Aku tahu hal yang indah takkan datang dua kali. Sekuat apapun kita menahan agar semua tetap sama, tapi bila sudah takdir kita bisa apa?
Namaku Icha aku sekarang bekerja sebagai jurnalis. Setiap hari ku hanya menulis berita dan peristiwa. Hingga suatu hari aku mendatangi sebuah kecelakaan. Seorang pemuda terluka parah, aku datang untuk meliput kejadian sebagai berita terkini. Namun suatu kejadian mampu membuat kenangan itu kembali.
Ketika seorang gadis datang dengan histeris, menangis dan terus berdoa untuk kesembuhan pemuda itu, yang bisa ku tebak mungkin mereka pacaran? Aku merasa sedikit pusing tapi tetap berusaha bertaha dan fokus dengan apa yang aku kerjakan, namun berkali kali aku hampir pingsan. Lalu aku pun pergi ke dalam mobil dan menenangkan diri.
Hidupku seperti ini, kepalaku selalu pusing dan sakit saat aku melihat atau mendengar apapun yang bersangkutan dengan peristiwa hari itu. Aku pun pulang dan menenangkan diri di rumah. Tiba tiba terbesit sebuah nama "Alan?" Aku diam, seolah tak sadar akan apa yang aku ucapkan barusan.
Lalu kenangan itu kembali.
1 tahun yang lalu.
Aku tergesa gesa, berlari menuju perpustakaan karena ku tahu hari ini akan datang buku novel yang aku tunggu tunggu. Saat sibuk berlari seseorang menabraku dari belakang, hingga membuat aku jatuh ke jalan yang kebetulan terdapat batu tajam di sana.
Aku meringis menahan perih kaki ku yang mengeluarkan banyak darah. Lalu dengan sigap pemuda yang menabrakku membopong tubuhku dan membawa aku ke rumah sakit. Setelah kejadian itu, aku jadi tahu nama pemuda itu adalah Alan. Dia adalah anak dari Pak Wiryono, kepala sekolah di SMA kami waktu itu.
Aku tau Alan adalah anak yang disiplin dan patuh. Hingga saat Pak Wiryo tahu bahwa aku mendapat 6 jahitan di betis karena ulah Alan Pak Wiryono marah, dan memberikan Alan hukuman. Hukuman nya mampu membuat aku tak bisa tidur semalaman.
Apa? Hukuman nya adalah Alan di tugaskan untuk menjemput dan mengantarkan aku pulang sekolah selama 4 bulan. Aku tahu Alan tak suka pada hukuman ini. Dan aku tahu kalau Alan sudah punya pacar hingga hal itu membuat aku takut, jujur saja aku takut mendapatkan masalah dari itu semua.
Setiap hari sikap Alan selalu dingin, ia diam dan tak mengeluarkan sepatah katapun membuat aku merasa sangat bersalah. Aku juga ingat pernah di jahili oleh Sasa pacar Alan. Waktu itu dia mengotori baju ku dengan minumannya terkadang mengerjaiku dengan membuang atau menyembunyikan sebelah sepatu ku.
Namun aku tak bercerita tentang hal itu pada Alan. Hingga tiga bulan berlalu, Alan masih saja banyak diam, tak banyak bicara. Dasar kulkas berjalan.
***
Suatu siang Sasa tiba tiba menarik rambutku hingga aku meringis kesakitan, dia marah padaku dan menuduh bahwa aku berusaha merebut Alan darinya, aku menjerit sekuat nya karena cengkraman tangan Sasa sangat kuat. Tiba tiba Alan datang, lalu menolongku. Entah karena apa yang pasti saat itu Alan tiba tiba memutuskan hubungan Sasa. Aku hanya diam melihat dua manusia yang sedang bertengkar.
Lalu Alan mengajakku pulang, di perjalanan Alan terus saja menanyakan keadaan ku, dan meminta maaf atas sikap Sasa. Aku hanya mengangguk. Entah kenapa sikap Alan berubah dan aku merasa ada ribuan kupu kupu terbang di perutku,ada apa ini?
***
Empat bulan berlalu. Aku masih ingat saat tanggal akhir di bulan ke empat, Alan menanyakan boleh kah dia tetap mengantar jemput ku? Aku memikirkan jawaban yang tepat dan ku kira aku tak keberatan. Hingga aku dan Alan semakin akrab, setiap hari kami sering belajar bersama untuk sekedar mengerjakan PR atau tugas.
Semakin hari Sasa semakin menghilang aku mulai jarang di ganggu oleh nya, syukurlah.
Hingga aku sudah kelas 12 SMA. Hanya tinggal beberapa bulan lagi untuk lulus. Aku mempersiapkan segalanya untuk mengahadapi ujian nasional.
Dan akhirnya aku dan Alan lulus dengan nilai memuaskan. Semua sangat indah, saat Alan mengungkapkan perasaan nya dan kami mulai pacaran. Kejadian itu berlangsung saat kami akan berkunjung ke sebuah Universitas untuk melihat lihat fasilitasnya. Aku masih ingat saat itu Alan datang dengan baju berwarna abu abu, warna kesukaanku. Kami sempat bercanda dan tertawa di dalam perjalanan.
Namun sayang. Rem mobil Alan blong, Alan tak mampu mengendalikan mobil nya hingga mobil Alan jatuh ke jurang.
***
Aku membuka kedua mataku, ada ayah, ibu yang tampak cemas akan keadaan ku. Aku mencari Alan. Saat ku tahu kepala Alan mengalami pendarahan dan harus di operasi. Aku kaget hingga terus mencari keberadaan Alan saat itu. Namun betapa sakit nya, saat aku melihat Sasa tengah menunggu Alan yang terpejam. Aku sakit, melihat Sasa di sana.
Akupun berlari masuk sambil bernait memeluk Alan yang terpejam, namun Sasa langsung mendorong tubuh ku yang masih lemas. Aku pun terjatuh lalu Pak Wiryono datang dan membantuku. Saat aku tahu Alan masih koma sesudah operasi itu, membuat aku terpukul. Namun itu tak seberapa sakit nya di banding aku tahu Pak Wiryono menjodohkan Sasa dengan Alan.
Aku terpuruk beberapa minggu, hingga Alan mulai sadar dari koma. Saat Alan membuka mata nya Alan langsung memanggil nama Sasa. Aku kaget dan bingung, apakah Alan tidak mengingatku? Dokter mengatakan kalau Alan mengalami Amnesia, ia hanya bisa mengingat sedikit tentang dirinya.
Hingga aku pun memilih kalah, aku tahu Alan bukan lupa padaku dia hanya sakit. Aku juga sudah tahu kalau Sasa adalah penyebab kecelakaan aku dan Alan. Namun biarlah, aku pun memilih mundur melepaskan Alan, aku yakin cepat atau lambat mungkin Alan akan mulai ingat padaku. Dalam benak ku bila mungkin Alan di ditakdirkan untukku seberapa jauhnya ia melangkah kami akan tetap di pertemukan.
Namun bila tidak, biarlah Alan menjadi mantan terindah yang pernah hadir dengan cara yang istimewa. Aku pun sadar dari lamunan ku, pusing memang bila mengingat hal yang menyakitkan.
***
Aku kembali bertugas dengan dunia jurnalis ku. Pergi ke sana kemari, mencari berita menarik hmm rasanya aku mulai menyukai pekerjaan ku. Yaa dan sekarang aku sudah bertunangan dengan Arga. Dia adalah teman ku dari kecil, tapi entah kenapa aku rasanya baru mengenali nya sekarang, hmm jodoh memang unik ya. Tentang Alan? Aku tak mencari bukan tak ingat,hanya saja aku sudah memilih Arga kan?
Brukk, aku menabrak seseorang.
"Ichaa? Kamu Icha kan? Inget aku? Aku Alan chaa.."
***
end.