Temukan Cerita Inspiratif

Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.

Total Cerita

1144

Genre Romance

230

Genre Folklore

228

Genre Horror

228

Genre Fantasy

230

Genre Teen

228

Reset
Cowok Kampus Itu Manis, Tapi Kenapa Posesif ke Aku?
Teen
16 Dec 2025

Cowok Kampus Itu Manis, Tapi Kenapa Posesif ke Aku?

Dia adalah cowok paling tampan, paling manis, paling cute, paling lucu diangkatan Una, bahkan mungkin di seluruh kampus. Ngomongnya, kerlingannya, kagetnya, tatapannya, semuanya bikin orang betah lama-lama menatap wajahnya bahkan hanya dengan melihat diamnya.Bian, teman satu kelasnya yang selalu bikin Una deg-degan tiap ia dekat dengan Bian, dan Bian itu ramah jadi dia tak segan mendekat, mengobrol dan bergabung dengan siapapun dimanapun."Hai Na.""Bi...""Kantin yu, laper banget aku gak sarapan tadi pagi.""Ko ngajak aku, Teddy mana?""Kenapa? memang kamu gak laper, kamu tadi pagi datang telat lo, dan aku yakin kamu belum sarapan, jadi gak boleh nolak, ayo!"Santai, Bian menempatkan tangannya di bahu Una, seperti memeluknya. Apakah dia biasa aja dengan perlakuan seperti ini? Dan apakah Una yakin akan selamat sampai kantin dengan tangan Bian melingkari bahunya dan Una menahan nafasnya, sementara sepanjang jalan semua perempuan yang mereka lewati berbinar karena sekali lagi Bian itu ramah jadi selama itu ia terus menebar senyum menawannya."Mau pesen apa, biar aku ambilin!""Gak usah aku ambil sendi...""Duduk aja, biar aku yang ambil, jaga meja oke!"Una diam, ia mulai bertanya kenapa Bian mengajaknya ke kantin, kemana Teddy, bukannya ia biasa bersama Teddy, kenapa harus berdua?"Caramel Mochiatto dan Cheese Cake."Bian datang dengan pesanan mereka berdua, dan kalau Una tak salah ingat ia belum menyebutkan pesanannya pada Bian, tapi Bian datang dengan makanan favoritnya."Benarkan itu makanan kesukaan kamu?""Yep, ko tau?" Bian Diam, Una seperti salah bicara, "Kamu cenayang ya Bi?"Bian terkekeh pelan, "Tak perlu jadi cenayang untuk tau makanan yang setiap hari kamu pesan Na."Masalahnya ia jarang sekali makan bareng Bian di kantin biarpun itu rame-rame, bisa dihitung dengan jari, jadi gak aneh kalau Una bilang Bian cenayang."Jangan bengong, entar ayam tetangga mati lo."Una makin bengong, dan kali ini Bian tertawa.Una heran, "Apa yang lucu sih Bi?""Aku suka deh kamu manggil aku Bi.""Dari pada Yan, entar dikiranya aku manggil Yanto satpam kampus."Bian tertawa lagi, keras. "Kamu lucu banget sih Na". Dia mengatakan itu sambil mengacak rambut Una, gemas. Dan Una semakin merasa aneh dengan tingkah Bian."Aku minjem buku kalkulus dong, aku belum nyatet materi yang kemarin.""Gak aku bawa, ada di kosan.""Entar aku ambil." Jawab Bian santai, dan Una sekali lagi merasa heran. Apa Bian akan benar-benar mengambilnya ke kosan, sementara dia bisa meminjamnya kepada siapa aja disini yang bahkan pasti rela menyalinkan untuk Bian."Ayo..." Bian menunggu Una bangkit dari duduknya, membawa Una keluar kantin. Sama seperti tadi Bian setia berjalan disamping Una meski banyak yang menyapa tapi ia enggan berhenti walau untuk sekedar basa-basi."Una!!!" Teriakan Rengga menghentikan langkah mereka berdua. Dia datang dengan wajah sumringah, menyapa Bian sebentar dan menatap Una."Ada apa Ngga?""Entar pulang bareng ya, kita mampir dulu ke toko kue, oke?"Baru Una hendak menjawab tapi keburu disela oleh Bian."Una pulang bareng gue?"Bukan hanya Una yang terkejut tapi Rengga juga, keanehan Una menular juga pada Rengga, Rengga melihat sorot tidak suka dari Bian, tajam, sesuatu yang siapapun tak pernah mereka lihat dari wajahnya."Ayo Na." Tanpa menunggu jawaban dari siapapun Bian menarik tangan Una, menjauhkannya dari Rengga, menjauhkannya dari tatapan siapapun."Masuk.""Bi...""Masuk Na, aku anterin kamu pulang!"Apakah Bian sedang marah, karena wajah cutenya kini hilang hanya tatapan tajam yang ada, membuat Una tak berani membantah.Mobil Bian membelah jalanan Jakarta, menuju kosan Una, sekali lagi Bian tak bertanya dan Una tidak menyebutkan kosannya dimana tapi kini mereka telah sampai di depan gerbang kosannya.Kebingungan semakin terlihat jelas di wajah Una. "Bi kamu ko...""Kamu gak akan mempersilahkan aku masuk?"Pertanyaan Una terpotong, ia segera mempersilahkan Bian masuk, menyuruhnya duduk sementara ia mengambil buku kalkulusnya. Tapi sungguh ia sudah tak tahan dengan rasa penasaran, kaget, bingung dengan perlakuan Bian hari ini, ia bertekad untuk bertanya, harus!"Ini." Una menyodorkan bukunya kehadapan Bian, dan Bian masih memperhatikan kamar Una, tepatnya ruang tamu kecil Una yang hanya ada dua sofa panjang, televisi dan rak buku."Thank you, besok aku balikin ya.""Bi..." Una memberanikan diri."Hmm..." Bian menatap Una lekat, menyukai pemandangan di depannya saat ini, wajah memerah dan salah tingkah, sungguh lucu."Kamu ngerasa aneh banget gak hari ini.""Aneh gimana?""Emhhh.. Anu, aneh aja!"Bian terkekeh pelan menikmati kegugupan Una."Kenapa, ada yang mau kamu tanyain?""Kamu kenapa tiba-tiba ngajak aku ke kantin, tau makanan yang tiap hari aku pesen, bahkan kamu tau kosan aku tanpa kamu bertanya."Bian hanya tersenyum, manis, sangat manis bahkan. "Mungkin aku cenayang seperti apa yang kamu bilang." Mendapatkan Una hanya diam, Bian memintanya pindah ke sampingnya. "Sini deh, duduknya deketan." Una masih bengong, membuat Bian akhirnya pindah duduk disamping Una."Ko bengong sih, aku cium nih kalau kamu masih bengong."Dengan gerakan cepat Bian mencium pipi Una."Masih bengong juga?"Una meraba pipi yang tadi dicium Bian. "Bi...""Kaget? Sini aku jelasin."Una fokus menatap Bian begitupun sebaliknya."Aku suka sama kamu Na, sejak... Emm mungkin sejak saat kita kamping di Bogor, saat kamu ngambil ranting kayu terus kamu jatuh dan wajah kamu terkena tanah, tapi justru aku suka saat melihat itu.""Masih bengong, aku cium lagi nih."Namun kali ini Bian tidak hanya mencium pipi Una, tapi bibirnya, perlahan, lembut dan tidak menuntut, dan Una menyambut ciuman Bian, dia mengalungkan tangannya di leher Bian, mendapatkan persetujuan dari Una, Bian memperdalam ciumannya pada Una, membelitkan lidahnya saling mengeksplorasi mulut masing-masing, hingga mereka telah bergumul disofa kecil milik Una. Mereka mengentikan ciumannya saat sama-sama kehabisan nafas, hal pertama yang dilakukan Bian adalah tersenyum manis dan mencium kening Una sayang."Bi...""Hmmm...""Berat Bi...""Masa sih, aku enak ya posisi kaya gini."Una memukul dada Bian pelan. "Bi... Beneran ini!""I love you Na, jangan deket sama cowok lain, jangan jalan sama cowok lain, jangan lirik cowok lain, deket, jalan, dan lirik aku aja.""Idih, posesif.""Biarin, kan cinta.""Tapi aku enggak."Wajah Bian serius membuat Una menghentikan senyumnya. "Bener?".Una menggeleng.Lalu tanpa ampun Bian menindih Una lagi menciumnya habis-habisan sampai Una menyerah dan mengaku cinta."I love You too, Fabian."

Anak Baru Itu Terlalu Berbahaya… Aku Jatuh Cinta Tanpa Siap
Teen
16 Dec 2025

Anak Baru Itu Terlalu Berbahaya… Aku Jatuh Cinta Tanpa Siap

"Hei apa lo udah liat anak baru yang rambutnya pirang itu?"."Anak baru, memangnya boleh kalau rambutnya di warnai, eh atau itu memang rambut aslinya?""Gak tau juga sih, tapi gue lihat dia di ruang guru saat gue nganterin buku tugas dari Bu Indah dan dia itu cakep bangeeeet Re"."Masa? Secakep itu sampe 'banget' lo panjang banget"."Serius cakep, cute juga sih, kaya opa-opa kesukaan gue itu lho, atau gue ngefans ke dia aja kali ya secara dia kan ada di depan mata gitu"."Ck ada-ada aja deh lo"."Gue penasaran kira-kira dia masuk kelas mana ya, semoga aja masuk kelas kita, biar kegantengan cowok-cowok di kelas kita terupgrade biar gue betah diem di kelas dan semangat pergi sekolah".Aku hanya bedecih tak heran melihat antusias Andin tiap liat cowok gantengan dikit, tapi aku di buat penasaran juga karena Andin jarang muji cowok pake 'ganteng banget' gitu.Suara ribut-ribut di kelas tiba-tiba hening, digantikan dengan suara kasak kusuk anak-anak perempuan, juga sikutan Andin pada lenganku."Itu anak barunya, alhamdulilah dia masuk kelas kita". Ujarnya dengan luapan kegirangan yang tertahan.Gak salah memang kalau Andin bilang dia itu 'ganteng bangeeet' dia ganteng, putih, manis dan terlihat sangat cute, aku rasa beberapa perempuan akan kalah cute dari pada dia, dan dia jangkung, matanya tajam, dan matanya berwarna abu-abu."Noah silahkan duduk di sana, di sebelah Bagas".Sepanjang dia memperkenalkan diri tak pernah sedikitpun senyum tampak di wajahnya, dia terlihat cuek tapi tidak juga terlihat mengabaikan mungkin itu efek dari wajah cutenya, kecuali kalau dia menatapmu tajam, matanya terlihat dingin. Seperti saat ini dia yang sedang menatapku menuju kursi di sebelah Bagas yang sama persis juga di sebelahku, begitu dia duduk aroma colognya tercium kuat dalam indraku, membuat aku penasaran parfum apa yang dia pakai, yang pasti bukan parfum murah yang biasa ada dalam iklan-iklan TV, dan kalau di perhatikan lagi sepertinya semua yang dia kenakan juga bukan barang murah, pasti dia orang berada. Mudah-mudahan aja dia gak sombong dan arogan seperti orang-orang kaya kebanyakan, tapi walaupun demikian apa masalahnya?.Ketika bel istirahat berbunyi nyaring, kelas kembali riuh terutama bangku sebelahku, anak-anak mencoba berkenalan dengan Noah termasuk Andin yang sudah melesat memperkenalkan diri dan ternyata Noah cukup baik menaggapi perkenalan mereka, yah ternyata dia bukan orang kaya yang sombong.Kelas tenang kembali karena para penghuninya telah berburu makanan ke kantin hanya menyisakan sebagian orang disini."Kamu gak ngajakin aku kenalan?". Ternyata Noah sedang melihat ke arahku dengan sedikit senyum samar di wajahnya."Tadi masih rame". Jawabku apa adanya.Dia menyodorkan tangannya kearahku. "Noah".Aku menerima ulurannya. "Aretha"."Kamu gak ke kantin?""Enggak, aku mau ke perpus dulu balikin buku". Jawabku sambil menumpuk buku yang akan ku kembalikan ke perpustakaan."Boleh aku ikut, jujur aku belum tau denah sekolah ini".Aku melihat sekeliling mencari Bagas, dan ternyata dia sudah tak ada. 'Apaan dia kenapa gak ngajakin Noah ke kantin'."Boleh, tapi apa kamu gak lapar?". Dia tak menjawab hanya menapilkan ekspresi bingung di wajahnya. "Oh, yaudah nanti abis dari perpus kita ke kantin".Dan aku sangat jengah sepanjang kelas-perpusatakaan-kantin semua mata tertuju pada kami pada Noah tepatnya, dia jalan biasa aja udah kaya jalan diatas catwalk seperti sedang memamerkan segala aksesoris yang dia kenakan, padahal dia jalan biasa aja dengan sesekali bertanya padaku tentang ruangan yang kami lewati. Ketika kami sudah sampai dikantin aku melihat keberadaan Bagas dan langsung mengajaknya ke meja Bagas dan yang lain."Kamu sama Bagas ya". Noah terlihat bingung."Kamu gak makan?""Euhhh-- aku mencari keberadaan Andin--- aku kesana makan sama Andin". Akupun berlalu pergi meninggalkannya bersama Bagas, serius takut aku dilihatin sama orang-orang terus kalau sama dia.***Sudah satu minggu Noah berada disekolah kami, dan aku tau dari Andin kalau dalam waktu seminggu itu sudah ada yang namanya Noah fans, ya beberapa kali memang ada adik kelas yang menitipkan beberapa hadiah padaku untuk Noah yang selalu dia bilang "Buat kamu aja, atau Makan aja" tapi aku yang gak mau akhirnya selalu di tampung sama Bagas, kesenengan banget dia bisa jadi temen sebangkunya Noah."Buat kamu harus eksklusif ya baru mau di terima". Ucapnya pada suatu hari, ketika aku memeberikan cokelat titipan dari salah satu fansnya.Ya gimana ya, itu kan dari orang, cewek lagi buat Noah aneh aja kalau aku yang makan.Hari ini adalah jadwal kelas kami olahraga, dan OMG apa mereka pada gak masuk kelas banyak banget yang nonton.Aku yang sedang istirahat di pinggir lapangan setelah sepuluh kali mengelilingi lapangan basket, sambil melihat cowok-cowok yang sedang tanding basket yang membuat penonton menjerit heboh kalau Noah berhasil memasukan bola ke ring, Ck ya ampun gara-gara Noah penontonnya ampe bejibun gini. Tapi ya Noah memang selalu terlihat menarik sih apalagi sekarang setelah olahraga dengan headband hitam di kepalanya dia terlihat seperti model brand pakaian olahraga, juga badannya yang berkeringat membuat ototnya tercetak jelas dari balik kaosnya. Lalu dia berlari ke pinggir lapangan, dan-- apa di kesini."Re minum dong!". Dia mengulurkan tangan meminta botolku yang tinggal setengahnya."Tapi---".Dia segera meraih botolku dan segera meneguknya. "Aus".Ya ampun kita minum dari botol yang sama, entah pikiran tolol dari mana tapi tiba-tiba ucapan Andin menyeruak di kepalaku tentang ciuman tidak langsung melaui botol atau gelas, aku menggelengkan kepala mengenyahkan pikiran tololku gak mungkin Noah peduli dengan hal-hal seperti it---."Ciuman pertama gue".Ucapnya dengan senyum jailnya membuat dadaku bergemuruh dan panas menyerang pipiku. 'Oh my god apa dia bilang barusan, ciuman pertama'. Sementara aku masih membeku dipinggir lapangan Noah sudah kembali ke tengah lapangan dan tengah mencetak angka. Ketika aku melihatnya dia sedang mengedipkan matanya padaku. 'Ya tuhan aku mau pingsan aja rasanya'.***Minggu siang ketika aku sedang berleha-leha di dalam kamar dengan santainya mamah menyuruhku untuk mengambil pesana Skincarenya di salon langganan mamah."Mah... suruh kak Aldo aja sih, aku males banget keluar panas-panas gini". Gerutuku menolak permintaan Mama."Gak bisa, Aldo mau Mama ajak kondangan, jadi kamu aja ya sayang ajak Andin sekalian jalan-jalan"."Andin lagi ada acara sama keluarganya Mah, aku gak mau pergi sendiri"."Ayolah Re nanti mamah kasih uang buat kamu nyalon deh, udah lama juga kan kamu gak perawatan, gih sana mungpung hari minggu apa ke nonton jangan ngedekem aja di kamar".Akhirnya walaupun terpaksa tapi karena embel-embel uang tambahan buat nyalon aku berangkat juga, lumayan uangnya bisa buat beli buku atau sepatu lucu incaranku.Setelah mengambil pesenan Mamah aku seperti melihat orang yang familiar, tapi meragu ketika melihat warna rambutnya yang berbeda, tapi begitu dia berbalik aku yakin kalau itu dia."Noah!! rambut kamu?"."Hai Re". Dia terlihat kaget. "Iya nih aku cat rambutku jadi item tempo hari wali kelas menegurku. Kamu ngapain?"Aku mengangkat paperbag yang ku bawa. "Ini, titipan Mama".Kami pun jalan bersama keluar dari salon."Sendiri Re, abis ini mau kemana?""Iya ini juga terpaksa keluar rumah Mama maksa, aku mau bei sepatu kemarin pas jalan sama Andin aku lihat ada yang lucu"."Lucu ya kalian ini mendeskripsikan sesuatu". Noah terkekeh pelan."Maksudnya?""Iya kaya kalau cewek liat barang misalnya baju atau tas atau sepatu selalu bilang lucu, padahal.lucunya darimana coba emang bisa bikin ketawa"."Iih... Maksudnya tuh ya lucu gitu lucu pengen beli". Akhirnya aku tertawa juga mengikuti Noah."Ayo... aku temenin"."Beneran, kamu lagi nyantai banget nih?""Iya ayo... Toko sepatu yang mana yang kamu maksud?".Akhirnya aku menerima ajakan Noah, gak bisa ngajak Andin dapet Noah sebagai partner tentu tidak buruk. Sesampainya di toko yang dimaksud aku langsung menuju etalase yang memajang sepatu incaranku."Lucu kan?". Aku memamerkan sepatu yang sedang ku coba padanya."Ya, langsung dipake aja Re, wedgesnya kamu simpan aja, aku mau ngajak kamu keliling dulu bolehkan?"."Cie... Mau ngajak aku jalan ya". Godaku bercanda. "Boleh deh, tapi traktir ya nanti kalau ngajakin makan".Iyalah dari pada bengong dirumah terus dapat gandengan ganteng kaya Noah, ya milih jalan bareng Noah lah."Siap, Re mau dapat sepatu itu dengan harga diskon gak?"."Maulah gila, gimana caranya?". Siapa yang gak mau dapat diskon coba."Kamu tunggu dikasir bentar, nanti aku susul".Dan ternyata yang dimaksud Noah adalah dia datang dengan memakai sepatu yang sama denganku. "Couple shoes" Gila."Kita jadi couple goal banget nih, kalau fans kamu pada tau aku bisa habis di babat sama mereka". Komentarku setelah kami keluar dari toko."Lumayankan dapat diskon 25%". Jawabnya santai. "Kamu mau kemana abis ini?"."Makan aja yu, aku yang traktir deh ada sisaan dari uang belanja tadi".Dia diam sebentar, lalu mengiyakan. Ketika kami sedang jalan ke salah satu foodcourt yang ada di mall itu terlihat seseorang yang terasa familiar menghampirinya."Noah!""Mom""Kamu belum pulang sayang? tadi katanya mau langsung pulang?"."Emmh Noahnya ketemu temen Mom, kenalin ---dia menarik tanganku kesebelahnya Mom dia Aretha temen sekolah Noah".Terlihat wajah antusias di wajah yang sepertinya mamahnha Noah."Oh.. Sayang temennya Noah, cantik banget". Dia memeluku hangat layaknya Mamah kalau ketemu Andin.Akupun menyalami Mamah Noah "Aretha tante"."Gimana Noah di sekolah dia gak bikin ulahkan?"."Moomm---""Sayang Mami kan hanya basa basi saja".Lalu datang seorang yang terlihat segan menghampiri Mamah Noah."Bu, tuan muda -- bu anda sudah ditunggu untuk rapat"."Oh iya, Aretha kapan-kapan kita harus ketemu lagi buat makan bareng, Noah jangan lupa kapan-kapan ajak Aretha ke rumah, Mami pergi dulu".Aku masi cengo berdiri di hadapan Noah. 'Apa katanya tadi Tuan muda'."Jangan bilang Mami kamu yang tadi itu Raya Maheswari Bramantyo"."Kalau iya memang kenapa?". Jawabnya dengan wajah geli."Noah!! Kalo gitu kamu juga yang punga mall ini"."Yang punga mall ini tuh Mami dab papi bukan aku Re"."Tetep aja, pantesan pas masuk toko tadi pegwainya pada ngehormat gitu, aku kira pelayanannya emang kaya kerajaan-kerajaan gitu, ternyata karena ada kamu".

Mantan Itu Duduk di Sebelahku… dan Jantungku Masih Memilih Dia
Teen
15 Dec 2025

Mantan Itu Duduk di Sebelahku… dan Jantungku Masih Memilih Dia

Pernah gak sih kalian bingung mau ngapain?Misalnya kalian biasanya anteng nonton TV, anteng nonton drama, atau bisa berjam-jam baca novel favorite lalu tiba-tiba semua acara TV gak ada yang asik, genre novel favorit udah gak menarik lagi.Sama seperti yang aku alami sekarang, dan penyebabnya adalah dia, Jev, Jeviar. Hanya seorang mantan yang tiba-tiba ngambil jurusan Publik Relation padahal dia udah ngambil jurusan hukum di kampus berbeda."Ta, tau nggak gue denger ada mahasiswa baru ganteng pake banget di jurusan kita"."Siapa? Tau dari mana?"."Gosipnya udah berhembus kenceng banget Ranita, makanya Grup chatnya dibaca, biar gak kudet!"."Gue gak sempet baca, waktu gue abis buat ngerjain tugas dosen killer yang baru keluar kelas tadi, lagian buat apa sih lo masih kepo kalau ada cowok bening dikit, Ardan mau dikemanain Na".Nana teman dekatku dikampus sejak masih Maba, punya pacar super baik dan pengertian seperti Ardan, gimana enggak Ardan bisa dengan sabar dengerin curhatan atau omelan Nana selama seharian penuh bahkan rela diseret kesana kemari dari satu toko ke toko lain di mall dengan senyum masih menghiasi wajahnya."Yee, gue ngasih tau ini bukan buat gue tapi buat elo Ta, biar elo gak jomblo lagi"."Gak usah ikut campur dengan kejombloan gue, bukannya gue gak laku ya cuma emang belum ketemu yang bikin gue berdebar-debar aja"."Makanya dicari bebeb, jangan ngamar aja kalau malam minggu tuh, ikut nongkrong bareng gue makanya, move on, move on susah banget ya lo move on dari mantan terindah lo itu".Obrolan kami terhenti ketika dosen masuk ke dalam kelas, padahal aku sangat ingin membalas ocehannya.Move on? Bukannya aku gak mau move on tapi memang aku belum nemu seseorang yang bisa bikin aku deg-degan lagi sepeeti saat dulu pertama kali aku bertemu-- ah sudahah ngapain aku inget-inget dia algi.Aku sedang mencatat apa yang diterangkan dosen ketika ada yang mengetuk pintu kelas. Pikirku berani sekali dia datang terlambat di mata kuliahnya Mr.Rahman, tapi aku gak peduli siapapun itu sampai suara yang sangat familiar tapi sudah lama tak kudengar masuk dalam indra pendengaranku. Dan tanganku yang di senggol-senggol oleh Nana."Itu mahasiswa baru yang gue makdsud Ta, namanya Jeviar".Kepalaku reflek melihat objek yang ada di depan, aku tercekat ketika matanya sedang menatap lurus ke arahku, tatapannya yang selalu membuatku tersesat dan ingin berlari ke arahnya. Waktu seakan berhenti begitu saja, saat mata kami saling mengunci hingga terdengar ucapan Mr. Rahman untuknya mencari tempat duduk.Aku bisa melihat beberapa mahasiswi yang terlihat memperbaiki cara duduknya berharap kursi kosong disampingnya bisa diduduki oleh mahluk sempurna yang sedang berdiri tegap di depan kelas. Masih banyak tempat kosong di depan tapi dia melewatinya, ah kupikir dia hanya mencari tempat duduk yang ada disamping Rere--mahasiswi cantik di kelas kami-- tapi diapun melewatinya dan --oh my god jangan bilang dia mau duduk di kursi kosong-- dia duduk di kursi kosong sebelah kiriku.Aku hanya diam membisu ditengah pacuan jantungku yang tak karuan --oh tuhan ternyata debaran jantung ini masih setia untuknya."Bernapas Ta". Dia berbisik di telinga kiriku yang membuatku reflek menoleh kearahnya dan dia sedang tersenyum sangat manis. Oh my god, bisa mati mendadak aku kalau cobaannya kaya gini."Pinjem pensil dong, lupa gak bawa"."Niat belajar gak sih, masa alat tulis aja gak bawa". itu hanya gerutuan dalam hati tanpa bermaksud untuk mengatakannya depan dia. Tapi tanpa sadar aku mengucapkannya pelan, dan membuat dia menoleh dan tersenyum lagi --- dia senyum sodara-sodara--- belum lima menit aku sudah dua kali dapat senyum dari dia.Dua jam berlalu dengan tenang, hingga Mr. Rahman berlalu keluar kelas mahasiswa dan mahasiswipun berlalu mengikutinya, termasuk si kutil Nana yang malah nyelonong gitu aja, padahal aku butuh bantuan dia agak bisa berdiri dengan tegak dan keluar dari kelas dengan selamat. Dan ini kenapa juga mahluk disebelah aku hanya diam aja di tempat duduknya sambil memperhatikan teman-temanku yang berhamburan keluar kelas.Berhubung gak ada tanda-tanda dia akan bangkit dari tempat duduknya padahal kelas sudah mulai kosong maka aku yang akan keluar lebih dulu meskipun gak tau ini kaki bisa diajak jalan atau enggak, tapi belum juga aku beranjak tangan besarnya meraih tanganku menghantarkan aliran hangat sekujur tubuhku."Tunggu, bentar kagi"."Apaan?". Aku yang ditarik olehnya duduk lagi di tempat semula."Nih...". Dia meyerahkan sebuah sketsa yang dia gambar di atas kertas --gambar seorang perempuan dengan tatapan lurus kedepan dengan pulpen ada dimulutnya-- astaga apa ini yang ku lakukan sejak tadi, menggigiti sesuatu kala gugup. "Masih tetep cantik". Dan dia senyum lagi, oh tuhan kenapa dia murah senyum banget sih."Ayo... Kamu mau diem aja di kelas?". Ucapannya menyadarkan lamunanku dan aku buru-buru beranjak mengikutinya keluar kelas.Sepertinya dia akan pergi ke kantin bisa dilihat dari alah kakinya melangkah, aku tak berniat mengikutinya, sungguh. Sehingga aku diam-diam berbelok ke taman samping universitas dan untungnya ada Nana dan Ardan duduk disana."Heh, tega banget lo ninggalin gue di kelas?". Semburku begitu aku ada di depan Nana.Dia malah cengengesan. "Sengaja Ta, siapa tau lo mau kenalan sama dia". Jawabnya."Gue gak perlu kenalan sama dia, gue---""Tata!"Aku mengikuti arah suara, astaga ngapain dia ikut ke sini. Nana dan Ardan juga melihat hal yang sama."Aku cariin, malah ngilang!". Lalu dengan santainya dia duduk dekat Ardan tepat di depanku. Jujur aja aku salah tingkah, belum lagi tatapan tajam Nana yang melihat interaksi aku dan Jeviar yang terkesan canggung."Duduk". Tanpa rasa bersalah dia menariku untuk duduk disampingnya."Minum, aku udah beli buat kamu". Dia menyodorkan gelas yang dia bawa dari kantin kampus."Gak usah Je, aku bisa beli sendi--" sedotan itu sudah ada di mulutku. 'Je sialan!!'Ucapan Nana mengintrupsi kecanggungan aku dan Je."Kalian udah kenal lama?". Aku bisa melihat wajah bingung di wajahnya. Dan Je hanya menjawabnya dengan senyum misteriusnya."Dia temen lama". Akhirnya suaraku keluar untuk menjawab."Temen kencan". Itu suara Je."Whattt?!!!!". Aku dan Nana berteriak berbarengan."Kenapa kaget gitu sih Yang". Aku melotot lagi melihat Je, apa dia gak sadar ucapannya barusan bisa bikin orang jantungan. Dan Je dengan santainya mengacak rambutku dan melingkarkan tangannya di bahu."Ayo, kita pergi". Dengan seenaknya dia menarik tanganku, melingakrakan tangannya di bahuku membuat orang-orang yang kami lewati melihat aneh ke arah kami.Aku melepaskan tangannya begitu kami sampai di tempat parkir. "Kamu apa-apaan sih Je, gak lucu tau".Dia lalu mencium bibirku secepat kilat. "Je!!!". Aku sungguh geram di buatnya tapi dia malah tertawa senang."Masuk dulu, gak enak diliat orang". Dia mendorongku ke dalam mobilnya masih dengan tawa menghiasi wajahnya.Aku hanya diam disampingnya, entah dia mau membawaku ke mana."Kamu mau bawa aku kemana?"."Apartemen"."Nagapin kesana, aku gak mau!""Aku mau!""Aku bukan pacar kamu lagi, kalau kamu lupa!!". Dia menepikan mobilnya perlahan. "Jadi kamu gak bisa bawa aku seenaknya ketempat yang kamu mau"."Udah?"Lalu dengan cepat dia telah menyatukan bibirku dengan bibirnya, pelan dan lembut tapi aku gak bisa melepaskannya dan aku malah terbuai dengan pesonanya, ternyata aku sangat merindukannya juga perlahan ciumannya berubah cepat dan penuh gairah, kami melepaskan ciuman kami dengan terengah-engah. Kening kami masih menyatu."Aku gak pernah mengiyakan saat kamu bilang putus, kalau kamu lupa yang".Aku tak tahan untuk menangis, dia langsung memeluku. "Kenapa baru datang sekarang". Gerutuanku disela-sela tangisku.Dia melepaskan pekukannya dan meraih wajahku dengan kedua tangan besarnya. "Ssttt, aku hanya memeberi kamu waktu". Dia kembali mengecup bibirku."Kelamaan". Aku mulai merajuk."Ini nih, yang membuat aku setengah mati menahan diri untuk tidak mendobrak apartemenmu dan memelukmu.""Hihi... Jadi kita balikan lagi?". Tanyaku memandang wajah tampannya yang aku rindukan sebulan ini."Kita gak pernah putus Yang". Wajahnya terlihat geli."I love You Je"."I love You More Tata".

CEO Itu Menabrakku… Lalu Menjadikan Aku Pacarnya
Teen
15 Dec 2025

CEO Itu Menabrakku… Lalu Menjadikan Aku Pacarnya

Hari itu pada tengah hari di hari Jumat terjadi kecelakaan beruntun di jalan utama dalam kota karena seorang pengemudi tak bertanggung jawab yang mengemudi dalam keadaan mabuk, tengah hari. Kecelakaan beruntun itu memiliki dampak sampai 500 meter dibelakangnya, sehingga seorang gadis yang sedang berjalan kaki tersenggol motor karena ngerem mendadak. Membuat siempunya motor buru-buru turun dan menghampiri gadis itu.Terlihat gadis itu meringis sambil memegangi betisnya tapi tak lama dia langsung berdiri dengan sedikit tertatih."Kamu gak papa?".Gadis itu berbalik dan menatap pria tersebut. "Gak papa ko, cuma lecet dikit". Jawabnya masih menyeimbangkan kakinya."Mau ke rumah sakit? Mungkin butuh penanganan lebih lanjut?"."Its oke gak papa, lagian saya lagi buru-buru, tuh liat saya masih bisa jalan kan". Jawabnya sembari mencoba melangkahkan kakinya.Namun pria dihadapannya masih terlihat khawatir."Saya duluan ya udah telat". Gadis itu masih meyakinkan pria dihadapannya kalau dia memang tidak apa-apa. Tapi kemudian pria itu mengentikan langkahnya."Tunggu, Saya Miller". Lalu dia membuka dompet dan mengeluarkan uang sebagai kompensasi yang langsung di tolak oleh gadis tersebut. "Oke, jika kamu menolak uang saya seenggaknya kamu pegang kartu nama saya kalau ada apa-apa sama kaki kamu, kamu bisa hubungi nomor yang tertera disana".Tak mau urusannya makin lama gadis itu buru-buru mengambil kartu nama tersebut dan langsung berlalu pergi.Miller membaca tulisan yang ada di punggung gadis tersebut lalu tersenyum miring.'Universitas Garuda Bangsa'---"Rafael Aldern Miller, CEO R-Sport Company".Gumam Anin membaca nama yang tertera disana."Wow, padahal kelihatannya masih sangat muda tapi udah jadi CEO"."Serius masih muda?". Tanya Zeline teman Anin yang sedang menemaninya makan di kantin Fakultas Ekonomi."Ia kelihatannya usianya sekitar 26 atau 27 tahunan lah"."Ganteng gak?"."Banget". Jawab Anin sambil tertawa membuat Zellin makin penasaran. "Dan seperti yang tertera di kartu namanya kalau dia CEO R-Sport penampilannya sesuailah, dia tinggi dan badannya keliatan banget kalau dia rajin olahraga"."Gak boleh dilewatkan dong Nin kalau yang boyfriend material gitu, lo minta tanggung jawab aja sama dia""Tanggung jawab gimana orang gue gak papa ko cuma lecet dikit pake plester juga sembuh". Jawab Anin sambil melirik betisnya yang sudah di pasangi plester."Tapi Nin gara-gara dia lo jadi gak bisa bimbingan sama Mr. Robert karena lo telat dan gantinya lo harus jadwal ulang bimbingan di akhir pekan which is yang harusnya lo pake buat tiduran".Anin hanya mengendikan bahu menanggapi ucapan Zellin, mau gimana lagi udah kejadian, mau gak mau dia besok harus mengunjungi rumah Mr. Robert untuk bimbingan skripsi bab terakhirya.---Miller baru saja bangun dari tidurnya pukul 11 siang, seperti biasa kalau weekend dia akan menginap di rumah orangtuanya, kalau weekday dia akan berada di apartemennya. Begitu turun dia mendapati mamanya di dapur sedang menyiapkan makan siang."Mam". Miller menghampirinya lalu mencium kedua pipi mamanya."Baru bangun sayang, mau kopi?". Tanya mamanya yang sudah mengambil cangkir untuk Miller."Boleh, papa lagi ada tamu?". Tanya Miller ketika mendengar papanya sedang mengobrol diruang tamu."Lagi bimbingan sama mahasiswanya, mungkin sebentar lagi selesai udah dari jam 9 soalnya". Mamanya meletakan kopi tanpa gula dihadapan Miller."Hari sabtu banget? biasanya papa gak suka kalau weekendnya di ganggu sama mahasiswa"."Iya tapi kata papa alasan mahasiswanya bisa di terima kenapa kemarin dia telat bimbingan, jadi memperbolehkan datang kerumah.Tiba-tiba Miller teringat dengan gadis yang hampir dia srempet kemarin, nama kampus di jaket yang di pakainya sama dengan kampus dimana papanya mengajar."Ma, Anin mau pamit pulang". Terdengar ucapan papanya dari ruang tamu membuat mamanya ikut menghampiri mereka kesana. Tak ayal Miller pun ikut mengintip ke ruang tamu dan dia sedikit terkejut ketika melihat mahasiswa yang dibimbing papanya adalah gadis yang di temuinya kemarin. Gadis itu terlihat sedang menyalami papa dan mamanya kemudian dia pergi setelah mengucapkan terimaksih."Siapa pa?". Miller menghampiri papanya yang sedang membereskan kertas-kertas di mejanya."Anindira, mahsiswa papa. Kemarin dia telat bimbingan dan papa keburu pulang, katanya dia telat karena hampir keserempet motor, jadi papa tawarin bimbingan dirumah". Setelah membereskan kertas-kertas dihadapannya Mr.Robert lalu meminum kopi dihadapannya."Tumben papa bolehin kerumah, biasanya kalau telat ya telat aja"."Anindira itu salah satu mahasiswa kebanggaan papa, minggu depan dia udah sidang. Anaknya gak pernah macem-macem, jadi kalau dia gak bisa datang berarti memang terjadi sesuatu dan terbuktikan dia hampir keserempet".Miller diam beberpa detik. "Sebenernya yang hampir nyerempet dia itu aku pa"."Kamu? Ko bisa, tapi Anindira gak apa-apa kan? Udah kamu bawa ke rumah sakit?""Justru itu dia nolak, aku kasih uang dia nolak juga, terus aku kasih kartu nama tapi dia juga gak ada ngehubungin aku". Jawaban Miller membuat papanya tersenyum."Kan? dia emang anaknya gak macem-macem, kalau menurut dia emang gak butuh ya udah dia gak akan ambil, dia anaknya gak cari kesempatan dalam kesempitan". Mr. Robert kembali meminum kopi dihadapannya. "Tapi kalau kamu ketemu dia lagi minta maaf yang bener"."Pasti pap". Jawab Miller mantap."Dia juga cantikkan?". Tanya Mr. Robert tersenyum penuh arti pada Miller. "Umur kamu udah mau 28, mulailah cari yang serius nak".Ketika Miller berbaring di tempat tidurnya dia teringat ucapan papanya tadi.Dia bergumam kecil. "Cantik. Dan namanya Anindira". Lalu pikirannya kembali pada hari kemarin saat dia bertemu dengan Anin. Wajah kecil dengan mata bulat dan bibir pink mungilnya, juga posturnya yang tinggi langsing, rambut panjangnya yang dikuncir asal-asalan. Miller akui dia masuk kriteria wanita idamannya, belum lagi kata papanya kalau dia anak baik-baik yang gak neko-neko. "Bisa dilihat sih kemarin dia gak nuntut apa-apa sama gue, disaat gadis lain mungkin akan pura-pura lumpuh agar gue mau bertanggung jawab". Seulas senyum terbit dibibir Miller.----"Zeliiiiinn... Gue lulus". Teriak Anin ketika dia keluar dari ruang sidang setelah di bantai habis-habisan disana. Merekapun berpelukan di dikoridor panjang tersebut, setelahnya teman-teman Anin memberi selamat disertai buket bunga-bunga cantik untuk Anin."Anindira". Anin berbalik pada suara yang memanggilnya, dan dia sungguh terkejut tentag siapa yang ada di hadapannya."Anda?".Pria di hadapannya tersenyum melihat wajah kaget Anin."Miller, panggil aku Miller, selamat atas kelulusannya". Miller mengulurkan tangannya pada Anin, dan langsung dibalas oleh Anin. "Anindira, panggil saja Anin dan terimakasih".Miller lalu menyerahkan buket bunga mawar putih yang di bawanya. "Thanks, gimana kamu tau aku hari ini sidang?".Tak lama Mr. Robert keluar dari ruang sidang. "Itu, dari papa". Jawab Miller membuat Anin kaget untuk kedua kalinya."Mr. Albert itu papa kamu? Berarti waktu itu...."."Iya aku tau kamu pas kamu ke rumahku waktu bimbingan sama papa". Anin hanya mengangguk menaggapi ucapan Miller, disamping dia gak tau harus merespon bagaimana dia juga merasa aneh karena menjadi pusat perhatian karena berbicara dengan Miller, yang semua mata dikoridor ini tertuju padanya."Butuh tumpangan untuk pulang?". Miller menawarkam Anin yang terlihat kesusahan membawa beberapa buket bunga juga beberapa buket snack dari teman-teman angkatannya."Gak usah, nanti aku pesen---""Pliss jangan nolak, anggap sebagai permintaan maafku untuk waktu itu"."Emmm...""Pliss aku maksa". Tuturnya sambil tersenyum lebar. Membuat Anin terpaku pada wajah tampannya Miller."Oke". Jawab Anin sambil tersenyum setetelahnya Miller mengambil buket yang ada di pelukan Anin lalu menuntun menuju mobil sportnya.Sepanjang kaki mereka melangkah, mereka jadi pusat perhatian ditambah tangan Miller yang menggandeng tangan Anin.Terdengar kasak+kusuk di telinga Anin." Pacarnya Anin ganteng banget sumpah""Waah beruntungnya Anin""Mobilnya keren gillaaa""Anin pantes sih dapat yang kaya gitu".Dan kasak-kusuk lainnya yang tak hanya didengar oleh Anin tapi juga terdengar oleh Miller." Sorry ya...". Begitu masuk mobil Anin meringis tak nyaman pada Miller tentang kasak-kusuk teman-temanya." Its oke gak papa, mungkin omongan mereka bisa jadi kenyataan"."Maksudnya". Anin tak mengerti maksud Miller."Tentang pacarnya Anin, May I be your boyfriend?Hari apakah ini, kenapa Aku beruntung sekali ya tuhan, sidang lulus terus langsung dapat pacar, tentu saja langsung ku jawab Ya.End

Lea Dan Bara
Teen
15 Dec 2025

Lea Dan Bara

Dia adalah Bara, cowok idola kampus angkatanku. Badan tinggi tegap, dada bidang, perut sixpack , wajah rupawan dan suara emasnya sukses membuat para wanita di kampus ini menjerit-jerit ketika dia dan bandnya tampil di panggung kampus. Rambut ikal yang sudah mulai memanjangnya selalu ia singkirkan dengan bando yang biasa dipakai kaum perempuan tapi tak ayal itu membuatnya aneh justru di mata para wanita malah terlihat keren ketika dia mengenakannya.Dengan kepopulerannya di dalam maupun luar kampus tak membuatnya sombong atau arogan, dia masih orang yang humble , dekat dan berteman dengan siapa saja, juga tak membuatnya jadi seorang playboy. Banyak wanita di kampus ini yang sudah menyatakan cinta padanya tapi dia menolak mereka semua dengan halus. Katanya "aku akan menjadi pacar wanita yang memang dia menyuakiku dan aku juga menyukainya".Banyak orang yang mecoba menebak siapa orang yang disukai Bara, tapi tak ada yang bisa menebaknya karena banyak wanita yang memang dekat degannya."Lea, cari tempat duduk yu". Kata Paris sahabatku.Aku berada di area lapangan kampus yang hari ini di jadikan tempat untuk pensi, sudah ada panggung megah dan kursi berbaris rapih yang sudah hampir setengahnya terisi oleh para mahsiswa dan mahasiswi yang ingin menyaksikan meriahnya acara tahunan kampus ini."Baris ketiga dari depan ada tempat kosong Le". Paris menarikku menuju tempat tersebut."Tumben masih kosong, biasanya penuh ya?" Tanyaku pada Paris."Biasa pangeran kampus kan belum tampil, gue yakin para cewek-cewek itu sekarang lagi ke backstage ngerubungi mereka". Jawabnya dengan nada malas."Eh lo haus gak, gue mau beli minum nih"."Boleh". Jawabku singkat.Paris beranjak dari tempat duduknya dan pergi menuju stand minuman yang ada di samping panggung, tak lama setelah kepergiannya tempat ini mulai terisi penuh bahkan kursi yang tadi di tempati Paris sudah ada yang mengisinya.' Eh, ini kan Bara ' gumamku begitu melirik ternyata yang duduk disampingku adalah Bara dan ke dua teman ngeband nya.Aku dapat mendengar diskusi mereka bertiga tentang aksi panggung dan lagu yang akan mereka bawa di panggung nanti."Lea kan?". Suara Bara mengintrupsi lamunanku."Ya, hai Bara". Sapaku ramah padanya tak lupa dengan senyuman."Seneng banget gue bisa ketemu lo disini". Jawabnya disertai senyum manisnya."Sendiri?". Tanyanya lagi."Enggak tadi gur bareng Paris, tapi dia lagi beli minum belum balik". Jawabku dengan sedikit gugup karena matanya yang intens memperhatikanku."Oke, bearti gak bareng pacar dong kesini?""Enggak, gue lagi free sekarang.""Sama yang kemarin udah putus?""Emang lo tau gue punya pacar?". Tanyaku balik pada Bara."Tau lah, jadi beneran udah putus nih?". Tanyanya lagi dengan wajah penasarannya.Lalu aku menjawab dengan anggukan." Yes !!" Desisnya lumayan keras.Aku mengerutkan keningku bingung dengan tingkahnya." Yes , maksudnya?". Aku memberanikan diri untuk bertanya."Ehmmm.... Gue.. Sebenernya... Le lo mau gak jadi cewek gue?""HAH!"Aku kaget dengan apa yang baru saja di katakannya, mulutku terbuka tapi tak ada kalimat yang keluar."Gue Bara, udah suka sama elo dari lama"."Maksud lo?". Akhirnya aku dapat mengeluarkan kata lain selain HAH tadi."Gue tau elo suka gitar, suka nyanyi, suka mawar putih, kalau sore hari lo suka naik ke rooftoop kampus lihat sunset , dan suka cowok romantis, right ?"Aku hanya tergugu dengan apa yang dia ucapkan, seorang Bara bisa tau apa yang disukai Lea."Dan impian lo di tembak sama cowok sambil main gitar dan bawa bunga". Terusnya lagi membuatku bungkam tak bersuara karena yang diucapkannya benar semua." I'll do that ". Ucapnya mantap.Semua mata tertuju pada kami, tidak bukan pada kami tapi pada Bara karena MC sudah memanggil nama Bandnya dari tadi tapi Bara masih belum beranjak dari tempatnya.Kemudian dia pergi ke backstage meninggalkanku yang masih diam membisu tak percaya dengan ucapannya.' I'll do that ' maksudnya apa.Tidak berselang lama dia muncul diatas panggung dengan gitarnya dan setangkai mawar putih ditelinga kirinya. Dia mulai memtetik sinar gitarnya mengalunkan lagu Perfect milik Ed Shireen.Baby, I'm dancing in the dark with you between my armsBarefoot on the grass, listening to our favorite songWhen you said you looked a mess, I whispered underneath my breathBut you heard it, darling, you look perfect tonightDia berjalan diantara penonton dan menghampiriku yang masih syok ditempat." Whould you be mine?" Ucapnya dengan setangkai mawar putih ditangannya." Please say yes?".Suara musik berhenti, aku menahan nafasku bahkan mungkin semua orang disini menahan nafasnya menanti jawabanku.Seorang Bara, pangeran kampus nembak aku di depan seluruh mahasiswa, aku yang notebene bukan siapa-siapa dan gak sepopuler Bara, kebaikan apa yang aku lakukan dikehidupanku sebelumnya hingga mendapatkan keajaiban seperti ini.Aku yang hanya mengaguminya dari jauh dan hanya bisa senyum saat dia menyapaku kini mendapatkan pernyataan cinta darinya. Tentu saja aku akan bilang..." Yes ".Suara riuh tepuk tangan dan musik kembali mengalun.Dia, Bara. Cowok idaman kampus memintaku menjadi pacarnya.Dengan gerak cepat dia langsung membawaku dalam pelukannya dan mencium lembut bibirku." Thanks Lea, aku menyukaimu sejak kamu memainkan gitarku di aula 2 tahun lalu".'Dia menyukaiku selama itu'" Kamu menyukai aku selama itu, Gak mungkin". Ucapku yang belum sepenuhnya percaya."Ya, terimakasih kamu udah nerima aku"." Thanks juga udah ngabulin impian aku, gitar, bunga dan sunset ".END

Kegelisahan Eksistensial
Teen
15 Dec 2025

Kegelisahan Eksistensial

Aku kerap melihatnya—dan, ketika perasaan itu muncul, keyakinan kehilangan kedudukan dan semesta diliputi kegelisahan.Kendati sepersekon detik dalam hidupnya, manusia pernah meragukan esensi Tuhan: entah karena hanyut oleh sains atau depresi dengan masalah duniawi. Ada yang memilih abai dan mengikuti mayoritas. Ada yang kritis dan memilih tidak percaya. Ada juga yang gelisah karena meragukan pilihannya: seperti bocah itu (yang berjanji mentraktir di kafe favoritku jika aku mau menjawab pertanyaannya)."Bahkan, tanpa embel-embel rahmat Tuhan pun bumi bisa terbentuk; evolusi tetap berjalan; dan bulan tetap berevolusi terhadap bumi. Alam semesta adalah sistem raksasa yang independen. Kak Aslam harusnya paham itu." Ia menyangga tubuh dengan kedua tangan.Perkataannya tegas tetapi matanya gelisah. Aku tepekur, merasa melihat diriku yang dulu: independen dan ortodoks-saintik.Ayah adalah dosen dan Ibu telah pergi saat aku kecil, jadi agama menjadi sesuatu yang asing bagiku: aku hanya mengenalnya dari pelajaran sekolah. Berbekal teori Big Bang dan evolusi Darwin, aku menentang keberadaan Tuhan, hingga bus darmawisataku mengalami kecelakaan yang menewaskan seluruh orang, kecuali aku.Aku koma dan memimpikan sesuatu. Aku tidak ingat detailnya, tetapi rasanya seperti dibawa ke tempat bercahaya bersama sosok bercahaya. Kami berdialog singkat. Ketika bangun, itu adalah hari kesepuluhku di rumah sakit. Hanya aku yang selamat.Entah sial atau tidak, aku seperti anak kecil yang ditegur oleh orangtuanya. Aku beruntung bisa selamat tetapi juga tertekan karena mengetahui hanya aku satu-satunya yang selamat.Sejak saat itu, aku berhenti menentang. Namun, jumlah diriku yang lama kerap berkeliaran di dunia ini, termasuk bocah itu.Aku menegakkan tubuh. "Kamu percaya bahwa semesta adalah infinitas yang selalu berkembang, 'kan?""Ya.""Kamu percaya bahwa atom adalah unsur terkecil kehidupan, 'kan?"Bocah itu mengerutkan kening. "Ya.""Kalau begitu, justru aneh jika kamu meragukan esensi Tuhan. Kamu tahu betul bahwa tidak tampak bukan berarti tidak ada . Logika kita hanya tidak dapat mencapai apa yang dapat dicapai Tuhan." Aku menyilangkan kaki sembari menyesap kopi. Kuperhatikan ia yang ganti membatu. "Yah, setelah ini kau tidak harus percaya pada Dia—iman serta sains itu berbeda—yang penting jadilah 'manusia'. Mukjizat akan datang setelahnya."Aku tidak tahu jawabanku membantunya atau tidak; tetapi ketika pergi, dia tidak lagi menyerupai diriku yang dulu.*Setelah itu, beberapa kali aku keberadaan merasakan diriku yang dulu. Yah, itu manusiawi. Manusia selalu bertanya dan mencari.Kadang kala, pertanyaan dan perasaan semacam itu kembali datang; tetapi aku memilih mengabaikannya. Tuhan punya rahasia-Nya sendiri; dan percaya tidak harus didasarkan bukti visual semata. Pun, iblis selalu berusaha mengobrak-abrik hati manusia.Iya, 'kan? (*)

Bunda, Dengerin Curhatku!
Teen
09 Dec 2025

Bunda, Dengerin Curhatku!

Sifat orang tua akan menurun pada anak. Jadi, jangan salahkan anak jika dia memiliki sifat yang tidak orang tua sukai. Barangkali itu adalah sifat turunan. Terutama dari Ibu.Seperti yang dialami Nana. Seorang gadis yang berparas cantik, berkulit putih, hidung mancung serta mata yang sedikit sipit dan selalu mengenakan kerudung penutup aurat jika berada di luar rumah. Ia tidak pernah menyangka akan menjalani kehidupan yang langka. Yaa, setidaknya itu menurut keluarga besarnya. Karena dalam keluarga besarnya, tidak ada seorang pun yang memiliki sifat sepertinya. Jika keluarga besar berkumpul, Nana tidak pernah lepas dari sorotan mereka.Seperti saat ini, keluarga di luar sana sedang membicarakan dirinya. Nana hanya bisa mendengarkan dari dalam kamar, tanpa berani menampakkan diri. Hajatan keluarganya memang sudah selesai sejak kemarin. Namun, beberapa keluarga masih berada di rumahnya. Ia sama sekali tak pernah keluar dari dalam kamar selama beberapa hari ini. Makan pun ia enggan. Kalau ditanya kenapa tidak mau makan? Jawabannya cuma satu, MALU! Ia hanya mengisi perutnya dengan air dan roti yang memang sudah ia persiapkan sebelum hajatan. Dan beruntungnya ia, kamar mandi terhubung langsung dengan kamarnya. Jadi, ia tidak perlu keluar kamar untuk mandi ataupun berwudhu.Nana seorang gadis pendiam dan pemalu. Jarang berinteraksi dengan orang lain, kecuali orang terdekat. Bukan tanpa alasan ia seperti itu, melainkan karena ia memiliki sifat turunan dari Bundanya. Bundanya pernah mengatakan kalau dirinya juga pernah mengalami hal seperti yang dialami Nana.Pukul 13:00 Nana memilih tadarusan di dalam kamar dari pada harus keluar untuk berkumpul bersama keluarganya. Beberapa saat kemudian, terdengar ketukan dari luar pintu kamarnya. Nana segera membuka pintu itu yang memang sengaja ia kunci, agar tidak sembarang orang masuk ke dalam kamarnya."Dek, yuk makan dulu. Makannya bareng-bareng sama keluarga di meja makan. Mereka semua udah mau makan di sana. Tinggal nunggu adek aja, yuk!" ajak Bunda setelah Nana membuka pintu."Bund, kan udah berkali-kali adek ngomong, kalau adek tuh malu ketemu sama mereka. Apalagi sampai makan bareng. Adek merasa nggak nyaman Bund. Udah yah, Bunda aja yang gabung sama mereka. Lagian adek nggak laper kok, udah makan roti tadi. Oh ya Bund, adek ijin ke pantai sore ini, boleh ya?" Nana memang sering pergi ke pantai. Tapi, biasanya bareng Bunda dan Ayah atau saudaranya yang lain."Ya sudah, kalau itu mau kamu. Tapi, pulangnya jangan menjelang magrib." Bunda memberi ijin lalu melangkah menuju meja makan meninggalkan Nana yang terlihat sangat senang karena mendapat ijin untuk pergi ke pantai.***Sore hari cuaca tampak mendung. Mungkin akan turun hujan. Tapi, tak masalah bagi Nana yang sedang menyusuri pantai, toh hujan belum turun, kan? Suasana pantai juga sudah mulai ramai. Alasan Nana tidak malu saat berada di tempat ramai seperti ini adalah orang-orang di sekelilingnya tidak mengenalinya. Dan yang pasti dirinya tidak menjadi pusat perhatian. Nana merasa bebas jika berada di tempat seperti ini.Dari kejauhan Nana melihat om Budi yang sedang memasang payung pantai untuk seorang wanita bule yang tampak antusias memperhatikannya. Om Budi adalah adik dari Bundanya. Pekerjaannya berjualan berbagai peralatan pantai dan membantu pelanggan menyiapkan peralatan yang mereka butuhkan.Selain keluarganya, Nana sering bertegur sapa hanya dengan keluarga om Budi. Nana cukup terbuka dengan mereka. Apalagi jika sudah bersama bang Jirwan anak bontot om Budi, Nana pasti banyak ngomong. Entahlah, mengapa Nana bisa merasa nyaman ngomong dengan sepupunya itu?"Assalamu'alaikum, sore om." sapa Nana lalu salim dengan om Budi. Diciumnya tangan kekar itu."Eh, wa'alaikumsalam, sore Na. Udah keluar dari kandang? Sejak kapan?" Om Budi sedikit kaget melihat kehadiran Nana."Keluar dari kandang? Emang Nana binatang, om? Om samain Nana dengan binatang? Om tega banget sih!" Nana terlihat memonyongkan bibirnya, sedikit ngambek."Hahahah, om bercanda, maaf ya?" Om Budi tertawa melihat ekspresi Nana yang menggemaskan."Permintaan maaf om diterima. Nana baru aja keluar, bosen tinggal di kandang yang om bilang tadi heheh. Oh ya om, papan selancar adek mana? Om tidak menyewakan papan selancar adek ke orang lain, kan?" tanya Nana sambil memicingkan matanya ke sekeliling, kali aja penglihatannya tertuju pada papan selancar kesayangannya itu."Ya, nggak lah. Mana om tega menyewakan barang kesayangan adek ke orang lain. Sana gih, tanya abang kamu, kayaknya dia yang simpan deh." Om budi menunjuk ke arah toko, menyuruh Nana mencari benda kesayangannya di sana. Keluarga om Budi memang sering memanggil Nana 'adek'. Mungkin karena keseringan mendengar keluarganya kali ya, jadi ikutan juga memanggil Nana 'adek'.Nana melangkah meninggalkan om Budi menuju ke tempat yang dimaksudnya tadi. Dari kejauhan Nana dapat melihat bang Jirwan yang sedang bersantai di kursi samping toko."Assalamu'alaikum,,, bang Jir." sapa Nana begitu sampai di samping Jirwan."Wa'alaikumsalam... Eh ada adek Nanah." Jirwan juga terlihat sedikit kaget melihat kehadiran Nana."Nanah, Nanah, bang Jir kan tahu kalau namaku Nana, enggak pakai H." Nana tak terima namanya diubah."Yaa, siapa suruh manggil aku bang Jir. Namaku kan Jirwan. Di mana-mana orang manggil aku Jirwan. No bangjir-bangjir." Jirwan terlihat sewot."Oke bang JIRWAN. Puas?" Tanya Nana."Nah gitu dong, jadi anak yang penurut." Jirwan mengusap pelan kepala Nana."Don't touch me." Nana menyingkirkan tangan Jirwan dari kepalanya."Dih, sok inggris lu.""Biarin! Mm, bang Jirwan ada liat papan selancar nana, nggak?" tanya Nana mengalihkan topik pembicaraan."Ada, itu di samping pintu." Tunjuk Jirwan ke arah papan selancar Nana. "memangnya adek mau selancaran hari ini. Bentar lagi hujan loh." lanjutnya."Kan bentar lagi, artinya belum hujan, kan?" Tanya Nana sambil berjalan ke arah papan selancarnya. "Bang Jirwan mau nemenin Nana selancaran nggak? Temenin ya, please!" Pinta Nana."Nggak ah, mending aku main game. Yaa, kok lowbat sih." Jirwan sebel hpnya mengeluarkan peringatan baterai lemah. "Dek, aku pinjam hp kamu ya, hp aku lowbat.""Boleh, tapi temenin selancar dulu. Kalau nggak mau, ya udah nggak jadi juga pinjamin hpnya." Nana memberi syarat."Oke. Tapi, nemeninnya di pinggir aja ya. Kan, sambil main game." Ujar Jirwan mengulurkan tangan untuk mengambil hp milik Nana."Ya udah deh, kalau nggak mau ikut selancar. Nih. Tapi, cuman main game, kan?" tanya Nana."Iya, iya. Bawel banget sih." Jirwan kembali mengusap kepala Nana.Keduanya berjalan beriringan menuju pantai. Suasana pantai sudah sangat ramai. Ada yang selancaran, main pasir, juga berfoto ria. Nana memilih tempat tak jauh dari pinggir pantai untuk selancaran. Karena tidak ada yang menemaninya, jadi ia memilih tidak terlalu jauh ke tengah. Nana memang lumayan pandai berselancar. Selain ayahnya, om Budi dan bang Jirwan juga sering mengajarinya.Jirwan terlihat serius memandangi layar hp milik Nana yang menampilkan sebuah voice note yang bertuliskan "Bunda, dengerin curhatku." Jirwan jadi penasaran, ia ingin mendengarkan isi dari voice note tersebut. Namun, sebelum ia memutar voice note itu, gerimis mulai turun. Ia terlihat kelimpungan mencari tempat berteduh. Tak jauh dari tempatnya berdiri, ia melihat payung yang kosong ditinggalkan pemiliknya. Ia segera berlari-lari kecil menuju ke tempat itu.Sementara itu, walau gerimis sudah mulai turun, Nana tetap asyik berselancar. Ia terlihat lihai mengikuti arus ombak dengan papan selancarnya. Ia tak peduli walau gerimis mulai sedikit deras. Namun, ia tiba-tiba kehilangan keseimbangan dan terjatuh dari papan selancarnya.***Voice note : Bunda, dengerin curhatkuSebuah Kata Maaf:Bunda, adek minta maaf jika selama ini adek jarang menuruti perintah Bunda. Apalagi jika mengharuskan adek bersosialisasi dengan orang. Adek tidak bisa! Adek tidak tahu harus bagaimana lagi? Adek udah berusaha, tapi tetap aja tidak bisa. Bunda pernah bilang bahwa Bunda juga pernah mengalami hal yang seperti adek alami. Jadi, Bunda pasti paham kan, apa yang adek rasakan? Perasaan adek tuh seperti yang Bunda rasain dulu. Sekali lagi adek minta maaf ya, Bunda! Adek nggak bisa seperti anak-anak Bunda yang lain. Maaf, Bunda!Dan Terima kasih:Bunda, terima kasih karena telah berjuang mengandung adek selama sembilan bulan lebih, berjuang antara hidup dan mati demi melahirkan adek ke dunia. Terima kasih atas kasih sayang dan perhatian Bunda, sejak kecil hingga sekarang Bunda sudah merawat dan menjaga adek, menjadi madrasatul 'ula buat adek. Hidup memang tak selalu indah. Tapi, bersama Bunda adek merasa bahagia. Bunda, terima kasih sudah menjadi orang yang sangat luar biasa. Bunda adalah yang terhebat di dunia. Semoga Bunda selalu sehat dan bahagia, di dunia dan akhirat. Aamiin.Jirwan terlihat berkaca-kaca setelah mendengar voice note dari hp Nana. Ia jadi heran, mengapa dengan orang lain Nana malu untuk ngobrol/berbicara sedangkan dengan dirinya Nana sangat bawel. Bahkan kata bundanya, Nana kalau di rumah juga jarang ngomong. Dia ngomong seperlunya saja. Jirwan jadi curiga, jangan-jangan voice note ini belum disampaikan langsung ke bundanya."Oh iya, apa aku nanya ke Nana aja ya, soal voice note ini udah disampaikan secara langsung ke bundanya atau belum?" Jirwan tampak berpikir. Ia baru tersadar, ternyata gerimis sudah berubah jadi hujan yang lumayan deras. Ia mengedarkan pandangan mencari Nana. "Kok tidak ada, ya. Apa dia udah balik. Tapi nggak mungkin juga sih dia balik nggak ngomong-ngomong." ia bergumam.Jirwan akhirnya menerobos hujan yang semakin deras. Dia tidak peduli dengan dirinya yang sudah basah akibat air hujan. Yang ada di fikirannya sekarang adalah bertemu dengan Nana."Nanaaa,,, dek kamu di mana?" Jirwan teriak memanggil Nana. Namun, tak ada respon yang ia dengar. Ia mulai khawatir. Ia benar-benar ceroboh karena tidak memperhatikan adik sepupunya itu. "Bagaimana kalau dia terjatuh lalu tenggelam?" pikiran negatif mulai muncul di kepalanya. "Tapi, nggak mungkin, dia kan pintar berenang." lanjutnya mencoba menenangkan diri.Jirwan masih terus mencari keberadaan Nana. Pandangannya tertuju ke arah barat, ia melihat ada beberapa orang di sana. Segera ia berjalan mendekat."Tadi ee tangannya dia e angkat seperti ini." seorang bule perempuan tampak menjelaskan kejadian yang dia lihat. "Aku pikir e dia berenang. Karena papan selancarnya e ada di dekatnya. Tapi, lama-lama e tangannya perlahan menghilang. Saat itu aku e langsung datang untuk menolongnya." bule perempuan yang sempat berpapasan dengan Nana saat baru sampai di pantai tadi terdengar belum lancar berbahasa Indonesia.Jirwan yang ikut mendengar penjelasan perempuan tadi mengalihkan pandangannya ke arah perempuan berkerudung yang tergeletak di atas pasir. Ia terlihat kesulitan bernafas."Nana!" sedikit berteriak, Jirwan mendekat ke samping Nana yang mencoba bangun dengan kondisi tubuh sedikit lemah. Orang yang ada di sekitarnya mulai meninggalkan mereka setelah melihat Nana baik-baik saja."Bang Jirwan, hiks hiks, Nana takut banget." Nana menangis sambil memeluk lengan kanan Jirwan."Tenang, oke. Sekarang adek baik-baik aja kan? Atau ada yang sakit?" Jirwan mencoba menenangkan Nana sambil mengusap pelan punggungnya."Nggak ada yang sakit kok, cuman takut aja." Nana menggeleng. "Bang Jirwan janji jangan bilang ke Bunda, oke?" tanyanya dengan mengangkat jari kelingking."Janji nggak bilang soal apa? Soal voice note?" Jirwan menaik-turunkan alisnya menjahili Nana yang terlihat melotot setelah mendengar kalimat yang dikatakan Jirwan."Bang Jirwan dengerin voice note itu? Katanya tadi mau main game. Bang Jir jahat banget sih!" Nana memukul pelan lengan Jirwan."Tadi, niatnya sih mau main game. Tapi pas liat layar langsung tertuju ke voice note itu, kan aku jadi penasaran, terus aku dengerin deh. Tapi, seriusan nggak mau kasih tahu langsung ke Bunda?" tanya Jirwan."Nggak. Nana malu tau kalau ngomong langsung ke Bunda. Kejadian tadi juga, jangan sampai bunda tahu. Bisa kena marah aku kalau bunda sampai tahu." Nana menutup wajahnya menggunakan telapak tangan."Ya udah, beri tau pakai voice note ini aja. Masa tulisannya 'Bunda, dengerin curhatku' tapi Bunda nggak diberi tau. Bunda mana bisa dengerin sih, dek." Jirwan di buat geleng-geleng dengan kelakuan Nana.Nana mengambil ponselnya dari tangan Jirwan kemudian berdiri. Jirwan ikut berdiri."Kan, Nana nggak pernah mau beri tau voice note ini ke orang lain. Biar Nana aja yang tau sendiri, tapi abang malah dengerin. Sedih banget aku tuh! Aku nggak mau Bunda tau.""Tau tentang apa?" Bunda yang memakai payung tiba-tiba muncul dari belakang mereka. Hujan sudah reda, namun masih menyisakan gerimis."Eh, Bunda." Nana kaget melihat kehadiran Bundanya."Adek kenapa nggak pulang? Kan tadi hujannya deras banget. Dan tadi, apa yang nggak boleh Bunda tau?" Bunda menginterogasi.Nana yang takut kena marah mencoba berlindung di belakang Jirwan."Adek?" Panggil Bunda pada Nana."Anu, tadi adek main hujan, iya main hujan bareng bang Jirwan. Iya kan, bang?" Nana mendongak melihat wajah Jirwan berharap ia mau membantunya."Ee, iya tante. Tante jangan marah sama Nana ya." Jirwan memposisikan Nana ke sampingnya."Iya, Bunda nggak marah kok. Tapi, jangan sering-sering ya main hujannya, nanti bisa demam loh. Terus, yang nggak boleh Bunda tau apa?" tanya Bunda penasaran."Kan, nggak boleh Bunda tau, berarti nggak boleh dikasih tau dong. Bunda gimana sih." Nana mencari alasan agar voice note itu tidak sampai ke telinga Bundanya. Tapi..."Ini nih tante, dengerin deh." Jirwan malah merebut ponsel milik Nana dan langsung memutar voice note itu dengan volume yang tinggi. Nana yang tidak siap dengan kejadian ini, langsung kembali mundur ke belakang Jirwan.Sepanjang voice note itu terputar, Nana hanya bisa memilin ujung kerudung sambil menunduk. Ia malu! Ia tidak tau harus bersikap bagaimana sekarang. Setelah voice note itu berakhir, Jirwan langsung memposisikan Nana tepat di hadapan Bundanya. Sementara Nana masih menunduk."Bunda menerima ucapan rasa terima kasih juga permintaan maaf dari adek. Adek, Bunda juga mau minta maaf ya, karena selama ini Bunda selalu ngebandingin adek dengan orang lain. Adek mau kan, maafin Bunda?" Bunda mengusap pelan pundak Nana."Adek juga udah maafin Bunda. Sekali lagi terima kasih Bunda atas segalanya." Nana meraih tangan Bundanya lalu menciumnya.Bunda memeluk Nana dan Jirwan sambil berbisik, "kalian nikah aja, ya?""HAH." Suara histeris itu berasal dari mereka berdua. Sontak keduanya langsung melepaskan pelukan dari Bunda.

Jadi Keren Tanpa Boyfriend
Teen
09 Dec 2025

Jadi Keren Tanpa Boyfriend

Iis melangkah terburu-buru menuju gerbang sekolah yang sebentar lagi akan ditutup oleh satpam. Iis tidak mau membuat sejarah terlambat datang ke sekolah hanya karena ia tidak punya kendaraan. Iis masih punya ke dua kakinya yang bisa ia gunakan untuk berjalan ataupun berlari demi sampai di sekolah.Beberapa meter sebelum Iis sampai, satpam sudah terlihat berdiri bersiap untuk menggeser pagar sekolah. Iis segera berlari-lari kecil sebelum pagar itu digeser. Namun, ada motor yang tiba-tiba melesat dengan cepat di sampingnya yang membuat hembusan angin menerpa wajahnya dan menggoyang-goyangkan kerudungnya. Iis menebak, itu pasti si Melati dan boyfriendnya. Melati, teman sekelasnya yang pernah mengatakan kalau punya boyfriend itu keren."Memang keren sih, setiap hari diantar-jemput ke sekolah pakai Moge." Kata Iis pelan setelah melihat Melati dan boyfriendnya memasuki gerbang sekolah. "Aish, mikir apa sih aku, punya boyfriend kan sama sekali nggak keren." Iis menggelengkan kepalanya agar pikiran negatif itu menghilang.Sementara di tempat lain, Tika dan Wulan sudah menunggu Iis sedari tadi. Sudah menjadi kebiasaan mereka saling menunggu sebelum masuk ke kelas."Assalamu'alaikum guys,,," sapa Iis setelah sampai di dekat sahabatnya."Wa'alaikumsalam,,," jawab Tika dan Wulan bersamaan."Is, telat lagi?" tanya Melati. Iis hanya diam melihat Melati yang menunggu boyfriendnya yang sedang memarkir motor."Makanya, buruan punya boyfriend, biar ada yang antar ke sekolah." Melati memberi saran untuk Iis."Pertama, terima kasih atas sarannya. Kedua, maaf aku nggak tertarik saran dari kamu." Ucap Iis lalu mengajak kedua sahabatnya untuk pergi dari hadapan Melati."Kenapa? Bukannya kalian sudah aku beri tahu ya, kalau punya boyfriend itu keren? Kalian nggak percaya?" tanya Melati yang membuat langkah ketiga teman sekelasnya itu berhenti, lalu dengan cepat Melati melangkah mendekat ke arah mereka. "Atauu, jangan bilang kalian nggak tahu lagi, gimana caranya menaklukkan hati cowok." Melati tersenyum smirk."Apaan sih." Tika merasa kesal dengan sikap Melati."Nggak tahu tuh, isi pikirannya cowok mulu. Belajar gih, bentar lagi ujian." Wulan menggandeng tangan Iis dan Tika lalu melangkah pergi meninggalkan Melati yang terlihat kesal dengan ucapan Wulan."Ngomong-ngomong guys, kalian ada yang tahu nggak gimana caranya jadi keren tanpa boyfriend?" tanya Iis saat mereka berjalan menyusuri koridor sekolah menuju ke kelas."Sebenarnya banyak sih. Salah satunya menjadi siswa yang berprestasi. Apalagi kalau bisa masuk universitas tanpa melakukan test. Asli, itu keren banget sih!!!" Tika menyampaikan pendapatnya dengan penuh semangat."Atau dapat beasiswa kuliah ke luar negeri. wah, itu lebih keren lagi!" Wulan juga terlihat bersemangat saat membahas tentang kuliah ke luar negeri."Lan, memangnya kamu mau kuliah ke luar negeri?" tanya Iis. Wulan mengangguk lalu tersenyum."Yaa wajar sih, kalau Wulan mau kuliah ke luar negeri. Kan, kita semua tahu kalau Wulan sahabat kita yang tercinta adalah sang juara di sekolah ini. Peringkat satu selalu ia dapat di setiap kenaikan kelas. Pasti akan mudah untuk dapat beasiswa ke luar negeri." Tika memuji Wulan, siswa sekaligus sahabatnya yang selalu mendapat nilai tertinggi di antara siswa yang lain."No, jangan memuji kayak gitu dong." Wulan memang tidak suka dipuji seperti itu. Namun, nyatanya pujianlah yang selalu ia dengar baik dari keluarga, guru ataupun teman-temannya. Bukannya Wulan tidak bersyukur saat dipuji, dia hanya tidak ingin dirinya besar kepala saat mendengar pujian itu."Kalau Wulan lanjut kuliah ke luar negeri, berarti kita pisah dong. Padahal, aku ingin kuliah bareng kalian." Iis merasa sedih jika nanti ia harus berpisah dengan sahabat-sahabatnya."Gimana kalau kita berusaha dapat nilai yang tinggi di ujian nanti, dengan begitu kita bisa dapat beasiswanya bareng-bareng." Usul Tika."Tapi, apa aku bisa dapat nilai tinggi dengan otak standar yang kumiliki? Sepertinya itu mustahil sih!" Iis merasa putus asa bila membahas masalah nilai. Karena di antara mereka bertiga, Iis-lah yang memiliki nilai terendah."Ayolah, jangan putus asa gitu. Kan, masih ada kesempatan untuk meraih nilai yang tinggi. Mungkin mustahil bagi manusia, tapi bagi Allah subhanahuwata'ala itu mudah. Kuncinya cuman belajar, belajar dan jangan lupa berdoa, agar diberi kemudahan dalam memahami pelajaran." Wulan tampak memberi wejangan untuk sahabat-sahabatnya dan terutama untuk dirinya sendiri.Ada semangat yang muncul dalam diri Iis setelah mendengar perkataan Wulan. Mulai sekarang Iis harus belajar lebih giat lagi, agar keinginannya untuk kuliah bersama sahabat-sahabatnya bisa Terwujud.Kini ujian telah mereka lewati. Ada perasaan lega yang mereka rasakan. Namun, rasa penasaran akan hasil kerja keras merekalah yang mendominasi perasaan itu. Tepat di hari pengumuman kelulusan sekaligus penerimaan beasiswa ke luar negeri, Iis, Tika dan Wulan saling berpegangan tangan mendengarkan pengumuman itu."Sepertinya, tahun ini persaingan untuk mendapatkan beasiswa sangat ketat. Ada beberapa siswa yang nilainya meningkat drastis. Ada yang memiliki nilai yang sama. Namun, tentu penilaian tidak hanya dilihat dari nilai yang tinggi. Tetapi perilaku selama di sekolah juga menjadi salah satu penilaian yang terpenting. Baiklah, sekarang saatnya pengumuman peraih nilai tertinggi sekaligus lima orang yang berhasil meraih beasiswa ke luar negeri." Kepala sekolah kembali ke tempat duduk sambil mempersilahkan moderator untuk mengumumkan siapakah peraih nilai tertinggi di tahun ini."Sekarang tibalah saatnya kita semua akan mengetahui siapakah lima siswa peraih nilai tertinggi." Moderator terlihat bersemangat diiringi tepukan gemuruh dari seluruh siswa maupun para guru yang hadir di aula tersebut."Untuk peraih nilai tertinggi sekaligus siswa pertama yang mendapat beasiswa adalah... Wulaaan! Untuk saudari Wulan dipersilahkan untuk maju ke depan." Moderator memanggil Wulan untuk maju ke atas panggung diiringi dengan tepuk tangan yang meriah. Tika dan Iis memberikan ucapan selamat kepada Wulan sebelum Wulan melepas gandengan tangan mereka. Wulan terlihat bahagia dan mendoakan agar ke dua sahabatnya juga mendapat nilai tertinggi.Siswa dengan nilai tertinggi kedua dan ketiga diraih oleh Salman dan Azizah."Untuk peraih nilai tertinggi keempat diraih oleh... Tika." Ucap moderator. Tika langsung memeluk Iis ketika mendengar namanya disebut."Selamat." Iis membalas pelukan Tika."Optimis, yang terakhir harus nama kamu, sih." Tika melepas pelukan Iis."Optimis sih optimis. Tapi, jangan ada kata 'harus' juga kali. Terdengar seperti pemaksaan itu, hahaha..." Iis tertawa kecil."Iya juga ya, hahah..." Tika geleng-geleng kepala lalu melangkah maju ke depan."Dan terakhir, peraih nilai tertinggi urutan kelima diraih oleh... Iis." Moderator terdengar menyebut nama Iis.Mendengar namanya disebut, Iis mengucap hamdalah dan dia terlihat terharu. Akhirnya perjuangan yang ia usahakan mendapat hasil yang maksimal. Impian yang ia inginkan terwujud. Dan harapannya untuk kuliah bersama kedua sahabatnya juga terwujud.Di atas panggung terlihat kepala sekolah memberikan selamat kepada siswa peraih beasiswa. Mereka terlihat sangat bahagia. Terakhir, mereka diberi kesempatan untuk memberikan pesan dan kesan yang ingin mereka sampaikan kepada teman-teman seperjuangan mereka juga kepada adik-adik yang masih berjuang menuntut ilmu di sekolah tersebut.Secara bergantian mereka maju ke depan untuk menyampaikan rasa syukur sekaligus berterima kasih kepada para guru yang selama ini dengan sabar dan ikhlas telah membagi ilmu pengetahuan dan memberikan pelajaran yang berharga untuk para siswanya, agar kelak mereka bisa menjadi penerus dalam menyampaikan kebenaran dan menyebarkan kebaikan.Kini giliran Iis yang maju untuk menyampaikan pesan dan kesannya selama menuntut ilmu di sekolah tersebut."Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah, terima kasih kepada Allah Subhanahuwata'ala yang telah melimpahkan nikmat kepada kita semua terutama saya yang awalnya merasa mustahil untuk berada di posisi ini. Namun, perkataan teman saya Wulan yang mengatakan bahwa 'Mungkin mustahil bagi manusia, tapi bagi Allah Subhanahuwata'ala itu mudah' kini benar-benar menjadi kenyataan. Allah Subhanahuwata'ala benar-benar punya kekuasaan yang begitu luas. Sehingga kemustahilan di mata manusia pun dapat Allah Subhanahuwata'ala ubah menjadi kemudahan sesuai dengan kehendak-Nya. Terima kasih juga kepada para guru yang selama ini dengan sabar dan ikhlas telah membagi ilmu pengetahuannya kepada kami semua. Mengajari kami sehingga bisa berada di posisi saat ini. Kepada teman-teman seangkatan, kalian dan saya juga telah berusaha semaksimal mungkin dalam belajar, dan inilah hasil dari kerja keras kita. Dan untuk adik-adik, selalu semangat dalam belajar agar kalian bisa mencapai apa yang kalian inginkan." Kalimat panjang yang Iis sampaikan mendapat tepuk tangan yang meriah."Untuk kesan yang saya dapat selama sekolah di sini itu beragam. Namun, salah satu yang paling berkesan adalah ketika ada teman kami yang mengatakan bahwa punya boyfriend itu keren. Nyatanya itu salah. Punya boyfriend sama sekali tidak keren. Waktu itu saya bertanya kepada sahabat saya tentang bagaimana caranya jadi keren tanpa boyfriend? Karena, punya boyfriend itu hanya membuang waktu berharga kita yang seharusnya kita gunakan untuk belajar. Dan jawaban sahabat-sahabat saya adalah menjadi siswa yang berprestasi itu jauh lebih keren. Karena hal itulah kami ingin membuktikan bahwa jadi keren tanpa boyfriend itu nyata adanya. Kami berada di posisi saat ini, bukan kah ini keren? Bukannya ingin menyombongkan diri, karena sesungguhnya tidak ada yang bisa disombongkan di dunia ini. Saya hanya ingin mengajak teman-teman, mari manfaatkan waktu yang kita punya untuk melakukan kebaikan. No boyfriend itu keren! Sekian dari saya, wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh." Iis kembali ke tempat diiringi dengan tepuk tangan yang meriah. Ia lalu memeluk kedua sahabatnya dengan penuh rasa bahagia.

The Millenial Squad
Teen
09 Dec 2025

The Millenial Squad

Awali pagi dengan senyuman. Barangkali itu bisa membuat harimu menjadi lebih menyenangkan. Meski banyak rintangan kehidupan yang akan kau dapatkan, setidaknya dengan tersenyum bisa membuatmu merasa lebih nyaman.Sama seperti persahabatan Tasya, Kamila, Sari dan Fadhil. Meski persahabatan mereka sudah terjalin selama kurang dari 3 tahun, tapi tak membuat mereka jenuh satu sama lain. Mereka selalu kompak dalam segala hal. Termasuk dalam hal melakukan kebaikan.Karena yang menjadi prinsip mereka adalah sebuah hadist yang berbunyi, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni). Kalimat itulah yang selalu mereka ingat. Ketika salah satu dari mereka melakukan kesalahan, maka yang lain saling memberikan arahan agar sang sahabat tidak terperangkap dalam lubang kehinaan.Pagi ini, Tasya datang ke sekolah lebih awal dari biasanya. Dia harus segera bertemu dengan Fadhil dan membahas tentang storynya yang diposting pagi ini. Dia merasa Fadhil telah mengingkari kesepakatan yang mereka buat seminggu yang lalu. Pasalnya, story yang diposting beberapa menit yang lalu itu sangat bertentangan dengan kesepakatan yang telah mereka buat.Saat tiba di sekolah, ternyata kedua sahabatnya, Kamila dan Sari sudah sampai lebih dulu. Kamila yang memakai kerudung abu-abu dan memakai tas ransel hitam itu tak berhenti memandangi layar handphonenya. Begitu pun dengan Sari. Mereka membaca berulang-ulang story yang terpampang nyata di handphone mereka. Dengan langkah terburu-buru, Tasya menghampiri kedua sahabatnya yang terlihat cemas."Assalamu'alaikum... Kamila, Sari, udah pada liat, kan?" dengan hebohnya Tasya bertanya pada kedua sahabatnya. Keduanya terlihat sedikit kaget. Tapi kemudian meresponnya dengan kehebohan yang sama."Wa'alaikumsalam..." Jawab Kamila dan Sari bersamaan."Udah. Fadhil benar-benar keterlaluan, ya." Kamila terlihat begitu kesal."Benar banget. Dasar laki-laki tidak bisa dipercaya!!!" Sari menimpali."Tapi, tidak kah kita terlalu berlebihan?" tanya Tasya."Maksudmu?" Sari balik bertanya."Yaa aku merasa sedikit berlebihan aja, sih. Apa yang aku lakukan hari ini terlalu lebay nggak, sih? Kalian nggak ngerasa gitu?" Tasya terlihat bingung dengan sikapnya yang tiba-tiba over protektif terhadap sahabatnya."Ya nggak lah. Apa yang kita lakukan tuh demi menyelamatkan Fadhil, agar dia nggak salah arah dalam melangkah. Kita kan udah sepakat untuk saling mengingatkan." Kamila justru lebih santai dibanding Tasya yang bingung sendiri dengan sikapnya.***Di era modern seperti saat ini, sangat mudah bagi kita untuk berinteraksi dengan banyak orang. Kebaikan bisa kita lakukan di mana pun dan kapan pun kita mau melalui media sosial. Setiap hari, media sosial menjadi menu utama bagi penduduk bumi. Bahkan kita bisa mengetahui kejadian apa saja yang terjadi di berbagai belahan bumi.Jam istirahat tiba. Tasya, Kamila, dan Sari terlihat asyik ngobrol di kantin. Mereka ngobrol tentang hal yang lumrah terjadi di kalangan remaja saat ini. Ya,,, tentang pacaran!!! Zaman sekarang, jarang kita menemukan remaja yang tidak pacaran. Hubungan mereka yang pacaran semakin erat dengan adanya media sosial. Mereka setiap hari saling mengabari satu sama lain. Mereka seakan tidak peduli dengan hubungan yang mereka jalani. Dalam islam dijelaskan bahwa "janganlah kamu mendekati zina..." (QS. Al Isra' Ayat:32). Sedangkan pacaran itu jelas termasuk zina, seperti zina mata yaitu memandang lawan jenis yang jelas bukan muhrimnya.Sementara di tempat lain, seorang siswa dengan pakaian yang terlihat rapi, memakai topi dan jam tangan yang melekat di lengan kirinya terlihat keren dan memukau beberapa pasang mata yang mengarah padanya. Ia adalah Fadhil. Siswa yang terkenal dengan kehebatannya dalam bermain basket. Beberapa penghargaan yang pernah Fadhil dkk raih dalam berbagai perlombaan. Salah satunya lomba basket antar sekolah sekabupaten yang diselenggarakan beberapa hari yang lalu. Mereka mendapat juara satu dan membawa pulang piala kejuaraan. Hal itu tak membuat Fadhil mengumbar-umbar kehebatannya (sombong). Justru hal itu membuatnya bertambah semangat dan terus berlatih agar kemampuan yang dimilikinya tetap terjaga."Wan, ke kantin yuk,,," Ajak Fadhil saat berpapasan dengan Ridwan dalam perjalanan ke kantin."Yuk." Jawaban singkat Ridwan tak membuat mereka ngobrol lebih lama.Mereka terus melangkah menyusuri jalan menuju ke kantin yang selalu ramai oleh para siswa dan siswi. Dari kejauhan penglihatan Fadhil langsung tertuju ke arah sahabatnya Tasya, Kamila dan Sari."Assalamu'alaikum... guys." Sapa Fadhil saat sampai di dekat sahabat-sahabatnya itu."Wa'alaikumsalam..." jawab mereka kompak."Kok tadi aku nggak di ajak ke kantin?" tanya Fadhil ke mereka dengan nada yang sedikit kesal."Tadi sih mau ngajak, tapi nggak jadi." Jawab Kamila singkat."Alasannya?""Yaa, nggak jadi aja." Kamila iseng mengulangi kata-katanya."Alasannya nggak jadi itu, kenapa?" Fadhil menjitak pelan kepala Kamila dengan sedikit emosi."aaa,,," Kamila kaget dan sedikit terganggu."Nggak usah emosi juga kali." Sari memakan potongan coklat yang masih tersisa di tangannya."Sya, ada apa sih?" Fadhil beralih ke Tasya yang tampak diam menyaksikan perdebatan mereka."Tadi kamu nggak ada di kelas. Jadi kami duluan ke kantin." Tasya memberi penjelasan."Dhil, aku balik ke kelas duluan, ya." Kata Ridwan setelah membeli air mineral."Ke sini dulu, kita ngobrol bareng." Ajak Fadhil ke Ridwan."Nggak ah, duluan ya." Ridwan melenggang pergi."Guys, perasaan tadi aku di kelas kok. Please!!! Jangan bohong, ada apa sih?" Fadhil tetap ngotot pengen tau kenapa sikap sahabat-sahabatnya jadi kaku begini."Kamu beneran nggak tau?" tanya Sari. Fadhil menggelengkan kepala."Nih,,," Tasya menyodorkan sebuah handphone ke Fadil."Maksud dari postingan kamu itu apa? Kamu pacaran sekarang? Bukannya minggu lalu kamu bilang nggak akan pernah pacaran?" Kamila mengingatkan kalimat yang pernah Fadhil katakan."Aku nggak pacaran, kok. Siapa bilang aku pacaran? Aku hanya iseng aja. Kebetulan kata-kata yang terlintas dalam fikiran aku ya kayak gini." Fadhil menjelaskan maksud dari postingannya."Dinginnya pagi ini, sedingin sikapmu padaku,,, #ea. Apa ini hanya iseng? Setiap postingan tuh punya makna tau." Kata Sari membaca ulang teks yang tertulis dalam postingan tersebut."Dan apa kamu tau makna dari kata-kata itu?" Sambung Tasya. Fadhil hanya menggeleng. Ia merasa sedang di interogasi saat ini."Maksud dari postingan ini tuh, seseorang yang sedang galau dengan sikap pacarnya. Tau nggak sih, kamu?" Kamila menjelaskan."Oke, oke. Kalian sudah selesai ngomong? Kalian kalau mencari makna dari sebuah postingan tuh, dibaca dan dimaknain dari awal kata sampai kata yang terakhir. Jangan memaknainnya hanya setengah-setengah. Faham!?" Kini giliran Fadhil yang mengeluarkan unek-uneknya."Maksud kamu?" Tanya Kamila, Sari dan Tasya kompak."Kalimat terakhir tuh ada #ea. Kalian tau makna dari kata itu? Makna #ea menunjukkan kalau kalimat sebelumnya itu hanya iseng saja." Fadhil menjelaskan makna postingan yang sudah menyebar luas di media sosial.Ketiga sahabatnya tampak diam."Kenapa diam? Kalau kalian merasa risih dengan postingan itu, biar aku hapus saja." Fadhil mengambil handphone dari tangan Tasya."Nggak usah dihapus." Kata Kamila"Lagian sudah menyebar luas, kan?" Sambung Sari.Setahun yang lalu, mereka sepakat untuk membuat satu akun yang dimana mereka semua bisa mengakses dan membuat story di akun tersebut. Mereka berharap postingan mereka bisa bermanfaat bagi banyak orang.Karena waktu istirahat masih ada, mereka memutuskan untuk live."Karena sudah terlanjur menyebar, kita live saja mumpung jam istirahat masih ada. Sekalian kita beri klarifikasi tentang postingan itu, agar tidak ada yang salah faham." Ajak Tasya sambil membuka akun mereka."Oke." Kata Kamila dan Sari. Fadhil hanya mengangguk.Akun mereka memiliki followers yang lumayan banyak. The Millenial Squad adalah nama grup mereka. Mereka bersyukur bisa berbagi ilmu juga motivasi bagi banyak orang. Kebolehan mereka dalam menjawab persoalan hidup, terutama masalah remaja millenial seperti saat ini. Membuat mereka di sukai banyak orang. Tak jarang mereka diajak untuk kolaborasi dengan motivator terkenal untuk menyampaikan kebaikan.

Masa Lalu Membuatku Galau
Teen
09 Dec 2025

Masa Lalu Membuatku Galau

Pagi yang indah bersama mentari yang menghangatkan jiwa. Bahagia! Seperti itulah gambaran yang kami rasakan saat ini. Berbaris rapi di tengah lapangan, menunggu aba-aba dari sang komandan. Aku tidak tahu persis mengapa mereka menyebutku sebagai komandan? Padahal usia kami sama, 15 tahun. Yang membedakan hanyalah statusku sebagai ketua kelas bagi mereka. Mungkin itulah alasan mereka memanggilku komandan. Selama ini aku hanya menganggapnya sebagai gurauan mereka.Seperti biasanya, setiap hari sabtu jadwal mata pelajaran kami adalah olahraga. Banyak siswa yang menggemari pelajaran olahraga, termasuk aku. Bisa dikatakan aku hampir menguasai semua materi tentang olahraga yang sudah pernah guru ajarkan. Termasuk hari ini, materi tentang bela diri adalah materi yang paling aku sukai.Hari ini kami belajar tentang bagaimana cara kita tetap bisa berdiri tegap disaat orang-orang berusaha untuk menjatuhkan kita. Yah! Walaupun kita pernah melakukan kesalahan, setidaknya berusahalah untuk belajar dari kesalahan yang pernah kita perbuat. Percayalah bahwa manusia tidak ada yang sempurna. Semua manusia pasti pernah melakukan kesalahan. Sehebat apapun diri mereka.Sekarang giliranku untuk menunjukkan kebolehanku dalam ilmu seni bela diri. Yang harus aku lakukan adalah fokus dan konsentrasi. Daaan pertarungan dimulai.Hiyaaakk!!Uhh!! Awal yang bagus. Lawanku menggunakan kekuatan lengan untuk menyerangku. Kucoba untuk menangkisnya. Alhasil lawanku kembali ke posisi semula dan tidak berhasil menjatuhkanku.Memasuki tahap kedua, kini giliranku untuk menyerang. Meskipun lawan yang kuhadapi saat ini adalah sahabatku sendiri, tapi di posisi saat ini dia adalah lawanku. Di permainan ini lawan punya tiga pilihan, mengalah, bertahan dan mengalahkan lawan. Strategi yang kugunakan adalah menggunakan kedua lengan dan satu kakiku untuk menyerang. Alhasil, dia tak mampu untuk bertahan. Permainan telah usai. Tapi, Tiba-tiba dia kembali menyerangku dengan meninju bagian wajahku. Aku yang tidak siap dengan serangan itu dengan spontan menutup wajahku menggunakan telapak tangan, lalu pamit ke guru olahraga kami. Mereka semua tidak boleh tahu tentang kelemahanku.Bel istirahat telah berbunyi. Sementara aku masih di ruang ganti. Aku sama sekali tidak berani untuk keluar dari tempat ini. Darah segar masih saja terus mengalir dari kedua lubang hidungku. Yah, inilah kelemahanku, selalu mimisan disaat hidungku dipukul, apalagi saat ditonjok seperti tadi. Uhh! Aku sama sekali tidak tahu harus berbuat apa? Yang tahu dan yang selalu memahamiku di saat situasi seperti ini adalah Kevin. Yah, sahabatku yang tadi menonjokku. Entah mengapa hari ini dia berubah.Sebelum teman-teman datang ke ruangan ini, aku harus keluar ke tempat yang sepi. Di mana lagi kalau bukan di toilet. Sekalian untuk membersihkan darah yang terus mengalir dari kedua lubang hidungku. Di saat aku sedang membersihkan darah di bawah hidung, di saat itu pula aku teringat semua kenangan bersama Kevin. Kevinlah yang selama ini selalu menjadi partnerku dalam hal apapun selama di sekolah.Beberapa menit berselang, aku mendengar suara beberapa orang yang sedang ngobrol. Sepertinya suara itu tidak asing lagi di telingaku. Itu sepertinya suara dari orang yang aku kenal. Ternyata dugaanku benar. Dia adalah Ronald kelas IX A. Ronald terkenal dengan kemampuannya yang jago bela diri. Namun, dipertandingan beladiri antar kelas tahun lalu aku mampu mengalahkannya. Raut kekesalan di wajahnya pun tampak jelas saat aku mengalahkannya di depan banyak orang kala itu. Dan sampai saat ini kekesalan dan dendamlah yang selalu ia tampakkan di kala ia berjumpa denganku.Darah telah berhenti mengalir dari ke dua lubang hidungku dan Alhamdulillah perasaanku sudah agak enakan. Namun, setelah aku keluar dari toilet, Ronald dan kawan-kawan sudah berdiri rapi tepat di hadapanku. Entah mereka sengaja menghampiriku atau cuma kebetulan. Yang jelas akhir-akhir ini mereka selalu menatapku dengan ekspresi penuh dendam.“Hai, Fadhil. How are you?” Sapa Ronald dengan wajah yang agak menakutkan menurutku.“Hai, …” Jawabku sedikit gemetaran. Aku takut mereka akan melampiaskan kekesalan dan dendam yang sudah setahun mereka pendam. Kini tak ada lagi Kevin yang menemaniku.“Hei, come on, jangan gemetar gitu, santai aja.” Katanya lagi sambil merangkul pundakku.“Oh ya, aku dengar –dengar tadi kamu membuat kehebohan di luar sana. Kamu mempermalukan sahabatmu sendiri di hadapan teman-teman kamu? Bahkan di hadapan guru? Ya kan?’’ Tanyanya melotot padaku.Aku harus berusaha pergi sebelum mereka memukuliku.“Ee,,,, tadi itu praktek. Guru memberi nilai. Jadi, aku melakukan apa yang aku bisa." Jawabku.“Ooh,,, jadi karena masalah nilai kamu melakukan semua itu pada sahabatmu sendiri.“ Ungkap teman yang ada di sampingnya."Mm maaf, aku permisi." Kataku lalu beranjak pergi.Tapi sepertinya mereka tidak membiarkanku pergi. Dengan paksa Ronald menarik kerah bajuku lalu memukuliku hingga terjatuh di hadapan mereka."Hey, jangan lari dari masalah, kamu!" Kata Ronald melotot padaku.Aku menutup kedua mataku. Aku tak mampu melihatnya yang terus melotot. Jujur, aku paling tidak suka melihat ada orang yang melotot, apalagi orang itu melihat ke arahku. Hal itu membuatku teringat masa lalu.Aku sebenarnya tidak tega melihat diriku seperti ini. Aku merasa aku kembali ke masa lalu dimana saat aku dibentak oleh papa.Dulu papa sangat tidak manusiawi dalam memperlakukan kami sebagai keluarganya. Kerjaannya main judi dan terus memeras mama. Jika mama tak punya uang, maka papa akan membentak mama bahkan sampai memukulinya. Aku yang menyaksikan mama disakiti, tidak tega rasanya bila hanya tinggal diam. Kala itu aku membela mama yang tidak mampu melakukan apa-apa. Aku mengatakan pada papa bahwa semua ini bukan salah mama. Mama tidak melakukan kesalahan sama sekali. Justru yang salah itu papa, yang terus menerus memeras mama. Tapi papa bukannya menyadari kesalahannya, malah aku yang ikut dibentak dan dipukuli. Akhirnya mama tidak tahan dengan keadaan yang terus membuatnya tersiksa dan minta cerai ke papa. Saat papa mendengar mama minta diceraikan, disitulah papa baru menyadari kesalahannya dan minta maaf pada mama. Tapi, apa boleh buat, mama terlanjur kecewa dan sakit hati karena perlakuan buruk papa. Dan pada akhirnya mereka bercerai.Itulah alasan mengapa aku ingin menguasai ilmu bela diri dan selalu ingin menjadi juara di setiap perlombaan yang aku ikuti. Karena aku ingin melindungi mama di saat papa atau orang lain menyakiti mama. Aku ingin menjadi orang pertama yang melindungi mama. Aku tidak ingin melihat mama menderita lagi seperti dulu."Hey,,, jangan melamun kamu. Ayo lawan kami semua kalau kamu memang jagoan." Kata Ronald membuyarkan lamunanku.Aku berdiri perlahan dan mencoba untuk menahan emosi."Maaf, bukannya tahun lalu aku sudah menunjukkan pada kalian kalau aku juga bisa menang melawan kalian? Maaf lagi nih, ya, bukannya aku sombong, tapi seharusnya kan masalahnya sudah selesai tahun lalu. Kalau memang kalian mau balas semua kekalahan kalian, kenapa harus ditunda sampai tahun ini, sih? Kenapa nggak menunjukkan kehebatan kalian pada perlombaan tahun lalu? Atau meminta perlombaan diulangi jika kalian tidak mau menerima kekalahan?" tanyaku dengan nafas yang terengah-engah.Sinar mentari di luar sana begitu membara. Sama seperti emosi yang terlihat pada diri Ronald. Emosi yang terlihat pada dirinya mengingatkanku pada papa yang emosi ketika mama tak memenuhi keinginannya."Ahh,,, banyak tanya kamu!!! Kamu jangan bawa masa lalu. Tidak ada gunanya!!!" Bentak Ronald dengan wajah yang terlihat semakin emosi."Loh, kenapa? Bukannya rasa dendam yang kamu miliki berawal dari masa lalu?" tanyaku santai meskipun sedikit grogi."Jangan banyak omong kamu!!!" Ronald meluapkan emosinya dengan meninju wajahku. Aku hanya bisa pasrah. Apalagi ditambah teman-temannya yang lain ikut memukuliku. Lengkap sudah penderitaan hidupku.Tak ada seorang pun yang melihatku di sini. Bel berbunyi 5 menit yang lalu, namun tak mampu rasanya aku beranjak dari tempat ini. Air mataku dengan spontan menetes begitu saja. Aku memang lelaki, namun bila menghadapi masalah yang seperti ini, aku terlihat seperti perempuan yang tak mampu untuk mengendalikan perasaan.Aku kembali teringat dengan masa laluku. Ini benar-benar membuatku galau."Fadhil, kok masih di sini? Kenapa tidak masuk belajar?" suara pak satpam mengagetkanku.Aku mengarahkan pandangan ke arahnya."Fadhil, kamu kenapa? Kok bisa berdarah begini? Ini juga, kok bisa lebam?" tanya pak satpam sambil menyentuh pipiku."Aku habis ditojok, pak. Bapak sih, datangnya telat, jadinya begini deh." kataku sambil memegangi pipiku yang terasa perih."Kok malah nyalahin saya, sih?""Heheh, bercanda kok pak.""Di saat kondisi seperti ini kamu masih bisa bercanda?""Maaf, pak""Ya, sudah. Kalau begitu ikut bapak ke UKS." Katanya lagi sambil membantuku berdiri."Terima kasih, pak.""Sama-sama."Setelah beberapa menit berobat di UKS, aku memutuskan untuk tetap mengikuti mata pelajaran yang sedang berlangsung di kelas. Meski aku telat, pak guru tetap mengizinkanku untuk mengikuti pelajaran yang sudah berlangsung 15 menit yang lalu.***Bel pulang telah berbunyi. Suasana di luar ruangan yang tadinya senyap, kini berubah menjadi ramai oleh sorak-sorai para siswa. Meski mereka berusia belasan tahun, namun mereka masih tetap seperti murid SD yang kegirangan saat bel berbunyi.Saat aku beranjak meninggalkan ruang kelas, Kevin datang menghampiriku."Komandan, maafkan aku. Tadi aku dengan spontan memukulmu. Jujur saat emosiku memuncak, pasti ada saja hal spontan yang sulit aku kendalikan. Aku benar-benar minta maaf!" Ucapnya dengan wajah yang terlihat penuh sesal."Hmm, nggak apa-apa kok. Aku juga minta maaf kalau tindakanku tadi membuatmu emosi. Satu lagi nih, lain kali kalau mau menonjokku dengan spontan lagi, jangan terlalu keras, ya. Jangan sampai gigiku copot, heheh,,," Aku berusaha membuat suasana lebih santai."Ah, kamu bisa aja. Semoga saja hal seperti ini tidak terulang lagi. Sekali lagi aku minta maaf." Mukanya terlihat santai kali ini.Aku hanya mengangguk."Ngomong-ngomong, kenapa sih kamu dan teman-teman yang lain selalu memanggilku komandan? Padahal menurutku gelar itu sama sekali tidak cocok untukku.""Yaa, itu karena kamu adalah pemimpin kami. Biasanya yang selalu memimpin kan dipanggil komandan. Dan itu adalah kesepakatan kami semua." Ucapnya.Beberapa saat kemudian aku dipanggil untuk menghadap ke kantor. Saat tiba di sana, aku melihat Ronald dan kawan-kawan yang sedang berhadapan dengan kepala sekolah. Sepertinya pak satpam melaporkan kejadian tadi ke kepala sekolah. Sungguh kejadian yang sangat memalukan.Kepala sekolah meminta kepada Ronald dan kawan-kawan untuk minta maaf kepadaku dan menskorsnya selama 3 hari. Karena telah melakukan perkelahian di wilayah sekolah. Ini sebagai hukuman bagi mereka. Aku mengatakan ke kepala sekolah bahwa mereka tidak perlu diskors. Cukup mereka minta maaf dan menyesali perbuatannya saja. Tapi, kata kepala sekolah ini sudah menjadi peraturan sekolah dan tidak bisa dilanggar.

Best Friend's
Teen
09 Dec 2025

Best Friend's

Mentari pagi mengiringi kami menuju ke sekolah hari ini. Aku Anna, orang yang paling pendiam di antara teman-teman yang lain. Aku bicara saat ditanya saja atau teman yang lain meminta pendapat dariku. Selebihnya aku hanya diam.Aku patut bersyukur, karena mereka tak pernah membiarkanku sendiri. Ke manapun mereka pergi, mereka selalu mengajakku. Meskipun aku hanya diam di saat mereka bercengkerama, namun mereka tetap menghargai keberadaanku."Na, tugas matematika kamu sudah selesai, belum? Semalam aku kesulitan menyelesaikan soal bagian lima. Apa kamu berhasil mendapat jawabannya?" Amel bertanya sambil sesekali menoleh ke arahku yang berada di belakangnya."Sudah. Tapi, aku tidak terlalu yakin dengan jawabannya." Jawabku mengikuti arah laju sepedanya. Aku heran, kenapa Amel bertanya padaku? Padahal kan di sini ada teman yang lain juga. Seharusnya pertanyaan itu ditujukan untuk semuanya."Mel, kenapa kamu tidak tanya ke aku juga, sih? Kan, aku juga butuh perhatian dari kamu." Sari yang mengendarai sepeda warna biru muda dengan mengenakan tas ransel hitamnya merasa dicuekin."Kan, kalau nanyanya ke kamu jawabannya sudah pasti seperti ini nih, -belum, nanti aku liat punya kamu, ya-" Riadi yang berada di tengah mencoba mengikuti gaya bicara Sari. Ia memang terkenal dengan sifat jailnya."Enak aja kamu kalau ngomong!!! Memangnya punya kamu sudah selesai? Pasti belum juga, kan?""Tapi, setidaknya...""Ah,,, sudahlah. Bilang saja kalau tugas kamu juga belum selesai." Sari merasa jengkel dijailin Riadi."Santai aja kali, cuman bercanda kok. Yaa maaf kalau candaanku berlebihan." Riadi merasa bersalah. Ia tidak ingin Sari marah hanya karena candaannya."Makanya, kalau bercanda itu yang lucu. Bukan malah menyinggung perasaan orang." Sari melihat ke arah Riadi."Maaf." Kata Riadi."Kalian bagaimana, sih? Pagi-pagi kok udah bertengkar aja. Bukannya membicarakan hal yang baik-baik." Giliran Maulana yang mengeluarkan suara."Benar banget tuh." Bagas menimpali.Selama tiga puluh menit mengendarai sepeda ke sekolah, akhirnya kami sampai juga. Kami memarkir sepeda di samping sekolah yang berdekatan dengan kantin tempat kami jajan atau sarapan setiap pagi jika tidak sempat sarapan di rumah sebelum berangkat ke sekolah.Kami berjalan beriringan menuju ke kelas. Kali ini tidak ada yang mampir ke kantin. Entah ada apa? Mungkin mereka sudah pada sarapan. Karena biasanya, jika belum sarapan, mereka langsung menuju ke kantin dan saling berebutan tempat duduk meski banyak tempat duduk yang kosong. Mereka terlihat iseng. Aku hanya bisa menyaksikan tingkah mereka.Rasanya aku juga ingin berbaur dengan mereka. Tapi aku merasa minder. Kepercayaan diriku hilang saat bersama mereka. Aku juga tidak berani keluar dari zona nyaman.Kemarin ada siswa kelas sebelah datang ke kelas kami. Lalu dia menggangguku. Dia mengatakan aku cantik lalu menyentuh pipiku dengan tangannya. Aku hanya menunduk dan tidak bisa melakukan apa-apa. Aku sangat takut waktu itu. Baru kali ini ada orang yang menyentuhku selain kedua orang tuaku.Saat itu hanya beberapa siswi yang ada di dalam kelas. Amel dan teman-temanku yang lain berada di luar ruangan. Mereka mengajakku. Tapi, aku merasa tidak ingin kemana-mana saat itu."Hay, aku boleh duduk di sini, nggak?" tanya siswa yang tadi menyentuh pipiku. Rasanya aku ingin memukulinya. Tapi, apa aku bisa melakukan semua itu? Itu konyol. Aku sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa.Aku berusaha untuk beranjak pergi. Namun, saat aku berdiri dari tempat duduk dia langsung menarikku untuk duduk kembali. Seketika tubuhku gemetaran. Untung teman-temanku datang tepat waktu dan langsung menyuruh mereka pergi. Kalau tidak, habislah aku."Na, kamu nggak apa-apa, kan?" Amel berjalan mendekatiku. Ia terlihat begitu mengkhawatirkanku."Iya, aku nggak apa-apa kok. Makasih yah udah nolongin aku.""Sama-sama. Sudah seharusnya kami melakukan ini, bukan? Saling tolong menolong dan memberikan bantuan bagi siapa pun yang membutuhkan. Tugas manusia kan memang seperti itu." Kata Maulana. Ia terlihat bijak.Masih teringat dengan jelas dipikiranku kejadian buruk itu. Bahkan aku sudah berusaha untuk melupakannya, namun susah untuk dilupakan."Na, ada apa? Kok berhenti di depan pintu?" Amel yang sudah duduk di kursi, menatapku heran."Iya, ada apa sih? Dari tadi aku perhatikan kamu melamun terus di sepanjang jalan ke kelas. Apa kamu sakit?" tanya Sari yang duduk di samping Amel."Aku nggak apa-apa kok." Aku melangkah menuju ke tempat duduk."Tenang aja, Na. Nanti kalau mereka datang mengganggumu lagi, kami pasti ada untuk melindungimu. Kami tidak akan membiarkan mereka menyakitimu. Anggap saja kami sebagai sahabat pelindungmu." Lagi-lagi Maulana mengeluarkan kata-kata bijaknya."Kalau mereka datang untuk mengganggumu lagi, kami pasti akan memberikan mereka pelajaran." Riadi tak mau kalah memberikan pendapatnya kali ini."Pelajaran apa, Di? Pelajaran kimia atau matematika?" Kata Sari meledek Riadi. Beberapa teman yang lain langsung tertawa mendengar perkataan Sari."Mmm, pelajaran agar mereka tidak mengganggu siapapun lagi, lah. Lagian kalau mereka diberi pelajaran matematika, mana mungkin aku bisa mengajarinya. Aku saja tidak faham soal pelajaran matematika." Kata Riadi. Teman-teman yang lain hanya bisa geleng-geleng kepala."Ee, Na. Aku boleh lihat jawaban tugas kamu, nggak, yang bagian nomor lima? Soalnya aku benar-benar tidak menemukan jawabannya." Amel terlihat sangat berharap padaku."Boleh. Tapi, jangan salahkan aku kalau jawabannya salah." Aku memberi peringatan."Aku mau liat juga, dong." Sari tidak mau ketinggalan soal menyelesaikan tugas. Begitu juga dengan teman-teman yang lain. Mereka selalu bekerja sama dalam segala hal.Siswa yang baik adalah siswa yang saling menghargai satu sama lain. Sama seperti mereka teman-teman seperjuanganku dalam menuntut ilmu. Mereka adalah teman-teman terbaik yang kumiliki saat ini. Semoga pertemanan ini terus terjaga dan jangan sampai ada kata benci di antara kita.

Lomba Lari
Teen
09 Dec 2025

Lomba Lari

Aku Nana. Seorang siswi yang cukup pendiam jika dibandingkan dengan teman-temanku yang hebohnya minta ampun. Ingin rasanya seperti mereka yang seakan tak ada beban hidup yang terlintas dalam pikirannya. Namun, rasa tidak pd berlebihan yang kumiliki memaksaku hanya terdiam menyaksikan keseruan mereka.Aku terkadang ingin memaksakan diri berbaur bersama mereka, namun ada rasa takut yang aku rasakan. Rasa takut bila nanti mereka mengabaikanku disaat aku berbicara, rasa takut bila mereka tidak nyaman dengan keberadaanku. Selalu itu yang terlintas dalam pikiranku. Hal inilah yang membuatku selalu menyendiri di dalam kelas.Hari ini kami siswa/i kelas VIIIA akan melakukan praktek olahraga lari yang nantinya akan dinilai oleh guru olahraga kami. Aku dan teman-teman berjalan menuju ke lapangan olahraga. Kemudian memulainya dengan pemanasan untuk merenggangkan otot-otot lalu dilanjutkan lari mengelilingi lapangan. Cukup menguras energi memang, namun inilah peraturan yang harus dilakukan sebelum melakukan olahraga inti.Pemanasan pertama dimulai dengan posisi kedua tangan diangkat ke atas dilanjutkan dengan pemanasan berikutnya. Aku mengikuti pemanasan ini dengan sungguh-sungguh. Agar nanti saat praktek dan pengambilan nilai hasilnya bisa maksimal. Pak Ikmal selaku guru olahraga memulai praktek dengan mengabsen satu persatu siswa yang akan mengikuti olahraga lari ini.Praktek kali ini sekaligus merupakan lomba. Pelari tercepat akan mendapatkan nilai tertinggi. Meskipun badanku pendek dan kecil, namun kecepatan lariku lumayanlah, heheh...Kartika, siswi yang berbadan tinggi dan sedikit kurus itu menjadi lawanku. Kalau dilihat dari segi postur sih, memang tidak sebanding. Tapi, aku harus berusaha melakukannya dengan maksimal.Aku dan Kartika berada di tempat yang sejajar dengan posisi jongkok."Bersedia, siap, priiitt!" Aba-aba dan suara pluit pak Ikmal berbunyi bersamaan dengan itu aku dan Kartika berlari sekuat tenaga, sekitar sepuluh meter dari garis star, aku dan Kartika masih berada pada posisi yang sejajar. Namun, setelah itu Kartika tiba-tiba melesat dengan cepat meninggalkanku yang mulai ngos-ngosan. Aku terus berlari, meski dalam hati mulai pasrah.Alhasil, aku harus mengakui keunggulan Kartika yang tampak tersenyum penuh kemenangan. Sementara aku masih berusaha mengatur nafas yang masih ngos-ngosan. Ya sudahlah, mungkin ini bukan keberuntunganku.Tapi, ini bukan hasil akhir, masih ada kesempatan kedua untuk menjadi yang terbaik kedua. Siswa yang menang akan melawan siswa yang menang lainnya untuk memperebutkan posisi pertama. Sementara siswa yang kalah akan memperebutkan posisi pelari tercepat kedua. Kesempatan yang bisa aku raih adalah menjadi pelari tercepat urutan kedua. Semua siswa yang kalah mengambil posisi star secara bersamaan.Saat ini aku berada di posisi kedua dari depan. Yap! Aku harus berusaha melewati Sari yang berada sekitar lima langkah dari hadapanku jika aku ingin menjadi pelari tercepat dengan nilai tertinggi kedua ini terwujud.Garis finis sudah semakin dekat. Sekitar dua langkah lagi aku bisa sejajar dengan Sari."Sari, percepat larimu..." Teriak salah seorang kakak kelas saat menyaksikan kami yang sedang berjuang mencapai garis finis. Kulihat sekilas, ternyata kakak kelas itu adalah tetangga Sari sekaligus teman akrabnya. Tanpa menoleh, Sari langsung mempercepat larinya setelah tahu aku sudah ada di dekatnya.Aku yang tidak pernah menyangka akan ada kejadian yang seperti ini tiba-tiba merasa lemas, semangat juangku hilang seketika. Lenyap sudah kesempatanku meraih posisi pelari tercepat kedua.Sari berhasil sampai ke garis finis dan otomatis meraih posisi kedua pelari tercepat dan mendapat nilai tertinggi kedua. Lalu, bagamana denganku? Entahlah! Aku juga tidak tahu. Yang ada dalam fikiranku saat ini adalah aku sudah gagal dalam perjuangan yang sudah aku lakukan dengan semaksimal mungkin, namun hasilnya yang tidak maksimal.Meski aku kalah, tak apa. Jangan menyerah! Jangan putus asa! Semangat untukku.

Pasrah
Teen
08 Dec 2025

Pasrah

Tamala melangkah menuju ke ruang kelas VlllB dengan senyuman yang merekah. Ia merasa lega karena tugas sekolahnya untuk hari ini sudah ia persiapkan. Tamala merupakan siswi yang disiplin. Termasuk menyelesaikan tugas yang diberikan kepadanya. Selalu memberikan bantuan kepada temannya yang sedang kesusahan, menjadi salah satu alasan mengapa ia disukai banyak orang. Bukan hanya di lingkungan sekolahnya, ia juga dikenal sangat ramah di lingkungan tempat tinggalnya.Bahkan tak jarang ia berbagi rezeki kepada orang yang membutuhkan. Meski hidupnya sederhana, namun berbagi tetaplah menjadi hal yang utama. Tamala selalu mengingat pesan Ibunya, "meski kita hidup sederhana, berbagi harus tetap kita lakukan selagi kita masih punya." Ibunya menyampaikan pesan itu saat dia berusia 6 tahun. Saat itu, ia dan Ibunya beranjak pulang dari pasar. Diperjalanan pulang mereka bertemu dengan anak jalanan yang terlihat kelaparan. Setelah ditanya perihal mengapa mereka kelaparan, jawaban dari kedua kakak beradik itu sungguh menyayat hati. Mereka ternyata belum makan selama dua hari. Dengan penuh iba, Tamala dan Ibu membawa kedua anak itu ke salah satu warung makan yang tak jauh dari pasar. Kedua anak itu tampak begitu lahap menyantap makanan yang telah disajikan oleh pemilik warung. Bahkan salah satu diantara kedua anak itu meneteskan air mata."Adek kenapa? Kok nangis?" Ibu Tamala mengusap rambut gadis kecil itu yang berusia 3 tahun lebih tua dari Tamala. Sedangkan adiknya berusia setahun lebih mudah dari gadis itu."Nggak apa-apa kok, tante. Saya merasa bersyukur aja, saya dan adik bisa makan setelah dua hari menahan lapar, terima kasih banyak ya tante sudah memberi kami makan." Ucap gadis kecil itu bersedu-sedu. Sementara adiknya masih terlihat lahap menyantap makanannya."Sama-sama sayang." Ibu Tamala tersenyum sambil memeluk gadis kecil itu. Sementara Tamala hanya tersenyum menyaksikan momen yang mengharukan itu. Saat itulah ibu Tamala menyampaikan pesan yang selalu Tamala ingat hingga saat ini.***Hari ini kelas VlllB seperti biasa, di jam pertama di hari rabu akan ada mata pelajaran IPS yang selalu on time. Jadi, kalau ada yang mengerjakan PR di sekolah bakal ketahuan. Mereka yang ketahuan mengerjakan PR di sekolah tidak diizinkan untuk mengikuti pelajaran tersebut. Hal ini dilakukan untuk melatih siswa/i agar disiplin dalam mengerjakan tugas yang diembankan oleh bu' Tini selaku guru IPS.Tugas yang diberikan bu' Tini minggu lalu ialah semua siswa/i diwajibkan menfoto-copy buku pelajaran IPS dikarenakan buku IPS di sekolah hanya ada satu saja. Hal itu dilakukan bu' Tini agar bisa mengajar dengan mudah.Berhubung karena hari ini pemeriksaan tugas, jadi bu' Tini menggabungkan antara kelas VlllA dan VlllB, agar ia mudah memeriksa tugas para siswa/i. Bu' Tini melakukan pertukaran jam pelajaran kepada pak Toni selaku guru yang mengajar jam pertama di kelas VlllA.Semua siswa/i kelas VlllB bergabung di ruang kelas VlllA. Bu' Tini sudah bersiap di meja guru sembari menunggu semua siswa berkumpul. Setelah semuanya berkumpul, bu' Tini segera memanggil 1/1 nama siswa, di mulai dari kelas VlllA. Semua siswa tampak tenang selama masa pemeriksaan tugas berlangsung.Kini giliran kelas VlllB. Siswa bergiliran maju ke depan bu' Tini sambil membawa buku foto-copy masing-masing."Tamala,,," Suara bu' Tini terdengar memanggil siswa berikutnya.Tamala segera mengambil buku foto-copy miliknya lalu melangkah menuju ke hadapan bu' Tini. Setelah pemeriksaan buku selesai, Tamala kembali ke tempat duduk. Tamala langsung meletakkan buku foto-copy itu di atas meja. Namun, sesaat setelahnya..."Mala, aku pinjam buku foto-copy kamu, ya. Soalnya aku lupa untuk foto-copy buku IPS." Izza yang terlihat panik sedari tadi, kini merasa sedikit lega setelah memegang buku foto-copy milik Tamala, meski Tamala belum mengatakan apa-apa."Tapi kan, bukunya sudah ditandatangani sama bu' Tini, nanti kalau ketahuan, gimana?" kini giliran Tamala yang terlihat panik."Nggak bakal ketahuan kok,,," Meski Izza mengatakan hal itu, namun ia terlihat sedikit khawatir. Tamala terlihat pasrah.Setelah nama Izza dipanggil, ia melangkah ke depan dengan penuh percaya diri, actingnya benar-benar sempurna. Tapi..."Bu', buku foto-copy itu bukan punya Izza." Ikka yang duduk di belakang Tamala dan Izza tiba-tiba bersuara setelah menyaksikan kejadian tadi."Izza meminjam buku Tamala supaya bisa dapat nilai, bu'." Tanpa berfikir panjang, Ikka membocorkan semuanya."Benar begitu Izza, Tamala?" tanya bu' Tini."Benar, bu'." Jawab Tamala dan Izza hampir bersamaan."Kalian berani bohong sama Ibu?" Tanya bu' Tini."Maaf, bu'." Kata Izza menunduk menyesali perbuatannya."Ya sudah, kalau begitu kamu foto-copy buku itu sekarang, setelah selesai di foto-copy, perlihatkan ke Ibu, setelah itu Ibu akan memberikan nilai." Kata bu' Tini.Izza kembali ke tempat duduk dengan perasaan kecewa."Kamu kenapa sih, kka? Sibuk ngurusin orang lain aja!!!" Izza terlihat sebel sambil menyimpan buku foto-copy itu di depan Tamala."Loh, aku kan cuma berkata jujur, apa salahnya, sih?" Ikka membela diri."Sudah, sudah,,, Setiap perbuatan itu pasti ada konsekuensinya. Jadi, dari pada kalian saling menyalahkan yang nggak ada manfaatnya sama sekali, lebih baik buku ini segera difoto-copy deh, sebelum bu' Tini selesai mengajar." Tamala menyodorkan buku foto-copy miliknya ke Izza."Tapi, temenin ya, La. Please!!!" Izza memohon ke Tamala untuk menemaninya ke tempat foto-copy yang berada tak jauh dari sekolah."Iya,,," Tamala segera menemani Izza setelah sebelumnya meminta izin pada bu' Tini.Tamala menyadari bahwa hari ini ia telah berbuat salah. Di satu sisi, ia ingin membantu temannya yang sedang membutuhkan bantuannya. Namun, di sisi lain ia harus ikut berbohong. Tapi, seperti itulah kehidupan, cepat atau lambat kebenaran pasti akan terungkap.

Tak Seindah Pelangi
Teen
08 Dec 2025

Tak Seindah Pelangi

Semua keperluan sekolahku untuk hari ini sudah siap. Baju dan rok sudah kupakai sedari tadi. Kini tinggal memakai kerudung berwarna putih simpel yang tergantung di samping cermin lemari pakaianku.Meski terlihat simpel, namun kerudung ini telah memenuhi syarat dan ketentuan dalam menutup aurat. Hingga membuat hatiku tenang. Setidaknya bertambah satu kewajiban yang kulaksanakan sebagai umat muslim.Setelah semuanya siap, kulangkahkan kaki menuju ruang tengah. Di sana kulihat papa mondar-mandir, sepertinya dia mencari sesuatu. Aku yang keponya sudah berada di tingkat paling tinggi langsung melempar pertanyaan padanya yang kuanggap sebagai cinta pertama dalam hidupku."Pa,,, lagi nyari apa, sih? Kok mukanya kaya' panik gitu? Ah, Rani tau, Papa pasti nyembunyiin sesuatu dari Mama, ya kan? Makanya muka Papa panik, kaya' orang linglung gitu, heheh,,," Aku tertawa kecil melihat gerak-gerik Papa."Nyembunyiin apaan? Tidak tuh! Papa tidak nyembunyiin apa-apa!!" Jawab Papa tanpa menoleh ke arahku. Dia tetap sibuk mencari sesuatu yang tidak kuketahui itu."Terus, Papa nyari apa?" tanyaku lagi."Ini, Papa lagi nyari kunci mobil. Perasaan tadi Papa simpan di atas sofa. Kok sekarang nggak ada, ya?" kata Papa yang masih terlihat kebingungan dengan kejadian kunci mobil itu yang tiba-tiba hilang."Maaf ya, Pa, Rani nggak bisa bantuin cari. Soalnya Rani sudah mau berangkat ke sekolah sekarang, takut nanti telat. Semoga kuncinya segera ketemu ya, Pa. Semangat Papaa,, Assalamu'alaikum..." Aku benar-benar tidak bisa bantuin Papa mencari kunci mobil itu. Aku hanya bisa mendoakan dan memberikan semangat ke Papa."Wa'alaikumsalam..." jawab Papa.Langit yang terbentang luas terlihat cerah hari ini. Betapa Maha Kuasa-Nya Allah Subhanahuwata'ala dalam menciptakan keindahan-keindahan yang kulihat saat ini. Tak henti kumengagumi kekuasaan-Nya. Yang bahkan tak seorang pun mampu menandingi kekuasaan itu. Ini menandakan, sebagai manusia atau khalifah di muka bumi seharusnya kita bersyukur dan tidak perlu mengaku sok berkuasa. Karena hanya Allah-lah Sang Penguasa Kekuasaan yang sesungguhnya.Setelah beberapa menit melewati perjalanan menuju ke sekolah, akhirnya aku sampai juga. Kulangkahkan kaki melewati gerbang sekolah lalu menuju ke ruang kelas xb. Kelas tempatku menuntut ilmu sejak pertama kali aku masuk ke sekolah ini.Meski baru sekitar setengah tahun belajar di sini, tapi begitu banyak cerita yang telah kami lewati. Termasuk aku. Aku selalu menganggap bahwa kehidupan yang kujalani adalah bagian dari takdir yang telah Allah Subhanahuwata'ala tentukan untukku. Meski terkadang yang terjadi tidak sesuai dengan keinginanku. Namun, hidup akan terus berlanjut. Sekeras apapun aku menentang takdir hidupku, itu tak akan merubah apa pun dari hidup yang kujalani. Sebab, takdir seseorang sudah ditentukan jauh sebelum seseorang itu dilahirkan ke dunia ini.Aku terus melangkah. Dari kejauhan aku melihat Vinda dengan langkah terburu-buru memasuki ruang kelas. Jujur, Vinda adalah teman terbaik yang kumiliki sejak SMP dulu. Dan, sampai sekarang Vinda masih tetap teman yang selalu setia menemaniku.Tapi, ada satu hal yang tidak aku sukai darinya. Vinda pacaran!!! Meski seringkali aku sampaikan padanya bahwa pacaran itu tidak boleh. Namun, kalimat yang kusampaikan seakan tak ada gunanya. Vinda tidak pernah peduli tentang apa yang aku sampaikan padanya.Kuikuti langkah Vinda yang menuju ke kursi di pojokan paling belakang. Kulihat dia menangis. Baru kali ini aku melihatnya sesedih itu."Vin, ada apa? Kamu kenapa nangis?" tanyaku sambil mengusap pundaknya. Kurasakan ada getaran dahsyat yang terjadi pada dirinya. Ia tampak begitu ketakutan. Dan,,, seketika ia berdiri lalu memelukku dengan erat."Aku takut banget!!! Sebelumnya dia nggak pernah bersikap seperti itu." Vinda bersedu-sedu menjawab pertanyaan dariku."Dia siapa? Bersikap seperti apa yang kamu maksud?" tanyaku penasaran. Aku tidak tahu siapa lagi yang sedang ia cintai saat ini. Kulepas dengan pelan pelukannya. Ia terlihat menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya pelan."Pratama. Awalnya kami ngobrol seperti biasa. Tapi, tiba-tiba ia memegang tanganku. Saat itu aku benar-benar gemetar bercampur rasa takut. Aku tidak tahu kenapa ia bersikap seperti itu." Cerita Vinda dengan wajah yang masih terlihat ketakutan."Terus?""Aku melepas tangannya lalu pergi begitu saja.""Reaksinya?""Aku tidak tau. Yang kupikirkan saat itu adalah menjauh darinya.""Vin, itulah alasannya mengapa aku sering menyampaikan padamu untuk tidak pacaran. Sekarang kamu sudah tau kan akibatnya?" Aku lagi-lagi menyampaikan hal yang sama kepadanya."Bahkan bukan hanya ketakutan seperti yang kamu alami. Tapi yang paling buruk adalah dosa yang terus mengalir selama hubungan itu tetap berlanjut!!! Vin, bukannya aku sok suci. Tapi, aku hanya berusaha menyampaikan kebaikan kepadamu. Aku hanya tidak ingin kamu terluka." Lanjutku."Dulu, aku mengira pacaran itu seindah pelangi. Yang mampu memberikan warna-warni yang indah di setiap kehadirannya. Tapi, aku salah. Pacaran itu sama sekali tidak seindah pelangi. Sebaliknya, ia memberikan warna yang begitu kelam. Maaf ya Ran, selama ini aku tidak pernah mendengarkan kata-katamu." Vinda kembali memelukku erat.Aku merasa bersyukur, Vinda mau berubah setelah mendengar kata-kata yang kusampaikan. Vinda bahkan mengatakan pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan pernah kembali ke lubang yang sama seperti yang terjadi pada dirinya selama ini. Dan aku bersyukur karena telah berhasil membuat Vinda berubah ke arah yang lebih baik.

Ramadhan Tanpa Ayah
Teen
05 Dec 2025

Ramadhan Tanpa Ayah

Bulan suci Ramadhan menjadi bulan yang paling dinanti dan dirindukan oleh umat muslim di seluruh dunia. Bulan Ramadhan adalah bulan yang istimewa diantara bulan yang lainnya. Ada banyak keutamaan yang bisa kita raih selama bulan puasa. Salah satunya bulan penuh pengampunan. Dengan berpuasa pada bulan Ramadhan, maka bisa menghapus dosa yang telah kita lakukan. Sesuai dengan hadist Nabi Muhammad Shallallahu'alaihiwasallam yang artinya, "barangsiapa yang berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah Subhanahuwata'ala, maka diampuni dosanya yang telah lalu" (HR. Bukhari dan Muslim)Bulan mulia penuh berkah kali ini merupakan bulan puasa yang ke-7 sejak kepergian Ayah dari gadis sederhana yang berusia 20 tahun itu. Ya, Ayah dari gadis yang memiliki nama lengkap Imna Ramadhani itu telah meninggal sejak 7 tahun yang lalu. Namun ia seakan merasa baru kemarin kejadian naas itu menimpa ia dan keluarganya.Meski sudah beberapa tahun ia menjalani bulan puasa tanpa Ayah tercinta, namun tahun ini gadis itu merasa sangat merindukan sosok Ayah untuk menemaninya melewati hari-hari di bulan mulia penuh berkah ini.Ia tahu keinginannya itu mustahil untuk menjadi kenyataan. Karena ia yakin sang Ayah pasti sudah tenang di alam sana. Keinginan yang menggebu dari dalam hatinya harus ia redam sebelum berlarut dalam kesedihan.Sebelum memasuki bulan Ramadhan, ia kembali teringat kenangan masa lalu saat ia, Ibu dan Ayah sedang mempersiapkan segala sesuatu untuk menyambut bulan suci Ramadhan yang saat itu ternyata menjadi Ramadhan terakhirnya bersama Ayah tercinta.Imna yang saat itu sibuk memilah pakaian yang akan digunakan selama bulan Ramadhan. Mukenah pemberian Ibu tahun lalu sepertinya masih sangat layak pakai. Ia lalu menyatukan mukenah itu dengan beberapa sejadah yang sudah ia siapkan untuk kemudian dicuci lalu diberi wewangian.Sementara Ayah bersiap untuk memotong ayam kampung yang akan dijadikan lauk di hari pertama sahur. Beberapa tahun terakhir memang selalu seperti itu. Selesai penyembelihan, ayam itu berpindah alih ke tangan Ibu yang selanjutnya akan diolah menjadi lauk yang lezat.Selesai shalat magrib, Ibu kembali melanjutkan rutinitas memasaknya yang tadi tertunda. Sementara Ayah sedang menonton siaran langsung berjalannya sidang isbat yang akan menentukan hari pertama puasa. Imna yang ikut membantu Ibu sesekali menoleh ke layar televisi yang tak jauh dari ruang dapur. Namun ia dengan sigap saat ditegur Ibu agar lebih cepat membersihkan segala peralatan dapur yang sudah terpakai. Ibu tidak ingin melihat semuanya masih berantakan sebelum berangkat ke Masjid untuk melaksanakan shalat tarawih berjama'ah."Ibu, Imna, penentuan puasa pertama jatuh pada esok hari. Segera bersiap untuk shalat tarawih berjama'ah di Masjid," dengan suara yang sedikit berteriak Ayah memberitahukan bahwa malam pertama shalat tarawih jatuh pada malam ini.Ibu bergegas mengambil air wudhu setelah mendengar murottal Al-Qur'an yang berasal dari Masjid sudah berbunyi. Imna menyusul kemudian Ayah yang terakhir.Mereka berangkat lebih awal karena perjalanan akan memakan waktu sekitar 15 menit dengan berjalan kaki. Menggunakan senter untuk menerangi perjalanan sudah Ayah persiapkan beberapa hari sebelumnya. Dengan pelan Ibu berjalan, disusul Imna dan Ayah. Mereka melangkah menyusuri jalan menuju Masjid.Di tengah perjalanan, mereka dikagetkan dengan suara anjing yang tiba-tiba menggonggong dari salah satu halaman rumah warga."Astaghfirullahal'adzim..." sontak Imna langsung mengucap istighfar dengan suara yang sedikit keras. "Ih, serem, bikin aku merinding," lanjut Imna."Kata orang kalau ada anjing yang menggonggong itu tandanya anjing itu sedang melihat makhluk ghaib. Bener nggak sih, Yah?" dengan perasaan takut Imna memeluk diri sendiri."Bisa jadi itu benar. Tapi Imna nggak usah takut, kan Imna nggak sendiri. Ada Ayah dan Ibu di sini, nggak ada yang perlu ditakutkan. Ada Allah juga yang selalu menjaga kita." Ayah mencoba menenangkan suasana. Sementara Ibu masih terus berjalan tanpa mengucap sepatah kata pun."Imnaaa..." teriakan Ibu sontak membuat Imna kaget dan membuyarkan ingatan itu yang tampak nyata dalam bayangan fikiran Imna."Iya, bu..." sedikit berteriak Imna menjawab panggilan Ibu."Segera bersiap untuk shalat tarawih berjama'ah di Masjid." Ibu yang sibuk membereskan peralatan dapur kali ini memelankan suaranya ketika melihat Imna mendekat.Hari pertama bulan puasa Ramadhan tahun ini jatuh pada esok hari. Imna yang selesai mengambil air wudhu bergegas menuju ke kamar untuk mempersiapkan diri."Aku rindu Ayah! Aku ingin ada Ayah di sini. Menemani aku dan Ibu seperti dulu. Aku tahu ini mustahil untuk menjadi kenyataan. Tapi rasa rindu ini sangat sulit untuk kupendam. Entah bagaimana caranya agar rasa rindu ini bisa redam dan... menghilang!" Lirih Imna sambil memandangi foto Ayah yang tersenyum merekah. Bersama air mata ia melangkah membawa rindu yang membuncah.

Maafkan Aku
Teen
05 Dec 2025

Maafkan Aku

Aku Lara seorang gadis yang tidak pernah membayangkan akan menjalani hidup serumit ini. Ibuku sudah lama meninggal. Aku tinggal bersama kakak dan Ayahku. Ayah jarang tinggal di rumah. Aku tidak tahu persis mengapa Ayah meninggalkan anak-anaknya.Keluarga kami sederhana, tidak kaya juga tidak miskin. Alhamdulillah, selama aku hidup, aku merasa tidak pernah kekurangan kebutuhan hidup. Seperti gadis remaja lainnya, aku juga menuntut ilmu di salah satu SMAN yang ada di kota ini.“Kak, aku berangkat ke sekolah dulu.” Kataku agak sedikit berteriak.“Oke,, hati-hati di jalan.” Kata kakak yang baru keluar dari kamar dan masih kelihatan mengantuk.Beberapa menit kemudian, akhirnya aku sampai di sekolah. Bel berbunyi saat aku masih di pintu gerbang sekolah. Aku berlari secepat mungkin agar bisa berada di dalam kelas sebelum guru masuk mengajar. Karena satu detik saja siswa terlambat datang saat guru sudah ada di dalam kelas, siswa tidak diperbolehkan mengikuti pelajaran tersebut.Setelah selesai berdoa, kini giliran guru yang berbicara.“Sekarang kumpul tugas kalian.” Kata Ibu guru.'Astagfirullah!! Ternyata ada tugas yang belum aku kerjakan.' Gumamku dalam hati.“Bagi siswa yang tidak mengerjakan tugas, silahkan maju ke depan.” Ucap Ibu guru setelah semua buku terkumpul. Aku segera maju ke depan bersama teman-teman yang lain, tapi mereka semua laki-laki, hanya aku yang perempuan.“Apa alasan kalian tidak mengerjakan PR?” tanya Ibu guru.“Saya lupa Bu’.” Kataku. Dan semua alasan kami sama.“Berarti kalian sekarang ketahuan, tidak pernah belajar di rumah, ya kan?” tanyanya lagi.“Mmm,,, Bisa dikatakan seperti itu Bu’.” Jawab teman yang ada di sampingku.“Ouw,, jadi seperti itu. Kalau begitu kalian lari keliling lapangan sampai jam pelajaran Ibu selesai. Keluar sekarang!!” Katanya agak sedikit membentak. Kami semua segera keluar dan mulai berlari.Sudah hampir satu jam kami berlari, terasa kaki ini mau patah. Namun bel belum juga berbunyi.“Ah,,, ampun deh…” kataku sambil menjatuhkan tubuhku di pinggir lapangan. Teman-teman yang lain masih semangat berlari.“Ra… bangun sebelum ketahuan. Tinggal sebentar lagi bel akan berbunyi.” Kata Imran setelah melihatku duduk di pinggir lapangan.“Iya Ra, jangan menyerah!! jangan putus asa!! Sebentar lagi kita akan segera sampai ke garis finis. Kalau kamu menyerah sekarang, hukumannya akan tambah parah!!” Kata Ifand menyemangatiku. Segera ku bangkit dengan tenaga yang tersisa.Tak lama kemudian bel berbunyi. Kulihat Ifand dan Imran berhenti di depan kelas dan Ibu guru sedang berdiri di depan mereka.“Oke, sekarang tulis surat pernyataan bahwa kalian tidak akan mengulanginya lagi. Kumpul sebelum bel masuk berbunyi.” Kata Ibu guru seakan tidak tahu apa yang sedang kami rasakan. Kami segera menulis surat permintaan maaf itu lalu menyetornya.***Hari-hari kujalani, hingga tak terasa sudah 4 bulan semenjak kejadian itu. Aku mendengar kabar dari kakak bahwa sebentar lagi dia akan segera menikah. Betapa senangnya hatiku. Sebelum hari pernikahan kakakku, Ayah datang ke rumah dan mengatakan bahwa dia menyetujui pernikahan tersebut dan menyerahkan rumah ini kepada kakak. Aku jadi bingung, kenapa Ayah menyerahkan rumah ini pada kakak?Pada hari pernikahan kakakku, perasaanku bercampur baur antara senang, sedih, dan takut. Senang melihat kakak sedang bersanding dengan wanita pujaannya. Sedih melihat keluarga baru Ayah yang terlihat begitu bahagia. Ternyata alasan Ayah memberikan rumah ini untuk kakak karena dia sudah punya tempat lain untuk pulang selain di rumah ini. Entah sejak kapan Ayah menikah lagi. Dia bahkan tidak pernah menceritakan padaku kalau dia sudah punya keluarga baru. Seperti inilah kehidupanku. Sangat jarang berkomunikasi dengan Ayah. Sampai-sampai Ayah sudah menikah lagi pun aku tidak mengetahuinya. Entah mengapa kali ini aku sedih melihat Ayah bahagia. Dan yang membuatku takut adalah ketika nanti aku harus hidup dengan ayah, ibu tiri dan saudara tiri.Aku bingung perasaan yang bagaimana harus aku tampakkan kepada orang lain saat ini. Haruskah aku tersenyum walau hatiku sedih. Aku benar-benar bingung.Beberapa saat kemudian Ayah datang mendekatiku.“Ra, untuk sementara kamu tinggal di sini dulu. Ayah yakin kamu belum siap untuk berpisah dengan kakakmu. Nanti Ayah jemput kalau sudah waktunya.” Kata Ayah."Hanya itu yang ingin Ayah sampaikan?" tanyaku berusaha untuk bersikap biasa-biasa saja."Maksud kamu?" Ayah bertanya balik."Keluarga baru Ayah. Apa Ayah tidak ingin mengenalkanku pada mereka atau menceritakan tentang mereka padaku?" mataku mulai berkaca-kaca sekarang.Ayah terlihat heran."Apa kamu tidak mengetahuinya? Dulu waktu Ayah menikah kakakmu datang dan mengatakan kalau kamu tidak ikut karena sibuk dengan sekolahmu. Ayah pikir kamu sudah mengetahuinya dari kakakmu?" kata Ayah sambil melihat kakakku yang sedang berfoto bersama teman-temannya."Tidak, kakak tidak pernah mengatakan kalau Ayah sudah menikah." kataku dengan air mata yang sudah mengalir di pipi. Ayah memelukku dan mencoba untuk menenangkan aku agar berhenti menangis di tengah keramaian.***Beberapa bulan aku jalani kehidupanku bersama rumah tangga baru kakakku. Semuanya baik-baik saja, sampai suatu waktu kakak keluar kota beberapa hari untuk urusan bisnis. Kini hanya ada aku dan kakak ipar yang tinggal di rumah. Kakak iparku seorang guru dan akhir-akhir ini dia kebanyakan mengalami stress. Dan dia selalu melampiaskan stressnya padaku meskipun aku tidak melakukan kesalahan. Hingga suatu waktu sepulang dari sekolah.“Lara!! Kenapa pulangnya terlambat?” tanyanya marah-marah.“Maaf kak, tadi ada masalah di sekolah dan aku ikut terlibat.” Kataku.“Kalau begitu, cepat bereskan semua ruangan.” Katanya lagi.“Baik kak,” Kataku.Beberapa jam kemudian.“Lara! Sekarang sudah jam setengah enam, kenapa belum selesai juga?” tanyanya masih terus marah.“Tunggu sebentar lagi kak.” Aku masih terus mengepel lantai.“Ingat ya, setelah pekerjaanmu selesai, kamu harus pergi dari rumah ini!! Jangan pernah kembali, Aku bosan melihat mukamu!!” Katanya terus melototiku.“Tapi kak, aku harus ke mana?” tanyaku mulai sedikit takut.“Terserah kamu mau ke mana. Yang jelas, jangan di rumah ini.” Katanya lagi.“Kalau kakak bosan melihat mukaku, aku akan masuk ke dalam kamar. Akan lebih baik seperti itu daripada keluar rumah.” Kataku memohon pada kakak ipar sambil menangis.“Tidak!! Pokoknya kamu tidak boleh tinggal di rumah ini!” sepertinya dia tidak bisa menahan stess dan melampiaskannya padaku.Beberapa menit kemudian, dia menyeretku keluar rumah.“Aku salah apa kak? Maafkan aku kalau aku salah. Kak izinkan aku bermalam di sini untuk malam ini. Aku janji akan pergi dari rumah ini, tapi jangan malam ini kak.” Kataku sambil menangis. Tapi apa boleh buat, dia sudah menutup pintunya bahkan dia mungkin menguncinya. Aku segera bangkit dan meninggalkan rumah.Beberapa menit kemudian, aku berhenti di depan sebuah Masjid dan ikut shalat berjamaah. Setelah selesai shalat, aku duduk di teras Masjid. Aku tidak tahu harus ke mana. Tanpa kusadari air mataku kembali menetes. Tak lama kemudian, ada dua gadis cilik berjilbab merah mendekatiku.“Assalamu’alaikum kak.” Mereka serempak mengucap salam.“Wa’alaikummussalam.” Jawabku.“Kakak kenapa nangis?” tanya salah satu gadis cilik itu.“Mm,, kakak diusir dari rumah dan kakak tidak tau harus ke mana.” Kataku masih terus menangis.“Oo,, gitu. Kak kenalin kami dari panti asuhan An-Nur nama saya Lala dan ini teman saya Rara.” Katanya sambil mengulurkan tangan.“Namaku Lara, dik.” Kataku sambil menyambut uluran tangannya satu per satu.“Tadi kakak bilang tidak punya tempat tujuan, kan?” Tanya Lala. Aku hanya mengangguk.“Kalau begitu kakak ikut dengan kami ke panti, daripada tinggal semalaman di sini, sendiri lagi.” Kata Rara sambil melihat di sekeliling lalu bergidik.Aku sangat senang saat itu, aku fikir inilah malaikat kecil yang dikirim Allah Ta’ala untuk menyelamatkan hidupku. Akhirnya kami berangkat bersama-sama menuju panti.Keesokan harinya Ayah datang untuk menjemputku dan meminta maaf atas kesalahannya karena tidak pernah peduli padaku selama ini. Setelah Ayah berbincang sebentar dan mengucapkan terima kasih kepada Ibu pengurus panti, kami segera pamit meninggalkan panti.Hari-hari kujalani bersama keluarga baru Ayah, namun tidak seperti yang Aku bayangkan dulu. Mereka semua baik padaku. Maafkan Aku yang telah suudzhan kepada kalian semua.

Kasih Sayang Untukmu
Teen
05 Dec 2025

Kasih Sayang Untukmu

Namaku Mutia. Biasa di panggil Tia. Aku adalah seorang gadis yang tinggal di desa. Ayahku bernama Hasan. Dia seorang petani biasa. Dan Ibuku bernama Syarifah. Dia adalah seorang Ibu rumah tangga yang begitu lembut dan penyabar. Mereka hendak menyekolahkanku di kota.Di sebuah sekolah negeri terkenal akan siswanya yang cerdas, di situlah tempatku menuntut ilmu dan melanjutkan pendidikan dari SMPN ke SMAN. Pada hari pertama, suasana masih terlihat sangat asing.Teman-temanku saat SMP tidak ada lagi yang kutemui di sini, kami semua terpisah. Sebagian besar teman-temanku saat SMP melanjutkan sekolahnya di tingkatan kecamatan, sedangkan aku di kota.Sebenarnya sekolah di kota memang keinginanku sejak sekolah di SD dulu. Karena di saat aku SD dulu, aku pernah ikut bersama Ayah dan Ibu ke kota untuk berkunjung ke rumah kakak aku yang sudah menikah. Saat itulah aku sangat suka suasana berada di kota. Tiap hari kita melihat mobil yang lewat di depan rumah, begitu juga pemandangannya yang sangat indah. Di saat itulah aku berfikir bahwa betapa senangnya kita tinggal di kota. Tidak seperti di desa, hanya pepohonan yang rindang yang terlihat. Kebetulan rumah kakakku bertingkat, jadi aku bisa melihat pantai dari kejauhan. Aku bisa menikmati pemandangan di ketinggian yang tidak pernah ku dapatkan di desaku.Setiap hari aku berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki, karena jarak sekolahku dan rumah kakak dekat. Sekolahku yang sekarang sangat jauh berbeda dengan sekolahku di desa, yang bangunannya sangat sederhana dan fasilitasnya pun tidak lengkap. Sementara sekolahku yang sekarang bangunannya begitu megah dan fasilitasnya sangat memadai.Di sekolah inilah aku menemukan yang namanya sahabat. Namanya Dewi, dia adalah satu-satunya sahabatku yang mengerti akan diriku. Setiap hari kami selalu bersama, ngobrol, curhat dan menceritakan pengalaman yang telah kami lalui.Suatu hari, di hari yang cerah. Setelah bel istirahat berbunyi, siswa-siswi dengan girang meninggalkan ruang kelas, ada yang menuju kantin dan ada yang memilih ke perpustakaan. Seperti biasanya, Aku dan Dewi mencari tempat yang sejuk.''Kita ke sana yuk, di bawah pohon, kelihatannya di sana banyak angin.'' Kata Dewi.''Oke, yuk.''Jawabku.Setelah sampai di bawah pohon, seperti biasa, kami mencari tempat duduk yang nyaman.''Tia, menurutku pelajaran tadi sangat menyenangkan, kalau menurut kamu gimana?'' tanya Dewi.''Ya,, kamu benar. Pelajaran tadi memang benar-benar menyenangkan. Pak guru mengajak kita untuk belajar dengan sungguh-sungguh, agar cita-cita kita bisa tercapai.'' Jawabku.''Bukan itu maksudku, maksudku kita diajak untuk bermimpi, walau setinggi langit, dan kita juga harus berusaha untuk meraihnya."''Ooh,, yang itu. Aku setuju dengan omongan pak guru.'' Kataku singkat.''Mmm, kelihatannya kamu sudah mengerti tentang mimpi!''''Ya iyalah,,, Tia gitu loh.'' Kataku dengan penuh semangat.''Kamu serius?'' Tanya-nya lagi."Seriuslah!'' Kataku.Tiba-tiba dia mendekat kepadaku lalu berbisik ,''mimpi kamu apa?''''Mmm, sebelum berangkat ke kota, aku menatap wajah kedua orangtuaku dengan harapan, aku ngga' akan mengecewakan mereka. Sejak saat itulah aku mulai bermimpi, ingin meraih prestasi di sekolah dan membuat orangtuaku bangga dan aku ingin membalas kasih sayang yang mereka berikan untukku selama ini. Bagaimana dengan mimpi kamu?'' tanyaku padanya.''Aku ngga' pernah memikirkan tentang mimpi, apalagi sampai bermimpi.'' Jawabnya.''Wi', ngga' boleh begitu, setidaknya kita bisa membuat orang tua kita bangga, okey,,,'' Kataku.''Tia, aku ngga' lagi sama orangtuaku, mereka sudah bercerai sejak aku SD. Waktu itu, aku tinggal bersama Ayahku. Mungkin karna Ayahku sudah tidak bisa lagi merawatku, akhirnya dia membawaku ke panti asuhan. Aku bingung, bagaimana caranya membuat kedua orangtuaku bangga?'' Katanya dengan air mata yang tidak bisa tertahankan.Aku pun ikut terharu.Sekarang sudah memasuki semester dua. Ada banyak peluang yang bisa membuat aku dan Dewi bisa berprestasi. Akhirnya, tanpa ragu aku dan Dewi mendaftar ikut olimpiade. Aku memilih mata pelajaran Matematika dan Dewi pelajaran IPA.Dua hari sebelum acara dimulai, tanpa memberi tahu Dewi, aku mencari tau tahu tentang keberadaan orangtuanya Dewi. Akhirnya aku menemukan nomor handphone orangtuanya, lalu aku mengirimkan pesan kepada kedua orangtuanya.''Ayah, Ibu, mengapa kalian mengabaikan tanggungjawab kalian sebagai orangtua, aku selalu menanti kehadiran Ayah dan Ibu, aku juga ingin seperti yang lainnya. Jadi, kali ini aku mohon penuhilah keinginanku. Aku ingin Ayah dan Ibu datang ke acara sekolahku besok lusa. Aku mohon sama Ayah dan Ibu!'' Dari Dewi. Aku sengaja menggunakan nama Dewi, karena aku ingin mereka mengingat Dewi.Pada hari pengumuman, kami tidak menduga kalau ternyata kami bisa dapat juara. Aku dapat juara II umum dan Dewi juara III umum.Alhamdulillah.Beberapa saat kemudian, kami dipanggil untuk naik ke panggung untuk menerima piala. Semua orangtua siswa juga dipanggil untuk mendampingi putra-putrinya. Orangtuaku pun dengan perasaan bangga saat menuju ke panggung. Dan Aku terharu saat melihat kedua orangtua Dewi dengan bergandengan tangan menuju ke arah Dewi. Sepertinya mereka sudah rujuk kembali. Melihat ekspresi Dewi, kelihatannya dia tidak begitu yakin dengan kenyataan yang dia hadapi.Aku pun mengatakan kepada orangtuaku, ''Ayah, Ibu, inilah yang bisa aku persembahkan untuk membalas semua kebaikan Ayah dan Ibu.'' Lalu Aku dan Dewi berjabat tangan dan memeluk mereka.

Dia Pasti Setia
Teen
04 Dec 2025

Dia Pasti Setia

Gerimis turun perlahan, disertai angin kencang yang menggoyangkan dedaunan, hingga berguguran satu per satu. Aku dan Ibu berjalan menuju ke sebuah bangunan kumuh untuk berteduh. Meskipun bangunan tersebut terlihat kumuh, namun cukup membuat aku dan Ibu tidak basah akibat air hujan yang sudah mulai deras. Kami buru-buru mendekati bangunan tersebut.Kami benar-benar tidak menyangka kalau hari ini akan turun hujan, pasalnya tadi saat di bus, cuaca terlihat sangat cerah. Bahkan tak segelintir pun awan yang berani mendekati matahari. Ini membuktikan bahwa perubahan dapat terjadi dalam waktu yang sangat singkat sekalipun.Dua langkah aku mendahului ibu menuju ke bangunan tersebut. Habis, ibu jalannya lelet! Selalunya begitu! Aku paling nggak suka jalan sama ibu. Tapi aku harus bagaimana lagi? aku tak sanggup pisah dari ibu."Hujan kok tiba-tiba turun ya? Tanpa permisi! Kalau tau begini, tadi ibu siapkan payung sebelum berangkat!" Ibu mengomel.Aku menoleh kearah Ibu. "Maksud Ibu apa?""Maksud Ibu, tanda-tanda sebelum hujan turun." Jawabnya tanpa menoleh kearahku.Beberapa saat kemudian, tiba-tiba aku mendengar suara dari arah belakang, aku menoleh. Kulihat seorang anak perempuan yang seusia denganku dengan berpakaian lusuh. Ibu pun ikut menoleh, ikut menyaksikan apa yang aku saksikan. Kami ngobrol dengannya. Katanya namanya Nina. Dia selalu datang ke tempat ini bila hujan turun dan bila malam sudah menjelang. Dia tinggal sendiri selama beberapa hari terakhir ini, tanpa perasaan takut sama sekali. Nina lari dari panti, setelah teman-teman di panti sering membully dia. Meskipun dia tidak tahu harus pergi kemana. Ibu tidak tega melihat keadaan Nina yang begitu memprihatinkan. Akhirnya Ibu mengangkatnya sebagai anak angkat.***Sembilan tahun kemudian. Aku dan Nina sekarang duduk di kelas XII. Aku senang punya saudara perempuan, meskipun saudara angkat. Namun, ada satu hal yang aku tidak suka dalam diri Nina. Nina selalu menceramahiku. Katanya suatu hari padaku saat aku sedang main game."Min, aku mau ngomong sesuatu, tapi jangan marah, ya?""Ngomong apaan?""Tapi, janji jangan marah, oke?" tanyanya."Oke". Jawabku singkat."Aku pengen kamu nggak pacaran. Pacaran itu dilarang, dan yang jelas pacaran itu hanya akan menambah pundi-pundi dosa yang akan mengantar ke Neraka." Ujarnya sambil menatapku.Aku terdiam sejenak."Niin, aku terlanjur jatuh cinta. Bagiku melupakan itu susah. Apalagi Ayah dan Ibu jarang di rumah. Jarang memberikan kita kasih sayang yang sebenarnya sangat kita butuhkan. Kamu tahu itu, kan?" tanyaku kepadanya."Ayah dan Ibu jarang di rumah karena mereka kerja. Mereka kerja untuk kita, untuk masa depan kita." Katanya membela Ayah dan Ibu yang menurutku tak pantas untuk dibela. Ayah dan Ibu mengabaikan tanggung jawab dalam keluarga. Mereka lebih mementingkan kerja daripada meluangkan waktu untuk anak-anaknya.***Bel berbunyi tanda istirahat. Siswa dan siswi dengan girang meninggalkan ruang kelas. Ada yang menuju kantin, perpustakaan dan ada pula yang menuju lapangan sepak bola. Meskipun bukan pelajaran olahraga, mereka selalu bermain sepakbola. Aku dan Nina memilih ngobrol di depan kelas."Hay, boleh ikut ngobrol?" tanya Ifand, ketua kelas XII C. Orangnya gagah dan cukup disiplin."Ee, boleh. Silahkan." Kataku mempersilahkan dia duduk di dekat kami.Kami akhirnya ngobrol bareng, berbagi canda tawa. Tiba-tiba Ifand beralih topic."Min, kamu cantik. Aku suka kamu. Dari dulu aku menyimpan perasaan ini, namun baru sekarang aku berani mengungkapkannya. Bagaimana denganmu?" tanya Ifand. Mukanya serius kali ini.Aku dan Nina saling pandang. Nina mengangkat kedua keningnya. Kubalas dengan mengangkat kedua bahuku."Mm,, gimana ya?" tanyaku. Nina mencoba memberikan pendapatnya."Min, jangan mudah percaya dengan kata-katanya kalau kau tidak ingin sakit hati. Sudah berapa kali aku bilang pacaran itu dilarang." Kata Nina berharap aku bisa mendengarnya dan mengikuti arahannya kali ini. Aku hanya diam. Namun, lelaki itu tetap bersikeras mengeluarkan segala rayuan yang dia miliki."Min, aku janji padamu, aku akan selalu setia mencintaimu, kapan pun dan di mana pun itu. Percayalah!" Kata Ifand merayu.Aku mulai sedikit tertarik dengan rayuannya. Namun aku tetap diam."Kalau kamu nggak bisa jawab sekarang, nggak apa-apa. Kamu bisa jawab kapan aja. Aku duluan, ya." Ucap lelaki tersebut lalu pergi."Jangan percaya kata-katanya, Min." Kata Nina sekali lagi, memberikanku solusi. Nina tak ingin aku sakit hati."Tapi, kamu dengar sendiri kan, dia berjanji untuk setia. Aku yakin, dia pasti setia." Ucapku tanpa mempertimbangkan kata-katanya.***Bel tanda pulang telah berdentang. Kami diperingatkan oleh staff untuk langsung pulang ke rumah, kecuali siswa yang mengikuti organisasi. Di perjalanan pulang, aku nggak nyangka kejadian ini akan terjadi. Awalnya aku dan Nina berjalan di belakang mereka. Kami mengikuti jejak langkah mereka. Kami mendengar semua perbincangannya mulai dari awal hingga akhir. Ada yang aneh! Kata-kata yang dikeluarkan lelaki tersebut sama persis dengan kata-kata yang diucapkan Ifand pagi tadi di hadapan kami.Dengan perasaan yang menggebu-gebu, aku melangkah mendahului mereka. Aku pengen memastikan siapakah lelaki itu yang meng-copy-paste dengan sempurna kata-kata yang aku dengar pagi tadi? Aku melihatnya dari arah depan. Daaan......DDOORR!!!Bagai tembakan pistol yang 99,99% hampir mengenai batinku. Seperti itulah perasaanku saat ini."Ifand! Kamukah ini? Kamu yang berjanji untuk setia pada setiap perempuan?" ucapku tanpa mengedipkan mata. Nina hanya berdiri mematung di sampingku. Nina tak tahu harus berbuat apa. Sementara Ifand kaget, melihatku yang tiba-tiba muncul di depannya."Mina, aku hanya...""Hanya apa? Hanya berjanji pada perempuan itu untuk setia padanya, lalu pergi mencari mangsa lain, iya? Tega kamu Fand! Fand, kamu fikir hanya kamu yang punya perasaan, aku juga punya perasaan Fand! Punya perasaan!!" kataku sambil terus menatapnya.Ifand diam kali ini. Tak tahu harus ngomong apa. Beberapa menit hening. Hanya suara kendaraan yang lalu lalang terdengar. Nina tiba-tiba menarik lenganku, mengajak untuk pergi."Mina, mungkin ini adalah teguran yang Allah subhanahuwata'ala berikan padamu. Aku ingin kau menyadarinya! Aku ingin kau berubah! Aku ingin kita sama-sama menjaga agama Allah, bukan malah mengotorinya." Kata Nina mengingatkanku untuk yang kesekian kalinya.Entah apa yang terjadi, tiba-tiba aku tertarik dengan kata-katanya kali ini. Berubah!! Ya, aku ingin berubah, berubah agar tak mudah jatuh cinta.Waktu terus berlalu, tak terasa kami sudah di penghujung kelas menengah atas. Ujian nasional sudah di depan mata. Kali ini aku serius belajar, tak ada lagi kata pacaran dalam hidupku. Tak ada lagi bujuk rayuan yang pernah aku dengar. Sekarang aku benar-benar serius untuk berubah dalam menjalani hidup yang penuh makna.

KLINIK
Teen
03 Dec 2025

KLINIK

"Lo gapapa sendirian?""Gapapa gue bisa sendiri kok, lu balik kekelas sana.""Yaudah deh gws ya sayyy.."***Pagi ini gue kebangun dengan kondisi ga fit meriang-meriang gajelas. Tapi nyokap maksa sekolah dengan alasan kemaren gue udah bolos gegara bantu-bantu dikawinan sodara.Seperti biasa gue nebeng sama sohib gue Carla. Biasanya gue yang bawa motor berhubung gue lagi ga enak badan ya terpaksa dia yang badannya lebih kecil bawa motornya.Sampe disekolah gue cuma tiduran dibangku sampe ketiduran beneran, akhirnya guru yang ngajar pas itu Pak Widya guru sejarah ganteng nyaranin gue buat istirahat di klinik sekolah.Carla sudi nganterin dan disinilah gue sekarang. Terbaring lemas tak berdaya sendirian.Gue berusaha untuk tidur dan mulai memejamkan mata. Beberapa menit kemudian...Kriettttt~Pintu klinik terbuka gue masih nutup mata dan denger suara cowok-cowok entah berapa orang masuk sambil ketawa-ketawa."Eh nyet aus ga? Gue bawa kopi saset nih..""Emang pinter lu sob. Seduh gihh."Sekilas percakapanan mereka.Mampus galon airnya kan disebelah ranjang gue!Gue langsung berakting seakan-akan sedang tertidur pulas.Bener aja ada aura-aura seseorang mendekat dan bunyi air dituang kegelas.Kemudian hening, gue memberanikan diri buat ngintip.Sosok anak laki-laki tinggi membelakangi gue dan tengah asik ngaduk-ngaduk kopi digelas.Punggungnya bidang banget kayak atlet renang, siapa nih? Belum pernah liat anak SMA gue kayak begini bentukannya.Saat ia berbalik gue merem lagi. Obrolan mereka berlanjut hingga jam pergantian pelajaran dan entah gimana ceritanya gue ketiduran.Pas gue bangun mereka udah ga ada. Sekarang gue bisa bernafas lega.Gue beranjak kekamar mandi klinik yang terkenal kebersihannya. Setelah selesai dan hendak keluar gue denger lagi suara cowok yang tadi."Yahhh udah ilang sob.""Yaudah sih gue balik ah gabut dimari.""Lahh jangan dong ni handphone nya aja masih dikasur paling juga tu cewek balik lagi.""Elahh ga peduli gue."Gue masih dikamar mandi nyimak apa yang terjadi dan sepertinya mereka sudah pergi.Pas gue balik ada secarik kertas dikasur tempat gue tidur tadi.Id line gueEldomh_Lain kali jangan ngumpet disana nanti pingsan kehabisan nafas :DSyittttt dia tau gue tadi dikamar mandi. Jangan-jangan dia juga tau tadi gue pura-pura tidur.Carla jenguk gue pas istirahat dan gue cerita panjang lebar sama dia. Carla maksa-maksa gue buat add tu id line. Tapi gimana ya..Ga ada salahnya sih, akhirnya gue add dan langsung di chat.Personal chatEldo : hai kelas mana?Anjuu ngegasssAira : hai juga 3ipa8 lu?Eldo : lah 3ipa? Gue 3ipsYamaklum disekolah gue kayak ada batas antara anak ipa dan ips.Aira : ohh oke salkenEldo : iye salken juga wkwk ga welkam2 juga ni?Aira : paan si dikira grupchatEldo : wkwk lu masih sakit?Aira : hm masih, lu tadi bolos?Eldo : kagak emang lagi ga ada guru aja. Btw gws ya demam lo tinggi banget mending izin pulang dehhLoh kok dia tau gue demam?Aira : tau dari mana?E ldo : abisnya tadi pas gue cek panas lo 39 gue buru-buru cari es kekanti pas balik lu nya ngilang.Yalord tadi gue diapain pas tidur?!Aira : iye gue dikamar mandi. Lu cek panas gue pake thermometer kan?E ldo : gue emang anak ips tapi yang begituan otak gue masih nyampe kaliAira : bukan gituu maksud gue lo cuma cek panas gue aja kan ga ngapa-ngapain?!Eldo : tenang sekali lagi gue emang anak ips tapi tetep sopan. Gue ceknya dijidat doang lu udah 39 apalagi gue cek diketek.Lahhh dia ceknya ditempel dijidat gue semprulllAira : kenapa ga panggil pmr?( * ) pertolongan pertama pada demam memang sudah benar dengan cara di kompres, tapi bukan dengan air dingin atau es ya. Melainkan air hangat, guna untuk membantu menstimulasi agar otak menurun kan suhu tubuh kita. Gitu kurang lebih, kalo salah ya maap. Authornya anak ke-broadcast-an bukan anak ke-dokter-an.E ldo : haha gue panik plus ga kenal anak pmr jugaGue lupa di ips ga ada yang ikut pmr.Aira : yaudah thanks ya udah repot -repot nyari es batu segala. Ni es nya gue pake.Pake minum ahahahahahhahaaaaEldo : anytime . Btw lo kalo tidur cantik.What??????Eldo : gue ada guru nih. Nanti chat lagi ya. Bye Aira cepet sembuhhRead 11.35//blush//*pip pip*//ngambil thermometer diketek//DEMI APA 40 DERAJATT!!!!!"Sayyyyy astaga muke lu kayak yuyu rebus!!" Carla panik banget.Iya gue rasa juga ini pala udah keluar asep.***Keesokan harinya gue bolos karena sakit dan orang rumah ngijinin, karena sikon gue emang sangad memprihatinkan!Baru sehari ditinggal Carla cerita bahwa akan ada pertempuran terbesar dan terbringas abad ini, karena menyangkut seluruh angkatan dari masing-masing kubu ipa dan ips.Masalah awalnya ya gini simak baik-baik yaa....Ada cewek dari angkatan 1bahasa yang digebet sama angkatan 2ipsternyata si cewek itu udah punya pacar anak angkatan 1ipadan si cowok yang mau gebet itu punya abang anak angkatan 3ipsLantas pacar cewek itu punya abang juga anak angkatan 3ipaKalo gue jadi si cewek sih langsung adopsi abang juga, biar komplit mereka buat boyband.Kira-kira empat kali dengerin baru gue paham sama silsilah perkelahian ini.Emang deh ya cewek-cewek bahasa suka jadi perebutan. Apa daya cewek ipa yang kalo lewat suka di ejekin, "suntik dong bu dokter enjus enjus enjus..."Emangnya semua orang yang jurusan ipa mau masuk kedokteran?Enjus-enjus pala lu peang, boneka susan kalik!Ya gue sempet lewat di deretan kelas ips dan berencana mengintip memastikan hari ini si Eldo itu sekolah apa engga.Antara iya dan tidak sih soalnya..Gue harap tidak sehingga dia ga ikut perang.Gue harap iya sehingga gue bisa ketemu dia hari ini.Jawabannya dia tidak ada dikelas yang sedang ada guru nya itu. Apa dia bolos?Entah apa yang menggerakan kaki gue melangkah dengan sendirinya bukan ke kelas yang sudah ada guru sejak 15 menit yang lalu.Kaki gue mengarah ke tongkrongan anak ips bahkan klinik dan dia tetap ga ada. Kayaknya bener-bener ga masuk, well nice lah..Walau sedikit kecewa, gue bersyukur.Besoknya...Besoknya...Besoknya...Dia tak kunjung keliatan batang hidung nya. Apa dia semacam penunggu klinik?Should i text him?

Bang My Head
Teen
03 Dec 2025

Bang My Head

Dia agent yang terluka menyelinap masuk jendela terbuka kamarku. Bercak darahnya tertinggal di horden putih lemasku.Terdengar desahannya saat merapikan lukanya dikamar mandi mungilku.Melakukan semua misinya tanpa kesalahan namun kali ini ia membuat kesalahan yang fatal yaitu tertidur disofa baca ku.Awalnya aku tak tau siapa pria ini, aku hanya memindahkan tubuhnya kekasurku dan menjahit lukanya. Untungnya aku pernah belajar pertolongan pertama diklub mendaki.Keesokan harinya ia terbangun dengan demam yang cukup tinggi, ia segera mengemasi barang-barangnya lalu membuka jendela hendak melarikan diri."Tunggu, demam mu sangat tinggi." Kataku dari balik punggungnya. Ia sangat terkejut dan menodongkan senjata api kearahku. Sontak aku mengangkat kedua tanganku keudara."Kau bisa saja pingsan ditengah jalan." Lanjutku. Ia tetap kekeh, lalu lukannya yang masih basah mengalami pendarahan lagi. Pria itu langsung jatuh berlutut menahan rasa sakit.Aku bergegas mengambil peralatan dan membaringkan tubuhnya dilantai. "Kau tidak boleh banyak bergerak, kau sangat beruntung itu hanya wadcutters. " Ia hanya menatapku dengan terus mengeluarkan keringat."Kau tau macam peluru?" Tanyanya, suaranya sangat berat namun tipis. Seperti rudal yang membisik."Yeah selain tenaga medis diklub mendaki, ayahku penjual senjata berlesensi resmi.""Ouch!" Rintihnya. "Tahan sebentar lagi, aku akan menyelesaikannya dalam 5 detik."Ia menarik tanganku ketika hendak beranjak, "siapa kau?" Tanyanya. "Aku yang seharusnya bertanya siapa kau? Dari sekian banyak rumah, kenapa rumahku?""Karena hanya rumahmu yang jendelanya terbuka." Jawabnya singkat dan melepaskan cengkramannya."Aku sudah selesai, kau boleh pergi sekarang."Ia melangkah kejendelaku dan kemudian berhenti. Tiba-tiba berbalik dan menyudutkanku. Wajahnya begitu dekat, aku bisa melihat bekas-bekas luka serpihan kaca."Why you help me?""Because u cute?" Kataku sambil berdehem, sekedar bercanda.Tangannya yang kuat memelukku, garis dagunya tampak jelas dengan jarak sedekat ini, ia menciumku dibibir dengan sangat lembut."Kau tidak bisa membayar nyawamu dengan ciuman bodoh." Kataku sesaat ia melepas ciumannya."Apa yang kau inginkan?""Sebuah nama.""Scott William Batch, mau menikah denganku?"Sepertinya demamnya sudah tahap halusinasi"Baiklah tuan Batch, mengapa kau tidak minta bantuan pangkalanmu untuk menjemput?""Tidak itu akan membahayakanmu, dia akan tau kau yang menyelamatkanku." Ia membelai pipiku.Siapa yang ia maksud 'dia' ?"Sebuah nama sudah lebih dari sekedar nyawa, pergilah." Aku melepaskan tangannya, membiarkan ia berjalan mendekati jendelaku. Kemudian hilang diantara kilauan cahaya matahari.Dimana ada pertemuan disitu ada perpisahan.Ia yang datang ditengah malam dan ia yang pergi diawal pagi.Menyelinap masuk melalui jendela lalu menyelinap keluar melalui jendela yang sama.Seperti peterpan saja.

Tales of Tales : Creature under the sea
Teen Wattpad
02 Dec 2025

Tales of Tales : Creature under the sea

Saat umurku 8 tahun, sebuah keajaiban terjadi dalam hidupku. Aku bangkit dari kematian.Suatu malam aku hilang dan seluruh desa membantu untuk mencariku, keesokan paginya aku ditemukan terkapar ditepi danau kecil tengah hutan.Tabib desa memeriksaku dan ia menyatakan bahwa aku telah tiada. Namun kemudian terdengar nyanyian nan merdu memikat hati.Seketika aku menyemburkan air yang terperangkap diparu-paruku dan kembali bernafas. Jika tidak dibangunkan dengan nyanyian itu bisa saja aku tidak ada disini.Disini dikota yang berkembang dan padat jalan-jalan kini dipenuhi dengan kereta-kereta yang ditarik dengan kuda. Pakaian orang-orang sudah mulai menunjukan kastanya.Setelah 5 tahun merantau, kini aku siap kembali kekampung halamanku untuk menata desaku sebagai utusan dari pemerintahan kota.Ibu sudah menyambutku diujung desa dengan wajah yang sumbringah tak kuasa menitikkan airmata menyaksikan putra satu-satunya kembali pulang kepangkuannya.Desa sudah banyak berubah kecuali hutan itu, masih sama seperti dulu. Gelap dan berkabut, tak seorangpun berani masuk kecuali keluarga pemburu.Malam itu aku pergi ke bar untuk bertemu dengan sahabat-sahabat kecilku. Evan adalah salah satunya, dan ia keluarga pemburu.Evan menceritakan semua kejadian yang selama ini ia saksikan di hutan tepi desaku."Saat itu aku masih belajar menentukan arah mata angin dengan memperhatikan arah tumbuh lumut. Aku terpisah dengan ayahku dan seperti yang tetua katakan, jika kau mendengar nyanyiannya itu artinya kau tersesat.""Nyanyiannya?" Tanyaku."Nyanyian makhluk penjaga danau kecil ditengah hutan.""Seberapa besar danau itu?""Hey kau merusak ceritanya! Bukan itu bagian serunya, aku akan menceritakan bagaimana aku keluar dari hutan itu bukannya mengukur diameter danau."Kemudian Evan melanjutkan ceritanya namun aku tak terlalu memperhatiakn karena kepalaku dipenuhi dengan pertanyaan apa itu danau yang sama dimana aku ditemukan 15 tahun yang lalu? Dan apa itu nyanyian yang sama yang menyelamatkanku juga Evan?Beberapa minggu telah berlalu, aku mulai menikmati kebiasaan-kebiasaan di desa. Tapi rasa penasaranku semakin menjadi-jadi akhirnya aku mengajak Evan si sulung dari keluarga pemburu untuk mencari danau mistis itu.Awalnya Evan menolak tapi aku tau kelemahannya, pujian."Tanpa keturunan pemburu yang gagah berani dan mempunyai sifat alami, bagaimana aku bisa mencarinya sendiri?" Ujarku memelas.Seketika Evan setuju dan malam itupun kami berangkat. Mengapa malam hari? Karena dipagi hari penjaga makam akan mencegah kami."Kau yakin?" Tanya Evan sesaat sebelum kami masuk. Aku hanya mengangguk dengan tampang serius.Beberapa menit menyusuri hutan yang gelap, hanya dengan pencahayaan lentera seadanya Evan berjalan cukup lincah sedangkan aku masih terbata-bata.Akhirnya ketakutan terbesarku terjadi, aku terpisah darinya.Tuhanku tolong aku!Doaku dalam hati, hawa terasa dingin dan tengkukku mulai merinding. Mulai terdengar sayup-sayup lantunan lagu, lagu yang semakin aku penasaran semakin keras suaranya.Aku mengikuti nyanyian itu, dan sampailah aku di danau yang aku cari-cari.Tidak tampak seperti danau karena sangat kecil diameternya, lebih tampak seperti genangan air.Aku meraih ranting panjang lalu mencelupkannya kedalam danau itu, dasarnya belum sampai tampaknya sangat dalam.Kemudian aku melihat tanah yang kuinjak berkilauan, ternyata banyak sekali mutiara yang bertebaran ditanah dekat danau itu.Tempat apa ini sebenarnya?Aku baru sadar bahwa nyanyian itu sudah hilang, berganti dengan suara jangkrik dan serangga-serangga lain yang bersahutan.Aku harus segera mencari Evan, "kawan!" Seru Evan dari balik kabut, sedikit berlari menghampiriku."Lihat Evan aku menemukannya!""Kita harus segera kembali, penjaga makam menyadari ada yang memasuki hutan."Aku hanya merasa tak rela, setelah menemukan danau dan mendengar kembali nyanyian yang menyelamatkanku. Aku meninggalkannya begitu saja sendirian."Hey tunggu apa lagi, cepatlah kawan!" Evan mendorong tubuhku, dan kami pun menyusuri hutan kembali.Sejak malam itu, setiap malam aku mulai bermimpi tentang danau dan nyanyian itu, juga sosok yang belum pernah aku lihat. Sosok yang meringkuk dalam kegelapan hanya ditemani kabut, ia tampak sangat menderita.Aku menceritakannya ke Evan dan ia mulai membual, "kau terlalu banyak membaca buku, ayo bersenang-senang." Kemudia Evan mengajakku kepesta salah satu temannya didesa sebelah.Jujur dikota aku tak pernah ikut pesta, Evan tampak sangat menikmatinya ia minum banyak sekali arak atau sejenisnya."Hey kau temen Evan?" Tanya seorang wanita disebelahku."Ya." Jawabku singkat."Aku Esstel, kau punya pekerjaan yang besar malam ini yaitu membawa Evan pulang.""Yeah, aku bukan teman yang jahat.""Itu bagus untukmu." Wanita ini sangat agresif, ia meraih bahuku dan menciumiku.Aku melepas cengkramannya dan menghela nafas, "sepertinya aku harus melakukan tugasku sekarang."Menggendong Evan pulang bukan hal yang mudah, aku hanya kelelahan dan menurunkannya sejenak.Padang rumput yang luas dan hijau, tapi tidak terlihat hijau saat malam. Hanya bintang kerlap-kerlip dilangit.Siapa wanita itu?Tiba-tiba wanita dalam mimpiku terlintas dalam pikiran. Malam mulai dingin, angin-angin rasanya bisa menusuk menembus bajuku. Aku kembali mengangkat Evan ke desa.Malam hari berikutnyaApa yang aku lakukan disini?Bertanya-tanya pada diri sendiri, ketika mendapati aku sudah berdiri ditepi danau dalam hutan.Tanpa alas kaki aku bisa merasakan bulir-bulir mutiara berserakan dikakiku. Dinginnya malam memeluk dan kabut yang membutakanku. Aku kembali mendengar nyanyian itu, dan terlihat sosok samar-samar dihadapanku terduduk meringkuk sendirian ditepi danau."Siapa kau?!" Seruku.Ia hanya diam dan meneruskan nyanyiannya yang sekarang berubah menjadi isakan. Ajaibnya aku melihat air matanya jatuh ketanah dengan jelas lalu bersinar sejenak.Aku berjalan mendekatinya dan kini wajahnya terlihat, seperti wajah perempuan biasa hanya saja begitu sembap dan pucat."Apa yang kau lakukan disini?" Tanyaku.Ia hanya menatapku dan seakan katanya mengisyaratkan, ia dalam kesusahan dan amat menderita."Aku akan membantumu." Ujarku.Ia tersenyum dalam kesedihannya dan berusaha meraih tanganku, aku menjulurkan tanganku.Tiba-tiba ia menarikku kedalam air, aku panik dan meronta-ronta dalam air. Namun kemudian ia menciumku lalu aku mulai tenang.Kembali kesadaranku, aku bisa bernafas dalam air. Aku menatapnya dengan mata yang hampir melompat keluar, perempuan ini tidak punya kaki melainkan ekor. Ekor yang indah dibawah cahaya rembulan."Sekarang aku bisa bicara." Katanya, suaranya sangat merdu seperti nyanyiannya."Kau ini sebenarnya apa?" Tanyaku, kami hanya berenang memutar-mutar agar tak tenggelam."Aku bangsa duyung, penghuni laut lepas yang paling dalam. Kau anak Adam, balaslah budimu."Budi apa?"Apa kau yang menyelamatkanku 15 tahun yang lalu?" Tanyaku."Sama seperti 15 tahun yang lalu, kau berjalan sendiri dialam bawah sadarmu menghampiri jiwa-jiwa yang butuh pertolongan."Apa yang dibicarakan duyung ini? Apa sekarang aku sedang bermimpi??"Kau punya roh yang tulus, itu merupakan anugrah dari leluhurmu. Didaratan aku hanya bisa bernyanyi, aku menarik perhatian orang-orang sepertimu untuk datang dan menolongku. Namun dia tak menyukainya!" Lanjutnya.Dia?"Jadi aku bisa bantu apa?" Tanyaku."Bantu aku kembali kelautan." Permintaan itu sangat mudah namun dengan ukuran duyung itu akan sangat sulit.Aku berjanji padanya akan memikirkan caranya dan sesegera mungkin mengabarinya.Ibu terkejut karena aku mengetuk pintu depan yang terkunci dan kembali dengan baju yang basah kuyup. Ia sangat cemas dan aku hanya menjawab dengan alasan selogis mungkin, "aku tidur berjalan lagi."Mungkin hanya Evan, teman yang dapat ku percayai didunia ini.Aku menceritakan semua padanya, awalnya ia hanya tertawa karena mengangap itu sebuah lelucon tapi dengan bukti air mata duyung ia kemudian percaya.Air mata duyung akan berubah menjadi mutiara dengan kualitas yang sangat luar biasa, mengalahkan tiram diseluruh dunia.Aku mendapat ide untuk membuat wadah membawa duyung itu kembali kelautan. Yaitu sebuah peti yang biasanya keluarga pemburu bawa, peti besar untuk membawa hasil buruan yang banyak.Didalam peti itu ada peti lagi yang didalamnya berisi air untuk temoat duyung itu. Peti yang berisi duyung akan ditutupi dengan hasil buruan Evan nanti.Hari eksekusi"Kau sudah hafal dialog mu, kawan?" Tanya Evan padaku. Aku mengangguk yakin dan kami mendorong peti itu keluar hutan dengan duyung didalamnya.Seperti biasa penjaga makam akan menyapa kami dan aku harus terlihat semeyakinkan mungkin.Namu hari itu ia tak seperti biasanya, penjaga makam menghampiri kami dan berkata, "apa yang dilakukan keluarga terpelajar disini?"Sesuai rencana ia akan menanyakan itu. "Ah aku hanya membantu keluarga pemburu, karena saudara-saudara Evan sakit." Jawabku tenang.Evan sudah panik saat penjaga makam menyuruhnya membuka peti itu. Penjaga makam kemudian percaya saat melihat beberapa rusa dan kelinci juga hewan-hewan kecil lainnya didalam.Kami melanjutkan perjalanan yang kira-kira memakan waktu 2 hari 1 malam.Sebelumnya kami mampir kerumah Evan untuk menganti isi peti dengan tumbuh-tumbuhan dan akar-akar herbal.Malam hariKami beristirahat dibawah pohon besar dan aku membuka peti duyung itu, ia bangun dan menguap lebar.Ia menarik kerahku lalu menciumku, aku sadar ia melakukannya karena ingin bicara padaku dalam air."Apa kau mengantuk?" Tanyaku."Tidak aku baru saja bangun, aku tak pernah sejauh ini berjalan sebelumnya.""Bagaimana caramu bisa masuk kedalam danau dihutan?""Sebenarnya dibawah hutan itu ada gua yang menghubungkannya kelaut. Aku bermain dengan teman-temanku dekat sana dan terbawa arus. Lalu aku tak ingat lagi, aku sudah terperangakap disana untuk waktu yang cukup lama. Jalan keluarnya sudah tertutup dengan batu besar, dan aku ditemukan oleh dia. Dia si penjaga makam saat ia masih muda, ia berjanji menolongku. Setiap hari ia membawakan makanan ringan dan mainan air agar aku tidak bosan. Aku sangat senang ia selalu datang, namun kemudian aku sadar. Bahwa yang ia lakukan adalah menahanku lebih lama disini dan tak akan pernah menolongku."Penjaga makam itu sudah menyembunyikan duyung ini dari penduduk desa, sampai sekarang? Astaga. Kakek tua itu!Penjelasan itu sudah lebih dari cukup untukku yang harus kulakukan sektang hanya membawa duyung ini pulang kerumahnya.Dibibir pantaiAku dan Evan mengangkat duyung itu dan ia mulai berenang dipantai yang dalamnya sepinggangku."Apa ia tidak akan mengucapkan selamat tinggal?" Tanya Evan. Aku hanya tersenyum menatap duyung itu yang berenang semakin jauh."Ayo kita pulang." Aku berbalik dan menepuk pundak Evan.Kemudian aku mendengar nyanyian itu lagi, nyanyian yang sama hanya saja dengan rasa yang berbeda.Ini bukan nyanyian kesepian yang ku dengar dihutan, nyanyian ini nyanyian lebih dari satu duyung yang bernyanyi dengan bahagianya.Aku berlari keujung karang besar dan mendongak kebawah, muncuk kepala duyung itu lalu tersenyum. Ia berusaha meraih tanganku dan aku menjulurkannya lagi.Ia menarikku seperti dihutan dulu, terdengar suara Evan berteriak namun tak kuhiraukan.Duyung itu kembali menciumku agar aku bisa bernafas didalam air dan bicara padaku."Aku sangat berterimakasih padamu, anak Adam." Aku bisa melihat dengan jelas raut wajah bahagianya begitu indah terlukis.Ia memberikanku sesuatu, itu sisik. Ia memberikanku sisiknya sebagai kenang-kenangan.Aku memeluknya sebagai ucapan perpisahan, "suatu saat nanti kita pasti akan bertemu lagi." Kata duyung itu.Kemuadian ia berenang menjauh bersama kawanannya, aku hanya melambaikan tangan dan berenang kepermukaan."Hey kawan!! Kau membuatku jantungan, cepat kembali! Aku kira kau sudah dimakan duyung itu tadi!!" Evan tampak sangat marah. Aku hanya tersenyum bahagian melambaikan tangan kearahnya.Aku tidak akan pernah melupakan pengalaman hidup ini.End

Suicide Love
Teen Wattpad
02 Dec 2025

Suicide Love

Aku tak pernah memperhatikannya sampai ia membuat kegaduhan di rumahku. Rumah kecil berlantai 3 yang ku huni bersama ibuku saja, lantai 1 untuk cafe, lantai 2 adalah rumah kami dan lantai 3 adalah atap terbuka dengan taman kecil.Siang itu, siang yang sangat panas. Membuatku hanya ingin minum segelas lemon dibawah pohon.Seorang pria memesan expresso dan beberapa cemilan. Dari penampilannya ia hanya pria biasa namun anehnya semenjak saat itu ia tak pernah absen untuk datang ke cafe.Bahkan mendaftar menjadi anggota member yang notabene didominasi perempuan.Ibu sangat akrab dengannya, namun aku tak pernah ingin menyinggung apapun tentang pria itu.Keakraban mereka semakin parah dan kali ini aku sangat jengkel, karena ibu mengajaknya kelantai 2. Apa mungkin? Ah.. Tidak mungkin. Aku tidak mungkin punya ayah baru yang seumuran.Beberapa saat mereka berdua naik bersama, hanya ibu yang kembali turun. Dimana pria itu? Aku penasaran dan memutuskan untuk memeriksa.Dilantai dua tidak ada tanda-tanda dari pria itu, kamar mandi, ruang tamu, kamarku, kamar ibu, dimana pun.Sinar matahari yang menyilaukan menyapa mataku, sehingga aku harus sedikit menyipit dan menghalangi sinarnya dengan tanganku.Pria itu berdiri sendirian diujung atap dengan tangan terbuka seperti mencicipi kenikmatan mentari.Apa yang ia lakukan disini sendirian? Perlahan ia melangkah kedepan dan semakin kepinggir saja. Apa ia akan bunuh diri?Tidak ini tidak bisa terjadi! Tidak di rumahku dan cafe ku!"Hey stop!!!" Terlambat, seruanku keluar besamaan dengan tubuhnya yang jatuh dengan lembut dan mendarat dengan kasar dibelakang cafe.Seakan tak percaya aku terkejap beberapa detik memandangi tubuh pria itu tergeletak jauh ditanah.Aku segera turun dan melihat ibuku sedang dikasir untuk menghitung uang. Melihat ekspresiku, ia menyadari sesuatu sedang terjadi dan mengikutiku berlari kebelakang cafe.Ibu terkejut dan terduduk ditanah sedangkan aku langsung memeluk tubuh lemas pria itu untuk merasakan detaknya, aku sangat panik sampai detak jantungku lebih keras. Aku masih bisa merasakan denyut nadi di lehernya."Ibu cepat telfon ambulance!" Kataku dan ibu segera menekan dengan panik handphone nya.Aku tak memindahkannya karena takut bisa saja ada tulang yang retak. Sesaat kemudian ambulance datang dengan cepat. Aku menutup cafe dan mengambil syal juga beberapa jumlah uang.Ibu terus saja menegangi tangan pria itu, sebenarnya ada hubungan apa diantara mereka?Aneh ia tak membawa dompet atau identitas apapun saat tenaga medis memeriksanya. Tapi ibu dengan lancar menulis administrasinya."Rossie, ibu harus menelfon seseorang. Kau tunggu dokter untuk memberitahu keadaannya ya." Kata ibu aku hanya mengangguk dan ia pergi.Ibu pergi lama sekali sampai dokter selesai mengoperasi pria itu dan memindahkannya ke ICU.Aku mengirimi ibu pesan dimana pria itu dipindahkan, sepertinya ibu tidak membacanya. Aku hanya duduk dan bersandar ditemani suara alat-alat yang terus saja berdebip juga suara pompa.Aku sangat penasaran dengan pria ini, sungguh rasanya ingin mengguncang tubuhnya dan meminta penjelasan. Tapi sekarang ia masih tak sadarkan diri dengan perban yang membalut dadanya.Bahunya terlihat tangguh dari jauh, aku mendekatinya mataku tak bisa berhenti memperhatikan bulu matanya yang terpapar uap pelembab ruangan.Dari dekat pria ini terlihat sangat polos, tanganku menyentuh rambut depannya yang sedikit berantakan dan merapikannya. Dari balik alat pernapasan itu aku bisa melihat luka ditepi bibirnya, sepertinya ia suka berkelahi.Ia mengerutkan dahi dan berusaha membuka mata, jari-jari tangannya terus bergerak. Segera aku memanggil perawat dan dokter juga ikut berlari.Bersamaan ibu dengan seorang bibi yang tampak sedih mendekatiku, "bagaimana keadaannya?" Tanya bibi itu. Aku hanya menjawab seadanya, dan ia memeluku lalu berkata, "syukurlah aku sangat berterimakasih pada tuhan dan kau Rossie."Bibi ini tau namaku, dan ia juga tampak dekat dengan ibuku. Sebenarnya siapa orang-orang ini?Perjalanan pulang kami naik taxi, dalam taxi kami tak banyak bicara. Karena sampai rumah aku akan langsung bertanya pada ibu tentang apa yang sebenarnya terjadi."Ibu bisa kau jelaskan semuanya? Pria itu? Bibi itu? Hubungan kalian, semuanya!" Kataku sedikit membentak."Kau sudah besar saatnya mencari calon suami untukmu." Jawab ibu. Jangan bilang ia mencoba menjodohkanku dengan pria itu."Dan meninggalkan ibu sendirian?" Kataku melemah. Aku belum berencana menikah karena tak akan bisa melihat ibu sendirian setelah ditinggal ayah. Aku ingin ibu bersama seseorang terlebih dahulu."Jangan pikirkan aku, hiduplah seperti wanita pada umumnya.""Ibu aku tidak akan bisa hidup jika melihat ibu sendirian.""Aku tidak akan menikah lagi! Kau yang harusnya menikah!" Ibu menutup pintu kamarnya dengan keras.Malam itu kepalaku hanya dipenuhi dengan pria itu. Selama ini aku tak pernah memperhatikannya, apa ia selalu memperhatikanku?Keesokan harinya ibu belum juga keluar kamar, ia membuatku cemas saja. Membuka pintunya perlahan dan melihatnya masih terbaring ditempat tidur. Tubuhnya hangat, sepertinya ia demam musim panas atau terlalu banyak berpikir.Aku lupa ia sudah mulai renta, ini semua salahku membuatnya mengkawatirkan masa depanku.2 hari cafe ku tutup karena fokus merawat ibu. Sejenak aku melupakan pria itu, diam-diam setiap pagi selama dua hari ini aku mengintip dari atap untuk memeriksa apa pria itu datang. Nyatanya ia tak pernah datang.Apa perjodohan ini dibatalkan? Aku sangat lega sekaligus merasa sedikit kecewa juga.Malam itu aku hanya duduk didean komputerku untuk mencari informasi universitas. Lalu teringat pria itu dan mencari data membernya.Namanya Alex dan pesanan terbanyaknya expresso. Beberapa info yang tak penting juga terdata. Aku belum pernah melihat senyumnya, ini pertama kalinya aku melihat senyumnya dalam foto member.*ting*Ada email masuk, dari alex_brooks》hey:)《 hi》Rossie?《 ya.》cafe tutup selama 2 hari, ada apa?《 ibu sakit, kau datang?》ya setiap hariAneh sekali aku tak pernah melihatnya. Sepertinya ia sudah baik-baik saja. Apa ia tak ingat apa-apa?Dari caranya membalas percakapan kami yang mulai memanjang, ia benar-benar tak ingat.》sampaikan salam ku padanya dan semoga ibu mu cepat sembuh.《 baiklah terimakasih.》goodnight:)《 night:)Sepertinya perjodohan itu benar-benar dibatalkan.Yang benar saja Alex benar-benar dataang dengan stelan jas kantor, menyodorkan kartu membernya. Aku langsung menyerukan "Expresso In!" Ibu segera menyiapkannya. Ini kedua kalinya melihat Alex tersenyum, ia duduk ditempatnya seperti biasa. Membaca koran, majalah, atau hanya iseng memainkan handphone nya. Tepat pukul 08.00 ia akan meninggalkan cafe dan berangkat kerja.Tapi kali ini tak seperti biasanya, pukul 18.00 ia datang memasuki cafe dengan terburu-buru. Lalu menghampiriku yang sedang membersihkan meja."Rossie aku ingin bicara.""Baiklah katakan saja.""Ini sedikit personal."Sepertinya ia ingin membicarakan perjodohan yang dibatalkan. Aku menyuruhnya mengikutiku kelantai dua. Karena lantai tiga pasti akan terasa dingin.Aku duduk dikasur hangatku sedangkan ia duduk dikursi komputerku yang sedikit reot."Aku langsung saja.." katanya sesaat setelah duduk."Maukah kau menikah denganku?" Lanjutnya. Perkiraanku salah. Benar-benar salah semuanya.Aku mengira ia akan membicarakan pembatalan perjodohan, dan ia bunuh diri karena perjodohan ini.Nyatanya ia ingin menikahiku dan percobaan bunuh dirinya karena tidak ada restu ibunya."Alex u such a mess!" Ia mencoba bunuh diri karena itu, bagaimana jika nantinya ada masalah yang lebih besar. Apa ia akan bunuh diri lagi?"Maafkan aku, aku begitu kekanak-kanakan. Aku berjanji pada tuhan padamu akan menjadi manusia yang lebih baik manusia yang menghargai sebuah kehidupan.""Aku bahkan tak mengenalmu."Alex berdiri dan berjalan ke rak-rak buku ku lalu menarik sebuah album foto tebal."Kau ingat anak ini?" Ia membuka dan menunjuk satu foto dimana aku mencium anak laki-laki yang tampak bahagia saat umur kami 5 tahun."Mika? Ia teman masa kecilku saat di Florida.""Ya Mika, Mikaela pindah kekota ini saat umur 15 tahun karena kedua orangtuanya meninggal dalam sebuah kecelakaan. Diadopsi oleh keluarga Brooks yang kaya tanpa pewaris.""Tidak mungkin. Kau sahabatku yang hilang?!""Ini lah aku sekarang dengan nama baru Alexander Mikaela Brooks."Sontak aku langsung memeluknya dan menangis tersedu-sedu. Ia sahabat ku dan saudaraku yang hilang selama ini. Tanpanya aku merasa kehidupan ini sangat semu. Bahkan menunda kuliah ku karena ingin mencari tau dimana Mika.. maksudku Alex kuliah. Namun usaha itu sia-sia karena ia tak terdaftar dimana pun."Merindukanku?" Alex melepas pelukanku dan membelai rambutku. Aku hanya tersenyum dan betapa bahagianya aku.Aku mencium pipi Alex dengan bahagianya sama seperti saat kami kecil dulu. Alex tersenyum malu kenudian mendekatkan wajahnya. Seperti aku tau apa yang akan datang, aku menutup mataku dan menerima semua kasih sayangnya.Malam itu hanya ada kami berdua dengan sejuta cerita yang belum terucap. Kisah remaja saat kami terpisah.Keesokan harinya aku menemaninya bertemu ibu angkatnya yang pernah kutemui dirumah sakit."Kalian sudah datang." Berbeda dengan cerita Alex, ibu angkatnya tanpak sangat jauh lebih bahagia sekarang.Kami berbincang banyak dan ibu angkat Alex setuju dengan pernikahan kami, ia sekarang sadar apa yang Alex perlukan dalam hidupnya.Kami mulai merencanakan pernikahan bersama, hanya satu yang masih tertambat dalam hati, ibu.Alex sangat pengertian dan memutuskan setelah menikah akan tinggal dirumahku. Aku sangat menyayanginya!Andai saat hari pertama kamu datang padaku, aku sudah tau itu kamu. Kamu yang dulu salalu bersamaku. Kamu yang selalu mengerti aku. Kamu yang mengisi kekosongan hatiku. Kamu yang mewarnai kisahku. Kamu yang aku sayangi dan kasihi. Kamu sahabatku dan kini kamu belahan jiwaku.Yang telah hilang kini datang kembali.TAMAT

Terima Kasih Telah Mencintaiku
Teen Wattpad
01 Dec 2025

Terima Kasih Telah Mencintaiku

Bekali-kali kulihat layar ponsel dan layar itu tak menunjukkan tanda-tanda akan berbunyi. Sudah kurang lebih satu bulan dia tak menghubungiku. Dia yang selalu mengejar cintaku, dia yang selalu mengirimkan kata-kata indah, dan dia yang rela tak berstatus demi mendapatkanku. Sekarang aku adalah gadis 17 tahun dan dia menyukaiku sejak kami masih berseragam putih biru. Ya, sekolah menengah pertama.Aku tak tahu kapan persisnya yang jelas kala itu aku tak pernah menanggapi responnya. Malah aku selalu meledeknya dengan salah seorang sahabatku yang menyukainya. Yang membuatku heran adalah dia tak pernah marah ataupun membalasku, hanya tersenyum memandangku sebentar kemudian pergi. Memang dia tak pernah mengungkapkan kalau dia mencintaiku tapi aku tahu dari caranya yang tak biasa menatapku.Kelulusan yang kami tunggu-tunggu akhirnya tiba dan ini saatnya aku dan dia harus berpisah, aku mendapatkan sekolah terbaik di kotaku sedangkan dia hanya bersekolah di sekolah yang baru saja selesai dibangun. Prinsipku adalah lebih baik menjadi orang bodoh di kalangan orang pintar daripada harus menjadi orang pintar di antara orang biasa-biasa saja. Dan benar saja, karena SMP kami adalah SMP terpandang jadilah dia ikut dalam segala keorganisasian di sekolahnya. Sedang aku just ordinary girl yang yaaa mungkin bisa dibilang pelengkap penderitaan.Perlahan tapi pasti, pupuk-pupuk itu menumbuhkan tanaman yang bernama cinta tanpa aku sadari. Hubungan kami tak pernah putus karena dia selalu mengirim pesan-pesan singkat. Saat itu kami berumur 15 tahun. Dan semenjak kelulusan itu untuk pertama kalinya kami bertemu. Awalnya agak kagok juga tapi lama kelamaan pembicaraan mengalir begitu saja.“Kapan aku bisa jadi pacarmu? Aku capek gini terus, aku nggak bisa nolak cewek-cewek yang suka sama aku tanpa alasan yang jelas.”“Terima aja, gampang kan,” jawabku pendek.Kulihat dia menghembuskan napas panjang, menata hati kemudian berbicara lagi, “Aku memang gak pernah bisa ngerti kamu. Hatimu tak pernah bisa kutebak. Mengertilah aku sedikit.”“Ribet banget sih, yang penting kita udah saling tahu kalau kita cinta satu sama lain,” kaliku nadaku agak meninggi. Terus terang aku gak suka komitmen, aku gak suka status. “Aku pengen langsung nikah, aku pengen nikah muda, lulus kuliah langsung nikah,” lanjutku.“Tapi kita kan masih SMA, kuliah masih lama. Dan aku gak mau buru-buru nikah, terlalu muda, Din.”“Kalo kamu gak mau juga gak apa, aku mau cari laki-laki matang yang berpikiran dewasa yang bisa ngemong aku.”Dan itu menjadi sebuah awal yang buruk dari hubungan kami. Meski dia masih terus menghubungiku. Hipokrit sebenarnya bila aku menolaknya, karena aku pun mulai mencintainya. Mencintai cara dia mencintaiku.“Apa? Jadi dari lahir lo belum pernah pacaran? Gilee, tahan banget. Adek gue aja ni yang masih SD udah pacaran tiga kali,” gelak tawa Lita.Aku agak tersinggung. Masa aku disamain sama adeknya yang masih SD? Aku udah SMA. Kata mamaku juga aku gak jelek-jelek amat. Mungkin nasib belum berpihak. Atau mungkin aku terlalu baik sampai hanya punya teman-teman kucel yang kerjanya belajar dan belajar. Dia, dia pasti mau jadi pacarku.Daripada diledek Lita terus, mending aku segera berubah status. Tapi gak mungkin, aku udah bertekad gak mau berkomitmen sama dia.Doni—nama yang tak pernah kusebut pada Lita—sudah sebulan lebih tak ada kabar. Aku malu untuk memulai menghubunginya duluan. Aku sadar aku perempuan.Akhirnya, dengan menyimpan malu, aku mencoba mengirim pesan padanya: “Heii, apa kabar? Sibuk ya? :D”“Baik. Iya ni sibuk sekarang,” balasnya singkat. Tuhan, aku malu sekali. Seharusnya aku tak mengirim pesan itu. Mulai saat itu aku berjanji tak menghubunginya lagi. Dia harus memulai. Dia lelaki.Aku rasa dia masih mencintaiku, karena saat umurku genap 17 tahun dia mengirimku kata-kata indah. Yang aku sesalkan adalah kata-kata terakhir—dia menuliskan namanya di akhir kalimat. Ganjil. Tanpa itu pun aku tahu itu darinya.Sejak itu aku selalu berasumsi buruk. Bahwa dia mulai bosan padaku. Bahwa dia butuh cinta yang selalu ada di dekatnya. Bahwa dia sibuk dengan hal-hal membosankannya. Bahwa dia sudah punya pacar.Asumsi-asumsi itu membuatku setengah gila. Hidupku pincang. Semua terasa hambar.Ketika aku mulai menyukai caranya merayuku… dia hilang. Ketika aku mulai nyaman… dia pergi. Sekadar membalas pesanku saja menjadi hal berat baginya.Padahal aku berjanji tak memulai, tapi hatikulah yang menghianatiku. Aku hanya ingin mengirim pesan say hello.Benar kata Sheila On 7: "Kau takkan pernah tahu apa yang kau miliki hingga nanti kau kehilangan." Dan kini aku benar-benar kehilangan.Untuk pertama kali, aku merasa menjadi pecundang.Aku menatap kosong keluar jendela. Hujan menyisakan pelangi sebagai penghias langit. Ah, indah. Tapi tak seindah hatiku kini.Aku masih berjuang menghapus sisa kenangan. Membuang jauh-jauh perasaan ini. Mungkin lebih baik sendiri. Karena yang selalu kutakutkan adalah—ditinggalkan.Dia kini lelaki hebat. Ketua OSIS. Aku tak pantas untuknya.Rindu itu tetap ada, bahkan setelah tahu dia sudah menjalin hubungan dengan rekan organisasinya.Biarlah aku yang merasa sakit sendiri. Biarlah aku yang menangis sendiri. Sampai saat ini tak ada yang bisa menggantikannya.Bahagia pernah menjadi sepotong cerita masa laluku. Meski aku menyesal mencintainya.Beberapa bulan lagi kami akan berpisah. Kota impian kami berbeda. Misi hidup kami berbeda. Dia sudah menjadi milik orang lain.Aku ingin kuliah di kotaku, Depok. Dulu saat kami masih dekat, dia ingin ke Jogja menjadi wartawan.Beberapa bulan ke depan mungkin menjadi saat terberat untukku. Tapi aku tak mau kalah. Aku tak mau sakit lagi. Aku tak mau menangis lagi.Beberapa bulan ini akan membuatku lebih kuat untuk melangkah sebagai remaja yang siap meraih semua impiannya.Semoga.TAMAT

Kau Rumah ku
Teen Wattpad
01 Dec 2025

Kau Rumah ku

" bunda. " rengek Bima, Anak sulung ku seraya berjalan cepat ke arah ku yang tengah duduk bersantai di gazebo yang berada di dekat kolam renang di belakang rumah kami. Dirinya pun memeluk tubuh ku cepat bahkan sebelum aku bertanya ada apa dengannya." Ada apa abang? Kok lari – lari? " Tanya ku sembari mengusap puncak kepala Bima." Ayah nyebelin. " adu nya dan membuat ku terkekeh." ayah kenapa memang? Kok nyebelin? " Tanya ku lembut.Derap langkah yang begitu ku kenal mulai mendekati aku juga Bima. Dan tak lama sosok yang bicarakan Bima pun muncul dengan memakai baju berwarna gelap dan berkacamata. Sepertinya dirinya sedang ada yang di kerjakan sebelum ke belakang menyusul aku dan Bima. Sembari menggendong putra bungsu kami dan menuntun putri kecil kami." ayah kenapa? Sampe anaknya mau nangis gini. " Tanya ku pada suami ku yang kini semakin mendekati ku dan membuat putri kami langsung berlari ke arah ku dan Bima." ayah jahat sama abang. " adu putri kami yang bernama Kaira sembari memeluk ku dari samping. Yang memang berusia dua tahun lebih muda di bandingkan Bima yang kini berusia delapan tahun." Ayah? " panggil ku meminta penjelasan sembari memandang dirinya yang bingung harus menjelaskan apa.Dan sebelum suami ku ini buka suara, dirinya sudah terlebih dulu mengecup puncak kepala ku dengan lembut dan duduk di gazebo bersama ku, Bima dan Kiara sembari dirinya menggendong Tara, putra bungsu kami yang baru berusia dua tahun." ayah gak ngapa – ngapain bun. " Beritahu suami ku dan membuat Bima juga Kiara menggeleng kuat." enggak. "" ayah bohong. "" terus? Ini kenapa Bima sampe ngerengek gini? Sampe Kiara juga nyalahin ayah. " Tanya ku. Dan belum sempat suami ku membalas ucapan ku dan menceritakan semuanya. Bima langsung menyambar ucapan ku." ayah bohong. Ayah ingkar janji. " ucap nya." ingkar janji? " tanya ku memastikan sekali lagi. Karena aku masih belum paham konteks kemarahan anak sulung ku ini pada mas Arjuna, suami ku." ayah kemarin janji mau ngajak abang berenang. Tapi sampai sore begini ayah masih sibuk sendiri. Ayah bahkan masih bisa becanda sama Tara. Ayah gak sayang lagi sama abang. " ujar Bima mulai menangis terisak sembari memeluk ku erat. Membuat ku balas memeluk tubuh mungil nya yang kini duduk di pangkuan ku. Mengertilah aku apa yang menjadi pokok masalah antara dua pria ini*****" abang. Boleh bunda beritahu abang? " tanya ku pelan sembari mengajak Bima untuk bicara dan mencoba untuk meredakan isakannya ini. Aku mencoba mengajak nya bicara setelah ku biarkan dirinya menangis cukup lama.Bima pun mengangguk pelan dan mencoba sekuat tenaga untuk menghentikan tangis nya. Tapi tetap dengan dirinya yang memeluk ku." maaf ya kalau ayah terkesan gak nepatin janji ayah untuk ngajak abang berenang hari ini. Abang tahu gak, kalau hari ini, bunda baru dapet tamu bulanan? " tanya ku pada dirinya dan membuat Bima menghela pelukan kami berdua." bunda lagi datang bulan? " tanya Bima sembari menyeka matanya dengan cepan seraya memandang ku lekat dan membuat ku menganggukkan kepala." iya. Baru tadi subuh bunda dapet tamu. " jawab ku mengangguk. Mengiyakan pertanyaan Bima ini." maka dari itu, Hari ini ayah mengambil alih beberapa kerjaan rumah yang biasa bunda kerjain. Termasuk jagain Tara. Abang tahu kan kalau Tara sekarang lagi aktif - aktifnya. Suka lari ke sana ke mari? " tanya ku tersenyum sembari mengusap puncak kepala Bima.Pertanyaan ku ini berhasil membuat Bima menganggukkan kepala. Tak hanya Bima, Kiara pun juga ikut mengiyakan ucapan ku ini. Dan ucapan ku ini juga berhasil membuat mas Arjuna tersenyum tipis.Dirinya tahu benar bagaimana cara ku memberi ilmu dan nasehat kepada ketiga anak kami. Dan jujur saja, dirinya menyukai bagaimana cara yang aku untuk menasehati mereka bertiga." hari ini, ayah berniat bantu bunda buat jaga Tara. Karena abang dan kakak lebih besar dari Tara, bunda sama ayah bisa ngelepas abang sama kakak main berdua tanpa was - was. Tapi, ternyata gara - gara bunda minta tolong sama ayah, ayah jadi nya ingkar janji ya sama abang? Maaf ya abang? " ucap ku pelan dan langsung membuat Bima menggeleng." enggak bunda. Enggak gitu. " ucap Bima kembali memeluk ku erat. Bersama dengan Kiara yang juga memeluk ku dari samping.Mereka berdua merasa bersalah karena sudah marah dan menyalahkan ayahnya. Menyebut ayahnya ingkar janji. Padahal tanpa mereka ketahui, justru sang ayah tengah mencoba untuk membantu ku karena aku sedang tak enak badan. Terlebih Bima yang sudah mengatakan yang tidak - tidak mengenai pria kebanggaannya ini." maafin Bima, bunda. "" maafin Kiara juga bunda. "Bergantian mereka berdua meminta maaf pada ku dan merasa bersalah karena sudah marah pada ayah mereka. Bahkan sampai sekesal ini pada ayah mereka sendiri." kok minta maaf nya sama bunda? Kan bukan bunda. Kalau abang sama kakak mau minta maaf, sama ayah ya? Kan ayah yang abang sama kakak tegur tadi. " Ujar ku mengelus puncak kepala ke dua anak tertua ku ini.Perkataan ku ini membuat Bima juga Kiara melepas pelukan mereka berdua pada ku. Dan mereka berdua langsung memeluk mas Arjuna yang tengah duduk di samping ku sembari memangku Tara yang diam saja semenjak tadi.Kini bisa ku lihat suami yang sudah ku nikahi selama sepuluh tahun ini mulai kesusahan karena di kerubungi oleh ketiga anak kami. Membuat ku terkekeh pelan sebelum aku berinisiatif mengambil Tara dari pangkuan Mas Arjuna. Agar dirinya bisa lebih leluasa memeluk Kiara dan Bima.*****" maafin Bima, ayah. "" maafin Kiara juga ayah. "Ujar kedua anak ku sambil memeluk mas Arjuna dari samping kiri dan samping kanan. Membuat mas Arjuna mengelus masing - masing kepala mereka berdua." kenapa minta maaf sama ayah kids? Hm? " tanya mas Arjuna.Aku dan mas Arjuna memang mencoba untuk membiasakan anak - anak kami agar mengetahui apa kesalahan mereka agar mereka tahu di mana letak kesalahan mereka itu. Tapi jika mereka tidak tahu pun, aku dan mas Arjuna akan mencoba untuk menjelaskan di mana bagian yang kurang tepat yang di lakukan mereka." abang udah jahat sama ayah. Udah menuduh ayah jahat dan gak sayang sama abang. Abang juga udah bilang ayah ingkar janji sama abang. Abang iri sama Tara. Padahal Tara adik abang sendiri. Sampai abang gangguin istirahat bunda sambil nangis - nangis. " beritahu Bima. Mencoba untuk menggali apa kesalahan nya kali ini." kakak juga minta maaf ayah. Kakak udah ikut marah sama ayah. Padahal ayah lagi bantuin bunda. Maaf ayah. " ujar Kiara menambahkan ucapan dari abang nya ini. Dan ucapan mereka berdua ini jujur saja membuat aku dan mas Arjuna saling berpandangan dan tersenyum simpul.*****" gak papa nak. Ayah yang salah sama abang. Kan ayah udah janji ya kemarin ya? Ngajak abang berenang. Ayah bener - bener lupa sayang. Tadi pagi, setelah ayah tahu bunda lagi datang bulan, ayah langsung nyuruh bunda untuk istirahat dan gak ngerjain apa - apa. Karena apa? Karena ayah tahu, bunda perutnya lagi gak enak. Makanya ayah berinisiatif untuk jagain Tara. Tapi ternyata ayah tanpa sengaja bikin abang iri ya sama adek? Maaf ya abang ya? " tanya mas Arjuna pada Bima sembari mengusap puncak kepala Bima dengan perasaan sayang." buat Kiara, ayah berterima kasih sama kakak karena udah seperhatian itu sama abang. Tapi, kakak harus tahu dulu permasalahannya ya? Jangan langsung ikut marah juga. Boleh kakak? " tanya Suami ku ini pada Kiara dan langsung membuat Kiara mengangguk cepat." maafin Bima ya ayah. "" maafin Kiara juga ayah. "" stt... Gak papa. Udah ya gak usah di fikirin lagi. Ayah gak papa kok nak. " ucap suami ku mencoba untuk menenangkan ke dua anak kami ini." ya udah, sekarang ayah mending temenin Bima berenang sama Kiara. Gih siap - siap. " ujar ku dan membuat mereka bertiga menoleh pada ku." tapi bunda. "" tapi adek? "" Tara siapa yang jaga sayang? "" udah, Tara biar sama bunda. Tara juga baru selesai makan kan. Udah tidur juga tadi. Jadi gak bakal rewel. Bunda bisa kok. " jawab ku mencoba meyakinkan mereka semua." tapi kamu kecapean nanti. " sergah mas Arjuna. Dan membuat ku mengelus pipi kenyal milik suami ku." gak akan ayah. Ayah yang kecapean kan. Seharian ini ngurusin segala macem. Jadi abis ini ayah istirahat. Berenang sambil main sama anak - anak. Gih. Mumpung masih sore ini. Matahari nya gak terlalu terik. " ucap ku sekali lagi meyakinkan semua.Dan mau tak mau akhirnya membuat mas Arjuna, Bima dan Kiara mengangguk. Mereka pun beranjak menuju ke kamar untuk berganti pakaian. Sedangkan aku masih duduk bersantai bersama dengan Tara yang cukup tenang kali ini.*****" kak? Ayo turun. Katanya mau berenang sama ayah sama abang? " tanya mas Arjuna yang menggunakan kaos putih dan celana hitam pendek pada Kiara yang masih berdiri diam di di pinggir kolam renang.Sedangkan Bima sudah terlebih dahulu bercebur bersama suami ku. Dan kini dirinya tengah belajar berenang dari ujung dinding yang satu ke dinding di seberangnya." Kiara takut yah. " jawab Kiara sesekali memandang ke arah mas Arjuna dan sesekali ke arah ku." kalau kakak takut, jangan di paksa kak. Pelan - pelan aja. " ujar ku mencoba menenangkan Kiara." iya. Pelan - pelan aja kak. Ayah ada di sini kok. " tambah mas Arjuna mencoba meyakinkan Kiara." ayah tangkap Kiara ya? Ayah jangan lepasin Kiara nanti di kolam. " pinta putri kecil ku ini yang terlihat menggemaskan di mata ku. Dan rupanya mas Arjuna pun sepaham dengan ku. Karena dirinya juga tertawa melihat tingkah Kiara sebelum akhirnya dirinya mengiyakan permintaan Kiara ini." iya. Ayah tangkap. Pelan - pelan sini sama ayah. " ujar mas Arjuna.Dengan perlahan dirinya pun membantu dan mengarahkan Kiara untuk masuk ke dalam kolam renang menyusul dirinya dan Bima yang memang sudah terlebih dulu masuk ke dalam kolam renang.*****" kenapa yah? Kok ngeliatin bunda begitu? " tanya ku karena semenjak tadi mas Arjuna memandang ku dengan tatapan nya yang dalam dan intens dalam diam. Dengan ke dua tangannya yang sibuk mengajari Kiara menyelam." bunda duduk di pinggir kolam deh. Ajak Tara sekalian ke sini. " pinta mas Arjuna dan membuat ku geleng - geleng kepala dengan permintaannya ini." ngapain yah? " tanya ku aneh." udah bun. Sini deh. Duduk di sini. " ujar mas Arjuna setengah memaksa.Sembari dirinya menepuk - nepuk lantai marmer yang berada di pinggir kolam yang memang kering sehingga bisa aku duduki dengan sebelah tangannya setelah dirinya memberikan Kiara pelampung.Aku pun akhirnya mengiyakan keinginan mas Arjuna yang aneh ini sembari berjalan dan menggendong Tara yang berteriak kesenangan karena mendekati kolam renang." kenapa yah? Ini anaknya berontak mau nyebur lho gara - gara makin dekat sama kolam. " ujar ku setelah duduk di pinggir kolam renang dan memasukkan ke dua kaki ku ke dalam kolam. Dengan Tara yang mulai berontak di dalam gendongan ku." pantas celana pendek ayah habis bun. Bunda pakai terus. " ujar mas Arjuna memperhatikan celana yang ku pakai adalah miliknya." jadi gak boleh nih bunda pakai celana ayah? " tanya ku menggodanya dan membuat dirinya terkekeh sembari mengelengkan kepalanya." gak papa bun. Jangan ambekan bunda. " ujarnya dan membuat kami tertawa bersama.*****" adek mau berenang ya? " tanya Bima mendekat ke arah ku yang menggendong Tara yang masih begitu antusias melihat air di dalam kolam." bunda gak boleh berenang ya? " tanya Bima sekali lagi begitu dirinya sampai di depan ku dan membuat ku mengangguk." iya. Bunda lagi gak boleh berenang. Jadi abang sama kakak berenangnya sama ayah aja dulu ya. " ujar ku." adek juga ikut berenang ya bunda. " pinta Bima sembari mengajak bercanda Tara dan membuat Tara berteriak kegirangan." enggak dulu ya abang. Ayah nanti malah gak fokus jagain abang sama kakak berenang kalau adek ikut berenang. " ujar ku seraya sesekali melihat ke arah mas Arjuna yang tengah sibuk mengajari Kiara tak jauh dari kami bertiga." gak papa bunda. Abang nanti bantu ayah jagain adek. Ya? Boleh ya? " tanya Bima setengah memelas mencoba untuk merayu ku dan membuat Mas Arjuna yang mendengar rayuan Bima pada ku ini pun mendekat ke arah kami bersama dengan Kiara." ada apa bun? Abang? " tanya Mas Arjuna." abang mau ngajak adek berenang. " ucap Bima dan membuat mas Arjuna mengecup pipi gembul Tara dan membuat dirinya berteriak kegirangan." ya udah sini. Adek sama ayah. " ujar mas Arjuna." ayah bisa memang jagain adek juga? " tanya ku sanksi." aman bun. Lagian abang sama kakak udah cukup lancar kok berenangnya. " ujar Mas Arjuna menenangkan.Dan membuat ku akhirnya menganggukkan kepala ku. Membiarkan suami ku ini mengambil alih Tara dan mengajak putra bungsu kami itu mulai masuk ke dalam kolam renang. Ulah suami ku ini yang membawa Tara ke dalam kolam renang membuat Bima juga Kiara ikut bermain dengan mas Arjuna dan Tara.Aku yang hanya bisa menyeburkan ke dua kaki ku ke dalam kolam pun hanya melihat kelakuan mereka berempat dengan senyum dan sesekali tertawa karena melihat ulah mereka.*****" mas. " ujar ku memanggil dirinya saat masuk ke dalam kamar.Aku justru menemukan dirinya sudah terlelap tidur menghadap ke arah pintu kamar yang baru ku buka. Sepertinya dirinya terlalu lelah bermain bersama ketiga anak kami hingga tertidur secepat ini.Padahal aku baru saja menidurkan ketiga anak ku di kamar mereka masing - masing. Dan langsung masuk ke dalam kamar ku dan mas Juna. Ternyata dirinya sudah lebih dahulu terlelap. Aku pun dengan perlahan mulai mendekat ke arahnya dan berbaring di sampingnya sembari memandang wajahnya dengan lekat." capek banget ya mas? " tanya ku mengusap pipinya perlahan tak ingin menganggu tidurnya." mmh, Bun. " ucap mas Arjuna serak sembari membuka matanya dengan perlahan. Sepertinya dirinya terganggu dengan kedatangan ku." bunda ganggu tidur ayah ya? " tanya ku lembut dan membuat dirinya menggeleng pelan sembari mengusap wajahnya dengan sebelah tangan." bunda dari mana? Anak - anak mana? " tanya mas Arjuna seraya mencoba mengumpulkan sisa - sisa nyawanya." anak - anak udah tidur. Tadi waktu bunda buka pintu ayah udah tidur. Eh malah bunda jadinya bangunin ayah. Maaf ya yah. " ujar ku semakin mendekat ke arahnya dan menyandarkan tubuh ku pada tubuhnya.Dan ulah ku ini membuat Mas Arjuna memeluk ku. Sesekali dirinya mengelus punggung ku dengan perlahan dan membuat ku semakin nyaman di dalam pelukannya ini." gak papa. Tadi ayah nunggu bunda. Ternyata malah ayah yang ketiduran. " jawab Mas Arjuna." tidur lagi ayah. Besok kerja kan. " ujar ku mengubur wajah ku di dadanya dan menghirup aroma tubuhnya yang selama sepuluh tahun ini menjadi aroma favorit ku dan selalu berhasil menenangkan ku." iya. Bunda tidur juga. Perutnya masih gak enak kan. Istirahat ya bunda. " ucap Mas Arjuna yang sesekali memijat lembut pinggul ku dan membuat ku semakin nyaman.Dan tak perlu waktu lama aku langsung tertidur di dalam pelukan mas Arjuna dengan tangannya yang tak lepas dari kegiatan memijat pinggul juga pinggang ku dengan perlahan." mimpi indah, bunda. Ayah sayang sama bunda sama anak - anak. Tetap jadi rumah ayah ya. Tempat ayah dan anak - anak pulang. Tempat ayah dan anak - anak beristirahat. " ujar Mas Arjuna berbisik sembari menyamankan posisi ku di dalam pelukannya. Cukup lama sampai akhirnya dirinya ikut ke alam mimpi bersama ku dengan tetap memeluk tubuh ku erat.

Menampilkan 24 dari 228 cerita Halaman 7 dari 10
Menampilkan 24 cerita