Gambar dalam Cerita
"Sayang, tungguin dong!" teriak Kailendra dari belakang tubuh seorang gadis yang ia panggil sayang. Kanaya, gadis yang dipanggil sayang tersebut hanya memutar bola matanya malas.
Kanaya menengok kebelakang," Sayang gundulmu! Ngintilin gue mulu kaya kuman. Jauh-jauh sana!" usir Kanaya semakin nemepercepat langkahnya.
Beruntung saja SMA Nusantara sedang tidak ramai, karena ini masih pagi. Jadi, Kanaya tidak harus menanggung malu menanggapi kegesrekan Kevan.
Namun, usaha Kanaya sia-sia karena Kevan dengan cepat mengejarnya dan merangkul pundak Kanaya dengan santai.
"Ish apasih lo?! Lepas ga! Lo sama gue itu cuma mantan, jadi gausah rangkul-rangkul gue segala!" sungut Kanaya berusaha melepaskan rangkulan Kevan. Namun Kevan malah memepererat rangkulannya.
"Makanya kita balikan yuk, baru deh gue bebas rangkul elo," ajak Kevan dengan senyum menggoda.
Kanaya pun melotot mendengarnya, ia melepaskan rangkulan Kevan dipundaknya lalu menatap horor Kevan.
"Benerin otak dulu sana! Gue ga mau punya pacar stress kaya lo!" selesai mengucapkan itu, Kanaya langsung pergi meninggalkan Kevan sendiri.
"OKE, NANTI GUE KEBENGKEL NAY, BUAT BENERIN OTAK!" teriak Kevan yang masih terdengar ditelinga Kanaya. Salah apa Kanaya hingga mampu mempunyai mantan yang gesrek nya akut seperti itu.
Pagi berikutnya, Kanaya bertemu lagi dengan si mantan berotak miring yang selalu mengganggunya. Sudah jadi mantan, masih ajah ganggu. Memang perlu dibasmi spesies mantan itu.
"Hallo mantan," sapa Kevan dengan cengirannya. Ia sudah berada tepat didepan Kanaya.
"Hallo juga setan," balas Kanaya dengan senyum sekilas lalu memunculkan wajah datarnya.
"Njir, gue ganteng gini dibilang setan," sahut Kevan dengan nada narsis.
"Van, mau gue ambilin kaca ga?" tanya Kanaya dengan nada sinis.
"Ga perlu Nay, gue udah ganteng maksimal, jadi ga perlu pake kaca untuk melihat kegantengan gue yang alami ini," cerocos Kevan dengan pedenya.
"Dih, pede banget lo! Sinting!" balas Kanaya.
"Gapapa deh gue dibilang sinting, tapi lo mau kan balikan sama gue?" tanya Kevan dengan alis yang dinaikkan menggoda Kanaya.
"Maap-maap ajah nih ya, gue masih suka yang waras dibanding yang sinting," balas Kanaya kesal menghadapi Kevan. Akhirnya Kanaya pergi meninggalkan Kevan.
"Lo ga takut gue diambil orang Nay? Lo udah ga perduli sama gue? Apa segitu besar luka yang udah gue ciptain buat lo Nay, sampe lo selalu nolak setiap gue ajak balikan,"
"Enggak. Gue udah ga perduli sama lo. Gue rasa, lo ga usah ganggu gue lagi Van. Kita udah mantan. Jadi tolong jangan bikin gue galmov karena lo deket-deket sama gue terus," balas Kanaya, lalu melanjutkan langkahnya.
"Tunggu gue Nay, pulang sekolah gue mau kebengkel lagi biar otak gue waras!" ucap Kevan sedikit menaikkan suaranya agar Kanaya bisa mendengar suaranya.
Keesokannya, Kanaya pergi kesekolah dengan Ferdi, Ketua Osis Sma Nusantara. Dari dahulu, Ferdi memang menyukai Kanaya. Kenapa mereka bisa bersama? Karena Ferdi memaksa untuk menjemput Kanaya, Kanaya yang tidak enak pun akhirnya menerima ajakan Ferdi.
"Thanks," ucap Kanaya saat mereka sudah sampai disekolah.
"Sama-sama, yuk aku anter kamu kekelas," ajak Ferdi dan tanpa izin mengamit tangan Kanaya. Kanaya sudah mencoba untuk melepaskan tangannya, tapi Ferdi malah mengeratkan gengamannya. Alhasil Kanaya hanya bisa pasrah digandeng oleh Ferdi. Mereka pun berjalan dikoridor dengan tatapan aneh para penghuni sekolah.
Dari kejauhan, Kevan melihat Kanaya dan Ferdi yang sedang berjalan dikoridor. Tiba-tiba Kevan terserang api cemburu yang begitu menyesakkan. Kevan yang sedang memegang sebuah minuman kaleng ditangannya pun meremas kuat hingga kaleng itu tak berbentuk dan menimbulkam bunyi yang keras. Setelahnya ia mengambil tasnya yang berada disampingnya. Ia berencana untuk bolos sekarang. Moodnya sedang tidak baik sekarang. Ia butuh pelampiasan.
Saat istirahat, Kanaya dan teman-temannya sedang berada dikantin. Mereka sedang mengisi perutnya yang lapar.
"Kanaya! Kevan ngamuk Nay!" teriak Andi yang tiba-tiba datang entah darimana.
Kanaya yang baru saja meminum jusnya langsung tersedak mendengar berita yang dibawa oleh Andi. Setelah selesai dengan acara tersedak Kanaya langsung menengok kearah Andi.
"Dimana?" tanya Kanaya dengan mimik wajah panik.
"Digedung belakang Nay, lu ikut gue deh sekarang!" ucap Andi yang langsung menarik tangan Kanaya. Kanaya pun hanya pasrah dibawa oleh Andi. Ia berharap semoga Kevan tidak terluka parah.
"Kevan stop!" teriak Kanaya saat melihat Kevan yang mulai kalap.
Kevan hanya menengok sekilas kearah
Kanaya dengan tatapan dingin. Ia tetap terus memukul tembok didepannya sampai tangannya berdarah dan memar.
"Udah Kevan udah!" teriak Kanaya dengan air mata yang mulai merembes dari pipinya. Ia tak tega melihat tangan Kevan yang penuh darah. Selama ini ia bohong, ia perduli terhadap Kevan, ia sayang sama Kevan. Tapi ia hanya perlu menata hatinya untuk menerima Kevan kembali.
"Kenapa?! Kenapa lo perduli sama gue Nay?! Bahkan disaat gue sama lo enggak ada hubungan apa-apa. Kenapa Nay?! Gue sadar, gue emang bukan yang terbaik buat lo, gue mencoba untuk memahami luka lo, lewat cara ini Nay. Luka yang gue toreh udah terlalu banyak ke elo Nay," ucap Kevan yang semakin memelankan suaranya.
Kanaya yang sudah tidak tahan pun segera memeluk Kevan dengan erat. Ia mencoba untuk membuat Kevan tenang. Ia mengelus-ngelus punggung tegap itu. Berharap agar Kevan tenang dan mulai menormalkan emosinya.
Setelah dirasa nafas Kevan mulai teratur, Kanaya menangkup pipi Kevan. Menatap lekat mata yang selalu menjadi incaran banyak gadis disekolahnya.
"Kamu tau, aku ga pernah marah sama kamu. Aku ga pernah benci sama kamu Van. Aku cuma kecewa. Kecewa karena kamu lebih mentingin orang lain dibanding aku. Selama ini, aku masih sayang sama kamu, aku masih perduli sama kamu. Dua tahun bukan waktu yang pendek untuk ngelupain semuanya, aku cuma perlu waktu buat aku bisa menata dan menerima kamu seutuhnya," jelas Kanaya panjang, berharap Kevan mengerti ucapannya. Mereka berpisah karena Kevan yang lebih mementingkan sahabatnya Mega dibanding Kanaya. Karena kesal, Kanaya pun memutuskan Kevan. Dan berakhir seperyi ini, Kevan yang selalu mengejar Kanaya. Bahkan Kevan tak lagi bermain kerumah Mega karena Kanaya.
"Maaf," ucap Kevan lirih. Sementara Kanaya hanya tersenyum kecil.
"Aku mohon, jangan tinggalin aku Nay. Aku ga sanggup liat kamu sama cowok lain Nay. Jadi, will you comeback?" tanya Kecan seraya menggenggam kedua tangan Kanaya yang berada dipipinya.
Kanaya menghela nafasnya, ia sadar bahwa ia bukan anak kecil lagi. Mungkin sekarang, saatnya ia menerima Kevan kembali dan menjalin kisah lama yang sempat tertunda.
"Iya Van. I'm comeback ," jawab Natasya dengan senyum manisnya.
Kevan yang senang pun segera menarik Kanaya kepelukannya.
"Makasih," ucapnya.
Dan akhirnya, Kanaya dan Kevan kembali marajut kisah lama yang sempat terputus dengan kisah baru. Mereka berharap, semoga kali ini kisahnya tak pernah ada kata putus sampai jenjang akhir.
[ E N D ]