Not Her, but You
Teen
22 Jan 2026

Not Her, but You

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download - 2026-01-22T233127.457.jfif

download - 2026-01-22T233127.457.jfif

22 Jan 2026, 16:31

download - 2026-01-22T233124.457.jfif

download - 2026-01-22T233124.457.jfif

22 Jan 2026, 16:31

Nasya's pov

"Gue udah peringatin sama loe kan sebelumnya, kalo loe berani nyakitin Misya loe bakalan berhadapan sama gue !!!".

"Loe itu emang cewek terjahat yang pernah gue kenal ! Gue heran, emangnya salah Misya apa sih sama loe, sampai-sampai loe tega nyakitin dia terus, hah !!!".

Kata-kata Elang terngiang terus dibenakku. Nggak pernah ada sebelumnya orang yang ngatain aku cewek jahat. Dan yang lebih menyakitkan saat dia datang-datang langsung nampar aku di depan semua teman-teman.

Dia juga mengatai-ngataiku dengan kasarnya.Karena tidak ingin terlihat lemah, aku berusaha menahan air mataku.

Aku nggak tau kenapa Elang selalu berpikiran aku nyakitin Misya. Meskipun Misya hanya saudara tiriku, aku nggak mungkin nyakitin dia. Nggak kayak mama yang memang dari awal nggak menyukai Misya.


Sejujurnya, sejak pertama kali aku ngeliat Elang, aku langsung suka sama dia. Tapi ternyata Elang gak suka sama aku. Dia hanya merhatiin Misya terus. Belum lagi dia nganggap aku saudara tiri yang jahat.

Aku sadar, dibandingkan denganku Misya jauh lebih cantik dan feminim.

Aku ?

Banyak orang yang ngatain aku tomboy. Dan aku akui penampilanku memang tidak feminin seperti Misya.


Waktu itu Misya terjatuh dari tangga. Aku yang melihatnya tentu saja kaget dan langsung menghampirinya bermaksud membantunya. Namun lagi-lagi Elang salah paham sama aku dengan mengira aku yang menyebabkan Misya jatuh.

Bahkan tanpa bertanya, dia langsung menuduhku.

Aku sebenarnya ingin menjelaskan, tapi dia keburu pergi sambil menggendong Misya.

Dan itu bukan pertama kalinya Elang menuduhku.

Dia bahkan menghasut teman-teman sekelas membenciku karena menganggap aku jahat pada Misya.

***



Author's pov

"Nasya sama sekali nggak salah lang. Justru dia yang nolong aku saat jatuh", jelas Misya pada Elang.

"Mungkin aja itu cuma akal-akalan dia aja. Dia sengaja yang membuat kamu jatuh, terus pura-pura nolongin kamu", balas Elang dengan mimik wajah kesal.

Misya menggeleng.

"Nasya nggak kayak gitu. Dia adalah saudara yang baik meskipun hanya saaudara tiri. Mungkin alasan kamu membenci Nasya karena mengira dia selalu menyakiti dan berbuat jahat sama aku. Tapi nggak lang. Justru Nasya selalu bantuin dan nolongin aku. Apalagi kalo mama nyakitin aku".

"Mereka kan ibu dan anak kandung. Jadi bisa aja kan mereka bersekongkol", sahut Elang masih dengan kekeraskepalaannya. Dia selalu meyakinkan dirinya bahwa Nasya adalah cewek jahat.

"Aku nggak tau kenapa kamu terlalu berpikiran negatif sama Nasya. Tapi emang itulah kenyataannya. Nasya sangat berbeda dari mama Elsa. Meskipun Nasya agak cuek, tapi sebenarnya dia baik banget. Kamu percaya deh sama aku lang. Aku cuma nggak mau kamu terlalu jauh salah paham sama Nasya yang jelas-jelas nggak salah".

Kali ini Elang hanya terdiam mendengar perkataan Misya. Dia memikirkan baik-baik apa yang Misya katakan tentang Nasya.

***



Nasya dan Misya memang sudah menjadi saudara agak lama. Waktu itu papa Misya menikahi mama Nasya setelah 2 bulan kematian istrinya. Awalnya Misya sangat senang saat tahu mama Nasya akan menjadi ibu tirinya, karena sebelum mamanya meninggal, mama Nasya sering datang ke rumahnya untuk sekedar beramah tamah ataupun mengantarkan makanan karena mereka bersebelahan rumah. Bedanya, kalau keluarga Misya bisa dikatakan kaya raya, maka keluarga Nasya dikatakan hidup sederhana.

Demi membantu mamanya, Nasya harus kera part time di sebuah cafe. Bahkan meskipun mamanya sudah menikah dengan papa Misya, dia tetap kerja part time karena tidak ingin terlalu bergantung dengan keluarga Misya.

Mereka, Nasya dan Misya mengenal Elang saat mereka pindah sekolah. Keduanya sama -sama tertarik pada Elang saat pandangan pertama. Namun tentu saja Elang lebih tertarik pada Misya dibandingkan Nasya karena Misya lebih feminim. Meskipun tidak bisa dipungkiri kalau mereka sama-sama cantik. Penampilan tomboy Nasya lah yang membuat kecantikannya tidak terlalu tampak.

Awalnya Nasya tentu merasakan sakit saat Elang dan Misya berpacaran. Namun dia berusaha melupakan perasaannya kepada laki-laki yang tidak mungkin meliriknya sama sekali, bahkan membencinya.

Perasaan suka Nasya pada Elang hanya dirinya yang tahu. Dia selalu memendam perasaannya. Berbeda dengan Misya yang selalu curhat kepadanya tentang hubungannya dengan Elang.

***


Nasya's pov

"Mama heran yah sama kamu. Kok bisa-bisanya sih kamu selalu belain Misya !", ucap mama saat masuk ke kamarku.

"Denger yah Nasya, Misya itu sudah merebut Elang dari kamu !!".

"Ma cukup !! Emangnya kapan sih aku jadi milik Elang, sampai-sampai mama nganggap Misya ngerebut Elang dari aku. Dari dulu Elang memang hanya menyukai Misya. Dan dia hanya menganggapku sebagai musuhnya".

"Justru mama yang sudah merebut kebahagiaan Misya. Semenjak kita masuk di rumah ini, Misya jadi menderita karena ulah mama !".

"Berani yah kamu ngomong begitu sama mama kamu sendiri !!".

"Karena kenyataannya emang kayak gitu ma !".

Aku masih nggak ngerti dengan jalan pikiran mama. Dia udah dapetin apa yang dia mau, tapi masih aja serakah. Seharusnya mama bersyukur bisa dinikahin oleh papa Misya, tapi ternyata itu semua belum cukup membuat dia puas. Mama selalu aja memperlakukan Misya dengan tidak baik.

Seandainya aja aku boleh memilih, lebih baik kami hidup miskin seperti dulu, daripada sekarang kaya, tapi membuat orang sengsara.

Kapan mama bisa berubah ?

Mama memang sangat terobsesi ingin menjodohkanku dengan Elang.

Keluarga Elang dan keluarga papa Misya sudah lama saling kenal, bahkan sebelum aku dan mama jadi bagian keluarga Misya.

Mama ngotot ingin menjodohkanku dengan Elang karena dia berasal dari keluarga kaya-raya. Dari dulu sampai sekarang, mama memang matre. Bahkan aku tau saat mama menerima lamaran papa Nasya, itu dikarenakan keluarga Nasya yang kaya.

Keluarga Elang sebenarnya tidak menyukaiku dan mama. Aku bisa memperhatikan raut wajah tidak suka mereka saat keluarganya mengundang keluarga Misya makan malam. Mama Elang selalu memandangku dan mama dengan tatapan sinis.

Mungkin saja Elang yang memberitahu mamanya kalau aku dan mama tidak memperlakukan Misya dengan baik.

***


Aku baru saja sampai di rumah, dan mendapati Elang dan Misya yang baru keluar dari rumah.

"Nasya, kamu kok baru pulang sih ? Tadi aku hubungi ponsel kamu tapi nggak aktif".

Elang hanya diam seperti biasa saat kamu bertiga bersama. Karena dia nggak mungkin memaki aku di depan Misya.

Tapi ada yang sedikit berubah. Matanya nggak lagi memandangku tajam. Malahan terlihat biasa-biasa aja.

"Aku tadi emang nggak ngaktivin ponselku", jawabku.

"Terus kamu dari mana aja, kok baru pulang ? Masih pake baju seragam lagi", tanyanya.

"Tadi ada keperluan sebentar", jawabku singkat.

"Oh kalo gitu cepet ganti baju gih. Aku, Elang sama papa mau pergi ke restoran Melati. Mama nggak bisa ikut karena nggak enak badan katanya. Papa juga masih ganti baju tuh. Kamu cepetan yah".

"Kayaknya aku nggak usah ikut deh sya, kalian aja yang pergi", jawabku.

"Loh, kok gitu sih sya. Kamu juga harus ikut dong. Iya kan lang ?". Tanya Misya meminta persetujuan pada Elang.

Sepertinya Elang sedikit terkejut saat namanya disebut Misya.

Sedetik kemudian, dia hanya menganggukkan kepalanya.

"Aku beneran nggak usah ikut deh sya. Aku kan baru pulang, lagian aku juga agak capek. Jadi aku nggak usah ikut yah", kataku memelas.

Tiba-tiba papa udah keluar dari rumah. "Loh Nasya, kamu sudah pulang. Ya sudah kamu ganti baju dulu sana baru kita pergi bareng".

"Maafin Nasya pa. Nasya nggak bisa ikut kayaknya. Nasya agak capek, nggak apa-apa kan?" Jawabku.

"Yah, padahal ceritanya kita sekeluarga mau pergi bareng. Mama kamu tadi juga nggak bisa pergi karena nggak enak badan".

"Lain kali aja yah pa Nasya ikut".

"Ya sudahlah kalau begitu", jawab papa menghela napas pasrah.

***

Saat ingin memasuki kamar mama, aku mendengar mama berbicara dengan seseorang di ponselnya.....

Aku tidak langsung masuk, melainkan menguping pembicaraannya yang terlihat serius.

Beberapa menit kemudian , aku dikejutkan dengan pernyataan mama kepada si penelponnya di seberang sana.

Bagaimana tidak, itu tentang kematian tante Arini, mama Misya.

Bahkan aku sangat syok saat mendengar dari mulut mama sendiri kalau dia yang menyebabkan tante Arini meninggal agar bisa menikah dengan papa Misya dan menguasai hartanya.

Sedetik kemudian, mama terkejut menyadari kehadiranku.

"Nasya ?".

"Aku nggak nyangka mama bener-bener sejahat itu pada keluarga Misya", ucapku dengan menangis.

"Nasya, dengerin penjelasan mama dulu".

Sebelum mendengar penjelasan mama, aku langsung berlari meninggalkan rumah sambil menangis tersedu-sedu.

Aku terus berlari di jalan sampai tiba-tiba terbersit di pikiranku untuk menyusul papa Misya ke restoran Melati seperti yang disebutkan tadi.

Aku langsung menyetop taksi yang lewat dan mengantarku ke restoran melati.

***

Sesampainya disana, aku yang masih menangis langsung menghampiri papa saat aku melihatnya bersama Misya dan Elang.

Mereka begitu terkejut saat melihat penampilanku yang urak-urakan masih mengenakan baju seragam, ditambah lagi menangis dengan tersedu-sedu.

Bahkan aku jadi bahan perhatian pengunjung restoran. Namun aku tidak memperdulikan mereka.

"Nasya, kamu kenapa ? Kok nangis ? Dan kenapa kamu bisa tiba-tiba ke sini, bukannya..."

"Papa...", aku langsung memotong ucapan papa.

Sedetik kemudian, aku langsung bertekuk lutut dihadapannya sambil menggumamkan kata-kata maaf berulang kali.

"Nasya, ada apa sebenarnya ? Kenapa kamu minta maaf terus ? Ayo bangun dan cerita sama papa".

"Iya sya, kamu kenapa sih". Misya jadi ikut cemas melihat keadaan aku.

Setelah menarik napas dengan panjang, aku memberanikan untuk menceritakan semuanya pada mereka tentang mama yang terlibat dengan kematian tante Arini.

Mereka langsung syok. Terutama Misya yang langsung oleng, untung saja Elang menahannya.

Kemudian aku meminta pada papa agar mama mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Papa langsung menyetujui dan memintaku menjadi saksi.

***

Mama langsung dibawa oleh polisi begitu sampai di rumah.

Mama meneriaki dan memaki-makiku saat tangannya diborgol. Katanya aku adalah anak yang tidak berguna karena menjerumuskan mamanya sendiri ke penjara.

Aku hanya bisa menangis tersedu-sedu mendengar teriakan mama yang histeris.

Aku tau aku berdosa membiarkan mama di penjara. Tapi disisi lain, aku tidak mau mama menjadi serakah, menikmati kekayaan papa Misya. Membiarkan Misya menderita karena ulah mama.

***

Papa masih membiarkan aku tinggal di rumahnya, begitupun Misya.

Tapi aku cukup tau diri. Aku tidak ingin membebani keluarga ini karena kehadiranku. Aku ingin pergi dari rumah dan hidup sendiri.

Tapi Misya tidak merelakanku pergi. Dia sudah menganggapku seperti saudara kandungnya. Betapa mulia hatinya.

Akhirnya karena desakan darinya, aku mengalah untuk tetap tinggal. Setidaknya bagiku untuk sementara sampai keadaan lebih membaik. Karena nantinya aku bener-bener ingin meninggalkan rumah ini.

***



Sikap Elang juga akhir-akhir ini berubah. Dia lebih banyak diam entah kenapa.

Setidaknya dia tidak lagi menatapku tajam seperti dulu. Malahan tatapannya sangat datar setiap kami bertemu.

Dari raut wajahnya, dia seperti ingin mengatakan sesuatu setiap kami bertemu. Namun tidak pernah ada yang keluar sama sekali.

Aku ?

Semenjak kejadian itu, sikapku semakin cuek daripada biasanya kecuali pada papa dan Misya. Aku juga jarang tersenyum pada orang-orang.

***



Saat itu aku mendengar Misya menangis terisak karena Elang kecelakaan ditabrak mobil.

Aku yang sedang bekerja di restoran tentu saja terkejut. Sedetik kemudian, aku langsung menyusul ke rumah sakit.

Biar bagaimanapun, aku tetap harus menemani Misya disaat dia bersedih.

Sesampainya aku di rumah sakit, keadaan Elang masih kritis. Dia kehilangan banyak darah.

Untung saja ada papanya yang mendonorkan darah untuknya. Namun ternyata, itu belum cukup.

Misya dan papa juga ikut tes darah namun tidak cocok. Akhirnya aku merelakan diri untuk tes darah.

Aku tidak menyangka ternyata golongan darahku cocok dengan Elang. Jadilah aku mendonorkan darah untuknya.

***

Meskipun Elang sudah melewati masa kritis, namun dia belum menyadarkan diri.

Bahkan sebelum dia sempat sadar, aku sudah pergi meninggalkan kota ini.

Sebelum Elang kecelakaan, aku memang sudah membicarakan perihal kepindahanku pada papa dan Misya.

Aku mempunyai saudara jauh di luar kota. Jadi aku putuskan untuk pindah dan melanjutkan sekolah disana.

Awalnya papa dan Misya tidak setuju. Namun setelah aku memohon berkali-kali, akhirnya mereka setuju juga.

Kalau boleh jujur, aku sebenarnya memang ingin menghindari keluarga ini. Bukan karena tidak suka, hanya saja perbuatan jahat mama membuatku enggan untuk tinggal berlama-lama di rumah papa. Aku sebagai anak mama tentu merasa malu.

Makanya itu, setelah berpikir matang-matang aku putuskan untuk menjauh dari orang-orang terdekatku sekarang.

Karena aku yakin waktu bisa menyembuhkan keadaan, meskipun tidak akan sama lagi.

***





7 tahun kemudian

Akhirnya aku kembali lagi ke Jakarta karena pekerjaan menuntutku disana.

Sebelum kembali ke kota yang pernah kutinggali 7 tahun yang lalu, aku memang sudah terlebih dahulu menghubungi papa dan Misya.

Selama tinggal di luar kota, aku memang terkadang berkomunikasi jarak jauh dengan papa ataupun Misya.

Saat mengetahui aku akan kembali ke Jakarta, papa dan Misya malahan menyuruhku tinggal di rumah mereka. Tapi aku menolak dan lebih memilih tinggal di rumahku sendiri.

Meskipun sederhana aku tetap bahagia karena rumah itu aku beli dengan hasil jerih payahku sendiri.

***

"Kita mau ke mana sih Misya ?", tanyaku saat kami sedang di dalam taksi.

Yah, aku sudah tinggal di kota ini selama seminggu.

Saat memiliki waktu luang, tiba-tiba Misya mengajakku makan malam di restoran bersama seseorang. Tapi dia belum memberitahu identitas orang itu.

Kami langsung masuk setelah sampai.

Dari kejauhan aku bisa melihat orang yang dimaksud Misya dari belakang.

Elang ?

Saat kami menghampirinya, aku bisa melihat raut wajah Elang terkejut melihatku.

Aku harap dia tidak membenciku lagi.

Misya tersenyum senang saat mempertemukan kami.

Untuk mencairkan suasana yang sempat tegang, aku langsung mengulurkann tanganku untuk menyapa Elang. Hanya sekedar berlaku sopan.

Dan saat kami bersalaman, aku bisa melihat kecanggungan diantara kami.

Kami bagaikan orang yang baru saling mengenal.

Untung saja ada Misya yang selalu mencairkan suasana dengan candaannya.

Oh yah, aku juga tidak lupa memberikan selamat atas pertunangan mereka.

Mereka memang sudah bertunangan sekitar 1 tahun yang lalu, namun aku tidak sempat hadir karena pekerjaan.

Dan yang aku dengar dari Misya, tidak lama lagi mereka akan melangsungkan pernikahan.

Semoga mereka bahagia.

Saat kami akan pulang, Elang menawarkan mengantarku pulang bersama Misya. Namun aku menolak dan lebih memilih naik taksi.

Bukan apa-apa, hanya saja aku merasa risih dan tidak enak hati berada diantara mereka.

Alias jadi obat nyamuk.

***



Hari-hari yang kujalani semenjak tinggal di Jakarta memang tidak seperti di luar kota dulu.

Mungkin saja karena aku sudah kembali berbaur dengan orang-orang dari masa laluku.

Tapi untuk mengusir kepenatan itu, aku sibukkan diri dengan pekerjaanku.

Bagiku, pekerjaan adalah sarana untuk melupakan keadaan sekitar untuk sejenak.

Saat ingin pulang dari kantor tempatku bekerja, tiba-tiba aku tidak sengaja bertemu dengan Elang.

Dia sepertinya sudah mulai ramah terhadapku. Buktinya dia menawariku untuk diantar.

Tapi tentunya aku menolak.

Entah kenapa aku selalu ingin menghindar darinya.

***

Bahkan bukan waktu itu saja, dia sudah beberapa kali menawariku tapi selalu kutolak.

Entah kenapa, aku sering bertemu dengannya akhir-akhir ini.

"Kenapa sih kamu selalu nolak setiap aku mau antar pulang, sya ?", tanyanya saat aku bertemu lagi dengannya.

"Apa pacar kamu marah kalo aku antar pulang ?", lanjutnya sopan.

"Nggak kok. Lagian kan aku udah biasa naik kendaraan umum kalo pulang. Selain itu, arah kita kan juga beda".

"Jadi bukan karena pacar kamu marah ?", tanyanya lagi.

Aku menggeleng. "Ngapain juga pacar aku harus marah. Orang punya pacar aja nggak", jawabku tersenyum tipis.

Entah kenapa perasaanku saja atau tidak melihat tatapan aneh Elang saat menyebut kata 'pacar'.

"Kalo gitu aku nggak nerima alasan penolakan kamu cuma karena kita beda arah. Sekali-kali nggak apa-apa kan kalo antar kamu", sahutnya.

Karena dipaksa beberapa kali, akhirnya aku pasrah saja diantar oleh Elang.

Selama aku mengenalnya, ini pertama kalinya aku melihat senyuman tulus di wajahnya.

***




Waktu itu papa dan Misya mengajakku ke rumah keluarga Elang untuk makan malam karena diundang. Aku sudah menolak, tapi Misya begitu ngotot memaksaku. Akhirnya aku mengiyakan saja.

Saat sementara kami makan malam, aku bisa melihat tatapan kebencian dimata mama Elang untukku.

Aku tau, dari dulu dia memang tidak pernah menyukaiku.

Rasanya aku ingin cepat pergi dari rumah ini.

Semakin lama pembicaraan mereka mengarah ke pernikahan Elang dan Misya yang ingin dilangsungkan secepatnya.

Tapi yang membuatku heran, kenapa mimik wajah Elang seperti tidak suka saat membicarakan hal itu. Sedangkan Misya begitu antusias.

Bukankah Elang seharusnya bahagia karena sebentar lagi akan menikah dengan Misya, gadis yang dicintainya.

Karena sudah jenuh duduk terlalu lama, aku pura-pura menanyakan toilet untuk menghindar dari mereka.

Bukannya ke toilet, aku malah ke halaman belakang.

Aku menemukan kolam renang, dan memutuskan untuk duduk dipinggir dan merendam kakiku disana.

Tidak lama kemudian, aku dikagetkan dengan kehadiran Elang yang duduk disampingku.

"Kamu ngapain disini ?", tanyanya.

"Aku....cuma cari angin", bohongku.

"Emangnya nggak terlalu dingin apa disini ?".

Aku hanya menggeleng.

Tidak lama kemudian.

"Nasya, kamu ikut aku deh", ucapnya tiba-tiba.

Sebelum aku sempat menjawab, dia sudah duluan menarik tanganku ke suatu tempat yang tidak terlalu jauh dari kolam renang itu.

Tempat ini bisa dibilang seperti taman mini. Banyak bunga-bunga disekelilingnya. Di tengahnya ada ayunan untuk dua orang.

Sedetik kemudian, Elang langsung menggenggam tanganku dengan lembut.

"Aku mau jujur sama kamu sya", ucapnya dengan nada serius.

Aku mengernyit bingung menatapnya.

"Aku cinta sama kamu", lanjutnya kemudian.

Aku membulatkan mataku terkejut mendengar ucapannya.

Namun lagi-lagi dia mengulang ucapannya.

Tentu saja aku nggak percaya. Aku menganggap Elang hanya bercanda mengatakannya.

Saat aku ingin meninggalkannya, dia menahan tanganku. Dia mengataakan kalau ucapannya serius tidak main-main.

Itu impossible.

Mana mungkin Elang yang selama ini mencintai Misya tiba-tiba bilang cinta sama aku.

"Asal kamu tau sya, perasaan ini sudah ada semenjak 7 tahun yang lalu. Bahkan sebelum kamu donorin darahmu untukku. Aku terlalu malu untuk ngungkapin perasaan ini mengingat perbuatanku yang keterlaluan sama kamu", sahutnya.

"Ketika aku siuman dan mengetahui kamu sudah pergi, aku bener-bener menyesal telat mengatakannya, ditambah lagi saat aku tahu kamu yang donorin darah untukku", lanjutnya.

"Aku sadar kalo perasaanku pada Misya hanya kekaguman saja. Gadis yang bener-bener kucintai adalah kamu sya. Bukan Misya tapi kamu".

Aku bener-bener syok mendengarnya.

"Kamu tau, aku sudah berusaha mencarimu selama ini, tapi aku tidak mendapat petunjuk. Bahkan kata Misya, kamu nggak memberitahunya daerah tempat tinggalmu".

"Aku sangat bahagia saat tiba-tiba kita dipertemukan. Dan aku sudah bertekad saat kita pertama bertemu tidak akan melepaskan kamu lagi. Aku nggak mau kehilangan kamu untuk yang kedua kalinya. Aku bener-bener sayang sama kamu Nasya".

Aku menggeleng.

"Kamu bohong lang. Aku nggak percaya sama kamu. Nggak seharusnya kamu ngomong kayak gini. Ini sama saja kamu menghianati cinta Misya".

"Tapi Nasya...".

Aku langsung lari meninggalkan Elang masuk ke rumah sebelum dia melanjutkan ucapannya.

Kejadian ini bener-bener diluar dugaanku. Elang yang dulu begitu membenciku, tiba-tiba saja bilang cinta kepadaku.

Terus apa arti hubungannya dengan Misya selama ini ?

Bukankah mereka sudah bertunangan dan akan menikah sebentar lagi ?

Meskipun aku masih memiliki perasaan pada Elang, tapi nggak ada niatku sedikit pun untuk menghancurkan hubungan mereka. Aku tidak ingin menyakiti Misya.

Sudah cukup mama yang menghancurkan keluarga Misya. Nggak perlu ditambah lagi denganku.

***



Aku sudah tau ternyata saat makan malam waktu itu, mereka membicarakan pernikahan Elang dan Misya yang dilangsungkan 3 minggu ke depan.

Dan aku berencana tidak ingin menghadirinya.

Tuhan mengabulkan doaku.

Tepat di hari pernikahan mereka, tiba-tiba saja aku dapat tugas ke luar kota dari bosku di kantor untuk waktu yang sangat lama. Dan mungkin ini memang kesempatan buatku untuk lagi-lagi menghindar dari mereka, terutama Elang.

Semenjak kejadian di rumahnya, dia sering menemuiku. Tapi aku selalu mengambil alasan menghindar darinya.



"Kok kamu gitu sih sya. Ini kan hari penting dalam hidupku. Masa saudaraku sendiri nggak bisa hadir sih", rengek Misya saat aku menelponnya.

"Aku bener-bener minta maaf sya. Pekerjaanku bener-bener mendesak. Meskipun aku nggak hadir, tapi aku selalu mendoakan kebahagiaan kamu bersama Elang".

Akhirnya setelah kubujuk cukup lama, Misya merelakan juga aku ke luar kota.

Syukurlah..

***



Aku berjalan di bandara sambil menenteng satu koper besar.

Sesekali aku celingak-celinguk ke belakang seperti menunggu seseorang.

Dalam hati aku berharap Misya dan Elang akan hidup bahagia. Semoga pernikahan mereka lancar hari ini.

Semoga saja keputusanku sudah benar.

Saat aku kembali melangkah, tiba-tiba aku mendengar seseorang meneriakkan namaku dari belakang.

"Nasya.............!!"

Aku sangat terkejut ketika aku berbalik melihat Elang berlari ke arahku diikuti oleh Misya, papa dan orang tua Elang di belakang.

"Kamu mau ninggalin aku lagi ?", tanya Elang begitu didepanku.

"Elang, kamu kok ?".

"Aku kan udah bilang sama kamu, aku nggak mau kehilangan kamu yang kedua kalinya".

Aku masih terkejut melihat mereka disini. Kemudian aku melirik ke arah Misya. Dia hanya tersenyum sambil mengangguk.

"Misya udah tau semuanya kalo aku hanya mencintai kamu".

Aku membulatkan mataku terkejut.

"Jadi jangan pergi dari aku", lanjutnya.

Elang melepaskan koper yang ada digenggamanku. "Aku bener-bener cinta sama kamu sya. Aku tau sikap aku dulu memang sangat kasar dan keterlaluan sama kamu. Tapi kamu harus tahu kalo itu adalah penyesalan terbesar dalam hidupku", katanya sendu.

"Aku bener-bener nggak ngerti deh, bukannya ini hari pernikahan kamu sama Misya, tapi kok..."

"Aku sengaja batalin pernikahanku sama dia", potongnya.

"Awalnya aku ingin batalin saat kamu datang. Tapi kata Misya kamu akan berangkat ke luar kota hari ini. Makanya aku langsung ke sini". Lanjutnya.

"Kamu kenapa jahat banget sama Misya, lang ? Misya itu sangat mencintai kamu. Dan dengan teganya kamu batalin pernikahan ini".

"Kalaupun pernikahan ini berlanjut, aku juga nggak akan bisa bahagiain Misya. Justru akam semakin membuatnya menderita kalo tau selama ini aku nggak mencintai dia, melainkan mencintai saudaranya yaitu kamu".

Aku terdiam mendengar ucapan Elang.

Tiba-tiba Misya menghampiriku.

"Elang bener-bener mencintai kamu sya", katanya dengan nada biasa. Bahkan tidak ada raut kesedihan di wajahnya.

"Misya, Elang, kalian jangan bercanda deh. Ini semua nggak lucu tau".

"Kami nggak bercanda Nasya", sahut Elang.

"Sebenarnya aku udah dengar pembicaraan kamu dan Elang saat malam itu. Dan semenjak itu, aku jadi tau kalo gadis yang dicintai Elang itu kamu, bukan aku".

Astaga, jadi Misya udah lama tau.

"Maafin aku Misya, aku nggak bermaksud merebut Elang dari kamu. Kamu tenang aja, aku sama Elang nggak ada apa-apa kok, aku....."

"Sya, kamu nggak perlu minta maaf. Kamu nggak salah. Perasaan itu nggak bisa dipaksain. Mulai sekarang aku sama Elang cuma temenan kok. Bahkan mungkin aja sebentar lagi kami akan jadi saudara ipar", katanya tersenyum.

Aku membulatkan mata terkejut.

"Aku bener-bener rela kok kamu bisa bersama dengan Elang. Elang itu sebenarnya baik dan perhatian meskipun dulu dia sempat kasar sama kamu. Aku yakin kamu akan bahagia bersamanya".

Misya lalu meninggalkan kami berdua.

Elang kembali menggenggam tanganku. "Percaya sama aku sya kalo aku bener-bener mencintaimu".

Aku masih menatap Elang seperti tidak percaya akan semua ini.

"Sya, kamu dengerin aku kan. Apa yang harus kulakukan agar kamu percaya sama aku ?"

Aku menggeleng. "Aku percaya sama kamu. Cuman aku......aku masih ragu", kataku menunduk.

"Ini terlalu cepat buat aku menerima semuanya", lanjutku.

"Aku ngerti. Kita bisa mulai hubungan ini secara perlahan. Aku nggak akan maksain kamu nikah sekarang. Kita coba pacaran dulu sebelum memutuskan ke jenjang yang lebih serius".

"Terus bagaimana dengan keluarga kamu ? Aku tau mama kamu nggak suka denganku".

"Kamu tenang aja, keluarga aku nggak ada masalah kok. Mereka selalu ngedukung keputusan aku. Sama seperti aku dulu, mama hanya salah paham sama kamu".

"Aku ingin menjalani hari-hariku denganmu. Dan aku akan mencintai kamu selamanya sampai ajal memisahkan kita. Kamu percaya kan ?"

Aku hanya mengangguk.

Bagiku ini terlalu tiba-tiba. Tapi jujur, aku sangat bahagia bisa dicintai oleh Elang, laki-laki yang juga memang aku cintai dari pertama bertemu sekitar 7 tahun yang lalu.

The End

Kembali ke Beranda