YOU'RE MY HAPPINESS
Romance
12 Feb 2026

YOU'RE MY HAPPINESS

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download - 2026-02-13T002411.214.jfif

download - 2026-02-13T002411.214.jfif

12 Feb 2026, 17:24

download - 2026-02-13T002409.782.jfif

download - 2026-02-13T002409.782.jfif

12 Feb 2026, 17:24

" kak Suho? " panggil ku tak yakin begitu aku menemukan sosok orang yang tak ku percayai ada di dekat ku saat ini.

" Ayi? " ucapnya terkejut karena melihat ku ada di dekatnya begitu dirinya keluar dari ruang kedatangan bandara. Dirinya pun bergegas mendekati ku dan langsung menarik ku ke dalam pelukan hangatnya, meninggalkan koper dan tasnya begitu saja.

" ini beneran kak Suho. " ucap ku masih tak percaya kini aku benar - benar di hadapkan dengan seseorang yang aku rindukan selama beberapa bulan ini.

" bodoh. Tentu saja ini aku. Astaga Tuhan. Aku benar - benar merindukan mu, Yi. Aku merindukan mu. " ujarnya membalas ucapan ku seraya mengecupi puncak kepala ku berkali - kali.

Aku pun mengubur wajah ku di ceruk lehernya dan mengecup ringan lehernya beberapa kali. Tak lupa aku menghirup aroma tubuhnya yang sangat - sangat ku rindukan selama kami berpisah.

" aku kangen banget sama kak Suho. " ujar ku tanpa sadar terisak masih di dalam pelukannya.

" hey kenapa nangis. Kok nangis sih, sayang. " balas kak Suho panik begitu mengetahui aku yang terisak di pelukannya. Dirinya pun menguraikan pelukan kami berdua sembari meneliti wajah ku yang langsung memerah.

" kakak juga kangen sama kamu. Tapi jangan nangis sayang, merah mukamu ini. " tambahnya lagi sambil mengecup ke dua mata ku berkali - kali. Dirinya sama sekali tak memperdulikan tatapan orang - orang di sekitar kami yang melihat kelakuan dirinya pada ku.

Membuat ku sekuat tenaga untuk menghentikan tangisan ku karena aku tau, kak Suho akan sekhawatir itu karna melihat wajah ku memerah dan tubuh ku menghangat akibat menangis.

*****

" kita sekarang ke apartement kakak aja ya? Abis nangis kayak ini badan mu pasti langsung anget deh. " ucapnya sambil berkali - kali mengelus kedua lengan ku yang mulai menghangat.

Aku pun mengiyakan ucapannya kali ini seraya memandang wajahnya penuh dengan kerinduan. Apalagi, sudah enam bulan lebih dirinya pergi ke Jepang untuk mengurus salah satu perusahaan miliknya yang berada di sana mengikuti ke dua orang tua dan kakak laki - lakinya yang memang sudah pindah ke sana selama dua tahun terakhir, tempat kelahiran nenek kak Suho dari pihak ayahnya. Dan membuat ku harus terpisah dengan dirinya untuk waktu yang lama. Di tambah lagi, sifat workaholic nya yang belum berubah. Membuat kami sangat jarang berkomunikasi selama kami berpisah.

Dirinya pun segera menarik koper miliknya setelah menyampirkan tas ransel hitam miliknya di bahu dengan sebelah tangan. Sedangkan sebelah tangannya lagi kini merengkuh bahu ku dan memeluk ku dari samping.

" kamu nginep di tempat ya? Kakak mau kangen - kangenan sama kamu. " ujar kak Suho mengecup kepala ku sekali lagi dengan lembut.

" tapi aku belum bilang sama mama sama papa kalo mau nginep tempat kakak. " ujar ku begitu kami berdua baru masuk mobil miliknya yang ku bawa untuk menjemputnya hari ini sembari memandang dirinya yang semakin tampan dengan kemeja hitam berlengan panjang dan membiarkan rambutnya tertiup angin seperti saat ini.

" iya. Nanti kakak yang nelpon orang tua mu sekalian bilang kamu nginep di tempat kakak. " balasnya dan langsung ku iyakan. Karna jika kak Suho yang meminta izin langsung, sangat besar kemungkinan nya untuk di setujui oleh orang tua ku.

*****

" hallo, mama? ini Suho. " kak Suho langsung bicara begitu mama ku mengangkat telepon.

Kak Suho memang sedekat ini dengan keluarga ku sehingga dirinya tak segan - segan memanggil orang tua ku dengan sebutan papa dan mama. Bahkan ke dua adik ku pun sudah sangat dekat dengan dirinya.

" lho Suho? sudah pulang dari Jepang nak? Kapan? "

" iya ma sudah, baru aja. Ini baru sampe di apartemen Suho. Makanya ini pakai hp Ayi buat nelpon. Suho mau minta izin ya ma, ngajak Ayi nginep di apartement Suho. Suho kangen banget sama Ayi. Pengen cerita - cerita sama Ayi. " ujar kak Suho langsung meminta izin sembari melirik ke arah ku yang masih setia duduk di sampingnya di dalam mobil. Padahal, kami berdua sudah berada di basement apartemennya sejak tadi.

" iya sudah kalau begitu. Titip Ayi ya Ho. Baju - baju Ayi masih ada di Tempat mu? Atau mau ke sini dulu ambil baju Ayi? "

" tenang aja ma, Pakaian Ayi masih ada kok di tempat ku. Udah di pisahin juga sama baju - baju Suho. Rasanya masih cukup kok kalau Ayi mau nginep lama. "

" ya udah. Nanti mampir ke sini ya, sekalian nginep sini. Mama sama papa mau denger cerita kamu. Kangen juga sama kamu lama banget gak ketemu. "

" iya ma, nanti aku ke sana sekalian nginep. "

" iya. Eh iya, gimana kabar keluarga mu di sana? Ayah bunda sehat? Si kembar apa kabar? "

" iya ma, ayah sama bunda sehat kok. Si kembar juga sehat kok mah. Titip salam katanya buat mama papa sekalian adek - adek. "

" iya mama sama papa salam balik ya buat keluarga mu di sana. "

" iya ma, nanti Suho sampein sama ayah sama bunda. Suho titip salam ya ma buat papa sama yang lain juga. Maaf belum bisa ke sana hari ini. " pamit kak Suho.

" ... "

*****

" gimana? Di bolehin gak sama mama? " tanya ku memandangnya dengan tatapan penasaran.

" jelas dong. Siapa dulu yang ngerayu. " jawabnya seraya mengelus kepala ku dan beranjak turun dari mobil. Aku pun mengikutinya dan berencana membantu membawa tas ranselnya. Namun, upaya ku ini langsung mendapat pelototan mata darinya.

" jangan bawa yang berat - berat. Kalo kakak bisa, ngapain kamu yang bawa. Mending pegang tangan kakak aja dari pada megang yang lain. " ujarnya saat mengambil tas ransel miliknya dari tangan ku. Kini tangan kanan ku di genggamnya dengan salah satu tangannya yang bebas.

" ngardus ih. " ucap ku tertawa geli seraya berdiri di depan lift guna menuju lantai 23. Tempat apartement kak Suho berada.

" kok ngardus? Orang kakak bener kok. " kak Suho tak terima karena aku menyebut dirinya ngardus.

*****

" eh? Ay, kakak belom mandi lho ini. Main peluk aja. " tegur kak Suho saat aku memeluknya dari belakang setelah kami berdua membereskan semua barang - barang miliknya di dalam kamarnya di apartement.

Untungnya aku sudah membersihkan apartemennya tadi pagi begitu dirinya mengabari akan pulang ke Indonesia tadi malam. Sehingga kak Suho bisa langsung beristirahat sehabis ini tanpa perlu membereskan apartemennya lagi.

Apartement milik kak Suho ini sebenarnya memiliki dua kamar. Tapi selalu saja setiap aku menginap di sini, aku selalu tidur dengan kak Suho di kamarnya. Bahkan salah satu sudut lemari miliknya yang ada di kamar pun sudah nyaris penuh dengan pakaian milik ku karena aku terlalu sering menginap di sini.

Bersyukurnya lagi, ke dua orang tua ku mau pun ke dua orang tua kak Suho sangat mendukung hubungan kami berdua. Bahkan mereka semua tak pernah mempermasalahkan ketika aku menginap di apartemen kak Suho dan tidur bersama dengan dirinya. Karena mereka tau, kak Suho akan selalu menjaga ku dan tak akan mungkin kami berdua melakukan hal - hal yang aneh - aneh.

Di tambah lagi, aku juga sebegitu dekatnya dengan ke dua orang tua kak Suho sehingga aku memanggil ke dua orang tuanya dengan sebutan ayah bunda. Apalagi dengan ke dua keponakan kembarnya, anak dari kakak laki - lakinya.

" biarin. Ayi kangen. " rajuk ku tetap tak perduli dengan kondisi kak Suho yang belum mandi saat ini.

" hey, kakak mandi dulu. Nanti kamu bebas ngedusel di badan kakak. Kakak bau lho Yi, dari Jepang sampe sini gak ada mandi. " ujarnya terkekeh sembari mengelus tangan ku yang masih melingkar di perut rata nya dengan lembut.

" kakak mah gak peka. " akhirnya aku melepaskan pelukan ku dan memandang dirinya dengan merengut yang kini tengah berbalik menghadap diri ku.

" kok merengut gitu. Gak manis lagi nih pacarnya kakak. Jangan cemberut dong. " ucapnya menggoda ku sembari mengecup pipi ku gemas. Dan akhirnya mau tak mau membuat ku berhenti merengut dan tertawa malu.

" modus. "

" kok modus sih? Kamu tiduran aja dulu, atau mau nonton tv, atau mau bikin teh. Kakak mandi bentar ya. Kamu juga ganti baju gih. Biar sekalian istirahat ya. " ujarnya lagi tertawa sembari meninggalkan ku di dekat lemari untuk mengambil pakaian miliknya dan langsung melangkah menuju kamar mandi yang ada di kamarnya.

Begitu kak Suho masuk ke kamar mandi, aku pun membuka lemari pakaian kak Suho untuk mengambil pakaian ku dan berganti di kamarnya kak Suho selama dirinya masih berada di kamar mandi.

*****

" badan kakak anget banget. " ujar ku begitu dirinya ikut berebah di samping ku saat ini dan membuat ku langsung mengubur diri ku di dalam dekapannya.

Kini dirinya hanya memakai celana pendek selutut dan baju kaos polos tipis berwarna merah maroon. Bahkan aku bisa melihat bayang - bayang tubuh atletisnya di balik bajunya saat ini. Sedangkan aku memakai hotpants yang berwarna putih dan baju kaos polos berwarna biru.

" badan kakak emang di atur gini sama Tuhan biar bisa kamu bisa di pelukan kakak terus. " ucapnya memandang wajah ku dan membuat kami tergelak bersama.

" duh modusnya. "

" ini kenapa celananya pendek banget sih. Ganti Yi. Kakak lupa buang celana mu yang ini. " tegur kak Suho saat aku sudah nyaris terlelap di dalam dekapannya.

" mager udah. " ujar ku tetap mengubur diri ku di dalam dekapannya. Lagi pula aku sudah malas untuk beranjak dari pelukannya ini.

" ganti Yi. Kakak ini laki - laki lho Yi. Normal pula. Kakak gak mau ngerusak kamu cuma karna kamu pake celana gitu pas tidur sama kakak. Kakak malah gak bisa jamin keselamatanmu nanti. Ganti dulu. " tegas kak Suho menguraikan pelukan nya.

" males kak. " rengek ku sembari memandangnya dengan wajah mengiba agar dirinya tak menyuruh ku beranjak dari ranjang karna aku sudah terlalu menempel dengan ranjang saat ini.

" kalau gitu kakak tidur di kamar tamu ya? Kakak takut gak bisa kontrol diri Yi. " ujar kak Suho pelan memberi pengertian pada ku dan membuat ku mau tak mau beranjak ke lemari kak Suho untuk mengambil celana yang lebih panjang dan langsung menggantinya di kamar mandi.

" iya iya. Ayi ganti celana. " sahut ku akhirnya mengalah. Aku lebih memilih untuk mengganti celana ku di banding membiarkan dirinya tidur di kamar tamu. Apalagi malam ini aku ingin bermanja - manja dengan dirinya.

Tak berselang lama pun aku keluar dari kamar mandi dan langsung menuju ke arah kak Suho sembari menenggelamkan tubuh ku di dalam selimut di sampingnya.

" kakak enam bulan di sana sama sekali gak berubah ih. " ujar ku sambil menowel - nowel pipinya.

" kamu yang berubah. Makin kurus ih kakak tinggal selama ini. " balas kak Suho seraya mengelus pipi ku yang menurutnya sedikit tirus dari saat kami terakhir ketemu.

" males makan. Gak ada temennya kalo makan di luar. " sahut ku dan berhasil membuat kak Suho menghela nafas lelah dengan fakta yang baru saja ku ungkap.

" kebiasaan kan. Kamu nanti sakit lho Yi kalo males makan. Jangan di biasain dong gak makan gitu. Makin kurus gini, gak suka kakak liatnya. " tegur kak Suho pelan dan tak suka.

" iya iya. Mulai sekarang temenin aku makan ya? " tanya ku terus saja memainkan jari - jemari ku di wajahnya.

" iya, kakak temenin. Makan yang banyak pokoknya. Harus lebih naikin berat badan mu dari ini ya. Kakak gak suka kamu terlalu kurus gini. " sahut kak Suho dan membuat ku menganggukkan kepala ku untuk mengiyakan ucapannya ini.

" eh iya, telpon bunda sama ayah dong kak. Ayi kangen. " ujar ku begitu merasa salah satu tangan kak Suho melingkar di pinggang ku dan mulai mengelus lembut punggung ku. Desiran hangat pun langsung terasa di hati ku tak kala kak Suho memperlakukan ku selembut ini.

" bentar. " balasnya sembari mengambil hpnya di nakas samping ranjangnya yang berukuran king size ini.

****

" ayah, bunda. " sapa ku begitu video call kak Suho langsung menyambung pada bunda yang rupanya tengah bersama dengan ayah.

" Ayi. Apa kabar nak? Ya ampun, bunda kangen banget sama kamu nak. " seru bunda tak kala menemukan ku di layar video call miliknya.

" Ayi sehat nak? Kok makin kurus sih nak? Makan yang bener dong Yi. " tanya ayah yang duduk di samping bunda dan membuat kak Suho menganggukkan Kepalanya menyetujui ucapan sang ayah perihal diri ku yang semakin kurus.

" Ayi sehat - sehat aja kok bun, yah. Ayah sama bunda gimana? Sehat? Kakak Raiden sekeluarga gimana? " tanya ku semakin merangsek mendekat ke arah kak Suho yang saat ini tengah bersandar di kepala ranjang dan membuat ku merebahkan kepala ku di dadanya sembari menyamankan posisi ku saat ini berbantalkan dadanya.

" bunda sama ayah sehat kok. Kakak sekeluarga juga sehat tuh. Ini Abay sama Abel lagi ada di sini. " ujar Bunda sembari memanggil ke dua anak kak Raiden, keponakan kak Suho.

Kezio Abay Suhodiningrat dan Kezia Abel Suhodiningrat yang saat ini sudah berumur enam tahun adalah anak dari Raiden Suhodiningrat. Kakak dari kak Suho. Umur kak Raiden dan kak Suho memang lumayan memilik jarak cukup jauh, sekitar lima tahun.

" Ante Ayi!!! " seru duo krucil itu dan langsung mengambil hp dari tangan bunda.

" halo ponakan ante. Gimana sayang di sana? Sehat? " tanya ku memandang mereka berdua dengan gemas. Di tambah lagi, sudah dua tahun ini aku sudah tak bertemu dengan mereka semua karena mereka sekeluarga pindah ke Jepang. Walau aku sering video call dengan mereka semua.

" sehat kok. " sahut Abay dan membuat kak Suho cemberut sembari memandang Abay.

" gitu ya Bay, Bel. Om gak di sapa. "

" om kan baru pulang. Ngapain di kangenin. " ujar Abel membuat ku langsung tersenyum lucu mendengar jawaban Abel dengan mimik muka datar.

" Abay kangen ante. Gak kangen sama om Suho. " ujar Abay tiba - tiba seraya menatap ku.

" Abel juga kangen sama ante. Sini dong ante. " ujar Abel dengan mata berkaca - kaca nyaris menangis. Aku yang melihat pun tak kuasa menahan tangis melihat mereka berdua saat ini.

" hey, jangan nangis dong sayang. Nanti kita ke sana ya nengok si kembar. " ucap kak Suho yang merasa diri ku nyaris menangis saat ini dan membuat ku langsung membalikkan wajah ku ke dada kak Suho dan menguburnya di sana.

" eh, ini kenapa ante di bikin nangis Bay? Bel? " tanya bunda langsung mengambil hp dari tangan Abel dan Abay yang juga ikut menangis karena melihat ku terisak.

" Ayi kangen katanya sama si kembar bun. " ujar kak Suho tersenyum simpul sembari mengelus punggung ku beberapa kali agar membuat ku meredakan isak tangis ku.

" ya udah, nanti pas kamu selesai ngurusin urusan kampus kamu, kamu liburan ke sini aja ya nak. Sekalian Suho pulang. Aduh, bunda jadi pengen ke sana. Gak tega liat kamu nangis begini nak. " ujar Bunda tak tega melihat ku. Apalagi dirinya tau jika aku sedekat ini dengan si kembar semenjak aku menjadi pacar kak Suho enam tahun yang lalu saat aku baru masuk kuliah.

*****

" jangan sedih lagi dong sayang. Kan nanti kita ke sana abis kamu selesai ngurusin urusan kampus? Anget lagi kan ini badannya. Tadi udah reda lho panasnya badan kamu nih. " ujar kak Suho begitu dirinya memutus sambungan video call dengan bunda.

" Ayi kangen si kembar. Kangen semuanya kak. " isak ku tetap mengubur wajah ku di dadanya.

" iya, kan nanti kakak ajak ke sana, sekalian kakak pulang. Udah ya jangan sedih lagi? " pintanya sambil tetap mengelusi punggung ku lembut, berupaya untuk meredakan tangis ku saat ini.

" by the way, gimana kuliah S2 kamu? " tanya kak Suho lagi mencoba mengubah topik pembicaraan kami berdua saat ini.

" udah mau selesai kok. Tinggal nunggu seminar sama sidang aja lagi. " jawab ku seraya mendongakkan kepala ku dan memandang ke arah kak Suho yang saat ini juga tengah memandang diri ku.

" bengkak kan tuh matanya. Udah tadi di bandara nangis, sekarang nangis lagi. " tegur kak Suho perlahan saat dirinya mengamati wajah ku dengan seksama. Dirinya malah fokus ke wajah ku dari pada jawaban yang ku berikan untuknya barusan.

" sakit ih mata ku kak. " keluh ku akhirnya setelah mengerjapkan mata ku beberapa kali dan membuat kak Suho geleng - geleng kepala.

" kan. Udah di bilang sama kakak kan. Kompres es batu ya matanya sayang? " tanya kak Suho khawatir. Aku yang memang merasakan sakit di ke dua mata ku pun tak membantah ucapannya dan langsung mengiyakan ucapan dirinya. Dan anggukan kepala ku pun langsung membuat dirinya bergegas keluar kamar menuju kulkas untuk mengambil es batu agar mengompres mata ku.

*****

" Yi, nanti kerja di kantor kakak ya? " pinta kak Suho pada ku begitu dirinya menemukan ku yang tengah sibuk di dapur menyiapkan sarapan untuk kami berdua. Dan begitu ku lirik dirinya, dirinya sudah duduk manis di salah satu kursi makan yang ada di dekat dapur.

" tumben udah bangun? Udah mandi juga. " balas ku bertanya. Karna aku tau dirinya akan memilih untuk bangun siang saat hari libur kerja seperti ini. Apalagi, kemarin malam kami berdua ngobrol sampai larut malam sembari mengompres mata ku yang sedikit bengkak.

" gak bisa tidur lagi. Jadinya ya mandi. " sahutnya singkat.

" kenapa tiba - tiba kakak minta aku kerja di kantor kakak? " tanya ku setelah sarapan kami sudah siap dan mulai menatanya di meja makan di hadapan kak Suho.

" ada yang mau kakak omongin. Nanti deh, habis kita makan ya. " ucap kak Suho membalas ucapan ku sembari mengambil makanan untuk dirinya.

" mau ngomong apaan sih kak? ngomong aja sekarang ih. " ujar ku penasaran. Karena aku tau dirinya ingin membicarakan sesuatu pada ku, namun kak Suho masih menimbang - nimbang ingin mengatakannya kepada ku.

" inget Nadia gak? " tanya kak Suho pelan dan membuat ku langsung meliriknya tajam.

Bukannya aku tak tahu siapa itu Nadia. Dia adalah pacar kak Suho sebelum kak Suho dengan ku. Dirinya hanya bertahan dengan kak Suho selama dua tahun saja karena dirinya berselingkuh dengan salah satu sahabat kak Suho dan membuat kak Suho nyaris bunuh diri kalau saja tak bertemu dengan ku dulu untuk pertama kalinya.

" inget kok. Nadia itu kan. Kenapa memang kak? " tanya ku pelan mencoba untuk tak perduli. Bukannya aku tak menyukai Nadia, apalagi aku juga belum pernah bertemu dengannya satu kali pun. Hanya saja, aku tak menyukainya karena dirinya menyakiti seseorang sampai seperti kak Suho dulu.

" dia masuk kantor kakak. " akhirnya kak Suho memberitahu apa yang menjadi pikirannya saat ini dan membuat ku menghela nafas. Bahkan membuat ku berhenti makan sembari memandangnya yang duduk di samping ku.

" Yi? Kok diem? " tanya kak Suho lagi sembari meraih tangan ku dan mengelus punggung tangan ku dengan ibu jarinya secara perlahan.

" kakak gimana? " tanya ku akhirnya setelah terdiam cukup lama.

" kok kamu nanya kakak? "

" kak, kan selama ini yang kenal Nadia itu kakak. Aku ketemu kakak setelah dia nyakitin kakak, tapi aku sama sekali gak kenal dia. Aku gak tau kepribadian dia gimana kak. Kalau menurut kakak dia memang pantas untuk bekerja di perusahaan kakak, silahkan kalian sekantor. Tapi kalau memang dia gak bisa kerja, buat apa di terima. "

" kamu gak marah kakak satu kantor sama dia? Dia kan... " ujar kak Suho tak melanjutkan ucapannya dan lebih memilih untuk memandang diri ku dengan tatapan yang sulit ku artikan.

" aku tau, tapi aku lebih memilih buat percaya sama kakak. Kakak sudah tau rasanya di sakiti dengan cara di selingkuhi. Dan aku cukup tau kakak gak akan mungkin sebodoh itu melakukan sesuatu hal yang kakak sendiri pernah jadi korbannya. " ucap ku dan berhasil membuat kak Suho terdiam cukup lama.

" makasih Yi, karna udah percaya sama kakak. " ucap kak Suho menghela nafas lega karena jawaban ku ini.

" tolong di jaga ya kepercayaan ku. " pinta ku pada dirinya dan langsung di balas anggukan kepala kak Suho sembari menyetujui permintaan ku barusan.

" iya Yi. Jangan berhenti buat percaya sama kakak ya. "

*****

Kembali ke Beranda