SEORANG CINDERELLA?!
Teen
12 Feb 2026

SEORANG CINDERELLA?!

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download - 2026-02-12T233356.068.jfif

download - 2026-02-12T233356.068.jfif

12 Feb 2026, 16:37

download - 2026-02-12T233354.981.jfif

download - 2026-02-12T233354.981.jfif

12 Feb 2026, 16:37

" Fan, udah gue bilang kan sama elo. Susah buat nyari sekretaris yang berkompeten kayak apa yang elo mau. Harus ini lah. Itu lah. Sekarang, begitu sekretaris elo baru kerja dua bulan malah elo pecat. Mau elo yang gimana sih Fan. Gue jujur aja sebagai rekan kerja dan sebagai sahabat elo, mulai kesusahan nyari sekretaris yang elo mau. " ujar Tyo.

" gue gak akan mecat Nina kalo dia bisa ngerjain apa yang gue suruh. Tapi apa? Dia kerja aja gak becus. Datang telat lah, kerjaan lewat dari deadline lah, dan lainnya. Gue nyari sekretaris buat mempermudah gue kerja, Satrio Fajar William. Bukan malah bikin susah gue di kantor. Mending dari sekarang elo udah mulai bikin iklan buat nyari sekretaris baru. Gue gak perduli elo mau pasang iklan di tv, radio, surat kabar, atau di mana pun. Uang bukan masalah bagi gue. Gue minta sekretaris itu harus sudah mulai interview sama gue lusa nanti. Oke? Udah dulu ya. Gue mau keluar sebentar nyari angin. " ujar Fandi sambil memutuskan sambungan teleponnya dengan Tyo tanpa memberi celah untuk Tyo menolaknya.

Ingin sekali rasanya Tyo mencekik leher sahabatnya itu dan juga menjabat sebagai bosnya di perusahaan ini. Mencari sekretaris yang sesuai dengan keinginan Fandi sama saja judulnya dengan mencari sebuah jarum di antara tumpukan jerami. Harus di lakukan walau mustahil di dapatkan. Susahnya gak ketulungan.

Setiap sekretaris yang di dapat Tyo untuk Fandi akan selalu berakhir sama. Surat pemecatan dari Fandi. Dan itu artinya tugas kembali di sematkan pada Tyo untuk mencari sekretaris baru lagi untuk Fandi.

*****

" gue perlu kerjaan Bel. Gue gak mungkin minta tolong elo terus. Udah sebulan ini gue gak bisa dapet kerjaan. Kerjaan apapun gue lakuin deh. " ujar ku saat aku lagi - lagi harus menumpang makan di kamar teman kos ku yang sekaligus sahabat ku, Bella Andini.

" udahlah Sya. Elo santai aja. Elo kayak sama Siapa aja deh. Gue kan sahabat elo. Wajar kalo gue bantuin elo. " ujar Bella sambil melahap nasi bungkus yang di belinya ketika pulang kantor tadi.

" gue gak enak sama elo, selama ini elo yang selalu bantuin gue kalo gue harus nganggur. Dan elo juga yang... " belum selesai aku bicara, tiba - tiba handphone Bella berbunyi, dan di layar tertulis nama Tyo, pacar Bella.

Bella pun segera menangkat telepon di hadapan ku. Aku sama sekali tak mau menganggu Bella yang sedang bicara dengan Tyo di telepon dan lebih memilih menghabiskan nasi bungkus yang di beli Bella untuk ku.

*****

" Sya, gue punya kabar baik buat elo. Kebetulan sahabat Tyo, direktur di tempat gue kerja. Dia lagi perlu sekretaris. Karena sekretarisnya udah di pecat. Dan menurut gue, elo masuk dalam syarat - syaratnya yang di kasih. Gimana? Mau nggak? Kalo elo mau, elo segera kasih semua syarat - syaratnya ke gue. Ntar biar gue kasih ke Tyo. Kalo elo masuk dalam pilihannya. Elo bisa langsung di interview. Gimana? " ujar Bella dengan sangat antusias begitu menutup telepon dengan Tyo, dan membuat ku terkejut.

Untung saja aku telah menyelesaikan makan malam ku. Kalau tidak, dapat ku pastikan aku akan tersedak mendengar berita yang di sampaikan Bella pada ku barusan. Aku pun langsung menyetujui kata - kata Bella dan menyanggupi menjadi sekretaris di perusahaan itu.

" Oke. Sekarang elo mesti nyiapin semuanya. Nah ntar lusa, elo ikut gue sama Tyo aja ke kantor. Sekalian buat tahap interview kalo tahap penyaringan datanya ini elo di terima. " tambah Bella. Dan langsung aku jawab dengan anggukkan pasti.

" sip. Makasih ya sekali lagi Bell. Elo emang sahabat gue paling baik yang selalu ada buat gue. Gue balik deh ke kamar, sekalian nyiapin berkasnya dulu. " ujar ku sambil beranjak menuju kamar ku yang tepat di sebelah kamar Bella.

*****

" ada apa yo? Tumben ngajak makan siang di sini? " Tanya Fandi begitu dia dan Tyo menyelesaikan makan siang mereka di restoran yang berada didekat kantor.

Fandi sempat merasa heran kenapa sahabatnya satu ini mengajak mereka makan siang di Restoran yang terletak cukup jauh dari kantor mereka. Apalagi di tambah hari ini mereka sedang sibuk -sibuknya. Tak biasanya Tyo memaksanya untuk acara makan siang saja sampai harus di restoran sejauh ini.

" Kemaren, elo minta sama gue buat nyariin elo sekretaris baru kan? Jujur, sampai saat ini, gue baru bisa nemuin satu orang kandidat yang cocok buat jadi sekretaris elo. Namanya Natasya Alfania Putri. Dia sahabatnya Bella, pacar gue. Gue udah liat semua data dan biodatanya. Gue rasa dia bisa lah ikut interview dari elo. Elo bisa liat semua data dirinya di lampiran berkas ini. Semuanya lengkap di map ini. " Ujar Tyo sambil menyerahkan sebuah map berwarna merah ke arah Fandi yang berada di hadapannya.

" sahabat Bella? Elo jangan gitu dong Yo. Jangan mentang - mentang dia itu sahabat pacar elo, jadi dia bisa seenaknya kerja di perusahaan ini! " seru Fandi marah. Dan menghempaskan map yang di berikan Tyo di atas meja. Tanpa membacanya terlebih dulu.

Fandi heran, apa sebegitu susahnya seorang Satrio Fajar William mencarikannya seorang sekretaris sampai Tyo harus mengulurkan sahabat Bella yang notabene pacar Tyo kepadanya untuk menjadi sekretaris pribadinya.

" sabar dulu dong Fan. Makanya di baca tuh data dari Natasya. Begitu elo baca semua data dirinya Natasya, elo bakal ngerti kenapa gue begitu yakin elo bakalan nerima dia. Di map itu, gue juga udah nulis beberapa informasi tentang Natasya yang gue tahu. Gue udah beberapa kali ketemu dia. " ujar Tyo sambil tersenyum misterius.

Mau tak mau, dengan malas dan sedikit rasa penasaran, Fandi membuka map itu dan mulai membacanya secara detail dan menyeluruh, tanpa ada satupun yang terlewat dari mata elangnya.

*****

" ini semua data milik dia? Jangan ngarang deh Yo. " ujar Fandi begitu selesai membaca semua data milik ku.

" see... itu beneran semua data miliknya. Gimana? Bener kan kata gue, elo gak bakal percaya kalo elo gak liat sendiri cara kerja dia. Lo interview gak? Jarang - jarang seorang cewek punya prestasi kayak gitu di jaman sekarang. " Ujar Tyo tersenyum senang.

Kerjaan untuk mencarikan Fandi seorang sekretaris sepertinya sudah nyaris selesai dan beres, sehingga dia tak perlu lagi pusing tujuh keliling mencarikan sekretaris yang sesuai dengan keinginan temannya ini, dan Tyo berdoa dalam hati agar aku bisa sangat tahan banting jika berurusan dengan seorang Fandi.

" oke deh. Ntar besok suruh datang aja ke kantor. Sekitar jam 11. Begitu gue selesai rapat sama bagian humas dia langsung gue interview. " putus Fandi sambil memanggil pelayan untuk membayar makanan.

Dan mau tak mau ucapan Fandi barusan membuat Tyo akhinya bisa menghembuskan nafas lega karena sudah membantu sahabatnya dan juga sahabat Bella, pacarnya.

*****

" serius Yo? Gue di interview besok? Jangan ngarang deh elo Yo. Gue tabok nih. Jangan bikin gue berharap gitu dong. " ujarku saat Tyo menelpon ku dan mengatakan bahwa aku di terima di perusahaan tempatnya dan Bella bekerja dan tinggal menunggu interview.

" Tabok - tabok. Elo cowok apa cewek sih Sya. Ya iyalah gue serius ini Sya. Barusan gue ngomong sama Fandi. Dia oke kok. Besok gue jemput ya sama Bella. " sewot Tyo tak terima aku ingin menaboknya.

" menurut elo?! Tapi thanks berat ya Yo. Kali ini elo bener - bener temen gue banget. Gak salah deh Bella punya pacar kaya elo. Oh ya, ntar kalo elo berdua pulang dari kantor tolong bilangin Bella ya titipan gue jangan lupa. Udah dulu ya Yo, gue mau pergi sebentar. " ujar ku mengakhiri sambungan telepon ku dengan Tyo setelah Tyo mengiyakan permintaan ku dan membalas ucapan terima kasih ku yang ku lontarkan pada dirinya.

*****

" gimana yang? Tasya oke kan? " tanya Bella pada Tyo yang baru selesai menelepon ku.

" temen elo ngakuin gue jadi temennya baru sekarang. Bener - bener deh. " sahut Tyo menggelengkan kepalanya dan berhasil membuat Bella tertawa.

" masa? Kasiannya pacar gue ini. Sabar ya pak. " ucap Bella di tengah - tengah tawanya yang masih di lontarkannya. Dan membuat Tyo menghela nafas panjang dengan malas.

" gak pacar, gak temen, gak sohib, sama - sama bikin darah tinggi ini mah. Untung gue baik. " keluh Tyo dalam hati.

" semoga kali ini jadi deh, biar gue gak stress mikirin mereka berdua. " ucap Tyo yang langsung di amini oleh Bella.

" aamiin yang. Semoga ya. " sahut Bella mengelus tangan pacarnya itu.

*****

" gimana Sya? Elo siap? Rileks aja Sya. Fandi gak jahat kok. Cuma nyeremin aja. Jangan kaget ya Sya ntar kalo dia suka mau nerkam elo tiba - tiba kalo kalian berdua ngobrol. Ini udah jadi sifatnya yang mendarah daging. " hibur Tyo tersenyum jahil sambil berusaha menenangkan ku saat aku, dia dan Bella sampai di depan ruangan Fandi.

Namun kata - kata yang terlontar dari mulut Tyo barusan bahkan semakin membuat ku sedikit tertekan dan tidak membantu sama sekali untuk menghibur ku. Dan ucapannya kali ini berhasil membuat ku merengut ke arahnya.

" Yang, elo jangan gitu dong sama Tasya. Elo malah makin dia down tau gak. " ujar Bella sambil menegur pacarnya. Dan di ikuti oleh tawa dari Tyo sehingga membuat ku seketika kembali manyun.

" elo berdua malah tambah bikin gue gugup tau gak. Berisik deh. " ujar ku kepada mereka berdua seraya melirik jam dinding yang ada di belakang meja sekretaris yang kosong tak berpenghuni dan tampak tak di huni. Jam sebelas kurang sepuluh menit. Sepuluh menit lagi pikir ku.

Tiba - tiba dari lift yang berada tepat di seberang pintu masuk ruangan Fandi, keluar seseorang yang membuat ku terpesona. Wajahnya sangat tampan. Jelas sekali di dalam darahnya mengalir darah Eropa. Harus aku akui laki - laki ini memiliki sorot mata yang tajam dan sangat berwibawa. Hidungnya mancung dan memiliki bibir yang merah.

Terlihat sekali bibir itu tak pernah bersentuhan dengan nikotin. Ku taksir umur laki - laki itu tak berbeda jauh dari Bella dan juga Tyo. Sekitar dua puluh tujuh tahun. Sangat - sangat berpotensi sebagai calon imam di masa depan nanti.

Penampilannya pun tak bisa dianggap remeh. Jas hitam yang melekat sempurna pas di tubuhnya sangat - sangat membuat orang yang melihatnya berfikir sepertinya memang jas itu memang tercipta untuk tubuhnya. Dengan kemeja berwarna merah dan dasi serta celana berwarna hitam, dia benar - benar menjadi sosok pria yang nyaris sempurna. Begitulah pengamatan dan penilaian pertama ku kepada laki - laki ini. Bukan hal yang sulit untuk jatuh cinta pada dirinya saat pandangan pertama.

" Hei Richard Irfandi Matthew. Akhirnya lo datang juga. Gue fikir kami harus nunggu lebih lama lagi. Oh ya. Ini nih orangnya. Yang di samping Bella itu namanya Natasya Alfania Putri yang bakalan di interview sama elo. Menurut gue dia satu - satunya kandidat yang pas. " ujar Tyo begitu dia melihat lelaki yang baru saja aku kagumi tadi sambil mengenalkan. ku kepada lelaki itu.

Ternyata dia yang akan jadi bos ku apabila aku di terima bekerja menjadi sekretaris di sini. Aku pun segera tertunduk malu tak kala pandangan ku bertabrakan dengan pandangan Laki - laki itu yang langsung menatap ku dalam begitu dia melihat ku.

Sepertinya dia sedang menilai dan menimbang apakah aku pantas untuk menjadi sekretarisnya. Dan sialnya dia menangkap basah pandangan ku yang sejak tadi sedang mengagumi penampilan dirinya kali ini. Semoga saja tidak akan ada masalah ke depannya nanti.

Aku sedikit gugup dengan tatapan lelaki itu. Apalagi aku hari ini hanya memakai kemeja polos berwarna biru muda dan celana kain hitam serta sepatu hak tinggiku yang hanya memiliki hak setinggi 7 cm.

Sedangkan wajah dan rambut ku hanya di poles sederhana tak berlebihan sama sekali. Jika lelaki ini mencari seorang sekretaris berdasarkan pada penampilan yang paling utama, sangat - sangat jelas sepertinya aku akan tersingkir.

" oke. Kalau gitu, kalian berdua bisa pergi. Dan kamu, silahkan ikut saya ke dalam ruangan saya. " ujar Fandi penuh wibawa sambil memberi ku kode untuk mengikutinya.

Di ikuti tatapan pemberi semangat dari Bella dan Tyo, aku mulai menghilang di balik pintu yang terukir sangat indah berwarna biru muda dan silver.

" silahkan duduk. Santai saja. Saya tidak menyukai interview yang tegang. Jadi kamu bisa santai bicara dengan saya. " ujar Fandi seraya duduk di kursi singgasananya dan mempersilahkan ku untuk duduk di kursi yang berada dihadapannya.

Kini aku dan Fandi hanya di pisahkan oleh meja kerjanya. Aku bingung harus bicara apa. Dan lebih memilih untuk berdiam diri.

" so, nama anda adalah Natasya Alfania Putri, right? " ujarnya mulai membuka pembicaraan.

" benar pak Richard. Anda bisa memanggil saya Tasya saja. " ujar ku sopan sambil tersenyum tipis.

" panggil saja aku Fandi. Aku juga orang Indonesia. Aku gak suka di panggil Richard atau Matthew. " ucapnya kalem.

" baik pak Fandi. "

" saya sudah membaca data data yang kamu berikan. Dan jujur saja saya tak menyangka ada orang seperti anda. Akselerasi SMA, lulus kuliah dengan predikat Cumlaude . Dan beberapa kali bekerja di perusahan - perusahaan besar yang bonafit dan terkenal. Lalu, kenapa anda sepertinya begitu tak betah bekerja? Saya lihat, anda beberapa kali berganti pekerjaan dan perusahaan? Bosan? Atau apa? "

" Hm. Terima kasih pak, karena jujur saja, secara penglihatan saya, anda cukup terkesan dengan pendidikan saya. Tapi di sini saya bisa tekankan bahwa saya bukan tak betah bekerja. Hanya saja, ada beberapa hal yang membuat saya tak betah untuk bekerja di tempat tersebut. Contohnya saja perusahaan yang mempekerjakan saya sebelum saya melamar di perusahaan anda. Saya resign karena ada sesuatu alasan yang sangat prinsipil yang saya pegang. " ujar ku sambil tersenyum.

Fandi pun cukup lama berdiam diri sambil menunggu lanjutan ucapan ku. Mungkin dia menganggap aku akan menceritakan hal prinsipil apa yang membuatku resign dari perusahaan tempat ku bekerja sebelumnya.

Tapi maaf saja. Aku tak kan mungkin bercerita tentang hal itu pada sembarang orang. Apalagi dia kini jadi calon bos ku untuk di masa yang akan datang. Tentu bukan hal yang lumrah aku menceritakan itu semua kepadanya. Mungkin nanti. Tapi bisa ku pastikan tidak sekarang.

" oke fine. Setelah saya lihat biodata dan semua berkas - berkas anda, Anda saya pastikan di terima di perusahaan ini. Selamat bergabung. Semua yang anda butuhkan, baik informasi, gaji, ataupun yang lain bisa anda diskusikan dengan Tyo dan Bella. " ujar Fandi setelah cukup lama kami berdua berdiam diri sambil dirinya berdiri dan mau tak mau ku ikuti.

" baik. Terima kasih pak. Terima kasih atas kesempatan dan kerja samanya. Permisi pak. " ujar ku berlalu setelah menjabat tangan Fandi. Di ikuti tatapan milik Fandi yang dalam dan penuh makna mengikuti kepergian ku menuju pintu keluar ruangannya.

*****

" Tasya. Tolong ke ruangan gue sekarang. Bawa buku agenda elo juga. " ujar Fandi begitu aku menangkat telepon yang berada di samping kiri di atas meja kerjaku.

Ya, memang. Aku sudah mulai bekerja di perusahaan yang di pimpin oleh Fandi sejak dua minggu belakangan. Dan kali ini aku sangat - sangat berhutang budi pada Tyo dan Bella yang sudah membantu ku untuk mendapatkan pekerjaan ini.

" Baik pak. " ujar ku singkat dan menutup telepon seraya beranjak menuju pintu masuk ruangan pak Fandi yang jaraknya tak lebih dari empat puluh meter dari tempat ku.

" maaf pak, ada apa? " ujar ku begitu masuk ke ruangan yang menurut ku begitu maskulin dan menutup pintu masuk yang sekarang ada di belakang ku.

" udah berkali - kali kan Sya gue bilang. Kalo di ruangan atau di mana pun saat cuma kita berdua, gak usah manggil bapak. Cukup gue elo aja. Risih Sya. Gue gak setua itu kan buat di panggil bapak sama elo. " tegur Fandi ketika aku masih saja nekat memanggilnya Bapak.

Fandi memang sudah dari sejak awal saat dia menerima ku untuk menjadi sekretarisnya, memperingatkan ku untuk memanggilnya Fandi saja ketika kami hanya berdua saja.

" sorry... sorry... Gue kebiasaan. Apalagi di area perusahaan. Aneh aja pake gue elo sama atasan. " ujar ku.

" biasain Sya. " tegurnya sambil matanya sesekali tak lepas dari laptop yang berada di hadapannya.

" oke fine. Ada apa? Tumben manggil gue ke ruangan. " ujar ku sambil duduk begitu melihat sorot mata Fandi yang mengisyaratkan ku untuk duduk di kursi yang ada di hadapannya.

" ntar sore agenda gue apa? " ujar Fandi yang mulai sibuk dengan laptopnya dan membuat ku merasa sedikit di acuhkan.

" ada Rapat sama bagian Pemasaran jam empat sore. Membahas tentang produk baru yang di luncurkan perusahan. Trus nanti elo harus ketemu bu Ningrum buat ngebahas masalah kemaren yang ada di divisi beliau. " ujar ku setelah membaca agendanya hari ini di antara sejumlah acara yang menjadi agenda Fandi selama sebulan ini.

" Sayang, aku telepon kok gak di angkat sih? aku kangen tau. " Ujar Pamela, wanita yang saat ini setahu ku dari gosip yang beredar di perusahaan tengah dekat dengan Fandi yang tiba - tiba masuk ke dalam ruang kerja Fandi. Dan membuat ku dan Fandi kaget. Nyaris saja aku mengumpat karena terkejut. Sedikit tak punya Etika, pikir ku begitu melihat dia tiba - tiba masuk ke dalam ruang kerja Fandi tanpa ba bi bu.

" Pertama, gue bukan pacar elo. Jadi gak usah sok manggil sayang! Ke dua, yang jodohin gue sama elo itu cuma bokap nyokap elo. Sedangkan gue sama kedua orang tua gue gak punya niatan sama sekali buat merealisasikan harapan elo sekeluarga, buat ngejodohin gue sama elo. Ke tiga, sebenarnya punya etika gak sih elo? Percuma kuliah jauh - jauh ke Harvard kalo elo kayak gini. Ke empat. Gue malas angkat telpon elo. Gak penting! " Ujar Fandi yang tetap masih sibuk dengan Laptopnya dan tak memperdulikan perubahan raut wajah Pamela yang menjadi merah padam karna menahan amarah.

Cewek ini sedikit gak punya etika dan terlihat sedikit nakal dengan penampilannya kali ini, Ujar ku di dalam hati.

Dengan gaun yang melekat ketat di tubuhnya yang sangat - sangat kekurangan bahan, dan dengan rambut panjangnya yang terlihat sengaja di buat menjadi keriting di salah satu salon yang ada di muka bumi ini. Sangat terlihat dia menjadi sosok wanita yang bisa membuat ku bergidik. Bukan karena aku takut. Tapi lebih karena aku melihat dia sangat - sangat berharap Fandi akan senang dengan kedatangannya dengan penampilan seperti itu. Tapi nyatanya yang di dapat olehnya justru hal yang berbanding terbalik dengan keinginannya. Aku tanpa sadar menyunggingkan sedikit senyum ku dan ternyata terlihat oleh Pamela.

" ngapain elo masih disini? Keluar sana. Ganggu orang aja. Gak liat apa Fandi lagi kerja? Dasar cewek kampungan! lagian elo tuh gak pantes buat di samping Fandi. Ngerusak mata aja sih. " ujar Pamela tiba - tiba melampiaskan amarahnya pada ku.

Tentu saja dia tak mungkin melampiaskan amarahnya pada Fandi kan? Aku baru saja ingin beranjak berdiri dari kursi ku dan beranjak pergi saat ku dengar Fandi berkata.

" ya udah pak, saya keluar dulu. " pamit ku.

" elo di sini aja Sya. Mel! Harusnya yang pergi dari sini itu elo. Elo ngapain sih di sini. Justru elo yang ganggu gue kerja. Dan harus elo camkan. Tasya itu sekretaris gue. Jadi gue butuh dia dan dia selalu ada di samping gue. Lebih baik elo keluar deh dari sini. Gue sibuk. "

Aku pun kembali duduk di kursi ku dan mulai sibuk dengan Fandi membicarakan beberapa agendanya beberapa hari ke depan. Dan karena Pamela tak kami perdulikan. Akhirnya dia beranjak pergi keluar ruangan dengan raut wajah kesal dan marah.

Sambil menghentakkan ke dua kakinya ke lantai, dia beranjak pergi keluar ruangan dengan tak lupa membanting pintu hingga menyebabkan pintu itu sampai berbunyi berdebam nyaring. Akhirnya aku punya musuh baru, dan tentu saja ini ulah Fandi.

" Good job Fandi. Terima kasih banyak karena elo udah nambahin satu musuh baru buat gue. " ujar ku sambil menghempaskan tubuh ku ke sandaran kursi begitu ku dengan bunyi pintu yang di tutup dengan kasar oleh Pamela barusan.

" biarin deh. Siapa suruh dia gangguin gue mulu dari kemaren - kemaren. "

" terus kenapa malah elo bikin dia marah sama gue? Gue kan gak tau apa - apa masalah perjodohkan kalian berdua. Sekarang dia bukan hanya mandang gue sebagai sekretaris elo, tapi juga saingan dia buat ngedapetin elo. " ujar ku keki. Aku sedikit kesal dengan Fandi yang bersikap masa bodoh dengan hasil dari perlakuannya pada Pamela barusan.

" Ya udah lah. Santai aja. Tenang dong Sya. Pokoknya selama elo sama gue, gue bakalan jagain elo, jadi elo gak usah takut. Apalagi sama Pamela ini. Kan ada gue, Tyo sama Bella. Aman deh pokoknya. " ucapan Fandi yang sesantai ini sama sekali tak membuat ku tenang dan justru membuat ku makin merasa kuatir.

Aku bukannya tak tahu sepak terjang seorang Pamela Karina. Sejak aku bekerja di dalam dunia perkantoran selama ini, aku sudah sering mendengar berita tentangnya dan beberapa kali aku pernah bertemu dengannya. Dan aku pastikan berita yang aku dengar sama sekali bukanlah berita yang terdengar baik - baik saja.

Mulai dari perempuan malam, wanita perebut suami orang, wanita penggoda, dan masih banyak lagi sebutan - sebutan buruk untuknya. Dan aku lihat selama ini orang tua dan keluarga Pamela sama sekali tak ambil pusing dan terlihat tak perduli dengan sebutan yang di sematkan untuk anaknya. Benar - benar keluarga yang aneh menurut ku.

*****

Kembali ke Beranda