Gambar dalam Cerita
Angin senja menerpa wajahku, mataku terpejam menikmati semilir angin yang menyejukan, rambutku yang terurai tanpa ikat bergerak mengikuti gerakan angin senja.
Saat berada di sini rasanya semua masalah yang ku pikul seperti hilang, masalah yang selalu berhasil membuatku terpuruk lenyap, seperti aku lupa semua nya.
Aku Raina, gadis penikmat hujan dan senja, setiap ada masalah yang membuatku bimbang aku selalu datang ke rumah pohon ini.
Aku menyukai hujan, bagiku hujan adalah peristiwa alam yang menyejukan butiran butiran air menetes dari awan yang selalu ingin aku datangi, hujan indah mengalir dengan teratur.
Aku juga penikmat senja, senja begitu indah di mataku karena selalu datang di waktu yang sama namun yang aku tidak sukai di senja adalah hanya datang sesaat “Tuhan, mengapa hal yang indah selalu datang sesaat? adakah hal indah yang selalu ada selama nya?" Ucap ku suatu malam saat senja telah berganti.
***
“Raina, kamu liat Andra gak?" Tanya Silvia teman sekaligus sahabat ku saat bel istirahat baru berdering. Dia adalah sahabat ku dari mulai kami kecil, kami sudah saling mengenal satu sama lain, dan aku juga sudah tahu bahwa dia menyukai Andra.
“Gak tahu, paling juga di perpustakaan biasanya kan dia pergi ke perpustakaan pas jam istirahat." Ucap ku. Silvia hanya mengangguk dan menarik tangan ku menuju perpustakaan, sudah pasti menemui Andra, siapa lagi?.
Aku dan Silvia berjalan memasuki perpustakaan tempat favorit Andra, dan benar saja Andra ada si sana duduk dengan tenang sedang membaca sebuah buku yang aku tidak tahu apa judul nya.
Senyum Silvia langsung mengembang begitu melihat Andra, pangeran Idamannya. Silvia kembali manarik tangan ku dan berjalan menuju bangku yang Andra duduki, aku pasrah saja.
“Andra." Panggil Silvia dengan senyum manis nya, dia memang cantik gadis pintar dengan prestasi yang pantas untuk di banggakan. Andra tersenyum manis bahkan sangat manis, terlalu manis, tidak bukan ke arah Silvia tapi Andra tersenyum untuk ku.
“Aku ke toilet " ucapku sembari berjalan meninggalkan mereka, ada sesuatu yang akan menetes.
***
Aku sesenggukan di dalam toilet, menangis sejadi jadi nya, ku tumpahkan semua rasa sakit yang menjalar membakar hati ku. Tapi bukan hanya air mata yang menetes, hidungku mengeluarkan darah segar sudah kesekian kali nya.
Ada sedikit rasa ngilu dalam hati ku. Sakit saat melihat Silvia dan Andra bersama, aku sudah lama menyembunyikan rasa cemburu ku terhadap mereka, namun tetap saja mata ku tak sekuat hati ku yang tetap tegar.
Apakah kalian tahu rasanya saat melihat orang yang kita cintai bersama orang lain?apalagi orang itu adalah sahabat mu sendiri, rasanya sakit saat berusaha tersenyum kaku di depan mereka.
Aku ingat senja itu.
“Raina, mengapa kamu selalu menghindar dari ku?" Suara Andra terdengar pilu, aku hanya menangis tak mampu bicara.“Aku tahu Raina, aku tahu kau juga mencintaiku, tapi mengapa kau bertingkah seperti ini?"
Hujan perlahan turun, aku meremas jari tangan ku aku bingung harus mengatakan apa pada Andra. “Apa karena Silvia?" Seketika tenggorokan ku terasa tercekat, benar Andra benar aku mencintai nya namun karena Silvia sahabatku, aku tak ingin membuatnya terluka.
Mulutku bungkam, tak mau berkata apa pun, air mata menetes bersama deras nya hujan dan kilatan petir. Aku menyeka air mata ku “Apa yang membuat mu yakin bahwa aku mencintai mu?" Tanya ku pada Andra yang masih tersenyum pilu.
Langkah Andra mendekat, aku dapat melihat mata nya yang berkaca kaca, aku tahu dia menangis namun dia tak mau terlihat rapuh, bukan kah lelaki hanya bisa menahan kepedihan di dalam dadanya?
“Aku telah membaca buku diary mu, aku telah membaca hingga halaman terakhir Raina, apa kau berfikir aku buta?." Jawaban Andra membuat tenggorokan ku tercekat, aku ingat buku diary ku hilang dua hari yang lalu.
“ Tidak sopan membaca diary orang lain tanpa izin." Ucap ku kasar pada Andra, dia malah tertawa sambil melambungkan pandangan nya pada runtikan air hujan senja itu. “Bila membaca buku diary orang adalah hal yang salah, apakah berbohong kepada orang yang jelas sudah tahu kebenaran nya adalah hal yang benar bagi mu Raina?" Jawab Andra, Andra benar aku telah berbohong.
Andra mengeluarkan sebuah buku bersampul hitam dan abu abu, itu dairy ku.“Ini milik mu." Aku menerima dan melihat isi nya benar ini buku ku. “Andra,bmenjauhlah dariku!."bentak ku pada nya, dia kaget,
"Aku akui aku memang mencintai mu, tapi mengertilah aku takkan mungkin menyakiti hati Silvia, dia adalah sahabat ku," ucap ku dengan nada bergetar.
“Apakah kau tega menyakiti dua hati hanya untuk menyelamakan satu hati? Kau bukan hanya menyakiti hatimu Raina, tapi kau juga menyakiti hatiku." Ucap Andra dengan raut wajah sulit di artikan.
Aku mematung Andra benar, iblis macam apa aku sekarang? “Aku mohon mengertilah, jika sungguh kau mencintaiku maka aku mohon lakukan apa yang aku ingin Andra suatu hari kau akan mengerti kau akan pahami bahwa ini adalah keputusan terbaik." Ucap ku.
Andra bungkam saat itu, menatapku memikirkan sebuah jawaban. “Apa kau yakin?" Tanya nya. Aku mengangguk.“Sangat yakin, aku mohon cintai Silvia seperti kau mencintaiku." Ucap ku dengan sebuah senyuman palsu.
Andra menangguk dan tersenyum aku tahu itu bukan senyuman kebahagiaan itu adalah senyuman kekecewaan, maafkan aku Andra. Andra menuruni rumah pohon dan berjalan menembus hujan yang semakin menggila,ku tatap punggung Andra yang semakin menjauh. Itu adalah punggung yang selalu aku pandangi saat semua orang tak menyadari.
***
Hari hari ku setelah itu berubah seketika aku jadi seorang gadis yang pendiam dan sering melamun. Aku jadi jarang berada di rumah, aku lebih suka pergi ke rumah pohon dan menyendiri di sana.
Aku sering menangis padahal tadi nya aku adalah seorang gadis yang tegar dan tak suka menangis, entahlah semenjak hari itu aku menjadi seorang gadis cengeng.
Hari ini aku hanya diam bersama sunyi, aku hanya melamun dan terus berandai andai. Rasa nya ada yang hilang dari diriku,ada sesuatu yang pergi dan menyisakan luka terdalam.
“Bunda,,,jangan tinggalin Raina, Raina takut bun, Raina takut, orang orang di dunia ini jahat bun, Raina gak mau di tinggalin nanti kalau Raina sakit lagi siapa yang mau anter Raina ke dokter?bbunda bangun bun." Seorang anak kecil memeluk tubuh yang terbujur kaku sambil menangis histeris.
Orang orang begitu tersentuh melihat pemandangan yang begitu memilukan. Gadis itu aku Raina.
“Raina, jangan nangis, kan masih ada Ayah sayang." Seseorang memelukku, dia ayahku. Aku mendorong tubuh yang tengah memelukku .
Aku mengusap air mata yang tanpa ku sadari telah menetes membasahi pipi ku, masa lalu begitu jahat. Aku marah pada diri ku takdir ku dan juga semuanya, mengapa keluarga dan semua hal selalu saja mengecewakan ku, aku lelah rasanya ingin sekali aku pergi dari dunia ini.
“Raina?" Panggil seseorang. Aku menengok dan aku melihat Andra tengah berdiri di belakang ku. Dia mendekat dan duduk di sampingku,“Mengapa kau menangis?" Tanya nya saat melihat wajah ku yang merah karena menangis, aku tersenyum pilu.
Ku sandarkan kepala ku, aku menangis sejadi jadi nya. Dia mengusap kepala ku, dia tahu pasti tahu tentang luka yang tengah aku rasakan. Aku nyaman berada di samping Andra,namun aku tak bisa memiliki nya, aku tak ingin semua nya hancur karena ego ku.
Andra selalu ada untuk ku, dia adalah teman berbagi cerita, meskipun ini diam diam tanpa sepengetahuan Silvia, maafkan aku Sil.
***
“Dasar wanita tak punya hati!" Bentak Silvia, aku terlonjak kaget saat melihat Silvia datang ke rumah pohon dan marah marah, aku sudah menduga hal ini pasti akan terjadi, hal yang aku takut kan pasti akan terjadi.
Andra baru saja pulang dan aku kaget karena kedatangan Silvia yang tiba tiba.Dia terlihat marah bahkan sangat marah.“Aku tahu Raina, aku tahu bahwa Andra sering datang kemari dan duduk berdua dengan mu, aku tahu Raina, mengapa kau lakukan itu semua Raina? bukan kah kau tahu bahwa aku menyukai nya?" Ucap Silvia bertubi tubi.
Aku diam mencerna dan berusaha memahami maksud dari kata kata Silvia. “Apa katamu Sil?" Tanya ku pada nya,dia hanya menyeringai sinis ke arah ku. “Aku tak percaya Raina,kau adalah sahabat yang sangat aku percayai, lalu mengapa kau lakukan itu? kau jahat Raina," Teriak Silvia dengan wajah merah padam,aku tahu Silvia pasti marah, sangat marah padaku.
Aku diam,btak tahu harus marah sedih atau ketakutan,r asanya aku sudah mati rasa untuk semua hal yang terjadi di sekitar ku.
“Maafkan aku Sil." Hanya kata itu yang terucap oleh ku aku bingung harus berkata apa lagi pada nya. “Kau ini sebenarnya siapa hah? kau ini sahabat? musuh? atau musuh berbentuk sahabat? aku tak percaya Raina aku tak percaya." Keluh Silvia menggelengkan kepala nya, tatapan mata nya sudah tak seteduh biasa nya dia marah pada ku.
Aku tak bisa membayangkan apa kah aku begitu hina nya di mata Silvia? apa aku begitu hianat nya di mata Silvia? Aku bahkan telah merelakan Andra untuk Silvia, aku telah melepasnya untuk mu Sil, aku telah menahan sakit untuk membuatmu bahagia, aku telah merelakan kebahagiaan satu satu nya di hidupku agar kau dapat tersenyum setiap hari, aku telah mati matian menahan luka karena mu.
Lantas sejahat itu kah aku di mata mu? mulut ku bungkam tak mau bicara, aku sudah berjanji takkan menceritakan tentang aku dan Andra kepada Silvia tentang rasa kami yang tumbuh dan selalu berusaha kami bunuh.
Pandangan ku kabur, aku terus memanggil nama Silvia meminta pertolongan, namun Silvia melangkah pergi meninggalkan aku di rumah pohon ini, aku sakit Sil apakah kau tahu?
Tolong aku siapa pun.
***
Aku duduk di bangku rumah pohon kesayangan ku, rasanya aku akan tetap di sini aku tak punya rumah lagi. Seseorang duduk di sampingku, dia Andra pandangan nya kabur menyapu seluruh pojok rumah pohon.
Aku melihat ada cairan bening jatuh di pipi nya,dia Andra menangis. Aku pertama kali nya melihat Andra menangis,aku belum pernah melihat nya menangis. Entah apa alasan nya yang pasti,hal itu adalah hal yang sangat memilukan bagi nya, hal itu pasti adalah hal yang sangat berharga bagi nya.
Aku hanya menatap nya, melihat berbagai perubahan raut wajah nya, dia tampak kecewa, sedih dan marah. Aku ikut menangis melihat Andra menangis,ada getaran pilu melihat nya menangis.
Sesorang tiba tiba datang “Andra maafkan aku." Dia Silvia, ada apa ini? mengapa Silvia menangis? apakah mereka sedang bertengkar? Silvia mendekati Andra dan memohon untuk meminta maaf pada Andra, Andra hanya bungkam menangis, dia tampak sangat rapuh.
Andra hanya bungkam tak ucapkan apa pun, sedangkan Silvia menangis histeris, ini adalah pemandangan yang sangat memilukan. Kedua sahabatku menangis,hingga rumah pohon ku hanya terdengar suara tangis Silvia memecah keheningan.
“Pergi kamu" Ucap Andra, aku hanya mematung melihat nya. Silvia kasihan dia, mengapa Andra memperlakukan nya seperti itu? apa masalah nya? “Kamu adalah seorang sahabat terbusuk yang pernah Raina miliki."
Apa? apa? Andra menyebut nama ku. Silvia menangis,“Aku tak tahu Andra, yang aku tahu dia berusaha merebut mu dari ku, dia mendekatimu di belakangku." Lirih nya.
Aku mematung, mengapa mereka membicara kanku? “Kamu egois Silvia apakah kau tahu Raina telah merelakan aku untuk mu, dia memendam perasaan nya untuk kau bahagia." Ucap Andra dengan kasar, aku tak tega melihat nya.
“Raina...mengapa kau tak ceritakan pada ku bahwa kau punya penyakit tumor otak Raina, mengapa kau rahasia kan ini dari ku." Lirih Andra mengacak acak rambut nya.
Aku diam mematung, aku mendekati Andra dan menyentuh wajah nya, namun tangan ku tak bisa menyentuh wajah nya. “Dan kau tak punya perasaan, meninggalkan Raina saat dia sedang kesakitan, apa kau tak punya perasaan Silvia? aku tak mengerti." Ucap Andra dengan pilu.
“Dan saat pemakaman nya, mengapa kau tak datang?" Lanjut Andra kepada Silvia. Silvia mengatur nafas nya “Aku kaget, aku tak percaya bahwa Raina benar benar telah pergi, aku fikir ini hanya mimpi tapi aku salah ini benar, aku menyesal." Lirih Silvia dia tak henti menangis.
Aku diam air mata menetes, terjawab sudah pertanyaan yang bermunculan di benak ku, mengapa Andra dan Silvia bertengkar, itu karena kematian ku kemarin, pantas saja Andra dan Silvia tidak bisa melihat ku, ternyata aku hanyalah arwah.
Senja tiba, begitu pun hujan mulai turun dengan damai, menjelaskan tentang luka yang baru saja tergores. Aku berjalan dan berdiri di antara Andra dan Silvia, mereka sama sekali tak bisa melihat ku, aku hanya arwah yang tak tau harus pergi ke mana.
Ingin rasa nya aku berkata dan memeluk mereka tapi tak bisa, aku telah berbeda dunia.aku bingung harus bagimana. “Raina maafkan aku."Lirih silvia.
Aku tersenyum,“Aku telah memaafkan mu bahkan sebelum kau meminta maaf Sil, terima kasih." Ucap ku berharap Silvia mendengar. Aku berjalan dan kembali duduk di samping Andra yang masih tampak frustasi, “Andra maafkan aku karena aku merahasiakan tentang penyakit ku, aku hanya tak mau kau tahu bahwa hidupku memang sudah tak lama lagi, dan aku merelakan kau untuk Silvia agar kau dapat melupakan aku secepat nya "
Aku tak peduli meski pun aku tahu berbicara pada mereka adalah hal yang percuma, aku tak peduli yang pasti aku sudah jelaskan. Andra berpelukan dengan Silvia membuat aku tersenyum bahagia “Aku akan mengikuti apa yang Raina mau, menjaga mu." Ucap Andra sambil merangkul Silvia dan menuruni rumah pohon.
Aku tersenyum bahagia,"Andra ternyata sampai kini kau masih mengingat permintaan ku." Mereka berjalan menembus hujan, aku kembali menangis ini adalah tangis bahagia, aku bahagia melihat mereka bersama.
Aku sekarang telah bebas dari kesakitan ku, rasa sakit karena kanker otak yang membuat sakit menjalar ke seluruh tubuh ku tanpa orang lain ketahui, aku juga telah bebas dari rasa sakit hati karena melihat Andra dan Silvia, sekarang aku telah merelakan mereka bersama, aku berharap kematian ku adalah awal dari kebahagiaan Andra, Silvia dan aku.
“Raina, sayang." Aku mengenal suara itu suara yang aku rindukan, aku berbalik dan melihat bunda yang tersenyum ke arah ku. Aku berlari menghampiri nya,“Aku rindu bunda." Ucapku.
Bunda tersenyum dan menarik ku ke alam ku yang baru. Selamat tinggal rumah pohon dan kutitipkan sekotak Senja terakhirku.
***
end.