dengan para pangeran lainnya?""Iya," sahut Archibald tanpa minat."Kalian rela menantang bahaya demi peri dari Fairyfarm itu? Begitu istimewakah peri itu bagi kalian?"Pertanyaan Tatianna itu membuat Archibald tertegun. Ia menatap iris cokelat peri cantik itu sejenak. "Dia tidak bersalah. Aku merasa harus menolongnya. Yang lain juga merasa seperti itu.""Kalau aku yang ada di posisi peri Fairyfarm itu, apakah kau akan menolongku?""Putra Mahkota Albert tidak akan membiarkan itu terjadi," sahut Archibald singkat.Entah mengapa Tatianna merasa sedikit kecewa dengan jawaban itu. Satu bagian di dalam dadanya terasa sakit."A-aku hanya ingin memberikan ini padamu." Tatianna menyerahkan sebuah gelang perak dengan mata berbentuk daun semanggi berdaun empat. "Ini untuk keberuntungan dan cinta. Para leluhur kita membawa ini ketika berhadapan dengan peri jahat," tuturnya pelan.Archibald menatap gelang perak yang diulurkan Tatianna padanya. Kemudian, tatapannya beralih pada peri perempuan itu. Archibald menggeleng seraya menyunggingkan seulas senyum miring. "Kau berikan saja pada kakakmu. Aku tidak memerlukan benda seperti itu."Archibald hendak beranjak pergi meninggalkan Tatianna, tetapi langkahnya terhenti. Ia teringat sesuatu. "Boleh aku meminta tolong?"Tatianna mengangkat wajah muramnya dengan sorot mata berbinar antusias. "Tentu saja. Apa yang bisa kubantu?""Tolong, sediakan buah plum yang banyak untuk unicorn itu. Sepertinya ia hanya menginginkan buah plum," ucap Archibald datar. Kemudian, peri tampan itu berlalu dari hadapan Tatianna. Ia bergabung bersama Claude dan Elwood yang telah datang dengan menuntun unicorn masing-masing.Tatianna masih bergeming. Sesuatu terasa sangat sakit dan menyesakkan di dalam dadanya. Peri perempuan itu meremas gelang peraknya kuat-kuat, menahan kesedihan dan amarah yang nyaris terbit menjadi air mata di pelupuk matanya."Untuk siapa itu? Apa itu untuk Archibald?" sapa Elijah yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya.Tatianna terkejut. Wajah cantiknya memerah karena merasa tertangkap basah oleh Elijah. "Bukan urusanmu!" desis Tatianna mengalihkan rasa malunya.Elijah terkekeh."Aku merasa iri dengan saudaraku itu. Bahkan, Adik putra mahkota pun menaruh hati padanya."Tatianna memandang Elijah dengan tatapan tidak suka. "Jangan berpikir yang tidak-tidak!" katanya ketus.Elijah masih terkekeh melihat tingkah Tatianna yang berusaha menyembunyikan perasaannya. Ia hendak menyambung ucapannya lagi, tetapi urung karena Albert tiba-tiba datang dan berdiri di dekatnya."Kau sudah siap, Elijah?" sapa Albert seraya menepuk pundak Elijah sekilas."Siap, Putra Mahkota!""Bagus, mari kita berangkat. Jangan buang-buang waktu lagi. Tampaknya Archibald, Elwood dan Claude juga sudah siap," ucap Albert. Ia mengulas senyum seraya melambaikan tangan pada para pangeran yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Para pangeran itu sedang mempersiapkan unicorn mereka."Kakak!" panggil Tatianna.Albert menghentikan langkahnya yang hendak menyusul para pangeran dan menoleh ke arah Tatianna. Ia tersenyum melihat adiknya. "Ada apa?""Ini untukmu," bisik Tatianna seraya menyerahkan gelang perak bermata daun semanggi yang tadi hendak diberikamnya kepada Archibald.Elijah yang berada di sisi Albert sontak menutupi mulutnya dengan tangan, menahan tawa sekuatnya. Sementara, Tatianna sekilas mendelik tidak suka pada Elijah."Terima kasih, adikku. Kau perhatian sekali!" pujinya senang. Wajah rupawan Albert semringah begitu menerima gelang peruntungan dari adiknya.Tawa Elijah akhirnya pecah, tak dapat dibendung lagi. Tatianna mendengkus sebal seraya melemparkan tatapan sengit ke arah sang pangeran peri.Albert, Elwood dan Claude memandang ke arah mereka dengan bingung. Sementara Archibald hanya melirik sekilas pada Tatianna dan Elijah, kemudian bersiap-siap menunggang unicornnya.* * *Lima ekor unicorn terbang membelah langit Fairyhill. Sayap besar mereka mengepak perlahan begitu mendekati perbatasan Hutan Larangan. Para unicorn menukik pelan, nyaris serentak, sebelum mendarat perlahan pada sebuah padang rumput yang berbatasan tepat dengan Hutan Larangan.Putra Mahkota Albert dan para pangeran turun satu per satu dari unicorn tunggangan mereka, kemudian menyorot sekeliling tempat itu dengan heran dan waspada."Ada yang tidak beres dengan tempat ini." Archibald membuka suara."Kau benar, Fairyhill tidak biasanya setenang ini." Elwood menimpali. Ia mengarahkan pandangan pada deretan pohon besar yang letaknya agak jauh memasuki hutan Fairyhill. Biasanya para peri pohon akan menampakan diri jika ada peri lain yang mendekati perbatasan Hutan Larangan. Namun, kali ini, para dryad tak satu pun ada yang menampakkan diri.Padang rumput tempat mereka berhenti pun sangat hening. Biasanya sepagi itu para peri pixie akan terbang hilir mudik dengan riuh di atas permukaan rerumputan. Namun, kali ini tempat itu kelewat sepi."Bagaimana menurutmu, Claude?" tanya Putra Mahkota Albert. Ia meminta Claude untuk membaca situasi dengan mata batinnya. Alih-alih menanggapi ucapannya, Claude rupanya telah menggunakan kemampuannya tersebut dalam diam.Peri tampan bersurai hitam itu bergeming. Ia sedang berkonsentrasi melihat tempat itu dengan mata batinnya. Iris mata hitamnya menghilang menyisakan bola mata yang memutih.Tiba-tiba tubuh Claude terpental jauh dari posisinya berdiri tanpa ada apa pun yang menyerangnya. Ia meringis kesakitan dan terbatuk karena merasakan nyeri di dada. Sebuah kekuatan tak terlihat seolah menendang tubuh Claude dengan keras. Sontak para pangeran memasang posisi siaga, menghunus senjata mereka masing-masing."Claude?!" teriak Elwood seraya berlari menghampiri Claude. Ia membantu Claude bangun dari posisinya."Apa yang kau lihat?" tanya Elijah tegang. Ia menoleh ke arah Claude sekilas. Tangan kanannya memegang erat gagang sebilah pedang panjang. Posisinya siaga, siap menebas apa saja yang datang menyerang.Belum sempat Claude menjawab, tiba-tiba beberapa sosok orc muncul di hadapan mereka dari ketiadaan. Para orc berwajah monster itu menyeringai menampakkan gigi-gigi mereka yang tajam. Liur kental menetes dari mulut-mulut mereka yang menyeringai. Seketika suara raungan para orc memecah keheningan Fairyhill.Salah satu makhluk mengerikan itu merangsek maju ke arah Putra Mahkota Albert. Orc itu mengayunkan sebuah palu godam yang terbuat dari besi hitam berkarat ke arah Albert. Albert menangkis serangan tersebut dengan sebilah pedang sihir yang ia genggam. Pedang yang sekilas tampak kecil itu bercahaya kebiruan, mengeluarkan kekuatannya menghalau serangan orc sehingga palu godam itu gagal mengenai kepala Albert. Peri elf itu mendorong pedang peraknya sekuat tenaga, hingga orc dengan palu godam itu mundur beberapa langkah.Orc lainnya melesat maju mengayunkan sebilah pedang pada Albert, tanpa memberi jeda baginya untuk mengumpulkan tenaga. Albert menangkis sigap. Namun, orc itu menyerang lagi dengan gesit. Beruntung, Albert masih bisa menangkis. Napasnya tersengal dan ia mulai merasa kelelahan.Salah satu orc hendak mengayunkan kapaknya pada Albert dari arah belakang di luar sepengetahuan Albert. Namun, dengan sigap Archibald mengangkis kapak itu dengan pedangnya. Sementara orc dengan palu godam kembali mengayunkan senjatanya ke arah Albert, kali ini Elijah ikut menangkis dan membalikan posisi palu Godam itu ke empunya senjata. Orc nahas itu terpental sambil berteriak meraung.Archibald dan Elijah bersiaga melindungi Albert saat menyadari jika para orc ternyata menyerang sang Putra Mahkota.Akan tetapi, tak berapa lama orc yang terluka itu bangkit dan menggandakan diri. Mereka langsung menyerang Albert secara bersamaan.Archibald dan Elijah dengan sigap memainkan pedang mereka, menangkis setiap serangan yang mencoba melukai Albert. Beruntung, mereka adalah ahli pedang terbaik di Kerajaan Avery. Sementara, Claude dan Elwood yang tidak terlalu mahir bertarung mencoba membantu lewat sihir yang mereka miliki."Mereka mengincar Putra Mahkota Albert!" teriak Elwood."Aku tahu," sahut Archibald di antara desing senjata yang beradu. Ia berada di belakang Albert, menangkis tiap serangan yang mengarah pada Albert dari arah itu dengan sigap.Lima orc muncul lagi entah dari mana. Mereka berlari menuju Albert dari berbagai penjuru. Demi melihat itu, Claude yang telah merasa sedikit baikan mulai mengeluarkan tongkat sihirnya. Ia mengibas-ngibaskan tongkat tersebut seraya merapal sebuah mantra. Serbuk-serbuk peri berwarna putih keluar dari ujung tongkatnya dan memercik ke arah lima orc yang baru muncul. Begitu serbuk peri mengenai tubuh orc , monster-monster itu terpental sejauh beberapa meter.Namun, lagi-lagi para orc bertambah banyak. Lima orc yang terluka, kemudian memunculkan sepuluh orc baru."Apa ini?! Mereka sangat kuat dan jumlah mereka terus bertambah!" gumam Claude panik.Di sisi lain, salah satu orc dengan sebilah tombak bermata runcing mendekati Claude yang lengah. Orc itu hendak menancapkan tongkatnya di dada Claude. Elwood yang menyaksikan itu serta merta menahan tongkat orc . Orc bermata merah itu mendelik marah seraya mendorong tongkatnya kuat ke arah Elwood yang setengah mati menahannya. Ujung tombak yang runcing tersebut hanya berjarak satu jari dari dada Elwood.Elwood memejamkan mata. Tubuhnya bergetar ketakutan. Napasnya memburu dan jantungnya berdetak di luar kendali. Ia merasa nyaris menyerah. Namun, tiba-tiba, Claude berbalik dan menendang kepala orc itu hingga membuat tombak yang dipegangnya jatuh terpental. Makhluk itu meringis, memegangi kepalanya yang kesakitan. Pada detik berikutnya, orc itu menggandakan dirinya.Kini jumlah orc telah tiga kali lipat dari jumlah awal kedatangan mereka. Claude dan Elwood telah bergabung bersama Archibald, Albert dan Elijah. Mereka terperangkap. Para orc yang brutal dan beringas itu telah mengepung mereka dalam lingkaran."Makhluk apa mereka?!" tanya Archibald setengah berteriak. Tangannya menangkis serangan palu godam yang mencoba menghantamnya."Seorang unsheelie telah menciptakan pasukan monster. Lagi pula, Fairyhill ini sudah tersegel oleh kekuatan sihir hitam. Kita telah dijebak!" jawab Claude seraya meringis menahan sakit di pergelangan tangannya akibat tinjuan orc . Tongkat sihirnya terlepas dari genggaman hingga terlempar beberapa meter jauh dari jangkauan. Claude merasa putus asa karena tongkat sihir adalah kekuatan satu-satunya yang ia miliki untuk melawan para monster ini.Kabut tebal tiba-tiba muncul dari arah perbatasan Hutan Larangan. Perlahan-lahan, kabut yang awalnya hanya sebuah kepulan asap tipis itu lambat-laun menebal dan meluas, menutupi hampir seluruh wilayah Fairyhill. Para pangeran terjebak di dalam kabut.Raungan para orc mendadak hilang tertelan kabut. Para monster yang mengepung para pangeran menghilang ditelan kabut yang semakin pekat.Archibald berusaha menajamkan pandangannya di dalam kabut, tetapi rasanya sia-sia. Matanya perih. Dadanya juga terasa terbakar. Ia terbatuk beberapa kali. Archibald tidak menyerah, ia kembali menajamkan penglihatan, mencari celah di antara kabut untuk mengetahui posisinya. Tak jauh dari tempatnya berdiri, Claude dan Elwood tampak terkapar tak sadarkan diri. Para orc tidak terlihat lagi."Archibald!" sapa sebuah suara lirih dari balik kabut.Archibald mencari-cari keberadaan suara tersebut, hingga menemukan Elijah yang jatuh tersungkur sambil memegangi dadanya. Peri laki-laki itu terlihat sangat kepayahan."Elijah!" Archibald mendekati peri laki-laki itu, berusaha membantunya berdiri."Putra Mahkota Albert menghilang!" ucap Elijah parau di sela-sela batuknya. Setelahnya Elijah terbatuk hebat, sebelum akhirnya hilang kesadaran."Tidak! Elijah!" Archibald mengguncang tubuh saudaranya, berusaha menyadarkan. Namun, semua itu sia-sia belaka. Sang pangeran peri terus bergerak laksana sosok buta guna mencari saudaranya yang lain.Setelah beberapa saat yang terasa sangat lama, perlahan-lahan kabut tebal mulai menipis. Kabut itu seakan tersedot ke arah perbatasan Hutan Larangan, menyisakan Archibald yang bergeming frustrasi karena mendapati ketiga pangeran yang tergeletak tak sadarkan diri dan Putra Mahkota yang menghilang.Orc adalah salah satu ras peri yang brutal, jahat dan senang berperang. Fisiknya seperti manusia hanya berukuran sedikit lebih besar, kadangkala membawa senjata berupa palu. Di Fairyverse, orc termasuk golongan peri unsheelie.
Farewell
Hari beranjak petang. Kunang-kunang mulai keluar dari persembunyian, memendarkan cahaya kekuningan di sela-sela pepohonan di Fairyverse. Tak lama lagi, kelopak-kelopak bunga pun akan mengeluarkan cahaya pertanda malam telah tiba.Ammara duduk termenung menghadap keluar jendela biliknya di Kastel Timur. Matanya menatap langit lembayung yang hampir gelap, tetapi nyatanya pikiran sang peri sedang berkelana menuju Fairyfam, ke rumah cendawan. Ia tak beranjak dari tempat itu barang sejenak pun sejak kepergian para pangeran peri siang tadi.Ammara sangat merindukan ibunya. Bayangan Ella yang sedang melakukan aktivitas di setiap penjuru rumah cendawan seakan menari-nari di pelupuk mata hingga tetes-tetes air bening bergulir di pipinya yang pucat.Setelahnya, bayangan Ella berganti dengan kejadian terakhir di kebun plum Ailfryd. Kemarahan sang ayah justru menjadi sesuatu yang ia rindukan sekarang. Ammara juga merindukan Marybell dan Tally yang menyebalkan, serta kebisuan Selly yang menenangkan, dan Fairyfarm yang damai. Ammara mendadak mengingat unicornnya yang ia tinggalkan di halaman Istana Avery begitu saja saat mengikuti cahaya berwarna ungu. Ia berharap ada yang berbaik hati mengurus dan memberi buah-buahan pada unicorn berwarna putih itu.Ammara mengembuskan napas panjang. Ia merasa sesak memikirkan nasib yang menimpanya. Ia merasa dijebak. Hidupnya yang aman dan tenang di Fairyfarm mendadak berubah jadi petaka gara-gara kalung zamrud yang ia miliki, dan anehnya ia tak dapat mengingat sama sekali dari mana kalung zamrud itu berasal. Ia juga tidak tahu bagaimana kalung itu bisa mengeluarkan cahaya ungu.Apakah kalung itu pemberian orang tuanya? Ataukah ada peri lain yang memberikannya? Ammara tidak tahu pasti. Satu hal yang sangat ia yakini adalah orang tuanya tidak mungkin melakukan hal yang dapat mencelakakannya.Tiba-tiba terdengar suara derit pintu bilik Ammara. Peri perempuan bersurai keemasan itu sontak menoleh seraya menghapus sisa air mata di pipinya.Ella, ibunya, secara mengejutkan, berdiri dengan mata sembab yang sama di depan pintu bilik. Seorang peri kesatria elf penjaga bilik telah membukakannya pintu. Sementara, sesosok peri pixie dengan sayap kupu-kupu mengekor di belakang Ella."Ibu! Marybell!" jerit Ammara senang. Ia langsung menghambur ke pelukan Ella. Tangisnya mendadak pecah.Untuk beberapa saat lamanya Ammara melepaskan raungannya, seumpama anak kecil kehilangan permen. Sementara, Ella pecah dalam kesedihan yang sama sembari mengusap punggung anaknya lembut. Kedua peri perempuan itu larut dalam keharuan dan kesedihan yang serupa.Marybell yang mengambang di samping Ella turut menitikkan air mata. Bahu peri kecil itu bergetar. Pemandangan pertemuan ibu dan anak di hadapannya itu benar-benar mengoyak hatinya. Benar-benar senja yang penuh haru."Kau terlihat sangat menyedihkan, Nak," gumam Ella pelan setelah melepaskan pelukannya dari Ammara. Iris mata hijaunya menatap Ammara lekat dan kedua tangannya menyeka pipi peri perempuan itu lembut."A-aku merindukan ibu," ucap Ammara lirih. Ia kembali membenamkan wajahnya di dada sang ibu, meminta untuk dipeluk lagi.Ella memeluk putrinya lagi seraya mengelus surai emas Ammara. Wajahnya sendu, tetapi ia memaksa dirinya untuk tersenyum tegar agar putrinya tidak bertambah sedih."Apa kau tidak merindukanku, Ammara?" celetuk Marybell di antara isak tangisnya.Ammara mengangkat wajahnya dari pelukan Ella demi mendengar suara melengking Marybell yang parau. Ia tersadar bahwa Marybell sedari tadi terbang mengambang di sebelah ibunya. Ia menatap Marybell, kemudian memeluk erat peri pixie itu.Marybell terkejut. Tangisnya terhenti seketika. Bukannya ia tidak senang dipeluk Ammara yang dirindukannya. Akan tetapi, pelukan peri elf pada tubuh kecilnya itu terlalu erat hingga membuatnya susah bernapas."Le-lepaskan aku Ammara! Lepaskan! LEPASKAN!" jeritnya sambil berusaha mengeluarkan diri dari dekapan Ammara.Ammara sontak terkekeh dan melepaskan pelukannya. "Maafkan aku Marybell. Aku sangat merindukanmu.""Aku juga. Fairyfarm terasa sepi tanpa kehadiran Ammaraku yang cantik!" sahutnya seraya mengembuskan napas lega karena telah terbebas dari dekapan Ammara."Kau tidak mengajak Tally? Apa dwarf itu sudah melupakanku?" Ammara mengerucutkan bibirnya memasang tampang kecewa karena Tally tidak ikut menjenguknya."Dia sangat ingin menjengukmu. Dwarf tua yang malang itu mengumpat sepanjang waktu sejak kau ditahan pihak Kerajaan Avery. Sebenarnya dia dan Tuan Ailfryd ikut kemari, tetapi pihak istana hanya memperbolehkan ibumu masuk. Dan aku, aku mengaku sebagai asisten ibumu, sehingga aku bisa masuk."Ammara tersenyum dan mengangguk pelan menanggapi penjelasan Marybell yang panjang lebar. Suara melengking peri pixie itu sedikit mengobati kesedihan Ammara. Namun, di sisi lain juga menambah kerinduan Ammara pada Fairyfarm.Ammara mengusap sisa-sisa air mata yang menggenang di pipinya. Tangisnya telah berhenti. Ia menuntun ibunya dan Marybell untuk menduduki kursi yang mengelilingi meja bundar di tengah biliknya."Aku membawakanmu ini," ucap ibunya seraya menghaturkan keranjang-keranjang rotan kecil yang ditutupi dengan daun ke atas meja.Ella menyingkap daun yang menutupi keranjang-keranjang rotan tersebut, sehingga tampaklah buah-buah plum, jeruk dan apel yang ranum. Buah-buahan itu ia petik dari kebunnya sendiri di Fairyfarm. Ia tahu Ammara sangat merindukan Fairyfarm, ia berharap buah-buahan itu dapat sedikit mengobati kerinduan Ammara."Bagaimana, kau suka, Nak?" Tanya Ella lembut.Ammara menatap buah-buahan ranum itu dengan berselera. Ia mencomot sebuah plum yang paling besar dan menggigitnya."Terima kasih, Bu," sahut Ammara dengan mulut penuh.Ella menatap peri perempuan di hadapannya dengan tatapan sendu. Ada kesedihan mendalam yang coba ia sembunyikan dari Ammara."Aku senang sekali Ratu memberikanku izin untuk menemuimu, Nak. Aku sangat mengkhawatirkanmu. Aku merasa bersalah karena tidak dapat menjagamu dengan baik. Maafkan aku." Ella berucap lirih. Ia meraih tangan Ammara dan meremasnya pelan."Ibu tidak salah," sergah Ammara. "Akulah yang bersalah. Aku tidak mendengarkan ibu. Seharusnya aku tidak pernah keluar dari Fairyfarm. Aku bahkan pernah pergi ke Fairyfall dan Fairyhill tanpa seizin ayah dan ibu. Aku sangat menyesal. Maafkan aku, bu."Ammara kembali terisak. Ella mengelus punggung tangan Ammara untuk menenangkannya."Harusnya ibu tidak perlu mengekangmu seperti itu 'kan? Kau gadisku yang punya rasa ingin tahu tinggi. Harusnya aku tahu bahwa semakin aku mengekangmu, rasa ingin tahumu akan semakin besar dan kau akan melakukan apa pun untuk memuaskannya. Salah satunya adalah dengan melanggar laranganku."Ammara tertunduk menekuri meja kayu bundar di hadapannya. Ia mencerna setiap perkataan ibunya."Bu, tetapi bukan aku yang menyihir putri dan para pangeran. Aku tidak tahu kenapa kalung itu bisa mengeluarkan cahaya berwarna ungu. Aku hanya berusaha mencari tahu ke mana cahaya itu pergi. Aku mengikutinya, ternyata cahaya itu menuju Istana Avery.""Ibu percaya padamu, Nak," sahut Ella seraya menatap Ammara lekat-lekat. "Ibu menyesal tidak menjagamu dengan baik. Apa pun yang terjadi, ibu janji ibu akan selalu melindungimu. Ibu benar-benar menyayangimu, Nak.""Ke-kenapa ibu bicara seperti ini?"Ella menggenggam kedua tangan putrinya erat-erat. "Ada sesuatu yang harusnya ibu sampaikan sejak lama padamu, Nak. Ibu sengaja menutupinya untuk melindungimu. Namun, ibu rasa ... sudah saatnya kamu mengetahui kebenaran ini."Suara Ella seolah menggantung di udara. Di hadapannya Ammara menatap dengan sorot tegang. Marybell yang sedari tadi duduk santai mengunyah plum sontak membuang sisa potongan kecil plum yang digenggamnya. Tubuh mungil peri pixie itu kini ikut menegang. Telinga kecilnya yang runcing bergerak-gerak.Ella menyadari reaksi Marybell. Ia teringat bahwa ada peri lain yang akan mendengarkan pembicaraan rahasianya dengan sang anak.Ella berdeham. "Marybell, tolong cari Ailfryd dan Tally. Katakan pada mereka untuk mempersiapkan kereta. Kita tak lama lagi akan pulang ke Fairyfarm.""Ta-tapi, Nyonya Ella, aku ...""Cepat susul mereka. Aku takut mereka lupa dengan kita karena keluyuran di taman istana!" tegas Ella sambil membelalakan mata memberi kode agar Marybell segera pergi."Baik, Nyonya Ella. Sampai ketemu lagi Ammara!" Marybell mendengkus sedikit kecewa. Namun, ia menuruti juga permintaan Ella. Di ambang pintu bilik, Marybell menoleh dan memberikan fly kiss dengan gaya genit ke arah Ammara. Ammara mendelik, sementara Marybell melanjutkan terbangnya sambil mengikik geli.Suasana menjadi hening kembali sepeninggal Marybell. Ella beralih duduk tepat di samping Ammara."Apa sebenarnya yang harus aku ketahui, Bu?" tanya Ammara tidak sabar. Iris mata hijaunya menatap mata Ella, berusaha mencari kebenaran.Ella masih diam. Ia memainkan rambut pirang keemasan Ammara dengan lembut. Peri itu tampak berpikir keras merangkai kata-kata terbaik."Aku ingin kau berjanji, anakku. Apa pun yang terjadi, tetaplah menjadi jadi dirimu sendiri. Tetaplah jadi peri kecilku yang jujur, baik hati, dan pemberani. Berjanjilah kau tidak akan berubah, anakku? Karena setelah ini, sesuatu yang besar akan kau hadapi. Apa pun atau siapa pun yang membawamu ke dalam lingkaran ini, tidak akan berhenti sampai di sini.""Aku berjanji, Bu. Akan tetapi, a-apa maksud ibu?""Saat ini mungkin kau tidak mengerti. Namun, kelak kau akan memahami semuanya, Nak.""Jadi, apa ibu tahu siapa pemilik kalung zamrud yang aku pakai dan cahaya ungu apa yang keluar dari mata kalung itu, Bu? Para pangeran menanyaiku. A-aku sama sekali tidak tahu, Bu."Ella menggeleng pelan. "Setahu ibu cahaya ungu itu biasanya hanya dimiliki oleh para penyihir hitam di Hutan Larangan. Mereka adalah peri unsheelie."Ammara mengerutkan alis, mencoba mencerna setiap perkataan ibunya. "Aku sama sekali tidak mengenal dan terlibat dengan para penyihir hitam, Bu. Aku juga tidak pernah ke Hutan Larangan.""Ibu percaya padamu, Ammara. Pesan ibu, jangan pernah melihat segala sesuatu hanya dengan mata. Namun, lihat juga dengan mata hatimu. Karena mata hatimu yang akan menuntunmu pada kebenaran.""Ibu, kenapa dari tadi ibu memberiku pesan-pesan seolah akan pergi jauh?" tanya Ammara lirih.Ella menunduk menahan air mata yang sebentar lagi akan runtuh. Setetes air mata lolos dan mengalir di salah satu pipinya. Ia mengembuskan napas panjang, kemudian kembali menatap manik mata Ammara."Harusnya aku mengatakan ini dari awal, Ammara. Sebenarnya, aku dan Ailfryd bukanlah orang tua kandungmu," ucap Ella dengan suara bergetar."Apa ... ?"Pernyataan Ella sontak meruntuhkan kedamaian hati yang baru saja kembali Ammara reguk senja itu. Ia menatap Ella tak percaya. Ia berharap apa yang didengar telinganya adalah sebuah kesalahan."Maafkan kami yang merahasiakan ini dari awal. Kami tahu, kami bersalah Ammara. Kami hanya ingin melindungimu."Ammara bergeming. Ternyata telinganya tidak salah dengar. Pelupuk matanya perih, tetapi tak setetes air mata pun keluar. Kenyataan yang diungkapkan Ella seakan menamparnya. Ammara tersenyum getir, mencium kedua tangan ibunya seraya menahan sakit. Sesuatu di dalam dadanya terasa hancur.* * *Ella berjalan perlahan menyusuri lorong Kastel Timur, menuju gerbang keluar. Temaram cahaya senja menyamarkan pipinya yang berkilat karena air mata.Hatinya sedikit lega karena telah mengungkapkan kebenaran yang selama ini ia pendam kepada Ammara. Namun, masih ada satu rahasia besar yang akan tetap ia simpan. Ia bertekad untuk menyimpan rahasia itu sampai mati."Ella, kaukah itu?" tanya sebuah suara yang muncul di hadapan Ella dari arah berlawanan.Ella mengangkat wajahnya dan menyunggingkan seulas senyum. "Maurelle? Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini.""Aku sengaja ingin menemuimu. Aku tahu kau akan datang ke mari," sahut peri cenayang istana itu seraya membalas senyum Ella."Ada apa, Maurelle?""Aku juga tahu apa yang kau rencanakan, Ella."Ella tertegun mendengar kata-kata Maurelle. "A-aku tidak tahu apa maksudmu.""Aku sudah tahu siapa Ammara.""Apa maksudmu?" tanya Ella terkejut."Aku menanyai hampir seluruh dwarf dan pixie pekerja di Fairyfarm. Mereka bilang Ammara bukan anakmu. Kau dan Ailfryd hanya mengangkatnya sebagai anak." Maurelle berhenti sejenak sebelum melanjutkan ucapannya dengan nada ancaman. "Jangan pernah melindunginya, Ella. Jangan pernah!" desis Maurelle sambil menatap Ella tajam."Kau memata-mataiku, Maurelle? Kau tidak mempercayai temanmu sendiri?!" Emosi Ella tersulut."Tidak, Ella. Aku bukannya tidak mempercayaimu. Aku berusaha melindungimu. Jangan sampai kau berurusan dengan Dewan Peri, Ella. Karena jika terbukti bersalah pilihannya hanya dua, mati atau dibuang ke Hutan Larangan!""Anakku tidak bersalah, Maurelle!""Dia bukan anakmu, Ella! Berhentilah melindungi peri itu. Jangan bersikap sebagai lilin yang merelakan dirinya habis demi sebuah nyala kecil. Keberadaanmu lebih berharga dari pada peri itu!"Ella menatap Maurelle dengan sorot mata penuh kemarahan. "Apa pun yang terjadi dia adalah anakku, Maurelle. Kau tidak berhak menilai apa yang berharga atau tidak untukku. Aku akan melindunginya dan kau tidak akan bisa mencegahku!"Maurelle terdiam. Matanya menatap nanar peri perempuan yang ada di hadapannya. Begitu juga sebaliknya. Dua peri yang dulunya bersahabat erat, kini tampak saling bertentangan. Suasana menjadi hening dengan aura kebencian dan kemarahan yang melingkupinya."Ella sayang, kami sudah siap, kata Marybell kau su---Ailfryd yang tiba-tiba datang menyusul Ella terkejut dan tidak jadi melanjutkan kata-katanya saat melihat Ella dan Maurelle bersitegang dengan sorot mata saling membenci. Ailfryd merasa tidak nyaman."Aku sudah selesai, Sayang. Mari kita pulang!" sahut Ella. Ia menggandeng lengan Ailfryd meninggalkan Maurelle yang masih bergeming dalam kemarahannya.
Heartthrob
Archibald bergeming. Iris mata hazel kehijauannya menatap lurus ke depan, ke arah lawan bicaranya. Wajahnya datar, tak menunjukkan ekspresi apa pun. Sementara kedua tangannya terlipat di dada menunjukkan superioritasnya.Di hadapannya, Ammara menatap Archibald sengit. Matanya memicing penuh kecurigaan terhadap pangeran peri yang sekarang sedang duduk di hadapannya. Ammara cukup terkejut karena Archibald dan Claude adalah peri pertama yang mengunjunginya sejak ia dipindahkan Sang Ratu ke kastel sebelah Timur.Claude yang duduk tepat di samping Archibald merasa tidak nyaman dengan suasana saat itu. Ia menatap kedua peri yang bersitegang di hadapannya dengan kening berkerut. Claude menghembuskan napas keras seraya mengucek surai hitam yang jatuh menutupi dahi dengan kesal. Ia mengira segala sesuatunya akan berjalan lancar. Namun, ternyata ia salah. Dua peri di hadapannya ini adalah sepasang peri paling keras kepala yang pernah dikenalnya."Tolong, hentikan sikap kalian yang kekanak-kanakan ini!" sergah Claude sambil mendengkus."Dia yang tidak sopan! Dia menutup pintu di hadapan tamu yang datang untuk menolongnya," desis Archibald dengan salah satu alis yang terangkat."Lihatlah sikapnya, Claude! Begitu kasar dan arogan. Aku ragu jika ia datang ke sini untuk menolongku. Jangan-jangan dia hanya ingin menyombongkan diri!" balas Ammara tak kalah sengit. Matanya menatap tidak suka ke arah Archibald."Aku tidak sombong, peri aneh! Aku memang hebat. Hampir seluruh peri di Fairyverse mengenalku sebagai peri terbaik di medan perang. Aku bahkan dapat keluar masuk Hutan Larangan tanpa terkena sihir atau kutukan. Jadi apa yang salah dari sikapku?!""Kau bilang membanggakan diri seperti itu tidak sombong? Di mana hatimu peri hebat? Apa kehebatanmu telah menutup hatimu atau kau memang tidak punya hati?!"Dasar peri aneh! Aku kemari untuk membantumu. Bukan untuk mendengarmu merendahkanku. Sepertinya menolongmu adalah keputusan yang salah!"Archibald menggebrak meja pualam hingga menimbulkan retakan-retakan halus. Dengan gerakan cepat, peri laki-laki itu hendak beranjak dari duduknya, tetapi Claude menahan lengannya. Sementara, Ammara yang tampak ingin membalas ucapan Archibald jadi mengurungkan niatnya setelah melihat wajah putus asa Claude."Aku tidak tahu apa masalah kalian sebenarnya. Kalian tampak saling membenci. Namun, aku mohon dengan sangat, untuk saat ini tolong lupakan dulu kebencian kalian masing-masing. Kita harus menyelamatkan Ammara. Kalau tidak, Ammara bisa saja dibuang ke Hutan Larangan. Aku mohon fokuslah kali ini saja ..." ucap Claude sambil menatap Archibald dan Ammara bergantian.Ammara dan Archibald bergeming. Mereka menunduk, sama-sama menghindari tatapan Claude yang terlihat menghakimi. Suasana yang tadinya memanas, kini mendadak hening."Baiklah." Claude menghela napas. "Aku akan mempertegas situasinya. Archibald, apakah kau benar-benar bersedia membantu Ammara?" Iris mata Claude yang hitam menyorot pada Archibald.Archibald menatap Claude sekilas. Kemudian, ia mencuri pandang ke arah peri perempuan yang sedang tertunduk di hadapannya. Entah mengapa, Archibald merasa sangat iba pada peri itu meskipun Ammara sering membuatnya kesal tanpa alasan."Ya, aku bersedia," sahutnya dengan datar.Ammara melirik Archibald, meyakinkan dirinya bahwa ia tidak salah dengar. Ia hampir tidak percaya bahwa peri sombong dan kasar seperti Archibald bersedia menolongnya. Ammara mengingatkan dirinya sendiri untuk tetap waspada terhadap peri itu."Bagus!" Claude menyeringai, kemudian mengalihkan pandangannya pada Ammara. "Apakah tidak masalah bagimu jika Archibald ikut terlibat untuk menolongmu?""Ya, tidak masalah kalau dia memang benar-benar ingin menolongku,"sahut Ammara ketus."Apa maksudmu?!" Archibald tampak tersinggung."Aku tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya meyakinkan bahwa kau memang tulus ingin menolongku. Itu saja.""Kau ingin mulai lagi?!""Oh, ternyata selain sombong kau juga mudah tersinggung, ya.""Tutup mulutmu! Kau sungguh membuat kesabaranku habis!""Hentikan!"Claude berdiri sambil menggebrak meja di hadapannya. Meja itu semakin retak, bahkan mengepulkan asap putih dari celah retakannya."Aku tidak tahan dengan kalian berdua. Apa kalian ingin aku pergi?!"Ammara dan Archibald serentak mendengkus. Mereka sama-sama membuang muka ke arah berlawanan. Tanpa mereka sadari, mereka saling mengerling saat salah satu di antaranya sedang menatap ke arah lain.Claude melihat tingkah kedua peri itu seraya mengembuskan napas panjang. Ia berusaha menenangkan dirinya sendiri yang mulai tersulut emosi melihat tingkah dua peri keras kepala yang sama-sama tak mau mengalah. Setelah membiarkan suasana hening untuk beberapa saat, Claude akhirnya kembali buka suara. "Jadi, sebenarnya, kedatangan kami kemari ingin membantumu, Ammara. Aku belum sempat berkata apa-apa dan kalian sudah bertengkar."Wajah Ammara memerah, ia merasa tidak enak dan malu kepada Claude karena menyadari sikapnya yang kasar dan emosional tadi. Dalam hati, ia merutuki dirinya sendiri yang bersikap berlebihan terhadap Archibald."Ma-maafkan aku," ucap Ammara lirih. "Maksudmu membantu bagaimana, Claude?""Jadi, kami kemari untuk mengetahui cerita lengkap tentang kalung zamrud yang kau miliki. Bagaimana kau mendapatkannya? Dan, dari mana kau mendapatkan kalung zamrud itu?"Ammara tampak berpikir sejenak. Ia berusaha mengingat-ingat segala hal tentang kalung zamrud yang dimaksud Claude. Kalung zamrud yang seingatnya memang telah melingkar di lehernya sejak lama. Apakah ia mendapatkan kalung zamrud itu dari seseorang ataukah kalung zamrud itu merupakan pemberian dari orang tuanya? Ia tidak tahu pasti. Ia tak dapat mengingat apapun tentang asal-muasal kalung itu. Tiba-tiba kepalanya terasa sedikit pusing. Ammara menyentuh pelipisnya sambil meringis."A-aku tidak ingat apapun," sahut Ammara pelan."Jangan permainkan kami, Ammara. Tidak mungkin kau tidak mengingatnya. Aku hanya ingin kau mengatakan yang sejujurnya?" desak Claude.Ammara menggeleng pelan. "Maafkan aku. Aku sama sekali tidak bisa mengingat dari mana kalung itu berasal."Archibald menghela napas dengan kasar. Peri tampan itu hendak mengatakan sesuatu, tetapi Claude dengan tatapannya memberi isyarat kepada Archibald untuk menahan diri."Apa maksudmu dengan tidak bisa mengingat dari mana kalung itu berasal? Apakah kalung itu bukan pemberian orang tuamu?" Claude bertanya lagi penuh selidik.Ammara menggeleng. Ia menatap Claude dengan sorot frustrasi. Peri perempuan itu menggenggam tangannya sendiri dengan keras sehingga kulit telapak tangannya memucat. Bagaimanapun Ammara mencoba, ia tidak dapat mengingat apapun tentang kalung zamrudnya."Aku tidak percaya ini!" decak Archibald frustrasi.Claude yang berada di sampingnya menggeleng pelan, menampakkan raut yang sama frustrasinya dengan Archibald."Bagaimana kalau kau menggunakan kemampuan retrokognisimu, Claude?" Tiba-tiba Archibald mendapatkan sebuah ide. Ia menatap Claude, kemudian mengalihkan pandangannya kepada Ammara sekilas.Claude mengangguk pelan. Iris mata hitamnya tak lepas menyoroti sosok Ammara. "Kau benar Archibald, aku lupa kalau sebenarnya aku bisa saja dengan mudah mengetahui masa lalu peri ini. Terima kasih telah mengingatkan!" sahut Claude yang mendadak antusias."Ammara, tolong izinkan aku untuk membaca ingatan masa lalumu, ya?" tanya Claude lembut.Ammara mengangguk ragu. Dia sebenarnya tidak mengerti apa yang dibicarakan Claude dan Archibald, tetapi apa pun itu, Ammara akan menurutinya."Baiklah, Ammara. bolehkah aku menggenggam tanganmu?"Ammara mengangguk lagi. Ia mengulurkan salah satu tangannya ke atas permukaan meja.Dengan hati-hati, Claude meraih dan menggenggam tangan peri itu. Setelahnya, Claude berkomat-kamit melafalkan mantra dalam lirih. Iris mata kelamnya seketika menghilang, menyisakan putih mata yang berpendar. Dalam alam pikirannya, Claude sedang menjelajah mencari memori masa lalu Ammara tentang mata kalung zamrud yang dimilikinya.Claude terkesiap hanya beberapa detik setelah perjalanannya menjelajah ingatan Ammara. Peri laki-laki itu sontak melepaskan genggaman tangannya, kemudian menatap Ammara dengan tatapan tidak percaya. Lebih tepatnya, ia syok."Ada apa?" tanya Ammara dan Archibald hampir bersamaan. Kedua peri itu tampak bertukar pandang untuk beberapa detik, sebelum akhirnya menatap Claude dengan penuh tanya.Claude menggeleng pelan seraya menatap Ammara dengan tatapan tidak percaya. "Aku tidak bisa melihat apa pun!" serunya dengan suara meninggi."Apa maksudmu, Claude?" tanya Archibald dengan sedikit panik. Baginya, raut wajah Claude saat itu menunjukkan ekspresi yang tidak biasa."Ini aneh. Aku tidak pernah melihat yang seperti ini. A-aku tidak bisa melihat masa lalunya," sahut Claude dengan suara tercekat."Apa? Bagaimana bisa? Bukankah kau selalu bisa membaca masa lalu para peri hanya dengan menggenggam telapak tangan mereka? Apa kau mendadak kehilangan kemampuanmu?"Pertanyaan-pertanyaan Archibald itu terasa sangat menyudutkannya. Sedikit rasa kecewa terbit di hati Claude. Claude menatap iris hijau Ammara, seolah mencari kebenaran di sana. Bagaimana mungkin, peri cenayang seperti dirinya tidak mampu membaca masa lalu peri biasa seperti Ammara."Si-siapa sebenarnya dirimu?" tanya Claude dengan tatapan yang tidak dapat Ammara artikan.Ammara membuka mulutnya hendak menjawab pertanyaan Claude, tetapi sebuah suara yang datang dari arah pintu membuat Ammara mengurungkan niatnya."Selamat pagi, Ammara! Wah, ternyata ada yang bertamu lebih awal dari pada kami!" sapa sebuah suara berwibawa peri laki-laki yang kini berdiri tepat di depan pintu kastel Timur.Ammara, Claude, dan Archibald serentak mengangkat wajah mereka, menatap sosok yang berdiri di depan pintu kastel. Ketiga peri elf itu tampak terkejut melihat kehadiran Putra Mahkota Albert di ambang pintu."Selamat pagi, Putra Mahkota Albert!" sapa Claude seraya berdiri dari duduknya untuk menyambut Albert. Ternyata Albert tidak datang sendiri. Dari balik tubuh jangkungnya yang menutupi ambang pintu muncul Pangeran Elwood dan Pangeran Elijah."Wah, ternyata ada yang telah mendahului kita. Claude dan ... Archibald?" Suara Elijah yang semula riang berubah terkejut saat melihat Archibald yang duduk membelakangi mereka. "Apa yang kau lakukan di sini, heh? Setahuku kau tidak menyukai Ammara? Atau aku melewatkan sesuatu?" tanyanya dengan penuh selidik."Bukan urusanmu!" Desis Archibald tidak ramah."Sudahlah, Elijah. Kau merusak suasana damai di kastel ini. Bukankah kita kemari untuk menyapa dan memberi dukungan kepada Ammara?" Sergah Albert, mengurai ketegangan yang mulai muncul perlahan di antara Archibald dan Elijah. Setelah itu, ia mengulas senyum pada Ammara. "Bagaimana keadaanmu, Ammara? Apa kau merasa lebih baik setelah berada di kastel ini?"Ammara mengedikkan bahu seraya tersenyum kecut. "Tidak ada tempat terbaik selain rumah."Putra Mahkota Albert tergelak. "Ah, ya! Maafkan aku Ammara. Semuanya akan baik-baik saja. Dan, aku berjanji bahwa kau akan segera kembali ke Fairyfarm. Jadi, kedatanganku, Pangeran Elwood, dan Pangeran Elijah adalah untuk membantumu Ammara. Kami percaya kau tidak bersalah, pasti telah terjadi kesalah pahamanan di sini."Claude berdeham. "Kami juga berpikir demikian. Kami kemari untuk membantu Ammara.""Wah, aku senang sekali ternyata saudara-saudaraku juga sangat peduli pada Ammara," sahut Albert. Ia mengambil posisi duduk di kursi tepat di samping Archibald yang bersidekap. Elwood dan Elijah mengikuti Albert. Mereka masing-masing duduk di sisi kanan dan kiri Ammara. Claude kembali duduk ke posisinya semula di samping Albert. Kini Ammara dan Para Pangeran duduk mengelilingi sebuah meja bundar yang nyaris hancur dengan suasana yang sedikit canggung."Kau baik-baik saja, Ammara?" Elwood menyapa Ammara dengan tatapan sendu. Iris mata biru peri tampan itu menyiratkan kekhawatiran yang berusaha ia tutupi dengan senyumnya.Ammara mengangguk sambil tersenyum kecil pada Elwood. "Aku baik-baik saja, terima kasih telah mengkhawatirkanku."Ammara mengalihkan pandangannya kepada Albert, yang kini menatapnya dengan pandangan yang sama. "Terima kasih, Putra Mahkota Albert karena kau telah meminta Ratu Serenity untuk memindahkanku ke kastel yang indah ini. Setidaknya, tempat ini jauh lebih baik dari pada ruang tahanan bawah tanah kerajaan Avery."Putra Mahkota Albert tersenyum lagi. Entah mengapa, apa pun yang peri perempuan itu ucapkan selalu dapat menerbitkan senyumnya. "Kau tidak pantas berada di ruang tahanan bawah tanah yang gelap dan dingin itu. Kau belum tentu bersalah. Lagi pula, Ibumu telah membantu kami semua dari pengaruh sihir hitam. Jadi, sudah selayaknya, kami memperlakukanmu dengan baik," jelasnya semringah. "Oh, dan satu lagi ... cukup panggil aku Albert saja."Sontak keempat pangeran lainnya terkejut mendengar ucapan Albert yang terakhir. Elwood berdeham dengan ekspresi seperti orang yang tersedak. Sementara, Archibald membuang muka. Di sampingnya, Claude menatap Albert tidak percaya dengan tangan menutupi mulutnya yang ternganga. Sedangkan Elijah tampak menahan tawanya yang hampir meledak. Kecanggungan di antara mereka seketika mencair."Putra Mahkota, katamu tadi kalian kemari akan membantu Ammara, bukan? Apakah kalian sudah punya rencana?" tanya Archibald dengan nada serius.Suasana kembali hening dan serius, sebelum akhirnya Albert menjawab. "Kami berencana akan menyelidiki dari mana kalung zamrud itu berasal dan kami juga akan pergi ke Hutan Larangan.""Kau tidak bercanda kan, Albert? Akan sangat berbahaya jika Putra Mahkota dan Para Pangeran yang tidak pernah masuk ke Hutan Larangan pergi ke sana. Tempat itu penuh kutukan dan sihir hitam. Aku takut kalian tidak akan bisa keluar dengan selamat dari Hutan Larangan," bantah Claude khawatir."Jadi apa rencanamu, Claude?" tanya Elwood seraya menatap Claude dan Archibald bergantian."Menurutku, lebih baik, Archibald saja yang masuk ke Hutan Larangan," sahut Claude penuh keyakinan. "Lebih baik kita mencari petunjuk di Fairyhill dekat perbatasan Hutan Larangan. Kita harus mencari tahu, apakah ada makhluk Hutan Larangan yang pernah menembus segel sihir putih di perbatasan.""Ternyata strategi kalian lebih matang!" komentar Albert dengan mata berbinar. "Baiklah aku setuju. Aku pikir lebih baik kita bergabung. Sudah lama sekali rasanya sejak terakhir kali kita menyelesaikan misi bersama sebagai saudara."Mendengar kata-kata Albert, para pangeran tersenyum. Pikiran mereka serentak mengingat memori saat mereka berburu di Fairyhill ratusan tahun yang lalu. Saat mereka hanyalah remaja peri yang sangat gemar bermain dan berpetualang. Saat tak ada prasangka di antara mereka."Aku setuju!""Ya, aku ikut!""Baiklah. Kita harus mempersiapkan senjata dan unicorn yang akan kita gunakan be —"Kau melupakan sesuatu!" potong Archibald tiba-tiba."Apa maksudmu?" tanya Claude dengan alis bertaut."Aku bukanlah satu-satunya pangeran yang bisa memasuki Hutan Larangan." Archibald menyeringai. Sementara, para pangeran lainnya tampak saling melempar pandangan dan dugaan satu sama lain dengan tegang."A-apa? Siapa maksudmu pangeran yang juga bisa masuk ke Hutan Larangan?" tanya Albert sedikit panik. Setahunya, tidak sembarang peri bisa masuk ke Hutan Larangan dan keluar lagi dengan selamat. Hutan itu dikutuk oleh para peri unsheelie yang menyimpan dendam pada peri sheelie, sehingga para peri sheelie tidak dapat keluar masuk Hutan Larangan dengan leluasa.Di Istana Avery, hanya Archibald yang bisa keluar masuk Hutan Larangan karena ia adalah keturunan peri penyihir paling sakti yang ada di Fairyverse. Selain peri yang merupakan keturunan peri penyihir, peri keturunan unsheelie juga dapat keluar masuk Hutan Larangan tanpa terkena sihir dan kutukan. Berdasarkan asumsi tersebut, terdapat satu kemungkinan yang paling masuk akal yaitu, salah satu di antara pangeran peri memiliki darah unsheelie."Mengakulah atau aku yang akan mengatakannya pada mereka," ucap Archibald dengan seringai yang sama. Ia mengedarkan pandangan kepada seluruh pangeran secara bergantian."Baiklah, aku akan ikut denganmu masuk ke Hutan Larangan!"Ammara dan seluruh pangeran terkejut mendengar jawaban yang terlontar dari Elijah. Para pangeran tidak menyangka bahwa Elijah ternyata juga bisa keluar masuk Hutan Larangan tanpa terkena kutukan. Seluruh mata kini menatap pada sosok peri tampan beriris biru dengan rambut kelam yang bergelombang itu. Yang ditatap hanya tersenyum getir menahan gejolak emosi yang kini tengah malandanya."Ja-jadi kau?""Elijah?!""Ya, aku memang bukan anak kandung Putri Aurora. Aku sama sekali tidak tahu siapa ibu kandungku yang sebenarnya. Aku harap kalian masih mau menjadi saudaraku.""Cukup, Elijah. Kita bahas ini nanti," potong Albert. Tidak pantas rasanya membahas tentang keluarga Kerajaan Avery di depan orang asing.Albert mengembuskan napas panjang sebelum melanjutkan ucapannya. "Mari kita fokus pada permasalahan Ammara. Jadi, kita telah menyepakati untuk melakukan penyelidikan bersama. Aku, Elwood dan Claude beserta beberapa kesatria peri terbaik akan memeriksa Fairyhill, terutama di daerah perbatasan Hutan Larangan. Sementara Archibald dan Elijah akan menyelidiki Hutan Larangan. Apakah kalian memerlukan bantuan para Gnomes kerajaan?"Archibald menyunggingkan senyum miring. "Aku tidak membutuhkan siapapun. Aku bisa melakukannya sendiri."Lagi-lagi Albert harus mengembuskan napas panjang. Sekali lagi ia menegaskan. "Elijah akan membantumu.""Terserah!""Namun, sebelumnya aku ingin bertanya padamu, Ammara. Dan, aku harap kau menjawab dengan jujur. Dari mana kau mendapatkan kalung zamrud itu?" tanya Albert. Iris mata cokelat terangnya menyorot Ammara dengan penuh selidik.Ammara terkesiap. Pertanyaan itu lagi. Ia berusaha mengingat-ingat dari mana kalung zamrud itu berasal, mencari memori yang berkaitan dengan kalung itu. Namun, lagi-lagi hasilnya nihil. Ia tidak menemukan apa pun. Ammara menggeleng pelan, dengan iris mata hijau yang menunjukan kekecewaan."Maafkan aku, Albert. Aku benar-benar tidak dapat mengingat apa pun. Yang aku ketahui hanyalah kalung itu sudah ada sejak lama di leherku," ucapnya lirih."Kami sudah menanyakannya tadi." Claude menimpali."Gunakan kemampuan retrokognisimu, Claude?""Sudah. Namun, aku tidak dapat membaca masa lalunya juga, Albert. Sesuatu pasti terjadi padanya."Albert dan para pangeran tampak terkejut. Mereka saling bertukar pandang. Claude termasuk salah satu peri cenayang dengan kemampuan retrokognisi yang baik. Jika peri itu tidak dapat melihat masa lalu Ammara, pasti ada yang tidak beres dengan peri perempuan berambut keemasan itu. Albert menatap Ammara dengan iba. Tangan kananya terulur ke arah punggung tangan Ammara yang bertumpu di atas meja, memberikan dukungan pada peri perempuan itu.Setetes air bening terbit di pelupuk mata Ammara. Ia sedih memikirkan nasibnya yang terjebak oleh sesuatu yang tidak ia pahami. Namun, ia juga merasa terharu akan kebaikan Putra Mahkota Albert dan para pangeran Kerajaan Avery yang belum lama ia kenal."Jangan khawatir, Ammara. Semua akan baik-baik saja. Kami pasti bisa membuktikan kalau kau tidak bersalah," ucap Albert menenangkan. Iris matanya menatap Ammara intens, ia seakan ingin mengenyahkan seluruh kesedihan yang melingkupi perasaan peri perempuan itu."Kami bersamamu," tutur Elwood seraya merangkul Ammara lembut."Aku akan mengusahakan yang terbaik untuk membebaskanmu, jangan khawatir Ammara!" Claude menimpali."Peri cantik sepertimu tidak pantas bersedih." Elijah tersenyum simpati, turut memberi semangat pada Ammara.Archibald tidak mengatakan apa-apa. Namun, ketika pandangan matanya dan Ammara bertemu, ia menatap peri perempuan itu lekat-lekat. Sesuatu yang familier menyusup perlahan pada perasaan Archibald. Sesuatu yang pernah terjadi di masa lalu. Iris mata hijau yang terasa sama dan detak jantungnya yang terasa aneh. Ia telah menetapkan hati. Ia akan menjaga Ammara, apa pun yang terjadi.* * *Cottingley, 1856, Pinggiran Kota Bradford, West Yorkshire, Inggris (Dunia Manusia).Archibald berlari kencang membelah semak dandelion yang bergoyang seiring embusan angin. Benih-benih bunga Dandelion yang sangat ringan itu berterbangan setelah bergesekan dengan tubuh Archibald.Pada satu titik, di tengah semak dandelion, Archibald berhenti dan mengatur napasnya. Matanya menangkap sosok seorang gadis kecil berambut keemasan yang sedang meniup benih bunga dandelion. Gadis itu berteriak kegirangan setiap kali benih bunga dandelion terbang sangat tinggi dan menghilang ditelan birunya langit.Archibald terpana menatap gadis kecil dengan gaun selutut berwarna lilac yang berdiri tak jauh di hadapannya. Ia tidak pernah melihat pemandangan seindah dan sepolos itu di Fairyverse. Gadis Dandelion seumpama memiliki sihir yang menarik seluruh atensinya dan membuat dunianya berhenti pada titik itu.Tiba-tiba iris mata hijau gadis itu menangkap sosok Archibald yang bergeming. Gadis itu melambaikan tangannya seraya tersenyum ceria. Senyum terindah yang pernah Archibald lihat selama hidupnya."Hei, apa yang kau lakukan di situ? Kemarilah!" Sapa gadis itu riang."Siapa kau?" tanya Archibald tanpa beranjak dari tempatnya berdiri. Betapa pun ia ingin menghampiri gadis kecil itu, nalurinya untuk waspada terhadap makhluk asing memintanya untuk tetap menjaga jarak."Aku, Chiara. Siapa namamu?""Aku Archie. Apa kau seorang manusia?""Tentu saja, Archie! Kau pikir aku ini apa? Hantu?" Gadis kecil bernama Chiara itu tergelak mendengar pertanyaan Archibald yang dianggapnya aneh. Derai tawanya membuat jantung Archibald berdetak dengan aneh."Ka-kau sangat cantik," gumam Archibald. Beruntung, gadis di hadapannya tidak mendengar ucapan Archibald barusan dengan jelas. Suara Archibald tertelan desau angin yang mendadak bertiup membelai semak dandelion. Benih-benih halusnya kembali terbang menembus langit."Ada apa dengan telingamu?" tanya Chiara sedikit berteriak. Iris mata hijau gadis itu menatap lurus pada telinga runcing Archibald.Archibald menyentuh kedua telinga runcingnya yang sangat mencolok. Tentu saja gadis kecil itu merasa heran, karena telinganya berbeda dengan telinga Archibald.Archibald menimbang beberapa saat sebelum menjawab pertanyaan Chiara. "Telingaku memang seperti ini.""Benarkah? Telingaku tidak seperti telingamu," gumam gadis itu sambil menyentuh kedua telinga kecilnya. Dahinya berkerut dalam.Archibald mengulum senyum melihat tingkah Chiara. Baginya, gadis manusia itu terlihat sangatlah menggemaskan."Tentu saja telinga kita berbeda, karena aku adalah peri," sahut Archibald."Kau seorang peri?" Mata Chiara membulat antusias. "Apakah kau peri seperti Rumpelstilstskin? Nenek selalu menceritakan dongeng Rumpelstilstskin setiap menjelang tidur."Archibald berpikir sebentar. Ia sama sekali tidak mengenal nama peri yang disebutkan Chiara. Terlebih lagi, gadis itu menyebutkan tentang dongeng atau apa pun itu. Namun, ia tidak ingin terlihat tidak tahu di hadapan gadis dandelionnya. Ia harus memikirkan jawaban yang diplomatis untuk pertanyaan Chiara."Bisa dibilang begitu," sahut Archibald dengan nada menggantung menutupi ragunya.Mata Chiara tampak berbinar menyiratkan kekaguman. "Apa kau bisa mengubah jerami menjadi emas seperti yang dilakukan Rumpelstilstskin?!""Aku bisa melakukan hal yang lebih baik dari itu," sahut Archibald bangga. Dia sangat senang karena telah berhasil membuat Chiara kagum."Wow, kau sangat keren!" Puji gadis kecil itu tulus. "Aku akan mengenalkanmu pada nenekku. Dia pasti senang jika bertemu dengan peri seperti Rumpelstilstskin."Archibald mendadak panik. Ia tidak ingin Chiara memberitahu tentang keberadaanya pada manusia lain."Ti-tidak. Tunggu dulu. Jangan beritahu orang lain. Cukup kita berdua saja yang tahu!"Chiara melipat tangannya di depan dada, tampak berpikir. "Baiklah, aku akan merahasiakan ini. Namun, kau harus memberiku sesuatu sebagai balas jasa?""Baiklah." Archibald menyanggupi.Archibald menengadahkan telapak tangannya seraya merapalkan sebuah mantra. Tiba-tiba beberapa kuntum bunga dandelion mekar yang berwarna kuning berterbangan membentuk lingkaran di atas telapak tangan Archibald yang terbuka. Bunga-bunga itu saling bertaut dengan ajaib membentuk sebuah mahkota bunga yang cantik.Ammara menatap apa yang dilakukan Archibald itu tanpa berkedip. Mulutnya bahkan menganga tidak percaya.Archibald menyunggingkan senyum miring. Ia mendekati Chiara perlahan, memusnahkan jarak beberapa depa di antara mereka. Setelah jaraknya dan Chiara hanya tinggal sejengkal, Archibald memasangkan mahkota dandelion buatannya ke atas kepala Chiara.Gadis itu tersenyum menatap manik mata Archibald. "Ini indah sekali," ucapnya lirih. Archibald hanya membalas ucapan Chiara dengan senyuman.Andai waktu dapat dihentikan saat itu, maka Archibald akan mengerahkan seluruh kekuatan sihirnya untuk menghentikannya. Ia berharap ia tidak perlu kembali ke Fairyverse dan meninggalkan gadis dandelion yang diam-diam telah mencuri hatinya."Aku harus segera pulang atau nenek akan menjemputku ke sini," ucap Chiara tiba-tiba. Archibald segera tersadar dari suasana yang membuatnya terlena."Apa aku akan menemukanmu lagi di sini?" tanya Chiara sambil membetulkan posisi mahkota bunganya."Tentu saja," sahut Archibald pelan."Baiklah, sampai bertemu besok!" pamitnya. Chiara meninggalkan Archibald dengan langkah cepat. Sesekali gadis itu menoleh ke belakang sambil melambai ke arah Archibald.Archibald bergeming seraya menatap punggung Chiara yang semakin menjauh. Ia mengulum senyum, merasakan sesuatu menghangat di dalam dadanya. Sementara jantungnya berdetak dengan irama yang berbeda dari biasanya.
The Queen
Pintu besi tahanan berderit keras, menyadarkan Ammara yang sedang tertidur meringkuk di atas permukaan lantai batu yang dingin. Tubuh ringkihnya menggigil beberapa saat, sebelum akhirnya ia bangkit dan menatap waspada ke arah pintu besi di hadapan.Pintu besi itu terbuka dan beberapa kesatria elf memasuki ruangan tahanan dengan langkah formal. Mereka berdiri berjajar di samping kiri dan kanan pintu tahanan. Setelahnya, seorang peri elf dengan jubah merah marun berlambang Kerajaan Avery masuk. Peri laki-laki berambut kelabu itu menganggukan kepala kepada Ammara memberi salam."Ammara, Ratu Kerajaan Avery, Ratu Serenity ingin bertemu denganmu," tutur Maurelle dengan nada formal.Ammara menyipitkan matanya menatap sosok Maurelle. Matanya tidak mampu melihat wajah peri itu dengan jelas. Ia mengangguk pelan sambil berusaha menopang tubuh lemahnya dengan kedua tangan.Maurelle mengangguk kepada dua kesatria elf yang berdiri paling dekat dengannya, memberi titah untuk membantu Ammara berdiri. Dengan sigap, kedua kesatria elf itu mendekati Ammara dan meraih kedua lengannya.Ammara menurut. Setelah berhasil menegakkan sepasang tungkainya, ia lantas melangkah dengan tertatih sambil digiring oleh kedua kesatria elf di sisi kanan dan kirinya. Mereka membimbing Ammara keluar dari ruang tahanan yang gelap itu. Sementara, Maurelle mengekor di belakangnya.Ammara mengernyit lagi saat mereka memasuki bagian lain istana yang terang benderang karena cahaya matahari. Matanya tidak terbiasa melihat terang setelah dua hari terkurung di dalam ruangan tahanan yang gelap. Ia tidak begitu peduli ke mana ia akan dibawa, yang terpenting adalah ia merasa sangat lega telah keluar dari ruangan gelap itu.Mereka berhenti di depan istana utama Kerjaan Avery yang memiliki sebuah pintu besar terbuat dari emas. Istana paling besar di Kerajaan Avery. Gagang pintunya berkilap membentuk sepasang siluet peri bersayap kupu-kupu yang merupakan lambang Kerajaan Avery.Sepasang kesatria elf dari balik pintu membuka pintu emas itu dari dalam. Maurelle mendahului masuk untuk memberi salam dan memberitahu kedatangan Ammara. Sementara, Ammara yang dibimbing oleh sepasang kesatria elf mengikutinya melewati pintu balairung setelah seorang peri mempersilahkannya masuk.Ammara terpana. Bibir mungilnya mendesiskan kekaguman tanpa ia sadari, begitu masuk ke dalam istana utama tersebut. Balairung itu adalah sebuah ruangan maha luas yang sangat indah, hampir keseluruhannya terbuat dari emas dengan langit-langit tinggi berbentuk kubah yang terbuat dari kaca. Langit-langit istana itu menampakkan pemandangan langit biru Fairyverse dengan sinar matahari yang masuk dan menjadikan ruangan itu terang benderang. Sementara jika malam hari, hamparan langit berbintanglah yang akan menjadi pemandangan dari langit-langit yang terbuat dari kaca transparan itu.Beberapa meter di hadapan Ammara tampaklah sebuah singgasana indah terbuat dari emas. Permata-permata yang berkilauan menghiasi di beberapa bagian singgasana. Singgasana itu dilapisi beludru berwarna merah marun. Sementara bunga-bunga beraneka warna mendominasi sisi kiri dan kanan singgasana.Di atas singgasana emas, sesosok peri perempuan sedang duduk dengan anggun. Rambutnya yang sedikit bergelombang berwarna perak dan panjangnya hingga mencapai betis. Rambut perak sang ratu terjalin sebagian dengan hiasan bunga mawar putih sebagai ikatannya. Di atas kepalanya berkhtahta sebuah mahkota perak dengan batu-batu permata putih yang menghiasinya. Di tengah keningnya tampak sebuah hiasan berkilauan berbentuk bulan sabit berwarna perak.Ratu Serenity menyambut kedatangan Ammara dengan seulas senyum simpati. Iris matanya yang berwarna perak menyorotkan kekhawatiran yang kentara.Ammara dibimbing oleh kedua kesatria elf untuk duduk bersimpuh di hadapan singgasana sang Ratu. Peri perempuan itu sedikit membungkuk dengan canggung, memberi salam kepada Ratu Kerajaan Avery. Setelahnya, Ammara duduk bersimpuh sembari menunduk gugup, sama sekali tak berani menatap mata sang Ratu dengan segala keindahannya."Aku telah mendengar apa yang terjadi padamu dari Maurelle," ucap sang Ratu dengan nada formal. Suaranya yang mengalun merdu sedikit meredakan kegugupan Ammara."Aku juga telah mendengar kejadian yang menimpa Putri Tatianna dan para Pangeran pada saat pesta perayaan ulang tahun Putri Tatianna," lanjutnya. Mata peraknya tetap menyorot pada Ammara, seakan sedang menilai kepribadian peri perempuan di hadapannya itu.Ammara tetap bungkam sambil menunggu Sang Ratu melanjutkan ucapannya. Ia menatap hamparan permadani berbulu lembut yang melapisi lantai istana. Susah payah ia melawan keinginan untuk mendongak dan menatap sang ratu yang intimidatif."Sebagai seorang ibu, aku sangat sedih dan sangat marah dengan apa yang menimpa putri dan putra-putraku." Sang Ratu menghela napas pelan seraya membuang pandangan sedihnya ke langit-langit istana. "Namun, aku juga harus berlaku adil juga padamu. Terlebih, karena ibumulah yang menyelamatkan anak-anakku."Pandangan Sang Ratu kembali kepada Ammara. Sementara Ammara masih menunduk sambil sesekali mencuri pandang ke arah Sang Ratu."Ammara ... Ada yang ingin kutanyakan padamu," sapa Ratu Serenity pelan. Ammara mengangkat wajahnya, menatap Sang Ratu dengan sorot ragu. "Kau tampak sangat polos. Pantas saja Putra Mahkota Albert dan Pangeran Elwood memohon kepadaku untuk menyelamatkanmu. Aku penasaran, bagaimana kau bisa mengenal anak-anakku?"Ammara terkesiap. Ternyata Putra Mahkota Albert dan Elwood yang meminta sang Ratu untuk meringankan hukumannya. Sebenarnya ia ingin menanyakan kepada Sang Ratu mengenai hal tersebut, tetapi ia urungkan karena ia merasa segan."Aku ... aku tidak sengaja bertemu dengan Elwood, maksudku Pangeran Elwood dan Pangeran Archibald di Fairyhill. Mereka menyelamatkanku saat aku hampir tenggelam di sungai," sahut Ammara dengan suara tercekat. Ia berusaha menekan kegugupannya sekuat tenaga."Fairyhill? Tempat itu cukup berbahaya bagi peri yang tidak memiliki kekuatan bela diri ataupun kekuatan sihir. Tempat itu adalah tempat paling liar di Fairyverse, setelah Hutan Larangan. Apa yang kau lakukan di tempat itu?""Maaf Yang Mulia Ratu, aku hanya berjalan-jalan di Fairyhill. Aku rasa para nimfa memang mengerjaiku saat itu, sehingga aku terjatuh ke sungai. Kalau tidak ada Pangeran Elwood dan Pangeran Archibald mungkin aku sudah mati, Ratu. Aku memang tidak pernah berjalan jauh keluar dari Fairyfarm. Saat itu adalah pertama kalinya aku keluar dari Fairyfarm."Ratu Serenity tampak terkejut, "Kau tidak pernah keluar dari Fairyfarm sebelumnya?"Ammara menggeleng pelan. Matanya bertemu pandang dengan Sang Ratu selama beberapa detik. Kemudian, peri perempuan itu menunduk lagi.Netra perak sang ratu lekat mengamati sosok Ammara yang ramping dan berambut keemasan. "Lalu, bagaimana kau mengenal Putra Mahkota Albert?" tanyanya lagi. Kali ini iris matanya yang berwarna keperakan melebar menunjukan ketertarikan yang lebih tinggi terhadap jawaban yang akan diutarakan Ammara.Ammara berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan sang Ratu. Gugupnya telah sedikit berkurang. Baginya Ratu Serenity terbilang cukup bersahabat walaupun ia memang terlihat sedang menyelidiki Ammara."Aku belum lama mengenal Putra Mahkota Albert, Yang Mulia Ratu. Kami bertemu pertama kali sehari sebelum perayaan pesta ulang tahun Putri Tatianna. Ayahku, Ailfryd dari Fairyfarm mengantarkan buah-buahan plum dan jeruk ke istana.""Kukira kalian sudah lama saling kenal," timpal Sang Ratu. Ia menopang dagunya dengan sebelah tangan yang bertumpu pada salah satu sisi singgasana.Ammara menggeleng. "Tidak, Yang Mulia Ratu. Kami baru pertama kali bertemu."Sang Ratu tampak menimbang jawaban Ammara. Kemudian ia tersenyum. Senyum yang tidak dapat Ammara artikan. Sementara Ammara kembali menekuri lantai marmer tempatnya bersimpuh."Baiklah, sudah kuputuskan," ucap Sang Ratu. Ucapannya membuat Maurelle yang sedari tadi menunduk, mengangkat wajahnya untuk mendengar titah Sang Ratu dengan takzim."Ammara tidak akan ditempatkan di penjara bawah tanah lagi. Sementara menunggu pengadilan Dewan Peri, Ammara akan tinggal di kastel sebelah timur yang akan disegel dengan sihir dan dijaga ketat oleh para kesatria Peri. Dewan Peri akan menyelidiki kasusmu terlebih dahulu dan aku yakin ini akan memakan waktu. Terlebih, Raja Brian saat ini sedang sakit. Sidang Dewan Peri akan dilaksanakan setelah kondisi Raja Brian membaik. Aku juga akan memberi izin kepada Ella dari Fairyfarm untuk bertemu denganmu. Namun, kau tidak boleh bertemu dengan peri lain yang berasal dari luar Istana Avery. Kau juga tidak bisa keluar masuk dengan leluasa dari kastel sebelah timur, seorang peri akan melaporkan setiap gerak-gerikmu padaku. Aku harap kau mengerti."Ammara tampak berkaca-kaca mendengar beberapa keringanan yang baru saja diberikan oleh Sang Ratu, terlebih izin untuk dapat bertemu dengan ibunya. Ibu yang sudah sangat dirindukannya. Namun, sesuatu masih mengganjal perasaannya."Yang Mulia Ratu . ...""Ada yang ingin kau sampaikan?" tanya Sang Ratu seraya menaikkan salah satu alisnya."Aku hanya ingin mengatakan bahwa aku tidak melakukan sihir kepada putri dan para pangeran. Kalung itu ... aku juga tidak mengetahui kalau kalung itu berasal dari Hutan Larangan," ucap Ammara dengan suara bergetar. "Aku tidak ber---Ratu Serenity membelalak. Ia mengangkat salah satu tangannya, menginstruksikan Ammara untuk menghentikan ucapannya."Kau tidak perlu mengatakannya padaku di sini. Tunggulah saat sidang Para Dewan Peri untuk mengatakan pembelaanmu."Ammara menggigit bibir bawahnya menahan rasa sakit yang menghampiri hatinya saat itu. Ia terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya memaksakan seulas senyum tersungging di bibir."Yang Mulia Ratu, terima kasih atas segenap kebaikanmu. Sekali lagi, terima kasih," tuturnya lirih.Sang Ratu menyunggingkan seulas senyum dan mengangguk dengan anggun. Ratu Serenity lantas mengalihkan pandangan pada Maurelle seraya mengangguk tegas, memberi instruksi dalam diam. Peri cenayang itu membalas dengan anggukan takzim, terlihat telah memahami perintah Sang Ratu.Maurelle membungkukkan badannya ke arah Ratu, kemudian berjalan mendekati Ammara."Mari, Ammara. Aku akan mengantarmu ke kastel sebelah timur."Kedua kesatria elf membantu Ammara berdiri dari posisi berlututnya. Ammara membungkuk lalu tersenyum dan memberi salam kepada Sang Ratu sebelum keluar dari istana utama itu. Langkahnya tertatih mengikuti Maurelle menuju ke kastel di sebelah timur Kerajaan Avery. Namun, sebuah pengharapan terbit di dalam dadanya bahwa ia akan dapat bertemu dengan sang ibu.
Sad Little Fairy
"Archie, kau kah itu?""Tolong aku, Archie, keluarkan aku dari sini ....""Tempat apa ini Archie? Aku takut sekali."Siluet seorang gadis kecil sedang berdiri di depan jeruji besi di dalam kegelapan. Tubuh gadis itu bergetar, terisak. Kilatan cahaya memantul dari salah satu pipinya yang basah oleh air mata."Chiara, kau kah itu?"Archibald mendekati gadis yang sedang menangis itu perlahan. Iris mata hijau sang gadis menatap Archibald nanar, meminta pertolongan."Archie..." Sapa gadis kecil itu dengan suara serak. "Aku ingin pulang. Tolong, keluarkan aku dari sini, Archie," lirihnya.Archibald hendak meraih tangan gadis itu, tetapi beberapa sosok kesatria elf mendadak muncul membuka jeruji besi dan menarik kasar tangan gadis itu menjauh."Chiara... Tidak! Chiara!"Archibald terbangun dari tidurnya. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Napasnya memburu. Mimpi barusan terasa sangat nyata bagi Archibald."Kau memimpikan gadis manusia itu lagi, Archibald?" sapa Claude yang sedari tadi rupanya telah ada di samping Archibald."Kau...?" Archibald terkejut menyadari salah satu saudaranya telah berada di dalam ruangan pribadinya, bahkan melihat ke dalam mimpinya. "Apa yang tidak kau ketahui, Claude?!" dengusnya sarkas.Claude tergelak. "Kau selalu saja kasar, Archibald. Bahkan, di saat kondisimu seperti ini."Archibald hendak bangkit dari posisinya yang sedang berbaring, tetapi ia mengerang saat merasakan tubuhnya yang terasa nyeri dan kaku. Alhasil, ia kembali merebahkan tubuhnya. Archinald meringis sembari melihat tumpukan dedaunan yang menempel pada beberapa bagian permukaan tubuh. Penghidunya pun mencium aroma herbal yang sangat menyengat. Ia lantas menatap Claude meminta penjelasan."Kau terkena sihir tadi malam. Sihir hitam. Kau dan Elijah menyerang Putra Mahkota. Kalian bertiga mengalami luka-luka luar yang cukup parah. Tatianna dan Elwood juga. Kalian bertingkah sangat aneh tadi malam," ucap Claude hati-hati."Apa? Sihir hitam? Bagaimana bisa sihir hitam menembus segel di perbatasan Hutan Larangan dan menyerang kerajaan Avery?" Archibald mengerutkan alis seolah tidak percaya dengan apa yang diucapkan Claude.Claude menggeleng pelan sambil menatap Archibald dengan putus asa. "Aku tidak tahu pasti bagaimana sihir hitam itu bisa menembus segel, aku melihat cahaya keunguan memancar di dada kalian. Maurelle yakin cahaya itu adalah sihir hitam dan... " Claude agak ragu untuk melanjutkan kata-katanya. Ia melihat Archibald yang meringis saat mengubah posisinya untuk duduk bersandar di atas pembaringan."Lebih baik kau istirahat dulu, Archibald.""Dan, apa?" tanya Archibald sambil memegangi lengan atasnya yang terasa ngilu."Apakah kau tidak mengingat apapun?" Claude balik bertanya.Archibald menggeleng pelan. Ia mencoba mengingat-ingat kejadian malam itu, tetapi ia sama sekali tidak dapat mengingat apapun. Tiba-tiba, ia merasa kepalanya sedikit pusing. Ia memijit pelipisnya pelan untuk meredakan sakit yang dirasakannya.Claude mengembuskan napas panjang. Ia khawatir dengan keadaan saudaranya itu. "Mungkin sebaiknya aku kembali lagi nanti. Kau perlu istirahat yang banyak, Archibald.""Apa yang sebenarnya terjadi, Claude?" Archibald bersikeras ingin mendengar cerita lengkap mengenai kejadian yang tak dapat diingatnya itu. Rahangnya mengeras."Kau mengenal Ammara, bukan? Gadis itu saat ini sedang ditahan di ruangan bawah tanah. Sihir hitam berhasil masuk ke Istana Avery melalui mata kalung yang ia kenakan. Menurut Maurelle, mata kalung itu berasal dari Hutan Larangan," jelas Claude."Apa? Ammara?" Archibald terkejut. "Tidak mungkin, Claude. Maurelle pasti salah paham," ucap Archibald. Ia bangkit dari posisi bersandarnya."Aku kira kau membenci peri perempuan itu." Claude menyunggingkan seulas senyum yang segera sirna saat ia melanjutkan ucapannya. "Peri perempuan itu adalah anak Ailfryd dan Ella dari Fairyfarm. Mereka adalah peri yang baik. Aku juga tidak melihat sesuatu yang buruk dari Ammara, walaupun ia memang tampak sedikit aneh. Entahlah. Aku rasa kita harus menyelamatkannya, Archibald, sebelum sidang Dewan Peri dilakukan."Archibald menatap Claude khawatir. "Sidang Dewan Peri? Apa Maurelle tidak ingin menyelidikinya terlebih dahulu? Tidak mungkin peri ceroboh seperti itu bersekutu dengan para unsheelie."Claude terpana mendengar kata-kata Archibald. Saudaranya itu jelas-jelas mengkhawatirkan Ammara, tetapi ia tetap saja mengatai peri perempuan itu ceroboh."Aku tahu. Maurelle pasti menyelidikinya, Archibald. Namun, Maurelle tidak dapat mengambil keputusan sendiri. Ini tidak akan mudah baginya. Dia juga harus mendengar pertimbangan Dewan Peri lainnya. Aku pikir lebih baik kita bertindak juga. Aku meminta bantuanmu untuk menemukan bukti bahwa Ammara tidak bersalah. Kita harus pergi ke Hutan Larangan. Kau satu-satunya yang bisa masuk ke sana dengan selamat. Kita harus tahu dari mana asal kalung itu, Archibald. Aku harap kau bersedia membantu.""Peri itu benar-benar menyusahkan!" Archibald berdecak. "Aku harus bertemu dengannya dulu, Claude.""Aku tidak yakin kau bisa bertemu dengannya. Peri yang akan disidang oleh Dewan Peri tidak boleh bertemu dengan siapapun. Itu protokol Istana Avery, kau ingat 'kan? Bahkan ibunya sendiri tidak bisa menemuinya."Archibald memiringkan kepalanya, menatap Claude bingung. "Peri yang malang," gumamnya. "Aku akan berbicara pada Maurelle atau ayah. Kita harus mendapatkan cukup banyak keterangan dari peri itu supaya kita bisa menolongnya.""Aku pernah bertemu dengannya di perbatasan Hutan Larangan. Dia bersama Elwood. Namun, aku rasa mereka hanya berjalan-jalan di sekitar sana," lanjut Archibald sambil menerawang."Elwood?""Ya. Aku juga bertemu dengan Elijah saat itu. Dia berhasil keluar dari Hutan Larangan." Archibald melanjutkan. "Jadi, aku bukan satu-satunya peri di kerajaan Avery yang bisa keluar masuk Hutan Larangan dengan leluasa, Claude.""Elijah memasuki Hutan Larangan?" Claude tampak berpikir keras. Setahunya tidak semua peri bisa keluar masuk Hutan Larangan tanpa terkena sihir hitam. Hanya para peri dengan kemampuan khusus seperti Archibald atau peri yang merupakan keturunan langsung dari peri unsheelie. Seingatnya, Elijah hanya peri biasa yang tidak memiliki kemampuan sihir.Archibald mengangguk. "Kami bertemu di perbatasan Hutan Larangan. Entahlah. Sepertinya ada sesuatu yang Elijah sembunyikan dari kita.""Apa Elijah dan Ammara saling kenal?" tanya Claude lagi."Aku rasa tidak. Mereka sepertinya baru bertemu pertama kali di sana."Claude terdiam beberapa saat. Ia sedang mempertimbangkan sesuatu."Kita harus mengumpulkan banyak saksi dan bukti bahwa dia adalah peri yang baik. Secepatnya. Sebelum Ammara disidang oleh para Dewan Peri," ucapnya pelan. "Jika Ammara telah disidang tanpa ada pembelaan yang cukup, aku khawatir ia akan langsung diasingkan ke Hutan Larangan. Bagaimanapun, memiliki batu yang berasal dari Hutan Larangan adalah hal yang tidak dapat diterima para Dewan Peri. Apalagi batu itu telah membahayakan Putri dan para Pangeran."Archibald berusaha berdiri dari duduknya sambil meringis menahan otot pahanya yang terasa nyeri. Claude segera meraih tangannya dan membantunya berdiri."Waktu kita tidak banyak," desis Archibald seraya mencoba berdiri dengan seimbang."Kau masih harus istirahat yang banyak dulu, Archibald," sergah Claude."Aku sudah merasa lebih baik. Aku ingin bertemu dengan Maurelle," ucap Archibald sambil berjalan sedikit tertatih melewati Claude yang masih bergeming menatapnya.Peri tampan bermanik kelam itu menatap punggung Archibald yang berjalan menjauh dari pandangan. Ia menyunggingkan seulas senyum melihat pangeran dingin yang selama ini ia kenal tampak sangat bersemangat untuk menyelamatkan seorang peri.* * *Ammara meringkuk di dalam kegelapan ruang tahanan bawah tanah kerajaan Avery. Seberkas cahaya yang masuk dari celah ventilasi menerpa kelopak matanya yang tertutup. Ia menggeliat, meregangkan otot-ototnya yang kaku karena berbaring di lantai dingin sepanjang malam. Matanya perlahan terbuka, menampakan iris hijaunya yang berkilat diterpa seberkas cahaya matahari.Ammara mengernyit dan bangkit perlahan dari posisinya. Ia menatap sekitar dengan gamang. Ternyata ia masih berada di ruangan itu. Ia tidak bermimpi."Ibu ..." Lirihnya.Ammara membayangkan sosok Ella yang sedang mengolah plum di rumah cendawannya. Ella dengan kedua tangannya yang sibuk sambil bersenandung pelan di atas sebuah dipan. Ella yang menyambutnya dengan senyum penuh kasih saat Ammara bangun tidur setiap pagi. Bayangan itu lantas memudar berganti keremangan dan dingin lantai batu.Ammara sangat merindukan Ella. Ia tidak pernah merasa serindu ini sebelumnya."Ibu ..." lirihnya lagi.Pagi itu tidak ada Ella. Pagi itu hanya ruangan gelap dan dingin yang menyambutnya. Ammara memeluk kedua lutut dan membenamkan wajahnya di sana. Tubuhnya bergetar. Ia menangis lagi. Entah untuk yang keberapa kali.
Peri Penyembuh
"Nyonya Ella, Ammara dan Selly dalam bahaya! Mereka mengikuti sebuah cahaya aneh yang terbang ke utara!" jerit Marybell begitu menghambur masuk ke halaman rumah pemilik Fairyfarm.Ella yang sedang memangku nampan buah plum kering yang telah selesai dijemur refleks menjatuhkan nampannya. Buah-buah plum kering jatuh berhamburan di atas lantai rumah jamur itu. "Cahaya aneh? Ke Utara? Apa mereka pergi ke Kerajaan Avery?" tanya Ella terkejut. Iris mata hijaunya membesar. Kegusaran seketika menyergapnya. "Ini tidak boleh terjadi. Aku harus segera menyelamatkan Ammara.""A-aku tidak tahu, Nyonya Ella. Cahaya ungu itu keluar dari mata kalung Ammara. Kemudian---"Mata kalung?!"Marrybell mengangguk gugup. Ia sedikit takut melihat ekspresi Ella saat itu, tetapi ia sangat khawatir dengan Ammara, sehingga ia mengatakan semua yang diketahuinya pada Ella agar sang peri penyembuh dapat segera bertindak."Baiklah, Marybell. Aku harus segera menjemput Ammara dan Selly. Kau tunggu saja di sini. Jangan katakan ini pada Ailfryd. Aku tidak ingin membuatnya khawatir. Jika ia bertanya, katakan pada saja aku sedang membawa Ammara berkunjung ke istana," ucap Ella cepat.Ella berdiri di ambang pintu rumah cendawan, bersiap untuk mengeluarkan sayap perinya. Ia menggoyangkan sedikit bahunya dan serta merta sepasang sayap kupu-kupu besar yang berwarna dan bermotif biru muncul di punggung. Sebuah pendar hijau yang berkedip-kedip muncul dari bagian atas salah satu sayapnya. Cahaya itu menandakan bahwa dirinya adalah seorang peri dengan kemampuan untuk menyembuhkan. Ella kemudian terbang melesat ke arah utara, menuju kerajaan Avery.Sesampainya di Kerajaan Avery, Ella mendarat di halaman istana yang dipenuhi semak lavender yang rusak, lantas menerawang istana yang berdiri kokoh di hadapan untuk beberapa saat. Ia sedang memastikan keberadaan anaknya di sana. Ella menggoyangkan bahunya dan serta merta sepasang sayap kupu-kupu besarnya menghilang di balik punggung.Sesosok peri elf berjalan tergesa mendekati Ella. Maurelle tersenyum lega saat melihat kedatangan Ella. "Kebetulan sekali kau berkunjung ke sini. Aku baru saja akan mengutus seseorang untuk menjemputmu di Fairyfarm." sapa Maurelle ramah. Namun, sedetik kemudian wajah ramah itu berganti dengan kegusaran.Ella mengerutkan kening. "Apa yang terjadi di tempat ini?""Kau tidak bisa melihatnya? Seorang penyihir hitam telah mengacaukan pesta ulang tahun Putri Tatianna. Putri Tatianna dan Para Pangeran sekarang sedang dalam pengaruh sihir hitam. Mereka sedang berhalusinasi, Ella.""Bagaimana bisa penyihir hitam menembus segel di perbatasan Hutan Larangan? Jangan mengada-ngada Maurelle!" desis Ella tak percaya. Kakinya melangkah cepat mengikuti Maurelle yang menggiringnya memasuki aula istana Avery."Awalnya aku juga tidak percaya. Namun, aku melihatnya sendiri. Pangeran Claude juga dapat melihat tanda sihir itu di dada putri dan para Pangeran," sahut Maurelle gusar."Pangeran Claude? Jadi hanya dia yang tidak terkena sihir?""Sepertinya karena ia adalah keturunan Peri Cenayang. Sihir hitam tidak dapat mempengaruhinya dengan mudah. Sama seperti kita." Maurelle menjelaskan. "Dan, setahuku kaulah satu-satunya peri cenayang dengan kekuatan penyembuhan terbaik di seluruh Fairyverse.""Kau berlebihan, Maurelle. Kaulah yang terbaik. Aku hanyalah istri seorang tukang kebun di Fairyfarm. Dan ,aku kemari untuk menjemput putriku.""Putrimu? Kau mempunyai putri?" Maurelle tampak bingung. Mereka telah sampai di aula Istana Avery. Putri Tatianna dan para pangeran lainnya masih saling serang. Beberapa kesatria elf sedang berusaha melerai mereka, tetapi mereka mulai kewalahan. Terlebih lagi Putri Tatianna mengeluarkan beberapa kekuatan sihirnya menyerang ke segala arah. Sementara Pangeran Claude sedang sibuk memasang selubung bagi para kesatria elf agar tidak terkena dampak serangan sihir dari Putri Tatianna.Ella terbelalak melihat pemandangan di hadapannya, "Ini mengerikan sekali Maurelle!" desisnya. "Apakah Raja Brian mengetahui hal ini?""Aku berharap bisa menyelesaikannya saat ini juga, Ella. Kondisi Raja Brian sedang tidak baik," ucap Maurelle dengan wajah lelah.Ella tampak berpikir untuk beberapa saat. "Aku akan membantumu, Maurelle. Namun, kau harus membantuku menemukan putriku. Putriku ada di suatu tempat di istana ini," ucapnya."Baiklah, Ella. Apapun yang kau inginkan," sahut Maurelle sambil mengembuskan napas lega.Ella mengeluarkan sebuah kantong kain kecil berwarna putih dari balik gaunnya. Ia lantas mengambil segenggam serbuk putih yang sangat halus seperti serbuk sari bunga yang berkilauan saat diterpa cahaya temaram aula istana. Ella kemudian merapal sebuah mantra singkat. Serbuk putih yang berada di genggaman Ella lantas bercahaya. Ella mendekatkan serbuk itu ke mulutnya, lalu perlahan meniupnya ke arah Putri Tatianna dan para pangeran yang sedang saling menyerang.Pangeran Claude mendekati Ella dan memperhatikan peri yang sedang melakukan ritual pengobatannya. Sementara Maurella terlihat menahan napas menantikan reaksi yang ditimbulkan oleh ritual pengobatan Ella. Begitu salah satu partikel serbuk putih itu mengenai tubuh Putri Tatianna dan para pangeran, mereka langsung ambruk dan tak sadarkan diri. Para kesatria elf dengan cekatan mengangkat tubuh mereka satu per satu dan membawanya ke balai pengobatan istana.Ella menepuk-nepuk kedua tangannya untuk membersihkan sisa-sisa serbuk putih yang masih menempel di telapak tangan. Ia berkata pelan. "Sebentar lagi mereka akan sadar dan mereka tidak akan mengingat kejadian malam ini.""Terima kasih, Ella. Kau hebat sekali. Aku ingin belajar padamu dan menjadi muridmu," puji Pangeran Claude. Ia merasa sangat lega karena saudara-saudaranya telah terbebas dari sihir."Pangeran Claude, kau sudah tumbuh besar dan tampan," ucap Ella sambil menatap Pangeran Claude yang kini telah berdiri di sampingnya. "Aku tidak ingin dikenal sebagai peri cenayang ataupun peri penyembuh. Aku tidak bisa menerimamu sebagai murid, maafkan aku, Pangeran Claude. Namun, jika kau ingin belajar membuat makanan olahan dari buah plum, aku akan dengan senang hati menerimamu di Fairyfarm. Lagi pula, kau sudah memiliki guru terbaik di sini, yaitu sahabatku Maurelle."Pangeran Claude mengangguk takzim. "Baiklah, aku akan ke Fairyfarm untuk belajar mengolah Plum," sahutnya."Terima kasih, Ella. Kau hadir di saat yang tepat. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika tidak ada kau," tutur Maurelle lega. "Malam ini benar-benar malam yang panjang," desahnya. "Oh iya, mari kita cari putrimu, bagaimana ciri-cirinya? Siapa namanya?""Putriku berambut pirang keemasan dan bermata hijau. Aku pikir dia mungkin menghadiri pesta Putri Tatianna," sahut Ella hati-hati. Ia tidak ingin mengungkapkan yang sebenarnya pada Maurelle jika Ammara mengikuti cahaya sihir yang masuk ke istana Avery."Ammara?" tanya Pangeran Claude menebak.Ella mengangguk cepat. "Kau mengenal Ammara? Apakah kau bertemu dengannya di sini? Di mana dia sekarang? Aku ingin bertemu dengannya." Ella berdecak khawatir. Berbagai hal berkecamuk dalam pikirannya.Pangeran Claude dan Maurelle saling bertukar pandang. Mereka tidak menyangka bahwa Ammara ternyata adalah anak sang peri penyembuh.Maurelle berdeham beberapa kali sebelum ia menjawab pertanyaan Ella. "Ella, maafkan aku. Aku tidak tahu kalau peri perempuan itu adalah anakmu.""Apa maksudmu, Maurelle. Di mana Ammara?" tanya Ella gusar. Ia membaca raut tidak enak di wajah Maurelle dan Pangeran Claude."Peri itu ... maksudku Ammara. Dia ada di tempat yang aman. Namun, dia harus berhadapan dengan para Dewan Peri terlebih dulu sebelum bisa keluar dari tempat ini," ucap Maurelle hati-hati sambil memperhatikan perubahan air muka Ella."Apa maksudmu? Apa yang terjadi padanya, Maurelle?" tanya Ella sedikit emosional. "Kau harus menyelamatkannya, Maurelle. Dia tidak bersalah!""Ella, aku tahu Ammara peri yang baik. Namun, apakah kau tahu bahwa ia memiliki mata kalung zamrud yang berasal dari Hutan Larangan? Dari mata kalung itulah, sihir hitam berhasil masuk dan menyerang para pangeran dan Putri Tatianna. Para Dewan Peri akan memeriksanya. Jika ia tidak bersalah, ia pasti akan dibebaskan dan akan kembali ke Fairyfarm." Claude menjelaskan."Tidak. Putriku tidak tahu apa-apa, Pangeran Claude," ucap Ella lirih. Setetes air bening terbit di pelupuk matanya. Beberapa saat kemudian, Ella mulai terisak."Tenanglah, Ella. Kami akan melindunginya," bujuk Maurelle berusaha menenangkan Ella. Ia merangkul bahu sahabat lamanya itu."Bisakah aku bertemu dengannya?" tanya Ella di tengah isak tangisnya."Maafkan aku, Ella. Kau tidak bisa menemuinya sebelum ia bertemu dengan Para Dewan Peri. Itu adalah protokol istana yang tidak bisa kita langgar.""Aku ingin bertemu dengannya, Pangeran Claude. Aku mohon. Dia pasti sangat kebingungan saat ini. Dia tidak tahu apa-apa. Aku mohon, aku ingin bertemu putriku. Beri aku kesempatan ..." Ella terisak lebih keras. Ia bersimpuh di lantai, tangannya bertaut memohon ke arah Maurelle dan Pangeran Claude yang berdiri di hadapannya.Pangeran Claude ikut bersimpuh bersama Ella, diikuti dengan Maurelle yang menatap peri perempuan itu dengan simpati. Claude menggenggam kedua tangan Ella, iris mata hitamnya menyiratkan kesedihan dan sebuah tekad. "Aku berjanji, aku akan mengusahakan yang terbaik untuk mempertemukanmu dengan Ammara. Jangan khawatir, Ella. Aku sendiri yang akan mengantar Ammara pulang ke Fairyfarm."