My Special Doctor
Romance
07 Feb 2026 08 Feb 2026

My Special Doctor

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download - 2026-02-07T191216.198.jfif

download - 2026-02-07T191216.198.jfif

07 Feb 2026, 12:12

Sudah dua hari Rony mencari informasi mengenai keluarga Salma. Namun yang ia ketahui, gadis itu adalah seorang diri. Kedua orang tuanya telah lama meninggal di kampung halaman mereka. Kini Salma tinggal di sebuah kontrakan kecil dan bekerja sebagai petugas kebersihan di sebuah hotel.

Dua hari lalu, Rony yang sedang sibuk menerima panggilan telepon menjadi tidak fokus saat berkendara. Kelalaiannya menyebabkan ia menabrak seorang gadis yang sedang menyeberang jalan. Tubuh gadis itu terpental cukup jauh akibat kecepatan mobil Rony yang cukup tinggi.

Sebagai seorang dokter, Rony segera bertanggung jawab. Ia membawa gadis itu ke rumah sakit tempatnya bekerja dan langsung menangani kondisinya dengan bantuan beberapa perawat. Penyesalan mendalam menyelimuti hatinya sejak kejadian itu.

Salma didiagnosis mengalami gegar otak akibat benturan keras di kepala serta gangguan pada saraf motorik yang menyebabkan kelumpuhan sementara. Selama dua hari, Salma dinyatakan dalam kondisi koma, membuat rasa bersalah Rony semakin besar. Ia seorang dokter, namun justru kelalaiannya membuat seseorang terbaring tak berdaya.

Setelah mengetahui latar belakang Salma, Rony memutuskan untuk bertanggung jawab penuh. Ia tidak sanggup membiarkan gadis itu kembali menjalani hidup seorang diri dalam kondisi seperti ini.

“Bang, Kak Salma masih belum sadar?” tanya Nabila.

“Belum, Nab.”

“Aku ngerasa Abang jahat banget ya… Abang sampai bikin orang koma karena kelalaian Abang sendiri,” ucap Rony lirih.

Nabila adalah adik satu-satunya Rony. Mereka hidup berdua sejak orang tua mereka berpisah. Kehidupan Nabila tidak mudah. Ia pernah tinggal bersama ayah dan ibu sambungnya, lalu bersama ibunya dan ayah sambung lainnya, hingga akhirnya memilih tinggal bersama Rony setelah mengalami perlakuan yang membuatnya tidak lagi merasa aman.

Sejak saat itu, Rony berjanji akan selalu melindungi adiknya, bahkan ketika hidup mereka masih serba kekurangan.

“Abang nggak jahat,” ujar Nabila lembut. “Ini kecelakaan. Abang sudah mau bertanggung jawab. Nab juga akan bantu Abang ngerawat Kak Salma sampai sembuh.”

Rony mengangguk, menahan emosinya.

Tiga minggu kemudian, kondisi Salma menunjukkan perkembangan. Jarinya bergerak, dan tak lama kemudian ia membuka mata. Namun kebingungan jelas terlihat—ia kehilangan ingatannya.

Dengan sabar, Rony dan Nabila menjelaskan siapa dirinya. Demi ketenangan Salma, Rony menyebut dirinya sebagai keluarga yang akan merawatnya.

Beberapa hari kemudian, Salma diperbolehkan pulang dan tinggal bersama Rony dan Nabila. Nabila memberi Salma panggilan “Caca”, yang perlahan membuat suasana rumah menjadi hangat.

Hari demi hari, kebersamaan menumbuhkan rasa nyaman. Salma yang lembut dan sederhana membuat Nabila merasa memiliki kakak perempuan, sementara Rony mulai merasakan perasaan yang sulit ia pahami.

Di sisi lain, Rony harus menghadapi kenyataan pahit tentang kekasihnya, Jasmine. Pengkhianatan yang ia saksikan sendiri menghancurkan kepercayaannya. Hubungan itu berakhir dengan luka dan kemarahan.

Tak lama kemudian, Jasmine datang ke rumah Rony dan membuat keributan. Ucapannya kasar, sikapnya tak terkendali, bahkan sampai menyakiti Salma. Saat itulah Rony benar-benar melihat wajah asli wanita yang selama ini ia bela.

Ia mengusir Jasmine dari hidupnya untuk selamanya.

Malam itu, Rony menemukan Salma menangis sendirian. Dengan penuh kesabaran, ia mendengarkan keluh kesah Salma—tentang rasa lelah, putus asa, dan perasaan tidak berguna.

Rony menenangkan Salma dengan kata-kata penuh keyakinan dan iman. Ia meyakinkan bahwa Salma tidak sendirian dan bahwa hidupnya berharga.

Sejak malam itu, jarak di antara mereka perlahan menghilang.

Waktu berlalu. Ingatan Salma kembali, dan Rony akhirnya mengakui bahwa dialah penyebab kecelakaannya. Namun Salma memilih memaafkan.

Kejujuran itu justru memperkuat hubungan mereka.

Rony menyatakan perasaannya dengan tulus. Ia tidak meminta Salma menjadi kekasihnya, melainkan pasangan hidupnya. Meski Salma merasa tidak pantas, keteguhan Rony akhirnya membuatnya menerima.

Pernikahan mereka berlangsung hangat dan penuh kebahagiaan. Tiga bulan kemudian, kondisi Salma semakin membaik. Ia mulai berjalan dengan bantuan tongkat.

Kehidupan rumah tangga mereka dibangun dengan cinta, pengertian, dan kesabaran. Malam pertama mereka dijalani dengan penuh rasa hormat, kelembutan, dan kasih sayang—tanpa paksaan, tanpa kata berlebihan, hanya ikatan suci antara dua insan yang saling mencintai.

Beberapa bulan kemudian, Salma mengandung anak kembar. Kehadiran mereka menjadi anugerah yang melengkapi keluarga kecil itu.

Tahun demi tahun berlalu. Anak-anak mereka tumbuh ceria. Rumah mereka dipenuhi tawa, candaan, dan cinta.

Meski kehidupan tidak selalu mudah, Salma dan Rony belajar menghadapi semuanya bersama. Dengan saling percaya, saling menguatkan, dan selalu menjadikan keluarga sebagai prioritas utama.

Cinta mereka bukan tentang kesempurnaan, melainkan tentang kesetiaan untuk tetap bertahan.

TAMAT

Kembali ke Beranda