Gambar dalam Cerita
Perasaan resah menyelimuti seorang gadis yang sedang berjalan sendirian masih lengkap dengan seragam sekolahnya.
Vanya sedang berdiri di depan pintu rumahnya. Ia takut jika ibunya akan memarahinya mengingat ia pulang selama ini. Saat ia hendak mengetuk pintu, tak disangka pintu itu terbuka dan menampilkan sosok ibunya dengan kilatan marahnya.
"Dari mana saja kamu? Jam segini baru pulang, inget rumah kamu?" tanya sang ibu dengan nada ketus.
"Maaf Bu, tadi Vanya abis dari rumah teman Vanya," jawab Vanya dengan menunduk takut.
Plakkk..
Sebuah tamparan mendarat keras di pipi Vanya, sangat terlihat kemarahan dari ibunya.
"Bagus kamu ya, anak gadis pulang malam-malam. Bilangnya dari rumah teman," sarkasme sang ibu.
"Iya Bu benar, Vanya habis dari rumah Vina dan nggak sengaja ketiduran disana," jawab Vanya yang tak kuasa menahan bulir air matanya seraya memegangi pipinya yang memerah.
"Gak usah nangis segala, seharusnya kamu sadar kalau kamu salah. Pulang sekolah harusnya langsung pulang, ini malah main. Bagus begitu Vanya?!" bentak sang ibu tak kuasa menahan amarahnya.
"Maaf Bu," jawab Vanya meraih tangan ibunya dan segera mencium punggung tangannya.
***
Sehabis ia dimarahi tadi, Vanya memasuki kamar mandinya untuk membersihkan tubuhnya. Ia menangis sejadi-jadinya di dalam bathtub.
Terlahir dengan tidak ada ayah adalah mimpi terburuk Vanya yang harus menjadi kenyataan. Mempunyai ibu pun serasa tak punya, selama ini ia benar-benar belum mendapatkan kasih sayang dari kedua orangtuanya. Mengingat ibunya seorang pekerja disebuah restoran 24 jam, membuat wanita paruh baya itu tak bisa membagi waktu antara kerja dan anak.
Vanya akui dirinya memang salah, harusnya ia pulang kerumah atau izin dulu pada ibunya. Namun kejadian pulang sekolah tadi harus membuat dia segera kerumah Vina, sahabatnya itu.
Dimana dirinya dan Vina harus menjaga adiknya Vina yang masih balita dan sangat aktif sekali hingga membuat mereka kelelahan dan tertidur tak ingat waktu sampai berakhir seperti tadi.
"Apasih Vanya, kamu cengeng banget," monolog Vanya seraya menghapus air matanya kasar.
***
"Vanya dicariin kak Daniel tuh di lapangan," ujar Vina yang baru saja datang membawa minuman taro kesukaannya.
"Kak Daniel? Cari aku?" tanya Vanya tak percaya.
"Iya cari lo, buru gih kesana. Apa mau gue temenin?" tanya Vina.
"Boleh deh Vin, aku penasaran kenapa kak Daniel nyariin aku ya?" ucap Vanya hendak keluar kelas diikuti oleh Vina.
"Kalo itu gue gak tau, coba aja nanti lo tanya," mereka pun berjalan menuju lapangan, dan terlihat sangat ramai disana. Namun pandangannya jatuh pada lelaki yang sedang berdiri di tengah sana. Vanya mendekat pada lelaki bernama Daniel itu, dan tiba-tiba saja Daniel berlutut dihadapan Vanya.
"Eh kak Daniel? Ngapain?" tanya Vanya yang terkejut dengan tindakan kakak kelasnya ini.
"Vanya? Mungkin ini tiba-tiba banget buat lo. Tapi ini semua udah gue rencanain dari lama. Jadi temen emang menyenangkan, tapi bakal lebih mengesankan lagi kalau lebih dari itu," ujar Daniel.
"Maksudnya apa kak? Aku nggak ngerti," ujar Vanya.
"Ketika Hawa tercipta buat Adam, begitu indahnya kehidupan mereka. That way, let me Daniel Abian, be the Adam for you because I very love you,"
Entah ada bujukan dari mana, Vanya mengangguk. Dan itu berarti Vanya baru saja menerima Daniel, dan mereka resmi berpacaran.
***
Sebulan berlalu, hubungan Vanya dengan Daniel sudah membaik layaknya sepasang kekasih pada umumnya. Dan saat ini Daniel mengajak Vanya untuk pergi berkumpul dengan teman-temannya.
Dapat dideskripsikan tempat ini di dominasi oleh para lelaki, dan Vanya paling tidak suka berada di tempat yang banyak asap rokok seperti ini.
"Wihh Daniel udah bawa yang baru aja, mangsa baru bos?" tanya seorang pemuda kepada Daniel yang hanya tersenyum.
"Kak Daniel, aku belum izin sama ibu," ujar Vanya dengan pelan.
"Hmm ya udah izin dulu di telpon aja, mau pake handphone aku?" tanya Daniel.
"Nggak usah kak," ujar Vanya lalu menjauh dari situ untuk menghubungi ibunya.
"Halo Bu?"
" ... "
"Ehmm, Vanya izin pulang terlambat ya Bu"
" ... "
"Vanya ... Vanya ada kelas tambahan Bu," alibi Vanya.
" ... "
"Iya Bu," panggilan itu terputus, dan Vanya menghela nafasnya lega sebab ibunya dapat percaya dengan perkataannya.
***
Dalam keadaan seperti ini mengharuskan Vanya untuk berbohong lagi kepada ibunya. Terjebak hujan di apartemen Daniel, dan kini mereka hanya berdua.
Vanya disuguhi teh yang Daniel buat, dengan segera Vanya minum. Namun sehabis minum itu, kepalanya menjadi sangat pusing dan mengantuk alhasil ia tertidur di sofa itu.
Pagi telah tiba, Vanya terkejut ia tidak berada di sofa tadi melainkan di kasur. Dengan cepat ia bergegas menuju rumahnya tanpa menemui Daniel dahulu.
Kali ini ia berbohong pada ibunya kalau tadi malam ia menginap di rumah Vina.
Dua bulan berlalu semenjak kejadian itu, kini Vanya sedang berada di rumah Vina.
"Eh Nya, lo lagi dapet gak?" tanya Vina dibalas gelengan oleh Vanya.
"Bukannya kita selalu bareng ya? Terus kok gue rada aneh sama lo, tadi pas olahraga tiba-tiba pala lo sakit terus muntah aneh banget, lo kenapa?" tanya Vina.
"Aku juga gak tau, dan gak cuma di sekolah tadi. Di rumah juga aku kek gitu Vin," ucap Vanya.
"Eh Vanya, dari semua keanehan lo yang gue ucapin tadi. Gue baru sadar itu tanda-tanda--"ujar Vina menggantungkan kalimatnya.
"Jangan bilang lo..?" sambung Vina menutup mulutnya tak percaya.
"Sebentar Nya," ujar Vina lalu berlari keluar kamarnya untuk mengambil sesuatu dan kembali lagi dengan barang yang bisa disebut testpack.
Dengan segera Vanya mencoba alat itu, dan mereka berdua terkejut bukan main saat melihat hasilnya positif. Vanya menangis tersedu-sedu, dan Vina mencoba menenangkannya seraya meminta Vanya menceritakannya. Dan Vanya baru ingat detik-detik dirinya ternodai saat ia berada di apartemen Daniel. Ia pikir itu hanya mimpi.
Vani membujuk Vanya agar segera bicara pada ibunya, namun Vanya menolak. Ia takut jika ibunya marah, semua yang ibunya lakukan untuk membiayai dirinya hanya sia-sia. Namun setelah di semangati oleh Vani, akhirnya Vanya mau memberitahu ibunya.
Perasaan sang ibu setelah mendengar itu, kaget tentunya. Ia tak menyangka semuanya terjadi. Ia harus merelakan masa depan anaknya yang hancur akibat kelalaiannya.
Dari sini Vanya mengerti, komunikasi antara orang tua dan anak memang penting, dan juga para wanita harus pandai menjaga dirinya dari pergaulan bebas diluar sana. Yang lebih penting lagi, Vanya pasti belajar dari kesalahan ibunya yaitu ia akan menghargai setiap kejujuran.
[ E N D ]