Tunangan
Teen
01 Jan 2026

Tunangan

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download - 2026-01-01T083621.827.jfif

download - 2026-01-01T083621.827.jfif

01 Jan 2026, 01:36

download - 2026-01-01T083618.827.jfif

download - 2026-01-01T083618.827.jfif

01 Jan 2026, 01:36

Aku telah berada di sini. Berdiri diantara 2 tiang penyangga sebuah café yang cukup besar. Padahal seingatku kemarin, aku mati matian menolak untuk datang. Tapi aku telah berada di sini sekarang. Apa temanku memasukkan sesuatu ke kepalaku hingga tanpa sadar aku pergi kemari? Sepertinya tidak, aku datang untuk melihat orang ku sukai sekali lagi. Dengan sangat berat hati sekali kulangkahkan kakiku memasuki ruang tempat acara di gelar. Ruang yang dipenuhi bunga kebahagiaan di mana mana. Seharusnya aku membawa bunga duka cita sebagai hiasan kecil. Namun hatiku yang berduka tak akan sebanding dengan kebahagiaan setiap orang yang menginginkan pasangan itu. Atau lebih tepatnya, menginginkan makanan dari pasangan itu. Mataku berkeliling mencari tempat duduk. Sepertinya semua telah dipenuhi oleh orang-orang yang kelaparan. Aku pun memutuskan untuk berdiri di sudut. Berharap air mata di sudut mataku tak akan tergelincir saat melihat mereka nanti.

Suara riuh mulai terdengar saat 2 pasang kaki keluar dari sebuah ruangan. Mereka terlihat sangat menawan dengan setelan jas dan gaun berwarna putih. Salah satu dari mereka melihat ke arahku. Tersenyum penuh arti. Maksudnya, itu berarti senyum yang terakhir untukku. Kuyakinkan hatiku untuk membalas senyum itu. Tapi ia menolehkan wajahnya ke arah yang lain. Jika ini hari biasanya, sepatu yang kupakai pasti telah lepas dengan sendirinya dan terbang ke wajah pria itu. Tapi yang luar biasanya, ia bahkan tak mengucap sepatah katapun untuk mengucapkan selamat tinggal padaku.

Acara bodoh ini membuang 2 jam waktuku. Kaki kaki jenjangku terus meronta untuk keluar. Namun perutku yang keriput terus berteriak memintaku untuk mengisinya. Makanan dari pasangan menyebalkan itu? Tidak, aku tak akan tega memakannya. Lagipula, gadis itu lebih kurus dariku, ia pasti membutuhkan lebih banyak makanan agar tetap terlihat cantik di depan pasangannya. Aku tak pernah meminta tanganku untuk mengambil makanan, tapi piring kosong di depanku tadi telah terisi penuh dengan makanan. Sepertinya tanganku lebih pandai dari hatiku sekarang. Kuselesaikan makanku secepatnya dan bergegas pulang. Namun baru beberapa langkah mendekati pintu, suara lembut itu memanggil namaku. Sahabat lamaku, Jelita. Sepertinya ia baru menyadari kehadiranku beberapa detik yang lalu.

"Viola, kau mau kemana? Acara baru saja dimulai." Jelita tersenyum manis, seperti tak ada sesuatu yang terjadi.

"Baru saja dimulai, pantatku. 2 jam dan kau bilang baru saja dimulai? Kau mau mengakhirinya sampai kapan? 2 hari 2 malam?" Jawabku dengan nada kesal, seperti biasanya.

"Mengakhiri apa?" Tanya Jelita sedikit terkejut.

"Oh, apa aku terlalu banyak bicara?" Tanyaku dalam hati. "Mengakhiri acaranya, tentu saja. Kau pikir?"

"Aku tau kau tak sejahat itu dan mendoakan hubunganku dan Zelo segera berakhir." Jelita tersenyum. Menampakkan kebahagiaan di setiap sudut wajahnya. "Oh iya, aku pikir yang kau katakan tentang ramuan, itu semua benar." Ia kembali tersenyum.

"Ramuan?" Aku bertanya dalam hati.

*Flashback*

"Jelita! Apa yang aku katakan tentang jangan terlalu dekat dengan Zelo? Bagaimana kalau ia memakai ramuan yang membuatmu jatuh cinta di setiap sentuhan tangannya?" Bentakku.

"kau yang seharusnya menjauhi Jelita! Kenapa kau membuatnya begitu buruk sampai ia tak memiliki kekasih sampai sekarang?!" Zelo balik membentakku.

"Bagaimana bisa aku melepaskannya yang begitu lemah? Bagaimana kalau sesuatu terjadi saat aku membiarkannya bersama orang lain?"

"Memang kau ini siapanya? Ibu? Saudara? Atau jangan jangan, kau benar benar meyukai Jelita dan berencana untuk menjadikannya..." Zelo belum selesai bicara.

"Plak.."

Sepatuku mendarat tepat di pipi kanannya. Dia, pria di depanku yang menyebarkan rumor tentangku yang menyukai sesama perempuan. Aku memang tak punya perasaan dan aku tak pernah peduli dengan gossip. Tapi bukan berarti seluruh keluargaku sama sepertiku. Bagaimana kalau mereka tau? Bagaimanapun, hidupku bukan sebuah sinetron dimana aku bisa bunuh diri seenaknya karna hal semacam itu.

*Flashback end*

"Oh, kau begitu lucu setiap kali bersama Zelo. Tak pernah terpikirkan olehku kalian akan berpisah secepat ini. aku tau hidup Zelo tak akan berwarna tanpamu." Oceh Jelita.

"Kalau kau tau hidupnya tak akan berwarna tanpaku, kenapa kau tak menyerahkannya saja untuk menjadi kekasihku?" Tanyaku dalam hati. "Cih, kau terlalu berlebihan, Jelita. Kau yang membuatnya tersenyum. Sedangkan aku hanya membuatnya marah setiap hari."

"Sebenarnya, kau lebih sering membuatnya tertawa daripada marah. Bahkan ia tak pernah benar benar marah terhadapmu."

*Flashback*

"Kau harus mengerjakannya. Aku terlalu sibuk untuk menghafalkan tugas sebanyak itu." Zelo membanting buku tugas di depanku.

"Apa kau bilang? Kau pikir aku ini siapamu? Ibumu? Kakakmu? Kekasihmu?" Bentakku menatap matanya yang indah, mungkin.

"Kenapa kau tiba-tiba mengatakan tentang kekasih? Apa kau menyukaiku? Jadi jika kau mengerjakannya untukku, aku harus menjadi kekasihmu?" Tanya Zelo semakin berani.

"Kekasih, pantatku. Mata ku tak seburuk mantan mantanmu. Mataku masih bisa melihat mana yang baik dan mana yang buruk."

"Dan aku termasuk?"

"Kau termasuk setan dengan wajah terburuk." Jawabku dengan wajah tanpa dosa.

"Untung saja kau masih meiliki wajah seperti manusia. Coba kalau wajahmu sudah menjadi bentuk aslinya, aku tak akan segan melemparkan hatiku dari kejauhan."

"Apa kau bilang?!"

Tanpa aba aba lagi kulemparkan injakan mautku ke kakinya yang sebesar monster.

Sedetik, 2 detik, 3 detik, ia terlihat biasa saja. Detik berikutnya, ia meronta meronta agar kulepaskan. Tentu saja tak semudah itu. Saat ia bersiap memukulku, aku telah berlari sejauh mungkin. Dengan tawa yang meledak. Tak ada hal yang lebih menyenangkan daripada menyiksa Zelo memang. Setiap ekspresi kesakitannya adalah sebuah kebahagiaan bagiku. Aku tak akan pernah bertemu orang dengan otak keledai sepertinya. Selalu masuk keperangkapku meski telah ribuan kali ku pancing.

*Flashback end*

"Sesaat setelah kau keluar dari kelas, ia berkata "Kau selalu lucu setiap kali marah. Aku tak akan pernah bisa marah pada tingkahmu. Tak ada hal yang lebih menyenangkan daripada mengganggumu memang. Setiap ekspresi kekesalanmu adalah sebuah kebahagiaan bagiku. Aku tak akan pernah bertemu orang dengan otak keledai sepertimu. Selalu masuk keperangkapku meski telah ribuan kali ku pancing." Bukankah itu lucu?" Kata Jelita.

"Apakah semenyangkan itu melihatku dan Zelo ribut? Sepertinya semua orang melihatku seperti hiburan gratis tiap harinya." Kataku dengan wajah kesal.

"Kenapa kalian bicara sangat lama? Aku menahan diriku untuk menghampiri kalian, tapi perasaanku terus memaksaku untuk menemui musuh bebuyutanku ini." Zelo mengacak rambutku lembut. Aku tak ingin menyukainya lebih lama. Aku tak ingin air di sudut mataku keluar sekarang.

"Aku harus pergi." Kataku melepaskan tangan Zelo.

"Eeei, kau mau kemana? Apa kau tak mau melihat kami bertukar cincin?" Zelo menahan lenganku. Perasaanku hampir meledak karenanya.

"Lakukanlah sendiri. Kalau mau menukarkan cincin, tukarkan sendiri ke tokonya."

"Apa kau benar benar wanita? Kau bahkan tak tau arti bertunangan sesungguhnya. Aku bahkan ragu kalau kau pernah menyukai seorang pria." Zelo menatapku.

"Pria yang kusukai itu kau! Bodoh!" Aku berteriak dalam hati. "Katakan sekali lagi, dan kau tak akan bisa melihat mentari esok." Kataku dengan tatapan menyeramkan, seperti biasanya.

"Zelo, sekali saja jangan membuat keributan saat bertemu Viola." Kata Jelita lembut.

Mungkin kelembutan itu yang membuat Zelo jatuh cinta padanya. Kelembutan yang tak kumiliki. Tak akan pernah bisa kumiliki. Mungkin kekasaranku yang membuat Zelo tak pernah bisa berbalik ke arahku.

"Tentu saja aku tak akan merusak hari kebahagiaan kita. Oh iya, Viola, apa kau ingat doamu? Aku berterima kasih, sebab doamu benar benar terkabul sekarang." Kata Zelo tersenyum mengejek.

*Flashback*

Tanganku belum juga selesai menari sejak tadi. Aku tak akan lelah menulis sajak indah di dalam buku kesayanganku. Keramaian di sekitarku sedikit mengganggu memang. Namun tak ada yang lebih mengganggu dibanding suara Zelo. Aku serasa ingin mencincangnya sekarang juga tanpa ampun.

"Zelo! Kau ini manusia atau hanya jelmaannya? Saat aku bilang jangan ganggu Jelita, itu berarti kau sama sekali tak boleh menyentuhnya!" Teriakku.

"Sebenarnya aku tak menyentuhnya. Aku hanya meminta selembar bukunya tetapi ia malah mengejarku sejak tadi." Zelo terus berlari dengan Jelita di belakangnya.

"Kalau kalian terus ribut, kalian bisa benar-benar jadian nantinya." Kalimat itu terlontar begitu saja dari bibirku.

"Baguslah, aku akan terus mengajak ribut Jelita agar ia bisa jadian denganku."

Seperti kilat yang menyambar langsung ke hatiku tanpa ampun. Bukan hancur, hangus tak bersisa rasanya perasaanku. Aku tak pernah mengerti, tak pernah bisa mengerti. Kenapa ia memberi harapan besar padaku, dan menghancurkannya begitu saja setelah terbangun megah di hatiku. Sekian lama aku membuat perasaanku padanya terlihat indah, dan ia meremukkannya dalam sedetik. Semua perasaanku berbaring di sini menantinya. Tapi ia tak pernah kembali ke tempatku. I can't stop loving you. I can't stop loving you tonight.

Aku terlalu bodoh menyukai orang sepertimu. Sikapmu tak berbeda pada orang lain. Aku terlalu bodoh jika berpikir kau juga mencintaiku. Cintamu mencekikku semakin dalam dan dalam. Membuatku menderita agar aku pergi dan meninggalkan semua yang tlah kuperjuangkan. Tapi aku tak akan pergi. Meski api telah membakar seluruh tubuhkku. Aku tak akan pergi selama kau tak memintaku. Cintamu menjeratku. Membuatku tak bisa bergerak dari keadaan yang menyiksa. Tak ada tempat untukku kembali. Aku tak akan pernah bisa kembali dari keadaan yang menyiksa ini. Tak sadarkah kau bibirku bergetar saat mendengar kalimat yang keluar dari bibir indahmu? Itu menyakitkan. Hatiku ikut bergetar hebat karenanya. Kau menyesatkanku dengan cintamu. Tak pernah membiarkanku melihat cinta yang lain.

*Flashback end*

"Lanjutkan acaranya. Aku harus pergi sekarang." Aku merasa sesuatu menyesakkan mataku. Bulir bulir bening mengaburkan pandanganku.

"Semoga kau bertemu seorang yang mencintaimu dengan tulus." Bisik Zelo sebelum kakiku melangkah.

Aku membawamu terlalu jauh kedalam hatiku. Hingga ku tak mampu lagi menggapaimu untuk keluar. Aku begitu tersiksa menatapmu seperti ini. Seseorang yang tak pernah membalas tatapan mataku. Mata indahmu terlalu berharga untuk melihatku. Terlalu berharga untuk menatap jauh ke dalam hatiku. Dapatkah hatiku benar benar tenang saat kau tak berada di depan mataku?. Berikan aku waktu sedikit saja untuk menyukaimu. Izinkan aku menyukaimu sebentar saja. Izinkan aku berharap kau dapat membalas perasaanku. Bukankah kita menatap langit yang sama. Meski bukan ditempat yang sama. Mata kita masih bisa saling bertautan dan memandang. Kebahagiaan yang sesungguhnya hanya datang pada pemeran utama jika itu dalam drama. Untuk sebuah kehidupan, aku tak akan mampu menjadi pemeran utama. Pemeran utama yang lemah dan disukai banyak pria. Aku, hanya aku yang kasar dan menyebabkan masalah.

Kembali ke Beranda