Temukan Cerita Inspiratif

Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.

Total Cerita

830

Genre Romance

166

Genre Folklore

166

Genre Horror

166

Genre Fantasy

166

Genre Teen

166

Reset
BELAJAR RENANG MALAH SAYANG
Teen
17 Dec 2025

BELAJAR RENANG MALAH SAYANG

"Hanya bermodalkan selalu ada akan kalah dengan yang selalu mengatakan Cinta .""Gue bener bener yakin tuh cewek bakal masuk kelas ini," seseorang berambut cokelat mengacungkan dua jarinya dengan penuh keyakinan."Cantik?" Pertanyaan yang dilontarkan oleh Tino pun langsung di iyakan oleh seseorang berambut cokelat bernama Anggra itu."Elah kita liat aja nanti, lagian gue juga belum liat tuh cewek gimana bentuknya," kali ini Rico angkat bicara."Eh tapi bener loh katanya si Anggra barusan, cewe yang tadi dia liat itu emang cantik kok," Pian mulai berandai andai."Lo nggk usah ngayal mulu Yan, lo nyapa cewe aja masih ngompol apalagi mau nembak," timpal Anggra diikuti oleh kedua temanya yang tertawa setuju."Eh tapi kalo aja nih cewek yang lo lo pada bilang itu beneran sexy fuyuu gue bakal kejar dah," Riko memainkan alisnya naik turun dengan senyum manis, membuat teman temannya mengernyitkan kening jijik."Terserah lo deh, kalo cantik harus jadi punya gue titik." Kata Pian bersih keras.Kelas yang tadinya rame kini mendadak sepi karena kedatangan guru sejarah mereka. "Selamat pagi anak anak!" sapanya dengan tegas."Pagi juga bu!" jawab anak anak serentak."Wih liat ko bulu matanya Mak Erot makin tebel aja," kata Anggra yang duduk disampingnya."Iya apalagi alisnya udah kaya jalan tol," timpal Rico keduanya menahan tawa.'Gubrak!'Mereka berdua tersentak tatapannya langsung lurus ke depan disana Guru yang sering mereka sebut Mak Erot tengah menggebrak meja, nafasnya sudah naik turun tak beraturan."Bisa tidak sehari saja tidak buat onar dikelas!" Serunya kemudian. Sementara Riko dan Anggra hanya menunduk, dibawah meja kaki mereka saling menendang satu sama lain."Oke, kita kembali ke topik utama, jadi anak-anak!" suaranya yang nyaring terdengar sangat keras. "Kalian kedatangan teman baru," senyumnya mengembang kearah luar kelas "masuk sya," ucapnya lagi . Dengan hati menggebu gebu keempat orang itu melongok keluar kelas, ujung sepatu wanita mulai terlihat dan..."Wow" Pian menganga.Anggra berdecak kecewa namun kemudian tersenyum lebar, Tino tidak bergumam apapun dia hanya tersenyum, sedangkan Rico dia memandang penampilan wanita itu dari ujung kaki sampai ujung rambut.Dia Memakai flat berwarna abu abu, dengan khas baju SMA serta rambut panjang terurai. Wajahnya berbentuk oval matanya berwarna cokelat madu ditambah bibir tipis dibalut dengan senyum manis."Enggak buruk kan ko, cuman dia enggak punya body sesuai selera lo, wah si Pian kesem sem tuh," Anggra melirik Pian yang berada di pojok kanan nya."Gue bakal dapetin dia." Rico tersenyum miring, sedangkan Anggra hanya menatap wajah Rico aneh."Alsya silahkan perkenalkan dirimu." ucap Bu Mira yang hanya di jawab Alsya dengan anggukan, dia maju selangkah lebih dekat."Selamat pagi. Nama gue Alsya Putriana. Gue pindahan dari SMA Cendana. Salam kenal semuanya," Alsya memperkenalkan diri."Hay Alsya salam kenal juga, gue Rico Permana siswa terkeren di SMA karang bintang," sorakan siswa kelas XI IPS 1 pun langsung terdengar ricuh mereka menjerit histeris terutama kaum hawa yang tidak menyangka bahwa Rico bisa se-PD itu. Bu Mira langsung menenangkan suasana yang gaduh dan mempersilahkan Alsya duduk."Sudah sudah diam semua. Kamu duduk di belakangnya Rico ya Alsya," Bu Mira menunjuk sepasang kursi kosong dibelakang Rico. Alaya pun mengangguk lalu berjalan menuju tempat duduknya. "Oke sekarang kita lanjutkan materi kemarin."🌺🌺🌺Bel sekolah berbunyi sebagai tanda berakhirnya pelajaran, siswa maupun siswi SMA karang bintang mulai terlihat berhamburan keluar kelas, tak terkecuali Alsya dia berjalan pelan menuju gerbang sekolah. Langkahnya terhenti saat suara seseorang yang tidak asing menyapanya. "Hai Alsya" Alsya menolehkan kepalanya mendapati seorang lelaki bertubuh tinggi tengah berdiri di sampingnya mata cokelat kayunya menatap Alsya lekat."Ck Lo lagi lo lagi nggk capek apa lo dihukum lari lapangan tadi," dengan kesal Alsya mempercepat langkahnya namun dengan mudah Rico dapat menjajarkan langkahnya agar seimbang dengan Alsya."Mau lo sebenernya apa sih," Alsya kembali berhenti diikuti Rico yang melirik kearah Alsya yang lebih pendek darinya."Gue mau kenalan sama lo, salah ya" ucapnya to the poin."Lo kan tadi udah kenalan sama gue!" seru Alsya membuat para siswa yang berjalan menoleh kearah mereka."Yeee tadi kan nggk resmi kenalannya, gue Rico," Rico mengulurkan tangannya untuk bersalaman alih alih menerima uluran tangan Rico Alsya malah berlalu begitu saja tanpa sutas kata pun."Huaaaaah lo dikacangin ko gila enggak nyangka gue," Anggra dan teman temannya datang menghampiri Rico."Haha sukurin lo makanya jangan suka nikungin cewek orang,"Pian tertawa terbahak-bahak. "Heh Yan lo bilang si Alsya cewe lo? Mimpi!" sahut Rico kesal."Yaelah ko gimana sih, katanya lo enggak suka sama cewe yang bodynya tipis," Anggra merapatkan bibirnya."Jangan bilang cewe gue tipis ya, dia emang enggak sebohay yang gue idam idamkan tapi gue suka dia," Rico memuji Alsya sedangkan Pian menyebikkan bibirnya.Alsya berjalan menuju indekosnya namun langkahnya terhenti saat melihat sebuah mobil hitam terparkir nyaman tepat didepan indekosnya, dia mengernyit sesaat lalu matanya menangkap sosok lelaki bertubuh tinggi sedang duduk bersampingan dengan Ibu kosnya, dengan cepat Alsya berjalan menghampiri mereka berdua. "Faiz!" seru Alsya langsung memeluk lelaki itu dari belakang Faiz dan ibu kosnya menoleh bersamaan."Alsya ibu pulang dulu ya, kamu sama nak Faiz lanjut aja ngobrolnya, oh ya satu lagi jangan sampai pulang larut malam ya nak Faiz," Ibu Nia mengingatkan sebelum akhirnya undur diri."Siap Bu," ucap Faiz dan Alsya serentak."Faiz gue kangen banget sama lo," dengan manja Alsya duduk di samping Faiz."iya sya gue juga kangen sama lo," ucap Faiz sembari mengacak-acak rambut Alsya."Gimana hari pertama lo masuk sekolah baru, temen temennya rese enggak?" Faiz menatap Alsya yang sedang menyisir rambutnya dengan jari."Rese banget," pikirannya melayang pada sosok Rico teman sekelas nya yang tadi membuat naik darah."Ngapain lo duduk disini," kata Alsya risih sedangkan Rico hanya memandangnya lekat kemudian bergumam"mana mungkin sih gue biarin bidadari surga duduk sendirian tanpa pendamping." Alsya membulatkan matanya."apaan sih lo, dasar cowo aneh." ucap Alsya sembari meninggalkan tempat duduknya."Sya," walau lirih tapi mampu menyadarkan Alsya dari lamunannya."Eh iya iz,"ucap Alsya gugup.Faiz menaikkan salah satu alisnya "Gue tadi nanya malah bengong".Alsya menghembuskan nafasnya berat "Hari pertama gue sekolah enggak buruk buruk banget si, ya cuman tadi ada cowo yang bikin gue kesel"."Namanya siapa?" tanya Faiz ingin tahu."Rico," sesaat setelah mengucapkan namanya bayangan wajah Rico berkelebat di matanya membuat Alsya memajukan mulut."Lo bener bener enggak suka sama tuh cowok ya, sampe muka maju gitu,"."Iya gue enggak suka sama dia, bener bener nggk suka." Alsya menyandarkan kepalanya di bahu Faiz."Ya udah besok gue bakal cari tuh cowok biar gue kasih pelajaran. Udah lo jangan kesel lagi oke," Faiz mengelus rambut panjang Alsya dengan sayang.Alsya menegakkan kepalanya "Btw baru dua hari gue pindah bawaannya pengen meluk mulu," Alsya menatap Faiz manja membuat Faiz gemas dan langsung mencubit kedua pipinya yang chubby."Gue juga kangen sama lo sya.""Kenapa sih lo tuh nggak pindah sekolah aja ikut gue". Ujar Alsya."Sya gue sih mau mau aja ya pindah sekolah ngikutin lo, jagain lo tapi gue enggak bisa pindah secepat ini lo kan tauk gue ketua OSIS disana," Faiz menyandarkan kepalanya di kepala Alsya."Eh iz udah malem nih. Entar ibu kos gue marah marah lagi ngeliat lo masih disini, lo pulang gih lumayan jauh sekarang kan rumah lo," Alsya langsung berdiri lalu menarik tangsn Faiz agar ikut berdiri."ya udah gue pulang ya, besok gue kesini lagi lo mau gue bawain apa," ucapannya langsung membuat Alsya kegirangan luar biasa."Eum..." Dia tampak berpikir lalu menyimpulkan. "Gue mau es krim rasa cokelat sama vanila masing masing empat bungkus, sama nasi Padang. Udah dua hari enggan makan nasi Padang gue belum sempet beli enggak punya uang juga. Suruh lo aja nggk papa kan?" Alsya mengedipkan matanya manja, Faiz tersenyum lalu mengacak acak rambut Alsya."Iya gue bawain deh, dasar tukang morotin orang," Faiz mengelus rambut Alsya lembut."Apa apaan kan lo sendiri yang bilang kalo gue mau dibawain apa! nah gue kan cuma minta lo bawain itu doang dan denger gue bukan tipe orang yang suka morotin orang ya." Alsya menyisir rambutnya yang berantakan karena ulah Faiz.🌺🌺🌺"Pagi ini gue mau maen ke kosan lo boleh?" Naya menyantap nasi goreng di depannya bersama Alsya."Em siang ini sih boleh boleh aja," jawab Alsya sesudah menengguk segelas air putih."Ya udah ntar gue langsung bareng Lo aja ya?" Naya melahap suapan terakhir nasi gorengnya."Siap ya udah yuk cabut " ucap Alsya sembari mengelap mulutnya dengan tissue.Alsya dan Naya pun berjalan menuju kelasnya. Naya berjalan lambat karena asyik berkaca sembari membenarkan make up nya, sedangkan Alsya tengah membalas chat dari Faiz. Tiba-tiba ponselnya ditarik paksa oleh seseorang. Alsya sangat terkejut hampir berteriak namun tertahan karena mulutnya dibungkam oleh sebuah tangan."Eh apa apaan nih," gerutu Naya yang melihat Alsya dibungkam mulutnya oleh Rico. Rico hanya meringis sedangkan Alsya langsung menampar pipi Rico."Heh lo tu enggam punya otak atau gimana sih, untung aja jantung gue enggak copot," setelah puas menampar pipi Rico dengan santai Alsya mengambil kembali ponselnya kemudian berlalu begitu saja."Eh Co lo nggk papa kan," Naya mendekati Rico yang memegangi pipinya."Gue nggk papa".Tidak berlangsung lama Rico kembali mengejar Alsya diikuti oleh Naya."Sya sya tunggu!" Seru Rico yang berjalan mendekati Alsya."Apa! Kurang tamparannya?" Ujar Alsya sembari mengangkat salah satu tangannya hendak menampar Rico."Sakit nih masa mau ditambah lagi," Rico berlagak kesakitan agar mendapat perhatian Alsya."Duh Rico kenceng banget larinya capek gue ngejar, gimana pipi lo." Naya yang baru datang pun mendekati Rico."Nah udah ada Naya kan sekarang, Nay lo urusin tuh katanya dia kesakitan," ucap Alsya sebelum melenggang pergi."Alsya!" Seru Rico namun tak dihiraukan oleh Alsya yang berjalan menjauh."Udah ko, mending kita ke UKS dulu pipi kamu merah itu," Naya memeriksa pipi Rico."Udah gue enggak papa," ucap Rico acuh lalu meninggalkan Naya.Cuaca sangat panas seluruh siswa siswi SMAN2 karang bintang berhamburan untuk pulang kerumahnya."Sya naik mobil gue aja ya," ucap Naya sebelum keluar gerbang."Gue sih ngga nolak hehe," gumam Alsya."Oke deh," Naya dan Alsya pun pergi ke indekosnya.Naya mengernyit sesaat karena melihat mobil hitam bermerek BMW X5."Sya itu siapa didepan indekos lo," Naya menyenggol lengan Alsya yang asyik membaca artikel. Alsya pun mendongak."Mantap nih, itu sahabat gue Faiz." Mobil Naya pun berhenti di belakang mobil Faiz. Mereka pun turun bersamaan."Tuh Alsya udah dateng, ibu tinggal dulu ya," ibu Nia tersenyum memberikan isyarat kepada Alsya sebelum melenggang pergi."Hai Iz," Alsya langsung menghambur ke pelukan lelaki itu. Sesaat Naya tercengang dengan kejadian di hadapannya. Lelaki tampan dengan almamater SMA yang masih menempel pas di tubuhnya, kulitnya kuning, matanya sipit, rambutnya berkilauan karena minyak rambut."How are you today my heart," ujarnya pada Alsya yang masih memeluk erat tubuh Faiz."Im fine beloved," kemudian tawa mereka pecah."Gila gila alay banget gue, eh iz kenalin ini Naya temen gue. Nay kenalin dia sahabat gue Faiz." Alsya melepas pelukannya lalu memperkenalkan kedua temanya. Naya dan Faiz pun bersalaman."Naya," ucap Naya nervous."Faiz," gumam Faiz tenang."Iz kemana nih titipan gue,"Alsya celingak-celinguk mencari makanannya."Itu di mobil bentar gue ambilin," selepas kepergian Faiz Naya pun bergumam."Syaa itu Faiz. Cute banget," Naya meleleh dibuatnya."Kenapa lo naksir?" Alsya menaikkan salah satu alisnya."Iya tapi dia punya lo," Naya menyebikkan bibirnya."Yaelah ambil aja sih, gue sama Faiz itu enggak ada apa apa. Gue jadian sama dia udah kaya ayam ngelahirin bayi kodok tauk nggak. Gue udah anggep dia itu kaya saudara kandung gue. Jadi santai aja," diam diam Faiz mendengarkan percakapan mereka berdua. Ada raut wajah kecewa dan terluka namun berhasil di tutupinya."Eh Faiz," Naya yang menyadari keberadaan Faiz pun terlihat gugup."Alsya gue cabut dulu ya, hari ini gue mau nganterin nyokap cake up." Ujar Faiz tenang. "Dan nih titipan lo," Faiz memberikan bungkusan itu pada Alsya lalu berjalan menuju mobilnya."Oke! Thanks ya iz," seru Alsya hanya dibalas dengan anggukan dan senyum manis oleh Faiz.🌺🌺🌺"Eh sya lo bisa berenang enggak?" tanya Anggra pada Alsya yang duduk berdua dengan Naya."Enggak kenapa emng?" ucap Alsya cuek."Rico mau ngajarin lo renang gimana?" ujar Anggra langsung mendapat pelototan dari Alsya dan Naya."Enggak sudi gue diajarin sama dia, engga ada untungnya juga gue bisa renang.""Lo belum tau aja Sya," Sahut Naya."Maksud lo?" Alsya mengerutkan keningnya bingung."Jum'at ada latihan renang di sekolah, pak Jojo yang ngelatih. Dan buat yang bener bener enggak bisa harus diusahakan bisa Sya. Kalo enggak lo nggak bakal dapet nilai dari dia." kata Naya menjelaskan."Gila! Duh gimana dong," Alsya menyebikkan bibirnya."Udah lo minta ajarin Rico aja, dia itu ikut ekskul renang," ujar Anggra meyakinkan."Eh eh apa ini ngomongin gue, gue denger nih," Rico muncul dari balik pintu."Gini Co si Alsya minta ajarin lo berenang," Sahut Anggra santai. Yang langsung mendapat senggolan dari Alsya."Eh apaan sih Nggra," bisiknya ketus."Hah berenang!" seru Rico."Iya berenang," Anggra memberikan kode melalui kedipan mata."em.. Lo mau Saya?" tanya Rico pada Alsya yang terlihat kebingungan."Iyain Sya," Anggra meyakinkan lagi."iya Sya daripada lo nggak dapet nilai." Naya juga meyakinkan."Huh oke oke, Rico gue mau." Ucap Alsya setengah hati."Hah serius nih," Rico hampir melonjak kegirangan."Iye," Alsya memutar bola matanya malas."Besok kita latihan, di kolam renang rumah gue aja gimana?""Secepat itu kah?" Anggra menatap Rico tak percaya."iya lah, iya kan Sya." Rico tersenyum lebar."Hm," gumam Alsya.Sepulang sekolah Naya tidak pulang ke rumah, dia memilih untuk ikut Alsya ke indekosnya."Sya besok gue jemput lo jam berapa nih?" Naya duduk di tepi ranjang melihat temannya yang sedang menyisir rambut."terserah lo," jawab Alsya tenang."jam 10 lo harus siap, ehm... Bakal ketemu sama calon mertua dah," Naya menahan tawanya."Dih amit amit," Alsya bergidik."Tuan Puteri lagi ngobrolin apa sih, seru amat keliatannya?" tiba tiba suara laki laki terdengar di ambang pintu. Sedikit mengejutkan Naya dan Alsya."Eh Faiz," gumam Naya malu malu."Faiz lo ngapain disini, keluar keluar ibu kos gue murka entar!" berbeda dengan Naya yang malu malu Alsya malah berteriak mengusir Faiz."Gue udah izin kok," Faiz masuk ke dalam kosnya lalu duduk di samping Naya."terus di izinin gitu?" Naya melotot tak percaya."Menurut lo," dengan senyum sumringah Faiz menatap Naya di sampingnya."Ck ck bener bener gila lo," Alsya menggelengkan kepalanya pelan tak percaya Faiz berani melakukan ini."Iz besok lo sibuk nggak?" tanya Naya malu malu."Enggak sih, kenapa emang Nay?""Besok Alsya mau belajar renang sama calonnya," Naya tersenyum manis.Faiz sedikit bingung "Hah?""Pokoknya lo ikut aja, jam 10 lo udah harus ada di sini oke," melihat tingkah Naya Alsya benar benar geram dilempar nya sisir yang sedari tadi ia pegang dan tepat mengenai kepala Naya."Au.." rintih Naya kesakitan."Rasain lo," Alsya mendengus kesal."Lo nggak papa Nay?" wajah Faiz yang melembut perhatian membuat pipi Naya memerah."udah udah kalian jadian aja!" seru Alsya yang langsung mendapat pelototan dari Faiz dan Naya."Alsya!" seru keduanya."Tuh kan kalian jodoh, teriak aja pakek barengan," Alsya mengejek.Naya hanya menunduk malu. 'huh kenapa sih itu mulut enggak bisa di jaga, blak blakan banget,' batin Naya geram.🌺🌺🌺"Nggra lo gimana sih. Lo kan tauk gue enggak terlalu bisa renang," gumam Rico yang duduk di ruang tamu."Biar lo jadi pria sejati Co, karena pria sejati itu harus bisa melakukan hal hal yang ekstrim," ujar Anggra yang sibuk meminum jus jeruk."Tapi lo enggak boleh kaya gitu, kalo si Alsya kelelep gimana?""Ya itu tanggungan lo. Lo suka sama Alsya ya buat dia suka sama lo. Lo mau Alsya direbut sama si Pian? Enggk kan. Makanya lo harus berani berkorban," Rico menimbang nimbang ucapan Anggra.Rico mangut mangut setuju "Iya juga sih,""Nah! Gitu dong itu baru temen gue. Gue cuman enggak suka aja kalo Alsya jadian sama Pian," Rico meringis ngeri."Jangan Sampek dah,""Makanya, ya udah gue cabut yak. Selamat berjuang buat cinta lo bro," kata Anggra sembari menepuk pundak Rico lalu melenggang pergi."Alsya!" Naya sudah berada di depan indekos Alsya. "Alsya!" serunya lagi tapi tidak mendapat jawaban.Tok... Tok... Tok...Naya kembali mengetuk ngetuk pintu indekosnya sedikit lebih keras. Setelah menunggu beberapa saat dia pun mengambil handphone dari tasnya.Tangannya dengan lihai memencet nomor Alsya. "Enggk aktif, kemana sih tu bocah." gumam Naya pelan.Sebuah mobil hitam berhenti di depan indekos Alsya. Naya mengernyit sepertinya dia tau itu mobil siapa. 'Faiz hampir terlonjak saat pemilik mobil itu turun."Eh Faiz," gumam Naya mencoba menahan detak jantungnya yang berdegup kencang."Hay, Alsya nya mana?" melihat pintu indekos mungil itu tertutup rapat Faiz bertanya pada Naya."Nah iya itu. Dari tadi gue nungguin tu bocah masih ngebo kayanya," Naya meringis."Alsya, Sya!" seru Faiz hingga ibu kos Alsya menghampirinya."Eh nak Faiz, mau nyari adeknya ya?" tanya ibu kos ramah."iya Buk, kemana ya?" Faiz balik bertanya."Ibu liat tadi Alsya pergi sama cowo,""Hah cowo! Siapa Buk?" Naya angkat bicara."Kurang tau, tapi kalo nggk salah namanya Pian soalnya tadi Alsya teriakin nama itu," jelas ibu kos."What! Pian," Naya cemas."Lo kenapa Nay," tanya Faiz ingin tahu."Gawat darurat pokonya ini, jangan jangan si Pian mau nembak Alsya lagi," Naya terburu buru masuk mobil. "Makasih ya Bu, saya permisi assalamualaikum." gumam Naya."saya juga Bu," ucap Faiz cepat."Iya waalaikumsalam," ibu kosnya pun melenggang pergi."Ini kenapa lagi mobil gue," Naya pun turun dari mobilnya."Kenapa Nay?" tanya Faiz yang mau melaluinya."Mobil gue mogok nih," Naya menggaruk kepalanya yang tidak gatal."Ya udah, naik mobil gue aja," tawar Faiz tenang."Eum.. iya deh iya," mereka berdua pun pergi mencari Alsya."Hp gue lowbat nih nggra," gumam Alsya yang duduk di bangku depan mobil Anggra. "pasti Naya sama Faiz nyariin gue deh," gumamnya lagi sembari melirik Anggra yang fokus menyetir mobil."Udah biarin aja kenapa sih, emng lo mau ntar si Pian nyamperin lo," ujar Anggra yang hanya di jawab dengan gelengan kuat."Pokoknya lo harus ke rumah Rico terus belajar renang, masalah Naya sama sahabat lo tu biarin aja mereka pasti lagi PD kate," Anggra tersenyum manis.Mereka pun sampai di rumah Rico, rumahnya cukup besar dengan dominan warna putih gading."Ayo masuk, Rico udah di kolam renang tuh," Anggra mempersilahkan Alsya masuk ke dalam rumah Rico."Co Alsya udah dateng nih!" seru Anggra sembari berlari kecil menuju kolam renang. Dilihatnya Rico yang tengah bersantai dengan bertelanjang dada dan celana pendek."Sya samperin dah, gue mau nanganin si Pian dulu. Bye," gumam Anggra lalu melenggang pergi."Bye," Alsya sedikit tidak nyaman, dia dan Rico hanya berdua saja apa yang akan terjadi pikir Alsya. Perlahan Alsya mendekati Rico yang tengah memejamkan mata, telinganya tertutup earphone."Rico!" seru Alsya keras namun Rico tidak bergeming. Di goyangkannya bahu Rico keras membuat Rico berjingkat lalu melepas earphone nya."Wih Alsya, kaget gue. Kemana Anggra?" Rico celingak-celinguk mencari Anggra."Dia mau nemuin Pian," jawab Alsya ketus."hmm... Naya nggk ikut?" tanyanya lagi membuat Alsya mengerutkan kening."Ini jadi nggk sih," gumam Alsya to the point."Ya jadi dong," jawab Rico semangat. Alsya membalikan badannya hendak mengganti baju tetapi kakinya terpleset hingga ia jatuh ke kolam. Alsya panik dia sama sekali tidak bisa berenang kepalanya muncul di permukaan air namun kembali tenggelam.Rico yang panik melihat Alsya pun langsung menceburkan diri ke kolam renang, saat dia menarik lengan Alsya spontan Alsya menariknya kuat. Rico yang tidak dapat menyeimbangkan diri pun ikut tenggelam.Rico berusaha sekuat tenaga untuk mencapai tepi kolam dengan terus memeluk tubuh Alsya. Alsya tau Rico akan ikut tenggelam bersamanya dia berusaha melepas pegangan tangan Rico tapi Rico tidak melepasnya. Saat Alsya berhasil melepas pegangan tangannya dari Rico, Rico kembali meraih lengannya dan memeganginya erat."Alsya! Sya!," seru Naya panik dia yang baru datang spontan berteriak keras saat melihat Rico dan Alsya tenggelam bersamaan."Faiz! Alsya nggk bisa berenang!" serunya lagi."Iya gue tauk!" Faiz pun tak kalah panik. Dengan cepat Naya yang bisa berenang pun menolong mereka berdua dibantu Faiz yang menariknya ke darat."Lo enggak papa Co?" tanya Naya pada Rico yang terlihat pucat."Gue nggk papa, tapi Nay Alsya pingsan," dia melirik wajah Alaya yang pucat pasi."Kayaknya dia minum banyak air," gumam Faiz lalu menekan perut Alsya."Uek.." air itu keluar dari mulutnya. Alsya mengerutkan kening melihat Rico di depannya."Kenapa lo nggak ngelepasin gue?" ucap Alsya lirih."G...gu.. gue," suara Rico gemetar."Udah udah mending kita ke dalem dulu ayo!" sela Naya cepat. Faiz pun membantu Rico berjalan sedangkan Naya membantu Alsya.Setelah diberikan handuk dan teh hangat Naya pun bertanya pada Rico."Sebenarnya apa yang terjadi Co?""Maafin gue Sya, gue emang bisa berenang tapi gue nggak terlalu mahir. Gue hampir bunuh lo," gumam Rico."Jadi, Maksud lo!" seru Naya yang tampak emosi."Iya, Anggra yang ngerencanain ini semua. Karena Pian mau nembak Alsya. Anggra nggak mau Pian sakit hati karena penolakan dari Alsya, Anggra terpaksa ngelakuin ini," ucap Rico menyesal. Alsya menatap Rico teduh."Oke itu kesalahan pertama. Kesalahan kedua kenapa lo bisa ceroboh sampek Alsya tenggelam kaya gini," Naya mengembuskan napasnya berat."Itu bukan salah Rico Nay. Itu salah gue, gue yang ceroboh." Rico menatap Alsya tak mengerti."Kenapa lo enggak mau ngelepasin tangan gue tadi, lo hampir mati tauk nggak!" seru Alsya geram. Sedangkan Rico hanya diam."Jawab gue Co!" serunya lagi."Itu karena Rico sayang sama lo Sya," sebuah suara muncul dari balik tembok, rupanya sedari tadi Anggra mendengarkan percakapan mereka."Anggra," desis Naya dan Alsya."Kalo Rico ngelepasin tangan lo dan memilih buat nyelametin dirinya sendiri, dia bukan pria sejati Sya!" seru Anggra mantap."apa bener itu Co?" Alsya memastikan namun Rico tidak menjawab."Lo tau Sya Rico rela mempertaruhkan nyawanya demi lo, demi cewe yang dia sayangi," ujar Anggra."Udah udah. Alsya ayo pulang," gumam Faiz yang sedari tadi hanya diam dan mulai mengerti. Di gandengnya Alsya masuk ke mobil Faiz diikuti Naya.Setelah peristiwa itu Rico menjadi pendiam sedangkan Pian dia sudah sadar bahwa cinta memang tidak bisa dipaksakan jadi dia mundur perlahan."Thanks bro, lo itu emang sahabat sejati gue," Pian tersenyum bangga kepada Anggra."Yaelah santai aja kalik," jawab Anggra tenang.Rico berjalan di koridor sekolahnya sendirian karena Anggra dan Pian sedang makan di kantin saat itu Rico tidak sengaja berpapasan dengan Alsya."Hei Rico!" sapa Alsya ceria. Tidak ada balasan apapun dari Rico."Bentar Rico, entar sore kita latihan renang yuk," ajak Alsya semangat, Rico menatap Alsya tenang."Kalo gue nggak sibuk," ujarnya sebelum melenggang pergi. Alsya mengerutkan keningnya bingung."Hai Rico!" sapa Naya yang berpapasan dengan Rico."Hai," jawabnya pelan namun cukup terdengar oleh Alsya."Ada yang lagi galau nih hahaha," Naya menghampiri Alsya lalu mereka berdua berjalan beriringan."Cie... Yang udah nggak jutek lagi sama Rico, tapi sekarang malah Rico yang jutek hahaha dasar aneh!" gumam Naya."Gue juga nggak tau kenapa si Rico jadi berubah ya, semenjak gue tenggelem itu," Alsya menghembuskan nafasnya berat."Saran gue sih lo minta maaf ke dia. Gimana kalo ntar sore lo kerumah Rico buat minta maaf sekalian ngajakin dia latihan renang lagi gimana?" Naya tersenyum lebar."Nggak segampang itu Nay,""Tapi lo harus coba, siapa tau berhasil iya nggak," Naya tak mau kalah."Lo jangan ngurusin gue deh, btw gimana Lo sama Faiz?" Alsya duduk di taman sekolahnya diikuti Naya."Hehe ntar sore gue mau diajak jalan sama dia," Naya mengedipkan matanya sembari tersenyum lebar."sukur deh kalian cocok," gumam Alsya dingin."ih kok lo gitu sih, kaya nggak suka gue sama si Faiz.""hem ya mau gimana suruh sorak sorak gitu?""Bodo ah, entar sore lo kerumah Rico sendirian ya gue kan mau jalan," ujar Naya sembari nyengir kuda."Hem makasih ya sarannya gue balik dulu bye." Gumam Alsya dengan senyum yang dipaksakan."Lah Sya lo nggak bareng gue!" Naya hanya tercengang melihat punggung Alsya yang semakin menjauh. Sedangkan Alsya tidak menghiraukannya.Alsya duduk di tepi ranjangnya pikirannya melayang pada ucapan Naya.'Ck apa gue kerumah Rico aja kali ya,''Tapii ntar dia ke GR an lagi, gue kerumah dia minta maaf terus langsung pulang gitu kali ya.' Pikiran-pikiran itu berkecamuk di otak Alsya."Ah bodo ah, gue nggak betah lama lama kek gini," Alsya pun langsung mengambil tasnya lalu pergi ke rumah Rico.Sesampainya di sana Alsya sedikit ragu, namun dia bertekad untuk meminta maaf."Pak Rico nya ada?" tanyanya pada satpam."Ada silahkan masuk," ucapnya ramah."Oh gitu iya pak makasih," Alsya tersenyum manis sebelum melenggang masuk.Alsya memanggil manggil Rico tapi tidak ada jawaban, Alsya berjalan melalui pintu belakang dan di kolam renang Alsya melihat Rico yang sedang berenang disana. Alsya tersenyum manis melihat Rico yang berenang gaya dada sembari memejamkan mata. Alsya pun menghampirinya."Rico," gumamnya pelan. Mendengar ada yang memanggil Rico pun membuka matanya dan melihat Alsya."Lo ngapain disini," rico mengernyit heran."Naik dulu gue mau ngomong," mereka pun duduk di tepi kolam."Jadi gini Co gue kesini mau minta maaf," Alsya sedikit ragu dia bahkan terlihat gugup.'Sebelumnya gue enggak pernah kaya gini kalo deket sama rico. Batin Alsya."Yelah santai aja gue udah maafin lo kok, gue juga minta maaf ya," Alsya menghembuskan nafasnya lega."Huft iya gue udah maafin lo juga kok," Alsya tersenyum manis diikuti oleh Rico."Mulai sekarang Damai ya," gumam Rico sembari mengacungkan jari kelingkingnya."Eum... Iya damai," ucap Alsya mantap lalu mengaitkan kelingkingnya ke kelingking Rico."Cie... Cie... Alsya, Rico udah jadian," seru Anggra, Faiz, dan Naya muncul dari balik pintu mereka sengaja menguping pembicaraan mereka berdua."Ih apaan sih kalian tu," Alsya menunduk malu."Co gaskeun," Anggra memberikan kode."Sya gue mau jujur sama lo," Rico menatap wajah Alsya dalam. "Gue mau jujur kalo gue sayang sama lo Sya," ucapnya kemudian."Ehm...ehm..." Faiz berdehem melihat mereka berdua."Lo mau kan jadi cewe gue," gumam Rico mantap."G gu gue gue," Alsya merasakan tubuhnya gemetar hebat serta jantungnya yang berdetak tidak normal."iya gue mauk," ucap Alsya cepat lalu tersenyum manis."Mau apa Sya," Rico ingin memastikan apa yang didengarnya ini adalah nyata."Iya gue mau Co jadi cewe Lo," Alsya memejamkan matanya. Senyum manis tercetak di bibirnya.Rico tersenyum manis dengan nafas lega. Dibawanya Alsya kedalam pelukannya."Thanks Sya," gumam Rico lirih yang hanya mendapat anggukan kecil dari Alsya.Anggra, Faiz dan Naya tersenyum bahagia mereka menyaksikan kedua insan bersatu hanya karena hak sepele."pelan pelan Sya, jangan buru buru. Tangannya ngayun ke depan," Rico memberi aba aba.Faiz dan Naya diam diam berpegangan tangan. Anggra dan Pian menyaksikan Rico dan Alsya latihan renang sembari nyemil.End

Gadis kuat bernama Almira
Teen
17 Dec 2025

Gadis kuat bernama Almira

Seorang wanita berambut pendek sebahu,sedang menikmati coffenya disebuah kafe bernuansa eropa.Siapa yang tidak mengenalnya?Arinta Almirana.Seorang wanita karir, yang sedang berada dipuncak kejayaannya. Ceo dan pendiri perusahan Peach Company yang bergerak dibidan Fashion dan kecantikan.Rasanya apa yang tak dimiliki oleh perempuan berdarah bandung dan sulawesi ini?Usia muda, karir yang bagus, wajah yang cantik, teman yang banyak, bahkan pendiri sebuah organisasi bernama MeLier Asossiciasion.Sebuah organisasi sosial yang dimana isinya para sosialita indonesia, kolongmerat, pengusaha terkenal, dan wanita karir seperti dirinya.Dan jangan lupakan, calon suaminya yang begitu mapan dan sangat perhatian.Sempurna bukan? Namun hidup nyatanya bukan sebuah kesempurnaan, kembali kepadanya kesempurnaan hanya miliknya, milik tuhan semata.Nyatanya dibalik hidup yang hampir sempurna, Azmira memiliki banyak luka yang disembunyikan begitu rapat.Luka yang akan selalu membekas dalam ingatannya.7 tahun lalu adalah hari yang paling berat dan mengesankan untuk Almira.Dimana ia masih terbelenggu oleh siksaan sang ayah kepadanya, dimana selalu menjadi korban kekerasan yang dilakukan oleh Bima. Ayah kandungnya.Tidak ada yang membelanya, sekalipun ibu kandungnya.Setelah perceraian orang tuanya saat ia berusia 5 tahun, ia harus hidup dengan Bima, sosok ayah yang keras, egois, pemabuk, dan pemain judi.Hingga ia bertemu dengan sosoknya, sosok yang menjadi pahlawan dan menggantikan peran yang seharusnya menjadi cinta pertamanya yaitu sang ayah.Arnio namanya, sosok laki laki tegas, tampan dan berwibawa, sosok yang sekarang menjadi calon suaminya.7 tahun lalu Arnio berhasil menariknya dari segala luka yang mendera dikepalanya.Almira kembali teringat, sosok Arnio yang masih berseragam putih abu abu, menyapanya untuk pertama kalinya." Kamu gadis pemilik rumah nomor 17 kan?""Aku Arnio tetanggamu sejak sebulan lalu""Kenapa kamu selalu menunduk? Apakah karna luka dikepalamu ?""Kita bisa menjadi teman?""Bukankah aku cukup mengenalmu?, Gadis yang selalu berada dirumah, menatap kosong kearah jendela? Gadis yang tidak pernah menyalakan lampu dirumahnya?""Apakah kau tidak takut sendirian di kegelapan? Aku tau ayahmu selalu memukulmu, tidak papa setelah lulus, aku berjanji akan melindungimu , dan membawamu menuju kebahagiaan"Sejak saat itu, Arnio tidak pernah melupakannya, ia benar benar menepati janjinya untuk membawa Almira pergi dari kehidupan sensara itu.Hingga ia menjadi sosoknya yang sekarang ini, sosok yang begitu takut pada kegelapan, padahal ia selalu. berada dikegelapan saat itu.Dimana ayahnya selalu memukulnya ketika menyalakan sebuah lampu, karna ia tidak ingin mengeluarkan uang sepeserpun untuk Almira."Kau kenapa melamun?"ucap seorang pria seusia dengan Almira,dia Arnio.Almira tersenyum melihat Arnio, dan Arnio memeluk dan mencium puncak kepalanya."Kamu masih memikirkan hal itu?""Tidak, aku sedang berusaha melupakannya, tapj mengapa aku tidak bisa melupakan semua itu Ar?! Sungguh aku ingin melupakannya"ucap Almira sambil memeluk Arnio dengan air mata yang sudah mengalir deras dikelopak matanya."Tidak apa apa Mira,menangis lah jika kau ingin, karna pundakku akan selalu ada untuk melindungimu""Hiks aku ingin melupakannya Arnio aku ingin"ucap Almira dengan lirih"Iya"TDan tampa ia sadair, bahwa ucapannya akan membawanya kepada luka selanjutnya........."Bibi"Almira mengacak ngacak lemarinya mencari barang yang ia cari.Kamarnya sudah seperti kapal pecah karna terus membuka dan menutup lemari lemarinya."Iya non? Non cari apa?"Almira menghela nafas"Bi, Almira mencari jam tangan Almira yang tadi pagi, Almira lupa manruhnya dimana, Almira tidak ingat"ucap Almira dengan frustasi."Maaf non? Tapi apakah itu jam tangan yang non cari?"tanya Bi Maria sambil menunjuk jam tangan yang ada ditangan Almira.Almira melirik sekilas tangannya," Astaga bagaimana aku bisa lupa ?""Oh iya bi makasih"Pukul 9.00 Am indonesia,Almira sedang bersiap untuk berkencan bersama Arnio, dan tak lama setelahnya mobil Arnio pun datang."Selamat pagi sayang""Pagi juga""Dress hijau? Bukankah kau menelfonku untuk memakai kaos biru? Kamu mau kita couple kan?"tanya Arnio dengan bingung."Benarkah? kapan? Aku tidak merasa mengatakannya?"tanya Almira"Hmm tidak apa apa, kamu sangat cantik dengan dres itu"ucap Arnio sambil mengelus pelan rambut Almira.Selama diperjalanan, Almira terus memikirkan sikapnya.ia merasa ada yang aneh dengan dirinya, ia akan memeriksanya nanti.......Almira meneteskan air matanya nelihat sebuah kertas berlogo rumah sakit.Ia mengingat apa kata dokter psikologi yang menanganinya."Jadi keluhan apa yang anda alami?""Saya merasa aneh dengan diri saya dokter, saya kerap kali melupakan hal hal yang sederhana seperti jam tangan saya, atau janji kepada orang lain, bahkan saya merasa kesulitan berkonsentrasi bahkan untuk menggitung belanjaan saya""Hmm ibu Almira, sepertinya dari gejala gejala yang ibu alami, saya merasa anda mengidap penyakit Alzheimer bu"Almira terkejut"Alzheimer?! Bukankah penyakit itu tejadi pada lansia?""Benar sekali bu Almira, tapi Alzheimer ini juga bisa menyerang usia muda seperti anda, mungkin 5% anak muda didunia mengidap penyakit ini""Tapi dok? Mana mungkin?!""Bu Almira, apakah anda memiliki keluarga yang mengidap Alzheimer?,biasanya anak muda yang terkena penyakit ini, memiliki riwayat turunan atau genetik dari keluarganya, saya harap ibu terus mengelilingi diri anda dengan orang yang anda sayangi, dan rajin berkonsultasi agar kita bisa mencegah penyebaranya didalam otak"Mendengar itu, Almira merasa dunianya seakan runtuh, apa yang harus dia lakukan? Bagaimana masa depannya dengan Arnio? Bagaimana perusahaanya? Bagaimana pernikahannya?Pertanyaan itu terus memutar dikepala Almira, hingga puncaknya ia harus mengabaikan Arnio, tidak menjawab pesannya dan tidak menemuinya.Almira ingin Arnio mendapatkan perempuan yang lebih baik darinya.Bukan perempuan pelupa sepertinya.Menghilangkan Arnio dari fikirannya bukanlah satu hal yang mudah,7 tahun mereka marajut kisah, namun Almira tidak bisa melupakan semua hidupnya tentang ArnioHingga jalan satu satunya, ia harus pergi dari kehidupan Arnio.Almira memutuskan untuk terbang ke Afrika, menuju kota pretoria yang indah. dimana tempat itu selalu menjadi impiannya bersama Arnio.Ia pergi,meninggalkan kota kelahirannya, yang penuh akan luka dan tawa........3 bulan kemudian, disebuah rumah dikota pretoria Almira sedang menatap anak anak yang berada dipanti asuhan sebelah rumahnya."Jadi Samanta kau sedang melukis apa?""Kak Almira? Bukankah kau sudah menanyakan itu 3 kali?, Aku menggambar boneka salju"ucap bocah perempuan berambut ikal"Benarkah Samantha? Sepertinya kakak sedang sakit kepala, jadi agak pelupa, sebaiknya kakak pergi istirahat dulu"Almira masuk kedalam rumahnya, ia membuka ponselnya dan memesan layanan makanan,lalu meletakkan hpnya diatas naskas.Sedetik kemudian"Aku menaruh hpku dimana?"ucap Almira sambil mencari hpnya dikamar dan disetiap sudut ruangan"Astaga, apakah aku menghilangkan hpku?"Melihat keadaan Almira, pria yang sedari tadi mengamati Almira refleks menjatuhkan air matanya, tiga bulan lalu ia berhenti menghampiri Almira sebab Almira menolak keras keberadaanya bahkan meraung raung menyuruhnya pergi.Arnio mengiyakan permintaanya,namun ia selalu mengawasi Almira dari jauh.Hingga keadaan memaksanya untuk kembali ke Indonesia,karna harus mengurus perusahaannya yang bermasalah.setelah sebulan lamanya Arnio kembali lagi ke pretoria untuk melihat Almira.Ia tak menyangka Almira berubah secepat ini.Arnio mengambil handphone Almira dinaskas"Apakah kau mencari ini?"ucap Arnio dengan sedih"Ah iya hpku, dimana kau menemukannya"tanya Almira dengan senang."Kau menyimpannya dinaskas""Ah benarkah, aku melupakannya,tapi kau siapa? Apa aku mengenalmu? Oh iya apakah kau pengantar paket? Tapi aku merasa tidak merasa apapun"ucap Almira dengan lesu.Arnio tidak bisa lagi membendung tangisnya"Aku Arnio Almira, Arnio, calon suamimu"ucap Arnio dengan lirih.Almira tersadar, dan mengingat ingatannya beberapa detik lalu."Arnio?Almira melangkah mundur menghindari Arnio."Aku .. aku melupakanmu Arnio, apa yang sudah kulakukan?! Akh aku melupakanmu"ucap Almira sambil memukul kepalanya dengan keras.Arnio memeluk Almira dengan erat."Tidak apa apa Almira, kamu jangan melukai dirimu sendiri, aku menerimamu apa adanya, aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi, tidak akan pernah"ucap Arnio dengan lirih dan terus memeluk Almira yang memberontak."Tidak Arnio! Aku jahat, aku bodoh telah melupakanmu! Kau harus meninggalkanku, harus!"Arnio tidak akan menuruti permintaan Almira, untuk meninggalkan Almira bahkan sampai mencari wanita lain, baginya Almira adalah segalnya, sumber kehidupannya.Dimana ia dan Almira memiliki kisah yang tidak akan selesai hingga maut memisahkan mereka." Nyatanya kebahagiaan tidak selalu datang untuk selamanya, namun cukup bersamamu, aku bahagia Almira.Tidak ada perempuan sekuat dirimu, bahkan ketika kau melupakan semua hal tentang kita.Tidak apa apa,sungguh aku tidak apa apa, lupakanlah semuanya, aku mengerti bahwa ingatan itu membuatmu sakit setiap mengingatnya, kau berhasil Almira, namun aku menyesal telah menyuruhmu melupakannya, karna pada akhirnya kenangan yang kau lupakan bukanlah semua kenangan tentang masa surammu , namun kau juga melupakan semuanya, bahkan untuk aku sekalipun.Namun aku tidak akan pernah melupakanmu Almira.aku akan terus menjagamu seperti janjiku"batin Arnio sambil terus merengkuh tubuh AlmiraPov AlmiraArnio, pria kesayanganku, aku minta maaf jikasanya aku harus pergi meninggalkanmu. Karna 7 tahun itu akan menjadi sebuah cerita yang sangat ingin kukenang . Aku mungkin terlalu senang akan 7 tahun dihidupku yang hidup dengan suatu kebebasan. Dan pastinya bersamamu. Namun kau tau? Tuhan mengabukan doaku, untuk menghapus seluruh ingatanku. Jikalau pada akhirnya aku melupakan semua cerita ini, bahkan namamu. Aku mohon carilah wanita lain yang akan membuatmu bahagia, walau kutahu kau tidak akan mau, tapi aku menginginkannya Arnio. Aku menginginkanmu bahagia. Tidak apa kalau kau belum mau meninggalkanku, tapi aku mohon, setelah mataku terpejam untuk selamanya, carilah wanita yang dapat membahagiakanmu. Love you for eyes my lover.

Warna untuk Kanfaz
Teen
17 Dec 2025

Warna untuk Kanfaz

Jangan biarkan ku pulangKe rumah yang bukan engkauMendengar lirik itu, seorang pria berkemeja putih menghembuskan nafas pelan, sungguh lagu kau rumahku, sangat begitu indah ditelinganya.Lagu ciptaan Raissa anggiani memberikan seni yang begitu menusuk indah ditelinganya.Iyah, dia pria pencinta seni, panggil saja dia Satria. Tidak ada hal yang menarik didunianya. kecuali semua tentang seni.Satria tak seperti anak seni lainnya, yang mudah berbaur dan sangat humble kepada orang orang, ia lebih cederung menarik diri keramaian.tapi Satria bukanlah pendiam, bukan pula orang yang cuek, ia hanya ingin dunianya sendiri. Tampa orang lain tentunya.Bagi Satria, kedatangan orang lain sama seperti mengantarnya kepada kesedihan. Ia cukup sekali mengalaminya,dan ia tak mau lagi.Ditengah asiknya Satria mendengarkan sebuah musik, tiba tiba sebuah bola basket melesat tepat disampingnya, ia menoleh sedikit kearah lapangan, dan melihat segerombolan anak basket yang sedang meneriakinya untuk mengambil bolanya.Namun ia hanya cuek, ia lebih memilih mengabaikan bolanya, dan lebih memilih mendengarkan lagu.Tapi tiba tiba suara anak basket itu terdengar sangat nyaring ditelinga Satria. Suara itu bahkan melebihi volume dimusiknya"Kanfazarina! Woi! Zarina!Satria mengalihkan pandangannya kepada seseorang yang bernama Kanfazarina atau Zarina itu.Satria cukup terkejut, bukan karna penampilannya, tapi karna ekspresi gadis itu.Sangat datar, dan terlihat kosong, persis seperti sebuah patung yang berjalan, gadis itu mengambil bola disamping Satria dan langsung melemparkannya kearah anak basket itu.Setelahnya, ia pergi tampa menjawab apapun ucapan terima kasih anak basket itu.Namanya Kanfazarina ya?. Tampa bertanya pun Satria tau, bahwa perempuan yang baru saja pergi dari hadapannya adalah anak olahraga.Sekolahnya adalah sekolah full ekstrakurikuler. Tidak seperti sekolah lain, yang mencakup banyak hal tentang mata pelajaran, sekolahnya hanya untuk siswa yang ingin menekuni satu hal, contohnya seperti Satria yang menyukai seni lukis. dan darinya itu, ia masuk sekolah seni.Sedangkan wanita yang bernama Kanfazarina adalah anak olahraga, gedung olahraganya tepat berada disamping gedung seni.Entah kenapa melihat Kanfazarina, Satria jadi merasakan hal yang berbeda, ia seperti memiliki tantangan untuk dirinya sendiri, bagaimana wajah Kanfazarina jika tersenyum? Pasti sangat cantik,saat ini, Ia terlihat seperti manusia yang tak memiliki ekspresi, dan entah kenapa Satria ingin sekali mengubah ekspresi itu.Kanfazarina namanya, tapi Satria merasa itu sangat panjang, jadi bolekah Satria memanggilnya dengan sebutan kanfaz?.Karna,defenisi kanfaz sepertinya sangat cocok untuk menggambarkan Kanfazarina, ekspresinya persis seperti sebuah kanvas yang belum diberikan warna untuk jadi hidup.Dan Satria ingin memberikan warna kepada Kanfas.Tapi, entah dimana Satria akan memulai, ia masih kekurangan pengalaman untuk menjadi dekat dengan orang lain, mendekati kanfaz seperti menjadi teka teki yang sangat sulit untuk menemukan kuncinya. Entah kenapa.Sesulit itu untuk memberikan warna kepada kanfaz.Satria dan kanfaz adalah manusia spesies sama, bukannya memudahkan untuk saling mendekat, hal itu malah membuatnya semakin sulit.Sialnya kesamaan mereka adalah tidak ingin berbaur pada orang lain, sehingga Satria bagi kanfaz terdefenisi sebagai orang lain, dan sepertinya Itu juga berlaku untuk Satria.Entah kenapa tidak ada sebuah pertemuan, atau ketidaksengajaan yang bisa mempertemukan mereka berdua.kanfaz dengan kesendiriannya dan Satria dengan keterdiamannya.Satria frustasi, karna hanya bisa melihat kanfaz dari jauh, ia bahkan berulang kali memilih untuk menyerah, namun entah kenapa, ia juga punya tekad yang besar untuk tetap mewarnai kanfaz.Hingga Suatu ketika, Satria pergi keperpustakaan sekolah, ia memilih tempat itu, karna tidak bisa melihat kanfaz hari ini. Entah kemana gadis itu pergi, namun Satria tidak bisa melihatnya dimanapun.Biasanya Satria bisa melihat kanfaz dilapangan, anak olahraga memang selalu diluar ruangan, kecuali dengan materi tertentu yang memang semestinya dilakukan didalam ruangan.Ia mengamati deretan buku yang tersusun rapi disetiap rak, Satria sempat kebingungan memilih buku yang mana, tapi akhirnya, pilihannya jatuh kepada sebuah buku yang covernya bertemakan senja,ia menariknya, dan tampa diduga, buku disebelahnya juga ikut tertarik dari tempatnya.Mata Satria otomatis terkunci pada netra yang mengambil sebuah buku berjudul gemini caracters.Bayangkan betapa ia terkejut, melihat netra itu,gadis yang hari ini membuatnya tidak bersemangat, kini tepat berada didapannya, hanya terhalang sebuah rak dengan deretan buku panjang .Satria tersenyum kikuk, kepada Kanfaz, namun kanfaz hanya meliriknya tampa senyuman, itulah mengapa Kanfaz sangat cocok dengan namanya. Sangat dingin dan sulit untuk ditebak.Kanfazpun memilih duduk dimeja perpustakaanDan entah kenapa, Satria mulai memiliki keinginan untuk mendekat, ia berjalan kearah meja disamping kanfaz, namun kanfaz hanya diam dan tak meliriknya sama sekali.Satria kebingungan sekarang, apa yang harus ia lakukan terlebih dahulu? Haruska ia menyapa dengan semangat?ataukah mengajak kanfazarina berkenalan?Akh ia bingung dengan pikirannya sendiri, manusia bodoh!Namun ditengah kefrustasianya,netra Satria di alihkan oleh sebuah buku yang berjudul gemini caracters yang sedang dibaca oleh Kanfaz.Ia melirik kanfaz yang terlihat begitu serius"Gemini caracters?"tanya Satria membuat Kanfaz menoleh kepadanya."Kenapa?""Kamu gemini?"tanya Satria, namun Kanfaz hanya menoleh sesaat, dan memilih mengabaikan Satria.Satria menghela nafas melihat sifat Kanfazarina, sangat cuek, bahkan sangat dingin."Hmm, kalau memang benar, kayaknya gemini kurang cocok denganmu"ucap Satria dan mampu mengalihkan atensi Kanfaz."Jangan sok tahu"ucap Kanfaz lalu beralih kembali pada bukunya."Kamu cocoknya jadi Zodiak yang dingin, Cancer"ucap Satria membuat Kanfaz menghela nafas."Kamu bukan tuhan"ucap kanfaz lalu berdiri meninggalkan Satria.Satria tersenyum, ternyata selain dingin,Kanfaz juga emosional.Namun bukannya, takut Satria makin merasa kanfaz semakin menarik dimatanya.Satria terkekeh dan mengikuti Kanfaz, perempuan itu berjalan menuju uks sekolah, entah gadis itu sedang sakit atau kenapa, namun Satria hanya mengikutinya.Ia mengikuti Kanfaz, layaknya seorang anak itik yang mengekor pada induknya, Satria bahkan mengikuti setiap langkah kaki yang diinjak oleh Kanfaz."Hal itu membuat Kanfaz menghela nafas, saat sampai didepan uks, ia mulai membuka suaraKamu mau apa?"tanya Kanfaz dengan mata yang memicing.Satria hanya menampakan deretan giginya."Aku mau apa? Emm banyak sih, aku mau ke swiss,mau ke paris, mau mobil BMW mau-"ucap Satria terpotong oleh Kanfaz."Kenapa ngikutin aku?"tanya kanfaz dengan nada datar."Nggak, aku nggak ngikutin kamu, aku emang lagi mau ke uks aja"ucap Satria membuat Kanfaz menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan."Yaudah terserah kamu"ucap kanfaz, lalu merebahkan tubuhnya dimatras uks.Melihat itu,Satria pun ikut merebahkan badannya dimatras sebelah Kanfaz, hingga akhirnya mereka tidur saling bertatapan.Satria terus memperlihatkan senyuman manis yang jarang diperlihatkannya kepada orang lain.Sedangkan Kanfaz hanya menatapnya dengan wajah datar.Satria terus saja mengoceh didepan kanfaz, dan itu membuat kanfaz jengah dengan tingkah Satria.Ia bangun dari tidurnya lalu menarik tirai untuk memberi pembatas pada Satria."Berisik!"Mengapa pria ini sangat menyebalkan, ia bahkan tidak mengenal pria didepannya namun mengapa ia sok kenal sekali?"Kanfazarina?"panggil Satria"Namamu kanfazarina bukan? Aku lupa memperkenalkan diri, namaku Satria ak-"ucap Satria terpotong oleh suara kanfaz"Aku tidak peduli"ucap Kanfaz diseberang tirai."Tidak apa apa, aku sudah menebaknya, yang jelas aku ingin berteman denganmu kanfaz"ucap Satria dengan kekeh."Kanfaz? Namaku Zarina Kanfazarina bukan kanfaz"ucap Kanfaz membuat Satria terkekeh."Aku tau,Itu nama pemberian dari ku dan kau tidak boleh membiarkan orang lain memanggilmu dengan nama itu""Ck, siapa kau yang berhak mengaturku?"tanya Kanfaz.Satria maju kearah brankar Kanfazarina, ia mendekatkan wajahnya hingga nyaris menyentuh hidung Kanfaz.Ia tersenyum, lalu mengacak pelan rambut Kanfaz"Aku orang yang akan mengubah hidupmu yang datar, dan aku akan mewarnaimu Kanfaz bersiaplah"

Sosokmu Anggara
Teen
17 Dec 2025

Sosokmu Anggara

Selasa!Kamis!Sabtu!Ada apa dengan hari itu? Itu hari biasa bukan, namun anehnya ia menjadi luar biasa karna kamu.Iya kamu, seseorang yang hanya bisa kukagumi dalam netraku, tapi tidak pada bibirku.Ia masih tak cukup berani, atau mungkin tak pernah berani.Apakah kamu sadar? Atau tidak? Atau berpura pura tak sadar? Entahlah aku tidak peduli, yang jelas nampakmu dapat terlihat dimataku,Mungkin tidak akan jadi hal yang romantis.Namun aneh, cerita ini, bahkan bukan kisah yang panjang,namun ia singkat tapi berkesan.Bagaimana kau mengartikan ku? Si pengagum rahasia? Ataukah lebih kasarnya sipenguntit?Maaf tapi dua duanya bukanlah aku. aku hanya aku, yang tak sengaja tertarik padamuOh ya aapakah aku berbelit belit?Baiklah baiklah, intinya ini tentangnya yang pernah singgah.pertama tama, biarkan aku memperkanalkan sosoknya pada kalian.Dia itu cowok populer, eh tapi nggak juga sih, gimana yah? sedang sedang tapi nggak sedang banget, emm gimana ngejelasinnya? Akh pokoknya seperti itu.Pertemuan pertama kami memang sangat klasik, persis seperti cerita novel novel pada umumnya. Namun percayalah ini bukan fiksi, namun cerita yang memang pernah ada.Pertemuan pertama kami, dimulai di SMPN Indah Jaya, sekolah di desa yang kecil dan jauh dari kota,aku lupa tepatnya kapan, tanggal berapa, ataupun hari apa, aku benar benar tidak ingat, yang jelas, itu dibulan Desember dihari porseni.Sosoknya bernama Anggara, pria yang telah memberiku kesempatan untuk memiliki kisah cinta seperti anak remaja pada umumnya.Awalnya aku hidup dengan biasa saja, tidak senang dan tidak sedih, lebih tepatnya hampa, tidak ada yang spesial, mungkin karna aku muak dengan hidupku sedari dulu, hingga aku bertemu sosoknya.Anggara .Kami bertemu dilapangan Volly, karna kebetulan dia menjadi pemain inti untuk mewakili kelasnya,awalnya aku tak pernah berniat untuk menonton pertandingan seperti itu,lagipula aku tak mengenal banyak orang disana.Hingga temanku yang bernama Indah mengajakku untuk menontonnya, oh iya,kebetulan, dia adalah sosok manusia pencinta cowo tampan, atau bahasa gaulnya Cogan, dan Anggara masuk dalam listnya.Aku berjalan dengan ekspresi tak minat" aish kenapa juga aku harus mengikuti indah kemari ?"batinku saat melihat banyaknya siswa yang berkumpul dilapangan itu.Oh ayolah, ini adalah sesuatu yang paling kubenci yaitu"keramaian"Oh iya aku hampir lupa memperkenalkan diri,namaku Arenaya Anara Putri, kalian bisa menyebutku Ami, ataupun Am walaupun nama panggilanku meleset dari nama asliku, tapi tak apa, kalian bisa memanggilku apa saja,itu terserah kalian.Sedikit informasi, aku seorang introvet sejati, dan hal seperti ini, adalah hal yang paling kubenci.Tatapan orang kepadaku, kebisingan dan masih banyak lagi.Aku hanya menunduk sedari tadi, nyatanya banyak senior yang mulai mencibir kearahku dan Indah, namun entah kenapa, indah tak peduli sama sekali, ia hanya sibuk berteriak menyebut nama kelas 11 saat itu."Kenapa aku yang malu melihat tingkahnya?"ucapku heran dan terus menunduk, hingga tanpa sadar sebuah bola langsung menggelinding disampingku, tepat disampingku, aku melirik sekilas bola itu.Aku ingin mengambilnya, namun aku tak berani, lagipula bolanya juga sudah diambil, lalu aku memberanikan diri melihat seorang pria yang membawa bolanya, namun anehnya mataku terkunci pada satu netra, yang juga menatap kearahku.Aneh, kenapa ia menatap kearahku,dan hal itu membuat getaran aneh muncul didadaku,Apa ini, mengapa matanya seperti memiliki magnet?.Aku berusaha keras untuk mengalihkan pandanganku namun anehnya tubuh ini menolak, aku merasa manusia manusia disamping kami menghilang begitu saja, dan tersisa hanya aku dan dia.Hingga pemain lain mengagetkan dia,dan akupun refleks memutuskan kontak mata kita"Anggara Lo kenapa bengong? Ayo main!" Ucap temannya membuatnya tersadar mengangguk singkatJadi namanya Anggara?........Setelah hari itu, sosok Anggara membuatku merasakan satu hal yang sebenarnya sangat kubenci, bagaimana aku bisa jatuh cinta dengannya sedangkan aku sangat membenci cinta.Sungguh aku tak ingin mencintai jika harus seperti ibu dan ayah.Hidup mereka memberikan trauma besar kepadaku,walau bukan aku yang merasakannya.Namun entah kenapa, rasa benci terhadap cinta itu seakan menghilang jika aku melihat sosok Anggara disekolah.Ia mengalihkan pikiranku terus menerus. Dan secara tak sadar, aku mulai mengindahkan Anggara. Ketika banyak hal hal konyol yang dilakukannya, justru itu terlihat sangat indah dimataku.Aneh, jika temanku tau, mungkin mereka akan bertanya apa yang kau sukai dari sikap konyolnya itu? Tak ada hal menarik darinya, jadi apa yang membuatku menyukainya?Entahlah, anehnya akupun tidak tau, tapi, hal buruk darinya justru terlihat sangat indah dimataku. Aneh memang, kurasa aku akan gila karnanya, namun ini nenyenangkan..Aku yang dahulunya merasa bahwa setiap hari sangat membosankan,justru beralih bahwa selasa, kamis dan sabtu adalah hal yang paling kutunggu.Karna dihari itu, aku bisa menatapnya setiap saat.Hari hari mulai berlalu, aku merasa setiap detik, cintaku bertambah padanya, ketika pergi dan pulang kesekolah,kami selalu berpas pasan dibawah pohon mangga yang berderet rapi disetiap jalan.Walaupun tidak langsung, aku berjalan kaki dan dia menaiki motornya.Entah kenapa ia terus melambatkan motornya dibelakangku, padahal teman temannya sudah saling balap menuju sekolah.Ia membuat adiknya kesal, karna motornya yang begitu lambat, sampai sampai aku bisa mendengar celotehannya.Namun aku tak mau terlalu pd dengannya, cukup menjadi kisahku saja, aku hanya ingin mengaguminya.Namun, setiap kali aku berusaha untuk tidak pd, ia selalu membuatku merasa benar akan dugaanku caranya menatapku, caranya tersenyum padaku. Semua hal itu yang membutku bimbang untuk tak percaya padanya.Aku selalu bertanya, kenapa disaat kami kelas 7 sedang olahraga, ia selalu bolos dan nongkrong dimotor, sambil melirik kami?.Sungguh aku tidak mau Baper padanya, aku takut jika bertepuk sebelah tangan.Namun kenapa ia selalu memberikanku hal hal manis, walau bukan dengan ucapan?Seperti dia yang memandangku dengan tatapan yang sulit kuartikan, dia yang tersenyum begitu tulus kepadaku, dia yang selalu ingin berada dibarisan dekatku pas upacara, dia yang mengintip kelas kami, sampai kepalanya harus terbentur segala.Aneh, aku tak mau mempercayainya, namun ini benar benar membuat perasaanku makin tinggi padanya.Dan sepertinya iya, hal yang kutakutkan selama ini terjadi juga, aku sadar cintaku bertepuk sebelah tangan, tiba tiba saja aku mendengar kabar bahwa, Anggara berpacaran dengan teman sekelasnya, bertepatan dengan 2 orang sahabatnya, dan sepertinya meraka akan trible date?Akhh, kenapa Anggara membuat hatiku bimbang seperti ini? Apakah pada akhirnya aku yang bersalah?Aku yang selalu terbawa perasaan padanya?Kalau memang iya, aku benar benar kecewa pada diriku sendiri.Harusnya sedari awal, aku tak belajar untuk mengerti sebuah cinta, karna pada akhirnya cinta itu akan berakhir dengan sendirinya.Sial,ini membuatku pusing, dan sejak hari itu pula, aku memilih berhenti, aki tak lagi menatap manik mata indah itu jika berpas pasan, aku tak akan tersenyum padanya, aku tak akan mencari media sosialnya,Aku tak akan mencari apapun tentangnya lagi.Karna memang sedari awal, kita hanyalah orang yang tak saling mengenal, aku tau bahwa aku tak punya hak,untuk memilih pasangan Anggara, karna kalaupun punya, mungkin aku akan memilih diriku sendiri.Aku bahkan tidak tau, Anggara mengetahui namaku atau tidak?Dan sialnya aku malah berhayal bahwa ia juga menyukaiku.Bangunlah Ami! Aku akan mulai membencinya, tidakah cara terbaik melupakan seseorang adalah membencinya? Iya aku akan melakukannya.Namun setelah kulakukan, aku menjadi mengerti akan satu hal.ini adalah fase paling rumit dalam mencintai, yaitu berusaha melupakannya.Mungkin terdengar singkat dan sepele, namun percayalah melupakan itu adalah hal yang punya beribu alasan untuk menjadi sulit.Entah bagaimana hati dan fikiran kita tak bekerja sama, ketika hatiku mantap untuk melupakannya namun aku masih selalu mencari Media sosialnya, menatapnya dari jauh, bahkan mencarinya saat upacara.Satu hal yang kutanyakan pada diriku kenapa ?Kenapa aku seperti ini?Apakah melupakannya adalah hal yang sesulit itu?.....................Setelah sekian lama, waktuku kuhabiskan untuk melupakannya, dan saat kufikir aku telah berhasil, ia malah merusak tembok kokoh yang sudah kubangun begitu saja dengan mudah.Saat kufikir ketika dia lulus, aku tak melihatnya lagi, namun bagaimana bisa aku dipertemukan kembali dengannya.Aku lupa bahwa ia memiliki adik yaitu juniorku.Waktu itu, kami disuruh ke fotocopy Azera untuk mencetak foto kami untuk raport, jadi mau tak mau seluruh anak sekolah harus kesana.Namun ditengah perjalanan ban motor teman yang memboncengku harus meletus ditengah jalan, jadi mereka harus membawanya kebengkel.Aku menatap langit dengan tatapan bosan, hpku mati, ban motor kempes, dan aku harus duduk sendirian disini.Sangat sial!Hingga netraku tak sengaja menangkap sosok ibu ibu yang berjalan kearahku.akh bukan tepatnya kepada pemilik warung yang kutempati singgah, aku tercengang ibu ibu ini ternyata kembar,aku yakin aku tak dapat membedakannya.Aku bersyukur bahwa ibu ibu itu sangat ramah, dan aku bru tau bahwa ia mengenal kakek dan nenekku, aku pun mengobrol singkat dengan mereka.Hingga suara yang begitu kukenang terdengar sangat nyata ditelingaku."Ma"Dia Anggara, sosok yang membuatku belajar mencintai dan terluka secara bersamaan.Ia membiarkan adiknya berbicara kepada mamanya, sedangkan aku dan Anggara hanya saling menatap dan tersenyum,sangat manis, seolah ada segudang kerinduan yang terpancar sangat jelas dimatanya, akupun sama,Aku sangat merindukannya.Saat kami berada difotocopy Azera, ia sama sekali tak melepaskan aku dalam netranya, ada apa sebenarnya dengannya? Ia menatapku seolah mencintaiku, namun ia tak pernah mau mendekatiku.Dan tampa aku sadari, foto yang kucetak untuk raport ku, menjadi kenangan paling indah yang pernah kudapatkan bersamanya, ketika kami tak ingin saling berpisah, namun kami juga tak bisa mengungkapkannya.Foto itu selalu mengingatkanku pada AnggaraAku merasa ini pertemuan terakhir kita untuk selama lamanya, kisah cinta kita akan usai dengan sendirinya.Pada akhirnya, aku dan Anggara tak mau mendekat dan akhirnya pula kita akan menjauh.Kita mempunyai kisah yang tak diselesaikan, ia berakhir tanpa pengenalan.Dan entah kapan aku bisa melihat Anggara kembali, karna 5 tahun lalu, adalah kisah terakhir yang kuukir bersamanya, dan kuharap Anggara bisa bahagia dengan hidupnya.Aku sedikit berharap, dan menyesal secara bersamaan, bahwa aku ingin mengungkapkan perasaanku padanya, dan aku ingin dia menjawab pertanyaanku selama ini?Tentang apa maksud dari semuanya?Dari netranya, aku melihat banyak binar cinta untukku, namun ia tak mau mengungkapkannya.Aku hanya penasaran Anggara, dan aku berharap kau mejawab rasa penasaranku dengan sosokmu.Karna jika boleh jujur, rasa itu masih ada, walau sudah 5 tahun berlalu namun ia tak tenang, karna kamu tak pernah menjawab pertanyaan nya.Anggara membuat hatiku terus terkunci dengan ribuan pertanyaan untuknya.Sosok Anggara masih menjadi teka teki sekarang

Pelangi
Teen
17 Dec 2025

Pelangi

Aku Alaangi Andrea Hirata, aku biasa dipanggil pelangi.Katanya sih,hidupku akan secerah pelangi,namun aku rasa tidak.Hari ini, hari pengumuman hasil nilai ulangan harian kemarin,aku belajar dengan sangat keras kemarin, karna katanya usaha tak akan pernah mengkhianati hasil.Yang Remedi Hari ini adalah, Reno,Fika, Aroya Lestari,Mahendra Yunata dan terakhir"ucap guruku membuatku menggigit kukuku, berharap bukan aku yang remedi.Alangi Andrea"tambah Guruku membuatku ingin merosot seketika.Percuma rasanya aku belajar, begitu keras saat itu, namun hasilnya selalu nihil.Aku menghela nafas panjang, inilah aku, sibodoh yang punya harapan besar,.......Setelah pulang sekolah, dengan suasana hati yang kurang menyenangkan, aku berjalan menuju Halte bus, namun tiba tiba rintik hujan mulai berjatuhan.Seketika aku tersenyum, bukankah tuhan baik? Tuhan tau aku suka hujan, dan ketika kecewa menghampiriku, hujan selalu datang menemaniku.Alih alih, berteduh dihalte, aku memilih berjalan menuju rumahku, dengan tetesan air yang menerpa wajahku begitu saja.Banyak orang yang heran melihatku, bahkan tak banyak dari mereka yang menyuruhku berteduh dihalte, namun aku menolak,Setelah perjalanan singkat, aku melanjutkan langkahku dengan berlari, diiringi oleh Teriakanku dan menari ditengah hujan berputar putar dengan begitu menyenangkannya.Akh!! Kenapa aku Remedi?!Padahal aku sudah belajar dengan keras!! Tuhan tidakah kau adil?!"teriakku seraya mengeluarkan unek unekku.Tampa sadar, aku telah sampai didepan rumah, rumah yang sederhana, dan terlihat sangat hidup,aku tersenyum saat itu, namun bersamaan dengan air mataku yang luruh.Apa aku semengecewakan ini?Memantapkan hatiku, aku mulai masuk kedalam rumah,aku menghapus derai air mataku dan mulai membuka pintu.Kulihat seseorang wanita berumur renta, menghampiriku dengan wajah yang khawatir.Dia nenekku, yang sedang tergopoh menghampiriku, dengan ribuan kekhawatiran yang tercetak jelas diwajahnya.Tampa permisi, aku langsung memeluknya, aku berkata lirih dalam hati.Nenek aku gagal lagi, lagi setelah ribuan ka li"namun itu hanya kuucap dalam batinkuPelangi kenapa kehujanan?"tanya nenek dengan khawatir.Tidak apa apa nek, sudah terlanjur basah tadi, jadi aku langsung lari aja"jawabku menenangkan nenek.Ya sudah, kamu naik saja diatas, ganti baju, lalu mandi"ucap nenek dan aku menganggukinya.Aku tak langsung naik kekamarku diatas, karna aku sadar bahwa nenekku kedatangan tamu, aku sedikit penasaran, lalu aku mengintip sedikit diujung pintu." Oh ternyata yang datang adalah omku". Saudara ibu .Aku melanjutkan kembali langkahku, namun aku seketika berhenti kala mendengar ucapan samar dari omku.Ngapain sih bu,maksa diri buat ngurusin Pelangi? Diakan punya ibu sama ayah, suruh aja dia ikut sama ayah dan ibunya"ucap omku membuat air mataku seketika luruh.Aku berlari naik ke kamarku,Inilah hal yang paling kubenci dari semuanya, aku memang memiliki ayah dan ibu, namun mereka sama sekali tak peduli denganku.Hanya nenek yang kupunya didunia ini.Hanya dia, satu satunya manusia, yang punya hati baik untuk merawatkuEsok harinya .Aku berangkat menuju sekolah, namun baru satu langkah keluar dari rumah.Aku mendengar suara jatuh dari dalam.Aku langsung panik,Nenek !Aku masuk kedalam rumah, dan kulihat neneku yang sedang berbaring tak berdaya diruang tamu.Air mataku kembali luruh, aku panik, aku segera menelfon omku dan memanggil tetangga untuk membantuku.Nenekku dilarikan kerumah sakit, dan aku selalu setia menggenggam tangannya.Tangan yang sudah keriput dan sangat tipis.Aku merasa kehilangan banyak waktu dengan sia sia.Aku tak marah ketika omku menyalahkanku atas apa yang dialami nenek. Aku sadar bahwa aku terlahir hanya untuk menjadi pengacau.Aku berlalu menuju masjid rumah sakit, aku sholat dengan sangat khusyuk .Sesekali air mataku jatuh saat aku bersujud diatas sajadah.Aku berdoa, dan memohon kepada tuhan, untuk memberikan nenekku kesembuhan.Berharap tuhan memberiku banyak waktu, agar aku bisa membahagiakan nenek disisa hidupnya.Aku sangat takut, nenek kenapa napa.Karna aku merasa tidak layak hidup jika aku hanya terus mengecewakan nenek.Aku kembali keruang rawat nenek.Aku kembali menggenggap tangannya.Dan berucap lirih."Nenek harus kuat untuk pelangi"Aku menghapus air mataku kala mendengar suara dering ponselku.Halo?"Ini siapa?"tanyaku heran karna aku memang tak mengenal siapa orang yang menelfon saat ini.Saya, Admin Gramedia pustaka Raya,saya ingin meminta persetujuan anda untuk menerbitkan buku anda yang berjudul" The world Life "ucap seseorang dari seberang telfon.Tentu saja aku kaget mendengarnya.Oh iya aku memang hobi menulis sejak SMA. Tapi aku tak pernah berfikir bahwa Novelku akan dilirik oleh Penerbit.Tampa menunggu lama,aku langsung menyetujui penerbit itu, kalau hal ini yang akan jadi jalanku menuju kesuksesan, maka aku akan mengikutinya.

Langit Bumi Telah Lenyap
Teen
17 Dec 2025

Langit Bumi Telah Lenyap

Namaku langit Andara mahesa, biasa dipanggil Langit.Bagus bukan? Itu nama pemberian ibu, kata ibu, dia ingin aku menjadi seperti langit yang akan terus terang dan tak akan redup dimalam dan siang hari.Oh iya, aku mempunyai penyakit leukimia sedari kecil, suatu keberuntungan sebenarnya aku bisa hidup sampai sekarang.aku mengidap penyakit ini ketika usiaku 1 tahun, lalu aku masih bertahan hingga 15 tahun hidupku.Terkadang, aku merasa lelah dengan penyakitku, aku ingin bermain bersama teman teman, ingin kesekolah, namun hidupku terbatas didalam rumah.Aku homeschooling kembali 2 bulan lalu, karna penyakitku drop , dan mengharuskan aku dirawat dirumah sakit.Akh, aku benci seperti ini, aku harus rajin kemoterapi, tapi sayangnya rambutku harus berjatuhan kemana mana.Itu membuatku tidak pd, kelly tidak akan suka padaku, jika aku botak, itu sebabnya aku akan kesekolah, hingga rambutku tumbuh kembali.Hari ini, aku akan menjalani Terapi radiasi atau radioterapi , aku tak tau itu apa, otakku belum sampai ketahap itu, yang jelasnya aku harus berobat.Itu saja.Aku bersemangat menjalani pengobatan ini, karna ibu bilang setelah ini, aku akan masuk sekolah kembali.Anggap saja ibu menyogokku untuk terapi, karna aku awalnya memang tidak mau melakukan terapi ini.Aku terkadang sedih melihat ibu, dia selalu menangis diam diam,untungnya ada ayah yang menenangkannya.......Dan hari ini tiba, hari dimana aku akan bersekolah kembali, aku tak sabar bertemu Kelly.Langitt!!" Panggil Kelly dari jauh sambil melambai padaku, aku pun menghampirinya dengan segera.Akhirnya bisa sekolah lagi"ucapku pada Kelly, sedangkan Kelly hanya mengangguk.Iya, akhirnya aku punya teman cerita lagi"ucap Kelley sambil mengajakku berjalan ke kelas, Kelly memang selalu bercerita hak apapun padaku, sangat random.Oh iya, aku abis nonton loh, film Dilan"ucap Kelly kepadakuDilan? Siapa Dilan?"Kamu tak tau? Dilan itu emm pacarnya Milea ahk aku nggak tau jelasin pokonya Dilan itu peramal yang tampan"ucap Kelly sambil tersenyum membayangkan sosok dilan.Peramal ?Mendengar kata peramal, suatu ide langsung terlintas difikiranku.Bisakah aku meramal sepertinya?Dan apakah ramalanku akan nyata?Kebetulan, aku baru saja membaca sebuah buku yang berjudul " Astronomi world" buku yang diciptakan oleh penulis terkenal bernama Handryson Taldwin.Dibuku itu, ia menjelaskan bahwa Langit akan Runtuh, tapi tak dijelaskan secara rinci kapan waktunya.Seolah masih menjadi pertanyaan, dan masih belum menemukan jawabannya.Bagaimana kalau aku yang mencari jawabannya?Namun, bagaimana caranya?aku bukan peneliti, aku hanyalah siswa smp biasa yang terbatas pengetahuannya.Untung saja cerita Kelly memberiku suatu ide,okeHari ini aku akan menjadi Dilan sang peramal, ah bukan! Lebih tepatnya Langit sang peramal.Hihi aku tertawa mendengar diriku sendiri, sangat konyol, meramal sesuatu yang tak tau apakah akan nyata kebenarannya atau tidak.Tapi tak apalah, namanya juga meramal, masih menduga hal hal yang belum pasti.Oke aku mulai dari mana?Emm hari initanggal 05 September 2021Singkat saja yah, ini pertamaku berprofesi sebagai langit sang peramal hihi.Oh iya dimana kita memulainya, oke, langit bumi akan lenyap, pada tanggal 05 November 2021..........Setelah hal yang ku ramal pada tanggal 5 hari itu, ternyata tidak benar adanya, ini sudah tanggal 8 November, namun tak ada tanda tanda langit akan runtuh dimanapun.Aku menghela nafas, terus mulai menulis kembali dibuku harianku yangkuberi judul Langit bumi Telah lenyap.19 September 2021kegagalan satu kali,tak akan membuatku menyerah begitu saja. Benarkan?Mungkin saja jika ramalanku berhasil, aku akan mendapatkan penghargaan, ah iya aku lupa, jika langit telah lenyap maka bumi pun akan berakhir .27November 2021Hari ini, aku dilarikan kembali kerumah sakit, aku tiba tiba pingsan disekolah, entahlah.Padahal awalnya aku hanya sedang bercanda dengan Kelly, namun tiba tiba darah keluar dari hidungku,seketika pandanganku langsung menggelap, menyebalkan,Aku harus home schooling kembali harus cuci darah kembali, dan seperti biasa rambutku akan rontok kembali.Aku menatap malas obat yang diberikan ibu padaku, aku lelah meminum itu, sebenarnya, untuk apa aku harus meminum obat ini? Bukankah langit akan akan lenyap? Itu artinya bumi tak akan lama, jadi untuk apa aku harus meminum obat obatan ini? Dan menjalani pengobatan yang merontokkan rambutku?.Ibu membujukku untuk meminum obat,Namun aku hanya menjawabnya dengan pertanyaan.Ibu, jika langit akan lenyap, apa yang akan terjadi pada ibu?"tanyaku pada ibu, awalnya ibu menyerengit heran.Emm, kalau langit lenyap, maka ibu akan memeluk langit anak ibu saat ini, bukan hanya bumi yang punya langit, tapi ibu juga punya langit indah sepertimu nak"ucap ibu diiringi dengan senyuman.Tapi, bagaimana kalau aku tidak bisa melindungi ibu?"Emm, bagaimana yah, em kita kan punya ayah, maka langit tak perlu melindungi ibu, karna ayah yang akan melindungi ibu dan Langit"ucap Ibu menenangkanku.Akh, iya aku sampai lupa dengan ayah, benar ada ayah yang akan melindungi ibu....1 Desember 2021Tak terasa ini sudah bulan Desember, bulan terakhir dari 2021Nyatanya ramalanku, selama ini tak pernah ada yang benar akan adanya.Namun entahlah aku masih percaya pada ramalankuBagaimana kalau Langit akan lenyap pada tanggal 29 Desember?Aku sangat yakin! Jika tidak berhasil, maka aku akan berhenti meramal.Sudah 3 bulan berlalu, namun ramalanku masih belum menemukan titik temunya,Hari ini, aku harus mengalami kemoterapi kembali, aku sudah lelah sangat lelah, berulang kali aku merengek pada ibu, namun ibu tak pernah mendengarku.Aku menatap malas keluar kaca mobilBanyak hal yang bisa kulihat tentang dunia.Seperti Orang orang yang bekerja, untuk mendapatkan penghasilan, sangat keras, bahkan aku yakin aku tak bisa melakukannya.Juga orang orang yang belajar untuk masa depannya, penjahat yang mencari nafkah walaupun dengan cara yang salah. Dan masih banyak lagi.Jika seandainya, ramalanku benar, orang orang akan merasa kecewa telah bekerja begitu keras dengan hidupnya.Pasti mereka tak akan memikirkan uang lagi, mereka akan melepas beben hidup yang mereka tanggung dan berusaha menyenangkan diri mereka sendiri tampa beban.Gedung gedung akan tutup, kejahatan akan lenyap, dan semua orang akan menuju bahagainya masing-masing.Mereka akan mengungkapkan semua perasaan yang tersembunyi dihati mereka, mau itu kekesalan. Ataupun cinta.Emm sepertinya aku juga akan mengungkapkan perasaanku pada Kelly?29 Desember 2021Ramalanku ternyata salah lagi, untuk terakhir kalinya, aku akan berhenti untuk menjadi Langit sang peramal.Aku akan menikmati hidupku seperti ini saja.Tapi aku akan mengoreksi sedikit pada catatanku, mungkin bukan langit bumi yang akan lenyap, namun Langit yang akan lenyap.Apakah aku akan lenyap?Kalau seandainya aku yang akan lenyap, aku akan berdoa semoga ibu tak akan sedih jika aku telah lenyap, aku ingin ibu bahagia walau tampa Langit disisinya"Rani menangis luruh setelah membaca sebuah buku berjudulkan Langit Bumi Telah Lenyap yang dicoret kata buminya menjadi Langit Telah lenyap.Hari ini, pukul 06.00 Rani ingin membangunkan langit yang sedang tertidur dengan lelap, namun anehnya langit tak bergerak sama sekali, Rani menangis kala suaminya berucap lirih, Langitnya telah tiada.Tubuh langit telah pucat dan kaku, dia meninggal dengan tenang

Melodi
Teen
17 Dec 2025

Melodi

Namaku Dimas Prasetyo Anggara, biasa dipanggil Angga namun orang tuaku memanggilku Dimas.Aku orang yang cukup populer disekolahan, bisa dibilang salah satu Mostwanted sekolah.Aku cukup percaya diri, karna aku memang tampan sejak dini, banyak perempuan yang ingin menjadi kekasihku, namun aku tidak pernah tertarik dengan mereka.Aku orang yang bebas, dan malas terkekang oleh sebuah hubungan.Aku banyak belajar dari temenku yang bernama Reno, ia punya pacar yg namanya Sinta yang rempongnya bikin darah tinggi, terlalu posesive dan Aku merasa ngeri jika punya pacar sepertinya.Hari ini, aku berniat keruang eskul musik untuk mengambil barangku yang tertinggal, sekolah nampak sunyi,karna semua siswa telah pulang kerumah masing masing.Langkahku terhenti, ketika mendengar nada nada piano di ruang musik, itu membuatku penasaran siapa yang bermain piano sore sore begini?Setelah nada nada intro itu, sebuah suara langsung menggetarkan hatiku,Gila, sangat merdu.Bait bait lirik dari lagu "someone like you" yang diciptakan oleh Adele terasa sangat merdu dinyanyikan olehnya, apalagi suaranya yang berirama dipadukan dengan ritme ritme piano yang sangat indah.Perfect"Aku tak tau siapa orang didalam sana, ia menghadap kebelakang, jadi aku hanya dapat melihat punggungnya, juga tangannya yang lihai memainkan note note piano.Gila, ternyata sekolah ini juga punya siswa yang berbakat sepertinya? Namun setahuku, belum ada seseorang yang segitu mahirnya bermain piano seperti gadis didepanku ini.Aku terlalu fokus tekagum kepadanya, hingga tampa sadar nyanyiannya berakhir, didalam sana terdengar gaduh, sepertinya gadis itu ingin pulang?Aku segera pergi keruangan sebelah ruang musik, agar aku tak tertangkap basah mengintipnya bermain.Beberapa menit kemudian, ruangan itu terasa sunyiApakah dia udah pergi?"batinku bertanya tanya, dan perlahan aku memberanikan diri untuk keluar dari persembunyianku.Perlahan, aku masuk kedalam ruang musik, Pianonya sudah rapi kembali, aku menghela nafas pelan,lalu mengambil gelangku yang ketinggalan tadi diruang ituEsoknyaAku celingak celinguk mencari seseorang kemarin, punggung kecil dengan tangan yang cantik.Walaupun mustahil aku bisa menemukannya di banyaknya murid yang bersekolah disini.Namun setidaknya aku ingat postur tubuhnya.Aku menghela nafas, ternyata mencari seseorang itu tidak segampang itu, hingga Rion temanku menghampiriku bersama Reno.Woy, Angga! Cari apa loh? Cari gebetan yah?"goda Reno padaku.Aku langsung menabok kepalanya,Kepo lo!"ucapku sambil melanjutkan aksiku mencari gadis itu, entah kenapa aku begitu ingin tau siapa dia.Cari apasi?"tanya Rion yang mulai penasaran denganku.Mendengar pertanyaan temanku, aku menghela nafas pelan,Lo tau nggak cewe yang jago nyanyi sama main piano disini?"tanyaku pada Rion dan Reno.Rion dan Reno saling pandang,lalu mereka mengindikan bahunya pelan tanda tidak tau."Perasaan disini nggak ada murid yang kayak gitu"ucap Rion dan diangguki oleh Reno.Kenapa si? Lo mau gebet ya?!"tuduh Reno membuatku menghela nafas kembali, dan memilih mengacuhkannya.Dasar lambe turah !" sindirku pada Reno, karna bukan apa apa Reno begitu kepo, Reno ini paling nggak bisa diajak bicara sesuatu yang private, soalnya mulutnya sangat Lambe sekali, semenit dapet informasi 1 jam kemudian seluruh sekolah pada tau.Aku meninggalkan mereka berdua dengan malas, sepertinya aku akan menunggunya kembali keruang musik.Aku naik ke rootof untuk tidur dan mengatur alarmku hingga jam pulang, kebetulan sekali guru guru sedang ada pertemuan sesama guru jadi anak anak disuruh pulang cepat.Pukul 03.00 aku terbangun karna suara dering Alarm.Aku menetralkan fikiranku, agar tidak pusing, lalu kembali turun ke lantai bawah diruang musik.Namun orang yang sedari tadi kutunggu, tak kunjung memperlihatkan batang hidungnya, hingga suara derap langkah, membuatku menoleh dan langsung bersembunyi dibalik tembok.Untuk pertama kalinya, aku melihat wajahnya, sangat manis dan cantik, kenapa aku tak pernah melihatnya?Mungkin dia gadis yg tertutup?Dan dari sini aku mulai penasaran siapa namanya? Dari mana dia? Dan masih banyak lagi pertanyaan tentang dia.Aku bersandar ditembok, sembari menikmati note note piano yang disusun dengan indahnya.Kali ini ia memainkan lagu "love your self"Sangat indah dan aku seketika terhanyut dalam alunan musiknya.Hingga beberapa saat keadaan terasa sunyi,apakah dia sudah pulang?"Namun kala aku ingin mengeceknya, langkahku terhenti ketika mendengar ritme piano yang sangat membuatku tercengang.Bagaimana bisa?!Ini lagu Sonata Hammerklavier opus 106 by beethoven, lagu yang sangat sulit untuk dipelajari.Oh my good!Aku semakin penasaran dengan dirinya.Walaupun tidak seluruh lagu dimainkannya, tapi setengah saja sudah membuatku tercengang.Oh perfect girl! Sepertinya dia baru belajar lagu ini, tapi bagaimana bisa?Aku tau banyak hal tentang piano, karna keluargaku berasal dari keluarga musisi, dan pamanku adalah pemain piano yang terkenal.Aku pulang dengan raut wajah yang berseri, bunda bahkan heran melihatku, entahlah perempuan itu menghantui pikiranku.Aku bahkan tak tau namanya,Oh iya, bagaimana kalau dia kupanggil melodi?Bukankah cocok dengannya? Melodi yang mengeluarkan ritme ritme indah pada dirinya yang tersusun rapi, namun tersembunyi keberadaannya?Sangat mengagumkan, aku menyebutnya Melodi.Sungguh, aku ingin berkenalan dengannya, menanyakan banyak hal padanya, mengagumi keindahannya.Melodi...Sejak hari itu, aku mulai mengaguminya diam diam, mengikutinya kemana mana bak seorang stalker, tapi aku tak cukup berani untuk menunjukan diriku padanya,Entah kemana hilangnya kepercayaan diriku yang tinggi itu.Dia satu satunya perempuan yang menenggelamkan percaya diriku begitu saja.Melodi, gadis dengan segala keindahannya yang tertutupi, bak irama yang hanya bisa didengar namun tak bisa dilihat.Dia wanita menarik, dan aku harap dia tak sadar aku selalu melihatnya dari jauh.Hari ini aku kembali melihatnya, bersandar didepan ruang musik, mendengarnya bernyanyi, dan aku selalu merekam nyanyiannya untuk ku dengar, ketika aku sedang rindu kepadanya.Aneh, aku sadar aku telah jatuh cinta padanya, tapi aku bahkan tak tau namanya, aku hanya memanggilnya"melodi"Aku selalu terhanyut ketika mendengar dia bernyanyi, lalu tampa sadar aku memejamkan mataku, menghayati setiap lagunya, hingga tampa sadar musiknya berhenti.Aku membuka mataku perlahan dan kulihat seorang gadis yang selama ini menghantui fikiranku, tentu saja aku terkejut, aku tertangkap basah sekarang,Dan bodohnya layar hp ku masih terus merekam.Bodoh!Kamu siapa?"tanyanya membuat jantungku berdetak cepatLihatlah, suaranya sangat merdu"batinku sambil terus menatapnyaKamu senior kelas 3 yah? Maaf aku pake ruang musiknya"ucapnya dengan nada menyesal, sedangkan aku hanya diam dan tak menjawabnya.Kalau begitu aku pulang dulu yah"ucapnya sambil membungkuk hormat dan melangkah pergi dari hadapanku.Namun refleks tanganku menahan tangannya,Jangan pergi"ucapku membuatnya bingung.Maksudnya?Aku Dimas Prasetyo Anggara, panggil aja Diman atau enggak Angga"ucapku sambil memberikan tanganku untuk diajak kenalan.Ia yang awalnya bingung langsung mengangkat sudut bibirnya tanda tersenyumAku Rania Alexandrani panggil aja Alexa"ucapnya sambil mengambil uluran tanganku.Salam kenal Melodi"ucapku membuat Alexa kembali mengerutkan keningnya.Melodi?"Iya boleh kan aku panggil kamu melodi, kamu mirip banget sama Melodi lagu ada tapi tersembunyi"ucapku membuat Alexa terkekeh.Kamu aneh, kalau gitu aku panggil kamu em Gara? Setidaknya nyambungkan dari pada kamu enggak haha"ucap Alexa membuat aku juga tertawa.Mau main piano bareng?"tanyaku pada AlexaEm bolehEnd

Ayah
Teen
17 Dec 2025

Ayah

Ternyata, memang benar adanya, bahwa penyesalan akan selalu datang diakhiran.Penyesalan yang membuat kita merasa telah gagal untuk hidup yang alurnya tidak akan bisa kembali.Seperti aku contohnya,Kata yang selalu terngiang dihidupku, adalah ketika ayah bilang, semoga kau bahagia dengan jalanmu nak.Iyah, jalan yang kupilih, dan aku sangat menyesal akan itu, tapi,seandainya aku bisa kembali, mungkin aku akan memilih jalan yang sama, namun dengan alur yang berbeda.aku ingin kembali dengan cerita yang berbeda, bilang pada ayah, bahwa maaf atas segala kesalahanku ayah, aku menyayangimu, hanya itu yang ingin kuucapkan pada ayah, namun itu semua tak pernah tewujud hingga ayah berpulang kehadapan tuhanAyah, sosok yang mengajariku banyak hal tentang kehidupan, dan memberiku jawaban tentang hidup yang begitu rumit.Aku benci ayah!"ucapku pada ayah saat itu,aku memang membencinya, karna aku berfikir karna ayah, ibu pergi meninggalkanku.Raya, ayah lakukan ini demi kamu juga, ayah peduli sama kamu Raya"mohon Ayah saat itu kepadaku.Udah, aku mau sekolah ayah,aku capek berdebat sama ayah!"ucapku lalu berlalu begitu saja dihadapan ayah.Disekolah ,Aku berjalan dengan malas,ayah telah merusak moodku saat ini,benar benar rusak.Woy!, Kamu kenapa sih dari tadi cemberut mulu?"tanya Rena yang heran melihatku.Biasa, bertengkar lagi sama ayah"ucapku dengan malas sambil menenggelamkan wajahku dibangkuku.kamu kapan sih mau maafin ayah kamu?, Dia emang salah saat itu,tapi ini semua udah berlalu kan? Memafkan itu nggak buruk kok Ray?"nasehat Rena padaku.Aish itu karna lo nggak ngerti Ren, gimana rasanya jadi gw! Lo nggak bakalan pernah paham"ucapku langsung melangkah keluar kelas dengan sedikit emosi.Aku tidak tau hari ini kenapa begitu menyebalkan, dimulai dari ayah sampai Rena. Mereka membuatku kesal saja.Aku berlari menuju taman belakang, hari ini aku malas bertemu dengan orang orang.Aduh, kenapa dada gw sesek banget?"ucapku sambil memegang dadaku saat itu, rasanya sangat sesak.Agar tak terlalu sesak, aku memilih memejamkan mataku, dan bersandar di kursi taman seraya menetralkan nafasku, tampa sadar aku tertidur.Hingga suara bel pulang berbunyi,aku mulai terbangun.Gila, aku tertidur begitu lama,untung saja bel pulang berbunyi, kalau tidak aku akan ketiduran hingga malam.Koridor sekolah mulai sepi, aku beranjak untuk mengambil tasku didalam kelas dan bergegas untuk pulang.Ditengah perjalanan,mataku tak sengaja melihat sebuah martabak telur,Itu makanan kesukaan ayah"batinkuPak berhenti dulu pak?"ucapku kepada supir taksi didepanku, dan turun membeli martabak itu.Aku heran, kenapa aku selalu membeli martabak ini ketika pulang ke rumah, padahal aku membenci ayah, tapi aku selalu peduli padanya, huh rumit.Aku menyandarkan kepalaku di jok mobil, hingga tanpa sadar aku telah sampai dirumah.Rumah sama seperti biasanya, masih dalam keadaan sepi.Dan hal itu yang membuatku malas untuk pulang.Aku berjalan menuju dapur, dan memindahkan martabaknya kedalam piring, lalu aku akan menutupnya ditempat saji, agar ayah pulang dia bisa memakannya.Martabak? Buat ayah?"ucap ayah membuatku kaget setengah mati, kenapa aku terlihat seperti maling yang sedang mencuri?Eh?! anu-itu enggak, ini buat Raya tapi Raya udah kenyang,tapi kalau mau makan makan aja, Raya mau keatas"ucapku dengan kikuk.Sedangkan ayah hanya tersenyum, ayah pasti tau, aku membelikannya untuknya, karna memang aku selalu membawakannya makanan ketika pulang. namun aku malu untuk terlihat peduli pada ayah, itu karna egoku lebih besar dari hatiku, makanya aku hanya peduli pada ayah secara diam diam, namun hari ini aku tertangkap basah, tumbenan sekali ayah pulang cepat?Aku tak langsung naik keatas,aku mengintip ayah yang tersenyum sambil memakan martabak yang kubeli, tampa sadar bibirku berkedut dan terus memperhatikan ayah.BesoknyaKamu berangkat bareng ayah?"Nggak"jawabku singkatKita udah lama nggak berangkat bareng Raya?"ucap Ayah menghela nafasAku bareng temen ayah"ucapku lalu meninggalkan ayah sendirian.Sebenarnya bukan aku tak mau berangkat bareng ayah, tapi aku mau berangkat bersama em pacarku RionKami berangkat menggunakan motor sport miliknya.Ditengah perjalanan, mataku tak sengaja menatap seseorang yang selama ini aku rindukan.Ibu!Rion stopp!"Kenapa?"tampa menjawab pertanyaan Rion aku segera berlari mengejar seorang wanita paruh baya yang sangat kukenali.Ibu"aku menarik tangannya dan sontak ia pun berbalik, ia menatapku bingung.Ibu ini Raya?"ucapku dengan nata berkaca kacaRaya? Serius kamu Raya nak?"ucap ibuku sambil menangkup wajahku dan akupun mengangguk, kami berpelukan saat itu, dan aku memilih bolos untuk menghabiskan waktu bersamaa ibuku.Aku boleh nggak tinggal sama ibu?"tanyaku pada ibuKamu serius nak?"tanya ibu setelah mendengar niatku yang ingin tinggal bersamanya.Iya bu, aku serius, aku benci ayah, gara gara ayah, ibu pergi"ucapku sambil memeluk ibu.Suut, kamu nggak boleh gitu nak, mau gimanapun dia ayah kamu "ucap ibu menasehatiku, namun aku tetap kekeh mencoba membujuk ibu untuk tinggal dengannya.Baiklah, kita kemas barang barang kamu, habis itu pergi"ucap ibu membuatku bersorak gembira.........Kamu nggak tanya ayah kamu dulu?"tanya ibu setelah aku mengemas barang barangku.Aku sebenarnya ingin, tapi aku gengsi .Nggak usah bu, nanti ayah juga bakalan nelfon kok"alih alih berpamitan pada ayah, aku memilih mengabaikannya.Setelah aku dirumah ibu, instingku memang benar,ayah pasti akan menelfonku, buru buru aku mengangkat nyaTerdengar nada khawatir diseberang telfonKamu dimana Meera?"tanya ayah dengan khawatir.Ayah, mulai hari ini sampai seterusnya aku bakalan tinggal bersama ibu"ucapku membuat ayah kaget.Kenapa kamu nggak bil-"ucap ayah terpotong oleh suaraku.Ayah, aku mohon jangan larang aku, aku udah dewasa, jadi aku bebas nentuin hidup aku"ucapku dengan serius membuat ayah hanya bisa menghela nafas dan menyetujui permintaanku"Baiklah, kalau itu memang yang terbaik buat kamu, ayah nggak bisa ngelarang, itu hak kamu, asal jangan melarang ayah ketemu dengan kamu"ucap ayah diseberang telfonIya Ayah".....Tak terasa aku sudah hampir 2 bulan tinggal bersama ibu, dan ternyata, realitanya tak seindah ekspektasiku . Hanya ibu yang peduli kepadaku disini, dan yang lain tidak, aku cukup terkejut mengetahui ibu telah memiliki 2 orang anak .satu masih 3 smp dan satunya lagi masih bayi.Aku merasa sedikit terkekang disini, tertekan oleh orang orang,apalagi ayah tiriku, yang seperti tak menyukaiku, selalu membandingkanku dengan prestasi anaknya, dan faktanya aku memang anak yang kurang dalam pembelajaran sangat kurang.Tapi ayahku tak pernah mempermasalahkannya.Tampa sadar aku berharap pulang, setelah memantapkan hatiku,Aku pamit pulang pada ibu, aku rindu kamarku, dan tentunya ayah, mungkin aku akan minta maaf pada ayah, tinggal dikeluarga ibu membuatku belajar banyak hal, dan aku akan mencoba berdamai dengan masalalu.Aku ingin kerumah ayah saat itu, dan aku memilih naik gojek untuk pulang. namun sebuah mobil menghantam motor yang kutumpangi dengan tragisnya.Akh apakah aku akan mati"batinku sebelum pandanganku menggelap .Aku dilarikan kerumah sakit, dan saat itu, sesak yang selalu kualami terjawab sudah, ternyata aku memiliki penyakit jantung turunan dari kakekku.Ayah dan ibuku tentu saja syok , apalagi ketika mendengar kemungkinan hidupku hanya 5% kecuali ada seseorang yang mendonorkan jantungnya untukku.Ayah dan ibuku kelimpungan mencari pendonor yang akan mendonorkan jantungnya untukku namun sudah 2 bulan tetap tak ada.karna sangat kecil kemungkinannya tapi setidaknya mereka sudah berusaha.Aku hanya terbaring lemah, dengan banyak alat bantu untuk hidupku,Hingga suatu ketika denyut jantungku mulai melemah,dan jika orang tuaku tak menemukan pendonor untukku, sepertinya inilah akhir hidupku.Namun, tiba tiba dokter membawaku keruang operasi, katanya sudah ada pendonor yang cocok yang ingin memberikan jantungnya, aku dan ibu tak tau siapa orangnya, hanya ayah yang tau.Beberapa saat kemudian, operasi telah selesai dan hal itu yang membuatku bisa membuka mataku kembali.Nama pertama yang kusebut saat itu adalah ayahAku benar benar merindukannya, namun mengapa hanya ibu yang datang?Ibu, ayah kemana?"tanyaku dengan nada lemah, ibu tidak menjawab ia hanya menangis dan itu membuatku bingung dan khawatir.Ibu! Ayahku kemana?"ucapku sekali lagi dengan khawatir karna melihat ibu hanya diam dan tak sanggup berbicara.Hingga seorang dokter datang dihadapanku.Raya, kamu yang sabar yah? Kamu beruntung memiliki ayah seperti pak Varo.Pak Varo adalah ayah terbaik yang pernah saya lihat selama saya menjadi seorang dokter "ucap Dokter Elfano membuat jantungku beredebar hebat.Maksudnya apa dokter?"tanyaku dengan lirih.Mungkin ini berat buat kamu tapi,pak Varo, meninggal dunia tepat setelah oprasi selesai, hari Senin pukul 15.30 ia mendonorkan jantungnya untuk kamu"ucap Dokter Elfano membuat tangisanku luruh seketika.Tidak mungkin?!"tangisanku pecah dan berusaha menolak kenyataan yang ada.Ayah, ayahku telah pergi dengan jantung yang tertinggal bersamaku,sebegitu sayangkah ayah padaku? Namun aku begitu bodoh telah membencinya?Sungguh aku menyesal, amat menyesal, aku bahkan belum meminta maaf kepada ayah, sedangkan ayah sudah berpulang terlebih dahulu?Ia meninggalkanku,dengan sebuah surat yang berisi tentang harapan ayah padaku untuk hidupku sendiri.Bahkan ayah telah mengatur surat warisan untuk tunjangan hidupku kedepannya, aku bodoh!Menyia nyiakan ayah sebaik dia,Tuhan maafkan aku, aku telah menjadi anak yang durhakaEnd

Sesal
Teen
17 Dec 2025

Sesal

Aku menatap berulang kali jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganku. Sudah hampir pukul sepuluh malam tapi aku belum pulang juga. Aku menggigit cemas bibir bawahku. Khawatir akan dimarahi setibanya di rumah nanti karena sudah berani melanggar jam malamku."Kamu pulang aja. Aku nggak papa kok." Aku menggeleng. Tidak mungkin aku meninggalkan temanku sendirian di cafe yang sepi pengunjung ini. Selain karena perasaan tidak tega, aku takut terjadi sesuatu yang buruk padanya."Kamu tenang aja. Rumahku dekat dari sini, jalanannya juga selalu ramai. Aku temani sampai teman kamu datang."Sepuluh menit kemudian, sesosok tubuh berbadan tegap menghampiri kami. Ah, sepertinya ini dia orang yang ditunggu."Maaf gue telat, San. Latihannya baru kelar." Suaranya tidak begitu berat, tapi tidak cempreng juga. Wajahnya dibuat semeringis mungkin—senjata andalan agar tidak dimarahi."Gara-gara lo lama, teman gue jadi telat pulang. Tanggung jawab! Kita anterin dia dulu," ketus Sausan. Dia sampai memukul lengan cowok dihadapannya itu."Eh, nggak usah, San. Gue pulang sendiri aja," tolakku tak enak hati. Aku segan harus merepotkan orang lain, apalagi orang yang tidak aku kenal."Nggak papa, Shei. Kamu nggak bisa cepat pulang karena dia. Dia nggak bakal keberatan kok." Sausan berkata ringan. Aku melirik pelan teman Sausan yang belum aku ketahui namanya. Inginnya menggeleng agar dia dan Sausan tidak perlu mengantarku, tapi perkataannya membuatku kalah telak malam itu."Gue nggak keberatan nganter lo dulu. Sausan benar, gue salah dan gue harus tanggung jawab."Aku kira pertemuanku dengan cowok berbadan tegap itu berhenti sampai di sana. Tapi siapa sangka itu hanyalah permulaan saja?***Halo, Shei.Aku mengernyit saat nomor tak dikenal mengirimkan chat . Foto profilnya berwarna hitam. Display name -nya hanya bertuliskan huruf A.Siapa?Sorry, gue lupa memperkenalkan diri.Alvin.Temannya Sausan.Mulutku membentuk huruf O. Ternyata cowok itu. Yang mengantarkanku pulang seminggu yang lalu.Hai, Alvin.Ada apa?Gue minta maaf karena kejadian seminggu yang lalu.Kata Sausan, lo dimarahin ortu karena pulang telat.Sorry juga kalau gue baru bisa minta maaf sekarang, susah dapetin nomor lo.Sausan pelit.***Permintaan maaf itu menjadi awal mula kedekatanku dengan Alvin. Aku tidak begitu ingat apa yang mengikat kami hingga makin akrab dari hari ke hari. Mungkin karena kepribadiannya. Mungkin juga karena selera humornya. Atau mungkin karena kami memang nyambung satu sama lain. Ntah lah, aku tidak tahu yang mana yang benar.Sebelum aku lebih lanjut menyeritakan cerita kami, biarkan aku memperkenalkan dulu siapa itu Alvin. Nama lengkapnya Alvin Fiazer. Nama belakangnya agak aneh, ya? Aku juga menganggapnya begitu. Pernah ku tanya apa arti dari nama belakangnya. Katanya itu adalah gabungan nama dari kedua orang tuanya. Dia kelas sebelas, sama denganku, satu sekolah dengan Sausan. Dari cerita-ceritanya, aku tahu dia menggemari olahraga basket. Hobinya itu bahkan membawanya sampai ke ajang nasional. Sangat membanggakan bukan? Sayangnya, basket menyita waktunya sampai dia sering ketinggalan pelajaran sekolah. Dia sudah berusaha mengejar ketertinggalannya sampai ikut les, tapi dia masih keteteran. Ah, satu lagi. Dia jomblo. Dia sendiri yang mengatakannya padaku—padahal aku tidak bertanya. Entah itu informasi penting atau tidak."Oi!" Tepukan di bahuku membuatku sadar dari lamunanku. Di sana, Alvin berdiri dengan senyum lebarnya. Seragam sekolah putih abu-abu masih melekat di tubuhnya meskipun saat ini sudah pukul empat sore. Tas punggung berwarna hitam bertengger di bahu lebarnya. "Sore-sore malah ngelamun. Kesambet jin ntar.""Mulut kamu, ih."Alvin tertawa. Ia menarik kursi di sampingku lalu duduk di sana. Sebelum itu ia meletakkan tasnya di atas meja."Udah nunggu lama?" Aku menggeleng. Aku baru datang sepuluh menit yang lalu. Minuman pesananku baru diantarkan. "Kamu bohongkan biar aku nggak merasa bersalah?""Ngapain juga aku bohong. Nambah-nambah dosaku aja," cibirku."Kirain demi aku." Awalnya Alvin menggunakan lo-gue padaku. Tapi sepertinya lama-kelamaan dia jadi tidak nyaman kami berbeda panggilan begini, kemudian dia mengubahnya jadi aku-kamu—mengikutiku yang memang selalu menggunakan aku-kamu pada semua temanku."Gimana latihannya?""Capek. Keringetan, tapi aku udah mandi tadi. Jadi kamu nggak perlu khawatir bakal nyium bau nggak sedap." Lelah itu nyata terlihat di wajahnya, meskipun dia berusaha menutupi dengan cengiran khasnya."Harusnya kamu pulang kalau capek, bukannya malah ngajak aku ketemuan.""Hm." Perlahan, Alvin merebahkan kepalanya di bahuku. Aku menegang sejenak. Helaan napasnya dapat aku dengar dengan posisi kami yang sedekat ini. "Males pulang. Ribut sama Bunda.""Lagi?"Kalau kalian kira kalau Alvin memiliki hubungan yang tidak baik dengan ibunya, kalian salah besar. Alvin sangat menyayangi ibunya—sebagaimana hubungan orang tua dan anak semestinya. Dia juga bisa dikatakan mama's boy dan lumayan manja pada ibunya—kalau mereka sedang akur. Hanya saja Alvin dan ibunya sering berbeda pendapat dan sama-sama keras kepala. Mereka kekeh memegang argumen masing-masing hingga berakhir saling ngambek seperti ini. Padahal yang mereka perdebatkan itu sering kali tidak penting."Kok nanyanya gitu? Seakan-akan aku sering ribut sama Bunda." Alvin menarik kepalanya dari bahuku. Ia protes padahal yang aku ucapkan benar."Emang iya kan? Kalau aku nggak salah hitung, ini udah ketiga kalinya di bulan ini.""Mana ada. Kamu ngarang.""Nggak penting banget aku ngarang gituan.""Shei ...." Alvin merengek. Dia merebahkan kepalanya di bahuku lagi. Kelakuannya terkadang seperti anak kecil dan ... membuatku sedikit berdebar. "Bunda nyebelin tadi pagi. Masa aku disuruh ngurangin jadwal latihan. Mana bisa. Tim basket sekolahku bentar lagi mau tanding—meskipun cuma antar sekolah. Aku nggak mungkin bolos latihan sedangkan aku kaptennya."Aku diam. Mendengarkan saja apa yang Alvin ceritakan. Tanggapanku belum diperlukan sebelum Alvin bertanya."Aku tahu bentar lagi ujian kenaikan kelas. Aku pasti belajar kok, nggak mungkin nggak. Aku nggak mau tinggal kelas. Tapi ya jangan berharap banyak sama nilaiku. Pas-pasan KKM aja alhamdulillah. "Aku masih diam. Menunggu Alvin melanjutkan ceritanya. Tapi selang beberapa detik, cowok itu tidak juga membuka mulutnya. Dia malah menatapku dengan pandangan kesal. Apalagi salahku?"Kok kamu diem aja, sih, Shei? Aku lagi curhat, nih. Butuh ditanggapi."Oh, sudah selesai. Pantas dia kesal. Aku mendorong kepalanya menjauh sebelum berbicara. Ku putar badanku hingga kami duduk saling berhadapan."Bunda kamu cuma khawatir sama masa depan kamu, Al. Kamu tahukan nilai rapor ngaruh banget sama penerimaan SNMPTN? Kamu nggak mau apa masuk kuliah jalur undangan gitu, nggak perlu capek-capek belajar buat UTBK atau tes mandiri. Kalau nilai rapor kamu cuma pas-pasan KKM, universitas mana yang mau nerima kamu di SNMPTN?" Aku berujar lembut. Alvin tipe yang tidak bisa dikerasin . Cowok itu akan lebih batu dari lawannya."Ya ... aku tahu." Nada suaranya melemah. Bibirnya mengerucut dan jari telunjuknya sibuk menyusuri pinggiran meja. "Tapi aku nggak bisa ninggalin basketku. Les rasanya juga percuma, nggak nyangkut di otakku.""Aku tahu kamu cinta banget sama basket. Tapi akademikmu tetap nggak boleh tinggal. Kamu hebat kalau bisa nyeimbangin antara akademik dan non-akademik."Alvin diam cukup lama. Mungkin dia sedang merenungi ucapanku. Mungkin juga dia sedang berusaha mencari penyangkalan lain."Aku punya PR. Mending aku kerjain sekarang." Tanggapan yang sama sekali tidak kuduga. Alvin membuka tasnya lalu mengeluarkan buku paket matematika serta buku PR-nya. Dengan gerakan malas, dia membuka buku.Aku memerhatikannya yang mulai menulis. Tidak bersuara, takut mengganggu konsentrasinya. Aku kira Alvin akan terus menekuni tugasnya, sayangnya pada menit kesepuluh dia menyerah. Rambutnya acak-acakan karena banyak digaruk saat dia bingung. Wajahnya yang tertekuk lucu menatapku."Nggak bisa." Pecah lagi rengekannya. Aku menghela napas sebentar sebelum ikut mengintip tugas cowok itu. Tentang matriks."Mau aku ajarin?"Matanya yang tadi sendu berubah berbinar dengan cepat. "Kamu bisa?""Kayaknya. Aku coba dulu."Alvin dengan semangat mengangsurkan buku paket serta buku PR-nya. Aku tahu niatnya, pasti minta dituliskan sekalian. Aku menyobek pertengahan buku PR-nya dan menyoret di sana."Sekalian aja, sih, Shei.""Aku mau bikin kamu pinter, bukan tambah bodoh."***Sejak aku membantu Alvin mengerjakan tugasnya waktu itu, aku secara tidak resmi menjadi tutornya. Kata Alvin, dia lebih suka belajar denganku daripada guru di sekolah ataupun di les. Cara menerangkanku sederhana dan cepat diserap otaknya. Ntah benar atau hanya sekedar bualan.Tidak semua tugasnya yang aku bantu, tapi dia sering tiba-tiba menelepon atau mengajakku keluar untuk membantunya mengerjakan tugas atau belajar bersama. Seringnya sih menelepon tengah malam dengan panik karena dia baru ingat ada tugas yang harus dikumpulkan besok pagi. Tidak terhitung berapa kali aku begadang demi menemani dan mengajarkannya mengerjakan tugas. Harusnya aku marah karena dia mengganggu jam istirahatku, membuang banyak waktuku demi dia. Sayangnya yang aku rasakan adalah sebaliknya. Aku mau disusahkan olehnya. Aku tidak keberatan diganggu padahal mau tidur. Aku senang merasa dibutuhkan olehnya. Aku dengan suka rela memberi banyak waktuku untuknya." Shei ...." Panggilnya pada suatu malam via telepon. Aku baru saja mematikan lampu kamar—bersiap untuk tidur."PR apa lagi sekarang?"" Ih, kok kamu ngomongnya ketus gitu. Nggak ikhlas, ya, bantuin aku? " Alvin memang sedikit tidak tahu diri. Dia yang mau minta tolong, tapi malah dia yang merajuk."Ikhlas Al ...." kataku memanjangkan namanya. "Kalau nggak ikhlas, udah aku decline telepon kamu."" Sheila Cantik emang terbaik. " Padahal itu hanya gombalan biasa, tapi sukses membuat jantungku disko malam-malam begini. " Bantuin fisika, ya. Pas materi ini aku nggak masuk karena lagi latihan basket. Ada PR dikasih tahu temanku barusan. Kalau nggak, tamat riwayatku di sama Bu Mena besok.""Ya udah, buruan. Halaman berapa?" Aku menghidupkan kembali lampu kamar. Mengaktifkan loudspeaker ponsel dan membuka buku paket fisika sekaligus kertas coretan.Lagi-lagi, aku begadang demi cowok satu ini. Alvin Fierza.***Alvin sepertinya makin sibuk saat kenaikan ke kelas dua belas. Katanya, dia dan timnya sedang mempersiapkan performa untuk pertandingan terakhir mereka. Ya, seperti pada umumnya, siswa kelas dua belas tidak diperbolehkan lagi mengikuti ekskul manapun. Harus fokus pada ujian nasional dan ujian masuk ke perguruan tinggi. Nilai tidak boleh anjlok.Ngomong-ngomong tentang nilai, Alvin dapat nilai yang lumayan memuaskan pada semester lalu. Tidak sampai juara kelas sih , tapi nilainya lumayan bagus untuk ukuran yang pasrah nilainya dibatas KKM. Berita bagusnya lagi, ibunya cukup puas dengan nilai Alvin. Dia senang bisa mengakhiri kelas sebelas dengan tenang—tanpa ceramah dari ibunya.Aku ikut mengapresiasi pencapaian Alvin tersebut. Aku tahu bagaimana giat dan semangatnya Alvin belajar ditengah ketertinggalannya karena basket. Aku saksi hidup yang menyaksikan betatap gigihnya dia. Meneleponku tengah malam untuk mengerjakan tugas dan mengajakku belajar bersama saat weekend menjadikanku ikut serta dalam perjuangannya. Aku ... bangga bisa menjadi salah satu bagian diperjalanan hidupnya.Hampir dua minggu aku tidak bertemu Alvin. Dia juga jarang menghubungiku. Kesibukannya menyita waktunya. Biasanya, hampir setiap malam dia menelepon atau melakukan panggilan video, dengan dalih minta bantuan mengerjakan tugas atau hanya iseng saja—kangen katanya. Dalam dua minggu ini, baru dua kali dia menelepon dan tidak ada panggilan video. Di salah satu sesi telepon kami, dia sempat bercerita kalau jadwal latihannya mulai gila-gilaan. Belum lagi bimbel yang dia ikuti—paksaan ibunya.Aku maklum karena waktuku juga lebih banyak untuk belajar sekarang, meskipun aku tidak sesibuk Alvin yang memegang ponsel saja jarang. Aku menyemangati dan mendukungnya. Tidak menuntut banyak karena aku bukan siapa-siapa, hanya teman. Miris, ya.Rasa rinduku padanya membuatku nekat ke sekolahnya. Berdasarkan informasi yang aku dapat dari Sausan, pertandingan basket kali ini diadakan di sekolah mereka dan terbuka untuk umum. Aku mudah menyelinap kalau begitu.Harusnya aku ditemani Sausan saat ini. Tapi Sausan mendadak ada urusan penting dan harus segera pulang. Jadilah aku sendirian di tempat asing. Untungnya pertandingan segera dimulai. Senyumku merekah saat melihat Alvin di tengah lapangan, sedang men- drible bola berwarna oranye.Selama pertandingan, mataku terpaku pada Alvin. Kemanapun pergerakannya, aku ikuti. Alvin sepertinya tidak menyadari keberadaanku. Posisiku memang tersembunyi karena berada di bagian belakang—terhalang orang-orang di depan. Tidak masalah. Aku bisa menemuinya nanti setelah pertandingan selesai.Setelah menunggu empat puluh enam menit, akhirnya pertandingan selesai dengan tim Alvin keluar sebagai pemenang. Aku bersorak dengan penonton lain—merayakan kemenangan mereka. Aku buru-buru turun dari tribun sambil membawa sebotol air mineral. Alvin pasti haus walaupun kemungkinan dia sudah punya minum, tapi apa salahnya aku memberikan perhatian padanya kan?Langkahku yang tadinya semangat langsung melemah saat melihat sudah ada cewek lain yang memberi Alvin minuman. Senyum Alvin terukis dan dibalas senyum lebih manis oleh cewek itu.Perlahan aku mundur, lalu balik badan. Ada rasa sesak di dadaku melihat Alvin akrab dengan cewek lain. Padahal, bisa jadi cewek itu temannya saja kan? Ntah lah, cemburu menguasaiku dengan hebat membuatku urung menghampirinya. Memilih pulang dengan rasa kecewa.***Aku tidak berani menanyakan siapa cewek tempo hari pada Alvin saat dia muncul di depan rumahku di suatu sore. Dia mengajakku makan es krim. Katanya sebagai traktiran kemenangannya kemarin. Alvin tidak tahu aku datang saat itu karena aku tidak berniat memberi tahu. Jika Alvin tahu, dia pasti akan bertanya banyak. Aku takut rasa cemburuku saat itu diketahui Alvin.Sepanjang sore, Alvin menyeritakan bagaimana pertandingannya padaku. Aku pura-pura tertarik karena tanpa dijelaskan pun aku sudah tahu. Ingat, aku ada di sana. Aku memasang telinga baik-baik, siapa tahu Alvin menyinggung tentang cewek yang memberinya minum. Tapi sampai cerita berakhir dan kami hendak pulang, tidak sekalipun Alvin menyenggol tentang cewek itu. Kemungkinan cewek itu tidak penting karena Alvin tidak menyeritakannya. Ya, pasti begitu. Alvin menyeritakan semua hal padaku selama ini. Kalaupun ada yang tidak dia ceritakan, itu sesuatu yang tidak penting dan sudah dia lupakan.Alvin menganggap cewek itu tidak penting dan sudah melupakannya. Huft, aku sudah bisa tenang sekarang.***Sayang sekali, aku terlalu percaya diri pada saat itu.Alvin bertingkah aneh sejak kemarin. Dia tidak membalas satupun chat yang aku kirim—hanya dibaca, tidak mengangkat panggilanku, dan yang paling parah dia berhenti mengikutiku di media sosial. Aku mulai berpikir sudah melakukan kesalahan apa sehingga dia menghindariku seperti ini. Sekian lama aku memaksa otakku bekerja, tidak ada hasilnya. Aku tidak ingat sudah melakukan kesalahan apa padanya dan aku kesal sendiri. Mau minta penjelasan langsung tidak bisa, aku tidak tahu di mana rumahnya.Seminggu sudah Alvin menjauhiku. Aku yang tidak tahan dengan semua pengabaiannya ini, akhirnya menelepon Sausan. Bertanya apa yang terjadi dengan Alvin pada temanku itu. Sausan terkejut mendengar ceritaku karena menurutnya Alvin baik-baik saja. Mereka masih saling melempar candaan tadi di sekolah dan Alvin tidak terlihat memiliki masalah apapun." Bentar, Shei. Gue hubungi Alvin dulu. Lagi nggak waras mungkin tuh anak. "Aku menunggu penjelasan dari Sausan hampir sejam. Selama itu, hatiku tidak tenang dan jantungku berdetak tidak karuan. Aku takut kalau ternyata Alvin membenciku. Aku tidak akan siap menghadapi itu. Karena aku ... mencintai Alvin.Ya, aku akui aku mencintainya. Ntah kapan rasa itu mulai tumbuh. Keberadaannya di sekitarku membuatku terbiasa dan menumbuhkan perasaan ini. Aku tidak tahu bagaimana perasaan Alvin padaku, apakah sama atau hanya menganggapku sebagai teman. Aku tidak berharap banyak karena memang dari awal pertemuan kami bukan mengarah ke sana.Sausan tidak meneleponku. Dia mengirim chat dengan beberapa screen shoot hasil percakapannya dengan Alvin. Balasan Alvin membuat napasku tercekat. Duniaku rasanya runtuh seketika. Dia ... dia berhasil menjungkir balikkan duniaku dalam sekejap mata.Gue nggak bisa lagi berhubungan sama dia, San.Gue sekarang punya pacar dan cewek gue nggak ngebolehin gue berhubungan lagi sama dia.Cewek gue cemburu banget sama dia.Sejujurnya, berat bagi gue untuk jauhin dia.Gue udah nyaman sama dia, udah dekat banget sama dia. Dia udah bantuin gue banyak hal.Dia udah gue anggap teman dekat.Tapi gue nggak bisa apa-apa, gue tetap harus memilih.Sampai kan maaf gue ke dia, San.Maaf udah bikin dia kecewa.Dia nggak salah apa-apa, dia baik. Di sini gue yang salah.Kalau dia marah, gue terima. Gue pantes dapetin itu.Tolong bilang ke dia, semoga dia selalu bahagia.Gue bakal ngehubungi dia, kalau keadaan udah memungkinkan.Foto yang menampilkan Alvin sedang merangkul seorang cewek menjadi penutup chat yang dikirim Sausan. Di foto itu, mereka tersenyum sumringah dan terlihat serasi. Pandanganku mengabur ketika menyadari siapa cewek itu. Dia ... cewek yang tempo hari memberikan minuman pada Alvin.Aku tersenyum hambar. Ternyata dia sudah pacar. Aku tidak tahu kenapa Alvin tidak mengatakan hal sepenting ini padaku. Alvin selalu menyeritakan semuanya padaku, dari yang penting sama tidak penting. Aku tidak tahu apakah dia sengaja menyembunyikan pacarnya dariku atau bagaimana. Sesulit itu mengatakan padaku kalau dia sudah punya pacar? Dia menganggapku teman dekatnya bukan? Meskipun sakit yang kurasa karena aku menganggapnya lebih dari itu.Rasa sakit ini bukan hanya karena perasaan yang tidak terbalaskan. Tapi karena tidak dipercayai dan tidak dianggap penting oleh orang terdekat, sampai dibuang begitu saja saat tidak dibutuhkan lagi. Kalau begini ceritanya, aku menyesal pernah mengenal seorang Alvin Fierza. Lebih baik kami menjadi orang asing tanpa perlu menyakitiku seperti ini.

Tujuh Tahun Lalu Aku Diusir, Hari Ini Anakku Memanggilnya Ayah
Teen
16 Dec 2025

Tujuh Tahun Lalu Aku Diusir, Hari Ini Anakku Memanggilnya Ayah

"Pergi jauh kamu dari anakku""Kamu menghancurkan masa depannya""Kamu menghancurkan harapan kami""Saya mohon, saya akan berlutut di kaki kamu agar kamu meninggalkan Raydan, Kirana"Mimpi buruk itu masih terus datang, meskipun sudah tujuh tahun berselang, dan rasa sesak juga sakitnya tak pernah berkurang apalagi menghilang.Mereka tidak sadar bukan hanya anaknya yang kehilangan masa depan, bukan hanya anaknya saja yang hancur, dirinya kehilangan lebih daripada siapapun.Di tampar sang ibu dan di usir sang ayah, malam itu ia hendak mengadu pada Raydan, tentang bayinya tentang pengusirannya, namun yang ia dapat ternyata lebih pedih daripada keluarganya, bukan Raydan yang ia temukan namun pengusiran dan penghinaan kembali yang ia peroleh.Gadis 18 tahun yang kehilangan segalanya karena mengandung bayi berusia 5 minggu, kesalahan karena terlalu bebas berpacaran, terlena karena rayuan hingga akhirnya dia ditinggalkan."Mami... Bangun mami."Sebuah gedoran terdengar di pintu kamarnya, melihat jam di nakas baru pukul 05.30 pagi tapi pasti si kecil Kimi tengah menagih susu hangatnya di pagi ini.Kimora, gadis kecil berusia 6 tahun yang baru memasuki sekolah dasar, gadis kecil yang tujuh tahun lalu orang-orang meminta untuk melenyapkannya, malu katanya, mencoreng nama baik keluarga, dan menghancurkan masa depan."Anak mami masih pagi udah berisik aja.""Ayam udah berkokok mami, matahari juga sudah mau keluar." Rengeknya dengan wajah cemberut lucu membuat Kirana tak tahan untuk menghujami wajah kecilnya dengan ciuman. "Mami berhenti, kalau enggak aku ngambek."Kirana tertawa mendengar ancamannya, entah bagaimana jika ia tujuh tahun lalu menuruti orang-orang untuk menggugurkannya, karena Kimi saat ini adalah dunianya, sumber kebahagiaannya, segalanya."Kimi mandi dulu ya, mami siapin susu cokelat sama sarapan pagi buat Kimi, oke!""Siap mami, Kimi sayaaaaang mami."Begitulah ia mengawali harinya, teriakan Kimi adalah penyemangatnya untuk berkutat dengan bakery yang telah dikelolanya selama tiga tahun, toko kue yang mengedepankan pesanan khusus kue-kue untuk pesta."Mbak Kiran, Bu Andini mengundang anda langsung untuk hadir dalam acara ulang tahun keponakanya.""Oke, berarti yang nganterin langsung saya aja ya Li, biar kamu gak bolak-balik.""Apa Kimi akan ikut?""Enggak, Kimi gak saya bawa, di rumah ada Omnya saya titip ke dia, lagi pula saya gak akan lama, saya datang hanya untuk menghormati undangan Bu Andini saja, diakan pelanggan tetap Bakery kita, setelah saya berangkat kamu langsung pulang aja Li."Hello Bakery, adalah toko kue yang dikelola Kirana, milik seorang nenek baik hati yang hidup sebatang kara, toko kue yang sepi pembeli sebelum Kirana bekerja disana, hingga sang nenek mewariskan toko padanya sebelum dia meninggal.Kirana sampai di tempat acara pukul tiga sore, sengaja dia datang lebih awal untuk memastikan kuenya terpajang sempurna, perayaan ulang tahun ke 3 seorang anak perempuan yang bernama Sheika Ramia Alezander, dia tahu karena Kirana sendiri yang menulis nama itu dalam kue ulang tahunnya, satu nama terakhir membuatnya berdesir merasakan sakit yang masih sama sesaknya. Hanya sebuah nama yang sama pikirnya. Namun semua tidak hanya sebuah nama saat Andini mengenalkannya pada Tuan yang punya acara."Kiran, makasih ya udah mau datang, sini aku kenalin sama yang punya acara, mana ya..." Andini mengedarkan pandangannya menyapu ruangan mencari keberadaan seseorang. "Ray... Ray... sini!"Sebuah nama yang membuat Kirana membeku, ngilu, dan rasa yang sudah lama ia berusaha kubur selama tujuh tahun kini seolah percuma, memohon pada tuhan supaya dia bukanlah orang yang sama, berdoa sekuat hati agar hanya namanya saja yang sama, ia tak ingin bertemu lagi dengan sumber kedukaan dan kehancurannya, ia sekuat tenaga memohon namun ia tau tuhan tak mengabulkannya kali ini saat yang datang menghampirinya benar adalah dia, Raydan Bright Alezander. Pangerannya, hidupnya, planetnya, kebahagiaanya, dulu.Dia masih sama, tinggi, tampan dan sorot matanya yang selalu bisa meluluhkan siapapun, dia baik-baik saja, tentu saja dia baik-baik saja, hidupnya sempurna, tak seperti dirinya yang harus terlunta-lunta di jalan mencari perlindungan, tak seperti dirinya yang harus memulai hidup dari titik minus bahkan hingga dia bisa berdiri lagi saat ini."Ray ini Kiran, dan Kiran ini Raydan adik ipar aku."Suara Andini seolah mengilang, beku semuanya beku. Raydan terpaku memandang seseorang didepannya, seseorang yang tak pernah dilihatnya selama tujuh tahun, meskipun ia telah berusaha setengah mati untuk menemukannya, seratus kali ia menyerah dan seratus satu kali lagi ia terus kembali mencobanya. Kini ia di hadapannya, Kirananya baik-baik saja, dia cantik dan semakin dewasa, sungguh ia setengah mati merindukan wanita ini, wanita yang terpaku dengan mata berkaca-kaca, tapi bukan sorot mata bahagia melainkan terluka."Ray, Shei mau potong kue sama kamu katanya." Seorang wanita paruh baya menghentikan apapun yang sedang merajai pikiran mereka, Ibunya Raydan dengan Sheika, gadis kecil di gendongannya.Wanita itu, yang memohon agar ia pergi meninggalkan Raydan, ia yang juga terlihat pias melihat wanita dihadapannya, wajah tuanya terlihat sedih, terpaku melihat Kirana. Rengekan Sheika, teguran Andini tak ada yang bisa menyadarkan mereka, mereka menatap wanita yang sama, Kirana.Satu tetes air mata jatuh dipipi Kirana, membuatnya tersadar bahwa ia harus segera pergi dari sana, melihat kebahagian mereka, kesempurnaan hidup Rayden membuat semuanya terasa semakin sakit, hanya ia yang berjuang sendirian, hanya ia yang terluka sendirian. Ia berlari sekuat tenaga, keluar dari venue acara tanpa menghiraukan seruan Andini yang kebingaungan, ia hanya ingin pergi, harus pergi jauh lagi.Raydan tersadar, saat Kirana yang dipandanginya pergi dari hadapannya, namun ia seperti tersihir dengan airmata mengalir dipipinya."Ma... Dia Kirana kan, dia Ranakan? Dia Rananya Ray kan Ma."Ibunya Tiara memeluknya, sama-sama menangis. "Ia Ray, dia Rana, Rana nya kamu, maafin mama sayang, maafin mama." Ia tersedu sedan penuh penyesalan, kesalahan yang ia lakukan telah merenggut kebahagiaan Raydan, ia telah kehilangan putranya meskipun Raydan ada dihadapannya. "Kejar dia sayang, kejar dia, jangan sampai dia pergi lagi."Seolah tersadar, ia berlari mengejar Kirana, memanggil namanya, berteriak seperti kesetanan, namun apakah ia terlambat lagi seperti waktu itu, tidak ia tidak akan terlambat untuk kedua kalinya, ia akan menemukannya, ia harus menemukannya."Kirana! Diamana kamu Kirana, Rana."Raydan terduduk, menangis, begitupun Kirana, ia tersedu di balik pilar, mereka sama-sama menangis membiarkan kesakitan menguasai mereka, mencoba melepaskan semua duka, tangis yang sama-sama mereka pendam selama tujuh tahun, kini jebol seolah mewakilkan semua rasa mereka, sakit, luka, cinta, rindu semua menyatu.***Kirana tau cepat atau lambat Raydan akan menemukannya, hanya tentang waktu. Ia memeluk Kimi erat, seakan tak ada hari esok."Mami kenapa, kenapa mami terlihat sedih?"Mata hitamnya adalah mata Rayden, rambut cokelatnya adalah rambut Rayden, hidung bangirnya adalah hidung Rayden, dia memang anak Rayden terlihat dari sekali pandang. Namun, bagaimana kalau Rayden juga sudah memiliki keluarga, bahkan seorang putri juga."Gak apa-apa sayang, mami hanya sedang ingat papa kamu.""Papa? Bukannya papa sedang pergi jauh? Kata mami kalau Kimi rindu papa, Kimi hanya harus berdoa pada tuhan agar papa datang dalam mimpi Kimi.""Ia sayang, apa papa suka datang dalam mimpi Kimi?"Kimi tersenyum sumringah. "Ia mami, kalau Kimi merindukan papa, terus Kimi berdoa sama tuhan, maka papa akan datang dalam mimpi Kimi dan memeluk Kimi tidur, tapi..." wajahnya berubah sedih. "Tapi begitu Kimi bangun papa sudah gak ada."Kirana memeluk erat Kimi, menciumnya bertubi. "Mami minta maaf, maafin mami.""Kenapa mami minta maaf, mami gak ada salah sama Kimi."Demi Kimi setidaknya Raydan harus tau kalau Kimi ada, meski nanti seperti apa status mereka setidaknya ia harus mempertemukan mereka. Namun apa ia akan kuat bertemu lagi dengan Raydan, memperkenalkan Kimi sebagai anaknya, bagaimana jika ia mengabaikan Kimi, bagaimana jika Kiminya tak diinginkan, bagaimana... Ia pasti akan merasakan sakit yang lebih parah, dan Kimi ia tak ingin membuat Kimi kecewa, hal terakhir yang ia inginkan adalah melihat kesedihan Kimi, ia tak ingin membuat Kiminya kecewa.***Hello Bekery milik Kirana, begitu yang ia tau dari Andini, ternyata begitu dekatnya ia dengan Kirana tapi ia tak dapat menemukannya, padahal setiap perayaan di keluarganya, Andini selalu memesannya kue dari sana. Kini ia berdiri di depan Hello Bakery, hanya tinggal selangkah lagi ia bisa menemui Rananya, namun kini ia merasa takut, ia gemetar, ia gentar setelah tujuh tahun penantiannya ia merasa sangat takut, takut Kirana lari, takut Kirananya pergi lagi."Om mau beli kue?"Seorang gadis kecil berseragam putih merah dengan kuncir kuda membuyarkan lamunannya, ia terpaku, ia kembali membeku melihat anak kecil dihadapannya."Masuk Om, Om mau beli kue maminya Kimi?"Mata bulatnya, bibir tipisnya mengingatkannya pada seseorang di dalam sana, tapi bukan hanya itu melainkan kenapa anak kecil ini sangat mirip dirinya."Lho kenapa Om nangis? Kemarin mami Kimi yang nangis, sekarang Om juga nangis, ayo Om masuk, Kimi kasih gratis deh kue maminya Kimi biar Om gak nangis lagi, biasanya mami kalau Kimi nangis selalu bikinin kue kesukaan Kimi."Kimi menarik jemari Raydan, membuatnya tersentak, seperti ada aliran listrik, mengejutkan jantungnya, menghangatkan hatinya. Kimi menariknya masuk mempersilahkannya duduk di kursi dekat jendela."Ini meja favorit Kimi, Kimi biasanya bermain dan belajar disini." Kimi tersenyum pada Raydan memperlihatkan senyum yang mirip Kirana dan lesung pipit seperti miliknya."Nama Om siapa? Nama aku Kimi eh Kimberly tapi mami memanggilku Kimi yang artinya kuat, kalau sudah besar nanti Kimi akan kuat jagain mami."Raydan mengusap airmatanya, menerima uluran tangan gadis kecil di hadapannya, tangannya mungil sehingga tenggelam dalam genggaman tangan kekarnya."Nama Om Ray, Kimi."Raydan sangat enggan melepaskan genggaman tangannya pada Kimi, 'Kimi' menyebutkan namanya membuat hatinya menghangat, ia merasa bahagia, sesuatu yang terasa jauh darinya selama ini."Om Ray kenapa nangis, apa Om lapar, Kimi kalau lapar suka nangis.""I..iya...""Tunggu sebentar ya Kimi minta kue ke mami, Kimi traktir."Genggaman itu terlepas, membuat Raydan merasa kehilangan, gadis kecil itu berlari menuju pintu bertuliskan "Kitchen Area", dan tubuh kecilnya menghilang disana."Mami, Kimi boleh minta kuenya? Buat temen baru Kimi dia lagi nangis di depan."Kirana yang sedang menghias kue mengalihakn pandangannya pada Kimi."Anak mami sudah pulang? Cium dulu dong maminya."Kecupan mendarat di pipi Kirana. "Ia, dijemput Om Reyhan, tapi Om Reyhannya pulang, mana mami kuenya?""Minta sama tante Oli sayang kuenya, temen barunya Kimi gak di kenalin ke mami?""Ayo ikut Kimi kedepan kalau mami mau kenalan." Kimi berlalu dengan empat potong kue yang ia dapatkan dari Oli, karyawan Hello Bakery.Kirana kembali tenggelam dalam pekerjaannya, setelah urusannya selesai ia segera mencari Kimi untuk mengganti seragamnya, namun apa yang dia lihat membuatnya terdiam, terenyuh, terharu.Bagaimana bisa ia melihat pemandangan seindah ini, Raydan sedang menyuapi Kimi, mengelap cream yang menempel di bibir Kimi.Kirana kembali menangis, setelah semalaman ia hampir tak tidur karena menangis."Mamiiii...."Kimi turun dari kursinya berlari menghampiri Kirana, Kirana berjongkok menyambut Kimi dan memeluknya, menangis lagi. Raydan begitu iri melihat pemandangan didepannya, ia ingin bergabung disana, ia ingin memeluk mereka, ingin memeluk Rana dan Kimi.Raydan turun dari kursinya, mengahampiri mereka dengan perasaan berkecamuk, ia ragu, ia takut."Ran...."Kirana hanya mengangguk sebagai jawaban.

Cowok Kampus Itu Manis, Tapi Kenapa Posesif ke Aku?
Teen
16 Dec 2025

Cowok Kampus Itu Manis, Tapi Kenapa Posesif ke Aku?

Dia adalah cowok paling tampan, paling manis, paling cute, paling lucu diangkatan Una, bahkan mungkin di seluruh kampus. Ngomongnya, kerlingannya, kagetnya, tatapannya, semuanya bikin orang betah lama-lama menatap wajahnya bahkan hanya dengan melihat diamnya.Bian, teman satu kelasnya yang selalu bikin Una deg-degan tiap ia dekat dengan Bian, dan Bian itu ramah jadi dia tak segan mendekat, mengobrol dan bergabung dengan siapapun dimanapun."Hai Na.""Bi...""Kantin yu, laper banget aku gak sarapan tadi pagi.""Ko ngajak aku, Teddy mana?""Kenapa? memang kamu gak laper, kamu tadi pagi datang telat lo, dan aku yakin kamu belum sarapan, jadi gak boleh nolak, ayo!"Santai, Bian menempatkan tangannya di bahu Una, seperti memeluknya. Apakah dia biasa aja dengan perlakuan seperti ini? Dan apakah Una yakin akan selamat sampai kantin dengan tangan Bian melingkari bahunya dan Una menahan nafasnya, sementara sepanjang jalan semua perempuan yang mereka lewati berbinar karena sekali lagi Bian itu ramah jadi selama itu ia terus menebar senyum menawannya."Mau pesen apa, biar aku ambilin!""Gak usah aku ambil sendi...""Duduk aja, biar aku yang ambil, jaga meja oke!"Una diam, ia mulai bertanya kenapa Bian mengajaknya ke kantin, kemana Teddy, bukannya ia biasa bersama Teddy, kenapa harus berdua?"Caramel Mochiatto dan Cheese Cake."Bian datang dengan pesanan mereka berdua, dan kalau Una tak salah ingat ia belum menyebutkan pesanannya pada Bian, tapi Bian datang dengan makanan favoritnya."Benarkan itu makanan kesukaan kamu?""Yep, ko tau?" Bian Diam, Una seperti salah bicara, "Kamu cenayang ya Bi?"Bian terkekeh pelan, "Tak perlu jadi cenayang untuk tau makanan yang setiap hari kamu pesan Na."Masalahnya ia jarang sekali makan bareng Bian di kantin biarpun itu rame-rame, bisa dihitung dengan jari, jadi gak aneh kalau Una bilang Bian cenayang."Jangan bengong, entar ayam tetangga mati lo."Una makin bengong, dan kali ini Bian tertawa.Una heran, "Apa yang lucu sih Bi?""Aku suka deh kamu manggil aku Bi.""Dari pada Yan, entar dikiranya aku manggil Yanto satpam kampus."Bian tertawa lagi, keras. "Kamu lucu banget sih Na". Dia mengatakan itu sambil mengacak rambut Una, gemas. Dan Una semakin merasa aneh dengan tingkah Bian."Aku minjem buku kalkulus dong, aku belum nyatet materi yang kemarin.""Gak aku bawa, ada di kosan.""Entar aku ambil." Jawab Bian santai, dan Una sekali lagi merasa heran. Apa Bian akan benar-benar mengambilnya ke kosan, sementara dia bisa meminjamnya kepada siapa aja disini yang bahkan pasti rela menyalinkan untuk Bian."Ayo..." Bian menunggu Una bangkit dari duduknya, membawa Una keluar kantin. Sama seperti tadi Bian setia berjalan disamping Una meski banyak yang menyapa tapi ia enggan berhenti walau untuk sekedar basa-basi."Una!!!" Teriakan Rengga menghentikan langkah mereka berdua. Dia datang dengan wajah sumringah, menyapa Bian sebentar dan menatap Una."Ada apa Ngga?""Entar pulang bareng ya, kita mampir dulu ke toko kue, oke?"Baru Una hendak menjawab tapi keburu disela oleh Bian."Una pulang bareng gue?"Bukan hanya Una yang terkejut tapi Rengga juga, keanehan Una menular juga pada Rengga, Rengga melihat sorot tidak suka dari Bian, tajam, sesuatu yang siapapun tak pernah mereka lihat dari wajahnya."Ayo Na." Tanpa menunggu jawaban dari siapapun Bian menarik tangan Una, menjauhkannya dari Rengga, menjauhkannya dari tatapan siapapun."Masuk.""Bi...""Masuk Na, aku anterin kamu pulang!"Apakah Bian sedang marah, karena wajah cutenya kini hilang hanya tatapan tajam yang ada, membuat Una tak berani membantah.Mobil Bian membelah jalanan Jakarta, menuju kosan Una, sekali lagi Bian tak bertanya dan Una tidak menyebutkan kosannya dimana tapi kini mereka telah sampai di depan gerbang kosannya.Kebingungan semakin terlihat jelas di wajah Una. "Bi kamu ko...""Kamu gak akan mempersilahkan aku masuk?"Pertanyaan Una terpotong, ia segera mempersilahkan Bian masuk, menyuruhnya duduk sementara ia mengambil buku kalkulusnya. Tapi sungguh ia sudah tak tahan dengan rasa penasaran, kaget, bingung dengan perlakuan Bian hari ini, ia bertekad untuk bertanya, harus!"Ini." Una menyodorkan bukunya kehadapan Bian, dan Bian masih memperhatikan kamar Una, tepatnya ruang tamu kecil Una yang hanya ada dua sofa panjang, televisi dan rak buku."Thank you, besok aku balikin ya.""Bi..." Una memberanikan diri."Hmm..." Bian menatap Una lekat, menyukai pemandangan di depannya saat ini, wajah memerah dan salah tingkah, sungguh lucu."Kamu ngerasa aneh banget gak hari ini.""Aneh gimana?""Emhhh.. Anu, aneh aja!"Bian terkekeh pelan menikmati kegugupan Una."Kenapa, ada yang mau kamu tanyain?""Kamu kenapa tiba-tiba ngajak aku ke kantin, tau makanan yang tiap hari aku pesen, bahkan kamu tau kosan aku tanpa kamu bertanya."Bian hanya tersenyum, manis, sangat manis bahkan. "Mungkin aku cenayang seperti apa yang kamu bilang." Mendapatkan Una hanya diam, Bian memintanya pindah ke sampingnya. "Sini deh, duduknya deketan." Una masih bengong, membuat Bian akhirnya pindah duduk disamping Una."Ko bengong sih, aku cium nih kalau kamu masih bengong."Dengan gerakan cepat Bian mencium pipi Una."Masih bengong juga?"Una meraba pipi yang tadi dicium Bian. "Bi...""Kaget? Sini aku jelasin."Una fokus menatap Bian begitupun sebaliknya."Aku suka sama kamu Na, sejak... Emm mungkin sejak saat kita kamping di Bogor, saat kamu ngambil ranting kayu terus kamu jatuh dan wajah kamu terkena tanah, tapi justru aku suka saat melihat itu.""Masih bengong, aku cium lagi nih."Namun kali ini Bian tidak hanya mencium pipi Una, tapi bibirnya, perlahan, lembut dan tidak menuntut, dan Una menyambut ciuman Bian, dia mengalungkan tangannya di leher Bian, mendapatkan persetujuan dari Una, Bian memperdalam ciumannya pada Una, membelitkan lidahnya saling mengeksplorasi mulut masing-masing, hingga mereka telah bergumul disofa kecil milik Una. Mereka mengentikan ciumannya saat sama-sama kehabisan nafas, hal pertama yang dilakukan Bian adalah tersenyum manis dan mencium kening Una sayang."Bi...""Hmmm...""Berat Bi...""Masa sih, aku enak ya posisi kaya gini."Una memukul dada Bian pelan. "Bi... Beneran ini!""I love you Na, jangan deket sama cowok lain, jangan jalan sama cowok lain, jangan lirik cowok lain, deket, jalan, dan lirik aku aja.""Idih, posesif.""Biarin, kan cinta.""Tapi aku enggak."Wajah Bian serius membuat Una menghentikan senyumnya. "Bener?".Una menggeleng.Lalu tanpa ampun Bian menindih Una lagi menciumnya habis-habisan sampai Una menyerah dan mengaku cinta."I love You too, Fabian."

Anak Baru Itu Terlalu Berbahaya… Aku Jatuh Cinta Tanpa Siap
Teen
16 Dec 2025

Anak Baru Itu Terlalu Berbahaya… Aku Jatuh Cinta Tanpa Siap

"Hei apa lo udah liat anak baru yang rambutnya pirang itu?"."Anak baru, memangnya boleh kalau rambutnya di warnai, eh atau itu memang rambut aslinya?""Gak tau juga sih, tapi gue lihat dia di ruang guru saat gue nganterin buku tugas dari Bu Indah dan dia itu cakep bangeeeet Re"."Masa? Secakep itu sampe 'banget' lo panjang banget"."Serius cakep, cute juga sih, kaya opa-opa kesukaan gue itu lho, atau gue ngefans ke dia aja kali ya secara dia kan ada di depan mata gitu"."Ck ada-ada aja deh lo"."Gue penasaran kira-kira dia masuk kelas mana ya, semoga aja masuk kelas kita, biar kegantengan cowok-cowok di kelas kita terupgrade biar gue betah diem di kelas dan semangat pergi sekolah".Aku hanya bedecih tak heran melihat antusias Andin tiap liat cowok gantengan dikit, tapi aku di buat penasaran juga karena Andin jarang muji cowok pake 'ganteng banget' gitu.Suara ribut-ribut di kelas tiba-tiba hening, digantikan dengan suara kasak kusuk anak-anak perempuan, juga sikutan Andin pada lenganku."Itu anak barunya, alhamdulilah dia masuk kelas kita". Ujarnya dengan luapan kegirangan yang tertahan.Gak salah memang kalau Andin bilang dia itu 'ganteng bangeeet' dia ganteng, putih, manis dan terlihat sangat cute, aku rasa beberapa perempuan akan kalah cute dari pada dia, dan dia jangkung, matanya tajam, dan matanya berwarna abu-abu."Noah silahkan duduk di sana, di sebelah Bagas".Sepanjang dia memperkenalkan diri tak pernah sedikitpun senyum tampak di wajahnya, dia terlihat cuek tapi tidak juga terlihat mengabaikan mungkin itu efek dari wajah cutenya, kecuali kalau dia menatapmu tajam, matanya terlihat dingin. Seperti saat ini dia yang sedang menatapku menuju kursi di sebelah Bagas yang sama persis juga di sebelahku, begitu dia duduk aroma colognya tercium kuat dalam indraku, membuat aku penasaran parfum apa yang dia pakai, yang pasti bukan parfum murah yang biasa ada dalam iklan-iklan TV, dan kalau di perhatikan lagi sepertinya semua yang dia kenakan juga bukan barang murah, pasti dia orang berada. Mudah-mudahan aja dia gak sombong dan arogan seperti orang-orang kaya kebanyakan, tapi walaupun demikian apa masalahnya?.Ketika bel istirahat berbunyi nyaring, kelas kembali riuh terutama bangku sebelahku, anak-anak mencoba berkenalan dengan Noah termasuk Andin yang sudah melesat memperkenalkan diri dan ternyata Noah cukup baik menaggapi perkenalan mereka, yah ternyata dia bukan orang kaya yang sombong.Kelas tenang kembali karena para penghuninya telah berburu makanan ke kantin hanya menyisakan sebagian orang disini."Kamu gak ngajakin aku kenalan?". Ternyata Noah sedang melihat ke arahku dengan sedikit senyum samar di wajahnya."Tadi masih rame". Jawabku apa adanya.Dia menyodorkan tangannya kearahku. "Noah".Aku menerima ulurannya. "Aretha"."Kamu gak ke kantin?""Enggak, aku mau ke perpus dulu balikin buku". Jawabku sambil menumpuk buku yang akan ku kembalikan ke perpustakaan."Boleh aku ikut, jujur aku belum tau denah sekolah ini".Aku melihat sekeliling mencari Bagas, dan ternyata dia sudah tak ada. 'Apaan dia kenapa gak ngajakin Noah ke kantin'."Boleh, tapi apa kamu gak lapar?". Dia tak menjawab hanya menapilkan ekspresi bingung di wajahnya. "Oh, yaudah nanti abis dari perpus kita ke kantin".Dan aku sangat jengah sepanjang kelas-perpusatakaan-kantin semua mata tertuju pada kami pada Noah tepatnya, dia jalan biasa aja udah kaya jalan diatas catwalk seperti sedang memamerkan segala aksesoris yang dia kenakan, padahal dia jalan biasa aja dengan sesekali bertanya padaku tentang ruangan yang kami lewati. Ketika kami sudah sampai dikantin aku melihat keberadaan Bagas dan langsung mengajaknya ke meja Bagas dan yang lain."Kamu sama Bagas ya". Noah terlihat bingung."Kamu gak makan?""Euhhh-- aku mencari keberadaan Andin--- aku kesana makan sama Andin". Akupun berlalu pergi meninggalkannya bersama Bagas, serius takut aku dilihatin sama orang-orang terus kalau sama dia.***Sudah satu minggu Noah berada disekolah kami, dan aku tau dari Andin kalau dalam waktu seminggu itu sudah ada yang namanya Noah fans, ya beberapa kali memang ada adik kelas yang menitipkan beberapa hadiah padaku untuk Noah yang selalu dia bilang "Buat kamu aja, atau Makan aja" tapi aku yang gak mau akhirnya selalu di tampung sama Bagas, kesenengan banget dia bisa jadi temen sebangkunya Noah."Buat kamu harus eksklusif ya baru mau di terima". Ucapnya pada suatu hari, ketika aku memeberikan cokelat titipan dari salah satu fansnya.Ya gimana ya, itu kan dari orang, cewek lagi buat Noah aneh aja kalau aku yang makan.Hari ini adalah jadwal kelas kami olahraga, dan OMG apa mereka pada gak masuk kelas banyak banget yang nonton.Aku yang sedang istirahat di pinggir lapangan setelah sepuluh kali mengelilingi lapangan basket, sambil melihat cowok-cowok yang sedang tanding basket yang membuat penonton menjerit heboh kalau Noah berhasil memasukan bola ke ring, Ck ya ampun gara-gara Noah penontonnya ampe bejibun gini. Tapi ya Noah memang selalu terlihat menarik sih apalagi sekarang setelah olahraga dengan headband hitam di kepalanya dia terlihat seperti model brand pakaian olahraga, juga badannya yang berkeringat membuat ototnya tercetak jelas dari balik kaosnya. Lalu dia berlari ke pinggir lapangan, dan-- apa di kesini."Re minum dong!". Dia mengulurkan tangan meminta botolku yang tinggal setengahnya."Tapi---".Dia segera meraih botolku dan segera meneguknya. "Aus".Ya ampun kita minum dari botol yang sama, entah pikiran tolol dari mana tapi tiba-tiba ucapan Andin menyeruak di kepalaku tentang ciuman tidak langsung melaui botol atau gelas, aku menggelengkan kepala mengenyahkan pikiran tololku gak mungkin Noah peduli dengan hal-hal seperti it---."Ciuman pertama gue".Ucapnya dengan senyum jailnya membuat dadaku bergemuruh dan panas menyerang pipiku. 'Oh my god apa dia bilang barusan, ciuman pertama'. Sementara aku masih membeku dipinggir lapangan Noah sudah kembali ke tengah lapangan dan tengah mencetak angka. Ketika aku melihatnya dia sedang mengedipkan matanya padaku. 'Ya tuhan aku mau pingsan aja rasanya'.***Minggu siang ketika aku sedang berleha-leha di dalam kamar dengan santainya mamah menyuruhku untuk mengambil pesana Skincarenya di salon langganan mamah."Mah... suruh kak Aldo aja sih, aku males banget keluar panas-panas gini". Gerutuku menolak permintaan Mama."Gak bisa, Aldo mau Mama ajak kondangan, jadi kamu aja ya sayang ajak Andin sekalian jalan-jalan"."Andin lagi ada acara sama keluarganya Mah, aku gak mau pergi sendiri"."Ayolah Re nanti mamah kasih uang buat kamu nyalon deh, udah lama juga kan kamu gak perawatan, gih sana mungpung hari minggu apa ke nonton jangan ngedekem aja di kamar".Akhirnya walaupun terpaksa tapi karena embel-embel uang tambahan buat nyalon aku berangkat juga, lumayan uangnya bisa buat beli buku atau sepatu lucu incaranku.Setelah mengambil pesenan Mamah aku seperti melihat orang yang familiar, tapi meragu ketika melihat warna rambutnya yang berbeda, tapi begitu dia berbalik aku yakin kalau itu dia."Noah!! rambut kamu?"."Hai Re". Dia terlihat kaget. "Iya nih aku cat rambutku jadi item tempo hari wali kelas menegurku. Kamu ngapain?"Aku mengangkat paperbag yang ku bawa. "Ini, titipan Mama".Kami pun jalan bersama keluar dari salon."Sendiri Re, abis ini mau kemana?""Iya ini juga terpaksa keluar rumah Mama maksa, aku mau bei sepatu kemarin pas jalan sama Andin aku lihat ada yang lucu"."Lucu ya kalian ini mendeskripsikan sesuatu". Noah terkekeh pelan."Maksudnya?""Iya kaya kalau cewek liat barang misalnya baju atau tas atau sepatu selalu bilang lucu, padahal.lucunya darimana coba emang bisa bikin ketawa"."Iih... Maksudnya tuh ya lucu gitu lucu pengen beli". Akhirnya aku tertawa juga mengikuti Noah."Ayo... aku temenin"."Beneran, kamu lagi nyantai banget nih?""Iya ayo... Toko sepatu yang mana yang kamu maksud?".Akhirnya aku menerima ajakan Noah, gak bisa ngajak Andin dapet Noah sebagai partner tentu tidak buruk. Sesampainya di toko yang dimaksud aku langsung menuju etalase yang memajang sepatu incaranku."Lucu kan?". Aku memamerkan sepatu yang sedang ku coba padanya."Ya, langsung dipake aja Re, wedgesnya kamu simpan aja, aku mau ngajak kamu keliling dulu bolehkan?"."Cie... Mau ngajak aku jalan ya". Godaku bercanda. "Boleh deh, tapi traktir ya nanti kalau ngajakin makan".Iyalah dari pada bengong dirumah terus dapat gandengan ganteng kaya Noah, ya milih jalan bareng Noah lah."Siap, Re mau dapat sepatu itu dengan harga diskon gak?"."Maulah gila, gimana caranya?". Siapa yang gak mau dapat diskon coba."Kamu tunggu dikasir bentar, nanti aku susul".Dan ternyata yang dimaksud Noah adalah dia datang dengan memakai sepatu yang sama denganku. "Couple shoes" Gila."Kita jadi couple goal banget nih, kalau fans kamu pada tau aku bisa habis di babat sama mereka". Komentarku setelah kami keluar dari toko."Lumayankan dapat diskon 25%". Jawabnya santai. "Kamu mau kemana abis ini?"."Makan aja yu, aku yang traktir deh ada sisaan dari uang belanja tadi".Dia diam sebentar, lalu mengiyakan. Ketika kami sedang jalan ke salah satu foodcourt yang ada di mall itu terlihat seseorang yang terasa familiar menghampirinya."Noah!""Mom""Kamu belum pulang sayang? tadi katanya mau langsung pulang?"."Emmh Noahnya ketemu temen Mom, kenalin ---dia menarik tanganku kesebelahnya Mom dia Aretha temen sekolah Noah".Terlihat wajah antusias di wajah yang sepertinya mamahnha Noah."Oh.. Sayang temennya Noah, cantik banget". Dia memeluku hangat layaknya Mamah kalau ketemu Andin.Akupun menyalami Mamah Noah "Aretha tante"."Gimana Noah di sekolah dia gak bikin ulahkan?"."Moomm---""Sayang Mami kan hanya basa basi saja".Lalu datang seorang yang terlihat segan menghampiri Mamah Noah."Bu, tuan muda -- bu anda sudah ditunggu untuk rapat"."Oh iya, Aretha kapan-kapan kita harus ketemu lagi buat makan bareng, Noah jangan lupa kapan-kapan ajak Aretha ke rumah, Mami pergi dulu".Aku masi cengo berdiri di hadapan Noah. 'Apa katanya tadi Tuan muda'."Jangan bilang Mami kamu yang tadi itu Raya Maheswari Bramantyo"."Kalau iya memang kenapa?". Jawabnya dengan wajah geli."Noah!! Kalo gitu kamu juga yang punga mall ini"."Yang punga mall ini tuh Mami dab papi bukan aku Re"."Tetep aja, pantesan pas masuk toko tadi pegwainya pada ngehormat gitu, aku kira pelayanannya emang kaya kerajaan-kerajaan gitu, ternyata karena ada kamu".

Mantan Itu Duduk di Sebelahku… dan Jantungku Masih Memilih Dia
Teen
15 Dec 2025

Mantan Itu Duduk di Sebelahku… dan Jantungku Masih Memilih Dia

Pernah gak sih kalian bingung mau ngapain?Misalnya kalian biasanya anteng nonton TV, anteng nonton drama, atau bisa berjam-jam baca novel favorite lalu tiba-tiba semua acara TV gak ada yang asik, genre novel favorit udah gak menarik lagi.Sama seperti yang aku alami sekarang, dan penyebabnya adalah dia, Jev, Jeviar. Hanya seorang mantan yang tiba-tiba ngambil jurusan Publik Relation padahal dia udah ngambil jurusan hukum di kampus berbeda."Ta, tau nggak gue denger ada mahasiswa baru ganteng pake banget di jurusan kita"."Siapa? Tau dari mana?"."Gosipnya udah berhembus kenceng banget Ranita, makanya Grup chatnya dibaca, biar gak kudet!"."Gue gak sempet baca, waktu gue abis buat ngerjain tugas dosen killer yang baru keluar kelas tadi, lagian buat apa sih lo masih kepo kalau ada cowok bening dikit, Ardan mau dikemanain Na".Nana teman dekatku dikampus sejak masih Maba, punya pacar super baik dan pengertian seperti Ardan, gimana enggak Ardan bisa dengan sabar dengerin curhatan atau omelan Nana selama seharian penuh bahkan rela diseret kesana kemari dari satu toko ke toko lain di mall dengan senyum masih menghiasi wajahnya."Yee, gue ngasih tau ini bukan buat gue tapi buat elo Ta, biar elo gak jomblo lagi"."Gak usah ikut campur dengan kejombloan gue, bukannya gue gak laku ya cuma emang belum ketemu yang bikin gue berdebar-debar aja"."Makanya dicari bebeb, jangan ngamar aja kalau malam minggu tuh, ikut nongkrong bareng gue makanya, move on, move on susah banget ya lo move on dari mantan terindah lo itu".Obrolan kami terhenti ketika dosen masuk ke dalam kelas, padahal aku sangat ingin membalas ocehannya.Move on? Bukannya aku gak mau move on tapi memang aku belum nemu seseorang yang bisa bikin aku deg-degan lagi sepeeti saat dulu pertama kali aku bertemu-- ah sudahah ngapain aku inget-inget dia algi.Aku sedang mencatat apa yang diterangkan dosen ketika ada yang mengetuk pintu kelas. Pikirku berani sekali dia datang terlambat di mata kuliahnya Mr.Rahman, tapi aku gak peduli siapapun itu sampai suara yang sangat familiar tapi sudah lama tak kudengar masuk dalam indra pendengaranku. Dan tanganku yang di senggol-senggol oleh Nana."Itu mahasiswa baru yang gue makdsud Ta, namanya Jeviar".Kepalaku reflek melihat objek yang ada di depan, aku tercekat ketika matanya sedang menatap lurus ke arahku, tatapannya yang selalu membuatku tersesat dan ingin berlari ke arahnya. Waktu seakan berhenti begitu saja, saat mata kami saling mengunci hingga terdengar ucapan Mr. Rahman untuknya mencari tempat duduk.Aku bisa melihat beberapa mahasiswi yang terlihat memperbaiki cara duduknya berharap kursi kosong disampingnya bisa diduduki oleh mahluk sempurna yang sedang berdiri tegap di depan kelas. Masih banyak tempat kosong di depan tapi dia melewatinya, ah kupikir dia hanya mencari tempat duduk yang ada disamping Rere--mahasiswi cantik di kelas kami-- tapi diapun melewatinya dan --oh my god jangan bilang dia mau duduk di kursi kosong-- dia duduk di kursi kosong sebelah kiriku.Aku hanya diam membisu ditengah pacuan jantungku yang tak karuan --oh tuhan ternyata debaran jantung ini masih setia untuknya."Bernapas Ta". Dia berbisik di telinga kiriku yang membuatku reflek menoleh kearahnya dan dia sedang tersenyum sangat manis. Oh my god, bisa mati mendadak aku kalau cobaannya kaya gini."Pinjem pensil dong, lupa gak bawa"."Niat belajar gak sih, masa alat tulis aja gak bawa". itu hanya gerutuan dalam hati tanpa bermaksud untuk mengatakannya depan dia. Tapi tanpa sadar aku mengucapkannya pelan, dan membuat dia menoleh dan tersenyum lagi --- dia senyum sodara-sodara--- belum lima menit aku sudah dua kali dapat senyum dari dia.Dua jam berlalu dengan tenang, hingga Mr. Rahman berlalu keluar kelas mahasiswa dan mahasiswipun berlalu mengikutinya, termasuk si kutil Nana yang malah nyelonong gitu aja, padahal aku butuh bantuan dia agak bisa berdiri dengan tegak dan keluar dari kelas dengan selamat. Dan ini kenapa juga mahluk disebelah aku hanya diam aja di tempat duduknya sambil memperhatikan teman-temanku yang berhamburan keluar kelas.Berhubung gak ada tanda-tanda dia akan bangkit dari tempat duduknya padahal kelas sudah mulai kosong maka aku yang akan keluar lebih dulu meskipun gak tau ini kaki bisa diajak jalan atau enggak, tapi belum juga aku beranjak tangan besarnya meraih tanganku menghantarkan aliran hangat sekujur tubuhku."Tunggu, bentar kagi"."Apaan?". Aku yang ditarik olehnya duduk lagi di tempat semula."Nih...". Dia meyerahkan sebuah sketsa yang dia gambar di atas kertas --gambar seorang perempuan dengan tatapan lurus kedepan dengan pulpen ada dimulutnya-- astaga apa ini yang ku lakukan sejak tadi, menggigiti sesuatu kala gugup. "Masih tetep cantik". Dan dia senyum lagi, oh tuhan kenapa dia murah senyum banget sih."Ayo... Kamu mau diem aja di kelas?". Ucapannya menyadarkan lamunanku dan aku buru-buru beranjak mengikutinya keluar kelas.Sepertinya dia akan pergi ke kantin bisa dilihat dari alah kakinya melangkah, aku tak berniat mengikutinya, sungguh. Sehingga aku diam-diam berbelok ke taman samping universitas dan untungnya ada Nana dan Ardan duduk disana."Heh, tega banget lo ninggalin gue di kelas?". Semburku begitu aku ada di depan Nana.Dia malah cengengesan. "Sengaja Ta, siapa tau lo mau kenalan sama dia". Jawabnya."Gue gak perlu kenalan sama dia, gue---""Tata!"Aku mengikuti arah suara, astaga ngapain dia ikut ke sini. Nana dan Ardan juga melihat hal yang sama."Aku cariin, malah ngilang!". Lalu dengan santainya dia duduk dekat Ardan tepat di depanku. Jujur aja aku salah tingkah, belum lagi tatapan tajam Nana yang melihat interaksi aku dan Jeviar yang terkesan canggung."Duduk". Tanpa rasa bersalah dia menariku untuk duduk disampingnya."Minum, aku udah beli buat kamu". Dia menyodorkan gelas yang dia bawa dari kantin kampus."Gak usah Je, aku bisa beli sendi--" sedotan itu sudah ada di mulutku. 'Je sialan!!'Ucapan Nana mengintrupsi kecanggungan aku dan Je."Kalian udah kenal lama?". Aku bisa melihat wajah bingung di wajahnya. Dan Je hanya menjawabnya dengan senyum misteriusnya."Dia temen lama". Akhirnya suaraku keluar untuk menjawab."Temen kencan". Itu suara Je."Whattt?!!!!". Aku dan Nana berteriak berbarengan."Kenapa kaget gitu sih Yang". Aku melotot lagi melihat Je, apa dia gak sadar ucapannya barusan bisa bikin orang jantungan. Dan Je dengan santainya mengacak rambutku dan melingkarkan tangannya di bahu."Ayo, kita pergi". Dengan seenaknya dia menarik tanganku, melingakrakan tangannya di bahuku membuat orang-orang yang kami lewati melihat aneh ke arah kami.Aku melepaskan tangannya begitu kami sampai di tempat parkir. "Kamu apa-apaan sih Je, gak lucu tau".Dia lalu mencium bibirku secepat kilat. "Je!!!". Aku sungguh geram di buatnya tapi dia malah tertawa senang."Masuk dulu, gak enak diliat orang". Dia mendorongku ke dalam mobilnya masih dengan tawa menghiasi wajahnya.Aku hanya diam disampingnya, entah dia mau membawaku ke mana."Kamu mau bawa aku kemana?"."Apartemen"."Nagapin kesana, aku gak mau!""Aku mau!""Aku bukan pacar kamu lagi, kalau kamu lupa!!". Dia menepikan mobilnya perlahan. "Jadi kamu gak bisa bawa aku seenaknya ketempat yang kamu mau"."Udah?"Lalu dengan cepat dia telah menyatukan bibirku dengan bibirnya, pelan dan lembut tapi aku gak bisa melepaskannya dan aku malah terbuai dengan pesonanya, ternyata aku sangat merindukannya juga perlahan ciumannya berubah cepat dan penuh gairah, kami melepaskan ciuman kami dengan terengah-engah. Kening kami masih menyatu."Aku gak pernah mengiyakan saat kamu bilang putus, kalau kamu lupa yang".Aku tak tahan untuk menangis, dia langsung memeluku. "Kenapa baru datang sekarang". Gerutuanku disela-sela tangisku.Dia melepaskan pekukannya dan meraih wajahku dengan kedua tangan besarnya. "Ssttt, aku hanya memeberi kamu waktu". Dia kembali mengecup bibirku."Kelamaan". Aku mulai merajuk."Ini nih, yang membuat aku setengah mati menahan diri untuk tidak mendobrak apartemenmu dan memelukmu.""Hihi... Jadi kita balikan lagi?". Tanyaku memandang wajah tampannya yang aku rindukan sebulan ini."Kita gak pernah putus Yang". Wajahnya terlihat geli."I love You Je"."I love You More Tata".

CEO Itu Menabrakku… Lalu Menjadikan Aku Pacarnya
Teen
15 Dec 2025

CEO Itu Menabrakku… Lalu Menjadikan Aku Pacarnya

Hari itu pada tengah hari di hari Jumat terjadi kecelakaan beruntun di jalan utama dalam kota karena seorang pengemudi tak bertanggung jawab yang mengemudi dalam keadaan mabuk, tengah hari. Kecelakaan beruntun itu memiliki dampak sampai 500 meter dibelakangnya, sehingga seorang gadis yang sedang berjalan kaki tersenggol motor karena ngerem mendadak. Membuat siempunya motor buru-buru turun dan menghampiri gadis itu.Terlihat gadis itu meringis sambil memegangi betisnya tapi tak lama dia langsung berdiri dengan sedikit tertatih."Kamu gak papa?".Gadis itu berbalik dan menatap pria tersebut. "Gak papa ko, cuma lecet dikit". Jawabnya masih menyeimbangkan kakinya."Mau ke rumah sakit? Mungkin butuh penanganan lebih lanjut?"."Its oke gak papa, lagian saya lagi buru-buru, tuh liat saya masih bisa jalan kan". Jawabnya sembari mencoba melangkahkan kakinya.Namun pria dihadapannya masih terlihat khawatir."Saya duluan ya udah telat". Gadis itu masih meyakinkan pria dihadapannya kalau dia memang tidak apa-apa. Tapi kemudian pria itu mengentikan langkahnya."Tunggu, Saya Miller". Lalu dia membuka dompet dan mengeluarkan uang sebagai kompensasi yang langsung di tolak oleh gadis tersebut. "Oke, jika kamu menolak uang saya seenggaknya kamu pegang kartu nama saya kalau ada apa-apa sama kaki kamu, kamu bisa hubungi nomor yang tertera disana".Tak mau urusannya makin lama gadis itu buru-buru mengambil kartu nama tersebut dan langsung berlalu pergi.Miller membaca tulisan yang ada di punggung gadis tersebut lalu tersenyum miring.'Universitas Garuda Bangsa'---"Rafael Aldern Miller, CEO R-Sport Company".Gumam Anin membaca nama yang tertera disana."Wow, padahal kelihatannya masih sangat muda tapi udah jadi CEO"."Serius masih muda?". Tanya Zeline teman Anin yang sedang menemaninya makan di kantin Fakultas Ekonomi."Ia kelihatannya usianya sekitar 26 atau 27 tahunan lah"."Ganteng gak?"."Banget". Jawab Anin sambil tertawa membuat Zellin makin penasaran. "Dan seperti yang tertera di kartu namanya kalau dia CEO R-Sport penampilannya sesuailah, dia tinggi dan badannya keliatan banget kalau dia rajin olahraga"."Gak boleh dilewatkan dong Nin kalau yang boyfriend material gitu, lo minta tanggung jawab aja sama dia""Tanggung jawab gimana orang gue gak papa ko cuma lecet dikit pake plester juga sembuh". Jawab Anin sambil melirik betisnya yang sudah di pasangi plester."Tapi Nin gara-gara dia lo jadi gak bisa bimbingan sama Mr. Robert karena lo telat dan gantinya lo harus jadwal ulang bimbingan di akhir pekan which is yang harusnya lo pake buat tiduran".Anin hanya mengendikan bahu menanggapi ucapan Zellin, mau gimana lagi udah kejadian, mau gak mau dia besok harus mengunjungi rumah Mr. Robert untuk bimbingan skripsi bab terakhirya.---Miller baru saja bangun dari tidurnya pukul 11 siang, seperti biasa kalau weekend dia akan menginap di rumah orangtuanya, kalau weekday dia akan berada di apartemennya. Begitu turun dia mendapati mamanya di dapur sedang menyiapkan makan siang."Mam". Miller menghampirinya lalu mencium kedua pipi mamanya."Baru bangun sayang, mau kopi?". Tanya mamanya yang sudah mengambil cangkir untuk Miller."Boleh, papa lagi ada tamu?". Tanya Miller ketika mendengar papanya sedang mengobrol diruang tamu."Lagi bimbingan sama mahasiswanya, mungkin sebentar lagi selesai udah dari jam 9 soalnya". Mamanya meletakan kopi tanpa gula dihadapan Miller."Hari sabtu banget? biasanya papa gak suka kalau weekendnya di ganggu sama mahasiswa"."Iya tapi kata papa alasan mahasiswanya bisa di terima kenapa kemarin dia telat bimbingan, jadi memperbolehkan datang kerumah.Tiba-tiba Miller teringat dengan gadis yang hampir dia srempet kemarin, nama kampus di jaket yang di pakainya sama dengan kampus dimana papanya mengajar."Ma, Anin mau pamit pulang". Terdengar ucapan papanya dari ruang tamu membuat mamanya ikut menghampiri mereka kesana. Tak ayal Miller pun ikut mengintip ke ruang tamu dan dia sedikit terkejut ketika melihat mahasiswa yang dibimbing papanya adalah gadis yang di temuinya kemarin. Gadis itu terlihat sedang menyalami papa dan mamanya kemudian dia pergi setelah mengucapkan terimaksih."Siapa pa?". Miller menghampiri papanya yang sedang membereskan kertas-kertas di mejanya."Anindira, mahsiswa papa. Kemarin dia telat bimbingan dan papa keburu pulang, katanya dia telat karena hampir keserempet motor, jadi papa tawarin bimbingan dirumah". Setelah membereskan kertas-kertas dihadapannya Mr.Robert lalu meminum kopi dihadapannya."Tumben papa bolehin kerumah, biasanya kalau telat ya telat aja"."Anindira itu salah satu mahasiswa kebanggaan papa, minggu depan dia udah sidang. Anaknya gak pernah macem-macem, jadi kalau dia gak bisa datang berarti memang terjadi sesuatu dan terbuktikan dia hampir keserempet".Miller diam beberpa detik. "Sebenernya yang hampir nyerempet dia itu aku pa"."Kamu? Ko bisa, tapi Anindira gak apa-apa kan? Udah kamu bawa ke rumah sakit?""Justru itu dia nolak, aku kasih uang dia nolak juga, terus aku kasih kartu nama tapi dia juga gak ada ngehubungin aku". Jawaban Miller membuat papanya tersenyum."Kan? dia emang anaknya gak macem-macem, kalau menurut dia emang gak butuh ya udah dia gak akan ambil, dia anaknya gak cari kesempatan dalam kesempitan". Mr. Robert kembali meminum kopi dihadapannya. "Tapi kalau kamu ketemu dia lagi minta maaf yang bener"."Pasti pap". Jawab Miller mantap."Dia juga cantikkan?". Tanya Mr. Robert tersenyum penuh arti pada Miller. "Umur kamu udah mau 28, mulailah cari yang serius nak".Ketika Miller berbaring di tempat tidurnya dia teringat ucapan papanya tadi.Dia bergumam kecil. "Cantik. Dan namanya Anindira". Lalu pikirannya kembali pada hari kemarin saat dia bertemu dengan Anin. Wajah kecil dengan mata bulat dan bibir pink mungilnya, juga posturnya yang tinggi langsing, rambut panjangnya yang dikuncir asal-asalan. Miller akui dia masuk kriteria wanita idamannya, belum lagi kata papanya kalau dia anak baik-baik yang gak neko-neko. "Bisa dilihat sih kemarin dia gak nuntut apa-apa sama gue, disaat gadis lain mungkin akan pura-pura lumpuh agar gue mau bertanggung jawab". Seulas senyum terbit dibibir Miller.----"Zeliiiiinn... Gue lulus". Teriak Anin ketika dia keluar dari ruang sidang setelah di bantai habis-habisan disana. Merekapun berpelukan di dikoridor panjang tersebut, setelahnya teman-teman Anin memberi selamat disertai buket bunga-bunga cantik untuk Anin."Anindira". Anin berbalik pada suara yang memanggilnya, dan dia sungguh terkejut tentag siapa yang ada di hadapannya."Anda?".Pria di hadapannya tersenyum melihat wajah kaget Anin."Miller, panggil aku Miller, selamat atas kelulusannya". Miller mengulurkan tangannya pada Anin, dan langsung dibalas oleh Anin. "Anindira, panggil saja Anin dan terimakasih".Miller lalu menyerahkan buket bunga mawar putih yang di bawanya. "Thanks, gimana kamu tau aku hari ini sidang?".Tak lama Mr. Robert keluar dari ruang sidang. "Itu, dari papa". Jawab Miller membuat Anin kaget untuk kedua kalinya."Mr. Albert itu papa kamu? Berarti waktu itu...."."Iya aku tau kamu pas kamu ke rumahku waktu bimbingan sama papa". Anin hanya mengangguk menaggapi ucapan Miller, disamping dia gak tau harus merespon bagaimana dia juga merasa aneh karena menjadi pusat perhatian karena berbicara dengan Miller, yang semua mata dikoridor ini tertuju padanya."Butuh tumpangan untuk pulang?". Miller menawarkam Anin yang terlihat kesusahan membawa beberapa buket bunga juga beberapa buket snack dari teman-teman angkatannya."Gak usah, nanti aku pesen---""Pliss jangan nolak, anggap sebagai permintaan maafku untuk waktu itu"."Emmm...""Pliss aku maksa". Tuturnya sambil tersenyum lebar. Membuat Anin terpaku pada wajah tampannya Miller."Oke". Jawab Anin sambil tersenyum setetelahnya Miller mengambil buket yang ada di pelukan Anin lalu menuntun menuju mobil sportnya.Sepanjang kaki mereka melangkah, mereka jadi pusat perhatian ditambah tangan Miller yang menggandeng tangan Anin.Terdengar kasak+kusuk di telinga Anin." Pacarnya Anin ganteng banget sumpah""Waah beruntungnya Anin""Mobilnya keren gillaaa""Anin pantes sih dapat yang kaya gitu".Dan kasak-kusuk lainnya yang tak hanya didengar oleh Anin tapi juga terdengar oleh Miller." Sorry ya...". Begitu masuk mobil Anin meringis tak nyaman pada Miller tentang kasak-kusuk teman-temanya." Its oke gak papa, mungkin omongan mereka bisa jadi kenyataan"."Maksudnya". Anin tak mengerti maksud Miller."Tentang pacarnya Anin, May I be your boyfriend?Hari apakah ini, kenapa Aku beruntung sekali ya tuhan, sidang lulus terus langsung dapat pacar, tentu saja langsung ku jawab Ya.End

Lea Dan Bara
Teen
15 Dec 2025

Lea Dan Bara

Dia adalah Bara, cowok idola kampus angkatanku. Badan tinggi tegap, dada bidang, perut sixpack , wajah rupawan dan suara emasnya sukses membuat para wanita di kampus ini menjerit-jerit ketika dia dan bandnya tampil di panggung kampus. Rambut ikal yang sudah mulai memanjangnya selalu ia singkirkan dengan bando yang biasa dipakai kaum perempuan tapi tak ayal itu membuatnya aneh justru di mata para wanita malah terlihat keren ketika dia mengenakannya.Dengan kepopulerannya di dalam maupun luar kampus tak membuatnya sombong atau arogan, dia masih orang yang humble , dekat dan berteman dengan siapa saja, juga tak membuatnya jadi seorang playboy. Banyak wanita di kampus ini yang sudah menyatakan cinta padanya tapi dia menolak mereka semua dengan halus. Katanya "aku akan menjadi pacar wanita yang memang dia menyuakiku dan aku juga menyukainya".Banyak orang yang mecoba menebak siapa orang yang disukai Bara, tapi tak ada yang bisa menebaknya karena banyak wanita yang memang dekat degannya."Lea, cari tempat duduk yu". Kata Paris sahabatku.Aku berada di area lapangan kampus yang hari ini di jadikan tempat untuk pensi, sudah ada panggung megah dan kursi berbaris rapih yang sudah hampir setengahnya terisi oleh para mahsiswa dan mahasiswi yang ingin menyaksikan meriahnya acara tahunan kampus ini."Baris ketiga dari depan ada tempat kosong Le". Paris menarikku menuju tempat tersebut."Tumben masih kosong, biasanya penuh ya?" Tanyaku pada Paris."Biasa pangeran kampus kan belum tampil, gue yakin para cewek-cewek itu sekarang lagi ke backstage ngerubungi mereka". Jawabnya dengan nada malas."Eh lo haus gak, gue mau beli minum nih"."Boleh". Jawabku singkat.Paris beranjak dari tempat duduknya dan pergi menuju stand minuman yang ada di samping panggung, tak lama setelah kepergiannya tempat ini mulai terisi penuh bahkan kursi yang tadi di tempati Paris sudah ada yang mengisinya.' Eh, ini kan Bara ' gumamku begitu melirik ternyata yang duduk disampingku adalah Bara dan ke dua teman ngeband nya.Aku dapat mendengar diskusi mereka bertiga tentang aksi panggung dan lagu yang akan mereka bawa di panggung nanti."Lea kan?". Suara Bara mengintrupsi lamunanku."Ya, hai Bara". Sapaku ramah padanya tak lupa dengan senyuman."Seneng banget gue bisa ketemu lo disini". Jawabnya disertai senyum manisnya."Sendiri?". Tanyanya lagi."Enggak tadi gur bareng Paris, tapi dia lagi beli minum belum balik". Jawabku dengan sedikit gugup karena matanya yang intens memperhatikanku."Oke, bearti gak bareng pacar dong kesini?""Enggak, gue lagi free sekarang.""Sama yang kemarin udah putus?""Emang lo tau gue punya pacar?". Tanyaku balik pada Bara."Tau lah, jadi beneran udah putus nih?". Tanyanya lagi dengan wajah penasarannya.Lalu aku menjawab dengan anggukan." Yes !!" Desisnya lumayan keras.Aku mengerutkan keningku bingung dengan tingkahnya." Yes , maksudnya?". Aku memberanikan diri untuk bertanya."Ehmmm.... Gue.. Sebenernya... Le lo mau gak jadi cewek gue?""HAH!"Aku kaget dengan apa yang baru saja di katakannya, mulutku terbuka tapi tak ada kalimat yang keluar."Gue Bara, udah suka sama elo dari lama"."Maksud lo?". Akhirnya aku dapat mengeluarkan kata lain selain HAH tadi."Gue tau elo suka gitar, suka nyanyi, suka mawar putih, kalau sore hari lo suka naik ke rooftoop kampus lihat sunset , dan suka cowok romantis, right ?"Aku hanya tergugu dengan apa yang dia ucapkan, seorang Bara bisa tau apa yang disukai Lea."Dan impian lo di tembak sama cowok sambil main gitar dan bawa bunga". Terusnya lagi membuatku bungkam tak bersuara karena yang diucapkannya benar semua." I'll do that ". Ucapnya mantap.Semua mata tertuju pada kami, tidak bukan pada kami tapi pada Bara karena MC sudah memanggil nama Bandnya dari tadi tapi Bara masih belum beranjak dari tempatnya.Kemudian dia pergi ke backstage meninggalkanku yang masih diam membisu tak percaya dengan ucapannya.' I'll do that ' maksudnya apa.Tidak berselang lama dia muncul diatas panggung dengan gitarnya dan setangkai mawar putih ditelinga kirinya. Dia mulai memtetik sinar gitarnya mengalunkan lagu Perfect milik Ed Shireen.Baby, I'm dancing in the dark with you between my armsBarefoot on the grass, listening to our favorite songWhen you said you looked a mess, I whispered underneath my breathBut you heard it, darling, you look perfect tonightDia berjalan diantara penonton dan menghampiriku yang masih syok ditempat." Whould you be mine?" Ucapnya dengan setangkai mawar putih ditangannya." Please say yes?".Suara musik berhenti, aku menahan nafasku bahkan mungkin semua orang disini menahan nafasnya menanti jawabanku.Seorang Bara, pangeran kampus nembak aku di depan seluruh mahasiswa, aku yang notebene bukan siapa-siapa dan gak sepopuler Bara, kebaikan apa yang aku lakukan dikehidupanku sebelumnya hingga mendapatkan keajaiban seperti ini.Aku yang hanya mengaguminya dari jauh dan hanya bisa senyum saat dia menyapaku kini mendapatkan pernyataan cinta darinya. Tentu saja aku akan bilang..." Yes ".Suara riuh tepuk tangan dan musik kembali mengalun.Dia, Bara. Cowok idaman kampus memintaku menjadi pacarnya.Dengan gerak cepat dia langsung membawaku dalam pelukannya dan mencium lembut bibirku." Thanks Lea, aku menyukaimu sejak kamu memainkan gitarku di aula 2 tahun lalu".'Dia menyukaiku selama itu'" Kamu menyukai aku selama itu, Gak mungkin". Ucapku yang belum sepenuhnya percaya."Ya, terimakasih kamu udah nerima aku"." Thanks juga udah ngabulin impian aku, gitar, bunga dan sunset ".END

Kegelisahan Eksistensial
Teen
15 Dec 2025

Kegelisahan Eksistensial

Aku kerap melihatnya—dan, ketika perasaan itu muncul, keyakinan kehilangan kedudukan dan semesta diliputi kegelisahan.Kendati sepersekon detik dalam hidupnya, manusia pernah meragukan esensi Tuhan: entah karena hanyut oleh sains atau depresi dengan masalah duniawi. Ada yang memilih abai dan mengikuti mayoritas. Ada yang kritis dan memilih tidak percaya. Ada juga yang gelisah karena meragukan pilihannya: seperti bocah itu (yang berjanji mentraktir di kafe favoritku jika aku mau menjawab pertanyaannya)."Bahkan, tanpa embel-embel rahmat Tuhan pun bumi bisa terbentuk; evolusi tetap berjalan; dan bulan tetap berevolusi terhadap bumi. Alam semesta adalah sistem raksasa yang independen. Kak Aslam harusnya paham itu." Ia menyangga tubuh dengan kedua tangan.Perkataannya tegas tetapi matanya gelisah. Aku tepekur, merasa melihat diriku yang dulu: independen dan ortodoks-saintik.Ayah adalah dosen dan Ibu telah pergi saat aku kecil, jadi agama menjadi sesuatu yang asing bagiku: aku hanya mengenalnya dari pelajaran sekolah. Berbekal teori Big Bang dan evolusi Darwin, aku menentang keberadaan Tuhan, hingga bus darmawisataku mengalami kecelakaan yang menewaskan seluruh orang, kecuali aku.Aku koma dan memimpikan sesuatu. Aku tidak ingat detailnya, tetapi rasanya seperti dibawa ke tempat bercahaya bersama sosok bercahaya. Kami berdialog singkat. Ketika bangun, itu adalah hari kesepuluhku di rumah sakit. Hanya aku yang selamat.Entah sial atau tidak, aku seperti anak kecil yang ditegur oleh orangtuanya. Aku beruntung bisa selamat tetapi juga tertekan karena mengetahui hanya aku satu-satunya yang selamat.Sejak saat itu, aku berhenti menentang. Namun, jumlah diriku yang lama kerap berkeliaran di dunia ini, termasuk bocah itu.Aku menegakkan tubuh. "Kamu percaya bahwa semesta adalah infinitas yang selalu berkembang, 'kan?""Ya.""Kamu percaya bahwa atom adalah unsur terkecil kehidupan, 'kan?"Bocah itu mengerutkan kening. "Ya.""Kalau begitu, justru aneh jika kamu meragukan esensi Tuhan. Kamu tahu betul bahwa tidak tampak bukan berarti tidak ada . Logika kita hanya tidak dapat mencapai apa yang dapat dicapai Tuhan." Aku menyilangkan kaki sembari menyesap kopi. Kuperhatikan ia yang ganti membatu. "Yah, setelah ini kau tidak harus percaya pada Dia—iman serta sains itu berbeda—yang penting jadilah 'manusia'. Mukjizat akan datang setelahnya."Aku tidak tahu jawabanku membantunya atau tidak; tetapi ketika pergi, dia tidak lagi menyerupai diriku yang dulu.*Setelah itu, beberapa kali aku keberadaan merasakan diriku yang dulu. Yah, itu manusiawi. Manusia selalu bertanya dan mencari.Kadang kala, pertanyaan dan perasaan semacam itu kembali datang; tetapi aku memilih mengabaikannya. Tuhan punya rahasia-Nya sendiri; dan percaya tidak harus didasarkan bukti visual semata. Pun, iblis selalu berusaha mengobrak-abrik hati manusia.Iya, 'kan? (*)

Bunda, Dengerin Curhatku!
Teen
09 Dec 2025

Bunda, Dengerin Curhatku!

Sifat orang tua akan menurun pada anak. Jadi, jangan salahkan anak jika dia memiliki sifat yang tidak orang tua sukai. Barangkali itu adalah sifat turunan. Terutama dari Ibu.Seperti yang dialami Nana. Seorang gadis yang berparas cantik, berkulit putih, hidung mancung serta mata yang sedikit sipit dan selalu mengenakan kerudung penutup aurat jika berada di luar rumah. Ia tidak pernah menyangka akan menjalani kehidupan yang langka. Yaa, setidaknya itu menurut keluarga besarnya. Karena dalam keluarga besarnya, tidak ada seorang pun yang memiliki sifat sepertinya. Jika keluarga besar berkumpul, Nana tidak pernah lepas dari sorotan mereka.Seperti saat ini, keluarga di luar sana sedang membicarakan dirinya. Nana hanya bisa mendengarkan dari dalam kamar, tanpa berani menampakkan diri. Hajatan keluarganya memang sudah selesai sejak kemarin. Namun, beberapa keluarga masih berada di rumahnya. Ia sama sekali tak pernah keluar dari dalam kamar selama beberapa hari ini. Makan pun ia enggan. Kalau ditanya kenapa tidak mau makan? Jawabannya cuma satu, MALU! Ia hanya mengisi perutnya dengan air dan roti yang memang sudah ia persiapkan sebelum hajatan. Dan beruntungnya ia, kamar mandi terhubung langsung dengan kamarnya. Jadi, ia tidak perlu keluar kamar untuk mandi ataupun berwudhu.Nana seorang gadis pendiam dan pemalu. Jarang berinteraksi dengan orang lain, kecuali orang terdekat. Bukan tanpa alasan ia seperti itu, melainkan karena ia memiliki sifat turunan dari Bundanya. Bundanya pernah mengatakan kalau dirinya juga pernah mengalami hal seperti yang dialami Nana.Pukul 13:00 Nana memilih tadarusan di dalam kamar dari pada harus keluar untuk berkumpul bersama keluarganya. Beberapa saat kemudian, terdengar ketukan dari luar pintu kamarnya. Nana segera membuka pintu itu yang memang sengaja ia kunci, agar tidak sembarang orang masuk ke dalam kamarnya."Dek, yuk makan dulu. Makannya bareng-bareng sama keluarga di meja makan. Mereka semua udah mau makan di sana. Tinggal nunggu adek aja, yuk!" ajak Bunda setelah Nana membuka pintu."Bund, kan udah berkali-kali adek ngomong, kalau adek tuh malu ketemu sama mereka. Apalagi sampai makan bareng. Adek merasa nggak nyaman Bund. Udah yah, Bunda aja yang gabung sama mereka. Lagian adek nggak laper kok, udah makan roti tadi. Oh ya Bund, adek ijin ke pantai sore ini, boleh ya?" Nana memang sering pergi ke pantai. Tapi, biasanya bareng Bunda dan Ayah atau saudaranya yang lain."Ya sudah, kalau itu mau kamu. Tapi, pulangnya jangan menjelang magrib." Bunda memberi ijin lalu melangkah menuju meja makan meninggalkan Nana yang terlihat sangat senang karena mendapat ijin untuk pergi ke pantai.***Sore hari cuaca tampak mendung. Mungkin akan turun hujan. Tapi, tak masalah bagi Nana yang sedang menyusuri pantai, toh hujan belum turun, kan? Suasana pantai juga sudah mulai ramai. Alasan Nana tidak malu saat berada di tempat ramai seperti ini adalah orang-orang di sekelilingnya tidak mengenalinya. Dan yang pasti dirinya tidak menjadi pusat perhatian. Nana merasa bebas jika berada di tempat seperti ini.Dari kejauhan Nana melihat om Budi yang sedang memasang payung pantai untuk seorang wanita bule yang tampak antusias memperhatikannya. Om Budi adalah adik dari Bundanya. Pekerjaannya berjualan berbagai peralatan pantai dan membantu pelanggan menyiapkan peralatan yang mereka butuhkan.Selain keluarganya, Nana sering bertegur sapa hanya dengan keluarga om Budi. Nana cukup terbuka dengan mereka. Apalagi jika sudah bersama bang Jirwan anak bontot om Budi, Nana pasti banyak ngomong. Entahlah, mengapa Nana bisa merasa nyaman ngomong dengan sepupunya itu?"Assalamu'alaikum, sore om." sapa Nana lalu salim dengan om Budi. Diciumnya tangan kekar itu."Eh, wa'alaikumsalam, sore Na. Udah keluar dari kandang? Sejak kapan?" Om Budi sedikit kaget melihat kehadiran Nana."Keluar dari kandang? Emang Nana binatang, om? Om samain Nana dengan binatang? Om tega banget sih!" Nana terlihat memonyongkan bibirnya, sedikit ngambek."Hahahah, om bercanda, maaf ya?" Om Budi tertawa melihat ekspresi Nana yang menggemaskan."Permintaan maaf om diterima. Nana baru aja keluar, bosen tinggal di kandang yang om bilang tadi heheh. Oh ya om, papan selancar adek mana? Om tidak menyewakan papan selancar adek ke orang lain, kan?" tanya Nana sambil memicingkan matanya ke sekeliling, kali aja penglihatannya tertuju pada papan selancar kesayangannya itu."Ya, nggak lah. Mana om tega menyewakan barang kesayangan adek ke orang lain. Sana gih, tanya abang kamu, kayaknya dia yang simpan deh." Om budi menunjuk ke arah toko, menyuruh Nana mencari benda kesayangannya di sana. Keluarga om Budi memang sering memanggil Nana 'adek'. Mungkin karena keseringan mendengar keluarganya kali ya, jadi ikutan juga memanggil Nana 'adek'.Nana melangkah meninggalkan om Budi menuju ke tempat yang dimaksudnya tadi. Dari kejauhan Nana dapat melihat bang Jirwan yang sedang bersantai di kursi samping toko."Assalamu'alaikum,,, bang Jir." sapa Nana begitu sampai di samping Jirwan."Wa'alaikumsalam... Eh ada adek Nanah." Jirwan juga terlihat sedikit kaget melihat kehadiran Nana."Nanah, Nanah, bang Jir kan tahu kalau namaku Nana, enggak pakai H." Nana tak terima namanya diubah."Yaa, siapa suruh manggil aku bang Jir. Namaku kan Jirwan. Di mana-mana orang manggil aku Jirwan. No bangjir-bangjir." Jirwan terlihat sewot."Oke bang JIRWAN. Puas?" Tanya Nana."Nah gitu dong, jadi anak yang penurut." Jirwan mengusap pelan kepala Nana."Don't touch me." Nana menyingkirkan tangan Jirwan dari kepalanya."Dih, sok inggris lu.""Biarin! Mm, bang Jirwan ada liat papan selancar nana, nggak?" tanya Nana mengalihkan topik pembicaraan."Ada, itu di samping pintu." Tunjuk Jirwan ke arah papan selancar Nana. "memangnya adek mau selancaran hari ini. Bentar lagi hujan loh." lanjutnya."Kan bentar lagi, artinya belum hujan, kan?" Tanya Nana sambil berjalan ke arah papan selancarnya. "Bang Jirwan mau nemenin Nana selancaran nggak? Temenin ya, please!" Pinta Nana."Nggak ah, mending aku main game. Yaa, kok lowbat sih." Jirwan sebel hpnya mengeluarkan peringatan baterai lemah. "Dek, aku pinjam hp kamu ya, hp aku lowbat.""Boleh, tapi temenin selancar dulu. Kalau nggak mau, ya udah nggak jadi juga pinjamin hpnya." Nana memberi syarat."Oke. Tapi, nemeninnya di pinggir aja ya. Kan, sambil main game." Ujar Jirwan mengulurkan tangan untuk mengambil hp milik Nana."Ya udah deh, kalau nggak mau ikut selancar. Nih. Tapi, cuman main game, kan?" tanya Nana."Iya, iya. Bawel banget sih." Jirwan kembali mengusap kepala Nana.Keduanya berjalan beriringan menuju pantai. Suasana pantai sudah sangat ramai. Ada yang selancaran, main pasir, juga berfoto ria. Nana memilih tempat tak jauh dari pinggir pantai untuk selancaran. Karena tidak ada yang menemaninya, jadi ia memilih tidak terlalu jauh ke tengah. Nana memang lumayan pandai berselancar. Selain ayahnya, om Budi dan bang Jirwan juga sering mengajarinya.Jirwan terlihat serius memandangi layar hp milik Nana yang menampilkan sebuah voice note yang bertuliskan "Bunda, dengerin curhatku." Jirwan jadi penasaran, ia ingin mendengarkan isi dari voice note tersebut. Namun, sebelum ia memutar voice note itu, gerimis mulai turun. Ia terlihat kelimpungan mencari tempat berteduh. Tak jauh dari tempatnya berdiri, ia melihat payung yang kosong ditinggalkan pemiliknya. Ia segera berlari-lari kecil menuju ke tempat itu.Sementara itu, walau gerimis sudah mulai turun, Nana tetap asyik berselancar. Ia terlihat lihai mengikuti arus ombak dengan papan selancarnya. Ia tak peduli walau gerimis mulai sedikit deras. Namun, ia tiba-tiba kehilangan keseimbangan dan terjatuh dari papan selancarnya.***Voice note : Bunda, dengerin curhatkuSebuah Kata Maaf:Bunda, adek minta maaf jika selama ini adek jarang menuruti perintah Bunda. Apalagi jika mengharuskan adek bersosialisasi dengan orang. Adek tidak bisa! Adek tidak tahu harus bagaimana lagi? Adek udah berusaha, tapi tetap aja tidak bisa. Bunda pernah bilang bahwa Bunda juga pernah mengalami hal yang seperti adek alami. Jadi, Bunda pasti paham kan, apa yang adek rasakan? Perasaan adek tuh seperti yang Bunda rasain dulu. Sekali lagi adek minta maaf ya, Bunda! Adek nggak bisa seperti anak-anak Bunda yang lain. Maaf, Bunda!Dan Terima kasih:Bunda, terima kasih karena telah berjuang mengandung adek selama sembilan bulan lebih, berjuang antara hidup dan mati demi melahirkan adek ke dunia. Terima kasih atas kasih sayang dan perhatian Bunda, sejak kecil hingga sekarang Bunda sudah merawat dan menjaga adek, menjadi madrasatul 'ula buat adek. Hidup memang tak selalu indah. Tapi, bersama Bunda adek merasa bahagia. Bunda, terima kasih sudah menjadi orang yang sangat luar biasa. Bunda adalah yang terhebat di dunia. Semoga Bunda selalu sehat dan bahagia, di dunia dan akhirat. Aamiin.Jirwan terlihat berkaca-kaca setelah mendengar voice note dari hp Nana. Ia jadi heran, mengapa dengan orang lain Nana malu untuk ngobrol/berbicara sedangkan dengan dirinya Nana sangat bawel. Bahkan kata bundanya, Nana kalau di rumah juga jarang ngomong. Dia ngomong seperlunya saja. Jirwan jadi curiga, jangan-jangan voice note ini belum disampaikan langsung ke bundanya."Oh iya, apa aku nanya ke Nana aja ya, soal voice note ini udah disampaikan secara langsung ke bundanya atau belum?" Jirwan tampak berpikir. Ia baru tersadar, ternyata gerimis sudah berubah jadi hujan yang lumayan deras. Ia mengedarkan pandangan mencari Nana. "Kok tidak ada, ya. Apa dia udah balik. Tapi nggak mungkin juga sih dia balik nggak ngomong-ngomong." ia bergumam.Jirwan akhirnya menerobos hujan yang semakin deras. Dia tidak peduli dengan dirinya yang sudah basah akibat air hujan. Yang ada di fikirannya sekarang adalah bertemu dengan Nana."Nanaaa,,, dek kamu di mana?" Jirwan teriak memanggil Nana. Namun, tak ada respon yang ia dengar. Ia mulai khawatir. Ia benar-benar ceroboh karena tidak memperhatikan adik sepupunya itu. "Bagaimana kalau dia terjatuh lalu tenggelam?" pikiran negatif mulai muncul di kepalanya. "Tapi, nggak mungkin, dia kan pintar berenang." lanjutnya mencoba menenangkan diri.Jirwan masih terus mencari keberadaan Nana. Pandangannya tertuju ke arah barat, ia melihat ada beberapa orang di sana. Segera ia berjalan mendekat."Tadi ee tangannya dia e angkat seperti ini." seorang bule perempuan tampak menjelaskan kejadian yang dia lihat. "Aku pikir e dia berenang. Karena papan selancarnya e ada di dekatnya. Tapi, lama-lama e tangannya perlahan menghilang. Saat itu aku e langsung datang untuk menolongnya." bule perempuan yang sempat berpapasan dengan Nana saat baru sampai di pantai tadi terdengar belum lancar berbahasa Indonesia.Jirwan yang ikut mendengar penjelasan perempuan tadi mengalihkan pandangannya ke arah perempuan berkerudung yang tergeletak di atas pasir. Ia terlihat kesulitan bernafas."Nana!" sedikit berteriak, Jirwan mendekat ke samping Nana yang mencoba bangun dengan kondisi tubuh sedikit lemah. Orang yang ada di sekitarnya mulai meninggalkan mereka setelah melihat Nana baik-baik saja."Bang Jirwan, hiks hiks, Nana takut banget." Nana menangis sambil memeluk lengan kanan Jirwan."Tenang, oke. Sekarang adek baik-baik aja kan? Atau ada yang sakit?" Jirwan mencoba menenangkan Nana sambil mengusap pelan punggungnya."Nggak ada yang sakit kok, cuman takut aja." Nana menggeleng. "Bang Jirwan janji jangan bilang ke Bunda, oke?" tanyanya dengan mengangkat jari kelingking."Janji nggak bilang soal apa? Soal voice note?" Jirwan menaik-turunkan alisnya menjahili Nana yang terlihat melotot setelah mendengar kalimat yang dikatakan Jirwan."Bang Jirwan dengerin voice note itu? Katanya tadi mau main game. Bang Jir jahat banget sih!" Nana memukul pelan lengan Jirwan."Tadi, niatnya sih mau main game. Tapi pas liat layar langsung tertuju ke voice note itu, kan aku jadi penasaran, terus aku dengerin deh. Tapi, seriusan nggak mau kasih tahu langsung ke Bunda?" tanya Jirwan."Nggak. Nana malu tau kalau ngomong langsung ke Bunda. Kejadian tadi juga, jangan sampai bunda tahu. Bisa kena marah aku kalau bunda sampai tahu." Nana menutup wajahnya menggunakan telapak tangan."Ya udah, beri tau pakai voice note ini aja. Masa tulisannya 'Bunda, dengerin curhatku' tapi Bunda nggak diberi tau. Bunda mana bisa dengerin sih, dek." Jirwan di buat geleng-geleng dengan kelakuan Nana.Nana mengambil ponselnya dari tangan Jirwan kemudian berdiri. Jirwan ikut berdiri."Kan, Nana nggak pernah mau beri tau voice note ini ke orang lain. Biar Nana aja yang tau sendiri, tapi abang malah dengerin. Sedih banget aku tuh! Aku nggak mau Bunda tau.""Tau tentang apa?" Bunda yang memakai payung tiba-tiba muncul dari belakang mereka. Hujan sudah reda, namun masih menyisakan gerimis."Eh, Bunda." Nana kaget melihat kehadiran Bundanya."Adek kenapa nggak pulang? Kan tadi hujannya deras banget. Dan tadi, apa yang nggak boleh Bunda tau?" Bunda menginterogasi.Nana yang takut kena marah mencoba berlindung di belakang Jirwan."Adek?" Panggil Bunda pada Nana."Anu, tadi adek main hujan, iya main hujan bareng bang Jirwan. Iya kan, bang?" Nana mendongak melihat wajah Jirwan berharap ia mau membantunya."Ee, iya tante. Tante jangan marah sama Nana ya." Jirwan memposisikan Nana ke sampingnya."Iya, Bunda nggak marah kok. Tapi, jangan sering-sering ya main hujannya, nanti bisa demam loh. Terus, yang nggak boleh Bunda tau apa?" tanya Bunda penasaran."Kan, nggak boleh Bunda tau, berarti nggak boleh dikasih tau dong. Bunda gimana sih." Nana mencari alasan agar voice note itu tidak sampai ke telinga Bundanya. Tapi..."Ini nih tante, dengerin deh." Jirwan malah merebut ponsel milik Nana dan langsung memutar voice note itu dengan volume yang tinggi. Nana yang tidak siap dengan kejadian ini, langsung kembali mundur ke belakang Jirwan.Sepanjang voice note itu terputar, Nana hanya bisa memilin ujung kerudung sambil menunduk. Ia malu! Ia tidak tau harus bersikap bagaimana sekarang. Setelah voice note itu berakhir, Jirwan langsung memposisikan Nana tepat di hadapan Bundanya. Sementara Nana masih menunduk."Bunda menerima ucapan rasa terima kasih juga permintaan maaf dari adek. Adek, Bunda juga mau minta maaf ya, karena selama ini Bunda selalu ngebandingin adek dengan orang lain. Adek mau kan, maafin Bunda?" Bunda mengusap pelan pundak Nana."Adek juga udah maafin Bunda. Sekali lagi terima kasih Bunda atas segalanya." Nana meraih tangan Bundanya lalu menciumnya.Bunda memeluk Nana dan Jirwan sambil berbisik, "kalian nikah aja, ya?""HAH." Suara histeris itu berasal dari mereka berdua. Sontak keduanya langsung melepaskan pelukan dari Bunda.

Jadi Keren Tanpa Boyfriend
Teen
09 Dec 2025

Jadi Keren Tanpa Boyfriend

Iis melangkah terburu-buru menuju gerbang sekolah yang sebentar lagi akan ditutup oleh satpam. Iis tidak mau membuat sejarah terlambat datang ke sekolah hanya karena ia tidak punya kendaraan. Iis masih punya ke dua kakinya yang bisa ia gunakan untuk berjalan ataupun berlari demi sampai di sekolah.Beberapa meter sebelum Iis sampai, satpam sudah terlihat berdiri bersiap untuk menggeser pagar sekolah. Iis segera berlari-lari kecil sebelum pagar itu digeser. Namun, ada motor yang tiba-tiba melesat dengan cepat di sampingnya yang membuat hembusan angin menerpa wajahnya dan menggoyang-goyangkan kerudungnya. Iis menebak, itu pasti si Melati dan boyfriendnya. Melati, teman sekelasnya yang pernah mengatakan kalau punya boyfriend itu keren."Memang keren sih, setiap hari diantar-jemput ke sekolah pakai Moge." Kata Iis pelan setelah melihat Melati dan boyfriendnya memasuki gerbang sekolah. "Aish, mikir apa sih aku, punya boyfriend kan sama sekali nggak keren." Iis menggelengkan kepalanya agar pikiran negatif itu menghilang.Sementara di tempat lain, Tika dan Wulan sudah menunggu Iis sedari tadi. Sudah menjadi kebiasaan mereka saling menunggu sebelum masuk ke kelas."Assalamu'alaikum guys,,," sapa Iis setelah sampai di dekat sahabatnya."Wa'alaikumsalam,,," jawab Tika dan Wulan bersamaan."Is, telat lagi?" tanya Melati. Iis hanya diam melihat Melati yang menunggu boyfriendnya yang sedang memarkir motor."Makanya, buruan punya boyfriend, biar ada yang antar ke sekolah." Melati memberi saran untuk Iis."Pertama, terima kasih atas sarannya. Kedua, maaf aku nggak tertarik saran dari kamu." Ucap Iis lalu mengajak kedua sahabatnya untuk pergi dari hadapan Melati."Kenapa? Bukannya kalian sudah aku beri tahu ya, kalau punya boyfriend itu keren? Kalian nggak percaya?" tanya Melati yang membuat langkah ketiga teman sekelasnya itu berhenti, lalu dengan cepat Melati melangkah mendekat ke arah mereka. "Atauu, jangan bilang kalian nggak tahu lagi, gimana caranya menaklukkan hati cowok." Melati tersenyum smirk."Apaan sih." Tika merasa kesal dengan sikap Melati."Nggak tahu tuh, isi pikirannya cowok mulu. Belajar gih, bentar lagi ujian." Wulan menggandeng tangan Iis dan Tika lalu melangkah pergi meninggalkan Melati yang terlihat kesal dengan ucapan Wulan."Ngomong-ngomong guys, kalian ada yang tahu nggak gimana caranya jadi keren tanpa boyfriend?" tanya Iis saat mereka berjalan menyusuri koridor sekolah menuju ke kelas."Sebenarnya banyak sih. Salah satunya menjadi siswa yang berprestasi. Apalagi kalau bisa masuk universitas tanpa melakukan test. Asli, itu keren banget sih!!!" Tika menyampaikan pendapatnya dengan penuh semangat."Atau dapat beasiswa kuliah ke luar negeri. wah, itu lebih keren lagi!" Wulan juga terlihat bersemangat saat membahas tentang kuliah ke luar negeri."Lan, memangnya kamu mau kuliah ke luar negeri?" tanya Iis. Wulan mengangguk lalu tersenyum."Yaa wajar sih, kalau Wulan mau kuliah ke luar negeri. Kan, kita semua tahu kalau Wulan sahabat kita yang tercinta adalah sang juara di sekolah ini. Peringkat satu selalu ia dapat di setiap kenaikan kelas. Pasti akan mudah untuk dapat beasiswa ke luar negeri." Tika memuji Wulan, siswa sekaligus sahabatnya yang selalu mendapat nilai tertinggi di antara siswa yang lain."No, jangan memuji kayak gitu dong." Wulan memang tidak suka dipuji seperti itu. Namun, nyatanya pujianlah yang selalu ia dengar baik dari keluarga, guru ataupun teman-temannya. Bukannya Wulan tidak bersyukur saat dipuji, dia hanya tidak ingin dirinya besar kepala saat mendengar pujian itu."Kalau Wulan lanjut kuliah ke luar negeri, berarti kita pisah dong. Padahal, aku ingin kuliah bareng kalian." Iis merasa sedih jika nanti ia harus berpisah dengan sahabat-sahabatnya."Gimana kalau kita berusaha dapat nilai yang tinggi di ujian nanti, dengan begitu kita bisa dapat beasiswanya bareng-bareng." Usul Tika."Tapi, apa aku bisa dapat nilai tinggi dengan otak standar yang kumiliki? Sepertinya itu mustahil sih!" Iis merasa putus asa bila membahas masalah nilai. Karena di antara mereka bertiga, Iis-lah yang memiliki nilai terendah."Ayolah, jangan putus asa gitu. Kan, masih ada kesempatan untuk meraih nilai yang tinggi. Mungkin mustahil bagi manusia, tapi bagi Allah subhanahuwata'ala itu mudah. Kuncinya cuman belajar, belajar dan jangan lupa berdoa, agar diberi kemudahan dalam memahami pelajaran." Wulan tampak memberi wejangan untuk sahabat-sahabatnya dan terutama untuk dirinya sendiri.Ada semangat yang muncul dalam diri Iis setelah mendengar perkataan Wulan. Mulai sekarang Iis harus belajar lebih giat lagi, agar keinginannya untuk kuliah bersama sahabat-sahabatnya bisa Terwujud.Kini ujian telah mereka lewati. Ada perasaan lega yang mereka rasakan. Namun, rasa penasaran akan hasil kerja keras merekalah yang mendominasi perasaan itu. Tepat di hari pengumuman kelulusan sekaligus penerimaan beasiswa ke luar negeri, Iis, Tika dan Wulan saling berpegangan tangan mendengarkan pengumuman itu."Sepertinya, tahun ini persaingan untuk mendapatkan beasiswa sangat ketat. Ada beberapa siswa yang nilainya meningkat drastis. Ada yang memiliki nilai yang sama. Namun, tentu penilaian tidak hanya dilihat dari nilai yang tinggi. Tetapi perilaku selama di sekolah juga menjadi salah satu penilaian yang terpenting. Baiklah, sekarang saatnya pengumuman peraih nilai tertinggi sekaligus lima orang yang berhasil meraih beasiswa ke luar negeri." Kepala sekolah kembali ke tempat duduk sambil mempersilahkan moderator untuk mengumumkan siapakah peraih nilai tertinggi di tahun ini."Sekarang tibalah saatnya kita semua akan mengetahui siapakah lima siswa peraih nilai tertinggi." Moderator terlihat bersemangat diiringi tepukan gemuruh dari seluruh siswa maupun para guru yang hadir di aula tersebut."Untuk peraih nilai tertinggi sekaligus siswa pertama yang mendapat beasiswa adalah... Wulaaan! Untuk saudari Wulan dipersilahkan untuk maju ke depan." Moderator memanggil Wulan untuk maju ke atas panggung diiringi dengan tepuk tangan yang meriah. Tika dan Iis memberikan ucapan selamat kepada Wulan sebelum Wulan melepas gandengan tangan mereka. Wulan terlihat bahagia dan mendoakan agar ke dua sahabatnya juga mendapat nilai tertinggi.Siswa dengan nilai tertinggi kedua dan ketiga diraih oleh Salman dan Azizah."Untuk peraih nilai tertinggi keempat diraih oleh... Tika." Ucap moderator. Tika langsung memeluk Iis ketika mendengar namanya disebut."Selamat." Iis membalas pelukan Tika."Optimis, yang terakhir harus nama kamu, sih." Tika melepas pelukan Iis."Optimis sih optimis. Tapi, jangan ada kata 'harus' juga kali. Terdengar seperti pemaksaan itu, hahaha..." Iis tertawa kecil."Iya juga ya, hahah..." Tika geleng-geleng kepala lalu melangkah maju ke depan."Dan terakhir, peraih nilai tertinggi urutan kelima diraih oleh... Iis." Moderator terdengar menyebut nama Iis.Mendengar namanya disebut, Iis mengucap hamdalah dan dia terlihat terharu. Akhirnya perjuangan yang ia usahakan mendapat hasil yang maksimal. Impian yang ia inginkan terwujud. Dan harapannya untuk kuliah bersama kedua sahabatnya juga terwujud.Di atas panggung terlihat kepala sekolah memberikan selamat kepada siswa peraih beasiswa. Mereka terlihat sangat bahagia. Terakhir, mereka diberi kesempatan untuk memberikan pesan dan kesan yang ingin mereka sampaikan kepada teman-teman seperjuangan mereka juga kepada adik-adik yang masih berjuang menuntut ilmu di sekolah tersebut.Secara bergantian mereka maju ke depan untuk menyampaikan rasa syukur sekaligus berterima kasih kepada para guru yang selama ini dengan sabar dan ikhlas telah membagi ilmu pengetahuan dan memberikan pelajaran yang berharga untuk para siswanya, agar kelak mereka bisa menjadi penerus dalam menyampaikan kebenaran dan menyebarkan kebaikan.Kini giliran Iis yang maju untuk menyampaikan pesan dan kesannya selama menuntut ilmu di sekolah tersebut."Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah, terima kasih kepada Allah Subhanahuwata'ala yang telah melimpahkan nikmat kepada kita semua terutama saya yang awalnya merasa mustahil untuk berada di posisi ini. Namun, perkataan teman saya Wulan yang mengatakan bahwa 'Mungkin mustahil bagi manusia, tapi bagi Allah Subhanahuwata'ala itu mudah' kini benar-benar menjadi kenyataan. Allah Subhanahuwata'ala benar-benar punya kekuasaan yang begitu luas. Sehingga kemustahilan di mata manusia pun dapat Allah Subhanahuwata'ala ubah menjadi kemudahan sesuai dengan kehendak-Nya. Terima kasih juga kepada para guru yang selama ini dengan sabar dan ikhlas telah membagi ilmu pengetahuannya kepada kami semua. Mengajari kami sehingga bisa berada di posisi saat ini. Kepada teman-teman seangkatan, kalian dan saya juga telah berusaha semaksimal mungkin dalam belajar, dan inilah hasil dari kerja keras kita. Dan untuk adik-adik, selalu semangat dalam belajar agar kalian bisa mencapai apa yang kalian inginkan." Kalimat panjang yang Iis sampaikan mendapat tepuk tangan yang meriah."Untuk kesan yang saya dapat selama sekolah di sini itu beragam. Namun, salah satu yang paling berkesan adalah ketika ada teman kami yang mengatakan bahwa punya boyfriend itu keren. Nyatanya itu salah. Punya boyfriend sama sekali tidak keren. Waktu itu saya bertanya kepada sahabat saya tentang bagaimana caranya jadi keren tanpa boyfriend? Karena, punya boyfriend itu hanya membuang waktu berharga kita yang seharusnya kita gunakan untuk belajar. Dan jawaban sahabat-sahabat saya adalah menjadi siswa yang berprestasi itu jauh lebih keren. Karena hal itulah kami ingin membuktikan bahwa jadi keren tanpa boyfriend itu nyata adanya. Kami berada di posisi saat ini, bukan kah ini keren? Bukannya ingin menyombongkan diri, karena sesungguhnya tidak ada yang bisa disombongkan di dunia ini. Saya hanya ingin mengajak teman-teman, mari manfaatkan waktu yang kita punya untuk melakukan kebaikan. No boyfriend itu keren! Sekian dari saya, wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh." Iis kembali ke tempat diiringi dengan tepuk tangan yang meriah. Ia lalu memeluk kedua sahabatnya dengan penuh rasa bahagia.

The Millenial Squad
Teen
09 Dec 2025

The Millenial Squad

Awali pagi dengan senyuman. Barangkali itu bisa membuat harimu menjadi lebih menyenangkan. Meski banyak rintangan kehidupan yang akan kau dapatkan, setidaknya dengan tersenyum bisa membuatmu merasa lebih nyaman.Sama seperti persahabatan Tasya, Kamila, Sari dan Fadhil. Meski persahabatan mereka sudah terjalin selama kurang dari 3 tahun, tapi tak membuat mereka jenuh satu sama lain. Mereka selalu kompak dalam segala hal. Termasuk dalam hal melakukan kebaikan.Karena yang menjadi prinsip mereka adalah sebuah hadist yang berbunyi, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni). Kalimat itulah yang selalu mereka ingat. Ketika salah satu dari mereka melakukan kesalahan, maka yang lain saling memberikan arahan agar sang sahabat tidak terperangkap dalam lubang kehinaan.Pagi ini, Tasya datang ke sekolah lebih awal dari biasanya. Dia harus segera bertemu dengan Fadhil dan membahas tentang storynya yang diposting pagi ini. Dia merasa Fadhil telah mengingkari kesepakatan yang mereka buat seminggu yang lalu. Pasalnya, story yang diposting beberapa menit yang lalu itu sangat bertentangan dengan kesepakatan yang telah mereka buat.Saat tiba di sekolah, ternyata kedua sahabatnya, Kamila dan Sari sudah sampai lebih dulu. Kamila yang memakai kerudung abu-abu dan memakai tas ransel hitam itu tak berhenti memandangi layar handphonenya. Begitu pun dengan Sari. Mereka membaca berulang-ulang story yang terpampang nyata di handphone mereka. Dengan langkah terburu-buru, Tasya menghampiri kedua sahabatnya yang terlihat cemas."Assalamu'alaikum... Kamila, Sari, udah pada liat, kan?" dengan hebohnya Tasya bertanya pada kedua sahabatnya. Keduanya terlihat sedikit kaget. Tapi kemudian meresponnya dengan kehebohan yang sama."Wa'alaikumsalam..." Jawab Kamila dan Sari bersamaan."Udah. Fadhil benar-benar keterlaluan, ya." Kamila terlihat begitu kesal."Benar banget. Dasar laki-laki tidak bisa dipercaya!!!" Sari menimpali."Tapi, tidak kah kita terlalu berlebihan?" tanya Tasya."Maksudmu?" Sari balik bertanya."Yaa aku merasa sedikit berlebihan aja, sih. Apa yang aku lakukan hari ini terlalu lebay nggak, sih? Kalian nggak ngerasa gitu?" Tasya terlihat bingung dengan sikapnya yang tiba-tiba over protektif terhadap sahabatnya."Ya nggak lah. Apa yang kita lakukan tuh demi menyelamatkan Fadhil, agar dia nggak salah arah dalam melangkah. Kita kan udah sepakat untuk saling mengingatkan." Kamila justru lebih santai dibanding Tasya yang bingung sendiri dengan sikapnya.***Di era modern seperti saat ini, sangat mudah bagi kita untuk berinteraksi dengan banyak orang. Kebaikan bisa kita lakukan di mana pun dan kapan pun kita mau melalui media sosial. Setiap hari, media sosial menjadi menu utama bagi penduduk bumi. Bahkan kita bisa mengetahui kejadian apa saja yang terjadi di berbagai belahan bumi.Jam istirahat tiba. Tasya, Kamila, dan Sari terlihat asyik ngobrol di kantin. Mereka ngobrol tentang hal yang lumrah terjadi di kalangan remaja saat ini. Ya,,, tentang pacaran!!! Zaman sekarang, jarang kita menemukan remaja yang tidak pacaran. Hubungan mereka yang pacaran semakin erat dengan adanya media sosial. Mereka setiap hari saling mengabari satu sama lain. Mereka seakan tidak peduli dengan hubungan yang mereka jalani. Dalam islam dijelaskan bahwa "janganlah kamu mendekati zina..." (QS. Al Isra' Ayat:32). Sedangkan pacaran itu jelas termasuk zina, seperti zina mata yaitu memandang lawan jenis yang jelas bukan muhrimnya.Sementara di tempat lain, seorang siswa dengan pakaian yang terlihat rapi, memakai topi dan jam tangan yang melekat di lengan kirinya terlihat keren dan memukau beberapa pasang mata yang mengarah padanya. Ia adalah Fadhil. Siswa yang terkenal dengan kehebatannya dalam bermain basket. Beberapa penghargaan yang pernah Fadhil dkk raih dalam berbagai perlombaan. Salah satunya lomba basket antar sekolah sekabupaten yang diselenggarakan beberapa hari yang lalu. Mereka mendapat juara satu dan membawa pulang piala kejuaraan. Hal itu tak membuat Fadhil mengumbar-umbar kehebatannya (sombong). Justru hal itu membuatnya bertambah semangat dan terus berlatih agar kemampuan yang dimilikinya tetap terjaga."Wan, ke kantin yuk,,," Ajak Fadhil saat berpapasan dengan Ridwan dalam perjalanan ke kantin."Yuk." Jawaban singkat Ridwan tak membuat mereka ngobrol lebih lama.Mereka terus melangkah menyusuri jalan menuju ke kantin yang selalu ramai oleh para siswa dan siswi. Dari kejauhan penglihatan Fadhil langsung tertuju ke arah sahabatnya Tasya, Kamila dan Sari."Assalamu'alaikum... guys." Sapa Fadhil saat sampai di dekat sahabat-sahabatnya itu."Wa'alaikumsalam..." jawab mereka kompak."Kok tadi aku nggak di ajak ke kantin?" tanya Fadhil ke mereka dengan nada yang sedikit kesal."Tadi sih mau ngajak, tapi nggak jadi." Jawab Kamila singkat."Alasannya?""Yaa, nggak jadi aja." Kamila iseng mengulangi kata-katanya."Alasannya nggak jadi itu, kenapa?" Fadhil menjitak pelan kepala Kamila dengan sedikit emosi."aaa,,," Kamila kaget dan sedikit terganggu."Nggak usah emosi juga kali." Sari memakan potongan coklat yang masih tersisa di tangannya."Sya, ada apa sih?" Fadhil beralih ke Tasya yang tampak diam menyaksikan perdebatan mereka."Tadi kamu nggak ada di kelas. Jadi kami duluan ke kantin." Tasya memberi penjelasan."Dhil, aku balik ke kelas duluan, ya." Kata Ridwan setelah membeli air mineral."Ke sini dulu, kita ngobrol bareng." Ajak Fadhil ke Ridwan."Nggak ah, duluan ya." Ridwan melenggang pergi."Guys, perasaan tadi aku di kelas kok. Please!!! Jangan bohong, ada apa sih?" Fadhil tetap ngotot pengen tau kenapa sikap sahabat-sahabatnya jadi kaku begini."Kamu beneran nggak tau?" tanya Sari. Fadhil menggelengkan kepala."Nih,,," Tasya menyodorkan sebuah handphone ke Fadil."Maksud dari postingan kamu itu apa? Kamu pacaran sekarang? Bukannya minggu lalu kamu bilang nggak akan pernah pacaran?" Kamila mengingatkan kalimat yang pernah Fadhil katakan."Aku nggak pacaran, kok. Siapa bilang aku pacaran? Aku hanya iseng aja. Kebetulan kata-kata yang terlintas dalam fikiran aku ya kayak gini." Fadhil menjelaskan maksud dari postingannya."Dinginnya pagi ini, sedingin sikapmu padaku,,, #ea. Apa ini hanya iseng? Setiap postingan tuh punya makna tau." Kata Sari membaca ulang teks yang tertulis dalam postingan tersebut."Dan apa kamu tau makna dari kata-kata itu?" Sambung Tasya. Fadhil hanya menggeleng. Ia merasa sedang di interogasi saat ini."Maksud dari postingan ini tuh, seseorang yang sedang galau dengan sikap pacarnya. Tau nggak sih, kamu?" Kamila menjelaskan."Oke, oke. Kalian sudah selesai ngomong? Kalian kalau mencari makna dari sebuah postingan tuh, dibaca dan dimaknain dari awal kata sampai kata yang terakhir. Jangan memaknainnya hanya setengah-setengah. Faham!?" Kini giliran Fadhil yang mengeluarkan unek-uneknya."Maksud kamu?" Tanya Kamila, Sari dan Tasya kompak."Kalimat terakhir tuh ada #ea. Kalian tau makna dari kata itu? Makna #ea menunjukkan kalau kalimat sebelumnya itu hanya iseng saja." Fadhil menjelaskan makna postingan yang sudah menyebar luas di media sosial.Ketiga sahabatnya tampak diam."Kenapa diam? Kalau kalian merasa risih dengan postingan itu, biar aku hapus saja." Fadhil mengambil handphone dari tangan Tasya."Nggak usah dihapus." Kata Kamila"Lagian sudah menyebar luas, kan?" Sambung Sari.Setahun yang lalu, mereka sepakat untuk membuat satu akun yang dimana mereka semua bisa mengakses dan membuat story di akun tersebut. Mereka berharap postingan mereka bisa bermanfaat bagi banyak orang.Karena waktu istirahat masih ada, mereka memutuskan untuk live."Karena sudah terlanjur menyebar, kita live saja mumpung jam istirahat masih ada. Sekalian kita beri klarifikasi tentang postingan itu, agar tidak ada yang salah faham." Ajak Tasya sambil membuka akun mereka."Oke." Kata Kamila dan Sari. Fadhil hanya mengangguk.Akun mereka memiliki followers yang lumayan banyak. The Millenial Squad adalah nama grup mereka. Mereka bersyukur bisa berbagi ilmu juga motivasi bagi banyak orang. Kebolehan mereka dalam menjawab persoalan hidup, terutama masalah remaja millenial seperti saat ini. Membuat mereka di sukai banyak orang. Tak jarang mereka diajak untuk kolaborasi dengan motivator terkenal untuk menyampaikan kebaikan.

Masa Lalu Membuatku Galau
Teen
09 Dec 2025

Masa Lalu Membuatku Galau

Pagi yang indah bersama mentari yang menghangatkan jiwa. Bahagia! Seperti itulah gambaran yang kami rasakan saat ini. Berbaris rapi di tengah lapangan, menunggu aba-aba dari sang komandan. Aku tidak tahu persis mengapa mereka menyebutku sebagai komandan? Padahal usia kami sama, 15 tahun. Yang membedakan hanyalah statusku sebagai ketua kelas bagi mereka. Mungkin itulah alasan mereka memanggilku komandan. Selama ini aku hanya menganggapnya sebagai gurauan mereka.Seperti biasanya, setiap hari sabtu jadwal mata pelajaran kami adalah olahraga. Banyak siswa yang menggemari pelajaran olahraga, termasuk aku. Bisa dikatakan aku hampir menguasai semua materi tentang olahraga yang sudah pernah guru ajarkan. Termasuk hari ini, materi tentang bela diri adalah materi yang paling aku sukai.Hari ini kami belajar tentang bagaimana cara kita tetap bisa berdiri tegap disaat orang-orang berusaha untuk menjatuhkan kita. Yah! Walaupun kita pernah melakukan kesalahan, setidaknya berusahalah untuk belajar dari kesalahan yang pernah kita perbuat. Percayalah bahwa manusia tidak ada yang sempurna. Semua manusia pasti pernah melakukan kesalahan. Sehebat apapun diri mereka.Sekarang giliranku untuk menunjukkan kebolehanku dalam ilmu seni bela diri. Yang harus aku lakukan adalah fokus dan konsentrasi. Daaan pertarungan dimulai.Hiyaaakk!!Uhh!! Awal yang bagus. Lawanku menggunakan kekuatan lengan untuk menyerangku. Kucoba untuk menangkisnya. Alhasil lawanku kembali ke posisi semula dan tidak berhasil menjatuhkanku.Memasuki tahap kedua, kini giliranku untuk menyerang. Meskipun lawan yang kuhadapi saat ini adalah sahabatku sendiri, tapi di posisi saat ini dia adalah lawanku. Di permainan ini lawan punya tiga pilihan, mengalah, bertahan dan mengalahkan lawan. Strategi yang kugunakan adalah menggunakan kedua lengan dan satu kakiku untuk menyerang. Alhasil, dia tak mampu untuk bertahan. Permainan telah usai. Tapi, Tiba-tiba dia kembali menyerangku dengan meninju bagian wajahku. Aku yang tidak siap dengan serangan itu dengan spontan menutup wajahku menggunakan telapak tangan, lalu pamit ke guru olahraga kami. Mereka semua tidak boleh tahu tentang kelemahanku.Bel istirahat telah berbunyi. Sementara aku masih di ruang ganti. Aku sama sekali tidak berani untuk keluar dari tempat ini. Darah segar masih saja terus mengalir dari kedua lubang hidungku. Yah, inilah kelemahanku, selalu mimisan disaat hidungku dipukul, apalagi saat ditonjok seperti tadi. Uhh! Aku sama sekali tidak tahu harus berbuat apa? Yang tahu dan yang selalu memahamiku di saat situasi seperti ini adalah Kevin. Yah, sahabatku yang tadi menonjokku. Entah mengapa hari ini dia berubah.Sebelum teman-teman datang ke ruangan ini, aku harus keluar ke tempat yang sepi. Di mana lagi kalau bukan di toilet. Sekalian untuk membersihkan darah yang terus mengalir dari kedua lubang hidungku. Di saat aku sedang membersihkan darah di bawah hidung, di saat itu pula aku teringat semua kenangan bersama Kevin. Kevinlah yang selama ini selalu menjadi partnerku dalam hal apapun selama di sekolah.Beberapa menit berselang, aku mendengar suara beberapa orang yang sedang ngobrol. Sepertinya suara itu tidak asing lagi di telingaku. Itu sepertinya suara dari orang yang aku kenal. Ternyata dugaanku benar. Dia adalah Ronald kelas IX A. Ronald terkenal dengan kemampuannya yang jago bela diri. Namun, dipertandingan beladiri antar kelas tahun lalu aku mampu mengalahkannya. Raut kekesalan di wajahnya pun tampak jelas saat aku mengalahkannya di depan banyak orang kala itu. Dan sampai saat ini kekesalan dan dendamlah yang selalu ia tampakkan di kala ia berjumpa denganku.Darah telah berhenti mengalir dari ke dua lubang hidungku dan Alhamdulillah perasaanku sudah agak enakan. Namun, setelah aku keluar dari toilet, Ronald dan kawan-kawan sudah berdiri rapi tepat di hadapanku. Entah mereka sengaja menghampiriku atau cuma kebetulan. Yang jelas akhir-akhir ini mereka selalu menatapku dengan ekspresi penuh dendam.“Hai, Fadhil. How are you?” Sapa Ronald dengan wajah yang agak menakutkan menurutku.“Hai, …” Jawabku sedikit gemetaran. Aku takut mereka akan melampiaskan kekesalan dan dendam yang sudah setahun mereka pendam. Kini tak ada lagi Kevin yang menemaniku.“Hei, come on, jangan gemetar gitu, santai aja.” Katanya lagi sambil merangkul pundakku.“Oh ya, aku dengar –dengar tadi kamu membuat kehebohan di luar sana. Kamu mempermalukan sahabatmu sendiri di hadapan teman-teman kamu? Bahkan di hadapan guru? Ya kan?’’ Tanyanya melotot padaku.Aku harus berusaha pergi sebelum mereka memukuliku.“Ee,,,, tadi itu praktek. Guru memberi nilai. Jadi, aku melakukan apa yang aku bisa." Jawabku.“Ooh,,, jadi karena masalah nilai kamu melakukan semua itu pada sahabatmu sendiri.“ Ungkap teman yang ada di sampingnya."Mm maaf, aku permisi." Kataku lalu beranjak pergi.Tapi sepertinya mereka tidak membiarkanku pergi. Dengan paksa Ronald menarik kerah bajuku lalu memukuliku hingga terjatuh di hadapan mereka."Hey, jangan lari dari masalah, kamu!" Kata Ronald melotot padaku.Aku menutup kedua mataku. Aku tak mampu melihatnya yang terus melotot. Jujur, aku paling tidak suka melihat ada orang yang melotot, apalagi orang itu melihat ke arahku. Hal itu membuatku teringat masa lalu.Aku sebenarnya tidak tega melihat diriku seperti ini. Aku merasa aku kembali ke masa lalu dimana saat aku dibentak oleh papa.Dulu papa sangat tidak manusiawi dalam memperlakukan kami sebagai keluarganya. Kerjaannya main judi dan terus memeras mama. Jika mama tak punya uang, maka papa akan membentak mama bahkan sampai memukulinya. Aku yang menyaksikan mama disakiti, tidak tega rasanya bila hanya tinggal diam. Kala itu aku membela mama yang tidak mampu melakukan apa-apa. Aku mengatakan pada papa bahwa semua ini bukan salah mama. Mama tidak melakukan kesalahan sama sekali. Justru yang salah itu papa, yang terus menerus memeras mama. Tapi papa bukannya menyadari kesalahannya, malah aku yang ikut dibentak dan dipukuli. Akhirnya mama tidak tahan dengan keadaan yang terus membuatnya tersiksa dan minta cerai ke papa. Saat papa mendengar mama minta diceraikan, disitulah papa baru menyadari kesalahannya dan minta maaf pada mama. Tapi, apa boleh buat, mama terlanjur kecewa dan sakit hati karena perlakuan buruk papa. Dan pada akhirnya mereka bercerai.Itulah alasan mengapa aku ingin menguasai ilmu bela diri dan selalu ingin menjadi juara di setiap perlombaan yang aku ikuti. Karena aku ingin melindungi mama di saat papa atau orang lain menyakiti mama. Aku ingin menjadi orang pertama yang melindungi mama. Aku tidak ingin melihat mama menderita lagi seperti dulu."Hey,,, jangan melamun kamu. Ayo lawan kami semua kalau kamu memang jagoan." Kata Ronald membuyarkan lamunanku.Aku berdiri perlahan dan mencoba untuk menahan emosi."Maaf, bukannya tahun lalu aku sudah menunjukkan pada kalian kalau aku juga bisa menang melawan kalian? Maaf lagi nih, ya, bukannya aku sombong, tapi seharusnya kan masalahnya sudah selesai tahun lalu. Kalau memang kalian mau balas semua kekalahan kalian, kenapa harus ditunda sampai tahun ini, sih? Kenapa nggak menunjukkan kehebatan kalian pada perlombaan tahun lalu? Atau meminta perlombaan diulangi jika kalian tidak mau menerima kekalahan?" tanyaku dengan nafas yang terengah-engah.Sinar mentari di luar sana begitu membara. Sama seperti emosi yang terlihat pada diri Ronald. Emosi yang terlihat pada dirinya mengingatkanku pada papa yang emosi ketika mama tak memenuhi keinginannya."Ahh,,, banyak tanya kamu!!! Kamu jangan bawa masa lalu. Tidak ada gunanya!!!" Bentak Ronald dengan wajah yang terlihat semakin emosi."Loh, kenapa? Bukannya rasa dendam yang kamu miliki berawal dari masa lalu?" tanyaku santai meskipun sedikit grogi."Jangan banyak omong kamu!!!" Ronald meluapkan emosinya dengan meninju wajahku. Aku hanya bisa pasrah. Apalagi ditambah teman-temannya yang lain ikut memukuliku. Lengkap sudah penderitaan hidupku.Tak ada seorang pun yang melihatku di sini. Bel berbunyi 5 menit yang lalu, namun tak mampu rasanya aku beranjak dari tempat ini. Air mataku dengan spontan menetes begitu saja. Aku memang lelaki, namun bila menghadapi masalah yang seperti ini, aku terlihat seperti perempuan yang tak mampu untuk mengendalikan perasaan.Aku kembali teringat dengan masa laluku. Ini benar-benar membuatku galau."Fadhil, kok masih di sini? Kenapa tidak masuk belajar?" suara pak satpam mengagetkanku.Aku mengarahkan pandangan ke arahnya."Fadhil, kamu kenapa? Kok bisa berdarah begini? Ini juga, kok bisa lebam?" tanya pak satpam sambil menyentuh pipiku."Aku habis ditojok, pak. Bapak sih, datangnya telat, jadinya begini deh." kataku sambil memegangi pipiku yang terasa perih."Kok malah nyalahin saya, sih?""Heheh, bercanda kok pak.""Di saat kondisi seperti ini kamu masih bisa bercanda?""Maaf, pak""Ya, sudah. Kalau begitu ikut bapak ke UKS." Katanya lagi sambil membantuku berdiri."Terima kasih, pak.""Sama-sama."Setelah beberapa menit berobat di UKS, aku memutuskan untuk tetap mengikuti mata pelajaran yang sedang berlangsung di kelas. Meski aku telat, pak guru tetap mengizinkanku untuk mengikuti pelajaran yang sudah berlangsung 15 menit yang lalu.***Bel pulang telah berbunyi. Suasana di luar ruangan yang tadinya senyap, kini berubah menjadi ramai oleh sorak-sorai para siswa. Meski mereka berusia belasan tahun, namun mereka masih tetap seperti murid SD yang kegirangan saat bel berbunyi.Saat aku beranjak meninggalkan ruang kelas, Kevin datang menghampiriku."Komandan, maafkan aku. Tadi aku dengan spontan memukulmu. Jujur saat emosiku memuncak, pasti ada saja hal spontan yang sulit aku kendalikan. Aku benar-benar minta maaf!" Ucapnya dengan wajah yang terlihat penuh sesal."Hmm, nggak apa-apa kok. Aku juga minta maaf kalau tindakanku tadi membuatmu emosi. Satu lagi nih, lain kali kalau mau menonjokku dengan spontan lagi, jangan terlalu keras, ya. Jangan sampai gigiku copot, heheh,,," Aku berusaha membuat suasana lebih santai."Ah, kamu bisa aja. Semoga saja hal seperti ini tidak terulang lagi. Sekali lagi aku minta maaf." Mukanya terlihat santai kali ini.Aku hanya mengangguk."Ngomong-ngomong, kenapa sih kamu dan teman-teman yang lain selalu memanggilku komandan? Padahal menurutku gelar itu sama sekali tidak cocok untukku.""Yaa, itu karena kamu adalah pemimpin kami. Biasanya yang selalu memimpin kan dipanggil komandan. Dan itu adalah kesepakatan kami semua." Ucapnya.Beberapa saat kemudian aku dipanggil untuk menghadap ke kantor. Saat tiba di sana, aku melihat Ronald dan kawan-kawan yang sedang berhadapan dengan kepala sekolah. Sepertinya pak satpam melaporkan kejadian tadi ke kepala sekolah. Sungguh kejadian yang sangat memalukan.Kepala sekolah meminta kepada Ronald dan kawan-kawan untuk minta maaf kepadaku dan menskorsnya selama 3 hari. Karena telah melakukan perkelahian di wilayah sekolah. Ini sebagai hukuman bagi mereka. Aku mengatakan ke kepala sekolah bahwa mereka tidak perlu diskors. Cukup mereka minta maaf dan menyesali perbuatannya saja. Tapi, kata kepala sekolah ini sudah menjadi peraturan sekolah dan tidak bisa dilanggar.

Best Friend's
Teen
09 Dec 2025

Best Friend's

Mentari pagi mengiringi kami menuju ke sekolah hari ini. Aku Anna, orang yang paling pendiam di antara teman-teman yang lain. Aku bicara saat ditanya saja atau teman yang lain meminta pendapat dariku. Selebihnya aku hanya diam.Aku patut bersyukur, karena mereka tak pernah membiarkanku sendiri. Ke manapun mereka pergi, mereka selalu mengajakku. Meskipun aku hanya diam di saat mereka bercengkerama, namun mereka tetap menghargai keberadaanku."Na, tugas matematika kamu sudah selesai, belum? Semalam aku kesulitan menyelesaikan soal bagian lima. Apa kamu berhasil mendapat jawabannya?" Amel bertanya sambil sesekali menoleh ke arahku yang berada di belakangnya."Sudah. Tapi, aku tidak terlalu yakin dengan jawabannya." Jawabku mengikuti arah laju sepedanya. Aku heran, kenapa Amel bertanya padaku? Padahal kan di sini ada teman yang lain juga. Seharusnya pertanyaan itu ditujukan untuk semuanya."Mel, kenapa kamu tidak tanya ke aku juga, sih? Kan, aku juga butuh perhatian dari kamu." Sari yang mengendarai sepeda warna biru muda dengan mengenakan tas ransel hitamnya merasa dicuekin."Kan, kalau nanyanya ke kamu jawabannya sudah pasti seperti ini nih, -belum, nanti aku liat punya kamu, ya-" Riadi yang berada di tengah mencoba mengikuti gaya bicara Sari. Ia memang terkenal dengan sifat jailnya."Enak aja kamu kalau ngomong!!! Memangnya punya kamu sudah selesai? Pasti belum juga, kan?""Tapi, setidaknya...""Ah,,, sudahlah. Bilang saja kalau tugas kamu juga belum selesai." Sari merasa jengkel dijailin Riadi."Santai aja kali, cuman bercanda kok. Yaa maaf kalau candaanku berlebihan." Riadi merasa bersalah. Ia tidak ingin Sari marah hanya karena candaannya."Makanya, kalau bercanda itu yang lucu. Bukan malah menyinggung perasaan orang." Sari melihat ke arah Riadi."Maaf." Kata Riadi."Kalian bagaimana, sih? Pagi-pagi kok udah bertengkar aja. Bukannya membicarakan hal yang baik-baik." Giliran Maulana yang mengeluarkan suara."Benar banget tuh." Bagas menimpali.Selama tiga puluh menit mengendarai sepeda ke sekolah, akhirnya kami sampai juga. Kami memarkir sepeda di samping sekolah yang berdekatan dengan kantin tempat kami jajan atau sarapan setiap pagi jika tidak sempat sarapan di rumah sebelum berangkat ke sekolah.Kami berjalan beriringan menuju ke kelas. Kali ini tidak ada yang mampir ke kantin. Entah ada apa? Mungkin mereka sudah pada sarapan. Karena biasanya, jika belum sarapan, mereka langsung menuju ke kantin dan saling berebutan tempat duduk meski banyak tempat duduk yang kosong. Mereka terlihat iseng. Aku hanya bisa menyaksikan tingkah mereka.Rasanya aku juga ingin berbaur dengan mereka. Tapi aku merasa minder. Kepercayaan diriku hilang saat bersama mereka. Aku juga tidak berani keluar dari zona nyaman.Kemarin ada siswa kelas sebelah datang ke kelas kami. Lalu dia menggangguku. Dia mengatakan aku cantik lalu menyentuh pipiku dengan tangannya. Aku hanya menunduk dan tidak bisa melakukan apa-apa. Aku sangat takut waktu itu. Baru kali ini ada orang yang menyentuhku selain kedua orang tuaku.Saat itu hanya beberapa siswi yang ada di dalam kelas. Amel dan teman-temanku yang lain berada di luar ruangan. Mereka mengajakku. Tapi, aku merasa tidak ingin kemana-mana saat itu."Hay, aku boleh duduk di sini, nggak?" tanya siswa yang tadi menyentuh pipiku. Rasanya aku ingin memukulinya. Tapi, apa aku bisa melakukan semua itu? Itu konyol. Aku sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa.Aku berusaha untuk beranjak pergi. Namun, saat aku berdiri dari tempat duduk dia langsung menarikku untuk duduk kembali. Seketika tubuhku gemetaran. Untung teman-temanku datang tepat waktu dan langsung menyuruh mereka pergi. Kalau tidak, habislah aku."Na, kamu nggak apa-apa, kan?" Amel berjalan mendekatiku. Ia terlihat begitu mengkhawatirkanku."Iya, aku nggak apa-apa kok. Makasih yah udah nolongin aku.""Sama-sama. Sudah seharusnya kami melakukan ini, bukan? Saling tolong menolong dan memberikan bantuan bagi siapa pun yang membutuhkan. Tugas manusia kan memang seperti itu." Kata Maulana. Ia terlihat bijak.Masih teringat dengan jelas dipikiranku kejadian buruk itu. Bahkan aku sudah berusaha untuk melupakannya, namun susah untuk dilupakan."Na, ada apa? Kok berhenti di depan pintu?" Amel yang sudah duduk di kursi, menatapku heran."Iya, ada apa sih? Dari tadi aku perhatikan kamu melamun terus di sepanjang jalan ke kelas. Apa kamu sakit?" tanya Sari yang duduk di samping Amel."Aku nggak apa-apa kok." Aku melangkah menuju ke tempat duduk."Tenang aja, Na. Nanti kalau mereka datang mengganggumu lagi, kami pasti ada untuk melindungimu. Kami tidak akan membiarkan mereka menyakitimu. Anggap saja kami sebagai sahabat pelindungmu." Lagi-lagi Maulana mengeluarkan kata-kata bijaknya."Kalau mereka datang untuk mengganggumu lagi, kami pasti akan memberikan mereka pelajaran." Riadi tak mau kalah memberikan pendapatnya kali ini."Pelajaran apa, Di? Pelajaran kimia atau matematika?" Kata Sari meledek Riadi. Beberapa teman yang lain langsung tertawa mendengar perkataan Sari."Mmm, pelajaran agar mereka tidak mengganggu siapapun lagi, lah. Lagian kalau mereka diberi pelajaran matematika, mana mungkin aku bisa mengajarinya. Aku saja tidak faham soal pelajaran matematika." Kata Riadi. Teman-teman yang lain hanya bisa geleng-geleng kepala."Ee, Na. Aku boleh lihat jawaban tugas kamu, nggak, yang bagian nomor lima? Soalnya aku benar-benar tidak menemukan jawabannya." Amel terlihat sangat berharap padaku."Boleh. Tapi, jangan salahkan aku kalau jawabannya salah." Aku memberi peringatan."Aku mau liat juga, dong." Sari tidak mau ketinggalan soal menyelesaikan tugas. Begitu juga dengan teman-teman yang lain. Mereka selalu bekerja sama dalam segala hal.Siswa yang baik adalah siswa yang saling menghargai satu sama lain. Sama seperti mereka teman-teman seperjuanganku dalam menuntut ilmu. Mereka adalah teman-teman terbaik yang kumiliki saat ini. Semoga pertemanan ini terus terjaga dan jangan sampai ada kata benci di antara kita.

Lomba Lari
Teen
09 Dec 2025

Lomba Lari

Aku Nana. Seorang siswi yang cukup pendiam jika dibandingkan dengan teman-temanku yang hebohnya minta ampun. Ingin rasanya seperti mereka yang seakan tak ada beban hidup yang terlintas dalam pikirannya. Namun, rasa tidak pd berlebihan yang kumiliki memaksaku hanya terdiam menyaksikan keseruan mereka.Aku terkadang ingin memaksakan diri berbaur bersama mereka, namun ada rasa takut yang aku rasakan. Rasa takut bila nanti mereka mengabaikanku disaat aku berbicara, rasa takut bila mereka tidak nyaman dengan keberadaanku. Selalu itu yang terlintas dalam pikiranku. Hal inilah yang membuatku selalu menyendiri di dalam kelas.Hari ini kami siswa/i kelas VIIIA akan melakukan praktek olahraga lari yang nantinya akan dinilai oleh guru olahraga kami. Aku dan teman-teman berjalan menuju ke lapangan olahraga. Kemudian memulainya dengan pemanasan untuk merenggangkan otot-otot lalu dilanjutkan lari mengelilingi lapangan. Cukup menguras energi memang, namun inilah peraturan yang harus dilakukan sebelum melakukan olahraga inti.Pemanasan pertama dimulai dengan posisi kedua tangan diangkat ke atas dilanjutkan dengan pemanasan berikutnya. Aku mengikuti pemanasan ini dengan sungguh-sungguh. Agar nanti saat praktek dan pengambilan nilai hasilnya bisa maksimal. Pak Ikmal selaku guru olahraga memulai praktek dengan mengabsen satu persatu siswa yang akan mengikuti olahraga lari ini.Praktek kali ini sekaligus merupakan lomba. Pelari tercepat akan mendapatkan nilai tertinggi. Meskipun badanku pendek dan kecil, namun kecepatan lariku lumayanlah, heheh...Kartika, siswi yang berbadan tinggi dan sedikit kurus itu menjadi lawanku. Kalau dilihat dari segi postur sih, memang tidak sebanding. Tapi, aku harus berusaha melakukannya dengan maksimal.Aku dan Kartika berada di tempat yang sejajar dengan posisi jongkok."Bersedia, siap, priiitt!" Aba-aba dan suara pluit pak Ikmal berbunyi bersamaan dengan itu aku dan Kartika berlari sekuat tenaga, sekitar sepuluh meter dari garis star, aku dan Kartika masih berada pada posisi yang sejajar. Namun, setelah itu Kartika tiba-tiba melesat dengan cepat meninggalkanku yang mulai ngos-ngosan. Aku terus berlari, meski dalam hati mulai pasrah.Alhasil, aku harus mengakui keunggulan Kartika yang tampak tersenyum penuh kemenangan. Sementara aku masih berusaha mengatur nafas yang masih ngos-ngosan. Ya sudahlah, mungkin ini bukan keberuntunganku.Tapi, ini bukan hasil akhir, masih ada kesempatan kedua untuk menjadi yang terbaik kedua. Siswa yang menang akan melawan siswa yang menang lainnya untuk memperebutkan posisi pertama. Sementara siswa yang kalah akan memperebutkan posisi pelari tercepat kedua. Kesempatan yang bisa aku raih adalah menjadi pelari tercepat urutan kedua. Semua siswa yang kalah mengambil posisi star secara bersamaan.Saat ini aku berada di posisi kedua dari depan. Yap! Aku harus berusaha melewati Sari yang berada sekitar lima langkah dari hadapanku jika aku ingin menjadi pelari tercepat dengan nilai tertinggi kedua ini terwujud.Garis finis sudah semakin dekat. Sekitar dua langkah lagi aku bisa sejajar dengan Sari."Sari, percepat larimu..." Teriak salah seorang kakak kelas saat menyaksikan kami yang sedang berjuang mencapai garis finis. Kulihat sekilas, ternyata kakak kelas itu adalah tetangga Sari sekaligus teman akrabnya. Tanpa menoleh, Sari langsung mempercepat larinya setelah tahu aku sudah ada di dekatnya.Aku yang tidak pernah menyangka akan ada kejadian yang seperti ini tiba-tiba merasa lemas, semangat juangku hilang seketika. Lenyap sudah kesempatanku meraih posisi pelari tercepat kedua.Sari berhasil sampai ke garis finis dan otomatis meraih posisi kedua pelari tercepat dan mendapat nilai tertinggi kedua. Lalu, bagamana denganku? Entahlah! Aku juga tidak tahu. Yang ada dalam fikiranku saat ini adalah aku sudah gagal dalam perjuangan yang sudah aku lakukan dengan semaksimal mungkin, namun hasilnya yang tidak maksimal.Meski aku kalah, tak apa. Jangan menyerah! Jangan putus asa! Semangat untukku.

Pasrah
Teen
08 Dec 2025

Pasrah

Tamala melangkah menuju ke ruang kelas VlllB dengan senyuman yang merekah. Ia merasa lega karena tugas sekolahnya untuk hari ini sudah ia persiapkan. Tamala merupakan siswi yang disiplin. Termasuk menyelesaikan tugas yang diberikan kepadanya. Selalu memberikan bantuan kepada temannya yang sedang kesusahan, menjadi salah satu alasan mengapa ia disukai banyak orang. Bukan hanya di lingkungan sekolahnya, ia juga dikenal sangat ramah di lingkungan tempat tinggalnya.Bahkan tak jarang ia berbagi rezeki kepada orang yang membutuhkan. Meski hidupnya sederhana, namun berbagi tetaplah menjadi hal yang utama. Tamala selalu mengingat pesan Ibunya, "meski kita hidup sederhana, berbagi harus tetap kita lakukan selagi kita masih punya." Ibunya menyampaikan pesan itu saat dia berusia 6 tahun. Saat itu, ia dan Ibunya beranjak pulang dari pasar. Diperjalanan pulang mereka bertemu dengan anak jalanan yang terlihat kelaparan. Setelah ditanya perihal mengapa mereka kelaparan, jawaban dari kedua kakak beradik itu sungguh menyayat hati. Mereka ternyata belum makan selama dua hari. Dengan penuh iba, Tamala dan Ibu membawa kedua anak itu ke salah satu warung makan yang tak jauh dari pasar. Kedua anak itu tampak begitu lahap menyantap makanan yang telah disajikan oleh pemilik warung. Bahkan salah satu diantara kedua anak itu meneteskan air mata."Adek kenapa? Kok nangis?" Ibu Tamala mengusap rambut gadis kecil itu yang berusia 3 tahun lebih tua dari Tamala. Sedangkan adiknya berusia setahun lebih mudah dari gadis itu."Nggak apa-apa kok, tante. Saya merasa bersyukur aja, saya dan adik bisa makan setelah dua hari menahan lapar, terima kasih banyak ya tante sudah memberi kami makan." Ucap gadis kecil itu bersedu-sedu. Sementara adiknya masih terlihat lahap menyantap makanannya."Sama-sama sayang." Ibu Tamala tersenyum sambil memeluk gadis kecil itu. Sementara Tamala hanya tersenyum menyaksikan momen yang mengharukan itu. Saat itulah ibu Tamala menyampaikan pesan yang selalu Tamala ingat hingga saat ini.***Hari ini kelas VlllB seperti biasa, di jam pertama di hari rabu akan ada mata pelajaran IPS yang selalu on time. Jadi, kalau ada yang mengerjakan PR di sekolah bakal ketahuan. Mereka yang ketahuan mengerjakan PR di sekolah tidak diizinkan untuk mengikuti pelajaran tersebut. Hal ini dilakukan untuk melatih siswa/i agar disiplin dalam mengerjakan tugas yang diembankan oleh bu' Tini selaku guru IPS.Tugas yang diberikan bu' Tini minggu lalu ialah semua siswa/i diwajibkan menfoto-copy buku pelajaran IPS dikarenakan buku IPS di sekolah hanya ada satu saja. Hal itu dilakukan bu' Tini agar bisa mengajar dengan mudah.Berhubung karena hari ini pemeriksaan tugas, jadi bu' Tini menggabungkan antara kelas VlllA dan VlllB, agar ia mudah memeriksa tugas para siswa/i. Bu' Tini melakukan pertukaran jam pelajaran kepada pak Toni selaku guru yang mengajar jam pertama di kelas VlllA.Semua siswa/i kelas VlllB bergabung di ruang kelas VlllA. Bu' Tini sudah bersiap di meja guru sembari menunggu semua siswa berkumpul. Setelah semuanya berkumpul, bu' Tini segera memanggil 1/1 nama siswa, di mulai dari kelas VlllA. Semua siswa tampak tenang selama masa pemeriksaan tugas berlangsung.Kini giliran kelas VlllB. Siswa bergiliran maju ke depan bu' Tini sambil membawa buku foto-copy masing-masing."Tamala,,," Suara bu' Tini terdengar memanggil siswa berikutnya.Tamala segera mengambil buku foto-copy miliknya lalu melangkah menuju ke hadapan bu' Tini. Setelah pemeriksaan buku selesai, Tamala kembali ke tempat duduk. Tamala langsung meletakkan buku foto-copy itu di atas meja. Namun, sesaat setelahnya..."Mala, aku pinjam buku foto-copy kamu, ya. Soalnya aku lupa untuk foto-copy buku IPS." Izza yang terlihat panik sedari tadi, kini merasa sedikit lega setelah memegang buku foto-copy milik Tamala, meski Tamala belum mengatakan apa-apa."Tapi kan, bukunya sudah ditandatangani sama bu' Tini, nanti kalau ketahuan, gimana?" kini giliran Tamala yang terlihat panik."Nggak bakal ketahuan kok,,," Meski Izza mengatakan hal itu, namun ia terlihat sedikit khawatir. Tamala terlihat pasrah.Setelah nama Izza dipanggil, ia melangkah ke depan dengan penuh percaya diri, actingnya benar-benar sempurna. Tapi..."Bu', buku foto-copy itu bukan punya Izza." Ikka yang duduk di belakang Tamala dan Izza tiba-tiba bersuara setelah menyaksikan kejadian tadi."Izza meminjam buku Tamala supaya bisa dapat nilai, bu'." Tanpa berfikir panjang, Ikka membocorkan semuanya."Benar begitu Izza, Tamala?" tanya bu' Tini."Benar, bu'." Jawab Tamala dan Izza hampir bersamaan."Kalian berani bohong sama Ibu?" Tanya bu' Tini."Maaf, bu'." Kata Izza menunduk menyesali perbuatannya."Ya sudah, kalau begitu kamu foto-copy buku itu sekarang, setelah selesai di foto-copy, perlihatkan ke Ibu, setelah itu Ibu akan memberikan nilai." Kata bu' Tini.Izza kembali ke tempat duduk dengan perasaan kecewa."Kamu kenapa sih, kka? Sibuk ngurusin orang lain aja!!!" Izza terlihat sebel sambil menyimpan buku foto-copy itu di depan Tamala."Loh, aku kan cuma berkata jujur, apa salahnya, sih?" Ikka membela diri."Sudah, sudah,,, Setiap perbuatan itu pasti ada konsekuensinya. Jadi, dari pada kalian saling menyalahkan yang nggak ada manfaatnya sama sekali, lebih baik buku ini segera difoto-copy deh, sebelum bu' Tini selesai mengajar." Tamala menyodorkan buku foto-copy miliknya ke Izza."Tapi, temenin ya, La. Please!!!" Izza memohon ke Tamala untuk menemaninya ke tempat foto-copy yang berada tak jauh dari sekolah."Iya,,," Tamala segera menemani Izza setelah sebelumnya meminta izin pada bu' Tini.Tamala menyadari bahwa hari ini ia telah berbuat salah. Di satu sisi, ia ingin membantu temannya yang sedang membutuhkan bantuannya. Namun, di sisi lain ia harus ikut berbohong. Tapi, seperti itulah kehidupan, cepat atau lambat kebenaran pasti akan terungkap.

Tak Seindah Pelangi
Teen
08 Dec 2025

Tak Seindah Pelangi

Semua keperluan sekolahku untuk hari ini sudah siap. Baju dan rok sudah kupakai sedari tadi. Kini tinggal memakai kerudung berwarna putih simpel yang tergantung di samping cermin lemari pakaianku.Meski terlihat simpel, namun kerudung ini telah memenuhi syarat dan ketentuan dalam menutup aurat. Hingga membuat hatiku tenang. Setidaknya bertambah satu kewajiban yang kulaksanakan sebagai umat muslim.Setelah semuanya siap, kulangkahkan kaki menuju ruang tengah. Di sana kulihat papa mondar-mandir, sepertinya dia mencari sesuatu. Aku yang keponya sudah berada di tingkat paling tinggi langsung melempar pertanyaan padanya yang kuanggap sebagai cinta pertama dalam hidupku."Pa,,, lagi nyari apa, sih? Kok mukanya kaya' panik gitu? Ah, Rani tau, Papa pasti nyembunyiin sesuatu dari Mama, ya kan? Makanya muka Papa panik, kaya' orang linglung gitu, heheh,,," Aku tertawa kecil melihat gerak-gerik Papa."Nyembunyiin apaan? Tidak tuh! Papa tidak nyembunyiin apa-apa!!" Jawab Papa tanpa menoleh ke arahku. Dia tetap sibuk mencari sesuatu yang tidak kuketahui itu."Terus, Papa nyari apa?" tanyaku lagi."Ini, Papa lagi nyari kunci mobil. Perasaan tadi Papa simpan di atas sofa. Kok sekarang nggak ada, ya?" kata Papa yang masih terlihat kebingungan dengan kejadian kunci mobil itu yang tiba-tiba hilang."Maaf ya, Pa, Rani nggak bisa bantuin cari. Soalnya Rani sudah mau berangkat ke sekolah sekarang, takut nanti telat. Semoga kuncinya segera ketemu ya, Pa. Semangat Papaa,, Assalamu'alaikum..." Aku benar-benar tidak bisa bantuin Papa mencari kunci mobil itu. Aku hanya bisa mendoakan dan memberikan semangat ke Papa."Wa'alaikumsalam..." jawab Papa.Langit yang terbentang luas terlihat cerah hari ini. Betapa Maha Kuasa-Nya Allah Subhanahuwata'ala dalam menciptakan keindahan-keindahan yang kulihat saat ini. Tak henti kumengagumi kekuasaan-Nya. Yang bahkan tak seorang pun mampu menandingi kekuasaan itu. Ini menandakan, sebagai manusia atau khalifah di muka bumi seharusnya kita bersyukur dan tidak perlu mengaku sok berkuasa. Karena hanya Allah-lah Sang Penguasa Kekuasaan yang sesungguhnya.Setelah beberapa menit melewati perjalanan menuju ke sekolah, akhirnya aku sampai juga. Kulangkahkan kaki melewati gerbang sekolah lalu menuju ke ruang kelas xb. Kelas tempatku menuntut ilmu sejak pertama kali aku masuk ke sekolah ini.Meski baru sekitar setengah tahun belajar di sini, tapi begitu banyak cerita yang telah kami lewati. Termasuk aku. Aku selalu menganggap bahwa kehidupan yang kujalani adalah bagian dari takdir yang telah Allah Subhanahuwata'ala tentukan untukku. Meski terkadang yang terjadi tidak sesuai dengan keinginanku. Namun, hidup akan terus berlanjut. Sekeras apapun aku menentang takdir hidupku, itu tak akan merubah apa pun dari hidup yang kujalani. Sebab, takdir seseorang sudah ditentukan jauh sebelum seseorang itu dilahirkan ke dunia ini.Aku terus melangkah. Dari kejauhan aku melihat Vinda dengan langkah terburu-buru memasuki ruang kelas. Jujur, Vinda adalah teman terbaik yang kumiliki sejak SMP dulu. Dan, sampai sekarang Vinda masih tetap teman yang selalu setia menemaniku.Tapi, ada satu hal yang tidak aku sukai darinya. Vinda pacaran!!! Meski seringkali aku sampaikan padanya bahwa pacaran itu tidak boleh. Namun, kalimat yang kusampaikan seakan tak ada gunanya. Vinda tidak pernah peduli tentang apa yang aku sampaikan padanya.Kuikuti langkah Vinda yang menuju ke kursi di pojokan paling belakang. Kulihat dia menangis. Baru kali ini aku melihatnya sesedih itu."Vin, ada apa? Kamu kenapa nangis?" tanyaku sambil mengusap pundaknya. Kurasakan ada getaran dahsyat yang terjadi pada dirinya. Ia tampak begitu ketakutan. Dan,,, seketika ia berdiri lalu memelukku dengan erat."Aku takut banget!!! Sebelumnya dia nggak pernah bersikap seperti itu." Vinda bersedu-sedu menjawab pertanyaan dariku."Dia siapa? Bersikap seperti apa yang kamu maksud?" tanyaku penasaran. Aku tidak tahu siapa lagi yang sedang ia cintai saat ini. Kulepas dengan pelan pelukannya. Ia terlihat menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya pelan."Pratama. Awalnya kami ngobrol seperti biasa. Tapi, tiba-tiba ia memegang tanganku. Saat itu aku benar-benar gemetar bercampur rasa takut. Aku tidak tahu kenapa ia bersikap seperti itu." Cerita Vinda dengan wajah yang masih terlihat ketakutan."Terus?""Aku melepas tangannya lalu pergi begitu saja.""Reaksinya?""Aku tidak tau. Yang kupikirkan saat itu adalah menjauh darinya.""Vin, itulah alasannya mengapa aku sering menyampaikan padamu untuk tidak pacaran. Sekarang kamu sudah tau kan akibatnya?" Aku lagi-lagi menyampaikan hal yang sama kepadanya."Bahkan bukan hanya ketakutan seperti yang kamu alami. Tapi yang paling buruk adalah dosa yang terus mengalir selama hubungan itu tetap berlanjut!!! Vin, bukannya aku sok suci. Tapi, aku hanya berusaha menyampaikan kebaikan kepadamu. Aku hanya tidak ingin kamu terluka." Lanjutku."Dulu, aku mengira pacaran itu seindah pelangi. Yang mampu memberikan warna-warni yang indah di setiap kehadirannya. Tapi, aku salah. Pacaran itu sama sekali tidak seindah pelangi. Sebaliknya, ia memberikan warna yang begitu kelam. Maaf ya Ran, selama ini aku tidak pernah mendengarkan kata-katamu." Vinda kembali memelukku erat.Aku merasa bersyukur, Vinda mau berubah setelah mendengar kata-kata yang kusampaikan. Vinda bahkan mengatakan pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan pernah kembali ke lubang yang sama seperti yang terjadi pada dirinya selama ini. Dan aku bersyukur karena telah berhasil membuat Vinda berubah ke arah yang lebih baik.

Menampilkan 24 dari 166 cerita Halaman 4 dari 7
Menampilkan 24 cerita