Jeda Cerita
Teen
04 Jan 2026

Jeda Cerita

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download - 2026-01-04T231112.776.jfif

download - 2026-01-04T231112.776.jfif

04 Jan 2026, 16:11

download - 2026-01-04T231109.318.jfif

download - 2026-01-04T231109.318.jfif

04 Jan 2026, 16:11

Dia Qilla, lengkapnya Valerie Syaqilla. Cewek tomboy penyuka jengkol garis keras. Anak bapak Baim dan momi Paula. 'Badgirl' julukan yang dia dapat di sekolah, pasti dipikiran kalian sekarang menggambarkan sosok cewek dengan seragam ketat, rambut warna -warni kek anak ayam depan SD. Terus songong, seenaknya sendiri. Tapi Qila jauh dari semua itu, baju yang dia kenakan gak ketat gak kebesaran, pas dan nyaman. Rambutnya warna hitam lumayan lebat yang selalu dia kuncir asal menggunakan jarinya. Terus kalo di sekolah dia juga diem terkesan dingin. Tapi itu sama yang gak dikenal sih, kalo sama yang dikenal mah keluar sifat aslinya.

Jail, petakilan, banyaklah pokoknya. Kata Qila sih gini 'Sifatku tergantung fikiranmu' azekkkk.

Karena gini, disaat kita berbuat baik tapi difikiran orang lain kita terkesan sok baik, terus bisa apa? sama aja, disaat kita berbuat suatu 'kejahatan' dan langsung dipandang hina, tanpa tau sebabnya kita bisa apa? tau memang gak ada api kalo gak ada asap. Tapi fikiran orang kan mana tau? Paham 'kan? kalo gak paham yaudah, dadah.

Qilla punya satu orang sahabat teman-teman, dia Cavan Hadrian. Anak dari bapak Rey dan ibu Dinda. Sahabat Qilla dari kelas 1 Sd sampai sekarang kelas 11. Hadrian itu gans parah, Qilla akui itu tapi jangan bilang doi kalo Qilla bilang ganteng. Entar gede palanya bahaya. Sifatnya kalem, tenang, murah senyum.

Softboy-softboy gitulah dia (mohon maaf kalo salah tulisanya ye), hampir semua cewek disekolah kelepek-klepek kalo depan dia. Dia itu kalo sama Qilla, perhatian sama manjanya masya allah. Suka jail tapi gagal karna selalu balik dia yang dijailin.

Hadrian itu penyuka daging, gak bisa makan kalo gak ada daging. Udah gitu aja jangan banyak banyak. Mottonya gini 'Hidupku ya sakarep-ku."

Tak jarang banyak yang mengira bahwa mereka itu sepasang ayang beb, padahal mah cuma sahabat. Masa kalo cewek-cowok 'selalu bareng' dikira pacaran. Malah mereka mendapatkan banyak julukan zone dari temen-temen mereka. Dari friendzone, adikkakakzone, itu zone, anu zone, banyaklah pokoknya.

Tapi bener sih emang, kebanyakan cewek sama cowok kalo sahabatan itu akan menimbulkan sebuah rasa, asek kek judul lagu. Kalo gak si cowok yang suka duluan ya si cewek. Terus melabui rasa itu dengan sebutan 'Kita Sahabat' hilihh gede gengsi. Bener gak sih? meski mereka sama-sama ada rasa tapi gengsi ngungkapinnya, takut ngerusak 'persahabatan' mereka terus akhirnya dipendem sendiri. Buset sok tau saya.

Hadrian memasuki rumah sederhana milik Qilla, sore-sore gini emang enak kalo gangguin sahabatnya itu.

"Assalamualaikum," salamnya lalu menutup pintu.

Cowok tampan itu berjalan menuju dapur,

"Assalamualaikum, bun." Hadrian menyalami bunda Qilla yang sedang berkutat di dapur.

"Waalaikumusalam, eh kamu!" jawab bunda yang nampaknya sedikit terkejut.

"Serius amat bun, aku dateng sampek gak tau." ucap Hadrian sambil mencomot kue yang dibuat bunda.

"Biasa bunda lagi nyobain resep baru, gimana enak gak?" Hadrian merespon dengan menunjukan kedua jempolnya, pertanda enak.

Bunda tersenyum dan mengacak rambut Hadrian gemas.

"Yaudah sana ke Qilla, habis entar kuenya kamu cemilin terus," ucap bunda bercanda.

Hadrian mengecup pipi bunda lalu tanganya kembali mencomot kue dan langsung melesat sebelum diomelin bunda.

Saat udah didepan kamar Qilla, Hadrian membuka pintu dan melihat sang empu sedang terlentang sambil membaca buku dikasurnya.

Hadrian menempatkan diri duduk disamping Qilla yang terlentang dengan satu tangan ke atas membawa novel yang sedang dibacanya.

"Baca yang bener!" ucapnya setelah menyenggol tangan Qilla yang sedang membawa novel, alhasil novel itu jatuh mengenai wajah Qilla.

Qilla berdecak sebal lalu memindahkan kepalanya pada pangkuan Hadrian dan kembali membaca. Sedangkan Hadrian terkekeh melihat ekspresi Qilla.

Ingat kalo dia membawa kue coklat yang dia ambil tadi, lalu dia menyuapkannya pada Qilla. Sedangkan Qilla menerima dengan senang hati.

*

*

*

Bel pulang sekolah berbunyi dengan nyaring, sorak gembira memenuhi koridor sekolah. Akhirnya mereka bisa bebas dari segala macam materi yang bikin otak nyut-nyutan.

Qilla keluar kelas dengan Hadrian dibelakangnya yang sedang mendorong kedua bahunya.

"Sya," ucap Hadrian yang sekarang merangkul leher Qilla.

"Hmm," jawab Qilla acuh.

"Besok jam 6."

"Ogah, sekejul gua padet!"

"Gaya lo!"

"Bodo amat."

"Terserah, pokoknya jam 6 lo harus siap. Kalo gua dateng lo belom siap, gua seret lo!"

"Gua teriaklah!"

"Gak ngurus lah!"

"Ck, kemana sih? weekend-weekend tuh waktunya santaii... tidur... mimpi indah... bisa rebahan sepuasnya... gagal rencana gua gara-gara lu!"

"Entar juga tau,"

"Cih, sok misterius."

Entah kenapa, Hadrian jadi rada aneh. Biasanya kalo mau kemana gitu dia pasti bilang tempatnya. Kalo weekend juga jarang ngajakin keluar, pasti dia yang kerumah mengganggu sleeping beauty Qilla, setelah itu seharian kita bermain perminan konyol, abis itu curhat-curhat, eksperimen buat sesuatu yang endingnya dimarahin bunda soalnya rumah jadi kek kapal pecah.

Hmmm... Qilla jadi penasaran.

Esoknya Hadrian beneran ke rumah Qilla, Qilla yang masih tidur langsung diseret paksa ke kamar mandi, gak berperasaan emang. Karna tidak mendengar gemricik air, Hadrian inisiatif membuka pintu kamu. Benar saja, dengan kurang ajarnya Qilla malah melanjutkan tidurnya diatas kloset.

Dengan santai Hadrian mengambil air segayung dan menyiramkan diatas kepala Qilla dengan muka lempeng. Sontak Qilla membuka matanya terkejut, mulutnya yang hendak mengomel urung setelah mendengar ucapan Hedrian.

"Cepet mandi, lima menit belom selesai gua yang mandiin."

Mendelik, Qilla lansung mendorong Hadrian keluar. Masalahnya Hadrian kalo ngomong gak main-main.

Sekarang mereka sudah berada di taman, yap Hadrian membawa Qilla ke taman saat weekend yang otomatis rame banyak orang pacaran. Pagi-pagi udah sepet mata Qilla.

"Sya," ucap Hadrian di sela keheningan.

"Apa?!" jawab Qilla sewot, abisnya tadi dia diseret dipaksa ikut lari. Mana nariknya gak ada lembut-lembutnya lagi.

Eh iya, for your information gaes. Hadrian kalo manggil Qilla itu 'Syasa' sedangkan Qilla kalo manggil Hadrian itu 'Afan'. Itu panggilan kesayangan mereka sih.

"Kok sewot."

"Habisnya lo, bikin kesel."

"Lo kalo gak di gituin gak gerak."

"Ya ... bisa pakek cara halus 'kan? gak usah diseret-seret kek gitu! berasa kambing gua."

"Emang nurut?"

"Nggaklah!"

"Dasar,"

Hadrian terkekeh mendengar jawaban sahabatnya itu, jadi makin-makin cinta deh. Abis nge-gemesin dia tuh. Eh?!

Hadrian menghembuskan nafas sebelum melanjutkan ucapannya, " Pendapat lo tentang 'LDR' gimana, Sya?" tanyanya tiba-tiba.

"Lah, kesambet apaan lu nanya begituan?" Qilla terkekeh mendengar pertanyaan yang menurutnya konyol jika Hadrian yang ucap.

"Tanya aja," jawab Hadrian santai.

"Hemm... menurut gua ya Fan, LDR itu susah-susah gampang." Qilla menatap langit seperti menerawang.

"Disaat dua insan yang saling mencintai terpisah oleh jarak, tempat dan waktu... mereka yang awalnya bersama menjadi berjarak."

"Peresentase nya ni ya, fifty-fifty. Seimbang gitu, masalahnya LDR gak segampang itu. Kita harus memberikan kepercayaan sama pasangan, kalo gak bisa percaya ya bakal nimbul pikiran-pikiran negatif yang berimbas pada hubungan. Sebaliknya kepercayaan yang dikasih juga harus dijaga. Kalo percaya pasti jujur, terus sama komunikasi sih. Kalo mereka yang bisa mengerti itu sih gampang aja, tapi gak tau yang gak bisa."

"Mereka yang berhasil dalam LDR itu karna punya 'kepercayaan' yang kuat, dan mereka yang gagal itu yang tidak mempu menahan kesabaran, kepercayaan dan kerinduan. Gitu sih menurut gua, gua gak seberapa paham soalnya belom ngalamin sendiri." Hadrian mengangguk mendengar pendapat Qilla. Dia paling seneng melihat Qilla yang banyak bicara seperti ini, perempuan itu terlihat semakin... cantik?

"Menurut lo, saat mengalami LDR itu lo di pihak gagal atau berhasil?" celetuk Hadrian tanpa mengalihkan tatapan dari wajah ayu Qilla yang terpapar sinar matahari.

"Kalo gua... gua gak tau," jawab Qilla pelan.

"Percaya gak, kalo rasa sayang untuk sahabat ini berubah jadi rasa cinta," ucap Hadrian lembut.

"Hmm?" Qilla spontan menoleh,

Untuk sesaat tatapan mereks terkunci, Hadrian mendekatkan wajahnya.

"Mau tau rahasia nggak?" wajah mereka hanya berjarak satu dengkal.

"Apa?"

"I love you, Valerie Syaqilla." bisik Hadrian ditelinga Qilla.

Qilla menerjapkan matanya, tadi Hadrian bilang apa? Qilla sedikit terkejut, asli.

Hadrian menjauhkan kembali wajah nya, "Besok gua pergi ke Aussie, nyokap sakit. Dan kayaknya gua... agak lama disana."

What?!

Ni bocah ngeselin ya,

Tadi bilang cinta, sekarang pamit mau pergi.

"Jadi karna ini lo basa-basi tentang LDR." Qilla terkekeh.

"Apa kita bisa dalam pihak LDR yang berhasil, Sya?"

Qilla diam tak merespon, dia masih bingung dengan perasaanya. Dan keadaan kembali hening.

"Huhh..." Qilla menghembuskan nafas panjang.

"Gue masih gak tau Fan, lo pinter banget kalo ngomong dadakan. Ya sih gua juga punya persaan yang sama kayak lo. Tapi ... gua ragu. 10 tahun lebih kita bareng dan mesti pisah kek gini. Gua gak bakal ngelarang kepergian lo, tapi kenapa gua gak rela? menurut gue ... biar waktu yang jawab. Karna kita gak tau kedepannya gimana. Dan ... see you. "

Qilla tidak tahu jawabanya karna ini sebuah jeda dari cerita mereka. Kepergian Hadrian adalah sebuah jeda. Bukan akhir, ini baru awalan dan cerita mereka akan dimulai dari sekarang. Kita tidak tau apakah nanti akhir cerita mereka akan bersama kembali atau tidak. Karna kita boleh berekspetasi, namun jangan lupakan takdir.

[ E N D ]


Kembali ke Beranda