Gambar dalam Cerita
Kilatan lampu dan suara jepretan kamera wartawan menghiasi salah satu ruangan gedung di kawasan Jakarta Selatan siang itu. Tak lama kemudian, sesosok wanita cantik berumur 35 tahun duduk di salah satu kursi yang telah di sediakan. Dia masih membiarkan para wartawan untuk memotret, hingga frekuensi kilatan lampu dan suara jepretan pun berkurang.
Setelah menjelaskan sedikit tentang karyanya yang berjudul "Dark Desember Suggestion", wanita bernama April itu mempersilahkan sesi tanya jawab untuk para wartawan.
"Mengapa anda memberi judul Dark Desember Suggestion? Apakah ini terinpirasi dari kisah hidup anda?" tanya salah satu wartawan.
April tersenyum, matanya menerawang jauh.
Dia cukup ingat bagaimana dahulu dirinya melewati bulan Desember yang sangat ingin ia hindari itu.
Semua bermula dari satu kejadian itu, waktu itu umurnya baru menginjak 5 tahun.
Flashback...
April berlari kegirangan karena dirinya berhasil mendapatkan piala juara menulis di TK-nya. Namun langkahnya terhenti di depan pagar rumahnya, mendengar suara keributan dari dalam, bahkan bunyi pecahan piring dan gelas itu cukup membuat hatinya sakit.
Masih berdiri mematung dan air mata yang sedikit demi sedikit keluar dari matanya, Ibunya keluar dari rumah, membuka pagar, dan terkejut melihat putri semata wayangnya ada disitu sambil menangis.
April melihat Ibunya yang berantakan, dengan menenteng tas kecil dan koper di kedua tangannya.
Ibunya berjongkok, mensejajarkan tinggi mereka, melihat wajah April yang terluka, dia ikut menangis.
"April, Ibu minta maaf. April jaga diri ya, yang nurut sama Bapak. Ibu pamit pergi. Maafin Ibu ya, Nak."
Pesan singkat itu, dan kepergian sosok Ibunya membuat tangis April makin menjadi. Kakinya benar-benar berat untuk mengejar kepergian Ibunya. Karena pertengkaran kedua orang tuanya memang terlalu sering akhir-akhir ini.
Dan di tahun berikutnya, bulan Desember saat dirinya berumur 6 tahun, tiba-tiba saja Ibunya mendatanginya di Sekolah Dasar, mengajak April untuk tinggal bersamanya.
April dilema. Dia sadar bahwa dia sangat rindu Ibunya. Disaat teman-temannya yang lain di antar Ibunya berangkat sekolah di hari pertama, April di antar Bapaknya. Kadang mereka bertanya "April, Ibunya mana?" dan April tidak tahu harus menjawab apa.
April menolak ajakan Ibunya, dan disaat yang sama, Bapaknya yang baru datang ingin menjemputnya, murka melihat Ibunya datang sembunyi-sembunyi untuk membawa April pergi. Ibunya yang panik langsung lari dan tertabrak sebuah truk besar.
Di depan matanya, Ibunya yang sangat dia rindukan itu, meninggal di depan matanya.
Flashback off...
"... saat itu, saya baru sadar kalau bulan Desember itu tidak ramah untuk saya. Karena di bulan-bulan Desember berikutnya, ada saja kejadian yang menimpa saya. Tangan saya tiba-tiba patah saat saya terpilih menjadi perwakilan sekolah untuk ikut lomba menulis, dan masih banyak hal lain yang membuat saya cukup menghindari bulan itu. Rasanya untuk satu bulan itu saya hanya ingin di kamar dan meringkuk sambil menunggu bulan itu berlalu." ucapan April diselingi candaan itu sukses membuat para wartawan dan orang-orang yang berada disitu tertawa kecil.
"Namun ada satu waktu, saya mengikuti salah satu seminar. Waktu itu temanya adalah sugesti. Saya mendalami kalimat itu, dan mulai mengimplementasikannya ke diri saya. Saya berpikir mungkin selama ini saya terlalu takut pada bulan itu, padahal selama ini mungkin saja itu ketentuan dari Tuhan yang memang tidak dapat saya ubah. Akhirnya saya beranikan diri terus menerus, melewati satu bulan Desember itu dengan sugesti kalau semuanya akan baik-baik saja, saya hanya harus berhati-hati dan berpikir positif. Dan saya baru sadar, kalau bulan itu, adalah hari lahir Bapak saya dan hari pernikahan kedua orang tua saya."
Flashback...
April menaruh kue sederhana di atas meja di depan Bapaknya. Melihat Bapaknya yang kian hari kian menua. April melihat kedua mata Bapaknya menerawang jauh melihat kue di depan matanya itu, lalu menangis.
"Bapak gak pernah menyesal menikah sama Ibu. Ibu adalah wanita terbaik menurut Bapak. Ibu adalah wanita paling sabar yang pernah Bapak temuin. Ibu adalah wanita paling cantik yang pernah Bapak milikin. Makanya kamu yang cantik ini mirip Ibu. Bapak yang salah, waktu itu Bapak yang gelap mata. Ibu sudah tahu kalau Bapak suka berjudi dan pernah main perempuan. Ibu sudah sering meminta Bapak untuk berubah, tapi Bapak gak terima. Hari itu, Bapak yang usir dia. Kamu jangan nyalahin Ibu kenapa gak bawa kamu pergi, karena Bapak tahu Ibu tidak punya apa-apa saat keluar dari rumah, jadi Ibu tidak ingin kamu ikut susah. Bapak yang salah, Bapak gagal jadi kepala rumah tangga yang baik buat kalian."
Entah kenapa hati April sangat terluka mendengar pengakuan Bapaknya. April tidak bisa menghakimi siapapun saat ini, karena dia tahu hati Bapaknya juga terluka.
Bapaknya yang selalu menang berjudi, hingga uangnya banyak dan di lirik perempuan, tidak meninggalkan hutang apapun.
Setelah Ibunya pergi dari rumah dan sadar, Bapaknya berhenti berjudi dan meninggalkan dunia kelamnya, itu pilihan terbaiknya. Namun rumah tangga mereka memang sudah tidak bisa di selamatkan.
Flashback off...
"...karena untuk pertama kalinya, tidak ada hal buruk di bulan Desember. Bapak saya meninggal, tak lama dari itu, bulan Februari. Dan setiap bulan itu saya selalu mensugesti diri saya. Hingga pada bulan Desember, saya bertemu dengan suami saya. Dan bulan Desember berikutnya kami menikah. Lalu bulan Desember berikutnya anak pertama kami lahir. Dan dari situ saya berpikir, tidak selamanya bulan Desember itu kelam. Karena saya selalu ingin membuat kenangan indah di bulan Desember."
"Apakah ada kesulitan saat menulis karya anda?" tanya wartawan lainnya.
"Kesulitan pasti ada. Tapi karena ada keluarga saya yang membuat saya termotivasi, saya tidak terlalu ingin mengingat hal sulit itu. Karena untuk menghasilkan sebuah karya, ada hal sulit tersendiri yang dirasakan si pembuat karyanya."
"Lalu kepada siapa anda ingin mempersembahkan karya anda?" sahut wartawan lainnya.
April tersenyum, "Saya ingin mempersembahkan karya saya untuk orang-orang yang saat ini tidak percaya dengan dirinya sendiri. Bahwa kalian harus mensugesti diri kalian kalau kalian pasti bisa. Tidak ada yang tidak mungkin selama kalian ada kemauan."
Semua memberi tepuk tangan meriah. Sesi tanya jawab pun di tutup, lanjut ke sesi foto dan salam sapa untuk menggemar karya-karya April.
Ibu, Bapak, April yakin, dari sana kalian melihat April sambil tersenyum. April bangga punya orang tua seperti kalian. Semoga kalian juga bangga punya anak seperti April. April hanya ingin memberitahu kalian kalau disini April bahagia. Batin April.
Masih dengan bibir tersenyum dan menyapa penggemarnya.
* * *
SELESAI...