RUMAH PELANGI
Romance
10 Feb 2026

RUMAH PELANGI

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download - 2026-02-10T231914.718.jfif

download - 2026-02-10T231914.718.jfif

10 Feb 2026, 16:32

download - 2026-02-10T231913.566.jfif

download - 2026-02-10T231913.566.jfif

10 Feb 2026, 16:32

" permisi, spada, kulonuwon, hello, mas, mbak, siapapun, hallo? " teriak seorang cowok di depan rumah pelangi

Byuurr... Brukk...

" anjrit! Sialan! Brengsek! " teriaknya sambil membersihkan air comberan yang kulemparkan bersama embernya tepat di atas kepalanya dari atas genteng tempatku bersembunyi.

" astaga. Mampus gue! Ternyata bukan orang gila. " ujarku dari atas genteng. Aku pun segera meloncat turun dan menghampirinya.

" duh. Maaf ya mas, saya kirain orang gila yang biasanya teriak - teriak di depan sini. Jadi saya tungguin di atas genteng mau nyiram dia. Eh, ternyata malah mas yang teriak. Jadinya kena siraman saya. Maaf yo mas? " ujarku sambil tersenyum malu menundukkan kepala.

" elo gila ya?! Suara gue yang seksi ini lo bilang suara orang gila? Elo tuh yang gila! Cewek malah naik genteng! Sarap loe! " semburnya.

" lha? Siapa suruh mas teriak teriak kayak orang gila? Udah tau ada belnya, ngapain teriak kayak di hutan? Mending belnya aja dipencet noh kan lebih efisien daripada teriak mas. " ujarku sambil geleng – geleng kepala.

" elo tuh ya!~ Eh, bau apaan nih? " ujarnya begitu menyadari bau tak sedap di sekitar kami.

" ya bau badan elo lah! Kan tadi yang gue lempar ke elo itu air comberan di depan sana. Hahaha. " ujarku sambil tertawa memegangi perutku yang sakit.

" brengsek! Elo tu ya~ " ujarnya geram sambil menatap tajam padaku. Namun kalimatnya tak selesai karena kemunculan Eyang Sapto. Pemilik rumah Pelangi.

" siapa Yas ? " kata eyang saat di belakangku.

" saya anak pak Hendra. " jawabnya sinis sambil mengibas ngibaskan bajunya.

" ye, santai dong mas. Biasa aja kali suaranya. Katanya seksi. Gak usah belagu. " ujarku sedikit kesal karena melihat sikapnya terhadap eyang.

" Yas, jangan gitu sama tamu. Oh, kamu pasti Rio? Masuk nak Rio. Tapi kok baju sama celananya basak nak? " ujar eyang.

" tadi gak sengaja Yayas lempar dia sama seember penuh air comberan eyang dari atas genteng. Yayas kira dia orang gila yang sering teriak teriak di depan rumah. Jadi mau Yayas kerjain. Eh malah kena mas – mas ini. " ujarku tersenyum simpul sambil menahan ketawa saat melihat air mukanya yang sangat masam.

" kamu tuh Yas. Udah eyang bilanginkan jangan suka main di atas genteng. Sudahlah. Bilangin si Mbok Jah. Bikinin minum buat eyang sama Rio. Maaf ya nak Rio, Yayas memang suka manjat. Orangnya tomboy. " ujar eyang sambil mengajak duduk Rio di ruang tamu. Aku pun kembali kedalam rumah.

" siapa mbak Yas? " ujar Chacha, salah satu penghuni rumah pelangi yang sedang nonton drama korea "boys before flowers" bersama Andre di ruang tengah saat aku menuju dapur.

" gak kenal. Kayaknya penghuni baru. Eh mbok ketemu disini, tadi di suruh eyang bikin minum dua. Ada tamu tuh. " ujarku saat bertemu mbok Jah di dekat tangga. Aku pun ikut duduk di samping chacha dan Andre.

***

Saat makan malam tiba, kami semua disuruh Eyang untuk berkumpul di meja makan, kecuali bang Ray dan Nita. Kami pun makan dalam diam dan tenggelam dalam pikiran masing - masing. Setelah makan, eyang mulai membuka pembicaraan.

" nah, semuanya. perkenalkan, ini Rio. Dia mulai sekarang anggota rumah pelangi. Nak Rio, perkenalkan. Dari yang di sebelah eyang ini ada Yayas, Andre, dan Chacha. Sebenarnya masih ada dua orang lagi. Ray, lagi nginep di kampusnya dan Nita, dia lagi kerumah temennya di komplek sebelah. " ujar eyang memperkenalkan kami semua.

" mereka semua cucu eyang? " ujar Rio sambil menatap kami satu persatu dengan tatapan seakan akan kami adalah penjahat kelas kakap yang harus dimusnahkan segera. Apalagi menatapku. Seakan - akan aku adalah seorang musuh besar FBI dan CIA yang sedang menjadi buronan.

" ndak semua kok. Andre cucu kandung eyang. Yayas cucu angkat eyang. Oh ya kalian, tolong jelaskan semuanya sama Rio. Eyang mau istirahat dulu. Eyang tinggal ya nak Rio. " ujar eyang sambil meninggalkan kami.

" oke. Gue jelasin. Kamar cowok di lantai tiga. Kecuali kamar eyang sama kamar mbok Jah ada di lantai bawah. Lantai dua kamar cewek. Ada pertanyaan? " ujar Andre mengambil tugas eyang.

" umur lo semua berapa? " ujarnya sambil makan apel yang ada di atas meja.

" gue, yayas, sama Nita 19 tahun. Gue sama Nita kuliah di Teknik Sipil semester 3. Chacha 16 tahun baru masuk SMA dan bang Ray 21 tahun dan kuliah di ekonomi semester 5. Kenapa? Elo? " tambah Andre.

" 20. Gue ngantuk. Gue ke atas duluan. " ujarnya.

Aku, Andre dan Chacha hanya bisa berpandangan dan menarik nafas panjang dengan sikapnya.

" nih anak belagu kayaknya bakal bikin masalah deh. " ucap ku pelan.

***

" eyang, aku berangkat. " ujarku saat eyang sedang berbicara dengan Andre, Ray dan Rio.

" kemana dia? " ujar Rio sambil melihatku membonceng Chacha.

" dia nganter Chacha ke sekolah baru habis itu dia kerja. " ujar Eyang.

" kerja? " Tanya Rio bingung.

" iya. Dari jam 8 pagi sampai 12 siang dia kerja di toko roti. Dan dari jam 2 siang sampai jam 8 malam dia kerja di toko buku. " tambah Andre.

" setiap hari? Dia nggak kuliah? " ujar Rio takjub.

" dia enggak kuliah. Padahal sudah di suruh eyang. Katanya gak ada biaya. Dia kerja cuma dari hari senin sampai kamis doang. Oh ya eyang, aku, Andre sama Nita kuliah dulu eyang. Cepetan Nita. " ujar Ray sambil memanggil Nita untuk segera berangkat. Mereka pun berangkat dengan mobil Ray. Akhirnya di teras hanya ada Rio dan Eyang.

" eyang, memangnya beneran Yayas cucu angkat eyang? Kok bisa? " ujar Rio.

" iya. Kalo Yayas itu udah dari umur 5 tahun eyang rawat sama almarhumah istri eyang. Orang tua yayas meninggal karena kecelakaan. Dia eyang temui pingsan di depan pagar. Sedangkan Andre, ayahnya adalah anak eyang. Awalnya dia cuma tinggal bersama ibunya karena ayahnya yang pilot meninggal karena pesawatnya jatuh di Amerika 10 tahun lalu. Tapi ibunya juga meninggal 3 tahun lalu karena stroke. " jelas eyang.

" jadi Yayas sama Andre yatim piatu? Lalu, Ray sama Nita? " Tanya Rio.

" iya mereka yatim piatu. Ray awalnya dipindahkan orang tuanya yang bekerja di department Luar Negeri di Inggris karena nakal sekali saat lulus SMA disana. Kebetulan kakeknya Ray ini sahabat eyang waktu dulu. Jadi ya dia di titipin sama eyang. Sekarang setelah dia sudah jadi anak yang baik, malah gak mau balik lagi ke sana. Katanya lebih enak kumpul disini. Kalo Nita orang tuanya cerai. Jadinya ya dia gak mau ikut siapa – siapa, makanya tinggal di sini. " tambah Eyang. Sedangkan Rio hanya mangut – mangut saja.

" oh ya eyang, satu lagi. Yayas kerja jadi apa aja? "

" kalo di toko roti dia jadi jaga kasir dan bagian pembukuan penjualan, dan kalo di toko buku, biasanya jadi kasir juga atau ngecek barang yang datang. Biasanya tiap minggu, Yayas itu dapet bonus boleh bawa roti yang gak habis hari itu. Makanya di rumah ini banyak roti. Ada lagi? " Ujar eyang sambil tersenyum. Rio pun menggeleng dengan ragu.

***

" Yas, kamu ndak kerja nduk? Udah jam 8 pagi ini. " ujar Eyang di depan kamarku.

" masuk yang. Nda Yayas kunci. " ujarku dengan suara lemah.

" kamu kenapa nduk? " ujar Eyang saat masuk kekamarku dan melihatku masih tiduran di bawah selimut.

" ndak tau Eyang. Badan Yayas lemes. "

" kamu sakit Yas? yo wis. Kamu istirahat aja dulu biar eyang kebawah nelpon bos – bosmu. Nanti eyang panggilin anak – anak yang lain. " ujar eyang sambil beranjak pergi dan meninggalkanku.

***

" kamu tuh apa – apaan sih Yas. Makanya kerja itu jangan diforsir badannya. Coba sekarang, jadinya sakitkan? " ceramah Ray saat dirinya bersama Rio dan eyang berada di kamarku sambil duduk di ranjangku.

" iya bang Ray. Habisnya, waktu kalo kerja itu gak kerasa, jadinya gak mikirin badan. Tiba – tiba aja langsung gini. "

" dasar. Memangnya ngejar setoran buat apa sih? Mau beli apa? Pokoknya kamu istirahat. Kan eyang atau bang Ray bisa beliin buat kamu. " tambah Eyang gemas melihatku ngotot kerja.

" ya ampun bang Ray sama eyang ini. Aku kan kerjanya Cuma empat hari. Dalam seminggu lagi. " protesku.

" gak ada. Aku udah bilang sama kedua bos kamu kalo kamu izin cuti dua minggu. Lagipula kata bos – bos kamu, kamu gak pernah ambil cuti dari awal mula kerja. Memang mau beli apa sih? " Tanya Bang Ray.

" Yayas mau beli jaket. Sayang kalo makai uang tabungan Yayas. Uang tabungan Yayas kan buat masa depan Yayas. Lagi pula Yayas males ngambil di Bank. Ribet. "

" nanti gue beliin. " ujar Rio tiba – tiba.

" hah? Oh. Oke deh. Makasih ya. " jawabku keheranan melihat sikapnya yang berubah baik padaku.

" yo wis. Kamu istirahat dulu ditemenin Rio ya. Eyang mau ke bank sama Ray. " ujar eyang sambil beranjak pergi bersama Bang Ray.

" mulai sekarang gue yang nganter elo kerja. Chacha biar bang Ray atau Andre yang nganter. " kata Rio sambil menatap mataku.

" tap~... "

" gak ada tapi – tapian. Gue udah ngomong sama semuanya waktu elo tidur tadi. " potongnya sengit.

" enggak ah. Ngapain sih elo Yo? Gue bisa sendiri kok. " protesku. Rio pun langsung duduk di sampingku dan menghadapkan badanku kearahnya.

" elo itu gak usah protes Yas. Lo sekarang pilih deh. Deket sama gue atau berhenti kerja. " ujar Rio sambil tersenyum sinis.

" apa sih mau lo sama gue? Ada masalah apa lo sama gue? Atau jangan – jangan elo masih dendam sama gue gara – gara gue nyiram elo pake air comberan dua bulan yang lalu? Iya? Apa yang mau elo lakuin sama gue? " ujarku menatap tajam tepat di matanya.

" iya! Gue bakalan bikin perhitungan sama elo. Cewek yang berani – beraninya nyiram gue pake air comberan. Tunggu aja pembalasan gue. " ujarnya sambil pergi berlalu meninggalkanku sendiri di kamarku.

" dih, gila apa ya tuh anak. Aneh deh. "

***

Kring... kring...

" halo? " ujar Andre yang menerima telepon.

" Ndre, ini gue. Yayas. Rio mana? Gue udah pulang kerja dari satu jam tadi. Katanya dia mau jemput gue. Udah jam Sembilan ini. Ini udah kelima kalinya dia telat jemput gue. Kemaren aja gue disini sampe tiga jam buat nungguin dia. " ujarku dari seberang sana sambil ngomel pada Andre.

" Rio-nya masih tidur Yas. " ujar Andre pelan.

" apa?! Masih tidur? Oke. Gak usah di bangunin. Gue pulang sendiri! " marahku sambil mematikan telepon dan langsung menonaktifkannya.

Aku pun nekat berjalan kaki mencari taksi menuju rumah Pelangi. Saat di persimpangan jalan tiba – tiba dua buah motor berhenti tepat disampingku dan dua orang preman yang di duduk dibelakang langsung turun dari motor dan langsung mengodaku. Sedangkan dua preman yang lain pun menyusul.

" hallo manis, sendirian neng? Abang – abang temenin ya? " ujar preman itu sambil mencolek daguku.

" lo semua jangan kurang ajar deh! Beraninya sama cewek! " ujarku galak.

" si eneng mah galak pisan euy. Ntar eneng teriak juga gak bakalan ada yang denger. Di ujung jalan sana udah kami pasang tulisan 'jalan ini ditutup'. Jadi eneng gak bisa ngapa – ngapain. " ujar temannya sambil menangkap tanganku.

Aku pun hanya bisa melawan semampuku hingga terjadi pertempuran lumayan sengit dan mengakibatkan dua dari empat orang yang mengangguku pingsan tanpa perlawanan hingga mereka dan aku babak belur. Namun dua orang yang masih bertahan langsung menangkapku hingga aku terperangkap diantara mereka. Aku hanya bisa berdoa saja semoga ada pesawat yang tiba – tiba jatuh tepat di tempatku. Walau itu harus membuatku mati sekarang juga.

Bruk... Bruk...

Tiba – tiba ada yang memukul kedua orang yang menangkapku hingga tersungkur pingsan dan langsung melindungi di dalam pelukannya.

" elo gak papa? " ujarnya langsung memelukku.

" Ri.. Rio? Bu... Bukannya elo tidur?" ujarku kaget. Ternyata yang menolong dan memelukku adalah Rio.

" ntar gue jelasin. Sekarang elo naik motor gue. Ntar mereka bangun lagi. Ayo. " ujarnya sambil tetap memelukku.

Kami pun meninggalkan tempat tersebut menuju suatu tempat yang di pilih Rio untuk istirahat karena aku tak ingin pulang ke rumah Pelangi karena anak - anak pasti akan menanyakan luka di wajah dan tangan yang sempat ku dapat karena melawan orang – orang tadi.

***

" nih. Minum dulu. Sekalia es batu buat ngompres luka elo. " ujar Rio memberiku sekaleng minuman dingin dan sekantong es batu yang dibelinya di pinggir jalan saat kami duduk di sebuah taman.

" makasih. " ujarku sambil mengambil minuman yang dia berikan walaupun tetap membenamkan kepalaku di kedua lututku.

" orang rumah udah gue kasih tau kalo kita pulang telat. Elo tenang aja. " sambil menyampirkan tangannya di bahuku.

" ngapain elo nolongin gue?! " bentakku padanya.

" apa sih lo? Udah gue tolongin juga. " tanyanya.

" lo sadar dong ini semua karena elo. Elo telat lagi telat lagi. Ini udah kelima kalinya elo telat! Gue tau. Ini kan maksud pembalasan dari lo! " teriakku padanya.

" jadi elo marah sama gue?! Hah!" balasnya sengit.

" iya! Gue marah sama elo. Gue kesel sama elo, gue benci sama elo! Gue muak sama elo! Cowok jahat, angkuh, nyebelin, ngeselin, aneh, galak, jelek! " ujarku lagi. Tak terasa aku pun menangis dihadapannya.

" gitu?! Kenapa lo gak minta aja sama Ray atau Andre jemput elo hah? Biar puas sekalian. "

" gue bisa aja minta sama mereka. Tapi gue kasian sama elo kalo ternyata elo juga jemput gue dan gak nemuin gue di tempat kerja. " bisikku.

Aku pun berlari setelah berbisik pada Rio dan mencari taksi untuk pulang dan meninggalkannya sendiri. Meninggalkan Rio dengan sejuta penyesalan di dalam dadanya.

***

Setelah kejadian beberapa hari itu, aku mengurung diri dikamar. Aku keluar kamar hanya untuk mandi, makan dan sebagainya yang tak banyak memerlukan waktu yang lama. Bahkan aku sudah cuti kerja selama tiga hari dan entah sampai kapan. Akupun cukup beralasan sakit karena kedua bosku sangat royal pada pekerjanya yang sakit. Anak – anak, tak terkecuali Rio mulai mencemaskanku yang seperti mayat hidup. Eyang pun tak bisa berbuat banyak.

" Yas. Kamu kenapa toh nduk? Sejak pulang kerja senin kemaren kok jadi diem terus? Kamu juga udah izin kerja tiga hari ini. " Tanya eyang saat aku hendak naik menuju lantai dua. Aku hanya menatap eyang tanpa menjawabnya. Akupun berlalu dari hadapan eyang diikuti tatapan anak – anak lain.

***

Tok... tok... tok..

" siapa " tanyaku saat ada yang mengetuk pintu kamarku. Saat aku membukakan pintu, ternyata Rio yang berada di hadapanku.

" gue mau ngomong. "

" kita ngomong diluar. " ujarku sambil berjalan menuju taman dan naik keatas genteng yang sama saat aku menyiramnya dulu.

" ngapain kita ngomong disini sih. Dibawah kan bisa. " protes Rio sesaat setelah sampai di atas dan duduk di sampingku.

" gue gak mau anak – anak denger. " jawabku ketus.

" susah ya punya masalah sama elo. "

" udah tau ngapain juga masih bikin masalah. Dasar cowok aneh. "

" udah deh. Gue gak mau debat lagi sama elo. Gue tuh punya salah apa sih sama elo? Dari awal kita ketemu, loe udah bikin masalah sama gue? " tanyanya.

" gue gak pernah punya masalah sama elo! Udah gue bilangkan. Waktu itu gue gak sengaja. Gue gak tau itu elo. Udahlah. Ngomong sama elo itu susah. " ujarku sambil berdiri. Rupanya pijakanku terlalu miring dan aku kehilangan keseimbanganku. Aku pun langsung terjatuh. Aku langsung memejamkan mataku sambil berfikir akan jadi apa aku nantinya.

Brukk..

"aaakkh.... " teriak seseorang saat aku terhempas di tanah yang boleh kubilang terlalu lembut dan lembek untuk ukuran tanah.

Saat aku membuka mata, rupanya aku terjatuh dibadannya Rio yang menangkapku saat aku terjatuh.

" Ri.. Rio.. lo gak papa? " tanyaku saat dia meringis kesakitan.

" kayaknya tangan kanan gue patah. Gak bisa di gerakin. Gak papa kok cuma patah ini. " ujarnya memejamkan matanya.

Aku pun berteriak memanggil anak – anak. Anak – anak dan Eyang pun langsung berlari keluar rumah. Aku segera berlari menyalakan mobil untuk membawa Rio kerumah sakit.

***

Setiba di rumah sakit kami langsung membawa Rio ke ruang UGD. Aku hanya ditemani Andre dan bang Ray di depan ruang UGD. Eyang, Nita dan Chacha menunggu di rumah. Sedangkan Rio di periksa didalam.

" dok gimana keadaan Rio? Apa dia baik baik saja? " tanyaku saat dokter baru saja keluar dari ruang UGD. Bang Ray dan Andre pun langsung berdiri.

" dia mengalami patah tulang. Dan harus segera di operasi. Apa ada keluarga pasien disini? "

" saya kakaknya dok. Lakukan apa saja yang terbaik. Saya akan bayar semuanya. " ujar bang Ray.

" kalau begitu saya akan lakukan yang terbaik. Silahkan anda mengurus semuanya di bagian administrasi didepan sana. " jawab dokter itu sambil kembali masuk keruangan untuk menyiapkan operasi. Bang Ray dan Andre pun menuju administrasi sedangkan aku menunggu dan ikut membawa Rio ke ruang operasi.

***

" keluarga pasien yang bernama Rio. " kata perawat saat kami bertiga menunggu di ruang tunggu.

" kami keluarga Rio sus. " jawab Andre.

" pasien sudah berada diruang rawat inap. Kalian diperbolehkan untuk menjenguk sesuai jam besuk. "

Kami pun berterima kasih kepada suster itu sambil menuju ruang rawat inap Rio di lantai lima. Saat kami masuk kedalam ruangan, Rio sedang menonton tv. Andre dan bang Ray pun langsung ngombrol dengannya. Sedangkan aku sibuk memberitahukan keadaan Rio kepada eyang.

" Yas, lo laper gak? " Tanya Andre tiba – tiba.

" iya sih gue laper. "

" ya udah, gue sama bang Ray beli dulu didepan. Dagh. " ujar Andre sambil menarik Bang Ray. Kini tinggallah aku berdua dengan Rio. Aku pun mendekati Rio dan duduk di dekat perutnya.

" sorry ya Yo, gara – gara gue elo jadi gini. " ujarku sambil memainkan ujung selimut yang ia pakai seraya menahan tangis.

" gak papa. Cuma patah ini. Justru gue takutnya elo yang kenapa – kenapa. Elo gak papa kan? " jawabnya seraya mematikan tv. Hening. Membuat air mataku malah berjatuhan.

" gue gak papa. Tapi malah elo ya~... "

" gue gak papa Yayas. It's okey. Relax. Jangan nangis dong Yas. Gue udah terlalu sering bikin lo nangis " potongnya cepat seraya menghapus airmataku dengan tangan kirinya.

" oh ya. Ada yang pengen gue omongin sama elo Yas. " ujarnya lagi sambil mengengam tanganku. Aku hanya memandangnya penuh keheranan.

" gue mau minta maaf buat semua yang gue lakuin ke elo. Gue cuma gak tau apa yang harus gue lakuin biar elo tau kalo gue itu sayang sama elo. Makanya gue selalu bikin masalah sama elo biar gue bisa deket sama elo. Soalnya selama ini gue belum pernah punya pacar. Elo mau gak jadi pacar pertama gue? " tambahnya sambil menghilangkan grogi.

" hah? Jadi selama ini elo belum punya pacar? Bwahaha. " ujarku sambil tertawa mengejeknya.

" ye, tau gini gue gak bilang deh kalo elo orang pertama yang gue tembak. " jawabnya sewot.

" haha.. elo sih lagian, nembak cewek dirumah sakit. Gak romantis banget sih jadi cowok. Dimana kek, di taman kek, di pantai kek minimal di mana gitu. " ujarku tetap mentertawakan dirinya.

" jawab aja kenapa sih Yas. Mau gak jadi pacar gue? " ulang Rio kedua kalinya untuk memintaku jadi pacarnya.

" emh... iya deh. Tapi ada syaratnya. "

" apapun akan gue lakuin supaya gue bisa dapetin cinta elo. Apaan? " tantangnya.

" elo harus bisa manjet dan duduk di genteng. Gimana? " ucapku dengan penuh tantangan.

" siapa takut. Gue bakalan buktiin kalo gue emang pantes jadi pacar loe. Gimana? Mau gak nih jadi pacar gue? " ujarnya sekali lagi.

" iya gue mau. " ujarku sambil mengangguk mantap.

Rio pun langsung menarikku dalam dekapannya. Dan kalau kupikir – pikir aku mulai menyukainya sejak kejadian aku sakit tempo hari lalu. Aku pun tersenyum memikirkannya.

*****

Kembali ke Beranda