Temukan Cerita Inspiratif
Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.
Total Cerita
1144
Genre Romance
230
Genre Folklore
228
Genre Horror
228
Genre Fantasy
230
Genre Teen
228
The Biggest Fear
Ammara menyandarkan tubuhnya pada sebatang pohon oak yang paling besar di Fairyfarm. Ia sedang melamun sambil memilin-milin ujung rambutnya yang berwarna keemasan. Saat itu, langit telah beranjak senja di Fairyverse, tetapi Ammara masih enggan untuk pulang. Di sampingnya, Selly sesekali menguap seraya mengunyah buah plumnya dengan malas."Jadi, kau benar-benar tidak akan datang ke pesta ulang tahun Putri Tatianna?" Marybell bertanya dengan suara melengkingnya. Suara pixie yang bertengger di punggung Selly itu memecahkan lamunan Ammara."Entahlah, Marybell. Aku merasa tidak pantas saja. Lagi pula aku merasa sangat malu kalau harus bertemu mereka lagi karena waktu itu aku dengan lancangnya memasuki taman istana." Ammara menerawang mengingat kejadian di taman Istana Avery. Peri perempuan itu menyesal sekaligus merasa malu."Tapi sepertinya kau sangat ingin datang ..." ucap Marybell seraya menopang dagunya dengan kedua tangan. Ia telah berpindah ke atas pangkuan Ammara. Matanya yang bulat besar menyorot Ammara penuh selidik.Ammara mengembuskan napas kasar. "Sudahlah, Marybell, jangan menggangguku ...."Ketiga makhluk itu terdiam. Hening kembali menyergap kebun Ailfryd. Namun, tiba-tiba seberkas cahaya keunguan berpendar dari kalung zamrud milik Ammara. Ammara dan Marybell sontak terkejut. Rasanya peri perempuan itu tidak pernah melihat pendar aneh itu muncul pada mata kalung sebelumnya. Tubuhnya menegang. Ia meraih mata kalung itu dan mengamatinya dengan seksama. Sementara, Marybell terbang bersembunyi di balik bahu Ammara.Pendar cahaya pada mata kalung zamrud itu semakin lama semakin jelas. Setelah berukuran sekepalan tangan peri elf , cahaya keunguan itu lantas melayang keluar dari mata kalung zamrud Ammara. Cahaya itu kemudian melesat cepat meninggalkan Ammara dan Marybell yang masih terdiam dalam keterkejutan mereka. Netra kedua peri itu mengikuti kemana arah cahaya itu pergi dengan takjub.Ammara yang telah reda rasa terkejutnya, bergegas berlari mengikuti cahaya keunguan itu dengan penasaran. Di belakangnya Marybell terbang mengiringi dengan panik. Melihat kedua peri itu berlari meninggalkan Fairyfarm, Selly pun segera bangkit dan mengejar kedua sahabatnya.Ammara tanpa sadar melewati gerbang kebun Ailfryd, menerobos semak dalam keremangan senja. Napasnya memburu dan keringat dingin mulai bercucuran membasahi pelipisnya. Satu hal yang terus menggelayuti pikirannya adalah pertanyaan mengenai ke mana cahaya itu akan pergi."Ammara, berhenti!" Samar-samar teriakan Marybell terdengar di belakang punggungnya.Derap langkah Selly pun terdengar mendekat dan dalam sepersekian detik berhasil menyusul di sisinya. Marybell bertengger pada punggung makhluk itu dengan wajah khawatir. Sementara, Selly meringkik, meminta Ammara berhenti dan segera naik ke punggungnya.Peri perempuan itu mengangguk sekilas, sebelum melompat naik ke atas punggung Selly. Bersamaan dengan itu, Marybell terbang menyingkir.Peri perempuan itu lantas menoleh pada Marybell. "Katakan pada ibu, aku akan segera kembali! Aku harus tahu cahaya apa yang keluar dari mata kalungku itu dan ke mana dia akan pergi! " jerit Ammara di tengah riuhnya suara derap langkah unicorn.Marybell mengangguk, sebelum menghentikan terbangnya, membiarkan sahabatnya menjauh meninggalkan Firyfarm.* * *Putri Tatianna menyunggingkan senyum terbaiknya. Bibir merahnya merekah menyambut tamu-tamu undangan yang mulai berdatangan. Malam itu adalah malam pesta perayaan ulang tahunnya. Semua peri membungkuk dan memberikan senyum terbaik kepadanya. Ia memang tak mengundang banyak tamu, hanya keluarga dan beberapa teman dekat. Peri cantik itu memakai gaun yang terbuat dari kelopak bunga asli yang memancarkan kelip-kelip indah aneka warna. Rambutnya yang berwarna perak dikuncir ke atas dengan beberapa bunga mawar putih sebagai pengikat dan sebuah tiara kecil bertakhta di atas kepala. Iris mata cokelat terangnya tampak bercahaya memantulkan cahaya dari kelopak bunga yang memenuhi seluruh penjuru Istana Avery malam itu.Semua peri telah berkumpul di aula, menikmati alunan musik dan tarian para nimfa yang berkumandang dari atas sebuah panggung yang dikelilingi tiga kolam air mancur. Namun, semua itu tak berarti apa-apa bagi Tatianna karena sesosok peri yang dinanti belum menampakkan batang hidung. Netranya menyusuri balai pesta, mencari satu sosok itu."Pangeran Archibald!" Beruntung, netranya segera menemukan rupa familier yang selama ini selalu menggenggam tangannya. Kali ini senyumnya kembali merekah, disertai rona kemerahan yang muncul di kedua belah pipinya begitu saja."Di mana yang lain?" Archibald mendekat. Wajah rupawan itu membalas tatapannya tanpa ekspresi. Pandangan sang pangeran peri menyapu kerumunan tamu undangan yang bercengkerama di salah satu sudut aula Istana Avery."Mereka sedang menyicipi sari buah plum di meja hidangan," sahut Tatianna semringah. Archibald hendak berbalik menuju meja hidangan yang dimaksud Tatianna, tetapi peri perempuan itu terlebih dahulu meraih pergelangan tangannya.Archibald tersentak. "Ada apa?""Ada yang ingin aku bicarakan denganmu," sahut Tatianna pelan. Ia sempat ragu, sebelum akhirnya melanjutkan ucapan. "Mari kita bicara berdua saja. Ayo ikut denganku sebentar."Archibald mengernyit, seolah menangkap sesuatu yang aneh dari gelagat saudara tirinya. Setelah menimbang sejenak, peri laki-laki itu lantas bersedia mengikuti Tatianna yang menggiringnya menuju balkon istana yang sepi."Ada apa?" tanya Archibald sembari melemparkan pandangan ke arah rerimbunan bunga lavender yang bercahaya di bawah balkon istana.Wajah Tatianna mendadak bersemu merah di bawah keremangan cahaya tempat itu. Ia telah melepaskan genggaman tangannya dari pergelangan tangan Archibald. Kini tangan Tatianna sedang menggenggam pergelangan tangannya sendiri, berusaha mengenyahkan gemetar yang seketika menyerangnya.Sang putri peri menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya sendiri, sebelum akhirnya membuka suara. "Archibald, sebenarnya ... Aku sudah lama .... "Archibald menatap mata peri perempuan itu lekat-lekat, "Hei, tenanglah. Apa yang sebenarnya ingin kau katakan?"Tatianna semakin gugup. Jantungnya berdegup tidak karuan, tetapi perasaan itu harus tetap ia sampaikan. "Aku menyukaimu, Archibald." Kata-kata itu akhirnya terucap dari mulut Tatianna.Archibald terpana mendengar ucapan Tatianna. Ia seakan tidak percaya bahwa peri perempuan itu telah menyatakan cinta padanya. Archibald menggeleng, sementara mulutnya bungkam.Hening menggantung di antara mereka, menyisakan perasaan yang canggung bagi Tatianna. "Aku sudah lama sekali menyukaimu," ungkap Tatianna pelan. Matanya menumbuk pada lantai batu di bawah kaki, berusaha mencari kekuatan."Aku tidak percaya kau mengucapkan ini," respon Archibald sejurus kemudian. Ia masih menggeleng perlahan. Sementara iris matanya menatap Tatianna yang sedang menunduk. "Maafkan aku, Tatianna. Aku bukanlah orang yang tepat untuk kau sukai. Aku tidak bisa. Aku hanya menganggapmu sebagai adik perempuanku."Sebulir air bening mengalir di pipi Tatianna. Ia perlahan mengangkat wajahnya dan menatap Archibald nanar. Iris mata mereka beradu dalam keremangan balkon istana. "Begitu tidak pantaskah aku menjadi pendampingmu, Archibald?" tanya Tatianna dengan suara yang nyaris menghilang ditelan isak tangis.Archibald hanya diam. Ia takut jika jawabannya akan semakin melukai Tatianna."Apa kau masih mengharapkan gadis manusia itu? Apa kau masih mempercayai bahwa gadis itu akan datang dan menemuimu di sini?!"Archibald tersentak mendengar pertanyaan Tatianna. Sebuah kisah masa lalu sontak terbayang di benaknya. Sebuah kisah lama yang menyebabkan ibunya terusir dari kerajaan Avery. Archibald menghela napas panjang berusaha untuk menahan emosi yang mulai menguasainya setiap kali ia mengingat kejadian itu."Tatianna, aku bukanlah peri yang pantas untuk mendampingimu. Kau berhak untuk mendapatkan pendamping terbaik," ucap Archibald pelan. Ia kemudian melanjutkan. "Ini tidak ada hubungannya dengan apapun atau siapa pun. Aku hanya tidak bisa. Aku tidak ingin menyakitimu Tatianna."Tatianna menggeleng pelan, mencoba menahan hatinya yang perih. "Kau sudah sangat menyakitiku sekarang," lirihnya."Maafkan aku, Tatianna." Archibald mendekat, kemudian mengecup puncak kepala sang putri peri sekilas. Setelah itu, ia pergi meninggalkan Tatianna yang patah hati begitu saja.Sepeninggal Archibald, peri perempuan itu menghempaskan lututnya ke lantai sambil menutup wajah dengan kedua tangan. Bahu peri itu berguncang. Ia menangisi hatinya yang hancur dan cintanya yang tidak terbalas. Ia menangisi Archibald yang telah ia cintai sejak lama, tetapi nyatanya tidak dapat ia miliki.Sedetik kemudian, Tatianna bangkit dengan berpegangan pada pagar balkon. Matanya yang bersimbah air mata menatap nanar pada rerimbunan bunga lavender di bawah balkon istana. Ia mencoba menahan sakit hatinya, seraya merapalkan mantra pelan. Manik matanya menghilang dan memutih beberapa saat. Ia mengangkat tangan kanannya ke arah rerimbunan lavender itu. Seberkas cahaya putih memancar dari telapak tangannya dan menyambar ke arah rerimbunan lavender. Bersamaan dengan itu, sebuah ledakan kecil menghancurkan rerimbunan lavender, menyisakan bunga-bunga hangus dan dedaunan yang rusak.Tatianna melakukannya lagi dan lagi. Ledakan demi ledakan memecah keheningan taman. Sang putri peri bahkan menghancurkan rerimbunan lavender dan pohon-pohon lainnya di sekitar balkon istana. Peri itu berharap, dengan merusak makhluk lain, maka sakit hatinya dapat sedikit berkurang.* * *Elwood memandang gusar ke arah pintu aula Istana Avery. Tamu-tamu telah berdatangan, tetapi satu sosok yang ia tunggu tak kunjung tiba. Elwood beberapa kali menatap pintu istana dengan berakhir kecewa. Peri laki-laki itu lantas merutuki dirinya sendiri. Seikat bunga Camellia putih yang sedari tadi ia genggam di balik punggung sudah mulai rusak di beberapa bagian."Selamat malam, Pangeran Elwood!" Sapa sebuah suara yang sudah lama ia tunggu-tunggu.Elwood menatap sosok yang datang menyapanya dengan senyum terkembang di bibir. Peri tampan itu terpana melihat Ammara yang tampil tidak biasa pada malam itu. Ammara memakai gaun merah muda lembut selutut yang terbuat dari kelopak bunga mawar, sementara rambut pirang keemasannya dikuncir tinggi ke atas dengan ikatan dari bunga mawar berwarna senada dengan gaunnya."Ammara, kau ... terlihat berbeda!" ucapnya tertahan. Matanya masih menatap Ammara terpesona. Sementara, di hadapannya peri perempuan itu mengulum senyum dengan pipi putihnya bersemu kemerahan."Terima kasih, Pangeran Elwood." Ammara membungkuk sekilas memberi hormat."Tolong, jangan panggil aku pangeran. Panggil saja Elwood ... seperti biasanya." Elwood berkata pelan. Pangeran peri itu lantas mengacungkan seikat bunga Camellia putih ke arah Ammara. Peri perempuan itu tampak terkejut dan dengan ragu meraihnya."Untukmu," ucap Elwood. "Aku minta maaf karena tidak jujur dari awal. Aku tidak bermaksud membohongimu. Aku ... aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk mengatakannya kepadamu. Aku takut kalau kau tidak mau bertemu denganku lagi, jika kau tahu siapa aku sebenarnya."Ammara tersenyum sambil menggelengkan kepalanya perlahan. "Kuakui aku sakit hati awalnya, Elwood. Namun, setelah kupikir-pikir, siapa pun dirimu, itu tidak akan mengubah apapun.""Maukah kau menjadi temanku lagi?" Elwood bertanya lembut sambil menatap dalam iris hijau Ammara.Peri cantik itu tersenyum dan mengangguk. Namun, tiba-tiba sesosok ogre yang sangat besar dan mengerikan muncul dari permukaan marmer aula Istana Avery. Lantai marmer pecah berderai hingga membuat garis retakan yang menjalar ke segala penjuru lantai. Makhluk itu berdiri tepat di hadapan Ammara dan dengan cepat meraih pinggang Ammara dengan kedua tangannya yang kekar.Ammara berteriak, meronta-ronta, sementara kedua lengannya menggapai-gapai ke arah Elwood. Elwood dengan panik berusaha menarik tangan Ammara dari cengkeraman ogre itu, tetapi gagal. Ogre berwarna hitam itu memanggul Ammara dengan mudah di atas salah satu pundaknya yang kekar. Sementara, tubuh Ammara yang kecil terayun-ayun mengikuti gerak tubuh ogre yang berjalan menuju pintu aula istana Avery.Para tamu undangan serta-merta menjerit dan berlarian mencari pintu keluar dari aula istana Avery. Suasana aula yang indah dan menenangkan mendadak berubah menjadi mengerikan dan porak-poranda akibat ogre yang mengamuk dan hendak menculik Ammara.Dalam keadaan panik, Elwood menjentikkan jarinya dan memunculkan sebilah tongkat sihir berwarna perak. Ia kemudian mengarahkan tongkat sihirnya ke arah ogre hitam yang sedang memanggul Ammara sambil merapal sebuah mantra singkat. Tongkat sihir perak itu memercikan sebuah bunga api, tetapi kemudian padam. Elwood mencoba lagi beberapa kali. Namun, tetap gagal. Wajah peri tampan itu menjadi pucat. Ia melemparkan tongkat sihirnya begitu saja, kemudian berlari mengejar ogre hitam itu.Di pintu utama menuju aula Istana Avery telah tampak sepasukan kesatria elf dengan pedang perak terhunus di tangan mereka menghalangi ogre hitam yang ingin keluar. Makhluk mengerikan itu menyeringai menampakkan gigi-giginya yang tajam ke arah para pengepung, kemudian mengibaskan sebelah tangan yang mengeluarkan lidah api ke arah para kesatria elf . Seketika itu juga para kesatria elf yang menghalangi pintu terlempar ke segala arah.Sebelum melangkah melewati pintu aula istana, sang ogre menoleh ke arah Elwood yang jatuh tersungkur akibat salah satu kesatria elf yang menubruk tubuhnya. Tatapan mata ogre yang merah menyala itu mengejek Elwood. "Sungguh pangeran peri yang menyedihkan!" desisnya meremehkan. "Kau bahkan tidak bisa menyelamatkan peri yang kau sukai. Kau juga tidak bisa menggunakan tongkat sihirmu. Sungguh menyedihkan. Kau tidak pantas menjadi pangeran dari Kerajaan Avery!"Setelah menyelesaikan kalimatnya, Ogre hitam segera menghilang bersama Ammara yang terkulai lemas di pundaknya. Elwood membelalak. Mulutnya menganga. Tubuhnya menggigil, menahan kecewa dan tangis yang akan pecah. Ia mengepalkan tangannya, menekan pada lantai marmer yang retak. Kedua tangannya itu meneteskan darah kental, "Ammara ..." desisnya lemah.* * *Putra Mahkota Albert memasuki ruangan aula Istana Avery tempat akan dilangsungkannya pesta ulang tahun Putri Tatianna dengan tergesa-gesa. Namun, peri tampan itu sangat terkejut saat mendapati ruangan aula yang kosong. Padahal seharusnya undangan telah ramai berdatangan. Ia berjalan mondar-mandir mencari kesatria elf atau pixie kerajaan yang harusnya berjaga di ruangan itu, tetapi tak ada siapa pun yang dapat ia temukan. Dengan putus asa, akhirnya Putra Mahkota Albert duduk di kursi singgasananya yang tepat berada di sebelah singgasana Raja Brian.Tiba-tiba, Pangeran Archibald dan Pangeran Elijah masuk dari pintu aula yang terbuka. Pangeran Elijah bahkan sempat menutup pintu utama aula, sebelum mereka mendekat ke singgasana putra mahkota Albert. Albert mengangkat wajah menatap Archibald dan Elijah dengan kening mengerut. Wajah keduanya juga terlihat dingin, tidak seperti biasanya."Aku pikir malam ini adalah pesta ulang tahun Putri Tatianna. Apakah aku salah?" tanya Albert sambil menatap Archibald dan Elijah bergantian. Ia melanjutkan, "Apakah pestanya telah di pindahkan ke tempat lain?""Ada pesta lain yang harus kita rayakan di sini," sahut Archibald sarkas."Apa maksudmu?!" Putra Mahkota Albert mulai gusar.Archibald dan Elijah tak menjawab. Sejurus kemudian, mereka serempak menghunus pedang peraknya ke arah Putra Mahkota Albert dan menyorot nyalang sang Putra Mahkota. Sementara, Albert yang merasa terancam juga menghunus pedang peraknya ke arah kedua pangeran itu."Aku akan menganggap ini sebagai pengkhianatan!" bentak Albert."Cih! Kami sama sekali tidak takut dengan Putra Mahkota yang tidak kompeten sepertimu," desis Elijah."Beraninya kau menghina Putra Mahkota!" Wajah Albert memerah, tangannya yang menggenggam sebilah pedang perak dengan gemetar karena emosi. "Kalian akan diadili sebagai unsheelie sama seperti ibu kalian dan kalian akan dibuang ke Hutan Larangan seumur hidup!"Elijah terbahak. "Sebelum melaporkan kami ke Dewan Peri, Kau bahkan tidak akan pernah bisa keluar dari aula ini hidup-hidup!"Putra Mahkota Albert terkejut mendengar perkataan saudara tirinya itu. Emosinya semakin memuncak. Ia tidak menyangka bahwa kedua saudaranya itu berniat untuk merebut takhtanya."Albert, aku memberimu kesempatan untuk mempertahankan posisimu secara terhormat. Kau harus melawanku. Buktikan kau layak menjadi Putra Mahkota," ucap Archibald seraya maju mendekati Albert dengan pedang perak masih terhunus di tangannya. "Namun, jika kau ingin hidup lebih lama, maka serahkan takhtamu sekarang!""Kurang Ajar!" Albert berteriak marah. "Aku tidak akan menyerah demi apapun ...!"Albert maju, mengayunkan pedangnya ke arah Archibald. Dengan sigap Archibald menangkis serangan Albert. Seketika bunyi pedang berdesing memecah keheningan aula Istana Avery.* * *Pangeran Elijah menunggangi unicornnya secepat kilat, meninggalkan pesta ulang tahun Putri Tatianna yang sedang berlangsung di Istana Avery malam itu. Napasnya memburu dan matanya berkilat nyalang dalam kegelapan malam. Setelah ia rasa berada cukup jauh dari Istana Avery, ia merapalkan mantra singkat setengah berteriak, lalu serta merta unicorn yang ia tunggangi memunculkan sepasang sayap besar yang bercahaya. Unicorn itu membawanya terbang dengan cepat melintasi Fairyverse menuju perbatasan Hutan Larangan.Sesampainya di perbatasan Hutan Larangan, unicorn itu melayang turun dan sayapnya menghilang. Sesesok berjubah hitam telah menanti, berdiri menghadap ke arah Hutan Larangan."Kau menerima pesanku?" tanya suara yang berasal dari sosok berjubah hitam di perbatasan Hutan Larangan itu.Elijah terkesiap, tetapi ia segera saja turun dari tunggangannya dan mendekati sosok berjubah hitam itu. Ia menghentikan langkah tepat sebelum memasuki perbatasan Hutan Larangan."Jadi kau yang mengirim mimpi dan menyuruhku datang ke sini. Aku tidak punya banyak waktu, aku hanya ingin tahu siapa ibuku sebenarnya? Apakah benar ibuku adalah peri unsheelie?" Elijah bertanya dengan suara gemetar yang sarat emosi. Salah satu tangannya menggenggam erat gagang pedang perak yang masih tersampir di sisi tubuhnya.Sosok berjubah hitam itu kemudian berbalik perlahan, menatap Archibald dengan iris matanya yang ungu menyala. Sosok itu adalah peri perempuan yang sangat cantik, tetapi berparas kejam. Peri perempuan itu menyeringai. "Akulah ibumu, Elijah.""Ti-tidak mungkin!" Elijah terkejut dengan mata membelalak. Ia mundur beberapa langkah sambil menggeleng pelan. Tubuh tingginya menggigil menahan emosi yang menguasai dirinya.Peri berjubah hitam itu memunculkan sebuah bola cahaya dari telapak tangannya. Bulatan cahaya putih itu kemudian menampilkan bayangan masa lalu saat Elijah dilahirkan oleh sesosok peri perempuan yang semula merupakan peri sheelie. Sebuah kejadian menimpanya, hingga peri perempuan itu dibuang ke Hutan Larangan dan berubah menjadi peri unsheelie. Setelah menampilkan bayangan masa lalu, bola cahaya itu seketika menghilang.Elijah menggelengkan frustrasi. Ia tidak dapat menerima apa yang baru saja ia lihat."Ini tidak mungkin ... Kau pasti berbohong dan merekayasa semuanya!" desis sang pangeran peri pelan. Ia menatap sosok perempuan peri itu dengan mata nanar, menolak untuk mempercayai kenyataan bahwa ia adalah anak dari peri unsheelie. Kenyataan yang selama ini sangat ia takutkan. Elijah merasa sangat kecewa. Peri lain pasti akan merendahkannya karena ia adalah pangeran dari ibu yang dibuang di Hutan Larangan."Inilah kenyataannya Elijah. Aku tahu apa yang kau pikirkan ... tetapi, apapun yang kau inginkan, aku akan mewujudkannya untukmu Elijah karena aku adalah ibumu.""Tidak ... Kau bukan ibuku ....!"* * *Pangeran Claude menatap bingung ke arah Putra Mahkota Albert, Putri Tatianna dan para pangeran lainnya yang bertingkah sangat aneh. Putra Mahkota Albert bahkan terlihat sedang beradu pedang dengan pangeran Archibald. Sementara Putri Tatianna sedang menghancurkan seluruh isi aula dengan sinar putih yang ada di tangannya. Tidak jauh dari tempatnya berdiri, Pangeran Elwood juga tampak menghancurkan sisa atribut pesta serta menyerang para kesatria elf yang berusaha mengamankannya. Di sisi lain aula Istana Avery, Pangeran Elijah juga mengamuk dan menyerang para kesatria elf dan pixie kerajaan.Pesta ulang tahun Putri Tatianna telah dibatalkan sedari tadi. Para tamu undangan telah berlarian meninggalkan aula istana saat keanehan mulai terjadi pada putri, putra mahkota dan para pangeran. Pangeran Claude yang datang terlambat karena ketiduran saat membaca di ruang baca Istana Avery begitu kaget melihat kekacauan itu."Mereka terkena sihir, Pangeran. Sihir hitam," tutur Maurelle, peri cenayang istana yang tiba-tiba telah berdiri di samping Pangeran Claude."Apa kau tidak bisa menyadarkan mereka, Maurelle?" tanya Claude tanpa mengalihkan pandangan khawatirnya dari saudara-saudaranya. Mata batin Claude yang lebih tajam dari siapapun di Kerajaan Avery itu sedang melihat apa yang tak terlihat. Seberkas cahaya keunguan berpendar di dada mereka. "Sihir apa itu?" tanyanya lagi."Kau bisa melihatnya, Pangeran Claude? Itu adalah sihir hitam milik peri penyihir unsheelie. Aku tidak memiliki kemampuan untuk menyadarkan mereka, Pangeran Claude. Namun, aku tahu siapa yang bisa menyadarkan mereka.""Iya, aku bisa melihat ....""Pangeran, maafkan aku, apa yang terjadi di sini? Aku melihat cahaya ungu masuk ke sini." Suara panik perempuan tiba-tiba menyela pembicaraan antara Claude dan Maurelle.Ammara terengah-engah, berusaha mengatur napasnya yang memburu karena berlari saat memasuki Istana Avery.Claude menatap Ammara dengan curiga. "Apa yang kau lakukan di sini? Apa maksudmu dengan cahaya ungu masuk ke istana Avery?"Maurelle menatap peri perempuan itu dengan sebelah alis terangkat. Mata hitamnya yang tajam menyorot mata kalung zamrud di leher Ammara. "Siapa dirimu sebenarnya?" tanya Maurelle dengan tidak ramah."Aku ... Aku sebenarnya ... cahaya ungu itu ..." Ammara tergagap. Ia merasa terintimidasi oleh Maurelle. Ia lantas memutuskan untuk tidak menceritakan yang sebenarnya. "Cahaya ungu itu, aku melihatnya terbang dan memasuki istana Avery. Aku ... mengikuti cahaya ungu itu dan sampai ke sini. Apa yang terjadi sebenarnya?"Belum sempat Claude atau Maurelle menjawab, Ammara telah mendapati kenyataan mengerikan itu di depan matanya. Peri perempuan itu refleks menutup mulut saat melihat kekacauan di hadapannya."Kita harus menghentikan mereka!" jerit Ammara panik. Ia hendak berlari mendekati putri dan pangeran lainnya, tetapi Claude serta-merta menarik tangannya."Kau pikir apa yang bisa kau lakukan? Jangan ikut campur!" Claude memperingatkan."Aku tahu dari mana asal sihir itu, Pangeran Claude," potong Maurelle."Dari mana, Maurelle?""Dari mata kalung zamrud peri perempuan ini. Mata kalung itu adalah mata sekaligus jendela dari Hutan Larangan!" sahut Maurell sambil menatap Ammara dingin. "Peri ini harus menjelaskan semuanya di hadapan para Dewan Peri!""Apa?"Dua sosok kesatria elf dengan sigap menghampiri Ammara dan menahan kedua lengannya. Ammara memberontak, tetapi tenaga kedua kesatria elf itu jauh lebih kuat darinya."Bawa peri ini ke penjara bawah tanah!" titah Maurelle pada kedua kesatria elf ."Tidak. Tunggu. Aku bisa jelaskan. Bukan aku yang melakukannya ... !" jerit Ammara seraya terus meronta. Namun, kedua kesatria elf itu telah menyeretnya pergi menjauh dari hadapan Maurelle dan Pangeran Claude."Tidak! Lepaskan aku!""Maurelle, aku rasa bukan dia yang melakukannya," ucap Claude. Ia menatap kepergian Ammara dengan khawatir."Mata kalung zamrud itu berasal dari Hutan Larangan, Pangeran. Dan, dia adalah pemiliknya. Biarkan Dewan Peri yang akan memutuskannya," sahut Maurelle tegas. "Sekarang aku akan meminta seseorang menjemput Ella dari Fairyfarm. Dia adalah penyihir penyembuh terbaik yang memiliki segala penawar untuk sihir hitam."Maurelle membungkuk hormat, sebelum meninggalkan Pangeran Claude yang masih bergeming menatap kepergian Ammara. Claude memang merasa ada yang berbeda dengan peri perempuan itu, tetapi ia yakin Ammara bukan peri yang jahat.
Avery Kingdom
Matahari baru saja terbit, kelopak bunga di Fairyfarm bahkan belum padam seluruhnya. Namun, sepagi itu Ammara telah sibuk memetik buah plum di kebun ayahnya.Selly tampak masih berusaha keras menahan kantuk sambil sesekali mengintip Ammara memetik plum dari balik kelopak matanya yang berat. Biasanya, unicorn itu selalu bersemangat jika menemani Ammara memetik plum karena ia dapat dengan leluasa mencomot buah plum sesuka hatinya. Namun, pagi itu, entah mengapa, Selly masih sangat mengantuk. Aroma plum ranum seakan tak ada apa-apanya. Beberapa saat kemudian unicorn itu bahkan tampak telah mendengkur pelan di tempatnya.Pagi itu, Ammara tidak sendirian. Ia juga ditemani dua sahabat perinya, yaitu Marybell dan Tally. Marybell tampak terbang dengan lincah memetik buah plum yang letaknya agak tinggi. Sementara Tally berdiri di samping Ammara menyambut plum yang dilempar peri perempuan itu, kemudian menempatkannya pada keranjang-keranjang yang telah tersedia. Dwarf itu tampak menggumamkan sesuatu yang tidak jelas selama ia bekerja."Untuk apa Kerajaan Avery memerlukan buah plum sebanyak ini?" tanya Tally di sela-sela gumamanya."Tentu saja untuk dimakan Tally, kau pikir untuk apa lagi!" sahut Marybell asal dengan suara melengkingnya. Jawaban peri pixie ini sudah barang tentu akan mengundang perdebatan."Astaga! Demi leluhur para peri! Aku juga tahu kalau buah-buah plum ini untuk dimakan. Maksudku, apa kerajaan akan menyelenggarakan pesta atau apa." Tally mendengus kesal. Wajahnya yang separuh tersembunyi di balik kumis dan janggut tebal itu berubah masam."Memangnya kenapa kalau kerajaan akan mengadakan pesta? Apa kau pikir mereka akan mengundangmu? Kau sudah terlalu tua untuk berpesta, Tally. Lihat saja kumis dan janggutmu yang sudah memutih semua itu!" Tawa melengking Marybell memecah keheningan pagi di Fairyfarm. Ammara sampai harus menutup telinganya dengan kedua tangan.Wajah Tally memerah seketika. Jelas jika ia sangat jengkel dengan apa yang diucapkan Marybell. Ia menatap plum yang ada di genggamannya, kemudian melirik jahil ke arah Marybell. Saat Peri pixie itu lengah, ia melancarkan aksinya. Setelah membidik dengan baik, ia lantas melempar buah plum itu pada Marybell.Peri perempuan yang tidak siap itu hanya bisa terdiam saat plum menghantam tubuh mungilnya dan meninggalkan noda berwarna kemerahan yang sangat banyak pada gaunnya. Marybell menjerit marah.Sementara, dwarf itu tertawa terbahak-bahak memegangi perutnya seraya berguling-guling di rerumputan. Hatinya terasa puas karena telah memenangkan satu lemparan.Peri pixie yang kini berpenampilan mengenaskan itu menatap Tally sengit. Wajahnya memerah dan napasnya memburu. Ia harus membalas perbuatan makhluk kerdil itu. Dengan cepat Marybell mengambil plum, membidik wajah menyebalkan rekannya itu, lalu melemparkan plum tepat ke wajahnya.Plum itu melesat cepat, kemudian menumbuk tepat pada hidung besar Tally. Kejadian itu sukses membungkam tawa Tally. Ia menyeka wajahnya yang bernoda merah dengan geram dan melotot marah pada Marybell yang kini menertawakannya.Tally, menarik napas dalam-dalam, lalu kembali meraup beberapa plum sekaligus dalam genggaman. Ia melemparkan buah-buah itu ke arah Marybell bertubi-tubi. Namun, peri pixie itu terbang menghindar dengan lincah.Tanpa Tally sadari, sebuah plum yang paling besar menyasar menghantam pipi Ammara. Kedua peri yang tadinya sedang berseteru itu sontak terdiam, menanti responnya."Oh, tidak!" desis Tally.Ammara menggeram tertahan seraya mengusap wajahnya kasar. Ia mendelik ke arah kedua makhluk itu. Wajah putihnya terlihat mengerikan, memerah dengan pecahan plum yang masih menempel di pipi."Kalian membuat kesabaranku habis!" teriak Ammara penuh penekanan.Marybell dan Tally menggigil di tempat. Tally bahkan sampai harus menutup matanya karena tak ingin ditatap wajah seram Ammara saat itu. Marrybell tak jauh berbeda, tubuhnya seolah menciut di udara.Dengan sigap, peri perempuan itu meraup sebanyak mungkin plum dengan kedua tangannya. "Rasakan ini!" Ammara melemparkan plum-plum tersebut pada kedua rekannya bergantian. Marybell dan Tally yang panik dan tidak siap tampak kewalahan menerima serangan plum yang bertubi-tubi itu.Mereka membalas Ammara, tetapi tentu saja kekuatan mereka sama sekali bukan apa-apa jika dibanding dengan lemparan sang Peri Elf . Tally tersungkur di atas tanah sambil menutupi kedua wajahnya, sementara Marybell melayang liar di udara, tanpa sempat terbang menghindar lebih jauh. Tubuh kedua peri itu memerah berlumuran pecahan plum.Demi melihat wajah dua sahabatnya kini tampak sama mengerikannya dengan wajahnya, Ammara tertawa puas. Marybell dan Tally yang awalnya kesal, kini juga ikut tertawa terbahak-bahak, terlebih saat melihat penampilan masing-masing. Fairyfarm kini menjadi riuh dengan suara tawa ketiga peri itu."Apa yang terjadi di sini?" suara Ailfryd yang menggelegar sontak menghentikan tawa Ammara, Marybell dan Tally. Perang buah plum mereka telah berakhir.Wajah terkejut Ailfryd, membuat ketiga peri itu serempak menunduk menyembunyikan wajah. Remah-remah dan noda buah plum berserakan di mana-mana. Selly yang sedari tadi tertidur, langsung terlonjak kaget dan terbangun dari tidurnya."Kami sedang memetik buah plum," cicit Ammara seraya menyeka buah plum benyek di atas rambutnya. Matanya menyorot penuh harap pada sang ayah agar peri laki-laki itu tidak memarahinya.Ailfryd menggeleng dengan mulut menganga. Dalam sekejap kebun indahnya terlihat mengerikan."Hai, Tuan Ailfryd!" sapa Marybell dan Tally hampir bersamaan setelah berhasil mengendalikan ketakutan mereka. Marybell menepis sisa-sisa plum di tangannya kasar. Tanpa ia sadari, pecahan plum yang kemerahan itu memercik pada pipi Ailfryd.Ailfryd sontak mendelik, sementara Marybell yang gemetaran memasang gestur meminta ampun.Kedua makhluk itu lantas bergerak menjauhi Ailfryd dan menyembunyikan diri mereka di balik sosok Ammara seraya mengintip ekspresi wajah Ailfryd."Kami sudah mengumpulkan hampir 10 keranjang besar buah plum, Ayah," bujuk Ammara lembut berusaha meredakan kemarahan ayahnya.Ailfryd mengembuskan napas panjang, mencoba meredakan gejolak emosinya. Ia menghapus noda plum di pipinya dengan tangan dan melihat noda kemerahan yang tertinggal pada jari-jemarinya dengan frustrasi. Dalam hati, berulangkali ia membisikkan sugesti bahwa ia tidak akan marah. Tidak untuk hari ini."Ayah rasa itu sudah cukup, Nak," semburnya dengan suara bergetar, sembari merapikan dan memeriksa pakaiannya. Ia khawatir jika ada noda plum yang tertinggal di sana. Baiklah, ia terlihat masih cukup rapi.Ammara menaikkan salah satu sudut alisnya, mengamati Ailfryd. "Ayah mau kemana? Apa ayah akan ikut mengantar plum bersama para Dwarf pekerja?""Ayah akan mengantar langsung buah-buah ini ke Kerajaan Avery. Apa kau ingin jalan-jalan ke sana?"Pupil mata gadis itu sontak melebar. "Mau, Ayah! Aku mau ikut!" Ammara memekik antusias."Baiklah, Nak. Cepat bersihkan dirimu. Ayah menunggumu di sini.""Baik, Ayah." Ammara melesat pergi meninggalkan Tally dan Marybell yang masih bergeming.Ailfryd menatap Tally dan Marybell yang kini menunduk canggung, tak berani menatap wajah sang pemilik kebun. Terlebih tak ada lagi tempat berlindung bagi mereka sekarang."Aku ingin meminta bantuan kalian," tutur Ailfryd beberapa saat kemudian."Te-tentu saja, Tuan," sahut mereka serempak seraya mengangkat wajah. Sudah pasti mereka akan mengiakan apapun keinginan Ailfryd untuk menebus kesalahan."Tolong, awasi para dwarf pekerja yang akan menyusun keranjang buah di dalam kereta. Ada 10 keranjang buah plum di sini dan 7 keranjang jeruk yang sudah ada di depan gerbang. Sementara aku akan mempersiapkan beberapa unicorn," jelasnya setelah menimbang sesaat. Ia tampak menerawang sebentar sebelum melanjutkan kata-katanya. "Jarak Avery terlalu jauh jika harus dilakukan dengan perjalanan darat. Aku akan meminta istriku untuk menyihir kereta dan para unicorn agar bisa terbang.""Baik, Tuan," sahut keduanya serempak sebelum melaksanakan tugas.* * *Sebuah istana besar berdinding batu berwarna cokelat kemerahan berdiri kokoh di atas tebing yang dipenuhi oleh bunga lavender. Istana itu terdiri dari beberapa bangunan. Pada bagian undakan di bawah tebing tersebut terdapat sebuah benteng yang sangat luas dan tinggi, sementara di sisi lain tebing terhampar hutan yang berbatasan dengan lautan. Di dalam benteng terdapat rumah-rumah kecil dengan atap seperti kepala cendawan yang beraneka warna. Setelah melalui perjalanan udara yang cukup panjang, akhirnya mereka tiba di depan gerbang benteng Kerajaan Avery, kerajaan terbesar di Fairyverse.Ailfryd mendaratkan kereta terbangnya tepat di depan gerbang. Sepasang peri elf dengan baju zirah yang merupakan pengawal kerajaan menyambut mereka. Ailfryd turun dari kereta dan menemui salah satu penjaga untuk menyampaikan identitas dan maksud kedatangan.Setelah mendapat izin masuk, Ailfryd kembali ke kereta. Kereta yang ditarik oleh tujuh ekor unicorn itu terbang menuju tebing dan memasuki halaman istana utama yang dipenuhi lavender. Beberapa kesatria elf telah menantinya di atas sana. Begitu roda-roda kereta menjenjak halaman istana, Ammara langsung melompat dari kereta dengan antusias."Hati-hati, Nak," ucap Ailfryd mengingatkan."Ini luar biasa, Ayah!" jerit Ammara girang. Iris mata hijaunya membulat menatap istana megah yang menjulang tinggi di hadapan. Ammara dapat melihat setidaknya sepuluh menara lain yang menjulang sangat tinggi di balik benteng. Sebuah kubah berwarna keemasan yang melingkupi bagian atas istana memantulkan cahaya matahari, sehingga menampilkan visual seolah istana itu bercahaya.Ammara tak berkedip untuk beberapa saat lamanya terpana oleh pemandangan yang tersaji. Selain bangunan istana yang megah dan indah, istana itu juga dikelilingi oleh padang lavender berwarna ungu yang menebar aroma wangi menenangkan. Benar-benar perpaduan yang apik.Ailfryd tersenyum melihat tingkah Ammara. "Inilah istana dari Raja kita, Ammara," tuturnya dengan nada bangga. Kebanggaan itu segera saja menular pada putrinya. "Bersenang-senanglah hari ini, Ammara. Kau bisa berkeliling dengan bebas di sini. Istana ini adalah tempat paling aman di seluruh Fairyverse. Ayah tahu kau pasti merasa sangat bosan karena hanya berdiam di Fairyfarm saja. Kau bisa tinggal di sini dan melihat-lihat sebentar, sementara Ayah mengurus buah-buah plum dan jeruk ini dulu.""Baik, Ayah!" sahut Ammara semringah seraya mengangguk mantap.Ailfryd dan para dwarf pekerjanya bersama-sama menurunkan keranjang-keranjang berisi buah dari kereta. Sementara Ammara berlari menaiki undakan tangga menuju pintu masuk istana. Ia sudah tidak sabar untuk melihat bagian lain dari istana yang mewah itu.Begitu melewati pintu istana yang dijaga oleh beberapa elf kesatria yang berdiri berjejer, Ammara kembali terperangah melihat sebuah air mancur yang cukup besar. Kolamnya berbentuk lingkaran, sementara di sekelilingnya terdapat pahatan patung-patung peri bersayap yang mengeluarkan air berwarna-warni dari bagian mulutnya. Di tengah-tengah kolam, berdiri kokoh sebuah patung yang mirip sesosok raja peri elf dengan mahkota, tongkat dan baju zirah lengkap tanpa sayap. Ammara menebak bahwa itu adalah patung raja yang memimpin kerajaan Avery saat ini.Di belakang air mancur terdapat bangunan istana dengan beberapa pintu besar yang terbuat dari emas. Pada pintu-pintu itu terdapat masing-masing dua sosok penjaga di sisi kanan dan kiri.Para penjaga melihat ke arahnya dengan heran, saat Ammara melewati mereka begitu saja. Namun, tak satupun dari mereka yang bergerak dari posisi begitu melirik kalung tanda tamu undangan istana yang menggantung di lehernya. Ammara melemparkan seulas senyum sambil mengangguk, memberi salam kepada para penjaga.Setelah puas melihat-lihat air mancur dan pemandangan di sekitarnya, peri perempuan itu melanjutkan langkah menuju ke arah kiri air mancur. Sebuah gerbang yang lebih kecil dari ukuran gerbang utama istana berwarna keemasan tanpa penjaga berhasil menarik atensinya. Dari kejauhan, Ammara dapat melihat samar-samar sebuah taman indah terhampar di balik gerbang itu.Dengan langkah riang, Ammara melewati ambang gerbang yang tak terkunci. Ia kembali terperangah begitu melihat keindahan taman yang tersaji di baliknya.Di hadapannya kini terhampar rerimbunan pohon dan tanaman merambat berbunga aneka warna yang sangat indah dan terawat. Di atas kelopak-kelopak bunga yang terbuka, beberapa peri pixie yang cantik dan bercahaya berterbangan. Sebagian peri pixie itu menoleh pada Ammara ketika ia memasuki taman, sementara sebagian lainnya bersembunyi di balik kelopak-kelopak bunga, menyorotnya dengan tatapan malu-malu.Dari sela-sela rerimbunan tanaman itu, Ammara melihat sebuah danau yang tidak terlalu luas namun sangat cantik berwarna turquoise . Ammara penasaran untuk melihat danau itu dari dekat. Ia mencari jalan masuk di sela-sela pohon yang cukup lebar untuk dilewati.Pupil mata Ammara melebar, begitu tubuh rampingnya lolos menuju tepian danau. Netranya menyorot takjub pada danau turquoise yang sekelilingnya dipagari oleh tanaman mawar putih. Di seberang danau itu, beberapa peri rupawan sedang duduk bercengkerama di bawah sebuah gazebo yang dinaungi kubah berwarna keemasan, serupa dengan kubah istana.Ammara bergeming, seolah tersihir oleh pamandangan di taman itu, ketika sesosok peri elf menghampirinya."Siapa kau?" Suara ketus muncul tepat di sampingnya.Ammara terkesiap, lantas mengalihkan pandang pada sesosok peri yang menyorotnya dengan tatapan penuh selidik.Ammara mendadak gugup. "A-aku sedang berjalan-jalan ....""Berjalan-jalan?" Apa kau pikir ini tempat umum?" Peri laki-laki itu menaikkan salah satu alisnya.Tidak seperti para kesatria yang mengenakan baju zirah lengkap, peri laki-laki itu memakai kemeja putih longgar dengan aksen emas pada sejenis kain sutra yang tersampir di bahunya. Sebuah mahkota bulat berbentuk jalinan dedaunan bertengger ketat di keningnya. Jadi, kemungkinan besar, peri laki-laki tersebut bukan pengawal kerajaan. Entah mengapa, asumsi ini justru membuat Ammara semakin gugup.Ammara menelan ludah dengan susah payah. Ia terlalu gelisah untuk memikirkan jawaban yang tepat atas pertanyaan peri laki-laki itu. Mulutnya membuka hendak menjawab sekenanya. Namun, belum lagi suaranya keluar, sang peri telah memotong ucapannya."Apa para pengawal tidak ada yang mencegahmu masuk ke mari?" Ia masih menatap Ammara dengan sorot penuh penghakiman. "Lagi pula, kau terlihat sangat berbeda ...."Peri itu terdiam. Ia mengamati sesuatu yang berpendar samar pada leher Ammara hingga membuat gadis itu sedikit risih. Peri laki-laki itu membuka mulut, tampak hendak melanjutkan kata-katanya."Ammara!" Sebuah seruan menginterupsi ketegangan di antara mereka.Ammara dan peri laki-laki itu sontak terkejut dan menoleh ke arah suara. Elwood berdiri di sisi lain danau, yang tak terlalu jauh dari tempat mereka berdiri. Peri laki-laki itu tersenyum sembari melambaikan tangan."Apa yang membawamu ke mari?" tanyanya riang sambil berjalan mendekati Ammara."Kau mengenalnya?" tanya peri laki-laki bersurai hitam yang berdiri tepat di samping Ammara. Keningnya berkerut dalam."Tentu saja, dia temanku dari Fairyfarm. Namanya Ammara," sahut Elwood riang. Peri laki-laki itu lantas beralih menatap Ammara."Dia saudaraku, Claude," ungkapnya sedikit canggung."Hai, Claude!" sapa Ammara sambil mengulas sebuah senyum tipis. Gugupnya perlahan mulai reda, sementara peri laki-laki yang bernama Claude hanya menjawabnya dengan anggukan kecil. Ia tidak tersenyum, tetapi wajah dan tatapannya tidak sedingin tadi."Baiklah, sepertinya tak ada masalah di sini, aku akan melanjutkan membaca kitabku," ucap Claude sambil menunjuk sebuah kitab keemasan yang ia genggam. "Kau bisa bergabung dengan kami di gazebo di seberang danau." Peri laki-laki itu lantas menunjuk sebuah bangunan indah yang terletak di seberang danau dengan ujung dagunya."Ti-tidak perlu ... aku hanya ....""Tentu saja. Aku akan mengajaknya ke sana," sahut Elwood cepat sembari menyunggingkan senyum yang rasanya terlampau lebar dan dibuat-buat. Claude menjawabnya dengan anggukan sekilas sebelum berjalan menuju ke seberang danau."Kau belum menjawab pertanyaanku." Elwood menaikkan salah satu alisnya, menuntut jawaban Ammara setelah Claude berlalu dari hadapan mereka."Ayahku membawa banyak plum dan jeruk kemari. Aku ikut dengannya untuk melihat-lihat Avery. Tempat ini benar-benar luar biasa!" sahut Ammara sambil melemparkan tatapan kagum ke sekelilingnya.Elwood mengangguk. "Ah, ya, jadi buah-buahan yang tampak menggiurkan itu berasal dari kebun ayahmu di Fairyfarm?" ulangnya meyakinkan.Ammara mengangguk mantap. "Jadi kau tinggal di sini? Atau keluargamu yang bekerja di sini? Atau ... kau yang bekerja di sini?"Elwood tampak berpikir sejenak, seolah menimbang sesuatu dan akhirnya menjawab dengan kurang yakin. "Bisa dibilang begitu.""Begitu bagaimana? Kau belum menjawab pertanyaanku." Ammara memicingkan mata, menyorot Elwood penuh selidik.Elwood terbahak, mengalihkan pembicaraan mereka. "Lebih baik kita temui saudara-saudaraku yang lain. Mereka ada di gazebo sana. Mari," ajaknya sembari meraih pergelangan tangan Ammara dan menuntunnya menuju ke seberang danau. Ammara menuruti Elwood tanpa bertanya lagi. Ia pikir ia akan segera mendapatkan jawaban ketika mereka sampai di gazebo.Mereka sampai di gazebo beberapa saat kemudian setelah menyusuri pinggir danau yang tidak terlalu luas. Ammara melihat lima peri lain yang sedang bercengkerama di bangunan indah berkubah emas dan permata itu. Salah satu di antara mereka adalah peri perempuan yang sangat cantik. Peri perempuan itu sedang memegang sebuah alat musik yang mengeluarkan alunan suara yang sangat indah. Ia menghentikan permainan musiknya dan menatap Ammara, saat Ammara dan Elwood memasuki gazebo."Sepertinya kita kedatangan tamu," ucap peri cantik itu sambil menyunggingkan seulas senyum pada Ammara. Rambut platinumnya yang berkilauan tampak dihiasi sebuah mahkota kecil bertakhta batu mulia berwarna safir, sangat kontras dengan warna matanya yang kecokelatan. Beberapa kuntum bunga mawar putih terselip pada rambutnya yang terjalin berbentuk sayap malaikat. Sementara gaun berwarna lilac yang panjang tampak berkelip dengan taburan permata di permukaannya. Peri perempuan itu adalah peri tercantik yang pernah Ammara lihat seumur hidupnya.Demi mendengar perkataan peri cantik itu, tiga sosok peri lainnya sontak menghentikan aktivitas mereka masing-masing, lalu menatap ke arah datangnya Ammara dan Elwood. Sementara sesosok peri lainnya tampak sedang sibuk membersihkan sebilah pedang perak miliknya, enggan mengangkat wajah untuk sekadar beramah-tamah."Wah, kau peri cantik yang waktu itu ya?!" Seru salah seorang peri dengan tindik di bibirnya. Iris mata birunya menatap Ammara terpesona. Senyum mengembang di bibir sang pangeran peri."Pangeran Elijah, jaga sikapmu. Tampaknya dia adalah kekasih pangeran Elwood," sela peri cantik itu seraya meletakkan alat musiknya di atas sebuah meja batu yang terletak di tengah-tengah gazebo. Ia mendekati Ammara untuk menyambutnya."Tidak ... !" Bantah Elwood dan Ammara gelagapan, hampir bersamaan. Wajah keduanya seketika memerah.Pupil mata cokelat peri cantik itu melebar, menunjukkan ketertarikan. "Jadi Pangeran Elwood belum menyatakan perasaannya?"Elwood mendelik, menatap tajam pada saudara perempuannya. Sementara peri cantik itu terkikik geli."Tidak ... Kami hanya berteman." Ammara kembali menegaskan dengan canggung. Elwood menggeleng sambil menatap sang putri peri dengan sorot memohon, sementara Putri Tatianna membalas tatapannya dengan senyum mengejek.Elijah terbahak melihat tingkah Ammara dan Elwood yang menjadi bulan-bulanan saudara perempuan mereka. "Kalau begitu tampaknya aku masih punya kesempatan," timpalnya dengan senyum menggoda."Sudahlah Pangeran Elijah, jangan menggodanya. Dia adalah tamu kita," sergah sang putri peri setelah tawanya mereda. Ia lantas beralih pada Ammara. "Perkenalkan, aku adalah Putri Tatianna. Kau bisa memanggilku Tatianna saja. Siapa namamu?""Ammara," sahutnya singkat.Peri laki-laki yang sedang membersihkan pedangnya sontak mengangkat wajah. Netranya bertemu dengan netra Ammara. Kini mereka saling tatap dengan mata membelalak."Kau juga mengenal Pangeran Archibald?" tanya Tatianna penuh selidik saat ia memperhatikan reaksi keduanya.Archibald mengembuskan napas panjang sembari meletakkan pedang yang sedang ia bersihkan di atas meja batu dengan kasar. "Aku bertemu dengannya di Fairyfall. Peri ceroboh yang dengan mudahnya terkena tipu muslihat para nimfa," sahutnya dingin.Sontak seluruh peri yang ada di gazebo itu terkejut mendengar penuturan Archibald. Sang pangeran peri yang terkenal sangat dingin dan irit bicara itu membuka suara hanya untuk menjelaskan pertemuannya dengan Ammara merupakan sebuah kejadian langka.Ammara membelalak, mendengar jawaban Archibald barusan. Emosinya kontan tersulut. Ia membentak Archibald. "Aku tidak pernah meminta pertolonganmu saat itu. Jadi jangan pernah mengataiku ceroboh!"Suasana menjadi hening seketika. Semua peri yang ada di gazebo itu tampak tegang menantikan reaksi Archibald setelah dibentak oleh Ammara. Peri perempuan itu terlalu berani. Tidak ada yang pernah berlaku demikian kepada Archibald sebelumnya. Putri Tatianna yang terkejut bahkan menutup mulutnya dengan tangan."Mengapa aku harus selalu bertemu denganmu?! Bertemu denganmu membuatku selalu bermimpi buruk," desis Archibald dengan nada dingin. Ia berdiri dan memasukan pedang perak ke dalam sarung kulit yang tersampir di pinggangnya dengan kasar. Ia hendak pergi meninggalkan gazebo itu. Namun, Claude menahan langkahnya."Apa?! Dasar peri kurang ajar! Aku juga tidak suka bertemu dengan peri sombong sepertimu!" Ammara membalas dengan sengit. Ia nyaris menghampiri Archibald, andai saja Elwood tak menahan pergelangan tangannya."Maafkan saudaraku, Ammara. Dia sedang tidak enak hati. Belakangan dia memang sering bermimpi buruk. Kami tidak menyangka bahwa ia akan melimpahkan kekesalannya padamu," bujuk salah seorang peri yang belum pernah Ammara lihat sebelumnya. Warna rambutnya pirang keperakan seperti rambut putri Tatianna. Iris matanya yang tajam dan bijak berwarna abu-abu. Ia tersenyum kepada Ammara, "Perkenalkan, Aku adalah Putra Mahkota Albert. Selamat datang di kerajaan Avery."Ammara terperangah. Jadi, para peri yang sedang berkumpul di gazebo ini adalah Putri dan para pangeran kerajaan Avery. Bahkan, pemuda yang kini berdiri tepat di hadapannya adalah putra mahkota Kerajaan Avery. Ammara tidak tahu harus bersikap bagaimana, suasana jadi begitu canggung baginya.Jadi, peri sombong itu adalah seorang pangeran juga. Berarti Elwood juga seorang pangeran. Ammara menoleh ke arah Elwood dengan tatapan meminta penjelasan. Sementara, di sisinya Elwood hanya menyunggingkan senyum tidak enak, tetapi ia tak mengatakan apa-apa."Senang berkenalan denganmu Putra Mahkota," tutur Ammara pelan. "Maaf, Aku... sepertinya ini bukan tempatku. Aku harus mencari ayahku."Ammara hendak beranjak dari tempat itu, ketika seseorang meraih tangannya. "Kau tidak salah, Ammara. Selalu ada tempat untuk peri secantik dirimu disini," ucap Elijah seraya mengarahkan jari telunjuknya di dadanya.Ammara tersenyum sambil menggeleng pelan, "Terima kasih sudah menghiburku," gumamnya pelan."Ammara, sebagai ucapan permintaan maafku atas perlakuan buruk saudaraku, aku ingin mengundangmu ke pesta ulang tahunku besok. Aku sangat berharap kau bisa hadir. Aku ingin kita menjadi teman." Tatianna akhirnya kembali angkat suara seraya merangkul pundak Ammara."Baiklah, akan aku mempertimbangkannya, terima kasih Putri Tatianna," sahut Ammara. "Aku harus mencari ayahku, aku permisi dulu."Setelah berpamitan, Ammara melepaskan diri dari rangkulan Tatianna dan berjalan menjauh meninggalkan gazebo. Ia keluar dari taman kerajaan Avery dengan setengah berlari. Arthur, Elwood, Elijah, Claude dan Tatianna mengiringi kepergian Ammara sampai peri itu menghilang di balik gerbang kecil menuju taman istana Avery. Sementara Archibald hanya tertunduk menyesali sikap kasarnya pada Ammara.* * *Jauh di pelosok Hutan Larangan, seorang peri perempuan dengan jubah hitam menyeret sebuah tongkat bermata kristal ungu. Surai hitamnya tergerai menutupi kedua pipinya. Mata peri itu tampak bercahaya di dalam kegelapan Hutan Larangan menampakkan bola mata yang keseluruhannya putih. Bibir merahnya tampak bergerak-gerak merapalkan mantra.Beberapa saat kemudian, cahaya di matanya meredup dan hilang. Matanya kembali memunculkan iris berwarna hitam pekat. Bersamaan dengan itu, suara tawa peri itu menggelegar memecah keheningan Hutan Larangan yang sunyi senyap."Apa yang kau lihat, Minerva?" tanya Lucifer ingin tahu.Tawa peri itu seketika reda."Gadis manusia itu telah berhasil memasuki istana. Aku tidak sabar ingin menyaksikan kehancuran kerajaan itu, Lucifer.""Jadi ramalan itu memang benar adanya," desis Lucifer. Seringai di wajah mengerikannya tampak mengembang ."Tentu saja," sahut Minerva. "Besok Kerajaan Avery akan mengadakan pesta untuk Putri Tatianna, segel istana pasti akan melemah. Aku ingin memberikan sebuah hadiah. Lucifer, cepat siapkan sesuatu yang sangat istimewa untuk Kerajaan Avery.""Baik, Minerva." Sahut makhluk hijau dengan wajah mengerikan itu. Seketika sebuah kepulan asap menghitam muncul menyelubungi sosok Lucifer, bersamaan dengan itu ia pun merubah wujudnya menjadi seekor rajawali. Burung itu mengepakkan sayapnya dan terbang menjauh meninggalkan Minerva, menembus kegelapan hutan Larangan.To be continue....Dear readers terima kasih sudah membaca Fairyverse sampai sejauh ini. Semoga sukaJangan lupa vomentnya yaaa
Bermain mantra
Lady In WhiteJika kalian merasa rindu dengan seseorang yang sangat kalian cintai, maka permainan Lady In White ini merupakan permainan yang cocok Anda mainkan. Caranya sangat mudah yakni masuk ke dalam kamar mandi sendirian dan matikan semua lampu. Putar tubuh sebanyak 5 kali sambil mengatakan Lady In White. Setelah itu, putar tubuh berlawanan arah sebanyak 5 kali dan katakan nama orang yang Anda cintai. Bila berhasil, maka Anda bisa melihat bayangan orang yang Anda cintai di cermin.The Midnight ManPermainan Midnight Man sebenarnya merupakan ritual kuno yang dilakukan oleh orang Pagan. Tujuan dari permainan ini adalah untuk menghukum orang yang telah melakukan kesalahan. Permainan ini hanya boleh dilakukan pada saat tengah malam saja. Siapkan kertas dan tuliskan nama Anda. Di kertas itu, teteskan beberapa tetes darah Anda dan tempelkan ke pintu. Matikan semua lampu dan ketuk pintu sebanyak 22 kali. Buka pintu, tiup lilin, kemudian tutup pintu. Dan selamat, kalian telah mengundang Miidnight Man ke dalam rumah Anda.Tugas dari Anda adalah untuk selalu menghindari Midnight Man ini sampai jam 03:33 pagi.Jangan biarkan Midnight Man menangkap Anda, karena hal tersebut bisa saja berakibat buruk bagi Anda.CharlieMungkin bagi sebagian orang lebih mengenal permainan ini dengan nama permainan pensil. Berasal dari Meksiko, permainan Charlie ini dipercaya sebagai permainan untuk memanggil arwah seorang anak laki-laki yang mati bunuh diri. Namun ada juga yang percaya bahwa permainan juga bisa digunakan untuk memanggil roh jahat. Untuk memainkan permainan ini, Anda harus menyiapkan kertas yang sudah bergambar salib dengan tulisan yes dan no di setiap sisi. Letakan pensil di tengah-tengah dan ucapkan "Charlie, Charlie, bisakah kita bermain?" Bila pensil mulai bergerak, itu tandanya kalian sudha berhasil memanggil arwah Charlie. Setelah itu kalian bisa menanyakan pertanyaan apa saja pada Charlie.Untuk menyelesaikan permainan, katakan "Charlie, Charlie, bisakah kita berhenti?" Bila pensil bergerak ke arah yes, maka segera katakan good bye dan jatuhkan pensil. Jika tidak, ulangi pertanyaan tersebut sampai mendapatkan jawaban yes.Devil FaceBerasal dari Spanyol, permainan memanggil iblis ini wajib dilakukan oleh 1 orang, tidak boleh lebih. Bila dilakukan lebih dari 1 orang, maka orang tersebut bisa dirasuki oleh iblis. Sesuai dengan namanya, Devil Face adalah sebuah permainan yang dimainkan bagi orang-orang yang ingin melihat wajah iblis. Caranya adalah kunci kamar mandi, nyalakan 12 lilin hitam di dalamnya. Tutup mata sampai jam menunjukkan tengah malam. Maka saat itulah kamu bisa melihat wajah iblis di depan cermin. Dikarenakan permainan Devil Face ini sangat berbahaya, maka amat sangat disarankan untuk tidak dilakukan.Baby BlueBaby Blue ini merupakan sebuah urband legend yang sangat terkenal yang diperkirakan memiliki hubungan dengan Bloody Mary. Permainan Baby Blue ini bertujuan untuk memanggil sebuah arwah bayi jahat ke dalam tangan Anda. Caranya untuk memainkan permainan ini adalah pergi ke kamar mandi pada saat malam hari. Matikan lampu dan kunci pintu kamar mandi. Katakan Baby Blue secara berulang-ulang sembari menghadap cermin. Nantinya tangan Anda akan merasa seperti ada beban berat. Beban berat tersebut menandakan Baby Blue telah hadir. Sebelum bertambah berat, segeralah buang Baby Blue ke dalam toilet dan siram dengan air. Bila tidak, nanti akan muncul bayangan wanita yang berteriak ke arah Anda. Dan ketika saat itu terjadi, maka itu adalah tanda akhir dari hidup Anda.Daruma SanIngin mencoba permainan memanggil hantu dari Jepang ini? Jika iya, maka bersiaplah seharian penuh Anda akan dikejar-kejar oleh hantu perempuan. Caranya adalah tunggu ketika malam kemudian siapkan bak mandi yang sudah terisi air, masuk ke dalamnya. Selalu tutup mata ketika berada dalam baik mandi dan ucapkan Daruma San jatuh berkali-kali. Jika berhasil maka nanti Anda akan merasakan sesuatu ketika berada di dalam bak mandi. Keluar dari bak mandi secara perlahan dengan mata tetap tertutup, kemudian tutup pintu kamar mandi dan biarkan bak mandi tetap terisi air. Tidurlah seperti biasa, ketika bangun pagi, saat itulah permainan Daruma San dimulai. Anda harus bisa menyelesaikan permainan ini, jika tidak maka hantu Daruma akan terus mengikuti Anda.Candy ManCandy Man adalah hantu jahat yang haus akan darah. Meskipun sudah mendapat peringatan bahwa permainan Candy Man adalah permainan memanggil hantu yang berbahaya, tapi masih ada saja orang nekat yang melakukannya. Cara untuk memanggil Candy Man adalah pergi ke kamar mandi ketika malam hari kemudian matikan seluruh lampu kamar mandi. Sambil menghadap cermin, katakan Candy Man 5 kali. Jika ada sepasang mata berwarna merah yang muncul, maka itu tandanya Candy Man telah hadir.Ouija BoardOuija Board merupakan permainan terkenal yang dilakukan untuk memanggil arwah dengan menggunakan papan. Papan ini bertuliskan abjad a-z, angka 0-9, yes dan no, dan good bye. Permainan Ouija Board ini pada awalnya berasal dari Cina, yang kemudian saat ini cukup sering dimainkan oleh orang untuk berkomunikasi dengan roh halus. Yang cukup diperhatikan adalah belum tentu roh yang dipanggil adalah roh yang baik. Jika yang datang adalah roh jahat, maka hal tersebut bisa membahayakan orang-orang yang bermain Oioja Board tersebut.JelangkungSiapa yang tidak mengenal permainan memanggil hantu dari Indonesia ini. Dengan meliahat bentuk bonekanya sudah bisa membuat orang takut. Hanya butuh bahan-bahan sederhana dan sebuah mantra untuk memainkan permainan seram ini. Cukup sediakan 1 buah batok kelapa, tongkat kayu, kain putih, bentuk seperti layaknya boneka dan mainkan di tempat angker. Ucapkan mantra "Jelangkung, jelangkung, di sini ada pesta kecil-kecilan, datang tak dijemput, pulang tak diantar" . Ulangi mantra tersebut berkali-kali sampai ada hantu yang merasuki boneka.
teka teki??
Hari ini adalah hari pertama Irma mengajar di kelas XII B. Ketika dia masuk ke dalam kelas, semua murid sudah duduk tenang di tempat masing-masing. Meja belajar disusun berpasang-pasangan sebayak empat baris. Tetapi ada satu yang menarik perhatiannya.Semua siswa duduk berpasang-pasang, kecuali satu meja paling belakang di pojok kanan kelas. Di situ duduk seorang siswi. Irma tidak bisa melihat dengan jelas wajah perempuan itu karena rambutnya terurai ke depan. Hanya sekilas terlihat wajah pucatnya saja.Mengira anak itu mungkin sedang sakit, Irma mencoba mengabaikan dulu."Anak-anak, perkenalkan. Nama saya Irma Farida. Kalia bisa panggil Bu Irma saja. Saya guru kimia kalian untuk tahun ini."Irma menceritakan sekilas latar belakangnya, bagaimana sistemnya mengajar dan sebagainya. Sambil menjelaskan, matanya kembali menyapu seisi kelas. Semua siswa tetap diam dan memperhatikannya dengan seksama. Kecuali siswi duduk paling belakang sendirian itu. Kepalanya tetap menunduk. Irma semakin penasaran."Biar kenal kalian semua, saya absen satu per satu dulu yah," ujar Irma sambil membuka absensi siswa."Agam", panggil Irma."Hadir..." jawab seorang siswa gendut yang duduk di baris ke 3, di depan siswi misterius itu."Bardos?""Hadir.."...Sudah separuh nama siswa di kelas disebut. Namun, pada saat nama "Miranda" disebutkan, tidak ada yang menyahut. "Anu Bu..." salah satu siswi duduk terdepan menyahut. "Miranda, sakit Bu.""Oh ya?" Irma menyelidik."Iya Bu, denger-denger lagi sakit diare dia," sebagian anak ikut menimpali. Irma melihat beberapa siswa mencoba menyembunyikan wajah mereka.Irma lanjut mengabsen nama lagi...Setelah semua nama disebutkan, dia menyadari siswi yang duduk paling belakang tersebut masih belum dipanggil.Karena rasa penasarannya, dia kembali bertanya sambil menunjuk, "Saya lupa namanya itu. Yang duduk di situ, itu siapa yah?"Siswi terdepan itu kembali menjawab, "Yang paling belakang gak ada orang kok Bu. Memang kosong Bu. Dua-duanya memang kosong...""Iya Bu" "Memang kosong bu" sahut seisi anak-anak lagi.Irma memastikan semua tempat duduk terisi, dan memang hanya bangku paling belakang diduduki siswi misterius itu, sedangkan sebelahnya tidak ada orang. Akhirnya Irma berjalan ke belakang. Menarik tangan siswi misterius itu, sehingga terlihat wajahnya. Dia hanyalah orang yang menggunakan make-up bedak putih.Siswi itu menatap dengan terkejut, seisi kelas juga ikut terkejut."Sebetulnya keusilan kalian itu cukup sempurna. Saya tadi hampir percaya kalau kelas kalian berhantu. Tapi sayangnya, tadi kalian keceplosan," jawab Irma sambil tersenyum.JawabanPetunjuk pertama, ketika Irma menunjukkan jarinya ke belakang, normalnya anak yang merasa ditunjuk akan menjawab. Dalam kasus ini, jika baris paling belakang benar-benar kosong, seharusnya Agam yang duduk di posisi berikutnya itu akan merasa ditunjuk (karena berarti dia duduk paling belakang). Seharusnya dia menjawab. Tetapi, anehnya dia tetap diam.Petunjuk kedua ada di siswi terdepan itu. Seharusnya ia harus memastikan terlebih dahulu siapa yang ditunjukkan oleh Irma. Tetapi kenyataannya dia langsung menyelutuk bangku paling belakang kosong, tanpa konfirmasi.Terlihat jelas mereka kompak ingin menjahili guru baru mereka. Terbukti beberapa siswa mencoba menutupi wajah mereka. Kemungkinan besar karena mereka menahan tawa.______________Malam ini rasanya sepi sekali. Soalnya ayah, ibu dan adik keluar kota. Saya harus di rumah sendiri soalnya minggu depan ujian akhir semester di kampus.Jadi saya menghabiskan waktu belajar. Kadang kalau bosan nonton TV di ruang tamu. Atau kalau gak ada kerjaan maka akan cari makanan di dapur. Malam itu, setelah bosan belajar saya pergi ke dapur mencoba mencari sesuatu yang bisa diembat di dalam lemari es. Namun horornya, ternyata gak ada apa-apa di dalam lemari es. Hanya cahaya oranye dari lemari es menerangi wajah saya yang kecewa di dalam dapur yang gelap...Saya memutuskan nonton TV. Tapi di TV pun tidak ada acara yang menarik. Hanya acara drama tidak jelas.Arg bosan sekali! Teriak saya dalam hati. Tiba-tiba ponsel saya yang terletak di kamar saya di lantai 2 berbunyi. Buru-buru saya lari naik ke atas. Ternyata yayang yang telepon. Dia seperti tahu kalau saya sedang bosan. Kami ngobrol sana sini hampir selama satu jam.Setelah telepon, kita lanjut chat lagi. Mungkin 2-3 jam. Saya sudah gak ingat waktu lagi. Terakhir saya kirim ucapan selamat malam lalu saya pun tidur...Namun tiba-tiba saya terbangun!Saya belum mematikan lampu-lampu di bawah. Buru-buru saya turun ke bawah, matikan TV, matikan lampu di toilet, lampu di dapur, lampu di ruang tamu. Kalau gak, besok pagi saat mama pulang melihat lampu menyala semalaman bisa diomel habis-habisan. Haha, untung gak lupa. Dan saya pun kembali tidur.JawabanSang tokoh utama tidak pernah menyalakan lampu dapur. Sebab terakhir kali dia pergi ke dapur, kondisi dapur sudah gelap. Jadi pada, saat turun ke bawah untuk menutupi lampu, mengapa dia menutup lampu dapur?
Perempuan tua dan Hantu Jadi-jadian
Dahulu kala ada seorang wanita tua yang sangat-sangat gembira dan selalu penuh dengan sukacita, walaupun hampir tidak memiliki apa-apa, dan dia sudah tua, miskin dan tinggal sendirian. Dia tinggal di sebuah pondok kecil dan menghidupi dirinya dengan membantu tetangganya mengantarkan pesanan, dia hanya mendapatkan sedikit makanan, sedikit sup sebagai upahnya. Dia selalu giat bekerja dan selalu terlihat.Disuatu sore, di musim panas, ketika dia berjalan pulang ke rumahnya, dengan penuh senyuman seperti biasanya, dia menemukan sebuah pot hitam yang besar tergeletak di tanah!"Oh Tuhan!" katanya, "Pot ini akan menjadi tempat yang bagus untuk menyimpan sesuatu apabila saya mempunyai apa-apa yang dapat disimpan disana! Sayangnya saya tidak memiliki apa-apa! Siapa yang telah meletakkan pot ini disini?"Kemudian dia melihat ke sekeliling berharap bahwa pemiliknya tidak jauh dari sana, tapi dia tidak melihat siapapun disana."Mungkin pot ini memiliki lubang," katanya lagi,"dan karena itulah pot ini dibuang. Tapi pot ini akan sangat bagus bila saya meletakkan setangkai bunga dan menaruhnya di jendela rumahku, saya akan membawanya pulang."Dan ketika dia mengangkat tutupnya dan melihat ke dalam. "Ya ampun!" teriaknya dengan terkagum-kagum. "Penuh dengan emas. Betapa beruntungnya saya!"Di dalam pot tersebut dilihatnya tumpukan koin emas yang berkilap. Saat itu dia begitu terpana dan tidak bergerak sama sekali, kemudian akhirnya dia berkata"Saya merasa sangat kaya sekarang, benar-benar kaya raya!"Setelah dia mengucapkan kata-kata ini beberapa kali, dia mulai berpikir bagaimana dia dapat membawa harta karun itu kerumahnya. Pot berisi emas itu begitu berat untuk dibawa, dan dia tidak menemukan cara yang baik selain mengikat pot itu pada ujung selendangnya dan menariknya sampai ke rumah."Sebentar lagi hari akan menjadi gelap," katanya sendiri dan mulai berjalan. "Ah.. sekarang lebih baik! karena tetanggaku tidak akan melihat apa yang saya bawa pulang ke rumah, dan saya bisa sendirian saja sepanjang malam, memikirkan apa yang saya akan lakukan dengan emas ini! mungkin saya akan membeli rumah yang besar dan duduk-duduk di perapiannya sambil menikmati secangkir teh dan tidak bekerja lagi seperti seorang Ratu. Atau mungkin saya akan mengubur emas ini di taman dan meyimpan sedikit emas ini di teko tua ku, atau mungkin .. wah.. wah.. saya merasa tidak mengenal diri saya sekarang."Sekarang dia merasa lelah karena menarik pot yang berat itu, berhenti sejenak untuk beristirahat, dan berbalik melihat ke hartanya.Dan dilihatnya pot itu tidak berisi emas, tapi hanya tumpukan koin perak di dalamnya.Dia menatap pot itu dan menggosok matanya, dan menatap kembali."Saya berpikir bahwa pot tadi berisi emas! Saya mungkin bermimpi. Tapi ini adalah keberuntungan! Perak lebih tidak menyusahkan, gampang di pakai, dan tidak mudah dicuri. Koin emas mungkin membawa kematian untuk saya, dan dengan setumpuk koin perak ini..."kemudian dia berjalan lagi sambil memikirkan apa yang harus dilakukannya, dan merasa seperti orang kaya, hingga akhirnya dia keletihan lagi dan berhenti beristirahat dan menengok kembali apakah hartanya masih aman; dan saat itu dia tidak melihat perak, melainkan setumpuk besi!"Saya menyangka pot itu berisi perak! saya pasti bermimpi, Tapi ini adalah keberuntungan! sungguh menyenangkan. Saya dapat menjual dan mendapatkan satu penny untuk satu besi tua ini, dan satu penny lebih gampang di bawa dan di atur dibandingkan emas dan perak. Mengapa! karena saya tidak harus tidur dengan gelisah karena takut di rampok. Tapi satu penny betul-betul dapat berguna dan saya seharusnya menjual besi-besi itu dan menjadi kaya, benar-benar kaya."kemudian dia berjalan lagi sambil memikirkan apa yang harus dilakukannya dengan uang penny nya nanti, hingga sekali lagi dia berhenti beristirahat dan menengok kembali apakah hartanya masih aman; dan kali ini dia tidak melihat apa-apa selain batu-batu besar dalam pot itu."Saya menyangka pot itu berisi bersi! saya pasti bermimpi, Tapi ini adalah keberuntungan! karena saya sudah lama menginginkan batu besar untuk menahan agar pintu pagar saya tetap terbuka. Sungguh hal yang baik memiliki keberuntungan."Perempuan dan Jadi-JadianDia menjadi sangat ingin melihat bagaimana batu itu nanti bisa menahan pintu pagarnya agar selalu terbuka, dia akhirnya berjalan terus hingga tiba di pondoknya. Dia membuka pintu pagarnya, berbalik untuk melepaskan selendangnya dari batu besar yang tergeletak di belakangnya. Tetapi apa yang dilihatnya bukanlah batu besar, melainkan serpihan-serpihan batu.Sekarang dia membungkuk dan melepaskan ujung selendangnya, dan - "Oh!" Tiba-tiba dia terlonjak kaget, sebuah jeritan, dan mahkluk yang sebesar tumpukan jerami, dengan empat kaki yang panjang dan dua telinga yang panjang, memiliki ekor panjang, menendang-nendang ke udara sambil memekik dan tertawa seperti anak yang nakal!Wanita tua itu memandangnya sampai makhluk itu menghilang dari pandangan, kemudian akhirnya perempuan itu tertawa juga."Baiklah!" katanya sambil tertawa, "Saya beruntung! Cukup beruntung. Sungguh senang bisa melihat hantu jadi-jadian dengan mata kepala sendiri, dan bebas darinya juga! Ya Tuhan, saya merasa sangat bahagia!"Kemudian dia masuk ke pondoknya dan tertawa sepanjang malam membayangkan kejadian tadi dan merasa betapa beruntungnya dia hari ini
Cerita Hantu Seram Kakak Sepupu yang Menjadi Nyata
Ketika saya masih tinggal di Filipina, orang tua saya sering membawa saya dan saudara-saudara saya yang lain ke rumah di pedesaan. Biasanya kami sangat senang ke sana, karena itu artinya awal liburan musim panas. Artinya, kita jauh dari kota, jauh dari sekolah. Lebih enaknya lagi, sebagian besar dari sepupu-sepupu saya yang lain akan berkumpul, sehingga tidak ubahnya menjadi sebuah reuni keluarga.Kami bisa dibilang memiliki sebuah rumah di sana; Itu adalah rumah leluhur kami, milik kakek-nenek buyut kami. Tetapi bukan kisah liburan menyenangkan yang akan saya bawakan, melainkan kisah, yang mungki disebut “aneh.”Pada waktu itu, mungkin di pertengahan 90-an. Kebetulan tidak semua sepupu saya datang berlibur. Jadi hanya ada beberapa dari kami. Saat itu musim hujan. Hampir setiap hari selalu turun hujan. Oleh karena itu, kami hanya berada di dalam rumah tidak bermain di luar. Anak-anak Filipina yang dibesarkan di tahun 90-an, pasti tahu betul kalau hujan badai pasti mati lampu.Jadi seperti yang kita semua harapkan, ketika mati lampu terjadi, kami bergegas untuk menyalakan lilin dan lampu minyak untuk menerangi ruangan. Dan hal ini akan selalu berubah menjadi kesempatan untuk mulai berbagi cerita hantu.Sata itu saya selalu menjadi gadis penakut. Sedikit kedipan atau suara mencicit bisa membuat takut setengah mati. Sepupu saya paling senang menakut-nakuti saya. Cerita-cerita mereka begitu mengerikan sampai seperti betul-betul nyata. Nah, untuk malam ini, saya meminta agar mereka tidak membuat cerita yang terlalu seram, karena nanti aku tidak bisa pergi ke kamar kecil tanpa ditemani.Mereka tertawa tapi setuju. Jadi kami memutuskan untuk memulai sesi bercerita kami. Kakak sepupu saya yang tertua benar-benar seorang pencerita handal. Ia benar-benar tahu bagaimana membangun suasana yang tepat dan dia benar-benar bisa membuat kami semua berteriak dan lari ke orang tua kami. Ia bisa sengaja menunggu kesempatan yang tepat, kadang-kadang tidak mengatakan sepatah kata pun sampai hening mencekam, memanfaatkan suara jangkrik, anjing menggonggong dari jauh, pohon bergemirisik dalam kegelapan malam yang kadang-kadang aku bertanya-tanya apakah itu itu semua kebetulan atau dia benar-benar mampu mengendalikan hal-hal seperti ini?Seperti hujan mulai mereda, perlahan-lahan sampai tidak terdengar lagi tetesan air, sepupu saya memulai kisah pertamanya.Cerita ini mengenai seorang wanita muda yang hendak menikah. Kebetulan dia penduduk kota kami (Barrio). Waktu itu masih merupakan masa-masa kependudukan Spanyol. Wanita ini merupakan wanita paling cantik di kota. Banyak laki-laki dari kota-kota tetangga dan bahkan provinsi sebelah sengaja datang mengunjunginya untuk pendekatan dan bahkan mungkin ingin memenangkan hatinya.Dia adalah sosok yang menyenangkan. Tidak pernah berpaling ke pelamarnya. Dia bahkan mau menemui semua pelamar selama ini dan ini hanya membantu membuat dia semakin terkenal. Sampai suatu hari, seorang pria muncul di rumahnya. Pria itu adalah petani kota lokal yang hampir sebaya dengannya. Pria itu sederhana dan rendah hati, seorang pekerja keras dan taat agama. Wanita itu segera menyukai pria tersebut.Hal ini melukai semua pelamarnya. Salah satu pelamar kebetulan adalah pemilik perkebunan Spanyol yang memiliki kekuasaan dan memiliki relasi di gereja mapun tentara Spanyol. Mereka berkonspirasi untuk menyingkirkan sang petani. Mereka menculik sang petani, menariknya ke salah satu danau dan menembak kepalanya dari bagian belakang dan membiarkan dia mengambang di danau.Mengetahui hal itu, sang wanita sangat patah hati dan bermaksud menenggelamkan dirinya ke danau yang sama, danau yang kebetulan tidak jauh dari tempat rumah leluhur kami itu.Membuat situasi semakin buruk, sebelum bunuh diri, sang wanita dikatakan telah mengutuk untuk “tidak pernah membawa kedamaian” atas kehidupan keturunan dua pria Spanyol yang bertanggung jawab atas pembunuhan petani itu.Sepupu saya tiba-tiba mengatakan “Hari ini adalah hari dia meninggal 300 tahun yang lalu. Dan jika kalian semua tidak tahu. Kita memiliki darah Spanyol dalam diri kita … Dan kita tinggal dekat dengan danau ini … Coba pikirkan.”Cerita itu membuat saya merinding setengah mati. Tapi sekali lagi, saya pikir, itu hanya cerita. Setelah selesai cerita itu, sepupu saya yang lain memutuskan untuk pergi ambil air minum. Tinggal saya bersama satu sepupu duduk di situ.Di dalam kegelapan ruang yang hanya diterangi oleh satu lilin aku melihat seseorang muncul dari kiri mendekati saya, saya menyipitkan mata dan aku melihat ibuku mengenakan gaun tidurnya dan duduk tidak jauh dari tempat aku duduk.Salah satu sepupu saya yang lain merasa haus juga, jadi dia bangkit dan pergi ke dapur. Di ruang tamu hanya tersisa aku dan ibuku. Ibuku kemudian berkata dia ingin pergi ke luar karena di dalam panas. Percaya atau tidak, bahkan setelah hujan deras nan panjang, di Filipina, suhu di rumah tetap bisa mencapai 30 derajat Celcius.Saya berpikir bahwa itu ide yang bagus karena aku juga merasa agak panas. Teras hanya berada di luar. Karena kursi di luar basah, jadi aku tahu ibuku tidak akan duduk di sana. Jadi kita hanya berdiri di luar sana menikmati angin sejuk segar.Di dalam, aku bisa mendengar semua sepupu saya telah kembali dari dapur dan mereka semua memanggil saya. Salah satu dari mereka bertanya di mana aku berada dan aku berteriak kembali bahwa aku di luar di teras dan mereka mulai memanggil saya untuk masuk ke dalam.Ibuku kemudian melihat di tepi danau, setelah mendengar tentang cerita, aku bertanya pada ibuku apakah cerita mengenai wanita itu benar. Saya terkejut ketika ia mengangguk. Aku berpikir ibuku tidak mungkin percaya pada cerita-cerita macam itu.Dia tiba-tiba mulai berjalan menuju ke arah kebun keluarga kami. Anehnya dia menuju arah ke danau itu. Kebetulan saat itu bunga-bunga bermekaran penuh, terutama setelah hujan akhir-akhir ini. Saya ingin melihat mawar-mawar merah yang indah itu jadi saya pun ikut berjalan ke kebun.Kemudian ibuku melirik kepalanya ke belakang dan aku melihat sekilas sisi wajahnya yang akan selamanya akan terukir dalam ingatanku…Matanya putih kosong dan mulutnya membentang ke daun telinga!!!Entah sudah berapa lama aku diam terpaku, ketika aku tiba-tiba sadar dan mendengar teriakan sepupu saya yang histeris “KRISTY! BILIS!!” yang maksudnya “KRISTY! CEPAT!!”.Tanpa aku memahami itu semua saya secara insting mulai berlari ke arah mereka dan aku mulai menangis ketika aku sadar bahwa aku telah berjalan keluar dari batas-batas rumah kami dan sudah setengah jalan menuju danau. Dan lebih buruknya lagi saya sedang diikuti oleh apa yang tampaknya menjadi gaun putih mengambang dan saya tidak repot-repot untuk berpikir siapa atau apa itu!!Aku terus berlari menuju sepupu saya dari dalam rumah yang mengintip keluar melalui jendela. Salah satu sepupu saya sambil menangis berteriak, menyuruhku bergegas dan jangan pernah melihat ke belakang.Ketika aku sampai di dalam pintu gerbang, akhirnya aku punya perasaan bahwa aku tidak dikejar-kejar lagi. Anjing bibi saya tiba-tiba memamerkan gigi mereka menggeram kepada siapa atau apa pun yang ada di belakang saya. Sebagai keluarga religius, gerbang rumah juga dihiasi dengan salib.Dan pada saat aku masuk ke dalam, kita semua mendengar tertawa jahat yang paling seram yang pernah saya bayangkan. Bahkan suara tertawa itu tiba-tiba terngiang di kepala saya ketika saya menulis cerita ini (bukan sesuatu yang kamu ingin dengar, percayalah). Aku terus menangis sementara semua sepupu saya yang lain datang kepada saya, kembali meyakinkan aku sudah aman sekarang.Itu seperti cerita yang tak terlupakan bahwa setiap kali saya ingat acara tersebut, saya tidak bisa tidak bertanya-tanya “Apa yang akan terjadi jika saya tidak mendengar sepupu saya berteriak?”
YOU'RE MY HAPPINESS
" kak Suho? " panggil ku tak yakin begitu aku menemukan sosok orang yang tak ku percayai ada di dekat ku saat ini." Ayi? " ucapnya terkejut karena melihat ku ada di dekatnya begitu dirinya keluar dari ruang kedatangan bandara. Dirinya pun bergegas mendekati ku dan langsung menarik ku ke dalam pelukan hangatnya, meninggalkan koper dan tasnya begitu saja." ini beneran kak Suho. " ucap ku masih tak percaya kini aku benar - benar di hadapkan dengan seseorang yang aku rindukan selama beberapa bulan ini." bodoh. Tentu saja ini aku. Astaga Tuhan. Aku benar - benar merindukan mu, Yi. Aku merindukan mu. " ujarnya membalas ucapan ku seraya mengecupi puncak kepala ku berkali - kali.Aku pun mengubur wajah ku di ceruk lehernya dan mengecup ringan lehernya beberapa kali. Tak lupa aku menghirup aroma tubuhnya yang sangat - sangat ku rindukan selama kami berpisah." aku kangen banget sama kak Suho. " ujar ku tanpa sadar terisak masih di dalam pelukannya." hey kenapa nangis. Kok nangis sih, sayang. " balas kak Suho panik begitu mengetahui aku yang terisak di pelukannya. Dirinya pun menguraikan pelukan kami berdua sembari meneliti wajah ku yang langsung memerah." kakak juga kangen sama kamu. Tapi jangan nangis sayang, merah mukamu ini. " tambahnya lagi sambil mengecup ke dua mata ku berkali - kali. Dirinya sama sekali tak memperdulikan tatapan orang - orang di sekitar kami yang melihat kelakuan dirinya pada ku.Membuat ku sekuat tenaga untuk menghentikan tangisan ku karena aku tau, kak Suho akan sekhawatir itu karna melihat wajah ku memerah dan tubuh ku menghangat akibat menangis.*****" kita sekarang ke apartement kakak aja ya? Abis nangis kayak ini badan mu pasti langsung anget deh. " ucapnya sambil berkali - kali mengelus kedua lengan ku yang mulai menghangat.Aku pun mengiyakan ucapannya kali ini seraya memandang wajahnya penuh dengan kerinduan. Apalagi, sudah enam bulan lebih dirinya pergi ke Jepang untuk mengurus salah satu perusahaan miliknya yang berada di sana mengikuti ke dua orang tua dan kakak laki - lakinya yang memang sudah pindah ke sana selama dua tahun terakhir, tempat kelahiran nenek kak Suho dari pihak ayahnya. Dan membuat ku harus terpisah dengan dirinya untuk waktu yang lama. Di tambah lagi, sifat workaholic nya yang belum berubah. Membuat kami sangat jarang berkomunikasi selama kami berpisah.Dirinya pun segera menarik koper miliknya setelah menyampirkan tas ransel hitam miliknya di bahu dengan sebelah tangan. Sedangkan sebelah tangannya lagi kini merengkuh bahu ku dan memeluk ku dari samping." kamu nginep di tempat ya? Kakak mau kangen - kangenan sama kamu. " ujar kak Suho mengecup kepala ku sekali lagi dengan lembut." tapi aku belum bilang sama mama sama papa kalo mau nginep tempat kakak. " ujar ku begitu kami berdua baru masuk mobil miliknya yang ku bawa untuk menjemputnya hari ini sembari memandang dirinya yang semakin tampan dengan kemeja hitam berlengan panjang dan membiarkan rambutnya tertiup angin seperti saat ini." iya. Nanti kakak yang nelpon orang tua mu sekalian bilang kamu nginep di tempat kakak. " balasnya dan langsung ku iyakan. Karna jika kak Suho yang meminta izin langsung, sangat besar kemungkinan nya untuk di setujui oleh orang tua ku.*****" hallo, mama? ini Suho. " kak Suho langsung bicara begitu mama ku mengangkat telepon.Kak Suho memang sedekat ini dengan keluarga ku sehingga dirinya tak segan - segan memanggil orang tua ku dengan sebutan papa dan mama. Bahkan ke dua adik ku pun sudah sangat dekat dengan dirinya." lho Suho? sudah pulang dari Jepang nak? Kapan? "" iya ma sudah, baru aja. Ini baru sampe di apartemen Suho. Makanya ini pakai hp Ayi buat nelpon. Suho mau minta izin ya ma, ngajak Ayi nginep di apartement Suho. Suho kangen banget sama Ayi. Pengen cerita - cerita sama Ayi. " ujar kak Suho langsung meminta izin sembari melirik ke arah ku yang masih setia duduk di sampingnya di dalam mobil. Padahal, kami berdua sudah berada di basement apartemennya sejak tadi." iya sudah kalau begitu. Titip Ayi ya Ho. Baju - baju Ayi masih ada di Tempat mu? Atau mau ke sini dulu ambil baju Ayi? "" tenang aja ma, Pakaian Ayi masih ada kok di tempat ku. Udah di pisahin juga sama baju - baju Suho. Rasanya masih cukup kok kalau Ayi mau nginep lama. "" ya udah. Nanti mampir ke sini ya, sekalian nginep sini. Mama sama papa mau denger cerita kamu. Kangen juga sama kamu lama banget gak ketemu. "" iya ma, nanti aku ke sana sekalian nginep. "" iya. Eh iya, gimana kabar keluarga mu di sana? Ayah bunda sehat? Si kembar apa kabar? "" iya ma, ayah sama bunda sehat kok. Si kembar juga sehat kok mah. Titip salam katanya buat mama papa sekalian adek - adek. "" iya mama sama papa salam balik ya buat keluarga mu di sana. "" iya ma, nanti Suho sampein sama ayah sama bunda. Suho titip salam ya ma buat papa sama yang lain juga. Maaf belum bisa ke sana hari ini. " pamit kak Suho." ... "*****" gimana? Di bolehin gak sama mama? " tanya ku memandangnya dengan tatapan penasaran." jelas dong. Siapa dulu yang ngerayu. " jawabnya seraya mengelus kepala ku dan beranjak turun dari mobil. Aku pun mengikutinya dan berencana membantu membawa tas ranselnya. Namun, upaya ku ini langsung mendapat pelototan mata darinya." jangan bawa yang berat - berat. Kalo kakak bisa, ngapain kamu yang bawa. Mending pegang tangan kakak aja dari pada megang yang lain. " ujarnya saat mengambil tas ransel miliknya dari tangan ku. Kini tangan kanan ku di genggamnya dengan salah satu tangannya yang bebas." ngardus ih. " ucap ku tertawa geli seraya berdiri di depan lift guna menuju lantai 23. Tempat apartement kak Suho berada." kok ngardus? Orang kakak bener kok. " kak Suho tak terima karena aku menyebut dirinya ngardus.*****" eh? Ay, kakak belom mandi lho ini. Main peluk aja. " tegur kak Suho saat aku memeluknya dari belakang setelah kami berdua membereskan semua barang - barang miliknya di dalam kamarnya di apartement.Untungnya aku sudah membersihkan apartemennya tadi pagi begitu dirinya mengabari akan pulang ke Indonesia tadi malam. Sehingga kak Suho bisa langsung beristirahat sehabis ini tanpa perlu membereskan apartemennya lagi.Apartement milik kak Suho ini sebenarnya memiliki dua kamar. Tapi selalu saja setiap aku menginap di sini, aku selalu tidur dengan kak Suho di kamarnya. Bahkan salah satu sudut lemari miliknya yang ada di kamar pun sudah nyaris penuh dengan pakaian milik ku karena aku terlalu sering menginap di sini.Bersyukurnya lagi, ke dua orang tua ku mau pun ke dua orang tua kak Suho sangat mendukung hubungan kami berdua. Bahkan mereka semua tak pernah mempermasalahkan ketika aku menginap di apartemen kak Suho dan tidur bersama dengan dirinya. Karena mereka tau, kak Suho akan selalu menjaga ku dan tak akan mungkin kami berdua melakukan hal - hal yang aneh - aneh.Di tambah lagi, aku juga sebegitu dekatnya dengan ke dua orang tua kak Suho sehingga aku memanggil ke dua orang tuanya dengan sebutan ayah bunda. Apalagi dengan ke dua keponakan kembarnya, anak dari kakak laki - lakinya." biarin. Ayi kangen. " rajuk ku tetap tak perduli dengan kondisi kak Suho yang belum mandi saat ini." hey, kakak mandi dulu. Nanti kamu bebas ngedusel di badan kakak. Kakak bau lho Yi, dari Jepang sampe sini gak ada mandi. " ujarnya terkekeh sembari mengelus tangan ku yang masih melingkar di perut rata nya dengan lembut." kakak mah gak peka. " akhirnya aku melepaskan pelukan ku dan memandang dirinya dengan merengut yang kini tengah berbalik menghadap diri ku." kok merengut gitu. Gak manis lagi nih pacarnya kakak. Jangan cemberut dong. " ucapnya menggoda ku sembari mengecup pipi ku gemas. Dan akhirnya mau tak mau membuat ku berhenti merengut dan tertawa malu." modus. "" kok modus sih? Kamu tiduran aja dulu, atau mau nonton tv, atau mau bikin teh. Kakak mandi bentar ya. Kamu juga ganti baju gih. Biar sekalian istirahat ya. " ujarnya lagi tertawa sembari meninggalkan ku di dekat lemari untuk mengambil pakaian miliknya dan langsung melangkah menuju kamar mandi yang ada di kamarnya.Begitu kak Suho masuk ke kamar mandi, aku pun membuka lemari pakaian kak Suho untuk mengambil pakaian ku dan berganti di kamarnya kak Suho selama dirinya masih berada di kamar mandi.*****" badan kakak anget banget. " ujar ku begitu dirinya ikut berebah di samping ku saat ini dan membuat ku langsung mengubur diri ku di dalam dekapannya.Kini dirinya hanya memakai celana pendek selutut dan baju kaos polos tipis berwarna merah maroon. Bahkan aku bisa melihat bayang - bayang tubuh atletisnya di balik bajunya saat ini. Sedangkan aku memakai hotpants yang berwarna putih dan baju kaos polos berwarna biru." badan kakak emang di atur gini sama Tuhan biar bisa kamu bisa di pelukan kakak terus. " ucapnya memandang wajah ku dan membuat kami tergelak bersama." duh modusnya. "" ini kenapa celananya pendek banget sih. Ganti Yi. Kakak lupa buang celana mu yang ini. " tegur kak Suho saat aku sudah nyaris terlelap di dalam dekapannya." mager udah. " ujar ku tetap mengubur diri ku di dalam dekapannya. Lagi pula aku sudah malas untuk beranjak dari pelukannya ini." ganti Yi. Kakak ini laki - laki lho Yi. Normal pula. Kakak gak mau ngerusak kamu cuma karna kamu pake celana gitu pas tidur sama kakak. Kakak malah gak bisa jamin keselamatanmu nanti. Ganti dulu. " tegas kak Suho menguraikan pelukan nya." males kak. " rengek ku sembari memandangnya dengan wajah mengiba agar dirinya tak menyuruh ku beranjak dari ranjang karna aku sudah terlalu menempel dengan ranjang saat ini." kalau gitu kakak tidur di kamar tamu ya? Kakak takut gak bisa kontrol diri Yi. " ujar kak Suho pelan memberi pengertian pada ku dan membuat ku mau tak mau beranjak ke lemari kak Suho untuk mengambil celana yang lebih panjang dan langsung menggantinya di kamar mandi." iya iya. Ayi ganti celana. " sahut ku akhirnya mengalah. Aku lebih memilih untuk mengganti celana ku di banding membiarkan dirinya tidur di kamar tamu. Apalagi malam ini aku ingin bermanja - manja dengan dirinya.Tak berselang lama pun aku keluar dari kamar mandi dan langsung menuju ke arah kak Suho sembari menenggelamkan tubuh ku di dalam selimut di sampingnya." kakak enam bulan di sana sama sekali gak berubah ih. " ujar ku sambil menowel - nowel pipinya." kamu yang berubah. Makin kurus ih kakak tinggal selama ini. " balas kak Suho seraya mengelus pipi ku yang menurutnya sedikit tirus dari saat kami terakhir ketemu." males makan. Gak ada temennya kalo makan di luar. " sahut ku dan berhasil membuat kak Suho menghela nafas lelah dengan fakta yang baru saja ku ungkap." kebiasaan kan. Kamu nanti sakit lho Yi kalo males makan. Jangan di biasain dong gak makan gitu. Makin kurus gini, gak suka kakak liatnya. " tegur kak Suho pelan dan tak suka." iya iya. Mulai sekarang temenin aku makan ya? " tanya ku terus saja memainkan jari - jemari ku di wajahnya." iya, kakak temenin. Makan yang banyak pokoknya. Harus lebih naikin berat badan mu dari ini ya. Kakak gak suka kamu terlalu kurus gini. " sahut kak Suho dan membuat ku menganggukkan kepala ku untuk mengiyakan ucapannya ini." eh iya, telpon bunda sama ayah dong kak. Ayi kangen. " ujar ku begitu merasa salah satu tangan kak Suho melingkar di pinggang ku dan mulai mengelus lembut punggung ku. Desiran hangat pun langsung terasa di hati ku tak kala kak Suho memperlakukan ku selembut ini." bentar. " balasnya sembari mengambil hpnya di nakas samping ranjangnya yang berukuran king size ini.****" ayah, bunda. " sapa ku begitu video call kak Suho langsung menyambung pada bunda yang rupanya tengah bersama dengan ayah." Ayi. Apa kabar nak? Ya ampun, bunda kangen banget sama kamu nak. " seru bunda tak kala menemukan ku di layar video call miliknya." Ayi sehat nak? Kok makin kurus sih nak? Makan yang bener dong Yi. " tanya ayah yang duduk di samping bunda dan membuat kak Suho menganggukkan Kepalanya menyetujui ucapan sang ayah perihal diri ku yang semakin kurus." Ayi sehat - sehat aja kok bun, yah. Ayah sama bunda gimana? Sehat? Kakak Raiden sekeluarga gimana? " tanya ku semakin merangsek mendekat ke arah kak Suho yang saat ini tengah bersandar di kepala ranjang dan membuat ku merebahkan kepala ku di dadanya sembari menyamankan posisi ku saat ini berbantalkan dadanya." bunda sama ayah sehat kok. Kakak sekeluarga juga sehat tuh. Ini Abay sama Abel lagi ada di sini. " ujar Bunda sembari memanggil ke dua anak kak Raiden, keponakan kak Suho.Kezio Abay Suhodiningrat dan Kezia Abel Suhodiningrat yang saat ini sudah berumur enam tahun adalah anak dari Raiden Suhodiningrat. Kakak dari kak Suho. Umur kak Raiden dan kak Suho memang lumayan memilik jarak cukup jauh, sekitar lima tahun." Ante Ayi!!! " seru duo krucil itu dan langsung mengambil hp dari tangan bunda." halo ponakan ante. Gimana sayang di sana? Sehat? " tanya ku memandang mereka berdua dengan gemas. Di tambah lagi, sudah dua tahun ini aku sudah tak bertemu dengan mereka semua karena mereka sekeluarga pindah ke Jepang. Walau aku sering video call dengan mereka semua." sehat kok. " sahut Abay dan membuat kak Suho cemberut sembari memandang Abay." gitu ya Bay, Bel. Om gak di sapa. "" om kan baru pulang. Ngapain di kangenin. " ujar Abel membuat ku langsung tersenyum lucu mendengar jawaban Abel dengan mimik muka datar." Abay kangen ante. Gak kangen sama om Suho. " ujar Abay tiba - tiba seraya menatap ku." Abel juga kangen sama ante. Sini dong ante. " ujar Abel dengan mata berkaca - kaca nyaris menangis. Aku yang melihat pun tak kuasa menahan tangis melihat mereka berdua saat ini." hey, jangan nangis dong sayang. Nanti kita ke sana ya nengok si kembar. " ucap kak Suho yang merasa diri ku nyaris menangis saat ini dan membuat ku langsung membalikkan wajah ku ke dada kak Suho dan menguburnya di sana." eh, ini kenapa ante di bikin nangis Bay? Bel? " tanya bunda langsung mengambil hp dari tangan Abel dan Abay yang juga ikut menangis karena melihat ku terisak." Ayi kangen katanya sama si kembar bun. " ujar kak Suho tersenyum simpul sembari mengelus punggung ku beberapa kali agar membuat ku meredakan isak tangis ku." ya udah, nanti pas kamu selesai ngurusin urusan kampus kamu, kamu liburan ke sini aja ya nak. Sekalian Suho pulang. Aduh, bunda jadi pengen ke sana. Gak tega liat kamu nangis begini nak. " ujar Bunda tak tega melihat ku. Apalagi dirinya tau jika aku sedekat ini dengan si kembar semenjak aku menjadi pacar kak Suho enam tahun yang lalu saat aku baru masuk kuliah.*****" jangan sedih lagi dong sayang. Kan nanti kita ke sana abis kamu selesai ngurusin urusan kampus? Anget lagi kan ini badannya. Tadi udah reda lho panasnya badan kamu nih. " ujar kak Suho begitu dirinya memutus sambungan video call dengan bunda." Ayi kangen si kembar. Kangen semuanya kak. " isak ku tetap mengubur wajah ku di dadanya." iya, kan nanti kakak ajak ke sana, sekalian kakak pulang. Udah ya jangan sedih lagi? " pintanya sambil tetap mengelusi punggung ku lembut, berupaya untuk meredakan tangis ku saat ini." by the way, gimana kuliah S2 kamu? " tanya kak Suho lagi mencoba mengubah topik pembicaraan kami berdua saat ini." udah mau selesai kok. Tinggal nunggu seminar sama sidang aja lagi. " jawab ku seraya mendongakkan kepala ku dan memandang ke arah kak Suho yang saat ini juga tengah memandang diri ku." bengkak kan tuh matanya. Udah tadi di bandara nangis, sekarang nangis lagi. " tegur kak Suho perlahan saat dirinya mengamati wajah ku dengan seksama. Dirinya malah fokus ke wajah ku dari pada jawaban yang ku berikan untuknya barusan." sakit ih mata ku kak. " keluh ku akhirnya setelah mengerjapkan mata ku beberapa kali dan membuat kak Suho geleng - geleng kepala." kan. Udah di bilang sama kakak kan. Kompres es batu ya matanya sayang? " tanya kak Suho khawatir. Aku yang memang merasakan sakit di ke dua mata ku pun tak membantah ucapannya dan langsung mengiyakan ucapan dirinya. Dan anggukan kepala ku pun langsung membuat dirinya bergegas keluar kamar menuju kulkas untuk mengambil es batu agar mengompres mata ku.*****" Yi, nanti kerja di kantor kakak ya? " pinta kak Suho pada ku begitu dirinya menemukan ku yang tengah sibuk di dapur menyiapkan sarapan untuk kami berdua. Dan begitu ku lirik dirinya, dirinya sudah duduk manis di salah satu kursi makan yang ada di dekat dapur." tumben udah bangun? Udah mandi juga. " balas ku bertanya. Karna aku tau dirinya akan memilih untuk bangun siang saat hari libur kerja seperti ini. Apalagi, kemarin malam kami berdua ngobrol sampai larut malam sembari mengompres mata ku yang sedikit bengkak." gak bisa tidur lagi. Jadinya ya mandi. " sahutnya singkat." kenapa tiba - tiba kakak minta aku kerja di kantor kakak? " tanya ku setelah sarapan kami sudah siap dan mulai menatanya di meja makan di hadapan kak Suho." ada yang mau kakak omongin. Nanti deh, habis kita makan ya. " ucap kak Suho membalas ucapan ku sembari mengambil makanan untuk dirinya." mau ngomong apaan sih kak? ngomong aja sekarang ih. " ujar ku penasaran. Karena aku tau dirinya ingin membicarakan sesuatu pada ku, namun kak Suho masih menimbang - nimbang ingin mengatakannya kepada ku." inget Nadia gak? " tanya kak Suho pelan dan membuat ku langsung meliriknya tajam.Bukannya aku tak tahu siapa itu Nadia. Dia adalah pacar kak Suho sebelum kak Suho dengan ku. Dirinya hanya bertahan dengan kak Suho selama dua tahun saja karena dirinya berselingkuh dengan salah satu sahabat kak Suho dan membuat kak Suho nyaris bunuh diri kalau saja tak bertemu dengan ku dulu untuk pertama kalinya." inget kok. Nadia itu kan. Kenapa memang kak? " tanya ku pelan mencoba untuk tak perduli. Bukannya aku tak menyukai Nadia, apalagi aku juga belum pernah bertemu dengannya satu kali pun. Hanya saja, aku tak menyukainya karena dirinya menyakiti seseorang sampai seperti kak Suho dulu." dia masuk kantor kakak. " akhirnya kak Suho memberitahu apa yang menjadi pikirannya saat ini dan membuat ku menghela nafas. Bahkan membuat ku berhenti makan sembari memandangnya yang duduk di samping ku." Yi? Kok diem? " tanya kak Suho lagi sembari meraih tangan ku dan mengelus punggung tangan ku dengan ibu jarinya secara perlahan." kakak gimana? " tanya ku akhirnya setelah terdiam cukup lama." kok kamu nanya kakak? "" kak, kan selama ini yang kenal Nadia itu kakak. Aku ketemu kakak setelah dia nyakitin kakak, tapi aku sama sekali gak kenal dia. Aku gak tau kepribadian dia gimana kak. Kalau menurut kakak dia memang pantas untuk bekerja di perusahaan kakak, silahkan kalian sekantor. Tapi kalau memang dia gak bisa kerja, buat apa di terima. "" kamu gak marah kakak satu kantor sama dia? Dia kan... " ujar kak Suho tak melanjutkan ucapannya dan lebih memilih untuk memandang diri ku dengan tatapan yang sulit ku artikan." aku tau, tapi aku lebih memilih buat percaya sama kakak. Kakak sudah tau rasanya di sakiti dengan cara di selingkuhi. Dan aku cukup tau kakak gak akan mungkin sebodoh itu melakukan sesuatu hal yang kakak sendiri pernah jadi korbannya. " ucap ku dan berhasil membuat kak Suho terdiam cukup lama." makasih Yi, karna udah percaya sama kakak. " ucap kak Suho menghela nafas lega karena jawaban ku ini." tolong di jaga ya kepercayaan ku. " pinta ku pada dirinya dan langsung di balas anggukan kepala kak Suho sembari menyetujui permintaan ku barusan." iya Yi. Jangan berhenti buat percaya sama kakak ya. "*****
PRETTY BOY
" Saya Tsevanya Claudiza. Saya pindahan dari Bandung pak. Ini surat - suratnya. " ujar ku pada bapak kepala sekolah." oh, jadi kamu siswa pindahan dari Bandung itu? Bapak sudah di hubungi oleh kepala sekolah kamu sebelumnya, bahwa akan ada anak pindahan ke sekolah ini. Baik. Silahkan kamu ke kelas X-1. Ini nama wali kelasmu dan ini buku – bukunya. Kamu sudah tahukan kalau di sekolah ini adalah sekolah asrama? Semua kebutuhan kamu akan di letakkan kamar kamu. Kamu satu kamar dengan dua orang kakak tingkat. Di kertas itu sudah ada nomor kamar kamu." Ujar bapak kepala sekolah sambil menyerahkan secarik kertas bertuliskan nama wali kelas ku dan juga nomor kamar ku serta beberapa buku tebal untuk pegangan belajar ku.Aku pun beranjak pergi dari ruangan kepala sekolah menuju kelas ku setelah mengucapkan terima kasih. Aku sangat senang akhirnya bisa menjadi salah satu siswa di sekolah yang sangat bergengsi di Jakarta Pusat. Setelah bertanya beberapa kali, akhirnya aku sampai di kelas ku di lantai tiga.Tok.. tok.. tok..Setelah di persilahkan, aku segera masuk dan menjelaskan semua kepada guru yang mengajar di kelas X-1 dan kebetulan yang sangat baik bahwa beliau adalah wali kelas ku. Beliau pun dengan senang hati membantu ku untuk memperkenalkan diri di depan kelas." Baik anak – anak, ada murid pindahan dari Bandung yang masuk kelas kalian. Silahkan kamu perkenalkan diri. "" Perkenalkan teman – teman semua. Nama saya Tsevanya Claudiza. Panggil saja saya Vanya. Saya pindahan dari Bandung. Mohon bantuannya semua. " ujar ku memperkenalkan diri ku di depan kelas." silahkan kamu duduk di sebelah Friza. Di sebelah kanan baris ke tiga. " ujar beliau sambil menunjuk kursi kosong di sebelah seorang cewek cantik yang tengah tersenyum memandang ku sembari tersenyum lebar." hai, Friza kan? Salam kenal. " ujar ku setelah duduk di sampingnya." hai juga Vanya, elo satu kamar sama Siapa? " ujarnya." gue di kamar 007. Berarti di lantai satu. Elo? " tanya ku." gue di kamar 124. Di lantai tiga. Jauh banget kita bedanya. Berarti elo satu kamar sama anak kembar dong? Kak Andrea sama kak Andita. Mereka kelas dua belas. Hati - hati ya elo sama mereka berdua. Mending kalo cuma kak Andita. Kalo kak Andrea nyebelin. Songong. Di tegur gak pernah nyahut. Nggak pernah ngomong sama kita – kita lagi. Dia cuma pernah ngomong sama kak Andita doang. " jelas Friza." hah? Serius? Gue belum ketemu mereka sih. Jadinya gak tau deh. Liat aja nanti. Semoga aja gak ada masalah. " ujar ku sambil tersenyum dan berdoa di dalam hati, semoga hari ku akan baik - baik saja selama berada di sini." ntar kasih kabar ke gue ya? Nih nomor telepon gue. Kalo ada apa – apa telepon gue aja. " ujar Friza sambil memberitahu sederet nomor yang langsung ku catat di handphone ku.****" nah ini kamar elo. Sekaligus kamar kak Dita sama kak Drea. Good luck ya. Gue langsung nih Vanya. Soalnya gue mau istirahat. Capek gue nih. " ujar Friza tertawa seraya beranjak pergi setelah mengantarkan ku ke depan pintu kamar asrama yang akan ku tinggali bertiga bersama kak Dita dan kak Drea.Ku lirik jam tangan ku, ternyata sudah menunjukkan pukul setengah enam sore. Pantas saja Friza mau langsung istirahat. Aku menghembuskan nafas dengan keras dan berharap semua akan baik - baik saja.Aku pun langsung masuk kedalam kamar ku yang ternyata tidak di kunci tanpa mengetuk pintu dulu. Namun aku tertegun di depan pintu yang terbuka setelah melihat ada siapa di dalam kamar.Aku melihat sepasang remaja yang sedikit lebih tua dari ku sedang satu kamar dan wajah mereka mirip bagaikan pinang di belah dua. Anak cowok yang ada di kamar itu langsung menutup pintu dan membekap mulut ku begitu melihat ku di kamar itu." Bodoh banget sih lo Dita! Kenapa pintu gak lo kunci! hah?! Begini kan! Elo lagi! Siapa sih elo masuk ke kamar orang gak pake ketok pintu dulu? Gak pernah di ajarin sopan santun?! Hah? " Bentak cowok itu di depan ku.Tangannya masih membekap mulut ku dan wajahnya begitu dekat dengan ku. Hanya berjarak tak lebih dari dua senti dari wajah ku. Matanya nyalang menatapku dan mengunci tatapan ku kepadanya. Aku mulai berfikir bahwa hidup ku akan berakhir sebentar lagi di tangan cowok ini." Tuhan, selamatkan aku. " batin ku takut. Aku yang mulai gemetar nyaris saja mengeluarkan airmata kalau saja cewek yang ada di dalam kamar itu tak bersuara." Sorry Ndre. Gue beneran lupa. Lagian mana gue tau kalo bakalan ada yang masuk ke sini. Dua tahun lebih kita di asrama gak pernah kan ada orang yang masuk ke sini. Lebih baik lo kunci tuh pintu dan bawa cewek itu kesini sekarang. Percuma elo marahin. Dia udah tau Siapa elo. " ujar kak Dita melerai antara aku dan cowok itu sambil menyuruh kami berdua duduk di depannya." sumpah janji elo gak bakalan teriak apapun yang terjadi? Apapun yang gue jelasin, elo gak boleh teriak! " ujar cowok itu tajam kepada ku.Aku hanya bisa mengangguk mengiyakan. Dengan berat hati cowok itu melepaskan tangannya pada mulut ku. Aku pun langsung menjauhi mereka berdua. Dan membuat jarak dari mereka berdua yang saat ini tengah memandang ku." oke. Kita perlu luruskan ini semua. Gue bakalan jelasin ini semua. Tapi, pertama – tama, elo Siapa? Kelas berapa? Dan elo mau ngapain ke sini? " ujar Kak Dita sambil menatap ku. Nada tegas di dalam suaranya membuat ku tak bisa membantah sama sekali." Ehm.. Saya... Saya Tsevanya Claudiza kak. Saya kelas X-1. Saya pindahan dari Bandung. Tadi pagi kata pak kepala sekolah, saya di suruh buat tinggal di kamar ini. Ini suratnya kak. " Ujar ku sambil menyerahkan secarik kertas yang di beri oleh pak kepala sekolah sebagai bukti." Sialan tuh kepsek. Malah nih anak di kasih di kamar kita lagi. Gak ada kamar laen apa? Sialan! " ujar cowok itu sambil mondar mandir di sekitar kak Dita begitu membaca kertas yang ku berikan padanya dan Kak Dita." udah deh Ndre. Gak ada gunanya elo marah – marah kayak gitu. Sekarang yang penting gimana nasib nih cewek. Jelasin gih. " ujar Kak Dita." Ya udah gue jelasin. Lo anak baru dengerin. Kenalin Gue Andrean Dirgantara. Dan dia Andita Dirgasyifa. Gue di sekolah adalah seorang cewek yang bernama Andreani Dirgantari. Gue sengaja pura – pura jadi cewek dan tinggal di asrama bareng Dita, karena dalam silsilah keluarga dari bokap gue, apabila ada anak kembar beda jenis kelamin bakalan meninggal sebelum umur 17 tahun. " Jelas cowok yang bernama Andre itu sambil menatap marah pada ku tapi tak tau harus bagaimana bersikap pada ku." Lalu? " tanya ku bingung harus berbuat apa." Semua keluarga gue yang kembar tapi beda jenis kelamin selalu aja salah satunya meninggal. Entah anak yang cowok atau cewek. Awalnya gue gak apa – apa sampai SMP karena gue masih bisa saling jaga sama Dita walau pun gue cowok, karena bokap gue bisa ngatur gimana caranya gue selalu sekelas sama dia. Sampai akhirnya Dita menang olimpiade Fisika nasional dan dapat beasiswa di SMA Nirwana ini yang notabene mewajibkan siswa dan siswinya harus tinggal di asrama. Setelah berusaha mencari celah, gue juga masuk sebagai murid di SMA Nirwana. "" Gue awalnya masih bisa terima, tapi kepsek ngelarang anak cowok sekamar sama cewek walau anak kembar sekalipun. Akhirnya gue sekeluarga memutuskan gue menyamar jadi cewek kembaran Dita supaya bisa satu kamar. Sebenernya gue udah mau berhenti waktu kelas dua. Tapi setelah dipikir – pikir, bakalan ribet kalo pindah menjelang kelas tiga. Dan akhirnya gue masih bertahan sampai saat tadi sebelum elo datang. " Ujar Andre mengakhiri penjelasan dan cerita mereka berdua." waw, aku takjub sama cerita kalian berdua. Aku speechless. Aneh banget ih. " kataku sambil geleng - geleng kepala melihat mereka berdua." oh ya, Tsevanya... "" panggil Vanya aja kak. " potong ku pada kak Dita yang memanggil ku Tsevanya." Vanya, Sorry ya tadi Andre agak kasar sama elo. Kita berdua cuma kaget kok. Gak ada unsur kesengajaan. " sahut Kak Dita." Iya kak. Gak papa. Aku juga yang salah, gak ngetok pintu dulu. " ujar ku duduk di salah satu ranjang yang ada di dalam kamar." elo pake bahasa biasa aja. Gak papa juga kok pake 'elo gue'. Gue jelasin, itu pintu yang deket pintu masuk, adalah kamar mandi. Terus, itu ranjang elo, ini ranjang Dita dan ranjang gue di pojok sana. Lemari elo tepat di sebelah ranjang. " Ujar kak Andre sambil menunjuk ke ranjang ku yang bersebelahan dengan jendela dan bersebelahan dengan ranjang kak Dita. Kak Andre pun tak lupa menunjukkan ranjangnya yang sedikit jauh dari ranjang ku dan kak Dita.Aku pun menganggukkan kepala ku tanda bahwa aku sudah paham dengan ucapan dirinya barusan.*****" Vanya, lo gak masuk kelas ya? Kok masih tiduran sih. Ntar elo telat lho. Udah jam berapa nih. " tanya Kak Dita saat bersiap ke sekolah begitu melihat ku masih betah menempel erat dengan bantal, guling serta selimut di atas ranjang ku.Tak terasa aku sudah sebulan lebih tinggal bersama Kak Dita dan kak Andre. Hubungan ku dengan Kak Dita dan Kak Andre pun cukup bisa di bilang aman dan lancar walau pun tak bisa dibilang akrab untuk ukuran teman sekamar. Karena baik aku dan kak Andre sama – sama menarik diri dan tak pernah berusaha untuk mengakrabkan diri satu sama lain. Hanya kak Dita yang berusaha agar aku, dia dan kak Andre bisa akrab dan bisa seperti layaknya 'kawan sekamar'." enggak deh kayaknya kak. Gue hari ini bolos dulu. Gue lagi gak enak badan. Kayaknya gara – gara kemaren aku hujan – hujanan deh sama Friza. Soalnya kemaren badan gue juga udah agak drop sebelumnya. " erang ku malas sambil menenggelamkan kepala ku di bawah selimut seraya mengingat bahwa kemarin sehabis pelajaran bahasa Jepang, aku dan Friza pergi ke danau yang ada di belakang sekolah dan malah asyik bermain di sana, bahkan hingga hujan menguyur pun kami berdua tetap asyik di sana. Dan baru pulang ke asrama begitu senja menjelang dengan keadaan basah kuyup." kok elo bisa sakit sih? Udah minum obat belum? Ya udah deh gue bolos juga. Andre, elo duluan aja ke sekolah. Gue bolos. Gue mau jagain Vanya. " Ujar Kak Dita seraya duduk di ranjang ku, tepat di samping tubuh ku yang terbalut selimut dan langsung bicara pada Kak Andre yang baru saja keluar dari kamar mandi." Elo sakit Van? Kok bisa? Pasti gara – gara elo main ujan – ujanan sama Friza kemaren. Elo balik ke asrama sampe basah kuyup gitu kemaren. " ujar kak Andre mendekati ku dan memegang leher dan pipi ku. Agaknya sakit ku kali ini membuat dirinya juga kuatir dan tanpa sadar, malah menghancurkan dinding pembatas antara aku dan dirinya sendiri." gak papa kok kak. Gue cuma demam aja. Lagian gue udah minum obat. Paling bentar lagi gue udah tidur. Elo berdua pergi ke sekolah aja. Gak papa kok kak. Jangan kuatir sama gue. Lagi pula elo berdua udah kelas tiga. Jangan seenak jidat dong kalo mau bolos. " ujar ku menenangkan Kak Dita dan Kak Andre dan memaksa mereka untuk tetap berangkat ke sekolah." oke fine. Gue udah ngambil keputusan. Dit, gue aja yang bolos dan jagain Vanya, elo kan hari ini ada janji sama Ibu Neni buat lomba Fisika Nasional bulan depan. Jangan bantah omongan gue. Dan elo jangan memaksa buat elo yang bolos dan batal ngurus olimpiade itu Ta. " ujar Kak Andre memandang tajam kak Dita tanpa memperdulikan larangan ku untuk bolos dan tetap nekat untuk bolos hari ini.Dengan keadaan terpaksa dan berat hati akhirnya Kak Dita pun meninggalkan ku berdua dengan Kak Andre di kamar." iya deh. Tapi beneran di jagain ya si Vanya Dre. " ujar kak Dita sebelum dirinya keluar dari kamar dan di balas anggukan kepala oleh kak Andre.*****" elo ngapain sih kak. Pake acara bolos segala. Elo kan udah kelas tiga. Bukannya makin rajin belajar, malah bolos. " protes ku pada kak Andre yang sedang mengganti pakaian sekolahnya menjadi pakaian santai begitu kak Dita keluar." terus siapa yang bakal jagain elo kalo gue gak bolos? Dita? Mana mungkin elo biarin Dita jagain elo kalo elo tau dia ngurus olimpiade. Lagian gue lagi pengen jadi cowok tulen seharian tanpa harus terikat dengan permak – pernik cewek yang bikin gue sakit mata. " ujarnya keki dan berhasil membuat ku tertawa mendengarnya dengan sedikit suara sumbang dan melupakan protes yang baru saja aku keluarkan kepadanya." emangnya harus ya elo berdua sekamar? Bisa aja kan elo di kamar elo sendiri dan kak Dita dikamarnya sendiri? Menurut gue itu lebih meringankan elo dan gak harus membuat elo nyamar jadi cewek. " tanya ku pada Kak Andre.Aku pun berusaha duduk di ranjang ku karena aku mulai merasa tak nyaman harus menempel terus - terusan pada ranjang. Kak Andre cukup terkejut dengan pertanyaan ku yang tiba – tiba membahas masalahnya dan kak Dita." gak harus juga sih sebenarnya. Kalo boleh memilih gue juga pengennya kayak gitu. Jadi diri gue sendiri, terus bisa lulus SMA dengan nama gue sendiri dan gak harus ribet dengan semua ini. Tapi, gue gak mau ngambil resiko. Sodara gue cuma Dita aja. Saat gue dan Dita berumur lima tahun, Rahim nyokap gue harus di angkat karena ada tumor yang muncul begitu kami berdua lahir. Alhasil anak nyokap bokap gue ya cuma gue sama Dita doang. Dan kalo gue atau Dita yang meninggal, gue gak bisa bayangin gimana nyokap bokap gue. " jawab kak Andre sambil duduk di ranjang kak Dita, di samping ranjang ku. Dan membuat ku berhadapan dengannya." tapi itu kan takdir kak. Gimana pun elo sekeluarga nyoba buat saling jaga kalau pada akhirnya takdir berkata lain gimana? Sorry gue ngomong masalah ini pakai bawa – bawa masalah takdir segala. Tapi gue gak habis pikir aja sama pikiran elo sekeluarga. Bisa – bisanya ngorbanin masa muda dan masa SMA elo dan membuat elo terperangkap sebagai Andrea. " ujar ku tetap tak mengerti." yah, kalau ngomongin takdir, gue yakin siapa pun di dunia ini juga gak akan ada yang bisa ngelawan. Tapi setidaknya, kita sekeluarga udah ngelakuin semua cara agar kejadian itu gak terulang lagi. Jadi kalau pun ada yang pergi antara gue atau Dita, gak akan ada penyesalan di sini. " ucap kak Andre sambil menyentuh dadanya berulang kali. Dan berhasil membuat ku menunduk memandang ke dua kaki ku dan terdiam memikirkan perkataannya." jangan terlalu di pikirin. Elo itu lagi sakit dan butuh istirahat. Lagian gue sama Dita ngelakuin ini dengan senang hati karena gue bisa saling jaga sama dia. Jadi elo, jangan terlalu mikirin keadaan kami. Tapi makasih elo udah perhatian sama gue sama Dita. " ujarnya beranjak berdiri dan mengacak rambut ku perlahan. Tak lupa dia memaksa ku untuk istirahat.*****" gimana keadaan elo? Udah mendingan? " Tanya Friza saat kami antri untuk mengambil sarapan yang prasmanan di ruang makan." udah kok. Lumayan kangen lah gue sama elo selama dua hari gak masuk sekolah. " ujar ku tertawa dan membuat Friza ikut tertawa mendengar perkataan ku. Begitu kamu berdua selesai mengantri, aku dan Friza pun mencari tempat yang kosong untuk makan." di sini aja deh. Yang lain kayaknya udah penuh. " ujar ku sambil duduk di tempat yang kosong di dekat pintu masuk. Tak jauh dari posisi duduk Kak Andre dan kak Dita." oh iya. Gimana rasanya sekamar sama kak Drea sama kak Dita? " ujar friza pelan namun membuat ku mati kutu dengan membuka topik yang paling sangat ingin aku hindari untuk saat ini." err... lumayan. Gak begitu buruk lah. Biasa aja sih. Kayak biasa aja. " ujar ku terbata – bata. Aku bingung harus menjawab pertanyaan Friza dengan jawaban yang bagaimana baiknya. Aku tentu saja tak mungkin berkoar - koar masalah kak Andre yang berpura - pura menjadi kak Andrea" masa sih? Trus kak Drea ada ngomong gak sama elo? Gimana sih orangnya? Suaranya gimana? " ujar Friza sambil terus mendesakku dan membuat ku semakin tak nyaman berada di posisi ku sekarang." ya gitu lah. Gue belum terlalu akrab sama mereka. Ya sejenis sama kak Dita juga kok. " ujar ku pelan seraya mencuri pandang ke sosok seseorang yang kini tengah memandang ku dengan pandangan yang tak dapat aku artikan. Kak Andre." gitu ya. Gue fikir dia agak freak gitu. " ujar friza. Untung saja Friza sibuk dengan sarapannya dan tak lagi mendesak ku menceritakan bagaimana sosok kak Dita dan kak Andre. Aku pun hanya mengangkat bahu dan mengikuti apa yang di lakukan Friza. Makan.*****" Mau ke mana elo Van? Rapi bener. Mau ngedate ya? Sama siapa? Anak kelas berapa? " rentetan pertanyaan di keluarkan oleh kak Andre begitu keluar kamar mandi dan melihat ku sudah rapi. Begitu aku melihatnya, kak Andre sedang bertelanjang dada. Masih ada bulir – bulir air yang aku lihat di tubuhnya." aaarggh... Kak Andre. Elo gila apa? Elo lupa ya sama gue? Elo tuh cowok kak. Pake baju kenapa sih. Gue cewek kali. Gak sopan banget sih elo kak. Mana Kak Dita gak ada lagi. Gue risih kak Andre! " teriak ku kaget dan menutup mata ku, begitu melihatnya hanya berkalungkan handuk hitam dan celana hitam hingga lutut. Walau harus ku akui aku sempat melihat tubuh atletisnya sedikit. Walau sudah empat bulan lebih aku sekamar dengan Kak Dita dan Kak Andre, tetap saja aku masih merasa ada yang salah." iya bawel. Gue bakalan pake baju. Heran deh, elo tuh adek kelas gue, tapi cerewetnya ngalahin gue sama Dita. Lagian bisa – bisanya gue tahan sekamar sama elo selama ini. " ujarnya beranjak pergi mengambil baju yang ada di lemarinya.Begitu kak Andre sudah memakai baju, dia langsung mendekati ku dan berdiri di dekat ku. Aku bisa mencium aroma maskulin dari tubuhnya. Aku segera berbalik menghadap ranjang ku dan membelakanginya. Begitu aku sudah membelakanginya, baru aku berani membuka mata ku." Mau ke mana elo, Vanya? " ujarnya lembut sembari mengulang pertanyaannya yang tadi dia lontarkan kepada ku namun belum sempat aku jawab." mau beli novel sama kamus bahasa Jepang di Mall. Kenapa kak? " tanya ku sambil memainkan Handphone ku dan tetap membelakangi kak Andre." elo sendirian atau sama Friza? Atau sama temen elo yang lain? Cewek apa cowok? " tanyanya lagi sambil membalikkan tubuh ku dan membuat ku berhadapan dengannya sehingga aku pun terpaksa menghentikan aktifitas ku dan berganti menatap wajahnya yang berada lima senti di atas kepala ku." gue sendirian kak. Kenapa sih? Aneh banget deh. " tanya ku heran melihat tingkah kak Andre hari ini. Bukan hal yang biasanya, dia begitu mencampuri urusan ku. Hari ini aku seperti melihat sosok lain dari seorang Andrean Dirgantara." gue ikut sama elo. " ujarnya kemudian." hah? Ikut? Ngapain ikut sih? Mau nyamar jadi Andrea lagi? Gak usah deh kak. Gue sendiri aja. " tolak ku halus.Aku tak habis pikir kalau aku harus pergi berdua saja dengan Kak Andre. Aku tak mau mengambil resiko dia ketahuan menyamar menjadi seorang perempuan." gue mau jalan - jalan aja. Elo tenang aja, kali ini gue sebagai Andre kok. Dan elo gak boleh nolak. Titik. " tegas kak Andre sambil mengedipkan mata kanannya ke arahku.Seolah – olah ingin menggoda ku. Dan nyaris saja membuat ku tersipu – sipu kalau tak mengingat betapa jahilnya sesosok manusia di dekat ku ini." mau lewat mana? Mau lewat depan terus ketahuan gitu kalo kakak cowok? gue gak mau dapat masalah, kakak. " tanya ku bingung." santai aja kali. gue udah biasa kalo hal – hal beginian. Udah deh, elo terima beresnya aja. Gue jamin aman. Elo gak usah khawatir. Gue juga gak bakalan bikin elo kenapa – kenapa. Elo gue jamin aman kalo di deket gue. " ujarnya sambil tersenyum penuh kemenangan dan tak lupa mengacak – acak rambut ku dengan pelan. Sambil beranjak pergi ke daerah kekuasaannya." jelasin dulu. gue mau nyari aman, kak Andre. Gue gak mau tiba - tiba mati konyol karena serangan jantung akibat ulah elo. " tandas ku seraya membereskan rambut ku yang berantakan akibat ulah kak Andre. Dan langsung menarik lengannya agar tetap di dekat ku dan memberi ku penjelasan." Jendela di sebelah ranjang gue ini, sebelahan sama pagar belakang asrama. Kalo elo manjat nih pagar, elo bisa langsung berada di jalanan yang ada di belakang area sekolah. Ntar gue ke situ dan nunggu elo di jalan itu. Nah, elo tinggal jemput deh gue. Gampang kan? Udah buruan sana ambil motor. Sekalian bawain helm gue. Awas elo sampai ketahuan. Udah sana pergi, udah cakep kok. " Ujar kak Andre sambil mendorong ku keluar kamar. Dan membuat ku tak bisa melawan perkataannya.*****
SEORANG CINDERELLA?!
" Fan, udah gue bilang kan sama elo. Susah buat nyari sekretaris yang berkompeten kayak apa yang elo mau. Harus ini lah. Itu lah. Sekarang, begitu sekretaris elo baru kerja dua bulan malah elo pecat. Mau elo yang gimana sih Fan. Gue jujur aja sebagai rekan kerja dan sebagai sahabat elo, mulai kesusahan nyari sekretaris yang elo mau. " ujar Tyo." gue gak akan mecat Nina kalo dia bisa ngerjain apa yang gue suruh. Tapi apa? Dia kerja aja gak becus. Datang telat lah, kerjaan lewat dari deadline lah, dan lainnya. Gue nyari sekretaris buat mempermudah gue kerja, Satrio Fajar William. Bukan malah bikin susah gue di kantor. Mending dari sekarang elo udah mulai bikin iklan buat nyari sekretaris baru. Gue gak perduli elo mau pasang iklan di tv, radio, surat kabar, atau di mana pun. Uang bukan masalah bagi gue. Gue minta sekretaris itu harus sudah mulai interview sama gue lusa nanti. Oke? Udah dulu ya. Gue mau keluar sebentar nyari angin. " ujar Fandi sambil memutuskan sambungan teleponnya dengan Tyo tanpa memberi celah untuk Tyo menolaknya.Ingin sekali rasanya Tyo mencekik leher sahabatnya itu dan juga menjabat sebagai bosnya di perusahaan ini. Mencari sekretaris yang sesuai dengan keinginan Fandi sama saja judulnya dengan mencari sebuah jarum di antara tumpukan jerami. Harus di lakukan walau mustahil di dapatkan. Susahnya gak ketulungan.Setiap sekretaris yang di dapat Tyo untuk Fandi akan selalu berakhir sama. Surat pemecatan dari Fandi. Dan itu artinya tugas kembali di sematkan pada Tyo untuk mencari sekretaris baru lagi untuk Fandi.*****" gue perlu kerjaan Bel. Gue gak mungkin minta tolong elo terus. Udah sebulan ini gue gak bisa dapet kerjaan. Kerjaan apapun gue lakuin deh. " ujar ku saat aku lagi - lagi harus menumpang makan di kamar teman kos ku yang sekaligus sahabat ku, Bella Andini." udahlah Sya. Elo santai aja. Elo kayak sama Siapa aja deh. Gue kan sahabat elo. Wajar kalo gue bantuin elo. " ujar Bella sambil melahap nasi bungkus yang di belinya ketika pulang kantor tadi." gue gak enak sama elo, selama ini elo yang selalu bantuin gue kalo gue harus nganggur. Dan elo juga yang... " belum selesai aku bicara, tiba - tiba handphone Bella berbunyi, dan di layar tertulis nama Tyo, pacar Bella.Bella pun segera menangkat telepon di hadapan ku. Aku sama sekali tak mau menganggu Bella yang sedang bicara dengan Tyo di telepon dan lebih memilih menghabiskan nasi bungkus yang di beli Bella untuk ku.*****" Sya, gue punya kabar baik buat elo. Kebetulan sahabat Tyo, direktur di tempat gue kerja. Dia lagi perlu sekretaris. Karena sekretarisnya udah di pecat. Dan menurut gue, elo masuk dalam syarat - syaratnya yang di kasih. Gimana? Mau nggak? Kalo elo mau, elo segera kasih semua syarat - syaratnya ke gue. Ntar biar gue kasih ke Tyo. Kalo elo masuk dalam pilihannya. Elo bisa langsung di interview. Gimana? " ujar Bella dengan sangat antusias begitu menutup telepon dengan Tyo, dan membuat ku terkejut.Untung saja aku telah menyelesaikan makan malam ku. Kalau tidak, dapat ku pastikan aku akan tersedak mendengar berita yang di sampaikan Bella pada ku barusan. Aku pun langsung menyetujui kata - kata Bella dan menyanggupi menjadi sekretaris di perusahaan itu." Oke. Sekarang elo mesti nyiapin semuanya. Nah ntar lusa, elo ikut gue sama Tyo aja ke kantor. Sekalian buat tahap interview kalo tahap penyaringan datanya ini elo di terima. " tambah Bella. Dan langsung aku jawab dengan anggukkan pasti." sip. Makasih ya sekali lagi Bell. Elo emang sahabat gue paling baik yang selalu ada buat gue. Gue balik deh ke kamar, sekalian nyiapin berkasnya dulu. " ujar ku sambil beranjak menuju kamar ku yang tepat di sebelah kamar Bella.*****" ada apa yo? Tumben ngajak makan siang di sini? " Tanya Fandi begitu dia dan Tyo menyelesaikan makan siang mereka di restoran yang berada didekat kantor.Fandi sempat merasa heran kenapa sahabatnya satu ini mengajak mereka makan siang di Restoran yang terletak cukup jauh dari kantor mereka. Apalagi di tambah hari ini mereka sedang sibuk -sibuknya. Tak biasanya Tyo memaksanya untuk acara makan siang saja sampai harus di restoran sejauh ini." Kemaren, elo minta sama gue buat nyariin elo sekretaris baru kan? Jujur, sampai saat ini, gue baru bisa nemuin satu orang kandidat yang cocok buat jadi sekretaris elo. Namanya Natasya Alfania Putri. Dia sahabatnya Bella, pacar gue. Gue udah liat semua data dan biodatanya. Gue rasa dia bisa lah ikut interview dari elo. Elo bisa liat semua data dirinya di lampiran berkas ini. Semuanya lengkap di map ini. " Ujar Tyo sambil menyerahkan sebuah map berwarna merah ke arah Fandi yang berada di hadapannya." sahabat Bella? Elo jangan gitu dong Yo. Jangan mentang - mentang dia itu sahabat pacar elo, jadi dia bisa seenaknya kerja di perusahaan ini! " seru Fandi marah. Dan menghempaskan map yang di berikan Tyo di atas meja. Tanpa membacanya terlebih dulu.Fandi heran, apa sebegitu susahnya seorang Satrio Fajar William mencarikannya seorang sekretaris sampai Tyo harus mengulurkan sahabat Bella yang notabene pacar Tyo kepadanya untuk menjadi sekretaris pribadinya." sabar dulu dong Fan. Makanya di baca tuh data dari Natasya. Begitu elo baca semua data dirinya Natasya, elo bakal ngerti kenapa gue begitu yakin elo bakalan nerima dia. Di map itu, gue juga udah nulis beberapa informasi tentang Natasya yang gue tahu. Gue udah beberapa kali ketemu dia. " ujar Tyo sambil tersenyum misterius.Mau tak mau, dengan malas dan sedikit rasa penasaran, Fandi membuka map itu dan mulai membacanya secara detail dan menyeluruh, tanpa ada satupun yang terlewat dari mata elangnya.*****" ini semua data milik dia? Jangan ngarang deh Yo. " ujar Fandi begitu selesai membaca semua data milik ku." see... itu beneran semua data miliknya. Gimana? Bener kan kata gue, elo gak bakal percaya kalo elo gak liat sendiri cara kerja dia. Lo interview gak? Jarang - jarang seorang cewek punya prestasi kayak gitu di jaman sekarang. " Ujar Tyo tersenyum senang.Kerjaan untuk mencarikan Fandi seorang sekretaris sepertinya sudah nyaris selesai dan beres, sehingga dia tak perlu lagi pusing tujuh keliling mencarikan sekretaris yang sesuai dengan keinginan temannya ini, dan Tyo berdoa dalam hati agar aku bisa sangat tahan banting jika berurusan dengan seorang Fandi." oke deh. Ntar besok suruh datang aja ke kantor. Sekitar jam 11. Begitu gue selesai rapat sama bagian humas dia langsung gue interview. " putus Fandi sambil memanggil pelayan untuk membayar makanan.Dan mau tak mau ucapan Fandi barusan membuat Tyo akhinya bisa menghembuskan nafas lega karena sudah membantu sahabatnya dan juga sahabat Bella, pacarnya.*****" serius Yo? Gue di interview besok? Jangan ngarang deh elo Yo. Gue tabok nih. Jangan bikin gue berharap gitu dong. " ujarku saat Tyo menelpon ku dan mengatakan bahwa aku di terima di perusahaan tempatnya dan Bella bekerja dan tinggal menunggu interview." Tabok - tabok. Elo cowok apa cewek sih Sya. Ya iyalah gue serius ini Sya. Barusan gue ngomong sama Fandi. Dia oke kok. Besok gue jemput ya sama Bella. " sewot Tyo tak terima aku ingin menaboknya." menurut elo?! Tapi thanks berat ya Yo. Kali ini elo bener - bener temen gue banget. Gak salah deh Bella punya pacar kaya elo. Oh ya, ntar kalo elo berdua pulang dari kantor tolong bilangin Bella ya titipan gue jangan lupa. Udah dulu ya Yo, gue mau pergi sebentar. " ujar ku mengakhiri sambungan telepon ku dengan Tyo setelah Tyo mengiyakan permintaan ku dan membalas ucapan terima kasih ku yang ku lontarkan pada dirinya.*****" gimana yang? Tasya oke kan? " tanya Bella pada Tyo yang baru selesai menelepon ku." temen elo ngakuin gue jadi temennya baru sekarang. Bener - bener deh. " sahut Tyo menggelengkan kepalanya dan berhasil membuat Bella tertawa." masa? Kasiannya pacar gue ini. Sabar ya pak. " ucap Bella di tengah - tengah tawanya yang masih di lontarkannya. Dan membuat Tyo menghela nafas panjang dengan malas." gak pacar, gak temen, gak sohib, sama - sama bikin darah tinggi ini mah. Untung gue baik. " keluh Tyo dalam hati." semoga kali ini jadi deh, biar gue gak stress mikirin mereka berdua. " ucap Tyo yang langsung di amini oleh Bella." aamiin yang. Semoga ya. " sahut Bella mengelus tangan pacarnya itu.*****" gimana Sya? Elo siap? Rileks aja Sya. Fandi gak jahat kok. Cuma nyeremin aja. Jangan kaget ya Sya ntar kalo dia suka mau nerkam elo tiba - tiba kalo kalian berdua ngobrol. Ini udah jadi sifatnya yang mendarah daging. " hibur Tyo tersenyum jahil sambil berusaha menenangkan ku saat aku, dia dan Bella sampai di depan ruangan Fandi.Namun kata - kata yang terlontar dari mulut Tyo barusan bahkan semakin membuat ku sedikit tertekan dan tidak membantu sama sekali untuk menghibur ku. Dan ucapannya kali ini berhasil membuat ku merengut ke arahnya." Yang, elo jangan gitu dong sama Tasya. Elo malah makin dia down tau gak. " ujar Bella sambil menegur pacarnya. Dan di ikuti oleh tawa dari Tyo sehingga membuat ku seketika kembali manyun." elo berdua malah tambah bikin gue gugup tau gak. Berisik deh. " ujar ku kepada mereka berdua seraya melirik jam dinding yang ada di belakang meja sekretaris yang kosong tak berpenghuni dan tampak tak di huni. Jam sebelas kurang sepuluh menit. Sepuluh menit lagi pikir ku.Tiba - tiba dari lift yang berada tepat di seberang pintu masuk ruangan Fandi, keluar seseorang yang membuat ku terpesona. Wajahnya sangat tampan. Jelas sekali di dalam darahnya mengalir darah Eropa. Harus aku akui laki - laki ini memiliki sorot mata yang tajam dan sangat berwibawa. Hidungnya mancung dan memiliki bibir yang merah.Terlihat sekali bibir itu tak pernah bersentuhan dengan nikotin. Ku taksir umur laki - laki itu tak berbeda jauh dari Bella dan juga Tyo. Sekitar dua puluh tujuh tahun. Sangat - sangat berpotensi sebagai calon imam di masa depan nanti.Penampilannya pun tak bisa dianggap remeh. Jas hitam yang melekat sempurna pas di tubuhnya sangat - sangat membuat orang yang melihatnya berfikir sepertinya memang jas itu memang tercipta untuk tubuhnya. Dengan kemeja berwarna merah dan dasi serta celana berwarna hitam, dia benar - benar menjadi sosok pria yang nyaris sempurna. Begitulah pengamatan dan penilaian pertama ku kepada laki - laki ini. Bukan hal yang sulit untuk jatuh cinta pada dirinya saat pandangan pertama." Hei Richard Irfandi Matthew. Akhirnya lo datang juga. Gue fikir kami harus nunggu lebih lama lagi. Oh ya. Ini nih orangnya. Yang di samping Bella itu namanya Natasya Alfania Putri yang bakalan di interview sama elo. Menurut gue dia satu - satunya kandidat yang pas. " ujar Tyo begitu dia melihat lelaki yang baru saja aku kagumi tadi sambil mengenalkan. ku kepada lelaki itu.Ternyata dia yang akan jadi bos ku apabila aku di terima bekerja menjadi sekretaris di sini. Aku pun segera tertunduk malu tak kala pandangan ku bertabrakan dengan pandangan Laki - laki itu yang langsung menatap ku dalam begitu dia melihat ku.Sepertinya dia sedang menilai dan menimbang apakah aku pantas untuk menjadi sekretarisnya. Dan sialnya dia menangkap basah pandangan ku yang sejak tadi sedang mengagumi penampilan dirinya kali ini. Semoga saja tidak akan ada masalah ke depannya nanti.Aku sedikit gugup dengan tatapan lelaki itu. Apalagi aku hari ini hanya memakai kemeja polos berwarna biru muda dan celana kain hitam serta sepatu hak tinggiku yang hanya memiliki hak setinggi 7 cm.Sedangkan wajah dan rambut ku hanya di poles sederhana tak berlebihan sama sekali. Jika lelaki ini mencari seorang sekretaris berdasarkan pada penampilan yang paling utama, sangat - sangat jelas sepertinya aku akan tersingkir." oke. Kalau gitu, kalian berdua bisa pergi. Dan kamu, silahkan ikut saya ke dalam ruangan saya. " ujar Fandi penuh wibawa sambil memberi ku kode untuk mengikutinya.Di ikuti tatapan pemberi semangat dari Bella dan Tyo, aku mulai menghilang di balik pintu yang terukir sangat indah berwarna biru muda dan silver." silahkan duduk. Santai saja. Saya tidak menyukai interview yang tegang. Jadi kamu bisa santai bicara dengan saya. " ujar Fandi seraya duduk di kursi singgasananya dan mempersilahkan ku untuk duduk di kursi yang berada dihadapannya.Kini aku dan Fandi hanya di pisahkan oleh meja kerjanya. Aku bingung harus bicara apa. Dan lebih memilih untuk berdiam diri." so, nama anda adalah Natasya Alfania Putri, right? " ujarnya mulai membuka pembicaraan." benar pak Richard. Anda bisa memanggil saya Tasya saja. " ujar ku sopan sambil tersenyum tipis." panggil saja aku Fandi. Aku juga orang Indonesia. Aku gak suka di panggil Richard atau Matthew. " ucapnya kalem." baik pak Fandi. "" saya sudah membaca data data yang kamu berikan. Dan jujur saja saya tak menyangka ada orang seperti anda. Akselerasi SMA, lulus kuliah dengan predikat Cumlaude . Dan beberapa kali bekerja di perusahan - perusahaan besar yang bonafit dan terkenal. Lalu, kenapa anda sepertinya begitu tak betah bekerja? Saya lihat, anda beberapa kali berganti pekerjaan dan perusahaan? Bosan? Atau apa? "" Hm. Terima kasih pak, karena jujur saja, secara penglihatan saya, anda cukup terkesan dengan pendidikan saya. Tapi di sini saya bisa tekankan bahwa saya bukan tak betah bekerja. Hanya saja, ada beberapa hal yang membuat saya tak betah untuk bekerja di tempat tersebut. Contohnya saja perusahaan yang mempekerjakan saya sebelum saya melamar di perusahaan anda. Saya resign karena ada sesuatu alasan yang sangat prinsipil yang saya pegang. " ujar ku sambil tersenyum.Fandi pun cukup lama berdiam diri sambil menunggu lanjutan ucapan ku. Mungkin dia menganggap aku akan menceritakan hal prinsipil apa yang membuatku resign dari perusahaan tempat ku bekerja sebelumnya.Tapi maaf saja. Aku tak kan mungkin bercerita tentang hal itu pada sembarang orang. Apalagi dia kini jadi calon bos ku untuk di masa yang akan datang. Tentu bukan hal yang lumrah aku menceritakan itu semua kepadanya. Mungkin nanti. Tapi bisa ku pastikan tidak sekarang." oke fine. Setelah saya lihat biodata dan semua berkas - berkas anda, Anda saya pastikan di terima di perusahaan ini. Selamat bergabung. Semua yang anda butuhkan, baik informasi, gaji, ataupun yang lain bisa anda diskusikan dengan Tyo dan Bella. " ujar Fandi setelah cukup lama kami berdua berdiam diri sambil dirinya berdiri dan mau tak mau ku ikuti." baik. Terima kasih pak. Terima kasih atas kesempatan dan kerja samanya. Permisi pak. " ujar ku berlalu setelah menjabat tangan Fandi. Di ikuti tatapan milik Fandi yang dalam dan penuh makna mengikuti kepergian ku menuju pintu keluar ruangannya.*****" Tasya. Tolong ke ruangan gue sekarang. Bawa buku agenda elo juga. " ujar Fandi begitu aku menangkat telepon yang berada di samping kiri di atas meja kerjaku.Ya, memang. Aku sudah mulai bekerja di perusahaan yang di pimpin oleh Fandi sejak dua minggu belakangan. Dan kali ini aku sangat - sangat berhutang budi pada Tyo dan Bella yang sudah membantu ku untuk mendapatkan pekerjaan ini." Baik pak. " ujar ku singkat dan menutup telepon seraya beranjak menuju pintu masuk ruangan pak Fandi yang jaraknya tak lebih dari empat puluh meter dari tempat ku." maaf pak, ada apa? " ujar ku begitu masuk ke ruangan yang menurut ku begitu maskulin dan menutup pintu masuk yang sekarang ada di belakang ku." udah berkali - kali kan Sya gue bilang. Kalo di ruangan atau di mana pun saat cuma kita berdua, gak usah manggil bapak. Cukup gue elo aja. Risih Sya. Gue gak setua itu kan buat di panggil bapak sama elo. " tegur Fandi ketika aku masih saja nekat memanggilnya Bapak.Fandi memang sudah dari sejak awal saat dia menerima ku untuk menjadi sekretarisnya, memperingatkan ku untuk memanggilnya Fandi saja ketika kami hanya berdua saja." sorry... sorry... Gue kebiasaan. Apalagi di area perusahaan. Aneh aja pake gue elo sama atasan. " ujar ku." biasain Sya. " tegurnya sambil matanya sesekali tak lepas dari laptop yang berada di hadapannya." oke fine. Ada apa? Tumben manggil gue ke ruangan. " ujar ku sambil duduk begitu melihat sorot mata Fandi yang mengisyaratkan ku untuk duduk di kursi yang ada di hadapannya." ntar sore agenda gue apa? " ujar Fandi yang mulai sibuk dengan laptopnya dan membuat ku merasa sedikit di acuhkan." ada Rapat sama bagian Pemasaran jam empat sore. Membahas tentang produk baru yang di luncurkan perusahan. Trus nanti elo harus ketemu bu Ningrum buat ngebahas masalah kemaren yang ada di divisi beliau. " ujar ku setelah membaca agendanya hari ini di antara sejumlah acara yang menjadi agenda Fandi selama sebulan ini." Sayang, aku telepon kok gak di angkat sih? aku kangen tau. " Ujar Pamela, wanita yang saat ini setahu ku dari gosip yang beredar di perusahaan tengah dekat dengan Fandi yang tiba - tiba masuk ke dalam ruang kerja Fandi. Dan membuat ku dan Fandi kaget. Nyaris saja aku mengumpat karena terkejut. Sedikit tak punya Etika, pikir ku begitu melihat dia tiba - tiba masuk ke dalam ruang kerja Fandi tanpa ba bi bu." Pertama, gue bukan pacar elo. Jadi gak usah sok manggil sayang! Ke dua, yang jodohin gue sama elo itu cuma bokap nyokap elo. Sedangkan gue sama kedua orang tua gue gak punya niatan sama sekali buat merealisasikan harapan elo sekeluarga, buat ngejodohin gue sama elo. Ke tiga, sebenarnya punya etika gak sih elo? Percuma kuliah jauh - jauh ke Harvard kalo elo kayak gini. Ke empat. Gue malas angkat telpon elo. Gak penting! " Ujar Fandi yang tetap masih sibuk dengan Laptopnya dan tak memperdulikan perubahan raut wajah Pamela yang menjadi merah padam karna menahan amarah.Cewek ini sedikit gak punya etika dan terlihat sedikit nakal dengan penampilannya kali ini, Ujar ku di dalam hati.Dengan gaun yang melekat ketat di tubuhnya yang sangat - sangat kekurangan bahan, dan dengan rambut panjangnya yang terlihat sengaja di buat menjadi keriting di salah satu salon yang ada di muka bumi ini. Sangat terlihat dia menjadi sosok wanita yang bisa membuat ku bergidik. Bukan karena aku takut. Tapi lebih karena aku melihat dia sangat - sangat berharap Fandi akan senang dengan kedatangannya dengan penampilan seperti itu. Tapi nyatanya yang di dapat olehnya justru hal yang berbanding terbalik dengan keinginannya. Aku tanpa sadar menyunggingkan sedikit senyum ku dan ternyata terlihat oleh Pamela." ngapain elo masih disini? Keluar sana. Ganggu orang aja. Gak liat apa Fandi lagi kerja? Dasar cewek kampungan! lagian elo tuh gak pantes buat di samping Fandi. Ngerusak mata aja sih. " ujar Pamela tiba - tiba melampiaskan amarahnya pada ku.Tentu saja dia tak mungkin melampiaskan amarahnya pada Fandi kan? Aku baru saja ingin beranjak berdiri dari kursi ku dan beranjak pergi saat ku dengar Fandi berkata." ya udah pak, saya keluar dulu. " pamit ku." elo di sini aja Sya. Mel! Harusnya yang pergi dari sini itu elo. Elo ngapain sih di sini. Justru elo yang ganggu gue kerja. Dan harus elo camkan. Tasya itu sekretaris gue. Jadi gue butuh dia dan dia selalu ada di samping gue. Lebih baik elo keluar deh dari sini. Gue sibuk. "Aku pun kembali duduk di kursi ku dan mulai sibuk dengan Fandi membicarakan beberapa agendanya beberapa hari ke depan. Dan karena Pamela tak kami perdulikan. Akhirnya dia beranjak pergi keluar ruangan dengan raut wajah kesal dan marah.Sambil menghentakkan ke dua kakinya ke lantai, dia beranjak pergi keluar ruangan dengan tak lupa membanting pintu hingga menyebabkan pintu itu sampai berbunyi berdebam nyaring. Akhirnya aku punya musuh baru, dan tentu saja ini ulah Fandi." Good job Fandi. Terima kasih banyak karena elo udah nambahin satu musuh baru buat gue. " ujar ku sambil menghempaskan tubuh ku ke sandaran kursi begitu ku dengan bunyi pintu yang di tutup dengan kasar oleh Pamela barusan." biarin deh. Siapa suruh dia gangguin gue mulu dari kemaren - kemaren. "" terus kenapa malah elo bikin dia marah sama gue? Gue kan gak tau apa - apa masalah perjodohkan kalian berdua. Sekarang dia bukan hanya mandang gue sebagai sekretaris elo, tapi juga saingan dia buat ngedapetin elo. " ujar ku keki. Aku sedikit kesal dengan Fandi yang bersikap masa bodoh dengan hasil dari perlakuannya pada Pamela barusan." Ya udah lah. Santai aja. Tenang dong Sya. Pokoknya selama elo sama gue, gue bakalan jagain elo, jadi elo gak usah takut. Apalagi sama Pamela ini. Kan ada gue, Tyo sama Bella. Aman deh pokoknya. " ucapan Fandi yang sesantai ini sama sekali tak membuat ku tenang dan justru membuat ku makin merasa kuatir.Aku bukannya tak tahu sepak terjang seorang Pamela Karina. Sejak aku bekerja di dalam dunia perkantoran selama ini, aku sudah sering mendengar berita tentangnya dan beberapa kali aku pernah bertemu dengannya. Dan aku pastikan berita yang aku dengar sama sekali bukanlah berita yang terdengar baik - baik saja.Mulai dari perempuan malam, wanita perebut suami orang, wanita penggoda, dan masih banyak lagi sebutan - sebutan buruk untuknya. Dan aku lihat selama ini orang tua dan keluarga Pamela sama sekali tak ambil pusing dan terlihat tak perduli dengan sebutan yang di sematkan untuk anaknya. Benar - benar keluarga yang aneh menurut ku.*****
Sound of Love
Agatha sedang menatapi kanvas kosong di depannya. Tangan kirinya menggenggam sebuah kuas cat minyak. Kemudian ia menggoreskan kuas tersebut di kanvas, tapi tangan kirinya terlalu kaku sehingga hasilnya jelek sekali. Ia memindahkan kuasnya ke tangan kanannya dan berusaha mengangkat tangan kananya dengan tangan kirinya. Ketika kuasnya sudah menyentuh kanvas, perlahan-lahan ia melepaskan genggaman tangan kirinya pada tangan kanannya. Tapi tiba-tiba tangan kanannya pun terjatuh dengan lemas dan kuasnya terjatuh di lantai.Agatha menatap tangan kanannya dengan frustrasi."Aaaaaaahhhhh!" Agatha berteriak dengan frustrasi dan menendang kanvasnya keras-keras. Kemudian Agatha menangis.***Gavin memainkan pianonya sambil memejamkan mata. Jemarinya menari dengan lincah di atas tuts piano. Walaupun ia sering mencurahkan perasaannya dengan bermain piano, tetapi belum pernah ia begitu menghayatinya. Suasana hatinya yang sedih menyebabkan iringan piano yang ia mainkan semakin terdengar memilukan. Kemudian seorang wanita masuk sambil memainkan biolanya mengikuti irama piano Gavin."Sejak kapan kau masuk ke kamarku?" Gavin berhenti memainkan pianonya dan menoleh ke Lucy."Maaf, Vin. Ibumu yang menyuruhku masuk," Lucy menurunkan biolanya, "aku tahu kau sedang sedih, Vin. Makanya aku ingin menghiburmu,""Terima kasih, Lucy," Gavin berbalik menatap pianonya"Ayo kita mainkan lagu yang lebih gembira!" Lucy tersenyum sambil mengangkat biolanya.Kemudian mereka memainkan lagu yang lebih gembira, walaupun Gavin masih sedikit galau.***Suatu pagi di sekolah, semua aktivitas sekolah tampak berjalan seperti biasa. Suasana kelas memang selalu ribut saat sebelum bel. Tetapi pada pagi hari itu, kelas Gavin lebih ribut dari biasanya. Sebuah kabar telah menggemparkan satu sekolah itu. Semua siswa tampak berkumpul di tengah kelas dan membicarakan gosip itu."Nah, itu dia sang pembunuh!" Chester berkata dengan suara keras sambil melirik Gavin yang baru saja memasuki kelas."Heh, dia tidak membunuh!" teriak Lucy."Tapi sama aja, Agatha jadi cacat!" kata Hester, saudari kembar Chester."Kalau aku sih lebih memilih mati daripada hidup dengan satu tangan," sambung Chester.Gavin tidak memedulikan sekelilingnya dan kemudian duduk di samping Lucy."Gavin, kau tidak boleh diam aja!" bisik Lucy.Gavin menatap Lucy tanpa ekspresi, "Sudahlah."Sebelum Lucy membantah, bel berbunyi dan Mr. Howell pun masuk ke dalam kelas.***Agatha meraba satu per satu lukisan yang ia pajang di rumahnya dengan sedih. Semua lukisan itu dilukisnya sendiri. Ia memang hobi melukis. Melukis adalah hidupnya. Dan ia sangat terpukul mengetahui kalau tangan kanannya lumpuh.Agatha melihat sebuah gunting di atas meja di dekatnya. Sebuah pikiran yang gila terbersit dalam benaknya. Ia menggambil gunting tersebut dengan gemetaran."Agatha!" Maria berteriak menghampiri Agatha dengan panik, "kamu mau ngapain, Ta!" Kemudian Maria merebut gunting dari tangan Agatha."Tidak ada gunanya Atha hidup lagi, Ma.." Agatha berjongkok sambil menangis.Maria berjongkok dan memeluk Agatha, "Mama gak mau kamu bilang gitu, saying. Jangan pernah sekalipun kamu berpikir yang enggak-enggak, Nak!"Agatha tidak menghiraukan Ibunya, "Atha gak bisa melukis lagi, Ma,"Kemudian Maria menangis, " Yang sabar, Nak. Kamu pasti bisa sembuh! Mama dan Papa janji bakal nemuin dokter yang paling bagus buat nyembuhin tangan kamu!"Agatha jadi merasa bersalah melihat ibunya menangis. "Maafin Atha, Ma,""Jangan pernah lakuin itu lagi, Nak.. Mama mohon.."Kemudian Agatha memeluk ibunya, "Maafin Agatha, Ma. Agatha janji gak bakal lakuin itu lagi."***Hari itu adalah hari yang suram bagi Gavin. Semua orang menyalahkan dan membencinya, kecuali Lucy. Agatha sangat cantik dan disayangi semua orang, wajar saja kalau semua orang membencinya. Dan yang paling menyakitkan adalah, Agatha pun sangat membencinya sekarang.Saat pulang sekolah, Gavin dan Lucy berjalan di koridor kelas. Kemudian Chester dan Hester mencegat mereka."Lihatlah, berani sekali dia menampakkan diri di sekolah. Dasar pembunuh!" Chester menatap Gavin dengan jijik."Aku tidak membunuh," kata Gavin datar."Membiarkan orang hidup dengan menderita bahkan lebih parah daripada membunuh!" desis Chester.Lucy yang tidak tahan lagi kemudian menarik kerah Chester, "Kalau kau ngomong satu huruf lagi, kupatahkan lenganmu!""Lepasin, bodoh!" Teriak Chester sambil berusaha melepaskan cengkraman Lucy di kerahnya. Kemudian Lucy mengunci lengan Chester sampai Chester berteriak kesakitan."Lucy! Lepaskan saudaraku! Untuk apa kau membela Gavin? Aku tahu, kau mencintainya kan? Tapi apakah dia mencintaimu? Taruhan, dia pasti mencintai Agatha, kan?" teriak Hester.Kemudian Lucy melepaskan Chester dan menghampiri Hester sampai Hester mundur dengan ketakutan.Hester memberanikan diri untuk berbicara. "Sadar, Luc. Gavin tidak akan pernah mencintaimu!""Hester!" teriak Gavin.Lucy mematung sejenak kemudian berlari meninggalkan mereka. Ia memang menyukai Gavin. Ia juga tahu kalau Gavin menyukai Agatha. Awalnya ia sama sekali tidak memedulikan hal ini. Tapi entah kenapa hatinya sakit sekali saat Hester mengucapkan kalimat yang menyakitkan itu. Lucy berlari sampai di depan ruang musik yang merupakan ruangan favoritnya di sekolah. Saat ia membuka pintu ruang music, ia kaget saat menemukan Marvin yang sedang menari di dalamnya."Kok gak di ruang dance?" Tanya Lucy sambil memasuki ruang musik.Marvin berhenti menari dan mematikan musik dancenya."Oh, maaf, tadi kunci ruang dancenya kebawa temanku. Kamu kenapa?" tanya Marvin.Lucy tidak menghiraukan Marvin dan duduk di kursi piano menghadap Marvin."Ada apa Lucy? Kamu kayaknya sedih banget," kata Marvin sambil mengambil kursi dan duduk di samping Lucy."Kenapa cinta begitu rumit, Vin? Kenapa aku harus jatuh cinta kepada orang yang tidak mencintaiku sama sekali?" kata Lucy sambil menahan tangis."Jadi kau benar-benar mencintai Gavin.." Marvin menyimpulkan dengan nada datar."Aku hanya akan selalu menjadi sahabatnya. Walaupun aku berusaha dengan cara apapun, dia tetap menganggapku sahabat. Dan walaupun Agatha membencinya, dia masih tetap mencintai Agatha. Hati ini.." Lucy menyentuh dadanya, " sakit sekali, Vin," kemudian sebutir air mata mengalir di pipinya."Aku mengerti," kata Gavin."Kau tidak mengerti," kata Lucy sambil mengusap air matanya dan mengambil sebuah tas biola di dekatnya kemudian membukanya."Karena orang yang kucintai juga menganggapku sebagai sahabat, Luc,"Lucy baru saja ingin memainkan biola, tetapi ia berhenti ketika mendengar perkataan Marvin."Oh ya? Siapa?" Tanya Lucy."Kamu tahu apa maksudku, Luc," Marvin menatap Lucy lekat-lekat sampai Lucy menjadi salah tingkah.Lucy tersadar kalau orang yang dimaksud Marvin adalah dirinya. Ia terkejut dan tidak tahu harus berkata apa."Vin, aku...""Aku tahu kau menyukai Gavin. Tapi aku akan selalu menunggumu, Luc."Lucy menurunkan biolanya, "Vin..""Sudah, Luc. Tidak usah ngomong apa-apa lagi. Ayo kita main musik," Gavin mengambil sebuah gitar di dekatnya."Ehm, mungkin sebaiknya aku main piano," Lucy meletakkan biolanya dan berbalik menghadap pianonya. Sebenarnya Lucy ingin menghindari Marvin dan ingin menghilangkan suasana canggung ini."River Flows?" tanya Marvin.Lucy mengangguk.Kemudian mereka mulai memainkan River Flows yang terdengar sedih.***"Pergi kamu! Aku benci kamu!" Agatha melempar barang-barang di sekitarnya ke Gavin."Agatha, aku.. aku minta maaf," kata Gavin lirih."Kamu udah menhancurkan hidupku, Vin! Aku gak akan pernah maafin kamu!""Maafin aku.." rasanya Gavin ingin mati seketika itu juga."Apa gunanya minta maaf, Vin? Kamu kira dengan minta maaf tanganku bisa kembali seperti semula?" Agatha berteriak sambil menangis."Aku-""Pergi kamu! Aku gak mau melihatmu lagi! Aku gak akan maafin kamu selama-lamanya!!!"Gavin terbaring di tempat tidurnya sambil memejamkan matanya. Rasanya ia ingin tertidur dan mendapati semua ini hanyalah mimpi. Seandainya ia lebih berhati-hati. Seandainya ia tidak membawa motor saat itu. Seandainya yang ditabraknya saat itu bukan Agatha, wanita yang sangat dicintainya.Sebutir air mata mengalir di pipinya. Ini adalah pertama kalinya ia menangis sejak ayahnya meninggal saat ia masih kecil.Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarnya."Vin, ada telepon untukmu," panggil Ibu Gavin.***Keesokan harinya, Gavin tidak masuk sekolah. Hal ini membuat Lucy sedikit khawatir. Ia takut kalau Gavin berpikir yang tidak-tidak dan...'Ah! Gavin tidak mungkin seperti itu!' kata Lucy kepada dirinya sendiri"Apa? Gavin tidak ada di rumah?" kata Lucy kaget ketika ia menelepon Ibu Gavin pada saat istirahat."Iya, Luc. Kemarin malam katanya dia mau ke rumah Agatha, dan sampai sekarang dia belum pulang. Bagaimana ini, Luc? Apa jangan-jangan dia diapa-apain sama Agatha?" kata Ibu Gavin panik."Tidak mungkin, Tante. Kalau gitu sekarang aku ke rumah Agatha. Makasih, Tante," Lucy buru-buru mematikan teleponnya dan berlari ke parkiran. Ia tidak peduli lagi kalau ia mungkin saja diskors karena bolos.Sesampai di parkiran, ia mengemudikan mobilnya dan melesat ke rumah Agatha.***Gavin terbangun dan mendapati dirinya sedang berada di ruangan yang agak gelap dan pengap. Ia sedang duduk di sebuah kursi dan kedua tangannya terikat ke belakang kursi. Kepalanya berdenyut sakit saat ia mencoba untuk bergerak. Hal terakhir yang ia ingat adalah kemarin malam Agatha meminta ia untuk menemuinya di rumahnya, dan saat ia masuk ke dalam rumah Agatha yang ternyata kosong, tiba-tiba ada yang memukulnya dari belakang dan ia jatuh pingsan.Tiba-tiba terdengar suara pintu dibuka dan sebuah sosok masuk ke dalam ruangan."Agatha? Kenapa kau melakukan ini?" tanya Gavin tidak percaya.Agatha berjalan mendekati Gavin. Di tangan kirinya terdapat sebuah tongkat pemukul."Aku ingin kau merasakan apa yang aku rasakan, Vin," kata Agatha dingin.Gavin terkejut. Ia tidak menyangka Agatha akan melakukan ini. Sejenak ia membayangkan apa yang akan terjadi jika sebelah tangannya lumpuh. Ia tidak akan bisa bermain piano lagi. Tapi sekarang ia rela jika itu terjadi, asalkan Agatha mau memaafkannya dan mereka bisa bersama-sama lagi seperti dulu."Aku rela, Ta. Aku rela melakukan apa saja asal kau mau memaafkanku," jawab Gavin lirih.Agatha terdiam sejenak. Ia tidak menyangka Gavin akan menjawab seperti itu. Mendadak ia merasa tersentuh dan ingin memeluk Gavin dan memaafkannya. Tapi ia segera membuang jauh-jauh perasaan itu. Yang harus ia lakukan sekarang adalah membalas dendam. Gavin harus merasakan apa yang telah ia rasakan."Jangan kira aku akan tersentuh," kata Agatha sedingin mungkin.Agatha melepaskan ikatan pada tangan Gavin di belakang kursi. Dan Gavin langsung memberikan tangan kanannya kepada Agatha sambil memejamkan matanya. Gavin siap jika harus kehilangan tangannya. Ia siap kalau ia tidak akan bisa bermain piano lagi. Ia mencintai Agatha lebih dari apapun. Ia siap menerima segala konsekuensinya asalkan Agatha bisa memaafkannya.Agatha menatap tangan kanan Gavin. Ia tidak menyangka Gavin akan merelakan tangannya. Ia mengalami dilema sesaat. Ia sangat membenci Gavin yang telah menghancurkan hidupnya, tetapi di sisi lain, ia masih mencintai Gavin. Apakah Gavin juga mencintainya?'Tidak!' sebuah suara muncul di pikiran Agatha.'Dia pasti sengaja meluluhkan hatiku! Aku tidak boleh terperdaya olehnya! Aku harus membalas dendam!'Maka Agatha mengangkat tongkat pemukulnya.***Lucy sampai di depan rumah Agatha. Ia membuka gerbang rumahnya yang tidak terkunci dan berlari menuju pintu rumahnya."Sial! Pintunya dikunci!" maki Lucy.Tiba-tiba Lucy teringat kalau Agatha sering menyembunyikan kunci cadangan rumahnya di balik keset kaki di teras rumahnya. Maka ia segera mengambil kunci cadangannya dan membuka pintu rumahnya.Lucy melesat masuk ke dalam rumah Agatha. Rumahnya kosong. Semua ruangan di dalam rumahnya kosong. Berarti hanya ada satu tempat yang tersisa. Ruang bawah tanah.Tiba-tiba Lucy mendapat firasat yang tidak enak, maka ia segera berlari menuju ruang bawah tanah. Betapa kagetnya ia ketika melihat Agatha sedang hendak memukul tangan kanan Gavin dengan tongkat pemukul."Jangan, Ta!" teriak Lucy.Agatha dan Gavin menoleh ke Lucy dengan kaget."Ngapain kamu ke sini?" tanya Agatha kasar. Kemudian ia menoleh ke Gavin dengan marah."Aku.. tidak..." kata Gavin bingung."Agatha! Kenapa kamu melakukan ini pada Gavin? Dia teman kita, Ta!" kata Lucy tidak percaya."Kau sebaiknya jangan ikut campur, Luc," kata Agatha dingin. Kemudian Agatha mengangkat tongkatnya untuk memukul tangan Gavin."Agatha! Sebenarnya Gavin sangat mencintaimu!" teriak Lucy.Kata-kata itu membuat Agatha terdiam sejenak."Masa kau lupa, Ta! Masa kau lupa masa-masa kalian dulu!" kata Lucy agak sedikit sakit hati.Agatha menurunkan tongkatnya."Gavin sangat merasa bersalah, Ta. Dia lebih memilih mati daripada dibenci kamu selama-lamanya," air mata mengucur keluar dari mata Lucy.Hati Agatha luluh. Kemudian Agatha berlutut dan menangis. Ia merasa bersalah kepada Gavin. Tega sekali ia melakukan itu padanya."Gavin sangat mencintaimu, Ta. Dan dia akan selalu mencintaimu, Ta. Dia bahkan rela kalau tangannya lumpuh demi kamu,"Agatha menangis semakin keras. Tiba-tiba sekelilingnya menjadi semakin gelap dan hal terakhir yang ia ingat adalah Gavin memeluknya.***Beberapa bulan kemudian...Agatha melirik jam tangannya. Gavin dan Lucy belum datang juga. Padahal mereka sudah telat lima belas menit.Tiba-tiba ia melihat Gavin masuk ke kafe dan melambaikan tangannya kepada Agatha sambil tersenyum lebar.Agatha melambaikan tangan kanannya perlahan. Setelah menjalani terapi, tangan kanan Agatha sudah bisa digerakkan sekarang, dan beberapa bulan lagi, tangan Agatha akan sembuh total."Aku punya sesuatu untukmu," Agatha mengeluarkan sebuah kertas bergambar wajah Gavin yang sedang tersenyum manis."Keren!" Gavin menatap gambar tersebut dengan kagum sambil duduk di sebelah Agatha."Aku gambar pakai tangan kiri loh!" kata Agatha bangga. Sekarang tangan kirinya sudah bisa menggambar, dan yang lebih menakjubkan adalah, tangan kirinya bahkan bisa menggambar lebih bagus dari tangan kanannya.Kemudian Lucy dan Marvin menghampiri mereka."Wah, keren banget, Ta," kata Lucy dan Marvin bersamaan.Gavin dan Agatha menatap mereka sambil tersenyum penuh arti. Kemudian Lucy dan Marvin duduk di depan mereka dengan canggung."Sepertinya terjadi sesuatu," kata Gavin sambil tersenyum jail."Wahh, bakalan PJ dong!" goda Agatha.Marvin tersenyum, "Nah, kawan, jadi kalian sudah bisa menebaknya, ya. Kami memang barusan jadian kemarin."Wajah Lucy memerah."Wah, jadi benar ya? Ciee selamat lah ya!" kata Agatha."Bagus, kalau begitu nanti Marvin yang bayar," kata Gavin senang.Mereka berempat bercanda dan tertawa. Dan mereka semua percaya, setiap pahitnya hidup yang mereka alami akan berbuah manis di kemudian hari.THE END
Kisah Ketobong Keramat
Alkisah pada zaman dahulu kala, di negeri Pelalawan berkuasalah seorang raja yang dikenal sebagai Raja Pelalawan. Penduduknya hidup tenteram, sejahtera dan rukun. Namun, di antara penduduk tersebut, terdapat seorang laki-laki setengah baya yang hidup sangat miskin. Meskipun miskin, ia gemar menolong orang lain. Setiap hari ia pergi menajuh di Sungai Selempaya yang mengalir di negeri itu. Dari hasil menangkap ikan itulah ia bisa menghidupi istri dan anak-anaknya.Selain menangkap ikan, si Miskin itu memiliki kepandaian mengobati orang sakit. Kepandaiannya itu ia gunakan untuk menolong setiap orang yang datang kepadanya. Karena ia suka menolong orang sakit, maka ia pun dipanggil Bomo Sakti (Tabib Sakti). Ia sangat pandai mengambil hati masyarakat. Jika ada orang membutuhkan pertolongannya, ia tidak pernah menolak. Selain itu, ia juga tidak pernah meminta bayaran atas bantuan yang telah diberikannya. Sifatnya yang rendah hati itu, membuat masyarakat di negeri Pelalawan senang kepadanya. Berbeda dengan bomo-bomo lainnya, mereka memiliki sifat angkuh. Untuk setiap obat yang diberikan kepada orang sakit, ia selalu meminta bayaran yang sangat tinggi dan selalu menolak apabila dimintai pertolongannya oleh orang miskin.Suatu hari, kepandaian Bomo Sakti mengobati orang sakit itu terdengar oleh Raja Pelalawan. Maka diutuslah dua orang pengawal istana untuk menjemput Bomo Sakti untuk dibawa ke istana. Sesampainya di hadapan raja, Bomo Sakti langsung memberi hormat, “Ampun Baginda Raja! Ada apa gerangan Baginda memanggil saya menghadap?” tanya Bomo Sakti penasaran. “Wahai Bomo Sakti! Aku sudah mendengar tentang kepandaian kamu mengobati orang sakit. Bersediakah kamu aku angkat menjadi bomo di istana ini?” tanya Baginda Raja kembali. “Ampun beribu ampun, Baginda! Saya ini hanya orang miskin dan bodoh. Tuhanlah yang menyembuhkan mereka, saya hanya berusaha melakukannya,” jawab Bomo Sakti merendah. Baginda Raja pun mengerti kalau Bomo Sakti menerima tawarannya itu dengan bahasa yang sangat halus. Akhirnya, Bomo Sakti pun diangkat menjadi bomo resmi di Kerajaan Pelalawan. Sejak itu, Bomo Sakti semakin terkenal hingga ke berbagai negeri. Kehidupan keluarganya berangsur-angsur menjadi makmur. Meskipun namanya sudah terkenal di mana-mana, Bomo Sakti tetap bersikap rendah hati. Ia masih mengerjakan pekerjaannya yang dulu yaitu pergi menangkap ikan di sungai Selempaya.Suatu waktu, Baginda Raja memanggil Bomo Sakti menghadap kepadanya. Setelah Bomo Sakti menghadap, Baginda Raja pun berkata, “Wahai Bomo Sakti, sudah lama aku menginginkan anak. Aku sudah mendatangkan bomo dari berbagai negeri, namun belum ada yang berhasil. Untuk membuktikan kesetiaanmu padaku, aku berharap kamu mau mengobati permaisuriku agar kami bisa mendapatkan keturunan,” pinta Raja Pelalawan dengan penuh harapan. Karena permintaan raja, Bomo Sakti tidak bisa menolak. “Hamba akan berusaha, Baginda! Semoga Tuhan Yang Mahakuasa mengabulkan keinginan Baginda,” jawab Bomo Sakti dengan rendah hati.Setelah itu, Bomo Sakti pun mengeluarkan seluruh kepandaiannya. Dengan takdir Tuhan Yang Mahakuasa, usahanya berhasil. Beberapa hari setelah diobati, permaisuri pun mengandung. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, genaplah 9 bulan kandungan permaisuri. Maka lahirlah seorang putri yang cantik jelita. Sejak itu, semakin masyhurlah nama bomo yang sakti itu. Raja dan permaisuri serta seluruh penduduk negeri Pelalawan sangat senang dan gembira menyambut kelahiran sang Putri kecil yang cantik itu. Akan tetapi, Bomo Sakti yang telah berhasil mengobati sang permaisuri justru merasa menyesal, karena telah melanggar larangan yang pernah ditetapkan oleh gurunya. Larangan tersebut adalah ia tidak dibenarkan mengobati orang yang sehat dan orang yang sudah mati. Jika ia melanggar larangan itu, hidupnya akan teraniaya.Jika berladang, padinya takkan berisi. Jika mencari ikan, takkan dapat. Jika berlayar, angin berhenti. Jika beternak, takkan berkembang biak. Oleh karena itu, ia berniat untuk berhenti menjadi bomo. Akan tetapi, jika ia berhenti begitu saja, tentu Baginda Raja akan murka kepadanya. Ia pun kemudian mencari akal bagaimana caranya agar ia bisa berhenti menjadi bomo tanpa membuat Baginda Raja merasa kecewa.Setelah beberapa lama berpikir, Bomo Sakti pun menemukan cara yang baik. Keesokan harinya, ia mengutarakan isi hatinya kepada Raja Pelalawan. “Ampun, Baginda Raja!Bukannya hamba tidak hormat terhadap titah Baginda. Tadi malam hamba bermimpi bertemu dengan seorang kakek. Ia menyuruh hamba berhenti menjadi bomo. Jika hamba tidak menuruti perkataan kakek itu, maka keluarga hamba akan teraniaya,” cerita Bomo Sakti pada Raja. Mendengar cerita Bomo Sakti, Baginda Raja bisa memakluminya. “Baiklah, Bomo Sakti. Aku rela kamu berhenti menjadi bomo kerajaan ini,” jawab Baginda Raja tersenyum. Sejak saat itu, Bomo Sakti resmi berhenti menjadi bomo. Penduduk negeri pun tidak lagi datang untuk meminta bantuannya. Bomo Sakti kembali menjalani hidupnya sebagai penajuh untuk menghidupi keluarganya.Seiring dengan berjalannya waktu, sang Putri pun sudah berumur lima belas tahun. Sebagai anak satu-satunya, sang Putri sangat disayangi oleh Baginda Raja dan permaisuri. Ke mana pun ia pergi selalu dikawal oleh puluhan dayang-dayang. Suatu hari, sang Putri jatuh sakit keras. Penyakitnya semakin hari semakin parah. Sudah puluhan bomo didatangkan dari berbagai negeri, namun belum ada seorang pun yang bisa menyembuhkan sang Putri. Baginda raja dan permaisuri semakin cemas melihat kondisi putrinya yang semakin lemas. Dalam suasana cemas itu, tiba-tiba Baginda Raja teringat dengan Bomo Sakti yang pernah dilantiknya sebagai bomo resmi kerajaan lima belas tahun yang lalu. Maka diperintahkannya beberapa pengawal untuk mencari Bomo Sakti itu. Sudah berhari-hari pengawal istana mencari Bomo Sakti, namun tak kunjung mereka temukan. Karena terlalu lama menahan sakit, akhirnya dengan kehendak Tuhan Yang Mahakuasa, meninggallah Putri Kerajaan Pelalawan tersebut. Tersebarlah berita kematian sang Putri hingga ke seluruh pelosok Negeri Pelalawan. Baginda Raja sangat sedih dan menyesal, karena Bomo Sakti yang sangat diharapkan untuk menyembuhkan putrinya tidak pernah datang.Melihat putri tunggalnya telah meninggal, Baginda Raja segera mengutus beberapa pengawal untuk mencari Bomo Sakti yang selama ini belum berhasil ditemukannya. Malam itu juga dengan susah payah pengawal istana berhasil menemukan Bomo Sakti di sebuah pondok dekat sungai Selempaya. Karena Baginda Raja yang memanggil, maka berangkatlah Bomo Sakti ke istana. Sesampainya di istana, Raja berkata, “Hai Bomo Sakti, hidupkanlah kembali putriku ini. Buktikanlah kesetiaanmu sekali lagi kepadaku.Jika kamu menolak permintaanku, maka kamu dan keluargamu akan aku pancung di depan orang ramai.” Mendengar ancaman Baginda Raja, Bomo Sakti pun menjadi ketakutan. Demi keselamatannya dan keluarganya, terpaksalah ia menuruti kehendak rajanya. Saat itu juga Bomo Sakti segera mempersiapkan perlengkapan untuk upacara pengobatan yang belum pernah dilakukannya.Bomo Sakti mulai menyalakan puluhan lilin dan memasangnya di seluruh sudut istana. Kemudian membakar kemenyan hingga baunya menyebar ke seluruh ruangan. Semua yang hadir di tempat itu harus diam di tempat masing-masing. Sambil membaca doa, Bomo Sakti menepungtawari sang Putri yang sudah meninggal itu. Setelah itu, ia pun memukul ketobong sambil mengucapkan doa. Tubuhnya mulai mengeluarkan keringat, setiap kali ia memukul ketobongnya tampak ketobong itu seperti berapi-api. Setelah hampir dua jam lamanya ia memukul ketobongnya sambil membaca doa, selubung yang menutupi sang Putri tiba-tiba bergerak. Semua orang yang melihat kejadian itu sangat kagum bercampur rasa takut. Tak lama, terdengar sang Putri bersin. Kemudian sang Putri duduk, seolah-olah baru bangun tidur. Akhirnya, sang Putri pun hidup kembali.Baginda Raja dan permaisuri sangat senang atas hidupnya kembali putri tunggalnya itu. Sebaliknya, Bomo Sakti merasa sangat menyesal menghidupkan kembali sang Putri. Ia pun segera kembali ke perahunya yang tertambat di tepi sungai. Sambil mengayuh perahunya meninggalkan Kerajaan Pelalawan, Bomo Sakti menangis karena telah melanggar larangan gurunya yang kedua kalinya. Tengah mengayuh perahunya, ia melihat pengawal istana sedang mengejarnya di belakang. Tak lama, ia mendengar suara teriakan dari arah perahu itu. “Hai Bomo Sakti! Tungguuu…tungguuu…! Baginda Raja memanggilmu kembali ke istana!” teriak seorang pengawal. Bomo Sakti terus saja mengayuh perahunya.Ia tidak menghiraukan suara teriakan itu.Setelah sampai di muara sungai, perahu Bomo Sakti tiba-tiba berhenti. Tak lama kemudian, perahu pengawal pun menyusul dan mendekati perahu Bomo Sakti. Sebelum turun dari perahunya, Bomo Sakti berpesan kepada pengawal istana yang mengejarnya. “Hai Pengawal, sampaikan kepada rajamu, perintahnya telah saya laksanakan, hingga saya harus melanggar perintah guru saya. Saya bersumpah tidak akan menginjak bumi Pelalawan ini selagai saya masih hidup,” tegas Bomo Sakti kepada pengawal. Setelah itu, ketobong yang digunakan untuk menyembuhkan sang Putri dibuangnya ke dalam sungai. Ketika ketobong itu dibuang, tiba-tiba air sungai menjadi berombak. Pada saat itu pula, Bomo Sakti melompat ke darat sambil berteriak, “Jika kalian sampai di Pelalawan, sampaikan salamku kepada istri dan anak-anakku. Katakan kepadanya, jika mereka ingin bertemu denganku, suruh mereka datang ke Selempaya setiap hari Jumat pagi.” Setelah ia berpesan, tiba-tiba ombak kembali menjadi tenang. Namun, dari dalam air terdengar bunyi ketobong seperti dipukul orang. Bomo Sakti pun menghilang dan tak pernah kembali.Sejak peristiwa itu, masyarakat setempat mempercayai bahwa Bomo Sakti masih hidup sebagai orang hunian (makhluk halus). Masyarakat yang menajuh di Sungai Selempaya sering melihatnya dalam wujud seperti manusia biasa. Konon, hingga kini apabila terjadi hujan panas, sering terdengar bunyi ketobong di sungai itu.
Kisah Bujang Buta
Alkisah, zaman dahulu kala, di sebuah kampung di Riau, hiduplah seorang janda tua bersama tiga orang anak laki-lakinya. Anaknya yang sulung bernama Bujang Perotan, anak kedua bernama Bujang Pengail, dan bungsunya bernama Bujang Buta. Namun, ketiga anaknya tersebut memiliki perangai berbeda-beda. Bujang Perotan dan Bujang Pengail memiliki sifat buruk, mereka selalu berniat mencelakakan adiknya. Sebaliknya Bujang Buta, meskipun buta, ia adalah anak yang sabar dan tekun bekerja.Pada suatu hari, ketiga bersaudara tersebut pergi ke hutan untuk merotan dan mengail ikan. Di tengah mereka asyik mengail ikan, Bujang Perotan dan Bujang Pengail meninggalkan Bujang Buta sendirian di hutan belantara. Saat Bujang Buta tersadar kedua abangnya meninggalkannya, ia pun berteriak-teriak memanggil abangnya. “Abaaang… ! Kalian di mana?” teriak Bujang Buta. Berkali-kali sudah Bujang Buta berteriak memanggil abangnya, namun ia tidak mendengar jawaban. Hingga malam menjelang, Bujang Buta tidak menemukan kedua abangnya.Dengan tertatih-tatih dan disertai perasaan yang takut, Bujang Buta terus berjalan mengikuti kaki melangkah. Baru beberapa langkah, tiba-tiba ia merasakan kakinya menginjak sesuatu. Ia pun meraba-raba dan mengambil benda itu. “Ah, sepertinya ini buah mangga,” gumam Bujang Buta. Digigitnya buah itu sampai hanya bijinya yang tersisa. “Mmm, manis sekali mangganya,” kata Bujang Buta dalam hati. Oleh karena masih merasa lapar, Bujang Buta menghisap-hidap biji mangga tersebut. Karena asyiknya, tanpa diduga biji mangga tertelan.“Adooi Mak!‘ pekik Bujang Buta. Bersamaan dengan itu, matanya terbelalak. Ia sangat terkejut ketika ia bisa melihat dedaunan dan ranting-ranting kecil yang bergoyang di hadapannya. Bujang Buta kemudian melihat ke langit dan ia bisa melihat indahnya sinar rembulan. “Alhamdulillah…! Terima kasih ya Allah! Mataku sudah dapat melihat dunia,” ucap Bujang Buta sambil memejamkan matanya.Namun, ketika ia membuka matanya kembali, di hadapannya sudah ada dua ekor beruk dan seekor harimau. Bujang Buta menjadi ketakutan, dikiranya harimau itu mau menerkamnya. “Jangan takut, Orang Muda!” seru si Harimau. Bujang Buta kaget bukan main, ia tidak menyangka kalau harimau itu berbicara.“Hendak ke manakah engkau ini, Orang Muda?” tanya si Beruk. “Saya hendak mencari kampung,” jawab Bujang Buta pelan karena takut. “Mengapa begitu?” tanya si Harimau pula. Lalu, Bujang Buta pun menceritakan semua kejadian yang telah dialaminya.Setelah mendengar cerita Bujang Buta, mengertilah ketiga binatang itu bahwa Bujang Buta adalah anak yang baik. Lalu ketiga binatang itu memberinya senjata.“Hai, orang muda! Karena engkau adalah orang yang baik, maka kami membekalimu terap dan keris,” katakedua beruk itu sambil menyerahkan senjata itu kepada Bujang Buta. “Jangan khawatir, Orang Muda! Senjata itu bisa bergerak sendiri sesuai dengan keinginanmu,” tambah seekor beruk.Si Harimau pun tidak mau ketinggalan. “Untuk melengkapi senjatamu, aku membekalimu penukul yang bisa memukul sendiri sesuai dengan perintahmu,” jelas si Harimau sambil menyerahkan senjata itu kepada Bujang Buta. “Terima kasih, sobat! Kalian memang binatang yang baik hati,” kata Bujang Buta.Usai berpamitan, Bujang Buta meninggalkan hutan itu menuju ke kampung yang telah ditunjukkan oleh ketiga binatang tersebut. Setelah jauh berjalan, sampailah ia di sebuah negeri. Ketika ia akan memasuki sebuah kampung, terlihatlah seorang nenek yang sedang merangkai bunga. Bujang Buta kemudian mendekati nenek itu.“Nenek sedang kerja apa?” tanya Bujang Buta dengan sopan.“Merangkai bunga,” jawab nenek itu.“Siapa engkau ini Orang Muda?” nenek itu balik bertanya.“Orang Muda, Nek,” jawab kisah Bujang Buta. Kini ia tidak lagi menyebut dirinya Bujang Buta.“Bolehkah saya membantu, Nek?” tanya Bujang Buta menawarkan diri.“Tentu saja, tapi cobalah dulu,” jawab nenek itu.Karena sifatnya yang rajin dan suka menolong, ia pun membantu usaha nenek itu dan diizinkan untuk tinggal bersamanya. Sejak itu, setiap hari Bujang Buta membantu sang Nenek merangkai bunga. Ia sudah menganggap nenek itu seperti emaknya sendiri.Pada suatu hari, ketika mereka asyik merangkai bunga, nenek itu bercerita kepada Bujang Buta. “Ketahuilah, Orang Muda! Raja Negeri ini sedang dilanda kesedihan. Putri bungsunya ditawan oleh Raja Gajah untuk dikawini. Hingga kini, tidak seorang pun yang mampu membebaskan sang Putri dari tawanan Raja Gajah.” Mendengar cerita nenek itu, timbul niat Bujang Buta ingin menolong sang Purtri. “Bolehkah saya membantunya, Nek?” tanya Bujang Buta. “Oh, jangan Orang Muda! Gajah itu sangat tangguh. Ia memiliki kesaktian yang sangat tinggi,‘ cegah nenek itu.Bujang Buta hanya terdiam melihat kekhawatiran nenek tua itu. Namun, ia tetap bertekad untuk menyelamatkan sang Putri. Ketika malam sudah larut, diam-diam Bujang Buta pergi ke tempat Putri Bungsu ditawan oleh gajah itu. Tak lupa ia membawa ketiga senjata pemberian beruk dan harimau.Sesampainya di tempat gerombolan gajah, Bujang Buta dihadang oleh sejumlah gajah, termasuk di antaranya Raja Gajah yang menawan sang Putri. Tanpa berpikir panjang, Bujang Buta pun mengeluarkan ketiga senjatanya. Setelah berdoa kepada Tuhan, ia mulai memusatkan perhatiannya pada ketiga senjata tersebut. Tak berapa lama, tiba-tiba terap itu terbang ke arah gerombolan gajah itu lalu melilit mereka. Setelah gajah-gajah tersebut terikat, penukul dan keris pun ikut meluncur memukul dan menikam gerombolan gajah tersebut hingga mati bergelimpangan.Sang Putri Bungsu yang menyaksikan kejadian itu, sangat kagum melihat kesaktian Bujang Buta. Setelah melihat gerombolan gajah itu tidak bergerak lagi, sang Putri menghampiri Bujang Buta untuk mengucapkan terima kasih. “Terima kasih, Orang Muda! Engkau telah menyelamatkan nyawa Putri. Hadiah apa yang engkau inginkan, Orang Muda?” tanya Putri Bungsu menawarkan. “Maaf, Tuan Putri! Hamba tidak menginginkan hadiah apa pun,” jawab Bujang Buta memberi hormat.Tidak kehabisan akal, sang Putri kemudian meminjam baju Bujang Buta. Setelah merobek bagian lengannya, baju itu dikembalikannya lagi kepada Bujang Buta. Sambil terheran-heran, Bujang Buta kemudian pulang ke rumah nenek itu. Dalam perjalanan, Bujang Buta terus bertanya-tanya dalam hati, “Apa maksud tuan Putri merobek lengan bajuku?”Keesokan harinya, kabar kematian gerombolan gajah itu tersebar ke seluruh pelosok negeri. Setelah mendapat cerita dari putrinya, Raja Negeri mengundang seluruh rakyatnya ke istana. Tak berapa lama, seluruh rakyat sudah berkumpul di depan istana. Tampak pula Bujang Buta hadir di tengah-tengah undangan dengan bajunya yang berlengan satu.Seluruh undangan harus memperlihatkan semua pakaian yang mereka miliki. Satu per satu pakaian-pakaian tersebut disesuaikan dan robekan baju bagian lengan yang ada di tangan Putri Bungsu. Sudah hampir semua pakaian diperiksa, namun tak satu pun yang sesuai. Sampai pada akhirnya ditemukan pakaian Bujang Buta-lah yang sesuai dengan robekan lengan baju itu.“Hai, Orang Muda! Karena engkau telah menyelamatkan putriku, maka engkau berhak menikah dengan putriku. Tahta kerajaan ini aku serahkan pula kepadamu untuk memimpin negeri ini,” kata sang Raja. Bujang Buta pun menerima hadiah pemberian Raja itu.Usai pesta pernikahan, Bujang Buta menghadap untuk memohon sesuatu kepada Raja Negeri. “Ampun, Baginda! Perkenankanlah hamba untuk mencari emak hamba dan membawa mereka serta hidup di negeri ini,” pinta Bujang Buta kepada Raja. “Engkau anak yang berbakti. Baiklah! Pergilah mencari emakmu itu. Pengawalku akan mengantarmu ke mana engkau pergi,” kata sang Raja mengizinkan. “Beribu terima kasih hamba haturkan di hadapan Baginda,” kata kisah Bujang Buta sambil memberi hormat.Keesokan harinya, tampak rombongan Bujang Buta dan Putri Bungsu meninggalkan istana menuju kampung Bujang Buta. Setelah berminggu-minggu berjalan, sampailah mereka di sebuah gubuk reyot. Di depan gubuk itu, Bujang Buta memanggil emaknya. “Emaaak…! Bujang Buta Pulang, Mak!” teriak Bujang Buta. “Masuklah, Anakku! Pintunya tidak dikunci,” jawab emak Bujang Buta. Mendengar suara orang tua itu, Bujang Buta masuk dan memeluk emaknya yang sedang terbaring lemas di atas pembaringan karena sakit.“Ini Bujang Buta, Mak!” kata Bujang Buta meyakinkan emaknya. “Benarkah itu, mengapa engkau bisa melihat, bukankah anakku buta?” tanya emaknya tak percaya. Lalu Bujang Buta menceritakan perjalanannya dan kejadian yang menyebabkan matanya bisa melihat.Setelah mendengar kisah Bujang Buta, tahulah emaknya siapa sebenarnya yang berniat jahat kepada anak bungsunya itu. Namun karena kemuliaan hati Bujang Buta, maka dimaafkannya kesalahan kedua abangnya itu.Sejak saat itu, Bujang Buta membawa serta emak dan kedua abangnya untuk hidup bersama di negeri yang dipimpinnya. Semakin lengkaplah kebahagian Bujang Buta, ia bisa hidup tentram bersama Putri Bungsu dan seluruh keluarganya, termasuk Emak Bunga. Kebahagiaan yang dirasakan Bujang Buta itu berkat kerendahan hatinya, suka menolong dan ketaatannya kepada orang tua.
The Unsheelie
Dalam keremangan malam, sesosok peri perempuan berbaring gelisah di bawah sebatang pohon besar. Peri itu merintih menahan sakit sementara kelopak matanya masih terpejam. Dari pelupuk mata setetes air bening mengalir membasahi pipi pucatnya.Archibald perlahan mendekati peri yang kesakitan itu untuk dapat memastikan identitasnya. Ia mengamati wajah peri perempuan itu, lalu memeriksa kemungkinan adanya bekas luka ataupun memar yang membekas pada permukaan kulit peri itu. Namun, Archibald tidak dapat menemukannya. Ia berasumsi bahwa peri itu mungkin terkena luka dalam atau sihir.Wajah peri perempuan itu tampak familiar, tapi sangat sulit bagi Archibald untuk mengingatnya saat itu. Dalam jarak yang sangat dekat, peri laki-laki itu kemudian mengulurkan jari tangannya untuk menyentuh wajah pucat tersebut. Namun, tiba-tiba mata peri perempuan itu terbuka lebar menampakan iris mata hitam yang besar, nyaris tak menampakan bagian putih bola matanya. Peri perempuan itu lantas mendesis parau. "Tolong .... !"Archibald terbangun dari tidurnya dengan napas memburu. Keringat dingin membanjiri pelipisnya. Mimpi buruk itu lagi, batinnya. Entah sudah berapa kali ia memimpikan hal yang sama. Mimpi tentang seorang peri perempuan yang sedang kesakitan lalu meminta pertolongannya. Mimpi itu selalu berakhir dengan sesuatu yang sangat mengerikan.Archibald bangkit dari posisinya yang tengah bersandar di bawah sebatang pohon besar. Peri laki-laki itu menyeka wajahnya dengan air yang ia bawa di dalam sebuah wadah kulit yang tersampir di pinggang. Ia berharap mimpi buruk itu enyah bersama air yang meleleh di permukaan kulit wajahnya. Setelah membasuh wajahnya, dengan sigap, ia menunggang unicornnya menjelajahi Fairyverse.* * *Pangeran Elwood melangkahkan kakinya memasuki gerbang Fairyfarm. Senyumnya merekah tatkala ia melihat Ammara yang sedang duduk bersungut-sungut di bawah sebatang pohon besar dengan mata tertutup. Entah apa yang menyebabkan peri cantik itu menggerutu dan mengantuk bersamaan sepagi ini."Mungkin lebih baik aku kembali di lain waktu, " ucap Pangeran Elwood sambil pura-pura berdeham ketika ia sampai di hadapan Ammara.Selly menegakkan lehernya waspada, lalu memicingkan mata pada peri lelaki yang baru pertama kali dilihatnya. Unicorn itu meringkik tak suka mencoba mengusir Elwood.Ammara tersentak. Ia tersadar dari kantuknya seraya mengucek mata."Hai Elwood, rupanya kau sudah datang!" Sapanya sambil menguap lebar. Ammara mengalihkan pandangan pada unicornnya yang kini memasang tampang seperti siap menendang Elwood kapan saja."Tenang Selly, dia Elwood temanku. Kami bertemu di Fairyfall," tutur Ammara sambil menepuk punggung unicornnya untuk menenangkan. Selly seketika mendengus, lalu ekspresinya menjadi sedikit lebih tenang. Tak ada lagi tatapan curiga pada Elwood. Makhluk berkulit putih itu kini kembali sibuk dengan aktivitasnya memakan buah plum."Hai Selly!" Elwood menyapa unicorn yang berada tepat di samping Ammara seraya tersenyum ramah. Namun, Selly tampak tidak menghiraukannya lagi."Baiklah, kita mau ke mana hari ini?" tanya Ammara bersemangat setelah kantuknya benar-benar hilang."Wow. Kau bersemangat sekali, Anak Muda! Aku bahkan belum sempat duduk dan mencicipi buah plum yang terkenal di Fairyfarm ini."Elwood duduk di sebelah Ammara. Saat ia hendak mencomot sebutir plum dari keranjang yang terletak tepat di depan Selly, unicorn itu sontak meringkik tidak senang. Selly refleks melayangkan kaki depannya ke arah tangan Elwood. Namun, Elwood dengan lincah menggerakkan tangannya untuk mengelak dari tendangan makhluk itu. Unicorn itu mendengus marah saat Elwood akhirnya berhasil mencomot sebutir plum sambil terkekeh geli."Berhentilah mempermainkannya, Elwood. Dia tidak suka bercanda!" sergah Ammara seraya memutar bola matanya.Elwood berusaha keras menahan tawa seraya mengunyah plum yang ia curi dari Selly. Sementara, unicorn bersurai putih itu masih menatapnya sengit. Setelah selesai mengunyah dan menelan buah plumnya, Elwood akhirnya membuka suara. "Fairyverse ini sangat luas. Kita perlu waktu setidaknya berbulan-bulan untuk menjelajahi keseluruhan negeri ini. Kita akan memulai dari tempat-tempat yang paling sering dikunjungi para peri elf . Namun, aku masih penasaran, apa kau benar-benar tidak pernah keluar dari Fairyfarm ini seumur hidupmu?"Ammara menggeleng pelan. Kesedihan membayang samar pada netranya. "Tidak, sebenarnya ayah dan ibuku melarangku keluar dari Fairyfarm. Mereka bilang tempat lain sangat berbahaya.""Jadi, bagaimana kau bisa sampai ke Fairyfall waktu itu?" Elwood bertanya dengan tatapan menyelidik."Mereka tidak tahu aku ke Fairyfall. Mereka akan panik sekali kalau tahu aku keluar dari tempat ini ... " sahut Ammara gugup. Tanpa sadar peri perempuan itu menggigit bibir bawahnya."Jadi.. sekarang kau mengajakku bersekongkol untuk membohongi orang tuamu?" Elwood menaikkan sebelah alisnya. Iris mata birunya menatap Ammara dengan jenaka.Ammara lantas membalas tatapannya itu dengan mendelik."Tenanglah Ammara, aku hanya bercanda," timpal Elwood sambil tertawa renyah. "Baiklah, kita akan mulai dari yang paling dekat dulu. Mari kita pergi ke Fairyhill, tidak terlalu jauh dari sini. Kita akan melihat-lihat perbatasan Hutan Larangan.""Hutan Larangan?""Iya, Fairyhill berbatasan langsung dengan Hutan Larangan. Tempat tinggal para peri unsheelie. Jangan terlalu khawatir, kita tidak akan masuk ke sana. Kita hanya akan melihat-lihat. Perbatasannya sangat indah. Lagi pula banyak hal menarik di sana," tutur Elwood."Mari kita berangkat dengan unicornku. Aku berjanji, kita akan kembali lagi kemari sebelum kelopak bunga bercahaya. Bagaimana menurutmu?" sambungnya menanti respon peri perempuan yang tampak sedang berpikir keras itu.Setelah beberapa detik, akhirnya Ammara mengangguk mantap."Bagus!" seru peri laki-laki itu dengan semangat.Elwood bergegas membantu Ammara naik ke unicornnya. Kemudian dengan sigap, ia sendiri melompat ke atasnya. Setelah itu, ia memacu unicornnya dengan kencang menuju Fairyhill.* * *Fairyhill adalah salah satu dataran tertinggi di Fairyverse. Dataran tinggi itu sangat hijau dengan beraneka ragam pohon besar dan tua. Pohon-pohon rindang yang rapat menyebabkan suasana di tempat itu bagaikan suasana sehabis hujan, lembab dan sejuk. Bahkan, hanya sedikit sekali sinar matahari yang dapat menyorot langsung melewati celah-celah pepohonan. Para penghuni Fairyhill sebagian besar terdiri dari beraneka ragam peri yang menghuni pohon-pohon besar seperti nimfa, peri pixie dan dryad.Elwood dan Ammara tiba di Fairyhill nyaris tengah hari. Peri perempuan itu merasa jarak yang mereka tempuh menuju tempat ini bahkan lebih jauh dari saat menuju Fairyfall dengan berjalan kaki.Pemandangan hijau nan rimbun langsung menyergap netra Ammara, membuat kelelahannya sedikit menguap. Peri perempuan itu tersenyum lebar saat meraih tangan Elwood yang membantunya turun dari punggung unicorn."Tempat ini ... indah sekali!" Seru Ammara dengan mata berbinar.Para pixie yang berkumpul di dekat sebatang pohon besar tak jauh dari posisi mereka seketika berhamburan meninggalkan sesosok dryad yang tertanam pada batang pohonnya begitu melihat kedatangan mereka. Peri pohon itu berusaha memanggil rekan-rekan pixienya kembali, tetapi sia-sia. Makhluk itu menoleh pada Elwood dan Ammara yang tersenyum canggung. Kini ia menyadari siapa yang menyebabkan teman-teman kecilnya lari ketakukan.Makhluk itu menyilangkan kedua lengannya di depan dada seraya menatap Ammara penuh selidik. Surainya yang sewarna kayu itu terlihat kaku, tapi sama sekali tak dapat menyembunyikan wajah rupawannya."Hai, Alfreda ... maaf telah mengagetkanmu! Kami hanya sedang melihat-lihat di sekitar sini." Elwood menyapa peri pohon yang separuh badannya tertanam pada batang pohon itu dengan ramah."Hai, pange---Elwood mendesis pelan sambil menempelkan jari telunjuknya di bibir. Matanya menyorot aneh pada Alfreda hingga peri pohon itu terkejut dan urung meneruskan kata-katanya."Aku tidak pernah melihatnya di sekitar sini." Alfreda bertopang dagu. Tatapan penuh selidik masih ia sorotkan pada peri perempuan yang datang bersama Elwood itu. Namun, tiba-tiba matanya berbinar jenaka. Sebuah pemikiran seketika terlintas di kepalanya."Apakah dia pacarmu?"Demi mendengar pertanyaan itu, Elwood dan Ammara sontak terkejut. Sepasang peri itu lantas bertukar pandang dengan canggung.Semburat kemerahan seketika muncul pada wajah Ammara. "Ti-tidak," sahutnya seraya menggeleng cepat. "Hai, Alfreda! Perkenalkan, aku Ammara. Aku peri elf dari Fairyfarm. Aku memang tidak pernah ke sini sebelumnya. Senang berkenalan denganmu.""Hai, Ammara!" sapa Alfreda seraya menyunggingkan senyum ramah. Namun, peri pohon itu mendadak terkekeh, lalu mengalihkan pandangannya pada Elwood. "Jadi ini semacam kencan pertama ya, Elwood? Dan kau akan menyatakan perasaanmu di sini. Wah, manis sekali!" sambungnya lagi seraya mengedipkan sebelah matanya yang berbulu mata lentik."Tidak ... bukan!"Elwood dan Ammara menjawab hampir bersamaan membuat Alfreda semakin terkekeh geli. Suara tawanya kian meninggi hingga terdengar sedikit menyeramkan. Setelah puas menertawakan kecanggungan sepasang peri di hadapannya, makhluk dryad usil itu pun lantas menghilang. Alfreda kembali menyatu ke dalam pohon tempat tinggalnya."Jangan diambil hati. Bangsa dryad memang sangat jahil," kilah Elwood canggung. Wajah rupawannya seketika memerah."Aku pikir ucapan itu lebih pantas untukmu. Lihatlah, anak muda, wajahmu merah sekali!" seru Ammara tergelak. Peri perempuan itu lalu berjalan menjauhi Elwood untuk melihat-lihat pemandangan di sekitarnya."Jadi, kau sekarang sedang membalasku?" Elwood menyusulnya."Kukira kau sangat suka bercanda." Ammara kembali menggodanya."Baiklah, kau menang!" Elwood lantas memasang tampang pura-pura cemberut. Peri laki-laki itu mengerucutkan bibirnya.Ammara terkekeh. Ia senang sekali karena dapat mempermainkan Elwood. "Beri aku hadiah," ucapnya lagi. Sebuah senyuman jahil seketika mengembang di bibirnya."Apa yang kau inginkan, Tuan Putri?" tanya Elwood seraya membungkukkan badan.Ammara berpikir beberapa saat sebelum akhirnya ia menjawab. Binar jenaka terpancar jelas dari matanya. Rupanya ia telah memikirkan sesuatu yang ia inginkan sejak tadi. "Aku ingin melihat-lihat Hutan Larangan."Wajah Elwood berubah seketika. Senyumnya menghilang dan wajahnya menjadi serius. "Itu bukanlah hal yang bisa aku hadiahkan padamu, Ammara. Hutan itu berbahaya. Hutan itu dipenuhi oleh para peri jahat dengan sihir hitam. Lagi pula hutan itu terlarang bagi peri sheelie seperti kita."Ammara tak begitu saja puas mendengar penjelasan Elwood. "Apakah kau pernah masuk ke sana?" selidiknya."Belum. Aku tidak pernah ke sana. Banyak peri sheelie yang datang ke sana. Namun, mereka tak pernah kembali. Archibald pernah ke sana. Ia bahkan sering ke sana, tetapi itu karena dia istimewa.""Peri sombong itu istimewa?" Ammara mengernyitkan wajahnya tak senang mendengar nama itu disebut.Elwood terkekeh. Kemudian, ia melanjutkan kata-katanya setengah berbisik. "Tampaknya kau sangat tidak menyukai Archibald, ya? Banyak yang bilang ia adalah keturunan peri unsheelie. Namun, aku tidak yakin. Ia sering bilang bahwa ibunya adalah seorang Ratu yang sangat sakti dari sebuah kerajaan kecil di Fairyhill. Akan tetapi, kerajaannya tak terlihat, seperti tersegel atau semacamnya. Dari sanalah ia mendapatkan keistimewaannya."Ammara mendengarkan penjelasannya dengan serius, sambil sesekali matanya melayangkan pandangan ke arah sebuah padang tandus dan gersang yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Tempat itulah yang disebut Hutan Larangan. Jika Fairyhill tampak kehijauan di semua sisinya, maka Hutan Larangan tampak kuning kecoklatan menunjukkan permukaan tanah tanpa rumput yang mengering berwarna hitam dan abu-abu. Pohon dan dedaunannya menghitam."Bagaimana rupa para peri unsheelie itu?" Ammara bertanya lagi semakin penasaran."Mereka sama seperti kita bangsa peri pada umumnya. Hanya saja, ada satu hal yang menjadi penanda bahwa mereka adalah unsheelie yaitu rambut mereka yang tergerai, tanpa jalinan. Itu adalah sebuah simbol bahwa mereka tidak mau terikat dengan aturan mana pun. Mereka melakukan apapun atas kehendak dan nafsu mereka sendiri. Para peri sheelie seperti kita selalu menjalin rambut karena itu adalah bentuk komitmen dan kepatuhan kita pada aturan, Ammara"Ammara terdiam beberapa saat. Ternyata, begitu banyak hal yang tidak ia ketahui tentang Fairyverse. Ia memang lupa ingatan, menurut orang tuanya. Namun, ia merasa sangat asing dengan segala yang ada di Fairyverse, bahkan dengan dirinya sendiri."Apakah mereka benar-benar peri jahat? Bagaimana bisa kita menilai seseorang itu jahat seutuhnya? Aku terkadang mengerjai Selly sampai ia merasa kesal, bukan berarti aku peri yang jahat, 'kan?" Ammara menerawang ke arah Hutan Larangan. "Mengapa mereka harus tinggal terpisah di Hutan Larangan itu? Bukankah hal itu hanya akan membuat mereka semakin terluka dan semakin jahat?"Elwood menatap peri perempuan itu takjub. Ia tak pernah bertemu dengan peri sheelie lain yang membela peri unsheelie sebelumnya. Peri perempuan di hadapannya ini benar-benar unik. "Tidak ada yang berpikir seperti itu, Ammara. Kalau orang kerajaan Avery mendengar apa yang kau ucapkan, mungkin kau akan ditangkap." Elwood menghela napas panjang sebelum melanjutkan perkataannya. "Mereka diasingkan ke Hutan Larangan agar mereka tidak mengganggu peri lainnya. Setiap tahun para peri putih dari kerajaan Avery bahkan memberi segel tak kasat mata agar para peri unsheelie tidak melintasi perbatasan Hutan Larangan. Namun, tetap saja peri sihir hitam unsheelie yang berilmu tinggi bisa melewati segel itu dan membuat kekacauan di Fairyverse.""Aku tidak takut," sahut Ammara sambil menggeleng. "Tidak ada makhluk yang benar-benar jahat, Elwood. Yang ada hanyalah makhluk yang terluka.""Wow, kau peri yang luar biasa, Ammara." Elwood masih menatap peri perempuan itu dengan takjub. "Aku harap kau benar, semoga saja para Peri unsheelie itu tidak sepenuhnya jahat.""Kita tidak akan tahu kalau kita tidak pernah bertemu dengan mereka secara langsung, 'kan?" Iris mata hijau Ammara berkilat jahil. Rupanya peri perempuan itu tak juga mau menyerah."Oh ayolah, Ammara, jangan minta itu lagi. Orang tuamu akan marah besar kalau kau sampai kau masuk ke sana dan tidak pulang ke Fairyfarm. Mereka pasti akan membunuhku!"Ammara tergelak, "Aku hanya bercanda, Elwood ... ! Aku hanya ingin mengintip sedikit di dekat perbatasan," ucapnya sambil mempercepat langkah mendekati perbatasan Fairyhill dan Hutan Larangan. Elwood mengikuti peri perempuan itu dengan sigap.Dari kejauhan tiba-tiba terdengar bunyi derap kaki unicorn. Suara itu berasal dari arah Hutan Larangan dan suara lainnya berasal dari arah rerimbunan Fairyhill.Elwood seketika menjadi waspada. Ia segera meraih tangan Ammara dan menarik peri itu ke sisinya. Kemudian, ia mengeluarkan sebilah pedang perak yang semula tersampir di pinggangnya.Archibald melaju dari arah hutan Fairyhill dan segera menghentikan unicornnya begitu ia melihat Elwood dan Ammara. Bersamaan dengan kedatangannya, dari arah berlawanan, sesosok peri laki-laki muncul melewati perbatasan Hutan Larangan lalu berhenti tepat di hadapan Archibald, Elwood dan Ammara."Apa yang kau lakukan di tempat itu?" tanya Archibald pada Elijah dengan dingin. Matanya menatap lurus pada iris mata Elijah yang menyiratkan keterkejutan."Aku hanya sedang berjalan-jalan," sahut Elijah berusaha menutupi kegugupan dalam suaranya yang bergetar."Dan, kau berhasil keluar dari hutan larangan itu dengan selamat?" gumam Archibald lebih kepada dirinya sendiri. Ia menatap Elijah dengan penuh selidik."Hai, Archibald! Hai, Elijah!" Elwood menyapa untuk meredakan ketegangan di antara kedua peri laki-laki yang masih menunggang unicorn itu.Archibald menoleh ke arah Elwood dan Ammara dengan tatapan datar. "Kalian juga, apa yang sedang kalian lakukan di sini? Tempat ini bukan taman bermain, tempat ini sangat berbahaya!""Kami tidak sedang bermain-main, peri sombong!" Ammara menyahut dengan sengit. Ia mendelik pada Archibald.Tiba-tiba tawa Elijah meledak hingga wajah rupawannya memerah. "Siapa gerangan peri cantik yang pemberani ini? Aku gemas sekali!" Elijah menatap Ammara dengan penuh kekaguman. "Bolehkah aku tahu namamu?""Ammara," sahut peri perempuan itu tegas sambil mengulas senyum sekilas."Akhirnya si sombong mendapat lawan yang setimpal!" sindir Elijah sarkas sambil menatap tajam ke arah Archibald. Tawa peri laki-laki bernetra biru itu telah reda, menyisakan salah satu sudut bibirnya yang terangkat."Aku akan tetap mengawasimu. Peraturan tetaplah peraturan. Tidak ada Peri Sheelie yang bisa keluar masuk Hutan Larangan tanpa seizin raja!" Archibald menatap lurus pada Elijah."Apa masalahmu?!" wajah Elijah berubah muram seketika. Ia lantas menuntun tunggangannya mendekat ke arah Archibald. Wajah memerahnya tampak siap melayangkan tinju ke arah Archibald kapan pun.Dengan sigap Elwood berdiri di antara mereka. "Sudah, cukup, saudara-saudaraku. Masalah ini bisa kita selesaikan nanti. Redakan dulu emosi kalian."Elijah membuang mukanya yang merah padam menahan emosi. Ia menghela unicornnya mundur lalu mendekati Ammara yang berdiri bergeming menatap mereka."Maafkan situasi yang tidak mengenakkan ini, cantik. Kita akan bertemu di lain waktu, di saat yang lebih menyenangkan," ucap Elijah sambil mengulas senyum. Wajah rupawannya kini tak semerah tadi. Setelah menyapa Ammara yang hanya mengangguk canggung menanggapinya, peri laki-laki itu segera menghela unicornnya pergi menerobos rerimbunan hutan Fairyhill meninggalkan tempat itu.Archibald menatap kepergian Elijah dengan mata memicing. Amarah sang pangeran peri rupanya belum surut. Namun, kepergian Elijah membuatnya sedikit lebih tenang."Elwood, bawa peri itu meninggalkan tempat ini. Tempat ini berbahaya. Jangan sekali-kali berpikir untuk kemari lagi!" bentak Archibald. Ia pun lantas bergegas menuntun unicornnya meninggalkan tempat itu.Elwood menatap punggung Archibald sampai peri itu menghilang ditelan rimbunnya hutan Fairyhill. Elwood meraih tangan Ammara yang masih terpaku di tempatnya. "Mari kita pulang."
Ammara dan Para Pangeran Peri
Derap langkah kaki unicorn memecah keheningan dini hari di Fairyfarm, sebuah daerah di dekat portal Utara Fairyverse. Empat orang pemuda peri elf menghentikan unicorn mereka tepat di depan portal Utara. Satu per satu pangeran peri itu melompat turun dari punggung unicorn masing-masing lalu berjalan mendekati para pixie kerajaan yang tergeletak tak sadarkan diri di atas tanah."Seorang unsheelie telah menyihir tempat itu," ucap salah seorang pangeran ketika ia melihat para pixie kerajaan yang tertidur dalam keadaan tidak wajar. Pangeran bersurai gelap itu bernama Claude, pangeran termuda di kerajaan Avery. Ia memiliki beberapa jenis keahlian di bidang sihir serta kemampuan melihat masa lalu. Wajah rupawannya memiliki rahang berbentuk tirus sempurna. Surai hitamnya yang berkilat terpantul cahaya bulan malam itu. Iris mata obsidiannya menyisir keadaan di sekitar. Ia merasakan aura tak biasa yang menyelimuti tempat itu."Apa kau juga merasakan kehadiran seorang manusia di sini?" tanya pangeran Archibald yang menyadari perubahan raut wajah Claude. Salah satu tangan peri laki-laki bersurai keemasan itu menghunus sebilah pedang perak yang berkilat. Dalam remang cahaya bulan purnama, iris mata hazel kehijauan sang peri berkilat memindai sekeliling Portal Utara. Rahang persegi sang pangeran peri mengeras dengan tubuh tegapnya berdiri waspada merespon keheningan yang seolah menyimpan misteri."Entahlah. Aura bekas sihir unsheelie ini terlalu pekat. Aku tidak bisa merasakan yang lainnya," sahut Claude dengan kening berkerut. Entah mengapa pandangannya tertumpu pada gundukan akar yang muncul ke permukaan tanah tepat di bawah pohon oak. Padahal, ia tak melihat apa pun di bawah sana. Berulang kali peri laki-laki itu mencoba menajamkan mata batinnya untuk melihat tempat itu, tetapi sia-sia. "Seperti ada yang aneh di sini ..." gumam pangeran peri itu pada akhirnya.Untuk beberapa saat lamanya para pangeran peri hanya berdiam diri dalam keheningan dengan pandangan yang menjelajahi tempat itu.Claude memunculkan sebilah tongkat sihir di genggamannya lalu mengarahkan bola kristal bening di puncaknya pada tubuh para pixie kerajaan. Bibirnya merapalkan mantra singkat. Dalam sepersekian detik kemudian, cahaya biru berpendar dari bola kristal di puncak tongkat sihir menuju tubuh-tubuh para pixie kerajaan hingga mereka sontak terbangun saat cahaya biru memasuki tubuh mereka.Makhluk-makhluk kecil itu terkejut dan merasa sangat bingung ketika melihat para pangeran peri Kerajaan Avery yang telah berdiri di hadapan mereka. "Ampun tuanku, kami lalai dalam bertugas," ucap salah satu dari mereka. pixie itu membungkukkan badannya diikuti oleh pixie lainnya. Wajah mereka tertunduk karena merasa bersalah."Lanjutkan saja tugas kalian. Kami hanya sedang melihat-lihat di sekitar sini." Claude mengibaskan tangannya acuh hingga para peri pixie itu mengangkat wajah mereka dengan bingung. Pangeran peri itu sama sekali tidak marah dengan para pixie kerajaan karena ia telah memahami situasinya.Demi mendengar itu, para pixie sontak membungkuk takzim memberi hormat, kemudian terbang dan kembali ke posisi mereka masing-masing. "Baik, tuanku!" sahut mereka bersamaan."Apa menurutmu saat ini purnama merah sedang berlangsung di dunia manusia?" Salah seorang pangeran peri bermata biru bertanya kepada Claude. Wajah tirusnya yang sepucat pualam menengadah menatap bulan purnama yang bercahaya kekuningan di langit Fairyverse. Elwood seolah sedang mempertimbangkan sesuatu. "Harusnya saat ini dunia manusia juga sedang purnama," ucapnya pelan."Kau terlalu banyak membaca buku, Elwood," sela salah seorang pangeran bersurai gelap bergelombang sambil terkekeh. Pangeran Elijah merasa apa yang diucapkan saudaranya sangat menggelikan. Ia tak dapat menahan tawanya terlebih saat mengamati wajah tegang pangeran peri yang lain. Netra birunya berkilat penuh pesona, sementara sepasang piercing di bibirnya bergetar seirama dengan suara tawanya yang mengalun memecah hening."Aku bisa mengeceknya ke dunia manusia, kalau kau mau," imbuhnya lagi sambil terkekeh. Sontak seluruh pandangan para pangeran menghunus tajam padanya. "Ada apa?!" tanyanya berpura-pura bingung."Kita sedang serius di sini Elijah, berhentilah menggodanya!" sergah Archibald dingin."Hei, sepertinya ada yang sedang naik darah di sini!" balas pangeran Elijah tanpa perasaan bersalah. Peri laki-laki itu menyunggingkan senyum mengejek pada pangeran Archibald hingga kedua lesung pipinya tercetak jelas."Sudahlah, Elijah." Claude menengahi. Ia tahu bahwa perdebatan ini akan berakhir buruk jika dibiarkan. "Yang jelas, segel pada portal itu tidak terlihat rusak, tidak mengalami serangan apapun. Dan, kau tidak perlu menggunakan cara licikmu untuk melintasi portal utara, Elijah. Itu tidak legal. Kecuali, kalau kau mau dicap sebagai unsheelie...?""Ayolah, Claude, aku cuma bercanda!" bantah Elijah sambil menahan tawanya. "Tidak adakah yang tau caranya bersenang-senang di sini?"Elwood mendelik ke arahnya. "Tidak di saat seperti ini, Elijah!""Baiklah, kutu buku, aku tidak akan ikut campur," sahut Elijah pada akhirnya. Ia menjauh dari para pangeran lainnya lalu duduk bersandar di bawah pohon oak."Mungkin cahaya ungu tadi tidak berasal dari sini," terka Archibald. Ia menanti respon Claude, tetapi sepertinya pangeran peri bersurai kelam itu tengah serius memperhatikan butiran tanah yang berasal dari jejak kaki yang tertinggal."Bisa jadi," sahutnya sambil berpikir. Ternyata Claude masih mendengarkannya. Peri laki-laki itu tampak sedang menimbang sesuatu selama beberapa saat sebelum melanjutkan ucapannya. "Bagaimana kalau kita memeriksa perbatasan Hutan Larangan?""Nah, itu baru menyenangkan!" Pangeran Elijah menimpali seraya bangkit dari duduknya. Sebelah tangannya menepuk-nepuk bagian belakang pakaiannya hingga bekas tanah yang menempel jatuh berguguran. Peri laki-laki itu sudah merasa sangat bosan berada di sana tanpa melakukan apa pun.Pangeran peri lainnya hanya bungkam. Mereka menyetujui usulan Pangeran Claude dalam diam. Begitu banyak dugaan mengenai kejadian di tempat itu berkecamuk di dalam pikiran mereka. Para pangeran kembali menunggangi unicorn masing-masing dan memacunya kencang menuju perbatasan Hutan Larangan.* * *Matahari telah terbit, ketika sepasang peri mendekati sosok Chiara Wyatt yang tergeletak tak sadarkan diri di bawah pohon Oak di dekat perbatasan portal utara Fairyverse. Sepasang peri itu mengamati Chiara dengan penuh selidik."Sayang, aku rasa dia bukan sebangsa peri," bisik peri perempuan berwajah pucat rupawan pada peri laki-laki yang ada di sebelahnya. Peri perempuan itu adalah Ella. Sementara peri laki-laki yang berdiri di sampingnya merupakan suaminya yang bernama Ailfryd. Sepasang suami istri peri itu adalah pemilik kebun buah di Fairyfarm yang terletak tak jauh dari perbatasan Portal Utara."Apa maksudmu, Sayangku?" tanya Ailfryd. Peri laki-laki itu mengernyit. Raut kebingungan terpampang jelas pada wajah rupawannya. Perkataan sang istri benar-benar mengusiknya. Jika sosok yang mereka temukan bukanlah sebangsa peri berarti bisa saja sosok itu adalah makhluk yang berbahaya. Ailfryd menarik tangan istrinya yang terulur hendak menyentuh sosok itu.Ella terkesiap. "Jangan, Sayang! bagaimana kalau makhluk itu ternyata berbahaya?!" seru Ailfryd panik."Aku harus memastikannya, Ailfryd!" Ella melotot ke arah sang suami seraya melepaskan tangannya dari genggaman peri laki-laki itu. "Bagaimana aku bisa tahu dia makhluk apa kalau aku tidak menyentuhnya. Yang jelas, dia tidak memiliki telinga yang runcing seperti kita. Lagi pula dia sedang tak sadarkan diri, sayangku. Dia tidak mungkin membahayakan kita."Ailfryd mendengkus, akhirnya dengan enggan ia membiarkan Ella melakukan apa yang semestinya dilakukan. Ella adalah keturunan peri penyembuh, meskipun ia tidak pernah menunjukan kemampuan penyembuhannya di depan banyak orang. Ella yang telah ia nikahi selama ratusan tahun itu juga memiliki kemampuan sihir yang luar biasa.Ella mengulurkan tangannya perlahan lalu menyentuhkan jari tejunjuknya pada kening Chiara. Cahaya hijau seketika berpendar pada kening gadis. Ekspresi Ella yang awalnya biasa saja, berubah menjadi keruh. Ia menarik jarinya dari kening gadis itu lalu meraih tubuh itu ke atas pangkuannya. Ia mendekatkan telinganya pada dada gadis itu, berusaha mencari tarikan napasnya. Setelahnya, ia juga memeriksa pergelangan tangan makhluk itu untuk mencari denyutnya.Ailfryd yang sedari tadi hanya mengamati apa yang dilakukan istrinya, kini ikut duduk bersimpuh di dekat Ella. Ailfryd dapat merasakan kekhawatiran dari sikap dan ekspresi sang istri."Ada apa, Sayang?" tanyanya cemas dengan alisnya bertaut."Ailfryd, gadis ini adalah manusia ... dia telah terkena sihir hitam unsheelie," ungkap Ella dengan suara tertahan. Ada kengerian lain yang masih belum bisa ia sampaikan pada sang suami. Ella tampak sedang menimbang sesuatu. Di satu sisi ia sangat ingin menyelamatkan gadis itu, tetapi di sisi lain sebuah keraguan terselip di hatinya. Terlebih saat ia mengetahui jika yang memberikan sihir pada gadis manusia itu bukanlah peri unsheelie biasa."Jadi apa yang akan kita lakukan, Sayang?" Ailfryd bertanya dengan hati-hati.Ella menatap suaminya lekat-lekat. "Kita harus menolongnya, Sayang. Aku tahu ini akan sangat sulit. Bisa saja kelak kita akan berhadapan dengan peri unsheelie yang sangat berbahaya. Tapi gadis ini ... sesosok makhluk bahkan telah menghapus seluruh ingatannya." Suara Ella bergetar menahan emosi yang membuncah di dalam dadanya. Entah mengapa peri perempuan itu merasa sangat iba pada makhluk asing di pangkuannya. Gadis manusia itu mengingatkannya pada Celeste, anaknya yang telah lama meninggal.Ailfryd mengembuskan napas panjang seraya membalas tatapan sang istri. Ia sangat memahami mengapa Ella ingin menyelamatkan gadis manusia itu. Gadis itu mirip dengan Celeste, warna kulitnya juga surai panjangnya yang sewarna emas.Peri laki-laki itu menggenggam tangan istrinya menyerahkan dan mendukung seluruh keputusan peri perempuan itu.Ella seolah mengerti dan untuk beberapa saat kemudian mereka saling bersitatap saling menguatkan. "Mari kita bawa dia ke rumah, Sayang."Seulas senyum terbit di wajah Ella. Senyum yang selalu membuat Ailfryd jatuh hati pada peri perempuan itu setiap hari selama ratusan tahun. Hati peri perempuan itu menghangat seketika. Para leluhur peri sepertinya ingin agar Ella merasakan kebahagiaan serupa lagi, kebahagiaan saat ia memeluk Celeste dalam dekapannya. Peri penyembuh itu telah memutuskan, apapun yang akan ia hadapi kedepannya, ia tidak perduli selama Alifryd berada di sisinya.Ella memandang lekat wajah gadis manusia yang tengah tak sadarkan diri itu. Surai panjangnya yang keemasan sama persis dengan surai Celeste. Kulit wajah gadis itu sebening milik putrinya dengan bintik-bintik kemerahan samar bertakhta di kedua pipi yang merona. Peri perempuan itu membayangkan netra hijau terpampang saat kelopak mata gadis itu terbuka. Ia menyadari bahwa sekilas gadis itu memang serupa bangsa peri, kecuali telinganya.Ella menimbang sesuatu. "Tidak boleh ada peri lain yang tahu kalau dia adalah manusia," putusnya.Ella kemudian menjentikkan jarinya, netranya melebar. Sebilah tongkat kecil berwarna hitam kemudian muncul secara ajaib dalam genggamannya. Tongkat itu memiliki bola kristal berwarna hijau zamrud yang bertakhta di atasnya. Peri perempuan itu mulai merapalkan mantra, sementara bola kristal pada tongkat sihirnya mulai berpendar mengeluarkan cahaya. Ia mengarahkan tongkat sihir itu pada gadis manusia di pangkuannya. Garis-garis cahaya kehijauan memancar ke arah Chiara mengeluarkan serbuk-serbuk peri dari bola kristalnya.Sepasang telinga lancip serupa telinga para peri terbentuk melalui cahaya kehijauan yang menyapu wajah gadis manusia itu. Kemudian percikan cahaya lainnya menyelubungi seluruh tubuh Chiara untuk beberapa saat sebelum akhirnya menghilang. Ella telah selesai membacakan mantra dan tongkat sihirnya telah menghilang dengan sendirinya."Nah, sekarang ia sudah terlihat seperti peri," gumamnya sambil tersenyum.* * *"Ammara..."Gadis itu menggeliat di atas dipan, merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Ia meluruskan kakinya dan terdengar bunyi gemeretak. Entah berapa lama ia tak sadarkan diri, gadis itu tak dapat mengingatnya dengan pasti. Setelah puas menggeliat dan merenggangkan otot-otot tubuhnya, gadis itu membuka matanya perlahan. Cahaya terang yang masuk dari jendela tampak menyorot dan menyilaukan matanya. Ia mengerjapkan matanya beberapa saat sebelum akhirnya membuka kelopak matanya dengan sempurna."Kau sudah siuman, Ammara ?" Seorang perempuan dengan wajah rupawan yang keibuan menyapanya sambil tersenyum.Gadis yang dipanggil Ammara itu mengamati perempuan yang menyapanya. Dahinya mengerut berpikir keras untuk mengingat-ingat wajah itu dalam memorinya. Namun, nihil."Ella, beri dia sedikit waktu. Dia baru saja siuman, Sayang," ucap Ailfryd yang muncul di samping perempuan itu. Peri laki-laki itu merangkul Ella sambil menyorot gadis yang baru saja siuman itu dengan simpati."Apa kau tidak mengingatku Ammara?" Kedua netra Ella berkaca-kaca. Ella menggigit bibir bawahnya seolah menahan tangis. Ia menyandarkan kepalanya di bahu lelaki yang merangkulnya."Maafkan aku," sahut gadis yang yang dipanggil Ammara itu dengan suara serak, "Aku sama sekali tidak mengingatmu."Ella mulai terisak lalu menutup wajahnya dengan kedua tangan. Anak-anak rambut yang menyembul dari sekitar telinganya, sedikit basah terkena air mata.Ammara merasa bersalah atas jawabannya, Namun ia benar-benar tak mengingat perempuan dan laki-laki itu sama sekali. Ia tak mmapu mengingat apapun. Ia bahkan tak mengingat namanya sendiri. "Bantu aku mengingatmu ... bantu aku mengingat semuanya," cetus Ammara lirih. Ia berusaha sekuat tenaga menelan emosi dan tangisnya yang mulai melesak di tenggorokannya.Ella membuka tangan yang wajahnya. Bekas air mata yang menggenang di kedua pipinya tak mampu memudarkan kecantikan parasnya. Seulas senyum tipis seketika tersungging di bibir merahnya, "Aku ibumu, Sayang. Kau adalah Ammara... kami adalah orang tuamu," sahut Ella sambil menyedot ingusnya. "Aku Ella... dan dia adalah ayahmu Ailfryd."Lelaki tampan berbadan besar yang bernama Ailfryd itu tampak tersenyum ramah pada Ammara sambil mengangguk. "Kau tertidur selama seminggu penuh, Nak. Ibumu terus-terusan merasa khawatir. Ia takut kalau kau tidak bangun lagi." Ailfryd berkata dengan suara bas-nya yang dalam."Apa? Seminggu? Apa yang terjadi padaku?" tanya Ammara dengan gusar. Ia memegangi kepalanya yang mendadak terasa pusing."Iya, Sayang. Kau terjatuh saat menunggang unicornmu. Kepalamu membentur tanah dengan keras hinggs kau tak sadarkan diri selama seminggu," sahut Ella dengan wajah khawatir. Ia duduk di samping tempat tidur Ammara dan merangkul gadis itu."Unicorn?!" Ammara mengernyit kebingungan. Ia memang tidak mengingat apapun, tapi menunggang unicorn adalah hal yang benar-benar asing baginya. Ia merasa semuanya sangat aneh dan tidak masuk akal sekarang.Dengan panik, gadis bersurai keemasan itu melihat kesekelilingnya. Ia baru menyadari bahwa ia juga berada di sebuah ruangan yang sangat asing. Ruangan itu memang seperti kamar, kamar yang terbuat dari batang pohon yang dijalin dengan rapat. Kamar itu tidak memiliki perabot yang banyak, hanya sebuah dipan tempatnya kini berbaring, sebuah lemari kayu,dan sebuah tanaman bunga yang menjulang dengan kelopak bunga besar dan berwarna cerah. Tepat di depan dipan, terdapat sebuah jendela kecil tanpa kaca yang menghadap ke taman bunga. Bagi Ammara, seluruh pemandangan ini tampak aneh dan tidak biasa.Ella menggenggam tangan Ammara untuk menenangkannya. "Ini rumahmu, Nak. Rumah kita di Fairyfarm. Kami akan membantumu mengingat semuanya, perlahan-lahan. Tidak perlu tergesa-gesa. Kita masih punya banyak waktu," ucapnya lirih di telinga Ammara."Fairyfarm?!""Ya, Ammara, kita ada di Fairyfarm, bagian dari kerajaan Avery," Ella kembali menjelaskan.Ammara merasakan pusing luar biasa seketika menyengat kepalanya saat ia mendengar semua informasi asing dari Ella tersebut. Tiba-tiba kepalanya bagaikan dihantam sebuah palu besar. Pandangannya kembali berkunang-kunang. Tak lama kemudian ia terkulai tak sadarkan diri.
Blood Moon
1 Maret 1866, Cottingley, pinggiran Kota Bradford, West Yorkshire, Inggris (Dunia Manusia).Chiara Wyatt membuka pintu belakang rumahnya sambil membawa sebuah mangkuk berisi susu segar. Seperti biasa, ia hendak memberikan susu segar untuk anjing golden retriever kesayangannya, sebelum mengajak makhluk itu masuk ke dalam rumah."Max!" Chiara berteriak lantang ketika ia tidak menemukan anjingnya di depan pintu. Chiara merasa heran, tidak biasanya Max pergi meninggalkan teras belakang rumahnya pada malam hari. Terlebih Max termasuk anjing yang penakut dan tidak suka berkeliaran di malam hari.Chiara mengedarkan pandangan ke sekeliling pekarangan rumah. Namun, ia tak dapat menemukan Max di sisi pekarangan mana pun. Suasana malam itu tidak terlalu gelap sehingga gadis bersurai keemasan itu dapat melihat dengan jelas pada tiap sudut pekarangan walaupun tanpa penerangan lampu.Chiara menatap langit malam yang tampak lebih terang dari biasanya. Gadis itu tertegun sesaat memperhatikan bulan purnama yang tampak sedikit berbeda dari biasanya. Bulan purnama itu tampak lebih besar dan berwarna kemerahan. Blood moon, batin Chiara.Ia mengingat-ingat informasi yang ia baca di koran tadi pagi bahwa malam ini akan terjadi fenomena langka yang disebut blood moon. Netra hijaunya membelalak takjub. Jadi inilah blood moon . Chiara benar-benar terpesona menatap keindahan purnama berwarna merah itu hingga ia nyaris lupa untuk mencari Max.Chiara meletakkan mangkuk susunya di depan pintu berharap saat Max kembali, anjing itu bisa langsung meminumnya. Sementara, ia mulai berjalan menyusuri pekarangan belakang rumahnya yang terhubung dengan pekarangan rumah tuan Parker. Ia pernah memergoki Max bermain-main ke tempat itu untuk mengejar kunang-kunang yang sesekali muncul di sana pada suatu malam musim panas. Asumsi itulah yang mengarahkan Chiara untuk mencarinya ke sana."Max!" Teriak Chiara lantang.Nihil. Ia juga tidak menemukan keberadaan Max di sana.Udara malam semakin terasa menusuk kulit Chiara. Gadis itu mengeratkan sweaterny a ke tubuh untuk mendapat sedikit kehangatan.Ia terus melangkah dalam keremangan cahaya di pekarangan rumah Tuan Parker. Tempat itu tampak sepi. Si empunya rumah barangkali telah terlelap atau Tuan Parker sedang tidak di rumah karena tak ada satu lampu pun yang menyala di sana. Penerangan satu-satunya yang membantu Chiara melihat ke seluruh penjuru pekarangan hanya berasal dari purnama merah yang sedang bertakhta di langit.Netra Chiara terpaku pada salah satu sisi pekarangan rumah tuan Parker yang berbatasan langsung dengan hutan. Pagar kayu berwarna putih kusam dengan beberapa bagiannya tampak terkelupas membatasi pekarangan dan hutan. Beberapa bagian pagar kayu itu terlihat telah rusak dan patah hingga membuat celah yang dapat dilewati hewan seperti kucing atau anjing.Entah apa yang menggerakkan gadis itu hingga ia mendekati celah pagar kayu tersebut. Chiara berasumsi bisa jadi Max melewati pagar itu lalu masuk ke dalam hutan. Pandangan gadis itu kini teralih pada pemandangan hutan yang lumayan gelap.Chiara menghela napas. Baiklah, barangkali ia akan mencoba peruntungannya. Rencananya adalah ia akan masuk tidak begitu jauh ke dalam hutan untuk mencari Max, siapa tahu anjing itu ada di sana. Jika ia tidak menemukannya, Chiara berjanji dalam hati bahwa ia akan segera kembali ke rumah.Dengan hati-hati, Chiara pun akhirnya melewati celah pada pagar kayu rusak itu setelah menyingkirkan sebilah kayu rapuh yang melintang di depan celah pagar. Setelah melewati pagar itu, ia mempercepat langkah menuju hutan berharap dapat segera menemukan Max."Max!" Chiara berteriak memecah keheningan hutan. Gadis itu memelankan langkahnya saat telah memasuki hutan seraya mengedarkan pandangan ke sekeliling untuk mencari sosok Max. Lagi-lagi cahaya purnama merah membantunya melihat setiap sudut hutan yang ia lalui.Setelah beberapa saat lamanya berjalan menyisir hutan, rasa takut dan khawatir perlahan-lahan mulai menyusup dalam benak Chiara. Bagaimana jika ternyata golden retriever -nya ternyata tidak pernah memasuki tempat itu. Ia mulai merutuki kecerobohannya karena telah masuk ke dalam hutan tanpa berpikir panjang. Seumur hidupnya yang baru enam belas tahun, bahkan di siang hari sekali pun, Chiara tak pernah menjejakkan kakinya di sana.Gadis itu menggigil. Udara hutan mulai terasa semakin dingin. Ia bahkan dapat melihat uap napas yang mengepul dari mulutnya dalam temaram cahaya. Ia mulai menyesali keputusannya untuk mencari Max. Gadis itu ingin segera kembali ke rumah dan membayangkan dirinya bergelung dalam selimut hangat di kamar. Lagi pula, neneknya pasti sangat khawatir jika tahu Chiara tidak ada di rumah sekarang. Namun, di sisi lain Chiara bimbang. Bagaimana jika Max ada di suatu tempat di hutan itu dan anjing kesayangannya itu barangkali sedang terperangkap pada sebuah jebakan yang biasa dipasang pemburu untuk menjebak binatang buas. Ia tentu tak akan mengabaikannya begitu saja.Chiara menggelengkan kepalanya berusaha mengenyahkan pikiran-pikiran buruk itu. Dengan gigi-geligi yang gemeletak menahan dingin, ia melangkah semakin dalam masuk ke hutan. Suara langkah kakinya yang beradu dengan daun-daun kering memecah keheningan hutan.Tiba-tiba dari kedalaman hutan terdengar suara lolongan anjing. Chiara menajamkan telinganya untuk mengenali suara yang terdengar sayup-sayup. Rasanya suara lolongan itu terdengar familiar. Ia tidak mungkin salah. Itu adalah suara lolongan Max saat bertemu orang atau sesuatu yang asing.Chiara mempercepat langkah, setengah berlari menuju ke asal suara tersebut. Suara itu semakin lama semakin jelas. Jantung gadis itu berpacu kencang dan napasnya memburu. Sesekali kakinya terperosok pada tanah hutan yang bergelombang, tetapi segera ia bangkit lagi demi mendapati Max.Namun, beberapa saat kemudian, suara lolongan itu mendadak berhenti. Hutan kembali hening.Di bawah temaram sinar bulan purnama merah, Chiara berlari sekuat tenaga dengan dada bergemuruh panik saat lolongan penunjuk arah itu berhenti. Gadis itu bahkan sempat terjatuh beberapa kali karena tersandung akar-akar pohon besar yang menjalar di permukaan tanah. Piyama tidurnya berantakan, penuh noda tanah dan dedaunan kering yang menempel. Namun, ia tak peduli, ia hanya ingin segera bertemu dengan Max dan membawanya pulang.Setelah berlari sekian lama, langkah Chiara akhirnya berhenti di depan sebuah mulut gua yang dipenuhi oleh tanaman merambat yang sangat lebat. Tampaknya tidak pernah ada yang melewati mulut gua itu.Chiara mengernyit bingung dan dengan panik ia melihat ke sekelilingnya. Ternyata tanpa disadari, ia sudah berada di dalam hutan yang sangat lebat. Gadis itu bahkan rasanya telah lupa jalan pulang.Chiara mencoba mengatur napas yang memburu. Wajahnya memerah karena kelelahan. Pelipisnya dibanjiri keringat. Rambut pirangnya yang panjang berantakan, dipenuhi potongan dedaunan dan ranting yang tanpa sadar menempel di beberapa bagian kepalanya saat ia berlari.Gadis itu terduduk lesu di atas akar pohon yang tepat berada di depan mulut gua. Tak ada tanda-tanda keberadaan Max di tempat itu. Ia kelelahan dan mulai merasa putus asa. Chiara benar-benar tak sanggup lagi berpikir jernih. Suara lolongan yang ia kira Max tadi ternyata malah membuatnya tersesat jauh ke dalam hutan.Di tengah-tengah kegundahannya, tiba-tiba terdengar suara gonggongan pelan Max yang entah berasal dari mana. Suara itu terdengar sangat dekat, tetapi teredam oleh sesuatu. Chiara mengedarkan pandangannya pada kegelapan hutan. Ia sama sekali belum dapat menangkap keberadaan Max."Max, kau kah itu?" tanya Chiara dengan suara lirih. Tubuhnya menggigil dan sepasang tungkainya terasa lemas. Namun, suara Max barusan mampu memberinya sedikit kekuatan dan harapan.Suara Max terdengar lagi. Kali ini gonggongannya terdengar lirih dan penuh harap. Gadis itu yakin jika suara Max berasal dari suatu tempat di sekitarnya.Chiara bangkit dari duduknya perlahan-lahan. Pandangannya sekali lagi menyisir sisi hutan yang terkena temaram cahaya purnama merah.Lagi-lagi Max menggonggong. Jantung gadis itu seketika berdegup kencang. Chiara mendekat ke arah mulut gua membiarkan telinganya menjadi penuntun pencarian. Dengan bantuan cahaya bulan, dari sela-sela tanaman merambat yang lebat pada mulut gua, Chiara samar-samar melihat sosok Max yang bergerak gusar.Seseorang, entah bagaimana caranya, telah menempatkan anjing malang itu di dalam sana. Ia yakin, tidak mungkin Max bisa masuk ke dalam tempat itu tanpa merusak tanaman merambat di depan mulut gua, kecuali gua itu punya pintu masuk lain di sekitarnya. Namun, agaknya asumsi Chiara yang terakhir itu tidak masuk akal. Sejauh mata memandang, gadis itu tidak dapat menemukan jalan lain di sekitar gua, selain dinding batu yang besar dan sangat tinggi. Ia hampir tidak dapat melihat seberapa tinggi gua batu tersebut."Max, bertahanlah. Aku akan mengeluarkanmu dari situ," ucap Chiara pelan. Ia mencari sesuatu yang tajam dan keras di sekitarnya untuk mencabut rerimbunan tanaman merambat yang menutupi mulut gua dengan panik. Nihil. Ia tak dapat menemukannya. Akhirnya, Chiara mencoba mencabut tanaman merambat itu dengan tangannya. Dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya, Chiara mencengkeram kuat pada sebuah akar tanaman merambat yang terlihat paling mudah untuk dicabut, kemudian ia menariknya sekuat tenaga. Gagal. Ia harus mencobanya lagi. Kali ini ia menariknya lebih kuat dan cepat.Usahanya kali ini berhasil. Seuntai tanaman merambat yang sangat panjang berhasil terlepas. Sedikit celah pada mulut gua mulai terbuka.Max mengeluarkan moncongnya, mengendus ke arah celah gua yang terbuka. Demi melihat itu, Chiara mendekatkan wajahnya pada Max sambil bergumam lirih, "Max, syukurlah kau tidak apa-apa."Chiara mengulurkan tangannya masuk ke dalam celah yang terbuka. Ia hendak mengelus punggung Max. Namun, di luar dugaan, sesuatu dari kegelapan di dalam gua menarik tangannya dengan sangat keras. Tubuh gadis itu terperosok masuk ke dalam celah hingga merusak sebagian besar tanaman merambat yang menutupi mulut gua. Tubuh Chiara menghilang seketika.* * *Sesosok peri perempuan berdiri di tengah-tengah kegelapan Hutan Larangan di Fairyverse. Dia merentangkan lengannya sambil menengadah ke langit. Surai hitamnya yang tergerai berkibar tertiup angin. Iris matanya yang berwarna ungu menatap ke arah seekor burung rajawali yang baru saja datang mendekat lalu bertengger di salah satu tangannya yang terentang. Ia menyunggingkan seulas senyum miring yang menyiratkan kelicikan. Dialah Minerva, peri penyihir terkuat dari kaum unsheelie."Terima kasih telah membantunya masuk ke tempat ini, Lucifer," tuturnya pada burung rajawali yang sedang bertengger di tangannya.Sedetik kemudian, burung itu segera beranjak dari lengannya melesat terbang menembus awan, lalu menukik kembali tepat di hadapan Minerva sebelum berubah menjadi wujud aslinya. Asap hitam seketika mengepul saat burung rajawali itu hampir menyentuh permukaan tanah. Sosok rajawali itu menghilang dalam gumpalan asap yang dalam sekejap berubah menjadi sesosok makhluk dengan wujud mengerikan. Matanya merah, dengan wajah hijau penuh kutil. Dia adalah peri dari klan Fir Darrig. Salah satu klan peri dengan rupa terburuk yang memiliki keahlian berubah wujud menjadi apapun.Makhluk itu menyeringai dan mengangguk takzim pada Minerva. "Dia berhasil membuka segel portal Utara itu tanpa kesulitan berarti, Minerva. Dia pasti istimewa," sahut Lucifer dengan suaranya yang parau. Ia bermaksud merendahkan diri di hadapan Minerva. Namun, tentu peri perempuan itu langsung mencibirnya tidak senang."Tidak ada manusia yang istimewa, Lucifer. Bangsa perilah yang istimewa. Gadis itu hanya mengikuti takdirnya," ucap peri cantik itu dengan tatapan dingin.Lucifer membeku. Ia tak menyangka akan mendapat tanggapan seperti itu dari Minerva, sang ratu kegelapan. Ia hanya dapat mengangguk takzim, tak berani membantah Minerva. Terlebih lagi peri buruk rupa itu telah menyadari kesalahannya karena memuji makhluk lain di hadapan sang ratu. Ia menundukkan kepalanya, tak berani melihat ekspresi ketidaksukaan Minerva. Ia hanya menunggu Minerva menitahkan sesuatu terkait dengan misi yang telah ia kerjakan.Hening menyergap mereka. Minerva menerawang memikirkan sesuatu. Sebelum akhirnya ia bergumam, "Mari kita lihat apa yang bisa aku lakukan pada gadis manusia itu. Kita harus cepat. Sebelum tabir sihirku di portal utara melemah."Minerva mengibaskan jubah hitamnya hingga menutup seluruh wajah dan tubuhnya lalu menghilang dan menyatu dalam gelapnya Hutan Larangan. Lucifer langsung dapat menerka ke mana ratunya pergi. Makhluk itu juga langsung mengubah wujudnya kembali menjadi rajawali dan terbang tinggi menuju ke portal utara Fairyverse.***Di bawah cahaya bulan purnama, seorang gadis tergeletak di bawah sebatang pohon oak tua yang besar. Akar-akarnya yang mencuat di permukaan tanah menjadi penyangga tubuh gadis yang tak sadarkan diri itu. Di sampingnya, seekor anjing golden retriever tampak sedang mengendus-endus tubuh si gadis sambil menggonggong lirih. Makhluk itu seolah sedang berusaha membangunkannya.Di atasnya, beberapa peri pixie Kerajaan Avery terbang berputar lalu bertengger pada dahan-dahan pohon Oak. Mereka sedang berpatroli menjaga perbatasan portal utara. Namun, anehnya tak satu pun dari para pixie kerajaan Avery itu yang menyadari keberadaan gadis yang tergeletak di bawah pohon Oak. Gadis itu dan anjing di sebelahnya seolah tak terlihat. Minerva dengan liciknya telah menyulubungi mereka dengan tabir sihir tak kasat mata sehingga tak satu pun peri di sana menyadari keberadaannya.Tiba-tiba seberkas cahaya ungu berpendar ke arah portal utara, tertiup bersama embusan angin. Cahaya ungu yang berpendar itu kemudian memecah menjadi bola-bola cahaya yang mendekati masing-masing pixie kerajaan Avery yang tengah berjaga. Para pixie yang terserang cahaya ungu itu lantas berjatuhan tak sadarkan diri ke tanah.Bersamaan dengan angin yang tiba-tiba berembus kencang membawa pendar cahaya ungu lain menuju Portal Utara, sosok Minerva seketika muncul. Ia melangkah perlahan mendekati gadis manusia yang tak sadarkan diri itu. Seulas senyum licik menghiasi wajah sang ratu kegelapan."Kemarilah makhluk berbulu yang menggemaskan. Aku akan menjagamu di sini," bisik Minerva pada anjing berbulu keemasan. Peri perempuan itu membungkuk dengan sebelah tangan meraih makhluk berbulu coklat keemasan. Ia tahu bahwa anjing itu adalah milik si gadis manusia. Lucifer telah menggunakannya untuk memancing gadis manusia malang itu menuju portal Fairyverse.Minerva mengusap kepala si anjing pelan. Serta merta, anjing itu menurut dan berpindah ke sisinya. "Huh, dasar makhluk fana! Umurmu tak begitu lama. Namun, karena tuanmu akan membantuku, aku akan membuatmu abadi!" gumamnya seraya mengusap sekilas pada wajah makhluk itu, cahaya keunguan berpendar sesaat dari telapak tangannya.Lucifer muncul di dekat Minerva beberapa saat kemudian, menatap gadis manusia yang sedang tergeletak tak sadarkan diri. Ia masih tidak begitu paham apa yang sedang direncanakan ratunya. Namun, apapun itu, ia akan selalu berada di pihaknya.Minerva mengulurkan tangan menyentuhkan telunjuknya pada kening si gadis manusia. Bibir merahnya bergerak-gerak merapalkan mantra dalam suara lirih. Manik mata Minerva yang berwarna ungu mendadak menghilang. Matanya memutih. Sementara, kening gadis malang itu tampak memancarkan cahaya ungu.Lucifer menahan napasnya saat menyaksikan peristiwa itu. Dari ekspresi kejam Minerva, ia yakin bahwa sang ratu kegelapan sedang melakukan hal yang mengerikan kepada si gadis manusia."Chiara Wyatt ..." gumam Minerva saat ia selesai merapalkan mantra. Ia menoleh ke arah Lucifer lalu berkata, "Aku akan menyimpan ingatannya di Hutan Larangan. Kau harus memastikan ingatannya tetap aman di sana. Begitu juga dengan makhluk berbulu ini. Gadis ini harus menyelesaikan misinya terlebih dahulu sebelum mendapatkan ingatan dan anjingnya kembali!"Lucifer mengangguk takzim. Ia siap melaksanakan apapun yang dititahkan Minerva.Sebelum meninggalkan gadis itu sendiri, Minerva mengalungkan sebuah liontin bermata zamrud pada lehernya. Liontin bermata zamrud itu berpendar dengan cahaya keunguan untuk beberapa saat. Dalam sepersekian detik, pendarnya menghilang dan mata kalung itu tampak seperti liontin biasa.Minerva dan Lucifer pergi dalam desiran angin kehitaman yang melesat cepat menuju Hutan Larangan, meninggalkan Chiara dan para pixie kerajaan yang tak sadarkan diri. Portal utara tampak lengang. Tabir sihir Minerva telah menguap dalam terang bulan purnama kekuningan di Fairyverse.
Ramalan Maurelle
Maurelle berjalan tergesa menuju tribune singgasana Raja Brian. Wajahnya pias. Ketakutan membayang jelas di kedua netra cokelat terangnya. Peri laki-laki itu tahu jika kedatangannya saat ini sungguh sangat tidak tepat. Terlebih saat itu raja dan segenap rakyatnya tengah bersukacita merayakan pesta penobatan putra mahkota Kerajaan Avery. Namun, ia tak dapat menyimpan penglihatannya akan masa depan lebih lama lagi. Nyaris tiap malam peri cenayang itu dihantui oleh potongan-potongan kejadian masa depan sebagai pertanda jika sebuah ramalan harus segera diterima batinnya. Tidak. Apalagi ramalan itu berkaitan dengan masa depan Kerajaan Avery.Jubah hitam Maurelle berkibar dan sesekali menyapu permukaan lantai marmer yang berkilat memantulkan cahaya-cahaya dari kelopak bunga dan kunang-kunang yang menerangi istana. Tangan kanannya memegang tongkat sihir dengan batu berwarna putih bercahaya bertakhta di puncaknya.Peri cenayang itu meneguk ludahnya kasar saat netranya dengan lancang beradu dengan netra sang raja. Raja Brian yang sebelumnya sedang berbincang hangat dengan sang ratu yang duduk di sisinya sontak mengalihkan pandang. Dari kejauhan, Maurelle dapat melihat perubahan raut wajah Raja Brian ketika melihatnya berjalan mendekat. Di samping sang raja, Ratu Serenity pun seolah dapat mengendus kegusaran Maurelle yang menular pada sang suami."Ada apa, Maurelle?" Raja Brian langsung berdiri dari singgasananya begitu peri cenayang itu menghaturkan hormat dengan membungkuk dalam dan takzim.Maurelle kembali menegakkan tubuhnya. Iris mata cokelatnya menyorot sekilas pada Raja Brian lalu menunduk seraya menggigit bibir bawahnya. Peri laki-laki itu sempat diserang ragu saat hendak menyampaikan tujuannya. Ia mengembuskan napas panjang sebelum akhirnya membuka suara. "Maafkan hamba, Yang Mulia, hamba ingin menyampaikan sesuatu. Batu sihir di tongkat hamba tidak berhenti bercahaya. Sepertinya akan ada penglihatan yang akan hamba terima terkait dengan kerajaan Avery," ucapnya hati-hati.Raut wajah Raja Brian menegang seketika. Raja peri itu mengerling sekilas ke tribune di sebelah kanan dan kiri secara bergantian, di mana para pangeran, putri serta keluarga kerajaan lainnya berada. Mereka tengah asyik menikmati pesta. Namun, beberapa pasang mata terlihat menyoroti kedatangan Maurelle dengan kegusaran yang terlalu kentara. Lambat laun keriuhan pesta mereda, menyisakan bisik-bisik dalam suara rendah di tribune keluarga kerajaan dan sayup-sayup nyanyian siren pada kolam air di atas panggung hiburan.Raja Brian menimbang beberapa saat sebelum akhirnya menyilakan Maurelle menyampaikan penglihatannya.Maurelle mengangguk takzim. Peri laki-laki itu menundukkan kepala seraya menutup kelopak matanya. Beberapa saat kemudian, peri cenayang itu menengadah lalu membuka kembali kelopak matanya. Manik mata sang peri cenayang memutih. Bola Kristal yang bertakhta pada puncak tongkat sihir Maurelle memancarkan cahaya putih yang berkedip-kedip. Hal itu berlangsung selama beberapa detik, sebelum akhirnya manik mata Maurelle kembali seperti semula.Peri cenayang itu mendadak pucat pasi. Jantungnya berdebar kencang, sementara napasnya memburu. Kedua lengannya terkepal. Maurelle menggerak-gerakan mulutnya dengan panik. Kerongkongannya seolah tercekat. "Seorang manusia akan datang, Yang Mulia! Dia akan masuk melalui portal yang akan terbuka saat bulan purnama merah terjadi di dunia manusia ....""Seorang manusia katamu? Lantas apa yang membuatmu khawatir, Maurelle?" Raja Brian mengerutkan keningnya mencoba mencerna apa yang disampaikan sang cenayang."Menurut roh masa depan, manusia itu datang dan akan merusak tatanan di dunia peri, Yang Mulia," ucap Maurelle. Suara peri laki-laki itu bergetar.Ketika mendengar ramalan Maurelle, Raja Brian terkesiap. Wajahnya memerah seketika dan sepasang matanya membelalak. Kegusaran membayang jelas di wajahnya. Ramalan sang cenayang telah mengusik hati dan pikirannya hingga ia tak dapat menikmati keramaian pesta lagi.Raja Brian menoleh pada permaisurinya seolah mencari kekuatan. Permaisuri Serenity membalas tatapan suaminya dengan senyuman simpati. Sang raja mengalihkan pandangannya kepada berpasang-pasang mata di tribune kanan dan kiri yang menyorotnya dengan tatapan ingin tahu.Suasana pesta yang hingar-bingar seolah menghilang dari penglihatan dan pendengaran Raja Brian. Perlahan, tetapi pasti kabut kegelisahan menyelimuti hati dan pikirannya. Ia begitu mengkhawatirkan keluarga serta rakyat perinya. Raja Brian lantas kembali mengalihkan pandangan pada Maurelle lalu bertanya dengan suara serak. "Apakah kedatangan manusia itu bisa dicegah, Maurelle?""Ampun Yang Mulia, apapun yang kita lakukan, manusia itu tetap akan datang karena pada saat purnama Merah, segel pada portal-portal menuju Fairyverse akan melemah sehingga makhluk apapun bisa masuk ke dalam Fairyverse dengan mudah. Yang hamba khawatirkan adalah kaum peri unsheelie. Hamba takut mereka memanfaatkan keadaan ini untuk mengusik kerajaan Avery." Maurelle menerangkan dengan hati-hati.Raja Brian mengangguk pelan. Ia mulai memahami situasi yang akan dihadapi kerajaan dan rakyatnya. Raja peri itu berpikir keras."Berarti kita perlu mantra segel yang lebih baik, Maurelle," gumam Raja Brian lebih kepada dirinya sendiri.Maurelle bergeming. Wajahnya tertunduk bimbang. Ia menantikan Raja Brian menitahkan sesuatu atas ramalannya."Kumpulkan para cenayang putih terbaik dari seluruh Fairyverse secepatnya, Maurelle. Kirim para pixie kerajaan untuk berjaga di seluruh portal yang ada di Fairyverse. Siapkan pasukan kesatria elf untuk menjaga wilayah perbatasan Hutan Larangan. Awasi tiap gerak-gerik para unsheelie. Aku yakin manusia itu tidak akan masuk jika segel telah diperbaiki. Yang aku khawatirkan adalah tipu muslihat para unsheelie jika mereka tahu tentang kelemahan Fairyverse saat bulan purnama merah," ucap Raja Brian sambil menerawang.Ia tampak berpikir sejenak. "Aku akan mengutus Pangeran Archibald untuk memata-matai unsheelie.""Pangeran Archibald, Yang Mulia?" Maurelle terkejut mendengar Raja Brian menyebut nama itu. Peri cenayang itu merasa ragu. Pangeran Archibald memang merupakan salah satu pangeran yang paling tangguh dan dapat keluar-masuk Hutan Larangan dengan leluasa. Namun, yang membuat Maurelle heran adalah mengapa raja menugaskan pangeran yang paling pembangkang dan sulit diatur itu untuk menjalankan misi yang penting.Raja Brian mengangguk mantap. "Iya, Maurelle. Dia yang terbaik dan yang paling berpengalaman."Maurelle mengangguk takzim. Itulah keputusan sang raja. "Baik, Yang Mulia. Hamba akan segera laksanakan."Maurelle menunduk hormatsebelum akhirnya mengundurkan diri dari hadapan Raja Brian. Raja Brian punkembali duduk di singgasananya, dengan pikiran yang berkelana jauh menembuslangit malam Fairyverse. Malam itu purnama putih besar menggantung di langitFairyverse. Harusnya purnama yang sama juga menggantung di dunia manusia.Namun, kapan purnama merah itu datang di dunia manusia, tak ada yang bisamengetahuinya, tidak juga para cenayang di dunia peri. Raja Brian mengembuskannapas panjang sambil menggenggam tangan istrinya. Semoga belum t erlambat , bisiknya dalam hati.
Kisah Dang Gedunai
Pada zaman dahulu di Riau, tinggal seorang anak bernama Dang Gedunai. Dia tinggal bersama ibunya. Dang Gedunai adalah seorang anak yang keras kepala. Dia adalah anak satu-satunya, tapi dia tidak pernah bahagia. Suatu hari, Dang Gedunai pergi ke sungai untuk menangkap ikan.“Ibu, aku ingin pergi ke sungai. Aku ingin pergi memancing ”“diluar mendung. Hujan akan segera turun. Kenapa tidak tinggal di rumah saja.Seperti biasa Dang Gedunai mengabaikannya. Dia kemudian pergi ke sungai. Hari mendung ketika ia tiba di sisi sungai. Gerimis pun turun, tapi Dang Gedunai masih sibuk memancing. Kemudian hujan lebat. Dang Gedunai akhirnya menyerah. Namun tepat sebelum ia meninggalkan, ia melihat sesuatu yang bersinar di sungai. Itu telur sangat besar. Dang Gedunai mengambilnya dan kemudian membawa pulang telur itu.“telur apa itu? Di mana kau menemukannya? ”“Di sungai, Ibu.“Hati-hati dengan telur. Ini bukan milikmu. kamu harus mengembalikannya, ”Seperti biasa, Dang Gedunai mengabaikan nasihat ibunya. Ia berencana untuk makan telur meskipun ibunya mengatakan tidak. Di pagi hari, ibunya sudah siap untuk pergi ke sawah. Sekali lagi, ia menyarankan Dang Gedunai untuk mengembalikan telur itu ke sungai. Dang Gedunai tidak mengatakan apa-apa. Ketika ibunya meninggalkan rumah, ia segera merebus telur. Lalu ia memakannya. Itu begitu lezat. Dia sangat kenyang dan tiba-tiba ia tertidur. Dalam tidurnya ia bermimpi. Seekor naga raksasa datang kepadanya.“Dang Gedunai, kamu mencuri telur aku! Untuk hukuman, kamu akan menjadi seekor naga. ”Dang Gedunai bangun dengan ketakutan. Dia merasa sangat haus. Kemudian ibunya pulang.“Apa yang terjadi … apa yang terjadi dengan kamu, Dang Gedunai?“aku tidak tahu, Ibu. Tiba-tiba aku merasa sangat haus ….. ….. Tenggorokanku sangat panas ”Ibunya kemudian memberinya segelas air. Ini tidak cukup. Dia minum segelas, dan kemudian gelas lain sampai tidak ada air yang tersisa di rumah. Tapi itu tidak cukup. Ibunya menyuruhnya pergi kolam. Dang Gedunai minum semua air sampai kolam hingga kering. Tapi itu tidak cukup. Kemudian mereka pergi ke sungai. Sekali lagi itu tidak cukup. Dang Gedunai tau mimpinya akan menjadi kenyataan. Dia akan menjadi seekor naga.Ibu, maafkan aku. …… Aku mengabaikan nasihatmu. aku memakan telur. Itu telur naga. …… Aku akan berubah menjadi seekor naga. aku tidak bisa hidup denganmu lagi. ……… aku akan hidup di laut. …………… Jika kamu melihat gelombang besar di laut, itu berarti aku sedang makan. Tetapi jika gelombang yang tenang, saat itu berarti aku sedang tidur, ”“Dang Gedunai …… Kenapa tidak kau dengarkan aku ………. Semuanya sudah berakhir sekarang. kamu berubah menjadi naga raksasa. Selamat tinggal anakku. ……. Kemudian Dang Gedunai meninggalkan ibunya. Dia menuju laut. Ibunya tidak bisa berbuat apa-apa untuk menghentikannya. Dia hanya menangis.
KISAH PENGERAN SUTA DAN RAJA BAYANG
Pada zaman dahulu, di Kerajaan Indragiri yang berkedudukan di Japura. Kerajaan Indragiri yang di pimpin oleh seorang Raja yang sangat bijaksana dan adil bernama Sultan Hasan. Selama masa pemerintahannya, rakyat hidup dengan damai dan aman. Selain ia seorang Raja yang sangat arif, ia juga mempunyai seorang Putri yang sangat cantik jelita yang bernama Putri Halimah. Kerena kecantikannya terkenal sampai keberbagai negeri.Suatu hari, datanglah seorang Raja yang bernama Raja Bayang. Ia datang ke Kerajaan Indragiri di temani oleh ketiga orang saudaranya yang bernama Raja Hijau, Raja Mestika dan Raja Lahis. Keempat Raja tersebut datang dengan pengawal yang sangat gagah perkasa.Kedatang mereka ke Kerajaan Indragiri membuat kekacauan dan perilakunya sungguh tercela. Tindakan mereka dan pasukkannya yang bertindak semena-mena membuat rakyat sangat ketakutan.Mendengar keempat Raja tersebut membuat kekacauan dan membuat rakyat resah, Raja Sultan Hasan sangat sedih dan gelisah. Ia pun segera memanggil seluruh menterinya untuk bermusyawarah. Raja pun bertanya bagaimana menghadapi Raja Bayang dan pasukannya tersebut. Semua menteri pun sangat kebingungan. Karena mereka sangat tangguh dan sudah terbiasa hidup dalam rimba.Beberapa hari kemudian, Rombongan Raja Bayang di Japura. Raja Hasan sebenarnya sangat marah karena, Raja Bayang dan pasukannya sudah membuat kekacauan. Namun, ia tetap menyambutnya dengan sopan dan tidak menunjukkan kemarahannya.‘’ Raja Bayang! Apa maksud dari kedatanganmu ke Kerajaanku?’’ Tanya Raja Hasan tegas.‘’ Kedatangan ku kesini , tidak lain untuk meminang Putrimu yang sangat cantik!’’ jawab Raja Bayang dengan angkuh.Raja Hasan sangat terkejut mendengar jawaban dari Raja Bayang. Pinangan tersebut langsung di tolak mentah-mentah. Raja Bayang pun sangat marah dengan penolakkan Raja Hasan. Wajahnya pun berubah menjadi merah terbakar.‘’ Hei kau Raja Hasan yang sangat bodoh! kau akan menyesal karena sudah menolak pinanganku!’’ jawab Raja Bayang dan pergi meninggalkan Istana.Suatu hari, Raja Bayang kembali dengan pasukannya. Ia pun membawa persenjataan yang sangat lengkap. Mereka pun segara menyerang Kerajaan Indragiri. Kerajaan Indragiri diporak-porandakan dalam waktu yang sangat singkat. Raja Hasan pun mengerahkan seluruh pasukkannya untuk melawan pasukkan dari Raja Bayang. Namun, mereka tidak mampu menandingi pasukan Raja Bayang yang sangat kuat. Akhirnya, Raja Hasan dan pasukkannya terpaksa meninggalkan Japura. Dan berembunyi ketempat yang aman bernama Gaung.Dalam persembunyianya tersebut, Raja Hasan dan menteri serta para pasukkanya yang masih selamat berkumpul dan bermusyawarah untuk merebut kembali Kerajaan Indragiri dari tangan Raja Bayang.‘’ Baginda! Prajurit banyak sekali yang tewas di tengah pertarungan. Pasukkan kita semakin sedikit.’’ Kata seorang Menteri yang menghampiri Raja.‘’ Kau benar, banyak Prajurit tewas dalam pertempuran! Apa yang haru kita lakukan sekarang?’’ Tanya Raja gelisah.‘’ Baginda, Hamba pernah mendengar, ada seorang Pangeran yang sangat baik budi pekertinya dan kemampuannya sangat tidak di ragukan lagi dalam medan pertempuran.’’ Jelas seorang menteri.‘’ Siapa nama Pangeran tersebut?’’ Tanya Raja Hasan dengan penasaran.‘’ Kami tidak tahu persis siapa namanya. Namun, kami mendengar orang-orang menyebutnya Pangeran Suta.’’ Jawan Menteri tersebut.Setelah berunding. Akhirnya, mereka sepakat untuk mencari Pangeran Suta. Keesokan harinya. Raja mengutus Datuk Tumenggung, ia pun segera berangkat dengan sebuah kapal kecil. Berhari-hari berlayar. Akhirnya, Datuk Tumenggung sampai di perairan Jambi. Ia pun menanyakan keberadaan Pangeran Suta. Ia pun mendapat informasi bahwa Pangeran Suta berada di Selat Malaka.Datuk Tumenggung berkeliling setibanya di Selat Malaka untuk mencari Pangeran Suta. Suatu hari, ia pun berhasil menemukan Pangeran Suta. Datuk Tumenggung pun langsung menceritakan kesulitan yang di hadapi Kerajaan Indragiri. Setelah menjelaskan panjang lebar. Akhirnya, Pangeran Suta bersedia untuk membantu Kerajaan Indragiri. Mereka pun akhirnya berangkat ke Gaung.Mereka pun akhirnya sampai di Gaung. Kedatangan Pangeran Suta, di sambut dengan baik oleh Raja Hasan. Keesokan harinya, Pangeran Suta mulai menyiapkan alat-alat untuk berperang. Ia pun melatih Prajurit Indragiri. Pada awalnya Raja Hasan beserta pasukkanya berkecil hati untuk menerima kekalahan. Namun, kedatangan Pangeran Suta membuat mereka kembali bersemangat.Suatu hari, setelah semua pasukkan siap untuk berperang. Mereka kembali ke Japura untuk melawan Raja Bayang.Pertempuran pun terjadi. Pertempuran berlangsung sampai berhari-hari. Kedua Kerajaan sama-sama kuat. Namun, Pasukkan Raja Bayang mulai kewalahan. Banyak pasukannya yang tewas dan luka-luka. Akhirnya, Raja Banyang dan ketiga saudaranya memutuskan untuk bersembunyi kedalam hutan yang lebat. Namun, pangeran Suta tetap memerintahkan pasukannya untuk menejar mereka.Melihat pasukan dari Raja Hasan terus mengejar. Mereka terus di buru Pangeran Suta. Akhirnya, mereka kehilangan tenaga. Mereka pun terluka semakin parah.Keempat Raja yang sangat sombong tersebut pulang ke negerinya dengan menanggung rasa malu karena kekalahan. Pangeran Suta kembali ke Japura. Ia pun menemput Raja Hasan dari Gaung. Raja Hasan sangat berterima kasih, karena Pangeran Suta lah yang menolongnya dalam kesulitan. Ia pun berniat untuk menikahkan Putrinya dengan Pangeran Suta.Mendengar permintaan tersebut, Pangeran Suta sangat senang. Akhirnya, seluruh rakyat pun sibuk mempersiapkan pernikahan Pangeran Suta dan Putri Raja Hasan. Mereka sibuk membersihkan istana. Acara pernikahan pun berlangsung dengan sangat meriah. Pangeran Suta akhirnya, menjadi Raja Japura. Pangeran Suta dan Putri hidup sangat bahagia. rakyat pun kembali aman, damai dan makmur."Pesan moral dari Cerita Rakyat Indonesia : Kisah Pangeran Suta adalah jangan jadi anak nakal yang suka mengganggu orang lain. Orang yang yang baik dan suka membantu akan disukai oleh semua orang."
Hari Nyepi
Hmm apa sih yang kalian pikirkan pertama kali setelah mendengar kata "BALI" ?? Mungkin yang bakal langsung terpikir itu tempat wisata, pantai kuta, indah, liburan, banyak bule, dan pokoknya pasti yang enak2. Memang sih semua itu benar, tetapi enggak sepenuhnya Bali itu kayak gitu kok. Bali jg sangat kental sekali dengan hal2 magic, Hantu, dan hal2 seram lainnya. Dan warga2 Bali sangat mempercayai hal2 seperti itu. Ya karena emang itu nyata. Di Bali juga banyak tempat2 angkernya. Mulai dari rumah, pohon2 besar, dan banyak lagi. Hal2 magic seperti ini akan lebih terasa apabila kamu tinggal dipedesaan di Bali. Kebanyakan desa2 di Bali masih memiliki sawah, hutan, dan sungai yang jernih. Nah ditempat2 kayak gitu malah yang menyeramkan guys. Gak percaya? Belum ngerasain sih. Saya sebagai orang asli Bali yang sudah dari lahir tinggal di Bali, ingin berbagi sedikit cerita seram saya pada waktu saya masih kecil. Cerita yang sampai saat ini nggak bisa saya lupain.Ini terjadi kurang lebih 7 tahun yang lalu. Pada waktu itu saya masih kls 6 SD. Dijaman itu saya masih tinggal dan bersekolah didesa tempat bapak saya lahir. Saya akan ceritakan sedikit tentang desa saya. Desa saya sangat jauh dari kota Denpasar. Ya lebih masuk ke daerah pedalaman. Untuk keluar dari desa tersebut cuma terdapat dua jalan utama yang bisa dilalui mobil dan motor. kedua jalan utama ini terdapat disebelah timur desa dan sebelah selatan desa. Dan diujung kedua jalan tersebut akan melewati jembatan yang dibawahnya ada sungai yang untuk mencapai air tersebut kita harus turun berjalan kaki agak lama, jadi sungai ini agak dalam ( bukan dalam airnya, tapi menuju sungainya. Airnya sih dangkal dan jernih ) Kesimpulannya Desa saya dikelilingi oleh sungai, kalau mau masuk ya harus melewati jembatan tersebut. FYI: jembatan ini sangat seram apalagi malem2. Jalannya yang sepi dan berkelok2Jadi ceritanya ini pada perayaan hari raya nyepi di Bali. Kalau ada yang belum tau jadi Hari nyepi ini merupakan Hari raya umat Hindu yg jatuh tiap 1 tahun sekali sebagai hari pergantian tahun baru caka. Nyepi itu berarti SEPI. Kami sebagai umat Hindu diwajibkan tidak boleh beraktifitas sama sekali pada hari itu. Terdapat 4 pantangan yang tidak boleh dilakukan pada hari tersebut yang diantara lain; Tidak boleh menyalakan api (lampu, TV, dan apapun yg mengeluarkan cahaya), tidak boleh bekerja, tidak boleh keluar rumah, dan tidak boleh melakukan hiburan. Hal ini dilakukan selama 1 hari full. Memang sangat banyak hal positif yang terjadi oleh hari raya ini. Tidak adanya polusi, kebisingan, dan tentunya Bali jadi Hemat listrik. Namun terlepas dari itu semua bali otomatis menjadi sepi dan menyeramkan. Bayangin aja tuh pada waktu malam2 rumah kalian dan sekitarnya gak ada yang bersuara dan nyalain lampu. Apalagi dipedesaan. Yang terdengar hanya suara angin dan suara binatang2 liar diluar sana. Dan asal kalian tau, pada hari itu para memedi juga dengan leluasa berkeliaranYah udah 3 paragraf ceritanya belum mulai juga. hehe maaf ya, kalian juga kan butuh informasi yang lengkap dan akurat. Oke ceritanya sekarang akan saya mulai. Pada hari itu saya mengalami kejadian menyeramkan. Walaupun saya bercerita diatas soal pantangan yang dilakukan pada hari nyepi. Tapi saya melanggar beberapa. Ya namanya juga anak kecil. Di siang itu tentunya sangat membosankan jika terus dirumah. Seperti tahun2 sebelumnya, saya sebagai anak yang cukup nakal membuat rencana dengan teman2 sekolah untuk berpetualang layaknya si bolang. Jam 1 siang saya janji dengan teman2 bertemu di Pura yang berada didesa saya. Agar tidak ketahuan Pecalang (orang yang bertugas berjaga pada hari nyepi) saya mengambil jalan pintas tidak melewati jalan raya. Dengan melewati kebon2 blakang rumah saya yang bisa nembus ke pura tersebut. Ntah kenapa lewat kebon di hari itu jadi berasa sangat menyeramkan karena terlalu sepi. Sampainya dipura. saya bertemu teman2 yang sudah lama menunggu. Kami berencana akan pergi mandi ke sungai untuk bersenang2. Untuk menuju sungai tersebut dibutuhkan waktu 30menit berjalan kaki. Perlu melewati hutan dan semak2. Saya dengan 3 orang teman saya lalu mulai berpetualang. kami memasuki hutan. Disaat itu perasaan biasa saja karena adanya teman2 yang diajak ngobrol dan bercanda. Lagi asiknya ngobrol sambil berjalan pelan2 salah satu teman saya lalu berteriak " Hey teman2 lihat ada pohon rambutan yang lagi berbuah!!! " sebenernya sih pakai bhs bali. jadi ditranslate aja biar ngerti. Dengan cepat teman saya lalu menghampiri pohon rambutan besar itu dan lalu memanjatnya. kami ber 3 yang lainnya menunggu dibawah untuk menangkap rambutan yang dijatuhkan. Saking fokusnya kami dengan rambutan2 tersebut, tiba2 langsung terdengar suara benda jatuh yang sangat keras. " GeeBBbbrRrrRaaaKKkk " Secara spontan kami semua langsung kaget. Suara yang benar2 keras. Sekilas mirip suara bom, jg mirip suara duren jatuh tapi ini sangat keras jadi gak mungkin duren. dan jg terasa sedikit gempa. Anehnya suara tersebut terdengar seperti dari segala arah. Jadi kami semua bingung asalnya dari mana karena setelah itu tidak ada suara apa2 lagi. Perasaan takut mulai menghampiri kami . Kami tersentak langsung menjadi kaku dan terdiam sesaat. Salah satu teman saya lalu memecahkan kebisuan " eh pulang aja yuk, ada yang nggak beres disini!! " Padahal kami sudah setengah jalan. Masak sih balik lagi. Lalu karena semuanya juga pada takut kami memutuskan untuk kembali saja.Diperjalanan dengan langkah kaki yang lebih cepat kami hanya berdiam, sepertinya semua pada ketakutan. Kami selalu menoleh kekanan dan kekiri. kewaspadaan kami tiba2 jadi meningkat. Saya pribadi juga sangat takut, jantung 2x berdetak lebih cepat. Saya berharap cepat sampai rumah. Diperjalanan pulang tiba2 suara aneh muncul kembali. Kali ini suara orang seperti berbisik " Hrrraaaggggggggggg... " Semua tiba2 kaget lagi. Sampai salah seorang teman saya langsung mulai menangis ketakutan. Lalu saya bilang " yaudah cepet dikit jalan jangan stop lagi!! " Baru beberapa langkah berjalan tiba2 teman saya berteriak " Hey liat syapa tu dibalik pohon bambu!!!!! " Smua spontan menoleh kearah yang ditunjukknya. Kami melihat sesosok wanita tua menghadap samping, rambutnya putih agak keriting, memakai kebaya (sumpah gak boong, sampai sekarang saya masih inget) Belum sempet liat mukanya, dan tanpa pikir panjang, semua langsung lari, saya udah gak mikirin syapa2 lagi. Saya lari secepat2nya sambil dalam hati berdoa agar bisa kembali kerumah. Saya keluar dari hutan itu, namun ketakutan belum berakhir. saya masih harus melewati kebon sepi itu lagi. Kami semua sudah berpencar, saya nggak tau yang lain pada kemana. Dikebon itu untung saja saya tidak mengalami apa2 lagi. Saya sampai rumah dengan selamat. Namun saya takut kalau hal gaib masih berada didekat saya. Jadi saya menuju kamar. Lalu memakai selimut dan saya berdoa trus sampai ketiduran.
mysteri anak kecil
namaku elshie saat ini aku berumur sekitar belasan tahun.sudah sejak lama aku tidak pulang ke kampung halaman, entah sudah berapa tahun lamanya, mungkin berpuluh-puluh tahun sejak nenekku meninggal dunia.kini aku ke kampung karena kakekku sedang sakit, mama mengajakku kesana.sepanjang perjalanan terlihat puluhan pohon berjajar memenuhi kedua sisi jalan, jalanannya pun masih berupa tanah dan belum diaspal. aku sendiri tidak terlalu ingat suasana desa, karena terakhir ke kampung, aku masih kecil.suasana desa sangat sepi dan hari mulai sore yang ditandai oleh mulai munculnya kabut tipis disekitar kendaran yang aku naiki. saat menjelang malamn ketik sedang asik asiknya melihat barisan pepohonan, tiba tiba terlihat bayangan anak kecil berlari diantara pepohonan dan disusul suara tawa anak kecil yang ceria.sampai dirumah kakek, aku langsung tertidur karena lelah perjalanan yang cukup jauh."aaaakkkhhhh"."ternyata hanya mimpi"aku duduk terdiam sambil mengingat-ingat mimpiku...didalam mimpi aku berjalan di deretan pepohonan yang aku lihat disepanjang jalan dan akhirnya sampai di area pemakaman desa, pemakaman desa terlihat berbeda dengan yang ada dikota, sebagian nisan hanya berupa kayu bertuliskan nama.kemudian terdengar suara anak kecil tertawa riang dan saat aku menoleh ke belakang, aku dikagetkan sesosok anak kecil yang berkata "mari permain atau aku potong kepalamu". dia berkata sambil tertawa riang. aku sangat ketakutan. tiba2 saja aku terbangun dan untungnya semua itu hanya mimpi.Sore hari telah tiba, aku duduk sambil bersendau gurau dengan keluargaku, ada kakek, mama, papa, dan kakak laki-lakiku. Setelah kami mulai selesai berendau gurau dan hendak melakukan kegiatan masing-masing, aku bilang sama kakek kalo aku ingin berkeliling desa, dan kakek memperingatkanku untuk tidak masuk kedalam hutan. Akupun meng iya kannya karena memang aku penakut, maklum aku tipe cewe yang manja.Akupun berkeliling desa bersama kakakku, pemandangan didesa sangat berbeda jauh dengan kota, sangat asri dan menyegarkan mata, akupun berlari diantara pohon. Tiba2 aku tersandung dan terjatuh, tepat didepanku, ada jalan setapak dengan pepohonan besar yang sangat banyak dan terlihat dikejauhan seperti area pemakaman, kakaku yang khawatir segera menghampiriku." kamu ngga apa - apa kan?""Aku ngga apa-apa, ka" jawabku.Kakaku membantu membangunkanku dan berkata sambil menunjuk."Sepertinya ini batas hutan, pepohonannya sangat rindang dan disana terlihat area pemakaman seperti yang diceritakan kakek, yuk kita pulang udah mulai malam". Ajak kakaku.Ketika hendak meninggal kan tempat tersebut, aku menoleh kearah pemakaman karena sepertinya ada sesuatu yang memberitahuku untuk melihat kesana dan tiba2 secara samar-samar dibalik rimbunnya pepohonan aku melihat sesosok wanita berambut panjang memakai pakaian putih dan berdiri di sebuah makam, melampaikan tangannya kearahku.Aku langaung shok dan hampir berteriak, tapi aku tahan, dengan muka pucat aku berlari mengejar kakakku yang sudah berjalan terlebih dahulu didepan.
TROUVAILLE
" Tin. Kamu di mana? Aku udah di dalem aula. " ucap ku pada sahabat ku Tina saat aku menelepon dirinya.Kami berdua saat ini memang sedang berada di dalam aula sebuah mall. Karena saat ini, sedang ada acara konser Kahitna di aula tersebut. Aku dan Tina memang sudah berencana lama untuk datang ke konser mereka.Tapi masalahnya, aku dan Tina saat ini terpisah. Sedangkan nyaris semua kursi sudah terisi. Apalagi para penonton tidak di tentukan tempat duduknya. Sehingga kami harus mencari tempat yang strategis untuk menonton penampilan mereka semua." aku juga di dalem Ris. Aku udah dapet kursi. Tapi cuma dapet satu. Ini juga agak di tengah. Gimana ya? " sahut Tina di seberang sana." gitu? Ya udah, aku cari kursi ku sendiri ya. Nanti kita chat-an aja kalo mau pulang. Ya? " ucap ku. Sedikit tenang karena Tina sudah mendapat kursi untuk nya dan tinggal mencari untuk diri ku sendiri." oke deh. Kamu sendiri hati - hati Ris. " balas Tina di seberang sana dan membuat ku akhirnya mematikan sambungan telepon kami setelah mengiyakan ucapannya. Sembari mulai mencari - cari tempat duduk untuk ku.Sebenarnya, saat ini aku melihat ada sebuah tempat strategis untuk diri ku duduk. Apalagi kursi itu berada di depan panggung. Membuat kursi itu menjadi kursi yang sangat strategis untuk diri ku melihat konser Kahitna ini.Tapi sayangnya, kursi itu tinggal satu yang kosong. Sedangkan di sampingnya ada seorang pria yang sedikit lebih tua dari ku yang semenjak tadi terus saja memandang ku lekat. Dan di sampingnya lagi ada sepasang muda mudi yang duduk. Membuat ku yakin jika satu kursi itu juga merupakan kursi dari pasangan pria itu.Dan baru saja aku akan beranjak dari tempat ku berdiri saat ini, pria itu memanggil ku. Membuat ku terkejut karena memang aku tak mengenal dirinya." duduk di sini aja. " ujar pria itu." eh, gak usah kak. Nanti kalau temen kakak datang, malah susah. " jawab ku sopan." gak papa. Aku sendiri kok. Di samping ku memang kosong. Dari pada kamu dapet kursi yang di belakang kan. Mending di sini. " ujarnya dan jujur saja, itu terdengar sangat menggiurkan untuk ku. Membuat ku tanpa sadar mulai berjalan guna mendekatinya." beneran gak papa kak? " tanya ku memandang dirinya dengan seksama. Dan baru ku sadari, jika pria yang menegur ku tadi cukup tampan. Dengan senyum yang manis dan tatapannya yang teduh." iya. Gak papa kok. Duduk aja. " jawabnya dengan senyum yang tak berhenti semenjak tadi. Membuat ku akhirnya duduk di sampingnya dengan perlahan seraya terus memandang dirinya." makasih banyak kak. " ucap ku tulus seraya menundukkan tubuh ku sedikit. Berupaya bersikap sopan pada pria yang sudah berbaik hati ini." it's oke. Santai aja. Oh ya. Nama ku Daniel. Daniel Arditya. " sahutnya tenang." nama ku Risna. Samantha Risnalda. " ujar ku membalas ucapannya." kamu datang sendirian? " tanya dirinya memandang ku. Entah perasaan ku saja, atau tidak. Tapi ku lihat dirinya sedikit khawatir." enggak kok. aku sama temen ku. Tapi pas masuk aula tadi, aku sama dia kepisah. Trus dia udah dapet kursi. Kasian kalo harus ku suruh bareng sama aku. " jawab ku." tapi harus tetep hati - hati. Gak baik cewek jalan sendiri - sendiri kayak gitu. Kalo ada apa - apa kan bahaya. " tegur nya sembari menasehati ku." iya kak. " jawab ku sopan.Apalagi mendengar dirinya yang begitu menasehati ku layaknya seorang keluarga. Membuat ku bersyukur karena bisa bertemu dengan orang baik seperti dirinya. Tak lupa aku mengangguk untuk mengiyakan ucapannya tadi. Dan setelah itu, kami berdua pun sibuk dengan kesibukan kami masing - masing.*****Tak berapa lama aku merasakan pria itu memandang ku dengan seksama. Membuat ku mengangkat kepala dari handphone ku dan balas memandangnya dengan raut wajah kebingungan dan setengah penasaran." ada apa kak? Ada yang aneh ya sama muka ku? " tanya ku pada dirinya dan membuat dirinya tersenyum simpul." enggak kok. Tapi, boleh aku minta tolong padamu? " tanyanya dengan sedikit permohonan yang tersirat pada nada suaranya." mau minta tolong apa kak? " tanya ku pada dirinya." bisa aku titip tas kecil ku ini? Aku mau keluar sebentar, nerima telepon dari teman ku. Di sini agak mulai berisik. " ujar pria itu sembari menunjuk tas selempang kecil miliknya yang ada di belakang tubuhnya.Saat ini dirinya sedang memegang handphonenya yang semenjak tadi berdering tanpa henti. Apalagi, suasana di dalam aula ini memang sudah penuh dengan orang - orang yang ini menonton konser Kahitna. Sehingga suasana memang cukup bising dan berisik.Dan berhubung aku sudah di berikan tempat duduk oleh dirinya. Bahkan secara cuma - cuma, Aku pun menyanggupi permintaannya dan menganggukkan kepala ku. Setidaknya itu sebagai balas budi ku pada dirinya." oh. Boleh kok kak. " sahut ku mengangguk. Kebetulan acara akan berlangsung kurang dari sepuluh menit lagi. Sehingga aku berharap sedikit banyak dirinya akan cepat kembali." aku janji hanya sebentar. I promise. " ucapnya berjanji pada ku sebelum dirinya berdiri. Dirinya cukup sadar jika acara akan segera di mulai. Dan membuat ku menganggukkan kepala ku sembari tersenyum menenangkan nya." iya kak. Santai aja. " ujar ku tersenyum. Dan akhirnya dirinya pun meninggalkan ku sendiri.*****" hai cewek. Kok sendirian aja? Temenin om yuk sayang. "" sini aja sama kita. Dari pada sendirian. Kan. Om gak gigit kok. Om suka liat kamu sayang. "" iya. Mending nemenin kita. Kita cuma ada satu cewek nih. Gabung yuk manis. " dapat ku dengar ada beberapa pria paruh baya yang berbicara seperti itu di belakang ku.Ku rasa mereka duduk tak jauh dari barisan tempat duduk ku. Dan aku yakin, mereka menggoda ku. Karena di beberapa baris ini, hanya aku yang duduk sendiri tanpa teman setelah Daniel yang duduk di samping ku pergi.Dan ucapan pria - pria yang terdengar sudah berumur itu amat sangat menakutkan bagi ku. Tanpa sadar membuat tubuh ku bergetar dan membuat ku menutup ke dua mata ku. Berharap jika ada yang akan menolong ku. Jujur saja, dengan aku yang di goda seperti itu kembali mengingat kejadian menyakitkan dan menyeramkan untuk ku beberapa waktu yang lalu.Apalagi, tidak ada seorang pun yang mau membantu ku saat ini. Atau setidaknya menegur pria - pria itu. Semua orang yang mendengar pun sibuk dengan aktivitas mereka masing - masing.Nyaris saja aku terisak karena godaan dari pria - pria itu tak berhenti, bahkan semakin lama justru semakin parah. Tapi tiba - tiba saja, aku di kejutkan dengan keadaan kursi kosong di samping ku yang terasa di duduki seseorang. Dan langsung membuat ucapan - ucapan menggoda dari arah belakang langsung hilang tak berbekas.Aku pun langsung membuka mata dan menemukan Daniel yang duduk di samping ku kini sudah kembali duduk. Dirinya duduk sedikit mendekat ke arah ku sembari memandang ke belakang dengan tatapan tajamnya. Dengan wajah yang sedikit dingin. Bahkan dapat ku rasakan jika paha dan tubuh ku sedikit bersentuhan dengan paha dan juga tubuhnya. Membuat ku tanpa sadar justru bernafas lega karena dirinya yang langsung duduk di samping ku." kamu gak papa? " tanya Daniel pada ku setelah membuat pria - pria hidung belang itu berhenti menggoda ku. Seraya dirinya mengalihkan pandangannya ke arah ku. Dan memandang ku dengan seksama. Dirinya sadar jika aku begitu ketakutan saat ini." enggak. Gak papa. " jawab ku singkat dengan nada bergetar. Masih dengan posisi yang penuh rasa takut.*****" kak. " panggil ku pada Daniel tak berapa lama dari kejadian tadi." ya? Ada apa Ris? " tanya Daniel yang semenjak datang terus memperhatikan diri ku yang ketakutan." boleh aku megang tangan kakak? Aku takut. " cicit ku lirih. Sedikit takut jika pria itu menolak dan berfikir bahwa aku adalah perempuan yang sedikit nakal. Apalagi kami yang belum terlalu kenal." tentu saja. " sahutnya sembari menarik tangan ku ke dalam genggamannya dan menggenggamnya dengan erat.Tak lupa dirinya mengelus punggung tangan ku untuk menenangkan ku. Ulah nya ini jujur saja, dapat menenangkan ku. Dan tanpa sadar membuat ku merapatkan duduk ke arah dirinya." apa kau ingin minum sesuatu? Aku bisa membelikan mu. Di dekat sini ada food court. " ujar Daniel yang tak tega pada ku. Dirinya juga sadar jika aku semakin merapatkan tubuh ku yang gemetar pada dirinya." ja... Jangan. To... Tolong jangan tinggalkan aku lagi kak. Aku takut. " ujar ku menggeleng cepat dan tanpa sadar, aku memeluk lengannya dengan sebelah tangan ku yang bebas dan tak di genggamnya." oke oke. Aku tak akan ke mana - mana. Aku akan di sini saja. Bersandar lah di lengan ku Ris. Wajah mu pucat. Sepertinya kau butuh sandaran. " pinta Daniel seraya mengamati wajah ku yang masih saja terlihat ketakutan. Dirinya pun memilih untuk tak meninggalkan ku lagi." apa tak masalah? Jika aku bersandar? " tanya ku tanpa ada niat untuk menolak. Karena jujur saja, aku saat ini memang sudah terlalu lemah." sure. Biar mereka mengira kau pacar ku. Itu akan membuat mereka tak menganggu mu lagi. " ujarnya meyakinkan ku.Entah kenapa. Ucapannya ini justru membuat ku merasa yakin dan tanpa ada paksaan dari dirinya, aku pun mulai menyandarkan kepala ku di lengannya dengan perlahan. Membuat Daniel mencoba menyamankan posisi ku di samping dirinya. Kini aku dan Daniel benar - benar terlihat seperti pasangan yang tengah di mabuk asmara." maaf merepotkan kakak. Dan terima kasih karna sudah membantu ku. "" santai saja. Aku senang bisa membantu. " sahutnya. Sembari melirik ku sesekali. Memastikan jika aku sedikit lebih tenang.*****Tak terasa, konser yang sudah lama ku nanti kan ini sudah separuh jalan. Dan aku benar - benar menikmati jalannya konser ini. Apalagi dengan Daniel yang berada di sebelah ku. Kami berdua sering kali mengobrol dan saling bertukar cerita. Sehingga membuat kami mulai cukup dekat. Dirinya pun mencoba untuk tidak membuat ku mengingat kejadian tadi.Tapi sayangnya, pembicaraan kami berdua sedikit terhenti karena host acara mulai kembali memasuki panggung." oke. Karena kita sudah di tengah jalan, kami semua ingin memberi kejutan pada kalian. Kami akan memilih satu penonton untuk bernyanyi bersama dengan Kahitna di atas panggung. Dan kami akan mulai memilih penonton yang beruntung. " ucap host tersebut. Membuat ku sedikit tersenyum dengan ucapan host itu. Seraya menerka - nerka siapa orang yang beruntung bisa bernyanyi di panggung bersama Kahitna.Dan dua buah lampu sorot yang berada di sisi kiri dan kanan pun mulai menyoroti kami para penonton. Tiba - tiba saja, tak berapa lama kemudian, lampu itu menyorot ke arah dirinya ku. Membuat ku merasa sedikit silau dan mengubur wajah ku di lengan atas Daniel. Daniel sendiri yang merasa aku kesilauan pun merentangkan jemarinya di depan wajah ku untuk menghalau kilatan lampu dari wajah ku." euggh. "" silau ya? " tanya Daniel paham seraya memandang ku yang mengubur wajah ku di lengan atasnya." iya. Silau banget. " sahut ku menjawab dan tetap menyembunyikan wajah ku di lengannya. Aku pun mengangguk dan menyebabkan wajah ku langsung bergesekan dengan pakaian milik Daniel.Baru saja Daniel ingin bicara dengan ku lagi, tapi MC itu sudah memanggil ku untuk naik ke atas panggung. Membuat ku akhirnya mengangkat wajah ku untuk memandang Daniel dengan seksama. Dan beruntungnya, aku sudah terbiasa dengan sinar dari lampu sorot yang masih menyorot ke arah ku dan Daniel." naiklah. Dan jika mereka bertanya kau dengan siapa. Bilang saja kau pergi dengan aku sebagai pacarmu dan teman mu. " ucap Daniel mencoba membantu ku sekali lagi." gak papa? Bilang kakak pacar ku? " tanya ku memastikan. Aku hanya tak yakin dengan tawarannya ini." gak apa. Supaya pria - pria yang menganggu mu tau kalau kau sudah punya pacar. Dan biar gak ada yang menggoda mu lagi. Bukan gak mungkin keluar dari aula ini kamu masih di ganggu mereka. " jawab Daniel yang membuat ku menganggukkan kepala ku." baiklah. " jawab ku sebelum aku berdiri dan mulai melangkah menaiki panggung dengan canggung.*****" hallo. Siapa nama mu? " tanya host itu pada ku begitu aku sudah berada di tengah panggung. Bersama dengan ke tiga vokalis Kahitna, Hedi Yunus, Carlo Saba dan Mario Ginanjar." erh, hai. Nama ku Risna. Samantha Risnalda. " jawab ku kikuk. Karna jujur saja, ini kali pertama aku berdiri begitu dekat dengan ke tiga penyanyi favorit ku." santai aja. Jangan tegang begitu. " ucap Hedi Yunus sembari tertawa karna melihat diri ku yang begitu kikuk." i... Iya. " sahut ku. Semakin membuat mereka tertawa karena kekikukkan ku ini." ke sini sama siapa Risna? " tanya Mario mencoba mencairkan suasana. Membuat ku beralih memandang dirinya." erg. Bareng temen ku sama pacar ku kak. " jawab ku memutuskan untuk mengikuti permintaan Daniel tadi sebelum aku naik ke atas panggung.Dan ucapan ku ini berhasil membuat suasana aula bergemuruh. Karna ke tiga vokalis Kahitna ini langsung menggoda ku. Bahkan membuat ku memerah malu. Jawaban ku ini pun akhirnya membuat lampu sorot mulai menyoroti Daniel yang notabene duduk di samping ku dan menjadi sandaran ku saat aku terpilih untuk naik ke atas panggung tadi. Apalagi memang, sampai saat lampu menyorot ku tadi, aku terus menerus bersandar pada Daniel. Dan mengobrol dengan dirinya. Sehingga tak kaget jika mereka langsung mengira Daniel adalah pacar ku." ayo ke sini. " suruh mereka bertiga bersama dengan host saat lampu menyorot Daniel.Membuat Daniel langsung mengikuti ku untuk menaiki panggung. Dan kini dirinya berdiri di samping ku dengan sebelah tangannya yang memegang pinggang ku. Aku sendiri sama sekali tak mencoba untuk menyingkirkan tangan Daniel di tubuh ku. Aku justru mendiamkan ulah nya ini dan menikmati rasa tenang yang langsung hinggap di hati ku saat Daniel berdiri di samping ku.*****" katamu kamu bertiga dengan pacar mu dan teman mu? Di mana teman mu? " tanya Carlo pada ku dan Daniel." teman ku berpisah duduk dengan kami berdua. " sahut ku jujur mengingat aku sebenar nya dengan Tina terpisah bahkan semenjak aku belum kenal dengan Daniel." wah, dia gak mau jadi obat nyamuk ya. " ucap Mario tertawa. Membuat seluruh penonton juga ikut tertawa karena kelakarnya ini." kalian sudah lama pacaran? " tanya Hedi Yunus sembari memandang ke arah ku dan Daniel.Membuat ku tertegun bingung harus menjawab seperti apa. Apalagi, aku dan Daniel yang memang baru mengenal beberapa saat yang lalu. Namun aku di kejutkan dengan Daniel yang begitu saja menjawab dengan amat lancar." gak terlalu lama sih. Tapi aku merasa udah klop sama Risna. " jawab Daniel.Dan jawabannya ini semakin membuat para penonton semakin bersorak. Bahkan aku baru sadar jika aku dan Daniel sama - sama memakai baju berwarna putih. Jika Daniel sedang memakai kemeja berwarna putih. Maka aku sendiri saat. Ini memakai blouse lengan pendek berwarna putih juga.*****" oke. Karena yang maju saat ini adalah pasangan kekasih, bagaimana kalau kita ajak mereka bermain game kecocokkan? " tanya host pada para penonton dan langsung di setujui oleh para penonton dan para personel Kahitna.Membuat ku dan Daniel langsung berpandangan. Pasalnya, kami berdua sama sekali tak mengetahui bagaimana pribadi masing - masing. Dan bisa di pastikan kami akan banyak yang tak cocok.Tapi tatapan Daniel begitu menenangkan ku. Apalagi tangannya yang masih di pinggang ku kini mulai bergerak mengelusi pinggang ku dengan teratur. Membuat ku sedikit tenang dan mengikuti alur permainan saat ini.Dan permainan kecocokan antara aku dan Daniel pun mulai berjalan. Aku yang awalnya begitu takut - takut menjalani game ini pun mulai rileks dan bisa menikmati permainan. Bahkan, aku dan Daniel nyaris menjawab semua pertanyaan dengan benar. Aku dan dirinya hanya salah menjawab empat dari sepuluh pertanyaan yang di ajukan oleh host dan ke tiga vokalis Kahitna. Benar - benar sebuah keberuntungan. Mengingat jika aku dan Daniel baru mengenal satu sama lain.*****Setelah aku dan Daniel turun dari panggung, aku merasakan jika handphone ku yang ku simpan di tas kecil ku bergetar semenjak tadi. Dan rupanya Daniel pun merasa jika ada yang menelepon ku, karena aku langsung memegang handphone ku." siapa? " tanya Daniel memandang ku lembut." temen ku kak. Yang tadi ke pisah sama aku. " jawab ku pada Daniel yang membuat dirinya mengangguk pelan." angkat gih. Dia pasti kaget liat kamu naik panggung sama aku. Apalagi denger kita pacaran kan. " ujar Daniel tersenyum seraya menyarankan pada ku dan membuat ku mengiyakan ucapannya ini." ntar aja kak. Berisik di sini. " ucap ku sembari menggelengkan kepala." ngobrolnya di belakang badan ku aja. Kayaknya bakal ketutupan deh suaranya kalo kamu nerima telepon di belakang badan ku. Kasian dia. Pasti khawatir. " balas Daniel yang mulai mencari cara agar aku bisa mengangkat telepon dari Tina.Aku yang memang sudah tak enak pada Tina karena lama mengangkat teleponnya pun akhirnya mau tak mau mengiyakan ucapan Daniel. Aku juga tak mungkin keluar ruangan ini hanya untuk mengangkat telepon dari Tina. Sehingga aku menerima telepon darinya di tempat duduk ku saat ini." iya deh. " sahut ku dan mulai mengangkat telepon dari Tina, sahabat ku.Beruntungnya, Daniel cukup paham jika ruangan itu cukup berisik. Sehingga, dengan gesture tubuhnya, dirinya meminta aku menelpon di belakang tubuhnya dan membuat ku seperti bersandar di punggungnya. Daniel pun memajukan tubuhnya sedikit untuk menutupi ku yang tengah bicara dengan Tina lewat telepon.******" hallo. "" gila. Siapa tuh? Cerita sama aku. " ujar Tina begitu aku mengangkat telepon." iya iya. Nanti ku ceritain abis kita keluar dari aula. " jawab ku." enggak. Gak ada. Cerita sekarang pokoknya. "" astaga. Maksa deh. " kekeh ku." kudu ah, cepet. Aku penasaran. " ucap Tina memaksa.Membuat ku akhirnya menceritakan awal mula pertemuan ku dengan Daniel hingga akhirnya aku naik ke atas panggung bersama dengan dirinya. Aku juga menceritakan bagaimana aku di goda oleh beberapa pria berumur saat acara belum di mulai. Dan cerita ku ini berhasil membuat Tina tak tenang karena khawatir." kamu gimana? Gak papa? Trauma mu? " tanya Tina. Dapat ku rasakan kekhawatirannya pada ku dalam getar suaranya." gak papa. Untung kak Daniel cepet dateng nolongin. " jawab ku tersenyum mengingat bagaimana Daniel menolong ku tadi." syukurlah. Tolong bilangin rasa terima kasih ku sama dia. Udah jagain kamu. " sahut Tina membuat ku tersenyum haru atas perhatian sahabat ku ini." iya. Nanti aku sampein. " balas ku. Aku dan Tina pun masih terlibat pembicaraan sebentar sebelum akhirnya aku memutuskan sambungan telepon ku bersama dirinya.*****" sudah? " tanya Daniel ketika dirinya merasa aku mulai kembali duduk seperti semula." udah kak. Temen ku bilang makasih. "" makasih? Makasih buat apa? " sahut Daniel tak mengerti dengan ucapan ku." makasih karna kakak udah nolong aku tadi. Dari... " ucap ku terhenti sembari melirik ke arah belakang dan membuat Daniel mengerti." its okay. Santai aja. Lagipula sudah seharusnya perempuan itu di jaga. Bukan di lecehin kayak gitu. " jawab Daniel yang tanpa sadar menambah nilai plus dirinya di mata ku." mm iya. Sekali lagi makasih ya kak. " ujar ku lagi. Membuat Daniel menganggukkan kepala nya menghadap diri ku. Kami pun kembali tenggelam dalam keasyikan menonton konser Kahitna ini hingga selesai.*****
MY HUSBAND
" mom. " panggil Darren. Anak semata wayang ku pada diri ku yang memang saat ini tengah duduk sendiri seraya menonton televisi." ya? Kenapa nak? " tanya ku memandang dirinya yang berjalan mendekati ku seraya membawa sebuah box berwarna hitam berkelip warna warni yang begitu rapih dan bersih karena selalu ku bersihkan walau ku letakkan di gudang." Darren mau nanya. Boleh? " tanya dirinya duduk di samping ku." sure sayang. Mau nanya apa sama mom? " tanya ku mengelus puncak kepalanya." ini apa mom? Aku tadi bantu bibi bersihin gudang. Dan aku terus ketemu ini. Kata bibi, di dalam kotak ini banyak kenang kenangan mom. " jawab Darren memandang ku dan membuat ku mengambil alih box yang semenjak tadi di pegang oleh Darren." ini kenangan mom dulu. Sebelum ketemu dad mu. " ucap ku tersenyum tipis. Mengingat kenangan yang mulai menyeruak di benak ku." mom? " ujar Darren karena aku terdiam cukup lama seraya membuka box itu dan mulai meneliti isi box tersebut. Darren yang tak bisa diam pun juga ikut mengambil beberapa barang yang ada di dalam situ dan mulai ikut menelitinya." dia siapa mom? Wajah nya seperti tak asing. Iya kan? " tanya Darren menatap lekat kliping yang penuh dengan foto - foto seorang pria yang terlihat cukup muda." dia idola mom dulu. Dia penyanyi yang cukup tampan dengan suara emasnya yang bikin mom jatuh cinta. " ujar ku dan membuat Darren ber-ooh ria." apa sampai sekarang mom masih menyukainya? " tanya Darren memandang ku." tentu saja mom masih menyukainya. Sampai kapan pun mom akan tetap menyukainya. Dia penyanyi kebanggaan mom dan sampai kapan pun akan terus seperti itu. " jawab ku mengangguk." awas dad tau mom. Dia akan marah. " ujar Darren melirik ke arah ku.Anak ku yang kini sudah berusia enam tahun memang sedang aktif - aktifnya bertanya mengenai berbagai hal. Bahkan dirinya cukup mengerti jika ayahnya begitu posessif pada ku." euh? Marah? Kenapa dad harus marah? " tanya ku dengan kening berkerut bingung." mom seperti tak tahu dad saja. Dia akan marah dan cemburu jika mom membicarakan pria lain. " sahutnya dan membuat ku tertawa seraya menganggukkan kepala ku. Mengiyakan ucapan anak lelaki ku ini." ha ha ha. Kau benar. " jawab ku.*****" aku jadi ingin mendengar suara idola mom itu. " ujar Darren memandang ku." kau mau dengar? " tanya ku memastikan." heum. Iya. Aku mau dengar. " jawabnya mengangguk." ajak dad ke sini dulu. " ujar ku dan membuat Darren menggelengkan kepalanya." mom suka sekali mencari perkara dengan dad. Kalau dad cemburu bagaimana? Lebih baik kita berdua saja. " tanya Darren dan sekali lagi membuat ku tertawa." dad tak akan marah, Sayang. Mom yakin itu. Liat saja nanti. " ujar ku." baiklah. Tapi awas ya dad marah pada mom. Darren gak mau belaain mom. " ujarnya. Membuat Darren mengangguk dan mengalah. Dirinya mulai beranjak menuju kamar ku yang tak jauh dari posisi kami berdua sembari memanggil - manggil dad nya." daddy. "" dad. " teriak Darren sembari masuk ke kamar dan menyerbu ke arah suami ku yang memang baru keluar dari kamar mandi." sayang. Jangan teriak - teriak boy. Sakit nanti tenggorokan mu. " ujar suami ku sambil menggendong anak kami dan mulai mengelus leher anak kami berdua. Sangat terlihat suami ini begitu khawatir dengan keadaan tenggorokan anak lelakinya." sorry dad. " cicit Darren menyesal." gak papa. Dad gak marah. Dad cuma khawatir. Nanti kamu serak kalau teriak begitu. Memangnya Darren ada apa manggil dad? " tanya ku." mom manggil dad. Tapi dad jangan marah ya sama mom. " ujar Darren memandang lekat ke arah suami ku." kenapa dad harus marah sayang? Ada apa? " tanya suami ku bingung. Pasalnya di antara aku dan suami memang tak ada masalah sama sekali." tadi aku bantuin bibi beresin gudang. Dan aku ketemu box milik mom. Kata bibi itu box isinya kenang - kenangan mom dulu. Dan pas ku tanya sama mom. Itu kenangan mom sebelum menikah dengan dad. Dan mom bilang mom masih menyukai kenangan mom itu. " jelas Darren dan membuat suami ku tertawa pelan. Tahu mengenai box yang di maksud oleh anak kami ini." apa dad harus marah? " tanya suami ku." no. Dad bilang jangan marah sama mom. Gak boleh marah sama mom karena mom perempuan. Haram hukumnya marah sama perempuan. " ujar Darren menggeleng.Darren begitu mengingat pesan suami ku ini untuk bersikap lembut kepada setiap perempuan. Dan karena gelengan kepala Darren ini lah membuat suami ku mengangguk. Membuat ku bersyukur karena suami ku begitu mengajari Darren tingginya derajat perempuan." oke. Dad gak akan marah sama mom. Ayo kita ke sana. Dad mau liat juga. " ujar nya dan membuat Darren berseru senang.Mereka berdua pun mulai melangkah untuk keluar kamar dan menemui ku yang masih melihat - lihat isi box itu.*****" ayo mom kita dengar. " ujar Darren yang kini duduk di pangkuan suami ku yang sudah duduk di samping ku.Tapi tanpa sepengetahuan Darren, tangan suami ku kini mulai menyusup di belakang tubuh ku dan mengelus pinggang ku lembut. Membuat ku tersenyum ke arah dirinya karena dirinya begitu memanjakan ku." love you sayang. " bisik suami ku tanpa terdengar oleh Darren dan membuat ku membalas ucapannya ini tanpa suara." love you too. "" mau dengar sekarang? Dad nanti marah lho. " ujar ku menggoda Darren seraya tertawa." enggak mom. Dad gak akan marah. Darren sudah minta dad jangan marahin mom. Kalau dad marah, aku yang akan marah sama dad. " ucap anak ku ini dan membuat kami berdua tertawa." memang berani marah sama dad? " tanya ku seraya menaikkan ke dua alis ku. Terus saja menggodanya." kalau dad berani marah sama mom, aku juga akan berani marah sama dad. " ujar nya. Membuat suami ku mengecup puncak kepala Darren." dad gak akan marah sayang. Kamu dan mom kesayangan dad sekarang. Jadi jangan khawatir. " ujar suami ku. Suaranya begitu indah bahkan sampai saat ini." ayo mom. Dad sudah ngizinin. " gumam Darren memaksa ku untuk segera memutar kaset seseorang yang begitu ku idolakan dulu. Sebelum aku menikah dengan suami ku saat ini." ya ya ya baiklah. Ayo kita dengar. " ujar ku langsung memutar kaset yang masih ku jaga agar tetap bisa di pakai walau sudah bertahun tahun lewat.https://youtu.be/jGgXxSnrvuw*****" wow. Suaranya bagus. Pasti dia penyanyi terkenal di jaman mom. " ujar Darren bertepuk tangan." tentu saja. Makanya mom sangat menyukainya. Bahkan sampai sekarang. Walau dia sudah pensiun menjadi penyanyi, mom akan tetap menjadikannya penyanyi kesukaan mom. " jawab ku." apa? Jadi dia sudah pensiun menyanyi mom? Dia udah enggak nyanyi lagi? " tanya Darren memandang ku lekat. Dan membuat ku mengangguk." heum. Iya. Dia sudah berhenti menjadi penyanyi. Dan setahu mom, dia sudah menikah. Sepertinya dia hidup bahagia bersama keluarga kecilnya. " jawab ku. Dan membuat Darren tertunduk lesu." yahhh... "" kenapa? " tanya suami ku pada Darren karena dirinya melihat wajah lesu Darren." aku kesal. Aku penasaran dengan penyanyi yang di sukai mom. Tapi dia sudah berhenti bernyanyi. Padahal aku suka dengan suaranya. " gumam Darren sedih. Dan membuat hati ku tak tega menyembunyikan fakta yang sebenarnya pada dirinya.*****" tapi... " ucap Darren tak Melanjutkan ucapannya." tapi apa sayang? " tanya ku mengelus puncak kepalanya." aku familiar dengan wajah dan suaranya. Mirip dengan seseorang. " ujarnya. Membuat aku dan suami ku tersenyum tanpa sadar memandang dirinya." oh ya? Mirip siapa? " tanya suami ku dengan suara khasnya." mirip dad. Tapi entah lah. Aku bingung. " ujarnya mengubur wajahnya di dada suami ku. Membuat suami ku refleks mengelus belakang kepala Darren dengan lembur." heum. Dia memang dad sayang. " jawab ku tersenyum. Dan refleks membuat Darren mengangkat kepala nya dan memandang ku dengan rasa terkejut yang tinggi." mom serius? Itu dad? Benar dad? " tanyanya takjub dan heboh sendiri. Bergantian memandang ke arah diri ku dan suami ku. Dan membuat kami berdua mengangguk." heum. Itu dad. " jawab ku." serius dad? Dad dulu penyanyi? "" iya sayang. Tapi itu dulu. Setelah dad menikah dengan mom dan kau lahir, dad memang sengaja memilih untuk berhenti menjadi penyanyi. Agar dad bisa ada waktu dengan kalian berdua di sela - sela pekerjaan dad di kantor. " jawab suami ku menguak fakta terbaru yang tak di ketahui oleh Darren selama ini." woah. Ternyata dad ku seorang penyanyi. Pantas suara dad bagus. " ucapnya dengan penuh rasa terpesona." ayo nyanyi lagi dad. Aku mau dengar dad menyanyi secara langsung. " ujar Darren sekali lagi." hm? Mau dad nyanyi? " tanya Chan bertanya pada Darren." iya. Ayo dad. " sahut Darren menganggukkan kepalanya dengan gemas." ayo dad. Mom juga mau dengar dad nyanyi. " ujar ku menambahkan.Membantu Darren agar keinginannya terkabul. Pasalnya, suami ku ini sangat jarang mau bernyanyi di hadapan ku atau pun di hadapan Darren. Sehingga saat ini kami berdua mencoba merayu kepala keluarga kami ini." baiklah baiklah. Dad akan bernyanyi untuk istri dan anak kesayangan dad. " ujarnya mengalah dan mulai mengeluarkan suara emasnya.Membuat aku bersandar di bahunya dan melingkarkan ke dua tangan ku di lengannya. Menikmati suaranya yang begitu indah di telinga ku. Tak berbeda dari diri ku, Darren pun menyandarkan kepalanya di dada suami ku. Membuat dirinya yang kini memang masih duduk di pangkuan suami ku begitu menikmati saat - saat ini.https://youtu.be/nqiUG5bNibs*****" Mey. " Sapa suami ku saat dirinya keluar kamar mandi dan menemukan aku tengah berdiri di dekat jendela besar yang ada di kamar kami berdua." Heum. Kenapa Chan? " tanya ku memandang ke arahnya seraya menyebut nama kesayangan ku pada dirinya." Sedang apa? Jangan melamun malam – malam. " tegurnya sambil mendekati diri ku dan memeluk tubuh ku dari belakang." tidak. Hanya menikmati malam sambal memikirkan sesuatu. " jawab ku." memikirkan apa? Hm? " tanya Chan pada ku." memikirkan apa kau pernah menyesal karena meninggalkan dunia keartisan mu? Memikirkan apa kau pernah menyesal menikah dengan ku dan menyesal karena harus terpaku hanya pada diri ku dan Darren. " jelas ku dan membuat Chan menggelengkan kepalanya kuat." no sayang. Mana mungkin aku menyesal. Kehidupan ku bersama diri mu dan bersama Darren adalah kehidupan ku yang terbaik selama ini. Kau dan Darren adalah nyawa ku saat ini. Jangan punya fikiran yang aneh – aneh Mey. " ucap Chan.Tangannya yang semenjak tadi berada di atas perut ku pun mulai mengelusnya dengan perlahan. Mencoba membuat ku menikmati ulahnya ini. Dan mencoba membuat ku tak memikirkan hal – hal yang aneh lagi saat ini." aku hanya penasaran mengenai itu. Kau cukup lama menjadi penyanyi. Aku tahu susahnya kau menjadi penyanyi. Tapi, kau memilih untuk melepaskan semuanya di saat kamu berada di puncak karir dan memilih untuk menikah dengan ku. Mejadi orang biasa tanpa ada embel – embel artis di nama mu. " jelas ku." tidak. Sama sekali tak pernah ada kata sesal di dalam kamus ku. Itu adalah pilihan ku saat itu dan aku tak pernah menyesal. Aku memang terkadang merindukan masa – masa di mana aku menjadi penyanyi. Bahagia saat semua karya ku di terima oleh semua orang. Tapi, kehadiran mu dan Darren di hari – hari ku dalam beberapa tahun terakhir membuat ku jauh lebih Bahagia. " kali ini bergantian Chan yang bicara Panjang lebar pada ku." terima kasih karena sudah bahagia bersama ku. " ucap ku membalikkan tubuh ku menghadap dirinya." no, honey. Aku yang harus berterima kasih pada mu karena menjadi sumber kebahagiaan dan sumber kekuatan untuk ku dan Darren. Terima kasih karena sudah bersabar menghadapi manusia seperti ku yang pasti tak mudah kau lalui. " ujar Chan.Dapat ku lihat terpancar aura ketulusan di wajahnya saat ini. Dan membuat ku mengangguk seraya mengubur wajah ku di dadanya dan mendekap tubuhnya erat." aku mencintaimu, Chan. " ucap ku mengucapkan kata cinta pada suami yang sudah ku nikahi selama delapan tahun ini." mee to Mey. Mee to. I love you more and more. " balas Chan dengan mengucapkan kata cinta juga pada diri ku.Ucapan cinta kami berdua kini pun ku harap di aminkan oleh seluruh alam semesta. Aku berharap hubungan ku dan Chan akan berjalan baik – baik saja. Tanpa ada sesuatu hal yang akan menyakiti salah satu dari kami berdua. Aku juga berharap kami akan saling membahagiakan hingga nanti. Hingga aku dan dirinya menutup mata dan tertidur selamanya.*****
ASISTEN DOSEN 2018-2019
Tahun 2018 aku kembali ikut pengenalan wilayah sebagai asisten dosen. Saat itu kami kembali ke Jawa Timur. Di tahun ini, aku gak ada mengalami hal yang aneh - aneh. Kami juga gak balik ke hotel itu lagi.Hanya saja, saat kami menginap di villa dekat gunung bromo, aku sama sekali gak bisa tidur. Dari malam sampai menjelang subuh untuk naik ke penanjakan guna melihat sunrise. Aku merasa hawa di villa itu panas. Bahkan dari jam sembilan malam hingga jam satu tengah malam, aku mandi keramas dua kali. Dan itu pun aku masih berkeringat. Entah kenapa.Awalnya aku berfikir, mungkin karena aku terbiasa tidur memakai kipas angin. Tapi saat aku menceritakan hal ini pada beberapa orang yang sering ke bromo, ulah ku ini gak wajar. Di saat orang pergi ke penanjakan memakai jaket tebal bahkan berlapis, sarung tangan, sepatu dengan kaos kaki tebal bahkan memakai topi juga meminum teh panas, aku justru kebalikannya.Aku pergi dari villa hanya memakai baju blouse tipis, dengan celana jeans, juga sendal gunung. Sama sekali tak memakai alat untuk memanaskan badan. Bahkan di warung pun aku sempat - sempatnya memesan teh es pada pukul empat subuh. Membuat beberapa mahasiswa dan dosen ku terkejut karena ulah ku ini.~~~~~~~~~~Lalu tahun 2019, aku kembali menjadi asisten dosen untuk mata kuliah ini. Dengan jumlah kami sekitar 25an termasuk dosen dan tour guide. Dan kali ini kami pergi ke Semarang dan Yogjakarta. Pada saat ke Semarang, kami pergi ke Sam Pho Kong dulu, dan pas adzan magrib, kami tiba di Lawang Sewu. Hati ku udah mulai ngerasa gak enak. Karna ke sana dengan jam yang krusial seperti itu. Tapi aku juga penasaran apa yang akan terjadi pada kami karena kami semua tau seperti apa di sana.Dan di sana, aku dan ketiga teman ku naik ke lantai dua. Pada saat itu tiba - tiba kakak tour guide kami datang dan menemani kami. Tapi pada saat menaiki tangga ke lantai dua, aku merasa nafas ku berat dan bahu ku terasa tertekan. Tapi aku diam karena aku tau ketiga teman ku ini cukup penakut dan lumayan "lemah buluan". Aku tak mau ada sesuatu yang terjadi. Tiba - tiba, saat kami berada di anakan tangga terakhir, kami di kejutkan dengan tulisan bahwa lantai dua tertutup untuk umum. Dan di jalan itu di tutup pagar.Saat kami hendak berfoto di tangga itu, aku melihat ada perempuan memakai gaun berwarna putih yang sedikit kekuningan melewati lorong teras di lantai dua. Aku refleks menegur " kok itu ada cewek lewat. Kok boleh masuk sih. Kan di larang. ". Kakak tour guide kami pun bertanya cewek siapa. Aku jelaskan kalo dia pakai baju panjang berwarna putih kekuningan tapi aku gak liat mukanya tapi rambutnya coklat. Saat itu pula mereka semua narik aku buat turun. Dan saat di bis menuju mess tempat kami menginap, temen ku bilang kayaknya yang ku liat itu bukan manusia karena gak ada yang lewat di tangga itu selain kami berlima. Gak mungkin ada orang di atas selain kami.Tak lama setelah itu, entah kenapa, bis kami mengalami suatu keanehan. Kami tersesat saat hendak menuju mess pabrik. Tidak sekali. Melainkan empat kali kami tersesat. Bahkan sampai kami. Masuk ke jalan yang belum beraspal. Padahal GPS sudah mengarahkan ke tempat tujuan kami. Sopir bus pun sudah beberapa kali ke mess pabrik tersebut. Tapi beliau sendiri di buat kebingungan dengan jalan yang tiba - tiba berbeda itu. Kami punn berhenti sejenak untuk menenangkan diri dan baru mulai berangkat lagi.Pas kami tiba di mess, sudah pukul 12 malam. Kami semua langsung berbagi kamar. Aku dapat kamar yang cukup luas dengan ranjang dipan 5 buah. Aku bersama tiga teman ku dan ibu dari tour guide kami bergabung dalam satu kamar. Malam itu pula, aku langsung mandi keramas karna aku merasa gerah di mess itu. Yang mana padahal mess itu berada di daerah tinggi di daerah perkebunan teh. Apalagi, malam itu cukup dingin. Setelah mandi, aku keluar kamar dan ngobrol dengan salah satu dosen ku (yang sudah alm. sekarang) sampai jam 2 lewat. Beliau pun menyuruh ku istirahat karena besok pagi kami akan ada praktikum dan langsung menuju ke Yogjakarta.(Ternyata salah satu teman ku melihat ku mandi keramas. Dirinya fikir air di kamar mandi cukup hangat untuk mandi keramas. Dirinya pun mengikuti ku. Dan ternyata teman ku itu langsung mimisan tak berhenti - berhenti. Cukup lama dia mimisan sampai wajahnya terlihat pucat).Aku pun masuk kamar dan merebahkan diri di ranjang sembari menghadap dinding karena aku memilih ranjang yang paling pojok. Ranjang di dalam mess itu yang di bawahnya ada kolong. Tiba - tiba dari arah kamar mandi yang berada di ujung kamar satunya, aku mendengar ada suara perempuan sedang bicara.Sedangkan aku tau ketiga teman ku dan ibu dari kakak tour guide kami itu sudah tidur pulas. Dan hanya aku yang satu - satunya masih terjaga di kamar itu. Tapi aku langsung berfikir positif mungkin kamar sebelah yang masih ngobrol. Yang mana padahal kamar sebelah adalah kamar dosen ku dan kakak tour guide juga sopir bus. Gak mungkin ada perempuan di kamar itu.Tak berapa lama, tiba - tiba jendela di atas kepala ranjang ku berbunyi. Baru saja aku hendak melihat ke arah jendela itu, aku mendengar ada bunyi cakaran di jendela itu berkali - kali dan mengetuk jendela itu dengan cukup keras. Lalu tiba - tiba dari bawah ranjang ku juga ada yang mengetuk - ngetuk. sampai aku merasakan ketukan itu di tubuh ku. Sangat tidak mungkin ada orang yang bersembunyi di kolong ku karena koper milik ku, ku masukkan ke dalam kolong ranjang ku itu. Cukup lama gangguan itu terjadi sampai akhirnya berhenti dan aku baru bisa tidur pas adzan subuh berkumandang.Aku baru menceritakan itu semua pada ketiga teman ku setelah kami tiba di Jogja. Kami menginap di Jogja selama dua malam. Dan pada malam terakhir di Jogja, aku dan salah satu teman ku pergi ke daerah Malioboro jam 10 malam. Kami berjalan dari Malioboro dekat pasar kembang sampai ke Alun - alun utara. Begitu tiba di alun alun utara, aku merasa sesuatu yang gak enak. Sehingga beberapa kali aku mengajak teman ku untuk pulang.Pada saat itu sudah menunjukkan jam setengah 2 dini hari. Bahkan aku sampai gak berani untuk menginjak daerah alun alun. Aku cuma berdiri di pagar antara jalan raya dan alun - alun aja. Beruntungnya teman ku mau untuk di ajak pulang. Keesokan harinya, aku bertanya pada karyawan hotel tempat aku menginap mengenai kejadian yang ku alami di alun - alun Utara. Dan menurut beliau, untuk perempuan yang sedang mendapat tamu bulanan memang tidak di perkenankan mendatangi daerah alun - alun. Baik itu Selatan maupun Utara.
PRAKTIKUM 2016
Tahun 2016, aku ada mata kuliah pengenalan wilayah di Jawa Timur. Dan mahasiswanya sekitar 100 orang. Pengalaman pertama dimulai pas praktikum di kebun apel daerah Batu. Salah satu temen ku nelpon mamanya yang mau titip apel buat di bawa pulang nanti. Dan tiba - tiba abis praktikum, HP nya ilang. Kita semua heboh nyari. Banyak yang bilang kalo temen ku ini lupa kalo handphonenya ketinggalan di hotel. Sedangkan aku sendiri liat dia nelpon pake handphone itu karna dia duduk di samping depan aku serong ke kanan. Trus pas di telpon cuma ada nada panggil tapi gak bunyi di bis itu.Trus ada salah satu tour guide kami yang nyaranin buat temen ku nyari di kamar hotelnya. Hal yang bodoh banget fikir ku. Karena jelas - jelas temen ku nelpon pas di dalam bus di depan tempat praktikum. Dia bahkan nelpon di depan ku. Mana bisa HP nya di kamar hotel. Tapi akhirnya mereka tetep ke hotel pake motor karena waktu itu kami yang lain ngelanjut perjalanan ke tempat praktikum selanjutnya.Dan ternyata!!! HP nya ketemu di dalam kamar hotel, di atas ranjang di dalam selimut yang menggumpal. Karena pas di depan kamar hotel temen ku nelpon ada bunyi dering dari dalam selimut itu. Padahal, sebelumnya pas dia masih belum masuk kamar, dia nelpon HP nya itu. Dan ada yang nerima panggilannya, tapi gak ada suaranya. Cuma suara gresek - gresek aja.Dan malamnya, di hotel yang sama di daerah Batu, itu tanggal 28 Januari 2016. Malam itu malam kedua kami nginep di situ. Aku dan 6 teman ku yang lain berencana setelah magrib ingin keluar hotel dan jalan - jalan menikmati kota Batu. Karena besoknya kami pindah dan nginep di malang. Tapi ternyata, temen ku dari lantai 2 dan 3 pada heboh karena banyak kejadian aneh. FYI, aku dan 6 teman ku tidur di lantai 1.Banyak temen - temen ku yang ngalamin di sentuh oleh sesuatu yang tak kasat mata, di ganggu dan lainnya sampai bahkan nangis sendiri. Nyaris semua yang di ganggu itu cewek. Akhirnya banyak temen ku yang tidur satu kamar lebih dari 6 orang dan di temenin sama beberapa temen ku yang cowok karna takut ada kejadian lain. Kami bertujuh batal keluar hotel dan milih di dalam kamar aja karna takut ada apa apa. Apalagi ternyata baru ku ketahui kalau di lantai 1 hanya 2 kamar yang terisi. Yang kami isi bertujuh.Aku berempat dengan teman ku satu kamar. Sedangkan teman ku bertiga di kamar yang satunya.Dan malam itu, pas kami mau tidur, tiba - tiba jendela di kamar ku yang menghadap belakang di ketuk keras. Saat itu posisi ranjang menempel dinding dan aku yang tidur di samping jendela. Dan setelah itu pintu di samping jendela yang menghadap belakang kamar juga di ketuk dan gagang pintunya di tarik seperti hendak di buka paksa tapi gak bisa karna aku kunci sebelumnya. Ku fikir temen ku dari kamar samping yang mau ngerjain. Trus ku tegur supaya jangan berisik. Setelah itu hening seperti gak ada apa - apa.Akhirnya kami semua tidur. Besok paginya, aku berencana mau ngerjain balik temen ku lewat pintu belakang buat bangunin mereka bertiga. Dan begitu ku buka pintu belakang, aku langsung kaget karena kiri kanan depan pintu belakang itu tembok beton tinggi sekitar 3 meter. Sama sekali gak ada pintu buat ke kamar samping. Orang juga gak mungkin bisa manjat tembok setinggi itu. Jadi siapa yang ketok jendela dan mau masuk ke kamar kami kemaren? Aku langsung diem dan gak berani ngomong apa - apa lagi.Lalu kami pergi ke Malang dan pindah hotel. Dan di hotel itu kamar kami selang seling cowok cewek sebelahan karena takut ada terjadi apa apa lagi. Dan bener aja. Di kamar itu, aku tidur berempat satu kamar. Entah kenapa, kamar itu terasa panas padahal AC udah di setel paling dingin. Dan aku aja yang ngerasa panas. Tiga orang temen ku yang sekamar sama aku, sama sekali gak ngerasa apa - apa. Aku lalu meminta temen cowok ku buat bacain doa di kamar itu (dia juga ngerasa panas banget di situ). Setelah itu baru mulai kerasa dingin.Akhirnya kami berempat masuk dan naruh barang barang di situ. Trus pas kami berempat lagi asik ngobrol di atas ranjang, tiba - tiba dari dalam kamar mandi ada bunyi shower yang bunyi. Dan begitu kami cek, shower itu gak nyala dan lantai juga gak basah. Begitu kami balik ke atas ranjang, dari arah kamar mandi terdengar suara botol air mineral plastik yang di remas dan cukup berisik. Akhirnya, aku nyuruh temen ku buat berhenti ngobrol dan langsung tidur.Lusanya pas kami udah di bandara mau balik ke kota asal. Baru aku cerita kejadian itu sama temen temen ku yang lain. Dan ada temen ku yang cerita saat dia buang air di kamar mandi, ada darah segar yang netes di pahanya dari atas dan langsung bikin dia keluar dari kamar mandi. Ada juga temen ku cowok yang lagi sikat gigi di wastafel di dalam kamar mandi. Dan tiba - tiba shower di deketnya nyala sendiri dan trus mati. Padahal dia sendirian di kamar mandi dan gak nyentuh shower itu.