Temukan Cerita Inspiratif
Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.
Total Cerita
1144
Genre Romance
230
Genre Folklore
228
Genre Horror
228
Genre Fantasy
230
Genre Teen
228
Terpaksa menikah dengan seorang CEO Kaya Raya
Suatu hari, Seorang pria cantik harus menikah dengan seorang CEO yang kaya raya, Karna CEO itu menginginkan dirinya.Ya namanya adalah NAKAHARA CHUUYA.Data diri:- NAKAHARA CHUUYA:* Umur = 20 tahun* Status = omega* Seorang pelayan di sebuah cafe.* Memiliki seorang kakak yang bernama = yosano akiko.Data diri:- YOSANO AKIKO:* Umur = 23 tahun* Status = alpha* Seorang pengusaha* Memiliki seorang adik yang bernama = nakahara chuuya.🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋Jadi suatu hari, kantor yosano mengalami kebangkrutan dan di saat saat kritis ini , yosano di bantu oleh seorang CEO kaya yang terkenal. Dia memberikan uang kepada yosano sebesar 100 triliun.Baginya itu sedikit, dia memberikan uang sebesar itu pada yosano agar dia bisa mengembangkan perusahaan nya lagi .Akan tetapi dia juga meminta sebuah keinginan.Yosano tidak bisa menolak keinginan itu Karna ia juga berhutang Budi padanya Karna telah di bantu.Lalu yosano menyetujui nya tanpa meminta keputusan kepada chuuya terlebih dahulu, dan dia menunjukkan foto sekaligus semua data tentang adiknya itu padanya." Pft.... walaupun dia laki laki, tapi dia cantik juga ya....... Aku jadi ingin memiliki nya secepatnya " - kata dazai.Ya, CEO kaya itu adalah dazai, DAZAI OSAMU. Tuan DAZAI OSAMU.Data diri:- DAZAI OSAMU:*Umur = 22 tahun* Status = Alpha* Tinggal sendirian, orang tuanya telah pergi meninggalkan nya saat kecil dan dia di besarkan oleh pamannya , tetapi pamannya telah tiada dua tahun yang lalu.* Seorang CEO terkaya di dunia.5 hari sebelum pernikahan:" Chuuya adikku..... "-yosanoChuuya yang di panggil pun menoleh menatap kakaknya." Ada apa kak? "-tanya chuuya" Adikku, sebenarnya.........."-yosano" Sebenarnya kenapa kak? Apa kakak ada masalah lagi? "- tanya chuuya lagi." Kakak telah menjodohkan mu dengan seseorang. "-yosanoChuuya seketika terkaget dan dia mulai bertanya lagi kepada kakaknya itu." Apa maksudnya kak? Ini bercanda Kan, kak, kakak tau kan kalau aku sudah memiliki kekasih, dan kami saling mencintai, lalu kenapa kakak tiba tiba menjodohkan ku begitu saja tanpa memberitahu ku " - omel chuuya." Kakak tau chuuya, maafkan kakak jika kakak tidak memberitahu mu terlebih dahulu, tetapi kakak mempunyai hutang Budi kepada seseorang. Dia ingin menikah denganmu, jika kau menolaknya maka perusahaan akan bangkrut dan kita akan jatuh miskin chuuya.Kakak mohon padamu............... terimalah pernikahan ini " - yosano.Chuuya terdiam sejenak, dan memikirkan permintaan kakaknya itu.Chuuya juga memikirkan apa arti balas Budi, dan kali ini dengan berat hati........CHUUYA MENERIMA NYA." Kakak, dengan berat hati, aku menerima pernikahan ini "-chuuya" Baiklah adikku, kakak menghargai perasaan mu "-yosanoChuuya mengangguk, ia sebenarnya tak siap untuk menikah akan tetapi ini demi balas Budi kakaknya dan perusahaan nya.Setelah kejadian itu, chuuya memutuskan untuk menemui Fyodor.Data diri- FYODOR DOSTOEVSKY* Umur = 22 tahun* Status = Alpha* Seorang karyawan kantor di perusahaan kakanya chuuya.Chuuya dan Fyodor sudah berpacaran selama 3 tahun, ya........ perjuangan mereka selama 3 tahun itu akan sia sia.Chuuya mendatangi Fyodor di kantor nya, dan langsung berhadapan dengan nya." Eh , sayang kenapa kau tiba tiba kesini? Aku kan masih bekerja "-fyodor" Fyodor..............aku ingin berbicara padamu " -chuuya" Ingin bicara apa? " -tanya Fyodor" Jangan disini, lebih baik di taman belakang kantor " -ajak chuuya" Baiklah sayang, kau ke sanalah dulu aku akan membereskan berkas" ini ya "-fyodor" Baiklah "-chuuya.Chuuya segera menuruti perintah dari kekasih nya itu dan dia menunggu kekasihnya di taman belakang kantor kakaknya.Dan selang beberapa menit Fyodor datang dan mulai menanyakan apa yang ingin chuuya bicarakan." Ada perlu apa sayang, sampai sampai kau ingin berbicara berdua dengan ku "-tanya Fyodor.Chuuya gugup untuk memberitahu kepada Fyodor, bahwa dia sudah di jodohkan bahkan akan menikah. Dan dia memberanikan diri untuk berbicara pada kekasihnya itu." Hubungan k-kita cukup sampai sini saja "-jawab chuuyaFyodor seketika kaget, dia tak menyangka bahwa kekasihnya akan mengakhiri hubungan mereka yang sudah berjalan 3 tahun ini." K- kenapa sayang? Apa aku punya salah? Jika iya maafkan aku jangan putus ya, aku gak mau, aku masih mencintaimu, aku gak mau kita putus sayang...... "-fyodor" Maaf, semua ini terjadi karena aku sudah di jodohkan dengan orang lain oleh kakakku "-jawab chuuya nunduk." Kenapa? Bukankah kakakmu sudah tau bahwa aku adalah pacar mu dan sebentar lagi kita akaj menikah,aku akan melamarmu " -jelas Fyodor." Ini semua karna hutang Budi kakakku pada seseorang, dan orang itu menginginkan diriku sebagai ganti balas budinya, jadi.............aku harus menikah dengannya "-jelas chuuya.Setelah kejadian itu, chuuya mulai bersiap untuk bertemu dengan calon suaminya.Sekarang ia sedang berdandan dan memakai baju yang sangat cantik.Hari ini dia akan menemani calon suaminya itu untuk memailih baju pernikahan dan cincin pernikahan.Ya walaupun chuuya belum mengenalnya tapi ia tetap di paksa ikut oleh kakaknya, ya mau gimana lagi , chuuya tidak bisa melawan keinginan kakaknya itu.Ia pun sekarang sedang di depan rumah untuk menunggu calon suaminya datang. Dan selang beberapa menit......Tin.....Tin....Tin.......Mobil yang di tunggu chuuya pun akhirnya datang dan akhirnya dazai keluar dari mobilnya." Hallo sayangku~ "-dazai" Ih, gak usah sok akrab ,kita baru kenal "-ketus chuuya.Dazai pun tersenyum." Kau memang cantik ya, tak salah aku memilih mu sebagai calon istriku "-dazai" Bisakah kita berangkat sekarang,gak usah basa basi deh "-ketus chuuya lagi .Dazai membukakan pintu mobil untuk chuuya dan Chuuya masuk ke dalam mobil.Akan tetapi saat Dazai masuk ke mobil dan duduk di samping chuuya, chuuya menggeser tempat duduknya itu dan agak jauh dari dazai.Tapi dazai tak tinggal diam, dia menggeser dirinya sampai dekat dengan chuuya.Chuuya pun menggeser tempat duduknya lagi dan lagi, lagi dazai menggeser tempat duduknya hingga dekat dengan chuuya lagi.Sampai sampai chuuya terpojok dan dazai akhirnya senyum kemenangan.Lalu iya memegang pipi Chuuya yang lembut itu." Pipimu halus juga, aku jadi tak sabar untuk memakan mu, atau mungkin tubuhmu lebih mulus dari pipimu ini "-goda dazai.Chuuya menepis tangan dazai." Jangan sentuh diriku "-jawab chuuya." Kenapa sayang? Kau akan menjadi milikku sebentar lagi~ , jadi menurutlah padaku atau aku akan membuatmu mengeluarkan suara" indahmu itu di malam hari "-dazai.Chuuya malu akan jawaban dazai, akan tetapi dia menahan rasa malunya itu dengan memalingkan mukanya ke arah luar jendela mobil.Dazai tau kalau chuuya malu, jadi dia memegang dagu chuuya dan mengarahkan wajah chuuya padanya, Karna ia tak mau melewatkan kesempatan untuk melihat wajah cantik calon istrinya itu." ada apa sayangku, apa kau malu Hem? '-goda dazai." Lepaskan! Jangan sentuh diriku "-chuuya.Chuuya menepis tangan dazai yang tengah memegang dagunya itu." Astaga, kau ini memang cantik tapi suaramu sangat lantang sekali ya "-goda dazai." Cih, membosankan "-keluh chuuya.Dazai yang mendengar keluh chuuya pun mendapat kan suatu ide yang bisa di bilang sangat buruk, yaitu ia ingin menyetubuhi chuuya.Orang yang belum sah menjadi istrinya itu." Sopir, kita ke hotel pribadi saya "-perintah dazai." Baik tuan "-pak sopirChuuya kaget, kenapa tujuan mereka tiba tiba ke hotel padahal tujuan awal mereka kan ke cafe untuk makan malam, lalu knp ini di hotel." T-tunggu, kenapa kita ke hotel, bukankah tujuan kita ke cafe, kenapa sekarang ke hotel? "-tanya chuuya heran." Kita akan makan malam di sana sayang~"-jawab dazai.Ya......Bukan mereka yang makan, hanya dazai. Iya. Hanya DAZAI.Sesampainya di hotel...." Chuuya ayo turun "-perintah dazai.Ia sedang membuka kan pintu mobil untuk Chuuya keluar.Chuuya menurut saja Karna ia penasaran, kenapa mereka kencan di hotel, apa sebenarnya tujuan dazai.Saat chuuya baru turun dari mobil, ia kaget karna dazai langsung menggendong nya ala bride style dan membawanya masuk ke hotel pribadinya." Kenapa harus di hotel kencan nya? Dan makan malamnya bagaimana? "-tanya chuuya." Kau akan tau sayang, jadi diamlah, dan kau pasti akan menikmati nya nanti "-jawab dazai dengan senyuman seakan serigala telah menemukan dombanya.Chuuya menurut dan diam saja sampai ia dan dazai tiba di kamar 102 di hotel pribadi milik dazai.Dazai membuka pintu kamar hotel dan masuk dengan masih menggendong chuuya ala bride style.Saat sudah di dalam kamar, dazai langsung mengunci pintu kamar hotel dan membanting chuuya ke kasur yang besar itu.Chuuya pun kaget." Ah....a-ada apa?! Dan Kenapa kau membanting ku?! "-tanya chuuya tegas." Sudah ku bilang,kita akan makan malam bersama sayang ~"-dazai.Dazai mulai mendekati chuuya dan melepas dasi yang ia kenakan, untuk mengikat kedua tangan chuuya menggunakan dasinya tersebut.Chuuya kaget Karna tangannya juga di ikat oleh dazai, dia ingin memberontak tapi tubuhnya telah di tindihi oleh tubuh besar dazai, ya kan dazai seorang Alpha dan chuuya seorang omega." A-apa yang ingin kau lakukan?! Lepaskan aku!? "-berontak chuuya." Tidak, sebelum kau hamil anakku "-jawab dazai." lepaskan aku! "-tegas chuuya." Enggak akan sayang, aku akan mencicipi tubuh mu terlebih dahulu dan bermain dengan hole mu itu "-goda dazai.Lalu dazai membuka semua baju chuuya bahkan bajunya sendiri, sehingga sekarang mereka berdua telanjang.Chuuya yang melihat milik dazai itu pun membulatkan matanya, ia tak menyangka bahwa ia akan di nodai oleh dazai sebelum mereka menikah." Apa kau suka milikku yang besar ini sayang?"-dazai.Chuuya menelan ludahnya sendiri, ia tak bisa membayangkan betapa sakitnya, lubangnya saat di masuki milik dazai nanti." Aku akan pemanasan dulu sayang~"-dazai.Dazai mulai mencium chuuya, dan memasukkan obat perangsang ke dalam mulut chuuya melalui mulutnya itu.Sebenarnya, tadi saat di mobil, dazai sudah memakan obat perangsang itu dan menyembunyikan nya ke dalam bawah lidahnya.Dan kini ,obat itu telah masuk ke dalam mulut chuuya, akan tetapi dazai masih tetap mencium chuuya.Merasakan bibir chuuya yang lembut dan manis itu.Bagi dazai.Chuuya yang bingung, dengan apa tadi yang masuk ke dalam mulutnya,ia tak sengaja menelannya dan tiba tiba tubuhnya memanas." D-dazai......hng.......panas...."-keluh chuuya.Saat mendengar perkataan chuuya ini, dazai menyeringai lebar, ia tak menyangka, obat perangsang nya akan bekerja secepat ini.Dan dia pun langsung memulai nafsunya itu." Ada apa sayang?"-tanya dazai.Walaupun dazau bertanya, ia sudah tau Karna ini ulahnya.Jari tengah dazai mulai masuk ke dalam hole hangat chuuya tersebut.Kegiatan dazai itu membuat chuuya menggerang kesakitan, Karna ia baru pertama kali hole nya di masuki oleh jari dazai, apalagi milik dazai nanti." Ah.....hngg........da- ah...."-chuuya." Hem.......kau ingin lagi ya sayang?"-goda dazai."Hngg...ah......sak-.......ah.....kit...hng..."-chuuya.Setelah itu dazai langsung menambahkan dua jari lagi, di dalam hole chuuya, sekarang ada 3 jari dazai yang ada di dalam hole chuuya yang bergerak naik turun dan itu membuat chuuya menggerang kesakitan lagi walaupun di campur oleh rasa kenikmatan juga."Akh......ah!.....lepas-.......hng.....ah...."-chuuya." Nikmati saja sayang~"-dazai." L-lepaskan tangan- akh! Ah! .....hnggg.....lepas- ah! "-chuuya.Dazai pun melepaskan jarinya dari hole chuuya.Itu membuat chuuya merasa sedikit lega, akan tetapi......JLEB!!!!!" Akh! Ah! "-teriak chuuya." lepaskan! Akh! Ah!! Ah........ah...akh....."-chuuya." Keluar kan suara indahmu itu sayang "-dazai.Dazai terus menggenjot lubang chuuya dengan tempo yang cepat.Chuuya ingin memberontak, tapi apa dayanya , tubuhnya lemas dan rasa sakit yang ada di lubangnya saat di masuki oleh milik dazai yang besar itu.Dan akhirnya....." Akh!!!!! Ah!!!! "-chuuya.Chuuya berteriak saat milik dazai mengenai titik prostat nya dan di saat itulah dazai keluar hingga memenuhi rahim chuuya.Bahkan chuuya juga sempat keluar hingga cum nya mengotori perut dazai dan seprai kasur.Tubuh chuuya melemas, dia lelah dan juga mengantuk.Dazai tau akan keadaan chuuya yang sekarang mengantuk, tapi dia tetap tak berhenti.Dia tetap terus menggenjot lubang chuuya hingga si empu nya berteriak lagi dan tak jadi tidur." Ah! Sakit...hiks....akh!! Ahn! Lepas- akh! Hiks, ah...ah...ah.....akh....ah..."-chuuya.Mereka melakukan kegiatan itu sampai jam 3 pagi, dan di jam 2 pagi chuuya sudah pingsan,tetapi dazai terus menggenjot nya sampai jam 3 pagi baru dia tertidur.Ntah apa yang akan terjadi pada chuuya.Tubuhnya sekarang mati rasa Karna dazai.Dia telah mengambil keperawanan chuuya dalam semalam.Posisi dazai tidur , dia tidur di belakangi oleh chuuya dan tangannya memeluk chuuya. Tetapi dia belum melepas milik nya yang ada di dalam hole chuuya.Keesokan harinya...." Hngg...... "-chuuya.Chuuya terbangun dari tidur nyenyak nya itu Karna di ganggu oleh sinar mentari pagi.Dan chuuya menyadari bahwa dazai sudah tidak ada di samping nya dan dia juga mengamati hole nya yang masih mengalir sperma milik dazai yang tadi malam sempat memenuhi rahimnya." Hiks......apa yang aku lakukan semalam, hiks ....... Aku tak mau menikah dengan nya! Kenapa harus seperti ini!!! "-chuuya.Chuuya menangis dan berteriak, tetapi teriakan dan tangisan itu tidak berarti.Semua sudah terjadi.Dia hanya bisa menangis dan mengingat apa yang telah dia lakukan semalam dengan dazai.Dan seketika itu ,dazai kembali ke kamar chuuya." Eh chuuya kenapa kau menangis?"-dazai." Ini semua salah mu, kau menghilang keperawanan ku tadi malam, sehingga aku tak suci lagi sekarang, huaaa...."-chuuya." Hei, untuk apa kau menangis? Ya kau memang sudah tak perawan,tapi keperawanan itu aku yang mengambilnya kan, dan kita sudah di jodohkan kan "-jawab dazai." Tapi aku tak menerima perjodohan ini?!!"-chuuya." Kau akan menerimanya, dengan adanya benih ku di dalam rahim mu itu sayang "-dazai.Dazai duduk di samping chuuya dan memeluk chuuya.Dia mengelus-elus rambut chuuya berusaha untuk menenangkannya.Ntah itu sihir atau apa , chuuya nyaman dengan pelukan dan elusan itu, dia mulai ngantuk lagi dan akhirnya dia tertidur di pelukan seorang dazai Osamu." Kau sangat cantik, aku tak salah memilih mu chuuya. Liatlah sebentar lagi kita akan punya bayi dan besok adalah hari pernikahan kita "-dazai.Dazai memeluk chuuya erat, dan dia menggendong chuuya untuk ia mandikan Karna tubuh chuuya lengket Karna sperma nya dan chuuya.Dazai membawa chuuya ke kamar mandi dan mulai memandikan nya, saat di mandikan chuuya tak bangun, dia malah tetap tidur pulas, sesekali ia bergerak saat dazai membersihkan area kemaluan nya dan lubangnya itu.Setelah selesai mandi, datai memakaikan pakaian ke chuuya dan menaruhnya di sofa untuk sementara waktu, lalu dia mengganti seprie kasur nya dengan yang baru dan membuang seprei yang lama itu ke tong sampah.Ya, sampai jam dinding menunjukkan pukul 11 barulah chuuya terbangun dari tidurnya.Saat dia bangun, dia sudah tak melihat dazai lagi, dia kira dazai sudah di kantor, tetapi dia masih memastikan nya dengan melihat meja kerja pribadi dazai, dan jika ada berkas di sana berarti dazai belum ke kantor,tapi kali ini gak ada berkas ,jadi dazai sudah pasti ke kantor.Chuuya senang, Karna....Dia bisa melakukan pekerjaan nya." Heii cantik kemarilah "-panggil seorang" Haik "-chuuya" Tuang kan aku segelas bir , ya cantik, oh ya, apakah aku boleh meniduri mu malam ini ? "-kata orang itu" Maaf tuan, saya hanya bisa melayani minuman anda, bukan nafsu anda "-kata chuuya, sambil menuangkan bir ke gelas pelanggan tersebu" Oh, apa kau takut dengan Tunangan mu itu ya? "-jawab orang itu." Bagaimana kau tau kalau aku akan bertunangan? "-tanya chuuy" Aku adalah teman nya dazai "-jawab Fyodor" Oh.... "-jawab chuuya" Apa kau tak takut jika kau kepergok dazai bekerja di sebuah bar? "-tanya Fyodor" Aku tak peduli padanya,untuk apa takut padanya? "-jawab chuuy" Oh....jadi kau tak puas dengan apa yang aku lakukan kemarin malam , sayang? "Chuuya kaget" Ohh dazai..........liatlah aku sedang di layani oleh Tunangan mu ini "-sombong Fyodor." Kau mulai nakal sayang, kau bekerja di bar tanpa meminta izin dariku, Hem? "-dazai." Terserah ku lah, apa urusannya dengan mu? "-jawab ketus chuuy" Kau memang belum puas ya , yang kemarin malam "-dazai" Eh... "-chuuya" Kalau begitu, kita pulang ya sayang "-dazai.
TRANSMIGRASI ISTRI CEO DINGIN
Saat ini Aera berada di salah satu clubs yang terkenal untuk merayakan hari kelulusan sendiri, bayangkan seorang gadis berada di club tanpa pendamping apa lagi ia baru legal.Aera menari sambil membawa gelas berisi alkohol di antara pemuda pemudi yang sedang berjoget ria itu, ia bahkan melenggak-lenggokan tubuhnya tanpa rasa canggungSetelah merasa lelah Aera berhenti menari dan mencari tempat nyaman untuk duduk dan pilihan jatuh pada meja yang berada di pojok karena hanya meja itu yang terlihat sepi dan tidak terlalu bising, ia meminum alkohol yang sedari tadi ia pegang dan meminumnya berkali-kali hingga habis 4 botol, gadis ini sangat gila!!..Jam menunjukkan 01:21 Setelah di rasa kesadarannya tinggal sedikit ia pun memilih untuk pulang ke rumahnya mengendarai mobil sendiri dengan keadaan setengah sadar, kalau tanya di mana orang tuanya??, kenapa gadis sepertinya di biarkan keluar malam???....Jawabannya orang tua Aera sudah berpisah satu tahun yang lalu itu sebabnya ia berkepribadian yang keras dan berandal karena tidak ada perhatian dari orang tua, keluarga nya pecah sebab adanya pelakor olehKerena itu ia sangat membenci yang namanya pelakor Hingga ia sedikit trauma dengan asmara.Karena memikirkan keadaan keluarganya yang terpecah belah juga pengaruh alkohol Aera tidak fokus dalam menyetir ia menjalankan mobilnya dengan kecepatan penuh untung Saja hari sudah larut hingga jarang ada pengendara lain.Namun saat di tikungan ada mobil yang sedang berhenti di pinggir jalan karena Aera masih dalam pengaruh alkohol ia pun menabrak mobil itu dan kejadiannya sangat cepat hingga Aera tidak ada waktu untuk menghindari dan terjadi lah tabrakan, Aera dinyatakan tewas di tempat karena mobil bagian depannya hancur.Inilah akhir kehidupan Aera namun sebenarnya inilah awal dari kisah sebenarnya seorang Aera Sanjaya namun dalam tubuh yang berbeda.Di dalam kamar yang mewah terdapat gadis berusia 21 yang sedang tertidur pulas, tiba-tiba sang empu terbangun dan langsung duduk memasang muka bingung menoleh ke sana-sini." Ini dimana " tanyanya lirih kepada diri sendiri karena keadaan kamar dengan nuansa dark itu kosong tanpa ada seseorang pun kecuali dirinya." Auww Sthh...." ringisnya ketika ingatan asing tiba-tiba muncul di pikiran nya berputar-putar seperti kaset rusak." Ja..jadi gue bertransmigrasi ke tubuh istri CEO dingin yang gak dianggap bernama BRIANA WIJAYA DREKSMIAN atau Riana... " MonologAera" Dan parahnya lagi suami Riana ini gak pernah peduli bahkan selalu mengabaikan keberadaan pemilik tubuh, ya meskipun Riana bersikap seperti jalang karena selalu berpenampilan menor dan selalu menempelinya tapi kan itu semua ia lakukan agar mendapatkan perhatian dari nya, dia itu suami atau apa sih kesel gue " lanjut Aera kesal" Riana juga udah tau sifat suaminya kaya gimana masih aja di deketin, dengan cara murahan lagi, harusnya Lo jadi cewek itu berkelas dan jual mahal dikit lah aduh capek gue, apa lagi sekarang jiwa gue berada di tubuh ni cewek "" Mulai sekarang karena gue ada di tubuh Lo, gue akan merubah pandangan orang lain terhadap Lo, gue akan bersikap cuek dan menghindar dari suami cuek Lo itu, siapa ya namanya.. " kata Aera sambil mengingat-ingat nama suami Riana" Nah iya, namanya DOLARREN DREKSMIAN keren juga sih, pantesan orang kaya namanya aja ada unsur uang nya " ucap Aera setelah mengingat nama suami pemilik tubuh( kita panggil Aera jadi Riana ya )Riana bangun dari ranjang berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya alangkah terkejutnya nya dia saat melihat desain interior kamar mandi yang mewah, bahkan sangat mewah meskipun saat ia masih ada di tubuh aslinya dulu orang kaya, tapi rumahnya tidak semewah ini.Setelah selesai mandi ia keluar dengan memakai handuk yang melilit tubuhnya dan berjalan ke arah bathroom untuk ganti baju dan lagi lagi ia di buat terkejut melihat kemewahan walk in kloset yang lengkap dengan baju, tas, sepatu dan aksesoris yang mahal tengah tertata rapi.Setelah berganti pakaian dengan piama merah muda ia melangkah ke meja rias yang ada di dekat ranjang,mengeringkan rambut dan memakai skincare untuk menjaga agar kulit tetap cerah, Riana hanya bisa berdecak kagum melihat banyaknya alat kosmetik milik Riana yang lengkap dan pastinya mahal tidak Abal-Abal seperti milik kalian...ya pantas sih karena Riana ini tipe kal wanita modis sama seperti dirinya dulu meskipun ia tidak terlalu berlebih seperti Riana karena selalu memakai baju kurung bahan hanya untuk mencari perhatian suaminya bukanya tertarik tapi yang ada sang suami semakin ilfil padanya ( ingatkan Riana untuk membeli baju baru nantinya), kalau Aera ia lebih suka memakai gaun sebatas lutut atau atasnya yang sederhana namun terkesan elegan dan menawan.Setelah di rasa penampilan nya rapi tanpa make up yang tebal seperti biasanya namun ia jauh terlihat cantik dan imut tanpa menggunakan makeup, Riana turun ke bawah untuk makan malam mengingat sudah waktunya untuk makan malam, kamar Riana itu berada di lantai 2 sedangkan kamar sang suami berada di lantai 3, ya Riana dan Dollareen pisah kamar atas perintah sang suami.Kini Riana telah duduk di meja makan menunggu maid menyiapkan makanan, selama ia berada di tubuh Riana, ia belum melihat ke keberadaan suami Riana atau sekarang sudah menjadi suaminya juga, ia belum melihat wajah rupawan Dollareen seperti apa.Cukup lama ia menunggu kedatangan Dollareen bahkan sekarang Riana merasa dirinya akan mati kelaparan jika harus menunggu Dollareen lebih lama lagi.Makanan sudah di hidangkan di hadapan nya, tertata rapi dengan menu yang menggugah seleranya yang menahan lapar Sedari tadi."Ehh iya ya ngapain gue nungguin titisan tembok itu sampai kelaparan!!, gue kan bukan Riana yang harus nunggu titisan tembok Dateng baru makan, jadi sikat aja laaah~"karena terlalu lapar tanpa menunggu lagi Riana mulai mengambil makanan dengan porsi banyak Tidak peduli dengan sekitar Riana langsung melahapnya tanpa memperhatikan etika, ingat!! dia itu Aera gadis brandal tanpa memperdulikan apapun jika sudah kelaparan tidak seperti Riana yang selalu menjaga etikanya meskipun dengan terpaksa" Persetan dengan etika"Batin Rianakarena porsi makan Riana yang terlalu banyak dan cara makannya yang cukup buruk mengundang tatapan aneh dari para maid karena biasanya Riana ini akan menunggu Dollareen terlebih dahulu agar dapat makan bersamaDan Riana selalu menjaga etika dan pola makannya jadi jangan heran jika banyak maid yang terkejut melihat istri dari tuannya itu makan dengan porsi melebihi orang yang berpuasa.Riana melahap dengan penuh kenikmatan makanan nya yang sudah nambah 2 kali sangking asyiknya ia tidak menyadari bahwa Dollareen sudah duduk di kursi paling ujung yang memandang dingin dirinya." Cih, seperti babi !!" Batin Dollareen melihat cara makan Riana yang tidak seperti biasanya.Dollareen sedikit bingung melihat penampilan Riana yang tidak menggunakan make up berlebihan meskipun masih menggunakan baju kurang bahan namun sedikit tertutup dari biasanya dan juga cara makan nya seperti orang kelaparan,Sebelumnya Riana selalu menjaga etika nya ketika berhadapan dengan Dollareen, selalu berperilaku sok anggun dan berpakaian secara berlebihan hingga membuat pria dingin itu risih dan tak nyaman."Eeeek" Riana sendawa setelah menyelesaikan acara makan nya dan sedetik kemudian matanya membola melihat keberadaan Dollareen di kursi paling ujung dengan menatap nya jijik"Apa Lo liat-liat?, mau gue colok tuh mata" ucap Riana dengan berdiri mengacungkan garpu di tangan nya dan menatap nyalang pada Dollareen yang tersentak beberapa saat karena mendengar ucapan Riana kemudian mengatur ekspresi wajahnya seperti semula.Dollareen sedikit terkejut dengan perubahan kelakuan dan penampilan gadis didepannya yang menyandang status sebagai istri nya tapi ia lebih terkejut lagi melihat sikap Riana yang berbeda bahkan berani berkata kasar kepadanya."mencari perhatian hehh!!" Perkataan dingin Dollareen mengundang emosi Riana"Siapa juga yang mau cari perhatian sama Lo!!, Kurang kerjaan aja." Ucap Riana tenang meletakkan kembali garpu ke meja makan dengan kuat hingga menimbulkan suara yang cukup nyaring" Riana!! " Sentak Dollareen dingin, ia sangat membenci sikap Riana yang seakan-akan tidak menghormati nya sebagai seorang suamiYa meskipun selama ini ia risih dan selalu bersikap dingin nan cuek ke pada Riana tapi dia'kan tetap seorang suami yang semestinya di hormati dan juga sudah menjadi tugas istri untuk berperilaku sopan kepada suaminya."Apa hah? mending Lo diem deh jadi orang enek gue denger suara Lo yang kaya orang nahan boker"Setelah itu Riana meninggal kan marvel sendirian di meja makan dengan keadaan bingung melihat sikap nya yang berbeda~ ya iya lah beda orang jiwanya aja Aera bukan Riana asli yang Spek lon* te
Model Cantik Dan CEO Manja
Seorang gadis cantik yang selalu bersikap ramah, baik, manja dan tidak sombong. Karena daddy and mommy nya tidak mengajarkan anaknya untuk menyombongkan apa yang ada di dirinya. P rilly Queen brocklyn , ia itulah nama gadis yang masih terlelap dari tidur cantik nya.( Kamar prilly)Di america" Prilly Queen brocklyn bangunn"ucap Dua wanita cantik, siapa lagi kalau bukan jessica mila sellon dan Dahlia cris poland yang sedang berusaha membangunkan sahabat manja nya itu."Hmmm" guman prilly yang terusik oleh suara mereka."Ohmygood, prilly cepetan bangun. Bukannya kita mau ke indonesia" geram jessica terhadap sahabat cantik nya itu."Iya pril cepetan bangun. Kita cuman punya waktu 3 jam seperempat nihh, kalau kita telat gimana coba" lanjut sahabat satu lagi nya dengan nada kesal, siapa lagi kalau bukan dahlia cris poland.Prilly yang merasa terusik oleh suara mereka pun, akhirnya terbangun dari tidur cantiknya."Hoaammm.. Berisik banget sih kalian, iyaiya nih gue bangun" kata prilly yang masih mengumpulkan nyawa nya."Cepetannn!! dan lo sekarang buruan mandi. Lo gak mau kan nanti kita telat"ucap jessica"Iyaiya bawel" kata prilly sambil menuju ke kamar mandi nya.#skipMereka pun sudah sampai di bandara indonesia. Dan banyak sekali wartawan yang menunggu kehadiran mereka serta ada juga fans yang melihat kedatangan mereka ke negara kelahirannya tersebut.Prilly..Jessica..Dahlia..Teriak para fans yang melihat kedatangan mereka.Dan hanya dibalas senyuman manis oleh sang idolanya."Haiii prilly, jessica, dahlia. How are you? boleh minta waktu nya sebentar?" ucap salah satu wartawan kepada mereka."Haii, we are fine. Boleh ko"kata prilly mewakili sahabatnya."Apa tujuan kalian datang ke indonesia?Apa ada project di indonesia?Liburan kah?" ucap para awak media kepada mereka."Kita datang ke indonesia karena ada project baru. Liburan? bisa juga sih dibilang liburan karena kita juga udah kangen banget sama suasana di indonesia. Jadi bisa dibilang juga kerja sambil disisipi liburan.." Kata prilly dengan ramah."Dan apakah benar ada seseorang spesial yang ingin kalian temui?" lanjut salah satu wartawan."Eummm, kalau itu kita no coment yah" ucap prillly dan dibalas senyuman oleh jessica and dahlia."Ohh okey, no problem" kata awak media."Dan makasih juga kepada kalian karena sudah menyempatkan waktunya untuk di wawancara" lanjut para awak media kepada sang model cantik tersebut."Iya sama-sama" ucap mereka kepada awak media.....Selesai diwawancara,mereka berselfi ria sambil menunggu jemputan yang akan membawa mereka kerumah masing-masing yang ada di indonesia."Jemputan gue belum datang nih" ucap prilly kepada temannya."Iya sama, jemputan kita juga belum datang"kata teman prilly"Nahh. Itu dia dateng, baru juga kita omongin. Itu yang di belakang mobil gue, mobil kalian bukan sih?" tanya prilly sambil menunjuk kearah mobilnya dan mobil yang ada dibelakangnya.(Mobil prilly)Mobil ini cuma di produksi 3 unit didunia dengan mesin V12 berkapasitas 6, 5 liter.dapat melesat dari 0-100 km/jam kurang waktu dibawah tiga detik.Untuk kecepatan optimal, supercar ini dapat melesat sampai 355 km/jam.di bandrol dengan harga US$5, 6 juta atau setara Rp72, 5miliar."Eumm, iya itu mobil gue" kata jessica(Mobil jessica)Sportcar ini mempunyai mesinV12 berkapasitas 6, 5 liter yang dapat menyemburkan tenaga sampai 740 HP.dapat melesat dari posisi diam sampai kecepatan 100 km/jam cuma dalam tempo 2, 8 detik.Dengan transmisi 7-percepatan semi-otomatis, mobil seharga US$5, 3juta atau seputar Rp68 miliar ini dapat dibawa lari sampai kecepatan puncak 354 km/jam."Iya itu juga mobil gue, ko bisa barengan gitu yahh" timbal dahlia(Mobil dahlia)Sportcar ini diciptakan dengan membawa mesin tipeV10 yang berkapasitas 5,2 liter. Mobil model ini di jual dengan harga kira-kira US$ 3 juta atau sebanding dengan Rp. 39 miliar."Mungkin mobil gue sama mobil kalian jodoh kali" canda prilly yang mengumbar gelak tawa mereka."Haha,bisa aja lo pril" kata mereka sambil ketawa."Yaudah, gue balik dulu ya. Nanti kalian main aja kerumah gue" kata prilly kepada mereka."Iya pril" jawab mereka.Ada satu orang pemuda yang baru saja sampai disuatu tempat kantor lebih tepat nya di perusahaan Rawles Company , yaitu salah satu perusahaan terbesar didunia. yaa siapa lagi kalo bukan Aliando King Rawles , CEO sekaligus pemilik perusahaan Rawles Company.Rawles companyTerkenal dengan Sifat nya yang dingin, tegas dan angkuh terhadap orang lain, tidak akan pernah mengurangi ketampanannya yang seperti bak pangeran tampan. Banyak sekali yang kagum bahkan tertarik kepadanya, tapi tidak ada satupun orang yang dia pilih untuk menjadi tambatan hati nya, entah apa alasannya. Yang ada dipikirannya hanya kerja, kerja dan kerja.Yaa dibalik sifat nya yang dingin itu dia adalah lelaki yang sangat manja, yang hanya akan ditunjukan kepada orang yang dia cintai ingat hanya orang yang dia cintai ....."Selamat pagi pak..?" Ucap salah satu karyawan yang melihat kehadiran Boss nya itu."Hmm.." Balas sang CEO dengan datarAli memasuki kantor dengan wajah datar nya, banyak sekali karyawan yang menyapanya tapi hanya dibalas dengan deheman dan anggukan saja.lalu dia berjalan menaiki lift dan sampailah dia diruangannya, terlihat banyak sekali berkas yang menumpuk dimeja kerjanya.Ruangan Ali"Hufffhh.." Helaan nafas sang CEO tampan ini dan tanpa basa basi dia langsung mengerjakannya.sudah 1 jam dia berkutat dengan berkasnya terdengar ada suara ketukan diluar ruangannya.Tok..tok..tokk.."Masuk.." Ucapnya"Permisi pak.. ini laporan hari ini. ini data produk yang belum kita keluarkan pak, semuanya sudah lengkap dan tinggal hanya mempromosikannya saja pak." Ucap sang sekretaris dengan jelas."Iya bagus." Balasnya sambil melihat laporan yang dikasih sekretaris nya itu."Tolong kamu carikan orang atau model yang ingin bekerja sama dengan perusahaan saya, carikan model yang bagus dan profesional. Saya tidak mau brand saya jelek atau hancur, dan jangan sampai hal buruk terjadi diperusahaan saya. Paham?!" ucap lagi sang ceo dengan tegas"Paham pak.." balasnya sekretaris sambil mengangguk"Jangan kecewakan saya!""Baik pak.. Terimakasih, Saya permisi dulu" ucap sekretaris itu sambil meninggalkan ruangan boss nya...Setelah pertemuan nya dengan sang CEO, Reno yang menjabat sebagai sekretaris CEO tampan itu sedang menunjukkan raut wajah kebingungan."Cari model yang bener dimana yaa" gumam reno sang sekretarisKetika reno sedang kebingungan, ada salah satu karyawan datang menghampirinya."Kenapa lo?" Ucap karyawan itu"Bingung gue jen." Balas reno dengan wajah melasYaa orang yang dipanggil jen itu adalah jeni temennya reno salah satu karyawan didevisi keuangan."Lah bingung kenapa, bukan nya tadi lo abis dari ruangan boss ya? Lo dimarahin?" tanya jeni"Bukan dimarahin, boss nyuruh gue cari model buat produk baru diperusahaan kita." Ujar reno"Yaampun ren dikira gue apaan, cuma cari model doang apa susahnya sih. Model banyak kali.." Ucap jeni"Bukan gitu, gue tau banyak banget model.. tapi permasalahannya lo tau sendirikan boss orang nya kek gimana? Kalo gue ngelakuin kesalahan sedikit aja boss bakal marah besar banget ke gue." balas reno dengan raut cemasReno tau banyak model didunia ini, cuma dia ingin mencari model yang benar-benar bisa diajak bekerja sama dengan perusahaannya. Karena reno tau sang CEO tampan itu tipe orang yang tidak ingin ada kesalahan sedikitpun dalam pekerjaannya."Iya juga sih.." Ujar jeni"Ahhh gue tau nih, model yang cocok buat perusahaan kita.." ujar jeni lagi dengan wajah sumringah"Serius? siapa?" tanya reno"Itu model yang baru pulang dari luar negeri, idola gue banget. Udah cantik, baik, ramah yaampun paket komplit banget deh itu model. Hmm..pengen banget jadi temennya dia deh gapapa gajadi temen nya juga jadi pembantunya aja gue mauuu.." ucap jeni dengan sumringah sambil membayangkan model yang menjadi idolanya itu."Apaan sih lo jen, kalo ngomong yang jelas dong. Model siapa? Yang mana? Jangan bikin gue nambah bingung deh" kata reno dengan raut kesal"Itu model yang baru balik kesini, masa lo ga tau sih ren yaampun kudet banget sih lo!!" Ujar jeni"Siapa sih, lo tinggal nyebut namanya apa susahnya sih..""Oke oke tenang dulu. Jadi model yang gue maksud adalah....."Siapaaaa??? Ucap reno tidak sabar.........."Prilly Queen Brocklyn"Yaa jeni mengajukan idolanya yaitu prilly sebagai model diperusahaannya. Bukan karena dia mengidolakan sang model cantik itu bukan..Yaa ngefans juga sih hehe, tapi jeni tau prilly adalah orang yang cocok untuk bekerjasama dengan perusahaan ini. Tidak ada sama sekali pemberitaan buruk terhadap model cantik itu, dan jeni sangat mengidolakannya."Hahh diaa, bukannya ada di amerika ya?" Kata reno"Kan tadi gue udah bilang dia baru balik ke indo renoooo gimana sih lo.." Balas jeni"Oke-oke trus lu tau kontaknya ga?" Tanya reno"Engga.." Jawab jeni sambil cengengesan"Trus gimana jeniii, sama aja dong kalo gada kontaknya mah..""Hmm bentar.. perasaan ada deh dibio instagramnya prilly kontak manager nya, lo hubungin aja lewat situ." kata jeni"oh okey, thanks ya jen. Sumpah kalo gada lo gue gatau harus gimana." jawab reno dengan muka yng sangat senang dan lega"yuu santai, gue cabut dulu ya. Masih ada yang gue kerjain." Kata jeni"Iya jen, sekali lagi thanks yaa.." Balas reno lagi...Setelah kepergian jeni, reno lansung membuka handphone nya lalu mencari instagramnya prilly and finallyyy dia menemukan kontak managernya. Langsung saja reno menghubunginya.#skipReno sudah menghubunginya, dia hanya tinggal menunggu jawaban sang manager itu. Karena manager nya ingin berbicara dulu sama model cantik nya."Semoga setuju deh, gue gatau harus cari model kemana lagi kalo yang ini gamau." Guman renoAuthor povOkey kita alihkan dulu CEO tampannya dan kita beralih ke model yang sangat cantik ini, tidak lupakan dia siapa yaa dia adalah Prilly Queen Brocklyn.gadis cantik yang baru saja pulang dari luar negeri ini sedang beristirahat dikamarnya Sambil bermain ponsel.kemudian dia menggunggah salah satu fotonya yang sedang dibandara yang tadi difotokan oleh temannya.PrillyQBrocklyn598.465 likesPrillyQBrocklyn : Hi indonesia❤View all 68.752 comments ..Banyak sekali komenan yang menyapa atas kedatangan nya ke tanah kelahiran nya ini, prilly sangat senang kedatangan nya disambut dengan baik oleh mereka.Ketika sedang asik dengan gadget nya terdengar suara ketuka pintu diluar kamarnya.Tok..tok..tok..Prill.."masuk aja kak" ucap prilly dari dalam kamar"Hei lagi ngapain? Maaf ya kakak ganggu istirahatnya" ucap orang itu dengan sedikit bersalah"Iya kak gapapa ko, kek ama siapa aja deh.. Emang ada apa kak?" Tanya prilly"Ini kamu ada tawaran kontrak sama perusahaan besar, katanya mereka lagi butuh model buat promosiin brand nya gitu. Kamu mau ambil apa engga? Kakak ga maksa sih itu terserah kamu.." Ucap nyaYaa yang dipanggil kakak itu adalah manager prilly, namanya caca. Caca yang menghandle semua pekerjaan gadis cantik itu, dan prilly sudah menganggap caca sebagi kakak nya sendiri jadi tidak ada kecanggungan diantara mereka."Hmm ambil aja kak" ucap prilly"Kamu yakin? Kamu kan baru pulang dari luar negri, takut nya kamu capek pril.." Kata caca dengan raut cemas"Yaampun kak gapapa kali, aku malah seneng kalo ada kerjaan. jadi gak bosen dirumah terus tau" balas gadis cantik itu sedikit merengek"Okey okey nanti kakak kabarin lagi ya sama orang nya, soalnya kakak tadi minta waktu dulu buat bilang ini ke kamu takut nya kamu masih cape kan. Jadi kamu setuju yaa?" Ucap caca"Iyaa kakak sayanggg.." kata gadis yang cantik ituSetelah dapet persetujuan dari prilly, caca langsung menghubungi lagi orang yang menawarkan kontrak itu."Halo pak, pihak saya sudah setuju." Jawab caca..............."Baik pak terimakasih.."..............."Senang juga bisa bekerja sama dengan anda" Ucap cacaSudah 1 jam reno menunggu kabar dari orang tersebut tapi sama sekali belum ada tanda-tanda orang itu menghubunginya."Haduh gimana nih udah sejam gue nunggu tapi belum ada kabar juga, si boss udah nanyain lagi." Gumam reno dengan cemasKetika dia sedang cemas, tiba-tiba handphone nya berbunyi dan ternyata orang yang dia tunggu-tunggu menghubunginya. Tanpa basa basi reno langsung mengangkat dan menanyakannya."Halo Bagaimana..?" Ucap reno langsung......................"Oke baik, nanti akan saya atur jadwal pertemuannya ya? Sampai ketemu nanti." Balas reno lagi........................"Senang bisa bekerja sama dengan anda." Ujar reno....Setelah berbincang-bincang reno dengan pihak model tersebut, tanpa menunggu lama reno langsung menghubungi boss nya itu, ia sangat senang tugas 1 nya selesai. Semoga semuanya berjalan dengan lancar, harap reno.(jadi guyss reno ga ngasih tau ali ya model nya siapa, reno cuma bilang dia udah dapetin model aja)......(Dipercepat).....Author PovSudah waktu nya pulang jam kerja, CEO tampan itu langsung siap-siap bergegas untuk pulang kerumah nya. Tapi sebelum itu terjadi ada suara panggilan dari handphone nya."Kenapa?" Tanya ali"Wih santai dong boss, lo udah selesai tugas kantor kan?""Iya.""Sebelum balik kita kumpul dulu yaa dicafe biasa.""Sekarang?""Engga taun depan, ya sekarang lahh. Pokonya lo harus dateng, kita udah lama ga kumpul karena kesibukan masing-masing.""Iya.""Pokonya lo harus dateng, awas aja kalo engga. Gue tunggu.""Iya kevin!"Yaa orang yang menelpon ali adalah kevin julio alexander pemilik perusahaan alexander company .Dan tanpa menunggu lama ali langsung pergi menuju parkiran dan memasuki mobil mewahnya. Kemudian bergegas pergi menuju cafe yang biasa ali dan teman-temannya menongkrong itu.Mobil AliSampailah ali ditempat itu, dia langsung memasuki cafe dan menuju ruang VVIP yang biasa ditempatin mereka.Ruang VVIPTenyata disana sudah ada teman-teman bobroknya siapa lagi kalo bukan kevin dan Ricky . Oh iya ali juga punya teman bernama Ricky gio harun pemilik perusahaan harun company, dia juga punya panggilan khusus yaitu kirun .Tibalah ali ditempat temannya kumpul dan dia langsung menduduki bangku tersebut."wih boss tampan udah dateng, pakabar bro?" Tanya kevin"Baik.""Gimana li?" Tanya kirun"Apa?""Masih jomblo aja haha." becanda kirun"Dihh kek lu ga jomblo aja run." Timpal kevinBerbincang-bincang lah mereka author juga gatau mereka bincangin apa hahaha.....Satu sisi ada 3 perempuan cantik yang memasuki cafe mewah tersebut dan menuju ruangan VVIP juga. Siapakah mereka????.......Yaa orang itu adalah 3 model cantik go internasioanal siapa lagi kalo bukan...Prilly, jessica dan Dahlia.kemudian mereka masuk, dan tanpa disadari salah satu dari mereka sedang bersitatap dengan salah satu 3 CEO tampan itu."Kita mau duduk dimana? Balkon apa didalem?" tanya jessica"Balkon aja deh." Jawab dahlia"Pril dibalkon mau?""Prilll..""Prillyyy..""Hah apa, t-tadi lo ngomong apa?" Tanya prilly"Lo liatin apasi, dari tadi kita ngomong ga didenger yaa.." Ucap jessica sedikit cemberut"Ehh e-engga ko ga liatin apa-apa, sorry yaa ga fokus tadi gue hehe, oh iya tadi kalian ngomong apa?""Kita duduknya dibalkon mau ga?""Mau ko ayo disana aja." jawab prillyTanpa disadari prilly sedang bergelut dengan hatinya. " Siapa cowo itu, kenapa jangtung gue berdetak kencang ketika melihat dia." (ujar prilly dalam hati)...Back to CEO tampan"Iya ga li.""Lii..""Aliii..""Aliando king rawles!""Hah apa?""Lo kenapa sih? Dari tadi kita panggil ga nyaut nyaut, liatin siapa sih lo?"Ga, ga liatin siapa-siapa."Ali sekali-kali masih liatin cewe yang sedang berbincang dan tertawa dibalkon itu."Siapa dia. Kenapa hati gue ga karuan hanya liat mata indah nya, gue ga pernah ngerasain kek gini sama orang. Tapi sama dia aaghhh fuckk." (Ucap ali dalam hati)"Tuhkan lo bengong lagi lii, apasih lo lagi liatin apaa?" Tanya kevin"Lo liatin cewe-cewe itu ya?" timpal kirun. karena kirun sadari tadi melihat ali yang sedang menatap salah satu cewe itu, dan bener dugaannya kirun liat ali sedang ngeliatin cewe cantik itu Lagi."Apaansi.""Siapa? yang mana? Yang pake dress biru? Merah? Ato yang bunga-bunga?" ledek kirun kepada aliDeggg..Pas kirun bilang pakai dress bunga-bungga hati nya kembali bergetar. Iya sebenernya ali lagi ngeliatin cewe yang memakai dress bunga-bunga sedari tadi."Hah a-apaan sih lo, sotau" jawab ali ngelak dan gugup"Tuhkan lo gugup, benar kan dugaan gue lo lagi liatin cewe-cewe itu. Tapi gue perhatiin lo kek nya lagi liatin cewe yang pake dress bunga-bunga deh." Ujar kirun lagi"engga apaan sih lo run.""Alahh ngelak aja lu bisanya li.""Ehh b-bentar kek nya gue tau deh mereka siapa." Ucap kevin yang sedari tadi hanya mendengar celotehan teman-temannya."Siapa emang?" Kata kirun"Bentar gue inget-inget dulu, hmm.. Kek nya itu model yang internasional itu deh, yang kemarin baru balik ke indo. I-iya gue yakin itu mereka." Jawab kevin"Hah serius?" Tanya kirun"Iyaa, yakali gue becanda.""Itu yang pake dress biru namanya jessica, yang merah dahlia dan yang bunga-bunga itu prilly." Jawab kevin lagi.kevin ga sekudet dua temen nya ini dia tau kalo 3 cewe itu adalah model yang banyak disukai oleh orang-orang termasuk mamah nya, mamahnya kevin suka sekali sama 3 model cantik itu."Tuh li yang dress bunga namanya prilly cantik yaa. Pengen deh gue jadi pacarnya." Ucap kirun kepada aliDress prillyKirun sebenarnya hanya menggoda ali, kirun rasa ali tertarik dengan cewe itu. Karena kirun belum pernah ngeliat ali segini nya sama orang, dan kirun hanya mengetes bener apa tidak nya temennya ini ada rasa sama model itu.Dan terbukti ketika kirun bilang seperti itu Ali langsung menatap tajam kirun karena milik-Nya disebut dan disukain oleh temennya. (Milik-Nya) ya ali sudah mengklaim bahwa prilly adalah milik-Nya."Yaelah li s-santai aja kali, jangan natap gue kek gitu. Gue cuma becanda doang tadi." kata kirun aga sedikit takut"Hmm, udah-udah mending kita makan lagi masih banyak tu makanan. Abisin biar cepet balik." Kata kevinSemuanya balik normal lagi tapi ali masih bergelut dengan pemikirannya."Oh jadi namanya prilly. Nama yang cantik seperti orangnya, mata yang indah, pinggang yang sangat ramping yang ingin sekali ku dekap dalam pelukanku dan bibir yang sangat menggoda untuk dikecup. Aku harap kita bertemu lagi baby ..........." Because... you're mine!" (ucap ali dalam hati sambil melihat prilly dengan tajam)Dan tanpa mereka sadari, ternyata takdir sudah mempersiapkan sesuatu hal yang besar yang akan menjadikan mereka semakin terikat.Hari yang dinanti nantikan telah tiba yaitu setelah pertemuan kemarin dengan pihak masing-masing tibalah sekarang dimana antar kerja sama akan dimulai.Tok tok tok.."Prill..?""Masuk aja kak""Udah siap?""Udah kak, tinggal pakai lipstik bentar. Oh iya barang- barang nya udah siap semua kan?" Tanya prilly"Udah siap semua ko, tinggal cuss berangkat.""Okey, selesai.. Yuu kak berangkat." Ucap prillyMereka berangkat diantar oleh pak danang-- supir pribadi prilly yang sudah lama sekali bekerja menjadi supir gadis cantik itu."Oh iya kak, kita kerjasama diperusahaan mana?" Tanya prilly"Di Rawles Company prill.." Jawab caca"Ohh.. Kek ga asing namanya""Ya masa kamu gatau itukan perusahaan terbesar didunia""Oh pantes." Gumam prilly"Dan kamu tau prill, CEO Rawles Company katanya ganteng banget bak pangeran tampan yang jatuh dari langit" ucap caca penuh histeris"Haha.. Apasih kak lebaiii deh." balasnya"Iya beneran tau, dan-- Kek nya cocok deh kalo disandingin sama kamu." Goda caca"Ihh apaansi kak ca, aku kenal aja engga.""Nanti juga kenal hahaha."Setelah berbincang- bincang didalam mobil yang penuh candaan tibalah mereka diperusaan Rawles Company.Rawles companyMereka turun dan banyak sekali karyawan yang takjub atas kedatangan model cantik tersebut, mereka tidak menyangka akan melihat gadis cantik itu secara langsung. Sungguh keajaiban buat mereka."Wahh.. Cantik banget.""Itu p-prilly Queen Brocklyn kan, gilaaa cantik bangett.""Bidadari..""Mimpi apa gue ketemu dia agghh.""Sumpah itu p-prilly kan gilaa gilaa cantik banget aslinya."Outfit PrillyBanyak sekali karyawan yang tercengang, berbisik-bisik, bahkan ada juga yang sedang berjalan lalu tertabrak tembok karena tidak kuat melihat kecantikan model itu. Kemudian sampailah mereka ditempat receptionist."Permisi.." Ucap caca"Y-ya ada yang b-bisa saya b-bantu?" Ucap receptionist dengan gugup karena melihat prilly sedekat ini."Saya ingin bertemu pak reno, kami sudah membuat janji. Dimana ya ruangannya?'"aahh pak reno, dia ada dilantai 30 bu. N-nanti teman saya yang mengantarkannya.""Oh okey makasih yaa." Ucap caca dan prilly sambil tersenyum."I-iya sama-sama." ucap receptionist itu"G-gillaaa p-rilly senyum ke gue sumpah cantik bangett woii mimpi apa gue semalem." ucap receptionits lagi dengan histeris sambil memukul temannya yang disebelah.#SkipSampailah mereka diruangan yang telah ditunjukkan dan terlihat ruangan yang sudah didesain untuk pemotretan brand keluaran terbaru diperusahaan mereka itu."Hai sudah sampai? Ayo silahkan duduk dulu. Maaf yaa tadi saya tidak mengantar kalian kesini, banyak yang saya urus soalnya." Ucap reno dengan sesal"Hai.. It's okey. Tadi kita sudah diantar oleh pihak pak reno ko, jadi ga masalah" Jawab caca"Oh iya dengan nona prilly?" Tanya reno dengan mata yang tertuju kepada gadis cantik itu"Ahh iya saya prilly." Jawabnya"Hai Nice to meet you.""Nice to meet you too.""Your soo beautiful.""Haha Thank you."Reno tercengang melihat model cantik itu, dia tidak salah pilih. Pasti Tuan nya langsung suka melihat kecantikan sang model tersebut."Cantik banget, gue yakin Tuan ali bakal suka sama dia." Ucap reno dalam hati"Oh iya pak kapan ini akan segara dimulai?" Tanya caca"Oh iya-- sebentar lagi ya, CEO kami sedang menuju kesini. Tapi kalian bisa bersiap-siap diruang ganti yaa pakaiannya sudah disiapkan disana" Ucap renoKetika sang model sedang bersiap-siap, datanglah sang CEO tampan itu dan langsung menghampiri assistentnya yaitu Reno.Dia datang karena ingin melihat kinerja karyawannya, apakah sesuai yang telah ia inginkan atau sebaliknya, Karena kalian harus tau bahwa dia adalah orang yang sangat perfectionist, ia tidak ingin ada kesalahan satupun apa yang sudah ia perintahkan."Bagaimana?" Tanya ali"Semuanya sudah siap Tuan""Tidak ada kendalakan?""Tidak ada Tuan, semuanya terselesaikan dengan baik.""Bagus.""Model untuk produk saya sudah ada kan? Ingat yaa, saya tidak mau ada satu kesalahanpun yang membuat brand saya hancur.""Sudah ada Tuan, ia sedang mengganti pakaian terlebih dahulu.""--- dan anda tenang saja, saya tidak akan pernah mengecewakan anda Tuan"Setelah penbincangannya dengan Reno, Ali selaku CEO tampan itu sedang duduk dan fokus terhadap handphone nya. Tidak tau apa yang sedang ia lihat.Tidak lama kemudian datanglah sang model cantik itu ,prilly. Dia sangatlah cantik, sangat sangat cantik dengan dress yang sedang ia kenakan saat ini. Apakah ia masih pantas disebut manusia-- ah tidak dia seperti bidadari yang sedang jatuh dari langit. Berlebihan memang-- tetapi itu adalah fakta. Dia memang sangat cantik."Tuan model nya sudah siap" ucap reno kepada Tuannya yang sedang fokus terhadap handphone nya."Iya baik" ucapnya sambil bergegas berdiri dan memasuki benda yang sedang ia pakai sejak tadi kepada sakunya.Ketika sang Ceo tampan itu menoleh matanya langsung bersitubruk dengan model cantik itu. Kaget-- yaa ekspresi itulah yang sedang ditunjukkan oleh mereka berdua."Ini model nya yang akan bekerja sama dengan perusahaan kita tuan, Prilly-- Namanya Prilly Queen Brockly n" Ucap reno"Dia.."Mereka tidak menyangka bahwa mereka akan dipertemukan lagi dalam kondisi seperti ini.Raut bahagia terpancar dari salah satu manusia yang sebentar lagi akan terikat oleh ikatan cinta. Siapa lagi kalau bukan Ceo tampan itu-- Aliando king Rawles. yaa laki-laki itu sangat bahagia sekarang, ternyata apa yang ia tunggu- tunggu datang dengan sendirinya."Akhirnya kita bertemu lagi, Baby. Sesuai dengan ucapanku dulu, aku tidak akan melepaskanmu prilly Queen brocklyn ""-- karena sebentar lagi kamu akan menjadi milikku sayang ." Ucapnya dalam hati dengan penuh obsesi terhadap wanita cantik itu."H-hai Tuan, saya prilly. Nice to meet you" ucap prilly sedikit gugup sambil mengulurkan tangannya kepada aliprilly merasa aneh dengan dirinya semenjak dia bersitatap dengan CEO tampan ini ia terlihat gugup bahkan hatinya tidak bisa berhenti berdegup kencang-- tidak biasanya dia seperti ini."Hai saya ali--CEO disini. Nice to meet you too""--- baby " Jawab ali yaa ali membalas ucapan model cantik itu tapi tidak dengan sebutan sayang yang diutarakan di dalam hatinya, ali tidak ingin gegabah dan membuat takut gadis-Nya."Apa bisa dimulai sekarang tuan?" ucap reno kepada ali, tapi ucapannya tidak digubris olehnya-- dia terlalu fokus terhadap gadis yang masih digenggam tangannya itu."Tuan?""Tuan ali?""Ahh iyaa, sorry" ucapnya tersadar"Bisa kita mulai tuan?""Ya bisa, silahkan"...CekrekCekrekkCekrekkk"Angkat dagunya sedikit keatas nona, yaa oke good" ucap sang kameramen kepada model cantik itu."-- good job nona prilly, your soo beautiful" ucapnya kepada prilly"Hahaha Thaks you, Jangan panggil aku nona. Panggil aja prilly kak" balas prilly dengan senyuman manisnya"Ahh okey, kita break dulu bentar yaa untuk pakaian kedua" lanjut si kameramen itu.Outfit 1 pemotretan prillyDilain tempat yaitu disebuah sofa tempat pemontretan, ada satu sosok yang menatap ke arah mereka. Matanya tidak bisa lepas untuk tidak menatap 2 orang yang sedang melakukan pemotretan itu, terlebih matanya hanya fokus terhadap gadis cantik itu-- prilly. Yaa laki laki itu menatap prilly dengan tajam, seakan- akan tidak ingin melepas tatapannya seincipun.Ada balutan amarah ketika dia menatap gadis-Nya itu, dia tidak suka miliknya tersenyum kepada orang lain apalagi sekarang dia memakai dress yang sedikit terbuka.Dia ingin sekali merengkuh gadis-Nya kepelukan dan Ingin mengurungnya kemudian menguncinya didalam kamar. Agar tidak ada satupun orang yang melihat gadis-Nya itu dalam balutan baju yang sedikit terbuka apalagi mengambil miliknya, sebagaimana kalian tau-- Ali adalah orang yang tidak akan pernah melepas apa yang sudah menjadi miliknya."Aaghh shitt, gue ga tahan pengen peluk dia dan jadiin dia milik gue" gumam aliKetika sedang asik melamun, reno datang dan menghampiri Ceo tampan itu."Permisi Tuan..""Kami butuh Tuan ali untuk melakukan pemotretan bersama dengan nona prilly. karena kita akan melakukan percoveran dimedia agar terlihat menarik dan banyak diminati untuk brand kita Tuan, apa Tuan bersedia?" Ucap reno" Wah bagus kesempatan buat gue " ucap ali dalam hati, dia senang ketika reno mengatan itu. Karena ini kesempatan yang bagus agar ia lebih dekat dengan gadis-Nya"Ya saya mau" ucapnyaCekrek..Cekrek...Cekrekk...Kamera itu menyoroti dua insan yang sedang melakukan pemotretan, terlihat sangat romantis memang. Mungkin sebagian orang mengira bahwa mereka seperti akan melakukan photo preweding, padahal ternyata hanya dua insan yang sedang melakukan perjalanan bisnis saja."Lebih mendekat tuan dan rengkuh pinggang nona prilly--- yaa seperti itu"Tanpa sadar rengkuhan itu sangat erat sampai tidak ada jarak seincipun, siapa lagi kalo bukan tuan muda ali yang mencari kesempatan untuk memeluk pujaannya.Visualisasi Ali PrillyBeberapa foto dan gaya sudah mereka lakukan, sudah saatnya mengakhiri pekerjaan yang melelahkan tapi juga menyenangkan ini."So perpect!!!! Kalian sangat serasi tuan, ini akan menjadi kerjasama yang akan sukses."Tetapi dua insan ini yang sedari tadi masih bersitatap masih dengan posisi yang sama, dan tangan yang masih merengkuh model cantik itu. mereka tidak bergeming sama sekali, dengan perasaan yang berkecamuk dan nyaman berada didekat nya masing-masing. sampai tidak menyadari jika acaranya sudah berakhir.semua staff yang melihat mereka sangat heran dan juga kagum. Dua kombinasi yang sangat perpect terlihat didepan matanya. Tampan dan juga cantik. Mereka sangat serasi, CEO dan Model itu sangat serasi dimata semua yang ada diruangan ini.Ali masih menatap prilly dengan dalam dan juga lembut. "Cantik!! kamu sangat cantik.. baby."Yaa terlontar sudah ucapan yang sudah tidak bisa ditahan lagi. Dia tidak bisa menahannya lagi, tidak bisa. Dia tidak ingin berlama lama untuk mengklaim gadis ini menjadi miliknya-- hanya miliknya."T-tuan .. Hmm m-mak.." belum selesai prilly berbicara, ali sudah menyelanya."Ikut aku!!" Ali langsung mencekal lengan prilly dan membawanya pergi dari ruangan itu.Para staff dan juga assisten yang melihat mereka terlihat bingung dan juga bertanya tanya. Mau kemana perginya pasangan itu.Assisten prilly yang melihat modelnya dibawa oleh Ceo tampan itu sedikit khawatir dan akan menyusul prilly. Tapi belum sempat menyusul tangan nya sudah dicekal oleh sekretaris ceo tampan itu--reno."I'ts oke, dia akan baik baik saja.""T-tapi pak..""Tidak perlu khawatir, dia akan aman bersama Tuan saya."Reno tau apa maksud dari tuannya membawa gadis cantik itu. Tuan-nya sedang jatuh cinta....Banyak pasang mata yang melihat mereka tapi tidak dihiraukan olehnya, ali langsung membawa prilly memasuki lift pribadinya."T-tuan kita mau kemana?!" ucap prilly sedikit takut kepada ali yang sedari tadi masih mencekal lengannya dengan erat."Ikut saja baby!!"Sampailah mereka didalam ruangan itu, ruangan yang sangat megah dan juga terlihat nyaman--yaa ali membawa prilly keruangannya. Dia tidak ingin diganggu saat ini, tidak ingin banyak pasang mata yang melihat mereka. Ali hanya ingin berdua dengan gadisnya--prilly. Hanya berdua.Ali langsung menubrukan tubuhnya kepada gadis cantik itu, memeluknya erat, menenggelamkan wajahnya diceruk leher prilly."You're mine baby!!" Ucap ali dengan tegas kepada gadis itu dan masih memeluknya dengan erat."T-tuan...""kamu milikku, sampai kapanpun. Ga ada yang boleh miliki kamu kecuali aku."Prilly bingung dengan keadaannya sekarang, ada apa dengan lelaki yang memeluknya dengan erat ini, kenapa dia mengklaim bahwa dirinya milik laki-laki itu.Dan tapi kenapa.. dirinya menyukai apa yang CEO tampan itu lakukan sekarang."T-tuan maaf.. Bisa lepas dulu pelukannya?" Ucap prilly kepada ali sambil berusaha melepaskan pelukan pria itu.Bukannya dilepas tetapi pelukan itu malah semakin erat, ali tidak mau melepaskannya. "Tuan bagaimana saya mau berbicara jika tuan m-memeluk sa.." omongan itu terpotong"No baby!!! Aku gamau!!" ucap ali seakan tidak ingin dibantah"Okey terserah tuan. Hmm saya sebenarnya gatau mau berbicara apa, saya bingung. Saya bingung Kenapa tuan membawa saya kesini, kenapa tuan memeluk saya, dan tuan mengklaim bahwa saya milik anda. Apa bisa dijelaskan? saya benar-benar bingung." ucapnya bertubi tubi kepada CEO tampan ituAli sedikit merenggangkan pelukannya dan tangan kirinya menangkup pipi prilly dengan lembut, sedangkan tangan satunya masih memeluk pinggang ramping prilly dengan erat. Tidak ada jarak, bahkan hanya 5cm saja jarak itu untuk berbicara."I love you. I really love you!!"" ---Saat pertama kali aku ngeliat kamu gatau kenapa aku langsung jatuh cinta sama kamu, aku gamau kehilangan kamu. Aku mau kamu jadi milik aku, satu-satunya milik aku dihidupku." ucapnya dengan lantang dan menatap gadisnya sangat dalam sambil tangannya masih mengelus pipi mulus itu."T-tuan k-kenapa bisa.." kaget prilly sangat kaget dengan ucapan pria ini"Aku gatau, mungkin ini takdir. Jadi milikku mau? Jawabannya hanya yes or yes --- dan tidak ada penolakan baby"Bohong jika prilly tidak tertarik kepada CEO tampan itu, dia juga menyukainya. Tapi apakah secepat ini."T-tuan tapi kita baru kenal, bahkan tuan baru bertemu saya. Ga mungkin tuan menyukai saya kan?"Yaa rasanya tak mungkin jika CEO tampan ini menyukai dirinya. prilly meragukan hal itu, bahkan dia meragukan dirinya sendiri kenapa CEO itu menyukai dirinya.Apakah dia tidak sadar bahwa dirinya sangat cantik seperti dewi aphrodite, pria mana yang tidak langsung menyukai dirinya. Jelas jika semua pria pasti menginginkan dirinya untuk dijadikan kekasih.Tapi sayang model cantik itu hanya milik CEO tampan manja ini hihihi"Heii listen baby, ga ada yang ga mungkin. Mau kita belum kenal dekat atau udah kenal dekat sekalipun aku ga peduli. Aku cinta sama kamu, aku gamau kehilangan kamu --I want you to be my home, aku mau kamu jadi rumahku dikala aku capek. Jadi milikku yaa.." Ucap ali dengan penuh keyakinanMasih dengan posisi yang sama, tangan nya masih memeluk gadisnya dan masih mengelus pipi itu dengan lembut. Menatapnya dalam tersirat beribu arti dan keyakinan kepada gadisnya.Ali telak jatuh kepada model cantik itu."---oke kalo kamu masih ragu, atau kamu belum cinta sama aku. Tapi kamu maukan belajar ---belajar mencintai aku dan menjadi milik aku sepenuhnya." Lanjut ali dengan lirihPrilly menatap ali penuh isyarat, menatapnya dalam apakah pria ini serius atau membohonginya. Tapi sayang tidak ada kebohongan dimata Pria itu.Dan tanpa ragu prilly menjawab."Iya... Aku mau.""---aku mau jadi milik kamu." Ucap prilly kepada ali yang masih tidak percaya bahwa gadisnya menerima dia"Kamu serius??!!! Aggghhh thank you baby. I love you so muchh." Ucap ali dengan girang dan langsung memeluk prilly dengan erat dan dibalas pelukannya oleh gadisnya itu."Tapi ingat jangan kecewain aku ya.""Siapp My Queen, aku janji ga akan pernah ngecewain kamu. Pegang kata-kata aku."And then.. prilly telak jatuh kepada CEO tampan itu.Pelukan itu melonggar tapi dengan posisi yang masih berpelukan, Ali memindahkan tangan prilly ke lehernya, menatapnya dalam penuh makna.Semakin mendekatkan kepalanya, bahkan hembusan nafasnya sudah tercium oleh keduanya, semakin dekat tidak ada jarak sama sekali.Cuppdan yaa bibir itu menempel dengan manis dibibir gadisnya.Masih menempel dengan mata terpejamMembawa gadisnya lebih masuk kepelukannya dan menekan tengkuknya agar lebih dalam mencium gadisnya itu.Melumatnya dengan penuh cinta dan nafsu, memainkan rongga rongga mulut gadisnya dengan lidahnya itu. Mereka Berperang lidah dan melumatnya lagi dengan penuh kelembutan."Agghh.." Desahan keluar dari mulut gadis cantiknyadan mereka masih tetap melanjutkan ciuman yang penuh akan gairah itu.
MY BEAUTIFUL CEO
Thailand"Tungguuuuuuuu~"Lisa berteriak saat pintu boarding akan ditutup oleh petugas bandara, dengan ransel besar yang ia gendong di punggungnya, ia lari terbirit-birit seperti baru saja di kejar hantu."Hah..ini."Setelah selesai dengan berbagai macam urusan ia kembali berlari untuk masuk kedalam pesawat. Di dalam pesawat Lisa berjalan cepat tanpa peduli ranselnya menyenggol orang lain, ia terus berjalan menuju kelas bisnis untuk mencari tempat duduknya.Bugh~"Aww!"Lisa tercengang saat mendengar jeritan seorang wanita saat dia berbalik untuk mencari nomor tempat duduknya, ia kembali berbalik dan seorang gadis sedang menatapnya tajam seraya mengelus kepalanya."Nona, apa kau baik-baik saja?" Lisa bertanya dengan polosnya.Gadis itu menggeram dan mengangkat tangan seperti kucing hendak mencakar, "rawrr… Ransel sialanmu mengenai kepala ku!" Omelnya.Lisa tercengang dan reflek mengangkat kedua tangan seolah dia di todong sebuah pistol, "Maaf, maafkan saya. Saya tidak sengaja."Gadis itu hanya memutar bola matanya, ia menggeser tubuh Lisa secara kasar lalu duduk di tempat duduknya yang ternyata bersebelahan dengan Lisa. Setelah Lisa menaruh ranselnya kedalam bagasi yang ada di atas kepalanya, ia duduk di tempat duduknya."Nona, siapa namamu?"Gadis yang di tanya hanya diam termangu, Lisa menggunakan bahasa Thailand yang tidak di mengerti oleh si gadis. Sadar dirinya salah, Lisa menyengir kuda seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal."Ah, maksudku siapa namamu Nona?" Tanya Lisa menggunakan bahasa inggris.Lisa adalah seorang mantan atlet, ia sudah berkeliling ke beberapa negara jadi dia tidak kesulitan dalam berbicara bahasa asing karena dia pintar berbahasa Inggris, Korea, China, Prancis dan Thailand tentunya karna dia berasal dari Thailand."Tidak.perlu.tau!" Jawab sinis si gadis tersebut lalu ia memakai kacamata hitamnya.Lisa mengerucutkan bibirnya kedepan namun ia memilih diam dan tidak lagi bertanya, ia memasang sabuk pengaman setelah mendengar pengumuman jika pesawat akan segera take off. 15 menit kemudian, pesawat berhasil mengudara. Lisa melepas sabuk pengamannya lalu memasang headphone nya, mendengarkan lagu K-Pop seraya menggerak-gerakkan tangannya seolah ia sedang menari.Plak~Lisa terbelalak karena tanpa sengaja tangannya mengenai bahkan menampar gadis yang duduk disebelah nya tadi, dia menelan ludah secara kasar saat gadis itu membuka kacamatanya dan kembali menatap tajam padanya. Ia tercekikik canggung dan mengangkat kedua jari tangannya ✌️."Hihi.. Nona cantik, matamu indah seperti mata kucing, pipimu lucu seperti mandu, hidungmu mancung dan kau sangaaaaaaaaaaat cantik tapi…. Kau akan jauh lebih cantik jika kau tidak marah hihi~“ Rayu Lisa, “Maaf, aku tidak sengaja." Lanjutnya."Akkkhhh~"Lisa berteriak saat poni kesayangannya di tarik oleh gadis di hadapannya karena dia duduk menyamping menghadap pada di gadis, karena kesal jadi tanpa segan dia menggeram lalu mencubit gemas kedua pipi si gadis."Don't touch my Bangs!" Geram Lisa."Aw.. Aw.. Aw."Lisa melepas cubitannya secara kasar setelah gadis itu memekik kesakitan, ia mendengus sebal lalu kembali memasang kembali headphone nya.“Maaf nona.. nona.. Jangan membuat keributan, kalian mengganggu kenyamanan penumpang yang lainnya.“ Tegur pramugari.Lisa mengangguk dan segera menyalakan kembali musik yang ia dengar sebelumnya, sementara si gadis Kembali memasang kacamata hitamnya dan memilih memejamkan mata."Bisnis trip yang memuakkan!" Gumam kesal si gadis.Incheon Internasional Airport, Korea Selatan.Lisa tersenyum lebar saat ia keluar dari gerbang kedatangan di bandara Incheon, ia senang karena akhirnya bisa merantau ke negeri orang untuk mecoba peruntungan di hobinya yang lain. Orang tua yang selalu mendukung apapun yang ia inginkan, itu yang membuat Lisa berani untuk mencoba mencari peruntungan di negeri orang.Lisa tersenyum pada orang-orang yang menyapanya, ada beberapa orang yang mengenalinya karena memang dulu dia atlet terkenal top 1 di Thailand. Setelah merasa cukup menikmati udara Korea Selatan, dia bergegas melanjutkan langkahnya untuk memberhentikan taksi yang akan membawanya kesebuah unit apartment yang sudah ia beli sebelumnya.Saat tiba di tepi jalan Lisa mengerutkan kening, dua mobil mewah berhenti di hadapannya dan tiba-tiba turun dua pria berbadan besar, lengkap dengan setelan seorang bodyguard elit dan beberapa detik kemudian mata Lisa berbinar saat melihat seorang gadis turun dari salah satu mobil mewah tersebut."Woahhh.. Bidadari." Seru Lisa tanpa berkedip."Permisi, jangan menghalangi jalan nona." Usir seorang pria berbadan besar seraya menyingkirkan tubuh Lisa .Kekuatan yang Lisa punya membuat tubuh Lisa tidak bergeser sedikit pun, ia tetap diam di tempat dan terus memandang gadis yang diam berdiri di dekat pintu mobil, sedikit berjinjit dan menoleh ke sana kemari seperti mencari kehadiran seseorang."Tolong minggir nona." Usir tegas seorang pria berbadan besar.Lisa tersadar, ia menoleh menatap pria itu lalu mendengus kesal, "Jangan suka mengganggu kebahagiaan orang ahjussi.""Awas!"Lisa terhuyung dan hampir jatuh saat ada seorang gadis menggeser tubuhnya dari sisi kiri karena Lisa memang menghalangi jalannya, ia menganga saat tahu gadis yang ada didalam pesawat tadi lah yang menggeser tubuhnya, si gadis bermata kucing yang duduk berdampingan dengannya."Nona, kau kasar." Sebal Lisa.Gadis itu menoleh, "Maaf.. apa kita saling kenal?"Lisa mencebikkan bibirnya tapi beberapa saat kemudian ia tersenyum lebar, menyodorkan tangan untuk berjabat tangan."Hi.. Lisa, Lalisa Manoban." Ucapnya riang.Gadis yang diajak berkenalan oleh Lisa sedikit menurunkan kacamata hitamnya, ia menatap Lisa dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas lalu ia bersmirk dan menggelengkan kepala."Presiden Kim, selamat datang kembali di Korea. Ayo masuk, Tuan sudah menunggu."Gadis yang di panggil presiden Kim itu mengangguk lalu masuk kedalam mobil, mengabaikan tangan Lisa yang masih terulur untuk berjabat tangan. Gadis yang tadi Lisa tatap tersenyum, ia menjabat tangan Lisa."Hi.. Bae Joohyun tapi kau bisa memanggilku Irene, sekertaris presiden Kim."Lisa tersenyum bodoh, ia mejulurkan sedikit lidahnya. Rasa kesalnya pada presiden Kim hilang karna gadis cantik lainnya menjabat tangannya."Lisa, Lalisa Manoban. Senang berkenalan denganmu, jika kau membutuhkan fotografer kau bisa menghubungiku." Ucap Lisa lalu ia memberi wink pada Irene tanpa melepaskan jabat tangan mereka.Irene tersenyum dan mengangguk, namun saat ia akan membuka mulut untuk meminta kartu nama Lisa, ia memekik kesakitan karena sang presiden tiba-tiba mengeluarkan kepalanya saja dari dalam mobil, tangannya terulur ke arah Irene dan ia menjewer telinga Irene begitu saja."Sekertaris genit, ayo!" Tegas presiden Kim."Aw.. Aw.. Yak, Jennie Kim... Sakit bodoh!!" Geram Irene seraya mengusap telinganya dan melepas jabat tangannya dengan Lisa."Oh namanya Jennie Kim." Gumam Lisa seraya mengangguk-anggukan kepala dan tersenyum.Tanpa pamit Irene masuk kedalam mobil, tidak berselang lama dua unit mobil mewah itu melaku meninggalkan area bandara. Lisa pun bergegas memberhentikan taksi untuk segera pergi ke unit nya dan beristirahat.Di dalam mobil Jennie...Jennie terus diam dan menatap keluar jendela sementara Irene terus tersenyum seperti orang idiot, ia terus terngiang senyum Lisa, beberapa kali ia mencium aroma parfum Lisa yang menepel di tangannya kemudian ia terkikik sendirian."Aku hanya meninggalkanmu tiga hari ke Thailand, kenapa saat aku pulang kau jadi gila?"Ledek Jennie.Irene memutar bola matanya malas, "Lisa.. Lisa.. Lisa.., Jennie, apa kau satu pesawat dengan gadis tadi?" Tanya Irene antusias."Bahkan duduk berdampingan." Jawab Jennie seraya memeriksa kuku-kuku tangannya."Woah.. Jinjja? Apa kau tidak sadar dia sangat cantik tapi dia tampan juga, dia juga wangi Jennie... astaga~" Seru Irene lalu ia kembali mencium tangannnya.Jennie menoleh pada Irene seraya mengerutkan kening, "sewangi apapun dia, setampan apapun dia, bukankah tetap saja dia seorang wanita? Hell.. Irene apakah kau tidak normal sekarang?" Tanyanya menatap tidak percaya pada Irene."Omo.. Omo.. Mulutmu ini jahat sekali, tentu saja aku masih normal tapi jika Lisa mau padaku, aku rela menjadi tidak normal untuknya." Irene memekik kegirangan.Tuinggg~Jennie mendorong kepala bagian kanan Irene menggunakan jari telunjuknya hingga kepala bagian kiri Irene terbentur kaca jendela mobil."Kau benar-benar tidak waras, Bae Joohyun." Jennie menggelengkan kepala seraya melipat kedua tangannya di bawah dada.Irene terkekeh sambil mengusap kepalanya, "Aku rela di ledek tidak waras asal Lisa milikku, ya Tuhan.. pertemukan kami kembali." Ucapnya seraya menatap langit-langit mobil dan kedua tangan ia satukan 🙏.Jennie Kembali menoleh pada sekertarisnya, dia menggerakan jari telunjuk di kening seolah mencoret keningnya setelah melihat tingkah sekertarisnya, tapi setelah itu dia kembali menggeleng dan menoleh keluar jendela tanpa mengatakan apapun lagi.••Karena rasa lapar yang luar biasa , sebelum masuk ke kawasan unit apartment nya Lisa memutuskan untuk makan terlebih dahulu, dia memilih makan di resto bintang 3 yang tidak jauh dari unitnya . Soal keadaan ekonomi Lisa , bisa di bilang dia orang kaya. Selain hasil dia menjadi atlet selama ini yang selalu ia tabung, orang tuanya adalah seorang Chef internasional yang memiliki beberapa cabang resto bintang 5 di Asia dan Eropa, tapi dia lebih senang menggunakan hasil kerja sendiri untuk mencukupi kehidupannya sehari-hari kecuali jika ada keperluan mendadak barulah dia akan lari pada orang tuanya. Seperti unit nya di Seoul, orang tuanya lah yang membelikan unit itu untuk Lisa."Lumayan." gumam Lisa seraya mengangguk-anggukan kepala setelah satu suap makanan khas Korea itu masuk ke dalam mulutnya.Lisa melanjutkan makannya seraya menatap jalanan yang cukup padat malam ini, dia pintar beradaptasi jadi menyesuaikan perbedaan waktu antara Seoul dan Thailand tentu itu bukanlah hal yang sulit untuknya. Mulutnya tidak berhenti mengunyah, bola matanya tidak berhenti bergulir dan sesekali ia tersenyum melihat pemandangan lucu yang ia lihat di luar resto.15 menit kemudian acara makan malamnya selesai, Lisa memanggil pelayan untuk membayar bill dan setelah semua selesai dia mengeluarkan kameranya lalu ia gantung di lehernya , ia menggendong kembali ranselnya di punggung lalu keluar dari resto tersebut. Selalin menjadi atlet tapi dunia fotografer adalah hobinya."Spring day."Lisa tersenyum saat sadar ini adalah awal musim semi, awal maret memang hawa masih terasa dingin karena musim dingin baru saja berlalu dan musim panas baru akan tiba. Lisa berjalan pelan di trotoar jalan, beberapa kali ia memotret hal yang menurutnya unik dan layak untuk di foto. Ia tersenyum setiap kali melihat hasil fotonya cukup memuaskan, tapi setelah itu ia kembali membidik ke arah seorang pria paruh baya yang hendak menyebrang namun matanya terbelalak karena di belakang pria itu ada seseorang yang memakai pakaian serba hitam, memakai masker juga topi hitam, memegang sebuah pisau yang siap di arahkan ke kepala pria paruh baya yang hendak menyebrang itu.Tanpa menunda Lisa berlari sekncang yang ia bisa, tepat saat pisau itu akan di tancapkan ke kepala pria paruh baya tersebut Lisa melompat , ia memutar tubuhnya dengan kaki kanan yang ia angkat lalu ia ayunkan ke arah pria berpakaian hitam tadi dan..Bugh! Prak!!Side kick berhasil Lisa lakukan, tendangan mendarat sempurna di dada lawan hingga lawan terpental dan pisau yang di genggam pun jatuh di atas trotoar."Tuan, anda baik-baik saja? Maaf .. Dia akan menusuk kepala anda dengan pisau." Ucap Lisa pada pria paruh baya yang hendak menyebrang itu, dia menggunakan bahasa korea fasih seolah sudah sangat lama dia di Korea."Ah.. Saya baik-baik saja, nak. Terima kasih banyak." Balas si pria paruh baya.Tepat setelah pria paru baya itu seslai berbicara, sudut mata Lisa kembali menangkap pergerakan, ia menarik kasar tubuh pria paruh baya itu lalu ia sembunyikan di balik tubuhnya dan benar saja, pria berpakaian serba hitam itu kembali memegang pisau dan hendak menusuk si pria paruh baya kembali.Lisa kembali menendang tangan pria itu hingga pisau kembali terlempar , saat si pria lengah Lisa memberi pukulan mentah di wajah si pria hingga perkelahian terjadi, Lisa terus menepis dan saat lawan lengah ia sedikit melompat lalu memberikan axe kick , kaki Lisa yang berbalut sepatu booth mendarat sempurna di kepala si pria hingga akhirnya pria itu jatuh tidak sadarkan diri.Pria paruh baya di belakang Lisa tercengang melihat perkelahian yang terjadi sementara Lisa diam berdiri seraya mengatur nafasnya yang terengah-engah, ia menghapus keringat menggunakan punggung tangannya lalu meludah tepat mengenai wajah si pria yang sudah tergeletak tidak sadarkan diri."Hah .. Beraninya main belakang." Gerutu Lisa."Tuan, anda baik - baik saja?"Lisa menoleh ke belakang saat mendengar suara pria asing lainnya, dia mengangkat sebelah alis saat melihat ada seorang pria berbadan besar dengan setelan rapih menghampiri pria yang dia tolong, tanpa menunda dia berbalik lalu berjalan menghampiri pria paruh baya itu dan menepuk bahunya karena pria itu hanya diam dan terlihat shock."Tuan, anda baik - baik saja kan?"Pria paruh baya tersadar, ia mengangguk lalu menatap Lisa, " Nak, kau asli korea?"Lisa menggelengkan kepala dan tersenyum, " tidak, ah bukan maksud saya. Saya dari Thailand dan baru sampai di Korea beberapa jam yang lalu.""Apa kau kuliah, bekerja atau?"Lisa kembali tersenyum, "Saya sedang mencari pekerjaan, Tuan.""Bisakah kau ikut denganku? Sebagai tanda terima kasih, aku akan memberimu pekerjaan." Balas si pria"Tuan Kim, anda yakin? Kita saja baru bertemu dengannya." Ucap si pria berbadan besar."Aku percaya padanya," Jawab si pria paruh baya seraya menoleh pada pria berbadan besar lalu ia kembali menoleh pada Lisa, "kau mau, kan?"Mata Lisa berbinar , ia mengangguk antusias dan rasa lelahnya hilang begitu saja. Siapa sangka niat menolong tanpa sengaja malah membantu dia untuk mendapat pekerjaan di hari pertama ia tiba di korea? Karena sudah setuju untuk bekerja pada pria yang ia tolong, ia ikut masuk ke dalam sebuah mobil mercedez maybach hitam yang menjemput pria paruh baya itu tanpa pulang ke unit nya terlebih dahulu, tasnya ia peluk di pangkuannya dan sepanjang perjalanan keduanya berbincang. Dari perbincangan itulah si pria paruh baya tau jika Lisa adalah mantan atlet bela diri, tidak heran Lisa bisa bahkan pandai berkelahi.___Keesokan harinya...Karena malam semakin larut dan tidak membawa kendaraan, terpaksa Lisa menginap di sebuah mansion mewah milik pria paruh baya yang ia tolong tadi malam. Saat ini dia baru saja terbangun dari tidurnya, ia menggeliat lalu duduk di atas tempat tidur, tanpa membuka mata dia bergerak merapihkan poni kesayangannya. Di rasa poni nya cukup rapih dan sudah menutupi jidatnya Lisa membuka mata dan tersenyum seraya melihat sekeliling kamar luas itu, furniture mahal jelas mengisi hampir setiap sudut kamar tersebut membuatnya terkagum-kagum.Puas melihat sekeliling kamar itu dia segera turun dari atas tempat tidur lalu dia berjalan ke arah balkon. View kolam renang juga taman belakang mansion itulah yang menjadi pemandangan yang menyegarkan mata Lisa pagi ini tapi beberapa saat kemudian senyum Lisa luntur saat ia melihat seorang gadis di tepi kolam.Lisa membeku tanpa berkedip karena melihat gadis itu membuka bathrobenya, apa yang si gadis lakukan sukses membuat mulut Lisa menganga dan matanya terbuka lebar."Oh my gosh!" Gumam Lisa, dia menjilat bibirnya seraya berpegangan pada pagar balkon tanpa mengalihkan perhatiannya.Lisa yakin gadis itu akan berenang karena si gadis hanya memakai bikini saja setelah bathrobe terlepas. Bokong dan payudara sintal si gadis membuat Lisa meneteskan air liur tanpa ia sadari, dia terus memperhatikan si gadis dan matanya masih saja tidak berkedip saat melihat gadis itu sedang melakukan stretching di pinggir kolam.Di bawah Lisa tepatnya di area kolam renang, gadis itu mengibas-ngibaskan rambutnya yang dia urai begitu saja, tapi saat dia akan menceburkan diri ke kolam dia mengerutkan kening seraya menaruh kedua tangannya di pinggang."Kenapa rasanya seperti ada yang memperhatikanku?" Gumam si gadis seraya menoleh ke sembarang arah, tepat saat ia mengangkat kepala dan melihat ke arah balkon yang ada di lantai 2, matanya terbelalak karena melihat kehadiran Lisa disana, "YAK!!" Teriaknya.Lisa masih diam dan semakin menganga karena gadis itu menghadap padanya, perut rata dan tubuh ideal gadis cantik menjadi pemandangan paginya hari ini. Gadis itu geram melihat wajah mesum Lisa, ia menunduk dan mencari sesuatu hingga akhirnya ia menemukan batu kerikil. Dia menyeringai lalu ia membungkuk dan mengambil kerikil tersebut, setelah berdiari kembali dia melempar kerikil itu sekuat tenaga ke arah Lisa.Wushh~ Tuk!!Lisa memekik kesakitan seraya menutup area selangkangan nya, batu itu masuk ke celah pagar balkon dan mendarat sempurna di atas selangkangan Lisa. Lisa menangis karena miliknya sedang ereksi sempurna lalu terkena lemparan batu, rasa sakitnya membuat kaki Lisa lemas bukan main ."Oh Kintamaku." Lirih Lisa seraya terus mengelus miliknya.Si gadis menggeram di bawah, ia meraih dan memakai bathrobenya seraya melangkah ke arah pintu untuk masuk ke dalam rumah karena dia berniat menemui Lisa di atas sana.Dengan langkah tergesa gadis itu masuk ke dalam mansion seraya mengikat kembali tali bathrobenya, ia terus menggeram dan mengumpat karena merasa sangat kesal, dia merasa di intip secara diam-diam oleh orang asing yang entahlah kenapa ada di mansionnya.“Hey, young princess .. Kenapa?”“Jennie .. Apa yang terjadi?”Dua pertanyaan itu keluar dari mulut seorang pria paruh baya dan seorang gadis yang sedang bersantai di living room. Jennie tidak menggubris pertanyaan-pertanyaan tersebut, yang ada dia terus langkah tergesa hingga akhirnya ia menaiki tangga membuat dua orang yang bertanya padanya terheran-heran karena Jennie tidak pernah sekali pun menggunakan tangga, meski hanya naik ke lantai 2 biasanya dia selalu memakai lift di mansion tersebut.Tidak berselang lama Jennie tiba di depan pintu kamar tamu dimana kamar itu memang di isi oleh Lisa, dengan bantuan seorang maid Jennie berhasil membuka pintu tersebut. Ia masuk dan menatap tajam pada Lisa yang sedang menangis, berlutut sedikit membungkuk dan menutup selangkangan nya, bahkan Lisa masih berada di balkon kamar tamu mansion megah keluarga Kim.“Siapa yang mengizinkan mu tidur di kamar ini?” Tanya Jennie marah seraya melangkah mendekati Lisa, kedua tangannya kembali ia taruh di pinggang.Lisa mengangkat kepala menatap Jennie, “tuan Kim.” Jawabnya apa adanya.“Kenapa kau mengintip, hah? Tidak sopan sekali!” Ketus Jennie.“Hiks .. Aku tidak mengintip nona. jangan salahkan aku, salahkan mataku yang tidak bisa menyianyiakan kesempatan untuk melihat pemandangan indah.” jawab Lisa di sela tangisnya.Jennie menganga mendengar jawaban Lisa, ia menggeram lalu menjambak rambut Lisa, memukuli bahu Lisa sekencang yang ia bisa, tampang gemas dan kesal terlihat menghiasi raut wajah cantik Jennie.“Aw .. Aw! Yak! Aduhh~”Lisa merangkak untuk menghindari Jennie hingga akhirnya dia berhasil masuk ke dalam kamar. Setelah berhasil menghindar Lisa berdiri lalu dia berlari, keduanya berlarian di dalam kamar tamu itu. Jennie terus berlari dan berusaha memukul Lisa, sedangkan Lisa berlari untuk menghindar dari amukan Jennie.“Tidak kena .. Wlee~”Lisa sedikit menungging lalu menggerakkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan seraya menaruh jempol tangan kanan di telinga kanan dan jempol tangan kiri di telinga kiri, dia menoleh menatap Jennie sambil menjulurkan lidah meledek. Apa yang Lisa lakukan jelas membuat Jennie semakin kesal, ia mengepalkan kedua tangannya sekilas lalu ia meraih guci kecil yang menjadi pajangan di kamar itu. Lisa terbelalak, ia berlari menghindar namun tepat saat Jennie akan melempar guci tersebut pintu kamar terbuka dari luar hingga membuat Jennie menghentikan aksinya.“Ada apa ini?” Tanya seorang pria paruh baya.Jennie mendengus kesal lalu memeluk guci yang tadi sudah siap untuk ia lempar, “siapa dia dad? Kenapa makhluk menyebalkan itu ada disini, dia mengintip ku di kolam renang.” Adunya.“Aku tidak sengaja tuan, aku baru saja bangun tidur lalu melihat pemandangan dari balkon. Balkon mengarah ke kolam renang, tidak salah kan?” Elak Lisa.“Tapi kenapa kau terus menatapku dengan tampang menjijikanmu itu?” Kesal Jennie.“Mwo? Menjijikan katamu? Ck .. I'm so hot." Balas Lisa percaya diri.“Hot? Hot lubang hidungmu." Geram Jennie lalu ia kembali mengangkat guci yang ia peluk untuk ia lempar ke arah Lisa.Guci terlempar namun karena Lisa memiliki refleks yang bagus, dengan mudah dia menangkap lalu memeluk guci tersebut.Lisa menyeringai, "mweheheh .. Apa? Mau melempar apalagi? Ayo." TantangnyaDemi segala dewa di dunia, Jennie merasa sangat kesal pada Lisa. Ia menghentak-hentak kaki kelantai seraya mengepalkan kedua tangannya.“Sudah, Jennie kau mandi dan daddy tunggu di ruang makan," Ucap si pria paruh baya lalu ia menoleh pada Lisa, "dan kau, mandi .. Saya tunggu di ruang makan.”Jennie mendengus kesal dan pergi begitu saja dari kamar tamu tersebut di ikuti oleh sang daddy, Lisa pun segera menaruh guci di tempat asalnya, ia berjalan ke arah kamar mandi untuk segera mandi dan memeriksa miliknya.20 menit kemudian....“Jadi.. namanya Lisa, Lalisa Manoban. Dia berasal Thailand, semalam dia menolong daddy dari orang suruhan pesaing kita yang berniat menyingkirkan daddy, ia datang ke Korea untuk mencoba peruntungan di negara kita dan dia adalah mantan atlet bela diri yang ingin mencari pekerjaan baru di Seoul, dia sudah bercerita pekerjaan apa yang dia cari tapi karena dia memiliki keahlian lain daddy menyarankan untuk menjadi bodyguard dan asisten pribadi mu saja.”Uhuk ~ uhuk ~Jennie tersedak makanan yang sedang ia kunyah setelah mendengar ucapan sang ayah, mereka memang sedang sarapan bersama setelah Lisa dan Jennie turun dari kamar masing-masing. Lisa sigap memberikan air minum pada Jennie, setelah batuk nya mereda, Jennie menatap tidak percaya pada sang ayah.“Are u sure, dad? Oh C'mon, masih ada Jackson yang menjagaku.” Keluh Jennie.“Jackson akan menjaga kakakmu Jisoo, karena sebentar lagi dia akan menjadi CEO di perusahaan kita yang bergerak di bidang lain.” Ucap sang daddy.Jennie dan Jisoo adalah kakak beradik, mereka anak korban brokenhome. Kedua orang tuanya bercerai karena sebuah masalah besar yang keduanya pun tidak tahu apa masalahnya, Jisoo ikut sang ibu di Auckland dan Jennie ikut dengan sang ayah di Korea. Kedua orang tuanya akur meski bercerai jadi hubungan mereka baik-baik saja, namun karena sang ibu menikah lagi dan Jisoo tidak nyaman harus tinggal dengan ayah sambungnya, Jisoo memilih kembali ke Korea dan tinggal bersama adik dan ayah kandungnya.Jennie hanya bisa mendengus kesal karena ia tau jika sang ayah sudah membuat peraturan dia tidak bisa menolak aturan itu. Meski dia kesal pada Lisa, mau tidak mau dia harus pasrah dengan keputusan sang ayah. Semalam Lisa sudah menyetujui tawaran pekerjaan dari ayah Jennie jadi mulai hari ini dia akan bekerja menjadi bodyguard dan asisten pribadi Jennie, jauh melenceng dari niat awalnya datang ke Seoul, ia ingin menjadi fotografer tapi ujungnya dia malah menjadi bodyguard. Tidak masalah bagi Lisa apapun pekerjaannya, apalagi gaji yang di tawarkan oleh tuan Kim sangat menggiurkan dan terpenting, pekerjaannya Halal.“Dan Lisa .. Namaku Kim Woo Bin, semalam kau hanya tahu dan memanggilku Tuan Kim saja.”Lisa tersenyum dan mengangguk, “Nde tuan.”“Kau asli Thailand?” Tanya Jisoo.Lisa kembali mengangguk, “Nde presiden, saya asli Thailand. Mau berlibur ke sana?” Ajaknya.Jisoo terkekeh, “kita atur jadwalnya nanti.”Lisa hanya mengangguk dan tidak mengatakan apapun, mereka kembali melanjutkan sarapan dalam kondisi hening. Sesekali Jennie melirik Lisa dan ia sadar apa yang Irene katakan benar. Lisa cantik dan tampan tapi tingkah Lisa sangat menyebalkan.___Kim CompanyMobil mercedez Maybach itu melaju perlahan di pelataran sebuah gedung perusahaan, tidak berselang lama mobil berhenti tepat di depan pintu utama gedung perusahaan itu. Beberapa detik kemudian Lisa turun dari pintu pengemudi, dia berbalik lalu membukakan pintu penumpang dan detik berikutnya Jennie turun dari dalam mobil.Pekerjaan Lisa benar-benar berbeda dari pekerjaan yang dia harapkan sebelumnya, selain menjadi bodyguard peribadi tapi dia merangkap menjadi sopir dan asisten pribadi Jennie juga, tapi karena itu pilihannya jadi dia menerima semua pekerjaan yang Woo Bin percayakan padanya.Di dalam lobby ada seseorang yang terlihat berbinar melihat kehadiran Lisa, orang itu tidak lain adalah Irene. Irene sedang menanti kedatangan Jennie di lobby perusahaan karena memang seperti itu biasanya. Setelah turun dari mobil Jennie berjalan anggun namun berwibawa dengan setelan CEO-nya dan masuk ke gedung perusahaan tersebut.Irene menyambut hangat namun ia terus curi pandang pada Lisa yang berjalan mengikuti Jennie, melihat gelagat Irene membuat Jennie menggelengkan kepala. Lisa membuat Irene tidak fokus bahkan dia lupa menyapa Jennie karena sibuk curi pandang pada Lisa, sementara Lisa hanya tersenyum manis seraya terus berjalan mengikuti Jennie.Melihat Lisa semakin menjauh membuat Irene tersadar, ia terbelalak dan berlari mengikuti Jennie. Larinya semakin kencang saat melihat Jennie sudah masuk ke dalam lift, Jennie sudah berdiri di dalam lift menunggu Lisa dan Irene masuk, tapi tepat saat Lisa akan masuk Irene yang berlari kesulitan menghentikan larinya, ia menabrak punggung Lisa hingga akhirnya Lisa terhuyung ke depan dan menabrak Jennie yang berdiri di hadapannya.Dorongan yang Irene lakukan membuat Jennie mundur, punggungnya membentur dinding lift dan tubuh nya terhimpit oleh Lisa yang juga terdorong oleh Irene. Entah itu sebuah kesialan atau justru keberuntungan, bibir Lisa mendarat sempurna di bibir Jennie . Pintu lift tertutup dan kondisi di dalam lift hening, tangan Jennie berada di dada Lisa sedangkan kedua tangan Lisa ada di dinding lift tepat di kedua sisi bahu Jennie dan tangan Irene memeluk pinggang Lisa.Mata Jennie dan Lisa terus bertemu, keduanya diam dan lift terus hening. Lisa terbawa suasana, kedua payudara Irene menempel di punggungnya dan bibir nya menempel di bibir Jennie, tanpa merasa bersalah ia malah mencoba melumat bibir Jennie, jantung keduanya berdetak kencang seolah tidak ada siapapun lagi di sana. Lisa memejamkan mata menikmati kenyal dan lembutnya bibir Jennie, melihat Lisa memejamkan mata membuat Jennie tersadar, dia mendorong kasar tubuh Lisa hingga Lisa terhuyung ke belakang dan mendorong tubuh Irene.Plak!“KURANG AJAR!” Teriak Jennie marah setelah memberi tamparan di pipi Lisa Lisa.Karena kehilangan keseimbangan Lisa terhuyung ke belakang hingga akhirnya punggung Lisa menghimpit tubuh Irene di pintu lift. Irene memekik kesakitan karena kepala nya terbentur pintu lift, mendengar pekikan Irene akhirnya Lisa tersadar dia segera berdiri tegak, dengan segala kerepotan yang ada di tangannya, ia membantu Irene berdiri.“Maaf presiden Kim, selamat pagi.” Sapa Irene kikuk.Jennie mendengus kesal, ia mendelik pada Lisa lalu dia mengangkat tangan dan menunjukan jari tengahnya pada Lisa membuat Lisa tercengang lalu membungkuk berkali-kali.“Maaf presiden Kim, maaf. Saya terbawa suasana.” Cicit Lisa.Jennie mendengus sebal, ”Maaf, maaf. Belum ada 24 jam aku bersamamu tapi sudah dua kali kau memancing emosiku, Lalisa!!” Omelnya.“Ya karena aku tidak boleh memancing nafsu birahi mu, kan?” Celetuk Lisa.Mendengar jawaban Lisa membuat Jennie menganga, tanpa mengatakan apapun ia kembali memukuli Lisa. Irene hanya menatap bingung kedua orang di hadapan nya, dalam benaknya ia bertanya-tanya; ‘kenapa Jennie bisa bersama Lisa? Dua kali memancing emosi, itu artinya Lisa bersama Jennie sudah dari waktu yang lama. Kapan Jennie bertemu dengan Lisa lagi?’Ting!Pintu lift terbuka tepat di lantai 40 gedung perusahaan tersebut tapi karena Irene sedang bersandar di lift hampir saja dia terjengkang ke belakang tapi karena Lisa melihat itu jadi dia refleks memeluk pinggang Irene. Keduanya diam saling bertatapan tanpa peduli ada Jennie di sana.Apa yang terjadi di hadapannya membuat Jennie semakin kesal, ia menendang kaki Lisa membuat Lisa dan Irene tersadar dan gelagapan. Irene merasa debaran jantungnya berbeda saat dia menatap mata Lisa, sementara Lisa? Entah kenapa dia merasa terpergok berselingkuh oleh Jennie.“Maaf presiden.” Cicit Lisa dan Irene bersamaan.Jennie memutar bola matanya jengah, “Maaf .. maaf saja yang bisa kalian ucapkan dari tadi, aku bosan mendengarnya." Ketusnya, selesai berbicara ia segera keluar dari dalam lift seraya menyenggol bahu Lisa.Melihat kepergian Jennie membuat Irene dan Lisa merasa takut, tanpa menunda mereka bergegas mengikuti Jennie. Tanpa peduli Jennie akan mengamuk lagi Lisa berlari lebih kencang lalu sepatunya berseluncur di lantai hingga tiba di depan sebuah pintu yang memiliki tulisan;Chief Executive Officer Room“Silahkan, presiden Kim.” Ucap Lisa sesaat setelah dia membukakn pintu untuk Jennie.Jennie hanya mengangguk lalu masuk ke dalam, ia memberi kode oleh jari telunjuknya agar Lisa mengikutinya. Lisa mengangguk patuh dan mengikuti Jennie ke dalam, setelah menutup pintu ruangan atasannya dia berjalan ke arah meja kerja Jennie, tiba di samping meja dia menaruh tas dan botol minum Jennie di meja lalu mengaitkan coat di sandaran kursi kebanggaan Jennie. Melihat Jennie hanya berdiri dan diam di sebelahnya dengan tergesa Lisa menarikan kursi untuk Jennie.“Silahkan duduk, tuan putri.”Jennie menoleh secara kasar pada Lisa, “what?”Lisa menyengir kuda, “ah maksud saya .. silahkan duduk, presiden.”Tanpa berkata apapun Jennie duduk di kursi kerjannya, jari lentiknya menekan tombol on pada iMac yang ada di hadapannya lalu ia memutar kursi kerjanya menghadap pada Lisa yang masih setia berdiri di dekat kursi kerjanya.“Bisakah kau merubah penampilan? Aku tidak suka kau memakai Jeans seperti ini, tidak rapih sekali.” Ucap Jennie.Lisa mengangguk, “Tentu saja bisa, bagaimana peraturannya dan penampilan seperti apa yang anda suka, presiden?" Jawabnya.Jennie mengangkat sebelah alis lalu memutar kursi kerjanya, ia mengetik kata kunci di situs web-nya lalu muncul beberapa foto penampilan bodyguard elit, ia mengangguk-anggukan kepala lalu menoleh pada Lisa.“Jika kau mengantarku ke acara resmi seperti pergelaran busana, meeting penting atau acara resmi lainnya kau harus memakai pakaian rapih, pakailah kemeja, dasi, jas atau blazer mungkin, yaaa seperti penampilan bodyguard Elite pada umumnya dan pakai selalu interkom yang terhubung denganku." Jawab Jennie.Lisa mengangguk, “Roger presiden, lalu?”“Jika sedang mengantarku bekerja di perusahaan seperti sekarang, semi formal pun tidak apa, boleh memakai Jeans tapi jangan berwarna terang seperti ini, tetap pakai kemeja dan intinya harus terlihat rapih, bersih dan wangi." Lanjut Jennie.Lisa kembali mengangguk, “hanya itu?”Jennie menggelengkan kepala, “tidak, jika kau sedang mengantarku liburan, shopping atau hang out. Pakailah setelan cassual sesukamu, sesuai usiamu tapi ya harus rapih dan wangi juga, yaa.. Anggap saja sedang mengantar teman, jangan menunjukan kau bodyguardku. Mau memakai dress pun tidak apa.”Lisa tercengang, “aku tidak mau memakai dress karena tidak leluasa berjalan, nanti dressnya terbang-terbang presiden Kim lalu si Panbes Kintama terlihat orang.”“Kau wanita Lisa, kenapa tidak mau memakai dress? Dan siapa itu, siapa? Panbes apa?” Tanya Jennie bingung.“Saya wanita super karena saya punya ini presiden,” Lisa terkikik seraya menunjuk selangkangannya, “saya seorang Intersex.”Jennie terbelalak dan langsung berdiri, “are u sure?”“Iya, saya serius. Apa tuan Kim tidak memberitahu?” Tanya Lisa.“Tidak, aihh daddy~” Gerutu Jennie seraya menepuk keningnya.“Anda menyakitinya tadi pagi presiden Kim.” Cicit Lisa, ia menunduk seraya memaninkan jari tangannya.“Menyakiti siapa?” Tanya Jennie bingung.“Panbes Kintama.” Tunjuk Lisa pada selangkangannya.Jennie tertawa seraya menampar pelan pipi Lisa, “apa kau tidak memiliki nama lain? Astaga .. Nama apa itu?“Itu ada artinya, presiden.” Sombong Lisa seraya melipat kedua tangannya di bawah dada.Jennie mengangguk-anggukan kepala seraya ikut melipat kedua tangannya di bawah dada, “oh benarkah? Apa arti singkatan apa itu?” Jawabnya di sela kekehannya.“Panbes Kintama = PANjang BESar Kuat Imut daN TAhan laMA.”Jennie tercengang setelah mendengar jawaban Lisa tapi beberapa saat kemudian ia tertawa terbahak–bahak, ia membungkuk lalu duduk secara kasar di kursi kerjanya seraya memegang perutnya. Lisa ikut terkekeh karena melihat tawa lepas Jennie, ia tidak menyangka di balik sinis, galak dan juteknya Jennie ternyata Jennie wanita baik dan tidak segalak yang dia pikirkan.Jarum jam sudah menunjuk angka 12 yang itu artinya waktu istirahat dan makan siang akhirnya tiba. Di saat orang lain sudah bersiap untuk pergi ke kafetaria atau resto untuk menyantap makan siang mereka tapi Jennie masih sibuk meeting. Meskipun sudah merasa lapar Lisa setia menunggu Jennie di depan pintu ruang meeting, dia duduk bersandar dan bertumpang kaki di sofa yang tidak jauh dengan pintu seraya memainkan ponselnya untuk bertukar kabar dengan sang ibu di Thailand.Lisa menceritakan pekerjaan apa yang dia dapat, sang ibu merasa tidak enak karena anak tunggalnya harus menjadi seorang asisten tapi Lisa menjelaskan jika menjadi asisten pun bukan asisten rumah tangga, melainkan asisten CEO dari perusahaan terbesar se-Asia, Eropa dan Amerika. Dia juga menjelaskan jika dia merangkap menjadi seorang bodyguard dan gajinya menjanjikan, rencananya nanti Lisa akan membuka studio foto di Thailand dan Korea dari hasil tabungan dia bekerja menjadi asisten saat ini.25 menit menunggu akhirnya Jennie keluar dari ruangan meeting , Lisa langsung berdiri dan membungkuk hormat pada Jennie. Jennie hanya mengangguk dan memberi kode dengan lambaian tangan agar Lisa mengikutinya karena dia sendiri masih berbincang dengan clientnya . Lisa mengikuti langkah Jennie, ia berjalan tepat di belakang Jennie dan berdampingan dengan Irene, irene terus mencuri pandang pada Lisa sementara Lisa sendiri sedang asyik memperhatikan Jennie dari belakang, wajah Jennie terlihat luar biasa cantik jika ia sedang berbincang serius, sesekali gummy smilenya muncul membuat Lisa memekik gemas dalam hati.“Oke Mr.Alex, senang bisa bekerja sama dengan anda. Mungkin nanti saya akan turun langsung ke Daegu untuk melihat pabrik di sana.” Ucap Jennie.Pria bernama Alex yang tidak lain adalah client dari Paris mengangguk, “Oke. Thanks presiden, saya senang bisa bekerja sama dengan anda dan perusahaan sebesar Kim Company. Nice to meet you, presiden.” Ucapnya seraya memeluk pinggang Jennie dan bercipika cipiki membuat Lisa menganga apalagi melihat Jennie memegang bahu pria tersebut dan membalas dengan senang hati.“Kau terkejut?” Bisik Irene.Lisa menoleh dan mengangguk, “Yeah, lumayan.” Jawabnya jujur.“Itu sudah biasa jika bersama client dari luar Lisa, apalagi tuan Alex memang client lama.” Ungkap Irene.Lisa mengangguk-anggukan kepala tapi dia tidak mengatakan apapun. Setelah mr Alex masuk ke dalam lift umum, Lisa segera menekan tombol up di lift pribadi Jennie. Melihat Jennie seperti sedang membersihkan tangannya, dengan sigap Lisa mengeluarkan kemasan tissue basah kecil dari saku celananya, pintu lift terbuka Lisa , Jennie dan Irene masuk terlebih dahulu ke dalam lift.“Biar saya bersihkan tangannya, presiden.” Ucap Lisa.Jennie tersenyum tipis seraya menyodorkan telapak tangannya pada Lisa, dengan senang hati Lisa memegang tangan Jennie lalu membersihkan telapak tangan Jennie menggunakan tissue basah, setelah kedua tangan Jennie dia lap menggunakan tissue basah Lisa memberikan setitik cairan gel antiseptik di tangan Jennie yang langsung Jennie ratakan. Irene mengerucutkan bibirnya melihat pemandangan itu, ia cemburu tapi mau bagaimana lagi?“Mau makan di luar, di cafetaria perusahaan atau di ruangan anda, presiden?” Tanya Lisa.Ting!Jennie keluar dari lift seraya melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, “uhm miss Bae, apa masih ada pekerjaan atau meeting lagi?” Tanyanya.Sambil melangkah Irene memeriksa jadwal Jennie di iPad-nya, “masih ada meeting tapi nanti sore, client masih dalam penerbangan.”Jennie mengangguk-anggukan kepala, “baiklah, saya akan pergi makan siang di luar dulu. Anda mau ikut?" Tanyanya di akhir kalimat.“Tentu, jika gratis mana mungkin menolak?” Jawab Irene.Jennie memutar bola matanya malas tanpa mengatakan apa pun, karena pintu ruangan sudah di buka oleh Lisa jadi ia segera masuk ke dalam . Irene adalah sahabat Jennie jadi interaksi mereka kadang profesional sebagaimana Bos dan anak buah, kadang seperti sahabat pada umumnya.Saat masuk ke dalam ruangan, Jennie terbelalak karena melihat kehadiran seseorang. Diaa berseru dan langsung menghampiri orang tersebut di mana memang orang itu sudah berdiri menyambut Jennie, keduanya berpelukan sekilas sebelum akhirnya mereka berdiri berhadapan. Lisa tersenyum kecut dan memilih diam di luar lalu menutup pintu ruangan Jennie.“Kapan kau pulang, oppa?” Tanya Jennie.Seseorang yang Jennie panggil oppa itu tersenyum, “aku baru mendarat dan aku merindukanmu, jadi aku langsung kesini saja.”“Uuu~ i miss you too, lama sekali di Aussie.” Rengek Jennie sebal.“Maaf sayang, sekarang aku sudah pulang kan? kita akan sering bertemu . Ayo makan siang Bersama” Ajaknya.Jennie mengangguk lalu berjalan ke arah kursi meja kerjanya, dia mengambil tas dan coat nya lalu dia kembali menghampiri seseorang itu, Jennie menggandeng lengan pria tersebut lalu keduanya keluar dari ruangan. Di luar ruangan, Irene dan Lisa sudah siap untuk pergi. Jennie menyerahkan tas dan coatnya pada Lisa yang langsung Lisa terima.“Oh iya, oppa .. Ini Lisa, asisten dan bodyguard pribadiku,” Jennie memperkenalkan Lisa pada pria tersebut lalu ia menoleh pada Lisa, “dan Lisa, ini Kim Taehyung ... Kekasihku.”Lisa menghela nafas dan memaksakan senyumnya, ia mengulurkan tangan yang langsung Tae terima“Lisa, Lalisa Manoban.” Ucap Lisa.Tae tersenyum, “Kim Taehyung, Tae atau V.”Lisa mengangguk dan tersenyum , keduanya melepas jabat tangan lalu Lisa segera berjalan menuju lift pribadi Jennie untuk menekankan tombol pintu lift untuk Jennie. Setelah pintu lift terbuka keempatnya masuk ke dalam lift, Lisa menjadi murung apalagi melihat Jennie dan Tae terus bergandengan tangan, berbincang dan terkikik bersama.___“Dia itu first love Jennie, mereka sudah menjalin hubungan semenjak masa kuliah dulu. Tapi aku tidak suka pada pria itu.” Ungkap Irene.Lisa mengangguk-anggukan kepala, “kenapa tidak suka?”“Sudah berkali-kali aku dan sahabatku yang lain memergoki di sedang bersama wanita lain tapi Jennie di buta kan oleh cinta jadi dia tidak percaya pada kami jika kami memberitahunya dengan alasan karena Jennie tidak pernah memergoki sendiri.” Jawab Irene.“Cinta memang bisa membuat orang buta, saking butanya tidak bisa melihat mana toyota camry dan mana lamborghini.” Ucap Lisa seraya menggeleng-gelengkan kepala tapi detik berikutnya dia menyuapkan makanan ke mulutnya.Lisa dan Irene satu meja sedikit berjauhan dengan meja Jennie dan Tae. Lisa terus mencuri pandang pada Jennie, berusaha sigap memperhatikan Jennie .“Lisa, kau memiliki kekasih?” Tanya Irene.Lisa tersenyum, “Tidak, aku trauma pacaran.” ia terkekeh begitupun Irene.“Kenapa trauma? Apa kau di perkosa?”Lisa tertawa hingga hampir tersedak , ia melambai - lambaikan tangan cepat lalu minum terlebih dahulu, selesai minum Lisa kembali berbicara.“Tentu saja tidak, aku atlet dulu jadi aku sering pergi keliling beberapa negara. Saat aku pulang pertandingan, aku memergoki dia sedang bercumbu dengan orang lain padahal dia my First Love, sakitnya sampai ke tulang.” Ungkap Lisa dan ia semakin murung.Irene tersenyum lalu meraih dan menggenggam tangan Lisa yang ada di atas meja, “nanti kau akan menemukan penggantinya, first love memang tidak selalu indah.”Lisa tersenyum lalu melirik pada Jennie, “aku sudah menemukan penggantinya.” Jawabnya.“Yaaa semoga kau bahagia setelah itu, jangan terpuruk karena masa lalu.”Lisa mengangguk, “tentu saja, untuk apa aku terpuruk karena cinta yang menyakitkan? Ck .. Dunia masih berputar, masih banyak cinta yang lebih indah.”Lisa menarik tangannya dari genggaman tangan Irene, irene hanya bisa menghela nafas dan mengikuti Lisa untuk melanjutkan makan siang mereka.___Kim Company - 18.15 pm KSTJennie baru keluar dari ruang meeting saat matahari sudah tenggelam, karena seperti yang Irene bilang jika sore tadi Jennie ada meeting kembali dan meeting baru selesai saat matahari sudah terbenam. Lisa kembali menyambut Jennie, keduanya berjalan bersama untuk menuju lift yang akan membawa ke lantai 40 dimana ruangan Jennie berada.“Aku dengar kau hobi fotografi?” Tanya Jennie saat mereka sudah berada di dalam lift.Lisa mengangguk, “Yeah .. Saya senang mengabadikan momen-momen tertentu lewat hasil jepretan kamera.”Jennie mengangguk-anggukan kepala, “jika begitu bolehkah saya meminta tolong untuk memotret sebuah produk yang akan launching dari Kim Company? saya akan membayarmu nanti di luar gaji yang daddy berikan untukmu.”“Dengan senang hati, presiden.”“Baik, jika begitu besok bawa kameramu ke perusahaan. Akan ada dua sesi, yang pertama parfum dan yang kedua pakaian. Perusahaan kita bergerak di bidang Fashion , kosmetik dan perhiasan jadi ya jika suatu saat nanti ada Job memotret lagi, saya tidak akan sulit mencari fotografer, itu pun jika hasil memotretmu besok memuaskanku.” Ucap Jennie.“Saya yakin bisa memuaskan anda, presiden. Mau berapa sesi pun saya kuat, Kintama.”Jennie menoleh, “itu beda konteks Lalisa!” Dia tertawa seraya memukul kepala Lisa, Lisa pun ikut tertawa sedangkan Irene hanya diam dan terlihat bingung karena tidak mengerti dengan pembahasan Jennie dan Lisa.“Apa itu Kintama?” Tanya Irene tapi Lisa dan Jennie malah saling memandang , bukan menjawab pertanyaan irene keduanya malah tertawa terbahak-bahak terlebih Jennie, “Kalian Gila!” Gerutunya.Irene sudah tahu kenapa Lisa bisa bekerja dengan Jennie, apa posisi Lisa selain asisten dan sejak kapan Lisa bekerja dengan Jennie. Dia senang karena itu artinya dia akan sering bertemu dengan Lisa.Tiba di ruangan Jennie , Lisa langsung menyambar Tas , botol minum dan coat milik Jennie sedangkan Jennie sendiri membereskan meja kerja nya. Setelah semua siap, mereka bergegas keluar lagi dari ruangan Jennie untuk pulang karena malam sudah tiba dan pekerjaan sudah selesai.Tidak berselang lama Lisa dan Jennie sudah tiba di lobby, merasa udara sedikit dingin Lisa segera memasangkan Coat yang ia bawa di bahu Jennie sebelum akhirnya ia membukakan pintu mobil untuk Jennie, setelah Jennie masuk dan duduk nyaman Lisa segera menutup pintu penumpang belakang lalu dia segera menyusul masuk ke dalam mobil. Tidak berselang lama , mercedez maybach yang Lisa kemudikan melaju membelah jalanan kota Seoul.Sepanjang perjalanan keduanya diam , hanya suara alunan lagu yang Lisa putar yang terdengar di dalam mobil. Tiba di persimpangan Lisa menghentikan mobilnya karena traffic light berubah merah, dia melirik Jennie dari spion yang ada di dalam mobil, tanpa sadar dia tersenyum saat melihat Jennie sedang asyik melihat keluar jendela.Sedang asyik menunggu lampu berubah hijau tiba-tiba saja ada sebuah bmw berwarna putih berhenti di sebelah mobil mereka, Jennie menegakkan duduknya karena dia mengenali mobil tersebut, beberapa saat kemudian ia menegang karena benar saja , di dalam mobil itu ada Tae dengan seorang wanita , tampak mesra bahkan dengan mata kepalanya sendiri Jennie melihat Tae mencium pipi si wanita yang duduk di sebelah Tae.“Fuck!” Umpat Jennie.Lisa mengerutkan kening setselah mendengar umpatan atasannya, dia kembali mengintip Jennie dari spion tapi karena dia melihat Jennie menangis sambil menatap keluar jendela Lisa segera mengikuti arah pandang Jennie, melihat Tae sedang bermesraan dengan wanita lain di dalam mobil Lisa meremas kencang stir mobil dan merasa marah meski ia tidak tahu apa sebabnya.“Lisa.” Rengek Jennie.Lisa tersenyum, “kemarilah, pindah duduk di sampingku.”Jennie mengangguk lalu ia membuka stilettonya dan pindah ke kursi penumpang depan, masih ada waktu 90 detik sebelum traffic light berubah hijau jadi tidak sulit bagi Jennie untu pindah tempat duduk.“Gunakan bahuku , kemarilah. Aku siap menjadi teman mu.”Tanpa menunda atau mengatakan apapun Jennie langsung mencondongkan tubuhnya ke arah Lisa, memeluk pinggang Lisa lalu menangis terisak di bahu Lisa. Lisa diam saat Jennie meremas kemeja bagian depannya, tanpa canggung dia mengelus kepala Jennie dan membiarkan Jennie menangis di bahu nya. Entah kenapa keduanya sama-sama tidak merasa canggung meski pertemuan pertama di dalam pesawat dan pertemuan kedua di mansion mereka memiliki kesan menyebalkan tapi Jennie sama sekali tidak canggung pada Lisa padahal tau jika Lisa bukan wanita seutuhnya, mungkin karena tengil dan easy going nya Lisa atau cara Lisa bekerja membuat Jennie nyaman? Entahlah.“Sssttt .. Buatlah janji untuk bertemu, aku sudah memotretnya dan minta penjelasan padanya. Jangan asal menuduh, arraseo?”Jennie mengangguk seperti anak kecil, “malam ini kau akan pulang?”“Iya, aku harus ke unit ku menyimpan tas dulu.”“Aku ikut, jika kau tidak lelah.. Ayo pergi ke Bar, aku butuh alkohol.”“Baiklah presiden Kim yang cantik jelita, kesayangannya Kintama.”Jennie memukul kencang perut Lisa, dia menegakan duduknya lalu dia tertawa seraya menghapus air matanya seperti anak kecil. Lisa ikut terkekeh dan membantu Jennie menghapus air matanya.__Octagon BarLisa , Jennie , Irene dan Jisoo sedang berada di sebuah Bar. Bar itu adalah Bar Elite yang tidak bisa sembarangan kalangan masuk ke sana. Biasanya Bar tersebut di penuhi oleh para pengusaha meski sering kali beberapa idol, aktris atau aktor korea juga datang ke Bar tersebut. Jennie terus minum, dia melampiaskan emosinya pada minuman dan mereka membiarkan itu karena Lisa sudah menceritakan apa yang terjadi , mereka mengerti meski masih tetap saja Jennie menyebut-nyebut nama Tae.“Babe.”Semua menoleh ke arah suara, muncul seseorang yang langsung menghampiri meja mereka dan mengecup bibir Jisoo. Dia tidak sendiri karena dia membawa seseorang yang tidak lain adalah sahabatnya.“Lisa, ini kekasihku .. Park Chaeyoung atau kau bisa Rosé.”“Hi .. Lisa, Lalisa Manoban.”Lisa dan Rosé berjabat tangan seraya berbincang kecil sebelum akhirnya dia mengenalkan seseorang yang dia bawa.“Guys .. Ini sahabatku, Kang Seulgi.”“Hi .. Ugi, Kang Seulgi.”Setelah berkenalan mereka bergabung dan berbincang bersama dalam satu meja, meski Lisa terus memperhatikan dan mengontrol alkohol yang Jennie minum. Dari perbincangan itu Lisa tahu jika Rosé adalah pengacara yang bekerja sebagai kuasa hukum di Kim Ent. Kim Ent adalah bisnis agensi yang di kelola oleh Jisoo. Sementara Seulgi adalah sahabat sekaligus sekertaris Rosé dan dari situ Lisa juga tahu jika Rosé dan Seulgi sama dengannya, sama-sama memiliki makhluk imut.Suara hentakan musik masih menggema membuat jantung terasa berdebar, kerlap-kerlip lampu membuat kepala yang sudah pusing terasa semakin pusing. Suara tawa lepas dan suara musik terdengar menyatu dan berbaur, kepulan asap rokok dan aroma alkohol membuat hidung terasa pengap namun itu tidak membuat orang-orang tidak betah di sana.Malam semakin larut, jalanan pun sudah terlihat lengang namun di dance floor sebuah bar, orang-orang masih terlihat penuh dan asyik menggoyangkan tubuh mengikuti hentakan irama musik yang seorang dj mainkan. Jennie dan Lisa ada dalamnya, Jennie ingin menari dan karena Lisa khawatir terpaksa dia menemani atasannya.Milik Lisa terasa sudah sangat sesak karena Jennie terus meliuk-liukan tubuhnya secara sensual di hadapan Lisa, pakaian yang extra sexy bahkan perut rata Jennie pun di biarkan terbuka membuat pikiran Lisa jauh melayang, dia berkhayal hal yang tidak-tidak tentang dirinya dan Jennie. Beberapa kali pria-pria asing mencoba menyentuh Jennie dan berkali-kali juga Lisa setia melindungi Jennie.“Ayo pulang, sudah malam.” Ucap Lisa.Jennie mengerucutkan bibirnya, di tengah kesadaran nya yang sudah menipis karena pengaruh alkohol ia menggelengkan kepala, “Masih ramai Lisa, kenapa buru - buru sekali?”“Besok kau ada meeting presiden, jangan sampai kau terlambat.” Ucap Lisa.“Jangan memanggilku presiden jika sedang di luar, panggil Jennie saja,” ucapnya membuat Lisa tersenyum dan mengangguk, “soal besok, tenang saja. Aku tidak akan terlambat.”Lisa hanya bisa menghela nafas dan mengangguk, dia hanya minum sedikit karena dia harus tetap sadar untuk melindungi Jennie. Keduanya kembali menari, Jennie membelakangi Lisa dan menggerak-gerakkan pinggulnya hingga bokong sintalnya mengenai selangkangan Lisa, Lisa mendesis seraya memeluk perut Jennie.“Dia bangun?” Goda Jennie.Lisa tersenyum, “ Kau sexy dan kau terus menggodanya.”Jennie terkekeh dan semakin menekan bokongnya di milik Lisa yang sudah sangat mengeras, terbawa suasana Lisa memeluk erat perut Jennie lalu ikut menekan pinggul nya ke arah bokong Jennie. Jennie kembali terkekeh, tangannya terulur ke belakang lalu memeluk kepala Lisa, meremas dan menjambak pelan tanpa menghentikang tariannya.“Kau membuat ku gila, Jennie Kim.” Bisik Lisa di telinga Jennie.Jennie tidak menjawab ucapan Lisa, dia benar-benar sudah tidak sadar karena pengaruh alkohol. Karena semakin terbawa suasana dia menoleh dan mengklaim bibir Lisa begitu saja, keduanya berciuman panas tanpa peduli dengan orang-orang di sana yang menganggap Jennie berciuman dengan sesama wanita.Lisa mendorong Jennie, keduanya berjalan ke arah lorong gelap menuju VIP room. Tanpa peduli apa yang akan terjadi besok Lisa membalik posisi Jennie agar menghadap padanya, dia menghimpit Jennie di dinding lalu dia kembali mengklaim bibir Jennie. Kepala mereka terus miring ke kiri dan ke kanan, ciuman semakin dalam bahkan air liur mereka menetes ke dagu tapi mereka tidak peduli.“Enghhhh~”Jennie melenguh di balik ciuman panasnya dengan Lisa saat Lisa kembali menekan pinggulnya ke arah selangkangannya, tidak jauh dari sana ada Irene yang memperhatikan keduanya bercumbu panas, ia tersenyum lalu menggelengkan kepala dan memilih untuk berlalu tapi tepat saat ia berbalik ada seulgi di sana membuatnya tersentak. Tanpa memberi waktu untuk berontak Seulgi langsung menghimpit Irene di dinding, keduanya bertatapan tanpa canggung Seulgi mengelus pipi Irene membuat Irene menelan ludah secara kasar.“Miss Bae, kau cantik.”Belum sempat Irene menjawab, Seulgi langsung mengklaim bibir Irene begitu saja membuat Irene terbelalak, dia tahu Seulgi mabuk begitupu dengannya tapi jelas saja dia masih sadar. Dia bingung harus bagaimana, mau melepas tapi ciuman yang Seulgi berikan terasa lembut dan nikmat alhasil dia membalas ciuman yang Seulgi lakukan.Di sisi mereka Jennie dan Lisa terus saling mendominasi ciuman mereka, tangan Lisa tidak diam, dia terus mengelus dan meremas bokong sintal Jennie, terus menekan agar selangkangan Jennie menekan dan menggesek miliknya. Tangan Jennie pun tidak diam, tangan kirinya terus meremas rambut Lisa dan tangan kanan mengelus dan kadang meremas punggung Lisa.“I want you.” Bisik Jennie di depan bibir Lisa.Meski nafsu sudah di ubun-ubun, tetap saja Lisa tercengang mendengar permintaan Jennie, “are u sure?”“Yeah .. Ayo ke mobil.” Jawab Jennie.Dengan langkah sempoyongan Jennie menarik tangan Lisa, dia berjalan tergesa ke arah mobil. Saat melewati table mereka Lisa bisa melihat jika Jisoo sudah ada di pangkuan Rosé, dia tersenyum karena melihat keduasejoli itu pun sedang bercumbu panas tapi dia membiarkan dan tidak berniat untu mengganggu.Beberapa saat kemudian, Jennie dan Lisa sudah tiba di mobil, saat kunci mobil terbuka Jennie segera membuka pintu penumpang belakang, ia menarik Lisa untuk masuk ke dalam mobil. Lisa duduk di jok dan Jennie duduk di pangkuan Lisa.“Oh my Gosh.” Erang Jennie seraya menggerakkan pinggulnya membuat milik mereka bergesekan dari luar celana yang mereka pakai, Jennie menelan ludah saat melihat bibir Lisa sedikit terbuka, ia memajukan kepala mengikis jarak wajah mereka, tapi tepat saat Lisa membuka mulutnya untuk menerima lidah Jennie tiba-tiba…Huekss!Jennie muntah kedalam mulut Lisa. Cukup banyak dan sangat bau membuat Lisa sangat mual, dengan tergesa dia membuka pintu mobil, keduanya muntah Bersama di samping mobil.“Sialan!” Umpat Lisa kesal.Huekss!!Jennie terus muntah begitupun Lisa, jika Jennie muntah karena alkohol yang dia minum berbeda dengan Lisa, dia muntah karena melihat dan mencium aroma muntahan Jennie.___Keesokan paginya …Jennie meringis saat terbangun dari tidurnya, dia duduk di atas tempat tidur seraya memegang kepalanya yang terasa sangat sakit. Dia duduk bersila lalu dia membungkuk seraya menaruh kedua sikutnya di area lutut, dia menunduk dan menyanggah kepalanya dengan kedua tangan.“Gila, berapa botol minuman yang aku minum semalam?”Jennie terus diam namun beberapa menit kemudian ia mengerutkan kening, dia menunduk melihat bajunya. Dia tertegun karena dia sudah memakai piyama, dia mengangkat kepala melihat sekeliling ruangan dan raut wajahnya terlihat sangat kebingungan karena dia sudah berada di kamarnya.“Shit! Apa asisten mesum itu menelanjangiku?” Gumam Jennie lalu ia menegakan duduknya dan meremas kerah piyamanya menggunakan kedua tangan, lalu dia menekan-nekan selangkangannya menggunakan tumit kaki, “Tapi tidak sakit, orang-orang bilang jika pertama akan sakit. Aman, aku masih perawan tapi .... Jika Lisa yang menelanjangiku? OMG ... Awas saja, Lisa!” Erangnya kesal.Setelah mengerang kesal Jennie menoleh ke arah meja samping tempat tidurnya, dia menghela nafas lega saat melihat jam masih menunjuk ke angka 6. Tapi dia mengangkat alisnya saat melihat ada 1 gelas air minum dan dua butir obat di atas kertas, ia menggeser duduknya lalu membaca tulisan tangan di atas kertas itu.Eat me, presiden :)Jennie mengigit bibir bawahnya lalu tersenyum, tanpa basi-basi dia meraih dan segera meminum dua butir obat yang dia yakini itu obat penghilang pengar dan sakit kepala, dengan bantuan segelas air putih Jennie berhasil menelan dua butir obat tersebut.Ceklek ~Tepat setelah obat tertelan pintu kamar terbuka dari luar, Jennie menoleh ke arah pintu, dia mengangkat sebelah alis saat melihat Lisa masuk ke dalam kamarnya dan sudah berpakaian rapih, tapi dia merasa heran karena dia melihat wajah Lisa di tekuk dan ia membawa piring berisi roti panggang di tangannya.“Isi dulu perut anda baru mandi. Saya tunggu di bawah.” Ucap Lisa ketus seraya menaruh piring itu di atas kasur tepat di hadapan Jennie.Selesai berbicara Lisa berbalik dan melahkah ke arah pintu, detik berikutnya dia keluar dari kamar atasannya begitu saja membuat Jennie tertegun dan merasa heran dengan gelagat Lisa pagi ini.“Ada apa dengan manusia mesum itu? Apa aku punya salah?”Setelah pintu kamar Kembali tertutup dari luar Jennie mengangkat kedua bahunya acuh, dia segera meraih dan memakan roti panggang yang tadi Lisa bawakan seraya memainkan ponsel karena ia sedang bertukar pesan dengan Tae. Tapi setelah selesai mengisi perutnya, dia bergegas pergi ke kamar mandi.Setelah kurang lebih 1 jam Lisa menunggu akhirnya suara pintu lift terbuka terdengar. Lisa yang sedang duduk santai di ruang tamu segera berdiri dan merapihkan pakaiannya, dia memakai celana jeans biru tua dan kemeja oversize berwarna putih, bagian depan di masukan tapi bagian belakang di biarkan begitu saja, kedua lengan kemeja dia lipat hingga ke lengan dan di bawah ia memakai sepatu boots berwarna coklat tua.Jennie mengangguk-anggukan kepala saat melihat penampilan Lisa, dia menyerahkan tas dan blazernya pada Lisa lalu dia berlalu menuju ruang makan.“Morning dad , morning Jisoonie.” Sapa Jennie seraya menyambar segelas susu yang sudah siap di atas meja makan.“Tidak sarapan dulu?” Tanya Jisoo.“Sudah, jadi .. Aku berangkat dulu. Bye.” Pamit Jennie sesaat ia setelah menghabiskan segelas susu yang sengaja di siapkan untuknya.Jennie pergi begitu saja dari ruang makan tanpa mengatakan apapun lagi, melihat itu Lisa segera membungkuk pada Jisoo dan tuan Kim lalu berlalu mengikuti Jennie. Di depan mansion, Lisa bergegas membuka kan pintu mobil untuk Jennie seperti biasanya, merasa Jennie sudah duduk nyaman dia segera menutup pintu mobil lalu dia pun masuk ke dalam mobil.Beberapa saat kemudian mobil berwarna hitam itu sudah melaju, Lisa masih terus diam membuat Jennie heran, Ia menggeser duduknya ke depan lalu mencondongkan kepalanya ke depan dan menoleh mengintip Lisa.“Kau yang menggantikan aku baju?”Lisa menggelengkan kepala, “kepala maid.”Jennie mengangguk-anggukan kepala, “kau kenapa?”“Kenapa apanya?” Balas Lisa tanpa menoleh dan terus fokus pada kemudinya.“Tumben kau berkamuflase menjadi pendiam.” Ledek Jennie.“Sedang sebal.” Jawab Lisa jujur.“Apa aku punya salah?” Tanya Jennie ingin tahu.“Salah besar!” Kesal Lisa penuh penekanan.Jennie menganga, “mwo? Ada dua pasal yang harus kau tau, pasal pertama : Presiden Kim tidak pernah salah . Pasal kedua : Jika Presiden Kim salah balik ke pasal pertama.”“Kau muntah di mulutku presiden Kim yang terhormat!” Kesal Lisa seraya menoleh ke belakang secara kasar karena traffic light berubah merah.“Jinjja?” Tanya Jennie tidak percaya.“Kau tidak ingat apa yang kita lakukan semalam?” Tanya Lisa tapi Jennie hanya menggeleng sebagai jawban, “sedikitpun?” Lanjutnya dan Jennie mengangguk.“Kau, kita aaaarrhhh! sudah lah. Intinya kau muntah di mulutku.” Kesal Lisa seraya kembali membetulkan posisi duduknya dan menghadap ke depan.Jennie mengerucutkan bibirnya ke depan lalu menusuk-nusuk pipi Lisa, “Maaf .. Aku tidak sadar jadi yaa.. itu tidak sengaja, kan?”“Hmm.”“Apa yang kita lakukan semalam?” Tanya Jennie.Lisa menggelengkan kepala dan memilih tidak menjawab pertanyaan Jennie. saat traffic light berubah hijau, Lisa menginjak pedal gas cukup dalam hingga mobil melesat begitu saja dan Jennie terjengkang ke belakang.“Asisten kurang ajar!" Pekik Jennie seraya mengelus kepala bagian belakangnya namun Lisa tidak peduli dan terus fokus pada kemudinya.Semalam Lisa sadar meski dia pun meminum alkohol, cumbuan panas mereka membuat Lisa yakin jika dia menyukai Jennie tapi Jennie tidak ingat? Hah .. Dia hanya bisa diam.___Jennie dan Tae duduk berhadapan sedangkan Lisa duduk di tempat duduk yang ada di belakang Jennie, dia membelakangi Jennie dan terhalang oleh dua meja. Ini jam makan siang dan Jennie sengaja menggunakan jam makan siang untuk membuat janji bertemu dengan Tae, ia sedang mengintrogasi Tae soal kejadian kemarin bahkan Jennie sudah menunjukan foto saat Tae mengecup pipi wanita di sebelahnya.“Kau cemburu? Dia sepupuku sayang, astaga.” Ucap Tae seraya menggenggam tangan Jennie yang ada di atas meja.“Sepupu yang mana? Aku baru melihatnya.” Ketus Jennie tanpa menatap Tae.Tae tersenyum seraya menghela nafas, “dia sepupuku dari Swiss, kami baru bertemu lagi karena dia baru saja kembali ke Korea, kami dekat jadi ya memang aku dan dia begitu. Mencium pipi sepupu, bukan kah itu hal wajar?”“Aku cemburu!” Bentak Jennie kesal.“Apa-apaan itu? Sejak kapan kau berani membentakku?” Kesal Tae.Jennie menggenggam erat tangan Tae, “maaf .. Aku cemburu, oppa. Mengertilah.” Rengek Jennie.Tae Kembali menghela nafas, “sayang, kita menjalin hubungan sudah lama. Sudah hampir 5 tahun kita bersama dan kau masih tidak percaya padaku? Kau boleh dan berhak cemburu tapi jangan sampai membentak seperti itu, aku tidak suka. Percayalah Jennie, kau satu - satunya sayang, aku sangat mencintaimu.”“Sungguh?” Tanya Jennie menatap Tae dan matanya berkaca-kaca.“Aku serius Jennie, hanya kau kekasihku. Percaya hum?” Rayu Tae lembut.“Aku percaya oppa, jangan berpaling dariku. I love you.” Balas Jennie.Tae mengangguk dan tersenyum, ia terus menggenggam tangan Jennie tapi genggaman tangan itu terlepas karena pesanan mereka tiba, jadi keduanya memilih untuk menyantap makan siang bersama. Di belakang Jennie, Lisa tersenyum dan ia menyesap santai kopi nya.“Sayang, boleh kah aku meminjam uang? Aku berencana memperluas bisnisku, aku ingin menambah cabang studio musicku tapi aku kekurangan modal, kau tahu kan aku juga harus membiayai adikku kuliah dan ibuku yang terkena struk.” Ucap Tae seraya menyodorkan sesendok makanan di depan mulut Jennie.“Berapa?” Tanya Jennie sebelum ia membuka mulut untuk menerima suapan dari Tae.“Tidak banyak, hanya 30 juta won. Biaya pembangunan dan membeli tanah cukup mahal, kau tau aku tidak mau menyewa tempat, aku lebih suka jika membangun lebih awal.”Jennie terbelalak, “30 juta won?”Tae tersenyum dan menunduk, “iya, tidak apa jika kau tidak mau meminjamkan, aku akan menjual mobil saja.”“Tidak .. Tidak .. Mobil itu hadiah ulang tahun dariku, enak saja kau mau menjualnya. Nanti aku transfer hum?” Ucap Jennie seraya mengelus tangan Tae yang ada di atas meja.Tae tersenyum lebar, “Terima kasih sayang, kau selalu menjadi pendukung segala hal yang aku lakukan.”“Selama itu positif, aku akan selalu mendukung mu.” Jawab Jennie.keduanya saling melempar senyum, tapi setelah itu mereka menghentikan perbincangan dan memilih menikmati santapan siang mereka .‘Bodoh!‘ - Batin Tae.__Lisa menghela nafas lemah karena di dalam mobil terasa sepi meski ia mendengarkan musik. Setelah makan siang, Jennie pergi Bersama Tae dan menyuruhnya pulang sendiri, itulah yang membuatnya merasa kesepian.Drrrt~Getaran ponsel membuat Lisa memilih m
CEO WITH BENEFIT
Raline segera menaiki trans jakarta, suasana yang sangat berdesakan membuat siapapun yang menaiki ingin berteriak.Bayangkan saja bus ini hanya sepi di hari minggu dan hari lebaran, selain hari itu? Benar - benar berlebih muatan nya.Raline turun dari bus setelah dia sampai di halte taman anggrek, dengan langkah cepat ia menekan kartu multitrip nya ke pintu keluar dan segera menyebrang ke kantor di tempat nya bekerja."Aduhh semoga ga telat deh."Memang, Raline belum pernah terlambat, hanya saja Raline ingin menghindar dari bos nya yang sangat menyebalkan.Apakah bos itu tua?Tidak.Lalu?Masih sangat muda, umurnya saja baru 26 tahun.Entahlah apa yang membuat Raline tidak suka, yang ia pikirkan jangan sampai bertemu dengan bos nya."Aline kenapa loe? Kayak orang kesetanan?""Gapapa kok gue.""Yang bener? Kok lari - larian gini?""Iya bri gue males nanti ketemu temen loe tuh""Yaelah, udah sana absen cepetan."Abrio sedikit terkejut dengan tingkah laku Raline yang seperti dikejar setan, tetapi karena sudah menhetahui alasan nya, Abrio tidak asing.*"Aline loe mau makan siang gaaaa?""Mau sih tapi gue masih ada kerjaan""Yaudah loe mau gue beliin apaa?""Gausah raa gue bawa bekel kokkk""Yaudah gue makan sama brio yah , jangan lupa makan.""Iyea Araaa "Ara teman kantor Raline sekaligus penghuni kubikel sebrang Raline meninggalkan nya dan mengajak Abrio ke kantin yang berada di paling bawah gedung kantornya."Aish gila ya emang CEO macam apa coba yang ngasih gue kerjaan beda dari karyawan yg lain."Raline mengecek segala data yang ada di atas kertas - kertas tebal dan Raline sebari membuka kotak bekal nya. Hari ini Raline hanya membawa sayur kangkung dan telur cabai. Sederhana karna Raline hanya mementingkan gizi dan kenyang nya saja."Ehm, Raline data - data yang saya berikan apa sudah semua kamu cek?"Raline yang sedang mengunyah makananya terpaksa menelan nya walau belum saatnya. Raline bangun dari kursinya dan menatap bos nya."Maaf pak, sedikit lagi tinggal data pemasukan saja.""Bagus.""Boleh saya duduk disini melihat dokumen yang sudah kamu cek?""Silahkan pak."Bos Raline mengambil kursi tempat duduk Ara dan menyeretnya ke meja Raline, duduk tepat di sisi samping meja Raline."Lanjutkan saja makan siangnya""Baik pak."Raline melanjutkan makan siangnya dan mengecek segala data - data yang tersisa, pemasukan perusahaan yang terbilang wow.Arbiaz POVGue melihat - lihat dokumen yang telah di periksa oleh Raline , hmm lumayan juga kerja seorang Raline, gue kira manusia yang sederhana ini kerja nya gak bener.Dan dari muka nya ternyata cantik gini gak males kerja nya, biasanya muka cantik tapi penipu."Woy ngapain loe di meja Raline?" Abrio mengagetkan Biaz."Menurut loe gw ngapain hah?""Loe liat dong Raline ketakutan lu duduk disini""Yaelah emang gue setan?""Nah bagus sadar.""Aish.. jangan sampe gue potong gaji loe ""Ya jangan dong, gue kan mau kawin.""Kawin kawin, gak ... Gue dulu lah yang kawin.""Apaan sih loe berdua ngomongin kawin jam istirahat udah beres." Pecah Ara"Iyee iyee." Arbiaz pun mengalah"Jangan sampe gue bilangin nyokap lo.""IYA ARA GUE PERGI, Raline kalau sudah selesai tolong bawa ke ruangan saya ya.""Baik pak."***"Akhirnya selesai jugaa."Raline meregangkan tangannya keatas dan kepalanya, Raline segera mengecek jam di tangannya.Jam 3.30"Wah gila satu jam lagi pulang yassh.""Line, jangan lupa ke ruangannya pa Biaz.""Oh iyaa, sippp makasiii Ara ku."****Raline pergi ke toilet didekat kubikel kubikel kantor, ia merapikan baju dan rambut nya, ya Raline memang sedikit acak - acak an bila sedang bekerja, bahkan Abrio terkadang mengatain nya Gembel rajin, dikarenakan rambutnya yang acak - acakan ketika bekerja.Raline mengambil setumpuk dokumen nya dan berjalan ke arah ruangan Arbiaz, Raline menemui sekretaris pribadi Arbiaz, Olivie untuk mengecek apakah ada tamu di dalam ruangan Arbiaz."Ol, ada agenda ga pa biaz? Mau anter dokumen nih.""Bentar diliat dulu yah.""Hmmm ga ada kok, udah semua agenda penting nya dia kosong sampe pulang.""Okee gue masuk yaaa.""Iyah kerja lembur bagai kuda."Raline masuk ke dalam ruangan Arbiaz, Olivie menutup pintu ruangan nya kembali."Permisi, Pak Arbiaz, saya mau mengantarkan dokumen yang sudah saya cek.""Oh,masuk sini.""Hmm ini sudah, ini sudah, ini juga, okay.""Oh iya sebentar ada satu lagi"Arbiaz mengambil sebuah map dari rak, dan menyerahkan map itu kepada Raline diatas meja nya."Saya mau ini kamu selesaikan ini di rumah karena besok mau saya pakai presentasi di jam 2 siang, saya harap kamu besok lagi sudah menaruh nya di meja saya.""Ohh okay baik pak."Arbiaz bangun dari tempat duduknya berjalan ke tempat duduk Raline, mendekati Raline."Malam ini saya mau konfirmasi nya melalui chat."Dan Arbiaz mengizinkan Raline pergi.Pintu kamar apartemen kecil Raline terbuka, Raline memasuki kamar nya dan merebahkan badan nya diatas ranjang membentuk bintang laut."Kenapa yah sampe harus bawa kerjaan ke rumah."Tinngg tong tingSuara ponsel Raline berbunyi,segera Raline membuka aplikasi chat dan menemukan pesan masuk baru.Yang terlihat hanya nomor saja tidak ada namanya.Raline segera membuka foto profil, dan dia menemukan wajah Arbiaz, bos nya."Malam, mbak Raline, apakah sudah selesai file presentasi saya?"Raline langsung terbangun dari ranjang nya dia segera membuka laptop dan folder presentasi itu dan langsung bekerja serta mendiamkan pesan bos nya.*****Raline to Pak Arbiaz"Mohon maaf saya baru melihat pesan bapak, saya sudah selesai pak, besok pagi saya taruh di meja pak Biaz.""Terima kasih."Raline segera mengambil piring untuk nya makan malam, sambil menonton acara televisi kesukaannya untuk menghilangkan penat pekerjaan yang menekan nya.***Raline bergegas ke kantor Arbiaz, ditemui nya Arbiaz yang sedang mengecek presentasi menggunakan proyektor nya."Permisi pak, ini file yang bapak minta.""Silahkan duduk""Oke saya cek sebentar.""Oke sudah lengkap semua, terima kasih."Baru saja Raline ingin meninggalkan ruangan Arbiaz, Raline terpanggil."Raline.""Iya pak.""Bisa nanti jam 4.15 ke ruangan saya? Mungkin saja ada yang harus saya evaluasi.""Oke pak."Raline meninggalkan ruangan Arbiaz, dan menutup pintu ruangan tersebut. Raline menyenderkan tubuhnya ke tembok dengan kaki gemetar."Gila sih ya udah ngasih kerjaan banyak, terus tar sore evaluasi, jadi qudha beneran gue lama lama."***"Aline mau bareng ga nih pulang? Loe udah selsai kan? Hari ini jumat nih besok weekend gak ada kerjaan lagi kan?" ajak Brio."Duluan aja briii gue masih ada urusan sama Pak Arbiaz.""Ohhh gituu okay."Abrio mengambil tasnya dan berjalan ke arah pintu keluar, sebelum keluar Brio mendekati Raline dan membisikan sesuatu."Hati-hati yah sama Arbiaz."Kemudian Brio meninggalkan Raline.*****Raline membawa tas nya dan berjalan ke ruangan Arbiaz, Olivie saja sudah tidak ada di meja nya, Raline memberanikan mengetuk pintu dan membuka pintu secara perlahan memasuki ruangan Arbiaz."Silahkan masuk Raline, have a seat."Raline duduk di kursi yang berhadapan dengan Arbiaz."Hmm mengenai hasil kerja kamu saya cukup terkesan, kamu bisa menyelesaikan semuanya dengan baik."Arbiaz bangun dari kursinya dan membereskan telepon genggam dan laptop nya ke dalam tas dan mendorong kursi nya."Saya juga suka dengan presentasinya, terimakasih ya.""Hmm saya mau keluar karna besok weekend, kamu mau nemenin saya makan ga?""Maksud nya pak?"Arbiaz memutar kursi Raline ke samping dan menarik tangan Raline membawa Raline keluar dari ruangan nya, menuju parkiran mobil dan membawa Raline pergi.****"Kamu mau pesan apa?""Hmm duluan aja pak.""Pelayan!""Iya, bisa dibantu mau pesan apa?""Steak sapi, kematanganya sempurna ya""Mbak nya mau pesen apa?""Steak ayam.""Minuman nya?""Saya Don't forget me aja.""Mbak nya?""Di sama in aja.""Oke sebentar , pesanan akan diantarkan 20 menit."Pelayan pun meninggalkan mereka berdua, Raline menatap keluar jendela, orang - orang berlalu lalang, banyak juga pasangan yang berjalan di derasnya hujan.Raline kapan?Uhhh tak usah ditanya.***Pesanan pun datang, asap steak yang baru keluar dari pemanggangan tercium baunya membuat siapapun tergoda dengan aroma nya, ditambah dengan perut Raline yang keroncongan."Selamat menikmati." sahut si pelayan"Silakan dimakan Raline."Raline mecoba memotong steak nya dengan perlahan, dengan hati - hati agar steak nya tidak terpental."Kamu asli mana?""Saya asli Bandung.""Bapak asli mana?""Saya asli Magelang.""Ohh magelang yang banyak candi nya itu yah?""Iyah Raline, kamu sering ke sana?""Hmm nggak, saya udah pernah kesana aja 3 kali waktu saya sekolah dulu.""Haha study tour ya." Balas Raline sambil tersenyum.***"Raline, saya antar pulang ya.""Tidak terimakasih pak ,saya bisa pulang sendiri.""Udah gapapa, saya cuman anter kamu sampe depan kokk."Arbiaz membuka pintu untuk Raline dan menutup nya. Arbiaz mengendarain mobil nya."Terim kasih pak, maaf merepotkan.""Selaw aja, umur saya ga beda jauh sama kamu.""Iya pak, saya duluan yah."Baru saja Raline ingin membuka pintu mobil, Biaz menarik tangan Raline dan memanggil nya."Aline, kamu mau gak jadi lebih dari temen kantor?"Seminggu berlalu Raline bekerja, dan belum menjawab tawaran Arbiaz, tetapi seminggu ini juga Biaz mengantar Raline pulang, hanya mengantar dikarenakan sebentar lagi libur panjang dan banyak pekerjaan yang ingin dikejar."Ara loe kan sepupu Pak Biaz, Pak Biaz itu orang nya gimana?""Napa loe nanya - nanya? Biasanya benci bangedds.""Nanya doang elahhh.""Hehehe candaa, biaz tu orang nya dingin, tapi kalo orang nya udah deket dia ga kokk.""Ohh gitu.""Kenapa lu di ajak pacaran ya sama dia?""Nggakk, gue gak mau sama dia, dingin gitu kaku, banyak perintah tepat waktu.""Alaahh wkwkw masih gue liatin line.""Ckkk kalo CEO kan cwek nya banyak males gue.""Whahaha Biaz mah engga kok dia ga se haus itu.""Gue duluan ya Linee, ati ati ya.""Hati - hati raaa."Raline mengecek halaman terakhir di map terakhir pekerjaannya, akhirnya."Raline, gimana sudah selesai?"Raline terkejut dengan hadirnya Arbiaz secara tiba - tiba dan langsung mengambil kursi Ara dan duduk di samping Raline."Eehmm tinggal ini pa terakhir.""Oke karena Olivie sudah pulang dan Abrio juga sudah tidak ada, ruangan saya terasa sepi, jadi saya boleh disini?""Silahkan pak.""Lanjutkan."Arbiaz membuka ponsel nya mengecek beberapa email masuk, sambil memandangi Raline, dengan rambut berantakan, sekeras ini kah Raline? Pikir Biaz dalam hati. maaf ya bila saya membuatmu agak tersiksa."Ini pak sudah selsai.""Oke saya cek disini saja ya.""Ini sudah,hmm oke, oke, oke.""Oke selesai semua, terima kasih Raline.""Iya sama - sama pak.""Hmm ini saya taruh di meja kamu dulu yah, besok pagi saya minta olivie membawa ke ruangan saya.""Iya pak tidak apa - apa."Arbiaz berdiri dari kursi nya dan mengembalikan kursi Ara ke tempatnya, Raline membereskan laptop dan iphone nya ke dalam tas ,dan merapihkan kursinya."Raline ikut saya yah..."Raline mengikuti langkah Arbiaz, entah dibawa kemana dirinya, Raline terus mengikuti arah Arbiaz berjalan.Raline menaiki elevator bersama Biaz, ditekan nya tombol angka pada lift tersebut, lantai 35. Lantai teratas gedung ini." Astaga ngapain ke lantai paling atas, semoga aja dia ga ngebunuh gue."Raline tetap diam sambil memainkan jari tanganya, gugup takut semuanya mencapur aduk jadi satu, entah apa yang Biaz pikirkan dan apa yang akan Biaz lakukan kepadanya."Oke kita sudah sampai."Arbiaz keluar dari lift diikuti Raline, lorong yang sangat remang-remang, tempat yang jarang sekali dilewati orang, sedikit cctv yang dipasang di sini, mungkin bila ada perayaan-perayaan tertentu saja yang membuat lantai teratas ini dipakai. Kalau hari biasa? hanya petugas kebersihan dan satpam mungkin.Arbiaz membuka pintu berwarna hijau besar, menggengam tangan Raline dan mengajak nya keluar dari gedung itu, dengan langkah hati - hati Biaz menggiring Raline agar tidak mengenai genangan - genangan air."Duduk sini gapapa kan?""Iya gapapa." Angguk Raline ragu.Arbiaz membuka jas nya dan memakai kan pada Raline, diingatnya hari ini adalah hari Jumat semua karyawan boleh mengenakan kemeja bebas, dan Raline mengenakan kemeja berlengan pendek."Emm, maaf ya gue harus bawa loe ke tempat ber angin kenceng kayak gini.""Iya gapapa pak.""Gak usah formal, jam kantor sudah abis jadi selow aja."Angin berhembus semakin kencang, Raline semakin memeluk dirinya agar tubuhnya tetap hangat, tidak dengan Arbiaz yang sedari tadi biasa saja, rasanya angin hanya bergerak melewati dirinya saja tanpa mengubah sesuatu."Dingin ya?""Iya.""Sini biar gak dingin."Arbiaz memeluk Raline dengan erat, Raline tidak bisa bergerak dan dia pun tidak bisa menolak. Oke Arbiaz menang banyak. Mereka kini menatap langit yang penuh dengan bintang dan lampu - lampu gedung pencakar langit yang menyala ditengah sore menjelang malam."Kayaknya gue gak mau biarin karyawan gue sakit, jadi mending kita turun aja."Arbiaz merangkul Raline bangun dari tempat duduk besi itu, tanpa melepaskan jas yang diberikan Arbiaz. Berjalan masuk ke lorong remang - remang, menuju elevator untuk segera sampai ke parkiran.Lift pun berbunyi Arbiaz dan Raline masuk ke dalam lift. Arbiaz memandang Raline dengan dalam, Biaz mendorong lembut tubuh Raline ke sisi lift, memegang wajah Raline dan meraup bibir Raline dengan lembut.Rasanya Raline ingin melepaskan diri dari Biaz tapi genggaman erat Biaz tidak bisa di lumpuhkan."Ehmm pak."Arbiaz menghentikan aksi nya karena lift telah sampai ke lantai terbawah, tempat parkir. Tangan Raline di genggam kembali oleh Biaz menuntun Raline masuk ke dalam mobilnya."Karena besok weekend, jadi gue pinjem loe untuk nemenin gue."Arbiaz memasangkan sabuk pengaman pada kursi Raline,dan memasangkan kursi nya, Arbiaz menyalakan mobil dan membawa mobilnya keluar dari gedung.*Sampai lah mereka di Apartemen yang Arbiaz tempati, Apartemen yang terbilang desain nya dari luar gedung saja sudah sangat mewah. Raline tidak bisa berkata- kata dan hanya memasang wajah melongo sedari tadi memasuki lobi, dan anehnya Raline tidak berupaya kabur.Arbiaz menekan tombol elevator , lantai 18, didalam lift hanya terdapat mereka berdua, Arbiaz terus menggengam tangan Raline layaknya Raline akan terjatuh bila dilepaskan."Oke kita udah sampai."Arbiaz menekan kartu masuk ke pintu apartemen nya, membukakan pintu untuk Raline mempersilahkan Raline masuk terlebih dahulu.Dan kembali Raline melongo melihat isi apartemen Biaz, pantas saja Arbiaz memilih tinggal di lantai yang bisa dibilang ketinggian nya cukup tinggi, terpampang gelapnya kota dihiasi lampu - lampu gedung pencakar langit."Have a seat Aline."Raline mendaratkan bokong nya di salah satu sofa panjang dan Arbiaz membuat segelas minuman untuk tamunya itu. Rasanya Raline ingin mengeluarkan ponsel nya dan mengambil gambar pemandangan yang oh Tuhan bagus sekali."Bagus banget.""Bagus ya? yaa ini baru lantai 18 , mungkin kalau diatasnya lebih bagus lagi""Apartemen gue sangat jauh berbeda pemandangannya." Ucap Raline tragis."Gw tahu, di dekat tanah yang sedang ada pembangunan kan?""Ah benar." Jawab Raline tersipu malu."Silahkan diminum minumannya, gue mau ke kamar dulu."Raline menerawang minuman yang dibuat Arbiaz kali saja ada obat yang tidak ia inginkan. Setelah menerawang, sepertinya tidak ada bau apapun. Arbiaz keluar dari kamar nya memakai kaos oblong berwarna putih dan celana pendek, tidak terlalu pendek sedang saja."Tenang aja gue gak masukin apapun ke dalam situ, cuman sirup dan air, sirupnya merk *** kalau loe mau tau."Akhirnya Raline meminum minuman tersebut dan Arbiaz pun duduk di samping Raline, Raline meneguk minuman nya, dan Arbiaz? memandangi Raline yang sedang menjaga image dengan minum peralahan - lahan layaknya model iklan."Btw loe udah makan belom?""Belum""Oke gue bakal masak buat kita berdua"Arbiaz melangkahkan kakinya ke dapur. Raline mengikutinya, mungkin ingin membantu. Raline duduk di sebuah kursi tinggi dan memandangi Arbiaz mengeluarkan bahan - bahan dapur dari kulkas, lengan nya yang kokoh membuat hanya memegang sayur saja terliha seksi, cahaya yang berasal dari atas meja tempat Raline duduk membuat hanya dada Arbiaz yang terkena cahaya, dan itu membuat kaos yang tipis semakin memperlihatkan isinya, tidak terlalu jelas tetapi tampak jelas bayangan kotak - kotak berasal dari dada dan perutnya. Oh tidak Raline siapa yang mengajarkan mu berpikir seperti itu.***Selama 15 menit Arbiaz memasak dan voilaa akhirnya makanan itu selesai dimasak. Raline membantu Biaz membawa makanan ke meja yang tadi Raline tempati, mereka mendaratkan bokong nya masing-masing, berdoa terlebih dahulu dan menyantap makanan mereka."Besok loe ada acara kemana?""Umm, gak ada, gak kemana - mana""Ohh okay."Yang mereka lakukan hanya menyantap makanan mereka dalam diam."Umm biar saya saja yang cuci, pak Biaz sudah masak.""Serius?""Iya.""Oke terimakasi ya, maaf merepotkan mu."TING TONG"Sepertinya ada orang diluar, cepat buka pintunya pak.""Hih jangan memanggil gue pak.""Sudah bukakan dulu saja pintu nya."Arbiaz meninggalkan Raline, dan Raline memasukan piring - piring ke dalam tempat pencucian piring , kecuali wajan, mungkin Raline lebih yakin bila menggunakan tangan nya sendiri. Oke selesai, Raline tinggal menaruhnya diatas rak piring.Raline kembali ke ruang tamu duduk di sofa dan memandangi isi ruang tamu tersebut, terdapat beberapa foto ia dan keluarganya, terdapat juga Ara sepupunya."Sudah selesai cuci piring nya?""Udah."Arbiaz menghampiri Raline dan duduk di sebelah nya, tiba - tiba saja Raline dipeluk oleh Biaz, Raline yang terkejut hanya bisa diam dan menerima pelukan tersebut tanpa membalasnya, rambut Arbiaz yang basah dan harum sabun membuat nafas Raline lebih santai."Bersih - bersih, lo harus nemenin gue malam ini.""Maaf tapi gue harus pulang.""Nih."Arbiaz menyodorkan sebuah kantong kertaa berwarna cokelat dan Raline hanya bisa mengeluarkan ekspresi tanya."Pilih yang cocok dan nyaman."Raline hanya mengiya kan perintah Arbiaz, pergi ke kamar mandi dan membersihkan diri.Selesai Raline membersihkan diri ia keluar dari kamar mandi dan pakaian yang ia kenakan terbilang biasa saja tetapi atasan piyama yanng berbentuk V itu terlalu turun dan sedikit memperlihatkan belahan dada nya.Raline duduk kembali di sofa, secara gesit ia mengambil bantal dan menutupi dadanya, rambut Raline yang basah membuat Arbiaz gatal ingin mengeringkan nya."Udah malem dan loe keramas?""Iyah emang kenapa?""Basah tau ga ga bisa tidur kalo gini nanti pusing."Arbiaz mengambil hairdry dari laci dan mengeringkan rambut Raline, tanpa ada penolakan. Biaz bekerja dengan baik sampai-sampai Raline terbengong.Di tengah lamunan Raline, Arbiaz tidak sengaja melihat belahan dada yang dipampangkan oleh baju piama itu, ugh memang bawahan Arbiaz iseng nya tidak tanggung -tanggung.Arbiaz segera menyelesaikan mengeringkan rambut Raline, dan Raline belum terbangun dari lamunannya, Arbiaz menyisir rambut Raline dengan perlahan."Sudah selesai.Dan Raline belum terbangun dari lamunanya.Arbiaz dengan hati - hati mengangkat tubuh Raline dan akhirnya Raline terkejut."Astaga nanti gue jatuh.""Lagian keenakan banget, gue sampe dicuek in."Arbiaz membawa Raline ke sofa mendudukan nya dan Biaz juga ikut duduk. Namun yang mereka lakukan sekarang hanya diam satu sama lain memandangi kota."Karna udah malem gue tutup ya tirai nya."Arbiaz menutup tirai jendela dan kembali ke tempat semula. Raline memandang Arbiaz di tempat duduk nya begitu pun sebaliknya.Arbiaz memegang kedua tangan Raline mengusap - usap keduanya dan mencium keduanya."Dingin banget tangannya.""Gue angetin yah.""Hmm gausah nanti juga hangat sendiri.""Gapapa, ini jg gara- gara gue."Arbiaz langsung menarik tangan Raline dan Raline terjatuh di dada bidang milik Arbiaz, Arbiaz memeluk Raline dengan erat sehingga Raline tidak bisa kabur dari hadapan nya."Tapi hangetinya gak cuman peluk doang."Raline terbangun dari tidurnya dan segera mematikan alarm yang sangat berisik. Segera ia menyiapkan pakaian kerja dan peralatan kerja nya, membersihkan diri , memasak sarapan dan bekal, dan beranjak keluar.ARA ☆"Wher ar u line, wut time is it huh, i dun wanna make your enemy angry to me"Pesan muncul di layar hape Raline , dari Ara tentu saja dikarenakan hari ini ada jadwal pertemuan , dan Raline harus ikut dengan Arbiaz untuk membawa beberapa perlengkapan materi presentasi Arbiaz.Dan tentunya semua itu rencana Biaz.Raline segera menekan tempat sidik jari untuk absen dan berlari secepat yang ia bisa tanpa membuat kebisingan. Tentunya untuk menghindari amarah Biaz."Sorry for late, saya sudah siap dengan semua yang anda butuhkan."Arbiaz memasang wajah datar sambil memegang segelas kopi nya melihat Raline yang sangat terburu - buru."Okay, i forgive u, btw pertemuan nya diundur satu jam lagi, saya harap kamu bisa memperbaiki diri kamu.""Baik pa""Satu lagi."Raline memasang wajah was - was akan kata - kata Arbiaz."Saya harap kamu sudah sarapan, saya tidak mau kamu salah fokus.""Baik pa."Arbiaz meninggalkan Raline dan masuk kembali ke dalam ruangan nya , Raline menyandarkan tubuhnya di dinding dan menghela nafas lega.****"Silahkan masuk ke dalam mobil saya.""Iya terimakasih pa."Arbiaz membukakan pintu untuk karyawan nya, hal baru yang Biaz lakukan, membukakan pintu untuk karyawan nya. Siapa lagi kalau bukan Raline.Arbiaz menyalakan mesin nya dan menjalankan mobil sport hitam keluaran tahun lalu, ugh sepertinya Raline merasa seperti orang ber uang seketika."Okay, jadi semua perlengkapan nya sudah siap?""Iya pa sudah siap.""Okay kerja bagus."Arbiaz menyalakan radio untuk memcah kecanggungan diantara mereka. Tetapi hasilnya sama saja , Raline tetap diam dan meratapi jalan."Raline?""Ya pa?""Hmm, i just wanna ask something, but there is no relation with our work, may I?""Sure.""Hmm aku harap kamu ga lupa sama yang udah kita lewatin."Namun Raline hanya diam."And, do u wanna be my FWB?"Raline mencengkram tas hitam dipangkuan nya, ah tidak yang benar saja , Raline harus merelakan semuanya untuk CEO yang dia tidak suka, termasuk yang ia jaga hingga kini.Raline hanya diam , hingga sampailah mereka ke gedung tempat pertemuan para CEO dan pengusaha - pengusaha. Kalau dilihat -lihat memang populasi CEO atau pengusaha muda yang tampan sangat sedikit."Okay Raline, jangan ada yang terlewat ya.""Baik pa."Raline mengecek semua bahan , dan ya tidak ada yang terlewat sedikitpun. Arbiaz memulai presentasi nya dan tanya jawab antar CEO, ah mengapa Arbiaz begitu terlihat berkarisma, mungkin saja bila Raline tidak berada di dalam rapat, dia akan berkata "Sisain satu ya Tuhan"Jadwal pertemuan pun selesai, Raline dan Arbiaz harus kembali ke kantor mereka. Arbiaz kembali membukakan pintu untuk Raline dan sekarang ditambah lagi memasangkan sabuk pengaman untuk Raline."Oke kita pergi."Arbiaz kembali menjalankan mobil nya, dengan sedikit melirik dari ekor matanya , ia dapat melihat Raline dengan pesona nya, wajahnya yang tidak terbalut make up tebal, blazer yang membuat d**a nya semakin maju, oh tidak Arbiaz kau sedang menyetir. Entah lah apakah Raline tidak mempunyai kemeja yang lebih longgar, jujur saja ini mengganggu penglihatan Arvbiaz."Raline""Iya mas? Eh maksudnya...""Saya merasa baju yang kamu kenakan agak..."Arbiaz ingin mengatakan nya tapi tidak sanggup, takut membuat rendah perasaan Raline."Ada yang salah Pa?""Hmm gimana ya saya ucapin nya.'Raline segera merapatkan blazer nya , mengetahui apa yang Arbiaz maksud.Oh tidak, rasanya Raline ingin mengutuki dirinya sendiri.***Ting tongBel pintu apartemen Raline berbunyi, seorang pengantar paket memberikan sebuah paket kepada Raline, tidak besar.SAYA HARAP INI BISA BERGUNA, DAN SAYA HARAP KAMU MEMAKAINYARaline membuka paketnya, dan mengeluarkan isinya, oke, kemeja , blouse dan pakaian kerja lainnya yang berukuran satu tingkat lebih besar dari yang ia punya.Tidak terlalu besar tidak terlalu kecil, dan ini bisa menyamarkan apa yang Arbiaz maksud kemarin.TING TONG TING Satu pesan masuk berbunyi dan berasal dari Arbiaz."Saya tidak akan mengambil apa yang kamu jaga."Dia seperti peramal saja, tahu saja apa yang Raline pikirkan.Entah apa yang Raline akan lakukan, kini ia berpikir sedikit keras untuk lebih menghindari bos nya itu.
My Childish Ceo
Flashback on6 tahun yang lalu......."Gwen..." ucap seorang pria remaja kepada seorang wanita di hadapannya"Iyaa,ada apa vier kenapa kamu menjadi tegang seperti ini?"ucap seorang wanita yang duduk di depan Xavier,ya benar dia adalah Gwen crystallyn Alexis"Aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu Gwen""Ada apa ? Katakan lah Xavier"ucap Gwen sambil tersenyum manis.Xavier yang melihat senyum Gwen pun sempat terhipnotis tapi dia cepat kembali sadar karena ingat tujuannya untik mengungkapkan isi hatinyaXavier pun menarik nafas sebelum mengucapkan kata yang akan dia sampaikan" huuhh ,,,Gwen sebenarnya aku mencintaimu sudah lama dan aku berniat untuk mengungkapkan perasaanku padamu.aku mencinta mu Gwen ,maukah kamu menjadi pacarku"ucap Xavier dengan mantap sambil menatap Gwen dengan seriusGwen menutup mulutnya tak percaya tapi walau bagaimana pun Gwen juga mencintai Xavier walaupun dia memiliki sifat yang Childish tapi Gwen tetap menyukainya menurutnya Xavier jika seperti itu maka berkesan imut"Iyaa aku mau menjadi pacarmu vier "ucap Gwen sambil tersenyum:)Flashback off__________________________________ ____Xavier tersenyum melihat jarinya yang terpasang cincin tunangannya sambil mengingat bagaimana dulu dia meminta Gwen menjadi pacarnya"Kamu milikku Gwen ,you're mine always mine"batin Xavier sambil tersenyum miring.Ceklek ....Pintu terbuka menampilkan seorang wanita cantik dengan setelan kerjanya sambil membawa map."Gwennn..."ucap Xavier dengan mata berbinarnya."Iyaa, ada apa baby"ucap Gwen lembut sambil mengelus kepala Xavier dengan lembut setelah menaruh map yang di bawanya di atas meja kerja Xavier"Kenapa kamu lama sekali datangnya Gwen,padahal aku sudah memanggilmu sejak tadi"ucap Xavier dengan matanya yang berkaca-kaca."Hei baby liat Gwen"Xavier pun melihat Gwen sambil menahan air matanya agar tidak jatuh "aku tadi sedang menyelesaikan pekerjaan ku yang belum selesai,jadi tolong jangan menangis ya baby"Gwen pun menghapus air mata Xavier dengan tangannya lalu membawa nya kedalam dekapa nya "Baby kok masih menangis kan Gwen sudah ada di sini ""Baby pusing Gwen " lirih Xavier sambil menatap kearah Gwen dengan sendu"Mau aku pijit hmm?""Mau tapi nanti di rumah sekarang aku mau pulang Gwen" rengek Xavier sambil mempout bibirnya dan itu sangat menggemaskan bagi Gwen ."Tapi sekarang belum waktunya pulang"ucap Gwen menasehati Xavier."Lalu apa masalahnya Gwen ini kan kantorku jadi bebas aku mau pulang kapan pun sesukaku,lagipula tidak akan ada yang berani menegurku. Ayolah Gwen,,,pliss"Gwen Pun menghela nafas. Sungguh berdebat dengan Xavier tidak ada gunanya dia sangat keras kepala mau bagaimana pun keinginannya harus fi turuti kalau tidak ia akan menangis dan itu akan membuat kepala Gwen pusing."Baiklah ayo kita pulang baby"ucap Gwen sambil tersenyum manis kepada Xavier.Xavier yang mendengar nya pun menjadi sangat senang "uya ayo kita pulang Gwen "Skipp (Dalam mobil)...Saat ini mereka berdua sedang duduk di kursi belakang karna memang saat ini Xavier enggan membawa mobil dia lebih suka bermanja manja dengan Gwen di kursi penumpang."Gwen"panggil Xavier"Ada apa baby"tanya Gwen sambil menundukan kepalanya sebab saat ini Xavier sedang bersandar dibahunya."Baby mengantuk Gwen ingin tidur nanti kalau sampai rumah Gwen bangunin baby yaa"ucap Gwen dengan matanya yang sayu."Baiklah,sekarang tidurlah baby"ucap Gwen sambil mengelus kepala dan juga punggung Xavier agar ia cepat tidur.Tak lama kemudian terdengar dengkuran halus yang berasal dari Xavier dan Gwen pun hanya tersenyum gemas melihat wajah Xavier ketika tidur."I love you baby"ucap Gwen sambil mengecup dahi pria itu.Kringg,,,,kringg,,,,kringgDering ponselpun terdengar membuat sang pemilik nya terpaksa bangun dari tidur lelapnya,sebelum dia mengangkat telpon nya ia melihat jam yang berada di atas nakasnya 'jam 05.30' gumam nya.Dering ponselpun tak henti hentinya berdering membuat ia melihat siapa yang menelponRupanya yang menelponnya saat ini adalah Angeline Pratama yaa dia adalah mommy tunangannya .Tumben sekali mommy menelponnya sepagi ini tanpa berlama lama pun ia kembali mengangkat telpon nya itu"Assalamualaikum ,mom. Ada apa ? Tumben sekali mommy menelponnya sepagi ini?"tanya Gwen dengan suara lembut khasnya.ia memang memanggil mommy nya Xavier mommy begitu pun dengan deddy nya karena itu adalah permintaan dari orang tau Xavier sendiri,Xavier pun memanggil orang tau juga sama Seperi ia memanggilnya juga yaitu ayah dan bunda."Waalaikumussalam sayang,maaf mommy menelponmu sepagi ini karena Xavier sedang sakit sejak semalam dan terus memanggil nama kamu nak" jawab mommy dengan nada yang terdengar khawatirGwen pun yang mendengarnya membulatkan matanya terkejut"Apa mom Xavier sakit?baiklah aku akan segera kesana mom""Iya tolong cepat ya sayang karna mommy tidak tega melihatnya,sekali lagi mom minta maaf ya karna mengganggu mu sayang " ucap mommy merasa bersalah"Tidak apa apa mom aku mengerti,yasudah aku siap-siap mom""Iya terima kasih ya sayang ""Sama sama mom,wasalamualaikum""Waalaikumussalam"Dan setelah telon terputus ia segera bersiap siap untuk pergi ke rumah kediaman Pratama itu .Skipp (rumah Xavier)" Assalamualaikum " ucap Gwen sambil menekan bell"Waalaikumussalam,,,eh Gwen kamu sudah sampai sayang?""Sudah mom"Gwen berkata sambil menyalami tangan angeline a.k.a mommy Xavier"Yasudah sayang ayo kita masuk ke dalam ,Xavier sudah menunggumu "Gwen pun hanya menganggukkan kepalanya dan berkata "baik mom"Setelah mereka masuk Gwen pun bertanya kepada mommy Xavier "mom apakah vier sudah makan?""Belum sayang dia belum mau makan padahal sudah mommy paksa tetap saja tidak mau sungguh keras kepala sama seperti ayahnya"dan mereka berdua pun sama sama tertawa"Mom bolehkah aku membuat bubur untuk vier?" Gwen bertanya karna dirasa tidak sopan jika langsung memasak di rumah itu"Tentu saja boleh sayang ,nanti kalau kamu mau memberi makan anak itu langsung saja masuk ke kamarnya,kamarnya tidak di kunci kok" ucap mommy memberi tahu"Iyaa mom""Gwen sepertinya mommy harus pergi karna ada arisan mungkin nanti setelah mommy selesai arisan mommy akan langsung pergi ke kantor Deddy""Apakah kamu tidak keberatan menjaga Xavier sendirian ?" lanjut mommy"Tidak apa apa kok mom aku justru senang bisa merawat bayi besar ku "ucap Gwen di sertai dengan kekehan"Baiklah kalau seperti mommy pergi dulu ya ,assalamualaikum"Mommy berujar sambil mencium pipi gwen"Waalaikumussalam"Setelah mommy pergi Gwen pun melanjutkan langkahnya untuk ke dapur membuatkan Xavier bubur."Eh ada non Gwen " ucap bi siti "ada apa non ke dapur""Ini aku mau membuat bubur untuk Xavier bii""apakah ingin bibi bantu non?"bi siti pun menawarkan bantuan"Tidak apa apa bii,aku bisa melakukannya sendiri kok"ucap Gwen sambil tersenyum manis kepada bi siti"Yasudah kalau begitu bibi izin kebelakang ya non mau melanjutkan menyiram tanaman yang belum selesai""Iya silahkan bii"Setelah bi siti pergi Gwen pun segera berkutat dengan alat memasaknya untuk membuat bubur.30 menit kemudian..."Yey selesai juga membuat bubur nya"ujar Gwen dengan senyum yang mengembang di wajahnya .CeklekGwen pun langsung membuka pintu kamar Xavier dan ia melihat Xavier sedang berbaring membelakanginya dengan selimut sebatas lehernya"Mom aku sudah bilang aku tidak mau makan atau pun meminum obat kalau Gwen tidak ada disini hiks"ucap Xavier dengan punggung yang bergetar sudah di pastikan oleh Gwen bahwa laki laki itu sedang menahan tangisnyaGwen pun meletakan nampan yang berisi bubur di atas nakas dan ia mulai Duduk di kasur Xavier dengan laki laki itu yang masih membelakangi Gwen.Gwen pun mengelus punggung Xavier"Baby hei ini aku sayang" ucap Gwen dengan lembutnya.Xavier yang mendengar suara Gwen pun langsung membalikkan badannya"Gwen" Lirih Xavier dengan mata yang sudah berkaca kaca."Hei kenapa tidak mau makan dan minum obat hmm"Gwen bertanya kepada Xavier"Karna aku ingin kamu yang kesini Gwen " ujar Xavier sambil memeluk Gwen dengan erat dan menenggelamkan wajahnya ke perut rata Gwen"Yasudah sekarang aku kan sudah di sini jadi kamu sekarang makan dulu setelah itu minum obatnya yaa""Gamau Gwen mau peluk Gwen aja hiks""Baby kalau ga makan nanti lama sembuhnya emang kamu ga mau cepet sembuh hm?atau gamau makan makanan yang aku buat ya padahal aku buatnya dengan susah payah loh buat kamu"ucap Gwen yang di akhir katanya di sedih sedih kan agar Xavier mau makan .dan yap berhasil!"Gwen jangan sedih baby mau kok makan buatan Gwen .Maaf ya baby nyusahin Gwen"ucap Xavier yang sudah duduk dengan menundukan kepalanya"Iya gapapa ,sekarang kamu makan ya.mau makan sendiri atau aku suapi?""Suapin "rengek XavierGwen pun menyuapi Xavier dengan telaten walaupun sesekali Xavier menolak dengan alasan mulutnya pahit walaupun begitu Gwen tetap memaksa Xavier menghabiskan makanannya"Ayoo cepat baby 1 suap lagi"Xavier pun dengan terpaksa membuka mulutnya"Yey sudah habis sekarang kamu minum obat nya yaa"Xavier yang mendengarkan ucapan Gwen pun sontak menggeleng karena Xavier tidak suka obat,menurutnya Obat itu pahit sekali dan Xavier tidak menyukai yang pahit sebab Gwen itu manis"Baby kok gitu sih kan nanti kalau baby udah sembuh bisa jalan jalan sama Gwen,baby ga mau jalan jalan nih sama Gwen " ujar Gwen dengan nada yang menyedihkan"Baby mau kok jalan jalan sama Gwen kemana pun Gwen mau "ucap Xavier dengan cepat karena tidak mau melihat Gwen nya itu bersedih"Kalau begitu baby mau kan minum obatnya"ucap Gwen dengan puppy eyes nyaXavier yang melihat Gwen seperti itu pun tidak tega dengan terpaksa ia menganggukkan kepalanya.setelah minum obat Gwen pun menyuruh Xavier untuk tidur"Tapi nanti kalau baby tidur Gwen akan pergi hiks" ucap Xavier dengan isakannya"Aku ga akan pergi baby ,sudah sekarang kamu tidur yaa"ucap Gwen dengan senyum yang menenangkan"Janji"ucap Xavier dengan menjulurkan jari kelingking nya"Janji"ucap Gwen sambil mengusap punggung Xavier agar lelaki itu cepat tidurSetelah lelaki itu tidur tak lama kemudian Gwen pun ikut menyusulnya ke alam mimpi.Seorang gadis mengerejapkan matanya sambil mengumpulkan nyawanya yang masih tertinggal di alam mimpi.setelah semua nyawanya kumpul ia menolehkan kepalanya ke samping dan melihat seorang pria yang sangat dia cintai .iya dia adalah XavierPuas sudah memandangi wajah kekasihnya itu ia pun bangkit dan berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci wajah nya .setelah selesai ia keluar dan masih melihat Xavier tidur dengan sangat nyenyak .Gwen tidak tega membangunkan Xavier ia pun hendak pergi,namun sebelum itu Gwen mengecek suhu tubuh Xavier yang ternyata sudah normal"Morning mom"sapa Gwen ketika sudah berada di dapur dan melihat mommy sedang memasak untuk sarapan"Morning too sayang""Mom,mommy sedang memasak apa?""Ini mom sedang memasak ayam goreng setelah itu baru memasak nasi goreng untuk kita sarapan nanti ""Mom aku juga ingin membantu"ucap Gwen yang tampak sangat antusias"Boleh kamu potong potong sayuran sama sosis dan baso nya aja yaa ""Okee baik mom"Gwen pun langsung mencuci sayuran nya setelah bersih ia memotong sayuran itu dengan sosis juga baso seperti yang di perintahkan oleh mommy"Sayang apakah Xavier sudah lebih baik kondisinya?"tanya mommy setelah sadar kalau putra satu satunya itu sakit"Tadi pagi aku sudah mengecek suhu tubuhnya mom dan ternyata sudah turun ". ucap Gwen menenangkan mommy"Oh syukurlah kalau seperti itu,terima kasih ya Gwen kamu sudah mau mengurusi Xavier yang sangat manja itu""Sama sama mom.lagi pula aku juga menyayangi Xavier jadi aku tidak masalah jika harus merawatnya" ucap Gwen dengan senyum tulus di wajahnyaGwen dan juga mommy hampir selesai menyiapkan makanan untuk sarapan tetapi tak lam terdengar teriakan juga barang pecah dari lantai atas"HUAAAA GWENNN KAMU DI MANA HIKS HIKS"terdengar suara teriakan Xavier dari lantai atasPrang... .."Gwen sebaiknya kamu ke lantai atas Xavier sepertinya sedang marah besar " ucap mommy memberitahu""Baiklah mom aku ke atas dulu ya"pamit Gwen dan di balas anggukkan Oleh mommyGwenpun berlari cepat ke lantai atas agar Xavier tidak semakin marah ,setibanya Gwen di depan kamar Xavier ia langsung masuk dan melihat bagitu banyak pecahan kaca pada lantaiGwen berjalan hati hati agar pecahan tersebut tidak melukai kakinya dan saat sudah sampai ia di belakang Xavier dengan Xavier yang sedang duduk dan menghadap tembok Gwen pun segera jongkok dan memeluk Xavier dari belakang"Gwen hiks hiks"ucap Xavier karna tau yang memeluknya adalah Gwen"Iyaa baby ini aku kenapa bisa Seperti ini sayang "ucap Gwen sambil kembalikan badan Xavier agar menghadapnya"Aku hiks pikir Gwen pergi hiks hiks " ucapnya di sertai dengan air mata yang masih mengalir"Hei lain kali jangan seperti ini ya ,kamu kan bisa mencari ku dulu atau bertanya jangan langsung membuat kekacauan seperti ini"Ucap Gwen menasehati"Iyaa Gwen maafin baby ya "ucap Xavier"Iya gapapa sekarang ayo kita turun dulu kamu harus sarapan sayang" dan di balas anggukkan imut oleh Xavier"Hati hati banyak pecahan kaca "Gwen memperingati Xavier agar pria itu tidak terluka oleh serpihan kacaSetibanya mereka di ruang makan Gwen tak melihat kehadiran daddy .setelah Gwen dan Xavier duduk pun Gwen baru bertanya kepada mommy"Mom daddy kemana ?""oh kemarin daddy mengatakan jika ia harus segera pergi ke Canada karena di sana ia akan membangun sebuah proyek" jelas mommy kepada Gwen'Oh begitu' ucap Gwen dalam hati"Ayo sekarang kita sarapan " ucap mommyDan segelas itu pun tidak ada yang membuka suaranya karena memang jika di keluarga Xavier ataupun gwen tidak di perbolehkan makan sambil mengobrol ataupun bersuara hanya terdengar dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piringMereka telah menyelesaikan sarapannya dan sekarang Gwen dan Xavier sedang menonton kartun di ruang keluargaSebenarnya bukan mereka tapi hanya Gwen saja sedangkan Xavier sedang menikmati usapan lembut di kepalanya yang terbaring di atas paha Gwen .mommy juga tadi keluar untuk pergi ke butiknya"Gwen "panggil Xavier yang hanya fi balas deheman oleh Gwen karna asyik menonton kartun 2 bocah botak itu"Gwen nanti kalau kita nikah Gwen mau punya anak berapa? Mau tinggal di mana? Konsep pernikahannya kayak gimana?" sederet pertanyaan pun keluar dengan mulus dari bibir Xavier dan di balas dengan dengusan oleh Gwen"Baby aku sudah mengatakannya berkali kali kepadamu jika aku belum sanggup untuk menikah saat ini jadi aku minta sama kamu untuk mengerti situasi aku saat ini ya"Gwen berucap karna ia memang benar benar belum siap untuk menikah menurutnya masih banyak yang harus di perbaiki oleh dirinyaXavier yang mendengar jawaban Gwen pun hanya bisa mengumpat dalam hati karna sebal dengan Gwen"Gwen kenapa ga mau menikah dengan baby ?apakah baby terlalu manja? " ucap Xavier dengan suara lirihnya"Hei kok baby ngomongnya gitu sih ,Gwen ga mau nikah bukan karna itu kok tapi karna Gwen benar benar belum siap. jadi baby tolong yah ngertiin Gwen ,baby juga mau kan menunggu Gwen?" ucap Gwen sambil mengelus rahang Xavier dengan lembut"Iya baby mau kok Gwen asalkan Gwen mau nikah sama baby ya""Iya Gwen mau kok .makasih ya baby sudah mau menunggu Gwen untuk siap. Gwen sayang baby""Baby juga sayang Gwen" ucap Xavier dengan memeluk Gwen dengan erat seakan akan kalau ia melonggarkan pelukannya sedikit saja Gwen nya akan pergiTing..Suara pesan masuk pun terdengar dari posel milik Gwen. Gwen pun segera melihat siapa kah yang mengiriminya pesan itu'Andra?' batin GwenAndraHai Gwen,gw mau balik nih ke Indonesia buat pesta yang meriah ye buat gw😂GwenSerius loe ndra?"Itu siapa Gwen?" tanya Xavier sambil melirik ponsel milik Gwen itu"Oh ini Andra sahabatku sewaktu smp aku tapi dia harus pindah ke london karena pekerjaan ayahnya" jelas Gwen kepada Xavier agar pria itu mengerti."Terus kenapa dia menghubungimu lagi Gwen? Apakah kamu ada main sama dia" ucap Xavier sambil memincingkan matanya curiga"Hei baby tenanglah ia hanya sahabatku, kamu ga usah cemas seperti itu""Tapi kan tetap saja ia bisa mengambil mu dari ku Gwen " ucap Xavier dengan tegas"Aku akan slalu ada di samping mu jadi kamu, kamu harus percaya sama aku kalau aku ga akan pernah ninggalin kamu baby karna aku sangat menyayangi mu" ucap Gwen meyakinkan Xavier yang saat ini tengah cemburu"Baiklah aku percaya padamu tapi kamu harus menepati janjimu untuk slalu bersamaku dan tidak akan pernah pergi dariku Gwen" ucap Xavier dengan ekspresi wajah yang sangat lucu di mata Gwen"Tentu saja baby" ucap Gwen dengan kembali mendekap tubuh kekasih cengengnya itu'Aku tidak akan pernah melepaskan mu ataupun membiarkanmu pergi dari ku Gwen karna kamu adalah milikku sekarang ataupun selamanya, jika ada yang berani mengambil mu dariku maka ia siap untuk mati' batin Xavier sambil tersenyum devilTak terasa hari pun semakin sore bahkan hampir menjelang malam dan mommy masih belum juga pulang dari butiknya sekarang ia dan juga Xavier sedang berada di taman belakang"Xavier aku pulang sekarang ya kan besok kita harus ke kantor aku j7ga belum melihat jadwal kamu" ucap Gwen"Hiks kok kamu gitu sih hiks Gwen aku kan ga mau di tinggal hiks mommy juga belum pulang""Yaudah aku ngga pulang sekarang tapi nanti saat mommy datang dan kamu ga boleh ngelarang aku lagi" ucap Gwen memperingati XavierXavier yang mendengarkan ucapan Gwen pun hanya mengerucutkan bibirnya dengan terpaksa menganggukan kepalanya.Dari pada Gwen pergi sekarang? Begitu fikir nya"Xavier kita ke ruang tengah aja yu aku ingin menonton film""Yaudah ayo Gwen" ucap Xavier yang langsung menarik tangan Gwen. Gwen yang melihatnya hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya melihat kelakuan kekasihnya ituSesampainya di ruang tengah Gwen langsung menyalakan televisinya dan menonton film yang dia inginkan dengan khusu sedangkan Xavier saat ini sedang memakan kripik di sampingnyaSaat sedang asik asiknya nonton tiba tiba terdengar suara bel dan tak lama. kemudian mommy pun datang dengan membawa beberapa bahan makanan"Eh, mommy sudah pulang?" tanya Gwen sambil menyalami tangan mommy atau ibunya Xavier itu, berbeda dengan Gwen yang menyambut kepulangan mommy dengan ramah Xavier justru acuh tak acuh karena jika mommy sudah pulang maka Gwen akan segera pergi meninggalkannya'Sungguh menyebalkan' batin Xavier dengan terus mendumal"Iya sayang ga tau kenapa hari ini butik lumayan ramai jadinya mommy pulang sampai malam seperti ini. Apakah kamu tidak pulang nak? Atau mau menginap lagi biar mommy yang meminta izin kepada bunda kamu itu" ucap mommy karna ia sangat senang jika Gwen ada di rumahnya"Gausah kok mom lagi pula aku juga akan segera pulang banyak pekerjaan aku yang terbengkalai. Aku juga sengaja belum pulang karna menunggu mommy, Xavier ga mau di tinggal kalau mommy belum datang""Halah itu palingan juga cuman modusnya anak itu aja sayang jangan di percaya"Mereka berdua pun tertawa bersama samaXavier yang mendengar tawa mereka pun geram akhirnya ia mengeluarkan suaranya"Jika mom sudah tau kenapa mom harus segala pulang sih kan kalau mommy tidak pulang aku bisa terus sama Gwen" Xavier berucap sambil berdecak" Heh kamu ngomong sama orang tua ga ada sopan sopan nya ya, mommy kutuk baru tau rasa kamu"Xavier yang malas berdebat dengan mommy nya pun langsing pergi ke kamarnya namun harus melewati kekasihnya dan juga bundanyaSetelah sampai di tengah tengah Gwen dan juga mommy nya Xavier langsung dengan secepat kilat mengecup pipi Gwen dan berlari ke kamarnya"EH KAMU XAVIER DASAR ANAK KURANG NGAJAR YA KAMU" ucap mommy sambil teriak"Hahaha, udahlah mom gapapa aku pamit pulang ya mom"pamit Gwen"Iya sayang hati hati ya""Siap mom"Skippp (sampai rumah)..."ASSALAMUALAIKUM GWEN CANTIK PULANG TANPA ADA LUKA SEDIKITPUN" teriak Gwen ketika memasuki mansion nya itu"Waalaikumussalam sayang kamu kalau dateng jangan teriak teriak nanti tenggorokan kamu bisa sakit loh" ucap Sella Putri Alexis Atau bunda Gwen"Hehehe maaf ya bun janji ga lagi" ucap Gwen dengan mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya tanda damaiBunda Gwen yang melihat itu pun hanya tersenyum melihat tingkah laku putrinya itu"Eh iya bun ayah kemana ya kok ga keliatan?" tanya Gwen karna menyadari tidak melihat sosok pahlawan dalam hidupnya"Ayah ada kok lagi di ruang kerjanya paling nanti makan malam ia akan turun""Ohhh yaudah deh Gwen langsing ke kamar aja ya bun""Ia sayang jangan lupa mandi nanti jika waktunya makan malam mommy akan segera panggilkan kamu dan juga ayah" ucap bunda"Siapp bun" ucap Gwen yang saat ini sudah berada di pertengahan tanggaSetibanya di kamar nya Gwen segera memasuki kamar mandi dan melaksanakan ritual nyaCeklek ....Terlihat di depan pintu kamar mandi Gwen sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk karna menurut Gwen jika memakai hairdair hanya aka merusak rambutnyaGwen berjalan melangkah ke depan meja rias nya lalu mulai menyisir rambutnya sendiri setelah selesai ia pun membaringkan badannya di kasur"Gwen sayang ayo kita makan malam bersama ayah sudah menunggu di sana" ucap bunda yang sudah berdiri di depan pintu kamar Gwen"Iya baik bun" jawab Gwen.............."Ayahh" Gwen berujar sambil memeluk Atmaja Alexis yaitu ayah Gwen dari belakang"hei hallo sayang kenapa kamu dan bunda lama sekali ayah sudah kelaparan nih""Hehehe maaf ya yah yaudah ayo kita makan""Sudah lengkap semua"ucap bunda memerhatikan apa saja yang ada di atas meja makanSkipp (ruang keluarga)" Gwen gimana hubungan kamu dengan Xavier apakah baik baik saja?" tanya ayah kepada Gwen"Iya hubunganku dengan Xavier baim baik saja cuma Xavier sempat salah paham yah""Salah paham apa sayang" ucap bunda"Kemarin Andra mengabariku kalau dia akan kembali pulang kesini dan Xavier melihat pesan yang andra kirimkan untukku bun, jadi ia sempat salah paham padahal andra itu sudah seperti abang bagiku" ucap Gwen desertai kekehan juga"Yah kamu maklumi aja kan memang ia sifatnya seperti itu" ucap ayah"Ia seperti itu Karena ia tak mau kehilangan kamu sayang ia sangat menyayangimu""Iya bunda aku mengerti"Karena Gwen sudah mengantuk lantas ia pun pamit kepada ayah dan bundanya untuk memasuki kamarnya. Saat telah sampai di kamar ia melihat ponselnya yang tak berhenti bergetar di atas kasurGwen pun mengambil ponselnya itu dan melihat ada notifikasi apa. Dan setelah tau kenapa ponselnya bisa terus bergetar pun Gwen hanya mengukir senyum tipisBaby vier 🐼❤GwenGwen kenapa kamu tidak mengangkat telpon kuIsh balas dong Gwen hiksAtau kamu sedang sama lelaki yang menarin menghubungi mu itu?Aku akan sangat marah jika kamu benar benar sedang sibuk dengan dia dan melupakan aku!Gwen yang membaca pesan pesan dari Xavier hanya terkekeh sebab membayangkan bagaimana lucunya ekspresi mukanya ketika mengirimi pesan ituGwenHei baby aku tadi sedang makan malam dengan ayah dan juga bundaBaby vier 🐼❤Oh baiklah Gwen.Gwen aku kangenn :(GwenAstaga sayang kita baru aja ketemu dan kamu bilang kangen?Baby vier 🐼❤Ish tapikan aku kangen kamu Gwen😭GwenHahaha baiklah besokan kita ketemuBaby vier 🐼❤Mmm tapi besok aku yang menjemputmu tidak ada penolakan!GwenIya baby sekarang kamu tidur yaHave a nice dream :*Baby vier 🐼❤Have a nice dream tooGwennya Xavier :")Gwen tidak membalas pesan dari Xavier ia segera meletakan handphone nya di balas dan memejamkan matanya menyambut hari esok yang cerahMalam pun telah berlalu kini terganti oleh pagi yang cerah. Terlihat di dalam sebuah kamar yang bernuansa biru laut itu masih terbaring sosok gadis yang masih berada di alam mimpinya tanpa terusik dengan sinar matahari yang masih malu malu menampakkan dirinyaTapi ternyata dewi Fortuna tidak berpihak kepada"Gwen astaga kamu masih tidur hah?! Itu Xavier sudah menunggumu Gwen!! Aneh sekali bos menunggu karyawan" ucap bunda dengan suaranya yang menggelegarMendengar ucapan sang ratu pun mau tak mau ia terpaksa bangun dari mimpi indahnya"Apaan sih bun, aku masih ngantuk tau" ucap Gwen sambil menarik selimutnya menutupi sebagian wajahnya"Astaga ni anak, Gwen itu Xavier sudah menunggumu sejak 1 jam yang lalu dan kamu masih tidur? Memangnya kamu mau di pecat oleh Xavier"Mendengar kata pecat Gwen pun segera bangkit dari kasur nya dan menuju kamar mandi untuk bersiap pergi ke kantor bersama XavierCeklek ...Gwen sudah keluar dari kamar mandi dengan setelan kantornya namun masih ada handuk yang melilit di kepalanya.iapun segera menuju meja riasnya dan mengeringkan rambutnya yang masih sedikit basahSetelah rambutnya di tata dengan rapi ia memoleskan make up tipis di wajahnya karna jika terlalu mencolok maka ia tidak akan di izinkan pergi bekerja oleh XavierSetelah Gwen selesai dengan make up nya ia pun menatap pantulan dirinya sendiri di kaca full body' Perfect ' ucapnya dalam hatiIa pun segera turun untuk menemui Xavier"Morning all" ucap Gwen saat sampai di meja makan yang hanya terisi dengan bundanya dan juga Xavier"Morning too sayang" ucap bunda dan juga Xavier"Kalau kamu pertanyaan di mana ayah dia sudah pergi karna ada meeting pagi ini" ucap bunda seolah tau apa yang akan putrinya tanyakanGwen yang mendengarnya hanya menganggukkan kepalanya singkat sambil mulutnya membentuk huruf 'O'Sarapan pagi pun berjalan dengan mulus tanpa ada lagi yang bersuara. Gwen dan juga Xavier yang melihat jam tangannya pun berpamitan agar tidak terlambat pergi ke kantor"Bun aku dan Gwen pergi dulu ya" pamit Xavier mewakili Gwen lalu mereka pun menyalami tangan bunda dan langsung pergi menuju kantorSetibanya mereka di kantor Gwen dan juga Xavier menuju ruangannya masing masing yang hanya terpisah oleh satu tembok"Sayang aku masuk dulu ya" ucap Gwen kepada Xavier yang menganggukkan kepalanyanamun sebelum Gwen benar benar pergi Xavier membalikkan tubuh Gwen dan mengecup singkat dahi Gwen yang membuat pipi Gwen langsung merona"Semangat kerjanya nyonya pratama" Xavier berucap dengan di sertai kekehan"Ih apaan sih udah sana kamu pergi ke ruanganmu" perintah GwenXavier pun pergi menuju ke ruangannya dengan masih tawa kacil menyertainya11.00CeklekGwen yang mendengar suara itu pun menoleh ke arah pintu dan di lihatnya Xavier berjalan dari arah sana menuju meja kerja Gwen"Ada apa tumben sekali kau yang kesini biasanya kan kamu yang memintaku untuk ke ruangan mu""Tak apa namun kayaknya aku ada meeting mendadak kali ini dan mungkin kita tidak akan bisa lunch bersama, apakah kau tak apa?" tanya Xavier sebab takut Gwen merasa kesepian"Aku tak apa vier kamu pergilah meeting kalau begitu" ucap Gwen meyakinkan Xavier"Baiklah kalu begitu aku pergi dulu ya sayang" ucap Xavier dengan mengecup puncak kepala Gwen sebelum ia pergiGwen yang melihat Xavier keluar dari ruangannya pun hanya bisa menghela nafas dan kembali melanjutkan pekerjaannya yanv tertunda ituGwen masih fokus mengerjakan pekerjaannya yang belum juga selesai namun sebelum Gwen benar benar menyelesaikan pekerjaannya harus terganggu karna ponselnya berderingDan saat melihat siapa penelfon nya pun Gwen segera mengangkatnya" Hallo Gwen,kamu apa kabar? Aku sudah kembali" ucap seorang penelfon di sebrang sana" Hallo juga ndra,aku baik baik saja kok.hah? Seriusan kamu udh pulang?" tanya Gwen tidak yakinJadi kalian sudah tau kan siapa yang menelpon Gwen yang tak lain dan tak bukan adalah Andra" Aku serius Gwen dan rencananya aku ingin mengajakmu makan siang hari ini apakah kamu sedang tidak sibuk?" tanya AndraGwen pun sedang berfikir sejenak sebelum ia menjawab pertanyaan dari Andra"Ia aku sedang tidak sibuk kok"" Baguslah, aku akan mengirimkan alamat kafenya kepadamu dan jangan telat""Ya ya ya okee" jawab Gwen malasSetelah itu ia pun melihat alamat yang di kirimkan oleh Andra dan langsung pergi menuju kafe tersebutTingg ...Bunyi bell terdengar artinya ada orang yang memasuki kafe dan orang itu adalah Gwen yang melangkahkan kakinya menuju ke tempat Andra yang sudah melambaikan tangannya ketika ia masuk tadi"Kau mau pesen apa pesan lah aku yang akan mentraktir mu" ucap Andra ketika Gwen sudah duduk di hadapannyaSetelah memesan makanan dan makanannya pun sudah hadir di meja itu Andra segera membuka suaranya"Gwen kamu apa kabar""Ya yang seperti kamu lihatlah aku baik baik saja, dan bagaimana dirimu sendiri disana?" tanya Gwen"Aku juga baik kok Gwen""Bagaiman dengan kekasihmu"Gwen juga menanyakan utu karena ia juga tau kalau Andra itu sudah memiliki kekasih yang ternyata adik tingkat Andra sendiri sewaktu kuliah di saba"Hahaha dia baik baik saja tapi mungkin sekarang dia masih sedang sibuk sibuk nya menyiapkan skripsi untuk kuliahnya" ucap Andra sambil tersenyum karna ia juga merindukan gadis kecilnya itu"Lalu kenapa kau kembali bukannya membantunya untuk menyelesaikan tugasnya""Aku juga maunya seperti itu Gwen namun ia menolak justru ia menyuruhku pulang karna ia tau kalau aku belum pulang ke indonesia selama ini""Waw ternya gadisku itu sangat baik ya" ucap Gwen merasa kagum kepada kekasih nya Andra itu"Ya bagitulah ia sebelas dua belas lah denganmu Gwen yang berhati malaikat" ucap Andra yang langsung mengundang tawa mereka berduaSaat sedang fokus mengobrol sambil sesekali tertawa mereka tidak tau kalau di pojok kafe tersebut ada seseorang yang melihat mereka dengan tatapan tajam miliknya'Sial berani beraninya kau tertawa bersama gwenku, milikku, kesasihku' ucap Xavier dalam hati"Oke mungkin segitunsaja tuan pratama mungkin untuk lebih jelas lagi ya bisa kita bicarakan pada meeting selanjutnya" ucap klien nya Xavier ituDan setelah itu mereka bersalaman dan klien nya pun meninggalkan kafe tersebut sedangkan Xavier pergi menuju ke meja yang terdapat kekasih-nya itu"ahmmm" Xavier berdehem seraya mengeraskan suaranya agar Gwen mau membalikkan tubuhnyaDan benar saja Gwen membalikkan tubuhnya dengan mata yang melotot karna melihat Xavier di siniSedangkan Xavier yang melihat itu hanya tersenyum miring'Ya tuhan apalagi ini? kenapa Xavier bisa ada di sini? Habislah aku' batin Gwen berujar'Kau berani sekali pergi bersama pria lain tanpa bertanya kepadaku dulu Gwen' batin Xavier'Siapa orang ini? Dan kenapa Gwen menatapnya Seperi itu? Dan dari mana aura menyeramkan ini datang' batin Andra terus bertanya.Saat ini aku sedang meeting bersama dengan klien ku di sebuah kafe yang letaknya tidk terlalu dekat dan juga tidak terlalu jauh dari kantorkuSaat sedang meeting aku tak sengaja melihat kekasihku duduk bersama seorang pria, wait PRIA?!Aku terus saja memperhatikan kekasihku dari tempatku berada sampai sebuah suara dari klien ku menyadarkan ku dan mengatakan bahwa meeting telah selesaiSetelah itu aku berjabat tangan dengannya dan ia pun keluar dari kafe tempat meeting kita ini sedangkan aku pergi menuju meja kekasihku berada yang terlihat ia masih saja tertawa dengan pria ituAku sengaja berdeham dengan suara yang di besarkan agar ia berbalik dan benar saja ia berbalik dengan wajah terkejut nyaBugh ,,, bughh" Kenapa loe deketin cewek gua anjing?!!! Loe mau ngambil Gwen dari gua hah?! Dan gua peringatin loe jangan deket deket sama cewek gua lagi!!!!BughAku sungguh tak tahan dan segera menghajar pria yabg bersama dengan kekasihku membabi buta sampai pada saat aku merasakan tubuhku di peluk oleh seseorang dari arah belakang dan aku pun mematung di tempat"Baby sudah jangan Seperi ini, ia bukan siapa siapa aku ia hanya temanku Andra. Tolong jangan memukulinya lagi" ucap Gwen menghentikan aksikuTapi tunggu dulu ada yang janggal Andra? Ohh rupanya ia yang mengirimi kekasihku itu pesanAku yang mendengar pembelaan dari kekasihku untuk pria yang katanya HANYA temannya itu pun langsung menarik tangan Gwen tanpa memperdulikan lelaki yang saat ini sedang mengusap sudut bibirnya yang terdapat bercak darah sampai aku merasa Gwen menghentikan langkahnya dan aku pun berbalik"mmm vier apa Leih baik kita menghantar Andra ke rumah sakit terlebih dahulu kasihan pasti dia sangat lah kesakitan" ucap GwenAku tak memperdulikan ucapan Gwen aku langsung saja menariknya namun sebelum ia itu aku melihat Gwen menatap lelaki itu dengan tatapan bersalahnya dan ddi balas senyuman kecil lelaki ituAuthor POV"Gila pacarnya si Gwen posessive amat dah ampe bonyok ni muka ganteng gua buset dah"Lalu ia beranjak untuk pergi dari kafe tersebutDi lain sisi ada seorang pria yang tengah menarik tangan kekasihnya menuju ke parkiranSaat sampai di depan mobil ku. Aku segera mendorong Gwen masuk je dalam dan menutup pintu mobil dengan kerasBrak'Ya tuhan tamatlah aku kali ini' batin Gwen berujarAku segera masuk dan mengemudikan mobilku dengan kecepatan di atas rata rataAuthor POVSetibanya mereka di apartemen milik Xavier, Xavier segera menarik tangan Gwen menuju apartemen miliknya lalu menghempaskan tubuh Gwen ke atas kasur agar perempuan itu tidak terlukaAku yang terlanjur panas pun melepaskan jas, dasi dan kemejaku menyisakan kaos berwana putih yang sangat ketat di tubuh perposional ku"Kenapa Gwen?! Kenapa?! Jawab Gwen!!" ucap Xavier murka"A-akku..."Baru saja Gwen ingin berbicara namun Xavier langsung membanting vas bunga juga barang barang yang terbuat dari kaca di dalam kamar ituPrank .... prank ....Hal itu membuat Gwen tidak berani membuka mulutnya lagi"Kenapa kau pergi bersama pria lain ke kafe itu Gwen?! Apakah kau ingin berselingkuh dengannya saat status kita ini sudah bertunangan?! apa benar??!!"Gwen tidak berani menjawab pertanyaan Xavier ia hanya menutup mulutnya sambil menggeleng kuat menandakan semua yang di ucapkan Xavier itu tidak benar"A-aakku tidd-dak ber sel-lingkuh vi vier" Gwen mencoba membuka suaranya walaupun sangat sulit karena ia benar benar sudah sangat ketakutan melihat Xavier jika sudah seperti ini"Lantas jika tidak KENAPA KAU PERGI KE KAFE BERSAMANYA DAN TIDAK MAMBERI TAHUKU? kau tau kan AKU SANGAT TIDAK SUKA!!!!" ungkap Xavier sambil menatap Gwen dengan pandangan yang tersirat marah, sedih, dan juga yang paling besar adalah kecewaGwen hanya menunjukan kepalanya semakin dalanXavier yang melihat potongan potongan kaca itu langsung berjongkok dan mengukir nama 'Gwen' di tangannyaGwen yang tidak mendengar suara Xavier lagi sontak mendongakkan kepalanya melihat apa yang di lakukan pria ituSaat melihatnya Gwen langsung memeluk Xavier sambil menangis kencang"Hiks hiks vier jangan hiks sepeti ini,,Jangan lukain hiks dirimu sendiri hik hiks maaf kan aku hiks yang membuatmu marah hiks" ucap gwenXavier yang mendengar Gwen menangis membalikkan badannya dan memeluk Gwen erat dan juga tak lama air mata pun mengalir dari mata indahnya itu"Hiks Gwen kenapa bersama pria itu hiks hiks Gwen? Apa karena baby terlalu manja jadi Gwen ga suka dan sayang lagi hiks sama baby dan lebih memilih pria itu hiks""Engga baby dengerin Gwen yah Gwen itu sayang banget sama baby dan ga mungkin Gwen memilih pria lain selain baby" sambil menghapus air mata di matanya juga di mata Xavier"Maafin Gwen yah,,, baby mau kan maafin Gwen?" lanjut Gwen"Iyah baby maafin Gwen tapi Gwen ga boleh pergi bersama pria lain selain baby juga keluarga Gwen""Iya kamu tenang aja aku ga lagi kayak gitu""Yaudah aku bersihin luka kamu dulu " ucap Gwen langsung pergi mengambil kotak p3k untuk mengobati Xavier yang saat ini sedang duduk di atas kasurTak lama Gwen pun kembali lagi dengan membawa kotak p3k juga baskom beserta air dan juga handuk kecil untuk Xavier sebelum memberikannya obatSelesai dengan membersihkan luka Xavier dengan air hangat Gwen langsing mengambil kapas dan juga obat merah untuk mengobati Xavier"Aww shhh" ucap Xavier sesekali merintis merasakan tangannya linu"Tahan baby sebentar lagi selesai kok" ucap Gwen sambil tersenyum manis kepada XavierXavier menganggukkan kepalanya sambil menatap lukanya yang sedang di perbam oleh GwenSehabis itu mereka berbaring dengan posisi berpelukkan(Abaikan saja wajahnya ya😂)" Baby lebih baik kita tidur saja sekarang aku tau kamu pasti sangat lelah" ucap Gwen kepada Xavier"Mm baiklah aku juga sudah mengantuk, dan aku juga sudah izin kepada ayah kalau kamu tidak pulang dan menginap di apartemen ku"Gwen yang mendengarnya mengangguk di dalam dekapan Xavier ituMemang keluarga dari Gwen sudah sangat percaya bahwa Gwen dan Xavier tidak akan macam macam karena Xavier juga ingin menjaga Gwen dan bukan merusak nya"Gwen aku mencintaimu jadi tolong jangan pernah pergi dari bidpku karna aku tau kalau aku ga akan sanggup untuk itu" ucap Xavier sebelum memejamkan matanya ituGwen yang mendengar ucapan Xavier hanya tersenyum tipis sebelum berkata"Aku juga sangat menyayangi mu vier, i love you baby" ucap Gwen sebelum menyusul Xavier ke alam mimpi.Malam sudah berlalu dan pagi ini pun terlihat sepasang kekasih yang masih terlihat nyenyak tanpa peduli kalau sinar matahari telah semakin bersinarSampai ada salah satu dari mereka yang membuka matanya dan kemudian bangkit perlahan bersandar di kepala king bad ituDia adalah Gwen, Gwen yang sudah sadar pun menengok ke arah sebelahnya yang terdapat kekasihnya itu masih tertidur dengan nyenyak nyaSebelum ia membangunkan Xavier ia pergi ke kamar mandi terlebih dahulu agar setelah ia selesai Xavier bisa langsung bersiap siapCeklek....Gwen membuka pintu kamar mandi yang langsung terhubung dengan walk in closed itu, fan Gwen tampak cantik dengan make up naturalnya ituGwen yang melihat Xavier masih tertidur lantas membangunkan Xavier"Hei baby bangun lah kalau tidak kita akan terlambat pergi ke kantor hari ini" ucap Gwen sambil menepuk pipi Xavier pelanXavier yang pipinya di tepuk pelan pun merasa terganggu dan membuka matanya dengan perlahan"Gwen aku masih sangat mengantuk, kita bolos kerja saja hari ini" ucap Xavier dengan suara serak khas bangun tidurnya itu"Ih kok gitu sih, masa kamu malas malasan aku ga suka ya punya tunangan yang malas" ucap Gwen pura pura agar Xavier mau bangunDan benar saja tak lama Xavier bangun dan langsung duduk melihat ke arah Gwen"Ngga kok Gwen aku mau kok pergi ke kantor tadi aku hanya bercanda saja tolong jangan katakan seperti itu. Aku masih tunangan mu kan?" ucap Xavier dengan nada takut juga khawatir"Yaudah kalau begitu sekarang pergi ke kamar mandi dan segera bersiap a ku akan menyiapkan sarapan untuk kita dulu nanti kamu langsung ke bawah aja yaa"Mendengar ucapan Gwen Xavier hanya menganggukkan kepalanya saja dan segera pergi ke kamar mandi untuk segera bersih bersihGwen yang tengah menyiapkan makanan untuk sarapan mereka nanti pun harus terhenti karena ada sepasang tangan yang melingkar di perutnyaTanpa harus melihat pun ia sudah tau kalau itu adalah Xavier"Hai aku sedang menyiapkan makanan untuk kita jadi kamu lebih baik tunggu saja di meja sana"Xavier yang mendengarkan Gwen berujar seperti itu hanya berjalan ke arah yang di tunjuk oleh Gwen dengan menghentak hentakan kakinyaGwen hanya acuh dengan dengan tingkah Xavier lalu menaruh nasi goreng buatannya ke piring Xavier juga piring nya dan membawa piring itu kemeja lalu kembali lagi ke dapur untuk mengambil air minum"Sudah mukanya jangan di tekuk seperti itu baby""Hmmmm" hanya itu saja jawaban dari XavierXavier hanya mengaduk ngaduk makanannya tanpa minat untuk memakannya walaupun sebenarnya ia juga lapar karena kemarin tidak sempat makanGwen sudah menyelesaikan sarapannya dan kini menatap Xavier heran tumben sekali ia tidak memakan masakannya biasanya jika ia yang masak Xavier akan langsung melahapnyaJadi Gwen memutuskan untuk bertanya saja ada apa dengan Xavier ini"Hei baby kok ga di makan sih makanannya? Apa kurang enak? Atau kau ingin makan makanan yang lain? kayaknya kalau pun aku memasak lagi tidak akan membuat kita terlambat"Xavier yang mendengarkan sederet pertanyaan Gwen pun masih enggan untuk membuka mulutnya itu hadi ia hanya menggelengkan kepalanya saja'Ish Gwen ini kenapa ia tidak peka peka kan aku ingin ia yang menyuapiku' batin Xavier mencebik kesal"Lalu kenapa makanannya hanya di aduk aduk saja baby?" tanya Gwen masih heran dengan sikap Xavier itu"Ih Gwen mh ga peka kan aku ingin kamu yang menyuapiku Gwennn" ucap Xavier sambil merengek kepada GwenGwen yang mendengar itu hanya mampu menahan tawanya yang akan meledak"Hei kenapa kamu tidak mengatakannya saja jika kamu ingin aku menyuapimu, aku kan tidak bisa membaca fikiranmu" ucap Gwen"Emang pada dasarnya saja Gwen memang tidak peka" ucap Xavier kesal"Yasudah aku yang salah dan aku minta maaf, sini aku suapi kamu" ucap GwenGwen menyuapi Xavier dengan sabar sampai sarapannya benar benar habis lalu Gwen memberikan minum kepada XavierGwen beranjak dari meja makan menuju wastafel untuk membersihkan piring bekas mereka makan agar cucian piring kotor tidak menumpukSehabis mencuci piring Gwen segera beranjak dan ia menghentikan langkahnya di saat ia melihat Xavier masih berada di meja makan sambil melihat grafik saham dari ipad nya ituGwen menepuk bahu Xavier pelan agar menyadarkan lelaku itu akan kehadirannya" hey ayo kita berangkat kau bisa melanjutkannya nanti saat kita sudah sampai perusahaan" ucap Gwen"Baiklah" Xavier menurut apa yang di katakan GwenGwen dan Xavier pun memasuki mobil milik Xavier dan mereka berdua duduk di kursi penumpangKarena Xavier sedang malas untuk menyetir jadi ia memutuskan untuk memanggil sopir yang ada di mansion nya untuk datang ke apartemennya dan mengantarkan mereka ke kantorDi sepanjang jalan menuju kantor keadaan di dalam mobil itu hening karena sopir sedang menatap fokus ke arah jalan, Xavier sedang asik memeluk Gwen, Dan Gwen sendiri sedang asik menatap pemandangan dari kaca mobil ituSetibanya mereka di loby kantor mereka (Xavier dan Gwen) segera menuju ke ruangan mereka. Di sepanjang jalan menuju ruangan banyak sekali para karyawan yang meyapa atau pun melirik Xavier tapi di acuhkan olehnyaSaat mereka memasuki lift keadaan lift itu hening sampai ada yang memecahkan keadaan lift itu yaitu suara notifikasi pesan dari handphone milik Gwen dan itu juga mengalihkan atensi XavierAndraGwen bisakah kita bertemu saat kau pulang bekerja? Aku mohon:(Gwen sempat berfikir tidak ada salahnya juga kan toh ia juga ingin meminta maaf secara langsung kepada Andra tentang kejadian yang kemarin saat Xavier memukulnya. Dan Gwen pun membalas pesan dari AndraGwenBaiklah. Di mana kita akan bertemu?AndraBagaimana jika di taman komplek mu saja aku rumah baruku juga hanya berbeda blok denganmuGwenBaiklahSetelah itu tak ada lagi balasan dari Andra dan Gwen segera memasukan handphone nya je saku bajunya"Siapa?" tanya Xavier dengan nada dinginnyaGwen yang mendengar ucapan dari Xavier hanya membungkam mulutnya"Aku bilang siapa Gwen Crystallyn Alexis" ucap Xavier menyebutkan nama lengkap Gwen'matilah aku ia menyebutkan nama panjang ku artinya ia benar benar marah. Apakah aku harus memberi tahu ia apa yang terjadi sebenarnya? Ah tidak tidak aku tak ingin Andra mendapatkan pukulan lagi darinya" batin GwenTinggSuara itu lift pun menyadarkan keduanya dan Gwen langsung beranjak dari sanaNamun baru beberapa langkah Xavier langsung menarik Gwen dam menyandarkannya di dinding samping liftGwen mencoba mengangkat wajahnya untuk menatap mata tajam bak elang milik Xavier itu'kau harus tenang Gwen agar ia tak curiga' ucap batin GwenLalu Gwen melihat ke arah mata Xavier sambil mengelus rahang pemuda itu yang mengeras dengan lembut"Benar benar Tidak ada apa baby, percaya denganku. Sudah ya aku masih harus mengerjakan tugas tugasku yang sudah menumpuk"Ucap Gwen melenggang pergi saat tubuh Xavier sedikit menjauh"Huhh selamat aku" ucap Gwen pelan sambil mengelus dadanya'Sebenarnya apa yang kau sembunyikan Gwen?' batin Xavier bertanyaLalu Xavier merogoh saku celananya dan segera menelpon seseorang"Tolong kau awasi kekasihku apapun yang di lakukan nya kau harus melapor kepadaku" Xavier segera mematikan sambungan telponnya saat ada balasan dari orang suruhannya ituGwen POVHari ini jam kantor telah selesai dan pekerjaanku pun hampir selesai semua. Namun saat aku membereskan barang barang ku Xavier telah sampai ke ruangan ku dan mengajak aku pulang bersama"Gwen ayo kita pulang" ucap Xavier dengan senyuman manisnyaAwalnya aku ingin mengiyakan ajakannya tetapi aku ingat saat ini aku harus bertemu dengan Andra jikalau nanti aku melewati taman komplek dan Andra ada di sana pasti Xavier berpikiran yang tidak tidak"Mmm vier mungkin hari ini aku akan pulang sendiri" ucap Gwen"Tapi kenapa bukan kah biasanya kau slalu pulang bersamaku?" tanya Xavier heran dengan tingkah Gwen"Aku aku ingin menemui teman la aku dulu vier""Siapakah temanmu? Apakah ia seorang pria?" tanya Xavier memastikan kalau kekasihnya tidak akan pergi dengan pria lain"Tidak ia seorang wanita namanya bella teman kita dulu""Oh bela baiklah, apakah kamu ingin aku mengantarmu menemuinya? Sepertinya aku juga ingin menemuinya karena suaminya kan rekan Bisnisku juga""Oh tidak usah kar-karna hari ini itu khusus wanita saja, jadi kau tidak boleh ikut""Lalu kau akan pergi dengan siapa aku khawatir kalau kau kenapa napa di jalan Gwen" ucap Xavier mengelus pipi Gwen dengan lembut juga sorot matanya berubah sendu"Aku akan pergi naik taksi, kau tidak usah khawatir lagi pula aku sudah besar baby" ucap Gwen dengan menyentuh telapak tangan Xavier yang berada di pipinyaXavier menghembuskan nafasnya kasar "baiklah jika itu mau mu, hati hati ya sayang" ucap Xavier dan meninggalkan Gwen karena ia harus segera menemui kliennya yang baru datang dari amerika'Syukurlah jika ia percaya' ucap batin Gwen menghela napas legaAndraGwen kamu di mana kenapa lama sekali,,,cepatlah darurat ini🙀GwenBersabarlah aku segera membereskan barang barang kuAndraBaiklah.Gwen langsung mengemas barang barangnya dengan cepat karna takut andra memarahinya tanpa henti.sungguh menyebalkanGwen keluar dari perusahaan beruntung saat keluar ia langsung menemukan taksi jadi tidak perlu menunggu terlalu lama lagi......."Hei kenapa kau sangat lama sekali Gwen aku menunggu mu bahkan seperti hampir lumutan" Ucap Andra ketika melihat Gwen turun dari taksi dan menghampiri nyaGwen yang mendengar ocehan Andra hanya memutar bola matanya malas. Andra memang terkadang ia akan menjadi sangat cerewet di keadaan keadaan tertentu"Yang penting saat ini kan aku sudah ada di sini. Cepat katakan apa sebenarnya tujuanmu mengajakku untuk bertemu" ucap Gwen to the poin karna ia merasa akan terjadi sesuatuBahkan Gwen lupa untuk meminta maaf karna perlakuan Xavier kemarin
My Disaster CEO
Lantunan lagu Without Me dari Halsey mengalun merdu melalui earphone yang tersemat di telinga Alicia. Ia ikut bersenandung kecil, sementara netranya sibuk membaca novel romansa karya John Green. Gadis bermata bulat itu datang lebih awal dari pada mahasiswa lainnya.Salahkan kebodohannya yang lupa mengganti baterai pada jam weker. Alicia mengira ia sudah terlambat datang, padahal jamnya sudah mati sejak kemarin pukul sepuluh malam.Alhasil beginilah nasib Alicia sekarang, sendirian di kelas.Alicia melepas earphone di telinga kirinya, merasa sedikit lelah mendengarkan lagu selama kurang lebih 45 menit. Ia merenggangkan kedua tangannya guna melepas penat. Netranya menjatuhkan perhatian ke luar jendela. Tidak seperti ketika Alicia tiba lebih awal, kampus sudah mulai ramai dipadati mahasiswa.Seharusnya Kina udah dateng, batin Alicia, atau jangan-jangan dia ngebo lagi gara-gara marathon drama Korea?Kina adalah sahabat Alicia sejak SMA. Meskipun bertolak cukup jauh, mereka sangat akrab. Alicia tidak pernah terlihat jauh dari Kina dalam waktu lama. Bahkan setelah lulus SMA, keduanya memutuskan mendaftar di Universitas yang sama.Sepuluh menit sebelum kelas dimulai, Kina datang dengan wajah mengantuk. Cewek berambut panjang itu menyapa Alicia sebelum duduk di sebelahnya.“Pasti nonton drama Korea, ‘kan?” tanya Alicia dengan senyuman kecil. Perutnya tergelitik melihat muka bantal Kina.Kina menyandarkan kepalanya di meja dengan malas. “Jangan bawel, deh.”“Nggak, tuh. Gue cuma tanya.”“Mending lo urusin beragam laporan keuangan yang numpuk di tas lo,” dumel Kina sebelum menguap lebar. “sumpek tahu. Lo kayak mau pindah rumah aja dengan tas segede gaban itu."“Ih, bawel lo.”***Kelas Alicia berakhir pada pukul sebelas siang. Ia punya janji untuk makan siang bersama Kina. Oleh karena itu, Alicia menunggu di kantin. Ditemani jus jeruk beserta novel, Alicia tenggelam ke dalam dunianya. Tidak peduli betapa ramainya mahasiswa yang berlalu lalang. Entah itu sedang makan siang, membolos mata kuliah, atau sekedar nongkrong bersama teman. Ada pula yang hanya duduk sendirian, seperti Alicia.Alicia hanyalah salah satu dari mahasiswa yang tidak ikut kegiatan apa pun. Alias, mahasiswa kupu-kupu. Tidak heran bila ia tidak memiliki banyak teman. Bedanya, hampir seluruh mahasiswa tahu siapa dirinya. Dari pada mengucilkan, mereka cenderung segan untuk mendekat.Ketika jam menunjuk pukul setengah dua belas, suasana kantin tiba-tiba berubah ricuh. Seolah ada bom waktu yang terpasang dan kini meledak. Seluruh perhatian mahasiswa berpusat pada satu objek yang sama, perempuan keturunan asing yang baru memasuki area kantin.Biasanya, Alicia tidak suka suasana semacam itu. Namun, ia tidak mau repot-repot pindah lokasi.“Itu yang namanya Lily?”“Wah, keren banget ya kalau dilihat langsung.”“Serius dia, nih? Cantik banget, dong.”Nama Lily yang dibisikkan seolah mempunyai magnet tersendiri. Alicia menoleh, segera mencari sosok Lily yang sukses menggemparkan kantin. Perempuan itu duduk tidak jauh darinya, sedang menyantap roti bakar sendirian. Tidak ada gen Indonesia pada dirinya.Pantas saja seisi kantin heboh, bule yang datang.“Eh, sorry kelamaan.” kata Kina yang baru selesai dari jadwal kelasnya.Alicia mengangguk. “Ayo. Kasihan Dava sama kak Fian nunggu lama.”“Ah, mereka mah nggak usah dipikirin. Pasti lagi asyik mabar.”“Tadi, sih, di-chat kak Fian. Katanya, mereka udah pesenin makanan,” Alicia merapikan poninya. “double cheese burger.”Setelah Alicia merapikan barang-barangnya, mereka bergegas ke parkiran. Kina tidak pernah bisa tahan terhadap terik matahari di siang hari. Oleh karena itu, ia segera menggeret Alicia menuju parkiran demi merasakan dinginnya AC mobil.Alicia yang merasa penasaran dengan Lily, ragu-ragu mencoba bertanya kepada Kina. Namun, belum sempat ia bersuara, tiba-tiba Kina bercetus. “Tadi ada Lily di kantin, ya? Heboh banget.”“Iya. Kenapa?”“Nggak heran kalau lihat orang Indonesia agak norak pas ketemu bule. Setahu gue, Lily itu anak DKV. Orangnya nggak neko-neko. Termasuk supel. Pengikutnya banyak di Instagram. Terus, keturunan Eropa. Kalau nggak salah, London.”Alicia semakin penasaran. “Dia emang sendirian, ya? Tadi dia makan sendirian di kantin.”“Kayaknya iya. Gosipnya, sih, dia belum lancar bahasa Indonesianya. Makanya, banyak yang belum berani ngomong sama dia. Entah benar atau nggak.”“Masa, sih?”“Gue nggak kenal dia secara personal. Tumben lo tanya-tanya beginian?”Alicia mendengus. “Gue cuma tanya.”“Lo merasa ada teman senasib, ya? ‘Kan lo termasuk blasteran juga. Eh, Lily bukan blasteran, ding.”“Orang cuma tanya, kok. Penasaran aja, kok orang terkenal seperti dia malah sendirian.”Sesampainya di mobil, tiba-tiba tercetus ide di kepala Kina. Sebelum mereka benar-benar meninggalkan area kampus, Kina bersuara. “Lo tertarik buat berteman sama Lily?”Awalnya, Alicia tidak menjawab. Ia fokus menyetir. Akan tetapi, ketika berhenti di lampu merah Alicia bergumam. “Mungkin.”***Dari sekian orang yang mendekati Alicia, hanya beberapa yang dianggap teman. Cewek berambut panjang itu cukup selektif dalam kehidupan sosial karena tak ingin dimanfaatkan oleh orang lain. Menjadi salah satu anggota keluarga Collins membuatnya terkenal di kalangan darah biru Eropa. Sudah pasti banyak yang ingin mendekatinya. Alicia tidak suka itu dan lebih memilih berteman dengan Kina. Satu-satunya perempuan yang menjadi sahabatnya.Alicia tidak menyesal. Justru ia senang karena bersama Kina sudah merasa cukup. Kina tidak pernah mengecewakannya dan selalu mengatakan hal yang seharusnya ia katakan.“Cia!”Selain Kina, Fian juga selalu menemani Alicia. Kakak sepupu tertua yang selalu menemani Alicia sejak kecil.Alicia menoleh. “Kenapa, kak?”“Lo yang kenapa, malah ngelamun,” Fian melirik arlojinya sekilas. “Tadi jalanan macet, ya?”Alicia mengangguk. “Iya. Ada perbaikan jalan berlubang di dekat kampus.”“NOT AGAIN!” seru Dava heboh sambil membanting ponselnya di meja. Sukses mengagetkan semua orang.Sontak, Fian melotot. “Apaan sih, bego?”“Kalah lagi,” Dava merengek. “Tim gue yang bego, bukan gue.”Kina menggelengkan kepala. Lelah. “Pantes nggak punya pacar.”Topik tentang asmara adalah topik sensitif bagi Dava. Entahlah, sejak melewati umur dua puluh, Dava sangat sensitif terkait percintaan.“Punya kaca tuh jangan buat dandan, doang.”Kina melirik kakaknya sinis. “Kata seseorang yang super menye sama masalah percintaan.”“Eh, lo juga jomblo. Dilarang menghina saudara umat lo sendiri.”“Mohon maaf, nih. Gue single. Lebih terhormat dari pada lo.”Dava segera mencubit pipi adik kembarnya dengan ganas. “Awas aja kalau gue punya cewek secakep Lisa Blackpink, gue katain status terhormat lo itu.”Selanjutnya diisi oleh keributan dan aksi saling mencubit di antara mereka. Bukan hal aneh lagi melihat Dava dan Kina ribut. Biasanya, Fian menjadi penengah dan Alicia sebagai penonton. Mungkin Fian sudah capek melerai keributan sepasang saudara kembar itu dan memilih cuek. Kalau sudah begitu, tidak ada yang bisa meredakan keributan mereka.“Rese banget, sih, lo!” Kina berseru kesal setelah Dava mencubit lengannya. Tapi Dava justru tidak menunjukkan rasa bersalah. Barulah setelah Kina menekuk bibirnya, Dava mulai melunak.“Bisa ngambek lo?” Dava menjawil pipi Kina, tapi cewek itu malah menyentakkan tangannya.“Ih, adek gue yang dikata kembaran Dara 2NE1 jangan ngambek mulu. Senyum dong.”“Gue nggak mempan sama traktiran.”“Masa, sih? Lagi ada varian es krim baru, lho.”“Bodo amat.”Secara tidak terduga, tiba-tiba Dava menggenggam segelas es krim bertopping saus strawberry dan dua biskuit oreo. Entah sejak kapan es krim itu hadir di meja, yang jelas Kina sangat terkejut melihatnya. Pasalnya, ia adalah pecinta strawberry dan tidak pernah bisa menolak apa pun yang berbahan strawberry.Bukan cuma Kina yang terkejut, Fian dan Alicia pun heran. Seingat Fian, Dava tidak memesan es krim strawberry. Kenyataan bahwa Dava terkadang bertindak ajaib itu sudah bukan hal baru lagi. Hanya saja mereka tidak pernah terbiasa ketika itu terjadi.“Masih mau nolak, nih, neng?” kata Dava menaik-turunkan alisnya usil.Cowok bermata hazelnut itu tahu persis adiknya tidak pernah bisa menolak strawberry.Meskipun tampak malu setengah mati, tangan Kina tetap menyambar es krim itu dari tangan Dava. Sambil menahan malu, cewek itu menyantap es krimnya tanpa mengucapkan apa pun. Sontak saja membuat Dava terkekeh kemudian melanjutkan game-nya di ponsel. Harus Kina akui terkadang Dava bisa sangat manis sebagai kakak.Terkadang, Alicia iri dengan Kina. Berbeda dari sahabatnya, ia merupakan anak tunggal.“Omong-omong, lo udah nyelesaiin revisian kemarin, Dav?” tanya Fian sembari menyeruput coke-nya. “Nggak bisa santai, sih, kalau dapat Pak Subagia. Suka bener bikin orang dikejar waktu.”Dava menghela napas. Tidak mengalihkan perhatian dari layar ponsel. “Kurang dikit, sih. Lampiran hasil penelitiannya belum gue cantumin. Terus belum gue translate ke bahasa Inggris. Mana grammar gue nggak sejago anak Sastra Inggris, eh, tuh orang nyuruh pake versi bahasa Inggris.”“Kenapa nggak minta bantu sama anak Sastra aja? Dari pada translate sendiri, malah salah semua.”“Maunya begitu. Tapi mereka juga pada sibuk ngerjain skripsi. Gue, ‘kan, jadi sungkan.”Alicia tidak bisa ikut campur jika Fian dan Dava sudah membahas soal skripsi. Saat ini, keduanya sedang dalam tahap pengerjaan skripsi. Rencananya mereka ingin sidang di tahun ini kemudian segera mencari pekerjaan. Dengan kemampuan otak mereka, sudah tidak perlu diragukan lagi. Namun sayangnya, itu berarti perpisahan bagi Alicia. Sebab ia tidak bisa satu kampus lagi dengan mereka.“Kenapa nggak coba minta bantu sama Lily? Anak DKV itu?” cetus Kina setelah selesai melahap habis es krimnya.“Lily si bule itu?” tanya Dava dengan mata bulat. Anggukan dari Kina membuatnya berseru heboh. “Ya kali, woy. Dia aja nggak fasih bahasa Indonesia. Terus, gue yang ecek-ecek dalam persoalan grammar disuruh ngomong sama dia? Bunuh aja gue, Na!”Kina merengut kesal. “Yeee, lo kok percayaan banget sama gosip itu, sih? Belum juga dicoba udah fitnah duluan.”“Gini, ya, adekku tercinta. Dari pada tiba-tiba minta tolong ke dia padahal nggak kenal satu sama lain, mending gue minta tolong Cia,” kata Dava, kemudian melayangkan senyuman maut ke Alicia. “Ya, ‘kan, Ci?”Alicia mau muntah.“Dilarang ganjen ke adek sepupu gue,” sela Fian sedikit sewot. “Yang ada lo bukannya ngerjain translate malah ngegombalin Cia sampai bego.”“Deeek, Fiannya jahaaat. Masa Dava dimarahin.” Dava memasang tampang terluka, yang membuat Kina memutar bola matanya, sementara Fian dan Alicia mengerutkan kening jijik.“Na, tolong, dong, abang lo dikondisikan.” Alicia mendengus kesal seraya menggigit suapan terakhir burgernya.“Jadi, gimana urusan translate skripsi lo? Gue ada temen yang jago bahasa Inggrisnya. Mungkin lo mau.” Fian mengecek ponselnya sekilas. “Nanti sore kayaknya dia ada jadwal kelas. Mau, nggak?”Dava menoleh. Menatap Fian lekat-lekat. “Nggak usah, deh. Kan, ada ini.”“Kina?” tanya Alicia bingung.“Lo nggak tahu? Kina tuh adik paket lengkap. Selain cantik, rajin, nggak sombong, dia juga selalu mengabdikan diri buat membantu gue. Gue sayang adek gue.” Dava tersenyum lebar, tidak lain tidak bukan seluruh perkataan manisnya hanyalah karangan semata demi meluluhkan adiknya.Sementara Fian dan Alicia berharap mereka ditelan bumi saat itu juga.***Seperti biasa, Alicia akan segera berganti pakaian selepas pulang kuliah. Selesai membersihkan diri, ia mengenakan rok span selutut dan kemeja putih beserta jas hitam. Memulas make up tipis agar tampak segar kemudian memakai heels. Selepas menyemprotkan parfum, cewek itu langsung mengemasi barang-barang, lantas menuruni anak tangga.“Nggak makan siang dulu, Non?” tanya Mbok Ayu, pembantu yang sudah mengabdi sejak Alicia lahir.“Tadi sudah makan sama kak Fian, Mbok. Aku langsung berangkat aja,” jawab Alicia sembari merapikan penampilannya kembali di depan cermin lemari gelas di ruang tamu. Alicia selalu berusaha menjaga penampilannya di kantor, setidaknya ia harus memberi contoh yang baik terhadap karyawan lain. “Mobilnya sudah disiapkan Pak Budi?”“Sudah, Non.” Mbok Ayu segera berlari kecil kemudian membukakan pintu untuk Nona mudanya.Alicia masuk ke mobil. Ditemani oleh supir pribadi sejak kecil, Alicia duduk dengan tenang di jok belakang. Ia membuka map kertas berisi beberapa lembar perjanjian yang perlu ditandatangani. Sebelum akhirnya ia juga disibukkan oleh ponselnya yang mulai berdering.“Soal lembar perjanjian, saya masih mempelajari tiap butir kesepakatan yang tercantum.”“….”“Iya, Bapak. Bila perlu saya ingin kita bertemu secara personal untuk membahas kesepakatan ini lebih lanjut. Karena ini menyangkut perusahaan masing-masing, tentu kita ingin yang terbaik, bukan?”Perusahaan. Ya, seperti itu lah hidup Alicia. Bukan hanya sekadar mahasiswa biasa. Ia juga memiliki perusahaan yang harus diurus di usia terlalu muda. Bagi Alicia, menjadi salah satu anggota keluarga Collins dan seorang Direktur Utama di perusahaan Collins Group merupakan beban terberat. Terlebih ia menghadapinya seorang diri. Tanpa didampingi sosok orang tua."Ah, iya. Soal data pendaftar kepala HRD kemarin sudah direkap?""Sudah, Nona. Rencananya hari ini akan diadakan rapat lebih lanjut mengenai perekrutan HRD pada jam tiga sore."Alicia mengangguk. "Bagus. Lebih cepat lebih baik. Tahun ini sepertinya akan lebih banyak lagi yang melamar kerja. Kita harus cepat-cepat merekrut kepala HRD."Ody, sekretaris Alicia, merapikan berkas-berkas yang sudah ditandatangani oleh Alicia kemudian pamit. Kepergian Ody kembali membawa kesunyian di ruang kerja Alicia. Ruangan yang terlalu besar untuk ditempati satu orang. Di belakang kursi kerja Alicia, ia dapat melihat pemandangan kota Jakarta. Ia juga dapat melihat matahari terbenam setiap harinya. Jika sudah terbenam, Ody akan membawakan sepiring pudding dan teh. Namun sepertinya hari ini Alicia tidak berminat pada camilan favoritnya.Jujur saja, Alicia selalu lelah. Ia tidak bisa bersenang-senang seperti anak lain. Ia tidak bisa mengikuti UKM kampus. Padahal ada satu UKM yang menarik perhatiannya. Namun, Alicia terpaksa menjadi mahasiswa kupu-kupu karena memiliki tanggung jawab di kehidupan lain, Direktur Utama. Seringkali ia melupakan tugas-tugas kuliahnya karena terdesak oleh tugas kantor. Sering juga Alicia ketiduran di kelas karena lembur kerja.Ah, betapa susahnya.Alicia tidak boleh mengeluh. Ia tidak ingin mengecewakan orang tuanya."Tumben banget lo tidur. Jangan-jangan kemarin lo marathon drama Korea juga, ya?"Alicia membuka matanya yang terpejam. Ada Kina yang duduk di sofa dengan membawa seplastik McDonalds. "Kok lo di sini? Kapan datangnya?""Baru aja. Lo aja yang nggak kedengeran.""Terus, kenapa tiba-tiba dateng?""Lo lupa, ya? Ada tugas dari Pak Rendra tahu.""Eh, sialan. Iya, ya. Lo mau ngerjain di sini?"Kina mengangguk. Alicia mendumal kesal.Gue bantu kerjain, deh. Udah gue duga lo bakal lupa sama tugas itu."Alicia nyengir. "Gue, kan, punya tugas double-double.""Banyak alasan lo, ah. Bilang aja lo juga bakal males ngerjain."Spontan, Alicia melempar penghapus yang kemudian telak ditangkap oleh Kina. "Jangan ngajak ribut, deh. Bentar lagi gue ada rapat. Panjang urusannya kalau urusan pribadi dibawa ke kantor."Kina menjulurkan lidahnya. "Sok perfeksionis. Udah ah, lo urus aja urusan kantor lo. Gue mau ngerjain, kurang dikit lagi."Alicia bangkit dari kursi kerja kemudian berlari kecil menghampiri Kina. Ia ingin membongkar isi plastik McDonalds milik Kina. Biasanya cewek galak itu membeli es krim atau beberapa burger dan kentang goreng. Ia selalu berbagi dengan Alicia. Akan tetapi sepertinya hari ini Kina tidak mau berbagi karena cewek itu mencekal tangan Alicia. Tangannya melindungi McDonalds-nya dengan posesif. Hal ini membuat Alicia cemberut setengah mati."Kok nggak boleh, sih?" tanya Alicia kesal."Gue tahu lo terakhir makan burger doang di Wendy's. Ini paket panas, gawat kalau lo habisin." kata Kina sambil mendelik."Gue juga laper tahu.""Oke, fine. Gue nggak laper, tuh," kilah Alicia cepat. Secepat ia berbohong, secepat itu pula perutnya berbunyi. Menimbulkan tawa kencang keluar dari bibir Kina."Oke, lo nggak laper. Cacing lo yang laper." ledek Kina di sela tawanya, tidak memedulikan teriakan kesal Alicia.***Selesai dengan urusan kantor, Alicia pergi ke rumah Fian untuk makan malam. Riska, Bunda Fian, mengundangnya kemarin. Katanya, sekalian kumpul bersama keluarga lain. Berhubung sebentar lagi hari Minggu, Bunda juga ingin seluruh keluarga berkumpul bersama. Oleh karena itu, Alicia juga diminta untuk menginap. Tetapi, ia menolak dan memilih ikut makan malam saja.Rumah Fian tidak begitu jauh dari kantor Alicia. Letaknya di area terdepan perumahan sehingga tidak perlu masuk lebih jauh. Di depan rumah, terlihat beberapa sepupu Alicia sedang bercengkrama. Kedatangan Alicia membuat mereka berhenti bernyanyi demi menyapa cewek itu."Incess Korea dateng! Bawa oleh-oleh, nggak?" tanya Aldi rusuh sambil merentangkan kedua tangan ke Alicia.Alicia menepis tubuh Aldi jauh-jauh. Bukan tanpa alasan, cowok itu penuh keringat hasil dari main basket dengan Fian. Alicia paling benci bau keringat cowok!"Eh, jauh-jauh lo, ya. Bau asem dilarang deket-deket gue!" seru Alicia dengan mata mendelik. Sayangnya, tidak digubris oleh Aldi. Cowok itu malah menyengir dan berderap mendekat. Spontan saja Alicia berteriak heboh. "ALDI! IH, RESE LO, YA!"Teriakan Alicia membuat Bunda dan Oma berlari keluar dari rumah. Raut panik Bunda segera sirna ketika melihat Aldi dan Alicia kejar-kejaran di halaman. Sedangkan, Oma menghela napas panjang. Seharusnya ia tidak perlu panik. Lama tidak berjumpa membuatnya lupa dengan kebiasaan para cucunya."Eh, ini anak dua masih aja kayak anak kecil," keluh Bunda. "Ayo masuk. Mumpung Cia udah datang. Keburu dingin ayam betutunya.""Iya, tuh, Bunda. Aldi makin gede makin rese!" Alicia mengadu seraya berhambur ke pelukan Bunda. Melindungi diri dari bau keringat Aldi yang memang super asem."Dasar tukang ngadu!" olok Aldi tidak terima."Bodo amat!"Bunda segera menggeret Alicia masuk ke dalam rumah sebelum terjadi keributan kembali. Kalau sudah kumpul keluarga begini Alicia dan Aldi memang selalu ribut. Ada saja yang diributkan. Namun, lebih seringnya adalah perkara bau keringat Aldi. Aldi yang suka bermain basket bersama Fian itu selalu menjahili Alicia. Dan selalu saja Bunda yang meleraikan.Kali ini Alicia akan menjaga jarak sejauh-jauhnya dari Aldi. Sehingga ia duduk di sebelah Bunda, demi perlindungan diri. Selain Bunda, ia juga didampingi oleh Fian, tentunya cowok itu selalu mandi setelah bermain basket. Bentuk meja makan yang bundar membuat Alicia tidak duduk berhadapan dengan cowok berambut acak-acakan itu.Makan malam dimulai setelah semua anggota keluarga hadir di meja makan.Mereka berdoa bersama sebelum kemudian mulai menyantap makanannya masing-masing. Terkadang diselingi oleh obrolan ringan dari Opa. Kali ini Opa mengajak Alicia berbicara. Ya, meskipun tiap bertemu Opa selalu menyempatkan. Namun rasanya kali ini berbeda."Bagaimana dengan perusahaan? Berjalan baik?" tanya Opa sembari mengaduk tehnya.Alicia mengangguk. "Iya, Opa. Baru-baru ini cuma ada agenda perekrutan kepala HRD sama perjanjian kerja sama dengan Peterson Corp.""Peterson Corp? Bukannya sejak dulu kita sudah bekerja sama dengan mereka?""Iya, Opa. Kali ini mereka memperbarui butir perjanjiannya saja."Opa mengangguk paham. "Kamu sudah bekerja keras."Sebelum Alicia menyahut, tiba-tiba Keyla bersuara. "Iya, Opa. Sampai-sampai kak Cia punya mata panda yang hitam banget."Keyla adalah adik Fian. Berbeda dari kakaknya, Keyla cenderung usil."Jangan kumat, deh, Key." Alicia meringis berusaha membujuk Keyla, tapi tentu saja Keyla tidak menggubrisnya."Ya, kan, kak Al? Katanya, sih, incess Korea. Kok, punya mata panda? Jangan-jangan incess Cina, tuh." Alih-alih menuruti permintaan Alicia, Keyla justru berceloteh lebar serta mengajak Aldi untuk ikut usil. "Eh, jangan, deng. Incess Cina juga kebagusan. Yang bener, sih, ngencess.""Lo mau mati, ya?" Alicia justru memukul Fian karena cowok itu yang paling dekat dengannya. Sedangkan Keyla duduk jauh darinya."Kok malah gue yang dipukul?" tanya Fian tak terima."Lo di sebelah gue. Lo juga kakaknya."Tidak hanya Fian yang protes, sikutan dari Bunda membuat Alicia diam. "Habisin dulu makannya. Kamu juga, Key.""Ih, Bunda. Padahal kak Fian yang mulai duluan," Alicia merengut. "jangan belain Keyla terus, dong, Bun.""Nggak ada yang belain Keyla, tuh." kilah Bunda seraya melirik galak pada Keyla."Ih, kok gitu, Ma!" Keyla sontak berseru. Namun, langsung merapatkan bibirnya kembali, tersadar di depannya acara makan malam belum usai. Oma hanya tertawa melihat kelakuan cucunya yang selalu manja."Jarang-jarang, lho, kita bisa kumpul begini. Harusnya kamu kurang-kurangi usilnya," Bunda mengelus kepala Alicia, lantas beralih pada Fian. "Kamu gimana proses skripsinya?""Zonk, Tante! Zonk sekali!" alih-alih Fian, justru Aldi yang menjawab. Cowok itu kembali menyeringai usil. "Fian aja main basket mulu. Gimana mau ngerjain skripsi? Udah dijamin mahasiswa aba-aw, sakit David!"Aldi mengerutkan keningnya, kesal. Namun tak dihiraukan oleh David karena ia tak mau ditegur oleh Opa maupun Bunda.Opa mengibaskan tangannya cuek. "Alicia, habis makan malam, ikut Opa sebentar, ya. Ada yang mau Opa bicarakan."Sepuluh menit kemudian, makan malam selesai. Bunda dan Oma sedang mencuci piring di dapur dibantu oleh Keyla. Fian beserta cowok lainnya memilih naik ke lantai untuk bermain PlayStation. Sementara Alicia duduk di ruang keluarga bersama Opa. Ia bermain bersama Nina sebelum kemudian Opa datang dengan membawa segelas teh tawar."Terkait Peterson Corp, kamu harus lebih berhati-hati dengan mereka," kata Opa tanpa menunggu Alicia bersuara.Alih-alih bertanya, Alicia mengangguk setuju. "Aku tahu, Opa. Karena mereka pemegang saham terbesar setelah aku, 'kan?"Opa menggeleng. "Bukan itu. Opa ingat, sebelum Andre dan Amanda meninggal, mereka sempat membuat semacam perjanjian dengan keluarga Peterson."Mendengar kedua orang tuanya disebut membuat Alicia terkejut. Ia tidak ingat, bahkan mungkin tidak tahu bila orang tuanya punya hal semacam itu. Bukannya jarang berkomunikasi, mereka pasti tidak sempat memberitahu.Atau mungkin saja, mereka sengaja tidak memberitahu.“Dia udah di kantin. Sendirian, sesuai dugaan gue,” Kina memberitahu di video call bersama Alicia dan Dava. Kemudian, Kina melirik ke arah Lily yang sedang berkutat pada laptop dan sandwich.Sejujurnya, Kina tidak yakin dengan rencana ini. Kina tidak mengenal Lily sama sekali. Begitu pula sebaliknya. Lalu, tanpa adanya hubungan saling kenal, Kina terpaksa berlagak sok kenal kepada Lily? Benar! Hanya untuk kepentingan skripsi kakaknya yang tidak tuntas!Semalam, Dava sudah berada di ujung usahanya. Perasaan putus asa sudah menggoyahkan semangatnya. Sehingga, Dava menyetujui saran Kina untuk meminta bantuan Lily. Meskipun saat itu ia berdalih bantuan Kina lebih baik, nyatanya Kina tidak mau membantunya. Cewek itu lebih memilih membantu Dava minta tolong kepada Lily, alih-alih dirinya sendiri yang membantu skripsi Dava.“Dav, lo di mana, sih? Buru cepetan ke kantin!” seru Kina setelah sepuluh menit Dava tidak kunjung datang. Ia takut Lily tiba-tiba pergi.“Sabar, elah. Gue udah jalan dari tadi.”“Jalan apa jalan lo? Lelet amat! Keburu pergi, ntar.”“Gimana kalau lo recokin sekarang aja, Na?” usul Alicia tiba-tiba. “Daripada tiba-tiba pergi, kan.”Tentu saja Kina melotot sempurna. Dari rencana keseluruhan, Kina mendapat posisi paling beresiko. “Ya, bener, sih. Tapi, hati gue masih belum siap.”“Lo tinggal duduk di sebelah atau di depan dia. Terus, lo recokin dan sok bersalah, ‘kan?”Kina mengangguk, wajah galaknya seketika berubah menjadi sedih. “Kedengarannya aja gampang, Cia. Lo coba di posisi gue, malunya itu lho setengah mampus.”“Demi gue, dek. Demi gue,” Dava menyahut, alih-alih Alicia. Cowok itu terlihat mengibaskan poninya dengan raut memelas. “Lo tega ngebiarin gue mundur sidang? Lo mau jadi adek dari mahasiswa abadi?”Kina tersenyum sinis. “Jadi, lo nggak mempermasalahkan harga diri gue di depan Lily?”“Ini serius pertama dan terakhir kalinya. Please.”Oke, Kina tidak harus memperpanjang perdebatan yang sia-sia ini. Mau tidak mau ia harus ke Lily. Mengganggu perempuan asing itu dan mengajaknya berteman untuk kemudian diminta membantu Dava.Oleh karena itu, Kina beranjak dari kursi. Tanpa mematikan video call, ia mendekati Lily. Perempuan itu sedang membaca buku. Sesekali matanya beralih pada layar laptop. Sesekali juga tangannya bergerak menyuapkan sandwich. Lily sangat tenggelam ke dalam dunianya sendiri. Hingga ia tidak menyadari kehadiran Kina di depannya. Bersiap menyenggol gelas air mineral yang berdiri tidak jauh dari kertas-kertas Lily.“Ups, I’m sorry,” kata Kina mendramatisir suasana tepat setelah tangannya menyenggol gelas tersebut. Dari raut terkejut Lily, perempuan itu pasti tidak mengendus unsur kesengajaan pada diri Kina. “I’m so sorry. I didn’t mean it.”Tangan Lily dengan sigap menyingkirkan kertas-kertas catatannya dari genangan air. Perempuan bermata biru itu mengelap cipratan air dengan tisu. Kemudian memeriksa kertasnya yang sedikit basah.“Kamu nggak perlu ngomong pakai bahasa inggris,” kata Lily tiba-tiba dengan fasihnya. Sukses mengejutkan Kina setengah mati. “Oh, ini nggak apa-apa, kok. Kertasnya nggak terlalu basah.”Kina dengan mulut melongonya duduk tegap di hadapan Lily. “Lo… lo bisa bahasa Indonesia?”Anggukan dari Lily membuat Kina semakin melongo. Tidak hanya Kina, baik Alicia dan Dava yang menyimak dari video call pun tidak jauh berbeda. Bagi Dava, ini sebuah keberuntungan. Ia tidak perlu susah-susah berbicara dengan Lily. Skripsi Dava sudah dipastikan aman!Kakak kembar Kina datang dengan senyum cerah. Cowok tinggi itu duduk di sebelah Kina setelah menyapa Lily. Bahkan ia tidak peduli betapa sok kenalnya dia di depan Lily. Pokoknya, skripsinya aman.“Gue Dava, hasil dari gen amoeba-nya Kina,” kata Dava berkelakar yang kemudian mendapat cubitan keras. “Maksudnya, gue kembarannya.”Lily mengangguk, cewek berambut cokelat itu terkekeh. “Pantes mirip.”“Gue minta maaf banget soal tadi. Itu pasti catatan, ya? Gue tulisin ulang, ya?” kata Kina bersalah. Ah, dirinya juga masih malu dengan insiden sok membully Lily. Kalau bukan karena Dava, Kina tak akan melakukannya.“Itu cuma coret-coretan saja, kok. Kalau lagi bosan, tanganku selalu mencoret apa pun di sekitarku.”“Berarti bisa gambar juga, dong?” celetuk Dava yang disambut gelengan kepala. “Kok gitu?”“Gambar absurd aja, kok. Bukan yang bagus banget.”“Benang wol gitu? Sama, dong. Jangan-jangan….”“Kenapa?”“Kita jo—aduh, sakit, bego!” Dava berseru sambil memegangi pinggangnya yang berkedut panas. Dava tidak akan pernah terbiasa dengan cubitan adiknya sendiri. Sakit! Tapi salahnya sendiri usil.Kina memasang senyum lebar terbaiknya. “Omong-omong, ini Dava pengen minta bantuan buat skripsinya. Tapi kalau lo nggak mau juga nggak apa-apa.”“Bantuan apa?” tanya Lily, menjatuhkan seluruh perhatiannya pada kakak beradik di depannya.“Translate-kan skripsinya ke versi bahasa inggris. Dava itu masih kacau di grammar-nya. Jadi, dia takut salah ejaan.”Dava mengangguk. “Gawat kalau gue bikin ulang lagi. Udah rugi di tenaga, di dompet juga.”Alicia yang mendengarkan percakapan mereka melalui video call itu tersenyum. Cewek berkulit putih itu memutuskan tidak datang ke kantin. Sebab, tiba-tiba ada meeting mendadak di kantor. Tentu saja Alicia tidak bisa meninggalkannya. Ia akan pamit pada Kina setelah obrolan mereka dengan Lily selesai.Firasat Alicia, sih, Lily akan setuju membantu Dava.***Alicia menyesap teh herbal sembari menyimak Ody membaca jadwal kerjanya hari ini. Tidak begitu banyak. Hanya sekadar rapat pembagian divisi beserta susunan divisi yang baru. Alicia bisa saja tidak usah mengurusnya, biar wakil direktur yang mengurus. Sayangnya, meeting dadakan dengan klien dari Peterson Corp membuatnya harus datang ke kantor. Otomatis, seluruh jadwal kerja sepele itu juga harus ia kerjakan.Tenangkan dirimu, Alicia Collins. Kau tidak boleh marah pada klien-mu sendiri.“Jadi, kapan meeting-nya bisa dimulai?” tanya Alicia setelah teh herbalnya habis.“Klien sudah datang sejak sepuluh menit yang lalu, Nona. Jadi, meeting sudah bisa dilakukan sekarang.”Secara spontan, mata Alicia melotot. “Sekarang?”Ody mengangguk. “Iya, Nona. Sepertinya beliau bawahan dari Tuan Randy yang ingin membahas butir kesepakatan kerja yang baru.”Alicia hampir tidak bisa percaya. Perusahaan besar itu mengirim pegawainya, alih-alih pemimpinnya. Seharusnya direktur utama yang turun tangan, bukan malah pegawainya!“Ya sudah, suruh masuk. Meeting aku adakan sekarang.” kata Alicia sembari menghela napas.Sesuai dengan permintaannya, klien tersebut masuk. Laki-laki muda, sepertinya di usia kepala dua. Perawakannya tinggi dan tampak berwibawa. Sangat berbanding terbalik dengan image karyawan biasa.“Nama saya Rian, hari ini saya yang bertugas mewakili bos saya dari Peterson Corp,” kata Rian membuka pembicaraan. “saya membawakan titipan dari bos saya. Saya titipkan kepada sekretaris anda. Semoga anda berkenan menerimanya.”Alicia tersenyum. “Tentu saja. Sebuah kehormatan bagi saya. Sampaikan rasa terima kasih saya kepada beliau.”“Tentu saja, Nona.”“Baiklah, mari kita mulai saja. Menurut Bapak Randy, bos anda, beliau ingin mengubah peraturan pada nomor satu sampai lima, benar?”Sore itu, dengan sedikit pusing, Alicia menyelesaikan meeting dengan lancar. Meskipun ada sedikit kendala, akhirnya ia mampu menyelesaikannya. Ketika Alicia mengantarkan kepergian Rian, jam sudah menunjuk pukul enam sore. Masih ada tugas lain yang perlu ia selesaikan. Alih-alih membawa tugasnya pulang, Alicia memilih untuk menyelesaikannya di kantor.Keadaan gedung kantor sudah sangat sepi. Hanya ada beberapa tugas kebersihan dan satpam yang berkeliling. Ruang kerja Alicia terletak di lantai tujuh, lantai tertinggi. Meskipun lampu sudah dinyalakan, tentu saja Alicia merasa was-was. Tanpa adanya Ody, Alicia benar-benar sendirian di lantai tujuh.Kina: Cia! Lo masih di kantor, ya? Cepet pulang, dong. Gue, Dava sama Fian ada di rumah lo.Alicia: Tumben. Ngapain?Kina: Makan malam bareng sama sekalian gue kerjain tugas lo yang kemarin.Alicia: Aduh, sorry. Gue pulang sekarang. Tunggu aja, gue bawa mobil sendiri kok.Kina: Sip, hati-hati!Alicia segera membereskan barang-barangnya setelah membaca chat terakhir Kina. Setelah memastikan semuanya tertata rapi, Alicia keluar dari ruangannya. Sebenarnya ini bukan pertama kalinya Alicia lembur. Tapi, bagaimana pun juga, ia tidak pernah bisa berdamai dengan kantor di malam hari. Benar-benar menakutkan.Begitu sampai di parkiran, Alicia kembali kalut. Jam sudah menunjuk pukul setengah sembilan. Untuk beberapa alasan, Alicia memiliki trauma tersendiri dengan menyetir di malam hari. Tapi, mau tidak mau ia harus melakukannya atau ia tidak akan sampai di rumah.Jadi, dengan perasaan kalut, Alicia memaksakan diri. “Okay, Alicia. Ini untuk pertama dan terakhir kalinya lo nyetir mobil larut malam. Tuhan bakal melindungi, jadi nggak perlu takut.”Jalanan ibu kota cenderung ramai tanpa timbul kemacetan. Hal ini membuat Alicia bernapas sedikit lega. Setelah melewati dua perlintasan lampu lalu lintas, ia akan sampai di rumahnya.Ketika Alicia bergerak setelah lampu menyala hijau, tiba-tiba sebuah mobil menghantam sisi kiri mobilnya begitu keras. Sontak, mobil Alicia terseret ke kanan hingga menabrak mobil lain. Kecelakaan beruntun itu terjadi dalam sekejap menimbulkan kehebohan.Alicia tidak percaya. Ketakutannya menjadi kenyataan.“Cia, lo bisa dengar suara gue?” tanya Fian ketika melihat kelopak mata Alicia bergerak terbuka perlahan. Meskipun samar dan sangat pelan, Fian sangat senang. Buru-buru ia memencet bel untuk memanggil dokter.Ketika dokter datang, kedua mata Alicia terbuka sempurna. Perempuan itu mengerjapkannya sejenak, beradaptasi dengan cahaya. Wajahnya tampak bingung selama diperiksa oleh suster. Meskipun masih terasa sulit untuk bersuara, Alicia berusaha menanggapi pertanyaan dokter.“Keadaannya sudah membaik dibandingkan semalam. Nona Collins hanya perlu beristirahat dan perawatan intensif untuk luka-lukanya. Bila ada yang kalian butuhkan, silahkan panggil saya.” kata dokter menyelesaikan pemeriksaannya.Fian mengangguk sebelum kemudian kembali duduk di sisi ranjang Alicia. Setelah tim medis keluar, keluarga Alicia kembali duduk di dekatnya. Wajah khawatir mereka telah berganti dengan wajah bahagia. Alicia akan sembuh.“Lo tahu kesalahan lo, ‘kan?” tanya Fian tanpa memandang wajah Alicia. Sibuk mengupas apel.“Iya, kak. Maaf.”Fian mengembuskan napas panjang. Alicia tahu betul gestur itu. Fian sedang berusaha meredam emosinya.“Dengar, gue berusaha nggak memperpanjang masalah ini. Selama mobil lo diperbaiki, lo harus diantar Pak Budi kemana pun. Paham?”Dari pada gue bantah, nanti makin runyam.Alicia mengangguk pelan. “Iya. Maaf, ya.”Tidak tega melihat Alicia dimarahi, Bunda menjewer telinga putranya. “Kamu, tuh, ya. Baru aja Cia sadar, kamu malah marah-marahin dia.”“Aduh, Bun. Mana ada, sih? Fian tuh kasih nasihat ke Cia biar nggak lembur-lembur lagi. Seenggaknya, kalau mau lembur tuh dianter pulangnya sama Pak Budi.” Fian meringis sambil mengelus telinganya yang perih bekas jeweran.“Bagus, Ma! Sekali-sekali kak Fian tuh dimarahi. Jangan Key mulu!” seru Keyla semangat.“Eh, berani-beraninya lo, ya. Awas aja, gue jejelin nih apel!”Keyla, haters apel, menjerit heboh. “Nggak mau! Oma, kak Fian jahat!”Dari sini, Alicia menyadari kesalahannya. Ia membuat keluarganya khawatir. Sama seperti dua tahun lalu, ketika kedua orang tuanya mengalami kecelakaan mobil. Alicia kembali mendatangkan trauma itu kepada mereka. Untung saja ia selamat. Tidak seperti kedua orang tuanya yang pergi dalam waktu satu malam.Alicia merasa bodoh atas perilakunya.“Gimana, nak? Sudah enakan?” tanya Opa yang baru datang. Lelaki renta itu segera duduk di kursi yang sebelumnya diduduki Fian.“Sudah, Opa. Tinggal lukanya saja yang masih agak perih.”“Lain kali berhati-hatilah. Opa takut sekali semalam.”“Maaf, Opa,” kata Alicia sendu. “Aku janji nggak akan ulangi lagi.”“Kamu punya sopir pribadi, ‘kan? Kalau terpaksa pulang malam, minta dijemput saja.”“Pak Budi kemarin sedang sakit. Aku suruh beliau istirahat saja.”“Sudahlah, yang lalu biarlah lalu. Sekarang kamu istirahat saja, ya.” cetus Bunda memutus obrolan. “Oh ya, katanya nanti Kina jenguk kamu.”Alicia hanya bisa mengangguk. Akibat kecelakaan semalam, seluruh badannya terasa remuk gara-gara benturan. Ditambah pula dengan luka-luka goresan di beberapa bagian membuat Alicia semakin lelah.Untuk sementara, Alicia akan beristirahat dari segala bebannya.***Malam harinya, Kina datang bersama Dava. Dengan membawa sekeranjang buah dan beberapa yoghurt kesukaan Alicia, mereka berjalan memasuki rumah sakit. Di tempat duduk dekat resepsionis, ada Fian sedang menunggu mereka. Berhubung ruang inap Alicia terjaga ketat, resepsionis tidak akan memberitahukan nomor ruangannya. Sehingga, Kina menyuruh Fian untuk mengantarkan.“Gimana keadaannya?” tanya Kina. “dia nggak kenapa-napa, ‘kan?”Fian mendesah pelan. “Ya, dia baik-baik aja. Tadi siang dia udah sadar.”Kina mengembuskan napas lega. “Syukurlah. Tuh anak emang, ya. Suka banget bikin orang khawatir.”Fian hanya tertawa seadanya.“Eh, ngomong-ngomong,” celetuk Dava ketika mereka sampai di depan lift. Usai Fian memencet tombol, ia melanjutkan. “Gimana pelakunya?”Seolah kesadaran bersama, Fian berdiri tegak. Selama ini ia hanya fokus pada Alicia. Ia tidak memikirkan pelakunya sama sekali. “Nggak tahu. Gue serahkan aja ke polisi. Gue lebih fokus ke Cia.”Dava berdecak kagum, mengiringi langkah mereka bertiga memasuki lift. “Wow, murah hati banget lo. Kalau gue, udah pasti potong anunya dulu sebelum diserahin ke polisi.”“Ih!” seru Kina kesal sambil memukul punggung Dava. Di dalam lift hanya ada mereka bertiga, tapi tetap saja ucapan Dava itu menjijikkan.“Apaan sih, dek?”“Lo tuh yang apa-apaan. Disaring dulu, kek!”“Padahal udah pake disamarkan, coba kalau gue frontal. Makin menjadi-jadi lo.”Kina melotot kesal. “Gue tonjok lo, ya.”Spontan, Dava bersembunyi di belakang Fian. Meskipun adiknya tidak mungkin bisa menonjoknya karena sedang membawa keranjang buah, tetap saja ia takut.“Ini di rumah sakit. Jangan ribut-ribut, ah.” Kata Fian melerai keributan. Bertepatan dengan pintu lift terbuka, mereka langsung berjalan keluar. Menyusuri lorong yang sepi.Kamar yang ditempati Alicia merupakan kamar kelas atas yang dikhususkan untuk kalangan penting. Wajar saja jika lorongnya tampak sepi pengunjung. Jika ada yang menempati salah satu kamar, maka akan terlihat bodyguard yang berjaga di depan pintunya. Selain itu, hanya ada suster dan dokter yang berlalu lalang.Sesampainya di kamar inap Alicia, Kina dan Dava disambut oleh Bunda. Kina cukup terkejut melihat hanya ada Bunda yang menemani Alicia. Ia pikir, ia akan bertemu dengan keluarga besarnya juga.Dari pintu masuk, tampak Alicia sedang duduk menikmati buah potong sambil menonton televisi. Perempuan itu mengalihkan perhatiannya pada Kina kemudian tersenyum lebar.Kina segera menghampiri Alicia lalu memeluknya cukup erat. “Lo bikin orang jantungan aja!”“Maaf, dong,” balas Alicia sambil terkekeh. “Gue nggak kenapa-napa, tuh. Jangan sedih.”Kina melepas pelukannya. “Tentu saja gue sedih, bego. Dava juga.”“Lo nggak tahu seberapa takutnya gue. Gue pikir lo bakal pergi secepat itu, tahu nggak!” isak Kina dengan sesenggukkan. Wajar saja jika Kina menangis. Perempuan itu hanya punya satu teman perempuan selama ini, Alicia.Alicia segera mengelus kepala Kina dan memasang senyum terbaiknya. “Gue nggak akan pergi, kok. Nih, gue baik-baik saja, ‘kan?”Kina mengangguk. Setelah merasa lega, Kina menghapus jejak air matanya dan duduk di samping Alicia.“Kina sama Dava sudah makan malam? Tante belikan makan, ya?” tawar Bunda tiba-tiba.Dava menoleh kaget. “Eh, nggak usah, Tante. Saya nggak lapar, serius.”Saat itu juga, perut Dava berbunyi nyaring. Wajah Dava memerah seketika. Ditambah pula ditertawakan oleh Alicia dan Kina, duh, double malu!Bunda terkekeh pelan. “Perut emang nggak bisa bohong, kok. Tante belikan saja, ya. Titip Alicia dulu.”“Hati-hati, Tante.” kata Kina mengantar kepergian Bunda. Setelah Bunda pergi, Kina menoleh pada Alicia. “Ceritanya gimana, sih? Kok bisa ketabrak? Termasuk parah, lho.”Alicia mendongak. Mencoba mengingat rentetan tragedi semalam. “Gue jalan seperti biasa. Waktu itu jalanan lancar-lancar aja, kok. Nggak macet juga. Di lampu merah itu, deh, tiba-tiba aja ketabrak. Kayaknya si pelaku melanggar lampu merah. Makanya, nabrak gue.”“Pelakunya juga masih belum jelas,” sahut Dava. “Serem emang. Dan kagetnya, kakak lo malah lebih memilih diserahkan sepenuhnya ke kepolisian. Murah hati sekali.”“Dari pada gue repot-repot ngurusin pelaku mending gue urusin adek gue kali,” balas Fian yang duduk di sofa. “Gue nggak secuek itu juga. Selalu gue pantau dari berita di TV.”Fian mengganti channel televisi ke tayangan berita. Seperti sebuah konspirasi, berita Alicia sedang ditayangkan. Menampilkan rekaman kondisi TKP saat ini yang masih ditelusuri oleh polisi. Kondisi lalu lintas pun tampak mengalami kemacetan karena polisi masih mengolah TKP.“Kecelakaan lalu lintas yang terjadi di perempatan lampu lalu lintas ini melibatkan Alicia Fransisca Collins sebagai korban. Diduga pelaku mengendarai mobil BMW hitam melaju kencang saat lampu merah menyala. Akibatnya, pelaku menabrak mobil Jazz yang dikendarai oleh CEO Collins Group, Alicia Fransisca Collins. Kecelakaan ini mengakibatkan kemacetan di TKP sejak kecelakaan terjadi. Tak ada korban jiwa dalam kejadian ini. Meski polisi tampak masih mengolah TKP, diduga polisi akan menutup rapat identitas pelaku.”“Wah gila, gila. Kayaknya yang nabrak lo bukan orang sembarangan, deh,” celetuk Dava kesal. “Lo harus bertindak, Yan.”Fian menoleh, lantas mengedikkan bahu. “Nggak, ah. Males tahu.”“Demi adek sendiri pun lo nggak ada niatan gitu?”“Doain aja pelakunya kena karma setimpal atau lebih.”“Fian mah baik, nggak kayak lo, jahannam.” sahut Kina sadis. “Mending lo urus skripsi lo, gih. Minta bantuannya susah payah, jangan sampe lo sia-siain.”Dava cemberut. “Bawel. Weekend waktu gue bersama Lily. Jangan ada yang ganggu gue.”“Sok banget lo,” ledek Alicia dengan tawa. “Awas nanti malu-maluin di depan Lily. Nggak jago bahasa inggris.”“Yeee, enak aja. Gue cuma nggak ahli di grammar,” sahut Dava santai. “Lily nggak bakal kerepotan sama gue. Syukur-syukur kalau gue bisa jadian sama dia. Aw aw!”“Lily siapa, sih?” tanya Fian bingung. Satu-satunya yang belum pernah mendengar nama Lily.Kina melengos pelan. “Masa nggak tahu? Bule di fakultas desainer kampus.”Fian terdiam sejenak. Mengingat-ingat Lily yang dimaksud Kina. Seolah teringat sesuatu, Fian menyeletuk. “Oh, Lily yang itu. Itu, sih, temen gue yang gue bilang jago bahasa inggris. Lilyana Peterson.”Alicia spontan terkejut. Peterson? Peterson yang itu?“Ya iyalah jago, namanya juga bule,” kata Kina sinis. “tahu gitu mah harusnya lo bilang-bilang, kek. Biar gue nggak mempermalukan diri sendiri di depan dia.”“Yakin banget gue bakal bantuin?” tanya Fian iseng.Alih-alih Kina, Dava yang menjawab dengan aksen berlebihan. “Lo setega itu sama gue?”Sebelum keributan terjadi, pintu ruangan terbuka. Menampilkan bodyguard Alicia sedang membawa bucket bunga mawar merah. “Permisi, saya mengantarkan kiriman dari resepsionis untuk Nona Alicia.”“Dari siapa katanya?” tanya Alicia takjub. Sedikit grogi menerima kiriman bunga pertama dalam hidupnya.“Tanpa nama, Nona. Tapi resepsionis menjamin tidak ada bahaya di dalamnya.”“Cieee, dapat kiriman mawar!” seru Dava heboh. “Lo seterkenal itu, ya. Nggak kayak adek galak gue.”“Apa lo bilang?!”Alicia menjatuhkan perhatiannya pada bucket tersebut. Mawarnya sangat cantik dan segar. Pasti baru saja dipesan oleh pengirim. Dari ukurannya yang besar, pasti mahal. Selain bunga mawar, ada kartu ucapan yang terikat di tangkai bucket.Get well soon, my dear.
My Wife is a CEO
orm berlari terburu-buru menuju kantornya sebelum, bos galaknya datang. waktu sudah menunjukan pukul 7:30 pagi dan beberapa menit lagi ia harus sudah sampai di kantor karana kalau tidak ia akan mendapati ceramah yang panjang kali lebar dari bosnya.'' huhhh... huhh...'' orm menghembuskan nafasnya dengan kasar.'' ehh orm lo kok baru datang?" tanya soya temannya.'' seperti bisa kayanya dia maraton nonton Drakor tadi malam" sahut becca temannya.'' heheh.. lo tau aja deh bec. eh si bos belum datang kan? tanya orm.'' kayanya belum deh, soalnya gue belum liat'' jawab soya.'' sukur deh, aman gue, kalo enggak bisa-bisa kena semprot.. hahah'' jawab orm.'' haha itu kan udah jadi kebiasaan lo orm.'' ucap becca.'' gue doain deh lo sama si bos jodoh soalnya kalian itu cocok tau'' ucap soya.''ehhhh jangan ya. amit-amit de gue berjodoh sama si muka tembok'' jawab orm kesal.'' tapi kan dia itu keren orm'' ucap soya sambil tersenyum halu.''ihh...apaan nora gitu di bilang keren, kerenan juga aries'' ucap orm membayangkan wajah aries orang yang di sukaianya.'' ni orang matanya burem kali ya, udah jelas kerenan mis lingling'' protes soya.'' ehh kalian ini bukanya kerja malah ngerumpi gue bilangin ya lo semua sama mis lingling, biar tau rasa lo semua'' ucap mei sekertaris lingling yang tiba-tiba datang.ya lingling. nama lengkapnya lingling kwong nama dari CEO sekaligus bos tempat mereka berkerja yang tentunya usianya masih muda. usinya 29 tahun, ya lingling menjabat sebagai CEO di perusahaan keluarganya yang bernama KWONG KOMPENY. ya perusahaan yang di pimpin lingling sangat terkenal apalagi dalam dunia ekonomi, kecantikan, passion, perhotelan dan masih banyak lagi.'' dasar nenek sihir, so cantik benget baru juga jadi sekertaris tapi gayanya udah songong banget'' ucap soya kesal pada sikap mei." udah deh mending kita kerja aja sekarang'' ajak ormmereka semua pun mengerjakan pekerjaan Mereka masing-masing dengan serius dan teliti seperti biasanya, tapi biasanya nya mereka jarang serius dalam berkerja karana kebanyakan menghabiskan waktu dengan mengobrol atau menikmati wifi kantor untuk main media sosial, dan bergosip tentang opa opa korea.****pukul menunjukkan jam 12 siang. jadwal istirahat kantor.'' duh,, capek banget gue, akhirnya selesai juga'' keluh soya dengan perasaan lega.'' iya nih kita makan siang yuu, laper banget nih gue'' ajak becca.'' yeyy yuuu... gue juga laper'' sahut orm dengan semangat.mereka bertiga beranjak dari kusi kerjanya masing-masing dan bersiap untuk makan siang bersama. dan saat mereka berbalik ada aries yang berdiri sambil tersenyum ke arah mereka, mungkin lebih tepatnya pada orm.'' hei aku boleh ikut makan siang bareng kalian gak?" anya aries.'' eh aries, boleh dong masa makan siang bareng gak boleh'' jawab orm dengan malu-malu.'' ehemm...ehemm.. keselek batu'' ucap soya sambil cengengesan.'' ihh... soya apaan sih'' tegur orm.tiba tiba sekertaris lingling datang menemui orm untuk menyampaikan sesuatu.'' orm lo di panggil sama mis lingling ke ruangannya'' ucap mei to the point.'' kok sekarang sih inikan waktu nya istirahat dan waktu makan siang gue'' jawab orm kesal.'' nama gue tau, udah deh mending lo keruangnya aja sekarang'' ucap mei sambi berjalan pergi.'' ihhh nyebelin to orang. ini juga ngapain sih si muka tembok manggil gue segala'' ucap orm jengkel karana ia malas kalau sudah berurusan dengan bosnya itu.'' udah mending kamu ke ruangannya sekarang, nanti aku beliin makan siang buat kamu'' ujar aries dengan lembut.'' cie cie... perhatian banget sih, jadi iri deh'' ucap becca.'' dasar jomblo'' ejek soya'' ehhhh llo juga jomblo ya.. masa jomblo teriak jomblo'' sindir becca.''hehe,, iya iya maaf'' jawab soya cengengesan.'' orm lo cepet pergi sana lo gak mau kan kalo nanti gaji lo dipotong sama mis lingling'' ucap becca.mendengar itu orm menghela nafasnya dengan kasar.'' iya gue pergi dulu ya'' jawab orm dengan malas.orm akhirnya pergi ke ruangan bosnya yang tukang menyuruhnya dengan seenak jidatnya, sebenarnya orm sangat malas menemui bosnya itu tapi ia juga tak mau sampai gajinya di potong karana itu kalimat yang paling orm takuti dan sangat di keramat,kan di kantor kwong Kompany. sesampai di depan pintu ruangan yang bertuliskan ceo orm tak lupa mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk.tok!.. tok!.. tok!..ceklek!'' permisi mis . mis manggil saya?'' tanya orm basa basi.mendengar sura orm lingling berbalik dari kursi kebesaran nya yang tadinya membelakangi pintu dan sekarang berbalik dan menghadap orm.'' kamu ini kebiasaan. saya itu udah 15 menit tau nungguin kamu, dan waktu saya terbuang dengan sia sia'' ucap lingling datar.'' tuh kan si muka tembok mulai marah, pasti sekarang sudah mulai muncul tuh dua tanduk di kepalanya,,hihihi'' ucap orm dalam hati sambil terkikik.ya muka tembok adalah panggilan husus yang di buat orm untuk bosnya itu. kenapa orm menamainya muka tembok ya pasti kalian tau, muka bosnya itu selalu datar seperti tembok dan jarang tersenyum pada siapapun, saking jarangnya mungkin makluk yang bernama lingling kwong ini tersenyum hanya setahun sekali.'' kamu itu kalau saya tanya itu jawab.'' ucap lingling kesal karana melihat orm yang melamun.'' maaf mis'' ucap orm sambil menundukkan kepalanya.'' kamu masih mau bekerja gak di perusahan saya?'' tanya lingling.'' maksud mis?'' tanya orm bingung.'' kamu itu emang gak becus ya buat laporan. malah banyak typo nya lagi, pusing saya liatnya orm!'' keluh lingling.'' maaf mis'' ucap orm sambil menunduk lagi.'' maaf maaf saja terus, sekarang saya mau kamu perbaiki laporan ini dan harus detail, kalau tidak gaji kamu akan saya potong. mengerti'' ucap lingling datar dan tegas.orm mengambil laparnya di atas meja lingling untuk di perbaiki.'' ia mis, kalau begitu saya permisi'' pamit orm.orm keluar dari ruangan neraka. ya menurutnya ruangan lingling adalah neraka. dan tak henti-hentinya orm mengucapakan sumpah serapah untuk bosnya itu yang super-duper nyebelin dan membuatnya selalu naik darah.'' dasar muka tembok sialan, mentang mentang dia CEO, seenaknya aja nyuruh gue. gue doain lo makin tua dan gak laku seumur hidup'' gumam orm dengan kesal.orm menuju meja kerjanya untuk memperbaiki laporannya, jujur saja orm sangat kesal kalau bosnya sudah marah-marah dengan ceramahnya yang panjang kali lebar itu apalagi dengan ucapan potong gaji.orm... kita kembali'' ucap soya yang baru datang bersama becca dan aries.'' eh gimana?, lo tadi di apain sama mis lingling? " tanga soya kepo.'' gue di suruh memperbaiki hasil laporan. kata dia laporan gue salah lah, banyak typo lah, terus dia ngancem gaji gue bakal di potong. duhhh... pusing kepala gue'' jawab orm perustasi.''ya udah sini biara aku bantuin, kamu juga harus makan, nih aku udah beliin makan buat kamu'' ucap aries sambil memberikan pelastik berisi makan.melihat itu orm segera menerimanya dengan senyuman khasnya.'' makasih banyak ya aries'' ucapnya sambil tersenyum manis.'' iya sama-sama. ayo cepat kamu makan, aku gak mau loh liat kamu sakit nantinya'' ucap aries perhatian.''owww... sweet banget sih,'' ucap becca baper melihat adegan gratis di depan nya.orm yang mendengar itu hanya tersenyum malu. ya menurutnya aries adalah alasan ia bertahan di perusahan ini. Karana kalau tidak orm sudah jauh-jauh mengundurkan diri.orm kini tengah memperhatikan aries yang sedang memperbaiki laporan tadi. orm menganggap aries adalah penyelamatnya.'' ini orm aku udah selesaikan semuanya. dan aku yakin kamu pasti gak akan di marahin lagi sama mis lingling dan aku juga gak mau kamu selalu di marahin sama dia" ucap aries.'' makasih ya aries. kamu baik banget sama aku'' ucap orm senang.'' iya sama-sama. aku akan selau ada untuk kamu sampai kapanpun'' balas aries. adan orm yang mendengarnya hanya tersenyum malu.****setelah orm memperbaiki laporan yang lebih tepatnya di perbaiki oleh aries ia segera membawa laporan itu pada bos nya.sebelum orm mengetuk pintu ia menarik napas dalam-dalam dan berdoa supaya ia di beri kesabaran untuk menghadapi lingling. setelah siap lahir dan batin barulah ia memberanikan diri untuk mengetuk pintu ruangan CEO itu.tok! tok! tok!'' permisi mis ini laporan yang sudah saya perbaiki'' ucap orm sopan walau terpaksa.'' Hmm... taruh saja di meja'' balas lingling datar.mendengar itu orm meletakan laporannya di meja sesuai perintah dari lingling. sesekali juga ia melirik muka lingling yang datar persisi kaya tembok, ya orm menjuluki bosnya itu si muka tembok.'' apa ada lagi yang bisa saya kerjakan mis?'' tanya orm.'' gak'' jawab lingling singkat padat dan jelas.'' ya sudah kalau begitu saya permisi mis'' pamit orm.'' ya'' ucap lingling tanpa melirik orm sama sekali dan lebih fokus ke laptopnya." dasar si muka tembok, bukannya bilang terimakasih ini malah cuma di balas hmm. dasar so cool .'' ucap orm dalam hati.orm pun keluar dengan kakinya yang di hentak-hentakan karana saking kesalnya. ya memang beginilah yang harus orm terima dan di tanggung kalau ia berkerja di perusahaan milik lingling. harus banyak-banyak bersabar.'' kenapa lo jalanya gitu orm? kayanya lo lagi bahagia'' ejek soya dengan usil.'' bahagia pala lo, gue lagi kesal tau'' ucap orm ketus sambil memanyunkan bibirnya itu.'' ketus amat biasa aja dong'' ucap soya.'' gimana gue bisa biasa aja. masa nih ya, gue udah ngomong baik-baik dan menyelesaikan laporan tepat waktu, dia hanya bilang hmm doang. kan sialan'' jelas orm dengan ekspresi di tekuk.'' lo kaya gak tau aja CEO kita itu orangnya kaya gimana" balas soya.'' ya tapikan gue udah cape ngerjainnya'' keluh orm.'' helloo... apa lo bilang? lo yang ngerjain? heh lo kira kita gak tau kalau yang ngerjain laporan lo itu si aries. hah?'' ujar soya ketus.''hehehe.... iya iya maaf.'' ucap orm sambil cengengesan.setelah itu mereka kembali melakukan tugasnya masing-masing. di kantor mereka lebih sering bergosip daripada kerja. tapi kalau di depan bosnya, mereka pura-pura sibuk dan rajin.waktu semakin berjalan dan sekarang waktu menunjukkan pukul tujuh malam yang berarti jam kantor telah selesai, ya hari ini semua karyawan sedang lembur makanya pulang nya malam. semua karyawan pun bersiap-siap untuk pulang.'' akhirnya selesai juga kerjaan hari ini, sekarang waktunya kita pulang'' ucap becca senang.'' ya ini gue juga udh cape banget, seharian kerja'' sahut soya.'' yaudah deh... kalau gitu see you tomorrow guys'' ucap orm pada kedua sahabatnya.'' see you beb'' balas soya dan becca.****orm berjalan keluar kantor menuju parkiran. dan saat ia sampai di parkiran ia tak sengaja bertemu lingling. yang mau tak mau ia harus menyapanya. yaa, itung-itung carper sama bosnya itu...'' malam mis'' sapa orm dengan senyum manis.lingling yang mendengar itu hanya melirik dengan datar tanpa membalas sapan dari orm. lingling malah langsung masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan orm di parkiran.'' kayanya si lingling itu lagi diet ngomong kali ya? dasar muka tembok sialan. nyesel gue nyapa dia tadi .'' gumam orm dengan kesal sambil menaiki mobilnya dan bergegas pulang.'' HELLO.... PENGHUNI RUMAH... ORM YANG CANTIK DAN IMUT UDAH PULANG NIH...'' teriak orm menggelegar.'' berisik orm'' ucap Alex sang kakak.'' hehe... kirain gak ada orang, ternyata ada makluk misterius yang tengah duduk di sofa'' ucap orm dengan nada yang mengejek.'' orm! gue balikin ya lo ke perut mama'' ucap alex kesal.'' coba aja kalau bisa... wlee...'' ejek orm sambil menjulurkan lidahnya..'' kurang ajar ya lo orm. sini lo orm dasar adik durhaka'' ujar alex sambil berusaha mengejar orm, yang berlari seperti kucing dan tikus.'' duh.... ini kalian pada kenapa sih. berisik banget, kalian ini kerjaannya tiap hari berantem terus'' ucap mama koy yang tiba-tiba datang karna mendengar keributan.ya memang begitulah kehidupan alex dan orm yang setiap harinya selalu bertengkar dan saling mengejek satu sama lain. tapi kalau udah pisah, pasti orm akan menangis karana orm merindukan alex.orm dan Alex berhenti saling kejar ketika mendengar suara mama koy dan mereka tersenyum manis ketika melihat mama tercintanya seakan tidak ada kejadian apapun.''siapa yang berantem sih ma, kita itu cuma lagi belajar akting kok'' ujar alex beralasan demi menghindari amukan mama koy.'' akting-akting. emangnya kamu itu pemain film apa?'' tanya mama koy ketus.'' heheh.... calon ma. masa muka alex yang ganteng sedunia ini gak bisa jadi pemain film'' balas Alex dengan pedenya yang tingkat dewa.'' udah deh,, kamu itu halu aja'' ucap mama koy pusing melihat kelakuan putranya itu.'' oh ya papa mana?'' tanya orm sambil celingak-celinguk.'' belum pulang, paing sebentar lagi'' jawab mama koy.dan tak lama kemudian terdengar sura mobil dan klakson yang menandakan sang papa sudah pulang.''papa pulang...'' ucap sang papa saat masuk kedalam rumah.'' wahh,, papa pajang umur. baru aja kita ngomongin papa tau'' ujar mama koy.'' ouhh yaa... jadi kalian digosipin papa gitu?" tanya papa dengan nada bercanda.'' bukan digosipin pa, tadi orm cuma nanyain aja, papa udah pulang apa belum'' jelas orm.''ohh.. kirain apa. ya sudah yuk kita makan malam. papa udah lapar banget, dan rindu sama makan mamam tercinta.'' ujar papa sambil menggoda mama koy.'' papa ini gombal aja. ya sudah yuk kita makan malam'' ajak mama koy.papa, orm dan kakaknya mengangguk dan berjalan mengikuti mama koy ke arah meja makan untuk makan malam bersama.sebenarnya mereka jarang makan bersama seperti saat ini, karana mereka memiliki kesibukan masing masing.kelurga orm adalah keluarga yang harmonis dan bahagia. kelurga mereka juga merupakan keluarga sederhana dan tidak mau terlihat mewah. dalam kelurga mereka yang terpenting adalah saling menyayangi.'' ouh iya orm ada sesuatu yang ingin papa bicarakan sama kamu'' ujar sang papa.mendengar itu orm mengerutkan dahinya.'' bicara apa pa?'' tanya orm,''besok saja, dan kamu juga akan tau'' balas papa sambil tersenyum.mendengar itu perasaan orm jadi tidak enak, dan bergumam.'' kok perasaan gue tiba-tiba gak enak? kenapa ya? apa ada yang papa sembunyikan ya?''setelah selesai makan malam , mereka masuk kamar masing-masing utuk membersihkan diri dan beristirahat. dan orm masih kepikiran sama apa yang ingin papanya bicarakan besok karana yang ia lihat ada yang mencurigakan dan hal itu membuatnya tak bisa tidur, dan ia memutuskan untuk maraton drakor kesayangannya sampai puas.****di pagi hari yang cerah ini orm dan keluarganya berkumpul di ruang tamu untuk membahas tetang pembicaraan semalam.'' orm kamu punya pacar gak?'' tanya papa.orm menggeleng.'' gak ada pa, memangnya kenapa?''mendengar itu papa tersenyum senang.'' baguslah. kalau gitu nanti malam kamu ikut ya, untuk makan malam sama keluarga teman papa dan jangan lupa dandan yang cantik'' ujar sang papa.'' iya ikut ya, dan tenang aja mama udah siapin pakaian yang cantik buat kamu'' sahut mama koy.mendengar apa yang papa dan mamanya bicarakan membuat orm bingung, sebenarnya apa yang sedang di rencanakan orang tuanya.****malam pun tiba orm sedang bersiap-siap dan berdandan cantik dengan gaun berwarna merah muda, dan setelah selesai orm bergegas untuk turun kebawah, dan langsung berjalan menuju parkiran dan masuk kedalam mobil karna orang tuanya sudah menunggu di dalam mobil agar tidak telat.setelah orm masuk mobil hitam yang mereka tumpangi. Mobil itu berjalan menuju restoran mewah. dan setelah sampai mereka langsung masuk.'' hai kalian akhirnya datang juga'' ucap peria paruh baya.'' maaf ya juka kalian sudah menunggu lama.. bisa... namanya juga perempuan dandannya lama. ouh iya orm kenalin ini sahabat papa namanya om arthur'' ujar papa.Orm menyalami sahabat papanya itu , dan akhirnya matanya tertuju pada wanita yang seumuran dengan mama nya.'' ohh... jadi ini yang namanya orm. cantik sekali, kayanya kita emang gak salah pilih deh, kenalin nama tante ananya'' ucapnya tersenyum.'' ayo silahkan duduk semua'' ucap om arthur.'' oh iya anak kamu mana? kok dari tadi gak keliatan'' tanya papa orm.'' dia keluar sebentar karana ada telpon dari kliennya'' jawab om arthur.'' wahh... kayanya anak kamu orang sibuk ya..'' ucap papa orm dengan nada bercanda.'' iya dong kaya papinya.... hahah'' balas om arthur.mereka semua tertawa bahagia saling melempar canda atara papa dan om arthur, beda dengan orm ia tak tertawa sama sekali karana ia kini tengah bingung, dan merasa bosan dan ia ingin pulang.'' huh... tau gini... mending gue gak usah ikut tadi. lebih baik gue nonton drakor atau main game .'' gumam orm dalam hati.'' maaf semuanya saya terlambat'' ucap seseorang dengan sura berat di belakang orm.'' kaya gak asing deng sama nada sura ini '' gumam orm dalam hati.karena merasa panasaran dengan sura tersebut orm langsung membalikan badanya, dan saat ia berbalik bertapa terkejutnya ia melihat siapa yang ada di hadapannya sekarang, orm benar-benar tak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang, apa ini hanya mimpi? apa yang di depannya adalah mahluk jelmaan?.'' mis lingling'' ucap orm sambil melotot.sedangkan lingling sendiri hanya memasang muka datarnya saat ia menatap orm. lingling sama sekali tidak menunjukkan ekspresi apapun, seperti memang gak salah orm Melaninya dengan si muka tembok.'' papa ko mis lingling ada di sini? '' tanya orm dengan nada sedikit kesal.'' jadi kamu kenal sama lingling?'' tanya papa terkejut.'' iya kenal lah pa, dia kan bos orm di kantor'' jawab orm.'' wah.... bagus dong. kalau gitu papa gak perlu repot-repot mengenalkan kamu sama calon istri kamu'' ucap sang papa santai, sementara Orm yang mendengar itu terkejut bukan main.'' apaa? calon istri? maksud papa gimana sih?'' taya orm bingung.'' jadi gini papa sama om arthur sudah sepakat untuk menjodohkan kamu dengan lingling'' jelas papanya.mendengar itu orm lebih terkejut dan tidak menyangka papanya akan menjerumuskan anaknya ini kedalam neraka bersama lingling.'' apa orm boleh bicara sebentar sama mis lingling?'' tanya orm meminta izin pada papanya.'' ya boleh, tapi jangan lama-lama ya...'' jawab papa.orm beranjak dari duduknya dan mengajak lingling pergi ketaman yang ada di restoran yang jaraknya aga jauh dari meja mereka tadi.apa yang harus orm lakukan sekarang?kenapa takdirnya sangat-sangat buruk, apalagi ia di jodohkan dengan makluk menyebalkan di dunia.?'' kenapa mis tadi bisa aja dan ga ada raut wajah terkejut? dengan apa yang papa saya bicarakan'' tanya ormlingling mengerutkan dahinya.'' maksud kamu?''''kenapa mis lingling biasa aja? mukanya gak ada ekspresinya sedikitpun saat mis mendengar kalau kita akan di jodohkan? tunggu apa jangan-jangan mis tau kalau kita bakal di jodohin?'' tanya orm dengan curiga.'' ya gitu deh.'' jawab lingling santai.'' ini orang enteng banget jawabannya , gue buang juga ini orang sialan kelaut sekarang juga '' gumam orm kesal dalam hati.'' terus mis nerima perjodohan ini?'' tanya orm lagi.'' hmm'' jawab lingling berdehem.'' lama-lama gue cakar muka ni orang dari tadi ngomongnya irit banget'' gumam orm lagi dengan kesal'' kenapa mis menerima perjodohan ini?'' tanya orm yang benar benar tak terima kalau dia akan di jodohkan dengan bos galaknya.'' sebenarnya saya gak mau di jodohin sama cewek bar-bar kaya kamu'' jawab lingling santai dan membuat orm melebarkan matanya.'' wahhh..... songong banget... enak aja bilang gue cewek bar-bar. gue cantik kaya gini kaya orang barat dari pada dia muka datar kaya tembok '' gumam orm dalam hati lagi.'' maksud mis apa ya bilang saya cewek bar-bar'' protes orm tak terima.'' ya iya, di kantor kerjaan kamu itu ngerumpi mulu sama teman-teman kamu itu. di tambah kelakuan kamu kayak bocil. tapi kalau di depan saya kalian pura-pura sibuk berkerja. kamu pikir saya gak tau apa-apa'' jelas lingling.'' kok dia bisa tau sih? jangan-jangan dia sering memata-matai gue lagi'' gumam orm dalam hati.'' saya menerima perjodohan ini karana saya peduli dan sayang sama orang tua saya dan sebagai tanda bakti saya kepada mereka, jadi kamu jangan geer'' ucap lingling.'' ih siapa yang geer saya juga gak berharap sama mis'' jawab orm tak mau kalah.'' bagus deh'' balas lingling santai'' INI ORANG NYEBELIN BANGET SIH, LAMA-LAMA GUE SANTET JUGA LO'' gumam lagi orm dalam hati dengan kesal sekali.'' tapi kan saya gak mau di jodohin mis..... saya itu udah punya pacar'' ucap orm sedikit merengek.'' itu kan urusan kamu bukan urusan saya, lagi pula kalau kamu membatalkan perjodohan ini ya silahkan. paling nanti kamu di tendang dari kartu kelurga'' jawab lingling santai . malah kelewatan santai.'' ihh.... nyebelin banget sih... udah ah saya cape ngomong sama mis'' ucap orm jengkel dengan lingling.'' saya enggak tuh'' balas lingling.karna sakin kesalnya orm pada lingling ia langsung pergi meninggalkan lingling . bukanya ia menemukan solusi agar tidak jadi di jodohkan, ini malam semakin rumit, sekarang keputusan satu-satunya ada pada papa orm sendiri.'' akhirnya kalian datang juga. lama banget sih ngobrolnya. jadi gimana orm? kamu mau kan nerima perjodohan ini'' tanya sang papa.awalnya orm mau menolak tapi ketika ia melihat raut wajah papanya yang memelas yang berharap ia menerima perjodohan dan mengingat kata-kata lingling tadi orm sempat terdiam beberapa saat sambil memikirkan keputusannya matang-matang.'' mm iya pa, orm mau menerima perjodohan ini'' jawab orm terpaksa.semua keluarga pun tersenyum bahagia kecuali orm dan lingling.lingling sendiri hanya tersenyum remeh mendengar jawaban orm, dan sudah lingling duga kalau perkataannya tadi akan membuat orm takut.'' kalau bukan karana papa, gue gak bakal mau nerima perjodohan ini. ya tuhan berikan lah hambamu ini kekuatan utuk menghadapi nasib hamba bersama iblis di depan hamba '' gumamnya berdoa dan pasrah.hari senin adalah hari yang paling di benci semua orang, tak kecuali bagi orm sendiri. ia harus menyelesaikan pekerjaannya yang menumpuk dan harus selesai tepat waktu. kalau tidak bersiaplah untuk mendapat door prize dari lingling kwong yang terhormat.sementara itu di ruangan CEO lingling '' berpacaran'' dengan semua berkas-berkasnya. walaupun pekerjaannya menumpuk, lingling sudah terbiasa dengan semuanya sejak ia kecil. lingling mengenal dan belajar tentang dunia perusahaan dari kelurganya sendiri.'' hallo mis....? ada yang bisa saya bantu?'' tanya mei sekertaris lingling.'' tolong kamu panggilkan orm untuk keruangan saya sekarang'' perintah lingling.'' baik mis '' balas mei menutup telpon.'' kok tumben banget mis lingling manggil orm ke ruangannya di jam segini? '' gumam mei heran.Dan tanpa menunggu lama mei langsung pergi kemeja orm untuk menyampaikan perintah bosnya. ternyata mei melihat orm tengah sibuk dengan banyak sekali kertas numpuk di mejanya.'' orm lo di panggil sama mis lingling untuk kurangnya sekarang'' ujar meimendengar itu orm sedikit terkejut.''gue? kok tumben banget. ada apa emangnya?'' tanya orm''mana gue tau. udah deh cepetan lo keruangan mis lingling sekarang, nanti kena marah tau rasa lo'' jawab mei ngegas.'' ck, iya iya'' ucap orm dengan terpaksa.setelah menyampaikan pesan dari bosnya mei langsung pergi meninggalkan orm dan kembali ke meja kerjanya.orm dan keuda sahabatnya memang tidak pernah dekat atau pun akur dengan mei, karna menurut mereka mei adalah sekertaris ganjen, so cantik dan selalu cari perhatian lingling, di tambah lagi mei orangnya cerewet, makanya mereka memanggil mei dengan sebutan nenek sihir atau mak lampir.'' eh orm ada apa mak lapir datangin meja lo?'' tanya becca kepo.'' gue di panggil si muka tembok untuk ke ruangannya'' jawab orm.'' wahh,,, buat apa mis lingling manggil lo? di jam segini gak bisanya. apa jangan jangan kalian mau pacaran yaa? ''ejek soya.'' sembarangan lo. udah deh gue keruangan bos dulu, entar gue kena marah lagi kalau gue kelamaan datang ke ruangannya."orm berjalan menuju rungan lingling yang tukang nyuruh orang seenak jidatnya. dan sampai orm di depan pintu yang bertuliskan CEO ia mengetok pintu itu.tok! tok! tok!'' permisi mis. apa mis memanggil saya?'' tanya orm.''hm.'' jawab lingling singkat dan matanya tetap menatap leptop.'' emang sialan ya ini orang '' batin orm kesal.''ada apa ya mis? ''tanya orm dengan sabar.'' tolong kamu belikan saya jus yang ada di sebarang kantor'' perintah lingling.''hah?.. gak salah mis? mis kan bisa minta bantuan sama OB kantor kita'' balas orm protes.'' saya maunya kamu yang belikan'' jawab lingling.'' kenapa saya, mis kan bisa nyuruh sekertaris mis'' ujar orm'' saya tidak mau sekertaris saya yang beli. saya maunya kamu yang beliin'' ujar lingling dengan muka datarnya.'' ihhhhh... nyebelin banget si ni orang kaya bumil lagi ngidam aja '' batin orm semakin kesal.'' udah deh dari pada kamu bicara terus dan banyak bertanya mendingan kamu beliin saya jus sekarang juga'' perintah lingling.niatnya orm mau mengelak tapi lingling malah semakin ngegas agar permintaanya di turuti, mau tak mau orm harus menurutinya karana kalau tidak lingling pasti akan mengeluarkan kalimat keramatnya yaitu potong gaji.'' iya iya. mana duitnya mis?'' jawab Orm sambil menyodorkan kedua tangannya untuk meminta uang.lingling mengambil dompetnya di laci meja kerjanya. awalnya orm berpikir lingling akan memberikan uang yang berwarna merah karana mengingat bosnya itu kaya apalagi jabatannya CEO.''nih'' lingling memberikan nial uang yang tidak terduga apa lagi dengan warnanya yang tidak sesuai dengan yang orm pikirkan.''cuma sepuluh rubu mis?'' tanya orm terkejut.'' iya. emang berapa haraga jus di depan?'' tanya lingling.''enam ribu mis'' jawab orm.'' ya udah itukan cukup uangnya. emang kamu mau juga jusnya?'' tanya lingling.''enggak mis, ya sudah saya permisi mis" balas orm yang hanya bisa pasrah.orm ingin keluar ruangan lingling untuk membeli jus yang lingling inginkan tapi tiba-tiba lingling memanggilnya.'' eh sebentar. ingat ya saya ingin jus alpukat, gulanya jangan banyak-banyak alias jangan terlalu manis, dan airnya sedikit aja, jangan pake susu. emm satu lagi gak pake lama'' ujar lingling pajang kali lebar.''emang ni orang. udah nyuruh, peke minta yang ribet segala lagi. kalau bikan bos gue udah gue cekik dari tadi'' batin orm geram dan semakin kesal.'' iya mis, saya permisi mis'' ucap orm dengan senyum paksa.setelah orm keluar dari ruangan lingling yang seperti neraka itu, orm yang awalnya pura-pura tersenyum manis langsung merubah raut wajahnya jadi kecut.orm keluar dengan perasaan marah. kesal dan jengkel yang sudah bercampur menjadi satu karana bosnya yang super menyebalkan. setelah sampai di tempat jus sebarang kantor, orm langsung memesan jus yang di inginkan bosnya itu.'' mas jus alpukat satu ya.'' pesan orm.'' ok kak'' balas si penjual jus.'' oh ya mas jusnya jangan terlalu manis, airnya sedikit saja dan jangan pake susu ya'' pesan orm yang harus mengingat amanat dari bosnya tadi.'' yaa ampun kak ribet amat sih'' ujar penjual jus.'' hehehe.. maaf ya mas. soalnya yang mesan ini bukan saya, tapi bos saya'' jelas orm.''ohh,, gitu ya kak, kalau gitu saya buatin dulu ya'' balas penjual jus.''oh ya satu lagi mas jangan pake lama ya soalnya kalau lama nanti bos saya bis marah-marah'' tambah orm.'' siap kak'' balas penjual. orm pun menunggu pesanan nya sambil memain kan handphone dan setelah beberapa menit jus yang ia pesan sudah jadi.''ini uangnya mas'' ujar orm sambil memberikan uang itu.''iya kak,. dan ini kembaliannya'' balas si penjual.''makasih ya mas'' ujar orm'' iya sama-sama'' balas si penjual jus.setelah membeli pesanan lingling yang seperti bumil ngidam Orm segera kembali kekantor untuk mengantarkan pesanan bosnya itu.setelah sampai depan pintu ruangan bosnya, tak lupa ia mengetuk pintutok! tok! tok!orm membuka pintu itu dan masuk.'''ini mis jus pesanannya'' ujar orm sambil meletakan jus itu di meja kerja lingling.''hm'' balas lingling hanya berdehem.'' si tembok sialan bukannya bilang terimakasih, ini malah bilang hm aja, Syakur gak gue kasih racun tuh jus '' gumam orm pelan.orm masih berdiri di depan lingling sambil menatap lingling tajam sedangkan lingling sendiri hanya menatap orm dengan bingung.'' kenapa kamu masih disini?. sana cepat keluar dan selesaikan pekerjaan kamu'' perintah lingling.mendengar itu orm menghembuskan nafasnya dengan kasar sambil bergumam "sabar" .''iya mis'' ucap orm sabil tersenyum kecut.saat orm hendak berbalik untuk pergi tiba -tiba lingling memanggil orm lagi.''eh sebentar mana uang kembalian beli jusnya'' tanya lingling.''what? uang kembalian empat ribu aja di tagih? dasar lingling kwong pelit'' batin orm''ini mis kembaliannya'' ucap orm sambil memberikan uang kembalian yang gak seberapa itu. tapi bagi lingling seberapapun itu uang tetap lah uang."ya sudah sana kamu pergi lanjutin kerjaan kamu lagi'' perintah lingling.'' iya mis permisi'' balas orm yang kali ini ia tak tersenyum sedikitpun ia hanya memasang muka datar karana sebenarnya orm sudah habis kesabaran menghadapi bosnya itu.'' dasar muka tembok gak atau diri, pelit, dan hobinya nyuruh orang'' batin orm kesal se kesal kesalnya.setelah keluar dari ruangan neraka, orm masih tetap kesal dengan sikap lingling yang gak tau diri itu. ia terus melangkah kan kakinya yang ia hentak hentakan menuju meja kerjanya.' woy..... kusut amat tuh muka'' tegur soya.'' iya kenapa lo orm? masa abis pacaran sama si bos tuh muka jadi kusut. ouh atau jangan-jangan lo gak dapat jatah ya. hahahah....'' ejek becca dengan tawa puas.ya kedua sahabatnya itu sangat senang menjahili orm. apalagi tentang menjodohkan orm sama lingling. ya mereka akan terus menerus mengejek orm dan mentertawakan orm dengan puas.'' berisik ya kalian, gue itu lagi kesal sama si muka tembok'' ujar orm mengeram kesal.'' lah emang kenapa?'' tanya becca.orm menghembuskan nafasnya kasar dan menjawab.'' masa tadi gue di suruh ke ruangannya hanya untuk membelikan dia jus alpukat yang ada di sebrang kantor. udah gitu dia gak bilang terimakasih sma gue.kan jadi kesal gue'''' gila ya si bos. ada ada aja permintaanya'' ujar soya.'' itu belum seberapa. Ada yang lebih parah lagi dia minta jusnya yang gak terlalu manis, air jangan banyak, jangan pake susu dan gak pake lama'' jelas orm.'wahhh..... kayanya si bos emang sengaja deh ngerjain lo, iyaa gak'' ucap becca.'' tau ah, pusing gue'' keluh orm.orm memijat jidat nya yang terasa pusing karana memikirkan lingling yang selalu aneh dan menyebalkan.dan tiba-tiba mei datang ke meja orm.'' eh orm, lo di panggil lagi sama mis lingling ke ruangannya sekarang'' ucap mei.'' aduh ada apa lagi sih'' ucap orm frustasi.baru saja orm bernapas lega tapi tiba-tiba lingling memanggilnya lagi untuk ke ruangannya. sebenarnya apa sih yang di inginkan lingling si mahluk menyebalkan itu? apa dia belum puas melihat orm sudah pusing tujuh keliling.'' kayanya si bos masih kangen deh sama lo'' goda soya.'' ciee.... ciee.. calon masa depan mis lingling'' tambah becca.''BERISIK'' ucap orm dengan nada sangat kesal.'' hahaha,,'''tawa kedua sahabatnya.orm pergi meninggalkan kedua sahabatnya yang gak punya akhlak itu karana sakin kesalnya, ia langsung berjalan dan masuk keruangan lingling tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.'' orm kamu ini gak punya sopan santun sama sekali ya, main masuk aja tanpa ketuk pintu, sana keluar ulangi lagi'' ucap lingling dengan nada kesal.'' ihh ribet banget sih ini orang'' batin orm kesal.orm terpaksa keluar lagi untuk mengulang. perintah dari bosnya.orang seperti lingling memang susah untuk di ajak kerja sama apalagi kompromi.lihat aja sekarang. ya sebenarnya lingling tau orm sedang kesal padanya tapi hal itu yang di sukai lingling.tok! tok! tok!'' permisi mis, mis panggil saya?'' tanya orm dengan terpaksa.''sini kamu'' perintah lingling.''orm berjalan kearah meja lingling tapi ia tak duduk karna tidak di perintahkan. bagi siapa yang berani melanggar perintah lingling maka bersiaplah untuk mendapatkan ceramah dan siraman qalbu yang panjang kalai lebar dan tinggi.'' tolong kamu tulis nomer handphone kamu, di handphone saya sekarang'' perintah lingling.'' kenapa gak tadi aja sekalian sih mis'' ucap orm kesal.'' suka-suka saya lah. saya kan bosnya. apa kamu lupa sama peraturan perusahaan ini?'' tanya lingling'' gak mis'' jawab orm'' coba kamu sebutkan pasal satu'' perintah lingling.'' isi dari pasal adalah bos selalu benar sedangkan karyawan selalu salah, jadi karyawan harus menerimanya'' ucap orm dengan terpaksa.'' itu kamu tau, dadi kamu gak usah banyak komentar'' ketus lingling.'' nih orang lama-lama cerewet banget ya ? dulu irit banget kalau ngomong. sekarang cerewetnya luar biasa, kaya emak emak '' gumam orm pelan.orm menulis nomer handphone di handphone lingling dan sesekali ia mengumpat kata- kata yang manis untuk bosnya itu ia tak perduli dengan semua sumpah serapah untuk lingling walaupun itu calon istrinya. toh orm berpikir mereka hanya di jodohkan dan tidak saling mencintai.''udah saya simpan nomer saya di handphone mis'' ucap orm sambil menyerahkan handphone bos nya itu .''ya udah sana kamu kerja lagi'' ujar lingling dengan nada mengusir.'' apa agak ada yang lain mis?'' tanya orm untuk memastikan.'' gak'' jawab lingling'' benar nih?'' tanya orm''hm'''' kayin'' tanya orm lagi''hm'''' bagus deh. kalau gitu saya permisi mis'' pamit orm.setelah itu orm keluar dari ruangan lingling dengan mood yang lumayan baik karana lingling tidak menyuruhnya lagi untuk melakukan sesuatu.****kini waktu menunjukan jam 12 siang orm dan kedua sahabatnya bersiap utuk pergi makan siang bersama, tapi tiba-tiba ada pesan masuk di handphone orm.+ 62822++++++kamu makan siang bareng saya'' nomer siapa ini ?'' batin orm+ 62822++++++ini nomer saya, bos kamu orm'' mis lingling? dia tau aja apa yang baru gue bilang barusan, jangan-jangan dia cenayang?''maaf mis saya gak tau kalau ini nomer mis. kenapa mis tumben ngajakin saya makan siang?+ 62822++++++gak usah banyak tanya saya tunggu kamu di parkiran sekarangorm tak membalas lagi pesan nya'' emm.... lo semua duluan aja.. gue masih ada urusan '' ujar orm beralasan.'' gitu ya.. ya udah kita duluan ya'' balas becca.orm hanya mengangguk, dan setelah kedua sahabatnya pergi jauh dan mersa sedikit aman orm berjalan ke parkiran untuk menyusul lingling.''lama banget sih kamu'' protes lingling''maaf mis'' balas orm'' ya udah cepet masuk ke mobil'' perintah lingling.orm pun masuk ke mobil lingling dengan lingling yang mengendarai mobil dengan kecepatan sedang, tidak ada percakapan diantara keduanya hingga akhirnya orm mem beranikan diri untuk bertanya pada lingling.'' mis sebenarnya kita mau kemana sih?'' tanya orm pada lingling yang hanya diam dan tetap fokus menyetir."Ni orang budeg kali ya? di tanya malah diam aja. dasar muka tembok '' batin orm.karana tidak mendapatkan respon orm langsung diam dan tidak lagi mau bertanya. lebih tepatnya ia sangat menyesal karana bertanya pada lingling si muka tembok.setelah beberapa menit lingling menghentikan mobilnya di sebuah toko perhiasan. sedangkan orm yang melihat itu bingung dan bertanya-tanya dalam hati. sebenarnya utuk apa lingling membawa dia ke sini.setelah memarkirkan mobilnya lingling dan orm turun dan berjalan menuju pintu masuk toko dengan orm mengekorinya.'' kamu jangan berjalan di belakang saya. kamu itu bukan pengawal saya'' ujar lingling.'' gapapa kok mis'' jawab orm.''terserah'' ucap lingling dan kembali berjalan hingga dia mendapati sebuah ide.lingling sengaja berhenti berjalan sehingga orm menabrak punggungnya.'' aduhh.... sakit banget'' ujar orm sambil memegang keningnya.'' makannya. udah saya bilang jangan berjalan di belakang saya, sini jalan di samping saya'' perintah linglingsementara orm hanya melotot. dan karna tidak ada respon dari orm. lingling menarik orm dan merangkulnya di depan umum.'' duhhh.... malu banget gue. si muka tembong pasti seneng ngerjain gue dan bikin gue malu'' batin orm.'' selamat datang apa ada yang bisa saya bantu?'' tanya salah satu karyawan yang ada di toko.''' saya mau cari cincin buat nikah '' balas lingling.''kamu milih orm'''' kok saya mis'' tanya orm bingung'' udah deh kamu pilih aja gak usah banyak tanya'' ujar lingling tegas.''huh.. iya iya,'' ucap orm pasrah.silakan di pilih kak cincinnya'' ujar sang karyawan.''mis suka yang mana?'' tanya orm.'' terserah'' jawab lingling'' kalau yang ini gimana?'' tanya orm sambil menunjuk cincin.''terserah''"dari tadi jawabannya terserah, terserah, gue kerjain lo '' batin orm.'' saya mau cincin yang paling bagus dan paling mahal ya'' ujar orm dengan santai.'' baik kak kebetulan kamui punya yang paling bagus dan paling mahal'' balas karyawan tersebut.'' ok saya mau ambil yang itu aja '' ucap orm'' siap kak, ini kak. Untuk harganya 100 juta ya''mendengar itu lingling terkejut dan melotot karana mendengar harga cincin yang di pilih orm, sedangkan orm sendiri hanya biasa-biasa aja dengan muka polosnya yang tak berdosa, ya iyalah kan yang bayar lingling.mau tak mau lingling harus membayar cin-cin itu dan langsung mengeluarkan black card. setelah selesai membayar orm dan lingling berjalan utuk kembali ke mobil dan pergi.'' bagus ya... gara gara kamu saya harus mengeluarkan uang sebanyak itu, hanya untuk dua cincin'' ujar lingling kesal.'' lah kan tadi mis sendiri yang bilang terserah. jadi ya terserah saya kan'' jawab orm santai.'' kamu ini ya.. kamu sengaja ya mau ngerjain saya?'' tanya lingling frustasi''enggak, buat apa saya ngerjain mis'' jawab orm dengan polos.''pokonya saya gak mau tau, mulai sekarang gaji kamu akan saya potong karana kau udah berani ngerjain saya'' ujar lingling.'' mis gak bisa gitu dong, mau sampai berapa bulan itu akan lunas kalau pake gaji saya, lagi pula kan itu cin-cin buat pernikahan kita'' jawab orm protes tak terima.'' bodo amat, saya gak peduli'' ucap lingling dan menjalankan mobilnya.''loh kok gitu mis, jangan gitu dong.. mis... mis...........? '' protes orm dan tak di indahkan oleh lingling .'' sial banget sih gue '' gumam orm kesal.
CEO TAMPAN TERNYATA SUAMIKU
Pagi itu, Parulian Group membuka lowongan sebagai sekretaris pribadi CEO. Banyak pelamar datang silih berganti, namun tak satu pun benar-benar sesuai dengan kriteria sang CEO. Hingga di hari yang sama, seorang gadis bernama Salbil Arunia Salsabila tanpa sengaja melewati gedung Parulian Group. Ia berhenti sejenak ketika melihat sebuah banner besar bertuliskan “Membuka Lowongan Sekretaris Pribadi”.Dengan langkah ragu, Salbil masuk ke dalam gedung dan menghampiri resepsionis.“Selamat pagi, Kak. Ada yang bisa kami bantu?” sapa Nita ramah.“Selamat pagi. Maaf, saya mau bertanya, apakah benar perusahaan ini sedang membutuhkan sekretaris?” tanya Salbil.“Iya, benar. Apakah Kakak berminat melamar?” jawab Nita.Salbil mengangguk. Ia menerima daftar persyaratan dan berjanji akan kembali setelah semuanya lengkap.Tak butuh waktu lama, Salbil melengkapi seluruh berkas yang diminta. Dengan map rapi di tangannya, ia kembali ke Parulian Group. Nita pun langsung mengantarnya ke ruangan CEO.Di dalam ruangan itu duduk seorang pria berwibawa bernama Roly Adi Lian, CEO Parulian Group yang membangun perusahaannya dari nol. Wawancara berlangsung singkat namun mendalam. Roly membaca setiap berkas dengan teliti sebelum akhirnya menatap Salbil.“Mulai hari ini kamu bekerja. Ruanganmu di sebelah ruangan saya,” ucapnya tegas.Salbil terkejut, namun rasa syukur lebih besar daripada keterkejutannya.Hari-hari kerja berjalan padat. Salbil membuktikan dirinya sebagai sekretaris yang cekatan, teliti, dan bertanggung jawab. Jadwal rapat, perjalanan bisnis, hingga pertemuan klien besar ia tangani dengan sangat baik. Roly mulai melihat Salbil bukan hanya sebagai karyawan, melainkan sebagai seseorang yang membawa ketenangan dalam kesibukannya.Namun di kantor, mereka tetap profesional. Tidak ada yang tahu perasaan apa yang perlahan tumbuh.Suatu hari, setelah rapat panjang, Roly mengetahui Salbil belum memiliki tempat tinggal tetap di Jakarta.“Kalau mau, ada apartemen kosong dekat tempatku. Fasilitas kantor juga,” tawar Roly dengan nada hati-hati.Salbil ragu, tetapi akhirnya menerima. Keputusan itu membuat mereka semakin dekat. Makan bersama, berdiskusi ringan, dan saling mengenal lebih dalam. Rasa nyaman berubah menjadi perhatian, lalu perlahan menjadi cinta.Beberapa bulan kemudian, setelah hari kerja yang melelahkan, Roly mengajak Salbil ke sebuah tempat. Dengan mata tertutup, Salbil berdiri gugup. Saat penutup matanya dilepas, ia terdiam melihat tulisan besar di depannya.Will You Marry Me, Salbil Arunia Salsabila?Air mata bahagia jatuh tanpa bisa ditahan.“Iya… aku mau,” jawab Salbil lirih.Roly tersenyum lega dan memakaikan cincin di jari manis Salbil.Tak lama kemudian, Roly datang bersama keluarganya menemui orang tua Salbil. Dengan penuh hormat, ia menyampaikan niat baiknya. Keputusan diserahkan kepada Salbil.“Iya, Pah, Mah. Salbil siap,” jawabnya mantap.Restu diberikan dengan doa dan haru.Hari pernikahan pun tiba. Dengan suara lantang dan satu tarikan napas, Roly mengucapkan ijab kabul.“Sah.”Satu kata itu mengubah segalanya. Salbil kini bukan lagi sekretaris CEO, melainkan istri Roly Adi Lian.Malam pertama mereka lalui dengan penuh kehangatan, saling menjaga, dan rasa syukur. Bukan tentang nafsu, melainkan tentang cinta, komitmen, dan awal perjalanan baru sebagai suami istri. Subuh pertama mereka jalani bersama, berdiri sejajar dalam doa, memohon rumah tangga yang sakinah.Hari-hari berikutnya diisi tawa, kerja keras, dan kebersamaan. Di kantor, mereka tetap profesional. Di luar kantor, mereka adalah pasangan yang saling menguatkan.Salbil menemukan rumah dalam diri Roly. Roly menemukan ketenangan dalam diri Salbil. Bukan karena hidup tanpa masalah, tetapi karena mereka selalu memilih untuk pulang satu sama lain.Tamat.
My Digisexual CEO
"Blackpink!!Ah yeah...Ay yeah...Blackpink!!chakan eolgure geureochi mothan taedo..."nada dering favoritnya lagu Kpop girl membuat Jolie terperanjat.Tangannya berusaha menggapai telepon genggam OPPO F9 di meja dekat tempat tidurnya.Dia mendekatkan telepon genggam ke telinganya dalam keadaan setengah sadar.Kepalanya berat dan pusing karena baru malam ini dia bisa tidur agak nyenyak setelah beberapa hari kumat penyakit insomnianya."Halo..."suara Jolie pelan sekali"Lie...Lie..tolong..tolong..Akhh...Hentikan !!!"terdengar suara parau si penelepon"Halo..Halo.."(hening..tidak ada jawaban..namun terdengar barang pecah dibanting dan samar-samar terdengar tangisan bocah lelaki).Lalu tutt...tuttt...telepon terputus.Jolie memicingkan matanya untuk memeriksa nomor dan waktu si penelepon."Haissshh...nomor tak dikenal..jam 1 dini hari" gerutunyaDia meletakkan kembali telepon genggamnya,menarik selimutnya karena kedinginan dan kembali tidur.Sudah sepekan ini hujan terus mengguyur kota Bandung saat menjelang magrib hingga pagi hari,membuat udara jadi adem dan banjir di beberapa daerah.Orang-orang jadi ogah untuk keluar rumah jika tak ada urusan penting ataupun mendadak.Nada dering berjudul Ddu..Ddu..Ddu..Du milik grupband Blackpink kembali melantun memecah keheningan malam.Terus berulang dan cukup lama hingga Jolie tidak tahan lagi,dia bangun dan segera meraih telepon genggamnya."Sapa ni..saya akan lapor polisi."Jolie menjawab ketus."Kak Jolie...tolong ibu,kak..."suara parau bocah lelaki si penelepon."Plakkkk......!!!"terdengar suara tamparan keras"Bruk...."terdengar suara ponsel jatuh"Brakkkk....mati kau...perempuan tua tak tau diri"terdengar samar-samar bunyi seperti sesuatu dibenturkan ke bidang yang keras."Tidak...tidak.....hentikan...jangan pukul ibuku....." terdengar suara tangis bocah lelaki yang meraung-raung."Halo...halo...Rudy.....kamu kah itu,dek?" sahut Jolie yang semakin penasaran.Dia mengernyitkan dahi lalu matanya membelalak,dadanya sesak,berkeringat dingin,tangan dan tubuhnya gemetar,otaknya kacau seketika karena teringat kelakuan bejat ayah tirinya kalau sedang mabuk ataupun kalah judi."Ha..ha..ha..."tawa keras lelaki bersuara bas."Kirimkan 20 juta besok kalau kamu masih ingin melihat ibu dan adikmu"ancam lelaki ituTut..tut...jaringan terputusJolie menggertakkan gerahamnya,menggepalkan tangan kanannya.Kini mata dipenuhi api kemarahan."Saya akan membunuhmu hari ini juga..dasar pria jahanam."umpat Jolie dalam hati.Dia sudah geram dan tidak tahan lagi melihat ibu dan adiknya berulang kali disiksa lelaki itu.Jolie bergegas meraih kunci motor,jaket dan jas hujan turun ke lantai pertama kosan nya.Diselipkannya sebilah pisau kecil dibalut koran ke dalam jaketnya,pisau yang biasa dipakainya untuk memotong buah-buahan.Saat itu,hujan masih cukup deras dan petir bersahutan,namun tak dihiraukannya.Diterjangnya hujan itu,dipacu sekencang-kencangnya sepeda motor matic Vario merah menuju ke rumah ayah tirinya.Jalanan sepi,gelap,sedikit banjir dan licin namun dia tak peduli karena saat itu yang terbesit benaknya hanyalah keinginan untuk segera menyelamatkan nyawa ibu dan adiknya.Jarak tempat kos Jolie lumayan jauh dari rumah ayah tirinya.Biasanya perlu sekitar 1 jam bagi Jolie untuk sampai kalau jalanan tidak begitu macet,terkadang hampir 2 jam kalau jalanan macet sekali.Dan itu juga yang menjadi alasan utama dirinya sering berdebat dengan ibunya dan memilih untuk tinggal di kos dekat kantornya.Awalnya ibunya menolak mentah-mentah,tapi seiring dengan seringnya terjadi perdebatan dan bujuk rayu Jolie akhirnya dirinya diizinkan pindah.Alasan paling mendasar ibunya mengizinkan karena tidak tega melihat putri semata wayangnya yang selalu terburu-buru berangkat kerja dan pulang kerja larut malam.Namun malam ini,dalam waktu 30 menit saja Jolie sudah tiba di tujuan.Bergegas dia turun dari motornya,dibuang jas hujannya,membuka pagar rumah ayah tirinya yang selalu tak pernah dikunci dan berlari ke teras.Digedornya sekuat tenaga pintu rumah ayah tirinya sambil berteriak histeris,"Ibu....Rudy....cepat buka pintu...Ibu..."Tidak ada jawaban.Sayup-sayup Jolie mendengar suara barang-barang pecah dari balik pintu dan tangis pilu wanita tua.Itu semakin membuat darahnya mendidih,dia berusaha mendobrak pintu tapi malahan tubuhnya yang mungil itu terpelanting ke belakang.Jolie tak habis akal,dia berjalan menjauhi pintu dan berlari kencang menabrak pintu dengan bahu kanannya.Dia terus mengulanginya sampai....Brakkkk....Brakkkk....Akhirnyapintu ruang tamu terbuka,Jolie tersungkur jatuh meluncur masuk kedalamnya.Jolie semakin panik melihat adiknya yang terkulai lemas pingsan didekat lemari kaca di sudut ruangan.Pipinya semakin basah akibat air mata yangtak berhenti turun dan semakin deras saat melihat dahi ibunya yang bercucurandarah,leher dicekik,wajah bengkak,memar dan pucat,mulutnya menganga,nafas tersenggal-senggal berusaha bersuara untuk meminta tolong.Jolie segera bangun dan sekuat tenaga menarik tangan ayah tirinya agar ibunya bisa terlepas dari cekikannya.Emosi ayah tirinya semakin tinggi,dikibaskan tangan kanannya dan tubuh mungil Jolie terhempas jatuh terpelanting membentur meja.Ayah tirinya dulunya seorang tentara pasukan khusus,berbadan tinggi,besar,kekar dan kuat.Setelah pensiun,dengan dana pensiunan,ayah tirinya membuka toko menjual seragam dan berbagai aksesoris tentara bersama beberapa teman sejawatnya.Tapi usaha itu tidak berjalan mulus dan tutup.Sejak saat itu lah ayah tirinya sering bermabuk-mabukkan dan menganiaya mereka bila kehabisan uang.Ibunya membuka warung kecil-kecilan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.Jolie selalu membantu ibunya sepulang sekolah.Belum lagi sempat Jolie bangkit.Lelaki itu menghampirinya.Mata Jolie membulat,jantungnya berdegup kencang tak karuan.Perasaan takut kini membalut hatinya.Seseorang yang sangat ditakuti dan dibencinya berdiri di hadapannya.Jolie mundur saat pria paruh baya itu mendekatinya.Wajah Jolie tampak pucatAyah tirinya menatap Jolie dengan tatapan beringas.Tiba-tiba.....Plakkk!!!Plakkk!!!Tamparan keras beruntun itu mendarat di pipi kanan dan kiri Jolie hingga menimbulkan bekas merah dan membuat tepi bibir Jolie berdarah.Jolie memegang pipinya yang terasa panas."Mana uangnya??.."tanya lelaki itu dengan nada suara tinggi."Kamu pikir bisa menyelamatkan ibu dan adikmu??jangan mimpi !!!"lanjutnyaJolie hanya diam membisu menahan rasa sakit dengan kepala tertunduk dalam.Dan pastinya hal itu membuat Jolie semakin kesal dan marahTanpa terduga pria itu menjambak rambut Jolie dan membuat dirinya memandang ke wajahnya secara paksa."ARRGGGG!!!"Jolie mengerang kesakitan akibat jambakan ayah tirinya yang begitu kuat menarik rambutnya"Ampun yah,sa—kittt."Ucap Jolie lirihJolie berusaha melepaskan tangan ayah tirinya yang menjambak rambutnya begitu kuat,namun sia-sia.Dia tidak bisa menandingi kekuatan fisik ayah tirinya"Mana uangnya???"lelaki itu mengulangi kalimat itu dengan bentakan keras.Jolie menggeleng pelan.Karena tidak puas dengan jawaban Jolie,emosi ayah tirinya semakin melonjak.Pria itu menggepalkan tangannya dengan kuat.Lalu tanpa berfikir,dia menghempaskan tubuh Jolie terbentur sudut lemari TV dengan keras"Arrggghh !!!"Jolie kembali mengerang kesakitan.Rasa nyeri merambat cepat ke seluruh tulang punggung dan membuat nafasnya menjadi sesakBelum lagi rasa nyeri di punggung Jolie.Pria itu kembali menendang tubuh Jolie hingga posisi tubuh Jolie yang duduk menjadi tersungkur di lantai.Tapi ayah tirinya belum puas.Pria paruh baya itu mengambil pemukul bola kasti yang tergeletak di samping lemari TV yang berada di belakang Jolie,lalu memukuli tubuh Jolie dengan membabi buta."Ampun,Yah..."pekik Jolie sembari meringis menahan sakit"Sakitttt,Yah...jangan pukul lagi."mohon Jolie tak berdaya,tapi ayah tirinya seperti tuli dan tak mendengar ucapan Jolie.Dia masih memukuli Jolie tanpa ampun.Tubuh Jolie meringkuk sempurna.Dapat ditebak bahwa kini tubuh yang ada di balik jaket itu sudah sudah tercetak banyak memar biru akibat pukulan ayah tirinya.Jolie tak mampu melawan.Dia sudah tak berdaya.Rasa sakit yang menyerang kepalanya dan sekujur tubuhnya sudah cukup untuk melumpuhkan gerakan Jolie.Tapi Jolie masih tak menyerah,dia kembali melancarkan serangan.Bug!Pria itu mengayunkan lagi pemukul bola kasti ke tubuh JoliePukulan pertamaPukulan keduaBercak darah bercucuran mengalir tercetak di jaket Jolie.Jolie memejamkan mata dengan kerutan di kening.Menahan rasa sakit luar biasa yang terus menyerang.Air mata mengalir deras di pipinya.Tak ada yang bisa dia lakukan saat seperti ini,hanya pasrah dan menerima semua hingga ayah tirinya puas memukulnya.Ini bukan pertama kalinya dia dipukuli oleh ayah tirinya,dulu sewaktu Jolie masih SMA sangat sering disiksa oleh ayah tirinya.Jadi Jolie tahu benar,bahwa melawan bukanlah hal yang terbaik.Karena itu hanya akan membuat ayah tirinya semakin kalap dan menyiksanya semakin brutal......Sementara di samping rumah,Pak Darwin yang sedang terlelap di kamar terbangun akibat suara gaduh di dini hari.Dahinyaberkerut dan berusaha menajamkan pendengarannya untuk mencari asal usul suara gaduh.Namun tiga detik kemudian matanya membelalak saat tiba-tiba terlintas di kepalanya "Pak Jacky"Firasat buruk muncul di hatinya.Spontan,pria itu berlari ke luar rumah.Meyakinkan hatinya hal buruk di benaknya tidak benar-benar terjadi.Tapi kenyataan memang tragis.Di depannya,Pak Darwin melihat Jolie disiksa ayahnya menggunakan pemukul bola kasti.Ibu Jolie yang tergeletak bersimbah darah di lantai,adik Jolie yang pingsan di dekat lemari kaca di sudut ruangan.Melihat pemandangan itu,Pak Darwin dengan tangan gemetaran merogoh ponsel saku piyama dan menekan tombol ponsel untuk menghubungi polisi setempat."CUKUP,PAK JACKY!!!"teriak Pak Darwin dengan suara lantang"Kamu bisa membunuhnya."pinta Pak Darwin dengan suara bergetarNamun,ntah setan apa yang merasuki Jolie saat itu.Jolie mencabut pisau kecil dari jaketnya dan menyerang ayah tirinya yang sedang lengah.Serangan itu mengenai tangan ayah tirinya"AUCHHH"ayah tirinya merintih kesakitan"Plang..."pemukul bola kasti terjatuhJolie melanjutkan serangan tapi berhasil di tahan oleh ayah tirinya.Kedua tangan Jolie ditangkap,ditahan dan digenggam erat oleh ayahnya.Mereka saling mengadu kekuatan.Tangan mereka mengayun ke kanan ke kiri terus bergantian berulang kali.Jolie berusaha menarik tangan ayah tirinya sekuat tenaga dan mengarahkan pisau itu ke dada ayah tirinya.Tapi usahanya sia-siaTiba-tiba..pisau itu berbalik arah"Jleb....."pisau itu tertancap tepat di perut kiri Jolie.Darah mengucur deras dari perut kirinyaAyah tirinya melepas genggaman tangannya.Mundur beberapa langkah.Matanya membelalak.Mulutnya ternganga.Kedua tangannya berlumuran darah.Muka terkejut serasa tak percaya kalau Jolie secara sengaja menarik dan menancapkan pisau itu ke arah perutnya sendiri.Jolie terhuyung-huyung jatuh ke belakang sambil memegang pisau yang masih tertancap di perut kirinya.Kedua tangannya berlumuran darah menetes ke lantai.Pandanganya kabur,tubuhnya terkulai lemas di lantaiSeulas senyum di sudut bibir Jolie.Senyum puas.Jauh di relung hati Jolie bersyukur kepada Tuhan,karena rencananya berhasil.Tuhan telah memberinya jalan dan penyelamat terbaik walaupun rencana itu hampir merenggut nyawanya.Mungkin terkesan gila karena Jolie sengaja menancapkan pisau ke perutnya,tapi Jolie berpikiran lain.Dia sengaja membuat dirinya terkesan sebagai korban pembunuhan ayah tirinya.Dengan demikian ayah tirinya akan ditangkap dan dipenjara.Jolie,ibu dan adiknya dapat bebas dari siksaan dan amukan ayah tirinya.Perlahan pandangan Jolie mulai gelap,menutup mata,samar-samar dia masih mendengar bunyi sirine mobil polisi sebelum dirinya sepenuhnya kehilangan kesadaran.Pak Darwin memegang tubuhnya,mengguncangnya dan berteriak histeris,"Nak Jolie...bangun,Nak.....panggilkan ambulans...cepatttt."Malam itu menjadi malam panjang tak terlupakan bagi Jolie.Betapa tidak,Jolie gadis bertubuh mungil langsing dan lemah lembut nekat bertarung dengan ayah tirinya yang bertubuh kekar,kuat,mantan tentara itu dan yang paling penting dan membuatnya tersenyum puas dan lega adalah jebakannya berhasil.Kini mereka bertiga dapat hidup dengan aman dan damai"Ughhh...."suara pelan Jolie kesakitan pun terdengar.Gadis itu telah sadar.Namun tubuhnya masih sangat lemah dan tak berdaya.Membuatnya tak bisa menggerakkan tubuhnya.Bahkan untuk membuka kelopak mata saja terasa begitu berat.Orang yang tengah mengendap melangkah perlahan ke arah pintu keluar ruangan berhenti dan mematung.Dia mendengar suara Jolie mengerang kesakitan.Lalu dia berbalik dan berjalan cepat menghampirinya.Aroma obat-obatan yang menyengat dan mengusik indra penciuman Jolie.Membuat tidurnya terganggu dan dengan sangat perlahan sekali kelopak matanya bergerak terbuka.Biasan cahaya matahari yang menembus tirai tipis jendela yang bermotif bunga-bunga terasa begitu menyilaukan,membuat Jolie mengerjapkan matanya perlahan,menyesuaikan dengan pencahayaan di dalam ruangan ber AC dan tertata apik itu."Jol,kau sudah sadar?"Amanda bertanya,menatap Jolie penuh semangat.Jolie hanya menatap Amanda dengan tatapan datar."Apa ada yang terasa sakit" tanya Amanda penuh kekhawatiranJolie menggeleng pelan membuat Amanda lega."Apa kau tau betapa kaget dan paniknya diriku ketika mendengar kabar kau masuk rumah sakit?Astaga,Jolie!!"kata Amanda sambil memegang lembut bahu sahabatnya itu."Siapa?"ucap Jolie pelan.Gadis itu baru berhasil menyadari kalau bukanlah sahabatnya itu yang membawanya ke rumah sakit."Hah..."Amanda melongo sambil mengerlingkan mata nya."Ah...maksudmu,siapa yang membawamu ke rumah sakit?"lanjutnyaJolie mengangguk pelan.Dia masih lemah dan sepertinya gadis itu harus beristirahat total di rumah sakit selama beberapa hari lagiPerlahan pintu ruang VIP terbuka,menampilkan sosok pria paruh baya seusia ayah tirinya yang berjalan cepat menghampiri saat menyadari Jolie sudah sadar dari pingsannya"Bagaimana keadaanmu,Nak Jolie?"Masih merasakan sakit?Di mana?"todong pak Darwin dengan berbagai pertanyaan yang menunjukkan keprihatinannya sembari memeriksa tubuh Jolie perlahan.Pria itu adalah Pak Darwin,pria paruh baya yang tinggal di sebelah rumah ayah tirinya.Pak Darwin sangat menyayanginya dan menganggapnya sebagai putri kandungnya.Dia sering bercerita kalau saja putri semata wayangnya tidak meninggal saat itu karena penyakit leukimia yang merenggut nyawanya,maka sekarang putrinya sudah sebaya dengan Jolie.Pak Darwin tinggal sendirian.Istrinya sudah lama meninggal saat putrinya masih balita karena penyakit TBC yang diidapnya,sedangkan putranya bekerja sebagai TKI di Malaysia.Dua tahun sekali,putranya pulang mengunjungi ayahnya.Itupun hanya selama seminggu saja,setelah itu dia harus kembali bekerja.Putranya sebulan sekali videocall dengan ayahnya untuk melepas rindu dan mengabari keadaan terbarunyaSaat masih sekolah dulu,Jolie dan Amanda sering bermain ke rumah pak Darwin.Pak Darwin jago main catur.Jolie dan Amanda belajar banyak trik main catur darinya.Terbukti dari koleksi piala dan medali di lemari kaca rumah ayah tirinya.Jolie berhasil menyabet medali emas dalam pertandingan catur se-Indonesia.Dan pria ini jugalah yang melapor polisi dan membawa Jolie,ibunya,dan adiknya ke rumah sakit."Dia penyelamat hidup mereka yang diutus Tuhan."pikirnyaSedangkan Amanda adalah sahabat karibnya sejak SMP hingga sekarang.Gadis berparas blasteran Indo-Belanda,cantik beralis tebal dan berbulu mata lentik,hidung mancung,bertubuh tinggi langsing padat pujaan para pria.Jolie masih ingat kalau dulunya sering menjadi dokter cintanya saat mereka masih di bangku sekolah.Banyak pria yang berusaha berkencan dengan sahabatnya,namun tak satupun yang berhasil menaklukkan hatinya. Amanda dari keluarga berada.Ayahnya seorang pengusaha salah satu travel yang lumayan terkenal di kota Bandung.Walaupun begitu,sahabatnya ini sama sekali tidak pernah menyombongkan diri.Saat ini,dia bekerja membantu usaha ayahnya itu baik menjadi penjual tiket online ataupun menjadi tur leader sekalipun memang diperlukan.Memang sudah sejak di bangku sekolah,Amanda hobi berpetualang baik itu menjelejah wisata lokal ataupun mancanegara.Mereka berdua sering bertukar cerita,saling berbagi suka dan duka.Keduanya sudah seperti saudara kandung.Jolie merasa sangat bersyukur,bahagia dan beruntung disayangi dan dicintai sahabatnya dan Pak Darwin"Apa Nak Jolie masih merasa pusing?"suara Pak Darwin membuyarkan lamunan Jolie."Sedikit,Pak...,"balas Jolie pelan.Dia seakan tersadar,spontan langsung menyentuh perut bagian kirinya pelan.Meraba perutnya dan memeriksa luka tusukannya."Sudah dioperasi dan dijahit lukamu sama dokter,Nak."kata Pak DarwinJolie hanya diam,tak menanggapi perkataan Pak DarwinJolie berusaha bangkit,tapi usahanya sia-sia.Tubuhnya masih terlalu lemah,nyeri di punggungnya masih terasa,sakit di jahitan akibat luka tusukkan juga masih sangat terasa."Dengar,Nak...Bapak tak ingin luka jahitanmu terbuka kembali.Jadi kau harus beristirahat penuh selama tiga hari ke depan.""Tidak.Aku tidak mau"bantah Jolie"Astaga,Jol.Berhentilah bersikap keras kepala.Itu bukan keinginan Pak Darwin semata.Itu memang perintah dari dokter yang merawatmu.Jika kau terus memaksakan dirimu,kau hanya akan memperlambat proses penyembuhan lukamu itu.Apa kau ingin ibumu bersedih lagi melihatmu?"Amanda membantu Pak Darwin meyakinkan Jolie"Tidak..Tidak.."balas Jolie"Aku tak ingin dirawat di rumah sakit.Aku benci rumah sakit.Aku ingin pulang.Aku ingin bertemu ibu dan Rudy."Jolie mulai terisak"Di mana ibuku?Di mana Rudy?Apakah mereka baik-baik saja?"tanya Jolie kebingungan"Mereka sudah pulang dua hari yang lalu.Sementara ini mereka tinggal bersamaku.Rumah ayahmu masih dibatasi garis pita kuning polisi."jawab Pak Darwin"Sudah berapa lama saya dirawat?"Jolie kembali bertanya"Sekitar empat hari,Jol."balas Amanda"Uda...uda...yang paling penting sekarang kamu fokus pulihkan dirimu,jangan buat ibumu semakin khawatir.Kasihan ibumu,Nak."Pak Darwin berusaha menenangkan Jolie"Kamu tenang saja,Nak....hal-hal lain biar bapak dan Nak manda yang mengurusnya."imbuhnyaJolie menghela nafas lega saat mengetahui kalau ibu dan adiknya dalam keadaan aman.Penuturan Pak Darwin benar-benar menenangkan hati,jiwa dan pikirannya."Sekarang misinya utamanya adalah harus bisa cepat pulih,keluar dari rumah sakit,dan kembali bekerja"pikir Jolie dalam hati"Mulai saat ini,saya akan melindungi,berusaha membahagiakan dan tidak pernah akan membiarkan siapapun mencelakai ibu dan adikku lagi."sumpah Jolie dalam hati"Maaf Pak...Jol...saya pamit pulang dulu."Amanda kembali membuka pembicaraan"Koq cepat..."Jolie menoleh ke arah Amanda yang sedang duduk di sofa"Iya,nih..kerjaanku masih banyak dan numpuk.Besok saat rehat makan siang saya akan mampir lagi,Jol."tambahnya"Hati-hati yah,Nak Manda...semoga harimu lancar dan diberikan rejeki melimpah."kata Pak DarwinAmanda memeluk,mencium pelan pipi kanan dan kiri Jolie.Berjalan ke arah Pak Darwin dan minta pamit,sungkem,kemudian berlalu dan keluar ruanganPak Darwin kembali menoleh ke arahku dan dengan mata yang teduh dia berkata,"Mungkin dalam 2 hari ini polisi akan datang mengunjungimu.Mereka akan mengintrogasimu bila keadaanmu sudah membaik.""Bapak akan pulang dulu dan membiarkanmu beristirahat....Ada urusan yang masih harus bapak selesaikan.Nanti malam bapak akan mampir lagi bersama ibu dan adikmu setelah selesai makan malam."sambungnyaPak Darwin meninggalkan Jolie sendirian.Jolie menatapi langit-langit ruangan.Pikirannya melayang.Hatinya kembali berkecamuk mengingat biaya rumah sakit dan pengobatan yang harus dibayarnya dengan tabungannya yang sudah pasti jauh dari kata cukup,bagaimana rencana hidup selanjutnya,mampukah dia membiayai sekolah adiknya,sanggupkah dia menjadi tulang punggung bagi keluarganya dengan gajinya yang masih tak begitu tinggi,akankah ayah tirinya kembali membalas dendam,beragam pertanyaan muncul di benaknya membuat pikirannya kembali kacau."Ahhh..persetan dengan semua itu."umpat Jolie dalam hati sambil mengacak-acak rambutnya"Yang pasti saya harus cepat keluar dari rumah sakit ini sebelum tagihan rumah sakitnya semakin bengkak."tekad JolieJolie menarik selimut hingga menutupi seluruh bagian tubuhnya,menggerutu tak jelas dibalik selimut dan kembali tidur.........Srek....srek...kening Jolie berkerut,mata masih terpejam erat saat mendengar suara jelas krasak krusuk di dekatnya."Eisshhh....apaan sih???mengganggu jah..." gerutu JolieKarena masih pusing sehabis bangun tidur,Jolie melirik malas jam dinding di ruangan dan baru menyadari kalau sudah waktunya makan malam dan ternyata adiknya Rudy yang tiba-tiba duduk di atas ranjang tempatnya berbaring penyebab suara krasak krusuk itu."Dasar bocah pengganggu...awas lu..." bereng si JolieRudy tertunduk memainkan jari-jarinya dan meminta maaf"Buuuu....Kak Jolie sudah bangun." lapornya.Rudy turun dari ranjang dan berhambur ke arah ibunyaTampak Ibunya yang tengah berbincang serius dengan Pak Darwin.Laporan Rudy tak ditanggapi keduanya.Rudy yang merasa dicuekin,mengulangi laporannya sambil memeluk ibunya."Nak,gimana perasaanmu?sudah baikkan?" ibu menghampiri Jolie"Ibu ada bawain bubur,telur dan ikan.Ayuk..dimakan...perutmu perlu diisi biar cepat sehat,Nak." bujuk ibuJolie menatap lekat-lekat wajah ibunya.Di sekitar matanya yang masih lebam,keningnya yang masih dioles obat,pipinya yang masih sedikit bengkak dan bekas luka di sudut bibir kanannya yang masih jelas.Jolie iba melihat ibunya yang malang.Paras ibunya yang molek menurun ke Jolie,begitu juga dengan sifat ayunya.Tapi sepertinya ibu selalu kurang beruntung dalam pernikahan.Dengan ayah tirinya,ini sudah merupakan pernikahannya yang ketiga.Pernikahan pertama terjadi karena desakan perjodohan yang diatur nenek pupus di tengah jalan,suami pertama menceraikannya karena ketahuan selingkuh dengan rekan kerjanya.Pernikahan pertamanya tidak bertahan sampai 1 tahun,hanya 8 bulan saja.Dari pernikahan pertama,ibu belum sempat dikarunia anak.Pernikahan kedua adalah pernikahan dengan ayah Jolie.Dari pernikahan ini,ibu melahirkan Jolie dan Rudy.Namun nasib berkata lain,ayah Jolie menghadap yang Kuasa karena kecelakaan saat bekerja.Sejak saat itu,ibunya bekerja keras membesarkan mereka hingga bertemu dengan ayah tirinya.Awalnya pernikahan dengan ayah tirinya baik-baik saja hingga saat dana pensiun ludes dan ayah tirinya mulai pulang larut dalam keadaan mabuk dan berkelakuan kasar.Sungguh tragis kisah cinta ibunya itu.Itulah yang dirasakan Jolie saat ini"Betul kata ibumu,Nak Jolie,makan sesuap dua suap juga tak apa,jangan biarkan perutmu kosong."sahut Pak Darwin dari seberang ranjang JolieTiba-tiba Jolie teringat dengan kata-kata Pak Darwin tadi siang"Apakah benar lusa polisi akan datang mengintrogasiku?" ada nada khawatir di pertanyaan itu"Ya..polisi butuh keteranganmu selaku korban." jelas Pak Darwin"Dia masih syok dan lemah,pak..mungkin beberapa hari nanti dia baru bisa dimintai keterangan." ibu membela Jolie"Sudah tenanglah...,bapak akan mendampingimu melewati proses yang mungkin akan melelahkan sampai putusan untuk ayahmu ditetapkan sepadan dengan apa yang telah diperbuatnya terhadap kalian." ucap Pak Darwin"Bapak akan datang lagi kapan pun bila tiba-tiba polisi datang ke sini meminta keteranganku sebagai korban." Jolie berusaha memastikan"Ceritakan saja apa yang sebenarnya terjadi,Nak." jawab Pak Darwin santai"Aku tulus meminta maaf dan berterima kasih karena sudah merepotkan Bapak.Bapak jadi ikut terseret ke dalam masalah keluarga kami." ucap Jolie tertunduk,matanya berkaca-kaca"Makanlah..."ucap Pak Darwin.Jolie mendongakkan kepala menatap Pak Darwin.Pak Darwin menghapus air mata Jolie"Tolong beritahu polisi besok jam makan siang,saya siap diintrogasi." ucap Jolie dengan senyum..........Tok..tok..tok...suara pintu ruangan VIP tempat Jolie dirawat diketukSerentak seluruh penghuni ruangan itu menoleh ke arah datangnya bunyi ketukanTok..tok...tok..."Assalamualaikum.."terdengar suara ketukan lagi namun kali ini disertai salam"Kami polisi dari divisi tindak kriminal ingin mengintrogasi Nona Jolie Marthawati."terdengar suara lantang tegas dari balik pintuJolie dan Pak Darwin saling menatap dalam kebingungan"Koq jadi sekarang,Pak?" Jolie berbisik panik"Benahi dan tenangkan dirimu,Nak."perintah Pak Darwin sambil menggenggam kedua tangan Jolie"Wa'alaikumsalam..." sahut Pak Darwin sambil bergegas berjalan ke arah pintu"Silahkan masuk,bapak-bapak." Pak Darwin mempersilahkan mereka masuk"Selamat malam,ibu dan Nona Jolie.Perkenalkan kami dari divisi tindak kriminal ditugaskan untuk mewawancarai Nona Jolie Marthawati selaku korban penikaman dan kekerasan rumah tangga." kata salah satu polisi tinggi besar berkumis lebat dengan seragam dinas yang lengkap"iy..iya,Pak...saya Jolie Marthawati." ucap Jolie terbata-bata.Jolie merasa sangat gugup sekali sebab baru ini pertama kalinya dalam sejarah hidupnya didatangi dan diintrogasai polisi.Tapi untung ada ibu dan Pak Darwin yang menemaninya.Terutama Pak Darwin yang terlihat selalu siaga membantu dan mengarahkannya.Introgasi berlangsung cukup lama.Hampir dua jam."Baiklah...hanya ini saja keterangan yang kami perlukan.Segala ucapan dan pengakuanmu dalam rekaman ini akan dijadikan bukti dalam pengadilan nantinya." kata polisi berkumis lebat sambil menunjuk alat perekam yang dipegang rekannya itu."Terima kasih atas kerjasamanya.Selamat malam dan selamat beristirahat." sambungnyaPak Darwin dan ibu mengantar kedua polisi itu.Jolie hanya menyaksikan mereka berlalu dari ruangan dari tempat tidurnya.Lega rasanya"Kak Jolie keren," puji Rudy"Keren apaan...diem lu.." celetuk JoliePadahal dalam hatinya senang tak kepalang dipuji keren oleh adiknya.Pura-pura jutek biar disegani disegani adiknya dan terkesan berwibawa.Hari sudah semakin sore.Matahari sudah mulai beranjak dari peraduan hingga langit di sebelah Barat terlihat mulai gelap.Ratusan lampu mulai dinyalakan.Jolie mempercepat langkah di antara keramaian orang lalu lalang.Hari ini akhir pekan di awal bulan,jalanan ramai kenderaan lalu lalang,kemacetan parah,kafe,restoran,toko ramai dikunjungi orang untuk melepas kepenatan setelah seminggu penuh beraktivitas rutin.Swalayan ramai dikerumunin orang.Para pengunjung sudah tidak sabar lagi memborong barang berdiskon besar.Wajah-wajah asing yang berseri membuat Jolie ikut merasakan kebahagiaan mereka.Maklum pada baru gajian.Jolie tiba-tiba teringat ibu,adiknya dan Pak Darwin.Sudah dua minggu sejak kejadian itu,Jolie belum sempat mengunjungi ibu,adik dan Pak Darwin.Kerjaan di kantornya tertunda dan menumpuk,juga banyak hal yang harus diurus dan diselesaikannya.Salah satunya adalah asuransi kesehatannya.Jolie merasa sangat terselamatkan finansialnya saat dirinya dirawat di rumah sakit saat itu.Proteksi dan jaminan yang diberikan asuransi Manulifenya itu benar-benar perlu diacungkan dua jempol dan tidak perlu diragukan lagi manfaat yang diterimanya.Hal itu terbukti dari seluruh tagihan rumah sakitnya dibayar penuh oleh asuransi ini.Jolie merasa bangga telah membuat keputusan yang tepat dua tahun yang lalu untuk menitipkan 20% dari gajinya di lembaga keuangan yang bukan bank ini.Kini dia tinggal memetik hasil dan merasakan faedahnya.Jolie tak berani membayangkan apa jadinya jika saat itu tidak ada asuransi yang mencover dirinya itu.Jolie berencana mengunjungi ibu,adik dan Pak Darwin malam ini.Jolie menyebrang dan berjalan cepat menuju ke swalayan yang tak begitu jauh dari kantornya.Dia akan mampir ke swalayan tersebut terlebih dahulu sebelum berangkat ke rumah pak Darwin"Astagaaa !!!" Jolie memekik kaget.Jolie memegang dadanya yang berdegup kencang.Sedari tadi dia sibuk memilih dan memilah sayuran dan buah-buahan yang akan dibawanya untuk ibu,adiknya dan Pak Darwin,hingga seseorang menepuk bahunya cukup kerasJolie menoleh ke belakang dan dilihatnya sosok pria kurus jangkung berkacamata berseragam kantor sedang tersenyum manis padanya."Eh...hai,Ted.." sapa Jolie singkat"Aku sedang ada urusan di sekitar sini.Aku melihatmu masuk ke sini.Jadi aku ikut masuk." terang TeddyTeddy adalah mantan Jolie saat SMA dulu.Mereka pernah dekat dan menjalin hubungan cinta yang singkat.Hanya sekitar 1 bulan.Saat itu Jolie yang memutuskan hubungan sepihak karena dirinya benar-benar sedang ingin fokus dengan sekolahnya.Mereka kehilangan kontek saat lulus SMA dan Teddy diharuskan melanjutkan studinya di Singapura.Langkah Teddy tak henti mengikuti Jolie yang sekarang menuju ke kasir."Sini...aku yang bawain.." ucap Teddy"Gak usah...kecil-kecil gini aku dulu sabuk hitam di taekwando loh." pamer Jolie"ihhh...si mungil sombong." balas Teddy tak mau kalah dan ikut antri dibelakang JolieSetelah menyelesaikan semua transaksi di kasir.Mereka berjalan keluar swalayan"Parkir di mana motormu,Jol ?" tanya Teddy"Tadi pagi saya naek gojek pergi kerja,terus dari kantorku jalan kaki ke sini." bala Jolie sambil menunjuk ke gedung kantornya yang ada di seberang swalayan."Yuk...saya anterin...Sini belanjaanmu." Teddy meraih kantung belanjaan dan berjalan ke arah parkiran.Jolie mengikuti langkah Teddy dari belakang.Dia sama sekali tidak menolak tawaran Teddy kali ini karena dia juga ingin cepat-cepat bertemuSetelah menggantung barang belanjaan Jolie,Teddy memastikan Jolie sudah memakai helm dan posisi duduk gadis di belakangnya sudah aman.Teddy melajukan motor Honda CBR250RR hitamnya cepat membelah jalan raya.Pohon-pohon seperti berlarian lalu tertinggal.Teddy melihat ke arah spion dan melihat Jolie berpegangan pada jok besi belakang."Pegangan yang bener.Nanti kalo jatuh,saya juga yang repot." terdengar samar-samar suara teddy yang bersaing dengan hiruk pikuk lalu lintas jalan raya dan deru angin"Uda pegangan koq" Jolie berteriak dari belakang"Pegangan saya aja,biar lebih aman." balas Teddy"Okei..." kedua lengan Jolie mencengkram kuat pundak TeddyTeddy tergelak ,"Hello....saya berasa jadi tukang ojek."Jolie hanya diam,tidak bereaksi sama sekali.Lalu Teddy menarik tangan kiri Jolie dan ditaruh di perutnya"Saya akan ngebut biar cepat sampai.Pegangan kuat di sini." teriak Teddy dari balik helm hitamnya ituSeolah terhipnotis,Jolie lalu memeluk Teddy erat .Pipi kanannya disandarkan di punggung Teddy.Terhirup aroma parfum Teddy yang maskulin.Punggungnya hangat.Tanpa sadar Jolie tersenyum.Teddy mencuri pandang dari spion dan dilihatnya Jolie tersenyum manis.Dia pun menambah laju motor dan kembali memfokuskan pandangan ke jalan raya dan tersenyum.Begitu motor mereka hampir tiba di tujuan.Jolie menarik tubuhnya dan mengarahkan Teddy agar tidak salah arah ataupun kelewatan.Teddy pun mengurangi kecepatan motornya."Kamu kenapa? Malu kepergok tetangga kalo lagi peluk saya?" tanya Teddy sambil memarkirkan motornya.Jolie melepaskan helm yang ia kenakan dan mengembalikannya ke Teddy. Teddy menyerahkan semua barang belajaan Jolie."Ya...iyalah...lu aja yang gak tau kalo warga sini tukang gosip semua." balas Jolie"Emang kenapa kalo kita keliatan mesra? Apa urusannya sama mereka?...Toh dulunya kita pernah dekat dan berpacaran walaupun tak bertahan lama.Wajar-wajar saja,bukan ???" goda TeddyPertanyaan polos Teddy membuat Jolie terperanjat."Ya..ngakk gitu juga.Kita kan juga uda lama putus dan tidak ada apa-apa lagi.Ngakk enak dong kalo orang mikir kita balekkan.Padahal kan kenyataannya enggakk !!!" Jolie berusaha memberi penjelasan"Lho?Jadi kamu maksudmu maunya kita balekkan gitu?" Teddy kembali menggodaWajah Jolie berubah frustasi."Ya..bukan itu...aduh kamu tuh...eh..maksudku..lo itu....!Lo jangan mikir yang aneh-aneh yaaa.." terang Jolie sambil mengusap malu wajahnya yang mulai terasa panas"Hahaha...kamu gemesin deh kalo lagi salah tingkah." Teddy tertawa cekikikkanJolie berbalik dan berlari masuk ke rumah Pak Darwin.Dia meninggalkan Teddy yang masih tertawa terkekeh-kekeh melihat kelakuannya tanpa mengucapkan terima kasih.Teddy menggeleng-gelengkan kepala dan bergumam," dia tidak berubah sama sekali....tetap imut dan lucu"Lalu dia pun menstarter motornya dan pulang dengan perasaan yang sangat bahagia.............Kunjungan Jolie disambut hangat.Begitu dirinya menggeser pagar rumah Pak Darwin,terdengar suara teriakan"Ibu...kak Jolie datang." teriak Rudy dari dalam dan berlari berhamburan ke arah Jolie,memeluknya erat-erat"Rindu kakak yah..." Jolie mengelus pelan kepala adiknya dan mengacak-acak rambutnya"Iya,kak.." Rudy mengangguk-anggukkan kepalanyaIbu muncul dari balik dapur dan memeluk Jolie."Bagaimana kabarmu,Nak?" tanya ibu sembari mencium pipi kiri dan kanan Jolie"Baik,Bu." Jawab Jolie sambil membalas pelukan dan ciuman ibunya"Pak....Jolie datang." ibu menarik diri dari pelukan Jolie dan mengalihkan pandangan ke arah Pak DarwinPak Darwin mengangkat kepalanya dan meletakkan koran.Tersenyum tanpa berkata apa-apa lalu kembali menundukkan kepala ke atas koranIbu kembali ke dapur.Rudy mengikutinya dari belakang.Jolie menghampiri Pak Darwin dan sungkemPak Darwin mengelus lembut kepala Jolie"Bagaimana kabarmu,Nak Jolie?""Pekerjaanmu lancar?""Gimana motormu?masih di bengkel?""Naek apa ke sini?" Pak Darwin angkat bicaraBelum juga Jolie sempat menjawab"Ayahmu akan dipenjara selama dua tahun." lanjutnya"Oh....." Jolie manggut- manggut"Hakim sudah memutuskan hukumannya.Kasus ini sudah selesai." Pak Darwin melepaskan kacamata rabun tua nya dan meletakkan di pangkuannya"Kapan,Pak...maksudku kasusnya selesai?" tanya Jolie penasaran"Minggu lalu.Berita juga sudah diturunkan sesaat setelah putusan ditetapkan.""Semoga di penjara ayahmu dapat merenungkan,menyadari dan memperbaiki perbuatannya.""Semoga Allah menunjukkan jalan terbaik buat ayahmu." kata Pak Darwin"Iya..bener,Pak...Semoga ayah bisa insaf." Jolie mengiyakan perkataan Pak Darwin"Pak....Kak Jolie..." teriak Rudy membuat pembicaraan mereka terhenti dan menoreh ke arah pemilik suara nyaring itu"Ada apa,dek...?" tanya Jolie"Disuruh ibu tuh makan malam." jawab Rudy dan kembali berjalan masuk ke ruang dapurPak Darwin dan Jolie mengikutinya.Jolie menenteng barang belanjaan dan menatanya di kulkasDi meja makan tersaji tiga macam lauk,4 piring nasi dan sepiring besar kuah bakso ikanPak Darwin meminpin doa sabelum makan.Jolie duduk disampingnya.Ibu dan Rudy duduk di seberang mereka"Mari makan." Pak Darwin menyilahkan"Ini rendang jengkol kesukaanmu,Nak." Ibu meletakkan beberapa biji jengkol di atas nasi Jolie dan berkata lagi," Makanlah yang banyak."Ibu paling tahu makanan favorit mutlak Jolie.Jolie bisa menghabiskan tiga piring nasi hanya dengan hidangan jengkol saja.Jolie juga heran dengan tubuhnya yang tetap mungil langsing walaupun nafsu makannya besar.Di sisi lain dia juga bersyukur tidak usah repot dan menderita ikut program diet yang seperti digandrungi para gadis seusianya."Tapi..kemana yah lari gizinya pergi? ke otak? atau apa mungkin dirinya cacingan?" Jolie tersenyum sendiri,geli dengan pikirannya sendiriMereka berbicara panjang lebar,dari timur ke barat sesekali diselingi seloroh-seloroh intim.Memang demikian lah setiap kali acara makan malam di rumah Pak Darwin.Pak Darwin gemar makan sambil bercakap-cakap.Mereka bisa duduk sampai dua atau tiga jam di meja makan.Setelah selesai makan utama,tibalah giliran menikmati buah-buahan segar,ataupun penutup apa saja yang kebetulan dibuat ibu.Ini pun biasa diselingi dengan percakapan-percakapan,candaan.gelak tawa yang memenuhi seluruh ruangan makanHari semakin larut.Semua penghuni rumah itu sudah masuk ke kamar tidur masing-masing.Hanya Jolie yang terlihat masih sibuk mencuci piring,gelas,menyusunnya di rak.Lalu mengelap dan merapikan meja makan"Akhirnya selesai juga.." Jolie memandangi bak cucian,meja dan berdecak kagum.Puas dengan hasil kerjaannya.Bahagia dengan hari-harinyaDiliriknya arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.Hampir pukul sepuluh malam.Jolie menutup lampu ruang dapur,berjalan melewati ruang tamu dan masuk ke kamar tidurnya.Jolie merebahkan tubuh di atas kasur empuknya.Melupakan kewajiban untuk membersihkan diri,matanya mulai terpejam.Bunyi dan getaran ponsel di saku celanya memaksa Jolie membuka mata kembali,merutuk kesal si penelepon yang berani-beraninya mengganggu waktu istirahatnya."Teddy...!!!Apa mulai sekarang kau punya aktivitas rutin menghubungiku larut malam?" sembur Jolie yang sudah melihat nama dan foto penelepon terlebih dahulu.Orang yang diseberang whatsapp tertawa terkekeh-kekeh"Mandi dulu,baru tidur." kata TeddyJolie menghela nafas panjang.Dia juga sudah menduga apa yang akan dikatakan mantan pacarnya ini."Kau paling kenal aku yah !!! ""Ya sudah,bentar lagi deh...""Aku tutup yah."Tanpa mendengar balasan Teddy lagi,Jolie langsung mengakhiri hubungan telepon dan membawa tubuh mungilnya menuju ke kamar mandiTubuh Jolie jadi segar sehabis mandi dan dia kembali masuk ke kamar tidurnya.Kamar tidurnya ini dulunya merupakan kamar tidur anak perempuan Pak Darwin.Kamarnya tidak begitu luas,namun nyaman untuk ditempati.Tata ruangan dan perabotannya tertata apik dan masih sama persis seperti saat putrinya masih hidup.Pak Darwin sengaja tidak merenovasi ataupun merubah tata letak perabotannya.Wallpaper bermotif mini teddy bear berwarna lembut menambah kenyamanan kamar tidurnya.Meja belajar di samping tempat tidur,AC Panasonic putih yang masih terpasang di atas pintu kamar.Tirai jendela biru polos menutupi jendela.Jam dinding petak yang bergantung tepat di atas meja belajar.Foto wisuda Tk putrinya dalam bingkai emas,foto keluarga Pak Darwin yang dimuat dalam bingkai kecil unik,foto Pak Darwin yang memeluk putrinya saat mereka berwisata ditempel di bagian atas lemari meja belajarnya,foto putrinya bersama teman-temannya ditempel di bagian bawah lemari meja belajarnya.Koleksi boneka kecil teddy bearnya yang berjejer tersusun rapi dan bersih di lemari kaca meja belajarnya.Sedangkan kamar tidur yang ditempati Ibu dan Rudy dulunya merupakan kamar tidur putranya.Lebih luas sedikit daripada kamar tidur putranya itu.kamar itu juga sudah lama tak ditempati karena jika putranya berkunjung,dia menemani ayahnya tidur di kamar tidur utama.Kamar yang paling luas di antara ketiganya.Desain nya juga bedaSudah hampir satu jam Jolie berbaring di atas kasur.Golek kanan.Golek kiri.Matanya terpejam,namun dia benar-benar tidak bisa tidur.Bahkan suara detik-detik jarum jam yang berdetak terdengar sangat jelas.Jolie bangun.Dia menghidupkan lampu kamar.Mengambil remote AC dan menurunkan suhu ruangannya.Dia berjalan mondar-mandir mengelilingi kamar.Gadis itu kelihatan gelisah.Otaknya mencari-cari ide agar dirinya bisa lebih cepat terlelap.Berulang kali dia melirik ponsel yang ada di atas kasur,tapi tak ada satupun chattingan masuk yang tampak di ponsel ituJolie kembali ke atas kasur.Mengambil ponsel dan menarik selimut menyelimuti separuh tubuhnya.Jolie mulai melihat aplikasi game yang sudah pernah di download nya.Matanya tertuju pada "Candy Crush".Game yang paling digandrunginya.Tak heran jika level game Candy Crushnya sudah mencapai level 500.Saat insomnia nya kumat dan melanda dirinya,game inilah penghibur dan teman bermainnya"Beep....." ponsel Jolie berbunyi dan bergetar.Tanda ada chattingan Whatsapp yang masuk.Jolie membiarkannya,dia terus bermain"Paling-paling si Teddy lagi kurang kerjaan..." umpat Jolie dalam hati"Beep...Beepppp...Beepp..." ponsel Jolie berbunyi dan bergetar lebih lama.Apalikasi game Candy Crush terhenti.Terpaksa dia keluar dari aplikasi itu"Ihh....sapa sih???" geramnyaJolie memeriksa chattingan Whatsapp yang masuk.Rupanya broadcast dari salah satu temannya di grup Whatsapp.Mereka menamai grup itu "Avengers".Isinya personil personil alumni teman sekolah Jolie pecinta film dan karakter tokoh Avengers saat masih SMABroadcast Whatsapp grup Avengers dari Sabrina tentang lowongan pekerjaan sebagai sekretaris direksi di Jakarta Pusat.Berikut isi broadcastnyaLowongan Kerja Sekretaris DireksiKualifikasi :-Wanita single,berpenampilan menarik,usia max 30 tahun-Bersedia ditempatkan di Jakarta,bekerja lembur dan dinas luar kota/luar negeri-Pendidikan minimal D3 jurusan Sekretaris-Jujur,disiplin dan teliti-Mampu berkomunikasi dan bekerja sama dalam tim-Dapat mengoperasikan Microsoft Office (Word,Excel dan Power Point)-Dapat membuat materi presentasi-Berpengalaman di bidangnya min 1 tahunKirim lamaran kerja dan CV ke gmail hrd_SBRteamJolie menelusuri satu persatu kualifikasinya.Dia merasa dirinya memenuhi semua kriteria yang diminta dan tertarik untuk mencoba mengirim lamaran.Tapi,dia ragu untuk langsung japri ke Sabrina karena sudah larut malam"Tidak ada salahnya saya coba,Toh..kalaupun uda tidur...dia bisa balas keesokkan harinya chattinganku." pikirnyaTelepon saya.Chattingan Jolie dibalas singkat dalam sekejap.Jolie menyentuh logo bergambar telepon di sudut kanan aplikasi Whatsapp dan..."Halo,Jol...apa kabar? lama tak jumpa?" suara Sabrina diseberang telepon"Halo,Rin...baik dan sehat...Maaf yah,telepon larut malam.Ganguin jam istirahatmu." balas Jolie"oh...gak pa pa.Saya masih belum tidur koq.." jawab Sabrina"Saya mau tanya.......""Kamu langsung kirim lamaran dan CV mu via email saja.Nanti saya akan bantu proses." potong Sabrina"Tapi bagaimana dengan tempat tinggal? Apakah perusahaan menyediakannya." Jolie kembali bertanya"Mengenai gaji,bonus,transpor,jamsostek dan fasilitas lain dapat kamu tanyakan saat interview online nantinya setelah ada panggilan resmi melalui email perusahaan." terang Sabrina"Setauku perusahaan tidak menyediakan tempat tinggal bagi karyawan baru.Tapi kamu bisa tinggal di apartemen lamaku untuk sementara." lanjutnya"Oh gitu...,bagusan saya sewa saja apartemenmu itu." tukas Jolie"tenang...itu bisa diatur." jawab Sabrina dengan nada santai"Baik,Rin...terima kasih.Selamat malam dan selamat tidur." balas Jolie"OK..." lalu telepon pun ditutup"ceklek..." lampu kamar Jolie di padamkannya.......Jam menunjukkan pukul setengah lima sore,namun pekerjaan Jolie di kantor sudah rampung semua.Masih ada setengah jam lagi waktu pulang kerja.Beberapa rekan kerja Jolie berkumpul di satu meja,saling bercerita,bergosip dan tertawa sambil makan rujak.Jolie tidak ikut nimbrung.Dia menyalakan kembali laptop di meja kerjanya.Setengah jam itu digunakannya untuk membuat surat lamaran dan CV untuk perusahaan barunya dan juga membuat surat pengunduran diri untuk perusahaan tempatnya bekerja sekarang iniJolie memutuskan untuk mencoba mengirim lamaran dengan harapan dapat diterima sehingga dia dapat mengembangkan karier dan menjadi sukses seperti Sabrina.Dia ingin ibunya bangga dan hidup mereka lebih sejahtera.Namun di sisi lain ternyata banyak hal yang harus dipertimbangkannya mulai dari tempat tinggalnya di Jakarta nantinya,transpor,mencemaskan ibu dan adiknya yang bakalan jauh darinya hingga hal-hal sekecil apapun dipikirkannnya matang-matang."Semoga diterima." gumam Sabrina setelah selesai membuat surat lamaran dan surat pengunduran diri.Dia menutup laptop nya,menyimpannya,meraih tas kerjanya dan beranjak dari tempat duduknya"Fighting,Jolie.." dia mengepalkan semua jemarinya,menariknya kedua tangannya ke arah rusuk dan mengatupkan kedua bibirnya rapat-rapat,berjalan keluar dari kantornya, terus mngulangi kalimat itu berkali-kali dan pulang.Dalam perjalanan pulang,otaknya terus berputar,mencari dan memikirkan cara yang tepat untuk menyampaikan keinginannya pindah kerja ke kota Jakarta kepada ibunya,Pak Darwin dan direktur tempatnya bekerja bila nantinya dia telah diterima bekerja di perusahaan baru itu.Jolie memutuskan untuk mengunjungi dan memberitahukan keinginannya saat makan malam nantinya kepada ibunya dan Pak Darwin terlebih dahulu dan berdiskusi dengan mereka.Dia ingin tahu pendapat ibu dan Pak Darwin.Jolie tahu pasti kalau pak Darwin orang yang bijaksana dan selalu memberikan pendapat dan solusi terbaik baginya.Jolie berubah pikiran,lalu dipacu motornya pulang ke kosan nya."Saya akan memberitahukan kabar gembira setelah positif diterima di perusahaan itu." pikirnya dalam hati......."Wooohoooo......." Jolie berteriak keras,mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi sambil berlari kecil mengelilingi kamar kosan nya.Jolie kegirangan tak karuanDia senang sekali akhirnya ada balasan email perusahan itu setelah dirinya menunggu tiga hari.Isi emailnya tentang waktu dan sesi wawancara online yang harus dijalani pelamar.Ada tiga sesi yaitu sesi pertama berupa ujian online,sesi kedua berupa tes psikologi online dan sesi ketiga berupa interview online dengan kepala Hrd perusahaan itu.Jolie mengikuti ketiga sesi tersebut dan melalui nya dengan sempurna,tinggal menunggu email selanjutnya tentang informasi diterima tidaknya menjadi karyawan perusahaan tersebut,informasi peraturan perusahaan dan lampiran surat kontrak yang akan ditandatangani nantinya.Kepastian diterima tidaknya menjadi karyawan akan dikirim sore nanti.Dia sangat yakin dan percaya diri kalau dirinya pasti diterima.Jolie tidak sabar lagi menunggu email tersebut.Dia terus berdoa dalam hati agar keinginannya dapat terkabul.Gadis ini kelihatan gelisah.Sepanjang hari sibuk memeriksa ponselnya kalau-kalau ada email baru yang masuk.Pikiran tidak fokus pada kerjaan dan hatinya tidak tenang."Beep.." ponsel Jolie berdering diikuti getaran halus dirasakan di saku jas hitamnya saat dia baru akan keluar kantor dan pulang.Jolie merogoh saku dan memeriksa ponselnya"Yassss.....yasss....saya diterima." jerit Jolie.Dia berlari kecil ke parkiran motor dan bergegas ke rumah pak Darwin untuk memberitahukan kabar baik ini saat makan malam nantiSaat sampai di rumah pak Darwin,terlihat ibu yang sedang berdiri mengawasi Rudy bermain bersama anak-anak tetangga lain.Jolie memarkirkan motornya,berlari ke arah ibu dan memeluknya erat-erat"Ada apa ini?" kata ibu berusaha melepaskan pelukan JolieRudy dan anak lain tertawa melihat kelakuan Jolie dan mengejeknya.Jolie tidak menghiraukannya"Saya diterima,bu.." kata Jolie"Apaan...apa maksudmu,Nak??" tanya ibu kebingungan"Kerjaan baru...mana..mana Pak Darwin?" tanyanya tanpa menunggu jawaban ibu,Jolie langsung berlari masuk ke ruang tamu.Di ruang tamu tampak pak Darwin yang sedang fokus menonton dan mendengarkan berita TransTV.Perhatian Pak Darwin teralih dengan suara gaduh lari nya Jolie.Dia berpaling dan berkata," Ada apa,Nak Jolie?""Saya...saya diterima,Pak." jawabnya dengan nafas terengah-engah"Diterima apa maksudmu,Nak?" balasnya sambil mengernyitkan keningnya"Saya diterima di perusahaan manufaktur ternama di Jakarta Pusat,Pak." jelas Jolie"Wahhh...bagus sekali,Nak""Tapi bagaimana dengan kerjaanmu yang sekarang? Atasanmu uda tau?Sudah mengundurkan diri?uda bicarakan dengan ibumu?Kapan mulai kerja?Apa saja fasilitas yang ditawarkan perusahaan" todong Pak Darwin dengan segudang pertanyaan"Iya,Pak...Saya akan segera mengurus semua itu segera." jawab Jolie"Selamat,Nak Jolie.Doa bapak menyertaimu.Semoga kerjaan barumu dapat mengantarmu ke gerbang kesuksesan." kata Pak Darwin"Selamat,Nak." kata ibu sambil menggandeng Rudy berjalan menghampiri Jolie dan Pak Darwin"Apapun keputusanmu ibu akan dukung.Tapi ingat jaga diri.Kesehatanmu yang paling utama." imbuh ibu"Makan yuk,bu....Rudy lapar" Rudy menarik tangan ibu dan merengek"Yuk...sekalian makan,Pak,Jolie." ajak ibu........."Tok...Tok....Tok...." Jolie mengetuk pelan pintu ruangan Direktur"Masuk." terdengar suara dari dalam ruanganJolie membuka pintu dan masuk ke ruangan dengan membawa surat pengunduran diri yang telah dipersiapkannya dan jadwal rapat direktur"Silakan letakkan di atas meja jadwal rapatnya." kata direkturDirektur terlihat sibuk menandatangani dokumen-dokumen di meja kerjanya,sama sekali tidak mengangkat kepalanya"Ini..Pak...Ada yang perlu saya sampaikan." Kata Jolie sambil meletakkan surat pengunduran dirinya di hadapan dokumen yang sedang ditandatangani direkturnya ituDirekturnya menghentikan gerakan tangannya dan mengangkat kepala,mengambil surat tersebut dan membacanya.Lalu berkata," apa alasanmu? kenapa tiba-tiba?""Saya mendapat pekerjaan yang lebih berprospek.Saya ingin mencoba mengembangkan karier." jawab Jolie"Sudah kamu pertimbangkan baik-baik." tanya direktur"Kapan kerjaan barumu dimulai?" imbuhnya"Iya,Pak.Saya sudah yakin.Sekitar dua minggu lagi." balas Jolie"Baiklah,Saya tidak akan menentang keputusanmu.""Segera cari penggantimu""Buat serah terima jabatan dan pekerjaanmu secara jelas dan rinci." perintah direktur"Beres,Pak...Saya akan segera urus semuanya." jawab Jolie
Istri Kesayangan CEO Dingin
"Aku kembali," sapa gadis cantik, berjalan masuk ke dalam restoran sederhana."Hmm. Alamat dan pesanannya ada di sana," ucap wanita paruh baya yang sedang duduk di meja kasir, menunjuk kantong plastik putih yang berada di atas meja."Aku pergi dulu ya, Bik," pamit gadis cantik, kembali berjalan keluar dari dalam restoran sambil membawa kantong plastik tadi."Iya. Hati-hati," jawab wanita paruh baya itu, dia terlihat sedang mencatat sesuatu di buku.Gadis cantik itu bernama Alya Febrianti Angraini, dia bekerja di sebuah restoran sederhana, bertugas mengatar pesanan.Alya memasukkan kantong plastik tadi, ke dalam keranjang yang berada di belakang motor. Ia menaiki motornya, menyalakan motornya, lalu menjalankan motornya pergi meninggalkan kawasan restoran sederhana itu.Dia mulai mulai membelah jalan raya, yang cukup ramai di malam hari. Tidak membutuhkan waktu yang lama, dia kembali menghentikan motornya di depan gedung yang cukup tinggi.Alya turun dari atas motornya, mengambil kantong plastik tadi, ia melihat kertas yang berisi alamat."Teryata orang kaya mau juga pesan makanan beginian," guman Alya sambil berjalan masuk ke dalam gedung, menaiki lift, tak lupa menekan nomor lantai gedungnya. Mata Alya tidak lepas dari layar yang menunjukkan dia berada di lantai berapa.Kring!Alya berjalan keluar dari dalam lift, mulai menelusuri koridor sambil matanya menatap ke arah pintu."239, 240, 241, 242," ucap Alya sambil menghentikan langkahnya, di depan pintu 242. Dia kembali melihat kertas alamat tadi, memastikan dia tidak salah alamat."Tidak salah lagi, ini alamatnya," ucap Alya sambil menekan tombol bel di dekat pintu. Tanpa sadar ia menghela nafas panjangnya."Apa aku salah alamat, ya? Tapi ... di kertas ini, memang benar ini alamatnya," guman Alya yang kembali melihat kertas alamat tadi."Permisi! Pesanan Anda datang!" ucap Alya, kembali menekan tombol bel, saat pintu masih belum dibuka dari dalam. Saat gadis itu berniat ingin menekan bel untuk ketiga kalinya, pintu tiba-tiba dibuka dari dalam.Ceklek!Menampakkan seorang pria tampan, wajahnya dipenuhi dengan keringat dingin, nafasnya terlihat tidak beraturan."Tuan baik-baik saja?" tanya Alya khawatir, saat melihat keadaan pria yang terlihat sedang tidak sehat.Tanpa diduga oleh Alya, tangannya tiba-tiba ditarik masuk ke dalam apartemen. Pria itu menyadarkan tubuh Alya ke pintu."Tu ... tuan, apa yang kau lakukan?" tanya Alya yang terlihat begitu ketakutan.Pria tampan tidak menjawabnya, melainkan ia malah mencium bibir Alya dengan penuh na**u.Alya refleks menjatuhkan kantong plastik yang berada di genggamannya, ia mencoba mendorong dada bidang pria itu sekuat tenaganya, tapi nihil. Kekuatan pria itu jauh lebih kuat darinya. Pria itu bagaikan sudah dikuasai oleh naf**nya.Pria itu melepaskan ciumannya, mengedong tubuh Alya bagaikan karung beras, lalu berjalan membawa Alya ke dalam kamar."Hei! Apa yang kau lakukan?!" bentak Alya sambil memukul-mukul punggung pria tampan itu, dengan tangannya."Tolong ...!" teriak Alya dengan nafas turun-naik.Alya semakin ketakutan, saat pria tampan itu mengunci pintu kamarnya, menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur empuk."Tolong ...!" teriak Alya lagi.Dia semakin dibuat ketakutan, saat pria tampan itu membuka pakaian atasnya. Tanpa sadar Alya menelan slivannya dengan susah payah, perlahan ia berinsut mundur. Bukan dia tergoda dengan bentuk tubuh pria tampan itu, melainkan dia sangat ketakutan."Tolong ...!" teriak Alya lagi, berharap ada yang mau menolongnya.Namun, usahanya untuk meminta tolong sia-sia, tubuhnya sudah lebih dahulu dikuasai oleh pria yang sudah dilanda naf*u. Malam itu adalah malam terburuk bagi Alya, di mana kesuciannya direbut oleh pria yang sama sekali tidak dia kenal.Jika dia tau kejadian akan seperti itu, dia tidak akan pernah mau mengantarkan pesanan itu. Namun, semua itu sudah menjadi bubur, dia bukan lagi wanita yang suci."Eughk ... Ahh ...," lenguh pria tampan itu, ia baru saja terbangun dari tidurnya.Dia? Brian Ardiansyah, pria yang sudah merenggut kehormatan Alya Febrianti Angraini.Brian memegang kepalanya yang terasa sakit, matanya menatap langit-langit kamarnya, pandangannya terlihat sedikit buram sebelum menjadi jelas."Eughk ...," lenguhan Alya membuat Brian terkejut.Brian ragu-ragu menoleh ke sampingnya, matanya membulat dengan sempurna saat melihat gadis yang sama sekali tidak ia kenal. Ia sedikit mengakat selimutnya, dan baru menyadari dirinya tanpa busana."Apa yang terjadi?" Brian mencoba mengingat-ingat kejadian semalam.Sebelum kejadian ....Brian ingat, kalau semalam Kakak tirinya datang ke apartemennya, mereka mengobrol santai. Tiba-tiba Brian ingin pergi ke toilet, saat kembali dia tidak lagi menemukan Kakak-nya di ruang utama.Brian sama sekali tidak merasa curiga, dia kembali duduk di sofa, melanjutkan menonton film-nya. Lalu dia tiba-tiba mendapatkan pesan dari Kakak-nya, mengatakan bahwa Kakak-nya ada urusan mendesak. Jadi, harus pergi begitu saja.Brian meminum minuman anggurnya, belum beberapa menit setelah meminumnya, dia tiba-tiba merasakan panas, gerah dan sesuatu yang aneh, dirinya bagaikan sedang ter**ang.Pada saat itu Alya datang mengantarkan pesanan. Brian yang sudah tidak mampu mengendalikan dirinya, akhirnya melampiaskan hasratnya terhadap gadis yang sama sekali tidak ia kenal, Alya."Si*l! Apa semua ini karena, Kak Rai?" guman Brian dengan tertawa miris.Brian bangun dari tidurnya, matanya beralih menatap Alya yang masih tertidur pulas di sampingnya.'Apa yang harus aku lakukan terhadap gadis ini? Bertanggung jawab? Apa ... jangan-jangan ini jebakan? Jika, Kakek mengetahui ini, otomatis Kakek akan mencoretku menjadi pewarisnya? Lalu Kak Rai yang akan menjadi pewarisnya,' batin Brian, ia memiliki begitu banyak pertanyaan di dalam otaknya.Brian lebih memilih untuk tidak memikirkannya, saat ini dia harus menenangkan dirinya. Ia menepiskan selimut dari tubuhnya, memunggut pakaiannya, lalu memakai kembali, dan berjalan menuju kamar mandi.Brian membiarkan air mengalir mengguyur seluruh tubuhnya. Dia yakin kalau semua ini adalah bagian rencana dari Kakak tirinya, dari awal mereka memang tidak suka Brian menjadi pewarisnya. Namun, mereka masih berpura-pura baik-baik saja di depannya, ternyata dibalik sikap mereka yang tenang, dirinya malah dijebak.Alya membuka matanya dengan perlahan, menatap langit-langit kamar dengan samar-samar, berharap semua itu adalah mimpi buruk."Apakah aku masih bermimpi buruk?" guman Alya dengan suara khas orang baru bangun tidur.Ceklek!Alya menoleh ke arah suara, melihat Brian baru saja keluar dari dalam kamar mandi dengan memakai baju handuk, tangan yang mengacak-acak rambutnya dengan handuk kecil."Tidak. Ini pasti mimpi. Aku pasti sedang bermimpi ...," lirih Alya disertai buliran bening mengalir di sudut matanya. Dia masih belum bisa menerima kenyataan, bahwa dirinya bukan lagi gadis yang suci."Hentikan dramamu itu. Aku tau kalau kamu bekerja sama dengan Kakak-ku, Raihan," ucap Brian dengan dinginnya.Alya menoleh ke arah Brian, lalu berkata, "Apa katamu? Drama?!""Hmm. Kamu pasti sengaja, 'kan? Dibayar berapa kamu sama Raihan, hah?!" tanya Brian dengan nada membentak.Alya bangun dari tidurnya, menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut tebal itu. Berjalan mendekati Brian dengan nafas turun-naik, matanya mengisyaratkan kemarahan teramat dalam."Setelah apa yang kau lakukan terhadapku? Lalu sekarang kau bilang aku me-drama? Bekerja sama dengan Kakak-mu? Apa maksudmu, hah?! Siapa, Raihan?! Jelas-jelas di sini aku korbannya!" jawab Alya yang balik membentak."Korban? Ha-ha-ha, jelas-jelas aku korbannya! Aku tau kamu pasti orang suruhan Raihan, 'kan? Kamu pasti disuruh untuk menghacurkan aku, bukan?!" tanya Brian."Hei! Aku ke sini cuma mengantarkan pesananmu! Dan sekarang lihatlah!" Alya menunjuk noda darah yang berada di atas seprai."Kau sudah menghacurkan masa depanku. Jelas-jelas di sini aku korbannya, tapi kenapa kau yang malah bersikap seperti korbannya? Apa salahku? Kenapa kau lakukan ini padaku?" lanjut Alya, tubuhnya mendadak lemas, ia menangis tersedu-sedu di atas lantai, buliran bening tidak henti-hentinya mengalir di pipinya.Brian mulai berfikir jika Alya juga korbannya, tapi ia juga harus memastikannya terlebih dahulu. Dia tidak boleh percaya begitu saja, dia akan menyelidiki siapa gadis itu sebenarnya."Baiklah. Aku akan bertanggung jawab. Jadi, sebaiknya kau hentikan tangisan itu, tidak ada guna juga kau menangis, semuanya sudah terjadi," ucap Brian tanpa menatap ke Alya."Apa aku bisa mempercayai kata-katamu?" tanya Alya dengan mendongakkan kepalanya, menatap pria yang sedang berdiri di depannya."Kalau kau tidak percaya, kau bisa tinggal di sini mulai sekarang," jawab Brian menatap sekilas ke arah Alya.Alya tiba-tiba tertawa mendengar perkataan Brian, benar-benar tidak terpikirkan olehnya. Bertemu dengan pria seperti Brian."Kau pikir semua ini lucu? Karenamu, mungkin aku akan kehilangan sesuatu yang berharga. Lagian, aku sebenarnya tidak ingin berhubungan denganmu, jika bukan karena seseorang sudah memasukkan sesuatu ke dalam minumanku," ucap Brian tidak terima, padahal dia sudah mau bertanggung jawab."Terserahmu!" Alya bangun dari duduknya, berjalan pergi meninggalkan Brian dengan perasaan marah bercampur kecewa.Alya tidak punya pilihan selain mengikuti perkataan Brian, ada bagusnya kalau Brian mau bertanggung jawab, dia tidak tau apa yang akan terjadi ke depannya.Alya menutup pintu kamar mandi, menyadarkan punggungnya ke pintu, tanpa sadar tubuhnya merosot ke lantai. Dia masih kecewa terhadap dirinya, kehormatan yang selama ini selalu ia jaga, direnggut begitu saja oleh pria yang sekali tidak ia kenal.Brian masih bisa mendengarkan suara tangisan Alya dari luar. Tanpa sadar ia menghela nafas kasarnya. Dia melihat jaket Alya berada di lantai, ia melihat sesuatu di bahu tersebut.Brian memunggut jaket tersebut, membuka lebar dan melihat nama restoran, nomor telpon di tempat Alya bekerja.[Restoran Bibi Caca. +6282386217111.]Brian berjalan keluar dari dalam kamarnya, TV-nya saja masih menyala, gelas minumannya masih tergeletak di atas meja. Dia menemukan ponselnya di atas meja, mengambil ponselnya, lalu menekan nomor seseorang di layarnya."Bagas, bantu aku selidiki seseorang. Aku baru saja dijebak oleh Raihan. Aku mau kamu menyelidiki gadis yang bekerja di Restoran Bibi Caca. Dia bernama, Alya Febrianti Angraini."Brian mengetahui nama Alya, dari jaket yang digunakan Alya, memiliki tanda pengenal agar memudahkan konsumen mengetahui siapa Alya.Alya baru saja menyelesaikan ritual mandinya. Kamar yang semulanya berantakan mendadak menjadi rapi dan bersih, ia juga melihat pakaian di atas kasur. Dia tidak punya pilihan selain memakai pakaian yang sudah disiapkan Brian.Tidak membutuhkan waktu yang lama, Alya selesai mengenakan pakaian Brian. Ya, Brian tidak memiliki pakaian wanita di rumahnya, jadi, dia menyiapkan pakaiannya untuk Alya.Dreet ... dreet ... dreet!Alya mendengar deringan ponsel di atas nakas, ia berjalan menghampiri nakas, melihat nama 'Bibi Restoran' di layar ponselnya.Alya mengambil ponselnya, menggeser tombol hijau di layarnya, mendekatkan ke dekat telinganya."Assalamualaikum, Alya!" sapa Bik Mina---pemilik restoran tempat Alya bekerja, sekaligus Ibu angkat bagi Alya."Wa'alaikumsalam, Bik," jawab Alya, berusaha menormalkan suaranya."Semalam Bibi coba telpon kamu, tapi kok gak diangkat-angkat? Bibi khawatir sekali denganmu. Kamu baik-baik saja, 'kan?" tanya Bik Mina yang terdengar sangat khawatir."Aku baik-baik saja, Bik," jawab Alya berusaha menahan tangisnya agar tidak pecah."Eum ... karena semalam kamu belum juga pulang. Bibi minta Noval menyusul kamu ke sana, tapi cuma motor aja yang ada di sana. Sebenarnya, semalam kamu pergi ke mana, Alya?""Aku ... aku ....""Aku apa, Alya? Kamu baik-baik saja, 'kan?" potong Bik Mina."Aku baik-baik saja kok, Bik. Semalam temanku telpon, dia lagi dapat masalah, jadi, aku pergi ke sana menggunakan taksi. Maafkan Alya ya, Bik. Udah buat Bibi khawatir," jelas Alya dengan suara serak."Suara kamu kenapa, Alya? Kamu habis nangis?" tanya Bik Mina mulai curiga."Enggak kok, Bik. Aku lagi terserang flu," jawab Alya berbohong."Syukurlah, kalau kamu baik-baik saja. Kamu jangan lupa minum obatnya, biar cepat sembuh. Motornya jangan khawatir. Noval sudah membawanya pulang. Sebaiknya kamu istirahat.""Baik, Bik. Beberapa hari ini aku mau nginap di rumah teman dulu ya, Bik. Dia masih butuh aku.""Baiklah. Kamu baik-baik di sana, ya. Jangan lupa minum obatnya.""Baik, Bik. Aku tutup dulu telponnya. Assalamualaikum."Alya menutup telponnya buru-buru, tangisnya kembali pecah. Dia tidak dapat menahan tangisnya, sungguh sulit berbohong kepada orang yang disayangi."Raihan!"Tangisan Alya seketika berhenti saat mendengar suara bentakan dari luar kamarnya, ia bangun dari duduknya, berjalan menuju pintu, lalu membuka pintu kamar, dan melihat Brian sedang menelpon di ruang utama."Aku tau semua ini perbuatan kamu, 'kan? Dari awal kamu memang tidak suka, aku menjadi pemimpin di perusahaan Kakek, 'kan? Jadi, kamu sengaja menjebakku dengan memasukkan obat perangsang ke dalam minumanku, lalu memesan makanan atas namaku," ucap Brian terlihat begitu marah.[Apa maksudmu, Brian? Memasukkan obat perangsang ke dalam minumanmu? Jangan konyol deh. Aku juga tidak pernah menentang kamu menjadi pemimpin di perusahaan Kakek.]"Jangan pura-pura deh, aku tau semua ini perbuatanmu. Karena ulahmu, aku menghacurkan masa depan gadis yang sama sekali tidak bersalah," ucap Brian dengan menekan setiap perkataannya.Sedangkan Alya hanya mendengarkan obrolan Brian dari pintu, mencoba menebak-nebak dari ekspresi Brian, menebak apa yang sedang dikatakan lawan bicara Brian.[Brian, dari tadi aku mencoba untuk bersabar, karena kamu Adikku. Jika kamu melakukan kesalahan, kamu harus bertanggung jawab. Jangan melampiaskannya kepadaku. Kamu memiliki bukti, bahwa aku yang memasukkan obat perangsang ke dalam minumanmu?Iya. Aku semalam memang berada di apartemenmu, lalu tiba-tiba pergi begitu saja. Bukan berarti aku pelakunya, atau ... jangan-jangan, kamu cuma mengarang cerita, karena terlalu takut untuk bertanggung jawab. Kamu pasti takut Kakek mengetahuinya, ya? Lalu mencoret namamu dari pewaris tunggal. Jangan khawatir, aku tidak akan mengatakannya kepada Kakek. Kamu bisa menjadikan gadis itu sebagai kambing hitam, atau memberi dia uang untuk menutup mulut. Bukankah gadis-gadis suka dengan uang?]"Kau bisa mengatakannya kepada Kakek, aku tidak takut namaku dicoret dari pewaris tunggal. Lagipula, dari awal aku juga tidak menginginkan itu semua. Apa yang kulakukan terhadap gadis itu, aku akan bertanggung jawab. Aku bukan pria bereng**k sepertimu."Brian mematikan teleponnya secara sepihak, meleparkan ponsel tersebut ke atas sofa dengan kasar. Nafasnya terlihat tidak beraturan, menahan kemarahan yang teramat dalam.Alya mulai berfikir jika Brian memang tidak sengaja melakukannya, mungkin karena obat perangsang, membuat Brian tidak dapat mengendalikan dirinya semalam. Dia juga berfikir kalau Brian seorang pria baik, buktinya dia mau bertanggung jawab atas kesalahannya."Huft ...."Entah berapa kali Brian menghela nafasnya semenjak bangun tidur, ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling, lalu matanya berhenti tempat di mana Alya berdiri tanpa ekspresi."Aku sudah menyiapkan sarapan untukmu. Kamu pasti lapar," ucap Brian dengan nada dingin, yang memang sudah menjadi ciri khas dirinya.Brian berjalan pergi meninggalkan ruang utama. Alya mengikuti Brian dari belakang, lalu mereka berdua berakhir di meja makan. Ternyata Brian sudah menyiapkan sarapan, selama Alya masih berada di dalam kamar tadi.Alya duduk dengan ragu-ragu di atas kursi, mereka duduk saling berhadapan. Jujur, dia memang merasa sedikit lapar, tapi dia juga dilema dengan rasa takut.Alya merasa ragu memakan masakkan yang ada di atas meja, khawatir Brian memasukkan racun ke dalam makanannya. Dia kan masih ingin hidup lebih lama."Jangan khawatir, makanan itu tidak ada racunnya," ucap Brian seakan tau apa yang dipikirkan Alya."Aku tidak mengatakan makanan ini ada racunnya," ujar Alya dengan nada ketus.Alya menyuap nasi putih hingga membuatnya mulutnya terisi penuh, dia butuh energi untuk menghadapi apa yang akan terjadi selanjutnya. Dia tidak boleh merasa lemah, semua itu hanya akan membuatnya semakin terlihat menyedihkan.Segala sesuatu kesalahan pasti dimaafkan Tuhan, selama dia bersungguh-sungguh ingin memperbaikinya. Apa yang harus dia takutkan? Pria yang sudah merenggut kehormatan, sudah berjanji akan bertanggung jawab. Meskipun ia masih ragu dengan perkataan Brian."Bagaimana keadaanmu? Apa kamu baik-baik saja?" tanya Brian, memecah kesunyian."Apa aku terlihat baik-baik saja?" Bukan menjawab, Alya malah balik bertanya."Sepertinya kamu tidak baik-baik saja," jawab Brian, kembali menundukkan kepalanya."Aku berencana ingin mengajakmu ke rumah keluargaku, aku ingin menyelesaikan masalah ini sesegera mungkin," lanjut Brian tanpa menatap Alya."Benarkah kau ingin bertanggung jawab?" tanya Alya yang masih tidak percaya.Brian menghela nafas kasarnya, menaruh sendoknya, menyadarkan punggungnya ke kursi, lalu berkata, "Berapa kali harus aku katakan? Aku bukan seorang pria pengecut, yang lari dari kesalahan. Aku akan bertanggung jawab atas kesalahanku. Kamu paham?"Alya hanya membalas dengan anggukan."Bagaimana keadaanmu? Apa baik-baik saja? Kalau kamu merasa tidak baik, kita bisa menunda pertemuan keluarga ini," ucap Brian dengan santai menatap Alya.Alasannya bertanya seperti itu, karena ini pertama kalinya bagi Alya, mungkin akan terasa sakit di bagian tertentu."Aku merasa tidak baik-baik saja," jawab Alya dengan ragu-ragu."Baiklah. Aku paham, kalau begitu besok saja kita lakukan pertemuan itu, hari ini kamu istirahat saja," ucap Brian, bangun dari duduknya."Baiklah," jawab Alya singkat."Benar juga, sebaiknya kamu memberitahu keluargamu, jangan sampai mereka khawatir. Aku mau ke kamar dulu, selesai makan kamu bisa menaruh piring kotornya di atas wastafel," lanjut Brian."Iya," jawab Alya mengaguk.Brian berjalan pergi meninggalkan meja makan, menyudahi makannya tanpa menghabiskan makanan yang ada di dalam piring.Alya menatap punggung Brian, tanpa sadar dia menghela nafas kasarnya. Duduk bersama dengan Brian, membuatnya merasa canggung.Alya yang merasa lapar, melahap makanan yang berada di atas meja. Meskipun dirinya sedang berada dalam masalah, bukan berarti dia harus mogok makan. Mungkin akan ada kejadian yang tidak terduga, jadi, dia harus mempersiapkan dirinya.Benar saja dugaan Alya, setelah selesai mencuci piring kotor. Alya menyusul Brian ke ruang utama, berniat ingin menonton film bersama dengan Brian. Akan tetapi, bel tiba-tiba dipencet dari luar.Brian bangun dari duduknya, berjalan menuju pintu, membuka pintu untuk tamu atau apalah.Plak!Alya kaget saat mendengar suara tamparan, ia bangun dari duduknya, berjalan menyusul Brian.Deg!Jantung Alya berdetak cukup cepat, saat matanya saling beradu dengan pria tua, wanita paruh baya, dan seorang pria tampan."Jadi kamu?! Gadis jal*ng yang sudah membuat cucu saya, Brian, melakukan perbuatan hina itu?!" bentak Gufron---Kakek-nya Brian, terkenal dengan sifat tegas, pemarah dan kepintarannya dalam berbisnis.Hati Alya bagaikan teriris pisau, sungguh sakit, dirina dituduh tanpa tau keadaan sebenarnya. Dia sama sekali tidak berniat ingin menggoda Brian, padahal dirinyalah korban dari semua ini.Apa yang terjadi? Bagaimana Kakek Brian tau, kalau Brian melakukan kesalahan yang sulit dimaafkan?Sebelumnya, dikediaman rumah Gufron Mukti Wibowo.Raihan, Ibunya, lalu kedua Kakak perempuannya, mereka tinggal di rumah megah milik Kakek-nya. Hanya Brian yang memilih untuk tinggal sendirian di apartemen, dibandingkan hidup bersama dengan Ibu tirinya, para Kakak-nya, dan Kakek-nya. Ayah-nya sudah lama meninggal.Raihan yang baru saja selesai menelpon dengan Brian, berniat akan pergi, tapi dirinya malah kepergok oleh Kakek-nya.Gufron mendesak Raihan untuk berbicara jujur, walau awalnya Raihan berbohong. Namun, karena desakkan dari Gufron, akhirnya Raihan mengatakan yang sejujurnya tentang apa yang dialami Brian semalam.Raihan mengatakan kalau Brian dijebak oleh seorang gadis, membuat Brian tidak mampu mengendalikan dirinya, dan akhirnya semua itu terjadi.Padahal semua itu adalah bagian dari rencana Raihan, dia tau Brian tidak akan membiarkan orang yang tidak bersalah, dituduh tanpa sebab. Raihan memang ingin menghacurkan Brian. Jujur, dia merasa iri terhadap Brian, padahal Brian hanya anak dari selingkuhan Ayah-nya, tapi kenapa Brian yang mendapatkan warisan cukup banyak dari Kakek-nya?Kini dia bisa tersenyum puas, menatap Brian yang berada di ambang kehacuran, menurutnya.______"Jadi kamu?! Gadis jal*ng yang membuat cucu saya, Brian, melakukan perbuatan hina itu?!" bentak Gufron yang terlihat begitu marah.Alya hanya terdiam membisu sambil menundukkan kepalanya, dia sama sekali tidak berani menjawabnya, bahkan menatap ke arah Gufron, tangannya tidak henti-hentinya memainkan jari-jemarinya, karena rasa takut. Meskipun dia korbannya, tapi dia juga tidak berani membela dirinya."Kamu pasti mau uang, 'kan? Sebutkan saja berapa yang kamu mau. Saya pasti akan kasih berapa yang kamu mau, dengan syarat kamu harus menghilang dari kehidupan cucu saya, Brian," ucap Gufron dengan penuh penekanan.Alya memberanikan dirinya, menatap ke arah Gufron, sudah cukup dirinya direndahkan, dia bukanlah wanita yang bisa dibeli dengan uang, bahkan bukan wanita yang gila harta."Maafkan saya, Tuan. Tidak semuanya bisa dibeli dengan uang. Saya memang miskin, tapi bukan berarti saya tidak punya harga diri. Saya juga tidak tau semua ini akan terjadi, tapi yang jelas di sini saya korbannya," ucap Alya dengan berani, meskipun jantungnya terasa ingin copot, tapi ia tidak boleh terlihat lemah di depan musuhnya."Ayah, lihatlah gadis jal*ng itu. Dia sama sekali tidak memiliki sopan santun," ucap Sinta---Ibunya tirinya Brian, memiliki sifat yang sulit dijelaskan.Gufron yang tersulut emosi, berjalan menghampiri Alya. "Bukankah kau melakukan semua ini demi uang, hah?! Lalu berkata, kau masih memiliki harga diri. Dasar wanita jal*ng!"Plak!Tamparan mendarat mulus di pipi kiri Alya, membuat tubuhnya terduduk di atas lantai, sudut bibirnya mengeluarkan darah."Kakek! Hentikan!" bentak Brian yang sedari tadi hanya diam."Kau baru saja membentakku?" tanya Gufron dengan gelagapan."Iya. Gadis itu sama sekali tidak bersalah. Semua ini salahku, jadi, aku akan menikahinya," jawab Brian dengan tatapan tajamnya."Apa kau bilang? Kau akan menikahinya? Pikirkan, Brian! Kau ini seorang pewaris, jika orang-orang perusahaan tau kau menikahi gadis seperti dia. Apa yang akan mereka katakan? Mau ditaruh di mana wajah Kakek-mu ini?" tanya Gufron dengan nafas turun-naik."Kakek bisa mencoretku dari pewaris. Aku sama sekali tidak membutuhkan itu semua. Bukankah Kakek masih memiliki tiga cucu lainnya, mungkin Kakek bisa menjadikan salah satu dari mereka, menjadi pewaris perusahaan," ujar Brian dengan tersenyum, jelas dia sedang menyindir Raihan."Beraninya kau, Brian!" ucap Gufron sambil memegang tengkuk lehernya yang mendadak berat."Ayah! Kakek!" ucap Sinta dan Raihan secara bersamaan."Mulai hari ini, kamu bukan lagi pewaris dari perusahaan GMW, dan kamu bukan lagi cucu dari Gufron Mukti Wibowo," ucap Gufron dengan penuh penekanan."Baik," jawab Brian dengan tenang."Percayalah, tanpa diriku kau bukan apa-apa. Aku yakin tidak lama lagi, kau akan mengemis-ngemis meminta bantuanku," ucap Gufron dengan tatapan tajamnya.Brian hanya diam, bukan dia takut akan ancaman Kakek-nya, melainkan dia malas berdebat."Dasar anak tidak tau diri. Kau sama saja dengan Ibumu," ujar Sinta dengan tatapan sinisnya."Ayo, Ayah!" ajak Sinta, memapah Gufron berjalan pergi meninggalkan tempat itu."Sudah kuduga, kau tidak akan mengecewakan aku," ucap Raihan dengan menunjukkan sisi dirinya sebenarnya, tersenyum penuh kemenangan. Ternyata perjuangannya untuk menjadi pewaris, tidak sia-sia.Brian memilih untuk diam, membiarkan apa kata Ibu dan Kakak-nya. Selama ini dia juga sudah biasa mendapatkan perlakuan seperti itu. Mereka hanya terlihat baik di depannya, karena dia seorang cucu kesayangan, tapi kini tidak lagi.Namun, Brian sama sekali tidak merasa sedih. Meskipun dia bukan lagi seorang pewaris, tapi dia akan memulai dari awal, membuktikan dirinya bisa tanpa mereka.Brian menghampiri Alya yang masih terduduk lemas di atas lantai. Brian memapah Alya berjalan menuju sofa, dia tau Alya cukup syok setelah kejadian baru saja.Brian berjalan pergi meninggalkan Alya di sofa, kembali menghampiri Alya dengan kotak P3K. Brian mengeluarkan kapas, menyirami dengan sedikit air alkohol, lalu dengan perlahan membersihkan luka yang berada di sudut bibir Alya.Alya sama sekali tidak meringis kesakitan. Jujur, kejadian tadi membuat dia cukup syok."Maafkan aku. Aku tau kamu cukup syok dengan kejadian tadi, tapi percayalah, aku akan tetap bertanggung jawab apapun yang terjadi," ucap Brian, memecah kesunyian antara mereka berdua."Kenapa kamu melakukan itu?" tanya Alya, menatap bola coklat milik Brian."Melakukan apa?" jawab Brian balik bertanya."Karena diriku, kamu harus kehilangan sesuatu yang berharga. Kamu tidak lagi seorang pewaris, kamu juga dibuang oleh keluargamu. Kenapa kamu mempertahankan aku? Gadis miskin, yang tidak tau diri," jelas Alya berterus terang, dia sama sekali tidak suka berbasa-basi dalam berkata."Mereka bukan keluargaku. Aku sama sekali tidak merasa sedih, melainkan aku merasa sangat bahagia. Kakek menyayangiku, karena aku memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh cucu-cucunya yang lain," ucap Brian dengan tersenyum."Apa itu?" tanya Alya, penasaran."Kecerdasan," jawab Brian sambil mengetuk kepalanya, dengan jari telunjuknya."Alasan Kakek-ku bersikeras ingin menjadikan aku pewarisnya, karena ia yakin aku mampu membuat perusahaannya maju," lanjut Brian dengan percaya diri."Oh," balas Alya mengaguk-angguk."Kamu tidak percaya? Mungkin saat ini kamu fikir aku seorang pria miskin, tapi kamu jangan khawatir. Aku masih memiliki sedikit saham di suatu tempat," ucap Brian dengan sombongnya."Aku sama sekali tidak menginginkan hartamu. Kamu sudah mau bertanggung jawab, itu sudah cukup bagiku," ujar Alya disertai senyuman.Alya sebenarnya gadis ceria, hanya saja dia akan terlihat pendiam jika di dekat orang baru. Akan tetapi kalau sudah akrab, maka akan muncul sikap yang tidak terduga.
MY BABY CEO
Hari ini Millie secara khusus memasak berbagai macam hidangan yang akan ia bawa ke kantor Rey sang pacar pertama sekaligus pria yang merenggut keperawanannya.Millie Ayuniar, seorang gadis berusia 18 tahun yang saat ini tengah duduk dibangku SMA, gadis polos bertubuh mungil dan manis itu adalah pacar Tuan Muda Rey, Reyhan Alvarez yang saat ini menjabat sebagai CEO di Perusahaan Alverez Corporation.Keduanya bertemu tanpa sengaja disebuah Cafe, saat itu Millie tengah mengerjakan tugasnya di Cafe karena ia harus menghemat kuota dan uang yang tersisa dari mendiang orangtua Millie.Ya, Millie seorang yatim piatu tanpa sanak saudara yang mendapatkan beasiswa disekolah ternama, saat ini Millie tinggal menyewa disebuah Apartement sederhana.Saat itu ketika Millie menunduk membenarkan tali sepatunya, Rey yang sedang bercanda dengan temannya tanpa sengaja menabrak Millie dan menjatuhkan gadis itu ke lantai, awal mula pertemuan mereka yang sebentar lalu hubungan keduanya terjalin begitu saja sampai di titik Millie merelakan keperawanannya untuk Rey yang telah berjanji tanggungjawab untuknya.Sayangnya, sore ini Millie mendapati kenyataan yang begitu menyakitkan.Saat itu Millie yang akan memasuki ruangan Rey terhenti karena mendengar percakapan Rey dan para sahabatnya."Shit, lo menang taruhan lagi Rey!" ucap sebuah suara yang dikenali Millie, salah satu sahabat Rey bernama Arthur."Nih 10 juta, btw kapan lo putusin Millie?" ucap pria lainnya bernama Bayu yang juga sahabat Rey."Tapi serius lo nggak punya perasaan sedikitpun buat Millie?" tanya Jerry."Yah, gue nggak punya perasaan buat Millie lagian gue udah punya Lussie tipe gue!"jawab sebuah suara yang sangat Millie kenali, suara yang tak lain adalah pacarnya Rey.Diluar pintu Dimas menatap Millie prihatin, gadis polos yang dijadikan taruhan oleh bos sekaligus sahabatnya itu sangat menyedihkan saat ini meskipun ia tersenyum tapi Dimas melihat jejak air mata yang dengan cepat dihapus Millie."Jadi kapan lo putusin?" tanya Bayu."Secepatnya, Millie terlalu polos buat gue meskipun udah beberapa kali gue tidurin, cuman Lussie yang bisa muasin gue!" jawab Rey mantap."Brengsek lo, anak orang udah diperawanin malah ditinggal kasian kali, gue nggak ikutan taruhan tuh duit 10 juta gue kasih doang tapi kalo ada apa-apa sama Millie gue nggak nggak tanggung resikonya, sialan gue nggak tega sama Millie!" ucap Jerry bersalah."Pengecut lo, lagian Rey sendiri yang bilang dia nggak ada perasaan sama Mil--" ucapan Arthur terpotong karena suara ribut didepan pintu Rey.Perasaan Jerry semakin gelisah entah karena apa namun tak lama pintu terbuka memperlihatkan seorang gadis mungil yang menenteng jaket hitam yang sudah pasti jaket milik Rey.Mata Rey dan Jerry melotot gusar menatap Millie dan Dimas yang berada tepat dibelakang gadis mungil itu, hanya Arthur dan Bayu yang terlihat santai."Yo Millie, lo ngapain kesini?" tanya Bayu tanpa bersalah."I-itu Millie mau ngembaliin jaketnya Kak Rey," ucap suara Millie bergetar menahan tangis yang setiap saat bisa tumpah kapan saja."O-oh jaket ya? k-kamu bawa aja aku nggak perly jaketnya," ucap Rey mendatangi Millie yang terpaku didepan pintunya, bermaksud meraih tangan mungil gadis itu namun Millie justru melangkah mundur."Kak Rey jaketnya Millie letakin disini, oh iya makasih ya kak jaketnya," ucap Millie berbalik.Hanya beberapa langkah, Millie kembali membalikkan tubuh mungilnya mengucapkan kata-kata yang menusuk perasaan Rey dan sahabat-sahabatnya."Oh iya Kak Rey, Millie terima kok Kak Rey putusin Millie lagipula hubungan kita cuman sekedar taruhan hehe dan semoga Kak Rey langgeng ya sama Lussie!" ucap Millie lirih namun terdengar ditelinga kelima pria itu.'Deg' Hati Rey berdebar mendengar ucapan Millie, perasaan Rey sangat bersalah ternyata gadis mungil itu sudah mendengar percakapan mereka sedari awal!Dimas tertegun, Jerry mengumpat bahkan Arthur dan Bayu sedikit merasa bersalah karena menjadikan gadis polos sebagai bahan taruhan mereka!Kelimanya terdiam sampai punggung bergetar gadis itu menghilang dari pandangan mereka."Se-sejak kapan Millie disini?" tanya Rey gusar menghadap ke arah Dimas."Sejak awal lo pada bicara dia udah disini bego!" ucap Dimas mengangkat bahunya acuh."Shit, gue ngerasa brengsek banget, lo pada liat nggak Millie tadi gimana?!!" kesal Jerry."Woy Rey, lo nggak susulin Millie nggak takut terjadi apa-apa sama Millie?" tanya Dimas prihatin.Reyhan menggeleng sebagai respon."Nggak, gue udah punya Lussie. Lebih baik kan dia tau? jadi gue nggak susah mikirin alasan buat mutusin dia haha,""Yah terserah lo, gue udah ingetin!" ucap Dimas kecewa pada sahabatnya yang dengan mudah mempermainkan seorang perempuan meski merekapun sama tapi Millie hanya gadis polos yang kesepian!"Oh iya tuh paper bag dari Millie, dia jatuhin tadi kali aja lo mau ngeliat isinya!" ucap Dimas kembali ke mejanya.Reyhan menatap paper bag berukuran sedang yang tergeletak dilantai tanpa memperdulikan paper bag itu justru Rey kembali masuk ke kantornya dengan perasaan campur aduk.Jerry mengambil paper bag Millie menyerahkan pada Dimas untuk disimpan.Bayu, Arthur dan Jerry saling berpandangan pasrah, Rey terlalu kejam untuk seorang gadis polos seperti Millie miski mereka juga brengsek karena merekalah taruhan sialan itu terjadi.Di sebuah Apartement sederhana, Millie menangis sesenggukan mengetahui kebenaran yang terjadi, dirinya hanya bahan taruhan yang dipermainkan oleh Rey dan sahabat-sahabatnya.Seharusnya Millie sadar, Rey adalah pria tampan, Pewaris Alvarez Corp perusahaan raksasa kelas atas dan juga idola banyak wanita sedangkan dirinya hanyalah seorang gadis kampung yang tidak memiliki orang tua dan miskin, sudah beruntung bagi Millie bisa menikmati hubungan mereka meski hanya 1 bulan!Di tangannya sebuah pena dan selembar kertas diletakkan dimeja, Millie mengemas beberapa pakaiannya kedalam sebuah tas berukuran sedang, telepon Millie dimatikan tepatnya kartunya dipatahkan.Millie tersenyum sedih menatap kearah benda berukuran kecil ditangannya, benda yang sama yang seharusnya ia hadiahkan untuk Rey namun ternyata pria itu hanya bermain dengan hidupnya!Miris, Millie merasa hidupnya tidak adil namun demi dia Millie harus bertahan.Tangan mungilnya menyeret koper membawa keluar apartemen, sebuah taksi menunggu didepan gedung yang mengantarkan Millie kembali ke desanya.Tanpa memperdulikan seluruh orang di ruangan, Reyhan menarik Millie kedalam pelukannya dan mengecup bibir yang sudah menjadi candu itu berkali-kali didepan Tuan Tua, Nyonya Tua, Ririn dan Reza yang mendengus menatap perilaku tak tau malu Reyhan, namun mereka memahami kebahagiaan Reyhan dan memberikan ruang untuk keduanya bersama."Kak Rey!! apa-apaan sih!! Masa cium-cium Millie terus, mana dihadapan Mami, Papi, Oma dan Opa, Millie kan jadi malu!!!" kesal Millie berusaha lepas dari pelukan hangat suaminya itu, didepan para tetua beraninya Reyhan berperilaku terbuka keluh batin Millie.Memasuki kandungan di 7 bulan terlihat jelas berat badan Millie mulai bertambah, pipinya yang tirus, sekarang terlihat menggembung seperti kelinci kecil yang imut, bibir merahnya mencebik kesal tapi justru semakin lucu, kulitnya seputih salju dan lembut, apalagi aura ibu hamilnya memang tak diragukan membuat seluruh pribadi Millie menjadi begitu lembut, ramah dan hangat, siapapun yang berada didekatnya bisa merasakan aura positif."Maaf, maaf, Kakak terlalu bahagia sayang, yah, ternyata Kakak sangat hebat sekali mencetak goal 3 langsung keluarnya, hahaha..." ucap Reyhan sombong sambil tertawa puas.Millie merasa wajah Reyhan sepertinya lebih baik dikarungi, lihat alisnya yang terangkat, bibir melengkung keatas, tatapan matanya sangat sok, benar-benar minta ditabok keluh Millie dalam hati."Huh, tau ah, Kak Rey emang nyebelin!" ucap Millie merajuk yang justru sangat sangat menggemaskan dimata Reyhan.Reyhan menatap Millie lekat, kedua matanya memancar penuh cinta menarik Millie kepangkuannya dan mencium wanita itu dengan lembut namun menuntut.Millie juga merindukan Reyhan, keduanya sama-sama saling merindukan sehingga Millie tak segan membalas cium*n sang suami itu.Setelah belasan menit, cium*n keduanya terlepas. Reyhan menatap bibir wanitanya yang memerah, basah dan sedikit bengkak akibat ulahnya namun dimatanya justru semakin menggoda dan dia tidak bisa menahan diri untuk tidak mencium Millie lagi dan lagi.Keduanya terbakar gairah, entah sejak kapan tangan Reyhan sudah menelusup kedalam kemeja yang di kenakan Millie menangkup, membelai dan merem*s gunduk*k yang saat ini menjadi semakin berisi dari terakhir kali dia rasakan, yah terasa lembut dan kenyal batin Reyhan puas."Enghhh.. Kakhhh aaahhh stopphh inih dirumah sakithhh uhhh..." desah Millie yang membuat Reyhan semakin terbakar gairah.Reyhan menekan remote, mengunci pintu kamar secepat kilat, karena ruang mereka VIP jadi jarak antara ruang satu dan lainnya cukup jauh.Reyhan terus mencium istri mungilnya yang sekarang semakin seksi, membuka kancing kemeja Millie satu persatu hingga saat ini keduanya tanpa memakai apapun."Kakhhh ahhh.." desah Millie sampai puncak karena permainan tangan Reyhan pada inti miliknya, tubuh mungil itu terangkat dan bergetar dan pada bagian tertentu terasa sangat berair.Reyhan tersenyum mengangkat Millie lebih dekat untuk menyatukan keduanya, beberapa saat suara desahan sahut menyahut di ruangan Reyhan untungnya Keluarga Alvarez pulang setelah memesankan Millie seblak keinginanya.Reyhan juga tahu batasannya, dia tidak bermain terlalu lama karena istrinya sedang hamil besar cukup beberapa kali Reyhan sudah merasa puas meski dia masih merasa kurang tapi demi kesehatan istri dan calon babynya dia tidak boleh egois.Sedangkan Millie, tentu saja terlalu lelah untuk memperdulikan keadaannya, dia tertidur setelah Reyhan membersihkan tubuh keduanya dan ikut tertidur juga selama 1 jam.Pesanan Millie pun baru saja datang karena mengantri namun Millie masih tertidur pulas akibat permainan panas mereka tadi.Sebenarnya Reyhan merasa bersalah karena melakukan hal itu di siang bolong namun nafsunya tidak bisa ditekan dan harus segera dilampiaskan.Pintu dibuka, kurir yang mengantar meletakkan seblak di atas meja dengan malu karena menatap Reyhan yang saat ini memeluk Millie dipelukannya, Kurir malu karena dia masih jomblo di umurnya yang menginjak 40 tahun sedangkan pasangan muda mudi didepannya sangat romantis, si kurir sangat iri tapi apalah daya untuk makan saja dia hanya bisa mencukupi dirinya sendiri batin si kurir.Tentunya karna Reyhan sangat bahagia dan memang orangnya dermawan, pesanan sang istri sudah dibayar tapi dia tetap memberikan tip 1 juta untuk si kurir yang menerima sangat senang, sungguh dia tidak jadi iri justru bersyukur menjadi kurir yang mengantarkan pesanan ibu hamil yang kaya raya, yang dimaksud adalah Millie.Hidung Millie sangat sensitif mencium aroma seblak yang sangat dia rindukan selama di Jepang, Millie sangat menyukai seblak dan makanan pedas lainnya."Ennnggghh.." Millie menggerakan tubuhnya dengan susah payah, pinggangnya terasa encok sambim menatap ruangan dan menemukan paket seblak pesanannya."Kakak, Millie pengen makan, ambilin seblaknya!" ucap Millie memerintah Reyhan, dia sangat malas untuk bergerak terlebih masih sedikit lelah karena permainan suami kurang ajarnya itu.Reyhan tersenyum bergegas mengambil mangkuk dan menuang seblak pesanan istri tercintanya itu.Reyhan mencicipi seblaknya sebelum memberikan pada Millie, takut jika ada racun atau terlalu pedas untungnya seblak yang dipesan sang istri tidak terlalu pedas jadi tidak apa-apa untuk di makan."Kak Rey, ambilin minum juga!" perintah Millie cerewet yang diangguki Reyhan senang hati."Suapin." ucap Millie manja."Iya sayang, aaaa.." ucap Reyhan mengarahkan sendoknya ke mulut Millie.Millie makan dengan sangat lahap, sesekali Reyhan juga menyuap seblak kemulutnya sendiri hingga seblak yang mereka makan tandas tak bersisa namun istrinya masih lapar dan menginginkan martabak telor yang langsung dituruti oleh Reyhan.Lagi-lagi Reyhan memberikan 1 juta untuk tip kurir yang mengantar pesanan, Millie senang karena Reyhan tidak pelit dan mau berbagi.Keduanya tertawa bahagia sambil sesekali menikmati martabak telor, hanya Millie yang menikmati sedangkan Reyhan dipaksa karena sebenarnya Reyhan sudah kenyang dan tidak terlalu suka Martabak Telor yang berminyak.Namun apalah daya Reyhan dihadapan perintah Millie, sang istri, dia hanya bisa pasrah memakan martabak telor dan berjanji akan berolahraga nanti untuk menjaga perut kotak-kotaknya.
My sweet, CEO
Derap langkah kaki-ku, mengisi keheningan. Dengan menggunakan high heels warna merah, aku melangkah menuju sebuah pintu yang menjulang cukup tinggi dan tampak kokoh.Sudah jelas pintu itu mahal, kaki jenjangku berhenti melangkah. Menghela nafas pelan, untuk pertama kalinya aku merasakan perasaan gugup.Bagaimana pun, ini hari pertama aku berkerja dengan profesi sekretaris dan bukannya model.Menjadi model sangat mudah, kau hanya perlu berpose dan memberikan senyum memikat lalu fotografer akan membidik."Kau bisa melakukannya Sakura, don't be afraid ," ucapku menyemangati diri sendiri.Ayolah, aku hanya perlu mengetuk pintu ini. Dan menghadap Mr. Uchiha yang merupakan Chief Executive Officer.Bersikap profesional, dan semua selesai. Andai tadi aku tidak mendengar rumor buruk tentang boss-ku.Mungkin, aku sudah dapat duduk dan mengerjakan tugas dengan santai. Memang salah-ku karena tidak hadir saat pengenalan CEO baru.Harusnya, aku berkerja sebagai sekretaris Uchiha Itachi. Namun, mendadak pemimpin lama itu pindah. Dan memimpin, perusahaan Uchiha corp di luar negeri.Damn it.Dihari pertama berkerja aku sudah telat, dan sekarang malah mengundur waktu.Memantapkan hati, aku memberanikan diri mengetuk pintu itu beberapa kali.Yang pasti, aku sudah tidak dapat mundur lagi dan harus melangkah maju. Sudah terlanjur diketuk, tidak mungkin kabur bukan."Selamat pagi Mr. Uchiha, saya sekertaris baru anda. Haruno Sakura," tuturku dengan sopan, dan memperkenalkan diri."Masuk."Suara yang menyahut dari dalam, terdengar familiar ditelinga ku. Memilih untuk mengabaikan, aku memegang dokumen data dan hendak melangkah masuk.Secara otomatis pintu kokoh terbuat dari kayu itu terbuka dari dalam, ruangan itu tampak fantastis dengan nuansa hitam dan putih.Langkah kaki-ku kali ini lebih percaya diri, masih ada keahlian seorang model mengalir di dalam darahku.Sebuah jendela berukuran sangat besar itu memperlihatkan betapa sibuknya negara ini, dan hal itu wajar.Mr. Uchiha, duduk sembari membelakangi-ku dengan kursi ergonomisnya yang memang dapat diputar."Ini data yang anda pinta." Aku meletakkan beberapa tumpuk dokumen itu keatas meja-nya.Pria itu sama sekali tidak bergeming, membuat aku merasa sedikit cemas. Shit, ini pasti karena keterlambatanku dihari pertama bekerja.Aura dari boss baru-ku, terasa begitu kuat. Refleks, aku menatap kebawah tidak berani untuk mendongak.Dia memutar kursinya menjadi menghadap padaku, aku masih tetap sama. Tidak, punya niat untuk menatap wajahnya.Tap... Tap... Tap...Suara langkah kakinya, mengisi keheningan ruangan ini. Aku hanya diam, ok sepertinya aku terkena masalah.Tertegun, aku diam membatu. Saat merasakan sebuah tangan kekar kini melingkar di pinggang ramping-ku."Merindukan-ku baby ," bisiknya membuat bergidik.Holyshit, suara bariton itu sungguh sudah sangat akrab di indra pendengaran ku. Seorang pria, yang melewatkan malam penuh gairah denganku dulu.Memejamkan mata sejenak, aku berusaha untuk tetap bersikap santai. Bagaimana pun, tidak semua orang berharap bertemu dengan mantan."Jadi kau boss, disini Sasuke?" Aku, mengajukan pertanyaan secara spontan.Jelas itu pertanyaan bodoh, tapi ini lebih baik daripada harus membalas perkataan rindunya.Sasuke mengecup sekilas pipiku, lalu melepaskan dekapannya. Memutar tubuh-ku, kini aku dapat melihat wajahnya yang masih saja sangat tampan, oh shit.Mengangguk, Sasuke lalu menatap ku dengan onyxnya yang tajam namun memikat hati. Tulang rahangnya yang tegas dan hidung mancung tidak perlu diragukan.Menyeringai, Sasuke menatap intens padaku. "Kau kecewa karena kini aku menjadi boss-mu. Cherry?"Cherry, nama itu adalah panggilan khusus yang dia berikan padaku saat kami masih bersama. Siapa sangka, dia masih mengingatnya."Well, sebenarnya aku kecewa," ujar-ku sembari bersedekap dada, sudah tidak ada lagi ke formalitasan diantara kami.Menaikkan sebelah alisnya keatas, reaksi Sasuke membuatku ingin menjahilinya."Benarkah?" tanyanya, yang ku respon dengan anggukan."Yah, aku sungguh kecewa. Padahal aku sudah memilih resign dari pekerjaan ku menjadi model agar dapat berkencan dengan seorang CEO. Tapi ternyata kaulah boss-ku, haruskah aku resign lagi?" tanyaku membuat tawa renyah mengalun keluar dari bibirnya.Sasuke mendengus geli, lalu dia menyentil dahi-ku tidak terlalu kuat. Tapi tetap saja itu sakit."Kau semakin membuatku, tidak ingin melepaskanmu. Cherry," ujarnya, saat aku tengah mengusap dahi indahku yang menjadi korban.Mencebik kesal, aku sudah tidak menganggapnya sebagai boss sekarang. Namun, sebagai mantan yang mengesalkan."Teruslah membual Sasuke," balasku, tanganku terulur memperbaiki tata letak dasinya yang sedikit miring.Tersenyum geli, Sasuke hanya menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. Dia membiarkanku memperbaiki dasinya, memang sendari awal, aku sudah sangat ingin memperbaiki dasinya.Posisi kami begitu dekat, aku mencoba fokus merapikan dasinya. Sungguh konyol, kini aku terlihat seperti seorang istri yang membantu suami."Membual? Aku sedang tidak membual babe."Suara Sasuke terdengar serak, dan seksi. Arghhh sial, kemana pikiranku melintas barusan."Kau sudah punya istri Sasuke, jangan berpikir aku tidak mengetahuinya," ucapku malas sembari meliriknya sekilas.Diam, Sasuke sama sekali tidak membalas perkataanku. Mungkin, dia berpikir aku tidak tau. Bahwa Sasuke sudah menikah satu tahun lalu."Selesai," seruku dengan tersenyum, setelah merapikan dasinya.Tersenyum tipis, Sasuke lalu memegang daguku. Membuat emeraldku kini beradu dengan onyx yang dulu begitu ku rindukan."Punya dua istri, sepertinya bagus."Aku mendelik saat dia berkata demikian, lalu menginjak kakinya cukup kuat. Rasakan itu."In your dreams, Mr." Tanpa rasa bersalah, aku berucap demikian dan melangkah pergi.Berbeda dengan laki laki biasanya, Sasuke hanya meringis padahal high heels ku cukup tinggi dan menginjaknya kuat.Terkekeh, Sasuke lalu membalik badannya. Aku tau dia tengah memperhatikanku sekarang, tapi aku tidak peduli."Sexy," komentar Sasuke yang masih dapat ku dengar.Dengan cepat, aku menghentikan langkahku dan menatapnya kesal. "Obscene," makiku penuh keberanian lalu dengan cepat melangkah keluar.Flashback.Paris-prancis.Dengan menggunakan mini dress warna merah, yang memperlihatkan lekuk tubuh indahnya.Sama sekali tidak terlihat sorot mata risih, di emerald Sakura. Perempuan yang baru saja masuk ke jenjang perkuliahan itu melangkah santai masuk kedalam club.Beberapa pasang mata menatap kearahnya, tidak mengidahkan sama sekali. Sakura duduk dikursi meja pantry."Tolong satu cocktail," tuturnya, dengan nada suara cukup kuat.Dentuman musik yang keras, ditemani dengan suara desahan yang samar-samar bukanlah hal yang aneh.Sakura bertopang dagu, dan menatap sekitar dengan acuh. Untaian rambutnya yang berwarna softpink dengan kulit putih porselin membuat Sakura tampak begitu luar biasa.Ia menaruh sebelah paha kanannya diatas paha kiri, sembari menunggu minuman yang ia pesan.Tangan lentiknya bergerak dengan cepat mengetik diatas keyboard ponsel, mengirim sebuah pesan pada seseorang yang tengah mengkhawatirkannya."Bullshit," desisnya, mengumpat lalu menaruh alat komunikasi itu tanpa minat diatas meja.Diwaktu yang bersamaan, bertender pria itu memberikannya cocktail yang diinginkan."Thanks." Menerima, Sakura lalu meneguk minuman beralkohol itu dalam tiga tegukan.Malam ini, dia habiskan dengan minum-minuman beralkohol. Ia hanya duduk dikursi pantry tanpa ada niatan untuk turun ke lantai dansa.Sudah beberapa saat berlalu, Sakura merasa sedikit mabuk. Pandangan matanya juga mulai kabur, mungkin karena ia meminta cocktail yang difermentasi kan dengan devil spring vodka.Itulah kenapa kadar minuman alkohol yang Sakura pinta, sangat tinggi dan gampang membuat seseorang mabuk hanya dalam beberapa tegukan.Seorang pria, duduk disampingnya. Sakura dapat mencium harum maskulin dari pria itu."Satu vodka."Shit, suara bariton pria itu bahkan terdengar sungguh luar biasa. Sakura menggigit bibir bawahnya, mencoba untuk terlihat biasa saja.Uchiha Sasuke, pria dengan gaya pakaian casual itu menatap kearah Sakura yang memejamkan mata sejenak.Pusing, itulah yang Sakura rasakan, tapi. Ia tahu bahwa pria disampingnya ini terus saja menatap kearahnya.Membuka kelopak matanya, Sakura kini melihat kearah Sasuke. " Excuse me, apa ada yang salah denganku?" tanya Sakura.Mendengus pelan, sebuah seringai menghiasi wajah tampannya. "Kau terlihat menarik dimataku."Senyum simpul menghiasi wajah Sakura. "Benarkah? Lalu, apa kau ingin menghabiskan one night stand denganku?" tawar Sakura.Terkekeh pelan, Sasuke tidak pernah menyangka akan ada seorang yang bertanya seperti itu padanya."Tidak," balasnya membuat kening Sakura mengerut."Sialan," maki Sakura, pelan namun masih dapat didengar oleh Sasuke.Sakura kembali meminum cocktail miliknya, mengacuhkan Sasuke. Mencari partner untuk menghabiskan malam sepertinya sedikit sulit.Pria bermarga Uchiha itu tersenyum geli, saat mendengar umpatan meluncur keluar dari bibir ranum itu.Bangkit berdiri dari kursi, Sasuke dengan tiba tiba mengangkat tubuh seksi Sakura keatas meja pantry bertender tanpa beban.Tersentak kaget, Sakura mendelik kesal pada pelaku yang baru menolak ajakannya beberapa saat lalu."Oh fuck, apa yang ingin kau lakukan?" tanyanya.Cahaya remang remang, membuat Sakura tidak dapat melihat bahwa Sasuke kini menatapnya penuh ketertarikan."Bukan hanya satu malam yang akan ku lewatkan denganmu, namun setiap malam," bisik Sasuke dengan suara serak tepat ditelinga Sakura dengan seringai tipis.Sakura balik menyeringai. "Bagaimana jika aku tidak ingin menghabiskan setiap malam denganmu?" tanyanya main-main.Tersenyum tipis, telapak tangan kanan Sasuke bergerak mengelus paha Sakura dengan lembut. "Aku jamin kau tidak akan menolak, babe," ucapnya lalu mencium bibir Sakura._______________Seakan tersadar dari kenangan lama, aku meringis pelan mengingat pertemuan pertamaku dan Sasuke dulu.Siapa yang menyangka bahwa aku akan memberikan mahkota-ku pada Sasuke, dan kami kembali bertemu dikampus serta menjalin kasih dalam kurung waktu cukup lama.Sasuke adalah cassanova, dan putra bungsu keluarga Uchiha. Pria itu sangat famous, tentunya.Aku mengaduk cappucino yang ku pesan beberapa saat lalu menggunakan pipet.Untuk hubungan sebagai mantan kekasih, ku rasa hubungan kami terbilang cukup baik.Cafetarian Uchiha corp bergaya Spanyol, lebih mirip seperti kafe bagiku.Mengingat seberapa kayanya keluarga konglomerat itu, jadi ini adalah hal yang wajar.Duduk sendirian dimeja pojok tidak membuatku merasa dikucilkan, yah ini hari pertamaku bekerja dan belum memiliki teman.Merasa bosan, aku memilih untuk memainkan ponsel. Sebuah chat dari seseorang yang amat ku rindukan membuat bibirku naik keatas dan membentuk seulas senyum.Aku yang sibuk mengetik diatas keyboard ponsel mendadak tidak fokus saat cafetarian tiba tiba menjadi heboh.Layar ponselku kini menandakan panggilan masuk, memilih untuk beranjak pergi.Aku berdiri dari kursi, dan mengangkat panggilan itu. "Hello dear ," sapaku lembut.Kasak-kusuk terdengar dari seberang sana, membuatku merasa khawatir. "Sayang, kau baik-baik saja?" tanyaku.Suara disambungkan telepon tidak terlalu jelas, mungkin karena cafetarian kini sangat berisik atau masalah jaringan.Aku menekan tombol speaker pada ponsel, masa bodoh jika ada yang mendengar percakapanku. Karena aku hanya ingin memastikan, permata hidupku baik-baik saja saat ini.Bruk!Sebuah kesialan terjadi, karena terlalu fokus pada ponsel aku menabrak tubuh seseorang.Memejamkan kelopak mata, aku sudah siap siaga merasakan kerasnya lantai marmer dan menjadi objek tertawaan semua orang.Terpaku, aku dengan cepat membuka kelopak mata. Saat merasakan tangan kekar kini menahan pinggangku agar tidak jatuh, menghantam lantai.Onyx tajam itu membuatku tertegun, ditambah dengan senyum tipis diwajahnya.Buru-buru, aku berdiri tegak dan beruntung Sasuke melepaskan tangannya dari pinggangku.Aku melakukan kesalahan fatal, dihari pertama bekerja. Damn it, hanya ada kata pemecatan dalam kepalaku saat ini."Maafkan saya Mr. Uchiha," ucapku formal sambil membungkuk sekilas.Pantas saja, cafetarian menjadi heboh. Pasti karena kedatangan Sasuke kesini, harusnya aku berpikir tentang hal ini tadi.Semua orang memandang kearah kami sekarang, bahkan dibelakang mantan-ku terdapat para jajaran tinggi perusahaan.Diamnya Sasuke membuatku mengumpatinya didalam hati, sialan. Padahal jelas-jelas pria ini tau aku tengah berdiri kikuk dihadapannya.Aku memberanikan diri, menatap wajahnya yang tampak datar. Kini, onyx Sasuke beralih menatap benda berbentuk persegi panjang, berwarna putih tergeletak di atas lantai marmer.Oh my godness, mataku membelalak saat sadar ponselku terlempar jatuh dan masih menyala dalam keadaan tersambung panggilan telepon.Sasuke, pria dengan jas mahal itu berjongkok dan mengambil ponselku. Membuatku meremas kuat rok span warna biru tua yang aku kenakan.Alis Sasuke tertaut, membuatku berharap-harap cemas. Oh Tuhan ku mohon jangan buat Sasuke mengetahui segalanya sekarang, aku belum siap." M y dear ," ucap Sasuke dingin, menyebutkan nama kontak yang tertera disana.Kembali, kasak-kusuk terdengar. Ditambah dengan speaker yang ku aktifkan tadi, membuat semua orang disekitar dapat mendengarkannya.Mengigit bibir bawahku, aku sangat berharap sambungan telepon itu mati saja untuk saat ini."Mama! Salad, baru turun dari pesawat!"Seruan anak kecil, penuh semangat membuat tubuhku membeku diam. Membayangkan bagaimana reaksi semua orang terutama Sasuke, seakan batu menimpa kepalaku."Shit." Spontan, umpatan dengan nada kecil terlontarkan dari mulutku.Aku mengalihkan pandangan kearah lain asalkan tidak menatap manik onyx dengan sorot tajam Sasuke seolah-olah menusuk-ku."Ma, apa mama mendengar salad?"Suara putri kecilku, yang memanggil namaku dan bertanya untuk memastikan karena tidak kunjung menjawab. Sedikit membuatku merasa tidak bersalah padanya.Pikiranku sekarang mirip benang kusut. Tapi, entah keberanian darimana. Aku secara berani serta tiba tiba langsung melangkah maju, dan merebut kembali ponsel yang memang menjadi hak-ku.Masa bodoh jika aku dipecat, karena ketahuan mempunyai seorang putri. Suara imut Sarada yang membuatku bersikap demikian, tanpa basa basi aku langsung mematikan sistem speaker diponsel dan mendekatkan benda komunikasi ini pada telinga kananku."Salad, mama akan menjemputmu dibandara. Kau tunggu disana ya my dear."Sarada menyahut ucapanku dengan patuh, disituasi seperti ini. Aku merasa senang akan sikapnya yang sungguh, dapat dibanggakan." Good job, see you later honey ."Sambungan telepon terputus, setelah pembicaraan berakhir. Helaan nafas pelan tanpa sadarku lakukan, dan dalam sekejap aku tersadar kembali akan situasi sekitar yang sulit dijelaskan.Semuanya menatapku dengan sorot mata berbeda beda dan pendapat mereka masing-masing, oh God. Aku benar benar jadi terkenal di lingkungan kerja dalam kurung waktu kurang dari dua belas jam, sungguh prestasi yang memalukan.Baiklah karena sudah begini, aku tidak punya jalan lain. Untuk saat ini anggap saja. Aku sedang memasang tampang muka tebal, dan tidak tau diri. Karena dengan seenak jidat, aku melangkah hendak pergi dari kantin atau lebih tepatnya kantor raksasa ini.Tatapan Sasuke, terasa menembus diriku. Ini gila, dan aku tidak bisa disini lebih lama lagi.Grep!Aku membatu diam, saat sebuah tangan mencengkram pergelangan tanganku walau tidak terlalu kuat."Kau berhutang penjelasan padaku."Lidahku terasa keluh, saat Sasuke membisikkan hal itu dengan nada dingin sarat akan intimidasi.Refleks, bibirku menipis. Sialan aku merasa sangat gugup, bagaimana pun aura dari seorang Uchiha sungguh tidak main main.Setelah berucap demikian, Sasuke melepaskan cengkraman tangannya. Pria yang menjabat sebagai CEO itu, kini memandang pada para karyawan yang masih asik menjadi penonton dan bergosip ria."Apa sedang ada tontonan menarik bagi kalian sekarang?!" tanyanya sekaligus membentak yang sarat akan sindiran.Menunduk, aku berdiri diam. Suasana kantin mendadak sepi, tidak ada lagi suara apapun. Setelah Sasuke berucap seperti tadi dengan begitu tegas, aura boss sungguh cocok untuknya.Sasuke melangkah pergi, bersama dengan para jajaran tinggi perusahaan yang masih setia mengikuti langkahnya.Mencoba menenangkan diri, aku menghela nafas panjang. Dan menekankan didalam hati, bahwa kejadian ini tidak akan berdampak besar apalagi negatif.Jelas aku sedang membohongi diriku sendiri, tapi itu membuatku lebih baik. Sikap percaya diriku sebagai mantan model nyatanya kembali runtuh jika berhadapan dengan dia, entah itu dulu mau pun sekarang.__________________Diruangan dengan nuansa maskulin itu, onyx tajam pemilik ruangan ini membaca setiap rentetan kata diatas kertas putih penuh dengan seksama.Raut wajahnya terlihat amat datar, Sasuke lalu menutup dokumen tentang data seseorang secara detail yang ia pinta beberapa saat lalu.Hembusan nafas kasar terdengar, Sasuke kemudian beralih menatap kearah tangan kanan kepercayaannya dengan sorot mata serius."Tutup bandaranya sekarang."_________________Aku duduk dengan gelisah dikursi penumpang taxi, karena kejadian tadi sedikit membuatku merasa takut.Hal tadi tidak seharusnya terjadi, aku beranggapan demikian bukan karena egois. Karena, dari awal aku tidak pernah berniat untuk menyembunyikan fakta tentang keberadaan Sarada dari Sasuke. Tapi, ini terlalu cepat.Setidaknya, aku butuh waktu beberapa saat untuk menyiapkan diri dan mempersiapkan segalanya.Aku mencoba untuk tetap tenang, manik emerald ku kini beralih menatap keluar jendela taxi.Mungkin butuh sekitar setengah jam untuk tiba dibandara dan bertemu permata hidupku, sedikit sulit untukku tadi menemukan taxi.Berharap saja jalan tidak begitu ramai, apalagi sampai tercipta kemacetan. Membayangkannya jika benar terjadi, sungguh terasa mengesalkan.___________________"Ada apa ini?"Aku menatap dengan penuh keheranan, saat mobil taxi yang ku tumpangi dipaksa berhenti saat sampai diportal depan bandara oleh sekelompok orang dengan tubuh tegap dan menggunakan jas seragam."Saya tidak tau nona."Supir taxi menjawab pertanyaanku dengan nada suaranya yang amat kentara, sudah jelas dia juga sama denganku yang tidak tau situasi apa yang sedang terjadi saat ini.Salah seorang pria, mengetuk kaca jendela dibagian belakang alias penumpang tempatku duduk saat ini."Nona Sakura, kami ada perlu dengan anda. Mohon keluar, dan bekerja samalah."Gelisah, aku merasa bingung harus berbuat apa. Bahkan supir yang tampak tidak muda lagi itu menggelengkan kepalanya, seolah memberi kode bahwa jika aku membuka pintu mobil bisa saja berbahaya.Pemikiranmu bergemelut, namun aku memilih untuk membuka pintu mobil dan menapakkan kaki-ku yang dibalut high heels keluar dari dalam taxi.Pria tadi menyebut namaku, itu berarti ada seseorang yang memerintahkannya. Ditambah, akses masuk kedalam bandara ternyata telah diblokir, oleh orang yang berkuasa tentunya."Mohon ikut dengan kami nona Sakura, karena kami akan mengantar anda, untuk menemui putri anda didalam bandara," jelasnya, dengan nada serius.Diam, aku memperhatikan sekitar. Ada beberapa mobil dibelakang, yang ternyata disuruh putar balik karena akses ke bandara telah ditutup.Meski kini, ada satu orang didalam kepalaku yang mungkin saja menjadi pelaku. Tapi, aku mencoba menepis pemikiran itu jauh-jauh.Pria didepanku berkata hal yang jujur, bahwa Sarada berada didalam bandara. Karena aku memasang GPS diponselnya, untuk jaga jaga disaat seperti ini.Aku mengangguk kepala, tanda mengiyakan. "Baiklah, aku ikut kalian kalau begitu."_________________Aku berlari, masuk kedalam gedung bandara. Dengan cukup cepat meski menggunakan high heels, itu bukan sebuah halangan.Beberapa pria yang mengawali tadi, hanya mengantarkan ku hingga bagian parkir bandara.Bandara ini sangat luas, dan tidak ada seorangpun didalamnya sejauh aku masuk dan menjejakkan kaki.Kakiku berhenti berlari, nafasku memburu. Karena kecepatan kakiku melangkah tidaklah main main, sedikit rasa sakit ku rasakan akibat berlari dengan sepatu hak tinggi."Mama!"Suara akan kecil, yang sangat akrab dipendengaranku membuat manik emerald ku berbinar.Aku menoleh kearah kiri dengan tersenyum, namun kemudian aku terpaku diam mendapati bahwa putriku. Sarada, yang beberapa bulan lalu berulang tahun. kini, tengah berada dalam gendongan Uchiha Sasuke.Sudah sendari tadi, aku mengelus pelan pucuk kepala Sarada yang tengah tertidur lelap dalam pangkuanku sembari menyender.Melihat raut wajah Sarada yang sangat imut dengan pipinya yang chubby membuatku merasa gemas dan menarik hidung mungil itu pelan.Gelisah, Sarada sepertinya merasa risih dengan apa yang aku lakukan. Tapi aku justru malah terkikik geli, karena merasa terhibur.Sebuah tangan kekar yang terulur mengelus pucuk kepala Sarada membuatku seketika tersadar, akan situasi saat ini.Aku menatap kearah sang empu yang tidak lain adalah Sasuke, pria dengan setelan jas mahal itu menyetir mobil Nissan GT-R50 miliknya yang berwarna hitam elegan. Sebuah mobil limited edition dan berharga mahal.Dia melirik sekilas pada Sarada, yang tengah tertidur dalam pangkuanku dengan sebuah senyum tipis."Kau selalu membuatku terkejut."Suara Sasuke terdengar begitu dalam, membuat bibirku terasa keluh. Mencoba untuk tetap tenang, aku lalu menatapnya dengan sorot mata tidak yakin."Benarkah? Dalam artian baik atau sebaliknya?" tanyaku penuh rasa penasaran.Sasuke terlihat berpikir sejenak, pria itu lalu memarkirkan mobilnya dengan aman."Kau tau jawabannya babe," balas Sasuke dengan seringai diwajahnya lalu mematikan mesin mobil.Entah, aku yang tidak terlalu memperhatikan atau waktu yang berjalan cepat. Karena kini nyata kami sudah berada dilantai basementDia melepaskan seltbeat, lalu membuka pintu mobil dan berjalan memutar.Membuka pintu mobil disebelahku, dan mengulurkan kedua tangannya. "Kemari, biar aku yang menggendongnya."Haruskah aku terpana untuk kesekian kalinya, karena sikap Sasuke yang selalu gentleman baik dulu mau pun sekarang.Dengan senang hati, aku menerima tawarannya. Membiarkan dia mengambil Sarada dari pangkuanku."Hati-hati, jangan sampai dia terbangun," ucapku sedikit khawatir.Tapi itu sia-sia, karena Sasuke dengan sigap menggendong Sarada dengan penuh kelembutan bahkan putriku tampak tidak terganggu dan justru terlihat sangat nyaman dalam dekapan CEO Uchiha corp.Mengambil tas milikku, kaki jenjangku yang berbalut high heels kini menapak pada lantai basement.Pintu mobil tertutup, aku menatap Sasuke yang kini sibuk mengelus punggung Sarada."Ikut aku," ucapnya yang terdengar seperti perintah ditelinga ku.Dan sialnya, aku menurut. Yah walau kami sepasang kekasih dimasa lalu, tapi sekarang dia boss-ku.My sweet, CEO.______________________Ting!Pintu lift terbuka, melangkah keluar. Kami berjalan beriringan. Menuju apartement yang tidak lain adalah milik Sasuke.Aku memang menyetujui, untuk pergi ke apartementnya yang berada dekat dari bandara. Untuk meluruskan semua masalah yang terjadi dimasa lalu, dan memperjelas semuanya."Sepertinya kau harus menerima tawaranku."Celetuk Sasuke membuatku kini menatapnya penuh tanya. "Tawaran? Tawaran yang mana?"Aku mengerutkan kening tanda heran, sebuah seringai tipis menghiasi bibirnya membuatku merasakan firasat aneh.Sasuke mendekatkan bibirnya ke telinga kiriku. "Menjadi istri keduaku," bisiknya dengan suara seksi.Mencoba untuk tidak tergoda. Aku menatap malas Sasuke, lalu menyikut pinggangnya pelan. "Jangan bercanda terus denganku, Sasuke."Sengajaku ucapkan namanya, sebagai tanda bahwa aku memang tidak punya niat. Bagaimana pun dia sudah menikah, hell mana mungkin aku merusak pernikahannya.Dia terkekeh, Sasuke tampak begitu tampan dan aku harus mengakui itu sebagai tanda kejujuran."Sakura,"Fokusku kini beralih, pada seorang perempuan dengan paras cantik serta bersurai merah terang."Karin...?" gumamku tidak percaya.Pasalnya, sudah hampir delapan tahun kami tidak pernah bertemu. Karin adalah sahabatku sejak dibangku sekolah dasar.Karin tersenyum dan berjalan mendekat kearah ku dengan membawa paper bag dikedua tangannya."Kau tinggal disini?" tanyaku bersemangat.Mengangguk, Karin juga tampak begitu senang bertemu denganku. "Ya, aku baru tinggal disini sekitar sebulan. Bagaimana denganmu?" Karin menjeda pertanyaannya dan melirik sekilas pada Sasuke dan Sarada.Lalu sebuah senyum penuh makna menghiasi wajahnya. Ia menatapku dengan kerlingan mata yang sudah sangat aku pahami."Kita tidak pernah bertemu dalam kurung waktu lama, dan sekarang kau sudah menikah? Damn it. Keluargamu tampak sungguh sempurna dan serasi," lanjutnya panjang lebar.Oh my godness, aku sudah menebak bahwa dia akan berucap seperti itu. Menghela nafas pelan, menggeleng pelan."No, ini tidak seperti yang kau pikirkan Karin," ucapku menyanggah agar kedepannya Karin tidak salah paham.Mengibaskan tangannya, Karin lalu menganggukkan kepalanya paham. "Baiklah aku tau, dia kekasihmu serta boss-mu bukan? Dan ternyata kalian sudah memiliki anak. Aku paham itu."Sudah jelas dipandangan Karin kami terlihat sangat cocok, seorang pria tampan dengan jas mahal dan aku dengan setelan khas sekertaris kantor ditambah dengan Sarada diantara kami.Karin sudah pasti berpikir seperti itu, sekertaris yang memiliki anak dengan bossnya sendiri. Menghembuskan nafas pelan, aku melirik sekilas ke pada Sasuke yang justru hanya mengamati dan tersenyum tipis.Sialan, dia memang tidak memiliki niat untuk membantuku menjelaskan situasi. Meski, memang benar bahwa Sarada adalah anak Sasuke.________________Tanganku dengan telaten mencuci piring diatas wastafel, sesekali aku bersenandung kecil.Apartement ini, masih sama seperti beberapa tahun lalu. Dulu, aku pernah dibawa Sasuke untuk kesini saat kami berlibur ke negara asal.Tidak ada yang berubah, apartement ini masih sama mewahnya dan terkesan maskulin. Sungguh ciri khas Sasuke, begitu kentara terasa.Beruntung, Sarada sama sekali tidak terbangun dan saat ini tengah bermimpi indah didalam kamar Sasuke.Helai-an anak poni yang tidak terikat menutupi mataku, rambutku kini sudah diikat ponytail agar tidak menghalangi aktivitas cuci piring.Beberapa saat lalu, Sasuke memesan junk food karenanya kulkasnya sebagian besar berisi soda dan minuman beralkohol.Itulah mengapa kini, aku mencuci piring diapartementnya. Hitung-hitung sebagai tanda terima kasih untuk makanannya.Selang beberapa saat, aktivitas yang ku lakoni akan selesai. Namun, aku dibuat kaget karena ulah seseorang.Sebuah tangan kekar memeluk pinggangku posesif, Sasuke lalu membenamkan wajahnya diceruk leherku."Kau sudah semakin mirip istriku, Cherry," ujarnya dengan suara serak.Tertawa pelan, aku masih senantiasa membilas piring lalu meliriknya sekilas. "Yes of course, aku istrimu didunia mimpi," balasku dengan candaan.Sasuke mendecak, dia lalu menaruh dagunya dibahuku dan mengamati aktivitas yang sedang aku lakukan."Sudah pergi sana," usirku terang terangan.Bukannya menurut, Sasuke semakin memelukku. "Kau berani mengusirku hm?"Menganggukkan kepala, aku mengiyakan. "Tentu saja aku berani."Membilas kedua tangan, aku mengambil serbet dan mengelap kedua tangan agar kering."Nah, sekarang lepaskan pelukkanmu Sasuke.""Hn."Sasuke dan gumam-annya, adalah hal yang tidak asing lagi bagiku. Jelas sekali pria tampan ini tidak akan menurut padaku dengan mudah.Jika sudah begini, hanya ada satu cara. Dan mau tidak mau aku harus melakukannya.Cup!Aku mencium sekilas pipi Sasuke, dengan penuh kenekatan.Menopang dagu, aku menatap pada Sasuke yang sibuk bertelepon dengan seseorang diseberang sana.Sebuah ide konyol tapi menyenangkan kini melintas dikepala-ku, dengan cepat. Aku bangun berdiri dari sisi pinggir ranjang, dan tersenyum jahil.Baiklah, let's do it."Oh baby... Sttt.. fuck! Damn, ahh shit."Aku mendesah, dengan penuh penghayatan. Dengan suara cukup kuat hingga dapat didengar oleh orang yang kini menjadi teman ngobrol Sasuke ditelepon."Oh shit," umpat Sasuke, saat menyadari tingkah laku-ku.Dia menjauhkan telepon yang masih tersambung, masa bodoh jika itu istrinya.Siapa suruh tidak membiarkanku pulang ke apartement milikku sendiri, dan memaksa aku serta Sarada berada disini."Sakura...." Sasuke menegur-ku dengan suaranya yang dalam dan serak.Aku terkikik geli, melihat bagaimana onyx Sasuke menatapku datar. Dia sedang kesal pastinya, tapi aku tidak peduli saat ini.Terlalu sibuk tertawa, membuatku tiba tiba merasa terkejut. Saat tubuhku kini jatuh tepat diatas ranjang yang empuk karena ulah seseorang.Entah sejak kapan, Sasuke sudah mematikan sambungan teleponnya dan kini menindihku."Kau goda aku lagi, ku buat ranjang ini roboh Cherry," ucap Sasuke dengan suara baritonnya yang terdengar seksi.Ok, aku tahu dia sungguh sungguh mengucapkan itu.Tanganku bergerak mengelus lembut rahangnya yang tampak tegas, posisi kami begitu intim.Sasuke memejamkan matanya, menikmati elusanku. Dia selalu tampan, dan aku akui itu."Baiklah, I'm sorry ." Aku memilih untuk mengalah, yah ini pilihan terbaik.Namun, Sasuke langsung membuka kelopak matanya dan seulas seringai menghiasi bibir seksinya.Tiba-tiba alarm tanda bahaya berbunyi dikepalaku, oh damn it. Pikiranku mendadak kotor, hanya Sasuke yang mampu membuatku berpikir begini.Sasuke mendekatkan wajahnya ke samping kanan wajahku, deruh nafasnya yang menepah membuatku refleks memejamkan mata."Sepertinya, akan lebih baik jika Sarada memiliki adik."Nafasku tercekat, saat dia berbisik dengan nada begitu menggoda. Membuat detak jantungku terpacu lebih cepat, cassanova ini sungguh berbahaya.Aku memberanikan membuka kelopak mata, kini Sasuke tengah menatapku dengan intens dan menyeringai puas."Kau takut, heh?"Sadar aku telah dipermainkan olehnya, dengan cepat aku mendorong tubuh Sasuke yang menindihku.Sedikit terhuyung, tapi Sasuke berhasil mengendalikan dirinya. Aku mendelik pada dia yang sekarang tengah terkekeh geli.Dia menyebalkan, dan sialnya aku pernah mencintainya dulu.Memalingkan wajah kearah lain, aku mengerucutkan bibirku dan mengembungkan pipi.Sesekali aku melirik Sasuke, dan kembali membuang muka.Meski sudah berumur 20-an tahun, dan sering bersikap dewasa. Tapi sikap manja dan mengambek akan aku keluarkan pada orang orang terdekat.Dia mendengus geli, lalu melangkah mendekat padaku. Tangan kekarnya kini mencubit pipiku, tidak terlalu kuat tapi tetap saja sakit."Sasuke! Sakit tau," protesku, semakin menatapnya sangar.Tapi pria ini justru tertawa, mungkinkah aku terlihat lucu dan menggemaskan saat kesal? Oh God._________________Aku menatapnya dari bibir pintu, bagaimana Sasuke tengah mengusili Sarada yang tengah tertidur.Sudah terlihat jelas bahwa Sasuke menyayangi Sarada, putri kami. Karena bagaimana pun, kenyataannya mereka memiliki hubungan darah dan ikatan sebagai ayah dan anak.Sayangnya, kami tidak bisa menjadi keluarga meski saling menyayangi.Aku menghela nafas panjang, lalu berjalan mendekat dan duduk disamping Sasuke.Pria tampan bak dewa Yunani dengan pakaian casual itu kini beralih menatapku dengan menaikkan sebelah alisnya."Ponselmu berdering," ucapku memberitahu dan menyerahkan benda persegi panjang canggih berwarna hitam padanya.Mengangguk, Sasuke bangkit dari ranjang dan menerima ponsel miliknya. Lalu melangkah pergi, keluar dari dalam kamar.Memijit pangkal kening, aku merasa gusar sekarang. Karena Sasuke terus menelepon dan mendapatkan telepon dari orang lain.Meski kami sudah sepakat, untuk tidak memberitahu keberadaan Sarada pada semua orang terlebih keluarga konglomerat Uchiha.Setidaknya sampai aku benar-benar siap dengan segala kemungkinan, bukan karena membayangkan kemarahan istri Sasuke, serta cemooh dan cibiran orang lain.Namun, kemungkinan bahwa Sarada akan mendapatkan dampak negatif dari semua ini membuatku cemas dan gelisah.Tanganku bergerak mengelus punggung putriku dengan lembut, Sarada tidur dengan lelap diatas kasur berukuran king size.Beruntung, dia tidak terbangun karena perbincangan aku dan Sasuke yang sedikit absurd beberapa saat lalu." Love you dear ." Mengecup kening Sarada, aku lalu bangun dan beranjak pergi dari dalam kamar._______________Aku menyeruput pelan orange jus lalu meletakkannya saat hanya tersisa setengah."Bye." Sambungan langsung terputus.Tenten, perempuan itu baru saja menghubungiku dan meminta maaf karena tidak dapat menemui ku.Seharusnya Tenten yang mengantar Sarada hingga apartement-ku dan menjaganya, tapi sesuatu tidak selamanya berjalan sesuai rencana.Ternyata Tenten, mendapatkan kabar bahwa orangtuanya mengalami kecelakaan di kota Suna.Dan bertepatan dengan itu, Sasuke datang lalu berkata bahwa dia adalah ayah kandung Sarada.Aku tidak akan bertanya darimana Sasuke tau fakta itu, karena dia adalah Uchiha jadi jangan pernah dipertanyakan.Melihat bukti yang diberikan Sasuke dan kemiripan diantara keduanya, Tenten langsung menyerahkan Sarada dan kembali melakukan penerbangan ke kota asalnya.Aku tidak bisa menyalahkan siapapun, tentang semua ini. Dan lagi, aku tidak memiliki niat untuk menyembunyikan Sarada dari ayahnya.Karena bagaimanapun, Sasuke berhak untuk tau tentang Sarada. Begitu pula sebaliknya, Sarada berhak tau tentang ayahnya.__________________Uchiha corp.Aku melangkah dengan pelan, tidak tau untuk apa. Sasuke memanggilku untuk ke-ruangannya.Dengan sepihak, CEO tampan itu memutuskan untuk agar aku dan Sarada tinggal diapartementnya.Dan entah sebuah kesialan atau keberuntungan, aku mengaku kalah dan menyetujui hal itu.Jangan berpikir kami akan tidur satu atap apalagi kamar, karena Sasuke tentu saja tidur dimansionnya bersama nyonya Uchiha yang tidak lain istrinya.Dan kini, sudah hari kedua kami tinggal diapartementnya. Sasuke menghabiskan waktu dengan Sarada dari sore hingga menjelang tengah malam lalu pulang.Setelah mendapatkan izin masuk, aku melangkah dengan tenang. Sasuke yang tadinya sedang sibuk dengan berkas kini menatap ke arahku."Kemari."Intrupsi darinya sedikit ambigu bagiku, dua langkah aku melangkah kedepan."Mendekat Sakura," ucapnya lagi.Untungnya, aku segera paham apa yang dia maksud. Aku berjalan mendekat padanya hanya ada sebuah meja yang menjadi pemisah.Ini sudah sudah dekat bagiku.Sasuke berdiri, dia dengan setelan jas mahal tampak sangat sempurna ditambah sikap seorang Uchiha yang menjadi nilai plus."Kau pasti pernah membaca novel yang dimana tokohnya melakukan sex dikantor, bukan?" tanya Sasuke.Aku mengerutkan dahi dan diam sesaat, sex dikantor tidak pernah aku alami tapi aku memang pernah membacanya dibuku.Sedikit bocoran, aku suka membaca novel dewasa dan Sasuke tentu juga mengetahui hal ini.Aku mengangguk, "Sure, memang kenapa?" tanyaku. Lalu aku tersenyum jahil, tangan lentik-ku menjawel hidung mancungnya. "Kau mau ya?"Tawa renyah terdengar, Sasuke menggelengkan kepalanya. "Otak-mu benar-benar mesum," komentar Sasuke, lalu menyentil dahi-ku.Oh brengsek, pipiku tanpa sadar bersemu merah. Kenapa jadi dia yang selalu balas menjahiliku, mantan mengesalkan.Tanganku bergerak mengaduk cappucino yang baru dipesan beberapa saat lalu, dengan menggunakan sedotan.Rona merah tanpa sadar kini menghiasi pipiku, percakapan absurd antara aku dan Sasuke kembali melintas.Sialan.Uchiha Sasuke, dan pesona miliknya memang sangat berbahaya untuk kesehatan jantungku."Sakura!"Menoleh, kini atensiku beralih pada seorang perempuan yang tidak lain adalah Tayuya.Dia menjabat sebagai sekertaris kedua Sasuke, yah kami bisa dibilang cukup dekat dalam waktu singkat."Tayuya, ada apa?" Aku menatapnya penuh tanya.Tayuya mengatur nafasnya yang tidak teratur, lalu menatapku dengan sorot mata serius. "Kau dalam masalah.""Apa maksudmu?" tanyaku balik, tidak kalah serius."Istri boss datang kesini dan memanggilmu."Deg! Aku terpaku diam, istri Sasuke memanggilku? Bagaimana mungkin.~~~~~~~~~~~~~~Ruangan ini bernuansa putih gading, aku melihat seorang perempuan duduk di sofa dengan pakaiannya yang fashionable.Dilihat dari belakang saja aku sudah dapat menebak siapa wanita itu, dia adalah istri Sasuke."Kau sudah datang ternyata, Sakura."Wanita itu berdiri dari sofa, suaranya sangat familiar bagiku walau sudah beberapa tahun tidak bertemu.Dia memutar tubuhnya, kini kami berdiri berhadapan. Membuatku mengulas senyum simpul, yah bersikap sopan pada istri boss."Nyonya memanggil saya?" tanyaku sopan.Suara kekehan pelan terdengar, istri Sasuke itu bersedekap dada. Lalu melangkah menghampiriku."Kau tidak perlu se-kaku itu Sakura, bagaimanapun kita pernah akrab."Mendengar ucapannya, aku menghela nafas pelan. Menatap pada manik aquamarine nya yang kini tampak tajam.Dia adalah Yamanaka Ino, sahabat dekatku saat masa kuliah dulu. Dan kini, menjadi istri mantan pacarku. Yang tidak lain adalah, Uchiha Sasuke.~~~~~~~~~~~~~~~Penampilanku sekarang tampak sangat berantakan, tapi bukan itu yang aku pikirkan sekarang.Aku melangkah masuk kedalam apartemen Sasuke, yang mendadak menjadi tempat tinggalku dan Sarada.Setelah melepas high heels, aku berjalan kearah dapur membuka kulkas dua pintu dan mengambil es batu.Pipi kananku terasa sakit, tampak memerah dan sudut bibirku sedikit terluka.Siapa sangka nyonya Uchiha itu akan menamparku didetik berikutnya dan melenggang pergi begitu saja.Aku mulai mengompres pipiku dengan sedikit meringis, aku akan menjemput Sarada ditempat penitipan anak.Dalam waktu setengah jam, mungkin bekas tamparan ini akan memudar meski sedikit.~~~~~~~~~~~~~Selingkuhan.Dikalangan kantor, sering terjadi perselingkuhan antara atasan dan bawahan.Bahkan kini, kata selingkuh mulai dikaitkan dengan diriku. Rumor dengan cepat tersebar kemana-mana, menjadi perbincangan.Ok aku tidak terlalu memikirkan pendapat orang lain padaku, tapi rumor ini bisa saja membuat mereka jadi tahu identitas-ku yang sebenarnya.Seorang single parents, yang memiliki anak perempuan dengan ciri khas Uchiha.Orang manapun akan langsung mengetahui bahwa Sarada adalah keturunan Uchiha, dalam sekali lihat.Gen Uchiha memang menakjubkan."Mama."Suara lucu itu membuatku menatap pada Sarada yang kini memegang boneka beruang berwarna biru yang diberikan Sasuke."Honey ada apa?" tanyaku, lalu mengangkat dan membaringkan tubuh Sarada diatas kasur.Dia tampak ragu, namun aku mengelus pucuk kepalanya. "Apa yang ingin Sarada katakan?" tanyaku lagi."Apa papa tidak akan datang?" tanya Sarada dengan manik polosnya.Aku berpikir sejenak lalu mengangguk. "Papa sedang sibuk, apa Salad merindukannya?"Dengan cepat, Dia mengangguk. Aku tahu ini hal yang wajar mengingat Sarada sudah tidak bertemu Sasuke beberapa hari.Setelah adegan aku ditampar istrinya, risegn adalah pilihan terbaik. Aku tidak ingin mencari keributan.Lagi pula, aku berniat membawa Sarada pergi ke kota lain. Untuk bertemu seseorang, sejak awal pertemuan dengan Sasuke memang tidak pernah ada direncanaku.~~~~~~~~~~~~~~~Merasa sedikit haus, aku melangkah menuju area dapur. Guna menghilangkan dahaga yang tiba tiba muncul ditengah malam.Namun, sebuah derap langkah kaki terdengar. Membuat diriku merasa waspada dan meraih spatula yang ada didekatku.Suara itu berasal dari ruang tengah, lampu ruangan itu masih mati. Nekat, kakiku melangkah kesana.Hendak menghidupkan saklar lampu, namun sebuah tangan kekar melingkar di pinggangku.Tersentak kaget, aku dengan cepat menoleh kesamping. Mendapati Sasuke sebagai pelaku.Menghela nafas lega, aku merasa bersyukur karena orang itu adalah Sasuke dan bukannya penjahat.Bau alkohol begitu menyengat tercium, dia mabuk. Menghembuskan nafas panjang, aku mencoba melepaskan tangan Sasuke yang memeluk pinggangku.Tapi semua itu sia-sia, justru dia malah mengeratkan pelukannya. Dan menenggelamkan wajahnya diceruk leherku."Sasuke," panggilku.Sasuke sama sekali tidak meracau, ataupun mengumpat layaknya orang mabuk, dia hanya diam.Ini sedikit aneh.Kami hanya diam dengan posisi yang agak ekstrim, Sasuke adalah tipe orang yang jarang mabuk. Dan sekali dia mabuk, itu berarti ada sesuatu yang mengganggunya."Kenapa?"Hanya satu kata, Sasuke berucap dengan pelan. Namun nada suaranya terasa begitu datar.Aku mengerutkan kening, bingung, tentu saja. Siapa orang yang akan mengerti dengan satu kata seperti itu."Kenapa kau meninggalkanku Sakura?" tanya Sasuke lagi.Tubuhku membatu diam, kali ini suara Sasuke terdengar bergemetar. Membuatku memejamkan kelopak mata sejenak.Sakit, tentu saja. Aku merasa seperti ditusuk ribuan pisau saat Sasuke menanyakan alasan, tentang aku yang pergi meninggalkannya secara tiba tiba.Ini memang salahku."Maafkan aku Sasuke."Kali ini aku memilih egois, entah dia mabuk atau tidak. Aku tetap tidak dapat mengatakan alasannya, karena aku tidak akan pernah siap.~~~~~~~~~~~~~~~Mentari pagi menyambut, aku bersyukur Sasuke tidak membahas hal kemarin. Entah dia lupa atau tidak, aku juga tidak tahu.Pintu kamar mandi terbuka, Sasuke. Pria yang menjabat sebagai CEO itu keluar dari sana hanya dengan menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya.Ototnya terlihat begitu kekar, siapa sangka aku pernah menciptakan kissmark ditubuh itu dulu.Shit, apa yang ku pikirkan. Aku menggeleng kepala pelan, mengenyahkan pikiran itu sejauh mungkin dan menatap Sasuke yang ternyata juga tengah menatapku."Sasuke, aku dan Sarada ingin Mcdonald's," ucapku mengutarakan keinginan.Junk food bukan pilihan terbaik, tapi isi kulkas sudah cukup memperihatinkan. Jadi, tidak ada pilihan lain."Benarkah?" tanyanya, memastikan.Tanpa ragu aku mengangguk. "Tentu saja" ucapku.Pria itu berjalan mengambil ponsel mahalnya yang berada diatas nakas, mengetik sesuatu dikeyboard. Mungkin memesan makanan, entahlah."Hn sudah," ujar Sasuke, pria itu lalu melempar sebuah handuk kecil padaku.Dengan sigap aku menangkapnya, tanpa diberi tahu. Aku tahu bahwa Sasuke ingin agar diriku mengeringkan surainya.Tipe pria yang agak manja.Aku melangkah mendekat ke belakangnya, dan mulai mengeringkan rambut berwarna raven itu."Kapan makanannya tiba?"Sasuke menaikkan sebelah alisnya, "Makanan?""Iya makanan," balasku sedikit bingung."Shit." Sasuke mengumpat pelan lalu mendengus geli membuatku kini bertanya tanya.Tidak ingin mati penasaran, aku lalu menarik pipinya pelan. "Tunggu, jadi apa yang kau beli?"Oh God, dia kini malah melirikku dengan onyx tajamnya sembari menyeringai. "Perusahaannya."Singkat, padat, jelas. Membuatku menatapnya tidak percaya."Apa?"
My Husband CEO
" Fanny bangun sayang udah pagi bukannya kamu ada kuliah pagi hari ini"ujar Rani mama Fanny"Iya ma ini udh bangun kok""Cepat mandi lalu turun ke bawah untuk sarapan udah di tunggu papa sama Abang kamu itu"ujar Rani lalu pergi dari kamar Fanny menuju meja makan"Fanny udah bangun ma"kata Ardi abang Fanny"Udah, Fanny masik mandi"kata mama Fanny"Good Morning,papa,mama,abang"sapa Fanny"Morning sayang"kata papa Fanny lalu mereka memulai sarapanKini mereka telah selesai sarapan,papa dan Abang Fanny yang akan pergi ke kantor dan Fanny yang akan pergi kuliah"Papa sama Ardi berangkat ke kantor ya ma"pamit Dito pada sang istri"Iya mas hati-hati di jalan ya""Iya, assalamualaikum"kata Dito lalu pergi"Waalaikumsalam""Ma Fanny berangkat kuliah dulu ya ma""Iya sayang,belajar yang rajin ya kamu kan udah semester akhir,sebentar lagi lulus biar bisa dapet nilai yang bagus""Iya ma,yaudah aku berangkat dulu , assalamualaikum""Waalaikumsalam"............Sesampai nya di kampus Fanny memarkirkan mobilnya dan menuju kelas"FANNY,"panggil Ghea dan Kila pada Fanny saat sedang berjalan menuju kelas"Hi besti"ujar Ghea"Tumben kalian berangkat bareng?"tanya Fanny"Iya tadi Ghea minta jemput gue katanya mobilnya lagi di bengkel"jawab Kila"Hehehe iya mobil gue lagi di bengkel,lagi di servis,terus bokap gue gak bisa nganterin soalnya buru-buru"jawab Ghea juga"Ya udah yuk masuk ke kelas sebelum dosen masuk,kita kn ada kelas pagi hari ini"ajak FannyFanny,Ghea dan Kila kuliah di kampus yang sama dan fakultas yang sama ,mereka kuliah di jurusan sastra dan bahasa,kini mereka sudah semester akhir sibuk menyelesaikan skripsiFanny kini berusia 21 tahunGhea kini berusia 22 tahun danKila kini berusia 21 tahun.............Sesampainya di kelas tidak lama dosen memasuki kelas dan memulai pembelajaranKini kelas susah selesai Fanny pun berencana untuk pulang karena memang dia hari ini cuma ada satu kelas,berbeda dengan Ghea dan Kila yg mengambil kelas tambahanSaat jalan pulang Fanny melihat ada ibu-ibu hamil yang ingin menyebrang tapi kesusahan karena membawa banyak barang lalu Fanny menghampiri ibu-ibu itu"Ibu,ibu mau nyebrang ya biar saya bantu"tanya Fanny"Iya nak ,tapi ibu membawa banyak barang,mobil ibu ada di sebrang sana"jawab ibu itu.............Kini Riko lagi mengendarai mobil menuju kantornya dengan santai,lalu dia melihat ada ibu-ibuk dan seorang perempuan yang ingin menyebrang kelihatan kesusahan karena membawa banyak barang kemudian ia turun untuk membantu ibu dan perempuan itu"Ada yang bisa saya bantu"tanya Riko"Eh iya pak,ibu ini mau nyebrang saya mau bantu tapi saya gak bisa bawain barang nya"jawab Fanny" Iya nak"jawab ibu itu juga"Ya udah saya bantu,kamu yang bantu menyeberangkan biar saya yang membawa barang -barang nya "suruh Riko pada Fanny"Iya pak"jawab FannyLalu mereka menyebrang dengan Fanny yg membantu ibu itu dan Riko membantu membawakan barang-barang nya"Udh buk lain kali kalau mau pergi atau membeli sesuatu jangan sendiri ya bahaya soalnya kan ibu lagi hamil"situ Fanny pad ibu ituTanpa di sadari Riko memperhatikan Fanny yang sedang berbicara dengan ibu itu dan Riko tersenyum walaupun tidak terlihat" Yaudh kalau gitu saya pamit buk "ujar Riko"Iya,terima kasih ya nak"jawab ibu itu"Sama-sama buk, assalamualaikum" pamit Riko lalu pergi"Saya juga pamit ya buk, assalamualaikum"pamit Fanny"Waalaikumsalam"jawab ibu itu..........Sesampainya di kantor Riko langsung manuju ruangannya"Kenapa saya jadi memikirkan wanita itu"ujarnya"Saya suka melihat cara dia menasehati orang lain terkesan sopan,arrrg kenapa saya terus memikirkan wanita itu ,saya harus fokus memahami file yang akaan di buat miting nanti"ujarnya lagiTak berselang lama sekretaris Riko yang bernama Mia memasuki ruangannya"Pak Riko Miting akan segera di mulai ,bapak di tunggu di ruang miting"beritahu Mia pada Riko"Baik saya akan segera kesana"jawab Riko lalu menuju ruang Miting..........."Assalamualaikum,MAMA Fanny yang cantik dan imut pulang"teriak Fanny"Waalaikumsalam,ya Allah Fanny kamu ini jangan teriak-teriak bisa gak sih?"tegur Rani"Hehehe maaf ma"jawab Fanny sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal,Rani hanya menjawab dengan menggeleng kan kepala"Yaudh Fanny ke kamar dulu ya ma"ujar Fanny dan di angguki RaniSesampainya di kamar Fanny langsung melepas sepatunya dan merebahkan badan nya di kasur"Cowok tadi kalo di perhatiin ganteng juga tapi mukanya datar banget"ujar Fanny mengingat Riko"Au ah mending gue nonton Drakor dari pada mikirin tu cowok"ujarnya lagi dan mulai menonton............Waktu telah menjelang sore kini Riko sedang dalam perjalanan pulang,sesampainya si rumah dia memarkirkan mobilnya di halaman rumah nya"Assalamualaikum,mami"salam Riko"Waalaikumsalam,"jawab Rere mami Riko"Waalaicumcalam"jawab Vano adik RikoRiko berjalan menuju mami dan Vano di ruang keluarga"Adek Abang lagi main apa?"tanya Riko pada Vano"Agi ain obil-obilan"jawab Vano dengan suara cadelnya"Yaudh kalo gitu Riko ke kamar dulu ya mi,mau bersih-bersih"ujar Riko"Iya sayang"jawab RereRiko menuju kamar dan segera mandi lalu melaksanakan kewajiban umat muslim yaitu shalatSetelah itu Riko turun untuk makan mlm bersama keluarganya"Loh papi udah pulang?"tanya Riko pada putra papi Riko"Udh tadi sebelum magrib"jawab putra"Udah ngobrolnya nanti lagi makan dulu"suruh Rere pada suami dan anak nyaHening selama makan hanya ada suara dentingan sendok,selesai makan mereka berkumpul di ruang keluarga dan Riko sedang bermain dengan Vano"Riko papi mau ngomong sesuatu sama kamu"ujar putra memulai pembicaraan"Mau ngomong apa pi?"tanya Riko"Papi sama mami berencana menjodohkan kamu sama anak sahabat papi"ujar putradeg"Kamu terima ya permintaan mami sama papi,kamu gak mau kan buat mami sama papi kecewa"ujar Rere meyakinkan anaknya"Tapi kenapa tiba-tiba mi"tanya Riko"Sebenarnya perjodohan ini sudah lama kami rencanakan,papi sama mami ngelakuin ini pengen buat kamu bahagia"jawab putra"Kami gk mau kan buat mami sama papi kecewa ,jadi kamu terima ya perjodohan ini?tanya Rere"Kalo itu yang bisa buat papi sama mami bahagia Riko bakal lakuin"jawab Riko"Makasih sayang ,kamu pasti gak akan kecewa sama pilihan papi sama mami"ujar putraSaat ini keluarga Fanny sedang makan malam bersama,suasana hening hingga Dito membuka suara"Kuliah kamu gimana sayang"tanya Dito pada Fanny"Baik kok pa, sekarang Fanny juga udah mulai menyusun skripsi"jawab Fanny"Bagus kalo gitu semangat menyusun skripsi nya sayang"ucap Dito menyemangati FannySuasana hening kembali dan mereka melanjutkan makan malam kembali,setelah makan malam selesai mereka berkumpul di ruang keluarga"Bang Ardi kapan sih Abang libur kerja? aku pengen jalan-jalan sama bang Ardi"ucap Fanny pada Ardi"Siapa yang mau jalan-jalan sama kamu, Abang mah gak mau"jawab Ardi bercanda"Jadi bang Ardi gak mau jalan-jalan sama aku?"tanya Fanny lagi dengan mata yang sudah berkaca-kaca"Gak"jawab Ardi bercanda lagi"Mama bang Ardi udah gak sayang lagi sama Fanny hiks....hiks " adu Fanny dengan sang mama"Enggak sayang Abang kamu tadi cuma bercanda"ucap Rani dan memeluk FannyArdi yang melihat Fanny menangis karena kejahilannya pun jadi tidak tega dan menghampiri Fanny lalu memeluk nya"Sayang nya Abang kok nangis sih,Abang tadi cuma bercanda"ucap Ardi dalam pelukannya"Jadi Abang hiks.. masik sayang kan hiks.. sama Fanny?"tanya nya pada Ardi"Masik dong dek kamu itu adek Abang yang paling Abang sayang,udah dong jangan nangis lagi Abang tadi cuma bercanda"jawab Ardi dan mengusap punggung Fanny yang masih bergetar"Udah jangan nangis lagi ya"ucapnya lagi dan melepaskan pelukannya dan Fanny hanya mengangguk"Yaudh sana tidur gihh udah malam"suruh Ardi pada sang adek"Oke"jawab Fanny dan Langsung pergi menuju kamar nya membuat Ardi dan kedua orang tuanya terkekeh"Kapan papa mau bilang sama Fanny soal perjodohan dia dengan anak nya putra"tanya Rani"Besok papa akan bilang sama Fanny"jawab Dito pada sang istri"Papa sama Mama yakin mau jodohin Fanny"tanya Ardi pada orang tua nya"Yakin sayang ini demi kebaikan adek kamu"jawab Rani pada sang anak"Yaudh kalo itu juga demi kebaikan Fanny tapi Ardi gak akan biarin kalo suaminya nanti nyakitin Fanny dan bikin Fanny nangis"ucap Ardi pada orang tuanya"Iya sayang mama sama papa tau kalo kamu sayang sama Fanny dan akan ngelindungi dia"jawab Rani.......Pagi pun tiba dan kini Fanny masih bergelud dengan selimut tebalnya"Pagi"sapa Ardi pada Rani dan Dito"Pagi juga sayang "jawab Rani"Fanny mana ma,belum bangun?tanya Ardi pada sang mama"Belum ,sana kamu bangunin adek kamu,kamu kan tau adek kamu itu susah banget di bangunin"jawab Rani pada Ardi"Yaudh Ardi bangunin Fanny dulu ya"ucap Ardi lalu pergi menuju kamar FannySetelah sampai di depan kamar fanni Ardi pun mengetuk pintu kamar Fanny namun tidak ada tanda-tanda Fanny untuk membuka pintu dan itu membuat Ardi Langsung masuk ke kamar sang adek dan melihat Fanny masih tidur dengan posisi tengkurap"Ya Allah dek ,kamu kok belum bangun sih ini udah siang loh memang kamu gak kuliah"ucap Ardi membangunkan Fanny"eaugh, apaan sih bang Fanny masih ngantuk tau"jawab Fanny dengan mata yang masih tertutup"Tapi ini udah siang dek nanti kamu telat kuliah nya"ucap Ardi yang masih berusaha membangunkan sang adek"ck.iya iya ini udah bangun kok ,bawel banget sih"jawab Fanny dan merubah posisi menjadi duduk"Sana mandi udah di tunggu sama papa sama Mama di meja makan"suruh nya pada Fanny"Iya"jawab fanny lalu pergi ke kamar mandiSetelah membangunkan Fanny kini Ardi turun ke bawah dan menuju meja makan"Gimana udah bangun belum adek kamu"tanya Dito"Udah pa ,Fanny nya masih mandi sekarang"jawab Ardi pada sang papaSetelah selesai mandi kini Fanny turun untuk sarapan dengan keluarganya"Pagi semua"sapa Fanny"Pagi"jawab mereka"Kamu gak ada kuliah pagi hari ini sayang"tanya Dito pada sang anak"Enggak pa ,Fanny hari ini jadwal kuliah nya nanti jam 10"jawab Fanny"Ya udh sekarang sarapan dulu ceritanya nanti lagi"suruh Rani pada suami dan anak nyaSetelah selesai sarapan mereka masih duduk di meja makan"Fanny papa mau bicara serius sama kamu"ucap Dito dengan wajah serius"Mau bicara apa pa"tanya Fanny dengan bingungDito melirik Rani dan Ardi untuk memulai bicara dan mereka mengangguk dan itu membuat Fanny semakin bingung"Fanny papa akan menjodohkan kamu dengan anak temen papa"ucap Dito dengan sang anak seriusdeg"Maksud papa apa, Fanny masih kuliah pa ngapain papa jodohin Fanny"jawab Fanny yang terkejut dengan ucapan sang papa"Papa udah lama ngerencanain perjodohan ini,dan kamu harus terima itu sayang"ucap Dito dengan meyakinkan sang anak"Tapi kenapa harus Fanny pa"tanya Fanny"Karna cuma kamu anak perempuan papa"jawab Dito"Tapi Fanny masih kuliah pa ,gimana sama kuliah Fanny"ucap Fanny pada sang papa"Kamu masih bisa ngelanjutin kuliah kamu sayang,kamu mau ya Nerima perjodohan ini ini permintaan papa sama Mama" Gimana ini aku gak mau di jodohin tapi aku juga gak mau buat papa sama Mama kecewa "batin Fanny"Sayang ,kamu mau kan nerima perjodohan ini"tanya Rani pada sang anak"Kalo itu bisa buat papa sama Mama seneng Fanny mau kok nerima nya"jawab Fanny dengan pasrahKini Fanny sudah berada di kampus dan dia akan masuk ke kelas nya"Eh fan tumben tuh muka kusut amat,kenapa?tanya Ghea"Gue mau di jodohin "jawab Fanny"WHAT sumpah demi apa,kok tiba-tiba lo di jodohin sih "tanya Ghea lagi"Gue juga gak tau tapi kata papa gue dia udh lama ngerencanain perjodohan ini"jawab Fanny"Mungkin ini demi kebaikan Lo"ucap Kila yang dari tadi diam"Tapi gue takut kalo yang di jodohin sama gue itu orangnya jelek,tua,terus perutnya buncit"ucap Fanny"Gak mungkin lah orang tua lo jodohin lo sama orang kayak gitu,udh positif thingking aja siapa tau orang yang mau di jodohin sama lo itu orangnya ganteng"jawab Kila"Bener tuh yang di bilang Kila Lo harus positif thingking"ucap Ghea meyakinkan........Kini Riko sedang berada di ruangannya,dia sedang memikirkan ucapan orang tuanya tadi malam"Apa ini keputusan yg tepat ya dengan aku menerima perjodohan ini"ucap Riko"Tapi aku juga kepikiran gadis itu,sepertinya aku cinta sama dia,tapi aku harus lupain gadis itu untuk menghargai perasaan calon istri aku nanti"ucapnya lagiTok tok tok"Masuk"ucap Riko"Permisi pak ini ada berkas yang harus di tandatangani pak"ucap sekretaris nya"Iya taro aja di meja saya nanti saya tandatangani dan kamu boleh keluar sekarang"jawab Riko"Baik pak"jawab Mia dan keluar dari ruangan Riko"Ish susah banget sih deketin pak Riko ,baru masuk aja udh di suruh keluar"gumam Mia setelah keluar dari ruangan RikoSaat ini Riko sedang berada di sebuah cafe bersama temannya untuk ngopi dan sekedar bersantai"Woy ko kok perasaan dari tadi gue perhatiin Lo ngelamun aja,lagi mikirin apaan sih"tanya Tito"Gue lagi mikirin soal perjodohan gue"jawab Riko"Apa, Lo di jodohin?"tanya Tito lagi"Iya "jawab Riko lagi"Terus apa yg Lo pikirin ,kan gak mungkin orang tua lo jodohin lo sama orang yang jelek"ucap Tito"Bukan itu yang lagi gue pikirin"jawab Riko"Terus"tanya Tito"Gue lagi mikirin cewe yang buat gue jatuh cinta sama dia"jawab Riko pada Tito"Serius Lo lagi jatuh cinta,wah hebat tu cewe bisa bikin seorang Riko jatuh cinta,secara gitu kan Lo gak pernah deket sama cewe, jangankan deket ngomong aja males"ujar Tito"Gue suka sama dia waktu gue pertama kali liat dia"ucap Riko"Cinta pandangan pertama dong"ucap Tito dan Riko hanya mengangguk........"Fanny,Kila ke cafe yuk nongkrong sama nenangin pikiran,pusing gue mikirin skripsi"ajak Ghea"Yuk gue juga pusing banget mikirin skripsi"jawab Fanny"Lo gimana ikut gak kil"tanya Ghea pada Kila"Gue ngikut aja"jawab Kila"Yaudh gass"ajak GheaKini mereka sudah ada di cafe dan memesan makanan dan minuman masing-masing"Guys,gue ke toilet dulu ya"ucap Fanny pada Ghea dan Kila"Iya hati-hati"jawab Ghea"Iya"jawab Fanny dan pergi menuju toiletSaat sudah keluar dari toilet Fanny berjalan untuk kembali ke mejanya dan teman-teman nya dia tiba-tiba bertabrakan dengan seseorangBruk"Aduh....keluh Fanny saat merasakan bokong nya yg ngilu akibat terjatuh"Maaf saya tidak sengaja"ujar Riko dan langsung membantu FannyIya yang bertabrakan dengan Fanny tadi adalah Riko yang juga sedang berada di toilet""Gak papa, saya juga minta maaf karna saya tadi juga gak liat jalan"jawab Fanny"Kamu "ucap Riko setelah melihat wajah fanny"Maaf bapak siapa ya"tanya Fanny"Saya yang waktu itu membantu ibu-ibu hamil menyebrang sama kamu"jawab Riko"Ohh iya saya ingat"ucap Fanny"Oh iya nama kamu siapa"tanya Riko lalu mengulurkan tangannya"TIFANNY"jawab Fanny lalu menyambut uluran tangan Riko"Kalau bapak"tanya Fanny"Saya Riko"jawab Riko"Kalo gitu saya duluan ya pak permisi assalamualaikum"ucap Fanny lalu pergi meninggalkan Riko"Waalaikumsalam"jawab Riko lalu tersenyumSetelah pergi lalu Fanny menghampiri ghea dan Kila"Lama banget sih ke toilet nya"tanya ghea"Iya tadi waktu gua mau keluar dari toilet gue gak sengaja nabrak orang"jawab Fanny"Cowo atau cewe,kalo cowo ganteng gak?"tanya Ghea lagi yang penasaran"Cowo, ganteng sih tapi mukanya datar banget"jawab Fanny pada GheaSementara di lain meja Riko yang baru dari toilet menghampiri temannya"Lo kok lama banget sih cuma ke toilet doang"tanya Tito pada Riko yang memang lama dari toilet"Gue tadi gak sengaja nabrak cewe waktu di toilet"ujar Riko"Dan Lo tau ,itu cewe yang bikin gue jatuh cinta sama dia"ucap Riko lagi"Serius,Lo ketemu dia?tanya Tito yang terkejut"Iya,awalnya gue gak percaya kalo itu dia,tapi waktu gue liat mukanya ternyata bener itu dia orang yang gue cinta"jawab Riko"Lo sempet kenalan gak sama dia"tanya Tito lagi"Iya gue udh kenalan sama dia ,nama di Tifanny,cantik kayak orang nya"jawab Riko dan tersenyum.........Saat ini Fanny sudah berada di rumah setelah pulang dari cafe Fanny langsung pulang ke rumah dan menuju kamarnyaTok tok tok"Masuk"jawab Fanny setelah mendengar pintu kamarnya di ketuk"Sayang "sapa Rani pada Fanny saat sudah masuk ke dalam kamar"Mama, ada apa ma?"tanya Fanny"Enggak ,mama cuman mau bilang kalo nanti malam pertemuan kamu sama calon suami kamu"ucap Rani pada sang anak"Kok cepet banget sih ma"tanya Fanny yang terkejut"Gak papa sayang,yaudh kamu istirahat nanti malam kamu dandan yang cantik ya ,mama udah siapa baju kamu,ada di lemari"ucap Rani sambil mengusap rambut sang anak dan meninggalkan Fanny untuk istirahatMalam pun tiba ,dan kini Fanny sudah siap dengan pakaian yang telah di siapkan sang mama,dan menuju ruang tamu karna orang tua dan Abang nya sudah menunggu nya di sana"Ma,gimana penampilan Fanny?tanya Fanny pada sang mama"Masya Allah sayang cantik banget anak mama ,iya gak pa, bang?"tanya pada suami dan putranya"Iya sayang kamu cantik banget"jawab sang papa dan di angguki oleh abangnya"Yaudh kalo gitu ayo kita berangkat sekarang nanti takut kelamaan"ajak papa nya"Iya ayo"jawab RaniMereka pun menuju restoran yang telah di tentukanDi lain tempat kini keluarga Wijaya sedang bingung karena Vano dari tadi rewel karena tidak mau jauh dari Riko"Vano,sama mami aja ya nak,kan nanti kasihan Abang Riko susah nyetir mobil nya kalo kamu sama dia"ucap Rere mencoba membujuk Vano"Ndak au Ano au cama bang liko"jawab Vano yang masih memeluk Riko semakin erat"Yaudh gak papa mi Vano sama Riko aja"ucap Riko pada Rere"Tapi nanti kamu susah bawa mobilnya sayang,kamu kan tahu Riko itu rewel"ucap Rere pada Riko karna dia tau Vano kalo anak nya rewel"Gak papa mi"jawab Riko meyakinkan Rere"Yaudh deh,Vano sayang kamu jangan rewel ya nanti jalan"ucap nya pada Vano dan Vano pun mengangguk"Yaudh ayo kita berangkat ,kita udh telat ini"ajak papi Riko"Ayo pi,mami udh kirim alamat restoran sama kamu ya"ucap nya pada Riko dan di angguki oleh Riko.........Kini keluarga Fanny sudah sampai di restoranSepuluh menit yang lalu,dan keluarga Riko juga baru sampai"Assalamualaikum,maaf ya kami telat"ucap Rere"Waalaikumsalam,gak papa jeng kami juga belum lama kok,ayo silahkan duduk"jawab Rani"Ini pasti Fanny ya, Masya Allah cantik banget kamu sayang"ucap Rere dengan Fanny"Makasih Tante"jawab Fanny dan tersenyum"Oh iya anak kamu mana re"tanya Rani pada Rere karena tidak melihat anaknya"Oh , dia lagi keluar bentar karna tadi Vano rewel minta di beliin es krim"jawab Rere"Maaf saya terlambat"ucap Riko yang baru datang dan menggendong Vano"Iya gak papa kok"jawab DitoFanny yang tidak tau kedatangan Riko hanya diam karena dia hanya fokus dengan hp nya"Fanny sayang,sapa dong calon suaminya"ucap Rani pada Fanny agar menyapa Riko dan Fanny menoleh pada riko"Loh pak Riko"ucap Fanny yang terkejut"Kamu"ucap Riko yang juga terkejut"Loh kalian udh saling kenal"tanya Rere yang bingung"Udah mi Riko udh kenal sama Fanny"jawab Riko"Bagus dong jadi kalian gak perlu perkenalan lagi"ucap putra"Jadi kapan acara pernikahannya"tanya Dito"Gimana kalo Minggu depan aja"jawab Rere"Setuju"jawab Rani"Kok cepet banget si ma"tanya Fanny"Gak papa sayang lebih cepat lebih baik"jawab Rani pada sang anakTbcKini pernikahan yang di nantikan telah tiba,hari ini adalah hari pernikahan Riko dan Fanny yang diadakan di sebuah hotel dan Fanny sedang di rias di salah satu kamar hotel"Udh selesai mbak,kalo gitu saya keluar dulu ya"ucap sang MUA"Iya mbak,makasih ya mbak"jawab FannyTok tok tokMasuk lah mama Fanny , calon mertua Fanny dan sahabat Fanny ke dalam kamar"Udah selesai sayang"tanya mama Fanny"Udah ma"jawab Fanny"Cantik banget Lo fan gue Sampek pangling loh liat nya"puji Ghea dan Fanny tersenyum"Masya Allah cantik banget calon mantu mami"puji Rere"Makasih tante"jawab Fanny dengan tersenyum malu"Loh, kok masih panggil Tante sih sayang,panggil mami dong kamu kan sebentar lagi jadi mantu mami"ucap Rere pada Fanny"I...ya tante eh maksudnya mami"jawab Fanny dengan gugup dan Rere pun hanya tersenyum"Yaudh kamu di sini dulu ya,nanti kalo ijab Kabul nya udh selesai baru kamu keluar ,nanti kamu keluar sama Ghea sama Kila ya" ucap Rani dan mereka menganggukDi lain tempat kini Riko sudah siap melakukan ijab Kabul"Sudah siap?"tanya Dito dan Riko mengangguk lalu menjabat tangan DitoWahai Riko putra Wijaya bin putra Wijaya aku nikahkan dan aku kawinkan engkau dengan putri kandungku yang bernama Tifanny Putri binti Dito Bianggara dengan mahar uang 147 milyar dan seperangkat alat sholat di bayar tunaiSaya terima nikahnya Tifanny Putri binti Dito Bianggara dengan mahar uang 147 milyar dan seperangkat alat sholat di bayar tunai"Bagaiman a saksi sah?"SAH"Alhamdulillah" ucap mereka bersama lalu berdoaFanny menitikkan air mata saat mendengar Riko mengucapkan ijab Kabul dari kamarnya dengan lantang,dia sekarang telah menjadi Istri seorang Riko"Fan jangan nangis dong ,nanti make up nya luntur,mending kita keluar sekarang ya pasti yang lain udah nungguin"ucap GheaKini Fanny dan kedua sahabatnya yang berada di samping kanan dan kiri Fanny sedang berjalan menuju tempat ijab kabul Riko yang melihat nya tidak berkedip karna begitu cantiknya Fanny yang kini telah menjadi istrinya dan Fanny sudah duduk di samping Riko"Cantik"bisik Riko pada Fanny dan membuat Fanny menunduk malu"Silahkan pasangkan cincin nya"ucap penghulu dan mereka memasang cincinnya dengan Riko yang memasangkan di jari manis Fanny dan Fanny pun juga memasangkan di jari manis Riko"Lalu suami mencium kening istri dan istri mencium tangan suami"ucap penghulu lagi dan mereka melakukannya,Riko mencium kening Fanny cukup lama dan Fanny mencium tangan Riko,saat Fanny mencium tangan sang suami,Riko meletakkan tangannya di atas kepala Fanny dan berdoaKini pasangan suami istri itu telah berdiri di pelaminan untuk menyambut para tamu yang mengucapkan selamat"Fanny selamat ya "ucap Ghea dan Kila lalu memeluknya dan Fanny membalas pelukan mereka"Makasih"jawab Fanny setelah melepaskan pelukan"Selamat pak"ucap mereka lagi pada Riko"Terima kasih"jawab Riko"Awas ya pak kalo bapak berani nyakitin sahabat saya,saya habisin bapak"ancam Ghea pada Riko"Saya gak akan nyakitin Fanny"jawab Riko"Saya pegang omongan bapak"ucap Ghea dan Riko mengangguk"Ya udh kalo gitu kita turun dulu ya,sekali lagi selamat ya besti"ucap Kila"Iya,makasih ya"jawab Fanny dan mereka turunKini giliran teman Riko yang memberi selamat pada mereka"Woy selamat ya bro"ucap Tito"Makasih"jawab Riko"Selamat ya fan"ucap Tito pada Fanny dan bersalaman,Riko yang melihat Tito bersalaman lama dengan sang istri memutuskan jabatan tangan mereka"Udah jangan lama-lama"ucap Riko yang tidak suka"Posesif amat loh"ucap Tito"Gue suaminya,udah sana mending Lo turun deh"usir Riko"Iya-iya gue turun"ucap Tito lalu turun dan membuat Fanny tersenyum melihat perdebatan merekaSaat sedang menyambut tamu undangan yang memberikan selamat ,Riko melihat Fanny gelisah"Sayang, kenapa?"tanya Riko pada sang istri"Masih lama gak kaki aku sakit"jawab Fanny"Yaudh kamu duduk dulu biar aku liat kaki nya"ucap Riko lalu mendudukkan Fanny lalu melihat kaki sang istri,benar kaki Fanny lecet karena kelamaan memakai hiks"Kamu duduk aja ya acaranya sebentar lagi selesai kok"ucap Riko"Tapi gimana sama tamunya"tanya Fanny yang merasa tidak pada tamunya"Gak papa sayang,kamu duduk aja biar aku yang nyambut tamunya"jawab Riko meyakinkan Fanny dan Fanny pun menganggukAcara sudah selesai dan kini pasangan suami istri itu sedang berada di kamar hotel yang sudah di pesan"Kamu dulu apa aku dulu yang mandi"tanya Riko"Kamu aja "jawab FannySaat Riko sudah masuk ke kamar mandi Fanny gelisah dia takut kalo Riko akan meminta hak nya malam ini karna dia belum siapSaat Riko keluar kamar mandi dia melihat sang istri sedang melamun di sofa dan Riko menghampirinya"Sayang,hei,kamu kenapa hmm?"tanya Riko"Eh kamu udah selesai mandi?"ucapnya Fanny yang tersadar dari lamunannya dan Riko mengangguk"Ya udh aku mau mandi dulu"ucap Fanny lalu masuk ke kamar mandi meninggalkan Riko yang bingung karena pertanyaannya tidak di jawab..........Saat ini pasangan suami istri itu sedang duduk di ranjang karna belum ada yang bisa tidur"Ayo tidur sayang,ini udah malam"ajak RikoFanny hanya diam tidak menjawab Riko ,Riko yang tau kalau istrinya itu takut dia mengusap kepala sang istri"Aku gak memintanya malam ini sayang,aku tau kalau kamu belum siap jadi gak usah di pikirin ya,kita akan melakukannya kalau kamu udah siap oke,sekarang tidurya"ucap Riko"Sini sayang"ucap Riko lagi dan menarik Fanny kedalam dekapannyaFanny hanya pasrah dan mendusel ke dada bidang sang suami karena merasa nyaman.Riko yang mengerti langsung mengusap-usap kepala belakang sang istriPagi pun tiba,dan tidur Fanny pun terusik karena usapan lembut di pipi nya dari sang suami"Eaugh"lenguh Fanny yang merasa tidurnya terusik dan membuka matanya"Pagi sayang"sapa Riko saat melihat istrinya yang baru bangun"Pagi pak ,jangan ganggu dulu pak aku masih ngantuk"ucap Fanny dan membalikkan badannya membelakangi RikoRiko yang melihat istri nya tidak bangun dan malah merubah posisi untuk melanjutkan tidurnya langsung membalikkan tubuh sang istri untuk menghadap pada nya"Hei ,kok kamu masih panggil aku bapak sih aku kan udah jadi suami kamu ,jadi kamu jangan panggil aku bapak lagi okeh ,panggil aku mas,iya sayang?"ucap Riko karna tidak ingin istrinya memanggil nya dengan sebutan bapak"Iya-iya mas ,sana aku masih ngantuk"jawab Fanny dan mengusir Riko karna iya masih ngantuk"Sayang bangun ih,ini udah pagi loh kita kan mau pindah ke rumah kita"ucap Riko lagi agar istrinya itu bangunFanny yang mendengar kata pindah langsung bangun dan duduk menghadap sang suami"Maksud kamu pindah itu kita tinggal sendiri"tanya Fanny dengan mata berkaca-kaca dan Riko menganggukRiko yang melihat istri nya mau menangis langsung mendekap sang istri"Hei Kenapa nangis sayang"tanya Riko yang masih mendekap sang istri"Hiks.....a..ku gak mau jauh sama mama papa sama bang Ardi juga hiks..... hiks"jawab Fanny dengan sesegukan"Gak papa sayang kan ada aku,aku akan bertanggung jawab sebagai seorang suami kamu,kalau kita gak tinggil sendiri nanti aku dikira gak tanggung jawab sama istri"ucap Riko yang meyakinkan sang istri"Mau ya"tanya Riko dan Fanny hanya diam lalu menganggukTbcHappy reading"Kalian beneran mau pindah sekarang?"tanya mama Fanny"Iya ma, soalnya biar kami bisa mandiri"jawab Riko"Yaudh kalo itu keputusan kalian"ujar mama Fanny"Yaudh kalo gitu kami berangkat dulu ya mama,papa,mami,papi"pamit Riko.........Kini mereka telah sampai di rumah baru mereka tidak begitu mewah namun terlihat elegan"Ini rumah nya mas "tanya Fanny"Iya sayang ini rumah baru kita,gimana kamu suka enggak sama rumahnya"ujar Riko"Suka mas rumahnya bagus""Yaudh kalo gitu kita masuk yuk"ajak Riko"Yuk".........Malam pun tiba kini pasangan pasutri itu sedang menonton tv di ruang tamu"Sayang""Iya""I love you""Maaf ya mas aku belum bisa balas cinta kamu ,tapi aku akan mencoba mencintai kamu , jujur aku udh mulai nyaman di Deket kamu"jawab Fanny dengan wajah bersalah"Gak papa sayang aku akan nunggu kamu cinta sama aku"ujar Riko"Sayang aku boleh peluk kamu"pinta Fiki pada Fanny dan Fanny pun mengangguk"Aku akan berusaha buat kamu cinta sama aku"ujar Riko saat sudah melepaskan pelukankini Riko sedang menatap wajah fanny dan perlahan mendekatkan wajahnya dengan wajah sang istri saat Riko memiringkan kepala dan ingin mencium bibir nya Fanny memundurkan kepalanya"Boleh ya "pinta Riko dengan mata puppy easy"Bo....Leh"jawab Fanny dengan gugupSaat sudah mendapat persetujuan dari Fanny Riko pun menyatukan bibir mereka,mencium dan melumatnya dengan lembut,saat Fanny tidak membalas ciuman Riko menggigit bibir bawahnya dan refleks Fanny membuka mulutnya,saat Fanny membuka mulutnya Riko langsung memasukkan lidahnya kedalam mulut Fanny dan menekan tengkuk fanny agar memperdalam ciumannya"First kiss aku"ujar Fanny saat sudah melepaskan ciuman"Itu juga first kiss aku sayang,makasih ya"ujar Riko sambil memeluk Fanny"Tidur yuk aku udah ngantuk"ujar Fanny pada Riko dengan mata yang sudah menahan kantuk"Yaudh Ayuk"jawab Riko dan menggendong Fanny ala Kuala untuk memasuki kamarSaat sudah sampai di kamar Riko menurunkan Fanny di atas kasur dan ikut merebahkan diri di samping sang istri"Sayang, aku boleh minta sesuatu gak tapi kamu jangan marah"tanya Riko"Hemm,mau minta apa?"jawab Fanny"Aku mau nenen"pinta Riko dengan wajah memelas"Ne....nen"jawab fannya dengan gugup"Iya sayang boleh ya?,mau ya? please"jawab Riko dan Fanny pun menganggukSaat sudah mendapat persetujuan dari Fanny Riko pun langsung masuk kedalam baju Fanny dan Langsung melaksanakan keinginannya"Pukpuk sayang"pinta Riko dan membawa tangan sang istri ke punggungnya"Iya"jawab FannySaat sudah sepuluh menit Fanny tidak merasakan Riko mengenyut dia melihat Riko yang ternyata sudah tidur dan melepaskan pautannya lalu Fanny juga ikut tidur dengan membalas pelukan dari Riko untuk memasuki alam mimpiHari menjelang pagi.fanny bangun dari tidurnya.fanny tersenyum kala melihat Riko masih tertidur pulas di sampingnyaPerempuan itu menghadap ke suaminya ia memperhatikan wajah Riko yang masih tertidur"Ganteng"ucap Fanny sambil .mengelus pipi sang suami"Eaugh"lenguh Riko yang terusik dengan perlakuan FannyRiko tersenyum hal pertama yang di lihat saat membuka mata adalah wajah cantik sang istri"morning sayang"ucap Riko sambil tersenyum"Morning"jawab Fanny sambil mengusap pipi sang suami"Sana gih mandi aku mau turun buat sarapan"ujar Fanny sambil mencepol asal rambutnya"Iya sayang "jawab Riko dan menuju kamar mandiKini Fanny sedang di dapur dan mencari bahan-bahan masakan untuk di masak.saat membuka kulkas ia hanya melihat sosis dan telur saja"Oh iya lupa aku kan belum belanja bahan bulanan"ujar Fanny"Yaudh deh aku buat nasi goreng aja"ucapnya dan mulai memasak nasi gorengSaat sedang memasak fanny di kejutkan dengan tangan yang melingkar di perutnya"Eh,mas kamu ngagetin aja tau,lepas ih aku lagi masak kamu tunggu di meja makan aja sana"ucap Fanny dan berusaha melepaskan tangan Riko dari perutnya"Yaudh aku tunggu di meja makan ya"ujar Riko setelah melepaskan tangannyaCup"Eh"ucap Fanny yang terkejut dengan perlakuan Riko barusan"Morning kiss sayang"ucap Riko setelah mencium pipi sang istriKini mereka sedang sarapan di meja makan setelah Fanny selesai memasak nasi goreng"Gimana enak enggak nasi gorengnya mas,maaf ya aku cuman buatin ini soalnya belum ada bahan makanan di kulkas" ucap Fanny"Enak banget saya masakan kamu,yaudh nanti setelah aku pulang dari kantor kita belanja bahan makanan ya"jawab Riko Fanny pun menganggukSetelah selesai sarapan Riko pun pamit pergi ke kantor"Aku berangkat dulu ya sayang"pamit Riko"Iya mas hati"ya "jawab Fanny sambil mencium punggung tangan sang suami dan di balas kecupan di keningnya"Assalamualaikum""Waalaikumsalam"...........Kini Riko telah sampai di depan kantornya dia memasuki kantor dan menuju ruangannya"Pagi pak"sapa para karyawan dan Riko hanya mengangguk dengan wajah datar nyaSaat sudah memasuki ruangannya Riko langsung duduk di meja kerjanya dan mulai memeriksa dokumen"Tok tok tok"Masuk ""Selamat pagi pak,ini berkas yang harus bapak tanda tangani "ucap Mia sekretaris Riko"Taruh di meja aja nanti saya tanda tangani"jawab Riko"Oh iya hari ini ada berapa jadwal saya meating"tanya Riko pada sang sekretaris"Hari ini jadwal meatiing pertama bapak pukul 09:00 ,jadwal meating kedua pukul"13:00 ,jadwal meating ketiga pukul 16:00 dan jadwal meating terakhir pukul 19:00 pak"jawab Mia"Jadwal meating ketiga dan keempat di undur karena saya ada urusan. Jadi saya hanya bisa meating pertama dan kedua hari ini,kalau sudah tidak ada urusan silahkan kamu keluar dari ruangan saya"ujar Riko"Kalau begitu saya permisi pak"ucap Mia dan keluar dari ruangan Riko...........Sementara di rumah Fanny sedang menonton tv setelah selesai melakukan pekerjaan rumahDrrrrrt DrrrrtDering ponsel Fanny dan ternyata Riko video call"Hallo, assalamualaikum mas,kenapa kok video call emang gak sibuk"ucap Fanny setelah menjawab"Waalaikumsalam sayang,enggak kok aku lagi istirahat makan siang"jawab Riko"Kamu lagi ngapain sayang"tanya Riko"Aku lagi nonton,oh iya maaf ya aku gak bawain makan siang buat kamu"ucap Fanny"Gak papa sayang"jawab Riko"Sayangg aku kangen tau sama kamu" rengek Riko"Masak baru pisah sebentar aja udh kangen lagian kan nanti ketemu lagi di rumah mas"jawab Fanny"Tapi aku kangen"ucap Riko"Udah dulu ya mas,kamu lanjut makan siangnya"ucap Fanny"Iya sayang kamu juga jangan lupa makan siang ya,byy assalamualaikum"ujar Riko"Waalaikumsalam"jawab Fanny............Kini Riko dalam perjalanan pulang setelah selesai meating"Assalamualaikum sayang"ucap Riko sambil memasuki rumah"Waalaikumsalam,loh mas kok kamu udah pulang"ucap Fanny dan Salim dengan sang suami"Aku kan udh janji mau ajak kamu belanja bahan makanan,yaudh sekarang kamu siap"sana"ucap Riko dan Fanny pun menganggukKini mereka sudah berada di sebuah mall dan Riko sedang mengikuti fanny memilih bahan makanan sambil mendorong troly"Ih sayang jangan beli ikan itu aku gak suka"ucap Riko pada Fanny yang akan mengambil ikan tongkol"Oh yaudh aku gak jadi beli ikan tongkol nya"jawab FannyKini mereka sudah selesai berbelanja bahan makanan dan akan membayar di kasir"Total semuanya Rp.1.350.000,00 pak"ucap mbak kasir sambil tersenyum kepada Riko"Matanya ya mbak saya istrinya"ucap Fanny marah dengan mbak kasir"Ma..af buk saya kira ibuk adeknya "ujar mbak kasir"Enak aja "jawab Fanny sewot Riko pun tersenyum melihat Fanny yang sedang cemburuSetelah selesai membayar Riko dan Fanny pun pergi"Kamu mau kemana lagi sayang? Mau langsung pulang apa gimana?tanya Riko yang melihat wajah cemberut sang istri"Terserah"jawab Fanny yang masih cemberut"Yaudh kita makan aja ya,jangan cemberut gitu dong muka nya"ucap Riko sambil mengelus rambut sang istri"Lagian kamu kok diem aja sih tadi waktu di senyumin sama mbak kasir?kenapa gak marah kamu kan udah punya istri?tanya Fanny pada Riko"Ya Allah kamu cemburu sayang,lagian aku juga gak akan kepincut sama mbak kasir tadi aku cintanya cuma sama kamu"jawab Riko"Tau ah males"ucap Fanny meninggalkan Riko"Loh sayang mau kemana" tanya Riko sambil tersenyum dan mengejar sang istriKini mereka sedang berada di restoran untuk makan setelah perdebatan tadi"Kamu mau pesen apa sayang"tanya Riko"Terserah"jawab Fanny sewot"Udah dong marahnya ,aku minta maaf janji deh aku gak gitu lagi,nanti kalo ada mbak kasir senyumin aku ,aku bilang kalo aku udh punya istri yang cantik banget gitu"ucap Riko"Janji ya"tanya Fanny"Iya janji,yaudh sekarang kamu mau pesen apa"ucap Riko"Aku mau pesen spageti sama minumnya jus jeruk"ujar Fanny"Udh itu aja "tanya Riko dan Fanny mengangguk"Mbak"panggil Riko kepada pelayan"Iya mas mau pesen apa?"tanya pelayan"Saya pesen spageti satu,mi goreng satu sama minumnya jus jeruk dua"jawab Riko"Udh itu saja"Riko mengangguk"baik silahkan di tunggu ya mas mbak""Nanti setelah makan kamu mau kemana lagi"tanya Riko"Mau pulang aja deh kasihan kamu pasti capek habis pulang dari kantor langsung nemenin aku"jawab Fanny"Kalo untuk kamu aku gak pernah capek sayang"ucap Riko tersenyum...........Kini mereka sudah di rumah dan sedang menonton tv setelah makan malam"Sayang kamu udh selesai skripsi nya"tanya Riko yang tiduran dengan paha Fanny sebagai bantal"Belum sedikit lagi selesai"jawab Fanny sambil mengelus rambut sang suami"Udh malam tidur yuk aku udh ngantuk"ucap Riko"Yaudh ayo ke kamar"jawab Fanny dan mereka menuju kamar"Sayang mau nenen "pinta Riko"Enggak udh malam tidur"jawab Fanny"Ihh mau nenen"rengek Riko"Yaudh iya sini"jawab Fanny sambil membuka kancing piama nya"Puk puk sayang"ucap Riko yang sudah mengenyut benda kenyal itu"Iya,udh cepet tidur"ujar FannySaat sudah tidak merasakan Riko mengenyut lagi Fanny mencoba melepaskan pautannyaDan tiba-tiba Riko mengenyut lagi"Huss tidur lagi mas"ucap Fanny sambil mempuk puk punggung RikoKarna sudah mengantuk Fanny pun ikut tertidur dam membiarkan Riko yang masih mengenyutTbcKini Fanny sedang berada di dapur untuk membuat sarapan sedangkan Riko sedang bersiap di kamar untuk berangkat ke kantor"Pagi sayang"sapa Riko sambil memeluk Fanny dari belakang"Pagi juga mas, sarapan dulu yuk"ucap Fanny"Iya sayang"jawab Riko dan mereka mulai sarapan"Oh iya sayang hari ini aku lembur banyak berkas2 yang harus aku kerjain,jadi kamu tidur duluan aja jangan nungguin aku ya"ucap Riko saat sudah selesai sarapan"Iya mas,kamu yang semangat ya kerja nya"jawab Fanny"Kamu gak ada kelas hari ini"tanya Riko"Ada cuma 1 kelas nanti jam 10:00,terus lanjut ngerjain skripsi sama Kila sama Ghea""Semangat ya istri aku ngerjain skripsi nya biar cepet lulus"ucap Riko sambil mengacak rambut Fanny"Yaudh aku berangkat dulu ya sayang, assalamualaikum"pamit Riko"Iya mas waalaikumsalam hati2 ya mas"jawab Fanny sambil mencium tangan sang suami dan di balas kecupan di kening oleh Riko"Iya sayang",,...............Saat ini Fanny sudah berada di kampusnya dan sedang menunggu kedua temannya"FANNY"panggil Ghea dengan teriak"Gue gak budek kali jadi gak usah teriak2"ucap Fanny"Hehe maaf"jawab Ghea"Oh iya kita cuman ada 1 kelas kan hari ini?lanjut ngerjain skripsi yuk biar cepet lulus"ucap Ghea"Emang Lo mau ngapain setelah lulus,pengen banget cepet2 lulus"tanya Kila"Ya enggak ngapa-ngapain sih paling bantuin Deddy gue ngurus perusahaan"jawab Ghea"Jadi mau gak ini"lanjutnya"Yaudh lh gass"jawab Kila"Yaudh ke kelas yuk bentar lagi kelas mau mulai"ajak Fanny dan mereka menuju kelas...............…Kini mereka sedang berada di rumah Ghea untuk mengerjakan skripsi"Ghea mommy sama Deddy kemana kok gak ada di rumah"tanya Fanny"Deddy di kantor, mommy juga di kantor ngantar makan siang buaat Deddy"jawab Ghea(Fanny dan Kila memanggil orang tua Ghea dengan sebutan Deddy dan mommy juga,karena tidak boleh memanggil Tante atau om oleh orang tua Ghea begitu juga sebaliknya Ghea pada orang tua Fanny dan Kila)"Yaudh yuk kita mulai ngerjain biar cepet selesai"ajak Kila dan Fanny dan Ghea pun mengangguk"Assalamualaikum"ucap mommy Ghea saat memasuki rumah"Waalaikumsalam"jawab mereka bersamaan"Loh Fanny sama Kila di sini"fannya mommy Ghea"Iya mom soal nya lagi ngerjain skripsi"jawab Fanny"Yaudh kalo gitu mommy buatin cemilan ya biar kalian semangat ngerjain skripsi nya"ucap mommy Ghea"Jadi ngerepotin mom"ucap Kila tak enak hati"Gak papa sayang,yaudh kalo gitu mommy buatin dulu cemilannya"ucap mommy Ghea"Iya mom"jawab mereka dan mulai mengerjakan skripsi nya"Ini sayang cemilannya udh jadi di makan ya"ucap mommy Ghea saat sudah selesai membuat cemilan"Makasih mommy"ucap mereka"Iya sama-sama,yaudh kalo gitu mommy mau ke kamar ya,kalian semangat ngerjain nya"ucap mommy Ghea mereka pun mengangguk dan melanjutkan mengerjakanTak terasa sudah pukul 17:00,Fanny dan Kila pun pamit pulang dari rumah Ghea"Mommy Fanny sama Kila pulang dulu ya soalnya udh sore"pamit fannya dan Kila"Iya sayang sering2 ya main kesini, hati-hati"jawab mommy Ghea mereka pun mengangguk"Kita pulang dulu ya gw"pamit Kila"Iya kalian hati-hati ya"jawab Ghea"Assalamualaikum""Waalaikumsalam".................Kini Fanny sudah berada di rumah dan melanjutkan mengerjakan skripsi nya sambil menunggu Riko,walaupun Riko menyuruh untuk tidak menunggu tapi Fanny tetap menunggu"Alhamdulillah akhirnya siap juga skripsi nya Minggu depan tinggal sidang"ucap Fanny"Mas Riko kok belum pulang sih udh jam segini juga lama banget"ucap Fanny saat melihat jam sudah pukul 11 malamFanny pun ketiduran saat sedang menunggu Riko pulang"Assalamualaikum"ucap Riko memasuki rumah"Ya Allah sayang kok tidur di sini sih,kan aku sudah bilang jangan nungguin aku pulang"ucap Riko yang terkejut saat melihat Fanny yang ternyata menunggu nya sampai ketiduran"Eaugh"lenguh Fanny yang terusik karna Riko mengusap kepalanya"Loh mas udah pulang "tanya Fanny saat sudah membuka mata"Udah,kamu kok nungguin aku pulang sih Sampek ketiduran gini,aku kan udh bilang aku lembur jadi jangan di tungguin sayang"omel Riko pada Fanny"Maaf mas,aku tadi juga sambil ngerjain skripsi kok eh mala ketiduran"jawab Fanny"Lain kali jangan gini lagi ya,kalo aku lembur jangan di tungguin,yaudh ayo sekarang pindah ke kamar tidurnya"ucap Riko"Gendong"ucap Fanny sambil merentangka tangan"Yaudh sini2 tuan putri"jawab Riko lalu menggendong Fanny ala Koala"Tidur lagi gih"suruh Riko pada Fanny saat sudah sampai di dalam kamar"Gak mau,mau nunggu kamu aja"jawab Fanny"Ini udah malam sayang kalo nunggu aku nanti lama kasian kamu"ucap riko sambil mengusap kepala Fanny"Gak mau,udah sana kamu bersih2 aku tungguin"suruh Fanny"Yaudh iya tapi kalo kamu udh ngantuk tidur dulu aja ya"jawab Riko dan Fanny mengangguk lalu Riko berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diriRiko pun sudah selesai bersih2 dan menjumpai Fanny"Udh"tanya Fanny"Udah sayang,ayok tidur udh malam"jawab Riko"Sayangg"ucap Riko sambil menatap Fanny dan Fanny pun peka"Sini2"ucap Fanny sambil membuka kancing atas piama nya dan Riko langsung menubruk benda kenyal kesayangannya"Kasian suami aku pasti capek banget ya kerja seharian Sampek lembur"ucap Fanny sambil mengusap belakang kepala Riko dan Riko pun mengangguk sambil terus mengenyut lalu keduanya pun tertidur................"Mas bangun udh pagi"ucap Fanny sambil mengusap pipi sang suami"Hmmm nanti sayang aku masih ngantuk"jawab Riko"Tapi ini udh pagi mas,emang kamu gak ke kantor"tanya Fanny dan Riko menggeleng"Sayang,kepala aku pusing"adu Riko sambil merengek"Yaudh sini aku pijitin biar gak pusing"jawab Fanny dan mulai mamijat kepala Riko"Sayangg......mau nenen"rengek Riko"Yaudh sini2,kamu pasti capek banget ya mas gak biasannya kamu minta nenen pagi2 gini kalo gak karna kecapean"ucap Fanny lalu Riko pun mengangguk"Mas kalo kamu udah capek istirahat aja dulu jangan di paksain kerja nya,kasian kamunya"lanjut Fanny"Kepala aku pusing banget sayang"rengek Riko sambil mengenyut"Yaudh kamu disini dulu aku mau ngambil sarapan sama obat dulu buat kami"ucap Fanny"Gak mau"ucap Riko sambil memeluk Fanny dan tetap mengenyut"Bentar aja mas,udahan dulu nenennya di lanjutin nanti ya"bujuk Fanny pada Riko"Gak mau sayangg.."rengek Riko dengan mata yang sudah berair pertanda akan menangis"Iya2 gak jadi udh jangan nangis nanti tambah pusing kepala nya"ucap Fanny"Hallo bik,bik Wati udh di sini?"...........""Saya mau minta tolong anterin sarapan sama obat pusing ke kamar saya bisa?".............""Iya makasih ya buk""Kamu nelpon bik Wati sayang "tanya Riko"Iya, kamu kan gak mau di tinggal jadi aku suruh bik Wati buat anterin sarapan sama obat"jawab Riko"Jadi nanti bik Wati masuk dong sayang ke kamar kita"tanya Riko"Enggak,nanti nganterin nya Sampek depan kamar aja"jawab Fanny"Nanti kalo bik Wati udh dateng berhenti dulu ya nenennya soalnya kan mau ngambil sarapan sama obatnya"suruh Fanny"Iya"jawab Riko sambil terus mengenyutTok tok tok"Non,ini sarapan sama obatnya" panggil bik Wati"Iya bik, makasih ya bik"ucap Fanny"Sama2 non emang siapa yang sakit non"tanya bik Wati"Suami saya bik katanya kepala nya pusing"jawab Fanny"Owalah semogah cepet sembuh ya non den Riko nya,yaudh bibik mau balik ke dapur dulu ya non"ucap bik Wati"Amiin,iya bik makasih ya"jawab Fanny
Telat Sadar
"K-kak Leo, sebenarnya aku—"ucapan gadis itu terputus."Suka sama gue kan? Maaf kayaknya gue nggak bisa," sela laki-laki itu, Leo."Ke-kenapa kak? Aku kira kakak suka sama aku karena selama ini kita dekat," ucap Nara sambil menatap Leo intens.Leo menyibakkan rambutnya kebelakang dan tertawa sinis. "Jangan mimpi deh, lo! Dekat bukan berarti gue suka sama Lo! Lagian, nggak mungkin lah, gue suka sama orang kaya lo!" Leo lalu melangkah pergi begitu saja.Nara menunduk sambil meremas tangannya sendiri. Kenapa sih, pernyataan cintanya selalu ditolak? Apa karena ia jauh dari kata cantik? Apa ia jauh dari kata feminim? Ya, kadang tingkah Nara ini bar-bar.Daripada galau dan memikirkan yang tidak-tidak di tempat itu, lapangan basket, Nara pun memutuskan untuk pergi ke kelas dan menemui teman laki-laki satu-satunya yang biasa ia ajak curhat jika sedang galau."Rel." Nara langsung duduk disebelah temannya yang sedang asik mengobrol dengan teman perempuannya yang Lain. Yah, Varel memang satu-satunya laki-laki yang enak buat diajak ngobrol maupun curhat."Eh, Nara. Kenapa muka lu cemberut gitu? Ditolak cowok lagi?" tanya Dinar dengan nada mengejek.Nara yang sudah kesal, menggebrak meja cukup kencang, membuat Dinar sedikit terkejut. "Bacot! Nggak usah ikut campur lo!""Ya santuy, dong. Yaudah lah, Rel. Kita lanjut ngobrol lagi nanti. Bye! " Dinar pun bergegas pergi. Takut nanti Nara mengomeli dirinya."Ada apa, Nara?" tanya Varel, matanya malah terfokus pada ponselnya."Gue ditolak lagi." Nara menidurkan kepalanya dimeja."Udah tau. Elo sih, udah gue bilangin kan, jangan langsung nembak orang yang lo suka.""Ya tapi, perasaan ini tuh—ah, udahlah. Pokoknya gue suka sama kak Leo, tapi ditolak dengan kata-kata yang kasar." Nara mengacak rambutnya frustasi."Udah, tutup mata aja. Palingan besok lo udah dapet penggantinya. Hati lo kan cepet reinkarnasinya." Kali ini Varel menatap Nara."Ya elah lo kira gue cacing pipih?! Eh, Rel. Lo lagi suka sama siapa sih? Kok gue nggak pernah denger lo lagi suka sama siapa.""I-itu—gue masih suka sama si Nancy." Varel membuang mukanya kearah lain. Nancy itu gadis yang Varel sukai waktu kelas 8 SMP.Nara hanya manggut-manggut, "Oh," ucapnya."Eh, Rel. Pulang sekolah wi-fi an di lorong kantor kepala sekolah yuk! Kaya biasanya," lanjut Nara."Hem. Pasti mau nonton drakor?""Iyalah, pliisss!!" Nara menyatukan kedua tangannya, memohon pada laki-laki didepannya ini.Varel memutar bola matanya malas, yah, terpaksa deh. "Iyaya,"***2 hari kemudian ."Varel!!" teriak seorang gadis di koridor. Membuat beberapa pasang mata tidak bisa tidak menoleh ke Nara.Si pemilik nama pun mengehentikan langkahnya lalu berbalik, "Kenapa sih, Nar? Teriak-teriak Mulu, bikin malu."Nara pun segara berlari mendekati si Varel. "Gue mau ngomong. Sebenernya, si Galang dilihat-lihat ganteng juga ya." Tanpa sadar, senyum Nara mengembang."Tuh kan. Yaudah, yang penting lo jangan ngelakuin hal-hal kayak sebelumnya! Yang ada nanti Galang malah ilfeel sama lo!""Emang gue ngelakuin apa aja emang?" Nara mencoba mengingat-ingat lagi apa saja kelakuannya.Varel mengehentikan langkahnya, lalu menatap Nara, begitu juga dengan Nara. "Yang suka manjat pagar samping sekolah buat ambil markisa siapa? Suka nyapa semua orang dikoridor, lempar bola ampe kena kepala botak Pak Danu siapa? Pokoknya plis, jadi lebih feminim.""Iya-iya." Nara memanyunkan bibirnya. Tak lama kemudian senyum Nara kembali mengembang. Tangannya melambai-lambai pada seseorang."Galang!" Nara menyapa laki-laki yang berpapasan dengannya, Galang.Dengan ramah, Galang tersenyum dan membalas Nara. "Eh, Halo Nara."Tepat di depan pintu kelas, Nara memegang tangan Galang, membuat laki-laki itu gugup setengah mati."Rel, tolong bantuin gue deket sama Galang, dong!" pinta Nara. Varel tak langsung menjawab."Pliis bantuin gue, Rel," rengek Nara lagi.Akhirnya, Varel menatap Nara intens. Dan seperti biasa, ia tersenyum. "Iyaya. Gue pasti bantu kok,""Yeaayy! Makasih Varel! Lo emang temen terbaik gue, dah!" Nara berjalan masuk ke kelasnya dengan perasaan girang.Ia tidak pernah tau apa yang sedang dirasakan Varel.Hari-hari terus berlalu. Varel dengan segala upayanya membantu PDKT Nara dengan Galang akhirnya membuahkan hasil. Mereka berdua semakin dekat. Tetapi, belum sampai tahap pacaran.Nara berjalan mendekati Varel sambil membawakan susu coklat kesukaannya. Ya, hitung-hitung sebagai balas budi karena sudah membantu PDKT-nya."Varel!" Nara duduk dihadapan Varel sambil menyodorkan susu kotak rasa coklat itu."Rel, ini gue beliin susu. Itung-itung buat balas budi, lah. Makasih ya udah bantuin gue PDKT sama Galang," ucap Nara. Namun, tidak biasanya Varel menunjukkan ekspresi badmood ."Rel, Lo kenapa sih? Diem mulu, sariawan ya?" celetuk Nara."Bisa diem nggak?! Lo nggak akan tau apa yang gue rasain!" ucap Varel dengan suara cukup kencang."Y-ya nggak usah marah-marah, dong," ucap Nara."Lo ditolak ama Nancy?""Pikir sendiri." Varel pun pergi meninggalkan Nara sendiri.Gue salah apa sih? Batin Nara.***Sejak hari itu, Nara dan Varel tidak pernah bertemu lagi. Mendadak Varel pindah sekolah karena pekerjaan Ayahnya yang harus pindah kota.Tentang Galang, mereka memang dekat. Tapi hanya sebatas teman. Lagipula, perasaannya pada Galang sudah berubah dan Galang pun sudah punya pacar. Sejak Varel pindah, Nara merasa ada yang kosong di hatinya.Hari ini, jadwal Nara piket kelas. Seperti biasa, kalau ia piket hanya membersihkan sampah-sampah di laci meja, lalu pulang. Sedangkan teman-temannya sibuk menyapu, mengepel dan merapikan buku-buku. Enak ya, jadi Nara.Saat merogoh laci meja milik Varel, ia menemukan sebuah amplop kecil yang ada tulisan Katakana- nya diujung depan amplop.Penasaran, Nara langsung membukanya dan membaca surat yang ditulis di kertas binder berwarna merah muda.I love you , Nara Adhitama 💕@VarelGaming07Singkat, namun mampu membuat dada Nara terasa sesak dan sakit. Tubuhnya langsung merosot ke lantai, air matanya mengalir deras. Ia sudah tidak peduli dengan orang-orang sekitar."Ra, Lo nggak papa?""Eh, Ra. Lo napa nangis?""Ra, oy!"Mengapa? Kenapa ia baru sadar bahwa Varel menyukainya? Kenapa harus terlambat seperti ini, sih?! kenapa telat sadarnya, sih?!Gue juga suka sama lo , Rel .[ E N D ]
Beri Aku Waktu
Sudah sebulan lebih Gisel putus dengan Gavin. Akan tetapi, kenangannya tetap menemani hari-harinya yang kelam. Tempat yang dulu sering mereka datangi bersama berdua, kini hanya didatangi oleh Gisel saja. Seperti sekarang. Gisel mendatangi taman ini lagi. Taman yang masih terlihat sama, namun terasa berbeda.Ia menduduki kursi taman. Bibirnya tersenyum tipis melihat bunga mawar yang dihinggapi kupu-kupu dengan berbagai warna yang terlihat cantik. Mereka terbang kesana-kemari seolah tengah menari bersama, dengan pancaran kebahagiaan. Namun, tak sebahagia dirinya saat ini.Gavin Anggara. Lelaki yang berhasil meluluhkan hatinya sekaligus meruntuhkan harapannya, pergi begitu saja setelah mengucapkan kalimat singkat, namun terkesan menyayat hatinya." Kita berhenti sampai sini ya , Gis . Makasih dua tahunnya ." ucapan Gavin dulu, yang masih terngiang di benaknya hingga saat ini."Siapa coba?"Gisel terkejut ketika matanya ditutup oleh seseorang dari belakang."Galih ...." Gisel memegang kedua tangan kekar itu, lalu menjauhkannya dari matanya.Galih tertawa. Ia melompat dari belakang kursi yang Gisel duduki, lalu langsung mendudukinya. Memang tidak sulit melakukan hal itu bagi laki-laki."Semenarik itukah kupu-kupu itu?" tanya Galih yang mengikuti arah pandang Gisel."Lucu," jawab Gisel singkat. Tatapannya masih fokus pada kupu-kupu dan bunga mawar itu. Ia bahkan tidak melirik Galih sama sekali."Lo gak bisa gini terus Sel, semakin lo kayak gini, semakin lo ngebunuh diri lo sendiri." Galih berkata dengan mata yang menatap Gisel lekat.Gisel terdiam. Ia menghembuskan nafas pelan, lalu menatap Galih balik. "Gue masih gak bisa terima semua kenyataan ini, Gal. Gavin pergi gitu aja tanpa alasan yang jelas." Mata Gisel mulai berkaca-kaca."Kita gak bakal tau isi hati seseorang Sel. Cinta bisa datang kapan aja, dan pergi gitu aja. Mungkin dengan kepergian Gavin, tuhan memberi pelajaran buat lo untuk bisa mendapatkan yang lebih baik dari dia," ujar Galih dengan tenangnya."Emang bener ya, cinta bisa menjebak seseorang dalam zona nyaman. Kaya gue contohnya," ujar Galih kembali, yang membuat Gisel menoleh ke arahnya."Maksud lo?" tanya Gisel tidak mengerti.Galih merubah posisinya menjadi menghadap Gisel. Tangannya mengambil kedua tangan Gisel, lalu digenggamnya erat. "Gue sayang sama lo Sel, gue cinta sama lo, bahkan gue gak mau kehilangan lo. Dengan liat keadaan lo yang kaya gini, buat gue ikutan sakit, Sel." Galih berkata dengan begitu lantangnya.Gisel terkejut mendengarnya. Ia menarik tangannya yang digenggam oleh Galih. "Tapi, Gal ... kita kan udah janji buat gak jatuh cinta satu sama lain," ujarnya."Gue tau kita udah sahabatan dari kecil. Bahagia lo, bahagia gue. Kesedihan lo, kesedihan gue. Begitupun sebaliknya. Tapi perasaan gak bisa dibohongi, Sel. Gue sayang dan cinta sama lo, udah dari empat tahun yang lalu. Dari waktu kita duduk di bangku SMA." Galih menjelaskan sedetail-detailnya. Ia mengungkapkan semua perasaan yang sedari dulu dirasakannya pada Gisel."Kenapa gak bilang dari dulu?" tanya Gisel dengan tatapan yang sulit diartikan."Gue takut Sel. Gue takut lo bakal jauhin gue kalau gue ungkapin perasaan ini. Perasaan yang gak seharusnya terjadi sama gue, dan perasaan yang bisa ngehancurin persahabatan kita," kata Galih. Matanya masih menatap Gisel, yang juga tengah menatapnya."Saat gue tau lo jadian sama Gavin, hati gue sakit Sel. Hidup gue kayak berubah. Walaupun ini mungkin terkesan lebay, tapi kenyataannya emang gitu. Bahkan, saat gue liat lo jalan berdua sama Gavin, gue lah orang pertama yang berharap kalau Gavin adalah gue."Ucapan Galih membuat Gisel terdiam membisu. Ia bingung apa yang harus dilakukannya sekarang. Mulutnya seolah terkunci rapat, namun ia merasa ada gejolak aneh di hatinya setelah mendengar pengutaraan Galih."Maaf Sel, maaf gue udah jatuh cinta sama lo, dan mengingkari janji kita dulu. Gue gak maksa buat lo terima cinta gue. Tapi gue mohon, tetap jadi sahabat terbaik gue. Dan biarkan cinta gue ke lo, tetep tersimpan di hati gue," mohonnya dengan bibir yang berusaha untuk tersenyum.Bukannya marah atau kesal, Gisel justru ikut tersenyum seperti Galih. "Lo gak salah Gal. Lo berhak jatuh cinta sama siapa aja, lo juga berhak buat ngungkapin nya. Makasih udah mau jujur." Terdengar nada tulus dari ucapan yang Gisel ucapkan."Tapi, maaf gue belum bisa nerima lo, Gal.""Kenapa?" tanya Galih memelankan suaranya."Gue gak mau jatuh cinta sama orang cuma buat lupain Gavin. Gue gak mau dengan gue lakuin ini ke lo, yang ada gue malah nyakitin lo dengan cinta palsu." Gisel tersenyum kepada Galih."Kasih gue waktu buat bisa jatuh cinta sama lo, kalaupun gue gak bisa jatuh cinta sama lo, lo berhak cari yang lebih baik dari gue," lanjutnya, yang mencoba meyakinkan Galih."Gue akan tunggu lo, Sel," ucap Galih yakin. Terlihat senyuman itu semakin melebar, dan wajah Galih terlihat lebih bahagia sekarang."Makasih udah selalu ada buat gue." Gisel menyandarkan kepalanya pada pundak Galih."Gue terpaksa," canda Galih yang mendapat cubitan Gisel di perutnya."Aww! Sakit Sel!" ringis Galih."Rasain tuh!" Gisel menjulurkan lidahnya."Berani ya ...." Galih menggelitik Gisel sebagai balasannya.Gisel tertawa kencang, karena perutnya yang merasa geli. "Galih! Berhenti!" teriaknya yang dibarengi tertawa.Galih berhenti menggelitik Gisel yang masih tertawa kencang. Ia tersenyum senang melihat Gisel yang tertawa seperti sekarang. Sedetik kemudian, ia langsung memeluk Gisel erat."Selalu bahagia, Sel." bisik Galih.Gisel membalas pelukannya. "Pasti," ujarnya yang tersenyum senang.Mereka larut dalam kenyamanan, dan melupakan semua kesedihan yang mengelilinginya.[ E N D ]
Terakhirnya di Kehidupanku
Rinai menari-nari di nabastala. Memancarkan mega rucita. Dayita gata meninggalkan bekas di indurasmi. Headphone telah terpasang di kedua telinganya, tiada terpengaruh kampa di sekitarnya.Memandangi halaman depannya membuatnya bernapas lelah. Dia sadar, hidupnya tidak lama lagi. Tetapi, dia berusaha terlihat baik dan kuat walau sebenarnya dia sangat rapuh. Bahkan, tidak ada kata kokoh lagi di hatinya.Lampu merah berubah ke warna kuning, menandakan khalayak umum boleh melewatinya tanpa merasakan takut akan kecelakaan nantinya. Dia mulai melangkahkan kakinya dengan kekuatan setengahnya.Dia tidak bisa memaksakan hasratnya. Dia harus bisa membagi waktu antara atma dan kampusnya. Terlihat sepele, tetapi baginya itu butuh kekuatan dan kesabaran untuk menahan sakitnya yang dia derita tersebut.Kini, kampus terlihat seperti pasar. Iya, pasar, di sana tempatnya sangat ramai. Ada yang berbahagia, tertawa, tersenyum, bahkan gila di tempatnya. Namun, untuknya? Ha-ha, terasa konyol."Selamat pagi, bro," sapanya.Aku menoleh ke belakang. Anggukan kecilku, dia memahaminya. Bisa dikatakan, dialah yang dekat denganku. Namun, dekat-dekatnya denganku. Dia juga tidak tahu kalau aku memiliki penyakit."Ngomong-ngomong, kamu sudah selesai tugas yang diberikan Pak Ardan?" tanyanya."Pasti. Belum?" tanyaku.Terlihat giginya putih bersih membuatku mengangkat kedua bahu acuh. Dia itu pintar sebenarnya cuman ... entahlah. Aku akan menunggunya untuk merubah pola pikirnya itu.Bel kampus terdengar di telinga kami. Kami mempercepat langkah kami agar tidak terlambat di ruangan nantinya. Tepat bel ketiga, kami tiba di sana. Jangan lupakan seseorang yang akan mengisi hari ini.Bapak Pandiwijaya, dipanggil Pak Jaya. Siapa yang tidak mengenalinya? Jangan harap kampus sini tidak mengenalinya. Pasti kenal dengan beliau. Beliau termasuk jajaran dosen killer di kampus Gandaria.Bagi mereka, bagiku dan Charlie, temanku. Pak Jaya adalah dosen yang paling kami sayangi dan banggakan. Ditanyakan, alasannya? Apakah harus ada alasan untuk menaruh perhatian dan kasih di sana? Tidak, bukan?Tidak hanya Pak Jaya saja. Ada dosen yang membuatku kagum dengan beliau. Namanya adalah Bapak Zein Ahmad, dipanggil Sen Mad. Lucu, bukan? Bagi kalian, bagiku, tidak. Mengapa beliau dipanggil begitu? Kata beliau, teman-temannya sering memanggilnya dengan sebutan Mad. Sedangkan, Sen diambil nama ujung gelar dari 'Dosen', yaitu 'Sen'. Jadi, kalian pikirkan saja.Bianglala memenuhi atma. Chandra menampakkan visus nya. Harsa sahaja sudah aku miliki tanpa dari orang lain melainkan dari diriku sendiri. Usai kampus, aku jalan-jalan sebentar. Ingin memberikan ruang untuk jiwaku.Mataku menangkap seorang anak kecil. Ditangannya ada setangkai bunga anggrek. Teringat temanku, Rena. Dia sangat mencintai bunga anggrek. Eh, sebentar. Aku melupakannya. Di manakah dia sekarang? Dia juga teman terdekatku.Saking nyamannya di bawah akara. Ujung kaos oblongku ditarik-tarik oleh seseorang. Aku menyadarkan kepalaku dengan gelengan kecil dan menoleh ke bawah. Anak kecil ini? Barusan aku bicarakan tadi. Mengapa dia mendekatiku?Aku berjongkok guna mensejajarkan diriku dengannya. Lalu, aku berkata, "Halo, manis. Ada yang bisa Kakak bantu?" tanyaku sambil tersenyum tipis.Dia juga membalas senyumanku. Tiba-tiba, dia menyerahkan sebuah kotak kecil yang biasanya terisi oleh cincin. Mengernyit heran, jelas. Aku tidak mengerti apa-apa dengan kotak kecil ini. Lagian, buat apa aku menyimpannya?"Simpan ini baik-baik, Kak. Ini akan berguna nantinya, Kak. Kalau boleh tahu, nama Kakak siapa, ya?" tanyanya.Wajahnya bulat, putih dan bersih. Aku melihatnya jadi lucu sendiri. Sebentar, wajahnya mirip seseorang. Tetapi, siapa? Oh ya, apakah dia sendirian di sini? Mana orang tuanya?"Panggil kakak, Rel, okay? Ngomong-ngomong, kotak kecil ini kok buat Kakak, sih? Lalu, kamu sama siapa di sini?" tanyaku sedikit penasaran.Dia tersenyum dan berkata, "Kakak lupa denganku, ya? Aku adiknya Anty Rena, Kak. Kalau masalah kotak kecil ini. Aku tidak tahu, Kak. Ini itu pesan dari Anty Rena, Kak," jawabnya.Sebentar, Rena? Rena memiliki adik perempuan. Sejak kapan? Kok aku baru tahu? Terus, pesan dari Rena. Di mana dia sekarang? Jantungku sedikit berdebar mendengar penjelasannya."Hm, begitu. Anty Rena-nya, di mana, Dek?" tanyaku pelan seolah-olah ada sesuatu yang hinggap di benakku. Namun, aku tangkis dan yakin sepenuhnya."Anty Rena sudah tiada, Kak Rel," ucapnya.Wajahku tegang. Duniaku seolah-olah terhenti dan meninggalkan retisalya. Ba-bagaimana bisa? Bukankah dia sehat-sehat saja, apakah dia menyembunyikan sesuatu dariku? Mengapa dia menutupinya? Ataukah, dia tidak ingin aku kesepian walau sebenarnya aku kesepian. Bahkan, sangat kehilangan saat dirinya tidak bersamaku lagi."Maksudmu, Anty Rena telah meninggal, Dek?" tanyaku pelan. Bahkan, tidak kedengaran lagi."Benar, Kak Rel. Oleh karena itu, aku sebagai adiknya harus melaksanakan amanahnya. Sudah dulu ya, Kak Rel. Aku mau pulang. Takut Bunda mencariku. Ingat, simpan baik-baik, jumpa lagi, Kak Rel," pamitnya.~~~Apa kabar, hawk!Jangan menyembunyikan sesuatu dariku, hawk.Aku tahu, kamu memiliki penyakit.Parahnya, penyakit kita sama, hawk.Huh', udaranya sangat dingin di sini, hawk.Oh ya, berapa tahun kita tidak bertemu, hawk?4-5 tahun, 'kan?Aku kangen kamu, hawk.Kamu tetap semangat, hawk.Hatiku selalu ada nama mu, hawk.Um ....Sebelumnya, aku minta maaf sama kamu, hawk.Kali saja, aku pernah menyakitimu melalui perbuatan dan perkataanku ini padamu, hawk.Huffttt ....Dekorasinya sangatlah jelek.Sampai-sampai, aku bosan melihatnya.Eh, hawk?Kamu jangan sampai sepertiku ini, ya.Aku jahil sekali dengan diriku ini.Jadi, kamu tidak boleh jahil, hawk.Huh' ....Sudah dulu, ya, hawk.Napasku sudah sampai ubun-ubun, nih.Kalau kamu mendapatkannya ....Tandanya, aku sudah berada di langit.Kalau kangen, lihat ke langit, okay.Love u, Hawk.Rumah Sakit, Rena Jayanda.~~~Satu minggu, waktuku yang dihabiskan hanya membaca berulang-ulang surat mini dari Rena. Aku tak menyangka kalau di kotak kecil itu terdapat kertas gulungan. Tak lupa, cincin perak bertuliskan namaku dan namanya di sana.Sebegitu dalamnya dia mencintaiku? Padahal, aku tidak menaruh harapan padanya. Akan tetapi, dirinya? Sungguh, ini membuatku bingung dengan keadaannya yang sudah diambil oleh-Nya.Sang adiknya juga tidak memberitahu apa-apa selain kotak kecil ini. Apakah adiknya tidak berniat untuk menjelaskan tentangnya padaku? Ataukah, dia ingin merahasiakannya padaku juga, begitu?Argh! Mengapa alur hidupku seperti ini. Aku masih merindukan sosoknya. Hanya dia ... dia yang memahami ku setelah Ibuku wafat. Lalu, sekarang? Aku melupakan kampusku hanya memikirkannya.Bukannya aku menyalahkan diriku ataupun adiknya. Tetapi, hatiku merasa bersalah karena tidak mengetahui hal ini.Aku akan mencintaimu sampai hayatku datang, Rena.Rumah kayu, Arel Pramana Aksa.[ E N D ]
Maaf Gue Gak Jujur Jiana
Zildi sedang berjalan mengikuti Jiana dari belakang, bahkan ia tidak mempedulikan Jiana mengoceh dan meminta Zildi untuk berhenti mengikutinya.Ish , nih anak ngikutin mulu dah kaya anak gajah ketinggalan rombongan . Batin Jiana sebal.Akhirnya Jiana dan Zildi pun sedikit dekat. Hingga suatu hari, Zildi meminta berteman dengan Jiana, "Ana, jadi temen gue ya. Gue udah gak tau lagi harus temenan sama siapa," ucap Zildi dengan raut wajah memelas."Umm, boleh banget jadi gue punya temen cowo gitu yang bisa di ajak ngobrol, hehe," ucap Jiana senang sambil tersenyum menunjukkan kedua lesung pipinya.Akhirnya Jiana mau menerima Zildi sebagai temannya. Sehingga saat di sekolah, pulang sekolah, pergi ke minimarket, bermain pun mereka selalu bersama. Zildi selalu menemani Jiana kapan pun dia membutuhkannya, dengan hati tulusnya Zildi.Jiana ingin seterusnya hubungan pertemanan ini menjadi sahabat, begitu pun Zildi, ia ingin seterusnya bersahabat dengannya. Walau mereka satu tahun lagi akan lulus dari SMA dan juga mereka tak mau bergaduh jika ada suatu masalah kecil, akan mereka bereskan dengan bersama. Jiana pun, meminta satu hal lagi."Didi, gue gak mau hubungan persahabatan kita di kacau kan karena sebuah cinta, jika memang ingin bersahabat ya sudah bersahabat saja," ujar Jiana sambil menggenggam satu tangan Zildi."Eh-emm, i-iya iya bener banget tuh Ana mending bersahabat seperti ini saja sampai kapan pun," kata Zildi dengan lagak yang ragu, sambil mengerat kan genggaman Jiana.Jiana pun tersenyum manis ke arah Zildi sambil melihat kan kedua lesung pipinya dan mata sipitnya. Zildi pun tertegun melihat wajah cantik milik Jiana.Hal itu terus berlanjut hingga pada suatu hari Jiana merasa curiga dengan Zildi yang mulai berperilaku aneh kepada Jiana, apa lagi saat mereka berada di sebuah cafe dekat sekolahnya. Zildi sangat salah tingkah, padahal sebelu nya ia tak pernah seperti itu.Saat itu Jiana sedang memainkan ponsel milik Zildi di balkon milik Zildi. Ya karena mereka sudah terbiasa seperti itu, hingga akhirnya Jiana memperhatikan galeri Zildi yang tersembunyi dan benar saja semua keanehan sikap Zildi terjawab sudah. Zildi menyimpan banyak foto Jiana di galerinya itu, dan menandai bahwa dia milik Zildi seutuhnya, bukannya Jiana tak ingin memiliki hubungan cinta dengan Zildi, tapi ia telah mengkhianati ucapan Jiana.Jiana memang sudah curiga sejak pertama kali melihat Zildi yang seperti menyukai Jiana, kenapa ia harus berlagak ingin bersahabat dengannya. Tentu saja Jiana marah dengan Zildi yang membohonginya sekaligus mengkhianati ucapan Jiana dan mereka saling adu mulut."Di, kenapa sih lo harus bohongin gue dengan cara ini," ucap Jiana dengan mata yang sudah berkaca-kaca."Gue gak bohongin lo Ana," cakap Zildi dengan pelan sambil memegang pergelangan tangan Jiana."Lepas! Lo udah berkhianat sama gue Di! Lo udah berkhianat!" ujar Jiana sambil terisak dan melepaskan genggaman Zildi."Ana, dengerin gue dulu Na," ucap Zildi dengan nada masih sama seperti tadi."Gak, gak, gak gue gak mau dengar ucapan yang keluar dari mulut lo yang berdosa itu," ucap Jiana yang masih terisak sambil menunjuk ke arah Zildi.Tenaga Jiana terkuras hebat dan air matanya yang masih mengalir deras. Ia pun lemas dan menjatuhkan tubuhnya ke lantai hingga tersungkur. Zildi yang melihatnya langsung berlari ke arah Jiana sambil menahan tubuhnya yang sudah lemas bak tanaman layu."Na, dengerin ucapan gue dulu Na," ucap Zildi lembut ke arah telinga Jiana."Nggak, gue nggk mau," kata Jiana lemas dengan mata yang tertutup.Karena tidak kuat Jiana pun pingsan.Zildi pun menghela nafasnya panjang.Mungkin belum saat nya. Batin Zildi.Ia pun menggendong Jiana ala bridal style , ke kamar Zildi lalu merebahkan tubuh Jiana yang lemas.Setelah kejadian itu Jiana masih marah terhadap Zildi, sampai ia meminta maaf lebih dari seratus kali kepada Jiana namun tak ada balasan apa pun, persahabatan nya kini renggang. Mereka tak seperti biasanya yang kemana-mana selalu bersama dan jika jalan-jalan mereka selalu memakai baju Couple , tapi kini tidak, mereka memisahkan diri masing-masing.Hingga akhirnya Zildi mengajak Jiana pergi ke sebuah tempat yang dimana mereka selalu datang kan ketika ada masalah. Dan di selesai kan bersama. Tapi kini mereka masih saling diam sambil merasakan terpaan angin sepoi-sepoi.Setelah suasana hati Jiana sudah sedikit tenang, Zildi ingin mulai bicara dengan Jiana. Walaupun Jiana tak menggubris ocehan Zildi namun saat itu ucapan Zildi membuat pupil Jiana memebesar dan menyadarkan Jiana."Gue bukan mau nipu atau khianatin ucapan lo jiana, tapi gue benaran mau bersahabat sama lo dan niat gue juga baik, karena emang gak ada cewe sebaik lo," ucap Zildi dengan suara khasnya yang lembut sambil memegang tangan Jiana."Lepas, Kenapa lo gak bilang dari awal kalau lo suka sama gue," ucap Jiana dengan pandangan yang masih melihat ke arah langit-langit biruZildi pun menarik pergelangan tangan Jiana hingga ia masuk kedalam pelukan Zildi. "Maaf. Ini emang salah gue kan? Maaf gue gak jujur dari awal karena gue gak mau ngecewain lo Jiana gue gak mau kehilangan lo. Kalau dari awal kita udah ada hubungan cinta pasti bakal kacau dan gak akan kaya gini. Saat itu gue emang-emang gak rasain yang namanya cinta. Tapi karena hubungan persahabatan kita semakin dekat, hati gue ngerasa nyaman sama diri lo. Gue tulus mau sahabatan sama lo Jiana, dan lo juga tulus udah nerima gue padahal gue anaknya bobrok, dan lo nerima gue apa adanya dan gue merasakan rasa nyaman sama lo, " tutur Zildi dengan nada lembutnya di dekat telinga Jiana.Jiana pun menangis dan terisak mendengar Zildi yang selama ini rela berbohong demi persahabatannya dan sudah berjalan jauh demi bersamanya.Akhirnya Jiana pun sadar dan ia juga merasa bersalah, "Gue yang harusnya minta maaf, hiks," ucap Jiana yang masih terisak di pelukan Zildi."Suutt, kita salah bukan lo aja. Udah nangisnya mata lo sembab gitu," ucap Zildi lembut sambil mengelus punggung Jiana perlahan.Jiana pun melepas pelukan Zildi dan tersenyum di hadapan Zildi dengan mata yang sembab, begitupun Zildi membalas senyuman Jiana.[ E N D ]
Harus Pergi
Namaku Carisa. Umurku 22 tahun. Aku baru saja lulus sarjana dan baru saja memulai kerja di salah satu perusahaan BUMN. Aku punya pacar, namanya Daniel. Dia seumuran denganku. Sama-sama baru lulus sarjana dan sama-sama baru memulai kerja. Bedanya dia kerja di sebuah perusahaan swasta.Hubunganku dan Daniel baik-baik saja. Kami sudah berpacaran sekitar 3 tahun. Kami bertemu di kampus, kenal, dekat, lalu pacaran. Sesimpel itu. Kami saling mengerti satu sama lain, menurutku. Kami juga jarang bertengkar. Banyak orang menyebut kami couple goal. Siapa sih yang tidak senang dengan sebutan itu?Aku juga sudah kenal dengan keluarga Daniel. Keluarganya harmonis, seperti keluargaku. Mama dan Papanya juga welcome terhadapku. Kadang aku juga sering jalan hanya berdua dengan Mamanya. Mamanya sudah menganggapku seperti anaknya sendiri.Tapi...Aku mulai merasa semua berubah. Daniel jauh lebih sibuk dari biasanya. Bahkan kadang sekedar membalas pesanku saja dia tidak sempat. Seperti saat ini. Aku baru saja pulang kerja, kembali mengecek kembali ponselku untuk memastikan Daniel sudah membalas pesanku atau belum.Me : Pagi sayangMe : Kamu udah sarapan?Me : Kamu nanti pulang jam berapa?Me : Pulang kerja kita nonton yuk, bisa gak?Beberapa hari ini aku memang terlihat mengantuk di kantor karena tidur cukup larut untuk menunggu balasan pesan dari Daniel yang kadang di balas pada malam hari. Aku membaca chat terakhir dia.Mine : Maaf aku ketiduranHanya itu.Seperti pagi ini. Bangun tidur, aku buru-buru mengambil ponsel untuk memastikan apakah Daniel membalas pesanku. Jam 1 malam.Mine : Aku abis nobar bola sama anak2Lalu kembali aku membalas pesannya dengan semangat.Me : Kok gak ngabarin?Yang tentu saja tidak langsung di baca apalagi di balas. Aku juga sambil siap-siap untuk berangkat ke kantor.Hari ini ternyata aku harus lembur. Kembali aku mengambil ponselku dan berniat memberi kabar pada Daniel. Aku membaca pesan-pesanku dari pagi sampai sore yang tidak di baca sekalipun olehnya.Me : Kok gak ngabarin?Me : Selamat makan siangMe : Kamu pulang kerja ada rencana kemana?Me : Sayang, hari ini aku lembur, kamu pulang bisa tolong jemput aku?Aku tersenyum setelah mengirim pesan. Aku berharap apa? Dia datang tiba-tiba? Menjemputku? Tanpa membaca pesanku sebelumnya? Ajaib sekali! Itu hanya ada dalam anganku."Ris, lo pulang sendiri? Gue anter aja ya? Udah malem!" tawar Mario, rekan kerjaku."Eh, gak usah, Yo, gue naik taksi online aja.""Udah malem, Ris, bahaya! Pokoknya gue anter!"Karena Mario setengah memaksa, akhirnya aku pulang di anter Mario. Selama perjalanan kami diam. Tiba-tiba Mario buka suara, mengajakku berbincang. Obrolan kami mendalam."Lo pacaran 3 tahun sama cowok lo, pernah ngerasa bosen gak sih, Ris?"Dari obrolan kami, akhirnya aku sadar, kalau Daniel saat ini sedang bosan. Tidak pernah sekalipun aku berpikir kalau Daniel akhirnya akan merasa bosan dengan hubungan ini. Namun aku memang harus bertemu dan membicarakan hal ini berdua dengan Daniel agar semuanya jelas.Me : Kamu besok ada waktu?Aku menunggu hampir setengah jam dan berharap Daniel menbaca pesanku dan membalasnya. Sambil menunggu membalas pesannya, aku membuka sosial media, melihat akun Daniel, dan melihat foto-foto yang di tandai oleh temannya. Ternyata ada beberapa foto terbaru yang ditandai oleh sebuah akun bernama Miranda. Seminggu yang lalu dia foto bersama Miranda di sebuah kafe, besoknya kumpul bersama teman-teman, sampai ternyata Miranda ikut nonton bola bareng bersama teman-teman Daniel. Yang membuat Carisa kesal adalah Carisa tidak tahu dan tidak kenal dengan perempuan bernama Miranda ini, namun dia memang cantik.Me : Kamu besok ada waktu?Me : Aku mau kamu luangin waktu besok, ada hal penting yang mau aku omonginMine : Oke, dimana?Me : Kafe biasaPulang kerja, aku langsung buru-buru dateng ke kafe tempat kami biasa bertemu. Disitu sudah ada Daniel dengan pakaian kerjanya yang sudah sedikit berantakan. Kami hanya memesan minuman untuk kami saja."Aku langsung ke intinya aja ya, Ris, aku rasa hubungan kita udah hambar gak sih? Aku ngerasa monoton, gini-gini aja. Udah gak ada hal-hal baru di hubungan kita. Kita udah sama-sama sibuk, buat ketemu aja susah kan? Kamu sependapat gak?""Sependapat."Daniel cukup terkejut melihat reaksiku. Panjang lebar dia berbicara, namun aku hanya mengeluarkan satu kata. Lalu aku tersenyum."Karena gak ada yang namanya sibuk untuk sekedar membalas pesan kalo kita adalah prioritas. Jadi pertanyaannya adalah apakah aku masih prioritas kamu atau engga?" tanyaku pelan.Daniel terdiam. Menunduk."Kamu mau kita gimana? Putus?" lanjutku."Ya aku rasa baiknya gitu. Aku yakin kamu bakalan dapet yang lebih baik dari aku.""Aamiin.""Atau memang udah ada penggantinya?"Aku tersenyum. Mengapa pertanyaannya seolah-olah penyebab hubungan ini kandas adalah aku?"Syukurlah kalo gitu." ucapnya."Makasih ya, Niel, buat 3 tahunnya. Sama kamu aku bahagia. Kamu banyak ngasih tau aku hal baru. Maaf kalo aku banyak kurangnya selama 3 tahun ini. Aku berdoa supaya kamu selalu bahagia. Aku pamit ya, Niel. Salam buat keluarga kamu, dan Miranda."Ada raut wajah terkejut saat aku menyebut nama perempuan itu. Namun aku hanya tersenyum dan meninggalkan tempat itu setelah aku pamit.Memang rasanya sakit, begitu banyak kenangan yang kami ukir selama itu. Suka duka kami lewati. Kalau ditanya obat paling ampuh untuk patah hati adalah jatuh cinta lagi, aku belum siap untuk itu.Bagiku, saat kamu siap untuk jatuh cinta lagi adalah saat kamu sudah memaafkan dirimu dan masa lalumu agar kamu bisa jatuh cinta dengan orang yang baru, bersama dirimu yang baru."Ris, gue sebenernya udah lama merhatiin lo, suka sama lo." kata Mario."Maaf, Yo, gue belum siap nerima orang baru, gue gak mau lo cuma jadi pelampiasan."Mario tersenyum, "Oke, gue tunggu kapanpun itu."Beberapa bulan setelah kabarku dan Daniel putus, Mario datang membawakan cinta yang baru. Aku sudah menolaknya dengan halus dan dia terima. Dia bilang akan menunggu sampai aku siap menerima orang baru.Setahun kemudian, aku melihat foto Mario bersama kekasihnya."Selamat ya, Yo." ucapku sungguh-sungguh."Makasih ya, Ris, semoga lo bisa ketemu orang yang tepat buat lo.""Makasih ya, Yo."Benar kata, Mario. Aku tidak harus menjadi terburu-buru untuk menemukan seseorang yang tepat, tapi seseorang yang tepat akan bertemu denganku di waktu yang tepat.* * *END
Kata Terakhir
"Bali yuk!"Salah satu temen kantor gue mencetuskan ajakan itu. Gue dan temen-temen gue yang lain langsung mengiyakan, dan akhir pekan ini kami semua berangkat ke Bali. Nama gue Alvaro, biasa di panggil Alva, kecuali... ah, udahlah! Kenapa gue inget-inget dia terus?!Pesawat yang kami tumpangi mendarat di Bandar Udara Internasional Ngurah Rai, Bali. Waktu kini menunjukkan pukul 13.00 WITA, satu jam lebih cepat dari Jakarta. Gue dan temen-temen kantor gue langsung makan di salah satu restaurant cepat saji di Bandara sambil menunggu pegawai rental mobil sampai untuk memberikan kunci mobil.Gue dan temen-temen kantor gue yang ikut kesini bersembilan, empat orang cowok dan lima orang cewek, tapi gue janjian sama cewek gue, yang kebetulan lagi dinas luar di Bali, jadi total kami bersepuluh.Setelah mengisi perut, dan pegawai rental datang untuk memberikan kunci mobil, kami bersama-sama menuju villa yang terletak di daerah Gianyar.Gue gak ngerti kenapa mereka iya-iya aja waktu gue rekomendasiin villa di daerah Gianyar. Padahal biasanya orang-orang pasti akan lebih suka ke daerah Kuta atau Nusa Dua."Serius nih, Al, belok sini? Jalannya sempit gini?" tanya Rio yang duduk di sebelah gue."Iyee, bawel!""Lu tau ada villa masuk plosok gini darimana sih?"Gue hanya terdiam, tanpa sadar bibir gue tersenyum. Terngingat masa lalu." Ay, serius belok sini? Gak nyasar?" tanya gue tidak yakin pada perempuan di sebelah gue, Ailin namanya. Panggilannya Ay.Waktu itu gue dan Ailin yang baru saja lulus SMA memutuskan untuk ke Bali bersama teman-teman satu geng. Kami sahabatan bertujuh, dari kelas 1 SMA.Ailin tersenyum, "Engga, Var, bener disini kok! Kata si peta begitu soalnya." jawab sekenanya.Dan benar saja, setelah jalan sempit hanya muat satu mobil, kita memasuki pelataran luas. Sebuah villa nyaman, jauh dari peradaban, lengkap dengan restaurant cozy dan kekinian.Benar saja, ekspresi temen-temen gue saat ini persis dengan yang gue rasakan waktu itu.Setelah selesai parkir, gue melakukan check in di resepsionis dan kami semua di antar ke salah satu villa.Gue mensejajarkan jalan gue di samping Tasya, pacar gue yang langsung gue jemput sebelum kesini."Suasananya enak banget, Al, untung aku ikut kesini." ucapnya.Gue tersenyum sambil mengelus puncak kepalanya lembut. "Oh iya, gimana sosialisasinya? Lancar?" tanya gue membuka obrolan."Wah, lumayan seru! Soalnya audiencenya antusias semua, jadi aku ngasih materi ada timbal baliknya dari mereka. Seksi acaranya juga ramah-ramah.""Bagus dong!"Sebelum masuk ke villa, Tasya sempat melirik ke salah sebuah arah, sebuah rumput luas dengan banyak batu tinggi disana."Itu apa, Al?""Disitu kan restaurant. Namanya Standing Stone. Konsepnya ya batu berdiri gitu. Makanannya juga enak-enak kok! Dulu sih aku makan disitu sistemnya per voucer. Nanti kita coba ya.""Oke!"Tempat ini gak berubah. Tetap masih seperti dulu waktu gue kesini. Villanya juga masih tetap bersih.Sore itu, Tasya menagih janji gue untuk mencoba restaurant. Dia antusias banget karena banyak spot foto bagus, dan seperti biasa, gue satu-satunya photographer andalannya wajib fotoin dia di tempat yang dia mau.Pas dia lagi asik-asiknya liat-liat foto, mata gue menyapu pemandangan sekeliling. Gue ngeliat ada seorang Ayah muda, kira-kira usianya 30 tahunan, sedang mengejar anak perempuannya yang kelihatannya umur setahunan dan baru bisa berjalan. Sekilas gue ngeliat anak itu, kenapa mirip Ailin? Mungkin cuma perasaan gue aja karena gue lagi ada disini, jadi kadang de ja vu." Varo, coba lo berdiri disitu, nanti gue fotoin!" ucap Ailin.Saat itu, gue hanya bisa pasrah oleh ucapan perempuan menggemaskan yang pernah gue temuin. Dia memang suka foto. Objek fotonya bisa pemandangan, benda mati, atau manusia. Hasil fotonya selalu bagus. Hasil fotonya itu bahkan gue jadiin wallpaper ponsel dan baru gue ganti setahun belakangan, sebelum gue jadian sama Tasya.Gue dan Ailin temenan udah cukup lama, dari kelas 1 SMA, dan dari saat itu juga gue udah naksir sama dia. Dia cantik, dia juga pinter matematika, dan dia terlalu menggemaskan. Tapi waktu itu Ailin punya pacar, dan memasuki kelas 3, dia putus karena pacarnya sibuk kuliah.Gue melihat bola mata indahnya yang melihat gue dengan sedikit terkejut. Dari ekspresi wajahnya gue bisa membaca dia sedang menimbang-nimbang kira-kira kalimat apa yang pas untuk menjawab pertanyaan gue barusan. Iya, barusan! Barusan gue nembak dia!" Gue juga suka lo, Var! Tapi kan kita berdua tau, lo bakal kuliah di Yogya, sementara gue disini. Kita bakal LDR, terus nanti...""Ay, kita gak akan pernah tau hasilnya sebelum mencoba. Iya kan? Yang jelas saat ini gue bener-bener gak bisa mundur."Ailin menimbang-nimbang lagi, lalu akhirnya dia menatap mata gue dan tersenyum. Dan hari itu kita jadian. Di Bali. Kurang romantis apa gue coba?Kata siapa LDR itu keras? Buktinya gue sama Ailin baik-baik aja. Kuliah tahun pertama kita lewatin dengan enjoy. Setiap libur semester gue selalu balik ke Jakarta dan kita selalu ketemu. Kadang Ailin ke Yogya buat nemuin gue.Tahun kedua kami juga masih oke-oke aja. Malah kami berdua makin ngerasa kalo ngejalanin LDR itu asik, jadi kita bakal menghargai waktu pertemuan kita yang singkat itu.Memasuki tahun ketiga, kami mulai sibuk masing-masing. Waktu liburan kami pakai untuk magang, jadi tidak sempat bertemu, tapi kami tetap video call dan menceritakan kegiatan kami masing-masing.Tiba saatnya wisuda, Ailin datang waktu gue wisuda, sedangkan gue datang juga sih, tapi gue bener-bener telat. Gue dateng di saat acaranya udah selesai. Lo tau apa yang saat itu gue tangkep dari wajahnya Ailin? Dia kecewa, bener-bener kecewa. Pesawat gue delay. Dan gue bener-bener nyesel kenapa gue gak ambil flight semalem. Tapi saat itu dia masih berusaha senyum buat nutupin rasa kecewanya itu.Waktu usia kami 22 tahun, gue dapet kerja di salah satu perusahaan gas terbesar di Indonesia, penempatan Jakarta, sedangkan Ailin dapet kerja di salah satu perusahaan minyak terbesar di Indonesia, penempatan Bali. Kami kembali LDR.Dari situ masalah mulai bermunculan. Di mulai dari masalah kecil yang bisa di maklumi hingga akhirnya kami malah lebih sering bertengkar, bahkan karena masalah kecil. Akhirnya Ailin mutusin gue. Dan gue yang merasa di putusin sepihak akhirnya memblokir komunikasi gue dengan Ailin. Persahabatan kami rusak.Di umur 24, gue dapet kabar Ailin nikah, di Jakarta, karena saat itu gue lagi dinas di Manado, gue gak bisa datang, dan Ailin juga gak ngundang gue. Setelah di pikir-pikir lagi, gimana dia mau ngundang, kan dia gak punya kontak gue sama sekali.Sesekali gue tau kabar Ailin dari postingan sahabat-sahabat gue dan Ailin. Tahun lalu, Ailin baru melahirkan. Anaknya perempuan. Cuma sampai situ yang gue tau."Al, kita foto berdua yuk!" ajak Tasya. Lamunan gue buyar. Gue mengiyakan. "Tapi siapa yang fotoin ya? Minta tolong pelayannya aja apa ya?"Sambil celingukan cari pegawai restaurant, mata gue tertuju pada sosok perempuan, mengenakan kemeja putih, celana jeans biru dongker, rambutnya ikal panjang di kuncir, dan menggunakan kacamata. Dia cantik."Mba!" Tasya memanggil perempuan itu, dia menoleh ke arah kami. Wajahnya juga terkejut. Tasya mendekatinya, berbicara sedikit yang langsung di angguki perempuan itu, Tasya memberikan ponselnya.Setelah perempuan itu mengambil foto beberapa kali, gue menahan lengan Tasya yang ingin mendekati perempuan itu untuk mengambil ponselnya."Kenapa?" tanyanya."Coba kamu cek, makanannya udah dateng belum?""Oh, oke!"Tasya masuk ke dalam restaurant untuk mengecek pesanan kami, sementara gue melangkah, mendekati perempuan itu. Iya, Ailin.Dia tersenyum, "Gak nyangka ketemu disini.""Iya," jawab gue sekenanya, "by the way, thanks ya.""Sama-sama.""Itu anak sama suami lo, Ay?""Iya.""Mirip banget sama lo.""Masa sih?""Iya." kami kehabisan topik pembicaraan karena sama-sama canggung. "Yaudah, Ay, gue ke dalem dulu ya.""Oh ya, Var,""Ya?""Selamat ya.""Selamat apa?"Pandangan Ailin melihat ke dalam restaurant, gue paham."Dan selamat tinggal, Var." lanjutnya. Nada bicaranya yang lirih itu entah kenapa mengoyak kembali luka di hati gue yang dengan susah payah gue obati itu.Ekspresi Ailin yang tersenyum dengan tatapan mata sedih itu bener-bener gak bisa gue lupain. Mungkin hati gue sakit waktu itu, tapi gue juga gak pernah mikir gimana perasaan Ailin waktu itu.Gue masuk ke dalam restaurant dengan ekspresi bingung, campur sedih."Al, ini makanannya udah dateng. Ini onion ringnya enak loh, cobain deh." ucap Tasya.Tasya memperhatikan gue yang benar-benar gak fokus. Dia meraih tangan gue, mengelusnya pelan."Al, liat aku!" pinta Tasya, gue menuruti pintanya. "Yang tadi Ailin kan?" tebaknya. Melihat gue terkejut, sepertinya tebakannya gak salah. "Aku pernah cari tau foto Ailin, aku pernah stalker dia. Dia cantik, aku tau. Aku juga tau gak mudah buat kamu lewatin semuanya. Tapi sekarang dia udah bahagia sama keluarganya, dia udah bahagia sama pilihannya. Dan kamu juga harus bahagia sama hidup kamu, sama pilihan kamu. I am your first support system. Always."Tatapan mata Tasya, kata-katanya yang ngebuat gue percaya kalo gue harus bahagia sama hidup gue dan pilihan gue, membuat gue yakin kalo Tasya adalah perempuan yang diciptakan memang buat gue.Mungkin selama ini gue selalu mikirin Ailin karena perpisahan kita terlalu tiba-tiba sehingga gue ngerasa gak siap buat kehilangan Ailin. Padahal kita bisa kehilangan seseorang kapan aja, atau bahkan bisa bertemu dengan orang baru yang memang ditakdirkan untuk kita di waktu tertentu. Kita gak akan pernah tau.* * *END
Destiny
Takdir itu lucu ya. Kadang ada yang benci tapi tiba-tiba takdir mereka malah bersama. Ada yang sama-sama suka tapi takdir mereka malah berpisah. Kadang udah saling suka, saling mengerti satu sama lain, tapi takdirnya malah tidak bisa bersama.Aku juga tidak tahu takdirku akhirnya harus dibawa kemana. Aku sedang di fase mengikuti alur takdir.Namaku Asia. Ini kisahku...Saat ini aku duduk di bangku SMA, tempat yang kata kebanyakan orang adalah tempat terbaik menghabiskan masa remaja. Entahlah. Yang jelas di masa ini aku mempunyai 3 orang sahabat cowok. Kenalin, mereka Alva, Arya, dan Adam.Kami di kenal dengan Quadruple A, dan tentunya eksistensi kami tidak perlu di pertanyakan lagi. Alva terkenal tampan dan jago berbahasa asing. Dia menguasai 3 bahasa yang di pelajari di sekolah, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan bahasa Korea. Arya, di atlit perwakilan sekolah. Hampir menguasai semua olahraga, terutama basket dan berenang, tambahan juga Arya ini ketua ekskul basket di sekolah. Adam si ketua osis. Dan aku si peringkat pertama dalam satu angkatan.Kalo kalian pernah atau mungkin berteman dengan cowok, kalian sedikit banyak pernah merasakan selesai makan dan minum langsung pergi dari kantin, semua harus serba cepat, tidak boleh lemah.Itu yang aku rasakan."Arya sama Adam mana?" tanya Alva begitu bel masuk berbunyi."Dispen. Arya latihan basket, besok turnamen, kalo Adam rapat osis.""Oh. Peer fisika udah?"Tanpa menjawab pertanyaan Alva, aku langsung memberikan buku tulisku agar di salin olehnya.Tidak ada pertemanan murni antara cewek dan cowok. Hahaha, aku tertawa pastinya. Ada dong! Aku berteman murni tanpa perasaan apapun dengan Arya dan Adam. Tapi Alva...Aku terjebak!Bisa jadi karena selama ini hanya Alva yang tidak pernah absen makan di kantin saat jam istirahat. Tapi tidak sesimpel itu.Pertama kali melihat Alva, wajah tampannya saja sudah membuatku terpana. Tapi ternyata kami malah bersahabat, sampai sekarang.Kalau kami mau hangout di luar, kami selalu janji bertemu di tempat, kecuali Alva yang memang menjemputku ke rumah dan mengantarku pulang.Alva juga guru bahasa terbaikku. Dia pintar, wawasannya luas. Bukan hanya bahasanya yang dia kuasai, dia juga tahu berita terbaru tentang negara itu.Seperti saat ini, hari kelulusan kami. Dengan brutal kami mencoret-coret seragam kami. Dan akhirnya berkumpul di rumah Arya yang merupakan basecamp kami.Alva saat ini ada di hadapanku, dengan spidol di tangannya, terlihat celingak-celinguk mencari tempat yang masih kosong di seragamku yang sudah penuh dengan coretan.Aku tersenyum, membalikkan tubuhku, memunggunginya, lalu membuka kerah seragamku."Selalu ada tempat buat lo." ucapku.Tanpa suara, dia mulai mencoret seragamku.Dan kini aku yang gantian mencoret bajunya. Kulakukan dengan sama, mencoret serangkai kata di kerah bajunya. Tanpa bersuara.I love you.Tulisku.Dan sesampainya di rumah, aku buru-buru mengganti bajuku. Setelah selesai bersih-bersih, aku tersenyum melihat satu per satu tulisan di seragamku.Congratulation!Si rangking 1Jangan lupakan akuDan masih banyak lagi tulisan-tulisan klise di seragamku. Hingga aku membuka kerah seragamku. Tersentak dengan apa yang di tulis Alva di sana.I love you.Tulisnya.Aku buru-buru meneleponnya yang tak lama dijawab olehnya."Alva!""Asia!"Ucap kami berbarengan. Lalu kami berdua tertawa. Kami mulai mencurahkan perasaan kami masing-masing, dan mulai hari itu kami jadian.Setelah lulus, kami semua berpencar. Aku dan Alva masuk ke sebuah universitas negeri di Jakarta. Arya melanjutkan kuliah di Bandung, dan Adam melanjutkan kuliah di Surabaya.Hubungan kami selalu klik selama tiga tahun ini. Jarang sekali bertengkar, saling berbagi. Teman-teman kami iri. Couple goal katanya.Hingga akhirnya kami datang ke sebuah reuni SMA. Mereka tidak terlalu terkejut dengan hubunganku dan Alva. Tapi mereka iri setelah tahu kalau kami masih bersama selama 3 tahun ini.Dan saat ini hubunganku dan Alva ada di tahun kelima. Saat ini aku kerja di salah satu perusahaan sebagai auditor dan sedang lanjut kuliah s2 yang sebentar lagi sidang thesis, sedangkan Alva bekerja di pemerintahan yang berkaitan dengan Hubungan Internasional.Kami sudah sibuk masing-masing. Jarang sekali memberi kabar kalau di jam kerja. Bahkan kadang kamu lupa memberi kabar satu sama lain hari itu.Pertengkaran-pertengkaran kecil di mulai. Awalnya karena kami sama-sama lelah dengan urusan pekerjaan, tapi lama-lama pertengkaran itu membesar.Hubungan kami pernah berakhir. Namun setelah tidak bersama, kamu malah memikirkan satu sama lain. Dan setelah bertemu, kami menjalin hubungan kasih lagi."Asia. Aku rasa kita harus putus. Hubungan kita udah gak sehat gak sih?"Aku tersenyum. Ini sudah kesekian kalinya. Harus berapa kali lagi hubunganku dan Alva harus putus nyambung ketika kami bertengkar? Seolah pertengkaran ini selesai hanya dengan satu kata putus, dan kembali lagi dengan satu kalimat manis."Alva, kita udah hampir tujuh tahun. Dan usia kita saat ini jalan 25 tahun. Aku pikir semakin dewasa, kita makin bisa nyikapin perbedaan, bukan dikit-dikit putus. Seolah kata putus itu suatu gertakan buat aku.""Aku capek, Asia!""Kamu yakin mau putus?" tanyaku memastikan. Alva mengangguk yakin. "Yaudah kalo itu mau kamu." Aku menghela nafas kasarku. "Jaga diri kamu baik-baik ya. Aku gak menyesali semuanya. Dan aku mau kita tetep sahabatan, bareng Adam, bareng Arya."Alva mengangguk.Aku mengecup kening Alva. Aku pikir ini untuk terakhir kali."Bye, Al!"Aku meninggalkan Alva sendiri.Dan beberapa bulan kemudian, sesuai dugaanku, Alva menghubungiku dan mengajakku untuk bertemu. Aku tahu kemana arah pertemuan itu. Dan aku mengiyakan."Kita mau kemana?" tanya Alva lembut."Aku mau karoke.""... Sudah coba berbagai caraAgar kita tetap bersamaYang tersisa dari kisah iniHanya kau takut kuhilangPerdebatan apapun menuju kata pisahJangan paksakan genggamanmuIzinkan aku pergi duluYang berubah hanyaTak lagi kumilikmuKau masih bisa melihatkuKau harus percayaKutetap teman baikmu..."Alva tertegun."Al, sekarang kita, udah kayak lirik yang aku nyanyiin barusan. Im so sorry kalo aku gak bisa nerima ajakan balikan kamu. Aku harap kamu ngerti." kataku pelan. "Oh iya, minggu depan aku berangkat ke Seoul. Aku keterima di Kedubes Indonesia buat disana.""Aku... nyesel...""Maaf, Al. Aku bener-bener gak bisa lanjutin hubungan kita lebih dari ini."Alva memelukku. Erat. Menangis. Yang bisa aku lakukan saat ini hanya menepuk-nepuk punggungnya agar dia tenang.Dan saat ini aku di Seoul. Sudah hampir 2 tahun disini. Pria korea sama saja seperti pria Indonesia. Karena yang manis itu hanya di drama saja."Daem dare ballisomero yoheng gagiro heyo." ucap Kim Aera. Salah satu temanku. (Bulan depan saya mau piknik ke pulau Bali.)"Yohengi olma gollil goyeyo?" tanyaku. (Mau berapa lama disana?)"Sambak sairieyo." jawabnya. (4 hari 3 malam)."Haepi hollidei." ucapku. (Selamat berlibur.)"Gamsa haeyo." (Terima kasih.)Lalu tiba-tiba muncul Ririn. Temanku dari Indonesia yang juga bekerja disini."Mau makan siang apa?" tanyanya."Jajangmyeon!" sahut Aera.Kami berdua tertawa. Akhirnya aku menceritakan pada Ririn kalau bulan depan Aera ingin liburan ke Bali, dan dia sedang belajar bahasa Indonesia sedikit-sedikit."Asia, tau Lee Jun?""Tau. Kenapa?""Ganteng banget ya! Hahaha...""Lee Jun? Neohuideul Lee Jun yaegihaneungeoya?" sambar Aera. (Kalian membicarakan Lee Jun?)"Aniyo!" (Tidak!)"Neohuideul Lee Jun i malhaneun geol deul eosseo!" (Tadi aku mendengar kalian membicarakan Lee Jun!)"Aniyo!" (Tidak!)Aku hanya tertawa mendengar Aera yang tetap kekeuh dengan pendengarannya sementara Ririn tidak mau mengaku.Akhirnya aku hanya mengikuti takdir. Dan saat ini aku sedang berada disini. Dikelilingi oleh orang-orang yang membuat hariku menyenangkan. Oh iya, kami bertiga masih single.* * *SELESAI...
Perasaan Baru
POV WinaPada akhirnya gue disini, duduk bersama seorang pria yang gak gue kenal, baru kenalan hari ini tepatnya. Orangnya ganteng sih! Tapi terakhir kali gue putus sama seseorang, gue punya keinginan kalau gue gak akan pernah mau pacaran lagi. Kalo bisa gue gak usah nikah sekalian. Toh sekarang kayaknya gue hanya perlu menghabiskan waktu gue untuk bekerja supaya gue tetep hidup, lanjutin kuliah sampai selesai supaya bisa dapet pekerjaan yang gajinya lumayan.Semua ini gara-gara gue cerita sama Wulan, salah satu sahabat gue di kampus, kalo gue putus sama pacar gue kemarin karena gue udah gak punya apa-apa sejak orang tua gue meninggal kecelakaan. Lalu dia mulai mandang gue sebelah mata dan mulai bersikap kasar.Bener kata orang, kalo lo akan tahu sifat asli seseorang saat lo udah gak punya apa-apa. Lo akan tahu mana orang yang pura-pura baik dan mana yang baik beneran baik sama lo. Salah satu orang yang masih mau berteman sama gue adalah Wulan. Dan dengan sok ngide, dia malah memperkenalkan gue dengan temennya yang lain.Pria ganteng yang saat ini duduk di depan gue namanya Tara. Kuliah di salah satu Universitas yang terkenal orang-orang berada. Padahal Wulan tahu, ketika semuanya terjadi, gue jadi anti dengan orang-orang berada.Tanpa gue duga, obrolan gue dengan Tara cukup menarik. Menurut gue Tara adalah tipe orang yang peka. Karena pada awalnya dia membahas tentang kisah percintaan dan melihat gue gak tertarik, dia menggiring pembicaraan kita ke hal-hal yang menarik."Lo mendingan kerja aja di kafe gue, Win, kebetulan gue butuh orang untuk ngatur pembukuan di kafe gue. Terus lo juga bisa jadi kasir, kebetulan juga kasir gue resign kemarin. Karena lo double job, fee-nya juga lumayan. Jadi lo bisa bayar kuliah juga kan dari gaji lo." katanya.* * *POV TaraAda kalanya lo harus bersabar untuk mendapatkan seseorang yang benar-benar lo butuh dan lo ingin. Buat gue, orang itu adalah Wina. Sudah hampir 2 tahun dia kerja di kafe gue sebagai bagian keuangan merangkap kasir. Kerjanya rajin, dia juga tekun. Mungkin emang semangat berjuangnya tinggi. Padahal dulunya dia anak dari keluarga berada.Wina. Dari awal gue ngeliat dia, gue udah suka. Anaknya cantik, gak neko-neko. Tapi satu yang gue tahu, dia lagi anti banget sama hubungan percintaan sejak putus sama cowoknya yang katanya kasar itu. Jangan tanya gue tau darimana, yang jelas Wina gak pernah mau cerita tentang hubungan asmaranya. Wulan yang cerita sama gue di awal dia mau ngenalin gue sama Wina.Gue jadi penasaran, kira-kira cowok brengs*k kayak apa yang tega ke cewek secantik Wina. Ditambah Wina itu ternyata pinter. Dia selalu seneng banget kalo nilai dia itu bagus. Dan kalo dia udah seneng gitu, biasanya kerjanya jadi makin rajin. Katanya itu bentuk terima kasih ke gue karena gue udah banyak bantu dia. Padahal dia juga bantu gue.Dan kalo ditanya effort apa yang udah gue lakuin buat ngambil hati Wina? Sebenernya gue gak perlu effort apa-apa selain ngasih perhatian secukupnya ke dia. Karena dia juga terlihat risih kalo ada orang yang ngasih perhatian berlebihan ke dia.Kayak sekarang, gue baru aja sampe kafe dan gue ngeliat kalo di jam segini, Wina masih ngelayanin orang dengan senyum ramahnya seakan itu anak gak kenal capek. Itu alasan gue kenapa tiap gue pulang kerja, gue selalu sempetin diri untuk mampir ke kafe, supaya gue bisa belajar dari Wina kalo lo harus tetap bersyukur meskipun lo capek."Minum dulu, Bos!" kata Rio sambil meletakkan secangkir kopi di atas meja gue."Tengkyu, Yo! Gimana hari ini? Rame?""Lumayan, Bos!""Udah close kan ya? Yaudah lo lanjut beres-beres dulu deh. Nanti kalo udah beres, bilangin ke anak-anak ada yang mau gue omongin.""Oke, Bos!"Waktu menunjukkan pukul 10 malam. Mereka semua beberes, sedangkan gue masih di tempat yang sama, duduk, baca pembukuan minggu lalu, sambil sesekali curi-curi pandang kea rah Wina yang masih sibuk nyocokin struk sama sistem. Dan sesekali juga mata kami bertemu, biasanya dia ngasih senyum duluan ke gue. Senyumnya itu bikin penat gue hilang."Jadi gini, besok rencana gue sama temen-temen gue mau kumpul. Di kafe ini. Mulainya malem sih, sekitar jam 7 gitu. Karena besok juga malem minggu, kemungkinan rame. Kalian besok pasti bakalan capek banget. Tapi yang gue harap kalian tetep hati-hati.""Baik, Mas Tara!""Oh iya, Win, besok lo ujian jam berapa?""Pagi sih, Mas, siang juga udah selesai kok!""Yaudah, lo juga jaga kondisi ya. Good luck ujiannya.""Makasih, Mas Tara."Meskipun interaksi gue dan Wina hanya sebatas itu di tempat kerja, tapi gue tetep bersyukur bisa denger suara dia hari ini. Setelah selesai, gue membiarkan mereka semua pulang. Dan seperti biasa, gue nganterin Wina pulang karena ini udah malem dan dia emang satu-satunya perempuan yang kerja di kafe gue.* * *POV WinaAkhirnya selesai juga ujian hari ini. Gue harus optimis kalo nilai gue bakalan bagus juga semester ini. Gue gak boleh ngecewain Tara yang udah banyak bantu gue.Sebenarnya salah satu motivasi gue adalah Tara. Dia semuda itu udah bisa ngembangin usahanya sendiri, orangnya juga gak sombong sama karyawan-karyawannya, dan dia selalu bantu karyawannya sebaik mungkin.Dan salah satu motivasi gue harus belajar sebaik mungkin adalah karena Tara emang udah niat bantuin gue dari awal. Supaya gue bisa kuliah dan bisa hidup lebih baik. Supaya gue gak di anggap sebelah mata sama orang lain. Dan dalam proses ini, Tara juga bener-bener gak anggap gue sebelah mata. Makanya gue selalu ngasih tau Tara nilai gue supaya dia merasa kalo bantuannya itu gak sia-sia.Hari ini mungkin gue harus kerja lebih ekstra dari sebelumnya. Benar kata Tara. Ketika gue baru aja sampai, kafe udah rame banget karena jam makan siang di tambah promo cashback karena Tara baru saja kerjasama dengan salah satu lembaga keuangan.Kami semua baru bisa agak lenggang setelah sore. Dan sore itu, Tara baru datang lagi setelah siang tadi dia pulang. Tara datang dengan setelan kemeja hitam lengan panjang yang di gulung, serta celana panjang berwarna cream. Dia masih ganteng seperti dulu. Wangi parfumnya mendominasi ruangan yang awalnya wangi kopi memang.Dia datang ke depan gue, tersenyum, dan"Gimana ujiannya?" tanyanya."Lancar, Mas Tara.""Syukur deh! Oh ya, Win, gue lupa kasih tau lo ya?""Soal apa?""Kalo gue udah suka sama lo dari awal. Tapi lo gak usah khawatir, gue gak akan maksa lo. Hari ini lo lakuin aja kerjaan kayak biasa, gak usah terbebani sama temen-temen gue. Kalo ada dari mereka nanya-nanya nomor hape lo, gak usah lo kasih ya. Inget, jangan lo kasih! Ini perintah!"Gue gak tahu kenapa gue deg-degan denger pernyataan Tara yang tiba-tiba itu. Mungkin aja gue terbawa suasana karena Tara hari ini lebih ganteng dari biasanya. Di tambah lagi sikap posesifnya itu. Tapi di balik itu, dia gak maksa atau minta jawaban ke gue, dan itu bikin gue merasa lega.* * *POV AuthorWaktu kini menunjukkan pukul 7, beberapa dari teman-teman Tara sudah datang. Meskipun teman-temannya, Tara meminta mereka untuk langsung pesan di kasir. Setiap ada salah satu temannya ke kasir, pandangan Tara selalu kesana. Memantau kalau temannya meminta nomor Wina. Benar saja, beberapa dari mereka memang meminta nomor Wina."Kasir lo oke juga! Minta nomornya dong!" ucap Angga, salah satu temannya. Tara hanya tersenyum."Tar, ini dari tadi gue selidikin, mata lo kayaknya selalu kesana tiap kali ada kita yang mau ke kasir. Jangan bilang lo naksir kan sama kasir lo. Siapa namanya tadi? Wina ya?" sahut Willy."Eh iya, gue juga sadar sebenernya. Bener kan, Tar? Ngaku lo!" Andri menimpali."Nah, ini dia! Bro kita yang suka telat dateng!" ujar Angga.Seorang pria yang baru saja datang langsung duduk di antara mereka semua. Wajahnya tidak kalah tampan dengan Tara."Kok gue gak di pesenin sih?" tanya pria itu. Namanya Byan."Nih, yang punya kafe bilang kalo kita harus pesen sendiri kesana." jawab Willy.Byan bangkit dan mendekati kasir. Seperti biasa pandangan Tara ke arah sana, membuat teman-temannya tambah yakin kalau Tara menyukai kasirnya.Tara mengerutkan kening melihat ekspresi wajah Wina yang pucat. Dia terlihat tegang."Hai, Win! Ternyata sekarang kerja jadi kasir! Capek ya? Pegel dong ya sekarang kerjanya berdiri! Masih mending jadi pacar gue kan?"Wina berusaha tersenyum meskipun saat ini kakinya lemas. Kenapa dirinya harus bertemu lagi dengan orang yang tidak ingin di temuinya, di tempat kerjanya, dan terlebih dia adalah salah satu teman Tara, pemilik kafe tempatnya bekerja."Halo, selamat malam, Kak, mau pesen apa?"Byan setengah tertawa, "Wah, masih bisa pura-pura, Win? Apa karena Bos lo ngeliatin dari sana?"Tara semakin yakin ada yang tidak beres disana."... Wina itu dulu putus sama pacarnya karena pacarnya udah semena-mena sama dia. Mungkin semakin kesini semakin kasar. Wina paling takut kalo suatu saat ketemu cowok itu lagi. Tapi lo cukup tau aja ya, Tar, jangan di konfirmasi lagi ke Wina. Soalnya ini rahasia dia. Tapi gue rasa, kalo lo emang mau ungkapin perasaan lo ke dia, minimal sedikit lo tau tentang masa lalunya." ujar Wulan mengingatkan tentang kisah percintaan Wina yang tidak indah itu semalam saat Tara bilang ingin menyatakan rasa pada Wina.Tara bangkit, mendekati Wina dan Byan."Ada apa ini? Win, you okay?""Gak apa-apa, Mas Tara." jawab Wina."Americano satu ya, Win!" ucap Byan."Bro, gue mau ngomong sebentar." kata Tara pada Byan.Tara membawa Byan ke balkon atas. Byan menyalakan sebatang rokoknya, dan menawarkan kepada Tara yang di tolak pria itu."Kenapa, Bro?" tanya Byan."Lo mantannya Wina?"Byan tersenyum, "Dia cerita?""Gue nebak aja. Karena dia sama sekali gak pernah cerita tentang kehidupan percintaannya ke gue." jawab Tara. "Wina, dia orangnya rajin, ceria, pinter. Tapi orang yang seperti itu bisa keliatan pucet waktu ngadepin lo tadi, gue yakin ada yang gak beres.""Iya, dia mantan gue.""Kenapa, Bro? kenapa putus?""Ya, karena udah gak suka aja, Bro.""Yaudah. Karena lo udah gak suka, dan lo udah gak ada hubungan apa-apa lagi, berarti gue boleh maju tanpa persetujuan lo kan? Lagian lo juga udah punya pacar baru kan?"Byan tersenyum, "Ambil aja, Bro! Lagian apa bagusnya Wina selain cantik?"Tara tersenyum, "Gue bersyukur karena lo gak tau apa bagusnya dia, Bro! Yaudah, lanjutin nyudutnya. Nanti kalo udah selesai ke bawah lagi ya, Bro!""Oke!""Oh iya, lo sekarang pacaran sama Kenny kan?""Iya, kenapa, Bro?""Cuma mau bilang ati-ati aja. Kalo lo mau tau watak asli Kenny, lo cukup nolak bayarin belanjaan dia, minimal tiga kali."Setelah turun, Tara meminta Wina untuk berbicara empat mata dengannya di belakang."Win, mungkin gue belum tau banyak soal masa lalu percintaan lo yang kelam itu. Karena lo selalu menghindar kalo gue udah mulai membahas sesuatu yang berurusan sama cinta. Tapi please, kali ini lo dengerin gue. Cukup satu kali. Gue udah suka sama lo dari awal. Semakin kesini gue ngerasa beruntung karena lo hadir di hidup gue. Mengenal lo itu membuat gue merasa kalo gue harus bersyukur dengan apa yang udah gue raih. Itu salah satu motivasi gue untuk bekerja lebih keras dan berusaha gak ngeluh. Dan dengan adanya lo, gue jadi tau kalo yang namanya usaha gak akan menghianati hasil. Lo kerja, lo belajar mati-matian supaya nilai lo bagus, dan waktu nilai lo bagus, gue adalah orang pertama yang lo kasih tau. Gue suka dengan kebersamaan kita yang sederhana seperti itu. Bersama lo gak harus mahal, tapi justru itu yang membuat nilai lo di mata gue jadi mahal. Gue menawarkan lo sebuah hubungan special atas dasar cinta. Kapanpun lo siap, lo bisa bilang ke gue. Gue gak ngasih batas waktu. Karena gue harap hubungan kita juga gak ada batas waktu.""Lo serius, Tar?" tanya Wina. Tara mengangguk yakin, "Tara, gue gak punya apa-apa, gue gak bisa buat lo bangga dengan punya gue. Gue gak...""Cukup lo pertimbangkan aja tawaran gue!" potong Tara."Kalo lo siap dengan konsekuensi itu, gue terima tawarannya."Tara tersenyum, dia langsung menggandeng Wina dan membawanya ke hadapan teman-temannya."Bro, kenalin! Wina, kasir dan bagian keuangan di kafe gue. Sekarang jadi pacar gue!"Tara tersenyum. Gue gak perlu orang-orang tahu tentang kelebihan Wina dari mulut gue. Cukup mereka melihat dan menilai Wina dengan sudut pandang mereka. Karena menurut gue, nilai Wina di mata gue sangat tinggi. Dan beruntungnya gue, sekarang dia ada di sisi gue . Batin Tara.* * *SELESAI ...
Jadikanku yang Terbaik
Siang itu matahari tampak malu-malu menyinari bumi karena tertutup awan yang siap menitikkan air. Gue berjalan gontai karena kelelahan berjalan dari sekolah. Ini adalah hari tersial dalam hidup gue karena motor gue tiba-tiba saja mogok di tengah jalan sehingga gue terpaksa berjalan kaki sampai rumah yang jaraknya lumayan jauh."Desi kamu kok baru pulang. Terus motor kamu mana kok pulangnya jalan kaki?" tanya mama panik ketika gue sampai di depan pintu."Motor aku mogok di tengah jalan ma makanya aku terpaksa jalan kaki." Jawab gue dengan malas."Kenapa kamu gak telpon mama? Mama kan bisa jemput kamu sayang.""Hp aku mati ma. Jadi gak bisa ngabarin pulang." Gue mekangkah menuju kamar dengan langkah yang dipaksakan karena kaki gue sudah terasa pegal kalau harus berjalan lagi."Ya sudah kamu ganti baju dulu lalu makan. Mama udah siapin makanan kesukaan kamu." Kata mama.gue bergegas ke kamar dan mengganti pakaian beberapa menit kemudian gue sudah berada di meja makan di temani oleh mama."Ma mas Afin kapan pulang sih?" gue menanyakan kakak sematawayang gue yang beberapa hari lalu pergi berkemah untuk acara kampusnya."Mama juga belum tau tuh. Kenapa kamu kangen ya di jahilin sama kakak kamu itu?" tanya mama."Ah mama bisa aja. Aku kan Cuma pengen tau.""Ya sudah kamu makan dulu keburu dingin tuh makananya kalau kamu ngomong terus.""Iya deh ma. Tapi mama temanin aku makan ya."Mama menemani gue makan siang sambil mengobrol kecil."Assalamualaikum" terdengar salam dari pintu."Waalaikumsalam." jawab gue dan mama hampir bersamaan. Gue bergegas menuju pintu dan membukakan pintu untuk tamu itu."Mas Afin. Kok baru pulang sih aku kan kangen." Gue langsung menghambur ke dalam pelukan kakak kesayangan gue ini walaupun terkadang dia sangat menyebalkan."Duh so sweetnya ternyata ada yang kangen toh." Canda mas Afin. Gue buru-buru melepaskan pelukan gue dari mas Afin."Ah mas Afin aku serius tauk." gue memasang wajah sok imut gue."Mas Afin juga serius dedek bahkan dua rius." Jawab mas Afin."Sudah sudah, Desi jangan ganggu masmu dulu dia pasti capek baru pulang udah diberondong dengan seribu pertanyaan." Kata mama melerai perdebatan kami."Ya udah masku tersayang mandi dulu sana udah bau asam kayak gitu untung tadi aku gak pingsan." Ujar gue pada mas Afin."Ah tadi aja dipeluk-peluk sekarang malah dikatain bau dasar kamu." Kecam mas Afin geram."Udah buruan sana mandi." Kata gue sambil menutup hidung."Iya bawel." Jawab mas Afin berlalu. Mama hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah gue sama mas Afin yang gak ada ubahnya kayak anak kecil.Pagi ini gue harus berangkat sekolah dengan angkutan umum karena motor gue masih belum selesai diperbaiki dan mas Afin tidak dapat mengantar gue karena sekolah gue dan kampus mas Afin berlawanan arah.Sampai di sekolah gue langsung menuju kelas. Hari masih terlalu pagi saat gue sampai di sekolah."Tumben Lo datang cepat." Suara itu adalah suara yang amat gue kenali. Itu adalah suara Bintang anak sok cool dan tengil di sekolah ini dan dia selalu tidak menyukai gue entah apa dosa gue padanya hingga dia begitu membenci gue."Maksud Lo apa?" kecam gue."Alah gue tau pasti Lo mau dibilang anak rajin kan. Heh julukan itu Cuma pantas buat gue dan gak ada yang bisa ngambil julukan itu dari gue." Sumpah nih anak selalu terobsesi buat jadi nomor satu di sekolahan."Gue gak ngerti maksud Lo apa.""Ah udah lah Lo itu selalu pengen bersaing sama gue dan gue gak akan biarin Lo ngalahin gue."Gue benar-benar gak ngerti sama makhluk satu ini. Padahal gue gak pernah pengen bermusuhan dengan siapaun di dunia ini. Tapi dia selalu mandang gue sebagai musuhnya yang harus dia kalahkan. Mungkin itu karena nilai gue yang lebih tinggi dari dia hingga membuat dia tambah membenci gue. Memang Bintang adalah sosok yang dibangga- banggakan di sekolah ini. Dia selalu menjadi yang terbaik dalam segala bidang baik akademik maupun non akademik tapi itu sebelum gue pindah ke sekolah ini. Setelah gue pindah ke sekolah ini dia merasa gue menyaingi dia untuk menjadi yang terbaik di bidang akademik karena nilai-nilai gue lebih tinggi dari nilainya."Udah deh. Gue udah jelasinkan sama Lo kalau gue gak pengen musuhan sama siapapun.""Tapi sekarang Lo adalah musuh gue.""Plis deh Bin. Gue sekolah bukan buat nyari musuh tapi buat nyari ilmu." Jelas gue walaupun sebenarnya gue tau gak ada gunanya gue ngejelasin ini sama makhluk yang bernama Bintang karena sampai seribu kalipun gue jelasin dia akan tetap musuhin gue tapi gue gak akan nyerah gitu aja buat jelasin sama dia."Gue gak percaya sama Lo." Dia berlalu pergi meninggalkan gue yang kini terpaku.Seharusnya gue sadar yang akan terjadi. Dia memang tak pernah suka gue sekolah di sini karena gue bisa mengancam juara umumnya di sekolah itulah kata teman-teman gue."Lo kenapa Des?" suara itu mengagetkan gue."Lo Din, gue bingung harus gimana sama Bintang Din.""Udah lah Des gak usah Lo pikirin tuh anak.""Tapi dia kayaknya benci banget sama gue Din.""Dia emang kayak gitu jadi Lo gak usah pikirin lagi ok?" Dinda adalah sahabat terbaik gue. Dia selalu kasih gue semangat dan selalu dukung gue dalam kondisi apapun."Tapi kenapa dia selalu terobsesi buat jadi nomor satu Din? Gue benar-benar gak ngerti apa hebatnya jadi nomor satu kalau gak punya teman yang ngertiin kita?" Dinda tersenyum mendengar pertanyaan gue."Bintang itu orang tuanya kurang mampu itu sebabnya dia ingin jadi yang terbaik di sekolah supaya dia bisa mendapatkan beasiswa ke universitas yang bagus agar dia bisa ngerubah kehidupan keluarganya." Jelas Dinda. Sungguh mulia hati anak itu dia ingin membahagiakan keluarganya gue jadi malu karena selama ini berpikir dia ingin menjadi yang terbaik hanya untuk ongeh-ongehan.Seketika pandangan gue terhadap Bintang berubah. Gue pengen banget bantu dia, dia selalu lemah di nilai kimia mungkin karena terlalu banyak rumus yang harus dihafalkannya belum lagi dia harus mengurus banyak hal. Gue bertekad akan membantu Bintang agar dia bisa meraih impian mulianya itu. Kalau dia berhasil gue pasti akan ikut bahagia."Bintang tunggu." Gue menghentikan langkah Bintang sepulang sekolah. Dia membalikkan badan tapi setelah melihat gue dia kembali berjalan menjauhi gue bahkan mempercepat langkahnya."Bintang tunggu." Gue mengejar Bintang dan menghadang langkahnya hingga dia tak punya pilihan lain selain menanggapi gue."Lo mau apa?" dia bicara setengah membentak."Gue mau bantuin Lo." Dia terlihat kaget mendengar perkataan gue barusan. Gue sendiri aja kaget kenapa gue ngomong gitu."Seingat gue, gue gak pernah minta bantuan sama Lo.""Memang gak pernah tapi ini adalah inisiatif gue sendiri buat bantuin Lo." Dia tambah heran dengan jawaban gue."Bantuin apa ya?" dia bertanya serius banget sambil mandang lekat mata gue bikin gue salting aja nih anak."Gue pengen bantuin Lo buat jadi nomor satu di sekolah." Jawab gue. Dia kembali memandang gue lekat kemudian dia tertawa."Lo mau ngejek gue. Mau buktiin kalau gue udah kalah dari Lo?""Gak. gak gue sama sekali gak bermaksud kayak gitu Bin. Gue serius pengen bantuin Lo.""Kenapa. Gue kan saingan Lo.""Gue kan udah pernah bilang sama Lo kalau gue gak pernah nganggap Lo saingan gue. Jadi izinin gue buat buktiin kata-kata gue itu.""Ok. Tapi gimana cara Lo buat bantuin gue?""Nilai Lo selalu dibawah gue ketika pelajaran kimia dan bahasa inggris jadi gue akan bantuin Lo dalam dua pelajaran itu.""Maksud Lo, Lo mau ngajarin gue?" tanya nya."Yap." Jawab gue mantap."Ok gue akan lihat kemampuan Lo kenapa gue bisa kalah dari Lo dalam pelajaran itu dan sehebat apakah Lo sebagai seorang guru." Tantang Bintang."OK gue akan buktiian sama Lo semuanya hingga rasa penasaran Lo terhadap gue hilang."Bintang tersenyum melihat kepercayaan diri gue. Dan entah kenapa gue jadi gugup bukan karena tantangan dari Bintang tapi karena pemuda ini tersenyum sangat indah.Ini adalah hari pertama gue bantuin Bintang dan kebetulan jam pertama pagi ini adalah kimia. Setelah pelajaran kimia selesai dan semua anak berlarian pergi ke kantin Bintang menghampiri gue. Gue jadi gugup sendiri dan gak tau apa penyebabnya."Kenapa?" tanya gue pada pemuda tampan di hadapan gue."Tadi ada yang belum gue pahami. Lo bisa jelasin lagi gak sama gue?" tanya Bintang."Oh ok. Yang mana yang Lo kurang paham?" tanya gue. Bintang langsung duduk di sebelah gue dan gue menjelaskan materi yang belum di pahaminya tersebut. Dinda yang melihat kejadian itu heran kenapa Bintang bisa beda banget sama gue hari ini. Setelah Bintang pergi Dinda mewaancarai gue. Ya apa lagi namanya kalau bukan wawancara."Kenapa Bintang bisa baik sama Lo gitu?" tanya Dinda memulai wawancaranya."Jadi ceritanya gue lagi di wawancara nih." Canda gue pada sahabat gue itu."Udah jawab aja kenapa sih. mau wawancara kek mau introgasi terserah Lo yang jelas jawab pertanyaan gue." Dia malah marahin gue."Iya deh. Pertanyaannya apa barusan?""Kenapa Bintang bisa baik gitu sama Lo. Lo guna-gunain dia ya karena Lo sakit hati sama dia?" dia malah nuduh gue. Wah parah nih anak."Tega amat sih Lo nuduh sahabat Lo sendiri kayak gitu Din.""Ya trus kenapa Lo pasti ada apa-apakan sama dia?""Gak ada apa-apa kok. Tadi dia Cuma nanya sama gue karena dia belum paham sama penjelasan Buk Ani." Jelas gue."Kok gue ngerasa aneh ya. Kemaren-kemaren kan dia benci banget sama Lo.""Mana gue tau Dinda sayang. Lo tanya langsung aja sama orangnya. Kenapa Lo malah nanya sama gue?"Entah kenapa gue jadi sering mikirin Bintang apa jangan-jangan gue udah jatuh cinta kali ya sama Bintang. Duh mikir apaan sih gue, gue mukul jidat sendiri."Kenapa Dek lagi galau yah?" mas Afin datang ngagetin gue."Apaan sih mas. Kalau mau masuk kamar orang itu ketuk pintu dulu jangan nyelonong aja kayak maling." Omel gue pada mas Afin."Kayaknya ada yang beneran galau nih." Mas Afin malah ledekin gue bikin gue geram aja."Siapa lagi yang galau? Gak tuh aku mah biasa aja. Ada apa mas tumben kesini pasti mau curhat yah?" gue segera mengalihkan pembicaraan kalau gak bisa sampai pagi mas Afin ledekin gue."Tau aja sih." jawab mas Afin cengengesan."Ada apa?" tanya gue. Mas Afin memang sering banget curhat sama gue kalau dia lagi ada masalah sama teman ataupun pacarnya. Gue juga gak tau kenapa dia milih curhat sama gue tapi karena hal itu gue sama mas Afin jadi sangat dekat.***Ada perasaan aneh yang menyelimuti hati gue saat gue dengan Bintang tapi gue gak bisa memahami hati gue sendiri. Gue merasa senang saat di dekat Bintang dan kalau jauh darinya gue merasa rindu. Entah ini hanya karena akhir-akhir ini gue sering ngabisin waktu bareng Bintang atau gue udah jatuh cinta sama Bintang. Entahlah yang jelas gue selalu kepikiran Bintang dimanapun gue berada. Gue akui sejak awal gue emang udah merasakan getaran tertentu pada Bintang bahkan saat pertama kali gue ngeliat dia di sekolah ini tapi saat itu Bintang masih membenci gue dan menganggap gue adalah musuhnya tidak seperti sekarang."Bin Lo pernah jatuh cinta gak?" tiba-tiba saja gue punya keberanian buat menanyakan pertanyaan itu sama Bintang gak tau keberanian dari mana. Gue udah nahan napas sejenak karena belum siap menerima jawabannya nanti."hmm.. jatuh cinta?" dia seperti tengah berpikir."Iya." jawab gue cepat, gak sabar ingin segera mendengar pendapatnya. Apakah dia juga merasakan getaran aneh yang gue rasakan atau malah dia gak merasa apa-apa."Kalau menurut gue jatuh cinta itu gak ada gunanya. Gak penting. Jatuh cinta hanya akan membuat kita gak fokus sama belajar dan malah mikirin hal-hal gak penting seperti malam mingguan fungsinya apa coba? Cuma buang-buang waktu lebih baik belajar dirumah lebih bermanfaat." Ujar Bintang. Gue tertegun mendengar penuturan Bintang. Itu artinya dia gak ngerasain hal yang sama kayak yang gue rasa dan hal itu membuat gue sedih. Entah kenapa gue merasa hati gue perih mendengar penuturan Bintang."Kenapa Lo tiba-tiba nanya kayak gitu? Apa mungkin Lo sedang jatuh cinta?" Bintang menatap gue curiga."Apaan sih Lo." Gue mengelak, gue gak mau dia sampai sadar kalau gue emang lagi jatuh cinta dan itu padanya."Sama siapa sih?" tanya Bintang. Gue jadi bingung harus menjawab apa, gak mungkin gue jujur dan bilang kalau gue lagi jatuh cinta sama dia kan? Orang dia aja gak ngerasain apa-apa."Ada deh. Gue rasa Lo juga kenal sama orangnya." hanya jawaban ini lah yang terpikirkan di otak gue."Kenapa Lo bisa suka sama dia?" gue berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan itu."Karena dia tampan?""Gue udah tau lo akan jawab gitu.""Karena dia baik, dia lucu dia juga pintar dan anaknya rajin banget lagi. Pokoknya dia perfect di mata gue.""Kayaknya dia tipe ideal Lo ya?""Yap." Gue gak tau kenapa hati gue sakit kalau harus mengetahui bahwa Bintang gak memiliki perasaan apa-apa sama gue. Tapi gue gak bisa memperlihatkan kekecewaan gue karena dia gak salah, di sini hanya gue sendiri yang salah karena menaruh hati pada tempat yang salah."Dari gue umur 10 tahun gue udah buat prioritas hidup kalau gue gak akan jatuh cinta sampai gue jadi orang yang berhasil dan bahagiain orang tua gue." Lirih Bintang, gue hanya mendengarkan dalam diam."Kenapa Lo gak mau jatuh cinta?" pertanyaan itu spontan keluar dari mulut gue."Karena itu akan ngerusak prioritas hidup yang selama ini gue pegang teguh. Jatuh cinta hanya akan membuat kita lemah dan membuat gak fokus sama pelajaran.""Lo salah Bin, cinta gak membuat seseorang menjadi lemah tapi membuat seseorang menjadi kuat membuat kita semangat dalam menjalani kehidupan.""Tapi jatuh cinta gak akan membuat gue jadi yang terbaik di sekolah kan?" tanya Bintang."Apa gunanya menjadi yang terbaik kalau gak punya seseorang yang menyayangi kita dengan tulus. Apa gunanya menjadi yang terbaik kalau gak punya teman yang selalu ada buat Lo dalam segala situasi?""Gue gak butuh semua itu yang gue butuh hanya menjadi yang terbaik." Gue kecewa mendengar jawaban Bintang.Bukan, gue kecewa bukan karena perasaan gue gak sama seperti yang dia rasa tapi karena pemikiran sempitnya mengenai cinta, dalam hidup gak segalanya akan berjalan seperti harapan kita dan saat itulah kita butuh sosok seseorang yang mendukung kita untuk terus maju.Gue hanya tertegun mendengar penuturan Bintang, gue gak bisa bicara apa-apa lagi. Bahkan untuk menangis pun gue gak punya hak karena disini hanya gue seorang yang salah dan pantas untuk di salahkan.Dua minggu yang lalu kepala sekolah minta gue buat jadi perwakilan sekolah dalam olimpiade kimia tingkat provinsi tapi gue belum cerita sama Bintang. Gue takut Bintang akan marah saat tau hal itu. Tapi sekarang gue gak berminat buat ikut olimpiade itu Lagi. Gue bahkan gak berminat lagi buat bersaing sama Bintang, biarlah dia mencapai tujuannya yang sudah ia rencanakan sejak awal dan gue tau betul gue gak termasuk dalam rencana hidupnya itu."Maaf pak sepertinya saya gak bisa mewakili sekolah kita untuk olimpiade kimia." Jelas gue pada kepala sekolah. Dia hanya manggut-manggut dengan penolakan gue."Tapi sekolah kita membutuhkan kamu Desi." Kata kepala sekolah."Sekali lagi saya minta maaf pak. Saya benar-benar gak bisa karena alasan tertentu. Tapi sebagai gantinya bapak bisa ngirim Bintang untuk mewakili sekolah kita.""Baiklah kalau begitu keputusan kamu." Kepala sekolah menurut apa yang gue sarankan dengan mengirim Bintang untuk mewakili sekolah dalam olimpiade kimia.Beberapa hari terahkir gue sengaja ngindarin Bintang. Gue udah gak marah sama dia mana tahan sih gue marah lama-lama sama dia, gue hanya belum siap aja ketemu lagi sama dia karena gue belum bisa ngelupain dia."Desi Lo bisa ngajarin gue lagi gak?" Tanya Bintang."Sorry ya Bin tapi gue mau ke kantin sama Dinda." Itu hanya alasan gue aja."Kalau gitu Lo bisa ngajarin gue di kantin kok. Kita ke kanting bareng aja.""Tapi gue mau ngomongin sesuatu sama Dinda dan ini hanya antara gue dan Dinda." Jelas gue."ok gue ngerti." Kata Bintang kemudian."Lo lagi marahan ya sama Bintang?" tanya Dinda saat di kantin."Gak kok." Elak gue."Yakin lagi gak marah sama dia terus kenapa Lo pakai alasan mau ngomong penting sama gue segala? Emangnya Lo mau ngomong apa?" tanya Dinda."Itu Din. Sebenarnya mas Afin minta nomer hp Lo boleh gak gue kasih?" beberapa hari lalu mas Afin nanyain Dinda sama gue dan bilang kalau dia suka sama Dinda."Hah. Lo bilang mas Afin?" gue hanya mengangguk."Trus Lo udah kasih?" tanya Dinda semangat banget."Belum makanya gue tanya dulu sama Lo boleh gak?""Boleh. Boleh banget malah." Gue tersenyum melihat reaksi sahabat gue ini."Jangan-jangan Lo naksir yah sama kakak gue?" tanya gue menyelidik. Yang ditanya malah senyum penuh arti dan gue membalas senyuman itu dengan sedikit ejekan tapi gue senang kalau sampai mas Afin jadian sama Dinda.Hari ini mas Afin yang ngantar gue sekolah gue tau itu pasti Cuma modus biar bisa ketemuan sama Dinda. Saat sampai di depan gerbang sekolah gue ngeliat Bintang yang melihat gue dengan tatapan tajam yang gak bisa gue artikan. Gue pura-pura gak tau aja kalau dia dari tadi mandangin gue dan mas Afin. Gue segera turun dari motor mas Afin dan berjalan memasuki gerbang sekolah."Dek nanti pulang sekolah mas jemput ya." Teriak mas Afin."Iya mas." Jawab gue lalu melanjutkan langkah gue menuju kelas. Mas Afin bilang kalau nanti pulang sekolah dia ingin ketemuan sama Dinda makanya dia bikin alasan buat jemput gue padahal mah ada udang dibalik bakwan. Hehehe...Di kelas gue terus memperhatikan Bintang yang dari tadi terus melamun dan tak memperhatikan penjelasan Pak Hamdan. Gue belum pernah liat Bintang kacau seperi hari ini. Biasanya dia selalu fokus belajar sebesar apapun masalah yang dihadapinya tapi hari ini dia benar-benar tak memperhatikan penjelasan Pak Hamdan sedikitpun. Pikirannya terus menerawang memandang ke luar kelas ke arah gerbang sekolah entah apa yang menarik disana yang mampu mengalihkan perhatiannya.Saat istirahat berlangsung gue hendak pergi ke perpustakaan dan melewati lapangan basket namun langkah gue terhenti di dekat lapangan basket ada yang menarik perhatian gue di sana."Kamu harus fokus, kita bermain sebagai sebuah tim bukan perorangan." Seseorang disana sedang dimarahi oleh pelatih Basket sekolah ini, Pak Samuel."Maaf pak." Terdengar sahutan dari anak itu. Suara itu gak asing di telinga gue. Gue mencoba lebih dekat agar bisa melihat siapa yang tengah di tegur oleh pak Sam."Apa kamu ada masalah Bintang?" tanya Pak Sam lagi.Bintang? Barusan pak Sam menyebut nama Bintang? Apa mungkin gue salah dengar ya? Bintang selalu melakukan sesuatu dengan hati-hati mana mungkin dia melakukan sebuah kesalahan. Gue mengintip dari balik dinding dan ternyata orang yang sedang di tegur oleh pak Sam adalah Bintang. Dia benar-benar Bintang. Masalah macam apa yang tengah dihadapi oleh Bintang sehingga dia membuat kesalahan? Dan tadi di kelas dia juga gak memperhatikan pelajaran. Gue ingin mendekati Bintang dan menayakan padanya tapi gue belum siap harus berhadapan lagi dengan pria ini."Din Lo tau gak barusan Bintang habis di tegur sama Pak Sam karena dia main gak fokus." Gue langsung cerita sama Dinda saat sampai di kelas."Ya terus?""Lo coba pikir deh apa mungkin seorang Bintang melakukan kesalahan dia kan selalu terobsesi buat jadi yang terbaik di sekolah. Trus kenapa dia bisa bikin kesalahan dan tadi pagi dia gak dengerin penjelasan Pak Hamdan Din. Pasti dia lagi ada masalah.""Ciee... perhatian banget sih sama Bintang." Dinda malah ledekin gue. Bukannya ngasih solusi malah bikin gue tambah pusing."Bukan gitu Din. Gue Cuma penasaran aja masalah macam apa yang tengah di hadapinya hingga membuat semangatnya jadi hilang gitu?" gue berpikir keras tapi gue tetap gak nemuin jawabanya."Mungkin dia lagi patah hati Des. Cuma orang yang lagi galau yang kehilangan semangat hidup." Jawaban Dinda sungguh membuat gue terkejut. Galau? Apa mungkin Bintang lagi galau yah."Udahlah ngapain sih mikirin hal itu. Mas Afin gimana kabarnya?" tanya Dinda bersemangat."Dia mau jemput gue pulang sekolah. Tapi gue yakin itu Cuma modus biar bisa ngeliat Lo.""Ya udah nanti kita keluar bareng ya?""Siap bos."Gue masih memikirkan Bintang. Apa benar dia lagi patah hati tapi sama siapa bukankan dia bilang dia gak mau jatuh cinta karena hanya akan membuat kita gak fokus belajar? Tapi kenapa dia galau sekarang. Siapa wanita yang berhasil membuat dia gak fokus belajar. Huh lihat saja gue gak akan maafin tuh anak karena udah bikin Bintang sedih dan kacau hari ini."Desi!" terdengar suara memanggil nama gue, gue mengentikan langkah gue sejenak dan orang yang tadi manggil gue mensejajari langkah gue dan berjalan beriringan dengan gue. Orang itu adalah Bintang."Ada apa?" tanya gue tanpa menoleh pada lawan bicara gue."Lo berhutang maaf sama gue." Gue menghentikan langkah gue mendengar kata-kata itu."Hutang maaf? Maksud Lo?" gue heran apa kesalahan yang gue lakukan sama Bintang sampai di bilang kalau gue berhutang maaf sama dia."Iya sekarang Lo harus ikut sama gue kalau Lo mau gue maafin.""Tapi gue udah di jemput." Gue melihat mas Afin yang melambaikan tangan ke arah gue."Ok itu artinya gue gak akan maafin Lo." Bintang berjalan menjauhi gue tapi entah kenapa gue gak rela dia pergi."Bintang tunggu. Gue akan ikut sama Lo." Gue berjalan mendekati mas Afin dan bilang kalau gue akan pergi dengan Bintang. Untung mas Afin ngerti dan gue nyuruh dia jalan-jalan dulu sama Dinda tentu saja mereka setuju.Bintang membawa gue ke sebuah taman di tepi danau tempat ini sungguh indah dan sejuk. Gue duduk di kursi kayu yang berada di bawah sebuah pohon."Kenapa Lo bawa gue kesini?" gue membuka pembicaraan."Bukankah gue udah bilang. Gue bawa Lo kesini karena Lo berhutang maaf sama gue?""Kesalahan apa yang udah gue perbuat sama Lo sehingga gue harus minta maaf?""Lo gak sadar udah ngelakuin kesalahan?" Dia malah balik bertanya sama gue. Gue menggelengkan kepala gue karena gue benar-benar gak tau salah gue dimana."Memang ya cewek itu gak peka." Dia berbicara setengah berbisik tapi gue mendengar cukup jelas."Maksud Lo?""Tadi pagi Lo berangkat sekolah sama siapa?" gue heran kenapa dia malah balik bertanya sama gue."Lo belum jawab pertanyaan gue." Ujar gue."Sebelum Lo jawab pertanyaan gue maka gue gak akan jawab pertanyaan Lo." Gue hanya bisa geleng-geleng kepala karena tingkah Bintang hari ini."Ok gue jawab. Tadi pagi gue sekolah sama mas Afin." Jawab gue."Kenapa?""Tadi mas Afin nawarin buat nganterin gue yah gue mau mau aja. Emang kenapa sih?""Trus Afin itu siapa?" gue udah muak sama semua pertanyaan Bintang. Tapi gue tetap bersikap baik karena gue ingin tau kesalahan apa yang udah gue perbuat sama dia."Dia kakak gue. Memangnya ada apa sih Bin? Gue udah jawab pertanyaan Lo sekarang Lo juga harus jawab pertanyaan gue." Sikap anak ini lama-lama bikin gue panas.Bukannya menjawab pertanyaan gue Bintang malah menyeringai gak jelas sambil memperlihatkan deretan giginya yang rapi. Dia memandang gue dengan tatapan seperti seorang anak kecil yang habis melakukan kesalahan sambil menggaruk-garuk kepalanya yang gue yakin gak gatal."Jawab Bin. Apa kesalahan gue?" Gue berbicara dengan nada yang keras membuat Bintang terlonjak kaget."Karena hari ini Lo udah bikin gue kacau." Dia berujar lirih tanpa memandang wajah gue."Gue? Memangnya apa yang udah gue perbuat?"Bintang diam tak menjawab pertanyaan gue. Dia terus memandang gumpalan awan yang berarak menuju suatu tempat untuk menumpahkan segala beban yang di bawanya. Bintang sama sekali tak melihat gue membuat gue jadi risih. Kenapa gue membuat harinya jadi kacau? Hal apa yang telah gue perbuat hari ini? Gue coba mengingat hal yang gue lakukan yang mungkin membuat Bintang jadi merasa kacau tapi gue gak menemukan jawabannya."Bintang apa yang sudah gue lakukan Bin. Hal apa yang gue lakukan sehingga membuat hari Lo jadi kacau?" Bintang memandang wajah gue dipandangi seperti itu membuat gue jadi gugup."Kesalahan Lo adalah Lo udah bikin gue jatuh Des." Gue benar-benar gak ngerti seingat gue, gue gak pernah tuh bikin dia jatuh. Kapan dan dimana? Gue benar-benar gak bisa ngungat itu."Lo itu udah bikin gue jatuh cinta sama Lo." Kini mulut gue benar-benar terkunci mendengar kata-kata Bintang. Gue gak percaya Bintang bilang hal ini sama gue."Hari ini gue kacau karena gue ngeliat Lo di boncengin sama cowok dan itu bikin hati gue sakit kayak di tusuk pakai panah beracun. Gue cemburu ngeliat Lo sama orang itu. Maaf ya gue udah salah sangka sama Lo. Gue kira dia adalah pacar baru Lo taunya kakak Lo." Dia cengengesan dan garuk-garuk kepala yang gak gatal.Gue masih diam bagai patung. Tak sepatah katapun yang berhasil keluar dari mulut gue meskipun gue udah berusaha keras. Kini tangan Bintang menggenggam tangan gue hasilnya tubuh gue gemetar karena genggaman itu."Gue gak tau sejak kapan tepatnya gue ngerasain hal ini. Tapi sejak Lo ngejauhin gue seperti ada yang hilang dari hati gue. Separuh dari hati gue terbawa sama Lo Des. Gue jatuh cinta sama Lo. Lo mau gak jadi kekasih gue. Lo mau gak jadiin gue yang terbaik di hati Lo?" tak terasa pipi gue udah panas dan merasakan cairan hangat membanjiri pipi gue."Bukankah Lo harus jadi yang terbaik di sekolah? Dan jatuh cinta hanya akan membuat Lo gak fokus belajar." tanya gue"Buat apa jadi yang terbaik kalau gak memiliki seseorang yang akan menyayangi kita dan mendampingi kita saat senang dan susah? Gue udah sadar Des kalau yang terbaik buat gue itu Lo." Gue udah gak peduli lagi air mata yang membanjiri pipi gue. Gue langsung menghambur ke pelukan Bintang."Gue juga tau kalau orang yang Lo ceritain waktu itu adalah gue. Karena ciri-ciri yang Lo bilang persis kayak gue." Bisik Bintang tepat di telinga gue yang membuat gue melepaskan pelukan gue."Kok dilepas sih?" Bintang menarik gue kembali ke pelukannya."Biarin aja kayak gini. Aku sayanggg banget sama kamu Desi." Bintang kembali berbisik di telinga gue namun kali ini gue tak akan melepaskannya lagi untuk selamanya.Selesai.
Terima Kasih, Teman!
Pagi ini tampak cerah, sang raja siang nampak bersemangat menyinari bumi sebagaiman semangatku yang membara hari ini. Lagi asyik-asyiknya nyatat catatan di papan tulis dari luar terlihat pak Zul, wali kelas kami memasuki kelas bersama seseorang yang tak ku kenal. Aku belum pernah melihatnya di sekolah ini sebelumnya, mungkin saja anak baru."Assalamu'alaikum." Suara pak Zul ketika sampai di dapan pintu."Wa'alaikumsalam" jawab kami serentak."Anak-anak hari ini kita kedatangan murid baru dan kebetulan di tempatkan di kelas ini. Bapak berharap kalian bisa menerimanya dengan baik."jelas pak Zul."Ya Pak" jawab kami hampir bersamaan."Sekarang silahkan perkenalkan diri kamu pada teman-temanmu" kata pak Zul pada anak baru."Baik pak. Teman-teman perkenalkan nama saya Indah Syafitri, saya pindahan dari Bandung. Saya harap bisa menjadi teman baik teman-teman semua. Demikian perkenalan saya, terima kasih." Katanya menyudahi perkenalan."Ya sudah anak-anak, kalau begitu kalian lanjutkan belajarnya. Bapak masih ada urusan di kantor, bapak permisi." Pamit pak Zul.Awalnya aku berpikir aku tidak akan bisa dekat dengan indah karena kelihatanya dia berasal dari keluarka yang bisa dibilang mapan, bagaimana tidak dia adalah anak tunggal dari orang tua yang sama-sama menjabat sebagai kepala sekolah di sekolah yang berbeda. Sedangkan diriku hanya seorang anak dari keluarga yang kurang mampu, kedua orang tuaku haris bekerja membanting tulang untuk membiayai sekolahku dan untuk hehidupan sehari-hari.Namun ternyata semua yang kupikirkan meleset dari kenyataannya. Indah adalah anak yang baik, dia tak pernah membeda-bedakan teman seperti kebanyakan anak orang kaya. Indah tak pernah membedakan status sosial seseorang. Semakin lama berteman dengan Indah aku semakin menyayanginya. Banyak sekali hal yang ku lalui bersamanya.Dia adalah sosok sahabat yang sangat baik, yang mampu membuatku tersenyum dalam kesedihanku, yang memelukku saatku menangis dan selalu ada di sisiku. Aku tak tau apa masih ada orang sebaik dia didunia ini, entahlah. Yang pasti Indah adalah sahabat terbaik dalam hidupku.Senin depan kelas VII-4 ditugaskan sebagai pelaksana upacara bendera dan Indah menjadi salah seorang penggerek bendera, sedangkan aku cukup menjadi anggota upacara bendera saja. Hari ini aku dan Indah piket kelas."Des hari ini kamu piket sendiri dulu ya" kata Indah sepulang sekolah."Memangnya kamu kenapa Ndah? Kamu sakit?" tanyaku heran tak biasanya Indah seperti ini."Gak kok. Hari ini aku mau latihan buat upacara bendera untuk hari senin jadi aku harus buru-buru kumpul di lapangan tapi kamu gak apa-apakan piket sendiri?" tanya Indah."Oo gitu, ya gak masalah kok. Kamu buruan ke lapangan urusan piket mah biar aku yang beresin" ujarku sambil memamerkan ibu jari ke arahnya pertanda OK."Kalau gitu makasih ya Des" katanya sambil meninggalkanku di kelas."Beres" ucapku lagi-lagi memamerkan ibu jariku padannya.Hari sabtu kali ini sikap Indah memang sedikit berbeda dari biasanya, dia tampak sangat bahagia dan jadi sering tersenyum, ah mungkin itu karena dia akan menjadi anggota upacara bendera makanya dia terlihat sangat bersemangat untuk latihan. Indah sangat antusias latihan upacara sabtu itu aku jadi bingung sendiri melihat semangatnya yang mengebu-gebu.Sore itu hujan turun dengan semangat. Awan hitam tak memberi celah pada sang surya bahkan untuk mengucapkan 'selamat sore'. Aku bingung apa yang tengah terjadi padahal ini bukanlah musim penghujan tapi beribu tetesan air itu seperti tak mau berhenti membasahi bumi. Ditengah guyuran hujan yang sangat lebat di selingi oleh teriakan petir yang sahut-sahutan sebuah ambulanc lewat dengan kecepatan tinggi. Mungkin inilah penyebab hujan ini, bisikku dalam hati.Minggu sore selesai mandi aku bergabung dengan keluargaku yang tengah serius membicarakan sesuatu. Dan ternyata mereka tengah membicarakan perihal ambulanc yang lewat dibawah guyuran hujan kemarin."Kasihan ya?" kata tanteku. Disana ada tante, ibuku dan kakak sulungku."Lagi ngomongin apaan sih? aku kepo nih?" kataku mendekat pada mereka."Itu loh, ambulanc yang kemarin lewat, ternyata orangnya meninggal." Jelas tanteku."Meninggal kenapa? Sakit?" tanyaku lagi."Bukan. Kecelakaan, seorang wanita dan anak gadisnya yang baru duduk di kelas 1 SMP meninggal akibat kecelakaan itu." Tanteku menjelaskan."Innalillah..." bisikku lirih prihatin mendengar cerita itu."Padahal itu adalah anak satu-satunya, kamu kenal gak Des? Kalau gak salah dia juga sekolah di sekolah kamu." Kata kakakku."Mhh... siapa ya?" aku mencoba berfikir."Katanya dia baru pindah ke sana beberapa bulan yang lalu. Mungkin kamu belum kenal Des." Kata ibuku kemudian.Aku terkejut mendengar itu. Mungkinkah itu Indah? Kata ku dalam hati. Jantungku berdetak sangat cepat kakiku terasa lemas dan tak kuat menyangga tubuhku."Kamu kenapa Des?" tanya kakakku."Mungkinkah itu?" aku tak kuat lagi menyangga tubuhku. Aku terduduk di lantai dengan air mata yang siap untuk keluar."Des kamu kenapa? Ada apa?" tanya ibuku melihat kondisiku seperti itu."Kamu mengenalnya Des?" tanya Kakakku lagi."Dia adalah sahabat sekaligus teman sebangku ku." Kini aku benar-benar menangis. Aku berlari menuju kamarku dan menangis sejadi-jadinya.Aku mencoba menenangkan hatiku. Bisa saja itu bukan Indah, mungkin saja itu orang lain aku terus menolak kalau itu adalah Indah. Tapi ternyata itu benar-benar Indah. Duniaku terasa hancur, bumi yang kupijaki terasa runtuh. Aku tak bisa menerima kenyataan bahwa sahabatku telah pergi untuk selamanya. 'Aku mohon jangan pergi Ndah, kembalilah' tangisku pilu.Aku benar-benar tak menyangka sahabat yang baru ku dapati kini telah pergi meninggalkanku dan takkan pernah kembali lagi. Aku bagai dalam mimpi buruk yang panjang, dan aku terperangkap dalam mimpi itu dan tak tau jalan untuk terjaga."Ya Allah kenapa secepat ini Kau ambil lagi hak-Mu? Kenapa harus Indah sahabatku? Kenapa Ya Allah? Padahal aku baru merasa bahagia karena memiliki sahabat sepertinya dan sekarang dia sudah pergi meninggalkan ku untuk selamanya." Isakku tak sanggup membendung air mata ini.Sampai di sekolah aku masih tak percaya bahwa Indah benar-benar telah pergi. Aku tak sanggup lagi menahan kepiluan yang menyesakkan dada ini. Aku menangis, ya aku menangis tepat di kursi dimana biasanya Indah duduk.Aku tak peduli lagi semua anak memandangiku dengan tatapan sedih dan kasihan. Aku hanya merasa sedih kehilangan sahabatku dan sekarang saat aku menangis takkan ada lagi yang akan memelukku dan membuatku tersenyum. Masih kental di ingatanku saat pertama kali Indah datang ke sekolah ini dan sekarang dia telah pergi.Senin ini kelasku tetap melaksanakan upacara bendera. Upacara berlangsung sangat kacau kami semua larut dalam kesedihan dan rasa kehilangan. Saat penggerekan sang merah putih yang seharusnya di gerek oleh Indah aku tak sanggup lagi menahan tangisku.Aku mulai tersedu di tengah barisanku. Duka ini sungguh sangat menyisakan kepiluan yang mendalam, aku merasa hancur atas kepergian Indah. Tapi aku mencoba ikhlas, aku ingin Indah damai di sana. Aku tak mau dia sedih melihatku terus menangisi kepergiannya."Ndah aku ikhlas jika ini memang yang terbaik. Aku juga ikhlas persahabatan kita didunia berakhir sampai di sini tapi aku janji kamu akan selalu menjadi sahabat terbaik di hatiku Ndah." Do'aku ikhlasNdah aku sayang banget sama kamu, akankah aku bisa dapat sahabat sebaik kamu selain dirimu Ndah?=Selesai=