Pangeran itu Berkopiah
Teen
18 Jan 2026

Pangeran itu Berkopiah

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download - 2026-01-18T222813.727.jfif

download - 2026-01-18T222813.727.jfif

18 Jan 2026, 15:28

download - 2026-01-18T222810.705.jfif

download - 2026-01-18T222810.705.jfif

18 Jan 2026, 15:28

Dia Baik, kata itulah yang muncul di pikiran ku saat pertama melihat Hendra. Umi nya bernama Aisyah adalah teman sekaligus sahabat bagi bundaku yang bernama Anjani.

Kata bunda aku harus memanggil Ibu Hendra dengan panggilan umi, aku tak keberata umi Aisyah adalah seseorang yang baik dan lembut. Kata bunda Abi nya Hendra telah tiada, pantas saja Hendra sangat menyayangi umi nya.

Hendra dia adalah seseorang yang sangat menghormati wanita, terutama ibu nya. Yang aku tau Almarhum Abi nya adalah pendiri pondok pesantren. Pekerjaan umi nya adalah mengajar santri wanita mengaji. Hendra tingggal di pondok pesantren itu, pernah suatu hari saat aku dan teman ku tak sengaja melewati area pesantren itu aku mendengar suara lantunan ayat suci Al Qur'an.

Saat ku tanya pada bunda, kata bunda itu adalah suara Hendra, sejak hari itu aku yakin Hendra memang pemuda yang Shaleh. Sedangkan aku? aku hanyalah wanita biasa yang tak pintar ilmu agama bukan nya aku tak mau tapi aku hanya takut bila harus pesantren dan jauh dari bunda, mungkin aku memang terlalu di manja.

Tapi sampai saat ini, aku masih sangat ingat waktu aku menginjak kelas 3 SD saat bu guru bertanya apa cita cita ku, aku menjawab bahwa aku ingin menjadi guru ngaji. Dan pada saat aku kelas 4 SD aku kembali merubah cita citaku, yakni menjadi seorang pendakwah yang pintar, awal nya karena aku sering menonton tv tentang tayangan dakwah, lalu aku berfikir Betapa hebat nya.

Saat aku lulus SD, aku sangat ingin mondok di pesantren, aku sudah membayangkan hidup di sana pasti sangat menenangkan. Tapi saat itu Bunda ku sakit tumor yang bersarang di lehernya aku menemani bunda berobat dan sampai saat ini bunda belum di operasi karena menurut bunda ini tidak lah parah.

Aku jadi sering menangis tengah malam, aku takut bila bunda pergi, hingga saat itu aku jadi tak mau pergi jauh dari bunda. Ayahku ada, tapi selalu meratau pergi ke kota untuk mencari nafkah bagi keluarga kami tanpa di beri tahu aku sudah merasa bahwa bunda adalah tanggung jawabku.

Bertahun tahun berlalu.

Aku telah lulus SMP dan kini akan melanjutkan ke SMA, masih ada keinginan pesantren, namun semua tertutupi karena ketakutanku kehilangan Bunda.

Suatu hari saat aku sedang menulis diary di kamar, aku mendengar suara ketukan pintu, dengan segera aku berlari dan membukakan pintu. Masih ingat baju ku saat itu berwarna abu dengan celana di bawah lutut dan tanpa kerudung.

Saat pintu terbuka, aku melihat Hendra dan Umi Aisyah datang untuk menjenguk ibuku. Ada rasa malu saat tanpa sengaja ku tatap mata Hendra dan dia memalingkan wajah nya, aku pun mempersilahkan Umi dan Hendra duduk.

Aku ingat suatu hari umi pernah masuk ke dalam kamarku saat aku sedang menyisir rambutku. Beliau datang dengan senyuman manisnya lalu berdiri di belakang ku saat aku sedang duduk menghadap cermin.

Di usap nya rambut ku dengan lembut lalu beliau menatapku lewat cermin."Azizah kamu cantik nak." Ucap nya masih mengelus rambutku. Aku tersenyum malu lalu mengucapkan terima kasih."Umi lebih cantik." Ucapku.

Beliau terkekeh."Kamu lebih cantik Azizah, apalagi bila rambut indah mu ini di tutupi oleh hijab." Ucap umi aku jadi diam.

"Dan hanya suami mu yang bisa melihat nya nanti, sangat istimewa kan?"ucap umi, aku masih diam saja.

Umi mengucapkan salam lalu keluar karena sudah sore, aku melihat wajahku dan membayangkan bila rambut ku di tutupi hijab, apakah aku semakin cantik?

***

Keadaan bunda semakin parah setiap hari nya, aku jadi takut tapi umi selalu menguatkan aku dan mengatakan semuanya baik baik saja. Aku sering menangis sendiri. Suatu hari saat Hendra dan umi baru datang untuk menjenguk Bunda.

Tiba tiba Bunda memanggilku, aku segera menghampirinya.saat aku datang ku lihat bunda sedang berbincang dengan Hendra tampak serius.

Lalu betapa terkejutnya aku saat ku tahu, bahwa bunda dan Umi Aisyah menjodohkan aku dengan Hendra? Aku malu, tak terbayangkan bila aku bersanding dengan Hendra seorang santri yang berilmu.

Sedangkan aku? tidak semua tak mungkin terjadi, terus saja ku tolak dengan alasan bahwa aku masih sekolah. Tapi bunda memohon agar aku mau, toh Hendra pun sanggup menungguku. Akhirnya aku pun mau demi bunda apapun akan ku lakukan.

Tiga tahun berlalu, aku tinggal menunggu hasil ujian ku yang baru di laksanakan bulan lalu. Masih ingat tentang perjodohanku, dan satu minggu lagi akan di laksanakan tunangan. Aku semakin resah. Tunangan baru terlaksanan, aku tak tau tiba tiba aku menangis.

Aku terisak sendiri di balkon rumahku, tiba tiba Hendra datang dengan mengucap salam.

"Azizah kamu kenapa?" Tanya Hendra tanpa menatapku. Aku kembali terisak, "Jangan menangis cerita lah padaku bukan kah aku adalah calon suami mu?" Ucap nya membuat aku berhenti menangis.

Aku menarik nafas panjang,"Aku..aku hanya merasa tak pantas untukmu, kau yang sangat shaleh dan aku?" Ucapku, Hendra diam mendengarkan. "Aku aku sangat takut bila tidak menjadi pendamping yang baik."ucap ku dengan nada bergetar.

Hendra berdehem, "Apakah ini yang membuat Azizah sedih?" Tanya Hendra. Aku mengangguk. "Aku sebenarnya tak keberatan, namun bila Azizah mau mari hijrah aku dan umi akan membimbingmu untuk menjadi seorang wanita yang lebih baik." Ucap Hendra membuat aku tenang.

Hendra, terima kasih atas segalanya. Terimakasih karena telah menjadi seseorang yang berarti dalam hidupku. Aku merasa bahwa aku adalah wanita beruntung yang bisa menjadi seorang yang kau jaga,Terima kasih. Terima kasih karena hadirnya dirimu dapat membuat aku menjadi wanita yang lebih baik.

Bunda telah meninggal, aku begitu terpukul. Namun Hendra selalu ada di sampingku bersama umi yang selalu menguatkan aku untuk tetap tabah.

Aku kehilangan bidadari dalam hidupku namun Allah mengantikan nya dengan malaikat seperti umi dan pangeran tanpa kuda dia Hendra suamiku.

***

end.


Kembali ke Beranda