ASISTEN DOSEN 2018-2019
Teen
11 Feb 2026

ASISTEN DOSEN 2018-2019

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download - 2026-02-12T001652.119.jfif

download - 2026-02-12T001652.119.jfif

11 Feb 2026, 17:22

download - 2026-02-12T001650.757.jfif

download - 2026-02-12T001650.757.jfif

11 Feb 2026, 17:22

Tahun 2018 aku kembali ikut pengenalan wilayah sebagai asisten dosen. Saat itu kami kembali ke Jawa Timur. Di tahun ini, aku gak ada mengalami hal yang aneh - aneh. Kami juga gak balik ke hotel itu lagi.

Hanya saja, saat kami menginap di villa dekat gunung bromo, aku sama sekali gak bisa tidur. Dari malam sampai menjelang subuh untuk naik ke penanjakan guna melihat sunrise. Aku merasa hawa di villa itu panas. Bahkan dari jam sembilan malam hingga jam satu tengah malam, aku mandi keramas dua kali. Dan itu pun aku masih berkeringat. Entah kenapa.

Awalnya aku berfikir, mungkin karena aku terbiasa tidur memakai kipas angin. Tapi saat aku menceritakan hal ini pada beberapa orang yang sering ke bromo, ulah ku ini gak wajar. Di saat orang pergi ke penanjakan memakai jaket tebal bahkan berlapis, sarung tangan, sepatu dengan kaos kaki tebal bahkan memakai topi juga meminum teh panas, aku justru kebalikannya.

Aku pergi dari villa hanya memakai baju blouse tipis, dengan celana jeans, juga sendal gunung. Sama sekali tak memakai alat untuk memanaskan badan. Bahkan di warung pun aku sempat - sempatnya memesan teh es pada pukul empat subuh. Membuat beberapa mahasiswa dan dosen ku terkejut karena ulah ku ini.





~~~~~~~~~~





Lalu tahun 2019, aku kembali menjadi asisten dosen untuk mata kuliah ini. Dengan jumlah kami sekitar 25an termasuk dosen dan tour guide. Dan kali ini kami pergi ke Semarang dan Yogjakarta. Pada saat ke Semarang, kami pergi ke Sam Pho Kong dulu, dan pas adzan magrib, kami tiba di Lawang Sewu. Hati ku udah mulai ngerasa gak enak. Karna ke sana dengan jam yang krusial seperti itu. Tapi aku juga penasaran apa yang akan terjadi pada kami karena kami semua tau seperti apa di sana.

Dan di sana, aku dan ketiga teman ku naik ke lantai dua. Pada saat itu tiba - tiba kakak tour guide kami datang dan menemani kami. Tapi pada saat menaiki tangga ke lantai dua, aku merasa nafas ku berat dan bahu ku terasa tertekan. Tapi aku diam karena aku tau ketiga teman ku ini cukup penakut dan lumayan "lemah buluan". Aku tak mau ada sesuatu yang terjadi. Tiba - tiba, saat kami berada di anakan tangga terakhir, kami di kejutkan dengan tulisan bahwa lantai dua tertutup untuk umum. Dan di jalan itu di tutup pagar.

Saat kami hendak berfoto di tangga itu, aku melihat ada perempuan memakai gaun berwarna putih yang sedikit kekuningan melewati lorong teras di lantai dua. Aku refleks menegur " kok itu ada cewek lewat. Kok boleh masuk sih. Kan di larang. ". Kakak tour guide kami pun bertanya cewek siapa. Aku jelaskan kalo dia pakai baju panjang berwarna putih kekuningan tapi aku gak liat mukanya tapi rambutnya coklat. Saat itu pula mereka semua narik aku buat turun. Dan saat di bis menuju mess tempat kami menginap, temen ku bilang kayaknya yang ku liat itu bukan manusia karena gak ada yang lewat di tangga itu selain kami berlima. Gak mungkin ada orang di atas selain kami.

Tak lama setelah itu, entah kenapa, bis kami mengalami suatu keanehan. Kami tersesat saat hendak menuju mess pabrik. Tidak sekali. Melainkan empat kali kami tersesat. Bahkan sampai kami. Masuk ke jalan yang belum beraspal. Padahal GPS sudah mengarahkan ke tempat tujuan kami. Sopir bus pun sudah beberapa kali ke mess pabrik tersebut. Tapi beliau sendiri di buat kebingungan dengan jalan yang tiba - tiba berbeda itu. Kami punn berhenti sejenak untuk menenangkan diri dan baru mulai berangkat lagi.

Pas kami tiba di mess, sudah pukul 12 malam. Kami semua langsung berbagi kamar. Aku dapat kamar yang cukup luas dengan ranjang dipan 5 buah. Aku bersama tiga teman ku dan ibu dari tour guide kami bergabung dalam satu kamar. Malam itu pula, aku langsung mandi keramas karna aku merasa gerah di mess itu. Yang mana padahal mess itu berada di daerah tinggi di daerah perkebunan teh. Apalagi, malam itu cukup dingin. Setelah mandi, aku keluar kamar dan ngobrol dengan salah satu dosen ku (yang sudah alm. sekarang) sampai jam 2 lewat. Beliau pun menyuruh ku istirahat karena besok pagi kami akan ada praktikum dan langsung menuju ke Yogjakarta.

(Ternyata salah satu teman ku melihat ku mandi keramas. Dirinya fikir air di kamar mandi cukup hangat untuk mandi keramas. Dirinya pun mengikuti ku. Dan ternyata teman ku itu langsung mimisan tak berhenti - berhenti. Cukup lama dia mimisan sampai wajahnya terlihat pucat).

Aku pun masuk kamar dan merebahkan diri di ranjang sembari menghadap dinding karena aku memilih ranjang yang paling pojok. Ranjang di dalam mess itu yang di bawahnya ada kolong. Tiba - tiba dari arah kamar mandi yang berada di ujung kamar satunya, aku mendengar ada suara perempuan sedang bicara.

Sedangkan aku tau ketiga teman ku dan ibu dari kakak tour guide kami itu sudah tidur pulas. Dan hanya aku yang satu - satunya masih terjaga di kamar itu. Tapi aku langsung berfikir positif mungkin kamar sebelah yang masih ngobrol. Yang mana padahal kamar sebelah adalah kamar dosen ku dan kakak tour guide juga sopir bus. Gak mungkin ada perempuan di kamar itu.

Tak berapa lama, tiba - tiba jendela di atas kepala ranjang ku berbunyi. Baru saja aku hendak melihat ke arah jendela itu, aku mendengar ada bunyi cakaran di jendela itu berkali - kali dan mengetuk jendela itu dengan cukup keras. Lalu tiba - tiba dari bawah ranjang ku juga ada yang mengetuk - ngetuk. sampai aku merasakan ketukan itu di tubuh ku. Sangat tidak mungkin ada orang yang bersembunyi di kolong ku karena koper milik ku, ku masukkan ke dalam kolong ranjang ku itu. Cukup lama gangguan itu terjadi sampai akhirnya berhenti dan aku baru bisa tidur pas adzan subuh berkumandang.

Aku baru menceritakan itu semua pada ketiga teman ku setelah kami tiba di Jogja. Kami menginap di Jogja selama dua malam. Dan pada malam terakhir di Jogja, aku dan salah satu teman ku pergi ke daerah Malioboro jam 10 malam. Kami berjalan dari Malioboro dekat pasar kembang sampai ke Alun - alun utara. Begitu tiba di alun alun utara, aku merasa sesuatu yang gak enak. Sehingga beberapa kali aku mengajak teman ku untuk pulang.

Pada saat itu sudah menunjukkan jam setengah 2 dini hari. Bahkan aku sampai gak berani untuk menginjak daerah alun alun. Aku cuma berdiri di pagar antara jalan raya dan alun - alun aja. Beruntungnya teman ku mau untuk di ajak pulang. Keesokan harinya, aku bertanya pada karyawan hotel tempat aku menginap mengenai kejadian yang ku alami di alun - alun Utara. Dan menurut beliau, untuk perempuan yang sedang mendapat tamu bulanan memang tidak di perkenankan mendatangi daerah alun - alun. Baik itu Selatan maupun Utara.

Kembali ke Beranda