Penghujung Kata
Teen
03 Jan 2026

Penghujung Kata

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download - 2026-01-03T230637.045.jfif

download - 2026-01-03T230637.045.jfif

03 Jan 2026, 16:06

download - 2026-01-03T230634.469.jfif

download - 2026-01-03T230634.469.jfif

03 Jan 2026, 16:06

Hingar bingar dentingkan suara- suara tak beraturan menghantam gendang telinga tanpa aba-aba, rasanya jika aku sudah kehilangan kewarasan mungkin yang ku lakukan sekarang adalah berjalan mengelilingi kelas dan mengetok satu persatu kepala teman-temanku yang umpati handphone sedemikian rupa, menjerit hampir seperti orang gila hanya karena game online yang tidak membuat kepintaran bertambah.

Dan jangan lupa sekempulan cowok berseragam putih abu yang kegerahan sibuk memukul kaca jendela agar pecah, mereka selalu ingin menjadi trending topik sekolah. Jujur aku kesal sekali Saat ini, tapi malas juga untuk membuat masalah karena eksistensi ku tidak lebih seperti butiran pasir di padang gurun, aku pendiam, dan hanya miliki, mungkin satu teman yang benar-benar bisa kusebut teman, padahal jumlah seluruh siswa di sekolah ini hampir lima ribuan.

Aku bukannya tidak mau berteman tapi agaknya semua orang enggan duluan untuk mengajak berteman karena banyak yang bilang aku itu bau badan. Entahlah siapa yang membuat rumor seperti itu.

Rasanya aku tidak dianggap ada entah itu di kelas atau se-SMA. Aku hanya segelintir dari jutaan orang bernama yang seolah tidak pernah dianggap ada, entah dari mana hukum good looking itu ada membuat orang-orang sepertiku hanya dianggap seperti barang gagal yang tercipta.

Sulit mendapat teman setia, sulit mendapat eksintensi di depan semuanya. Aku menghela nafas pelan kenapa juga aku memusingkan hal semacam itu buang-buang waktu saja, aku memilih melanjutkan mencacat meski fokus sulit sekali terjaga.

"Weii, lo yang lagi nyetet."

Mungkin aku perlu memasang name tag sebesar papan tulis agar mereka bisa tahu namaku. Aku bahkan tidak habis pikir sebenarnya apa yang mereka tahu dariku jika selama satu tahun ini mereka tidak bisa menyebutkan satu kata lima huruf yang kelewat singkat itu, dan aku tidak perlu repot-repot menoleh atau menjawab panggilan tadi lagi pula mereka hanya ingin membuat guyonan dengan cara merendahkan orang lain.

Asap rokok, dari bangku paling belakang membuat ruangan kelas penuh dengan aroma nikotin, kadang aku heran teman-temanku yang kelewat brandal apa guru-guru yang tidak andal. Ah entahlah.

Jika semenit aku bisa tenang diruangan kelas itu adalah sebuah kemustahilan, jelas sekali karena baru saja aku ingin kembali fokus dentingan kaca-kaca jendela yang dipukul sudah mendengung nyaring di gendang telingaku, lengkingan suara gadis-gadis kurang kerjaan di sudut kelas dengan berbagai macam pembicaraan, gosip misalnya, seolah masa depan bukanlah hal yang perlu dipikirkan.

Aku memilih untuk beranjak dari bangku kayu yang segala sisinya penuh dengan karya coretan tipe x. Aku lapar, tapi tujuan ku bukan kantin bukan karena aku tidak membawa uang jajan, aku lebih memilih menyimpannya untuk hal yang lebih ku butuhkan. Lagi pula mengganjal perut dengan roti hijau penuh coklat harga seribuan dengan botol air mineral yang ku bawa dari rumah juga sudah sangat membuat perut kenyang.

Aku duduk didepan kelas, suara bising tidak terlalu memekakakn telinga disini, dan lagi aku tidak ingin tersedak roti dan berakhir jadi bahan tertawaan seisi kelas. Itu pernah terjadi, aku bahkan tidak hanya tersedak bukannya malah membaik saat meminum air mineral aku malah memuntahkan makanan yang sudah bersemayam semalaman diperut dan mengotori lantai kelas, ah memalukan sekali.

"Assalamu'alaikum, Put. Mau aku temenin gak?"

Roti yang hampir ku gigit kutarik kembali lantas aku mengangguk dan tersenyum, Ah aku hampir lupa bahwa masih ada orang yang begitu baik, namamya Mentari. Gadis berhijab lebar dan dia satu dari orang yang kusebut teman dia juga teman sekelasku.

"Waalaikumussalam," jawabku ketika Tari sudah duduk tepat disebelahku.

"Besok kamu ikut kemah akbar, gak?"

Aku sedang mengunyah saat Tari bertanya cepat-cepat aku menelan roti sebelum berkata, "Ah mungkin gak deh, lagian biayanya mahal." Sebenarnya aku punya uang dan itu mencukupi untuk ikut kemah besok, jika aku pikir lagi uang 250 ribu itu mending ku gunakan untuk membeli beras.

Walaupun aku harus tertinggal acara tahunan yang katanya sangat menyenangkan. Kemah juga diadakan tiga hari pasti menguras banyak tenaga sedangkan aku mudah sekali merasa lelah, nanti malah menyusahkan.

Tari mengangguk mengerti, ia berkata lagi setelah aku menghabiskan rotiku.

"Kalau kamu mau ikut, gak apa-apa nanti aku bantu bayar, gimana?" Tari terlihat begitu berharap aku pergi tapi entah kenapa perasaanku tidak enak yah. Beberapa saat aku hanya terdiam sampai Tari kembali mengulang perkataan yang sama membuatku hanya bisa mengangguk patah-patah, ini titik dimana aku ingin mengutuk ketidak singkronan otak dan hatiku, otakku memikirkan bagaimana keadaanku nantinya sedangkan hati tidak ingin melewatkan acara tahunan.

Malam harinya setelah memberanikan diri untuk memberitahu Ibu, aku menyiapkan barang dan baju yang nanti aku butuhkan saat berkemah nanti, mungkin kegiatan berkemasku agak berisik sampai membangunkan adik kecilku yang baru menginjak empat tahun.

"Kak Putli ngapain," ucapnya sembari mengusak matanya perlahan, ia bahkan masih memejamkan mata saat mendekat kearahku.

"Lagi lipat baju, Nara keganggu yah?" Aku terkekeh saat Nara mengangguk pelan lalu memelukku dengan lengan mungilnya.

"Kak putli mau pelgi kemana, jauh yah, belapa lama, nanti Nala tidul sama siapa?" Ah, rasanya aku tidak tega meninggalkan Nara namun aku juga merasa tidak enak kepada Tari.

"Gak lama kok, kan ada Ibu sama Bang Tama." Tidak kunjung mendapat respon, aku melirik kearah Nara yang ternyata kembali terlelap dengan keadaan memeluk pinggang ku, ia bahkan mendengkur pelan. Aku membiarkan Nara terlelap dengan keadaaan seperti itu, sedangkan aku melanjutkan mengemas barang yang akan aku bawa, sebenarnya tidak banyak hanya ada empat buah baju dan rok dan sebuah sweater milik Kak Tama.

Setelah semuanya selesai aku melirik jam kecil yang sudah retak di segala sisinya dan untugnya jam itu masih bisa memberitahuku bahwa aku harus tidur sekarang.

Dengan hati-hati aku mengangkat Nara ke atas karpet dan aku ikut berbaring di dekatnya, ada kebiasaan yang kulakukan setiap kali ingin tidur, semasa Ayah masih hidup ia selalu ingatkan bahwa aku harus melalukannya. Aku mulai berzikir dengan mata yang berkelana memperhatikan setiap inci rumahku, tidak ada sekat berarti antara ruangan dan barang yang bisa membuat mata menjadi berbinar karena semuanya barang bekas.

Keadaan dimana seberapa kuat apapun Ibu dan Bang Tama bekerja keras, keadaan kami tidak pernah beranjak dari titik kemiskinan, sedangkan yang aku lihat orang diluaran sana hanya memangku tangan malah bergelimang kekayaan. Tapi ibu selalu berkata bahwa tidak apa-apa hidup seperti ini, harta juga tidak dibawa mati. Bisa makan sama ibu selalu menjarkan untuk bersyukur.


Tidak sadar aku terlelap dan rotasi bumi mungkin sangat cepat hingga tidak terasa aku sudah berdiri di depan gerbang dimana banyak sekali siswa-siswi yang menenteng barang bawaan mereka. Semua mengenakan baju bebas hari dan membuatku mengerti kenapa baju seragam itu sangat perlu untuk meredam kesenjangan sosial. Bagaimana tidak hari ini saja perbedaan stratat hidup dibedakan hanya dengan jenis pakaian apa yang digunakan.

Aku menghembuskan nafas pelan, bersamaan dengan Tari yang melambai kearahku setelah turun dari mobil yang membawanya, aku tersenyum kecil kearahnya.

"Udah banyak orang ternyata, oh iya Put, kita sebangku yah di bus." Tari berkata demikian setelah benar-benar berada didepanku aku hanya mengangguk, bukanya ingin terlihat irit bicara namun aku tidak tahu ingin merespon apa.

Satu jam kemudian bus datang dan aku hampir saja meloloskan satu pekikan karena tertabrak kerumunan siswi kelas 12 yang berlari ke arah bus pertama. Jika saja Tari tidak sigap menariku untuk menepi mungkin aku akan menjadi bahan tertawaan lagi.

"Istigfar dulu Put, kamu ngelamun mulu sih," ucap Tari sambil terkekeh.

Lagi-lagi aku hanya merespon dengan senyuman.

Kami akhirnya berjalan kearah bus kedua yang baru tiba, bus wisata yang sangat besar yang bisa menampung mungkin tiga puluhan siswa. Aku dan Tari mengambil tempat paling depan dekat sopir. Agar mudah menunrunkan barang nantinya.

Saat semua siswa kelas 11 ips sudah dipastikan menenuhi bus. Bus akhirnya melaju dan entah kenapa sepanjang perjalanan perasaanku tidak enak. Perjalanan yang ditempuh rasanya sangat jauh sampai semua yang ada di bus terlelap kecuali aku dan Tari dan tentu saja pak sopir.

Setelah menutup mushaf kecil yang Tari baca seoanjang jalan, ia menatapku lekat, lantas berkata satu hal yang membuat perasaanku makin tidak enak. "Rasanya seperti akhir hari yah Put," ucapnya tersenyum, aku hanya mengangguk.

Tepat satu jam setelah perkataan Tari dibelokan menuju tanjakan sebuah mobil truk bermuatan kayu menghantam bagian depan bus sangat kencang, sampai membuat bus tergelincir kearah jurang.

Ya Allah jika ini menjadi akhir kisahku, semoga kekuargaku hidup dengan baik. Nara maaf kakak ternyata pergi jauh.

Suara pekikan dimana-mana, terakhir aku hanya merasakan genggaman tangan Tari yang begitu erat padaku serta satu ucapan terbata-bata yang sangat sulit aku ikuti darinya sebelum semuanya mati rasa.

La ilaha illallah .

[ E N D ]



Kembali ke Beranda