Dia Indy
Teen
18 Jan 2026

Dia Indy

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download - 2026-01-18T223621.090.jfif

download - 2026-01-18T223621.090.jfif

18 Jan 2026, 15:36

download - 2026-01-18T222957.874.jfif

download - 2026-01-18T222957.874.jfif

18 Jan 2026, 15:36

"Nnti kalau aku udah besar aku mah pergi ke Australia. Aku mau lihat kanguru di sana mau lihat koala juga jadi kalau aku gak ada pasti aku lagi di sana, yaa tinggal di sana" Ucap Indy waktu itu. Dia gadis lucu, aku belum pernah mengenal gadis selugu dia tapi impian nya sungguh tak wajar, suatu hari pernah aku bertanya padanya.

"Mimpi itu jangan ketinggian nanti kalau gak ke capai malah kecewa." Ucap ku dengan datar. Dia langsung menengok ke arahku, lalu menampakan wajah kesal, sangat lucu.

"Gak papa, kan biar semangat belajarnya. Dari pada kak Rafa gak punya impian kan?" Ucap nya membuat aku terseyum. "Tentu ada, impian ku ingin membahagiakan semua orang" Jawbaku dengan mantap, di luar dugaanku Indy malah tertawa lalu aku yang di tertawakan langsung mengejar dia yang duluan berlari.

Hmm kenangan itu selalu ada, bayangan Indy tak pernah lepas dari pikiranku. Aku tau aku bodoh, aku tak pernah memikirkan perasaan Indy, aku selalu saja mengabaikan nya. Ardy juga tak akan memutuskan tali persahabatan kami.

Bila saja aku lebih peka. Bila saja aku lebih mengerti dan bila saja aku jujur akan perasaanku, semua takkan pernah terjadi.

B eberapa Tahun yang lalu

"Eh Ardy, apa kabar bro " sapa ku ketika tiba tiba aku melihat Ardy di mall. Ardy sahabatku, kami satu angkatan dan seumuran. Ardy langsung menyapa dan berbasa basi. Di sampingnya berdiri seorang gadis manis, dengan tatapan datar pasti dia adik Ardy bisa ku lihat karena wajah mereka mirip.

"Ini Indy adikku satu satunya." Ucap Ardy dengan ramah. Sedangkan Indy malah menatapku penuh curiga lalu Ardy menyenggol Indy pelan. "Hallo namaku Indy" ucap Indy langsung mengulurkan tangan.

"Aku Rafa." Ucapku dengan sedikit senyuman. Setelah itu persahabatan aku dan Ardy semakin erat, aku sering main ke rumah Ardy begitupun Ardy. Karena kebetulan jarak rumah kami tak jauh dan perlahan lahan juga tanpa sengaja aku mulai mengenal Indy dia gadis yang ramah dan sangat baik.

Dia selalu saja berhasil membuat aku tertawa dengan candaan konyolnya. Aku jadi semakin dekat dengannya. Setelah aku mulai kuliah aku jadi sedikit sibuk, jadi tanpa aku sadari aku mengabaikan Indy.

Tapi Indy selalu saja mengerti, kami tak pacaran kami hanya berteman seperti adik dan kakak. Pernah suatu hari saat hari minggu, aku jatuh sakit. Entah bagaimana aku tak ingat yang pasti Indy ketiduran di sofa dan aku melihat ada air hangat dan handuk pasti Indy yang mengompres ku.

Setelah hari hari berlalu aku akui aku mulai menyukai Indy tapi tak mungkin bisa berlanjut karena Indy adik dari Ardy sahabatku. Hingga aku menepis semua yang aku anggap beda, aku kira Indy juga menganggap aku sebagai kakak.

Bertahun tahun lagi aku telah menjadi seorang dokter, impian ku dari kecil telah terwujud. Indy terlihat sangat senang dia terus saja memujiku memberi ucapan selamat. Aku hanya mengucapkan terimakasih. Bukan hanya kepada Indy, tapi juga kepada Tuhan yang selalu membantu dan mengabulkan semua doaku termasuk doa agar Indy selalu di sisiku.

Hari hariku sebagai dokter berjalan normal, aku mulai terbiasa mengobati dan berinteraksi dengan pasien dan orang orang yang baru aku temui. Indy? Dia sebentar lagi lulus kuliah, aku terus mensupport agar dia secepatnya lulus.

Hingga tiba waktu itu, hari wisuda Indy aku datang dan memberikan dia buket bunga kesukaan nya. Wajahnya semakin cantik, dia sudah dewasa, kami berfoto bersama Indy dan keluarganya. Indy sekarang sibuk begitu pun aku lalu waktu terus bergulir aku mulai kenal dengan Maya.

Dia dokter spesialis mata, dia cantik dan baik hati.aku kira tak apa kami mulai dekat. Indy memang takut datang ke rumah sakit, dia takut darah dan orang orang yang kecelakaan dia jarang menengokku. Aku pun berfikir untuk mengenalkan pada Indy perihal Maya, tapi aku. masih ragu dan harus berfikir dua kali takut apa yang aku lakukan salah.

"Indy?" Sapaku saat Indy sedang membaca sebuah Novel tebal. Indy seketika menengok dan langsung menghampiriku. Ia terus saja bicara,"Kak Rafa kok jarang ke sini? aku udah lama gak ketemu kak Rafa, pasti sibuk ya? hmm seorang dokter memang selalu sibuk, oh iya kak, aku sekarang lagi mikirin keberangkatanku ke Australia." Ucap nya tanpa mengenal titik dan koma.

"Wahh kapan?" Tanyaku, dia diam "Gak tau, aku bingung gak mau ke sana sendiri." Ucap nya. Aku merutuki diriku, andai aku mengerti apa maksud Indy waktu itu. Kami lalu melanjutkan mengobrol dan tertawa bersama, aku bertanya pada Indy.

Di mana Ardy, Indy menjawab bahwa Ardy sedang ingin menyendiri, ku tanya lagi ternyata kekasih nya telah memutuskan hubungan tanpa sebab. Aku mengerti dan mengenal Ardy, dia memang tipikal orang yang sulit jatuh cinta hingga saat seseorang meninggalkannya ia akan sangat lama untuk mencari pengganti.

Sebelum aku bertanya, aku benar benar telah memikirkan apakah semua akan baik baik saja? "Indy?menurutmu aku ini sudah pantas punya pacar?" Tanya ku hati hati. Indy tersenyum "Kak Rafa Ini sudah sangat pantas" Ucapnya dengan senyum yang sangat sukses membuat aku salah tingkah.

Aku pun yakin bahwa mengenalkan Maya adalah hal yang benar. Aku dan Indy merencanakan untuk kami bertemu, tujuanku sebenarnya adalah untuk mengenalkan Maya padanya. Hingga di sebuah kafe tempat yang kami pilih, Maya belum datang sedangkan aku sudah duduk menunggu.

Ponsel ku berdering ternyata Indy. Indy mengatakan bahwa Ardy juga akan bertemu dengan klien nya di cafe itu dan Indy akan berangkat bersama Ardy, tentu saja aku tak keberatan.

Indy datang dengan penampilan manis, Ardy lalu berada di meja yang lain. Entah kenapa, hatiku gusar merasa akan terjadi sesuatu."Baju mu bagus" puji ku. Indy tersenyum dia tampak salah tingkah."Ini kan hadiah dari kak Rafa." Ucap Indy dengan tenang.

Saat aku dan Indy sedang asyik mengobrol Maya datang, lalu duduk di sampingku. Aku dapat melihat perubahan raut wajah Indy, dia terlihat pucat dan bibir nya yang dari tadi terangkat kini tak lagi.

Aku bergetar dan bingung harus mulai dari mana. "Kak! Dia siapa?" Tanya Indy dengan nada agak tinggi."Kenalin ini Maya, pacarku." Ucapku. Tanpa ku sangka Indy menangis, di depanku, aku berusaha menenangkan nya.

Tapi dia menolak.

"Tak usah, aku kira kak Rafa akan menjadikan aku pacar kak Rafa, tapi ternyata bukan, aku sudah merencanakan dan membayangkan bila aku dan kak Rafa berlibur ke Australia, tapi semua pupus dan kak Rafa..." Indy menangis, Maya bingung melihat ini.

Ardy datang dan menarik Indy,"Jangan pernah dekati adikku!" Bentaknya. "Kau penghianat Rafa, aetelah kau dekati Adikku lalu kau rebut Maya dariku? dasar pecundang, kita bukan lagi sahabat!" Ucapan Ardy saat itu bagaikan sambaran petir yang berhasil membuat aku kaget tak mampu bicara,ternyata Maya adalah wanita yang telah memutuskan Ardy demi aku?

***

Berminggu minggu, aku menjauhi Maya. Setelah kejadian itu, Indy tak lagi main ke rumah ku begitu pun Ardy hubungan kami benar benar retak. Aku menyesal, tak ada lagi tawa Indy ,tak ada lagi suara Indy, tak ada lagi cerita Indy tetang impian nya tinggal di Australia.

Aku merindukannya, andai saja aku mengakui bahwa aku mencintai Indy dan tak mencari orang lain. Mungkin Indy masih di sampingku. Aku memberanikan diri main ke rumah Ardy, ku ketuk pintu nya tapi tak ada yang membukakan.

Ada seorang pembantu di rumah itu mengatakan bahwa tadi Ardy menyusul Indy yang akan pergi ke Australia. Aku pun secepatnya menuju bandara. Saat aku tiba di sana, aku tak mekihat Indy hanya ada Ardy yang sedang tampak frustrasi.

Aku mendekatinya."Menjauh kau gara gara kau Indy kabur ke Australia!" Ucap Ardy lalu pergi meninggalkanku. Aku mengerti sekarang, Indy?kau benar benar akan tinggal di sana?

Saat aku sedang merebahkan tubuhku di sofa rumah, ku lihat tayangan berita yang menyiarkan bahwa sebuah pesawat yang menuju Australia telah jatuh. Gelas yang sedangku genggam jatuh dan pecah di lantai.

Aku menuju rumah Ardy. Ia tampak kacau dan dia sama sekali tak mau melihatku. Beberapa hari kemudian Jasad Indy telah di temukan, dengan bagian tubuh yang tak utuh.

***

Ku lihat batu nisan yang tertulis nama Indy dan tanggal kematiannya. Ardy sangat terpukul oleh kepergian Indy, begitupun aku, aku bisa di bilang penyebab tersiksa nya Ardy dan Indy. Hidupku kacau, aku tak lagi memikirkan pacar atau sebagainya.

"Kak Rafa? Indy sekarang ada di Australia, Indy bahagia ada di sini. Padahal Indy berharap kak Rafa selalu di samping Indy, tapi tak apa ini takdir dan kita harus mengikuti jalan takdir.

Kak, Indy sangat kecewa pada kak Rafa, kak Rafa ternyata tak menyukai Indy kan? hmm Indy memang tak peka ya.. Semoga bahagia bersama kak Maya, Indy baru tau ternyata kak Maya adalah mantan dari kak Ardy tapi tak apa jangan hiraukan kak Ardy.

Indy tadinya sengaja menuliskan surat ini dan menitipkan nya pada mbok Sum agar di berikan pada kak Rafa saat nanti mbok Sum menerima kabar bahwa Indy telah sampai di sana. Tapi bila Indy tak sampai maka Indy mohon agar surat ini menjadi bukti dan pamit bahwa Indy menyukai kak Rafa telah tinggal di Australia atau mungkin sebagainya."

Indy


Kembali ke Beranda