I'll Be There For You
Teen
13 Jan 2026

I'll Be There For You

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download (55).jfif

download (55).jfif

13 Jan 2026, 15:36

download (54).jfif

download (54).jfif

13 Jan 2026, 15:36

Seorang gadis bername tag Salwa Maharani sedang duduk di halte dekat sekolah. Kepalanya celingak-celinguk mencari keberadaan seseorang yang ditunggunya. Bel pulang sekolah sudah lama berbunyi, namun pemuda itu belum juga menampakkan batang hidungnya.

Sebuah mobil yang sangat ia kenali tepat berhenti di depannya. Terlihat seorang pemuda keluar dari mobil, dan menghampirinya.

"Masih nunggu Raka?" tanya pemuda itu seraya duduk di samping sang gadis.

"Iyaa ... awa udah nunggu daritadi, tapi Raka nggak muncul muncul." Ia mengerucutkan bibirnya. "Eh, Argha kenapa masih disini?" sambungnya.

"Gue nemenin lo," tutur Argha. Salwa hanya mengangguk. Lantas ia mengeluarkan ponsel dari sakunya, menanyakan kabar pemuda yang telah menjadi pacarnya dari seminggu yang lalu.

_"Kok handphone-nya nggak aktif ya?"_ batin Salwa.

"Pulang aja yuk, Wa. Mungkin dia udah balik duluan," ajak Argha.

Dengan cepat Salwa menggelengkan kepalanya. "Enggak! Nanti bentar lagi juga muncul."

Argha menghela napasnya. Matanya menatap dalam gadis di sampingnya itu. " Bertahun-tahun gue jadi sahabat lo, Wa. Gue tahu banget, lo tipe orang yang nggak suka nunggu. Segitu cintanya lo sama dia sampe rela nunggu lama begini? " Batin Argha.

Hari kian sore. Argha beranjak dari duduknya. "Gue anterin lo pulang, dia nggak bakal dateng Wa," tuturnya. Kini Salwa menurut. Dengan muka yang ditekuk, Ia masuk ke dalam mobil Argha.

Akhirnya mobil mereka pun meluncur menuju rumah Salwa.

___

Setelah mengantar Salwa, kini Argha dalam perjalanan pulang menuju rumahnya. Namun, netranya tidak sengaja menangkap pemuda yang sedang membonceng seorang gadis. Wajah pemuda itu nampak tidak asing.

Argha mendengus ketika menyadari bahwa pemuda itu adalah Raka, pacar Salwa. Ia memutuskan untuk mengikuti motor itu.

Tibalah mereka di sebuah cafe . Sebelum keluar dari mobil, Argha menyempatkan mengambil kacamata hitam di dashboard -nya agar keberadaanya tidak diketahui.

Ia memilih duduk di tempat yang tidak jauh dari Raka dan gadis itu agar bisa menguping pembicaraan mereka.

Tidak sia sia, Argha dapat mendengar samar samar percakapan mereka.

"Hahaha, kamu beneran cemburu?" Pertanyaan dari seorang pemuda membuat sang gadis di depannya mengangguk dan memanyunkan bibirnya.

"Dia cuma dijadiin taruhan, Rin ... kamu tenang aja."

Argha menajamkan telinganya. "Dia?" gumamnya.

"Syukur, deh. Lagian masih cantik aku daripada Salwa," balas sang gadis.

Kini Argha mengepalkan tangannya. Bibirnya tak henti hentinya mengumpati Raka.

"Uang taruhannya bakal dikasih setelah 2 minggu pacaran, jadi kamu tunggu sampe minggu depan ya ... pasti aku bakal putusin dia kok." Raka mengusap lembut surai gadis di depannya.

Cukup! Argha sudah tidak dapat lagi menahan emosinya. Ia beranjak dan menghampiri Raka.

Bugh!

Dengan brutal, Argha meninju rahang Raka.

Bugh!

Tangannya beralih meninju pelipisnya hingga mengeluarkan darah segar.

Setelah mengatur napasnya yang memburu, Argha segera meninggalkan tempat itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

___

Kini Salwa sedang memandang langit langit kamarnya. Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam namun ia belum mendapat kabar dari pacarnya itu.

Sepersekian detik kemudian dering telepon berbunyi. Senyumnya mengembang ketika melihat nama yang tertera di layar ponselnya.

"Halo, Raka!" sapa Salwa ketika panggilan tersambung.

Halo sayang, maafin aku ya ... tadi siang aku jemput bunda ke bandara, jadi nggak bisa nganter kamu pulang, deh. "

"Hm, iya deh nggak papa," balas Salwa.

Besok kamu berangkat sendiri dulu ya? Nanti kita ketemu di kantin. "

Salwa mengerucutkan bibirnya. "Yah ... Emang kenapa ka?"

"Eh, aku udah di panggil bunda, Wa. Aku tutup teleponnya ya ... bye good night sayang."

Panggilan terputus.

Salwa menghela napasnya. Tak apa lah. Setidaknya, perkataan manis Raka mengurangi rasa kesal yang menyelimuti dirinya.

___

Keesokan paginya, Salwa berangkat sekolah diantar oleh Pak Dirman, supir pribadinya.

Niat hati ingin berangkat bersama sahabatnya, namun Argha tidak membalas chat-nya.

Ketika ia tiba di kelas pun, ia tidak menemukan Argha. Padahal bel masuk sudah hampir berbunyi.

Kring kring .

Benar saja, pembelajaran sudah akan dimulai, kemana pemuda itu?

___

Kini, sudah waktunya istirahat. Ketika Salwa ingin beranjak ke kantin, betapa terkejutnya ia mendapati Argha yang baru masuk kelas dengan menenteng tasnya.

"Argha darimana aja?" tanya Salwa menghampiri pemuda itu.

Argha diam. Ia tak berniat membalas perkataan Salwa. Sebenernya, sejak jam pertama ia berada di rooftop untuk menenangkan diri.

Entahlah, ia masih terbayang bayang ucapan Raka tempo lalu. Sungguh, ia tak ingin melihat sahabatnya sakit hati.

Sepersekian detik berikutnya, Argha menarik Salwa ke dalam dekapannya.

"Gue kemarin liat Raka sama cewe, Wa. Dia cuma jadiin lo taruhan ...," lirih Argha.

Tubuh Salwa menegang. Ia langsung melepaskan pelukannya.

"Ngaco deh, Gha. Orang kemarin Raka ke bandara kok," elak Salwa.

Argha menggelengkan kepalanya. " Please , percaya sama gue, Wa. Akhiri sekarang, gue nggak mau lo jatuh lebih dalam."

"Salwa ...." Teriakan dari luar kelas menginterupsi pembicaraan mereka.

Lagi lagi Salwa terkejut mendapati Raka dengan lebam di wajahnya.

"Raka, kamu nggak papa?" panik Salwa seraya mendekat ke arah Raka.

Raka melirik Argha sebentar. "Pasti dia udah bicara yang enggak enggak tentang aku kan, Wa? Jangan percaya ... Dia emang keliataannya nggak suka sama aku, Wa. Buktinya kemarin dia nonjok aku tanpa sebab," dusta Raka.

Argha membulatkan matanya. " Brengsek ." batinnya.

Sedangkan Salwa memandang Argha tak percaya. "Kenapa sih Gha? Argha mau bikin Awa sakit hati, iya? Nggak gini caranya Gha!" sentak Salwa.

Diam diam Raka mengeluarkan smirk -nya. " Nggak semudah itu lo hancurin rencana gue ," batinnya.

Argha menggeleng. "Awa, bukan begitu. Dia bohong, Wa. Percaya sama gue," tutur Argha.

Salwa mengangkat tangannya di udara. " Stop ! Awa kira kamu sahabat yang baik buat Awa ... tapi, nyatanya enggak!"

Salwa segera beranjak dari kelasnya. Sebelum menyusulnya, Raka menyempatkan diri memandang remeh ke arah Argha dan menertawainya. "Ck, kasian banget lo."

"Argh!" Argha menarik rambutnya frustasi.

___

Semenjak kejadian itu, baik Salwa maupun Argha tidak pernah sekalipun bertegur sapa. Entahlah, padahal setiap hari mereka bertemu di kelas. Namun, seakan ada jarak membentang di antara keduanya.

Kini, sudah menginjak minggu pertama setelah pertengkaran Salwa dan Argha. Sedengkan hubungannya dengan Raka masih baik baik saja.

"Salwa," panggil Raka. Wajah sendu Salwa berubah menjadi sumringah ketika mendengar suara Raka. Sekarang, ia berada di kelas disaat teman teman kelasnya sudah berpencar menuju kantin.

Keadaan kelas sepi, hanya ada mereka berdua di dalam kelas itu. Eh tunggu! Ada seseorang yang menelungkupkan kepalanya di bangku belakang.

"Gue mau kita putus." Perkataan Raka berhasil membuat tubuh Salwa menegang. Ia mengerutkan keningnya. Sepersekian detik kemudian, kekehan keluar dari mulutnya. "Kamu lagi nge-prank?"

"Gue mau kita putus," ulang Raka dengan wajah seriusnya. "Temen lo bener, lo cuma dijadiin taruhan."

Deg .

Bak disambar petir, tubuh Salwa seolah tidak berkutik. Pernapasannya tercekat, seakan pasokan udara kian menipis.

"Jangan ganggu gue lagi," tutur Raka seraya beranjak keluar dari kelas.

Tak berselang lama, bulir berjatuhan dari pelupuk mata Salwa.

Isakkan terdengar. Kenapa gue harus ngalamin ini? Batinnya.

Ternyata, sedari tadi Argha menyimak pembicaran dua insan itu di bangku belakang. Ia mendekat ke arah Salwa. Sungguh, ia tidak kuasa melihat sahabatnya itu terpuruk dalam kesedihan.

Argha menarik Salwa ke dalam dekapannya. "Udah, udah ... jangan nangis ah, masih ada gue disini," ucapnya seraya mengusap kepala Salwa.

Bukannya reda, tangisan Salwa pecah mendengar penuturan sahabatnya itu. Ia merasa tak enak hati telah berprasangka buruk padanya minggu lalu.

"Maafin Awa, Gha...," lirih Salwa.

"Iya iya...." Pelukan terlepas, Argha menangkup kedua pipi gadis di depannya itu.

"Gue nggak mau liat lo sedih," ucapnya seraya menuntun bibir Salwa agar tersenyum. "Nah, gini kan Awa cantik," lanjutnya diiringi kekehan.

"Makasih, Argha."

Mungkin saat ini gue masih jadi sahabat lo Wa Tapi gue yakin suatu saat nanti gue yang akan ngisi tempat di hati lo ."

[ E N D ]


Kembali ke Beranda