Gambar dalam Cerita
" hai Qi. " sapa seseorang begitu aku keluar dari kamar ku dan membuat ku terkejut.
" lho? Tante Mega? Kapan pulang dari Jogja? Kok gak ngabarin? " tanya ku sumringah karena menemukan sosok sahabat mama yang sudah ku anggap sebagai keluarga ku sendiri. Aku pun berjalan mendekati dirinya yang tengah duduk bercengkraman bersama dengan mama.
" udah dua hari sih. Makanya tante ke sini. Sekalian bawain kamu oleh - oleh tuh. Eh iya Qi. Kamu kangen gak sama adik tante? Itu, si Tama? " ujar Tante Mega, membuat ku mengingat teman masa kecil ku dulu yang sampai saat ini selalu menjadi teman terdekat ku. Tama Adiyoga Wijaya.
" iyalah tan. Kangen banget. Lagian dia masih kerja di Jogja kan? " tanya ku lagi.
" tuh orangnya. Di belakang kamu. " ucap Tante Mega tersenyum. Membuat ku langsung berbalik dan menemukan sosok pria jangkung berdiri begitu dekat dengan tubuh ku.
" hai, cantiknya aku. " sapa Tama pada ku seraya dirinya mengelus pipi ku perlahan dengan jemarinya. Ulahnya ini berhasil membuat ku langsung menghambur memeluk dirinya dengan erat.
" Tam. Aku kangen. " ucap ku di dalam pelukannya.
Aku benar - benar merindukan dirinya saat ini. Tama memang sudah dua tahun ini pindah ke Jogja untuk bekerja. Dan itu yang membuat ku harus terpisah dengan dirinya untuk sementara waktu. Padahal, aku sudah begitu dekat dengan pria yang berusia tiga tahun di atas ku ini.
" iya. Aku juga. Makanya aku pulang ke sini. Aku kangen juga sama kamu. " jawab Tama mengelus punggung ku lembut. Membuat aku semakin mengetatkan pelukan ku di tubuhnya yang begitu ku rindukan.
" jahat. Bikin aku nangis terus kalo inget kamu. " ucap ku memukul dadanya dengan sebelah tangan ku.
" kenapa nangis sih, cantik. Kan kita masih bisa video call. Aku juga masih bisa pulang ke sini. Tau kan, aku gak suka kalo kamu nangis. " tegur nya lembut. Tak suka mendengar fakta bahwa aku sering menangis. Apalagi saat - saat aku merindukan dirinya.
" Jangan pergi lagi, Tam. " pinta ku padanya. Walau ku tau itu percuma.
" gak bisa Qi. Aku kan kerja di sana. Tau kan kalo aku mau ngerintis dari bawah. Tolong ngerti ya? " jawabnya mencoba meminta pengertian ku. Aku yang masih berat untuk mengerti pilihan dirinya pun hanya terdiam sembari terus memeluknya dalam diam.
" nanti, kalau kamu libur kerja kan masih bisa ke Jogja. Datengin aku sekalian liburan. Ya? " tambah Tama mencoba membuat ku mengiyakan pilihannya. Aku yang memang tak bisa berbuat banyak pun akhirnya mengangguk pelan. Masih dalam diam.
*****
" ya ampun, lama banget pelukannya. " goda mama pada diri ku dan Tama. Dan godaan mama ini berhasil membuat aku dan Tama melepaskan pelukan kami berdua.
" maaf mbak. Aku kangen banget sama anak mbak. " sahut Tama tersenyum malu. Tangannya masih saja merangkul pinggang ku dan tak lupa mengelusnya dengan lembut. Membuat ku juga tersenyum malu.
" anaknya juga kangen sama kamu, Tam. Suka ngelamun kalo habis video call sama kamu. " jawab Mama tertawa dan membuat ku tersipu malu. Karena apa yang di ucapkan mama memang benar adanya. Aku benar - benar merindukan Tama yang saat ini berdiri di samping ku.
" katanya kamu mau pergi? Ke tempat teman mu yang ulang tahun? Jadi Tam? " tanya tante Mega pada Tama. Aku yang mendengar ucapan tante Mega pun mulai menoleh memandang Tama yang berdiri di samping ku.
" iya, jadi mbak. Makanya ini mau ngajak Qia buat ikut sama aku. " jawab Tama dan berhasil membuat ku terkejut.
" mau ke mana? Baru juga ketemu. Kenapa pergi lagi? " tanya ku pada dirinya.
" temen lama ku ulang tahun. Di salah satu cafe deket sini. Dari pada aku pergi sendiri, lebih baik aku pergi sama kamu, kan? Gimana? Mau gak? " sahut Tama tersenyum memandang ku.
" hmm, iya. Boleh deh. Aku kebetulan gak ada acara kok. " ujar ku mengiyakan ajakannya ini.
" ya udah, siap - siap gih. Ya? Aku tunggu. " ujar Tama lagi dan membuat ku kembali masuk ke kamar ku untuk bersiap - siap.
*****
" di sini Tam? " tanya ku pada Tama begitu kami berdua sudah memasuki cafe yang menjadi tempat acara.
" iya. Nant..."
" Zasqia? " tiba - tiba saja, ada pria yang menyapa ku dan memotong ucapan Tama yang di tujukan untuk ku dan berhasil membuat ku was - was dengan kehadiran dirinya.
" Ben? " gumam ku dengan tubuh yang sedikit menegang karena tak menyangka akan bertemu pria brengsek ini lagi di hidup ku.
" gak nyangka, kamu bakal ke acara ulang tahun ku juga. Kenapa? Masih pengen balikan sama aku? Hm? Masih pengen enak - enakan sama aku? " ucap pria itu dengan senyum meremehkannya pada ku. Membuat tubuh ku yang kini berdiri di samping Tama bergetar hebat Karena ucapannya ini.
" Qi? Kamu kenal sama Ben? " tanya Tama dan memandang ku. Apalagi saat ini dirinya merasakan tubuh ku yang di rangkulnya sedikit menegang dan bergetar karena pertemuan ku dengan pria ini.
" kamu sama dia Tam? Dia ini mantan ku. Eh, bukan deh. Selingkuhan ku lebih tepatnya. Lumayan kok Tam. Enak buat di bego - begoin. Enak buat di manfaatin juga. " tawa Beni terdengar begitu meremehkan diri ku.
" gitu? Sepertinya, salah aku sudah datang ke sini. " ucap Tama dingin dan menarik tubuh ku untuk semakin mendekat ke tubuhnya dan berbalik memunggungi Beni yang berdiri di hadapan kami berdua. Membuat ku langsung menenggelamkan wajah ku di dadanya. Menyembunyikan raut kebencian ku terhadap salah satu mantan ku itu.
" maksudmu Tam? " tanya Ben bingung.
" aku gak suka ucapanmu pada pacar ku saat ini. Aku masih gak nyangka sifat playboy mu masih ada. Bahkan sampai bikin pacar ku jadi korban. Sepertinya, aku salah datang ke acara ulang tahunmu. Aku permisi. " ujar Tama semakin sarkas dan menarik bahu ku lembut untuk pergi dari hadapan Beni. Meninggalkan dirinya yang terus saja memanggil nama Tama di cafe itu.
*****
" stt. Sudah sayang. Gak papa. Gak usah dengerin omongan Ben. Si brengsek itu gak pantes kamu tangisin kayak gini. " ucap Tama masih saja memeluk ku saat kami sudah berada di luar cafe. Tepat di samping mobil milik Tama.
" aku gak suka Tam. Kenapa harus ketemu dia. Aku gak mau inget - inget lagi soal dulu. " jawab ku kesal dan menangis.
" kamu kenapa gak bilang orang yang nyakitin kamu pas kuliah itu Ben? Kalau tau itu dia, aku gak bakal ngelepasin dia Qi. Aku akan balas rasa sakitmu itu. " ujar Tama menahan amarahnya pada Ben. Apalagi dirinya mengetahui kisah ku dulu saat kuliah. Saat aku patah hati karena seseorang. Tapi Tama tak pernah tau siapa pria yang sudah menyakiti ku saat itu.
" gak usah Tam. Aku udah gak mau punya urusan sama dia. Aku gak mau lagi. " jawab ku menggeleng. Membuat wajah ku bergesekan dengan kemeja yang Tama pakai saat ini karena posisi Tama yang masih memeluk ku erat.
" iya. Aku gak bakal izinin dia ketemu pacar ku lagi. Aku gak akan biarin kamu ketemu si brengsek itu. " sahutnya.
" pacarmu? " tanya ku mengulang ucapannya seraya mengangkat kepala ku dan membuat kami berdua saling berpandangan.
" iya. Kamu Qi. Kamu mau gak jadi pacar ku? " tanya Tama tiba - tiba dengan lembut dan perlahan.
" kenapa tiba - tiba Tam? Setelah sekian lama? Udah bertahun - tahun kita bareng, dan kamu baru minta aku jadi pacarmu sekarang? " tanya ku tak mengerti dan balik bertanya pada dirinya.
" aku hanya lagi memantaskan diri buatmu. Aku sengaja bekerja di Jogja. Merintis dari bawah. Meninggalkanmu sendiri di sini tanpa aku. Karena aku tau, kamu begitu mencintai kota itu. Aku tau, kamu ingin menghabiskan masa tuamu di kota itu. Maka dari itu, aku ingin berjuang dulu di sana dan begitu aku sudah sukses, aku akan melamarmu. Mengajak mu menikah dan memboyongmu untuk tinggal di sana. " jawabnya dan memberikan bayangan manis mengenai masa depan kami berdua.
" tapi kenapa? Kenapa aku? " tanya ku masih tak percaya dengan semua yang diucapkan dirinya.
" kamu tau limerence gak? " tanya dirinya balik pada ku dan tak menjawab pertanyaan ku.
" limerence? Apa itu? "
" limerence itu kondisi di saat kita lagi tergila-gila sama seseorang, dan itu yang kurasakan denganmu. Semenjak dulu, sama sekali tak pernah berubah sampai sekarang. " jawab Tama sembari menyelipkan helaian rambut ku yang terurai saat ini.
" sejak kapan kamu suka sama aku Tam? "
" sejak aaku membantumu saat kamu terjatuh dari sepeda motor. Waktu itu kamu ketabrak mobil di depan kompleks saat aku datang bersama mbak Mega menemui mamamu. Aku membantumu dan aku mulai menyukaimu di saat itu. Ingat gak Qi? " tanya dirinya tersenyum sembari dirinya mengingatkan ku mengenai saat pertama kalinya kami bertemu.
" iya. Aku ingat banget. Aku gak tau lagi kalau bukan kamu yang nolongin Makasih ya Tam. " ucap ku kembali mengubur wajah ku di dadanya.
" pertanyaan ku tadi gimana? Mengenai ajakan ku untuk mengajakmu serius? Mau nerima? " tanya Tama lembut. Tak lupa dirinya mengelus puncak kepala ku dan punggung ku dengan kedua tangannya.
" iya. Aku mau. Aku mau nolak juga gak bisa. Aku suka sama kamu udah dari lama. Tapi aku gak mau ngancurin hubungan kita selama ini. Makanya aku diem aja. Trus kamu malah ninggalin aku ke Jogja kemaren. Aku marah padahal sama kamu. Kamu ninggalin aku. " ucap ku menjawab.
" bodoh. Kenapa gak dari awal bilang? Mana mungkin aku bisa ninggalin kamu. Hati ku udah ku titip sama kamu. Gak akan aku kasih ke siapa pun lagi. Jadi, sekarang kita resmi? Kamu milik ku sekarang ya? " ujarnya mengetatkan pelukannya terhadap ku dan hanya bisa ku balas dengan juga memeluk dirinya.
" beneran? Jadi, sekarang kita... "
" ya bener lah sayang. Jadi sekarang, kamu udah jadi pacar ku ya? " balasnya dan membuat menganggukkan kepala ku.
" iya lah. Aku mau. Aku gak nyangka ih. Bakal bisa sama kamu sekarang. " ujar ku mengecup dadanya yang masih terbalut kemeja dan membuatnya tertawa renyah.
" terima kasih sayang. Terima kasih. Aku janji gak akan nyakitin kamu. Gak akan ada yang boleh bikin kamu nangis juga. " ucap Tama.
Sedangkan aku hanya bisa membalas ucapannya ini dengan menganggukkan kepala ku di pelukannya. Aku benar - benar bahagia sekarang. Aku bisa bersama dengan dirinya. Ku harap, dirinya bisa menjaga janjinya ini dan membuat ku bisa melangkah lebih jauh ke jenjang yang lebih serius bersama dengan pria ku saat ini.
]