Temukan Cerita Inspiratif
Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.
Total Cerita
1144
Genre Romance
230
Genre Folklore
228
Genre Horror
228
Genre Fantasy
230
Genre Teen
228
Menghargai Kejujuran
Perasaan resah menyelimuti seorang gadis yang sedang berjalan sendirian masih lengkap dengan seragam sekolahnya.Vanya sedang berdiri di depan pintu rumahnya. Ia takut jika ibunya akan memarahinya mengingat ia pulang selama ini. Saat ia hendak mengetuk pintu, tak disangka pintu itu terbuka dan menampilkan sosok ibunya dengan kilatan marahnya."Dari mana saja kamu? Jam segini baru pulang, inget rumah kamu?" tanya sang ibu dengan nada ketus."Maaf Bu, tadi Vanya abis dari rumah teman Vanya," jawab Vanya dengan menunduk takut.Plakkk..Sebuah tamparan mendarat keras di pipi Vanya, sangat terlihat kemarahan dari ibunya."Bagus kamu ya, anak gadis pulang malam-malam. Bilangnya dari rumah teman," sarkasme sang ibu."Iya Bu benar, Vanya habis dari rumah Vina dan nggak sengaja ketiduran disana," jawab Vanya yang tak kuasa menahan bulir air matanya seraya memegangi pipinya yang memerah."Gak usah nangis segala, seharusnya kamu sadar kalau kamu salah. Pulang sekolah harusnya langsung pulang, ini malah main. Bagus begitu Vanya?!" bentak sang ibu tak kuasa menahan amarahnya."Maaf Bu," jawab Vanya meraih tangan ibunya dan segera mencium punggung tangannya.***Sehabis ia dimarahi tadi, Vanya memasuki kamar mandinya untuk membersihkan tubuhnya. Ia menangis sejadi-jadinya di dalam bathtub.Terlahir dengan tidak ada ayah adalah mimpi terburuk Vanya yang harus menjadi kenyataan. Mempunyai ibu pun serasa tak punya, selama ini ia benar-benar belum mendapatkan kasih sayang dari kedua orangtuanya. Mengingat ibunya seorang pekerja disebuah restoran 24 jam, membuat wanita paruh baya itu tak bisa membagi waktu antara kerja dan anak.Vanya akui dirinya memang salah, harusnya ia pulang kerumah atau izin dulu pada ibunya. Namun kejadian pulang sekolah tadi harus membuat dia segera kerumah Vina, sahabatnya itu.Dimana dirinya dan Vina harus menjaga adiknya Vina yang masih balita dan sangat aktif sekali hingga membuat mereka kelelahan dan tertidur tak ingat waktu sampai berakhir seperti tadi."Apasih Vanya, kamu cengeng banget," monolog Vanya seraya menghapus air matanya kasar.***"Vanya dicariin kak Daniel tuh di lapangan," ujar Vina yang baru saja datang membawa minuman taro kesukaannya."Kak Daniel? Cari aku?" tanya Vanya tak percaya."Iya cari lo, buru gih kesana. Apa mau gue temenin?" tanya Vina."Boleh deh Vin, aku penasaran kenapa kak Daniel nyariin aku ya?" ucap Vanya hendak keluar kelas diikuti oleh Vina."Kalo itu gue gak tau, coba aja nanti lo tanya," mereka pun berjalan menuju lapangan, dan terlihat sangat ramai disana. Namun pandangannya jatuh pada lelaki yang sedang berdiri di tengah sana. Vanya mendekat pada lelaki bernama Daniel itu, dan tiba-tiba saja Daniel berlutut dihadapan Vanya."Eh kak Daniel? Ngapain?" tanya Vanya yang terkejut dengan tindakan kakak kelasnya ini."Vanya? Mungkin ini tiba-tiba banget buat lo. Tapi ini semua udah gue rencanain dari lama. Jadi temen emang menyenangkan, tapi bakal lebih mengesankan lagi kalau lebih dari itu," ujar Daniel."Maksudnya apa kak? Aku nggak ngerti," ujar Vanya."Ketika Hawa tercipta buat Adam, begitu indahnya kehidupan mereka. That way, let me Daniel Abian, be the Adam for you because I very love you,"Entah ada bujukan dari mana, Vanya mengangguk. Dan itu berarti Vanya baru saja menerima Daniel, dan mereka resmi berpacaran.***Sebulan berlalu, hubungan Vanya dengan Daniel sudah membaik layaknya sepasang kekasih pada umumnya. Dan saat ini Daniel mengajak Vanya untuk pergi berkumpul dengan teman-temannya.Dapat dideskripsikan tempat ini di dominasi oleh para lelaki, dan Vanya paling tidak suka berada di tempat yang banyak asap rokok seperti ini."Wihh Daniel udah bawa yang baru aja, mangsa baru bos?" tanya seorang pemuda kepada Daniel yang hanya tersenyum."Kak Daniel, aku belum izin sama ibu," ujar Vanya dengan pelan."Hmm ya udah izin dulu di telpon aja, mau pake handphone aku?" tanya Daniel."Nggak usah kak," ujar Vanya lalu menjauh dari situ untuk menghubungi ibunya."Halo Bu?"" ... ""Ehmm, Vanya izin pulang terlambat ya Bu"" ... ""Vanya ... Vanya ada kelas tambahan Bu," alibi Vanya." ... ""Iya Bu," panggilan itu terputus, dan Vanya menghela nafasnya lega sebab ibunya dapat percaya dengan perkataannya.***Dalam keadaan seperti ini mengharuskan Vanya untuk berbohong lagi kepada ibunya. Terjebak hujan di apartemen Daniel, dan kini mereka hanya berdua.Vanya disuguhi teh yang Daniel buat, dengan segera Vanya minum. Namun sehabis minum itu, kepalanya menjadi sangat pusing dan mengantuk alhasil ia tertidur di sofa itu.Pagi telah tiba, Vanya terkejut ia tidak berada di sofa tadi melainkan di kasur. Dengan cepat ia bergegas menuju rumahnya tanpa menemui Daniel dahulu.Kali ini ia berbohong pada ibunya kalau tadi malam ia menginap di rumah Vina.Dua bulan berlalu semenjak kejadian itu, kini Vanya sedang berada di rumah Vina."Eh Nya, lo lagi dapet gak?" tanya Vina dibalas gelengan oleh Vanya."Bukannya kita selalu bareng ya? Terus kok gue rada aneh sama lo, tadi pas olahraga tiba-tiba pala lo sakit terus muntah aneh banget, lo kenapa?" tanya Vina."Aku juga gak tau, dan gak cuma di sekolah tadi. Di rumah juga aku kek gitu Vin," ucap Vanya."Eh Vanya, dari semua keanehan lo yang gue ucapin tadi. Gue baru sadar itu tanda-tanda--"ujar Vina menggantungkan kalimatnya."Jangan bilang lo..?" sambung Vina menutup mulutnya tak percaya."Sebentar Nya," ujar Vina lalu berlari keluar kamarnya untuk mengambil sesuatu dan kembali lagi dengan barang yang bisa disebut testpack.Dengan segera Vanya mencoba alat itu, dan mereka berdua terkejut bukan main saat melihat hasilnya positif. Vanya menangis tersedu-sedu, dan Vina mencoba menenangkannya seraya meminta Vanya menceritakannya. Dan Vanya baru ingat detik-detik dirinya ternodai saat ia berada di apartemen Daniel. Ia pikir itu hanya mimpi.Vani membujuk Vanya agar segera bicara pada ibunya, namun Vanya menolak. Ia takut jika ibunya marah, semua yang ibunya lakukan untuk membiayai dirinya hanya sia-sia. Namun setelah di semangati oleh Vani, akhirnya Vanya mau memberitahu ibunya.Perasaan sang ibu setelah mendengar itu, kaget tentunya. Ia tak menyangka semuanya terjadi. Ia harus merelakan masa depan anaknya yang hancur akibat kelalaiannya.Dari sini Vanya mengerti, komunikasi antara orang tua dan anak memang penting, dan juga para wanita harus pandai menjaga dirinya dari pergaulan bebas diluar sana. Yang lebih penting lagi, Vanya pasti belajar dari kesalahan ibunya yaitu ia akan menghargai setiap kejujuran.[ E N D ]
Memoria : "Reminiscence"
Boston , Amerika Serikat , 14.39 PM .Kali ini gerimis turun menggantikan hujan. Kedua telinga yang tersumpal earphone yang volume musiknya disetting penuh, jelas saja membuatnya tuli akan keadaan di sekitarnya sore itu.Kameja kerja berwarna putih dengan rok span sepanjang setengah lutut tersebut agak sedikit basah akibat terkena air hujan yang turun tak terlalu kentara itu.Rimma Ernestella, itulah nama yang terpampang jelas di buku bigboss yang berada di genggaman tangannya.Gadis yang baru memasuki usia 22 tahun tersebut begitu lusuh. Rambut hitam bergelombangnya berkibar ditempur angin sore.Fuuh... waktu berlalu begitu cepat sehingga membuat cuaca yang tadinya gelap dan dingin malah berubah menjadi hangat akan kehadiran matahari yang tak lagi menyembunyikan diri di balik awan kegelapan.Rimma mengembuskan napasnya lelah.Tidakkah orang-orang yang berada nun jauh di seberang sana—yang tengah berlari-lari ria seusai bekerja maupun belajar seharian—lelah?Ah ... Ia tahu, begitulah dirinya dahulu. Ketika 'dia' dan dirinya melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh keempat anak SMA yang baru saja berlari melewatinya itu.Rimma lantas menoleh, melihat figur keempat siswa dan siswi itu dari belakang. Ingatannya mengalir dalam sekejap, mengingat momen lima tahun yang lalu ketika dirinya masih berada di bangku sekolah menengah atas, persis dengan keempat figur yang kian menjauh itu.Rimma tersenyum getir. Ia pun membalikkan tubuhnya ke depan dan kembali berjalan. Kenangan itu begitu pahit sehingga membuatnya tak bisa menghapus ingatan itu. Rimma mencoba tuk melupakan segalanya. Melupakan dia.Dia yang telah membuat garis takdirnya berubah.***"We were just kids when we fallin' love..."Lagu Perfect yang dibawakan oleh Ed Sheeran keluar dari bibir tipis itu. Earphone yang menempel di kedua cuping telinganya tengah memperdengarkan lagu yang barusan dinyanyikan dengan suara pelan itu.Matanya terpejam, menikmati alunan lagu yang sudah memasuki bagian-bagian akhir itu dengan tenang tanpa menghiraukan hiruk pikuk di sekitarnya.Diliriknya arloji yang sudah menunjukkan pukul 14.40 PM. Laki-laki itu kemudian beranjak dari bench untuk pulang. Hal tak disangka-sangkanya tiba-tiba terjadi.Tepat saat ia hendak membelokkan tubuhnya, matanya menangkap seorang berpakaian hitam yang ia duga perampok atau sejenisnya tengah melakukan aksi tarik-tarikan dengan seorang gadis berkameja putih.Ia, dengan segenap rasa malasnya pun mulai melangkahkan kakinya santai. Sang gadis berteriak kepadanya ketika tubuh mereka sejajar."Help me!" ujar sang gadis sembari menarik-narik tasnya.Langkah kaki laki-laki itu terhenti. Ia pun melepas earphonenya sebelah dengan gerakan malas, lalu memutar bola matanya jengah ke arah sang gadis.Lama ia terdiam. Sang gadis beserta sang perampok bahkan sudah melakukan beberapa aksi tarik-tarikan atau apalah itu."Help me now!" seru sang gadis lagi, tentunya dengan nada yang lebih ditinggikan sekitar satu oktaf."Are you deaf, huh?!"Lagi, sang gadis berteriak.Laki-laki itu masih pada tempatnya."Oh, gosh!" seru sang gadis.Sang laki-laki tetap diam.Ia meneleng di balik matanya dengan sebal. Abaikan atau bantu?Bantu.Abaikan.Bantu.Abaikan.Baiklah, abaikan saja.Ia langkahkan kakinya meninggalkan kedua penjahat dan calon korban itu.Namun belum beberapa langkah, teriakan-teriakan gadis itu membuatnya gagal berkonsentrasi."Noooo!!! Don't take my bag!""Don'ttt!!! Don't take my bag! Help!! Helpp!!! Hellpppp!!!!!""Shit." Alhasil, laki-laki itu mengumpat."Don't take my ba—"Get your dirty hands out of that bag right now!" teriak sang laki-laki seraya memutar tubuhnya ke belakang dan tangan kanannya menodongkan pistol ke arah sang penjahat.Kedua insan itu—gadis itu dan sang perampok—melotot."D-don't shoot me. O-okay, I'll let go," kata si perampok sembari mengangkat tangannya lalu pergi perlahan dan berlari sekencang-kencangnya.Sang gadis buru-buru merebut tas miliknya dan memeluknya dengan erat.Sementara sang laki-laki langsung menyatukan pistolnya ke dalam jaket kulitnya seraya memasang kembali earphone yang terlepas.Iapun kembali melangkah."H-hei," panggil sang gadis.Namun yang dipanggil tak menoleh."Thank you. What's your name, Sir?""Sir?" tanya laki-laki itu kaget dan membalikkan tubuhnya."O-ouh. So... then... I call you—" Kacau, bahasa Inggrisnya benar-benar kacau.Sang laki-laki mendelik sebal lalu kembali berjalan."By the way," kata sang gadis, Rimma, seraya menyejajarkan tubuhnya dengan laki-laki tak diketahui namanya itu."Are you... ehm... mahasiswa... apa ya bahasa Inggrisnya mahasiswa," gumamnya seraya mencoba berpikir keras."Ya. Gue mahasiswa."Sang gadis melotot."Lo orang Indonesia?!"Sang laki-laki mengatupkan bibir."Seriusan?!"Muak. Ia hembuskan napasnya pelan dengan penuh kesabaran."Iya... Gue. Orang. Indonesia!" Laki-laki itu menyeru, dengan tekanan di setiap katanya."Aah... asal mana? Kali aja kita sekota, maybe.""Jakarta.""Jakarta? Gue juga di sana. Dari gaya penampilan lo sih, gue tebak lo udah lulus strata satu?""Hm.""Gue juga. Rencananya mau lanjut S2 atau kerja? Kalo gue sih kerja. Ini lagi cari-cari. Makanya tadi gue takut banget tas gue dicuri orang, soalnya di dalem sana ada resume buat daftar kerja hehe. Bukannya apa sih, tapi gue susah editnya. Dan juga... ada benda penting di dalam sini yang nggak boleh ilang."Rimma mendadak sedih. Ekspresinya berubah suram. "Ada kenang-kenangan yang nggak boleh gue hilangkan. Kenang-kenangan dari orang yang gue sayang."Sang laki-laki menoleh sembari terhenti. Namun sedetik kemudian ia kembali melengos dan berjalan kembali."Hadish.""Eh?"Rimma sontak terkejut ketika laki-laki itu mengulurkan tangan ke arahnya."R-Rimma.""Lo LDR-an sama pemilik benda itu?" tanya Hadish."Enggak, kok."Ia coba tuk menatap laki-laki bernama Hadish itu dan menatapnya terang-terangan.Rimma pun memberhentikan kakinya. Yang sontak membuat Hadish ikut berhenti juga."Dia udah nggak ada." Sekilas, Rimma menggigit bibirnya, menahan tangis."Sorry.""Iya nggak papa."Saat Rimma menoleh dan Hadish menoleh, pandangan mereka bertemu. Dalam sepersekian detik, mata Rimma membelalak."A-A... Ajun..." sebutnya, terperangah.Hadish memiringkan kepalanya."Ajun. Lo Ajun, kan?!" seru Rimma sembari memegang lengan Hadish.Hadish melotot tak kentara"Ini gue Rimma, pacar lo, Jun!" lanjutnya dengan mata berkunang-kunang.Kenapa ia lupa? Kenapa ia tak sadar bahwa sedaritadi ia sedang mengobrol dengan Ajun?Hadish menarik tangannya risih."Nggak. Nggak mungkin, Rim. A-Ajun kan udah nggak ada..." gumam Rimma mencoba berpikir jernih."Ta-tapi lo persis...""Apa?" Laki-laki berwajah tampan dengan lesung pipi di kedua pipinya itu lantas menukikkan alisnya, bingung."Nggak, nggak. Sekarang, lo siapa? Lo siapa!!"***Hadish datang dengan membawa minuman isotonik lalu diletakkan di atas meja.Saat ini keduanya tengah berada di depan minimart."Dia kecelakaan dulu sama dua sahabat gue yang lain. Ineska sama Bayudha. Kebetulan gue nggak ikut karena lagi marahan sama Ajun." Rimma mulai bercerita."Kejadiannya waktu kelas dua SMA. Dia coba bujuk gue dengan segala cara supaya ikut dan maafin dia, tapi gue juga nolak dengan segala cara yang gue bisa." Rimma tersenyum getir."Akhirnya mereka berangkat tanpa gue.""Mau ke mana emang?""Ke Amerika, Ajun sama Ineska berhasil lolos olimpiade Matematika. Sementara Bayudha jadi supporter mereka.""Jadi kenapa lo marahan?""Karena Ajun sama Ineska deket banget.""Jadi lo orangnya posesif, ya?"Rimma menunduk."Gue juga nggak tahu. Hari itu bakal jadi hari terakhir gue ketemu sama mereka, dan juga Ajun." Rimma terisak."Jam 3 sore, gue dikabarin sama Mamanya Ineska kalo pesawat yang ditumpangi Ajun, Ineska sama Bayudha jatuh. Nggak ada yang selamat. Jujur, gue shock."Kali ini isakan Rimma semakin terdengar jelas. Hadish mencoba tersenyum seraya menepuk punggung Rimma dan berkata, "Nangis aja. Jangan ditahan."Tangis Rimma semakin menjadi."Mereka udah tenang, kok. Sekarang mereka minta doa lo."Ajun menarik kepala Rima tuk bersandar di dada bidangnya."Kalo lo ketemu Ajun, kata apa yang pertama kali lo pengen denger dari dia?"Rimma terisak, tapi kali ini sudah sedikit mereda."Gue pengen dia sebut nama lengkap gue," jawab Rimma sambil terisak."Really?"Rimma mengangguk, tak kentara."Rim."Rima menjauhkan telinganya dari dada bidang itu."Rimma Ernestella Frisandira.""Jun?" panggil Rimma sembari benar-benar menjauhkan kepalanya dari dada bidang Hadish.Hadish menatapnya dengan tatapan penuh arti."I miss you, Rimma.""Ajun, lo?""Yes. This is me."Rimma masih menunjukkan ekspresi tak percayanya."Tunggu... A-Ajun udah...""Gue masih hidup, Rim."Rimma membuka mulutnya, namun tak ada sepatah katapun yang mampu keluar."H-harusnya..."Hadish. Bukan, Ajun—tersenyum tulus."Cuma 5 orang yang berhasil selamat, Rim, termasuk gue. Sengaja nggak diberitakan karena—"Rimma segera memeluk tubuh laki-laki itu. Erat. Ia tenggelamkan wajahnya di balik dada yang terbalut kaos putih tersebut.Ajun tersenyum lagi."Lo ke mana aja, Ajun... Gue kangen sama lo..." lirih Rimma sembari menangis."Gue ngejalani terapi psikologis. Waktu itu mental gue nggak stabil banget setelah kecelakaan itu. Gue berada di dalam masa yang sangat terpuruk, Rim."Rima tak bersuara, hanya ada suara cegukan yang terdengar."Gue dibawa ke sini dalam keadaan sekarat. Dokter bilang gue nggak ada harapan lagi, tapi Ayah sama Bunda tetep pertahanin gue. Dan alhasil sekarang." Rimma tak bersuara"Rim?""Gue kangen wanginya Ajun."Ajun tersenyum. "Padahal lima tahun lalu gue mau bawa lo ke Ayah Bunda."Rimma masih menenggelamkan wajahnya."Udah lima tahun. Gue nggak mau kehilangan lo lagi, Jun.""Gue juga, Rim.""Kok lo tadi nggak ngenali gue sih?" tanya Rimma, tiba-tiba menarik wajahnya dari dada Ajun dan menatap laki-laki itu intens."Gue nggak kenal.""Apa?""Karena muka lo udah berubah, jadi makin cantik.""Jun, plis.""Haha. Serius, Rim. Kalo seandainya lo nggak sebut nama gue juga, gue nggak bakalan inget.""Terus pas udah tahu, lo pura-pura jutek dan nggak kenal gue?"Ajun tersenyum manis."Parah lo. Oh ya, kok lo tadi bawa pistol?" Dan sekarang, Rimma takut."Ini?" tanya Ajun sembari mengeluarka pistol tadi dari dalam saku dalaman jaketnya."Iya itu!""Ini mainan kok.""Dari mana gue bisa tahu itu mainan?"Ajun segera menarik pelatuknya, dan benar, sebuah kelereng kecil keluar. Tapi kalau kena badan juga bakalan sakit."Ih, childish.""Haha.""Lalu Hadish?""Lupa nama gue, Rim?""Oh iya. Hadish Rajendra.""Kan?""Iya, Jun, iya. Coba lihat." Rimma merogoh tasnta dan mengangkat sebuah gantungan berbentuk angka 8, infinity."Btw, ayo kita keliling Boston.""Ayo."Sore itu, Ajun dan Rimma berjalan, menelusuri sudut kota. Langit mulai berubah jingga dan kedua insan yang lama terpisah itupun akhirnya dipertemukan kembali di bawah naungan langit kota Boston.[ E N D ]
Jangan Sedih, Cha!
"Pokoknya Caca mau yang itu!" bentak Caca sontak membuat Dio geleng-geleng kepala, merasa pusing dengan tingkah Caca tersebut."Gabisa Ca, Bunda Rara ga bakal kasih izin lo pelihara kucing," sahut Dio membuat Caca mengkerucutkan bibirnya sebal, seraya berjalan mendekat pada kucing persia bewarna putih itu."Mau ini hiks," kata Caca terisak pelan.Dio tercegang, sedetik kemudian menatap mata Caca tajam."Ca, ayo pulang. Jangan ngada-ngada deh, lo nangis begini dikira gw yang nangisin tauk!" tukas Dio agak ketus.Caca menoleh, kakinya spontan malah menginjak sepatu Dio keras."Berisik! Dio jahat banget sih sama Caca," balas Caca menatap Dio tajam, seraya melangkah pergi dengan kaki yang terus-menerus bersuara."Buru, katanya mau pulang, gimana sih?" tanya Caca menarik lengan Dio paksa.Dio terkekeh, jemarinya dengan lihai menoyor kening Caca sekilas."Galak," balas Dio mendapat decihan pelan Caca padanya.Caca dan Dio adalah dua orang yang bersama sedari mereka kecil, Caca adalah seorang anak yatim piatu, yang dititipkan oleh seseorang _enam belas tahun_ lalu pada sebuah panti asuhan.Sedangkan Dio, keluarganya adalah donatur besar pada panti asuhan yang Caca tinggali tersebut."Ca, mau es krim nggak?" tawar Dio sedikit manis.Caca menggeleng cepat. "Maunya kucing," balas Caca terdengar singkat.Dio menghela nafasnya gusar, perlahan merangkul Caca spontan. "Nanti gw tanya Mami deh soal itu," kata Dio tersenyum.Caca menoleh, menatap Dio dengan sangat girangnya. "S-serius?" sahut Caca dengan raut wajahnya yang berbinar."Boong deh tapi," kekeh Dio memalingkan wajahnya puas."Dio ih!" marah Caca menepuk-nepuk pundak Dio kesal.*TRING TRING*Caca dan Dio tercegang, tatkala melihat sebuah mobil bewarna putih tengah mengklakson mereka saat ini dengan sangat kencangnya."Siapa sih," gumam Dio menarik Caca ke belakang tubuh miliknya."Dio!" panggil seseorang mendekat, Dio mengangkat wajahnya cepat, mendapati seseorang yang memiliki wajah familiar baginya."Loh, Arin?" gumam Dio menyipitkan matanya samar."Siapa Dio?" tanya Caca amat pelan.Dio tersenyum, menarik kembali tubuh Caca keluar. "Dia anak sahabatnya Mami, temen kecil gw Ca," sahut Dio nampak senang.Caca ber oh ria, belum sempat Caca ingin bertanya. Arin sudah lebih dulu memeluk Dio dengan sangat eratnya, menyisakan Caca yang terdiam diri karena tak mengenali seseorang bernama Arin itu."Dio, parah! Lo tinggi banget sekarang," tutur Arin memuji.Dio terkekeh. "Iya dong Rin, btw, lo sama siapa kesini?" tanya Dio nampak bingung."Sama Tante Intan, Mami lo." Arin berkata bangga, membuat Caca yang kini berada diantara mereka, merasa terkucilkan dan tidak sepantasnya berada pada situasi tersebut."Dio..," panggil Caca pelan.Dio menoleh, ketika mendapati Caca yang malah menunduk sayu, dirinya mendekat, berusaha menenangkan Caca dengan mengelus lembut punggung gadis tersebut."Kenapa Ca? Oh ya—ini Arin, Rin ini Caca sahabat gw," ungkap Dio berniat memperkenalkan satu sama lainnya."Oh, ya. Gw Arin, salam kenal," pungkas Arin tersenyum.Caca mendonggakan wajahnya sekilas, mendapati Arin yang tersenyum padanya, dengan sesegera mungkin juga ia membalasnya. "Caca," sahut Caca agak gemetar."Caca itu, yang anak yatim piatu ya? Yang pantinya selalu dikasih uang sama Tante Intan setiap bulannya," kata Arin blak-blakan.Dio menoleh cepat, begitu juga dengan Caca. Ketika mendapati Arin berbicara seperti itu pada Caca, Dio kini merasa sedikit kesal. "Arin, ga seharusnya lo ngomong kaya gitu," timpal Dio tak terima."Gapapa," sahut Caca disela-sela pembicaraan mereka. "Caca emang anak yatim piatu, gak punya Ayah dan Ibu kaya Dio dan Arin. Maaf ya, kayanya Caca salah ada diantara kalian sekarang," lanjut Caca menunduk, perlahan berbalik badan untuk segera berlari."Ca!" panggil Dio hendak menyusul, namun terhenti karena Arin telah mencekal pergelangan lengan Dio dengan sangat sigap."Apaan sih Dio, lo ga seneng ya gw kesini? Kenapa malah ngurusin orang lain sih," ketus Arin mengomel.Dio menggeleng lemah. "Gw bukan ga seneng Rin, tapi lo—udah keterlaluan sama Caca," balas Dio mendengus sebal."Dio, Arin. Ayo pulang Nak," teriak Intan yang berada didalam mobil.Arin tersenyum, spontan menarik lengan Dio cepat. "Ayo," ajak Arin sontak mendapat tepisan telak Dio padanya."Gw harus ngejar Caca sekarang, kita ketemu di rumah gw aja ya Rin, maaf," tutur Dio singkat, sukses membuat Arin yang tertinggal malah menganga lebar tak percaya.*"Caca!" teriak Dio memanggil-manggil nama Caca khawatir.Yang dipanggil selalu tak membalas, membuat Dio kini semakin ketakutan jika sampai terjadi sesuatu yang buruk pada Caca."S-sakit..," lirih seseorang terdengar parau.Dio terhenti berusaha fokus mendengarkan suara tersebut, perlahan ia berlari kencang, ketika tau bahwa Caca lah yang tengah kesakitan itu."Caca!" teriak Dio lagi terdengar lebih kencang.Caca menoleh, menatap Dio dengan tatapan sendunya. "Dio, hiks... Caca takut," isak Caca menangis lirih.Dio mendekat, memeriksa tubuh Caca yang kini terlihat sedikit terluka sekarang. "Ini kenapa Ca, ini juga, lo kenapa?" tanya Dio bertubi-tubi.Caca tersenyum. "Caca ditabrak sama Mobil tadi," tutur Caca menghela nafas jengah."Ha?! Mobil? Terus gimana, mana orangnya?" teriak Dio dengan sangat lantangnya."Udah pergi. Caca kabur waktu kejadian itu, Caca gamau ke rumah sakit Dio, takut disuntik sama dokter," sahut Caca malah terkekeh pelan.Dio agak tercegang, sesaat kemudian dia tersenyum, dengan jemarinya yang mulai memeluk tubuh mungil milik Caca erat."Jangan pergi lagi Ca, Dio janji bakal selalu ada buat Caca mulai hari ini," tutur Dio memejamkan matanya tulus.Caca terkekeh. "Mulai hari ini, berarti kemarin-kemarin Dio kemana aja?""Kemaren Cacanya galak, gw gamau berhadapan sama versi lo yang galak, serem soalnya Ca," balas Dio meledek."Makasih ya Dio. Caca juga sayang deh sama Dio, cuma kalo Dionya baik, kalo Dionya jahat Caca sukanya liat Dio tersakiti."Dio mendelik. "Sadis lo Ca!" tutur Dio geleng-geleng kepala.Keduanya kini tertawa bersama, Dio kembali mengajak Caca pulang bersama dengan cara menggendong tubuh Caca. Sedangkan reaksi Caca, kalian tau sendiri, Caca adalah orang yang selalu menerima rezeki, apalagi itu adalah tumpangan gratis dari Dio, tentu saja Caca mau."Jangan sedih, Cha!"Kata terakhir Dio, sebelum akhirnya mereka kembali melangkah untuk kembali pulang pada kenyataan yang sebenarnya.[ E N D ]
Mantan
"Sayang, tungguin dong!" teriak Kailendra dari belakang tubuh seorang gadis yang ia panggil sayang. Kanaya, gadis yang dipanggil sayang tersebut hanya memutar bola matanya malas.Kanaya menengok kebelakang," Sayang gundulmu! Ngintilin gue mulu kaya kuman. Jauh-jauh sana!" usir Kanaya semakin nemepercepat langkahnya.Beruntung saja SMA Nusantara sedang tidak ramai, karena ini masih pagi. Jadi, Kanaya tidak harus menanggung malu menanggapi kegesrekan Kevan.Namun, usaha Kanaya sia-sia karena Kevan dengan cepat mengejarnya dan merangkul pundak Kanaya dengan santai."Ish apasih lo?! Lepas ga! Lo sama gue itu cuma mantan, jadi gausah rangkul-rangkul gue segala!" sungut Kanaya berusaha melepaskan rangkulan Kevan. Namun Kevan malah memepererat rangkulannya."Makanya kita balikan yuk, baru deh gue bebas rangkul elo," ajak Kevan dengan senyum menggoda.Kanaya pun melotot mendengarnya, ia melepaskan rangkulan Kevan dipundaknya lalu menatap horor Kevan."Benerin otak dulu sana! Gue ga mau punya pacar stress kaya lo!" selesai mengucapkan itu, Kanaya langsung pergi meninggalkan Kevan sendiri."OKE, NANTI GUE KEBENGKEL NAY, BUAT BENERIN OTAK!" teriak Kevan yang masih terdengar ditelinga Kanaya. Salah apa Kanaya hingga mampu mempunyai mantan yang gesrek nya akut seperti itu.Pagi berikutnya, Kanaya bertemu lagi dengan si mantan berotak miring yang selalu mengganggunya. Sudah jadi mantan, masih ajah ganggu. Memang perlu dibasmi spesies mantan itu."Hallo mantan," sapa Kevan dengan cengirannya. Ia sudah berada tepat didepan Kanaya."Hallo juga setan," balas Kanaya dengan senyum sekilas lalu memunculkan wajah datarnya."Njir, gue ganteng gini dibilang setan," sahut Kevan dengan nada narsis."Van, mau gue ambilin kaca ga?" tanya Kanaya dengan nada sinis."Ga perlu Nay, gue udah ganteng maksimal, jadi ga perlu pake kaca untuk melihat kegantengan gue yang alami ini," cerocos Kevan dengan pedenya."Dih, pede banget lo! Sinting!" balas Kanaya."Gapapa deh gue dibilang sinting, tapi lo mau kan balikan sama gue?" tanya Kevan dengan alis yang dinaikkan menggoda Kanaya."Maap-maap ajah nih ya, gue masih suka yang waras dibanding yang sinting," balas Kanaya kesal menghadapi Kevan. Akhirnya Kanaya pergi meninggalkan Kevan."Lo ga takut gue diambil orang Nay? Lo udah ga perduli sama gue? Apa segitu besar luka yang udah gue ciptain buat lo Nay, sampe lo selalu nolak setiap gue ajak balikan,""Enggak. Gue udah ga perduli sama lo. Gue rasa, lo ga usah ganggu gue lagi Van. Kita udah mantan. Jadi tolong jangan bikin gue galmov karena lo deket-deket sama gue terus," balas Kanaya, lalu melanjutkan langkahnya."Tunggu gue Nay, pulang sekolah gue mau kebengkel lagi biar otak gue waras!" ucap Kevan sedikit menaikkan suaranya agar Kanaya bisa mendengar suaranya.Keesokannya, Kanaya pergi kesekolah dengan Ferdi, Ketua Osis Sma Nusantara. Dari dahulu, Ferdi memang menyukai Kanaya. Kenapa mereka bisa bersama? Karena Ferdi memaksa untuk menjemput Kanaya, Kanaya yang tidak enak pun akhirnya menerima ajakan Ferdi."Thanks," ucap Kanaya saat mereka sudah sampai disekolah."Sama-sama, yuk aku anter kamu kekelas," ajak Ferdi dan tanpa izin mengamit tangan Kanaya. Kanaya sudah mencoba untuk melepaskan tangannya, tapi Ferdi malah mengeratkan gengamannya. Alhasil Kanaya hanya bisa pasrah digandeng oleh Ferdi. Mereka pun berjalan dikoridor dengan tatapan aneh para penghuni sekolah.Dari kejauhan, Kevan melihat Kanaya dan Ferdi yang sedang berjalan dikoridor. Tiba-tiba Kevan terserang api cemburu yang begitu menyesakkan. Kevan yang sedang memegang sebuah minuman kaleng ditangannya pun meremas kuat hingga kaleng itu tak berbentuk dan menimbulkam bunyi yang keras. Setelahnya ia mengambil tasnya yang berada disampingnya. Ia berencana untuk bolos sekarang. Moodnya sedang tidak baik sekarang. Ia butuh pelampiasan.Saat istirahat, Kanaya dan teman-temannya sedang berada dikantin. Mereka sedang mengisi perutnya yang lapar."Kanaya! Kevan ngamuk Nay!" teriak Andi yang tiba-tiba datang entah darimana.Kanaya yang baru saja meminum jusnya langsung tersedak mendengar berita yang dibawa oleh Andi. Setelah selesai dengan acara tersedak Kanaya langsung menengok kearah Andi."Dimana?" tanya Kanaya dengan mimik wajah panik."Digedung belakang Nay, lu ikut gue deh sekarang!" ucap Andi yang langsung menarik tangan Kanaya. Kanaya pun hanya pasrah dibawa oleh Andi. Ia berharap semoga Kevan tidak terluka parah."Kevan stop!" teriak Kanaya saat melihat Kevan yang mulai kalap.Kevan hanya menengok sekilas kearahKanaya dengan tatapan dingin. Ia tetap terus memukul tembok didepannya sampai tangannya berdarah dan memar."Udah Kevan udah!" teriak Kanaya dengan air mata yang mulai merembes dari pipinya. Ia tak tega melihat tangan Kevan yang penuh darah. Selama ini ia bohong, ia perduli terhadap Kevan, ia sayang sama Kevan. Tapi ia hanya perlu menata hatinya untuk menerima Kevan kembali."Kenapa?! Kenapa lo perduli sama gue Nay?! Bahkan disaat gue sama lo enggak ada hubungan apa-apa. Kenapa Nay?! Gue sadar, gue emang bukan yang terbaik buat lo, gue mencoba untuk memahami luka lo, lewat cara ini Nay. Luka yang gue toreh udah terlalu banyak ke elo Nay," ucap Kevan yang semakin memelankan suaranya.Kanaya yang sudah tidak tahan pun segera memeluk Kevan dengan erat. Ia mencoba untuk membuat Kevan tenang. Ia mengelus-ngelus punggung tegap itu. Berharap agar Kevan tenang dan mulai menormalkan emosinya.Setelah dirasa nafas Kevan mulai teratur, Kanaya menangkup pipi Kevan. Menatap lekat mata yang selalu menjadi incaran banyak gadis disekolahnya."Kamu tau, aku ga pernah marah sama kamu. Aku ga pernah benci sama kamu Van. Aku cuma kecewa. Kecewa karena kamu lebih mentingin orang lain dibanding aku. Selama ini, aku masih sayang sama kamu, aku masih perduli sama kamu. Dua tahun bukan waktu yang pendek untuk ngelupain semuanya, aku cuma perlu waktu buat aku bisa menata dan menerima kamu seutuhnya," jelas Kanaya panjang, berharap Kevan mengerti ucapannya. Mereka berpisah karena Kevan yang lebih mementingkan sahabatnya Mega dibanding Kanaya. Karena kesal, Kanaya pun memutuskan Kevan. Dan berakhir seperyi ini, Kevan yang selalu mengejar Kanaya. Bahkan Kevan tak lagi bermain kerumah Mega karena Kanaya."Maaf," ucap Kevan lirih. Sementara Kanaya hanya tersenyum kecil."Aku mohon, jangan tinggalin aku Nay. Aku ga sanggup liat kamu sama cowok lain Nay. Jadi, will you comeback?" tanya Kecan seraya menggenggam kedua tangan Kanaya yang berada dipipinya.Kanaya menghela nafasnya, ia sadar bahwa ia bukan anak kecil lagi. Mungkin sekarang, saatnya ia menerima Kevan kembali dan menjalin kisah lama yang sempat tertunda."Iya Van. I'm comeback ," jawab Natasya dengan senyum manisnya.Kevan yang senang pun segera menarik Kanaya kepelukannya."Makasih," ucapnya.Dan akhirnya, Kanaya dan Kevan kembali marajut kisah lama yang sempat terputus dengan kisah baru. Mereka berharap, semoga kali ini kisahnya tak pernah ada kata putus sampai jenjang akhir.[ E N D ]
Jeda Cerita
Dia Qilla, lengkapnya Valerie Syaqilla. Cewek tomboy penyuka jengkol garis keras. Anak bapak Baim dan momi Paula. 'Badgirl' julukan yang dia dapat di sekolah, pasti dipikiran kalian sekarang menggambarkan sosok cewek dengan seragam ketat, rambut warna -warni kek anak ayam depan SD. Terus songong, seenaknya sendiri. Tapi Qila jauh dari semua itu, baju yang dia kenakan gak ketat gak kebesaran, pas dan nyaman. Rambutnya warna hitam lumayan lebat yang selalu dia kuncir asal menggunakan jarinya. Terus kalo di sekolah dia juga diem terkesan dingin. Tapi itu sama yang gak dikenal sih, kalo sama yang dikenal mah keluar sifat aslinya.Jail, petakilan, banyaklah pokoknya. Kata Qila sih gini 'Sifatku tergantung fikiranmu' azekkkk.Karena gini, disaat kita berbuat baik tapi difikiran orang lain kita terkesan sok baik, terus bisa apa? sama aja, disaat kita berbuat suatu 'kejahatan' dan langsung dipandang hina, tanpa tau sebabnya kita bisa apa? tau memang gak ada api kalo gak ada asap. Tapi fikiran orang kan mana tau? Paham 'kan? kalo gak paham yaudah, dadah.Qilla punya satu orang sahabat teman-teman, dia Cavan Hadrian. Anak dari bapak Rey dan ibu Dinda. Sahabat Qilla dari kelas 1 Sd sampai sekarang kelas 11. Hadrian itu gans parah, Qilla akui itu tapi jangan bilang doi kalo Qilla bilang ganteng. Entar gede palanya bahaya. Sifatnya kalem, tenang, murah senyum.Softboy-softboy gitulah dia (mohon maaf kalo salah tulisanya ye), hampir semua cewek disekolah kelepek-klepek kalo depan dia. Dia itu kalo sama Qilla, perhatian sama manjanya masya allah. Suka jail tapi gagal karna selalu balik dia yang dijailin.Hadrian itu penyuka daging, gak bisa makan kalo gak ada daging. Udah gitu aja jangan banyak banyak. Mottonya gini 'Hidupku ya sakarep-ku."Tak jarang banyak yang mengira bahwa mereka itu sepasang ayang beb, padahal mah cuma sahabat. Masa kalo cewek-cowok 'selalu bareng' dikira pacaran. Malah mereka mendapatkan banyak julukan zone dari temen-temen mereka. Dari friendzone, adikkakakzone, itu zone, anu zone, banyaklah pokoknya.Tapi bener sih emang, kebanyakan cewek sama cowok kalo sahabatan itu akan menimbulkan sebuah rasa, asek kek judul lagu. Kalo gak si cowok yang suka duluan ya si cewek. Terus melabui rasa itu dengan sebutan 'Kita Sahabat' hilihh gede gengsi. Bener gak sih? meski mereka sama-sama ada rasa tapi gengsi ngungkapinnya, takut ngerusak 'persahabatan' mereka terus akhirnya dipendem sendiri. Buset sok tau saya.Hadrian memasuki rumah sederhana milik Qilla, sore-sore gini emang enak kalo gangguin sahabatnya itu."Assalamualaikum," salamnya lalu menutup pintu.Cowok tampan itu berjalan menuju dapur,"Assalamualaikum, bun." Hadrian menyalami bunda Qilla yang sedang berkutat di dapur."Waalaikumusalam, eh kamu!" jawab bunda yang nampaknya sedikit terkejut."Serius amat bun, aku dateng sampek gak tau." ucap Hadrian sambil mencomot kue yang dibuat bunda."Biasa bunda lagi nyobain resep baru, gimana enak gak?" Hadrian merespon dengan menunjukan kedua jempolnya, pertanda enak.Bunda tersenyum dan mengacak rambut Hadrian gemas."Yaudah sana ke Qilla, habis entar kuenya kamu cemilin terus," ucap bunda bercanda.Hadrian mengecup pipi bunda lalu tanganya kembali mencomot kue dan langsung melesat sebelum diomelin bunda.Saat udah didepan kamar Qilla, Hadrian membuka pintu dan melihat sang empu sedang terlentang sambil membaca buku dikasurnya.Hadrian menempatkan diri duduk disamping Qilla yang terlentang dengan satu tangan ke atas membawa novel yang sedang dibacanya."Baca yang bener!" ucapnya setelah menyenggol tangan Qilla yang sedang membawa novel, alhasil novel itu jatuh mengenai wajah Qilla.Qilla berdecak sebal lalu memindahkan kepalanya pada pangkuan Hadrian dan kembali membaca. Sedangkan Hadrian terkekeh melihat ekspresi Qilla.Ingat kalo dia membawa kue coklat yang dia ambil tadi, lalu dia menyuapkannya pada Qilla. Sedangkan Qilla menerima dengan senang hati.***Bel pulang sekolah berbunyi dengan nyaring, sorak gembira memenuhi koridor sekolah. Akhirnya mereka bisa bebas dari segala macam materi yang bikin otak nyut-nyutan.Qilla keluar kelas dengan Hadrian dibelakangnya yang sedang mendorong kedua bahunya."Sya," ucap Hadrian yang sekarang merangkul leher Qilla."Hmm," jawab Qilla acuh."Besok jam 6.""Ogah, sekejul gua padet!""Gaya lo!""Bodo amat.""Terserah, pokoknya jam 6 lo harus siap. Kalo gua dateng lo belom siap, gua seret lo!""Gua teriaklah!""Gak ngurus lah!""Ck, kemana sih? weekend-weekend tuh waktunya santaii... tidur... mimpi indah... bisa rebahan sepuasnya... gagal rencana gua gara-gara lu!""Entar juga tau,""Cih, sok misterius."Entah kenapa, Hadrian jadi rada aneh. Biasanya kalo mau kemana gitu dia pasti bilang tempatnya. Kalo weekend juga jarang ngajakin keluar, pasti dia yang kerumah mengganggu sleeping beauty Qilla, setelah itu seharian kita bermain perminan konyol, abis itu curhat-curhat, eksperimen buat sesuatu yang endingnya dimarahin bunda soalnya rumah jadi kek kapal pecah.Hmmm... Qilla jadi penasaran.Esoknya Hadrian beneran ke rumah Qilla, Qilla yang masih tidur langsung diseret paksa ke kamar mandi, gak berperasaan emang. Karna tidak mendengar gemricik air, Hadrian inisiatif membuka pintu kamu. Benar saja, dengan kurang ajarnya Qilla malah melanjutkan tidurnya diatas kloset.Dengan santai Hadrian mengambil air segayung dan menyiramkan diatas kepala Qilla dengan muka lempeng. Sontak Qilla membuka matanya terkejut, mulutnya yang hendak mengomel urung setelah mendengar ucapan Hedrian."Cepet mandi, lima menit belom selesai gua yang mandiin."Mendelik, Qilla lansung mendorong Hadrian keluar. Masalahnya Hadrian kalo ngomong gak main-main.Sekarang mereka sudah berada di taman, yap Hadrian membawa Qilla ke taman saat weekend yang otomatis rame banyak orang pacaran. Pagi-pagi udah sepet mata Qilla."Sya," ucap Hadrian di sela keheningan."Apa?!" jawab Qilla sewot, abisnya tadi dia diseret dipaksa ikut lari. Mana nariknya gak ada lembut-lembutnya lagi.Eh iya, for your information gaes. Hadrian kalo manggil Qilla itu 'Syasa' sedangkan Qilla kalo manggil Hadrian itu 'Afan'. Itu panggilan kesayangan mereka sih."Kok sewot.""Habisnya lo, bikin kesel.""Lo kalo gak di gituin gak gerak.""Ya ... bisa pakek cara halus 'kan? gak usah diseret-seret kek gitu! berasa kambing gua.""Emang nurut?""Nggaklah!""Dasar,"Hadrian terkekeh mendengar jawaban sahabatnya itu, jadi makin-makin cinta deh. Abis nge-gemesin dia tuh. Eh?!Hadrian menghembuskan nafas sebelum melanjutkan ucapannya, " Pendapat lo tentang 'LDR' gimana, Sya?" tanyanya tiba-tiba."Lah, kesambet apaan lu nanya begituan?" Qilla terkekeh mendengar pertanyaan yang menurutnya konyol jika Hadrian yang ucap."Tanya aja," jawab Hadrian santai."Hemm... menurut gua ya Fan, LDR itu susah-susah gampang." Qilla menatap langit seperti menerawang."Disaat dua insan yang saling mencintai terpisah oleh jarak, tempat dan waktu... mereka yang awalnya bersama menjadi berjarak.""Peresentase nya ni ya, fifty-fifty. Seimbang gitu, masalahnya LDR gak segampang itu. Kita harus memberikan kepercayaan sama pasangan, kalo gak bisa percaya ya bakal nimbul pikiran-pikiran negatif yang berimbas pada hubungan. Sebaliknya kepercayaan yang dikasih juga harus dijaga. Kalo percaya pasti jujur, terus sama komunikasi sih. Kalo mereka yang bisa mengerti itu sih gampang aja, tapi gak tau yang gak bisa.""Mereka yang berhasil dalam LDR itu karna punya 'kepercayaan' yang kuat, dan mereka yang gagal itu yang tidak mempu menahan kesabaran, kepercayaan dan kerinduan. Gitu sih menurut gua, gua gak seberapa paham soalnya belom ngalamin sendiri." Hadrian mengangguk mendengar pendapat Qilla. Dia paling seneng melihat Qilla yang banyak bicara seperti ini, perempuan itu terlihat semakin... cantik?"Menurut lo, saat mengalami LDR itu lo di pihak gagal atau berhasil?" celetuk Hadrian tanpa mengalihkan tatapan dari wajah ayu Qilla yang terpapar sinar matahari."Kalo gua... gua gak tau," jawab Qilla pelan."Percaya gak, kalo rasa sayang untuk sahabat ini berubah jadi rasa cinta," ucap Hadrian lembut."Hmm?" Qilla spontan menoleh,Untuk sesaat tatapan mereks terkunci, Hadrian mendekatkan wajahnya."Mau tau rahasia nggak?" wajah mereka hanya berjarak satu dengkal."Apa?""I love you, Valerie Syaqilla." bisik Hadrian ditelinga Qilla.Qilla menerjapkan matanya, tadi Hadrian bilang apa? Qilla sedikit terkejut, asli.Hadrian menjauhkan kembali wajah nya, "Besok gua pergi ke Aussie, nyokap sakit. Dan kayaknya gua... agak lama disana."What?!Ni bocah ngeselin ya,Tadi bilang cinta, sekarang pamit mau pergi."Jadi karna ini lo basa-basi tentang LDR." Qilla terkekeh."Apa kita bisa dalam pihak LDR yang berhasil, Sya?"Qilla diam tak merespon, dia masih bingung dengan perasaanya. Dan keadaan kembali hening."Huhh..." Qilla menghembuskan nafas panjang."Gue masih gak tau Fan, lo pinter banget kalo ngomong dadakan. Ya sih gua juga punya persaan yang sama kayak lo. Tapi ... gua ragu. 10 tahun lebih kita bareng dan mesti pisah kek gini. Gua gak bakal ngelarang kepergian lo, tapi kenapa gua gak rela? menurut gue ... biar waktu yang jawab. Karna kita gak tau kedepannya gimana. Dan ... see you. "Qilla tidak tahu jawabanya karna ini sebuah jeda dari cerita mereka. Kepergian Hadrian adalah sebuah jeda. Bukan akhir, ini baru awalan dan cerita mereka akan dimulai dari sekarang. Kita tidak tau apakah nanti akhir cerita mereka akan bersama kembali atau tidak. Karna kita boleh berekspetasi, namun jangan lupakan takdir.[ E N D ]
Hujan & Bintang
Malam semakin larut, disertai dengan hawa dingin angin malam yang kian menusuk kulit, tak ada bulan dan bintang yang menyinari langit malam hanya ada awan hujan yang sewaktu waktu akan menumpahkan tangisnya kebumi."Hujannya sebentar lagi turun," ucapku menatap langit mendung yang banyak menyimpan kenangan disetiap rintik hujannya, jika semua orang banyak membenci hujan tidak dengan Arcel Dirgantara gadis penyuka hujan ini akan selalu menunggu hujan meski dirinya sering mengeluh tapi rasa suka terhadap hujan tak menyurutkan semangatnya. Hingga hujan yang ia tunggu datang membuyarkan lamunanku dan sebaliknya rasa kantukku yang kian memberatkan mata."Selamat pagi Anak anak, siapkan kertas dan alat tulis yang diperlukan dan masukkan semua buku kita akan ulangan materi minggu lalu," titah bu Erika. Seketika semua siswa kalang kabut mendengar kata ulangan mendadak dari guru fisikaku.Sampai ketukan pintu kelas mengalihkan fokus siswa, bu Erika segera melihat siapa gerangan yang mencarinya. Cukup lama Bu Erika berada diluar kelas, entah apa yang mereka bicarakan sepertinya sangat penting, hingga Bu Erika datang bersama seorang siswa yang aku tak tau siapa siswa itu."Anak anak kita kedatangan teman baru pindahan dari Bandung, silakan perkenalan diri," ucap Bu Erika. Seisi kelas menjadi riuh, apalagi siswi perempuan, mereka terus saja berbisik bisik membuat kelas semakin tidak kondusif, aku hanya berdecak sebal karena mereka diriku tak fokus pada soal yang ada dihadapanku."Seganteng apasih dia, paling kalo emang ganteng, tajir, udah fiks playboy dah lah bodo amat," gumamku acuh.Selang beberapa detik, "Perkenalan nama saya Yudha Mega pindahan dari Bandung," ucapnya dengan senyum khasnya. Saat itu puka suasana kelas yang sudah tak terkontrol menambah semakin kacau."Arcel.. Cel woi coba liat, dia ganteng banget," ujar Anya teman sebangkuku sambil berdecak kagum pada siswa baru itu."Terserah kamu," ucapku memberikan sedikit senyum tipis, sambil terus berfokus pada lembar jawaban."Arcel liat itu cel nanti kamu nyesel," ujar Melly dengan muka tak sabaran untuk menyampaikan sesuatu, ia merebut paksa lembar jawaban yang tengah ku isi."Jangan gini dong, itu ulangan yang harus dikerjain ah, kamu mah," tanpa sengaja manik mataku bertemu dengan manik mata milik siswa itu.Jam istirahat kehabiskan hanya diperpustakaan meski perutku terus berbunyi tak mengurangi tekadku untuk menghabiskan bacaanku, sampai seorang siswa berdiri dihadapanku, aku mendongkah tuk melihat siapa siswa tersebut dan benar saja itu Yudha dengan senyum ramahnya."Boleh duduk disini?" tanyanya."Boleh," ucapku canggung. Tak ada obrolan sedikit pun kecanggungan terasa sangat pekat diantara kami. Sampai Yudha-lah yang membuka obrolan."Mm btw kamu suka hujan ya?" tanyanya sambil melirik buku novel yang ku baca."Iya suka, emang kenapa?""Enggak papa, heran aja sih kebanyakan orang suka hal hal yang lagi populer," jelasnya pada ku."Karena setiap berbeda, jadi jika kamu nanya kenapa aku suka hujan. Karena hujan bagiku, ia selalu membawa kenangan disetiap hal yang kita alami, selain itu juga hujan sangat penting kalo ga hujan bisa kekeringan jadi menurutku hujan itu penting," ucapku panjang lebar pada Yudha."Btw kamu suka hal yang berbau astronomi?" tanyaku pada Yudha yang membawa buku astonomi dan tata surya."Owh ini?, iya aku suka hal yang berbau astonomi apalagi bintang, cahaya pijarnya menyatakan bahwa banyak hal yang terjadi di atas langit sana yang belum diketahui semua orang awam termasuk aku hehe," ucapnya sambil tertawa.Semenjak kejadian diperpustakaan hubungan pertemanan ku dengan Yudha sudah hampir 6 bulan. Aku dan Yudha semakin akrab, dugaanku tentang dirinya seorang playboy salah besar ternyata dia orang yang humoris, perhatian dan suka melawak terkadang lawakannya terdengar jayus haha lucu sekali dia saat menampilkan tinggkah imutnya, tetapi akhir akhir ini ia terlihat sedikit menjauh entahlah ini perasaanku saja atau bukan.Dan selama 6 bulan ini pula, Cellina menatapku dengan tatapan membenci, aku tak tau apa ada masalah diantara kami atau tidak, dia seperti muak melihatku tapi aku tak terlalu mananggapinya mungkin saja ia salah paham.Siang ini adalah persiapan camping yang diadakan pihak Osis, semua siswa dipulangkan lebih awal untuk menyiapkan keperluan camping. Saat aku berjalan dikoridor, tanpa sengaja aku melihat Yudha tengah mengobrol dengan Vio, aku mendengar beberapa percakapan mereka yang seperti menyebutkan namaku hal tersebut membuat ku penasaran."Yud, lo kayaknya makin hari makin deket sma cel itu, lo suka sma dia?""Hah, mana mungkin gue suka sama dia, gue hanya nganggap dia temen aja ga lebih, lagian dia bukan tipe gue," seperti petir menyambar disiang hari, air mataku langsung jatuh tanpa ijin, sakit memang sangat sakit aku berlari meninggalkan sekolah setelah mendengar hal tersebut.Camping berjalan dengan penuh canda tawa dan kebahagiaan dari semua siswa tapi tidak denganku, pikiran ku terus berkecamuk mendengar pernyataan Yudha siang itu. Aku duduk didepan tenda sambil menatap langit tanpa sadar air mataku kembali jatuh. Seseorang memberiku saput tangannya dan segera ku ambil tanpa melihat yang memberinya."Kamu kenapa nangis?" tanyanya padaku."Aku tak papa" alibiku terus menunduk."Hey, liat aku kamu kanapa? Cerita sama aku Arcel," ucap Yudha mengguncang bahuku."Aku tau kamu denger percakapanku dengan Vio siang tadi tapi itu terjadi secara kebetulan," lanjutnya."Ah.. mm a-aku ngga denger apa," alibiku."Denger aku dulu Arcel""Ngga ada yang perlu dijelaskan lagi kok hehe aku tau semuanya jika kamu butuh bantuan aku akan membantumu," ucapku tersenyum tapi air mataku terus jatuh. Yudha menghapus jejak air mataku."Arcel jangan nangis lagi aku sakit liat kamu nangis, kamu salah paham yang aku bicarain itu bukan kamu tapi Cellina, aku tau dia suka aku, tapi aku takut kamu bakalan disakitin sama Cellina makanya aku menjauh untuk sementara agar Cellina tak menyakitimu, dan aku ga suka sama Cellina yang aku suka sekarang ada didepanku," ucapnya tersenyum sambil memelukku dan aku tak menolak pelukan hangatnya."Arcel kamu mau jadi pacarku?" Tanyanya padaku yang masih menangis dipelukannya sesekali ia mengusap lembut rambutku untuk menyalurkan sedikit energi, aku hanya mengangguk sebagai jawaban.Dibawah Bintang dan Rembulan merekalah yang menjadi saksi bisuku dan Yudha.[ E N D ]
Belajar Kelompok Persiapan Presentasi
Hari ini, ada sekitar 4 orang remaja yang sedang mendiskusikan sesuatu untuk sebuah masalah yang sedang mereka berempat hadapi.Mereka berempat adalah Erlang, Rafa, Bintang, dan Bulan. Dilihat dari ekspresi keempatnya, sepertinya mereka sedang benar-benar mendiskusikan sebuah masalah yang lumayan rumit untuk dipecahkan.Ada juga beberapa dari mereka yang sempat beradu argumen satu sama lain karena perbedaan pendapat, namun salah satu diantara mereka pun melerai keduanya yang sedang beradu argumen."Jika kita menggunakan susunan kalimat tersebut dalam presentasi nanti, itu tidak akan terlihat atau kelihatan 'Wow '," ujar Rafa berujar dengan serius.Ck.Terdengar sebuah decakan dari bibir Bulan, karena sudah jengah dengan semua alasan yang diberikan oleh cowok yang bernama Rafa itu. Kesabarannya sudah benar-benar habis."Rafa, kita sudah mendiskusikan untuk menggunakan beberapa kalimat yang pantas untuk presentasi besok, tapi pilihan beberapa kalimat yang kami ajukan seakan semuanya tidak pas di pemikiranmu." Bulan pun mengeluarkan semua unek-unek yang sedari tadi ia tahan."Benar apa yang dikatakan Bulan, Rafa! Sekarang gue mau nanya sama lo? Lo mau apa sekarang? Sekarang mau lo apa? Karena presentasinya tinggal besok," timpal Erlang."Hm, bukan begitu maksud gue teman-teman. Tapi gue ada keinginan di presentasi kita kali ini, kita menggunakan bahasa atau kalimat yang benar-benar berbeda dari yang lain," jawab Rafa.Bintang, si gadis pendiam itu pun akhirnya angkat suara. "Kalau seperti ini terus, masalah ini tidak akan selesai-selesai," ujarnya."Oke! Gue ada solusinya." Erlang, Rafa, Bulan pun sontak mengalihkan pandangannya kepada Bintang sepenuhnya, si gadis pendiam."Apa?" tanya mereka serempak.Bintang menghela napasnya sebelum benar-benar kembali membuka suaranya."Jadi, beberapa pilihan kalimat tadi kita gabung jadi satu, terus kita ambil kalimat yang penting-penting aja gimana? Setuju?" tanya Bintang.Mereka bertiga diam sejenak. Mereka berpikir, kenapa sedari tadi mereka tidak berpikir sampai kesitu ya. Wah! Gadis pendiam seperti Bintang, sekali mengeluarkan pendapatnya selalu tepat sasaran dan memberikan solusi."Oke! Kita setujuuu!" jawab mereka bertiga kompak.Setelah mendapatkan solusi dari Bintang, mereka ber-empat pun kembali akhirnya mereka pun menyusun beberapa gabungan kalimat tadi dan diambil yang penting-penting saja, kemudian kalimat yang penting-penting itu pun mereka susun agar menjadi kalimat yang baik dan bagus.Setelah selesai dengan gaya kalimatnya, sekarang giliran mereka ber-empat untuk melakukan pembagian tugas dalam presentasi."Jadi sekarang, kita membutuhkan penanggung jawab, moderator, dan Narasumber 1 dan 2," kata Bintang."Siapa yang mau jadi moderator?" tanya Erlang."Gue aja." Bulan pun mengajukan diri."Narasumber 1?" tanya Erlang lagi."Gue." Bintang pun menimpali."Narasumber dua?" tanya Erlang lagi."Gue." Rafa pun menimpali."Oke, jadi gue yang jadi penanggung jawabnya,""Terus, bahan materi apa yang akan kita sampaikan dalam presentasi? Kan temanya kepenulisan, jadi kita harus ngambil bahan materi sesuai tema." Rafa pun berkata."Hm, gimana kalau kita membawakan bahan materi dengan judul 'Dialog Tag'?" usul Bulan."Oke," jawab mereka serempak.Setelah menentukan semuanya, mereka pun menyusun sedikit demi sedikit bahan materi mereka. Semuanya nampak bekerja sama, tidak ada yang bersantai-santai diantara mereka. Semuanya terlibat dalam presentasi ini.Setelah semuanya selesai, mereka pun akhirnya memutuskan untuk berbincang-bincang, karena hari ternyata masih siang."Guys, gue mau nanya dong!" seru Bulan."Apa?" tanya Rafa mewakili yang lain."Diantara kalian ada yang suka nulis sama baca nggak?" tanya Bulan."Gue suka," jawab Erlang dan Bintang bersamaan."Kalau lo, Raf?" tanya Bulan."Kalau gue lebih suka main basket, karena itu menjadi sebuah hobi tersendiri buat gue, kalau lo sendiri?""Kalau gue lebih suka nge-batik sih," jawab Bulan."Eh iya, lo sama Erlang kenapa bisa suka nulis dan baca?" tanya Rafa penasaran."Kalau gue pribadi sih, gue dari kecil udah suka nulis sama baca, kalau lagi ada waktu luang, gue suka nulis atau baca, kadang kalo gue lagi bingung mau ngapain, gue suka nulis puisi, quotes, cerpen, atau apapun itu, terus semua buku gue baca, termasuk buku pelajaran sih," jawab Bintang."Kalau gue sendiri sih, gue suka nulis itu karena gue kalau lagi marah atau kesel, gue selalu melampiaskan semuanya sama buku, gue nulis apa aja yang penting rasa marah atau kesel gue ilang. Kalo masalah gue suka baca itu, karena emang gue suka baca dari kecil, jadi gue suka baca buku apapun itu dari kecil," timpal Erlang."Kalau lo sendiri? Kenapa bisa suka banget sama basket?" tanya Bintang."Karena, dari kecil gue selalu dilatih untuk terus bisa menguasai yang namanya permainan basket. Gue disuruh orang tua gue, awalnya gue nolak, tapi semakin kesini, akhirnya gue jadi suka basket dan gue menjadikan basket sebagai hobi gue," kata Rafa."Kalau lo sendiri, Bul? Kenapa bisa suka ama nge-batik?" tanya Erlang."Dulu itu Mama gue suka banget nge-batik, sampai gue penasaran, kenapa mama gue bisa buat batik dengan mudah. Akhirnya gue minta mama gue buat ajarin gue nge-batik, awalnya sih susah banget, tapi gue terus nyoba hingga akhirnya bisa ngehasilin satu batik. Terus gue ingin buat batik terus, ya jadinya itu menjadi hobi gue sekarang," kata Bulan.Wah! Ternyata itu alasan mereka menyukai hobi yang mereka suka.Tak terasa mereka sudah berbincang-bincang banyak hal, dan akhirnya mereka memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing dan akan bertemu esok hari.[ E N D ]
Penghujung Kata
Hingar bingar dentingkan suara- suara tak beraturan menghantam gendang telinga tanpa aba-aba, rasanya jika aku sudah kehilangan kewarasan mungkin yang ku lakukan sekarang adalah berjalan mengelilingi kelas dan mengetok satu persatu kepala teman-temanku yang umpati handphone sedemikian rupa, menjerit hampir seperti orang gila hanya karena game online yang tidak membuat kepintaran bertambah.Dan jangan lupa sekempulan cowok berseragam putih abu yang kegerahan sibuk memukul kaca jendela agar pecah, mereka selalu ingin menjadi trending topik sekolah. Jujur aku kesal sekali Saat ini, tapi malas juga untuk membuat masalah karena eksistensi ku tidak lebih seperti butiran pasir di padang gurun, aku pendiam, dan hanya miliki, mungkin satu teman yang benar-benar bisa kusebut teman, padahal jumlah seluruh siswa di sekolah ini hampir lima ribuan.Aku bukannya tidak mau berteman tapi agaknya semua orang enggan duluan untuk mengajak berteman karena banyak yang bilang aku itu bau badan. Entahlah siapa yang membuat rumor seperti itu.Rasanya aku tidak dianggap ada entah itu di kelas atau se-SMA. Aku hanya segelintir dari jutaan orang bernama yang seolah tidak pernah dianggap ada, entah dari mana hukum good looking itu ada membuat orang-orang sepertiku hanya dianggap seperti barang gagal yang tercipta.Sulit mendapat teman setia, sulit mendapat eksintensi di depan semuanya. Aku menghela nafas pelan kenapa juga aku memusingkan hal semacam itu buang-buang waktu saja, aku memilih melanjutkan mencacat meski fokus sulit sekali terjaga."Weii, lo yang lagi nyetet."Mungkin aku perlu memasang name tag sebesar papan tulis agar mereka bisa tahu namaku. Aku bahkan tidak habis pikir sebenarnya apa yang mereka tahu dariku jika selama satu tahun ini mereka tidak bisa menyebutkan satu kata lima huruf yang kelewat singkat itu, dan aku tidak perlu repot-repot menoleh atau menjawab panggilan tadi lagi pula mereka hanya ingin membuat guyonan dengan cara merendahkan orang lain.Asap rokok, dari bangku paling belakang membuat ruangan kelas penuh dengan aroma nikotin, kadang aku heran teman-temanku yang kelewat brandal apa guru-guru yang tidak andal. Ah entahlah.Jika semenit aku bisa tenang diruangan kelas itu adalah sebuah kemustahilan, jelas sekali karena baru saja aku ingin kembali fokus dentingan kaca-kaca jendela yang dipukul sudah mendengung nyaring di gendang telingaku, lengkingan suara gadis-gadis kurang kerjaan di sudut kelas dengan berbagai macam pembicaraan, gosip misalnya, seolah masa depan bukanlah hal yang perlu dipikirkan.Aku memilih untuk beranjak dari bangku kayu yang segala sisinya penuh dengan karya coretan tipe x. Aku lapar, tapi tujuan ku bukan kantin bukan karena aku tidak membawa uang jajan, aku lebih memilih menyimpannya untuk hal yang lebih ku butuhkan. Lagi pula mengganjal perut dengan roti hijau penuh coklat harga seribuan dengan botol air mineral yang ku bawa dari rumah juga sudah sangat membuat perut kenyang.Aku duduk didepan kelas, suara bising tidak terlalu memekakakn telinga disini, dan lagi aku tidak ingin tersedak roti dan berakhir jadi bahan tertawaan seisi kelas. Itu pernah terjadi, aku bahkan tidak hanya tersedak bukannya malah membaik saat meminum air mineral aku malah memuntahkan makanan yang sudah bersemayam semalaman diperut dan mengotori lantai kelas, ah memalukan sekali."Assalamu'alaikum, Put. Mau aku temenin gak?"Roti yang hampir ku gigit kutarik kembali lantas aku mengangguk dan tersenyum, Ah aku hampir lupa bahwa masih ada orang yang begitu baik, namamya Mentari. Gadis berhijab lebar dan dia satu dari orang yang kusebut teman dia juga teman sekelasku."Waalaikumussalam," jawabku ketika Tari sudah duduk tepat disebelahku."Besok kamu ikut kemah akbar, gak?"Aku sedang mengunyah saat Tari bertanya cepat-cepat aku menelan roti sebelum berkata, "Ah mungkin gak deh, lagian biayanya mahal." Sebenarnya aku punya uang dan itu mencukupi untuk ikut kemah besok, jika aku pikir lagi uang 250 ribu itu mending ku gunakan untuk membeli beras.Walaupun aku harus tertinggal acara tahunan yang katanya sangat menyenangkan. Kemah juga diadakan tiga hari pasti menguras banyak tenaga sedangkan aku mudah sekali merasa lelah, nanti malah menyusahkan.Tari mengangguk mengerti, ia berkata lagi setelah aku menghabiskan rotiku."Kalau kamu mau ikut, gak apa-apa nanti aku bantu bayar, gimana?" Tari terlihat begitu berharap aku pergi tapi entah kenapa perasaanku tidak enak yah. Beberapa saat aku hanya terdiam sampai Tari kembali mengulang perkataan yang sama membuatku hanya bisa mengangguk patah-patah, ini titik dimana aku ingin mengutuk ketidak singkronan otak dan hatiku, otakku memikirkan bagaimana keadaanku nantinya sedangkan hati tidak ingin melewatkan acara tahunan.Malam harinya setelah memberanikan diri untuk memberitahu Ibu, aku menyiapkan barang dan baju yang nanti aku butuhkan saat berkemah nanti, mungkin kegiatan berkemasku agak berisik sampai membangunkan adik kecilku yang baru menginjak empat tahun."Kak Putli ngapain," ucapnya sembari mengusak matanya perlahan, ia bahkan masih memejamkan mata saat mendekat kearahku."Lagi lipat baju, Nara keganggu yah?" Aku terkekeh saat Nara mengangguk pelan lalu memelukku dengan lengan mungilnya."Kak putli mau pelgi kemana, jauh yah, belapa lama, nanti Nala tidul sama siapa?" Ah, rasanya aku tidak tega meninggalkan Nara namun aku juga merasa tidak enak kepada Tari."Gak lama kok, kan ada Ibu sama Bang Tama." Tidak kunjung mendapat respon, aku melirik kearah Nara yang ternyata kembali terlelap dengan keadaan memeluk pinggang ku, ia bahkan mendengkur pelan. Aku membiarkan Nara terlelap dengan keadaaan seperti itu, sedangkan aku melanjutkan mengemas barang yang akan aku bawa, sebenarnya tidak banyak hanya ada empat buah baju dan rok dan sebuah sweater milik Kak Tama.Setelah semuanya selesai aku melirik jam kecil yang sudah retak di segala sisinya dan untugnya jam itu masih bisa memberitahuku bahwa aku harus tidur sekarang.Dengan hati-hati aku mengangkat Nara ke atas karpet dan aku ikut berbaring di dekatnya, ada kebiasaan yang kulakukan setiap kali ingin tidur, semasa Ayah masih hidup ia selalu ingatkan bahwa aku harus melalukannya. Aku mulai berzikir dengan mata yang berkelana memperhatikan setiap inci rumahku, tidak ada sekat berarti antara ruangan dan barang yang bisa membuat mata menjadi berbinar karena semuanya barang bekas.Keadaan dimana seberapa kuat apapun Ibu dan Bang Tama bekerja keras, keadaan kami tidak pernah beranjak dari titik kemiskinan, sedangkan yang aku lihat orang diluaran sana hanya memangku tangan malah bergelimang kekayaan. Tapi ibu selalu berkata bahwa tidak apa-apa hidup seperti ini, harta juga tidak dibawa mati. Bisa makan sama ibu selalu menjarkan untuk bersyukur.Tidak sadar aku terlelap dan rotasi bumi mungkin sangat cepat hingga tidak terasa aku sudah berdiri di depan gerbang dimana banyak sekali siswa-siswi yang menenteng barang bawaan mereka. Semua mengenakan baju bebas hari dan membuatku mengerti kenapa baju seragam itu sangat perlu untuk meredam kesenjangan sosial. Bagaimana tidak hari ini saja perbedaan stratat hidup dibedakan hanya dengan jenis pakaian apa yang digunakan.Aku menghembuskan nafas pelan, bersamaan dengan Tari yang melambai kearahku setelah turun dari mobil yang membawanya, aku tersenyum kecil kearahnya."Udah banyak orang ternyata, oh iya Put, kita sebangku yah di bus." Tari berkata demikian setelah benar-benar berada didepanku aku hanya mengangguk, bukanya ingin terlihat irit bicara namun aku tidak tahu ingin merespon apa.Satu jam kemudian bus datang dan aku hampir saja meloloskan satu pekikan karena tertabrak kerumunan siswi kelas 12 yang berlari ke arah bus pertama. Jika saja Tari tidak sigap menariku untuk menepi mungkin aku akan menjadi bahan tertawaan lagi."Istigfar dulu Put, kamu ngelamun mulu sih," ucap Tari sambil terkekeh.Lagi-lagi aku hanya merespon dengan senyuman.Kami akhirnya berjalan kearah bus kedua yang baru tiba, bus wisata yang sangat besar yang bisa menampung mungkin tiga puluhan siswa. Aku dan Tari mengambil tempat paling depan dekat sopir. Agar mudah menunrunkan barang nantinya.Saat semua siswa kelas 11 ips sudah dipastikan menenuhi bus. Bus akhirnya melaju dan entah kenapa sepanjang perjalanan perasaanku tidak enak. Perjalanan yang ditempuh rasanya sangat jauh sampai semua yang ada di bus terlelap kecuali aku dan Tari dan tentu saja pak sopir.Setelah menutup mushaf kecil yang Tari baca seoanjang jalan, ia menatapku lekat, lantas berkata satu hal yang membuat perasaanku makin tidak enak. "Rasanya seperti akhir hari yah Put," ucapnya tersenyum, aku hanya mengangguk.Tepat satu jam setelah perkataan Tari dibelokan menuju tanjakan sebuah mobil truk bermuatan kayu menghantam bagian depan bus sangat kencang, sampai membuat bus tergelincir kearah jurang.Ya Allah jika ini menjadi akhir kisahku, semoga kekuargaku hidup dengan baik. Nara maaf kakak ternyata pergi jauh.Suara pekikan dimana-mana, terakhir aku hanya merasakan genggaman tangan Tari yang begitu erat padaku serta satu ucapan terbata-bata yang sangat sulit aku ikuti darinya sebelum semuanya mati rasa.La ilaha illallah .[ E N D ]
Teruntuk Sahabatku
Baru saja lima menit yang lalu gadis ini merasakan nyamannya tidur suara berisik menginterupsikan dirinya untuk bangun. Suara berisik itu berasal dari Ibu nya yang kini tengah memanggil namanya untuk segera turun ke bawah.Dengan malas gadis ini pun turun dari kasurnya dan beranjak untuk keluar dari kamarnya. Terlihat sang Ibu dan juga Ayahnya yang tengah duduk dengan wajah cemas. Dan lebih cemas lagi ketika melihat gadis itu keluar.Di sana juga terdapat sang Kakak yang tengah berdiri dan langsung berlari untuk memeluk gadis itu. "Ca, kamu harus kuat ya Ca!" seru sang Kakak yang sedang memeluk dirinya."Ada apa sih Kak? Aca baru bangun tidur ini," tanya gadis yang memanggil dirinya Aca itu."Khansa, Mama tau kamu anak yang kuat. Kita ke rumah sakit sekarang ya, " kata sang Ibu yang sudah berdiri di hadapan gadis bernama Khansa itu dan mengelus pelan tangan gadis itu."Tunggu, ke rumah sakit? Ngapain Ma?" Khansa semakin bingung. Untuk apa ke rumah sakit jika tidak ada yang sakit. Dirinya baik-baik saja. Dan jika di lihat semuanya juga baik-baik saja."Ayo Ca! Nanti kamu juga tau. Kakak gak tega jelasinnya sekarang." Sang Kakak dengan cepat menarik Khansa menuju mobil disusul oleh sang Ibu dan juga sang Ayah.Khansa pasrah. Gadis itu masih bingung dengan tingkah orang tua dan juga Kakaknya. Dan mengapa mereka harus ke rumah sakit? Ada apa dengan rumah sakit?Tak ada yang berbicara selama perjalanan hingga mereka sampai di rumah sakit bahkan tak ada yang berbicara. Mereka menuju ke ruang gawat darurat. Di sana sudah banyak teman-teman Khansa dengan wajah sedih. Bahkan sudah ada yang menangis.Sekarang jam menunjukkan pukul dua malam. Mata Khansa menelusuri semua orang yang ada di sana. Sepasang suami istri yang tengah bersedih. Dengan sang istri yang menangis tersedu-sedu. Itu orang yang paling Khansa kenal.Orang itu, kenapa? Tapi tunggu, ada apa maksudnya ini? Khansa tak melihat orang yang dua jam lalu ia telepon. Semua teman-temannya ada di sini. Kenapa dia tidak?"Bunda? Ayah?" Khansa mendekati sepasang suami istri itu.Melihat Khansa yang datang mendekati mereka sang istri langsung berlari menghampiri Khansa dan memeluk gadis itu. Menumpahkan semua kesedihannya kepada gadis itu.Khansa yang hampir paham dengan situasi ini belum ingin mempercayai dirinya sebelum ada kejelasan. Ia tak ingin menduga-duga."Aja mana Bun?" Pertanyaan gadis itu semakin membuat wanita yang sedang memeluk dirinya itu menangis tersedu-sedu."Lepasin Aca, Bun. Aca mau lihat Aja, mana Bun?!" tanya Gadis itu lagi. Ia memberontak untuk di lepaskan dari pelukan hingga ia hampir saja tersungkur dan untung ada sang Kakak yang sigap menahan dirinya.Dengan kasar gadis itu menatap temannya satu persatu. Air mata yang tak dapat ia tahan sejak tadi pun sudah tumpah mengalir membasahi pipinya."Gak mungkin kan?! AJA GAK MUNGKIN NINGGALIN GUE! Dia udah janji sama gue!" kata gadis itu karena tak ada satupun yang berani melihat tatapannya.Pintu terbuka, dan bersamaan seorang dokter juga beberapa perawat mendorong sebuah ranjang yang terdapat seseorang berbaring dengan seluruh badan tertutup oleh kain putih. Terdapat beberapa bercak darah di atas kasur dan juga baju putih sang dokter."Tunggu!" Khansa mendekati ranjang itu dan dengan ragu membuka kain yang menutupi wajah seseorang yang tengah berbaring itu.Sekujur tubuhnya membeku. Ia melihat seseorang dengan wajah pucat dengan wajah yang sudah babak belur. Tubuh orang itu sudah membeku dan dingin. Benar-benar sudah tidak ada detak jantung untuk di rasakan."Ja ... Aja ... AJA BANGUN!!!" Teriak Khansa sambil mengguncang-guncangkan tubuh orang yang di panggilnya Aja itu."JA ... LO BILANG GAK MAU NINGGALIN GUE JA! BANGUN JA, BUKA MATA LO SEKARANG!" Teriak gadis itu semakin menjadi dan akhirnya jatuh ke lantai karena tak sanggup lagi untuk berdiri. Kakinya sudah begitu lemas."Jaa ... KHANSA DIERA!" Teriak gadis itu sebelum akhirnya ia pingsan.***Matahari sudah mulai menampakkan wujudnya. Namun, gadis cantik ini masih saja tak berkutik dari kamarnya. Air matanya tak berhenti mengalir. Hanya ada bunyi gesekan kuku dan gigi.Di luar semua orang sibuk merapikan rumah. Membentang karpet dan juga meletakkan yasin. Sebentar lagi jenazah akan sampai. Semua warga sudah berkumpul untuk melakukan sholat, dan mengantarkan ke tempat peristirahatan terakhirnya.Khansa Diera, laki-laki itu sudah tak ada lagi. Dengan begitu cepat. Tanpa firasat apapun. Tanpa ucapan terakhir sama sekali. Laki-laki itu pergi dengan tampang mengerikan. Dengan kejadian yang mengenaskan.Tak akan ada yang percaya tentang semua kejadian itu. Tapi, nyatanya begitu. Laki-laki itu benar-benar mati mengenaskan.Dengan wajah mengerikan Khansa, gadis itu keluar. Jempolnya dan juga bibirnya berdarah akibat gigitan dari jempolnya yang membuat kukunya patah.Mata sembab di tambah cekungan hitam membuat gadis itu tampak begitu mengerikan."Aja udah datang Bun?" tanya Khansa menghampiri wanita paruh baya yang tengah duduk bersebelahan dengan Mama gadis itu."Khansa, sini sayang." Wanita itu merentangkan tangannya hendak memeluk Khansa. Dan dengan cepat gadis itu berlari menjatuhkan dirinya di pelukan wanita paruh baya yang ia panggil Bunda itu.Tangisnya benar-benar pecah. Ia tak perduli dengan beberapa ibu-ibu yang tengah melihatnya kasihan. Gadis itu tak tahu harus bagaimana saat ini juga. Setengah dunianya telah hancur. Entah apa lagi yang harus ia lakukan tanpa setengah dari dirinya."Aja, Bun ... Aja ninggalin Aca, Bun," kata gadis itu dalam tangisnya.Wanita paruh baya itu hanya bisa mengelus-elus pelan punggung gadis itu yang bergetar hebat.Tak lama suara ambulance berbunyi diiringi dengan suara segerombolan motor mendekati area depan rumah. Laki-laki yang sejak tadi berjaga di luar mulai berdiri menghampiri mobil ambulance yang sudah memasuki area pekarangan rumah."Aca gak bisa anterin Aja, Bun. Aca mau ke kamar dulu." Gadis itu pun pergi meninggalkan ruangan tamu menuju kamar yang ia pakai tadi.Gadis itu, Khansa melihat dari jendela kerumunan orang yang tengah membawa keranda mayat menunju masuk ke dalam rumah."Tuhan jahat Ja, dia ambil kamu tepat di hari yang dulunya begitu spesial di hidup aku. Selamat jalan Aja dan selamat ulang tahun Aca."***Dear Khansa .Aku rindu, aku di sini baik. Sejak hari itu, aku berhenti untuk membuka diri. Aku masih mengikuti kata-kata mu. Menjadi bahagia. Dan aku bahagia saat ini. Tak banyak yang berubah dari diriku ini. Aku, tetaplah Khansa yang kamu kenal.Ada kalanya aku ingin pergi ke tempat kamu berada saat ini karena begitu merindukan mu. Namun, jika aku menemui artinya aku tak akan kembali lagi ke dunia ini. Dan aku tak akan bisa melanjutkan 1311 misi kita.Aku bertahan untuk itu. Walaupun sakit, aku akan bertahan Ja. Datang ke mimpiku. Aku akan bercerita banyak. Sungguh aku merindukan mu, Khansa.Khansa Muthiah.[ E N D ]
Ayana dan Mesir
Ayana adalah anak kedua dari keluarga yang terbilang sederhana. Ia tinggal bersama Ayah, Ibu dan Kakaknya. Ia anak yang cerdas dengan segudang pengetahuannya apalagi dalam ilmu agama.Bulan ini adalah bulan dimana ia harus mengkuti ujian nasional untuk menentukan kelulusan, Ayana harus belajar mati-matian demi mendapatkan nilai yang bagus.Ada satu hal yang Ayana inginkan setelah ia lulus SMA, ia ingin kuliah di Kairo, Mesir. Ayana memiliki keinginan itu karena ia pernah mendengar Bibinya bercerita bahwa kuliah di Kairo sangat berkesan apalagi disana mendalami ilmu agama. Bibinya bercerita seperti itu karena Bibinya juga seorang sarjana dari Universitas Al-Azhar di Kairo.“Ibu, boleh Ayana minta sesuatu?” Ia bertanya pada ibunya sebelum berangkat sekolah untuk mengikuti ujian nasional.“Boleh, memang Aya mau minta apa?” kata ibunya."Mm ... ga jadi deh Bu, nanti aja pulang sekolah Ayana kasih tau hehe. Sekarang Ayana berangkat dulu takut kesiangan.”Ayana rasa ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan kenginannya, terlebih lagi harus berangkat sekolah rasanya tidak enak jika harus kesiangan di hari pertama Ujian Nasional. Soal ujian Ayana kerjakan dengan jujur dalam artian tidak mencotek, mungkin setelah pulang sekolah ia akan berbicara pada ibunya soal keiinginannya.***“Assalamualaikum Ibu, Ayana pulang,” seru Ayana setelah masuk dalam rumah."Sini Ibu sudah masak, makan dulu!”Ayana kira tidak ada siapa-siapa dirumah ternyata ada Ibunya. Setelah selesai makan, Ayana dan Ibunya menonton televisi diruang tamu, ini waktu yang tepat untuk memberitahu Ibu, pikir Ayana.“Bu, soal keinginan Ayana, umm ...Ayana ingin minta izin sama ibu dan Ayah untuk kuliah di Kairo, apa ibu mengizinkan?”Ayana berbicara sambil menunduk.“Punya uang dari mana ibu? Untuk makan saja sudah kurang.” Sepertinya Ibu Ayana tidak mengizinkan, Ibunya masuk ke kamar tanpa menghiraukan Maida.Ibu Maida keluar kamar setelah memikirkan keinginan anaknya, Ibunya pikir akan lebih baik jika mendengarkan dulu penjelasan Ayana. Ayana yang kini sedang menatap layar televisi tidak menyadari Ibunya keluar dari kamar, ia baru menyadari ketika ibunya memanggilnya."Ayana, untuk yang tadi coba jelaskan lebih lanjut pada Ibu," pinta ibunya.“Jadi begini Bu, Ayana ini minta izin sama Ibu dan Ayah untuk mengikuti beasiswa kuliah di universitas Al-Azhar seperti Bibi dulu,” jelas Ayana.“Ohhh.” Ibunya hanya ber oh ria.“Jadi gimana Bu? Ibu izinkan?”“Kalau begitu Ibu mengizinkan tapi Ibu tidak tahu Ayah mengizinkan atau tidak,” jelas ibunya. Ayana senang Ibunya mengizinkan, untuk Ayahnya Ayana akan bertanya setelah Ayahnya pulang bekerja.Ayah Ayana pulang bekerja sekitar pukul 19.00, setelah Ayahnya membersihkan badan dan makan, Ayana pun mengajak Ayahnya ke ruang tamu dan menjelaskan panjang lebar. Hingga akhirnya Ayahnya juga mengizinkan, tapi tidak segampang itu sebelumnya Ayahnya mempertimbangkan dulu.Sehari kemudian Ayana mengikuti tes beasiswa, Ayana tinggal menunggu hasilnya saja mungkin pengumumannya setelah kelulusan 3 hari lagi Ayana akan menerima apa pun itu hasilnya. Bibinya datang kerumah mengantarkan buku-buku bekas ia kuliah dulu.“Bi Meli ini untuk siapa?” Maida bingung kenapa Bibinya membawa buku bekas ke rumahnya.“Ih Mai, ini kan buat kamu! Ini buku bekas Bibi kuliah dulu,” jelas Bibinya.“Ya Allah Bibi aku kan belum tentu dapat beasiswanya,” Maida heran Bibinya antusias sekali.“Bibi yakin Mai, Mai pasti dapat beasiswanya.”“Yasudahlah.” Percuma mengelak Bibinya, Maida mengambil bukunya dan disimpan di dalam kamar.Setelah tiga hari kelulusan, Ayana dinyatakan lulus, pengumuman beasiswa hari ini Ayana datang bersama kakaknya yang bernama Hakim.Pengumumanya akan di sampaikan dan yang mendapatkan beasiswanya adalah tiga orang yang disebut pertama kali adalah Ayana, rasanya senang sekali, Ayana merasa terharu hingga Ayana menangis haru dan memeluk Kakaknya. Alangkah bahagianya saat ini.Ayana pulang membawa kabar gembira pada keluarganya yang menanti Ayana, semua keluarga Ayana senang mendengar Ayana berhasil mencapai keinginannya. Mungkin keberangkatannya sekitar dua hari lagi, waktu yang sangat singkat jika untuk menyiapkan barang-barang bawaannya.Hari selasa Ayana mengemas barang yang akan dibawa besok ia dibantu Bibi dan Kakaknya."Ay, buku yang bibi berikan disimpan dimana?” tanya Bi Meli.“Aya simpan di kamar Bi, ambil aja,”Ayana mengemas beberapa baju kedalam koper, tak terasa ia sudah dewasa dan akan meninggalkan orang tuanya untuk kuliah ditambah lagi bukan kuliah di tempat yang dekat dengan rumahnya.Hari ini hari keberangkatan Ayana ke Mesir."Ibu, Ayah..kakak..bibi..,terima kasih,berkat doa dan dukungan dari kalian,Ayana bisa sampe sejauh ini" ucap Ayana yang sudah tak kuasa membendung air matanya."Ini juga berkat usaha kamu nak,kamu harus bangga"lalu ibu Ayana memeluknya dengan sangat erat.Ayana pun masuk kedalam pesawat dan tak lupa melambaikan tangan nya.Berkat kesabaran dan ikhtiarnya akhirnya ia bisa menginjakan kakinya di negeri para nabi, Allah memang Maha Menghendaki segala sesuatu. Beberapa jam duduk didalam pesawat dan mendarat dengan selamat kini Ayana akan mulai menapa jejak di Kairo, Mesir. Ayah, ibu, kakak dan bibinya menyuruh Ayana mengabari mereka jika sudah sampai, lalu ayana mengabari dan memberitahu bahwa ia sudah sampai, Ayana berjanji akan belajar disini dengan sungguh-sungguh."Percayalah,usaha Takan pernah mengkhianati hasil, teruslah berikhtiar,berdoa dan memohon pada yang kuasa dengan sungguh-sungguh.Tanamkan niatan yang baik,rencana yang baik,dan hasilpun Takan kalah baik.Bersinarlah tanpa memadamkan sinar yang lain"[ E N D ]
Sahabat Kecil
Silvia Farannisa Yasmin adalah sahabat kecil dari seorang Alaska Bumi Ranendra, mereka bersahabat sudah dari umur kelas 1 sekolah dasar sampai kelas XI SMA, sudah lumayan lama juga."Aska balikin gak pulpen gue!" teriak Silvia atau biasa dipanggil Silvi."Wleek! Ambil kalo bisa," ejek Alaska. Silvi dari kecil selalu memanggil namanya dengan sebutan Aska."Awas lo ya, kalau ke tangkap gue sleding dari Indonesia sampe Amerika," ujar Silvi masih terus berlari mengejar Aska."Sini ambil nih ambil ayo," ejek lagi Aska.Alaska atau Aska ini adalah seorang lelaki tampan di sekolahnya yang membuat kaum hawa menjerit ketika melihat. Tapi bagi Silvi Aska itu biasa aja."Hosh, hosh, hosh. Aska udah ah gue capek mau ke kantin beli minum," ucap Silvi langsung berbalik arah ke kantin."Ikut Sil," teriak Aska."Ayo," balas Silvi.Sepanjang jalan mereka menuju kantin banyak para murid menatap dua sejoli sahabat itu dengan iri. Bagaimana tidak? Dengan paras Silvia yang cantik dan paras seorang Alaska juga sangat menawan.Hey! Banyak di SMA Wijaya ini yang menatapnya kagum. Selain cantik dan tampan dua sejoli Sahabat itu juga sering mengikuti olimpiade di berbagai sekolah maupun kota.Katakanlah mereka itu sempurna. Tapi yang membuat silvia kesal karena dari dulu sampai sekarang sifat seorang Alaska itu tak pernah berubah dengan yang namanya 'menjalihi' sahabatnya itu Silvia.Kata Alaska ' Gak ada kata gak jahilin l o setiap hari atau setiap detik pun '."Aska bisa diem gak sih lo, gue lagi makan tau!" geram Silvia ketika acara makannya diganggu oleh Aska."Gak bisa, gimana dong?" tanya Aksa dengan tampang bodohnya."Tau ah, percuma juga." Kesal Silvia langsung melahap makanannya sedangkan Aska menarik-narik ujung rambut Silvia sehingga kadang Silvia meringis kesakitan.Bagi Aska rambut Silvia itu candu baginya. Katakanlah Alaska itu lebay.Tapi Silvia beruntung mendapatkan sahabat seorang Alaska Bumi Ranendra. Ya walaupun kadang ngesilin sih.Tapi tanpa sepengetahuan mereka berdua ada satu siswi yang membenci mereka berdua, yaitu Naomi Shinta Areska siswi baru yang berlaga sok manis padahal di balik sikapnya ia memendam rasa benci pada Silvia. Sejak pandangan pertama Naomi sudah suka dengan Aska.Tapi Naomi ingin bermain secara lembut dengan Silvia. Hey licik sekali Naomi."Ska sini bola nya," panggil Silvi, saat ini mereka berdua sedang bermain basket di lapangan sekolah."Tangkap ya."Hap!Bola itu langsung di tangkap mulus sama Silvia."Aww sshh," ringis Silvia ketika ada batu yang entah dari mana menghantam kepalanya yang membuat kepalanya mengeluarkan sedikit darah."Lo kenapa Sil?" tanya Aska cemas"Gak apa-apa.""Gak apa-apa gimana? Liat kening lo berdarah tuh!" ujar Aska."Udah cuma luka kecil, anterin gue ke UKS aja yuk," ajak Silvia. Dari pada ia dan Aska akan bertengkar nanti.Di rooftop seorang gadis licik yang menyamar sebagai gadis polos tersenyum menyeringai. Kalian pasti tau siapa dia. Ya dia adalah Naomi si gadis lugu berubah jadi licik yang tadi melempar batu ke arah silvia."Ini baru awal permainan," gumam Naomi tersenyum miring.[ E N D ]
Patah Hati Cinta Online
Hari itu ... tepatnya pada malam Sabtu, dia yang memulai chat duluan dengan gombalan kata manis. Dengan menggunakan nomor adik sepupunya, ia mulai mengetikkan pesan."Malam.""Lagi apa?" ucapnya pada pesan tersebut. Seketika keningku mengkerut, apakah Araa yang mengirimiku pesan seperti ini? Ah ... tapi rasanya sangat mustahil.Akhirnya, kuputuskan untuk membalas pesan tadi. "Malam juga, maaf ini siapa?" Lalu langsung ku kirim. Awalnya aku biasa saja, dan tidak terlalu memperdulikannya. Namun lama kelamaan dia semakin menjadi! Gombalan manis serta bualan ia lontarkan padaku. Aku, yang hanya wanita biasa yang dapat merasakan ‘bawa perasaan’ semakin menjerit girang. Apa-apaan sih, dia ini. Bagaimana jika anak orang naksir padanya? Apakah ia mau bertanggung jawab?!Yang awalnya hanya chat biasa, saling curhat, namun sekarang sangat akrab. Dan bahasa yang kami gunakan -dalam chat pun sudah mulai ngelantur. Dia yang terus memanggilku dengan sebutan “Sayang.”Dan aku yang terus baper, salting, bahkan sampai menggigit bantal gulingku! Oh ayolah ... pasti kalian tahu 'kan seberapa besar efek ‘gombalan manis buaya’?Dan sekarang aku benar-benar sudah tidak waras!Keakraban kami di chat WhatsApp , tentunya membuat kami berdua juga semakin dekat. Hal itu membuat rasa penasaranku tentang dirinya semakin memuncak. Ah apakah kalian belum tahu? Memang dari awal kami berdua chattingan , aku sama sekali tidak mengetahui identitasnya, Yah ... kecuali namanya saja! Rupa wajah, umur, sekolah, dan sebagainya aku sama sekali belum tahu!Perlahan mulai ku caritahu lebih dalam tentang identitasnya. Bersyukurlah karena ia mau memberitahukan identitasnya padaku. Yah ... setidaknya aku tidak berharap dengan sesama jenis, haha.Setiap hari libur ia selalu mengirimiku pesan, kebanyakan dia lebih sering menjadikanku sebagai pendengar ‘dari semua isi curhatannya’. Yaa ... aku terima-terima saja, toh, aku juga gabut tidak ada yang chat.Seiring berjalannya waktu, tanpa kusadari ternyata ia menaruh perasaan padaku. Dia ... menyukaiku! Bahkan dengan terang-terangan ia menyatakan rasa sayang dan suka secara langsung lewat chat. Aduh ... bagaimana ini? Aku baper ish! Dia meminta jawaban tentang pernyataannya, namun aku memintanya untuk menunggu sebentar karena aku harus berpikir.Setiap malam selalu senyum-senyum sendiri, susah tidur akibat pernyataannya, dan sampai di bilang tidak waras oleh orang tuaku. Tepat pada malam Minggu, salah satu teman hangout- nya mengirimiku sebuah pesan.“Eh, lo doinya si **** ya?”Aku kaget! Bagaimana bisa dia tahu tentang itu?! Tidak mau membuatnya salah paham, akhirnya aku membalas pesan, “Bukan kok. Baru deket aja.” “Anjir! Tapi ... si **** bilang lo pacarnya.” Tepat saat itu juga pipiku merona dan jantungku berdebar, memacu lebih cepat.Karena sudah tidak tahan, aku menyuruh temannya yang mengambil alih handphone- nya untuk dikembalikan kepada si pemilik. Lalu langsung kutanyakan apa maksud dari ucapan temannya barusan?! Dan dia bilang bahwa dia sudah sayang dan cinta mati padaku, ditambah lagi status dia yang sekarang jomblo. Membuat dirinya secara berlebihan menghalu memiliki pacar sepertiku.Aku sangat senang, namun risau. Disatu sisi, aku mulai menaruh hati padanya, namun di sisi lain, orang tuaku mengajarkanku untuk tidak memikirkan lelaki terlalu dalam. Apalagi berpacaran!Saat ini kami berdua tengah dilanda oleh kesibukan. Aku yang baru kelas 9 dan harus mempersiapkan bekal untuk ujian, begitupun dengannya yang kelas 12 dan sibuk dengan segala kegiatan organisasi yang diikutinya. Sekarang tidak sedekat dulu, ditambah dengan perbedaan jarak. Aku di Jakarta, sedangkan dia di Bandung.Yah ... aku paham, dan aku juga mengerti. Kedekatan ini hanyalah sebuah ketidaksengajaan. Dan jika suatu saat nanti dia memiliki kekasih 'nyata' di sana, aku juga akan senang. Toh, itu hak dia. Atau mungkin dia sudah melupakanku? Tidak apa-apa, aku ikhlas. Ini semua telah ditentukan oleh takdir. Yang awalnya sangat dekat atau akrab, tidak selamanya begitu. Begitupun dengan yang saling sayang, bisa saja takdir memutar keadaan membuat kalian saling membenci pada akhirnya.Ini, skenario tuhan. Semua sudah ada jalannya masing-masing. Tinggal kita saja yang memainkan peran sebagai tokoh utama.Dari kejadian ini aku belajar bahwa, mengharapkan sesuatu yang berlebihan itu sangatlah tidak baik. ‘Apalagi yang bukan pada tempatnya’. Dan juga semua yang berbau online tidak semuanya 'nyata', atau bahkan ada juga yang bersifat 'rekayasa'.“Hidup itu yang pasti-pasti aja. Selama kita melangkah ke jalan yang benar, dan berbuat baik kepada semua orang. Percayalah, maka Allah SWT juga akan membimbingmu kepada kehidupan yang lebih layak dan penuh kenikmatan.”– Liyara ✨[ E N D ]
Possesive Andra
Suara langkah kaki dari ujung koridor membuat seorang gadis mempercepat langkahnya, bahkan kini ia mulai berlari untuk menghindari orang yang baru saja membuat keributan itu."Gisel!"Gisel seolah menulikan telinganya, ia lelah, lelah dengan Andra yang masih berstatus sebagai pacarnya itu.Grep!Andra berhasil memegang lengan Gisel dan menghentikan cewek itu, mereka terengah-engah.Saat di rasa sudah cukup untuk terdiam, Gisel membalikkan badan, menatap Andra dengan wajah galaknya."Kamu marah sama aku cuma karena cowok itu?" tanya Andra, rahangnya mengeras, pertanda ia marah besar, tetapi bukan Gisel namanya kalau menurut dengan Andra."Andra, aku sama dia cuma temen. Dia baik sama aku karena dia udah bantuin aku nyelesain proposal buat event sekolah.""Kan masih ada anak OSIS yang lain, kenapa harus cowok? Ini nih yang aku nggak suka kalo kamu ikut organisasi kaya gitu.""Anak OSIS lain juga pada sibuk ngurus seksi yang dia urus, masih untung aku di kasih bantuan, lagian mau aku ikut organisasi atau nggak ya itu urusanku!"Andra menggeram, ia marah dan kesal karena semakin hari Gisel semakin berani melawannya dan membantah setiap ucapannya."Aku nggak suka ya kamu ngelawan aku kayak gini," ucap Andra. Menekankan setiap kalimat yang terucap dari bibirnya."Aku juga nggak suka kamu buat keributan kayak tadi sampe mukul Rian!" sentak Gisel, menyebut nama cowok yang menjadi inti dari permasalahan mereka."Sebut namanya sekali lagi!""Rian! Rian! Rian!" Gisel mengangkat wajahnya dengan angkuh, seolah berkata, 'mau apa lo?' dengan sangar.Andra menarik Gisel menuju parkiran sekolah, membuat cewek itu kelabakan sendiri."Andra! Ngapain ke parkiran? Bentar lagi aku ada kuis dari Bu Lidia!" Di antara semua hal, Gisel paling tidak suka melewatkan nilai tambahan atau apapun yang dapat mengurangi nilainya, itu sebabnya Gisel selalu menjadi murid teladan, kesayangan para guru.Gisel terus meronta tetapi tenaga Andra lebih besar dari dirinya, hingga mereka sampai di depan mobil mewah milik Andra.Tanpa banyak bicara, Andra memaksa Gisel untuk masuk ke dalam mobilnya, diikuti dengan Andra."Aku mau turun! Aku nggak mau jadi urakan dan sering bolos kayak kamu ya Andra!" jerit Gisel."Orang yang kamu sebut urakan dan sering bolos itu pacar kamu," desis Andra. Ia melajukan mobilnya, menyogok Pak satpam dengan beberapa lembaran merah di dalam dompetnya.Gisel mendengus kesal saat mereka sudah berhasil keluar dari kawasan sekolah mereka, rasanya ia ingin mengumpat keras-keras.Bukan salahnya memilih Andra, salah kan Andra yang dulu sangat manis hingga ia menerimanya menjadi pacar. Tetapi entah kenapa, semakin ke sini, Andra malah semakin possessive dan pencemburu.Gisel benci di kekang seperti ini, jika saja ia tau akhirnya akan seperti ini, mungkin ia akan memilih tidak mengenal Andra.Mobil Andra berhenti di jalan yang sepi, membuat Gisel sedikit ketakutan, ia kemudian menatap Andra dengan horor."Kita ngapain berhenti disini?! Kalau kamu nggak mau nganter aku balik ke sekolah, yaudah. Aku bisa sendiri kok." Gisel hendak membuka pintu mobil itu tetapi dengan cepat Andra menahan pergerakannya.Napas Andra terasa di leher Gisel karena saking dekatnya wajah mereka, Gisel tau seperti apa Andra jika sedang marah, cowok itu seperti orang yang kesetanan, melampiaskannya pada siapa saja termasuk Rian, salah satu anggota OSIS yang paling dekat dengan Gisel."Udah berapa kali aku bilang, turutin aku, kamu aman," ucap Andra tepat di telinga Gisel, membuat gadis itu sedikit meremang.Gisel mendorong Andra dengan kasar."Cukup ya, selama ini aku udah ngalah buat keegoisan kamu, aku juga udah sabar sama sikap posesif kamu, tapi sekarang aku muak, aku benci di kekang!"Gisel pikir Andra akan melakukan sesuatu yang lebih jauh mengingat sikap cowok itu, tetapi ia salah."Oke, kalau kamu ngerasa aku ngekang kamu lebih baik kita ... putus."Andra memejamkan matanya, menahan hujaman rasa sakit yang ada di hatinya, sedangkan Gisel terbelalak, tak menyangka jika Andra semudah ini memutuskan hubungan mereka."Ndra, ka-kamu serius?"Memang ini yang Gisel inginkan, putus dari Andra dan mendapatkan kebebasannya kembali, tapi ia tak menyangka keinginannya akan terkabul semudah ini.Kenapa sakit ya?Gisel dan Andra sama-sama terdiam setelahnya, tak ada yang berbicara, bahkan Gisel pun mengurungkan niatnya untuk keluar dari mobil itu.Andra menghela napas, ia menyenderkan kepalanya, enggan menatap Gisel yang kini sedang kebingungan."Ndra, kamu ... serius?""Kamu mau turun kan? Yaudah turun," ucap Andra, tanpa melihat ke arah Gisel, takut jika pertahanannya runtuh seketika.Gisel menggeleng tak percaya, kemudian ia keluar dari mobil Andra dengan perasaan campur aduk, kenapa? Kenapa ia tak rela?***Satu minggu kemudian .Gisel termenung di kamarnya, sejak ia putus dengan Andra entah kenapa ia merasakan kehilangan yang amat sangat besar.Dulu, Gisel tak pernah suka di kekang oleh Andra. Andra yang possessive , cemburuan, dan egois membuat Gisel ingin putus darinya, lalu kenapa sekarang ....Pandangan Gisel beralih pada sebuah surat berwarna biru yang berada di atas nakasnya.Surat itu adalah pemberian dari Andra tiga hari sebelum mereka putus, Andra bilang bahwa ia tak boleh membuka surat itu sebelum mereka putus, aneh memang, tetapi itulah Andra, penuh dengan teka-teki.Setelah mengumpulkan keberaniannya, Gisel mengambil surat itu dan membukanya hingga nampak kalimat yang tersusun rapih dengan tinta hitam.Hai, Giselove.Aku Andra, pacarmu atau mungkin udah mantan (?) Aku nggak tau apa yang akan terjadi kedepannya.Aku ingin kamu tau Gisel, Aku sayang kamu.Saat kamu nerima aku buat jadi pacar kamu hari itu, aku senang, sangat malah. Sampe rasanya aku pengen bilang kalau kamu itu pacarku.Tapi, takdir berkata lain, dua bulan setelah kita pacaran, aku punya kelainan jantung. Dokter memvonis aku kalau umurku udah nggak lama lagi.Kamu tau? Bolosnya aku selama ini karena aku lagi berobat buat menyembuhkan penyakitku. Aku nggak ingin kamu tau, karena aku nggak mau kamu khawatir.Sayangnya, dokter bilang kalau usiaku tinggal menghitung hari, aku takut, takut kehilanganmu.Karena itu aku possessive sama kamu, karena aku ingin menggenggam kamu, sampai aku nggak mampu lagi untuk menjaga kamu.Maaf ya kalo kamu ngga nyaman.Sekarang, aku udah nggak mampu lagi buat ngejaga dan mempertahanin kamu, kamu berhak lepas dari aku.Kamu boleh cari pangganti aku, tapi aku mohon.Jangan lupain aku, karena aku pernah mengisi kebahagian kamu.Dari : Andranya Giselove[ E N D ]
Tunangan
Aku telah berada di sini. Berdiri diantara 2 tiang penyangga sebuah café yang cukup besar. Padahal seingatku kemarin, aku mati matian menolak untuk datang. Tapi aku telah berada di sini sekarang. Apa temanku memasukkan sesuatu ke kepalaku hingga tanpa sadar aku pergi kemari? Sepertinya tidak, aku datang untuk melihat orang ku sukai sekali lagi. Dengan sangat berat hati sekali kulangkahkan kakiku memasuki ruang tempat acara di gelar. Ruang yang dipenuhi bunga kebahagiaan di mana mana. Seharusnya aku membawa bunga duka cita sebagai hiasan kecil. Namun hatiku yang berduka tak akan sebanding dengan kebahagiaan setiap orang yang menginginkan pasangan itu. Atau lebih tepatnya, menginginkan makanan dari pasangan itu. Mataku berkeliling mencari tempat duduk. Sepertinya semua telah dipenuhi oleh orang-orang yang kelaparan. Aku pun memutuskan untuk berdiri di sudut. Berharap air mata di sudut mataku tak akan tergelincir saat melihat mereka nanti.Suara riuh mulai terdengar saat 2 pasang kaki keluar dari sebuah ruangan. Mereka terlihat sangat menawan dengan setelan jas dan gaun berwarna putih. Salah satu dari mereka melihat ke arahku. Tersenyum penuh arti. Maksudnya, itu berarti senyum yang terakhir untukku. Kuyakinkan hatiku untuk membalas senyum itu. Tapi ia menolehkan wajahnya ke arah yang lain. Jika ini hari biasanya, sepatu yang kupakai pasti telah lepas dengan sendirinya dan terbang ke wajah pria itu. Tapi yang luar biasanya, ia bahkan tak mengucap sepatah katapun untuk mengucapkan selamat tinggal padaku.Acara bodoh ini membuang 2 jam waktuku. Kaki kaki jenjangku terus meronta untuk keluar. Namun perutku yang keriput terus berteriak memintaku untuk mengisinya. Makanan dari pasangan menyebalkan itu? Tidak, aku tak akan tega memakannya. Lagipula, gadis itu lebih kurus dariku, ia pasti membutuhkan lebih banyak makanan agar tetap terlihat cantik di depan pasangannya. Aku tak pernah meminta tanganku untuk mengambil makanan, tapi piring kosong di depanku tadi telah terisi penuh dengan makanan. Sepertinya tanganku lebih pandai dari hatiku sekarang. Kuselesaikan makanku secepatnya dan bergegas pulang. Namun baru beberapa langkah mendekati pintu, suara lembut itu memanggil namaku. Sahabat lamaku, Jelita. Sepertinya ia baru menyadari kehadiranku beberapa detik yang lalu."Viola, kau mau kemana? Acara baru saja dimulai." Jelita tersenyum manis, seperti tak ada sesuatu yang terjadi."Baru saja dimulai, pantatku. 2 jam dan kau bilang baru saja dimulai? Kau mau mengakhirinya sampai kapan? 2 hari 2 malam?" Jawabku dengan nada kesal, seperti biasanya."Mengakhiri apa?" Tanya Jelita sedikit terkejut."Oh, apa aku terlalu banyak bicara?" Tanyaku dalam hati. "Mengakhiri acaranya, tentu saja. Kau pikir?""Aku tau kau tak sejahat itu dan mendoakan hubunganku dan Zelo segera berakhir." Jelita tersenyum. Menampakkan kebahagiaan di setiap sudut wajahnya. "Oh iya, aku pikir yang kau katakan tentang ramuan, itu semua benar." Ia kembali tersenyum."Ramuan?" Aku bertanya dalam hati.*Flashback*"Jelita! Apa yang aku katakan tentang jangan terlalu dekat dengan Zelo? Bagaimana kalau ia memakai ramuan yang membuatmu jatuh cinta di setiap sentuhan tangannya?" Bentakku."kau yang seharusnya menjauhi Jelita! Kenapa kau membuatnya begitu buruk sampai ia tak memiliki kekasih sampai sekarang?!" Zelo balik membentakku."Bagaimana bisa aku melepaskannya yang begitu lemah? Bagaimana kalau sesuatu terjadi saat aku membiarkannya bersama orang lain?""Memang kau ini siapanya? Ibu? Saudara? Atau jangan jangan, kau benar benar meyukai Jelita dan berencana untuk menjadikannya..." Zelo belum selesai bicara."Plak.."Sepatuku mendarat tepat di pipi kanannya. Dia, pria di depanku yang menyebarkan rumor tentangku yang menyukai sesama perempuan. Aku memang tak punya perasaan dan aku tak pernah peduli dengan gossip. Tapi bukan berarti seluruh keluargaku sama sepertiku. Bagaimana kalau mereka tau? Bagaimanapun, hidupku bukan sebuah sinetron dimana aku bisa bunuh diri seenaknya karna hal semacam itu.*Flashback end*"Oh, kau begitu lucu setiap kali bersama Zelo. Tak pernah terpikirkan olehku kalian akan berpisah secepat ini. aku tau hidup Zelo tak akan berwarna tanpamu." Oceh Jelita."Kalau kau tau hidupnya tak akan berwarna tanpaku, kenapa kau tak menyerahkannya saja untuk menjadi kekasihku?" Tanyaku dalam hati. "Cih, kau terlalu berlebihan, Jelita. Kau yang membuatnya tersenyum. Sedangkan aku hanya membuatnya marah setiap hari.""Sebenarnya, kau lebih sering membuatnya tertawa daripada marah. Bahkan ia tak pernah benar benar marah terhadapmu."*Flashback*"Kau harus mengerjakannya. Aku terlalu sibuk untuk menghafalkan tugas sebanyak itu." Zelo membanting buku tugas di depanku."Apa kau bilang? Kau pikir aku ini siapamu? Ibumu? Kakakmu? Kekasihmu?" Bentakku menatap matanya yang indah, mungkin."Kenapa kau tiba-tiba mengatakan tentang kekasih? Apa kau menyukaiku? Jadi jika kau mengerjakannya untukku, aku harus menjadi kekasihmu?" Tanya Zelo semakin berani."Kekasih, pantatku. Mata ku tak seburuk mantan mantanmu. Mataku masih bisa melihat mana yang baik dan mana yang buruk.""Dan aku termasuk?""Kau termasuk setan dengan wajah terburuk." Jawabku dengan wajah tanpa dosa."Untung saja kau masih meiliki wajah seperti manusia. Coba kalau wajahmu sudah menjadi bentuk aslinya, aku tak akan segan melemparkan hatiku dari kejauhan.""Apa kau bilang?!"Tanpa aba aba lagi kulemparkan injakan mautku ke kakinya yang sebesar monster.Sedetik, 2 detik, 3 detik, ia terlihat biasa saja. Detik berikutnya, ia meronta meronta agar kulepaskan. Tentu saja tak semudah itu. Saat ia bersiap memukulku, aku telah berlari sejauh mungkin. Dengan tawa yang meledak. Tak ada hal yang lebih menyenangkan daripada menyiksa Zelo memang. Setiap ekspresi kesakitannya adalah sebuah kebahagiaan bagiku. Aku tak akan pernah bertemu orang dengan otak keledai sepertinya. Selalu masuk keperangkapku meski telah ribuan kali ku pancing.*Flashback end*"Sesaat setelah kau keluar dari kelas, ia berkata "Kau selalu lucu setiap kali marah. Aku tak akan pernah bisa marah pada tingkahmu. Tak ada hal yang lebih menyenangkan daripada mengganggumu memang. Setiap ekspresi kekesalanmu adalah sebuah kebahagiaan bagiku. Aku tak akan pernah bertemu orang dengan otak keledai sepertimu. Selalu masuk keperangkapku meski telah ribuan kali ku pancing." Bukankah itu lucu?" Kata Jelita."Apakah semenyangkan itu melihatku dan Zelo ribut? Sepertinya semua orang melihatku seperti hiburan gratis tiap harinya." Kataku dengan wajah kesal."Kenapa kalian bicara sangat lama? Aku menahan diriku untuk menghampiri kalian, tapi perasaanku terus memaksaku untuk menemui musuh bebuyutanku ini." Zelo mengacak rambutku lembut. Aku tak ingin menyukainya lebih lama. Aku tak ingin air di sudut mataku keluar sekarang."Aku harus pergi." Kataku melepaskan tangan Zelo."Eeei, kau mau kemana? Apa kau tak mau melihat kami bertukar cincin?" Zelo menahan lenganku. Perasaanku hampir meledak karenanya."Lakukanlah sendiri. Kalau mau menukarkan cincin, tukarkan sendiri ke tokonya.""Apa kau benar benar wanita? Kau bahkan tak tau arti bertunangan sesungguhnya. Aku bahkan ragu kalau kau pernah menyukai seorang pria." Zelo menatapku."Pria yang kusukai itu kau! Bodoh!" Aku berteriak dalam hati. "Katakan sekali lagi, dan kau tak akan bisa melihat mentari esok." Kataku dengan tatapan menyeramkan, seperti biasanya."Zelo, sekali saja jangan membuat keributan saat bertemu Viola." Kata Jelita lembut.Mungkin kelembutan itu yang membuat Zelo jatuh cinta padanya. Kelembutan yang tak kumiliki. Tak akan pernah bisa kumiliki. Mungkin kekasaranku yang membuat Zelo tak pernah bisa berbalik ke arahku."Tentu saja aku tak akan merusak hari kebahagiaan kita. Oh iya, Viola, apa kau ingat doamu? Aku berterima kasih, sebab doamu benar benar terkabul sekarang." Kata Zelo tersenyum mengejek.*Flashback*Tanganku belum juga selesai menari sejak tadi. Aku tak akan lelah menulis sajak indah di dalam buku kesayanganku. Keramaian di sekitarku sedikit mengganggu memang. Namun tak ada yang lebih mengganggu dibanding suara Zelo. Aku serasa ingin mencincangnya sekarang juga tanpa ampun."Zelo! Kau ini manusia atau hanya jelmaannya? Saat aku bilang jangan ganggu Jelita, itu berarti kau sama sekali tak boleh menyentuhnya!" Teriakku."Sebenarnya aku tak menyentuhnya. Aku hanya meminta selembar bukunya tetapi ia malah mengejarku sejak tadi." Zelo terus berlari dengan Jelita di belakangnya."Kalau kalian terus ribut, kalian bisa benar-benar jadian nantinya." Kalimat itu terlontar begitu saja dari bibirku."Baguslah, aku akan terus mengajak ribut Jelita agar ia bisa jadian denganku."Seperti kilat yang menyambar langsung ke hatiku tanpa ampun. Bukan hancur, hangus tak bersisa rasanya perasaanku. Aku tak pernah mengerti, tak pernah bisa mengerti. Kenapa ia memberi harapan besar padaku, dan menghancurkannya begitu saja setelah terbangun megah di hatiku. Sekian lama aku membuat perasaanku padanya terlihat indah, dan ia meremukkannya dalam sedetik. Semua perasaanku berbaring di sini menantinya. Tapi ia tak pernah kembali ke tempatku. I can't stop loving you. I can't stop loving you tonight.Aku terlalu bodoh menyukai orang sepertimu. Sikapmu tak berbeda pada orang lain. Aku terlalu bodoh jika berpikir kau juga mencintaiku. Cintamu mencekikku semakin dalam dan dalam. Membuatku menderita agar aku pergi dan meninggalkan semua yang tlah kuperjuangkan. Tapi aku tak akan pergi. Meski api telah membakar seluruh tubuhkku. Aku tak akan pergi selama kau tak memintaku. Cintamu menjeratku. Membuatku tak bisa bergerak dari keadaan yang menyiksa. Tak ada tempat untukku kembali. Aku tak akan pernah bisa kembali dari keadaan yang menyiksa ini. Tak sadarkah kau bibirku bergetar saat mendengar kalimat yang keluar dari bibir indahmu? Itu menyakitkan. Hatiku ikut bergetar hebat karenanya. Kau menyesatkanku dengan cintamu. Tak pernah membiarkanku melihat cinta yang lain.*Flashback end*"Lanjutkan acaranya. Aku harus pergi sekarang." Aku merasa sesuatu menyesakkan mataku. Bulir bulir bening mengaburkan pandanganku."Semoga kau bertemu seorang yang mencintaimu dengan tulus." Bisik Zelo sebelum kakiku melangkah.Aku membawamu terlalu jauh kedalam hatiku. Hingga ku tak mampu lagi menggapaimu untuk keluar. Aku begitu tersiksa menatapmu seperti ini. Seseorang yang tak pernah membalas tatapan mataku. Mata indahmu terlalu berharga untuk melihatku. Terlalu berharga untuk menatap jauh ke dalam hatiku. Dapatkah hatiku benar benar tenang saat kau tak berada di depan mataku?. Berikan aku waktu sedikit saja untuk menyukaimu. Izinkan aku menyukaimu sebentar saja. Izinkan aku berharap kau dapat membalas perasaanku. Bukankah kita menatap langit yang sama. Meski bukan ditempat yang sama. Mata kita masih bisa saling bertautan dan memandang. Kebahagiaan yang sesungguhnya hanya datang pada pemeran utama jika itu dalam drama. Untuk sebuah kehidupan, aku tak akan mampu menjadi pemeran utama. Pemeran utama yang lemah dan disukai banyak pria. Aku, hanya aku yang kasar dan menyebabkan masalah.
Tears
Aku tak pernah merasakan ini sebelumnya. Ah, apa yang aku lakukan? Kini aku sendirian. Rintik hujan memberiku nyanyian sebuah lagu sedih. Seharusnya aku tak melepaskannya. Melepaskan pelukan hangat dari seorang gadis sebaik dia."Aku harus ke London." Elena memelukku erat. Air matanya jatuh begitu saja."Lalu? Aku harus bagaimana? Melarangmu? Menahanmu? Aku tak bisa Elena." Mataku tak bisa menatap gadis ini. Seharusnya aku melepaskannya sejak dulu."Elena ingin terus bersama Jerry." Ia memelukku makin erat. Ada jutaan cinta disana."Pergilah." Aku melepaskan Elena. Gadis yang tak seharusnya menjadi milikku.Aku bisa melihat rasa sakit dimatanya. Air matanya berderai menatapku. Ia tarik kopernya semakin menjauh. Aku tau apa yang ia rasakan. Ia bukan gadisku lagi. Elena harus pergi.Pesawat itu menghilang dengan cepat. Lunglai, kukendarai mobilku menuju rumah. Apa aku salah melepas Elena? Aku tak bisa menahan lagi. Kuhentikan mobilku di sudut jalan taman. Sepi. Aku biasa bersama Elena. Aku terlalu terbiasa. Hingga aku sulit melepaskannya. Rintik hujan ini mengingatkanku pada awal pertemuanku dengan Elena.***Gadis baru di kelasku itu sangat ramah. Ia tak sungkan berkenalan dengan semua anak 1 kelas. Termasuk kepadaku."Jangan pria itu. Dia terlalu pendiam. Dia bisa menyakiti perasaanmu." Kata salah satu temannya."Benar, Elena. Sebaiknya kau menjauhi pria itu. Bahkan tak ada satupun dari kami yang pernah berbincang panjang dengannya. Ia lebih banyak diam." Kata temannya yang lain."Kalian tak usah khawatir." Kata Elena menampilkan senyum.Elena menghampiriku. Ia menunjukkan senyum termanis yang menurutku biasa saja. Aku tak terlalu memperdulikannya. Aku membaca komik ku kembali. Gadis ini terus menggangguku. Mencari cara untuk ngobrol denganku. Untuk terakhir kalinya, ia menyingkirkan komik ku. Meletakannya di balik tubuh kecilnya itu."Apa maumu?" Bentak ku. Elena malah memasang wajah tak perduli."Kembalikan komik ku sekarang!" Bentak ku. Ia masih diam."Sebaiknya kau pergi!" Kini ia mau menatapku."Seharusnya kau lebih banyak bersosialisasi dengan kami." Kata Elena. Ia mengembalikan komik ku."Untuk apa?" Tanyaku datar. Ku buka kembali lembaran yang kubaca tadi."Apa kau tidak tidak butuh teman?""Tidak.""Teman bisa mendengar seluruh masalahmu.""Dan membocorkannya pada yang lain?""Mmm, itu bukan teman. Tapi kau bisa percaya padaku.""Trima kasih." Kata ku bangkit.Gadis itu tak punya lelah. Setiap hari ia berusaha mendekatiku. Meski ia tau pasti bagaimana akhirnya. Aku akan meninggalkannya begitu saja. Dia punya lebih banyak akal dari yang pernah ku fikirkan. Bukan hanya mendekatiku di sekolah. Kini dia juga mencari tau alamat rumahku. Mengikutiku sepulang sekolah. Aku sangat terganggu. Tak pernah ada teman sekolahku yang tau alamatku sebelumnya.Istirahat sekolah, ia kembali mengikutiku. Aku sudah mencoba untuk diam. Tapi dia tak berhenti mengganggu. Aku berbaring di atas pohon belakang sekolah. Menutup wajahku dengan buku. Ah, gadis ini terus berteriak dari bawah."Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku?" Tanyaku jengkel."Berkenalan." Jawabnya dengan penuh kebahgiaan."Kau Elena, dan aku Jerry. Puas?" Bentak ku dari atas."Bukan itu. Apa kita tak bisa lebih dekat lagi?" Tanyanya. Aku melompat dari pohon."Ah, bukan. Maksudku bukan dekat seperti ini. Maksudku, dekat layaknya teman, bisa kan?" Tanya Elena."Tidak." Jawabku memalingkan wajah."Kenapa?""Semakin banyak orang yang dekat denganku, semakin banyak orang yang akan menangis saat aku pergi." Aku menundukkan kepala."Jangan begitu. Aku bisa menjadi temanmu. Aku adalah orang yang kuat. Buktinya, 3 bulan aku mengejarmu, dan aku masih bertahan." Kata Elena menatap wajahku dari bawah.Aku hanya bisa tersenyum menatap wajahnya. Sudah lama, atau aku memang tak pernah menatap wajah seorang gadis. Elena memelukku seketika. Menenangkan. Aku membalas pelukannya.Beberapa bulan berlalu, dan aku masih bersama Elena. Tak ada yang lain. Karna aku memang tak suka bersosialisasi. Aku dan Elena selalu mengerjakan tugas bersama. Hanya dia lah satu satunya orang yang bisa membuatku tertawa. Termasuk pagi ini ketika ia mengajakku berlarian di taman. Tapi mendadak, dadaku sakit, sungguh sakit. Aku hampir tak bisa merasakan getaran jantungku. Tuhan, jangan selesaikan ini sekarang. Jangan di depan Elena. Aku masih ingin merasakan kebahagiaan. Tubuhku tumbang. Aku tak kuat. Ku pegang dadaku sangat erat.Elena menemukanku tengah terkapar. Aku bisa menatap air matanya. Ia terdiam. Aku tau apa yang ia rasakan. Ah, rasa sakit ini kian menghilang. Terima kasih Tuhan. Aku bisa tersenyum menatap Elena."Kenapa?" Tanyaku tersenyum."Kamu.. kamu sakit? Wajahmu pucat. Aku panggilkan ambulan ya?" Kata Elena. Ada kekhawatiran dalam nada bicaranya."Ayo kita bermain lagi!" Kataku bangkit, kemudian duduk di samping Elena."Jujurlah Jerry, aku tau kamu menyembunyikan sesuatu." Kata Elena. Air matanya tak hanya membasahi pipi. Tapi juga bajunya."Inilah alasanku, kenapa aku tak pernah mau punya teman. Aku tak ingin melihat orang lain menangis." Kata ku mengusap pipi Elena dengan ibu jari."Kau orang yang kuat bukan? Tolong jangan menangis di depanku. Aku membencinya. Atau aku akan benar benar meninggalkanmu." Kata ku bersila di depannya."Ah, kalau begitu, kau harus cerita." Kata Elena. Ia terus menatapku."1 thn yang lalu, aku sama sepertimu. Seorang anak baru. Kau tau kenapa aku pindah?" Aku menundukkan kepala."Kenapa?""Aku punya banyak teman di sekolah lama ku. Hingga kemudian, penyakit menyebalkan itu datang. Aku menceritakannya pada salah seorang teman. Dan hal itu, membuatnya terus menangis. Aku tau bagaimana perasaannya mendengar kabar dariku. Padahal, aku telah menyuruhnya untuk diam. Tapi, dia malah menceritakannya pada teman yang lain. Mereka semua. Teman 1 kelas. Mereka menangis. Setiap hari mereka bersandiwara di depanku. Mencoba tersenyum saat melihatku. Aku tak menyukainya. Aku tak suka dikasihani. Aku membencinya." Air mataku menetes."Maafkan aku. Aku tak mengetahuinya." Elena memelukku. Aku bisa merasakan hangat air matanya."Jangan menangis. Atau jantungku akan benar benar berhenti." Kata ku tak membalas pelukannya."Iya, iya. Aku berjanji. Aku tidak akan menangis di depanmu. Aku akan selalu di sampingmu." Kata Elena menyeka air matanya.***Dan kini, ia telah melanggar 2 janjinya padaku. Janji untuk tidak menangis di depanku dan janji untuk tidak meninggalkanku. Tapi, aku bisa apa? Elena hanya teman. Hanya seorang teman. Aku tak pernah memberinya status hubungan yang lebih. Karena lebih dari itu, aku akan lebih sering membuatnya menangis.Aku keluar dari mobil. Berdiri di depannya. Tubuhku kian rapuh. Dingin menusuk tulangku. Ah, jantungku. Rasa sakit itu hadir lagi. Aku tak kuat berdiri. Kaki ku tak kuat lagi menopang tubuh. Tuhan, aku merelakan ini sekarang. Kubiarkan raga ku terjatuh. Terkapar sendirian. Aku merelakannya. Kini aku tak perlu khawatir akan air mata Elena. Ia telah pergi. Tepat sebelum rasa sakit yang luar biasa ini datang. Ku rapatkan kelopak mataku. Mencoba tertidur di tengah hujan. Tidur yang lebih lama. Tuhan, aku telah siap."Jerry..." Seseorang mengelus pipiku lembut.Kehangatan air ini terus menetes. Bukan air hujan. Ini air mata. Orang ini memeluk tubuhku. Aku bisa merasakan kehangatan jaket bulu nya. Elena. Aku yakin ini dia. Tuhan, beri aku kesempatan. Sedikit saja. Aku ingin mengelus pipi lembut Elena untuk yang terakhir. Ku coba membuka mata. Perlahan. Ah, rasa sakit di jantungku kian berat. Sangat sakit."Ha... hai..." Kata ku lemah."Jerry. Maafkan aku. Seharusnya aku selalu berada di sampingmu. Ini janjiku." Air mata Elena mengalir sangat deras."Tapi ini takdirku. Jika ini saatnya, aku akan sangat bahagia telah mengenalmu." Kata ku tersenyum. Mengusap pipi Elena yang lembut."Jangan berbicara seperti itu. Aku panggilkan ambulan ya?" Elena akan beranjak. Namun, aku menahan lengannya."Nggak. Waktuku hanya sebentar. Aku hanya ingin menatap wajahmu. Jangan menangis. Apa kau lupa dengan janjimu?""Jerry, aku mencintaimu. Lebih dari teman. Jangan tinggalkan aku.""Ayolah, jangan menangis. Usap air matamu. Tidak cocok berada di sana.""Hhufft..." Elena menarik nafas dalam. Ia usap air matanya. "Jerry, ini tak akan bertahan lama.""Aku juga tak akan lama melihatmu. Sekarang, katakan. Apa maumu?""Nggak. Seharusnya aku yang bertanya. Apa maumu? Hal apa yang bisa aku lakukan untuk mempertahankanmu?""Nothing. Just... berjanjilah padaku. Saat aku benar benar menutup mata. Jangan berteriak. Aku akan sangat terganggu. Percayalah, ini takdirku.""Jerry..." Aku bisa melihat usaha Elena membendung air matanya."Trima kasih." Ku kecup kening Elena. Untuk yang pertama dan terakhir.Ah, Tuhan, ini sangat menyakitkan. Aku tak bisa merasakan kakiku. Ku genggam tangan Elena. Mencoba menetralisir rasa sakit. Terima kasih Tuhan. Aku melepaskan genggamanku perlahan. Bersamaan dengan kulepaskan raga ku. Bisikan terakhir Elena. Aku masih bisa mendengarnya."Kita akan bertemu di kehidupan berikutnya. Bersama kembali. Dan aku bisa menghilangkan air mataku tanpa bantuanmu lagi."
Letting go
Segelas air es dengan beberapa tetes gula diatasnya sedikit mendinginkan suhu tubuhku yang mulai meninggi. Kulingkarkan jemariku disekitarnya. Mengamati embun yang menetes sedikit demi sedikit meninggalkan kawannya yang lain. Kurebahkan kepalaku di atas meja hijau yang biasa kugunakan untuk membaca buku. Terlihat beberapa helai dedaunan kering yang gugur di luar jendela. Aku menarik nafas panjang, mencoba menenangkan diri. Hingga sesuatu memaksaku untuk mengistirahatkan kedua bola mata yang belum kutidurkan sejak semalam.Suara denting lonceng di atas pintu kamarku membuyarkan pikiran yang entah sejak kapan tak lagi berada di tempatnya. Kuarahkan pandanganku ke asal suara yang sedikit menganggu perhatianku. Seorang pria dengan surai hitamnya yang lancip tersenyum dari sana. Langkah kakinya membawanya mendekatiku. Kutepuk tepuk ujung tempat tidur lembut. Ia sangat mengerti tentang isyaratku dan mengistirahatkan kakinya sejenak di sana."Jadi bagaimana?" Ia melipat kedua kakinya sesaat setelah ia duduk."Kau bertanya tentang apa? Aku yang harus meninggalkan kota ini besok atau sesuatu yang menyakitkan namun harus kulakukan?" Lagi lagi Kurebahkan kepalaku. Sejujurnya aku malas harus membahas ini dengannya."Kudengar suhu tubuhmu tinggi hari ini, bagaimana kau akan pergi besok?" Ia menyentuh keningku sejenak, menyamakan suhunya dengan keningnya sendiri."Aku tak sakit, hanya terlalu banyak berfikir. Kau tau kan bagaimana perasaanku pada Elena? Apa yang harus kukatakan padanya nanti?" Mataku mulai menerawang, membayangkannya saja terasa menyakitkan."Oh, tentang itu. Kau hanya perlu mengatakan bahwa kau tak bisa bersamanya lagi. Suatu alasan yang tak bisa kau utarakan membuatmu harus memutuskan hubungan itu." Ia memperbaiki caranya duduk, membuatnya lebih santai dengan bersandar pada kedua lengannya."Pantas saja kau tak pernah memiliki kekasih. Aku penasaran bagaimana caranya aku bisa lahir setelah dirimu. Apalagi dari rahim yang sama." Kugeleng gelengkan kepalaku saat menatapnya. Pria itu benar benar tak mengerti tentang sebuah hubungan yang didasari oleh cinta."Dasar." Ia menjitak kepalaku lembut. Kakakku memang orang yang selalu membuatku tersenyum.***Sekarang aku mulai memikirkannya lagi. Udara di ice cream shop ini terasa semakin dingin. Kedua telapak tanganku terasa begitu dingin. Huh, seharusnya aku mendengarkan apa kata kakakku tadi. Seharusnya aku membawa jacket buluku tadi.2 jam telah berlalu. Langit yang tadinya biru cerah telah berubah mendung. Kusandarkan kepalaku di bibir jendela. Tetes demi tetes hujan mulai turun membasahi jalanan yang telah lengang sedari tadi. Kulihat seorang wanita bergaun merah berlarian menembus hujan. Bahkan tas tangan kecil yang ia gunakan untuk menutupi kepalanya telah ikut basah karenanya. Gadis itu berlari dengan senyum yang mengembang. Menggambarkan kebahagiaan di setiap sudut wajahnya. Aku teringat kembali tentang Elena. Apa yang akan terjadi padanya nanti jika hujan terus turun seperti ini?Kutekan beberapa tombol nomor milik Elena. Oh, tentang nomor Elena, aku telah lama menghapusnya. Sejak sebuah kabar gembira serta menyedihkan datang dari sekolah." Nomor yang anda tuju sedang..."Sial.. Ada apa dengan Elena? Apa ia tak ingin menemuiku untuk yang terakhir kali? Apa ia tau apa yang ingin kukatakan?Belum sempat aku berfikir terlalu jauh, sebuah tangan lembut menyentuh pundakku. Elena, ia tersenyum melihatku. Rambutnya yang kecoklatan dengan wangi apel yang khas seakan memberiku pertanda bahwa ia baik baik saja.Elena duduk di depanku. Pakaian, tas, sepatu serta jam tangannya adalah barang barang yang pernah ia beli bersamaku. Oh, ada apa dengannya hari ini?5 menit berlalu, suasana terasa begitu canggung. 10 menit berlalu, kami masih tercekat dalam diam. 15 menit kemudian.."Permisi tuan.. Ini es krimnya.. Selamat menikmati.." Seorang pelayan mengantar pesanan yang entah sudah sejak kapan aku memesannya.Suasana yang bodoh. Bagaimana bisa aku mengajak Elena ke tempat seperti ini saat hujan turun diluar sana? Sepertinya ini bukan waktu yang tepat untuk mengatakannya. Aku tak mau mengatakannya, bukan, aku tak bisa mengatakannya. Elena.. Aku.."Kupikir kau ingin mengatakan sesuatu padaku." Elena mulai memasukkan sesendok es krim ke dalam mulutnya."Bisakah kita membahas itu nanti? Bagaimana tentang kabar orang tuamu?" Aku mencoba tersenyum ke arah Elena."Mereka baik baik saja. Dan kau tau, bisnis ayahku mulai berkembang pesat." Elena mengatakannya dengan penuh semangat. Dengan senyum yang memenuhi seluruh wajahnya. Bagaimana mungkin aku akan merusaknya sekarang?"Baguslah.." Aku mulai menggaruk tengkukku. Tak tau hal apa lagi yang bisa dibicarakan."Dan tentangmu.. Apa Jerman begitu menyenangkan?"Bagaikan disambar petir ditengah hujan yang teramat deras, seluruh tubuhku terasa amat sakit. Aku tak tau bagaimana aku bisa menjelaskannya pada Elena. Aku tak tau bagaimana cara untuk membuatnya mengerti."Jeremy.." Suara lembut Elena membuyarkan lamunanku."Oh.. Itu.. Tak semenyenangkan saat aku bersamamu." Aku memaksakan senyumku. Entah ia menyadarinya atau tidak."Kau pasti bohong kan? Ada banyak gadis cantik disana. Apalagi kita hanya bisa bertemu beberapa kali dalam sebulan. Kau pasti bosan denganku."Elena menatapku sendu. Aku tau ada kerinduan yang teramat dalam dimatanya.Aku tak tau lagi apa yang bisa kukatakan. Elena sangat mengerti tentangku. Mungkin dialah satu satunya gadis yang bisa mengerti tentang duniaku. 2 tahun bukanlah waktu yang singkat bagi sebuah hubungan untuk dibangun. Apalagi Elena membangunnya dengan penuh kasih sayang dari sikapnya yang lembut. Aku tak akan kuasa untuk menghancurkannya. Aku tak bisa menghancurkannya."Oh iya.. Bagaimana tentang sekolahmu?" Aku mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.Elena sangat antusias bercerita. Gadis yang saat ini duduk di didepanku dengan matanya yang berbinar terlihat begitu bahagia. Apa aku harus merusak kebahagiaannya sekarang?"Elena.. Bisa aku bertanya tentang sesuatu?" Tanyaku mulai memberanikan diri."Tentang apa?""Apa kau bahagia bersamaku selama ini?"Aku bisa melihat keterkejutan di wajah Elena. Mungkin pertanyaanku memang terlalu mendadak untuk ditanyakan disaat yang seperti ini."Tentu saja aku bahagia. Kalau tidak, kenapa aku harus susah payah bertahan?""Jadi kau bersusah payah untuk bertahan denganku?""Eh, maksudku..""Akhiri perjuanganmu untuk terus bertahan denganku."Aku mengatakannya dengan cepat. Kalimat itu meluncur keluar dari bibirku begitu saja. Tak pernah terfikir olehku akan begini akhirnya.Elena kembali memasang ekspresi terkejutnya selama beberapa detik. Sesaat kemudian air mata pertamanya keluar tepat di depan mataku. Ia hanya diam. Elena menangis dalam diam. Aku tau bagaimana rasa sakitnya. Aku merasakan hal yang sama, atau bahkan lebih menyakitkan karna aku sendiri yang harus mengatakannya."Kenapa? Apa alasanmu menghentikanku?" Elena kembali meneteskan air matanya yang amat berharga."Karna aku ingin melihatmu bahagia bersama orang lain.""Jadi kau menemukan gadis yang lebih baik dariku di Jerman?"Air mata Elena turun semakin deras. Aku ingin memeluknya sekarang. Aku ingin mengusap kepalanya dan menenangkannya. Aku tak ingin melihatnya menangis lagi."Bukan tentang itu. Ini semua tentang.. Beasiswa yang kudapatkan."Tiba tiba saja berkembang senyum di bibir Elena. Ia tersenyum mendengar kejujuranku. Kupikir ia akan merengek dan memintaku untuk membawanya ikut. Tapi aku salah, Elena telah tumbuh dewasa sebelum aku menyadarinya."Selamat Jeremy.""Jadi.. Tentang hubungan kita..""Apa kita tak bisa jika hanya seperti ini?""Aku tak akan kembali kemari hingga aku lulus nanti.""Aku bisa menunggu."Aku tak mau kau menungguku lagi. Sudah cukup kau menyia nyiakan waktumu untuk terus menungguku selama 2 tahun belakangan ini.""Jeremy.. Aku..""Aku juga mencintaimu. Tapi aku tak bisa memberikanmu harapan yang kemungkinan besar tak bisa kutepati. Aku berharap kau akan bahagia bersama pria lain diluar sana. Sikapmu padaku sungguh baik, dan kau akan menemukan kekasih yang lebih baik dariku. Aku tau rasanya sangat menyakitkan sekarang. Tapi rasa sakitnya tak akan bertahan lama, kau akan menemukan pria yang lebih baik.""Bagaimana bisa kau.." Elena terus menangis. Bahkan ia tak mampu lagi meneruskan ucapannya."Aku harus pergi sekarang. Pesawatku terbang besok dan aku belum mengemasi barang barangku." Aku bangkit dari duduk.Aku tersenyum ke arah Elena sebelum akhirnya berbalik ke arah pintu. Bulir bulir bening mulai memenuhi seluruh ruang di dalam mataku. Pandanganku semakin buram di buatnya. Aku tak bisa melepaskan air mata ini sekarang. Masih ada Elena yang melihatku di belakang sana."Aku akan mengambil tes beasiswa ke Jerman semester depan." Suara teriakan Elena menghentikan langkahku.Aku tak bisa menahan kakiku untuk tak berjalan kembali ke arahnya. Aku berhenti tepat di depannya. Membuat wajah kami terlihat begitu jelas satu sama lain. Elena terus menangis sesenggukan. Rasanya teramat sakit melihatnya seperti ini."Kau bisa mengambil tes itu. Tapi jangan membuatku sebagai alasannya. Dan saat kau mendapatkan beasiswa itu dan bisa pergi ke Jerman, aku berharap kau tak akan mengingatku lagi. Jangan pernah mengingat namaku lagi."Kukecup kening Elena cukup lama. Setetes air mataku jatuh begitu saja tanpa kusadari. Perasaanku masih begitu berat untuk melepaskannya. Aku menatapnya sekali lagi. Menikmati keindahan yang mungkin tak akan pernah kudapatkan kembali.Aku beranjak dari hadapan Elena dengan senyuman serta tangis yang kusimpan dalam hati. Kulangkahkan kakiku ke arah pintu dengan air mata yang semakin deras mengalahkan hujan diluar sana. Kusapu semua tanda sakit ini dengan kasar. Aku hanya ingin menunjukkan pada Elena bahwa aku baik baik saja. Aku akan bahagia tanpanya begitupun dirinya tanpaku.***"Sudah kau selesaikan?"Kakakku menyodorkan secangkir kopi hangat kepadaku. Kuhirup aromanya dalam dalam. Setidaknya secangkir kopi ini bisa menghangatkan tubuhku untuk sejenak. Masih ada 30 menit sebelum pesawat kami diberangkatkan."Hhh.." Aku hanya bisa menarik nafas panjang dengan mata yang menerawang entah kemana."Hadiah dari Elena."Sebuah kotak kecil berhiaskan pita berwarna kuning yang diserahkan oleh kakakku kini telah berada di tanganku. Aku membukanya perlahan, tak ingin merusak setiap sudut kertas yang telah dibuat Elena dengan susah payah. Di dalamnya berisi sekotak vitamin dan selembar surat yang ditulis oleh Elena. Bukan surat, lebih tepatnya notes."Semoga lekas sembuh" Hanya itu yang tertulis di sana."Tau darimana dia tentangku yang sedang tak enak badan?" Aku menatap ke arah kakak."Saat kau mencium keningnya. Oh iya, aku yang mengantarkan Elena kemarin.""Hmm." Aku tak peduli dengan ucapan kakak karna memang ia sangat suka mencampuri urusanku."Lelaki mana yang membiarkan gadisnya menangis di depannya seperti kemarin." Kakakku menyilangkan tangannya di depan dada. Aku tau ia sedang mengejekku sekarang."Lelaki yang ada di sampingmu." Jawabku sekenanya."Seharusnya kau menghentikkan air matanya kemarin.""Kau ini benar benar tak mengerti tentang perempuan. Saat mereka menangis, kita tak bisa menghentikannya. Yang harus kita lakukan adalah membiarkannya menangis agar perasaannya lebih lega. Setidaknya harus ada 1 orang yang tau tentang masalahnya.""Bilang saja kau tak bisa menahan tangisannya.""Memang seperti itu." Kataku menahan tawa."Lalu, kenapa kau tak mau Elena mencarimu? Ia sudah susah payah belajar untuk bisa menyusulmu ke Jerman.""Tentang itu.." Aku menahan kalimatku. Mencoba memikirkannya kembali. "Aku melihat seorang gadis yang berlari di tengah hujan kemarin. Ia terlihat bahagia dengan senyumannya. Aku teringat tentang Elena saat itu.""Maksudmu?""Hubungan jarak jauh yang kami jalani 2 tahun belakangan ini, aku tau sangat berat untuk Elena, tapi ia terus tersenyum melawan hujan badai yang terus menentangnya. Orang yang dekat dengannya pasti bisa melihat senyum Elena. Tapi orang tak mengenal Elena dengan baik, pasti akan berfikir kalau dia sedang bersusah payah menjalani hubungan yang tak pasti denganku. Aku tak mau orang lain berfikiran buruk tentang hubungan kami jika dilanjutkan lagi.""Setidaknya biarkan dia mencarimu jika ia bisa sampai ke Jerman nanti.""Karna wanita harusnya dikejar, bukan mengejar. Aku hanya ingin menghargai kodrat Elena sebagai wanita. Jika aku bisa kembali kemari atau Elena yang akan menyusulku, akulah orang pertama yang menemuinya dan ia temui. Aku akan terus mengawasi Elena dari jauh dan tersenyum di atas kebahagiannya nanti. Aku berharap Elena tak akan mengingatku, jadi ia juga tak mengingat kejadian menyakitkan yang dialaminya kemarin, dan kita bisa memulai semuanya dari awal lagi."
Tentang Luka
Luka. Seberapa sering kamu terluka? Seberapa dalam luka yang pernah kamu terima? Seberapa sering kamu melukai orang lain? Seberapa sering kamu melukai orang yang bahkan kamu cintai dan sayangi?Dulu sepertinya duniaku hanya ada warna putih. Aku tidak pernah mengkhawatirkan apapun kecuali nilai akademik di sekolah, karena ketika nilaiku tidak bagus, Bapak akan marah, dan aku seperti di sidang seharian.Dulu kalaupun aku butuh sesuatu, atau kalau aku butuh temen untuk sekedar jalan-jalan, Bapak selalu menjadi orang yang pertama ada. Kasih sayang yang dia berikan sangat cukup. Aku suka mempunyai banyak teman. Aku tidak pilih-pilih teman. Perempuan, laki-laki, kaya, miskin, dan sebagainya bisa menjadi temanku, dan Bapak tidak masalah dengan itu.Pacar? Jelas punya. Dulu kalaupun aku punya pacar, Bapak tahu. Karena tiap di antar pulang aku selalu minta sampai depan rumah, dan ku persilahkan masuk untuk menghadapi Bapakku. Bapakku menilai sendiri. Dulu aku menganggap apa yang dikatakan Bapak tentang mereka, baik dan buruk hanya berdasarkan suka atau ketidaksukaan Bapak saja, ternyata karena Bapak lebih dulu ada dan lebih dulu mengenal karakter banyak orang.Aku merasa tidak kekurangan. Aku punya keluarga utuh, aku peringkat pertama di kelas, temanku banyak, dan yang suka padaku banyak, mungkin itu menjadikanku pribadi egois dan tanpa sadar melukai orang-orang disekitarku.Dan hari itu, sore menjelang magrib, banyak tetangga tiba-tiba datang kerumahku, sibuk memindahkan kursi yang ada di dalam rumah, menggelar karpet, memasang bendera kuning, mereka terlalu sibuk untuk aku yang masih duduk terdiam, mencerna kenyataan, menerima luka yang aku tahu itu tidak akan pernah sembuh. Duniaku seakan hancur, separuh nyawaku serasa hilang. Bapak meninggalkanku selamanya.Semenjak kejadian itu, tidak tahu mengapa, aku merubah hidupku. Tidak tahu disebut "mandiri" atau "dipaksa sendiri". Aku yang saat itu masih kuliah, memaksa mengambil banyak pekerjaan sampingan untuk mengisi waktu luang disaat tidak ada jadwal kuliah. Bukan karena butuh uang, Ibuku masih sanggup membiayai semua kebutuhanku. Tapi karena di saat aku sendiri, luka itu muncul lagi. Ibuku adalah wanita karir yang berangkat pagi, pulang malam. Saat itu aku tidak ingin membebani segala hal yang membuatnya sedih, karena aku tahu Ibu juga sedang berjuang menata kesedihannya, hatinya, dan hidupnya.Kisah cintaku setelah Bapak pergi tidak berjalan mulus. Tidak ada lagi saran dan peringatan yang membuatku waspada. Aku tidak bisa menangkap sinyal-sinyal aneh. Sekali lagi, aku terluka. Membuat sifatku keras terhadap diri sendiri.Setelah menikah dan memiliki anak, aku baru mengerti tentang semuanya. Dulu, aku selalu menceritakan kepada teman-teman kalau kehidupan setelah menikah itu indah. Mereka ingin segera menikah, memiliki keluarga utuh dan bahagia. Namun sekarang, aku lebih memilih untuk memberi saran.Menikah itu adalah ibadah terpanjang. Butuh semua aspek dalam hidup yang harus kalian pertaruhkan. Jangan buru-buru menikah kalau memang belum siap, terutama siap secara mental. Karena menikah itu akan indah apabila bertemu orang yang tepat.Menikah itu benar-benar membutuhkan keikhlasan. Ikhlas apabila tidak semua rencana indah yang kita persiapkan, akan mendapat hasil yang indah juga. Ikhlas memaafkan, meskipun kadang kita sendiri belum mendengar kata maaf. Belajar menerima apapun hal baru yang masuk ke dalam hidupmu entah itu hal yang tidak kamu sukai sekalipun.Kepercayaanku hancur. Batinku berperang, isi kepalaku pun berisik. Dan sekali lagi, aku terluka.Bagaimana aku menggabungkan rasa ikhlas dengan segala ketidakpercayaanku? Itu yang sampai saat ini masih aku pelajari.Apapun yang saat ini sedang kalian lalui, masalah yang kalian hadapi, luka yang belum terobati, selalu ingat untuk menghargai diri kalian sendiri terlebih dahulu. Dan kalau kalian sudah sampai di tahap itu, selanjutnya hargailah orang yang kalian sayangi.Dari aku, tentang luka.* * *SELESAI
Yang Tidak Bisa Dimiliki
Setelah terdengar pluit wasit berbunyi, dengan santai gue berjalan ke kursi penonton, dimana banyak temen-temen gue duduk. Gue mengambil botol minum dan meneguk airnya, setelah selesai gue seka dengan punggung tangan gue.Gue melirik rombongan anak-anak cewek yang juga masih satu sekolah dengan gue. Gue kenal dengan beberapa di antata mereka. Ada satu geng yang isinya cantik semua, mereka berempat, dan gue tertarik dengan salah satu dari mereka. Gue melihatnya cukup lama, dia sedang berbincang dengan teman-temannya, senyumnya mampu membuat bibir gue ikutan tersenyum.Sampai akhirnya salah seorang temen gue menepuk pundak gue, "Yang mana, Bas?" tanyanya. Gue hanya menunjuk ke arahnya dengan dagu gue. "Kenny?""Namanya Kenny?"gue memastikan."Iya, dia emang imut sih, ngegemesin."Namanya Kenny, CATET!Keesokan harinya, pas jam istirahat, seperti biasa, gue dan temen-temen gue makan di kantin, tiba-tiba anak basket tim cewek minta ikut gabung satu meja dengan kami. Di depan gue duduk seorang cewek, cantik memang, salah satu dari geng yang isinya cewek cantik yang gue ceritain itu."Hallo, Bas!" sapanya."Hallo." balas gue sekenanya."Kemarin Bastian ini ngeliatin lo terus, Ken, sampe gak kedip, sampe senyum-senyum sendiri." sahut Ian, temen basket gue.Ken? Kenny? Jadi yang namanya Kenny bukan cewek yang gue taksir? SHIT! Salah orang!"Serius, Bas?" tanya Kenny memastikan.Posisi gue sekarang? Kikuk lah! Gue kan harus menjaga harga diri dia. Masa iya gue harus bilang 'Kenny, si Ian salah orang' itu bukan ide yang bagus."Ri! Riri!"Si Kenny ini setengah teriak memanggil nama seseorang, karena cukup mengganggu, gue ikutan nengok kan!Dia! Dia! Itu dia! Riri!"Sini, Ri!" panggil Kenny lagi. Cewek bernama Riri ini datang mendekat. Entah kenapa jantung gue yang biasanya anteng ini mendadak brutal."Apa, Ken?""Kok sendiri?""Yang lain OSIS.""Gabung aja." gue melontarkan saran yang ada di hati gue tanpa sempat di saring otak gue."Eh iya, gabung aja sini, Ri. Daripada sendirian."Setelah mendapat persetujuan dari banyak pihak, Riri setuju untuk gabung. Kenny menggeser posisi duduknya, hingga sekarang Riri duduk di depan gue. Entah kenapa senyaman itu cuma duduk depan-depanan sama Riri.Waktu pun berlalu, setiap hari gue selalu mencari informasi soal Riri. Namanya Arinda, di panggil Riri, anaknya ramah banget, ke semua orang tepatnya. Banyak fansnya, baru putus sama cowoknya, lagi deket sama Kakak Kelas, dan ternyata banyak anak-anak basket yang naksir sama dia termasuk Ian."Ya sebenernya gue udah feeling kalo lo bakalan naksirnya sama Riri, cuma dari pada nambah-nambahin saingan ya gue belokin aja ke Kenny. Tapi gue pikir lo emang sukanya sama Kenny, soalnya selain suka sama Riri, gue juga suka sama Kenny, dia imut banget, tapi kalo gue salah ya maaf, lagian kan sekarang lo jadi deket sama Kenny."Iya, gue emang jadi deket sama Kenny, tapi supaya Riri ngeliat adanya gue di hidup dia. Karena kalo gak karena Kenny, mungkin dia bisa secuek itu ke gue. Sekarang kita sering tegur sapa kalo ketemu, kadang dia juga ketawa kalo gue ajak becanda. Sederhana, tapi bikin bahagia.Malem ini malem minggu, gue dateng ke ulang tahun Megan, anggota tim basket cewek. Penampilan udah gue bikin sekeren mungkin karena gue tau pasti ada Riri. Dan bener aja, dia dateng, sekarang lagi ngobrol sama anak-anak cewek. Seperti biasa, jantung gue selalu brutal tiap ngeliat dia.Pandangan gue yang melihat Riri dari jauh, terhalang Kenny yang sekarang berdiri di depan gue. Dia cantik. Dan tersenyum."Bas, boleh ngomong sebentar?" pintanya pelan. Gue mengangguk. Riri melihat ke arah gue dan melempar senyum, temen-temennya juga.Coba tebak apa yang mau di omongin Kenny ke gue? DIA NEMBAK GUE!Gue terjebak! Dari awal gue emang udah salah langkah!"Tengkyu ya, Ken, udah suka sama gue, udah berani nyatain perasaan, tapi sorry, Ken, gue suka sama cewek lain. Sorryyyy banget gak bisa terima perasaan lo." Gue berusaha untuk mengatur nada bicara gue selembut mungkin supaya Kenny gak marah.Dia diam sesaat. Ekspresinta agak kaget, lalu berusaha tersenyum, matanya berkaca-kaca."Oh? Ya? Uhm, it's okay! Gak apa-apa, Bas, gue ngerti. Yaudah kalo gitu gue gabung sama yang lain dulu ya. Daaah"Kenny berlari ke arah cewek-cewek dimana disitu ada Riri, tanpa di kasih tau, gue yakin mereka sekarang ngeliat ke arah gue dengan tatapan kesal. Gak lama Kenny pergi meninggalkan kumpulan itu, hanya tersisa Riri dan Vina.Acara pesta ulang tahun Megan selesai. Ian mengajak gue nginep di rumahnya, kebetulan kami membawa kendaraan masing-masing, Ian pergi duluan karena gue harus pamit dengan Megan. Ketika gue pamit, masih ada Riri dan Vina."Kebetulan masih ada lo! Bas, anterin Riri pulang ya. Tadi dia kesini bareng Kenny, tapi Kenny pulang duluan. Vina mau nginep di rumah gue""Oh? Ririnya mau?""Ngerepotin gak, Bas?""Engga kok, Ri, santai. Lagian udah malem juga kan."Yes! Akhirnya kesempatan itu datang! Gue bisa berduaan sama Riri. Gue sengaja membawa mobil gue pelan-pelan, supaya bisa lama sama Riri.Awalnya kami berbincang asik. Membahas basket, pelajaran, masa kecil, dan masih banyak. Sampai akhirnya."Kenapa, Bas?""Apanya?""Kenapa nolak Kenny?"Gue diam sesaat, "Karena emang bukan Kenny yang gue suka, Ri.""Bukannya waktu itu lo nitip salam buat Kenny?"SHIT! Pasti Ian!"Sebenernya salah paham, Ri,""Salah paham gimana?""Cewek yang gue suka itu..." kalimat gue terputus, gue takut. Gue takut Riri jadi benci sama gue. Gue menghela nafas, memberanikan diri, "cewek yang gue suka itu lo, Ri!"Riri menoleh. Gue membalas pandangannya, untuk menyakinkan kalau gue gak bohong. Riri mengalihkan pandangannya."Waktu itu yang gue liat lo, tapi Ian mikirnya gue ngeliatin Kenny! Gue bener-bener suka sama lo, Ri!"Riri terdiam. Sejak saat itu, suasana kami menjadi hening. Sampai akhirnya kita sampai di depan rumah Riri."Makasih ya, Bas, udah repot nganterin gue." ucap Riri. Gue mengangguk sambil tersenyum. Riri terlihat kikuk, seperti ingin membicarakan sesuatu, "Uhm, Bas, gue tau situasinya salah paham, gue juga tau lo gak bermaksud untuk nyakitin Kenny, tapi Kenny itu sahabat gue, Bas! Gue sayang sama Kenny!"Kalimat tersirat Riri barusan sudah cukup menjelaskan kalau gue harus memupus harapan gue untuk menjalin hubungan yang lebih dekat dengan Riri. Ternyata sesakit ini rasanya di tolak meskipun gue tidak meminta apapun dari dia.Dia yang tidak bisa dimiliki, bukan karena gue tidak berusaha, tapi langkah gue yang udah salah di awal. Ternyata bener-bener sesakit ini.Dan sejak malam itu, gue cuma bisa mandangin Riri yang tertawa dengan teman-temannya, sampai terakhir gue melihat dia waktu kami lulus SMA, setelah itu kami tidak pernah bertemu lagi.Sampai akhirnya, setelah hampir 15 tahun tidak pernah ada kabar tentang dia, Vina merepost postingan Riri...END....* * *
April dan Desember
Kilatan lampu dan suara jepretan kamera wartawan menghiasi salah satu ruangan gedung di kawasan Jakarta Selatan siang itu. Tak lama kemudian, sesosok wanita cantik berumur 35 tahun duduk di salah satu kursi yang telah di sediakan. Dia masih membiarkan para wartawan untuk memotret, hingga frekuensi kilatan lampu dan suara jepretan pun berkurang.Setelah menjelaskan sedikit tentang karyanya yang berjudul "Dark Desember Suggestion", wanita bernama April itu mempersilahkan sesi tanya jawab untuk para wartawan."Mengapa anda memberi judul Dark Desember Suggestion? Apakah ini terinpirasi dari kisah hidup anda?" tanya salah satu wartawan.April tersenyum, matanya menerawang jauh.Dia cukup ingat bagaimana dahulu dirinya melewati bulan Desember yang sangat ingin ia hindari itu.Semua bermula dari satu kejadian itu, waktu itu umurnya baru menginjak 5 tahun.Flashback...April berlari kegirangan karena dirinya berhasil mendapatkan piala juara menulis di TK-nya. Namun langkahnya terhenti di depan pagar rumahnya, mendengar suara keributan dari dalam, bahkan bunyi pecahan piring dan gelas itu cukup membuat hatinya sakit.Masih berdiri mematung dan air mata yang sedikit demi sedikit keluar dari matanya, Ibunya keluar dari rumah, membuka pagar, dan terkejut melihat putri semata wayangnya ada disitu sambil menangis.April melihat Ibunya yang berantakan, dengan menenteng tas kecil dan koper di kedua tangannya.Ibunya berjongkok, mensejajarkan tinggi mereka, melihat wajah April yang terluka, dia ikut menangis."April, Ibu minta maaf. April jaga diri ya, yang nurut sama Bapak. Ibu pamit pergi. Maafin Ibu ya, Nak."Pesan singkat itu, dan kepergian sosok Ibunya membuat tangis April makin menjadi. Kakinya benar-benar berat untuk mengejar kepergian Ibunya. Karena pertengkaran kedua orang tuanya memang terlalu sering akhir-akhir ini.Dan di tahun berikutnya, bulan Desember saat dirinya berumur 6 tahun, tiba-tiba saja Ibunya mendatanginya di Sekolah Dasar, mengajak April untuk tinggal bersamanya.April dilema. Dia sadar bahwa dia sangat rindu Ibunya. Disaat teman-temannya yang lain di antar Ibunya berangkat sekolah di hari pertama, April di antar Bapaknya. Kadang mereka bertanya "April, Ibunya mana?" dan April tidak tahu harus menjawab apa.April menolak ajakan Ibunya, dan disaat yang sama, Bapaknya yang baru datang ingin menjemputnya, murka melihat Ibunya datang sembunyi-sembunyi untuk membawa April pergi. Ibunya yang panik langsung lari dan tertabrak sebuah truk besar.Di depan matanya, Ibunya yang sangat dia rindukan itu, meninggal di depan matanya.Flashback off..."... saat itu, saya baru sadar kalau bulan Desember itu tidak ramah untuk saya. Karena di bulan-bulan Desember berikutnya, ada saja kejadian yang menimpa saya. Tangan saya tiba-tiba patah saat saya terpilih menjadi perwakilan sekolah untuk ikut lomba menulis, dan masih banyak hal lain yang membuat saya cukup menghindari bulan itu. Rasanya untuk satu bulan itu saya hanya ingin di kamar dan meringkuk sambil menunggu bulan itu berlalu." ucapan April diselingi candaan itu sukses membuat para wartawan dan orang-orang yang berada disitu tertawa kecil."Namun ada satu waktu, saya mengikuti salah satu seminar. Waktu itu temanya adalah sugesti. Saya mendalami kalimat itu, dan mulai mengimplementasikannya ke diri saya. Saya berpikir mungkin selama ini saya terlalu takut pada bulan itu, padahal selama ini mungkin saja itu ketentuan dari Tuhan yang memang tidak dapat saya ubah. Akhirnya saya beranikan diri terus menerus, melewati satu bulan Desember itu dengan sugesti kalau semuanya akan baik-baik saja, saya hanya harus berhati-hati dan berpikir positif. Dan saya baru sadar, kalau bulan itu, adalah hari lahir Bapak saya dan hari pernikahan kedua orang tua saya."Flashback...April menaruh kue sederhana di atas meja di depan Bapaknya. Melihat Bapaknya yang kian hari kian menua. April melihat kedua mata Bapaknya menerawang jauh melihat kue di depan matanya itu, lalu menangis."Bapak gak pernah menyesal menikah sama Ibu. Ibu adalah wanita terbaik menurut Bapak. Ibu adalah wanita paling sabar yang pernah Bapak temuin. Ibu adalah wanita paling cantik yang pernah Bapak milikin. Makanya kamu yang cantik ini mirip Ibu. Bapak yang salah, waktu itu Bapak yang gelap mata. Ibu sudah tahu kalau Bapak suka berjudi dan pernah main perempuan. Ibu sudah sering meminta Bapak untuk berubah, tapi Bapak gak terima. Hari itu, Bapak yang usir dia. Kamu jangan nyalahin Ibu kenapa gak bawa kamu pergi, karena Bapak tahu Ibu tidak punya apa-apa saat keluar dari rumah, jadi Ibu tidak ingin kamu ikut susah. Bapak yang salah, Bapak gagal jadi kepala rumah tangga yang baik buat kalian."Entah kenapa hati April sangat terluka mendengar pengakuan Bapaknya. April tidak bisa menghakimi siapapun saat ini, karena dia tahu hati Bapaknya juga terluka.Bapaknya yang selalu menang berjudi, hingga uangnya banyak dan di lirik perempuan, tidak meninggalkan hutang apapun.Setelah Ibunya pergi dari rumah dan sadar, Bapaknya berhenti berjudi dan meninggalkan dunia kelamnya, itu pilihan terbaiknya. Namun rumah tangga mereka memang sudah tidak bisa di selamatkan.Flashback off..."...karena untuk pertama kalinya, tidak ada hal buruk di bulan Desember. Bapak saya meninggal, tak lama dari itu, bulan Februari. Dan setiap bulan itu saya selalu mensugesti diri saya. Hingga pada bulan Desember, saya bertemu dengan suami saya. Dan bulan Desember berikutnya kami menikah. Lalu bulan Desember berikutnya anak pertama kami lahir. Dan dari situ saya berpikir, tidak selamanya bulan Desember itu kelam. Karena saya selalu ingin membuat kenangan indah di bulan Desember.""Apakah ada kesulitan saat menulis karya anda?" tanya wartawan lainnya."Kesulitan pasti ada. Tapi karena ada keluarga saya yang membuat saya termotivasi, saya tidak terlalu ingin mengingat hal sulit itu. Karena untuk menghasilkan sebuah karya, ada hal sulit tersendiri yang dirasakan si pembuat karyanya.""Lalu kepada siapa anda ingin mempersembahkan karya anda?" sahut wartawan lainnya.April tersenyum, "Saya ingin mempersembahkan karya saya untuk orang-orang yang saat ini tidak percaya dengan dirinya sendiri. Bahwa kalian harus mensugesti diri kalian kalau kalian pasti bisa. Tidak ada yang tidak mungkin selama kalian ada kemauan."Semua memberi tepuk tangan meriah. Sesi tanya jawab pun di tutup, lanjut ke sesi foto dan salam sapa untuk menggemar karya-karya April.Ibu, Bapak, April yakin, dari sana kalian melihat April sambil tersenyum. April bangga punya orang tua seperti kalian. Semoga kalian juga bangga punya anak seperti April. April hanya ingin memberitahu kalian kalau disini April bahagia. Batin April.Masih dengan bibir tersenyum dan menyapa penggemarnya.* * *SELESAI...
Possessive Senior
Jam pelajaran Matematika hari ini telah berakhir setelah terdengar suara bel tanda waktu istirahat di mulai. Nayra masih sibuk membereskan buku dan alat tulisnya, serta peralatan jangkar yang memang tempatnya terpisah dari kotak pensil.Tiba-tiba saja, seorang siswa berlari tergesa-gesa dan berhenti di ambang pintu kelas Nayra."Nay, cowok lu berantem di kantin!" adunya.Tanpa berpikir panjang, Nayra langsung bangkit dan berlari secepat mungkin ke kantin.Sesampainya di kantin, benar saja. Dia melihat Attar, kekasihnya sedang terlibat adu jotos dengan Reno, dari kelas sebelah. Wajah Reno sudah terlihat babak belur sementara Attar hanya terlihat berantakan. Dia memang pandai berkelahi."Kak Attar, berenti!" perintah Nayra.Teriakan Nayra membuat seisi kantin hening. Karena Attar yang baru saja ingin memukul Reno untuk kesekian kalinya tiba-tiba saja berhenti. Dia melepaskan cengkramannya di kerah baju Reno lalu mendorongnya.Sial! Batin Attar. Siapa yang ngadu ke Nayra? Tanyanya dalam hati."Gue peringatin sekali lagi, jangan ganggu cewek gue!" ucap Attar penuh penekanan. "Bubar! Tontonan selesai!"Beberapa siswa lain membantu Reno bangkit, dan sisanya mengikuti perintah Attar karena memang pertunjukkannya sudah selesai. Sementara Attar berjalan santai ke arah Nayra yang masih berdiri di tempat yang sama.Attar tersenyum dan menggandeng Nayra pergi dari kantin seolah tidak terjadi apa-apa."Kak!"Attar berhenti lalu membalikan tubuhnya, menatap Nayra yang kini di depannya. Dia tahu Nayra marah."Kenapa, Nay?" tanyanya lembut."Kenapa? Kenapa mukul Reno?""Kamu gak tau? Atau pura-pura gak tau?" pertanyaan balik Attar yang penuh penekanan sukses membuat Nayra mengerutkan kening. "Kamu beneran gak tau?" Attar bertanya lagi memastikan."Kenapa?""Dia itu lagi ngincer kamu.""Ngincer apa?""Ya ngincer, mau deketin kamu.""Kak Attar salah paham.""Nay, aku cowok, aku tau gerak-gerik cowok yang lagi suka sama cewek. Minggu lalu, dia liatin kamu terus di perpus, abis itu dia tiba-tiba dapet nomor kamu, terus dia chat kamu. Iya, kan?""Tapi dia itu cuma nanya kisi-kisi ulangan matematika, Kak!""Kamu bener-bener polos, Nay! Itu cuma akal-akalan dia aja.""Kak Attar selalu gitu, curigaan. Kak Attar sadar gak sih kalo Kakak tuh posesif banget ke aku? Kalo kayak gini terus lama-lama aku gak punya temen, Kak! Gak ada yang mau temenan sama aku karena takut sama Kakak!"Attar mengambil handphonenya di saku bajunya, lalu menunjukkan bukti chat.Nayra membaca chat itu lalu mengerutkan kening, tidak mengerti."Kemarin dia chat kamu, ngajak jalan." kata Attar santai. "Kebetulan kamu kemarin lagi ambil minum buat aku, aku langsung buka terus langsung aku apus.""Kak, itu kan privasi aku!"Dengan kesal, Nayra meninggalkan Attar menuju kelasnya. Sejujurnya dia sudah lelah dengan Attar. Terlalu mengekang, terlalu posesif.Attar adalah cowok paling tampan di sekolahnya sekaligus Kakak Kelasnya. Nayra yang saat ini kelas 2 sedangkan Attar kelas 3. Selama ini yang Nayra tahu, banyak siswi di sekolahnya yang ingin menjadi pacar Attar. Gimana tidak, Attar pintar, ketua basket, dan misterius. Diantara para siswi yang ingin Attar menjadi pacarnya, Nayra ada disitu.Nayra juga tidak menyangka kalau Attar memilihnya untuk menjadi pacarnya. Saat itu Nayra menjadi cewek populer di sekolahnya. Dan tak jarang banyak cowok yang ingin mengenalnya. Dari situ perkara di mulai.Attar berubah menjadi brutal tiap kali dia mendapati cowok yang ingin mendekati pacarnya. Tanpa basa-basi, Attar melabraknya dengan pukulan. Tak jarang juga Nayra yang harus melerai perkelahian pacarnya itu, karena Attar hanya berhenti kalau ada Nayra.Beberapa kali Nayra mendapati Attar babak belur setelah berhasil menjatuhkan cowok yang mendekati Nayra dan semua teman yang membantunya.Dan karena sudah terkenal seantero sekolah, Nayra tidak punya teman.Telinga Nayra sudah berteman dengan kalimat aduan "Nay, cowok lu berantem!"Karena itu terlalu sering akhir-akhir ini.Sore ini terjadi lagi."Mau pulang, Nay?" tanya seorang siswa yang Nayra tahu itu adalah Kakak Kelasnya, satu angkatan dengan Attar."Iya, Kak.""Gak sama Attar?""Hehehe, enggak, Kak."Gimana mau pulang bareng, tadi abis berantem! Dumalnya dalam hati."Pulang naik apa?""Pesen ojek online, Kak.""Yaudah, gue temenin sampe depan ya. Takut ada cowok-cowok nongkrong yang suka godain cewek lewat."Nayra mengangguk pelan. Beberapa kali memang Nayra mendapati gerombolan cowok, merokok, kadang memalak siswa, kadang menggoda cewek lewat, di depan sekolah mereka."Oh iya, tahun depan lo udah kelas 3 ya, Nay? Udah ada rencana mau lanjut kuliah dimana?""Uhm, rencananya sih di..."Kalimat Nayra terhenti begitu Kakak Kelas di sebelahnya tiba-tiba terjatuh karena seseorang yang menariknya dari belakang. Dan yang menariknya tidak lain dan tidak bukan adalah Attar.Di depan matanya, Nayra melihat Attar memukulnya."Kak, Kak Attar, berenti, Kak!" ucap Nayra sambil berusaha menghentikan tangan Attar yang sudah meninju cowok yang sedang ada di bawahnya."Attar, berenti! Aku udah muak sama kamu!" teriak Nayra. Beberapa siswa yang masih ada di sekolah menoleh, seakan mereka mendapat tontonan bagus.Attar berhenti, lalu bangkit. Menatap Nayra tajam."Apa kamu bilang barusan?!""Aku udah gak sanggup lagi pacaran sama kamu! Kita putus!""Tarik kata-kata kamu sekarang, Nay!""Gak mau! Aku udah capek pacaran sama kamu, Kak! Aku udah gak mau nerusin lagi. Aku takut!" tutur Nayra. Attar terdiam. "Kamu berubah, Kak, aku gak bisa." lanjutnya dengan nada yang lebih rendah. Air matanya menetes. "Mulai sekarang, jangan ganggu aku!" pintanya."Kak, maaf ya. Harusnya tadi Kakak gak usah nemenin aku. Aku bener-bener minta maaf." kali ini ucapan Nayra pada Kakak Kelasnya yang menjadi korban amukan Attar. Setelah itu Nayra berlalu.* * *Beberapa bulan berlalu. Attar yang sudah kelas 3 sibuk mempersiapkan ujian kelulusan. Dan setelah pengumuman kelulusan, mereka mencoret-coret seragam.Attar terdiam. Padahal dari dulu dia menunggu hari ini datang dengan Nayra di sisinya. Sekarang tidak ada Nayra lagi. Gadis itu sudah tidak peduli lagi padanya.Padahal beberapa hari setelah putus dengan Nayra, Attar sengaja memacari teman sekelasnya untuk membuat Nayra cemburu, namun ternyata gadis itu tidak peduli.Attar juga sempat berpikir kalau Nayra akan berpacaran dengan cowok lain, dan membuat dadanya sesak. Namun beberapa kali Attar memergoki Nayra menolak cowok itu dengan sopan.Nayra selalu sendiri semenjak putus dengan Attar. Dia tidak mau ambil resiko untuk berteman selama masih ada Attar di sekolah ini.Saat Nayra tahu Attar sudah mempunyai pacar setelah beberapa hari putus dengannya, hatinya jelas sakit. Tapi mungkin ini adalah konsekuensi yang harus ia ambil agar semuanya lebih tentram. Dia tidak mau ada keributan lagi di depan matanya.Masa-masa libur sekolah. Sebentar lagi dia harus melewati ujian kenaikan kelas, lalu mempersiapkan dirinya untuk lulus. Ujung bibir Nayra tersenyum membayangkan lulus dari sekolah dan memasuki kehidupan barunya.Setelah hari demi hari berlalu, Nayra yang sudah lulus sekolah dan diterima di Universitas Negeri impiannya, hari ini saatnya masa orientasi di mulai. Nayra harus bangun sangat pagi karena jam 6 dirinya sudah harus ada di kampus.Kampusku tercinta. Ucapnya dalam hati ketika melihat suasana kampus di hari pertamanya.Senior perempuan menyuruhnya masuk ke dalam aula dimana semua di kumpulkan. Aula yang besar dan megah."Ada 30 kelompok, 1 kelompok terdiri dari 4 orang, kalian berhitung 1 sampai 30, nanti kelompoknya berdasarkan angka yang kalian sebut. Mulai berhitung." ucap senior dengan lantang.Dan disinilah Nayra dengan ketiga orang lainnya. Saling berkenalan. Mereka cowok semua. Namun tidak terlalu canggung."Selamat pagi, gue mentor kalian untuk hari ini dan seterusnya sampai masa orientasi ini selesai. Perkenalkan nama gue Attar Chatra, biasa di panggil Attar. Kalian bisa manggil gue Kak Attar, atau Bang Attar, senyamannya aja, khusus untuk Nayra, panggil Kak Attar, seperti dulu. Dan karena dia cewek sendiri di kelompok ini, sorry to say gue harus memperlakukan dia dengan khusus."Seperti tersambar petir, Nayra tidak menyangka kalau harus bertemu Attar lagi di kampus yang sangat dia impikan.Attar tersenyum. Selama mereka berpacaran dulu, Nayra memang berulang kali ingin masuk di kampus Negeri, jurusan Manajemen. Dan dengan kepintaran yang dimiliki Attar, cukup mudah buatnya untuk tetap menjadi senior Nayra di kampusnya.Attar mencengkram lengan Nayra agar sedikit menjauh dari ketiga anggotanya lalu berbisik sesuatu."Nay, aku akan bikin kamu tetep jadi milik aku. Aku gak janji akan berubah, tapi aku janji akan lebih mengontrol emosi aku." ucap Attar penuh penekanan.Nayra tidak bisa membayangkan akan seperti apa hari-harinya di kampus yang sudah ia impikan dari dulu. Padahal dia awalnya selalu menginginkan kedamaian tanpa sosok Attar sisinya. Namun sepertinya dia harus memangkas harapannya di hari pertama.Attar, seorang senior yang posesif.* * *SELESAI...
Mine
POV Mario"Hari ini, saya dan keluarga datang kesini dengan niatan untuk melamar anak Ibu dan Bapak, Putri Kiara Feryal. Apakah Bapak dan Ibu dan juga Kiara bersedia menerima lamaran saya?"Nama gue Mario. Damario Abrisam. Umur 29 tahun. Profesi Dokter. Hari ini, gue membawa keluarga gue untuk melamar orang yang gue cintai, Kiara.Hubungan gue dengan Kiara sudah berjalan ya kira-kira setahunan. Menurut gue, Kiara adalah perempuan paling anggun, paling menawan, cerdas, dan sempurna versi gue. Dan gue ngerasa gue adalah orang yang paling beruntung bisa terus ada di sisi Kiara.Gimana gue kenal Kiara?Flashback...Nama gue Mario, umur 26 tahun. Saat ini gue adalah seorang Dokter Umum di sebuah rumah sakit swasta di Jakarta. Sedang mengambil spesialis organ dalam. Saat ini gue baru saja selesai memeriksa seorang pasien. Tak lama datang seorang pasien lagi. Seorang perempuan muda, cantik, dia senyum ke gue, senyuman yang paling cantik yang pernah gue temuin. Dan saat itu juga, gue yakin gue jatuh cinta para pandangan pertama."Siang, Dok," sapanya."Siang, Bu Laras." gue dengan sok tahu langsung menyebut namanya sesuai dengan berkas yang diberikan suster ke gue."Siang, Dokter." seseorang dibelakangnya menyapa gue. Seorang Ibu paruh baya.Dan ternyata pasien gue ini adalah Ibunya. Dengan tetep menjaga wibawa gue, gue mempersilahkan mereka berdua duduk di depan gue."Ada keluhan apa, Bu Laras?""Saya agak demam, Dok, terus tenggorokannya gak enak."Sambil tetap fokus mendengarkan keluhan Bu Laras, mata gue sesekali curi pandang ke anaknya yang terlihat khawatir itu. Setelah gue selesai memeriksa, dan mereka berlalu, gue agak menyesal gak memberanikan diri untuk ngajak kenalan. Tapi gue harus tetep menjaga integritas gue, mungkin kalau jodoh pasti bertemu. Yaelah, apaan sih lo!Flashback off...Minggu pagi yang cukup cerah ini gue habiskan untuk menjemput Kiara karena hari ini kami berencana untuk melihat desain undangan. Kebetulan gue punya temen yang punya usaha percetakan, oke punya sih hasilnya!Kiara membuka pintu rumahnya. Seperti biasa, wajah cantiknya, rambut sebahunya, dan kulit putihnya itu sukses membuat gue jatuh cinta lagi. Terlebih dia hari ini tambah bersinar dengan baju putih kasualnya."Yuk!" ajaknya.Gue dengan sigap membukakan pintu penumpang untuknya, dan dia tersenyum menatap gue, "Thank you, My Fiance." ucapnya lembut. Gimana gue gak tambah meleleh."Kamu udah sarapan?" tanyanya sewaktu gue sudah menjalankan mobilnya."Belum.""Kita sarapan dulu yuk! Tapi sebelumnya, boleh gak mampir dulu ke makam Aries?"Permintaannya itu sukses membuat gue terkejut. Tapi tatapannya yang memohon itu tidak bisa gue tolak. Akhirnya gue mengiyakan.Siapa Aries? Dia adalah sahabat gue, sekaligus mantan pacarnya Kiara. Mungkin gue akan flashback lebih panjang kalau harus cerita tentang Aries.Flashback..." Bro!" suara Aries yang mengejutkan itu berhasil membuat gue membuka mata gue yang hampir rapat itu. Padahal gue ngantuk banget, tapi bisa-bisanya ini orang dateng gak diundang dan ganggu waktu tidur gue yang gak seberapa itu."Hmmm?""Gue lupa bilang, minggu lalu cewek gue kesini ya?""Mana gue tau!""Seriusan lo? Orang dia bilang ke Dokter Damario.""Gue gak inget, pasien gue banyak!""Hmm, sombong! Yaudah kalo gak inget. Pagi ini dia mau kesini. Ngajak sarapan bareng. Lo ikut lah! Nanti gue kenalin!""Lo aja lah! Lagian dia kan kesini mau ketemu lo, kenapa lo bawa temen?""Mau ngasih tau kalo gue punya cewek, cantik lagi! Siapa tau Kiara punya temen cewek yang bisa dikenalin ke lo.""Hm, yah, terserah lo deh! Tapi kalo dia bete, gue gak ikutan ya.""Oke! Jangan lupa, sarapan bareng!"Saat itu gue hanya mengiyakan permintaannya supaya dia cepat pergi dan gue bisa tidur di waktu tidur gue yang cuma beberapa jam itu. Sampai akhirnya..."Yo, kenalin, cewek gue, Kiara." ucapan Aries itu membuat gue terkejut. Ternyata perempuan anaknya Bu Laras itu pacarnya Aries.Kiara tersenyum ke gue sambil mengulurkan tangannya. Gue menyambut tangannya yang halus itu."Kiara.""Mario.""Ehm, udah! Lama amat pegang tangan cewek gue!" kata Aries sambil melerai jabatan tangan kami.Kiara hanya tersenyum, akhirnya gue juga senyum sekenanya. Kenapa itu anak feelingnya kuat banget ya?Saat itu gue sadar, kalau Kiara bukan cuma cantik dan anggun, tapi dia pintar. Dia adalah sekretaris direktur utama di sebuah perusahaan besar. Dia di pilih menjadi sekertaris karena menguasai dua bahasa, Inggris dan Mandarin, berarti tiga sama bahasa Indonesia. Wawasannya juga luas."Bi, kamu tau gak, Mario ini masa seneng banget sama film Final Destinition. Sumpah ya, itu film!""Serius, Yo? Aku juga suka film itu, tapi sekarang susah nyarinya.""Coba cari di netflix deh, terakhir gue liat masih ada. Tapi kalo gak ada gue masih ada link buat nontonnya.""Wah, serius? Mau dong!""Simpen nomor gue aja, nanti gue kirim.""Hmm, modus bener! Lewat gue aja share linknya." Aries mencegah."Lo percaya kalo Aries akan ngasih link nya ke lo?" tanya gue pada Kiara setengah berbisik. Kiara setengah tertawa lalu menggeleng.Flashback off...Hingga akhirnya waktu itu gue jadi punya nomor Kiara dan Kiara punya nomor gue. Kadang di sela-sela istirahat, gue chat Kiara untuk membahas teori tentang beberapa film. Ternyata gue dan Kiara satu selera genre film.Kiara menaruh bucket bunga di atas makam Aries. Wajahnya yang cantik itu langsung sedih melihat tumpukan rumput rapi dengan nisan bertuliskan Aries Deronino Bin Ahmad Deronino."Hai, Aries, apa kabar kamu disana? Semoga kamu bahagia ya, karena aku disini juga bahagia." tutur Kiara sebagai kalimat pembukanya. Dia menekankan suaranya, menahan nangisnya. Matanya sudah berkaca-kaca. Padahal sudah 2 tahun Aries pergi, tapi Kiara tetep nangis kalo ke makam Aries. "Aries, aku mau nikah, sama Mario. Kamu pasti ngerestuin kan?" tanyanya yang sudah pasti tidak dijawab.Gue maju selangkah, meraih pundaknya, berusaha menguatkan. "Makasih ya, berkat kamu, aku bisa kenal Mario. Dia baik, sama baiknya kayak kamu."Masih terngiang di ingatan gue gimana Aries meninggal di depan mata gue. Kecelakaan motor waktu kita touring dan meninggal di tempat. Saat itu, posisi motor Aries adalah di depan motor Satria, salah satu teman touring kami. Dan motor gue di belakang motor Satria.Gue juga masih ingat, gimana kedua orang tua Aries dan Kiara datang tergesa-gesa ke rumah sakit karena mendapat kabar duka. Mamanya Aries histeris begitu Dokter memberitahu kalau anak semata wayangnya meninggal di tempat kejadian, sementara Kiara yang ikut mendengarnya hanya terdiam, matanya menerawang jauh, dan langsung terjatuh duduk karena kakinya lemas, kemudian air matanya keluar dengan sendirinya. Saat itu, yang bisa gue lakukan adalah memeluk Kiara yang rapuh dan syok karena pacarnya yang kemarin ditemuinya, sekarang sudah tidak ada lagi di dunia.Hari demi hari berlalu. Dengan gue yang selalu berusaha untuk ada di samping Kiara. Dia serapuh itu tanpa Aries. Dan gue semakin yakin dengan perasaan gue ke dia. Gue mendekati dia dengan perlahan, berusaha memberikan dia perhatian kecil.Seperti waktu ituGue jemput dia untuk pergi ke kantor. Dia buru-buru turun dari mobil dan meninggalkan ponselnya. Gue harus turun dan ngejar dia."Thank you ya, Yo, tumpangannya. Ngebantu banget loh! Soalnya kebetulan aku harus nyiapin dokumen untuk rapat nanti siang. Makasih juga hapenya. Sampe repot-repot turun."Gue menatap dia lalu tersenyum, "Sama-sama. Selamat bekerja, tetap semangat, dan jangan lupa makan, minum juga jangan lupa. Kalo butuh apa-apa jangan segan telfon gue." ujar gue sambil mengacak-acak rambutnya ringan.Dia tersenyum salah tingkah lalu mengangguk. Gue pamit pergi setelah dia mengiyakan ucapan gue barusan.Atau seperti waktu ituDia memberikan sebuah surat yang gue sudah tahu isi di dalam suratnya. Karena surat itu memang dari gue yang dengan sengaja gue selipkan di buku novel thriller yang suka dia baca."Makasih, Yo. Aku suka tulisannya."Tulisan berisi kata-kata motivasi yang gue tulis buat dia. Dan gue seneng karena dia menyukai tulisan motivasi gue buat dia.Atau juga sepertiSetelah gue lulus ambil spesialis, gue datang ke acara yang diselenggarakan jurusan gue. Dan gue memberanikan diri mengajak Kiara dan dia bersedia untuk datang menjadi pendamping gue. Disitu gue terpaksa meninggalkan Kiara sebentar karena temen-temen gue mengajak gue ngobrol. Mata gue gak lepas dari Kiara yang sedang mengambil minum. Kiara yang sadar kalau mata gue gak lepas dari dia kini memandang gue. Dia benar-benar cantik malam ini dengan dress putih, sesuai dengan penampilannya yang anggun. Mata kamu beradu. Gue melempar senyum ke arah dia dan langsung di balas dengan senyuman cantiknya itu.Dan tak lama setelah itu Kiara bersedia menjadi kekasih gue. Dia ada di sisi gue, mendengarkan cerita gue tentang pasien-pasien gue, mendengarkan keluh kesah gue, dan antusias saat gue bercerita tentang sesuatu yang membuat gue senang. Hingga gue memutuskan untuk menjadikan dia seutuhnya milik gue.Setelah selesai menyampaikan maksud dia di makam Aries, dia mengajak gue untuk pergi karena memang kita akan melihat desain undangan.Sambil berjalan ke arah mobil, gue menoleh, melihat makam Aries yang semakin jauh di belakang. Gue tersenyum.* * *POV Author"Ris, lo liat cewek yang pake baju pink itu? Cantik kan? Gue naksir dia dari SMA." ucap Mario sambil melihat gadis cantik berbaju pink dengan penampilan modis. Saat itu mereka sedang makan di kantin kampus."Wih, boleh juga selera lo. Sampe sekarang masih suka?" sahut Aries dengan mulut setengah mengunyah makannya."Masih sih! Tapi udah gak suka-suka banget. Biasa aja. Sekarang gue semacam mengagumi aja. Gak berani mimpu dia mau jadi pacar gue."Aries tertawa, "Kalo gue gaet lo marah gak?" tanyanya setengah bercanda."Kalo dia mau, pacarin aja."Beberapa bulan kemudian...Aries yang tidak pernah absen bermain basket tiba-tiba membatalkan janjinya. Dan dengan terang-terangan dia merangkul Rany, gadis yang disukai Mario dari SMA. Dan entah mengapa kejadian ini terus berlanjut sampai Mario bertemu dengan Kiara.Awalnya Mario hanya suka pada pandangan pertama, namun siapa sangka ternyata gadis yang dia suka pada pandangan pertama pun milik Aries. Dia sadar dia tidak bisa seperti ini terus.Dia harus mencari celah untuk mendapat perhatian Kiara. Dan suatu hari dia menemukan celah itu. Mereka pun semakin dekat. Tentu saja Mario tahu kalau Kiara hanya menganggapnya sebagai temannya Aries. Mario tahu, dari sekian banyak gadis yang pernah di pacari Aries, Kiara adalah gadis yang paling di cintai Aries. Hubungan mereka mulus, tanpa drama, mungkin karena Kiara tidak pernah menuntut apapun dengan Aries.Suatu ketika, ketika mereka sedang touring ke puncak, Aries yang sedang mendahului sebuah mobil di tikungan, menabrak truk dari arah berlawanan. Satria, salah satu teman mereka yang berada tepat di belakang Aries berhasil selamat karena dia menunggu Aries mendahului mobil, baru di belakang Satria adalah motor yang dikendarai Mario.Mario saat itu hanya terkejut melihat tubuh sahabatnya tergeletak, bersimbah darah, dan tidak sadar. Bahkan tanpa sadar di balik masker yang dia pakai, dia tersenyum.Di rumah sakit, Mario melihat kedua orang tua Aries histeris karena anaknya sudah meninggal di tempat. Bahkan Kiara yang saat itu datang, hanya terdiam. Pandangannya kosong, seketika dia jatuh. Kakinya lemas. Tangisnya pecah ketika Mario memeluknya.Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Sejak saat ini, Mario selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik di sisi Kiara. Awalnya sebagai teman. Tapi dengan melihat ketulusan Mario, Kiara yakin kalau Mario benar-benar mencintainya.* * *POV MarioSambil berjalan ke arah mobil, gue menoleh, melihat makam Aries yang semakin jauh di belakang. Gue tersenyum.Dan sekarang giliran lo yang ngeliat gue dengan Kiara. Perempuan yang paling gue cintai. Semoga lo tenang disana dan jangan pernah ganggu hidup gue dengan Kiara. Karena sekarang dia benar-benar jadi milik gue."Jadi kita mau sarapan apa?"Lamunan gue buyar, "Ya?""Jadi kita mau sarapan apa?""Kamu lagi mau sarapan apa? Aku ikut aja.""Bubur depan situ enak loh!""Boleh."* * *SELESAI...
Diantara Dua Pilihan
"Kak! Kak Rara! Ada undangan nih!"Saat itu aku yang sedang membaca sebuah novel mendengar suara teriakan Rere, Adik semata wayangku meneriakkan sebuah kalimat yang membuat semangatku menghilang. Sudah berapa undangan pernikahan yang aku hadiri. Nyatanya setiap kali aku menghadirinya, satu-persatu temanku akhirnya membawa Suami atau Istri mereka, atau pacar mereka. Tapi aku hanya datang dengan Rosy, salah satu sahabatku yang sudah mendapat status Janda anak satu karena Suaminya meninggal dua tahun yang lalu.Satu dari sahabatku yang lain Alya. Pribadinya lembut. Berbeda dengan Rosy. Sebenarnya dulu Rosy juga lembut, namun sekitar dua tahun yang lalu, sifatnya mulai berubah, lebih keras dengan dirinya sendiri, karena sadar bahwa dia harus menjadi kuat, agar tetap bisa menjadi seorang Ibu sekaligus Ayah untuk anaknya. Alya adalah seorang Istri dari seorang Tentara Angkatan Udara. Ibu dari dua anak itu sangat baik mengajarkan kedua anaknya, menurutku.Umurku saat ini 28 tahun, statusku masih single tanpa ada seorang pun yang sedang dekat denganku. Kenapa demikian? Karena sejujurnya aku masih belum bisa melupakan seseorang yang pernah menjadi spesial di hatiku, atau tepatnya masih menjadi spesial. Karena setelah selesai dengannya, Rosy mengenalkan beberapa Pria denganku, namun tidak ada yang bisa memperlakukan aku layaknya Dean memperlakukanku. Iya, dia Dean. Orang yang masih menjadi spesial di hatiku, belum ada sesuatu yang membuat dirinya keluar dari hatiku, kecuali satu, karena kita memang harus berpisah."Kak, gue panggilin juga. Ini ada undangan!" Rere tiba-tiba membuka pintu kamarku dan masih berdiri di ambang pintu, menggerutu."Iya, taro aja di meja. Nanti gue liat.""Bilang apa?""Tengkyu.""Udah solat belum?" tanya Rere."Solat apa?""Dzuhur, Kak!" Rere setengah teriak. "Jangan-jangan lo belum mandi ya? Ih, jorok! Ngapain sih lo, Kak? Mandi kek! Solat sana! Inget kata Mama, lo itu belum nikah, selama lo belum nikah, terus lo ninggalin solat, nanti Papa sedih. Lo masih inget kan sama Papa? Bisa kebayang gak kalo Papa sedih disana?"Hanya itu yang bisa membuat rasa malasku menghilang. Iya, Papa. Sosok itu! Sosok yang sudah meninggalkan kami semua dengan kesedihan yang mendalam. Sosok yang selalu mengajarkan kami tentang pentingnya agama di hidup kami. Sosok yang tidak pernah lupa memberi kasih sayangnya yang tak terhingga sehingga setelah kepergiannya yang sudah hampir 10 tahun itu, kata-katanya tetap melekat di ingatan kami.Aku melipat sajadah dan mukenaku setelah selesai solat dan membaca Al-quran dan menaruhnya di kursi. Aku melirik ke sebuah bingkai foto yang berdiri apik di meja kerjaku. Itu adalah foto keluargaku dan masih ada Papa yang tersenyum renyah di dalamnya. Ah, sepertinya aku mengingat sesuatu. Aku mengambil bingkai itu dan membukanya. Ternyata benar, masih ada foto Dean yang aku selipkan di belakang foto keluargaku di dalam bingkai itu. Foto Dean bersamaku waktu kami jalan di suatu akhir pekan.Flashback...Aku menatap sosok itu, Pria tampan yang saat ini duduk di depanku. Memesankan makanan kami. Aku tidak perlu mengkoreksi pesanannya karena dia sudah tahu apa yang aku suka dan yang tidak aku suka hanya dengan sekali ucap. Dean sangat memperhatikanku. Menurutku, dia sosok yang mendekati sempurna. Pria tampan, raut wajah ramah, pintar, dan selalu memperlakukan aku layaknya aku berharga dimatanya. Kalau aku melakukan kesalahan, dia menegur dengan hati-hati tanpa pernah menyinggung perasaanku. Aku tahu banyak Perempuan yang suka padanya, tapi Dean hanya melihat ke arahku. Bersamanya aku tak perlu memikirkan hal yang tidak perlu aku khawatirkan.Setelah selesai makan, kami masih aja jeda beberapa waktu untuk jadwal menonton. Dean menggandeng tanganku sambil tersenyum. Dan kami berhenti di sebuah mushola di dalam mall."Solat dulu gih! Nanti kalo selesai nonton film waktu solatnya udah abis. Aku tunggu sini. Mukenanya udah aku masukin di tas kamu, coba kamu cek!" tuturnya lembut.Dean tidak pernah lupa untuk mengingatkanku menjalankan kewajibanku. Bahkan dia membeli mukena untuk di taruh di mobilnya, khawatir aku tidak bisa solat karena tidak membawa mukena. Dia bahkan tidak lupa untuk menyisipkan mukena itu ke dalam tasku."Yaudah, aku solat dulu ya.""Sini, tasnya biar aku pegang."Setelah memberikan tasku padanya, aku masuk ke mushola dan menjalankan kewajibanku.Begitu aku selesai, aku melihatnya sedang duduk, sambil tersenyum melihat ponsel di tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya memeluk tasku. Senyumnya semakin mengembang ketika memergokiku yang sedang menatapnya tersenyum."Aku lagi liat-liat foto kita. Gak tau kenapa kamu cantik banget di setiap foto kita. Aku sampe bingung mau ganti wallpaper hape aku jadi yang mana."Aku tersenyum dan mengambil ponselnya. Aku mengunggah aplikasi untuk menyatukan semua foto yang dia suka, menggabungkannya, lalu mengganti wallpaper ponselnya."Aku gak kepikiran buat gabungan ini semua. Makasih ya, Sayang.""Sama-sama.""Yuk, kita langsung ke bioskop aja, kayaknya filmnya udah mau mulai. Kita beli popcorn dulu ya. Caramel aja kan? Minumnya teh java es sedikit." ujarnya. Aku mengangguk. Dia hanya memastikan kalau pesanan aku tidak berbeda dari yang sebelumnya.Flashback off...Andrew Dean Pratama. Anak pertama dari dua bersaudara. Adiknya juga laki-laki, seumuran denganku. Dean kuliah di salah satu Universitas terkenal di Jakarta dan mengambil Jurusan Hukum. Setelah lulus, Dean mengambil Pascasarjana program studi Kenotariatan. Setelah lulus, dia membuka kantor Notaris sendiri.Kami berdua cocok satu sama lain. Itulah yang aku rasakan. Tidak ada tuntutan berlebih. Prinsip kami berdua menjalani hubungan ini adalah give and give. Saling berbagi. Sebenarnya ini adalah prinsip Dean, dan karena dia telah mengajarkannya padaku tanpa meminta lebih, mau tidak mau aku jadi senang berbagi padanya.Hanya satu. Kami berbeda keyakinan. Aku dan Dean sendiri sebenarnya tidak masalah dengan keyakinan kami masing-masing. Dean tidak masalah kalau aku menjalankan kewajibanku sehari lima kali dan begitu juga sebaliknya. Bahkan Dean pernah menawarkan masa depan bersamaku tanpa harus ada yang berkorban dari salah satunya. Kami bisa menikah di luar negeri, dan lain hal sebagainya, itu katanya.Tapi..."Ra, inget! Agama kita melarang menikah dengan Pria non muslim."Ucapan yang keluar dari Mamanya selalu terbayang di benakku. Ditambah lagi..."Kak, inget, kalo lo nikah gak seagama nanti jatuhnya zina. Coba lo bayangin nanti di akhirat Mama Papa yang udah baik mendidik anak tiba-tiba ada di neraka karena lo?" kata Rere."Ra, inget! Kalo lo mulai suatu hubungan dengan orang yang gak satu agama pilihannya cuma dua, ganti pacar atau ganti keyakinan." tutur Rosy.Dan aku melihat jelas dengan mata kepalaku sendiri. Tante Vee, tetangga depan rumahku, yang memiliki anak perempuan semata wayang, seumuran denganku, bahkan kami dulu pergi mengaji bersama, solat di masjid bersama, pindah agama karena mengikuti keyakinan Suaminya. Setiap hari Tante Vee hanya terdiam, termenung, memikirkan anaknya. Itu membuatku berpikir, apakah kalau aku seperti anaknya, Mama akan seperti Tante Vee? Rasanya aku tak sanggup membayangkannya.Pada akhirnya suatu hari itu, aku memutuskan hubunganku dengan Dean. Aku terpaksa. Aku tidak bisa menahan Dean lebih lama. Dia sudah mapan, dan kedua orang tuanya sudah menuntut Dean untuk segera menikah. Tapi aku yang tidak yakin untuk maju atau mundur malah mengajaknya jalan di tempat. Mungkin hari itu adalah hari yang benar-benar berat dalam hidupku setelah hari kepergian Papa. Entah kenapa hati ini kosong. Aku merasa tidak ada yang mengerti kekosongan ini, rasanya tidak enak, aku tidak mau.Bahkan hari itu, aku bertemu dengan Rosy dan Alya. Aku tidak tahu mereka membahas apa, ragaku bersama mereka tetapi tidak jiwaku. Aku merasa jiwaku sebagian pergi bersama sosok Dean yang tidak mungkin bisa aku gapai lagi. Bahkan sampai hari ini, rasa kosong itu masih terasa di hatiku. Belum pernah ada yang bisa menggantikan posisi Dean.Lamunanku buyar mendengar bunyi getaran ponselku. Dari Rosy yang buru-buru mengajakku bertemu. Penting katanya.Dan disinilah kami berada. Di sebuah kafe, duduk berhadapan. Rosy memberiku sebuah undangan pernikahan. Oh, tidak! Bukan Rosy yang ingin menikah, karena aku tahu sekilas desain dan warna undangan ini adalah undangan yang di taruh di atas meja siang tadi oleh Rere. Aku bahkan belum membukanya, baru sekedar meliriknya saja."Apa nih?" tanyaku."Undangan! Lo gak di undang? Atau belum di buka?"Aku nyengir sekenanya, "Belum di buka."Aku melirik Alya yang duduk di sebelahku. Raut wajahnya khawatir."Coba lo buka. Itu undangan pernikahan Fristy.""Fristy? Temen SMA?" tanyaku."Iya! Coba lo liat mempelai prianya!"Aku membuka undangan itu hati-hati. Entah kenapa perasaanku tidak enak. Undangan yang sangat cantik dan terkesan mahal. Aku mulai membuka isi dari undangan itu. Pernikahannya dilaksanakan minggu depan.Mempelai wanitanya Galenka Fristy dan mempelai prianya...Aku terus melihat nama mempelai prianya. Seketika pandanganku kosong. Dan tanpa sadar air mataku keluar. Akhirnya, hari yang aku takutkan tiba. Ketika orang yang kamu cintai, orang yang sangat kamu inginkan berada di sisimu, menjadi masa depanmu, tapi harus kamu relakan untuk bahagia bersama perempuan pilihannya, hari itu hari ini.Alya langsung memelukku yang masih mematung itu. Pelukan Alya itu malah membuatku menangis di pelukannya, tersedu-sedu. Kedua sahabatku hanya diam. Mereka tahu bagaimana selama dua tahun ini aku tidak menginginkan seorang pria pun ada di sisiku, karena Dean. Alya mengelus punggungku dengan sabar."Memang sakit, Ra, tapi gue tau, lo berkorban untuk banyak orang. Untuk orang tua lo, untuk keluarga lo, untuk Dean. Meskipun sekarang lo sakit, hampa. Gue yakin, suatu saat, Allah akan mempertemukan lo dengan orang yang bener-bener lo butuhin untuk ada di sisi lo, bukan orang yang lo inginkan. Lo cuma harus percaya dan yakin."Wejangan Alya, dengan nada bicaranya yang lembut, dan pemilihan kata yang tepat itu akhirnya membuatku berpikir, kalau aku memang harus memilih. Dan aku yakin, pilihan yang aku ambil ini adalah yang terbaik untuk semua. Waktu adalah obat penyembuh hati, suatu hari ini aku yakin kalau semua akan baik-baik saja kalau aku memikirkan apa yang terjadi hari ini.Sudah seharian ini, setiap habis solat, aku selalu berdoa agar ini semua baik-baik saja dan percaya kalau Allah punya rencana yang indah buatku, meskipun selalu menangis, tapi dengan berdoa dan menangis, membuat hatiku terasa lebih ringan."Ra, Mama mau ke rumah Tante Ratna sama Rere ya. Kamu bener gak mau ikut? Yaudah, nanti tolong belanja bulanan ya." pesan Mama sebelum berangkat ke rumah Tante Ratna.Waktu sudah siang dan perutku sudah minta diisi. Jadi aku bergegas keluar untuk makan siang dan belanja bulanan. Ketika selesai mengunci pintu rumah, aku terkejut dengan sosok pria yang sudah berdiri di depan pagar rumahku. Buru-buru aku berlaku membukakan pagar rumahku untuknya."Dean?""Hai, Ra. Apa kabar?""Baik. Kamu gimana?""Baik." jawabnya singkat. "Uhm, Ra, aku mau anter undangan, minggu depan aku mau nikah. Kalo kamu sempet, dateng ya."Aku menerima undangan dari tangannya. Undangan yang telah aku terima sehari sebelum Dean mengantarkannya padaku.Aku tersenyum, "Jadi, kamu akan nikah sama Fristy?" tanyaku pada Dean yang membuat pria itu terkejut. "Aku nerima dua undangan yang sama. Dari Fristy dan dari kamu. Fristy adalah temen SMA aku. Insya Allah aku dateng ke pernikahan kalian minggu depan. Selamat ya atas pernikahan kamu. Akhirnya kamu nemuin jodoh kamu duluan."Aku menangkap suatu sinyal di wajah Dean. Dia ingin berbicara sesuatu tapi tertahan."Bilang aja.""Hah?""Ada sesuatu yang mau kamu bilang kan? Gak apa-apa, bilang aja.""Boleh aku peluk kamu buat yang terakhir kali, Ra?"Aku terdiam. Cukup lama. Hatiku kembali bergejolak, tapi aku tahu aku harus menghadapinya. Dean menunggu jawabanku harap-harap cemas. Aku tersenyum dan memeluknya. Dean memelukku lebih erat. Tubuhnya bergetar. Dia menangis. Membuatku tanpa sengaja menangis juga. Biarlah. Aku harap ini tangisan terakhirku untuknya, karena setelah ini kami harus mulai hidup masing-masing. Dean dengan kebahagiaannya dan aku dengan kebahagiaanku."Aku harap kamu bahagia. Karena disini aku juga harus bahagia. Selamat atas pernikahan kamu. Aku tulus ngucapinnya."Kami melerai pelukan kami. Dean tersenyum dan menghapus sisa air matanya, begitu juga aku."Makasih banyak atas kenangan manis yang kamu tuai ke dalam hidup aku selama ini ya, Ra. Makasih banyak atas ucapan dan doa tulus kamu untuk pernikahan aku.""Sama-sama.""Aku pamit ya, Ra."Saat itu aku sadar, kalau kepergian Dean dari rumahku yang dulu aku pikir berpisah untuk datang kembali, saat ini sudah tidak ada lagi. Itu terakhir kalinya Dean menginjakkan kakinya di rumahku. Karena mulai dari minggu depan dan seterusnya, Dean sudah menjadi milik perempuan lain.* * *Satu tahun kemudian..."Bu, tim dari konsultan IT nya sudah datang dan duduk di ruang rapat. Pak Ganjar sudah meminta Ibu langsung ke ruang rapat.""Baik, makasih Lintang."Namaku Aira Maharani. Panggilan Rara. Hanya Dean yang memanggilku dengan sebutan Aira. Saat ini aku adalah kepala divisi IT di kantorku. Baru saja aku di panggil atasanku untuk rapat dengan tim konsultan IT rekanan perusahaan untuk membahas projek perkembangan digital di kantorku."Perkenalkan saya Ramadhan Prasetya, pimpinan tim konsultan IT..."Saat itu aku tidak tahu kalau tatapan kami yang beradu pertama kali itu akhirnya membawa kami ke suatu hubungan yang pernah Alya bilang sebelumnya. Rama adalah sosok yang Allah kirim untuk menjadi jodohku. Kami seagama, dia taat, baik, pintar, dan tampan. Rama adalah menantu idaman Mama. Rama tidak hanya mampu memimpin tim konsultan IT perusahaan kami, tapi mampu memimpin rumah tangga kami.Dan di umurku yang ke 30 tahun, akhirnya aku dan Rama dikaruniai satu orang anak laki-laki. Wajahnya perpaduan antara diriku dan Rama. Dan Rama adalah sosok Ayah yang mengingatkanku pada Papa.Sampai sini aku tahu, kalau ternyata apa yang menurutku baik belum tentu menurut Allah baik, apa yang menurutku bahagia belum tentu selamanya akan bahagia, tapi apa yang menurut Allah baik dan membuatku bahagia itu sudah pasti jalan terbaik.* * *SELESAI...
Pengirim Surat Misterius
Mencintaimu bagaikan berpegang pada akar yang berduri tajam,Memilih untuk jatuh ke jurang yang dalam,,Atau tetap bertahan dengan perih yang teramat sangat...Kata-kata Itulah yang aku rasakan setiap saat aku mengingatmu. Aku sadar aku takkan pernah bisa menggapaimu karna memang aku tak pantas berada di sebelahmu. Kau begitu sempurna untukku, tapi hatiku tak mampu memahami semua itu. Hatiku tak mampu untuk menyingkirkanmu dari sana, kau memiliki tempat yang sangat luas di dalamnya dan jika kau keluar dari hati ini maka hatiku pasti akan kosong.Namaku Wulandari, aku biasa dipanggil Wulan. Kini aku duduk di kelas 2 SMA favorit di kotaku. Sudah dua tahun belakangan ini aku jatuh cinta pada idola sekolah. namanya Ravid. Dia tampan, Ketua basket, peringkat dua di sekolah, serta status sosial tinggi, membuatnya terkenal di sekolah.Banyak wanita yang menyukainya, tentu saja termasuk aku. Tak sedikit pula yang memberikannya surat cinta atau hadiah karena Kak Ravid yang keren dan hebat. Aku tak tau sejak kapan tepatnya aku mulai menyukai Kak Ravid.Meskipun banyak wanita yang menyukainya tapi kak Ravid tak pernah menjadikan salah satu dari mereka sebagai pelabuhan hatinya. Padahal banyak wanita yang mengejar cintanya bahkan tak jarang mereka secara terang-terangan mengungkapkannya. Namun kak Ravid belum juga melabuhkan hatinya pada salah satu dari mereka.Aku merasa senang dengan semua itu meskipun aku sadar aku takkan pernah menjadi pelabuhan hatinya. Banyak cewek yang lebih cantik dan lebih pintar saja di tolak oleh Kak Ravid apalagi gadis biasa seperti diriku. Tak mungkin dia akan melirikku. Duh jangan mimpi ketinggian kali Lan.“Lan buruan ke lapangan.” Panggil Pak Doni.“Baik Pak.” Jawabku sambil berjalan menuju lapangan basket.Aku memang salah satu pengurus organisasi basket. Aku baru bergabung seminggu yang lalu. Alasanku bergabung dengan club basket sudah jelas karena Kak Ravid. Berada di club basket memang melelahkan apalagi aku adalah satu-satunya anggota perempuan di club ini. Apalagi pekerjaannya cukup berat, membawa bola-bola basket untuk anak-anak latihan dan setelah latihan harus menbereskan bola-bola itu untuk disimpan kembali serta mengurus konsumsi untuk seluruh anggota selama latihan berlangsung, aku juga bertanggung jawab jika ada bola basket yang hilang.“Sini Gue bantu.” Seseorang mengagetkanku. Aku terkejut mengetahui bahwa orang tersebut adalah Kak Ravid.Aku hanya diam karena tak percaya bahwa Kak Ravid mau membantuku. Aku jadi salah tingkah di hadapannya.“Gak usah Kak, ini udah tugas saya.” Kataku dan mengambil kembali keranjang berisi bola yang direbutnya dari tanganku barusan.“Udah biar Gue bantuin aja, lagian itu berat loh.” Lagi-lagi dia merebut keranjang itu.“Ya udah.” Aku berjalan menuju lapangan tanpa menghiraukan Kak Ravid lagi. Aku merasa sangat gugup di depannya barusan. Ku harap dia tak tau kalau aku tadi salting.Setelah club basket selesai latihan aku kembali memunguti bola-bola basket yang tadi mereka pakai untuk latihan dan memasukkan bola-bola itu kembali untuk di simpan di ruang penyimpanan.“Biar Gue aja yang nyimpam bola-bola itu.” Kata seseorang dan orang itu adalah Kak Ravid. Lagi? Ya Tuhan kuatkan lah jantung ini agar tak melompat ke luar.“Gak usah Kak, biar saya saja. Nanti malah ngerepotin Kakak.” Jawabku berusaha mati-matian meredam rasa gugupku.“Gak kok. Sama sekali gak repot. Kunci ruangannya sama kamu kan?” Tanya Kak Ravid.“Iya Kak!” Aku mengangguk, masih merasa gugup berhadapan dengan pemuda tampan yang setiap saat mengisi ruang hatiku.“Ya udah yuk.” Kak Ravid berjalan mendahuluiku. Aku hanya melangkah canggung di belakangnya, mengikutinya seperti anak ayam yang mengikuti induknya.“Nama Lo siapa?”Ya ampun Lan. Dia nanyain nama Lo? Mampus deh Lo sekarang. Apa mungkin Gue lagi mimpi ya sekarang? Makanya Kak Ravid lagi bareng Lo dan ngajak Lo kenalan. Aku mencubit tanganku sendiri sekuat mungkin, untuk memastikan ini mimpi atau bukan.“Aduhhh...” keluhku. Berarti Lo gak lagi mimpi Lan.“Lo kenapa?” Tanya Kak Ravid menyejajari langkahku, aku hanya menggeleng kikuk tak tau bagaimana harus menjelaskan padanya situasiku saat ini.“Oh, gak apa-apa kok Kak.” Jawabku makin gugup, menundukkan kepala dan aku langsung melangkah mendahului Kak Ravid.“Gue tadi tanya nama Lo. Kok gak dijawab sih?” Kak Ravid ikut mempercepat langkahnya mengimbangi langkahku, sehingga lagi-lagi langkah kakiku kalah oleh langkah lebarnya.“Wulan Kak, nama saya Wulandari.”“Oh Wulan, Gue Ravid” jawabnya singkat. Kembali aku mengangguk kikuk, tak menyangka akan mengalami momen seperti saat ini. Berasa lagi syuting sinetron tau gak.“Saya udah tau kok Kak.” Jawabku pelan, sebisa mungkin agar tak terdengar olehnya.“Lo tau dari mana nama gue?” Duh kok dia dengar sih? Padahal tadi aku sudah bicara sepelan mungkin ternyata kak Ravid malah mendengarnya.“Siapa sih Kak yang gak kenal sama kakak, kapten tim basket sekolah ini yang sudah menyumbangkan banyak penghargaan untuk sekolah. Semua orang juga kenal kali sama kakak.” Balasku mencoba tersenyum untuk sedikit menenangkan perasaanku yang gak karuan sejak tadi.“Gak juga lah. Banyak juga kok yang gak kenal sama gue. Lo gak usah muji ketinggian kayak gitu.” Ujarnya tersenyum manis, membuat debar di dadaku meningkat.Kalau tiap hari ngeliat senyum semanis itu bisa-bisa gue diabetes nanti. Terus gue jantungan karena jantung gue gak bisa berdetak normal. Duh mikir apaan sih gue sekarang. Nikmatin aja momen indah lo Lan, gak usah kebanyakan mikir. Nikmati aja.Aku benar-benar gak percaya dengan apa yang aku alami hari ini. Kalau tau akan seperti ini pasti aku akan bergabung dengan club basket sejak lama. Benar-benar berbeda dengan Ravid yang aku lihat selama ini dari kejauhan.Selama ini aku hanya tau bahwa kak Ravid itu orangnya dingin dan terkesan cuek. Bahkan Dara temanku, yang dulu anggota club basket sebelum aku menggantikannya seminggu yang lalu mengatakan bahwa dia sudah tak tahan lagi dengan sikap cuek kak Ravid. Tapi entah kenapa dia membantuku hari ini bahkan menanyakan namaku segala. Iih pokoknya aku merasa senang bangettt hari ini, ingin rasanya aku meneriakkan pada dunia bahwa aku bahagia.Waktu pun berlalu dengan cepat. Kak Ravid pun selalu membantuku setiap saat. Aku merasa senang karena hal itu. Dia selalu membantuku membawakan bola-bola basket. Hari ini dia bilang dia ingin curhat padaku. Dia ingin mengajakku ke kantin istirahat nanti. Aku tanpa pikir panjang langsung menyambut ajakan itu dengan senang hati.DI KANTIN...“Kak Ravid mau ngomong apa?” tanyaku langsung saking penasaran.“Gue mau curhat sama Lo Lan” Katanya.“Mau curhat? Tentang apa kak?” tanyaku penasaran.“Lan sebenarnya gue lagi naksir sama seseorang, tapi gue takut dia gak balas perasaan gue.”Deg!! Jantungku berdegup lebih cepat dari biasanya. Apa maksudnya bilang gini sama aku? Kenapa aku jadi salting gini?“Sama siapa Kak? Siapa orang yang beruntung itu?” tanyaku pelan. Aku berharap jawabanya adalah aku. Hehe“Gue rasa Lo kenal kok sama dia. Gue udah suka sama dia sejak lama Lan, dan gue mau dia tau apa yang gue rasain” Jawabnya pelan sambil menyesap es teh manis yang tadi di pesannya.Pupus sudah harapanku untuk bersama kak Ravid. Sekarang dia sedang jatuh cinta pada seseorang, siapakah dia? apa mungkin kak Lysa teman sekelas kak Ravid yang mendapat peringkat pertama atau Dara yang sering ngejar-ngejar Kak Ravid. Tapi kenapa hatiku terasa sangat perih, seperti ada yang menusuk hatiku dengan jarum yang sangat banyak dan itu rasanya sangat menyakitkan.Aku mencoba menguatkan diri untuk tidak menangis di depan kak Ravid, aku tak ingin air mataku jatuh di hadapannya. Setidaknya aku harus terlihat baik-baik saja di depan Kak Ravid, aku tak ingin perasaanku malah akan merusak kebahagiaan yang tengah di rasakan Kak Ravid saat ini.Aku tak ingin Kak Ravid merasa bersalah jika ia tahu bahwa aku menyukainya, bukan! Aku mencintainya. Apalagi jika sampai ia menjauhiku, oh Tuhan jangan sampai hal itu terjadi. Aku sudah cukup bahagia berkesempatan dekat dengan Kak Ravid meski pun aku tak bisa memilikinya. Tak apa.“Kalau gitu selamat ya kak.” Aku berusaha tersenyum dan menahan air mata ini untuk tidak terjatuh di depan kak Ravid.“Apa nya yang selamat Lan? Gue juga belum jadian kok sama dia.” Jawabnya sambil tersenyum. Namun senyumnya itu hanya menambah perih di hatiku.Selera makanku langsung hilang seketika itu. Entah kenapa rasanya aku ingin segera meninggalkan tempat itu secepatnya. Aku tak kuat berlama-lama berada di situ karena mungkin saja air mata yang sejak tadi berusaha aku tahan akan jatuh bercucuran.“Good Luck ya kak. Aku selalu doain yang terbaik buat kakak.” Aku menguatkan diriku dan mencerna kata-kata yang kuucapkan barusan.“ Kalau gitu aku mau ke kelas dulu ya kak. Aku lupa tugasku belum siap.” Ujarku dan tanpa menunggu jawaban darinya aku segera berlari meninggalkan tempat itu dengan perasaan yang sangat hancur.Lalu untuk apa semua kebaikan yang kamu berikan selama ini kalau hanya untuk mempermainkan perasaanku. Untuk apa kak? Aku menangis sejadi-jadinya, aku tak peduli semua mata telah tertuju kepadaku. Aku sedang merasa terluka dan aku tak peduli dengan orang di sekelilingku aku hanya ingin melepaskan kepedihan ini.Satu minggu kemudian‘ Mungkin bagi dunia kamu adalah seseorang, tapi bagi seseorang kamu adalah dunianya’ Temui aku di cafe ceria jam 4 sore ini.-G-Aku bingung saat menemukan surat itu di dalam tasku, terselip dalam buku catatanku. Bagaimana mungkin surat itu bisa sampai ke dalam tasku. Apa mungkin seseorang salah meletakkan surat ke dalam tasku? Lalu dari siapa surat itu.Siapa itu G? Apa mungkin Galih si cowok nakal adik kelasku itu atau Gilang anak kepala sekolah atau siapa? Aku sungguh dibuat bingung atau jangan-jangan ada yang pengen ngerjain aku. Kupandangi surat yang ditempel dengan huruf-huruf yang diketik sehingga menjadi beberapa kata dan bagaimana bisa masuk ke dalam tasku.Apa aku mendatangi cafe yang tertulis di dalam surat itu saja? tapi bagaimana kalau itu hanya orang iseng yang pengen ngerjain aku atau suratnya salah alamat.Akhirnya karena terlalu penasaran aku tak mempedulikannya dan mendatangi juga cafe itu. Tepat jam 4 sore aku sampai di cafe itu. Aku ngelirak-lirik kesana kemari tapi aku mata ku tak menemukan si pengirim surat misterius itu. Aku hanya mendapati Kak Ravid tengah duduk di kursi dekat pojokan. Dengan spontan aku memanggil namanya.“Kak Ravid?” Orang yang dipanggil menoleh.“Wulan? Kamu kok bisa ada di sini?” Tanya Kak Ravid.“Oh itu,.. aku lagi nunggu seseorang. Kalau Kak Ravid?”“Gue juga lagi nungguin seseorang.” Kak Ravid tersenyum sangat manis. Aku gak kuat, Oh aku gak boleh terperangkap oleh senyuman itu lagi.“Kalau gitu aku kesana ya kak.” Kataku menunjuk kursi yang masih kosong yang hanya berjarak beberapa meter dari tempatnya sekarang.“Lan gimana kalau sambil nunggu mereka datang Lo temanin Gue duduk disini dulu.” Ujar Kak Ravid.Sebenarnya aku ingin menolak tapi gak enak harus ngomong gimana. Padahal kak Ravid gak pernah salah sama aku. Meskipun aku merasa kecewa padanya tapi itu semua bukanlah salah kak Ravid melainkan salahku sendiri yang mengira bahwa dia menyukaiku. Akunya saja yang begitu mengikuti perasaan hingga baper. Padahal kan kak Ravid biasa saja sama aku.Cukup lama kami menunggu tapi tak seorangpun yang aku kenal masuk ke dalam cafe baik seorang lelaki ataupun seorang wanita. Kalau dia seorang lelaki mungkin dialah sang pengirim surat misterius itu dan kalau dia seorang perempuan mungkin dialah yang sedang ditunggu kak Ravid yang katanya aku mengenal orang itu.“Sepertinya dia gak akan datang.” Kata kak Ravid perlahan lebih kepada dirinya sendiri.“Kayaknya yang aku tunggu juga gak akan datang.” Kataku.“Mungkin dia gak suka sama Gue Lan.” Dia senyum tipis lebih seperti dipaksakan.Aku sedikit tertawa mendengar kata-katanya. Hanya orang bodoh saja yang tidak menyukai seorang Ravid. Bahkan orang bodoh pun akan jatuh cinta padanya. Dan hanya orang gila yang akan menolak cintanya.“Kenapa ketawa?” Tanya kak Ravid.“Hanya orang yang tidak waras saja yang akan menolakmu kak.” Kataku masih tertawa kecil.“Memang apa alasan seseorang tidak akan menolakku Lan?” dia bertanya sungguh-sugguh sambil menatapku datar.“Kak Ravid ganteng, kapten basket, kak Ravid juga baik pintar lagi. Pokoknya gak akan ada alasan seorang wanita untuk menolak cinta kakak. Ya kecuali cewek itu gak waras.” Jawabku.Dia menatapku tajam. Aku jadi salah tingkah dibuat olehnya. Tiba-tiba dia menggenggam tanganku lembut. Dia menatap kedua mataku yang membuat aku tertunduk tak sanggup beradu pandang dengannya.Secepat kilat aku menarik tanganku dari genggamannya. Aku takut terjebak lagi oleh perasaanku yang saat ini pun aku sendiri belum bisa keluar dari perasaan itu.Kak Ravid terkekeh. Sungguh pemandangan yang langka dari seorang Ravid. Aku menatapnya tajam mendengar dia tertawa. Apanya yang lucu? Batinku.“Sekarang aku sudah tau siapa orang yang tidak waras itu.” Katanya sambil tertawa kecil.Aku bingung mendengar ucapannya, apa maksudnya? Tunggu barusan dia bilang aku bukan Gue? Masih dalam kebingunganku dia mengatakan sesuatu yang benar-benar membungkam mulutku tak mampu berkata-kata lagi.“Mungkin bagi dunia kamu adalah seseorang, tapi bagi seseorang kamulah dunianya.” Aku tersedak mendengar kata-kata itu. Jangan-jangan surat itu...?“Surat itu dari aku. Wulandari aku suka sama kamu. Aku harap kamu adalah orang waras.” Katanya lagi. Kurang ajar berarti selama ini Gue gak baper.Aku tak tau harus bicara apa. Mulutku benar-benar terkunci rapat. Apa mungkin aku masih mimpi? Aku menatap pemuda tampan di hadapanku, apa mungkin dia sedang bercanda. Tapi aku tak berhasil menemukan candaan dari dua mata indah itu.“Apa sekarang kita sudah bisa pacaran?” tanya kak Ravid.Aku lagi lagi tak menjawab pertanyaan itu. Aku masih belum mempercayai semua ini.“Aku tau kamu bingung dengan semua ini, tapi jujur sebenarnya aku sudah memperhatikanmu sejak lama. Aku juga tau kalau kamu sering memperhatikan aku kalau aku sedang main basket dari kejauhan.” Sekarang kedua pipiku sudah memerah mungkin lebih merah dari kepiting yang sedang ada di depanku mendengar ucapanya barusan.“Gimana apa kamu mau menerima aku jadi pacarmu?” kak Ravid tersenyum sangat manis semanis madu.Sekarang kedua mataku sudah berkaca-kaca dan siap menjatuhkan dua butir bening yang sejak tadi tertahan disana. Aku hanya mengangguk menanggapi pertanyaan barusan.Dia kembali tersenyum manis sekali dan mengacak rambut hitam milikku, dan aku membiarkan kejadian itu berlangsung. Hari ini adalah hari yang paling indah di dalam hidupku dan sampai mati aku takkan pernah melupakan hari ini.Aku merasa sangat senang hari ini. Tak kusangka kini mimpiku jadi kenyataan. Yah, awalnya aku hanya memiliki kak Ravid dalam mimpi-mimpi malamku tapi sekarang Ravid adalah pacarku. Dia adalah milikku. Dan aku takkan pernah melepaskannya. Ternyata -G- adalah Gusti Ravid, orang yang aku cintai sejak lama. Si pengirim surat misterius.Mungkin bagi dunia kamu adalah seseorang, tapi bagi seseorang kamu adalah dunianya. Dan sekarang duniaku adalah Gusti Ravidku.=TAMAT=
Ketika Senja Bertemu Fajar
Hari senin yang ceria yang mungkin saja menjadi bahagia, dimana tepat hari ini adalah hari pertamaku mengenakan seragam berwarna putih abu-abu, ya di SMA."Ibu, Senja berangkat dulu. Assalamu'alaikum." ucapku sambil mencium tangan ibu."Iya, Wa'alaikumsalam. Hati-hati di jalan." Jawab ibu sambil mengantarku sampai depan pintu.Setelah sampai di sekolah,kulangkahkan kakiku sembari melihat papan kelas, setelah cukup lama berjalan akhirnya aku melihat papan kelas bertuliskan "X.c". Ya itu kelasku.Aku memilih duduk paling depan nomor tiga dari barat tepat di depan papan tulis. Aku duduk bersama Pelangi, gadis cantik berambut lurus sebahu dan baik hati pula.Karena hari ini merupakan hari pertama jadi tidak ada pelajaran dan sebagai gantinya adalah perkenalan dan membentuk perangkat kelas.Aku dipercayakan sebagai sekretaris di kelas sedangkan sebagai ketua kelas adalah seorang laki-laki bernama Fajar, Fajar Mahendra.Sebenarnya aku kurang setuju Fajar jadi ketua kelas aku lebih suka pria pendiam yang duduk si belakangku namanya Andre. Tapi saat voting di laksanakan yang terpilih malah Fajar bukan Andre jadi apa boleh buat aku harus menerima keputusan musyawarah.Lagi pula banyak yang memilih Fajar karena wajahnya yang tampan, itu sih gak ngejamin sama sekali buat di jadiin kriteria ketua kelas bathinku.Satu bulan sudah aku sekolah di sekolah ini. Tak ada yang begitu istimewa dalam satu bulan itu. Aku menjalani hari-hari seperti remaja SMA kebanyakan, hanya saja aku lebih sibuk karena tugasku sebagai sekretaris kelas."Senja hari ini pak Lukman gak bisa datang karena beliau ada urusan, dia cuma nyuruh kita mengerjakan tugas. Jadi tolong kamu absen teman-teman kita ya." Perintah Fajar memberikan absen kelas padaku."Kamu aja yang ngabsen, kamu kan ketua kelas." Bantahku mengembalikan absen itu ke tangannya."Iya aku ketua. Kamu itu kan sekretaris jadi kamu harus dengarin kata ketua." Jelasnya membuatku menatap tajam ke arahnya.Enak saja dia main perintah seenaknya, memangnya dia pikir aku ini babunya apa? Trus aku bakal nurut aja gitu sama semua perintahnya? Gak akan."Aku itu sekretaris kelas bukan sekretaris pribadi kamu yang bisa kamu perintah seenaknya." Aku sangat kesal dengan dia yang sok ngebos itu. Padahal di sekolah ini kita sama, sama-sama siswa dan sama-sama nuntut ilmu bukan buat dia perintah seenak jidatnya aja."Ya udah." Dia merebut kembali absen tersebut dari tanganku dengan kasar dan berlalu ke meja guru untuk mengabsen kami satu persatu.Sejak saat itu Fajar tak pernah lagi menghargai aku sebagai sekretaris kelas. Dia mengerjakan semua tugas yang seharusnya aku lakukan tanpa bertanya terlebih dahulu padaku.Sikapnya itu tambah membuatku kesal dengan cowok sok satu itu. Dia menjalani peran ganda sebagai ketua sekaligus sekretaris, trus aku ini di anggap apa Makluk ghoib? Aku merasa sangat kesal terhadapnya. Hari ini aku akan melabrak anak itu, lihat saja nanti."Fajar!" dia menghentikan langkah mendengar panggilanku bahkan dia gak menoleh sedikitpun. Bikin gondok aja nih orang."Ada apa?" tanya Fajar datar seperti tak terjadi apa-apa."Kamu nganggap aku apa selama ini? Hah?" tanya ku dengan nada yang meninggi. Beberapa anak menoleh karena mendengar ucapanku."Maksud kamu?" dia tampak heran mendengar ucapanku. Tampang polosnya malah membuatku semakin dibakar emosi."Kamu ngerjain semua tugas aku sebagai sekretaris kelas maksud kamu apa? Kamu mau buktiin bahwa kamu hebat dan aku ini gak berguna gitu?" tantangku, aku tak menghiraukan lagi anak-anak tengah berbisik di sekeliling kami."Bukannya kamu sendiri yang bilang kalau kamu gak mau disuruh-suruh, ya jadi aku pikir aku akan ngerjain sendiri. Lagi pula aku hanya ingin membantu kamu.""Membantu?" aku tersenyum sinis. Aku tau ya nih anak cuma ingin cari perhatian aja, malah sok-sok an polos gak berdosa lagi."Bilang aja kamu mau dibilang hebat dan aku adalah orang yang gak bertanggung jawab. Iyakan?" aku benar-benar emosi berhadapan dengan pria ini. Dia merasa tak melakukan kesalahan apa-apa lagi. Sungguh menyebalkan."Oke oke. Aku minta maaf." Katanya dan berlalu "Dasar cewek pikirannya gak bisa ditebak." Bisik Fajar tapi aku mendengarnya dengan jelas, tentu saja emosiku yang baru mereda kini naik lagi sampai ubun-ubun."APA??"Tanyaku. Fajar terkejut dan membalikkan badannya."aku gak ngomong apa-apa kok." Jawabnya dengan wajah polos sambil tersenyum manis. Aku langsung beranjak meninggalkan tempat itu tanpa membalas senyuman ketua kelasku itu."Dia sangat menyebalkan." Gumamku menghenyakkan tubuhku di kursi."Senja kamu kenapa?" Pelangi menatap heran ke arahku.Beberapa bulan sekolah disini aku dan Pelangi sekarang sudah menjadi sahabat. Aku senang karena Pelangi adalah anak yang sangat baik dan juga perhatian padaku."Tuh ketua kelas nyebelin. Bikin gue kesal aja kerjaannya." Jawabku."Fajar? Kenapa lagi sama dia?""Iya, dia songong banget deh. Masa tugas gue sebagai sekretaris kelas diembat juga. Maunya apa coba? Mau nunjukin kalau dia itu hebat.""Itu tandanya dia perhatian sama kamu, dia gak mau kamu repot Senja sayang." Pelangi menatapku tajam."kenapa?" aku heran dengan tatapan Pelangi"Jangan-jangan Fajar suka sama kamu." Pelangi menyikutku pelan sambil tersenyum menggodaku.Aku menggeleng kuat, tak mungkin hal seperti itu terjadi. Memangnya ini ftv apa dimana dua orang yang saling membenci dan selalu bertengkar selalu berakhir dengan saling jatuh cinta satu sama lain? Ya gak lah. Ini adalah dunia nyata jadi mana ada hal seperti itu."Gak mungkin lah. Aku sama dia itu kayak kucing dan anjing, kayak siang dan malam. Gak mungkin ketemu. Sifat aku dan dia bertolak belakang." Jelasku menyakinkan Pelangi sekaligus diriku sendiri untuk tak terpengaruh oleh ucapan Pelangi barusan."Mungkin itu hanya pendapat kamu saja. Iya sih, dari nama kalian aja udah bertolak belakang. Mana mungkin senja bertemu fajar. Tapi kedua hal itu sama, Sama sama indah.""Sok puitis kamu." Cibirku. Pelangi hanya membalas dengan senyuman yang aku tak mengerti artinya apa.Hari-hari berikutnya aku tak bisa melupakan ucapan Pelangi beberapa waktu lalu, apa mungkin benar Fajar itu menyukaiku? Ah kenapa aku jadi begini sih? Ah Senja kamu gak mungkin suka sama dia kan. Sadar dong, ini bukan ftv.Sejak saat itu pula Fajar bersikap manis padaku seolah aku adalah seseorang yang spesial di kelas dari siswa lain. Hal itu pula lah yang mengawali rasa frustasiku akan hal aneh yang selalu aku rasakan saat sedang bersamanya.Aku sendiri bingung dengan sikap ketua kelasku itu tapi entah kenapa aku malah merasa senang. Malah sekarang aku bersahabat baik dengannya, dia yang awalnya tak aku sukai sekarang jadi temanku sendiri. Dia sangat pengertian melebihi teman perempuan, dia selalu tau apa yang aku suka dan tidak hal itu membuatku merasa nyaman."Senja!" panggil seseorang. aku menghentikan langkahku."Apa itu benar?" tanya Fajar setelah berada beberapa senti dariku."Apa?" tanyaku heran."Kamu jadian sama Tomi?" tanya Fajar serius dan menatap kedua bola mataku, entah kenapa aku jadi gugup dengan tatapan itu."Siapa yang bilang sama kamu?""Jadi benar?""Memang ada apa?" aku menatapnya heran."Tomi itu gak pantas buat kamu." Ujarnya sungguh- sungguh membuatku menundukkan wajah dalam-dalam."Lalu yang pantas siapa?" bisikku masih dengan kepala tertunduk namun tak ada jawaban dari lawan bicaraku. Akhirnya aku memberanikan diri untuk menatapnya, dia hanya diam sambil terus menatapku."Kamu?" lanjutku kini disertai dengan senyuman tipis seperti mengejek.Aku juga bingung dengan apa yang baru saja aku ucapkan dan entah keberanian dari mana aku menatap kedua bola matanya dengan tatapan tak percaya dan menuntut penjelasan."Bukan itu maksudku, Tomi itu playboy dia hanya ingin maiinin kamu.""Lalu kenapa kalau dia memang playboy?" tanyaku masih setia menatap ke arahnya.Fajar menatapku tajam dan aku membalas tatapan itu, namun sesaat kemudian aku menurunkan pandanganku karena tak sanggup menatap tatapan Fajar yang tajam bagai elang. Jantungku tak bisa di ajak bekerja sama di saat seperti ini."Dia hanya ingin menjadikanmu barang taruhan dengan teman-temannya. Dia gak serius sayang sama kamu.""Kenapa kamu peduli Jar?" tanyaku memandangi wajah tampan milik Fajar."Aku gak mau liat kamu sedih Senja.""Kenapa?" aku masih tak mengalihkan pandanganku dari wajah tampannya."Itu karena..." ucapan Fajar terputus.Wajahnya tampak menegang namun aku tau dia mencoba merilekskannya kembali agar tak ketahuan bahwa dia sedang gugup. Aku masih menunggu lanjutan dari kalimat itu."karena, karena aku sayang sama kamu Senja." Fajar menghembuskan nafas lega, wajahnya yang tadi menegang kini kembali rileks."Itu sebabnya aku gak mau kalau kamu jadian sama Tomi, bukan karena aku cemburu tapi karena Tomi bukan lelaki yang tepat buat kamu." Lanjut Fajar.Aku tetap diam menatap pemuda di depanku tak percaya dengan apa yang baru saja diucapkannya. Aku bingung harus bagaimana saat ini. Apa yang harus aku ucapkan sekarang."Sebenarnya aku udah suka sama kamu sejak lama Senja, tapi aku gak tau harus bagaimana di depan kamu, aku selalu saja menjadi gugup setiap kali dekat kamu." Aku masih belum bereaksi sama sekali aku sungguh tak percaya dengan yang diucapkan Fajar tentangku."Semuanya terserah kamu aja, aku gak bisa maksa kamu buat mutusin Tomi. Aku hanya ingin kamu mengetahui siapa Tomi sebenarnya. Dan aku minta maaf dengan ucapanku barusan anggap saja aku gak pernah bilang itu semua ke kamu. Dan ya kita akan tetap berteman seperti biasa kok jadi kamu gak perlu kawatir." Jelas Fajar dan beranjak pergi meninggalkanku.Aku masih berdiri di tempatku, aku belum beranjak sejak tadi. Bahkan aku tak sadar kalau Fajar sudah pergi dari tadi. Aku tak menyangka kalau Fajar menyukaiku, kenapa aku tak sadar selama ini? Kenapa aku tak menyadarinya dari awal? Dan Tomi?Oh astaga ternyata ide gila Tomi berhasil membuat Fajar mengungkapkan perasaannya. Tomi adalah sepupuku dan dia memang playboy kelas teri.Dan benar aku pura-pura jadi pacarnya, itu juga terpaksa karena orang tuanya ingin dia fokus pada pelajaran jadi dia mengumumkan bahwa aku adalah kekasihnya supaya tak ada cewek-cewek yang mengganggunya. Sekalian supaya aku bisa mengawasinya dan melaporkan pada ortunya.Aku sungguh tak menyangka rencana gila Tomi yang menjadikan aku pacar statusnya berujung dengan pengakuan cinta Fajar yang sangat tak terduga.Apa yang harus aku lakukan, haruskah aku mengejar Fajar dan menjelaskan semuanya padanya atau tetap membantu Tomi dengan mengorbankan perasaanku sendiri dan perasaan lelaki yang ku sayang?"Sayankkkk." Teriak Tomi dari kejauhan memecah keramaian."Jangan panggil aku sayang." Omelku setelah dia mendekat."kenapa Lo kan pacar gue." Aku melihat Fajar sekilas, dia hanya melewatiku dan Tomi."Apaan sih Tom." Ujarku menatap punggung Fajar yang berjalan menjauhi kami."Kamu lagi lihat siapa sih Say?""Tom aku mau ngomong sesuatu. Sini deh." Aku menarik tangan Tomi menjauh dari keramaian. Aku masih sempat melihat Fajar menatap aku dan Tomi dari kejauhan._"Beneran? Akhirnya tuh anak punya nyali juga." Kata Tomi setelah mendengar ceritaku."Kamu kenal ya sama Fajar Tom?""Gue pernah sekelas sama dia waktu SMP." Jawab Tomi.Aku hanya mengangguk kecil mendengar jawaban Tomi."Trus Lo jawab apa?" Tanya Tomi penasaran."Aku gak bilang apa apa Tom. Aku bingung mau bilang apa. Hehe." Aku cengengesan mengingat hal itu.Tomi memukul jidatnya sendiri, dia menatapku dengan raut kesal. Aku tau dia sangat kesal dengan sikapku yang lamban tapi aku hanya menampilkan senyuman polosku."Aduh pusing deh gue sama kalian berdua. Fajar udah punya nyali malah Lo nya yang bloon." Omel Tomi padaku."Itu semua juga karena lo Tom." Ujarku tak mau disalahkan begitu saja."Lah kok malah jadi salah gue?" tanya Tomi heran."Sekarangkan gue pacaran sama lo. Kalau gue jujur pada Fajar ketahuan dong kalau selama ini kita Cuma pacaran bohongan." Jawabku membela diri."Lo gak usah sok-sok an mikirin gue. Yang terpenting sekarang Lo bilang sama Fajar gimana perasaan Lo sama dia yang sebenarnya." Ujar Tomi. Aku terdiam mendengar saran Tomi barusan."Udah buruan sana cari Fajar sebelum dia makin salah paham sama Lo." Perintah Tomi.Dia memang kadang nyebelin tapi kadang bisa juga diharapkan. Makasih Tom kamu udah memberi aku saran yang berharga, aku janji gak akan melupakan kebaikan kamu hari ini."OKE." Kataku dan berlalu meninggalkan Tomi untuk mencari Fajar.Aku sudah keliling mencari Fajar tapi yang dicari tak kunjung ku temukan. Akhirnya aku berniat ke taman sekolah untuk melepas lelah setelah mengelilingi sekolah yang cukup luas.Namun langkahku terhenti saat aku melihat Fajar, dia tengah duduk di salah satu kursi di taman. Perlahan aku menghampiri pemuda itu, dia tampak sangat tidak bersemangat tidak seperti tadi pagi saat menghentikan aku."Fajar." Panggilku.Fajar menoleh ku lihat dia terkejut melihat kehadiranku di situ."Boleh aku duduk?" Tanyaku sekedar untuk basa basi sebelum memulai pembicaraan yang serius.Fajar mengangguk dan sedikit menggeser posisi duduknya untuk mempersilakan aku duduk di sampingnya."Ada apa Senja?" tanya Fajar tanpa melihat ke arahku."Ternyata kamu disini. Aku udah nyari kamu keliling sekolah." Ujarku.' bodoh kenapa aku malah mengatakan hal tidak penting itu .' Batinku."Kenapa kamu mencariku?" Fajar tetap tidak menoleh sedikitpun."Ada yang mau aku bicarain sama kamu.""Mengenai apa?""Ini tentang aku dan Tomi." Aku menjadi sangat gugup karena Fajar menatapku setelah aku menyebut nama Tomi."Tidak apa-apa Senja. Aku mengerti dan bisa memahami hubunganmu dan Tomi. Mungkin saja aku yang salah paham pada Tomi. Sebagai teman kamu aku dukung hubungan kamu kok asalkan itu bikin kamu bahagia" Ujarnya kembali mengalihkan pandangan."Iya kamu sudah salah paham Jar. Tapi bukan pada Tomi namun pada hubunganku dengan Tomi." Dia kembali menatapku sekilas namun kemudian mengalihkan pandangannya ke langit entah apa yang istimewa di atas sana."Maksud kamu?""Sebenarnya aku memang pacaran dengan Tomi..." Aku sengaja menggantung kalimatku karena melihat Fajar kini menatapku lekat."Tapi aku dan Tomi hanya pacaran pura-pura." Lanjutku.Wajah Fajar tampak heran dengan kalimatku barusan. Entah apa yang bergelut di pikirannya sekarang."Pura-pura?" tanya Fajar mengulang kata itu. Aku hanya mengangguk pasti."Aku benar-benar tak mengerti Senja. Apa kamu sedang bercanda?""Aku serius jar. Sebenarnya Tomi adalah sepupuku, kamu tau sendiri nilainya kayak gimana makanya orang tua Tomi minta aku buat pura-pura jadi pacar Tomi di sekolah supaya tak ada lagi cewek-cewek yang bakal ganggu dia dan Tomi bisa fokus sama sekolah." Jelasku.Wajah Fajar yang tadi murung kini berubah. Sebuah senyum menghiasi wajah tampan itu sehingga membuatku jadi gugup."Lalu kenapa kamu menceritakan semua ini padaku Senja?" tanya Fajar. Aku jadi bingung mau menjawab apa."Aku gak mau kamu salah paham Jar.""Kenapa?" Fajar menatap lekat kedua mataku membuatku jadi gemetar dan detak jantungku sudah tak karuan lagi."Itu karena... karena aku sayang sama kamu Jar. Aku gak mau liat kamu sedih kayak hari ini." Aku merasa lega menyalesaikan kalimat itu dengan sempurna.Fajar tersenyum sangat manis dan langsung memelukku erat. Aku bahagia berada di sini bersama seseorang yang aku sayangi. Memang benar senja dan fajar tak mungkin bertemu dan datang bersama-sama namun senja dan fajar itu sama, sama sama indah.Kini aku akan menyaksikan senja bersama Fajar dan menyaksikan fajar bersama Fajar. Seseorang yang lebih indah dari senja maupun fajar itu sendiri.THE END