Sahur Day 1
Teen
21 Jan 2026

Sahur Day 1

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download - 2026-01-21T225054.409.jfif

download - 2026-01-21T225054.409.jfif

21 Jan 2026, 15:51

download - 2026-01-21T225050.871.jfif

download - 2026-01-21T225050.871.jfif

21 Jan 2026, 15:51

Langit masih gelap. Suhu pagi ini bahkan masih terlalu dingin untuk memulai aktivitas seperti biasa. Namun, hal ini sepertinya tidak mempengaruhi rumah beranggotakan sembilan orang ini.

"JANGAN LARI-LARIAN. INI MASIH SUBUH, BERISIK!!"

Itu suara Hali. Manik merahnya melotot lebar pada Blaze, yang saat ini tengah diseretnya menuju ruang keluarga. Di tangan Blaze terdapat sebuah panci yang berisikan air dan seekor ikan cupang berwarna merah tengah berenang-renang di dalamnya, entah dari mana ia mendapatkan ikan itu.

"Buat wadah ikannya, Kak. Kasihan ikannya, masa tinggal di wastafel? Tadi aja hampir meregang nyawa dia gara-gara airnya dikuras sama Ice," ujar Blaze sambil memeluk erat panci berwarna merah di tangannya.

"Ya gak panci juga dong. Minimal tupperware, atau enggak ya pake akuarium bekas ikan peliharaan Solar di gudang itu. Mau kamu ikannya direbus sama Gempa?" tanya Halilintar. Sebelah tangannya kini bertumpu pada pinggang sembari menatap Blaze dengan pandangan malas.

Kedua saudara yang identik dengan warna merah -meski berbeda tone-itu terus saja berdebat. Dari awal keduanya memasuki dapur, sampai makanan untuk sahur yang sedang dipanaskan oleh Gempa dan Bunda selesai ditata ke atas meja.

Di sisi lain, Taufan dan Ice masih tenang tidur berpelukan di atas sofa ruang keluarga tanpa mempedulikan suara-suara berisik yang ada di sekitar mereka. Selimut tebal membungkus tubuh keduanya, menghalau udara dingin yang terasa menusuk kulit.

Suhu udara menunjukkan angka 20°C sekarang. Wajar saja jika Taufan, sebagai makhluk yang sangat anti dengan dingin, memilih bergelung dalam selimut bersama Ice daripada merencanakan kejahilan-kejahilan kecil bersama Blaze dan Duri. Sementara Ice, dia memang penyuka tidur. Tidak heran jika dia tertidur bersama Taufan di sofa.

Derap langkah kaki terdengar dari arah tangga, membuat Halilintar dan Blaze yang masih berdebat mengalihkan pandangan ke arah sana. Di sana, terlihat sang ayah turun sembari menggandeng tangan kedua adik bungsu mereka yang tampak masih mengantuk.

Solar langsung melangkahkan kakinya menuju dapur-menghampiri Bunda dan Gempa-setelah sampai di lantai bawah. Sementara itu, Duri kini menyelusup masuk ke dalam selimut yang berisi Taufan dan Ice, berniat menyambung tidurnya kembali.

Ayah menggelengkan kepalanya sembari tersenyum kecil, lalu beralih menatap Halilintar dan Blaze yang kini terdiam dalam keheningan-menatap sang ayah dengan pandangan kebingungan.

"Apa?" tanya Ayah. Dia juga ikut kebingungan melihat tatapan aneh kedua anaknya yang ditujukan padanya.

Halilintar dan Blaze menggeleng bersamaan. Tampaknya ingatan mereka ter-reset tiba-tiba setelah melihat ayah dan kedua adik mereka turun dari atas.

Tak lama setelahnya, teriakan kembali terdengar dari Halilintar kala Blaze melarikan diri membawa panci yang sedari tadi di peluknya menuju dapur.

Dan cerita ini berakhir dengan seruan Bunda yang memanggil mereka ke dapur untuk melaksanakan sahur, kemudian benar-benar ditutup dengan Blaze yang merengek pada Gempa untuk menemaninya mengambil akuarium Solar yang sudah tidak dipakai di gudang.

Kembali ke Beranda