Gambar dalam Cerita
Baru saja lima menit yang lalu gadis ini merasakan nyamannya tidur suara berisik menginterupsikan dirinya untuk bangun. Suara berisik itu berasal dari Ibu nya yang kini tengah memanggil namanya untuk segera turun ke bawah.
Dengan malas gadis ini pun turun dari kasurnya dan beranjak untuk keluar dari kamarnya. Terlihat sang Ibu dan juga Ayahnya yang tengah duduk dengan wajah cemas. Dan lebih cemas lagi ketika melihat gadis itu keluar.
Di sana juga terdapat sang Kakak yang tengah berdiri dan langsung berlari untuk memeluk gadis itu. "Ca, kamu harus kuat ya Ca!" seru sang Kakak yang sedang memeluk dirinya.
"Ada apa sih Kak? Aca baru bangun tidur ini," tanya gadis yang memanggil dirinya Aca itu.
"Khansa, Mama tau kamu anak yang kuat. Kita ke rumah sakit sekarang ya, " kata sang Ibu yang sudah berdiri di hadapan gadis bernama Khansa itu dan mengelus pelan tangan gadis itu.
"Tunggu, ke rumah sakit? Ngapain Ma?" Khansa semakin bingung. Untuk apa ke rumah sakit jika tidak ada yang sakit. Dirinya baik-baik saja. Dan jika di lihat semuanya juga baik-baik saja.
"Ayo Ca! Nanti kamu juga tau. Kakak gak tega jelasinnya sekarang." Sang Kakak dengan cepat menarik Khansa menuju mobil disusul oleh sang Ibu dan juga sang Ayah.
Khansa pasrah. Gadis itu masih bingung dengan tingkah orang tua dan juga Kakaknya. Dan mengapa mereka harus ke rumah sakit? Ada apa dengan rumah sakit?
Tak ada yang berbicara selama perjalanan hingga mereka sampai di rumah sakit bahkan tak ada yang berbicara. Mereka menuju ke ruang gawat darurat. Di sana sudah banyak teman-teman Khansa dengan wajah sedih. Bahkan sudah ada yang menangis.
Sekarang jam menunjukkan pukul dua malam. Mata Khansa menelusuri semua orang yang ada di sana. Sepasang suami istri yang tengah bersedih. Dengan sang istri yang menangis tersedu-sedu. Itu orang yang paling Khansa kenal.
Orang itu, kenapa? Tapi tunggu, ada apa maksudnya ini? Khansa tak melihat orang yang dua jam lalu ia telepon. Semua teman-temannya ada di sini. Kenapa dia tidak?
"Bunda? Ayah?" Khansa mendekati sepasang suami istri itu.
Melihat Khansa yang datang mendekati mereka sang istri langsung berlari menghampiri Khansa dan memeluk gadis itu. Menumpahkan semua kesedihannya kepada gadis itu.
Khansa yang hampir paham dengan situasi ini belum ingin mempercayai dirinya sebelum ada kejelasan. Ia tak ingin menduga-duga.
"Aja mana Bun?" Pertanyaan gadis itu semakin membuat wanita yang sedang memeluk dirinya itu menangis tersedu-sedu.
"Lepasin Aca, Bun. Aca mau lihat Aja, mana Bun?!" tanya Gadis itu lagi. Ia memberontak untuk di lepaskan dari pelukan hingga ia hampir saja tersungkur dan untung ada sang Kakak yang sigap menahan dirinya.
Dengan kasar gadis itu menatap temannya satu persatu. Air mata yang tak dapat ia tahan sejak tadi pun sudah tumpah mengalir membasahi pipinya.
"Gak mungkin kan?! AJA GAK MUNGKIN NINGGALIN GUE! Dia udah janji sama gue!" kata gadis itu karena tak ada satupun yang berani melihat tatapannya.
Pintu terbuka, dan bersamaan seorang dokter juga beberapa perawat mendorong sebuah ranjang yang terdapat seseorang berbaring dengan seluruh badan tertutup oleh kain putih. Terdapat beberapa bercak darah di atas kasur dan juga baju putih sang dokter.
"Tunggu!" Khansa mendekati ranjang itu dan dengan ragu membuka kain yang menutupi wajah seseorang yang tengah berbaring itu.
Sekujur tubuhnya membeku. Ia melihat seseorang dengan wajah pucat dengan wajah yang sudah babak belur. Tubuh orang itu sudah membeku dan dingin. Benar-benar sudah tidak ada detak jantung untuk di rasakan.
"Ja ... Aja ... AJA BANGUN!!!" Teriak Khansa sambil mengguncang-guncangkan tubuh orang yang di panggilnya Aja itu.
"JA ... LO BILANG GAK MAU NINGGALIN GUE JA! BANGUN JA, BUKA MATA LO SEKARANG!" Teriak gadis itu semakin menjadi dan akhirnya jatuh ke lantai karena tak sanggup lagi untuk berdiri. Kakinya sudah begitu lemas.
"Jaa ... KHANSA DIERA!" Teriak gadis itu sebelum akhirnya ia pingsan.
***
Matahari sudah mulai menampakkan wujudnya. Namun, gadis cantik ini masih saja tak berkutik dari kamarnya. Air matanya tak berhenti mengalir. Hanya ada bunyi gesekan kuku dan gigi.
Di luar semua orang sibuk merapikan rumah. Membentang karpet dan juga meletakkan yasin. Sebentar lagi jenazah akan sampai. Semua warga sudah berkumpul untuk melakukan sholat, dan mengantarkan ke tempat peristirahatan terakhirnya.
Khansa Diera, laki-laki itu sudah tak ada lagi. Dengan begitu cepat. Tanpa firasat apapun. Tanpa ucapan terakhir sama sekali. Laki-laki itu pergi dengan tampang mengerikan. Dengan kejadian yang mengenaskan.
Tak akan ada yang percaya tentang semua kejadian itu. Tapi, nyatanya begitu. Laki-laki itu benar-benar mati mengenaskan.
Dengan wajah mengerikan Khansa, gadis itu keluar. Jempolnya dan juga bibirnya berdarah akibat gigitan dari jempolnya yang membuat kukunya patah.
Mata sembab di tambah cekungan hitam membuat gadis itu tampak begitu mengerikan.
"Aja udah datang Bun?" tanya Khansa menghampiri wanita paruh baya yang tengah duduk bersebelahan dengan Mama gadis itu.
"Khansa, sini sayang." Wanita itu merentangkan tangannya hendak memeluk Khansa. Dan dengan cepat gadis itu berlari menjatuhkan dirinya di pelukan wanita paruh baya yang ia panggil Bunda itu.
Tangisnya benar-benar pecah. Ia tak perduli dengan beberapa ibu-ibu yang tengah melihatnya kasihan. Gadis itu tak tahu harus bagaimana saat ini juga. Setengah dunianya telah hancur. Entah apa lagi yang harus ia lakukan tanpa setengah dari dirinya.
"Aja, Bun ... Aja ninggalin Aca, Bun," kata gadis itu dalam tangisnya.
Wanita paruh baya itu hanya bisa mengelus-elus pelan punggung gadis itu yang bergetar hebat.
Tak lama suara ambulance berbunyi diiringi dengan suara segerombolan motor mendekati area depan rumah. Laki-laki yang sejak tadi berjaga di luar mulai berdiri menghampiri mobil ambulance yang sudah memasuki area pekarangan rumah.
"Aca gak bisa anterin Aja, Bun. Aca mau ke kamar dulu." Gadis itu pun pergi meninggalkan ruangan tamu menuju kamar yang ia pakai tadi.
Gadis itu, Khansa melihat dari jendela kerumunan orang yang tengah membawa keranda mayat menunju masuk ke dalam rumah.
"Tuhan jahat Ja, dia ambil kamu tepat di hari yang dulunya begitu spesial di hidup aku. Selamat jalan Aja dan selamat ulang tahun Aca."
***
Dear Khansa .
Aku rindu, aku di sini baik. Sejak hari itu, aku berhenti untuk membuka diri. Aku masih mengikuti kata-kata mu. Menjadi bahagia. Dan aku bahagia saat ini. Tak banyak yang berubah dari diriku ini. Aku, tetaplah Khansa yang kamu kenal.
Ada kalanya aku ingin pergi ke tempat kamu berada saat ini karena begitu merindukan mu. Namun, jika aku menemui artinya aku tak akan kembali lagi ke dunia ini. Dan aku tak akan bisa melanjutkan 1311 misi kita.
Aku bertahan untuk itu. Walaupun sakit, aku akan bertahan Ja. Datang ke mimpiku. Aku akan bercerita banyak. Sungguh aku merindukan mu, Khansa.
Khansa Muthiah.
[ E N D ]