Gambar dalam Cerita
"Vio cepetan ini udah kelewat subuh." Suara Dena terus membuat aku mempercepat aku yang serdang menggunakan baju kebaya. Segera aku dan Dena menuju sebuah salon. Hari ini adalah hari perpisahan.
Dan dengan berat hati aku terpaksa harus menggunakan baju kebaya yang telah mama ku pilihkan. Itu mendingan hal yang paling tak aku suka make up, hari ini aku harus menggunakan make up seharian. Benar benar tak terbayangkan.
***
Acara pengalungan medali telah selesai aku telah resmi menjadi alumni. Hingga di lanjutkan dengan acara foto bersama teman sekelas. Dan teman lainnya. Ada yang beda pikir ku saat kami akan melaksanakan salam salaman dengan teman satu angkatan.
Hingga setelah selesai, aku pun pulang bersama teman ku Dena, huh hari yang melelahkan.
***
Aku merebahkan tubuhku di kasur sambil memandangi langit langit kamarku. Ada rasa was was dalam benakku tapi aku juga tak tahu apa itu, ku ambil ponselku dan ku lihat foto ku bersama Revan, dia teman spesialku.
Namun sepertinya ada yang kurang tapi aku tak tau apa itu, aku pun berusaha tak peduli dengan perlahan memejamkan mataku, waktunya tidur siang.
***
Beberapa tahun setelah kelulusan, aku pun sudah melakukan aktivitas seperti biasa. Hari ini aku telah selesai belanja, bukan belanja baju dan alat kecantikan seperti gadis lainnya hari ini aku di tugaskan belanja bahan masakan yang telah habis.
Gerah, matahari menyorot wajahku aku pun memasuki sebuah cafe, lalu memesan es krim dan duduk di sebuah kursi, sendirian. Saat sedang sibuk dengan es krim ku, tiba tiba seorang lelaki duduk di depan ku, aku lalu mendongakkan kepala, siapa dia?
Aku sama sekali tak mengenalnya, dia bisa di bilang hmm tampan."Kehabisan kursi?" Tanyaku karena aku mulai risih dengan tatapan nya. Dia tersenyum lalu menggeleng "Tidak" ucap nya aku pun berdiri berniat untuk pergi dari cafe ini.
"Elta vionita" ucap lelaki itu aku langsung membeku kaget mengapa dia tau nama lengkap ku? Aku berbalik dan dia masih dengan ekspresi yang cool, sambil meminum kopi di meja nya. Aku lalu duduk kembali. "Siapa kamu ini?" Tanyaku dengan dahi berkerut.
"Dari tadi kau baru bertanya." Ucap nya dengan sedikit senyuman "kau bahkan langsung pergi begitu saja, seperti aku ini orang gila." Ucapan nya membuat aku tercengang. "Maaf, ku kira kau orang jahat." Ucap ku seadanya.
Dia mengangguk dan kembali diam."Siapa nama mu? mengapa kamu tahu nama lengkap ku?" Tanya ku tanpa berkedip. "Kan ku jawab pertanyaan mu satu satu." Lalu dia menarik nafas panjang, aku seperti mengenalinya.
"Namaku Alvin Chandra." Ucap nya aku langsung tercengang. Aku ingat nama itu, itu adalah nama teman ku yang selalu aku hindari dan abaikan. Dulu berpenampilan bak preman dan sekarang? dia hampir mirip dengan aktor terkenal.
"What? yaampun Alvin ku kira siapa, kamu ini jauh berubah." Ucap ku sambil tersenyum girang dan menatap dari atas hingga bawah, hingga aku dapat melihat sepatu hitam berkilau nya. "Hahaha sepertinya kau sudah melupakan ku ya Vio." Ucap nya dengan nada tak bisa ku jelaskan.
Aku hanya tersenyum. "Kenapa kau masih mengingatku?" Tanya ku ketus, dia tersenyum lalu memandangku. "Ya pastilah bagaimana mungkin aku bisa melupakan seseorang yang aku kagumi?" Ucap nya, aku membeku.
"Kau ini selalu bercanda." Ucap ku, padahal aku sudah dag dig dug di buat nya. "Aku tak bercanda, aku serius." Ucap nya masih dengan ekspresi tenang. Aku diam kikuk rasanya,"Haha santai saja Vio, kau ini kenapa?"
"Hmm tidak" Ucapku. "Kau sudah punya pacar?" Tanya Alvin membuat aku tersentak "Sudah pacarku Revan." Ucapku hati hati. Jujur aku juga menyukai Alvin, aku juga kagum pada nya, tapi aku telah memilki Revan yang aku sukai semenjak masa putih abu.
Alvin tersenyum,"Aku bahagia Vio menurutku kamu dan Reva sangat cocok, Revan yang rajin, pintar, baik dan sopan." Ucap nya sambil membuang muka. "Jujur Vio, jika aku boleh jujur?" Tanya Alvin pada ku. "Tentu saja boleh" ucap ku.
"Aku menyukai mu, bahkan saat kau masih mencintai Revan, yah seperti sekarang ini, aku menyukai mu semenjak kamu menguatkan aku, waktu penolakkan oleh Sherin, kau wanita yang berbeda begitu polos dan apa adanya, kau berbeda cuek dan tak peduli hingga aku berpikir siapa kah lelaki yang akan beruntung selalu kau pikirkan?
Kau pintar dan cerdas selalu membuat aku semangat, bahkan saat aku selalu di hukum guru, aku tahu kah begitu jijik padaku? aku Alvin yang nakal dan berandalan, sering kau marah padaku.
Kau membuat aku berubah, aku akui ingin aku menjadi pelindungmu namun aku terlalu nakal untuk kau yang baik kau wanita baik aku tak ingin menyakitimu.
Kau pantas dengan Revan, dia tampan pantas dengan kau yang cantik, aku mengerti bahkan kau sama sekali tak mengingatku dengan begitu kau sudah menjawab pertanyaan ku, aku tak pernah penting di hidup mu." Ucap Alvin lalu beranjak pergi.4 Tahun yang lalu.
"Vio minjem pensil dong" bisik Dena padaku. Tanpa pikir panjang aku pun mengeluarkan pensil 2b dan memberikan nya pada Dena. Tiba tiba Alvin datang "Mana tugas lo?" Tanya nya, aku hanya diam tak merespon.
"Apaan si lo, ngerjain sendiri punya otak kok gak di pake entar karatan loh." Ucap Dena pada Alvin. Karena berisik mendengarkan adu mulut mereka, tanpa pikir panjang aku pun mengeluarkan buku tugas tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Makasih Vio." Ucap Alvin lalu berlalu dengan senyuman merekah di wajahnya. "Lo gimana si? masa gue gak boleh nyontek tapi Alvin boleh?" Protes Dena pada ku. Aku hanya diam tak peduli, malas bahkan sangat malas untuk bicara.
***
Aku melihat Alvin di lapangan, ia sangat pintar bermain basket, tampak lebih gagah. "Yaampun Alvin keren abis," Ucap Citra temanku, huh aku tau dia menyukai Alvin, aku juga sadar bahwa aku mengagumi nya ingat hanya sekedar kagum jadi tak masalah.
***
Telepon ku berdering aku segera berlari dan mengangkat nya.
"Halo?"
"Vio please bantuin gue." Aku kenal suara ini dia Sherin.
"Kenapa?"
"Bantuin gue buat nolak Alvin." Ucap Sherin, demi apapun saat itu rasanya sesak, rasanya tak percaya ternyata Alvin suka pada temanku, dan itu Sherin.
***
Sekarang tinggal satu tahun lagi aku bisa menyelesaikan sekolah SMA ku. Semua ku persiapkan untuk menghadapi ujian, mulai dari belajar dan belajar, mengurangi waktu main dan sebagainya.
"Woy!" Teriak seseorang di kelas sebelah ku lihat, dia Alvin. Baju tak rapi, rambut berwarna pirang menatapku dengan tajam,aku sudah biasa melihat penampilan nya seperti ini. Kemana Alvin yang aku kenal?dia sudah seperti bukan Alvin lagi.
Tapi dia tak pernah berani mengganggu ku, padahal aku tau dia selalu menggoda gadis gadis yang lewat, tapi tidak padaku. Aku mengerti kehilangan seseorang yang sangat di sayangi memang menyakitkan, saat aku mendengar berita kematian ibu Alvin awalnya aku tak percaya.
Tapi benar dia Alvin temanku, aku selalu menguatkan nya. Satu tahun berlalu penampilan Alvin perlahan berubah, namun sifat lucu nya masih bisa ku lihat. hubungan persahabatan Citra dengan Sherin kini mulai memudar mereka tak sedekat dulu lagi, aku jadi merasa bahwa cinta adalah salah satu penyebab retak nya hubungan persahabatan. Bahkan setelah perpisahan, kami yang biasa berempat kini hanya tinggal aku dan Dena.
***
Aku diam merenung di jendela kamar, dengan sweter tebal membungkus tubuhku. Entah lah setelah pertemuan ku dengan Alvin, aku tak bisa berhenti memikirkan nya, ada rasa sesak dan perih yang ku rasakan.
Aku tahu Alvin adalah lelaki baik baik, hanya saja dia terbawa ke jalan yang salah. "Non, minum obat nya." Ucap bi Arni pembantu di rumah ku. Aku hanya diam tak merespon sedikitpun. Bibi langsung ke luar saat aku hanya diam, bibi mengerti aku ingin sendirian.
Aku berjalan dan melihat pantulan di cermin, lalu wajahku bucat, dengan mata sayu.
Pintu kamar kembali terbuka, ku lirik sebentar dia Revan, aku tak bergeming sedikit pun. Ku lihat Revan membawa setangkai bungan dan coklat kesukaan ku di tangan nya, tampak biasa saja.
"Vio" lirih Revan saat aku masih diam.
Perlahan tangan nya mengelus rambut ku lembut. "Kamu sudah makan?" Tanya Revan sambil menatap mataku. Aku mengangguk.
Lalu Revan mengambil gelas dan obat, aku menolak. "Vio ayolah, aku mohon minumlah obat ini." Ucap Revan. Aku sama sekali tak menatap wajahnya."Besok hari pertunangan kita." Ucap Revan sambil terseyum.
Aku menatap Revan, dia tersenyum sangat bahagia."Jangan sakit, besok adalah hari besar." Ucap Revan mengecup tangan ku yang dingin. Aku sekuatnya mencoba terseyum.
***
Aku berusaha memakai sweter tebal ku, dengan syal berwarna abu abu pemberian Revan. Rumah ku agak ramai, keluarga berdatangan untuk mempersiapkan hari besok. Aku sudah mendingan. Tapi aku tahu orang orang pasti takkan mengizinkan aku ke luar, aku pun keluar mengendap endap.
***
Aku berjalan di trotoar jalan. Mencari Alvin padahal aku tak tau di mana dia. Aku hanya berharap dia masih di kota ini,aku ingin berbicara dengan nya sebelum hari pertunangan ku dengan Revan di mulai.
Namun aku tak menemukan Alvin di manapun, waktu mulai malam aku takut Revan mencari ku. Langkah lesu, aku melihat ke arah orang orang yang sedang berkumpul.
Telah lama sendiri dalam langkah sepi
Tak pernah ku kira bahwa akhirnya tiada dirimu di sisiku.
Dia Alvin aku langsung berlari mendekati panggung.
Meski waktu datang dan berlalu
Sampai kau tiada bertahan
Semua takkan mampu mengubahku
Hanyalah kau yang ada di benakku.
Hanyalah dirimu yang mampu membuatku
Jatuh dan mencinta kau bukan hanya sekedar indah....
Alvin kaget saat aku tiba tiba naik panggung dan bernyanyi.
Kaau tak akan terganti....
Riuh tepuk tangan menggema.
"Vio?."
Alvin memelukku.
***
"Kamu sakit?" Tanya Alvin sambil memberi ku teh hangat. "Tidak " ucap ku sambil tersenyum. "Tapi wajahmu pucat." Ucapnya. Aku hanya terseyum, sambil memandangi Alvin yang sedang menghirup teh nya.
"Alvin jangan berubah " Ucapku, seketika Alvin tersedak. Ia memandangiku dengan wajah kaget," Apa?" Tanya nya. "Bila kamu memintaku untuk datang ke acara pertunanganmu, aku akan datang Vio, tenanglah." Ucap nya.
Entah kenapa, mataku memanas saat mendengar ucapan Alvin. "Alvin.." lirihku. Dia lalu menatapku masih dengan raut tenang padahal aku begitu sakit.
"Alvin aku..." ragu harus memulai dari mana, maafkan aku Revan. "Aku sejak dulu kagum padamu, aku mohon mengertilah." Ucap ku tak ada perubahan di raut wajah nya.
Dia masih tenang seperti tak terjadi apapun, mataku memanas melihat tingkah Alvin yang begitu menyebalkan. Aku pergi Alvin bodohnya aku yang percaya semua omongan busuk mu, kamu mempermainkan ku.
***
Acara pertunangan telah selesai, aku telah terikat menjadi calon pe pendamping Revan seorang laki laki yang aku pilih. Bahagia nya aku saat ku lihat cincin yang terselip di jari manisku. Aku dan Revan sangat bahagia, kami menghabiskan waktu berkumpul bersama keluarga kami.
Sambil mendiskusikan tanggal pernikahan, semua berpendapat agar kami segera menikah. Toh Revan telah menjadi pengusaha yang sukses, ah hari yang sangat bahagia.
***
Aku berjalan ke luar saat suara bel terus berbunyi, orang tuaku sedang ada acara jadi aku hanya berdua dengan bibi. Ku buka tak ada siapapun, aneh pikirku, ku lihat sekali lagi benar benar tak ada. Tak sengaja ku lihat, seikat bunga mawar putih dan boneka beruang tergeletak di lantai.
Aku tersenyum geli pasti Revan, pikirku. Ku ambil dan ku hirup, ku peluk boneka beruang ini, ini boneka pertama yang Revan berikan.
Sebelum nya tak pernah, buket bunga tadi jatuh di lantai, saat ku abil ada sepucuk surat terjatuh dari sela sela bunga itu. Dengan amplop pink.
Dear:Elta Vionita
Salam rindu dari ku untuk kau wanita yang istimewa. Maafkan aku yang mungkin salah, awal nya rencana ku untuk mengungkapkan perasaan ku adalah hal yang benar. Tapi aku salah, kamu telah terikat dengan Revan.
Kau tau Vio? Aku telah berusaha pergi jauh darimu. Tapi semua yang ku lakukan malah menyakiti diriku sendiri. Aku telah berusaha untuk menerima takdir, bahwa kita tidaklah berjodoh.
Kau pantas dengan Revan, maafkan pertemuan kita yang kemarin. Kau tau? saat kau menanti jawaban ku saat itu jiwaku sedang bergejolak.
Mungkin ini adalah surat yang terakhir, bila boleh aku jujur aku sangat ingin menjadi pria yang selalu di samping mu. Tapi aku tak bisa, orang tua ku telah menjodohkan aku dengan wanita yang tak aku kenali.
Aku juga tak ingin menyakiti Revan, dia terlalu baik untuk aku sakiti dan kau terlalu indah untuk aku milikki. Jadi aku setuju saja untuk di jodohkan, katakan pada Revan dia adalah orang yang beruntung. Aku pamit yaa.
Dan setelah pernikahan ku aku dan keluarga berencana untuk pindah ke Australia, selamat tinggal.
Alvin
Tanganku bergetar saat ku baca terakhir surat ini, Alvin? kamu di mana? Kamu gila, aku sangat merindukan mu. Dan kau dengan mudah pergi, kamu tak tau Betapa aku takut jau takkan kembali lagi. Luluh semua harapanku, untuk kembali melihatmu. Kamu pergi akan menjadi kenangan yang takkan aku lupa kan.
Kubaca tulisan di balik surat.
Menangislah, keluarkan semua nya.
Aku sebenarnya ingin menjadi bahu tuk kau bersandar, tapi takdir kita tak searah lagi .
“Alvin!!!" Jeritku, ku peluk boneka beruang pemberian darinya. Mataku kini telah basah.
***
end.