Temukan Cerita Inspiratif
Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.
Total Cerita
1144
Genre Romance
230
Genre Folklore
228
Genre Horror
228
Genre Fantasy
230
Genre Teen
228
Dia Indy
"Nnti kalau aku udah besar aku mah pergi ke Australia. Aku mau lihat kanguru di sana mau lihat koala juga jadi kalau aku gak ada pasti aku lagi di sana, yaa tinggal di sana" Ucap Indy waktu itu. Dia gadis lucu, aku belum pernah mengenal gadis selugu dia tapi impian nya sungguh tak wajar, suatu hari pernah aku bertanya padanya."Mimpi itu jangan ketinggian nanti kalau gak ke capai malah kecewa." Ucap ku dengan datar. Dia langsung menengok ke arahku, lalu menampakan wajah kesal, sangat lucu."Gak papa, kan biar semangat belajarnya. Dari pada kak Rafa gak punya impian kan?" Ucap nya membuat aku terseyum. "Tentu ada, impian ku ingin membahagiakan semua orang" Jawbaku dengan mantap, di luar dugaanku Indy malah tertawa lalu aku yang di tertawakan langsung mengejar dia yang duluan berlari.Hmm kenangan itu selalu ada, bayangan Indy tak pernah lepas dari pikiranku. Aku tau aku bodoh, aku tak pernah memikirkan perasaan Indy, aku selalu saja mengabaikan nya. Ardy juga tak akan memutuskan tali persahabatan kami.Bila saja aku lebih peka. Bila saja aku lebih mengerti dan bila saja aku jujur akan perasaanku, semua takkan pernah terjadi.B eberapa Tahun yang lalu"Eh Ardy, apa kabar bro " sapa ku ketika tiba tiba aku melihat Ardy di mall. Ardy sahabatku, kami satu angkatan dan seumuran. Ardy langsung menyapa dan berbasa basi. Di sampingnya berdiri seorang gadis manis, dengan tatapan datar pasti dia adik Ardy bisa ku lihat karena wajah mereka mirip."Ini Indy adikku satu satunya." Ucap Ardy dengan ramah. Sedangkan Indy malah menatapku penuh curiga lalu Ardy menyenggol Indy pelan. "Hallo namaku Indy" ucap Indy langsung mengulurkan tangan."Aku Rafa." Ucapku dengan sedikit senyuman. Setelah itu persahabatan aku dan Ardy semakin erat, aku sering main ke rumah Ardy begitupun Ardy. Karena kebetulan jarak rumah kami tak jauh dan perlahan lahan juga tanpa sengaja aku mulai mengenal Indy dia gadis yang ramah dan sangat baik.Dia selalu saja berhasil membuat aku tertawa dengan candaan konyolnya. Aku jadi semakin dekat dengannya. Setelah aku mulai kuliah aku jadi sedikit sibuk, jadi tanpa aku sadari aku mengabaikan Indy.Tapi Indy selalu saja mengerti, kami tak pacaran kami hanya berteman seperti adik dan kakak. Pernah suatu hari saat hari minggu, aku jatuh sakit. Entah bagaimana aku tak ingat yang pasti Indy ketiduran di sofa dan aku melihat ada air hangat dan handuk pasti Indy yang mengompres ku.Setelah hari hari berlalu aku akui aku mulai menyukai Indy tapi tak mungkin bisa berlanjut karena Indy adik dari Ardy sahabatku. Hingga aku menepis semua yang aku anggap beda, aku kira Indy juga menganggap aku sebagai kakak.Bertahun tahun lagi aku telah menjadi seorang dokter, impian ku dari kecil telah terwujud. Indy terlihat sangat senang dia terus saja memujiku memberi ucapan selamat. Aku hanya mengucapkan terimakasih. Bukan hanya kepada Indy, tapi juga kepada Tuhan yang selalu membantu dan mengabulkan semua doaku termasuk doa agar Indy selalu di sisiku.Hari hariku sebagai dokter berjalan normal, aku mulai terbiasa mengobati dan berinteraksi dengan pasien dan orang orang yang baru aku temui. Indy? Dia sebentar lagi lulus kuliah, aku terus mensupport agar dia secepatnya lulus.Hingga tiba waktu itu, hari wisuda Indy aku datang dan memberikan dia buket bunga kesukaan nya. Wajahnya semakin cantik, dia sudah dewasa, kami berfoto bersama Indy dan keluarganya. Indy sekarang sibuk begitu pun aku lalu waktu terus bergulir aku mulai kenal dengan Maya.Dia dokter spesialis mata, dia cantik dan baik hati.aku kira tak apa kami mulai dekat. Indy memang takut datang ke rumah sakit, dia takut darah dan orang orang yang kecelakaan dia jarang menengokku. Aku pun berfikir untuk mengenalkan pada Indy perihal Maya, tapi aku. masih ragu dan harus berfikir dua kali takut apa yang aku lakukan salah."Indy?" Sapaku saat Indy sedang membaca sebuah Novel tebal. Indy seketika menengok dan langsung menghampiriku. Ia terus saja bicara,"Kak Rafa kok jarang ke sini? aku udah lama gak ketemu kak Rafa, pasti sibuk ya? hmm seorang dokter memang selalu sibuk, oh iya kak, aku sekarang lagi mikirin keberangkatanku ke Australia." Ucap nya tanpa mengenal titik dan koma."Wahh kapan?" Tanyaku, dia diam "Gak tau, aku bingung gak mau ke sana sendiri." Ucap nya. Aku merutuki diriku, andai aku mengerti apa maksud Indy waktu itu. Kami lalu melanjutkan mengobrol dan tertawa bersama, aku bertanya pada Indy.Di mana Ardy, Indy menjawab bahwa Ardy sedang ingin menyendiri, ku tanya lagi ternyata kekasih nya telah memutuskan hubungan tanpa sebab. Aku mengerti dan mengenal Ardy, dia memang tipikal orang yang sulit jatuh cinta hingga saat seseorang meninggalkannya ia akan sangat lama untuk mencari pengganti.Sebelum aku bertanya, aku benar benar telah memikirkan apakah semua akan baik baik saja? "Indy?menurutmu aku ini sudah pantas punya pacar?" Tanya ku hati hati. Indy tersenyum "Kak Rafa Ini sudah sangat pantas" Ucapnya dengan senyum yang sangat sukses membuat aku salah tingkah.Aku pun yakin bahwa mengenalkan Maya adalah hal yang benar. Aku dan Indy merencanakan untuk kami bertemu, tujuanku sebenarnya adalah untuk mengenalkan Maya padanya. Hingga di sebuah kafe tempat yang kami pilih, Maya belum datang sedangkan aku sudah duduk menunggu.Ponsel ku berdering ternyata Indy. Indy mengatakan bahwa Ardy juga akan bertemu dengan klien nya di cafe itu dan Indy akan berangkat bersama Ardy, tentu saja aku tak keberatan.Indy datang dengan penampilan manis, Ardy lalu berada di meja yang lain. Entah kenapa, hatiku gusar merasa akan terjadi sesuatu."Baju mu bagus" puji ku. Indy tersenyum dia tampak salah tingkah."Ini kan hadiah dari kak Rafa." Ucap Indy dengan tenang.Saat aku dan Indy sedang asyik mengobrol Maya datang, lalu duduk di sampingku. Aku dapat melihat perubahan raut wajah Indy, dia terlihat pucat dan bibir nya yang dari tadi terangkat kini tak lagi.Aku bergetar dan bingung harus mulai dari mana. "Kak! Dia siapa?" Tanya Indy dengan nada agak tinggi."Kenalin ini Maya, pacarku." Ucapku. Tanpa ku sangka Indy menangis, di depanku, aku berusaha menenangkan nya.Tapi dia menolak."Tak usah, aku kira kak Rafa akan menjadikan aku pacar kak Rafa, tapi ternyata bukan, aku sudah merencanakan dan membayangkan bila aku dan kak Rafa berlibur ke Australia, tapi semua pupus dan kak Rafa..." Indy menangis, Maya bingung melihat ini.Ardy datang dan menarik Indy,"Jangan pernah dekati adikku!" Bentaknya. "Kau penghianat Rafa, aetelah kau dekati Adikku lalu kau rebut Maya dariku? dasar pecundang, kita bukan lagi sahabat!" Ucapan Ardy saat itu bagaikan sambaran petir yang berhasil membuat aku kaget tak mampu bicara,ternyata Maya adalah wanita yang telah memutuskan Ardy demi aku?***Berminggu minggu, aku menjauhi Maya. Setelah kejadian itu, Indy tak lagi main ke rumah ku begitu pun Ardy hubungan kami benar benar retak. Aku menyesal, tak ada lagi tawa Indy ,tak ada lagi suara Indy, tak ada lagi cerita Indy tetang impian nya tinggal di Australia.Aku merindukannya, andai saja aku mengakui bahwa aku mencintai Indy dan tak mencari orang lain. Mungkin Indy masih di sampingku. Aku memberanikan diri main ke rumah Ardy, ku ketuk pintu nya tapi tak ada yang membukakan.Ada seorang pembantu di rumah itu mengatakan bahwa tadi Ardy menyusul Indy yang akan pergi ke Australia. Aku pun secepatnya menuju bandara. Saat aku tiba di sana, aku tak mekihat Indy hanya ada Ardy yang sedang tampak frustrasi.Aku mendekatinya."Menjauh kau gara gara kau Indy kabur ke Australia!" Ucap Ardy lalu pergi meninggalkanku. Aku mengerti sekarang, Indy?kau benar benar akan tinggal di sana?Saat aku sedang merebahkan tubuhku di sofa rumah, ku lihat tayangan berita yang menyiarkan bahwa sebuah pesawat yang menuju Australia telah jatuh. Gelas yang sedangku genggam jatuh dan pecah di lantai.Aku menuju rumah Ardy. Ia tampak kacau dan dia sama sekali tak mau melihatku. Beberapa hari kemudian Jasad Indy telah di temukan, dengan bagian tubuh yang tak utuh.***Ku lihat batu nisan yang tertulis nama Indy dan tanggal kematiannya. Ardy sangat terpukul oleh kepergian Indy, begitupun aku, aku bisa di bilang penyebab tersiksa nya Ardy dan Indy. Hidupku kacau, aku tak lagi memikirkan pacar atau sebagainya."Kak Rafa? Indy sekarang ada di Australia, Indy bahagia ada di sini. Padahal Indy berharap kak Rafa selalu di samping Indy, tapi tak apa ini takdir dan kita harus mengikuti jalan takdir.Kak, Indy sangat kecewa pada kak Rafa, kak Rafa ternyata tak menyukai Indy kan? hmm Indy memang tak peka ya.. Semoga bahagia bersama kak Maya, Indy baru tau ternyata kak Maya adalah mantan dari kak Ardy tapi tak apa jangan hiraukan kak Ardy.Indy tadinya sengaja menuliskan surat ini dan menitipkan nya pada mbok Sum agar di berikan pada kak Rafa saat nanti mbok Sum menerima kabar bahwa Indy telah sampai di sana. Tapi bila Indy tak sampai maka Indy mohon agar surat ini menjadi bukti dan pamit bahwa Indy menyukai kak Rafa telah tinggal di Australia atau mungkin sebagainya."Indy
Pangeran itu Berkopiah
Dia Baik, kata itulah yang muncul di pikiran ku saat pertama melihat Hendra. Umi nya bernama Aisyah adalah teman sekaligus sahabat bagi bundaku yang bernama Anjani.Kata bunda aku harus memanggil Ibu Hendra dengan panggilan umi, aku tak keberata umi Aisyah adalah seseorang yang baik dan lembut. Kata bunda Abi nya Hendra telah tiada, pantas saja Hendra sangat menyayangi umi nya.Hendra dia adalah seseorang yang sangat menghormati wanita, terutama ibu nya. Yang aku tau Almarhum Abi nya adalah pendiri pondok pesantren. Pekerjaan umi nya adalah mengajar santri wanita mengaji. Hendra tingggal di pondok pesantren itu, pernah suatu hari saat aku dan teman ku tak sengaja melewati area pesantren itu aku mendengar suara lantunan ayat suci Al Qur'an.Saat ku tanya pada bunda, kata bunda itu adalah suara Hendra, sejak hari itu aku yakin Hendra memang pemuda yang Shaleh. Sedangkan aku? aku hanyalah wanita biasa yang tak pintar ilmu agama bukan nya aku tak mau tapi aku hanya takut bila harus pesantren dan jauh dari bunda, mungkin aku memang terlalu di manja.Tapi sampai saat ini, aku masih sangat ingat waktu aku menginjak kelas 3 SD saat bu guru bertanya apa cita cita ku, aku menjawab bahwa aku ingin menjadi guru ngaji. Dan pada saat aku kelas 4 SD aku kembali merubah cita citaku, yakni menjadi seorang pendakwah yang pintar, awal nya karena aku sering menonton tv tentang tayangan dakwah, lalu aku berfikir Betapa hebat nya.Saat aku lulus SD, aku sangat ingin mondok di pesantren, aku sudah membayangkan hidup di sana pasti sangat menenangkan. Tapi saat itu Bunda ku sakit tumor yang bersarang di lehernya aku menemani bunda berobat dan sampai saat ini bunda belum di operasi karena menurut bunda ini tidak lah parah.Aku jadi sering menangis tengah malam, aku takut bila bunda pergi, hingga saat itu aku jadi tak mau pergi jauh dari bunda. Ayahku ada, tapi selalu meratau pergi ke kota untuk mencari nafkah bagi keluarga kami tanpa di beri tahu aku sudah merasa bahwa bunda adalah tanggung jawabku.Bertahun tahun berlalu.Aku telah lulus SMP dan kini akan melanjutkan ke SMA, masih ada keinginan pesantren, namun semua tertutupi karena ketakutanku kehilangan Bunda.Suatu hari saat aku sedang menulis diary di kamar, aku mendengar suara ketukan pintu, dengan segera aku berlari dan membukakan pintu. Masih ingat baju ku saat itu berwarna abu dengan celana di bawah lutut dan tanpa kerudung.Saat pintu terbuka, aku melihat Hendra dan Umi Aisyah datang untuk menjenguk ibuku. Ada rasa malu saat tanpa sengaja ku tatap mata Hendra dan dia memalingkan wajah nya, aku pun mempersilahkan Umi dan Hendra duduk.Aku ingat suatu hari umi pernah masuk ke dalam kamarku saat aku sedang menyisir rambutku. Beliau datang dengan senyuman manisnya lalu berdiri di belakang ku saat aku sedang duduk menghadap cermin.Di usap nya rambut ku dengan lembut lalu beliau menatapku lewat cermin."Azizah kamu cantik nak." Ucap nya masih mengelus rambutku. Aku tersenyum malu lalu mengucapkan terima kasih."Umi lebih cantik." Ucapku.Beliau terkekeh."Kamu lebih cantik Azizah, apalagi bila rambut indah mu ini di tutupi oleh hijab." Ucap umi aku jadi diam."Dan hanya suami mu yang bisa melihat nya nanti, sangat istimewa kan?"ucap umi, aku masih diam saja.Umi mengucapkan salam lalu keluar karena sudah sore, aku melihat wajahku dan membayangkan bila rambut ku di tutupi hijab, apakah aku semakin cantik?***Keadaan bunda semakin parah setiap hari nya, aku jadi takut tapi umi selalu menguatkan aku dan mengatakan semuanya baik baik saja. Aku sering menangis sendiri. Suatu hari saat Hendra dan umi baru datang untuk menjenguk Bunda.Tiba tiba Bunda memanggilku, aku segera menghampirinya.saat aku datang ku lihat bunda sedang berbincang dengan Hendra tampak serius.Lalu betapa terkejutnya aku saat ku tahu, bahwa bunda dan Umi Aisyah menjodohkan aku dengan Hendra? Aku malu, tak terbayangkan bila aku bersanding dengan Hendra seorang santri yang berilmu.Sedangkan aku? tidak semua tak mungkin terjadi, terus saja ku tolak dengan alasan bahwa aku masih sekolah. Tapi bunda memohon agar aku mau, toh Hendra pun sanggup menungguku. Akhirnya aku pun mau demi bunda apapun akan ku lakukan.Tiga tahun berlalu, aku tinggal menunggu hasil ujian ku yang baru di laksanakan bulan lalu. Masih ingat tentang perjodohanku, dan satu minggu lagi akan di laksanakan tunangan. Aku semakin resah. Tunangan baru terlaksanan, aku tak tau tiba tiba aku menangis.Aku terisak sendiri di balkon rumahku, tiba tiba Hendra datang dengan mengucap salam."Azizah kamu kenapa?" Tanya Hendra tanpa menatapku. Aku kembali terisak, "Jangan menangis cerita lah padaku bukan kah aku adalah calon suami mu?" Ucap nya membuat aku berhenti menangis.Aku menarik nafas panjang,"Aku..aku hanya merasa tak pantas untukmu, kau yang sangat shaleh dan aku?" Ucapku, Hendra diam mendengarkan. "Aku aku sangat takut bila tidak menjadi pendamping yang baik."ucap ku dengan nada bergetar.Hendra berdehem, "Apakah ini yang membuat Azizah sedih?" Tanya Hendra. Aku mengangguk. "Aku sebenarnya tak keberatan, namun bila Azizah mau mari hijrah aku dan umi akan membimbingmu untuk menjadi seorang wanita yang lebih baik." Ucap Hendra membuat aku tenang.Hendra, terima kasih atas segalanya. Terimakasih karena telah menjadi seseorang yang berarti dalam hidupku. Aku merasa bahwa aku adalah wanita beruntung yang bisa menjadi seorang yang kau jaga,Terima kasih. Terima kasih karena hadirnya dirimu dapat membuat aku menjadi wanita yang lebih baik.Bunda telah meninggal, aku begitu terpukul. Namun Hendra selalu ada di sampingku bersama umi yang selalu menguatkan aku untuk tetap tabah.Aku kehilangan bidadari dalam hidupku namun Allah mengantikan nya dengan malaikat seperti umi dan pangeran tanpa kuda dia Hendra suamiku.***end.
Sekotak Senja di Balik Rumah Pohon
Angin senja menerpa wajahku, mataku terpejam menikmati semilir angin yang menyejukan, rambutku yang terurai tanpa ikat bergerak mengikuti gerakan angin senja.Saat berada di sini rasanya semua masalah yang ku pikul seperti hilang, masalah yang selalu berhasil membuatku terpuruk lenyap, seperti aku lupa semua nya.Aku Raina, gadis penikmat hujan dan senja, setiap ada masalah yang membuatku bimbang aku selalu datang ke rumah pohon ini.Aku menyukai hujan, bagiku hujan adalah peristiwa alam yang menyejukan butiran butiran air menetes dari awan yang selalu ingin aku datangi, hujan indah mengalir dengan teratur.Aku juga penikmat senja, senja begitu indah di mataku karena selalu datang di waktu yang sama namun yang aku tidak sukai di senja adalah hanya datang sesaat “Tuhan, mengapa hal yang indah selalu datang sesaat? adakah hal indah yang selalu ada selama nya?" Ucap ku suatu malam saat senja telah berganti.***“Raina, kamu liat Andra gak?" Tanya Silvia teman sekaligus sahabat ku saat bel istirahat baru berdering. Dia adalah sahabat ku dari mulai kami kecil, kami sudah saling mengenal satu sama lain, dan aku juga sudah tahu bahwa dia menyukai Andra.“Gak tahu, paling juga di perpustakaan biasanya kan dia pergi ke perpustakaan pas jam istirahat." Ucap ku. Silvia hanya mengangguk dan menarik tangan ku menuju perpustakaan, sudah pasti menemui Andra, siapa lagi?.Aku dan Silvia berjalan memasuki perpustakaan tempat favorit Andra, dan benar saja Andra ada si sana duduk dengan tenang sedang membaca sebuah buku yang aku tidak tahu apa judul nya.Senyum Silvia langsung mengembang begitu melihat Andra, pangeran Idamannya. Silvia kembali manarik tangan ku dan berjalan menuju bangku yang Andra duduki, aku pasrah saja.“Andra." Panggil Silvia dengan senyum manis nya, dia memang cantik gadis pintar dengan prestasi yang pantas untuk di banggakan. Andra tersenyum manis bahkan sangat manis, terlalu manis, tidak bukan ke arah Silvia tapi Andra tersenyum untuk ku.“Aku ke toilet " ucapku sembari berjalan meninggalkan mereka, ada sesuatu yang akan menetes.***Aku sesenggukan di dalam toilet, menangis sejadi jadi nya, ku tumpahkan semua rasa sakit yang menjalar membakar hati ku. Tapi bukan hanya air mata yang menetes, hidungku mengeluarkan darah segar sudah kesekian kali nya.Ada sedikit rasa ngilu dalam hati ku. Sakit saat melihat Silvia dan Andra bersama, aku sudah lama menyembunyikan rasa cemburu ku terhadap mereka, namun tetap saja mata ku tak sekuat hati ku yang tetap tegar.Apakah kalian tahu rasanya saat melihat orang yang kita cintai bersama orang lain?apalagi orang itu adalah sahabat mu sendiri, rasanya sakit saat berusaha tersenyum kaku di depan mereka.Aku ingat senja itu.“Raina, mengapa kamu selalu menghindar dari ku?" Suara Andra terdengar pilu, aku hanya menangis tak mampu bicara.“Aku tahu Raina, aku tahu kau juga mencintaiku, tapi mengapa kau bertingkah seperti ini?"Hujan perlahan turun, aku meremas jari tangan ku aku bingung harus mengatakan apa pada Andra. “Apa karena Silvia?" Seketika tenggorokan ku terasa tercekat, benar Andra benar aku mencintai nya namun karena Silvia sahabatku, aku tak ingin membuatnya terluka.Mulutku bungkam, tak mau berkata apa pun, air mata menetes bersama deras nya hujan dan kilatan petir. Aku menyeka air mata ku “Apa yang membuat mu yakin bahwa aku mencintai mu?" Tanya ku pada Andra yang masih tersenyum pilu.Langkah Andra mendekat, aku dapat melihat mata nya yang berkaca kaca, aku tahu dia menangis namun dia tak mau terlihat rapuh, bukan kah lelaki hanya bisa menahan kepedihan di dalam dadanya?“Aku telah membaca buku diary mu, aku telah membaca hingga halaman terakhir Raina, apa kau berfikir aku buta?." Jawaban Andra membuat tenggorokan ku tercekat, aku ingat buku diary ku hilang dua hari yang lalu.“ Tidak sopan membaca diary orang lain tanpa izin." Ucap ku kasar pada Andra, dia malah tertawa sambil melambungkan pandangan nya pada runtikan air hujan senja itu. “Bila membaca buku diary orang adalah hal yang salah, apakah berbohong kepada orang yang jelas sudah tahu kebenaran nya adalah hal yang benar bagi mu Raina?" Jawab Andra, Andra benar aku telah berbohong.Andra mengeluarkan sebuah buku bersampul hitam dan abu abu, itu dairy ku.“Ini milik mu." Aku menerima dan melihat isi nya benar ini buku ku. “Andra,bmenjauhlah dariku!."bentak ku pada nya, dia kaget,"Aku akui aku memang mencintai mu, tapi mengertilah aku takkan mungkin menyakiti hati Silvia, dia adalah sahabat ku," ucap ku dengan nada bergetar.“Apakah kau tega menyakiti dua hati hanya untuk menyelamakan satu hati? Kau bukan hanya menyakiti hatimu Raina, tapi kau juga menyakiti hatiku." Ucap Andra dengan raut wajah sulit di artikan.Aku mematung Andra benar, iblis macam apa aku sekarang? “Aku mohon mengertilah, jika sungguh kau mencintaiku maka aku mohon lakukan apa yang aku ingin Andra suatu hari kau akan mengerti kau akan pahami bahwa ini adalah keputusan terbaik." Ucap ku.Andra bungkam saat itu, menatapku memikirkan sebuah jawaban. “Apa kau yakin?" Tanya nya. Aku mengangguk.“Sangat yakin, aku mohon cintai Silvia seperti kau mencintaiku." Ucap ku dengan sebuah senyuman palsu.Andra menangguk dan tersenyum aku tahu itu bukan senyuman kebahagiaan itu adalah senyuman kekecewaan, maafkan aku Andra. Andra menuruni rumah pohon dan berjalan menembus hujan yang semakin menggila,ku tatap punggung Andra yang semakin menjauh. Itu adalah punggung yang selalu aku pandangi saat semua orang tak menyadari.***Hari hari ku setelah itu berubah seketika aku jadi seorang gadis yang pendiam dan sering melamun. Aku jadi jarang berada di rumah, aku lebih suka pergi ke rumah pohon dan menyendiri di sana.Aku sering menangis padahal tadi nya aku adalah seorang gadis yang tegar dan tak suka menangis, entahlah semenjak hari itu aku menjadi seorang gadis cengeng.Hari ini aku hanya diam bersama sunyi, aku hanya melamun dan terus berandai andai. Rasa nya ada yang hilang dari diriku,ada sesuatu yang pergi dan menyisakan luka terdalam.“Bunda,,,jangan tinggalin Raina, Raina takut bun, Raina takut, orang orang di dunia ini jahat bun, Raina gak mau di tinggalin nanti kalau Raina sakit lagi siapa yang mau anter Raina ke dokter?bbunda bangun bun." Seorang anak kecil memeluk tubuh yang terbujur kaku sambil menangis histeris.Orang orang begitu tersentuh melihat pemandangan yang begitu memilukan. Gadis itu aku Raina.“Raina, jangan nangis, kan masih ada Ayah sayang." Seseorang memelukku, dia ayahku. Aku mendorong tubuh yang tengah memelukku .Aku mengusap air mata yang tanpa ku sadari telah menetes membasahi pipi ku, masa lalu begitu jahat. Aku marah pada diri ku takdir ku dan juga semuanya, mengapa keluarga dan semua hal selalu saja mengecewakan ku, aku lelah rasanya ingin sekali aku pergi dari dunia ini.“Raina?" Panggil seseorang. Aku menengok dan aku melihat Andra tengah berdiri di belakang ku. Dia mendekat dan duduk di sampingku,“Mengapa kau menangis?" Tanya nya saat melihat wajah ku yang merah karena menangis, aku tersenyum pilu.Ku sandarkan kepala ku, aku menangis sejadi jadi nya. Dia mengusap kepala ku, dia tahu pasti tahu tentang luka yang tengah aku rasakan. Aku nyaman berada di samping Andra,namun aku tak bisa memiliki nya, aku tak ingin semua nya hancur karena ego ku.Andra selalu ada untuk ku, dia adalah teman berbagi cerita, meskipun ini diam diam tanpa sepengetahuan Silvia, maafkan aku Sil.***“Dasar wanita tak punya hati!" Bentak Silvia, aku terlonjak kaget saat melihat Silvia datang ke rumah pohon dan marah marah, aku sudah menduga hal ini pasti akan terjadi, hal yang aku takut kan pasti akan terjadi.Andra baru saja pulang dan aku kaget karena kedatangan Silvia yang tiba tiba.Dia terlihat marah bahkan sangat marah.“Aku tahu Raina, aku tahu bahwa Andra sering datang kemari dan duduk berdua dengan mu, aku tahu Raina, mengapa kau lakukan itu semua Raina? bukan kah kau tahu bahwa aku menyukai nya?" Ucap Silvia bertubi tubi.Aku diam mencerna dan berusaha memahami maksud dari kata kata Silvia. “Apa katamu Sil?" Tanya ku pada nya,dia hanya menyeringai sinis ke arah ku. “Aku tak percaya Raina,kau adalah sahabat yang sangat aku percayai, lalu mengapa kau lakukan itu? kau jahat Raina," Teriak Silvia dengan wajah merah padam,aku tahu Silvia pasti marah, sangat marah padaku.Aku diam,btak tahu harus marah sedih atau ketakutan,r asanya aku sudah mati rasa untuk semua hal yang terjadi di sekitar ku.“Maafkan aku Sil." Hanya kata itu yang terucap oleh ku aku bingung harus berkata apa lagi pada nya. “Kau ini sebenarnya siapa hah? kau ini sahabat? musuh? atau musuh berbentuk sahabat? aku tak percaya Raina aku tak percaya." Keluh Silvia menggelengkan kepala nya, tatapan mata nya sudah tak seteduh biasa nya dia marah pada ku.Aku tak bisa membayangkan apa kah aku begitu hina nya di mata Silvia? apa aku begitu hianat nya di mata Silvia? Aku bahkan telah merelakan Andra untuk Silvia, aku telah melepasnya untuk mu Sil, aku telah menahan sakit untuk membuatmu bahagia, aku telah merelakan kebahagiaan satu satu nya di hidupku agar kau dapat tersenyum setiap hari, aku telah mati matian menahan luka karena mu.Lantas sejahat itu kah aku di mata mu? mulut ku bungkam tak mau bicara, aku sudah berjanji takkan menceritakan tentang aku dan Andra kepada Silvia tentang rasa kami yang tumbuh dan selalu berusaha kami bunuh.Pandangan ku kabur, aku terus memanggil nama Silvia meminta pertolongan, namun Silvia melangkah pergi meninggalkan aku di rumah pohon ini, aku sakit Sil apakah kau tahu?Tolong aku siapa pun.***Aku duduk di bangku rumah pohon kesayangan ku, rasanya aku akan tetap di sini aku tak punya rumah lagi. Seseorang duduk di sampingku, dia Andra pandangan nya kabur menyapu seluruh pojok rumah pohon.Aku melihat ada cairan bening jatuh di pipi nya,dia Andra menangis. Aku pertama kali nya melihat Andra menangis,aku belum pernah melihat nya menangis. Entah apa alasan nya yang pasti,hal itu adalah hal yang sangat memilukan bagi nya, hal itu pasti adalah hal yang sangat berharga bagi nya.Aku hanya menatap nya, melihat berbagai perubahan raut wajah nya, dia tampak kecewa, sedih dan marah. Aku ikut menangis melihat Andra menangis,ada getaran pilu melihat nya menangis.Sesorang tiba tiba datang “Andra maafkan aku." Dia Silvia, ada apa ini? mengapa Silvia menangis? apakah mereka sedang bertengkar? Silvia mendekati Andra dan memohon untuk meminta maaf pada Andra, Andra hanya bungkam menangis, dia tampak sangat rapuh.Andra hanya bungkam tak ucapkan apa pun, sedangkan Silvia menangis histeris, ini adalah pemandangan yang sangat memilukan. Kedua sahabatku menangis,hingga rumah pohon ku hanya terdengar suara tangis Silvia memecah keheningan.“Pergi kamu" Ucap Andra, aku hanya mematung melihat nya. Silvia kasihan dia, mengapa Andra memperlakukan nya seperti itu? apa masalah nya? “Kamu adalah seorang sahabat terbusuk yang pernah Raina miliki."Apa? apa? Andra menyebut nama ku. Silvia menangis,“Aku tak tahu Andra, yang aku tahu dia berusaha merebut mu dari ku, dia mendekatimu di belakangku." Lirih nya.Aku mematung, mengapa mereka membicara kanku? “Kamu egois Silvia apakah kau tahu Raina telah merelakan aku untuk mu, dia memendam perasaan nya untuk kau bahagia." Ucap Andra dengan kasar, aku tak tega melihat nya.“Raina...mengapa kau tak ceritakan pada ku bahwa kau punya penyakit tumor otak Raina, mengapa kau rahasia kan ini dari ku." Lirih Andra mengacak acak rambut nya.Aku diam mematung, aku mendekati Andra dan menyentuh wajah nya, namun tangan ku tak bisa menyentuh wajah nya. “Dan kau tak punya perasaan, meninggalkan Raina saat dia sedang kesakitan, apa kau tak punya perasaan Silvia? aku tak mengerti." Ucap Andra dengan pilu.“Dan saat pemakaman nya, mengapa kau tak datang?" Lanjut Andra kepada Silvia. Silvia mengatur nafas nya “Aku kaget, aku tak percaya bahwa Raina benar benar telah pergi, aku fikir ini hanya mimpi tapi aku salah ini benar, aku menyesal." Lirih Silvia dia tak henti menangis.Aku diam air mata menetes, terjawab sudah pertanyaan yang bermunculan di benak ku, mengapa Andra dan Silvia bertengkar, itu karena kematian ku kemarin, pantas saja Andra dan Silvia tidak bisa melihat ku, ternyata aku hanyalah arwah.Senja tiba, begitu pun hujan mulai turun dengan damai, menjelaskan tentang luka yang baru saja tergores. Aku berjalan dan berdiri di antara Andra dan Silvia, mereka sama sekali tak bisa melihat ku, aku hanya arwah yang tak tau harus pergi ke mana.Ingin rasa nya aku berkata dan memeluk mereka tapi tak bisa, aku telah berbeda dunia.aku bingung harus bagimana. “Raina maafkan aku."Lirih silvia.Aku tersenyum,“Aku telah memaafkan mu bahkan sebelum kau meminta maaf Sil, terima kasih." Ucap ku berharap Silvia mendengar. Aku berjalan dan kembali duduk di samping Andra yang masih tampak frustasi, “Andra maafkan aku karena aku merahasiakan tentang penyakit ku, aku hanya tak mau kau tahu bahwa hidupku memang sudah tak lama lagi, dan aku merelakan kau untuk Silvia agar kau dapat melupakan aku secepat nya "Aku tak peduli meski pun aku tahu berbicara pada mereka adalah hal yang percuma, aku tak peduli yang pasti aku sudah jelaskan. Andra berpelukan dengan Silvia membuat aku tersenyum bahagia “Aku akan mengikuti apa yang Raina mau, menjaga mu." Ucap Andra sambil merangkul Silvia dan menuruni rumah pohon.Aku tersenyum bahagia,"Andra ternyata sampai kini kau masih mengingat permintaan ku." Mereka berjalan menembus hujan, aku kembali menangis ini adalah tangis bahagia, aku bahagia melihat mereka bersama.Aku sekarang telah bebas dari kesakitan ku, rasa sakit karena kanker otak yang membuat sakit menjalar ke seluruh tubuh ku tanpa orang lain ketahui, aku juga telah bebas dari rasa sakit hati karena melihat Andra dan Silvia, sekarang aku telah merelakan mereka bersama, aku berharap kematian ku adalah awal dari kebahagiaan Andra, Silvia dan aku.“Raina, sayang." Aku mengenal suara itu suara yang aku rindukan, aku berbalik dan melihat bunda yang tersenyum ke arah ku. Aku berlari menghampiri nya,“Aku rindu bunda." Ucapku.Bunda tersenyum dan menarik ku ke alam ku yang baru. Selamat tinggal rumah pohon dan kutitipkan sekotak Senja terakhirku.***end.
Yang Terlupakan
"Vio cepetan ini udah kelewat subuh." Suara Dena terus membuat aku mempercepat aku yang serdang menggunakan baju kebaya. Segera aku dan Dena menuju sebuah salon. Hari ini adalah hari perpisahan.Dan dengan berat hati aku terpaksa harus menggunakan baju kebaya yang telah mama ku pilihkan. Itu mendingan hal yang paling tak aku suka make up, hari ini aku harus menggunakan make up seharian. Benar benar tak terbayangkan.***Acara pengalungan medali telah selesai aku telah resmi menjadi alumni. Hingga di lanjutkan dengan acara foto bersama teman sekelas. Dan teman lainnya. Ada yang beda pikir ku saat kami akan melaksanakan salam salaman dengan teman satu angkatan.Hingga setelah selesai, aku pun pulang bersama teman ku Dena, huh hari yang melelahkan.***Aku merebahkan tubuhku di kasur sambil memandangi langit langit kamarku. Ada rasa was was dalam benakku tapi aku juga tak tahu apa itu, ku ambil ponselku dan ku lihat foto ku bersama Revan, dia teman spesialku.Namun sepertinya ada yang kurang tapi aku tak tau apa itu, aku pun berusaha tak peduli dengan perlahan memejamkan mataku, waktunya tidur siang.***Beberapa tahun setelah kelulusan, aku pun sudah melakukan aktivitas seperti biasa. Hari ini aku telah selesai belanja, bukan belanja baju dan alat kecantikan seperti gadis lainnya hari ini aku di tugaskan belanja bahan masakan yang telah habis.Gerah, matahari menyorot wajahku aku pun memasuki sebuah cafe, lalu memesan es krim dan duduk di sebuah kursi, sendirian. Saat sedang sibuk dengan es krim ku, tiba tiba seorang lelaki duduk di depan ku, aku lalu mendongakkan kepala, siapa dia?Aku sama sekali tak mengenalnya, dia bisa di bilang hmm tampan."Kehabisan kursi?" Tanyaku karena aku mulai risih dengan tatapan nya. Dia tersenyum lalu menggeleng "Tidak" ucap nya aku pun berdiri berniat untuk pergi dari cafe ini."Elta vionita" ucap lelaki itu aku langsung membeku kaget mengapa dia tau nama lengkap ku? Aku berbalik dan dia masih dengan ekspresi yang cool, sambil meminum kopi di meja nya. Aku lalu duduk kembali. "Siapa kamu ini?" Tanyaku dengan dahi berkerut."Dari tadi kau baru bertanya." Ucap nya dengan sedikit senyuman "kau bahkan langsung pergi begitu saja, seperti aku ini orang gila." Ucapan nya membuat aku tercengang. "Maaf, ku kira kau orang jahat." Ucap ku seadanya.Dia mengangguk dan kembali diam."Siapa nama mu? mengapa kamu tahu nama lengkap ku?" Tanya ku tanpa berkedip. "Kan ku jawab pertanyaan mu satu satu." Lalu dia menarik nafas panjang, aku seperti mengenalinya."Namaku Alvin Chandra." Ucap nya aku langsung tercengang. Aku ingat nama itu, itu adalah nama teman ku yang selalu aku hindari dan abaikan. Dulu berpenampilan bak preman dan sekarang? dia hampir mirip dengan aktor terkenal."What? yaampun Alvin ku kira siapa, kamu ini jauh berubah." Ucap ku sambil tersenyum girang dan menatap dari atas hingga bawah, hingga aku dapat melihat sepatu hitam berkilau nya. "Hahaha sepertinya kau sudah melupakan ku ya Vio." Ucap nya dengan nada tak bisa ku jelaskan.Aku hanya tersenyum. "Kenapa kau masih mengingatku?" Tanya ku ketus, dia tersenyum lalu memandangku. "Ya pastilah bagaimana mungkin aku bisa melupakan seseorang yang aku kagumi?" Ucap nya, aku membeku."Kau ini selalu bercanda." Ucap ku, padahal aku sudah dag dig dug di buat nya. "Aku tak bercanda, aku serius." Ucap nya masih dengan ekspresi tenang. Aku diam kikuk rasanya,"Haha santai saja Vio, kau ini kenapa?""Hmm tidak" Ucapku. "Kau sudah punya pacar?" Tanya Alvin membuat aku tersentak "Sudah pacarku Revan." Ucapku hati hati. Jujur aku juga menyukai Alvin, aku juga kagum pada nya, tapi aku telah memilki Revan yang aku sukai semenjak masa putih abu.Alvin tersenyum,"Aku bahagia Vio menurutku kamu dan Reva sangat cocok, Revan yang rajin, pintar, baik dan sopan." Ucap nya sambil membuang muka. "Jujur Vio, jika aku boleh jujur?" Tanya Alvin pada ku. "Tentu saja boleh" ucap ku."Aku menyukai mu, bahkan saat kau masih mencintai Revan, yah seperti sekarang ini, aku menyukai mu semenjak kamu menguatkan aku, waktu penolakkan oleh Sherin, kau wanita yang berbeda begitu polos dan apa adanya, kau berbeda cuek dan tak peduli hingga aku berpikir siapa kah lelaki yang akan beruntung selalu kau pikirkan?Kau pintar dan cerdas selalu membuat aku semangat, bahkan saat aku selalu di hukum guru, aku tahu kah begitu jijik padaku? aku Alvin yang nakal dan berandalan, sering kau marah padaku.Kau membuat aku berubah, aku akui ingin aku menjadi pelindungmu namun aku terlalu nakal untuk kau yang baik kau wanita baik aku tak ingin menyakitimu.Kau pantas dengan Revan, dia tampan pantas dengan kau yang cantik, aku mengerti bahkan kau sama sekali tak mengingatku dengan begitu kau sudah menjawab pertanyaan ku, aku tak pernah penting di hidup mu." Ucap Alvin lalu beranjak pergi.4 Tahun yang lalu."Vio minjem pensil dong" bisik Dena padaku. Tanpa pikir panjang aku pun mengeluarkan pensil 2b dan memberikan nya pada Dena. Tiba tiba Alvin datang "Mana tugas lo?" Tanya nya, aku hanya diam tak merespon."Apaan si lo, ngerjain sendiri punya otak kok gak di pake entar karatan loh." Ucap Dena pada Alvin. Karena berisik mendengarkan adu mulut mereka, tanpa pikir panjang aku pun mengeluarkan buku tugas tanpa mengucapkan sepatah kata pun."Makasih Vio." Ucap Alvin lalu berlalu dengan senyuman merekah di wajahnya. "Lo gimana si? masa gue gak boleh nyontek tapi Alvin boleh?" Protes Dena pada ku. Aku hanya diam tak peduli, malas bahkan sangat malas untuk bicara.***Aku melihat Alvin di lapangan, ia sangat pintar bermain basket, tampak lebih gagah. "Yaampun Alvin keren abis," Ucap Citra temanku, huh aku tau dia menyukai Alvin, aku juga sadar bahwa aku mengagumi nya ingat hanya sekedar kagum jadi tak masalah.***Telepon ku berdering aku segera berlari dan mengangkat nya."Halo?""Vio please bantuin gue." Aku kenal suara ini dia Sherin."Kenapa?""Bantuin gue buat nolak Alvin." Ucap Sherin, demi apapun saat itu rasanya sesak, rasanya tak percaya ternyata Alvin suka pada temanku, dan itu Sherin.***Sekarang tinggal satu tahun lagi aku bisa menyelesaikan sekolah SMA ku. Semua ku persiapkan untuk menghadapi ujian, mulai dari belajar dan belajar, mengurangi waktu main dan sebagainya."Woy!" Teriak seseorang di kelas sebelah ku lihat, dia Alvin. Baju tak rapi, rambut berwarna pirang menatapku dengan tajam,aku sudah biasa melihat penampilan nya seperti ini. Kemana Alvin yang aku kenal?dia sudah seperti bukan Alvin lagi.Tapi dia tak pernah berani mengganggu ku, padahal aku tau dia selalu menggoda gadis gadis yang lewat, tapi tidak padaku. Aku mengerti kehilangan seseorang yang sangat di sayangi memang menyakitkan, saat aku mendengar berita kematian ibu Alvin awalnya aku tak percaya.Tapi benar dia Alvin temanku, aku selalu menguatkan nya. Satu tahun berlalu penampilan Alvin perlahan berubah, namun sifat lucu nya masih bisa ku lihat. hubungan persahabatan Citra dengan Sherin kini mulai memudar mereka tak sedekat dulu lagi, aku jadi merasa bahwa cinta adalah salah satu penyebab retak nya hubungan persahabatan. Bahkan setelah perpisahan, kami yang biasa berempat kini hanya tinggal aku dan Dena.***Aku diam merenung di jendela kamar, dengan sweter tebal membungkus tubuhku. Entah lah setelah pertemuan ku dengan Alvin, aku tak bisa berhenti memikirkan nya, ada rasa sesak dan perih yang ku rasakan.Aku tahu Alvin adalah lelaki baik baik, hanya saja dia terbawa ke jalan yang salah. "Non, minum obat nya." Ucap bi Arni pembantu di rumah ku. Aku hanya diam tak merespon sedikitpun. Bibi langsung ke luar saat aku hanya diam, bibi mengerti aku ingin sendirian.Aku berjalan dan melihat pantulan di cermin, lalu wajahku bucat, dengan mata sayu.Pintu kamar kembali terbuka, ku lirik sebentar dia Revan, aku tak bergeming sedikit pun. Ku lihat Revan membawa setangkai bungan dan coklat kesukaan ku di tangan nya, tampak biasa saja."Vio" lirih Revan saat aku masih diam.Perlahan tangan nya mengelus rambut ku lembut. "Kamu sudah makan?" Tanya Revan sambil menatap mataku. Aku mengangguk.Lalu Revan mengambil gelas dan obat, aku menolak. "Vio ayolah, aku mohon minumlah obat ini." Ucap Revan. Aku sama sekali tak menatap wajahnya."Besok hari pertunangan kita." Ucap Revan sambil terseyum.Aku menatap Revan, dia tersenyum sangat bahagia."Jangan sakit, besok adalah hari besar." Ucap Revan mengecup tangan ku yang dingin. Aku sekuatnya mencoba terseyum.***Aku berusaha memakai sweter tebal ku, dengan syal berwarna abu abu pemberian Revan. Rumah ku agak ramai, keluarga berdatangan untuk mempersiapkan hari besok. Aku sudah mendingan. Tapi aku tahu orang orang pasti takkan mengizinkan aku ke luar, aku pun keluar mengendap endap.***Aku berjalan di trotoar jalan. Mencari Alvin padahal aku tak tau di mana dia. Aku hanya berharap dia masih di kota ini,aku ingin berbicara dengan nya sebelum hari pertunangan ku dengan Revan di mulai.Namun aku tak menemukan Alvin di manapun, waktu mulai malam aku takut Revan mencari ku. Langkah lesu, aku melihat ke arah orang orang yang sedang berkumpul.Telah lama sendiri dalam langkah sepiTak pernah ku kira bahwa akhirnya tiada dirimu di sisiku.Dia Alvin aku langsung berlari mendekati panggung.Meski waktu datang dan berlaluSampai kau tiada bertahanSemua takkan mampu mengubahkuHanyalah kau yang ada di benakku.Hanyalah dirimu yang mampu membuatkuJatuh dan mencinta kau bukan hanya sekedar indah....Alvin kaget saat aku tiba tiba naik panggung dan bernyanyi.Kaau tak akan terganti....Riuh tepuk tangan menggema."Vio?."Alvin memelukku.***"Kamu sakit?" Tanya Alvin sambil memberi ku teh hangat. "Tidak " ucap ku sambil tersenyum. "Tapi wajahmu pucat." Ucapnya. Aku hanya terseyum, sambil memandangi Alvin yang sedang menghirup teh nya."Alvin jangan berubah " Ucapku, seketika Alvin tersedak. Ia memandangiku dengan wajah kaget," Apa?" Tanya nya. "Bila kamu memintaku untuk datang ke acara pertunanganmu, aku akan datang Vio, tenanglah." Ucap nya.Entah kenapa, mataku memanas saat mendengar ucapan Alvin. "Alvin.." lirihku. Dia lalu menatapku masih dengan raut tenang padahal aku begitu sakit."Alvin aku..." ragu harus memulai dari mana, maafkan aku Revan. "Aku sejak dulu kagum padamu, aku mohon mengertilah." Ucap ku tak ada perubahan di raut wajah nya.Dia masih tenang seperti tak terjadi apapun, mataku memanas melihat tingkah Alvin yang begitu menyebalkan. Aku pergi Alvin bodohnya aku yang percaya semua omongan busuk mu, kamu mempermainkan ku.***Acara pertunangan telah selesai, aku telah terikat menjadi calon pe pendamping Revan seorang laki laki yang aku pilih. Bahagia nya aku saat ku lihat cincin yang terselip di jari manisku. Aku dan Revan sangat bahagia, kami menghabiskan waktu berkumpul bersama keluarga kami.Sambil mendiskusikan tanggal pernikahan, semua berpendapat agar kami segera menikah. Toh Revan telah menjadi pengusaha yang sukses, ah hari yang sangat bahagia.***Aku berjalan ke luar saat suara bel terus berbunyi, orang tuaku sedang ada acara jadi aku hanya berdua dengan bibi. Ku buka tak ada siapapun, aneh pikirku, ku lihat sekali lagi benar benar tak ada. Tak sengaja ku lihat, seikat bunga mawar putih dan boneka beruang tergeletak di lantai.Aku tersenyum geli pasti Revan, pikirku. Ku ambil dan ku hirup, ku peluk boneka beruang ini, ini boneka pertama yang Revan berikan.Sebelum nya tak pernah, buket bunga tadi jatuh di lantai, saat ku abil ada sepucuk surat terjatuh dari sela sela bunga itu. Dengan amplop pink.Dear:Elta VionitaSalam rindu dari ku untuk kau wanita yang istimewa. Maafkan aku yang mungkin salah, awal nya rencana ku untuk mengungkapkan perasaan ku adalah hal yang benar. Tapi aku salah, kamu telah terikat dengan Revan.Kau tau Vio? Aku telah berusaha pergi jauh darimu. Tapi semua yang ku lakukan malah menyakiti diriku sendiri. Aku telah berusaha untuk menerima takdir, bahwa kita tidaklah berjodoh.Kau pantas dengan Revan, maafkan pertemuan kita yang kemarin. Kau tau? saat kau menanti jawaban ku saat itu jiwaku sedang bergejolak.Mungkin ini adalah surat yang terakhir, bila boleh aku jujur aku sangat ingin menjadi pria yang selalu di samping mu. Tapi aku tak bisa, orang tua ku telah menjodohkan aku dengan wanita yang tak aku kenali.Aku juga tak ingin menyakiti Revan, dia terlalu baik untuk aku sakiti dan kau terlalu indah untuk aku milikki. Jadi aku setuju saja untuk di jodohkan, katakan pada Revan dia adalah orang yang beruntung. Aku pamit yaa.Dan setelah pernikahan ku aku dan keluarga berencana untuk pindah ke Australia, selamat tinggal.AlvinTanganku bergetar saat ku baca terakhir surat ini, Alvin? kamu di mana? Kamu gila, aku sangat merindukan mu. Dan kau dengan mudah pergi, kamu tak tau Betapa aku takut jau takkan kembali lagi. Luluh semua harapanku, untuk kembali melihatmu. Kamu pergi akan menjadi kenangan yang takkan aku lupa kan.Kubaca tulisan di balik surat.Menangislah, keluarkan semua nya.Aku sebenarnya ingin menjadi bahu tuk kau bersandar, tapi takdir kita tak searah lagi .“Alvin!!!" Jeritku, ku peluk boneka beruang pemberian darinya. Mataku kini telah basah.***end.
Catatan Terakhir
"Kamu bukan mama ku." Jerit seorang anak perempuan sambil menutup telinga nya, dia menangis tepat di depan seorang wanita yang berdiri dengan raut wajah kebingungan. "Kesalahan apa yang mama lakukan pada mu Keyla?" Tanya wanita itu dengan lembut pada seorang anak kecil yang masih menjerit dan menangis."Kamu bukan mamaku, aku takut." Jerit anak itu. Wanita itu hanya menghembuskan nafas berat berusaha tetap sabar, walau wajahnya tampak bingung harus melakukan apa lagi. Dia Sarah mama tiri Keyla, Keyla tak menyukai keberadaan Sarah dalam hidupnya. Dan Sarah menyadari itu.***Waktu perlahan berputar cepat, Keyla kini telah menginjak umur 17. Namun Keyla masih sama tak menyukai keberadaan mama tiri dalam hidupnya, ia selalu membantah apapun yang di katakan mama tirinya walau Keyla tau itu untuk kebaikan dirinya sendiri.Suatu malam ketika Keyla tengah menatap bintang di langit terdengar suara nyaring yang membuyarkan lamunannya "Keyla makan sayang." Suara Sarah di ruang makan, tanpa banyak bicara atau berpikir seketika Keyla turun dan duduk untuk makan."Kenapa wajahmu pucat?" Tanya papa Keyla yang menyadari ada yang aneh, Keyla hanya diam tak bergeming fokus pada makanan yang dia santap. Sarah yang melihat sikap Keyla langsung angkat bicara "Keyla kalau ada yang nanya jawab yaa."Emosi yang Keyla tahan seketika meluap ia berdiri dan menggebrak meja makan "Kenapa sih? kenapa Keyla selalu salah di mata kalian?apakah tak pernah Keyla terlihat benar kenapa dinia selalu tak berpihak pada Keyla?" Ucap Keyla dengan air mata berlinang."Keyla rindu bunda, Keyla gak mau hidup, Keyla cape hidup Keyla itu selalu di kekang, Keyla mau mati." Ucap Keyla lalu segera berlari ke luar rumah, mama dan papa nya langsung berlari mengejar Keyla namun Keyla telah lari cepat, keluar gerbang tanpa menghiraukan panggilan papa dan mamanya. Mama dan papa Keyla khawatir lalu mereka mencari Keyla ke luar, dengan perasaan yang tak bisa di jelaskan***Keyla sesenggukan di sebuah cafe, dia menangis tak peduli dengan tatapan aneh dari pengunjung cafe. Seketika matanya tak sengaja bertatapan dengan seorang pemuda, dia menatap Keyla dengan tatapan tak bisa di artikan.Keyla merasa risih dan mengira pemuda itu menertawakan nya atau mungkin menganggapnya gila seketika berfikir untuk beranjak dari tempat itu. Saat Keyla baru saja berdiri ada sebuah tangan yang menggengam tangan Keyla, Keyla berbalik dan melihat ternyata dia adalah pemuda tadi.Keyla berjalan dan melepaskan genggaman pemuda tadi, dia benar benar lancang."Keyla?" Ucap pemuda itu.Keyla berbalik,dahi nya berkerut."Siapa kamu?" Tanya Keyla.Pemuda tadi tersenyum dan mengulurkan tangan "Aku Kelvin." Keyla membalas uluran tangan masih dengan wajah tanpa eksepsi "Keyla." Mereka saling berjabat tangan, walau masih terlihat wajah tak nyaman yang Keyla tunjukkan."Kenapa kamu tahu namaku?" Tanya Keyla. Kelvin terlihat tenang "Ibuku sering bercerita tentang kamu padaku, makannya aku tahu hehe." Jawab Kelvin masih dengan wajah tenang.***"Keyla mama mohon, tolong kamu bersikap sopan pada tamu, bersikaplah layakanya gadis seusia mu, kamu sudah dewasa janganlah bersikap kekanak kanakan ya sayang." Ucap Sarah pada Keyla. Hari ini Keyla melakukan hal yang tidak sopan, Keyla tak menjawab atau pun tersenyum saat teman papa nya bertamu ke rumah nya.Sarah berusaha tetap sabar, namun menurutnya kali ini kelakuan Keyla benar benar sudah melewati batas.Brag gSuara pukulan dimeja membuat perdebatan antara Keyla dan Sarah terhenti,papa Keyla tiba tiba datang. "Kamu ini,tak punya sopan santun"Plak kTangan papa Keyla mendarat di pipi kiri Keyla, Keyla memegang pipinya yang merah, mata nya memanas, memperlihatkan butiran air yang siap menetes. "Pa, jangan main kasar" Bela Mama Keyla, papa Keyla diam tak menyadari apa yang telah di lakukan pada Keyla, matanya memerah menahan emosi."Tak usah membelaku, tak usah bertingkah baik di depan ku." Jerit Keyla, Keyla berjalan menuju ke luar berlari sambil air mata bercucuran membasahi wajah manis nya.***Keyla berlari di tengah padatnya kota, jam telah menunjukan pukul 20.00 Keyla tak ingin pulang, Ia berjalan dan melihat orang orang ramai di depan sebuah gedung. Mereka memakai baju sexy, Keyla melangkah menuju tempat itu, semakin dekat dan akhirnya Keyla memasuki ruangan itu, diskotik.Di dalam diskotik Keyla bingung tak ada seorang pun yang Ia kenal. Ia tak tahu mengapa dia ingin memasuki ruangan ini. Tiba tiba seorang pemuda menghampiri Keyla memberikan segelas minuman dan mengatakan Untuk meminum nya, Keyla hanya diam menolak tawaran pemuda yang tampak setengah sadar itu.Akhirnya pemuda itu memaksa Keyla untuk meminumnya, Keyla tetap menolak hingga gelas itu jatuh dan pecah di lantai. Pemuda itu marah dan mendekat ke arah Keyla. Keyla takut Ia pun berlari keluar tetapi pemuda itu tetap mengejar Keyla. Kelvin tak sengaja melihat Keyla yang di kejar seseoang, Kelvin kaget dan mengikutinya.Keyla berlari secepatnya Ia takut, takut pemuda itu melakukan hal yang menyeramkan. Keyla berlarian di trotoar dan menyeberang jalan, tanpa dia sadari ada sebuah mobil dengan kecepatan tinggi yang melaju ke arahnya."Aghhhhhhhhh"Jeritan itu menembus malam yang pekat.***"Keyla bangun sayang maafin mama."suara tangis terdengar pilu itu suara Sarah. Semalam Keyla kecelakaan tertabrak mobil, kini Keyla kritis, sudah 2 hari Keyla tak sadarkan diri.Kelvin hanya diam membeku, rasanya tak percaya bahwa Keyla benar benar kecelakaan. Ia masih sangat ingat saat mobil itu menabrak dan membuat tubuh mungil Keyla terbanting.Kelvin menyesal, menurutnya ini adalah salahnya, harusnya Ia berlari cepat, lebin cepat agar Keyla dapat di kejar, namun semuanya sudah terjadi kecelakaan itu telah terjadi. Sekarang hanya bisa berdoa agar Keyla dapat segera sadarkan diri.***Pov Keyla"Bunda?" ucapku dengan suara parau, aku lupa bahwa Bunda telah tiada. Ku coba membuka mataku namun setelah ku buka semuanya gelap, aku takut di mana aku sekarang?mengapa gelap?di mana mama?papa?atau Kelvin?Dapat ku rasakan seseorang membelai kepalaku, aku kenal tangan ini, ini tangan Mama. Mama seperti sedang terisak "Mama?kenapa gelap?" Tanya ku pada mama, tapi mama malah memeluku.Aku tak mengerti dan tak ingat apa yang terakhir terjadi yang aku ingat adalah pertengkaran ku dengan mama. Dan aku ingat saat aku memasuki diskotik dan di kejar oleh pemuda aneh, dan saat itu...Aku menangis aku ingat bahwa aku mungkin kecelakaan, tapi mengapa sekarang semuanya gelap? apa aku buta? aku takut."Sayang, kamu yang sabar." Aku kenal suara itu, itu suara papa."Papa mata ku kenapa? kenapa gelap?" jeritku pada papa dan ku rasakan pekukan mama semakin kencang."Aku tak mengerti" keluh ku hampir tak terdengar."Dokter mengatakan kamu tidak akan bisa melihat Kayla, kecelakaan itu penyebabnya, matamu terbentur keras." Ucap mamaku "Kecuali bila ada yang bersedia mendonorkan mata untuk mu,tapi itu sulit Keyla." Ucap mamaku.Aku menjerit sekencang nya, Tuhan bantu aku.***"Keyla?" Panggil seseorang aku yang sedang duduk segera berdiri dan berjalan ke sumber suara. "Tak usah berjalan duduk saja." Ucap seseorang itu, aku tahu dia Kelvin."Mau ikut ke kebun teh?" Tawar Kelvin, aku memang tak bisa melihat raut wajahnya namun dari suaranya aku dapat merasakan bahwa Kelvin sangat ingin aku ikut.Aku menangguk ,dan mengambil tongkat Kelvin berjalan di sampingku. Aku dapat mersakan sejuknya angin menyentuh kulit wajahku. "Kamu tahu Keyla?" Tanya Kelvin saat kita sedang duduk di sebuah batu besar.Aku menggeleng "Tidak."Kelvin tertawa,"Aku sangat senang saat ku tahu kamu sudah dapat kembali menerima mamamu dalam hidupmu," ucap nya. Aku tersenyum."Iyaa emang kenapa?" Tanya ku, "Berati kau telah siap dan bahagia ya?" Tanya Kelvin sambil tangannya merangkulku.Aku terdiam tak mengerti ucapan nya "Siap apa?" Tanyaku lagi. Kelvin tiba tiba batuk, sangat keras aku kaget dan memberinya air minum dari tas ku, tapi dia malah menolak. "Aku minta tisu." Ucap Kelvin, tanpa pikir panjang aku segera mengeluarkan tisu untuk nya sambil meraba tasku mencari tisu."Kamu kenapa?" Tanya ku aku cemas "Hanya pilek." Ucap Kelvin. Aku terdiam, benarkah?."Aku dengar ada seseorang yang bersedia mendonorkan matanya untuk mu." Ucap Kelvin sambil mengacak rambutku.Aku tersenyum bahagia dan tak percaya, ternyata setelah sekian lamanya akhirnya Tuhan mengirimkan ku manusia yang bersedia mendonorkan matanya, siapapun dia terimakasih.***"Siap Keyla?" Tanya dokter, aku diam aku marah pada Kelvin mengapa saat seperti ini dia tak datang, padahal yang aku ingin saat perban pembungkus mataku ini di buka,aku ingin melihat mama, papa dan Kelvin, tapi entah kenapa Kelvin tidak datang. "Kelvin mana?" Tanyaku pada mama dan papa yang sedari tadi membujukku untuk segera membuka perban ini."Kelvin menunggumu Key, di luar."ucap mama dengan nada tak bisa aku jelaskan, aku tersenyum. Di pikiranku mungkin Kelvin akan menyiapkan kejutan untuk ku aku pun bersedia untuk di buka perban mataku.***Aku merengek kepada mama dan papa agar aku segera bertemu Kelvin, tapi mama dan papa membisu aku jadi kesal bagaimana tidak, sudah dari kemarin aku ingin bertemu Kelvin, tapi selalu saja mama menolak.Akhirnya hari ini mama dan papa bersedia mengantarku bertemu Kelvin, aku sangat bahagia. Aneh ada yang aneh mengapa mama dan papa menuju jalan yang tidak aku ketahui,aku mulai merasa tak tenang.Ku lemparkan pandanganku ke seluruh penjuru, mataku tak salah, ini tempat pemakaman, untuk apa mama dan papa mengajakku ke sini? bukankah kita ingin bertemu dengan Kelvin? namun aku tetap berusaha tenang."Ma?kita mau ke mana?" Tanya ku hati mulai tak tenang pikiran buruk menyerbu. Namun mama dan papa tetap diam, aku gusar sendiri ada rasa takut dalam hati ku. Langkah mama dan papa akhirnya berhenti di samping sebuah makam, aku diam mematung tak berani membaca batu nisan yang tertulis nama seseorang itu."Sayang Kelvin ada di sini." Ucap mama. Aku membeku dan membaca nama yang tertulis di nisan itu.Kelvin AndikaDegggAku menangis memeluk batu nisan itu, Kelvin bagaimana ini semua bisa terjadi?Ku lihat ternyata Kelvin meninggal tetap saat aku sedang melakukan operasi mata, pantas saja dia tak datang, Kelvin maafkan aku yang marah padamu karena kau tak datang."Ma?Kelvin kenapa ma? pa? kenapa?" Tanya ku di sela isakan."Kelvin sudah di vonis memiliki penyakit jantung Key, dan tidak memiliki uang untuk membeli obat, papa sudah mengajak nya untuk melakukan operasi dan membeli obat, tapi penyakit nya itu tak bisa di obati lagi, dia meminta kepada papa untuk mendonorkan matanya untuk mu, dan semua nya telah terjadi."Aku ingat terakhir bertemu Kelvin, saat dikebun teh aku ingat saat dia menanyakan apakah aku siap? siap apa? Apa ini maksud mu Kelvin?jika benar sampai kapan pun aku takan siap, kenapa?karena aku mencintaimu.Ku raba mata ini, ini mata yang biasa Kelvin gunakan untuk melihat dunia? dan kini sekarang dia telah tiada, aku kembali terisak, Kelvin.Mama menyodorkan sebuah surat.Ku bukaDear: KeylaKeyla kamu tahu? saat kau sedang dirawat karena kecelakaan, aku sangat takut kehilanganmu aku takut tak bisa kembali melihatmu tapi takdir sangat baik kepada kita, kau sembuh. Kau tahu?aku selalu melihatmu menangis sendiri, aku tahu kau ingin kembali seperti semula.Dan maafkan aku yang jarang menemanimu, aku memiliki banyak urusan, seperti berobat, kerja dan menyakinkan ibuku agar ibu iklas akan kepergianku . Dan hal yang paling aku ingat adalah saat di kebun teh, aku sangat menikmati saat terakhir bersamamu, sebenarnya aku takut karena aku tak akan bisa lagi melihat mu lagi. Tapi selalu ku yakinkan bahwa semuanya adalah yang terbaik.Ku titipkan mata ku padamu, agar kau bisa kembali melihat indah dunia,dan aku tahu kau sangat menyukai senja, haha aku selalu benar kan?tentang mu aku akan selalu mengingat dan mengetahui. Aku pamit Keyla, terimakasih atas kehadiran mu di sisa hidupku. Keinginan terakhirku,aku mohon jadilah gadis cantik dan tetap baik.Kelvin Andika:)
Waktu Singkat untuk Salma
Ku pandangi seluruh penjuru kelas, tak ada Fahri. Aku duduk dan menghela nafas berat, kemana anak itu? “Salma?" Ucap seseorang aku menengok ke sumber suara, dia Lisa temanku bukannya menyahut aku hanya diam, dia lalu mengerutkan dahi lalu menghampiriku sambil tangan nya mencubit pipi cabi ku.Aku berusaha melepaskan tangan nya dari pipi ku bisa bisa semakin melebar jika di biarkan terus begini. “Galau terus kerjaan nya" ucap Lisa sambil duduk di sampingku, aku hanya diam rasanya sangat malas untuk bicara. “karena Fahri?" tanya Lisa saat keadaan hening beberapa saat. Tapi aku tetap diam tanpa ekspresi, rasanya tak perlu dijawab toh Lisa pasti tahu.“Sabar Sal, mungkin Fahri izin karena ada acara keluarga atau semacam nya." Aku masih saja diam, walau aku sadar ucapan Lisa ada benar nya, tapi semua ini tak adil seperti ada hal yang aneh, tapi aku sendiri tak tahu.~~~“Bunda Salma pulang." Ucap ku sambil mendorong pintu rumah, ku lihat Bunda sedang memasak sesuatu di dapur. Aku datang dan mencium punggung tangannya, lalu duduk di kursi sambil tanganku melonggarkan dasi di leherku. Bunda menengok ke arah ku “kenapa muka kok di tekuk gitu" tanya bunda heran.“Fahri gak masuk lagi bun" Ucap ku dengan nada merendah mirip rengekan anak kecil, bunda terkejut. “Kok Fahri jadi jarang masuk ya?" Tanya bunda, aku mendengus kesal, bila aku tahu aku juga tak akan gelisah seperti ini. Aku hanya menggeleng, lalu beranjak menuju kamar meninggalkan bunda yang menunggu jawabanku "Dasar Salma." Ucap bunda.~~~Aku diam dan duduk memandangi jam dinding, tak punya kerjaan. Tiba tiba aku mendengar sebuah ketukan di pintu, ini pasti bunda membawakan ku makan siang, karena aku tak mau makan dari pagi. “Masuk aja gak di kunci kok," ucapku tanpa beranjak dari kursi. Pintu terbuka mataku melebar tak percaya dengan penglihatanku, dia bukan bunda tapi Fahri.Aku berdiri dan berjalan ke arahnya, dia terseyum lebar dengan jaket abu abu yang Ia kenakan. Senyum ku hilang seketika saat aku ingat aku sedang marah dan kesal padanya, aku berbalik dan duduk di kursi. Fahri mengerutkan kening, dan ikut duduk di sampingku aku diam tanpa ekspresi. “Salma kau kenapa?vmarah padaku?" Tanya Fahri.“Tidak." Jawabku cepat “Syukurlah." Ketus nya, aku jadi semakin kesal Fahri ini sangat tidak peka. “Fahri..." Ucap ku dengan wajah masam “Apa?" Tanya nya, aku menghela nafas “Aku marah, kenapa kau tak peka? dasar lelaki." Ucapku ketus. Fahri malah tertawa “Tadi ku tanya katanya gak marah, dasar wanita." Ucapnya sambil tertawa, aku tak ikut tertawa tak ada yang lucu.“Baiklah kenapa kau marah Salma?" Tanya Fahri menyadari raut wajah ku “Kau selalu menghilang" ucapku. Seketika aku dapat melihat perubahan raut wajah nya “Adikku sakit Sal" ucap nya aku kaget dan mengerti “Fahri kenapa kau tak memberi tahu ku? masa aku temanmu saja tak kau beri tahu." Ucap ku cepat.“Maaf Sal," ucap Fahri dengan raut tak bisa di tebak.~~~“Apa? jadi adiknya Fahri sakit?" Tanya Lisa saat aku selesai curhat tentang Fahri kemarin.Aku mengangguk "Fahri memang kakak yang baik ya." Ucap Lisa, aku mrngangguk menandakan setuju dengan nya. “Gimana kalo kita ngejengukin adik nya?" Tawar Lisa "Ide bagus" Ucapku antusias. “Ada apa nih?" Suara Fahri tiba tiba. “Kita mau nengokin adikmu Fah" jawab Lisa seketika, aku hanya mengangguk."Eh serius? Yaudah Salma nanti ku jemput ya?" Tawar Fahri dengan seyuman khas nya, aku melihat ke arah Lisa. “Iya aku setuju soal nya aku mau berangkat sama kak Elang, kakak ku." Ucap Lisa, aku dan Fahri berpandangan.“Aku tak mau." Ucap ku pada Fahri,dia kaget dan melihat ke arah ku,“Kenapa?" Tanya nya.“Kamu selalu berbohong, kemarin kau berjanji akan masuk sekolah buktinya? tidak ada." Jawab ku ketus. Lisa hanya diam tak menanggapi. “Itu karena adikku kemarin sakit Salma." Jawab Fahri, aku diam memang benar.Fahri menghela nafas, kami sudah saling mengetahui sifat masing masing “Aku janji kali ini aku akan datang, aku akan berusaha." Ucap Fahri dengan sungguh sungguh. Aku bingung, bukan kah hanya menjemputku hingga berusaha? apakah sulit? Aku berbicara dalam hati, tapi tak apa lah mungkin bagi Fahri menepati janji adalah hal yang sulit,aku tak berfikir panjang.~~~“Sal? kamu di mana?" Suara Fahri dalam telepon, aku mendengus kesal,dia ini dari tadi ditunggu dan sekarang baru menelepon?“Aku di rumah, kamu di mana? kan janji jam 19.00 sekarang udah jam 19.34, dari tadi di tugguin." Ucap ku dengan helaan nafas, bosan Fahri selalu mengingkari.“Maaf tadi abis pulang sekolah, aku gak pulang ke rumah langsung aja ke rumah sakit, ehh itu Lisa udah dateng ke sini, tungguin aku jemput kamu." Ucap Fahri.“Iya,cepetan." Ucap ku.“Okeee waktu singkat." Ucap Fahri lalu mematikan telepon aku tak mengerti, waktu singkat?~~~Aku berjalan mondar mandir di teras rumah menunggu Fahri yang tak kunjung tiba, dia itu selalu saja begini. Ku putuskan ku tunggu dia 5 menit lagi,jika dia tak datang maka aku akan memilih tudur, dari pada menuggu dia yang tak pasti.Lima menit berlalu Fahri tak datang juga, aku kesal. Benar kata orang, orang yang mudah berjanji adalah orang yang mengingkari. Aku berjalan menuju rumah, ku lihat ada Fahri berjalan ke arah rumah ku dia berjalan kaki dengan wajah menunduk, aku tak menghiraukan nya.Aku masuk saja ke rumah ku. Dan mengurung diri di kamar, kesal sangat kesal ku tunggu Fahri tapi dia tak mengetuk pintu sama sekali, ahh Fahri aku semakin kesal, aku diam saja tapi Fahri tak juga mengetuk pintu atau memanggil namaku.Ponselku tiba tiba bergetar, ada panggilan masuk,tertera nama Lisa di layar. “Halo?" Ucap ku. Lisa tak berbicara apa pun, tapi aku dapat mendengar suara isakan tangis, Lisa menangis.“Sal..." ucap Lisa di sela isakan nya. “Lis, kamu kenapa?" Tanya ku dengan tangan bergetar. “Fahri Sal, Fahri " ucap Salma, aku terkejut bukan kah Fahri ada di sini?“Fahri kecelakaan dan meninggal di perjalanan ke rumahmu." Ucap Lisa dengan suara getar. Aku diam perlahan air mata jatuh menetes, dan ku buka jendela kamar ku untuk melihat ke teras, tak ada Fahri di sana. Apakah halusinasi ku sendiri?Fahri, kau memang tak menjemputku tapi kau datang, untuk terakhir kali nya, ini kah yang kau sebut sebagai waktu singkat? dan itu untukku?~~~end.
Kisah Tahun Lalu
Aku tahu hal yang indah takkan datang dua kali. Sekuat apapun kita menahan agar semua tetap sama, tapi bila sudah takdir kita bisa apa?Namaku Icha aku sekarang bekerja sebagai jurnalis. Setiap hari ku hanya menulis berita dan peristiwa. Hingga suatu hari aku mendatangi sebuah kecelakaan. Seorang pemuda terluka parah, aku datang untuk meliput kejadian sebagai berita terkini. Namun suatu kejadian mampu membuat kenangan itu kembali.Ketika seorang gadis datang dengan histeris, menangis dan terus berdoa untuk kesembuhan pemuda itu, yang bisa ku tebak mungkin mereka pacaran? Aku merasa sedikit pusing tapi tetap berusaha bertaha dan fokus dengan apa yang aku kerjakan, namun berkali kali aku hampir pingsan. Lalu aku pun pergi ke dalam mobil dan menenangkan diri.Hidupku seperti ini, kepalaku selalu pusing dan sakit saat aku melihat atau mendengar apapun yang bersangkutan dengan peristiwa hari itu. Aku pun pulang dan menenangkan diri di rumah. Tiba tiba terbesit sebuah nama "Alan?" Aku diam, seolah tak sadar akan apa yang aku ucapkan barusan.Lalu kenangan itu kembali.1 tahun yang lalu.Aku tergesa gesa, berlari menuju perpustakaan karena ku tahu hari ini akan datang buku novel yang aku tunggu tunggu. Saat sibuk berlari seseorang menabraku dari belakang, hingga membuat aku jatuh ke jalan yang kebetulan terdapat batu tajam di sana.Aku meringis menahan perih kaki ku yang mengeluarkan banyak darah. Lalu dengan sigap pemuda yang menabrakku membopong tubuhku dan membawa aku ke rumah sakit. Setelah kejadian itu, aku jadi tahu nama pemuda itu adalah Alan. Dia adalah anak dari Pak Wiryono, kepala sekolah di SMA kami waktu itu.Aku tau Alan adalah anak yang disiplin dan patuh. Hingga saat Pak Wiryo tahu bahwa aku mendapat 6 jahitan di betis karena ulah Alan Pak Wiryono marah, dan memberikan Alan hukuman. Hukuman nya mampu membuat aku tak bisa tidur semalaman.Apa? Hukuman nya adalah Alan di tugaskan untuk menjemput dan mengantarkan aku pulang sekolah selama 4 bulan. Aku tahu Alan tak suka pada hukuman ini. Dan aku tahu kalau Alan sudah punya pacar hingga hal itu membuat aku takut, jujur saja aku takut mendapatkan masalah dari itu semua.Setiap hari sikap Alan selalu dingin, ia diam dan tak mengeluarkan sepatah katapun membuat aku merasa sangat bersalah. Aku juga ingat pernah di jahili oleh Sasa pacar Alan. Waktu itu dia mengotori baju ku dengan minumannya terkadang mengerjaiku dengan membuang atau menyembunyikan sebelah sepatu ku.Namun aku tak bercerita tentang hal itu pada Alan. Hingga tiga bulan berlalu, Alan masih saja banyak diam, tak banyak bicara. Dasar kulkas berjalan.***Suatu siang Sasa tiba tiba menarik rambutku hingga aku meringis kesakitan, dia marah padaku dan menuduh bahwa aku berusaha merebut Alan darinya, aku menjerit sekuat nya karena cengkraman tangan Sasa sangat kuat. Tiba tiba Alan datang, lalu menolongku. Entah karena apa yang pasti saat itu Alan tiba tiba memutuskan hubungan Sasa. Aku hanya diam melihat dua manusia yang sedang bertengkar.Lalu Alan mengajakku pulang, di perjalanan Alan terus saja menanyakan keadaan ku, dan meminta maaf atas sikap Sasa. Aku hanya mengangguk. Entah kenapa sikap Alan berubah dan aku merasa ada ribuan kupu kupu terbang di perutku,ada apa ini?***Empat bulan berlalu. Aku masih ingat saat tanggal akhir di bulan ke empat, Alan menanyakan boleh kah dia tetap mengantar jemput ku? Aku memikirkan jawaban yang tepat dan ku kira aku tak keberatan. Hingga aku dan Alan semakin akrab, setiap hari kami sering belajar bersama untuk sekedar mengerjakan PR atau tugas.Semakin hari Sasa semakin menghilang aku mulai jarang di ganggu oleh nya, syukurlah.Hingga aku sudah kelas 12 SMA. Hanya tinggal beberapa bulan lagi untuk lulus. Aku mempersiapkan segalanya untuk mengahadapi ujian nasional.Dan akhirnya aku dan Alan lulus dengan nilai memuaskan. Semua sangat indah, saat Alan mengungkapkan perasaan nya dan kami mulai pacaran. Kejadian itu berlangsung saat kami akan berkunjung ke sebuah Universitas untuk melihat lihat fasilitasnya. Aku masih ingat saat itu Alan datang dengan baju berwarna abu abu, warna kesukaanku. Kami sempat bercanda dan tertawa di dalam perjalanan.Namun sayang. Rem mobil Alan blong, Alan tak mampu mengendalikan mobil nya hingga mobil Alan jatuh ke jurang.***Aku membuka kedua mataku, ada ayah, ibu yang tampak cemas akan keadaan ku. Aku mencari Alan. Saat ku tahu kepala Alan mengalami pendarahan dan harus di operasi. Aku kaget hingga terus mencari keberadaan Alan saat itu. Namun betapa sakit nya, saat aku melihat Sasa tengah menunggu Alan yang terpejam. Aku sakit, melihat Sasa di sana.Akupun berlari masuk sambil bernait memeluk Alan yang terpejam, namun Sasa langsung mendorong tubuh ku yang masih lemas. Aku pun terjatuh lalu Pak Wiryono datang dan membantuku. Saat aku tahu Alan masih koma sesudah operasi itu, membuat aku terpukul. Namun itu tak seberapa sakit nya di banding aku tahu Pak Wiryono menjodohkan Sasa dengan Alan.Aku terpuruk beberapa minggu, hingga Alan mulai sadar dari koma. Saat Alan membuka mata nya Alan langsung memanggil nama Sasa. Aku kaget dan bingung, apakah Alan tidak mengingatku? Dokter mengatakan kalau Alan mengalami Amnesia, ia hanya bisa mengingat sedikit tentang dirinya.Hingga aku pun memilih kalah, aku tahu Alan bukan lupa padaku dia hanya sakit. Aku juga sudah tahu kalau Sasa adalah penyebab kecelakaan aku dan Alan. Namun biarlah, aku pun memilih mundur melepaskan Alan, aku yakin cepat atau lambat mungkin Alan akan mulai ingat padaku. Dalam benak ku bila mungkin Alan di ditakdirkan untukku seberapa jauhnya ia melangkah kami akan tetap di pertemukan.Namun bila tidak, biarlah Alan menjadi mantan terindah yang pernah hadir dengan cara yang istimewa. Aku pun sadar dari lamunan ku, pusing memang bila mengingat hal yang menyakitkan.***Aku kembali bertugas dengan dunia jurnalis ku. Pergi ke sana kemari, mencari berita menarik hmm rasanya aku mulai menyukai pekerjaan ku. Yaa dan sekarang aku sudah bertunangan dengan Arga. Dia adalah teman ku dari kecil, tapi entah kenapa aku rasanya baru mengenali nya sekarang, hmm jodoh memang unik ya. Tentang Alan? Aku tak mencari bukan tak ingat,hanya saja aku sudah memilih Arga kan?Brukk, aku menabrak seseorang."Ichaa? Kamu Icha kan? Inget aku? Aku Alan chaa.."***end.
CLAIRE
Aku tersenyum mengamati sekeliling. Seorang wanita paruh baya sedang membersihkan pekarangan. Rambut putih keperakan tak dapat bersembunyi meski tertutup topi anyaman bambu. Cukup lebar melindungi dari sengatan sinar matahari. Tampak beberapa orang mondar-mandir menata ruang tamu. Dapur tak kalah menunjukkan kesibukan."Claire, kita harus membuat pesta ulang tahun besar-besaran untukmu" kata Mama antusias satu minggu lalu."Ngapain sih, Ma? Males deh" aku kembali sibuk membaca komik."Kalo gitu, bagaimana kalo kita ngerayainnya di rumah aja?" memberikan pilihan lain."Iya aja sayang?" sahut Papa, duduk di sebelah Mama.Setiap sore kami selalu berkumpul di taman rumah. Menikmati udara segar di sore hari sambil menikmati teh panas. Aku meletakkan komik di meja dan kembali meresapi aroma lemon di dalam cangkir."Aku udah gedhe, Ma" meminum sedikit teh sambil melihat ekspresi Mama, "Bukankah terlalu kekanak-kanakkan merayakannya besar-besaran?"."Kekanak-kanakkan? wanita berambut pirang tersenyum, " Seventeen Party isnt ?"."Apa kado yang kamu pengen?" potong Papa."Aku ingin kita bertiga pindah rumah" pintaku membuat Mama urung cemberut, "Suasana rumah ini sangat membosankan, jadi kita bertiga bisa menikmati hidup"."Bukan hadiah yang buruk kan, Pa?" mata Mama berbinar.Meski masih dalam kata-kata namun persetujuan mereka membuatku cukup membuatku bahagia. Menyaksikan kesibukan hari ini semakin menambah bunga dalam hatiku. Sebenarnya aku tak perlu repot berkeliling memeriksa persiapan dan pekerjaan tiap orang. Menyewa seorang event organizer telah sangat cukup membantu, tapi aku melihat rumah ini untuk terakhir kalinya. Firasatku tepat tak meleset."Tasya, apa yang sedang kamu lakukan di sini? tanya wanita baju ungu.Suara itu kembali merusak suasana hati. Pemandangan indah di hadapanku seketika menghilang. Rumah megah berubah menjadi gubuk reyot tanpa atap menaungi."Tidak ada bu, saya sedang membaca buku" jawabku sekenanya.Ibu menghela napas berusaha tidak marah hari ini. Aku dapat melihat ia tidak percaya. Ia selalu memberikan pekerjaan dan tak membiarkan sendirian. Perintah untuk mengerjakan ini, melakukan itu tanpa memberikanku kesempatan menikmati duniaku."Bukankah ibu sudah bilang untuk tidak bermain di halaman belakang? Kenapa kamu selalu main ke sini?".Ia mulai membombardir dengan pertanyaan sama. Apa yang aku cari di halaman belakang? Kenapa aku suka main ke tempat menyeramkan ini? Berkali-kali pertanyaan itu dilemparkan seakan-akan dia merasa khawatir."Ada apa ibu mencari saya?" tanyaku mengalihkan perhatian."Oh..." teriak Ibu. Aku dapat matanya bersinar. Tatapan mengingatkanku pada Papa dan Mama saat mendengarkan keputusan hakim."Hari ini ada seseorang yang ingin bertemu denganmu" penuh semangat ia menarik tanganku.Seorang wanita memiliki wajah bagaikan malaikat, tersenyum menyambut kedatanganku. Dia memelukku sejenak terasa hangat. Setelah mencium keningku, kami duduk berhadapan dengan Ibu."Ibu ini langsung tertarik saat melihat foto kamu langsung saja ia sangat ingin segera menemuimu" kata Ibu."Bagaimana dia bisa tinggal di sini?" tanya wanita calon ibu angkatku.Ibu melemparkan senyum padaku. Aku mengerti dan segera berdiri berpura-pura keluar dari ruangan penuh dokumen itu."Saya akan jujur menjelaskan tentang dia, namun saya sangat berharap ibu tidak membatalkan niat baik ibu" perkataan kepala panti asuhan seperti mengatakan ketakutan kehilangan uang."Silahkan"."Dia anak yang baik, sopan dan manis seperti yang anda lihat tapi dia termasuk anak yang antisosial dan pendiam" tampak wanita itu menunggu penjelasan latar belakangku,"Hari itu Tasya sendiri yang datang ke tempat ini. Beberapa hari kemudian, saya baru tahu kalau Tasya yatim piatu saat berumur enam tahun dan tinggal bersama adik laki-laki ayahnya. Sepupu Tasya ditemukan meninggal di rumah menjelang pesta ulang tahunnya. Hal ini membuat bibinya menjadi gila dan pamannya mengalami kebangkrutan setelah memimpin perusahaan ayah Tasya selama dua tahun"."Pasti itu sangat berat baginya" wanita berwajah malaikat itu tampak tersentuh.Aku segera pergi menuju bangku di taman Panti Asuhan. Kini giliranku memainkan peran sesuai rencana yang telah kami sepakati. Wanita malaikat itu menghampiriku kembali mendekapku. Kurasakan getaran tubuh dan terdengar suara Isak tangis."Mulai hari ini aku adalah ibumu" katanya di sela-sela tangisannya."Benarkah, nyonya?" ku lepaskan pelukannya.Aku yakin wajah polosku cukup mengelabuhi.Wanita itu segera menghapus air matanya, "Mulai sekarang Tasya panggil Mama bukan nyonya".Aku tersenyum menatap ibu kepala panti asuhan. Semua berjalan sesuai rencana. Mama segera mengurus semua surat adopsiku. Tak lupa Mama mengajakku untuk berpamitan ke semua penghuni panti."Semoga kamu betah tinggal bersama ibu angkatmu" kata Ibu saat tepat Mama datang setelah dari parkir.Aku mengangguk dan melambaikan tangan pada semua sebelum masuk ke dalam mobil, duduk di samping Mama."Kerja bagus, Claire" puji Mama tetap menyetir tanpa memandangku, "Kau memilih tempat yang tepat".Tamat
Mama Papa
Bella senang melihat Albert menjemputnya dengan mengendarai mobil berwarna silver."Mobil baru?" goda Bella saat Albert keluar dari mobil."Silahkan masuk, permaisuriku" Albert membukakan pintu mobil.Bella tersenyum. Senyuman berubah menjadi rasa kaget dan kecewa. "Albert, apa-apaan nih?"." Sorry , di rumah lagi ada arisan ibu-ibu kompleks jadi aku disuruh ngajakin mereka keluar biar nggak ganggu. Nggak apa-apa ya?".Bella tetap cemberut melihat di belakang ada anak-anak kecil. Ia menghitung dalam hati." Satu...Dua...Tiga...Empat...Lima. Hah... Albert emang raja tega. Bodohnya aku. Seharusnya curiga waktu ngeliat dia datang pakek mobil biasanya Vespa " keluh Bella dalam hati.Sesampainya di taman Albert segera memasang tikar. Ia menata bekal dan beberapa bawaannya di atas tikar. Sementara Bella merasa kesulitan menggendong Sasya, bayi yang baru saja berusia 13 bulan."Mama... tolong bukain sepatu Casey" suara mungil itu mengejutkan Bella."Tadi aku bilang ke mereka, kita akan main rumah-rumahan. Mereka jadi anaknya, kita jadi orangtua".Penjelasan Albert sukses membuat Bella melongo."Ini makanan favorit keluarga kami. Tada... Lumpia rebung ayam" tunjuk Albert dengan penuh kebanggaan."Aku mau... aku mau" teriak yang lainnya kecuali Bella."Sayang, kamu mau?" tawar Albert."Huwek...." Bella merasa ingin muntah. Gadis berdarah Jawa ini tidak menyukai rebung, terutama baunya yang menyengat."Aduh... mereka gak ikutan KB ya? Masak udah punya lima anak, mau hamil lagi?" Bisik salah satu ibu."Iya ya. Kok mereka masih muda udah punya lima anak?" sahut ibu bergaun merah muda."Mungkin mereka menikah muda" kata ibu yang pertama."Atau mungkin mereka itu hamil sebelum nikah".Tampak kedua wanita itu lebih menyetujui alasan kedua.Albert menggenggam tangan Bella. "Ini teh hangat, maaf aku nggak tau kamu nggak suka rebung"."Aku sebal sama ibu-ibu itu. Gosip dan Fitnah aja yang diomongin".Albert terkekeh melihat tingkah Bella."Bella, maafin aku ya?"."Nggak apa-apa. Emang tuh ibu-ibu" gumam Bella.Albert kembali menggoda Bella, "Ma demi anak ke enam kita yang kuat ya?" Albert sengaja mengeraskan suaranya.Tanpa melihat ibu-ibu itu, Bella dapat merasakan ibu-ibu itu semakin panas menjadikan dia bahan gosip di pagi hari."Albert" rengek Bella."Kamu ngidam apa sayang?" Albert memperhatikan gerombolan ibu-ibu telah pergi."Puas?" Bella kesal."Mama, papa, kita main ke sana dulu ya?" teriak James"Hati-hati ya sayang adiknya dijaga" Albert terlihat menikmati permainan,"Ma, si kecil mulai ngantuk ya?".Bella mendengus kesal. Sementara Albert menggendong bayi itu, menyanyikan lagu nina bobo."Menyenangkan, bukan?" bisik Albert sambil meletakkan bayi itu ke tikar.Mau tak mau gadis itu tersenyum. Bella teringat perkataan Albert di mobil bahwa ia sangat menyukai anak kecil."Hai..." Sheryn tiba-tiba datang."Sheryn, kamu buat orang kaget aja" kesal Bella namun seketika wajahnya kembali cerah, "Sheryn..."."Ada apa sayang?" Sheryn sangat tidak suka saat Bella mulai merajuk."Hari ini Albert nyebelin banget" adu Bella."Kamu apain sahabatku?" Sheryn memukul Albert dengan kipas tangannya."Nggak aku apa-apain kok" jawab Albert enteng, "Pelan-pelan ya kalo ngomong si kecil baru ja tidur"."Oke" Sherly mulai memelankan suaranya, "Sebuah Hil yang awalnya mustahal hingga mustofa. Sahabatku yang gak ada cantik-cantiknya ini..."Bella menyenggol bahu Sheryn, "Maksudnya, sahabatku yang biasa-biasa aja ini nggak mungkin tiba-tiba merengek gak jelas"."Kamu bisa diam nggak?" Albert kesal."Nggak" jawab Bella dan Sheryn barengan."Aduh... aku tadi ngomong sama Sheryn" jelas Albert.Bella dan Sheryn diam."Sayang, aku nggak maksud..." kata Albert."Apa? Kamu manggil Sheryn 'sayang'?" potong Bella tak terima."Itu tadi buat kamu, Bella" Albert menarik rambutnya frustasi."Kalo ngomong itu yang jelas dong" omel Sheryn."Mama, Papa adek mukulin aku" teriak Casey.Albert segera pergi menghampiri gadis cilik berambut pirang"Albert udah punya anak?"."Ya nggaklah..." kemudian Bella menjelaskan hal yang telah terjadi."Pantesan aja si bule itu kesal, kamunya aja nggak bantuin dia"."Trus aku harus ke sana?" tanya Bella."Ya nggaklah ini bayi siapa yang jaga?""Kamu"."Enak aja, nggak bisa. Nggak mau. Aku ke sini mau jalan-jalan. Refreshing . Bukan jadi babysitter " kata Sheryn sebelum bersiap pergi." Please bantuin aku" pinta Bella. Memelas."Bel, ikhlas ya? Itung-itung latihan jadi ibu" Sheryn segera pergi sebelum mendapatkan cubitan dari sahabatnya.Bella merengut menatap bayi tertidur lelap. Berpacaran dengan Albert selalu tak romantis seperti pasangan yang lain. Tiba-tiba ia merasa bahagia, setidaknya Albert tak pernah melirik cewek lain.Selesai
Me Vs Tukang Ojek
Nanda merasakan terik matahari ditambah debu jalanan aspal tanpa tanaman asri penghias kota. Polusi semakin memperparah. Ia merasa sangat gerah berada di bis yang penuh sesak dengan penumpang. Kondektur tidak peduli keadaan penumpang yang berdesak-desakan. Ia selalu menambah penumpang di setiap pemberhentian.Alhasil, Nanda harus berjuang melewati beberapa penumpang untuk keluar selamat dan aman. Maklum, keadaan seperti ini selalu dimanfaatkan tangan panjang merajai barang penumpang. Jangan lupakan tangan mesum dapat sewaktu-waktu ambil kesempatan.“Mbak ngojek? Mbak mau kemana? Mbak sudah dijemput?” beberapa tukang ojek berebut saat Nanda turun dari bis antar kota.Nanda bingung harus memilih tukang ojek. Ia tidak mau memilih bapak yang menggunakan jaket abu-abu. Bulan lalu hampir sesak napas menahan bau badan pak ojek, melebihi bau amoniak. Ia tidak menyukai bapak berkumis tebal selalu mengajak ngobrol sepanjang jalan. Bapak klimis itu terlihat tak pernah ganti jaket. Hampir seluruh tukang ojek sudah pernah mengantar pulang.Mata Nanda tertumbuk pada pria duduk di atas motor gedhe, asyik memainkan smartphone. Tanpa ragu gadis berkerudung itu menghampiri.”Mas, Kandangan Slamet ya?”.Pria itu menatap Nanda. Terdiam sesaat. Beberapa saat kemudian ia menghidupkan mesin motornya.“Ayo mbak, naik”.Nanda merasa ada hal tidak beres. Pria ini tidak melakukan tawar-menawar ongkos seperti biasa.“ Mungkin nanti di jalan ” mencoba menenangkan diri.Nanda menurut saat pria itu menyuruh untuk naik.“ Aneh. Udah gak nanya soal ongkos, trus gak ngasih helm, lo… lo… ini mau kemana? kok lewat gang perumahan gini. Jangan-jangan… ” pikiran Nanda mulai tidak karuan, " Ok… ok… tenang. Kalo ada apa-apa, aku harus siap-siap lompat ”.Nanda menelan ludah. Mengumpulkan keberanian. “Mas, terminal ke kandangan slamet berapa?”.“Kira-kira 20 km, mbak”.“Mas ngajak bercanda?” keluh Nanda dalam hati."Maksudnya ongkos” kata gadis berlesung pipi ini sambil mengesekkan ibu jari ke jari tengah dan telunjuk.“Oh… biasanya berapa mbak?” tanya tukang ojek santai.Tiba-tiba Nanda berpikir jahil. ”Lima belas ya, mas?”.“Ok”.Seketika Nanda melongo. Ini artinya ia hemat 50% dari harga biasanya. Tukang ojek ini benar-benar aneh. Nanda ingin bertanya, apakah hari ini adalah hari perdana tukang ojek ini bekerja. Namun urung, takut harga lima belas ribu akan melayang.Tiba-tiba motor berhenti.“Kenapa, Mas?”“Mogok, mbak” jujur tukang ojek.”Pantas aja mau dibayar lima belas ribu, ternyata mesinnya mogokkan” gerutu Nanda.“Mbak, tolong jalan kaki dulu ya?” pinta tukang ojek itu sambil cengengesan.“Kenapa bisa mogok mas? Mesinnya rusak?” tanya Nanda pura-pura prihatin.“Bukan mesinnya mbak, bensin saya yang habis” jujur tukang ojek itu malu, “Pom bensin 15 meter lagi kok mbak”.Nanda menggelengkan kepala keheranan.“Mbak” saat mereka berjalan beberapa langkah.“Hhmmm…” sahut Nanda jengkel.“Nanti tolong bayarin bensin” pinta tukang ojek itu lagi.“Apa?” Nanda tidak percaya dengan telinganya.“Tolong bayarin mbak, pakek uang bayaran ojek aja” sambil tetap mendorong motor.Mau tidak mau, Nanda mengangguk. Ia berjanji dalam hati, takkan naik ojek dengan mas ini lagi.“Mbak darimana?”Pertanyaan yang selalu ditanyakan oleh tukang ojek. “Dari Malang, mas”“Mbak kerja? Apa kuliah?” tanyanya lagi.“Kuliah” jawab Nanda malas.Motor kehausan segera diisi bensin seharga lima belas ribu. Beruntung tidak antri. Dengan wajah tertekuk, perasaan penuh kecewa dan lelah, Nanda membayar bensin tersebut.“Wah… Kok yang bayarin bensin ceweknya? Putusin aja mbak” goda petugas pom bensin.Seketika mata Nanda melotot. Ingin rasanya Nanda membalas namun ia lebih memilih untuk tidak meladeni.“Mbak….” Panggil tukang ojek setelah sekian lama mereka diam.“Apa?” jawab Nanda malas.“Maaf ya mbak?” Nanda melongo.“Sepertinya ada yang gak beres nih. Harus siap-siap lompat nih” kata Nanda dalam hati. Mulai ambil ancang-ancang.“Mbak… ini udah masuk ‘Kandangan Slamet’ tapi rumah mbak ‘Kandangan Slamet’ yang nomor berapa?” tanya tukang ojek polos.“Ooh… gang enam nomor 36, mas” tukang ojek mengangguk.“Mas, itu warna pagarnya cokelat” tunjuk Nanda.“Iya Mbak” tukang ojek itu memperlambat laju motornya.Nanda menghela napas. Ia merasa lega sebentar lagi sampai tujuan.“Mbak sebenarnya aku ini bukan tukang ojek. Tadi aku habis nganterin sepupuku terus iseng duduk-duduk sebentar di dekat pangkalan ojek. Eh… mbak ngira aku tukang ojek tapi gak apa-apa kok mbak. Terima kasih bensinnya” akunya malu-maku.“Apa???” tanya Nanda tak percaya bersamaan motor berhenti.“Maaf ya mbak” tukang ojek gadungan itu masih menghidupkan mesin motornya.“Iya” Nanda segera turun dari motor." Pantesan tampangnya terlalu ganteng buat jadi tukang ojek ” keluh Nanda dalam hati.“Mbak” Nanda batal melangkahkan kakinya.“Ada apa?”“Ini tasnya ketinggalan” Tukang ojek gadungan itu menyerahkan tasnya.“Mbak” membuat Nanda berhenti setelah berhasil berjalan satu langkah.“Apa lagi?” ketus Nanda.“Mbak, kenalin nama aku Abi. Boleh gak minta no hape atau nama ig deh mbak”.“Gak mau mas, thanks ” tolak Nanda.Bergegas ia mencoba membuka pagar rumahnya.”Assalamu’alaikum…” teriak Nanda.“Mbak” panggil tukang ojek gadungan alias Abi lagi.“Apaan sih?”“Dada bubay. Salam buat keluarga ya? Lain kali aku main ke sini ya?” segera Abi pergi.Nanda heran dengan tingkah Abi. Ia menggelengkan kepalanya.“Mimpi apaan sih aku tadi malem?”.Setelah memastikan tukang ojek gadungan pergi. Nanda tertawa. Berjalan menuju rumah bercat biru di sebelah rumah kosong tak berpenghuni itu.Tamat
Friendship or?
Cahaya matahari menembus jendela kamar Bella. Bella membuka matanya, lalu meregangkan tubuhnya yang terasa kaku. Bella bangkit dari tempat tidurnya, lalu berjalan ke arah balkon, sekedar untuk menghirup udara segar.Pandangannya teralih pada jendela di seberang sana, jendela kamar milik Ardega, sahabat sekaligus orang yang Bella suka. Ya, mereka bertetangga. Bella tak menyadari, jika jendela itu terbuka, dan Dega sedang menatapnya."Bella?" Dega menyapanya sambil melambaikan tangan, namun Bella tak kunjung merespon. Hal itu membuat Dega tersenyum tipis."ARABELLA GIANICA?" Dega memanggil dengan lantang, hal yang membuat Bella terkaget lalu memandang Dega."Gue kaget woe." Bella cemberut, tapi tak lama kemudian ia tersenyum saat Dega mengangkat ponselnya dan menggoyangkannya."Chat aja ya, gue mau siap-siap ke sekolah. Nanti pergi bareng." Dega tersenyum, lalu berbalik dan menutup kain jendela.Bella tersenyum saja, lalu menghela nafasnya sesaat, sebelum akhirnya ia masuk dan bersiap.___Bella duduk di teras rumahnya, sambil menggoyangkan kakinya pelan, menunggu Dega menjemputnya. Ia berdecak pelan, saat menyadari Dega tak kunjung datang. Ia memutuskan untuk mendatangi rumah Dega.Bela berjalan menyusuri jalanan kompleks, tak sampai satu menit, ia sampai di depan rumah Dega.Di sana, ia menemukan Dega yang sedang duduk sambil berbincang dengan Tiara, sahabat Bella.Rumah mereka memang satu kompleks, jadi sangat mudah untuk bertemu.Bella tersenyum tipis, lalu melangkahkan kakinya mendekat."Gak jadi pergi bareng, ya?" Bella memandangi Dega sekilas, lalu tersenyum manis pada Tiara."Maaf ya Bel, gue harus nganterin Tiara, papanya pergi duluan tadi, jadi Ara sama gue. Gapapa kan?" Dega berucap sambil menarik Tiara mendekat.Namun, Tiara memandangi Bella dengan tatapan bersalah. Ini salahnya, padahal, Bella sudah memiliki janji untuk pergi bersama Dega."Bella, kalo lo mau pergi sama Dega, pergi aja, gue bisa kok nyari taksi atau naik bus aja. Serius. Gue jadi ngerasa gak enak sama lo." Tiara meraih tangan Bella, lalu menggenggamnya erat.Bella tahu, sejak lama bahwa Tiara menyukai Ardega. Namun, ia juga menyukai Dega, sehingga Bella tak mampu berbuat apapun."Lo aja deh yang pergi sama Dega, gue bisa sendiri kok, santai aja. Ya udah, gue pamit." Bella tersenyum lebar, lalu menepis pelan tangan Tiara.Setelah Bella pergi, Dega dan Tiara segera menuju ke sekolah. Tiara tersenyum tipis, ia senang hari ini. Karena setelah sekian lama, Tiara memiliki kesempatan untuk pergi sekolah bersama Dega.Tak sengaja, matanya menatap ke arah pinggir jalan, dan menemukan Bella yang sedang berjalan kaki. Tiara mengernyit, rasa bersalahnya kembali muncul.Tiara masuk ke dalam lorong ingatannya, mencoba berbalik arah, menyelami waktu. Ingatannya berputar, pada masa dulu.Saat itu, ia baru saja pindah rumah, lalu menemukan dua orang anak kecil seumurannya yang sedang bermain bersama. Tiara memandangi mereka dengan tatapan iri. Ia tak pernah diperbolehkan untuk bermain di luar rumah karena kondisi kesehatannya yang lemah.Namun, salah satu dari mereka menyapanya. Namanya Bella. Itu teman pertama Tiara. Dari Bella, Tiara mengenal Dega, anak lelaki yang nakal.Hari-hari Tiara menjadi lebih berwarna, saat orangtuanya melarang supaya tidak bermain di luar, Bella selalu datang bersama Dega untuk menemaninya bermain.Seiring berjalannya waktu, Tiara mulai menyukai Dega, sahabat lelaki pertamanya. Tetapi, Tiara bisa apa? Bella lebih dekat dengan Dega. Tiara takut jika Bella menyukai Dega juga. Namun ia hanya diam.Tak terasa, Tiara dan Dega sampai ke halaman parkir sekolah. Mereka berjalan beriringan, sambil berbincang tentang hal-hal ringan.Mereka masuk ke dalam kelas, bertepatan dengan Bella yang datang berlarian dari koridor.Bella menyusul mereka, lalu segera duduk di samping Tiara."Hadeh, akhirnya gue nyampe." Nafas Bella tak beraturan, hal itu membuat Tiara tertawa."Lo jalan kaki?" Tiara menyodorkan botol air mineral miliknya, lalu diserahkan pada Bella."Iya, gue pengen jalan aja." Bella berucap setelah meminum air yang diberikan Tiara."Soal tadi, gue..., " ucapan Tiara terpotong saat Bella berbicara."Udahlah, gak usah dibahas ih." Bella berucap sambil meraih buku dari dalam tasnya.Dega datang, lalu mengusap rambut Tiara, hal itu membuat Bella kaget. Sedangkan Tiara hanya tersenyum malu."What? Kalian kenapa? Ada something?" Bella menatap mereka dengan tatapan meledek. Hal itu membuat Tiara tertawa kecil dan menutup wajahnya."Something gimana?" Dega tersenyum pada Bella, senyuman tipis yang memiliki arti.Bella mengernyit melihat senyum itu, lalu meraih ponselnya. "Ya gak gimana-gimana."Bel masuk berbunyi, pertanda pelajaran akan segera dimulai. Dega kembali ke tempat duduknya.Bella menatap Tiara yang duduk di samping kirinya. Tiara mengerjap polos, hal itu membuat Bella mengalihkan pandangannya."Bella? lo tau ga?...," ucapan Tiara terpotong oleh Bella."Ngga, gue ga tau.""Ish, gue belum selesai." Tiara merengek kecil, membuat Bella mendelik. Baiklah, Bella mengakui jika Tiara memiliki wajah polos dan imut. Tidak sepertinya, yang wajahnya amit-amit."Hm, apa?" Bella menatap ke papan tulis, memperhatikan Bu Ina yang sedang menjelaskan materi."Em... Gini aja deh, lo suka sama seseorang gak?" Tiara bertanya serius."Dih, lo kenapa? Gue masih suka cowo." Bella terkaget mendengar pertanyaan Tiara."Ck, bukan gitu. Ah, lo mah ngeselin." Tiara mengalihkan pandangannya. Tak berniat untuk melanjutkan pertanyaannya.___Bel istirahat berbunyi, Dega menarik tangan Bella, membuat Bella kaget."Nanti malem gue jemput, gue mau ngajak lo ke suatu tempat." Dega berbisik di telinga Bella, lalu tersenyum misterius.Bella mengangguk saja. "Pake baju apa?"Dega memandangi Bella dari atas hingga bawah, lalu tersenyum manis. "Dress aja." Setelahnya, Dega melangkah pergi.Tiara datang." Dia bilang apa?"Bella yang sedang tersenyum sendiri merasa kaget, dengan cepat, ia menggelengkan kepalanya. "Gak ada apa-apa."___Malam pun tiba, sesuai ucapan Dega, ia menjemput Bella.Mereka berangkat menuju restoran ternama, hal ini membuat Bella mulai menerka apa yang akan Dega lakukan, karena biasanya, Dega selalu makan bersamanya di pinggiran jalan.Sesampainya di restoran, mereka ditunjuk ke tempat khusus, lalu memesan makanan. Tiba-tiba, Dega meraih tangan Bella, Bella tersenyum gugup."Lo mau ngapain?" Bella bertanya terbata.Dega tersenyum menenangkan, lalu menarik nafasnya sejenak. "Gue udah suka sama lo sejak dulu, lo mau gak, jadi pacar gue?"Bella terdiam, mencerna kata-kata Dega. "Gue...."Dega tertawa, lalu melepaskan tangan Bella. "Gimana? Bagus ga?"Bella mengernyit. "Maksud lo?"Dega tertawa lagi. "Gue mau nembak Tiara, menurut lo gimana? Tadi gue cuman latihan."Bella menatap Dega tak percaya. "Gue bahan percobaan lo??"Dega mengangguk, lalu tersenyum. "Bagus ga? Kalo ada salah, lo bisa koreksi."*Plak!*Dega memegang pipinya yang panas. "Lo kenapa?""Kenapa???? Lo tau gak? Gue suka sama lo." Bella berucap lirih, matanya berkaca-kaca. Tak menyangka dengan perbuatan Dega.Dega terkaget, sungguh, ia tak berniat membuat keadaan seperti ini."Lo? Suka sama gue? Gue sukanya sama Tiara, Bel." Dega berucap lirih, tak tega, namun lebih baik dikatakan sekarang, agar tak semakin menyakiti.Bella terisak pelan. Tak sadar jika Tiara sudah datang sejak Bella menampar Dega.Tiara berjalan mendekati Bella lalu memeluknya. Pandangan Tiara teralih pada Dega."Dega? Maksud semua ini apa?" Tiara bertanya serius. Tak tega melihat Bella menangis.Dega hanya diam, lalu berkata, "gue gak niat gitu...."Tiara menghembuskan nafasnya, lalu mengusap punggung Bella. "Bella, gue tau semuanya, gue denger."Dega kaget. "Lo juga tau? Kalo gue...."Tiara mengangguk. "Gue tahu, gue paham.""Gue ga mau pertemanan kita hancur cuman gara-gara cowok." Bella yang sudah mulai tenang mulai membuka suara."Gue tahu, kalian saling suka. Iya kan? Jujur aja, gue ga bakalan marah." Bella mengusap sisa-sisa air matanya.Dega menatap Tiara, mata gadis itu berkaca-kaca."Dega? Gue yakin, Tiara juga suka sama lo. Kalian mau jadian? Ya udah, gue gapapa." Bella merangkul Tiara, mencoba tersenyum lebar."Gue ga bisa bertindak lebih, gue cuman gak mau, kehilangan sahabat karena lebih memilih cowok. Paham kan? Kalian saling suka, sedangkan gue? Perasaan gue gak berbalas. Jadi, buat apa gue tetap bertahan? Gue mundur aja, kalian maju, berjuang bersama." Bella meraih tangan Dega, lalu meraih tangan Tiara, menyatukan tangan keduanya dengan tangannya."Kita sahabat. Dan ternyata emang bener, gak ada yang namanya sahabat dalam lingkup pertemanan antara cewek dan cowok." Bella tertawa. Jika ini memang yang terbaik, Bella ikhlas, sungguh."Kita, tetap berteman. Kita, bertiga. Meskipun status kalian berubah, kita tetap bersama." Bella melepaskan tangannya, lalu menepuk pundak Dega."Gue pamit, kalian bisa bicarain ini berdua. Dan untuk Dega, gue mau bilang, jaga Tiara baik-baik." Bella melambaikan tangannya, lalu berbalik arah, berjalan menuju pintu keluar, dan pergi.___Bel pulang sekolah berbunyi, Dega keluar dari ruang kelas bersama dengan Tiara dan Bella. Masalah malam tadi, semuanya sudah mereka selesaikan. Tiara berpacaran dengan Dega. Namun mereka tetap mengutamakan persahabatan.Bella turun dari mobil Dega, lalu melambaikan tangan pada Tiara yang masih ada di mobil.Bella tersenyum, ini keputusannya. Ini yang terbaik. Ia berjalan riang menuju kamarnya. Lalu merebahkan diri ke atas kasur.Ternyata, ia lebih bahagia saat melihat Tiara tertawa bersama Dega. Jika seperti ini, maka ia memutuskan untuk melupakan perasaannya.Karena memang benar, cinta itu, tak harus memiliki.[ E N D ]
I'll Be There For You
Seorang gadis bername tag Salwa Maharani sedang duduk di halte dekat sekolah. Kepalanya celingak-celinguk mencari keberadaan seseorang yang ditunggunya. Bel pulang sekolah sudah lama berbunyi, namun pemuda itu belum juga menampakkan batang hidungnya.Sebuah mobil yang sangat ia kenali tepat berhenti di depannya. Terlihat seorang pemuda keluar dari mobil, dan menghampirinya."Masih nunggu Raka?" tanya pemuda itu seraya duduk di samping sang gadis."Iyaa ... awa udah nunggu daritadi, tapi Raka nggak muncul muncul." Ia mengerucutkan bibirnya. "Eh, Argha kenapa masih disini?" sambungnya."Gue nemenin lo," tutur Argha. Salwa hanya mengangguk. Lantas ia mengeluarkan ponsel dari sakunya, menanyakan kabar pemuda yang telah menjadi pacarnya dari seminggu yang lalu._"Kok handphone-nya nggak aktif ya?"_ batin Salwa."Pulang aja yuk, Wa. Mungkin dia udah balik duluan," ajak Argha.Dengan cepat Salwa menggelengkan kepalanya. "Enggak! Nanti bentar lagi juga muncul."Argha menghela napasnya. Matanya menatap dalam gadis di sampingnya itu. " Bertahun-tahun gue jadi sahabat lo, Wa. Gue tahu banget, lo tipe orang yang nggak suka nunggu. Segitu cintanya lo sama dia sampe rela nunggu lama begini? " Batin Argha.Hari kian sore. Argha beranjak dari duduknya. "Gue anterin lo pulang, dia nggak bakal dateng Wa," tuturnya. Kini Salwa menurut. Dengan muka yang ditekuk, Ia masuk ke dalam mobil Argha.Akhirnya mobil mereka pun meluncur menuju rumah Salwa.___Setelah mengantar Salwa, kini Argha dalam perjalanan pulang menuju rumahnya. Namun, netranya tidak sengaja menangkap pemuda yang sedang membonceng seorang gadis. Wajah pemuda itu nampak tidak asing.Argha mendengus ketika menyadari bahwa pemuda itu adalah Raka, pacar Salwa. Ia memutuskan untuk mengikuti motor itu.Tibalah mereka di sebuah cafe . Sebelum keluar dari mobil, Argha menyempatkan mengambil kacamata hitam di dashboard -nya agar keberadaanya tidak diketahui.Ia memilih duduk di tempat yang tidak jauh dari Raka dan gadis itu agar bisa menguping pembicaraan mereka.Tidak sia sia, Argha dapat mendengar samar samar percakapan mereka."Hahaha, kamu beneran cemburu?" Pertanyaan dari seorang pemuda membuat sang gadis di depannya mengangguk dan memanyunkan bibirnya."Dia cuma dijadiin taruhan, Rin ... kamu tenang aja."Argha menajamkan telinganya. "Dia?" gumamnya."Syukur, deh. Lagian masih cantik aku daripada Salwa," balas sang gadis.Kini Argha mengepalkan tangannya. Bibirnya tak henti hentinya mengumpati Raka."Uang taruhannya bakal dikasih setelah 2 minggu pacaran, jadi kamu tunggu sampe minggu depan ya ... pasti aku bakal putusin dia kok." Raka mengusap lembut surai gadis di depannya.Cukup! Argha sudah tidak dapat lagi menahan emosinya. Ia beranjak dan menghampiri Raka.Bugh!Dengan brutal, Argha meninju rahang Raka.Bugh!Tangannya beralih meninju pelipisnya hingga mengeluarkan darah segar.Setelah mengatur napasnya yang memburu, Argha segera meninggalkan tempat itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun.___Kini Salwa sedang memandang langit langit kamarnya. Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam namun ia belum mendapat kabar dari pacarnya itu.Sepersekian detik kemudian dering telepon berbunyi. Senyumnya mengembang ketika melihat nama yang tertera di layar ponselnya."Halo, Raka!" sapa Salwa ketika panggilan tersambung." Halo sayang, maafin aku ya ... tadi siang aku jemput bunda ke bandara, jadi nggak bisa nganter kamu pulang, deh. ""Hm, iya deh nggak papa," balas Salwa." Besok kamu berangkat sendiri dulu ya? Nanti kita ketemu di kantin. "Salwa mengerucutkan bibirnya. "Yah ... Emang kenapa ka?""Eh, aku udah di panggil bunda, Wa. Aku tutup teleponnya ya ... bye , good night sayang."Panggilan terputus.Salwa menghela napasnya. Tak apa lah. Setidaknya, perkataan manis Raka mengurangi rasa kesal yang menyelimuti dirinya.___Keesokan paginya, Salwa berangkat sekolah diantar oleh Pak Dirman, supir pribadinya.Niat hati ingin berangkat bersama sahabatnya, namun Argha tidak membalas chat-nya.Ketika ia tiba di kelas pun, ia tidak menemukan Argha. Padahal bel masuk sudah hampir berbunyi.Kring kring .Benar saja, pembelajaran sudah akan dimulai, kemana pemuda itu?___Kini, sudah waktunya istirahat. Ketika Salwa ingin beranjak ke kantin, betapa terkejutnya ia mendapati Argha yang baru masuk kelas dengan menenteng tasnya."Argha darimana aja?" tanya Salwa menghampiri pemuda itu.Argha diam. Ia tak berniat membalas perkataan Salwa. Sebenernya, sejak jam pertama ia berada di rooftop untuk menenangkan diri.Entahlah, ia masih terbayang bayang ucapan Raka tempo lalu. Sungguh, ia tak ingin melihat sahabatnya sakit hati.Sepersekian detik berikutnya, Argha menarik Salwa ke dalam dekapannya."Gue kemarin liat Raka sama cewe, Wa. Dia cuma jadiin lo taruhan ...," lirih Argha.Tubuh Salwa menegang. Ia langsung melepaskan pelukannya."Ngaco deh, Gha. Orang kemarin Raka ke bandara kok," elak Salwa.Argha menggelengkan kepalanya. " Please , percaya sama gue, Wa. Akhiri sekarang, gue nggak mau lo jatuh lebih dalam.""Salwa ...." Teriakan dari luar kelas menginterupsi pembicaraan mereka.Lagi lagi Salwa terkejut mendapati Raka dengan lebam di wajahnya."Raka, kamu nggak papa?" panik Salwa seraya mendekat ke arah Raka.Raka melirik Argha sebentar. "Pasti dia udah bicara yang enggak enggak tentang aku kan, Wa? Jangan percaya ... Dia emang keliataannya nggak suka sama aku, Wa. Buktinya kemarin dia nonjok aku tanpa sebab," dusta Raka.Argha membulatkan matanya. " Brengsek ." batinnya.Sedangkan Salwa memandang Argha tak percaya. "Kenapa sih Gha? Argha mau bikin Awa sakit hati, iya? Nggak gini caranya Gha!" sentak Salwa.Diam diam Raka mengeluarkan smirk -nya. " Nggak semudah itu lo hancurin rencana gue ," batinnya.Argha menggeleng. "Awa, bukan begitu. Dia bohong, Wa. Percaya sama gue," tutur Argha.Salwa mengangkat tangannya di udara. " Stop ! Awa kira kamu sahabat yang baik buat Awa ... tapi, nyatanya enggak!"Salwa segera beranjak dari kelasnya. Sebelum menyusulnya, Raka menyempatkan diri memandang remeh ke arah Argha dan menertawainya. "Ck, kasian banget lo.""Argh!" Argha menarik rambutnya frustasi.___Semenjak kejadian itu, baik Salwa maupun Argha tidak pernah sekalipun bertegur sapa. Entahlah, padahal setiap hari mereka bertemu di kelas. Namun, seakan ada jarak membentang di antara keduanya.Kini, sudah menginjak minggu pertama setelah pertengkaran Salwa dan Argha. Sedengkan hubungannya dengan Raka masih baik baik saja."Salwa," panggil Raka. Wajah sendu Salwa berubah menjadi sumringah ketika mendengar suara Raka. Sekarang, ia berada di kelas disaat teman teman kelasnya sudah berpencar menuju kantin.Keadaan kelas sepi, hanya ada mereka berdua di dalam kelas itu. Eh tunggu! Ada seseorang yang menelungkupkan kepalanya di bangku belakang."Gue mau kita putus." Perkataan Raka berhasil membuat tubuh Salwa menegang. Ia mengerutkan keningnya. Sepersekian detik kemudian, kekehan keluar dari mulutnya. "Kamu lagi nge-prank?""Gue mau kita putus," ulang Raka dengan wajah seriusnya. "Temen lo bener, lo cuma dijadiin taruhan."Deg .Bak disambar petir, tubuh Salwa seolah tidak berkutik. Pernapasannya tercekat, seakan pasokan udara kian menipis."Jangan ganggu gue lagi," tutur Raka seraya beranjak keluar dari kelas.Tak berselang lama, bulir berjatuhan dari pelupuk mata Salwa.Isakkan terdengar. Kenapa gue harus ngalamin ini? Batinnya.Ternyata, sedari tadi Argha menyimak pembicaran dua insan itu di bangku belakang. Ia mendekat ke arah Salwa. Sungguh, ia tidak kuasa melihat sahabatnya itu terpuruk dalam kesedihan.Argha menarik Salwa ke dalam dekapannya. "Udah, udah ... jangan nangis ah, masih ada gue disini," ucapnya seraya mengusap kepala Salwa.Bukannya reda, tangisan Salwa pecah mendengar penuturan sahabatnya itu. Ia merasa tak enak hati telah berprasangka buruk padanya minggu lalu."Maafin Awa, Gha...," lirih Salwa."Iya iya...." Pelukan terlepas, Argha menangkup kedua pipi gadis di depannya itu."Gue nggak mau liat lo sedih," ucapnya seraya menuntun bibir Salwa agar tersenyum. "Nah, gini kan Awa cantik," lanjutnya diiringi kekehan."Makasih, Argha."" Mungkin saat ini gue masih jadi sahabat lo , Wa . Tapi gue yakin , suatu saat nanti gue yang akan ngisi tempat di hati lo ."[ E N D ]
Pulang
Matahari nampak malu-malu menampakkan cahaya nya, justru embun pagi yang menyeruak membuat pagi itu terasa lebih dingin. Seorang gadis terbangun dari tidur nya saat mendengar gedoran jendela yang semakin lama semakin berisik."Siapa sih pagi-pagi ganggu tidur aja." Gadis itu membatin kesal.Akhirnya dia pun membuka jendela. Betapa terkejut nya dia melihat lelaki yang sedang menyengir tak berdosa."Astaghfirullah, Devan lo ngapain pagi-pagi datang ke rumah gue?" tanya Aira."Ya mau ngajak lo jalan pagi, gue tau lo orang nya mageran parah," jawab Devan dengan santai."Yaudah bentar gue mau siap-siap dulu, tunggu aja," ucap Aira dengan kesal.Raka dan Aira adalah sahabat dari kecil entah satu dari mereka menaruh perasaan nya atau sama-sama punya rasa, hanya tuhan dan mereka yang tahu.Mereka menyusuri taman bermain yang sangat ramai di pagi hari. Devan melihat di samping taman ada tukang bubur, dia pun menarik tangan Aira untuk berjalan di samping nya sambil menuju tukang bubur tersebut."Kita makan dulu ya, ntar lanjut jalan-jalan lagi," ucap Devan."ya deh," jawab Aira.Sembari menunggu bubur nya disiapkan, Aira melihat Devan yang raut mukanya seperti gelisah. Aira menepis pikiran itu lalu beralih ke bubur yang baru saja datang.Mereka makan dalam diam. Setelah selesai mereka kembali ke taman dan duduk di salah satu bangku taman."Ra, kalo suatu saat gue ga ada di samping lo gue mohon lo tetep bahagia," ucap Devan sambil menatap dalam mata Aira."Kenapa Dev? Tumben banget lo ngomong kaya gini, seakan akan lo bakal ninggalin gue," ucap Aira sambil menahan air mata yang sebentar lagi akan jatuh.Devan enggan menjawab, mereka menangis dalam diam."Lo udah janji buat ga ninggalin gue, tapi kenapa arghh," tangis Aira pecah.Devan pun memeluk Aira yang masih dalam keadaan menangis.Devan melepaskan pelukannya, mengangkat kepala wanitanya."Gue bakal ke Jerman besok, untuk ngelanjutin sekolah gue di sana. Bunda di sana sendirian Ra, gue harus jagain dia di sana." Devan menjelaskan sambil memegang tangan Aira.Setelah itu tidak ada lagi yang mengeluarkan suara, sibuk dengan pemikiran masing-masing.Devan berdiri sambil menatap lurus ke depan, dia tak sanggup lagi menatap Aira yang sedang menangis."Gue harap lo bakal ikut ngantar gue ke bandara, kalo engga juga gapapa gue ngerti. Gue cuma mau bilang kalo selama ini sebenarnya gue sayang bahkan cinta sama lo. Maaf banget baru ngucapin sekarang."Devan pergi, ya dia pergi dengan segala kenangan nya. Meninggalkan tanpa tau jawaban apa yang akan di berikan gadis itu.“ Manusia akan datang dan pergi, singgah di suatu tempat tapi pasti akan kembali ke rumah. Rumah adalah tujuan akhir .”[ E N D ]
Le Triangle Amourex
BRUKK!!DUGH!!"Liaaa, hati hati sayang," peringat mama Lia yang mengetahui anaknya terbentur pintu."Iya maaaah, tapi Lia buru buru ini.""Mah, Lia berangkat dulu yah, assalamu'alaikum!" pamit Lia."Waalaikumsalam, ga sarapan dulu?""Ga deh mah, takut telat nih."___Hari ini hari adalah hari dimana ujian kenaikan kelas dilaksanakan. Dan seminggu terakhir ini Lia belajar dengan giat untuk mempersiapkan diri naik ke kelas 12."Untung ga telat.""Ish, kenapa pagi tadi ke bentur segala si, dahi gua kan jadi merah," omel Lia pada dirinya sendiri."Pagi cantik!" Cowok tampan yang bernama Romeo itu menyapa Lia. Romeo adalah kekasih dari seorang Alia Oktalyana. Ia kakak kelas Lia. Orangnya dingin, cuek, namun hanya pada Lia dan sahabatnya, Romeo bisa bersifat hangat. Berbanding terbalik dengan Lia yang ceria dan ramah."Pagi juga Romeo!" jawab Lia."Mau ke kelas?" tanya Romeo."Iya""Aku antar," kata Romeo dan langsung merangkul kekasihnya itu.Lia sudah terbiasa dengan sikap Romeo yang se enaknya.Sesampainya di depan kelas Lia, Romeo melepaskan rangkulannya dari Lia."Belajar yang rajin, nanti jawab soalnya yang teliti," pesan Romeo."Siap kapten!" jawab Lia sambil hormat layaknya menghormati bendera. Romeo gemas dengan tingkah laku Lia, ia mengacak acak rambut hitam Lia."Ih Romeoooo, kan berantakan jadinya rambut Lia!" kesal Lia."Udah udah, masuk sana," kata Romeo setelah merapikan rambut Lia kembali.Lia pun masuk ke kelasnya dan duduk di bangku nya."Tumben baru dateng li?" tanya Syifa. Asyifa aulia adalah sahabat Lia yang sifatnya sama periang dengannya."Iya, tadi telat bangun," jawab Lia."Lu udah siap li naik kelas 12?" tanya Syifa basa basi sambil menunggu bel berbunyi."Siap siap aja," jawab Lia santai."Oh ya, gimana hubungan lu sama Romeo? Baik baik aja kan? Soalnya lu kalo mau ujian gini ga ada yang lu perhatiin sama sekali," tanya Syifa kepo."Apaan sih, baik baik aja kok," jawab Lia.___Ujian kenaikan kelas sudah selesai dan para murid murid diliburkan beberapa minggu. Dan sekarang sudah saatnya masuk sekolah lagi.Sekarang Lia sedang di lorong sekolah bersama Syifa."Liaa!" panggil Romeo dari kejauhan."Iya? Ada apa Rom?" tanya Lia."A ... aku mau ngomong sama kamu," gugup Romeo."Ck ... pacaran aja terus, dunia serasa milik berdua ye? Yang lain ngontrak ... dahlah mending pergi gue dari pada pagi pagi liat keuwu an orang lain," cerocos Syifa lalu meninggalkan Lia dan Romeo.Lia hanya terkekeh dan Romeo tak mengindahkan kekesalan Syifa. Yang terpenting ia mengungkapkan apa tujuan utamanya."Oh ya, tadi Romeo mau ngomong apa sama Lia?" tanya Lia."Maaf ... aku terpaksa ngomong ini ... Aku akan melanjutkan kuliah ke singapura sesuai permintaan papa," ucap Romeo.Tentu saja Lia terkejut dengan apa yang di ungkapkan Romeo."Dan aku minta kita putus, aku ga bisa LDR," pinta Romeo.Dan saat itu Lia langsung menatap Romeo tak percaya. Bulir bulir air mata Lia jatuh begitu saja."R ... rom? Kamu bercanda kan? Gak mungkin kita putus," kaget Lia."Aku beneran Li"Lia menangis dan langsung saja ia berlari meninggalkan Romeo dengan rasa kecewa. Perjuangannya melelehkan hati Romeo berakhir begitu saja?Lia menangis di dalam toilet sangat lama, bahkan bel masuk sudah berbunyi. Bahkan Syifa sampai mencarinya.Syifa mencari namun Lia belum ketemu, sekarang ia berada di toilet untuk memeriksa apakah ada Lia disana. Dan ia mendengar suara sesenggukan dari dalam toilet, hanya saya pintu itu terkunci. Sial.*Brak!*Syifa mendobrak pintu toilet, untung pintunya bukan pintu kayu atau bahkan besi.Setelah mendobrak pintu, ia menemukan Lia yang sedang menangis di lantai toiletHari ini Lia memutuskan untuk izin pulang terlebih dahulu dengan alasan sakit dan diantar oleh Syifa.Sesampainya di rumah Lia, Syifa menemani Lia di kamar sampai Lia tidur. Untung saja mama Lia sedang ke kantor.Karna Lia sudah tidur Syifa pulang, hari juga sudah sore.___2 minggu setelah perginya Romeo ke singapura Lia sudah menjalani hidupnya seperti biasanya, walau belum sepenuhnya sakit hatinya sembuh dan melupakan Romeo.Hari ini Lia berinisiatif untuk pergi ke pantai. Ia sebenarnya ingin mengajak Syifa, hanya saja Syifa tidak bisa dihubungi. Dan akhir akhir ini juga sibuk katanya.Sesampainya di pantai, Lia duduk di bangku yang sudah disediakan dekat pantai. Ia melihat sekeliling. Indah. Itu kata yang pas untuk menggambarkan pantau ini.Namun tatapan matanya menangkap sosok pria yang sepertinya ia kenali dengan seorang perempuan. Mereka seperti sedang berkencan. Lia mempertajam penglihatannya."Romeo?! Syifa?!" kaget Lia dengan apa yang di lihatnya sekarang.Mendengar suara samar samar yang seperti memanggil namanya, Romeo melihat siapa yang memanggilnya. Syifa juga menoleh ke belakang dan mendapati sahabatnya yang sedang terkejut karna melihat dirinya dengan mantan kekasihnya.Lia menghampiri meja Romeo dan Syifa."K ... kalian pacaran?" tanya Lia dengan air mata yang mengalir.Romeo dan Syifa hanya diamLia berbalik dan berlari meninggalkan Romeo dengan rasa sakit yang sama saat Romeo memutuskan hubungan dengannya.Romeo dan Syifa mengejar Lia.Tanpa Lia sadari, ia berada di jalanan dan dari arah kiri ada truk yang berkecepatan tinggi. Karna tak sempat menghindar, Lia tertabrak truk tadi."LIAAAAA!" teriak Romeo dan Syifa terkejut dengan apa yang mereka lihat.___Romeo langsung membawa Lia ke rumah sakit dan Syifa menghubungi Mama Lia.Pintu UGD terbuka dan menampakkan seorang dokter."Dok! Bagaimana anak saya?" tanya mama Lia tanpa basa basi."Pasien mengalamai gagal ginjal karna kecelakaan yang menimpanya, dan secepatnya harus ada yang mendonorkan ginjalnya kepada pasien.""Aku aja tan, dok," ujar syifa."Syifa? Apa kau yakin?" tanya mama Lia."Iya tan, golongan darah Syifa juga sama kok, O. Ini juga untuk menebus kesalahan saya pada Lia," Yakin Syifa."Baiklah, mari ikut saya untuk melihat kesehatan ginjal yang akan kau donorkan," kata dokter.Syifa mengikuti dokter itu, sebelumnya ia tersenyum pada mama Lia dan Romeo untuk menyakinkan mereka.___Sudah beberapa jam operasi dilakukan. Dan akhirnya pintu ruangan terbuka dan menampilkan seorang dokter."Bagaimana dok? Apakah operasinya lancar?" tanya mama Lia."Maaf, kami sudah memberikan yang terbaik, namun tuhan sudah berkehendak lain. Pendonor dan pasien tidak bisa diselamatkan," ucap dokter dengan berat hati."Gak! Gak mungkin!""Lia sama Syifa masih bisa diselamatkan dok!" Romeo sangat frustasi sekarang.Mama Lia sudah menangis sesenggukan di lantai rumah sakit yang dingin. Mereka sangat terkejut dengan kenyataan ini.Romeo dan mama Lia diperbolehkan masuk untuk melihat Lia dan Syifa untuk yang terakhir kalinya.___Terkadang semesta hanya mampu mempertemukan dan memperkenalkan, bukan untuk mempersatukan hingga akhir hayat.[ E N D ]
Mungkin
Di suatu pagi di sekolah, datanglah seorang pelajar bernama Rangga. Dia datang dengan senyumnya yang manis sembari bersalaman dengan para staff dan guru yang ia lewati.Rangga adalah seorang Ketua Osis baru di sekolahnya. Ia sangat di sukai oleh semua orang, dari para murid, guru, hingga staff-staff karena tutur katanya yang lembut tetapi tegas, ramah kepada semua orang, dan ia tidak mengenal _'Senioritas'_ . Semua orang mengenal Rangga karena sifat-sifat baiknya itu, orang-orang pun seakan-akan tidak mengetahui apa kelemahan atau kekurangan dari sosok Rangga ini.Tetapi, Rangga sebenarnya memiliki sebuah kelemahan, yaitu senyuman wanita idamannya. Wanita itu bernama Bella. Ia merupakan adik kelas Rangga, ia terkenal sangat cantik di angkatannya dan langsung menjadi primadona di sekolahnya, Rangga pun sudah memperhatikan Bella semenjak Bella mengikuti MOS di sekolahnya. Meskipun Rangga terkenal akan keramahannya terhadap semua orang ia tetap tidak sanggup untuk berbicara kepada Bella.Dan di suatu ketika, Bella digoda di Lorong ujung sekolah dekat gudang oleh seorang lelaki yang dimana lorong itu sangat sepi dan sunyi dan yang menggoda Bella adalah teman seangkatan dari Rangga yang bernama Jonathan, Jonathan terkenal playboy dan terkenal sangat bandel di sekolahnya. Dan sekarang Laki – laki itu sedang mencoba menggoda pujaan hati Rangga.“Ih apaansih kak! Jangan ganggu Bella deh,” ucap Bella dengan nada kesal.“Emangnya gue ngapain elu sih? Gue kan Cuma mau minta nomor WA lo doang! Gosah lebay deh lo!” balas Jonathan dengan berteriak.“Yakan aku gamau ngasih kak. Orang tua Bella bilang gaboleh ngasih nomor WA ke sembarang orang!Jadi lo bilang kakak kelas lo ini orang asing iya? Gitu maksud lo? HAH?!” teriak Jonathan sambil mendorong tubuh Bella dengan kasar kearah tembok.“Kak sakit kak ... emang bener ya kata temen Bella kalo kak Jonathan itu orangnya berandalan," sahut Bella dengan menahan sakit serta menahan tangisnya.“Lo kalo jadi adek kelas bisa sopan dikit gak sama kakak kelas? Hah?! Bangs*t lo!” Ia berteriak kearah Bella sembari mengarahkan tangannya kearah Bella, Dan Rangga pun dengan sigap menangkap tangan Jonathan.“Udah Jo udah, jangan main kasar gitu ke Bella," ucap Rangga sambil menekan tangan Jonathan dengan keras.“Ra ... Rangga? Lo ... lo ngapain kesini? Bukannya lo ada urusan di ruang Osis?” ucap Jonathan dengan gugup.“Iya emang gua ada urusan di ruang osis. Tapi ada yang mau gua ambil di gudang, nih kuncinya," ucap Rangga sambil menujukkan kunci ruang gudang kepada Jonathan."Nah sekarang kamu udah gaada urusan disini kan Bel? Mending kamu pergi dulu ya," ucap Rangga lagi kepada Bella.“Eh tunggu! Urusan gue sama Bella belum selesai Rang," timpal Jonathan yang sembari melepaskan cengkraman tangan Rangga.“Oh ya?” Lalu rangga menoleh kearah Bella. “Emang Bella masih punya urusan sama dia?” Sambil menujuk Jonathan.“Eng ... engga kak," jawab Bella dengan takut."LO BENER BENER BANGS--" Belum sempat Jonathan mengumpat Rangga langsung memasukkan kunci ruang gudang ke mulut Jonathan.“Mulut lo busuk banget Jo baunya, dikunyah dulu itu kuncinya. Oiya Bel, udah sana kamu pergi. Si Jonathan biar disini dulu sama aku ya hahaha," ucap Rangga sambil memegang kedua tangan Jonathan yang berusaha melarang Bella pergi.Bella pun pergi meninggalkan mereka berdua. Di perjalanan Bella berbicara dalam hati _"Sweet banget kak Rangga oh my god. Mungkin gak orang sesweet itu jadi pacar gue? aaaahh."Jonathan pun melepaskan diri dari Rangga. “Apaansih lo rang! Gajelas, hueekk." Sambil membuang kunci dari mulutnya."Lagian lo ngapain gangguin cewe kayak gitu? Gua kan udah bilang, kalo gua gaakan negur soal pakaian lo, asalkan lo gak gangguin cewek-cewek," ucap Rangga dengan santai sambil mengambil kunci yang Jonathan jatuhkan itu.“Yaudah lo pergi sana Jo, gua ada urusan di gudang, awas aja sampe keulang lagi. Gua laporin ke kepsek biar langsung di tegur lo."“Iya-iya gue cabut, tapi jangan di laporin yang barusan ke kepsek!” ucap Jonathan sembari melangkahkan kaki pergi.Lalu rangga pun sudah mengambil barang yang ia butuhkan dari gudang, di perjalanan ke ruang osis ia berbicara sendiri. "Ini obrolan pertama gua sama Bella, sayang banget obrolan pertama kita kayak gitu. Mungkin gak ya obrolan kita di lain hari bakalan beda? Hahaha”Keesokan harinya ketika jam istirahat berbunyi, tiba-tiba Bella datang kedepan kelas Rangga sambil membawa sebuah bingkisan di tangannya.“RANGGA, ada yang nyariin lo nih!” ucap salah satu temannya.“Ohh iyakah? Siapa?” ucap rangga sambil membereskan buku pelajaran yang ada di mejanya.“BELLA KAK," ucap Bella dengan berteriak.Rangga yang mendengar itu pun kaget bukan main. “Be ... Bella? IYA Sebentar!” ucap Rangga grogi.Lalu Rangga pun menemui Bella di depan kelasnya.“Iya Bel, ada apa nyari aku?”“Kak Rangga kita ngobrol di taman sekolah aja yuk ... mau gak? Aku sambil mau ngasih ini," ucap Bella malu-malu sembari menunjukkan bingkisan yang ia bawa itu.“Oh oke ayo," jawab tegas tetapi dalam hati ia sungguh grogi bukan main.Sesampainya di taman, rangga dan Bella pun duduk di kursi taman tersebut dan Rangga pun membuka obrolan.“Jadi ap...,”“Jadi gin...,"Mereka berdua pun berbicara secara bersamaan.“Ehm, kakak dulu deh.”“Oh ngga ngga, kamu aja dulu Bel."“Ngga mau, kakak duluan.”“lho kan kamu yang ngajak ketemuan disini," ucap Rangga pelan.“Yaudah kak Bella duluan, jadi gini. Bella mau berterima kasih banget sama bantuan kakak kemarin yang udah belain Bella waktu Bella diganggu sama kak Jonathan, jadi...,"“Jadi apa Bel?” tanya Rangga."Jadi Bella mau kasih hadiah ini buat kak Rangga," ucap Bella sambil memberikan bingkisan yang dia pegang sedari tadi.“Oh? Terima kasih Bella, aku buka ya?” Bella hanya mengangguk tanda setuju.Ketika dibuka, Rangga pun dibuat kaget dengan apa yang ada di dalem bingkisan itu, di dalam bingkisan itu ada sepotong kue berbentuk hati dan terdapat surat di samping kue tersebut yang bertuliskan_*Kak Rangga, maafin bella karena baru bilang suka ke kak Rangga sekarang. Bella sudah lama suka sama kak Rangga bahkan sebelum Kak Rangga jadi Ketua osis sekolah kita. Bella selalu memperhatikan Kak Rangga, dari sampai sekolah hingga pulang sekolah. Lalu, apakah mungkin Bella bisa menjadi seseorang yang spesial untuk Kak Rangga?*_Lalu dengan tegas Rangga menjawab “Itu sungguh mungkin Bella. Karena aku juga punya perasaan yang sama”[ E N D ]
Hurt
Sekitar tiga tahun yang lalu. Bertepatan dengan hari terakhir ujian nasional dilangsungkan. Syafira Putri Angelista sudah siap dengan pakaian putih birunya tidak lupa kerudung putih sebagai peutup auratnya. Dengan pikiran kalut jikalau nanti ia tidak bisa mengerjakan nya bagaimana? Namun dengan tekad yang kuat mengalahkan perasaan kalut yang hinggap di otak cantiknya. Dengan riangnya ia keluar dari kamarnya sambil menenteng tas dipundaknya dan memegang satu buku yang berada Didekapannya.Matanya tiba-tiba berbinar melihat makanan yang tersaji dengan rapih di meja makan, coba saja ia masih mempunyai waktu yang lebih dengan senang hati ia akan menghabiskan makanan itu. Rasanya waktu seakan tidak bisa memberikan ketenangan untuknya. Mengehela nafasnya sejenak. Kaki nya mulai melangkah mendekati ke dua orang tuanya."Pagi," sapanya."Too sayang," ucap serentak kedua orang tuanya."Aku langsung berangkat ya, Nanti sarapannya di sekolah aja bareng Tasya." Syafira mencoba menjelaskan, ia sebenenya merasa bersalah karena tidak menghargai Mamanya."Gapapa ko sayang." Rania, mamanya mengelus kepala Syafira."Yaudah aku berangkat," ucap nya sambil mencium punggung tangan kedua orang tuanya."Hati-hati nak semoga segala urusan mu Dimudahkan oleh Allah Swt." Riko, papanya mengecup kening Syafira dengan lembut."Amin, Assalamualaikum." Syafira Melangkahkan kaki nya keluar rumah."Waalaikumsalam," jawab kedua orang tuanya.Setibanya di kelas 9i suasana sudah sangat ramai untung saja ia tidak telat bisa celaka nantinya.Syafira menghampiri Tasya putri Salah satu sahabat yang sangat baik dan selalu ada untuk nya.Sambil menunggu Bel masuk mereka habisnya waktu nya untuk mengobrol seputar pelajaran.Perasaan penat, pusing bercampur menjadi satu ujian sudah berlangsung sejak 45 menit yang lalu masih ada waktu 15 menit untuk mereka mengerjakan nya.Ujian nasional telah selesai dilangsungkan semua nya segera berucap syukur ada senang nya karena mereka akan menempuh sekolah menengah atas namun ada sedih nya karena harus berpisah dengan teman-teman yang sudah bersama selama 3 tahun."Syafira semoga lo kedepan nya jadi lebih baik dan bisa langgeng sama si kapten basket," ucap Tasya."Amin lo juga ya, terimakasih Tasya udah jadi sahabat terbaik gue, btw si kapten basket itu Arsya Putra fernando, Tasya," ucap syafira gregetan selalu saja Tasya menyebut nya tanpa embel-embel Nama."Sabodolah yang penting eta weh.""Huft yaudah gue mau ke Arsya dulu ya." Tanpa menunggu jawaban sahabat nya ia melenggang pergi menuju kekasih nya.Mata nya menangkap sosok cowok yang sedang tertawa bebas bersama teman-teman nya. Syafira mulai Mendakati sang kekasih."Arsya," panggilnya.Semua teman-teman arsya pergi meninggalkan dua sejoli yang sedang dilanda kasmaran."Hai sini duduk." Arsya menepuk-nepuk kursi yang tepat disamping nya."Eh iya." Syafira pun duduk seraya menatap muka tampan yang status nya menjadi kekasih nya."Aku tau aku tampan tapi jangan diliatin mulu sayang." Arsya mengusap wajah Syafira yang membuat si empu merasa malu."Ihkk kamu mah," rajuk Syafira."Uluhh pacar aku lagi ngambek nih." Dengan gerakan cepat Arsya memeluk Syafira.Waktu singkat mereka habis kan untuk mengobrol bersama serasa dunia milik berdua yang lain cuman ngontrak."Gue yang duluan suka sama lo, kenapa harus sahabat gue yang dapetin sial!" ucap seseorang yang masih menatap dua sepasang kekasih yang nampak sangat bahagia.Sepulang sekolah Syafira menghabiskan waktu nya dikamar saja rasanya ia sangat lelah dan memutuskan untuk tidur.Dilain sisi dua sosok laki-laki dilanda kerisauan antara bingung mempertahankan atau mengikhlaskan."Lo tau kan gue duluan yang suka sama syafira,tapi kenapa dengan jahatnya lo ambil dia dari gue," ucap Alfian sandres." Iya gue tau tapi gue sangat cinta sama Syafira dan gak mungkin gue lepasin dia buat Sahabat gue, mengertilah Alfian."Dengan susah payah Arsya menjelaskan namun Alfian enggan mendengarkan apakah harus Arsya mengalah namun ia pasti yakin Syafira akan marah padanya."Gue gak perduli. Cih! ternyata lo sahabat yang suka nya nusuk dari belakang ya.""Stop Alfian gue buka orang kayak gitu.""Oke gue akan mengikhlaskan Syafira buat lo," lanjutnya.Malam telah tiba. Bulan menerangi langit menggantikan matahari untuk sejenak. Tidak lupa bintang yang bertaburan sebagai pelengkap. Syafira Putri Angelista kini tengah bersiap-bersiap menemui sosok yang sangat ia cintai setelah ayahnya. Tanpa berlama-lama lagi ia sudah siap, entah mengapa perasaan takut hinggap dihatinya. Pikiran kalut seakan-akan menerornya. Pasokan udara sekaan menipis dan hawa dingin menyelimuti raganya. Syafira menghela nafasnya saat matanya bertemu dengan sosok cowok bertubuh tinggi yang sedang membelakanginya."Arsya," panggil Syafira, merasa namanya terpanggil cowok itu memutar balik tubuhnya menghadap Syafira."Ada yang ingin ku sampaikan," ucap Arsya."Baiklah"."Syafira Putri Angelista maaf dengan ini Arsya Putra Fernando harus memutuskan hubungan kita secara sepihak".Bagai tersambar petir di siang bolong, Syafira nampak terkejut akan ucapan kekasihnya."Kenapa harus putus?" tanya Syafira dengan suara serak menahan tangis."Sahabatku mencintaimu, dan aku akan melepaskan mu untuk nya. Kumohon terimalah ia dan berikan hati mu untuk nya"."Kau egois Arsya apa kau pernah mementingkan perasaanku? Aku tau Alfian suka padaku, apa kau tega menumbalkan perasaan ku untuknya?""Sejauh apapun kau memaksaku, jika hatiku berpihak padamu, aku tidak bisa berbuat apa-apa.""Untuk apa kita putus, jika kita saling mencintai?"Syafira pergi dengan perasaan hancur berkeping-keping kisah cintanya harus kandas dengan cara seperti ini. Menangis dan berteriak sekencangnya adalah hal tak terduga yang berasal dari dirinya.Taman awal tempat kisah cinta berlabuh kini terasa menyeramkan untuk syafira awal kesedihan dah kepedihan bersatu dan menjadi tempat bersejarah saat mengenang dia.Mencintaimu adalah Anugerah terindahMemilikimu adalah bonus tuhan tersembunyi.Jika tidak bisa bersama,mengapa kamu menawarkan hati ini untuk orang lain.Perasaan bukan lah ajang bergengsi, jika mencintai mu aku bahagia mengapa kamu menawarkan hati yang baru untuk singgah. Cinta memang aneh datang dengan proses dan pergi begitu saja.[ E N D ]
Kisah Cinta Pertamaku
Perkenalkan terlebih dahulu nama saya Dwi Rahmawati, biasa dipanggil Dwi. Juli 2016, ya saat itu aku baru memasuki sekolah menengah kejuruan. Cukup senang menjadi siswi SMK. Sekolah yang sebagian orang menyatakan bahwa kita akan memulai cerita baru, awal yang indah dan mengukir cerita cerita yang akan dijalani bersama teman baru. Pada waktu itu usiaku masih 15 tahun. Kurasa aku belum siap untuk merasakan apa itu cinta.Seiring berjalannya waktu, ada seseorang yang hadir di hidupku. Awalnya aku sama sekali tak mengenalnya. Dia bernama Khasan Munawir, walau dia alumni smp yang sama sepertiku. Tapi aku mengenalnya saat sudah lulus. Menurutku dia orangnya kurus, agak tinggi, item tapi manis. Ya jujur aku suka orang yang item manis. Kita menjadi akrab karena sering chatingan via bbm. Namun kita tak bersekolah di tempat yang sama. Awalnya aku bingung dengan sikapnya yang perhatian padaku.Aku takut dia cuma ingin mempermainkanku seperti halnya orang bilang banyak cowok yang cuma bisanya mainin perasaan cewek. Ya kata kata itu membuatku takut untuk mengenalnya lebih jauh.Waktu kurasa sangat singkat, sekitar 1 bulan aku mengenalnya. Entah perasaan apa itu? apa mungkin itu cinta? aku terus bertanya-tanya.Tepat tanggal 26 Agustus 2016 dia menembakku, tapi sayangnya via bbm. waktu itu aku sangat bingung, harus menerima atau tidak. Ya mungkin karena aku takut pacaran. Tapi aku telah jatuh cinta padanya, jadi aku mencoba untuk menjalin hubungan dengannya. Ya, dia cinta pertamaku, dan aku cinta pertamanya juga.Berbulan-bulan sudah sejak hadirnya dia di hidupku, aku merasa bahagia, merasa ada yang beda dari hidupku. Hidupku jadi lebih berwarna. Waktu itu aku memiliki sosok penyemangat dalam hidupku. Walau kita jarang bertemu, tapi aku bahagia bisa memilikinya.Pada saat itu kita bertemu di smp untuk mengambil SKHUN. Aku bahagia bisa bertemu dengannya. Tapi entah kenapa aku merasa malu dengannya. Pada waktu bertemu dia memanggilku _'sayang'_ . Jantungku berdebar-debar. Tetapi aku hanya membalasnya dengan senyuman. Ya kita sering memanggil sayang tetapi tidak secara langsung, tapi hari itu dia memanggiku sayang. Namanya juga baru pacaran pertama kali jadi ya masih malu-malu. Kita berdua duduk di depan sekolah, ya hanya beberapa kali bercakap. Lebih seringnya tersenyum satu sama lain.Waktu terus berputar maju, hubunganku dengannya masih manis, dan kita juga sering bertemu. Rasanya pun tak canggung lagi. Ya walaupun banyak masalah datang, entah itu PHO dan yang lain. Tapi kita bisa menghadapinya.Menyedihkan pada waktu itu dia menghilang seminggu lebih, aku tak tau mengapa dia hilang. Padahal waktu itu aku sedang membutuhkannya untuk memberiku semangat, karena aku lagi UKK. Menghilangnya dia membuatku tak fokus belajar, pikiranku kacau karenanya. Dan pada saat aku ultah, dia pun msih menghilang. Padahal aku berharap dia ngucapin atau ngasih surprise. ehh ternyata nggak. Hatiku terus bertanya-tanya ke manakah dia? Mengapa dia menghindar dariku? Aku salah ap? Pikiranku dipenuhi dengan semua pertanyaan itu.Liburan semester 1 tiba, dan aku berharap banyak waktu untuk bisa bertemu dengannya. Tapi ternyata tidak. Saat itu dia akan pindah sekolah dan mondok di Banyuwangi. Saat kita bertemu, aku mencoba memberanikan diri untuk bertanya padanya."Kamu sebenernya mau ke mana sih?, kok status facebook kamu gitu," tanyaku."Aku mau pindah yang, aku mau mondok," balasnya."Mondok di mana?""Di Banyuwangi."Aku tak bisa berkata-kata lagi. Hanya bisa diam. Dan pikiranku mulai kacau, _"mengapa dia harus pergi meninggalkan?"_ batinku.Aku menangis setiap harinya. ya kita bakal jarang ketemu atau bahkan tak bisa lagi ketemu.Disaat mendekat hari dia akan pergi. Aku memintanya bertemu, tapi dia selalu tak mau, alasannya karena sedang sibuk.Tapi sehari sebelum dia pergi, kita sempat bertemu. Dan mungkin untuk terakhir kalinya.Kita bertemu di stasiun, ya aku hanya diam dan merasa sebal dengannya. Aku tak berani berbicara, entah kenapa. Mungkin dia marah denganku, karena aku meminta untuk bertemu. Tak ada obrolan yang serius, padahal aku ingin bertemu untuk bicara soal dia pindah. Tapi aku tak berani.Ehh tiba-tiba ada polisi datangin kita."Dek, lagi ngapain di sini? Pacaran kok di sini. Sana pulang," kata polisi."Iya pak." Aku dan Khasan pun pulang.Menyebalkan sekali belum bicara apa-apa udah disuruh pulang aja. Untung saja hp dia ketinggal di aku, aku bingung harus mengembalikan atau membiarkan dia menemuiku. Akhirnya aku memutuskan untuk ke rumahnya. Tapi tidak sendiri, aku minta temenin temenku. Ya waktu itu aku belum tau tepat rumahnya, tapi aku tau daerah dan arahnya.Di rumah dia, aku disuruh masuk. Tapi aku tidak mau. Aku cuma di samping rumahnya. Ya itu menjadi terakhir kali kita bertemu. Sedih sih, tapi aku tak berani menunjukkan kesedihanku. Ya untuk kenangan aku memberinya jam tangan, couple sama aku. Berbicang-bicanglah aku dengannya."Sayang, i love you," ucap Khasan sambil menciup tanganku.Aku hanya diam dan tersenyum. Baru pertama dia bilang i love you secara langsung, dan mungkin juga yang terakhir kalinya. Dia juga berkata padaku, "sayang, jika kita memang berjodoh, pasti kita dipertemukan kembali.""Amin yang."Hari semakin sore dan aku memutuskan untuk pulang."Hati-hati di jalan yah sayang," kata Khasan."Iya," balasku.Hari itu takkan bisa kulupakan. Hari dimana kita bertemu untuk terakhir kalinya. Dan hari hari berikutnya kita berpisah. Bukan berpisah hubungan, tapi terpisah oleh jarak dan waktu. Membiasakan Hari-hariku tanpa adanya Khasan di sampingku. Menjalin kisah LDR, bagiku berat untuk kujalani. Tapi dengan komitmen dan saling setia, juga saling percaya satu sama lain mungkin kita bisa njalanin hubungan ini. Ya aku tak tau apa hubungan kita akan berjalan mulus atau tidak. Aku hanya bisa berdoa kelak kita berjodoh dan dipertemukan kembali.[ E N D ]
Hurt
Sekitar tiga tahun yang lalu. Bertepatan dengan hari terakhir ujian nasional dilangsungkan. Syafira Putri Angelista sudah siap dengan pakaian putih birunya tidak lupa kerudung putih sebagai peutup auratnya. Dengan pikiran kalut jikalau nanti ia tidak bisa mengerjakan nya bagaimana? Namun dengan tekad yang kuat mengalahkan perasaan kalut yang hinggap di otak cantiknya. Dengan riangnya ia keluar dari kamarnya sambil menenteng tas dipundaknya dan memegang satu buku yang berada Didekapannya.Matanya tiba-tiba berbinar melihat makanan yang tersaji dengan rapih di meja makan, coba saja ia masih mempunyai waktu yang lebih dengan senang hati ia akan menghabiskan makanan itu. Rasanya waktu seakan tidak bisa memberikan ketenangan untuknya. Mengehela nafasnya sejenak. Kaki nya mulai melangkah mendekati ke dua orang tuanya."Pagi," sapanya."Too sayang," ucap serentak kedua orang tuanya."Aku langsung berangkat ya, Nanti sarapannya di sekolah aja bareng Tasya." Syafira mencoba menjelaskan, ia sebenenya merasa bersalah karena tidak menghargai Mamanya."Gapapa ko sayang." Rania, mamanya mengelus kepala Syafira."Yaudah aku berangkat," ucap nya sambil mencium punggung tangan kedua orang tuanya."Hati-hati nak semoga segala urusan mu Dimudahkan oleh Allah Swt." Riko, papanya mengecup kening Syafira dengan lembut."Amin, Assalamualaikum." Syafira Melangkahkan kaki nya keluar rumah."Waalaikumsalam," jawab kedua orang tuanya.Setibanya di kelas 9i suasana sudah sangat ramai untung saja ia tidak telat bisa celaka nantinya.Syafira menghampiri Tasya putri Salah satu sahabat yang sangat baik dan selalu ada untuk nya.Sambil menunggu Bel masuk mereka habisnya waktu nya untuk mengobrol seputar pelajaran.Perasaan penat, pusing bercampur menjadi satu ujian sudah berlangsung sejak 45 menit yang lalu masih ada waktu 15 menit untuk mereka mengerjakan nya.Ujian nasional telah selesai dilangsungkan semua nya segera berucap syukur ada senang nya karena mereka akan menempuh sekolah menengah atas namun ada sedih nya karena harus berpisah dengan teman-teman yang sudah bersama selama 3 tahun."Syafira semoga lo kedepan nya jadi lebih baik dan bisa langgeng sama si kapten basket," ucap Tasya."Amin lo juga ya, terimakasih Tasya udah jadi sahabat terbaik gue, btw si kapten basket itu Arsya Putra fernando, Tasya," ucap syafira gregetan selalu saja Tasya menyebut nya tanpa embel-embel Nama."Sabodolah yang penting eta weh.""Huft yaudah gue mau ke Arsya dulu ya." Tanpa menunggu jawaban sahabat nya ia melenggang pergi menuju kekasih nya.Mata nya menangkap sosok cowok yang sedang tertawa bebas bersama teman-teman nya. Syafira mulai Mendakati sang kekasih."Arsya," panggilnya.Semua teman-teman arsya pergi meninggalkan dua sejoli yang sedang dilanda kasmaran."Hai sini duduk." Arsya menepuk-nepuk kursi yang tepat disamping nya."Eh iya." Syafira pun duduk seraya menatap muka tampan yang status nya menjadi kekasih nya."Aku tau aku tampan tapi jangan diliatin mulu sayang." Arsya mengusap wajah Syafira yang membuat si empu merasa malu."Ihkk kamu mah," rajuk Syafira."Uluhh pacar aku lagi ngambek nih." Dengan gerakan cepat Arsya memeluk Syafira.Waktu singkat mereka habis kan untuk mengobrol bersama serasa dunia milik berdua yang lain cuman ngontrak."Gue yang duluan suka sama lo, kenapa harus sahabat gue yang dapetin sial!" ucap seseorang yang masih menatap dua sepasang kekasih yang nampak sangat bahagia.Sepulang sekolah Syafira menghabiskan waktu nya dikamar saja rasanya ia sangat lelah dan memutuskan untuk tidur.Dilain sisi dua sosok laki-laki dilanda kerisauan antara bingung mempertahankan atau mengikhlaskan."Lo tau kan gue duluan yang suka sama syafira,tapi kenapa dengan jahatnya lo ambil dia dari gue," ucap Alfian sandres." Iya gue tau tapi gue sangat cinta sama Syafira dan gak mungkin gue lepasin dia buat Sahabat gue, mengertilah Alfian."Dengan susah payah Arsya menjelaskan namun Alfian enggan mendengarkan apakah harus Arsya mengalah namun ia pasti yakin Syafira akan marah padanya."Gue gak perduli. Cih! ternyata lo sahabat yang suka nya nusuk dari belakang ya.""Stop Alfian gue buka orang kayak gitu.""Oke gue akan mengikhlaskan Syafira buat lo," lanjutnya.Malam telah tiba. Bulan menerangi langit menggantikan matahari untuk sejenak. Tidak lupa bintang yang bertaburan sebagai pelengkap. Syafira Putri Angelista kini tengah bersiap-bersiap menemui sosok yang sangat ia cintai setelah ayahnya. Tanpa berlama-lama lagi ia sudah siap, entah mengapa perasaan takut hinggap dihatinya. Pikiran kalut seakan-akan menerornya. Pasokan udara sekaan menipis dan hawa dingin menyelimuti raganya. Syafira menghela nafasnya saat matanya bertemu dengan sosok cowok bertubuh tinggi yang sedang membelakanginya."Arsya," panggil Syafira, merasa namanya terpanggil cowok itu memutar balik tubuhnya menghadap Syafira."Ada yang ingin ku sampaikan," ucap Arsya."Baiklah"."Syafira Putri Angelista maaf dengan ini Arsya Putra Fernando harus memutuskan hubungan kita secara sepihak".Bagai tersambar petir di siang bolong, Syafira nampak terkejut akan ucapan kekasihnya."Kenapa harus putus?" tanya Syafira dengan suara serak menahan tangis."Sahabatku mencintaimu, dan aku akan melepaskan mu untuk nya. Kumohon terimalah ia dan berikan hati mu untuk nya"."Kau egois Arsya apa kau pernah mementingkan perasaanku? Aku tau Alfian suka padaku, apa kau tega menumbalkan perasaan ku untuknya?""Sejauh apapun kau memaksaku, jika hatiku berpihak padamu, aku tidak bisa berbuat apa-apa.""Untuk apa kita putus, jika kita saling mencintai?"Syafira pergi dengan perasaan hancur berkeping-keping kisah cintanya harus kandas dengan cara seperti ini. Menangis dan berteriak sekencangnya adalah hal tak terduga yang berasal dari dirinya.Taman awal tempat kisah cinta berlabuh kini terasa menyeramkan untuk syafira awal kesedihan dah kepedihan bersatu dan menjadi tempat bersejarah saat mengenang dia.Mencintaimu adalah Anugerah terindahMemilikimu adalah bonus tuhan tersembunyi.Jika tidak bisa bersama,mengapa kamu menawarkan hati ini untuk orang lain.Perasaan bukan lah ajang bergengsi, jika mencintai mu aku bahagia mengapa kamu menawarkan hati yang baru untuk singgah. Cinta memang aneh datang dengan proses dan pergi begitu saja.[ E N D ]
Over Jou
Saudara ya?Saat mendengar itu, aku langsung teringat kakakku. Dia benar benar orang yang kuat.Sejak kami masih kecil, dia terus melindungiku. Rela dipukul Ayah demi menutupi kesalahanku, rela dicaci Ibu agar cacian Ibu tidak ditujukan untukku.Tapi bukan berarti Ibu dan Ayah akan selalu memujiku. Kami sama sama tidak disukai mereka. Dan kami tidak tahu apa salah kami. Apakah karena kami terlahir ke dunia ini, atau karena kami hanya membebani mereka.Kakak memutuskan untuk membawaku pergi dari rumah, dengan harapan agar kami terlepas dari siksaan ayah dan ibu. Tapi tak ada bedanya walau kami keluar dari rumah.Ayah menyewa preman untuk membawa kami pulang, kami dihajar habis habisan dan diseret pulang. Lalu kami kabur lagi. Seperti itu terus berulang.Sampai kami berhasil keluar kota tanpa meninggalkan jejak untuk para preman itu.Kakak sangat memikirkanku. Di tengah malam saat kakak sudah tertidur lelap, aku menangis tanpa suara. Dia sangat menderita, dan itu hanya untuk melindungiku. Aku ingin membantunya, aku ingin meringankan bebannya. Tapi dia selalu menolak, dan akan memarahiku saat aku nekat menolongnya.Dia bahkan berhenti sekolah untuk terus membiayai sekolahku, bekerja dari pagi sampai malam setiap hari dengan gaji yang pas pasan.Aku pernah mendatangi kakak saat dia bekerja, dan pemandangan tak mengenakan yang terlihat olehku. Lagi lagi kakak mendapatkan cacian dari orang sekitarnya. Dari teman serekannya, managernya, bahkan pelanggannya.Dan bodohnya aku, aku hanya bisa terdiam dengan air mata yang mengalir, lalu lekas bersembunyi saat kakak hampir melihatku.Setiap makan malam aku bertanya padanya "apa kakak benar benar tidak mau aku membantumu?"Dan dia hanya tersenyum manis sambil mengusap kepalaku "kamu tidak perlu mengkhawatirkan kakak, semua ini tidak berat untuk kakak"Dia tertawa, membuatku juga menarik tawaku dengan hati yang sakit.Suatu hari saat kakak akan berangkat bekerja aku mengatakan suatu hal padanya "kakak, kamu tidak perlu menanggung beban yang berat sendirian. Aku ada disini, disisimu"Kakak tersenyum dan mengusap kepalaku. Tapi siapa yang sangka kalu itu adalah senyuman dan usapan terakhir darinya?Aku diberitahukan bahwa kakakku telah tewas terbunuh akibat peluru tanpa arah.Hahhhh... Mengesalkan!Bagaimana bisa selama 17 tahun aku hidup dan aku tidak pernah melihat kakakku menangis?Dua hari setelah kematian kakak, bos ditempat kerjanya menghampiriku dan memberikan sebuah amplop. Di dalam amplop itu terdapat sebuah surat dan uang. Kata bos, uang itu adalah tabungan kakakku yang dititipkan padanya.Bahkan dari suratnya, tidak ada satu katapun yang menjelaskan betapa kesusahannya dia. Dia hanya mengkhawatirkanku, dan berkata aku harus hidup lebih baik.Hei kak! Apa bahkan kau tidak bisa meluapkan kesedihanmu bahkan setelah kau tiada?!Aku meremas kesal surat itu. Kalimat terakhirnya mengatakan dengan jelas apa yang dia rasakan selama ini.'Yahh... Kamu tidak akan tau kapan kamu pergi ya hahaha.. Kakak tidak mau membuatmu sedih, semua cacian, pukulan, hinaan, ejekan, atau apapun itu tidak lebih berat daripada melihatmu merasa sedih, kamu harus bahagia, Shou'Waktu yang kuhabiskan diseluruh tengah malamku adalah bersedih kak. Apa kamu keberatan saat aku mengkhawatirkanmu? Sebegitu kamu tidak maunya melibatkanku dalam masalahmu?!Hufff ... Setelah 3 tahun kematian kakak, ayah menemukan keberadaanku. Dia marah, sangat sangat marah. Tapi juga tersirat kesedihan dalam matanya.Ternyata selama kami kabur dari rumah dan tak pernah kembali lagi, ibu mulai sakit sakitan. Ayah bilang, semua malam ibu dihabiskan untuk menangis dan meminta maaf pada aku dan kakak dengan menyebut nama kami.Aku tidak harus memberikan reaksi seperti apa, karena aku tidak merasa senang atau pun sedih dengan kabar itu.Saat ayah menyadari bahwa kakakku tidak terlihat, aku mengatakan dengan mata berkaca bahwa kakak sudah meninggal 3 tahun lalu.Ayah tidak bereaksi, duduknya yang awalnya tegap, mulai merosot lemah. Matanya menyiratkan penyesalan. Tapi kami tidak bisa berbuat apapun.Setelah 3 hari ayah menginap di rumahku, ia membujukku untuk pulang menemui ibu dengan lembut. Tapi yang terlintas dalam benakku adalah _'itu sudah terlambat kan?'_Aku menolaknya, dengan alasan aku bekerja. Dan berjanji akan menemui ibu kapan kapan. Tapi dalam hati pun aku ragu, apa aku sanggup pulang kerumah? Rumah dimana awal semua beban kakak tertimbun, rumah dari rasa sedih, kesal, marah, dan benci kakak yang tertimbun dengan dedaunan gugur.Aku ingin berkunjung sekali, tapi aku takut melihat bayanganku saat kecil yang tidak bisa apa apa dan hanya memberatkan kakak.Tapi bertahun tahun kemudian waktu berlalu, aku sudah bisa berdamai dengan masa lalu."Kak, lihatlah keponakanmu yang lucu ini, mereka hidup lebih bahagia daripada kita kak. Ayah dan ibu juga memperlakukan mereka dengan baik. Mereka kakek dan nenek yang baik. Apa kau bahagia melihat ini kak? Apa bebanmu mulai runtuh?Entah bagaimana, buku diari dan surat terakhir kakak benar benar terwujud. Kakak menaruh impian yang sangat besar kepadaku. Dia mengabaikan kebahagiaannya demi kesuksesanku, dia merawat mentalku dari cacian orang orang.Kak, kamu adalah seorang anak yang luar biasa. Kamu adalah pahlawan yang menyelamatkan hidupku walau masa remajamu terlewatkan.Aku harap dikehidupan berikutnya, kamu bisa hidup dengan penuh kebahagiaan tanpa ada rasa yang tertimbun lagi.Dari adikmu, Shou.[ E N D ]
Gara-gara Bikin KTP
Selasa, 8 september 2020 tanggal dimana Lora dilahirkan, tepat 17 tahun usianya. _sweet seventeen_ usia yang menurutnya sangat penting. Usia spesial, usia dimana masuk dunia remaja.Tepat pukul 00.00 banyak sekali yang mengucapkan ucapan untuknya. Yang pertama orang tuannya. Mereka tidak pernah lupa hari istimewa anaknya ini. Papanya memberi kado sebuah gitar, papanya memang tau keinginan Lora. Lora memiliki hobbi berkebun, maka dari itu ibunya membelikannya kado tanaman sukulen 20 pot. Betapa bahagiannya dia.Kemudian ucapan dari Saudara-sepupunya, tak lupa sahabat terdekatnya, dari teman Paud, SD, SMP sampai SMA nya membanjiri kolom _chat whatsapp_ nya. Oh ya, mantan Lora. Jangan sampai tertinggal, dia pun ikut serta mengucapkan doa-doa yang siap diaminkan Lora.___Pukul 05.00 Lora bangun dari tidurnya, mengecek isi hp nya dari mulai _whatsapp, telegram sampai instagram_-nya banyak sekali yang mengucapkan doa. Lora membalas doa mereka dengan kalimat _'aamiin, terimakasih banyak'_ kalimat yang mewakili seluruh perasaannya saat ini. Harapannya semua doa-doa dari mereka terkabul, aamiin.Kemudian Lora bergegas mandi dan mengerjakan sholat, memanjatkan syukur atas apa yang telah Allah berikan selama 17 tahun ini. Tak lupa menyiapkan seragam sekolahnya karna hari ini jadwal kelas 11 Luring.Sampai disekolah, Lora langsung disambut oleh guru dan teman-temannya. Mereka semua mengucapkan Selamat Ulang Tahun saat bertemu di jalan menuju kelasnya.Namun Lora sedikit kecewa, karena ke-3 sahabatnya memang benar-benar lupa hari ulang tahunnya. Mereka benar-benar cuek. Padahal mereka tau semua orang yang bertemu Lora mengucapkan Selamat untuknya.Dikelas pun mereka acuh, bertanya ketika pelajaran berlangsung, namun tidak peka apa yang Lora mau dari mereka. Sedih? Sangat sedih, apa mereka yang disebut sahabat.___Pulang sekolah, Lora pulang dalam keadaan lesu karna hal yang menurutnya sepele tadi. Namun tidak di sangka, ternyata sahabatnya datang kerumah dan membawakan kue dan kado. Lora terharu, mereka menyembunyikan ini semua tadi disekolah. Salsa, Cici, Dini memang sahabat terbaik.___Memang hari ini hari bahagia Lora, namun tak berangsur lama, adik dari kakeknya meninggal dunia pada hari itu juga. Astaga, gimana jadi Lora? Dia baru saja merasakan bahagia tapi bahagiannya sementara. Kenapa Allah memberikan ujian seberat ini. Paginya dia bersenang-senang memang, namun sorenya? Oh astaga. Kenapa harus bareng sih?Malam hari dia langsung ke rumah kakek, melayat, membantu mempersiapkan segala keperluan, tak lupa mendoakannya. Memang itu yang bisa dilakukan Lora. Sedih? Memang. Namun Lora tidak mau berlarut dalam kesedihan itu. Cukup! Hari ini memang hari yang ... Ah ... gak tau gimana jelasinnya.___5 hari berlalu, tepat 17 tahun 5 hari umur Lora. Lora berencana akan membuat KTP masal bersama sepupunya. Mereka mempersiapkan dokumen-dokumen untuk dibawa ke Kantor Camat.Sesampainya di Kantor Camat, Lora segera berantri untuk mendapatkan giliran lebih awal, namun keduluan orang lain. Cowok seumuran Lora, tetapi Lora tidak mengenalnya."Ih apaan sih lo? Gua duluan tadi," kesal Lora."Siapa cepat dia dapat dong!" jawab cowok itu."Tapi gua duluan tadi yang maju, ih nyebelin banget sih lo. Tau ah sebel gua." Lora memutuskan keluar dari antrian dan duduk dikursi tunggu."Loh mbak kok duduk doang, ayo buruan antri, ntar kuotanya habis lo! Kurang 1 orang doang katanya si bapak botak itu," ucap Fingkan-adik sepupu Lora."Iya iya, kok lo udah selesai duluan sih. Jangan ninggalin gua lo ya!" ucap Lora."Tinggal nunggu panggilan buat foto KTP sih, masih rame tuh, mau benerin kerudung dulu di toilet, duluan ya." Fingkan meninggalkan Lora.Lora memutuskan untuk antri lagi, tepat dibelakang cowok tadi. Antrian cukup cepat, kini giliran cowok di depan Lora yang maju duluan."Devanio Adji Wiraganda" Cowok itu maju. Sekarang Lora tahu nama cowo nyebelin tadi. Lora memperhatikan punggung cowok itu, seraya menyumpah serapahnya."Kalo gua duluan tadi, ga mungkin gua yang terakhir," dumel Lora. Cowok itu telah selesai dan mundur dari barisan, namun tak sengaja menabrak pundak kiri Lora, alhasil berkas-berkas yang dibawa Lora bejatuhan."Ih kalo jalan tuh pake mata dong! Jatuh semua kan!" Marah Lora."Ya sorry dong, lu aja yang kurang minggir. Dan 1 lagi, jalan tuh pake Kaki, mata itu buat ngeliat," elak Devan."Eh adik-adik jangan berantem, ini tempat umum, jangan lupa jaga jarak," lerai petugas administrasi.Lora dan Devan balas dengan nyengir doang._'Emang gabisa sopan nih 2 bocah,'_ batin petugas tadi."Kurang minggir gimana? Jelas-jelas jalan tuh masih lebar tuh, kenapa mepet-mepet gua sih? Modus ya lo?" tuduh Lora."Enak aja klo ngomong, yaudahlah terserah lu, gua duluan, bay!" Devan pergi meninggalkan Lora."Dasar cowo nyebelin, gak ada akhlak!" teriak Lora membuat semua orang menatap Lora bingung."Emilda Putri Fafialora Modista" panggil petugas administrasi. Lora menyerahkan semua dokumennya."Oke lengkap, Silahkan tunggu panggilan buat foto ya," ucap petugas tadi, yang dibalas anggukan kepala Lora.Lora duduk dikursi tunggu, sesuai nomor antrain, dan tak lupa jaga jarak 1 kursi. Dan ya, dia bersebelahan dengan Devan.Devan melirik Lora, dia berkeinginan untuk berkenalan. Dengan berat hati dan tingkat ke kepoan Devan, akhirnya dia memutuskan untuk mengulurkan tangannya ke arah Lora."Gua Devan, sorry buat yang tadi," ucap Devan sedikit gengsi."Gua Lora! Ya. Sorry social distancing," jawab Lora tanpa membalas uluran tangan Devan. Devan menepuk jidatnya lupa kalau harus menjaga jarak."Lu bikin KTP juga disini?" tanya Devan."Enggak, antri sembako! " dusta Lora."Ya iyalah bikin KTP, jelas-jelas tadi antri di antrian administrasinya KTP," sinis Lora."Ya santuy aja dong jangan ngegas, cuma nanya doang, gua kira antri bpjs." Dibalas tawa Devan. Namun tak dibalas Lora.Akhirnya mereka pun selesai berfoto dan keluar dari kantor ini. Lora dan Fingkan berencana mampir di warung bakso untuk mengganjar perutnya. Tak disangka ternyata Devan juga mampir di warung itu juga."Loh lo kok disini juga, lo buntutin gua ya? Mau apa sih lo?" cerocos Lora."Dih, ga usah ge-er gua mau makan disini. Bakso ini kan favorit gua," jawab Devan membuat malu Lora.Mereka menikmati makanannya. Pandangan tak luput dari Lora yang makan dengan lahabnya, Devan pikir, Lora emang belum makan 1 tahun kayaknya. Wkwk.Lora sadar kalau Devan menatapnya pun, menegur Devan."Kenapa lo liatin gua? Suka?" tanya Lora dengan pede-nya."Idih jadi orang tuh jangan ke ge-eran deh, tuh cape nyepil di gigi lo!" Disambut dengan tawa Fingkan. Astaga, Lora jadi malu sendiri."Ih apaan sih? Udah diem lo!" tunjuk Lora ke arah Devan. Makanpun selesai. Lora dan Fingkan mampir di minimarker buat beli minyak goreng pesanan mama Fingkan. Dan lagi, Devan juga sama. Mereka bertemu lagi."Lo lagi Lo lagi, kenapa sih ketemu terus, lo ngikut mulu? Mau apa? Minta no wa?" Lora sebal, diikuti terus oleh Devan."Gua mau beli cemilan ga usah ge-er, boleh deh kalo dikasih!" ucap Devan sambil memberikan hpnya."Ya karna gua baik, oke gua kasih! Jangan disebarin, inget lo." Lora mengetikkan no wa nya di hp Devan."Tunggu chat dari gua," balas Devan.Mulai saat itu mereka dekat, malam hari selalu chatan, berangkat sekolah Lora selalu dijemput Devan karena mereka memang satu sekolah. Sering ngecafe berdua. Entah hubungan mereka itu sahabat atau lebih, yang jelas lebih dari teman, biar mereka berdua yang tahu.Pertemuan mereka memang menyebalkan menurut Lora, tapi siapa sangka mereka malah jadi dekat karena membuat KTP.[ E N D ]
Gadis PMR
"Bahkan jika pedang tajam sekalipun merobek kulitku, rasa sakitnya tidak akan terasa jika bersama orang yang kucintai,"Suasana sekolah SMA Cendrawana hari ini sangatlah ramai, karena saat ini adalah jam istirahat dimana semua murid akan mengisi perut kosong mereka dengan makanan tetapi berbeda dengan Rangga Suryantara selaku ketua tim basket disekolah SMA Cendrawana, dirinya memanfaatkan jam istirahat dengan bermain basket bersama dengan teman-temannya.Rangga sendiri tengah asik mendribbling bola lalu mulai mengoper bola tersebut kepada teman-temannya, hingga bola sekarang beralih kepada JunaKini bola beralih pada Juna dia mendribbling bola dengan segenap kemampuannya setelah puas memantulkan bola ketanah Juna bermaksud ingin mencetak poin, tetapi lemparan bolanya meleset dan mengenai pelipis Rangga, hal itu sontak membuat teman-teman Rangga kahwatir lalu menghampiri-nya yang tengah terduduk sambil memegangi pelipisnya"lo nggak kenapa kan Rang?" tanya Juna terlihat kahwatir dengan keadaan Rangga terlihat jelas bagian pelipis Rangga robek dan mengeluarkan darah akibat ulahnya yang teledor."maaf rang gue bener-bener gak sengaja," sesal Juna pada Rangga"udah gak papa lagian ini cuman luka kecil," Rangga beranjak dari duduknya. "gue mau ke UKS ngobatin luka gue,""sekalian lo ngebucin kan?" tanya Devan disertai ledekan."tau aja lo udah lah kalian lanjut aja main nya gue cabut dulu," ucap Rangga lalu pergi meinggalkan lapangan basket dan pergi menuju UKS"DASAR BUCIN!!" ucapan Devan membuat teman-temannya tertawa geli" Bilang aja lo iri kann makanya cari pacar sono, ngejomblo mulu lo!""sialan lo Rangga!" Rangga tidak menghiraukan teriakan Devan dirinya memilih untuk melanjutkan jalannya menuju UKS*****Sesampainya diUKS, Rangga melihat seorang perempuan berambut panjang sepinggang lengkap dengan bando merah muda menjadi pelengkap penampilannya sehingga menambah kesan manis pada dirinya, tanpa Rangga amati lebih lanjut pun dia sudah bisa mengenali bahwa gadis itu adalah pacarnya yaitu Nori HanaswariRangga maju melangkah lalu mengahampiri gadis yang menjadi pacarnya itu"ekhemm!" panggil Rangga tersenyum manis , Nori terperanjat kaget, lalu menoleh kebelakang dan melihat Rangga pacarnya tersenyum memperlihatkan deretan gigi nya"Rangga ishh! kamu ini kebiasaan banget ngagetin orang!" Nori memukul lengan Rangga dengan keras, tapi bukannya sakit Rangga malah tersenyum lalu tertawa kecil melihat pacaranya yang bertingkah menggemaskan"ngapain kamu disini?" tanya Nori yang tidak peka dengan keadaan Rangga karena dirinya sibuk merapikan obat-obatan yang berada dilemari, sifat Nori yang tidak peka membuat Rangga menjadi kesal"pacar sendiri luka gak diobat in gitu?"Hah!? Kamu luka kok bisa?" tanya Nori lalu melihat keadaan Rangga, dan benar saja Nori melihat keadaan pelipis Rangga yang terluka memperlihatkan darah kering disana"hmm, aku abis latihan basket," kata Rangga jujur"kok latihan basket sampek luka gitu sih! duduk dulu sana, bentar aku obat in mau ambil Ethanol sama Kapas dulu,"Rangga duduk dipinggir ranjang UKS menuruti apa yang dikatakan sang pacar, Nori pun mengambil kotak PK3 yang berada diatas meja mengambil Ethanol dan kapas seperlunya nya lalu dia menghampiri Rangga dan duduk tepat disebelahnya, Nori mulai mengobati sang pacar dengan hati-hati"makanya main basket itu hati-hati, gini kan jadinya," nada bicara Nori terdengar kahwatir terlihat juga dari sorot matanya memancarkan rasa kahwatirRangga yang melihat Nori perhatian padanya tertawa kecil sambil menatap wajah pacarnya dengan intens"ngapain kamu ketawa?" Nori sudah selesai mengobati luka Rangga tapi tangannya masih berada dipelipis Rangga"suka aja liat kamu kahwatir kayak gitu," jawab Rangga sambil menahan senyum"aku itu khawatir kamu malah ketawa ketawa gak jelas!" Nori memencet luka Rangga dan membuat sang empu mengaduh kesakitan"ehh Nor! sakit tauk aduhh!" omel Rangga menahan sakit"biarin aja kamu ngeselin sih!""ngeselin gini tapi ngangenin kan?" Nori melotot menatap Rangga tajam setelah mendengar apa yang dikatakan Rangga." GEER KAMU IHH!" ucap Nori pada Rangga lalu beranjak dari pinggir ranjang UKS"aku laper kantin yok, kamu pasti belum makan," ajak Rangga menarik tangan Nori." ehh Rangga aku kan belum laper ihh!" Nori menolak ajakan Rangga untuk makan padahal perut nya sudah meronta untuk di isi makanan cuman karena gengsi Nori menolak ajakan Rangga"mulut kamu bilang gak laper tapi perut kamu itu gak bisa bohong, udahh aku gak terima penolakan!" tegas Rangga dengan ucapannyaDengan wajah merah menahan malu Nori pun setuju dengan ajakan Rangga lalu pergi menuju kantin*****Rangga dan Nori telah sampai dikantin, suasana kantin sangat lah ramai, semua murid tengah santai memakan makanan yang berada didepan mereka hingga Rangga mengajak Nori untuk duduk dibangku paling belakang"kamu mau pesen apa? biar aku pesenin," tanya Rangga menanyakan apa yang di inginkan sang pacar"aku pesen batagor sama es jeruk aja," jawab Nori memberitahu pesanannya, Rangga lalu beranjak untuk pergi ke stan makanan untuk memesan15 Menit kemudian Rangga datang sambil membawa nampan pesanan dirinya dan Nori"nih buat tuan putri," ucap Rangga tersenyum, Nori merasa malu dibuat oleh perlakuan manis Rangga pada dirinyaNori bermaksud untuk makan tapi sesuatu menganjal pikirannya." kamu kok gak makan?" tanya Nori pada Rangga."aku pengen disuapin hihi," ucap Rangga lalu tersenyum"manja banget kamu, kan kamu punya tangan manfaatkan tangannya," jelas Nori menolak permintaan Rangga."yaudah kalok gitu aku gak mau makan","ehh! kok gitu gak baik makanannya dibuang Rangga!" tagas Nori." pokoknya suapin baru aku mau makan!" Rangga menunjukan puppy eyes nya dan itu membuat Nori tidak tega mau tidak mau dirinya harus menyuapi Rangga."yaudah iya sini piringnya," Rangga meyerahkan piring yang berisi mekanan pada NoriKini Nori mulai menyuapi Rangga walaupun pacarnya terkesan menyebalkan tapi itu mebuat dirinya menjadi makin menyayanginya"aku beruntung banget punya kamu pokoknya aku gak bakal bikin kamu kecewa!" ucap Rangga disela-sela makannya."aku kalok lukasebanyak apapun kalok obatnya kamu pasti aku cepet sembuh"Nori mendengar kata demi kata yang diucapkan Rangga, kata itu membuat dirinya merasa beruntung memiliki sosok Rangga yang selalu perhatian dan begitu menyayanginya"aku juga beruntung punya kamu," ucap Nori tulus lalu menyuapi Rangga lagi, Rangga yang mendengar kalimat itu dari Nori mampu membuatnya yakin dan bertekad tidak akan mengecewakan gadis yang berada didepannya. Gadis PMR yang akan selalu menjadi obatnya untuk sekarang, besok atau pun selamanya.[ E N D ]
Gara-gara Bikin KTP
Selasa, 8 september 2020 tanggal dimana Lora dilahirkan, tepat 17 tahun usianya. _sweet seventeen_ usia yang menurutnya sangat penting. Usia spesial, usia dimana masuk dunia remaja.Tepat pukul 00.00 banyak sekali yang mengucapkan ucapan untuknya. Yang pertama orang tuannya. Mereka tidak pernah lupa hari istimewa anaknya ini. Papanya memberi kado sebuah gitar, papanya memang tau keinginan Lora. Lora memiliki hobbi berkebun, maka dari itu ibunya membelikannya kado tanaman sukulen 20 pot. Betapa bahagiannya dia.Kemudian ucapan dari Saudara-sepupunya, tak lupa sahabat terdekatnya, dari teman Paud, SD, SMP sampai SMA nya membanjiri kolom _chat whatsapp_ nya. Oh ya, mantan Lora. Jangan sampai tertinggal, dia pun ikut serta mengucapkan doa-doa yang siap diaminkan Lora.___Pukul 05.00 Lora bangun dari tidurnya, mengecek isi hp nya dari mulai _whatsapp, telegram sampai instagram_-nya banyak sekali yang mengucapkan doa. Lora membalas doa mereka dengan kalimat _'aamiin, terimakasih banyak'_ kalimat yang mewakili seluruh perasaannya saat ini. Harapannya semua doa-doa dari mereka terkabul, aamiin.Kemudian Lora bergegas mandi dan mengerjakan sholat, memanjatkan syukur atas apa yang telah Allah berikan selama 17 tahun ini. Tak lupa menyiapkan seragam sekolahnya karna hari ini jadwal kelas 11 Luring.Sampai disekolah, Lora langsung disambut oleh guru dan teman-temannya. Mereka semua mengucapkan Selamat Ulang Tahun saat bertemu di jalan menuju kelasnya.Namun Lora sedikit kecewa, karena ke-3 sahabatnya memang benar-benar lupa hari ulang tahunnya. Mereka benar-benar cuek. Padahal mereka tau semua orang yang bertemu Lora mengucapkan Selamat untuknya.Dikelas pun mereka acuh, bertanya ketika pelajaran berlangsung, namun tidak peka apa yang Lora mau dari mereka. Sedih? Sangat sedih, apa mereka yang disebut sahabat.___Pulang sekolah, Lora pulang dalam keadaan lesu karna hal yang menurutnya sepele tadi. Namun tidak di sangka, ternyata sahabatnya datang kerumah dan membawakan kue dan kado. Lora terharu, mereka menyembunyikan ini semua tadi disekolah. Salsa, Cici, Dini memang sahabat terbaik.___Memang hari ini hari bahagia Lora, namun tak berangsur lama, adik dari kakeknya meninggal dunia pada hari itu juga. Astaga, gimana jadi Lora? Dia baru saja merasakan bahagia tapi bahagiannya sementara. Kenapa Allah memberikan ujian seberat ini. Paginya dia bersenang-senang memang, namun sorenya? Oh astaga. Kenapa harus bareng sih?Malam hari dia langsung ke rumah kakek, melayat, membantu mempersiapkan segala keperluan, tak lupa mendoakannya. Memang itu yang bisa dilakukan Lora. Sedih? Memang. Namun Lora tidak mau berlarut dalam kesedihan itu. Cukup! Hari ini memang hari yang ... Ah ... gak tau gimana jelasinnya.___5 hari berlalu, tepat 17 tahun 5 hari umur Lora. Lora berencana akan membuat KTP masal bersama sepupunya. Mereka mempersiapkan dokumen-dokumen untuk dibawa ke Kantor Camat.Sesampainya di Kantor Camat, Lora segera berantri untuk mendapatkan giliran lebih awal, namun keduluan orang lain. Cowok seumuran Lora, tetapi Lora tidak mengenalnya."Ih apaan sih lo? Gua duluan tadi," kesal Lora."Siapa cepat dia dapat dong!" jawab cowok itu."Tapi gua duluan tadi yang maju, ih nyebelin banget sih lo. Tau ah sebel gua." Lora memutuskan keluar dari antrian dan duduk dikursi tunggu."Loh mbak kok duduk doang, ayo buruan antri, ntar kuotanya habis lo! Kurang 1 orang doang katanya si bapak botak itu," ucap Fingkan-adik sepupu Lora."Iya iya, kok lo udah selesai duluan sih. Jangan ninggalin gua lo ya!" ucap Lora."Tinggal nunggu panggilan buat foto KTP sih, masih rame tuh, mau benerin kerudung dulu di toilet, duluan ya." Fingkan meninggalkan Lora.Lora memutuskan untuk antri lagi, tepat dibelakang cowok tadi. Antrian cukup cepat, kini giliran cowok di depan Lora yang maju duluan."Devanio Adji Wiraganda" Cowok itu maju. Sekarang Lora tahu nama cowo nyebelin tadi. Lora memperhatikan punggung cowok itu, seraya menyumpah serapahnya."Kalo gua duluan tadi, ga mungkin gua yang terakhir," dumel Lora. Cowok itu telah selesai dan mundur dari barisan, namun tak sengaja menabrak pundak kiri Lora, alhasil berkas-berkas yang dibawa Lora bejatuhan."Ih kalo jalan tuh pake mata dong! Jatuh semua kan!" Marah Lora."Ya sorry dong, lu aja yang kurang minggir. Dan 1 lagi, jalan tuh pake Kaki, mata itu buat ngeliat," elak Devan."Eh adik-adik jangan berantem, ini tempat umum, jangan lupa jaga jarak," lerai petugas administrasi.Lora dan Devan balas dengan nyengir doang._'Emang gabisa sopan nih 2 bocah,'_ batin petugas tadi."Kurang minggir gimana? Jelas-jelas jalan tuh masih lebar tuh, kenapa mepet-mepet gua sih? Modus ya lo?" tuduh Lora."Enak aja klo ngomong, yaudahlah terserah lu, gua duluan, bay!" Devan pergi meninggalkan Lora."Dasar cowo nyebelin, gak ada akhlak!" teriak Lora membuat semua orang menatap Lora bingung."Emilda Putri Fafialora Modista" panggil petugas administrasi. Lora menyerahkan semua dokumennya."Oke lengkap, Silahkan tunggu panggilan buat foto ya," ucap petugas tadi, yang dibalas anggukan kepala Lora.Lora duduk dikursi tunggu, sesuai nomor antrain, dan tak lupa jaga jarak 1 kursi. Dan ya, dia bersebelahan dengan Devan.Devan melirik Lora, dia berkeinginan untuk berkenalan. Dengan berat hati dan tingkat ke kepoan Devan, akhirnya dia memutuskan untuk mengulurkan tangannya ke arah Lora."Gua Devan, sorry buat yang tadi," ucap Devan sedikit gengsi."Gua Lora! Ya. Sorry social distancing," jawab Lora tanpa membalas uluran tangan Devan. Devan menepuk jidatnya lupa kalau harus menjaga jarak."Lu bikin KTP juga disini?" tanya Devan."Enggak, antri sembako! " dusta Lora."Ya iyalah bikin KTP, jelas-jelas tadi antri di antrian administrasinya KTP," sinis Lora."Ya santuy aja dong jangan ngegas, cuma nanya doang, gua kira antri bpjs." Dibalas tawa Devan. Namun tak dibalas Lora.Akhirnya mereka pun selesai berfoto dan keluar dari kantor ini. Lora dan Fingkan berencana mampir di warung bakso untuk mengganjar perutnya. Tak disangka ternyata Devan juga mampir di warung itu juga."Loh lo kok disini juga, lo buntutin gua ya? Mau apa sih lo?" cerocos Lora."Dih, ga usah ge-er gua mau makan disini. Bakso ini kan favorit gua," jawab Devan membuat malu Lora.Mereka menikmati makanannya. Pandangan tak luput dari Lora yang makan dengan lahabnya, Devan pikir, Lora emang belum makan 1 tahun kayaknya. Wkwk.Lora sadar kalau Devan menatapnya pun, menegur Devan."Kenapa lo liatin gua? Suka?" tanya Lora dengan pede-nya."Idih jadi orang tuh jangan ke ge-eran deh, tuh cape nyepil di gigi lo!" Disambut dengan tawa Fingkan. Astaga, Lora jadi malu sendiri."Ih apaan sih? Udah diem lo!" tunjuk Lora ke arah Devan. Makanpun selesai. Lora dan Fingkan mampir di minimarker buat beli minyak goreng pesanan mama Fingkan. Dan lagi, Devan juga sama. Mereka bertemu lagi."Lo lagi Lo lagi, kenapa sih ketemu terus, lo ngikut mulu? Mau apa? Minta no wa?" Lora sebal, diikuti terus oleh Devan."Gua mau beli cemilan ga usah ge-er, boleh deh kalo dikasih!" ucap Devan sambil memberikan hpnya."Ya karna gua baik, oke gua kasih! Jangan disebarin, inget lo." Lora mengetikkan no wa nya di hp Devan."Tunggu chat dari gua," balas Devan.Mulai saat itu mereka dekat, malam hari selalu chatan, berangkat sekolah Lora selalu dijemput Devan karena mereka memang satu sekolah. Sering ngecafe berdua. Entah hubungan mereka itu sahabat atau lebih, yang jelas lebih dari teman, biar mereka berdua yang tahu.Pertemuan mereka memang menyebalkan menurut Lora, tapi siapa sangka mereka malah jadi dekat karena membuat KTP.[ E N D ]
Ini yang Terbaik
“ Kadang , pertemuan dan perpisahaan terjadi terlalu cepat . Tapi , kenangan dan perasaan tinggal terlalu lama .”— Nisya Maheera•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••“Hm, kamu mau melanjutkan sekolah dimana?” tanya seseorang yang tak lain adalah sahabatku dari awal masuk sekolah smp ini, panggil saja Naura.“entahlah, aku masih bingung dengan keputusanku ini,” jawabku seadanya. Aku pun meninggalkan sahabatku yang super bawel ini sendirian di dalam kelas.Kini aku duduk di sebuah bangku taman belakang sekolah yang jarang dilalui oleh para murid-murid di sekolah ini. Kutatap awan berkapas putih yang cerah, dan membiarkan kerudungku terombang-ambing oleh semilir angin. Disela ku duduk sendiri dan hanya menatap langit biru, ada seseorang memanggilku.“Nisya!” suara yang sangat familiar di telingaku. Aku yang dipanggil hanya terdiam tak bergeming sedikit pun."Nis,kok kamu ninggalin aku di dalam kelas sendirian? Dan sekarang kenapa kamu duduk sendiri disini? Apa kamu marah denganku?” Pertanyaan bertubi-tubi dari sahabatku yang super bawel.Hufft, kutarik nafas untuk berbicara langsung sesuai isi hatiku, namun sepertinya sulit mengungkapkan, tak kurasa air bening keluar dari mata coklatku membuat sahabatku ini menoleh dan menatapku tajam. Kami selalu meluangkan waktu untuk berbagi cerita saat senang maupun sedih.“Nis, kalau punya masalah cerita aja, aku bakalan dengerin. Jangan buat aku jadi khawatir”.“Hiks.. Aku”. Entah kenapa hati dan mulut sulit untuk disatukan dalam pengucapan.“ya udah kalau begitu. jika kamu ingin menceritakan masalahmu, ceritakan padaku saja, aku akan menjadi pendengar yang baik hanya dengan sahabatku tersayang.“makasi Nau,” kata itu mengakhiri pembicaraan kita.Tak sadar matahari telah terbenam dan terganti oleh langit senja. Kini aku sudah berada di dalam rumah. Aku termenung sambil melihat pemandangan di luar jendela dan sesekali aku berpikir.“mungkin, lebih baik aku tidur daripada berpikir keras yang bahkan membuatku pusing”.Jarum jam berjalan dengan cepat, berjalan melewati ruang tiap detiknya. Pagi yang cerah dengan kicauan burung yang terdengar merdu setiap paginya membuatku bangun dan mempersiapkan diri pergi ke sekolah setiap harinya.Saat istirahat, aku dan Naura datang ke tempat ini, beralaskan rumput hijau dan bernuansa sejuk dengan dikelilingi tumbuhan segar yang baru dibasahi oleh tetesan air hujan. Tempat seperti kemarin, di belakang taman sekolah.“Nis, kemarin aku belum tau penyebab kamu nangis tiba-tiba”.“hm itu, aku mau cerita tentang perpisahan tahun depan, padahal baru kemarin kita masuk dan belajar di sekolah ini, waktu terlalu singkat untuk dinikmati, jujur aku tidak sanggup berpisah dengan guru, teman, apalagi kamu. Kamu selalu ada saat aku membutuhkan dan akupun sebaliknya. Kejadian di sekolah ini sulit tuk dikenang, raut wajah canda, tawa, senang, sedih, galau menghiasi hari-hariku. Dan aku bingung ingin melanjutkan sekolah dimana, sungguh ini semua bikin aku frustasi,”Tanpa kurasa air mata ini jatuh lagi ke pipi chubby ku, Naura yang melihat ini, langsung memelukku.“Nisya, aku tau perasaanmu saat ini, tapi kita memang akan berpisah, berpisah bukan berarti berpisah untuk selamanya. Mungkin aku, kamu, bahkan yang lain juga pasti akan bertemu lagi di suatu tempat, entah di SMA, kuliah, atau tempat kerja. Semua orang pasti ingin sukses demi cita-cita dan membahagiakan kedua orangtuanya. Aku bahkan menganggap kamu melebihi sahabat, yaitu seperti adik kandungku sendiri. Sebenarnya, aku juga tidak ingin hidup ini diawali dengan perkenalan kemudian perpisahan, kata itu membuat sakit hati tersendiri, tapi tidak semua ucapan seperti itu.""Kita harus mengikhlaskan waktu yang terbuang sia-sia.Karena aku percaya akan indah pada waktunya. Jadi kamu jangan bersedih lagi” aku mendengar kata yang keluar dari mulut sahabatku ini menjadikanku bangkit dan berhenti menangis lalu aku tersenyum.Esok paginya, seperti biasa tak bosan aku dan sahabatku Naura datang ke suatu tempat yang beralaskan rumput dengan sinar dari lampu taman dan dihiasi oleh tanaman bunga di sisi kursi taman, lalu kami duduk diantara tanaman bunga itu, yang selalu diam di tempat itu.“sepertinya aku sudah mengerti ini semua,”“iya memang harus, karena kita tidak selamanya akan belajar di SMP, kita bakalan tumbuh besar dan menjadi dewasa, begitu pun dengan adik kelas kita, mereka akan merasakan belajar di tingkat smp seperti kita. Jadi, kita semua harus berusaha bangkit dan menjadi yang terbaik untuk kedepannya”.Ada kala sahabat yang selalu cerewet, bisa berkata bijak.“Ya dari sekarang, aku harus bisa melewati hari-hari ini dengan penuh semangat walaupun mungkin kita tidak bisa bercanda tawa, curhat bareng, bahkan bertemu lagi di sekolah”.“Nisya, aku pun juga tidak mau berpisah denganmu. Tapi mau tidak mau, itu harus. Bagaimana pun aku akan selalu mengingat kenangan bersama sahabatku tersayang dan terbaper ini saat melihat drakor di laptopku”. Ucapan terakhir membuat kami tertawa sejenak.“Bagaimana jika tempat ini, menjadi tempat pertemuan kita saat merasa ingin bertemu satu sama lain?” Disela sedang tertawa kubertanya.“Ya, mungkin suatu saat nanti tempat ini akan menjadi tempat pertemuan saat kita merindukan satu sama lain dan menjadi tempat memori yang tak terlupakan”Terlihat senyuman manis yang tak pudar dari bibir kedua sahabat itu dengan pelukan hangat dimusim gugur dan tak lupa setetes air yang keluar dari bola mata.***“ Setiap ada pertemuan pasti ada juga perpisahan , tetapi dengan perpisahan tersebut bukan menjadi alasan untuk kita saling melupakan .”— Naura Fathiya[ E N D ]
Plester Cinta
Bola basket sedang memantul kesana-kemari mengikuti arahan tangan remaja yang sedang asik berebut dan berlari. Sorak-sorak gembira dan histeris terdengar dari bangku penonton.Walaupun hari ini adalah pertandingan basket remaja putri tetap saja tidak kalah seru saat remaja putra yang bermain. Semua itu karena memang mereka sudah cukup jago dan mampu membuat siapapun terkagum-kagum.Seorang wanita dengan rambut panjang terikat sedang berusaha membawa bola menuju Ring lawan namun hadangan terus terjadi. Hingga akhirnya bola mampu masuk ring namun membuat wanita bertubuh jangkung tersebut jatuh tersungkur karena melawan arus lawan.Priiiit~suara wasit meniupkan peluit menggema.“Medis! Friska luka tolong,” ucap wasit.Seorang pria bertubuh mungil datang berlari dengan membawa kotak P3K. Pertandingan mau tidak mau akhirnya dijeda terlebih dahulu.Friska telah dibawa ke pinggir lapangan dan pertandingan mulai berjalan kembali.“Aku enggak kenapa-kenapa Dho,” ucap Tania pada Ridho yang sedang mengobati lukanya.“Iya aku tau, kamu harus hati-hati dong Fris. Kamu cewek masa banyak lecet di mana-mana.”Friska cemberut. “Terus kalau aku penuh luka kamu enggak suka aku lagi gitu?” tanya tania.Ridho menempelkan plester pada dagu dan lutut Friska setelah itu Ridho mengacak-acak rambut Friska. “Aku bakal terus jadi plester kamu,” ucap Ridho.“Kalau sudah selesai diobatin bisa kalian pacarannya nanti dulu, kita akan melanjutkan pertandingan penting ini,” ucap seorang pemain yang melipir sedikit ke pinggir lapangan.Friska berlari dan mendekati wasit menandakan dirinya sudah siap bertanding. Ridho dan Friska jelas berbeda bahkan banyak yang meledek pasangan ini. Bagaimana tidak mereka memiliki tinggi badan yang berbeda dan Ridho lah yang pendek disini.Namun Ridho sudah bertekad, bahkan saat ia memutuskan untuk masuk ekskul PMR, itu semua untuk Friska. Agar Ridho dapat mendukung Friska selalu.Dari sini dapat kita simpulkan bahwa cinta tak harus memandang fisik seseorang hanya dari sebelah sisi saja. Berhentilah mencintai orang lain dan cintai lah ia yang mencintai mu dengan tulus.[ E N D ]