Gambar dalam Cerita
" gimana Key? Mahasiswa udah pada ngumpul semua? " tanya Bu Rahma pada ku yang tengah memegang absensi semua mahasiswa yang mengikuti study tour selama dua minggu di Jogja dan Jawa Tengah.
Kebetulan aku dan ke dua teman ku di percaya oleh Bu Rahma, Bu Amy dan Pak Husni untuk mengurusi absensi dan segala keperluan semua mahasiswa yang ikut study tour.
" masih dua orang yang belum sampe bu. Sama dua temen saya kebetulan juga belum dateng. " sahut ku membalas pertanyaan bu Rahma.
" nanti kalau Putri dan Haris dateng, tolong kalian bertiga koordinasikan sama Aldy ya untuk urusan tiket sama boarding pass anak – anak. " pinta Pak Husni yang berdiri di dekat ku bersama dengan ke dua dosen ku yang lainnya sembari menyebutkan ke dua teman ku yang ikut menjadi asisten dosen menemani ku kali ini.
" eh? Aldy siapa pak? " tanya ku bingung. Karena Asisten dosen yang kali ini ikut mengawasi study tour ini hanya kami bertiga, yaitu aku dan ke dua teman ku, Putri dan Haris.
" Bapak lupa bilang sama kamu, jadi pak Agus selaku tour guide kita gak bisa ikut karena harus ngurus travelnya di sini. Jadi yang ngurusin tour kita kali ini di sana istri sama anak ke duanya. Namanya Aldy, itu. Kalo gak salah dia umuran Hendri sih. " jawab pak Husni sembari menyebutkan nama anak ke tiga beliau yang notabene adalah kakak tingkat ku di kampus. Aku pun menganggukkan kepala ku mengerti.
" eh iya Key, total kita semua ada berapa? Ibu lupa totalnya. " tanya ibu Amy yang semenjak tadi hanya memperhatikan ku yang heboh sendiri karena mengurusi keperluan mahasiswa sendiri tanpa ada yang membantu.
" mahasiswanya ada 52 bu, trus dosen 3, asdos 3, sama tour guide 2 orang. Jadi totalnya pas 60 orang bu. " sahut ku setelah mentotal semua yang akan berangkat study tour kali ini.
" udah di hitung cowok ceweknya buat kamar di Jogja sama di kebun kan Key? " tanya bu Amy kembali yang langsung ku balas dengan anggukan kepala ku.
" ceweknya ada tiga puluh dua orang bu. Sedangkan cowoknya ada dua puluh orang. Jadi saya, Putri sama Haris ngebagi empat orang satu kamar dan totalnya untuk mahasiswa ada tiga belas kamar buat di Jogja bu. Terus untuk kita semua sama tour guide ada tiga kamar yang kami pesen. " jawab ku setelah melihat semua berkas – berkas yang ada di tangan ku.
" kamarnya kurang bu? Pak? Buat yang di Jogja? " tanya ku memandang ke tiga dosen ku yang tengah memandang ku lekat.
" sepertinya cukup aja untuk kita semua. Lagian kan satu kamar buat bapak smaa Haris. Bu Amy sama Bu Rahma trus Bu Listy bisa satu kamar sama Aldy dan kamu sama Putri satu kamar lainnya. " ucap pak Husni menyebutkan nama istri pak Agus yang menemani kami bersama putranya kali ini. Bu Amy dan bu Rahma pun menganggukkan kepala menyetujui ucapan pak Husni barusan.
Beruntungnya, aku hanya perlu memikirkan hotel kami semua selama di Jogja saja, karena selama kami berada di Jawa tengah, tempat tinggal kami sementara di sana sudah di atur oleh pak Husni, bu Amy dan juga bu Rahma.
*****
" gila ya, kalian berdua dari mana sih? Kok bisa mepet banget? Anak – anak yang lain sama dosen udah pada ke ruang tunggu. " semprot ku pada Putri dan Haris yang baru saja tiba di depan ku yang tengah menunggu mereka berdua di depan pintu Bandara.
" sorry sorry. Tadi kita ngambil pin nama sama tanda pengenal buat kita semua. Trus makanya aku ngebut ke sini. Ini aja mobil langsung di bawa adik ku. " ujar Haris ngos – ngosan di depan ku. Putri pun tak jauh berbeda dari Haris yang ngos – ngosan.
" ya udah kal... "
" Keysha ya? " tiba – tiba saja ada seseorang yang memanggil ku dan membuat ku langsung berbalik tanpa menyelesaikan ucapan ku pada Putri dan Haris yang berada di hadapan ku saat ini.
" eh iya? " sahut ku kaget.
" saya Aldy. Tadi Pak Husni minta saya buat ngubungin kamu langsung. " ucap pria itu sembari menyalami ku dan membuat ku balas menyalami dirinya.
" iya kenapa kak? " tanya ku bingung.
Pasalnya, semua sudah menunggu di ruang tunggu dan hanya aku sendiri yang belum masuk untuk boading pass dan semacamnya karena menunggu Putri dan Haris. Apalagi ini kali pertama aku bertemu dengan Aldy. Sehingga aku cukup terkejut karena dia mengetahui nama ku terlebih dahulu.
" tiket kalian bertiga di tempat saya. Makanya saya cari kalian untuk sekalian Boarding pass. " ucap Aldy dan membuat Putri juga Haris langsung meminta maaf pada Aldy karena membuat aku dan juga Aldy kerepotan karena mereka berdua. Aldy pun tertawa maklum sembari menyerahkan tiket kepada kami bertiga dan mengajak kami semua untuk boarding pass.
*****
" yah, dapet di belakang. " keluh Putri.
Begitu dirinya mendapatkan kursi dan membuat ku melirik kertas yang berada di tangannya untuk mengetahui baris duduknya. Aku pun sedikit bersyukur deret kursi ku berada di tengah sehingga tidak terlalu di belakang seperti Putri. Dan ternyata Haris pun juga berada di deretan belakang bersebelahan dengan Putri.
" ampun deh, Jodoh banget sampe sampingan gitu. " sindir ku sembari tertawa.
Aku sudah terlampau sering menjahili mereka berdua dengan menyindir kelakuan mereka berdua yang terkadang tanpa sadar justru selalu bersama sama dalam setiap kesempatan.
" mau tukeran gak Key? " tanya Haris khawatir pada ku sembari mengajak ku bertukar tempat duduk yang langsung di setujui oleh Putri.
" iya, tuker aja sama Haris. Kamu masa duduk sendirian. "
" enggak ah. Aku males ganggu orang pacaran. " tolak ku cepat pada mereka berdua. Apalagi aku tahu jika ini kesempatan yang langka untuk mereka berdua bisa liburan berdua sekaligus menjadi asisten dosen.
" tapi kamu kan sendirian Key. " Putri bersikeras agar aku menerima tawaran Haris untuk bertukar dengannya.
" tenang saja. Kebetulan saya duduk tepat di samping Keysha. Jadi dia aman sama saya. Jangan khawatir. " ucap Aldy secara tiba – tiba muncul sembari berbicara dan membuat ku menghela nafas lega karena tahu siapa yang duduk di samping ku.
" tuh, udah ada kak Aldy. Jadi kalian berdua aja. Kapan lagi kan kalian bisa liburan bareng berdua. " ujar ku menambahkan ucapan Aldy dan membuat Haris serta Putri tersenyum malu. Aku pun mengajak mereka bertiga untuk menuju ke ruang tunggu, sembari menyusul yang lain yang sudah menunggu di sana.
*****
" mereka berdua pacaran? " tanya Aldy pada ku begitu kami berdua sudah hendak take off menuju bandara Achmad Yani Semarang.
" eh? Siapa kak? " tanya ku balik dengan bingung.
Karena semenjak di ruang tunggu dirinya sama sekali tak berbicara sedikit pun. Bahkan saat aku, Putri dan Haris membagikan tanda pengenal untuk semua mahasiswa peserta study tour pun dirinya hanya diam saja.
" itu. Ke dua teman mu? Putri dan Haris? Bener kan nama mereka? " ucapnya tak yakin dengan nama ke dua teman ku.
" oh itu. Iya. Udah lama sih sebenernya. Nyaris dua tahunan gitu lah. Kenapa memangnya kak? " sahut ku sembari balas bertanya pada dirinya.
" enggak. Kirain kalian bertiga temenan biasa aja. Soalnya sampe mereka mau tuker duduk sama kamu. " balasnya.
" ya gitu. Kami emang bertiga temenan. Tapi mereka terus pacaran. Aku juga gak mau ganggu. Mereka emang gak pernah aja liburan ke luar kota kayak gini berdua. Lagian, orang tua Putri susah ngizinin dia pergi gak ada yang jagain. Tahun kemaren kan cuma aku yang jadi Asdos buat mata kuliah ini. Makanya aku males gangguin. Kapan lagi kan mereka punya waktu liburan berduaan. " sahut ku menjelaskan dan membuat Aldy mengangguk – angguk paham.
Aku pun memilih untuk sibuk sendiri membaca mengenai jadwal study tour selama seminggu ini. Karena sebenarnya, jadwal kami lebih di sibukkan saat berada di Jawa Tengah karena kami praktek di kebun teh di daerah Pagilaran.
Bahkan kami menginap di sana selama satu minggu walau hanya empat hari efektif untuk tour. Sedangkan di Jogja, kami hanya akan sibuk selama dua hari untuk berkunjung ke Universitas Gadjah Mada dan juga ke daerah pertanian di sekitar Merapi.
" mau ku bantu? " tanya Aldy begitu dirinya yang melihat ku kerepotan.
" gak usah kak. Udah biasa ini mah. " jawab ku sembari tersenyum berterima kasih.
" udah sering ya jadi asdos? " tanya dirinya sedikit tertarik.
" ini tahun ke tiga aku jadi asdos. " ujar ku menjawab pertanyaannya barusan.
" udah ke mana aja? " ucapnya penasaran.
" waktu jaman ku yang pergi, kami ke Malang. Tahun pertama jadi asdos ke Malang lagi, tahun ke dua ke Bandung. Tahun ini ke Semarang sama Jogja deh. "
" sering ya. By the way, kamu udah lulus? Atau masih skripsian? " tanyanya lagi.
" udah lulus kok. Udah satu tahun terakhir ini. Sekarang lagi sibuk ngurus master ku. " jawab ku lagi dengan malu karena aku jarang mengumbar jika aku mengambil master ku.
" oh ya? Sama dong. Aku juga ngambil master di fakultas ekonomi. Baru aja sidang kemarin. Sekarang tinggal tunggu Wisuda. " ucap dirinya membalas ucapan ku dan membuat kami semakin bertukar cerita selama perjalanan kami.
*****
" Key, anak - anak di bis udah lengkap? " tanya Ibu Amy begitu aku keluar dari bis dan bergabung bersama Pak Husni, Bu Amy, Bu Listy, Haris dan juga Aldy. Sedangkan Putri dan Bu Rahma sejak tadi izin pergi ke toilet saat kami menuju ke bis yang akan mengantar kami selama kami di sini.
" kayaknya udah kok bu. Tadi saya juga udah minta baris kursi depan sama satu kursi di belakangnya di kosongkan buat ibu sama bapak duduk nanti sama kak Aldy juga. " sahut ku.
" lho. Cuma lima kursi aja dong berarti? Kenapa cuma lima aja? Kamu, Haris dan Putri gimana? " tanya Ibu Listy dengan kening berkerut karena kami hanya mengosongkan lima buah kursi di bagian depan bis.
" Jangan khawatir, kami bertiga santai aja kok bu. Kami bisa duduk di mana aja. Lagian hitungannya masih ada sisa enam kursi yang kosong nanti. Jadi kami bisa duduk di mana aja bu. " kali ini bukan aku yang menyahut. Tapi Haris, teman ku sesama Asdos bersama dengan Putri.
" gak mabuk memang kalian kalau dapet kursi di belakang? Lapula seingat bapak pas angkatan kalian yang study tour, kalian bertiga kan duduk paling depan. Mana rebutan gitu supaya dapet kursi di depan. Kamu juga Key, biasanya kamu duduk di baris depan kok. Yakin mau duduk di belakang? " tanya pak Husni sembari terkekeh, mengingat bagaimana bar - barnya kami dulu berebut kursi untuk duduk di dalam bus.
Apalagi angkatan ku menjadi angkatan dengan jumlah study tour terbanyak. sekitar seratus lima belas orang dengan menggunakan dua bis berukuran besar.
" sekali - kali pak kami ngerasain duduk di belakang. " sahut ku tertawa mengetahui bagaimana pak Husni mengingat kebiasaan ku selama ini yang nyaris selalu dapat kursi di bagian depan. Bahkan beliau masih mengingat bagaimana rusuhnya angkatan kami study tour beberapa tahun lalu.
*****
" kak, kak. Kak Keysha. " panggil seorang mahasiswi yang duduk di baris ke empat di bus yang memang sedang ku lewati saat ini dan berhasil membuat ku menghentikan langkah ku dan berbalik memandang dirinya.
Sebenarnya sekarang aku tengah memeriksa keadaan mereka, apakah sudah siap berangkat atau belum karena bis sudah siap berangkat. Bahkan ke tiga dosen, ibu Listy, Aldy sudah mulai masuk bis mengikuti aku, Haris dan Putri yang sudah terlebih dahulu masuk untuk mengecek semua mahasiswa.
" hm? Ya kenapa? " tanya ku sembari memandangnya begitu merasa dirinya memanggil ku sembari menarik tangan ku pelan.
" itu asdos juga kak? " tanya mahasiswi itu sembari menunjuk Aldy yang baru saja masuk ke dalam bis mengikuti bu Listy, ibunya.
" bukan. " sahut ku singkat yang langsung berpandangan dengan Haris dan Putri mencoba menebak apa yang ada di pikiran mahasiswi ini. Apalagi mahasiswi itu memandang Aldy dengan penuh rasa minat.
" terus? " tanyanya lagi tak pantang menyerah.
" emang tadi di ruang tunggu gak denger? Perasaan dia tadi udah ngenalin diri deh. " ujar ku memandang ke arah dirinya dengan pandangan bingung.
Pasalnya, Aldy memang sudah memperkenalkan dirinya dan bu Listy saat di ruang tunggu tadi. Rasanya tak mungkin mahasiswi ini tak mendengar ucapan Aldy di sana.
" enggak kak. Tadi di ruang tunggu gue sibuk touch up. Kan mau jalan - jalan. Harus cetar dong. Lagian gue ikut study tour ini kan buat jalan - jalan. " ucapnya yang langsung membuat ku menarik nafas panjang dan lelah.
Sepertinya study tour kali ini gak akan mudah. Dan ku lihat Putri langsung memutar ke dua bola matanya dengan malas karena mendengar jawaban mahasiswi ini.
" Kita pergi buat study tour dek. Bukan buat jalan - jalan. Nilai mata kuliah mu bergantung sama study tour ini. " ucap ku sepelan dan sejelas mungkin. Bagaimana pun nilai praktek study tour ini penting untuk kelulusan mata kuliah ini bagi mereka.
" biarin sih kak. Gue ini. Suka - suka gue dong mau gimana. Lagian kan nilai kami pasti A dong. secara kami udah rela ikut praktek beginian. " ujarnya yang terang saja langsung membuat ku malas meladeni. Aku pun memberi isyarat untuk Haris dan Putri menggantikan aku mengurus mahasiswi ini.
" siapa nama mu? " tanya Haris langsung mengambil alih.
Beruntungnya, Haris langsung mengerti jika aku sudah malas mengurus mahasiswi satu ini sehingga dirinya yang menggantikan aku.
" Gheanda Safitri. Panggil aja Ghea ya kakak ganteng. " sahutnya dengan senyum - senyum tipis dan mencuri pandang ke arah Haris. Ucapannya ini berhasil menggeleng - gelengkan kepala ku tak mengerti dengan sikap mahasiswi satu ini.
Sebenarnya jika di lihat - lihat, Haris cukup tampan dan memiliki banyak penggemar di kampus. wajar banyak yang naksir dengan Haris seperti mahasiswi ini. Tapi semenjak berpacaran dengan Putri dan berteman dengan ku, banyak dari fans - fans Haris mundur teratur. Tapi nampaknya ini tak berlaku untuk gadis ini.
" kenapa nanya - nanya cowok itu? " tanya Putri dengan nada tak bersahabat. Apalagi melihat pacarnya di goda di depan matanya langsung.
" ganteng. Gue naksir. " sahutnya lempeng seolah - olah itu adalah hal yang biasa saja.
" iya kak. Kakaknya cakep. "
" iya cakep banget ih kakaknya, berasa pengen aku pacarin. "
" pokoknya kudu kita bawa jalan keliling dia nanti. " tambah beberapa mahasiswi ikut menyahut membenarkan ucapan Ghea itu sembari memandang Aldy yang tengah berdiri di lorong sembari ngobrol ringan bersama ibunya dengan tatapan yang amat penuh minat.
" nih ya adek - adek sekalian. Nilai kalian tuh bergantung sama praktek ini. Serius sedikit. Lulusnya kalian semua tuh bergantung gimana kalian di praktikum ini dan gimana kalian bersikap selama praktikum ini. Kami gak akan segan - segan ngasih kalian nilai C bahkan D kalau kalian malah bikin malu kampus dan gak taat peraturan. Kami bertiga ikut buat bantuin Dosen ngurusin segala keperluan kalian. Jadi kalau kalian gak mau di atur ya jangan salahin kami kalo kami ngasih nilai seadanya. " ujar Putri panjang kali lebar guna menasehati gadis itu dan juga yang lain.
" jangan ngurusin cowok atau cewek cakep aja. " sindir ku pada beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang dari gelagatnya berencana melakukan pendekatan kepada lawan jenis selama study tour ini berlangsung.
Dan begitu mendengar sindiran ku ini, beberapa langsung tersenyum malu karena niat mereka langsung terbaca dengan jelas oleh ku. Apalagi study tour kali ini cukup lama, yaitu sekitar lima belas harian. Sehingga tak menutup kemungkinan ada beberapa mahasiswa yang menjadikan study tour ini sebagai ajang pendekatan dengan kawan mereka satu angkatan sembari berjalan - jalan di daerah tempat study tour.
" Kalian boleh kok deketin siapa yang kalian taksir. Tapi harus inget waktu. Ada waktunya untuk kalian santai dan senggang, ada waktunya kalian harus serius. " tambah Haris sembari tersenyum tipis.
Dapat ku lihat beberapa wajah penuh kelegaan beberapa mahasiswa dan mahasiswi begitu mereka mendengar ucapan Haris barusan. Sepertinya di perjalanan panjang kali ini, Haris mengambil peran Angel dan aku beserta Putri harus mendapat peran Devil. Membuat aku dan Putri yang saat ini berfikiran sama pun kembali menghela nafas panjang.
*****
" ini kalian semua pada gak ada yang mau duduk di depan apa ya? Masih ada lima kursi lho di depan nih. " tanya ku pada mahasiswa sembari mengedarkan pandangan ku kepada mereka semua begitu aku sudah berdiri di depan. ku lihat mereka sudah mendapat pasangan - pasangan duduk kecuali satu orang.
Pasalnya, masih ada enam kursi kosong yang masih tersisa di depan selain kursi milik dosen dan bu Listy. Empat kursi di baris ke dua tepat di belakang dosen, satu kursi di baris ke tiga di sebelah kanan bus yang berada di samping Ghea, mahasiswi yang tadi menegur ku dan satu kursi yang terakhir berada di paling belakang di dekat WC bus.
Kebetulan yang belum mendapat tempat duduk saat ini hanya tinggal aku, Aldy, Haris dan Putri saja. Sehingga nanti akan ada dua kursi yang kosong tak berpenghuni. Sedangkan koper - koper kami semua sudah di tata sedemikian rupa di bagasi yang ada di bawah bus.
" enggak kak. Biar kakak - kakak aja di depan. " tolak Bayu yang ku ketahui sebagai ketua angkatan mereka.
Dan ucapan Bayu barusan langsung di iyakan oleh yang lain. Membuat ku, Haris dan Putri langsung duduk di tempat pilihan kami masing - masing.
Aku memilih untuk duduk sendiri di dekat jendela sebelah kiri bus tepat di belakang Bu Listy dan Bu Amy, sedangkan Putri dan Haris di kursi sebelah Kanan, tepat di depan tempat duduk Ghea dan di belakang kursi Pak Husni yang duduk di samping Bu Rahma. Sedangkan Aldy masih saja mengobrol bersama ibunya dan ke tiga dosen, entah membahas masalah apa semenjak tadi.
*****