Temukan Cerita Inspiratif

Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.

Total Cerita

1144

Genre Romance

230

Genre Folklore

228

Genre Horror

228

Genre Fantasy

230

Genre Teen

228

Reset
Adik Ipar
Teen
30 Jan 2026

Adik Ipar

Adik IparRony dan Laras menikah sudah hampir dua tahun, namun diantara mereka masih Sama-sama tidak memiliki rasa. Mereka menikah karena perjodohan antara kedua orang tuanya, mereka sama-sama tidak bisa menolak karena penyakit yang di derita oleh ayah Laras.Laras sendiri sebenarnya sudah memiliki kekasih yang sangat dia cintai, bahkan Rony pun tau jika sampai saat ini istrinya itu masih menjalin kasih dengan pria lain dan dia pun tak peduli. Hidup Rony hanya diisi dengan kerja, kerja dan kerja.Sampai suatu hari, Salsa yang merupakan adik dari Laras harus tinggal bersama Laras dan Rony. Laras yang meminta adiknya untuk tinggal bersamanya selama orang tua mereka berobat ke luar negeri. Laras tidak ingin jika adiknya harus tinggal sendiri di rumahnya.Salsa awalnya keberatan, ia tidak ingin tinggal bersama kakak dan kakak iparnya. Namun, Laras terus memaksa dan akhirnya Salsa pun pasrah karena keputusan Laras di dukung penuh oleh kedua orang tua mereka.Salsa tau hubungan kakak dan kakak iparnya itu bagaimana. Karena selama ini Laras cerita semua masalahnya pada Salsa. Bahkan Laras sengaja ingin menjodohkan Salsa dengan suaminya sendiri karena ia benar-benar ingin menikah dengan kekasihnya. Maka dari itu Laras memaksa untuk Salsa tinggal bersamanya agar bisa menjalankan rencananya dengan mudah.Laras dan Rony sendiri tinggal di kamar yang berbeda, mereka berdua sama sekali tak pernah bersentuhan. Mereka seperti layaknya orang asing yang tinggal di dalam satu rumah. Laras bahkan jarang sekali berada di rumah karena dia tidur di apartemen miliknya bersama sang kekasih.Rony pun mengizinkan Salsa untuk tinggal bersama mereka. Dia juga tidak ingin jika adik iparnya tinggal sendiri di rumah sebesar itu, dia juga sudah di amanahkan oleh orang tua Salsa dan Laras untuk menjadi kedua putri mereka.Singkat cerita, sudah hampir sebulan Salsa tinggal bersama Kakak dan Kakak iparnya. Salsa tau jika kakaknya jarang sekali pulang ke rumah. Dia juga sering memarahi kakaknya, namun tetap saja tak di gubris sama sekali oleh Laras.Sedangkan Rony, dia melihat perbedaan yang sangat jauh antara Salsa dan Laras. Selama Salsa di rumah, justru dia yang melayani Rony layaknya seorang istri. Salsa memasak makanan untuknya, membersihkan rumahnya, bahkan salsa sempat izin untuk membersikan kamar Rony karena memang tidak ada pembantu disana.Salsa melakukan itu semua demi menebus sedikit kesalahan kakaknya yang tak pernah ada di rumah mengurus suaminya. Salsa juga tidak enak jika ia hanya menumpang tanpa melakukan apapun di rumah itu."Loh Ca? Baru pulang?" Tanya Rony ketika berpapasan di pagar bersama Salsa"Iya mas, tadi masih ada kumpul organisasi dulu di kampus. Mangkanya pulang larut""Maaf ya mas, karena Caca pulangnya malam jadinya belum sempat masak. Pasti mas Rony laper kan? Apa mau Caca beliin aja dulu sekalian mas? Mumpung masih di luar ini" Balas Salsa"Eh gausah Ca, udah kamu masuk aja. Kamu pasti capek. Biar nanti kita pesen online aja ya. Gih masuk, udah malem juga" Ucap Rony lembut"Yaudah mas, Caca masuk dulu ya" pamit SalsaCantik, manis, penurut lagi *batin RonyRony terus tersenyum menatap kepergian Salsa. Rony baru merasakan perasaan aneh ini pada adik iparnya sendiri. Dia bahkan tidak pernah merasakan perasaan ini sebelumnya.Namun senyuman nya pudar kala melihat istrinya hendak pergi keluar rumah."Kemana lagi?" Tanya Rony"Nginep di rumah temen" Balas Laras"Harus tiap hari ya nginep di rumah temen? Gak pernah betah di rumah?" Ucap Rony sedikit tegas"Udah lah, lu butuh temen kan? Udah ada Caca noh. Dia aja jadiin temen lu, kalo perlu jadiin istri lu. Byee" Balas Laras dan langsung pergi meninggalkan Rony"Ck, beda banget emang sama adiknya" Gumam RonySalsa yang mendengar perdebatan kakak nya pun hanya bisa menghela nafas."Kakak tuh kenapa sih, gak bersyukur banget. Udah punya suami ganteng, kaya, sabar dan lemah lembut kek mas Rony masih aja di sia-siain""Tapi Mas Nando baik juga sih, ganteng juga, kaya juga, ahh udah lah pusing mikirin Kak Laras" Monolog Salsa***Tok tok tokRony mengetuk pintu kamar Salsa.Salsa membuka pintu dengan wajah yang segar dan harum yang semerbak. Membuat Rony seketika mematung mencium wangi tubuh Salsa."Ada apa mas?" Tanya Salsa lembut"Eh emm eehh itu, mas udah pesenin makanan buat kita. Makan dulu yuk" Ajak Rony gugup"Oh iya, bentar ya mas. Mas ke bawah aja dulu, bentar lagi Caca nyusul" Ucap Salsa lembut"Iya Ca, mas tunggu ya" Balas RonyAnjing, kenapa gue jadi gugup banget sih depan Caca. Inget Ron, itu adik ipar lu sendiri. Arghh kenapa gak dia aja sih yang di jodohin sama gue! *Batin Rony"Sini mas, biar Caca siapin" Ucap Salsa sembari mengambil piring Rony"Makasih ya Ca" Balas RonyRony hanya memandang wajah cantik adik iparnya, sepertinya dia benar-benar jatuh cinta dengan adik iparnya ituSetelah mereka makan malam bersama, Salsa memutuskan untuk menemani Rony menonton TV di ruang tengah."Mas" Panggil Salsa"Kenapa Ca?" Tanya Rony"Hmm maafin sikap Kak Laras ya mas. Caca tau selama ini gimana sikap Kak Laras sama mas. Kak Laras juga banyak cerita sama Caca kalo hubungan kalian selama ini gak baik""Maafin Kak Laras ya Mas. Caca sayang banget sama Kak Laras, tapi Caca juga gak membenarkan semua sikap Kak Laras sama Mas Rony. Gimana pun Mas Rony kan suami Kak Laras sekarang. Seharusnya Kak Laras gak bersikap seperti itu sama mas" Ucap Salsa berkaca-kaca"Hey, kenapa? Kok sedih? Mas gapapa kok Ca. Mas bisa ngerti posisi kakak kamu. Kakak kamu udah cinta sama orang lain, begitu pun Mas. Walaupun Mas udah berusaha buat cinta sama Kakak kamu, tapi Mas gabisa Ca. Mas gabisa cinta sama kakak kamu" Ucap Rony lembut"Kenapa Kak? Apa karena sikap Kak Laras yang buat Mas Rony susah buat buka hati Mas Rony?" Tanya Salsa"Mas juga gatau Ca, Mas udah coba dari awal nikah tapi sampe sekarang pun gak ada kemajuan. Hubungan kita stuck gini gini aja" Balas Rony"Maafin Kak Laras ya mas, Kak Laras belum bisa jadi istri yang baik buat mas" Ucap Salsa dengan air mata yang sudah jatuhRony refleks memeluk adik iparnya sembari mengusap punggung Salsa"Hey, udah ya jangan nangis. Kan ini bukan salah Caca. Mungkin ini semua udah takdir mas dan Kak Laras Ca seperti ini. Udah ya, jangan nangis ya Ca. Mas sedih liat Caca sedih" Ucap Rony lembutSalsa merasa nyaman dengan pelukan Rony, jujur saja sebulan dekat dengan Kakak iparnya juga membuat perasaan Salsa sedikit berubah pada Rony. Entah perasaan apa, Salsa juga masih tak bisa menafsirkan perasaan itu.Rony melepaskan pelukannya, lalu mengusap pipi Salsa menghapus air mata di pipi bulat adik iparnya"Udah ya, jangan nangis. Caca jelek tau kalo nangis" Goda Rony"Ih, mas Rony mah" Balas Salsa cemberut"Kenapa tuh bibirnya maju-maju gitu? Mau di cium ya? Hmm?" Goda Rony"Dih apa sih mas" Balas Salsa"Hahaha salah siapa bibirnya di majuin gitu, mas kan jadi gemes pengen cium" Goda Rony"Coba aja kalo berani" Tantang Salma"Oh nantangin? Hmm?" Tanya Rony"Eh gak, bercanda mas. Tadi cuma asal Nye - "Belum sempat Salsa menyelesaikan ucapannya, Rony langsung mencium bibir Salsa dan sedikit melumat nya. Niat Rony yang mencium singkat bibir Salsa ia urungkan kala merasa tak ada perlawanan dari Salsa.Ini adalah ciuman pertama bagi Rony maupun Salsa. Selama ini Rony tak pernah sedikit pun dekat dengan wanita, dia terlalu sibuk dengan dunia nya sendiri hingga terkadang tak sadar jika banyak wanita yang mendekati nya. Dia pun ta berminat untuk dekat dengan wanita, karena Rony pikir wanita-wanita itu hanya mau dengan harta yang ia miliki. Bukan karena memang tulus menyukainya.Rony tersenyum tipis di tengah ciumannya. Salsa ternyata tak menolak ciumannya. Rony masih terus melanjutkan ciumannya, melumat bibir atas dan bawah Salsa secara bergantian. Bibir Salsa sungguh manis, rasanya Rony tak ingin menghentikan untuk terus melumat bibir manis adik iparnya.Sedangkan Salsa sendiri bingung dengan apa yang harus ia lakukan sekarang. Otaknya ingin sekali memberontak, namun tubuh dan hatinya justru menikmati ciuman dari Rony. Salsa juga tak ingin ciuman itu berhenti, entah apa yang sudah terjadi pada dirinya. Padahal Salsa tau jika ini salah, ia sudah berciuman dengan kakak iparnya sendiri.Rony melepaskan tautan bibirnya kala merasa Salsa sudah hampir kehabisan nafas.Rony terkekeh melihat wajah Salsa yang memerah karena hampir kehabisan nafas. Rony beralih mengusap bibir Salsa yang sedikit membengkak karena ulahnya."Manis, bibir Caca manis. Mas suka" Balas Rony lembutSalsa masih diam dan sibuk mencerna ucapan Rony yang terdengar sedikit menggodanya"Mas mau tanya boleh?" Tanya RonySalsa hanya menganggukkan kepalanya"Yang barusan first kiss Caca?" Tanya Rony"Iya mas" Balas Salsa menundukRony tersenyum tipis"Berarti mas yang pertama cium Caca?" Tanya Rony"Iya" Balas Salsa"Jangan nunduk dong, mas gabisa lihat kecantikan Caca" Balas Rony sembari menarik dagu Salsa dan hendak mencium bibir Salsa lagi"Mas, Caca masuk dulu ya" Tolak Salsa dan langsung berdiri meninggalkan RonyNamun tangan Rony malah menarik tangan Salsa hingga Salsa terjauh dalam pangkuan Rony"Mas mau cium Caca sekali lagi, boleh?" Tanya Rony"Mas, ini gak bener. Mas kakak ipar Caca. Ga seharusnya kita kaya gini" Tolak Salsa hendak berdiri dari pangkuan Rony namun dengan cepat Rony menahannya"Kenapa gak boleh? Kakak kamu aja bisa selingkuh di belakang mas Ca. Kenapa mas gaboleh?""Sebulan tinggal sama kamu, berhasil bikin mas nyaman sama kamu Ca. Mas gak kesepian, mas berasa punya istri yang nemenin mas, yang layanin mas dan yang selalu nyambut mas di rumah tiap pulang kerja""Mas sayang sama kamu ca, mas udah gabisa nyembunyiin perasaan mas lagi. Mas juga tau, Caca juga suka kan sama mas? Hmm? Caca juga sayang kan sama mas?" Cecar RonySalsa yang berusaha bangun dari pangkuan Rony pun tak sengaja menyenggol milik Rony."Eughh Ca, jangan banyak gerak. Kamu nyenggol punya mas" Ucap Rony melenguhSalsa diam, dia sangat bingung pada situasi saat ini.Rony justru memeluk erat tubuh Salsa dan menyandarkan kepalanya pada punggung Salsa."Please jujur Ca, jujur sama mas tentang perasaan kamu. Mas tau kamu juga sayang sama mas""Mas gapernah ngerasain ini sebelumnya Ca. Mas baru ngerasain perasaan aneh ini sama kamu. Kadang mas mikir, kenapa bukan kamu yang di jodohkan sama mas waktu itu. Mungkin kalo kamu yang di jodohin sama mas, sekarang kita bisa hidup bahagia Ca. Kita bisa hidup berdua selamanya" Ucap Rony"Mas, tapi ini salah mas. Kamu suami kakakku sendiri, bagaimana bisa aku mengkhianati kakak ku sendiri. Ini gabisa, ini salah mas" Balas Salsa"Mas gak peduli Ca, dia aja gak peduli sama mas. Kenapa mas harus peduli sama dia""Dia udah bahagia sama pacarnya Ca, kita juga harus bahagia berdua. Please Ca, terima mas yaa. Mas mau kamu jadi milik mas Ca. Kita jalanin ini pelan-pelan, sampai nanti kita omongin sama kakak kamu dan kita berdua bisa cerai. Pleasee Ca" Mohon Rony"Mas? Kamu yakin? Nanti orang tua aku gimana? Mereka sudah menaruh harapan tinggi sama hubungan pernikahan kalian berdua. Aku gamau ayah kenapa-napa karena kalian cerai" Balas Salsa yang sudah berkaca-kaca"Sayang, dengerin mas. Kita pelan-pelan jalanin ini semua. Kita sembuyiin ini dulu dari semua orang, sampai nanti keadaan orang tua kamu membaik. Kita obrolin semuanya baik-baik dan mas akan nikahin kamu""Begitu pun kakak kamu, kakak kamu pasti bahagia kalo kita cerai. Dia bisa menikah dengan kekasihnya begitu pun kita. Katanya kamu sayang sama Laras? Emangnya kamu gamau Laras bahagia hidup dengan kekasihnya? Hmm? Pleasee mau ya sayang" Mohon RonyBenar apa yang dikatakan Rony, Salsa memang sayang sekali dengan Laras. Salsa juga ingin Laras bahagia dengan kekasihnya tanpa harus sembuyi-sembunyi terus."Mau ya sayang" Ucap Rony lagiSalma hanya menganggukkan kepalanya menandakan bahwa dirinya menerima Rony sebagai kekasihnya."Makasih sayang, makasih udah mau terima mas" Ucap Rony***Seminggu setelah malam itu, Rony dan Salsa semakin dekat. Bahkan mereka pun sampai tak sadar jika Laras hampir seminggu ini sama sekali tidak pulang ke rumah.Malam Minggu ini Rony mengajak Salsa berjalan-jalan ke mall membelanjakan semua kemauan wanita itu bahkan Rony menuruti semua kemauan Salsa."Seneng gak sayang?" Tanya Rony"Seneng banget, makasih ya mas" Balas Salsa"Sama-sama sayang, mas seneng kalo kamu juga seneng" Balas Rony sembari mencium tangan Salsa yang sedari tadi di genggaman nya"Sebenernya gak perlu belanja banyak gini mas, jalan-jalan keliling Jakarta aja Caca udah seneng" Balas Salsa"Gemesh banget sih pacar mas ini, mas kan kerja juga buat nyenengin kamu sayang. Jadi uang mas buat apa dong kalo bukan buat belanjain kamu? Hmm?" Tanya Rony"Buat istri mas hehe" Balas Salsa"Ck, dia udah ada jatahnya sendiri sayang. Walaupun dia gak pernah peduli sama mas, mas gak akan lupa tanggung jawab mas buat kasih dia nafkah""Tapi kalo untuk kamu beda, mas bakal bahagian kamu terus sama hasil kerja keras mas di kantor. Karena mas jadi semangat kerja juga karena kamu""Mas capek kerja, eh pas pulang di sambut bidadari cantiknya mas. Di siapin makan, di temenin makan. Capek mas langsung ilang tau sayang" Ucap Rony"Idih gombal, dasar Om-om hahaha" Balas Salsa"Om-om dari mana sih, beda umur kita cuma empat tahun ya sayang. Mas gak tua-tua banget" Balas Rony"Hahaha iya iya" Balas SalsaSetelah beberapa menit akhirnya mereka sampai di halaman Rumah Rony."Sudah sampai princes nya Rony" Ucap Rony lembut"Apasih mas lebay ih" Balas SalsaSalsa hendak turun dari mobil namun tangannya masih di tahan oleh Rony."Sayang, mas kan udah nyenengin kamu hari ini. Mas mau minta hadiah juga dong dari kamu" Ucap Rony"Dih, jadi gak ikhlas nih ngajak jalan?" Tanya Salsa"Ikhlas banget loh sayang. Beneran" Jawab Rony memelas"Hahaha yaudah mas mau apa? Hmm? Mau di masakin apa?" Tanya Salsa"Mau ini" Ucap Rony sembari menyentuh bibir Salsa"Boleh ya sayang? Mas kangen bibir manis kamu, masa cuma waktu itu doang cium bibir Caca. Mas mau lagi sayang" Rengek RonySalsa yang gemas dengan rengekan Rony pun langsung mencium bibir Rony lebih dulu. Rony awalnya kaget namun ia pun membalas ciuman dari Salsa. Salsa mengalungkan tangannya pada leher Rony. Sedangkan Rony justru semakin mendekatkan dirinya pada Salsa.Ciuman yang awalnya lembut kini semakin bergairah. Tangan Rony mulai beranjak meremas payudara Salsa."Eughh mashh" Lenguh Salsa saat merasakan remasan Rony pada payudara nyaMendengar lenguhan Salsa, membuat Gairah Rony semakin memuncak. Ini baru pertama kalinya dia seberani ini menyentuh perempuan. Bahkan istrinya saja tak pernah ia sentuh sedikit pun.Rony sudah tak tahan, rasanya Rony ingin menyentuh tubuh Salsa lebih dari ini. Tapi ia tidak mungkin melakukan itu di mobil dengan Salsa.Akhirnya dia menggendong Salsa bak koala tanpa melepas pangutan bibir mereka. Salsa juga sudah merasa tak sadar dengan apa yang Rony lakukan padanya. Hingga ia pun pasrah dan hanya menerima semua sentuhan dari Rony.Rony adalah laki-laki dewasa, dia juga sudah menikah walaupun tidak pernah mendapatkan haknya dari sang istri. Tapi hasrat nya sebagai laki-laki dewasa tidak pernah bisa ia tahan. Apalagi sekarang dia sudah memiliki kekasih yang cantik seperti Salsa. Rasanya bukan salah Rony jika ia menyentuh atau bahkan menikmati tubuh kekasihnya itu.Rony menjatuhkan tubuh Salsa di ranjangnya, dengan perlahan. Dia juga langsung melepas kemeja yang ia pakai. Mata Salsa membulat saat sadar, Rony melepaskan kemeja nya dan kini sudah bertelanjang dada di depannya."Mas?""Apa sayang? Hmm?" Tanya Rony lembut"Mas ngapain? Mas jangan ma - "Belum sempat Salsa menolak, Rony sudah lebih dulu mencium bibir Salsa. Malam ini Rony tidak ingin mendengar penolakan, ia ingin malam ini Salsa menjadi miliknya seutuhnya. Hasratnya sudah sangat menggebu dan minta untuk di tuntaskan. Dan hanya Salsa yang Rony mau, bukan istrinya yang tak tau kabarnya diluaran sana.Rony menindih tubuh Salsa, tangannya tergerak membuka hijab Salsa dengan lembut. Rony tersenyum kala melihat Salsa tanpa hijab."Kamu cantik sayang" Ucap Rony"Mas"Rony kembali menyambar bibir Salsa. Rony benar-benar tak membiarkan Salsa mengeluarkan pendapat. Ia takut jika Salsa akan menolaknya, ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini.Ciuman Rony semakin menjalar ke leher hingga belakang telinga Salsa. Tubuh Salsa benar-benar merinding karena ulah kakak iparnya.Tangan Rony bergerak membuka kancing baju Salsa. Hingga menampakkan bra warna merah yang sangat kontras dengan kulit putih Salsa. Rony meraba punggung Salsa mencari kaitan bra yang Salsa gunakan, dan entah mengapa Salsa justru mengangkat tubuhnya seolah mempermudah Rony untuk melepaskan bra miliknya.Dengan sekali tarik, Rony berhasil membuka bra Salsa. Rony membuang kemeja dan bra Salsa sembarangan. Kini ia pun bisa melihat dua benda kembar milik Salsa.Milik Salsa ternyata lumayan besar dan bulat."Sayang, nen kamu besar dan bulat. Mas suka sayang" Ucap RonyUcapan Rony justru membuat Salsa senang, wajahnya pun memerah karena ucapan Rony.Rony memainkan kedua benda kembar itu dengan tangan, mulut serta lidahnya."Ahh masss gelihh" Desah SalsaDesahan Salsa terdengar sangat seksi, dan menambah semangat Rony untuk semakin berbuat lebih pada tubuh adik iparnya.Setelah puas memainkan kedua gundukan Salsa dan membuat banyak tanda merah di leher dan dada Salsa.Rony turun menuju milik Salsa. Dengan cepat tangan Rony menarik dan membuang celana dan celana dalam Salsa. Hingga Salsa benar-benar naked dibuatnya.Rony melebarkan kaki Salsa hingga kini nampak milik Salsa yang sangat indah bagi Rony. Ia baru pertama kali melihat milik perempuan dan ini adalah milik Salsa. Milik perempuan nya sangat indah"Jangan di liatin, Caca malu" Ucap Salsa sembari berusaha menutup kedua kakinya"Gausah malu sayang, mas mau lihat keindahan milik kamu dan mulai sekarang ini milik mas. Cuma mas yang bisa lihat ini sayang" Balas Rony menahan kedua kaki SalsaDengan perlahan ia cium milik Salsa dengan lembut, kemudian ia memainkan lidah dan jarinya di dalam milik Salsa. Tingkah Rony benar-benar membuat Salsa merasakan kenikmatan dan kegelian secara bersamaan. Salsa tak pernah merasakan kenikmatan seperti ini sebelumnya dan ini sangat nikmat"Ahhh mas Ronyhh ahhh" Desah SalsaRony semakin menggila merasakan milik Salsa dengan lidahnya di tambah desahan Salsa yang menyebut namanya."Ahh masshh ada yang mau keluar ahhh" Desah Salsa"Keluarin sayang, mas siap terima cairan cinta Caca" Balas Rony"Ahhhh" lenguh Salsa ketika mendapatkan pelepasanSalsa tidak terlalu polos mengenai hal tentang sex, dia tau bahwa baru saja dia mendapatkan pelepasan. Dia sadar dia sudah orgame karena ulah Rony yang mempermainkan intinya.Salsa yang lemas setelah mendapatkan pelepasan hanya bisa diam kala merasakan Rony yang menyesap habis milik nya dengan mulutnya.Merasa miliknya sudah ingin di lepaskan dari balik celana. Rony segera berdiri melepas celana yang ia gunakan. Salsa tercengang melihat milik Rony yang terlihat sangat besar dan panjang."Sayang pegang punya mas, elusin sayang" Ucap RonySalsa menuruti permintaan Rony, ia mencoba mengelus milik Rony yang memang sudah berdiri tegak"Eughh enak sayang, ahhh" Desah Rony"Ahh udah sayang, mas mau langsung ke inti nya ya" Lanjut Rony"Mas, jangan" Ucap Salsa"Jangan apa sayang? Kita udah sejauh ini, udah tanggung. Mas mau masukin kamu yaa. Mas mau kamu jadi milik mas seutuhnya" Balas Rony"Mas aku takut" Rengek Salsa"Mas janji, mas akan tanggung jawab sama kamu sayang. Mas akan nikahin kamu" Balas RonyRony sudah tak tahan, ia mulai mendekat kan miliknya dengan lubang Salsa. Di gesekkan nya milik dirinya dengan Salsa dan saat merasa milik Salsa semakin basah. Barulah Rony mendorong masuk miliknya."Ahhh masss ronyyy sakitttt" Teriak Salsa"Sutss suttss tahan ya sayang, ini masih masuk sedikit sayang. Kamu sempit banget, susah masuknya" Balas Rony"Mas udah mas sakitt" Ucap Salsa"Kalo mas keluarin lagi nanti makin sakit sayang, tahan yaa. Dikit lagi yaa" Balas RonyMelihat Salsa yang semakin kesakitan, membuat Rony akhinya menghentakkan miliknya dengan sedikit kuat hingga akhirnya berhasil membobol keperawanan Salsa.Rony tersenyum melihat darah perawan Salsa berhasil ia dapatkan. Itu tanda nya Salsa memang hanya untuknya.Rony kembali melumat bibir Salsa sembari menghapus air mata Salsa untuk mengalihkan rasa sakit yang Salsa rasakan.Saat merasa Salsa jauh lebih tenang, Rony mulai menggerakkan pinggulnya."Arghh Cahh enakkh bangethh sayang" Desah RonyRony baru merasakan surga dunianya lewat lubang milik Salsa, padahal dia bisa saja meminta hak nya pada istrinya. Namun Rony bahkan enggan meminta nya, Rony tau jika istrinya sendiri pasti sudah tidak perawan oleh lelaki lain. Mengingat dia tidak pernah pulang, dan sekalinya pulang pasti dalam keadaan yang berantakan. Itu salah satu sebab Rony sama sekali tidak minat mendekati istrinya."Ahhh masshh Ronyy ahhh" Desah Salsa"Enakkhh sayanghh eughh kamu nikhmat bangethh ahhh" Desah RonySetelah berjam-jam Rony terus menggempur Salsa. Akhirnya Rony sampai di pelepasan nya yang entah sudah keberapa."Ahhhh" Desah RonyRony ambruk di atas tubuh Salsa yang jauh lebih lemas di banding Rony. Rony ambruk tanpa melepaskan penyatuan mereka dan sengaja agar cairan cinta nya masuk ke dalam rahim Salsa.Rony berpikir jika Salsa hamil anaknya, maka akan lebih mudah dia menceraikan Laras dan menikah dengan Salsa. Maka dari itu Rony sengaja mengeluarkan semua cairan cinta nya di dalam rahim Salsa."Mas udah, capek Mas" Ucap Salsa lemas"Iya udah sayang, maaf ya. Mas terlalu bersemangat. Kamu terlalu candu buat mas""Makasih ya sayang, makasih banget. Mas janji mas bakalan tanggung jawab sayang, mas bakalan nikahin kamu" Balas Rony di akhiri dengan mengecup kening Salsa***Dua Minggu setelah kejadian itu, Rony jadi lebih sering meminta jatahnya pada Salsa. Dan setiap malam juga mereka sudah tidur di kamar yang sama layaknya suami istri.Laras juga semakin berani, membawa kekasihnya ke rumah Rony. Namun Rony tak peduli, dia sudah menemukan kebahagiaan nya bersama Salsa. Mau Laras bertingkah apapun, Rony tak peduli. Rony hanya ingin Salsa dan Salsa setiap saat."Pagi sayang, lagi masak apa nih?" Tanya Rony sembari memeluk Salsa dari belakang"Masak nasi goreng seafood mas, kamu mau kan?" Tanya Salsa"Ya mau dong sayang, masakan kamu mah selalu the best" Balas Rony seraya meremas payudara Salsa dan menciumi leher Salsa"Ck! Tanga sama mulutnya nakal banget sih! Aku lagi masak mas, nanti aja ih" Omel Salsa"Mau main di dapur gak sayang? Hmm?" Goda Rony"Jangan gila ya mas, nanti kalo ada yang liat gimana?" Omel Salsa"Kunci aja pintunya biar gak ada yang masuk, lagian siapa sih yang mau masuk rumah ini hmm?""Orang tua kita lagi di luar negeri sayang, palingan Laras juga gak pulang ke rumah. Jadi aman, yuk" Bujuk Rony"Gak ah, semalem udah ya mas. Subuh tadi aku juga baru keramas. Udah ah aku gamau" Tolak Salsa"Ish, pelit banget sih sayang. Ayo lahh" Goda Rony sembari terus mencoba merangsang Salsa"Eughh gamau Mash" Tolak Salsa sedikit mendesahRony menyerang titik lemah Salsa, ia justru memainkan lidahnya pada belakang telinga Salsa"Gamau kok desah sih? Hmm?" Ucap Rony sensual dan tangannya mulai masuk ke dalam celana Salsa dan memainkan inti Salsa"Ahh mashh janganh, aku capekk" Tolak Salsa sembari menyingkirkan tangan Rony"Ekheemm""Mesra-mesraan nya bisa lanjut nanti gak? Mata gue ternodai ini lihat kalian mesra-mesraan" Ucap LarasSontak Saja Salsa mendorong tubuh Rony menjauh darinya. Rony hanya berdecak kesal sebab Laras menganggu aktifitasnya menggoda Salsa."Kak, ini gak seperti yang kakak liat kok. Kakak salah liat tadi" Ucap Salsa panik"Hahaha ngapain sih lu panik? Udah lah gapapa Ca, gue juga udah tau lama kali hubungan kalian""Santai aja Ca, gue malah mau berterimakasih sama lu. Lu udah bikin nih manusia jatuh cinta sama lu, dengan begitu gue bisa cepet cerai sama dia dan nikah sama Nando""Eh tapi Ron, cepetan deh ceraiin gue. Gue takut Adek gue hamil anak lu. Gue lihat-lihat lu nafsu banget sama adek gue" Ucap Laras"Iya, secepatnya gue bakal urus perceraian kita. Gue cuma nunggu kondisi ayah kalian baik-baik aja. Gue bakal ceraiin lu, dan gue bakal nikahin Caca" Balas Rony"Bagus, lanjut deh lu berdua. Gue mau tidur" Balas Laras"Kak? Gak makan dulu? Ini Caca masak nasi goreng" Ucap Salsa tak enakLaras mendekati Salsa, karena Laras yakin saat ini Salsa merasa tak enak padanya.Laras memeluk Salsa dengan erat"Ca, maafin kakak ya. Sebenernya ini semua emang rencana kakak. Kakak mau kamu deket sama Rony. Kakak yang mau kalo Caca gantiin posisi kakak jadi istri Rony. Rony baik Ca, dia laki-laki yang pas buat Caca""Caca tau kan? Seberapa cinta nya kakak sama Nando? Kakak pengen nikah sama Nando Ca, Kakak pengen bahagia sama dia. Tapi kakak bisa apa? Saat Kakak liat kondisi Papa makin drop setelah kakak tolak perjodohan ini. Kakak gak ada pilihan lain selain menerima perjodohan ini""Tapi Kakak juga gabisa Nerima Rony di hidup kakak. Hidup kakak udah penuh sama Nando, jadi Kakak mutusin untuk tinggal di apartemen dan pulang sesekali ke sini karena kakak emang gamau Rony berharap banyak sama pernikahan ini""Kakak kepikiran untuk deketin kamu dan Rony setelah kakak lihat kalian itu cocok. Kalian sama-sama baik, dan Rony pasti bisa dengan mudah jatuh cinta sama kamu Ca. Kakak mau kamu di jaga sama laki-laki baik seperti Rony""Jadi jangan ngerasa gak enak ya Ca. Kakak sayang banget sama kamu dan Kakak juga dukung banget kalo kamu mau nikah sama Rony. Kakak juga mau bahagia dengan pilihan kakak Ca, begitu pun kamu. Kamu gak salah sama sekali, ini beneran rencana kakak" Ucap Laras menenangkan SalsaLaras melepaskan pelukannya lalu menatap dalam mata Salsa"Bahagia terus ya adik kecil Kakak. Kakak tau kamu bahagia sama Rony. Nanti kakak yang bantu bilang sama Papa dan Mama ya, karena ini memang bukan salah Caca. Tapi salah Kakak" Balas Laras"Jagain Adek gue! Cepetan nikahin, jangan mau make Adek gue doang lu Ron! Sampe lu ninggalin Adek gue setelah lu nidurin dia berkali-kali. Habis lu sama gue! Beneran gue cari lu walaupun sampe ke lubang tanah sekalipun!" Ancam Laras"Gue bukan cowo brengsek! Kalo gue udah berani nyentuh Caca, udah pasti Caca bakalan gue nikahin. Lu tenang aja" Balas Rony"Oke, gue pegang janji lu" Balas Laras***"Euhh Ahhh masshh, mauhh keluarr mashh AAhhh" Desah Salsa"Barengh sayanghh, mas jugahh hampir sampaiii ahhhh" Balas RonyRony ambruk dengan miliknya yang masih terbenam sempurna pada milik Salsa."Makasih sayang, kamu tuh selalu nikmat tau gak!""Udah berkali-kali mas masukin, tetep aja sempit. Mas jadi kelabakan sendiri sangking enaknya" Ucap Rony lemas"Mas? Kamu keluarin di dalem?" Tanya Salsa kaget"Iya, kan biasanya juga gitu. Mas gamau ngeluarin di luar. Udah terlalu nyaman dia di dalem" Balas Rony"Mas, tapi kan aku baru selesai Haid. Ini masuk masa subur ku mas! Gimana kalo aku hamil" Ucap Salsa panik"Hey tenang, mas bakalan tanggung jawab. Lagian sidang cerai mas kan tinggal dua hari lagi. Setelah itu mas bisa nikahin kamu sayang" Balas Rony santai"Mas, orang tua aku mungkin bisa terima kamu ceraiin Kak Laras. Tapi aku gak yakin mereka bakal terima kamu lagi untuk nikah sama aku mas" Balas Salsa"Yaudah kalo gak di terima tinggal bilang aja, kalo anak gadisnya ini eh udah bukan gadis ya? Kan udah mas ambil gadisnya waktu itu hehe" Ucap Rony"Ish mas serius!" Omel Salsa"Ya tinggal bilang, gimana caranya kita harus tetep nikah. Orang mas udah nidurin Caca berkali-kali, bahkan mungkin Caca bentar lagi hamil anak Mas. Pasti mereka setuju nikahin kita sayang" Balas Rony santai"Mas jangan aneh-aneh ya, yang ada nanti papa makin drop" Balas Salsa"Gak akan sayang, udah tenang ya. Kita pasti nikah, mas gak akan biarin laki-laki lain nikahin kamu. Kamu tuh cuma punya mas ngerti" Tegas Rony"Iya mas" Balas Salsa pasrah***Hari ini adalah hari dimana Salsa dan Rony akan menikah. Enam bulan pasca Rony dan Laras bercerai, dan empat bulan setelah Laras dan Nando menikah.Ya, Laras dan Nando sudah menikah lebih dulu karena Laras sudah mengandung anak Nando.Sedangkan Salsa sendiri, hubungannya dengan Rony baru saja membaik setelah Rony sempat marah dan mendiami Salsa hampir sebulan. Rony marah ketika mengetahui bahwa Salsa meminum pil pencegah kehamilan tanpa seizinnya. Pantas saja Rony berpikir, mengapa Salsa tak kunjung hamil anaknya, padahal selama ini Rony masih rutin meminta jatahnya diam-diam pada Salsa.Salsa yang berhasil menjelaskan alasannya mengonsumsi pil itu pun membuat Rony luluh dan akhirnya mereka bisa melangsungkan pernikahan nya hari ini. Rony sangat bahagia akhirnya dia bisa menikah dengan wanita pilihannya. Walaupun banyak orang yang berspekulasi jika Salsa merebut Rony dari Laras. Sebisa mungkin Rony membantu Salsa agar tak mempedulikan omongan sampah itu.Kedua orang tua mereka pun sudah mengetahui hubungan mereka selama ini. Laras lah yang bertanggung jawab menjelaskan semuanya pada kedua keluarga. Walaupun awalnya orang tua Salsa menolak, namun melihat putrinya yang memang sangat mencintai Rony akhirnya mereka pun setuju menikahkan Salsa dengan Rony."Akhirnya, mas bisa tidur sambil peluk kamu lagi sayang. Mas kangen banget tidur sama Caca" Ucap Rony memeluk istrinya dengan erat"Caca juga kangen sama mas, kangen tidur di peluk sama mas" Balas Salsa"Kangen main sama mas gak?" Goda Rony"Kalo itu sih gak! Orang mas aja masih sempet minta seminggu yang lalu ya di apartemen mas!" Omel Salsa"Hehe ya kan itu beda sayang, sekarang kan statusnya kita udah Sah, udah halal. Mau begituan sampe kapan pun gak perlu sembunyi-sembunyi lagi" Ucap Rony yang kini sudah mulai menciumi leher Salsa"Ih mas geliii, jangan sekarang dong. Capek tau mas, habis berdiri seharian" Tolak Salsa"Sayang, dosa loh nolak suami. Lagian mas udah puasa seminggu ini, si Joni kangen sama sarangnya. Yuk kita bikin anak yuk" Goda Rony"Ish bahasanya loh" Omel Salsa"Sekarang kamu gak ada alasan lagi buat konsumsi obat itu ya. Mas mau kamu hamil anak mas! Sampe mas nemuin obat itu lagi, mas buang obat itu! Mas gempur kamu habis-habisan sampe kamu hamil anak mas! Liat aja" Ancam Rony"Ck gausah mas ancem juga mas udah sering gempur aku habis-habisan! Itu udah bukan anceman. Tiap main emang mas susah buat berhenti!" Omel Salsa"Hahahaha lucu banget sih istri mas ini, jadi beneran pengen hap deh hahaha" Balas Rony terkekeh"Dih, mesum Mulu emang otaknya" Sindir Salsa"Bodo amat, istri mas cantik begini emang pantes di mesumin" Balas Rony"Udah lah, mas udah kangen berat sama lubang kamu sayang. Mas mau kamu malam ini, kita bergadang honey hahaha" lanjut RonySalsa hanya bisa pasrah menghadapi kemesuman suaminya. Namun ia juga bahagia karena Rony menepati janjinya untuk menikahinya.Kini hidup Salsa dan Rony pun bahagia, begitu pun juga Laras dan Nando yang kini tengah menanti kelahiran buah hati mereka. Nando yang sudah dengan setia menunggu Laras menikah dengan orang lain pun kini bisa berbahagia, karena nyatanya Laras adalah jodohnya.Berbeda dengan Rony, yang sedari awal juga terpaksa menikah dengan Laras. Justru karena pernikahan nya dengan Laras, kini dia bisa mendapatkan cinta sejatinya. Cinta sejati sekaligus jodoh Rony yaitu adik iparnya sendiri. Adik dari Laras yang kini sudah Sah menjadi mantan istrinya.~END~

Kakak Adik?
Teen
30 Jan 2026

Kakak Adik?

Hari ini adalah hari kepulangan Rony ke Indonesia setelah hampir tiga tahun dia harus menyelesaikan studi nya di Inggris. Dia benar-benar tidak sabar untuk bertemu keluarga nya, terutama adik kecilnya yang sangat manis."Abangggggg" Teriak Salma ketika melihat kedatangan RonyYa, adik Rony bernama Salma. Jarak usia mereka hanya tiga tahun, mangkanya mereka sangat dekat. Rony juga sangat posesif pada adiknya. Mengingat adiknya ini sangat lah cantik dan memiliki tubuh yang ideal. Dia takut jika adiknya yang polos ini menjadi incaran laki-laki brengsek di luar sana."Adekkkk, Abang kangen banget sama adek" Ucap Rony sembari memeluk erat adiknyaRony juga mengecup kening dan pipi Salma terus menerus."Ih udah Abang, basah semua muka Adek" Balas Salma sembari mengusap wajahnya"Hahaha habisnya kangen banget sih. Oh iya, kamu jemput Abang sendirian?" Tanya Rony"Gak bang, Ayah sama Bunda lagi mam tuh di sana. Samperin yuk" Ajak Salma"Yaudah yuk sayang" Balas Rony sembari menggandeng tangan Salma***Rony masuk ke dalam kamar Salma lalu menutup pintunya kembali dan melihat adiknya tengah sibuk bermain ponsel di ranjangnya."Sibuk banget sama hp nya. Abangnya pulang gak di temuin, gak kangen apa sama Abang? Atau emang Adek udah gak sayang ya sama Abang?" Tanya Rony memelas"Eh Abang, ihh bukan gitu. Adek kira tadi Abang udah bobo. Takutnya Abang kan capek habis perjalanan jauh bang. Maaf yaa" Balas Salma sembari mendudukan dirinya lalu memeluk Rony"Emang lagi sibuk chatan sama siapa sih? Abang gamau ya kalo Adek pacar-pacaran. Abang gak suka" Ucap Rony"Ihh orang gak chatan sama siapa-siapa kok. Nih liat, orang Adek cuma scroll tiktok aja bang" Balas Salma sembari menyodorkan ponselnya"Iya iya Abang percaya""Abang bobo sini ya, Abang kangen sama Adek. Boleh gak?" Tanya Rony"Yeayyy, boleh dong. Adek juga kangen banget bobo di peluk sama Abang" Balas Salma"Yaudah bobo yuk, sini Abang peluk" Ucap RonyAkhirnya Salma dan Rony pun tidur dengan posisi berpelukan.***"Abang kapan sih punya pacar? Perasaan kuliah udah jauh-jauh ke Inggris masih aja gak punya pacar" Ucap Ayah"Males pacaran, ribet" Balas Rony"Ribet kenapa sih bang? Abang udah makin dewasa, masa gamau punya pasangan" Balas Bunda"Pengen nyari cewe yang kaya Adek, tapi masih gak Nemu" Balas Rony santai"Lah, kenapa harus kaya Adek?" Tanya Salma"Adek tuh pinter, cantik, lucu, gemesin, baik, sabar, penyayang, lembut udah lah pokoknya paket lengkap""Coba aja Adek bukan Adek Abang, udah Abang nikahin Adek" Ucap Rony santaiBunda dan ayah seketika tersedak makanan yang tengah mereka makan"Astaghfirullah, ayah bunda. Kenapa ga pelan-pelan sih makannya?" Ucap Salma panik"Hehe maaf dek, kaget aja Abang nyeletuk begitu" Ucap ayah"Kalo Abang gak Nemu yang kaya Adek gimana? Kan semua orang beda bang, mereka punya kelebihan dan kekurangan versi dirinya masing-masing" Timpal Bunda"Yaudah Abang gak nikah, ntar-ntar aja lah bund. Ngapain sih buru-buru banget nikah, Abang juga baru lulus kuliah. Masih mau kerja, mau nyenengin ayah bunda dulu, nyenengin Adek dulu. Baru deh mikirin nikah, itu pun kalo Nemu yang cocok" Balas Rony santai"Kalo Adek? Udah punya pacar?" Tanya Ayah"Ayah apaan sih! Gak ada ya, Adek gaboleh pacaran! Nanti kalo adek ketemu cowok brengsek gimana?" Ucap Rony posesif"Bener Abang yah, Adek masih SMA. Takutnya nanti adek ketemu cowo yang gak bener. Mending fokus sekolah aja ya sayang, apalagi Adek bulan depan ujian. Adek juga harus nyiapin diri buat ujian masuk perguruan tinggi yang Adek mau kan" Timpal Bunda"Iya bunda, lagian Adek juga gak tertarik Deket sama cowo kok. Temen Adek banyak yang tiba-tiba suka nangis, tiba-tiba galau gara-gara cowok. Jadi Adek pikir kalo pacaran cuma bikin sedih doang" Balas Salma"Kan, bener tuh. Udah kamu fokus aja belajar. Sekolah yang bener biar bisa masuk kampus favorit kamu" Timpal Rony"Iya Abang, bawel banget" Balas Salma***"Abang, Adek nya di jagain ya. Jangan keluyuran malem-malem. Kalo main mending temen-temen Abang ajak kesini. Pokoknya Adek jangan di tinggal sendirian! Ayah bunda gak lama kok, cuma seminggu setelah itu janji bakalan pulang. Oke" Ucap Ayah"Adek mau ikut Bun, Adek mau ketemu uti" Rengek Salma"Gabisa dek, Adek kan lagi ujian. Masa mau bolos sih, udah ya di rumah sama abang. Doain semoga uti bisa cepet sehat biar ayah bunda bisa cepet balik ke rumah. Nurut ya sayang" Balas Bunda"Kan ada Abang dek, udah gausah sedih gitu. Abang janji gak akan ninggalin Adek sendirian" Timpal RonyMalam harinya, Rony mengajak beberapa temannya untuk bermain PS di rumah. Dia sudah berjanji tidak akan meninggalkan adek nya sendirian di rumah."Mau kemana dek?" Tanya Rony saat melihat Salma turun dari tangga"Mau beli makanan di depan bang, Adek laper" Balas Salma"Eh yaampun lupa, bibi kan juga lagi pulkam ya. Yaudah, Abang anterin yuk. Mau mam apa?" Tanya Rony"Gausah bang, kan ada temen-temen Abang disini. Adek bisa sendiri kok" Balas Salma"Gak ada ya, ini udah malem! Gausah aneh-aneh. Abang anter!" Tegas Rony"Iya Sal, udah malem bahaya. Lu itu cantik, ntar di culik gimana" Goda Paul"Kita mah gapapa, penting lu aman sal. Gak baik cewek-cewek pergi sendiri" Timpal Nayl***"Adek lu emang cantik banget ya bro, wajar lu posesif anjir" Ucap Paul"Iya gila, udah cantik. Badannya bagus lagi, hehe sorry ya bro tapi Adek lu emang seksi sih" Timpal Nayl"Mulut lu berdua mau gue sobek gak! Berani banget lu ngomong in Adek gue ya anjing!" Bentak Rony"Santai elah, emosi banget hahaha kan kita cuma ngomong fakta bro. Dia pake hijab aja cantik banget, gimana kalo lepas hijab bro? Makin cantik pasti kan" ucap Paul"Iya, dan itu cuma boleh gue yang lihat" Balas Rony"Dih, lu cuma abangnya. Ntar tuh suaminya yang bisa lihat semua dari atas sampe bawah. Ya sapa tau jodoh Salma gue kan, betapa beruntungnya gue" Ucap Paul"Gausah halu lu! Salma cocokan sama gue, gue kekep terus di kamar tuh cewe kalo beneran jadi bini gue" Timpal Nayl"Bangsat! Jangan bayangin yang gak-gak tentang Adek gue anjing! Adek gue gak bakal nikah sama kalian berdua ngerti!" Bentak Rony"Terus nikahnya sama siapa? Elu gitu? Lu yang halu, kita mah masih ada kesempatan ya. Kalo lu mah udah pasti gabisa anjirr kan lu abangnya, masa iya lu suka sama Adek lu sendiri sih Ron? Aneh lu" Ucap PaulSeketika Rony mematung, apa maksud Paul? Apa benar dia menyukai adiknya sendiri?***Tiga hari sudah, orang tua Rony pergi ke Jogja, dan tiga hari ini Rony selalu mengajak teman-teman nya bermain di rumah karena ia tak mau meninggalkan adiknya sendirian. Rony masuk ke dalam kamar Salma setelah semua teman-teman nya pulang."Adek, udah dimakan belum tadi nasi goreng nya?" Tanya Rony"Udah Abang, udah habis malah" Balas Salma"Udah sholat?" Tanya Rony"Udah juga, Abang tuh belum sholat. Sana gih sholat" Ucap Salma"Yaudah, Abang sholat dulu di kamar terus ntar Abang kesini lagi. Abang bobo sama Adek ya disini" Balas Rony"Iya bang" Balas SalmaSetelah menyelesaikan sholatnya, Rony kembali ke kamar Salma dan melihat Salma sedang berdiri di balkon kamarnya. Rony memeluk adiknya dari belakang dengan erat"Ngapain di luar malem-malem? Dingin sayang, masuk yuk" Ajak Rony"Kangen bunda Abang" Rengek Salma"Kan ada Abang disini, kalo Adek kangen bunda bisa peluk Abang sepuasnya" Balas Rony sembari tangannya mengusap lembut perut rata Salma"Beda Abang, kan kangennya bunda. Bukan Abang" Balas Salma manjaRony melepaskan pelukannya lalu memutar tubuh Salma menghadapnya. Rony mengelus lembut pipi adiknya yang sangat cantik dan menggemaskan itu"Sayang, dengerin Abang ya. Abang emang gabisa gantiin bunda. Tapi setidaknya kalo Adek kangen sama bunda, Adek bisa peluk Abang. Adek bisa lampiasin sama Abang, Adek bisa nangis depan Abang. Adek gausah malu sama Abang, Abang akan selalu ada buat adek""Jadi jangan sedih lagi ya sayang, Abang gak suka kalo liat Adek sedih begini. Abang jadi ikutan sedih" Ucap RonySalma tersenyum sangat manis mendengar ucapan Rony.Jangan senyum gitu dek, hati Abang gak kuat liatnya. Abang takut khilaf sama kamu, apalagi kita cuma berdua di rumah sekarang *batin Rony"Makasih ya Abang, Adek jadi gak sedih lagi" Balas Salma"Sama-sama sayang" Balas RonyRony semakin mendekat pada wajah Salma, tangannya juga masih terus mengusap pipi Salma dengan lembut. Entah dorongan dari mana, Rony sudah mencium bibir Salma, melumatnya perlahan serta merasakan bibir manis adiknya. Salma hanya diam, dia bingung harus bagaimana saat merasakan ciuman dari abangnya sendiriCiuman Rony semakin dalam, tangan Rony bahkan menahan tengkuk Salma agar dapat memperdalam ciuman nya. Tubuhnya semakin mendekat hingga tubuh mereka benar-benar menempel satu sama lain. Rony mengarahkan tangan Salma agar bertengger di lehernya.Rony menggigit bibir Salma karena merasa adiknya itu tak kunjung membuka mulutnya. Rony ingin merasakan lebih dalam mulut Salma, dan saat mulut Salma terbuka Rony segera menelusupkan lidahnya. Mengabsen satu persatu isi mulut adiknya. Bibir adiknya sangat candu bagi Rony, ini benar-benar diluar dugaannya.Ciuman pertama nya malah Rony lakukan pada adiknya sendiri. Walaupun Rony lama tinggal di luar negeri, dia sama sekali tak pernah dekat ataupun sekedar memiliki teman wanita. Rony sama sekali tak tertarik, dia hanya ingin belajar dan cepat lulus agar bisa kembali bertemu dengan adiknya. Rony juga tau ini yang pertama pula untuk Salma. Apalagi sangat terasa adiknya tidak pandai dalam berciuman, adiknya bahkan tidak mengerti bagaimana membalas ciuman darinya."Adek, balas ciuman Abang" Ucap Rony sendu"Gimana? Adek gatau" Balas Salma"Adek ikutin cara Abang tadi, dibuka mulutnya sayang terus lidahnya main sama lidah Abang" Ucap RonyRony kembali mencium bibir Salma dan tak lama Salma pun melakukan apa yang Rony katakan padanya. Salma mulai membalas dan mengikuti gerakan lidah Rony. Rony semakin merasa terbuai kala adiknya mulai membalas ciumannya. Tangan Rony kini beralih meremas payudara Salma."Eughh abanghhh" Lenguh Salma"Maaf sayang, Abang cuma mau pegang dada Adek. Boleh yaa" Ucap Rony"Jangan Abang" Tolak Salma"Gapapa dek, kan Abang. Abangnya Adek, boleh ya" Rayu RonySalma tak lagi menjawab, Rony pun kembali meremas payudara Salma. Dan kembali mencium bibir adiknya.Rony tau ini salah, tapi entah mengapa dia tak bisa menahan dirinya sendiri. Ciuman Rony kini mulai turun pada leher Salma, dengan tangan yang masih meremas payudara Salma. Rony justru membuat banyak kissmark di leher mulus adiknya."Eughh abanghhh" Lenguh Salma"Kamu cantik dek, kamu cuma punya Abang. Gak ada yang boleh deketin Adek selain Abang" Ucap RonyRony sebenarnya heran pada dirinya sendiri, padahal selama ini banyak perempuan cantik yang mendekatinya. Bahkan suka rela memberikan tubuhnya pada dirinya, namun Rony sama sekali tak pernah tertarik dengan wanita lain. Rony justru sangat tertarik dengan adiknya sendiri, Rony tau perasaan nya salah tapi semakin dia coba meredam perasaannya. Semakin dalam pula perasaaan Rony pada adiknya.Sama seperti malam-malam sebelumnya, setiap tidur bersama sang adik. Sebenarnya Rony harus menahan diri agar tak melakukan apapun pada adiknya. Apalagi mereka sering kali tidur berpelukan, dengan Salma yang hanya menggunakan tanktop dan payudaranya yang menempel sempurna pada dada Rony.Selama ini Rony bisa menahan dirinya agar tak mencumbui Salma. Namun entah mengapa, hari ini rasanya Rony sudah tak bisa lagi menahan dirinya. Gejolak aneh sangat terasa dalam dirinya kala ia menyentuh tubuh Salma. Adiknya benar-benar membuat Rony hampir gila.Saat Rony hendak membuka kancing piyama Salma, ia baru tersadar. Jika ia sudah melewati batas, ia sudah mencumbui adiknya sendiri. Ini tidak boleh terjadi, ini harus di hentikan. Rony tak ingin merusak adiknya sendiri demi nafsunyaRony melepaskan dirinya dan sedikit mundur dari tubuh adiknya dengan nafas yang terengah-engah."Udah malem dek, bobo yuk. Masuk ke dalam, disini dingin sayang""Oh iya, adek gaboleh lakuin itu sama cowok lain ya. Cuma Abang yang boleh cium sama pegang adek. Ngerti" Tegas Rony"Iya Abang" Balas Salma yang masih sama bingungnya dengan RonyRony menggandeng Adeknya untuk tidur di ranjang, sedangkan dia beralih pergi ke kamar mandi dan menuntaskan hasratnya.Cukup lama Rony di kamar mandi, akhirnya ia keluar dengan keadaan yang sangat segar. Lalu menatap gadis yang hampir saja ia lecehkan itu sudah tertidur sangat pulas.Rony mendekat lalu mencium kening Salma cukup lama."Maaf ya dek, Abang hampir aja khilaf sama kamu. Abang tau ini salah, Abang gabisa nahan diri dek. Maafin Abang yaa, Abang salah karena Abang udah suka sama adik Abang sendiri" Monolog Rony lirih sembari mengusap pipi Salma***Pagi harinya Rony bangun sedikit kesiangan, sedangkan Salma sudah memasak sarapan nya di dapur.Saat Salma sibuk memanggang roti, tiba-tiba tangan Rony melingkar dengan erat di perut rata adiknya. Rony juga menciumi bahu Salma. Salma memang tengah menggunakan tanktop dan hotpants karena merasa tidak ada orang di rumah nya."Selamat pagi Abang" Sapa Salma"Pagi juga cantik, lagi masak apa nih?" Tanya Rony"Cuma panggang roti bang, bahan-bahan masakannya nya pada abis. Gapapa ya?" Tanya Salma"Gapapa dong sayang, lagian besok pagi bibi juga udah balik kan. Jadi nanti kita mam di luar aja yaa" balas Rony"Siap Abang" Balas Salma"Kalo gini, kita berasa jadi suami istri ya dek. Andai aja Adek bukan Adek Abang, pasti Abang udah nikahin Adek" Ucap Rony"Udah ih, masih pagi udah ngehalu aja""Mending, Abang tunggu di meja makan aja sana. Biar Adek selesaiin ini dulu" Ucap Salma"Gamau, Abang maunya nemenin Adek disini sambil peluk Adek" Balas Rony sembari tangannya yang sudah meremas payudara Salma"Ih Abang, kalo mau peluk ya peluk aja. Tangannya jangan mainin nen Adek terus dong" Omel Salma sembari menyingkirkan tangan Rony"Hehe abisnya nen Adek gemes. Mirip squishy sayang. Abang suka deh" Balas Rony kembali meremas payudara Salma"Adek tapi inget ya, gaboleh ada yang megang nen Adek kecuali Abang sama bunda. Ayah juga gaboleh! Apalagi laki-laki lain. Ngerti sayang?" Lanjut Rony"Iya Abang" Balas Salma pasrahTangan Rony terulur mematikan kompor lalu menarik dagu Salma. Rony kembali mencium bibir Salma dari belakang."Abang udah, nanti roti nya gosong" Ucap Salma sembari menjauhkan bibirnya dari Rony"Kompornya udah Abang matiin dek, siniin bibirnya. Abang mau cium Adek lagi" Balas Rony sembari menarik dagu SalmaRony kembali menempelkan bibirnya pada bibir Salma, kini Salma juga sudah membalas ciuman Rony. Tangan Rony yang semula meremas payudara Salma dari luar tanktop. Kini malah mulai memasukkan tangannya dan meremas payudara Salma dari dalam namun masih terhalang oleh bra yang di kenakan Salma.Selain meremas payudara Salma, ciuman Rony kini mulai turun pada leher Salma."Hmm Adek wangi banget cihh, mandi jam berapa tadi sayang? Abang bangun, Adek udah gak ada di samping Abang" Ucap Rony"Bangun Jam delapan tadi bang, kalo mandi nya kan tadi sebelum kita sholat subuh" Balas Salma"Oh iya, mandinya subuh tapi sampe sekarang masih wangi banget. Hmm seger lagi baunya" Ucap Rony yang terus mengendus leher Salma"Ih Abang, geli ih. Udah jangan cium-cium Adek terus" Rengek Salma"Gamau, Abang mau cium-cium kamu terus hahahaha" Goda Rony sembari terus menciumi SalmaPosisi Rony yang menghimpit Salma membuat Salma merasakan ada sesuatu yang mengganjal pada bagian belakang dirinya."Abang, kok di bokong Adek berasa ada yang ganjel sih? Abang nyimpen apa di saku celana Abang?" Tanya Salma polos"Hahaha kamu tuh bentar lagi lulus SMA loh dek. Baru kemarin lusa kan selesai ujian. Tapi kok masih gatau itu apa sih?" Goda Rony"Ya emang adek gatau, emang Adek liat Abang masukin barang ke saku Abang? Gak kan?" Tanya Salma"Itu bukan barang dek, coba kamu pegang. Sini tangan Adek mana, Abang pinjem" Ucap RonyRony menuntun tangan Salma untuk memegang miliknya."Eugh dekk, iya pegang aja dek" Lenguh RonySalma refleks memutar badannya dan melihat ke arah tangannya yang tengah memegang milik abangnya."Bang? Ini burung Abang?" Tanya Salma polos sembari sedikit meremas milik Rony"Iya, yang dari tadi ganjel kata adek itu burung Abang! Bukan barang dek""Jangan di remes sakit, coba elusin aja dek" Pinta Rony"Gamau ih, jorok Abang" Omel Salma"Kenapa jorok? Gak jorok kok, coba deh" Ucap Rony sembari menarik tangan Salma untuk kembali mengusap miliknyaRony menuntun tangan Salma mengusap miliknya dari balik celana, menggerakkan tangan Salma ke atas dan kebawah."Eughh iya gitu sayang" Lenguh Rony"Udah ah bang, Adek takut" Balas Salma langsung berbalik membelakangi Rony lagi dan kembali melanjutkannya memanggang Roti"Hahaha kenapa takut sih? Orang Abang cuma mau Adek kenalan sama burung Abang" Balas Rony santai sembari kembali memeluk Salma dari belakang"Iya tapi Adek takut, kan itu punya cowok. Adek gabole pegang atau lihat Abang!" Omel Salma"Itu kalo sama laki-laki lain Adek, kalo punya Abang mah gapapa. Kan Abang, abangnya Adek" Ucap Rony membujuk Salma"Ih tapi tetep aja, Adek gamau Abang!!!" Rengek Salma"Hmm kalo Abang? Boleh pegang punya adek gak?" Tanya Rony"Punya adek?" Tanya Salma"Iya yang ini" Ucap Rony sembari mengusap milik Salma"Ahh abanghh janganh" Balas Salma sedikit mendesah"Kenapa? Hmm?" Tanya Rony yang masih mengusap milik Salma"Jangan Abang, Adek gamau! Adek marah kalo Abang pegang pegang punya adek! Kata bunda itu gabole di pegang siapa-siapa kecuali suami Adek nanti!" Omel Salma sembari menghempaskan tangan Rony dari miliknya"Hahaha iya iya, maaf ya. Yaudah lanjutin masaknya gih. Abang mau lanjut ciumin Adek yaa" Balas Rony terkekehGue yang gak siap kalo Adek nikah sama laki-laki lain dan bisa milikin Adek seutuhnya. Adek cuma punya gue, bisa gak sih gue aja yang nikahin Adek. Arghhh *batin RonySaat Rony sibuk menciumi adiknya, tiba-tiba ponselnya berbunyi"Tuh bunyi hp nya, udah lepasin dulu" Ucap Salma"Ck! Ganggu banget sih" Omel RonySaat Rony melihat ponselnya ternyata bunda nya yang tengah menelpon.***Kini Salma dan Rony sudah berada di Yogyakarta. Setelah mendapatkan telpon dari bundanya. Mereka langsung memutuskan untuk terbang ke Yogyakarta secepatnya.Bunda mengabarkan bahwa kondisi Eyang Uti semakin memburuk, Eyang Uti hanya ingin bertemu dengan Salma dan Rony secepatnya. Jadilah saat ini mereka sudah berada di Jogja.Salma dan Rony segera ke rumah sakit menemui orang tua dan Eyang Uti nya."Ibu, ini Salma dan Rony sudah sampai. Ibu bisa lihat mereka kan?" Ucap Bunda SalmaEyang Uti hanya menganggukkan kepalanya."Rony sini nak, Uti mau bicara sama kamu" Panggil BundaRony mendekat ke arah Uti dan menggenggam tangan utinya."Ada apa ti? Uti mau apa dari Rony? Hmm?" Tanya Rony"Menikahlah dengan Caca Ron, uti cuma mau kamu menikah dengan Caca. Uti akan tenang jika Caca bisa menikah sama kamu dan kamu yang jadi suami Caca" Balas Eyang Uti"Apaaa? Ti? Caca adikku, bagaimana bisa aku menikahinya?" Tanya Rony kagetSalma pun tak kalah kagetnya mendengar permintaan Uti nya."Sebelumnya, biar ayah yang jelasin disini yaa" Ucap Ayah RonyAyah Rony memeluk putrinya erat lalu melepaskan dan menatap putri kecilnya. Ayah Rony menghela nafas nya, sangat berat mengatakan ini semua namun mereka terpaksa mengatakan ini semua agar Rony bisa menikahi Salma."Sebenarnya Caca bukan anak kandung Ayah dan Bunda. Caca adalah anak dari sepupu Bunda, sepupu Bunda yang sudah di rawat dan dibesarkan oleh Uti dulu dan sudah seperti adik kandung bunda sendiri""Saat itu Ayah dan Ibu kandung Caca akan pulang dari rumah sakit setelah melahirkan Caca. Namun karena Caca yang lahir dalam keadaan prematur, Jadi Caca harus tetap tinggal di Rumah sakit beberapa hari kedepan. Ayah dan Ibu kandung Caca pulang tanpa membawa Caca, namun naas nya saat di lampu merah arah perjalanan pulang. Mobil ayah dan Ibu Caca di tabrak oleh truk yang rem nya blong. Mereka berdua meninggal di tempat saat kejadian""Uti menangis dan meratapi nasib putri kecil yang baru saja di lahirkan namun harus kehilangan kedua orang tuanya. Uti sudah berniat bahwa uti yang akan membesarkan Caca sendirian. Tapi ayah dan Bunda tidak tega, ayah dan bunda juga sangat sayang dengan bayi kecil itu. Apalagi Abang, saat Caca sudah kami bawa pulang. Abang sangat bahagia, dia bahkan senang sekali menjaga adik kecilnya dulu""Abang benar-benar menyayangi adik kecilnya, dia tak henti-hentinya mencium adik kecil nya yang sangat menggemaskan. Dengan begitu, tak ada keraguan sama sekali untuk ayah dan bunda mengadopsi Caca sebagai putri kami. Apalagi setelah kehadiran Caca, keluarga kita semakin utuh. Ayah ingin sekali memiliki putri, namun tidak bisa terwujud karena rahim bunda bermasalah setelah melahirkan Abang""Ayah sangat bersyukur bisa memiliki Caca di hidup ayah. Jadi tolong ya nak, tetap menjadi anak ayah walaupun Caca tau kenyataan seperti ini. Caca tetap anak ayah, Caca akan selalu jadi anak ayah dan bunda" Ucap Ayah berkaca-kaca sembari memeluk Salma yang sudah menangis"Sayang, menikah lah dengan abangmu ya. Demi uti, demi ayah dan bunda. Ayah dan Bunda gak mau kehilangan Caca, mungkin menikah dengan Abang bisa membuat Caca menjadi anak ayah dan bunda selamanya. Mau ya nak" Bujuk BundaRony sama halnya dengan Salma, dia masih sibuk mencerna semua yang terjadi hari ini. Rony sebenarnya senang mengetahui bahwa Salma bukan lah adik kandungnya, dia bahkan bisa menikahi adiknya saat ini juga. Namun ia masih memikirkan perasaan Salma, ia tau bahwa adiknya itu sangat terluka setelah mengetahui semua fakta ini.***Sudah hampir tiga bulan Salma dan Rony resmi menikah. Salma masih mencoba memahami situasi nya dan berdamai dengan semua kejadian yang terjadi pada dirinya. Apalagi setelah Salma dan Rony menikah, Eyang Uti nya harus berpulang. Namun pesan dari uti nya yang selalu terngiang-ngiang di kepala Salma.Dimana uti nya berpesan jika Salma harus bisa menerima pernikahan nya dengan Rony. Hanya Rony laki-laki yang uti nya percaya untuk menjaga Salma. Salma harus bahagia bersama Rony.Selama tiga bulan ini Rony juga mencoba mengerti keadaan Salma. Dia bahkan tak pernah meminta haknya sedikit pun. Rony tau Salma masih butuh waktu untuk bisa menerima nya. Tapi Salma sendiri sudah berjanji akan belajar menerima semua nya termasuk Rony yang saat ini bukan lagi menjadi abangnya namun suaminya."Rasa nya aneh ya bang, padahal dulu kita sering tidur berdua sambil pelukan. Tapi selama tiga bulan ini, untuk dekat Abang aja rasanya Adek takut bang. Maafin Adek ya bang" Ucap Salma"Gapapa sayang, Abang tau ini semua berat buat kita terutama Adek. Tapi Abang udah janji sama ayah, sama bunda, sama Uti. Kalo Abang akan jadi suami yang baik buat adek, Abang akan jagain Adek selamanya. Abang janji dek" Balas RonySalma merubah posisinya menjadi membelakangi Rony. Salma menangis sangat pelan, namun Rony sadar jika istrinya tengah menangis."Hey, kenapa sayang? Ada yang salah sama ucapan Abang?" Tanya Rony yang kini sudah memeluk Salma dari belakang"Sekarang, Abang bukan Abang Adek lagi ya? Sekarang Abang udah jadi suami Adek? Hiks hiks kenapa bang? Kenapa harus kita yang ngalamin ini? Semuanya gak mudah buat adek bang, Adek sayang sama Abang tapi sayang Adek ke Abang itu sayang sebagai kakak bukan pasangan. Hiks hiks" Ucap SalmaEntah mengapa ucapan Salma sedikit menyakiti Rony. Namun Rony berusaha menepis perasaan sakit hatinya. Karena apa yang dirasakan Salma itu valid, selama ini mereka memang adik kakak. Pantas jika Salma sangat sulit menerima dirinya sebagai seorang suami bukan lagi seorang Abang."Ini semua sudah takdir Allah dek. Kita manusia hanya bisa menerima. Perasaan Adek valid, selama ini kita memang seorang kakak beradik. Tapi semenjak Abang jabat tangan ayah dan mengucapkan ijab qobul atas nama Adek. Perasaan Abang juga perlahan mulai berubah sama Adek, Abang mulai menerima kalo sekarang kita bukan lagi adik kakak dek. Tapi kita suami istri""Adek mau kan belajar buat menerima pernikahan ini sama Abang? Kalo Adek emang gamau ngelakuin ini buat Abang, Adek bisa lakuin ini demi almh. Uti, demi ayah atau demi bunda dek. Mereka mau kita bisa bahagia sama pernikahan ini dek, Abang juga sama. Abang cuma mau Adek bahagia hidup sama Abang. Abang gamau lihat Adek terus-terusan sedih, hati Abang ikutan sakit dek" Ucap Rony lembutSalma membalikkan tubuhnya menghadap Rony, wajah Salma dan Rony pun sangat dekat. Salma memeluk suaminya dan menyembunyikan wajahnya pada dada bidang Rony."Maafin Adek bang, maafin Adek kalo Adek egois. Padahal adek tau, disini Abang juga berkorban demi Adek""Adek mau kok bang, Adek mau belajar untuk mencintai Abang selayaknya istri yang mencintai suaminya. Bukan lagi sebagai adik yang meyanyangi kakaknya. Bantu adek ya bang, bantu adek buat cinta sama Abang dan jalanin rumah tangga ini sama-sama bang" Ucap Salma"Pasti dek, Abang pasti bantu adek. Kita mulai rumah tangga ini sama-sama ya dek" Balas Rony tersenyum sembari memeluk erat Salma***Setahun berlalu, Salma sudah mulai berdamai dengan keadaan. Dia juga sudah lama menerima Rony sebagai suaminya. Apalagi sekarang dia tengah mengandung buah cinta nya bersama Rony."Adek, kok turun sendiri? Abang kemana? Bisa-bisanya biarin Adek turun tangga sendiri. Nanti kalo jatuh gimana? Adek lupa adek lagi hamil lima bulan? Hah?" Omel Ayah"Astaghfirullah Adek!! Kok turun sendiri sih. Sini sini Bunda bantu" Ucap Bunda yang langsung menggandeng Salma turun"Mana Abang? Kok kamu turun sendiri? Adek tolong lah jangan nekat ya sayang, kamu lagi hamil nak" Omel ayah"Hehe iya iya maaf ya ayah, bunda. Abang lagi mandi, yaudah Adek tinggal aja turun dulu. Abang lama soalnya, ini anak Abang udah laper banget kayanya" Balas Salma"Astaghfirullah, yaudah mau mam apa sayang? Hmm?" Tanya Bunda"Nasi goreng bunda, terus mau roti coklat sama keju deh kayanya enak bunda" Balas Salma"Siap putri raja, akan bunda siapkan" Balas Bunda"Hehe makasih bunda cantik" Balas Salma"Adekk!!! Kenapa turun dulu? Kenapa gak nungguin Abang? Bandel banget sih! Udah disuruh nungguin Abang malah turun sendiri! Adek lagi hamil, bahaya kalo turun tangga sendiri!" Omel Rony yang baru saja tiba di meja makan"Maaf Abang, Adek laper banget. Ini anak Abang udah ngreog di dalem perut. Sedangkan Abang mandinya lama, yaudah Adek turun dulu" Balas Salma"Ck! Ya kan bisa teriak manggil Abang. Biar Abang bisa mandi cepet. Lain kali jangan gitu! Abang gak suka ya dek" Omel Rony sembari mengelus perut buncit Salma"Udah udah, mangkanya lain kali bangunnya jangan kesiangan bang. Mandi dulu kalo bisa kamu tuh, udah tau Adek sekarang sering laper. Kalo bisa jangan sampe telat makannya, yang makan kan gak cuma Adek. Tapi anak Abang juga di dalem perut Adek" Ucap Bunda"Iya Bun, maaf. Abang tadi kesiangan, jadinya lepas duluan ini istri Abang yang bandel ini" Balas Rony sembari mengusap puncak kepala Salma"Ihh lepas lepas, emang Adek kucing apa!" Omel Salma"Hahahaha, habis mam ganti baju ya. Hari ini jadwal Adek periksa kandungan. Abang anter baru nanti Abang ke kantor" Balas Rony"Udah gausah, Abang fokus nemenin Adek aja hari ini. Kantor biar Ayah yang handle" Balas Ayah"Beneran yah?" Tanya Rony"Beneran, jagain yang bener Adek. Kalo sampe Adek sama cucu ayah kenapa-napa. Leher Abang yang ayah potong" Ancam Ayah"Astaghfirullah, ayah! Kejam banget sih""Lagian nih ya, tanpa ayah suruh juga Abang pasti jagain istri sama anak Abang. Abang juga gamau mereka kenapa-napa yah" Balas Rony kesal"Tapi Adek gamau di temenin Abang periksanya!" Ucap Salma"Loh, kenapa dek? Kan Abang suami kamu" Balas Bunda"Iya, kenapa sih? Perasaan tiap bulan juga periksa nya sama Abang deh" Timpal Rony"Abang tuh selalu bikin malu tau yah, Bun. Masa tiap bulan pertanyaan nya tuh sama aja ke dokter nya" Balas Salma"Emang tanya apa dek?" Tanya Ayah"Ya tanya, udah boleh berhubungan belum dok? Kalo udah boleh baiknya tuh seminggu berapa kali ya dok? Ada larangan lainnya gak dok?" Ucap Salma menirukan RonyRony menggaruk tengkuk lehernya yang tidak terasa gatal. Istrinya ini sangat polos sekali, bagaimana bisa dia menceritakan hal itu pada orang tuanyaAyah dan Bunda lantas tertawa sembari melirik Rony"Sabar kali bang, gak tahan banget sih" Goda Bunda"Udah lama puasa ya bang, si Joni udah kangen sama sarangnya? Hahahaha" Ledek Ayah"Ck, kan wajar kalo Abang tanya gitu. Abang kan suami Adek, lagi hamil anak Abang lagi. Jadi Abang kan gamau bahayain anak Abang yang ada di sini" Bela Rony sembari mengusap perut Salma"Ya masa hampir tiap bulan tanya nya itu. Malu loh bang sama dokternya! Pasti dokter nya mikir Abang tuh mesum tau" Ucap Salma polos"Hahahaha aduh Adek, udah mau punya anak masih aja sih polos banget""Dokter gak akan mikir Abang kaya gitu sayang, itu wajar. Pasti banyak suami-suami yang sama khawatirnya kaya Abang. Kan berhubungan suami istri juga kebutuhan biologis nya Abang sebagai suami dek. Jadi dokter tuh pasti paham lah sayang" Ucap Bunda"Tuh dengerin bunda, jadi Abang gak salah. Adek gausah malu tau, orang itu wajar. Kan kita suami istri, itu kan juga bisa jadi sex education buat kita dek" Balas Rony"Ih iya iya, yaudah deh. Adek mau di anter Abang periksanya" Balas Salma"Ya harus mau, Abang kan mau tau keadaan anak Abang gimana" Omel Rony***Rony dan Salma sedang berada di balkon kamar Salma. Rony memeluk Salma dari belakang sembari mengelus perut buncit istrinya."Sayang, inget gak? Waktu pertama kali Abang cium adek disini?" Tanya Rony"Iya, Adek inget. Padahal malam itu kita masih gatau kalo kita bukan Adek kakak ya bang. Tapi kenapa kita malah kek gitu coba" Balas Salma"Hahaha iya lagi, Adek nih yang nakal. Godain Abang, Abang jadi khilaf waktu itu sama Adek kan" Goda Rony"Ihh nakal dari mana, orang pas itu Adek lagi sedih karena kangen bunda. Tiba-tiba aja Abang cium adek, mana Abang segala ngajarin Adek lagi gimana caranya ciuman" Balas Salma"Iya kan biar Adek bisa bales ciuman Abang waktu itu hahaha""Ini juga, perasaan waktu itu gak Segede ini deh. Sekarang kenapa nen Adek makin gede sih? Apa karena sering Abang mainin ya?" Ucap Rony sembari meremas payudara Salma"Ish Abang! Ya jelas makin gede lah, kan Adek lagi hamil. Bentar lagi nen Adek ada ASI nya buat anak Abang. Mangkanya makin gede, bukan karena sering di mainin Abang" Omel Meera"Cuma buat anak Abang? Buat Abang gaboleh kah?" Tanya Rony"Gaboleh! Ini jatahnya anak Abang" Balas Salma"Iya gapapa kalo yang atas buat anak Abang, yang bawah kan tetep punya Abang" Goda Rony"Ish, Abang ini. Mesum banget sih" Omel Salma"Kalo Abang gak mesum, kita gak bakalan punya ini sayang. Kan ini hasil dari kemesuman Abang hahaha" Ucap Rony sembari mengelus perut buncit Salma"Dasar, tega banget nih kakak nya malah hamilin Adeknya sendiri" Goda Salma"Gapapa lah, orang Adeknya juga mau. Pas bikinnya juga atas dasar suka sama suka. Abang gak ada maksa Adek kok""Lagian, Adeknya udah dinikahin juga sama kakaknya. Sah Dimata agama dan negara. Jadi bebas mau di apain juga sama kakaknya" Balas Rony sembari melepas pelukannya dan memutar tubuh Salma menghadap nya"Hahaha ada aja sih bang jawabannya" Ucap Salma"Udah malem, masuk yuk. Diluar makin dingin. Mending bobo sayang, atau mau main dulu? Hmm?" Goda Rony sembari memainkan alisnya"Ih, gak ada ya. Bobo aja, Adek capek" Balas Salma sembari berjalan mendahului Rony"Udah ah ayo, seronde aja. Abang gak kuat lihat Adek. Makin hari makin seksi aja kalo lagi hamil gini. Bikin iman Abang lemah" Ucap Rony yang langsung menggendong Salma menuju Ranjang nya"Ahhh abangggg" Teriak Salma"Jangan teriak sayang, desah aja nanti yang keras okee" Ucap Rony yang langsung menidurkan tubuh Salma dengan perlahan"Ih abang geliii hahahahaha, ampun abang hahaha" Ucap Salma ketika Rony menggelitiki perutnya"Mangkanya nurut, mau gak? Layanin Abang? Hmm? Kalo gamau Abang gelitikin kamu terus nih" Ancam Rony"Hahahaha iya iya, mau. Udah ah, geli Abang" Rengek Salma"Yess, makasih sayang" Balas Rony***Hari ini hari yang paling membahagiakan bagi keluarga Rony dan Salma. Salma berhasil melahirkan putri Cantik yang di beri nama Yasmine Putri Parulian."Sayang makasih ya sayang, makasih udah ngasih Abang malaikat kecil yang cantik. Cantik banget, persis ibu nya" Ucap Rony"Sama-sama Abang, adik bayi nya mana?" Tanya Salma"Ini sayang, tadi bunda gendong. Adek mau gendong? Udah kuat kah?" Tanya Bunda"Istirahat dulu aja dek, nanti kan bisa gendong sepuasnya" Timpal Ayah"Iya, bener kata ayah. Mending Adek istirahat dulu ya, adik bayi biar sama bunda dulu" Ucap Rony"Gamau, Adek udah kuat. Adek juga capek tiduran terus dari tadi. Adek mau gendong adik bayi nya adek" Balas Salma"Yaudah iya, nih adik bayinya. Pelan-pelan ya sayang" Ucap Bunda"Masyaallah, ini anak Adek bund? Beneran?" Tanya Salma ketika menggendong Yasmine"Hahaha ya beneran lah sayang, kenapa?" Tanya Bunda"Masih gak percaya aja, ini adik bayi yang selama sembilan bulan di dalem perut Adek ya Bund?" Tanya Salma"Hahaha iya sayang, kenapa sih?" Tanya Bunda lagi"Adek hebat ya bund, bisa ngeluarin adik bayi. Keren" Celetuk SalmaSemuanya terkekeh mendengar kepolosan Salma"Iya itu kan berkat Abang, kalo gak ada Abang mah Adek gabisa ngeluarin adik bayi" Balas Rony"Emang iya?" Tanya Salma"Iya lah, kan Abang yang bikin Adek hamil. Makasih dong sama Abang sekarang" Balas Rony"Makasih Abang, udah bikin Adek hamil dan bisa punya adek bayi" Balas Salma"Hahahaha kok beneran sih? Yaudah iya, sama-sama sayang nya Abang" Balas Rony"Gini nih kalo Abang nikahin bocil" Ledek Ayah"Bocil punya bocil sekarang hahaha" Ledek Bunda"Eh bunda, nen Adek kok basah?" Tanya Salma"Oh itu ASI Adek udah keluar. Coba deh Adek susuin adik bayi nya dari nen Adek" Balas Bunda"Gamau Bundaa" Rengek Salma"Loh kenapa?" Tanya Bunda"Malu" Balas SalmaBunda melihat ke arah ayah dan Rony, bunda paham jika Salma malu pada mereka."Ayah, Abang keluar dulu gih. Adek mau nyusuin adik bayi dulu" Ucap Bunda"Kenapa Abang harus keluar juga? Adek malu sama Abang? Kan Abang udah sering lihat juga nen Adek, ngapain malu?" Ucap Rony heran"Sutss Abang, udah keluar. Abang temenin ayah, biar ayah gak sendirian di luar" Ucap Bunda"Udah lah bang, ayo keluar dulu temenin ayah cari minum di kantin" Timpal Ayah"Ck, Abang kan pengen lihat anak Abang nen ke Adek. Malah di usir" Gerutu Rony"Ya nanti di rumah kan bisa bang, udah sana. Gak usah ngomel" Omel Bunda"Yaudah iya""Dek, Abang keluar dulu ya. Adek coba susuin adik bayi yaa" Pamit Rony sembari mengecup kening Salma"Iya Abang" Balas SalmaBeberapa bulan kemudian, kehidupan pernikahan Salma dan Rony semakin bahagia karena kehadiran Yasmine. Walaupun terkadang banyak kerikil-kerikil kecil dalam rumah tangga mereka. Tapi tak pernah menyurutkan cinta dan sayang diantara mereka. Malah Rony semakin bucin pada istri atau mantan adiknya itu.Rony selalu dibuat gemas dengan tingkah istri bocilnya itu. Walaupun sudah memiliki anak, Salma tetaplah terlihat seperti bocil di mata Rony. Rony berharap kehidupan rumah tangga nya dengan Salma akan bahagia selamanya bersama yamine dan anak-anak mereka lainnya nantinya.~END~

Mantan
Teen
29 Jan 2026

Mantan

PlakkkSalma menampar pipi Rony dengan kencang."Bagus ya, udah selingkuh. Ciuman di tempat umum lagi! Gatau malu emang lu anjing!" Umpat Salma"Ca, ca aku bisa jelasin ini semua Ca. Ini semua gak seperti yang kamu liat" Balas Rony"Apa? Jelasin kalo lu selingkuh udah lama sama nih cewek hah!!!" Bentak SalmaRony yang sudah kepalang ketahuan pun akhirnya berusaha jujur pada Salma"Sorry kalo aku sempet bosen sama kamu, tapi cinta aku tetap sama kamu Ca! Cinta ku gapernah sedikit pun hilang dari kamu, tapi mungkin aku yang brengsek. Aku gamau ngerusak kamu, tapi aku juga laki-laki normal dan pengen ngerasain yang lebih jauh dari sekedar kissing Ca. Maafin aku" Balas Rony"Ohh hahaha kalo sama cewek lain bisa sekalian dapet selangkangan ya?"."Tapi Thankyou ya atas kejujurannya, bisa bikin gue jadi makin ilfeel sama lu! Let's break up brengsek! Gue gamau punya hubungan sama cowo brengsek kaya lu!" Bentak Salma"Ca, gak Ca. Aku gamau putus dari kamu Ca, maafin aku. Aku janji aku bakalan berubah, aku gak akan selingkuh lagi. Maaf ca, please jangan putusin aku" Balas Rony sembari mencoba menggenggam tangan Salma" Don't touch me! Gue gak Sudi di pegang sama cowo brengsek kaya lu! Keputusan gue udah bulat! Gue gamau punya hubungan sama lu! Lu lanjutin aja kegiatan lu yang terganggu sama nih cewek! Gausah peduliin gue!" Ucap Salma dan langsung pergi meninggalkan Rony"Arghhhh anjing!!! Kenapa jadi gini sihhh" Teriak Rony frustasi"Lu kenapa gak bilang kalo di belakang gue tadi ada Caca sih bangsat!" Teriak Rony pada wanita selingkuhan nya"Ya soryy Ron, mungkin udah waktunya Salma tau hubungan kita. Lu juga udah nidurin gue berkali-kali ya, jadi lu gaboleh ninggalin gue gitu aja dan cuma jadiin gue selingkuhan lu" Ucap Cindy"Gue gak cinta sama lu! Cinta gue cuma buat Caca! Ngerti lu!""Oh atau lu emang sengaja kan? Nyuruh Caca dateng kesini biar gue putus sama dia? Iya kan? Jawab anjing!" Bentak Rony"Iya kenapa!! Hah!! Lu brengsek tau gak Ron! Lu nidurin gue tapi yang lu sebut nama Caca bangsat! Selama ini gue juga cuma bisa nahan cemburu saat liat lu mesra-mesraan sama Salma di kampus! Sedangkan gue? Lu cari gue saat lu nafsu doang anjing!" Balas Cindy"Lu harusnya mikir Cindy!!! Dari awal yang godain gue siapa? Lu kan? Lu ajak gue ke apartemen lu dengan alasan nugas! Terus Lu masukin obat perangsang di minuman gue sampe akhirnya gue nidurin lu! Lu juga terus-terusan goda gue bangsat! Gue cuma laki-laki normal, gue cuma nurutin apa yang udah lu lakuin sama gue!""Terus salah gue kalo gue nidurin lu tapi malah nyebut nama Caca? Gue cinta nya cuma sama Caca! Ngerti lu! Meskipun lu udah suka rela ngasih tubuh lu juga gue gak akan pernah cinta sama lu!""Inget sekali lagi! Gue gak pernah minta tubuh lu! Tapi lu yang maksa gue anjing! Jadi jangan salahin gue kalo sampe sekarang gue cuma jadiin lu pemuas nafsu gue! Karena sampai kapan pun gue gak akan rusak Caca demi nafsu gue! Ngerti lu!" Bentak RonyPlakkk"Lu emang brengsek Ron, gue cinta sama lu! Mangkanya gue rela ngasih apapun sama lu termasuk tubuh gue! Tapi apa balesan lu? Balesan lu malah bikin gue sakit hati!" Balas Cindy setelah menampar Rony"Hahaha gausah playing victim anjing! Lu kira gue gak sadar waktu pertama lu jebak gue pake obat perangsang itu? Bukan gue orang pertama yang udah masuk ke lubang lu anjing! Lu kira gue gak sadar sama hal itu? Iya?"Sekarang gue tanya deh, berapa laki yang udah make lu? Hhmm? Gue bukan cowo tolol yang bisa lu bodohin ya, jadi gausah sok sedih karena gue udah make lu berkali kali. Gue gak akan pernah kasian kok""Dan mulai hari ini, gue udah gamau berurusan lagi sama lu! Urusan kita kelar semenjak lu udah berani bikin gue putus sama Caca! Ngerti lu!""Gausah lu hubungin gue lagi! Kalo lu lagi sange panggil aja cowo lain! Gue udah gak Sudi muasin lu lagi anjing! Gue benci sama lu! Benci banget! Bangsattt!" Umpat Rony"Lu segitu nya Ron sama gue cuma karena gue ngasih tau Salma tentang hubungan kita! Gak ada sedikit pun rasa kasian apa sama gue! Padahal lu selama ini udah nikmatin tubuh gue cuma-cuma Ron hiks hiks" Balas Cindy"Iya gue emang benci sama lu anjing! Gara-gara lu gue kehilangan Caca gue! Wanita yang gue jaga dan bakal gue nikahin setelah lulus kuliah! Tapi apa? Gara-gara kebangsatan lu semuanya rusak! Semuanya ancur!""Gak peduli gue! Gue cuma lakuin apa yang lu lakuin sama gue! Lu jebak gue karena lu pengen tidur sama gue kan? Yaudah gue turutin! Selama ini gue juga cari lu kalo gue cuma lagi butuh tubuh lu! Jadi kita impas! Gausah sok jual kesedian lu Bitch! Gue gak akan kasian!" Ucap Rony lalu meninggalkan Cindy sendirianSalma dan Rony memang sudah menjalin kasih sejak mereka baru saja masuk SMA hingga saat ini mereka tengah menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Mereka berdua saling mencintai, walaupun sudah bertahun-tahun mereka tetap mesra dan jarang sekali bertengkar.Namun semuanya berubah saat Rony di pilih satu kelompok dengan Cindy. Cindy mengajak Rony untuk mengerjakan tugas kelompok mereka di apartemen nya. Cindy yang memang sudah suka dengan Rony sejak mereka sekelas pun menjadikan ini kesempatan untuk bisa memiliki Rony. Cindy juga tau jika Rony telah memiliki kekasih, tapi dia tetap tak peduli.Cindy menjebak Rony dengan memberikan obat perangsang, hingga akhirnya mereka melakukan hal itu di apartemen Cindy. Sejak saat itu, Rony yang memang baru merasakan kenikmatan bercinta akhirnya ketagihan untuk kembali melakukannya dan melakukannya lagi.Rony pun menjadikan Cindy sebagai pemuas nafsunya, karena ia juga tau bahwa malam itu dia di jebak oleh Cindy. Rony berpikir jika Cindy lah yang memang ingin memberikan tubuhnya cuma-cuma pada Rony, bukan salahnya jika dia justru menjadikan nya sebagai pemuas nafsunya saja. Rony juga tau dari beberapa teman nya bahwa Cindy adalah mantan FWB dari temannya sendiri. Maka dari itu Rony semakin tak merasa bersalah karena menjadikan Cindy pemuas nafsunya, toh ternyata teman nya juga pernah melakukan hal yang sama dengan wanita itu.Namun, Rony memang brengsek, dia melakukannya dengan Cindy tapi dia justru membayangkan melakukannya dengan Salma. Dia selalu menyebut nama Caca jika sedang bercinta dengan Cindy. Akhirnya itu yang membuat Cindy muak dan berniat membongkar perselingkuhannya dengan Rony pada Salma. Dia ingin Rony hanya menjadi miliknya, tapi nyata nya Rony tak pernah menganggapnya lebih dari seorang teman ranjangnya saja.***"Selamat pagi sayang" Sapa RonySalma hanya memutar bola matanya malas melihat Rony. Pagi-pagi begini sudah berada di dalam rumah nya."Caca lama banget sih turunnya dek, kasian si Rony nunggu kamu dari tadi ih" Omel Ibu Salma"Gak ada yang nyuruh dia nunggu Bu! Caca sekarang lagi kosong, gak ada jadwal kuliah. Ngapain coba jemput segala" Omel Salma"Hahaha bau-bau lagi berantem sih ini Bu, Abang sudah bisa mencium aroma nya dengan kuat" Goda Kelvin Abang Salma"Bacod banget sih lu bang" Omel Salma"Lagi berantem Ron?" Tanya Kelvin"Hehe lagi salah paham doang kok bang" Balas Rony kikuk"Yaudah, selesai in masalahnya""Ca, kalo ada masalah itu di selesaikan bukan malah menghindar. Oh iya, selesaikan masalahnya ya, bukan hubungannya. Inget, kalian udah sama-sama dewasa kan, harus nya udah ngerti gimana caranya bersikap" Ucap Ibu Salma"Iya Bu, ini Rony mau izin ajak Caca jalan-jalan sekalian mau selesaiin masalahnya" Balas RonySebenarnya Salma sudah muak dengan laki-laki di depannya. Namun entah mengapa, Salma masih tidak ingin jika keluarga nya tau tentang kebusukan Rony selama ini. Jadilah ia tahan dan menuruti permintaan Rony untuk membicarakan nya di luar rumah."Noh, sana keluar. Kasian Rony udah nungguin lu ngebo dari tadi dek" Ucap Kelvin***"Kita sarapan dulu ya sayang. Kamu kan baru bangun, pasti belum mam""Mau mam apa? Bubur ayam langganan kita aja ya? Mau gak?" Tanya Rony lembut"Gausah panggil gue sayang! Lu gak denger kalo kemarin gue udah mutusin lu! Hah!" Bentak Salma"Okee, bubur ayam langganan kita. Leggooo" Balas Rony"Apaan sih, gak nyambung anjing!" Balas Salma"Bahasa nya loh sayang, jangan kasar-kasar gitu dong" Ucap Rony memelasSalma tak menanggapi, ia hanya memandangi pemandangan di kaca mobil samping nya. Ia benar-benar enggan melihat ke arah Rony yang tengah fokus mengemudi. Sedangkan Rony, ia masih terus melirik wanita di sampingnya. Ingin sekali dia peluk Salma untuk meminta maaf atas semua kesalahannya selama ini. Rony benar-benar takut kehilangan wanita di sampingnya, wanita yang akan ia jadikan masa depannya."Nah udah sampe, mau mam di luar apa di mobil aja sayang?" Tanya RonySalma hanya diam, dia tidak mood untuk makan. Apalagi makan bersama laki-laki yang sudah membuatnya menangis semalaman."Mam di mobil aja ya, tuh warung nya rame. Bentar, aku pesenin dulu. Kamu tunggu sini aja ya sayang" Ucap Rony sembari mengusap kepala Salma yang tertutup hijabNamun dengan cepat Salma mengalihkan kepalanya dari tangan Rony. Rony hanya menghela nafas melihat sikap dingin Salma padanya.Setelah menunggu beberapa saat, Rony kembali membawa dua bungkus bubur ayam."Nahh ini punya sayangku, tanpa kacang dan tanpa bawang goreng. Nih sayang" Ucap Rony sembari menyodorkan bubur ayam untuk SalmaSalma tak menggubris, dia justru sibuk bermain ponselnya. Rony yang kesal dengan segera merebut Ponsel Salma."Apaan sih lu! Gak sopan banget jadi orang!" Tegas Salma"Lagian kamu ngapain sih main hp Mulu, lagi chattan sama siapa?" Tanya Rony"Bukan urusan lu! Balikin hp gue!" Bentak Salma"Gak! Makan dulu baru aku balikin hp kamu" Balas Rony"Apaan sih lu Ron! Gausah sok ngatur hidup gue! Gue bukan siapa-siapa lu lagi anjing!" Bentak Salma kesal"Kamu pacar aku! Aku gak pernah setuju untuk putus dari kamu, jadi kamu tetap pacar aku" Balas Rony"Sakit lu emang! Selain sakit gapunya malu lagi! Udah selingkuh, sekarang maksa tetep buat pacaran. Brengsek!" Umpat SalmaEmosi Rony mulai terpancing mendengar Salma terus saja memaki dirinya. Namun apa yang di katakan Salma juga benar, dirinya memang brengsek. Saat ini dia harus bisa jauh lebih sabar, karena ia tidak ingin melakukan kesalahan lagi dan membuat gadis cantik nya akan benar-benar meninggalkan nya."Maaf yaa, sekarang mam dulu. Baru aku jelasin semuanya sama kamu. Yuk, mam dulu yaa sayang. Apa mau aku yang suapin? Hmm?" Tawar Rony lembut"Gaperlu! Tangan gue masih sehat! Sini!" Balas Salma***Saat ini Rony sudah membawa Salma ke salah satu danau yang sering mereka kunjungi selama lima tahun ini."Sayang" Panggil Rony"Jangan panggil gue sayang!" Bentak Salma"Iya iya maaf""Ca, aku minta maaf kalo kamu ngerasa aku khianatin kamu Ca. Tapi sumpah aku gak pernah sedikit pun berniat untuk khianatin kamu, aku di jebak sama Cindy Ca. Aku gak suka sama dia" Jelas RonySalma tersenyum miris mendengar ucapan Rony"Di jebak? Baru tau sih gue ada orang di jebak tapi menikmati gitu. Udah ciuman di parkiran kampus, sambil grepe-grepe dadanya lagi. Itu ya yang namanya di jebak? Hahaha kocak banget" Balas Salma"Dia yang tarik aku Ca, dia sengaja mau hancurin hubungan kita. Dia kemarin bilang mau ngomong sesuatu tentang kamu dan minta ketemuan di parkiran mobil kampus. Pas aku kesana dia langsung tarik aku dan cium aku, aku laki-laki normal aku kebawa sama permainan dia. Maafin aku Ca, maaf" Jelas RonyApa yang Rony katakan memang benar, Rony selama ini tidak pernah melakukan hal seperti itu pada Cindy jika di kampus. Dia bahkan seolah tak mengenal Cindy jika sudah di kampus. Tapi hari itu, Cindy menjebak Rony dengan mengancam akan memberi tahu Salma jika ia tidak datang ke parkiran mobil."Ron Ron. Lu selalu berlindung di balik ucapan laki-laki normal! Kalo lu emang dasarnya gak brengsek! Lu juga bakalan bisa jaga nafsu lu! Mau Cindy godain lu kaya gimana juga kalo lu emang cinta sama gue! Lu gak akan lakuin itu sama Cindy! Tapi apa? Lu udah kelewatan, Cindy juga udah cerita kok sama gue kalo lu udah tidur beberapa kali sama dia kan""Jadi please stop deketin gue! Tanggung jawab sama kelakuan lu! Nikahin tuh Cindy. Gue juga udah gamau sama cowo brengsek yang pikirannya cuma kesitu!""Terimakasih untuk lima tahun nya, gue juga gak menyangkal kalo selama bareng lu gue bahagia dan nyaman. Tapi lu juga berhasil bikin gue paling hancur karena pengkhianatan lu Ron. So, kita lanjutin hidup kita masing-masing ya, masa kita udah habis dan gak akan bisa kembali lagi" Ucap Salma lalu meninggalkan Rony yang masih mematung mendengar ucapan Salma"Ca!! Gak Ca! Gue gamau pisah sama lu Ca hiks hiks. Gue akuin gue salah, tapi tolong jangan tinggalin gue ca. Gue gamau Ca hiks hiks" Teriak Rony terisak"Arghhhhh Cindy Anjing! Gue benci lu bangsat!!! Gara-gara lu, gue jadi laki-laki brengsek dan nyakitin wanita yang gue sayang! Anjing!!!" Teriak Rony***Setahun berlalu, Rony masih berusaha mendapatkan Salma kembali. Dia bahkan sudah berubah jauh lebih baik, dia tidak mau berurusan dengan wanita lain kecuali Salma. Dia tidak pernah telat untuk sholat lima waktu, dia juga masih sering mendatangi rumah Salma untuk sekedar bertemu Ayah, Ibu dan Abang Salma.Salma memang tak menceritakan apa penyebab mereka putus, Salma hanya bilang jika mereka putus karena merasa sudah tidak cocok. Makanya keluarga Salma masih sangat hangat menyambut Rony. Walaupun Salma tak ingin menemui nya, Rony tidak pernah menyerah untuk bisa mendapatkan Salma kembali. Rony juga tidak mau memberi celah sedikit pun pada laki-laki lain untuk mendekati Salma.Katakan lah Rony egois, namun ini semua karena ia sangat mencintai Salma. Apalagi kedua keluarga mereka sudah sangat dekat, baik Rony maupun Salma sama-sama sangat di sayangi oleh calon mertua mereka.Seperti malam ini, Rony tengah asyik bermain PS bersama Kelvin Abang Salma. Namun hingga pukul delapan malam, belum ada tanda-tanda jika Salma pulang ke rumah."Bang, lu telpon kek Adek lu. Udah jam delapan ini. Suruh pulang gitu" Ucap Rony pada KelvinRony memang sangat akrab dengan Kelvin, hingga tak ada kecanggungan diantara keduanya."Masih jam delapan ini Ron, ntar deh jam sembilan baru gue telpon""Lagian lu kan masih ada nomor Adek gue? Kenapa gak telpon sendiri kalo khawatir sih. Gengsi amat lu" Omel Kelvin"Ya gue mau-mau aja bang, tapi masalahnya gue udah gak berhak ngatur-ngatur dia. Ntar kalo gue yang telpon, dia malah makin benci sama gue. Kan sekarang gue lagi caper sama dia, lagi usaha balikan lagi sama dia. Kalo dia marah, makin sia-sia dong usaha gue selama ini" Balas Rony"Lagian lu ngelakuin kesalahan apa sih, sampe si Caca Gedeg banget sama lu Ron. Perasaan dulu meskipun putus palingan dua hari balikan. Ini malah sampe setahunan lu masih aja uring-uringan gara-gara di putusin Caca""Cari cewek lain udah sana, Adek gue kaya nya udah gak demen lagi sama lu Ron" Ucap Kelvin"Ck, jangan gitu lah bang. Gue gamau cari cewe lain. Gue cuma mau Caca, yang gue pengen cuma Caca. Gak mau yang lain""Kalo masalah putusnya tuh gara-gara Caca liat gue ciuman sama cewe lain" Balas Rony santai"Hah!!""Lu selingkuhin Adek gue bangsat?" Pekik Kelvin"Kalem, kalem. Gue jelasin nih""Jadi gue punya temen sekelas namanya Cindy, dia tuh udah suka sama gue dari maba katanya tapi gak pernah gue notice. Ya iyalah, ngapain notice orang gue udah punya Caca""Nah dia makin gencar aja tuh deketin gue, gak peduli kalo gue udah punya Caca di hidup gue. Sampe akhirnya dia minta gue temuin dia di parkiran mobil kampus. Dia bilang bicara soal Caca. Ya gue langsung Dateng bang, pas gue Dateng dia langsung cium gue dan peluk gue. Pas itu juga Caca Dateng dan nampar gue. Gue udah jelasin juga Caca gak percaya dan tetep minta putus sama gue" Ucap RonySorry bang, gue cuma ceritain bagian kecilnya doang. Gue gak mungkin cerita kebrengsekan gue juga, karena lu pasti bakalan ikut benci sama gue. Dan gue gamau itu terjadi *batin Rony"Ck! Mangkanya lu jangan ganteng-ganteng cuk! Jadi banyak kan yang gatel sama lu, kasian juga Adek gue. Pasti dia sakit hati banget""Udah lah Ron, mending lu nyerah deh. Biarin Adek gue cari cowo lain" Ucap Kelvin"Bang, kok lu gamau support gue sih. Katanya lu bestie gue bang, ayolah bantuin gue buat balikan sama Caca. Gue cuma cinta sama Adek lu bang""Ini gue gak gila aja bersyukur banget setelah di tinggalin Caca. Gue mau berjuang lagi bang, gue gamau nyerah gitu aja. Support kek" Balas Rony"Males gue kalo udah masalahnya orang ketiga, belum lagi ntar lu malah nyaman sama tuh cewek. Kasian Adek gue nantinya" Balas Kelvin"Ck! Gue malah udah maki-maki tuh cewek bang biar gak deketin gue lagi. Aman kalo dia mah, gak akan berani macem-macem lagi sama gue. Ayo lah bang bantuin gue yaa, pleaseee" Rengek Rony"Ogah ah, males gue ikut-ikutan masalah lu" Balas Kelvin"PS 5 deh, gimana?" Tawar Rony"Oke deal, penawaran yang cukup baik" Balas Kelvin"Bangsat, cepet banget di sogoknya" Ucap Rony"Hidup itu realistis bro hahaha" Balas Kelvin"Bang, suara motor tuh. Gue liat dulu ya, kali aja Caca" Ucap Rony ketika mendengar suara motor di depan rumah SalmaJantung Rony seketika berdegup sangat kencang ketika melihat Salma baru saja pulang bersama seorang laki-laki menggunakan motor. Salma juga tampak akrab dengan laki-laki tersebut.Pemandangan itu berhasil membuat mata Rony memanas dan darahnya mendidih seketika.Rony keluar menghampiri Salma lalu merangkul pinggang wanita itu dengan mesra. Rony ingin memberi tahu laki-laki itu bahwa Salma adalah miliknya."Sayang, kamu di tungguin dari tadi loh. Ternyata baru pulang, dari mana aja sih?" Tanya Rony lembutSalma yang bingung, akhirnya hanya bisa menjawab pertanyaan Rony dengan canggung dan merasa tidak enak pada teman lelakinya"Dari mall tadi, ketemuan sama temen" Balas Salma"Ih dasar nakal ya, gak ngabarin" Ucap Rony sembari mencubit gemas hidung Salma"Apaan sih Ron" Balas Salma"Oh iya, ini siapa? Kok gak di kenalin ke aku?" Tanya Rony"Eh iya, gue Naufal. Temen sekelas Salma. Sorry tadi gue yang maksa buat anter dia pulang" Balas Naufal"Yoi, gapapa bro. Makasih udah anter balik pacar gue ya. Oh iya, kenalin gue Rony. Pacar Salma" Balas Rony"Cuma man - ""Sayang masuk yuk, pasti kamu udah capek. Tuh ayah ibu sama Abang juga udah nungguin di dalem, yuk" Ujar Rony memotong ucapan Salma"Yaudah Sal, gue balik duluan ya" Ucap Naufal"Thankyou ya Fal, udah anterin gue balik. Lu ati-ati pulangnya ya" Balas SalmaNaufal pun pergi dari rumah Salma, namun tangan Rony masih setiap bertengger pada pinggang Salma."Sampe kapan sih lu terus ganggu hidup gue, sampe kapan juga masih terus ngaku-ngaku pacar gue?" Ucap Salma"Sampe selamanya, kecuali kita udah nikah. Nanti aku pamerin kamu sebagai istri aku ke orang-orang" Balas Rony tengil"Ogah gue nikah sama lu!" Ucap Salma sembari melepas kasar tangan Rony yang berada di pinggang nya"Jangan gitu, biasanya kalo ogah ogah an malah ntar beneran nikah tau Ca" Goda Rony"Bodo amat, pulang sono lu! Tiap hari ke rumah gue Mulu! Gapunya rumah apa!" Omel Salma"Nih rumah gue, depan gue" Balas Rony sembari menunjuk ke arah Salma"Dasar gila!" Umpat Salma***Setahun lebih ini berhasil membuat Salma sedikit yakin jika Rony sudah berubah. Rony yang dulu ramah dan friendly pada semua wanita, sekarang berubah dingin dan acuh. Terutama Cindy, Salma tak pernah mendengar kabar Cindy lagi. Terakhir yang Salma tau Cindy di DO dari kampus karena video mesum bersama dosen nya sendiri tersebar di kalangan kampus.Itu membuat Salma sedikit percaya akan cerita Rony jika Cindy lah yang memang dulu menjebak nya. Namun tetap saja, kesalahan Rony dulu menurutnya fatal. Jika malam itu memang Rony di jebak, seharusnya dia tak mengulanginya berkali-kali lagi dengan Cindy. Namun apa, Rony justru memanfaatkan Cindy untuk menjadi pemuas nafsunya saja.Hari ini, Salma pergi ke bangunan kosong belakang kampus karena mendapat pesan dari seseorang yang tidak Salma tau. Tapi yang pasti, orang itu mengatakan Jika Rony masih tidak berubah, dia masih sama seperti yang dulu dan jika dia ingin tau. Coba datang ke gedung kosong belakang kampus.Salma mencoba datang sendiri kesana, namun belum sempat masuk ke dalam bangunan kosong. Salma sudah mendengar percakapan Rony dengan seorang wanita."Ngapain lagi sih lu anjing! Gak puas apa lu rusak hidup gue hah!" Bentak Rony"Rusak apa sih sayang, bukannya dulu kamu selalu aku bikin enak? Hmm?" Balas CindyYa, nomor yang menghubungi Salma adalah Cindy. Dia masih terobsesi memiliki Rony dan dia juga marah ketika mengetahui Salma dan Rony sudah mulai kembali dekat sedangkan dirinya harus menderita dengan di keluarkan dari kampus dan di campakkan oleh dosen yang menjanjikannya kehidupan mewah.Untung nya Salma datang tepat waktu, dia bisa mendengar dan melihat kejadiannya dari awal. Sehingga dia bisa mencerna apakah Rony kali ini akan jujur atau malah tergoda lagi dengan Cindy. Apalagi Salma sedikit mengintip lewat jendela, Cindy berpakaian sangat minim di depan Rony.Cindy mulai mendekat ke arah Rony, namun Rony segera mundur."Dimana Caca anjing! Lu bilang Caca sama lu! Lepasin cewe gue! Jangan pernah berani lu nyentuh cewek gue sedikit pun! Atau lu bakal mati di tangan gue!" Bentak Rony"Utututu takutnya, kejam banget sih? Hmmm? Gak kangen sama aku atau sama goyangan ku hmm? Aku bisa kok muasin kamu lagi, tanpa Salma tau""Aku janji kok Ron, aku gak akan bertindak bodoh kaya kemarin. Aku mau jadi selingkuhan kamu lagi sayang, mau ya balikan sama aku" Rayu Cindy"Gak Sudi anjing! Cukup sekali gue khianatin Caca sama jalang macam lu! Gue nyesel dan gue jijik pernah lakuin itu sama lu dulu anjing!" Bentak Rony"Bangsat! Beraninya nolak gue! Gue udah baik sama lu ya Ron! Gue udah mohon-mohon sama lu tapi lu nolak gue!""Liat aja apa yang akan gue lakuin sama Caca lu itu! Gue pastiin dia pulang tinggal nama!" Ancam Cindy"Jangan macem-macem bangsat! Lu nyentuh seujung kuku cewe gue! Abis lu sama gue!" Bentak Rony"Gak peduli! Gue cuma mau lu, gue mau lu Ronyyyy!!! Balik lagi sama gue pleasee, gue janji gue gak bakal larang lu berhubungan sama Salma, asal lu masih mau sama gue yaa" Ucap Cindy semakin mendekat ke arah Rony"Itu gak akan pernah terjadi bangsat! Gue gak akan ngulangin kesalahan gue lagi! Gue cuma cinta sama Caca, sampe mati pun cuma Caca yang gue mau! Ngerti lu!" Balas Rony"Oh, okee. Kalo gue gabisa milikin lu, berarti Salma juga gak akan bisa" Ucap Cindy"Mau apa lu sama gue? Hah?" Teriak Salma yang memutuskan untuk masuk ke bangunan kosong"CA?""PERGI!! NGAPAIN KESINI!" Bentak Rony"Aku cuma mau bantuin kamu, dari cewek murahan ini" Balas Salma"Apa lu bilang! Jangan macem-macem sama gue bangsat!" Bentak Cindy"Kan emang lu murahan, lu kira gue gatau? Lu jadi jalang si Danu, terus Rony, sekarang udah naik pangkat kan jadi gadun nya dosen lu sendiri? Masih mau ngelak kalo lu murahan? Apa perlu gue bawain kaca? Hmm?" Ucap Salma sinis"Gue emang murahan, tapi buktinya cowo lu juga doyan kan sama gue? Hahaha kasian banget lu dapet bekas gue" Balas Cindy"Bangsat! Dulu lu jebak gue anjing! Kalo lu gak pernah jebak gue, gue juga gak bakal pernah mau sama lu!" Elak Rony"Ya mungkin dulu Rony khilaf lakuin itu sama lu, tapi buktinya sekarang? Lu pake baju setengah telanjang begini juga Rony gamau kan sama lu? Kasian banget!""Mau gue tunjukkin sesuatu gak sama lu? Hmm? Biar lu sadar kalo Rony cinta nya sama gue bukan sama lu!" Ucap SalmaCindy diam dan bingung mencerna ucapan Salma. Apa yang akan Salma lakukan di depannya.Saat Cindy tengah menatap nya heran, dengan cepat Salma mengalungkan tangannya pada leher Rony. Salma mencium bibir Rony di depan Cindy, perlahan Salma juga mulai melumat nya.Rony yang awalnya bingung, ia juga merasa senang. Bibir yang selama ini ia rindukan, kini bisa kembali ia rasakan. Rony tak mau kalah, ia pun ikut membalas ciuman Salma. Tangan Rony pun memeluk pinggang Salma erat.Ciuman mereka sangat lembut dan menggairahkan. Saling melumat satu sama lain dan saling beradu Saliva di dalam mulut mereka.Cindy yang melihat itu benar-benar emosi, bisa-bisanya mereka melakukan hal itu di depannya. Cindy pergi dari gudang mengambil sesuatu.Sedangkan kedua insan itu masih saja terbawa suasana, mereka saling melampiaskan nafsu mereka. Rony sedikit mendorong tubuh Salma hingga bersandar ke dinding bangunan. Tangan Rony pun mulai meraba tubuh Salma, dari pinggang perlahan naik hingga ia bisa meremas payudara Salma. Ini kali pertama Rony menyentuh payudara Salma.Walaupun mereka dulu berpacaran selama lima tahun, Rony sama sekali tak pernah menyentuh Salma. Dia hanya sebatas mencium kening, pipi dan juga bibir saja. Rony benar-benar menjaga Salmanya."Eughh Ron" Desah Salma"Aku kangen bibir manis kamu Ca, aku kangen banget" Ucap RonySetelah mengatakan itu Rony kembali melumat bibir Salma dengan tangan yang masih meremas payudara Salma. Mereka berdua seakan lupa tujuan mereka ke bangunan kosong ini untuk menemui Cindy, mereka juga lupa tentang Cindy.Saat mereka sedang menikmati percumbuan mereka, tiba-tiba Cindy membawa pisau di tangannya dan mengarahkan pada tubuh Rony yang memang sedang mengunci Salma di dinding dan membelakangi dirinya. Namun saat hendak menancapkan pisau pada Rony, Salma lebih dulu mendorong Rony. Hingga akhirnya Salma lah yang tertusuk."CACAAAAAA!!!!" Teriak RonyRony menatap Cindy dengan tajam, tanpa berpikir panjang Rony justru melayangkan kepalan tangan nya pada wajah Cindy dengan keras. Rony sudah tidak peduli jika Cindy adalah wanita.Cindy jatuh tersungkur dengan hidung yang sudah berdarah."Bangsat! Dasar pembunuh! Murahan! Urusan kita belum selesai anjing! Kalo sampe Caca kenapa-napa gue pastiin lu yang bakal mati, bukan Caca bangsat!" Teriak Rony"Hahaha gausah berharap Ron, pasti dia yang mati bukan gue" Balas Cindy yang berusaha menutupi kesaktiannyaSaat Rony mencoba menggendong Salma, mahasiswa kampus mereka tiba di bangunan kosong tersebut."Ron kenapa Ron? Tadi Salma chat gue katanya butuh bantuan disini. Ada apa? Ini Salma kenapa?" Tanya Salah satu Mahasiswa"Dia si jalang gatau diri itu nusuk Salma, dia mau bunuh gue, tapi justru Salma yang ketusuk karena nyelamatin gue Raf""Gue minta tolong, lu dan anak-anak urus dia. Masukin dia ke kantor polisi bawa pisau yang ada di sana, itu pasti ada sidik jari dia. Tolong raf, gue mau bawa Salma ke rumah sakit" Ucap Rony panik"Iya iya, lu buruan urusin Salma. Biar nih jalang gue sama anak-anak yang urus" Balas Rafa***"Ca bangun dong, udah dua hari nih kamu bobo terus. Gak capek apa?""Kamu ngapain sih lagian, nyelamatin cowo brengsek kaya aku? Aku gak pantes di selametin kamu Ca, harusnya aku yang disini bukan kamu. Ayo bangun sayang, kita nikah ya. Aku gak peduli kamu masih nolak aku atau gak! Yang pasti setelah kamu sadar aku bakal minta nikah sama orang tua aku dan orang tua kamu. Aku mau hidup sama kamu terus, aku janji aku gak akan khianatin kamu lagi sayang. Aku janji" Ucap Rony sembari meneteskan air matanya"Jangan nangis, kamu jelek kalo nangis" Balas Salma lemas"Ca???? Kamu bangun Ca???" Ucap Rony senang"Katanya tadi di suruh bangun, giliran aku bangun kamu bingung" Balas Salma"Gak sayang, aku cuma kaget. Akhirnya kamu bangun sayang. Aku kangen" Ucap Rony sembari memeluk tubuh Salma"Ssshh Rony! Sakit perut aku" Rengek Salma ketika Rony menyenggol luka tusukan nya"Astaghfirullah, maaf sayang. Aku lupa, aku terlalu excited tadi. Maaf ya sayang" Ucap Rony panik"Kok kamu sendirian? Ayah Bunda Abang kemana?" Tanya Salma"Ini udah malem banget sayang, aku suruh Ayah bunda Abang pulang. Kan ayah sama Abang besok kerja, sedangkan bunda kasian kalo harus nginep sini sayang. Jadi aku yang nungguin kamu disini" Balas Rony"Oh" Balas Salma"Dih, kok Oh doang? Gak seneng ya di jagain aku? Hmm?" Tanya Rony"Gak" Balas Salma"Sayang, kok cuek lagi? Perasaan kemarin di gudang kita udah baikan loh" Ucap Rony"Kata siapa?" Tanya Salma"Kata aku! Buktinya kamu cium aku tuh kemarin, kita juga sama-sama menikmati ciuman kita" Ucap Rony"Apasih! Kemarin aku cuma mau manas-manasin si jalang itu doang" Balas Salma"Ya gapapa sih, intinya aku menganggap ciuman kemarin itu pertanda kalo kita balikan. Dan aku bakal nikahin kamu setelah ujian semester nanti" Balas Rony"Jangan gila ya! Aku masih mau nyusun skripsi gila!" Umpat Salma"Kan kita bisa skripsi an bareng Ca, jadi makin semangat tau kalo ngerjainnya bareng suami kaya aku hmm" Goda Rony"Gamau, aku mau nikah sama cowo lain. Aku gamau cowo bekas si jalang itu" Balas Salma"Aku bunuh cowo yang berani nikahin kamu, liat aja""Lagian aku udah tobat Ca, beneran. Kamu gak liat perjuangan aku gimana selama setahun ini ngejar cinta kamu? Coba balikin kepercayaan kamu lagi? Se enggak berharganya itu ya usaha ku selama ini Ca? Aku beneran nyesel Ca, aku janji aku gak akan pernah ngulangin kesalahan itu lagi" Mohon Rony"Susah Ron, kepercayaan itu ibarat Kaca. Sekali nya pecah susah buat utuh kembali""Apalagi banyak orang bilang, selingkuh itu tabiat! Susah ngerubahnya. Sekali selingkuh pasti nanti bakalan selingkuh lagi" Balas Salma"Aku gak Ca! Aku berani sumpah aku gak akan selingkuh dari kamu! Kemarin aku bukan selingkuh, aku cuma di jebak dan akhirnya terjebak sama hawa nafsu ku sendiri. Please Ca, maafin aku. Oke kalo kamu sekarang gak percaya sama aku, tapi aku gak akan pernah bosen buat nunjukkin kalo aku beneran serius sama kamu. Aku cuma mau kamu dan aku gak akan duain kamu. Aku janji" Ucap RonySalma tersenyum melihat ketulusan di mata Rony, ia sebenarnya juga sudah yakin lelaki nya itu sudah berubah. Setahun adalah waktu yang lama untuk Salma bisa kembali percaya pada laki-laki di hadapannya. Apalagi kejadian dua hari lalu membuat Salma makin yakin jika Rony benar-benar berubah."Iya, aku mau dampingi kamu buat berjuang ngembaliin kepercayaan aku lagi ya. Tapi ini kesempatan terakhir buat kamu, sekali kamu selingkuh aku pastiin kamu gak akan bisa nemuin aku lagi Ron. Aku akan pergi sejauh-jauhnya dari hidup kamu" Ucap SalmaRony tersenyum, mata nya sudah berkaca-kaca dan ia tak menyangka usaha nya untuk mendapatkan kembali wanita yang sangat ia cintai akhirnya terwujud."Makasih sayang, makasih. Iya aku janji, aku gak akan pernah melakukan hal bodoh itu lagi. Aku gamau kehilangan kamu untuk yang kedua kalinya, kesalahan ku kemarin cukup menjadi pelajaran berharga bagi aku Ca. Aku gak akan pernah sia-siain kamu lagi. Sekali lagi makasih ya sayang" Balas Rony sembari mengecup kening Salma berkali-kali"Iya udah ah gausah nangis, jelek tau muka kamu kalo nangis" Ledek Salma sembari menghapus air mata Rony"Ishh sayanggg, jangan ngeledek. Kan aku lagi terharu, akhirnya kamu jadi milik aku lagi" Rengek Rony"Lebay hahaha" Ledek Salma***Seminggu sudah Salma menginap di rumah sakit. Rencana nya hari ini adalah hari kepulangan Salma dari rumah sakit. Namun Keluarga nya justru tak bisa menjemput Salma.Nenek Salma dari Ibu nya meninggal semalam, hingga ayah ibu nya memutuskan untuk pergi ke Surabaya hari itu juga. Salma yang memaksa mereka untuk pergi, karena Salma tau ibu nya sangat dekat dengan neneknya. Salma tidak ingin karena kondisinya ini membuat Ibu nya tidak bisa melihat neneknya untuk terakhir kalinya.Ayah dan Ibu Salma menitipkan Salma pada Rony hingga nanti abangnya pulang dari kerjanya. Akhirnya Rony lah yang akan menjaga Salma di rumahnya. Sebenarnya masih ada ART namun tetap saja orang tua Salma menitipkan anaknya pada Rony."Eh eh, ngapain pake di tutup segala pintu kamarnya?" Omel Salma"Kenapa sih? Takut banget berdua sama aku di kamar? Perasaan dulu sering deh, aku bahkan sering nginep disini juga kamu gak seheboh ini" Balas Rony"Ya kan dulu, sebelum Otak kamu di racuni sama jalang itu. Takut aja tiba-tiba kamu macem-macem sama aku" Balas Salma"Ya gapapa dong, kan kita bentar lagi juga nikah. Anggep aja DP dulu yang hahaha" Goda Rony"Gue tampar ya Ron, ngomongnya aneh banget!" Omel Salma"Hahaha lagian, mikirnya kesana Mulu""Aku tutup pintu nya karena aku mau obatin luka kamu. Ini udah siang, tadi kata suster kan siang harus di ganti perbannya sayang" Balas Rony"Eh gak gak! Aku bisa ganti sendiri, kamu mending keluar deh" Usir Salma"Mana coba, yakin bisa sendiri. Orang kamu aja gabisa liat luka nya""Udah ah gausah bawel, biar aku yang obatin" Omel RonySalma sebenarnya malu dan ragu saat Rony hendak mengobati luka nya. Bagaimana tidak, luka nya itu persis di perut bagian atas dekat dengan bagian payudara nya. Jika memang harus di obati, otomatis Rony pasti akan menyingkap baju yang Salma kenakan.Tanpa menunggu persetujuan Salma, Rony langsung menyingkap baju Salma."Ron!" Tegur Salma"Apa sih, udah gapapa. Nanti kalo udah nikah juga aku bakalan liat semuanya, jadi gausah malu" Balas Rony santaiMata Rony bisa melihat perut rata Salma yang sangat mulus, apalagi baju yang tersingkap sedikit memperlihatkan bra yang Salma kenakan. Rony berusaha menahan diri nya, dia tidak boleh melakukan hal itu lagi apalagi pada Salma. Gadis yang ia jaga mati-matian dan yang akan dia nikahi nantinya."Ashhh pelan-pelan Rony! Sakit" Omel Salma"Ck! Luka nya parah banget ya ternyata Ca. Kurang ajar banget emang tuh jalang! Pantes dia membusuk di penjara" Ucap Rony ketika melihat luka tusukan Salma"Dih, jalang-jalang juga dulu lu doyan sama dia" Sindir Salma"Dibahas terus, gak asik banget!""Itu juga karena aku gak bisa kontrol nafsu aku Ca, baru ngerti rasanya begituan jadi keterusan. Coba dari dulu udah tau rasanya punya kamu gimana, gak akan kecantol aku sama jalang kek Cindy" Ucap Rony"Heh! Mulut lu yaaa. Sembarangan banget! Kalo emang ngebet begituan ya nikah! Bukan malah zina!" Omel Salma"Ya mangkanya ayo nikah sayang, biar kita halal dan bebas ngapain aja. Yuk" Rengek Rony"Ck, udah gausah bahas aneh-aneh. Cepetan lanjutin itu ganti perban. Perut ku dingin kena AC lama-lama di umbar begitu" Balas SalmaRony melanjutkan memasang perban, lalu setelah selesai mengganti perban Salma. Rony justru mengecup perut Salma."Besok anak aku ada disini ya Ca hehe" Ucap Rony"Heh! Main cium-cium aja! Geli Rony!" Tegur Salma sembari langsung menutup bajunya"Baru di cium perutnya doang udah geli, gimana yang lain" Gerutu Rony"APA!!!" Sentak Salma"Eh gak gak Kok yang becanda hehe" Balas Rony kikuk***Setelah lima bulan pasca Salma sembuh, kini mereka akan melangsungkan pernikahan nya.Salma memutuskan untuk kembali menaruh kepercayaan pada Rony, laki-laki yang memang selama bertahun-tahun singgah di hatinya. Namun ia juga lah yang sempat menorehkan luka yang sangat dalam bagi Salma.Tetapi kegigihan Rony yang mencoba memperbaiki kesalahannya membuat Salma akhirnya memutuskan untuk kembali menerima dia di hidupnya. Dan hari ini ia juga akan menjadi pasangan dan imam untuk hidupnya."Alhamdulilah ya yang, akhirnya kita nikah" Ucap Rony"Iya Ron, tapi aku selalu ingetin sama kamu. Jangan pernah khianatin kepercayaan aku lagi ya" Balas Salma"Iya sayang, aku janji. Maafin kesalahan ku yang dulu yaa. Sekarang kita mulai lembaran baru hidup kita bersama ya" Ucap Rony"Iya mas mantan hahaha" Balas Salma"Dih, ya gapapa sih. Yang penting bisa nikahin kamu""Plot twist nya ya mantan tapi menikah hahaha" Balas Rony terkekeh"Iya deh si paling mantan hahaha" Balas Salma"Ck, nakal ya godain aku mulu. Aku makan juga nih kamu ya" Ucap Rony"Coba aja kalo bisa" Tantang Salma"Yeeuhh nantangin, kalo kamu ketangkep gak aku kasih ampun ya. Aku pastiin besok kamu gak akan bisa jalan yang. Liat aja" Ancam Rony"Bodo amat, wleee" Ledek Salma dan langsung lari menuju kamar mandiNamun ternyata pergerakan Salma lebih lambat di banding Rony, Rony bisa dengan cepat menangkap Salma dan membawa nya ke ranjang.Malam itu adalah malam yang indah bagi mereka, malam dimana mereka akan memulai semua nya bersama. Melupakan hal yang lalu dan mulai menjalani masa depan. Semua orang punya masa lalu, kita tidak bisa menghakimi seseorang tentang masa lalunya, yang terpenting adalah bagaimana dia bisa belajar dan merubah semuanya jauh lebih baik untuk masa kini dan masa depan yang akan datang.~END~

Dulu Kita Beda, Kini Kita Satu
Teen
29 Jan 2026

Dulu Kita Beda, Kini Kita Satu

Salva adalah siswi SMA kelas 12 yang dikenal kalem, pintar, dan penuh aturan. Ia ketua OSIS di sekolahnya dan menjadi panutan banyak siswa. Tak hanya cantik, Salva juga berasal dari keluarga berada. Berbanding terbalik dengan Rulian — siswa kelas 12 juga, tapi dikenal urakan, suka telat, sering dipanggil BP karena kenakalan-kenakalan khas anak cowok rebel. Tapi Rulian bukan anak sembarangan. Di balik sikap cueknya, dia anak yang tangguh. Tinggal hanya berdua dengan neneknya, hidup sederhana, dan harus kerja paruh waktu sepulang sekolah.Awalnya, Salva dan Rulian bagaikan langit dan bumi. Mereka tak pernah bicara. Bahkan saling tak peduli. Tapi semua berubah sejak insiden lomba antar-OSIS se-Jakarta, di mana sekolah mereka mewajibkan keterlibatan siswa berprestasi dan siswa aktif. Kepala sekolah pun memaksa Rulian untuk ikut demi memperbaiki citra sekolah. Salva yang jadi ketua panitia tentu tak senang, karena ia harus bekerja sama dengan "berandalan" yang selama ini ia nilai tidak serius dalam hidup.Hari pertama latihan, Salva jutek. Rulian pun tak peduli. Tapi hari demi hari, kepribadian asli mereka mulai terlihat. Salva menyadari bahwa Rulian sebenarnya cerdas dan cekatan, hanya saja tidak punya cukup dukungan. Sementara Rulian mulai melihat sisi rapuh Salva — seorang gadis yang lelah dengan ekspektasi semua orang, tapi tetap tersenyum.Di suatu sore saat latihan selesai, mereka duduk di balkon sekolah. Langit berwarna oranye. Angin sore membelai rambut Salva yang tergerai."Kamu tahu, kenapa aku selalu telat sekolah?" tanya Rulian tiba-tiba.Salva menoleh. "Karena kamu malas?"Rulian terkekeh. "Karena aku nganterin koran dulu sebelum sekolah. Nenekku udah tua. Aku harus bantu."Sejak hari itu, pandangan Salva berubah. Ia tak lagi melihat Rulian sebagai anak nakal, tapi sebagai pejuang. Perlahan, ia mulai menaruh hati. Rulian pun demikian. Ia jatuh pada kesederhanaan Salva saat tersenyum, saat tanpa riasan, saat duduk bersamanya di kantin tanpa geng cewek populer.Mereka mulai dekat. Makan siang bareng, saling bantu tugas, bahkan sesekali curi pandang di kelas. Tapi hubungan mereka tak semulus yang dibayangkan. Teman-teman Salva mulai menjauh karena menganggap ia berubah. Orang tua Salva juga mulai curiga dan melarangnya dekat-dekat dengan anak dari "kelas bawah."Sementara Rulian... ia mulai merasa tidak pantas. Ia miskin. Masa depan belum pasti. Ia takut justru merusak masa depan Salva yang begitu cerah. Maka, di malam kelulusan, setelah mereka menari di tengah aula sekolah, Rulian berkata, "Mungkin kita harus berhenti sampai di sini."Salva menatapnya lama. "Kenapa?""Karena aku terlalu sayang sama kamu. Dan kalau aku benar-benar sayang... aku harus tahu kapan berhenti sebelum nyakitin kamu lebih jauh."Salva meneteskan air mata. Tapi ia tahu, cinta juga berarti rela melepaskan.Mereka berpisah setelah kelulusan. Salva melanjutkan kuliah di luar kota. Rulian kerja keras, menghidupi neneknya, dan membuka bengkel kecil-kecilan dengan uang hasil kerja serabutan.Waktu berjalan. Lima tahun kemudian, di sebuah acara reuni sekolah, Salva hadir dengan penampilan sederhana tapi dewasa. Ia sudah menjadi psikolog muda. Di tengah keramaian, matanya mencari-cari. Dan di sudut aula, berdiri Rulian — mengenakan kemeja sederhana, senyum masih sama, tapi kini matanya penuh percaya diri.Mereka bertemu lagi. Tak ada pelukan. Tak ada kata "aku rindu." Hanya saling diam dan menatap."Gimana kabar?" tanya Rulian."Baik. Kamu?""Lebih dari baik. Bengkelku lumayan jalan. Aku juga ngajar anak-anak jalanan motor dan mesin."Salva tersenyum. "Kamu tahu nggak, aku pernah bilang ke diriku sendiri... kalau jodoh itu pasti balik lagi. Nggak peduli sejauh apa pisahnya."Rulian menatapnya lama. Kali ini, tanpa ragu, ia menggenggam tangan Salva."Kalau gitu, boleh aku mulai dari awal lagi?"Salva tersenyum pelan. "Boleh. Tapi kali ini, jangan kabur lagi, ya."Mereka tertawa. Dan malam itu, tak ada tarian, tak ada musik, hanya dua orang yang dulu sempat saling lepaskan... kini kembali menggenggam, tak mau lepas lagi.Karena cinta yang tulus... kadang butuh waktu untuk kembali, tapi ketika datang lagi, ia datang untuk menetap.Setelah reuni itu, Salva dan Rulian kembali menjalin komunikasi. Awalnya canggung. Mereka banyak diam, saling kirim pesan singkat, saling tunggu siapa yang mulai bicara dulu. Tapi perlahan, keakraban itu tumbuh kembali, tak seperti dulu yang serba rahasia dan sembunyi, kini terasa lebih dewasa, lebih jujur.Salva mulai sering mampir ke bengkel Rulian saat hari libur. Duduk di bangku kayu di sudut ruangan, sambil melihat Rulian mengotak-atik motor tua. Kadang ia membawakan makanan, kadang hanya ingin melihat senyumnya yang dulu sempat ia rindukan dalam diam.Suatu sore, ketika bengkel sudah tutup dan langit mulai kelabu, Rulian berkata pelan, "Salva... kamu yakin masih mau sama aku? Hidupku nggak akan pernah seglamor orang-orang di sekelilingmu. Aku bukan lelaki berdasi. Tanganku kotor oli tiap hari."Salva menoleh, menggenggam tangan Rulian yang penuh luka dan goresan. "Tapi tangan ini yang selalu kerja keras tanpa banyak bicara. Yang berjuang bahkan sebelum aku kenal cinta sesungguhnya. Dan tahu nggak, Rulian? Aku nggak pernah nyari laki-laki berdasi. Aku nyari laki-laki yang bisa pulang ke rumah, dan bilang 'aku pulang' dengan tenang. Itu kamu."Rulian menunduk. Untuk pertama kalinya, matanya basah. Ia memeluk Salva dengan perasaan yang utuh — bukan lagi cinta anak muda yang terburu-buru, tapi rasa yang tumbuh dari waktu dan luka yang mereka lewati sendiri-sendiri.Beberapa bulan setelah itu, mereka melangsungkan lamaran kecil di rumah Salva. Keluarga Salva yang dulu ragu, kini melihat sendiri bagaimana tulusnya Rulian. Ia datang bukan untuk mengambil putri mereka, tapi untuk merawatnya.Pernikahan mereka sederhana, di halaman rumah Rulian, di bawah langit senja dan rangkaian lampu gantung. Salva tampil cantik dalam gaun putih sederhana. Rulian mengenakan jas pinjaman yang sempit di bahu, tapi senyumnya lebar dan penuh kebanggaan.Dan saat ijab kabul terucap, semua yang pernah terasa menyakitkan — perpisahan, pertentangan, air mata — seolah berubah jadi kekuatan.Setelah menikah, Salva membuka klinik kecil di dekat bengkel Rulian. Mereka hidup berdampingan, saling bantu, saling dukung. Ketika Salva kelelahan setelah menangani pasien, Rulian akan membuatkan teh dan memijat pundaknya. Saat Rulian kesulitan mencari suku cadang, Salva yang mencarikannya lewat kenalan atau online.Mereka bukan pasangan sempurna. Kadang bertengkar karena hal kecil. Tapi mereka tak pernah tidur tanpa saling minta maaf. Mereka tahu... cinta bukan soal kata manis atau hadiah mahal. Tapi soal siapa yang tetap bertahan, meski dunia tak selalu ramah.Beberapa tahun kemudian, mereka dikaruniai seorang anak perempuan yang mereka beri nama Rasya — gabungan dari "Rulian" dan "Salva." Rasya tumbuh di antara suara ketukan mesin dan lembutnya pelukan ibunya. Ia dibesarkan dengan cinta, dengan kerja keras, dan kisah nyata tentang dua orang muda yang dulunya bertolak belakang... tapi pada akhirnya, saling menemukan.Dan saat Rasya bertanya di usia 7 tahun, "Ayah ketemu Ibu di mana?" — Rulian hanya tersenyum sambil mengelus rambutnya."Di sekolah, waktu Ayah masih urakan dan Ibu sok galak. Tapi di situlah cinta dimulai. Dari beda, jadi satu."Salva tertawa mendengar itu dari dapur. Dan dalam hati, ia tahu... ia tak pernah salah memilih hati.

Rasa yang Tak Pernah Padam
Teen
29 Jan 2026

Rasa yang Tak Pernah Padam

Rolly menatap layar laptop yang terbuka di meja kerjanya. Dokumen pasien belum juga selesai ditulis, tapi pikirannya malah melayang ke ruang praktik tadi siang. Seorang pasien baru, perempuan dengan dua anak kembar yang aktif dan lucu, datang dengan senyum ramah—namanya Salca.Wanita itu memperkenalkan diri sebagai ibu tunggal yang baru pindah ke kompleks rumah yang sama dengan tempat tinggal Rolly. Ia sopan, tangguh, dan tenang dalam caranya menjelaskan keluhan batuk pilek anak-anaknya, namun dari tatapannya, Rolly tahu bahwa perempuan itu menyimpan lelah dan luka yang dalam.Rolly, duda tanpa anak yang kehilangan istrinya karena kecelakaan tiga tahun lalu, tak pernah lagi tertarik pada perempuan—sampai hari itu. Bukan karena Salca cantik, tapi karena ada ketegaran dalam dirinya yang tak bisa Rolly abaikan.Beberapa hari setelah pertemuan pertama itu, Rolly tanpa sadar mulai mencari-cari alasan untuk berbincang. Entah menanyakan kabar anak-anaknya lewat pesan WhatsApp, atau sekadar menawarkan vitamin tambahan untuk daya tahan tubuh. Salca menanggapi dengan sopan, tapi menjaga jarak. Ia paham, tetangga bisa saja baik tanpa maksud lain.Tapi malam-malam panjang yang dingin membuat Salca diam-diam menantikan sapaan Rolly. Lelaki itu tak pernah memaksa, tapi selalu hadir saat dibutuhkan. Ketika anak-anaknya demam tengah malam dan ia panik, Rolly datang tanpa banyak bicara, memeriksa dengan sigap, lalu tinggal sampai anak-anak tenang.Kehadiran Rolly perlahan menjadi bagian dari hari-hari Salca. Saat ada kerja bakti kompleks, Rolly mengangkat galon untuknya. Saat Salca sakit ringan, Rolly mengantarkan makanan. Sampai suatu hari, di depan rumahnya, Salca berkata jujur, "Aku takut nyaman sama kamu, Rol."Rolly menatap perempuan itu serius. "Kenapa?""Karena aku nggak ingin anak-anakku berharap pada orang yang bisa saja pergi."Rolly tersenyum pahit. "Aku juga pernah takut seperti itu. Tapi sejak kehilangan istriku, aku tahu satu hal—aku nggak bisa terus hidup dengan menolak perasaan. Kita berdua sama-sama pernah kehilangan. Tapi aku ingin mencoba. Kalau kamu izinkan."Salca terdiam. Malam itu, tak ada jawaban. Tapi sejak hari itu, ia mulai membiarkan hatinya terbuka perlahan.Perjalanan mereka tidak semulus kisah romantis di novel. Ada hari-hari ketika Salca merasa bersalah—karena ia merasa seperti "membawa beban" berupa dua anak kecil. Ada juga hari ketika Rolly merasa tidak cukup, karena ia takut tak bisa menjadi ayah yang baik.Namun mereka saling belajar. Rolly mulai rutin mengantar-jemput anak-anak sekolah, belajar memasak bekal sederhana, dan menghadiri acara perpisahan TK bersama Salca. Sementara Salca mulai mempercayakan sebagian ruang hatinya pada lelaki yang tak pernah sekalipun menuntut.Hingga pada suatu hari ulang tahun Salca, saat ia bangun pagi, ia mendapati meja makan kecil di rumahnya sudah dihiasi bunga dan kue sederhana. Dua anaknya berdiri dengan wajah ceria, dan Rolly muncul dari dapur dengan celemek."Selamat ulang tahun, Salca," ucap Rolly lembut.Air mata Salca jatuh tanpa bisa ditahan. Bukan karena hadiah itu mahal. Tapi karena ia tak pernah merasa dihargai dan dicintai seperti ini sebelumnya."Aku nggak punya cincin malam ini, nggak punya kata-kata romantis, bahkan nggak yakin bisa jadi suami yang sempurna. Tapi... maukah kamu menjalani hari-hari bersamaku dan anak-anakmu yang sudah seperti anak-anakku juga?"Salca tak menjawab dengan kata. Ia hanya mengangguk dan memeluk Rolly erat.Mereka menikah sederhana. Tanpa pesta mewah, hanya keluarga, tetangga, dan tawa anak-anak. Rolly memeluk dua anak Salca di pelaminan dan berkata, "Boleh ya, Ayah jadi Ayah baru buat kalian."Waktu berjalan. Mereka bukan keluarga yang sempurna, tapi mereka bahagia. Rumah itu tak pernah sunyi—ada tawa anak-anak, ada Salca yang sibuk memasak, dan ada Rolly yang membaca cerita pengantar tidur sambil ketiduran lebih dulu.Dan dalam segala kekurangan, cinta itu tumbuh subur. Karena mereka tak mencari cinta yang sempurna. Mereka hanya mencari seseorang yang mau tinggal, bertahan, dan mencintai... meski masa lalu mereka tidak sederhana.Hari-hari setelah pernikahan mereka terasa seperti mimpi indah yang sederhana. Rolly, yang dulu begitu kaku, perlahan menjadi sosok suami sekaligus ayah yang lembut. Ia belajar menyisir rambut Nayla sebelum berangkat sekolah, belajar membaca dongeng yang sama berkali-kali karena Rafif selalu meminta cerita dinosaurus favoritnya, dan tentu saja... belajar hidup bukan hanya sebagai "dokter," tapi sebagai kepala keluarga.Sementara Salca? Ia mulai berani bermimpi kembali. Bersama Rolly, ia membuka usaha katering rumahan kecil-kecilan. Tak besar, tapi cukup untuk membuat tangannya sibuk dan hatinya hangat. Dapur yang dulunya sunyi kini selalu ramai dengan aroma bumbu dan tawa anak-anak yang bermain sambil membantu membungkus nasi kotak.Mereka bukan pasangan glamor, bukan pasangan sosial media yang pamer kemesraan, tapi mereka saling tahu: cinta itu bukan soal gengsi, tapi soal hadir. Hadir ketika lelah, hadir ketika bingung, hadir meski tak diminta.Namun, seperti kehidupan nyata pada umumnya, badai pun datang.Ayah Salca yang dulu menolak keras kehadiran Rolly—karena statusnya sebagai duda, dan bukan dari keluarga terpandang—kembali muncul setelah bertahun-tahun pergi. Lelaki tua itu datang bukan untuk minta maaf, tapi karena sakit keras. Tak punya siapa-siapa.Rolly menyambut pria itu dengan tenang. Ia tak menyimpan dendam, hanya keinginan untuk menunjukkan bahwa keluarga itu bukan dibangun dengan gelar atau darah bangsawan, tapi dengan keikhlasan.Salca sempat bimbang. Masa lalu yang kelam dengan ayahnya membuatnya gamang. Tapi malam itu, saat ia melihat Rolly mengganti perban luka kecil di kaki sang ayah, hatinya luluh."Kenapa kamu tetap baik sama orang yang pernah hina kamu, Rol?"Rolly menjawab pelan, "Karena dia ayahmu. Dan aku mencintai semua bagian dari hidupmu. Bahkan yang paling menyakitkan."Salca menangis malam itu. Untuk pertama kalinya, ia menangis bukan karena sakit, tapi karena merasa sangat dicintai.Setelah ayahnya wafat, Salca merasa ada beban yang lepas. Ia dan Rolly mulai menabung untuk membeli rumah yang lebih besar. Bukan karena ingin pamer, tapi karena mereka ingin mengadopsi satu anak lagi dari panti asuhan. Anak itu—seorang gadis kecil yatim piatu bernama Dira—menjadi pelengkap dalam rumah kecil mereka.Tiga anak. Satu ibu. Satu ayah sambung yang tak pernah membedakan kasih.Mereka merayakan ulang tahun pernikahan keempat dengan sederhana: nasi liwet di teras rumah, lilin seadanya, dan anak-anak yang menyanyikan lagu dengan suara sumbang tapi tulus."Pernah nyangka, hidupmu akan begini, Rol?" tanya Salca sambil menyender di bahu suaminya.Rolly menggeleng. "Dulu aku pikir aku akan tua sendirian, Sal. Tapi kamu... kamu seperti rumah. Penuh luka, tapi tetap berdiri. Dan aku... aku bersyukur pernah kehilangan, karena kalau tidak, aku mungkin tidak akan pernah bertemu kamu."Salca menggenggam tangan suaminya erat.Dan malam itu, di bawah langit yang sama, mereka berdua sadar bahwa cinta yang tumbuh dari luka... bisa jadi cinta yang paling kuat. Bukan karena tak pernah goyah, tapi karena mereka selalu memilih untuk bertahan.Beberapa tahun kemudian, kehidupan mereka makin dewasa. Anak-anak tumbuh, rumah makin ramai dengan suara tawa, kadang tangis, tapi selalu dipenuhi cinta. Nayla kini duduk di bangku SMP, dan mulai mengenal dunia remaja dengan segala peliknya. Rafif yang dulu cerewet, kini justru jadi pendiam dan lebih suka main game. Dira, si bungsu, sudah pintar membaca dan suka menggambar keluarga kecil mereka.Suatu malam, saat anak-anak sudah tidur, Salca duduk di beranda sambil memandangi langit. Di tangannya ada secangkir teh hangat, di pangkuannya selimut tipis. Rolly datang menyusul, duduk di sebelahnya tanpa suara, hanya merangkul dan mendekap lembut."Kita berhasil ya..." bisik Salca."Belum selesai. Tapi kita masih jalan bareng. Itu yang paling penting," jawab Rolly sambil mengecup pelipis istrinya."Kalau kamu bisa kembali ke masa lalu," tanya Salca pelan, "apa kamu akan pilih hidup yang sama? Menikahi janda anak dua yang keras kepala kayak aku?"Rolly tertawa kecil. "Tanpa ragu sedikit pun. Karena di balik keras kepalamu itu... kamu satu-satunya yang bikin hidupku lembut."Salca menoleh, matanya hangat dan basah."Kamu tahu nggak, Rol?""Apa?""Dulu aku takut cinta kedua nggak akan sesempurna yang pertama. Tapi ternyata, cinta kedua bisa jadi yang paling matang, karena datang bukan cuma dari rasa... tapi dari kesadaran. Bahwa kita saling butuh, bukan karena takut sendiri, tapi karena benar-benar ingin jalan bareng."Rolly menggenggam tangannya. Diam, tapi utuh.Dan malam itu, mereka hanya duduk berdua, tak banyak kata, tapi penuh makna.Karena cinta sejati... kadang tak butuh drama. Hanya butuh dua orang yang tak saling lepas, meski hidup berkali-kali menguji mereka.~END~

Duda Anak Dua Dapat Gadis Kaya
Teen
29 Jan 2026

Duda Anak Dua Dapat Gadis Kaya

Hidup Ian hancur saat istrinya meninggal karena kecelakaan empat tahun lalu. Sejak itu, dunia miliknya hanya berkisar pada dua hal: anak-anaknya — Nayla yang baru masuk SMP dan Rafif yang duduk di kelas tiga SD — serta pekerjaannya sebagai supir pribadi di sebuah perusahaan besar.Ia tak pernah berpikir soal cinta lagi. Hatinya sudah lama terkubur bersama jenazah wanita yang pernah ia cintai. Tapi hidup punya cara aneh mempermainkan manusia.Pertemuan itu terjadi di sore hujan, saat Ian sedang menunggu jemputan bos barunya. Ia tak tahu siapa yang akan ia antar hari itu. Yang ia tahu hanya nama di pesan: "Ms. Salca" .Saat seorang wanita muda melangkah cepat dengan payung putih dan sepatu hak tinggi ke arah mobilnya, Ian buru-buru membuka pintu."Maaf, saya agak telat," katanya.Suaranya lembut tapi tegas. Wajahnya bersih, aura anggun tapi tak sombong. Usianya sepertinya belum tiga puluh.Dan sejak itu, Salca menjadi penumpang tetap Ian. Setiap hari, setiap jam, selama berminggu-minggu.Ian tidak banyak bicara, hanya menjawab jika ditanya. Tapi Salca justru merasa nyaman. Ia tahu sopirnya duda. Ia tahu juga tentang dua anaknya — karena kadang Ian terpaksa menjemput dari sekolah dulu sebelum mengantar Salca rapat malam.Yang tak ia duga adalah... hatinya mulai tertarik.Salca adalah anak tunggal pemilik perusahaan tekstil besar. Ia punya segalanya. Rumah mewah, mobil, bahkan saham sendiri. Tapi seumur hidup, ia tak pernah bisa percaya pada laki-laki. Semua pria yang mendekatinya selalu membicarakan uang.Tapi tidak Ian.Pria itu malah selalu menjaga jarak. Ia bahkan pernah menolak Salca membelikan mainan untuk anaknya."Terima kasih, Bu... tapi saya ingin anak-anak saya tahu kalau mainan mereka datang dari hasil kerja ayahnya," kata Ian waktu itu.Perasaan kagum Salca berubah menjadi rasa ingin mengenal lebih dalam. Ia mulai menyapa anak-anak Ian, kadang mengantar makanan ke rumah mereka saat Ian lembur.Dan suatu malam, setelah mengantar Salca pulang dari pesta gala, Ian bicara dengan suara paling pelan yang pernah ia keluarkan."Maaf, Bu... kalau boleh jujur... saya merasa harus berhenti jadi sopir pribadi Anda."Salca terkejut. "Kenapa? Saya nggak pernah marah, kan?"Ian menunduk."Karena saya mulai menyukai Anda."Salca terdiam. Hatinya berdebar. Tapi ia tersenyum. "Kalau begitu, jangan berhenti. Kita ngobrol sebagai teman dulu... bukan bos dan sopir."Hubungan mereka tumbuh diam-diam.Salca tak peduli pada pandangan orang. Ia sering datang ke rumah Ian, ikut bantu masak, bahkan menjemput Nayla dan Rafif dari sekolah.Anak-anak Ian menyukai Salca. Nayla memanggilnya "Kak Salca", sementara Rafif pernah dengan polosnya berkata, "Kak Salca, kalau Ayah nikah lagi, kamu aja ya..."Ian tertawa waktu itu. Tapi Salca menatap matanya serius. "Kalau kamu siap... aku juga mau."Pernikahan mereka diadakan sederhana. Hanya di taman belakang rumah keluarga Salca, dengan undangan terbatas. Tapi yang hadir tahu bahwa cinta sejati sedang menyatu di sana — antara pria sederhana yang setia dan wanita kaya yang berhati tulus.Ian mengenakan jas abu-abu, matanya berkaca saat melihat Salca berjalan ke arahnya dalam gaun putih sederhana."Kamu yakin mau jadi istri duda kere dengan dua anak?" bisik Ian saat upacara akan dimulai.Salca tersenyum sambil menggenggam tangannya erat. "Justru karena kamu duda dua anak yang bikin aku jatuh cinta. Kamu bukan kere... kamu kaya dalam cara yang nggak semua orang punya: kaya tanggung jawab, kaya hati."Dan mereka menikah.Lima tahun berlaluIan kini bukan lagi supir pribadi. Dengan dukungan Salca, ia membuka bengkel mobil sendiri dan bahkan punya beberapa karyawan. Nayla masuk SMA favorit dan aktif di OSIS. Rafif ikut klub bola dan sudah dua kali jadi juara tingkat kota.Salca tetap mengurus bisnisnya, tapi lebih santai. Ia sering membawa sarapan untuk anak-anak ke sekolah, mengantar suaminya ke bengkel dulu, lalu ngopi sambil menulis jurnal hidupnya.Mereka hidup sederhana. Tapi penuh. Setiap malam makan malam bersama. Setiap akhir pekan piknik di taman atau sekadar masak bareng di dapur.Dan malam itu, saat Rafif tertidur di sofa dan Nayla sibuk dengan tugas sekolah, Ian menarik Salca ke halaman belakang.Ia menggenggam tangannya dan menatap langit."Kamu tahu nggak?" bisiknya. "Hidupku dulu cuma abu-abu. Tapi sejak kamu datang, semuanya jadi penuh warna."Salca tersenyum dan menyandarkan kepala di bahunya."Dan kamu, Ian... mengajarkanku bahwa bahagia bukan tentang punya segalanya, tapi cukup dengan seseorang yang tak pernah pergi."Di bawah langit malam itu, cinta mereka tumbuh — bukan dari kemewahan atau masa lalu, tapi dari saling menerima... dan memilih untuk tetap tinggal.Pagi itu berbeda dari biasanya.Ian baru saja mengantar Rafif ke sekolah dan Nayla ke bimbel. Sementara itu, Salca sibuk merapikan meja sarapan, mengenakan daster santai dan senyum yang tidak pernah luntur dari wajahnya."Aku ada kejutan," kata Salca sambil menyodorkan surat ke tangan Ian.Ian mengangkat alis curiga, lalu membuka surat itu perlahan. Matanya membaca cepat. Lalu berhenti. Lalu membaca ulang.Matanya melebar."Ini...?" tanyanya tak percaya.Salca mengangguk pelan. "Aku diterima di program akselerasi MBA di Prancis. Beasiswa penuh. Dua tahun."Ian mematung. Jantungnya mendadak berat."Berarti kamu bakal tinggal di sana selama itu?"Salca duduk di sebelahnya. "Enggak. Aku nggak akan ninggalin kamu dan anak-anak. Aku mau kamu ikut. Kita semua. Aku bisa ajukan cuti urus bisnis dari jarak jauh. Kamu bisa ngurus Rafif dan Nayla di sana. Sekalian buka bengkel kecil kalau mau."Ian menatap wanita itu — wanita yang dulu ia kira tak mungkin bisa ia miliki. Dan kini, wanita itu justru mengajaknya membuka lembaran baru."Kamu yakin mau tinggalin semua ini? Bisnismu, rumah ini, semuanya?"Salca menggenggam tangan Ian. "Aku nggak ninggalin apa pun. Aku cuma bawa yang paling berharga: kamu, dan anak-anak kita."Delapan Bulan Kemudian – PrancisIan tidak pernah membayangkan dirinya bisa berjalan menyusuri jalanan Lyon dengan mantel panjang dan secangkir kopi panas di tangan. Rafif kini sekolah internasional dan fasih mengucapkan "bonjour". Nayla berhasil masuk klub seni dan sudah dua kali tampil di teater sekolah.Sementara itu, Salca sibuk dengan tugas-tugas kuliahnya, tapi selalu menyempatkan sarapan bersama setiap pagi.Di malam minggu, mereka sering duduk di balkon apartemen sambil berbagi cerita."Dulu aku pikir, jadi duda itu akhir dari segalanya," gumam Ian."Dan aku dulu pikir, jadi gadis kaya bakal sulit nemu yang beneran tulus," balas Salca sambil menatap matanya.Mereka saling tersenyum.Dan di tengah sejuknya malam Eropa, mereka tahu: bukan masa lalu yang menentukan akhir cerita, tapi keberanian untuk mencintai tanpa pamrih.Lima Tahun Lagi – IndonesiaIan dan Salca kembali ke Indonesia. Mereka mendirikan yayasan pendidikan untuk anak-anak yatim dan keluarga tidak mampu — hasil kombinasi dari pengalaman hidup Ian dan kepekaan sosial Salca.Nayla diterima di jurusan seni Universitas Indonesia. Rafif sedang meniti karier di tim sepak bola muda.Dan Salca?Ia kini dikenal bukan hanya sebagai pengusaha sukses, tapi juga istri dari "mantan supir" yang kini menjadi simbol cinta sejati.Suatu malam, di taman belakang rumah mereka yang baru, Ian duduk dengan segelas teh sambil melihat langit.Salca menghampiri dan duduk di sampingnya. "Masih percaya jodoh bisa datang tanpa diduga?" tanyanya.Ian menatapnya dalam-dalam. "Aku lebih percaya... jodoh itu seperti kamu. Datangnya tak terduga, tapi bertahan seumur hidup."Salca tertawa pelan dan bersandar di bahunya.Dan di bawah cahaya bintang yang sama, cinta mereka terus hidup. Bukan karena harta. Bukan karena status.Tapi karena mereka pernah memilih untuk saling menerima — dan tak pernah menyerah pada cinta.~END~

Sekretaris Penggodaku
Teen
27 Jan 2026

Sekretaris Penggodaku

Lian, CEO muda dan tampan dari perusahaan media digital terbesar di Jakarta, terkenal karena dua hal: profesionalismenya yang dingin dan ketampanannya yang mematikan.Ia tidak pernah mencampur urusan kerja dengan urusan hati. Bahkan banyak yang bilang, pria itu anti cinta.Sampai suatu hari, datanglah seorang sekretaris baru bernama Salca —perempuan berwajah manis dengan mata tajam dan bibir jenaka. Bukan tipe wanita pendiam. Bukan juga tipe yang akan takut pada bos sekelas Lian."Kalau kamu ingin bertahan di sini, jangan terlalu banyak bicara," kata Lian saat hari pertama.Salca hanya tersenyum. "Kalau Anda ingin saya diam, pastikan tidak sering-sering menatap saya seperti itu, Pak."Lian terdiam. Bibirnya sempat menyungging senyum tipis, lalu buru-buru menepisnya.Wanita ini... berbeda.....Hari-hari berikutnya di kantor tidak pernah sama lagi. Salca punya cara sendiri untuk 'mengganggu' Lian. Dari menyelipkan sticky note berisi kalimat genit di laptop sang CEO, hingga pura-pura menjatuhkan pena hanya untuk membungkuk di hadapannya.Tapi Lian tetap diam. Dingin. Tak bergeming.Hingga suatu malam, hujan deras turun, dan Salca masih bekerja lembur. Lian lewat dan tanpa berkata apa-apa, meletakkan jaket di bahunya."Aku bisa antar kamu pulang," katanya.Salca terkejut. "Tumben, Pak Bos perhatian."Lian tidak menjawab. Tapi di dalam mobil, selama perjalanan, hening itu justru terasa... hangat.....Suatu malam, Salca mendengar kabar dari rekan kerja: Lian pernah patah hati parah karena ditinggal tunangannya di altar. Sejak saat itu, pria itu tak pernah membiarkan siapa pun mendekat. Termasuk dirinya.Salca mulai ragu."Jangan-jangan aku cuma main-main sendiri..."Tapi Lian, diam-diam, sudah mulai gelisah juga. Perempuan itu terlalu cerah untuk diabaikan. Terlalu berani untuk dilupakan.Suatu hari, Salca tidak masuk kerja. Tidak ada kabar. Tidak ada pesan. Lian merasa... kehilangan.....Setelah dua hari absen, Lian memutuskan untuk mencari tahu sendiri. Ia mendatangi alamat rumah di data HRD, dan menemukan Salca demam tinggi, sendirian.Tanpa banyak bicara, ia membelikan obat, membuatkan bubur, dan menemani sampai Salca tertidur.Pagi harinya, saat Salca membuka mata, Lian sedang duduk di lantai, tertidur dengan tangan masih menggenggam tangan Salca.Saat Salca menggerakkan jari pelan, Lian terbangun dan menatap matanya."Aku pikir aku bisa terus jadi dingin sama kamu," ucap Lian pelan. "Ternyata... aku salah."....Setelah pengakuan itu, hubungan mereka berubah. Tidak lagi ada batasan dingin antara bos dan sekretaris. Tapi mereka sepakat: cinta ini tetap harus tersembunyi.Namun, cinta diam-diam tak pernah bisa benar-benar sembunyi.Desas-desus mulai terdengar. Rekan kerja mulai bergosip. Hingga akhirnya, pemegang saham utama mendesak Lian: pilih antara profesionalisme... atau skandal yang bisa menghancurkan reputasi.Lian bimbang. Tapi Salca justru yang membuat keputusan lebih dulu.Ia mengajukan surat pengunduran diri."Aku mencintaimu, tapi aku tidak ingin jadi alasan reputasimu hancur," katanya dengan air mata di mata.....Dua bulan setelah kepergian Salca, Lian berubah. Ia tidak fokus bekerja. Setiap ruangan terasa kosong. Setiap pagi, ia mencari-cari sticky note yang tak pernah lagi muncul.Hingga suatu pagi, ia menghentikan rapat, berdiri, dan berkata:"Ada seseorang yang lebih penting dari perusahaan ini. Dan aku bodoh karena membiarkannya pergi."Dia keluar, mengendarai mobilnya sendiri, dan datang ke tempat Salca kini bekerja—di kantor kecil milik startup temannya.Di hadapan semua orang, Lian berdiri dan berkata:"Kamu sekretarisku dulu. Sekarang, biarkan aku jadi milikmu sepenuhnya. Aku mau kamu... jadi istriku."Salca menatapnya. Terdiam. Lalu tersenyum kecil."Kamu yakin bisa ngadepin aku tiap hari seumur hidupmu?""Selama kamu tetap gangguin aku seperti dulu... aku yakin."....Beberapa bulan kemudian, mereka menikah secara sederhana. Salca tidak lagi menjadi sekretaris, tapi kini menjadi pemilik hati sang bos besar.Lian yang dulu dingin, kini jadi pria paling perhatian. Dan Salca? Masih sama. Masih suka menggoda. Tapi sekarang, dengan tambahan status: istri sah .Dan setiap pagi, sebelum Lian berangkat kerja, Salca akan berbisik:"Hati-hati ya, Pak Bos. Jangan godain sekretaris lain."....Setelah permintaan lamaran mendadak dari Lian, kabar itu menyebar lebih cepat daripada yang mereka kira. Foto Lian memegang tangan Salca di depan kantor startup tempat Salca bekerja menyebar di media sosial, dibagikan oleh salah satu karyawan di sana.Pagi berikutnya, media ramai dengan judul:"CEO Muda Jatuh Cinta pada Sekretarisnya—Cinta di Balik Meja Kerja!"Lian menghela napas panjang di ruangannya. Sementara Salca hanya bisa tertunduk, merasa bersalah telah menjadi pusat perhatian yang seharusnya bukan miliknya."Maaf, aku nggak bermaksud bikin semua jadi ribet," ucap Salca.Lian mengangkat wajahnya. "Ribet memang. Tapi kamu tahu? Aku lebih takut kehilangan kamu daripada kehilangan reputasi."....Masalah belum selesai. Di tengah hebohnya kabar pertunangan mereka, muncul satu nama lama: Tiara , mantan tunangan Lian yang dulu meninggalkannya di altar.Tiara kembali dari luar negeri dan datang langsung ke kantor Lian, tanpa izin. Dengan wajah cantik dan percaya diri, ia langsung masuk ke ruang CEO, membuat Salca yang sedang duduk di luar menegang."Kamu masih milik aku, Lian. Jangan bilang kamu benar-benar jatuh cinta sama... sekretarismu itu?"Lian berdiri pelan, tenang namun tegas. "Dulu kamu yang pergi. Sekarang aku sudah milik orang lain."Tapi Tiara tak mudah menyerah. Dia mulai menyebarkan rumor ke para investor, menyebut Lian tidak profesional dan menjadikan perusahaan tempat 'main cinta'.Akibatnya, dewan direksi mulai mempertanyakan kapasitas Lian sebagai CEO. Mereka mendesak agar Lian memutuskan: pertahankan posisinya... atau lepaskan Salca.....Tekanan itu akhirnya membuat Lian mengambil langkah drastis: meminta Salca pergi dari hidupnya."Aku ingin kamu pergi jauh dari aku, Salca," kata Lian malam itu. Dingin. Datar.Salca membeku. "Kamu bohong.""Enggak. Aku nggak bisa lagi mempertaruhkan semuanya demi hubungan ini.""Jadi aku cuma gangguan, ya?" suara Salca bergetar.Tanpa kata lagi, Salca pergi. Malam itu, dia meninggalkan apartemen Lian—dan juga hatinya yang telah terlanjur ia beri pada pria itu.....Tiga bulan berlalu. Salca bekerja di sebuah perusahaan media kecil sebagai penulis konten. Ia mencoba memulai hidup baru—tapi setiap malam, ingatannya tetap kembali pada pria bernama Lian.Sementara Lian tampak tenang di luar, tapi di dalam dirinya hancur. Ia tidak pernah memecat Salca. Ia tidak pernah mengganti sekretaris. Meja Salca tetap kosong. Sticky note yang dulu mengganggunya... kini justru dirindukannya.....Hingga suatu malam, Lian melihat presentasi dari perusahaan kecil yang sedang naik daun. Di dalamnya, ada nama yang sangat ia kenal.Salca Rineka.Tanpa pikir panjang, ia hadir ke acara peluncuran produk startup itu, duduk di deretan belakang. Dan saat mata mereka bertemu, dunia seolah berhenti.Setelah acara, Lian mendekat."Kamu kelihatan kuat sekarang," katanya."Dan kamu terlihat lebih kurus," jawab Salca ringan, meski hatinya bergetar."Aku salah waktu itu. Aku takut. Tapi sekarang aku sadar... aku lebih takut hidup tanpa kamu."Salca menatapnya, menahan air mata."Aku nggak butuh janji lagi, Lian. Aku cuma butuh bukti."....Sebulan kemudian, Lian mengundurkan diri dari posisi CEO dan menyerahkan jabatan pada wakilnya. Ia memutuskan membuka agensi media kreatif sendiri, dan mengajak Salca bergabung—bukan sebagai sekretaris, tapi sebagai partner bisnis sekaligus calon istri."Aku ingin mendirikan sesuatu dari nol, bersamamu. Tanpa tekanan, tanpa bayang-bayang siapa pun. Hanya kita."Salca mengangguk, dan kali ini, dia tak ragu lagi.....Dua tahun kemudian, Salca dan Lian menikah dalam upacara kecil di tepi danau. Tak mewah, tapi hangat. Di hadapan keluarga dan sahabat, mereka saling bersumpah."Aku pernah menggoda kamu setiap hari," kata Salca, tertawa."Dan sekarang kamu yang berhasil buat aku menyerah," balas Lian sambil menggenggam tangan istrinya.Di akhir hari, mereka sadar—hubungan yang dimulai dari candaan ringan, bisa jadi cinta yang paling kuat. Karena yang benar-benar bertahan... bukan hanya yang romantis, tapi yang berani berjuang bersama.~END~

Mantan Musuhku, Ternyata Suamiku
Teen
27 Jan 2026

Mantan Musuhku, Ternyata Suamiku

Salsa masih ingat dengan jelas hari pertama ia masuk SMA—bukan karena semangat masa putih abu-abu, tapi karena langsung bertengkar dengan seorang cowok menyebalkan bernama Roly. Hanya karena mereka rebutan bangku dekat jendela, semuanya berubah jadi medan perang kecil."Kamu yang datang belakangan, kok malah ngusir?" protes Salsa waktu itu.Roly mengangkat alis, "Siapa cepat dia dapat. Atau kamu mau duduk di lantai aja?"Murid-murid lain tertawa. Tapi tidak dengan Salsa. Sejak hari itu, dia menandai Roly sebagai musuh nomor satu .Dan entah kenapa, semesta seolah mendukung permusuhan mereka. Tiga tahun SMA, selalu sekelas. Saat Salsa menang lomba pidato, Roly menyindirnya "tukang ceramah". Saat Roly jadi ketua OSIS, Salsa terang-terangan memprotes. Perdebatan mereka jadi tontonan favorit teman-teman sekelas.Di balik permusuhan itu, tak ada yang tahu bahwa ada hal kecil yang bersembunyi: perhatian yang tak pernah diakui .....Beberapa tahun kemudian, setelah mereka menjalani kehidupan masing-masing, Salsa fokus mengejar karier di dunia periklanan. Perempuan mandiri, ambisius, dan tidak tertarik menjalin hubungan.Hingga suatu malam, ayahnya—yang telah lama sakit jantung—memanggilnya."Ayah cuma ingin satu hal sebelum pergi, Sal... Lihat kamu menikah."Salsa terdiam. Ia ingin membantah, tapi tangis ibunya sudah lebih dulu pecah.Dan keesokan harinya, saat nama calon yang disebutkan adalah Roly , rasanya seperti dijatuhi petir."Mereka sudah lama dekat, Sal. Sahabat Ayah dan Om Bram ingin menjodohkan kalian sejak lama," jelas ibunya.Salsa ingin menolak, tapi dia juga tahu... waktu ayah tidak lama lagi. Dan di tengah dilema itu, Roly muncul.Masih dengan wajah dinginnya, tapi kini lebih dewasa, lebih tenang."Kalau kamu nggak mau, bilang aja. Tapi... aku mau lakuin ini buat orang tua."Dan akhirnya, dengan hati berat, Salsa mengangguk.....Pernikahan mereka berlangsung sederhana. Tidak ada pelaminan mewah, tidak ada pesta besar. Hanya dua keluarga yang saling menatap penuh harap.Roly dan Salsa resmi menjadi suami-istri—dua orang yang dulu saling benci, kini berbagi atap.Malam pertama mereka bukan malam romantis. Roly tidur di sofa. Salsa di ranjang. Sepasang cincin di jari mereka terasa seperti borgol tak kasat mata."Mau sampai kapan begini?" tanya Salsa suatu malam."Sampai kita menemukan cara buat keluar dari ini tanpa menyakiti siapa-siapa," jawab Roly pelan.Hari-hari awal pernikahan mereka berjalan seperti dua orang asing yang tinggal dalam satu rumah. Percakapan hanya seputar hal-hal penting: belanja bulanan, urusan keluarga, atau tagihan listrik.Namun seiring waktu, ada hal-hal kecil yang mengubah segalanya.Roly mulai membuatkan kopi tiap pagi, tanpa diminta. Ia ingat jenis teh favorit Salsa. Dia diam-diam mengganti lampu kamar mandi yang rusak, membersihkan kaca mobil istri yang kotor."Kenapa kamu ngelakuin semua ini?" tanya Salsa."Karena kamu istriku."....Suatu hari, Salsa jatuh sakit. Demam tinggi membuatnya lemas dan tidak bisa bangun dari tempat tidur.Saat membuka mata, ia mendapati Roly tertidur di sisi ranjang, menggenggam tangannya erat."Aku takut kamu kenapa-kenapa," ucap Roly lirih ketika sadar Salsa terbangun.Salsa tak mampu menjawab. Dadanya sesak oleh perasaan yang tidak bisa ia definisikan.Sejak hari itu, ia mulai melihat Roly dengan cara berbeda.Ia perhatikan cara pria itu memperhatikan detail kecil: menyiapkan jaket saat cuaca dingin, memasang pengingat di ponselnya agar Salsa minum obat, atau menyelipkan makanan kesukaan di kulkas.Semua perhatian itu... perlahan mencairkan kebekuan di hati Salsa.....Suatu malam, saat mencari dokumen di lemari Roly, Salsa menemukan sebuah kotak kecil. Isinya surat-surat lama, potongan kertas bertuliskan puisi, dan yang paling mengejutkan: foto dirinya saat SMA .Di balik foto itu tertulis:"Kalau saja aku cukup berani, mungkin dia sudah jadi milikku sejak dulu."—RTangis Salsa pecah. Semua sikap menyebalkan Roly di masa lalu ternyata bukan karena benci, tapi karena... rasa suka yang tak bisa diungkap.....Salsa mendekati Roly malam itu, memperlihatkan foto tersebut."Jadi... semua ini... sejak SMA?"Roly menatapnya lama, lalu mengangguk. "Aku nggak pernah benci kamu, Sal. Aku cuma... nggak tahu caranya deketin kamu. Dan kamu terlalu keras kepala buat didekati dengan cara biasa.""Jadi kita bertahun-tahun buang waktu buat musuhan... padahal saling suka?" tanya Salsa, separuh tertawa, separuh menangis.Roly tersenyum. "Lebih baik telat dari pada nggak sama sekali, kan?"Dan untuk pertama kalinya, mereka berciuman. Bukan karena drama, bukan karena tuntutan, tapi karena cinta yang akhirnya menemukan jalannya.....Dua tahun kemudian, Salsa duduk di ruang tamu rumah mereka yang kini terasa benar-benar seperti "rumah." Di pangkuannya, seorang bayi laki-laki tertidur lelap.Roly datang membawa dua cangkir teh, mencium kening Salsa lalu duduk di sampingnya."Aku masih nggak percaya kalau kamu dulu musuh bebuyutanku," kata Salsa.Roly terkekeh. "Dan sekarang jadi cinta sejatimu?""Lebih dari itu... Kamu rumahku."Mereka tertawa kecil. Dunia boleh berubah, tapi satu hal takkan pernah berubah: cinta yang hadir setelah pertengkaran panjang, justru terasa paling dalam.....Kebahagiaan rumah tangga Salsa dan Roly sempat terasa sempurna. Namun, hidup tak pernah sesederhana itu. Sebuah pesan masuk ke ponsel Salsa, dari nomor tak dikenal."Lama tak bertemu. Aku masih ingat kita pernah punya rencana masa depan. Mau kopi sore ini?"Pengirimnya: Dion , mantan pacar Salsa yang dulu sempat berjanji menikahinya—sebelum menghilang tanpa kabar.Salsa terdiam lama. Ada luka yang belum sepenuhnya sembuh. Dion adalah bagian dari masa lalunya yang tidak pernah ia pahami akhir ceritanya. Tapi dia juga sadar, sekarang dia sudah menjadi istri Roly .Sialnya, Roly melihat pesan itu malam harinya. Tak ada nada marah, hanya satu tatapan dingin yang membuat jantung Salsa mencelos."Dia... datang lagi?" tanya Roly pelan.Salsa mengangguk."Aku cuma mau tahu... kenapa dulu dia pergi," kata Salsa."Dan kamu pikir kamu berhak tahu, setelah kamu menikah sama aku?" Nada suara Roly berubah.Pertengkaran tak terhindarkan malam itu. Untuk pertama kalinya, mereka tidur dengan punggung saling membelakangi. Tak ada kata cinta. Tak ada pelukan pagi. Yang ada hanyalah dingin , dan luka yang terbuka kembali.....Salsa menemui Dion di sebuah kafe. Pertemuan singkat itu menjawab semua pertanyaan yang tertunda selama bertahun-tahun. Dion mengaku saat itu dia kabur karena dijodohkan oleh keluarganya ke luar negeri. Tapi kini, dia kembali—dan menyesal."Aku bisa memperbaiki semuanya. Kita bisa mulai dari awal."Salsa hanya menatapnya kosong."Maaf. Aku sudah menikah.""Tapi kamu nggak mencintai dia, kan?" desak Dion.Salsa terdiam. Sebuah bayangan muncul—Roly yang merawatnya saat demam, membelikan cokelat saat dia lelah, diam-diam menyelimutinya saat tertidur di sofa."Aku benci dia dulu... tapi sekarang aku takut kehilangan dia."Itulah jawabannya.....Salsa pulang dan mendapati rumah kosong. Tidak ada suara Roly. Tidak ada aroma kopi. Hanya keheningan yang menyesakkan.Di meja makan, ada sepucuk surat:"Aku pernah jadi pengecut waktu SMA—menyembunyikan perasaan dengan cara yang salah.Sekarang aku kembali jadi pengecut karena cemburu pada seseorang dari masa lalu kamu.Tapi yang paling aku takutkan...Kamu lebih memilih dia, bukan aku."– RolySalsa mengejarnya. Hujan deras malam itu tak menyurutkan langkahnya. Ia tahu ke mana harus mencari—apartemen lama Roly, tempat kenangan mereka dulu dimulai.Saat pintu dibuka, Roly berdiri di ambang pintu. Basah, lelah, dan... patah."Aku milikmu," ucap Salsa pelan. "Kalau aku pernah mencintai dia, itu dulu. Tapi kamu... kamu yang aku pilih sekarang. Dan besok. Dan setiap hari setelahnya."Malam itu mereka saling berpelukan. Tanpa suara. Hanya detak jantung yang menjawab.....Tak lama setelah konflik itu mereda, cobaan lain datang.Salsa keguguran.Kandungan yang baru berjalan dua bulan itu, hilang dalam satu malam penuh tangis dan darah. Roly yang saat itu sedang di luar kota, segera pulang dengan panik. Di rumah sakit, ia mendapati Salsa dengan mata bengkak dan tubuh lemah."Aku nggak bisa jadi ibu yang baik..." bisik Salsa, suara tercekat."Jangan pernah bilang begitu. Kamu kuat, Sal. Kita gagal sekali, bukan berarti gagal selamanya."Mereka melewati masa-masa berat itu bersama. Menangis di malam hari. Diam saat sarapan. Tapi perlahan, mereka bangkit. Bersama.....Setahun kemudian, Salsa hamil kembali. Tapi kali ini, ia memilih berhenti kerja sementara. Roly menolak awalnya—khawatir Salsa kehilangan jati diri. Tapi Salsa meyakinkannya."Aku ingin fokus. Kali ini aku ingin menikmati semuanya—bersama kamu."Di usia kandungan tujuh bulan, mereka pindah ke rumah baru. Tak besar, tapi hangat. Setiap sudutnya dipenuhi foto-foto mereka—dari SMA hingga kini.Roly bahkan membuatkan kamar bayi dengan tema langit malam, lengkap dengan bintang dan bulan di langit-langit."Biar anak kita tahu, dia datang ke dunia dengan cinta."....Tiga tahun kemudian, pagi di rumah kecil itu selalu ramai.Tawa seorang balita laki-laki, suara Roly yang cerewet soal popok, dan Salsa yang kini bekerja dari rumah sebagai konsultan kreatif—semua menyatu menjadi simfoni kebahagiaan.Suatu sore, mereka duduk di teras, seperti biasa."Dulu aku benci kamu setengah mati," kata Salsa sambil menyeruput teh."Dan sekarang?""Sekarang aku cinta kamu... seumur hidupku."Roly memeluknya dari samping. "Ternyata musuh terbesarku... adalah cinta terbesar dalam hidupku."~END~

Si Cutek Milik Si Ganteng
Teen
27 Jan 2026

Si Cutek Milik Si Ganteng

Sabil dikenal sebagai cewek paling cutek di kampus. Bukan cuma karena wajahnya imut dan suara cemprengnya yang khas, tapi juga karena kelakuannya yang suka ngambek, nyebelin, dan... anehnya, malah bikin gemas. Semua cowok pernah naksir dia. Semua, kecuali satu orang: Rulian .Rulian, si ganteng yang tenang, pinter, dan populer. Cowok tipe-tipe silent killer. Dingin. Kalem. Dan entah kenapa, kalau ketemu Sabil, langsung jutek."Lo tuh kaya lem kering. Nempel di mana-mana!" gerutu Rulian suatu hari saat Sabil tanpa sadar duduk di sebelahnya di kantin.Sabil melotot. "Lem kering apaan? Gue ini magnet cinta, tau!"Rulian mengangkat alis. "Magnet cinta kok jomblo lima tahun?"Sabil ingin melempar sendok. Tapi malah tertawa. Ya, Rulian selalu begitu. Nyebelin, tapi bikin deg-degan.Suatu hari, saat sedang ada lomba pentas seni antar fakultas, Sabil terpilih jadi MC bareng... Rulian. Dunia seakan jungkir balik. Sabil sempat mencoba kabur dari tugas itu, tapi panitia bilang:"Udah, kalian tuh lucu banget kalau bareng. Chemistry-nya dapet!"Sabil cuma bisa mengeluh dalam hati. Tapi anehnya, saat latihan, Rulian jadi lebih... lembut? Ia bahkan membantu Sabil menghapal skrip dan memperbaiki intonasinya."Kalau ngomong tuh jangan kaya mau nangis, Bil. Tegas. Tapi tetap manis. Kaya kamu."Sabil berhenti napas. "Apa?""Script-nya. Tuh, liat," Rulian menyodorkan kertas, pura-pura tak sadar barusan ngelontarin gombalan.Mulai hari itu, Sabil makin susah tidur.Acara pentas seni sukses besar. Penonton heboh dengan duo MC Sabil-Rulian. Di akhir acara, saat semua panitia kumpul di taman kampus buat makan-makan, Sabil merasa dadanya berdebar aneh.Dan saat itu, tanpa aba-aba, Rulian menarik Sabil ke pinggir taman."Lo tuh sadar gak sih, lo ngangenin banget."Sabil nyaris keselek minuman."Gue pura-pura jutek karena lo tuh bahaya. Sekali gue buka hati, lo bakal nyangkut dalem banget."Sabil membisu.Rulian tersenyum kecil. "Tapi sekarang gue udah siap. Jadi... kalau lo masih jomblo, lo mau gak jadi punya gue?"Sabil menatap wajah Rulian yang kelihatan serius. Cowok itu bukan tipe tukang main-main. Dan entah kenapa, Sabil justru merasa tenang. Aman. Diperhatiin diam-diam selama ini. Diomelin karena peduli. Diledek karena sayang.Dengan pipi semerah sambal geprek, Sabil akhirnya menjawab pelan."Lo emang ganteng. Tapi kadang nyebelin."Rulian angkat alis. "Jadi?"Sabil tersenyum manja. "Tapi... gue juga udah nyangkut. Jadi, boleh. Tapi syaratnya satu.""Apa?""Lo harus sabar punya pacar cutek."Dan malam itu, seluruh kampus heboh: si cutek akhirnya jadi milik si ganteng .Setelah resmi pacaran, dunia Sabil berubah 180 derajat. Dulu, dia cuek sama penampilan, sekarang jadi sering ngaca. Dulu suka maki Rulian, sekarang jadi suka curi-curi pandang sambil senyum sendiri.Tapi punya pacar ganteng bukan tanpa masalah.Cewek-cewek di kampus langsung panas."Pantes Rulian gak pernah nolak cewek, ternyata nunggu yang paling nyebelin," bisik salah satu senior.Dan benar saja, akun kampus gosip tiba-tiba nge-post:"Pacar baru Rulian: mantan badut event anak-anak?!"Sabil pengen nendang tiang listrik. Tapi Rulian cuma bilang, "Kalau mereka bisa bikin kamu insecure, berarti mereka gak kenal Sabil yang asli."Dan Sabil? Meleleh kayak es krim jatuh ke aspal.Meskipun cuek dan sok strong, Sabil punya kelemahan: gampang cemburu. Apalagi saat Rulian satu kelompok skripsi sama Luna , mantan gebetan kampus yang super manis dan feminin."Lo yakin dia cuma temen?" tanya Sabil dengan nada yang susah dibedain antara penasaran atau pengen ngebakar satu ruangan.Rulian cuma ngelirik. "Kalau aku bisa pilih, aku bakal milih kamu terus, Bil. Bahkan kalau Luna sekalipun berubah jadi Beyonce."Sabil pura-pura gak terpengaruh. Padahal jantungnya udah koprol sambil nyanyi dangdut.Hari Minggu mereka janjian kerja kelompok di rumah Rulian. Sabil datang bawa tote bag isi mie instan, kipas, dan catokan.Begitu masuk, ia langsung duduk di karpet dan buka mie cup. "Kerja dulu, nyemil kemudian!"Rulian yang perfeksionis mulai kedutan. "Kamu mau belajar atau buka warung?"Sabil tertawa. "Aku ini paket lengkap: pinter, lucu, dan bawa cemilan!"Sampai akhirnya, saat Rulian lagi presentasi ide, Sabil ketiduran... sambil mangap.Rulian cuma bisa geleng-geleng. Tapi kemudian menatap cewek itu dengan ekspresi yang... lembut."Gila ya. Dulu gue pikir cewek kayak gini bakal ngerusak hidup gue. Ternyata dia malah ngerapiin isi kepala gue yang selama ini kosong."Mendekati kelulusan, Sabil panik karena dosen pembimbingnya super killer. Tiap malam dia ngedumel, "Gue tinggal resign dari hidup ini aja deh!"Rulian terus sabar bantu. Ngetik ulang data, bahkan nemenin Sabil ke kampus tengah malam buat ngejar tanda tangan.Akhirnya, hari pengumuman sidang skripsi...Sabil lulus. Dan saat dia keluar dari ruang sidang, di luar udah berdiri Rulian dengan bunga matahari segede galon."Buat cewek yang katanya mau resign dari hidup," katanya.Sabil nangis. "Lo kenapa baik banget sih?"Rulian pegang pundaknya."Karena aku sayang kamu. Gak butuh alasan."Dan Sabil tahu, dia udah gak cuma punya pacar. Dia punya tempat pulang.Hari wisuda tiba. Rulian dan Sabil berdiri berdua di bawah pohon besar kampus, tempat pertama kali mereka berantem gara-gara rebutan kursi kantin.Sabil pakai toga miring, senyumnya cerah. "Dulu lo bilang gue kaya lem kering."Rulian nyengir. "Dan gue gak sadar kalau lem itu nempel di hati gue selamanya."Sabil ketawa sambil nyubit lengan Rulian."Si cutek udah resmi jadi milik si ganteng," katanya.Rulian menggenggam tangannya."Dan si ganteng bakal jagain dia, sampai dunia bosen muter."Satu bulan setelah wisuda, Rulian ngajak Sabil ke tempat mereka pertama kali ketemu: warung ayam geprek.Tapi kali ini, bukannya adu sambal, Rulian tiba-tiba kasih Sabil sebuah kotak kecil."Ini bukan cincin mahal. Tapi kalau kamu mau, aku mau ngajak kamu hidup bareng. Nikah."Sabil melongo. "Lo yakin?""Yakin banget. Hidup gue udah cukup sempurna. Tapi bakal lebih gila dan lengkap kalau ada kamu di samping gue, tiap pagi sampe malam."Sabil langsung nyosor dan meluk. "Gue mau! Tapi nanti akadnya harus diiringi lagu dangdut ya, biar khas."Rulian ngakak. "Terserah kamu, sayang."Proses lamaran bikin dua keluarga sempat kaget.Orangtua Rulian yang perfeksionis sempat gak yakin."Ibu kira Rulian bakal nikah sama dokter atau dosen. Bukan... Sabil."Tapi Sabil yang punya jurus kocak dan tulus, berhasil meluluhkan hati calon mertua."Ibu, kalau saya nggak cocok jadi dokter, saya bisa jadi tukang urut keluarga. Minimal bisa mijet kaki Bapak tiap malam."Semua tertawa.Dan setelah obrolan panjang... restu pun turun.Pernikahan Rulian dan Sabil sederhana. Akad di mushola kecil dekat rumah. Resepsi ala garden party dengan tema lucu: "Just Married, Not Mature" .Sabil pakai kebaya dengan sneakers.Rulian pakai jas, tapi dalemannya kaos bertuliskan: "Taken by Cutek."Saat ijab kabul, suara Rulian mantap. Dan Sabil... nangis sambil ketawa karena kepanjangan tisu.Hari itu, mereka resmi jadi suami istri.Dua bulan setelah menikah, mereka pindah ke rumah kontrakan kecil.Masalah datang bertubi:Sabil nyetrika baju Rulian sampe gosong.Rulian nyuci piring tapi sabunnya campur micin.Mereka berantem cuma karena bantal lempar-lemparan.Tapi di balik rusuhnya, ada cinta yang tumbuh makin kuat.Suatu malam, saat listrik mati dan mereka pelukan pakai senter, Sabil bisik:"Aku takut rumah tangga kita bakal ngebosenin..."Rulian senyum. "Kalau kamu yang jadi istri, hidup kita gak akan pernah normal. Tapi selalu istimewa."Suatu pagi, Sabil muntah-muntah. Kirain cuma masuk angin. Tapi setelah test pack...Dua garis merah.Sabil melongo. "Gue hamil?"Rulian kaget, terus langsung cium jidatnya."Kamu serius? Kamu bakal jadi ibu dari anak kita?"Sabil nyengir. "Dan kamu bakal gantiin popok, tiap malam.""Deal."Sembilan bulan berlalu.Tangisan bayi cowok pecah di rumah sakit. Bayi mungil dengan pipi bulat dan rambut tebal.Sabil menatap anaknya dengan mata berkaca."Namanya siapa?" tanya bidan.Rulian menggenggam tangan istrinya. "Ravin. Gabungan dari Rulian dan Sabil. Artinya: rewel, aktif, pinter nyenggol lemari kayak emaknya."Sabil ketawa sambil nangis."Gue gak nyangka ya, dari cewek tukang protes jadi istri, sekarang jadi ibu."Rulian mengecup keningnya."Dan kamu tetap cutek yang paling ganteng di mataku."Sabil melirik, "Eh. Gak kebalik tuh? Ganteng ya lo.""Enggak. Karena mulai sekarang, kamu milik si ganteng. Dan si ganteng milik kamu. Selamanya."~END~

Ternyata Suamiku
Teen
27 Jan 2026

Ternyata Suamiku

Angin sore menyapa rambut Salca yang terurai saat ia menurunkan koper terakhir dari mobil travel. Kota Srigading tampak sunyi, jauh dari hiruk pikuk ibu kota. Tepat seperti yang ia butuhkan: tempat untuk menghilang. Tempat untuk melupakan semua yang membuatnya hancur.Sudah satu tahun sejak kecelakaan itu—kecelakaan yang merenggut segalanya. Hidupnya, identitasnya, bahkan ingatannya.Kini, yang ia tahu hanyalah nama pemberian keluarga panti: Salca . Nama baru, hidup baru, tanpa masa lalu.Di rumah sebelah, tinggal seorang pria bernama Roly . Warga menyebutnya "duda kaya", pemilik rumah mewah bergaya kolonial. Ia hampir tak pernah berbicara, namun tiap sore terlihat menyiram taman dan memberi makan anjing Dobermann-nya, Leo .Pertemuan pertama mereka... tidak manis.Salca sedang mengecat pagar ketika embernya terjatuh. Roly yang lewat hanya menatapnya datar."Pakai sarung tangan. Cat itu keras di kulit," katanya singkat.Sebelum Salca sempat menjawab, pria itu sudah berlalu. Nyebelin, pikirnya. Tapi entah kenapa, wajah dingin itu... terasa familiar.Beberapa minggu kemudian, Salca mulai merasakan hal aneh. Setiap kali berpapasan dengan Roly, jantungnya berdetak tak karuan. Kadang ia merasa seperti pernah berada di dalam rumah mewah itu. Bahkan, pernah mimpi berciuman di balkon yang sangat mirip dengan balkon rumah Roly."Cuma mimpi aneh," katanya menenangkan diri.Tapi mimpi itu makin sering muncul. Dan yang lebih aneh lagi—dalam mimpi itu, ia dipanggil dengan nama "Sayang" oleh suara yang sangat mirip... suara Roly.Suatu malam, Salca demam tinggi. Pingsan di ruang tamu. Saat ia terbangun, ia terkejut mendapati dirinya... terbaring di sofa mewah rumah Roly."Aku nemu kamu di lantai. Kamu ngigau nyebut 'Roly... Roly...'," kata pria itu pelan sambil menyodorkan sup hangat.Salca terdiam. "Aku... nyebut namamu?""Iya."Dan saat itulah, sebuah kilas balik menyeruak di benaknya: dirinya mengenakan gaun pengantin. Tangan menggenggam tangan pria bertuxedo. Di hadapan mereka... penghulu.Dan pria itu... adalah Roly .Salca menggigil."Aku... kita... pernah menikah?" bisiknya.Roly menatapnya lama. Mata cokelat gelap itu tak bisa menyembunyikan luka."Kita suami-istri, Salca. Kau hilang lima tahun lalu setelah kecelakaan di Swiss. Semua orang mengira kau meninggal. Tapi aku... aku yakin kau masih hidup. Dan aku benar."Salca menggeleng. "Itu tidak mungkin..."Roly mengambil sesuatu dari laci. Album foto. Di dalamnya: foto pernikahan mereka, tiket bulan madu, dan... surat nikah.Air mata menetes tanpa izin.Salca mulai percaya. Tapi itu tak membuat semuanya mudah.Ia hidup selama bertahun-tahun dengan identitas baru. Dunia lamanya asing. Ia tak ingat cinta yang katanya pernah ia bagi bersama Roly. Bahkan, ia sempat dekat dengan pria lain—yang ternyata hanya berniat memanfaatkannya.Sementara Roly... terlalu sempurna untuk ia pahami. Kaya, penyendiri, misterius, dan sangat mencintainya."Kenapa kamu gak cari istri lain?" tanya Salca suatu malam.Roly tersenyum tipis. "Karena yang hilang bukan hanya istriku, tapi jiwaku. Dan kamu bawa keduanya."Salca mencoba menyatukan masa lalu dan masa kini. Ia membuka kembali album, surat cinta lama, rekaman suara, hingga video pernikahan mereka. Perlahan, rasa itu muncul. Ia mulai memanggil Roly tanpa ragu. Ia mulai ingat lagu mereka, candaan khas mereka, dan bagaimana Roly selalu mengelus kepalanya sebelum tidur.Namun, yang paling membuat hatinya bergetar adalah satu hal:Tatapan Roly tak pernah berubah , bahkan setelah lima tahun kehilangan.Di hari hujan yang sama seperti malam pertama mereka bertemu kembali, Salca memanggil Roly ke taman rumahnya."Aku ingat semuanya."Roly menatapnya."Dan aku... ingat kenapa aku jatuh cinta sama kamu dulu."Salca mengambil tangannya."Karena bahkan saat aku lupa segalanya... hatiku tetap memilih kamu."Roly memeluknya erat. Tak ada kata yang bisa menggambarkan momen itu.Hanya satu kenyataan yang tersisa:Ternyata, dia memang suaminya. Dan kini, mereka punya kesempatan kedua untuk jatuh cinta lagi.Beberapa minggu setelah Salca mengingat segalanya dan menerima kenyataan bahwa Roly memang suaminya, hubungan mereka mulai membaik. Namun kehidupan yang tenang itu tak bertahan lama.Suatu hari, seorang pria muncul di depan rumah. Namanya Alvino , pria yang dulu dekat dengan Salca saat ia kehilangan ingatannya. Pria yang mengaku menyelamatkan Salca dan sempat ingin melamarnya."Kau milikku dulu, Salca," kata Alvino saat Roly tak ada.Salca menatapnya dengan dingin. "Dulu, iya. Tapi sekarang aku tahu siapa aku, dan aku tahu di mana rumahku."Namun Alvino tak menyerah. Ia menyebar gosip ke tetangga bahwa Roly sebenarnya menyembunyikan Salca dari dunia, bahkan menyebut Roly manipulatif.Desakan dari warga dan gosip tak membuat Roly marah. Tapi Salca melihat perubahan: Roly menjadi lebih tertutup, lebih sering termenung. Suatu malam, ia akhirnya membuka suara."Waktu kau hilang, aku depresi. Aku hampir menjual rumah ini dan pergi jauh. Aku bahkan sempat dirawat karena gangguan stres berat."Salca menggenggam tangannya erat. "Kenapa kamu gak bilang dari awal?"Roly tersenyum sedih. "Karena aku ingin kamu mengenalku sekarang, bukan sebagai pria rusak yang dulu."Salca menangis malam itu. Ia sadar, cintanya lebih besar dari yang ia kira.Hubungan mereka kembali menghangat. Salca mulai menata kembali hidup lamanya. Ia menulis diari, mulai melukis—kebiasaan lamanya sebelum kecelakaan.Suatu pagi, ia merasa mual dan pusing.Tes kehamilan menunjukkan dua garis merah.Salca hamil.Saat ia memberi tahu Roly, pria itu sempat diam cukup lama. Lalu air matanya jatuh."Aku pikir aku gak akan pernah lihat kamu tersenyum seperti ini lagi."Kehamilan Salca tak mudah. Karena cedera rahim akibat kecelakaan dulu, dokter memperingatkan risikonya tinggi. Salca harus bedrest total.Di sinilah cinta Roly diuji. Ia mengurus semuanya: memasak, menyuapi Salca, memijat kakinya, bahkan mencuci rambutnya.Suatu malam saat Salca kesakitan, ia berkata lemah, "Kalau nanti aku gak selamat, jaga anak kita..."Tapi Roly menahan air mata."Tidak. Kita bertiga akan selamat. Kita harus bahagia. Itu janjiku sejak aku mengikat cincin di jarimu."....................Hari kelahiran tiba. Proses berjalan lama dan penuh ketegangan. Tapi akhirnya, tangis bayi memecah ruang operasi. Seorang bayi perempuan sehat lahir ke dunia.Roly menangis. Salca juga.Beberapa hari kemudian, mereka duduk di balkon rumah, Salca menggendong bayi kecil mereka."Aku masih gak percaya," bisik Salca. "Setelah semua yang terjadi... kamu tetap di sini."Roly mencium keningnya. "Aku gak pernah ke mana-mana. Karena aku cuma punya satu rumah—kamu."Salca tersenyum, menatap langit senja."Dulu aku pikir kamu orang asing. Tapi ternyata... kamu suamiku. Rumahku. Takdirku."Dan kali ini, mereka benar-benar memulai lagi. Dari cinta yang hilang, kini tumbuh kembali—lebih kuat dari sebelumnya.~END~

Cinta yang Tak Terduga
Teen
25 Jan 2026

Cinta yang Tak Terduga

Di sebuah kota besar yang hiruk pikuk, hiduplah dua anak dengan latar belakang yang sangat berbeda. Yang pertama adalah Roly , seorang anak tunggal dari keluarga kaya raya. Ia tinggal di rumah megah dengan segala fasilitas, mobil mewah, dan selalu mendapatkan apa pun yang ia inginkan. Roly terbiasa dengan hidup yang serba ada, dan terkadang, tanpa disadarinya, ia terlihat sedikit sombong.Di sisi lain kota, ada Salca . Salca adalah anak dari seorang penjual mie ayam keliling. Setiap hari sepulang sekolah, Salca selalu membantu ayahnya mendorong gerobak mie ayam dan melayani pembeli. Ia terbiasa hidup sederhana, bekerja keras, dan selalu bersyukur atas apa yang mereka miliki. Meskipun hidupnya tak semewah Roly, Salca selalu ceria dan punya banyak teman.Suatu sore, saat Roly sedang bosan di rumahnya yang besar, ia memutuskan untuk bersepeda keliling kompleks. Ia melewati taman kota yang ramai dan melihat kerumunan orang di sekitar sebuah gerobak mie ayam. Roly, yang tak pernah makan mie ayam dari gerobak, penasaran dan mendekat. Di sanalah ia melihat Salca dengan cekatan membantu ayahnya."Permisi, saya mau pesan mie ayam satu," kata Roly dengan nada sedikit canggung.Salca tersenyum ramah. "Siap! Tunggu sebentar ya."Saat Salca menyajikan mie ayam, Roly melihat tangan Salca yang sedikit kotor oleh bumbu dan arang. Roly sedikit jijik, tapi aroma mie ayamnya ternyata sangat menggugah selera. Ia pun mulai makan."Enak sekali mie ayamnya!" puji Roly, terkejut dengan rasanya yang lezat.Salca tertawa kecil. "Terima kasih. Ini resep turun-temurun dari ayahku."Sejak hari itu, Roly sering diam-diam datang ke gerobak mie ayam Salca. Ia tidak lagi peduli dengan kemewahan, justru ia mulai menikmati suasana hangat di sekitar gerobak dan obrolan ringan dengan Salca. Roly belajar banyak hal dari Salca. Ia belajar tentang kerja keras, kesederhanaan, dan arti kebahagiaan yang sesungguhnya. Salca juga belajar dari Roly tentang dunia yang lebih luas, tentang buku-buku baru dan tempat-tempat yang belum pernah ia kunjungi.Persahabatan mereka tumbuh, mengatasi perbedaan latar belakang. Roly tak lagi sombong, ia bahkan sering membantu Salca membersihkan gerobak atau membawakan air minum untuk ayahnya. Sementara Salca, ia semakin percaya diri dan bersemangat untuk meraih mimpinya.Suatu hari, Roly mengajak Salca ke rumahnya. Salca terkesima melihat kemegahan rumah Roly, tapi Roly dengan jujur bercerita bahwa ia justru lebih bahagia saat bersama Salca dan orang-orang yang tulus."Salca, aku beruntung bertemu denganmu," kata Roly tulus. "Kau mengajarkanku banyak hal yang tidak bisa kubeli dengan uang."Salca tersenyum hangat. "Aku juga beruntung punya teman sepertimu, Roly. Kamu membuat duniaku jadi lebih luas."Sejak saat itu, Roly dan Salca menjadi sahabat baik yang tak terpisahkan. Mereka membuktikan bahwa persahabatan sejati tak mengenal batasan harta maupun status.....Tahun-tahun berlalu, dan Roly serta Salca tumbuh dewasa dalam persahabatan yang semakin erat. Mereka sering belajar bersama di rumah Roly, di mana Salca membantu Roly memahami konsep-konsep yang sulit, dan Roly meminjamkan buku-buku referensi yang tak mudah dijangkau Salca. Mereka juga sering menghabiskan waktu di warung mie ayam, Salca bercerita tentang pelanggan unik, dan Roly mengamati bagaimana kerja keras bisa menghasilkan kebahagiaan.Perasaan di antara mereka mulai berubah. Obrolan mereka tak hanya seputar pelajaran atau bisnis mie ayam, tapi juga impian masa depan, ketakutan, dan harapan terdalam. Suatu sore, saat mereka sedang duduk di bangku taman, di bawah pohon rindang yang sering menjadi saksi bisu kebersamaan mereka, Roly meraih tangan Salca."Salca," kata Roly, suaranya sedikit bergetar. "Aku... aku punya perasaan lebih dari sekadar sahabat padamu."Salca menatap Roly, pipinya merona. Ia sudah merasakan hal yang sama. "Aku juga, Roly."Sejak hari itu, Roly dan Salca resmi berpacaran. Hubungan mereka bukan sekadar cinta remaja, tapi cinta yang tumbuh dari rasa hormat, pengertian, dan dukungan tanpa syarat. Keluarga Roly, yang awalnya sedikit terkejut, akhirnya menerima Salca dengan tangan terbuka setelah melihat betapa Salca membawa pengaruh positif pada Roly. Begitu pula keluarga Salca, mereka sangat menyukai Roly yang rendah hati dan tulus........Masa SMA adalah masa yang penuh warna bagi mereka. Roly dan Salca sering menjadi sorotan karena perbedaan latar belakang mereka. Namun, mereka tak peduli. Mereka saling menguatkan, membuktikan bahwa cinta dan komitmen jauh lebih penting daripada status sosial. Roly semakin aktif di organisasi sekolah, dan Salca semakin giat belajar, bertekad untuk bisa kuliah dan mengangkat derajat keluarganya.Tentu saja ada tantangan. Kadang, kesibukan Roly dengan kegiatan ekstrakurikuler membuat Salca merasa sedikit diabaikan. Atau, komentar-komentar sinis dari beberapa teman yang iri kadang membuat Salca merasa kecil hati. Namun, setiap kali ada masalah, mereka selalu menyelesaikannya dengan komunikasi yang terbuka dan jujur."Roly, kadang aku merasa kamu terlalu sibuk," kata Salca suatu malam lewat telepon.Roly menghela napas. "Maafkan aku, Salca. Aku janji akan lebih meluangkan waktu untukmu. Aku tidak ingin kamu merasa sendiri."Mereka selalu menemukan jalan tengah. Cinta mereka semakin matang, tak hanya dipenuhi romansa, tapi juga kedewusan dalam menghadapi masalah.........Hari kelulusan tiba. Roly dan Salca berdiri berdampingan di panggung, mengenakan toga dan senyum bangga. Roly berhasil masuk ke universitas impiannya, di bidang bisnis, sementara Salca, dengan kerja keras dan beasiswa, diterima di fakultas kedokteran, impian yang dulu terasa mustahil."Kita berhasil, Salca!" bisik Roly, memegang erat tangan Salca."Kita berhasil, Roly," jawab Salca, matanya berkaca-kaca.Mereka tahu, perjalanan mereka tidak akan mudah. Kuliah di kota yang berbeda, dengan jurusan yang menuntut, akan menjadi ujian baru bagi hubungan mereka. Namun, mereka telah belajar banyak. Mereka telah melewati berbagai perbedaan dan tantangan.Malam itu, di bawah bintang-bintang, mereka merencanakan masa depan mereka. "Aku akan sering pulang untuk menjengukmu," kata Roly."Dan aku akan belajar yang giat, agar nanti bisa merawatmu kalau sakit," canda Salca.Mereka tertawa. Cinta Roly dan Salca adalah bukti bahwa hati yang tulus, kerja keras, dan pengertian dapat mengatasi segala perbedaan. Mereka adalah anak tunggal kaya raya dan anak penjual mie ayam, yang tak hanya tamat sekolah bersama, tetapi juga tumbuh dewasa bersama, siap menghadapi masa depan yang cerah, bersama .~END~

Musuh Menjadi Kesayanganku
Teen
25 Jan 2026

Musuh Menjadi Kesayanganku

Satu hal yang selalu membuat Sasa geregetan setiap hari sekolah, melihat Lian duduk santai di bangkunya, dengan gaya cuek, rambut berantakan seperti baru bangun, tapi tetap berhasil mendapatkan nilai ulangan lebih tinggi darinya.Itu tidak adil. Bagi Sasa yang selalu belajar mati-matian, membaca buku sampai dini hari, dan menghafal rumus sebelum sarapan, keberadaan Lian adalah gangguan dalam hidupnya yang penuh rencana."Enak banget hidup kamu, ya?" sindir Sasa suatu pagi setelah daftar nilai matematika ditempel. "Nilai 96 dan kamu bahkan ngantuk pas ulangan."Lian menoleh dengan senyum lesu. "Itu artinya aku jenius secara alami."Sasa mendengus. "Itu artinya kamu ngeselin secara konsisten."Begitulah hubungan mereka selama dua tahun terakhir. Dingin, penuh ejekan, dan selalu bersaing.Mereka bukan musuh secara resmi. Tapi semua orang di kelas tahu bahwa Lian dan Sasa adalah rival abadi. Kalau Sasa jadi ketua kelompok, Lian pasti jadi oposisi. Kalau Lian menang lomba, Sasa pasti cari ajang baru untuk menyalipnya. Persaingan mereka seperti drama panjang yang semua orang tunggu kelanjutannya.Namun semua itu berubah saat pengumuman lomba debat tingkat kota diumumkan oleh guru Bahasa Indonesia, Bu Ayu."Aku butuh dua siswa yang punya kemampuan bicara dan berpikir cepat. Setelah rapat guru, yang dipilih mewakili sekolah adalah... Lian dan Sasa."Seluruh kelas riuh."Aku keberatan, Bu," celetuk Sasa cepat. "Aku lebih cocok dengan orang lain yang... normal.""Aku juga keberatan," timpal Lian santai. "Tapi demi keadilan dunia, aku akan menerima penderitaan ini.""Cukup," potong Bu Ayu. "Kalian berdua mewakili sekolah, titik. Tidak ada tawar-menawar."Hari pertama latihan, suasananya canggung. Lian datang lima belas menit telat, Sasa datang lima belas menit lebih awal. Mereka duduk berjauhan, saling lempar pandang penuh sindiran.Latihan itu gagal total. Bukan karena kurang materi, tapi karena mereka sibuk saling potong argumen dan memperdebatkan siapa yang lebih pintar menggunakan diksi."Kalau begini terus, kita nggak akan lolos babak penyisihan," keluh Sasa.Lian mengangkat alis. "Ya udah, tinggal keluar aja dari lombanya. Aku bisa solo kayak pidato kemarin.""Cowok paling nyebelin se-angkatan," geram Sasa.Lian hanya tertawa.Namun latihan-latihan selanjutnya membawa kejutan.Di balik sikap santai dan mulut usilnya, Lian ternyata sangat serius kalau sudah di arena debat. Ia tahu kapan harus menyerang, kapan harus memberi jeda, dan yang paling mengejutkan—dia hafal betul cara kerja Sasa: bagaimana dia suka menyisipkan fakta di tengah emosi, bagaimana dia menutup argumen dengan kutipan kuat, bahkan bagaimana matanya berbinar kalau lawan debat terdiam."Sebenernya kamu keren juga, ya," ujar Lian di akhir latihan ketiga. "Tapi terlalu keras kepala."Sasa melirik sinis. "Dan kamu terlalu banyak gaya.""Tapi cocok kalau digabung," tambah Lian pelan.Ucapan itu membuat jantung Sasa berhenti sepersekian detik.Latihan demi latihan mendekatkan mereka. Bukan hanya karena sering diskusi, tapi karena mereka mulai melihat sisi lain yang sebelumnya tertutup oleh kompetisi.Sasa mulai tahu bahwa Lian tinggal dengan neneknya sejak kecil dan punya banyak waktu luang, itulah kenapa dia banyak baca buku filsafat. Lian tahu bahwa Sasa punya tekanan besar dari keluarganya untuk selalu jadi yang terbaik, karena semua kakaknya juara kelas sejak SD.Hubungan mereka perlahan berubah.Dari saling sindir menjadi saling bantu.Dari saling ingin menang sendiri, menjadi ingin menang bersama.Sasa bahkan mulai menunggu notifikasi chat dari Lian malam-malam.Lian: "Kutipan debat hari ini keren, Sa. Aku suka bagian soal 'akal sehat vs suara mayoritas.'"Sasa: "Thanks. Kamu juga makin jago muter argumen. Udah latihan di kaca, ya?"Lian: "Nggak. Aku latihan ngebales kamu."Hati Sasa yang awalnya ingin menghancurkan Lian, kini malah makin lebur setiap kali Lian melontarkan lelucon atau pujian tiba-tiba.Hari perlombaan tiba.Dengan seragam batik sekolah, dasi hitam, dan rambut yang sedikit lebih rapi dari biasanya, Lian menunggu di lobi gedung dewan pendidikan. Sasa datang lima menit kemudian, mengenakan blazer formal dengan ekspresi gugup."Nervous?" tanya Lian sambil menyerahkan air minum."Sedikit," jawab Sasa jujur."Tenang. Kamu punya partner terbaik se-Jawa Tengah," kata Lian, menyeringai.Dan mereka pun tampil. Di depan dewan juri dan ratusan penonton dari berbagai sekolah, mereka berdebat bukan sebagai dua orang yang saling melawan, tapi sebagai tim yang menyatu. Argumen mereka padu, serangan tajam tapi elegan, dan klimaksnya sempurna—Sasa mengutip pemikiran Rousseau, Lian menyambung dengan kontras dari John Locke.Tepuk tangan panjang meledak setelahnya.Sasa dan Lian saling pandang. Tak ada kata-kata, hanya senyum kecil. Tapi bagi mereka berdua, itu cukup.Di malam hari usai lomba, mereka duduk di halte dekat sekolah sambil menikmati angin dingin dan sisa-sisa adrenalin."Kalau dibilang tiga bulan lalu aku bakal duduk begini sama kamu... aku pasti ngakak," kata Sasa pelan."Kalau dibilang tiga bulan lalu aku jatuh cinta sama kamu... aku juga nggak percaya," balas Lian.Sasa menoleh cepat. "Apa?"Lian tak mundur. "Aku suka kamu, Sa. Serius."Sasa diam. Lama.Lalu berkata pelan, "Aku juga... suka kamu. Tapi kamu nyebelin banget, tahu nggak?""Dan kamu cerewet banget. Tapi entah kenapa... itu yang bikin kamu beda.""Jadi... kita musuhan atau pacaran, nih?"Lian tertawa. "Gimana kalau kita jadi pasangan paling cerewet dan ngeselin se-sekolah?"Sasa ikut tertawa. "Kita harus bikin janji. Kalau nanti kita berantem, kita selesaikan dengan debat. Bukan ngambek.""Deal," kata Lian sambil mengulurkan tangan. "Partner debat, sekaligus partner hidup?"Sasa meraih tangannya. "Partner yang dulunya musuh, tapi sekarang kesayangan."Dan di bawah langit malam, dua rival abadi itu akhirnya menemukan bahwa kadang... orang yang paling bikin kita kesal adalah orang yang diam-diam paling mengerti dan menyentuh hati kita.~END~

Langit Sore di Ujung Lapangan
Teen
25 Jan 2026

Langit Sore di Ujung Lapangan

Jam dinding menunjuk pukul empat sore ketika sebagian besar siswa sudah meninggalkan halaman sekolah. Hanya beberapa anak OSIS dan petugas kebersihan yang masih terlihat di area kampus. Namun di tribun lapangan basket yang sepi, seorang siswa laki-laki masih duduk dengan tubuh condong ke depan, tangan menggenggam bola basket yang sudah usang.Namanya Arlian . Pendiam, penulis puisi, dan bukan tipe yang suka keramaian. Ia lebih suka langit sore daripada lampu kota, lebih nyaman menulis daripada bicara. Dan sejak beberapa bulan terakhir, ia semakin sering datang ke tribun itu. Bukan hanya karena senja yang cantik, tapi karena seseorang.Suara langkah mendekat. Ringan. Tidak terburu-buru."Masih suka ngumpet di sini?" tanya suara itu, akrab.Arlian menoleh. Salsa berdiri di sampingnya, mengenakan seragam sekolah dengan jaket digantung di bahu. Rambutnya dikuncir tinggi, dan senyumnya—seperti biasa—hangat."Bukan ngumpet," jawab Arlian. "Nungguin langit."Salsa duduk di sampingnya tanpa diundang. "Langitnya sama setiap sore. Tapi kamu nggak bosen?""Langitnya nggak pernah benar-benar sama," gumam Arlian.Mereka terdiam sebentar. Lalu Salsa berkata pelan, "Aku suka kamu, Arlian."Arlian menoleh. Jantungnya seperti berhenti sepersekian detik. Bukan karena ia kaget, tapi karena perasaan itu ternyata tidak sepihak."Aku tahu," jawab Arlian.Salsa mengerutkan kening. "Kamu tahu? Dari kapan?""Dari caramu ngeliatin aku waktu rapat redaksi. Dari cara kamu selalu duduk deket aku tiap di lapangan. Dan... dari caramu nggak pernah marah walau aku susah ditebak."Salsa tertawa kecil. "Kenapa nggak ngomong duluan?""Aku takut. Takut kamu berubah pikiran kalau tahu aku sebenarnya rumit.""Justru karena kamu rumit, aku tertarik."Diam sebentar."Aku juga suka kamu," kata Arlian akhirnya.Hari itu, tanpa pengumuman, tanpa pelukan, mereka resmi saling mencintai.Hari-hari selanjutnya, hubungan mereka tumbuh pelan. Bukan yang heboh atau penuh status media sosial. Mereka cukup tahu; cukup saling.Setiap pulang sekolah, mereka duduk di tribun. Kadang diam, kadang ngobrol, kadang hanya saling tatap sambil dengar lagu lewat satu earphone yang dibagi dua. Arlian mulai menulis puisi-puisi yang lebih personal, dan Salsa mulai membaca lebih banyak dari sebelumnya, agar bisa mengerti dunia sunyi milik Arlian."Aku bikin ini waktu kamu nggak masuk," kata Arlian suatu hari, menyodorkan selembar kertas bertulisan tangan.Langkahmu seperti bayangan soreLambat tapi menenangkanAku tak perlu tahu ke mana kamu pergiAsal kamu ajak aku ikutSalsa membacanya dengan mata berbinar. "Kamu serius bikin ini buat aku?"Arlian mengangguk. "Sore itu sepi. Tapi kamu tetap ada di pikiranku."Namun, seperti langit, cinta tak selamanya cerah.Menjelang ujian semester, Salsa mulai terlihat lelah. Raut wajahnya mulai sering murung, dan ponselnya jarang aktif. Arlian mencoba mengerti, tapi ia tak bisa membohongi rasa khawatirnya.Suatu sore, Salsa datang ke tribun setelah hampir dua minggu tak muncul.Wajahnya pucat. Matanya bengkak."Aku dimarahin Mama," katanya lirih. "Nilai-nilaiku jelek. Aku disuruh berhenti dari kegiatan ekstrakurikuler, termasuk jurnalistik."Arlian diam. Ia tahu betapa Salsa mencintai dunia menulis, betapa ia hidup dari kata-kata."Dan... aku diminta berhenti ketemu kamu dulu," lanjut Salsa. "Katanya aku terlalu sering main, terlalu sering keluar rumah."Arlian menunduk. Hatinya berat."Aku nggak mau kamu jadi beban," ucap Salsa. "Aku juga nggak pengen kehilangan ini semua. Tapi... kalau aku terus kayak gini, aku kehilangan kepercayaan orang tuaku.""Kamu mau putus?" tanya Arlian pelan."Enggak," jawab Salsa cepat. "Tapi aku... perlu ruang. Perlu waktu."Arlian menarik napas dalam. "Oke."Salsa menatapnya dalam-dalam. "Kamu marah?""Enggak. Tapi sedih, iya."Salsa meraih tangannya dan menggenggam erat. "Aku sayang kamu, Lian.""Aku juga, Sal."Hari itu, mereka berpisah bukan karena tak saling cinta. Tapi karena saling mengerti.Waktu berjalan. Mereka tak lagi rutin bertemu. Kadang hanya bertukar pesan singkat, kadang hanya saling lihat dari kejauhan di sekolah. Tapi tak ada dendam, tak ada saling jauhi. Hanya ruang—dan rindu yang terjaga diam-diam.Arlian tetap menulis. Salah satu puisinya bahkan dimuat di majalah sekolah edisi kelulusan:Ada yang tak selesai, tapi tak harus diperpanjangAda yang tak kembali, tapi tak pernah benar-benar pergiKamu, mungkin bukan takdirkuTapi kamu tetap yang terindah di tiap sorekuHari kelulusan tiba.Suasana sekolah riuh oleh foto-foto, tangis perpisahan, dan pelukan. Arlian datang dengan kemeja biru dan celana bahan, menggenggam buku kenangan yang nyaris kosong.Ia mendapati Salsa duduk sendiri di taman belakang. Seperti sudah menunggunya."Hey," sapa Arlian.Salsa berdiri dan tersenyum. "Hey."Tak ada pelukan. Tak ada drama. Tapi ada rasa yang mendalam."Aku masih baca puisimu," kata Salsa."Aku masih simpan fotomu di dompet," balas Arlian.Mereka tertawa kecil.Lalu Salsa membuka buku kenangan miliknya. Di sana, Arlian menulis satu halaman penuh:Kamu bukan hanya kisah SMA-kuKamu adalah orang pertama yang membuat aku ingin dibaca, bukan disembunyikanAku nggak nyesel pernah duduk bersamamu di tribun, sore-soreDan kalau suatu hari nanti kita ketemu lagiAku harap kamu masih suka langit soreSalsa menutup bukunya perlahan."Selamat jalan ya, Lian.""Selamat tumbuh, Sal."~END~

Senja Di Ujung Rahasia
Teen
25 Jan 2026

Senja Di Ujung Rahasia

Senja baru saja menyentuh cakrawala saat Salsa berdiri di balkon apartemennya. Angin musim panas membelai rambut panjangnya yang tergerai, dan pikirannya melayang pada hari itu—hari yang seharusnya biasa, sampai dia bertemu lelaki asing itu di studio tari.Arlian.Nama itu masih terngiang di telinganya. Mata pria itu begitu tajam, seakan bisa menembus dinding pertahanan yang telah ia bangun bertahun-tahun. Ia bukan hanya pelatih tamu dari luar kota—Arlian membawa sesuatu yang sulit dijelaskan. Aura. Dominasi. Dan tatapan yang membuat jantung Salsa berdetak tidak karuan."Langkahmu bagus, tapi kamu menahan diri," suara Arlian siang tadi masih terngiang, pelan namun penuh tekanan."Aku... aku hanya mengikuti irama," jawab Salsa, mencoba tenang."Tubuhmu bicara, Salsa. Tapi jiwamu masih ragu," katanya sambil mendekat.Saat Arlian berdiri hanya beberapa inci darinya, Salsa bisa mencium aroma parfum maskulin yang samar tapi memabukkan. Ada ketegangan di antara mereka. Bukan karena amarah, bukan juga karena persaingan. Itu... gairah. Sebuah tarikan yang tak bisa mereka hindari.Dan malam itu, saat Arlian muncul di pintu apartemennya tanpa aba-aba, membawa sebotol anggur dan sepasang mata yang masih menyimpan tanya, Salsa tahu ini bukan sekadar latihan tari.---Anggur merah di gelas kristal bergetar pelan saat Arlian menaruh botolnya di meja."Maaf kalau tiba-tiba," ucapnya dengan suara rendah."Tapi aku merasa... kita belum selesai."Salsa menatap pria itu dari balik rambutnya. Jantungnya berdetak cepat, tapi tubuhnya tak bergerak. Dia tidak mengusirnya. Itu saja sudah cukup sebagai jawaban."Apa yang belum selesai, Arlian?" tanyanya, setengah berbisik."Rasa ingin tahuku tentang kamu..." Arlian mendekat, menelusuri ruang sempit antara mereka. "Dan mungkin... rasa ingin tahumu tentang aku."Salsa tertawa kecil, gugup tapi tak menolak."Dan kamu pikir kamu bisa temukan jawabannya malam ini?"Arlian hanya tersenyum. Ia mengangkat tangan, perlahan menyentuh rambut Salsa dan menyelipkan helaian yang menutupi pipinya."Aku tidak datang untuk jawaban," bisiknya."Aku datang untuk merasakan... apa yang kita tahan sejak tadi siang."Salsa tidak berkata apa-apa. Tapi ketika bibir mereka akhirnya bersatu, semuanya menjadi jelas. Tak ada lagi latihan. Tak ada lagi jarak. Yang tersisa hanya dua tubuh yang menari dalam diam, di ruang yang mereka ciptakan sendiri.Arlian mencium Salsa perlahan, penuh rasa, namun dengan api yang tersimpan di dalamnya. Tangannya menyusuri punggung Salsa, lembut tapi pasti. Salsa membalas dengan sentuhan yang gemetar, tapi penuh keyakinan.Malam itu, mereka tak hanya menyatu secara fisik—mereka membongkar lapisan emosi yang lama tersembunyi. Setiap sentuhan adalah ungkapan dari sesuatu yang selama ini tidak terucap. Luka. Rindu. Hasrat. Dan kerinduan akan kehangatan yang lebih dari sekadar gairah.---Pagi menyelinap masuk lewat tirai putih yang setengah terbuka. Matahari belum tinggi, tapi sinarnya cukup untuk membangunkan Salsa dari tidurnya yang tak biasa—tidur dalam pelukan seorang pria yang belum sepenuhnya ia kenal, tapi entah kenapa, terasa seperti rumah.Salsa menoleh. Arlian masih terlelap, wajahnya tenang, napasnya teratur. Ada garis keras di rahangnya, tanda bahwa dia bukan pria yang mudah terbuka. Tapi tadi malam, garis itu sempat lunak. Ia membiarkan Salsa melihat bagian dirinya yang tidak banyak orang tahu—rapuh, penuh luka, tapi hangat ketika disentuh dengan benar.Salsa turun dari ranjang perlahan. Mengenakan kemeja Arlian yang tadi malam tergeletak di lantai, ia berjalan menuju balkon. Di sana, angin pagi menyapa, membelai wajahnya yang masih menyimpan sisa-sisa gairah dan keraguan.Apa yang sedang aku lakukan?Pertanyaan itu menghantam keras di dalam kepalanya.Salsa bukan gadis polos. Ia tahu bagaimana rasanya disentuh, dicintai untuk semalam, lalu ditinggalkan seolah tidak pernah berarti. Tapi dengan Arlian... semuanya terasa berbeda. Terlalu dalam. Terlalu cepat.Suara langkah kaki terdengar di belakangnya."Sudah bangun?" suara Arlian pelan, berat.Salsa tidak menoleh. "Aku nggak nyangka kamu masih di sini.""Aku juga nggak nyangka kamu membiarkanku tetap di sini," jawab Arlian jujur.Diam."Aku punya masa lalu yang berantakan, Salsa. Mungkin lebih gelap dari yang kamu pikir," katanya tiba-tiba.Salsa menatapnya, pelan. "Kamu pikir aku nggak?"Tatapan mereka saling menembus. Ada semacam pengakuan di dalamnya."Aku nggak akan janji apa pun. Aku nggak yakin aku tahu cara mencintai seseorang dengan benar," ujar Arlian, nyaris seperti permohonan.Salsa tersenyum tipis. "Aku nggak butuh janji. Aku cuma butuh kamu jujur. Bahkan kalau itu berarti kamu akan pergi."Arlian mendekat, menyentuh wajahnya dengan lembut."Kalau aku bilang... aku takut pergi?"Salsa menggenggam tangannya."Maka tetaplah."---Sudah seminggu sejak malam itu. Salsa dan Arlian tak lagi saling berpura-pura bahwa semua hanya kebetulan. Mereka bertemu hampir setiap hari—kadang di studio, kadang hanya untuk makan malam singkat yang berakhir dengan ciuman panjang di ambang pintu.Tapi malam ini berbeda.Arlian datang terlambat ke studio. Raut wajahnya lebih dingin dari biasanya. Salsa melihatnya dari cermin besar saat mereka berlatih—langkah-langkah tari yang biasanya lembut kini berubah kaku, terburu-buru, seolah tubuhnya ingin lari dari sesuatu."Arlian, ada apa?" tanya Salsa, menghentikan musik.Pria itu menatapnya sesaat, lalu menarik napas panjang. "Kamu nggak perlu tahu."Salsa maju selangkah. "Kita sudah terlalu jauh untuk mulai pakai tembok, kan?"Arlian akhirnya bicara, tapi nadanya rendah dan berat."Dulu aku pernah bertunangan," katanya pelan."Namanya Maira. Kami merencanakan semuanya—rumah, anak, masa depan. Tapi aku hancurkan semua itu dalam satu malam."Salsa terdiam. Jantungnya berdetak lebih cepat, bukan karena cemburu, tapi karena rasa takut: takut bahwa Arlian akan kembali terperangkap dalam masa lalunya."Kenapa?" tanyanya akhirnya.Arlian tersenyum pahit. "Karena aku nggak bisa miliki satu orang... tanpa merasa kehilangan semuanya. Aku takut pada keterikatan. Takut bahwa kalau aku mencintai, aku akan hancur lagi."Salsa mendekat, menatap mata pria itu dalam-dalam."Aku nggak minta kamu cintai aku sekarang. Tapi jangan hukum dirimu karena masa lalu. Aku bukan Maira... dan kamu bukan dirimu yang dulu."Arlian menunduk. Tangannya meraih tangan Salsa, menggenggam erat, seperti memohon agar waktu berhenti. "Kalau kamu pergi suatu hari nanti... aku nggak tahu apakah aku bisa pulih."Salsa menggenggam balik. "Maka pastikan aku punya alasan untuk tetap tinggal."---Sudah tiga hari sejak Arlian datang ke studio tanpa menyapa. Tiga hari sejak sentuhan terakhir mereka menghilang tanpa kejelasan. Salsa mencoba menepis perasaannya—berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Tapi kenyataannya, setiap ruang di dalam hatinya mulai terasa kosong.Ia berdiri di tengah studio, menyalakan musik yang dulu mereka latih bersama. Tubuhnya mulai bergerak mengikuti irama, tapi langkah-langkahnya terasa kehilangan makna. Salsa menari bukan untuk tampil—ia menari untuk bertahan.Di sudut lain kota, Arlian duduk sendiri di atas motor sport hitamnya, menatap laut yang luas. Di tangannya, masih tergenggam foto kecil—gambar dirinya dan Maira lima tahun lalu, di malam pertunangan mereka. Matanya memerah, bukan karena rindu, tapi karena kebingungan.*Kenapa aku begitu takut bahagia?* pikirnya.Dia tahu perasaannya untuk Salsa nyata. Tapi justru karena itu, dia takut. Salsa membuatnya merasa utuh, dan itu menakutkan—karena jika ia kehilangannya, ia akan hancur lagi. Seperti dulu, ketika Maira pergi karena ia terlalu dingin, terlalu tertutup, terlalu... terluka.---Salsa duduk sendiri di kafe langganannya. Di depannya, ada dua cangkir kopi—satu untuknya, satu lagi yang sengaja ia pesan untuk Arlian, walau ia tahu lelaki itu takkan datang."Kamu bisa kuat, Sal," gumamnya pelan.Saat itulah notifikasi di ponselnya berbunyi. Sebuah pesan singkat dari nomor tak dikenal.*Kamu luar biasa malam itu. Aku lihat video kompetisimu. Kamu bersinar bahkan tanpa aku di sana. A*Hanya itu. Tapi cukup untuk mengguncang seluruh perasaan yang berusaha ia pendam.*Dia melihatku... tapi tidak datang?**Dia peduli... tapi memilih menjauh?*Salsa menahan air mata yang menggantung di pelupuk. Ia tahu ini bukan tentang cinta yang tidak saling, tapi tentang cinta yang belum siap.---Malam itu, Salsa pulang dan menemukan sesuatu di depan pintu apartemennya: seikat bunga lili putih—bunga favorit ibunya, dan juga yang pernah Arlian sebut ketika mereka pertama kali berbicara soal masa kecil.Di bawah bunga itu, ada sepucuk surat.> *Aku butuh waktu. Bukan untuk memilih antara kamu atau dia, tapi untuk memastikan bahwa ketika aku bersamamu... aku benar-benar utuh. Aku ingin datang bukan sebagai pria yang setengah hancur, tapi sebagai seseorang yang bisa menopangmu, bukan malah menuntutmu untuk menambal lukaku. – A*Salsa memeluk surat itu. Tidak ada marah. Tidak ada kecewa. Hanya air mata yang jatuh dalam diam—karena ia tahu, cinta sejati tidak selalu datang dalam bentuk hadir yang pasti, tapi juga dalam bentuk keberanian untuk mengakui ketidaksiapan.---Langit mendung saat Arlian turun dari mobil di depan sebuah rumah di pinggir kota, jauh dari keramaian. Rumah itu sederhana, namun rapi. Di teras, seorang wanita duduk sambil membaca buku. Matanya langsung menatap ke arahnya, dan tanpa banyak kata, ia berdiri."Maira," sapa Arlian pelan.Wanita itu tersenyum, tipis namun tulus. "Akhirnya datang juga."Mereka masuk ke dalam, duduk di ruang tamu yang masih menyimpan aroma lavender, aroma yang dulu selalu menenangkannya."Aku datang bukan untuk membuka luka," kata Arlian. "Aku datang untuk benar-benar menutupnya."Maira menatapnya lama, lalu mengangguk. "Aku sudah lama menutupnya, Lian. Tapi mungkin kamu belum."Arlian menghela napas. "Aku kira aku sudah. Tapi ketika aku mulai mencintai seseorang lagi... semuanya muncul. Ketakutan. Rasa bersalah. Luka-luka yang kupikir sudah hilang.""Kamu mencintai dia?" tanya Maira."Iya," jawab Arlian tanpa ragu."Bagus. Karena kamu pantas bahagia, Lian. Kita memang tidak berhasil, tapi itu bukan akhir. Itu cuma jalan memutar."Hening meliputi ruangan beberapa saat sebelum Maira berdiri dan berjalan ke lemari. Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil."Ini foto-foto kita. Kenangan yang dulu berarti, tapi kini bukan milikku lagi. Simpan, atau buang. Terserah kamu. Yang jelas, aku tidak menyimpannya karena masih berharap. Tapi karena aku ingin kamu tahu bahwa aku telah memaafkan. Kamu juga harus memaafkan dirimu sendiri."Arlian menunduk. Air matanya jatuh tanpa ia sadari. Kali ini bukan karena luka, tapi karena beban yang perlahan terangkat dari dadanya.---Di sisi lain kota, Salsa kembali ke studio untuk berlatih. Tubuhnya bergerak dengan presisi, tapi ada kekosongan dalam gerakannya. Ia tidak tahu apakah Arlian akan kembali. Ia tidak tahu apakah surat itu adalah salam perpisahan atau janji diam-diam untuk kembali.Namun ia tetap menari. Karena menari adalah satu-satunya hal yang membuatnya merasa hidup ketika cinta terasa menggantung.Ketika sesi latihannya selesai, ia duduk bersandar di lantai kayu yang dingin. Lalu tiba-tiba, pintu studio terbuka.Seseorang berdiri di ambang pintu, membawa dua cangkir kopi."Aku salah satu murid yang lari dari latihan," suara itu terdengar akrab—dan penuh penyesalan.Salsa menoleh. Matanya langsung membasah."Arlian...""Aku kembali. Bukan sebagai pecundang yang takut luka. Tapi sebagai laki-laki yang tahu siapa yang ingin ia perjuangkan."Ia mendekat, menyerahkan kopi yang masih hangat. "Kamu masih suka kopi pahit, kan?"Salsa mengangguk. Lalu tersenyum. "Aku suka apapun... selama kamu yang bawakan."---Studio itu gelap ketika Salsa datang malam itu. Ia tak mengundang siapa pun. Hanya dirinya, sepatu dansa, dan lagu kenangan yang ia simpan di playlist pribadinya.Ia menyalakan lampu di tengah ruangan. Suasana lengang. Tapi di sinilah semuanya dimulai. Di tempat inilah tubuh dan hatinya mulai belajar bicara lewat tarian. Dan di sini pula, Arlian datang kembali ke hidupnya.Musik mulai mengalun. Perlahan, tapi dalam. Salsa mulai melangkah. Setiap gerakan seperti menciptakan ruang untuk semua rasa yang pernah mengganggu: rindu, marah, kecewa, takut.Dan di tengah putarannya, ia berhenti. Jantungnya berdetak lebih cepat, bukan karena tarian—tapi karena pintu studio terbuka.Langkah kaki itu ia hafal. Nada napasnya ia kenali. Dan saat Salsa menoleh, ia melihat Arlian berdiri di sana, dengan wajah lelah namun matanya penuh api."Aku mau menari denganmu... bukan untuk pertunjukan. Tapi untuk hidupku," ucap Arlian sambil melangkah mendekat.Tanpa aba-aba, tubuh mereka langsung menyatu dalam irama. Tangan Arlian di pinggang Salsa, mata mereka saling terkunci. Tidak ada kata-kata, hanya gerak yang menggantikan suara.Dalam setiap putaran, ada pengakuan.Dalam setiap sentuhan, ada permohonan maaf.Dan dalam pelukan terakhir di akhir tarian itu, ada satu hal yang tak perlu diucap lagi: *Kita pulang.*Mereka terdiam. Musik berhenti. Dunia di luar menghilang. Yang ada hanya mereka berdua—duduk di lantai studio, berkeringat, bernapas cepat, dan saling menatap."Sekarang aku tahu, Sal," ujar Arlian pelan. "Aku tak bisa menjadi utuh tanpamu. Tapi bukan karena aku butuh kamu untuk menyembuhkan. Melainkan karena kamu... adalah bagian dari diriku."Salsa mengangguk. "Dan kamu adalah rumah yang tak pernah berani aku minta."Mereka saling mendekat, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, mereka berciuman tanpa beban. Tanpa ragu. Tanpa bayang-bayang masa lalu. Hanya dua jiwa yang akhirnya berhenti melawan takdirnya sendiri.---Setahun telah berlalu sejak malam itu—malam di mana tarian menjadi bahasa pengampunan, dan pelukan menjadi titik awal kebersamaan. Banyak yang berubah, namun yang paling terasa adalah cara Salsa dan Arlian kini melihat dunia: dengan lebih tenang, lebih jujur, dan lebih saling menerima.Studio yang dulu hanya digunakan untuk latihan kini berganti nama: *Studio Senja*. Tempat itu bukan hanya ruang berkeringat, tapi rumah bagi puluhan pasangan muda yang belajar menari dan mencintai—pelan-pelan, tanpa terburu-buru.Salsa berdiri di balik kaca besar studio, memperhatikan murid-murid barunya. Di tangannya, selembar undangan pernikahan. Nama mereka terukir rapi di atasnya. Bukan pesta mewah, bukan acara besar. Hanya pernikahan kecil di tepi pantai, di waktu senja, tempat di mana langit dan laut bersentuhan diam-diam.Sementara itu, Arlian sibuk di bagian belakang, memeriksa pengeras suara yang akan mereka gunakan untuk pertunjukan murid malam ini. Setiap beberapa detik, ia melirik ke arah Salsa, seolah belum percaya wanita itu benar-benar memilih tetap bersamanya."Lian," panggil Salsa dari seberang ruangan.Ia menoleh."Kita sudah sampai, ya?"Arlian berjalan mendekat. Ia menyentuh pipinya pelan. "Belum. Tapi sekarang aku tahu, kita berjalan ke arah yang sama."Salsa tersenyum. "Lalu bagaimana jika suatu hari kita tersesat lagi?"Arlian menggenggam tangannya erat. "Kita berhenti, duduk... dan menari."Sebuah tepuk tangan terdengar dari para murid. Pertunjukan mereka baru saja selesai. Tapi bagi Salsa dan Arlian, pertunjukan sejati baru saja dimulai—bukan di atas panggung, tapi di kehidupan nyata.Mereka melangkah keluar studio. Langit mulai berwarna jingga. Senja kembali menyapa. Namun kali ini, senja tak lagi jadi tanda perpisahan.Kini, senja adalah rumah.Tempat di mana semua rahasia yang dulu mengaburkan cinta... akhirnya menemukan cahaya.---~End~

Senja Di Ujung Rahasia
Teen
23 Jan 2026

Senja Di Ujung Rahasia

Senja baru saja menyentuh cakrawala saat Salsa berdiri di balkon apartemennya. Angin musim panas membelai rambut panjangnya yang tergerai, dan pikirannya melayang pada hari itu—hari yang seharusnya biasa, sampai dia bertemu lelaki asing itu di studio tari.Arlian.Nama itu masih terngiang di telinganya. Mata pria itu begitu tajam, seakan bisa menembus dinding pertahanan yang telah ia bangun bertahun-tahun. Ia bukan hanya pelatih tamu dari luar kota—Arlian membawa sesuatu yang sulit dijelaskan. Aura. Dominasi. Dan tatapan yang membuat jantung Salsa berdetak tidak karuan."Langkahmu bagus, tapi kamu menahan diri," suara Arlian siang tadi masih terngiang, pelan namun penuh tekanan."Aku... aku hanya mengikuti irama," jawab Salsa, mencoba tenang."Tubuhmu bicara, Salsa. Tapi jiwamu masih ragu," katanya sambil mendekat.Saat Arlian berdiri hanya beberapa inci darinya, Salsa bisa mencium aroma parfum maskulin yang samar tapi memabukkan. Ada ketegangan di antara mereka. Bukan karena amarah, bukan juga karena persaingan. Itu... gairah. Sebuah tarikan yang tak bisa mereka hindari.Dan malam itu, saat Arlian muncul di pintu apartemennya tanpa aba-aba, membawa sebotol anggur dan sepasang mata yang masih menyimpan tanya, Salsa tahu ini bukan sekadar latihan tari.---Anggur merah di gelas kristal bergetar pelan saat Arlian menaruh botolnya di meja."Maaf kalau tiba-tiba," ucapnya dengan suara rendah."Tapi aku merasa... kita belum selesai."Salsa menatap pria itu dari balik rambutnya. Jantungnya berdetak cepat, tapi tubuhnya tak bergerak. Dia tidak mengusirnya. Itu saja sudah cukup sebagai jawaban."Apa yang belum selesai, Arlian?" tanyanya, setengah berbisik."Rasa ingin tahuku tentang kamu..." Arlian mendekat, menelusuri ruang sempit antara mereka. "Dan mungkin... rasa ingin tahumu tentang aku."Salsa tertawa kecil, gugup tapi tak menolak."Dan kamu pikir kamu bisa temukan jawabannya malam ini?"Arlian hanya tersenyum. Ia mengangkat tangan, perlahan menyentuh rambut Salsa dan menyelipkan helaian yang menutupi pipinya."Aku tidak datang untuk jawaban," bisiknya."Aku datang untuk merasakan... apa yang kita tahan sejak tadi siang."Salsa tidak berkata apa-apa. Tapi ketika bibir mereka akhirnya bersatu, semuanya menjadi jelas. Tak ada lagi latihan. Tak ada lagi jarak. Yang tersisa hanya dua tubuh yang menari dalam diam, di ruang yang mereka ciptakan sendiri.Arlian mencium Salsa perlahan, penuh rasa, namun dengan api yang tersimpan di dalamnya. Tangannya menyusuri punggung Salsa, lembut tapi pasti. Salsa membalas dengan sentuhan yang gemetar, tapi penuh keyakinan.Malam itu, mereka tak hanya menyatu secara fisik—mereka membongkar lapisan emosi yang lama tersembunyi. Setiap sentuhan adalah ungkapan dari sesuatu yang selama ini tidak terucap. Luka. Rindu. Hasrat. Dan kerinduan akan kehangatan yang lebih dari sekadar gairah.---Pagi menyelinap masuk lewat tirai putih yang setengah terbuka. Matahari belum tinggi, tapi sinarnya cukup untuk membangunkan Salsa dari tidurnya yang tak biasa—tidur dalam pelukan seorang pria yang belum sepenuhnya ia kenal, tapi entah kenapa, terasa seperti rumah.Salsa menoleh. Arlian masih terlelap, wajahnya tenang, napasnya teratur. Ada garis keras di rahangnya, tanda bahwa dia bukan pria yang mudah terbuka. Tapi tadi malam, garis itu sempat lunak. Ia membiarkan Salsa melihat bagian dirinya yang tidak banyak orang tahu—rapuh, penuh luka, tapi hangat ketika disentuh dengan benar.Salsa turun dari ranjang perlahan. Mengenakan kemeja Arlian yang tadi malam tergeletak di lantai, ia berjalan menuju balkon. Di sana, angin pagi menyapa, membelai wajahnya yang masih menyimpan sisa-sisa gairah dan keraguan.Apa yang sedang aku lakukan?Pertanyaan itu menghantam keras di dalam kepalanya.Salsa bukan gadis polos. Ia tahu bagaimana rasanya disentuh, dicintai untuk semalam, lalu ditinggalkan seolah tidak pernah berarti. Tapi dengan Arlian... semuanya terasa berbeda. Terlalu dalam. Terlalu cepat.Suara langkah kaki terdengar di belakangnya."Sudah bangun?" suara Arlian pelan, berat.Salsa tidak menoleh. "Aku nggak nyangka kamu masih di sini.""Aku juga nggak nyangka kamu membiarkanku tetap di sini," jawab Arlian jujur.Diam."Aku punya masa lalu yang berantakan, Salsa. Mungkin lebih gelap dari yang kamu pikir," katanya tiba-tiba.Salsa menatapnya, pelan. "Kamu pikir aku nggak?"Tatapan mereka saling menembus. Ada semacam pengakuan di dalamnya."Aku nggak akan janji apa pun. Aku nggak yakin aku tahu cara mencintai seseorang dengan benar," ujar Arlian, nyaris seperti permohonan.Salsa tersenyum tipis. "Aku nggak butuh janji. Aku cuma butuh kamu jujur. Bahkan kalau itu berarti kamu akan pergi."Arlian mendekat, menyentuh wajahnya dengan lembut."Kalau aku bilang... aku takut pergi?"Salsa menggenggam tangannya."Maka tetaplah."---Sudah seminggu sejak malam itu. Salsa dan Arlian tak lagi saling berpura-pura bahwa semua hanya kebetulan. Mereka bertemu hampir setiap hari—kadang di studio, kadang hanya untuk makan malam singkat yang berakhir dengan ciuman panjang di ambang pintu.Tapi malam ini berbeda.Arlian datang terlambat ke studio. Raut wajahnya lebih dingin dari biasanya. Salsa melihatnya dari cermin besar saat mereka berlatih—langkah-langkah tari yang biasanya lembut kini berubah kaku, terburu-buru, seolah tubuhnya ingin lari dari sesuatu."Arlian, ada apa?" tanya Salsa, menghentikan musik.Pria itu menatapnya sesaat, lalu menarik napas panjang. "Kamu nggak perlu tahu."Salsa maju selangkah. "Kita sudah terlalu jauh untuk mulai pakai tembok, kan?"Arlian akhirnya bicara, tapi nadanya rendah dan berat."Dulu aku pernah bertunangan," katanya pelan."Namanya Maira. Kami merencanakan semuanya—rumah, anak, masa depan. Tapi aku hancurkan semua itu dalam satu malam."Salsa terdiam. Jantungnya berdetak lebih cepat, bukan karena cemburu, tapi karena rasa takut: takut bahwa Arlian akan kembali terperangkap dalam masa lalunya."Kenapa?" tanyanya akhirnya.Arlian tersenyum pahit. "Karena aku nggak bisa miliki satu orang... tanpa merasa kehilangan semuanya. Aku takut pada keterikatan. Takut bahwa kalau aku mencintai, aku akan hancur lagi."Salsa mendekat, menatap mata pria itu dalam-dalam."Aku nggak minta kamu cintai aku sekarang. Tapi jangan hukum dirimu karena masa lalu. Aku bukan Maira... dan kamu bukan dirimu yang dulu."Arlian menunduk. Tangannya meraih tangan Salsa, menggenggam erat, seperti memohon agar waktu berhenti. "Kalau kamu pergi suatu hari nanti... aku nggak tahu apakah aku bisa pulih."Salsa menggenggam balik. "Maka pastikan aku punya alasan untuk tetap tinggal."---Sudah tiga hari sejak Arlian datang ke studio tanpa menyapa. Tiga hari sejak sentuhan terakhir mereka menghilang tanpa kejelasan. Salsa mencoba menepis perasaannya—berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Tapi kenyataannya, setiap ruang di dalam hatinya mulai terasa kosong.Ia berdiri di tengah studio, menyalakan musik yang dulu mereka latih bersama. Tubuhnya mulai bergerak mengikuti irama, tapi langkah-langkahnya terasa kehilangan makna. Salsa menari bukan untuk tampil—ia menari untuk bertahan.Di sudut lain kota, Arlian duduk sendiri di atas motor sport hitamnya, menatap laut yang luas. Di tangannya, masih tergenggam foto kecil—gambar dirinya dan Maira lima tahun lalu, di malam pertunangan mereka. Matanya memerah, bukan karena rindu, tapi karena kebingungan.*Kenapa aku begitu takut bahagia?* pikirnya.Dia tahu perasaannya untuk Salsa nyata. Tapi justru karena itu, dia takut. Salsa membuatnya merasa utuh, dan itu menakutkan—karena jika ia kehilangannya, ia akan hancur lagi. Seperti dulu, ketika Maira pergi karena ia terlalu dingin, terlalu tertutup, terlalu... terluka.---Salsa duduk sendiri di kafe langganannya. Di depannya, ada dua cangkir kopi—satu untuknya, satu lagi yang sengaja ia pesan untuk Arlian, walau ia tahu lelaki itu takkan datang."Kamu bisa kuat, Sal," gumamnya pelan.Saat itulah notifikasi di ponselnya berbunyi. Sebuah pesan singkat dari nomor tak dikenal.*Kamu luar biasa malam itu. Aku lihat video kompetisimu. Kamu bersinar bahkan tanpa aku di sana. A*Hanya itu. Tapi cukup untuk mengguncang seluruh perasaan yang berusaha ia pendam.*Dia melihatku... tapi tidak datang?**Dia peduli... tapi memilih menjauh?*Salsa menahan air mata yang menggantung di pelupuk. Ia tahu ini bukan tentang cinta yang tidak saling, tapi tentang cinta yang belum siap.---Malam itu, Salsa pulang dan menemukan sesuatu di depan pintu apartemennya: seikat bunga lili putih—bunga favorit ibunya, dan juga yang pernah Arlian sebut ketika mereka pertama kali berbicara soal masa kecil.Di bawah bunga itu, ada sepucuk surat.> *Aku butuh waktu. Bukan untuk memilih antara kamu atau dia, tapi untuk memastikan bahwa ketika aku bersamamu... aku benar-benar utuh. Aku ingin datang bukan sebagai pria yang setengah hancur, tapi sebagai seseorang yang bisa menopangmu, bukan malah menuntutmu untuk menambal lukaku. – A*Salsa memeluk surat itu. Tidak ada marah. Tidak ada kecewa. Hanya air mata yang jatuh dalam diam—karena ia tahu, cinta sejati tidak selalu datang dalam bentuk hadir yang pasti, tapi juga dalam bentuk keberanian untuk mengakui ketidaksiapan.---Langit mendung saat Arlian turun dari mobil di depan sebuah rumah di pinggir kota, jauh dari keramaian. Rumah itu sederhana, namun rapi. Di teras, seorang wanita duduk sambil membaca buku. Matanya langsung menatap ke arahnya, dan tanpa banyak kata, ia berdiri."Maira," sapa Arlian pelan.Wanita itu tersenyum, tipis namun tulus. "Akhirnya datang juga."Mereka masuk ke dalam, duduk di ruang tamu yang masih menyimpan aroma lavender, aroma yang dulu selalu menenangkannya."Aku datang bukan untuk membuka luka," kata Arlian. "Aku datang untuk benar-benar menutupnya."Maira menatapnya lama, lalu mengangguk. "Aku sudah lama menutupnya, Lian. Tapi mungkin kamu belum."Arlian menghela napas. "Aku kira aku sudah. Tapi ketika aku mulai mencintai seseorang lagi... semuanya muncul. Ketakutan. Rasa bersalah. Luka-luka yang kupikir sudah hilang.""Kamu mencintai dia?" tanya Maira."Iya," jawab Arlian tanpa ragu."Bagus. Karena kamu pantas bahagia, Lian. Kita memang tidak berhasil, tapi itu bukan akhir. Itu cuma jalan memutar."Hening meliputi ruangan beberapa saat sebelum Maira berdiri dan berjalan ke lemari. Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil."Ini foto-foto kita. Kenangan yang dulu berarti, tapi kini bukan milikku lagi. Simpan, atau buang. Terserah kamu. Yang jelas, aku tidak menyimpannya karena masih berharap. Tapi karena aku ingin kamu tahu bahwa aku telah memaafkan. Kamu juga harus memaafkan dirimu sendiri."Arlian menunduk. Air matanya jatuh tanpa ia sadari. Kali ini bukan karena luka, tapi karena beban yang perlahan terangkat dari dadanya.---Di sisi lain kota, Salsa kembali ke studio untuk berlatih. Tubuhnya bergerak dengan presisi, tapi ada kekosongan dalam gerakannya. Ia tidak tahu apakah Arlian akan kembali. Ia tidak tahu apakah surat itu adalah salam perpisahan atau janji diam-diam untuk kembali.Namun ia tetap menari. Karena menari adalah satu-satunya hal yang membuatnya merasa hidup ketika cinta terasa menggantung.Ketika sesi latihannya selesai, ia duduk bersandar di lantai kayu yang dingin. Lalu tiba-tiba, pintu studio terbuka.Seseorang berdiri di ambang pintu, membawa dua cangkir kopi."Aku salah satu murid yang lari dari latihan," suara itu terdengar akrab—dan penuh penyesalan.Salsa menoleh. Matanya langsung membasah."Arlian...""Aku kembali. Bukan sebagai pecundang yang takut luka. Tapi sebagai laki-laki yang tahu siapa yang ingin ia perjuangkan."Ia mendekat, menyerahkan kopi yang masih hangat. "Kamu masih suka kopi pahit, kan?"Salsa mengangguk. Lalu tersenyum. "Aku suka apapun... selama kamu yang bawakan."---Studio itu gelap ketika Salsa datang malam itu. Ia tak mengundang siapa pun. Hanya dirinya, sepatu dansa, dan lagu kenangan yang ia simpan di playlist pribadinya.Ia menyalakan lampu di tengah ruangan. Suasana lengang. Tapi di sinilah semuanya dimulai. Di tempat inilah tubuh dan hatinya mulai belajar bicara lewat tarian. Dan di sini pula, Arlian datang kembali ke hidupnya.Musik mulai mengalun. Perlahan, tapi dalam. Salsa mulai melangkah. Setiap gerakan seperti menciptakan ruang untuk semua rasa yang pernah mengganggu: rindu, marah, kecewa, takut.Dan di tengah putarannya, ia berhenti. Jantungnya berdetak lebih cepat, bukan karena tarian—tapi karena pintu studio terbuka.Langkah kaki itu ia hafal. Nada napasnya ia kenali. Dan saat Salsa menoleh, ia melihat Arlian berdiri di sana, dengan wajah lelah namun matanya penuh api."Aku mau menari denganmu... bukan untuk pertunjukan. Tapi untuk hidupku," ucap Arlian sambil melangkah mendekat.Tanpa aba-aba, tubuh mereka langsung menyatu dalam irama. Tangan Arlian di pinggang Salsa, mata mereka saling terkunci. Tidak ada kata-kata, hanya gerak yang menggantikan suara.Dalam setiap putaran, ada pengakuan.Dalam setiap sentuhan, ada permohonan maaf.Dan dalam pelukan terakhir di akhir tarian itu, ada satu hal yang tak perlu diucap lagi: *Kita pulang.*Mereka terdiam. Musik berhenti. Dunia di luar menghilang. Yang ada hanya mereka berdua—duduk di lantai studio, berkeringat, bernapas cepat, dan saling menatap."Sekarang aku tahu, Sal," ujar Arlian pelan. "Aku tak bisa menjadi utuh tanpamu. Tapi bukan karena aku butuh kamu untuk menyembuhkan. Melainkan karena kamu... adalah bagian dari diriku."Salsa mengangguk. "Dan kamu adalah rumah yang tak pernah berani aku minta."Mereka saling mendekat, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, mereka berciuman tanpa beban. Tanpa ragu. Tanpa bayang-bayang masa lalu. Hanya dua jiwa yang akhirnya berhenti melawan takdirnya sendiri.---Setahun telah berlalu sejak malam itu—malam di mana tarian menjadi bahasa pengampunan, dan pelukan menjadi titik awal kebersamaan. Banyak yang berubah, namun yang paling terasa adalah cara Salsa dan Arlian kini melihat dunia: dengan lebih tenang, lebih jujur, dan lebih saling menerima.Studio yang dulu hanya digunakan untuk latihan kini berganti nama: *Studio Senja*. Tempat itu bukan hanya ruang berkeringat, tapi rumah bagi puluhan pasangan muda yang belajar menari dan mencintai—pelan-pelan, tanpa terburu-buru.Salsa berdiri di balik kaca besar studio, memperhatikan murid-murid barunya. Di tangannya, selembar undangan pernikahan. Nama mereka terukir rapi di atasnya. Bukan pesta mewah, bukan acara besar. Hanya pernikahan kecil di tepi pantai, di waktu senja, tempat di mana langit dan laut bersentuhan diam-diam.Sementara itu, Arlian sibuk di bagian belakang, memeriksa pengeras suara yang akan mereka gunakan untuk pertunjukan murid malam ini. Setiap beberapa detik, ia melirik ke arah Salsa, seolah belum percaya wanita itu benar-benar memilih tetap bersamanya."Lian," panggil Salsa dari seberang ruangan.Ia menoleh."Kita sudah sampai, ya?"Arlian berjalan mendekat. Ia menyentuh pipinya pelan. "Belum. Tapi sekarang aku tahu, kita berjalan ke arah yang sama."Salsa tersenyum. "Lalu bagaimana jika suatu hari kita tersesat lagi?"Arlian menggenggam tangannya erat. "Kita berhenti, duduk... dan menari."Sebuah tepuk tangan terdengar dari para murid. Pertunjukan mereka baru saja selesai. Tapi bagi Salsa dan Arlian, pertunjukan sejati baru saja dimulai—bukan di atas panggung, tapi di kehidupan nyata.Mereka melangkah keluar studio. Langit mulai berwarna jingga. Senja kembali menyapa. Namun kali ini, senja tak lagi jadi tanda perpisahan.Kini, senja adalah rumah.Tempat di mana semua rahasia yang dulu mengaburkan cinta... akhirnya menemukan cahaya.---~End~

OTTO SI MOBIL KESAYANGAN AYAH
Teen
23 Jan 2026

OTTO SI MOBIL KESAYANGAN AYAH

Hai teman-teman! Namaku Otto. Coba tebak apakah aku ini? Apa aku manusia atau hewan? Bukan. Bukan. Aku adalah mobil. Mobil Jeep berwarna putih kesayangan Ayah.Aku lahir di tahun 2010, tahun yang sama di mana Ayah membeliku dari dealer mobil di kota. Aku senang sekali! Teman-teman iri karena Ayah memilihku.Selain warnaku yang putih cerah, ukuranku cukup mungil, hanya muat untuk lima orang, berisi satu kursi pengemudi dan empat kursi penumpang. Berukuran 4x4 dengan kapasitas 2000 cc. Aku muat untuk Ayah dan keluarganya.Ayo kukenalkan kepadamu keluarga Ayah. Selain Ayah, ada Ibu, wanita yang cantik dan bersahaja sekali. Ibu sudah melahirkan dua anak, nama panggilan mereka adalah Kakak dan Adik. Kakak lebih tua tiga tahun dari Adik, mereka kadang seperti dua sahabat karib, tetapi juga kadang menjadi musuh bebuyutan.Pada hari pertama Ayah membawaku ke rumah, Ayah mengenalkanku kepada keluarganya."Kakak, Adik ... ini mobil pertama Ayah, namanya Otto." Begitu Ayah mengenalkanku sekaligus memberiku nama.Sejak hari itu, sudah menjadi tugasku membawa Kakak dan Adik pergi ke sekolah setiap hari. Tidak hanya itu, di hari Sabtu dan Minggu, Ayah juga akan membawa keluarganya jalan-jalan. Bila hari ini ke mal, maka esok harinya akan diajak jalan-jalan ke pantai atau gunung. Ayah senang sekali setiap berjalan-jalan, beliau akan menyalakan radioku dan menyenandungkan lagu dangdut dari penyanyi bernama Elvi Sukaesih atau Rhoma Irama.Kakak dan Adik tidak suka lagu dangdut, Kakak suka lagu dari sebuah sinema anak-anak berjudul Power Ranger, setiap saat ia akan berteriak "Power Ranger!" Sembari menirukan Power Ranger merah. Kebalikannya, Adik lebih senang mendengar lagu-lagu dari Barbie: Princess and The Pauper.Ayah sering bertanya ke Kakak dan Adik, "Kakak, Adik, kalau sudah besar mau jadi apa?"Kakak segera menjawab, "Mau jadi dokter, Yah!""Kalau, Adik?"Adik membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menjawab sebelum akhirnya berkata, "Aku ikut Kakak aja, deh.""Jadi dokter juga?""Enggak." Adik menggeleng polos. "Aku mau jadi suster, biar bisa jadi asistennya Kakak."Ayah dan Ibu tertawa mendengar jawaban Adik. Apalagi Adik yang suka mengganti cita-citanya setiap tahun, sering kali ketika melihat si Merah, mobil milik para pemadam kebakaran, Adik akan berseru, "Aku mau jadi seperti mereka!""Kenapa?" Kakak bertanya dengan dahi berkerut dalam, di tangannya tergenggam sebuah mainan mobil-mobilan berwarna putih yang menyerupai aku."Aku mau naik mobil merah dengan suara ' niuniuniu '! Pasti seru sekali!" Mata Adik selalu berkilat senang setiap kali melihat si Merah yang melesat di antara kerumunan mobil-mobil lain, dipersilakan lewat terlebih dahulu di antara kami para mobil keluarga.Selain si Merah, Adik juga suka sekali dengan Lili si mobil polisi. Dia juga suka dengan seragam yang para polisi kenakan."Aku ingin menangkap para penjahat! Dor ! Dor !" Adik akan meloncat-loncat senang di atas jokku yang empuk.Setiap kali Adik meloncat-loncat, Kakak yang kalem akan menegur adiknya dan memintanya duduk dengan tenang sembari memakai sabuk keamanan. "Jangan loncat-loncat!" Kakak menegur dengan suara keras.Tidak hanya ada si Lili atau si Merah, Adik juga akan berseru setiap kali melihat mobil baru yang terlihat unik di matanya. Suatu hari dia bertanya kepada Ayah, "A-N-T-O-N," Adik mengeja tulisan di badan sebuah truk tronton. "Nama mobilnya Anton. Itu mobil apa, Yah?""Itu truk tronton, Dik." Ayah tersenyum melihat anaknya itu."Wah, rodanya banyak sekali, ya." Adik berusaha menghitung jumlah roda yang Anton miliki. Belum selesai menghitungnya, aku sudah menyalip lebih dahulu dan berada jauh di depan kumpulan truk-truk yang membawa aneka benda; ada semen, kadang pasir, kadang pula bebatuan, dan kerikil untuk jalanan yang baru saja ingin dibangun. "Yah, Ayah! Adik, kan, belum selesai menghitung."Ayah dan Ibu akan tertawa mendengar seruan Adik. Sesaat kemudian Adik kembali bertanya tentang aneka mobil lainnya, di mulai dari Bang Toyib—si bus antarkota, Anton si truk tronton, hingga aneka mobil keluarga lainnya."Udah, ah, Dik. Tidur." Kakak akan mengeluh kesal tiap kali mendengar Adik menunjuk mobil-mobil lain dan terus menerus bertanya ke Ayah tipe-tipe mobil apa saja yang lewat di sebelah mereka.Ibu akan tertawa mendengarkan kakak adik itu saling bersahut-sahutan atau berebut memutar lagu kesukaan mereka juga menceritakan pengalaman seru mereka di sekolah, sementara Ayah akan mendapatkan giliran paling akhir.Sst ... Ibu tidak bisa menyetir, jadi sering kali Ibu pergi ke pasar bersama Juki. Motor bebek Suzuki yang menjadi temanku di garasi. Omong-omong, Juki Itu berisik sekali. Jangan bilang-bilang ke siapa-siapa, ya!Tidak terasa sudah beberapa tahun aku menemani keluarga Ayah. Kakak dan Adik sekarang sudah besar, loh! Mereka tidak lagi suka berebutan radio untuk mendengarkan lagu. Ayah masih setia mengantar Kakak dan Adik ke sekolah denganku.Suatu hari Kakak membawaku untuk menjemput pacarnya. Mereka mau berkencan. Selama ini Kakak naik motor kalau membawa pacarnya berkencan, tapi karena hujan deras, kali ini jadi tugasku membawa mereka jalan-jalan.Malang nian nasibku kali ini. Aku yang sudah mulai sakit-sakitan, tiba-tiba saja mogok di tengah jalan! Tepat sebelum lampu merah. Kakak malu sekali. Hujan deras membasahi bajunya yang apik ketika membuka kapku, untuk memeriksa bagian mesin mana yang rusak.Aku terbatuk-batuk, uap yang mengepul dari kapku menghalau pandangan Kakak.Tak lama kemudian, Kakak menelepon Ayah. Meminta Ayah untuk menjemputnya, sementara ia sendiri memanggil taksi untuk mengantar kekasih hatinya. Aku sedih sekali karena tidak bisa menjalankan tugasku dengan baik.Hari itu, mobil derek, yang omong-omong namanya juga Derek—sok kebule-bulean sekali, ya?!— menjemputku dari tengah jalan raya. Aku terpaksa menginap di bengkel selama beberapa hari. Tugas mengantar Adik ke sekolah pun digantikan oleh Kakak dan si Juki.Di usiaku yang sudah sepuh ini, Ayah masih setia menggunakan jasaku. Setiap pagi Ayah akan menyabuniku dengan sabun khusus mobil lalu memeriksa mesin-mesinku.Namun, akhir-akhir ini baik Ayah dan keluarganya tidak pernah lagi jalan-jalan. Bahkan si Juki pun jarang diajak keluar ke pasar bersama Ibu. Kakak dan Adik juga tidak lagi ke sekolah, mereka semua di rumah! Ada apa, ya?Sesekali Ayah menggunakanku ketika pergi ke kantor. Beliau menyalakan siaran radio, tepat ke bagian berita. Wah, rupanya ada penyakit baru yang bernama Covid-19 dan kini menjadi pandemi sehingga Ayah dan keluarganya jadi nyaris tidak pernah keluar rumah. Ayah tampak sedih, belakangan ini Ayah juga tidak lagi menyanyikan lagu dangdut kesukaannya.Di jalan raya, aku sering menyapa mobil-mobil lain. Lili si mobil polisi yang lebih sering parkir di depan kantor polisi, kini juga ikut parkir di tepi jalan. Banyak polisi berlalu lalang yang memeriksa kelengkapan berkas pengemudi kendaraan.Yang paling sering kulihat di jalan raya saat ini adalah si Alan, mobil ambulans. Alan sering menyapa ketika dia berhenti di sebelahku saat tidak sedang membawa pasien. Namun, Alan pun sibuk sejak penyakit yang disebabkan oleh virus corona itu membuatnya bolak-balik ke rumah sakit.Tanggal 17 Juni 2021, Ayah masuk rumah sakit karena tertular dari teman kantornya saat WFO. Kakak dan Ibu membawa Ayah ke rumah sakit bersamaku. Keadaan Ayah tiba-tiba memburuk setelah sempat demam dan meriang beberapa hari lalu, batuknya terdengar berat dan tidak kunjung berhenti, Ibu, Adik, dan Kakak pun tetap memakai masker walaupun berada di dalam rumah."Otto! Ayo, Otto!" Kakak berseru ketika men- starter mesinku, memaksaku untuk menyala dan meraung kencang. "Ayo, Bu!" Menggunakan masker yang didobel dengan masker kain, Kakak dan Ibu mengantar Ayah ke rumah sakit sementara Adik menunggu di rumah.Di hari Sabtu ini, jalanan ramai sekali. Kakak memencet klaksonku berulang kali, sementara aku berteriak agar diberikan jalan oleh mobil-mobil lain. Situasi Sabtu ini berbeda dengan saat ketika pandemi baru pertama kali muncul, jalanan yang dulunya lenggang kembali ramai dan macet seperti pandemi telah berakhir.Beberapa pesepeda motor dan pesepeda balap berada di tengah jalanan yang ditujukan untuk mobil."Minggir! Ayo, minggir!" Aku membunyikan klaksonku, meminta mereka menyingkir dari jalanan agar aku bisa melaju cepat dan membawa Ayah ke rumah sakit.Pada akhirnya, Kakak berhasil menyetir mobil hingga sampai di rumah sakit terdekat. Kakak memarkirkanku di parkiran dekat UGD lalu terburu-buru Kakak dan Ibu membopong Ayah ke UGD sementara aku menunggu.Selama aku di parkiran, aku melihat banyak mobil yang berlalu lalang, salah satunya si Alan, mobil ambulans yang bekerja keras membawa pasien kritis ke rumah sakit."Hai, Otto!" Alan menyapaku."Hai, Alan! Kamu kelihatannya sibuk sekali akhir-akhir ini.""Iya, nih. Pak Joko, lengkap dengan pakaian hazmat -nya, membawaku ke mana-mana. Sayangnya, jalanan ramai sekali dan mobil-mobil lain sulit memberikan jalan. Seringnya kita tidak bisa tiba lebih cepat ke rumah sakit atau rumah warga yang membutuhkan bantuan." Alan menghela napas keras. "Akhir-akhir ini, pasien semakin bertambah. Jadi, banyak yang membutuhkan jasaku."Benar saja, seperti kata Alan, tidak lama kemudian ada mobil ambulans lain yang membawa pasien, sementara Alan pun tidak bisa menemaniku berbincang lebih lama karena Pak Joko, supir yang membawa Alan, harus menjemput pasien lain.Aku menatap pintu UGD, tampak Kakak dan Ibu tengah berbincang. Mereka tidak bisa masuk lebih jauh menemani Ayah, ada manusia-manusia lain berpakaian hazmat yang mengambil alih Ayah. Ibu terlihat lelah, sementara Kakak mengelus punggung Ibu. Semoga saja Ayah cepat sembuh.Tak dapat berbuat banyak dan karena ruang isolasi hanya terbatas untuk pasien positif dan kritis, Kakak dan Ibu pun beranjak pulang.Hari demi hari berlalu, tidak ada Ayah yang mencuci dan mengelap kacaku di pagi hari. Kakak, Ibu, dan Adik pun melakukan isolasi mandiri di rumah, mereka menghindari keluar rumah dan bertemu orang-orang. Aku sedih sekali karena rumah tampak sepi tanpa senda gurau Ayah dan keluarganya.Tanggal 20 Juni 2021, tepat pada Hari Ayah, Ayah telah tiada. Kakak, Ibu, dan Adik tidak bisa melihat Ayah untuk terakhir kalinya secara langsung, menggunakan video call yang disambungkan oleh suster di rumah sakit, keluarga menyampaikan salam perpisahan untuk Ayah.Kakak, Adik, dan Ibu sedih sekali, aku juga sedih karena tidak ada lagi yang memandikanku setiap pagi atau memutar lagu dangdut dengan suara kencang. Si Juki pun turut sedih hingga mogok berhari-hari.Ah, seandainya saja teman sekantor Ayah tidak terkena Covid-19, seandainya saja aku bisa berlari lebih cepat membawa Ayah ke rumah sakit, seandainya saja mobil-mobil di jalanan itu tetap di rumah mereka masing-masing, mungkin saja Ayah masih akan ada saat ini.Aku tidak bisa mengubah keadaan saat ini, tetapi aku berharap mobil-mobil lain tetap di rumah mereka masing-masing dan tidak jalan-jalan terlebih dahulu agar pandemi ini segera berakhir.Hari demi hari berlalu, Ibu, Kakak, dan Adik tidak lagi memakai masker di dalam rumah, pelan-pelan mereka berusaha bangkit setelah kepergian Ayah. Sesekali aku masih mogok di jalan karena bukan Ayah yang memanasi mesinku ataupun memandikanku. Gantian Kakak dan Adik memandikanku di pagi hari lalu membawaku sesekali berjalan-jalan ke kota lengkap dengan masker dan protokol kesehatan yang ketat untuk memanaskan mesinku tak jauh dari kompleks perumahan. Tanpa Ayah, mobil tidak seseru biasanya, tidak ada yang menyanyikan lagu dangdut dengan suara keras ataupun melemparkan candaan yang membuat Kakak dan Adik mengerutkan kening berpikir keras sebelum akhirnya mengerti apa maknanya.Sementara itu Alan dan Pak Joko serta mobil-mobil ambulans lainnya masih bekerja keras berusaha memerangi virus corona ini. Sering kali Kakak menekan klaksonku setiap kali mereka lewat sebagai tanda kasih atas segala jasa Alan dan Pak Joko di masa pandemi ini.Aku tidak tahu kapan Covid-19 akan berlalu, tetapi melihat mobil-mobil tidak lagi sebanyak saat Kakak mengantar Ayah ke rumah sakit, aku berharap manusia-manusia pun mulai sadar bila pandemi dapat lebih mudah diatasi bila semua tetap di rumah dan jaga jarak.

Don't Avoid Me
Teen
22 Jan 2026

Don't Avoid Me

" sorry sorry, aku nggak sengaja ".Itulah kata yang ku ucapkan saat pertama kali bertemu dengan Kaffa di mall. Aku nggak sengaja bertabrakan dengan dia waktu itu ." lain kali hati-hati kalo jalan ". Hanya itu yang diucapkannya kemudian berlalu meninggalkan aku. Mungkin ini yang dinamakan cinta pandangan pertama. Aku sudah menyukai Kaffa sejak pertama kali aku melihatnya. Awalnya aku merasa ini hanya perasaan sementara. Tapi setelah aku bertemu lagi dengannya, aku yakin kalo ini bener-bener cinta.Aku bertemu Kaffa saat dia menjadi mahasiswa pindahan di kampusku. Kebetulan aku satu jurusan sama dia, tapi nggak satu kelas. Saat aku mengajaknya bicara, dia hanya cuek. Hanya bicara seperlunya. Sepertinya aku hanya dianggap teman kampus biasa. Walaupun aku selalu mendekatinya dan selalu mencari perhatian, tetap saja dia mengacuhkanku. Aku rasa Kaffa memang sengaja menghindariku. Padahal sesama teman yang lain tidak juga. Dia juga tidak dekat dengan teman cewek. Aku mengambil kesimpulan kalo Kaffa mempunyai sifat tertutup."kamu udah mau pulang yah ?", tanyaku pada Kaffa saat diparkiran."iya", jawabnya cuek tanpa memandang aku."aku boleh nebeng nggak ?". Sebenarnya sih bisa aja aku naik kendaraan lain. Cuman aku mau basa-basi aja sama dia. Barangkali aja kalo aku terus deketin dia, dia jadi mulai ramah sama aku."jalur kita kan berbeda. Aku juga ada urusan penting, jadi nggak bisa numpangin siapa-siapa. Sorry", katanya dengan suara dingin."ya..ya udah deh. Tapi lain kali aku boleh nebeng kan ?"."aku nggak janji". Dia lalu masuk ke mobilnya kemudian pergi. Walaupun aku agak kecewa, tapi nggak apa-apa deh. Lagian ini kan bukan pertama kalinya aku ditolak sama dia. Entah kenapa, aku nggak mau nyerah untuk deketin Kaffa.***"eh Kin, kok Kaffa orangnya cuek banget yah jadi orang. Nggak pernah senyum sedikit pun sama kita. Semenjak dia jadi mahasiswa pindahan. Aku sama sekali nggak pernah dia senyum sedikitpun sama kita semua", kata Windy temen deket aku saat kami berada di kelas."apa karena dia pintar kali, makanya jadi sombong gitu"."husy, kamu nggak boleh ngomong kayak gitu win. Aku yakin kok, Kaffa itu nggak sombong. Mungkin aja itu emang sifatnya yang pendiam dan tertutup"."iya, tapi bisa kan dia bersikap ramah sedikit aja sama kita. Kalo aja dia ramah dan seneng bergaul sama kita, pasti banyak cewek yang ngejar-ngejar dia, orang dia ganteng gitu"."mungkin aja Kaffa punya alasan kenapa dia kayak gitu"."kamu tuh yah Kin, emang selalu aja belain Kaffa. Kamu bener-bener suka yah sama dia ?".Aku kaget. "kapan aku bilang kalo aku suka sama Kaffa ?"."nggak usah mungkir deh Kin. Emangnya aku nggak pernah lihat apa kamu sering merhatiin Kaffa, dan juga sering ngehampirin dia. Kentara banget tau kalo kamu suka sama dia "."masa sih ?"."tapi kayaknya Kaffa nggak ngerespon kamu sama sekali deh kin. Mendingan kamu berhenti aja deh ngejar-ngejar Kaffa". Aku hanya tersenyum samar mendengar omongan Windy. Memang mudah mengatakan, tapi aku sudah terlanjur cinta sama Kaffa. Tidak mudah untuk melupakannya dalam sekejap. Aku tau cinta aku memang bertepuk sebelah tangan. Tapi selama aku masih mampu untuk bertahan, aku nggak akan berhenti mencintai Kaffa. Meskipun aku tau, mungkin selamanya dia nggak akan pernah melirik aku.***Waktu itu aku sengaja menghampiri Kaffa yang sedang duduk membaca di perpustakaan. "hai Kaffa, bisa duduk disini nggak ?". Kaffa melirik aku sebentar kemudian kembali fokus ke buku."ini kan tempat umum, jadi siapapun boleh duduk", katanya tanpa melihat aku lagi. Aku kemudian duduk berhadapan dengannya. Dia kelihatan fokus banget belajar."oh yah Kaffa, kamu tau nama aku kan ?"."apa ?", katanya dengan sedikit terkejut."yah, selama ini kan kita nggak akrab. Kamu juga tertutup banget pada semua orang. Yah barangkali aja kamu nggak tau nama aku, kita kan emang nggak sekelas"."emangnya penting yah tau nama kamu ?", katanya cuek.Buarrrr.....! Aku bagaikan disambar petir saat mendengar perkataan Kaffa. Ternyata benar, aku sama sekali nggak ada arti apa-apa dimata Kaffa selama ini."aku tau, aku memang bukan orang yang penting. Tapi nggak apa-apa kan, setidaknya kita bisa jadi seorang temen. Kenalin, nama aku Kinar", kataku mengulurkan tangan. Dia tetap saja mengacuhkanku. Tetap fokus pada bukunya tanpa melirik aku sedikit pun. Aku sedikit kecewa dengan sikap acuh Kaffa. "kamu nggak mau temenan sama aku yah ?. Emangnya tipe orang yang mau kamu ajak berteman kayak gimana sih".Kaffa langsung menghempaskan bukunya di meja. Kelihatannya dia mulai marah. "bisa nggak kalo masuk di perpus itu diam. Udah baca aturannya kan ?". Dia langsung berdiri untuk mengembalikan buku itu pada rak. Kemudian berjalan keluar dari perpus meninggalkan aku. Padahal aku hanya ingin mencoba temenan sama dia. Tapi kenapa dia seperti itu ? Apa benar kata Windy kalo Kaffa itu emang sombong..?Tapi aku selalu merasa kalo dia punya alasan kenapa melakukan itu. Dia tidak terlihat seperti orang sombong.***Aku kira setelah kami lulus kuliah, aku bisa melupakan Kaffa karena mungkin kita tidak akan bertemu lagi. Tapi ternyata takdir mempertemukan kami kembali. Aku sekantor dengan dia. Dia adalah seorang direktur di kantorku, sedangkan aku hanya karyawan biasa.Saat pak Randy ayah Kaffa memperkenalkan dia sebagai direktur di kantor, aku sangat kaget karena tidak menyangka bisa melihatnya lagi. Dan setelah itu aku baru tau kalo kantor tempat aku bekerja adalah milik keluarga Kaffa. Aku nggak tau ini kebetulan atau apa. Yang jelas, aku bener-bener bingung. Apalagi saat aku bertemu dengan Kaffa, sikapnya terhadap aku seakan-akan kami tidak pernah bertemu sebelumnya. Dan terpaksa aku juga harus pura-pura bahwa aku nggak pernah bertemu sebelumnya dengan dia.Sikapnya masih sama 2 tahun yang lalu saat dia pindah sebagai mahasiswa baru. Dia tetap cuek, sampai-sampai saat aku sedang bekerja, aku sering mendengar para karyawan lain membicarakan Kaffa tentang sikap dingin dia pada semua orang.Waktu itu, tanpa sengaja kami masuk dalam lift berdua. Seperti biasa, sikapnya kaku dan cuek. Aku juga cukup lama diam, sampai akhirnya aku memberanikan diri untuk menyapanya."permisi pak".Yah, semenjak dia menjadi direktur, aku selalu memanggilnya dengan sebutan bapak, karena biar bagaimana pun, dia adalah bos ku, dan sudah sepantasnya aku menghormatinya.Kaffa hanya menoleh , memandangku datar. "bapak masih kenal kan sama saya ?", pertanyaan yang sama saat aku menyapanya di perpustakaan dulu. Lagi-lagi dia hanya diam. "saya..."."kamu Kinar karyawan di kantor ini", katanya memotong ucapanku. "bukannya dulu sudah perkenalan kan. Ingatan saya masih cukup kuat untuk mengingat nama karyawan di sini", katanya dengan masih nada dingin."maksud saya..., dulu kita kan..". Aku ingin bilang kalo dulu kita satu kampus. Tapi lift sudah keburu terbuka. Aku mengikuti Kaffa di belakang. "pak Kaffa...".Aku langsung berhenti saat Kaffa balik melihatku. "sepertinya nggak ada hal penting yang ingin kamu bicarakan sama saya. Jadi kenapa terus ngikutin saya ?"."maaf pak, saya hanya....".Belum selesai ngomong Kaffa langsung pergi. Astaga, sampai kapan dia akan terus bersikap seperti ini...***Malam itu aku baru saja selesai bekerja. Aku memang sengaja lembur karena banyak pekerjaan yang harus aku selesaiin. Aku terpaksa menunggu di lobi karena hujan turun dengan deras. Aku juga tidak punya payung, makanya aku lebih memilih menunggu hujannya reda.Tiba-tiba Kaffa juga keluar. Dia memegang sebuah payung. Dan sepertinya sudah siap untuk melintasi hujan. "maaf pak ", aku mendekati Kaffa. "saya boleh minjam payungnya nggak kalo bapak sudah selesai ?"."saya kan mau pulang, jadi saya harus bawa payung ini"."saya tau. Begini saja pak, saya antar bapak pake payung itu sampai di mobil bapak, setelah bapak masuk, saya ambil payungnya. Saya janji akan kembalikan besok". Sepertinya Kaffa berpikir sejenak."ya sudah". Aku tersenyum. Baru kali ini dia mau menolongku. Aku dan Kaffa lalu menuju ke mobilnya sambil membawa payung. Yah, kalo dibilang aku memang dekat sekali dengannya saat berjalan ditengah hujan.Sesekali aku memandangnya. Tapi seperti biasa, pandangan dia hanya ke depan terus tanpa sedikit pun melirik aku. Setelah kami sampai di mobil Kaffa. "sini biar saya pegang pak. Bapak masuk aja ke mobil". Kaffa langsung masuk ke mobilnya.Tiba-tiba aja dia membuka kaca pintu mobilnya. "saya janji akan mengembalikannya besok. Makasih sebelumnya pak". Saat aku ingin pergi.."Kinar tunggu..". Aku lalu balik. "lebih baik kamu naik ke mobil saya. Saya antar kamu sampai rumah". Aku bener-bener terkejut mendengarnya, tidak menyangka Kaffa menawari aku untuk diantar."tidak usah pak. Nanti saya naik kendaraan lain saja. Jalur kita kan berbeda"."nggak apa-apa. Lagian ini kan sudah hampir larut malam. Hujan lagi. Sepertinya sudah tidak ada kendaraan yang lewat".Dalam hati, aku seneng sekali, tapi aku juga bingung dengan sikap Kaffa. Akhirnya aku naik saja ke mobilnya."rumah kamu apa masih yang dulu"."iya pak". Kaffa lalu menyetir mobilnya.Tapi tunggu..., kenapa dia bisa tau rumah aku. Dia kan nggak pernah pergi sebelumnya."kok bapak bisa tau rumah saya ? Saya kan nggak pernah ngasih tau. Bapak juga nggak pernah datang sebelumnya". Aku bisa melihat raut wajah Kaffa berubah seketika."sa..saya ngeliat data kamu di kantor", katanya agak sedikit terbata.Sebenarnya aku masih bingung dengan jawaban Kaffa. Yah, akhirnya aku memutuskan untuk diam saja. Mobil jadi sunyi, hanya suara gemuruh hujan yang terdengar. Aku dan Kaffa sama-sama memandang ke depan tanpa melirik satu sama lain. Pikiranku bener-bener berkecamuk.Setelah sampai, hujan juga sudah mulai reda. "makasih pak udah nganter. Saya turun dulu. Hati-hati di jalan". Aku lalu turun dari mobil. Setelah itu Kaffa pulang tanpa mengatakan apa-apa. Sepertinya aku harus benar-benar melupakan Kaffa. Aku yakin, tadi dia mengantarku hanya karena kasihan. Yah, setidaknya Kaffa masih punya belas kasihan terhadapku.Yah, aku sudah memutuskan untuk tidak memikirkan Kaffa lagi. Aku terus fokus pada pekerjaanku. Bahkan aku sengaja membawa makanan siang di ruanganku. Aku berencana untuk tidak keluar-keluar ruangan saat istirahat. Karena bisa saja aku tidak sengaja berpapasan dengan Kaffa . Makanya aku hanya dimeja kerjaku sampai pulang. Teman-teman kerjaku merasa heran dengan sikapku. Bahkan kalo ada berkas yang tidak terlalu penting ingin aku kumpul, aku hanya menitipkannya."Kinar, kok kamu aneh banget sih akhir-akhir ini ? Jarang banget keluar", tanya teman kerjaku."nggak apa-apa". Hanya itu yang kujawabkan ketika ada yang bertanya......***Waktu itu aku disuruh masuk ke ruangan Kaffa untuk memberikannya berkas penting. Terpaksa aku masuk karena tidak bisa juga menolak.Aku mengetuk pintu ruangan Kaffa berulang kali, tapi tak ada yang menyahut. Akhirnya kuberanikan diri membukanya.Setelah aku membuka pintu.....Astaga, aku melihat Kaffa di lantai memegang perutnya seperti sedang kesakitan. Dia berkeringat dingin. Sepertinya dia berusaha ingin mengambil sesuatu di meja kerjanya. Aku bener-bener kaget."pak Kaffa...".Aku langsung lari mendekati Kaffa. Wajahnya bener-bener pucat."pak Kaffa kenapa ? Pak Kaffa sakit ? Saya bawa ke dokter yah pak. Sebentar saya panggil...", saat aku ingin berdiri, Kaffa tiba-tiba memegang tanganku. Dia menggeleng, memberikan isyarat agar aku tidak memanggil siapa-siapa. "am..ambilkan", katanya terbata-bata. "apa pak ?". Dia menunjuk ke meja kerjanya. "apa yang harus saya ambilkan ?", aku juga sangat cemas melihat keadaan Kaffa. "di.. di laci". Aku langsung ke meja kerja Kaffa membuka lacinya ."o..bat", katanya lagi. Iya, aku menemukan banyak obat. Akhirnya aku membawa semuanya pada Kaffa. Dengan segera, dia memakan semua obat itu. Aku langsung mengambil air diatas meja, kemudian memberikannya pada kaffa untuk diminum.Setelah itu, tiba-tiba saja Kaffa langsung membaik. Kelihatannya perutnya sudah tidak sakit lagi. Meskipun keringatnya masih bercucuran."pak Kaffa baik-baik saja ? Apa perlu saya bantu pak Kaffa pergi ke dokter"."nggak usah. Lebih baik kamu keluar aja sekarang. Simpan berkas itu diatas meja"."tapi tadi pak Kaffa kenapa ? Saya bisa lihat pak Kaffa begitu kesakitan. Apa pak Kaffa sakit ?"."kamu nggak usah banyak nanya, lebih baik kamu keluar sekarang !", ucapnya tegas."tapi pak..., saya.."."keluarrr...!!", bentaknya dengan suara tinggi. Aku langsung kaget dan ingin menangis saat dibentak. Tentu saja, aku yang tadi begitu khawatir melihat keadaannya, tiba-tiba saja dibentak disuruh keluar. Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Aku takut campur bingung melihat Kaffa. Aku langsung berlari keluar. Aku nggak tau keadaan Kaffa setelah itu. Hati aku bener-bener sakit saat dibentaknya. Apa karena aku masih punya perasaan untuknya..?***Saat itu aku baru saja menjenguk teman kerja aku yang baru saja melahirkan di rumah sakit.Saat aku ingin pulang, tiba-tiba saja aku berpapasan dengan pak Randy yang kelihatan panik menemani seseorang yang berbaring di kasur rumah sakit yang didorong oleh para suster dan bersama seorang dokter.Ketika semakin dekat....Astaga itu kan Kaffa yang sedang diimpus. Aku sangat kaget. Tiba-tiba saja mata kami bertemu. Kaffa seperti kaget melihat aku. Kami saling memandang cukup lama sampai akhirnya aku tidak bisa melihatnya karena dibawa masuk ke ruangan UGD.Aku masih terpaku di tempat, berharap itu hanya mimpi. Tapi itu emang kenyataan. Aku langsung mengingat kejadian tadi pagi. Apa ini ada hubungannya dengan rasa sakit yang dialami Kaffa tadi pagi di ruangannya. Aku semakin cemas, pikiranku berkecamuk. Akhirnya aku menghampiri pak Randy yang sedari mondar-mandir di depan kamar rawat Kaffa. Sepertinya beliau juga sangat cemas."maaf pak..". Aku masih bisa melihat Kaffa dari jendela terbaring di dalam. Kaffa sempat melirik ke arahku. Tapi aku langsung memalingkan wajahku melihat pak Randy, berharap penjelasan darinya tentang kondisi Kaffa."Kinar ? Apa yang kamu lakukan disini ?". Sepertinya pak Randy terkejut melihatku."saya kebetulan jengukin teman pak. Dan saya lihat bapak di sini beserta pak Kaffa yang dirawat. Kalo boleh saya tahu, pak Kaffa sakit apa yah pak ? Yang pastinya ini mungkin bukan kecelakaan. Karena saya tidak melihat luka dibagian tubuh pak Kaffa ?"."Kaffa memang tidak kecelakaan. Dia..."."dia kenapa pak ?". Sepertinya pak Randy berat untuk mengatakannya."pak Kaffa kenapa pak ? Apa dia sakit ? Sakit apa ?", tanyaku cemas campur penasaran."dia mengidap kanker.., kanker lambung..".Bagaikan petir disiang bolong yang langsung menyambarku saat mendengar perkataan pak Randy. Tiba-tiba saja semua tubuhku langsung lemas.Untungnya aku segera bersandar di dinding."pak Randy pasti bercanda ?"."tidak. Kaffa sudah divonis mengidap penyakit ini 4 tahun yang lalu. Saat dia masih kuliah di jogja. Karena bapak ingin terus memantau keadaan dia, makanya bapak menyuruh Kaffa pindah kuliah ke Jakarta. Jadi bapak bisa menemaninya. Tidak tahu kenapa, akhir-akhir ini keadaannya mulai drop lagi", kata pak Randy dengan nada sedih. Sebenarnya aku ingin menangis, tapi aku berusaha menahannya. Aku lalu berpikir, apa karena penyakit Kaffa makanya dia selalu cuek dan bersikap dingin selama ini.....?Setelah dokter keluar dari ruangan. Aku minta izin pada pak Randy untuk masuk ke dalam. Akhirnya pak Randy mengizinkanku...Kaffa masih terbaring. Aku berjalan pelan mendekati Kaffa. Tanpa kusadari air mataku menetes.Saat Kaffa melihatku, aku langsung mengusap air mataku. Aku nggak mau Kaffa curiga melihatku menangis. Mana mungkin karyawan biasa sepertiku menangis melihat direkturnya yang sedang terbaring sakit. Pasti Kaffa akan berpikiran seperti itu.."kamu ngapain disini ?", katanya dengan masih nada dingin."saya..., saya hanya ingin lihat keadaan pak Kaffa"."sekarang kamu udah liat aku kan. Apa sekarang kamu mau menertawai aku. Orang yang selama ini kamu lihat selau cuek, dingin dan sombong kayak aku ternyata hanya seorang yang berpenyakitan, dan nggak akan hidup lama lagi"."kenapa pak Kaffa ngomong kayak gitu ? Apa bapak pikir saya seneng dengan keadaan bapak seperti sekarang ? Apa pak Kaffa selalu menilai negatif tentang saya ? Apa pak Kaffa begitu membenci saya ?". Tanpa kusadari air mataku jatuh lagi. Dengan segera aku mengusapnya."saya tahu pak Kaffa bukan orang yang sombong. Alasan bapak bersikap cuek dan dingin selama ini hanya karena penyakit bapak kan ? Tapi mengapa bapak selalu menghindari dan menjauhi saya. Kenapa bapak berpura-pura tidak mengenal saya di kantor. Padahal kita satu kampus dulu. Kasih tau saya alasannya, apa yang membuat pak Kaffa membenci saya ?".Kaffa menatapku lembut. Tatapan dinginnya telah hilang. "aku nggak pernah membenci kamu Kinar. Aku sama sekali nggak pernah bermaksud untuk menjauhi kamu"."terus kenapa selama ini......"."aku selalu menghindar dan menjauhi kamu karena penyakit aku", potong Kaffa."itu nggak masuk akal. Mana mungkin hanya karena penyakit yang pak Kaffa derita, pak Kaffa menjauhi saya. Padahal pak Kaffa jelas-jelas tau, kalo dulu saya selalu berusaha mendekati bapak"."justru karena itu, aku nggak mau kalo kita dekat. Karena itu hanya akan membuat aku menderita"."maksud bapak ?"."aku.......Sebenarnya sudah sejak lama aku menyukai kamu Kinar. Aku selalu menjauhi kamu agar aku bisa melupakan kamu. Aku nggak mau jatuh cinta sama kamu. Karena biar bagaimanapun, aku nggak akan bisa membahagiakan kamu. Hidup aku nggak akan lama lagi. Aku.........".Aku langsung memeluk Kaffa sebelum dia ngomong lagi."Kinar kamu..."."aku nggak peduli. Aku nggak peduli kalo kamu sakit atau apa. Yang penting jangan menjauhi aku, jangan hindarin aku. Bukan dokter yang menentukan kapan kamu mati tapi tuhan."."tapi kamu pasti tau kalo penyakit aku ini mematikan. Sewaktu-waktu keadaan aku bisa saja langsung drop kayak tadi"."aku nggak peduli. Asal kamu tau, aku bener-bener tulus mencintai kamu. Aku nggak peduli kamu sakit atau apa "."apa kamu bilang ? Kamu cinta sama aku ?".Aku mengangguk."aku sudah jatuh cinta sama kamu sejak lama, saat kita masih kuliah dulu. Saat aku ingin dekat sama kamu, kamu selalu aja menghindar dan menjauhi aku. Aku kira kamu membenci aku"."ini yang aku nggak inginkan kinar. Kamu seharusnya nggak mencintai aku. Aku bukan orang yang pantas kamu cintai, aku nggak mungkin selamanya menemani kamu"."Kaffa, aku nggak peduli itu semua. Yang aku butuhkan sekarang hanyalah cinta tulus dari kamu. Aku menerima keadaan kamu apa adanya. Aku akan selalu menemani kamu untuk melawan penyakit kamu. Aku yakin pasti kamu bisa. Kamu harus mengalahkan penyakit ini. Janji sama aku ?".Kaffa langsung memelukku. "aku janji, demi kamu aku akan bertahan. Demi kamu aku akan mengalahkan penyakit ini. Aku ingin segera sembuh agar aku bisa menjaga dan membahagiakan kamu. Aku sayang sama kamu Kinar"."aku juga Kaffa"."maafin sikap aku selama ini yah sama kamu. Apa yang aku lakuin semata-mata hanya tidak ingin membuat kamu menderita"."tapi sekarang aku mau kamu harus terus jujur sama aku. Ceritain semuanya tanpa ada dirahasiain"."iya aku janji", jawab Kaffa tersenyum, kemudian mencium keningku.The End

Not Her, but You
Teen
22 Jan 2026

Not Her, but You

Nasya's pov"Gue udah peringatin sama loe kan sebelumnya, kalo loe berani nyakitin Misya loe bakalan berhadapan sama gue !!!"."Loe itu emang cewek terjahat yang pernah gue kenal ! Gue heran, emangnya salah Misya apa sih sama loe, sampai-sampai loe tega nyakitin dia terus, hah !!!".Kata-kata Elang terngiang terus dibenakku. Nggak pernah ada sebelumnya orang yang ngatain aku cewek jahat. Dan yang lebih menyakitkan saat dia datang-datang langsung nampar aku di depan semua teman-teman.Dia juga mengatai-ngataiku dengan kasarnya.Karena tidak ingin terlihat lemah, aku berusaha menahan air mataku.Aku nggak tau kenapa Elang selalu berpikiran aku nyakitin Misya. Meskipun Misya hanya saudara tiriku, aku nggak mungkin nyakitin dia. Nggak kayak mama yang memang dari awal nggak menyukai Misya.Sejujurnya, sejak pertama kali aku ngeliat Elang, aku langsung suka sama dia. Tapi ternyata Elang gak suka sama aku. Dia hanya merhatiin Misya terus. Belum lagi dia nganggap aku saudara tiri yang jahat.Aku sadar, dibandingkan denganku Misya jauh lebih cantik dan feminim.Aku ?Banyak orang yang ngatain aku tomboy. Dan aku akui penampilanku memang tidak feminin seperti Misya.Waktu itu Misya terjatuh dari tangga. Aku yang melihatnya tentu saja kaget dan langsung menghampirinya bermaksud membantunya. Namun lagi-lagi Elang salah paham sama aku dengan mengira aku yang menyebabkan Misya jatuh.Bahkan tanpa bertanya, dia langsung menuduhku.Aku sebenarnya ingin menjelaskan, tapi dia keburu pergi sambil menggendong Misya.Dan itu bukan pertama kalinya Elang menuduhku.Dia bahkan menghasut teman-teman sekelas membenciku karena menganggap aku jahat pada Misya.***Author's pov"Nasya sama sekali nggak salah lang. Justru dia yang nolong aku saat jatuh", jelas Misya pada Elang."Mungkin aja itu cuma akal-akalan dia aja. Dia sengaja yang membuat kamu jatuh, terus pura-pura nolongin kamu", balas Elang dengan mimik wajah kesal.Misya menggeleng."Nasya nggak kayak gitu. Dia adalah saudara yang baik meskipun hanya saaudara tiri. Mungkin alasan kamu membenci Nasya karena mengira dia selalu menyakiti dan berbuat jahat sama aku. Tapi nggak lang. Justru Nasya selalu bantuin dan nolongin aku. Apalagi kalo mama nyakitin aku"."Mereka kan ibu dan anak kandung. Jadi bisa aja kan mereka bersekongkol", sahut Elang masih dengan kekeraskepalaannya. Dia selalu meyakinkan dirinya bahwa Nasya adalah cewek jahat."Aku nggak tau kenapa kamu terlalu berpikiran negatif sama Nasya. Tapi emang itulah kenyataannya. Nasya sangat berbeda dari mama Elsa. Meskipun Nasya agak cuek, tapi sebenarnya dia baik banget. Kamu percaya deh sama aku lang. Aku cuma nggak mau kamu terlalu jauh salah paham sama Nasya yang jelas-jelas nggak salah".Kali ini Elang hanya terdiam mendengar perkataan Misya. Dia memikirkan baik-baik apa yang Misya katakan tentang Nasya.***Nasya dan Misya memang sudah menjadi saudara agak lama. Waktu itu papa Misya menikahi mama Nasya setelah 2 bulan kematian istrinya. Awalnya Misya sangat senang saat tahu mama Nasya akan menjadi ibu tirinya, karena sebelum mamanya meninggal, mama Nasya sering datang ke rumahnya untuk sekedar beramah tamah ataupun mengantarkan makanan karena mereka bersebelahan rumah. Bedanya, kalau keluarga Misya bisa dikatakan kaya raya, maka keluarga Nasya dikatakan hidup sederhana.Demi membantu mamanya, Nasya harus kera part time di sebuah cafe. Bahkan meskipun mamanya sudah menikah dengan papa Misya, dia tetap kerja part time karena tidak ingin terlalu bergantung dengan keluarga Misya.Mereka, Nasya dan Misya mengenal Elang saat mereka pindah sekolah. Keduanya sama -sama tertarik pada Elang saat pandangan pertama. Namun tentu saja Elang lebih tertarik pada Misya dibandingkan Nasya karena Misya lebih feminim. Meskipun tidak bisa dipungkiri kalau mereka sama-sama cantik. Penampilan tomboy Nasya lah yang membuat kecantikannya tidak terlalu tampak.Awalnya Nasya tentu merasakan sakit saat Elang dan Misya berpacaran. Namun dia berusaha melupakan perasaannya kepada laki-laki yang tidak mungkin meliriknya sama sekali, bahkan membencinya.Perasaan suka Nasya pada Elang hanya dirinya yang tahu. Dia selalu memendam perasaannya. Berbeda dengan Misya yang selalu curhat kepadanya tentang hubungannya dengan Elang.***Nasya's pov"Mama heran yah sama kamu. Kok bisa-bisanya sih kamu selalu belain Misya !", ucap mama saat masuk ke kamarku."Denger yah Nasya, Misya itu sudah merebut Elang dari kamu !!"."Ma cukup !! Emangnya kapan sih aku jadi milik Elang, sampai-sampai mama nganggap Misya ngerebut Elang dari aku. Dari dulu Elang memang hanya menyukai Misya. Dan dia hanya menganggapku sebagai musuhnya"."Justru mama yang sudah merebut kebahagiaan Misya. Semenjak kita masuk di rumah ini, Misya jadi menderita karena ulah mama !"."Berani yah kamu ngomong begitu sama mama kamu sendiri !!"."Karena kenyataannya emang kayak gitu ma !".Aku masih nggak ngerti dengan jalan pikiran mama. Dia udah dapetin apa yang dia mau, tapi masih aja serakah. Seharusnya mama bersyukur bisa dinikahin oleh papa Misya, tapi ternyata itu semua belum cukup membuat dia puas. Mama selalu aja memperlakukan Misya dengan tidak baik.Seandainya aja aku boleh memilih, lebih baik kami hidup miskin seperti dulu, daripada sekarang kaya, tapi membuat orang sengsara.Kapan mama bisa berubah ?Mama memang sangat terobsesi ingin menjodohkanku dengan Elang.Keluarga Elang dan keluarga papa Misya sudah lama saling kenal, bahkan sebelum aku dan mama jadi bagian keluarga Misya.Mama ngotot ingin menjodohkanku dengan Elang karena dia berasal dari keluarga kaya-raya. Dari dulu sampai sekarang, mama memang matre. Bahkan aku tau saat mama menerima lamaran papa Nasya, itu dikarenakan keluarga Nasya yang kaya.Keluarga Elang sebenarnya tidak menyukaiku dan mama. Aku bisa memperhatikan raut wajah tidak suka mereka saat keluarganya mengundang keluarga Misya makan malam. Mama Elang selalu memandangku dan mama dengan tatapan sinis.Mungkin saja Elang yang memberitahu mamanya kalau aku dan mama tidak memperlakukan Misya dengan baik.***Aku baru saja sampai di rumah, dan mendapati Elang dan Misya yang baru keluar dari rumah."Nasya, kamu kok baru pulang sih ? Tadi aku hubungi ponsel kamu tapi nggak aktif".Elang hanya diam seperti biasa saat kamu bertiga bersama. Karena dia nggak mungkin memaki aku di depan Misya.Tapi ada yang sedikit berubah. Matanya nggak lagi memandangku tajam. Malahan terlihat biasa-biasa aja."Aku tadi emang nggak ngaktivin ponselku", jawabku."Terus kamu dari mana aja, kok baru pulang ? Masih pake baju seragam lagi", tanyanya."Tadi ada keperluan sebentar", jawabku singkat."Oh kalo gitu cepet ganti baju gih. Aku, Elang sama papa mau pergi ke restoran Melati. Mama nggak bisa ikut karena nggak enak badan katanya. Papa juga masih ganti baju tuh. Kamu cepetan yah"."Kayaknya aku nggak usah ikut deh sya, kalian aja yang pergi", jawabku."Loh, kok gitu sih sya. Kamu juga harus ikut dong. Iya kan lang ?". Tanya Misya meminta persetujuan pada Elang.Sepertinya Elang sedikit terkejut saat namanya disebut Misya.Sedetik kemudian, dia hanya menganggukkan kepalanya."Aku beneran nggak usah ikut deh sya. Aku kan baru pulang, lagian aku juga agak capek. Jadi aku nggak usah ikut yah", kataku memelas.Tiba-tiba papa udah keluar dari rumah. "Loh Nasya, kamu sudah pulang. Ya sudah kamu ganti baju dulu sana baru kita pergi bareng"."Maafin Nasya pa. Nasya nggak bisa ikut kayaknya. Nasya agak capek, nggak apa-apa kan?" Jawabku."Yah, padahal ceritanya kita sekeluarga mau pergi bareng. Mama kamu tadi juga nggak bisa pergi karena nggak enak badan"."Lain kali aja yah pa Nasya ikut"."Ya sudahlah kalau begitu", jawab papa menghela napas pasrah.***Saat ingin memasuki kamar mama, aku mendengar mama berbicara dengan seseorang di ponselnya.....Aku tidak langsung masuk, melainkan menguping pembicaraannya yang terlihat serius.Beberapa menit kemudian , aku dikejutkan dengan pernyataan mama kepada si penelponnya di seberang sana.Bagaimana tidak, itu tentang kematian tante Arini, mama Misya.Bahkan aku sangat syok saat mendengar dari mulut mama sendiri kalau dia yang menyebabkan tante Arini meninggal agar bisa menikah dengan papa Misya dan menguasai hartanya.Sedetik kemudian, mama terkejut menyadari kehadiranku."Nasya ?"."Aku nggak nyangka mama bener-bener sejahat itu pada keluarga Misya", ucapku dengan menangis."Nasya, dengerin penjelasan mama dulu".Sebelum mendengar penjelasan mama, aku langsung berlari meninggalkan rumah sambil menangis tersedu-sedu.Aku terus berlari di jalan sampai tiba-tiba terbersit di pikiranku untuk menyusul papa Misya ke restoran Melati seperti yang disebutkan tadi.Aku langsung menyetop taksi yang lewat dan mengantarku ke restoran melati.***Sesampainya disana, aku yang masih menangis langsung menghampiri papa saat aku melihatnya bersama Misya dan Elang.Mereka begitu terkejut saat melihat penampilanku yang urak-urakan masih mengenakan baju seragam, ditambah lagi menangis dengan tersedu-sedu.Bahkan aku jadi bahan perhatian pengunjung restoran. Namun aku tidak memperdulikan mereka."Nasya, kamu kenapa ? Kok nangis ? Dan kenapa kamu bisa tiba-tiba ke sini, bukannya...""Papa...", aku langsung memotong ucapan papa.Sedetik kemudian, aku langsung bertekuk lutut dihadapannya sambil menggumamkan kata-kata maaf berulang kali."Nasya, ada apa sebenarnya ? Kenapa kamu minta maaf terus ? Ayo bangun dan cerita sama papa"."Iya sya, kamu kenapa sih". Misya jadi ikut cemas melihat keadaan aku.Setelah menarik napas dengan panjang, aku memberanikan untuk menceritakan semuanya pada mereka tentang mama yang terlibat dengan kematian tante Arini.Mereka langsung syok. Terutama Misya yang langsung oleng, untung saja Elang menahannya.Kemudian aku meminta pada papa agar mama mempertanggungjawabkan perbuatannya.Papa langsung menyetujui dan memintaku menjadi saksi.***Mama langsung dibawa oleh polisi begitu sampai di rumah.Mama meneriaki dan memaki-makiku saat tangannya diborgol. Katanya aku adalah anak yang tidak berguna karena menjerumuskan mamanya sendiri ke penjara.Aku hanya bisa menangis tersedu-sedu mendengar teriakan mama yang histeris.Aku tau aku berdosa membiarkan mama di penjara. Tapi disisi lain, aku tidak mau mama menjadi serakah, menikmati kekayaan papa Misya. Membiarkan Misya menderita karena ulah mama.***Papa masih membiarkan aku tinggal di rumahnya, begitupun Misya.Tapi aku cukup tau diri. Aku tidak ingin membebani keluarga ini karena kehadiranku. Aku ingin pergi dari rumah dan hidup sendiri.Tapi Misya tidak merelakanku pergi. Dia sudah menganggapku seperti saudara kandungnya. Betapa mulia hatinya.Akhirnya karena desakan darinya, aku mengalah untuk tetap tinggal. Setidaknya bagiku untuk sementara sampai keadaan lebih membaik. Karena nantinya aku bener-bener ingin meninggalkan rumah ini.***Sikap Elang juga akhir-akhir ini berubah. Dia lebih banyak diam entah kenapa.Setidaknya dia tidak lagi menatapku tajam seperti dulu. Malahan tatapannya sangat datar setiap kami bertemu.Dari raut wajahnya, dia seperti ingin mengatakan sesuatu setiap kami bertemu. Namun tidak pernah ada yang keluar sama sekali.Aku ?Semenjak kejadian itu, sikapku semakin cuek daripada biasanya kecuali pada papa dan Misya. Aku juga jarang tersenyum pada orang-orang.***Saat itu aku mendengar Misya menangis terisak karena Elang kecelakaan ditabrak mobil.Aku yang sedang bekerja di restoran tentu saja terkejut. Sedetik kemudian, aku langsung menyusul ke rumah sakit.Biar bagaimanapun, aku tetap harus menemani Misya disaat dia bersedih.Sesampainya aku di rumah sakit, keadaan Elang masih kritis. Dia kehilangan banyak darah.Untung saja ada papanya yang mendonorkan darah untuknya. Namun ternyata, itu belum cukup.Misya dan papa juga ikut tes darah namun tidak cocok. Akhirnya aku merelakan diri untuk tes darah.Aku tidak menyangka ternyata golongan darahku cocok dengan Elang. Jadilah aku mendonorkan darah untuknya.***Meskipun Elang sudah melewati masa kritis, namun dia belum menyadarkan diri.Bahkan sebelum dia sempat sadar, aku sudah pergi meninggalkan kota ini.Sebelum Elang kecelakaan, aku memang sudah membicarakan perihal kepindahanku pada papa dan Misya.Aku mempunyai saudara jauh di luar kota. Jadi aku putuskan untuk pindah dan melanjutkan sekolah disana.Awalnya papa dan Misya tidak setuju. Namun setelah aku memohon berkali-kali, akhirnya mereka setuju juga.Kalau boleh jujur, aku sebenarnya memang ingin menghindari keluarga ini. Bukan karena tidak suka, hanya saja perbuatan jahat mama membuatku enggan untuk tinggal berlama-lama di rumah papa. Aku sebagai anak mama tentu merasa malu.Makanya itu, setelah berpikir matang-matang aku putuskan untuk menjauh dari orang-orang terdekatku sekarang.Karena aku yakin waktu bisa menyembuhkan keadaan, meskipun tidak akan sama lagi.***7 tahun kemudianAkhirnya aku kembali lagi ke Jakarta karena pekerjaan menuntutku disana.Sebelum kembali ke kota yang pernah kutinggali 7 tahun yang lalu, aku memang sudah terlebih dahulu menghubungi papa dan Misya.Selama tinggal di luar kota, aku memang terkadang berkomunikasi jarak jauh dengan papa ataupun Misya.Saat mengetahui aku akan kembali ke Jakarta, papa dan Misya malahan menyuruhku tinggal di rumah mereka. Tapi aku menolak dan lebih memilih tinggal di rumahku sendiri.Meskipun sederhana aku tetap bahagia karena rumah itu aku beli dengan hasil jerih payahku sendiri.***"Kita mau ke mana sih Misya ?", tanyaku saat kami sedang di dalam taksi.Yah, aku sudah tinggal di kota ini selama seminggu.Saat memiliki waktu luang, tiba-tiba Misya mengajakku makan malam di restoran bersama seseorang. Tapi dia belum memberitahu identitas orang itu.Kami langsung masuk setelah sampai.Dari kejauhan aku bisa melihat orang yang dimaksud Misya dari belakang.Elang ?Saat kami menghampirinya, aku bisa melihat raut wajah Elang terkejut melihatku.Aku harap dia tidak membenciku lagi.Misya tersenyum senang saat mempertemukan kami.Untuk mencairkan suasana yang sempat tegang, aku langsung mengulurkann tanganku untuk menyapa Elang. Hanya sekedar berlaku sopan.Dan saat kami bersalaman, aku bisa melihat kecanggungan diantara kami.Kami bagaikan orang yang baru saling mengenal.Untung saja ada Misya yang selalu mencairkan suasana dengan candaannya.Oh yah, aku juga tidak lupa memberikan selamat atas pertunangan mereka.Mereka memang sudah bertunangan sekitar 1 tahun yang lalu, namun aku tidak sempat hadir karena pekerjaan.Dan yang aku dengar dari Misya, tidak lama lagi mereka akan melangsungkan pernikahan.Semoga mereka bahagia.Saat kami akan pulang, Elang menawarkan mengantarku pulang bersama Misya. Namun aku menolak dan lebih memilih naik taksi.Bukan apa-apa, hanya saja aku merasa risih dan tidak enak hati berada diantara mereka.Alias jadi obat nyamuk.***Hari-hari yang kujalani semenjak tinggal di Jakarta memang tidak seperti di luar kota dulu.Mungkin saja karena aku sudah kembali berbaur dengan orang-orang dari masa laluku.Tapi untuk mengusir kepenatan itu, aku sibukkan diri dengan pekerjaanku.Bagiku, pekerjaan adalah sarana untuk melupakan keadaan sekitar untuk sejenak.Saat ingin pulang dari kantor tempatku bekerja, tiba-tiba aku tidak sengaja bertemu dengan Elang.Dia sepertinya sudah mulai ramah terhadapku. Buktinya dia menawariku untuk diantar.Tapi tentunya aku menolak.Entah kenapa aku selalu ingin menghindar darinya.***Bahkan bukan waktu itu saja, dia sudah beberapa kali menawariku tapi selalu kutolak.Entah kenapa, aku sering bertemu dengannya akhir-akhir ini."Kenapa sih kamu selalu nolak setiap aku mau antar pulang, sya ?", tanyanya saat aku bertemu lagi dengannya."Apa pacar kamu marah kalo aku antar pulang ?", lanjutnya sopan."Nggak kok. Lagian kan aku udah biasa naik kendaraan umum kalo pulang. Selain itu, arah kita kan juga beda"."Jadi bukan karena pacar kamu marah ?", tanyanya lagi.Aku menggeleng. "Ngapain juga pacar aku harus marah. Orang punya pacar aja nggak", jawabku tersenyum tipis.Entah kenapa perasaanku saja atau tidak melihat tatapan aneh Elang saat menyebut kata 'pacar'."Kalo gitu aku nggak nerima alasan penolakan kamu cuma karena kita beda arah. Sekali-kali nggak apa-apa kan kalo antar kamu", sahutnya.Karena dipaksa beberapa kali, akhirnya aku pasrah saja diantar oleh Elang.Selama aku mengenalnya, ini pertama kalinya aku melihat senyuman tulus di wajahnya.***Waktu itu papa dan Misya mengajakku ke rumah keluarga Elang untuk makan malam karena diundang. Aku sudah menolak, tapi Misya begitu ngotot memaksaku. Akhirnya aku mengiyakan saja.Saat sementara kami makan malam, aku bisa melihat tatapan kebencian dimata mama Elang untukku.Aku tau, dari dulu dia memang tidak pernah menyukaiku.Rasanya aku ingin cepat pergi dari rumah ini.Semakin lama pembicaraan mereka mengarah ke pernikahan Elang dan Misya yang ingin dilangsungkan secepatnya.Tapi yang membuatku heran, kenapa mimik wajah Elang seperti tidak suka saat membicarakan hal itu. Sedangkan Misya begitu antusias.Bukankah Elang seharusnya bahagia karena sebentar lagi akan menikah dengan Misya, gadis yang dicintainya.Karena sudah jenuh duduk terlalu lama, aku pura-pura menanyakan toilet untuk menghindar dari mereka.Bukannya ke toilet, aku malah ke halaman belakang.Aku menemukan kolam renang, dan memutuskan untuk duduk dipinggir dan merendam kakiku disana.Tidak lama kemudian, aku dikagetkan dengan kehadiran Elang yang duduk disampingku."Kamu ngapain disini ?", tanyanya."Aku....cuma cari angin", bohongku."Emangnya nggak terlalu dingin apa disini ?".Aku hanya menggeleng.Tidak lama kemudian."Nasya, kamu ikut aku deh", ucapnya tiba-tiba.Sebelum aku sempat menjawab, dia sudah duluan menarik tanganku ke suatu tempat yang tidak terlalu jauh dari kolam renang itu.Tempat ini bisa dibilang seperti taman mini. Banyak bunga-bunga disekelilingnya. Di tengahnya ada ayunan untuk dua orang.Sedetik kemudian, Elang langsung menggenggam tanganku dengan lembut."Aku mau jujur sama kamu sya", ucapnya dengan nada serius.Aku mengernyit bingung menatapnya."Aku cinta sama kamu", lanjutnya kemudian.Aku membulatkan mataku terkejut mendengar ucapannya.Namun lagi-lagi dia mengulang ucapannya.Tentu saja aku nggak percaya. Aku menganggap Elang hanya bercanda mengatakannya.Saat aku ingin meninggalkannya, dia menahan tanganku. Dia mengataakan kalau ucapannya serius tidak main-main.Itu impossible.Mana mungkin Elang yang selama ini mencintai Misya tiba-tiba bilang cinta sama aku."Asal kamu tau sya, perasaan ini sudah ada semenjak 7 tahun yang lalu. Bahkan sebelum kamu donorin darahmu untukku. Aku terlalu malu untuk ngungkapin perasaan ini mengingat perbuatanku yang keterlaluan sama kamu", sahutnya."Ketika aku siuman dan mengetahui kamu sudah pergi, aku bener-bener menyesal telat mengatakannya, ditambah lagi saat aku tahu kamu yang donorin darah untukku", lanjutnya."Aku sadar kalo perasaanku pada Misya hanya kekaguman saja. Gadis yang bener-bener kucintai adalah kamu sya. Bukan Misya tapi kamu".Aku bener-bener syok mendengarnya."Kamu tau, aku sudah berusaha mencarimu selama ini, tapi aku tidak mendapat petunjuk. Bahkan kata Misya, kamu nggak memberitahunya daerah tempat tinggalmu"."Aku sangat bahagia saat tiba-tiba kita dipertemukan. Dan aku sudah bertekad saat kita pertama bertemu tidak akan melepaskan kamu lagi. Aku nggak mau kehilangan kamu untuk yang kedua kalinya. Aku bener-bener sayang sama kamu Nasya".Aku menggeleng."Kamu bohong lang. Aku nggak percaya sama kamu. Nggak seharusnya kamu ngomong kayak gini. Ini sama saja kamu menghianati cinta Misya"."Tapi Nasya...".Aku langsung lari meninggalkan Elang masuk ke rumah sebelum dia melanjutkan ucapannya.Kejadian ini bener-bener diluar dugaanku. Elang yang dulu begitu membenciku, tiba-tiba saja bilang cinta kepadaku.Terus apa arti hubungannya dengan Misya selama ini ?Bukankah mereka sudah bertunangan dan akan menikah sebentar lagi ?Meskipun aku masih memiliki perasaan pada Elang, tapi nggak ada niatku sedikit pun untuk menghancurkan hubungan mereka. Aku tidak ingin menyakiti Misya.Sudah cukup mama yang menghancurkan keluarga Misya. Nggak perlu ditambah lagi denganku.***Aku sudah tau ternyata saat makan malam waktu itu, mereka membicarakan pernikahan Elang dan Misya yang dilangsungkan 3 minggu ke depan.Dan aku berencana tidak ingin menghadirinya.Tuhan mengabulkan doaku.Tepat di hari pernikahan mereka, tiba-tiba saja aku dapat tugas ke luar kota dari bosku di kantor untuk waktu yang sangat lama. Dan mungkin ini memang kesempatan buatku untuk lagi-lagi menghindar dari mereka, terutama Elang.Semenjak kejadian di rumahnya, dia sering menemuiku. Tapi aku selalu mengambil alasan menghindar darinya."Kok kamu gitu sih sya. Ini kan hari penting dalam hidupku. Masa saudaraku sendiri nggak bisa hadir sih", rengek Misya saat aku menelponnya."Aku bener-bener minta maaf sya. Pekerjaanku bener-bener mendesak. Meskipun aku nggak hadir, tapi aku selalu mendoakan kebahagiaan kamu bersama Elang".Akhirnya setelah kubujuk cukup lama, Misya merelakan juga aku ke luar kota.Syukurlah..***Aku berjalan di bandara sambil menenteng satu koper besar.Sesekali aku celingak-celinguk ke belakang seperti menunggu seseorang.Dalam hati aku berharap Misya dan Elang akan hidup bahagia. Semoga pernikahan mereka lancar hari ini.Semoga saja keputusanku sudah benar.Saat aku kembali melangkah, tiba-tiba aku mendengar seseorang meneriakkan namaku dari belakang."Nasya.............!!"Aku sangat terkejut ketika aku berbalik melihat Elang berlari ke arahku diikuti oleh Misya, papa dan orang tua Elang di belakang."Kamu mau ninggalin aku lagi ?", tanya Elang begitu didepanku."Elang, kamu kok ?"."Aku kan udah bilang sama kamu, aku nggak mau kehilangan kamu yang kedua kalinya".Aku masih terkejut melihat mereka disini. Kemudian aku melirik ke arah Misya. Dia hanya tersenyum sambil mengangguk."Misya udah tau semuanya kalo aku hanya mencintai kamu".Aku membulatkan mataku terkejut."Jadi jangan pergi dari aku", lanjutnya.Elang melepaskan koper yang ada digenggamanku. "Aku bener-bener cinta sama kamu sya. Aku tau sikap aku dulu memang sangat kasar dan keterlaluan sama kamu. Tapi kamu harus tahu kalo itu adalah penyesalan terbesar dalam hidupku", katanya sendu."Aku bener-bener nggak ngerti deh, bukannya ini hari pernikahan kamu sama Misya, tapi kok...""Aku sengaja batalin pernikahanku sama dia", potongnya."Awalnya aku ingin batalin saat kamu datang. Tapi kata Misya kamu akan berangkat ke luar kota hari ini. Makanya aku langsung ke sini". Lanjutnya."Kamu kenapa jahat banget sama Misya, lang ? Misya itu sangat mencintai kamu. Dan dengan teganya kamu batalin pernikahan ini"."Kalaupun pernikahan ini berlanjut, aku juga nggak akan bisa bahagiain Misya. Justru akam semakin membuatnya menderita kalo tau selama ini aku nggak mencintai dia, melainkan mencintai saudaranya yaitu kamu".Aku terdiam mendengar ucapan Elang.Tiba-tiba Misya menghampiriku."Elang bener-bener mencintai kamu sya", katanya dengan nada biasa. Bahkan tidak ada raut kesedihan di wajahnya."Misya, Elang, kalian jangan bercanda deh. Ini semua nggak lucu tau"."Kami nggak bercanda Nasya", sahut Elang."Sebenarnya aku udah dengar pembicaraan kamu dan Elang saat malam itu. Dan semenjak itu, aku jadi tau kalo gadis yang dicintai Elang itu kamu, bukan aku".Astaga, jadi Misya udah lama tau."Maafin aku Misya, aku nggak bermaksud merebut Elang dari kamu. Kamu tenang aja, aku sama Elang nggak ada apa-apa kok, aku.....""Sya, kamu nggak perlu minta maaf. Kamu nggak salah. Perasaan itu nggak bisa dipaksain. Mulai sekarang aku sama Elang cuma temenan kok. Bahkan mungkin aja sebentar lagi kami akan jadi saudara ipar", katanya tersenyum.Aku membulatkan mata terkejut."Aku bener-bener rela kok kamu bisa bersama dengan Elang. Elang itu sebenarnya baik dan perhatian meskipun dulu dia sempat kasar sama kamu. Aku yakin kamu akan bahagia bersamanya".Misya lalu meninggalkan kami berdua.Elang kembali menggenggam tanganku. "Percaya sama aku sya kalo aku bener-bener mencintaimu".Aku masih menatap Elang seperti tidak percaya akan semua ini."Sya, kamu dengerin aku kan. Apa yang harus kulakukan agar kamu percaya sama aku ?"Aku menggeleng. "Aku percaya sama kamu. Cuman aku......aku masih ragu", kataku menunduk."Ini terlalu cepat buat aku menerima semuanya", lanjutku."Aku ngerti. Kita bisa mulai hubungan ini secara perlahan. Aku nggak akan maksain kamu nikah sekarang. Kita coba pacaran dulu sebelum memutuskan ke jenjang yang lebih serius"."Terus bagaimana dengan keluarga kamu ? Aku tau mama kamu nggak suka denganku"."Kamu tenang aja, keluarga aku nggak ada masalah kok. Mereka selalu ngedukung keputusan aku. Sama seperti aku dulu, mama hanya salah paham sama kamu"."Aku ingin menjalani hari-hariku denganmu. Dan aku akan mencintai kamu selamanya sampai ajal memisahkan kita. Kamu percaya kan ?"Aku hanya mengangguk.Bagiku ini terlalu tiba-tiba. Tapi jujur, aku sangat bahagia bisa dicintai oleh Elang, laki-laki yang juga memang aku cintai dari pertama bertemu sekitar 7 tahun yang lalu.The End

Malas to Panik
Teen
21 Jan 2026

Malas to Panik

Taufan lemas sekali hari ini. Matanya terasa berat, juga kakinya yang malas bergerak, membuatnya hanya bisa merebah dengan malas di atas sofa panjang di ruang tengah, ditemani televisi yang sudah menyala semenjak dia duduk di sana-menampilkan kartun kereta api yang bisa bicara.Lagipula, ia sedang puasa. Apalagi yang bisa ia lakukan selain bermalas-malasan sambil menunggu saudara-saudaranya pulang dari sekolah?Jangan salah paham. Dia sebenarnya baru saja pulang sekolah beberapa saat lalu, mendahului Halilintar dan Gempa yang masih berada di sekolah karena ekstrakurikuler mereka.Blaze dan Ice tidak tau ke mana. Tapi biasanya, kedua adiknya itu akan pergi bermain ke rumah teman mereka setelah pulang sekolah. Sedangkan Duri dan Solar baru saja pergi berbelanja bersama kedua orang tua mereka, mencari perbukaan-berburu takjil, tau lah.Taufan menghela napas panjang-entah untuk ke berapa kalinya-mengekspresikan betapa bosan dirinya yang hanya bermalas-malasan di sofa ruang tengah. Tangannya bergerak mengambil remot TV di atas meja, berniat mematikan TV dan pergi ke kamar untuk tidur.Setelah mematikan TV, kakinya melangkah malas menuju tangga untuk mencapai kamarnya yang berada di lantai dua. Mata Taufan terlalu berat sekarang, sampai pandangannya tidak fokus karena kantuk yang menyerang.Tubuhnya berjalan dengan sempoyongan, kadang tangannya terentang spontan untuk menjaga keseimbangan, berusaha agar tidak terjatuh sebelum sampai di kamar. Namun, sepertinya hari ini jadwalnya untuk mendapat kesialan.Kakinya menginjak genangan air yang berada di dekat tangga, membuat tubuhnya limbung dan langsung terjatuh dengan posisi miring di dekat tangga. Untungnya, Taufan berhasil memposisikan tubuhnya agar kepalanya tidak terbentur lantai. Jadi hanya bahu kanannya saja yang terasa sedikit nyeri karena menjadi tumpuan saat ia jatuh ke lantai."Aduh.." keluhnya malas. Tubuhnya terlalu malas untuk bergerak, jadi dengan kesadaran penuh, Taufan mencari posisi nyaman di lantai dan langsung memejamkan matanya dengan nyaman-Taufan tidur dalam keadaan tergeletak di depan tangga.▵▾▵▾▵▾▵Taufan mengernyitkan dahinya kala mendengar suara-suara yang tak asing memasuki indera pendengarannya. Matanya mengerjap pelan sebelum terbuka sepenuhnya."Kak Upan udah bangun!"Taufan mengernyitkan dahinya kembali setelah mendengar suara nyaring Duri di sebelahnya. Tangannya bergerak mengucek matanya kali ini, bersamaan dengan bibirnya yang menguap kecil, Taufan mengubah posisinya menjadi duduk.Setelah pandangannya kembali fokus, betapa terkejutnya dia melihat seluruh anggota keluarganya sedang mengerubunginya dengan tatapan khawatir-bahkan wajah datar Halilintar kini hilang, tergantikan dengan wajah paniknya yang terlihat begitu kentara."Kalian kenapa?" tanya Taufan. Matanya bergerak menghitung jumlah saudaranya."Ada yang sakit? Kepalanya masih pusing, gak? Mau langsung buka aja? Kakinya gak terkilir, kan? Atau ada lecet?" Pertanyaan beruntun dengan nada khawatir terdengar dari Halilintar. Tatapan saudara tertuanya itu tak beralih sedikitpun darinya sedari tadi.Taufan cengo, bingung dengan maksud pertanyaan beruntun dari Halilintar. Ayolah, dia baru saja bangun tidur. Kenapa langsung disuguhi dengan pertanyaan tidak jelas seperti ini?"Kepala Kakak kebentur kuat banget tadi? Mau di bawa ke rumah sakit aja?" Kali ini giliran Gempa yang bertanya. Wajahnya sama seperti Halilintar-penuh kekhawatiran yang begitu kentara."Kakak gak kena gegar otak, kan, gara-gara jatuh dari tangga tadi?"Taufan mengernyit. Apa maksud adik bungsunya ini? Jatuh dari tangga? Kapan dia jatuh dari tangga?"KAK UPAN, MAAFIN KAMI! KAMI LUPA BERSIHIN AIR YANG TUMPAH DI TANGGA!"Taufan reflek menutup telinganya kala teriakan Blaze dan Ice berbondong-bondong memukul gendang telinganya. Sementara keduanya langsung menangis tersedu-sedu sambil memegangi kedua tangannya di masing-masing sisi."Taufan, kamu jatuh dari tangga tadi," suara Ayahnya terdengar lebih bersahabat sekarang-tidak seberisik saudara-saudaranya yang grasak-grusuk menanyainya dari A sampai Z dengan volume tinggi.Taufan terdiam sejenak, lalu mendesis pelan saat mengingat apa yang dilakukannya beberapa saat-mungkin jam-lalu sebelum seluruh keluarganya kembali ke rumah.Ah, Taufan jadi bingung bagaimana cara mengakuinya. Ia kasihan pada Blaze dan Ice yang masih menangis di kiri dan kanannya, tapi ia juga tidak berani mengaku jika ia hanya tidur di tangga. Apalagi setelah melihat betapa khawatirnya seluruh keluarganya saat ini.Baru Taufan ingin membuka mulut, tiba-tiba suara bedug terdengar nyaring dari masjid setelah sholawat sebelum adzan maghrib berkumandang, menandakan bahwa waktunya berbuka telah tiba."Eh! Bunda belum nyiapin buka puasa!" seru Bunda dengan panik. Matanya lalu melirik ke arah Taufan, membuat Taufan menatapnya dengan bingung."Bunda tinggal dulu, ya? Kamu istirahat aja dulu kalau masih pusing, nanti biar Gempa atau Hali yang nganterin makanan buat kamu," ucap Bundanya sambil mengelus kepalanya, lalu berniat beranjak ke dapur."Udah enakan, Bun. Upan bantu aja buat nyiapin perbukaannya," putus Taufan akhirnya. Lalu beranjak mengikuti langkah Bundanya ke dapur, diikuti ayah dan keenam saudaranya di belakang.▵▾▵▾▵▾▵

Sahur Day 1
Teen
21 Jan 2026

Sahur Day 1

Langit masih gelap. Suhu pagi ini bahkan masih terlalu dingin untuk memulai aktivitas seperti biasa. Namun, hal ini sepertinya tidak mempengaruhi rumah beranggotakan sembilan orang ini."JANGAN LARI-LARIAN. INI MASIH SUBUH, BERISIK!!"Itu suara Hali. Manik merahnya melotot lebar pada Blaze, yang saat ini tengah diseretnya menuju ruang keluarga. Di tangan Blaze terdapat sebuah panci yang berisikan air dan seekor ikan cupang berwarna merah tengah berenang-renang di dalamnya, entah dari mana ia mendapatkan ikan itu."Buat wadah ikannya, Kak. Kasihan ikannya, masa tinggal di wastafel? Tadi aja hampir meregang nyawa dia gara-gara airnya dikuras sama Ice," ujar Blaze sambil memeluk erat panci berwarna merah di tangannya."Ya gak panci juga dong. Minimal tupperware, atau enggak ya pake akuarium bekas ikan peliharaan Solar di gudang itu. Mau kamu ikannya direbus sama Gempa?" tanya Halilintar. Sebelah tangannya kini bertumpu pada pinggang sembari menatap Blaze dengan pandangan malas.Kedua saudara yang identik dengan warna merah -meski berbeda tone-itu terus saja berdebat. Dari awal keduanya memasuki dapur, sampai makanan untuk sahur yang sedang dipanaskan oleh Gempa dan Bunda selesai ditata ke atas meja.Di sisi lain, Taufan dan Ice masih tenang tidur berpelukan di atas sofa ruang keluarga tanpa mempedulikan suara-suara berisik yang ada di sekitar mereka. Selimut tebal membungkus tubuh keduanya, menghalau udara dingin yang terasa menusuk kulit.Suhu udara menunjukkan angka 20°C sekarang. Wajar saja jika Taufan, sebagai makhluk yang sangat anti dengan dingin, memilih bergelung dalam selimut bersama Ice daripada merencanakan kejahilan-kejahilan kecil bersama Blaze dan Duri. Sementara Ice, dia memang penyuka tidur. Tidak heran jika dia tertidur bersama Taufan di sofa.Derap langkah kaki terdengar dari arah tangga, membuat Halilintar dan Blaze yang masih berdebat mengalihkan pandangan ke arah sana. Di sana, terlihat sang ayah turun sembari menggandeng tangan kedua adik bungsu mereka yang tampak masih mengantuk.Solar langsung melangkahkan kakinya menuju dapur-menghampiri Bunda dan Gempa-setelah sampai di lantai bawah. Sementara itu, Duri kini menyelusup masuk ke dalam selimut yang berisi Taufan dan Ice, berniat menyambung tidurnya kembali.Ayah menggelengkan kepalanya sembari tersenyum kecil, lalu beralih menatap Halilintar dan Blaze yang kini terdiam dalam keheningan-menatap sang ayah dengan pandangan kebingungan."Apa?" tanya Ayah. Dia juga ikut kebingungan melihat tatapan aneh kedua anaknya yang ditujukan padanya.Halilintar dan Blaze menggeleng bersamaan. Tampaknya ingatan mereka ter-reset tiba-tiba setelah melihat ayah dan kedua adik mereka turun dari atas.Tak lama setelahnya, teriakan kembali terdengar dari Halilintar kala Blaze melarikan diri membawa panci yang sedari tadi di peluknya menuju dapur.Dan cerita ini berakhir dengan seruan Bunda yang memanggil mereka ke dapur untuk melaksanakan sahur, kemudian benar-benar ditutup dengan Blaze yang merengek pada Gempa untuk menemaninya mengambil akuarium Solar yang sudah tidak dipakai di gudang.

Bapak-Bapak Gondrong
Teen
20 Jan 2026

Bapak-Bapak Gondrong

"JAUH-JAUH, ANJING!! LO UDAH DIKASIH KEKURANGAN, BUKANNYA SADAR, MALAH KURANG AJAR!!"Suara botol plastik dan kaleng bekas minuman terdengar memantul ke sana kemari waktu Taufan ngelempar kedua benda itu asal. Dadanya naik turun cepat, sementara kakinya berlari tunggang langgang menjauhi bapak-bapak berambut gondrong yang sekarang lagi ngejar dia sambil bawa boneka.' Gila! Kenapa gue bisa nyasar di sini, anjing!! ' batin Taufan nelangsa. Matanya meliar, lirik kanan kiri, nyari sesuatu yang seenggaknya bisa dia pakai buat ngehambat pergerakan bapak-bapak di belakangnya.Taufan terus memacu kakinya, berlari sekuat tenaga. Dia beneran cuman fokus nyari cara biar bisa keluar dari gang sempit ini secepatnya. Kepalanya noleh kiri kanan, berusaha nyari celah kecil yang harapannya cukup buat dia pake biar bisa kabur dari tempat mengerikan ini.Namun, sepertinya usaha yang dia lakuin cuman nambah kekecewaan. Karena yang muncul di depannya sekarang bukannya jalan buat kabur, malah dinding semen tinggi yang keliatannya mustahil buat dia panjat sendiri.'Mati gue..' Taufan natap nanar tembok itu. Tanpa aba-aba, otaknya mutar ulang kejadian beberapa saat sebelum dia berakhir di tempat ini.Beberapa saat sebelumnya..."Gue nunggu depan gerbang ya, Lin, Gem. Mau jajan batagor," kata Taufan sambil gendong tas birunya di sebelah bahu. Dia lalu jalan duluan ninggalin Halilintar dan Gempa yang masih ngobrol sama teman-teman OSIS mereka—entah ngomongin apa.Kakinya jalan santai sambil sesekali nendang kerikil yang ada di jalan. Pas dia sampai di luar gerbang—tepatnya di depan gerobak abang-abang batagor—dia liat ada beberapa anak kecil lari-larian sambil ketawa.Posisi Taufan agak jauh dari abang-abang batagornya. Dia agak ke tepi jalan, lagi bersihin bawah sepatunya yang penuh tanah—tapak sepatunya di gesekin ke sudut trotoar. Gak lama setelahnya, anak-anak yang lari-larian di depan Taufan tadi teriak ke arahnya."Bang! Lari! Orang gilanya suka cowok!" kata mereka sambil nunjuk ke belakang Taufan.Taufan yang denger itu langsung noleh ke arah yang di tunjuk anak-anak itu. Matanya ngebulat panik waktu liat bapak-bapak rambut gondrong lari cepat ke arah dia sambil nyengir lebar."ANJIRR! ORANG GILA!!!"Taufan langsung lari tunggang langgang waktu liat bapak-bapak itu makin dekat ke arah dia. Abang-abang batagor yang teriak manggilin dia udah gak dipeduliin lagi. Pokoknya dia cuman mau lari nyelamatin diri dari bapak-bapak yang masih ngejar dia—kali ini sambil ketawa.Dan berakhirlah dengan Taufan yang sekarang udah nyandarin badannya pasrah di tembok tinggi yang ada di gang gelap tadi. Dadanya masih naik turun cepat buat ngambil napas, sementara matanya natap bapak-bapak di depannya takut."Alin, Gemmy, tolongin guee..." Taufan nendang-nendang apa pun yang ada di dekat kakinya. Idungnya udah merah nahan nangis gara-gara takut sama bapak-bapak di depannya.Kaki yang tadi digunain Taufan buat nendang angin, sekarang udah ditekuk sambil di peluk erat. Mukanya udah di benamin ke lututnya yang dia peluk sekarang. Bisa dipastiin bentar lagi Taufan nangis.BUGH !"Kak Ufan! Gapapa, 'kan?"Taufan ngangkat kepalanya pelan waktu denger suara Gempa ada di dekat dia. Matanya udah merah berair, siap nangis kapan aja kalo gak cepat-cepat di peluk Gempa.Bapak-bapak gondrong yang tadi ngejar dia sekarang udah ilang entah ke mana. Takut, kayanya, dia abis kena tinju sama Halilintar.Akhirnya, kisah ini ditutup sama Halilintar dan Gempa yang ngegotong Taufan ke mobil gara-gara suhu tubuhnya tiba-tiba naik drastis. Mungkin efek takut sekaligus kecapekan.▵▾▵▾▵▾▵

Trio Bencana Alam
Teen
20 Jan 2026

Trio Bencana Alam

Bel istirahat telah berbunyi beberapa saat yang lalu, disusul dengan suara nyaring murid-murid kelaparan yang berlarian keluar kelas menuju kantin, tepat setelah guru yang mengajar mereka keluar dari kelas.Seperti biasanya, kantin terlihat ramai hari ini. Ditambah cuaca yang sedang panas-panasnya, membuat teriakan kesal bersahutan dari antrian di depan meja pemesanan.Namun, lain di meja pemesanan, lain juga suasana di beberapa meja murid yang sudah mendapatkan makanannya. Contohnya pada meja berisi tujuh murid yang saat ini sedang menikmati makanannya masing-masing dengan khidmat: Halilintar, Taufan, Gempa, Gopal, Yaya, Ying, dan Fang.Mereka menikmati makanan masing-masing dalam diam, kecuali Fang dan Gopal yang sedang sibuk dengan ponsel yang berada di tangan Fang, entah melakukan apa."Oi, lo bedua lagi ngapain, dah? Sibuk bener perasaan, ngalahin grasak-grusuknya murid di antrian malah," tanya Ying yang sudah jengah memperhatikan keduanya sedari tadi.Bagaimana tidak jengah? Fang dan Gopal kadang tertawa kerasa menatap ponsel itu, tapi di beberapa waktu lain malah sibuk berdebat sampai hampir membuat ponsel milik Fang terhempas ke lantai—untung Halilintar dengan refleks yang tinggi selalu berhasil menangkapnya sebelum menyentuh lantai."Ssttt!" Gopal menaruh jari telunjuknya di depan bibir, mengode Ying untuk diam.Decakan kesal keluar dari sela bibir Ying, disusul dengan kedua matanya yang berotasi malas. Ia lalu kembali menyantap makanan di depannya dengan tenang, sesekali mengajak bicara Yaya yang berada di sebelahnya."Baiklah, sebelumnya, selamat siang Tuan-Tuan dan Puan-Puan sekalian yang sudah bersedia menyempatkan diri untuk menonton live krusial dari kelas kami," suara Gopal yang terdengar dibuat-buat akhirnya mengudara, membuat beberapa murid di kantin melirik penasaran ke arah meja mereka.Entah sejak kapan, Gopal kini sudah berdiri membelakangi mereka sembari memegang botol minum milik Yaya. Di depannya, terdapat Fang yang sedang memegang kamera ponsel dan mengarahkan kameranya tepat di wajah Gopal."Pembahasan kita kali ini bukan hanya tentang anak dari kelas 11 RPL 2 saja, tapi akan ada gabungan dari anak kelas lain. Hari ini, Saya akan mewawancarai ketiga murid yang cukup populer di kelas 11 ini, yaitu Halilintar, Taufan, dan Gempa. Ya, ya, ya, benar sekali. Trio bencana alam."Gempa yang sedari tadi hanya memperhatikan tiba-tiba tersedak kuah baksonya kala mendengar namanya disebut oleh Gopal. Ia menepuk-nepuk dadanya pelan, lalu segera menerima uluran gelas berisi air putih dari Taufan."Woy, kalo mau ngewawancarain orang tuh kasih tau dulu, dong! Kesian ini adek gue keselek gara-gara kaget," seru Taufan pada Gopal. Tangannya sudah bersiap melempar jeruk sambal sebelum ditahan Halilintar.Gopal menoleh sekilas, lalu terkekeh. Tak lama setelahnya, Gopal mengode Fang untuk mendekatkan kameranya ke arah Halilintar yang kembali sibuk dengan makanannya sendiri."Baiklah, saat ini Saya sudah bersama dengan Bapak Halilintar—""Bapak gue lagi kerja, anjir. Ngapain lo bawa-bawa," potong Taufan, membuat Gopal berdecak kesal sementara Ying dan Yaya cekikikan."Hak bicara lo gue cabut! Diem lo!" hardik Gopal pada Taufan, membuat Taufan tertawa keras."Mohon maaf atas gangguan kecilnya, ya, Tuan-Tuan dan Puan-Puan. Oke, mari kita kembali lagi pada Kak Halilintar," Gopal menetralkan ekspresi wajahnya kembali, lalu menyuruh Fang untuk mengarahkan ponselnya ke arah Halilintar yang kini beralih meminum es tehnya."Kak Halilintar, kenapa kakak bisa terlahir sebagai anak kembar? Langsung tiga pula, tuh."Halilintar yang sedang mengelap tangannya dengan tisu setelah meminum es tehnya pun seketika terdiam. Manik merah delimanya menatap tajam Gopal yang kini tertawa canggung melihat tatapan itu."Pertanyaan bodoh macam apa itu?""Pfftt!" Taufan dan Gempa mengalihkan pandangannya dari Gopal, menahan tawa yang akan segera meluncur. Sementara itu, Yaya dan Ying tertawa kecil mendengarnya. Bahkan ponsel yang bertugas merekam mereka pun bergetar, menandakan jika Fang sedang berusaha menahan tawanya."Jawab spontan aja, jawab spontan. Request paling banyak dari penonton ini, Li!"Halilintar menghela napasnya, lalu beralih menatap kamera ponsel yang berada di depannya. "Biar gue gak tua sendirian." Halilintar benar-benar menjawab pertanyaan itu spontan, membuat getaran pada kamera semakin kuat karena Fang yang kesusahan menahan tawa."Lo aja kali yang tua, gue mah awet muda, coyy! Jeg menyala wii!" seru Taufan. Beberapa murid yang sebelumnya sudah menonton mereka dari awal pun kini ikut tertawa mendengar ucapan kedua anak kembar itu.Halilintar mendelik sinis, lalu mengibaskan tangannya ke depan kamera, mengusirnya.Gopal mengangguk, lalu beralih mendekati Taufan yang saat ini sedang berbicara dengan Gempa. "Baiklah, kita beralih ke Kak Taufan. Setiap anak kembar pasti punya sesuatu yang berbeda, bukan? Jadi, mari kita tanyakan bagaimana pendapat Kak Taufan.""Kak Taufan, menurut Kakak, kenapa kalian bisa terlahir sebagai anak kembar? Dan kenapa Kakak terlahir sebagai anak kembar kedua?""..." Taufan diam, tak mengeluarkan sepatah kata pun. Ia hanya menatap Gopal dan kamera secara bergantian."Kak Taufan?" panggil Gopal, namun Taufan tetap diam."Ngomong, anjir!" hardik Gopal lagi, hilang sudah kesabarannya menghadapi manusia pecinta biru di depannya ini.Taufan mengernyitkan dahinya, lalu mengambil ponsel dan mengetikkan beberapa kata di catatan. " Katanya hak bicara gua di cabut, " isi catatan itu, membuat Gopal mengusap wajahnya frustasi.Ia kemudian mengambil kertas dari dalam saku, lalu meminjam pulpen milik Yaya—menuliskan kalimat "Hak bicara" di kertas itu, kemudian memberikannya pada Taufan."Noh, hak bicara lo gue kembaliin," ucap Gopal. Tangannya mengulurkan gulungan kertas, yang langsung di sambut dengan tatapan berbinar dari Taufan."Kak Taufan terlalu menghayati peran," komentar Gempa. Kepalanya menggeleng maklum, lalu meminum es tehnya seraya memperhatikan kegiatan kakak kedua dan temannya itu."Oke, lanjut. Menurut Kakak, kenapa kalian bisa lahir sebagai anak kembar? Dan kenapa Kakak terlahir sebagai kembar yang kedua?" tanya Gopal kembali, ekspresinya sudah di netralkan kembali sekarang."Gatau. Tanya ke orang tua gue, lah," jawab Taufan santai, membuat Gopal geram. "Fan!"Taufan terkekeh sekilas, lalu menatap kamera; kali ini tatapannya lebih tenang. "Karna gue gak cocok jadi sulung, dan gak mau jadi bungsu," jawab Taufan, lalu menyuapkan satu sendok besar nasi goreng ke dalam mulutnya, agar tidak di tanya-tanya lagi oleh Gopal.Gopal mengangguk, kali ini kembali beralih pada kandidat terakhir; Gempa, bungsu si trio bencana alam."Nah, kita beralih ke Kak Gempa. Kak Gempa terkenal paling tenang di antara kedua kembarannya, pasti gak bakal bertele-tele ini jawabannya," senyum cerah terbit di wajah Gopal sekarang. Sepertinya ia juga lelah setelah berurusan dengan Halilintar dan Taufan."Kak Gempa, kenapa Kakak bisa terlahir kembar dan menjadi bungsu dari trio bencana alam?""Biar lo nanya," balas Gempa asal, kemudian menarik tangan kedua kakaknya dan berlari menuju keluar dari kantin. Halilintar menggelengkan kepalanya sembari tersenyum kecil, sementara Taufan tertawa nyaring sembari mengikuti langkah Gempa.Di sisi lain, Gopal menjatuhkan rahangnya, lalu duduk kembali pada kursi sembari menghela napas panjang. "Salah emang gue berharap lebih sama mereka. Sama aja semuanya, pantesan kembar," ucapnya nelangsa.Siaran live dari akun kelas siang itu berakhir dengan suara tawa yang menggema di seluruh penjuru kantin. Semua murid yang sedari tadi menonton kegiatan mereka tertawa keras melihat wajah pasrah Gopal yang kini memakan nasi gorengnya yang baru di sendok sedikit.▵▾▵▾▵▾▵

Biar Nurut
Teen
19 Jan 2026

Biar Nurut

Halilintar sadar, meskipun ia memiliki enam orang adik, yang selalu memanggilnya dengan embel-embel "Kak" tanpa berubah-ubah itu hanya lima orang: Gempa, Blaze, Ice, Duri, dan Solar.Lalu, bagaimana dengan Taufan? Ah, Halilintar bingung bagaimana cara menjawabnya.Taufan itu, selalu punya variasi panggilan yang berbeda untuk Halilintar. Terkadang Taufan akan memanggilnya dengan nama kecil yang Ia miliki: Alin. Namun di beberapa waktu lainnya, Taufan akan memanggilnya dengan panggilan "Kak". Tapi, pada saat-saat yang berbeda, Ia akan memanggil Halilintar dengan panggilan "Bang".Pada awalnya, kebiasaan baru Taufan ini memang membingungkan. Namun, setelah beberapa lama, Halilintar akan menoleh dengan sendirinya kala suara ceria Taufan menyapa indera pendengarannya.Tidak sekali dua kali Halilintar mendapatkan pertanyaan tentang bagaimana cara Taufan memanggil dirinya. Namun, Halilintar hanya mengedikkan bahunya tak tau, lalu melirik Taufan yang selalu memiliki kesibukan sendiri di sela-sela kegiatan mereka.Bahkan sekarang, saat matahari sedang bersinar terik di langit dan riuhnya suara murid-murid yang sedang mengantri di meja kantin, Halilintar kembali mendapatkan pertanyaan serupa dari sosok gadis berjilbab di depannya, Yaya."Taufan manggil lo itu sebenernya gimana, sih, Li?" tanya Yaya pada Hali sembari mengaduk-aduk es tehnya di atas meja.Hali menghela napas lelah, bosan dengan pertanyaan yang selalu didapatkannya dari orang-orang berbeda setiap hari. Manik merah delimanya melirik Taufan yang saat ini sedang sibuk menyusun puzzle dengan kedua temannya—Fang dan Gopal."Entahlah. Panggilannya berubah tergantung mood," jawab Hali acuh, lalu menghabiskan es cappuccino di hadapannya dengan sekali teguk.Yaya menganggukkan kepalanya paham, lalu merengsek mendekati Ying yang duduk berhadapan dengan Gempa; keduanya sama-sama menghadap buku pelajaran.Hali, yang tidak memiliki kegiatan, kini mengaduk-aduk gelas kosongnya dengan sedotan. Kedua alisnya bertaut, sementara kedua manik delimanya menerawang, mengingat saat Taufan pertama kali memanggilnya dengan panggilan yang berbeda-beda setiap saat."Lin. Alin, woy! Halilintar!"Hali tersentak. Kepalanya menoleh kaku pada Taufan yang kini menatapnya sembari mengelus lembut bahu Halilintar yang baru saja dipukulnya."Kenapa?" Tanya Hali. Kali ini, ekspresi wajahnya sudah kembali seperti semula.Taufan membenarkan posisi duduknya—bersila di atas kursi dengan tubuh menghadap Halilintar. Manik biru safirnya kini berbinar cerah menatap Halilintar."Tadi gue denger Gentar dipanggil Mas sama adeknya."Halilintar menaikkan sebelah alis, menatap Taufan yang kini grasak-grusuk di depannya dengan tatapan bertanya. Sementara Taufan mengulas senyumnya kian lebar menatap Hali."Dia keliatan keren banget waktu dipanggil Mas sama adeknya. Gue juga mau keliatan keren."Alis Halilintar kini bertaut. Apakah adiknya ini meminta Hali untuk memanggilnya Mas ?Sebuah pertanyaan terbesit di benak Hali. Ia lalu menatap Taufan dengan tatapan serius. "Bentar, lo denger Gentar dipanggil Mas sama adiknya di mana?""Waktu adeknya nelpon Gentar."Mata Halilintar kini memicing, menatap Taufan dengan penuh peringatan. "Ayah pernah bilang soal ini, 'kan? Nguping pembicaraan orang di telpon itu gak sopan."Aura menyeramkan kini menguar dari Halilintar, membuat orang-orang di meja itu sontak menoleh ke arah kakak beradik yang sedang duduk berhadapan."Kenapa, Kak?" tanya Gempa. Tubuhnya dibawa mendekati Halilintar yang masih mengeluarkan aura mencekam, lalu menepuk-nepuk bahu Kakaknya pelan.Taufan yang berada di seberangnya terlihat panik. "Enggak, Lin. Gue gak nguping. Gentar sendiri yang nyuruh gue ngangkat telponnya, terus nyalain speaker. Dia lagi ngangkatin kursi pas itu," jelas Taufan, kentara sekali raut panik di wajahnya kala melihat ekspresi tidak bersahabat dari Hali.Halilintar yang mendengar itu menghela, lalu menganggukkan kepalanya. "Jadi, alasan lo mau dipanggil Mas karna apa?""Ya, karna keren. Gentar kayak Mas-Mas Jawa yang sering muncul di TV waktu dipanggil Mas sama adeknya," jelas Taufan. Manik safirnya kembali berbinar menatap Halilintar, lalu beralih menatap Gempa memelas. Gempa yang melihat itu langsung bergidik ngeri melihat tatapan Kakak pertamanya."Gentar kan emang orang Jawa," suara Gopal mengalun, membuat Taufan menoleh ke belakang, menatap Gopal yang ada di belakangnya."Orang Jawa biasanya keren-keren. Lah dia, keren enggak, jamet iya."Mata Gopal melotot dramatis menatap Taufan, lalu menutup mulutnya dengan sebelah tangan. "Gue aduin Gentar, lo ngatain dia jamet."Taufan mengernyitkan dahi kesal, lalu berniat menjawab ucapan Gopal sebelum suara Fang yang berasal dari sebelah Gopal terdengar."Berisik lo pada," ujar Fang tanpa mengalihkan pandangannya dari puzzle di hadapannya. Kali ini, dia menyusun puzzle tersebut dengan bantuan Yaya dan Ying yang entah sejak kapan sudah berpindah posisi.Taufan mendecak kesal, lalu mengalihkan pandangannya kembali pada Halilintar dan Gempa yang sedari tadi memperhatikannya."Kata Bunda, kalo mau adik-adik nurutin apa yang kita mau, kita harus ngasih contohnya dulu ke mereka, biar mereka ngikutin."Manik Taufan menatap Gempa yang masih mendengarkannya dalam diam, lalu beralih kembali pada Halilintar yang kini menatapnya datar."Jadi, gue manggil lo Mas ya, Lin? Biar Gempa nurut manggil gue Mas, " kata Taufan memohon, menatap Hali dengan tatapan memelas, membuat Gempa yang duduk di belakang Hali menutup mulut menahan tawa."Gue gak ikutan, ya, Kak," Gempa mengangkat kedua tangannya, lalu bangkit dari posisinya yang duduk di belakang Hali, dan beralih mengambil tempat di kursi depan Fang.Taufan menatap Gempa yang melarikan diri dengan mata memicing, lalu menoleh ke arah Hali yang masih menatapnya datar."Lo telat kalo mau ngajarinnya sekarang. Kita udah 16 tahun, dan itu gak bakal ngaruh."Taufan mendesah lelah, lalu menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi usai mendengar ucapan Hali. Di sisi lain, Gempa diam-diam melirik kedua kakaknya sembari terkekeh kecil.Kedua manik Taufan mengedar ke sekeliling kantin dengan alis berkedut, seperti sedang memikirkan sesuatu. Tak lama setelahnya, ia kembali menegakkan tubuhnya cepat menghadap Halilintar, membuat Hali yang tadi sedang memainkan ponselnya seketika menoleh."Gue pastiin rencana gue berhasil, liat aja. Hahaha!"Halilintar menggelengkan kepalanya, pasrah dengan apa pun yang akan dilakukan oleh adik pertamanya itu.▵▾▵▾▵▾▵Gempa mengucapkan terima kasih sembari mengulas senyum pada teman-teman OSIS-nya yang satu per satu mulai berjalan keluar dari ruang rapat, kala kegiatan yang dilangsungkan sejak pulang sekolah tadi akhirnya selesai.Biasanya, mereka akan pulang saat bel berbunyi pada pukul 14.50. Namun, di hari-hari tertentu, akan ada beberapa murid yang tinggal di sekolah untuk mengikuti ekskul sekolah, contohnya ekskul OSIS. Dan hari ini, Gempa harus menjadi salah satu murid tersebut.Gempa menghidupkan ponsel di genggamannya, melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 16.45. Helaan napas berat terdengar dari sela bibirnya kala menyadari sudah hampir dua jam ia berada di sekolah di luar jam pelajaran.Ditangkinnya tas yang tadi ia sampirkan di sandaran kursi, lalu berjalan menuju pintu keluar—menuju ke parkiran—seraya bersenandung kecil.Manik emasnya sedikit menyipit kala mendapati sosok familiar sedang bersandar pada mobil hitam di parkiran: Halilintar."Kak Hali!" seru Gempa, lalu memacu langkahnya lebih cepat mendekati Hali, yang kini mengantongi ponselnya kala melihat sang adik datang."Udah lama, Kak?""Kurang lebih tujuh menit."Gempa mengangguk, lalu membuka pintu mobil dan duduk di kursi samping kemudi. Hali menyalakan mesin mobil, kemudian mulai mengendarai kendaraan roda empat itu menuju rumah.▵▾▵▾▵▾▵Halilintar membuka pintu rumah perlahan, matanya mengedar menatap ke dalam rumah yang tumben-tumbenan masih sepi. Biasanya, adik-adiknya—terutama Taufan, Blaze, dan Duri—akan berlarian ke sana kemari entah memperebutkan sesuatu, atau menjahili Solar yang sedang belajar. Tapi sore ini, keadaan rumah cukup lenggang."Huh? Kemana orang-orang?" Gempa bertanya, melangkah masuk sembari menoleh ke kiri dan kanan, lalu mulai menjelajahi seisi rumah.Halilintar mengikuti langkah Gempa dari belakang, lalu menoleh ke arah dapur saat mendengar suara cekikikan seseorang."Gem, di dapur." Halilintar meraih tangan Gempa, lalu menariknya ke arah dapur.Keduanya berjalan pelan mendekati dapur yang hanya dibatasi dinding sebagai sekat dengan ruang tamu. Semakin mereka mendekat, semakin jelas pula suara cekikikan seseorang di baliknya."Selamat datang, Mas Hali! Mas Gempa!"Gempa dan Halilintar memasang wajah cengo bersamaan, bingung harus memberi respon seperti apa pada orang-orang di depan mereka saat ini.Taufan, Blaze, Ice, Duri, Solar, Ayah, dan juga Bunda, berdiri sejajar menyambut mereka. Di kedua tangan mereka terdapat masing-masing piring yang berisi makanan berbeda."Ini... kenapa?" Gempa bertanya, menatap satu per satu anggota keluarganya yang masih menatap mereka berdua dengan senyum lebar.Ayah mereka tertawa sejenak, lalu meletakkan piring berisi ikan goreng yang dipegangnya ke atas meja. "Gabut," jawabnya singkat, sebelum duduk di kursi dan mencomot satu ikan goreng dari piring."Hah?""Kata Mas Taufan, ini hari orang Jawa. Jadi, kita semua harus manggil saudara yang lebih tua dengan panggilan Mas, " jelas Duri, matanya berbinar menatap Halilintar dan Gempa sembari bergelayut manja pada lengan Taufan, yang wajahnya sudah merah menahan tawa.Halilintar menatap Taufan, lalu mengusak rambutnya frustasi. "Hari orang Jawa, Kau bilang? Dan Kalian percaya?"Adik-adiknya mengangguk kompak, sementara Hali hanya bisa tersenyum pasrah melihat kepolosan adik-adiknya."Ayah sama Bunda juga percaya?" Gempa menatap kedua orang tuanya bergantian, menanti jawaban.Bunda mereka tertawa kecil. "Jelas enggak. Tapi Taufan ngerengek ke Bunda sama Ayah. Mukanya melas banget tadi, kayak mau nangis," terang Bunda, lalu melirik ke arah Taufan yang kini sibuk menggoda Halilintar.Gempa tersenyum pasrah, lalu menggelengkan kepalanya pelan sembari menarik kursi dan mendudukkan diri di sana."Ayo main," Taufan tiba-tiba berseru."Yang kedapatan ga nyebut saudara yang lebih tua pake sebutan Mas , harus nyuci piring selama seminggu," usul Taufan, membuat Blaze dan Duri berseru semangat."Ah, memang sebaiknya Aku tidur saja.""Aku sudah kehabisan kata-kata untuk menanggapi situasi ini."Ice dan Solar mengeluh bersamaan, sementara Gempa dan Halilintar hanya bisa tersenyum pasrah mendengar usulan aneh lainnya dari kembaran mereka.Dan, ya. Keempat adik mereka benar-benar berusaha memanggil mereka dengan sebutan Mas semalaman, bukan Kak seperti biasanya.▵▾▵▾▵▾▵

Bu Dokter
Teen
19 Jan 2026

Bu Dokter

Derap langkah kaki terdengar jelas melewati lorong sepi sekolah. Ini pukul 7 pagi, lebih tepatnya setengah 8 lewat, yang menandakan jika kegiatan belajar-mengajar telah dimulai.Beberapa kelas terlihat hening dengan penampakan jika penghuninya sedang mencatat atau mengerjakan tugas. Sementara itu, di sisi lain tampak sebagian kelas yang riuh dengan suara murid dan guru yang bersahutan saat kuis sedang berlangsung.Lain di kelas, lain lagi di lorong. Lorong sekolah saat ini sangat lenggang dikarenakan semua murid sudah memasuki kelas untuk mengikuti pelajaran. Semuanya—kecuali murid dengan tubuh gempal dan jaket hijau—yang kini sedang berlari tunggang-langgang melewati satu per satu kelas di lorong panjang.Semakin cepat kakinya dipacu, semakin terlihat jelas pula sebuah pintu yang terbuka setengah dengan suara teriakan yang bersahutan dari dalamnya. Gopal memacu langkahnya lebih cepat, lalu menggebrak pintu dengan sangat kuat, Ia berdiri dengan napas terengah di tengah pintu.Teman sekelas yang awalnya riuh secara bersamaan langsung menatapnya dengan pandangan bertanya—beberapa bahkan menatap dengan pandangan kesal."Ngapain sih? Abis dikejar bison, lo?" Tanya seorang gadis yang duduk di pojok ruangan bersama beberapa temannya.Gopal melirik sekilas, lalu mengatur napasnya sebentar sebelum menjawab pertanyaan dari gadis itu. "Ada dokter, anjir. Bawa tas gede. Curiga kita bakal divaksin sekelas buat ngurangin penularan virus rabies," jelas Gopal, mendapatkan delikan tajam dari gadis yang bertanya tadi.Beberapa anak laki-laki dikelas itu meneguk ludah kasar, lalu menatap Gopal takut-takut. "Jangan boong lo. Lo boong, lobang idung lo makin gede ntar."Gopal mengangkat sebelah tangannya, mengacungkan dua jari membentuk peace sign disertai dengan raut wajah seriusnya yang jarang terlihat. "Serius, anjir. Sumpah, ga boong gue. Lo kalo gak percaya, liat aja noh ke ruang TU," jawabnya sungguh-sungguh, membuat murid laki-laki yang berdiri di pojok ruangan semakin pucat.Belum sempat murid lain mengeluarkan suara, tiba-tiba saja terdengar suara guru dan langkah kaki yang berjalan mendekati ruang kelas, membuat mereka semua secara bersamaan menoleh langsung ke arah pintu, menanti siapa yang akan segera muncul dari balik pintu."Lho, kalian kenapa posisinya acak-awur begini? Lagi main drama?" Itu Bu Risa, wali kelas mereka, yang bertanya dengan wajah cantiknya yang senantiasa menampilkan senyum manis.Kelas hening. Tidak ada satupun yang merespons pertanyaan Bu Risa—mereka semua terlalu fokus, hingga ada beberapa siswa yang melongo melihat tiga orang dewasa dengan jas putih dan seseorang yang membawa kotak besar ditangannya.'Anjir, terakhir kali gue suntik pas SD aja sampe kudu diregang Ayah, bangsat.'Bu Risa tertawa kecil melihat reaksi anak muridnya yang tercengang melihat 3 orang dokter yang berdiri sambil mengulas senyum kecil di sampingnya."Pasti udah tau dong ya siapa yang ada di sebelah Ibu ini? Yap, benar! Ini Bu Dokter sama Kakak-Kakak Perawat yang tugasnya meriksa kesehatan kalian-"Click! WHOOSH !Suara jendela, yang kuncinya baru saja dibuka, terdengar dari arah pojok; di susul dengan suara angin yang tiba-tiba berembus kencang memasuki ruang kelas, membuat atensi mereka semua beralih pada jendela yang kini tirai biru mudanya terayun mengikuti tiupan angin.Kelas kembali hening. Mereka menatap jendela yang tiba-tiba terbuka itu dengan pandangan bingung sebelum tiba-tiba seorang murid laki-laki, yang merupakan ketua kelas, tiba-tiba berseru, "Lah, Taufan mana?"▵▾▵▾▵▾▵Suasana kelas Halilintar cukup hening saat ini, hanya suara diskusi dari beberapa murid yang sesekali terdengar dari arah belakang.Kelas mereka sedang tidak ada guru saat ini. Guru mereka hanya datang dan memberikan sedikit catatan, lalu kemudian menutupnya dengan beberapa tugas kelompok dikarenakan beliau sedang ada kesibukan.Halilintar membaca soal di bukunya dengan tenang, sesekali menoleh pada teman satu kelompoknya saat Ia menanyakan pendapat mereka tentang jawaban yang didapatnya.Ting!Atensi Halilintar yang semula fokus pada buku kini teralihkan pada layar HP-nya yang menyala, menampilkan sebuah notifikasi pesan. Ia meraih HP-nya dari atas meja, lalu membaca sekilas nama si pengirim pesan.TaufanLin😭😭😭07.43Halilintar membaca pesan itu dengan alis sedikit berkedut, lalu menggerakkan jarinya untuk mengirimkan balasan pada si pengirim.Kenapa?07.45Pesan yang baru saja dikirimnya itu langsung dilihat oleh Taufan. Tak lama kemudian, muncul gelembung yang menandakan jika seseorang di seberang sana sedang mengetikan balasan.Lin, gua ketemu monster, anjir07.46Bibir Halilintar mengulas senyum tipis, terlampau hapal dengan pikiran aneh adik pertamanya ini. 'Bocah gajelas.'Lin, balas kek, elahh07.46Iya, apa?07.47Gua tadi ketemu monster. Bajunya putih, pake kacamata07.47D-dia bawa rombongan 20 orang di belakangnya. Masing-masing pake baju zirah putih07.47Lin, tolongin gua pliss07.48Halilintar kembali mengernyit, memikirkan sejenak maksud dari perkataan adiknya. Lalu Ia teringat dengan beberapa tenaga medis yang berada di ruang TU saat Ia mengantarkan absen kecil tadi. Tanpa sadar, Ia terkekeh kecil mengingat jika adiknya ini sangat takut pada para tenaga medis.Oh, Bu Dokternya udah sampai sana? Kenapa lo masih bisa main hp?07.48Hah? Udah sampai sini?!07.48Anjir, sia-sia doang gua loncat dari jendela tadi07.48Loncat dari jendela? Tunggu, jadi maksudnya lo lagi gak ada dikelas sekarang?07.49Oh.. itu..07.49Hehehe, gua loncat dari jendela waktu liat rombongannya masuk kelas tadi..07.49Hehehe07.50Hehehehehehe, Lin?07.50Helaan napas berat keluar dari bibir Halilintar, membuat teman-temannya yang sedari tadi mengawasinya saling berpandangan dengan raut bertanya-tanya.Tangannya kembali mengetikan balasan pada Taufan, lalu menyandarkan punggungnya pada kursi selagi menunggu balasan.Di mana?07.51Belakang kelas lo..07.52Halilintar melongo, membaca ulang pesan yang baru saja dikirimkan Taufan.Taufan berada di belakang kelasnya? Benar-benar di belakang kelasnya? Tunggu, bukankah belakang kelasnya itu penuh semak-semak dan sampah dari beberapa murid yang suka membuang sampah sembarangan? Dan Taufan? Sembunyi di sana? Astaga.."Kenapa lo?" Tanya seorang murid laki-laki, membuat Halilintar menoleh ke arahnya dengan raut wajah yang sudah kembali netral.Halilintar memijit pelipisnya sejenak, lalu bangkit dari kursi dan menatap teman satu kelompoknya sejenak. "Adek gue ngulah. Gue izin keluar bentar, ya?"jawab Halilintar, yang langsung diangguki oleh teman-temannya yang sudah dapat menebak siapa adik yang dimaksud Halilintar itu.Halilintar mengulas senyum tipis, lalu melangkahkan kakinya dengan cepat keluar kelas, berjalan dengan langkah lebar menuju belakang kelasnya.▵▾▵▾▵▾▵Taufan menatap sekelilingnya dengan waspada, sesekali mengusap lengannya yang dirayapi oleh semut karena Ia yang sedang duduk berjongkok dibalik semak-semak."Ah elahh, ini kapan kelarnya, anjir. Kaki gue pegel,"gerutunya kesal.Manik biru safir miliknya yang sedari tadi berpendar ke kiri dan kanan kini memicing kala mendapat sosok berjaket hitam yang berjalan tegap ke arahnya. Lebih tepatnya, mungkin ke arah semak yang ditempatinya saat ini."Fan? Lo di mana?" Panggil suara itu, membuat Taufan diam sesaat, memikirkan harus keluar dari persembunyian atau tidak.'Kalo gue keluar, pasti di seret ke kelas. Tapi kalo ga keluar, kaki gue pegel.'Terlalu lama berdebat dengan pikirannya sendiri, Taufan sampai tidak menyadari jika Halilintar sudah berhasil menyingkirkan semak-semak yang berhasil menyembunyikan tubuhnya tadi."Fan." Panggil Halilintar dengan manik merah delimanya yang menatap datar ke arah Taufan.Taufan menoleh patah-patah ke arahnya, lalu dengan cepat berdiri dan membersihkan seragamnya yang terkena tanah.Manik biru safirnya menatap Halilintar dengan tatapan takut, lalu mengulas cengiran lebar yang terkesan canggung sembari menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal."Hai.. Alin.. Apa kabar?"tanya Taufan, sebelah tangannya melambai dengan kaku ke arah Halilintar.Halilintar mendengus, lalu dengan cepat meraih tangan Taufan dan menariknya menjauh dari semak-semak.Taufan yang tangannya ditarik tiba-tiba sontak memberontak, berusaha melepaskan genggaman Halilintar dari tangannya meskipun percuma."Lin! Jangan seret gue ke ruangan monster itu, anjir! Lo mau gue is det di tusuk mereka pake tombak?" protes Taufan, masih setia menggerakkan tangannya secara brutal di genggaman Halilintar.Halilintar tetap diam, tak peduli dengan pemberontakan sia-sia yang dilakukan adiknya. Ia hanya terus berjalan, mengacuhkan teriakan Taufan."Hali! Jangan seret gue, anjir! Gue bukan kambing!" teriak Taufan lagi. Kali ini matanya memandang Halilintar dengan tatapan memelas.Helaan napas berat lagi-lagi keluar dari bibir Halilintar. Halilintar menghentikan langkahnya tiba-tiba, membuat Taufan yang tidak siap pun langsung menabrak punggungnya."Anjing."Halilintar menatap Taufan malas, lalu tanpa aba-aba menggendongnya ala karung beras dan kembali berjalan."Bukan kambing, tapi karung beras." ujarnya santai sembari berjalan keluar dari area belakang kelas.Taufan yang masih kaget pun terdiam, lalu kembali menggelepar di gendongan karung beras Halilintar, minta untuk di turunkan— yang hanya dibalas deheman singkat dari Halilintar.Halilintar terus berjalan menuju kelas Taufan, mengacuhkan teriakan Taufan dan pandangan jenaka dari beberapa murid yang dilewatinya di lorong."Gem, itu kembaran lo gak, sih?" Tanya salah satu murid yang sedang berjalan di tepi lorong pada murid dengan manik emas di sebelahnya. Ia sedikit menahan tawanya kala melihat dua orang yang tidak asing berjalan melewati mereka berdua.Gempa, yang merasa namanya dipanggil, langsung menoleh, melirik ke kiri dan kanan sebelum akhirnya tercengang melihat kelakuan kedua kakaknya yang memang kadang sulit diprediksi.Ia segera menutup wajahnya, merasa malu setelah melihat kedua saudaranya yang telah menghilang di telan pintu kelas paling ujung—kelas kakak keduanya yang menjadi asal muasal kejadian aneh pagi hari ini.▵▾▵▾▵▾▵"Permisi, Bu. Saya bawa pasien yang kabur tadi," ujar Halilintar seraya mengetuk pintu kelas Taufan pelan. Ia membungkukkan tubuhnya sekilas sebelum masuk dan meletakkan Taufan di depan kelas.Taufan yang semula masih terus menggelepar kini terdiam dengan tatapan tajamnya yang ditujukan pada Halilintar— yang saat ini berbalik berbicara dengan wali kelasnya."Terima kasih,ya, Hali. Udah susah-susah bawain pasien Ibu yang kabur aja." Canda Bu Risa.Wali kelas Taufan ini memang masih tergolong cukup muda, jadi selera humornya masih lumayan nyambung dengan murid-muridnya.Halilintar hanya terkekeh kecil, lalu berpamitan untuk keluar kelas sebelum suara salah satu murid menginterupsi pergerakannya."Gue kalo jadi lo sih gak bakal keluar sebelum si Taufan selesai di periksa, Li," celetuk Gopal, membuat Taufan menatapnya dengan tajam.Halilintar kembali terkekeh kecil mendengar ucapan Gopal, "oh iya.. Saya izin jagain pasien Ibu sebentar ya, Bu." Katanya pada Bu Risa.Seketika, suara gelak tawa memenuhi ruangan kelas disertai wajah Taufan yang semakin masam kala Bu Dokter mulai melakukan pemeriksaan padanya setelah puas tertawa.

Menampilkan 24 dari 228 cerita Halaman 3 dari 10
Menampilkan 24 cerita