Gambar dalam Cerita
Taufan lemas sekali hari ini. Matanya terasa berat, juga kakinya yang malas bergerak, membuatnya hanya bisa merebah dengan malas di atas sofa panjang di ruang tengah, ditemani televisi yang sudah menyala semenjak dia duduk di sana-menampilkan kartun kereta api yang bisa bicara.
Lagipula, ia sedang puasa. Apalagi yang bisa ia lakukan selain bermalas-malasan sambil menunggu saudara-saudaranya pulang dari sekolah?
Jangan salah paham. Dia sebenarnya baru saja pulang sekolah beberapa saat lalu, mendahului Halilintar dan Gempa yang masih berada di sekolah karena ekstrakurikuler mereka.
Blaze dan Ice tidak tau ke mana. Tapi biasanya, kedua adiknya itu akan pergi bermain ke rumah teman mereka setelah pulang sekolah. Sedangkan Duri dan Solar baru saja pergi berbelanja bersama kedua orang tua mereka, mencari perbukaan-berburu takjil, tau lah.
Taufan menghela napas panjang-entah untuk ke berapa kalinya-mengekspresikan betapa bosan dirinya yang hanya bermalas-malasan di sofa ruang tengah. Tangannya bergerak mengambil remot TV di atas meja, berniat mematikan TV dan pergi ke kamar untuk tidur.
Setelah mematikan TV, kakinya melangkah malas menuju tangga untuk mencapai kamarnya yang berada di lantai dua. Mata Taufan terlalu berat sekarang, sampai pandangannya tidak fokus karena kantuk yang menyerang.
Tubuhnya berjalan dengan sempoyongan, kadang tangannya terentang spontan untuk menjaga keseimbangan, berusaha agar tidak terjatuh sebelum sampai di kamar. Namun, sepertinya hari ini jadwalnya untuk mendapat kesialan.
Kakinya menginjak genangan air yang berada di dekat tangga, membuat tubuhnya limbung dan langsung terjatuh dengan posisi miring di dekat tangga. Untungnya, Taufan berhasil memposisikan tubuhnya agar kepalanya tidak terbentur lantai. Jadi hanya bahu kanannya saja yang terasa sedikit nyeri karena menjadi tumpuan saat ia jatuh ke lantai.
"Aduh.." keluhnya malas. Tubuhnya terlalu malas untuk bergerak, jadi dengan kesadaran penuh, Taufan mencari posisi nyaman di lantai dan langsung memejamkan matanya dengan nyaman-Taufan tidur dalam keadaan tergeletak di depan tangga.
▵▾▵▾▵▾▵
Taufan mengernyitkan dahinya kala mendengar suara-suara yang tak asing memasuki indera pendengarannya. Matanya mengerjap pelan sebelum terbuka sepenuhnya.
"Kak Upan udah bangun!"
Taufan mengernyitkan dahinya kembali setelah mendengar suara nyaring Duri di sebelahnya. Tangannya bergerak mengucek matanya kali ini, bersamaan dengan bibirnya yang menguap kecil, Taufan mengubah posisinya menjadi duduk.
Setelah pandangannya kembali fokus, betapa terkejutnya dia melihat seluruh anggota keluarganya sedang mengerubunginya dengan tatapan khawatir-bahkan wajah datar Halilintar kini hilang, tergantikan dengan wajah paniknya yang terlihat begitu kentara.
"Kalian kenapa?" tanya Taufan. Matanya bergerak menghitung jumlah saudaranya.
"Ada yang sakit? Kepalanya masih pusing, gak? Mau langsung buka aja? Kakinya gak terkilir, kan? Atau ada lecet?" Pertanyaan beruntun dengan nada khawatir terdengar dari Halilintar. Tatapan saudara tertuanya itu tak beralih sedikitpun darinya sedari tadi.
Taufan cengo, bingung dengan maksud pertanyaan beruntun dari Halilintar. Ayolah, dia baru saja bangun tidur. Kenapa langsung disuguhi dengan pertanyaan tidak jelas seperti ini?
"Kepala Kakak kebentur kuat banget tadi? Mau di bawa ke rumah sakit aja?" Kali ini giliran Gempa yang bertanya. Wajahnya sama seperti Halilintar-penuh kekhawatiran yang begitu kentara.
"Kakak gak kena gegar otak, kan, gara-gara jatuh dari tangga tadi?"
Taufan mengernyit. Apa maksud adik bungsunya ini? Jatuh dari tangga? Kapan dia jatuh dari tangga?
"KAK UPAN, MAAFIN KAMI! KAMI LUPA BERSIHIN AIR YANG TUMPAH DI TANGGA!"
Taufan reflek menutup telinganya kala teriakan Blaze dan Ice berbondong-bondong memukul gendang telinganya. Sementara keduanya langsung menangis tersedu-sedu sambil memegangi kedua tangannya di masing-masing sisi.
"Taufan, kamu jatuh dari tangga tadi," suara Ayahnya terdengar lebih bersahabat sekarang-tidak seberisik saudara-saudaranya yang grasak-grusuk menanyainya dari A sampai Z dengan volume tinggi.
Taufan terdiam sejenak, lalu mendesis pelan saat mengingat apa yang dilakukannya beberapa saat-mungkin jam-lalu sebelum seluruh keluarganya kembali ke rumah.
Ah, Taufan jadi bingung bagaimana cara mengakuinya. Ia kasihan pada Blaze dan Ice yang masih menangis di kiri dan kanannya, tapi ia juga tidak berani mengaku jika ia hanya tidur di tangga. Apalagi setelah melihat betapa khawatirnya seluruh keluarganya saat ini.
Baru Taufan ingin membuka mulut, tiba-tiba suara bedug terdengar nyaring dari masjid setelah sholawat sebelum adzan maghrib berkumandang, menandakan bahwa waktunya berbuka telah tiba.
"Eh! Bunda belum nyiapin buka puasa!" seru Bunda dengan panik. Matanya lalu melirik ke arah Taufan, membuat Taufan menatapnya dengan bingung.
"Bunda tinggal dulu, ya? Kamu istirahat aja dulu kalau masih pusing, nanti biar Gempa atau Hali yang nganterin makanan buat kamu," ucap Bundanya sambil mengelus kepalanya, lalu berniat beranjak ke dapur.
"Udah enakan, Bun. Upan bantu aja buat nyiapin perbukaannya," putus Taufan akhirnya. Lalu beranjak mengikuti langkah Bundanya ke dapur, diikuti ayah dan keenam saudaranya di belakang.
▵▾▵▾▵▾▵