Temukan Cerita Inspiratif
Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.
Total Cerita
1144
Genre Romance
230
Genre Folklore
228
Genre Horror
228
Genre Fantasy
230
Genre Teen
228
Beku
Musim hujan selalu menjadi ujian tersendiri bagi Taufan. Meskipun hujan telah reda dari tadi pagi, hawa dingin masih melekat di udara, membuat Taufan mengeratkan jaket tebal yang dikenakannya saat udara dingin dari luar menyapa tubuhnya.Ia duduk di bangkunya, merapatkan diri ke dinding kelas sembari memeluk tubuhnya sendiri. Hawa dingin terasa semakin menusuk, membuat hidung dan pipinya memerah. Taufan menggenggam jaket tebalnya erat, berusaha menahan dirinya sendiri agar tidak semakin gemetar.Suara bising di sekitar tidak dipedulikan olehnya. Ia masih sibuk memejamkan mata dan mencoba menenangkan diri agar terbiasa dengan hawa dingin-meskipun ia yakin tidak akan berhasil tanpa penghangat tambahan. Saat tubuhnya terasa semakin gemetar kedinginan, tiba-tiba sebuah jaket tebal dengan aroma familiar tersampir di tubuhnya.Taufan membuka mata, melihat Halilintar dan Gempa yang menatapnya khawatir. "Dingin banget? Mau pulang aja?" tanya Halilintar. Tubuhnya kini duduk di bangku kosong setelah memberikan jaket miliknya pada Taufan."Muka Kakak udah pucet banget sekarang. Nanti biar aku aja yang bikinin surat izin ke guru piket," ujar Gempa. Tangannya mengulurkan hand warmer pada Taufan, yang disambut dengan gerakan patah-patah oleh sang kakak.Taufan mengucapkan terima kasih dengan suara gemetar pada kedua kembarannya, lalu menggenggam benda itu erat. Matanya terpejam lega saat merasakan kehangatan mulai menjalari kedua telapak tangannya, mengurangi sedikit hawa dingin yang dirasakannya sejak tadi.Halilintar dan Gempa menatap Taufan yang masih meremat hand warmer di tangannya. Raut khawatir masih tercetak jelas di wajah keduanya. Meskipun kembar, mereka bertiga memiliki metabolisme tubuh yang cukup berbeda, dan Taufan adalah yang memiliki metabolisme paling rendah di antara mereka.Tubuh Taufan juga lebih kecil dibandingkan kedua saudaranya. Kulitnya lebih sering terlihat putih pucat di saat kedua saudaranya memiliki skin tone yang sedikit lebih hangat-terlebih saat sedang kedinginan seperti sekarang."Pulang aja, sih, Fan. Kasihan gue liat lo gemeteran gitu. Mana muka lo kayak gradasi lagi, merah sama putih, udah mirip bendera Indo."Suara Fang terdengar dari arah depan, membuat Taufan menoleh ke sumber suara. Ia ingin menjawab ucapan Fang, namun kehangatan dari hand warmer itu tidak cukup untuk menetralkan pita suaranya yang ikut kedinginan-gemetar."Iya, anjir. Macam es batu. Jangan mentang-mentang lo abangnya Ice, lo jadi ikut-ikutan jadi es batu.""Logika lo gak nyambung, anjir."Ah, sepertinya Taufan harus membatalkan rasa kesalnya pada Fang. Daripada merasa kesal, sepertinya lebih baik jika ia mengucapkan terima kasih pada pemuda berkacamata itu-yang kini sudah mulai berdebat dengan Gopal."Pulang aja ya, Kak?" suara Gempa kembali terdengar. Taufan mengalihkan atensinya, menatap manik emas sang adik yang menatapnya khawatir.Ia terdiam, memikirkan haruskah ia menerima tawaran kedua kembarannya untuk pulang ke rumah, atau menetap di sekolah dengan tumpukan jaket dan beberapa gelas berisi teh hangat di atas meja.Setelah cukup lama menimbang-nimbang tawaran keduanya, Taufan menganggukkan kepalanya pelan, menyetujui usulan kedua kembarannya."Aku akan pergi meminta izin dulu. Sebentar, ya, kak." ucap Gempa, kemudian berlalu keluar kelas, meninggalkan Taufan bersama Halilintar, yang kini menggenggam sebelah tangannya-berusaha membantu sang adik menghangatkan tubuhnya.▵▾▵▾▵▾▵Dan di sinilah mereka, duduk berdempetan di dalam mobil yang dikendarai oleh sopir yang menjemput mereka. Tepat setelah Gempa kembali ke kelas Taufan sehabis meminta izin, Halilintar langsung menelpon sopir yang memang ditugaskan untuk menjemput mereka di sekolah-biasanya hanya bertugas menjemput ke empat adik mereka.Ah, ya. Mereka: Halilintar, Taufan, dan Gempa. Mereka berakhir meminta izin untuk pulang lebih awal dengan alasan ingin menemani Taufan di rumah karena kedua orang tua mereka sedang tidak ada di rumah. Guru pun langsung mengizinkan tanpa meminta penjelasan lebih jauh-terlampau hafal dengan kondisi Taufan yang memang paling mudah terdampak efek dari suhu dingin.Taufan sendiri kini telah memejamkan matanya sambil menyenderkan kepalanya pada bahu Hali. Tubuhnya sudah terbalut selimut yang memang tersedia di jok belakang mobil. Di samping kanannya, terdapat Gempa yang memeluk erat lengannya.Suasana hening menemani perjalanan mereka. Tidak ada satu pun yang berniat membuka suara. Halilintar menatap datar jalanan yang mereka lalui dalam diam, sementara sebelah tangannya menggenggam tangan Taufan dengan lembut.Taufan menghela napas pelan, merasakan sedikit kehangatan mulai menjalari tubuhnya. Ia tidak benar-benar tertidur, hanya memejamkan mata untuk menikmati kehangatan yang diberikan kedua kembarannya.Perlahan, ia membuka matanya dan menatap jendela yang kembali menampilkan rintik-rintik hujan. Hujan turun lagi seperti tadi pagi, membuat suhu yang memang sudah dingin terasa semakin membekukan. Namun, sekarang, Taufan tidak lagi takut akan suhu dingin. Karena kedua saudaranya ada di sisinya, dan akan selalu bersedia membagi kehangatan pada tubuhnya yang kedinginan.
Berbagi
Saat sikembar tiga masih berusia 8 tahun, si sulung dan si bungsu selalu berhasil membuat rumah menjadi ribut setiap saat.Hali yang pemarah dan Gempa yang tidak suka berbagi—khususnya makanan. Perdebatan mereka akan selalu dimulai saat salah satu adik mereka meminta makanan yang Gempa miliki, dan berakhir dengan Gempa yang hampir menangis karena dimarahi oleh Halilintar karena tidak mau berbagi.Ayah dan Bunda selalu menjadi saksi dari keributan kecil yang diciptakan anak-anak mereka, namun mereka tidak akan turun tangan secara langsung. Karena ini bukan hanya tentang masalah makanan, tapi tentang bagaimana cara mereka menyelesaikan masalah dan bagaimana cara mereka untuk memahami satu sama lain.Kadang Bunda merasa tidak tega membiarkan bungsu dari kembar tiga-nya menangis karena di marahi oleh Kakaknya. Tapi saat Bunda berniat memberi pengertian, Ayah selalu menahannya dan menatapnya dengan tatapan teduh. "Biarkan mereka dulu, mereka harus belajar cara menyelesaikan masalah sendiri," jawab Ayah, dan Bunda hanya bisa menghela napas lalu kembali mengawasi perdebatan kecil kedua anaknya.Saat situasi kian memanas—suara Hali yang mulai meninggi, dan Gempa yang sudah menangis—biasanya Taufan akan selalu muncul sebagai penengah. Tubuh kecilnya akan berdiri ditengah-tengah kedua kembarannya, dengan sebelah tangannya yang dipeluk Gempa, dan manik biru safirnya yang menatap Hali dengan tatapan teduh."Alin, tolong kecilin sedikit suara kamu, ya? Kasihan Gemmy jadi nangis dengernya," kata Taufan kala itu sembari tangannya mengelus pucuk kepala Gempa yang kini menyembunyikan wajahnya di lengan Taufan.Halilintar mengernyit, lalu mendengus mendengar ucapan adik pertamanya itu. "Tapi dia gak mau berbagi sama Duri, Fan! Kamu gak kasihan juga liat Duri nangis sesegukan gitu?" balas Hali, manik merah delimanya menatap tajam Taufan yang masih berusaha menenangkan Gempa.Taufan diam, maniknya bergerak melirik Duri yang masih menangis di pelukan Bunda mereka, sementara sang Bunda yang berusaha menenangkan tangisan Duri kini menatapnya dengan senyum lembut. Ia bimbang, siapa yang harus dibelanya sekarang? Jika membela Gempa, maka Duri akan semakin menangis. Tapi jika dia membela Duri, Gempa akan merasa sedih karena tidak ada yang mendukungnya.Jemari kecilnya memilin ujung bajunya gugup, lalu melirik Ayahnya yang duduk di sebelah sang Bunda—meminta bantuan. Ayahnya memberi pengertian melalui tatapan mata, lalu berujar, "ingat seperti yang Ayah ajari, ikuti kata hatimu," tanpa suara.Taufan memejamkan matanya sejenak, lalu menarik napas dalam. "Ufan ngerti Alin cuma mau ngajarin Gemmy berbagi, tapi Alin harus tanyain pendapat Gemmy dulu, ya? Kalo Gemmy gak mau, gak boleh dipaksa. Alin mau, emangnya kalo dipaksa berbagi? Ufan sih enggak," ujar Taufan lembut, manik biru safirnya menatap manik merah delima Halilintar polos, sementara Hali terlihat memikirkan ucapan dari adiknya itu dengan seksama.Halilintar tertegun, kemudian terdiam memikirkan ucapan Taufan tadi. Sepertinya mulai merasa bersalah telah membuat Gempa menangis. Di sisi lain, Taufan kini mengalihkan tatapannya pada Gempa. Tangan kecilnya mengelus surai Gempa dengan lembut, sementara manik birunya menatap Gempa dengan tatapan teduh."Gemmy mau bikin kesepakatan sama Ufan nggak?" tanya Taufan, matanya masih senantiasa menatap Gempa yang perlahan mengangkat wajah sembabnya untuk menatap Taufan. Terlihat jelas rasa ketertarikan di kedua manik berwarna emas miliknya kala mendengar ucapan Kakaknya.Taufan tersenyum, "Ufan bakal ngasih semua permen Ufan buat Gemmy, tapi Gemmy harus berbagi sedikit makanan Gemmy buat Duri. Kalo Gemmy gak mau juga gapapa, tapi Ufan gak jadi juga ngasih Gemmy permennya, gimana?"Mata sembab Gempa terlihat begitu tertarik dengan penawaran Taufan, tapi di sisi lain dia juga masih merasa berat untuk berbagi makanan yang ia miliki. Manik emasnya menatap bergantian antara Taufan dan sebungkus snack jelly coklat dipelukannya, tampak begitu berat mengambil keputusan.Ayah dan Bunda yang duduk di sofa bersama Duri terlihat gemas melihat interaksi ketiganya—Halilintar yang diam memperhatikan kedua adiknya dengan mata berkedip polos, dan Taufan yang berdiri ditengah-tengah keduanya dengan lengannya yang masih dipeluk Gempa.Taufan dengan sabar menunggu jawaban Gempa, bibirnya tak pernah berhenti menyunggingkan senyum lembut pada Gempa yang masih berpikir."Gemmy mau. Tapi Kak Ufan kasihan kalo kasih semua permennya ke Gemmy, jadi kita berbagi aja, ya? Sama Kak Alin juga," jawaban polos Gempa sontak membuat Ayah dan Bunda yang sedari tadi mengawasi, memekik tertahan karena merasa gemas mendengar kalimatnya.Taufan mengulas senyumnya semakin lebar, lalu mengelus pucuk kepala Gempa dengan gemas, "Mm! Kita makan cemilannya sama-sama, oke? Gemmy hebat karna udah mau berbagi, Ufan bangga sama Gemmy!" seru Taufan antusias, kemudian memeluk Gempa dengan erat, yang dibalas dengan Gempa yang memeluknya tak kalah erat.Halilintar yang sedari tadi mengamati, kini berjalan mendekat dengan perlahan. Kedua tangannya memilin baju dengan gugup, juga kedua manik merah delimanya menatap Gempa bersalah, "Gemmy, maaf, kakak terlalu kasar ya tadi? Maafin Kakak, ya? Ufan juga, Kakak minta maaf."Taufan dan Gempa melepaskan pelukan sejenak, lalu saling menatap dan langsung menarik Halilintar ke dalam pelukan—mereka berpelukan bertiga sembari melompat-lompat kecil khas lompatan anak-anak.Dan, ya.. Begitulah akhir dari pertengkaran kecil mereka di hari itu. Gempa dan Hali terkadang masih sering bertengkar karena hal yang sama, namun, selama ada Taufan, semuanya akan baik-baik saja.
Cold CEO has Falling in Love
Jeon Jungkook.Siapa yang tidak mengenal nama itu. CEO muda dan tampan dari perusahaan multimedia terbesar di Korea Selatan. J&J Media Corporation . Perusahaan itu dibangun oleh sang kakek, dan nama perusahaannya diambil dari nama kakek dan neneknya, Jeon Jaemin dan Song Jiae. Setelah kakeknya pensiun karena penyakit yang dideritanya, ayahnyalah yang menjabat sebagai direktur utama di perusahaan itu saat ini.Sebagai seorang CEO perusahaan ternama, Jungkook tentunya menjadi pria idaman para wanita. Bukan hanya karena ia masih muda dan kaya, ia juga memiliki wajah yang rupawan. Ditambah lagi bentuk tubuhnya yang tinggi, tegap dengan otot-otot yang terbentuk sempurna.Di balik kesempurnaan yang dimilikinya, ia juga memiliki beberapa kekurangan. Salah satunya adalah sifatnya yang dingin dan sulit didekati. Banyak wanita dari berbagai kalangan, baik itu karyawan di kantornya, rekan bisnis, maupun putri dari teman-teman kedua orangtuanya, telah berusaha mendekatinya. Namun, semua usaha mereka tak ada yang mendapatkan hasil. Jungkook sama sekali tak pernah melirik mereka. Ia belum tertarik untuk menjalin sebuah hubungan. Ia masih ingin memfokuskan dirinya pada pekerjaan. Lagipula di matanya, semua wanita yang mendekatinya hanya melihatnya sebagai seorang CEO J&J Media Corp , bukan sebagai seorang Jeon Jungkook..." Sajangnim , pak direktur menghubungi anda barusan. Anda diminta segera pulang" ujar Park Jimin, sekretaris pribadinya, sembari menyerahkan ponsel atasannya itu.Jungkook yang baru saja keluar dari ruangan rapat, segera mengambil ponselnya dari tangan Jimin. Tanpa berbicara sepatah katapun, ia lalu berjalan melenggang menuju lift. Jimin mengikutinya dari belakang, dan seperti biasa, para karyawan wanita yang dilewati ataupun melewatinya, menatap sang CEO dengan tatapan kagum, bahkan tak sedikit yang berani menatap atasannya itu dengan tatapan menggoda. Namun, tetap saja, Jungkook tak terpengaruh sama sekali.Kini Jungkook telah duduk di kursi belakang mobil Rolls-Royce Ghost EBW hitam miliknya. Jimin duduk di depan, di samping sopir pribadi Jungkook. Saat berangkat ke kantor, Jungkook memang lebih sering menggunakan sopir untuk mengendarai mobilnya.Hari masih sore saat mereka keluar dari gedung perusahaan. Jalanan juga masih basah dan terdapat beberapa genangan air, sisa-sisa hujan sebelumnya."Tidak bisakah kau menyetir lebih cepat?" titah Jungkook dengan ekspresi dinginnya."Tapi tuan, jalanan masih basah. Bagaimana nanti kalau..." sang sopir tak berani melanjutkan kalimatnya kala melihat tatapan Jungkook, yang seolah ingin membunuhnya, dari kaca depan mobil. Ia hanya bisa menelan salivanya dan berkata, "baik tuan".Saat sedang melaju kencang, tanpa sengaja mobil milik Jungkook melintasi genangan air, dan membuat seorang gadis yang tengah berjalan di trotoar kini basah terkena cipratan air tersebut...Jieun baru saja keluar dari toko kue. Ia nampak girang menenteng kue tart yang baru saja dibelinya. Hari ini adalah ulang tahun ibunya. Ia sengaja ingin memberi kejutan dengan membelikan kue kesukaan ibunya itu.Namun, siapa sangka, senyum cerah yang terukir di wajahnya menghilang kala sebuah mobil melewati genangan air tepat di hadapannya dan membuatnya basah kuyup terkena cipratan air."YAK!!!"Mobil itu pun berhenti seketika. Seorang pria turun dari kursi pengemudi."Maafkan saya nona. Anda baik-baik saja, bukan?" tanya pria yang merupakan sopir Jungkook."Apa kau lihat aku sedang baik-baik saja?" gerutu Jieun seraya menatap dirinya yang tengah basah kuyup. Belum lagi kuenya yang telah hancur karena terguncang saat Jieun berusaha menghindari cipratan air tadi."Lagipula siapa yang mengajarimu untuk mempercepat laju kendaraan saat melintasi genangan air?!""Maafkan saya sekali lagi nona. Saya hanya seorang sopir yang melaksanakan instruksi atasan saya. Saya mohon anda tidak menyulitkan saya" pinta sang sopir. Ia sudah membayangkan Jungkook akan memarahinya bila ia terlalu lama berurusan dengan gadis ini.Jungkook yang tidak sabar menunggu di dalam mobil, segera meminta Jimin untuk mengatasi masalah di luar sana. Ia memberikan uang 100.000 KRW kepada Jimin dan menyuruhnya memberikan uang itu kepada sang gadis."Nona, kami minta maaf. Atasan kami tengah terburu-buru. Ini dari atasan kami sebagai ganti rugi" ujar Jimin seraya menyerahkan uang 100.000KRW tadi kepada Jieun.Jieun menatap uang yang diserahkan oleh Jimin padanya."Di mana atasanmu? Bukankah ia yang menyuruh untuk mempercepat laju kendaraannya? Kenapa bukan ia yang meminta maaf secara langsung?""Nona, anda tak tahu siapa atasan kami. Kalau anda tahu, anda akan..."Belum sempat Jimin menyelesaikan kalimatnya, Jieun segera meraih uang tersebut dari tangan Jimin dan berjalan menghampiri mobil Rolls-Royce yang tengah menepi itu.Tok...tok...tok...Jieun mengetuk kaca mobil tepat di mana Jungkook tengah duduk menunggu. Jungkook melirik ke arah gadis itu. Kaca mobil miliknya cukup gelap, sehingga ia takkan terlihat dari pandangan Jieun. Sebaliknya, ia dapat melihat Jieun dengan jelas. Gadis itu memiliki kulit putih seperti susu. Wajahnya nyaris tanpa riasan, selain lipstik merah jambu yang mewarnai bibirnya. Rambut hitam panjangnya tergerai lurus dengan indah.Jungkook awalnya tak menghiraukan apa yang dilakukan Jieun. Ia berpikir gadis itu ingin bertemu dengannya agar ia bisa meminta ganti rugi yang lebih banyak. Tapi Jungkook tak semurah hati itu. Baginya 100.000 KRW yang diberikannya sudah cukup banyak.Namun, saat melihat Jieun memegang sebuah batu dan hendak menggunakan batu itu untuk dilempar ke jendela mobilnya, ia pun segera menurunkan kaca mobilnya."Apa kau gila?" tanya Jungkook dengan tatapan dinginnya.Jieun nampak emosi kala mendengar ucapan Jungkook barusan." Mwo ? Gila? Hei, bukankah yang gila di sini adalah kau? Ini! Ambil uangmu! Aku tidak memerlukannya!" ujarnya seraya melemparkan uang itu ke dalam mobil, tepat di hadaan Jungkook." Wae ? Apa uang segitu kurang bagimu?" sahut Jungkook. Nada bicaranya sangat tenang dan dingin."Haha... Yang benar saja"Jieun tertawa sinis."Aku seharusnya mendapat permintaan maaf darimu. Kau yang menyuruh sopirmu mempercepat laju kendaraannya di tengah jalanan yang tergenang air, bukan? Apa orang-orang seperti kalian menyelesaikan semua masalah hanya dengan uang, huh?""Nona, sebaiknya anda menerima uang itu dan pergilah. Anda tak tahu siapa beliau" pinta sang sopir pada Jieun."Memangnya aku peduli siapa dia?" geram Jieun."Nona, dia adalah CEO J&J Media Company . Kau pasti memgenal namanya, Jeon Jungkook" ujar Jimin.Jungkook, Jimin, dan sang sopir berpikir Jieun akan diam dan mundur setelah mengetahui identitas Jungkook yang sebenarnya. Tetapi dugaan mereka salah. Reaksi Jieun tak sesuai dengan ekspektasi mereka."Oooh. Jadi kau yang namanya Jeon Jungkook? Kurasa mereka terlalu melebih-lebihkan cerita tentangmu. Bahkan Jongsuk oppa masih lebih tampan darimu. Ditambah lagi kau sama sekali tak memiliki etika. Kau hanya beruntung karena kau kaya" sindir Jieun.Wajah Jimin dan sang sopir nampak pucat pasi kala mendengar perkataan yang keluar dari mulut Jieun. Mereka sangat takut bila Jungkook merasa tersinggung karenanya.Namun rupanya, Jungkook bereaksi sebaliknya, sudut bibirnya malah terangkat. Ia menatap Jieun dan bertanya, "Baiklah, kau menginginkan permintaan maaf dariku, bukan?"Usai bertanya seperti itu, Jungkook keluar dari mobil dan berdiri di hadapan Jieun."Aku minta maaf nona" ujarnya seraya sedikit membungkuk.Jieun nampak tersenyum puas."Hmmm.. Kali ini aku memaafkanmu. Lain kali kalian tak boleh melajukan mobil dengan kencang saat jalanan basah begini. Bukan hanya merugikan orang yang tengah berjalan di trotoar, kalian juga membahayakan diri kalian sendiri" ujarnya seraya melipat kedua tangannya di depan dada.Jieun lalu menatap kue yang masih berada di tangannya."Hhhh... Bagaimana bisa aku memberikan kue ini pada eomma " keluhnya lalu berjalan menjauhi ketiga pria itu.Tanpa Jieun sadari, dompet miliknya terjatuh di tempat tadi...Jungkook memungut dompet ungu yang tergeletak di trotoar. Ia melihat tanda pengenal yang berada di dalamnya."Ini milik gadis itu rupanya" gumamnya.Ia pun menyimpan dompet itu di saku celananya dan segera kembali ke mobilnya. Sepanjang perjalanan, Jungkook nampak beberapa kali membuka dompet milik Jieun dan memperhatikan kartu tanda pengenal gadis itu....Jungkook kini telah tiba di rumahnya. Sesuai dugaannya, di ruang tamu, kedua orangtuanya telah menunggunya bersama dua orang wanita. Yang seorang Jungkook kenali sebagai sahabat ibunya. Yang seorang lagi sepertinya adalah putrinya."Ah, kau sudah datang? Kemarilah" pinta Ny. Jeon.Jungkook pun duduk di samping ibunya. Namun, ia lebih banyak diam dibanding meladeni pertanyaan-pertanyaan yang diajukan gadis itu.Saat kedua tamunya telah pulang, kedua orangtua Jungkook menatap putranya penuh rasa penasaran."Bagaimana gadis itu? Kau tertarik padanya?" tanya Ny. Jeon."Tidak"" Aigoo . Sebenarnya gadis seperti apa yang kau inginkan, huh? Semua gadis yang kukenalkan padamu kau tolak" keluh Ny. Jeon."Jungkook-ah, kau tahu kan, kakekmu ingin melihatmu segera menikah. Dengan penyakit yang dideritanya saat ini, dia takkan punya banyak waktu" bujuk Tn. Jeon.Jungkook nampak berpikir sejenak. Meskipun ia terlihat tak memiliki empati, pria itu sangat menyayangi kakeknya dan tidak ingin mengecewakannya. Apalagi dokter telah memberikan vonis umur kakek Jungkook takkan lama."Aku akan memikirkannya kembali. Sekarang aku ingin istirahat dahulu" ujarnya kemudian beranjak pergi menuju kamarnya.Setelah menutup pintu kamarnya, Jungkook segera mengambil ponselnya dan menghubungi Jimin."Cari tahu tentang gadis yang bernama Lee Jieun tadi. Aku ingin mengetahui semua tentang dirinya. Jangan melewatkan hal sekecil apapun".'Baik sajangnim'..Pagi-pagi sekali Jimin telah mendatangi kediaman keluarga Jeon. Seperti biasa, ia akan meninggalkan mobilnya di sana dan berangkat bersama Jungkook usai memaparkan jadwal atasannya itu."Bagaimana? Apa kau sudah mendapatkan informasi yang kuminta?" tanya Jungkook pada Jimin yang tengah duduk di samping sopir." Ne sajangnim "Jimin pun mengambil sebuah map cokelat dari dalam tas dan menyerahkannya kepada Jungkook."Gadis yang bernama Lee Jieun itu tinggal di Myeong-dong. Ia tinggal bersama kedua orangtuanya. Mereka keluarga yang sederhana. Kedua orangtuanya memiliki sebuah rumah makan di daerah sana, dan sepertinya ayahnya tengah terlibat hutang yang cukup besar pada seorang rentenir dan ia kesulitan membayarnya. Dari informasi yang kudapat, rentenir itu ingin menikahi Jieun agar hutang Tn. Lee dapat dianggapnya lunas. Meskipun Ny. Lee menolaknya mati-matian, kurasa nona Jieun bisa saja menerima syarat itu untuk melunasi utang ayahnya, mengingat ia sangat berbakti kepada kedua orangtuanya" papar Jimin seraya melirik Jungkook yang tengah membaca laporannya.Jungkook pun menutup map tersebut."Antarkan aku ke rumah gadis itu" titah Jungkook.Jimin dan sang sopir nampak terkejut mendengar permintaan Jungkook." Ne ?""Apa kau tak mendengarku?" tanya Jungkook dengan tatapan tajamnya. Mau tak mau, sang sopir pun memutar balik mobilnya menuju alamat yang diberikan oleh Jimin...Jieun tengah sibuk membantu ibunya menyiapkan sarapan saat pintu rumahnya diketuk."Siapa yang bertamu pagi-pagi begini?" gerutu ayah Jieun yang tengah membaca surat kabar di ruang makan."Biar aku yang membuka pintunya, appa " ujar Jieun seraya melepaskan celemek yang dipakainya.Saat membuka pintu rumahnya, Jieun nampak terkejut melihat wajah pria yang kemarin membuatnya kesal."Kau?? Kenapa kau bisa kemari?" tanya Jieun.Bukannya menjawab pertayaan Jieun, Jungkook malah bertanya balik kepadanya."Apa kau tidak mempersilahkan tamumu untuk masuk?""Jieun-ah! Siapa itu? Kenapa tidak dipersilahkan masuk?!" seru ayah Jieun dari dalam.Dengan terpaksa, Jieun pun membuka lebar pintu rumahnya dan mempersilahkan Jungkook dan Jimin untuk masuk. Ayah Jieun pun berjalan menuju ruang tamu untuk melihat siapa tamu yang berkunjung ke rumah mereka. Ia nampak terkejut saat mengenali Jungkook. Bagaimana tidak, wajah pria itu kerap muncul menghiasi TV dan majalah. Semua media memberitakannya sebagai CEO termuda dan terkaya di Korea."A...anda Tuan Jeon Jungkook? A...ada perlu apa a..anda kemari?" tanya ayah Jieun gugup.Ibu Jieun yang sedari tadi masih di dapur, segera bergegas keluar saat mendengar nama Jeon Jungkook keluar dari mulut suaminya." O...omo ! Apa aku tak salah lihat?"Jungkook membungkuk dengan sopan pada ayah dan ibu Jieun." Anyeonghaseyo . Maaf pagi-pagi seperti ini aku sudah mengganggu kalian"."A .. .ah... Gwe...gwenchana . Kami tidak merasa terganggu" sahut ibu Jieun.Jieun sendiri memutar bola matanya malas melihat tingkah kedua orangtuanya yang nampak segan dengan Jungkook. Menurutnya, seharusnya Jungkook lah yang segan kepada orangtuanya karena mereka jauh lebih tua darinya, bukan sebaliknya."Ada urusan apa kau kemari? Cepat katakan dan segeralah pergi dari sini" celetuk Jieun ketus."Jieun!" ayah dan ibu Jieun kompak menegur Jieun yang bersikap tak sopan di depan Jungkook."Ah. Maafkan putriku, tuan Jeon. Aku kurang mendidiknya dengan benar" ujar ayah Jieun penuh penyesalan.Jungkook tersenyum tipis." Gwenchana Tuan Lee. Aku kemari ingin mengembalikan dompet Jieun yang terjatuh kemarin" ujarnya seraya mengeluarkan sebuah dompet dari saku jasnya dan menyerahkannya pada Jieun.Jieun segera mengambil dompet itu dari tangan Jungkook."Ah, aku bahkan tak menyadari dompetku terjatuh"."Jieun, kau harus berterima kasih pada tuan Jeon" tegur ibu Jieun." Gomawo " ujar Jieun setengah terpaksa."Selain itu, ada hal yang ingin kubicarakan dengan kalian" sela Jungkook kembali."Eh? Apa yang anda ingin bicarakan?" tanya ayah Jieun."Sebelumnya aku minta maaf karena aku mencari tahu informasi mengenai Jieun. Kudengar, ahjussi memiliki hutang yang cukup besar pada rentenir".Ayah dan ibu Jieun terkejut mendengar ucapan Jungkook. Mereka merasa sedikit malu karena Jungkook mengetahui soal hutang mereka. Berbeda dengan Jieun yang marah karena pria itu diam-diam mencari tahu tentang dirinya-tentang keluarganya."Yak! Kau sungguh tak sopan! Mencari informasi pribadi seseorang itu melanggar hukum!" protes Jieun.Jungkook tak menggubris protes yang diucapkan gadis itu. Ia malah menatap kedua orangtua Jieun bergantian."Aku ingin menawarkan bantuan pada kalian. Aku bisa membantu melunasi hutang kalian pada rentenir itu. Tetapi dengan satu syarat"."Be...benarkah? A...apa syarat yang ingin anda ajukan?" tanya ayah Jieun."Aku ingin menikah dengan putri kalian, Lee Jieun"Kedua orangtua Jieun sangat terkejut mendengar syarat yang diajukan oleh Jungkook. Terlebih Jieun. Ia benar-benar tak tahu apa yang ada di pikiran pria itu."Yang benar saja! Kenapa aku harus menikah denganmu? Tidak! Kami tak perlu bentuanmu!" seru Jieun kesal."Jieun!" tegur ayah Jieun."Lalu kau mau menikah dengan rentenir itu? Bukankah ia juga memberikan syarat yang sama denganku?" tanya Jungkook seraya menunjukkan smirk -nya pada Jieun."Ka...kau mengetahuinya?" tanya Jieun tak percaya."Sudah kukatakan padamu bukan? Aku mencari tahu semuanya" sahut Jungkook datar."Maaf, tuan Jeon. Untuk hal ini, kami harus mendengar pendapat Jieun. Kami tak ingin memaksa Jieun menanggung hutang kami" ujar ayah Jieun."Benar tuan Jeon. Kami tak bisa menjual putri kami hanya untuk melunasi hutang itu" imbuh ibu Jieun dengan wajah sendunya.Jieun nampak tersentuh mendengar ucapan kedua orangtuanya. Meskipun mereka hidup pas-pasan, Jieun selalu merasa bersyukur memiliki orangtua yang menyayangi dan menghargainya. Namun, Jieun tentu saja tak ingin hutang ayahnya terus menghantui mereka. Ia tak tega melihat ayahnya selalu dipukuli kala rentenir itu datang untuk menagih hutang mereka."Maaf kalau membuat kalian berpikir seperti itu, tapi bisakah aku berbicara berdua dengan Jieun terlebih dulu?" tanya Jungkook.Kedua orangtua Jieun saling menatap kemudian beralih menatap Jieun. Melihat Jieun menganggukkan kepalanya, kedua orangtuanya lalu mempersilahkan Jungkook berbicara berdua dengan putri mereka. Jieun mengajak Jungkook berbicara di kamarnya sementara Jimin bersama kedua orangtua Jieun menunggu di ruang tamu."Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Jieun setelah menutup pintu kamarnya."Pertimbangkanlah syarat yang kuberi. Dibanding menikah dengan rentenir itu, jauh lebih baik menikah denganku. Kau tahu, aku tahu banyak tentang rentenir yang berurusan dengan appa mu. Tua bangka itu telah memiliki enam belas istri, apa kau mau menjadi istri ke tujuh belasnya? Terlebih lagi, kuyakin ia akan terus memaksamu melayani kebutuhan seksualnya setiap hari" ujar Jungkook sedikit menakut-nakuti Jieun.Jieun bergidik ngeri membayangkan ucapan Jungkook. Memang benar, pria paruh baya itu selalu menatapnya dengan mata berkilat, dan tersenyum seperti pria mesum setiap kali ia datang."La..lalu apa bedanya denganmu?" tanya Jieun masih ragu."Oh, ayolah. Aku tak perlu memberitahumu kalau aku jauh lebih muda darinya. Aku lebih kaya, dan juga aku akan menghargaimu" sahut Jungkook sedikit menyombongkan dirinya."Maksudmu?""Begini Jieun, bila kau mau menikah denganku, bukan hanya aku yang membantu keluargamu, tapi kau juga membantuku. Kakekku memiliki penyakit jantung dan komplikasi lainnya. Dokter menyatakan umurnya takkan lama. Dan sebelum ia meninggal, ia ingin melihatku menikah. Aku ingin mengabulkan permintaan terakhirnya itu. Karena itu, aku ingin membuat syarat yang menguntungkan untuk kita berdua"."Ta..tapi kenapa harus aku? Bu...bukankah kau bisa mencari gadis lain? Ada ribuan gadis di luar sana yang pasti sangat ingin menikah denganmu"Jungkook mendekat dan menatap Jieun lekat."Karena itu aku tidak menginginkan mereka. Aku tidak ingin ada perasaan yang terlibat karena itu akan menyusahkan, karena itu aku memilih gadis yang tidak tertarik padaku seperti dirimu" ujarnya.Melihat Jieun mulai bimbang, Jungkook pun berusaha meyakinkannya sekali lagi. "Begini saja. Enam bulan. Setidaknya jadilah istriku selama enam bulan, setelah itu kita akan berpisah dan menjalani kehidupan masing-masing. Selama itu, aku berjanji tidak akan berlaku buruk padamu. Kita tidak akan melakukan kontak fisik tanpa persetujuan kedua belah pihak. Aku juga takkan mengekangmu atau melarangmu kalau kau mencari lelaki lain di luar sana selama keluargaku tidak mengetahuinya".Setelah berpikir cukup lama, Jieun merasa alasan yang diberikan Jungkook cukup masuk akal. Enam bulan bukanlah waktu yang lama. Terlebih Jungkook telah berjanji untuk tidak berbuat yang macam-macam. Menikah dengan Jungkook akan jauh lebih baik dibanding menikah dengan rentenir tua mesum itu."Ba...baiklah kalau begitu. Aku setuju dengan syaratmu".Jungkook tersenyum mendengar jawaban Jieun."Bagus. Kalau begitu, segera beritahu kedua orangtuamu. Kita akan mendaftarkan pernikahan kita sekarang juga"." N..ne ???"Jungkook nampak tak memperdulikan Jieun yang terlihat sangat terkejut. Ia meraih lengan Jieun dan membawanya ke ruang tamu menemui tuan dan nyonya Lee." Ahjussi, ahjumma , kami telah membicarakannya dan Jieun telah menyetujui syarat yang kuajukan" ujar Jungkook sopan.Ayah dan ibu Jieun tentunya terkejut dengan keputusan yang diambil Jieun."Jieun-ah apa kau yakin dengan keputusanmu?" tanya ayah Jieun."Jangan melakukannya bila terpaksa, sayang. Kau tak perlu melakukannya demi kami" pinta ibu Jieun."Aku tidak terpaksa appa , eomma . Kurasa tak ada pilihan yang lebih baik dari ini. Kami sudah membicarakan semuanya dan Jungkook juga memiliki alasannya sendiri" sahut Jieun. Mereka lalu memaparkan alasan Jungkook memilih Jieun. Tapi tentu saja, mereka tak menjelaskan mengenai perjanjian enam bulan itu."Kalian jangan khawatir. Aku akan memperlakukannya dengan baik. Kalau klaian mengizinkan, kami akan segera mendaftarkan pernikahan ini sekarang juga" ujar Jungkook."Aku percaya kalau ia akan menjagaku" bujuk Jieun berusaha meyakinkan kedua orangtuanya."Baiklah kalau itu sudah menjadi keputusanmu. Aku tahu, kalau kau sudah memutuskannya, kami tak bisa menghalangimu" sahut ayah Jieun."Maafkan kami, Jieun. Kami membuatmu harus menanggung beban hutang ini" ujar ibu Jieun lirih." Eomma , kau tak perlu meminta maaf. Aku juga bertanggung jawab melunasi hutang itu. Bagaimanapun, appa berhutang juga demi kita".Ibu Jieun lalu menarik putrinya itu ke dalam pelukannya. Ia merasa bersalah karena harus membiarkan putri semata wayangnya itu menanggung beban hutang mereka. Tapi di sisi lain, ia juga menyadari kalau mustahil bagi mereka melunasi hutang itu tanpa bantuan Jungkook. Dibanding melepaskan putrinya pada rentenir tua bangka yang mesum itu, entah mengapa hati ibunya merasa percaya melepaskan putrinya pada Jungkook."Jungkook-ssi, kau tahu keluarga kami bukan keluarga terpandang sepertimu. Putri kami tidak terbiasa hidup dalam kemewahan sepertimu. Tetapi ketahuilah, bagi kami, ia adalah harta yang paling berharga. Kami memberikannya pendidikan yang terbaik, menjaganya dengan baik. Kuharap kau juga bisa menjaganya dengan baik. Jangan biarkan orang lain merendahkannya" pinta ibu Jieun.Jungkook menatap ibu Jieun penuh ketulusan."Aku berjanji, eommonim ".Usai memberitahukan keputusan mereka kepada kedua orang tua Jieun, Jungkook dan Jieun pun segera menuju ke kantor catatan sipil untuk mendaftarkan pernikahan mereka, setelah sebelumnya menyiapkan berkas-berkas yang mereka perlukan."Apa kau tidak bertanya kepada orangtuamu lebih dulu?" tanya Jieun ragu. Saat ini mereka telah berada di depan kantor catatan sipil."Tak perlu. Mereka pasti tidak keberatan. Ayo kita masuk sekarang. Setelah ini kita temui rentenir itu" sahut Jungkook seraya meraih lengan Jieun.Setelah mereka mengisi formulir dan menyerahkan berkas-berkas yang diperlukan, keduanya pun kini telah sah menikah secara hukum.Jieun menatap sertifikat pernikahannya."Tak bisa dipercaya secepat ini statusku berubah" gumamnya miris."Yah, sekarang kita telah resmi menjadi suami-istri. Tapi jangan khawatir, aku tetap akan mengurus pemberkatan dan resepsi untuk pernikahan kita. Sekarang sebaiknya kita pergi menemui rentenir itu" sahut Jungkook tenang..."Apa maksud semua ini tuan Jeon?" tanya Mr. Son, sang rentenir, seraya menatap cek bernilai dua ratus juta won tertera di sana."Itu adalah pembayaran hutang tuan Lee. Aku bahkan melebihkannya untukmu. Mulai sekarang, jangan mengganggu mereka lagi" sahut Jungkook datar.Awalnya Mr. Son merasa sangat marah karena gadis yang diincarnya ternyata telah dimiliki oleh pria lain, dan pria itu adalah CEO dari perusahaan J&J Media Co rporation . Tetapi ia tak dapat berbuat banyak kala Jungkook mengancam akan membuat bisnisnya gulung tikar bahkan bisa saja memasukkannya ke dalam penjara bila ia masih berani mengganggu keluarga Lee. Lagipula uang yang diberikan Jungkook dua kali lipat dari hutang keluarga Lee ditambah bunganya.Setelah memperoleh kesepakatan dengan Mr. Son, Jungkook pun mengajak Jieun menemaninya ke kantor.Semua pegawai di perusahaan J&J Media corporation menatap penuh rasa penasaran pada wanita yang berjalan di samping CEO mereka. Terlebih Jimin, sekretaris pribadi sang CEO bahkan bersikap sopan padanya. Tak pernah ada wanita yang bisa berada sedekat itu pada CEO mereka. Meskipun banyak wanita yang berusaha mendekat, Jungkook selalu menjaga jarak dengan mereka.Jungkook tidak langsung menuju ruangannya, melainkan menuju ruangan presdir, ayahnya sendiri. Ia juga mengajak Jieun menemaninya, sementara Jimin menunggu di ruangannya.Reaksi yang diberikan presdir Jeon benar-benar di luar dugaan Jieun. Bukannya marah dan menyerang Jieun dengan beribu pertanyaan, pria paruh baya itu malah tersenyum sumringah mendengar berita yang disampaikan Jungkook.Bahkan, ia dengan semangatnya meminta Jieun memanggilnya abonim . Presdir Jeon bahkan tak bertanya tentang asal usul Jieun. Baginya, selama wanita yang dipilih Jungkook adalah wanita baik-baik, ia akan merestuinya.Ayah Jungkook pun berjanji akan mengatur acara pemberkatan dan resepsi pernikahan mereka yang akan dilaksanakan minggu depan, tepat di hari ulang tahun kakek Jungkook...Tak terasa seminggu telah berlalu. Selama seminggu ini, Jieun telah tinggal di rumah keluarga Jeon. Ia pun tidur sekamar dengan Jungkook, karena secara hukum mereka telah sah sebagai suami-istri. Namun, Jungkook tak pernah menyentuhnya sedikitpun. Jieun menaruh guling besar di tengah kasur mereka sebagai pembatas saat mereka tidur.Dan hari ini adalah hari yang melelahkan bagi mereka. Setelah pemberkatan nikah di Gereja, mereka segera menuju ke sebuah hotel mewah yang merupakan tempat berlangsungnya resepsi. Banyak tamu dari kalangan atas yang menghadiri acara itu. Tak sedikit wanita yang merasa iri pada Jieun karena telah berhasil mendapatkan Jungkook.Keluarga Jungkook pun sangat menyukai Jieun, terutama kakek Jungkook. Meskipun Jieun bukan berasal dari kalangan mereka, namun gadis itu sangat sopan dan berpengetahuan luas. Ia juga sangat tulus dan baik hati. Jungkook saja tak menyangka bila gadis arogan yang beberapa hari lalu ditemuinya itu ternyata memiliki hati seperti emas.Hampir lima jam lamanya mereka menjamu tamu-tamu mereka yang tak terhitung jumlahnya. Setelah tiba di rumah, Jieun segera merebahkan diri di atas kasur. Kaki dan punggungnya terasa sangat pegal usai berjalan ke sana kemari menjamu tamu.Jungkook sendiri segera melepas jasnya dan melonggarkan dasi yang dikenakannya."Apa kau tak mau mandi dan berganti baju terlebih dulu?" tanyanya pada Jieun."Tentu saja aku mau. Tapi tubuhku terasa berat" sahut Jieun lemah.Namun, tak lama kemudian, ia bangkit dan berjalan menuju kamar mandi. Semakin lama, pakaian itu membuatnya tak nyaman.Jungkook menunggu Jieun selesai mandi. Ia juga merasa sangat gerah dan tak nyaman. Hampir setengah jam menunggu, tak juga suara pancuran air terdengar dari dalam kamar mandi. Ia pun mengetuk pintu kamar mandi."Hei, Jieun. Apa kau masih lama di dalam sana?"Tak terdengar sahutan dari dalam, sehingga Jungkook hendak mengetuk sekali lagi. Namun, pintu kamar mandi terlebih dahulu terbuka dan Jieun memunculkan kepalanya di sana."Jungkook, aku butuh bantuanmu" pinta Jieun dengan pipi merona.Rupanya Jieun kesulitan membuka resleting di belakang gaunnya sehingga ia meminta Jungkook untuk membantunya melepaskan gaun itu.Kala jemari Jungkook menarik restleting gaun Jieun, Jungkook tak dapat menahan kekagumannya menatap punggung Jieun yang putih dan mulus. Bagaimanapun, ia seorang pria normal. Tidak mungkin ia tak bergejolak melihat punggung polos wanita yang sudah menjadi istrinya itu. Namun, ia mengingat janjinya. Susah payah ia menahan dirinya."Aku akan menunggu di luar. Jangan terlalu lama. Aku juga butuh mandi" ujar Jungkook dengan nada yang sangat dingin, seolah ingin menutupi kegugupannya..Tengah malam, Jieun terbangun karena ingin ke kamar kecil. Sekembalinya dari kamar mandi, ia menyadari suaminya tak berada di tempat tidur. Matanya lalu menangkap sosok seseorang di beranda kamarnya. Ia pun keluar menghampiri orang itu, Jeon Jungkook."Kau belum tidur?"Pertanyaan Jieun membuat Jungkook tersadar dari lamunannya."Kau terbangun?" tanya Jungkook kembali. Jieun hanya mengangguk.Jungkook menatap Jieun yang hanya memakai gaun tidur yang tipis. Sepertinya gadis itu lupa memakai luaran sebelum menuju beranda. Ia pun segera berjalan menghampiri Jieun dan membawa gadis itu kembali ke kamar."Di luar sangat dingin. Kau bisa masuk angin" ujar Jungkook dingin. Namun, Jieun bisa merasakan kehangatan dalam kalimat itu. Tanpa sadar pipinya kini merona.Jungkook menatap wajah Jieun yang memerah. Entah mengapa sekujur tubuhnya terasa panas saat ini. Terlebih melihat Jieun dalam gaun tidur yang memperlihatkan bahu mulusnya itu membuat jantungnya berdebar kencang.'Sejak kapan ia menjadi secantik ini?' batinnya.Menyadari tatapan Jungkook yang intens padanya, membuat Jieun semakin gugup."Ke...kenapa kau menatapku seperti itu?""Jieun..... boleh aku.... menciummu?"Pertanyaan Jungkook membuat Jieun terkejut bukan main." M...mwo?! Neon michyeosseo? "" Wae ? Bukankah kita telah menikah?"Ia terdiam, berpikir untuk beberapa saat. Ia tak memiliki alasan untuk menolaknya. Secara hukum, mereka adalah suami-istri. Jungkook berhak mendapatkannya, meskipun setelah enam bulan mereka akan berpisah. Apalagi Jungkook secara sopan menanyakan persetujuannya. Tapi tetap saja Jieun ragu.Melihat Jieun hanya terdiam sejak tadi, Jungkook pun mendekatkan wajahnya pada gadis itu. Perlahan, bibir mereka semakin mendekat hingga akhirnya bertemu. Jieun tentu saja terkejut, namun entah mengapa tubuhnya tak bisa menolak. Untuk sesaat, bibir Jungkook hanya menempel, seolah ingin memastikan sesuatu. Lalu perlahan, Jungkook mulai melumat bibir ranum istrinya itu. Lembut dan memabukkan.Bagi Jieun, ini adalah ciuman pertamanya. Ironis memang, ia tak pernah berkencan sebelumnya. Sebagai ciuman pernikahan mereka saja, Jungkook hanya memberikannya di kening Jieun. Namun, dari cara Jungkook menciumnya, ia tahu ini bukan pertama kalinya bagi Jungkook.Semakin lama ciuman mereka semakin menuntut. Jungkook bahkan telah menjelajahi rongga mulut Jieun dengan lidahnya. Jieun nampak mulai kehabisan nafas. Ia pun mendorong tubuh Jungkook perlahan."Yak! Kau mau membunuhku, huh?" gertak Jieun dengan wajah yang sangat memerah.Jungkook segera memalingkan wajahnya dan beranjak keluar kamar."Kau mau ke mana?" tanya Jieun ketus."Tidurlah duluan. Masih ada hal yang harus kukerjakan" sahut Jungkook tanpa menoleh sedikitpun.Jieun menatap punggung Jungkook dengan penuh tanda tanya.'Apa-apaan dia? Setelah menciumku lalu meninggalkanku begitu saja?' batinnya kesal.Jieun tak tahu, di balik pintu, Jungkook menyandarkan tubuhnya dan menempelkan telapak tangan di dadanya, mengatur nafasnya yang saling beradu dengan detak jantungnya...Hari ini adalah hari pertama Jieun bekerja. Sebenarnya ayah Jungkook meminta Jieun untuk bekerja di perusahaan mereka saja. Terlebih melihat riwayat pendidikan Jieun yang merupakan lulusan Universitas Seoul jurusan bussiness management . Tetapi Jieun menolaknya. Ia merasa jika ia menerima tawaran itu, seluruh karyawan akan berpikir ia diterima karena merupakan menantu presdir, bukan karena kemampuan yang dimilikinya. Untung saja Jungkook memahami keputusannya.Setelah memasukkan lamaran pekerjaan di beberapa perusahaan, Jieun akhirnya diterima di sebuah perusahaan entertainment.Hari itu, Jungkook berangkat lebih pagi untuk mengantarkan sang istri terlebih dahulu sebelum berangkat menuju kantornya."Pukul enam sore nanti aku akan menjemputmu" ujar Jungkook saat menurunkan Jieun di depan tempat kerjanya."Kau tak perlu repot-repot. Aku bisa pulang dengan bus atau taxi. Lagipula aku juga tak tahu pastinya akan pulang jam berapa" tolak Jieun.Jungkook hanya mengendikkan bahunya."Baiklah. Terserah kau saja".Setelah Jieun turun, mobil Jungkook pun segera melaju meninggalkan tempat itu.Jieun menatap miris kepergian mobil suaminya itu."Cih! Katakan saja memang tak berniat menjemput" gerutunya.Jieun melangkah memasuki gedung berlantai enambelas itu. Ia pun segera menuju lantai tujuh, tempat dimana divisinya berada. Saat pintu lift nyaris tertutup, seorang pria nampak menahan pintu itu, lalu masuk ke dalam.Jieun mengamati pria itu. Pria itu berkulit putih dan berwajah manis. Satu persatu pengguna lift itu keluar saat lift berhenti di tujuan mereka. Hingga saat perhentian di lantai empat, tersisa Jieun berdua saja dengan pria itu.Pria itu pun kini mulai memperhatikan keberadaan Jieun. Ia menaikkan sebelah alisnya menatap Jieun."Kau karyawan baru di sini? Aku baru melihatmu"."Ah. Ne . Aku Lee Jieun, karyawan baru di divisi pemasaran. Ini adalah hari pertamaku bekerja" sahut Jieun."Oh begitu ya?"Kini pria itu mulai tersenyum menatap Jieun. Ia pun mengulurkan tangannya di hadapan Jieun."Perkenalkan, aku Min Yoongi. Salah satu produser di perusahaan ini".Jieun menatap pria itu lalu menjabat tangannya. Untuk sesaat, Jieun merasa terpesona dengan senyuman Yoongi yang membuat pria itu nampak semakin manis..Jieun baru saja selesai dengan pekerjaannya. Berhubung dia adalah karyawan baru, dia harus pulang lebih lambat dibanding karyawan lainnya. Jieun melirik jam tangannya, pukul delapan malam. Ia pun meraih ponselnya, entah mengapa ia berharap ada pesan dari Jungkook yang masuk ke ponselnya. Namun ternyata nihil. Pria itu tak menanyakannya sama sekali.Jieun pun mulai mengetikkan pesan untuk suaminya agar pria itu tak khawatir. Meski Jieun ragu pria itu akan khawatir terhadapnya. Setelah memastikan pesannya terkirim, Jieun pun beranjak keluar dari bangunan itu.Sayangnya, hujan deras di luar sana membuat langkah Jieun terhenti. Ia tidak membawa payung sama sekali."Apa aku terobos saja hujan ini?" gumamnya bingung.Di tengah kebingungan Jieun, sebuah mobil mercedes hitam berhenti tepat di depannya. Sang pengemudi menurunkan kaca mobilnya dan memanggil Jieun."Jieun-ssi? Kau baru pulang?"Jieun mengamati sang pemilik mobil yang rupanya adalah produser yang ditemuinya pagi tadi."Ah, Yoongi-ssi. Aku baru saja menyelesaikan pekerjaanku. Tapi sepertinya aku harus menunggu hingga hujan sedikit reda".Tanpa basa-basi, Yoongi pun membuka pintu mobil di bagian penumpang."Naiklah"." N..ne ?""Aku akan mengantarmu kalau kau tidak keberatan. Hujan sepertinya masih akan lama redanya".Meskipun sesaat ragu, Jieun pun akhirnya menerima tawaran Yoongi. Awalnya Jieun meminta Yoongi menurunkannya di depan kompleks perumahannya saja, tetapi Yoongu bersikeras ingin mengantarnya hingga di depan rumah. Pria itu bahkan memayungi Jieun memasuki halaman rumahnya yang cukup besar. Hari itu di rumah Jieun hanya Jieun, Jungkook, dan ara pelayan. Kedua orangtua Jungkook sendiri sedang mengadakan perjalanan bisnis di Jerman selama dua minggu.Yoongi mengamati sekeliling rumah Jieun.Ia melihat mobil Rolls Royce hitam dan beberapa mobil mewah lainnya terparkir di garasi rumahnya."Kenapa tak membawa mobil ke kantor?""Ahh... Itu bukan mobilku. Mobil itu milik suamiku" sahut Jieun."Kenapa suamimu tidak menjemputmu?" tanya Yoongi bingung. Ia telah menyadari Jieun telah menikah saat mereka bertemu tadi karena cincin pernikahan yang melingkar di jari manis wanita itu."Sebenarnya dia ingin menjemputku tadi. Tapi aku menolaknya"."Tetap saja, sebagai suami seharusnya ia menjemputmu meskipun kau menolaknya. Apalagi di hari hujan seperti ini akan sangat sulit menunggu kendaraan umum" ujar Yoongi.Jieun merasa sedikit tersentuh dengan perhatian yang diberikan Yoongi. Pria itu kemudian kembali menatapnya seraya tersenyum."Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu. Jangan lupa mengeringkan rambutmu segera" ujarnya seraya menepuk ringan puncak kepala Jieun."Ah.. N..ne . Kamsahamnida Yoongi-ssi" ujar Jieun dengan wajah tersipu. Ia menatap punggung Yoongi hingga pria itu menghilang di balik pintu pagar rumahnyaJieun tidak sadar ada sepasang mata yang memperhatikannya sejak tadi..Jungkook menatap pemandangan di depan rumahnya itu dari beranda kamarnya. Entah mengapa ada perasaan tak suka saat seorang pria asing tersenyum kepada istrinya. Terlebih istrinya membalasnya dengan senyuman. Bahkan wajahnya turut tersipu. Ia pun segera masuk ke dalam kamarnya dengan perasaan kesal.Tak berselang lama, Jieun pun memasuki kamar mereka. Jungkook berdiri di tepi jendela dengan tangan bersilang di depan dadanya, menatap setiap pergerakan istrinya."Siapa pria tadi?"Jieun menatap Jungkook bingung untuk sesaat. Namun kemudian mulai menyadari maksud pertanyaan suaminya."Ah, maksudmu yang mengantarku tadi? Dia Min Yoongi, produser di tempatku bekerja"."Ohh.. Sepertinya kau cukup akrab dengannya"."Tidak juga. Kami baru saja bertemu. Tadi dia berbaik hati memberiku tumpangan karena hujan. Itu saja" bantah Jieun."Tapi kelihatannya tidak sebatas itu".Jieun mulai bingung dengan ucapan suaminya itu."Ada apa denganmu sebenarnya?""Lee Jieun, ingatlah kau sudah menikah. Ku harap kau tahu menempatkan dirimu.Tak pantas bila kau mendekati pria lain dengan statusmu itu" tegur Jungkook.Jieun nampak kesal kini." Heol . Apa kau lupa? Bukankah kau sendiri yang berkata aku bebas menemui pria lain di luar sana? Lagipula pernikahan ini hanya sekedar perjanjian di antara kita. Setelah enam bulan, bukankah semuanya akan selesai?"Jungkook mengeram kesal. Memang benar, ia sendiri yang mengatakan semua itu pada Jieun. Tapi mengapa hatinya merasa tak rela saat Jieun mengatakannya kembali?Dengan amarah yang meliputinya, ia menarik tubuh Jieun dan melemparkannya ke atas kasur. Dikungkungnya tubuh mungil wanita itu. Tanpa berbicara sepatah kata pun, Jungkook melumat bibir Jieun dengan kasar. Jieun meronta, berusaha melepaskan dirinya. Namun, tenaga Jungkook jauh lebih kuat.Jungkook semakin memperdalam ciumannya, memainkan lidahnya dengan leluasa. Jemarinya bermain di balik kemeja yang dikenakan Jieun sehingga membuat Jieun mulai melenguh merasakan sensasi aneh menjalari tubuhnya. Jungkook mulai membuka kancing kemeja Jieun, membuat kulit mulus di baliknya terekspos. Kemudian ia mulai melepaskan satu per satu kancing kemejanya sendiri.Jungkook pun kini beralih menciumi leher Jieun, menuruni leher jenjang gadis itu hingga menuju ke payudara Jieun yang hanya tertutupi bra."Ngghhh... Jung...kookhhh.... H..hentikan".Tak menggubris ucapan Jieun, jemari Jungkook bahkan dengan lincahnya membuka pengait bra Jieun, membebaskan kedua benda kenyal di baliknya. Jieun menatap mata Jungkook yang menggelap dan berkilat. Ini pertama kalinya ia melihat Jungkook seperti itu. Pria itu kini mulai memainkan lidahnya di nipple Jieun, sementara sebelah tangannya meremas payudara sebelahnya.Lenguhan-lenguhan tertahan Jieun membuat Jungkook semakin gelap mata, entah berapa banyak kissmark yang ditinggalkannya di kulit mulus istrinya itu. Tubuh Jieun bergetar. Tangisnya mulai pecah."Hhh... Jungh..kookhh.. Hiksss.. Kumohon...hentikan...hiks...".Mendengar isakan Jieun, Jungkook menghentikan aksinya. Ditatapnya wajah Jieun yang nampak ketakutan dengan air mata yang mulai menggenang di kedua matanya. Ia pun mulai menjauhkan dirinya dari tubuh Jieun.Setelah Jungkook melepaskan kungkungannya, Jieun segera menutupi tubuhnya lalu mendaratkan satu tamparan di pipi Jungkook."Kau keterlaluan! Apa bedanya dirimu dengan rentenir mesum itu!!" seru Jieun penuh amarah. Dihapusnya air mata yang mulai mengalir di pipinya dengan kasar.Jungkook tak bergeming. Bahkan setelah ditampar seperti itu, ia tak menunjukkan tanda pembelaan diri. Ia pun tak sedikitpun menatap Jieun." Mianhae "Hanya satu kata itu yang keluar dari bibir Jungkook sebelum bangkit dan keluar meninggalkan Jieun sendiri. Malam itu, dan malam-malam setelahnya, Jungkook tak pernah tidur di kamarnya dan memilih tidur di kamar tamu. Ia juga mulai berangkat sendiri ke kantor, sementara sopirnya ia perintahkan untuk mengantar jemput Jieun.Jieun berbaring menatap tempat kosong di sampingnya. Entah sejak kapan, ia telah terbiasa dengan keberadaan Jungkook di sisinya. Meskipun ia masih marah bila teringat perlakuan Jungkook terhadapnya beberapa hari lalu.Sudah hampir seminggu ini pria itu selalu menghindarinya. Jungkook selalu berangkat pagi-pagi sekali dan pulang larut malam sehingga hampir mustahil bagi mereka untuk bertemu meskipun tinggal bersama. Jieun merasa sedikit kehilangan. Ia tak dapat membohongi dirinya. Ia merindukan Jungkook.Apa mungkin Jieun telah mulai mencintai suaminya itu?"Augh... Itu tak mungkin" gumam Jieun menyangkal pikirannya sendiri.Sementara itu di sebuah bar, Jungkook nampak bersama seorang wanita. Ia adalah Kim Yerim, sahabatnya sejak kecil. Mereka sama-sama berkuliah di New York. Hanya saja saat Jungkook kembali ke Korea, Yerim masih tinggal di sana. Yerim sendiri tengah datang berlibur di Seoul."Kudengar kau telah menikah. Tega sekali tak mengundangku" ujar Yerim merajuk."Maaf, aku tak sempat menghubungimu. Lagipula pernikahan kami bukan seperti yang kau pikirkan" sahut Jungkook kemudian menyesap segelas cocktail di hadapannya."Aku tahu. Mengingat sifatmu, mustahil kau mau berkomitmen secepat itu dengan wanita yang baru kau kenal. Pasti kau punya alasan. Tapi aku penasaran, siapa wanita beruntung itu?" tanya Yerim penasaran."Kau tak mengenalnya"Yerim tersenyum kecut mendengar jawaban Jungkook."Melihatmu seperti ini, kurasa kau sedang bertengkar dengannya"Jungkook tak menjawab, ia hanya kembali meneguk cocktail -nya.Yerim memajukan wajahnya mendekati Jungkook."Apa kau ingin kutemani malam ini?"Melihat wajah Yerim berada sangat dekat dengannya, refleks Jungkook mendorong tubuh Yerim."Maaf. Aku harus ke toilet sebentar" ujarnya lalu bangkit dari tempat duduknya dan meninggalkan Yerim sejenak.Yerim menatap kesal kepergian Jungkook. Memang bagi Jungkook mereka hanya bersahabat. Tetapi baginya, Jungkook adalah pria yang disukainya diam-diam. Selama mereka di New York bahkan tak jarang mereka berciuman-sebagai sepasang sahabat. Terutama bila keduanya tengah dipengaruhi alkohol, dan itu bukanlah sesuatu yang dipermasalahkan Jungkook. Tetapi hari ini, pria itu menolaknya.Yerim pun menyadari ponsel Jungkook yang tertinggal di meja bar. Ia meraihnya dan membuka kunci layarnya. Jungkook tak pernah merubah kode sandinya dan ia tahu itu. Ia membuka kotak pesan Jungkook, jemarinya sibuk menggeser ke bawah, ke pesan-pesan terdahulu. Matanya lalu menatap satu nama yang terlihat di sana. Jieunnie .Yerim mengerutkan keningnya. Bagi sebagian orang, menulis nama seperti itu dalam daftar kontak mereka adalah hal yang wajar, tapi tidak bagi Jungkook. Yerim pun membuka daftar kontak Jungkook, untuk memastikan kebiasaan pria itu masih sama atau tidak. Setelah melihat daftar kontak itu, ia menyadari kebiasaan Jungkook tak pernah berubah.Ahn Jaehyun, Mr.0xxxxxxxAppa0xxxxxxxxCha Eunwoo, Mr.0xxxxxxxDamian Peter, Mr.0xxxxxxxEomma0xxxxx||Harabeoji0xxxxxJieunnie0xxxxxKim Taehyung, Mr.0xxxxKim Yerim, Mrs.0xxxxxHanya ada tiga nama dalam kontak itu yang penulisannya berbeda dari yang lain: appa, eomma, harabeoji dan Jieunnie . Bahkan namanya pun ditulis dengan formal, meskipun mereka telah berteman sejak kecil. Saat itu pula, Yerim menyadari kalau wanita yang bernama Jieun itu pastilah memiliki tempat spesial di hati Jungkook..Jam telah menunjukkan pukul 00.15, dan Jungkook belum pulang juga. Setiap malam, secara tak sadar, ia selalu terjaga menunggu kepulangan Jungkook. Tak berselang lama, Jieun dapat mendengar bunyi mobil memasuki pekarangan rumahnya.Jieun bangkit dari tempat tidurnya dan mencoba menengok dari balik jendela kamarnya. Ia melihat Jungkook keluar dari mobil yang Jieun yakini bukanlah mobil suaminya. Terlebih Jungkook turun dari bangku penumpang. Kemudian turunlah pengemudi mobil itu, gadis cantik berambut pirang sepinggang. Belum lagi pakaiannya, yang bagi Jieun terlalu terbuka.Jieun mengamati keduanya nampak bercakap-cakap sesaat. Jungkook bahkan tersenyum pada wanita itu. Sebelum wanita itu kembali masuk ke mobilnya, ia sempat mendaratkan sebuah kecupan di pipi Jungkook.Entah kenapa, melihat pemandangan itu, dada Jieun terasa sesak.'Siapa wanita itu? Apa Jungkook selama ini pulang selarut ini karena bersama wanita itu?'Sayup-sayup terdengar langkah kaki Jungkook dari koridor depan kamar mereka. Ia tahu tujuan Jungkook adalah kamar tamu yang berada di ujung koridor. Ia pun segera membuka pintu kamar.Jungkook terkejut kala pintu kamar Jieun tiba-tiba terbuka."Eoh. Kau belum tidur?" tanya Jungkook datar.Jieun tak menyahut. Ia menatap Jungkook penuh kekesalan."Ada apa?" tanya Jungkook yang mulai bingung melihat Jieun yang sepertinya tengah kesal padanya."Kau benar-benar pria egois" gerutu Jieun."Maksudmu?""Saat Yoongi mengantarku pulang malam itu, kau marah padaku hingga...hingga kau melecehkanku. Dan lihatlah sekarang... Kau pulang dengan seorang wanita, bahkan berciuman dengannya".Kening Jungkook berkerut. 'Apa Jieun melihat Yerim mengantarku tadi? Tapi berciuman? Tidak. Aku tidak berciuman dengannya'Jungkook menghela nafasnya panjang."Kau salah paham. Kami tidak berciuman. Dia hanya mencium pipiku"."Hanya?! Bahkan aku yang HANYA diantar Yoongi kau anggap aku tidak tahu menempatkan diri! Heol ! Daebak !" seru Jieun tak terima."Jieun"Jungkook berusaha menenangkan Jieun. Ia melirik sekitarnya, memastikan tak ada pelayan yang mendengar keributan mereka."Sebaiknya kita bicarakan ini di dalam" bujuk Jungkook seraya membimbing Jieun masuk ke kamarnya.Jieun baru menyadari bau alkohol yang menyeruak dari tubuh Jungkook kala jarak mereka sedekat ini."Kau minum-minum dengan wanita itu?" selidik Jieun. Alisnya terangkat sebelah menatap Jungkook.Jungkook nampak bingung untuk menjawab. Melihatnya, Jieun dapat memastikan sendiri jawaban pertanyaannya."Sepertinya kau telah melanggar banyak hal di perjanjian kita. Pertama kau menyentuhku tanpa persetujuan dariku, kemudian kau melarangku terlalu dekat dengan Yoongi, sementara kau sendiri minum-minum dengan wanita lain hingga larut malam, bahkan berciuman dengannya" ujar Jieun dingin."Jieun, sudah kukatakan, itu bukan berciuman" terang Jungkook.Namun Jieun tak peduli."Kurasa sebaiknya kita mengakhiri semuanya. Aku tak bisa menunggu hingga enam bulan lagi. Lagipula kau sendiri yang telah melanggar perjanjian kita. Mengenai uangmu, aku akan berusaha untuk mengembalikannya padamu secepatnya".Jungkook nampak sangat terkejut mendengar ucapan Jieun. Tidak. Ia tidak ingin berpisah dengan Jieun. Tidak setelah ia menyadari perasaannya pada wanita itu." Shirreo "." Mwo ?! Apa-apaan ka...."Kelimat Jieun terputus kala Jungkook menarik tubuhnya ke dalam pelukannya." Mianhae . Perlakuanku malam itu memang keterlaluan. Aku mengakuinya. Aku tidak akan bertemu Yerim lagi kalau kau tidak menyukainya. Tapi maaf, aku tak ingin melepaskanmu. Bahkan setelah enam bulan pun, kuharap kau masih berada di sisiku"Jieun melonggarkan pelukan Jungkook dan memberanikan diri menatap Jungkook."Ma..maksudmu?"Jungkook membelai rambut Jieun kemudian menyampirkan rambut-rambut Jieun ke belakang telinganya."Dengarkan aku baik-baik karena aku mungkin hanya akan mengatakannya sekali""Lee Jieun, saranghae ".Jieun terdiam berusaha mencerna kalimat barusan."Karena itu, mari lupakan perjanjian itu, dan teruslah berada di sisiku" bujuk Jungkook kembali."Ka..kau tidak sedang bercanda bukan?" tanya Jieun tak percaya."Sejak kapan aku pernah bercanda?" tanya Jungkook balik. Kali ini ekspresinya lebih tenang dan lembut menatap Jieun.Jieun tahu, Jungkook bukanlah pria yang suka bercanda. Ia selalu serius dalam segala hal. Bahkan terkadang terlalu serius. Karena itu, mau tak mau, Jieun mulai mempercayai perkataan Jungkook."Jieun, kau maukan hidup bersamaku hingga seterusnya?" tanya Jungkook penasaran, sebab sejak tadi Jieun sama sekali tidak menanggapi perkataannya.Jieun terdiam sesaat, mencoba meyakinkan perasaannya sendiri. Setelah beberapa menit berpikir, ia pun menengadahkan kepalanya menatap Jungkook.Sambil tersenyum, Jieun pun berkata,"Baiklah. Aku mau"......#####
Pupus
Hari ini adalah hari berkabung bagi keluargaku. Kakak kembarku yang bernama Arzriel meninggalkan kami sekeluarga. Nenek, ibu, ayah dan saudara saudara ku cukup terpukul oleh berita yang sangat mengejutkan ini.Kemarin ibu mendapat telepon bahwa kak Azriel kecelakaan saat pulang dari rumah temannya. Ibu aku dan ayah segera menuju rumah sakit di mana kak Azriel di rawat.Kepala kak Azriel terbentur hingga kemungkinan kak Azriel akan amnesia. Kami sangat terpukul oleh berita ini, kami selalu berdoa untuk kesembuhan kak Azriel. Tapi Tuhan berkehendak lain, beberapa hari setelag kecelakaan kak Azriel menghembuskan nafas terkahir malam itu.Berita ini menyebar cepat, kerabat dan teman teman kak Azriel hadir malam itu, dengan suasana pilu kami membacakan doa agar kak Azriel di terima di sisi-Nya. Namaku Aurel, aku adalah anak kedua dari dua bersaudara, hanya ada aku dan kakak kembar laki laki ku kak Azriel yang kemarin telah pergi.Setelah kepergian kak Azriel hidupku berubah drastis. Semua hal yang biasanya aku lakukan bersama dengan kakak ku sekarang harus aku lakukan sendiri. Hidup ku seperti hampa.***Hari ini adalah hari senin,dua hari setelah kepergian kak Azriel. Aku harus berangkat dengan ayah yang akan pergi ke kantor. Biasanya aku berangkat bersama kak Azriel tapi kali ini aku harus bisa tanpa kak Azriel.Pelajaran membosankan telah usai dan bel berteriak menunjukan bahwa jam istirahat telah tiba. Aku hanya diam membaca novel tebal tanpa ada niat sedikitpun untuk beranjak dari bangku ku.Sebuah pesawat kertas mendarat di meja ku,dan derap langkah seseorang terdengar mendekat ke arah meja ku. "Maaf" ucap seseorang. Aku menoleh dan melihat Alex mendekat dan mengambil pesawat kertas nya.Aku mengangguk saja dengan dengan senyum yang di paksakan. Alex adalah teman satu SMP denganku dia adalah teman dekat kak Azriel hingga akupun bisa kenal dengan Alex. "Rel, nanti pulang lo pulang bareng gue ya?" Tanya nya yang lebih pantas di sebut permintaan."Kan jauhan rumah gue," Ucap ku sambil menutup novel dan menyimpan nya di laci meja."Gapapa kok, entar gue anterin sampe rumah." Ucap nya lalu pergi sambil membawa pesawat kertas tadi.***Aku menunggu di depan kelas, dimana Alex? Dari arah lain dia datang dengan blazer yang rapi. Tanpa mengucapkan sepatah katapun dia tiba tiba menggenggam tangan ku dan menarik menuju tempat parkir.Aku tak tahu mengapa aku tak melakukan penolakan sedikitpun, tanpa sadar aku tersenyum, merasakan ada ada kupu kupu yang terbang di perutku. Aku dan Alex menjadi pusat perhatian,karena aku tahu cewek cewek yang menyukai Alex itu tidak sedikit. "Rel lo gak papa kan naik motor? " tanya Alex membuyarkan lamunan ku. "Eh gapapa kok." Ucap ku.***Hari hari berlalu, aku dan Alex kini benar benar dekat. Setiap hari aku selalu menghabiskan waktu dengan Alex karena kami satu kelas dan tinggal di kompleks yang sama. Bahkan Alex sering main ke rumah ku untuk mengerjakan PR atau sekedar main menghabiskan waktu lenggang.Pernah suatu malam Alex main ke rumah dengan membawa gitar. Aku lalu meminta nya mengajari bagaimana cara memainkan gitar. Dia dengan senang hati mengajarkan aku yang tidak bisa.Semua terasa indah, hingga aku mulai menyukai Alex. Aku selalu merasa nyaman bila dekat dengan Alex. Setelah hadirnya Alex aku mulai terbiasa hidup tanpa kak Azriel. Bahkan teman teman sekelas mengira bahwa aku dan Alex pacaran padahal kami hanya teman, sungguh hanya teman.Hari itu kelas kami sedang berolahraga,entah kenapa kepalaku seperti pusing. Tiba tiba semua gelap. Beberapa saat setelah itu aku tersadar di ruang UKS dan kulihat Syila teman ku yang sedang menungguku, Syila bilang aku di gendong Alex saat pingsan tadi.***Semua hal yang aku lalui terasa sangat berkesan. Tapi aku kadang berfikir apakah Alex memiliki perasaan yang sama? Mengapa sampai saat ini tak ada kemajuan dalam hubungan kami? Hingga waktu itu tiba di mana aku mulai menggali info tentang Alex.Waktu itu ku tanya Rai teman Alex, awal nya dia mengatakan bahwa dia tidak tau kalau Alex sedang menyukai siapa. Hingga berminggu minggu aku mulai merasakan ada yang berbeda dari Alex. Dia mulai berubah bahkan kami jarang pulang dan menghabiskan waktu bersama.Pernah suatu hari aku berfikir apakah aku langsung saja bertanya pada Alex dia sedang menyukai siapa? Semua hal yang tidak pasti ini membuat aku lelah sendiri, hingga aku mulai tak peduli aku mulai menutup diri dari semua hal yang menyangkut diri Alex.Hingga semua perilaku ku tanpa sadar membiat Alex semakin jauh. Dia semakin tak peduli denganku, aku pun berfikir bila dia tak peduli mengapa aku harus peduli? Aku tau aku egois ingin di pedulikan sendiri, tapi aku hanya ingin Alex mengerti, namun salah nya aku lupa bahwa aku bukanlah siapa siapa bagi Alex.Suatu malam aku mendapat sebuah telepon dari Rai, katanya dia melihat Alex tengah tertawa sambil memandangi layar ponsel dia seperti sedang video call dengan seorang wanita. Saat itu juga aku benci Alex, aku tak ingin melihat atau mendengar suaranya lagi.***Aku melangkahkan kaki di antara rak buku di perpustakaan. Mencari novel yang mungkin bisa mengisi waktu luang ku dari pada memikirkan Alex. Tanpa sengaja aku mendengar perdebatan seseorang. Di balik lemari buku aku mengintip dan melihat Rai tengah berbicara serius dengan Alex.Aku samar samar bisa mendengar suara mereka."Lo apaan si Rai kepo banget sama hidup gue""Heh Alex gue nanya ya, lo itu gak punya perasaan ya? ""Apaan si ?""Gue tanya, kenapa lo selalu perhatian dan peduli sama Aurel?"Selang beberapa lama Alex tak menjawab, aku gemetar menunggu jawabannya."Emang salah?""Bukan gitu Lex, tapi lo nyakitin Aurel.""Oke gue bakal jawab pertanyaan lo, gue kasihan sama dia karena Kematian Azriel gue kasihan liat dia sedih tiap hari, dan Azriel itu sahabat gue, dia pasti sedih kalau tau Aurel sedih."Tanpa mau mendengar lanjutannya aku langsung berlari menuju kelas di sana aku menangis tanpa suara.***Semua hariku kembali suram,aku merasa menjadi orang terbodoh karena menaruh harapan pada orang yang hanya kasihan. Tanpa sengaja aku mendengar suara sorangan teman sekelas ku."Alex gue denger lo jadian sama Maya, selamat yaa."Degg .Aku tak tau harus bagaimana lagi semua harapanku hancur impianku runtuh semuanya karena Alex.***Jika pedulimu hanya sebatas kasihan semata,lebih baiknya kau tak perlu hadir sekali pun. Karena dia yang telah ada sebelumnya adalah hal yang pantas kau pertahankan, seperti sekarang.Aurella Alshyra.
Sepucuk Catatan dari Mayang
Namaku Mayang. Aku sekarang baru kelas X SMA. Hidupku menyebalkan dan membosankan semua hal yang hadir sekarang dengan ajaib nya bisa hilang di telan waktu.Begitu juga dengan seseorang yang datang membawa sepucuk harapan lalu pergi menanam benih kesakitan. Aku tak suka mengistimewakan seseorang karena fisik.Fisik bisa hilang pada waktu nya. Sedangkan hati akan tetap ada meski warna rambut mulai memudar. Bahkan hari hariku hanya biasa ku habiskan dengan pena dan kertas.Menulis bait bait puisi adalah hal yang biasa aku lakukan. Dengan mencurahkan semua isi hati pada kertas yang tak akan pernah membukakan rahasia ku.Namun semua berubah. Saat aku mulai mengenal seseorang. Sebut saja dia Kak Panji kakak kelasku yang tak sengaja ku lihat saat dia sedang berolah raga di depan kelasku. Aku memang biasa melihatnya. Namun entah kenapa saat itu dia tampak berbeda. Laun hari aku mulai mencari tahu tentang kak Panji.Perlahan lahan cerita temanku mengenai kak Panji mulai aku sukai, tentang kak Panji baik mahir olahraga dan aku dengar dia belum pernah punya pacar. Aku terus menerus mencari tahu, hingga aku mulai menyukai kak Panji. Setiap pagi dan pulang sekolah aku selalu duduk di teras kelas hanya untuk melihat kak Panji lewat.Aku hanya bisa melihat kak Panji dari jauh. Aku tak akan pernah bisa menyentuh kak Panji. Dia terlalu sempurna untuk aku yang hanya biasa. Semua hal itu membuat aku tertekan. Aku mulai sering mengeluh dan melamun. Teman teman ku terus menguatkan aku dan mengatakan kak Panji pasti akan sadar akan keberadaanku.Suatu hari teman ku mengatakan bahwa kak Panji akan mewakili sekolah untuk mengikuti turnamen sepak bola, tentu saja itu adalah salah satu waktu yang bisa aku gunakan untuk melihat kak Panji dari Jauh. Namun semua membuat aku sedikit tersadar bahwa kak Panji terlalu sibuk dengan dunianya. Ia bahkan tak pernah mengirim pesan atau pun menyapaku, aku merasa seperti seseorang yang bodoh.Saat aku benar benar terpuruk seseorang kembali hadir, panggil saja dia Leo. Leo baik dia selalu menghiburku dan selalu ada bahkan untuk sebuah perhatian yang kecil. Aku hanya merespon seadanya dengan hati masih berharap pada kak Panji yang bahkan tak mengenalku.Semua waktu aku habiskan dengan hancur, lalu Leo tiba tiba mengungkapkan perasaan nya. Membuat aku kaget dan tak tahu bila Leo menyukai ku.Teman temanku menyarankan agar aku menerima Leo yang sudah pasti dari pada Kak Panji.Namun aku memikirkan matang matang. Aku telah memilih kak Panji dari awal lalu Leo datang dan menarik perhatianku, namun hatiku masih sama aku masih berharap pada Kak Panji. Dengan penuh pertimbangan aku menolak Leo dia tampak sedih dan tak percaya. Namun aku mengatakan aku masih menyukai kak Panji walau tak pernah di lihat.Leo pergi dari hidupku dengan kekecewaan yang aku berikan padanya dan sebagai timbal balik nya aku pun sama menerima kekecewaan dari sikap kak Panji yang dingin dan tak pernah mengganggap aku di depannya. Aku. merasa aku bodoh karena tetap menunggu seseorang yang belum pasti, tapi tak apa yang pasti aku masih tetap berharap pada satu orang, tanda dan bukti bahwa aku tak main main.Aku harap Kak Panji segera tahu.***end.
Dino
Kisah ini pernah ada, kisah ini pernah terasa. Semua tetap sama bahkan jeritan dan tawa hari itu masih begitu jelas di telinga. Luka yang tak kunjung kering menjadi bukti bahwa aku pernah ada, aku pernah bertahan hingga semua menjadi tak lagi bermakna.Adinda Elereaina***"Adinda Adinda " Suara itu terus menggema di depanku, dengan berat hati ku angkat kepala yang dari tadi ku benamkan pada kedua tangan ku. "Apa?" Satu kata yang keluar dari mulutku dengan ketus.Anak di depanku ini hanya diam menatapku tanpa kedip, rambut hitam lebat nya ia garuk perlahan. "Kita main yuk keluar." Ajak nya dengan seyum sumringah. Aku menatap malas ku lihat seluruh kelas kosong semua orang pasti sedang mengisi perut di kantin."Aku ngantuk." Ucapku sampil kembali memejamkan mataku. Dia memutar bola matanya, lalu melangkahkan kaki dengan lesu. Aku membuka kedua mataku, dia sudah tak ada di depanku. Sepi, satu kata yang aku rasa saat ini, padahal harus nya aku senang bukan?***"Adinddaaa" aku menoleh ke sumber suara, Dino lagi Dino lagi. "Apa ?" Tanyaku ketus, dia tersenyum picik sambil menyembunyikan sesuatu di balik tubuh nya.Tentu saja itu membuat aku penasaran, dengan segera aku berjalan me arah nya,dan mendapati dua es krim yang dari tadi ia sembunyikan. "Aku mau Dino, rasa vanila." Ucapku sambil mataku tak lepas dari dua benda dingin nan manis itu."Apa? Adinda mau Dino yang rasa Vanila?" Ucap nya sambil sesekali menggodaku. Aku tertawa mendengar gurauan nya,Dino memang orang yang humoris, ingat hari itu aku masih tak mengerti apa yang di maksudkan Dino.Matahari tersenyum lebar membuat semua orang kepanasan, tepat jam itu kelas kami kosong tak ada guru yang mengajar. Seperti biasanya, aku membenamkan wajahku pada kedua lenganku "Adindaa" pasti Dino pikirku.Ku angkat wajahku dan mendapati Dino sedang menatapku, ku lemparkan pandangan ku pada seluruh kelas. Banyak orang orang yang sedang bersenda gurau,sedangkan Dino? Dia malah duduk di depanku.Dia mencoret coret buku milikku, dengan namanya yang ia beri bingkai hati. Tentu saja itu membuatku marah, aku segera menutup buku ku dengan rasa tak menentu. "Apaan si Adinda ini itu buat kenang kenangan di rumah kalau Dinda inget sama Dino." Ucap Dino membuat aku kesal."Apaan sih, aku itu gak inget sama Dino. Dino bisa gak kalau gak ganggu Adinda? Masih banyak teman selain Adinda, Adinda cape pengen tidur Adinda gak mau di ganggu Dino lagi, Dino bisa kan gak ganggu Adinda lagi?" Ucapku dengan sabar.Lain dari Dino biasanya yang semakin gencar menggangguku,Dino berdiri sebentar lalu pergi ke luar, aku menatapnya dengan heran apakah perkataanku terlalu jahat? Aku berusaha bertingkah tak peduli, sekarang aku bisa melanjutkan tidur ku dengan harapan bahwa pelajaran hari ini tak ada guru yang datang.***Aku berjalan kaki sambil membaca buku novel yang mamaku beli kan semalam. Tanpa sengaja aku menginjak batu lalu jatuh terpeleset. Ku lihat luka di lututku, lalu tak jauh dari tempatku jatuh Dino berdiri dengan wajah tak bisa ku tebak. "Dino?." Panggilku, tapi Dino malah pergi menjauh tanpa mempedulikan aku yang sedang meringis kesakitan.Buku novel yang jatuh dan basah tak lagi ku hiraukan, aku terus melihat punggung Dino yang perlahan menjauh. Ada rasa sakit yang aku rasa. Bahkan luka tangan ku tak lagi ku ingat yang aku pikirkan hanyalah kenapa Dino?***Pelajaran usai, aku membereskan buku dan kali ini ku angkat lagi novel yang sedikit basah karena jatuh. Hening. Itu yang ku rasa, namun aneh nya aku seperti kehilangan sesuatu ku tutup novel tadi dan kembali melihat seisi kelas, tak ada Dino lagi.Aku berjalan ke luar dan mendapati Dino sedang melamun di ujung koridor, baru saja ku langkah kan kaki ku. Rara datang dengan dua minuman dingin di tangan nya. Tentu saja itu membuatku kaget, aneh, kesal, mungkin sedikit cemburu.Aku kembali ke kelas berusaha menyibukkan diri dengan tumpukan buku di depanku, namun mataku tiba tiba rabun tatapan ku kabur, tidak aku tidak menangis aku tidak ingin menangis tapi mataku memanas melihat Dino yang duduk bersama Rara.Aku tak boleh menangis.***"Dino ini gimana? " tanya Rara membuat aku kesal, dengan tatapan teduh Dino mengajarkan Rara yang duduk di sampingku. Dino sedikit melirikku, aku pura pura baik baik saja, aku tak akan menunjukan cemburu.Dino kembali fokus pada buku Rara dan mengajarkan Rara bagaimana rumus matematika. Aku berdiri lalu berjalan ke toilet udara cukup panas. "Adinda, mau kemana?" Tanya Rendi ketua kelas kami."Udara panas, aku mau cuci muka." Ucapku ketus, di luar dugaanku teman teman berdehem, melirik ke arah Dino. Aku berjalan tak peduli. Hari demi hari Dino tak lagi menyapa ku aku seperti di jauhi. Bahkan sekarang Dino tengah dekat dekat dengan Rara.Aku akui mungkin aku yang salah aku yang terlalu menutup diri dari semua orang, hingga tak ada satupun orang yang mau berteman denganku, aku rindu Dino.Sudah ku coba cara membuka percakapan kecil, namun jangankan merespon mendengarkan ucapan ku saja tidak. Aku seperti jatuh, Dino dan Rara sekarang semakin dekat, sedangkan aku? Aku hanya melihat dari kejauhan dengan rasa pahit di dada.Dino, aku tahu mungkin di abaikan adalah hal yang tak menyenangkan, tapi percayalah tak di lihat adalah hal yang terpahit yang pernah aku rasa. Dino kamu sahabat terbaik ku terima kasih mau menajdi seseorang bersandar walau akhirnya kau pergi karena aku sendiri.Dan sampai saat ini tak ada lagi percakapan antara aku dan Dino, kami seolah menjadi dua manusia asing yang entah sampai kapan ini akan terus terjadi. Dino kamu tak mau kita seperti dulu lagi?***end.
Aku Ingin Pulang
Namaku Tini, aku berusia 12 tahun. Aku adalah anak kedua dari tiga bersaudara, kakakku bernama Oka, dan adikku bernama Mina. Ibuku bernama Surti, seorang perempuan tangguh yang selalu tabah. Kak Oka adalah seorang pemuda kuat tak kenal lelah.Adikku Mina adalah seorang adik penyayang dan lembut usia nya baru 8 tahun. Ayahku? Ayah telah meninggal 2 tahun yang lalu, kecelakaan adalah penyebab kematian ayah, kami sangat terpukul oleh kepergian nya, karena ayah adalah tulang punggung, imam dan motivator keluarga.Setelah kepergian ayah, keluarga kami menjadi sangat sulit, jangankan membeli baju membeli sesuap nasi saja sangat sulit bagi kami. Hingga aku dan kak Oka harus pergi merantau ke ibukota untuk mencari nafkah bagi keluarga, ibu dan Mina tinggal berdua di gubuk reyot.Kakak ku berkerja sebagai penjaga toko orang, dan aku sebagai tukang cuci piring di tukang bakso agak jauh toko pemilik kakakku. Gaji nya lumayan, bila di kumpulkan dengan gaji kakak ku. Aku dan kakak tinggal di sebuah kontrakan kecil.Cukup untuk berteduh, setiap hari aku dan kakak selalu berdoa kepada sang kuasa agar kami selalu di lindungi dan di mudahkan rezeki.***"Kerja yang bener dong" bentak pak Dirman kepadaku, aku hanya menunduk dan mengucapkan kata maaf. Usia ku masih belia, bila harus mengerjakan pekerjaan ini, seiring bertambahnya pelanggan bakso Pak Dirman maka aku juga harus semakin cepat mengerjakan nya.Tak terhitung tetes keringat yang telah menjadi saksi bisu pengorbananku selama ini, tak apalah yang penting kebutuhan kami tercukupi. Aku membawa setumpuk mangkuk bakso menuju wadah yang telah di sediakan, bagiku membawa barang berat seperti ini sudah biasa ku lakukan toh aku sudah biasa membantu ibu di kampung.Perutku lapar, aku melihat ke arah meja para pelanggan pak Dirman banyak juga, mereka bercanda ria sambil berkumpul bersama membuat aku ingat keluarga di kampung. Ku pegangi perutku yang keroncongan, aku semakin lapar, ku usap keringat yang menetes, aku ingat dari pagi aku dan kakak memang belum sarapan.Ku langkah kan kaki ku, niat ku untuk minta izin kepada pak Dirman untuk pergi sebentar ke arah warung tempat kakak berkerja. Namun sebuah tangan menghentikan langkahku, aku berbalik dan melihat ke arah belakang.Seorang kakak cantik menggunakan kerudung berwarna hijau army tengah tersenyum ke arah ku. Aku melepaskan tangan kakak itu, aku ingat pesan ibu jangan cepat akrab dengan orang yang belum di kenal. Kakak itu tersenyum melihat tingkah ku, aku jadi merasa kikuk."Dek? namanya siapa? " tanya kakak itu seketika membuat aku sedikit lega, ternyata kakak ini ramah dan baik."Namaku Tini kak." Jawab ku di sambut senyuman oleh kakak itu,"Kakak siapa?" Tanya ku pada kakak itu. "Nama kakak Aisha, panggil aja kak Ica, kakak anak Pak Dirman dek." Ucap kakak yang bernama Aisha itu.Aku mengangguk, ternyata aku telah berprasangka buruk kepada kakak ini. "Adek udah makan?" Tanyak kak Ica membuat aku sedikit tertunduk karena malu, lalu ku gelengkan kepalaku.Kak Ica menarik tangan ku lembut dan membawa aku untuk duduk di sebuah kursi,"Pak, Tini belum makan." Ucap kak Ica membuat aku malu. Pak Dirman seketika melihat ke sumber suara,"Eh adek kok gak bilang, maaf ya dek bapak pelupa." Ucap Pak Dirman lalu membawakan aku semangkuk bakso yang seketika membuat aku semakin lapar.Tenyata pak Dirman memiliki sifat yang lembut, padahal awal nya aku mengira bahwa pak Dirman seorang yang jahat dan kasar, ternyata aku salah. Seketika aku santap bakso yang terhidang di depan ku, tanpa aku pedulikan kak Ica yang menatapku.Setelah bakso itu habis, aku mengucapkan terima kasih pada Pak Dirman, Pak Dirman pun memberi ku upah untuk kerja hari ini. Adzan Ashar berkumandang kak Ica mengajakku untuk shalat berjamaah di masjid terdekat aku pun akhirnya mengikuti ajakan kak Ica."Kakak ini ternyata baik dan salihah."***Pagi ini aku di antarkan kak Oka menuju warung bakso pak Dirman dengan berjalan kaki, betapa kaget nya aku saat melihat beberapa preman tengah mengacak warung pak Dirman.Mereka seperti sedang marah, aku tak melihat kak Ica, aku dan kak Oka hanya melihat Pak Dirman tengah berdebat dengan seorang preman bertubuh kekar. Kak Oka mendekati warung bakso pak Dirman dan menanyakan ada apa, tapi preman itu telah pergi karena warga sekitar mulai berkumpul dan meneriaki mereka.Aku dan kak Oka mendekati pak Dirman yang tengah mengusap dada, setelah di tanyakan ternyata preman tadi adalah adik pak Dirman sendiri nama nya Jaka. Ia meminta uang untuk berjudi, tapi karena pak Dirman menolak lalu Jaka marah dan akhirnya memporakporandakan warung Pak Dirman bersama dua anak buahnya.Kak Oka pamit untuk kembali ke warung, aku mulai bekerja pelanggan mulai ramai aku akui bakso pak Dirman memang enak. Waktu cepat berlalu terdengar suara adzan berkumandang, karena hari ini hari jumat Pak Dirman akan pergi ke masjid aku pun di tugaskan menjaga warung bersama Kak Ica yang baru saja datang."Dek kakak ke kamar mandi sebentar yaa " ucap Kak Ica saat aku masih sibuk dengan mangkuk kotor, aku menangguk. Baru saja kak Ica ke kamar mandi tiba tiba sebuah tangan membekam mulutku, aku tak bisa bernafas tiba tiba saja semua menjadi gelap.***Mataku perlahan membuka, aku dapat merasakan bahwa aku sedang berada di dalam sebuah mobil. Aku kaget di sampingku seorang preman sedang tidur, ia memiliki tubuh lumayan gemuk, di samping pengemudi seorang preman dengan jaket hitam tengah merokok.Dan aku sudah bisa mengira pasti pengemudi itu adalah Jaka adik pak Dirman, aku berusaha bergerak namun tangan dan kaki ku di ikat dan mulutku di tutupi kain. Seorang preman di sampingku melihat ke arahku aku langsung pura pura tidur, lalu mendengarkan apa yang mereka obrolkan."Buat apa si nyulik anak kecil?" Tanya Preman di sampingku. "Buat jadiin pengemis ntar kita ambil uang nya." Ucap Preman satu lagi, keringat dingin menetes aku takut, kakak, ibu. Aku masih memejamkan mataku.Deru mobil tak secepat jerit ku dalam jiwa aku takut kemana mereka akan membawaku? kak Oka aku takut kak, ibu aku takut, ayah Tini takut ayah, aku menangis dalam diam aku ingin pulang, aku ingin pulang ibu.***Aku tak tahu berapa puluh km yang di tempuh yang aku tau ini jauh. Sepanjang perjalanan aku tak henti nya berdoa, agar selalu di lindungi. Aku terus berpikir bagaimana caranya aku kabur dari mobil ini, aku ingin pulang menemui Kak Oka.Tiba tiba mobil berhenti aku yang pura pura memejamkan mataku kaget, jantungku berdebar keringat dingin mulai menetes. Aku di gendong oleh preman berbadan kekar yang aku tahu nama nya jaka, mereka membawaku ke sebuah rumah kosong bersama dua anak buahnya.Di sana aku dikurung di sebuah ruangan yang kotor, aku ketakutan aku hanya berdoa dan berusaha berpikir positif. Aku di ikat pada sebuah kursi dan akhirnya penutup mulut ku di buka, aku hanya memperhatikan 3 preman yang sedang berbincang, aku takut. Tiba tiba Jaka menghampiri ku,“Siapa nama mu?" Ucap nya bersamaan dengan keluarnya aroma asap rokok dari napas nya.Aku gemetaran, bibirku kaku, darah di tubuhku seperti mendadak berhenti. Jaka tiba tiba mengangkat daguku.“Kau bisu?" Tanya nya, seketika aku langsung menggeleng. “Jawab pertanyaanku!" Bentak nya membuat aku semakin takut “Namaku Tini." Ucap ku secepat kilat wajah ku menunduk aku takut,air mata mengalir, aku ingin pulang.Jaka lalu membuka ikatan tangan dan kaki ku, lalu memberi ku sebungkus nasi.“Makanlah " ucap nya lalu mereka keluar. Aku melihat sekeliling ruangan ini tidak lah luas, tapi cukup untuk tidurku malam ini. Aku menemukan sebuah tikar dan menggelar nya, ruangan ini berdebu dulu ibu sering mendongeng kan aku sebuah kisah yang membuat aku tertidur pulas.Sekarang aku jauh dari ibu, bahkan aku tak tahu di mana aku sekarang, aku ingat Mina dia yang selalu tersenyum dan menguatkan aku, aku ingat kak Oka yang selalu melindungiku, ayah yang selalu memberi aku nasihat, aku rindu mereka. Ku simpan nasi bungkus tadi, rasa nya aku tidak lapar, ku baring kan tubuh ku di tikar tadi, aku menangis aku ingin pulang menemui kak Oka.Aku berpikir mungkin sekarang kak Oka,Kak Ica dan pak Dirman tengah mencari ku, aku berharap semoga aku bisa secepatnya pulang.***“Heh bangun." Seseorang mengguncang kan tubuh ku, aku seketika terbangun dan mendapati seorang preman yang tak aku ketahui nama nya. “Udah siang masih aja tidur, cepetan cari duit." Ucap nya, aku bingung.“Saya harus kerja apa?" Tanya ku tanpa berani menatap wajah nya.“Ngamen atau ngemis" ucap nya lalu ia mengeluarkan sebuah perban,“Aku tak sakit apapun om." Ucapku menolak saat Ia akan membungkus lututku. “Kamu ini tak punya otak! Ini agar orang orang kasihan sama kamu, jadi kamu bisa dapet uang banyak." Ucap nya lalu langsung membungkus kaki ku. "Kau pura pura pincang." ucap nya lalu mendorong tubuhku dengan kasar menuju pintu keluar.Saat aku baru saja akan keluar “Tini, tunggu!" Suara kasar Jaka terdengar aku melihat ke sumber suara, Jaka membawa seorang anak laki laki seusia ku membawa sebuah ukulele tua. “Ajak Rio, jangan pernah berusaha kabur!" ucap Jaka kepadaku,ku lihat Rio dengan baju lusuh dan wajah kumal nya, aku sudah bisa membayangkan dia pasti sudah lama mengamen di jalan.Aku langsung menggandeng tangan Rio dan pergi dari tempat itu menuju pasar yang dekat dengan daerah sini. “Namamu siapa?" Tanya Rio saat bening menuju pasar, aku menoleh ke arah nya.“Tini "ucap ku sambil mengulurkan tangan.Kami mengamen di pasar, Rio yang memetik ukulele dan aku yang bernyanyi, rasanya lelah tapi tak apa dari pada aku meminta minta lebih baik aku menyanyi dan berusaha. Sepulang dari pasar aku dan Rio berlarian menuju rumah kosong, Jaka menghampiri kami lalu mengambil uang kami, kami hanya pasrah lalu Jaka memberikan kami nasi bungkus. Hari hari itu terus berjalan,termasuk pertemanan ku dengan Rio.***Suara adzan Subuh terdengar, aku tak tidur aku hanya menangis aku rindu pada keluargaku sudah berbulan bulan aku tak pulang, apakah mereka tahu aku di culik?Rio berbaring di sampingku aku tahu dia tak tidur, Rio bangun dan melihat ke arahku.“Tini berhentilah menangis, nanti aku bantu kau agar cepat pulang." Ucap Rio membuat aku berhenti menangis.Rio tiba tiba bangun dan melihat ke luar lewat jendela,aku hanya diam memperhatikan.“Tini kemarilah." Ucap Rio tanpa melihat ke arahku,a ku seketika berlari ke arahnya.Di luar ada mobil bak yang sedang terparkir,“Itu adalah mobil pak Zainal biasanya pak Zainal mengantarkan barang ke pasar di daerah Jakarta Selatan tapi aku tak tahu pasar apa, kau bisa ikut." Ucap Rio membuat aku tersentak, tiba tiba aku ingat pernah pergi ke pasar bersama kak Ica dan pak Dirman, aku berharap semoga pasar itu.Tapi aku tak bisa membayangkan bila aku pergi pulang, pasti Jaka marah pada Rio tapi Rio meyakinkan aku bahwa semua akan baik baik saja, Rio mengatakan bahwa Ia juga akan berusaha kabur dari tempat terpencil ini.Aku berusaha ke luar melewati jendela di bantu oleh Rio saat aku telah melewati jendela aku menatap Wajah Rio ku lihat ada titik kesedihan di sana, namun Rio masih bisa tersenyum pada ku aku berjalan perlahan menjauhi rumah kosong itu dan kembali melihat ke arah Rio dia masih tetap tersenyum meyakinkan aku.Aku menyelinap dan menaiki mobil bak pak Zainal, beruntungnya mobil ini ditutupi terpal hingga aku bisa bersembunyi di bawahnya saat aku akan melambaikan tangan ke arah Rio, aku melihat Jaka datang ke rumah itu dan mendobraknya, aku pun menunduk karena Jaka melihat ke arah mobil ini.Mesin mobik di nyalakan lalu mobil ini melaju menjauhi rumah kosong itu, aku melihat sebentar memandangi rumah kosong itu,bada rasa sakit saat mengingat betapa Rio baik pada ku, aku harap aku bisa bertemu dengannya lagi agar bisa membalas kebaikan Rio ibu... Tini pulang.***Mobil berhenti menandakan bahwa mobil ini telah sampai di pasar, aku segera ke luar sebelum pak Zainal mengetahui keberadaan ku, tapi saat aku baru akan berlari sebuah tangan menangkap tanganku.Aku melihat ke arah nya ternyata itu pak Zainal, aku takut dia marah.“Tunggu nak" ucap nya aku hanya tertunduk, Pak Zainal lalu memandang Wajah ku,“Kau Tini bukan?" Tanya nya lalu aku mengangguk “Dirman sudah lama mencari mu,mari saya antarkan." Ucap pak Zainal.Aku duduk di samping pak Zainal, ternyata pak Zainal adalah teman pak Dirman, aku beruntung bisa ikut dengannya. Mobil pak Zainal berhenti di warung bakso Pak Dirman, tak banyak perubahan aku lalu di gandeng oleh pak Zainal.Lalu aku dapat melihat kak Ica yang sedang melayani pelanggan, kak Ica melihat ke arahku lalu kak Ica tampak kaget dan berlari menghampiriku. “Tini kamu kemana aja?" Tanya kak Ica lalu memelukku, aku menangis tak bisa bicara, rasanya aku sudah lama tak di peluk kak Ica.Pak Zainal izin pergi, lalu aku di ajak kak Ica untuk menemui pak Dirman yang katanya sakit, aku di ajak kak Ica memasuki sebuah kamar di sana ada kak Oka yang sedang mengobrol dengan pak Dirman.Kak Oka kaget lalu menghampiriku,memelukku sangat erat. “Tini kamu dari mana? kakak khawatir, ibu di kampung juga khawatir." Ucap kak Oka, aku menangis bahagia akhirnya aku bertemu dengan kak Oka.Ku lihat pak Dirman, tampak lemah kak Ica mengatakan bahwa Pak Dirman sakit aku menyalami pak Dirman,aku rindu.***Akhirnya aku bisa pulang kampung,aku rindu ibu dan Mina aku juga sudah menceritakan semua yang aku alami, kak Ica marah pada Jaka sekarang Jaka dan kedua anak buahnya sudah di penjara,aku lega. Tapi ada hal yang kurang, Rio. Di mana Rio?aku bahkan tak mendengar kabar tentang nya lagi, di mana dia? Aku sepertinya merindukan dia.Banyak hal yang tak aku ketahui karena penculikan itu, salah satunya adalah tentang hubungan kak Oka dan kak Ica yang sebentar lagi akan menuju jenjang yang lebih serius.Hampir setiap malam aku merenung, melihat purnama yang biasanya aku pandangi bersama Rio, hmm aku rindu Rio. “Tini " panggil Ibu dengan lembut, lalu aku menghampiri ibu, ibu menarik ku menuju ruang tengah.Betapa kaget nya aku, saat melihat Rio bersama pak Zainal, aku lalu lalu menyalami mereka lalu kami semua berkumpul dan mengobrol, termasuk kak Ica dan kak Oka. Aku baru tahu ternyata sekarang pak Zainal mengangkat Rio menjadi anak nya, aku ikut bahagia mendengarnya.Apalagi kabar tentang Kepindahan pak Zainal dan keluarganya ke kampungku, berarti Rio juga kan, aku bisa bermain dengan Rio setiap hari, terimakasih Ya Allah.“Tini?." Ucap Rio saat aku sedang duduk di teras, ku lihat Rio dia lebih rapih kami pun berbincang tentang hari baru yang akan datang, ahh Rio ternyata dia juga merindukanku.***end.
Aku Ingin Seperti Wulan
“Wulan kesayangan mama" Ucap mama sambil mengecup lembut kening Wulan yang berdiri tepat di sampingku, aku ikut terseyum. Kenapa? ya aku bahagia, manusia mana yang tak merasa bahagia saat melihat adik kita dan mama kita yang tampak saling menyayangi.Aku Maira anak sulung dari ibuku yang bernama Regina, papa ku bernama Jordan dan adik perempuan ku bernama Wulan. Aku sangat merasa beruntung memiliki keluarga dan aku sangat menyayangi mereka, sangat menyayangi meski ada luka yang timbul dan rasa sakit.Usia ku dan Wulan beda satu tahun, aku 6 tahun dan wulan 5 tahun sangat tipis. Hingga aku harus bisa lebih dewasa meski umur kita hampir sama.***Aku sedang mengerjakan PR di kamar tidur memang aku satu kamar dengan adikku hanya saja di batasi oleh gorden di antara tempat tidurku dan Wulan, aku tak tahu karena apa.Tiba tiba terdengar ketukan di pintu aku dan Wulan segera berlari menuju pintu kamar kami memang di batasi gorden tapi berada di ruangan dan pintu yang sama.Karena tubuh Wulan tak bisa menggapai gagang pintu maka aku yang membuka kan, pintu terbuka terlihat mama membawa dua gelas susu untukku dan Wulan.Aku menerima gelas yang pertama dan Wulan yang berada di sampingku di beri gelas satu nya lagi. Mama menggandeng Wulan menuju tempat tidurnya, aku hanya diam melihat dari arah pintu dengan gelas susu di tanganku.Mama mengecup kening Wulan lalu memeluk nya, seingat ku mama tak pernah memperlakukan aku seperti itu. Mama ku tak pernah mengecup kening ku saat menjelang tidur ku. Sedangkan Wulan selalu.Mama tak pernah menggandeng tangan ku, sedangkan Wulan selalu. Mama tak pernah memelukku, sedangkan Wulan selalu. Mama tak pernah menatapku dengan kasih sayang, apa aku jijjk? Mama tak pernah tersenyum padaku, apa aku nakal? Mama tak pernah menggendong ku sedangkan Wulan selalu.Mataku memanas, aku tahu aku sudah terbiasa dengan perlakuan mamaku, aku sudah terbiasa melihat mama yang selalu mendahulukan Wulan di banding aku, aku sudah terbiasa. Mama pernah bilang “Maira kamu harus bersikap dewasa, kamu ini kakak maka jaga adik mu baik baik." Saat Wulan menangis karena berebut boneka panda.Padahal itu boneka ku, aku ingat boneka pemberian mama saat ulangtahun ku aku tahu mama tahu bahwa itu boneka ku, aku tahu mama selalu mendahulukan Wulan, aku tahu.Waktu itu aku hanya menunduk lesu, ucapan mamaku yang setajam pedang telah berhasil menusuk batinku hingga membuat air mataku menetes membasahi pipi ku, aku tak bisa melawan mungkin memang begini.Aku tak bisa apa apa, bahkan papa tak pernah melerai bila mama sedang memarahiku, aku ingin seperti Wulan aku ingin di diistimewakan, aku butuh nasihat bukan kemarahan mama setiap hari, aku hanya anak kecil yang membutuhkan kasih sayang kedua orang tua. Bukan menjadi sasaran kemarahan, aku ingin seperti anak anak di luar sana yang tertawa di pelukan mama papa, aku ingin di kasihi, apakah salah? aku adalah seorang anak dan mereka adalah keluargaku, aku memiliki hak untuk di cintai dan di sayangi bukan hanya Wulan. Aku butuh keadilan aku ingin seperti Wulan dan anak anak di luar sana, mama papa.***“Dorrrr" Teriakan seseorang membangungkan aku yang Tadi nya masih pulas dengan untaian mimpi tidurku. Dengan berat sangat berat ku lihat Wulan dengan kostun panda membawa kue dan terlihat lilin dengan angka 17.Aku tersenyum ternyata sekarang hari ulangtahun ku.“Happy birthday to you happy birthday to you happy birthday happy birthday happy birthday to...youuu." suara Wulan yang agak cempreng ini membuat aku tersenyum lalu memeluknya dengan penuh haru. Aku bahagia sekarang umurku telah 17 tahun sekarang mungkin aku akan lebih dewasa lagi.“Happy birthday kakak." Ucap Wulan lagi, aku hanya mengeratkan pelukan ku. Mataku melihat ke sekeliling kamar tak ada mama maupun papa, mungkin mereka masih tidur kerena jam memujukan pukul 00.02 pagi.Wulan mendekatkan kue ulangtahun ku, lalu aku memejamkan mata untuk berdoa. “Tuhan, aku hanya ingin mama papa selalu ada untukku, selalau menyertai jalan ku, aku ingin selalu berada di samping Wulan mama dan papa, aku ingin memeluk papa dan mama seperti apa yang mereka lakukan terhadap Wulan, Tuhan aku ingin di hari ulangtahun ku ini mama dan papa selalu ada." Tanpa ku sadari air mata menetes.Ada rasa perih dan kecewa, padahal waktu ulangtahun Wulan mama dan papa selalu ada membawa kue dan kado, sedangkan ulang tahun ku?hanya ada Wulan, tapi aku bahagia apapun jalan dan keadaan nya semua adalah yang terbaik, aku harap.***Suara sendok terdengar di ruang makan, aku hanya diam menikmati sarapan rasanya hambar. “Mama papa," ucap Wulan tiba tiba. Mama dan papa seketika menoleh,“Iya sayang.""Hari ini kak Maira ulangtahun ke 17 aku ingin kita makan atau jalan jalan ke luar merayakan nya" ucap Wulan membuat aku sedikit tersedak. Beberapa saat hening, tak ada respon dari mama maupun papa,“Ouh kau sudah besar ya." Ucap papa dengan seyuman, aku tahu senyuman yang di paksakan.Aku tersenyum padahal rasanya ingin sekali aku menangis,“Menurut mama tak usah," ucap mama tiba tiba, rasanya sekarang mata ku semakin memanas. “Ulangtahun itu kan mengurangi umur, tak usah merayakan harus nya sedih karena umur Maira berkurang apakah ini harus di rayakan?" Ucap mama tanpa menoleh ke arah ku.Aku berlari ke luar,“Maira !" Teriak papa membuat langkah ku terhenti. “Mau kemana kamu? tak sopan meninggalkan meja makan tanpa menghabiskan sarapan mu" Air mataku mengalir deras, sakit rasanya di perlakuan seperti ini oleh papa ku sendiri.Aku menangis “Anak yang tak punya sopan santun." Lanjut mama, aku berlari kini benar benar berlari ke luar, aku ingin pergi.Mama papa apakah menurut kalian aku tak punya sopan santun? memang aku anak yang tak memiliki sopan santun, aku tahu aku nakal aku tak tahu mengapa kalian bertingkah seolah merasa jijik padaku, aku memang tak pernah di ajari sopan santun, aku hanya diam dan memperhatikan saat kalian mengajari Wulan hanya wulan sedangkan aku tak pernah.Aku berjalan menuju toko es krim mungkin mood ku akan kembali membaik aku berharap begitu. Tiba tiba ponselku bergetar menandakan ada panggilan yang masuk, ternyata Wulan.“Wulan?" Tak terdengar apa apa, hanya ada isak tangis di balik telepon aku khawatir. “Wulan? kamu menangis? kenapa?" Ku tanya kembali tapi tangisan itu semakin menjadi jadi.“Wulan di marahi mama dan papa karena Wulan tak terima bila mama dan papa terus saja memarahi kak Maira,Wulan kabur dari rumah Wulan ingin mencari kak Maira, kak maira di mana?" Ucap Wulan membuat aku kaget.“Tak usah Wulan, tak usah kembalilah ke rumah temani mama dan papa, biar aku saja yang pergi." Ucap ku dengan nada bergetar.“Wulan tak mau kak, Wulan ingin bersama kakak, kakak jangan pergi jangan tinggalkan Wulan, Wulan tak mau sendiri." Ucap Wulan sambil terisak.“Wulan, kakak mohon, kembali mama dan papa akan sangat sedih, kamu masih kecil Wulan, kakak sudah dewasa tak perlu mengkhawatirkan kakak, kakak baik baik saja, kembali lah tinggal bersama mama dan papa mereka lebih menyayangi mu, mereka lebih membutuhkan mu, mereka lebih mengharapkan kepulangan mu Wulan, kakak mohon kembali demi kak Maira." Ucap ku menahan tangis, air mata ku pecah aku tak kuat lagi menahan perih.“Wulan sudah besar kak, kita hanya beda satu tahun kita bersaudara, kak Wulan sedang di jalan cepatlah katakan kakak ada di mana? biar Wulan dapat menemui kakak," ucap Wulan.Aku bungkam, tak ingin katakan apa pun, aku tak ingin Wulan pergi menemui ku aku tahu pasti mama dan papa akan sedih bila Wulan pergi meninggalkan mereka, aku tak ingin itu terjadi.“Ayoo kak cepat" desak Wulan. Aku masih diam, karena bingung. “Kakk cepat.." desak Wulan kembali,“Wulan mohon" “Aaaaaaaahhhhhh" terdengar jeritan Wulan di balik telepon bersamaan dengan suara benda terbentur keras di ujung perempatan tepat di depan mataku, mobil itu...mobil itu..“Wulan!!!!!!"Aku berlari menuju jalan yang mulai ramai dengan orang orang, baru saja terjadi kecelakaan. Aku berlari hatiku gusar, aku takut. Tuhan lidungi Wuan, saat aku sampai ku lihat, mobil yang ringsek karena bertabrakan dengan mobil bak dari arah berlawanan. Aku kenal mobil ini, ini mobil papa, aku ingat plat nomor papa, aku menerobos orang orang yang menjerit karena ketakutan.Lari ku semakin cepat dan aku melihat Wulan dengan kepala berlumuran darah "Wulan!!!" Jeritku. Aku segera memeluk Wulan, menjerit jerit sejadi nya, ini salah ku, andai saja aku tak kabur dari rumah mungkin Wulan takkan ikut menyusulku, mungkin saja Wulan takkan kecelakaan, andai saja tepat di hari ulang tahunku aku sudah mati mungkin semua nya takkan seperti ini, mama papa, Wulan maafkan aku.***Aku berjalan mondar mandir menunggu papa dan mama, aku tak henti menangis dan berdoa agar wulan baik baik saja. Keringat dingin bercucuran, aku takut sesuatu akan terjadi, andai saja aku bisa bertukar peran dengan Wulan, andai saja aku bisa menggantikan posisi Wulan saat ini, aku rela.Derap langkah perlahan mendekat ke arah ku, ku lihat mama dan papa, mama tak henti menangis dan papa terlihat sangat tegang. Aku berlari ke arah mama ingin menceritakan apa yang terjadi, namun.PlakUntuk kesekian kali nya, mama menamparku aku memegangi pipi kanan ku, rasanya perih bercampur pilu, aku semakin menangis. "Mama maaf." Ucap ku sambil tertunduk."Bila maaf mu bisa membuat Wulan kembali membaik, mungkin terdengar sedikit berguna." Ucap mama, aku tertunduk. "Kau ini tak tahu diri Maira." Ucap papa dengan nada berapi api.Aku diam sebenarnya aku tak mengerti apa pun"Kamu ini bukan anak kandungku." Jerit mama, aku terbelalak kaget. "Kamu ini hanya anak pembawa sial, pergi kamu, kamu telah membuat Wulan terluka." Jerit mama lalu mama pingsan.Aku menangis menutup wajah ku dengan kedua tangan ku, rasanya semua sangatlah menyakitkan, dunia ini tak adil, di mana keadilan?baku ingin lenyap sekarang juga dari dunia ini.Aku merasa bahwa aku adalah mahluk terkecil dan termalang. Kaki ku tak kuat menahan berat badan ku, aku duduk di lantai sendirian, bahkan saat seperti ini tak ada satupun manusia yang peduli dengan ku, apa kah benar aku anak pembawa sial?Aku tetunduk lesu, pantas saja mama dan papa selalu membedakan aku dan Wulan ternyata aku bukan anak kandung mama, harus nya aku bersyukur masih ada orang lain yang mau merawatku meski awal nya aku mengira bahwa orang itu adalah orang tuaku, harusnya aku tak berfikir ingin seperti Wulan karena aku berbeda, mama kamu bukan mamaku.***Aku sekarang telah tahu semua nya, tentang ibu dan papa, tentang semua hal yang selalu aku tanyakan pada diriku semenjak aku kecil. Papa merangkul ku mengucapkan beribu maaf, aku hanya bisa diam, papa menceritakan semuanya aku tak henti nya menangis.Ibu kandungku bernama Amira, seorang gadis cantik yang menjadi kembang kampung, bpapa dulu sangat menyukai ibuku, sudah berulang kali papa mengucapkan semua nya pada ibuku.Namun Ibu ku terus saja menolak, membuat papa bingung padahal papa juga tahu bahwa ibuku juga menyukai papa, lama lama ibuku mulai menjauhi papa, mulai saat itu papa sangat gusar.Papa pun menanyakan semuanya pada kedua orang tuanya, tepat nya nenek dan kakek ku. Mereka ternyata telah menjodohkan papa dengan seorang gadis, papa awal nya berontak tak ingin menikahi gadis yang sama sekali tak ia kenali.Namun semuanya terlambat, kedua orang tuanya ternyata telah menjodohkan papa dan gadis itu semenjak bayi. Papa hanya pasrah, Amira ibuku juga telah meinggalkan nya, mungkin ibuku tak menyukai papa, fikir papa saat itu.Hingga pernikahan megah pun di gelar, papa akan menikahi seorang gadis yang bernama Regina, saat pernikahan akan di langsungkan papa kaget saat melihat ibuku, ibuku sedang duduk di samping orang tua Regina.Setelah di tanyai ternyata papa akan menikahi kakak dari ibuku, Regina. Awalnya papa ingin membatalkan pernikahan ini, namun Ia tak ingin membuat kedua orang tuanya malu hingga berlangsung lah pernikahan ini.Saat malam pertama pernikahan, papa kabur dari rumah, papa pergi menuju diskotik dan bermabuk mabukan di sana. Waktu telah menujukan tengah malam, papa pulang dengan keadaan mabuk hingga tanpa sadar telah melakukan hal yang buruk kepada ibuku.Regina kakak ibuku marah pada ibuku, hingga Regina membenci ibuku. Ibuku hamil, mengandung aku, saat itu ibu sering melamun dan berfikir untuk menggugurkan kandungan nya,namun nenek ku yang sabar selalu menguatkan ibuku dan mengatakan bahwa semuanya akan baik baik saja.Saat ibu menjerit menangis papa hanya bisa melihat dari jauh, dengan rasa bersalah. Aku pun dilahirkan, ibuku mengecupku dengan lembut, saat itu ada Regina dan papa ku, namun Regina tak suka bila papa mengakui bahwa bayi itu adalah anak nya.Setelah aku berusia satu bulan, ibuku stres, sering melamun dan kadang menyakiti ku, orang orang mengatakan bahwa ibuku gila.Ibu sering tertawa sendiri dan menangis, hingga membuat nenek khawatir, suatu hari Regina berniat membawa ibuku ke rumah sakit jiwa. Namun nenek menolak, ibuku juga tak mau,nia mengatakan bahwa ia tidak gila, ia tidak gila.Suatu hari, tanpa sepengetahuan ibuku mengembuskan nafas terakhir, karena penyakit jantung nya telah menyerangnya. Itu menimbulkan luka terdalam bagi keluarga terutama nenek dan papaku.Karena merasa aku adalah tanggung jawabnya papa bersedia merawatku , namun tidak bagi Regina. Nenek ku membujuk agar Regina mau merawatku , dan mengaggap nya sebagai anak nya, namun Regina terus menolak dengan alasan bahwa Ia sedang hamil saat ini. Namun papa juga membujuk Regina, hingga akhirnya Regina menyetujui semua nya.Akhirnya aku tinggal bersama papa kandungku dan kaka dari ibukub ,dan adikku adalah anak dari Regina dan papa. Wulan adalah anak dari mama dan papa. Sudah jelas, sekarang aku tahu, papa ku tetaplah papaku .***"Maafkan papa sayang, ini semua karena papa." Ucap papa sambil memelukku. Aku terisak, batinku menjerit tak ada siapapun yang bisa mendengar selain Sang Pencipta.Hari itu ayah mengajakku untuk mengunjungi kuburan Ibu dan nenek. Aku sangat bersemangat aku ingin bertemu dengan mereka, namun aku tak bisa, hanya bisa membaca nama mereka di batu nisan. Hari itu terasa sangat pilu, aku memeluk batu nisan ibuku, yang berdampingan dengan kuburan nenek.Ibu, andai ibu masih ada di sini, Maira ingin memeluk ibu, Maira ingin menceritakan betapa Maira berat menjalani hidup tanpa seorang ibu kandung, Maira ingin tertawa bersama ibu seperti Wulan dan mamanya, belasan tahun lamanya Maira hudup di dalam rasa sakit dan penasaran, rasa tidak adil, Ibu.. Maira ingin merasakan kasih sayang seorang ibu dalam hidup Maira. Namun Maira tak bisa, ini semua adalah ketetapan Sang Pencipta Maira dan Ibu mungkin memang harus begini, harus terpisahkan oleh takdir, Maira harus kuat, Maira akan tetap kuat menjalani hidup, tanpa Ibu. Maira rindu bu.Aku menjerit dalam diam ku, rasanya aku rapuh, namun perjalanan hidupku masih panjang, aku hanya perlu berdoa dan berusaha agar Sang Pencipta memberikan aku kemudahan.***"Regina tunggu, tolong dengar penjelasanku." Ucap papa sambil menahan mama yang akan pergi dari rumah. Aku hanya mematung melihat pemandangan yang sangat memilukan,bagaimana mungkin keluarga Wulan bisa hancur karena kehadiran ku di antara mereka?aku tau aku bukanlah bagian dari mereka."Mama, maafkan aku." Ucapku sambil memohon memegangi kakinya, papa membangunkanku agar aku berdiri. "Maira sudah." Ucap papa lirih,aku menangis sesenggukan, aku ingin pergi saja. "Pa, Maira lebih baik pergi maafkan Maira yang telah membuat keluarga papa berantakan."Aku mencium tangan papa."Pergi saja, tak ada siapapun yang menginginkan kehadiranmu di keluarga ku." Ucap mama dengan mata pedang yang berhasil meluluhkan air mata yang dari tadi aku tahan. Papa memelukku,"Jangan Maira, keluarga ini adalah keluargamu juga kau tak usah pergi." Mama dengan kasar menarik tangan papa."Kau sudah mulai membela anak tak tau diri itu." Ucap mama, dengan kasar. "Berhenti Regina, inilah hal yang tak ku sukai darimu, kau kasar."Ucap Papa dengan suara lirih.Mama terdiam,"Padahal aku berharap kamu akan berubah menjadi lembut, tapi tak ada." Ucap papa denga mata menatap mama. "Katakan saja kau merindukan Amira, kamu masih mencintainya, aku mohon jangan membandingkan aku dengannya aku dan dia berbeda, dia sama tak tahu diri seperti Maira." Jerit mama lalu berjalan menuju pintu.Entah apa yang membuat aku berlari memeluknya dari belakang, aku tak ingin mama pergi, aku dapat merasakan mama yang mulai tenang, aku dapat merasakan kehangatan. "Pergi kamu!" Jerit mama lalu mendorong tubuh ku dengan kasar, aku kaget ku kira mama telah luluh."Jangan pernah menyentuhku!" Hardik mama, aku hanya menangis papa datang lalu membantuku untuk berdiri. Mama lalu pergi dengan membawa koper besar, aku menjerit menangis sejadi jadinya, aku tak ingin mama pergi.Papa memeluk erat seakan tahu sakit yang aku rasakan,"Mama hanya butuh waktu Maira." Ucap papa dengan lirih.air mataku semakin deras, aku harap.***"Satu dua tiga." Ucap papa sambil memegang kamera,yap hari ini adalah ulangtahun Wulan ke 17, aku sangat bahagia. Kami tidak penyelenggara pesta karena permintaan Wulan, semenjak Wulan kecelakaan mama menjadi lebih baik.Mama mulai dapat menerima keberadaanku di keluarganya, aku sangat bahagia, aku dan Wulan sekarang sudah memiliki kamar masing masing. Bukan karena ada sesuatu, tapi karena kami sudah dewasa, rumah yang kami tempati juga sudah di renovasi. Itu juga permintaan Wulan, alasan nya karena Wulan selalu merasa sedih saat mengingat di mana aku di perlakuan tidak adil.Aku bersyukur atas semua nya, terimakasih Sang Pencipta, atas segala kehendak dan takdirmu, aku mungkin takkan bisa sebahagia ini, terima kasih atas nikmat mu. Ku ucapkan kembali aku sangat bahagia memiliki keluarga seperti mereka, Mama papa dan Wulan.***end
Itu Bukan Aku
Aku melihatmu, kamu tengah bermain bola voli bersama teman temanmu, terlihat jelas keringat mengucur dari pelipis mu, aku dapat melihat betapa kau sangat menyukai olahraga itu, setiap sore bahkan kamu dan teman mu tak pernah absen untuk bermain bola voli, begitu pun aku yang tak pernah absen memandangi mu di pinggir lapangan tanpa kamu sadari.Tanpa kamu tahu aku cemburu pada bola voli yang selalu kamu perhatikan kemanapun dia melambung, sedangkan aku? tak kamu lihat bahkan tak sempat kamu lihat, tapi tak apa aku sadar aku siapa, bukan seseorang yang penting untuk kamu perlakukan spesial.Tapi tanpa kamu tahu setiap menjelang tidurku, aku selalu berdoa kepada yang Pencipta agar kamu selalu bahagia, agar kamu selalu ada di pandanganku, aku tak pernah berdoa agar kau mencintaiku karena cinta adalah ketulusan, bila kamu di ditakdirkan mencintaiku tanpa ku pinta pun aku yakin kamu akan mencintaiku.***Hari ini adalah hari rabu, jadwal kelasmu untuk olahraga, dan sekarang adalah jadwal bagiku untuk ke perpustakaan mengembalikan buku yang telah selesai aku baca.Aku berjalan di samping lapangan, karena jalan menuju perpustaan berada si samping lapangan, aku tak berani menatap mu, aku tak mau kau tahu, jadi ku tundukan saja wajah ku menatap kedua sepatuku.DukAku terjatuh, karena tiba tiba sebuah bola voli mengenai kepalaku, ku pegang kepalaku, sebuah tangan mengelus kepalaku aku mendongak kan kepala ku lihat kamu sedang mengelus kepalaku.Aku bangun dan memberskan buku yang berserakan, "maaf " Ucap mu dengan wajah tak bisa ku artikan, aku hanya tersenyum "Tak apa."Kamu memperhatikan wajah ku entah apa yang kamu pikirkan saat itu,"Aku tak mengenal mu, nama mu siapa?" Aku mematung ada rasa sakit dalam hatiku, kamu sama sekali tak mengenal ku "Aku Jeanneta."Kamu kemudian tersenyum membuat hatiku tak karuan,"Nama yang bagus. kamu kelas X Ipa 2 kan?" Aku hanya mengangguk "Perkenalkan namaku Bintang." Ucap mu sambil mengulurkan tangan, aku menerima uluran tangan dan bersalaman dengan mu.Sebenarnya aku sudah tahu namamu, namun aku berpura pura saja. Suara sorakan dan siulan teman mu dilapangan membuat aku malu dan pergi meninggalkanmu yang entah sedang apa aku tak berani menatap matamu sekarang.***Kelas begitu ramai, aku sangat kesal. Jamkos telah membuat mood ku tak karuan, di sampingku Sindi sedang membaca buku novel yang begitu tebal. Sindi adalah teman ku, sahabat dan juga seperti sepupu bagiku. Karena kedua orang tuaku bekerja di luar kota aku di tinggal sendiri, tadi nya aku ingin ikut ke luar kota dan bersekolah di sana, tapi aku tak mau akhirnya aku mengajak Sindi tinggal bersama ku, kedua orang tua nya telah meninggal.Aku berjalan menuju kantin,"Jean?" Aku berbalik dan melihat Sindi yang berlari mengejarku. "Ke kantin kok gak ajak ajak" ucap Sindi, lalu kami berjalan menuju kantin.***Aku tengah memandangimu tanpa berkedip, aku heran bagaimana mungkin kau menyukai olahraga voli? Keringat menetes melewati kening mu,kau tampak lelah. Andai saja aku adalah seseorang yang spesial di hidupmu, mungkin aku akan menghampiri mu dan memberi mu air minum.Namun aku tahu diri, aku bukanlah seseorang yang pantas untuk itu, kau tampan dan aku tidaklah cantik. Aku selalu berfikir tak mungkin kau mau bersanding dengan ku karena tak mungkin bagiku. Aku tahu banyak gadis yang menyukaimu, bukan hanya aku.aku mungkin hanya sebagian kecil dari mereka.Setiap malam aku selalu ingat padamu, mesti tak mungkin kau ingat padaku, gila nya aku bahkan sering tidur awal hanya untuk secepatnya melewati waktu malam yang menurutku menyebalkan. Mengapa? itu ku lakukan karena aku terlalu ingin bertemu dengan mu, aku tahu aku bodoh dan berlebihan, aku lupa bercermin siapa aku dan siapa kamu.Aku sangat ingat hari itu adalah hari selasa, Sindi dan aku berjalan menuju kantin, kamu tiba tiba datang aku seperti merasakan kupu kupu yang beterbangan di perutku.Rasanya aku bahagia sekali waktu itu, ketika kamu duduk bersama aku dan Sindi, aku tertawa lepas bersamamu sebelumnya tak pernah membayangkan bila hal seperti ini akan terjadi, hari itu adalah hari terindah bagiku. Hingga waktu itu tiba, kau sering menghabiskan waktu bersama. Aku semakin yakin bahwa kau juga mempunyai perasaan yang sama.Suatu hari saat kau telah selesai olahraga voli, kau menghampiri ku membuat aku salah tingkah "Jeanneta, aku ingin berbicara sesuatu dengan mu, nanti kita bertemu di cafe aku akan menjemput mu" Ucap mu di kemudian tersenyum aku pun mengangguk tanda setuju.Malam itu kau akan menjemputku untuk membicarakan sesuatu, aku tak tahu apa itu, aku tak sabar. Semua baju di lemari telah aku keluarkan aku mencari baju yang terbaik hanya untuk malam ini, malam pertama pertemuan kita setelah sekian lamanya aku idamkan. Kamu datang dengan motor kebanggaan mu aku naik kemudian sangat sangat menikmati duduk di berboncengan dengan mu, demi apapun saat itu aku sangat bahagia.***"Jeanneta aku rasa kita sudah akrab lama ,dan aku sangat mempercayai mu." Ucap mu malam itu, jantungku berdetak tak karuan menahan gejolak rasa. Aku diam dengan senyuman yang tak ku sadari, kamu menghembuskan nafas berat, aku diam menunggu kamu melanjutkan kata kata mu."Kau adalah wanita pertama yang mungkin akan terkejut" ucap mu, membuatku semakin penasaran. Aku tertawa mendengarnya,"Katakan saja jangan berteletele seperti ini." Ucap ku.Kamu tersenyum "Aku sebenarnya sudah lama ingin mengatakan ini namun, dulu aku belum terlalu yakin kamu adalah orang yang tepat, namun setelah aku mengenalmu aku yakin kau adalah orang yang tepat." Aku diam dengan detak jantungku yang tak karuan."Kau tahu Jeanneta?" Tanya mu membuat aku bingung, lalu aku menggeleng dengan rasa penasaran yang membucah. "Aku menyukai Sindi." Aku membeku diam dan melihat dirimu yang tersenyum dengan sumriangah, ada rasa sakit dalam hatiku."Aku ingin kamu membantuku untuk mendekati Sindi." Ucap mu, aku masih diam perlahan mata ku memanas ingin sekali aku menangis, namun itu tak mungkin. Aku tersenyum meski itu di paksakan,aku berharap ini mimpi, aku harap ini mimpi buruk dan agar aku segera bangun.Namun semuanya tampak nyata sangat nyata, hatiku sakit kamu yang selama ini aku sukai ternyata telah menyukai seeorang dan ternyata seseorang itu adalah sahabatku sendiri, Sindi.Aku mungkin hanya daun gugur yang tak di ketahui keberadaannya, mungkin aku tak terlihat tapi sepertinya bukan tak terlihat tapi kau yang tak mau melihat ku, melihat perjuangan ku dengan luka dan sakit, aku tau mungkin bola voli yang kau banggakan akan tergantikan dengan kedatangan Sindi ke hidupmu, padahal aku berahap itu adalah aku ,hahha aku terlalu banyak menghayal.***end
Siapa Gadis Manis itu?
Hujan lebat mengguyur sekolahku, petir menyambar menyisakan cahaya kilatan petir. Lorong sekolah telah kotor dan basah karena jejak sepatu siswa siswi yang berlalu lalang. Aku berjalan tak tentu arah dan tujuan, tiba tiba aku melihat seorang gadis cantik tengah membaca buku dengan tenang, kulitnya kuning langsat, wajah tirus dengan kacamata yang menambah kecantikan wajahnya, rambutnya bergelombang dan sedikit di selipkan di balik telinganya.Aku tak tahu siapa nama gadis manis itu, karena hari ini adalah hari pertama ku bersekolah di sini. Aku Rio siswa baru di sini, sialnya aku belum memiliki satu teman pun, seperti nya tak ada satu pun orang yang mau berteman dengan lelaki sepertiku.Aku terlihat idiot kata teman ku dulu padahal apa kah berpenampilan rapih dengan baju rapih dan rambut di sisir rapih adalah telihat idiot? Menurutku tidak, justru mereka anak brandalan tak tahu aturan berpenampilan bebas dan rambut berwarna yang tampak mengerikan.Ku lihat gadis manis itu masih memegang sebuah buku dengan raut wajah tenang. Baru saja aku berjalan mendekati nya bel tiba tiba berbunyi menandakan jal pelajaran kembali tiba, niat untuk berkenalan dengan nya ku urungkan.Aku berjalan menjauhi nya "Besok, aku akan mengenalmu gadis manis."***Pelajaran telah usai, jam dinding menujukan pukul 15.30 waktu nya pulang, tiba tiba aku kembali teringat akan gadis manis yang tadi aku lihat. Aku pun segera ke luar dan melihat sekeliling, aku lupa kalau aku sama sekali tak tahu gadis itu kelas apa dan berapa, kalau begitu bagaimana mungkin aku bisa mencari nya sekarang.Aku berjalan dan menuju gerbang sekolah berharap gadis manis itu belum pergi, saat aku baru melangkah kan kaki, tiba tiba aku melihat gadis manis berjalan agak jauh di depan ku, aku memang tak bisa melihat wajah nya tapi, aku yakin dia adalah gadis manis yang tadi aku temui.Aku berlari mengejarnya, namun tanpa sengaja aku malah menabrak seseorang yang juga sedang berlari dari arah samping. “Woy, jalan liat liat." Ucap seseorang itu, ternyata dia adalah seorang perempuan, dari penampilan nya dia terlihat tomboy wajahnya mirip dengan gadis manis.“Lo yang liat liat." Ucap ku pada nya. Aku tak melihat gadis manis tadi, mata ku mengedar ke seluruh penjuru sekolah namun nihil, gadis tadi hilang seketika. “Lo siapa?" Tanya ku pada gadis yang barusan bertabrakan denganku, dan ku lihat gadis di sampingku ini sedang mengusap kaki nya, astaga kakinya berdarah.“Eh, kaki lo kenapa?" Tanya ku pada nya namun dia malah melihat ke arahku dengan tatapan sinis, dasar gadis aneh. “Ini kan gara gara lo" ucapnya, lalu berjalan meninggalkan ku, kaki nya yang berdarah di balut nya dengan dasi.“Sorry yaudah sini gue obatin." Ucap ku padanya, namun dia malah tersenyum meremehkan. “Gak usah so care orang asing." Ucap nya, mataku tak bermasalah wajah nya mirip dengan gadis manis yang tadi ku lihat, apakah dia gadis tadi? tapi mengapa penampilan nya bisa berbeda? gadis tadi tampak feminim dan gadis ini tampak sangat tomboy.Dia kembali melajutkan langkah nya “Tunggu." Ucap ku seketika berhasil membuat langkah gadis ini berhenti. “Nama lo siapa?" Tanya ku padanya.“Shanti." Ucap nya lalu pergi berlalu. Aku menatap punggung nya dari belakang, dia mirip seperti gadis manis bahkan sangat mirip.***“Oke anak anak pelajaran sampai di sini dulu besok kita lanjutkan." Ucap Bu Arum ketika bel istirahat kembali berdering. Kelas perlahan sepi menyisakan aku yang masih sibuk memberekan buku. Setelah usai aku berjalan ke luar dan berniat mengisi perut di kantin.“Doorr." Seseorang mengagetkan ku, aku berbalik dengan detak jantung masih tak beraturan ku lihat siapa orang ini.“Shanti" Ucap ku.Setelah kejadian di gerbang sekolah Aku dan Shanti jadi teman dekat, aku tahu Shanti adalah gadis manis yang ku lihat saat itu. Namun ada berbagai keanehan yang terjadi, Shanti sama sekali tak suka membaca buku dia lebih suka musik, Shanti tidak suka berpenampilan feminin dia lebih suka berpenampilan senyaman nya dia. Namun selalu ku tepis kemungkinan itu, mungkin itu hanya pikiran negatif.***Waktu kian berlalu aku dan Shanti telah lama berteman, ada keinginan dalam benak ku untuk melepas status teman yang telah lama melekat menjadi seseorang yang lebih istimewa, ya kalian pasti mengerti maksudku.Sore ini di taman, aku berjanjian dengan Shanti untuk bertemu, tepat nya jam 15.00 sore ini, di rumah pikiran ku berdebar tak karuan. Aku mungkin grogi karena akan mengungkapkan semua rasa ku pada Shanti.Ku lihat jam masih pukul 14.45, aku rasanya sudah tak sabar karena aku tak sabar aku pun menuju taman. Saat aku telah sampai, ku lihat seorang gadis mengenakan gaun putih dengan rambut terurai, dia pasti Shanti.Aku berjalan dari arah belakang nya, perlahan lahan dan saat jarak sudah dekat rasanya tubuhku terasa dingin pasti karena grogi, pikirku. Aku menarik nafas secara perlahan “Rio." Panggil seseorang aku melihat ke sumber suara Shanti tengah berdiri di belakang ku dengan baju tomboy seperti biasanya.Aku melihat ke arah kursi, gadis tadi yang ku kira Shanti kini tak ada, siapa gadis itu? Shanti menarik tangan ku dan kami duduk di kursi taman, wajah ku pucat bukan karena grogi tapi aku bingung siapa gadis tadi? “Shan, sejak kapan sampai?" Tanya ku. Shanti tersenyum “Kan tadi," ucap nya, aku menelan saliva berati gadis tadi bukan Shanti.“Shan, aku mau nanya tapi kamu jangan tersinggung atau marah ya." Ucap ku mengendalikan suasana. Shanti mengangguk, aku berfikir mulai dari mana aku bertanya,“Kamu masih ingat pertama bertemu dengan ku?" Tanya ku pada nya.“Ingat, di gerbang saat itu" jawab nya seketika.“Berati kau tak menyadari waktu aku memperhatikan mu di lorong sekolah saat itu?" Shanti diam tampak mencerna apa yang aku tanyakan, dia menggeleng dengan wajah bingung. “Kapan? aku tak menyadari?" Tanya nya “Waktu itu kamu terlihat sedang membaca sebuah buku" Shanti kembali diam.“Aku tak suka membaca buku dan aku tak suka berdiam di lorong." Jawaban Shanti membuat aku kaget, berati dia bukan Shanti? “Lalu siapa dia?" Tanya ku pada Shanti “Ciri cirinya?" Tanya Shanti kembali."Dia sangat mirip dengan mu, hanya saja sedikit feminin dengan kacamata nya, rambut nya teruarai." Ucap ku seketika merubah ekspresi wajah Shanti yang tadi nya tenang menjadi gugup.Shanti terdiam sedikit lama, aku hanya diam menunggu Jawaban nya “Dia Shinta." Aku terdiam tak mengerti. “Bukan, aku melihat wajahnya dia mirip bahkan sangat mirip dengan mu tak mungkin aku salah lihat." Ucap ku. “Kau tak mengerti Rio," ucap Shanti, aku terdiam.“Dia Shinta, kembaran ku." Ucap nya. Aku kaget berati gadis manis itu adalah Shinta bukan Shanti. “Dan mana Shinta?" Tanya ku padanya.“Shinta udah meninggal kerena kecelakaan dulu waktu bus pariwisata yang di tumpangi menabrak bohon dan jatuh ke jurang, sial nya aku tak ikut, waktu itu aku dan dia jauh berbeda aku adalah wanita yang tak punya sopan santun dan dia sebaliknya, aku tak suka membaca buku dan dia sebaliknya, aku dan dia berbeda sangat berbeda." Ucap Shanti mengakhiri.Aku membeku diam, kaget berati selama ini aku telah diam diam menyukai arwah Shinta, bukan Shanti.****End
Sentuhan Sihir
“Hayo… tebak, apa yang akan keluar dari topi ini?” tanya pesulap.“KELINCI…” teriak anak-anak bersamaan.Mereka berkerumunan di depan panggung kecil berukuran 4 meter x 2 meter dengan papan yang bertuliskan “Pesulap Ciamik dari Ciamis”.“Wah… ternyata kalian sudah sering melihat pesulap ya? Tapi jawaban kalian salah”.Aku tersenyum melihat acara sulap ini. Setiap hari minggu sore, pesulap itu selalu datang menghibur di taman kompleks perumahanku. Menyenangkan menurutku. Setidaknya acara ini bisa mengusir rasa bosanku. Hari ini, aku akan menghadiri pesta ulang tahun teman sekelasku. Aku mengenakan longdress biru dengan cardigan hitam sebagai pengusir hawa dingin. Aku melirik jam tangan, mencoba memastikan sesuatu. Penampilan pesulap telah berakhir. Aku dapat merasakan kekecewaanku, hilanglah hiburanku.“Sedang menunggu seseorang?” tanya pesulap tampan yang tanpa ku sadari duduk di sampingku.Aku menggeleng, ”Lebih tepatnya sekawanan tukang ngaret”.Dia tersenyum mendengar jawabanku.“Apakah kamu akan ke pesta ulang tahun?”.“Wah… ternyata selain tukang sulap, kamu juga seorang peramal?” candaku.“Bukan… aku hanya menebak karena itu” ia menunjuk ke arah tasku yang terbuka dan terlihat kotak yang dilapisi kertas kado bergambar balon dan lilin.Seketika aku dan dia tertawa.“TEET… TEET… SARAH AYO KITA TELAT NIIIH” teriak Dea sambil tetap membunyikan klakson mobil.“Aish… siapa sih yang ngaret” umpatku.“Tunggu sebentar” pesulap itu berdiri, lalu kedua tangannya mengusap lembut kepalaku.Perlakuannya membuatku terkejut.Belum selesai aku terkejut, ia berkata,”Sekarang kamu tampak lebih cantik”.Reflek tanganku menyentuh rambutku. Aku dapat merasakan bando kecil menghiasi rambutku.“SARAAAAH…” kali ini suara cempreng Mita memanggilku. Aku segera bergegas berlari ke mobil.“Ngapain aja lo?” tanya Nuri sebal.“Gak… gak… gak napa-napa” jawabku gugup.Mataku kembali melihat ke arah kursi taman tadi. Dia tampak sibuk menata peralatan sulap. Entah mengapa bibirku tertarik simetris ke samping membentuk lengkungan seperti bulan sabit.*Tiap minggu sore, aku jadi rajin berkunjung ke taman. 3 minggu ini pesulap tampan itu tak terlihat. Ini adalah minggu ke-4, aku mengunjungi taman ini. Aku sangat senang, karena ia berada di atas panggung dan telah memulai aksi sulapnya. Ia selalu menampilkan trik sulap yang jenaka. Aku menikmati tiap pertunjukan yang ia tampilkan.“Hai… masih ingat aku?” sapaku saat penonton telah bubar.“Oh… kamu yang gadis kelinci itu? Aku ingat!!!” serunya.“Kelinci???” seketika aku ingat, gigiku memang seperti kelinci. Aku dapat merasakan wajahku panas.“Walaupun seperti itu kamu terlihat cantik” tambahnya sambil tetap menata peralatan sulap, seketika aku mengaruk tengkuknya meskipun tidak gatal.“Oh ya… aku ingin mengucapkan terima kasih soal bando itu. Ini buat kamu” kataku sedikit gugup.“Oh… bando itu? Nggak apa-apa kok, nggak usah terima kasih” tanpa melihat ke arahku.“Kenapa? Kamu nggak suka?” tanyaku sedih.Seketika ia menoleh ke arahku. Ia tersenyum.“Baiklah, akan aku terima” katanya membuka bingkisan dariku.“Bagaimana? Apakah kamu suka?”.Sejujurnya, aku sangat antusias waktu memilihkan topi hitam ala pesulap untuknya.“Wow… ini bagus sekali. Aku janji akan selalu memakainya. Terima kasih ya…”.“Sarah. Kenalkan namaku Sarah” aku mengulurkan tanganku.“Aku Lucky” ia menyambut tanganku.Sejak hari itu, aku sering pergi ke taman tiap hari minggu sore. Kita sering menghabiskan waktu bersama setelah ia selesai pertunjukkan. Dia selalu bisa membuatku tersenyum. Bersama dia membuatku melupakan masalahku. Kedua orangtuaku yang selalu memaksakan kehendaknya kepada empat orang anaknya. Hingga detik ini, aku selalu menjadi seperti yang mereka pinta termasuk kuliah di bidang ekonomi bisnis padahal aku sangat ingin menjadi mahasiswa sastra.Lucky… Lucky…. Nama itu mulai mengisi hatiku. Taman ini menjadi tempat terindah. Tanpa kata cinta, tanpa ungkapan gombal, kami berdua berikrar berhubungan lebih dari sekedar teman dan lebih hangat dari seorang sahabat.*Hari ini sangat istimewa bagiku. Hari ini adalah hari pertamaku mulai menyandang status sarjana dan aku tak sabar ingin segera memperkenalkan Lucky ke ayahku. Ia telah berjanji akan menghadiri acara wisudaku.“Wah… selamat ya Sarah, papa bangga sama kamu” puji papa.Pria paruh baya ini mencium keningku. Sementara mama hanya menangis haru. Aku memeluknya, mencoba menenangkannya.Ibu, walaupun aku tak pernah mengungkapkan perasaanku tapi beliau selalu mengetahuinya. Ibu tahu, aku tidak pernah ingin membuat papa kesal seperti ketiga kakakku. Ibu paham, aku selalu menyimpan kemarahanku dan menggantikannya dengan senyuman. Beliau adalah wanita terhebat yang pernah ku temui.Saat aku memeluk ibuku, Lucky datang dengan membawa seikat bunga mawar merah, bunga favoritku.“Ibu, Pa, ada seseorang yang ingin aku kenalkan”.Aku menggandeng Lucky di depan kedua orangtuaku. Ini adalah pertama kali aku memperkenalkan seorang pria di hadapan mereka.“Lucky, Om, Tante” Lucky memperkenalkan diri.Dia mencium tangan ibu dan papa, suatu kesopanan yang jarang ditemukan saat ini.“Ini pria yang buat anak perawan ibu selalu terlihat bahagia ya?” celetuk ibu membuat pipiku memerah.“Nak Lucky, kerja sebagai apa?” tanya papa tanpa basa-basi.“Saya sebagai pesulap, Pak. Terkadang diundang di beberapa acara, terkadang tampil di jalan-jalan” jelas Lucky.Ia sama sekali tidak malu dengan keadaannya. Hal ini membuat senyuman tak pernah lelah menghiasi wajahku saat ini.“Oh… orangtua kamu setuju dengan pekerjaan kamu?” tanya papa lagi.“Sejak lahir saya tinggal di panti asuhan, om. Saat lulus SMP, saya mulai mencari uang sambil sekolah tapi tidak bisa menempuh pendidikan di universitas seperti adek Sarah”.“Oh… hebat sekali kamu, belajar menjalani hidup. Sarah, kamu harus seperti nak Lucky. Hidup itu harus survive” papa tertawa sambil menepuk bahu Lucky.“Pasti, pa” aku menatap Lucky.“Nak Lucky, kami mau pulang, mau istirahat. Bagaimana kalo nanti malam kamu datang ke rumah? Anggap saja datang ke syukuran kelulusan anak emas saya ini”.“Baik, om. Saya pasti akan datang” Lucky melepaskan tanganku yang sedari tadi menggandengnya.Papa dan ibu menuju tempat parkir terlebih dulu. Meninggalkanku dengan lucky.“Lucky… aku sangat senang. Terima kasih sudah datang”.Ia tersenyum.“Lucky… Ada apa di sebelah sana” aku menunjuk sesuatu ke arah pintu keluar, tanpa ia sadari aku mencium pipinya.“Sarah???” ia benar-benar terkejut.“Eh… eh… aku… aku ke parkir dulu. Nanti malam jangan lupa” aku berlari kecil menghindari tatapan Lucky.*Aku datang menemuinya. Aku berharap ia tidak curiga dengan mataku yang terlihat seperti menangis semalaman. Walaupun memang seperti itu kenyataannya. Aku tersenyum. Ia membalas senyumanku.“Lucky…. Aku…” ia meletakkan jari telunjuknya di depan bibirku yang pucat.“Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu tapi matamu harus ditutup dulu” pintanya.Aku berjalan perlahan bergandengan dengannya. Lucky… apakah hatimu tak bisa terluka? Aku pikir papa benar-benar menyukaimu, tapi ternyata ia sengaja mengundangmu untuk memperkenalkan dengan seorang pria yang tak pernah ku kenal sebelumnya. Lucky… maafkan aku.“Kita sudah sampai, sekarang kamu boleh membuka mata”.Aku melepaskan ikatan kain yang menutupi mataku beberapa saat yang lalu. Aku terkejut, kami berdiri tepat di depan bangku yang pertama kali mempertemukanku dengannya. Bangku ini dihiasi balon yang membentuk tulisan “SMILE”.“Apa ini?” tanyaku keheranan.Ia tersenyum. Lucky memberikanku sebuah kotak pink kecil.“Apa isinya? Bukan bom kan?” Lucky terkekeh mendengar pertanyaanku.Perlahan-lahan aku membuka kotak tersebut. Aku tak melihat apapun di kotak itu. Kotak itu kosong. Lucky mengambil tangan kiriku dan menutupi kotak yang telah terbuka itu dengan tanganku itu.“Tadaa…” aku terkejut.Sepasang anting-anting emas putih mengisi ruang kotak kosong. Lucky mengambilnya dan memasangkannya ke telingaku. Ia menolehkan kepalaku ke kanan ke kiri, mencoba memastikan apakah anting-anting itu cocok denganku. Aku hanya diam, menahan air mata yang ingin keluar.“Hah… telingamu berdarah!” serunya sambil memegang daun telinga kiriku.“Apa???” aku ikut memegangnya. Kali ini ia membohongiku, tak ada darah di sana.Namun di jarinya terlihat ada darah membuatku mengernyit keheranan. Kemudian ia menutupi jarinya dengan tangan kiri, perlahan-lahan keluar kain kecil warna-warni yang panjang. Kain panjang itu dilipatnya, lalu diletakkan ke kepalaku.“Bando lagi?” Lucky menggeleng.Saat ia melepaskan kain dari kepalaku. Aku dapat merasakan sesuatu di kepalaku. Kedua tanganku memegang kepalaku, ternyata Lucky memberikanku mahkota yang terbuat dari ranting-ranting dedaunan.“Kamu kira aku anak kecil, dikasih mahkota-mahkotaan” Aku berusaha bersikap manja seperti biasa, ia mengangkat kedua bahunya.Kain panjang itu dilemparkan ke udara. Seketika kain itu menghilang dan berganti dengan kelopak bunga mawar merah yang turun dari atas. Aku tertawa bahagia namun air mata tak bisa menahan lagi.“Wah… kamu membuaku terharu. Darimana kamu belajar trik romantis seperti ini?” godaku.“Entahlah… tiba-tiba muncul begitu saja di pikiranku” ia menggaruk kepalanya.Aku mencoba tersenyum. Ia selalu membuatku merasa spesial.“Sarah… hari ini adalah hari terakhir kita bertemu”.Aku tahu hal ini akan terjadi. Air mataku mengalir lebih deras.“Sarah, aku tidak ingin membuat kamu berubah. Selama ini kamu selalu menjadi yang terbaik bagi orangtuamu. Aku tidak ingin kamu bingung memilih antara aku atau orang tuamu”.“Lucky… kita masih punya kesempatan” aku memeluknya.“Sarah… kamu yang lebih tau daripada aku bahwa jawaban dari perjuangan kita adalah kegagalan” Lucky tak membalas pelukanku, “Aku tidak pernah bisa menunjukkan rasa baktiku kepada orangtuaku meskipun aku ingin. Aku tidak perlu mengatakan betapa beruntungnya kamu. Apakah kamu mau berbagi merasakan keberuntungan itu?”.Hari itu aku hanya bisa menangis sesenggukkan di pelukannya. Lucky… aku berjanji takkan pernah mengecewakanmu. Aku janji… aku janji.*“Ma, bagaimana dengan rok baruku ini?” tanya anak sulungku centil.”Maya, anak gadis tidak boleh memakai rok sependek itu. Diintipin orang, baru tau rasa kamu” kataku sambil menata barang di kamar baruku ini.Sejak suamiku meninggal satu tahun yang lalu, kedua anakku meminta pindah dari rumah yang telah ku tempati lebih dari 20 tahun. Sejak suamiku meninggal, anak-anak menjadi tempat tertinggi perhatianku. Aku ingin mereka juga mendapatkan pendamping hidup seperti ayah mereka.”Mama gitu deh, aku kan udah gedhe” bantahnya kesal.“Ini taruh di gudang belakang ya” perintahku, memberikan kardus ukuran sedang padanya. Ia menurut, meskipun dengan wajah yang cemberut.“Kring… kring…” terdengar bunyi bel sepeda pancal di depan rumahku.“Sandra, tolong bukakan pintunya” teriakku ke anak keduaku.“Sandra masih mandi, Ma” teriaknya.“Kring… kring…”.“Iya sebentar, siapa ya?” betapa terkejutnya saat aku membuka pintu.Aku mengenalnya. Bukan… aku sangat mengenalnya. Senyumannya, tatapannya, dan topi hitam itu. Ia tak berubah. Sama sekali tak berubah. Ia tampak lebih cocok menjadi pacar anakku daripada menjadi mantan terindahku.“Lucky…” panggilku pelan. Aku mencoba meyakinkan diriku.“Apa kabar Gadis Kelinci?” sapanya ramah.Ia tak berubah, sama sekali tak pernah berubah.
Cinta dan Cita Kita
Cinta cinta dan cinta adalah suatu kata tidak akan selesai dibahas. Kata yang mempunyai makna luas dan arti berbeda dalam setiap individu. Love is never die , karena dari masa ke masa "Cinta" tetap menjadi " Trending topic ".Saat pertama aku lahir ke dunia, cinta telah menyertai. Sebelum diberi nama Ajeng Citra Reynaldi, tuhan telah memperkenalkan dengan cinta yaitu cinta dari mama dan papa. Kemudian mama dan papa mengajarkanku untuk cinta pada tuhan, kakek, nenek, kakak, tetanggaku, hingga hewan kesayangan mama dan mbak Vio yaitu Leon si kucing hobi buang hajat sembarangan tanpa rasa bersalah. Menjijikkan...!!Orangtuaku tidak perlu susah payah mengajarkanku tentang cinta ke lawan jenis. Secara naluri, aku belajar mencintai dan tertarik pada pria pada awal masa pubertas. Pertama kali aku merasakan cinta pada temen sekelasku di kelas 1 SMP 45 Merah Putih, Malang."Kenalkan namaku Daufik Firdaus panggilannya Dafid, nama kamu siapa?" tanyanya padaku sambil mengulurkan tangan. Dia berdiri di depan bangkuku, setelah berkenalan dengan teman sebangkuku.Aku tidak langsung menjawab untuk memperkenalkan diri. Karena aku sedang sibuk mencoba memperbaiki pulpenku yang ada 4 pilihan warna dalam satu tempat. Entah mengapa, pulpen itu rusak saat aku mencoba memilih dua warna sekaligus."Ada apa? pulpen kamu rusak ya?" tanya Ivi, teman sebangkuku.Aku hanya mengangguk tanpa menolehkan wajahku. Di benakku hanya terbayang wajah seram mbak Vion. Saat ia tahu pulpennya yang aku ambil diam-diam dari tasnya rusak. Sebenarnya ini kesalahan mama, masak aku dibelikan gambar Power Rangers sedangkan pulpen mbak Vion bergambar Hello Kitty. Seharusnya mbak Vion dibeliin yang polos tanpa gambar kan dia udah masuk SMA, kelas tiga pula."Sini, aku coba baikin" kata Dafid yang tanpa menunggu jawaban dariku, mengambil pulpen dari tanganku.Dafid mencoba memperbaiki pulpen Hello Kitty itu. Sementara itu aku dan Ivi menunggu dengan Harap-Harap Cemas. Akhirnya pulpen yang sok manis itu bisa kembali seperti semula."Terima kasih ya? siapa tadi nama kamu? Dafid ya? Perkenalkan namaku Ajeng Citra Reynaldi, cukup kamu panggil Ajeng" kataku dengan penuh semangat.Dafid hanya mengangguk dan tersenyum. Oh My God !!! ternyata dia cakep banget, apalagi hidungnya yang mancung itu. Aku pun membalas senyumannya. Aku tetap memandanginya meski dia telah pergi menuju lapangan."Cie... cie... kamu suka sama dia ya?" goda Ivi sambil menyenggol bahu kananku."Apaan? ke kantin yuk ntar ku traktir".Setiap hari aku suka merhatiin Dafid baik di kelas, di kantin, di tempat parkir dan semua sudut di sekolah. Aku suka banget sama dia tapi rasa itu tiba-tiba hilang. Cukup satu alasan karena makanan favoritnya adalah yang paling aku benci di dunia ini yaitu paetae alias pete. Informasi ini didapatkan, saat wawancara mewakili JSP (Jurnalis Siswa Prestasi yaitu ekstrakulikuler jurnalis di sekolah) untuk mengisi profil siswa berprestasi di majalah sekolah. Saat itu Dafid meraih juara 1 Lomba Catur se- kota Malang. Sumpah ilfeel abisss sama dia.**HARI PERTAMASabtu, 12 Januari 2013 pukul 15.48 di lapangan basket SMA Tunas Bangsa, Aku dan Reifan resmi jadian. Dia adalah pacar pertamaku dan aku juga pacar pertama baginnya. Sebenarnya aku lebih berharap Denny, kapten basket yang nembak. Tapi setelah aku melakukan berbagai usaha pedekate alias pendekatan, bukan dia yang nempel malah dideketin sama anak buahnya. Walaupun menurut teman-teman Reifan jauh lebih tampan dan keren daripada Denny. Awal dideketin masih ngerasa kecewa. Lama-kelamaan aku luluh dengan semua perhatian diberikan.HARI KELIMAEmang ya? Kalau sudah punya pacar rasanya pengen hubungin si dia terus. Mulai dari bangun tidur sampai mau tidur, bahkan di tengah-tengah tidur rela bangun bentar buat balas sms atau sekedar memberikan ucapan "Good Night". Tiap hari pulang-pergi sekolah bareng naik motor boncengan. Lumayan, motorku bisa istirahat.HARI KELIMA BELASSaat jam istirahat pertama, Reifan nyamperin ke kelas. Tanpa rasa canggung masuk ke kelas, padahal dia kelas XI-IPS 2 sedangkan aku kelas XI-IPA 1. Beberapa teman menggoda kita. Alhasil aku nyuruh dia pergi.HARI KEDUA PULUH DUA"Langsung antar aku pulang aja" kataku ketus tanpa melihat wajahnya sambil mengambil helm dari motor."Ada apa? Aku kan udah janji ajakin kamu nonton" Reifan membatalkan niat memakai helm."Kamu nonton sama Okta ajaKok ngajakkin Okta? Reifan terlihat menyatukan alis tebalnya.Aku diam. Malas menjelaskan.Aku menampik tangan Reifan, "Nggak usah pegang-pegang. Tadi aku lihat kamu seneng banget dihapus keringat sama tuh cewek. Nggak takut ketularan panu ya kamu? Apa kamu nggak mikir? Jangan-jangan kulitnya putih itu karena kena panu"."Ajeng, kamu cemburu ya? Kan Okta anak cheerleader jadi wajar kalau aku akrab sama dia. Anak basket dan tim cheers itu kan emang harus saling mendukung" Reifan mencoba memberikan pengertian."Akrab? Aku pengen kamu bisa jadi ketua basket bukan sok-sokan kayak ketua basket. Seharusnya kamu fokus latihan bukan fokus ketawa-ketiwi sama Okta"."Iya" Reifan terlihat menyerah."Iya. Iya. Dari pulang sekolah sampai jam 5 sore, aku nungguin kamu latihan basket. Selesai latihan bukannya nyamperin aku malah manja-manja ke Okta"."Ajeng, aku nggak ada perasaan apa-apa kok ke Okta"."Udah. Aku mau naik ojek aja" kataku berlalu meninggalkan Reifan."Satu dua tiga empat lima enam" aku menghitung sambil terus melangkah menuju pangkalan ojek depan sekolah."Mbak, ojek?" tawar salah satu tukang ojek."Bentar, pak" jawabku, "Sembilan sepuluh sebelas"."Ngitungin apa neng?" celetuk tukang ojek lain."Bang, duluan" pamit Reifan.Aku mengangkat alis sebelah lalu berbalik ke arah suara."Iya, monggo" jawab tukang ojek bebarengan."Dasar cowok, bukannya ngejar malah pulang duluan" gerutuku."Gimana mbak?"."Ayo mas antar aku pulang" tanpa menunggu mesin dihidupkan, aku naik ke jok."Kemana mbak?"."Udah mas, jalan aja nanti ikut arahanku"."Iya mbak, tapi kemana?".''Mas tau orang lagi kesel gak?" rengekku."Oh iya mbak. Iya mbak" tukang ojek akhirnya menurut.HARI KEDUA PULUH TIGA"Assalamu'alaikum... Halo, ada apa Rei?" setelah dua puluh kali panggilan."Wa'alaikumsalam... Ajeng ngapain kamu bocengan sama Aldo? Lalu kalian pergi ke mana sepulang sekolah?" tanya Reifan dengan penuh emosi."Kenapa tanya?"."Ajeng, aku ini masih pacar kamu. Seharusnya sebelum keluar sama cowok lain ngomong ke aku. Kenapa kamu nggak bilang ke aku sih?"."Ngapain? Mamaku sudah ngasih izin. Lagian aku dan Aldo pergi ke percetakan untuk majalah sekolah nggak sok mesra-mesraan kayak tim basket dengan anak cheers" jawabku ketus."Ajeng, kenapa harus bahas masalah itu lagi?"."Udahan kan tanyanya? Aku udah ngantuk pengen tidur" aku menutup telepon tanpa menunggu jawaban dari Reifan.HARI KEDUA PULUH EMPATAku dan Reifan masih berantem.HARI KEDUA PULUH LIMAAku dan Reifan baikan, setelah dia meminta maaf dengan mengirimkan sebuah video yang berisi foto kita. So sweet... serta yang membuat aku lebih melting, backsong video hasil cover Reifan dengan lagu Adera lebih dari indah dalam alunan musik piano. Untung hanya instrument bukan Reifan ikutan nyanyi.**Suasana siang di taman alun-alun hari minggu cukup ramai. Aku dan Reifan duduk berteduh di bawah pohon sambil menikmati es krim. Anak-anak yang asyik bermain, satu-persatu meninggalkan taman bersama orangtuanya atau baby sitter ."Hari rabu, aku ada pertandingan basket dengan SMA 5 Harapan. Kamu nonton ya?" Reifan membuka suara setelah lama kita larut menikmati es krim."Jam berapa?""Jam setengah 3 di GOR, kamu ada acara nggak?""Ada atau nggak ya?" godaku."Kalau sibuk, nggak apa-apa kok" kata Reifan."Nggak sibuk, sayang" aku mengoleskan es krim di hidungnya, "Nanti kita berangkat bareng ya?"."Tenang sayang takkan ku biarkan kau jalan kaki" kata Reifan sok puitis."Gombal... lagian ngapain Jalan kaki? Angkot banyak""Ya udah, nona naik angkot saja"."Reifan..." teriakku manja.Reifan tertawa sambil menikmati es krim kembali. Kita merasa geli, saat melihat seorang anak yang mengendarai sepeda namun bergaya seperti Valentino Rossi lengkap dengan jaket dan helmnya. Sementara mulutnya yang mungil tak berhenti berbunyi menirukan suara motor."Kapan diklat basketnya?" tanyaku."Minggu ini, hari sabtu dan minggu. Nanti pas hari sabtu, kamu bawa motor sendiri ya?" kata Reifan."Ok, itu nanti ada acara pemilihan ketua basket kan?""Ada, emangnya kenapa?" Reifan menatapku heran."Ehm... ntar pas pertandingan, kamu maksimal ya? Biar ntar bisa kepilih jadi ketua tim basket sekolah" aku melihat ke arah anak yang lucu tadi."Insya Allah... cita-cita kamu apa?""Kenapa tiba-tiba kamu tanya tentang itu?""Nggak apa-apa, kamu kenal Ria Andansari?" aku menggelengkan kepala,"Dia sepupuku, katanya dia satu SMP sama kamu tapi kakak kelas".Aku diam menunggu penjelasan selanjutnya."Dia bilang kalo sejak SMP, kamu sudah aktif di ekskul jurnalistik dan pernah menjadi ketua redaksi juga""Owh...aku ingin jadi penyiar berita suatu saat nanti" kataku sambil memandang langit.**Aku menatap laptopku dengan mata sayu dan jemari butuh dilurusin. Seharian ini, aku mencari artikel mengenai kesehatan dan memilih beberapa puisi kiriman teman yang bisa dimasukkan ke blog. Aku ingin blog sekolahku ini bisa menjadi sarana refrensi mengerjakan tugas sekolah dan hiburan. Bukan diisi dengan gosip atau isu yang nggak jelas sumber informasinya."Sayang, sudah jam berapa? kok belum tidur" kata mama sambil membuka pintuku tanpa mengetuknya terlebih dahulu."Tinggal dikit kok, Ma" jawabku tanpa menoleh ke arah Mama."Ya, mama tidur dulu dan adik jangan sampai tidur larut malam. Ingat, besok sekolah" mama menutup pintu kamarku kembali.Akhirnya tugasku selesai, aku melirik jam di meja belajarku. Mama benar sekarang sudah larut malam, angka menunjukkan pukul 22.18. Sebelum berlayar ke negeri impian, aku mengecek apakah ada pesan dari Reifan.Dari: Reifanku 03/03/2013 21:05Besok kamu berangkat ke sekolah bawa motor sendiri ya?Soalnya aku kecapekan habis ikut diklatPulang sekolah, kita pergi ke kafe Mawar ya?Good night n love you :)**Kalo ada yang bilang kota Malang adem, aku akan membantahnya. Menurutku semua kota sama saja, kalau sudah siang matahari akan dengan bangga memancarkan aura panasnya ke bumi. Aku sampai ke kafe dan langsung menuju lantai 2. Di meja no.4, Reifan duduk menungguku sambil mendengarkan musik."Maaf lama, tadi aku ke Pak Abdul buat omongin tentang blog" kataku sambil meletakkan tas."Woles, aku ngerti. Gimana ujian kimia?" tanya Reifan.Jawabanku harus tertunda saat seorang pelayan datang. Aku dan Reifan memesan untuk makan siang. Waiter mencatat pesanan kami dengan teliti dan tak lupa sebelum meninggalkan kami, ia menawarkan paket terbaru di kafe ini."Tadi asam-basa cukup menyenangkan" jawabku tersenyum setelah waiter meninggalkan kami."Ehm... Dasar anak IPA" cibir Reifan."Apaaan sih?" aku berpura-pura akan melemparkan vas bunga ke kepalanya.Pesanan kami pun datang. Kita menikmati steak ayam dan orange juice. Jangan pernah ditanya, apa yang terjadi saat cewek dan cowoknya makan bareng. Suatu hal yang selalu terjadi adalah cowok selalu makan lebih cepat daripada cewek dan makanan si cewek akan dimakan oleh si cowok apabila si cewek tidak sanggup menghabiskannya. Aku heran sama cowok, mulutnya kok cepet banget gilingin makanan."Gimana acara diklat kemarin?" tanyaku setelah kulihat dia telah menghabiskan makanannya."Makan dulu diselesaiin, habis itu baru ajak ngomong" kata Reifan menyuapiku.Aku nurut saja, lagian yang bayarin dia bukan aku. Namun harus bagaimana lagi, perutku sudah berteriak tidak sanggup. Aku pun memasang wajah melas agar Reifan saja yang menghabiskan makananku. Reifan tersenyum dan menghabiskan makananku dengan lahap. Aku merasa yakin resep badan tegap dan tinggi 174 cm ini didapatkan dari banyak makan."Oh ya? besok aku akan mewawancarai Ogi"ceritaku antusias,"Dia hebat, bisa mendapatkan juara 1 Olimpiade Matematika Nasional. Sumpah keren abis"."Ogi siapa?""Ogi anak IPA 2, yang baru-baru ini bikin heboh kalo mulai hari kamis kemarin jadian sama si tulalit, Ana" jawabku kesal."Kok baru diwawancarai? kan dia dapat juaranya 2 minggu yang lalu".Aku hanya mengangkat kedua bahuku."Diklat kemarin seru, kita dikasih pelatihan hardskill" jelas Reifan."Oh ya? terus siapa yang tepilih jadi ketua tahun ini?" tanyaku."Tahun ini, Denny yang terpilih kembali untuk menjadi ketua" bangga Reifan."Denny? kok nggak kamu yang jadi ketua?" tanyaku kecewa."Sayang, Denny itu leader yang top banget. Lagian kenapa kamu pengen banget aku jadi ketua basket?" tanya Reifan halus."Kenapa? kamu sudah janji sama aku, kamu ingat kan?" Aku menatap Reifan.Reifan mengusap kepalanya sambil membuang wajahnya,"Iya, aku ingat"."Lalu, mana buktinya?""Ajeng, kenapa kamu mau jadi pacar aku?" pertanyaan Reifan membuatku kebingungan untuk menjawab."Kamu nggak bisa jawab?" aku tetap terdiam, belum menemukan jawaban."Ajeng, terus terang selama ini aku harus selalu jadi seperti apa yang kamu pengen. Kamu nggak pernah bisa terima aku apa adanya. Kamu malu punya pacar kayak aku? Aku yang hanya anggota biasa di tim basket bukan leader kayak kamu"."Reifan... kenapa kamu mikir kayak gitu? Aku... aku cuma pengen kamu maju gitu aja" aku berusaha menenangkan Reifan."Pengen liat aku maju dengan malu punya pacar kayak aku itu beda tipis" aku diam membiarkannya berbicara."Aku rasa hubungan kita nggak bisa diterusin" membuatku bagaikan tersengat petir."Reifan... please masalah kita nggak separah itu kan?" bujukku."Ajeng, kamu nggak nyadar kalo kamu itu.... kamu itu egois"Aku sangat amat terasa terkejut dengan jawabannya. Tanpa sadar aku mendorong kursiku ke belakang dengan kasar. Sehingga menimbulkan suara yang cukup keras untuk membuat semua pengunjung di lantai itu memandang ke arahku. Lalu aku mengambil tas, aku ingin segera keluar dari kafe ini. Aku tidak mengerti dengannya yang merasa terdzalimi olehku. Aku hanya ingin dia tidak diremehin teman-temanku yang selalu menganggap Reifan hanya modal tampang untuk masuk ke tim basket. Tapi mengapa sekarang dia salah mengartikan dukunganku."Ajeng, ku mohon jangan pergi" Reifan memegang tangan kananku.Tak ingin kembali menjadi pusat perhatian di kafe aku kembali duduk,"Tadi katanya hubungan ini nggak bisa diterusin"."Ajeng, aku masih sayang banget sama kamu" aku diam dan tak ingin melihatnya."OK, terserah kamu. Aku akan beri waktu 1 minggu untuk kamu berfikir untuk dibawa kemana hubungan ini".Aku hanya diam memandangnya. Tak ada kata-kata yang bisa ku ungkapkan. Reifan memanggil waiter untuk membayar tagihan. Setelah selesai dia membayar, kita berdua keluar dari kafe tanpa canda, tanpa mengucapkan selamat tinggal.**Hari ini mataku bengkak akibat efek menangis semalaman. Cinta itu rumit, nggak ada definisi yang tepat kecuali kata "rumit" hanya itu di pikiranku. Untuk mengurangi efek bengkak, pagi-pagi aku meneteskan obat mata. Aduh perih banget... tapi lebih perih sakit hati ini yang bikin galau. Yang terjadi biarlah terjadi, kalau aku dan Reifan harus putus biarlah dia mendapatkan yang lebih baik dariku. Tiba-tiba wajah Okta terbayang di pelupuk mataku.**Bel pertanda pulang telah berbunyi, aku dan teman-teman mengakhiri kegiatan belajar mengajar. Tak ingin membuang waktu, aku segera keluar dari kelas untuk menemui Ogi di gazebo. Saat berjalan menuju gazebo, aku melihat Reifan ngobrol dengan temannya di depan kelas. Namun baik aku maupun Reifan tidak saling menyapa.Proses wawancara berjalan dengan baik. Walaupun lucu, mendengarkan jawaban Ogi yang sangat menjunjung tinggi kosa kata bahasa Indonesia yang baik dan benar. Ternyata Ogi lebih menggemari pelajaran fisika daripada matematika. Nggak terlalu suka aja dapet juara 1 tingkat nasional, apalagi kalau suka bisa-bisa dia dapet juara 1 tingkat internasional. Sebenernya di otak orang pinter itu ada apaan sih." Thanks udah mau diwawancarai" kataku mengakhiri.Ogi hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum."Ogi, boleh nggak aku tanya sesuatu? Tapi ini sedikit pribadi, ehm.. tapi ini nggak akan aku masukin ke blog atau majalah sekolah" aku ragu-ragu."Jika ada yang ingin kamu tanyakan, silahkan".Aku menarik napas panjang,"Kamu jadian sama Ana? Nggak, maksudku apa yang kamu suka dari Ana? Nggak gitu maksudku.. ehmm".Aku kebingungan menyusun kata-kata, agar dia tidak salah sangka denganku. Sungguh!!! aku hanya ingin tahu pandangannya tentang cinta."Saya paham maksud perkataan kamu. Menurut saya, cinta bisa terjadi pada setiap insan dan untuk siapapun tanpa memandang perbedaan"."Kamu nggak malu, kalo ngledekin kamu gara-gara jadian sama Ana"."Mengapa kita merasa rendah diri dengan perkataan teman? Ana adalah perempuan yang unik. Jika 1+1=2, menurut Ana 1+1=5. Ajeng, kita jangan pernah menuntut orang untuk menjadi sempurna. Sesungguhnya perbedaan lebih indah daripada sempurna".Kata-kata Ogi telah membuka mata hatiku. Setelah berpamitan dengan Ogi, aku bergegas menuju kelas Reifan. Karena tidak ada tanda-tanda kehidupan, aku memutuskan untuk pergi ke rumah Reifan. Namun saat aku menuju tempat parkir, aku melihat Reifan duduk menengelamkan kepala di antara kedua lututnya di depan ring basket. Serta membiarkan 8 bola basket berserakan di lapangan basket."Ini lapangan basket bukan kamar" teriakku sambil memunguti salah satu bola basket.Reifan tersenyum,"Lagi capek banget nih"."Ajarin maen basket dong" aku mencoba memasukkan bola ke ring dan berhasil."Pengen gabung ke tim basket ya?" goda Reifan.Aku duduk di sampingnya,"Kamu kasih aku waktu 1 minggu untuk berfikir tapi kenyataannya aku mendapatkan jawabannya dalam waktu 1 hari. Mungkin kamu tertekan selama jadi pacarku. Aku sadar Rei, kamu mau nggak maafin aku?".Reifan berdiri mengambil tasnya dan memunguti bola-bola basket, sementara aku masih duduk. Aku ingin menangis lagi, Reifan pergi dari lapangan ini berarti dia telah memutuskan hubungan ini."Hey... ayo beli bakso, perutku laper banget".Aku menoleh ke arah sumber suara. Aku menghapus air mataku dan berlari ke arah Reifan."Rei, aku pikir kamu akan..."."Ayo... entar keburu baksonya Cak Ipin habis" Reifan menarik tanganku.Aku tersenyum mengikuti langkah kaki Reifan.
Arti Kecantikan
Apa arti kecantikan wanita bagimu? Bukan apa yang kau inginkan dari seorang wanita? Apa yang harus aku lakukan untuk membuatmu menoleh ke arahku?"Kamu ini jadi cewek kok gendut banget sih?" kata pertama yang keluar dari bibirmu saat kita mengerjakan tugas MOS bersama.Saat itu hatiku sangat amat sakit namun seketika perasaan positif menghampiriku. Mungkin dia ingin aku jadi cewek yang langsing. Mulai detik itu aku mulai melakukan diet ketat, berbagai macam diet ku coba untuk menghilangkan selulit diberbagai bagian tubuhku dan segala jenis olahraga mulai membantu mengusir lemak jahat di tubuhku.Tahukah kamu? Tiap hari saat aku merasa bosan, capek dan lapar dalam kegiatan pengurusan ini, fotomu yang terpajang rapat di buku Diary selalu memberikan suntikan semangat. Berat badanku mulai ideal bahkan cukup membuat seluruh cowok untuk menoleh dua kali ke arahku."Hai, sekarang kamu keren?' kata kamu saat kita berpaspasan setelah dari perpustakaaan.Aku sangat senang. Tiap malam aku berguling-guling di tempat tidur. Gara-gara menyesal tidak mempunyai kesempatan untuk merekam suaramu dan senyumanmu yang mampu membuat kupu-kupu di perutku terbang."Kenapa kamu ngeliat dia gak brenti-brenti?" tanya sahabatmu saat kita berdua menikmati makanan di kantin, kebetulan aku bisa duduk di sampingmu.“Zea, wajah kamu kenapa?Emanngnya ada apa Ken?" tanyaku tersipu malu.Jantungku berdegup kencang. Tak boleh ada seorangpun yang tahu bahwa aku suka sama dia. Apalagi dia? Apakah wajahku saat ini memerah?"Wajahmu jelek banget. Banyak jerawat kecil-kecil" dia kembali menyuap pentol ke mulutnya, "Jadi cewek itu perawatan dong? Percuma badan kece tapi wajah hancur".Seketika makanan di hadapanku terasa hambar. Ingin rasanya aku menangis. Tenang. Tenang. Aku tidak boleh bereaksi. Perasaan ini nggak boleh ada yang tahu.“Linda, kamu perawatan ke salon mana? Kasih tau ke Zea biar dia secantik kamu" kata Ken lagi sebelum pergi.Tahu nggak Ken? Habis itu aku menangis selama berjam-jam saat malam hari. Pikiran positif kembali muncul. Apa wajah seperti Linda yang Ken sukai? Segera aku mebuka media sosial. Tarrraaa... keesokan harinya aku rajin berangkat ke salon. Lama kelamaan mama tidak menyukainya. Mau tidak mau dan dengan berat hati aku hanya perawatan kulit dan wajah menggunakan bahan-bahan buatan mama."Zea, wajah kamu halus banget" puji Wina, teman sebangkuku, "Perawatan dimana?".Aku tersenyum. Di dalam pikiranku hanya terlintas bahwa kamu akan menyukai perubahanku. Mungkin akan sangat menyukai perubahanku
Donor Darah
Ini ceritaku saat zaman MABA. Telah menjadi tradisi setiap kedatangan MABA selalu disambut dengan kegiatan kemanusiaan. Donor darah salah satunya. Aku seperti kebanyakan mahasiswa baru atau manusia penakut lainnya, ketakutan saat mendengar pengumuman MABA wajib mengikuti kegiatan amal tersebut.Tentu saja banyak pertanyaan yang disampaikan kepada panitia. Entah untuk memastikan sesuatu atau hanya sebagai ajang pedekate semata. Namun aku tidak peduli apapun. Aku hanya membutuhkan pencerahan. Angin segar terasa saat salah satu panitia mengklarifikasi bahwa semua MABA wajib daftar namun kewajiban donor hanya kepada orang-orang yang memenuhi syarat.Aku langsung berdoa dalam hati. Berharap aku akan menstruasi saat donor darah. Apalagi kegiatan itu akan diadakan satu minggu lagi. Hanya itu yang aku harapkan.Suasana mencekam dan menegangkan terjadi pada hari yang telah ditetapkan. Wajah sangar dan galak kakak panitia terkalahkan oleh jarum suntik yang akan menyedot darah kami. Aku sangat heran di saat situasi seperti ini, tetap saja ada orang-orang yang memanfaatkan momen untuk pedekate. Entah panitia yang sok memberikan saran hingga peserta yang pura-pura takut berharap perlindungan."Aku nggak sarapan tadi" kata Hella tiba-tiba saat kami berempat terdiam."Kenapa?" tanyaku polos."Siapa tau entar berat badanku turun" kata Hella lemas, "Kan kita berdua ini berbadan subur, Tia".Aku langsung cemberut. Tapi menurutku melewatkan sarapan hanya hari ini tidak akan mempengaruhi angka timbangan. Mustahil."Untung aku kurus" kata Dwi yang hanya memiliki badan setipis triplek dan pendek."Jangan gitu dong Dwi" sergah Alice, "Justru kita harus sedih karena nggak bisa bantu".Dwi memilih diam. Tidak peduli. Alice dan Dwi memiliki berat badan yang sama. Namun Alice memiliki tinggi sekitar 163cm. Jadi bisa dibayangkan bagaimana tipisnya cewek ini dengan berat badan 39kg."Nggak sakit kok" kata Leony berpengalaman."Tetep aja takut, Nini" kata Hella tidak terima.Leony kembali menceritakan ulang pengalamannya. Entah ini yang ke berapa. Yang jelas sejak pengumuman donor darah, dia ta henti-hentinya mengajak kami untuk berpartisipasi."Prasetiya Mulya, Hella Geraldine dan Leony Lee Marpaung" panggil Kakak Hakim, salah satu panitia."Ayo Tia" ajak Leony sambil menggenggam tanganku.Meskipun Leony berusaha menguatkan dengan memberikan senyuman termanis. Tetep saja hatiku mencelos saat masuk ke ruang pemeriksaan. Jika aku sudah terlalu takut hingga menjadi pendiam. Berbeda dengan Hella, ia seakan yakin barat badannya akan turun dalam kurun waktu beberapa jam saja."Absen dulu ya?" kata Kak Hakim kembali mengabsen kami dan meminta tanda tangan.Hella langsung semangat saat disuruh panitia tampan itu untuk menimbang berat badan. Seketika wajah cerahnya berubah suram. Kak Hakim pun menyuruh Hella untuk pemeriksaan selanjutnya. Leony menuju timbangan tanpa diminta. Ia paham aku masih belum siap."Ok, selanjutnya" kata Kak Hakim."Kakak" panggilku."Iya, ada apa Tia?" tanyanya dengan senyum penuh pesona.Jika suasana mendukung dan normal, kemungkinan aku akan melayang. Saking senangnya. Saat ini hati dan otakku terlalu penuh dengan ketakutan jarum suntik. Apalagi sesi timbang berat badan adalah hal yang paling memalukan bagiku."Kak, bisa gak usah timbang berat badan?" tanyaku penuh harap."Kenapa?" tanyanya memasang wajah polos.Tak mungkin aku mengatakan bahwa aku malu dengan angka yang akan muncul. Seharusnya dia tak perlu bertanya. Cukup membaca bentuk badanku ini pasti akan menemukan jawaban. Akhirnya aku hanya tersenyum."Begini Kak, tanpa ditimbang aku udah tau" kataku menjelaskan."Nggak apa-apa, ditimbang aja" kata Kak Hakim."Nggak usah ya? Sudah pasti mencukupi kok" kataku terdengar kesal dan menyedihkan bersamaan."Ok deh, tapi ditulis ya berat badannya biar petugasnya tau" akhirnya ia mengalah.Aku tersenyum senang. Selanjutnya aku mengikuti pemeriksaan tekanan darah dan hemoglobin atau Hb. Nilai Hb menyelamatkanku dari sesi penusukan jarum. Hella menatap tajam ke arahku saat mendengar panitia mengatakan bahwa aku tidak bisa donor."Tia, kamu kok bisa gak donor?" tanya Hella sebal."Hb aku rendah" jawabku"Kok bisa? Gimana caranya?" Hella semakin menjadi menyebalkan."Mana aku tau?" Aku sebal melihat tatapan menuduhnya."Ayo, Hella" ajak Leony menuju kursi pendonor darah."Nggak mau" tolak Hella, tampak ia ingin menangis."Ayo. Aku temenin" rayuku tak tega."Beneran?" setitik air mata lolos dari matanya."Iya" aku semakin merasa kasihan.Alhasil kami teriak bersamaan saat jarum itu menusuk kulit Hella. Aku terpaksa menerima cubitan kecil dari Hella. Pelampiasan rasa sakitnya. Sementara Leony hanya tersenyum menyaksikan penderitaanku.
Simpanan CEO
Lany Maulia. Seorang wanita muda yang masih berusia 22 tahun. Tinggal sendirian, dan tak memiliki orang tua. Sebenarnya, dia masih memiliki seorang ibu tiri. Hanya saja, dia tak tahu di mana keberadaan ibu tirinya.Lany bekerja sebagai wanita malam atau biasa di sebut juga sebagai wanita panggilan. Hampir setiap malam dia mendapatkan klien yang meminta untuk di temani. Tentu saja Lany menerima, karena itu memang pekerjaannya.Sebenarnya, Lany bukan sengaja mau menjadi seorang wanita panggilan. Namun kondisi terdesak memaksanya mau mengambil pekerjaan ini. Dan pada akhirnya, menjadi pekerjaan tetap baginya.Semuanya berawal dari satu tahun yang lalu, saat Lany kehilangan pekerjaan dan tak punya uang banyak. Ibu tirinya yang kabur entah kemana meninggalkan hutang sampai berpuluh juta yang akhirnya imbasnya dirasakan oleh Lany.Atas saran dari teman, akhirnya Lany berani menjual keperawanannya pada seorang pria kaya yang mau membayarnya mahal. Tentu itu bukan kenangan yang indah. Lany bahkan sempat mengutuk dirinya yang kotor.Dan sekarang, menemani pria-pria berdompet tebal menjadi pekerjaan tetap Lany. Dia bekerja secara individu, tanpa memiliki bos. Dia hanya sering saling kontak dengan teman-temannya yang sesama wanita panggilan. Hingga akhirnya, Lany tetap mendapatkan seorang klien.Seperti malam ini, Lany mendapatkan telepon dari salah satu temannya. Katanya, ada seseorang yang ingin di temani. Pria itu sudah menunggu di kamar hotel, dan Lany di beritahu alamat beserta nomor kamarnya.Lany belum tahu siapa pria yang akan dia temani malam ini. Apakah dia seorang pria muda atau sudah lanjut usia. Apakah dia seorang pria single atau sudah memiliki pasangan. Lagi pula, itu bukan hal yang harus Lany pikirkan. Yang penting, dia mendapatkan uang untuk kebutuhan hidupnya.Lany berdiri di depan sebuah pintu hotel dengan tulisan angka 353. Dia mengetuk pintu itu beberapa kali, hingga seseorang membukanya dari dalam. Lany mendongak, menatap seorang pria dengan mata yang sayu. Lany langsung bernafas lega dan tersenyum saat tahu kalau kliennya malam ini bukan seorang kakek-kakek."Kamu temannya si Clarissa itu?" Pria itu bertanya dengan suara parau."Iya, Tuan. Saya temannya." Lany menjawab dengan ramah. Pria itu mengangguk lalu menyuruh Lany untuk masuk. Lany tak merasa gugup, karena ini sudah menjadi pekerjaannya sejak setahun yang lalu. Lany bahkan sudah mempelajari banyak hal agar kliennya puas. Karena banyak dari mereka yang selalu memberikan bonus jika Lany bisa memuaskan mereka.Lany berjalan mendekati laci di samping tempat tidur dan menyimpan tasnya di sana. Dia lalu melepaskan cardigan panjang yang dia pakai, memperlihatkan dirinya yang hanya memakai sebuah gaun pendek.Pria yang belum Lany ketahui namanya itu berjalan pelan mendekati ranjang. Dia tak menyentuh Lany, hanya duduk dengan mata kosong terarah pada dinding di depan. Lany jadi terheran-heran melihatnya. Selama ini, Lany seringnya mendapatkan klien yang agresif dan selalu terburu-buru."Siapa namamu?" Pria itu bertanya tanpa menatap Lany."Lany, Tuan." Lany menjawab lalu memberanikan diri duduk di samping pria itu."Sudah berapa lama kamu kerja begini?" Pria itu kembali bertanya. Lany menatapnya cukup lama, entah kenapa dia merasa tersinggung."Satu tahun, Tuan."Pria itu terdiam mendengar jawaban Lany, seolah sedang memikirkan sesuatu."Satu tahun ya. Kenapa dia gak jadi wanita panggilan juga? Lumayan kalau di bayar."Lany menatap pria itu dengan bingung. Siapa yang pria itu maksud? Tapi sepertinya, memang bukan dia.Cukup lama mereka sama-sama terdiam dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Lany pun tak tahu harus apa, karena pria di sampingnya tak memperlihatkan keinginan untuk segera melakukan seks. Jadi, mungkin Lany akan menemani pria itu mengobrol saja. Sampai pria itu sendiri yang meminta lebih dulu.***Lany memang bekerja sebagai wanita panggilan. Hingga tak aneh, kalau yang harus dia lakukan adalah melayani kebutuhan biologis para pria yang membayarnya.Namun selama setahun bekerja, baru kali ini Lany mendapatkan klien yang berbeda. Pria itu, tak melakukan apa-apa padanya. Dia hanya bercerita pada Lany, menceritakan kisah hidupnya. Walau Lany tak terlalu paham, dia mendengarkan dengan seksama.Mereka tak melakukan hubungan badan, dan pria itu hanya memeluk Lany, berkata kalau dia hanya membutuhkan seseorang untuk mendengarkan keluh kesahnya. Lany tentu senang, karena dia tak perlu lelah dan berkeringat untuk mendapatkan uang.Pagi hari saat bangun, Lany mendapatkan dirinya masih berada dalam pelukan pria itu. Pria bernama Sebastian, yang Lany terka memiliki banyak beban hidup. Apakah beban hidup pria itu terlalu berat hingga dia tak bergairah? Menjadi sebuah tanda tanya bagi Lany."Tuan, ini sudah pagi. Saya harus segera pulang." Lany berbicara kala dia sulit melepaskan lengan kekar pria itu dari pinggangnya."Aku akan bayar lebih." Pria itu bergumam, menandakan kalau Lany harus tinggal lebih lama. Lany pun tak menolak, dan kembali diam. Lumayan dong. Dia bisa mendapatkan uang tanpa harus melakukan apa-apa. Cukup diam dan mendengarkan cerita pria bernama Sebastian tersebut."Kamu punya orang tua?" Tiba-tiba Sebastian bertanya, membuat Lany cukup terkejut dengan pertanyaannya."Ayah dan ibu saya sudah meninggal dunia. Ibu tiri saya entah berada di mana." Lany menjawab secara jujur, sesuai kenyataan. Tak ada kesedihan dalam sorot matanya, karena dia sudah tegar menerima nasib hidupnya."Kamu tak punya keluarga lain?""Ada. Tapi mereka yang tak mau mengakui sebagai keluarga. Saya tak bisa memaksa masuk ke dalam keluarga mereka.""Hm. Kenapa kamu kerja seperti ini?" Lany terdiam mendengar pertanyaan itu. Memang tak sedikit yang menanyakan hal sama padanya."Uang. Itu yang saya butuhkan untuk kebutuhan hidup." Lany menjawab dengan lugas. Sebastian bergumam tak jelas saat mendengar itu. Posisi tangannya masih memeluk pinggang Lany, dengan wajah berada di dada wanita tersebut. Mata terpejam, merasakan kenyamanan yang timbul, tanpa berniat melakukan hal lebih."Ah, kau benar. Hidup di kota ini tidak mudah," gumam Sebastian lebih jelas. Lany terdiam lagi, merasa sebal juga. Sudah tahu, kenapa masih bertanya?"Apa kamu selalu menikmati sentuhan semua laki-laki yang tidur denganmu?" Sebastian bertanya lagi. Lany cukup terkejut mendengar pertanyaan Sebastian barusan."Tidak. Saya melakukannya demi uang." Lany menjawab dengan pelan. Memang, kadang Lany menikmati permainan yang dia lakukan dengan para kliennya. Tapi tak sedikit yang membuat Lany merasa tak nyaman. Intinya, dia tak bisa menikmati semua sentuhan pria yang membayarnya. Lany bisa ikut menikmati, tergantung bagaimana sentuhan yang dia dapatkan.Sebastian terdiam cukup lama mendengar itu. Dia tak bicara lagi, dan tetap sibuk dengan pikirannya sendiri. Hingga akhirnya dia bersuara kembali, dan berhasil membuat Lany merasa sangat kaget."Aku akan menjamin kehidupanmu asal kamu hanya melayaniku saja. Kamu sanggup?"Lany duduk berhadapan dengan Sebastian di sebuah restoran mewah bintang lima. Tentu itu bukan tempat aneh bagi Lany, karena dia juga pernah ke sana beberapa kali dengan kliennya. Well , bisa dibilang Lany cukup beruntung sebagai seorang wanita panggilan. Karena selama ini, kebanyakan pria yang dia temani bukanlah sembarang pria. Maksudnya, pria-pria itu memiliki status sosial yang tinggi. Bahkan, Lany juga pernah mendapatkan klien seorang pejabat negara.Namanya -sensor-."Aku mau nasi goreng seafood dan lemon tea saja." Lany menutup buku menu seraya menyebutkan makanan yang akan dia pesan. Pelayan yang berdiri di dekat meja langsung mencatat pesanan Lany."Samakan saja." Sebastian menimpali dengan singkat. Pelayan itu mengangguk, lalu pamit undur diri.Lany melipat tangannya di atas meja, lalu menatap Sebastian. Dia tak pernah gugup melakukan ini, karena dia selalu bisa profesional. Ini semua demi uang, bukan cinta. Jadi, tak perlu memakai perasaan."Jadi Tuan, bagaimana surat perjanjian yang aku minta?" Lany bertanya disertai senyuman yang manis. Sebastian menatapnya dengan datar, tak merasa tertarik. Oke, bisa dibilang dia menjadikan Lany sebagai simpanan hanya untuk ajang balas dendam dan pembuktian saja. Membuktikan kalau dia juga bisa mengikat wanita manapun yang dia inginkan. Membuktikannya pada sang tunangan, Rhita."Perjanjian seperti apa yang kamu mau?" Sebastian bertanya. Lany diam sesaat, dan berpikir."Mudah saja. Tuan sebagai pihak pertama berhak mendapatkan pelayanan yang sangat baik dariku. Dan aku sebagai pihak kedua, berhak mendapatkan jaminan hidup yang cukup." Lany menjawab dengan simple. Masa bodoh Sebastian mencapnya sebagai wanita matre, karena nyatanya uang adalah segalanya bagi Lany."Uang kan yang kamu butuhkan?" tanya Sebastian. Lany hanya menjawab dengan senyuman saja."Kartu kredit yang aku berikan itu sebagai jaminan yang tagihannya akan langsung masuk ke rekeningku. Jadi, kamu bebas membeli apapun dengan kartu itu," ucap Sebastian. Lany mengangguk pelan mendengar itu. Ah, dia sempat lupa kalau Sebastian sudah memberinya sebuah kartu kredit unlimited ."Apa lagi yang kamu butuhkan? Apartemen? Rumah? Kendaraan? Katakan saja agar aku membelinya untukmu," ujar Sebastian. Mata Lany membulat sempurna mendengar itu."Apa saja terserah Tuan. Aku akan menerima semua pemberian Tuan," jawab Lany. Sebastian mengangguk kecil mendengar itu. Sungguh, acara makan siang ini membuatnya bosan sebenarnya. Tapi, rasanya setiap hari bahkan setiap jam dia merasakan hal yang sama. Tak ada perasaan menggebu-gebu saat bersama Lany. Yang membuktikan kalau kehadiran wanita itu tidaklah begitu penting.Simpanan. Ya, statusnya pun hanya sebagai simpanan saja. Tak ada yang istimewa.Sebastian mengambil ponselnya, dan mulai sibuk dengan urusan sendiri. Sementara Lany, sedang menikmati suasana. Menatap sekeliling, tak pernah bosan mengagumi interior restoran yang mewah. Norak? Bisa saja. Tapi, Lany memang kagum dengan tempat makan yang megah tersebut.Lany tak protes, tak mempermasalahkan Sebastian yang sibuk dengan ponsel. Tujuannya hanya menemani pria itu saja. Pria itu mau melakukan apapun, bukan urusan Lany. Sekali lagi Lany tegaskan, ini semua demi uang. For the sake of money.Setelah lama menunggu, akhirnya pelayan datang membawakan pesanan Lany dan Sebastian. Berbeda dengan Sebastian yang memasang wajah bosan, Lany malah terlihat riang. Tentu saja dia sedang berbahagia. Alasannya memang karena Sebastian. Lebih spesifik, Lany bahagia karena Sebastian akan menjadi sumber uang tetap baginya.Itu berarti, mulai sekarang Lany hanya perlu melayani Sebastian. Dia hanya perlu memuaskan pria itu. Tak perlu lagi berkencan dengan pria yang berbeda setiap malam. Ditambah lagi, Sebastian akan memberikan tempat tinggal untuknya. Siapa juga yang mau menolak?Ditambah, Sebastian tak begitu buruk dalam segi fisik. Dia tampan. Tubuhnya cukup atletis, dengan dada bidang dan perut kotak-kotak. Lalu bahu lebar, dan paha yang berotot. Satu lagi, that's dick . Lany sungguh menyukainya, karena dia pun ikut terpuaskan.Lany jadi teringat seks panasnya dengan Sebastian tadi. Sebastian juga hebat dalam urusan ranjang, dan mampu membangkitkan gairah Lany. Itu berarti, Lany mendapatkan banyak keuntungan. Tak ada kerugian apapun.***Selesai makan siang, Sebastian mengajak Lany ke mall. Tujuannya adalah menemani Lany berbelanja segala macam barang yang dibutuhkan dan diinginkan. Sebastian meminta Lany untuk langsung tinggal di apartemennya. Karena itu, Lany harus belanja segala kebutuhan pribadinya. Karena Sebastian juga melarang Lany untuk membawa barang-barang dari apartemen lamanya. Untuk apa mengangkut barang jika membelinya juga bisa?Lany berjalan mendekati deretan dress yang memiliki potongan pendek, dan memperlihatkan kesan seksi. Dia memilih beberapa yang cocok dan dia sukai. Sebastian sendiri yang menawarkan, jadi untuk apa dia malu-malu?"Buat apa semua baju itu?" Sebastian bertanya dengan sebelah alis terangkat. Lany menoleh, dan tersenyum miring."Untukmu, Tuan." Lany menjawab dengan singkat disertai senyuman penuh misteri. Sebastian tertawa remeh setelah mendengar itu. Berani juga ternyata."Seberani apa dirimu? Aku jadi penasaran." Sebastian menantang. Lany menaruh semua dress itu di raknya semula lalu mendekati Sebastian. Lany memasang ekspresi nakal, dengan tangannya yang berani menyentuh alat kelamin Sebastian.Tangan Lany bergerak naik turun, mengusapnya. Hingga Lany bisa merasakan benda itu mengeras dengan sempurna."Mari, Tuan. Ada butuh servis sekarang," ucap Lany dengan kedipan nakal. Dia meraih tangan Sebastian dan mengajak pria itu masuk ke dalam ruang ganti. Tanpa basa-basi, Lany langsung berlutut di hadapan Sebastian dan melepaskan ikat pinggang pria itu.Wajah Sebastian memerah, karena gairah yang sudah menguasai. Dia mendesis nikmat saat lidah Lany menjilat ujung kelaminnya. Lany tertawa puas, melihat ekspresi penuh kenikmatan dari Sebastian. Memang ini yang harus dia lakukan, agar Sebastian merasa puas dan tetap mempertahankannya.Tanpa aba-aba, Lany langsung melahap kejantanan Sebastian. Menghisapnya, dan mengocoknya secara bersamaan. Kepalanya bergerak cepat maju mundur, memberikan servis terbaik yang dia bisa lakukan. Tatapannya terlihat puas, kala melihat Sebastian mati-matian menahan desahan dengan mata tertutup.Gerakan kepala Lany semakin cepat, dibantu oleh tangan kanannya. Setelah beberapa saat, Sebastian menggeram dan menekan kepala Lany dengan kuat. Tubuhnya bergetar, menyemburkan cairan kepuasannya ke dalam mulut Lany. Dan tanpa rasa jijik, Lany menelannya.Lany membereskan celana Sebastian, memastikan penampilan pria itu agar tetap rapih. Kemudian, dengan sengaja dia menjilat bibirnya sendiri, menggoda sang tuan yang berdiri di hadapannya."Katakan saja apa yang Tuan inginkan, maka aku akan melakukannya sebaik mungkin. Tuan tak akan kecewa." Lany berucap dengan percaya diri. Setelah itu dia keluar dari ruang ganti, meninggalkan Sebastian yang sedang memulihkan tenaga.Lany memandangi wajah Sebastian dengan lekat. Sesekali jemari lentiknya menyentuh pipi Sebastian dan mengelusnya dengan lembut. Pria itu sedang tidur siang, dengan posisi memeluk Lany. Mereka tidur di kamar utama. Hanya tidur, tidak melakukan apapun. Lany juga sempat tidur, namun dia lebih dulu bangun.Sebelum terlelap tadi, Sebastian dengan sengaja bercerita dan mengeluh padanya. Mengeluh akan hidupnya yang terus dikekang oleh sang ayah. Juga menceritakan siapa Rhita.Lany tentu penasaran, dan dia merasa puas karena mendapatkan jawaban. Tapi sungguh, jawaban dari Sebastian membuat Lany sangat terkejut.Jika dibandingkan, mungkin dia dengan Rhita itu memiliki kesamaan. Yaitu, sering tidur dengan banyak pria. Namun, alasan yang mereka miliki berbeda. Saat Lany melakukan semua itu demi uang, agar kehidupannya terjamin, Rhita melakukan itu memang hanya demi nafsu semata.Dari Sebastian, Lany tahu kalau Rhita katanya mengidap hypersex . Salah satu kelainan seks, di mana penderitanya selalu merasa kurang puas. Dan ternyata, Rhita sering melakukan hubungan seks dengan pria lain di belakang Sebastian, dengan alasan kalau Sebastian tak bisa memuaskannya.Perkataan Rhita itu terasa sebagai hinaan bagi Sebastian, hingga egonya sebagai lelaki terluka. Sebastian sempat ingin memaafkan, dan menyarankan Rhita untuk melakukan pengobatan. Namun nyatanya, tak ada hasil. Rhita malah bermain serong dengan psikiaternya sendiri.Karena hal itu, Sebastian membenci Rhita. Saat hati dan tubuhnya setia hanya untuk Rhita, tapi wanita itu tidak. Sampai sekarang Sebastian enggan lagi berhubungan badan dengan Rhita. Hinaan Rhita yang merendahkannya masih terngiang-ngiang, membuat Sebastian selalu diliputi amarah.Lany sempat kebingungan setelah mendengar cerita Sebastian tentang Rhita. Jika misalnya Sebastian merasa jijik karena Rhita sudah sering melakukan seks dengan laki-laki lain, lalu kenapa memilihnya menjadi seorang simpanan? Padahal sudah jelas kalau Lany bekerja sebagai wanita panggilan, yang berarti dia pun sudah sering melakukan seks dengan laki-laki lain.Namun alasan Sebastian membuat Lany sedikit terenyuh."Kamu berbeda dengannya. Kamu sanggup meninggalkan pekerjaanmu hanya untuk melayaniku seorang."Itulah alasan kenapa Sebastian mau menjadikan Lany sebagai simpanan. Simplenya, Sebastian hanya tak suka berbagi. Jika terjalin sebuah hubungan, maka Sebastian ingin mereka saling memiliki, tanpa berhubungan dengan orang lain. Entah itu dirinya, atau pasangannya.Mendengar itu, Lany merasa lega. Sekaligus merasa heran pada Rhita yang menyia-nyiakan pria seperti Sebastian. Padahal, jika bukan terdesak oleh keadaan, Lany pun enggan melakukan pekerjaan itu, bergonta-ganti pria. Namun apa daya, keadaan yang menjepit membuatnya terpaksa mau menjajakan tubuh demi uang. Karena hanya pekerjaan itu saja yang memudahkan Lany mendapatkan uang.Lany menarik kepala Sebastian, dan memeluknya. Pria itu tertekan oleh banyak hal, dan hanya menginginkan sesuatu yang sederhana. Yaitu seseorang yang mau mendengarkan semua keluh kesahnya, dan setia padanya seorang.Dan dalam hati, Lany berjanji akan melakukan itu. Selama Sebastian menjadikannya seorang simpanan, dia akan setia pada pria itu. Dia tak akan berhubungan dengan pria mana pun lagi, walau itu kliennya. Dan Lany akan berusaha menjadi tempat curhat Sebastian. Lany rasa, itu semua setimpal.Dia bisa menjadi pendamping Sebastian, sesuai keinginan pria itu. Dan Sebastian bisa menjamin kehidupannya agar tetap baik.Lupakan soal pelayanan Lany terhadap Sebastian perihal seks. Karena dia bukan hanya sekedar melayani. Tapi, dia ikut menikmati. Suka sama suka, tak ada yang terpaksa.***Malam ini, Lany dan Sebastian memustukan untuk tetap di apartemen. Lany memesan makanan via online untuk makan malamnya dengan Sebastian. Tentu saja Sebastian yang membayar. Hehe.Malam ini, sengaja Lany berdandan agar terlihat lebih cantik dan segar. Dia mandi, tak lupa keramas juga. Lany sengaja memakai sebuah dress tidur yang cukup seksi. Dengan tujuan memanjakan mata Sebastian.Selain itu, Lany juga memoles wajahnya dengan make up tipis. Tak lupa sebuah lipstik dengan warna natural agar tidak terlihat pucat.Sebastian menatap Lany penuh dengan rasa tertarik. Well , wanita muda itu cukup pintar untuk bisa memuaskan pandangannya. Dan tentu, bukan hanya itu saja."Bagaimana? Apa aku cocok memakai ini?" Lany bertanya seraya berdiri di depan Sebastian. Sebastian tersenyum tipis dan mengangguk. Lany ikut tersenyum melihat reaksi Sebastian yang tak mengecewakan.Tanpa rasa malu dan gugup, Lany melangkah mendekati Sebastian. Dia langsung duduk di atas pangkuan pria tersebut, yang disambut rangkulan mesra oleh Sebastian."Filmnya seru?" tanya Lany seraya melihat sekilas pada televisi. Sebastian hanya mengangguk, dan kembali fokus pada film yang sedang di putar. Sementara Lany, sibuk memandangi wajah tampan Sebastian dari samping.Mimpi apa dia hingga bisa bersama dengan pria tampan dan kaya raya seperti Sebastian? Ini seperti sebuah keberuntungan. Selain kemewahan yang diberikan, Sebastian juga memberikan pengertian pada Lany kalau tak setiap pria itu suka bermain dengan banyak wanita.Ah, sudahlah. Rumit memang menjelaskan tentang Sebastian dengan segala hal yang ada dalam dirinya, yang berbeda dari pria lain. Yang jelas, Lany beruntung.Lany memeluk leher Sebastian, lalu mengecup singkat pipi pria itu. Sebastian tak bereaksi apa-apa, membiarkan Lany melakukan apa yang diinginkan. Dan Lany pun semakin menjadi-jadi."Mas Tian, apakah film itu lebih menarik dari pada aku?" Lany bertanya dengan nada merajuk. Dia memaksa Sebastian untuk menghadap ke arahnya, dan matanya memicing tajam melihat ekspresi Sebastian yang terlalu biasa."Mau apa hm?" Sebastian bertanya dengan lembut. Dia meraih remote tv dan mematikannya. Kini fokusnya hanya pada wanita yang duduk di atas pangkuannya.Lany tak menjawab, hanya memberikan senyuman nakal. Dengan berani Lany menggoda Sebastian. Menyentuh dada pria itu, dan mengusapnya. Lalu menjilat telinga Sebastian, yang berhasil membuat Sebastian menggeram. Lany sudah tahu kalau telinga adalah salah satu titik sensitif para pria. Dia sudah belajar banyak hal."Kamu pintar menggoda juga rupanya," desis Sebastian. Tanpa aba-aba, Sebastian langsung membaringkan tubuh Lany di atas sofa. Lany tertawa genit, menarik kepala Sebastian agar semakin dekat dengannya."Ini memang tugasku," balas Lany. Dengan berani dia mencium bibir Sebastian. Tentu saja Sebastian tak menolak, dan membalas ciuman Lany tak kalah panas.Setelah beberapa saat, bibir mereka terlepas. Gairah mulai menguasai Sebastian, terlihat dari sorot matanya. Dan Lany bersorak riang karena berhasil membangunkan 'sesuatu'."Kamu lebih suka lidah atau jari?" Sebastian bertanya dengan suara berat dan serak. Mata Lany melebar tak percaya, namun berakhir terkikik geli."Kalau bisa dua-duanya, kenapa harus memilih salah satu?" Lany bertanya dengan pose menantang. Sebastian menyeringai mendengar jawaban berani dari wanita itu. Tanpa bicara lagi, Sebastian kembali mencium Lany dengan kasar. Tangan kekarnya bergerak berusaha menelanjangi wanita di bawahnya tersebut. Untuk saat ini, Sebastian ingin sekali mendengar Lany mendesahkan namanya. Itu pasti akan terdengar sangat menyenangkan.Lany keasyikan mengobrol dengan dua teman dekatnya sampai-sampai mereka bertiga lupa waktu. Setelah menghabiskan kurang lebih tiga jam di cafe, mereka memutuskan untuk belanja bersama ke mall sekalian jalan-jalan. Posisi Lany yang sudah berbeda membuatnya akan sedikit sulit untuk berkumpul dengan dua temannya tersebut. Karena jika mau, dia harus mendapatkan izin dulu dari Sebastian.Lany, Gesya, dan Clarissa asyik memilih baju dan sepatu. Tentu mereka memilih yang bagus dan berkualitas. Utamanya, yang bisa memperlihatkan sisi sensual mereka. Karena mereka membeli baju-baju itu untuk pekerjaan mereka.Lany ikut memilih dan hanya mengambil satu. Baru kemarin dia belanja dengan Sebastian, jadi dia masih memilih beberapa baju baru yang bahkan belum dia coba. Jadi, untuk sekarang Lany tak terlalu membutuhkannya."Lan, selain dibayarin belanja, kamu udah di beri apa saja?" Gesya bertanya seraya memilih sepasang sepatu hak yang cocok di kakinya."Ehm, sampai sekarang aku sudah di beri kartu kredit unlimited ." Lany menjawab dengan ekspresi polos seperti anak kecil."Ck, beruntung sekali kamu, Lan. Btw , kamu punya rencana gak?" Kini Clarissa yang bertanya."Rencana apa?" tanya Lany tak paham. Gesya dan Clarissa saling tatap. Gemas dengan Lany yang memang susah untuk diajak berpikir panjang ke depan."Saran dariku nih ya. Kamu gunakan pemberian dari Sebastian dengan sebaik mungkin. Ya, kamu bisa buat usaha offline atau online . Atau melakukan investasi. Jadi, saat Sebastian memutuskan hubungan denganmu, kamu gak perlu kerja malam lagi," ujar Gesya. Dalam matanya, terlihat keseriusan. Dia dan Clarissa memang lebih dulu terjun kerja sebagai wanita panggilan. Mereka memang sudah memiliki tabungan, tapi tak seberapa. Karena sebagian hasil kerja mereka juga dipakai untuk biaya hidup keluarga. Beda dengan Lany yang memang untuk dirinya saja."Gesya benar, Lan. Kamu berhak menjalani hidup normal. Apalagi kamu memiliki peluang besar bisa keluar dari pekerjaan malam ini," lanjut Clarissa. Lany terdiam, seraya memperhatikan sepatu hak berwarna hitam di depannya. Jujur saja, dia tak pernah kepikiran sampai ke sana."Kamu gak ada tanggungan, Lan. Beda dengan kita yang memang dituntut untuk selalu mendapatkan uang banyak dalam waktu singkat," sambung Gesya. Lany tetap diam, namun mulai memikirkan perkataan dua temannya tersebut. Tak salah juga sebenarnya."Aku pikir-pikir dulu," jawab Lany pada akhirnya. Gesya dan Clarissa tersenyum mendengar itu.Selesai memilih baju dan sepatu, mereka pun melangkah menuju kasir untuk membayar belanjaan. Tak ada yang aneh, dan semuanya berjalan dengan lancar tanpa masalah. Selesai belanja di mall, mereka berniat mencari tempat yang nyaman untuk kembali ngobrol dan berbincang-bincang. Tapi ternyata, Lany mendapatkan telepon dari Sebastian."Halo, Mas Tian. Ada apa?" Lany bertanya dengan ramah. Gesya dan Clarissa yang mendengar itu terkikik geli."Kantormu, Mas? Boleh saja. Tapi, aku gak tahu di mana tempatnya.""...""Oh, oke. Aku akan segera meluncur ke sana," ujar Lany riang. Setelah sambungan telepon di putus, Lany berbalik menghadap dua temannya."Mas Tian memintaku datang ke kantor tempatnya bekerja," ujar Lany dengan senyuman. Gesya dan Clarissa saling tatap cukup lama mendengar itu."Kamu yakin? Maksudku, apa itu bukan tindakan berbahaya?" tanya Clarissa hati-hati. Lany mengangkat kedua bahunya."Aku tak tahu. Tapi Mas Tian sendiri yang minta," jawab Lany jujur."Pergi saja, Lan. Tapi tetap hati-hati saja," ucap Gesya. Lany tersenyum dan mengangguk. Dia pun pergi meninggalkan kedua temannya untuk segera menemui Sebastian.***Lany tak mengkhawatirkan apa-apa, saat Sebastian menghubunginya dan memintanya datang ke kantor. Sebastian bahkan mengirimkan alamat kantornya lewat ponsel. Dan dengan mudah Lany menurut.Lany baru sadar, kala dia berhadapan dengan resepsionis untuk menanyakan di mana ruangan Sebastian. Tatapan bingung dan curiga dari resepsionis membuatnya sadar akan kenyataan.Dia ini hanya seorang simpanan. Bagaimana kalau nanti orang-orang curiga?Walau rasa khawatir mulai menyergap dalam hati, Lany tetap berusaha bersikap tenang. Dan akhirnya, dia bisa segera menemui Sebastian setelah tahu di mana ruangan kerja pria itu.Lany kagum, karena ternyata Sebastian merupakan pemimpin dari perusahaan besar. Itu berarti, Sebastian memang kaya raya. Pantas saja Sebastian dengan mudah memberinya sebuah kartu kredit unlimited .Saat pintu lift terbuka, Lany pun melangkah keluar dan mendekati ruangan Sebastian. Rasa khawatir kembali menyergap, kala sadar dia harus berhadapan dulu dengan sekretaris Sebastian. Dan beruntungnya, sekretaris Sebastian tak menanyakan apapun. Malah langsung menyuruh Lany untuk masuk."Kamu tersesat?" Sebastian melontarkan pertanyaan saat tahu kalau Lany sudah berada di ruangannya."Tidak. Hanya sedikit khawatir saja," jawab Lany jujur. Dia menyimpan tas belanjaan dan tas pribadinya di atas sofa secara asal. Kemudian menghampiri Sebastian yang masih duduk di kursi kerjanya."Khawatir apa?" Sebastian bertanya lagi. Tangannya direntangkan, menerima Lany yang langsung duduk di atas pangkuannya."Resepsionis dibawah sepertinya mencurigaiku," jawab Lany dengan suara pelan. Sebastian tak bereaksi lebih, membuat Lany keheranan."Mas, bagaimana kalau nanti tunangan Mas tahu tentang hubungan kita?" tanya Lany. Ada kekhawatiran dalam sorot matanya."Dia memang sudah tahu." Sebastian menjawab dengan mudah. Mata Lany melebar kaget mendengar itu."Dia tahu kalau aku memiliki wanita lain. Dan aku memiliki banyak alasan untuk memberikan pengertian padanya kalau dia tak berhak melarang." Sebastian menjelaskan. Lany paham apa yang dimaksud oleh Sebastian. Pasti hal tentang kelainan tunangan Sebastian tersebut."Apa semuanya akan baik-baik saja?""Jangan khawatir. Aku akan menjamin keselamatanmu," jawab Sebastian. Ujung bibirnya tertarik, membuat sebuah senyuman tipis. Lany ikut tersenyum melihat itu. Kemudian, tanpa malu Lany memeluk Sebastian dan menyandarkan kepalanya di bahu lebar sang pria."Ngomong-ngomong, ada apa Mas Tian memanggilku ke sini?" Lany mendongak, menatap wajah tampan Sebastian."Menurutmu?" Bukannya menjawab, Sebastian malah balik bertanya dengan senyuman misterius. Lany mengerling nakal kemudian turun dari pangkuan Sebastian."Mau bermain sebentar?" tanya Lany dengan genit."Lama pun tak masalah." Lany tertawa pelan mendengar itu. Dia kembali duduk di atas pangkuan Sebastian, dengan posisi mengangkang. Dia siap untuk memulai permainan panas dengan sang tuan. Yang tentu, dia sukai juga.Sebastian memeluk pinggang ramping Lany dengan lembut. Perlahan tapi pasti, Sebastian semakin memojokkan Lany ke arah ranjang. Lany tak menolak, dan menerima dengan senang hati. Tangannya tak henti menggerayangi dada dan perut Sebastian, membuat pria itu menggeram nikmat.Akhirnya, Lany terbaring pasrah di atas ranjang dengan Sebastian yang siap menggagahi. Mata sayu Lany membuat Sebastian semakin bernafsu. Dan dia kembali mencium bibir Lany, tanpa kelembutan.Lany mengerang, merasakan nikmat kala tangan Sebastian menyentuh dadanya. Remasan yang teratur membuat Lany keenakan. Tanpa sadar, Lany semakin membusungkan dadanya. Membiarkan Sebastian mempermainkan kedua buah dadanya.Gairah yang membara terlihat jelas dalam sorot mata Sebastian. Dia semakin tak tahan, kala Lany terus saja menggerling manja. Wanita itu, benar-benar hebat dalam hal menggoda dan merayu. Bahkan tak segan untuk memulai permainan panas mereka."Mas, buka saja," ujar Lany dengan suara lemah. Sebastian tak membalas, dan mulai melepaskan gaun tipis itu hingga hanya tersisa bra dan g-string saja. Dan tentu saja, dua kain itu juga tak bertahan lama di tubuh Lany.Sebastian menatap nyalang tubuh telanjang Lany, sudah tak sabar untuk segera melahapnya. Lany tak bisa berhenti tersenyum melihat segala ekspresi yang ditampilkan oleh Sebastian.Lany membuka kakinya, membiarkan Sebastian melihat bagian tubuhnya yang sudah basah dan mendambakan dirinya. Namun, Sebastian tak ingin buru-buru. Dia ingin mempermainkan wanitanya terlebih dahulu. Membuat wanitanya tersebut memohon padanya.Sebastian kembali mencium bibir Lany dengan perlahan dan lembut. Sementara tangannya, menyentuh setiap inchi kulit Lany yang tergapai. Meninggalkan jejak-jejak panas di tubuh Lany. Tubuh Lany menggelinjang pelan, tak sabar untuk segera mendapatkan yang lebih. Namun, Sebastian memang tak ada niatan untuk mengabulkan keinginan Lany secepat mungkin.Pelan, sentuhan bibir Sebastian turun ke dagu dan leher. Menciuminya perlahan, tanpa meninggalkan jejak. Lalu tak lama kemudian, wajah Sebastian berhadapan dengan dada Lany. Lany mendesah pelan merasakan puncak dadanya yang dikulum. Rasa nikmat menjalar ke seluruh tubuhnya karena Sebastian mempermainkan puncak dadanya dengan sangat baik.Desahan Lany semakin kuat, saat tangan kekar Sebastian menyentuh paha dalamnya. Pinggul Lany bergerak tak sabar, menginginkan jari Sebastian. Sebastian tak bisa menahan senyumnya lagi, melihat Lany yang seperti tersiksa oleh hasratnya sendiri."Ahhh...." Lany mendesah panjang saat merasakan belaian lembut di klitorisnya. Kedua tangannya meremas sprei dengan kuat, tak tahan dengan sensasi nikmat yang diberikan Sebastian. Kepala Lany bergerak tak tentu arah, saat lidah dan jari Sebastian memberikan kepuasan secara bersamaan. Sungguh, Lany tak pernah mendapatkan perlakuan seperti ini. Dan Sebastian, berhasil membuat Lany ketagihan untuk melakukannya lagi dan lagi."Ahh ahh. Mas, lebih cepat. Ahh..." Sebastian menurutinya, menggerakkan dua jarinya semakin cepat. Desahan Lany terdengar semakin bergema di dalam kamar mewah tersebut. Hingga akhirnya Lany menjerit penuh kenikmatan, saat orgasmenya datang.Sebastian tersenyum miring, melihat kewanitaan Lany yang berkedut. Kemudian dia melepaskan handuknya, dan mengurut kejantanannya. Jangan bilang dia tak bergairah. Karena sejak tadi dia pun sudah tak tahan."Cepat masukin, Mas." Lany meminta dengan tak sabar. Sebastian tertawa pelan, lalu memposisikan tubuh mereka agar segera menyatu. Baru juga masuk setengah, ponsel Sebastian yang berada di atas laci berdering nyaring. Tanpa memikirkan Lany, Sebastian mencabut kejantanannya dan mengangkat telepon yang masuk. Sementara Lany, menganga tak percaya karena ulah Sebastian."Siapa, Mas?" Lany bertanya penasaran. Dia memperhatikan Sebastian yang mendekati lemari dan memakai celana pendek juga kaos oblong polos."Pengantar makanan sudah di depan," jawab Sebastian kalem. Setelah berpakaian dan mengambil uang di dompet, Sebastian keluar dari kamar. Meninggalkan Lany ditengah-tengah percintaan mereka. Lany menggerutu, merasa kesal dengan kelakuan Sebastian. Padahal, dia sudah tidak tahan lagi. Tapi pria itu terus saja mempermainkannya.Lany turun dari atas ranjang dan berjalan keluar dari kamar dengan tubuh telanjang. Masa bodoh reaksi Sebastian, yang jelas dia akan menuntut pada pria itu. Enak saja meninggalkan dirinya saat semuanya belum selesai.Sebastian menutup pintu dengan tangan yang memegang kresek berwarna putih. Dia berbalik, dan cukup kaget melihat Lany yang berdiri telanjang beberapa langkah darinya."Sabar dong, Lan." Sebastian berbicara. Dia menaruh semua makanan itu di atas meja kemudian mendekati Lany yang sudah merajuk padanya."Ini yang kedua kalinya loh, Mas. Bagaimana aku tidak kesal?" Lany bertanya. Sebastian terkekeh geli mendengar itu. Dia lalu memeluk Lany, dan menggendong wanita itu untuk kembali ke kamar."Ya sudah. Ayo kita lanjutkan," ujar Sebastian. Bibir mereka kembali bertemu, berusaha membangkitkan gairah yang hampir padam. Lany jadi lebih agresif sekarang, mungkin karena kesal pada Sebastian. Namun, Sebastian tak membiarkan Lany menjadi pemimpin. Dia memaksa Lany agar tetap berada di bawah tubuhnya.Jari Sebastian kembali masuk ke dalam tubuh Lany, dan bergerak pelan membuat wanita muda tersebut mendesah nikmat. Setelah dirasa cukup, Sebastian langsung melepaskan pakaiannya. Melebarkan kaki Lany, dan mulai memasukkan kejantanannya ke dalam tubuh Lany.Lany mendesah, dengan tangan mencengkeram bahu Sebastian. Sebastian pun tak bisa menahan desahannya saat merasakan miliknya yang diremas kuat oleh Lany. Tak sabar, Sebastian pun segera menggerakkan pinggulnya.Desahan Lany terdengar begitu nyaring memenuhi kamar. Ini sungguh nikmat, hingga Lany tak ingin Sebastian berhenti. Kedua kakinya melingkar erat di pinggul Sebastian, tak membiarkan pria itu lepas darinya.Detik demi detik, gerakan pinggul Sebastian semakin cepat. Suara dua kelamin yang beradu terdengar sangat menggoda. Sebastian semakin mempercepat gerakannya, tak sabar untuk segera mencapai puncak kenikmatan."Mas Tian!" Lany menjerit, saat kembali mendapatkan orgasmenya. Disusul oleh Sebastian, yang menyemburkan banyak benih ke dalam rahimnya. Nafas mereka terengah-engah, dengan peluh yang membasahi sekujur tubuh. Lany memeluk Sebastian dengan erat, dengan nafas yang mulai teratur."Aku lupa tidak memakai pengaman." Sebastian berucap. Lany mengerjap pelan, mulai menyadari. Benar saja."Tak apa, Mas. Aku aman," balas Lany. Sebastian mengangguk, dengan tubuh masih terasa lemas.
Menikah Dengan Ceo Posesif
Bara Alexander Rodriguez, seorang CEO muda, gagah dan tampan. Ia merupakan idaman bagi setiap wanita. Namun, siapa sangka, di balik namanya yang melejit sebagai seorang pengusaha muda berbakat, Bara tak pernah sekali pun menjalin hubungan dengan wanita. Ia dijuluki berhati batu, bahkan Monica yang seorang model pun, tak mampu meluluhkan hatinya. Bara terlalu fokus dengan karirnya, semua waktunya hampir ia gunakan untuk memajukan bisnis konstruksi perusahaan keluarganya, Rodriguez Corporation. Selain itu, Bara juga kesulitan dalam mencari perempuan yang sesuai dengan kriterianya.Siang ini, Bara berjalan tergesa memasuki Kafe untuk bertemu dengan klien. Namun, ia malah menabrak seseorang hingga jatuh ke lantai.Bara langsung berjongkok melihat keadaan gadis bersuarai hitam sepunggung itu. Ringisan kecil keluar dari bibirnya."Maafkan saya, apa kau baik-baik saja?" tanya Bara sopan.Gadis itu mendongak lalu mengumbar senyum manis pada Bara. Detak jantung Bara berdebar kuat saat lesung di pipi kanan gadis itu terlihat jelas. Bara terpana dengan kecantikannya.Bara sadar, ada yang salah dalam dirinya. Gelora pertama yang ia rasa. Inikah yang disebut jatuh cinta pandangan pertama?Bagaimana dia bisa melakukan ini? batin Bara heran."Aku baik-baik saja, aku hanya terkejut," jawab Sheila pelan membenarkan tas slempangnya. Ia berdiri diikuti Bara.Sheila menatap Bara lekat, seakan terhipnotis dengan penampilan rapi dalam balutan jas hitam itu. Tubuh tinggi dengan badan tegap, rahang tegas, dan tatapan matanya mendebarkan.Penampilan fisiknya benar-benar mengesankan bagi Sheila. Hingga Sheila sadar, ia sampai tak berkedip saking kagumnya."Saya terlalu terburu-buru, hingga saya tidak menyadari keberadaanmu," jelas Bara lembut, rasanya baru kali ini Bara mengucapkan nada sehalus ini.Sheila mengangguk. "Iya, aku mengerti. Tidak apa-apa kok. Kalau begitu aku pergi, ya." Sheila mulai melangkah meninggalkan Bara."Tunggu," sergah Bara ketika Sheila telah berjarak lima langkah darinya.Sheila berbalik badan dengan cepat. Ia menunggu ucapan Bara selanjutnya. Bara tak kunjung berucap membuat Sheila dilanda kegugupan karena tatapan mata Bara seolah tengah menelanjanginya."Ada apa?" tanya Sheila memberanikan diri."Siapa namamu?" Rasa penasaran terpancar dari sorot mata Bara.Sheila tampak berfikir, ide jahil muncul di kepalanya. Lalu Sheila tersenyum simpul, ia mengucapkan namanya tanpa suara.Bara mengernyit, mencoba mengejanya, ia gemas saat Sheila mengulanginya beberapa kali. Pergerakan bibir mungil itu membuat Bara ingin menarik pinggang ramping itu lalu melumat habis bibir ranumnya."She ... ila," gumam Bara. Kebahagiaanya kian membuncah ketika Sheila mengangguk, pertanda mengiyakan.Sebelumnya, tidak pernah terasa begini. Debaran di dadanya terasa menyenangkan, wajah Sheila yang terlihat polos membuat Bara ingin melindunginya.Mendekapnya erat dan keduanya menghabiskan waktu bersama. Namun, itu masih sebatas khayalan tapi sudah membuat Bara terlena dalam imajinasi liarnya."Dia dengan mudahnya meruntuhkan pertahanan hati ini, apa mungkin dia yang aku cari?" Bara bertanya pada dirinya sendiri. Dari banyaknya wanita yang Bara temui, hanya Sheila yang dengan mudah membuatnya terobsesi untuk memiliki.Bara menyeringai, "Sheila, aku akan membawamu jatuh dalam pelukanku," tekad Bara penuh ambisi.Pintu ruangannya terketuk berulang-ulang, membuat bayangan Bara tentang Sheila buyar."Masuk," titah Bara dengan suara baritonnya. Pria itu dengan cepat merubah raut wajahnya menjadi datar dan terkesan dingin.Bryan berdiri di depan meja dengan tumpukan berkas di tangannya."Ada beberapa dokumen yang harus anda tanda tangani, Pak," ucap Bryan menaruh berkas bawaannya di meja Bara.Bara memajukan kursi lalu memeriksanya teliti. Ia lantas membubuhkan tanda tangannya. Bryan yang melihat Bara selesai langsung mengambilnya kembali."Kalau begitu, saya permisi," pamit Bryan membungkukan badan dan keluar.Bara mengangguk, ia berdiri seraya melonggarkan dasi yang terasa mencekik lehernya. Pikirannya tidak fokus, Bara harus menggali informasi tentang Sheila secepatnya.Bara berjalan melewati mejanya, ia tidak sengaja menginjak sebuah dompet berwarna coklat tua. Dahi Bara mengernyit lalu mengambilnya.Kedua mata Bara memandang remeh."Jelek sekali seleranya," desis Bara mengamati penampilan dompet itu. Tangan Bara tergerak untuk melihat isinya. Pupil matanya melebar saat foto gadis yang terus membekas di ingatannya ada di sana. Sheila tengah tersenyum manis bersama Bryan. Terasa begitu dekat dan bahagia."Ada hubungan apa Bryan dan Sheila?" geram Bara, darahnya seakan mendidih disertai emosi yang bergolak."Permisi." Bryan datang lagi mengetuk pintu."Masuk!" seru Bara dengan tatapan tajam yang menusuk manik mata Bryan.Bryan menelan ludahnya kasar merasakan aura gelap yang menguar dari diri Bara. Apalagi pandangan Bara yang seakan ingin membunuhnya.Tujuan Bryan datang kemari adalah untuk memastikan. Apakah dompet miliknya terjatuh di sini atau tidak. Rupanya memang benar, saat ia melihat Bara memegangnya."Maaf Pak, itu dompet saya," ucap Bryan."Siapa perempuan ini?" tanya Bara langsung pada inti."Dia calon istri saya," jawab Bryan sungguh-sungguh.Bara syok mendengarnya, ia bagai tersambar petir. Baru saja ia akan mengincar Sheila tapi, kenapa semuanya seperti ini? Apa kali ini takdir tidak akan berpihak padanya? Bara tidak rela jika Sheila bersama dengan Pria selain dirinya. Tidak boleh!Bryan merogoh sakunya setelah merasakan getaran ponselnya. Bryan mendapati pesan masuk dari adiknya yang mengatakan jika ibunya jatuh di kamar mandi dan sekarang dirawat di rumah sakit. Dokter harus segera melakukan tindakan operasi karena ibunya mengalami stroke.Bryan menatap ragu pada Bara, ia gugup sekarang. Pria itu menghela napas panjang menenangkan dirinya."Pak, bolehkah saya meminjam uang untuk biaya operasi ibu saya? Tolong Pak, saya sangat membutuhkannya," mohon Bryan dengan wajah mengerut cemas."Ibumu sakit apa?" tanya Bara sekedar basa-basi."Beliau stroke dan harus segera di operasi," jelas Bryan."Baiklah, asal ada jaminannya," kata Bara tersenyum sinis. Hal ini akan Bara menfaatkan dengan baik untuk merebut Sheila.Bryan berfikir keras, ia hanya tinggal di rumah kontrakan. Mobil pun tidak punya, apa yang harus ia jaminkan?"Saya hanya memiliki motor," ucap Bryan apa adanya."Saya tidak mau!" tolak Bara keras."Bagaimana … jika tunanganmu sebagai jaminannya," usul Bara bersidekap tangan menampakan aura otoriternya.Bryan tertohok, seketika hatinya langsung panas mendengar penuturan Bara. Bryan mengepalkan tangan, ia mati-matian menahan dirinya untuk tidak menghajar wajah sombong Bara yang notabene adalah Bossnya."Tidak! Apa maksud Bapak berkata begitu? Saya tidak akan melepaskan Sheila! Carilah perempuan lain, Sheila bukan wanita seperti itu!" tegas Bryan menentang keras. Kemarahan menyala di matanya."Tau apa kau tentang saya? Saya jatuh cinta padanya saat kami tidak sengaja bertemu. Tapi sialnya kau mengenalnya lebih dulu!" sesal Bara frontal."Saya tidak akan menyetujuinya, apapun selain itu saya akan turuti," kata Bryan.Suasana terasa tegang saat Bara dan Bryan saling melempar sorot permusuhan."Tidak ada," ketus Bara memalingkan wajah.Tak lama terdengar telfon masuk pada ponsel Bryan, ia segera mengambilnya."Kak, tindakan operasi harus segera dilakukan, jika tidak ... ibu akan meninggal. Biayanya sekitar 150 juta, Kak," ucap Tiara diiringi isakan melalui sambungan telfon.Wajah Bryan berubah pias, tangannya gemetar ia tidak ingin kehilangan ibunya secepat ini."Katakan iya, Kakak akan segera melunasi biayanya!" perintah Bryan cepat.Bara menjengitkan sebelah alisnya. "Bagaimana? Apa kau masih bisa bersikap sombong ketika terdesak?" sindir Bara terdengar angkuh dan menyebalkan.Bryan memejamkan matanya erat, meredam emosi. "Baik saya setuju." Seketika rasa sesal memenuhi hati Bryan."Pilihan yang tepat Bryan," puji Bara tersenyum puas semakin membuat Bryan meradang.Bara mengambil selembar kertas yang sudah tertempel materai dan menyodorkannya pada Bryan."Tanda tangan di sini," titah Bara. Bryan berjalan mendekat dan mematuhi perintah Bara.Bara mengambil ponselnya. "Saya sudah transfer uangnya. Silahkan pergi," usir Bara."Baik, terima kasih," balas Bryan dengan nada tidak ikhlas. Tangan Bryan mengepal kuat dengan emosi yang menderu.**Sheila menghampiri Bryan dengan rasa khawatir dan cemas yang begitu jelas dari wajahnya. Sheila langsung duduk di kursi sebelah Bryan. Sheila mendapat kabar dari Bryan dan ia langsung bergegas ke rumah sakit."Bryan bagaimana keadaan ibumu?" tanya Sheila."Kondisinya berangsur membaik setelah operasi," jawab Bryan terdengar lelah."Syukurlah, aku turut senang mendengarnya," sahut Sheila tenang.Detik berikut, Bryan menggenggam kedua tangan Sheila dan mengecupnya lembut. Sheila menyadari ada yang berbeda, sorot mata Bryan tampak sendu."Sheila, berjanjilah, kamu akan terus mencintaiku," ucap Bryan terdengar memohon.Sheila tersenyum manis, tanpa ragu dia menjawab. "Iya, aku berjanji."Ada kelegaan yang Bryan rasakan, sedari tadi seperti ada tali yang mengikatnya kencang dan membuatnya sesak. Namun, sekarang tali itu telah melonggar seiring dengan kecemasan yang perlahan memudar. Berada di dekat Sheila membuat Bryan nyaman. Dan binar kebahagiaan di mata Sheila seolah mengatakan semuanya baik-baik saja."Persiapan pernikahan kita sudah selesai kan?" tanya Bryan.Sheila mengangguk pelan. "Sudah, kita hanya mengundang sahabat dan keluarga saja," jelas Sheila mantap."She, aku ingin memajukan tanggal pernikahan kita menjadi minggu depan," ucap Bryan membuat Sheila terkejut.Inilah solusinya, jika Bryan menikahi Sheila secepatnya Bara tidak akan mengambil Sheila darinya.Sheila menangkup wajah Bryan, "Apa kamu takut kehilanganku?" goda Sheila mengusap lembut pipi Bryan."Ya, aku sangat takut," jawab Bryan yakin dan lugas. Bryan menarik Sheila lalu membawanya ke dalam pelukan. Dari perlakuan Bryan itu, justru menghadirkan perasaan aneh dalam hati Sheila.Apa yang Bryan sembunyikan?Tanpa mereka sadari, pria berwajah tampan tapi mematikan itu tengah mengintai mereka dengan senyum dan tatapan bak iblis. Ya, dia Bara Alexander Rodriguez, pria yang memiliki keinginan yang sangat kuat dan harus selalu terpenuhi."Lihat saja Bryan, aku tidak akan membiarkan rencanamu berjalan mulus!"Sheila melirik ke arah jam tangannya. Waktu menunjukkan pukul empat sore. Ia menatap Bryan."Yan, sepertinya aku harus pulang. Maaf, tidak bisa menunggu ibumu sadar. Aku ingat, masih ada pesanan yang belum selesai," ungkap Sheila."Iya, She," jawab Bryan."Semoga ibumu cepat pulih," kata Sheila."Amin. Hati-hati, She. Aku minta maaf tidak bisa mengantarmu pulang," balas Bryan. Sheila tersenyum sembari mengusap pundak Bryan."Aku tau kondisimu, Bryan. Secepatnya aku akan kembali nanti. Kalau begitu aku pamit, ya," pamit Sheila."Iya."Sheila berada di pintu keluar rumah sakit. Namun, hujan turun dengan lebat. Sheila mengangkat kedua tangan untuk melindungi wajah agar pandangannya bisa melihat jelas ke depan. Terpaksa, Sheila berlari menerobos guyuran hujan deras dari pelataran demi menuju halte.Napas Sheila memburu, ia mengusap wajahnya."Hey, kita bertemu lagi." Suara berat dan rendah itu membuat Sheila menoleh.Bara menatap Sheila dengan pendar hangat. Bara memang sudah menduga, Sheila pasti akan kemari karena ia membuntuti Sheila dan bergerak cepat mendahului gadis itu.Sheila tersenyum canggung, "Senang bertemu denganmu," balas Sheila memandang Bara sebentar lalu mengusap lengannya."Sepertinya, hujan yang mempertemukan kita," timpal Bara.Kedua sudut bibir Bara terangkat, senyumannya yang jarang terlihat. Namun, Bara ingin Sheila melihat sisi manisnya. Menginginkan Sheila mengaguminya.Sheila terpana, ia tidak menyangkal, Bara begitu karismatik di matanya.Jatuhlah dalam pesonaku, Shei, batin Bara.Sheila ingat! Kamu sudah punya Bryan! peringat hati kecil Sheila."Astaga!" seru Sheila menggeleng, sudah seharusnya ia menjaga pandangan."Kau kenapa, Shei?" Kening Bara mengerut karena Sheila berucap dengan nada terkejut."Hm, a-aku melamun tadi," jawab Sheila menunduk, melihat ke ujung sepatunya."Oh.""Shei, saya ingin kita berkenalan secara resmi," pinta Bara seraya mengulurkan tangan.Sheila tersenyum salah tingkah. Gaya bicara Bara terdengar unik.Semakin sering melihatmu tersenyum, semakin dalam rasa ini padamu.Entah sudah berapa kali Bara terus memuji Sheila. Seolah gadis itu adalah hal paling indah yang pernah ia temui di sepanjang hidupnya.Sheila menjabat tangan Bara, kulit tangan Sheila terasa lembut dan begitu pas di genggaman Bara. Perasaan Bara bergejolak, denyut nadinya berpacu cepat. Bara jadi berpikir, apa Sheila merasakan hal sama?"Sheila Annatasya," ucap Sheila dengan degup jantung menggila. Namun, Sheila pastikan, ini hanyalah debaran biasa karena Sheila gugup di dekat Bara. Ya, Sheila tak menyangkal pesona Bara sekuat itu."Bara," balas Bara singkat, kemudian tautan tangan mereka perlahan terlepas.Sheila memeluk lengannya, angin berhembus dingin menerpa halus kulitnya.Bara melepas jas hitamnya lalu menyampirkannya di belakang punggung Sheila.Sheila menatap Bara tidak enak."Nanti jaketmu basah." Sheila hendak melepas, tapi tangan Bara menahannya."Jangan pedulikan itu, akulebih khawatir jika kau jatuh sakit karena kedinginan," ucap Bara berhasil membuat hati Sheila menghangat."Tapi ... bagaimana jika pacarmu melihat kita?" tanya Sheila panik. Ia tidak ingin dicap sebagai perebut kekasih orang.Bara tergelak mendengarnya. Apa Sheila bilang? Pacar? Yang benar saja, asal Sheila tahu dialah perempuan yang Bara inginkan.Dahi Sheila mengernyit, apa ada yang lucu dari pertanyaannya?"Sheila kau ini ada-ada saja, aku belum memiliki pacar," aku Bara membuat Sheila melongo serta mulut yang sedikit menganga.Sheila bertanya ragu dalam benaknya. Apa iya, pria sebaik dan setampan Bara belum memiliki pendamping?"Aku sibuk mengurus bisnis, sampai aku masih belum memikirkan untuk memiliki pendamping hidup," jelas Bara seakan mampu membaca pertanyaan yang muncul di benak Sheila.Sheila mengangguk paham. Di zaman sekarang memiliki uang banyak dan jabatan tinggi adalah keinginan semua orang.Atensi keduanya teralih pada sebuah mobil hitam mewah yang berhenti tepat di depan halte."Sheila, jika kau tidak keberatan, ikutlah denganku. Aku akan mengantarmu pulang," ajak Bara."Gak usah repot-repot. Aku naik taksi aja," tolak Sheila pelan."Shei," panggil Bara dengan tatapan yang penuh harap."Baiklah, aku ikut," jawab Sheila.Bara menggulung lengan kemejanya sampai siku menampakkan otot-otot yang tercetak jelas di sana. Sheila tersipu merasakan pipinya memanas.Bara memegang payung putih pemberian sopirnya. Bara memayungi Sheila bahkan tangannya memeluk lengan Sheila dari belakang. Bara membawa tubuh Sheila merapat padanya. Sheila sempat terkejut, ia mendongak melihat payung itu lebih banyak ke arahnya.Bara melindunginya, kenapa Bara peduli padanya?Degup jantung Sheila berdebar kencang. Tubuh Bara begitu kuat dan tinggi. Lengan kokoh Bara melingkupi erat tubuhnya."Perhatikan jalanmu, Shei! Jika tidak, kau bisa tersandung," peringat Bara padahal keduanya hanya berjalan pelan dan lurus.Sheila mengalihkan pandangan kikuk, ia tertangkap basah karena terlalu lama mengamati Bara."Tapi, tak apa, jika kau jatuh. Saya yang akan menangkapnya," lirih Bara yang tak didengar Sheila karena suara gemercik hujan menyamarkannya.**Sheila telah sampai di rumahnya bahkan Bara sudah kembali masuk ke mobilnya. Namun, detik itu Sheila berbalik."Bara, tunggu sebentar," sergah Sheila membuat Bara tidak jadi menaikkan kaca jendelanya.Sheila berlari masuk ke rumah membuat Bara menunggu kedatangan Sheila."Aku mau kasih ini," ucap Sheila.Bara tersenyum kecut seraya meraihnya. "Undangan, ya," gumam Bara biasa, padahal hatinya panas, terbakar cemburu."Aku tunggu kedatanganmu," ucap Sheila dengan wajah berseri.Aku akan datang, tapi bukan sebagai tamu, melainkan calon suamimu! jawab Bara dalam hati."Pasti, aku akan datang," pungkas Bara."Hati-hati." Sheila melambaikan tangan ketika mobil Bara mulai melaju.Bara meremat kuat undangan berwarna pink berpadu warna putih itu. Sangat muak. Sayup-sayup, Bara mendengar suara dari heandsetnya."Sheila, kau sudah memiliki Bryan, jangan sampai hatimu berpaling.""Iya, Ma. Itu tidak akan terjadi, Bryan adalah Lelaki yang baik. Dia satu-satunya lelaki yang aku cintai."Bara mendengarnya karena ia memasukan penyadap suara ke dalam kantong kecil tas Sheila tanpa sepengetahuan Sheila.Sontak emosi Bara langsung melesak naik. "Tidak ada Pria yang boleh kau puji selain aku, Sheila! Secepatnya, aku akan mengambilmu dari Bryan!" tekad Bara berapi-api.**Waktu terus bergulir, hari yang begitu dinanti Sheila dan Bryan telah tiba. Momen mendebarkan sekaligus bermakna bagi keduanya. Sheila duduk menghadap cermin memandang pantulan dirinya yang memakai kebaya putih dengan model kutu baru serta rambut yang disanggul, memancarkan aura kecantikannya.Laras memegang pundak Sheila dengan wajah berseri-seri. "Shei, Mama sampai pangling loh," puji Laras, ibu Sheila."Ah, Mama," ucap Sheila tersipu malu. "Padahal Mama awet muda, masih cantikkan Mama daripada Sheila," goda Sheila diiringi kekehan geli."Kau ini bisa saja," balas Laras mencubit pipi Sheila gemas.Pintu kamar Sheila kembali terbuka, Sheila dan Laras kompak menoleh. Perempuan dengan tinggi semampai dan senyum merekah berjalan ke arah mereka."Ya, ampun Shei. Kau cantik sekali!" puji Kayla histeris."Kayla bisa aja," ucap Sheila dengan paras yang merona.Rasanya masih seperti mimpi bagi Laras, putri kecilnya telah tumbuh dewasa. Dan, kini akan memulai lembaran baru bersama Bryan. Laras menitikan air mata, terharu. Ia menyekanya cepat, tidak ingin Sheila mengetahuinya.Semoga kau bahagia sayang, putri tercinta Mama dan Papa, batin Laras."Kita ke depan, semuanya sudah menunggu," kata Laras pelan.Sheila menarik napas panjang lalu menghembuskannya pelan."Santai, Shei," ucap Kayla terkekeh. Sheila milirik kesal pada Kayla karena terus menertawakannya.Laras dan Kayla berjalan bersisian menggiring Sheila menuju tempat akad nikah dilangsungkan. Tepatnya di ruang tamu rumah Sheila yang telah didekorasi sederhana tapi, mempesona.Ketika Sheila menginjakkan kakinya kemari, semua perhatian berpusat padanya. Sheila gugup, ia berusaha mengumbar senyum. Sheila melihat Bryan yang tampak berwibawa dengan jas putih yang membalut tubuhnya.Laras menarik kursi mempersilahkan Sheila duduk di samping Bryan. Senyum yang terpatri di wajah Bryan membuat Sheila bersemu. Pria itu memuji Sheila dari pancaran matanya. Tak terkecuali para tamu yang menatap Sheila terkesima.Degup jantung Sheila berdebar kuat. Ada yang aneh, di balik rasa bahagia yang menggebu terselip keresahan di hatinya."Baik, mari kita mulai," kata Pak Penghulu.Ayah Sheila mulai mengulurkan tangan dan Bryan dengan mantap menjabat uluran tangan itu."Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau ananda Bryan Darmawan bin Hasan Darmawan Almarhum dengan anak saya bernama Sheila Annatasya binti Herman Kurniawan dengan mas kawin senilai delapan juta rupiah dibayar tunai.""Saya ter──""Hentikan!"Jantung Bryan serasa berhenti berdetak, wajahnya memucat.Semua orang di sana berdiri ketika melihat Bara, pria itu datang mengagetkan semua orang. Nama Bara tengah melejit lantaran masuk jajaran pengusaha muda dan kaya raya.Bara berjalan gagah menampakan raut wajah sangar, menahan emosi. Pandangannya tak lepas dari Sheila.Aku datang, Shei. Menepati janjiku, ucapnya dalam hati.Tersirat keinginan kuat dari sorot matanya untuk memiliki Sheila."Bryan, apa kau lupa perjanjian kita?!" sindir Bara.Hampir semua orang yang mendengarnya mengerutkan kening diiringi tanda tanya besar.Bryan menelan ludahnya berat. Mulutnya terasa pahit, tenggorokannya tercekat. Darimana Bara tahu jika pernikahannya diadakan sekarang?"Kau lupa Bryan? Sainganmu ini bukan orang sembarangan!" tegas Bara melipat tangan.Sheila menatap Bryan kemudian beralih pada Bara. Sesungguhnya apa yang terjadi?Bara mendekat lalu mencengkeram kerah Bryan membuat tubuh keduanya hanya berjarak satu jengkal.Seringaian jahat terbit di wajah Bara. "Kau cerdik, tapi saya licik Bryan. Bisa-bisanya kau ingin menikah dengan Sheila, sementara Sheila menjadi jaminan atas hutangmu!" kelakar Bara kesal menghempas tubuh Bryan ke samping hingga membentur meja.Sheila tercengang, "Hutang?" tanyanya bingung.Bryan menunduk lemah. Lidahnya terasa kelu untuk menjelaskan.Herman menatap nyalang Bryan yang diam seperti pengecut."Kau ini! Beraninya menjadikan putriku sebagai jaminan! Kau kurang ajar Bryan!" seru Herman kecewa, dadanya naik turun beriringan dengan emosi yang menderu.Tangan Herman melayang di udara hendak menampar Bryan, tapi Sheila menghentikannya.Rupanya, perseteruan ini yang membuat kegundahan di hati Sheila."Ayah, Bryan pasti memiliki alasan mengapa dia melakukan ini," bela Sheila mengusap lengan ayahnya memberi ketenangan. Meski dirinya juga syok atas tindakan Bryan."Bryan, jelaskan sejujurnya," pinta Laras menengahi di atas ketegangan yang menguasai.Bryan menghembuskan napas berat. "Saya terpaksa melakukan ini. Memang benar, saya meminjam uang pada Bara. Uang itu saya gunakan untuk biaya operasi Ibu saya. Saya berjanji akan membayarnya, tapi Bara bersikeras menginginkan Sheila menjadi jaminannya.""Saya sudah menolak. Namun, di sisi lain saya butuh uang itu segera. Demi keselamatan ibu saya," jelas Bryan pilu. Sheila trenyuh mendengarnya.Sedangkan Bara justru berdecak malas, ini terlalu mengulur waktu. Apa susahnya tinggal berkata iya dan memberikan Sheila padanya.Ibu Bryan yang duduk di kursi roda, merasa bersalah sekaligus benci pada dirinya. Menurutnya, akar dari masalah ini adalah ia."Harusnya ibu mati saja Bryan agar tidak menyusahkan kamu!" sesal Santi Ibu Bryan, ia bisa berbicara, tapi kaki dan tangannya masih belum bisa berfungsi normal.Bryan menggeleng kuat, ia bersimpuh di kaki ibunya. "Jangan katakan itu, Bu. Aku tidak mau kehilangan untuk kedua kali," ucap Bryan membuat Santi terisak. Syifa adiknya, memeluk ibunya erat.Kedua tangan Bryan mengepal, ia harus mempertahankan Sheila."Jangan ambil Sheila dari saya!" seru Bryan.Alih-alih terpancing, Bara justru memandang remeh. "Mudah saja, kau harus melunasi hutang itu sekarang," balas Bara telak."Saya tidak memberi batas waktu dalam perjanjian kita. Jadi, terserah saya mau menagihnya kapan saja," lanjut Bara santai.Bryan menggeram emosi. "Anda keterlaluan Bara, bahkan saya rasa uang itu tidak ada harganya bagi anda," balas Bryan sengit."Karena tujuan saya adalah memiliki dia! Saya mencintainya dan saya ingin Sheila menjadi istri saya!" tegas Bara menunjuk Sheila sementara Sheila ketakutan dan mundur beberapa langkah."Saya tidak akan membiarkan Sheila jatuh ke tanganmu!" tolak Bryan keras."Kau menantangku?!" Bara mulai tersulut emosi, tangannya mengepal.Tanpa aba-aba Bara langsung meninju rahang kiri Bryan kuat. Bryan yang tidak siap langsung terhuyung ke samping.Semuanya berteriak, belum sempat Bryan membalas, Bara menendang keras tepat di ulu hati Bryan."Akh!" erang Bryan, rasa nyeri menjalar ke seluruh tubuhnya."Jangan ada yang mendekat atau membantu dia! Atau kalian berurusan dengan saya!" ancam Bara ketika beberapa orang ingin melawannya."Sebenarnya siapa Bara? Kenapa dia sangat berkuasa?" tanya Sheila pada Kayla."Dia itu ...." Kayla menggantung kalimatnya."Anak pemilik perusahaan RodriguezCorp yang bergerak di bidang konstruksi. Memiliki beberapa cabang di luar negeri. Bara, pemimpin galak dan terkenal perfeksionis," jelas Kayla membuat Sheila tercengang."Shei, kau tidak sadar?" tanya Kayla menoleh pada Sheila.Sheila menggeleng, Bara di foto dan dunia nyata berbeda. Jika dilihat langsung Bara lebih tampan daripada hanya melaui jepretan kamera.Bryan menyeka cairan kental di sudut bibirnya. Ia melangkah maju dengan tekad bulat melawan Bara. Namun, nihil tak ada satu pukulan yang berhasil mengenai Bara. Kokohnya pertahanan Bara tidak mampu Bryan runtuhkan. Bara melayangkan tendangan kuat pada wajah Bryan, sontak membuat Bryan terpelanting ke lantai.Bara menginjak bagian atas tubuh Bryan. "Mengaku kalah dan berikan Sheila pada saya!" seru Bara seraya mengangkat dagu.Bryan bersikukuh menggeleng membuat Bara menginjaknya kuat."Cukup! Berhenti!" Sheila akhirnya bersuara setelah lama bungkam akibat ketakutannya. Melihat Bryan teraniaya membuat Sheila menderita.Bara tertarik menatap Sheila. "Shei, aku memiliki pilihan untukmu. Menikah dengan saya, maka Bryan aman dan hutangnya lunas. Atau ... menolakku dan Bryan akan dalam bahaya!"Sheila berfikir keras. Ia tidak mau Bryan terluka lebih, tapi di sisi lain, Sheila tidak ingin menikah dengan sosok pemaksa seperti Bara."Jawab Shei! Waktumu tidak banyak!" gertak Bara memukul Bryan brutal dan beringas.Bryan terbatuk kencang. Dadanya nyeri dan luka lebamnya berdenyut sakit.Sekali lagi, iris gelap Bara menatap Sheila tajam, seakan memperingatkan sebuah kalimat, jangan pernah menentang perintahku."Sudah cukup! Jangan sakiti Bryan, a-aku bersedia," kata Sheila parau."Bersedia apa?!" kelakar Bara menuntut kejelasan."Menjadi istrimu!" pekik Sheila walau hatinya menjerit menolak keras ucapan itu."Pilihan yang bagus, Shei," puji Bara memindahkan kakinya dari tubuh Bryan. Lalu Bara tersenyum tanpa dosa pada Bryan."Sheila!" panggil Herman dengan pandangan putus asa. Sheila menoleh pedih."Maafkan ayahmu yang tidak bisa membantumu, nak," sesal Herman, ia merasa gagal melindungi putrinya. Mengingat orang seperti Bara sulit untuk dilawan. Mereka punya kuasa sekaligus berbahaya."Sheila, apa kau yakin?" tanya Laras menangkup pipi Sheila. Air mata Sheila turun deras.Bara, tidak peduli. Mau tidaknya Sheila, yang terpenting adalah Sheila berada dalam cengkeramannya."Kalian, bawa barang-barang di mobil kemari," titah Bara pada ketujuh bodyguardnya yang memakai setelan jas hitam.Sheila menggeleng tidak percaya melihat seserahan yang dipersiapkan Bara, ini artinya Bara telah merencanakannya matang-matang.Tak lama Bara telah kembali dengan mengenakan jas putih."Shei, kemarilah," pinta Bara meraih tangan Sheila. Dengan cepat Sheila mundur menghindari sentuhan itu lalu duduk di kursi seperti semula.Bryan memandang sedih, tatapan kecewanya begitu kentara. Dadanya sesak, sakit sekali, lebih menyakitkan ketimbang pukulan dan tendangan yang Bara berikan.Harusnya dirinya yang di sana. Hubungan yang terjalin selama tiga tahun bersama Sheila terpaksa kandas. Bryan bangkit dengan luka yang menganga di hatinya. Tidak sanggup menyaksikan pujaan hatinya bersanding dengan pria lain.Suatu saat nanti saya akan membalas perbuatanmu, Bara. Dasar iblis! batin Bryan, dadanya bergemuruh."Bryan," gumam Sheila tidak rela ketika Bryan perlahan menghilang dari penglihatannya.Bara melirik sinis Sheila lewat ekor matanya membuat Sheila menunduk takut."Bisa kita mulai?!" protes Bara membuat semua orang yang semula larut dalam kebingungan kembali fokus."Bisa.""Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau ananda Bara Alexander Rodriguez bin Robert Rodriguez dengan anak saya bernama Sheila Annatasya berupa seperangkat alat Sholat dan mas kawin senilai 888 juta rupiah dibayar tunai.""Saya terima nikahnya Sheila Annatasya binti Herman Kurniawan dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.""Sah!"Sheila lemas, bahunya merosot ke bawah. Air matanya kembali luruh setelah Bara selesai mengucapkan ijab kabul dengan lancar dan lantang. Dunianya hancur, hatinya berdesir perih.Apa begini akhir kisahnya dengan Bryan? Sungguh menyedihkan, Sheila berakhir dengan pria yang tidak ia cintai.Sheila yang awalnya menangis sesenggukan berusaha keras menahan. Ia mencium punggung tangan Bara dengan derai air mata. Bara tersenyum, ia lantas menciun kening Sheila.Laras memilih untuk berpaling, tidak bisa membayangkan betapa hancurnya hati Sheila.Bara memasangkan cincin pernikahan pada jari manis Sheila lalu bergantian."Aku mencintaimu Shei, sangat," ungkap Bara.Sheila menatap mata Bara lekat mencari celah kebohongan di sana. Namun, yang Sheila dapatkan justru sorot hangat penuh ketulusan."Mulai saat ini kalian berdua resmi menjadi sepasang suami istri," ucap Pak Penghulu."Mulai saat ini, kau akan tinggal di rumahku. Ayo kita pergi dari sini," ajak Bara menggandeng tangan Sheila."T-tapi acaranya belum selesai," protes Sheila."Siapa yang peduli?" balas Bara acuh."Aku bisa menggelar pesta lebih mewah dari ini!" tegas Bara.Sheila mendelik, Bara memiliki ego yang tinggi dan sifat arogan yang mendarah daging."Saya mohon, jangan sakiti anak saya," pinta Herman."Tidak akan, selama Sheila tidak membantah perintah saya," jawab Bara dengan wajah dingin."Sheila ikutlah dengannya," perintah Herman.**Sheila termangu menatap suasana luar dari jendela kamar. Putaran memori tentang kegagalannya menikah dengan Bryan memenuhi isi pikirannya. Kejadian 10 jam lalu telah mempora-porandakan hatinya.Sheila terpelonjak kaget ketika sebuah lengan kekar melingkar di perutnya. Ia tidak bisa menoleh karena dagu Bara bertumpu di pundaknya. Tubuhnya meremang saat napas Bara berhembus lembut di ceruk lehernya. Bara menciumnya sekilas."Jangan menyesali apa yang terjadi. Sekarang kau harus menerima takdirmu dan menjalani hidup denganku," ucapan manis Bara yang terdengar begitu menyayat hati Sheila.Sulit bagi Sheila untuk menerimanya, menimbang kenangan indah yang telah ia lewati bersama Bryan terus terngiang-ngiang di kepala.Merasa diabaikan, Bara dengan cepat membalikkan tubuh Sheila untuk menghadapnya. "Aku tidak suka melihat istriku bersedih di malam pertama pernikahan ini." Bara ikut memasang raut sedih seolah ia prihatin dengan keadaan Sheila."Bagaimana aku bisa tersenyum? Kalau pria di hadapanku ini adalah penghancur kebahagianku?!" balas Sheila tajam dan mampu menyentil hati Bara."Shei, aku tidak meminta kau membahas itu," ucap Bara dengan nada rendah tapi, penuh peringatan."Tapi itu faktanya, kau egois, jahat dan semena-mena!" cerca Sheila kian emosi. Kedua mata Sheila memanas menahan lapisan bening yang terbendung di pelupuk matanya."Shei, harusnya kau merasa beruntung menikah denganku." Bara berusaha mengontrol amarahnya. Seandainya Sheila tahu, sudah ada banyak wanita yang ditolak Bara karena tidak ada yang memenuhi kriterianya."Beruntung katamu?" sindir Sheila, ia malah merasa sebaliknya."Shei …." panggil Bara serak diiringi geraman. Bara mencengkeram lengan Sheila. Habis sudah batas kesabarannya. Sheila memang tidak bisa diajak bicara baik-baik.Bara memeluk Sheila erat seraya menciumi leher Sheila. Tangan Bara mengusap punggung Sheila. Gelenyar aneh terasa di sekujur tubuh Sheila. Ia mendorong Bara tapi, percuma.Bara memiringkan wajahnya, sedangkan Sheila sudah memejam, seolah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Bara terkekeh geli melihat guratan kegugupan yang kentara dari paras Sheila, hal itu sedikit menyurutkan emosinya."Kau sangat menginginkan itu, Shei?" goda Bara mengangkat sebelah alisnya.Sheila membuka mata seraya menipiskan bibir."I-itu apa? Aku tidak mengerti maksudmu apa!" ketus Sheila berpaling menyembunyikan rona merah di pipinya.Bara merapatkan tubuhnya pada Sheila. "Biar aku tunjukkan," kata Bara mendaratkan bibirnya lembut di bibir Sheila. Tangan Bara memegang tengkuk Sheila memperdalam ciumannya. Sheila berusaha lepas, tapi tidak bisa, Bara semakin menguasainya. Ciuman Bara sangat lembut bahkan Sheila mulai terlena.Bara bergerak mendorong Sheila menuju ranjang. Sheila terlentang dengan bibir keduanya yang masih bertautan, Bara semakin gencar untuk menyesapnya dan menggigitnya kecil."Manis, Shei." Bara mengusap bibir Sheila dengan ibu jari. Sheila yang diperlakukan begitu gugup. Dadanya berdebar kencang melihat senyuman Bara.Bara berada di atas Sheila dengan tangan yang mengurung tubuh Sheila sepenuhnya. Bara kembali melumat bibir Sheila, turun ke leher dan pundak Sheila meninggalkan jejak-jejak panas di sana. Sheila menahan mulutnya untuk tidak mengerang ketika tubuhnya terangsang hingga dadanya terasa padat. Sheila tidak mau, ia menolak, tapi tubuhnya bereaksi lain. Setiap sentuhan Bara memanaskan aliran darahnya.Tangan Bara menyusup ke dalam piyama Sheila, Bara sempat terkejut, rupanya Sheila tidak mengenakan bra, hal itu memudahkan Bara untuk meremas pelan di sana."Apa ini caramu menggodaku?" tanya Bara merasakan miliknya menegang.Sheila menggeleng. Ia tidak memakai bra karena dirinya selalu melepasnya ketika akan tidur.Tangan Bara masih bermain di sana dengan bibir yang memagut lembut bibir Sheila. Bara begitu menikmatinya. Sheila menggelinjang saat Bara memainkan bagian atasnya.Rasanya geli membuat Sheila menginginkan lebih. Sheila meremat kuat sprei menahan suara aneh yang ingin keluar dari mulutnya."B-berhenti!" pinta Sheila ketika Bara memberi jeda ciumannya.Napas keduanya sama-sama memburu. Sheila menghirup oksigen dengan cepat, Bara terkekeh.Ini belum ada apa-apanya, Shei, batin Bara. Ia bahkan bisa lebih buas daripada saat ini.Bara menyingkirkan helai rambut Sheila ke belakang telinga. Wajah Sheila memerah. Aliran darahnya berdesir."Aku tidak akan menuntutmu melakukannya sekarang. Walaupun aku bisa memaksamu dan aku sangat ingin. Tapi, aku masih memiliki rasa iba. Aku ingin kau menyerahkan dirimu padaku."Sheila menghembuskan napas lega, ia bersyukur Bara telah berubah menjadi pengertian."Bagaimana kau bisa secantik ini, Shei?" puji Bara mencium pipi Sheila menggigitnya kecil membuat Sheila meringis dan mengusap bekas gigitan Bara."Itu hanya perasaanmu! Di luar sana banyak wan──"Bara memotong ucapan Sheila dengan mendaratkan kecupan singkat di bibir Sheila. Mata Sheila melebar, tubuhnya mendadak kaku."Kau ingin aku mengulangi yang tadi?"Sheila menggeleng cepat, takut bila Bara berubah liar. Bara berbaring di sebelah Sheila kemudian merengkuh pinggang Sheila menjadikan lengan kekarnya untuk bantalan kepala Sheila."Tidurlah dalam pelukanku, jangan berusaha untuk kabur! Atau … aku akan menerkammu!"Bara terkejut mendapati Sheila tidak ada di sisinya. Harusnya ketika ia membuka mata, wajah Sheila yang masih tertidur damai menyambutnya. Bukan malah menghilang yang membuat Bara kalang kabut. Gegas Bara menyingkap selimut, ia lantas mencari Sheila ke seluruh sudut kamar.Bara menggeram kesal. "Sial! Dia pasti kabur!"Buru-buru Bara menuruni undakan tangga dengan kemarahan yang memancar dari matanya."Di mana Sheila?" tanya Bara pada salah satu pelayan."Nyonya sedang ada di dapur, Tuan," jawab Pelayan itu.Bara melangkah lebar untuk sampai di dapur. Wajah yang semula muram penuh kesal itu berubah cerah. Senyum Bara merekah mendapati Sheila tengah memasak nasi goreng, terlihat dari Sheila yang mulai menuangkan kecap. Dari aromanya saja sudah menggugah selera Bara untuk segera mencicipinya.Bara melingkarkan tangannya posesif di pinggang Sheila, hidung mancungnya mencium aroma tubuh Sheila. Harum bunga mawar, membuat Bara betah menghirupnya lama-lama.Sheila merinding, hembusan napas halus Bara terasa menggelitik. "B-bara," panggil Sheila tergagap."Iya, Sayang," jawab Bara."Aku kira kau melarikan diri," ucap Bara membenamkan wajahnya di ceruk leher Sheila. Sebenarnya Sheila risih. Tapi mau bagaimana lagi, Bara suaminya. Bara berhak atas tubuhnya."Apa kau takut jika aku pergi?" tanya Sheila."Jelas, karena aku mencintaimu," ungkap Bara mencium pipi Sheila.Sheila bisa merasakan ketulusan dari Bara tetapi ia tidak bisa membohongi hatinya yang masih mendambakan sosok Bryan. Sheila mematikan kompor saat dirasa makanannya siap disajikan."Bara, lepas. Aku mau mengambil piring," perintah Sheila melepas tangan Bara tapi Bara kian mengeratkan pelukannya."Aku ikut," rengek Bara."Astaga," gumam Sheila menggeleng dengan sikap manja Bara. Alhasil Sheila berjalan mengambil piring dengan Bara yang masih memeluknya dari belakang."Kenapa harus dua? Kurasa satu saja cukup," protes Bara membuat Sheila meletakkan satu piringnya.Sheila memindahkan nasi goreng dari teflon ke piring, sedangkan Bara ikut memperhatikannya."Aku lapar, aku mau duduk lalu sarapan," keluh Sheila.Bara melepas pelukannya lalu duduk manis di kursi meja makan."Aku ingin kau menyuapiku," pinta Bara membuka mulutnya.Sheila berdecak. "Memangnya kau bayi apa?" ejeknya menimbulkan tawa kecil bagi Bara.Sheila mulai menyendok nasi goreng kemudian mengangkatnya ke arah mulut Bara."Enak Shei ... selain cantik, ternyata kau pandai memasak. Aku memang tidak salah memilih istri, " ucap Bara bangga pada dirinya sendiri, ia merapikan helai rambut Sheila."Hm, iya-iya," jawab Sheila sekenanya. Bara memberengut ketika raut wajah Sheila terlihat terpaksa.Bara mencondongkan tubuhnya, ia mengecup bibir Sheila singkat.Sheila tertegun, matanya terbelalak.Dasar Bara api! rutuk Sheila, Bara selalu membuatnya terkejut dan itu membuat Sheila kesal."Ini baru sarapan sesungguhnya," ucap Bara santai lalu melahap nasi goreng itu lagi, seolah tidak terjadi apa-apa.Sheila menatap Bara lekat, ada yang mengganjal di benaknya. Ketika mengingat frame berwarna emas besar berisi foto Bara dan keluarganya."Bara, apa keluargamu tau kita sudah menikah?" tanya Sheila.Bara mengangguk pelan. "Aku sudah memberi mereka kabar, tapi sekarang mereka ada di luar negeri. Hawai," terang Bara membuat Sheila mengerti bila keluarga Bara tengah berlibur."Kenapa kau tidak ikut?"Senyum jahil muncul di paras Bara. "Jadi kau sedang memberiku kode? Kau ingin bulan madu, Sayang?" goda Bara bersemangat.Sheila tersedak ludahnya sendiri."A-aku hanya bertanya," kilah Sheila meraih gelas berisi air putih lalu meneguknya."Shei, jangan malu. Kita bisa berangkat hari ini juga kalau kau mau. Lagi pula, aku ingin segera memberi cucu untuk, Oma. Dia selalu menagih itu padaku," papar Bara sengaja menekankan kata demi katanya."Bara!" pekik Sheila malu, wajahnya merona, tangan Bara terulur mengusapnya membuat rona merah itu makin jelas."Blushing! Tapi semakin cantik," ledek Bara."Kau ini!" Sheila memukul lengan Bara."Hari ini aku mau pergi ke toko kue. Ada pesanan soalnya, boleh, ya?" Sheila meminta izin meski ia ragu, akankah Bara memperbolehkannya.Seketika raut Bara berubah, ia tampak keberatan. "Kau lupa, sayang? Kau Nyonya di rumah ini. Kau tinggal duduk manis dan merasakan kemewahan yang aku berikan padamu. Mencari nafkah itu kewajibanku.""Iya, aku tau. Tapi aku butuh kegiatan untuk mengisi waktuku. Usaha kue itu sudah aku kelola sejak SMA, walaupun dari uang Ayah. Dan, aku ingin terus mengelolanya. Aku mohon Mas Bara," pinta Sheila dengan wajah menggemaskan.Satu alis Bara berjengit. Sheila barusan memanggilnya, Mas? Astaga, Bara menggigit pipi bagian dalamnya. Tersipu, istrinya ini benar-benar pandai merayunya."Aku izinkan, asal mereka menemanimu." Bara menunjuk Anton dan Angga yang ia tugasi khusus menjaga Sheila."Oke, tidak masalah," jawab Sheila lugas, tersenyum sumringah.**Sheila berada di mobil, ia terus meremas jemari tangannya. Rencananya telah tersusun rapi di otak, hanya tinggal mempraktekkannya saja."Bisa kita berhenti sebentar? Aku ingin ke toilet," ucap Sheila meremas perutnya. Perlahan laju mobil mulai melambat dan berhenti di tepi jalan."Baik, Nyonya. Tapi kami harus mengikuti Nyonya," kata Anton."Terserah kalian," ketus Sheila.Anton keluar kemudian membukakan pintu mobil untuk Sheila. Ketika Sheila keluar, ia langsung mendorong Anton membuat Anton dengan sigap mencekal tangan Sheila."Jangan mencoba kabur, Nyonya!' tegas Anton."Aku harus pergi," gumam Sheila terpaksa menendang aset pribadi Anton."Akh! N-nyonya Sheila!" pekik Anton meraskan nyeri yang tak tertahan."Maafkan aku!" jerit Sheila berlari kencang.Angga turun menghampiri. Ia mengeluarkan ponselnya."Jangan beritahu Tuan Bara! Dia bisa marah besar," cegah Anton pada Angga.Anton bergidik ngeri bila mengingat kemarahan Bara, Pria itu pasti akan mengamuk."Apa kau kira dengan kita menyembunyikan ini nyawa kita aman?" tanya Angga."Setidaknya, kita cari dulu kemana Nyonya Sheila pergi. Jika memang tidak bisa ditemukan baru kita lapor," usul Anton."Cepat kejar dia!" perintah Anton.Angga berlari menyusul Sheila meninggalkan Anton yang masih berkutat pada rasa sakitnya.**Sheila menoleh ke belakang dengan wajah panik. Dari kejauhan, terlihat Angga berlari menuju ke arahnya. Peluh keringat menetes dari dahi Sheila. Ia lelah dan akhirnya Sheila masuk ke dalam toko pakaian dan mengambil jaket, topi juga kacamata hitam menyamar layaknya seorang pembeli.Jantung Sheila berdebar tak karuan ketika Angga masuk dan menatapnya curiga.Semoga dia tidak mengenalku! batin Sheila matanya memejam erat.Sheila menelan ludahnya berat saat derap langkah Angga mendekatinya."Maaf, saya hanya ingin memberi tahu. Kaca mata anda terbalik," ucap Angga."Oh ini," kata Sheila memegang kaca matanya, suara Sheila terdengar serak."Saya memang sengaja, karena zaman sekarang hal seperti ini menjadi tren," kata Sheila asal dengan suara dibuat serak."Oh begitu. Apa anda melihat seorang perempuan berlari ke sini?" tanya Angga lalu mengedarkan pandangannya."Tidak!"Sheila bergegas menuju kasir dan membayar pakaian dan aksesoris yang membalut tubuhnya.Sheila merogoh ponselnya dan mengetik pesan.Sheila .Bryan, temui aku di taman Pelangi.Sheila telah menunggu Bryan sekitar tiga puluh menit. Namun, Bryan tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Taman Pelangi terasa sunyi, jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Namun, tetap saja Sheila khawatir."Ada apa, She?" tanya Bryan membuat Sheila berdiri. Menatap prihatin penampilan Bryan yang terlihat kacau dengan mata sayu serta lebam biru keunguan di wajahnya."Aku mau kita pergi dari sini Bryan." Sheila memegang erat lengan Bryan."Sejauh apapun kita pergi, Bara akan mampu mengetahui keberadaan kita, She." Bryan menatap kosong ke depan."Jadi ... kau benar-benar merelakanku, Yan?" tanya Sheila tidak menyangka."Kau tidak mau memperjuangkan aku? Aku kecewa padamu!" jerit Sheila."Sekarang, aku paham maksud ucapanmu di rumah sakit itu. Kau sendiri yang membuat ku pergi darimu!" jelas Sheila tertawa sumbang."She, cukup!" Bryan tidak tahan mendengar kalimat Sheila yang menusuk hatinya."Keadaan yang membuatku begini," lirih Bryan."Kembalilah ke rumah, sebelum Bara menyadarinya," perintah Bryan membuat Sheila menatapnya tidak percaya."Semudah itu kau melupakanku?" Rasa sesak kian menghimpit dadanya."Bryan, aku kira kau rela melakukan apapun untukku, tapi aku salah besar! Kau tidak lebih dari pengecut yang hanya memanfaatkanku!" seru Sheila menangis."She, berhenti menyalahkanku! Aku benar-benar terdesak! Aku begini demi ibuku, She! Cuma dia orang tuaku sekarang. Aku tidak mau kejadian tiga tahun terulang lagi, ayahku meninggal karena terlambat ditangani. Karena apa? Karena aku tidak memiliki uang!" bentak Bryan menggoyangkan kedua bahu Sheila.Sheila terisak. Gadis itu berlari, pergi sejauh mungkin. Tidak ada yang bisa diharapkan dari Bryan. Lelaki itu menyerah."Aku berjanji akan melepaskanmu dari belenggu Bara. Tapi tidak sekarang. Maaf mungkin tidak bisa menebus kesalahanku, She. Karena aku, kau terperangkap dengan lelaki kasar dan tidak berhati seperti Bara," sesal Bryan.**Bara melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas normal, ia menyalip satu per satu kendaraan dengan lihai. Pria itu dipenuhi kabut emosi. Bara sudah berkeliling mencari Sheila. Namun, hingga petang ini, ia belum menemukan Sheila yang membuatnya tidak mempedulikan dirinya sendiri.Bara menepi, ia memukul setir mobil dengan kondisi buku-buku jari yang penuh akan darah yang mengering."Sheila!" erang Bara."Aku terjebak denganmu!" geram Bara frustasi.Sebenarnya mudah saja jika Bara ingin segera menemukan Sheila, ia tinggal menyuruh anak buahnya. Namun, Bara terlanjur marah dan bertekad menemukan Sheila sendiri. Pria itu akan tetap berpegang teguh pada prinsipnya.**Sheila melangkah lemas dengan kedua mata merah dan sembab. Langkah kaki menggiringnya ke sebuah gang sempit yang diterangi cahaya temaram. Sheila bahkan bingung ingin kemana. Jika ia pulang, Sheila takut keluarganya akan terseret dalam permasalahannya. Hatinya masih tersayat perih ketika mengingat respon Bryan yang tidak peduli lagi dengannya."Cantik," sapa seorang pria memegang pundak Sheila.Sheila terpelonjak kaget lalu menepis tangan itu kasar.Sheila mendelik pada pria dengan tato di lengan juga tindik di telinganya.Pria itu tidak menjawab. Ia justru melayangkan tatapan tertarik dengan memandang Sheila dari ujung rambut hingga ujung kaki. Sheila risih, ia berbalik ingin pergi tapi, pria itu mencekalnya."Jangan harap lo bisa pergi, sebelum gue seneng-seneng sama tubuh lo!" tegas pria itu membuat Sheila gemetar takut."Lepaskan!" pinta Sheila menghentakkan tangannya."Aaaa!" jerit Sheila ketika pria itu menghantamkan tubuhnya ke dinding pembatas.Pria itu menjilat bibir bawahnya seraya menatap lapar ke arah Sheila. Otak Sheila mendadak kosong, Sheila ketakutan, untuk kali ini Sheila sangat mengharapkan Bara datang menolongnya meskipun rasanya mustahil.Bara ... tolong aku, batin Sheila."Tolong-tolong!" teriak Sheila matanya memanas dan penglihatannya memburam.Pria itu tersenyum meremehkan."Percuma! Gak akan ada yang bakal bantuin lo di gang sempit dan terpencil ini!"Pria itu merobek baju atas Sheila membuat Sheila memekik dan menyilangkan tangan menutupi dadanya."Gue gak sabar buat rasain itu," kata Pria itu mencoba menyingkirkan tangan Sheila."Jangan!"Sheila menangis sesenggukan, andai ia tidak mencoba kabur, ini pasti tidak akan terjadi. Jika Sheila bisa memutar waktu. Sheila akan memilih benar-benar pergi ke toko kuenya."Singkirkan tanganmu dari istriku bangsat!" kelakar Bara menarik pria itu dan menghempasnya ke tanah.Sejenak, Sheila merasa aman, ia memeluk dirinya sendiri.Iris mata Bara menggelap menatap pria itu. Bara menghajarnya brutal."Kau harus mati!" desis Bara yang menduduki perut pria itu dan memukul wajahnya kuat.Sheila bergegas menghampiri Bara ketika Bara hilang kendali dan terus mengumpat."Bara hentikan!" Sheila berusaha menarik Bara dan memeluk Bara dari belakang melihat preman itu terkapar tak berdaya dalam kondisi mengenaskan. Matanya bengkak, hidung serta sudut bibirnya berdarah."Kau melindungi si berengsek ini, Shei?!" murka Bara.Sheila menggeleng dengan air mata yang terus mengalir."T-tidak, aku tidak mau k-kau masuk penjara nanti," kata Sheila bibirnya bergetar.Emosi Bara mereda, ia berbalik dan memeluk Sheila erat. Mencium puncak kepala Sheila berkali-kali.Beruntung Sheila membawa tas kecil yang dulu Bara beri penyadap suara sehingga Bara bisa mendengar suara Sheila. Dan mengetahui keberadaan Sheila yang ternyata tidak jauh dari tempat mobilnya berhenti.Bara menangkup wajah Sheila, "Coba kau pikirkan Shei, jika aku tidak datang tepat waktu. Dia mungkin telah melecehkanmu! Kau bisa bayangkan, betapa hancurnya aku kalau hal itu sampai terjadi?" ungkap Bara sorot matanya begitu cemas.Sheila terisak kuat, bahunya bergetar. Apa Bara sepeduli itu padanya? Rasa sesal dengan cepat menggeroti hatinya.Tak lama, Anton dan Angga tiba di tempat kejadian dengan tergesa."Urus sampah meresahkan ini!" perintah Bara dingin."Kurang ajar!" umpat Bara ketika baju bagian atas Sheila robek, Bara melepas jasnya lalu menggendong Sheila ke dalam mobil. Sikap Bara yang tenang dan perhatian justru menghadirkan kecurigaan di benak Sheila.Sheila pikir Bara akan marah, membentaknya ataupun melakukan hal kasar, tapi nyatanya Bara tak seburuk yang Sheila kira.Bara baru saja duduk di mobil dan membuat degup jantung Sheila berdetak keras. Sheila menunduk melihat jas hitam yang ia pakai. Milik Bara dengan aroma maskulin yang menyeruak ke dalam hidungnya. Wangi khas yang membuat Sheila selalu teringat dengan Bara.Sheila menoleh saat Bara belum juga melajukan mobilnya. Bara meremat kuat setiran dengan napas memburu.Sheila baru tahu, ada luka di tangan Bara. Bahkan bercak merah terlihat kontras di lengan kemeja putih Bara. Sheila menyentuhnya membawa tangan Bara ke arahnya."I-ini kenapa?" tanya Sheila cemas.Bara menyentak tangan Sheila."Apa pedulimu!" bentak Bara.Sheila menelan ludahnya berat."Maaf," lirih Sheila.Bara mencengkeram dagu Sheila memaksa Sheila menatapnya."Maafmu tidak berguna!"Bara mendekatkan wajahnya membuat Sheila sampai menahan napas ketika jarak mereka begitu dekat. Bara menatap bibir Sheila yang seolah menggodanya. Namun, Bara dengan cepat menjauhkan wajahnya dan duduk dengan posisi semula."Tepis jauh pikiranmu untuk pergi dariku, karena aku jamin, kau tidak akan bisa!" tukas Bara.Sheila menunduk sambil meremas jari-jarinya."Bersiaplah, aku akan menghukummu di rumah!" peringat Bara dingin berhasil membuat Sheila membeku.**"Mau ke mana?" protes Bara ketika Sheila membuka pintu mobil sendiri dan berlari masuk rumah mendahuluinya."Mengambil kotak P3K," jawab Sheila membuat Bara mempercepat langkah untuk menyusulnya.Sheila membawa kotak P3K dan menggandeng tangan Bara untuk masuk ke dalam kamar."Ini harus diobati, takut infeksi," kata Sheila mengambil kapas yang sudah ia beri alkohol untuk membersikan luka itu. Lalu Sheila mengoleskan kapas yang sudah ia beri obat merah.Bara menatap Sheila, rasa senang mengisi rongga hatinya. Sheila tampak khawatir dan hati-hati dalam mengobatinya. Bara tersenyum tipis."Sudah selesai," kata Sheila tersenyum manis namun Bara justru memasang raut datar. Bara menarik tangannya kasar dari Sheila, walau sempat terkejut. Tapi Sheila bisa memakluminya.Bara keluar dari kamar sementara Sheila masuk ke kamar mandi.Beberapa menit berlalu. Sheila baru selesai mandi. Pandangan Sheila langsung mendapati Bara yang berdiri seraya membawa nampan berisi makanan dan minuman."Makan! Aku tidak ingin kau lemas nanti!" kata Bara ambigu.Nanti? Apa yang nanti? tanya Sheila dalam hati."Shei, kau tidak dengar? Makan sekarang!" titah Bara melihat Sheila melamun.Sheila menerimanya lalu duduk, ia mulai menyendok nasi tapi, hanya seujung sendok. Sheila tidak selera makan dan atensinya tertuju pada Bara, pria itu duduk di pinggir ranjang, memunggunginya.Aneh, Sheila jadi memikirkan, katanya Bara akan menghukumnya. Namun, pria itu masih terdiam. Bukan begitu, Sheila sebenarnya tidak mengharapkan itu. Ia hanya was-was saja.Sheila meletakkan piring cukup kasar di nakas, menimbulkan dentingan bunyi sendok dan piring cukup keras."Seharusnya aku tidak pernah bertemu denganmu, Bara!" sungut Sheila.Mungkin ini saatnya menanamkan kebencian pada Bara.Bara berdiri, jantung Sheila berdebar kencang. Tuhan, sepertinya Sheila salah langkah! Tatapan mata Bara menguliti keberaniannya."Kau benar-benar membuatku marah, Shei!" gertak Bara, rahangnya mengeras. Sheila harus diberi pelajaran. Sudah cukup Bara bersabar. Percuma Bara berusaha menahan amarahnya, karena Sheila justru memancingnya.Bara melepas satu per satu kancing kemejanya seraya berjalan mendekati Sheila.Bara menyeringai. "Aku tarik ucapanku kemarin. Rasanya terlalu lama menunggumu untuk menyerahkan dirimu padaku. Jadi aku percepat saja," kata Bara melepas bajunya memperlihatkan tubuh berototnya.Sheila terpaku melihat pemandangan itu, Bara memang memikat. Sheila menggeleng, ia tidak boleh tergoda. Sheila berlari menuju pintu.Bara menutup pintu itu cepat, memutar kunci dan membuang kuncinya ke atas lemari."Mau kemana istriku?" Suara bariton Bara membuat tubuh Sheila gemetar. Kedua lengan kokoh dan berotot itu mengurungnya di sisi pintu. Wajah Sheila memucat melihat manik mata hitam Bara yang menggelap.Baru begini saja kamu sudah menciut takut! Sok-sok'an mau menantangku! geram Bara dalam hati.Bara tersenyum puas ketika keringat dingin menetes dari dahi Sheila."Aku akan mengambil hak ku sekarang!" tekan Bara membuat napas Sheila memburu ketika tubuh mereka saling bersentuhan. Sheila tidak bisa membayangkan betapa perkasanya Bara nanti."S-sakit," rintih Sheila saat Bara meremas lengannya, bahkan Bara menancapkan kukunya di kulit Sheila."Ini tidak sebanding dengan rasa kecewa saya!" seru Bara."Saya bersikap baik, tapi kau malah memilih pergi!" kesal Bara suaranya meninggi."Itu salahmu, karena merebut aku dari Bryan!" balas Sheila menatap nyalang Bara.Bara geram, giginya saling bergemelutuk rapat bahkan dalam keadaan tersudut Sheila masih saja terus menantangnya."Tidak ada yang salah Sheila! Karena saya akan membuatnya benar!" pungkas Bara, menyorot kejam, dingin. Membekukan."Ceraikan aku!" desak Sheila.Kedua mata Bara membelalak,kalimat itu menyulut emosinya. Tangan Bara sudah terangkat, tetapi detik berikutnya, tangan itu terhenti dan terkepal di udara. Bara hampir saja kelepasan ingin menampar Sheila."Argh!" erang Bara mengacak rambutnya."Kenapa? Kau takut? Di mana Bara yang tidak takut apapun itu?"Merasa tertantang Bara mencium bibir Sheila keras. Bahkan hingga mengeluarkan setitik darah di bibir pucat itu.Perih, batin Sheila.Bara tersenyum sinis melihat bibir Sheila yang membengkak. Air mata Sheila terus mengalir membasahi pipi. Bara mengangkat tubuh Sheila tanpa beban, lebih tepatnya Bara memanggul Sheila di pundaknya"Turunkan aku!" pekik Sheila memukul punggung Bara.Bara kemudian menghempas tubuh Sheila ke ranjang dan merangkak naik menindih Sheila."Tidak ada kata ampun untuk malam ini! Kau akan menjadi istriku seutuhnya!" seru Bara, matanya berkilat penuh gairah.Buliran bening terus menetes dari mata Sheila. Bara terus melumat bibirnya hingga bibir Sheila terasa kebas. Sheila tidak bisa lepas karena kedua lengan kokoh Bara menahan tangannya.Bara melepas ciumannya menatap Sheila dengan hasratnya yang meluap-luap."Sudah siap melihat diriku yang sebenarnya, Shei?" tanya Bara bernada rendah."B-bara, a-ku belum siap. Aku takut," lirih Sheila dengan wajah yang basah."Takut? Di mana Sheila yang menantangku beberapa detik yang lalu? Hahaha!" Bara tertawa."A-aku tidak bermaksud," cicit Sheila. Sungguh Sheila benar-benar takut. Bara terlihat menyeramkan di matanya."Jangan harap aku akan luluh dengan wajah memelasmu itu!" kelakar Bara.Dengan satu tarikan Bara merobek piyama Sheila."Bara!" pekik Sheila menutupi dadanya. Bara tersenyum miring.Tubuh atas Sheila yang polos membuat Bara kian bergairah.Bara mencium bibir Sheila lembut lalu turun ke leher menghisap kulitnya meninggalkan tanda merah di sana.Sheila melenguh, Bara dengan ahli melepas tali bra Sheila, detik itu Bara tertegun melihat tubuh indah Sheila. Bara memangkas jarak di antara mereka.Sheila terkejut ketika bibir Bara turun mencium dadanya, Sheila tidak mampu menolaknya. Apalagi ketika Bara terus memainkan itu dengan ujung lidah, menjilatnya lalu memutarinya. Sheila terbakar gairah.Bara menghisap bagian atasnya dengan rakus dan tanpa sadar membuat Sheila melengkungkan punggunggnya. Sensasi nikmat menjalar ke seluruh tubuh Sheila. Ia bahkan merasa area bawahnya basah sekarang.Bara naik memastikan kondisi Sheila. Pria itu menjilat bibir bawahnya sedangkan Sheila berusaha mengatur napasnya.Perempuan itu terlihat menikmati walau awalnya Sheila menolak sentuhanya."Terima setiap gerakanku Shei, agar kamu tidak tersiksa," kata Bara.Sheila kehilangan konsentrasi, rangsangan ini benar-benar membuatnya lemah. Rambut Bara yang acak-acakan itu justru tampak seksi di matanya.Bara mempercepat temponya dan Sheila terus menahan rasa sakit akibat gesekan benda asing di dalam tubuhnya. Bara menggeram ketika Sheila menjempit miliknya begitu ketat.Keduanya sama-sama berada di puncak, saat itu terjadi, Bara dan Sheila merasakan kenikmatan yang luar biasa. Yang belum pernah mereka rasakan selama ini.Bara menyandarkan kepalanya di pundak Sheila. Napas mereka saling beradu."Ini baru permulaan, Shei," bisik Bara. Sheila merinding, dia menoleh kaget pada Bara."Cu-kup, ini sakit. Aku mohon pelan-pelan," pinta Sheila parau tapi terlambat, Bara sudah berada di atasnya lagi. Sheila nyaris tak melihatnya bergerak tadi.Bara mengulum senyum. "Kau berada di bawah kendaliku, Shei!"Bara kembali menggerakan tubuhnya brutal ia bahkan mencium Sheila tanpa ingin memberi jeda untuk bernapas barang sedetik pun. Pria itu dikuasai kabut gairahnya. Malam ini Bara akan menuntaskan hasratnya yang kian memuncak.Bara tidak peduli dengan suara isakan, yang berganti desahan dan jeritan yang memintanya untuk berhenti. Sheila merintih dibawah kungkungannya, Sheila tidak berdaya untuk melawannya dan ini yang Bara inginkan. Sheila memang harus tunduk padanya.**Hawa panas menjalar ke kulit Bara. Pria itu terusik dan membuka kedua matanya perlahan. Rupanya tubuh Sheila menggigil dan perempuan itu memeluknya begitu erat. Bara menempelkan tangannya ke kening Sheila."Shei, kau demam," gumam Bara kaget.Bara kian panik saat wajah Sheila memucat. Bara melihat ke arah jam, pukul tujuh pagi. Ia hendak menggendong Sheila tapi detik selanjutnya Bara tersadar, dirinya dan Sheila masih dalam keadaan polos."Astaga!"Bara turun dan mengambil pakaiannya di dalam lemari."Shei, pakailah," perintah Bara sudah bersiap memakaikan baju untuk Sheila."A-aku bisa memakainya sendiri," tolak Sheila merampas bajunya.Bara berdecak kasar. Padahal kondisi Sheila terlihat lemas dan untuk duduk saja membutuhkan waktu cukup lama."Berbaliklah!" perintah Sheila merasa risih dengan Bara yang menatapnya intens bercampur khawatir."Untuk apa? Aku sudah melihat semuanya," balas Bara enteng. Sudut bibirnya melengkung mengingat setiap jengkal tubuh Sheila yang sangat menggoda untuk disentuh.Bara menyesal karena kalah melawan hasratnya dan membuat Sheila kewalahan, dia sadar semalam ia begitu liar. Lihat saja, seluruh tubuh Sheila hampir penuh dengan jejak kemerahan karena ulahnya."Bara!" geram Sheila bersemu malu mengingat pergulatan panas itu."Iya-iya, Shei," jawab Bara dengan kekehannya dan berbalik menghadap jendela."Sudah selesai?" tanya Bara melirik lewat ekor matanya."Sudah," kata Sheila.Bara berbalik dan membungkukkan badannya membuat Sheila mengernyit."Ma-mau apa?" tanya Sheila grogi saat wajah Bara sangat dekat dengannya."Membawamu ke rumah sakit," balas Bara."Tidak perlu, nanti aku juga sembuh," ketus Sheila."Kalau begitu aku panggil dokter saja," pungkas Bara meraih ponsel miliknya.Sheila memperhatikan Bara yang mulai keluar dari ruangan. Tubuhnya terasa kaku dan pegal apalagi di area sensitifnya. Sheila merasa jika Bara akan segera selesai namun ternyata belum, Bara seolah tidak pernah merasa puas. Dan itu benar-benar menguras tenaga Sheila."Mari Dok," kata Bara mempersilahkan Dokter Hesti masuk. Dokter Hesti adalah Dokter pribadi keluarganya."Ya ampun!" seru Sheila terbelalak.Bara ini sengaja atau memang bagaimana? Di saat Dokter Hesti masuk, Sheila baru menyadari jika keadaan kamarnya masih berantakan, sprei kusut serta pakaian semalam masih tersebar di lantai. Mau ditaruh dimana wajahnya?Lelaki ini gila!Rasanya Sheila ingin menjerit dan mengumpat pada Bara, tapi Sheila sadar. Itu tidak boleh! Nanti ia dosa.Sheila makin malu, ketika Dokter wanita itu tersenyum padanya. Pasti karena ada tanda merah di lehernya. Ciuman panas semalam masih sangat membekas bagi Sheila. Cepat-cepat Sheila mengenyahkan pikiran itu dan turut mengumbar senyum kecil."Dok, cepat periksa istri saya!" pinta Bara."Baik." Dokter pun mulai memeriksa detak jantung Sheila lalu mengeluarkan termometer dan melihat suhu tubuh yang muncul di sana."Demamnya cukup tinggi, Nyonya Sheila syok dan kelelahan. Apa belakangan ini ada yang membuat anda stres?" tanya Dokter Hesti.Langsung saja Sheila melirik sinis ke arah Bara sementara Bara pura-pura tidak melihatnya.Huh! Apa dia mendadak amnesia?! gerutu Sheila dalam hati."Saya memang banyak fikiran hari-hari ini Dokter," ungkap Sheila lelah.Dokter Hesti mengangguk."Anda harus istirahat yang cukup Nyonya. Tolong perhatikan pola makan anda, jangan sampai telat makan karena hal itu yang membuat tubuh anda lemas," urai Dokter Hesti.Beliau mulai mengeluarkan beberapa obat dari dalam tasnya."Saya akan memberi obat juga vitamin agar Anda cepat pulih. Anda harus makan makanan yang bergizi dan minum banyak air putih," tutur Dokter Hesti."Baik Dok," jawab Sheila."Berikan obat yang terbaik Dokter," timpal Bara."Tentu saja Tuan. Anda perhatian sekali, anda pasti sangat mencintai istri anda," puji Dokter Hesti membuat Sheila menghembuskan napas panjang.Jika aku tidak mencintainya, aku tidak akan melakukan hal nekat dengan merebutnya di hari pernikahannya! batin Bara namun ia hanya menampilkan senyum tipis.Dokter Hesti mulai menjelaskan kapan dan berapa obat yang harus diminum Sheila kepada Bara."Kalau begitu saya permisi Tuan. Lekas sembuh Nyonya Sheila," pamit Dokter Hesti."Terima kasih, Dok," ucap Sheila.Bara duduk di pinggir ranjang membelai lembut pipi Sheila. Sementara Sheila memejamkan mata dan memalingkan wajah. Berusaha menghindari kontak mata dengan Bara."Shei, kau marah?" tanya Bara mengerut bingung.Hening."Aku harus apa? Supaya kau tidak marah?" bujuk Bara dengan suara lembutnya.Belum ada jawaban."Apa kau sakit karena aku?"Pertanyaan itu membuat Sheila tertarik membalasnya dan tanpa sadar otaknya kembali memutar kejadian semalam. Dia menoleh ke arah Bara."Dasar Barbar!" rutuk Sheila."Apa barusan? Kau mengataiku? Suamimu sendiri?!" tanya Bara tidak percaya denga ucapan Sheila, lelaki itu terkejut."Iya Barbar!" seru Sheila lebih keras meski dengan suara serak.Bara tergelak, suara tawanya menggema mengisi ruangan. Alih-alih merasa jengkel, panggilan itu justru membuat Bara senang. Bara menganggap itu panggilan sayang lain untuknya."Ya, aku akui. Kau memang benar," pungkas Bara masih dengan tawa yang semakin membuat lelaki itu tampan."Badanku rasanya remuk dan pegal karena ulahmu!" omel Sheila memasang raut wajah marah."Benarkah?" Sebelah alis Bara berjengit."Tengkuraplah, biar aku memijatnya," perintah Bara.Sheila menggeleng, dia takut Bara justru melakukannya lagi."Sejak
Wanita Bercadar Milik Seorang CEO
'Azura Arsyila' nama seorang gadis yang akan Abyan halalkan hari iniSesungguhnya perjalanan Abyan tidak lah mudah ia akan menikah dengan seorang gadis bercadar yang bahkan tidak pernah ia kenal sama sekaliAbyan menikahi gadis itu bukan karena rasa cinta melainkan karena tali perjodohan, beberapa menit lagi ijab kabul akan di laksanakanTetapi Abyan belum melihat calon istrinya sama sekaliTapi beberapa menit kemudian Abyan melihat ada seorang perempuan bercadar turun dari tangga dan di dampingi oleh dua seorang perempuan"Apa itu calon istri ku??" Tanya Abyan dalam hati"Baik sudah bisa kita mulai acara ijab Kabul nya" ucap penghulu tersebutTangan Malik (Abi Azura) sudah berjabatan dengan tangan AbyanKeringat Abyan mulai bercucuran kemana-mana rasanya sangat gugup sekali"Saudara Abyan Athala bin bapak Iqbal Ady Pratama. Saya nikahkan dan saya kawin kan engkau dengan putri kandung saya yang bernama Azura Arsyila, dengan mas kawin berupa seperangkat alat sholat serta uang sebesar 1 Miliyar di bayar tunai!" Ucap MalikAbyan mengambil nafas panjang terlebih dahulu setelah itu ia mengucapkan nya"Saya terima nikah dan kawinnya Azura Arsyila, dengan mas kawin tersebut di bayar tunai!" Ucap Abyan dengan suara yang lantang dan tegasSetelah semua para tamu mengucapkan kata 'SAH' tanggung jawab Abyan sudah bertambah sekarang ia tidak hanya mengurus perusahaan besar tapi ia akan mengurus gadis bercadar yang sekarang sudah 'SAH' menjadi istri nyaDari kejauhan Azura melihat sambil Menangis terharuAzura mendekat di sebelah Abyan"Zura cium tangan Abyan" bisik fayda (Umma Azura) di telinga azuraTangan Azura ingin meraih tangan Abyan tetapi Azura menarik nya lagi rasa nya gugup untuk berpegangan tangan dengan lawan jenisTapi pada akhirnya Azura meraih tangan Abyan Azura mencium punggung tangan AbyanDan Abyan yang mencium kening Azura jantung Abyan dan Azura kini berdegup sangat cepatSetelah menandatangani surat-surat dan melayani para tamu yang datang akhirnya Azura dan Abyan beristirahat"Abyan kamu yakin nggak tidur di sini dulu?" Tanya Sonia (bunda Abyan)"Ya sudah Bun Abyan tidur sini" jawab Abyan"Nah gitu dong kamu dari tadi bimbang banget jawab nya" balas Sonia senang melihat menantu nya akan tidur sini"Azura sini sayang" ucap Sonia kepada Azura"Iya ada apa Bun?" Tanya Azura"Gak papa bunda cuma pengen meluk kamu aja kok, sebenarnya bunda pas hamil Abyan pengen punya anak perempuan eh pas sudah lahir malah laki-laki jadi bunda senang banget punya mantu kaya kamu" cerita Sonia"Oh ya kalian harus progam hamil ya bunda pengen cepet-cepet punya cucu" ucap Sonia tanpa beban Abyan yang sedang minum kaget mendengar ucapan bunda nya"Nggak bisa Bun, kan zura masih muda bisa di tunda dulu hamil nya" jawab Abyan"Kok di tunda sih byan? Azura kan sudah umur 23 tahun jadi gak papa hamil lagian kalian juga sudah nikah" balas Sonia marah, ia pengen segera punya cucu eh Abyan malah mau nundaCukup lama Sonia bertengkar dengan Abyan mungkin sekitar 20 menit"Udah Bun sabar, Abyan bawa zura ke kamar pasti dia capek" Iqbal berusaha untuk menenangkan SoniaAbyan melirik ke sebelah nya ternyata Azura tertidur Dengan sangat pulasSecara perlahan Abyan menggendong Azura ala bridal style, Abyan membawa Azura ke kamar"Maaf aku belum bisa jadi suami yang baik buat kamu Ra" ucap Abyan saat sudah menaruh Azura di ranjangEntah dapat dorongan dari mana Abyan mencium kening AzuraCup" Selamat tidur" kata Abyan dan sehabis itu meninggalkan Azura untuk mengerjakan dokumen-dokumen yang belum ia periksaSekitar 2 jam lebih Abyan memeriksa dokumen tersebut tapi rasa kantuk belum menyerang"Uhuk" Azura terbatuk-batuk sehingga membuat diri nya terbangunSetelah mengambil minum di nakas Azura melihat Abyan sedang duduk sambil memangku laptop dan banyak kertas-kertas berhamburan kemana-mana"Loh mas kok belum tidur?" Tanya Azura"Sedang memeriksa dokumen" jawab Abyan dingin"Aku buatin kopi mau?" Tawar Azura terhadap Abyan"Nggak usah, kamu tidur aja lagi" Abyan tidak menyukai kopi makanya ia tak ingin Azura membuatkan nya kopi"Tapi aku sudah nggak bisa tidur lagi" jawab Azura, sebenarnya Azura masih bisa tidur lagi tapi ia tidak enak kepada Abyan yang masih mengecek dokumen"Ini masih jam 11 malam tidur aja lagi" ucap Abyan lagi"Aku belum ngantuk" lagi dan lagi jawaban Azura samaAbyan menghela nafas, ia tau Azura ini tidak enak jika meninggalkan nya tidur karena waktu itu Umma Azura memberi tahu kepada Abyan kalo Azura orangnya nggak enakanSekarang Abyan sudah berada di ranjang entah kenapa jantung Abyan dan Azura berdegup sangat kencang sekali"Kamu mau ngapain? Sendiri malam-malam kaya gini? Saya mau tidur cepat sini tidur" ucap Abyan sedikit canggungAzura langsung menurut ia tidur di sebelah Abyan tapi dengan jarak sedikit jauh"Ya Allah jantung Azura kenapa sih, jadi gini rasanya tidur satu ranjang bareng suami" ucap Azura dalam hatiJika begini Azura tidak akan bisa tidur beneran, Azura sudah berusaha memejamkan mata nya agar tertidur tapi tidak bisa"Mas Azura mau ke kamar mandi dulu ya" sangking gugup nya Azura sampai ingin kencing bah kan ia tak menyadari jika diri nya mau kencing izin dulu dengan AbyanTetapi Abyan tidak menjawab ntah Abyan yang sudah tertidur atau memang Abyan tidak ingin menjawabSetelah Azura selesai kencing ia melihat Abyan sudah tertidur dengan sangat pulas"Pasti capek yah" ucap Azura saat melihat suaminya tertidur dengan sangat pulasAzura ikut berbaring di ranjang dan perlahan tertidur jugaSekarang sudah menunjukkan pukul jam 3 malam Azura terbangun untuk melakukan sholat tahajudSaat Azura terbangun cukup kaget melihat ada seorang lelaki di samping nya, 'astagfirullah Azura lupa kalo Azura sudah nikah' ucap nya dalam hati saat sadar lelaki itu adalah suami nyaSetelah melakukan sholat tahajud Azura tak lupa untuk membaca Al-Qur'anBeberapa jam kemudian adzan subuh berkumandang, Azura menaruh Al-Qur'an di dalam lemari dan berjalan ke arah ranjang untuk membangun kan Abyan"Mas bangun sholat subuh" ucap Azura dengan sangat lembut"Iya" jawab Abyan dengan nada yang serakAbyan sebenarnya sudah bangun dari tadi tapi ia pura-pura tidur lagiAzura sudah mengambil wudhu terlebih dahulu setelah itu Abyan juga menyusul mengambil wudhuAzura sedang mempersiapkan alat sholat dan Abyan sudah keluar dari kamar mandi"Mau aku imamin?" Tanya Abyan dengan gugup karena saat ini Azura tidak memakai cadar nya" Istri siapa sih ini cantik bener" kata Abyan dalam hati"Mau" balas Azura senang, jantung Azura selalu berdegup sangat kencang jika berdekatan dengan AbyanSetelah selesai sholat Azura mencium tangan Abyan dan Abyan mencium kening Azura" Yaallah kenapa jantung Azura berdegup nya kencang banget" ucap Azura dalam hatiYang merasakan hal itu tidak Azura saja Abyan juga merasakan itu jantung mereka sekarang sedang tidak baik-baik saja"Em zura mau kebawah dulu mas bantu bunda masak" ucap Azura canggung"O-oh ya sudah kalo begitu" balas Abyan dengan nada yang patah-patahAzura langsung turun kebawah dan menetralkan jantung nya terlebih dahulu"Loh bi bunda mana?" Tanya Azura kepada bi inem"Ibu belum kedapur non masih di kamar" balas bi inem dengan senyum ramah"Oooo, bi jangan panggil Azura non ya panggil aja zura atau apa senyaman bibi aja tapi jangan panggil non" ucap Azura merasa tidak nyaman jika di panggil seperti itu"Ehh iya non eh maksudnya neng" balas bi inemBi inem juga tidak enak jika memanggil Azura dengan sebutan zura jadi ia memanggil Azura dengan sebutan nengAzura hanya menanggapi dengan anggukan saja sekarang Azura sedang membuka kulkas untuk mencari bahan apa yang akan ia masak hari ini"Biar saya aja bi yang masak, bibi duduk aja dulu" Ucap Azura saat sudah mendapatkan bahan-bahan yang akan ia gunakan untuk memasak"Eh nggak usah neng biar bibi bantu" kata bi inem"Ya sudah deh, bi inem bantu kupasin bawang aja" Azura hanya geleng-geleng sambil tersenyum melihat bi inem tidak ingin duduk saja"Loh zura kok kamu yang masak sayang?" Tanya Sonia heran melihat menantu nya sudah stand Stan by di dapurAzura menoleh kebelakang ternyata itu suara mertua nya"Eh bunda, gak papa bun biar zura aja yang masak kalo zura bisa kenapa harus orang lain yang masak bunda duduk aja ya" balas Azura"Ya sudah deh, bunda penasaran sama masakan menantu kesayangan bunda" Ucap Sonia tidak sabar merasakan masakan menantu nyaSetelah 1 jam akhirnya semua masakan yang Azura masak sudah selesai"Azura panggil Abyan untuk sarapan ya" kata Sonia Azura mengangguk dan beranjak untuk memanggil AbyanSedangkan Sonia ia juga memanggil suaminya yang masih berada dalam kamar"Mas sarapan dulu" ucap Azura kepada AbyanRespon Abyan hanya menoleh dan menganggukkan kepala nya sebagai jawabanAzura turun ke bawah dan Abyan yang mengekor di belakang"Abyan cepat sini!! Coba kamu lihat enak-enak semua nih makanan nya bunda sudah nggak sabar deh buat makan" ucap Sonia saat melihat anak nya baru menuruni tangga"Eh bi inem mau kemana? Sini makan bareng nggak usah malu biasanya juga bareng" kata Sonia saat melihat bi inem menjauh"Eh iya Bu" balas bi inem sedikit canggung"Mau yang mana mas? Biar Azura Ambil kan" tawar Azura kepada abyan"Ayam rica-rica aja" balas Abyan•~~~~•"Hati-hati ya di jalan, sering kesini ya Ra" ucap Sonia dengan sedih melihat anak dan menantunya akan pergi"Insyaallah Bun kalo Azura waktu nya luang main ke sini" balas Azura dengan senyuman di balik cadar nya"Ya sudah kalo gitu Abyan sama Azura mau berangkat, assalamualaikum"Azura dan abyan Salim kepada Iqbal dan Sonia"Iya hati-hati di jalan, jaga istri kamu baik-baik" ucap Iqbal kepada anak nya"Iya yah" balas AbyanAbyan dan Azura hanya diam saat diperjalanan tak ada satupun yang mengeluarkan perkataanJarak dari rumah Iqbal ke rumah Abyan cukup jauh memakan waktu sekitar 30 menit untuk sampai ke rumah AbyanSaat sudah sampai di rumah Abyan Azura cukup kagum melihat rumah Abyan ini sangat besar"Kenapa beli rumah nya besar betul mas?" Tanya Azura kepada Abyan"Biar nanti kalo sudah punya anak nggak beli rumah lagi" ucap abyan setelah itu ia langsung pergi membawa koper milik AzuraAzura yang mendengar perkataan abyan cukup salah tingkah, anak?? Apa kah abyan ingin memiliki anak dari rahim AzuraTak terasa waktu terlalu cepat berlalu Azura sedang di rumah sendiri dan hanya bermain bersama kucing liar yang datang ke rumah nya eh rumah nya tapi kan rumah suami rumah istri jugadi mana Abyan mengapa Azura sendiri di rumah? Abyan sedang mengadakan meeting di perusahaan nya jadi harus meninggalkan Azura sendiri"Ya Allah kok zura sudah lapar lagi ya?" Tanya Azura"Hem kira-kira masak apa untuk makan malam nanti" ucap Azura sedang berpikir masak apa ia untuk makan malam nantiAzura melihat kucing liar yang tadi ia ambil tertidur di pangkuan nya dengan perlahan Azura memindahkan kucing tersebut ke sofaAzura berjalan kedapur untuk melihat bahan-bahan apa saja yang ada di kulkas agar bisa di olah menjadi makanan'cuma kangkung sama tempe' ucap Azura dalam hatiBagi yang bertanya di mana pembantu nya?? Azura tidak ingin ada pembantu jika diri nya sendiri bisa melakukan pekerjaan tersebutSelama beberapa menit Azura memasak kangkung dan tempe akhirnya selesai makanan nya tidak istimewa tapi Azura yakin abyan akan menyukai masakan nya"Kok lama banget mas abyan pulang"gumam nya melihat jam yang berada di dapur sudah menunjukkan pukul setengah delapanKucing liar yang tadi menghampiri nya entah kemana saat dia balik ke ruang tamu kucing tersebut sudah hilangSampai adzan isya berkumandang Abyan belum juga pulang, Azura segera ke kamar untuk melaksanakan sholat isya setelah itu ia turun lagi ke bawah menunggu Abyan"Huaaaaah" Azura sudah merasa mata nya mulai berat rasa lapar yang tadi menyerang nya sekarang sudah hilang dan tergantikan dengan rasa kantukTak sadar Azura tertidur di ruang tamu abyan pulang pada jam sepuluh malam"Assalamualaikum" ucap abyan saat memasuki rumah nyaSunyi tidak ada yang membalas salam nya saat dia melewati ruang tamu abyan melihat ada seseorang yang sedang tidurPerlahan abyan menggendong Azura tanpa sadar Azura memeluk abyan dengan kuat, Abyan hanya melotot kaget melihat Azura memeluk nyaAbyan hanya berharap Azura tidak terbangun karena suara jantung nya yang sedang berdegup sangat kencang•~~~~•"Mas" ucap Azura terhadap abyan"Iya kenapa?"balas Abyan"Coba kamu liat deh masa ada yang baca tapi nggak vote, jahat banget mereka" ujar Azura"Kok bisa sih mereka nggak vote" ucap abyan heran"Nggak tau tuh, coba marahin mereka biar vote cerita nya" kata Azura sambil tertawa kecil"Heh cepat pencet vote nya, kalo nggak aku bunuh kamu" ancam abyan terhadap Readers"Ihhh jangan galak-galak" ucap Azura"Maaf" cicit abyanSetelah memindahkan Azura ke kamar abyan merasa badan nya lengket dan bau tak ambil pusing abyan segera mandiAbyan menghela nafas panjang saat melihat tumpukan kertas"Perasaan ni pekerjaan kantor nggak ada selesai nya selalu aja numpuk" ujar Abyan pusing melihat pekerjaan kantor yang tak ada habis nya perasaan kemarin ia sudah menyelesaikan tapi kenapa sekarang numpuk lagi??Dari pada pekerjaan nya numpuk lagi abyan segera mengecek dokumen tersebut•~~~~•Malam menjelang pagi Azura bangun untuk melaksanakan sholat tahajud tapi ia merasakan kalau badan nya panasTak menghiraukan badannya yang sedang panas Azura buru-buru mengambil wudhu dan melaksanakan kewajiban nyaTak lama Azura selesai sholat Azura mendengar suara alarm dan tak lama juga abyan terbangun"Loh mas kenapa bangun nya cepat banget?" Tanya Azura heran melihat abyan memasang alarm jam seginiWalaupun Abyan baru bangun tidur dan hanya bisa melihat istrinya secara remang-remang karena keadaan lampu di matikanTetapi abyan melihat Azura sangat cantik ia bersyukur Azura memakai cadar dan hanya diri nya yang bisa melihat kecantikan istri nya lelaki lain tidak bisa kecuali Abi nya azura"Mas?" Tanya Azura karena Abyan tidak merespon pertanyaan nya dan malah bengong"Eh iya kenapa?" Ucap abyan yang mulai sadar"Kenapa bangun cepat banget? Nggak kaya biasanya" ucap Azura"Hari ini ada meeting lagi tapi di luar kota jadi saya harus berangkat pagi biar tidak terlambat" jelas abyan"Oo terus pulang jam berapa nanti?" Tanya Azura lagi, baru saja menikah ia sudah di tinggal pergi terus tapi nggak apa-apa Abyan juga pergi bukan untuk berfoya-foyaAbyan pergi kerja hanya untuk mencari uang dan uang itu untuk menafkahi nya serta untuk masa depan rumah tangga mereka berdua"Belum tau, tapi insyaallah pulang jam tigaan" jawab abyan"Ya sudah biar Azura siapkan air dan baju nya, em kalo dokumen dan file-file nya Azura nggak tau harus bawa yang mana jadi Azura cuma bisa siapkan air dan baju" ujar Azura ia tidak mengerti soal dokumen-dokumen atau file-file dari pada nanti ia salah membawa kan dokumen dan file bisa bahaya nanti"Iya, gak apa-apa" ucap abyan dan mulai berjalan untuk menyiapkan dokumen dan file yang harus ia bawa nanti"Oh ya, mau Azura bawakan makanan nggak??" Tanya Azura kepada Abyan"Nggak usah, kamu istirahat aja pasti kemarin capek habis nungguin saya dan beberes rumah" balas abyan"Cieee khawatir ya nanti kalo Azura sakit?" Goda Azura abyan langsung gelagapan karena ucapan nya tadi"Gak" ucap abyan dengan dingin"Gak salah lagi kan maksudnya mas?" Ucap Azura sambil tertawa karena wajah abyan memerah seperti kepiting rebus"Apa sih Ra gak jelas" ucap abyan sambil menetralkan jantung nya"Ahahaha lucu banget muka mas merah kaya kepiting rebus" kata Azura tak tahan lagi melihat muka abyan yang sudah memerahAbyan yang mendengar perkataan Azura tambah gelagapan apa muka nya merah? Yang benar saja sungguh rasa nya abyan ingin menghilang dari bumi"Ya sudah lah zura capek ketawa terus" ucap Azura dan melanjutkan memilih baju yang abyan pakai untuk meeting nantiAzura merasa perut nya sakit karena terlalu banyak tertawaSetelah bersiap abyan sudah mau berangkat dan di antara oleh supir pribadi Abyan"Hati-hati di jalan ya mas, jangan lupa makan dan jangan lupa sholat lima waktu nya di jaga satu lagi pulang nya jangan lama-lama" ucap Azura merasa tidak rela di tinggal suami nya pergiPadahal baru menikah tiga hari mengapa azura sudah merasa nyaman berada di dekat Abyan dan sebaliknya abyan merasa nyaman saat di dekat Azura"Belum aja saya berangkat sudah mulai kangen" kali ini abyan balas dendam dan menggoda Azura"Apaan sih mana ada Azura kangen, Azura tuh cuma bosen aja di rumah ini sendiri nggak ada teman kan kalo di rumah Umma waktu itu banyak anak-anak tetangga Azura main jadi rumah nya rame kalo di sini sepi nggak rame, kemarin aja Azura cuma di temenin kucing liar itu aja nggak lama Azura tinggal masak malah kucing nya pergi ninggalin zura" oceh Azura panjang lebar Abyan terkekeh kecil melihat Azura mengoceh tentang keseharian nya kemarin"Makanya cepat punya anak" balas Abyan"Gimana bisa punya anak, orang belum di buat" ucap Azura tanpa sadar tentang ucapan nya yang cukup vulgar"Mau buat sekarang?" Tanya abyan sambil tersenyum miring"Apa nya?" Azura malah bertanya balik"Buat anak, kan kamu pengen punya anak" ucap abyan Azura langsung sadar tentang ucapan nya tadi pipinya langsung merah meronaMengapa ia bisa mengatakan itu malu Azura sungguh malu, bisa kah kalian membawa Azura pergi dari bumi ini? Rasa nya Azura ingin menghilang"Ih bukan itu maksud ku, tau ah sana sudah berangkat nanti terlambat" ucap Azura mengalihkan pembicaraan"Ya sudah Salim dulu" kata abyan dan mengangkat tangan nya untuk di Salim AzuraAbyan hanya mengecup kening azura sekilas"Assalamualaikum" ucap abyan"Wallaikumsallam wrb" balas Azura"Sejak kapan aku bisa nyaman sama perempuan" ucap abyan dalam hatiAbyan sedari dulu tidak menyukai perempuan kecuali bundanya bukan berarti ia homo karena tidak menyukai perempuanSedari dulu banyak sekali perempuan yang menggangu abyan mereka selalu saja mengejar-ngejar Abyan bahkan ada yang melakukan secara nekat dengan cara kotorTapi untungnya usaha perempuan itu gagal makanya Abyan memandang perempuan itu secara jijik tapi tidak semua perempuan ia pandang jijikSetelah abyan berangkat Azura segera masuk ke rumah dan ia duduk di pinggir ranjang sambil memegang kepala nya yang pusing"Apa gara-gara zura tadi malam nggak makan ya?" Tanya Azura dengan diri nya sendiriAzura turun kebawah dan melihat makanan yang kemarin ia buat sudah basi dan berlendir (nama nya juga basi ya berlendir lah)Azura membuka kulkas ia melihat kulkas tersebut kosong tidak ada isi nyaAzura lupa untuk memberi tahu Abyan bahwa kebutuhan dapur sudah habisKarena tak ada makanan yang bisa ia makan Azura hanya duduk di ruang tamu sambil menonton tvTingTongSuara bel rumah berbunyi Azura mengerutkan keningnya siapa yang datang? Tak mungkin AbyanTanpa berpikir panjang Azura langsung membukakan pintu tersebut ia melihat seorang perempuan dengan hijab syar'i ada di depan nya sambil memegang rentang bekal"Maaf mba ada apa ya?" Tanya Azura"Eh iya lupa memperkenalkan diri, nama saya Mila Oktavia panggil aja Mila saya istri dari teman sekantor nya kak Abyan" Ucap Mila memperkenalkan diri nya"Oh ayo masuk dulu mba" kata Azura tidak enak melihat Mila hanya berdiri"Eh iya makasih" ucap Mila dan masuk ke dalam rumah tersebutSetelah itu Mila bercerita kalo diri nya itu siapa, ia di suruh suami nya menemani Azura dan Alan (suami Mila) di suruh oleh AbyanSetelah Mila bercerita ia baru sadar bahwa muka Azura terlihat pucat, walaupun Azura menggunakan cadar Mila bisa melihat dari mata azuraDengan pelan Mila meletakkan punggung tangan nya di dahi azura"Astagfirullah panas banget, sudah makan belum?" Tanya Mila dengan sangat khawatirAzura hanya geleng-geleng sebagai jawaban dirinya benar-benar lemas"Ya Allah kenapa nggak bilang dari tadi, sini makan dulu aku suapin kalo nggak kuat" ucap Mila dengan mimik wajah Yang sangat khawatir ia langsung mengeluarkan makanan yang ia bawa tadiAzura tersenyum melihat seberapa panik nya Mila padahal mereka baru bertemu"Makasih" ucap Azura dengan lirihSetelah Mila menyuapi Azura Mila langsung jalan keluar untuk membeli obatAzura langsung meminum obat yang tadi Mila belikan"Makasih mba" balas Azura ia merasa berhutang budi kepada Mila"Nggak usah berterimakasih sebagai manusia harus saling menolong" ucap Mila sambil tersenyum, Mila merasa sedikit tenang karena suhu badan Azura yang sedikit menurun"Kalo engap buka aja cadar nya Ra, lagian cuma ada aku di sini" ucap Mila merasa Azura tidak nyamanAzura langsung melepaskan cadar nya nafas nya panas tidak enak rasa nya jika memakai cadar"Aku kompres ya biar turun lagi panas nya" ucap Mila, tanpa persetujuan dari Azura Mila langsung bertanya di mana dapur dan mulai berjalan ke arah dapur"Aku kasih tau ke mas Alan ya Ra biar nanti mas Alan kasih tau kak Abyan" ucap Mila sambil memegang kompres tersebut"Nggak usah mba, biar aja bentar lagi juga bakal turun panas nya maaf ya kalo zura ngerepotin" ucap Azura"Nggak ngerepotin sama sekali kok Ra santai aja" ujar Mila ia tidak merasa di repotkan oleh Azura"Oh iya Ra jangan panggil aku mba dong kesan nya aku tua banget panggil aja Mila lagian kita seumuran" ucap Mila lagi ia paling tidak suka di panggil mba padahal seumuran"Hah seumuran? Kukira kamu lebih tua" ucap Azura bingung karena tadi ia pikir Mila lebih tua dari nya eh ternyata seumuran"Iyaa Azura" balas Mila"Tapi kok kamu nikah nya muda banget Mila?" Tanya Azura heran karena Mila juga sudah menikah"Aku juga sama kaya kamu, aku di jodohin sama mas Alan" ucap Mila dengan jujur"Kok kamu tau kalo aku nikah sama mas abyan karena perjodohan?" Tanya Azura lagi"Di kasih tau sama mas Alan" balas MilaKarena Mila sudah mengurus Azura rasa pusing dan demam yang tadi menyerang nya perlahan mulai menghilangTanpa di sadari mereka berdua mulai akrab layaknya seorang sahabat padahal baru bertemu hari iniDan saat Azura tertidur Mila mengabarkan kepada Alan kalo Azura sedang sakit dengan cepat Alan langsung memberi tahu AbyanAbyan awalnya panik tapi karna Mila bilang panas nya sudah mulai turun Abyan tidak terlalu panikWalaupun diri nya masih panik sekali melihat sang istri sakit tapi ia tidak bisa mengurus
Mafia Obsession
Gadis bermanik amber mendengus kesal. Pasalnya dia sedang terburu buru pulang, tapi taksi yang di tumpanginya justru mogok. Gadis itu takut di marahi oleh sang paman karna pulang terlalu malam.Grazella Elnara Wesley itu namanya, gadis dengan wajah penuh jerawat dan berkacamata bundar ini, baru saja pulang dari rumah sakit. Karena menjaga adik tunggalnya, Giorgino Austin Wesley. Sang adik masih berusia 7 tahun.Gio mengalami kelainan jantung dan harus senang tiasa di rawat di rumah sakit. Kedua orang tua mereka sudah meninggal 5 tahun yang lalu karena kecelakaan.Grazella nekat mengambil jalur cepat, dan melewati gang sempit yang gelap. Gadis itu sudah tidak tahan menahan nyeri di bagian payudaranya, karna seharian ini dia lupa memompa asi. Alhasil dadanya sangat besar, dan kram.Yah... Gadis berusia 18 tahun tersebut mengidap 'Galaktorea' kondisi dimana tubuhnya kelebihan hormon, yang membuatnya bisa menghasilkan ASI. Masa bodoh dengan desas desus ada penunggu di sana. Gadis itu terus melangkah masuk.Baru juga beberapa langkah, sayup sayup Grazella mendengar ada suara erangan, kakinya sudah bergetar tak menentu. Gadis itu ingin berbalik, dan berlari. Namun kakinya justru lancang melangkah maju, mengikuti suara tersebut.Grazella berusaha mengambil ponselnya, karena gang itu sangat gelap. Di tambah suara rintik hujan menambah kesan horor."Aakkhhh!" Gadis itu tersandung sesuatu, dan terjatuh cantik di aspal."Sial. Apa'an sih tadi!?" Grazella mencari ponselnya yang terjatuh.DEG!"Aarrgggh!!!" Mata Grazella membola sempurna, saat menyinari benda yang membuatnya terjatuh. Di sana seorang pria tergeletak, dengan badan penuh darah. Wajah yang sudah babak belur, tangan gadis itu terlihat bergetarGrazella mendekati pria itu, dan menjadikan pahanya sebagai bantalan. Dia berucap dengan nada bergetar. "A–aku harus bagaimana?"Beberapa detik kemudian, mata pria itu perlahan terbuka. Grazella langsung menyambutnya dengan berbagai pertanyaan."Kamu kenapa? Siapa yang melakukan ini?" Gadis itu memegang wajah sang pria, dan meneliti setiap lukanya.Sementara pria itu hanya diam memperhatikan manik gadis di depannya ini."Bellissimo," ucapnya lemah,(cantik)Setelah mengatakan itu, sang pria menutup matanya kembali."Aku tidak bisa mendengarmu, bisa lebih keras lagi." Grazella menggoyangkan badan sang pria.Gadis itu terlihat khawatir. "Aduh ... berpikirlah El, kenapa otakmu jadi bodoh begini sih!""Aduh om, paman atau siapa pun dirimu, ayo bangun donk! Jangan mati dulu! Nanti aku yang kena imbasnya! Lagian kenapa kamu malah meninggalkan jejak di tubuhnya El!?"Grazella menoleh kekanan dan kiri. "Tidak ada orang lagi, aduh bagaimana ini? Ah ya nomor darurat!" Gadis itu segera mendial nomor 112 di ponselnya.• • •Mobil ambulance melaju dengan cepat, pria itu terlihat membuka matanya kembali. Dia melihat lekat wajah Grazella yang sedang fokus menghadap ke depan.Drt...Grazella segera menggeser tanda hijau, "Iya kak Dicky, Kenap– Apa!? Bagaimana bisa kak!? Bukankah tadi Gio baik baik saja? I–iya aku segera ke sana sekarang." Grazella segera mematikan ponsel itu."Pak, kit-a mau ke rumah sakit mana ya?" tanyanya dengan suara bergetar."Mutiara kasih, dek, " jawab supir ambulan dengan cepat"Pak, lebih cepat lagi ya pak" Gadis itu sangat khawatir dengan sang adik.Beberapa saat kemudian, ambulance telah sampai di depan loby rumah sakit. Grazella segera turun, saat akan pergi tangannya di cengkal oleh pria yang ia tolong. Grazella langsung menghempaskan tangan itu, dan segera pergi ke ruang inap adiknya. Pria itu mengeram kesal."Kamu tidak bisa lari dariku baby girl! Mulai sekarang, kamu milikku!" batinnya dengan senyum menyeringai.• • •Grazella memegang tangan Gio dengan erat, dia merasa bersalah telah meninggalkan adiknya sendirian,Drt...Grazella menghela nafas kasar, pasti sang aunty akan marah besar karna dia tidak pulang. Grazella memilih mengabaikan panggilan itu.Sudah 3 hari Grazella tidak berangkat ke sekolah, dia fokus untuk mengurus Gio, dia juga bolak balik ke rumah dan rumah sakit. Seperti sekarang ini, Grazella sedang menyiapkan makan malam untuk keluarga pamannya."Aunty, setelah ini aku akan ke rumah sakit, besok pagi aku datang lagi," ucap Grazella dengan lembah lembut."H'm!" jawab sang paruh baya dengan ketus. Grazella melangkah pergi dan akan memakan makanannya di dapur.Nyatanya selama hampir 5 tahun lalu, pasca kematian kedua orang tuanya, hidup Grazella bagaikan pembantu di rumahnya sendiri. Beruntung pamannya sedikit mempunyai belas kasih. Saat Grazella menerima hukuman karena tidak becus bekerja, pamannya diam diam memberi Grazella makanan.Perusahaan keluarganya juga di ambil alih oleh pamannya. Gadis itu tidak keberatan, karena dia juga tidak tau menahu masalah perusahaan. Grazella hanya fokus untuk menyembuhkan sang adik.Saat akan makan suara mutiara kembali menyambut telinganya. "Grazella! Sini kamu! Dasar anak sialan!"Gadis itu dengan langkah cepat melangkah menuju sang aunty. "Iya aunty. Kenapa?"PLAK!"KAMU MAU MERACUNI KAMI HAH?!""Maksud aunty, apa?""Cicipi udang itu cepat!" bentak sang paruh baya,"Ma-af aunty, tapi aku ale-rgi udang, makanya aku tidak mencicipinya tadi,"PLAK!"Saya tidak perduli kamu mau alergi atau tidak! Bella mau makan udang, dan kamu masaknya asin begini! Kamu mau meracuni anakku, hah! Dasar pembawa sial!!"Gadis itu menunduk meremas bajunya, dia sangat capek hari ini. Kenapa hidupnya sangat melelahkan, di saat semua gadis menikmati hidup, dan berkutik dengan make up, kenapa dirinya justru hidup melelahkan seperti ini.Itulah satu alasan wajahnya jelek, Grazella tidak punya waktu untuk mengurus diri.Jangankan untuk membeli skincare, untuk membeli baju saja dia harus berhemat, mungkin jika Bella sedang baik dia bisa minta baju lengseran.Dulu hidupnya bak putri ratu, tapi setelah orang tuanya meninggal, Grazella langsung berubah menjadi babu di rumahnya sendiri sungguh tragis.RUMAH SAKIT MUTIARA KASIHPria dengan setelan serba hitam terlihat menghampiri seseorang dan membungkukkan badannya memberi hormat. "Tuan, anda sudah di perbolehkan pulang. Apa kita terbang hari ini saja?"Pria yang sedang berbaring di brangkar tersebut mendelik tajam. "Dimana gadisku! Jangan pernah berfikir kembali sebelum menemukannya!" Anak buahnya langsung memberikan sebuah map coklat.Pria itu segera membukanya dan terlihat sebuah lengkungan di bibir manisnya. "Grazella Elnara Wesley... Nama yang cantik. Apa ada lagi yang mau kau sampaikan Wil?" ucapnya dengan membuka berkas itu."Nona mempunyai seorang adik, yang juga di rawat di rumah sakit ini Tuan," jawab sang anak buah yang membuat pria itu semakin bersemangat.Bibirnya langsung tersenyum menyeringai. "Kerja bagus, Wiliam!"Anak buahnya langsung menanggapi pujian sang tuan. "Nona, juga bekerja di salah satu cafe dekat sini Tuan. Apa anda ingin menemuinya?" Pria dengan pakaian pasien itu langsung tersenyum lebar."Tentu! Dan lakukan sesuai arahanku!" Dia tersenyum miring membayangkan rencananya."Baik, Tuan Gabriel. Saya akan persiapkan semuanya," jawab sekertaris sekaligus sahabat, pria bernama Gabriel Leonard Mattew tersebut."Kamu akan segera menjadi milikku sayang." Dengan bibir terangkat Gabriel berucap.Grazella segera menuju Cafe untuk mencari pundi pundi rupiah. Baru juga sampai, gadis itu sudah di sibukkan dengan banyaknya pesanan pelanggan. Dengan semangat Grazella menyiapkan dan membawa pesanan itu ke pelanggan.Sebenarnya gadis itu sangat risih bekerja menjadi Waiters. Grazella lebih memilih menjadi tukang cuci piring atau OG, tapi karena Cafe ini milik keluarga Veronica sahabatnya, dia di taruh di bagian Waiters.Bukan tanpa alasan Grazella membencinya. Gadis itu sangat risih dengan seragam kerjanya. Karna dia harus memakai baju ketat dengan rok di atas lutut, tentu saja akan memperlihatkan lekuk tubuhnya, dan dia sangat membenci itu.Grazella juga harus melepas kacamata bundar atas tuntutan dari sang manager. Karena Gadis itu sudah di ijinkan memakai masker untuk menutupi wajah penuh jerawatnya. Kadang ada pria hidung belang yang sengaja menepuk pantat atau sekedar memegang tangannya.Seperti saat ini, dengan lancangnya seorang pria menarik tangan Grazella yang mengakibatkan sang gadis harus duduk dipangkuan pria itu, di meja lain seorang pria yang melihat semua itu mengeraskan rahangnya. Dengan tatapan iblis yang ingin memangsa."Fuck! Beraninya tangan kotormu menyentuh milikku! Lihat saja, setelah ini hanya aku yang boleh menyentuhmu baby girl."Pria Itu tersenyum senang saat melihat Grazella menampar dan menendang area junior sang pelanggan dengan kerasnya."Good girl," ucapnya dengan banggaDengan lancang pelanggan itu justru memeluk erat Grazella, sudah pasti sang gadis memberikan hadiah kepada pelanggan tersebut.Grazella terlihat mengikuti langkah sang manajer. "Sudah berapa kali aku bilang, tahan saja! Jangan buat keributan! Apa kamu tidak mengerti ucapanku Grazella!" bentak sang manager, yang di hadiahi senyum getir sang gadis. Grazella menatap tajam ke arah manajer tersebut."Bapak liat sendiri tadi!? Bagaimana bisa saya menahannya!" jawab gadis itu tak mau kalah."Aku tau ... tapi kamu bisa bicara baik baik, Grazella!" Sang manajer memijit pelipisnya, dia tau sangat susah berdebat dengan karyawan yang satu ini.Dia berusaha kembali memberi saran. "Kamu bukan preman, dan bagaimana pun mereka pelanggan yang menggajimu," ucap sang manajer.Grazella hanya mengangguk, tanpa memperdulikan wajah sang atasan yang sudah kusut. Grazella kembali melakukan pekerjaannya. Sedangkan di lain meja Gabriel enggan berpaling dari Grazella, pria itu terus menatap lekat sang gadis. Sampai manager pun tidak berani mengganggunya karena sudah pasti uang-lah yang membuatnya diam.Barulah saat Cafe itu tutup, Gabriel langsung pergi dan masuk ke mobilnya. Beberapa menit kemudian Grazella ikut keluar dari Cafe dan segera pulang. Dia sudah rindu dengan ranjang empuknya.Baru juga melangkah, matanya menyipit heran, melihat jalanan yang biasa dia gunakan ternyata di tutup, dengan terpaksa dia memilih pulang dengan rute lain.Gadis itu terpaksa melewati gang sempit waktu itu. Sementara di lain tempat, pria di dalam mobil tersenyum puas mendapatkan kabar dari orang orangnya, "Tuan, nona sudah masuk perangkap anda!" Dengan kecepatan seribu pria itu melajukan mobil menuju tempat eksekusi.• • •Baru masuk setengah jalan, Grazella merasa ada seseorang yang mengikutinya dari belakang. Dia pun menoleh dan benar saja, seseorang dengan Hoodie hitam dan celana sobek, sedang terlihat berpura pura olahraga.Bukankah orang itu sangat bodoh? Bagaimana mungkin ada orang yang berolahraga jam 11 malam. Grazella berlari bak kesetanan."Arrgh! Aku takut." Gadis itu mencoba mencari persembunyian, dia menemukan sebuah tong.Dengan langkah cepat Grazella berlari ke sana. Sialnya orang itu menemukannya lebih dulu. "Aargggh! Ka-mu siapa?!" Grazella tidak mengenal pria tersebut.Gabriel mengambil tangan Grazella, dan menariknya."Andiamo a casa," ucapnya santai.[ Ayo kita pulang, ]Gadis itu hanya diam, karena bingung."Can you speak English, please?""You are mine, let's go home." Mata gadis itu membola sempurna."What?! are you crazy!" Grazella menghempaskan tangan Gabriel dengan kasar.Pria itu menatap tajam ke arah Grazella yang membuat gadis itu sedikit bergidik. Pria itu kembali mengeluarkan suara baratnya. "Aku tidak perlu persetujuanmu, baby girl." Pria itu tersenyum miring.[Mereka menggunakan bahasa inggris]"Ti-dak! Enak saja. Aku tidak mengenalmu paman! Lagi pula, apa salahku!?" ucapan gadis itu membuat sang pria kesal.Bagaimana mungkin, dia di panggil dengan sebutan paman?"Kesalahanmu cuma satu, karna kamu membuatku jatuh cinta sayang,""Bwuuhaha!"Grazella tertawa dengan sangat brutalnya. pria itu terlihat kebingungan, apa ada yang salah?Grazella menatap lekat sang pria dengan masih sedikit tersenyum geli, "Matamu buta ya? Liat wajahku! Apa yang kamu sukai dari wajah buruk ini pama_ aarrghh!" Dengan sigap pria itu menggendong sang gadis bak karung beras.Grazella langsung mengeluarkan suara emasnya. "Lepasin aku brengsek! Tolong! Tolong!" Gadis itu memukul punggung kekar sang pria, kacamata bundar yang ia pakai pun terlepas jatuh di bawah dengan cantiknya."Aku banyak uang sayang, aku akan membuat wajahmu cantik.""DASAR PSIKOPAT. LEPAS!""Apa kamu tidak mau, bertemu dengan adikmu baby?" Gadis itu langsung menghentikan pukulannya.Dengan cekatan Grazella mengambil benda pipih, dan mendial seseorang. "Halo kak Dicky, Gio ada di rumah sakitkan? Dia la-gi di sana kan kak?!" Suara Grazella sudah sedikit bergetar."Tadi ada beberapa orang pake setelan jas hitam, terus bawa Gio pergi, bukannya kamu yang menyuruh mereka Grace?"PLETAK!Ponsel gadis itu terjatuh dengan cantiknya di aspal."Dimana adikku bangsat!" Gadis itu menegakan tubuhnya dan menatap tajam ke arah sang pria.Sementara sang empu hanya tersenyum manis dan mengusap lembut wajah sang gadis. "Jangan mengumpat sayang, adik ipar berada di mansionku, kita akan menyusulnya sekarang."Tanpa menunggu jawaban Grazella pria itu segera menghubungi anak buahnya. "Segera bawa helikopter ke tempatku berada! Dan persiapkan penerbangan ke Italia, sekarang juga!" Gadis itu hanya terdiam dengan banyak pikiran di kepalanya.Gabriel mencengkram dagu Grazella dengan kuat, sehingga mulut mungil itu sedikit terbuka. Di rasa mendapatkan kesempatan pria itu melancarkan aksinya."Damn it! Sentuhannya sangat berpengaruh di tubuhku!" batinnya mengeram kesal.Setelah melihat Grazella kehabisan nafas, dengan tidak rela Gabriel menghentikan aksinya. Gadis itu langsung menatap tajam dan penuh kebencian pada Gabriel."APA KAMU INGIN MEMBUNUHKU HAH!?" Mata Grazella sudah basah penuh air mata, pandangannya nyalang menatap pria di depannya ini, tenggorokannya terasa mati rasa, dadanya pun sangat sesak.Grazella benar benar merasakan siksaan yang teramat. Dia memilih di siksa bibinya dari pada mendapatkan siksaan seperti ini. Gabriel mengusap sudut bibir Grazella yang terlihat sedikit basah karena ulahnya."Kamu hanya milikku sayang, aku ingin sekali memasukimu," ucapnya dengan tersenyum.Grazella langsung mendongak dan menatap bengis ke arah Gabriel. "Tidak sudi tubuhku menyatu denganmu, brengsek! Lebih baik milikku, di masuki banyak pria di luar sana! Dari pada, di masuki iblis sepertimu!""Sialan!" Gabriel langsung berdiri, dan menarik Grazella menuju ranjang."Akh!!" Gabriel mendorong gadis itu ke ranjang dan mengungkungnya.Grazella berusaha beranjak, dan menendang tubuh Gabriel agar menjauh, namun pria itu lebih cepat, ia mendorong tubuh Grazella untuk kembali berbaring.PLAK!"Arrghh! Dasar iblis!""Diam El!""Sakit brengsek!"PLAK!Dengan tanpa ampun Gabriel menampar pipi sang gadis, Grazella hanya bisa menangis histeris. "Shit! Milikmu sempit sekali baby,""Berhenti brengsek!""DIAM! Aku tidak akan berhenti El! Jangan pernah bermimpi untuk melakukan hal ini dengan orang lain! Atau saat itu juga, akan kubunuh adikmu! Hanya milikku, yang boleh berada di dalam sini!""Da-sar iblis! hiks ...""Fuck!!" Mereka melakukan kegiatan itu dengan nikmatnya.Grazella benar benar merasa sangat kotor. Mati matian selama ini menjaga tubuhnya agar tidak bertemu dengan pria brengsek, tapi takdir justru lebih kejam terhadapnya."Kevin tolong aku! Kamu kemana? Hiks ... tolong kembalilah, bawa aku pergi dari iblis ini," batinnya, teringat dengan orang yang sangat ia sayangi.VENESIA | ITALIA 01.20 PM (siang)Setelah hampir 17 jam di pesawat, akhirnya mereka sampai di Italia. Terlihat gadis itu sedang berbaring, Grazella terlihat sudah memakai dress, dan wajahnya sudah sedikit di poles. Gabriel memanggil pramugari, dan menyuruhnya membersihkan tubuh sang gadis.Gabriel berusaha membangunkan Grazella, dengan mengusap lembut wajah sang gadis. "Baby, bangunlah kita sudah sampai."Gadis itu perlahan membuka matanya, dia mencoba bangun, dan berdiri untuk melangkah."Arrghh!""Perhatikan langkahmu, El!" Gabriel mengeram kesal, melihat Grazella hampir saja terjatuh, jika tangannya tidak cekatan menarik tubuh mungil itu.Bagaimana tidak lemas? Dengan santainya gabriel terus menggempur Grazella di sana. Bahkan baru 1 jam istirahat tubuh Grazella sudah di gempur lagi dan lagi."Badanku sakit semua." Pria itu terkekeh mendengar ucapan gadisnya ini."Aku gendong mau?" Grazella mengangguk pasrah, karna memang badannya sangat lemas."Terima kasih baby, karna kamu memberikan itu untukku, tapi aku tidak menyesal karna mengambilnya darimu!"Grazella terlihat kesal dengan ucapan pria yang sedang memeluknya ini. "Dari yang ada di film film, aku harus pura pura patuh sama penculiknya, setelah itu kabur! Kamu memang cerdas El!" batin gadis itu tersenyum lebar."Ekm. Namamu siapa?" Gabriel terkejut dengan pertanyaan gadis itu. Pria itu tersenyum, dan mengusap kepala Grazella yang membuat gadis itu mendongak.Grazella sedikit terkesima melihat wajah datar, yang sudah tersenyum lebar ke arahnya."Gabriel Leonard Mattew." Grazella mengangguk. Badan pria itu terdiam, saat mendengar apa yang di ucapkan Grazella. Gabriel sangat suka, saat namanya di panggil dengan nada lembut dan halus."Baiklah Leon, aku akan menurut padamu. Tapi tolong pertemukan aku dengan Gio." Gabriel tersenyum simpul."Aku suka saat kamu memanggilku Leon, terus panggil aku dengan itu."Mereka segera turun dari pesawat. Mata Grazella melotot, melihat banyaknya mobil van hitam yang berbaris di sana. Grazella juga mobil Mercedes yang terparkir cantik di parkiran pesawat itu. Gabriel membantu gadisnya untuk turun melewati tangga pesawat."Bentornato, signore."(Selamat datang kembali, Tuan)Mereka mengunakan bahasa italia."Bagaimana keadaan markas!""Baik Tuan!""Mereka siapa?" Dengan berbisik Grazella bertanya."Mereka anak buahku." Gadis itu terkejut mendengar ucapan Gabriel.Grazella kembali bersuara. "Sebanyak itu?" Gabriel menahan senyum, karena masih banyak anak buahnya di sana.Mereka segara memasuki mobil Mercedes yang sudah di siapkan anak buahnya. "Apa kau membawa yang kumau, Wil?" tanya Gabriel pada anak buahnya."Ini, Tuan." Wiliam memberikan sebuah paper bag ke tuannya, dia duduk di kursi depan.Gabriel memberikan itu pada Grazella, yang membuat gadis itu kebingungan. Dia pun mengeluarkan suaranya. "Buat apa? Aku bukan musli__""Pakai saja El," jawab Gabriel datar. Grazella mendengus kesal, dia pun memakai cadar yang di berikan padanya.Gabriel kembali bersuara yang membuat gadis itu semakin badmood."Ingat! Jangan pernah kamu perlihatkan wajahmu pada siapa pun, saat berada di luar mansion! Mengerti?" Grazella meremas dengan kuat dress yang ia gunakan."Kalau malu karena wajahku, kenapa dia membawaku? Dasar menyebalkan!" batinnya, dengan mata sudah berkaca kaca.• • •Setelah hampir satu jam mereka sudah sampai di sebuah mansion mewah nan megah, Grazella sedikit takut karena mansion itu berada di tengah hutan. Gabriel dan grazella segera turun dari mobil dan melangkah menuju mansion. Baru juga sampai di ruang tamu, seorang wanita paruh baya menyapa mereka."Benveito, signore."(Selamat datang, Tuan)Bibi Margaret. Paruh baya itu menjabat menjadi kepala maid di mansion. Di belakangnya terdapat 6 seorang gadis, yang berpakaian ala maid.Mereka berbaris menjadi dua bagian, dan membungkuk menyapa Gabriel."Di antara kalian, siapa yang bisa bahasa Indonesia!?" Gabriel segera mengutarakan keinginannya."Saya Tuan." Seorang gadis dengan wajah oriental mengangkat tangannya. Gabriel segera menghampirinya."Mulai sekarang, kau jadi maid pribadi untuk gadisku." Gadis itu mengangguk.Gabriel kembali menggandeng Grazella, untuk naik ke lantai atas. Mereka berhenti di depan lift."Baby, aku akan ke perusahaan, kamu istirahat setela__""Tidak Leon! Aku mau ketemu Gio! Dimana dia!?" Gabriel mencoba menenangkan gadisnya, ia mengusap lembut wajah Grazella"Kita bertemu adik ipar besok saja, ya?""Dasar pembohong!" Grazella mendorong tubuh Gabriel, terlihat pria itu berusaha sabar."Baby, kamu tau aku bukan orang yang penyabar, jangan selalu memancing iblisku keluar!""Persetan dengan itu Leon! Kamu pembohong! Dasar bajingan! Dimana adikku, brengsek!" Grazella langsung berlari."BERHENTI EL!!" Gabriel mengeluarkan suara emasnya.Grazella tidak menghiraukan dan terus berlari, para maid pun terlihat tegang, mereka sudah hafal betul tabiat Tuannya, lebih baik mereka diam bagai patung sebelum mendapat perintah.DOR! DOR!Tubuh Grazella berhenti di tengah ruang tamu, Gabriel segera menghampiri gadis itu. "Sekali lagi kakimu melangkah, maka salah satu maid di sini akan menjadi mayat El!!"Gadis itu berbalik dan menatap nyalang ke arah Gabriel. "Hahaha kamu pikir aku percaya!""Baiklah. Kamu! Tembak kepalamu jika gadis keras kepala ini tidak mengikuti perintahku!" Gabriel menunjuk salah satu maid, dengan menggunakan bahasa Inggris. Itu adalah bahasa wajib yang harus di kuasai seluruh anak buahnya yang bekerja di mansion.Grazella membalikan badannya dan melihat bahwa maid itu berjalan dan mengambil salah satu pistol yang ada pada bodyguard di sana, yang membuat mata Grazella membulat sempurna."Kamu gila hah!? Untuk apa kamu menuruti ucapan iblis ini!""Ke sini El." Grazella masih tidak perduli dan tetap melangkah."Tembak kepalamu sialan!" Grazella langsung berbalik dan menatap bengis ke arah Gabriel."Atas hak apa kam__"DOR!DEG!Tubuh maid yang berada di belakangnya, sudah terbaring dengan kepala berlumuran darah.Grazella segera berbalik, dia menutup mulutnya dengan tangan bergetar, kakinya sudah lemas tak bertenaga."Da-dasar gila!"Gadis itu berbalik dan menatap penuh kebencian ke arah Gabriel."Masuk ke kamarmu sekarang!" Grazella masih mematung di sana, dia sangat takut pada pria di depannya ini.Saat melihat Gabriel melangkah, dengan cepat Grazella berlari menuju Wiliam, dia berdiri di belakang pria itu."Tolong aku! Tuanmu itu iblis! Aku takut! Kumohon. Tolong aku hiks ...."Badan gadis dengan mata amber sudah bergetar hebat, dia berusaha meminta bantuan pada pria di sampingnya ini. Grazella meminta pria itu membawanya pergi dari mansion terkutuk ini. Bukannya menurut Wiliam justru menarik Grazella dan memberikan pada Gabriel.Grazella menangis histeris, bahkan cadarnya sudah terlihat sedikit basah. Gadis itu menahan tarikan Gabriel dan memohon kepada Wiliam, serta para maid di sana untuk menolongnya.Namun memang dasarnya semua penghuni mansion itu adalah iblis! Mereka hanya melihat, dan tidak perduli dengan Grazella.Sang gadis terlihat menggigit tangan gabriel yang berusaha menariknya. semua orang yang melihat itu hanya melongo, bagaimana bisa gadis bercadar itu sangat berani menggigit Tuannya.Gabriel mengeraskan rahang, dan menutup matanya sekilas untuk menahan rasa sakit di tangannya. Para maid melihat dengan tatapan ngeri, karna tangan pria itu terlihat mengeluarkan cairan merah. Grazella menggigitnya dengan penuh tenaga.Gabriel menarik tangan Grazella dengan kasar menuju lift.Grazella berjalan terseok seok, karena tidak bisa mengimbangi langkah panjang pria bermanik biru gelap tersebut. Mereka segera masuk dan menuju lantai atas, hingga saat lift terbuka, Grazella yang tidak seimbang pun terjatuh di marmer dingin, hingga lututnya terluka yang membuat Gabriel menghela nafas kasar."Kenapa kau sangat lamban!?" ucapnya penuh penekanan."Tolong lepasin a-ku Leon, aku takut hiks ...."Gadis itu memohon dengan memegangi kaki sang pria. Gabriel tersenyum miring melihat hal itu."Kamu pikir dengan menangis, bisa membuatku luluh? Jangan harap! Sampai menangis darah sekalipun, kamu akan tetap berada di sini El!" Lagi lagi pria itu mengeluarkan uratnya saat bicara.Gabriel menarik tangan Grazella dan masuk ke kamar. Sampainya di kamar, pria itu langsung mendorong tubuh Grazella dengan kasar, sehingga tubuh ringkih itu tersungkur di ranjang big size di sana.Gadis itu menangis dan berusaha menuju pintu untuk kabur, namun dengan mudah Gabriel menangkap tubuh gadisnya kembali. Grazella menyingkirkan dengan kasar lengan kekar itu dari perutnya. "Lepas brengsek! Lepas!! Dasar iblis!"PLAK!"Diam! Kamu tau? Usahamu itu sia sia!" Dengan langkah gontai Grazella menjauhi pria itu, dia sangat jijik dan benci pada Gabriel.Pria itu menatap tajam ke arah sang gadis. "Jadilah gadis yang penurut, maka aku akan menjadi pria yang lembut juga, renungkan kesalahanmu!" Dengan langkah seribu Gabriel menguncinya di kamar itu.Grazella hanya bisa menggedor dengan putus asa di dalam sana. "Dasar bajingan! Aku membencimu Leon!"Gadis tersebut terlihat sangat kacau.Lututnya terasa sakit, bahkan payudaranya sangat nyeri, karena hampir satu hari dia tidak mengeluarkan ASI, alhasil dadanya sangat kram."Kevin kamu kemana? Tolong aku hiks ...." Dia teringat dengan seseorang, yang sangat berarti di hidupnya.Grazella melangkah ke arah balkon, netranya menyipit melihat pemandangan di bawah sana, saat ini dia berada di lantai empat. Terlihat di bawah terdapat kolam ikan, taman mawar, bahkan sungai, serta pohon pohon besar berada mengelilingi mansion yang sangat luas dan besar itu.Tapi sayang kemewahan mansion ini, tertutupi oleh aura yang menakutkan. Bagaimana tidak? Seluruh penjuru sudut di isi oleh penjaga berseragam serba hitam, terlihat setiap penjaga itu memiliki pistol di setiap saku pinggangnya.Grazella sedikit berfikir siapa pria itu sebenarnya? Kenapa dia bisa menggunakan senjata dengan sesuka hati. Sementara Gabriel menuju bawah dan memanggil anak buahnya, "Kalian jaga di depan pintu kamar! Jangan sampai gadisku keluar dari sana!""Baik, Tuan!" jawab kedua bodyguard tersebut.Wiliam terlihat menghampiri Gabriel, dan mengatakan laporannya. "Tuan, tim alpa sudah menemukan tikus penghianat itu, dan sekarang dia di markas." Gabriel mengangkat salah satu sudut bibirnya. Akhirnya dia bisa melampiaskan kemarahan dalam dirinya."Kita ke markas sekarang!""Baik tuan."• • •Waktu menunjukan pukul tujuh malam, terlihat pintu kamar terbuka dengan seorang maid masuk kesana.Ceklek"Nona apa anda, aakkhh!!" Maid itu melotot sempurna, dia memandang wajah Grazella dengan lekat, yang membuat gadis itu tersenyum getir."Apa, sejelek itu?""Maaf Nona! Maaf saya lancang memandang Nona maaf Nona!" Gadis itu di buat melongo melihat respon maidnya, dia segera turun dari ranjang dan membantunya berdiri. pasalnya maid tersebut bersujud di lantai."Dimana iblis itu?""Maksud Nona?" Maid itu terlihat kebingungan."Tuanmu itu, dimana dia?""Maaf Nona, saya kurang tahu. Karna Tuan tidak memberi tahu kami.""Nama kamu siapa?" Grazella duduk di pinggiran ranjang."Sheryl Nona." Dengan masih menunduk maid itu menjawab."Kamu sudah lama bekerja dengan iblis itu,""Saya dulu bekerja di salah satu club milik Tuan, lalu beliau menyuruh saya untuk bekerja di mansion Nona." Grazella mengangguk mendengar jawaban itu. Dia kembali melemparkan pertanyaan."Umurmu berapa?""19 tahun Nona." Maid bernama Sheryl mendongakkan Kepalanya, kala melihat tangan itu terulur."Namaku Grazella kamu bisa panggil aku Grace umurku 18 tahun, seharusnya aku memanggilmu kakak bukan?" Grazella tersenyum manis, sedangkan manis itu langsung menggelengkan kepalanya. Wajahnya terlihat pucat."Tidak Nona, saya bisa di pecat atau bahkan di hukum Tuan, kalau sampai berani memanggil Nona hanya dengan nama." Grazella makin di buat malas."Jangan takut, kamu bisa melakukan itu jika hanya ada kita berdua, kamu maukan jadi temanku?" Maid itu mengangguk."Em ... Sheryl apa aku bisa meminta tolong?" Maid tersebut mengangguk yakin."Apa kamu bisa membelikanku em ... sesuatu, tapi aku tidak punya uang. Bisa aku pinjam dulu, dan tolong belikan itu untukku?" Grazella sedikit canggung."Hahaha Nona lucu. Nona tidak perlu meminjam uang saya, Tuan pasti dengan senang hati menuruti perintah Nona. KM" Maid itu tersenyum manis."Apa Nona menginginkan sesuatu?""Apa kau bisa membelikanku pom-pa asi?" Maid itu terdiam mendengar ucapan Grazella."Mak-sud Nona? Apa Nona sedang menyus__""Tidak aku masih vir__ em ... maksudku aku kelebihan hormon, dan secara alamiah aku menghasilkan asi. Sudah hampir 1 hari aku tidak mengeluarkannya, p4yudaraku rasanya sangat sakit, bisakah kau membantuku?" Setelah mengerti maid itu tersenyum dan mengangguk."Saya akan membelinya besok Nona, kebetulan besok jadwal belanja mingguan." Gadis itu terlihat berbinar."Terima kasih Sheryl." Grazella memeluk Sheryl dengan erat yang membuat maid itu terkejut bukan main.• • •Jam sudah menunjukan jam 1 dini hari, terlihat seorang pria dengan langkah pelan masuk ke sebuah kamar, dia menyipitkan matanya kala mendengar suara isakan, dengan cepat pria itu menyalakan lampu di kamar itu.DEG"Fuck!"
Selir CEO
"Mama dan papamu meninggal di tempat."Dunia Zahra hancur sejak masih berusia 5 tahun. Dua orang tercinta pergi untuk selamanya. Membuat gadis kecil itu harus hidup sebatang kara.Zahra adalah putri tunggal, seorang pengusaha bernama Wirahadi Gunawan. Dan belum lama ini, bisnisnya mengalami peningkatan pesat.Semua orang merasa janggal atas kejadian yang mer3nggut nyawa Wirahadi dan istrinya.Akhirnya kakak kandung Wirahadi menawarkan diri untuk mengasuh sang keponakan. Serta mengelola seluruh asset dan harta yang dimiliki oleh Wirahadi.Sebelum Zahra tumbuh dewasa dan mampu mengelola sendiri harta yang sudah mutlak menjadi hak miliknya.Sang paman yang baru saja mengalami kebangkrutan, kemudian ikut tinggal di rumah Zahra.Zahra kecil merasa tidak nyaman, melihat keluarga sang paman menguasai rumah megahnya. Namun, dia hanya bisa pasrah, karena hanya mereka lah yang mau mengurusi Zahra.Awalnya kehadiran keluarga sang paman, sedikit mengobati rasa rindu Zahra kepada mama dan papanya. Meskipun kakak sepupunya terlihat tidak suka kepada Zahra.Mulanya Zahra diperlakukan dengan baik seperti anak kandung sendiri. Hingga satu tahun lamanya.Ketika Zahra memasuki masa sekolah, mereka mulai memperlakukannya dengan tidak adil.Zahra disuruh pindah dari kamar kesayangannya. Tidak pernah dibelikan mainan seperti kakak sepupunya. Dipaksa hidup mandiri, dan harus menerima jika makanan paling enak di meja makan sudah dihabiskan oleh kakak sepupunya.Zahra dituntut harus selalu mengalah dengan kakak sepupunya.Mereka seakan tak peduli bahwa Zahra lah sang pemilik h*rta, yang mereka nikmati sekarang."Kamu sekarang tidur di sini, ya!" ucap paman Aji kepada Zahra.Zahra mengamati kamar berukuran kecil itu, yang biasanya digunakan sebagai kamar para pembantu."Kamarku kenapa?" tanyanya polos, dengan mata berkaca-kaca."Kamarmu sekarang ditempati kak Sari. Kak Sari pengen tidur di sana," ucap paman Aji.Padahal sejak kecil Zahra sudah sangat nyaman dengan kamar itu. Ada banyak boneka di atas ranjang, ukiran lemari pakaian yang indah, serta tembok yang dihiasi oleh gambar-gambar kartoon kesayangannya.Almarhum ayahnya juga memasang lampu kelap-kelip ketika malam, agar Zahra merasa senang.Terdapat banyak buku anak-anak, yang akan dibacakan sang ayah sebelum tidur dengan nyenyak.Begitu banyak kenangan indah yang pernah terjadi di kamar itu. Namun sekarang Zahra dipaksa pergi, karena harus mengalah dengan orang baru.Zahra kecil tidak bisa tidur di kamar barunya yang kotor dan bau. Dia hanya bisa menangis, karena menahan rindu.Rumah yang dulu terasa nyaman dan menyenangkan kini menjadi asing setelah ditinggali oleh para benalu.Gadis kecil itu terisak sambil memeluk baju almarhumah ibunya."Mama, besok Zahra minta digorengin ayam goreng boleh!" tanya Zahra di tengah keheningan. Berbicara kepada sepotong baju yang sedang dia peluk. Seolah itu adalah sosok sang ibu."Kok mama diam aja sih?" Zahra mencium kain lembut itu. Sekaligus mengelap wajahnya yang basah oleh air mata."Mama marah ya?" ceracau-nya lagi, dengan suara serak."Yaudah Zahra nggak minta aneh-aneh lagi deh. Zahra nggak bakalan nakal lagi, tapi ibu jangan pergi!"Gadis kecil itu malah semakin terisak karena begitu rindu dengan almarhumah ibunya."Zahra boleh nggak sih kangen sama ibu?"***Ketika makan bersama, Zahra hanya pasrah melihat ker4kusan mereka."Aku mau paha ayamnya, Ma!" seru kak Sari setelah duduk di kursi.Sang ibu langsung mengambilkan."Sama sayap!"Dengan tak tahu diri, gadis kecil itu minta dua potong. Sang ibu langsung menuruti.Sisa dua daging di atas piring, tentu saja untuk paman Aji dan istrinya.Sementara Zahra hanya terdiam manyun di tempatnya. Kehilangan selera makan."Daging ayamnya habis, kamu makan pakai sayur aja, ya!" ucap Tante Susi, menuangkan sup bayam ke piring Zahra.Mereka semua makan dengan lahap, kecuali Zahra yang mencebikkan bibir, menahan tangis.Padahal dia sangat ingin sekali makan ayam goreng.***Puncak k3k3jaman mereka terjadi ketika Zahra diajak ke suatu tempat yang sangat asing bagi anak itu."Mulai sekarang kamu tinggal di sini, ya?" ucap paman Aji sambil mendorong tubuh mungil Zahra ke depan. Ke arah anak-anak yang sedang bermain di sebuah gedung sederhana.Zahra tampak ketakutan."Nggak pa-pa sayang, di sini kamu banyak temennya," bisik tantenya.Zahra menggeleng takut."Tante sama paman nggak bisa jagain kamu tiap hari. Jadi lebih baik kamu dititipkan di sini aja, ya," ucap sang Tante."Nanti paman bakalan sering-sering ke sini, kok," sahut paman Aji.Zahra masih tetep menggeleng.Paman Aji menghela napas kasar, memberi kode kepada penjaga pantai asuhan untuk membawa Zahra.Zahra berontak, tapi tenaganya kalah kuat dengan ibu panti itu. Dia meronta sambil menangis terisak-isak.Namun, tangisan menyedihkan itu tak didengarkan oleh sang paman.Sang paman dan istrinya justru tersenyum puas, karena berhasil bebas menikmati h4rta adiknya tanpa perlu mengurusi keponakannya.Sementara itu, tak jauh dari mobil mereka. Seorang pria berjas rapi sedang mengamati di balik kaca mobilnya.Pria tampan itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia berjanji akan merebut kembali h4rta Zahra yang sudah dirampas oleh pamannya sendiri.Komentar kalian tentang bos Erwin wkwk...Malang sekali hidup Zahra. Setelah orang tuanya meninggal, sang paman tega membuangnya ke panti asuhan.Sejak kecil dia dipaksa asing dengan segala kemewahan yang ia miliki.Sang paman tega melakukan itu untuk menguasai seluruh h4rta yang dimiliki keluarga Zahra.Bocah malang itu harus disingkirkan dari kemewahan yang ia miliki. Meskipun sejatinya ia tidak butuh kemewahan, karena yang ia butuhkan hanyalah kasih sayang.Diusianya yang belum genap 6 tahun, Zahra harus beradaptasi tinggal di lingkungan baru, bersama anak-anak yang senasib dengan dirinya. Tidak punya ayah dan ibu.Satu minggu berada di sana, Zahra menghabiskan hari-harinya dengan tangisan. Minggu berikutnya dia mulai terbiasa. Mendengarkan celotehan bocah yang lebih kecil darinya, mengantri ketika mengambil makanan, berbagi mainan dengan teman-teman sebaya, dan tertawa senang jika ada donatur yang datang membawa banyak makanan dan mainan.Zahra mulai berpikir bahwa hidup di panti jauh lebih menyenangkan daripada harus hidup dengan keluarga sang paman yang sering bertindak kasar kepadanya.Gadis kecil itu sampai hafal dengan salah satu donatur yang sering datang berkunjung. Namanya Erwin Zamzami, biasa dipanggil Om Erwin oleh anak-anak.Pria tampan itu memperlakukan Zahra lebih spesial dari anak-anak yang lain. Erwin suka dengan iris mata Zahra yang berkilau seperti berlian. Dengan rambut halus yang sering dikuncir ekor kuda. Bibir mungilnya sering mengerucut ketika Erwin mulai menggodanya."Om gemes banget sama kamu. Rasanya pengen Om jadiin gantungan kunci deh," ledeknya sambil tertawa.Zahra mengerucutkan bibir, membuat Erwin mengacak-ngacak rambutnya gemas."Om Erwin nyebelin, deh!" sungutnya dengan suara cadel."Tapi om ganteng kan?" Erwin menaik-turunkan alisnya."Lebih gantengan Yongki," jawab Zahra polos."Siapa Yongki?""Kucingnya si Mira."Erwin menepuk jidat. Kemudian tertawa gemas."Kapan-kapan kalau Om datang ke sini lagi kamu mau dibawain apa?" tanya Erwin.Zahra menatap wajahnya dengan sorot sendu. Membuat Erwin menaikkan sebelah alis.Gadis itu malah menunduk, dengan wajah sedih."Hey Zahra, kamu mau minta apa?" tanya Erwin lembut, sambil memegang bahu rapuh itu."Zahra cuma minta dipeluk," lirih gadis itu dengan suarat berat."Yaudah sini Om, peluk."Zahra langsung menggelengkan kepalanya. "Bukan dipeluk sama Om.""Lalu?""Pengen dipeluk sama bapak sama ibu," ucap Zahra penuh harap, dengan bulir-bulir bening yang mulai menetes di pipinya.Erwin menelan ludahnya dengan susah payah. Karena keinginan itu tidak akan pernah bisa dikabulkan oleh siapapun, selain Tuhan.Pria itu memalingkan wajah, dengan rahang yang mengeras, menahan emosi. Karena mengingat dua sosok yang membuat Zahra menjadi yatim-piatu seperti ini.Siapa lagi kalau bukan Pak Aji, paman Zahra sendiri, yang tega merancang rencana untuk menyingkirkan ayah Zahra, yang merupakan senior Erwin di dunia bisnis.***Suatu ketika Zahra kembali dijemput oleh pamannya. Sang paman ingin mengajak dia datang ke sebuah pesta, karena yang hadir ke pesta itu kebanyakan adalah sahabat dekat almarhum ayah Zahra.Jadi pak Aji mau tak mau harus membawa Zahra ikut datang ke acara. Sebelum berangkat pak Aji sempat mencubit lengan Zahra sembari memberi ancaman."Awas nanti kalau kamu sampe bilang aneh-aneh kalau ditanya!"Istri pak Aji mengimbuhi. "Nanti bilang aja kalau kamu sangat bahagia tinggal dengan kami."Sesampainya di pesta yang meriah itu, semua atensi langsung beralih ke arah Zahra yang berada di gendongan paman Aji. Semuanya merasa iba dengan nasib bocah kecil itu yang ditinggal oleh kedua orang tuanya."Zahra cantik, gimana kabarnya?"Banyak yang berbondong-bondong menghampiri Zahra, ingin menghibur atau sekedar bertanya hal-hal kecil."Zahra udah waktunya sekolah ya, kamu sekolah di mana?""Kalau libur sekolah main ke rumah tante, dong!""Zahra sehat kan?""Kamu suka makanan apa Zahra, biar Om ambilin!"Zahra hanya tersenyum menanggapi rentetan pertanyaan mereka. Sementara sang paman langsung memberi jawaban yang membangun citra sebagai paman yang sangat menyayangi keponakannya."Zahra sangat bahagia tinggal bersama kami. Dia sekolah di tempat bagus, ingin apapun selalu kami belikan, dan yang paling terpenting dia tidak kehilangan kasih sayang," jelas Pak Aji.Orang-orang sebenarnya tidak seb*doh itu untuk langsung percaya kepada ucapannya. Wajah Zahra tidak terlihat cerah seperti anak orang kaya. Kulitnya dekil dan gelap, karena sering tersengat cahaya matahari saat bermain di panti.Sebagian menyarankan agar Zahra ikut dengan nenek atau kakeknya saja.Namun sayangnya Zahra sudah tidak punya nenek dan kakek. Saudara dari jalur bapak, hanya ada pak Aji, sementara saudara dari jalur ibu, tempat tinggalnya jauh di seberang pulau, dengan kondisi perekonomian yang terbilang m!skin.Diam-diam istri pak Aji mencubit lengan Zahra. Zahra hampir memekik, untung masih bisa ditahan karena tidak ingin dimarahi.Iris mata gadis kecil itu menyorot seorang pria berjas rapi yang mengawasi dari kejauhan. Seakan sedang meminta perlindungan.Sosok itu adalah Erwin Zamzami, dia sangat geram. Ingin membongkar kebvsukan paman Zahra.***Keesokan harinya ketika dipulangkan ke panti, tubuh mungil Zahra sudah dipenuhi dengan luka l3bam dan memar. Pengurus panti merasa prihatin dengan keadaan Zahra. Gadis kecil itu juga tidak mau berbicara apapun ketika ditanya. Membuat pengurus panti meminta untuk menghiburnya.Akhirnya berkat Erwin, senyuman yang sering terlukis indah di bibir Zahra kembali terbit. Ibu panti pun merasa lega."Terimakasih pak Erwin, sudah menganggap Zahra seperti anak sendiri."Erwin tersenyum tipis. "Saya tidak menganggap Zahra sebagai anak sendiri."Dahi Ibu panti mengerut bingung."Karena saya belum menikah." Erwin tertawa."Yaudah kalau begitu terimakasih karena sudah menganggap Zahra sebagai adik.""Saya lebih suka menganggap Zahra sebagai calon istri," jawab Erwin.Ibu panti hampir tersedak dengan ludahnya sendiri. "Edan!"Erwin terbahak. "Iya, sepertinya saya sudah mencintai Zahra sejak dia masih kecil.""Terlalu kecil.""Berarti tinggal menunggu dia tumbuh dewasa." Erwin pamit pergi sambil tertawa terbahak-bahak di depan ibu panti.***Sementara itu, paman Aji dan istrinya sedang merancang skenario p3mbvnuhan. Segalanya sudah di setting sedemikian rupa, agar mereka bisa melenyapkan satu-satunya orang yang memiliki hak atas harta yang mereka nikmati sekarang. Tanpa ada satu pun orang yang curiga.Pak Aji kemudian ke panti untuk menjemput Zahra, lalu berpamitan kepada pemilik panti. Memberikan ucapan terimakasih karena mau menjaga Zahra.Ibu panti melepas kepergian Zahra dengan perasaan khawatir.Karena memang Zahra tidak dibawa pulang, melainkan dipasrahkan oleh beberapa orang berwajah sangar."Selesaikan tugas kalian!" ucap paman Aji sebelum pergi meninggalkan Zahra yang menangis ketakutan di cengkraman para segerombolan preman.Zahra kalau pakai kerudung wkwk...***Zahra, pewaris tunggal almarhum Wirahadi harus menjadi korb4n keg4nasan sang paman yang ingin merebut harta warisannya.Gadis kecil tak berdosa itu dibawa ke suatu tempat misterius oleh segrombolan preman. Dan sang paman tertawa puas melihatnya."Siapa yang berani melakukan?" tanya salah satu preman, merasa tidak tega melihat bocah kecil yang terisak di depan mereka."Dia tampak cantik sekali." Nuraninya memberontak, ingin melepaskan anak malang itu."Miris sekali dunia ini. Rela menyingkirkan apapun hanya demi du1t!""Termasuk dirimu!" sahut temannya.Pria berambut gondrong itu tersenyum tipis. "Kita semua sama, hanya cara berdosa-nya saja yang berbeda."Semua orang terdiam."Kita cari cara lain untuk melenyapkannya," ucap salah seorang dari mereka melangkah meninggalkan Zahra yang terikat di atas meja.Sementara itu di tempat lain. Pak Aji sedang duduk di sebuah ruang rapat bersama beberapa pemimpin dari perusahaan ternama di Indonesia.Setiap pemimpin dikawal oleh satu orang pria kepercayaan mereka. Salah satunya adalah Erwin Zamzami yang terus melirik pak Aji dengan tatapan tajam di belakang bosnya.Pak Aji merasa terintimidasi dengan tatapan itu."Kenapa pengawal anda melirik saya seperti itu," protes pak Aji kepada Dendy Wijaya."Dia tidak yakin dengan kinerja anda!" ucap pak Dendy dengan wajah tenang."Apa haknya?" Pak Aji menaikkan sebelah alis."Sebelumnya dia adalah suksesor Wirahadi Gunawan dalam bidang marketing. Setelah itu saya merekrutnya. Bisa dibilang, dia adalah orang yang paling tahu luar dan dalam perusahaan yang anda kelola sekarang," jelas Pak Dendy lalu menyesap secangkir kopi di atas meja."Tidak usah khawatir, saya akan mengelolanya dengan baik," jawab Pak Aji."Seharusnya Zahra yang duduk di situ," seru Erwin dengan wajah dingin dan datar.Pak Aji tertawa. "Tentu saja, suatu saat nanti Zahra akan duduk di sini. Sekarang dia baru masuk sekolah dasar. Saya akan akan menjaga seluruh aset yang dimiliki adik saya untuk masa depan keponakan saya."Erwin menyeringai lebar, aura wajahnya menyorotkan kebencian. "Lalu kenapa anda berusaha menyingkirkan Zahra?"Semua orang di meja itu terbelalak lebar mendengar ucapan Erwin. Mereka yang merupakan sahabat dekat Wirahadi sekaligus klien dalam dunia bisnis mendadak merasa curiga dengan pak Aji."Apa maksudmu, Zahra sedang sekolah sekarang. Dia sangat bahagia, dan tidak kekurangan kasih sayang," jelas pak Aji gugup."Banyak orang yang bilang bahwa keluarga dari pihak ayah itu selalu ruwet. Saya lebih setuju jika Zahra ikut keluarga dari pihak ibunya saja," celetuk salah seorang yang sejak kemarin mengampanyekan hal itu."Keluarga dari pihak ibu Zahra sangat tidak memungkinkan untuk merawat Zahra, mereka tinggal jauh dari ibu kota."Suasana di tempat itu mendadak tegang."Sudah-sudah lebih baik kita segera memulai rapat. Saya tidak punya banyak waktu untuk berdebat," ucap pak Dendy yang memiliki mega bisnis paling besar di antara mereka. Dan tentu saja paling ditakuti.Erwin tersenyum tipis melihat tekanan yang dia berikan kepada pak Aji.***"Apa kita berikan r4cun saja?" saran salah satu preman."Kasihan ah, gue nggak tega.""Bakalan repot nanti kalau diberitakan dia t3w4s karena dir4cun, cepat atau lambat kita bakalan ikut ketangkap juga."Pria bertatto elang di lengan menyahut. "Pak Aji kabarnya sudah bekerja sama dengan polis1 yang akan jadi penyidik pada kasus ini, kita akan terselamatkan. Tak hanya itu, Pak Aji juga memb4yar beberapa wartawan untu membuat berita yang bisa menyelamatkan pelaku utama.""Lalu bagimana?""Ah sudah lah, lebih baik kita segera selesaikan sesuai arahan Pak Aji saja.""Serius?"Kemudian mereka dengan paksa, mengganti pakaian Zahra dengan baju sekolah, seolah-olah Zahra mengalami kecel4kaan setelah pulang sekolah. Jurnalis yang disuruh pak Aji pasti sudah bersiap mengembangkan berita.***"Kita harus berhati-hati, sepertinya Pak Aji bukan orang sembarangan," ucap seseorang di seberang sana."Ya," jawab Erwin datar sebelum memutus panggilan. Kemudian fokus mengemudikan mobil mengikuti pak Aji yang entah pergi kemana. Bersama keluarganya.Erwin menggertakkan gigi dengan tangan terkepal, setelah mobilnya berhenti di sebuah mall. Mengamati keluarga pak Aji yang turun dari sana.Tidak ada sosok Zahra di sana. Padahal kemarin bocah mungil itu sudah dijemput pulang. Lalu kemana dia sekarang?Firasat Erwin mendadak tidak enak.Pria itu mengempeskan mobil pak Aji dengan kesal. Lalu ikut membuntuti masuk ke dalam mall.Mereka beberbelanja banyak barang, tapi tidak memikirkan Zahra sama sekali. Erwin menyangkan seniornya yang meninggal di usia terbilang muda, sebelum membuat surat ahli waris. Ya, memamngnya maut bisa dipersiapkan?Erwin berusaha memanfaatkan momen dimana putrinya pamit buang air kecil. Diam-diam pria tampan itu melangkah mengikuti, kemudian ikut masuk ke dalam kamar mandi.Sari menjerit kaget, untung saja Erwin langsung membekap mulutnya. "Katakan padaku dimana Zahra sekarang?" bisiknya penuh penekanan.Sari menangis sambil menggeleng pelan. "Cepat katakan! Kalau kamu ingin sdelamat."Sari memundurkan langkah dengan tersengal-sengal. Setelah Erwin melepaskan cengkraman."Cepat katakan!" bentaknya pelan."A-aku tidak tahu!" jawab Sari ketakutan.Erwin melotot sambil mengeraskan rahang. "Apa dia ada di rumah!""I-iya!" jawab Sari."Jangan berbohong!""Tidak, Zahra memang baru pulang sekolah. Kami tidak sempat mengajaknya!"Erwin mendengkus kesal, kemudian mendorong tubuh Sari dengan kasar. Lalu pergi dari kamar mandi itu sebelum dia berteriak minta tolong.***Erwin langsung bergegas menuju ke rumah Zahra. Kemudian bertanya kepada satpam yang berjaga di rumah itu. Jawaban yang diberikan berbeda dengan keterangan Sari.Setelah Erwin mendesak, akhirnya satpam itu mengaku bahwa Zahra diserahkan kepada segerombolan preman oleh pak Aji.Erwin yang tersulut emosi, langsung menjadikan satpam itu sebagai pelampiasan.Arrghhh... Dia benar-benar tidak tahu harus kemana mencari preman-preman yang membawa Zahra.Ponselnya berdering, Erwin langsung buru-buru mengangkatnya. Ternyata dari pak Dendy."Erwin, saya menemukan berita seorang anak sekolah tak sengaja tertabr4k mobil. Anak itu mirip Zahra."Kedua tangan Erwin langsung melemas, hingga ponsel itu terjatuh dari genggaman.Pemakaman boc4h kec1l itu diiringi oleh isak tangis banyak orang. Erwin menjadi orang yang paling terpukul karena gagal menjaganya. Apalagi mereka tidak mengizinkan ia melihat wajah Zahra untuk yang terakhir kalinya.Dibalik kaca mata hitam, air matanya terus bercucuran membasahi wajah. Kedua tangan terkepal, ingin mengh4jar keluarga benalu yang pura-pura bersedih di depan pusara. Semua orang berbela sungkawa, dan pak Aji meminta maaf karena tidak bisa menjaga Zahra dengan baik.Gembar-gembor di media memberitakan bahwa Zahra sengaja bvnvh diri agar bisa menyusul kedua orang tuanya. Tentu saja Erwin tidak percaya, mana mungkin bocah sekecil Zahra berani melakukan itu. Dia yakin, pasti pak Aji adalah dalang dibalik musibah ini."Banyak kejanggalan yang terjadi. Seperti sebuah pembvnvhan yang terencana," bisik pak Dendy di sebelahnya.Erwin menghela napas kasar. Mendongak ke atas, menikmati semilir angin yang menyibak rambutnya. Dia sebenarnya hanya berusaha tegar.Teringat dengan celotehan renyah Zahra ketika berada di panti tempo lalu. "Om, gimana ya caranya biar Zahra bisa bermimpi ketemu sama mama dan papa?"Erwin hanya bisa terdiam."Andaikan dengan tidur bisa selalu bermimpi bertemu mereka, pasti Zahra pengen tidur terus, nggak usah bangun lagi," ucap Zahra sambil tersenyum getir.Dada Erwin terasa sesak saat membayangkannya. Pandangannya beralih ke arah pak Aji yang berusaha ditenangkan banyak orang. Seolah dia adalah orang yang paling terpukul atas kepergian Zahra, padahal sebaliknya.Karena merasa j1j1k melihatnya, akhirnya Erwin memutuskan pergi terlebih dahulu dari pemakaman.Selama 3 hari Erwin hanya melamun di depan jendela kamarnya. Tidak n4fsu makan, juga tidak berminat melakukan apa-apa. D3ndam dan rasa penyesalan masih menggrogoti hatinya.Seenaknya media menyebarkan berita yang tidak akurat tentang Zahra, dan pol1si pun sudah menetapkan seorang sopir sebagai pelaku. Sayangnya Erwin tidak punya wewenang untuk ikut campur dalam urusan itu. Mereka seperti sudah merekayasa semuanya.Refan sahabatnya datang untuk melihat keadaannya. "Sudahlah Win, ikhlaskan saja. Zahra sudah bahagia menyusul papa dan mamanya.""Ya," jawab Erwin dengan suara serak."Lalu, kenapa masih sedih?""Aku tidak bisa membiarkan kedzoliman menang begitu saja. Pak Aji harus diberi pelajaran," jawabnya dengan tangan terkepal."Ya, kita akan pikirkan itu. Sekarang kau harus makan!" ucap Refan. "Karena balas d3ndam juga butuh energi!"***Pak Aji tahu, satu-satunya orang yang paling berbahaya adalah Erwin. Dia sering ikut campur segala urusannya, karena sudah tahu bagaimana tabiat aslinya.Untuk itu pak Aji mulai berencana untuk melenyapkan Erwin, agar hidupnya menjadi tenang. Tidak ada lagi orang yang bisa mengganggunya."Bvnvh pria ini!" ucapnya kepada seseorang berhoodie hitam, sambil menyodorkan foto Erwin.Pria itu memegang amplop coklat yang diberikan pak Aji kemudian pamit pergi.Beberapa rencana dilakukan untuk menc3lakakan Erwin. Termasuk menyuruh seorang office boy untuk menuangkan r4cun ke dalam sacangkir kopi susu yang akan diberikan Erwin."Ini kopinya, Pak!" ucap office boy itu."Taruh situ saja," jawab Erwin masih fokus membaca berkas di atas meja.Pria yang mengantarkan kopi masih belum beranjak, menatap Erwin dengan sorot tajam."Kenapa?" tanya Erwin."Segera diminum, Pak. Keburu dingin.""Ya!"Pria itu pamit keluar.Erwin yang hendak mengambil secangkir kopi itu dengan pandangan yang masih fokus membaca tumpukan berkas, tanpa sadar menyenggolnya jatuh dari meja, hingga cangkir itu pecah berserakan.Prakk!!!Erwin memijat-mijat kening, kemudian memanggil office boy tadi lewat telepon untuk membersihkan lantainya yang kotor.Office boy itu terlihat kesal karena usahanya gagal.***"Kamu kenal orang ini?" tanya pak Dendy menunjukkan foto seorang pria di layar ponselnya.Erwin mengamatinya dengan seksama, dengan dahi yang mengerut. "Tidak, Pak."Dibalik meja kerjanya, Pak Dendy tersenyum tipis. "Namanya Rustam, anak pertama dari pak Aji, dia kuliah di luar kota.""Apakah dia baik? Atau malah lebih berbahaya?" tanya Erwin."Sepertinya jauh lebih berbahaya, karena dia menjalin hubungan dengan putriku, Viola.""Maksud bapak?""Mereka pacaran," jawab pak Dendy sambil menautkan jari jemarinya di atas meja. Kemudian teremenung dengan napas kasar."Saya sudah melarang Viola berhubungan dengan pria itu tapi Viola malah semakin nekad.""Lalu apa hubungannya dengan saya?" tanya Erwin bingung.***Mobil hitam melaju membelah jalan raya, tanpa sadar banyak bahaya yang sedang mengintainya dari kejauhan. Pak Aji sudah mengincarnya, dan tentu saja membuat status pria itu menjadi tidak aman.Tiba-tiba dari perempatan jalan mobil truck melaju kencang, hendak menyambar mobil Erwin dari arah kanan. Untung saja pria itu membanting setir ke arah kiri, sehingga mobilnya menabrak pohon di pinggir trotoar dan lolos dari pecahan kaca.Meskipun pelipisnya berd4rahmembentur sesuatu. Pria itu masih bisa keluar dari mobilnya yang berasap dengan napas tersengal-sengal. Namun, tepat di belakang, sebuah mobil Jeep melaju kencang, dengan sengaja ingin menyambar tvbuh lemah itu.Untung saja Tuhan masih berbaik hati melindunginya. Seorang bapak-bapak yang berada di trotoar berlari menarik tubuh Erwin agar terhindar dari sambaran mobil hitam itu.Erwin terhempas ke trotoar ketika ditarik oleh bapak itu. Tubuhnya sampai membeku beberapa detik karena selamat dari maut untuk kesekian kali. Andai saja bapak itu terlambat untuk menyelamatkannya pasti Erwin sudah pindah alam sekarang.Warga mulai berbondong-bondong datang, mengerumuni Erwin yang meringis kesakitan. Kemudian bergegas membawa Erwin ke rumah terdekat. Untuk memberi pertolongan pertama.Salah satu warga yang datang adalah preman yang membvunuh Zahra. Preman itu berbalik badan kemudian melangkah pergi sambil menelpon seseorang.Luka di sekujur tubuh Erwin sudah diobati. Tinggal menunggu Refan datang menjemputnya. Dua kali hampir tertabrak, dan untung saja masih selamat, tidak ada luka serius yang diderita.Warga yang datang memberondongi Erwin dengan banyak pertanyaan. Meskipun Erwin sedikit susah untuk memberi jawaban, karena kepalanya masih terasa pusing luar biasa.Erwin terkejut melihat segerombolan preman yang datang, kemudian meminta Erwin untuk ikut bersama mereka. Para warga tidak bisa membantu karena mereka membawa senj4ta t4j4m.Erwin ditarik dengan paksa masuk ke dalam mobil. Lalu, bergegas pergi sebelum para pol1si datang."Kalian mau membawa saya kemana?" ucap Ewrin yang duduk di tengah-tengah mereka dengan tvbuh lemah."Sudah diamlah!" bentak preman bertubuh besar di sebelahnya.Erwin dibawa ke suatu tempat yang asing di pinggiran kota. Mereka mendorong tvbuh lemah Erwin masuk ke dalam rumah usang yang terbengkalai. Halaman rumah itu dipenuhi dengan rumput liar dan pepohan yang rimbun.Erwin tidak menyangka jika rumah itu dijadikan markas oleh mereka,Pria itu terkejut bukan kepalang, setelah sampai ke dalam. Melihat Zahra duduk dengan santai di atas meja, sambil melahap lolipop di tangannya."Om Erwin!" ucap Zahra tak kalah kaget, melihat pria itu datang dibawa oleh para preman.Ewrin menelan ludah dengan susah payah. "Zahra, ternyata kamu masih hidup?"
Dicintai OM CEO
Di Asrama Aja - Kamar nomor 24PIYORIN's"Aku tahu asal muasal dari semua ini, dan bukankah itu artinya kita harus menjauhi Vampix?"Perkataan Kayaka membuatku mengerjapkan mata."Tunggu, itu ada hubungannya dengan manusia congkak, angkuh dan sok penguasa?" tanyaku, yang membuat Ryuko kini mengerutkan keningnya, bingung."Bukankah itu karena Vampix berteman dengan spesies kelelawar?" Ryuko mengoreksi jawabanku."Oh, seperti itu."Akan kuceritakan kejadian yang kami alami secara singkat. Mendekati akhir bulan Januari, tiba-tiba dunia gempar dengan keberadaan sebuah virus. Gemparnya ... hm, kira-kira sama seperti dulu ketika Jepang gempar dengan fenomena hilangnya manusia (ya, walau sekarang tidak ada yang mengingatnya sama sekali).Gempar, gempar sekali sampai akhirnya semua fasilitas umum ditutup. Kuakui, aku cukup kaget dengan ini. Sebab ketika fenomena menghilangnya manusia dulu, sekolah dan kantor bahkan tetap beroperasi. Setelah kupikir-pikir, situasi ini lebih dapat dikendalikan daripada fenomena aneh yang bisa saja melahap siapapun tanpa kenal bulu.Nah, haruskah kukatakan bahwa aku senang karena sekolahku libur? Ya, tentu saja aku senang, tapi masalahnya ..." Iya, tapi jangan bermimpi misi kita libur. Dunia sedang bersibuk dengan dunia mereka, kita harus sibuk dengan misi kita. Virus mungkin berbahaya, tapi perlu diingat kalau peri-peri mungil itu bisa lebih mengacaukan dunia."Kata-kata Vampix di pengumuman terakhir di siaran sekolah minggu lalu masih terngiang-ngiang di pikiranku. Dan sebenarnya sudah seminggu pula aku menghabiskan waktu di asrama, di dalam kamarku dan bertemu dengan beberapa orang sesekali, ketika pergi ke cafeteria.Semua jadwal dibuat ulang dan karena itu, tidak ada lagi orang yang boleh berlama-lama di sana. Begitu selesai makan, harus langsung naik karena orang-orang sudah menunggu jadwal mereka. Saat cafeteria kosong, mereka akan menyemprotkan antiseptik ke seluruh ruangan, seolah kami semua adalah virusnya.Malam hari, kami semua menyelinap keluar untuk menangkap para peri yang masih berkeliaran. DAN itupun kami diwajibkan memakai masker. Sebenarnya bisa saja aku mencari mantra pelindung yang membebaskanku dari segala jenis kuman, tapi katanya itu berisiko karena tidak semua kuman bersifat jahat--ini kata Kayaka.Belakangan, isu tentang kami yang akan dipulangkan ke rumah masing-masing, mulai menghilang. Sepertinya isu itu tidak benar, karena sampai detik ini belum ada pengumuman resmi dari pengurus sekolah. Ya, siapa lagi kalau bukan dua kakak beradik itu. Jangan-jangan mereka berdua tidak diperbolehkan keluar dari rumah mereka sendiri. Membayangkan kalau kami akan menjadi tumpukan manusia di asrama membuatku agak merinding."Aku bosan, mau ke kamar kakakku. Mau ikut?" tawar Kayaka padaku."Bukankah kita diminta untuk saling berjauhan dulu? Seperti yang kita lakukan sekarang?" tanya Ryuko.Oh ya, coba tebak apa yang sedang kami lakukan!Ya, benar, tiduran di kasur masing-masing."Rin bisa menggunakan kekuatannya untuk membuat kita memakai pakaian astronot, iya kan, Rin?"Ryuko menolehkan kepalanya ke arahku yang kebetulan tidur di tengah. Rasanya malu sekali setiap Kayaka membahas soal kostum astronot. Aku yang mengusulkannya awal-awal, tapi aku hanya bercanda. Aku tidak tahu bahwa Kayaka akan mengganggapnya seserius ini."Kalau Piyorin menggunakan kekuatannya dan membuat semua orang di sini memakai pakaian astronot, apa kita bisa beraktivitas seperti biasa, ya?" Ryuko bertanya sambil menatap langit-langit kamar.Kami bertiga menghela napas kami bersamaan."Pasti berat," keluhku sambil membayangkan."Hmm ..., membosankan, ya."Dan itulah yang kami lakukan, terus menerus. Sama saja. Tujuh hari berturut tanpa bisa berjalan sesuka hati. Entah mengapa aku jadi merindukan rasa lelah ketika berjalan jauh dari gedung cadangan ke asrama."Ayo, kita berkeliling!" Kayaka tiba-tiba mengusulkan sebuah ide."Dalam keadaan seperti ini sangat tidak memungkinkan," balasku malas."Tinggal pakai pakaian astronot--""Itu berat. Beraaat," balasku sambil merenggangkan tubuh."Kan tinggal teleport ," ucap Kayaka, berusaha meyakinkan."Memangnya kau ingin kemana, sih?" tanyaku.Ryuko tiba-tiba bersuara di sela perdebatan absrud kami. "Ah, kau rindu dengan kakakmu, ya?"Wajah Kayaka sontak berubah masam, "Ih! Tidak!""Oh~ Jadi begitu ya? Kulaporin ke Kayato ah, nanti," ucapku, ikut menggoda Kayaka. Ya, daripada bosan."Rin! Tidak seperti itu, kok!" balas Kayaka makin keras kepala."Masak sih? Memangnya kau tidak rindu main game lagi dengannya?" tanyaku."Daripada dengan Kak Kayato, lebih baik dengan Light," ucap Kayaka.Sontak, perkataannya membuat seisi kamar kami menjadi hening."Hah? Dengan Light? Kenapa?" Ryuko bertanya dengan agak antusias.Sedangkan aku, alih-alih mengganggu Kayaka lagi, aku malah merinding ngeri karena secara otomatis membayangkan petir yang menyambar keras dan halilintar di atas awan."Soalnya sudah bosan main game dengan Kak Kayato. Strateginya sama saja dari zaman dahulu kala. Sudah bisa ditebak, sangat membosankan," jelas Kayaka."Oh, kau membicarakan soal bermain game, rupanya." Mendadak antusiasme Ryuko memadam tanpa sebab."Kau bicara begitu, padahal walaupun sudah tahu taktik Kayato, kau tetap kalah setiap bermain dengannya," sahutku."Rin kan tidak pernah main game dengan Kak Kayato, mana ngertii." Kayaka berpendapat."Aku memang hanya suka melihat orang main game," timpalku pendek."Oh ya? Aku juga begitu." Ternyata Ryuko seperjuangan denganku."Hm, kalau aku, daripada menonton orang, lebih suka mengerjakannya langsung," sahut Kayaka."Ya, karena itulah dia tidak pernah betah di bioskop," sambungku."Hmm...."Kamar kembali hening. Ryuko akhirnya memutuskan untuk memainkan gadgetnya--pilihan paling baik yang sebenarnya hampir kami lupakan keberadaannya.Jangan lupakan bahwa kami sebagai manusia semi-penyihir mengemban tugas berat di pagi sampai sore hari untuk bersekolah dan malam hari sebagai pemburu peri. Tentu saja aku jadi jarang memainkan ponselku. Hanya saja, belakangan ini semenjak maraknya virus itu, aku dan ponselku seperti tak terpisahkan. Tampaknya yang lain juga signifikan terkena dampak yang serupa."Wah. Mai dan Nai sedang memasak bersama." Ryuko memperlihatkan hasil masakan mereka dari salah satu sosial media."Eh? Kalian berteman di sosial media?" tanyaku."Mai mencari akun Reina, lalu mengikuti yang diikuti Reina satu persatu," jelas Ryuko."Rin, kau juga di follow , tuh." Kayaka memperlihatkanku ponselnya. Entah kapan dia mulai membuka ponselnya."Hah? Aku tidak menyadarinya." Aku malah ikut-ikutan membuka sosial media untuk mengonfirmasi perkataan Kayaka.Sugihara Mayaka."Ohh! Dia pakai nama aslinya! Pantas saja aku tidak mengenalinya!""Memangnya kau berharap dia memakai nama penyihirnya untuk sosial media?" tanya Kayaka dengan tatapan datar."Rainna memakai nama penyihirnya, tuh," kataku."Itu karena Rainna tidak ingin kita semua kena masalah, kalau dia menggunakan akun selebritinya untuk mengikuti kita semua. Bisa-bisa, semua geger setiap hal yang berhubungan dengan sekolah Rainna," ucap Kayaka."Iya, Reina hanya tidak ingin kita kena masalah. Kalian masih ingat dengan nasib papparazi malang yang menyelinap masuk ke dalam Gakuen Sora?" Ryuko bertanya.Tentu saja aku masih ingat bagaimana nasibnya. Beragam, mulai dari ilusi memutar yang sama dengan kejadian yang kualami ketika menolak mendatangi Gakuen Sora, sampai akhirnya pingsan karena melihat pohon-pohon berlari mengejarnya dengan akar panjang mereka.Dia datang diwaktu yang sangat tidak tepat, pagi buta ketika Ryuko membangunkan bunga. Dan karena itu, Ryuko harus membangunkan Kayaka untuk membantunya menghilangkan ingatan papparazi itu. Waktu kejadian itu, aku masih tertidur pulas, tak tahu menahu apa yang terjadi di bawah sana."Hmm, kurasa keputusan Rainna membuat akun kedua sangat bijaksana," komentar Kayaka.Aku tidak pernah benar-benar melihat Kayaka berbicara dengan Rainna. Kayaka sebenarnya tidak akan masalah berteman dengan Rainna, begitupun sebaliknya. Tetapi dari yang kulihat selama ini, mereka hanya jarang mengobrol karena minimnya kesamaan mereka. Namun, tanpa kuketahui, rupanya Kayaka dan Rainna sudah saling mengenal."Ngomong-ngomong, Mai dan Nai sudah SMP 3. Itu artinya mereka akan ke sini tahun depan," ucap Ryuko."Hah? Mereka berdua masih SMP?!" tanyaku tidak percaya."Rin, ingat. Kau sendiri juga baru lulus SMP tahun lalu," peringat Kayaka."Bukan begitu! Maksudku, Nai sangat dewasa, tahu! Kukira dia lebih tua dariku atau paling tidak seumuranku," jelasku."Hm, aku pernah berbicara dengan Nai waktu di Blackmix, tapi tidak terlalu dekat dengannya. Ya, dia cukup dewasa, sih." Kayaka sependapat denganku."Wah! Mereka memakai seragam SMP favorit di Tokyo! Mereka pasti sangat pintar," kagum Ryuko."Ya, pernah favorit, sampai akhirnya Gakuen Sora muncul dari tanah dan merebut titel itu," balasku. Sampai hari ini, aku tidak pernah setuju dengan hal itu."Hmm ...."Hening kembali."Orang-orang jadi pemalas ya, karena kondisi ini," ucapku."Tidak juga, banyak kok, yang mencoba produktif dari rumah." Kayaka tiba-tiba menoleh tajam ke arahku, sekolah baru saja mengingat sesuatu. "Eh, Rin, ngomong-ngomong, kita jadi tidak berkeliling dengan pakaian astronot?""Hah? Kau masih ingin melakukannya?!" tanyaku tidak percaya.Ryuko hanya tertawa pelan mendengar percakapan kami.***#DiAsramaAja , karena Piya dkk tidak bisa pulang ke rumah masing-masing.Ini kira-kira 1300-an kata, untuk menutup kerinduan kalian terhadap Piya dkk.Semoga segera mereda dan membaik. Stay safe and please stay at home!
Wanita Simpanan CEO
Semua karyawan kantor berbaris dan menunduk kala sang CEO yang baru saja menggantikan sang Ayah yang pensiun dan mengemban tandu kepemimpinan, dia adalah Reymond Admaja seorang lelaki tampan dan angkuh yang baru saja lulus S2 dan langsung menggantikan ayahnya tuan Riyan Admaja.Sang CEO baru lewat namun semua karyawan tak ada yang bisa memperhatikan ketampanannya karena semua diharuskan menunduk dan sang pimpinan hanya lewat begitu saja tanpa membalas ataupun tersenyum sedikitpun dan hanya memberikan tatapan datar.Setelah sang CEO lewat semua karyawan kembali ketempat kerja dan melanjutkan aktifitas masing-masing termasuk Dina yang telah bekerja sebagai resepsionis selama 2 tahun.Hari-hari ia lalui seperti biasa namun yang membedakan hari ini dengan hari biasanya adalah ia memiliki pemimpin perusahaan baru namun itu tak membuat perbedaan baginya selama ia bisa bekerja dan menerima gajinya seperti biasa.Terlihat seorang pengantar makanan menitipkan pesanan untuk sang CEO di meja resepsionisnya, ia menerimanya dan sedari tadi menunggu OB yang lewat untuk memberikan makanan bagi CEO baru namun sekalinya lewat malah bilang jika tidak berani karena sedari pagi sang CEO marah-marah karena kondisi kantor yang katanya masih sangat kotor."Ini anterin dong pak masak saya sendiri yang anterin kan saya harus jaga". Dina menyodorkan makanan tersebut agar segera diantar namun sang OB malah terlihat ragu." Maaf ya mbak bukannya nggak mau tapi saya takut beneran soalnya itu bos killernya minta ampun, tadi pagi aja udah 3 temen saya yang di pecat gara-gara nggak bisa bersihin ruangannya padahal itu ruangan udah bersih banget". tuturnya dan melangkah mundur."sekali lagi maaf mbak".Dina menghembuskan nafas kasar seraya melihati makanan tersebut yang pastinya sudah dingin, " Udah Dina kamu aja yang anterin biar aku yang jaga".Dina melihat Ikha yang malah cengengesan, ini sama saja menyuruh Dina masuk ke dalam kandang macan."Yaudah deh aku anterin dulu ya". Karena tidak ada OB yang mau akhirnya ia memutuskan untuk mengantarkan makanan itu sendiri sebelumnya ia menitipkan pekerjaan ke temannya.Tentu saja ia memiliki ketakutan tapi CEO juga seorang manusia kan, jadi harusnya tak ada yang perlu di takuti paling nanti hukuman paling berat yang ia dapat adalah di pecat.Ia menaiki lift ke lantai tertinggi di perusahaan dan terlihat meja sekertaris yang kosong padahal ia ingin menitipkan saja ke sekertarisnya, dengan dengusan ia mengetok pintu sang CEO."Masuk" terdengar seseorang mempersilakan masuk dan saat memasuki ruangan itu untuk pertama kali dilihatnya ruangan yang amat luas dengan hanya 1 meja kerja dan sofa yang mungkin untuk menerima tamu."ada apa ?" tanyanya membuat kekaguman Dina terhadap ruangan terganggu. "ini makanan yang anda pesan pak" sambil meletakkan makanan dan hendak pergi namun suara dari belakang menghentikan langkahnya."Dari tadi saya menunggu makanan itu dan baru sekarang sampai apa kamu tidak tau jika saya sangat menghargai waktu ?!". sambil mengetik di komputer. " maaf pak tapi dari tadi tidak ada OB yang bisa dititipi dan lift penuh"."Berani kamu menjawab dan membuat alasan saya". sambil melihat Dina."maaf pak tapi saya hanya mengatakan yang sebenarnya". mendengar hal itu membuat pak Raymond menjadi naik pitam dan melihat tulisan di name tag yang tertera di blayzer bertuliskan "Resepsionis Dina Puspita" dengan segera Pak Reymond membentak Dina dan menyuruhnya keluar.Pak Reymond mengambil HP dari mejanya dan menghubungi sekertarisnya untuk meminta CV dari pihak HRD atas nama Dina Puspita bagian Resepsionis. Pak Reymond ingin menyelidiki Dina mengapa dia sangat berani menjawab semua perkataannya.Sang sekertaris memberikan informasi ke CEO dan langsung keluar ruangan karena ia tidak ingin menjadi pelampiasan bosnya yang sangat ketara sekali sedang marah. Dilihat dan diteliti setiap informasi dari Dina namun tanpa ia sangka ada satu hal yang membuatnya terkejut yaitu nama SMP dan tahun lulusnya yang ternyata sama persis dengan Dina.Ia mengingat ingat lagi dan terus menyebut nama Dina Puspita di dalam fikirannya dan teringat bahwa Dina Puspita adalah temannya 1 SMP di kelas 3.Saat Jam kantor sudah selesai Pak Raymond memerintahkan sekertarisnya agar Dina datang keruangannya. Dina yang mendengar itu mendengus kesal namun dalam hati ia berharap agar hanya dimarahi saja dan tidak dipecat. Dina tau jika pimpinannya tadi siang sangat marah juga kesal dengannya tapi tak menyangka jika ia akan dipanggil pada jam pulang.Dina sudah ada di depan pintu dan setelah masuk ruangan pak Reymond mempersilakan duduk di sofa ruangan begitu juga dengan pak Reymond yang duduk diseberang meja. Mereka berdua masih saling diam dan terlihat pak Reymond sedang menahan tawanya, namun akhirnya ia bersuara juga."apa kau tidak ingat aku ?" ucap pak Reymond sambil menahan tawa membuat Dina menyernyit bingung." siapa ?". Dina melihati pak Reymond dan mencoba berfikir memangnya ia pernah punya kenalan seorang bos sepertinya tidak." aku Rey yang satu sekolah denganmu saat SMP dan sekelas saat kelas 3". ucapnya dengan antusias."Oh aku ingat sekarang kau Rey yang waktu itu selalu saja membully dan merebut buku pr-ku lalu menconteknya kan ". Dina dengan lantang mengatakan itu padahal yang saat ini ada di hadapannya adalah bosnya sendiri yang bisa kapan saja memecatnya." ternyata kau masih ingat yang itu, apakah sekarang kau akan balas dendam melihat kau yang sekarang sangat berubah dan kau lebih percaya diri, ngomong-ngomong apa yang membuatmu berubah sampai seperti ini ?". Tak menyangka Dina yang terkenal kampungan dan pendiam saat sekolah kini malah berubah drastis."yah kau tau sendiri jika aku dulu pendiam dan sering ditindas maka dari itu aku berubah agar tidak ditindas lagi, apakah sangat terlihat perubahanku ?". Dina memang berusaha berubah lebih percaya diri karena ia sudah lelah di tindas dan di bully apalagi hidup mengajarkannya untuk lebih berani." yah kau lebih percaya diri dan juga lebih cantik ". ucapnya dengan nada lembut.Reymond dan Dina terus membicarakan mengenai masa lalu membuat mereka asyik dengan dunianya dan melupakan jika hari sudah gelap. Mereka menghentikan obrolannya dan pulang, Rey menawarkan untuk mengantarkan Dina, ia sempat ragu dengan tawaran itu tapi akhirnya ia terima juga karena hari yang sudah gelap dan tentu transportasi umum susah ia dapat.Hari ini Rey sangat jenuh lantaran di kantor ada saja perkejaan untuknya yang seakan menumpuk minta di kerjakan, bahkan sudah jam 8 malam baru ia selesai. Membuatnya kelaparan namun ia tak ingin makan di rumah yang ada nanti papanya menanyakan tentang pekerjaan lagi dan lagi makanya ia ingin makan di luar namun tak ingin pergi sendiri.namun mengajak siapa ?, ia bahkan tak punya teman yang benar-benar tulus kepadanya dan yang ada nanti saat makan malah membicarakan tentang pekerjaan lagi, ia jadi teringat akan seseorang.Rey mengambil hp dan menghubungi nomor orang tersebut dan tak lama tersambung.Rey. : Hallo apa kau sudah pulang ?Dina :Belum kenapa ?Rey : Mau makan bersama, aku yang traktirDina. : BaiklahRey. :Tunggu ku di depan aku akan ambil mobil duluRey mematikan telfonnya dan segera ke parkiran untuk mengambil mobil. Dan di depan lobi terlihat Dina sudah menunggunya, ia menurunkan kaca mobil dan menghidupkan klakson untuk memanggil Dina.Dina melihat sekitar terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam milik bosnya itu, tak menyangka jika sang atasan akan mengajaknya makan, atau lebih tepatnya teman yang dulu suka membullynya."Apa kau yakin mengajakku makan ? jika karyawan yang lain tau memangnya kau tidak malu ?". Tanyanya ketika sudah di dalam mobil namun terlihat Rey malah tersenyum miring." Tidak apa-apa lagi pula yang lain sudah pulang, aku malah yang penasaran kenapa kau mau makan denganku ? kau tidak takut jadi bahan pembicaraan orang ?". Dina tersenyum tipis, tidak menyangka akan mendapat pertanyaan itu."Kita tidak bisa membungkam mulut orang kan, padahal kita tidak melakukan suatu kesalahan tapi orang tetap suka membicarakan urusan orang lain". di sela menyetirnya Rey melirik Dina yang tengah melihat jendela.Ia cukup kagum sekarang cara pemikiran Dina berbeda dengan terakhir mereka bertemu, Dina yang sekarang berani menjawab pertanyaannya bahkan tak takut padanya padahal ia sekarang adalah CEO.Setelah selesai makan Rey mengantarkan Dina pulang, karena hari juga sudah terlalu larut. Tak lupa ucapan terima kasih Dina berikan karena sudah mentraktir dan mengantarkannya pulang.*******Rey sesekali mengajak Dina untuk sekedar jalan berdua karena keduanya merasa nyaman hingga tak sadar ada sekedar perasaan yang lebih dari sekedar teman. Perasaan saling ingin melindungi, menyayangi dan sampai pada mencintai." Dina maukah kau jadi pacarku ?". Dina langsung menatap Rey dengan tatapan tak percaya jika ia baru saja di tembak."Apa kau tadi menyatakan perasaanmu ?". Terlihat Rey tersenyum dan tak hanya itu Rey bahkan menggenggam tangan Dina dan menciumnya." Kau mau apa tidak, kalau tidak kau ku pecat ". Dina menaikkan satu alisnya, tak menyangka jika pernyataan cinta Rey di selingi ancaman tapi itu tak membuatnya terkejut mengingat bagaimana dulu perlakuan Rey padanya." Kau sebenarnya suka padaku atau cuma mau aku jadi pacarmu ? yang benar saja jika aku menolak maka kau memecatku kalau begitu pecat saja aku".Terlihat raut wajah tak senang ketika Dina malah lebih memilih di pecat ketimbang menerima perasaanya, memangnya Rey kurang apa hingga Dina menolaknya."Kau wanita pertama yag menolakku apa kau tau itu ?". Dina mengangguk dan itu malah semakin membuat Rey tak faham juga kesal.Dina sudah mengira Rey tidak pernah di tolak wanita sebelumnya karena caranya menyatakan cinta saja ada ancamannya kalau di tolak, maka ia ingin sedikit bermain-main dengan Rey." Jika kau hanya ingin memilikiku dan ingin mendapatkanku karena ancaman maka aku tidak mau tapi jika kau benar-benar mencintaiku maka aku mau jadi pacarmu". Rey tertawa tak mengerti dengan jalan fikiran perempuan."Aku ingin memilikimu karena aku mencintaimu jadi aku anggap kita sekarang pacaran". Tak sempat Dina mengatakan apapun untuk membalas perkataan Rey tapi Rey malah terlebih dulu menciumnya hingga membuatnya terdiam sejenak dan menyentuh bibirnya yang di cium Rey." Kenapa diam begitu jangan bilang jika kau tidak pernah ciuman sebelumnya ?". Rey melihat bagaimana ekspresi Dina yang nampak menahan malu dan itu membuatnya tau jika memang Dina tak ada pengalaman dalam ciuman.Dalam hati ia jadi senang karena tak hanya mendapatkan Dina tapi juga kepolosannya, atau lebih tepatnya kepolosan Dina sedikit ternodai olehnya.*********Sesekali Rey menyuruh sekertarisnya untuk membelikannya sesuatu atau sengaja menyuruhnya keluar kantor hanya agar Dina bisa leluasa masuk ruangannya untuk ia melepas rindu begitu juga Dina yang kadang alasan ke teman kerjanya ingin ke toilet padahal ingin menemui Rey.Rey berfikir bagaimana ia agar lebih leluasa bertemu dengan Dina dan agar orang lain tak bisa mengganggu mereka. Terlintas difikiran Rey untuk membelikan sebuah apartemen untuk Dina agar Rey bisa bebas berkunjung dan melepas rindu padahal setiap hari dikantor mereka bertemu walau saat mereka berpapasan mereka akan pura-pura saling tidak kenal.Saat pulang Rey mengajak Dina kesuatu tempat yang sebelumnya Dina tidak tau dan tidak dikasih tau, hingga tibalah mereka disalah satu apartemen yang cukup mewah."Rey ini apartemen siapa ?". tanyanya saat sudah masuk ke apartemen yang mewah."bagaimana baguskan sayang, ini adalah tempat tinggalmu sekarang". Dina yang tengah mengagumi keindahan dan kemewahan apartemen itu jadi berbalik ke arah Rey dan melihat Rey dengan rasa tidak percaya."apa Rey ini terlalu berlebihan". Dina merasa apa yang di lakukan oleh Rey terlalu berlebihan mengingat mereka hanya pacaran dan belum menikah."tidak ada yang berlebihan untuk kekasihku, ini adalah untukmu sayang, dan agar aku bisa leluasa berkunjung". Tuturnya walau begitu Dina masih merasa tidak enak menerima pemberian Rey."tapi ini__""sudahlah terima ya, kalau kau tidak mau berarti kau tidak menghargaiku". Dina menyerah karena tak bisa lagi menolak apalagi Rey bukan lelaki yang akan menerima penolakan."baiklah terima kasih aku mencintaimu"."aku lebih mencintaimu sayang".Setiap hari Rey sudah tidak pernah lagi bertemu Dina diruangannya karena Dina takut akan ketahuan karyawan kantor yang lain dan sebagai gantinya mereka bertemu di apartemen yang dibelikan Rey dan Rey seringkali menginap disana pada akhir pekan, Dina menyetujui Rey menginap namun dia tidak membiarkan Rey satu ranjang dengannya.Rey setuju dan tidur dikamar yang lain karena apartemen itu mempunyai dua kamar. Sebenarnya Rey merutuki dirinya sendiri dengan membeli apartemen yang mempunyai dua kamar seharusnya ia membeli apartemen yang hanya mempunyai satu kamar saja, agar ia dan Dina bisa tidur satu ranjang.Rey membuka pintu kamarnya dan tetlihat Dina yang sedang memasak dengan dres rumahan yang panjanganya sedikit diatas lutut juga celemek yang terpasang ditubuhnya membuat Rey menelan ludah, padahal pakaian yang di kenakan Dina adalah pakaian santai namun terlihat amat seksi dan menggoda di mata Rey.Dina berbalik melihat Rey dan menyuruhnya agar sarapan bersama. Bukannya ikut sarapan Rey malah berbalik masuk kekamar dan menutup pintu karena merasa sesuatu di bawah sana sudah tegak. sementara Dina yang melihat reaksi Rey saat diajak sarapan bersama malah bingung dan memikirkan ucapannya yang dirasa tidak ada salah.Rey mengguyur seluruh tubuhnya dibawah shower yang mengalir deras, bersarap adik kecilnya segera tidur kembali karena jika tidak mungkin sekarang Rey akan menerkam Dina dan membuat Dina begitu benci kepadanya juga meminta putus.Setelah adik kecil Rey tidur kembali, ia langsung bergabung dengan Dina yang sudah ada di meja makan, juga mengatakan kepada Dina agar tidak memakai pakaian yang kekurangan bahan dirumah apalagi diluar.Dina merasa aneh dengan kata-kata Rey padahal ia tidak merasa menggunakan pakaian yang kekurangan bahan, namun ia menurut ucapan Rey karena tak mau membuat Rey marah padanya apalagi bertengkar.Hubungan mereka sudah berlangsung selama 5 bulan dan aktifitas mereka masih sama yaitu bekerja dikantor pura-pura tidak saling kenal, berjalan-jalan di akhir pekan ke tempat yang sekiranya jauh dan tak ada orang yang mengenali mereka, tapi bertemu dengan leluasa saat ada di apartemen dan mencurahkan segala rindu yang ada. Walaupun Dina juga iri kepada orang lain yang saling mencinntai dan mempublikasikan kepada orang-orang.Namun dengan segera ia buang jauh-jauh pemikiran itu karena ia tau kastanya dan kasta Rey yang teramat berbeda jauh bagaikan bumi dan langit, walau begitu pasti suatu hari ia dan Rey bisa bersama, sekarang saja ia sangat bersyukur dengan rasa cinta dan kasih sayang yang Rey berikan.Tak jarang Rey membelikan barang-barang mewah dan branded dengan stok terbatas. Sebenarnya Dina selalu berusaha menolak tapi Rey selalu bilang jika ia tak menghargai perasaan Rey kalau menolak pemberian Rey jadi mau tak mau Dina terima walau ia sering berbohong teman kerjannya.Seperti tadi pagi saat Dina memakai sepatu pemberian Rey dan berbohong kepada temannya saat bertanya dan menjawab jika sepatu yang ia pakai adalah sepatu kw super namun bergarga murah, dan temannya yang mendengarnya percaya begitu saja tapi ada juga yang menanyakan tempat Dina membeli sepatu itu sementara Dina tetap berbohong karena tempat Rey membelikannya sepatu saja ia tidak tau.Dina yang lebih dulu pulang karena jam kerjanya telah usai meninggalkan Rey dengan segudang pekerjaan yang membuat lelaki itu lembur, tak lupa Dina mengirim pesan pemberitahuan untuk pulang lebih dulu padahal Rey bilang kalau ia akan menginap di apartemen dan pulang bersama namun apa mau dikata kalau pekerjaannya harus lebih dahulu Rey selesaikan.Dina sudah berada di apartemen dan langsung memasak karena Rey yang sudah janji untuk menginap dan pastinya akan makan di apartemen, setelah lama didapur membuat badan Dina lengket bahkan aroma masakannya kini beralih ke tubuhnya.Aliran air shower mengguyur seluruh tubuhnya tak lupa ia menggunakan sabun aroma lavender dan jasmin yang membuat tubuhnya harum dan wangi. Dilain sisi Rey sudah masuk ke apartemen karena ia memegang kunci sendiri jadi tak butuh Dina untuk membukakan pintu.Rey masuk dan tak melihat Dina dimanapun membuat Rey mencari dan menghubungi nomor Dina. Suara nada dering HP Dina terdengar dan membuat Rey mengikuti sumber suara itu. Ternyata HP Dina terletak di atas meja kamar Dina namun yang punya masih belum ketemu.CeklekPintu kamar mandi terbuka membuat Rey melihat Dina yang baru saja selesai mandi dengan rambut basah tergerai kebawah juga handuk yang melilit tubuhnya dan mengekspos paha mulus Dina membuat Rey menelan ludahnya dan gairahnya bergejolak tak tertahan lagi bahkan adik kecilnya sudah berdiri tegap.Sementara Dina yang melihat Rey ada di kamarnya kaget juga merasa gugup dengan tatapan Rey yang melihat Dina dari ujung kaki ke ujung kepala seperti ingin menerkamnya membuat mereka berdua diam dan terasa sekali kecanggungan diantaranya. Dina memutuskan untuk berbalik dan masuk kedalam kamar mandi namun gerakannya terhenti kala kaki Rey lebih cepat menghampiri Dina dan mencegahnya masuk, mereka berdua bertatapan dan terlihat sekali gairah yang berkobar di mata Rey dan langsung mendekatkan bibirnya ke telinga Dina, "aku sudah tak tahan".Dina terkejut mendengar Rey namun sebelum ia bersuara Rey sudah terlebih dahulu mengecup dan melumat bibir Dina lama kelamaan ciuman Rey menjadi ciuman panas yang menuntut bahkan sekarang Rey memasukkan lidahnya dan menakan tengkuk Dina agar lebih dalam berciuman membuat Dina membetontak namun tenaga yang tak sebanding membuat gadis itu menyerah dan mengikuti ciuman Rey bahkan sekarang ia membalas ciumannya.Dirasa Dina sudah tak lagi melawan dan tangan Rey mengarahkan kedua tangan Dina agar melingkar di lehernya. Dina merasakan sesuatu seperti perasaan terhanyut bahkan ia tak sadar jika Rey sudah melepaskan handuk yang melilit ditubuhnya. Rey melepaskan ciuman mereka dan tersenyum lalu ia menggendong dan merebahkan tubuh Dina diatas kasur.Rey melepaskan jasnya juga dasi untuk mengikat tangan Dina. Rey mendekat dan menghirup aroma Dina yang sangat wangi sehabis mandi." emh kau sangat wangi". ucap Rey dikala mencicipi setiap jengkal tubul Dina."Rey aku mohon jangan". Dina merasa jika apa yang mereka berdua lakukan sudah melampaui batas, dan jika ia tak menghentikan Rey sekarang yang ada nanti ia yang menyesal." Rey aku mohon tidak Rey jangan". pinta Dina namun tak juga digubris, tapi Rey sudah terlanjur bergejolak hingga kini harus ia tuntaskan dari pada harus mencari wanita lain untuk menuntaskannya atau malah bermain solo di kamar mandi." Rey hentikan". Pinta Dina"hentikan ? tapi kau begitu menggemaskan sayang". Rey membuat Dina seolah semakin kehilangan kesadarannya dan memaksanya menerima apa yang Rey lakukan."tidak Rey"." jadi tetap tidak ?". Rey tak habis akal ia inhin Dina menjadi miliknya malam ini dan itu harus terjadi, ia tak ingin hanya mendapatkan cinta dari Dina tapi juga semuanya." baiklah". Dina sudah terlihat seperti cacing kepanasan yang menggeliat tak tertahan, semua yang Rey lakukan membuatnya menyerah dengan pertahanan yang selama ini ia lakukan untuk mempertahankan kesuciannya." as you wish honey"."Aaaaargh", tanpa sadar airmata Dina mengalir begitu saja kala pusaka Rey yang besar menembus memasuki tubuhnya membuat rasa sakit juga peris seperti luka yang disiram air jeruk nipis.Tak ada rasa bersalah di dalam diri Rey kala sudah berhasil menembus pertahanan Dina dan yang ada hanyalah rasa puas. Ia mencintai Dina dan ia rasa ia pantas mendapatkan semua yang Dina miliki termasuk mahkotanya Dina.Terlihat Dina sudah lebih dulu tertidur sebelum ia juga akhirnya tumbang di sebelah Dina, rasa puas membuatnya tersenyum senang dan memberikan ciuman di kening sebelum ikut terlelap.Matahari sudah terbit menyaksikan dua insan yang masih terpejam karena kelelahan setelah sama-sama menuntaskan gairah. Dina mengerjapkan mata beberapa kali dan melihat seorang lelaki tidur disampingnya.Lelaki itu begitu tampan bahkan Dina tak bisa menahan untuk tidak menyentuh wajah pria disampingnya. Terlihat pria itu memiliki alis yang tebal juga hidung mancung, setiap bagian dari wajah pria itu sudah Dina sentuh secara lembut agar tak membangunkannya.Dina berusaha untuk bangun namun sekujur tubuhnya terasa sangat sakit apalagi bagian bawahnya. Selimut yang melorot memperlihatkan tubuh polosnya mengingatkan tentang kejadian tadi malam dimana Rey sudah__."Aaaaaaaaaaaargh dasar kau kurang ajar dasar mesum kau teterlaluan Rey". teriak Dina seraya memukulkan bantal ke tubuh juga wajah Rey membuat Rey bangun kesakitan."Aduh aduh hey sayang kenapa kau memukulku". ucapnya Rey sambil berusaha duduk dan menangkis pukulan bantal Dina." kenapa ? harusnya aku yang tanya kenapa kau melakukannya padaku ?". ucapnya dengan marah sambil memukul Rey dengan tangannya."kau lupa kan kau yang memintanya sayang ". ucapnya seraya tersenyum menggoda Dina." itu karena karena argh pokonya kau menyebalkan aku membencimu ". ucap Dina malu saat mengingat kejadian semalam sambil melangkahkan kaki ke kamar mandi. Sedangkan Rey hanya tersenyum melihat Dina yang marah dan malu, iapun melanjutkan tidurnya karena masih lelah dan mengantuk.Dina memasak sarapan untuk mereka berdua dan sesekali gerakannya terhenti bahkan jalannya terlihat kesulitan. Rey duduk di meja makan setelah sebelumnya mandi dan melihat Dina yang jalannya kesusahan membuatnya penasaran." kakimu kenapa ?", tanya Rey saat Dina sudah ikut duduk di meja makan, pertanyaan Rey membuat Dina sebal dibuatnya."ini semua kan karena kau, karena it itu itu itumu ". Dina tergagap dan tak mampu melanjutkan kata-kata karena malu untuk menyebutkannya." karena ituku apa kamu sedang terkena penyakit gagap ya ?". ucap Rey bingung dengan perkataan Dina yang gagap dan tak jelas membuatnya menaikkan sebelah alisnya."karena itumu terlalu besar dan ganas, kau puas sekarang ?" jawab Dina dengan teriak dan marah karena Rey menyebutnya gagap.Rey yang sedang meminum air terkejut dan menyemburkan air di mulutnya seketika Rey tertawa keras tak tertahankan mendengar ucapan Dina yang amat lucu ditelinganya. Sementara Dina yang melihat Rey tertawa terlihat wajah kekesalannya bahkan kini tangannya bersidekap didada juga memalingkan wajahnya."kau tidak bisa jalan karena punyaku yang terlalu besar dan ganas kau bilang ?". Rey sambil berusaha menghentikan tawanya namun bukannya berhenti malah semakin keras membuat Dina beranjak dari duduknya dan meninggalkan Rey yang masih tertawa." Hei tunggu sayang". Rey berhenti tertawa dan dan beranjak mengikuti Dina yang merajuk meninggalkanya dimeja makan."Hei kau jangan marah oke, aku minta maaf lain kali aku akan melakukannya dengan lembut oke". bujuk Rey lembut setelah berhasil menyusul Dina." Tidak ada lain kali, Rey apa kau sadar kalau kita ini belum menikah, tidak sepantasnya kita melakukannya Rey". Jawab Dina yang khawatir."Kau tenang saja kita akan menikah aku berjanji sekarang kau jangan marah lagi oke". pinta Rey lembut dan Dina sudah tak marah lagi, mereka kembali ke meja makan dan melanjutkan aktifitas hari libur mereka.******Rey dan Dina kembali menjalani pekerjaannya dimana mereka akan berpura-pura tidak saling kenal dan tidak saling sapa. Dina sebagai Resepsionis dilantai paling bawah tidak pernah lagi naik kelantai tertinggi digedung untuk menemui Rey, tetapi jika Rey ada di lantai bawah mereka akan saling tersenyum memandang satu sama lain namun berusaha agar tak membuat curiga yang lain.Dengan keadaan yang saling mencintai secara sembunyi membuat Dina khawatir jika Rey tidak akan menikahinya dan mereka tidak akan bisa bersatu apalagi setelah Dina dan Rey melakukan hubungan suami istri yang harusnya dijalani ketika sudah ada ikatan resmi.Dina pulang dan terlebih dahulu mampir ke apotik untuk membeli pil kontrasepsi agar ia tidak mengandung anak Rey. Mempunyai anak dalam sebuah hubungan tanpa ikatan merupakan suatu kesalahan yang akan ditanggung oleh si anak.Dina sudah sampai di apartemen dan langsung meminum pil kontrasepsi setelah itu segera ia kedapur untuk memasak makanan karena lagi-lagi Rey aka menginap.Rey sudah pulang kerja dan terlihat wajah kusut juga lelah ia tampilkan. Rey mengecup kening Dina dan langsung kekamar Dina untuk mandi karena setelah kejadian mereka melakukan hubungan suami istri membuat Rey seolah melupakan batasan yang harus dijaga. Rey tidak lagi tidur diruangan terpisah dan akan tidur bersama Dina walaupun hanya sekedar berpelukan sambil tidur.Rey meletakkan tasnya di meja kamar Dina dan ia terkejut dengan apa yang ia temukan yaitu sebuah tablet obat yang ia fikir adalah tablet kontrasepsi. Segera Rey menuju dapur menghampiri Dina yang sedang memasak sambil memegang tablet tersebut."Dina apa ini ?". tanya Rey ketika sudah sampai di depan Dina seraya menunjukkan tablet obat di tangannya." oh Itu pil kontrasepsi", jawab Dina dengan polosnya."Pil kontrasepsi, apa kau tidak mau punya anak dariku ? apa kau sudah tidak mencintaiku Din ?". ucap Rey seraya menekankan kata kontrasepsi dengan marahnya." Rey apa kau sadar kita belum menikah bagaimana bisa seorang anak hadir diantara kita, itu hanya akan menjadi beban untuknya". jawab Dina tak kalah emosi dengan airmata sudah ada diujung mata."bukankah aku sudah bilang jika aku akan menikahimu Din, atau apa kau tidak mau mengandung anakku agar suatu saat nanti kau bisa mudah berpaling dariku dan pergi meninggalkanku ?". ucap Rey masih marah." ya tapi kapan Rey bahkan tiada satu orangpun yang tau jika kita sekarang pacaran, sadarkah kau Rey kau membuatku sakit dengan ucapanmu". Dina sudah berlinangan airmata, bagaimana bisa Rey berfikir jika ia akan meninggalkan Rey padahal Rey tau Dina sangat mencintainya.Rey pergi meninggalkan Dina yang berlinangan airmata dengan keadaan marah, bahkan ia membanting pintu apartemen sengan keras. ia marah sepanjang menyetir juga memukul kemudi sesekali saat membayangkan pertengkarannya dengan Dina.Rey pergi ke club malam dengan tujuan untuk menghilangkan semua beban fikirannya. Rey memesan minuman dan entah sudah berapa banyak gelas yang ia teguk membuatnya setengah sadar.Wanita yang bekerja di club mendekati Rey satu persatu namun di mata Rey ia melihat pada diri wanita yang menghampiri dan langsung memarahi mereka seperti memarahi Dina, ia melampiaskan kekesalannya ke wanita itu membuat yang ada disekitar tak berani mendekati Rey yang sedang mabuk.Sementara Dina menangis dan kakinya seperti tak sanggup lagi menumpu badannya hingga ia jatuh terduduk di apartemen, mungkin ini adalah pertengkaran terbesar selama menjalani hubungan dengan Rey, tapi yang tak habis fikir bagaimana Rey menuduhnya akan berpaling dan pergi meninggalkannya.Dina menangis sesenggukan sepanjang malam dan membuat matanya menjadi sembab. Dilihatnya hp tiada satupun panggilan atau pesan dari Rey membuat Dina khawatir dengan Rey juga hubungan mereka.Rey berangkat kekantor dengan marah apalagi tadi saat ia lewat meja Resepsionis tak terlihat Dina disana, ini sudah dua hari Dina tak berangkat kerja dan dilihat HP-nya tiada satupun panggilan dan juga pesan dari gadis itu. Rey mengangkat telepon menghubungi sekertarisnya."Bawakan aku laporan keuangan bulan ini, juga suruh tim marketing untuk merevisi ulang yang kemarin". Dia marah-marah kepada semua karyawan membuat semua yang ada menjadi takut akan kemarahan sang atasan, tak terkecuali para Resepsionis yang diminta lebih disiplin dengan kerjaannya.Para Resepsionis sangat ketakutan apalagi salah satu dari Resepsionis yaitu Dina teman mereka tidak berangkat, dalam hati semua karyawan kantor berdoa agar kemarahan sang CEO semoga cepat reda.Rey bekerja dengan marah dan sama sekali tak konsen, dilihatnya HP dan masih sama tak ada kabar dari Dina dan bahkan ia sudah menghubungi Dina sejak pagi namun tak dijawab, akhirnya Rey menghubungi orang IT kepercayaannya." Aku punya tugas untukmu, segera cari tau sekarang dimana lokasi seseorang lewat HP, akan kukirimkan nomornya ", Ucap Rey tanpa menunggu balasan dari orang yang ditelepon dan langsung menutup teleponnya juga mengirimkan nomor HP Dina." Hallo tuan sudah ketemu dia sekarang ada di panti asuhan kasih sayang ". Rey menerima kabar keberadaan Dina dan langsung menuju parkiran tanpa menghiraukan panggilan dari asistennya, dilajukannya mobil dengan kecepatan tinggi membelah jalanan sambil berfikir untuk apa Dina pergi ketempat itu.Sampailah Rey di panti asuhan itu, ia disambut pemandangan anak-anak yang berlarian, dan bermain kesana kemari. Diperhatikannya semua tempat namun yang dicari tak ada, tiba-tiba ia ditabrak oleh seorang anak laki-laki yang berlari, tubuh Rey yang tinggi dan besar sama sekali tak bergeser dari tempatnya sementara anak lelaki itu jatuh." maafkan aku tuan aku sama sekali tak sengaja, sekali lagi maaf". kata anak itu yang masih terduduk di tanah."jangan khawatir aku baik-baik saja, siapa namamu ?". Rey mengulurkan tangan hendak membantu anak itu untuk berdiri." namaku Deni" ucapnya saat sudah berdiri tegak."mengapa kau bisa ada ditempat ini Deni, apa kau tidak punya orang tua ?" tanya Rey melihat Deni yang terlihat seperti anak berumur 8 tahun tapi sangat kurus."kata tante aku sebenarnya masih punya ayah tapi ia tak mau menikahi ibuku juga tak mengakuiku, akhirnya ibukku bunuh diri karena melihat ayahku menikah dengan wanita lain, lalu aku diasuh tante tapi ia sekarang tante sudah meninggal karena sakit, jadi sekarang aku tinggal disini". ucap Deni dengan sedih." apa kau sudah pernah bertemu ayahmu ?". tanya Rey"sudah waktu itu ibu membawaku menemuinya saat aku berumur 6 tahun, ibu bilang jika aku anaknya tapi ayah tetap tidak menikahi ibuku dan bilang jika aku bukan anaknya". ucapnya sambil berusaha menahan air matanya." maaf aku tak bermangsud membuatmu sedih". Ucap Rey sambil mengelus kepala Deni."tidak apa-apa paman, aku permisi dulu". ucap Deni sambil sedikit membukukkan badannya." Hm". Jawab Rey sambil melihat Deni yang sudah pergi menjauh, tak disadari oleh Rey jika percakapannya dilihat oleh seorang wanita paruh baya dan wanita itu mendekat kearah Rey."halo tuan saya Yuli panggil saja bu Yuli saya adalah pengurus panti ini, dari tadi saya melihat anda sepertinya akrab dengan Deni, apakah anda ingin mengangkat Deni sebagai anak ?" tanyanya kepada Rey."aku tidak sedang ingin mengangkat anak, aku tadi berbicara dengan Deni karena penasaran bagaimana ia bisa disini". ucap Rey sambil melihat Deni yang bermain dengan temannya." Yah Deni dan lainnya kurang lebih sama, mereka disini karena terlahir diluar pernikahan sehingga para orang tua memberikan anaknya ke sini karena tidak bisa merawat anaknya dengan segala cacian dan makian orang". ucap bu Yuli."kalau tidak mau punya anak seharusnya jangan membuat anak, banyak dari para orang tua yang tak tau jika apa yang mereka lakukan akan berdampak pada anak yang tak tau apapun tapi menanggung kesalahan mereka". lanjutnya dengan menatap Rey.Rey seolah tercubit hatinya mendengar Deni juga bu Yuli yang seakan menyindirnya dan sekarang ia tau apa yang dimangsud Dina dan ia ingin sekali menemui Dina untuk meminta maaf." sebenarnya aku kesini sedang mencari kekasihku namanya Dina, aku mendengar kabar jika ia disini". ucap Rey pada bu Yuli."oh Dina adalah kekasihmu, ia adalah gadis baik yang kadang menyumbang dana juga tenaga ke panti ini, kami semua sangat senang dengan keberadaan Dina apalagi anak-anak, mari saya antar ke nak Dina". ucap bu Yuli sambil menunjukkan arah jalan.Rey melihat sepanjang jalan terdapat banyak sekali anak dan juga bayi yang masih belum bisa berjalan terlihat menggemaskan, langkah bu Yuli terhenti dan Rey melihat kearah depan ternyata ia sudah sampai di tempat Dina yang sedang mengajak bermain seorang bayi dan pemandangan itu terlihat begitu teduh di mata Rey sampai tak sadar jika bu Yuli sudah pergi." Anak kita pasti akan selucu itu nantinya". suara Rey yang keras menyadarkan Dina dan sepontan mencari keberadaan sumber suara."Rey kau disini ?" tanya Dina dengan sedikit takut, sungguh dalam hati Dina belum siap bertemu Rey mengingat kejadian kemarin."Aku minta maaf, aku mengerti sekarang apa yang kau mangsud dan tentu saja aku akan menikahimu baru kita punya anak". ucap Rey seraya berjalan mendekat kearah Dina.Dina meletakkan bayi yang ada digendonganya kedalam box bayi, lalu melihat Rey yang sudah ada di sebelahnya menatapnya dengan tatapan sendu." Apakah kau mau memafkanku ?". tanya Rey kala Dina menatapnya."tentu saja aku memafkanmu, berarti kita tidak akan melakukannya sebelum menikahkan ?" tanya Dina sambil terus menatap Rey."em kalau itu aku tidak bisa menjamin ataupun berjanji, apalagi jika adik kecilku ingin mengunjungi gua kesukaannya". ucap Rey sambil menggaruk tengkuk yang tidak gatal." hih kau dasar mesum". ucap Dina sambil memukuli dada Rey dan dengan cepat Rey menarik tangan Dina hingga kini Dina ada dipelukan Rey, kemudian Rey mencium bibir Dina dan disambut baik oleh gadis itu.Kala itu Dina dan Rey sudah berbaikan, mereka berdua bahkan menghabiskan sepanjang hari di panti asuhan dengan Rey bermain bola bersama para anak lelaki sedangkan Dina dengan beberapa bayi yang menggemaskan. Rey dan Dina pamit tapi sebelumnya Rey sudah mendonasikan dana yang cukup banyak untuk panti asuhan itu bahkan ia sudah menjadi donatur tetap..Hubungan Dina dan Rey sudah seperti biasa dan mereka juga menjalani rutinitas biasa dimana mereka bekerja di kantor tanpa memperlihatkan hubungan mereka dan bahkan tak saling sapa ataupun tersenyum.Dina dan temannya ikha sedang duduk di meja Resepsionis, dan seorang lelaki bernama Fajar sedang menuju ke arah mereka."Din ada fajar tuh". tunjuk ika dengan dagu membuat Dina menoleh kearah fajar." Hai Din sudah hampir jam istirahat nih kekantin yuk ?" tanya fajar kala sudah ada di depan Dina.Fajar adalah salah satu karyawan di bagian IT dan telah lama menyukai Dina, namun ia tak langsung mengungkapkan perasaannya, karena takut akan penolakan tapi ia selalu memperlihatkan jika memiliki ketertarikan khusus untuk Dina."Jar aku diajak nggak ?" tanya Ikha yang ikut nimbrung dengan omongan Fajar."kan Resepsionis kalau istirahat gantian jadi kamu ikut kapan-kapan aja ya ", ucap Fajar kepada ika." yah gitu si fajar mah". jawab ika dengan wajah sedih yang dibuat-buat."gimana Din mau kan ?" tanya fajar lagi."udah din mau aja pasti ntar dibayarin apalagi lo jomblo kan kali aja bentar lagi gak jadi jones" ucap Ika seraya menyenggol tangan Dina.Beberapa rombongan datang dari luar mereka adalah Reymond dan sekertarisnya juga beberapa orang yang tidak dikenal mungkin adalah clientnya. Reymond melihat Dina dan Fajar yang saling berhadapan dan cepat menunduk kala Reymond dan beberapa orang tersebut lewat. Tatapan mata Rey kepada Dina sangat amat mengerikan dan itu disadari oleh Dina."Gila tuh bos matanya kayak laser siap ditembakkan tau nggak" ucap ika kala Reymond sudah pergi menjauh."Gimana tadi Din mau kan makan sama aku jangan khawatir ntar aku yang bayar deh". ucap fajar yang ketiga kalinya menawari Dina." eh em iya boleh". ucap Dina yang membuat Fajar langsung tersenyum dan mereka ke kantin."jangan lupa bawain makanan buat gue". teriak Ika kala keduanya sudah agak jauh.Dina sebenarnya kurang nyaman jika makan dengan fajar apalagi berdua namun bagaimana lagi karena Dina tak punya alasan untuk menolak apalagi jika dia bilang kalau dia punya pacar dan itu adalah Rey si CEO tempat ia bekerja pasti tidak akan ada yang percaya.Fajar dan Dina sudah selesai makan dan mereka berdua kembali ke tempat kerja masing-masing, dan tak lupa Dina membungkuskan makanan untuk ikha dan membawanya ke meja Resepsionis." nih buat kamu" ucap Dina kala memberikan makanan ke ika."thank you, eh ini dibayarin fajar ?". tanya ika sambil menyomot ayam goreng yang dibawa Dina." nggak tadi aku bayar sendiri" ucap Dina sambil melihat temannya yang makan dengan belepotan."ih sayang banget kan lumayan di bayarin bisa hemat uang kan Din" ucapnya kala membersihkan makanannya yang tersisa di mulutnya dengan tisu."udah kamu makan aja, aku ke toilet dulu ya ". sambil melenggang pergiDina keluar dari toilet tapi tanpa ia tau seseorang telah menunggunya dan langsung menarik tangannya ke sebuah ruangan, itu adalah tempat meeting yang jarang terpakai di lantai satu, memang banyak tempat meeting di kantor tapi tempat meeting di lantai satu adalah yang paling jarang digunakan tapi selalu bersih karena sering dibersihkan oleh OB.Lelaki itu menarik tangan Dina dengan kasar dan langsung menutup juga mengunci tempat itu. Lelaki itu adalah Rey dengan wajah marahnya ia menatap Dina.Seketika Rey memojokkan Dina ke dinding dan mendaratkan ciuman kasar pada bibir Dina hingga membuat Dina terkejut. " emh" lenguhan Dina kala Rey menekan tengkuknya dan mencium dengan kasar. Dina mendorong Rey karena nafasnya yang hampir habis juga ciuman Rey yang membuat bibir dina memerah dan sedikit bengkak."Tuan Rey anda apa-apaan" ucap Dina yang malah membuat Rey semakin marah."Kita cuma berdua disini gak jadi gak usah main drama bos dan Karyawan". ucap Rey dengan tangan yang dilipat di dada." nanti kalau ada yang lihat gimana ?" tanyanya sambil melihat keatas."gak ada cctv jadi kamu tenang aja, aku cuma mau menghukum kamu karena udah berani bermesraan saat aku gak ada" ucapnya dingin dan datar."Aku cuma makan siang aja sama Fajar". ucap Dina." oh jadi namanya Fajar dari bagian mana dia biar aku pecat sekarang apa kamu gak peduli perasaan aku melihat pacar sendiri dekat dengan lelaki lain kamu harusnya bilang kalau kamu punya pacar". jawabnya tetap dingin."Rey kita pacaran tanpa ada satu orang yang tau dan sekarang kamu suruh aku bilang jika aku punya pacar dan itu kamu, tidak ada yang akan percaya". ucap Dina berusaha menjelaskan." aku gak peduli aku akan pecat si fajar itu karena udah berani godain pacar orang".ucap Rey ketus."kumohon Rey jangan pecat dia, dia gak tau apapun, kamu marah aja sama aku". ucap Dina memohon." jadi kamu memohon untuk dia, baik kalau gitu kamu gantikan dia menerima hukuman". ucap Rey yang melonggarkan dasinya dan membuat Dina bingung juga khawatir."Rey kamu mau ngapain". ucap Dina yang takut dengan Rey yang sekarang membuka ikat pinggangnya." tentu aja menghukum pacar aku yang bandel". ucap Rey yang mendekat ke arah Dina dan Dina memundurkan langkahnya kala Rey semakin dekat."nggak Rey, inget ini di kantor, rey kamu udah janji Rey". ucap Dina takut." Aku memang udah janji gak akan pacaran apalagi mencumbu kamu di kantor tapi ini sebagai hukuman karena kamu udah berani makan sama lelaki lain" ucapnya yang kemudian mengangkat tubuh Dina ke atas meja.Rey menciumi bibir Dina membuat gadis itu melenguh kala ciuman Rey turun ke leher Dina dan meninggalkan bekas disana, Dina berkali-kali menolak dan melawan tapi Rey lebih kuat"Aaaarhg" teriakan Dina kala merasakan sesuatu yang asing di bawah sana, beruntungnya ruang meeting itu kedap suara jadi tak terdengar sampai keluar. Desahan deni desahan keduanya keluar dengan Rey yang terus menjamah tubuh Dina.Dina yang sekarang sama sekali tak memperlihatkan senyum bahkan merutuki Rey dalam hati. Dina segera memakai bajunya juga merapikan rambutnya dan keluar dengan tergesa-gesa meninggalkan Rey dibelakang.Rey yang melihat tingkah Dina hanya tersenyum dan melangkah dengan santainya karena berhasil mendapat kepuasan, dan saat keluar dari ruang meeting dilihatnya OB dan memanggilnya."bersihkan ruangan ini" tunjuk Rey dengan dagunya seraya menampilkan kembali wajah datar juga juteknya yang berhasil membuat OB tersebut ketakutan dan cepat membersihkan ruangan itu karena terdapat sisa cinta mereka yang berceceran membuat OB tersebut bingung...Dina kembali ke meja Resepsionis dengan sedikit ngos-ngosan karena bergegas dan takut apa yang dilakukannya tadi diketahui orang lain, apalagi jika sampai ada yang tau kalau ia baru saja memuaskan nafsu sang pimpinan perusahaan, bisa-bisa ia menjadi gosip hangat di kantor.Dina melihat Ikha memperhatikannya dengan tatapan yang tidak bisa di tebak bahkan Dina sangat gugup di dekat Ikha."Ada apa kok lihat aku sampai segitunya ?" tanya Dina saat ia kembali duduk dikursinya."Kamu itu abis ngapain aja sih di toilet sampai sejam, goreng bakwan ?" tanyanya dengan muka datar."a aku aku tadi habis BAB". jawab Dina dengan gugup yang ketara."Kamu diare ?" tanya ikha."Iya bener diare, tadi soalnya aku makan sambel banyak banget". Jawab Dina yang beruntung karena ikha memberinya ide untuk menjawab." Oalah jawab diare aja sampai gugup gitu makanya jangan makan sambel banyak - banyak" ucap ika.Untung saja Ikha percaya dengan omongan Dina hingga gadis itu bisa menghembuskan nafas lega. Dan ia kembali kerja walaupun masih nyeri di bagian bawahnya juga agak lengket karena perbuatan Rey tadi, sungguh Dina amat kesal karena Rey melakukannya apalagi di kantor.*****Jam pulang telah tiba termasuk Rey yang tidak lembur dan meminta Dina untuk pulang bersamanya, Rey mengirim pesan ke Dina untuk masuk ke mobilnya di parkiran karena suasana parkiran sudah sepi hingga mereka bisa bebas berada di mobil yang sama.BRAAKDina membanting pintu ketika ia masuk kedalam mobil juga menampilkan wajah yang terlihat akan kemarannya dan itu tak terlepas dari penglihatan Rey namun, Rey hanya diam walau hatinya ingin tertawa karena tau sebab dari kemarahan Dina. Rey mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang dan mereka hanya diam sepanjang jalan.Sebenarnya Dina amat kesal kepada Rey namun lebih kesal lagi saat dia marah malah tidak ditanya apa sebabnya ataupun meminta maaf dan malah mendiamkannnya seperti ini, padahal kan ia sedang ngambek dan butuh dibujuk bukannya di diamkan. "Dasar tidak peka". Gumam Dina dalam hati.Rey sesekali mencuri pandang Dina yang tak berbicara dan memperlihatkan wajah ngambeknya, dalam hati Rey ingin tertawa terbahak-bahak karena wajah Dina saat ini amat menggemaskan bagi Rey, sebenarnya Rey ingin bicara kepada Dina namun karena biasanya kalau wanita sedang ngambek itu pasti inginnya dibujuk dan dituruti keinginanya.Namun Rey bukanlah tipe pria yang akan menuruti wanita hingga ia merendahkan dirinya, Rey adalah tipe yang akan mendiamkan wanita jika wanita itu mendiamkannya dan semakin lama wanita itu pasti akan kalah juga."Rey". Ucap Dina yang tak tahan dengan sikap Rey yang diam sedari tadi."Hem apa ?". Ucap Rey datar dan masih fokus menyetir."Kok dari tadi kamu diam saja gak minta maaf sama aku ?!". Dina kesal."Kenapa aku harus minta maaf sama kamu ?". Tanyanya masih dengan wajah datar, jika masih ada satu piala oskar maka Rey pantas mendapatkannya karena masih bisa menampilkan wajah datarnya padahal hatinya tertawa keras."Karena kamu memaksaku melakukan itu dikantor bahkan saat jam kerja, apa kamu gak ngerasa bersalah sama aku ?!". Ucapnya marah karena Rey masih menampilkan muka datarnya bahkan tak melihatnya kala ia bicara. Rey menghentikan mobilnya dan kini ia melihat Dina disampingnya."Dengar ya aku gak suka jika ada yang mendekati wanitaku dan aku lebih tidak suka lagi kalau kamu meminta maaf atas namanya, kalau sampai itu terjadi lagi maka fajar atau siapapun lelaki yang mendekati kamu akan menyaksikan siaran langsung betapa panasnya kita tadi di ruang meeting faham kamu !!". Ancam Rey sambil memegang kedua bahu Dina dan menampilkan wajahnya yang sangat serius dan juga mengerikan.Dina yang mendengar ancaman Rey seketika ngeri dan takut, sungguh sosok Rey kini membuat Dina seperti sedang bersama dengan orang lain karena bukan seperti Rey yang ia cintai. Rey melihat Dina yang takut dengan dirinya dan langsung memeluk tubuh Dina juga menghadiahkan kecupan di puncak kepala Dina."Jangat takut kepadaku, aku hanya tidak ingin kau di dambakan oleh lelaki lain, kau mengerti kan mangsudku ?". Tanya Rey yang memeluk dan juga mengelus punggung Dina dan dibalas anggukan oleh Dina."Sudahlah jangan takut, aku ingin kita makan diluar kau pasti sudah lelah jadi tidak perlu memasak hari ini". Rey mencium dahi Dina dan dibalas senyuman tipis oleh gadis itu.Rey mengarahkan mobilnya ke salah satu restoran yang ramai dan terkenal enak, mereka makan berdua dengan suasana hati Dina yang sudah membaik, bahkan mereka makan sambil berbincang hingga membuat keduanya terbawa suasana.Dari kejauhan Dina melihat Ikha dan temannya sedang menuju ke meja yang Dina duduki, segera Dina bersembunyi dibawah kolong meja dan itu membuat Rey bingung."Kenapa kau sembunyi ?". Tanya Rey saat Dina sudah berada dibawah meja."Sssstt diam temanku sedang menuju kesini, aku tau dia tadi melihatku". Ucap Dina dengan pelan.Tak lama Ikha juga temannya ada di hadapan Rey dengan bingungnya karena yang tadi ia lihat adalah Dina sementara yang duduk dimeja adalah bosnya."Loh pak Reymond, saya kira teman saya yang tadi duduk disini". Ucap Ika bingung.Dina dibawah meja meringis sakit pasalnya Ikha tak sengaja menginjak tangannya, bahkan Dina hanya bisa menutup mulutnya agar tak bersuara karena tangannya yang terinjak kini bahkan sudah memerah."Tidak dari tadi aku yang duduk disini". Ucap Rey dengan wajah datarnya." Bapak sendiri aja makan disini ?". Tanya Ikha lagi."Iya memangnya kenapa?". ucap Rey kini menampilkan wajah galak." Gak apa-apa pak cuma kok piringnya ada dua". ucap Ikha menunjuk piring yang tadinya milik Dina sehingga Dina yang mendengarnya dibawah meja hanya bisa tepuk jidat."Kalau piringnya ada dua kenapa lagipula saya sangat lapar ? masalah buat kamu ?". Tanyanya ketus."Gak pak gak apa-apa, kalau gitu saya permisi dulu". Ikha lekas pergi karena wajah Rey yang sangat tak bersahabat juga karena teman Ikha yang sedari tadi melihat keketusan Rey mengajak Ikha cepat pergi, bahkan saking kesalnya teman Ikha mendengar perkataan Rey kala gadis itu pergi."Gateng tapi kok galak". Kata teman ikha yang masih bisa didengar oleh Rey padahal jaraknya sudah agak jauh. Dina akhirnya bisa menarik tangannya ketika kaki Ikha sudah bergerak pergi dan mengelus tanganya yang memerah."Mereka sudah pergi, kau bisa keluar". Ucap Rey kepada Dina yang ada dibawah. Saat Dina sudah setengah berdiri Rey mengarahkan kepala Dina agar kembali masuk ke dalam meja."Eh kenapa ?". Tanya Dina kala Rey memegang kepalanya dan membuatnya kembali sembunyi."Ssst diam dulu". Rey cemas karena ada seorang laki-laki paruh baya yang mendekat ke arahnya dan itu tak baik apabila lelaki itu melihatnya bersama Dina."Rey dengan siapa kamu disini ?". Tanya tuan Riyan yang tak lain adalah papanya Rey. Dina yang mendengar suara tidak asing itu lalu tau apa maksud Rey menyuruhnya kembali sembunyi karena yang sedang berbicara dengan Rey adalah bosnya dulu sebelum Rey dan sekarang tuan Riyan malah duduk di kursi Dina."Aku.......sedang bersama client pa kita sedang membicarakan tender". Rey mencari alasan." Lalu dimana clientnya ?". Tanya tuan Riyan."Dia sedang ada di toilet pa, papa sendiri sama siapa disini ?". Tanya Rey mencoba mengalihkan perhatian."Papa sendiri, tadi mama kamu minta dibelikan makanan, karena papa sedang berada dekat sini jadi mampir untuk membelikan pesanan mama"." Oh gitu ". jawab Rey seolah mengerti padahal saat ini hatinya tak tenang memikirkan Dina yang berada di bawah meja." Oh ya kamu akhir-akhir ini jarang pulang sampai mama kamu pusing mikirin kamu, dan papa dengar kamu beli apartemen baru, benar ?". Tanya tuan Riyan."Iya pa......aku kepengin mandiri". Jawab Rey." clientnya dari tadi gak balik-balik coba kamu telepon ". Ucap tuan Riyan.Rey menuruti papanya dan pura-pura menelepon agar tidak menimbulkan kecurigaan bagi papanya. Setelah selesai pura-pura menelfon Rey mengembalikan hpnya ke saku." Dia bilang kalau ada urusan mendesak jadi pulang lebih dulu dan lupa pamitan pa". Ucap Rey bohong."Oh gitu". Tak lama pelayan memberikan bungkusan kepada tuan Riyan."Pesanan papa sudah dapat, papa pulang dulu, oh ya walaupun kamu mau hidup mandiri setidaknya sesekali pulang kerumah biar mama nggak khawatir". Ucap tuan Riyan seraya berdiri dari tempat duduknya." Iya hati-hati pa". Ucap Rey.Rey menghembuskan nafas lega begitupun Dina, setelah tuan Riyan sudah pergi Rey menyuruh Dina untuk keluar dari persembunyian, dengan kaki yang sudah kesemutan dan juga tangannya yang merah ia keluar dari kolong meja, sementara Rey yang melihat Dina hanya bisa menyuruhnya untuk sabar.
Cinta Abadi CEO & MAFIA
Di rumah mewah yang besar, terdapat 4 anggota keluarga bermarga 'Pratama'. Yah, rumah itu adalah rumah CEO terkenal, siapa lagi kalau bukan Adara, Rasya, dan Mami Papinya."ADARAA RASYAA, SINI SAYANG KITA MAKAN SIANGG, SEKALIAN ADA YANG MAU PAPI BICARAIN SAMA KALIAN" Teriak wanita itu, dia adalah Nadia, sang Mami Rasya dan Adara."IYA MAA, BENTAR LAGI RASYA TURUN, LAGI BANGUNIN SI ADARA NIHH" Balas Rasya sambil teriak juga di atas sana.(DIKAMAR ADARA)"Woi kebo, bangun egekk" Ucap Rasya pada Adara."Ishh bisa diem gak?!" Omel Adara dengan mata yang masih tertutup."Suruh mami makan siang adarott" Ejek Rasya."Duluan aja sih kakk ya Allah masi ngantuk ihhh!" Ucap Adara sedikit kesal."Heh kata Papi dia mau ngomong sesuatu ADARAA" Ujar Rasya sedikit menekan nama Adara."Aaaa yauda deh tar ade kesana" Ucap adara."Yaudah gue kedapur duluan ya dek" Balas Rasya dan Adara hanya mengangguki nya.(DIDAPUR)"Mana Adara nya sya?" Tanya Ryan, papi Adara dan Rasya."Bentar lagi katanya pi" Jawab Rasya.Dan terdengar dari atas ada suara seseorang yang menuruni anak tangga, siapa lagi kalau bukan Adara."Adara sini, papi mau bilang sesuatu sama kalian berdua" Ujar Ryan."Ada apa sih pi? Kayaknya serius bingitt" Tanya Adara sembari mengangkat satu alisnya."Udah nyimak aja sih dek" Sahut Rasya dan Adara malah memandang sinis kepada Rasya."Jadi gini, kita mau pindah sekarang, karena papi juga kerja nya pindah, yang itu mau di renovasi, dan papi udah beli kok rumah yang gak kalah besar dari ini, bahkan lebih nyaman" Jelas Ryan kepada mereka berdua."Jadi, kapan kita pindah?" Tanya Rasya."Sekarang, sore ini" Jawab Ryan Adara dan Rasya pun terkejut mendengar jawaban papi nya itu."What pi? Masa mendadak sihh, kan barang adara banyak pi" Ucap Adara dengan raut wajah kesal."Iya pi kenapa gak dari kemaren² aja, terus kalau kita pindah Rasya sama Adara juga pindah sekolah pi?" Tanya Rasya."Iyalah dar, sya, Maaf papi gak tau kalau kita mau pindah, jadi gimana kalau kalian pindah ke Mega Genius High School itu?" Jelas Ryan."Hmm oke deh pi" Jawab adara sambil ragu² tetapi rasya hanya berdehem."Yaudah makan dlu habisin, tar langsung beresin barang² kalian oke?" Sahut Nadia yang sedaritadi hanya menyimak perbincangan mereka.Adara dan Rasya pun mengangguk.Kini mereka telah menghabiskan makanan nya, lalu spt yang di katakan mami nya, mereka langsung pergi kekamar packing barang² mereka.(Skip aja yahh, author males ngetik wkwk😭🤣)Hari sudah sore, mereka pun menaiki mobil untuk pindah ke rumah baru mereka yang ada di Depok. Butuh 3 jam untuk sampai ke rumah baru itu.Para bodyguard dan pembantu² Family Pratama akan menyusul nanti malam, sebagian menyusul dari belakang mobil yang dinaiki Rasya Adara dan orang tua mereka.(SKIP RUMAH BARU)"Adeee bangun woii uda nyampe kebo" Ajak Rasya pada Adara yang daritadi ternyata tertidur karena kelelahan menyiapkan barang² nya."Eughh hoaam cepat banget dehh" Ucap Adara sambil menggesek² mata nya."Lu aja yang tidur, org 3 jam lebih, dasar kebo tadi siang aja udah tidur skrg tidur lagi" Ejek Rasya dan membuat Adara kesal."Ihhh kak Rasya, adek kan capek daritadi beresin barangg, huhh!!" Adara mendengus kesal."Lah gue aja yang beresin barang barang juga gak tidur tuh, wleee" Rasya mengejek Adara lagi sambil menjulurkan lidahnya, tetapi adara menghiraukannya sembari bertatap sinis.Sementara itu Ryan dan Nadia hanya terkekeh dan menggelengkan kepala mereka saat melihat sifat kedua anak nya itu."Udah, ayo turun" Ajak Ryan.Mereka semua terkejut melihat rumah baru mereka, bahkan lebih besar dari yang sebelumnya, rumah yang sebelumnya memang 3 tingkat, tetapi rumah barunya sekarang 4 tingkat, lega dan lebar! Wahh bagus sekali yah?!."WAHH OH MAY MAY INI LEBIH DARI RUMAH KITA YANG SEBELUMNYA PI!!" teriak adara takjub.Mereka semua terkekeh melihat tingkahgadis lucu itu."Haha iya dong, pasti kalian juga betah" Ujar Ryan."Pasti dong pii!" Jawab Adara dan Rasya bersamaan."Ihh kakak kenapa ikutin adekk!!" Ucap Adara sembari menirukan gaya anak kecil."Dihh adek kali yang ikutin kakak" Balas Rasya tak mau kalah.Nadia dan Ryan hanya tertawa melihat mereka."Udah udah ayo masuk, pasti gak sabar kan?" Tanya Nadia dan diangguki oleh mereka.Mereka pun masuk kedalam rumah yang super mewah itu.."Wahhh dari luar aja udah mewah banget, dalemnya lebih mewah!!, oh ya btw kamar adek yang mana?" Tanya Adara sembari tersenyum bahagia."Diatas sayang, sini Papi anter kalian ke kamar masing²" Ajak Ryan kepada mereka semua.Mereka semua naik ke lantai atas yang ke 3, mereka masuk ke kamar Adara terlebih dahulu yang bernuansa pink ungu dan biru pastel, karena adara menyukai warna pastel."Aaaa kamar adek aesthetic bingitzz" Ucap Adara dengan mata yang berbinar²."Iya dongg kan papi tau kesukaan kamu apa" Ujar Papi Adara yang bahagia karena melihat tingkah Adara yang lucu."Timaaci Papiii" Ucap Adara sembari menirukan gaya omongan anak kecil."Sama sama sayang" Jawab Ryan."Ayo pi rasya mau liat kamar Rasya, pasti lebih bagus kan daripada kamar adek" Ucap Rasya memancing emosi Adara."Ishhh kakak! Apa sih pasti bagusan kamar adek" Adara mendengus kesal dan Rasya dia hanya tertawa geli melihat Adara."Yaudah ayo kita ke kamar kakak" Ajak Nadia.Lalu mereka pun memasuki kamar Rasya yang aesthetic juga, bernuansa biru tua dan ada gambar Astronot beserta planet yang indah. Sungguh menakjubkan."Ihh kamarnya bocil hahaa" Ledek Adara kepada Rasya."Apaan sih bagusan kamar Kakak wlee'' balas Rasya sambil menjulurkan lidahnya seolah olah meledek adiknya.Adara yang melihat itu mendengus kesal karena kakaknya, mereka kadang akur kadang bertengkar, sungguh tidak bisa ditebak."Yasudah ayo kita makan malam terlebih dahulu, sudah disiapkan oleh bibi. Kalau soal barang² nanti sama Bi Siti dan Bi Inah yang bereskan" Ucap Ryan dan diangguki oleh mereka semua.(Oh yahh, bi Siti dan bi Inah itu adalah ART dirumah ini yahh hehe..)Back to story.(DI DAPUR RUMAH BARU MEREKA)"Kalian mau makan apa?" Tanya Nadia kepada Rasya dan Adara."Mamii aku mau ayam tapi gak mau makan sayur" Jawab Adara sembari memasang baby face (wajah bayi)."Adara gak boleh gitu sayang.. Kamu harus makan sayur, biar daya tahan tubuh kamu kuat sayang.." Bujuk Nadia agar Adara memakan sayur."Tau tuh letoy juga hahaa" Yah, dan lagi lagi Rasya mengejek Adara, sungguh tidak kelar² yahh..(Pasti kalian juga selalu bertengkar kan sama adik/kakak kalian? Hehe candaaa😁.)"Adara ayo dong, sudah berapa hari kamu tidak makan sayur, tar kamu kecapean, ayo makan sayur nya, nanti besok Papi beliin boneka Unicorn dehh..." Ryan membujuk lagi.."Hmmm kalau bukan demi boneka Adek gak bakal makan sayur" Adara dengan pasrah menjawabnya."Tapi adek mau nya boneka lotso aja pii, boneka Unicorn udah adaa" Lanjut Adara."Iya deh asal janji makan sayur sama buah nya" Ucap Ryan."Pi masa Adek doang Rasya juga mau lah pi" Ujar Rasya sambil pura pura merajuk."Iya dong, Papi juga bakal beliin kakak sepatu baru untuk sekolah baru besok" Sahut Ryan."Kakak ikut ikut adek mulu huhh" Ucap Adara dengan kesal."Serah kakak dong" Balas rasya sementara Adara hanya mendengus kesal."Udah dong habisin dulu makanannya, bilang apa dulu sama Papi???" Ucap Nadia."Makasih papi" Jawab Adara dan Rasya bersama.*skipp selesai makan*"Papii mami adek bobo dulu yahhh, good night semuaa" Ucap Adara sambil menggesek matanya karena mengantuk."Rasya juga yah mi, pi, good night" Ucap Rasya."Iya sayang, good night juga" Jawab Nadia dan Ryan bersamaan." Papii mami adek bobo dulu yahhh , good night semuaa " ucap Adara sambil menggesek kedua matanya karena mengantuk."Rasya juga yah mi, Pi, good night" ucap Rasya."Iya sayang, good night juga" ucap Nadya dan Ryan bersamaan.****Keesokan harinya...(DIKAMAR RASYA)"Syaa, ayo kita bangun, ini hari pertama kamu sekolah disini.. Yuk bangun kak.. " Ajak Nadia kepada Rasya yang masih tidur." Iya mami, rasya bangun " Ucap Rasya sambil menggesekkan mata nya." Nanti sehabis mandi kamu bangunin adek kamu dulu yahh.. Setelah itu makan, sarapan " Ucap Nadia." Oke mii rasya mandi dulub" Jawab Rasya sambil bangun dan mengambil handuknya.(DIKAMAR ADARA)"ADEKKKK BANGUN UDAH SIANGGG!!!.." Teriak Rasya yang mendekatkan mulutnya ke telinga Adara, tentu saja itu membuat dia kaget dan terbangun dari tidurnya. Sungguh menyebalkan sekali!!."KAKAKK ADE KAGETT TAU GAK SIHH?! KAKAK RESE!!!" Balas Adara sambil teriak juga kepada Rasya."Makanya lu jadi orang jangan kebo kebo amat" Ejek Rasya dengan wajah yang membuat Adara semakin kesal."Ihhh kakakk udah sana pergi!! Adek mau mandii" Ucap Adara "bagus deh yaudah kakak ke dapur duluan awas lo tidur lagi" Ujar Rasya dan diangguki oleh Adara yang semakin bete karena perkataannya.Rasya pun keluar pergi meninggalkan adara ke dapur."Huhh punya kakak rese nyebelin!!" Batin Adara.*****Skipp di dapur*"Adara ayo sini makan" Ajak Ryan."Iyah pii" Jawab Adara dengan wajah malas."Kamu kenapa? Kok kayak bete gitu?" Tanya Nadya karena dia memerhatikan wajah malas Adara."Itu mi kak rasya tadi pagi aku lagi mimpi indah eh pas indah indahnya kak rasya malah teriakin aku buat bangun, kan nyebelin mi, pi, aku ga suka kakak rasya!!" Jelas Adara sambil memasang muka kesalnya."Ya iyalah lu kan keboo" Ejek Rasya lagi dan lagi. Entah kapan mereka bisa akur, selalu saja bertengkar."Sudah² ayo kita makan dahulu, setelah itu Pak Riza akan antarkan kalian ke sekolah baru kalian" Ucap Ryan agar Rasya dan Adara berhenti bertengkar."Baik pii'' jawab adara dan rasya bersamaan.(Skipp selesai makan)" Ayo adara rasya kalian naik ke mobil " Ajak Ryan."Oke pi ,mi assalamu'alaikum" Ucap Adara dan Rasya kompak tersenyum ria sambil menyalami tangan kedua orang tuanya."Waalaikumsalam, hati hati dan semoga dapat banyak teman baru" Jawab Nadya dan Ryan sambil mengecup kening adara dan rasya setelah mereka bersalaman.****(SEKOLAH BARU 'MEGA GENIUS HS')Terimakasih pak riza" Ucap adara. "Makasih ya pak kita ke kelas dulu" Susul Rasya."Sama sama non, den, yasudah bapak pulang dulu ya, nanti bapak jemput lagi" Jawab pak Riza dan diangguki oleh Adara Rasya."Eh eh i-itu kan.. Emmhh.. I-itu Putra dan Putri CEO terkenal.. " Ucap salah satu murid seolah olah dia merasa kaget dan tidak percaya."Eh i-iya, a-apa mereka murid baru nya yah.." Ujar salah satu murid yang disebelahnya tadi.Adara dan Rasya itu tidak sombong walaupun mereka dinobatkan sebagai Putra Putri CEO terkaya, tercantik dan tertampan menurut fans fanatik mereka."Haloo" Sapa Adara dan Rasya tersenyum manis."Aaaa gila gue, disapa aja dag dig dug jantung" Ucap salah satu siswa yang ada disana."Anjirr ini sekolah nya para CEO dan Mafia ya?? Banyak banget anak CEO dan Mafia terkenal huaaa insecure sumpahh" Murid mengoceh tak percaya melihat ini semua.Adara dan Rasya sudah sampai diluar ruangan , dan mereka memperkenalkan diri dahulu.Rasya di kelas 12Dan Adara dikelas 11.(DIKELAS RASYA)" Anak anak , kelas ini kedatangan murid baru lohh.. Gak sabar kan???.. " Ucap guru yang bernama Pak Dion , yang mengajar dikelas Rasya." Siapa tuh?? "" Kayaknya gue ketinggalan berita deh mau ada murid baru "" Dia anak biasa atau anak dari kalangan orang kaya? Kan sekolah ini udah terkenal karena banyak org kaya , jadi kalau dia misk1n gak level sekolah disini "Yahh itulah rata rata ocehan para siswa." Ayo masuk dulu perkenalkan diri kamu " Ucap Pak Dion dan diangguki ramah oleh Rasya.Rasya pun masuk ke ruangan itu dan.. "WHATT?!" semua murid melongo melihat kedatangan murid baru itu." E-eh i-ini ga mimpi kan... " Tanya salah satu murid menepuk pelan pipinya."Halo semuanya, nama saya Rasya Galaxy Putra Pratama, pasti kalian sudah kenal kan, jadi salam kenal yahh.." Rasya memperkenalkan diri dengan senyum manis nya yang membuat semua siswa meleyott apa lagi yang perempuan." Aaaaa tolong guee selamatkan dari ombak manisnya...." Ucap seorang murid disana ."Haha pasti kalian kaget banget kan melihat kedatangan murid baru ini, ya pasti kaget lah kan dia Putra CEO terkenal didunia terlebihnya" Ucap pak Dion terkekeh karena melihat ekspresi kaget semua murid yang ada di ruangan itu." OMG helloo, ya pasti lah pak, banyak banget anak² CEO yang sekolah disinii mana di kenal internasional lagi " Oceh murid." Bisa dikatakan begitu , karena sekolah ini ke banyakan dari kalangan CEO dan Mafia " Jelas Pak Dion kepada Rasya dan dia hanya mengangguk mengerti." Mafia?? Ihh serem gitu yah.. " Batin Rasya dengan ekspresi bergidik ngeri."Oh iya, Rasya kamu duduk di sebelah murid perempuan itu yahh" Tunjuk Pak Dion mengarah ke bangku perempuan itu." Oke Pak " Ucap RasyaRasya kaget dengan murid perempuan yang ditunjuk oleh Pak Dion tadi, ternyata murid itu adalah Naura, yah Naura anak CEO terkenal juga.. Banyak berita tersebar di sosmed tentang Naura, dan Rasya ternyata menyukai Naura karena dia sering melihat fotonya yang tersebar di TV ataupun di sosmed." Watdepuk?? Naura? Crush guee? " Batin Rasya terkejut.Naura yang menyadari murid baru itu dia pun terkejut karena itu adalah Rasya.Sebenarnya Naura juga menyukai Rasya karena ketampanannya menyebar di berita² TV maupun sosmed, terlebihnya ia anak CEO terkenal, sama seperti Naura." Ra-rasya?? Jadi murid baru itu.. " Batin Naura dan menggantungkan kata katanya.(Waduhh mereka saling suka nihh, ayo jadian aja cepett wkwk🤣)" Ayo Rasya kesana, kamu kenapa bengong heii?? " Tanya Pak Dion." O-oke Pak, maaf Pak " Jawab rasya terbata-bata.Rasya akhirnya mendatangi Naura dan duduk disebelahnya walaupun jantungnya tidak bisa dikondisikan begitu juga Naura." Duhh Naura , pliss jangan sekarang saltingnya " Batin Naura." Syaa, lo bisa. Harus bisa kondisikan " Batin Rasya ." Halo rasya " Sapa murid yang ada disebelah Rasya dengan centilnya." Emhh Halo " Jawab rasya singkat." Ihhh kok rasya cuek bgt sihh!!.. Gue harus dapetin dia walaupun gue cuma orang biasa!! Dan Naura, keknya dia ke ganjenan deh ama si Rasya, jijik banget sihh " Batin murid yang di sebelah rasya yang tadi menyapa nya." Oke anak anak, ayo kita mulai pelajaran nya " Ucap Pak Dion."Baik Pak" Jawab semua murid diruang kelas rasya.(DIKELAS ADARA)"Anak anak, kita kedatangan murid baru nihh, ayo silahkan masuk " Ucap guru perempuan bernama Salma." Siapa dia? "" Cowok atau cewek orangnya? ""Kelas ini datang murid baru?? "Itulah rata rata ocehan murid yang ada dikelas Adara.Adara pun masuk seperti apa yang disuruh oleh miss Salma Tadi." HAAA??!!! " teriak para siswa di ruangan itu terkejut melihat kedatangan Adara." INI MIMPII KANN??!! " Teriak murid tak percaya.Sementara Adara dan Miss Salma hanya terkekeh melihat ekspresi mereka." Yasudah Adara, ayo perkenalkan dirimu " Ajak Miss Salma."Hai semuanya, nama aku Adara Angeline Aurelia Putri Pratama, pasti udah tau kan hhee, salken semuanya" Adara memperkenalkan dirinya dengan anggun." A-adaraa??!! " Batin seseorang tidak percaya.Dia adalah Gibran, anak dari seorang Mafia, dia hanya jahat kepada orang yang jahat ke orang yang dia sayang duluan. Dan ternyata Gibran menyukai Adara karena beritanya tersebar luas ke penjuru dunia." Yasudah adara, kamu boleh duduk di sebelah anak murid itu, dia Gibran " Ucap miss Salma." Baik miss " . Jawab Adara.Lalu Adara juga kaget melihat orang yang ditunjuk miss salma, ternyata dia adalah Gibran, seorang Mafia terkenal didunia, adara ternyata menyukai Gibran juga?? Dia selalu menyimpan foto²nya di galeri, begitu juga dengan Gibran." Gi-gibran?? " Batin adara terkejut.Adara pun duduk di bangku sebelah Gibran dan Gibran pun sontak kaget melihat Adara duduk disamping nya." Adara? Dia duduk di sebelah guaa?? Sungguh tidak bisa diprcaya. " Batin Gibran." Halo " Sapa Adara dengan suara lembutnya."E-eh h-halo.." Jawab Gibran dengan senyumnya." Eh eh eh si Gibran, dia deket sama si Adara, ihh gak bisa dibiarin " Gumam murid yang tak suka pemandangan itu." Nama lo Gibran kan? " Tanya Adara sembari tersenyum maniss." MasyaAllah, ciptaan mu Tuhan" Batin Gibran."Iya gue Gibran, dan.. Elo adara kan?? " Jawab Gibran sambil bertanya balik."Iya gue adara, kok tau? " tanyanya."Siapa sih yang gak tau adara, kan nyebar banget diberita" jawab Gibran."Hehe iya makasih, gue juga tau lo karena nyebar juga diberita " Adara.Gibran tersenyum manis dan mengangguk.Ini pertama kalinya Gibran dekat dengan seorang perempuan dan mengobrol setiap pelajaran. Murid murid pun merasa aneh pada Gibran." Ini pertama kali gue jatuh cinta, trnyata seindah ini ya jatuh cinta di pandangan langsung " Batin Gibran."Akhirnya ada crush gue di depan mata gue sendiri" Batin Adara(Waduh waduhh, Adara sma Gibran saling suka lagi nihh wkwkw🤣 ayo pepet aja sihh)****(Skipp istirahat)*KRINGGGG*Bel istirahat telah berbunyi dan semua murid pun keluar kelas.*sementara dikelas Adara"Dar, lo mau ke kantin gak?" Tanya Gibran" Mau kok, sebentar lagi" Jawab Adara"Oke" Ucap GibranKemudian..."Ayo gib, katanya mau ke kantin.." Ajak Adara"Eh ayok" Gibran menggandeng tangan Adara."Eh eh, gi-gibran?? " Adara terkejut"Shuttt, diem aja gpp sih""Oke oke"Dilorong sekolah banyak yang melihat Gibran dan Adara pegangan tangan, dan itu membuat semua murid kebingungan dengan Gibran. Lalu ada salah satu murid yang menyusul Gibran dan Adara."WOYY!!" teriak murid yang tidak suka melihat itu.Adara dan Gibran menoleh kebelakang karena terkejut mendengar itu." WOYY!!!" teriak murid yang tidak suka pemandangan itu.Adara dan Gibran pun menoleh ke belakang karena terkejut mendengar itu.****"HEH JULEHA APASIH MAU LO?!" Balas Gibran dengan teriakan juga.Ya, dia adalah Lea Keyla Askara, dia biasa dipanggil Lea. Dia Adik dari KimberlyAdara pun kaget melihat Gibran marah seperti itu."Gib, udah gib.." Lerai Adara."Orang kayak gini gabisa dibiarin ra, dia ganggu hidup gue terus""Apaan sih, kok kamu belain dia gitu sih sayang" Ucap Lea membuat Gibran semakin marah."Sayang sayang pala lo peyang!!" Ujar Gibran dengan nada yang agak dinaikkan.Adara pun terkekeh mendengar omongan Gibran tadi."Heh murid baru sok kaya, lo tuh gausah deketin Gibran deh dia itu udah berpemilik dan gue miliknya" Ucap Lea dengan tatapan sinis."DIA BUKAN SOK KAYA LEA, DIA EMG KAYA, HARUSNYA LO YANG JANGAN SOK KAYA!! DAN SATU LAGI, LO ITU BUKAN PACAR GUE DAN JANGAN NGAKU NGAKU PACAR GUE!!" teriak Gibran dan membuat Lea semakin marah kepada Adara."Ihhh Gibran!! Cuma gara² adara lo belain dia gitu?!" Ucap Lea."Emgnya kenapa? Masalah? Dia ini pacar gue dan lo gak berhak ngatur hubungan kita!" Gibran beralasan seperti itu membuat semua orang yang ada di dekatnya terkejut terlebihnya Adara dan Lea."Gib, tapi kan- " Belum selesai Adara bicara, tetapi Gibran langsung memotong perkataan dia."Shutt, ikutin gue aja" Bisik Gibran pada Adara dan diangguki oleh Adara."G-gibran.. Kamu pacaran sama Adara? Sejak kapan?? Ishh ini gak bisa dibiarin!!" Geram Lea."Apa lo cemburu?" Ucap Gibran."IHH DASAR CEWEK PEREBUT!!" Ujar Lea sembari ingin memukul Adara tapi dihentikan oleh Gibran."Gue pawangnya, dan kalau lo mau macam² sama Adara, gue pastiin hidup lo ga bakal tenang" Ucap Gibran dengan santainya.Semua Murid terkejut dengan Pandangan yang mereka lihat sekarang, Gibran mengaku bahwa dia pacar Adara, walaupun ada rasa tidak suka dan cemburu, tetapi mereka memilih diam karena takut jika Gibran marah."HEY, ADA APA INI?!" Teriak Rasya menghampiri Gibran Adara dan Lea."Kakakk" Ucap Adara sambil pergi menghampiri Rasya dan memeluknya."Kamu kenapa Ra?" Ucap Rasya dengan raut wajah khawatir."Apa lo itu Rasya, kakak nya Adara?" Tanya Gibran."Iya gue Rasya, kakak Adara" Jawab Rasya. "Apa lo Gibran?" Tanya rasya pada Gibran."Yes, gue Gibran dan ada yang mau gue omongin sama lo" Ucap Gibran dan Rasya dia hanya mengangkat satu alisnya yang artinya dia bertanya."Tadi tuh si Lea mau celakain Adara, langsung gue hindari deh, emang dasar tuh juleha kalsium" Gerutu Gibran menunjuk dan menatap sinis pada Lea."HEHH, LO APAIN ADEK GUE HAH??!!" geram Rasya kepada Lea."Udah kak udah" Lerai Adara memisahkan Kakaknya."Tapi ra, kamu itu adek nya kakak, jadi ini udah tanggung jawab kakak buat lindungin kamu" Jelas Rasya."Tapi kak-" Belum selesai Adara bicara, ada seseorang yang menghampiri keributan itu."HEHH, JANGAN MACAM² YA LO KE ADEK GUE" Ternyata orang yang menghampiri mereka adalah Lisa, kakak Lea."Kakakk, lihat deh mereka mau mukul aku" Ucap Lea berbohong.Yahh, siapa yang tidak greget dengan perilaku Lea? Sungguh menyebalkan!!."Maksud kalian semua apa hahh??!! " Geram Lisa."Itu tuh kak, yang namanya Adara sama Rasya, dia mau celakain aku terus si Adara mau ngambil Gibran dari akuu" Sekali lagi Lea berbohong."LEA, JAGA OMONGAN LO BANGSATT!! ADARA GAK SALAH APA APA!!" Gibran marah.Sementara Lea, dia hanya terkekeh jahat melihat Adara."GUE GAK PERCAYA, DAN LO ADARA HABIS LO DITANGAN GUE, DASAR ANAK CEO GATAU DIRI!" Balas Lisa sambil teriak juga."Kebalik, yang harusnya habis itu lo sama adek lo, bener gak sih guys?" Tanya Rasya santai kepada semua murid yang melihatnya."BENER BANGET TUHH" Ucap semua murid yang ada disitu, namun sebagian murid tidak menjawabnya."Ishh, gak bisa dibiarin!!""KEVIN, NOAHHH!!" Panggil Lisa, yah kevin dan noah adalah saudara mereka sama sama bersekongkol melakukan kejahatan."Kenapa lis?" Tanya mereka berdua menghampiri nya."Hajar mereka, karena mereka bertiga mau celakain kita berdua" Lisa beralasan."Kurang ajar lo ya!" Gerutu Kevin kesal."Apa lo mau berantem? Gass!" Ucap Gibran menerima tantangan mereka."Dek tunggu sini" Ucap Rasya pada Adara dan adara pun mengangguk.Perkelahian itu pun terjadiGibran melawan KevinDan Rasya melawan Noah.Melihat mereka babak belur, Adara langsung menghampiri mereka."KAK ASYA, GIBRAN, UDAH STOPP!!!" Lerai adara untuk menghentikan perkelahian mereka.Dan..BUGHHH!!!satu pukulan mengenai Adara karena Kevin tidak melihat Adara di depannya."Arrgghhh" Adara meringis kesakitan."ADARAAA!!!" Teriak Rasya dan Gibran dengan raut wajah khawatir.Tak lama itu, adara langsung pingsan dan jatuh ke pelukan Gibran."Ra, adara, adaraaa!!" Panggil Gibran sambil menepuk pelan pipinya."Adekk, kamu kenapa dekk" Ucap rasya dengan nafas terengah karena perkelahian tadi."Gib, ayo bawa Adara ke UKS" Ajak rasya.Dan Kevin Noah Lisa dan Lea hanya tertawa jahat melihat semua ini.Gibran pun menggendong Adara ke UKS dan Rasya masih didekat Kevin dan Noah."Urusan kita belum selesai, gue pastiin kalian semua gak akan selamat" Geram Rasya lalu menyusul Gibran dan Adara ke UKS."Serah deh" Noah."Haha palingan modus" Kevin terkekeh"Pokoknya aku harus dapatin Gibran!" Ucap Lea."Iya dek, gue tau gue bakal bantu lo deket sama gibran dan musnahin si Adara, tapi ada syaratnya.. Kalian juga harus bantu gue deket sama si rasya, dan musnahin si Naura centil itu" Lisa."Sipp, apasih yang nggak buat saudara kita" Ucap Kevin.Lisa Noah dan Lea terkekeh geli dan mereka semua kembali ke ruang kelas.(DI UKS)"Bu tolong Buu" Ucap Gibran."Iya ada apa?" Jawab Guru UKS."Ini ada yang pingsan" Rasya."Eh ayo ayo bawa ke brankar sini" Ajak guru UKS itu.Gibran pun menidurkan adara ke brankar."Apa kalian boleh keluar dulu?" Guru UKS."Oke bu, tapi pastiin Adara baik baik aja ya bu" Ucap Rasya dan diangguki oleh Guru UKS.Gibran dan Rasya menunggu diluar lalu mengobrol satu sama lain."Eh, apa lo mafia itu ya? " Tanya Rasya."Iya, dan lo anak CEO itu kan?" Gibran tanya balik ke rasya dan diangguki olehnya."Apa lo suka sama Adara? Gue liat, tadi pandangan lo ke Adara itu gak biasa, apa bener gib? " Tanya Rasya."Apa Lo gak akan marah?" Bukannya menjawab Gibran malah bertanya balik.Rasya terkekeh mendengar ucapan Gibran."Untuk apa gue marah? Yang ada gue itu dukung, Kalau itu kebahagiaan Adara ya gue setuju aja" jelas Rasya sambil menepuk pelan bahu Gibran."Thanks kak,sebenarnya gue ini fans fanatik Adara,karena beritanya tersebar luas" Gibran."Heh, lu tau gak sih kalau Adara juga fans fanatik lu , foto galeri dia hampir penuh karena foto lu" ucap Rasya sambil tertawa kecil."Bener kak?" Ucap Gibran sambil tersenyum bahagia."Iya lah,ngapain gue bohong , jadi Pepet aja Adara nya" usul Rasya."Secepetnya deh kak" Gibran"Oke gue tunggu yahh" Rasya."Tapi, apa Kaka tau kesukaan Adara apa saja?" Tanya Gibran."Hmm Adara tuh Suka es krim, cokelat, buah buahan yang manis apalagi durian dia suka, dan dia itu orangnya manja,sensitif , ngeselin tapi ngangenin , ramah dan penyayang orang nya" Jelas Rasya ."Oke kak thanks" ucap Gibran dan Rasya tersenyumKemudian tak lama seorang guru UKS tadi yang memeriksa Adara menemui Gibran dan Rasya."Bu, gimana Bu keadaan adik saya??" Tanya Rasya."Iyh Bu gimana keadaan Adara?" Tanya Gibran."Alhamdulillah dia baik baik saja, tetapi mohon dijaga dan suruh dia beristirahat sampai sembuh total" Usul guru UKS tsb."Baik dok kami akan jaga" ucap Rasya dan Gibran bersamaan.*KRINGGGG*Bel masuk telah berbunyi"Kak, ke kelas aja duluan, gue mau jaga Adara aja.. dan tolong bilang ke guru kelas kita apa yang terjadi sama Adara" Gibran."Oke gib tenang" RasyaRasya pun pergi ke kelas Adara dan Gibran terlebih dahulu dan menceritakan apa yang terjadi pada Adara , lalu pergi ke kelas nya.*Sementara di UKS*"Ra, bangun dong.."CUPPSatu kecup ciuman melayang di pipi kanan Adara, dan tak lama sehabis itu Adara pun langsung sadar."Eughh""Ra, akhirnya Lo sadar juga""G-gibran? Lo ngapain disini, dan.. gue juga kenapa bisa ada disini?""Tadi kan Lo dipukul sama Kevin""Oh iya,gue lupa serius""Yaudah, Lo istirahat dulu aja gih, kata guru UKS nya harus istirahat total""Ciee perhatian""Kan gue kasian sama Lo""Hmm iya dehh.. eh btw Lo kenapa jaga gue? Kan bisa kak asya , kenapa Lo gak masuk aja ke kelas?""Gue lebih milih jagain Lo Ra""Hmm terserah Lo aja sih ""Yaudah , Lo mau makan gak?""Boleh tuh , gue laper nih""Kebetulan tadi dikasih bubur sama gurunya , gue suapin yah""Jantung gue harus dikondisikan oke" Batin Adara"Yaudah terserah Lo aja gib"Gibran pun mengambil bubur nya dan menyuapi Adara dengan penuh kasih sayang."Nih aaa""Makaciii""Dar, gausah semanis itu bisa?" Batin Gibran.(Skipp udah pulang)*KRINGGGG*Bel pulang telah berbunyiRasya dan temannya Gibran Adara ikut menemui mereka di UKS. temannya adalah Naura, Violetta, Irsyad."Assalamualaikum" ucap Rasya dan segerombolan temannya mengucapkan salam."Waalaikumsalam" ucap Adara dan Gibran."Haii" Naura"Eh haii,ini temennya kakak yahh?" Adara"Iya dek, dia Naura" Rasya."Eh eh kak,ini Naura yang kakak crushin itu yahh di sosmed" Adara.Semua yang ada di UKS kaget mendengar omongan Adara"Adara" pekik Rasya"Hehe maaf kak keceplosan" Adara"Kebiasaan tau kamu tuh" Rasya"Yee sorry" Adara"Apa benar yang dikatakan Adara? Oh my my, gak nyangka Rasya crush gue suka sama gue juga" batin Naura.* Dertt .. dertt .. dertt ..*Suara Telpon ponsel berbunyi di iPhone Adara.Dan ternyata itu adalah papi nya, Ryan."Eh kakak papi nelpon" Adara"Duh gimana cerita ke papinya " Rasya"Tenang aja kak , aku bakal sembunyiin semuanya""Gak yakin sih Kalau kamu bakal jaga itu" Rasya"Ihhh kakak!!!" Adara"Iya ih maaf bercanda" RasyaSemua seisi ruangan tertawa melihat sikap Adara dan Rasya."Yaudah angkat Ra" Gibran"Oke" Adara"Eh dek di lord speaker yah kakak juga mau dengar" Rasya"Iya iya"Adara pun mengangkat telpon tersebut(PERBINCANGAN TELPON ADARA DAN PAPINYA)Assalamualaikum Pi, ada apa?Waalaikumsalam, kamu dimana sih sayang? Kata pak Riza dia daritadi nunggu kamu SM kakak di gerbang dan gak muncul², emangnya kemana?Eehh anu Pi, Adara main dulu sama kak asya ke rumah teman baru, boleh nggak Pi?Hmm iya deh boleh, tapi jangan lama-lama yah.. jangan sampai malamSiap pii, eh tolong telponin pak Riza dong Pi, pulang duluan aja gitu yah..Iya adee, papi juga mau telfon nihhEh eh papi dikantor kan? Adek nitip sesuatu dongg, pizza sama es cappucino mathca nya ya piiIya adee insyaAllah, yaudah yaa..Eh eh papi curang, masa kakak gak dibeliin(Ucap Rasya tiba tiba menimbrung)Haha iya kakak, pasti nya papi juga inget ke kakak dongg..Apaan sih kakak ikut aja gak modal(Adara)Dihh biarin Ade juga ngacaa!(Rasya)Hey hey kenapa pada ribut? Sudah, nanti papi belikan satu satu, yaudah papi matiin dulu ya bye Ade, kakak..Okee piii, babayyy(Adara)Bye pii(Rasya)*Tut Tut Tut..*Saluran telpon terputus.Semua di UKS ricuh mendengar perkataan Adara dan Rasya tadi , sungguh menggemaskan!!"Eh kita belum kenalan lohh" vio"Kita juga" Irsyad"Gausah kenalan kali , aku udah tau kalian siapa kan berita nya tersebar luas" Adara"Itu vio, dan itu Irsyad" lanjut Adara menunjuk vio dan Irsyad."Haha, iya dong kami juga selaku mendengar berita kalian berdua, Adara dan Rasya , kalian begitu terkenal" Violetta"Iya haha" Irsyad"Eh diliat liat kalian cocok banget sih" Adara"Pasti dong , mereka kan duo bucin" Naura"Hah? Jadi mereka berpacaran? Wahh, kenapa tidak beritahu publik?" Adara"Yahh begitulh, jika diberi tahu publik makin ricuh ocehan dari warganet" Violetta"Yah benar, kau benar sekali" Adara"Eh yasudah kita pergi dari UKS , ayo pulang" ajak Gibran"Eh iya lupa" ucap Adara."Eh nongkrong ke Caffe Yo, mau ga?" Tanya Mala."GASSS!!!" Teriak mereka semua kompak.Mereka pun pergi meninggalkan UKS dan memutuskan untuk bermain sebentar agar lebih mengenal , mereka memilih Caffe Star untuk bermain sebentar."Eh nongkrong ke Caffe Yo, mau ga?" Tanya Mala."GASSS!!!" Teriak mereka semua kompak.Mereka pun pergi meninggalkan UKS dan memutuskan untuk bermain sebentar agar lebih mengenal , mereka memilih Caffe Star untuk bermain sebentar.****(DI CAFFE STAR)"kalian mau mesen apa?" Rasya"Aku sih spaghetti carbonara aja, sama minumannya jus alpukat" Adara"Kita mah samain aja" ucap semua nya"Yaudah kalau gitu , mbak sini" panggi Rasya kepada pelayan Caffe"Ya , ada yang bisa saya bantu?" Pelayan"Emm ini mbak kita mau mesen spaghetti carbonara nya 6 dan jus alpukat nya juga 6" Rasya"Oke akan Kami siapkan segera" pelayan"Oke mbak" RasyaMereka semua mengobrol satu sama lain sambil menunggu pelayan membawakan pesanan mereka.Disitu Rasya hanya melamun dan memandang Naura dengan wajah polosnya.Mereka yang menyadari itu langsung berniat ingin mengejutkan Rasya"KAK ASYAA!" teriak Adara yang membuat Rasya kaget"Naura Naura" reflek Rasya berkata seperti itu karena dikagetkan oleh Adara, huhh sungguh jahil!Semua yang mendengar itu juga terkejut terlebih nya Naura sendiri.."Eh ra-rasya??" Naura"Ha e-enggak , cuma kaget doang keceplosan" Rasya"Keceplosan atau keceplosaaann" ejek Adara"Adek!!" Geram Rasya"Sorry kakak" Adara hanya memasang wajah polosnya"Gue salting parah cuyy" batin Naura"Aduduhh gimana nih , si Adara make kagetin segala , makin malu gue" batin Rasya" Kak ayoo" bisik Adara"Ha apaan sih dekk" jawab rasya sambil berbisik juga"Ungkapin aja kak" Adara"What? Kakak malu lah Ra mana banyakan gini" Rasya"CK, Cemen!" Adara"Berani ya sama kakak?" Rasya"Ngapain takut" Adara"Dih punya adek ngelunjak banget sih" Rasya"Biarin , adek gabakal ngelawan Kaka lagi kalau kakak udah tembak kak Naura"Adara"Huh reseee! , Iya nanti kakak ungkapin" Rasya"Wahh Beneran kan??" Adara"CK iya"Rasya"Okeyy dehhh" AdaraTak lama sehabis itu pelayan pun datang membawa 6 spaghetti carbonara dan 6 jus alpukat untuk mereka."Makasih yah mbak" ucap mereka semua serentak"Sama sama" jawab pelayan tersenyumMereka semua memakan makanan dan minuman yang mereka pesan.."Udah gede masih cemong aja makannya , kayak bayi aja" ucap Gibran sambil mengelap makanan yang berantakan dimulutnya.Blushhh..!!!Pipi Adara memerah karena perilaku Gibran tadi!Semua yang melihat kejadian itu pun baper! Sungguh lucuu!!!"AAA CIEE CIE GIBRAN OMG TUMBENAN SIKAP NYA GITU KE CEWEKK KIWW" heboh Violetta"Ekhemm adeekkk.." ledek Rasya"Ehh pipinya kayak kepiting rebus!!" Ejek Naura"Gausah salting kalii" Irsyad"Kalian apaan sih" Adara"Tau , gue cuma bersihin makanan yang ada di mulut Adara" Gibran"Gib , jangan gitu yah lain kali.. jantung gue mau copott!!.." batin Adara"Apa gue langsung tembak Adara aja yahh" batin Gibran sambil tersenyum"Gibb , udah kakak setuju kamu jadi adek ipar kakak" RasyaDan blushh..!!!Pipi Adara kembali memerah karena omongan Rasya tadi..Semua juga kaget dan baper mendengar perkataan Rasya"Kakak..!!" Omel Adara"Apasih dekk?" Rasya"Ishhh nyebelin tau gaa??!!" Adara"Nyebelin tapi bikin salting kaaann??" Ejek Rasya"Tau ahhh" AdaraNaura Violetta Irsyad mereka tertawa geli melihat tingkah adik kakak yang begitu menggemaskan"Yaudah abisin dulu aja makanan nya" ujar Rasya dan mereka semua mengangguk.*Skipp selesai makan*"Yaudah ayoo bayarr" Irsyad"Let's go!" Violetta"Kakak.." bujuk Adara dengan puppy eyes nya"Hmm.. gausah ngomong , kakak udah tau , kebiasaan tau ga" Rasya"Gapapa dong , kan aku adek nya kakak" Adara"Hmm iyaa" RasyaMereka semua pun sudah membayar makanan nya masing² lalu memutuskan untuk pulang kerumah nya...(DIRUMAH RASYA DAN ADARA)"Assalamualaikum mamiii papiiii" heboh Adara bersemangat sambil menyalami tangan orang tuanya"Assalamualaikum" singkat Rasya sambil menyalami tangan orang tuanya juga"Waalaikumsalam , eh anak anak papi sama mami udah pulang.." ucap Nadya dan Ryan bersamaan sambil mengecup kening mereka satu satu"Mana pii itunyaa??" Tanya Adara"Itunya apa adek?" Tanya balik Nadya"Itu lohh tadi adek nitip ayam geprek sama minumannya , masa gak dibeliin sihh?!!" Ucap Adara sambil mengerucutkan bibirnya"Iya dongg papi gak lupa , yakali papi lupa sama anak anak papii" ucap Ryan membujuk Adara karena mengambek"Wahhh mana mana??" Ujar Adara tak sabaran"Kakak bagii, kakak juga nitip kan" sahut Rasya"Iya bentar Napa sih" gerutu Adara"Tapi yang kakak simpen dulu aja kan kita baru makan tadi di Caffe" ucap Rasya"Ooh jadi kalian tadi pulangnya mampir ke Caffe dulu.." ujar Ryan"Gimana disekolah baru nya , banyak temen nggak?" Tanya NadyaRasya yang khawatir jika Adara bercerita jika tadi dia dicelakai oleh Kevin menatap Adara agar tidak memberi tau kejadian tadi pagi."Oke adek gabakal cerita" bisik Adara dan diangguki oleh Rasya"Emhh anu Pi, mi, yaa gitulah.. banyak kok yang temenan sama kita , baik baik lagi" ucap Adara"I-iya pii, banyak banget yah kan dek" sahut Rasya dan Adara pun mengangguk"Ya pasti banyak dongg, apalagi non Adara dan Aden Rasya ini kan putra putri CEO terkenal didunia , pasti banyak lah yang mau" sahut bi Ika yang tiba tiba datang memuji mereka"Hehe bibi bisa aja" ucap Adara"Alhamdulillah kalau banyak yang baik sama kalian.." ucap Nadya"Iya Alhamdulillah" ujar Ryan"Eh mami papi tau ga , si adek disekolah itu ada crush nya loh pii,mii" ejek Rasya"Waaahh.. siapa tuuhh?" Tanya Ryan"Cieee gadis mami udah gede" ucap Nadya"Dihh siapa bilang , asal mami papi tau aja yahh di sekolah itu juga ada crush nya Kakak loh" balas Adara"Hmm.. apa itu kalangan CEO juga?" Tanya Nadya"Iya dong mi , kan Adara pernah cerita kalau kak Rasya suka sama Naura putri om aldiano itu lohhh" ejek Adara"Apa sih dek , kamu juga suka Gibran kan?!" Balas Rasya sambil tersenyum sinis" Gibran mana? Atau dia anak mafia terkenal itu yah?" Tanya Ryan"Iya lah Pi , tapi papi mau tau gak kalau sikap Gibran ke Adara itu baik banget ga bohong , terus murid yang lain juga pada aneh liat sikap Gibran ke Adara kek cinta gituu.." ejek Rasya dengan tatapan mata sinis nya.Adara mendengus kesal mendengar kata Rasya tadi lalu dia menaiki anak tangga dan pergi ke kamar nya karena kesal."Lah lah, tu anak malah ngambek" ucap Rasya."Hahah udah biarin aja deh kak, kakak juga mandi dulu sana gih nanti malem turun makan" titah mami Nadya."Siap boss!!" Jawab Rasya berlagak seperti hormat pada mami nya.Nadya dan Ryan pun tertawa kecil melihat tingkah anak nya itu, gemas!!.Adara mendengus kesal mendengar kata Rasya tadi lalu dia menaiki anak tangga dan pergi ke kamar nya karena kesal."Lah lah, tu anak malah ngambek" ucap Rasya." Hahah udah biarin aja deh kak, kakak juga mandi dulu sana gih nanti malem turun makan" titah mami Nadya."Siap boss !!" Jawab Rasya berlagak seperti hormat pada mami nya.N adya dan Ryan pun tertawa kecil melihat tingkah anak nya itu, gemas!!.****Sementara di kamar Adara..Adara kelelahan dan berbaring di kasur luasnya itu, dia merasa tubuhnya lengket dan sedikit bau lalu memutuskan untuk membersihkan diri, mandi."Hufftt capek bangett" keluh Adara."Hmm mandi dulu deh bau gini" ucap Adara pada dirinya sendiri.Adara pun pergi ke kamar mandi membersihkan badannya yang sedikit bau dan lengket. Dan setelah 20 menit Adara telah selesai menjalankan ritual mandinya."Akhirnya wangi juga nih badan hihiii" ucap Adara memuji dirinya sendiri."Hmm kedapur ah laperrr, tapi males juga sihh ketemu kak Rasya" ucapnya lesu didalam hati."Udah deh gpp udah laper banget nihhh" lesu Adara.Adara pun menghampiri Rasya dan kedua orangtuanya di dapur, terlihat mereka sedang menyiapkan makan malam bersama 2 asisten rumah tangga nya itu.(DIDAPUR)"Haii mami, papi" sapa Adara pada kedua orangtuanya."Halo sayang" jawab Ryan."Eh inces nya mami udah Dateng, ayo kita makan yuk" ajak Nadya."Dih mami papi doang disapa, kakak enggak" ucap Rasya pura pura merajuk."Ngapain coba" jawab Adara malas."Nih Pi, mi, liat nih Adara udah mulai ngelunjak" adu Rasya sebal.Nadya dan Ryan hanya menggelengkan kepalanya terkekeh geli melihat tingkah laku itu."Makan dulu yuk, berantem nya belakangan" ujar Ryan."Gak deh, kakak males berdebat sama tuh bocill" ledek Rasya sambil menunjuk Adara."Aku emang bocil, bocilnya ayang ibannn wleee" balas Adara meledek Rasya sambil menjulurkan lidahnya."Dihh berobat lu, Gibran aja belum tentu suka sama lu udah manggil ayang aja" balas Rasya."Kata siapa huu" dan Adara tak mau kalah."CK CK CK, gadis kecil papi sudah dewasa, tetapi masih manja" decak Ryan sambil menggelengkan kepalanya tertawa kecil."Apaan udah dewasa tapi masih kecil gitu" ejek Rasya."Biarin aja sih" balas Adara."Heii sudah sudah, ini lho bi Siti dan bi Inah sudah siapkan makanan nya, ayo dimakan jangan bertengkar terus" titah Nadya."Iya mi" jawab Adara dan Rasya.Setelah beberapa menit mereka sudah menyelesaikan acara makan malam nya, kini sudah jam 8 malam, Adara pun meninggalkan dapur dan kembali ke kamarnya."SEMUANYAA, ADEK KE KAMAR DULU YAHHHH" teriak Adara dari atas."APAAN SIH GAK ADA YANG NANYA JUGA" Balas Rasya sambil teriak di bawah sembari memainkan iPad nya."BIARIN AJAAA" Jawab Adara di atas masih dengan nada teriaknya.Adara pun masuk ke kamar nya yang luas dan aesthetic itu, adem sekali."Hmm bosen dehh, ngapain yah" tanya Adara pada dirinya sendiri."Main handphone aja deh" ucapnya lagi.Adara pun mengambil iPhone nya di meja belajar nya itu, dia mengotak Atik ponselnya karena bosan ingin memainkan apa.(SEMENTARA DIRUMAH GIBRAN)"Huhh bosen bett, ngapain yah" ucap Gibran."Pengen chat Adara tapi gak tau nomornya, apa gue minta ke Rasya aja ya?" Tanya nya di dalam hati."Yaudah deh gue minta ke Rasya aja kan tadi udah tuker nomor sama dia" batinnya lagi.[ Chat on]Kakak IparAssalamualaikum kakWaalaikumsalam, kenapa gib ?Kak minta nomor Adara boleh gak?Ohh boleh dong, tapi buat apa?Ya gak apa apa, butkon aja boleh kan?Hmm butkon atau mau chatan sama diaa ?? Jujur aja Gibb wkwkHehe iya kak, gitu dehh .. yaudah mana nomornya?SEND CONTACT👤: Bocill Kesayangan🤓🤍Thanks banget kakSama sama Gibb..Yaudah assalamu'alaikum kakWaalaikumsalam//Read[ Chat off]" Akhirnya bisa chatan sama Adara" batin Gibran senang."Chat sekarang dehh" batin nya lagi.[CHAT ON]Daraa 💛💫PSalam dulu, aku bilang mami nihhHehee maaff , lucu banget sihhApaan sihAssalamualaikumNahh gitu dong, waalaikumsalamSiapa?SV Gibran yahOoh , okeyyyUdah disave belum?Iya udahDi save nya kek mana??Ya kek gitu..Aku mau tauu kamu SV aku apaApaan sih aku kamu aku kamuHmm yaudah maaf,boleh tau gak disave nya apaa'GIBRAN' gitu doangMmm bohonggIhh bener lohhYaudah dehh, bentar yahmau ke luar dulu sebentar ajaIya santai aja//Read[CHAT OFF](SEMENTARA DI KAMAR ADARA)Adara ternyata hanya diam saja karena menahan malu chatan dengan Gibran tadi.Sebenarnya dia menamakan kontak gibran ' Ibann🤍' , namun karena malu dia berbohong padanya."Aaaa salbrut guee" ucap Adara yang sedaritadi hanya diam saja kini melompat lompat diatas kasurnya karena salah tingkah.(DIRUANG TAMU ADARA)*Tok tok tok..."Hah? Siapa itu Pi jam 8 gini??" Tanya Rasya pada papinya.Yapp Rasya papi dan mami nya berkumpul diruang tamu, Rasya memainkan iPad nya, dan mami papinya menonton TV diruang tamu."Mana papi tau kak, yaudah bukain gih" titah Ryan."Oke Pi" jawab Rasya.Rasya pun menghampiri pintu depan dan membukanya, ternyata setelah dibuka pintunya ternyata..."GIBRAN?!" Teriak Rasya kaget.Yapp itu adalah Gibran, tadi dia meminta izin pada Adara untuk keluar sebentar bukan?? Ternyata dia malah pergi ke rumah Adara."Aduuuh kak jangan teriak teriak Napa" ucap Gibran."Abis nya Lo kenapa bisa disini? Dan mau ngapain??" Tanya Rasya pada Gibran."Hehee, gue mau minjem adek Lo, boleh gak kak?" Tanya balik Gibran sambil cengengesan."Malem² gini? Lo mau bawa Adara kemana? Mau ngapain Lo sama Adara?" Rasya bertanya lagi."Yahh kak gausah pikir negatif kali, gue juga mau ngajak ke taman doang main, pliss boleh yakk??" Tanya Gibran."Ya gue sih boleh² aja, tapi noh si mami Sama papi, dibolehin kagak" ucap Rasya."CK yaudah dehh" pasrah Gibran."Eh kak siapa??" Tanya Ryan penasaran."Ooh ini Pi Gibran, calon mantu papi haha" canda Rasya."Apaan sih" jawab Gibran malu."Waahh apa ini nak Gibran?? MaasyaAllah, ganteng sekali dia gak seperti kamu kak" puji Nadya pada Gibran dan mengejek Rasya di akhir katanya."Ishh mami apaan coba" geram Rasya tak terima."Bercanda kakak" bujuk Nadya."Ini nak Gibran? Sini masuk dulu" titah Ryan."Oke Tan, om" jawab Gibran dengan sopan.Gibran pun masuk rumah mewah itu dengan sopan nya dan menyalimi tangan kedua orang tua Adara."Kamu mau apa kesini malam²? Tanya Ryan dengan lembut."Paling mau ngajak Adara ngedate lah pii" bukan Gibran yang menjawab melainkan Rasya."Ssstt kak.. diam dulu" tegas Nadya dan Rasya hanya bisa menurutinya."Eeh begini om, Tan, gibran kesini mau ajak Adara keluar di taman, boleh gak om??" Tanya Gibran dengan wajah penasaran."Mmm gimana yahh.." ucap Ryan bingung.
Mabuk CEO
Hidup adalah tentang menyenangkan semua orang. – Hani***Bekerja di Jakarta itu berat. Selain jam kerja yang panjang, karyawan harus berhadapan dengan kemacetan Jakarta yang disebut sebagai salah satu yang terburuk di dunia.Pulang melewati jam kantor demi menghindari macet dan tiba di rumah larut malam. Keesokan paginya, harus bangun lebih cepat dari seekor ayam jago agar tiba di kantor tepat waktu.Tergopoh-gopoh memakai sepatu, menyambar tas dan merapikan pakaian yang kusut setelah berdesakan di dalam bis, dilakukan hampir semua karyawan di kota metropolitan itu. Termasuk Hani.Permisi—permisi, maaf .... Hani memiringkan tubuhnya melewati celah himpitan tubuh-tubuh manusia yang belum tiba di tujuan. Dengan satu lompatan, ia sudah menjejak tepi jalan raya.Sedikit melompat-lompat menghindari trotoar yang tak rata, Hani merogoh kantong jasnya. Ponselnya bergetar sejak tadi. Pasti urusan yang sama, umpatnya dalam hati.Han! Kopi ya. Semua varian kayak biasa. Dan kayak biasa juga, pake duit lo dulu, entar diganti. Thank you in advance.Doni yang hobi menyuruh-nyuruh junior tak pernah lupa menyampaikan titipannya pagi itu. Dulu Hani merasa luar biasa keren setelah diterima di perusahaan tempatnya bekerja sekarang. Di antara penghuni jajaran lantai satu kos-nya, Hani dianggap paling sukses. Wanita karir sejati. Padahal ....Hani mengetikkan balasan untuk pesan Doni, Siap, Mas. Ia langsung mempercepat langkah kakinya menuju kedai kopi mahal yang seolah sudah menjadi kewajiban untuk menampilkan urban lifestyle.Dua orang karyawati yang menggandeng anak kecil masuk tergopoh menuju lobi. Hani meringis menoleh sekilas. Ibu-ibu itu pasti menuju tempat penitipan anak yang berada di lantai dasar.Untuk kesekian kalinya, Hani mensyukuri bahwa ia belum menikah. Perkantoran Jakarta, ia nilai terlalu berat untuk ibu bekerja. Mereka pasti bangun jauh sebelum matahari terbit menyiapkan sarapan bagi keluarga. Atau setidaknya, persiapan untuk dirinya sendiri menuju kantor. Lantas mereka harus menitipkan anak kepada pengasuh atau orang tua mereka kalau di kantornya tak ada fasilitas penitipan. Ditambah lagi dengan menjejalkan diri ke dalam transportasi umum. Hani bergidik.Betapa pun kerasnya usaha para perempuan itu, pada akhirnya, mereka terpaksa harus berhenti bekerja karena tingginya biaya yang harus ditanggung, sebuah fakta yang ditemukan dalam riset-riset.Dengan kacamata yang melorot sampai ke ujung hidungnya, Hani menenteng empat paper cup berbagai ukuran di tangan kirinya.Lagi-lagi ia harus menyebut mantra yang sama. "Permisi—permisi, maaf ...."Sepuluh menit lagi menjelang waktu yang ditolerir mesin finger print . Hani mendatangi tiap kubikel dan meletakkan pesanan masing-masing rekan di timnya. Beres dengan semua pesanan itu, Hani meletakkan ibu jarinya pada mesin finger print hingga bunyi bip terdengar."Han! Tolong ke ruangan saya!" seru Bu Curry saat melintas di depan kubikelnya.Ya, Tuhan . Apa berkas yang kemarin salah lagi?Hani langsung gelisah dan mual seperti biasa."Eh, lo dipanggil, tuh! Minum kopi dulu biar tenang. Sampe keringetan gitu." Dini satu-satunya karyawan lama yang sering mengajak Hani berbicara menghampiri kubikel."Gue nggak beli kopi," jawab Hani."Kebiasaan lo emang. Jangan terlalu pelit untuk diri sendiri, Beb!" Dini berlalu menuju ruang fotokopi di sebelah pantry.Ya, memang sudah menjadi kebiasaan Hani. Terlalu pelit dengan diri sendiri. Mati-matian mengencangkan ikat pinggang demi menumpuk pundi rupiah di tabungan demi mencapai kebebasan finansial di usia muda seperti impian banyak orang.Semua buku tentang kepribadian dan cara menghadapi atasan, seketika tak berguna saat berhadapan dengan Bu Curry. Wanita karir berparas tegas dan menikah dengan seorang pria asing itu adalah legal manager. Dan Hani adalah seorang legal staff. Ya. Lulus dengan nilai IPK bergelar summa cumlaude tak membuat Hani cepat diangkat menjadi legal coordinator. Bekerja selama empat tahun, Hani masih menjadi pesuruh di timnya.Dan sekarang, Bu Curry memanggilnya ke ruangan yang sudah bisa dipastikannya untuk urusan apa. Pekerjaan Doni si legal coordinator yang dilimpahkan padanya pasti ada kekeliruan.Hani meneguk air putih hangat dari tumbler-nya. Setelah merapikan rambut dan letak kacamatanya, ia menyeret langkahnya menuju ruangan Bu Curry."Pasti kamu yang mengerjakan update regulasi nasional ini, kan?" Bu Curry setengah mencampakkan beberapa lembar kertas yang disisipi paper clip ke meja."Iya, Bu. Benar. Saya yang mengerjakannya karena—""Sudah berapa tahun kerja, sih? Masa yang begini aja kamu nggak becus. Di bawah itu memang tanda tangan Doni, tapi kalau kamu yang diminta bantu mengeceknya, harusnya bisa lebih bener. Sudah dua orang yang ngerjain, masih bisa salah!""Maaf, Bu," sahut Hani dengan gugup memasukkan lembaran rambutnya ke belakang telinga. Perutnya semakin mual dan rasa-rasanya ia bisa muntah di tempat itu.Please, jangan ngomel panjang lebar. Jangan sampe abis diomelin aku harus bersihin muntahku di ruangan ini."Memangnya kamu nggak pernah belajar dari senior-senior? Dalam beberapa tahun ini, apa yang kamu pelajari?" sergah Bu Curry.Hani menunduk memandangi tanda pengenal yang menampilkan foto cantiknya tengah tersenyum. Dalam pasfoto itu ia terlihat bahagia sekali. Foto awal diterima bekerja di sebuah perusahaan besar farmasi yang bergerak di bidang manufaktur.Apa yang udah aku pelajari? Memerintah junior seenak jidat? Enggak pernah melibatkan junior dalam setiap project yang melibatkan kompetensi saat rekan sejawat lain diikutsertakan? Khawatir akan kemampuan junior yang lebih unggul? Menegur di depan orang ramai? Mencemooh? Kritikan terus-menerus? Menekan dan mengintimidasi? Atau yang paling parah, mengambinghitamkan junior yang belum memiliki wewenang apa pun? Gimana kerjaan si Doni tolol itu? Banyak keliru, kan? Ternyata masuk ke sebuah kantor besar karena relasi erat dengan direksi nggak bikin tambah pinter. Yang ada malah makin goblok!Hani memaki-maki di dalam pikirannya. Mengatakan semua hal yang tak bisa ia katakan langsung pada orang lain. Di dalam pikirannya ia bebas mengatakan apapun tanpa khawatir siapa pun tersinggung."Hani ... kamu denger?" tegur Bu Curry.Hani mendongak dan mengerjapkan mata. Ia sedang berusaha keluar dari kubangan pikiran yang sedang berusaha menghiburnya. "Maaf, Bu. Saya akan perbaiki secepatnya. Besok pagi saya serahkan lagi ke Mas Doni untuk ditandatangani lebih dulu. Sekali lagi maaf, Bu" Hani sedikit menunduk, kemudian maju selangkah untuk mengambil berkas dari atas meja.Meski selalu mual karena hardikan Bu Curry, Hani selalu puas jika mendapati pekerjaan seniornya tak diterima. Bu Curry seperti biasa. Tak menjawab sepatah pun. Perempuan itu hanya mengibaskan tangan mengusirnya dari sana.Sebentar lagi masuk waktu makan siang. Dan Hani masih mengerjakan perbaikan soal regulasi nasional yang diminta atasannya. Ternyata Doni tak memperbarui tentang dimensi penataan regulasi nasional yang baru ditetapkan pemerintah."Han, gimana? Revisinya kalo bisa jangan sampe sore, ya. Gue mau pulang lebih awal. Besok gue nggak masuk. Udah ngambil cuti sehari doang. Jadi, kalo bisa lo kerjain secepatnya," ujar Doni menumpukan sikunya di atas kubikel.Jangan sampai sore nenek moyangmu, Don! Aku udah ngelewatin makan siang demi mengerjakan sesuatu yang harusnya jadi urusanmu. Harusnya kertas-kertas ini aku jejalkan ke mulutmu biar kamu ngerti cara kerja yang benar!Hani ingin mengatakan hal itu. Tapi sayangnya yang keluar dari mulutnya hanya, "Baik Mas, paling lama gue siapin sejam lagi.""Sip! Hani memang selalu keren," ucap Doni kemudian pergi sambil bersiul-siul.Kalau saja dulu Hani tahu bahwa Doni yang dinilainya paling berengsek di antara para senior berengsek di kantor itu seumuran dengannya, ia tak akan sudi memanggil laki-laki itu dengan sebutan Mas. Sayangnya semua sudah terlambat. Doni sudah telanjur besar kepala dengan senioritasnya.Sejam kemudian, Hani yang selalu berhasil menepati janjinya sudah memegang sebuntalan kertas menuju meja Doni. Seperti biasa Doni menandatangani semua kolom bagiannya dengan wajah puas dan senyum menjengkelkan.Pukul delapan malam, Hani membereskan mejanya. Semua pekerjaannya hari itu berhasil ia selesaikan tepat waktu. Besok pagi ia tinggal menyerahkan pada Bu Curry. Dini satu-satunya manusia di kantor yang mau berbicara selain hal pekerjaan padanya, sudah pulang sejak tadi.Ponsel yang terletak di atas meja bergetar pendek-pendek. Kantor yang lengang dan kubikel kosong membuat suara getaran ponsel itu sedikit mengejutkan Hani. Ia cepat-cepat membuka aplikasi pesan. Benar dugaannya, pesan dari Indra.Lo masih di kantor? Gue baru selesai meeting di pusat. Makan dulu, yuk.Tak perlu berpikir dua kali, Hani langsung menyambar ponsel dan tasnya, lalu tergesa menuju lift. Sebagian lampu ruangan telah dipadamkan menuruti kampanye hemat energi demi menutupi efisiensi perusahaan. Sama sekali tak memikirkan nasib karyawan over time yang merinding tiap harus menyusuri ruangan gelap menuju lift."Gue di mini market biasa! Makan onigiri. Buruan!" Hani kembali memasukkan ponselnya ke saku jas.Dengan kresek putih di tangannya berisi empat onigiri dan dua botol air mineral, ia menarik kursi besi berat di salah satu pojok teras mini market.Mini market itu menempati dua buah bangunan lantai dasar gedung perkantoran. Tempatnya di sisi luar mengarah jalan yang masih berada dalam lingkungan tiga tower gedung yang berdampingan. Bagi Hani, mini market itu aman sebagai tempat mengumpat dan melepaskan penat."Onigiri lagi? Gak ada bosennya. Ckckck." Indra baru tiba dan langsung berdecak seraya menarik kursi besi."Lo mau nambahin omelan ke gue lagi?" Hani langsung melahap setengah onigiri dengan satu gigitan. Pandangannya lurus ke depan. Tak menoleh pada Indra yang sudah duduk di sisi kanannya.Indra menunduk sekilas untuk menggeser kursinya sedikit maju. "Sepatu lo ganti, udah butut banget. Kasi kado buat diri sendiri," ujar Indra yang ternyata benar-benar menambahkan omelannya."Tabungan gue masih jauh dari kata cukup untuk pelesir ke Machu Picchu," sahut Hani menyodorkan botol air mineral pada Indra. Sahabat pertama dan satu-satunya sejak ia menangis pertama kali di salah satu kursi teras mini market itu.Indra memutar tutup botol lalu menyodorkannya kembali pada Hani. "Gimana kantor?""Si Curry sehat walafiat. Masih buta ama bawahan langsungnya. Dan tim gue, tetap cuma judulnya aja yang tim. Yang kerja sebagian besar masih gue sendiri.""Gue udah capek nyuruh lo resign , tukas Indra mengambil sebuah onigiri dari dalam kresek mini market dan membuka botol air mineral untuknya sendiri."Gue takut bakal susah cari kerja. Bisa pingsan emak gue di kampung kalo tiba-tiba gue pulang jadi pengangguran.""Gue juga udah capek bilang ke lo jangan resign dulu sebelum keterima di perusahaan lain Hani . Jakarta ini luas. Enggak ada tempat untuk manusia-manusia lembek. Lo khawatir nggak dapet kerja yang berurusan dengan bidang hukum? Sampe kapan mau kerja yang posisinya sesuai ama gelar lo?" Indra kembali mendaratkan omelan yang sama untuk ratusan kalinya.Dan jawaban Hani selalu sama. "Gue nggak pede, Ndra. Gue rikuh kalo harus mulai semuanya dari awal lagi. Enggak bakal sanggup gue," ucap Hani.Indra menoleh iba pada perempuan di sebelahnya. Stephanie, nama yang terkesan kota namun tak menyiratkan hal itu di kelakuannya. Alih-alih dipanggil dengan sebutan Stefie bak bintang film. Di kampungnya, ia dipanggil dengan sebutan Hani yang melekat sampai di ibukota.DRRRTT DRRRTTPonsel Hani bergetar panjang di atas meja. Hanya sederetan angka. Tak merasa punya hutang dan keharusan menghindar dari debt collector, Hani menjawab telepon itu."Ya?" jawabnya malas-malasan."Han, ini Ayu! Kamu, kok, keluar dari grup besar SMA sih? Inget ini tahun berapa? Reuni akbaaar," teriak Ayu dari seberang telepon."Hah? Ayu? Reuni ak—bar?" Dua kata yang menyadarkan Hani malam itu. Dagunya yang tadi bertumpu di atas meja, kini tegak. Suara Ayu yang ceria di telepon, belum apa-apa sudah membuatnya insecure. Ia keluar dari grup SMA dan menghilang dari dua sahabatnya yang sama-sama merantau ke ibukota, bukan tanpa alasan.Hani minder. Grup SMA terasa mencekiknya. Yang dibicarakan semua orang hanya pencapaian dan pencapaian. Suami, istri, anak, harta, karir, dan kalimat-kalimat menyombongkan diri yang dibalut keluhan. Merendah untuk melambung tinggi."Han! Kita harus ketemu. Inget, reuninya tiga bulan lagi. Inget juga janji kita dulu. Kamu, aku, Tika. Kita harus ketemu. Bawa suami atau pacar kamu. Aku pengen liat pasangannya primadona SMA Membalong kayak apa. Info reuni aku kirim lewat chat. Aku panitianya. Semua orang pada nyariin kamu. Dasar!" pekik Ayu dengan girangnya.Seperti apa? Primadona SMA? Primadona itu sudah lama mati. Kalau saja ia mendapat suami seorang politisi muda seperti Ayu, atau Tika yang bersuamikan dokter sukses, ia mungkin tak akan capek-capek menghilang.Dua wanita dari desa dengan pendidikan sarjana sepertinya tapi memiliki pencapaian luar biasa. Tak perlu kerja keras membanting tulang, tapi bisa kaya dan cantik mentereng. Dua wanita itu hanya perlu menjadi seorang istri laki-laki hebat.Pembicaraan sudah berakhir. Hani diam menunduk memandang heels kusamnya. Heels yang sudah dijahit dan dilem empat kali."Kenapa?" tanya Indra."Reuni akbar SMA Membalong.""Terus?"" Fixed gue enggak dateng. Gue enggak mau cari penyakit," lirih Hani."Hei, stupid ... lo harus dateng," ucap Indra."Kalo di kota, gue wanita karier. Kalo di kampung, gue perawan tua." – Hani***"Gue mo balik," kata Hani seraya bangkit menggeser kursi."Sendirian di kos-kosan? Mending ke apartemen gue. Kita main kartu kayak kemarin. Yuk, ah," ajak Indra ikut berdiri dan menyeret lengan Hani.Indra merangkul pundak Hani menuju taksi yang baru saja menurunkan penumpang. Malam itu, kemungkinan besar mereka akan kembali menikmati waktu semalam suntuk untuk mengeluh dan mencerca atasan di kantor."Kerja di sektor swasta yang dinamis, sebenarnya bisa jadi media yang bagus untuk mengembangkan diri dan kompetensi," gumam Hani dari jok belakang taksi."Hmmm ...," lirih Indra tanpa menoleh. Pandangan mereka sama-sama lurus ke depan. Indra kembali mendengar cerita yang sudah diulang puluhan kali oleh sahabatnya."Harusnya bisa saling tukar pikiran, brain storming sehat dan persaingan sportif. Demi memajukan perusahaan dan memajukan karier tentunya.""Nyatanya?""Nyatanya komunitas nggak sehat itu dianggap normal. Gue yang dasarnya susah deket dengan orang baru, sekarang malah makin parah. Cuma Machu Picchu yang bikin gue tahan, nggak turn over .""Dan itu nggak cuma lo aja. Di awal jabatan gue jadi marcom manager , gue kelimpungan Han .... Mana yang biasa nempatin posisi itu tiba-tiba ngundurin diri. Gue belajar semuanya dari nol lagi. Promotion , awareness , branding , semua. Apalagi lo tau brand perhiasan perusahaan gue udah tinggi banget. Hampir semua orang kaya di Indonesia punya berlian dari perusahaan gue kerja. Lain lagi kalo gue harus ke kota lain untuk ngurus pembukaan boutique store baru. Ribet, sampe kadang gue lupa istirahat. Tapi gue happy , gue menikmati. Menurut gue, level kebahagiaan tiap orang itu, nggak cuma mentok cuma soal nikah. Untuk sekarang, gue lagi happy sendirian. Menikmati perkembangan karier gue.""Lo sih enak ...," ucap Hani."Gue ngomong gitu bukan mau manas-manasin lo. Gue cuma mau lo bisa milih sesuatu yang bisa lo jalani dengan happy, tanpa ngeluh. Kerja kalo nggak ikhlas capeknya double.""Lo langsung berhadapan dengan klien lo yang kaya-kaya. Enggak kayak gue yang cuma jadi kacung.""Kan, lo idealis. Cuma mau kerja yang sesuai latar pendidikan lo aja. Padahal sayang banget ngabisin empat tahun dengan mengeluh," tukas Indra setengah bangkit melihat taksi yang sudah masuk lingkungan apartemen."Oke, Pak. Berenti di sini aja." Indra mengambil tas laptopnya dari jok dan membuka pintu mobil bersamaan dengan Hani."Apa gue harus jadi kacung lo aja?" tanya Hani tertawa melangkahkan kaki masuk ke lobi apartemen."Kenal banyak klien kaya itu enak lho ...." Indra mendahului Hani untuk men-tap kartu akses di sensor lift."Enak? Jangan-jangan lo ...." Hani menoleh pada sahabatnya yang tengah tersenyum mengangkat alis."Gue dikasi wine lagi. Ayo kita buka," ajak Indra mengalungkan tangannya di bahu mungil Hani dan berjalan keluar lift."Besok masih ngantor. Sinting ...," gerutu Hani."Enggak apa-apa sinting, ketimbang pusing. Baju lo masih ada di tempat gue."Indra merasa malam itu mereka harus melakukan ritual mengeluh semalam suntuk. Menurutnya, Hani sudah terlampau rajin untuk ukuran seorang staf. Tak pernah terlambat ke kantor dan selalu berhasil mengerjakan tugasnya dengan memuaskan.Namun sampai detik itu, Hani belum mendapat reward apapun dari kantornya. Bukan berupa benda atau uang, setidaknya Hani pasti membutuhkan pujian yang bisa memotivasinya. Sayang Indra belum bisa membujuk sahabatnya itu untuk lebih 'membebaskan' dirinya sendiri.Indra mengerti apa yang dirasakan sahabatnya. Beberapa tahun yang lalu, ia sempat mengalami fase yang sedang dijalani Hani sekarang. Bedanya, ia lebih berani mengambil keputusan. Hani pintar. Tapi sayangnya, di dunia pekerjaan pintar saja tidak cukup.Dua jam tiba di kamar Indra dan duduk beralaskan permadani tebal di depan televisi sudah membuat Hani cekikikan. Wajahnya memerah karena dua gelas wine. Di hadapan mereka terbentang mainan ular tangga. Mereka selalu menganggap itu sebagai hal lucu karena sesuai dengan hidup mereka. Naik tangga yang tinggi, dan sekejab bisa meluncur turun karena salah melangkah. Atau biasa mereka sebutkan sebagai permainan takdir."Lo tau nggak?" Hani mengangkat gelas wine-nya ke arah Indra.Indra yang sudah setengah mabuk menggeleng-geleng karena tak mengerti maksud Hani."Oke, lo nggak tau. Jadi gue kasi tau." Hani menarik napas dan mengembuskannya perlahan."Dulu, Ayu geblek banget di kelas. Semua-semuanya nyontek dari cowo-cowo yang bisa dia manfaatin. Makanya gue nggak heran kalo dia bisa dapet suami kaya." Hani terbahak-bahak sambil melayangkan pukulan ke bahu Indra."Artinya dia yang dulu lebih pinter dari lo. Terbukti, kompetensinya teruji sejak di bangku sekolah." Indra ikut terbahak-bahak. Tawa Indra mampu membuat Hani bungkam."Gue ... nggak suka dibanding-bandingkan, Ndra! Gue nggak suka!" pekik Hani yang sudah benar-benar mabuk."Ba-gus!" Indra mencondongkan gelas wine-nya dan mengadunya dengan gelas di tangan Hani."Apalagi si Tika! Beuuuhh ... lemot banget! Tapi dia pinter memelas. Dulu cowo-cowo kasian ama dia. Bener-bener dia cuma modal tampang doang." Hani menghabiskan sedikit wine yang tersisa dari gelasnya."Tambah lageee ...," ujar Indra kembali membuka sumbatan botol wine dan membagi semua sisanya ke gelas mereka berdua. Bukan gelas wine. Mereka meminum wine itu menggunakan mug yang biasa dipakai untuk minum kopi."Gue cantik nggak?" Hani berdiri dan memutar tubuhnya di depan Indra."Cantik—cantik. Lo cantik, tapi geblek. Pelit, nggak modis, old fashioned ." Indra terkekeh-kekeh."Sialan! Temen sialan." Hani mengulangi ucapannya kemudian mengembuskan napas. Sering mual tiap berhadapan dengan Bu Curry, tapi entah kenapa lambungnya baik-baik saja tiap dimasuki alkohol. Indra bilang, mualnya berkaitan dengan kondisi psikis. Bukan kesehatan tubuhnya saja."Makanya gue saranin, lo harus dateng ke reuni itu. Bawa laki-laki ganteng, kaya, dan ter-ke-nal. Temen-temen lo bakal ternganga.""Siapa? Laki-laki kaya mana yang mau ama gembel kayak gue," ratap Hani kembali meneguk wine-nya."Kan, Ayu sendiri yang bilang lo dulu primadona. Berubah lagi Han ... lo juga bisa cantik. Duit lo udah banyak. Dipake dong ....""Emang! Gue dulu pernah jadi primadona. Jaman SMA, tuh, gue cakep, pinter, bokap gue berduit. Nah, sekarang?" Hani kembali meneguk wine-nya. "Sekarang gue diwanti-wanti berhemat karena seluruh harta bokap gue, udah habis untuk menjadikan adik-adik gue PNS." Hani kembali tertawa. Kali ini tawanya terdengar sumbang."Laki-laki idaman lo yang kayak apa?" tanya Indra dengan raut serius namun terlihat tolol karena sebotol red wine yang sudah kandas mereka bagi rata."Untuk dibawa ke reuni?" tanya Hani. Indra mengangguk-angguk sambil menutup mulutnya seakan menahan muntah."CEO!" pekik Hani dengan mata setengah terpejam."Kenapa harus CEO?" tanya Indra."Ha-rus! Seandainya gue jadi pergi, laki-laki yang gue bawa ke reuni harus CEO yang terkenal! Harus ganteng! Harus ... single tentunya. Temen-temen gue pasti pada browsing nyari nama CEO itu. Grup alumni SMA yang gue tinggalkan bakal geger. Gue bakal dikenal sebagai Hani si wanita karir yang kekasihnya CEO." Hani tertawa terbahak-bahak sambil memegang gelas wine-nya."Sebentar ...," kata Indra meletakkan gelas wine-nya dan merangkak menuju laci meja televisi."Oke, gue ambil ini." Indra mengangkat sebuah kotak berisi segepok kartu nama klien Infinity Jewelry yang bertahun-tahun menjadi langganan jaringan butik perhiasan itu."Terserah lo—terserah lo," sela Hani terkikik-kikik."Trus ... gue sortir. Trus gue acak dulu ... terus ... lo pilih satu. Buat nama yang terpilih, lo harus deketin dia dengan berbagai cara. Abisin tabungan lo untuk ubah penampilan. Soal hasil belakangan. Yang penting lo udah nyoba. Biar hidup lo nggak cuma tentang ngumpulin duit," kata Indra dengan wajah merah."Oke-oke, mana ... mana? Gue mau ambil kartunya." Hani mengusap dahinya dan membenarkan letak kacamata."Janji?" tanya Indra memastikan."Janji ...," ulang Hani."Deketin siapapun CEO yang kepilih?""Deketin CEO yang kepilih ... siapapun ...," ulang Hani lagi dengan mata mengantuk karena gelas wine ketiga yang diminumnya."Oke, ambil!" Indra menyodorkan sepuluh kartu nama CEO yang dibalik.Hani tergelak sesaat namun kemudian wajahnya berubah serius seakan berpikir keras. Telunjuknya di depan mulut dengan dahi mengernyit.Kemudian ...."Yang ma-na-yang-ku-pi-lih!" ucap Hani dengan mata setengah memejam. Jari telunjuknya berpindah-pindah di atas deretan kartu nama yang tengah direntangkan Indra. Ia lalu menarik sebuah kartu nama dan langsung membalikkan kartu untuk melihat hasil pilihannya.Hani mencoba melebarkan mata. Pandangannya tak fokus karena pengaruh alkohol. Ia lalu mengangkat kacamata hingga ke dahi.Tak sabar melihat hal itu, Indra merampas kartu itu dari tangan sahabatnya. "Nicholas Cipta Dalmiro. Presiden Direktur Grup Dalmiro.""Ok-ke!" Hani mengacungkan jempolnya ke arah Indra lalu terkekeh."Nicholas ini single tapi ....""Kenapa lagi? Cepet! Ak-ku ngantuk ...." Hani merebahkan tubuhnya di sofa."Tapi udah tunangan." Indra meringis meletakkan kartu nama itu di depan mulutnya."Bodo amat." Hani kembali menegakkan tubuhnya. "Gue nggak akan mundur. Mana kartunya? Gue bakal telfon sekarang." Hani mengulurkan tangan meminta kartu nama." No—no ... jangan telfon. Udah malem. Gimana kalo kita chat aja? Pake nomor lo. Lebih mesra ...." Indra meraih ponsel Hani yang terletak di dekat ular tangga."Ngomong apa—ngomong apa?" tanya Hani antusias."Kita cari dulu tipe perempuan dia tuh kayak apa—" Indra meraih ponselnya dan mengetikkan sesuatu di kolom pencarian."Yang gimana?" tanya Hani sambil mengetikkan sederet nomor ponsel dan menyimpannya. "Gue bikin siapa namanya? Hmm ... Mas Nicho?""Iya—iya, itu aja. Lebih mesra. Mas Nicho," sambut Indra terkikik-kikik."Oke, udah gue save. Jadi, gue ngomong apa nih?" Hani menyeka dahinya yang sudah mulai berkeringat. Banyaknya alkohol yang masuk ke tubuh membuatnya kepanasan."Artikel di sini, katanya ... dia nggak punya tipe wanita tertentu. Yang penting nyambung. Apa, ya, maksudnya ...," gumam Indra yang mendadak bodoh karena alkohol."Nyambung ... trus apalagi?" tanya Hani tak sabar."Menurut artikelnya, 'Manja dan menggemaskan pasti akan disukai setiap pria. Mengingat karakter pria yang ingin selalu dibutuhkan.' Gitu Han ...," sambung Indra lagi."Hueeek ... kok, gue jadi jijik? Man-ja dan menggemaskan. Ge-mas." Hani berpikir-pikir kemudian menunduk mengetikkan pesan. Bibirnya menyunggingkan senyum."Lo bilang apa? Jangan bilang lo cuma kacung di perusahaan lo!" Indra berseru mengingatkan."Tenang—tenang. Gue bakal ngegantiin posisi Bu Curry sementara. Hahaha." Hani kembali tertawa."Iya ... iya ... bagus. Gue udah ngantuk banget by ... the ... way ...." Indra menjatuhkan dirinya di permadani dan berguling membelakangi Hani memeluk bantal sofa.Hani masih mengetikkan pesan panjang di ponselnya dengan raut bahagia luar biasa. Setelah puas dengan hal yang diketiknya, Hani mencampakkan ponsel dan ikut merebahkan tubuhnya di atas permadani.Sebelum menutup mata, ia melirik jam dinding. Sudah lewat tengah malam. Tak akan ada pria baik-baik yang membalas pesan di jam itu. Alam mimpi perlahan merangkak memasuki tidurnya.Wine selalu bisa membuat Hani tertidur pulas tanpa mimpi buruk sampai pagi. Dan seperti acara mabuk-mabukan sebelumnya, pagi berikutnya selalu diwarnai dengan kegaduhan."Mampus! Gue harus ngasi kerjaan yang kemarin ke Bu Curry. Gue udah bilang, jangan ajak gue mabok. Lo udah manager, gaji lo nggak akan dipotong dan lo nggak bakal dapet SP kalo telat." Hani terburu-buru menyisir rambutnya di depan sebuah kaca tinggi di dekat pintu."Ndra! Bikinin gue teh, please ... perut gue agak mual karena inget si Curry ayam. Buruan!" pinta Hani.Indra yang sudah selesai berpakaian langsung menuju mini bar dan membuatkan segelas teh untuk sahabatnya."Ini! Cepet minum." Indra menyodorkan secangkir teh hangat langsung ke mulut Hani.Hani mencampakkan sisirnya dan meraih cangkir teh untuk segera menuntaskan isinya."Gue berangkat!" pekik Hani dari depan pintu seraya buru-buru memasukkan kakinya ke sepatu."Eh, hape lo—hape!" Indra menyambar ponsel Hani yang masih berada di atas permadani."Hampir aja! Untung si Curry ayam nggak nelfon gue. Atau jangan-jangan gue udah dititipin kopi pagi ini?" Hani mengusap layar ponselnya.Sedetik, dua detik, mata Hani kian terbelalak."Ya, Tuhan ... Ndra! Mati gue, mati! Kali ini gue pasti mati. Ya, Tuhan ... wine terkutuk." Hani membekap mulutnya."Bilang apa lagi si Curry ayam? Liat sini!" Indra menyambar ponsel dari tangan Hani yang masih membekap mulutnya.Ternyata pesan itu bukan dari Bu Curry. Tapi dari seseorang yang dini hari tadi dinamai Hani dengan sebutan 'Mas Nicho'.Isi pesannya, 'Siang ini saya ada urusan di Escape Tower. Jadi penasaran dengan legal manager yang katanya bisa manja dan menggemaskan. Oke. See you Stefie ...'Indra membelalakkan matanya. "Anjiir ... Stefie. Emangnya lo ngirim pesan apa Stef?"Ternyata selain kecantikan dan otak encer, perempuan itu juga perlu nyali. – Hani***'Siang ini saya ada urusan di Escape Tower. Jadi penasaran dengan legal manager yang katanya bisa manja dan menggemaskan. Oke. See you Stefie.'Hani mencampakkan tasnya ke lantai dan menyeret Indra ke sofa. Saat ini ia tak terlalu mengkhawatirkan Bu Curry. Ia lebih mengkhawatirkan apa saja yang sudah dikatakannya pada Presdir Grup Dalmiro dini hari tadi. Setelah beberapa saat mencengkeram erat tangan Indra, Hani menghirup napas dalam-dalam dan menyodorkan ponselnya."Ndra, gue nggak berani scroll pesan itu. Lo aja! Liat apa yang udah gue ketik ke Mas Nicho itu. Gue nggak berani—gue nggak berani. Ya, Tuhan legal manager di perkantoran Escape Tower. Stefie. Oh, shit!" Hani membungkam mulutnya."Oke, kita liat sama-sama." Indra menyambar ponsel dan langsung membuka aplikasi pesan.Hani menggigit bibirnya."Kita mulai dari paling bawah." Indra melirik Hani yang sudah menggigit bibir bawahnya, memejamkan mata dan mengangguk-angguk lemah. "Oh God" – Indra menegakkan duduknya – "gue bacain sekarang.""Nicholas Cipta Dalmiro, gimana rasanya jadi orang kaya? Pasti asik. Setidaknya harta bisa menyelamatkan tampang kamu yang biasa-biasa aja." Indra menatap Hani yang sekarang membekap mulutnya dengan mata memejam. Indra kembali melanjutkan."Kaya berkat orang tua, ya? Aku curiga kamu sebenarnya nggak bisa apa-apa. Dan sekarang, udah tunangan. Tunangan kamu pasti cantik, dengan warisan berlimpah dan isi kepala pas-pasan. Kamu tersinggung? Wajar. Karena yang aku katakan, semuanya pasti bener." Indra melirik reaksi Hani."Wine terkutuk," desis Hani."Kalo cuma cari wanita yang bisa manja dan menggemaskan, seorang legal manager di Escape Tower juga bisa. Bisa jadi aku jauh lebih cantik dan jenius dibanding tunangan kamu. Lingkaran pernikahan orang kaya omong kosong. Yang kaya kawin ama yang kaya biar hartanya nggak ke mana-mana. Mengabaikan perasaan dan milih dijodohin cuma karena duit. Sound disgusting!" Suara Indra ikut meninggi seiring dengan pesan teks Hani yang dibacanya."Ibu," ratap Hani."Takut miskin? Hidup di kota besar pemikiran, kok, kampungan!""Oh, no ...." Hani memutar tubuhnya dan membungkuk di pegangan tangan sofa."Pemilik perusahaan seperti kalian sebenarnya nggak kerja. Yang banting tulang itu para bawahan. Kalian juga nggak pernah ngecek keadaan karyawan kalian gimana. Betah atau tidak? Sejahtera atau tidak? Lingkungan kerjanya baik atau tidak. Yang kalian pikirkan cuma profit , profit , profiiit terus." Indra membacakan pesan itu dengan berapi-api yang membuat Hani semakin tersiksa.Hani tersengal-sengal meremas bagian dada kemeja satinnya. "Cukup—cukup. Gue nggak sanggup lagi."Ada dikit lagi, "Wanita manja dan menggemaskan? Mesum banget." Indra menutup aplikasi pesan. "Gimana?" Indra memandang sahabatnya.Selama hidup di dunia ini, Hani merasa tak pernah membuat satu pun kekacauan. Hidupnya selalu lurus-lurus saja. Jadi anak manis dan pintar, jadi siswi baik, mahasiswi baik, bahkan karyawati yang saking baiknya malah selalu dimanfaatkan. Hani bangkit dari sofa dan memungut tas tangan yang tadi dicampakkannya begitu saja.Dan kemarin malam, Hani menumpahkan segala unek-uneknya pada seorang presdir. Ia tak mengenal siapa Nicholas. Melihatnya saja tak pernah. Hidupnya sudah terlalu sibuk pergi subuh dan pulang larut malam. Bukannya mencaci maki Bu Curry, Doni atau rekan-rekan kerja yang selalu merendahkannya, Hani malah mengumpat hidup orang lain."Gue mau pulang aja. Enggak masuk kerja hari ini. Gue mo nyiapin surat resign ," ucap Hani merampas ponselnya dari tangan Indra. Gue pasti dituntut. Hate speech , penghinaan, perbuatan tidak menyenangkan, dan gue pasti disomasi untuk minta maaf di depan khalayak ramai. Gue pasti harus memposting video permintaan maaf di semua sosial media yang gue miliki. Gue nggak pernah posting apa-apa. Sekalinya posting, malah video nangis-nangis minta maaf. Sebelum itu terjadi, gue kayaknya harus nyari orang itu buat minta maaf." Bahunya terkulai dan Hani menyeret kakinya yang lemas ke arah pintu."Eh, tunggu dulu—tunggu dulu. Kita harus ngomongin ini dengan kepala dingin. Kita analisa isi pesan si Mas Nicho. Gue rasa, kalo dia mau nuntut lo secara hukum, dia nggak perlu capek-capek bales pesan lo itu. Sekretaris pribadinya langsung laporin lo, dan tiba-tiba lo dapet surat panggilan kepolisian.""Masa, sih?" tanya Hani tak yakin. Tapi rautnya sedikit mengendur."Nyari lo itu mudah. Dia malah repot-repot bales pesan. Menurut gue, dia kesel. Marah. Tapi pengen meluapkannya langsung ke lo." Wajah Indra kembali serius.Hani kembali mencampakkan tasnya dan duduk di sofa. "Jadi, nasib gue gimana?""Sebentar—sebentar, jangan buru-buru. Gue malah nggak bisa mikir kalo diburu-buru. Gue baca lagi pesannya." Indra kembali merampas ponsel sahabatnya dan kembali menekuni pesan pendek Nicholas."Its like confessions." Indra bergumam mengatakan bahwa Hani seperti sedang membuat pengakuan."Enggak tau, gue nggak tau." Hani merebahkan tubuhnya di permadani. "Gue nggak tau harus gimana ini. Sinting banget gue, sinting!" Hani berguling memeluk bantal sofa dan memukul permadani berkali-kali."Tapi ...," gumam Indra."Apa?" Hani mengangkat wajahnya memandang Indra."Kalo cuma ngirim itu aja, nggak apa-apa. Masih aman, kecuali kalo lo ada ngetik nama perusahaan. Gue baca lagi, lo nggak ada ngomong apa-apa selain nama Escape Tower. Cuekin aja mungkin laki-laki itu cuma kesal sesaat waktu bales pesan lo. Dia orang terkenal, pasti sering nerima pesan teror." Indra duduk di sofa masih menggenggam ponsel"Sering nerima pesan teror, tapi mungkin nggak ada nerima pesan mencela kayak gue. Haduuh ...," ratap Hani kembali berguling."Tapi dia nggak ada bales lagi, kok. See ?" Indra mengangkat ponsel Hani dengan senyum percaya diri."Jadi, diabaikan aja?" tanya Hani meyakinkan diri."Abaikan aja. Lagian dia itu presdir, pasti sibuk. Enggak ada waktu untuk ngurusin hal receh kayak gini." Indra mencampakkan ponsel ke permadani tebal.Namun, seperti mendengar akan hal yang sedang mereka bicarakan, ponsel Hani bergetar dan menyala sebegitunya menyentuh permadani. Sebuah notifikasi pesan menyembul keluar.Hani dan Indra saling berpandangan. Indra turun dari sofa dan kembali memungut ponsel. Hani duduk menegakkan diri sedang bersiap dengan kabar terburuk."Siapa?" Suara Hani sedikit bergetar. Kabar dari siapapun tak ingin didengarnya. Bu Curry, Doni, atau ayahnya di kampung halaman. Hani tak mau. Untuk saat ini Hani tak ingin menerima kabar dari siapapun."Han ...," bisik Indra dengan suara yang membuat kuduk merinding. Hani mengangguk pelan mempersilakan sahabatnya merilis berita. "Liat ini," ucap Indra menyodorkan pesan terbaru dari Nicholas.'Hai Stefie, status pesan saya sudah terbaca, tapi sepertinya Anda abaikan. Saya tunggu klarifikasi Anda di kedai kopi lantai dasar Escape Tower pukul satu siang ini. Kalau Anda tidak datang, tiga jam berikutnya akan ada orang yang datang mencari Anda.'"Dia kayak denger lagi diomongin," ucap Hani. "Gue dateng Ndra, gue datengin aja. Gue minta maaf, jujur kalo gue lagi mabuk dan terlibat permainan konyol. Thats it. Gimana?"Indra yang tadinya telah rapi dengan seluruh rambutnya tersisir rapi ke belakang dengan aroma minyak rambut segar, kini sedikit berantakan. Beberapa rambutnya turun dan ia terlihat gelisah memikirkan nasib sahabatnya."Ini karena gue. Gue yang mulai nantangin lo. Lo udah pasti kena damprat ama Curry ayam, pasti dihina-hina si Doni karena hari ini nggak masuk. Lo pasti ditinggal makan siang dengan setumpuk kerjaan yang dititipin mereka. Dan sekarang, lo dateng cuma minta maaf kayak pecundang. Gue nggak rela, Han .... Nicholas manusia sibuk. Gue sering ketemu dengan manusia kayak dia. Mereka akan menghargai orang yang sama levelnya dengan mereka. Atau setidaknya yang dia nilai intelektualitasnya lebih tinggi. Kalo lo datengin Presdir itu dengan dandanan segembel ini, lo juga bisa jadi korban amarah dia di depan umum." Indra menggeleng tak setuju."Dan itu kedai kopi Escape Tower, Ndra .... Tempat gue hilir mudik tiap hari buat beli titipan temen-temen gue." Hani melemparkan tatapan resah. "Jadi gue harus gimana?" tanya Hani putus asa."Gue juga mau nambahin ...," kata Indra."Ya, Tuhan .... Apalagi?" Hani berdecak frustasi."Kalimat lo yang bilang ke dia setidaknya harta bisa nyelamatin wajah kamu yang pas-pasan. Gue nggak nyangka lo bisa sebego itu. Lo nggak pernah liat berita atau majalah-majalah pria?" tanya Indra.Hani menggeleng. "Gue terlalu sibuk hidup di kantor," lirih Hani. "Memangnya tampangnya si Nicholas ini gimana, sih?" Hani mengambil ponselnya bermaksud untuk browsing."Enggak usah. Udah telanjur." Indra menghela napas panjang."Jadi gue harus gimana?" Hani kembali mencampakkan ponselnya dengan kesal. "Tadi gue mo minta maaf, lo bilang nggak usah. Orang semarah apapun kalo ada yang minta maaf dengan tulus, mustahil nggak dimaafin. Setidaknya gue terlihat tulus," sergah Hani."Lo pilih yang mana? Laki-laki ganteng minta maaf ke lo, atau laki-laki yang biasa banget minta maaf ke lo?" tanya Indra dengan satu alisnya dinaikkan. "Mana yang bikin lo ngerasa lebih keren?""Ada orang ganteng minta maaf ama gue. Jelas gitu.""Nah, kita kembali ke rencana semula. Lo harus buat presdir itu nggak jadi marah." Indra duduk di permadani menyilangkan dadanya."Caranya?" Hani menaikkan kacamata dan menghembus helaian rambut yang menghalangi pandangannya."Sebentar," ucap Indra merogoh ponsel di kantongnya dan mengetikkan sesuatu dengan cepat di sana. "Kita langsung berangkat. Ini udah mau jam sepuluh pagi. Gue bolos juga hari ini. Ayo berangkat! Gue jelasin di jalan rencananya."Indra menyeret Hani yang masih terlihat bimbang mengikuti ajakannya. Langkah Hani tersandung-sandung mengikuti langkah kaki sahabat dekatnya itu."Oke, ucap Indra. Lo jangan potong ucapan gue, cukup dengerin dan jawab ya atau tidak. Kita nggak banyak waktu.""Ya," sahut Hani langsung."Belum dimulai, Nyong." Indra melengos menoleh Hani yang kadang bisa begitu naif."Kita beli pakaian. Setidaknya, satu set jas terbaik yang biasa dipakai eksekutif muda pasti dipakai oleh seorang legal manager ." Indra menoleh pada Hani meminta persetujuan."Ya," jawab Hani."Dan lo tau jas itu pasti mahal. Lo yang bayar," sambung Indra melambaikan tangan memanggil taksi yang melintas baru saja menurunkan penumpang di depan lobi apartemen."Tidak," sahut Hani. Indra menoleh dan menyipitkan matanya."Ya," ralat Hani kemudian mengikuti Indra masuk ke taksi."Sepatu lo itu, buang." Indra memandang tajam Hani di sebelahnya."Ya." Hani mengangguk. Mungkin sudah saatnya ia berpisah dengan sepatu butut yang sudah membersamai langkahnya selama empat tahun terakhir."Trus kita ke salon," ucap Indra. Tampilan lo nggak banget. Dan gue nyesel baru bilang itu sekarang," sambungnya lagi."Sialan ...," desis Hani.Perlu waktu dua jam buat Hani memutuskan setelan jas yang akan dibelinya. Bukan perkara model, tapi masalah harganya. Setelah diskusi yang panjang dan alot, akhirnya Hani melepas kartu debitnya untuk digesek mesin EDC sebuah outlet brand high end . Indra tersenyum puas keluar dari outlet itu. Dan Hani tentu saja berjalan bak raga tak bernyawa. Jas, sepatu dan sebuah tas baru menghabiskan dua bulan gajinya. Buat Hani, itu jumlah yang sangat besar.Sejam berikutnya mereka habiskan di sebuah salon mal itu. Hani lagi-lagi kembali ragu saat memutuskan rambutnya harus diapakan. Dan Indra harus berdebat beberapa saat soal mode terbaru yang belakangan dianut oleh para wanita."Buruan ganti pakaian di belakang aja," pinta Indra menyodorkan sebuah paper bag pada sahabatnya."Oke,"jawab Hani segera bangkit dan mematut wajahnya sekilas di cermin salon. Kacamatanya telah tanggal dan berganti dengan sepasang soft lense berwarna hazelnut. Sesaat tadi ia tak menyangka bahwa dengan sentuhan sederhana pada mata dan rambutnya bisa membuat tampilannya begitu berbeda.Selama Hani berganti pakaian, Indra menyibukkan dirinya dengan membaca-baca berita soal Nicholas. Ia tak ingin Hani diam tanpa bahan pembicaraan dengan pria itu. Permintaan maaf ini harus elegan, pikirnya. Kesan pertama harus benar-benar baik. Hani harus angkuh, sombong, berkelas, dan mahal. Nicholas tak boleh meremehkannya.Dan saat Hani melangkah keluar dari bagian belakang salon, Indra mendongak terperangah."Gimana?" tanya Hani memutar tubuhnya. Sepasang sepatu bertumit sepuluh senti dan rok span di atas lutut, membuat kaki jenjangnya terlihat."Lo cantik banget ...," ucap Indra."Makasi ...," sambut Hani."Sama-sama. Selama lo diem aja, lo cantik banget," tegas Indra."Tetep sialan seperti biasa," umpat Hani.Sudah lewat dari waktu yang dijanjikan Nicholas. Mereka terjebak macet dalam perjalanan kembali ke Escape Tower. Indra menyeret-nyeret Hani agar bisa berjalan lebih cepat dengan heels barunya. Pukul 13.15 mereka baru tiba di depan kedai kopi."Sabar, kaki gue udah lecet ini kayanya," keluh Hani."Han ... si Nicholas beneran dateng," bisik Indra menunjuk sosok pria berjas yang duduk membelakangi dinding kaca. "Cepet masuk, inget yang udah gue ajarin selama di jalan tadi." Indra mendorong pintu kaca dengan satu tangannya menggenggam tangan Hani.Sesaat mereka berdua berpandangan, lalu Indra mengangguk. Hani menarik napas dalam-dalam."Doain," bisik Hani, melepaskan genggaman tangan sahabatnya."Pasti," bisik Indra. "Pasti gue doain.""Satu kebohongan akan mengikuti kebohongan lainnya." -Hani***Langit masih tersungkup awan gelap saat Nicholas bangun tidur setiap hari. Tak ada kata begadang. Kecuali untuk urusan-urusan penting yang melibatkan bisnisnya. Lebih tepatnya, bisnis keluarga yang ia kelola.Ayahnya adalah pemilik gurita bisnis properti asal Indonesia, Grup Dalmiro. Diambil dari nama keluarga yang turun temurun menekuni bisnis itu dimulai dari sederet bangunan pertokoan puluhan tahun yang lalu.Bulan sebelumnya, Nicholas baru meneken sale and purchase agreement , sebagai pengembang utama Signature Tower senilai 2,43 triliun yang akan menjadi landmark baru di Kuala Lumpur. Sebuah proyek prestisius dan investasi besar Grup Dalmiro di negara tetangga. Yang lumayan mengejutkan lantaran, bukan sikap seorang Nicholas Cipta Dalmiro mau muncul di depan publik.Grup Dalmiro memiliki properti yang terdiri dari sekitar 21 perusahaan sebagai bisnis utama, bidang jasa sebanyak lima perusahaan, perusahaan investasi dan keuangan sebanyak dua perusahaan di luar negeri, serta enam perusahaan di sektor manufaktur seperti kaca dan keramik yang bertempat di dalam negeri dan Singapura.Terdengar sangat 'wah' di telinga siapa saja. Kakek buyutnya sangat berhasil membuat keturunannya bisa hidup lapang dan berbalut kemewahan.Namun, hal yang terlihat sempurna itu tak membuat hidup Nicholas mulus. Ayahnya telah menikah lagi dan tinggal bersama istri sirinya di Singapura. Sedangkan ibunya, tinggal di sebuah rumah mewah dan bertahan untuk tak menggugat cerai karena khawatir akan masa depan putra satu-satunya.Ayahnya pergi meninggalkan mereka dan sekarang memiliki putra-putri lain. Meski dari istri kedua, ayah Nicholas mengusahakan harta peninggalan untuk anak-anak hasil perkawinan keduanya.Setiap hari, urusan Nicholas tak hanya mengurusi perusahaan kakeknya yang bisa diambil kapan saja untuk dibagi. Meski secara hukum yang tertulis sekarang, ia merupakan CEO dari semua itu, ia masih merasa bahwa kedudukannya lemah.Ibu tirinya, sebut saja begitu. Setiap saat mengirimkan bujukan-bujukan, ancaman atau peringatan bahwa semua harta itu tak sepenuhnya milik ia dan ibunya.Dan Nicholas, tak rela kalau ibunya harus menyerah dan kembali berbagi sesuatu yang memang menjadi hak mereka. Bukan soal harta, tapi itu semua soal harga dirinya.Nicholas bangkit keluar kamar dan pergi menuju dinding kaca. Ia menyibak tirai apartemen yang berada di lantai 40. Langit mulai menyemburat merah pertanda matahari sesaat lagi akan keluar.Terbayang lagi percakapan bersama ibunya kemarin malam."Kamu nggak harus nikah sama Tari cuma demi menguatkan posisi kamu di perusahaan. Mama nggak apa-apa," ucap ibunya."Mama lebih sayang kalo kamu harus ngabisin hidup dengan perempuan yang nggak kamu cinta. Harusnya kamu bisa jadiin hidup Mama sebagai contoh. "Kemarin malam ia dan ibunya berdiri bersisian menghadap hamparan gedung pencakar langit dan bergumul dengan pikiran mereka masing-masing sambil sesekali berdebat."Nich, Mama nggak apa-apa." Ibunya menoleh, mencengkeram erat lengannya demi meyakinkan isi perkataan barusan."Kamu nggak harus kasian dengan Mama yang bertahan dalam rumah tangga di atas kertas ini. Papa dan Mama pernah saling cinta. Mama yang mau bertahan demi kamu. Bagaimana pun, kamu putra sulung."Kemarin malam, Nicholas hanya diam. Ia hanya ingin membebaskan ibunya dari rumah tangga toxic . Ia menyanggupi untuk menikahi Tari karena orangtua wanita itu bersedia memberikan dukungan penuh untuknya di jajaran direksi. Jika suatu saat adik tirinya masuk ke perusahaan, posisinya sudah kuat. Ibunya bisa melenggang mengurus perceraian dan menikah dengan pria yang mungkin bisa mendampingi masa tuanya. Ia hanya tak mau ibunya merasa kesepian."Jangan Nich ... Mama nggak niat menikah lagi. Mama nggak apa-apa. Mama masih cinta Papa kamu. Anak Mama terlalu keren untuk perempuan seperti Tari. Mama kurang suka," tambah ibunya.Nicholas mengembuskan napas kasar. Baginya menikah dengan siapa saja tak ada bedanya. Tari cukup cantik dan sangat berpendidikan. Jabatannya di perusahaan keluarga mereka sangat bagus. Setidaknya, anak-anak mereka nanti memiliki masa depan cemerlang.Meski pembicaraan mereka terkesan sangat serius, tapi ibunya turun dari lantai 40 itu dengan wajah riang. Ibunya hanya berpesan untuk mengabaikan pesan teror dari wanita yang mengambil suaminya.Matahari memancarkan cahaya dari sela-sela gedung pencakar langit. Pagi yang baru, pikirnya. Pikirannya berat, egonya sedang bertempur untuk tak menyerah begitu saja. Tapi pembicaraan bersama sang ibu selalu menjadi siraman semangat untuk menyusun keputusannya.Sudah dua hari Nicholas tak mendapat pesan teror dari perempuan yang mengiba pembagian harta padanya. Untuk itu, dia berterima kasih pada sang kakek yang begitu cerdas membuat wasiat. Walau setiap saat ayahnya bisa memberikan jabatan dan mengalihkan sebagian saham pada anak laki-lakinya yang lain.Seiring matahari menerpa wajahnya, Nicholas tersenyum. Sedikit lagi, pikirnya. Ia berjalan menjauhi jendela menuju ponsel yang terletak di atas lempengan charger wireless .Nicholas menyalakan ponsel dengan harapan harinya bakal lebih menenangkan tanpa pesan-pesan itu lagi. Semoga ... pikirnya.Ponselnya berkedip sekali kemudian menyala seluruhnya. Tanpa suara, ponsel itu bergetar tak henti-henti menandakan banyaknya berbagai notifikasi yang masuk.Aplikasi pesan selalu menjadi tujuan pertama jarinya. Mulai dari atas, pesan dari sekretaris, dari ibunya, dari seorang sahabatnya dan berbagai grup yang kadang tak sempat ia toleh. Jemarinya terus menggeser mencari pesan aneh dari nomor telepon negara tetangga.Bibirnya baru saja mengukir senyum karena tak melihat pesan yang membuatnya naik darah. Tapi ternyata, paginya belum bisa menenangkan. Sebuah pesan dari nomor telepon yang tak dikenalnya mengirimkan pesan panjang lebar yang berisi hinaan bertubi-tubi. Dadanya sampai sesak karena isi tulisan itu benar-benar menggambarkan keadaannya."Stefi? Legal manager ?" desisnya. Rahangnya kembali mengeras. Bahkan ia belum meneguk teh pagi itu."Dikirim dini hari. Perempuan gila mana ini?" gumam Nicholas, lalu mengetikkan balasan.***Nicholas melirik jam di pergelangan tangannya, lalu memandang ke luar jendela, sudah terlambat 15 menit dari waktu yang disepakati. Di luar kedai kopi itu orang lalu lalang namun tak terlihat satu pun yang memiliki gelagat akan datang menemuinya ke dalam.Nicholas sengaja memilih sebuah sofa yang membelakangi pintu masuk. Ia tak ingin terlihat begitu menunggu. Pesan-pesan itu belum dihapusnya. Seperti ingin kembali membakar emosinya, Nicholas kembali menunduk memandang ponsel membaca deret hinaan yang ditujukan padanya.Bodoh sekali pikirnya. Nomor telepon yang sangat mudah dilacak sekejab saja. Ia memang tak berniat memanjang-manjangkan masalah ini. Andai publik tahu isi pesan yang dikirimkan padanya, hal itu malah bisa membuatnya malu. Dia hanya ingin memastikan alasan perempuan tak beretika itu menghinanya. Apa ia pernah berbuat kesalahan di masa lalu yang bahkan tak diingatnya?Saat Nicholas tengah menunduk, suara langkah sepatu terdengar semakin jelas mendekat. Suara yang ia sering dengar saat sekretaris datang membawa berkas ke mejanya. Entah kenapa ia sedikit menahan napas. Kepalanya masih menunduk saat sudut matanya menangkap sepasang kaki berbalut sepatu tinggi tengah berdiri di hadapannya.Betisnya bagus ....Nicholas perlahan mengangkat kepala. Sedikit kesal dengan isi pikirannya barusan. Ia menatap wanita dengan dandanan kelas atas yang melemparkan tatapan angkuh padanya.Sudah berbuat salah, bukannya memasang wajah memelas tapi malah sesombong itu. Percuma cantik kalau tak beretika."Excuse me," sapa Hani. "Mr. Dalmiro?" tanyanya lagi. Hani menelengkan kepalanya ke kiri untuk memindahkan rambutnya ke sisi itu.Pandangan Nicholas langsung tertuju pada leher jenjang yang seperti sengaja dipertontonkan padanya. Stefi. Inilah wanita yang bekerja sebagai legal manager dan memaki-makinya dini hari tadi."Hmmm-" sahut Nicholas kemudian. "Stefi?" tanyanya meyakinkan diri." Yes , saya Stefi. Boleh saya duduk? Atau saya cukup meminta maaf sambil berdiri?" Hani berharap makhluk di depannya tak mendengar nada suaranya yang sedikit bergetar.Benar-benar sombong. Legal manager katanya ....Hani merasa harus segera duduk. Kakinya lecet dan sepatu mahal yang dirasanya sangat tinggi itu sudah membuat betisnya menegang."Duduk," pinta Nicholas melirik sofa kosong di hadapannya.Tak sadar Hani langsung menghempaskan dirinya dan berseru, "Ahh ...." Kemudian ia langsung diam mencoba menguasai dirinya lagi. Ia sadar Nicholas sedang meneliti penampilannya.Hani menegakkan bahu dan menyilangkan kaki seperti yang diajarkan Indra tadi. Dengan mulut sedikit mengerucut, ia membelai permukaan buku menu dengan jemarinya.Harus konsep manja dan menggemaskan. Konsep wanita tolol yang disukai pria-pria munafik. Tak perlu otak. Cukup bergelayut manja. Menjijikkan!"Langsung saja, kamu sadar nggak kalo kamu bisa dituntut atas isi pesan kamu itu?" Nicholas duduk bersandar menyilangkan satu kakinya dengan elegan dan kedua tangannya berada di pegangan sofa tunggal.Hani tak berani memandang Nicholas, sedikit panik ia membalik-balikkan buku menu yang kini sudah berada di pangkuannya."Boleh saya pesan minum lebih dulu?" tanya Hani dengan mata masih tertuju pada buku menu."Bisa jawab saya?" Nada suara Nicholas sedikit meninggi."Oh, ya-ya. Tentu saja," potong Hani cepat. Ia gugup sekali. Kepalanya langsung terangkat dan tangannya refleks memeluk buku menu. Pandangan mereka kini beradu.Ya, Tuhan. Harusnya kemarin aku browsing dulu soal si Dalmiro ini .... Terlalu ganteng untuk dimaki-maki. Bodohnya aku ....Pandangan Hani benar-benar terpaku. Hani membelai wajah Nicholas dengan tatapannya. Wajah dan penampilan Nicholas benar-benar jauh dari bayangannya."Beri saya alasan untuk nggak ngelaporin kamu," kata Nicholas."Silakan aja laporin," sahut Hani langsung. Dagunya sedikit terangkat saat mengatakan hal itu.Semoga ilmu sesat ini berhasil. Semoga .... Ya, Tuhan .... Aku bersumpah nggak akan minum alkohol lagi.Nicholas menaikkan alis dan melemparkan tatapan tajam ke arah Hani."Kamu nantangin saya?" tanya Nicholas dengan nada rendah nyaris berbisik."Nggak mungkin saya nantangin anggota keluarga Dalmiro yang kaya dan berjasa untuk kemajuan negara ini." Hani menarik senyum sinis dan mengerjapkan matanya sekali.Entah penelitian mana yang udah ngebuktiin kalo mengerjap bisa meluluhkan hati orang lain. Indra sinting ... Indra sinting .... Dan aku lebih sinting lagi karena nuruti semuanya.Nicholas mengubah duduknya. Kedua tangan yang tadinya berada di pegangan sofa, kini menyatu di atas pahanya."Isi pesan kamu itu nggak mencerminkan kalo kamu legal manager . Kamu tau konsekuensinya apa. Kamu ada dendam apa dengan saya?""Ok, wait ...." Hani menatap berkeliling. "Saya perlu minum. Tenggorokan saya rasanya kering banget." Hani meletakkan menu dan berjalan melewati Nicholas seanggun mungkin.Belai pegangan sofa si Dalmiro dengan ujung jari kalo berjalan melintasinya. Ilmu sesat yang baru. Kenapa harus pegangan sofanya, Ndra?Kasir kedai kopi hampir saja meneriaki Hani saat melihatnya berdiri dengan tampilan yang sepenuhnya berubah."Kak Hani ... ternyata Kak Hani yang duduk di depan Mas Ganteng itu. Cantik banget. Kenapa nggak gini setiap hari? Barusan Mas Doni dari sini beli kopi. Pake acara ngomel karena Kak Hani nggak masuk. Kayak nggak punya kaki untuk jalan aja." Kasir muda yang mengomel itu bernama Tati. Hani kenal baik karena hampir setiap hari Tati menghiburnya dengan ikut mengata-ngatai Doni."Psst ... buruan. Aku nggak bisa lama." Hani melirik gelisah pada punggung lebar Nicholas di kejauhan."Ya, udah, nanti dianter. Sana!" usir Tati."Kamu yang anter, ya. Jangan berisik." Hani meletakkan telunjuk di bibirnya. Tati masih oke dalam hal menahan omongan. Asal jangan pegawai lain yang sering mengatakan, 'Ganbatte!' Untuk menyemangati kerja rodinya. Bisa porak poranda skrip yang sudah disusun tadi.Hani berjalan kembali ke sofanya.Doni berengsek. Apa aku pantesnya cuma jadi jongosnya aja? Dasar mulut ember. Bangga banget punya anak buah yang bisa disuruh kayak kacung.Hani mengepalkan tangannya dan kembali duduk di hadapan Nicholas. Laki-laki itu langsung mendongak dan menarik napas untuk berbicara."Jadi- ""Maaf. I'm so sorry . Aku nggak sengaja. Aku dan temenku minum wine dan buat permainan konyol. Menghubungi orang dengan kartu nama orang lain secara acak. Yang kepilih, nama kamu. Aku minta maaf ...." Hani mengubah tatapan matanya seolah sedang memohon perpanjangan deadline pada Bu Curry. Ia menyebutnya sebagai tatapan tanggal tua.Nicholas terpaku sesaat. Tak menyangka wanita yang awalnya tadi begitu angkuh sekarang terlihat memelas.Enak aja. Terlalu mudah Kalau dimaafin sekarang. Permainan konyol dan nggak bertanggung jawab sampai melibatkan orang asing. Oh no ... kamu kira kamu berurusan dengan siapa?"Udah berapa tahun kamu jadi legal manager ?" tanya Nicholas memastikan."Empat. Kurang lebih," jawab Hani mengedikkan bahunya dengan anggun. "Kenapa?""Pasti kamu sering main golf dengan perkumpulan advokat. Ya, kan?""Of course , golf ... terlalu sering malah.""Cocok kalo gitu." Nicholas tersenyum puas."Maksudnya?" Hani mulai cemas dengan kata cocok yang baru saja ia dengar.Cocok apa? Cocok apa miskaaahh? Cocok jadi Caddy? Atau jadi stick-nya?Buktikan di lapangan golf Sabtu nanti. Tempat dan waktunya akan diinfo. Nicholas berdiri kemudian mengancingkan jasnya. Saya permisi dulu. Kamu juga pasti sibuk karena ini masih jam kerja. Jangan biarkan bawahan kamu yang ngerjain semua.Nicholas mengibas bagian depan jasnya kemudian berbalik dan menuju pintu. Hani mengikutinya dengan pandangan.Di luar pintu kaca, Indra sedang berusaha tak menarik perhatian Nicholas dengan menempelkan tubuhnya pada dinding kaca."Orang berlomba memakai barang branded hanya demi terlihat hebat di mata orang lain. Bukan untuk dirinya sendiri." - Hani***Indra masih berdiri merapatkan tubuhnya di dinding luar kedai kopi dengan mata tak lepas memandang Nicholas yang menghilang ke dalam sedan mewah berwarna hitam.Hani tertatih-tatih berjalan keluar setelah mengambil kopinya yang baru saja selesai dibuatkan."Nih, buat lo. Kalo tau ketemunya cuma sebentar, gue nggak akan pake acara akting beli kopi. Rugi," ketus Hani menyerahkan caramel macchiato berukuran sedang.Indra masih terperangah dengan mulut setengah ternganga."Heh!" teriak Hani."Iya gue denger, ck." Indra menyambar gelas kopi dengan wajah sebal."Ngeliatin apa, sih?" tanya Hani melihat ke arah tempat di mana mobil Nicholas baru saja pergi."Gue nggak nyangka. Aslinya seganteng itu. Kakeknya berdarah Jerman. Pantes idungnya tinggi kayak Monas." Indra masih berdecak."Ndra, kayaknya gue nggak bakal sanggup deh ... barusan gue salah ngomong lagi kayaknya." Hani menghentakkan kakinya yang semakin terasa pegal saat ia berdiri."Apa lagi? Lo bilang apa lagi?" Indra menyeret Hani yang menghalangi pintu masuk kedai kopi."Gue laper, kita ke mini market." Hani gantian menyeret lengan Indra untuk menuruni undakan anak tangga dan pergi menyeberang ke tower lain.Setelah membayar tak lebih dari lima puluh ribu, Hani keluar mini market menenteng belanjaannya. Indra sudah duduk di kursi teras tempat mereka biasa duduk. Siang itu tak ada orang di sana selain mereka berdua."Jadi?" tanya Indra tak sabar. "Ganteng, kan?" Indra menaikkan alisnya menunggu Hani memuji Nicholas."Awalnya, gue speechless . Lo harusnya menyiapkan batin gue untuk hal itu. Mana gue sempet bilang mukanya pas-pasan ck. Enggak akan sanggup kalo lama-lama ngobrol ama dia. Gue nggak tahan ama cara dia natap gue. Hii-" Hani bergidik."Tapi lo udah minta maaf, kan?" Indra memastikan."Udah-udah. Malah karena gue minta maaf itu jadi timbul masalah baru." Hani menarik napas berat."Apa?""Gue minum dulu." Hani memutar tutup botol dan meneguk setengah botol air putih dengan satu napas."Sabar-gue sabar," jawab Indra ikut menusukkan sedotan pada caramel macchiato yang sejak tadi dipegangnya."Sebelumnya gue mau ngomong. Gue emang belum pernah ngeliat wujud asli si Nicholas ini secara langsung. Liat berita aja gue hampir nggak pernah. Tapi menurut gue dia terlalu artifisial. Dari ujung kaki sampe ujung rambut, semuanya branded . Penampilannya itu kayak hasil cuci otak kaum kapitalis yang berhasil menjual produknya ke dia. Si Nicho ini, make sesuatu yang mahal untuk ngebentuk pribadi buatannya itu. Biar keren diliat orang lain. Bukan demi dirinya sendiri." Hani meletakkan botol air mineral dan meraih onigiri yang ia letakkan di atas ponselnya."Lo yang milih bawa tumbler berisi air anget tiap hari ketimbang beli kopi, gak akan pernah ngerti soal itu. Semua bukan soal branded dan kaum kapitalis yang lo sebut tadi. Merek-merek itu, mahal karena menghargai perancangnya. Masa lo udah kuliah designer mahal-mahal, tapi lo nggak pengen balik modal. Buat lo yang beli tas 300 ribuan mata tau rasanya pake tas mahal. Mungkin ini kali pertama lo beli tas harga empat juta. Itu juga pasti udah mahal banget buat lo ," sinis Indra menatap hani yang langsung mengambil tisu dan mengelap tas barunya."Eh, ini masukin ke paper bag -nya lagi dong ... gue nggak mau naik bis pake ini." Hani mengeluarkan semua isi tas yang baru sejam dipakainya.Indra melengos lalu mengambil paper bag yang ia letakkan di atas kursi sebelah kirinya. "Lo nggak usah ngomongin soal kapitalis selain ama gue. Entar kalo banyak duit, lo nggak akan ngomong kayak gitu lagi. Jangan sampe lo menjilat ludah lo sendiri." Indra mengeluarkan tas butut dan mencampakkannya ke pangkuan hani.Hani terkekeh-kekeh saat memasukkan kembali isi tasnya yang berserakan di atas meja. "Setidaknya gue nggak ngikut arus. Enggak mati-matian nyicil kartu kredit setiap bulannya cuma demi beli barang branded . Gue lebih milih pake barang lokal yang asli. Gue nggak mau jadi budak gaya hidup. Setidaknya, meski saat ini gue masih jadi pecundang di kantor, gue masih punya jati diri." Hani tersenyum jumawa dengan sudut bibirnya berselemak saus mayo."Doyan banget nyimpen struk mini market." Indra meraup struk dari dua mini market langganan Hani. Satu dari mini market di tempat mereka duduk, satunya lagi struk dari mini market yang terletak di simpang jalan kos-kosan sahabatnya itu."Jangan dibuang ... ini belum sempet gue itung jumlahnya berapa. Gue harus tau udah ngabisin berapa tiap bulan hanya untuk jajan aja. Lo jangan malu punya temen kayak gue. Yang penting, gue jadi diri sendiri." Hani merampas struk yang akan dibuang Indra. Setelah mengancing tas bututnya, Hani kembali mengambil onigiri dan menyobek sebungkus saus mayo sachet dengan giginya."Jangan lupa jati diri lo sebagai legal manager ," tukas Indra santai mengingatkan.Hani mendelik saat mendengar ucapan Indra barusan. Ia langsung meletakkan onigiri dan menyeka mulutnya dengan asal.'Ndra ... golf-golf." Hani mengguncang lengan kanan Indra yang bertumpu di atas meja."Apa sih?" Indra menoleh lengan kemejanya. Ia tahu tangan Hani baru saja menyeka mulutnya yang belepotan saus mayo. Indra mengambil tisu dan mengelap ujung lengan kemejanya.Sementara Hani mengibaskan mulutnya seperti orang kepedasan. Ia berusaha menyusun kata-kata yang sulit keluar karena rasa panik yang menyerangnya barusan."Gue- legal manager . Kata si Nicholas, para legal manager yang tergabung di persatuan atau perkumpulan advokat sering main golf. Gue bilang gue sering main golf ...." Hani terdengar mencicit di akhir kalimatnya. Ia meraup rambut panjangnya yang tadi dibentuk ikal cantik, untuk menutupi seluruh wajahnya."Ha? Trus?" Indra meletakkan gelas kopinya."Dia nantangin gue main golf hari Sabtu nanti ... gue salah jawab-gue salah jawab. Harusnya gue emang jujur aja dari awal. Gue nggak mungkin dateng hari Sabtu buat main golf. Gue nggak ngerti orang ngapain mukul bola jauh-jauh terus sibuk dicari-cari di lapangan seluas itu. Gue nggak ngerti .... Liat stik golf langsung aja gue nggak pernah. Kali ini gue nggak mungkin dateng ...." Hani membenamkan wajahnya di lipatan tangan.Indra masih terdiam mencermati ratapan Hani yang membabi buta. Sesaat terdiam, Ia membelalak dan memancarkan cahaya cemerlang di matanya."Eh, perempuan! Lo diem dulu. Dengerin gue." Indra mengambil bekas sedotan kopinya dan menusuk kepala Hani berkali-kali."Apa?!" Hani bangkit mengusap-usap kepalanya yang terasa sedikit basah terkena tetesan sisa kopi dari ujung sedotan."Lo masih belum lupa tujuan kita ngacak kartu nama malem itu, kan? Nyari CEO Han! Gue udah bilang ke lo bolak-balik, Nicholas itu orang sibuk. Dia nggak akan buang waktu cuma untuk nemuin orang yang ngirim pesan nggak jelas ke dia. Bisa jadi dia dapet bisikan gaib kalo dia harus nemuin lo .... Nah sekarang, lo liat sendiri. Dia malah nantangin lo main golf, hari Sabtu pula. Kalo nggak karena ada feeling ke lo, gak mungkin dia mau buang-buang waktu. Mending dia ngapel tunangannya." Indra kembali menyilangkan tangan di depan dada.Hani mulai merasa gelisah tiap Indra melakukan gesture yang satu itu. Hani selalu merasa terintimidasi."Masa, sih ," gumam Hani tak yakin. "Tapi gue nggak punya peralatan golf ... mahal. Gue juga nggak punya seragam golf, gue harus beli lagi-duit lagi ... aaargghh," pekik Hani kembali meraup rambutnya untuk menutupi wajah."Gue cariin peralatan golfnya. Kalo kita sewa, kesannya nggak eksklusif. Gue pinjem ke Bu Erni atasan gue, doi pasti ngasi. Lo tinggal beli baju, sepatu, sarung tangan ama topi biar keliatan keren dan profesional. Gimana?" Indra mencengkeram lengan Hani deng
My Posesif CEO
Seorang wanita paruh baya berjalan menaiki tangga menuju lantai dua untuk menuju ke kamar anak semata wayangnya itu. Dan tibalah dia di depan pintu kamar anaknya."Diatttttt bangun udah pagiiiiii" ucap Mommy diat, yaa wanita paruh baya itu adalah Mommy diat (Tiara Wijaya).Karna merasa tidak ada jawaban dari dalam Mommy diat pun masuk ke dalam yang ternyata pintunya tidak di kunci. Mommy diat pun berjalan kearah tempat tidur dimana sang anak tertidur, dengan sangat kesal karna sang anak tidak bangun juga akhir mommy diat menarik selimut yang menutupi tubuh anaknya itu."Bangun diat udah pagiii....katanya kamu ada pembukaan pasar yang baru jadi" ucap Mommy diat"Hm. 5 minutes mom" ucap diat antara sadar dan setengah sadar."Udah cepetan bangun gak ada 5 menit 5 menitan" ucap mommy diat dengan kesal."Oke mom" ucap diat dan langsung bangun dari tempat tidur menuju kamar mandi yang ada di kamarnya."Yaudh cepetan mommy tunggu di bawah yaa" teriak mommy diat kepada diat takut tidak kedengeran."Iya mom" balas diat dengan teriak juga.-----Dengan langkah cepatnya diat menuruni tangga dengan terburu-buru karna takut telat."Kamu kenapa kok buru-buru gitu sih diat" ucap mommy diat yang melihat anak terburu-buru itu."Aku udah telat mom, yaudah kalo gitu aku berangkat yaa" ucap diat.Dan diat pun sedikit berlari menuju pintu utama rumah dan setibanya di luar mobilnya sudah siap karna sudah di siapkan oleh supir di rumahnya.Selama perjalan diat hanya fokus pada jalan saja. Tetapi disaat diat sedang fokus handphone diat berbunyi tanda panggilan masuk.Alex call......"Halo""Lu dimana gua sama yang lain udah sampe nih""Gua masih dijalan bentar lagi juga sampe. Kenapa emang?""Udah gece lu ini pasar udah mau di buka tapi karna lu belum dateng yaa jadi belum lah, gimana sih?""Iya, 5 menit lagi gua sampe""Oke"Diat pun memutuskan sambungan telponnya dan fokus kembali pada jalan. Dan pada akhirnya diat sampai 5 menit di pasar pun diat langsung memakirkan mobilnya itu. Tidak jauh dari mobil juga terdapat 4 mobil berbeda dari mobilnya yang sudah pasti dia tau siapa pemilik dari mobil tersebut."Akhirnya sampe juga lu gua kira lu bakal kesasar" ucap Loen dengan nada bercanda."Iya" ucap Diat singkat."Yaelah yat masih dingin ae lagi nih orang" ucap Leon kesal."Udah jangan ngomong lagi deh lu Loen, mending sekarang kita ke tempat pembukaannya aja udah di tungguin nih" ucap Gerlad karna sudah tidak tahan dengan temannya satu itu."Yaudah ayo" ucap kenan berjalan mendahului yang lain.Dan di susul yang lain juga, dan tepat di tengah jalan mereka melihat cewe-cewe atau pacar Mereka lebih tepatnya pacar alex, leon, gerlad, dan kenan. Yapp pacar mereka ikut karna mereka ingin mencicipi makanan yang ada di pasar tersebut."Kalian mau kemana???" tanya Kalila pada cowo-cowo."Kita mau ketempat pembukaan, kenapa?" balas alex."Kita boleh ikut gak?" ucap clara"Yaudah" ucap kenan.Dan akhirnya mereka bersembilan jalan dengan beriringan dengan diat di paling depan karna dia sendiri alias tidak memiliki pacar, dan disusul oleh alex-kalila, kenan-putri, leon-natasya, dan gerlad-clara.Mereka pun berjalan menuju tempat pembukaan yang sudah di siapkan oleh karyawan kantor pasar."Dengan ini saya nyatakan pasar Vanda di buka" ucap diat singkat.Dan salah satu pegawai kantor pasar memberikannya gunting untuk mengunting pita nya itu."Udah di bukakan mending sekarang kita jalan-jalan aja sambil liat-liat pasarnya gimana guy s?" ucap kenan pada teman-temannya dan pacarnya itu."Ide bagus sekalian kita cari makan yaa kan, mumpung lagi di pasar kan pasti banyak makanan tuh udah gitu murah meriah lagi" ucap leon.Dan mereka pun berkeliling pasar sambil membeli beberapa makanan yang menurut mereka enak.mereka pun memutuskan untuk pulang karna matahari sudah mulai terik. Mereka pun sampai di parkiran tapi tidak dengan diat karna dia memutuskan untuk ke toilet terlebih dahulu, tapi saat dia berjalan dia tidak terlalu memperhatikan jalan jadi lah dia menabrak seseorang.BrukkSuara orang terjatuh tapi orang itu bukan diat tetapi orang itu seorang yang memakai hijab baru saja keluar dari toilet."Heh kalo jalan itu liat-liat. Gimana sih?" bentak diat saat melihat siapa yang dia tabrak."Maaf, tapi kan kamu yang tabrak aku kenapa kamu malah salahin aku" ucap gadis tersebut."Ah banyak omong lo udah minggir" bentak diat pada gadis itu.Akhirnya gadis itu pun pergi menjauh dengan mata yang sudah berkaca-kaca karna gadis itu baru pertama kali di bentak oleh orang bahkan orang tuanya sekalipun tidak pernah membentaknya.Disaat gadis tersebut pergi diat dibuat keheranan kenapa gadis itu tidak seperti gadis lain yang biasanya jika bertemu dengannya akan mulai menggodanya atau merayunya.Diat pun memutuskan tidak mau ambil pusing dan pergi menuju toilet.Dan saat diat tiba di parkiran dia melihat gadis itu ternyata gadis itu adalah seorang penjaga toko pakaian anak-anak.Diat terus memperhatikan gadis tersebut tanpa sadar dia tersenyum saat melihat gadis itu sedang berbicara pada orang lain.Didalam benaknya dia sudah mengklaim gadis tersebut sebagai miliknya dan tidak ada yang boleh menyentuhnya selain dirinya.Diat mengambil handphone miliknya di saku celananya dan dia membuka aplikasi kamera dia pun mengarahkan handphonenya kearah gadis tersebut untuk di foto.Setelah dia mengambil gambar gadis itu ia pun langsung menelpon anak buahnya untuk membawa gadis itu ke mansionnya."Halo""............""Aku ingin kau membawa gadis yang ada digambar yang sudah aku kirimkan""..........................""Dan cari tau tentangnya""......................"Diat pun memutuskan sambungan telpon secara sepihak kepada orang kepercayaannya."Kau akan menjadi milikku dan aku tidak akan orang mana pun menyentuh mu selain aku" batin diat sambil menatap kearah gadis itu.Karna hari ini ada acara pembukaan pasar jadi aku harus lebih pagi membuka tokonya. Huh semoga banyak yang beli aminn."Dek makan dulu nih sama nasi goreng" ucap mama ku sembari memberikan sepiring nasi goreng."Iya mah" balas ku sembari menerima nasi goreng tersebut."Dek kamu mau berangkat jam berapa kepasarnya?" tanya mamaku."Abis makan mah langsung berangkat" balas ku."Kok pagi banget biasanya kamu jalan jam 7.20 kan sekarang baru jam 6.40 loh" ucap mamaku."Iya kan mama tau sendiri kalo sekarang ada acara pembukaan pasar nah pasti banyak dong yang bakal liat yaudah aku berangkat pagi aja siapa tau banyak yang beli kan" ucap ku."Oh yaudah kamu makan buruan nanti mama anterin ke pasarnya biar cepet" ucap mamaku."Iya mah" ucap ku.Setelah aku mengngobrol dengan mama aku langsung memakan nasi goreng ku.Setelah selesai makan aku langsung membawa piringnya kebelakang dan langsung mencucinya, setelah selesai mencuci piring aku langsung menghampiri mama ku yang berada di depan rumah."Mah ayo berangkat" ucap ku."Iya, yaudah kamu tunggu depan sana" ucap mamaku.Dan aku pun langsung memakai sandal dan berjalan kedepan gang rumahku."Ayo naik" ucap mama ketika sudah di samping ku dan menyuruh ku untuk naik ke motor.Aku pun langsung naik dan setelah aku naik mama mulai menjalankan motornya.Selama perjalan aku maupun mama sama-sama diam."Udah mah (namakamu) turun disini aja" ucap ku pada mama saat sudah sampai pasar tersebut."Yaudah yang bener jual bajunya yaa" ucap mama menasehatiku."Iya mah" ucap ku.Setelah aku pamit ke mama aku langsung masuk kedalam pasar dan setelah tiba di depan toko aku langsung mengambil kunci di dalam tas lalu aku buka pintu tersebut dengan menariknya keatas.Sehabis membuka pintu toko aku langsung menarik brangkar baju keluar dan patungnya. Setelah itu aku langsung mulai menyapu dan mengepel lantai yang kotor.----Di siang hari yang lumayan panas aku ingin ketoilet lalu aku keluar toko dan berjalan kearah toko sebelah untuk menitipkan toko ku."Teh (namakamu) nitip toko yaa mau ke toilet dulu udh kebelet nih" ucap ku."iya (nama kamu)" ucap teh Wanni.Setelah itu aku langsung lari kearah toilet tapi saat di pertengahan jalan tidak sengaja orang menabrak ku karna dia yang fokus ke handphonenya itu."Heh kalo jalan itu liat-liat. Gimana sih?" bentak orang itu saat melihat siapa yang dia tabrak."Maaf, tapi kan kamu yang tabrak aku kenapa kamu malah salahin aku" ucap ku tersebut."Ah banyak omong lo udah minggir" bentak orang itu pada aku.Dan setelah itu aku langsung ke toilet karna udh ke belet. Setelah selesai aku keluar dari bilik kamar mandi lalu berjalan ke wastafel untuk mencuci tangan, setelah selesai aku melihat Kearah cermin yang ada di kamar mandi."Padahalkan tadi dia yang nabrak aku kenapa malah dia yang marah, yaudah lah ya (nama kamu) ngalah aja sama orang kaya gitu mah" guman ku.Setelah dari toilet aku langsung kembali ke toko takut ada yang beli pakaian. Selama aku menjaga toko aku merasa ada yang memperhatikan ku tapi aku hiraukan saja mungkin hanya orang iseng saja.Tepat jam 2 siang aku langsung membereskan barang-barang masuk kedalam toko untuk aku tutup tokonya.Author povSetelah selesai ia pun langsung mengunci toko tersebut dan berjalan pulang kerumah. Tapi, di pertengahan jalan ada mobil yang berhenti mungkin ingin menanyakan arah jalan.Lalu keluar 3 orang yang tidak (nama kamu) kenal salah satu dari mereka langsung mendekap mulut serta hidung (namakamu) dengan sapu tangan yang sudah di berikan obat tidur.Tidak lama kemudian (nama kamu) jatuh tak sadar kan diri karna pengaruh obat tersebut.Setelah itu mereka membawa (namakamu) ke mansion tuan mereka.Selama menempuh perjalanan yang lumayan jauh akhirnya orang yang membawa seorang gadis yang tak sadar kan diri akhirnya sampai di sebuah mansion yang cukup mewah dengan berbagai fasilitas yang modern dan canggih.Sekarang aku sedang berada di ruang kerja mansion ku sambil membaca berkas tentang gadisku itu, ah memikirnya saja sudah membuat ku rindu akan wajah gadis itu walau aku sempat membentaknya tadi dan sekarang aku merasa bersalah karna sudah membentaknya mungkin aku harus minta maaf saat gadisku sudah sampai nanti.Tidak lama setelah itu aku mendengar suara mobil yang memasuki teras mansion dan aku pun bangkit dari kursi meja kerja ku untuk melihat keluar siapa yang datang.Dan ternyata yang datang adalah anak buah ku yang aku tugaskan untuk membawa gadisku kemari. Dan aku langsung menyuruh mereka membawa gadisku ke kamar yang sudah aku siapkan untuknya.Setelah itu aku menyuruh mereka semua keluar dari kamar gadisku. Dan hanya menyiksakan aku dan gadisku saja melihatnya tidur saja sudah membuat aku ingin memeluknya.Author POVSetelah itu diat keluar dari kamar gadis itu karna dia tidak ingin mengganggu gadis itu yang sedang tidur walau karna pengaruh obat tidur yang di berikan oleh orang suruhannya.Setelah keluar dari kamar gadis itu diat mulai menghubungi anak buahnya untuk menjaga rumahnya lebih ketat lagi agar gadis itu tidak bisa kabur.