Gambar dalam Cerita
Luka. Seberapa sering kamu terluka? Seberapa dalam luka yang pernah kamu terima? Seberapa sering kamu melukai orang lain? Seberapa sering kamu melukai orang yang bahkan kamu cintai dan sayangi?
Dulu sepertinya duniaku hanya ada warna putih. Aku tidak pernah mengkhawatirkan apapun kecuali nilai akademik di sekolah, karena ketika nilaiku tidak bagus, Bapak akan marah, dan aku seperti di sidang seharian.
Dulu kalaupun aku butuh sesuatu, atau kalau aku butuh temen untuk sekedar jalan-jalan, Bapak selalu menjadi orang yang pertama ada. Kasih sayang yang dia berikan sangat cukup. Aku suka mempunyai banyak teman. Aku tidak pilih-pilih teman. Perempuan, laki-laki, kaya, miskin, dan sebagainya bisa menjadi temanku, dan Bapak tidak masalah dengan itu.
Pacar? Jelas punya. Dulu kalaupun aku punya pacar, Bapak tahu. Karena tiap di antar pulang aku selalu minta sampai depan rumah, dan ku persilahkan masuk untuk menghadapi Bapakku. Bapakku menilai sendiri. Dulu aku menganggap apa yang dikatakan Bapak tentang mereka, baik dan buruk hanya berdasarkan suka atau ketidaksukaan Bapak saja, ternyata karena Bapak lebih dulu ada dan lebih dulu mengenal karakter banyak orang.
Aku merasa tidak kekurangan. Aku punya keluarga utuh, aku peringkat pertama di kelas, temanku banyak, dan yang suka padaku banyak, mungkin itu menjadikanku pribadi egois dan tanpa sadar melukai orang-orang disekitarku.
Dan hari itu, sore menjelang magrib, banyak tetangga tiba-tiba datang kerumahku, sibuk memindahkan kursi yang ada di dalam rumah, menggelar karpet, memasang bendera kuning, mereka terlalu sibuk untuk aku yang masih duduk terdiam, mencerna kenyataan, menerima luka yang aku tahu itu tidak akan pernah sembuh. Duniaku seakan hancur, separuh nyawaku serasa hilang. Bapak meninggalkanku selamanya.
Semenjak kejadian itu, tidak tahu mengapa, aku merubah hidupku. Tidak tahu disebut "mandiri" atau "dipaksa sendiri". Aku yang saat itu masih kuliah, memaksa mengambil banyak pekerjaan sampingan untuk mengisi waktu luang disaat tidak ada jadwal kuliah. Bukan karena butuh uang, Ibuku masih sanggup membiayai semua kebutuhanku. Tapi karena di saat aku sendiri, luka itu muncul lagi. Ibuku adalah wanita karir yang berangkat pagi, pulang malam. Saat itu aku tidak ingin membebani segala hal yang membuatnya sedih, karena aku tahu Ibu juga sedang berjuang menata kesedihannya, hatinya, dan hidupnya.
Kisah cintaku setelah Bapak pergi tidak berjalan mulus. Tidak ada lagi saran dan peringatan yang membuatku waspada. Aku tidak bisa menangkap sinyal-sinyal aneh. Sekali lagi, aku terluka. Membuat sifatku keras terhadap diri sendiri.
Setelah menikah dan memiliki anak, aku baru mengerti tentang semuanya. Dulu, aku selalu menceritakan kepada teman-teman kalau kehidupan setelah menikah itu indah. Mereka ingin segera menikah, memiliki keluarga utuh dan bahagia. Namun sekarang, aku lebih memilih untuk memberi saran.
Menikah itu adalah ibadah terpanjang. Butuh semua aspek dalam hidup yang harus kalian pertaruhkan. Jangan buru-buru menikah kalau memang belum siap, terutama siap secara mental. Karena menikah itu akan indah apabila bertemu orang yang tepat.
Menikah itu benar-benar membutuhkan keikhlasan. Ikhlas apabila tidak semua rencana indah yang kita persiapkan, akan mendapat hasil yang indah juga. Ikhlas memaafkan, meskipun kadang kita sendiri belum mendengar kata maaf. Belajar menerima apapun hal baru yang masuk ke dalam hidupmu entah itu hal yang tidak kamu sukai sekalipun.
Kepercayaanku hancur. Batinku berperang, isi kepalaku pun berisik. Dan sekali lagi, aku terluka.
Bagaimana aku menggabungkan rasa ikhlas dengan segala ketidakpercayaanku? Itu yang sampai saat ini masih aku pelajari.
Apapun yang saat ini sedang kalian lalui, masalah yang kalian hadapi, luka yang belum terobati, selalu ingat untuk menghargai diri kalian sendiri terlebih dahulu. Dan kalau kalian sudah sampai di tahap itu, selanjutnya hargailah orang yang kalian sayangi.
Dari aku, tentang luka.
* * *
SELESAI