Gambar dalam Cerita
Bel istirahat telah berbunyi beberapa saat yang lalu, disusul dengan suara nyaring murid-murid kelaparan yang berlarian keluar kelas menuju kantin, tepat setelah guru yang mengajar mereka keluar dari kelas.
Seperti biasanya, kantin terlihat ramai hari ini. Ditambah cuaca yang sedang panas-panasnya, membuat teriakan kesal bersahutan dari antrian di depan meja pemesanan.
Namun, lain di meja pemesanan, lain juga suasana di beberapa meja murid yang sudah mendapatkan makanannya. Contohnya pada meja berisi tujuh murid yang saat ini sedang menikmati makanannya masing-masing dengan khidmat: Halilintar, Taufan, Gempa, Gopal, Yaya, Ying, dan Fang.
Mereka menikmati makanan masing-masing dalam diam, kecuali Fang dan Gopal yang sedang sibuk dengan ponsel yang berada di tangan Fang, entah melakukan apa.
"Oi, lo bedua lagi ngapain, dah? Sibuk bener perasaan, ngalahin grasak-grusuknya murid di antrian malah," tanya Ying yang sudah jengah memperhatikan keduanya sedari tadi.
Bagaimana tidak jengah? Fang dan Gopal kadang tertawa kerasa menatap ponsel itu, tapi di beberapa waktu lain malah sibuk berdebat sampai hampir membuat ponsel milik Fang terhempas ke lantai—untung Halilintar dengan refleks yang tinggi selalu berhasil menangkapnya sebelum menyentuh lantai.
"Ssttt!" Gopal menaruh jari telunjuknya di depan bibir, mengode Ying untuk diam.
Decakan kesal keluar dari sela bibir Ying, disusul dengan kedua matanya yang berotasi malas. Ia lalu kembali menyantap makanan di depannya dengan tenang, sesekali mengajak bicara Yaya yang berada di sebelahnya.
"Baiklah, sebelumnya, selamat siang Tuan-Tuan dan Puan-Puan sekalian yang sudah bersedia menyempatkan diri untuk menonton live krusial dari kelas kami," suara Gopal yang terdengar dibuat-buat akhirnya mengudara, membuat beberapa murid di kantin melirik penasaran ke arah meja mereka.
Entah sejak kapan, Gopal kini sudah berdiri membelakangi mereka sembari memegang botol minum milik Yaya. Di depannya, terdapat Fang yang sedang memegang kamera ponsel dan mengarahkan kameranya tepat di wajah Gopal.
"Pembahasan kita kali ini bukan hanya tentang anak dari kelas 11 RPL 2 saja, tapi akan ada gabungan dari anak kelas lain. Hari ini, Saya akan mewawancarai ketiga murid yang cukup populer di kelas 11 ini, yaitu Halilintar, Taufan, dan Gempa. Ya, ya, ya, benar sekali. Trio bencana alam."
Gempa yang sedari tadi hanya memperhatikan tiba-tiba tersedak kuah baksonya kala mendengar namanya disebut oleh Gopal. Ia menepuk-nepuk dadanya pelan, lalu segera menerima uluran gelas berisi air putih dari Taufan.
"Woy, kalo mau ngewawancarain orang tuh kasih tau dulu, dong! Kesian ini adek gue keselek gara-gara kaget," seru Taufan pada Gopal. Tangannya sudah bersiap melempar jeruk sambal sebelum ditahan Halilintar.
Gopal menoleh sekilas, lalu terkekeh. Tak lama setelahnya, Gopal mengode Fang untuk mendekatkan kameranya ke arah Halilintar yang kembali sibuk dengan makanannya sendiri.
"Baiklah, saat ini Saya sudah bersama dengan Bapak Halilintar—"
"Bapak gue lagi kerja, anjir. Ngapain lo bawa-bawa," potong Taufan, membuat Gopal berdecak kesal sementara Ying dan Yaya cekikikan.
"Hak bicara lo gue cabut! Diem lo!" hardik Gopal pada Taufan, membuat Taufan tertawa keras.
"Mohon maaf atas gangguan kecilnya, ya, Tuan-Tuan dan Puan-Puan. Oke, mari kita kembali lagi pada Kak Halilintar," Gopal menetralkan ekspresi wajahnya kembali, lalu menyuruh Fang untuk mengarahkan ponselnya ke arah Halilintar yang kini beralih meminum es tehnya.
"Kak Halilintar, kenapa kakak bisa terlahir sebagai anak kembar? Langsung tiga pula, tuh."
Halilintar yang sedang mengelap tangannya dengan tisu setelah meminum es tehnya pun seketika terdiam. Manik merah delimanya menatap tajam Gopal yang kini tertawa canggung melihat tatapan itu.
"Pertanyaan bodoh macam apa itu?"
"Pfftt!" Taufan dan Gempa mengalihkan pandangannya dari Gopal, menahan tawa yang akan segera meluncur. Sementara itu, Yaya dan Ying tertawa kecil mendengarnya. Bahkan ponsel yang bertugas merekam mereka pun bergetar, menandakan jika Fang sedang berusaha menahan tawanya.
"Jawab spontan aja, jawab spontan. Request paling banyak dari penonton ini, Li!"
Halilintar menghela napasnya, lalu beralih menatap kamera ponsel yang berada di depannya. "Biar gue gak tua sendirian." Halilintar benar-benar menjawab pertanyaan itu spontan, membuat getaran pada kamera semakin kuat karena Fang yang kesusahan menahan tawa.
"Lo aja kali yang tua, gue mah awet muda, coyy! Jeg menyala wii!" seru Taufan. Beberapa murid yang sebelumnya sudah menonton mereka dari awal pun kini ikut tertawa mendengar ucapan kedua anak kembar itu.
Halilintar mendelik sinis, lalu mengibaskan tangannya ke depan kamera, mengusirnya.
Gopal mengangguk, lalu beralih mendekati Taufan yang saat ini sedang berbicara dengan Gempa. "Baiklah, kita beralih ke Kak Taufan. Setiap anak kembar pasti punya sesuatu yang berbeda, bukan? Jadi, mari kita tanyakan bagaimana pendapat Kak Taufan."
"Kak Taufan, menurut Kakak, kenapa kalian bisa terlahir sebagai anak kembar? Dan kenapa Kakak terlahir sebagai anak kembar kedua?"
"..." Taufan diam, tak mengeluarkan sepatah kata pun. Ia hanya menatap Gopal dan kamera secara bergantian.
"Kak Taufan?" panggil Gopal, namun Taufan tetap diam.
"Ngomong, anjir!" hardik Gopal lagi, hilang sudah kesabarannya menghadapi manusia pecinta biru di depannya ini.
Taufan mengernyitkan dahinya, lalu mengambil ponsel dan mengetikkan beberapa kata di catatan. " Katanya hak bicara gua di cabut, " isi catatan itu, membuat Gopal mengusap wajahnya frustasi.
Ia kemudian mengambil kertas dari dalam saku, lalu meminjam pulpen milik Yaya—menuliskan kalimat "Hak bicara" di kertas itu, kemudian memberikannya pada Taufan.
"Noh, hak bicara lo gue kembaliin," ucap Gopal. Tangannya mengulurkan gulungan kertas, yang langsung di sambut dengan tatapan berbinar dari Taufan.
"Kak Taufan terlalu menghayati peran," komentar Gempa. Kepalanya menggeleng maklum, lalu meminum es tehnya seraya memperhatikan kegiatan kakak kedua dan temannya itu.
"Oke, lanjut. Menurut Kakak, kenapa kalian bisa lahir sebagai anak kembar? Dan kenapa Kakak terlahir sebagai kembar yang kedua?" tanya Gopal kembali, ekspresinya sudah di netralkan kembali sekarang.
"Gatau. Tanya ke orang tua gue, lah," jawab Taufan santai, membuat Gopal geram. "Fan!"
Taufan terkekeh sekilas, lalu menatap kamera; kali ini tatapannya lebih tenang. "Karna gue gak cocok jadi sulung, dan gak mau jadi bungsu," jawab Taufan, lalu menyuapkan satu sendok besar nasi goreng ke dalam mulutnya, agar tidak di tanya-tanya lagi oleh Gopal.
Gopal mengangguk, kali ini kembali beralih pada kandidat terakhir; Gempa, bungsu si trio bencana alam.
"Nah, kita beralih ke Kak Gempa. Kak Gempa terkenal paling tenang di antara kedua kembarannya, pasti gak bakal bertele-tele ini jawabannya," senyum cerah terbit di wajah Gopal sekarang. Sepertinya ia juga lelah setelah berurusan dengan Halilintar dan Taufan.
"Kak Gempa, kenapa Kakak bisa terlahir kembar dan menjadi bungsu dari trio bencana alam?"
"Biar lo nanya," balas Gempa asal, kemudian menarik tangan kedua kakaknya dan berlari menuju keluar dari kantin. Halilintar menggelengkan kepalanya sembari tersenyum kecil, sementara Taufan tertawa nyaring sembari mengikuti langkah Gempa.
Di sisi lain, Gopal menjatuhkan rahangnya, lalu duduk kembali pada kursi sembari menghela napas panjang. "Salah emang gue berharap lebih sama mereka. Sama aja semuanya, pantesan kembar," ucapnya nelangsa.
Siaran live dari akun kelas siang itu berakhir dengan suara tawa yang menggema di seluruh penjuru kantin. Semua murid yang sedari tadi menonton kegiatan mereka tertawa keras melihat wajah pasrah Gopal yang kini memakan nasi gorengnya yang baru di sendok sedikit.
▵▾▵▾▵▾▵