Friendship or?
Teen
13 Jan 2026 13 Jan 2026

Friendship or?

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download (55).jfif

download (55).jfif

13 Jan 2026, 15:38

download (54).jfif

download (54).jfif

13 Jan 2026, 15:38

download (57).jfif

download (57).jfif

13 Jan 2026, 15:50

download (56).jfif

download (56).jfif

13 Jan 2026, 15:50

Cahaya matahari menembus jendela kamar Bella. Bella membuka matanya, lalu meregangkan tubuhnya yang terasa kaku. Bella bangkit dari tempat tidurnya, lalu berjalan ke arah balkon, sekedar untuk menghirup udara segar.

Pandangannya teralih pada jendela di seberang sana, jendela kamar milik Ardega, sahabat sekaligus orang yang Bella suka. Ya, mereka bertetangga. Bella tak menyadari, jika jendela itu terbuka, dan Dega sedang menatapnya.

"Bella?" Dega menyapanya sambil melambaikan tangan, namun Bella tak kunjung merespon. Hal itu membuat Dega tersenyum tipis.

"ARABELLA GIANICA?" Dega memanggil dengan lantang, hal yang membuat Bella terkaget lalu memandang Dega.

"Gue kaget woe." Bella cemberut, tapi tak lama kemudian ia tersenyum saat Dega mengangkat ponselnya dan menggoyangkannya.

"Chat aja ya, gue mau siap-siap ke sekolah. Nanti pergi bareng." Dega tersenyum, lalu berbalik dan menutup kain jendela.

Bella tersenyum saja, lalu menghela nafasnya sesaat, sebelum akhirnya ia masuk dan bersiap.

___

Bella duduk di teras rumahnya, sambil menggoyangkan kakinya pelan, menunggu Dega menjemputnya. Ia berdecak pelan, saat menyadari Dega tak kunjung datang. Ia memutuskan untuk mendatangi rumah Dega.

Bela berjalan menyusuri jalanan kompleks, tak sampai satu menit, ia sampai di depan rumah Dega.

Di sana, ia menemukan Dega yang sedang duduk sambil berbincang dengan Tiara, sahabat Bella.

Rumah mereka memang satu kompleks, jadi sangat mudah untuk bertemu.

Bella tersenyum tipis, lalu melangkahkan kakinya mendekat.

"Gak jadi pergi bareng, ya?" Bella memandangi Dega sekilas, lalu tersenyum manis pada Tiara.

"Maaf ya Bel, gue harus nganterin Tiara, papanya pergi duluan tadi, jadi Ara sama gue. Gapapa kan?" Dega berucap sambil menarik Tiara mendekat.

Namun, Tiara memandangi Bella dengan tatapan bersalah. Ini salahnya, padahal, Bella sudah memiliki janji untuk pergi bersama Dega.

"Bella, kalo lo mau pergi sama Dega, pergi aja, gue bisa kok nyari taksi atau naik bus aja. Serius. Gue jadi ngerasa gak enak sama lo." Tiara meraih tangan Bella, lalu menggenggamnya erat.

Bella tahu, sejak lama bahwa Tiara menyukai Ardega. Namun, ia juga menyukai Dega, sehingga Bella tak mampu berbuat apapun.

"Lo aja deh yang pergi sama Dega, gue bisa sendiri kok, santai aja. Ya udah, gue pamit." Bella tersenyum lebar, lalu menepis pelan tangan Tiara.

Setelah Bella pergi, Dega dan Tiara segera menuju ke sekolah. Tiara tersenyum tipis, ia senang hari ini. Karena setelah sekian lama, Tiara memiliki kesempatan untuk pergi sekolah bersama Dega.

Tak sengaja, matanya menatap ke arah pinggir jalan, dan menemukan Bella yang sedang berjalan kaki. Tiara mengernyit, rasa bersalahnya kembali muncul.

Tiara masuk ke dalam lorong ingatannya, mencoba berbalik arah, menyelami waktu. Ingatannya berputar, pada masa dulu.

Saat itu, ia baru saja pindah rumah, lalu menemukan dua orang anak kecil seumurannya yang sedang bermain bersama. Tiara memandangi mereka dengan tatapan iri. Ia tak pernah diperbolehkan untuk bermain di luar rumah karena kondisi kesehatannya yang lemah.

Namun, salah satu dari mereka menyapanya. Namanya Bella. Itu teman pertama Tiara. Dari Bella, Tiara mengenal Dega, anak lelaki yang nakal.

Hari-hari Tiara menjadi lebih berwarna, saat orangtuanya melarang supaya tidak bermain di luar, Bella selalu datang bersama Dega untuk menemaninya bermain.

Seiring berjalannya waktu, Tiara mulai menyukai Dega, sahabat lelaki pertamanya. Tetapi, Tiara bisa apa? Bella lebih dekat dengan Dega. Tiara takut jika Bella menyukai Dega juga. Namun ia hanya diam.

Tak terasa, Tiara dan Dega sampai ke halaman parkir sekolah. Mereka berjalan beriringan, sambil berbincang tentang hal-hal ringan.

Mereka masuk ke dalam kelas, bertepatan dengan Bella yang datang berlarian dari koridor.

Bella menyusul mereka, lalu segera duduk di samping Tiara.

"Hadeh, akhirnya gue nyampe." Nafas Bella tak beraturan, hal itu membuat Tiara tertawa.

"Lo jalan kaki?" Tiara menyodorkan botol air mineral miliknya, lalu diserahkan pada Bella.

"Iya, gue pengen jalan aja." Bella berucap setelah meminum air yang diberikan Tiara.

"Soal tadi, gue..., " ucapan Tiara terpotong saat Bella berbicara.

"Udahlah, gak usah dibahas ih." Bella berucap sambil meraih buku dari dalam tasnya.

Dega datang, lalu mengusap rambut Tiara, hal itu membuat Bella kaget. Sedangkan Tiara hanya tersenyum malu.

"What? Kalian kenapa? Ada something?" Bella menatap mereka dengan tatapan meledek. Hal itu membuat Tiara tertawa kecil dan menutup wajahnya.

"Something gimana?" Dega tersenyum pada Bella, senyuman tipis yang memiliki arti.

Bella mengernyit melihat senyum itu, lalu meraih ponselnya. "Ya gak gimana-gimana."

Bel masuk berbunyi, pertanda pelajaran akan segera dimulai. Dega kembali ke tempat duduknya.

Bella menatap Tiara yang duduk di samping kirinya. Tiara mengerjap polos, hal itu membuat Bella mengalihkan pandangannya.

"Bella? lo tau ga?...," ucapan Tiara terpotong oleh Bella.

"Ngga, gue ga tau."

"Ish, gue belum selesai." Tiara merengek kecil, membuat Bella mendelik. Baiklah, Bella mengakui jika Tiara memiliki wajah polos dan imut. Tidak sepertinya, yang wajahnya amit-amit.

"Hm, apa?" Bella menatap ke papan tulis, memperhatikan Bu Ina yang sedang menjelaskan materi.

"Em... Gini aja deh, lo suka sama seseorang gak?" Tiara bertanya serius.

"Dih, lo kenapa? Gue masih suka cowo." Bella terkaget mendengar pertanyaan Tiara.

"Ck, bukan gitu. Ah, lo mah ngeselin." Tiara mengalihkan pandangannya. Tak berniat untuk melanjutkan pertanyaannya.

___

Bel istirahat berbunyi, Dega menarik tangan Bella, membuat Bella kaget.

"Nanti malem gue jemput, gue mau ngajak lo ke suatu tempat." Dega berbisik di telinga Bella, lalu tersenyum misterius.

Bella mengangguk saja. "Pake baju apa?"

Dega memandangi Bella dari atas hingga bawah, lalu tersenyum manis. "Dress aja." Setelahnya, Dega melangkah pergi.

Tiara datang." Dia bilang apa?"

Bella yang sedang tersenyum sendiri merasa kaget, dengan cepat, ia menggelengkan kepalanya. "Gak ada apa-apa."

___

Malam pun tiba, sesuai ucapan Dega, ia menjemput Bella.

Mereka berangkat menuju restoran ternama, hal ini membuat Bella mulai menerka apa yang akan Dega lakukan, karena biasanya, Dega selalu makan bersamanya di pinggiran jalan.

Sesampainya di restoran, mereka ditunjuk ke tempat khusus, lalu memesan makanan. Tiba-tiba, Dega meraih tangan Bella, Bella tersenyum gugup.

"Lo mau ngapain?" Bella bertanya terbata.

Dega tersenyum menenangkan, lalu menarik nafasnya sejenak. "Gue udah suka sama lo sejak dulu, lo mau gak, jadi pacar gue?"

Bella terdiam, mencerna kata-kata Dega. "Gue...."

Dega tertawa, lalu melepaskan tangan Bella. "Gimana? Bagus ga?"

Bella mengernyit. "Maksud lo?"

Dega tertawa lagi. "Gue mau nembak Tiara, menurut lo gimana? Tadi gue cuman latihan."

Bella menatap Dega tak percaya. "Gue bahan percobaan lo??"

Dega mengangguk, lalu tersenyum. "Bagus ga? Kalo ada salah, lo bisa koreksi."

*Plak!*

Dega memegang pipinya yang panas. "Lo kenapa?"

"Kenapa???? Lo tau gak? Gue suka sama lo." Bella berucap lirih, matanya berkaca-kaca. Tak menyangka dengan perbuatan Dega.

Dega terkaget, sungguh, ia tak berniat membuat keadaan seperti ini.

"Lo? Suka sama gue? Gue sukanya sama Tiara, Bel." Dega berucap lirih, tak tega, namun lebih baik dikatakan sekarang, agar tak semakin menyakiti.

Bella terisak pelan. Tak sadar jika Tiara sudah datang sejak Bella menampar Dega.

Tiara berjalan mendekati Bella lalu memeluknya. Pandangan Tiara teralih pada Dega.

"Dega? Maksud semua ini apa?" Tiara bertanya serius. Tak tega melihat Bella menangis.

Dega hanya diam, lalu berkata, "gue gak niat gitu...."

Tiara menghembuskan nafasnya, lalu mengusap punggung Bella. "Bella, gue tau semuanya, gue denger."

Dega kaget. "Lo juga tau? Kalo gue...."

Tiara mengangguk. "Gue tahu, gue paham."

"Gue ga mau pertemanan kita hancur cuman gara-gara cowok." Bella yang sudah mulai tenang mulai membuka suara.

"Gue tahu, kalian saling suka. Iya kan? Jujur aja, gue ga bakalan marah." Bella mengusap sisa-sisa air matanya.

Dega menatap Tiara, mata gadis itu berkaca-kaca.

"Dega? Gue yakin, Tiara juga suka sama lo. Kalian mau jadian? Ya udah, gue gapapa." Bella merangkul Tiara, mencoba tersenyum lebar.

"Gue ga bisa bertindak lebih, gue cuman gak mau, kehilangan sahabat karena lebih memilih cowok. Paham kan? Kalian saling suka, sedangkan gue? Perasaan gue gak berbalas. Jadi, buat apa gue tetap bertahan? Gue mundur aja, kalian maju, berjuang bersama." Bella meraih tangan Dega, lalu meraih tangan Tiara, menyatukan tangan keduanya dengan tangannya.

"Kita sahabat. Dan ternyata emang bener, gak ada yang namanya sahabat dalam lingkup pertemanan antara cewek dan cowok." Bella tertawa. Jika ini memang yang terbaik, Bella ikhlas, sungguh.

"Kita, tetap berteman. Kita, bertiga. Meskipun status kalian berubah, kita tetap bersama." Bella melepaskan tangannya, lalu menepuk pundak Dega.

"Gue pamit, kalian bisa bicarain ini berdua. Dan untuk Dega, gue mau bilang, jaga Tiara baik-baik." Bella melambaikan tangannya, lalu berbalik arah, berjalan menuju pintu keluar, dan pergi.

___

Bel pulang sekolah berbunyi, Dega keluar dari ruang kelas bersama dengan Tiara dan Bella. Masalah malam tadi, semuanya sudah mereka selesaikan. Tiara berpacaran dengan Dega. Namun mereka tetap mengutamakan persahabatan.

Bella turun dari mobil Dega, lalu melambaikan tangan pada Tiara yang masih ada di mobil.

Bella tersenyum, ini keputusannya. Ini yang terbaik. Ia berjalan riang menuju kamarnya. Lalu merebahkan diri ke atas kasur.

Ternyata, ia lebih bahagia saat melihat Tiara tertawa bersama Dega. Jika seperti ini, maka ia memutuskan untuk melupakan perasaannya.

Karena memang benar, cinta itu, tak harus memiliki.

[ E N D ]


Kembali ke Beranda