Temukan Cerita Inspiratif

Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.

Total Cerita

1144

Genre Romance

230

Genre Folklore

228

Genre Horror

228

Genre Fantasy

230

Genre Teen

228

Reset
Satu per Satu
Teen
18 Feb 2026

Satu per Satu

Yang bisa bertahan hidup dialah yang akan menjadi penguasa. Begitulah hukum rimba yang berlaku. Kita hanya bisa mensyukuri betapa nikmatnya hidup walau kadang-kadang kita juga harus hati-hati dengan kematian. Saat ini aku berada dalam sebuah lingkungan yang dekat dengan kematian dan tidak adanya sebuah kedamaian. Kekerasan selalu menyapaku di setiap hari. Namun hati sebenarnya Berbicara lain. Hati ini situasi cocok dengan lingkungan seperti itu. Lalu dari manakah aku berasal? Apakah itu juga menjadi penting bagi kalian? Justru mulai dari pertanyaan seperti inilah bahkan pertengkaran-pertengkaran itu terjadi.Sebagai petarung sejati, tak terbersit sama sekali untuk menyebut dari mana aku berasal dan siapakah aku? menurutmu masih perlukah jika aku mengatakan bahwa aku ini berasal dari papua atau dari makasar, atau bahkan Madura dan lain sebagainya? Bukankah itu berarti hanya mengandalkan etnis yang sangat menakutkan dan tangguh? TIDAK… .ini langkah langkah seorang kesatria. Bahkan yang demikian itu terlihat sebagai langkah yang sombong. Tapi sebagai lelaki seharusnya. “One by one”… .begitulah kata yang selalu terlontar ketika saat akan disitulah.Tiba-tiba handphoneku bergetar dalam celana saku, itu pertanda bahwa ada temen-temenku yang terlibat dalam sebuah pertarungan. Merke telah memanggilku untuk ikut mempertaruhkan nyawa dalam medan yang selalu terhias oleh pedang ganasnya sayatan, clurit, belati, yang haus akan darah. Tapi aku tak ingin lagi ikut dalam pertempuran-pertempuran itu sehingga aku harus membuat beberapa alasan pada temen-temenku kali ini.Kemudian setelah kejadian-kejadian seperti itu, kalian akan mendengar bahwa ada beberapa mayat ditemukan di dalam jembatan kolong yang mati mengenaskan. Dan kalian hanya bisa pasrah. Siapa yang telah membunuhnya? Tidak akan ada yang tahu. Jangankan kalian, aku sendiri tak pernah tahu siapa yang telah membunuh mereka. Aku kini sering merenung, Apa yang diperebutkan aku dan mereka selama ini hingga diantara kita akhirnya harus berjumpa dengan kematian? Betapa berartinya sebuah kekuasaan bagi kita. Apa untungnya jika harus membunuh saudara kita sendiri sebagai manusia yang sama-sama makhluk Tuhan?Mengenai diriku, sekarang bahkan kau takkan anggapan bahwa aku ini mantan petarung. Aku sendiri merasa nyaman dengan penampilanku saat ini. Yang dulunya mungkin bertampang seram, Wawasan panjang, jenggot belah dua, dan tato srigala di lengan kiriku yang selalu melekat mengidentitaskan bahwa aku ini adalah srigala yang beraura kekerasan. Namun kini semuanya telah berubah dan zaman pun telah berubah. Kini tibalah pada zaman dimana seharusnya kita menghargai sebuah perbedaan. Zaman yang kita anggap sebagai zaman yang harus menghargai sesama manusia. Kata kaum humanis Memanusiakan manusia.Dengan rambut yang tersisir rapi, kini aku benar-benar sadar bahwa aku tak ingin kembali ke dunia kelam itu. Dunia yang serba tidak jelas dalam menjalani hidup. Saatnya menatap masa depan yang jelas. Demi persahabatan, cinta, dan cita-cita kita berlomba-berlomba untuk menjadi yang terbaik dimata Tuhan. Dan dengan cinta, semua ini karena wanita yang saat ini berada tepat disampingku. Senyumnya yang selalu menggetarkan jiwa dan membuatku tak mampu untuk berucap satu kata apapun ketika berhadapan, sangat berbeda ketika menghadapi musuh-musuhku, dulu.Di malam yang damai itu berdua sudah cukup lama duduk berduaan, dan diam tanpa sepatah katapun. Dengan rasa yang selalu kusimpan selama ini aku sudah tidak kuat lagi untuk menahannya. Awalnya kukira ini adalah sesak nafas karena nafasku sering tak beraturan jika berada disampingnya. Namun, kini aku tahu bahwa ini adalah cinta pertamaku yang baru kutemui setelah menjalani beberapa cinta palsu yang bulshit. “Love is Bulshit” begitulah aku menganggap cinta sebelum aku bertemu dengan gadis iniBaiklah, memang harus kuakui sekarang bahwa sebagai mantan perarung aku mungkin memang tak punya pengalaman untuk masalah batin seperti ini. Lagi pula, memang, sejak dulu aku kurang pandai dalam masalah cinta (cinta yang sebenarnya), inilah yang pertama kalinya. Baru kali ini aku merasa kulitku seakan tersayat-sayat ketika melihatnya sedang bersama lelaki lain. Walaupun dia adalah seorang sahabatnya. kini, aku benar-benar tenggelam dalam irama cinta yang mengalun indah. Walau untuk sementara ini hanya mengalun dalam hatiku seorang. Aku ingin hati ini berirama cinta dengan hatinya.baru kusadari bahwa selama ini aku lebih memikirkan keahlianku dari pada berpikir tentang cinta yang dulu selalu kuanggap masalah yang cengeng, seperti film-film drama korea. Tapi saat ini bahkan aku tak tahu apa yang telah kurasakan. Gundah, gelisah, dan yang terbayang hanyalah seorang bidadari tanpa sayap itu. Sebenarnya jika kalian ingin tahu, wajah wanita yang sanggup menaklukkan sang Srigala ini tidak begitu cantik. Tapi sungguh teramat manis, seperti tebu.Dengan goncangan batin yang seperti itu aku tetap tidak sanggup untuk mengungkapkannya. Namun sebenarnya meski kita saling mengungkapkan rasa, kita sudah tahu bahwa kita saling mencintai. Karena aku tak perlu takut lagi untuk mengatakannya.sebagai mantan petarung. malulah jika tidak berani dalam hal ini. Lalu, pelan-pelan kupegang, dan berbisik “aku mencintaimu”. lalu gadisku tersipu malu dan mengangguk pelan-pelan. Tahukah kalian? Dia anggun sekali dengan baju warna ungu malam ini.***Sebagai lelaki, sudah sepatutnya melindungi wanitanya dengan segenap rasa cinta yang sebenarnya. Tidaklah seseorang yang dilakukan para remaja saat ini, mereka banyak terlanjur dalam melakukan hubungan seks sebelum menikah. Bukankah jika aku mengajukan seorang gadis untuk melakukan perbuatan mesum seperti itu akan merusak masa? berarti jika aku melakukan itu, aku tidak menyayanginya. Dan malulah yang harus ditanggung jika itu benar-benar terjadi. Jadi, Harus berpikir dua kali untuk melakukan hal semacam itu. dari sejelek-jeleknya perbuatanku selama ini, syukurlah hal demikian yang tidak pernah kulakukan. Aku kasihan pada gadis-gadis yang telah kehilangan keprawanannya itu. Bagi lelakinya mungkin berpikir berbekas jika do, namun si ceweklah yang akan meninggalkan bekas.Hidup memang penuh rintangan. Dan aku harus menghadapi rintangan-rintangan itu untuk mendapatkan apa yang aku inginkan. Setelah beberapa bulan kita menyatukan hati dalam bingkai asmara. Beredarlah kabar tak sedap tentang kekasih yang sedang jauh disana. Kabarnya Niken, nama gadisku, telah diculik oleh segerombolan anak muda yang berpenampilan macam preman. Ada beberapa warga yang melihat kejadian itu. Namun, tak ada yang berani untuk menolong Niken, karena segerombolan anak muda tersebut membawa beberapa senjata tajam. Saat mendengar kabar itu, aku bingung dan bertanya-tanya siapakah yang berani menculik gadis pujaanku itu.?Tapi, tak lama kemudian berderinglah handphoneku.“Halo…? Siapa ?.“Halo… aku Bajing. Masihkah kau ingat padaku kawan… hahaha? jawab orang itu sambil ketawa.Ternyata memang benar dugaanku bahwa yang telah melakukan semua ini adalah musuh lamaku. Tanpa pikir panjang kemudian berangkat aku berangkat-jauh dari jogja menuju Surabaya untuk mendatangi markas si bajing. Saat ini mataku telah gelap dan tidak lagi memandang bulu, siapa yang akan saya hadapi nanti. Kemarahanku tidak dapat di tolak lagi. Bisa-bisanya mereka tema pengecut seperti itu. Jhancuk .. !!!Saat ini aku berada di tengah-tengah anak buah Bajing. Setiap saat bahkan mereka bisa saja menuukkan bebarapa belati pada perutku, tapi aku tetap tidak peduli tentang hal itu. kematian itu sendiri bagiku bukan apa-apa lagi karena kematian yang paling menyakitkan dalam hidup ini adalah kematian orang yang teramat kucintai. Keadaan yang tak pernah kubiarkan terjadi.Aku tahu, bahwa aku pernah melakukan kesalahan beberapa tahun yang lalu. Aku secara tidak sengaja telah membunuh adik kandung si bajing saat ini, namanya Joni. Tapi, pembunuhan itu kulakukan karena tidak udah. Saat itu, dia hampir saja membunuhku dengan clurit. Tapi beruntunglah aku bisa menangkisnya kala itu. Dan clurit itu berbalik menusuk perut Joni. Jadilah bumerang.Mulai saat laporan, bajing manaruh dendam padaku. Namun, akankah dendam ini terus berlanjut sampai pada keluarga-keluarga kita berdua selanjutnya? Berlanjut pada anak-anakku, kemudian sampai pada cucuku sehingga permusuhan ini tak ada akhir. Hal semacam itu, bahkan telah membudaya di daerahku, tapi aku tak mau mengikuti budaya sesat seperti itu.Di kampungku, jika salah satu dan salah satunya mengalami kekalahan dan mati, maka anaknya harus menyerahkan dendamnya. Dan ini berarti darahku atau darah si bajing harus dikurangi oleh salah satu anak kita berdua saat nanti. Seperti sistem budaya yang sedang berjalan. Tapi, saat ini aku sadar bahwa budaya itu baik-baik. Dan aku sudah sering mengajar oleh khotbah-khotbah pesan bahwa dendam itu baik. Oleh karena itu, saat ini aku ingin menutup budaya macam itu.“Hai bajing, sebelum kita memberi aku punya suatu tawaran buatmu” teriakku ditengah-tengah anak buah bajing.Kemudian bajing berjalan mendekatiku dan memutakhirkan sombongnya yang penuh dengan kebencian “hah…? kau kira ini pasar pakek tawar menawar segala hah? ” teriaknya lantang.“Tapi ini demi anak cucu kita kelak cuk, agar mereka tidak ikut menyimpan dendam sepertimu. Dan setelah ini tidak ada bunuh lagi ”teriakku sedikit terpancing.Bajing terlihat sedang berpikir, dan aku tak sabar menunggu persetujuannya.“Baiklah kalau begitu, kita akan membuat perjanjian” kata bajing tiba-tiba. Tak kusangka juga bahwa dia akan menerima tawaran itu.Lalu kuucapkan perjanjian “baiklah, siapa yang kalah dalam pertarungan ini, tidak akan lagi menyimpan rasa dendam. Dan tidak ada lagi yang harus meminum darah. anak buahmu semua ini telah menjadi saksinya ”“Baiklah .. !! aku setuju ”katanya.Sekarang, saatnyalah menentukan siapa yang paling tangguh antara srigala hitam versus harimau putih. Perlu diingatkan juga oleh semuanya, bahwa pertarungan ini dilayani oleh kelompok-kelompok-kelompok. Tapi, pertarungan antara kita berdua secara jantan, satu per satu. Aku mau untuk cintaku, dan bajing ing untuk dendamnya padaku.Saatnya memutuskan kuda-kuda karena bajing sudah sejak tadi memesang kuda-kudanya. Tanpa bisa dihalangi lagi, pertarungan itupun benar-benar terjadi. Jika kalian terjadi, kecepatan tentulah menjadi kuncinya. Kecepatan menangkis pukulan, kecepatan memukul, menendang, dan mengelak. Seperti komunikasi yang tengah diperagakan oleh kita berdua.Brak… !!!Lalu aku terlempar jauh terkena tendangan bajing, kini semakin bengis. Dia bahkan mengeluarkan sebuah belati dari jaket coklatnya. Ternyata dia benar-benar sangat bernafsu ingin menghabisiku. Tapi, justru saat inilah kesempatanku untuk memangkan pelarungan ini. Karena orang yang sedang dibalut oleh emosi lebih gampang ditaklukkan. Lalu, kuatur nafasku dan mencoba untuk lebih rileks dalam membendung serangannya.Nafas bajing sudah mulai terkuras habis karena diperbudak oleh nafsu, saatnya aku beraksi. Dengan dua kali gerakan lalu kupukul sehingga belati itu terlempar ke tanah. Kupukul mukanya, kuhantam perutnya dengan kaki sehingga bajingpun terkapar lemas dan jatuh.Baiklah, pertarungan ini sudah berakhir bajing. Aku tidak akan membunuhmu. Tapi, ingat janjimu tadi ”lalu kumelangkah pergi menuju Niken yang masih terikat tali di sebuah kursi. Kubuka tali-tali itu. Kemudian dia langsung menerapkanku. Kemudian dia berbisik, “aku sangat mencintaimu…”. pekukannya benar-benar hangat dan gadisku kini bisa kembali kubawa pulang.Tentang hidup, bersukurlah bagi orang-orang yang sadar akan hidup. Bahwa hidup di dunia ini adalah berita kehidupan yang kekal, hidup ini adalah sesuatu yang sementara. Jadi, aku pun harus kembali ke jalan Tuhan menata hidup yang lebih baik lagi untuk menuju Tuhan sang penguasa alam. Kini Aku dan Niken ingin hidup berdampingan dampingan pada Tuhan dengan segala apa yang kita punya. Inilah semua kulakukan untuk menebus dosa-dosaku yang dulu. Tapi, dosaku-dosaku dulu harus ditebus dengan perbuatan macam apa Tuhan?

Dahan Dahan yang Rindang
Teen
18 Feb 2026

Dahan Dahan yang Rindang

Malam semakin larut. Aku memandang laptopku lekat-lekat yang sedari tadi memang sudah kupandang. Beruasaha menetralisir rasa kantukku yang pelan-pelan membelai kelopak mata yang memang sejak dari tadi pun ingin diistirahatkan. Malam ini rasanya sangat sulit untuk mendapatkan tidur yang cukup. Ujian semester semakin dekat. Tugasku masih ada yang menumpuk. Belum lagi masalah kegiatan organisasi yang membuat otakku semakin melilit dibuatnya.Jariku sedari tadi memang mengetik sesuatu. Tugas resensi buku. Momok bagiku yang bisa dibilang sangat membenci tulisan. Sudah tiga jam. Tiga paragraf. Jujur aku tidak pandai dalam hal tulis menulis. Tugas ini membuat otakku yang melilit lebih melilit lagi. Hingga jam menunjukkan pukul 12 malam. Aku tidur. Tapi rupanya tidak bisa lagi. Sepertinya ada sesuatu yang mengganjal di kepalaku.Pagi menyongsong. Aku segera bangun dari mimpi singkatku untuk menunaikan shalat subuh. Kembali setelah itu aktivitas pagi kulaksanakan. Seperti itu setiap paginya. Aku memang tipe orang yang sangat menyukai pagi. Entah kenapa jika kulihat siluet jingga diam-diam muncul dari arah timur sambil melewati dahan pepohonan, rasa-rasanya itulah waktu yang paling baik untuk mencari inspirasi. Merilekskan otakku yang sejak tadi malam melilit karena urusan tugas ini itu.“Nabil…!” suara mama memanggilku.Aku beranjak dari beranda kamarku yang juga menjadi tempat favoritku selama ini. Segera turun ke lantai bawah menuju sumber suara di mana mama memanggilku. Aku menuju dapur. Kelihatannya mama sudah menyiapkan sarapan. Nasi goreng ikan tuna kesukaanku.“Kapan ujian semestermu?” mama mengawali percakapan pagi itu. Aku yang masih mengenakan pakaian tidur duduk di meja makan sambil mengisi gelas dengan air minum.“Sebulan lagi ma” jawabku sambil menyendok nasi goreng yang super lezat itu.“Tugasmu? Menumpuk lagi?” mama selalu begitu. Selalu menanyakan tugas. Mama tipe orang yang perhatian dengan tugasku. Karena sejak aku masuk sekolah, bisa dibilang suatu kebanggaan jika tugasku tidak menumpuk di akhir semester.“Begitu deh ma. Habis mau gimana lagi” semangat sarapanku pagi ini hilang karena persoalan tugas dan ujian semester.“Mama kan selalu bilang. Kalau ada tugas selesaikan hari itu juga. Jangan ditunda-tunda. Begini kan jadinya. Setiap semester numpuk terus, numpuk terus. Nggak bakal berubah kalau bukan kamu yang mengubanya Nabil” iya ma, iya batinku“Nggak terasa Nabil, nggak cukup setahun kamu sudah jadi mahasiswa. Sebulan lagi kamu akan jadi siswa kelas dua belas. Kalau bukan kamu yang merubah sifat “tunda-tunda” ini, sampai kakek nenek kamu begitu.”“Susah ma. Tugasnya berat-berat. Terus tempat untuk kerja tugasnya nggak ada yang asik”“Kalau persoalan berat, itu bukan alasan yang baik Nabil. Kuli bangunan saja yang tiap hari kerja seberat itu, nggak pernah tuh mama dengar ngeluh berat kayak kamu. Lagian kalau kamu mau cari tempat yang asyik untuk kerja tugas, kamu salah kalau kamu bilang tidak ada”Batinku menebak-nebak. Apa tempat yang asyik untuk kerja tugas yang setiap hari bertambah terus. Kalau tugasnya main bola, setiap hari pasti aku akan kerjakan. Tapi ini persoalannya lain. Tugasnya bukan main bola. Tapi bermain dengan tulisan yang sejak SD sudah aku benci mati-matian.Hari ini memang hari libur. Setelah sarapan aku kembali ke kamarku untuk kembali memandang matahari yang semakin naik. Dahan yang diterpa angin pagi diam-diam membuatku tersenyum. Ada sesuatu yang sangat indah muncul pagi itu yang selama ini tidak terpikirkan olehku. Mama benar. Tempat yang asyik itu memang ada dan setiap hari kukunjungi.Kupandang dahan pohon yang diterpa sinar matahari itu. Sinarnya menembus celah-celah dahan pepohonan membuat lukisan bayangan yang indah dan enak dipandang. Aku suka bagian ini. Tapi kenapa tidak sejak awal terpikirkan olehku. Tempat yang asyik itu ada di beranda kamarku sendiri. Dengan semangat aku segera membuka laptopku sambil memandang indahnya matahari pagi yang semakin naik semakin membuat dahan-dahan yang diterpanya juga menjadi lebih indah lagi.Aku sadar. Sebenarnya bukan tentang tempatnya kita bisa tenang dalam mengerjakan sesuatu. Tapi tentang suasana hati yang memang dengan ikhlas menerima amanah yang telah diberikan kepada kita. Aku berjanji di tahun terakhir aku bersekolah saat ini, akan kubuat sebuah prestasi baru dalam hidupku. Berproses dengan baik maka hasil yang akan kudapatkan akan baik juga. Mengerjakan sesuatu dengan hati yang ikhlas dan penuh keyakinan. Seperti ikhlasnya dahan diterpa sinar matahari yang membuatnya indah dipandang sampai kapanpun.Kalian mungkin bertanya-tanya, lalu apa maksud dahan yang rindang itu? Dahan yang rindang itu adalah perumpamaan suasana hati yang tenang dalam menghadapi sesuatu.

Lebih baik padam dari pada pudar
Romance
18 Feb 2026

Lebih baik padam dari pada pudar

Aku tak pernah menyangka bahwa semuanya datang dan pergi begitu cepat bagaikan kilatan petir di langit yang menghitam.-Tempat kos yang aku tempati ini lebih nyaman dari yang terdahulu. Kamar-kamar yang menghadap ke sebuah halaman yang maha luas memberi keleluasan pandangan. Pertama kali aku menginjakkan kaki di sini semua orang menyambutku dengan tangan terbuka kecuali satu orang, Sean.Menurut Bianca, Sean itu anti sosial. Ia sering mengurung diri dalam ruangan, wap, wafel musiknya keras atau meliuk-liukan suara gitar listriknya tanpa tenggang rasa. Telah seminggu aku tinggal di sini baru dua kali aku melihat Sean, itu pun hanya berupa kelebatan.Sore itu aku tengah kepayahan pelacakan setumpuk barang dan tanpa sengaja kakiku tersandung batu yang membuat tubuhku terpelanting dan barang-barang yang ada di dalam dekapanku berhamburan. Sean menghampiriku, alih alih menolongku ia hanya langkah awal batu yang telah menghalangiku. Lalu ia kembali ke teras kamar, memangku gitarnya dan mulai memainkannya. Aku terpana atas kepeduliannya yang aneh.Bila melihat sekilas, sosok sean mengingatkanku akan seorang dewa. Penampilannya, gesturnya bahkan suaranya ketika ia menyanyi sangat mirip dengannya.“Sean, itu tidak kidal. Namun ia belajar memainkan gitar secara kidal. ” Bianca menunjuk kamar Sean dengan dagunya.Aku terpana mendengarnya. Belajar menjadi anak usia yang sekarang ini? Usaha yang sangat luar biasa dan memerlukan kesungguhan.“Kapan-kapan, semisal kamu sudah mulai akrab dengannya dan itu sepertinya tak mungkin. Tengoklah kamar, dindingnya dipenuhi oleh poster idolanya. Sudah seperti wallpaper saja. ” Aji ikut nimbrung.Sementara itu aku hanya bisa manggut-manggut.Setiap hari, aku disuguhi musik-musik yang menghentak dari balik dinding kamarku. Terkadang aku mendengar teriakan garang Sean di sela-sela lagu yang tengah diputarnya. Aku yang awalnya tidak begitu suka dengan komposisi musik yang mendadak menjadi liriknya. Kadang secara tak sengaja, umpan-umpan lagu itu meluncur begitu saja dari mulutku. Lagu-lagu itu bagai bayangan yang terus mengikutiku, sejak bangun sampai akan berangkat tidur. Berputar-putar dalam labirin di otakku. Menetap bagai kerak.Sampai suatu hari ketika aku tengah mengikat tali sepatu ketsku, satu umpan lagu keluar dari mulutku. Lagu yang baru saja aku dengar dari balik dinding kamarku ketika aku tengah merapikan rambutku.“Tak kukira, tetangga sebelahku ternyata memiliki kegemaran yang sama denganku.”Mendadak aku mengatupkan bibirku rapat-rapat demi mendengar suara itu. Aku tengadah memandang Sean yang juga tengah memandangku. Senyumnya mengembang.Dan mulai saat ini, aku dan Sean sering bercakap-cakap. Lebih tepatnya, aku mendengarkan dia bicara.Suatu hari Sean membuka pintu kamar lebar-lebar, mempersilahkanku masuk dengan sopan. Aku terpana, apa yang pernah Aji bilang benar adanya. Dinding kamar dipenuhi dengan poster-poster sang dewa. Ada beberapa gitar yang menggantung di sana, salah satunya adalah Fender Stratocaster, jenis gitar yang kerap dimainkan idolanya. Kumpulan CD dan kaset tertata rapi di meja bersama buku-buku serta majalah yang aku tebak pasti berisi semua hal tentang idolanya itu. Kamarnya bagaikan museum yang dipenuhi memorabilia. Sepanjang hidupku aku belum pernah melihat yang seperti ini. Aku ternganga, ini semua luar biasa. Sang dewa memang telah menyihir banyak anak muda namun aku tak menyangka sampai seperti ini.Dengan sopan pula, Sean mengajakku untuk ikut berkumpul dengan komunitasnya. Dan hal ini tak kalah luar biasanya. Aku kembali ternganga, banyak sekali orang yang memirip-miripkan dirinya dengan idolanya. Aku seakan berada di tengah-tengah kloningan sang dewa.Siang itu awan hitam bergumpal di kepalaku. Hujan mulai turun, satu persatu tetesnya pegang kepalaku. Aku berlari menyelamatkan diri, menyelipkan tubuhku di antara orang-orang yang tengah berteduh di emperan toko. Di sana, di antara orang-orang yang berdiri mematung menunggu hujan reda, pemuda terselip dengan rambut gondrongnya tengah membaca sebuah surat kabar dengan serius. Dengan susah payah, aku menggeser tubuhku sedikit demi sedikit sampai akhirnya berada di sampingnya.“Hei, sedang baca apa?” sapaku basa basi.Sean menatapku sekilas lalu kembali menekuri artikel yang tengah dibacanya.Aku terhenyak, mengapa Sean tidak seperti biasanya. Ia terlihat sangat muram.Tiba-tiba Sean menyerahkan surat kabar itu kepadaku, lalu pergi menembus hujan yang pekat.Jawabannya ada di sana. Sosok yang didewakan oleh Sean, secara resmi telah menggabungkan diri ke dalam sebuah kumpulan bernama 27 klub yang beranggotakan Jim Morisson, Jimmy Hendrik, Janis Joplin, dan Mia Zapata. Aku sulit membayangkan apa yang akan terjadi dengan fans-fans fanatiknya termasuk Sean.Beberapa minggu ini aku tak pernah melihat Sean. Ia seakan hilang ditelan bumi. Rupanya kesedihan telah membuat enggan untuk menyapa dunia. Suatu malam aku pernah melihatnya dari balik gorden jendelaku. Ia datang dengan dua pesan, masuk kamar kecil lalu pergi lagi. Walaupun kamar kami bersebelahan, tapi tidak membuatku menjadi tahu semua tentang Sean.Libur semester telah usai, gerbang tempat kos ku telah berganti warna. Dengan ringan aku langkahkan kakiku menuju kamarku. Namun langkahku terhenti demi melihat sesuatu yang ganjil di depan pintu kamar Sean. Selembar pita kuning bertulis “Dilarang melintas garis polisi” melambai ditiup angin sakit. Aku sangat terkejut, di kepalaku mulai berkumpul banyak pertanyaan yang membutuhkan jawaban segera.“Dua hari lalu dia ditemukan tak bernyawa oleh pak Rusli di kamar.” Aji berbisik lirih di telingaku. Aku menahan nafasku.“OD.” Aji kembali berbisik. Aku terhenyak.Hari ini tanggal 10 berarti dua hari yang lalu adalah tanggal 8. Angka yang sama, dimana sang dewa grunge ditemukan tak bernyawa di rumah sakit sendiri. Entah kebetulan atau apa, aku tak tahu.Aku menggelengkan kepalaku tak percaya, ada rasa kehilangan dan kecewa. Baru saja aku mengenalnya, namun kini dia telah pergi untuk selamanya.Ketika aku melangkah ke dalam kamarku, telapak kakiku pegang selembar kertas yang terkulai lemas di lantai. Tanganku gemetar ketika aku meraih kertas itu. Selanjutnya lembar kertas itu pun basah oleh tetesan air mataku.Dia adalah penyelamat hidupku.Tanpa dia, mungkin aku masih menjadi orang yang apatis terhadap kehidupan.Hanya dia yang selalu memberiku semangat, mendukungku dan menyayangiku dengan caranya sendiri melalui musiknya.Namun itu semua telah berakhir.Dia selesai, aku pun demikian.Lebih baik padam dari pada pudar.

Salah paham
Romance
18 Feb 2026

Salah paham

Apa yang harus Aku lakukan ketika Sahabatku membenciku hanya karena hal sepele? Haruskah penjelasan itu Ia abaikan? Setidak pentingkah suatu penjelasan itu? Hingga akhirnya suatu kesalah pahaman pun muncul di antara kami.“Main yuk?”Satu pesan masuk melalui ponselku. Aku terkejut. Sangat terkejut. Dia Nita. Sahabbatku. Aku benar benar tak percaya. Pasalnya setelah kita pisah sekolah, karena kita hendak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, Ia jarang mengabariku. Atau mungkin kita bisa sebut lost kontak. Akhirnya aku menjawab dengan ekspresi yang sangat bahagia. “Yukk”. Sehrian itu kuhabis kan sisa pulsaku hanya untuk membalas pesan darinya sampai kita menyepakati waktu dan tempat yang telah kita setujui untuk pergi main.Singkat cerita. Akhirnya sampai hari dimana kita bertemu untuk yang pertama kalinya kembali. Aku segera menunjukan senyum bahagia. Begitupun dengannya. Ia langsung menghampiriku, memeluku yang masih berada di motor. “gimana, sehat?” tanyaku padanya. Ia tersenyum seolah masih tak menyangka kita bertemu. Ia tak menjawab pertanyaanku, hanya menganggukan kepalanya sebagai simbol bahwa ia menjawab Ya.Di perjalanan kita saling bertukar cerita. Tertawa kembali. Aku pun masih tak percaya bahwa kita sekarang sedang bersama. Sampai titik pembicaraan kita“Amel?” tanyanya padaku.Aku yang sedang berkonsentrasi membawa motor terpaksa harus mengalihkan wajahku ke spion motor agar dapat melihat wajahnya.“Ya, ada apa?”“Atikah sekarang lagi deket sama Adnan, emang bener?” tanyanya serius mengenai Atikah, temen sekelas kita sewaktu SMP, dan Adnan, mantan pacarnya.“kurang tau Nit. Emang kamu tau dari siapa?” aku balik bertanya.“Aku lihat sendiri di pesan Adnan” jawabnyaAtikah. Dia walaupun bukan sahabatku, tapi dia sangat baik. Ketika Aku dan Nita sedang ada masalah, Aku mencurahkan sedikit keluhku padanya. Dan Ia sangat menyambutku kapan pun. Bagaimana pun Atikah, dia tetap temanku. Teman yang selalu menolongku. Aku dilema sekarang. Bagaimana ini? Tanyaku dalam hati. Aku akan beritahu Atikah agar tidak dekat dengan Adnan. Tapi sama saja aku melarangnya untuk dekat dengan siapapun. Begitu juga dengan Nita. Jika aku tak memberitahu Atikah, pasti dia akan sakit hati. Tapi Nita dan Adnan sudah tak ada hubungan lagi.Setelah sampai di rumah, aku segera memberitahu Atikah. Bukan karena Adnan, tapi memberitahukannya agar tidak dekat dengan Fino. Karena jujur Aku menyukai Fino. Akhirnya Atikah menyurah kan semuanya lewat facebook dan Nita membacanya. Satu kata yang di postingnya ‘Maaf’. Lalu Aku mengomentarinya “Iya Atikah tak apa, semua bukan salahmu”. Tak kusangka, postingan Atikah dan komentarku membuat Nita marah. Lalu Nita juga memposting kata kata untuk menyindirku selama menjadi sahabatnya.Tak selamanya sahabat yang dibangga banggakan menjadi yang terbaik. Selamat telah berhasih membuatku terluka dan telah berhasih membuat retakan di antara kita.Aku yang membaca postingan tersebut langsung menangis sejadi jadinya. Ia salah paham. Apa yang harus kulakukan? Menyerah? Membiarkan persabatan ini rusak? Ini semua salahku. Seharusnya Aku tak memberitahu Atikah secepat itu. Nita mengira Aku memberitahu Atikah mengenai Adnan. Tapi itu salah.Segera Aku menghubungi Atikah. Betapa baiknya dia. Dia mau menjelaskan semuanya pada Nita. Langsung Aku berterimakasih padanya. Aku yang melarangnya agar tidak dekat dengan Fin, sekarang mau membantuku untuk merapikan masalah Aku dan sahabatku.Waktu berlalu begitu cepat. Selama 2 bulan ini, Aku dan Nita kembali hilang komunikasi. “kringgg”. Tiba tiba suara teleponku terdengar nyaring di kamar. Aku segera mengangkatnya.“Hallo?” Aku berusaha mengetahui siapa yang menelponku. Karena di sana tak ada nama yang tercantum.“Mel?” dia mulai berbicara. Aku kenal suara ini. Seperti suara… Nita.“Nita?”“Mel, maafkan Aku. Aku salah faham. Aku menjauhimu, Aku menyindirmu lewat medsos, Aku mengganti nomor teleponku. Aku mainta maaf Mel..”“Nit, selama ini Aku merasa tak ada yang salah darimu”“Tidak mel. Kau tak paham. Aku mengira kau memberitahu Atikah tentang Adnan, tapi aku salah..”“dan mulai sekarang coba untuk saling megerti”Akhirnya, kami tak hilang komunikasi lagi. Hubungan Nita dan Atikah pun sekarang sudah seperti teman. Sama halnya seperti Aku dan Atikah. Namun Aku dan Nita, kami masih bersahabat.

CINTA DI BANGKU SEKOLAHAN
Teen
17 Feb 2026

CINTA DI BANGKU SEKOLAHAN

Aku mengenal cinta ketika menginjak sekolah menengah pertama negeri yang ada di daerahku. Sekolah itu tidak jauh dari rumah dimana aku tinggal bersama orang tuaku dan adik-adikku. Untuk menuju ke sekolahku itu, aku hanya berjalan kaki agar sehat jasmani dan rohani.Itu kata orang lho.Sekitar lima hingga tujuh menit lamanya sampai ke sekolah tercintaku itu. Kata teman-temanku aku termasuk seorang siswa yang cukup pandai dan selalu taat pada peraturan-peraturan yang ada di sekolah. Makanya orang tuaku tidak pernah mendapat surat panggilan dari sekolah tentang kenakalan yang ku perbuat di sekolah sehingga orang tuaku tidak pernah datang ke sekolah gara-gara surat panggilan itu.Namun bagiku itu sebagai cambuk atau pemicu untuk lebih giat lagi belajar. Dari kelas satu (1) SMP aku mendapatkan juara atau rangking di kelas.Mungkin hal ini yang mengundang simpati dari teman-teman di kelas terutama yang perempuan. Bukan maksud pamer atau riya’.Atau hanya perasaanku saja.Tapi kadang-kadang bisa menjadi kenyataan yang berasal dari sesuatu yang semu belaka.Sewaktu berada di kelas dua (2) SMP, teman-temanku yang laki-laki agak usil terhadapku yaitu seperti menjodohkan atau mencari pasangan dengan teman-teman di sekolah kami yang pasti lawan jenis yaitu yang perempuan tentunya.Mereka menjodohkan aku dengan teman sekelas sebelah. Setelah ku pikir-pikir ia cukup cantik dan pintar. Mungkin karena sebab itulah aku dipasang-pasangkan.oleh teman-temanku yang usil tadi.Mereka usil tapi baik lho.Pernah suatu ketika mereka berkata,” Di, ada yang titip salam tu buat awak lah.”Aku pun tanpa pikir panjang lagi langsung saja menjawab ,” Siape die ?” Lalu mereka berkata lagi,” Itu yang cewek yang rambutnya kepang dua dan pakai kacamate same dengan awak tu la? “Yang mane satu ?” jawab aku penasaran. “Itu ...tu...tu...Anak PN.” kata mereka serempak. “Oh, yang itu.” “Iyelah .Walaikumsalam.” langsung aku menjawab. Dadaku langsung berdetak dengan cepat dan tak karuan. Tanda apa nih. Apa maknanya.Suatu ketika ada acara untuk melakukan acara upacara memperingati hari pendidikan nasional di sekolah. Secara kebetulan aku dan dia tergabung dalam tim atau regu paduan suara atau padsu. Kami berlatih bersama-sama dengan teman-teman yang lain. Regu paduan suara kami itu berjumlah sekitar dua puluh (20) orang yang terpilih dari seluruh kelas yang ada. Setelah selesai latihan paduan suara kami beristirahat dan mencari tempat yang cocok untuk berteduh.Teman-temanku yang usil itu datang lagi menghampiriku. Aku sudah menduga apa yang ada di benak mereka dan kata-kata yang akan mereka katakan. Langsung mereka bertanya,” Wak, dah jumpe makwe awak tu ?” ujar mereka. “Makwe ape?” jawabku dengan cepat. “Yang itu...tu...!” Pura-pura tak tahu pula !” seru mereka. “Ok yang itu .Dah jumpe dah. Tapi kawan tak ada perasaan ape-ape.” Lanjut mereka ”Jangan tunggu lame-lame nanti kene kebas orang pula.Dah lepas baru menyesal.” “Baiklah kalau begitu akan kawan usahakan.” Jawabku dengan semangat agar tidak menghampakan permintaan teman-temanku yang usil itu.Sejak pertemuan pertama kami sering bertemu. Itu pun ketika ada acara-acara penting di sekolah. Tak lebih dari itu. Waktu itu kau masih malu-malu kucing untuk mengatakan untaian kata-kata yang menyatakan suka terhadap lawan jenis.Maklum kata orang masih bau kencur atau anak kemarin sore. Yang mana arti dari istilah itu pun aku tak mengerti. Sehingga aku berada di kelas tiga (3) SMP aku menganggap dia sebagai teman biasa dan tidak punya perasaan apapun terhadap perempuan yang dijodohkan atau dipasangkan oleh teman-temanku yang usil itu.Yang ada didalam pikiranku ketika itu hanyalah bagaimana aku menamatkan studiku untuk meraih cita-cita dan mengukir masa depanku yang lebih baik nantinya.Setelah menamatkan studi di sekolah tingkat lanjutan pertama negeri, aku melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi lagi yaitu sekolah menengah atas. Lokasi sekolah itu bersebelahan dengan sekolahku sebelumnya. Di SMA aku mulai berani melihat atau melirik lawan-lawan jenisku. Ia tidak sekelas denganku. Aku suka melihatnya lalu aku mencoba untuk menyatakan suka kepadanya. Namun ketika aku jarang menemuinya karena aku sibuk ketika itu ditunjuk oleh teman-teman sekelasku menjadi ketua kelas, kelihatannya ia selalu menghindarkan diri dariku.Sepertinya ia tidak ingin lagi bertemu lagi denganku .Entah apa sebabnya aku pun tahu.Lalu ku tanyakan kepada teman karibnya.Temannya itu mengatakan tidak mengetahui sebab mengapa ia melakukan hal itu. Mungkin karena kesibukank sebagai ketua kelas jadi tidak sempat untuk bertemu dengannya.Tibalah waktu ketika aku naik ke kelas tiga, tanpa dinyana aku sekelas dengan gadis yang kusukai dari kelas satu (1).Aku mencari tahu sebabnya.Ternyata majelis guru mencampur adukan siswa-siswanya untuk terbentuk kelas yang baru.Bertemu dengan teman-teman yang baru.Mungkin itu penyebabnya.Ketika pengumuman nama-nama untuk kelas tiga(3) yang baru sudah ditempelkan di papan pengumuman kami langsung menyerbu kantor majelis guru. Setelah ku amati dan perhatikan ada nama gadis yang ku sukai itu.Tapi aku tidak merasa apa-apa pun.Tidak ada getar-getar suka lagi terhadapnya.Entahlah hanya Allah yang tahu segalanya.Ketika memasuki kelas yang baru dan mencari tempat duduk yang pas buatku untuk menuntut ilmu .Dia sudah ada di dalam ruangan kelas kami yang baru itu. Aku langsung menyapanya sekedar saja.Ku anggap dia hanya teman biasa saja.Begitulah kisah kasihku di sekolahku yang sangat ku cintai sekitar dua puluh delapan tahun yang lalu yang tak kan pernah ku lupakan sepanjang hidupku.

Kesal Kepada Kakak
Teen
17 Feb 2026

Kesal Kepada Kakak

Namaku Andi. Setiap hari aku selalu berusaha bangun pagi sebelum matahari benar-benar tinggi. Udara pagi yang masih sejuk dan sinar mentari yang masuk melalui jendela kamar membuatku semangat memulai hari. Setelah merapikan selimut dan bantal, aku membersihkan tempat tidurku dengan rapi. Bagiku, memulai hari dengan kamar yang bersih membuat pikiran terasa lebih ringan.Setelah itu, aku membantu membersihkan rumah. Aku menyapu lantai ruang tamu, merapikan sandal di teras, dan sesekali membantu ibu mencuci piring jika ada yang tersisa di dapur. Walaupun terkadang terasa melelahkan, aku merasa senang karena bisa membantu orang tua. Setelah semua selesai, aku biasanya menyempatkan diri untuk belajar sebentar, membaca ulang pelajaran yang akan diajarkan hari itu agar lebih siap saat di sekolah.Namun, akhir-akhir ini semangat belajarku sedikit terganggu. Kakakku, Dian, sering bangun siang. Hampir setiap pagi saat aku sudah selesai menyapu dan bersih-bersih, ia masih tertidur di kamarnya. Awalnya aku tidak terlalu mempermasalahkan hal itu, tetapi lama-kelamaan aku merasa kesal. Aku merasa bekerja sendirian sementara ia tidak melakukan apa pun.Suatu pagi, saat aku sedang menyapu ruang tamu, kak Dian akhirnya keluar dari kamar. Rambutnya masih berantakan, matanya setengah terpejam sambil mengucek-ucek wajahnya. Tanpa memperhatikan sekeliling, ia berjalan melewati tumpukan debu yang sudah susah payah kukumpulkan. Debu itu kembali berhamburan dan sebagian menempel di telapak kakinya, lalu terbawa ke area yang sudah bersih.Aku terdiam sejenak, menatap lantai yang kembali kotor. Rasa kesal yang selama ini kupendam tiba-tiba memuncak. Lebih menyebalkan lagi, kak Dian tidak mengucapkan maaf sedikit pun. Ia hanya berjalan ke dapur untuk minum air seolah tidak terjadi apa-apa.“Aduh, Kak! Tadi aku sudah susah payah menyapu!” seruku dengan nada tinggi.Kak Dian hanya menoleh sebentar dan berkata singkat, “Iya, nanti juga bisa disapu lagi.”Jawaban itu membuatku semakin marah. Aku merasa usahaku tidak dihargai. Tanpa sadar, aku mulai memarahinya dengan suara yang cukup keras.Ibu yang mendengar keributan itu segera datang dari dapur dan menanyakan apa yang terjadi. Dengan nada masih kesal, aku menceritakan semuanya. Namun ibu justru berkata bahwa aku sedikit berlebihan dan seharusnya bisa bicara lebih baik.Aku merasa tidak dimengerti. Dengan perasaan kecewa, aku meninggalkan sapu begitu saja dan masuk ke kamar. Di dalam kamar, aku duduk termenung. Perasaanku campur aduk antara marah, sedih, dan merasa tidak adil.Tak lama kemudian, ayah datang menghampiriku. Ia duduk di tepi tempat tidur dan bertanya dengan lembut apa yang sebenarnya terjadi. Kali ini aku menceritakan semuanya dengan lebih tenang, termasuk kekesalan yang sudah kupendam beberapa hari terakhir.Ayah mendengarkan dengan sabar tanpa memotong pembicaraanku. Setelah itu, ia mengangguk pelan dan berkata bahwa setiap masalah sebaiknya diselesaikan bersama, bukan dengan emosi.Ayah lalu memanggil kak Dian yang sedang minum air di dapur dan memintaku duduk di kursi ruang tamu. Kami duduk berhadapan. Suasana terasa sedikit tegang.Ayah mulai bertanya kepada kak Dian mengapa akhir-akhir ini ia sering bangun siang. Kak Dian meletakkan gelasnya dan menjelaskan bahwa ia sedang mengerjakan sebuah proyek bersama teman-temannya. Ia sering begadang untuk menyelesaikan tugas tersebut agar hasilnya maksimal.Aku terkejut mendengarnya. Selama ini aku tidak tahu soal proyek itu. Sedikit demi sedikit, rasa kesalku mulai mereda. Aku mulai memahami alasan kak Dian bangun siang.Namun ayah tetap menegaskan bahwa meskipun memiliki kesibukan, tanggung jawab di rumah tidak boleh diabaikan. Ia mengatakan bahwa kak Dian harus belajar mengatur waktu dengan lebih baik agar tetap bisa membantu di rumah tanpa mengorbankan proyeknya.Sebagai konsekuensi, ayah memberikan hukuman ringan kepada kak Dian, yaitu ia harus membantu pekerjaan rumah selama beberapa hari ke depan dan tidak boleh begadang terlalu larut.Kak Dian menatapku dan dengan tulus berkata, “Maaf ya, Andi. Kakak tidak bermaksud membuatmu kesal. Mulai sekarang kakak akan atur waktu lebih baik.”Aku pun mengangguk dan meminta maaf karena tadi sempat berbicara dengan emosi. Kami akhirnya saling memahami.Sejak hari itu, suasana pagi di rumah terasa lebih menyenangkan. Kak Dian tetap mengerjakan proyeknya, tetapi ia juga bangun lebih awal untuk membantu. Aku pun belajar bahwa sebelum marah, sebaiknya mencari tahu dulu alasan di balik suatu tindakan.Dan yang terpenting, aku belajar bahwa setiap masalah bisa diselesaikan dengan komunikasi yang baik dan saling pengertian.

KISAH PENGERAN SUTA DAN RAJA BAYANG
Folklore
17 Feb 2026

KISAH PENGERAN SUTA DAN RAJA BAYANG

Pada zaman dahulu, di Kerajaan Indragiri yang berkedudukan di Japura. Kerajaan Indragiri yang di pimpin oleh seorang Raja yang sangat bijaksana dan adil bernama Sultan Hasan. Selama masa pemerintahannya, rakyat hidup dengan damai dan aman. Selain ia seorang Raja yang sangat arif, ia juga mempunyai seorang Putri yang sangat cantik jelita yang bernama Putri Halimah. Kerena kecantikannya terkenal sampai keberbagai negeri.Suatu hari, datanglah seorang Raja yang bernama Raja Bayang. Ia datang ke Kerajaan Indragiri di temani oleh ketiga orang saudaranya yang bernama Raja Hijau, Raja Mestika dan Raja Lahis. Keempat Raja tersebut datang dengan pengawal yang sangat gagah perkasa.Kedatang mereka ke Kerajaan Indragiri membuat kekacauan dan perilakunya sungguh tercela. Tindakan mereka dan pasukkannya yang bertindak semena-mena membuat rakyat sangat ketakutan.Mendengar keempat Raja tersebut membuat kekacauan dan membuat rakyat resah, Raja Sultan Hasan sangat sedih dan gelisah. Ia pun segera memanggil seluruh menterinya untuk bermusyawarah. Raja pun bertanya bagaimana menghadapi Raja Bayang dan pasukannya tersebut. Semua menteri pun sangat kebingungan. Karena mereka sangat tangguh dan sudah terbiasa hidup dalam rimba.Beberapa hari kemudian, Rombongan Raja Bayang di Japura. Raja Hasan sebenarnya sangat marah karena, Raja Bayang dan pasukannya sudah membuat kekacauan. Namun, ia tetap menyambutnya dengan sopan dan tidak menunjukkan kemarahannya.‘’ Raja Bayang! Apa maksud dari kedatanganmu ke Kerajaanku?’’ Tanya Raja Hasan tegas.‘’ Kedatangan ku kesini , tidak lain untuk meminang Putrimu yang sangat cantik!’’ jawab Raja Bayang dengan angkuh.Raja Hasan sangat terkejut mendengar jawaban dari Raja Bayang. Pinangan tersebut langsung di tolak mentah-mentah. Raja Bayang pun sangat marah dengan penolakkan Raja Hasan. Wajahnya pun berubah menjadi merah terbakar.‘’ Hei kau Raja Hasan yang sangat bodoh! kau akan menyesal karena sudah menolak pinanganku!’’ jawab Raja Bayang dan pergi meninggalkan Istana.Suatu hari, Raja Bayang kembali dengan pasukannya. Ia pun membawa persenjataan yang sangat lengkap. Mereka pun segara menyerang Kerajaan Indragiri. Kerajaan Indragiri diporak-porandakan dalam waktu yang sangat singkat. Raja Hasan pun mengerahkan seluruh pasukkannya untuk melawan pasukkan dari Raja Bayang. Namun, mereka tidak mampu menandingi pasukan Raja Bayang yang sangat kuat. Akhirnya, Raja Hasan dan pasukkannya terpaksa meninggalkan Japura. Dan berembunyi ketempat yang aman bernama Gaung.Dalam persembunyianya tersebut, Raja Hasan dan menteri serta para pasukkanya yang masih selamat berkumpul dan bermusyawarah untuk merebut kembali Kerajaan Indragiri dari tangan Raja Bayang.‘’ Baginda! Prajurit banyak sekali yang tewas di tengah pertarungan. Pasukkan kita semakin sedikit.’’ Kata seorang Menteri yang menghampiri Raja.‘’ Kau benar, banyak Prajurit tewas dalam pertempuran! Apa yang haru kita lakukan sekarang?’’ Tanya Raja gelisah.‘’ Baginda, Hamba pernah mendengar, ada seorang Pangeran yang sangat baik budi pekertinya dan kemampuannya sangat tidak di ragukan lagi dalam medan pertempuran.’’ Jelas seorang menteri.‘’ Siapa nama Pangeran tersebut?’’ Tanya Raja Hasan dengan penasaran.‘’ Kami tidak tahu persis siapa namanya. Namun, kami mendengar orang-orang menyebutnya Pangeran Suta.’’ Jawan Menteri tersebut.Setelah berunding. Akhirnya, mereka sepakat untuk mencari Pangeran Suta. Keesokan harinya. Raja mengutus Datuk Tumenggung, ia pun segera berangkat dengan sebuah kapal kecil. Berhari-hari berlayar. Akhirnya, Datuk Tumenggung sampai di perairan Jambi. Ia pun menanyakan keberadaan Pangeran Suta. Ia pun mendapat informasi bahwa Pangeran Suta berada di Selat Malaka.Datuk Tumenggung berkeliling setibanya di Selat Malaka untuk mencari Pangeran Suta. Suatu hari, ia pun berhasil menemukan Pangeran Suta. Datuk Tumenggung pun langsung menceritakan kesulitan yang di hadapi Kerajaan Indragiri. Setelah menjelaskan panjang lebar. Akhirnya, Pangeran Suta bersedia untuk membantu Kerajaan Indragiri. Mereka pun akhirnya berangkat ke Gaung.Mereka pun akhirnya sampai di Gaung. Kedatangan Pangeran Suta, di sambut dengan baik oleh Raja Hasan. Keesokan harinya, Pangeran Suta mulai menyiapkan alat-alat untuk berperang. Ia pun melatih Prajurit Indragiri. Pada awalnya Raja Hasan beserta pasukkanya berkecil hati untuk menerima kekalahan. Namun, kedatangan Pangeran Suta membuat mereka kembali bersemangat.Suatu hari, setelah semua pasukkan siap untuk berperang. Mereka kembali ke Japura untuk melawan Raja Bayang.Pertempuran pun terjadi. Pertempuran berlangsung sampai berhari-hari. Kedua Kerajaan sama-sama kuat. Namun, Pasukkan Raja Bayang mulai kewalahan. Banyak pasukannya yang tewas dan luka-luka. Akhirnya, Raja Banyang dan ketiga saudaranya memutuskan untuk bersembunyi kedalam hutan yang lebat. Namun, pangeran Suta tetap memerintahkan pasukannya untuk menejar mereka.Melihat pasukan dari Raja Hasan terus mengejar. Mereka terus di buru Pangeran Suta. Akhirnya, mereka kehilangan tenaga. Mereka pun terluka semakin parah.Keempat Raja yang sangat sombong tersebut pulang ke negerinya dengan menanggung rasa malu karena kekalahan. Pangeran Suta kembali ke Japura. Ia pun menemput Raja Hasan dari Gaung. Raja Hasan sangat berterima kasih, karena Pangeran Suta lah yang menolongnya dalam kesulitan. Ia pun berniat untuk menikahkan Putrinya dengan Pangeran Suta.Mendengar permintaan tersebut, Pangeran Suta sangat senang. Akhirnya, seluruh rakyat pun sibuk mempersiapkan pernikahan Pangeran Suta dan Putri Raja Hasan. Mereka sibuk membersihkan istana. Acara pernikahan pun berlangsung dengan sangat meriah. Pangeran Suta akhirnya, menjadi Raja Japura. Pangeran Suta dan Putri hidup sangat bahagia. rakyat pun kembali aman, damai dan makmur."Pesan moral dari Cerita Rakyat Indonesia : Kisah Pangeran Suta adalah jangan jadi anak nakal yang suka mengganggu orang lain. Orang yang yang baik dan suka membantu akan disukai oleh semua orang."

Asal Muasal Kota Dumai
Folklore
17 Feb 2026

Asal Muasal Kota Dumai

Dahulu, di Dumai ada sebuah kerajaan yang dipimpin oleh seorang ratu bernama Cik Sima. Kerajaan tersebut bernama Kerajaan Seri Bunga Tanjung. Cik Sima mempunyai tujuh orang putri yang cantik-cantik. Di antara ketujuh putrinya, putri bungsulah yang paling cantik. la bernama Mayang Sari.Suatu hari, ketujuh putri ini sedang mandi di Lubuk Sarong Umai. Mereka tidak menyadari bahwa ada orang yang sedang memerhatikan mereka. Pangeran Empang Kuala yang secara tidak sengaja sedang melewati daerah itu terkagum-kagum dengan kecantikan ketujuh putri itu. Namun, matanya terpaku pada Putri Mayang Sari."Hmm, cantik sekali gadis itu. Gadis cantik di Lubuk Umai. Dumai... Dumai," bisiknya pada diri sendiri.Sekembalinya ke kerajaan, Pangeran Empang Kuala memerintahkan utusannya untuk pergi ke Kerajaan Seri Bunga Tanjung untuk meminang Putri Mayang Sari. Secara adat, Cik Sima menolak dengan halus pinangan kepada putri bungsunya, karena seharusnya putri tertualah yang harusnya menerima pinangan lebih dahulu.Pangeran Empang Kuala murka mendengar pinangannya ditolak. Lulu, ia mengerahkan pasukannya untuk menyerbu Kerajaan Seri Bunga Tanjung. Mendapat serangan tersebut, Cik Sima segera mengamankan ketujuh puterinya ke dalam hutan. Mereka disembunyikan di sebuah lubang yang ditutupi atap terbuat dari tanah dan dihalangi oleh pepohonan. Cik Sima juga membekali ketujuh puterinya bekal makanan selama tiga bulan. Setelah itu, Cik Sima kembali ke medan perang.Pertempuan berlangsung selama berbulan-bulan. Telah lewat tiga bulan pertempuran tidak juga selesai dan pasukan Cik Sima semakin terdesak. Korban sudah banyak sekali berjatuhan dan kerajaan pun porak poranda. Akhirnya, Cik Sima meminta bantuan jin yang sedang bertapa di Bukit Hulu Sungai Umai.Ketika Pangeran Empang Kuala dan pasukannya sedang beristirahat di bagian hilir Sungai Umai pada malam hari, tiba tiba saja ribuan buah bakau berjatuhan menimpa pasukan Pangeran Empang Kuala yang sedang beristirahat. Sebentar saja pasukan tersebut dapat dilumpuhkan. Pangeran Empang Kuala pun terluka.Dalam kondisi yang lemah itu, datanglah utusan Ratu Cik Sima."Hamba datang sebagai utusan Ratu Kerajaan Seri Bunga Tanjung. Ratu meminta Tuan untuk menghentikan peperangan ini. Peperangan ini tidak ada kebaikannya bagi kedua belch pihak. Hanya akan menimbulkan kesengsaraan," kata utusan Ratu Cik SimaPangeran Empang Kuala menyadari bahwa pihaknyalah yang memulai semua kerusakan ini. Akhirnya, ia memerintahkan pasukannya untuk mundur.Sepeninggal pasukan Pangeran Empang Kuala, Ratu Cik Sima bergegas menuju tempat persembuyian ketujuh putrinya. Namun, ia sangat terpukul, karena dilihatnya ketujuh puterinya telah meninggal dunia, karena kelaparan. Peperangan berlangsung Iebih lama dari perkiraan mereka, sehingga bekal makanan yang ditinggalkan tidak cukup.Ratu Cik Sima tak kuasa menahan sesal dan kesedihan atas kehilangan putri-putrinya. la jatuh sakit dan meninggal dunia.Konon, kata Dumai diambil dari kata-kata Pangeran Empang Kuala ketika sedang melihat Putri Mayang Sari di sungai. Kini, di Kota Dumai terdapat situs bersejarah, yaitu sebuah persanggrahan Putri Tujuh yang letaknya di daerah wilayah kilang Minyak PT Pertamina Dumai."Pesan moral dari Cerita Rakyat Riau Putri Tujuh : Asal Usul Dumai adalah permusuhan akan menimbulkan kerugian dan penyesalan."

Darkest Side
Fantasy
17 Feb 2026

Darkest Side

Ammara menjejak Fairyhill beberapa saat sebelum fajar menyingsing. Ia mengabaikan jalanan sepi dan berkabut yang ditempuh untuk menuju perbatasan Hutan Larangan, menyingkirkan segenap rasa takut dan kegentaran yang menggerogotinya. Tekadnya hanya satu, ia harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkan Putra Mahkota Albert dan Pangeran Archibald. Bagaimanapun, kedua peri elf itu menghilang karena hendak membantunya, sehingga ia harus bertanggung jawab.Derap langkah kaki Selly berhenti tepat di perbatasan Hutan Larangan. Unicorn itu meringkik gelisah, ketika Ammara melompat turun dari punggungnya."Aku akan baik-baik saja, Selly. Jangan khawatir. Aku janji aku akan segera kembali," ucap Ammara sambil mengelus pelan surai putih Selly, berusaha menenangkan kegelisahan makhluk itu.Selly menyahuti perkataan Ammara dengan ringkikan sedih, seolah enggan melepas kepergian tuannya memasuki Hutan Larangan. Seluruh makhluk di Fairyverse tahu, bahwa tidak ada yang bisa menjamin keselamatan peri sheelie saat masuk ke hutan yang penuh kutukan itu.Ammara menarik napas dalam-dalam, sebelum mengembuskannya bersama segenap keraguan yang tiba-tiba saja menggelayuti pikirannya. Ia menatap mata Selly yang menyiratkan kesedihan. "Jika lewat tengah hari aku belum juga keluar dari Hutan Larangan, kau harus pergi dari tempat ini Selly. Kembalilah ke Fairyfarm."Kata-kata itu terdengar bagai pesan terakhir, bahkan di telinga Ammara sendiri.Lagi-lagi, unicorn itu meringkik sedih. Selly mendekatkan hidung besarnya pada wajah Ammara, mengendusnya pelan seakan menyampaikan pesan perpisahan pada peri perempuan itu.Di saat yang sama, Ammara juga mendekatkan wajahnya pada Selly. Suaranya bergetar. "Aku akan baik-baik saja, Selly. Percaya padaku."Setelahnya, Ammara mengumpulkan seluruh tekad dan melangkah mantap memasuki Hutan Larangan. Ringkikan Selly yang terdengar sedih mengiringi langkahnya, hingga akhirnya menghilang saat batas tak kasat mata telah ia lewati. Ammara menoleh ke belakang sejenak. Sepasang netranya masih menangkap sosok Selly, tetapi anehnya suara ringkikan itu sama sekali tak terdengar. Suasana di sekitar Ammara mendadak sunyi.Dengan waspada, Ammara melanjutkan langkahnya. Kegelapan Hutan Larangan telah melingkupinya dan untuk bertahan, peri perempuan itu harus menajamkan indera penglihatan dan pendengarannya.Langit Hutan Larangan yang tak berawan berwarna kelabu pekat dengan asap tipis yang memenuhi langit. Padahal seharusnya fajar telah menyingsing, tetapi tanda-tanda munculnya sinar matahari sama sekali tak terlihat sehingga susana pagi menjadi serupa malam.Ammara berjalan sangat hati-hati mengarungi kabut tebal yang menutupi permukaan tanah Hutan Larangan, hingga sebatas pinggangnya. Sesekali kakinya tersandung akar-akar besar yang muncul ke atas permukaan tanah yang tak terlihat oleh Ammara. Hawa dingin juga menyergap tubuh Ammara sejak memasuki Hutan Larangan. Peri itu menggigil seraya memeluk tubuhnya.Suara gemeretak ranting yang terinjak kaki Ammara memecah keheningan Hutan Larangan. Ammara terkejut, jantungnya berdebar kencang. Ia takut jikalau suara yang ia buat mengganggu makhluk-makhluk mengerikan yang mungkin saja bersembunyi di balik kegelapan. Ketakutannya sontak menjadi nyata saat sepasang mata berwarna merah menyala muncul dari salah satu sudut gelap Hutan Larangan.Ammara refleks menutup mulutnya yang hendak menjerit ketakutan, saat melihat sepasang mata yang tampak berkedip-kedip seolah mengawasinya. Ammara mempercepat langkah, nyaris berlari menjauhi sepasang mata itu. Namun, kakinya tersandung sesuatu di balik kabut di permukaan tanah. Ammara terjerembap dan merasakan perih yang menyayat lututnya. Dengan tergesa ia berdiri dan melanjutkan langkah kaki dengan terpincang-pincang.Setelahnya, berpasang-pasang mata merah menyala mendadak muncul di sepanjang sisi kiri dan kanan kegelapan yang Ammara lalui. Mata-mata itu tak berwujud apa pun, selain kegelapan pekat yang melingkupinya.Ammara terkesiap. Ia berusaha menyeret langkahnya lebih cepat.Keheningan Hutan Larangan juga terenggut bersamaan dengan munculnya berpasang-pasang mata itu. Suara bisikan samar-samar mulai terdengar bersamaan dengan gerakan mengedip. Mata-mata merah itu menyorot Ammara seraya menggunjingnya.Lambat-laun bisikan terdengar semakin jelas.Aku mencium bau darah.Sepertinya darah dari peri itu.Ammara bergidik.Tunggu dulu. Baunya sangat amis. Tidak seperti bau darah peri Sheelie lainnya.Apakah ia peri Sheelie?Aku rasa bukan.Aku pernah mencium bau ini dari Negeri di balik portal Utara.Bau manusia.Ammara menutup kedua telinganya dengan tangan. Tak kuasa mendengar suara-suara parau dari berpasang-pasang mata merah yang penuh penghakiman. Ia terus berlari dengan tangis tertahan, berharap makhluk-makhluk itu berhenti mengganggunya. Langkah kaki Ammara terhenti seketika saat tubuh ringkihnya menabrak sesuatu di hadapannya. Tubuhnya terdorong kuat ke belakang dan terduduk menghantam permukaan tanah.Ammara meringis. Namun, sepersekian detik kemudian matanya membelalak, menatap sesosok monster hitam besar yang telah berdiri di hadapannya.Sosok hitam itu memiliki sepasang mata merah menyala yang besar, yang sekarang menyorot Ammara dengan tatapan marah. Sang monster meraung keras hingga gigi-geliginya yang tajam dan berliur terlihat.Bersamaan dengan suara raungan itu, berpuluh pasang mata merah menyala dan suara-suara yang muncul dari kegelapan mendadak menghilang. Hutan Larangan kembali hening dan mencekam.Ammara membekap mulutnya dengan tangan sendiri. Ia tak pernah melihat makhluk mengerikan seperti yang saat ini berdiri di hadapannya. Ammara ketakutan. Air mata mengalir deras di pipinya yang pucat. Tubuhnya menggigil. Ia bergeming pasrah, tak kuasa bergerak dari hadapan monster mengerikan itu.Seberkas cahaya mendadak muncul, menghantam tubuh hitam sang monster di hadapan Ammara. Suara raungan monster yang kesakitan membelah Hutan Larangan, menandakan bahwa kilatan cahaya barusan telah melukai bagian tubuhnya. Monster itu terhuyung mundur, menjauhi Ammara.Sesosok peri elf muncul di hadapan Ammara dalam posisi memunggunginya, sehingga Ammara tak dapat melihat wajah peri itu. Sebilah pedang sihir bercahaya putih terhunus pada salah satu tangannya. Pedang itulah yang telah melukai si monster.Peri laki-laki itu kembali menyerang seraya mengayunkan pedangnya dengan membabi-buta ke arah monster di hadapannya. Tiga sabetan mengenai tubuh monster itu sehingga si monster kembali meraung sejadi-jadinya. Cairan kental berwarna hijau menyala keluar dari lukanya. Tubuh besar yang mengerikan itu akhirnya tumbang tanpa perlawanan.Ammara bergeming. Tubuhnya gemetar hebat menatap monster hijau yang roboh dalam keadaan mengenaskan.Tubuh besar monster itu dalam sekejap mata berubah menjadi sesosok peri elf berambut panjang berwarna kemerahan. Peri itu tertelungkup dengan beberapa luka sayatan yang berdarah di tubuhnya. Namun, dalam hitungan detik, sosok itu berubah lagi menjadi kabut asap berwarna hitam yang lambat-laun menghilang, menyatu dalam kegelapan."Apa kau baik-baik saja Ammara?" tanya sosok penyelamat itu tanpa menoleh.Suaranya terdengar sangat familier. "A-aku baik-baik saja,"sahut Ammara dengan suara bergetar. Ia mengernyit untuk dapat melihat sosok itu lebih jelas. Cahaya pedang sihir yang terhunus di salah satu tangan peri itu menyediakan seberkas cahaya temaram yang menerangi sekeliling Ammara.Dalam keremangan, Ammara mengenali sosok yang telah menyelamatkannya. "Pangeran Elijah?!"Peri laki-laki itu mendekati Ammara untuk membantunya berdiri. Seulas senyum asimetris tersungging di bibir Elijah. "Apa kau bisa berdiri? Atau perlukah aku menggendongmu?"Ammara merasakan pipinya memanas. Jika suasana hutan itu lebih terang, pastilah rona merah yang membayang di pipinya akan terlihat. Ammara menggeleng gugup. "Ti-tidak perlu. Aku bisa sendiri."Ammara berusaha berdiri, meluruskan kakinya perlahan. Punggungnya yang terasa nyeri menyusahkan kakinya untuk berdiri dengan seimbang. Tubuhnya limbung dan nyaris terjatuh lagi.Dengan sigap, Elijah menangkap tubuh peri perempuan itu dan menggendongnya."Aku bisa berjalan sendiri!" sergah Ammara seraya meronta-ronta di dalam gendongan Elijah. Namun, rengkuhan Elijah yang kokoh dan rasa sakit menghalangi gerakannya. Akhirnya, peri perempuan itu hanya bisa pasrah membiarkan Elijah menggendong tubuhnya."Apa yang dilakukan peri cantik sepertimu di Hutan mengerikan ini? Kau tidak melarikan diri dari istana, kan?" tanya Elijah seraya menaikkan salah satu alisnya. Iris mata birunya beradu dengan iris mata hijau peri perempuan di dalam gendongannya.Ammara membuang muka, tak sanggup menatap iris mata biru Elijah dalam jarak sedekat ini. Lagi pula, keremangan Hutan Larangan tak mampu menyamarkan pesona sang pangeran peri. "Aku ingin mencari Archibald dan Putra Mahkota Albert," sahutnya singkat.Elijah tergelak. "Kau ingin menyelamatkan Archibald dan Albert, sementara kau sendiri perlu diselamatkan. Sudahlah, Ammara. Aku antar kau keluar dari Hutan ini. Tempat ini terlalu berbahaya untukmu. Untung kau tidak terkutuk seperti monster tadi dan yang kau alami adalah keajaiban sekaligus anomali.""Apa maksudmu?" tanya Ammara bingung."Monster itu dulunya adalah peri Sheelie. Namun, peri itu terkena kutukan ketika memasuki Hutan Larangan dan menjadi monster yang mengerikan. Kau beruntung karena tidak langsung terkena kutukan. Mungkin karena kau adalah keturunan peri penyembuh seperti ibumu."Ammara mencoba mencerna kata-kata Elijah. Akan tetapi, ia mendadak teringat suara dari berpasang-pasang mata merah yang muncul sepanjang perjalanannya tadi. Makhluk-makhluk itu menyebutnya manusia karena bau darah yang menguar dari luka di lututnya. Ammara ingin menanyakan hal itu pada Elijah, tetapi urung karena langkah peri itu tiba-tiba terhenti."Ada apa?" tanya Ammara."Sepertinya ada yang mengikuti kita," bisik Elijah.Ammara kembali bergidik. Ia mengalungkan lengannya di leher Elijah erat seraya menajamkan telinganya waspada untuk memahami pertanda. Namun, ia tak dapat mendengar apa pun selain detak jantung Elijah yang bertalu cepat."Aku harus segera mengeluarkanmu dari sini," gumam Elijah lebih kepada dirinya sendiri."Tidak. Aku harus menemukan Archibald dan Albert terlebih dahulu!" tolak Ammara."Biar aku yang menyelamatkan mereka. Mereka adalah saudaraku. Sudah seharusnya aku yang menyelamatkan mereka.""Tidak. Aku akan ikut denganmu. Mereka tertangkap karena berusaha menolongku. Aku tidak bisa berdiam diri saja!"Elijah mengembuskan napas panjang. "Benar-benar peri cantik yang keras kepala. Tempat ini tidak cocok untukmu. Tempat ini terlalu berbahaya. Aku tidak bisa menjagamu sekaligus menyelamatkan mereka. Lagi pula, aku tidak mau kau terluka."Ammara kembali meronta-ronta di dalam gendongan Elijah. Ia tak menghiraukan beberapa bagian tubuhnya yang terasa nyeri. Ia ingin turun dan tidak mau dibawa keluar dari Hutan Larangan sebelum menyelamatkan Archibald dan Albert. Tekadnya sudah bulat.Dengan berat hati, Elijah menurunkan tubuh peri perempuan itu. Iris mata birunya menangkap luka menganga di lutut Ammara. "Ternyata luka inilah yang telah mengundang mereka!" gumam Elijah."Mereka siapa?"Elijah menatap iris mata hijau Ammara lekat-lekat. "Makhluk-makhluk terkutuk seperti monster yang menyerangmu tadi. Di Hutan Larangan ini, selain makhluk terkutuk juga banyak makhluk yang haus darah Ammara."Sang pangeran peri kemudian berlutut di hadapan Ammara. Ia mengeluarkan sebuah kantung berwarna gelap dari sakunya, kemudian, menumpahkan serbuk bercahaya yang berwarna putih ke atas telapak tangan. Mulutnya berkomat-kamit beberapa saat, sebelum meniupkan serbuk itu ke arah lutut Ammara yang terluka. Serbuk-serbuk peri itu berhamburan mengenai permukaan luka Ammara, hingga serta merta luka menganga yang tadinya berdarah mengering.Ammara terpana. "Ini luar biasa!" Ia berdecak kagum.Elijah menaikkan salah satu sudut bibirnya. Ia tersenyum. "Ini tidak sehebat yang kau bayangkan. Lukamu hanya luka luar, jadi aku bisa mengobatinya. Kurasa ibumu jauh lebih hebat. Percayalah, ini bukan apa-apa."Ammara mengamati Elijah yang sedang membersihkan sisa-sisa serbuk peri di permukaan lututnya. Ia sama sekali tidak menyangka jika Elijah adalah pangeran yang perhatian, terlepas dari sikapnya yang sering memancing emosi saudara-saudaranya yang lain.Sebuah pertanyaan melintas di benak Ammara saat itu, ia tidak bisa menahan untuk tidak mengutarakannya. "Kau sepertinya sangat familier dengan tempat ini? Apakah kau sering kemari? Apa kau juga seperti Archibald?""Kau sangat ingin tahu ya," sahut Elijah tergelak. Kemudian, ia mengerucutkan bibirnya berpura-pura sedang berpikir. Ia telah bangkit dari posisinya dan berdiri sejajar di samping Ammara."Tidak masalah kalau kau tidak mau cerita. Yang jelas aku tetap akan ikut denganmu mencari Archibald dan Putra Mahkota Albert.""Kau semakin menggemaskan jika keras kepala seperti ini." Elijah menepuk pelan puncak kepala Ammara seraya menampilkan cengiran di bibirnya.Ammara mengelak cepat ketika Elijah akan mengacak rambutnya. "Tidak ada yang lucu di sini!" desis Ammara sedikit kesal.Mereka terdiam beberapa saat, sementara langkah mereka memasuki Hutan Larangan lebih jauh. Jalanan yang mereka lalui tidak segelap tadi karena hari telah beranjak siang. Meskipun Hutan Larangan yang berkabut tidak dapat menangkap sinar matahari secara langsung, tetapi kabut yang menyelimuti langit perlahan menipis. Sesekali, sepasang mata merah bercahaya masih mengintai Ammara dan Elijah dari balik bayangan pepohonan yang gelap untuk kemudian bersembunyi kembali."Archibald kebal terhadap kutukan Hutan Larangan karena ia adalah keturunan peri Sheelie yang sangat sakti di Fairyverse. Sedangkan aku, hanya kebal terhadap kutukan Hutan Larangan karena di dalam darahku mengalir darah peri unsheelie," tutur Elijah memecah keheningan. Iris mata birunya menatap Ammara. "Aku harap kau tidak takut padaku, Ammara."Ammara mengernyitkan alisnya bingung. "Kenapa aku harus takut padamu?" Ia lantas mengerling ke arah Elijah yang tampak terkejut mendengar perkataannya."Jadi kau tidak takut padaku?" Elijah memasang tampang jahil seraya menaikkan sebelah alisnya."Jangan macam-macam," desis Ammara.Elijah tergelak mendengar kata-kata peri perempuan itu. Namun, wajahnya mendadak serius. "Terima kasih karena tidak takut padaku. Aku anggap kau telah bersedia menjadi temanku. Kau tahu, baru kali ini aku jujur mengakui bahwa aku adalah keturunan unsheelie. Aku bahkan selalu menyangkal jika saudara-saudaraku menyinggung soal ini. Rasanya sangat menyenangkan karena aku bisa jujur tentang diriku sendiri.""Eh, aku ...""Terima kasih karena kau sudah mau menjadi temanku dan mendengarkanku," sambungnya lagi, tanpa memberi kesempatan Ammara untuk menyela ucapannya. Dengan gerakan cepat, peri laki-laki itu mengecup puncak kepala Ammara sekilas, sebelum berjalan lebih dahulu meninggalkan Ammara yang sangat terkejut atas perilaku Elijah barusan."Hei, tunggu aku!" Ammara berlari menyusulnya dengan terseok-seok. Peri perempua itu ingin memprotes perlakuan Elijah barusan kepadanya. Namun, ia mengurungkan niatnya saat langkah Elijah akhirnya terhenti di dekat sebatang pohon besar berwarna hitam yang tak memiliki sehelai daun pun."Ada apa?" tanya Ammara bingung.Elijah menghunus pedang perak sihirnya dan mengayunkannya ke arah pohon tersebut. Ujung pedang perak yang lancip itu menghilang seperti masuk ke dalam dimensi lain yang tak tertangkap mata mereka. Pedang sihir itu mendadak memancarkan cahaya putih yang menandakan bahaya atau keberadaan peri unsheelie di sekitar tempat itu."Ada sesuatu di sini. Kita harus menemukannya,"gumam Elijah pelan. Ia sedang sibuk mengayun-ayunkan dan mengibas-ngibaskan pedangnya ke segala arah. Tiba-tiba, ujung pedang itu tampak menghilang lagi.Ammara dan Elijah saling bertatap. Mereka sama-sama terkesiap. Ini artinya mereka telah menemukan pintu ke dimensi lain tersebut.Elijah meraih salah satu lengan Ammara, mendekatkan peri perempuan itu ke sisinya. Dalam gerakan cepat, ia merangkul Ammara masuk melewati celah tak kasat mata. Dalam hitungan detik, tubuh mereka menghilang di balik kegelapan Hutan Larangan.* * *Archibald membuka matanya perlahan. Kala kesadarannya telah terkumpul sepenuhnya, Archibald menyadari bahwa ia sedang berada di tempat familier yang sudah lama tidak ia kunjungi. Dengan susah payah, Archibald bangkit dari pembaringannya. Iris mata hazel kehijauan menangkap sosok seorang peri perempuan bersurai emas yang memunggunginya dan menatap ke luar jendela.Archibald menatap ke sekeliling, sebuah ruangan dominan putih dengan hiasan tanaman bunga merambat beraneka warna. Archibald sangat mengenali tempat itu, istana Ratu Breena, ibu kandungnya."Kau sudah bangun, Archie?" sapa suara lembut Ratu Breena."Ibu? Kenapa aku di sini. Aku harus segera menemukan Putra Mahkota Albert. Dia dalam bahaya," sahut Archibald yang sedang memegangi pelipisnya.Peri perempuan itu mendekati Archibald dan duduk di sisinya. Iris matanya yang berwarna serupa dengan milik Archibald menyorotnya dengan iba."Lukamu sangat parah. Kau harus istirahat dulu untuk memulihkan tenagamu," cegah Ratu Breena. Kekhawatiran kentara terlihat di wajah cantiknya."Aku tidak apa-apa, Bu. Aku merasa baik-baik saja," bantah Archibald seraya bersusah payah bangkit dari ranjang. Namun, tangan Ratu Breena menahannya."Sudah cukup, Archie. Jangan terlibat lebih jauh lagi dengan para peri yang haus kekuasaan itu. Kau hanya akan menjadi korban mereka. Albert menghilang pasti ada alasannya. Apalagi kudengar Raja Brian belakangan ini sedang sakit. Itu artinya, sebentar lagi Putra Mahkota Albert akan naik takhta. Sementara, orang-orang yang haus kekuasaan sedang memanfaatkan situasi seperti ini."Archibald bergeming. Ia menatap ibunya dengan tatapan skeptis. Ia sama sekali tidak meragukan ibunya, hanya saja hati kecilnya menolak untuk mempercayai kebenaran tersebut."Akan tetapi, dia adalah saudaraku, Bu. Aku tetap harus menyelamatkannya."Breena menggenggam jari-jemari Archibald erat, menatap iris peri itu dalam-dalam. Ia mendesah pelan sebelum melanjutkan kata-katanya. "Tolong, dengarkan ibu kali ini saja. Ibu tidak ingin kau terluka. Ibu mohon, jangan terlibat lagi Archibald."Archibald masih bergeming.Breena menghela napas berat. "Kecuali jika kau ingin maju menjadi Raja, maka aku akan mendukungmu sekuat tenaga."Kata-kata Ratu Breena membuat Archibald terkesiap. Ia menemukan kesungguhan tersirat pada netra sang ibu. Secara tidak langsung, Ratu Breena telah memintanya untuk menjadi raja di kerajaan Avery. Jika ia menuruti permintaan itu, maka sama halnya dengan mengkhianati saudara-saudaranya sendiri.Sekali lagi, Archibald hanya bisa bungkam tanpa jawaban. Raut wajahnya memang terlihat tenang, tetapi pikiran di dalam kepalanya berkecamuk dengan liar.Anomali adalah sebuah keanehan atau ketidakwajaran. Ammara yang notabene adalah sesosok peri sheelie tidak terpengaruh oleh Hutan Larangan.

The Crack of the Dawn
Fantasy
17 Feb 2026

The Crack of the Dawn

Suara derap langkah unicorn memecah keheningan Fairyhill. Archibald terkesiap. Ia menajamkan penglihatan dan pendengarannya di dalam kabut yang mulai menipis. Tangannya yang gemetar menghunus sebilah pedang perak dengan waspada. Tubuh Archibald menegang.Siluet sepasukan peri elf yang menunggang unicorn mendekati perbatasan Fairyhill dan Hutan Larangan. Jubah berwarna merah marun para peri elf itu berkibar seirama guncangan tubuh mereka di atas unicorn yang berlari kencang.Archibald mengenali pasukan tersebut sehingga sontak menurunkan pedang dan memasukannya kembali ke dalam sarung yang tersampir di salah satu sisi pinggang. Mereka bukan ancaman. Mereka adalah para kesatria elf dengan jubah formal Kerajaan Avery. Dari balik kabut yang kian menipis, Archibald mengenali jika pasukan itu dipimpin oleh Maurelle.Setelah jarak rombongan itu dengan perbatasan Hutan Larangan sang peri cenayang lantas memerintahkan para kesatria elf untuk menghentikan unicorn mereka. Suara derap langkah unicorn serentak berhenti.Maurelle melompat turun dari unicornnya. Raut waspadanya seketika berubah panik saat mendapati Claude, Elwood, dan Elijah yang tergeletak tak sadarkan diri. Segera ia menghampiri Archibald yang bergeming di dekat perbatasan."Apa yang terjadi pada para pangeran?" tanya Maurelle kalut. Ia menatap para pangeran yang tergeletak tak sadarkan diri itu bergantian, sekali lagi. Kengerian mendadak menyelimuti wajahnya saat tak mendapati sosok Albert di sana. Sekali lagi, peri cenayang itu memutar tubuhnya melihat ke tempat-tempat yang dapat dijangkau oleh pandangan. Namun, ia tak juga menemukan sosok Putra Mahkota Albert di mana pun. Sosok sang Putra Mahkota seolah menghilang tanpa jejak. "Di mana Putra Mahkota Albert?" ulangnya sekali lagi.Archibald mengembuskan napas panjang. "Kami baru saja diserang para orc . Setelah penyerangan itu Putra Mahkota Albert menghilang.""A-apa? Para orc ? Mana mungkin mereka bisa memasuki Fairyhill!" Maurelle membelalak."Kabut dari Hutan Larangan juga masuk ke tempat ini. Kabut itulah yang membuat para orc dan Putra Mahkota Albert tiba-tiba menghilang. Apa kau mengetahui sesuatu, Maurelle? Apakah segel putih di perbatasan Hutan Larangan telah melemah?" Archibald balik bertanya penuh selidik."Ba-bagaimana bisa, Pangeran?!"Archibald menaikkan salah satu sudut bibirnya, tersenyum asimetris. "Kau adalah peri cenayang, Maurelle. Mengapa kau sangat tidak peka untuk hal-hal seperti ini!"Maurelle terdiam. Ia menundukkan pandangan, tak mampu membalas tatapan penuh selidik Archibald. Agaknya peri cenayang itu telah menyadari untuk kemudian menekuri kesalahannya."Bawa para pangeran ke istana! Batalkan saja misi apa pun yang akan kalian kerjakan di Fairyhill saat ini. Tempat ini tidak aman!" perintah Archibald."Baik, Pangeran!" sahut Maurelle. Ia mengangkat wajahnya melihat Archibald yang hendak berbalik menjauhinya. "Anda mau ke mana, Pangeran?""Aku harus menemukan Putra Mahkota Albert," sahut Archibald penuh tekad."Tidakkah lebih baik jika Anda membawa sebagian pasukan, Pangeran?" Maurelle memberi saran. Kekhawatiran tergurat jelas pada wajahnya.Archibald lagi-lagi menyunggingkan senyuman miring. "Cih! Aku tidak memerlukan pasukan yang hanya akan menyusahkanku!"Maurelle bungkam, menelan ludahnya dengan susah payah. Ia paham betul sifat sombong dan keras kepala yang dimiliki Archibald. Lebih baik ia mengalah dan membiarkan sang pangeran melakukan apa pun yang ingin dilakukannya. Setelahnya, Maurelle segera memerintahkan para kesatria elf untuk membawa tiga pangeran yang tengah tak sadarkan diri itu dan beranjak dari Fairyhill. Misi mereka untuk penyelidikan Dewan Peri otomatis dibatalkan.Setelah pasukan Maurelle dan para kesatria elf pergi menjauh, Archibald melanjutkan langkahnya memasuki Hutan Larangan. Pedang perak telah terhunus di salah satu tangannya. Sementara, matanya dengan awas mengamati keadaan di sekitar.Hutan Larangan masih sama seperti terakhir kali ia kunjungi; sepi dan magis. Kabut yang sangat tebal menyelimuti tempat itu hingga sebatas pinggang peri elf dewasa. Ranting-ranting pepohonan yang menghitam tanpa dedaunan, mencengkeram langit kelabu, menambah kesuraman hutan itu. Sejauh mata memandang, hitam, putih dan abu-abu adalah warna yng mendominasi Hutan Larangan. Bahkan, langit yang melingkupi hutan itu terlampau pekat, tanpa awan atau pun sinar matahari.Suara koakan gagak terdengar dari berbagai penjuru hutan mengiringi langkah Archibald. Lolongan, rintihan maupun suara-suara raungan makhluk peri terkutuk lainnya juga terdengar sayup-sayup dari kedalaman hutan yang sepenuhnya berwarna hitam di hadapannya. Permukaan tanah yang tertutup kabut sedikit menghambat langkah Archibald karena ia tak dapat melihat dengan jelas akar-akar pohon besar yang menjalar di sepanjang permukaan tanah. Sesekali ia tersandung dan jatuh terguling, tetapi dengan sigap ia bangkit dan kembali berjalan.Archibald sebenarnya telah terbiasa dengan medan Hutan Larangan. Ia sering ditugaskan sang raja secara pribadi untuk mengawasi pergerakan makhluk-makhluk unsheelie di tempat itu, karena ia adalah satu-satunya peri sheelie yang terbebas dari kutukan Hutan Larangan. Namun, kali ini rasanya sedikit berbeda. Archibald tak hanya memata-matai, tetapi juga harus mencari dan menyelamatkan Putra Mahkota Albert tanpa petunjuk yang memadai. Archibald juga tidak tahu persis siapa sebenarnya yang menculik Albert, tetapi intuisinya mengatakan jika Albert telah diculik dan dibawa ke Hutan Larangan.Tiba-tiba, pandangan Archibald menangkap sekelebat cahaya di balik kabut tepat di bawah kakinya. Jantungnya mendadak berdentum tidak karuan. Rasa takut dan penasaran berkecamuk di kepalanya hingga akhirnya sang pangeran peri menunduk dan meraba-raba permukaan tanah yang terasa bergelombang untuk menemukan benda tersebut. Setelah beberapa saat, tangannya menyentuh sebuah benda kecil berbentuk lingkaran yang terbuat dari logam.Archibald meraih benda itu dan mengeluarkannya dari kabut, kemudian memperhatikannya dengan seksama. Matanya membelalak. Ia mengenali benda itu. Gelang keberuntungan yang diberikan Tatianna kepada Albert sebelum mereka berangkat ke Fairyhill. Rupanya dugaan Archibald benar, Albert pasti berada di suatu tempat di Hutan Larangan.Archibald setengah berlari, menerobos Hutan Larangan lebih jauh. Pengharapannya akan keberadaan Albert tumbuh. Namun, kewaspadaannya meningkat. Pedang peraknya yang sedari tadi terhunus kini memendarkan cahaya putih, menandakan adanya bahaya yang datang mendekat. Seluruh pedang milik para pengeran peri elf di Kerajaan Avery adalah pedang sihir yang akan memberikan peringatan tanda bahaya ketika memasuki Hutan Larangan. Pedang-pedang itu dilapisi semacam sihir putih pelindung untuk mendeteksi kekuatan sihir hitam dan keberadaan peri unsheelie jika dalam keadaan terhunus.Sekelebat bayangan hitam yang melesat cepat seketika muncul di hadapan Archibald. Archibald berhasil menghindar saat bayangan itu nyaris menabraknya untuk kemudian menghilang kembali di balik kegelapan.Archibald kian meningkatkan kewaspadaan, memasang kuda-kuda siaga. Matanya menatap nyalang ke sekeliling, sementara pedang peraknya masih berpendar, yang menandakan bahwa makhluk unsheelie tadi masih berada di sekitarnya.Tiba-tiba embusan angin yang terasa janggal meniup punggung Archibald. Hawa dingin sontak menjalari rubuhnya. Archibald lantas menggeser tubuh, kemudian berbalik dengan pedang terhunus. Sekelebat bayangan hitam kembali muncul dan menyerang Archibald dengan cepat. Archibald sontak mengayunkan pedangnya, tetapi meleset. Pedangnya berdesing menyabet udara kosong di sekitarnya.Bayangan hitam yang ternyata menyimpan sebilah senjata tajam itu berhasil melukai lengan atas sang pangeran peri. Di saat bersamaan, energi kuat makhluk itu membuat Archibald terpental ke udara dengan segaris luka gores menganga tertinggal pada lengan atasnya, lalu bayangan hitam itu kembali menghilang tertelan kabut tebal di salah satu sisi hutan.Archibald meringis seraya membekap lukanya dengan telapak tangan, sebelum kembali berdiri dengan posisi siaga. Meski sepasang tungkainya gemetaran, ia bertekad untuk tidak lengah.Beberapa saat kemudian, keheningan yang janggal menyergap Hutan Larangan. Suara koakan gagak yang tadi berbunyi ramai mendadak menghilang. Raungan monster dan jeritan banshee pun mendadak senyap. Dalam sepersekian detik, sekelebat bayangan hitam yang sama kembali menyerang Archibald dari arah yang tak terduga dengan sangat cepat. Archibald kehilangan fokus sehingga serangan makhluk itu membuat tubuhnya melambung tinggi menghantam ranting-ranting kering yang menghitam pada salah satu pohon. Ranting-ranting kering yang rapuh itu patah sehingga tubuh sang pangeran peri serta-merta jatuh dari ketinggian.Archibald menjerit kesakitan bersamaan dengan tubuhnya yang berdebum menghantam tanah. Bunyi gemeretak tulang terdengar, sementara Archibald merasa tubuhnya mendadak kaku dan tak bisa digerakkan.Sesosok makhluk menyeramkan perlahan muncul dari gelapnya kabut Hutan Larangan. Makhluk itu berkulit hijau dengan telinga runcing dan rupa menyeramkan. Sepasang sayap besar yang mirip sayap kelelawar berwarna hitam membentang, menambah kengerian sosok tersebut. Dari mulutnya yang bertaring keluarlah suara raungan keras hingga memenuhi seluruh Hutan Larangan. Gagak dan kelelawar berhamburan dari sudut-sudut tergelap hutan demi mendengar suara itu. Makhluk itu adalah goblin, makhluk peri paling jahat yang menghuni Hutan Larangan.Archibald meringis menahan sakit saat darah segar keluar dari lubang telinganya. Belum reda sakit yang mendera sekujur tubuhnya, sang pangeran peri dihadapkan dengan kenyataan nyaris kehilangan pendengaran.Goblin berjalan mendekati Archibald perlahan. Bibirnya menyeringai menatap tubuh malang Archibald yang tak mampu bergerak. "Kau ingin menyelamatkan saudaramu dengan kondisi seperti ini?" tanya makhluk itu dengan nada mengejek."Katakan di mana Putra Mahkota Albert?!" bentak Archibald berang. Wajah pucatnya terlihat memerah diliputi emosi yang sedang memuncak dan rasa sakit luar biasa yang menggerogoti tubuh."Dasar peri sombong! Kau bahkan tidak dapat menyelamatkan dirimu sendiri dariku!" desis Goblin marah.Kedua mata makhluk itu menyala berwarna merah. Sebelah tangannya terangkat, memunculkan sebuah bola api yang kian lama kian membesar. Bola itu menyala, dengan lidah-lidah api berwarna kuning yang memancarkan suhu yang teramat panas. Sang goblin menyeringai jahat, sebelum mengambil ancang-ancang, bersiap untuk melemparkan bola api panas itu pada Archibald.Archibald menatap tajam pada mata merah menyala goblin, seakan menantang. Ia menunjukkan bahwa ia sama sekali tidak takut dan tidak akan tunduk, apa pun yang terjadi."Aku tidak takut!"Bola api berwarna kemerahan itu akhirnya terlempar ke arah Archibald. Panas yang menguar dari permukaan bola api itu membuat sang pangeran peri seketika pingsan tak sadarkan diri, bahkan sebelum lidah api itu sempat menyentuh kulit Archibald. Namun, keajaiban terjadi. Sebuah bola api berwarna putih melesat dari arah lain dan berhasil menghalau bola api Goblin. Bola api goblin mendadak hancur menjadi serpihan-serpihan kecil yang langsung hilang begitu menyentuh udara.Goblin membelalak. Ia tak menyangka bola api andalannya bisa hancur begitu saja. Makhluk itu menggeram marah dan mengalihkan pandangan pada sosok yang tiba-tiba muncul merusak rencananya.Tak jauh dari tempatnya berdiri, ia menangkap sesosok peri cantik, yang seluruh tubuhnya diliputi cahaya putih. Peri itulah yang mengeluarkan bola api putih penghancur bola api Goblin. Rambut pirang peri itu berkibar terlihat kontras dengan jubahnya yang berwarna hijau tua.Manik matanya yang berwarna hazel kehijauan membalas tatapan goblin dengan sorot mengintimidasi. "Beraninya kau menyentuh putraku, Wahai Makhluk Terkutuk?!"Sang goblin terlihat gentar untuk beberapa saat. Seringainya menghilang berganti dengan keterkejutan. Sebuah ingatan melintas dalam benak goblin, mengenali peri perempuan itu.Peri perempuan cantik itu lantas mengetukkan tongkat putihnya ke bumi. Kepala tongkat yang berbentuk bulat bertabur batu-batu mulia itu perlahan mulai bercahaya. Bersamaan dengan itu, manik mata sang peri menghilang meninggalkan bola mata putih, sementara mulutnya merapalkan mantra dalam suara rendah. Tongkat itu terangkat dengan sendirinya ke udara, lalu memunculkan garis-garis cahaya yang menyerang ke arah goblin dengan cepat.Goblin yang lengah, menjadi gelagapan saat segaris cahaya mengenai salah satu betisnya. Garis cahaya itu meninggalkan rasa panas yang tak terbayangkan, membuat sang goblin meraung. Garis-garis cahaya lainnya kembali menyerang Goblin, silih berganti tanpa jeda. Goblin yang awalnya bisa menghindari garis-garis cahaya itu lambat-laun merasa kewalahan dan kelelahan. Beberapa garis cahaya menyabet bagian tubuhnya. Bahkan, salah satu garis cahaya berhasil menyabet dadanya hingga menembus punggung. Akhirnya Goblin itu jatuh menggelepar di atas tanah. Tubuh hijaunya yang hangus mengepulkan asap tipis beraroma daging terbakar.Peri perempuan itu mendekati Archibald, mengangkat tubuh peri laki-laki yang tak sadarkan diri itu dengan kekuatan telekinesisnya, sebelum akhirnya menghilang di balik kabut Hutan Larangan.* * *Suara ketukan pintu membangunkan Ammara dari alam mimpi. Ia bergegas bangkit dari peraduannya dan berlari panik ke arah pintu bilik. Tidak pernah ada yang bertamu sepagi ini, bahkan mahkota bunga saja masih bercahaya. Pertanda pagi belum kunjung tiba. Sebuah perasaan aneh menyusupi hati Ammara.Ammara terkesiap kala melihat beberapa sosok prajurit elf telah berbaris di depan pintunya dengan gaya formal. Sesosok kesatria elf berjubah merah marun dengan lambang Kerajaan Avery menempel di dadanya maju ke hadapan Ammara."Ada apa ini?" tanya Ammara bingung."Maaf menganggu Anda pagi-pagi buta begini, Nona Ammara," ucap kesatria Elf itu seraya membungkukkan badannya sebentar. "Ada yang ingin saya sampaikan.""Katakanlah, ada apa?" tanya Ammara lagi. Wajahnya gusar. Ia sudah tidak sabar menanti apa yang ingin disampaikan utusan resmi kerajaan itu."Saya membawa sebuah kabar gembira. Nona Ammara dinyatakan bebas dari segala tuduhan yang berkaitan dengan sihir hitam yang menimpa para pangeran dan putri Kerajaan Avery. Nona Ammara juga dinyatakan bebas dari segala tuduhan persekongkolan dengan para peri unsheelie dari Hutan Larangan. Mulai detik ini juga, Nona Ammara dinyatakan bebas dan dapat kembali ke Fairyfarm kapan pun Nona siap."Ammara membelalak tak percaya. Di satu sisi, ia merasa sangat senang, tetapi di sisi lain ia merasa ada sesuatu yang tidak beres. "Tidak mungkin!" desisnya pelan. Ia lantas menatap peri elf yang baru saja menyampaikan keputusan itu. "Apa yang sebenarnya terjadi?"Peri elf perwakilan kerajaan Avery itu membalas tatapan Ammara bingung. "Pihak Kerajaan Avery telah menemukan pelaku sebenarnya. Raja dan Ratu meminta maaf yang sebesar-besarnya atas kesalahpahaman dan tuduhan yang diberikan kepada Nona Ammara."Peri Elf itu melanjutkan. "Dan, sebagai permintaan maaf kerajaan Avery, Raja dan Ratu Kerajaan Avery kelak akan mengundang Nona Ammara menghadiri sebuah perjamuan resmi.""Benar-benar sulit di percaya!" gumam Ammara pelan. Raut wajah bingungnya dalam sekejap kemudian berubah menjadi ceria. Ammara nyaris melompat-lompat di tempatnya berdiri. Namun, ia segera sadar ada banyak peri elf yang tengah memperhatikannya saat itu sehingga ia berusaha menahan diri."Baiklah, terima kasih. Apakah aku boleh pergi sekarang?" tanya Ammara antusias."Tentu saja, Nona. Namun, apa tidak lebih baik jika Anda menunggu sampai matahari terbit untuk pulang ke Fairyhill?"Ammara menggeleng cepat. "Tidak! Tidak masalah. Aku harus segera pulang. Ayah dan Ibuku pasti sangat mencemaskanku!"Kesatria Elf itu mengangguk takzim, memaklumi keputusan Ammara. Para kesatria Elf itu mengatur barisan untuk memberi jalan kepada Ammara.Ammara dengan sigap meraih jubah cokelatnya dan segera melesat turun dari kastel Timur. Ia tidak ingin menunggu pagi. Ia sudah sangat merindukan ibunya.Langkahnya terhenti pada sebuah taman khusus para unicorn istana. Di sana ia mendapati Selly yang sedang tertidur. Suara dengkuran halus terdengar dari mulut makhluk putih yang setengah terbuka."Selly!" Panggil Ammara setengah berbisik. Ia tak ingin membangunkan seluruh unicorn yang ada di sana."Psstt ... Selly, bangunlah. Ini aku!" desis Ammara pelan sembari berusaha membangunkan Selly dengan lemparan-lemparan batu kecil."Dia tidak akan bangun dengan kekerasan seperti itu," sela sebuah suara lemah lembut yang kontan mengagetkan Ammara.Ammara menoleh ke arah suara dan mendapati sosok Putri Tatianna telah berdiri di sampingnya. Salah satu tangan peri perempuan itu menjinjing sekeranjang penuh berisi buah Plum."Putri Tatianna?!""Aku senang karena akhirnya kau terbukti tidak bersalah," ucap Tatianna tanpa memandang ke arah Ammara. Tangannya sedang sibuk melempari buah Plum ke sekitar tempat Selly tertidur.Selly yang masih tertidur seakan dapat mencium aroma buah Plum. Hidung besarnya bergerak-gerak mengendus aroma yang paling ia sukai itu. Perlahan mata Selly terbuka, kemudian menguap beberapa kali sebelum akhirnya benar-benar bangun dari tidurnya. Selly lantas mencomot buah-buah plum di sekitarnya satu per satu.Ammara hendak memanggil Selly lagi, tetapi Tatianna terlebih dahulu melanjutkan perkataannya. "Apakah kau tahu bahwa Kerajaan Avery sedang berkabung?" Tatianna menatap kosong ke arah Selly. Kesedihan jelas membayang pada sorot matanya."Berkabung?"Tatianna mengangguk pelan. "Putra Mahkota Albert menghilang. Kemungkinan besar ia diculik, dan para pangeran terluka," tuturnya dengan dramatis. Sang putri kemudian menatap Ammara lekat-lekat. "Semua ini karena kamu. Karena mereka bersikeras menyelamatkan seorang peri biasa sepertimu.""A-apa?!" Ammara membelalak. Ia sangat terkejut mendengar apa yang baru saja dikatakan Tatianna. Sesuatu di dalam dadanya terasa sangat sakit."Kau tahu apa bagian terburuknya? Archibald pergi seorang diri memasuki Hutan Larangan untuk menyelamatkan Putra Mahkota Albert. Dan, hingga kini ia belum juga kembali!" Tatianna mengatakan itu dengan menatap tajam iris mata hijau Ammara. Tatapan yang penuh dengan kebencian dan penghakiman.Ammara menggeleng tak percaya. Wajahnya memucat. Sesuatu terasa menyesakkan dadanya.Tatianna menangkap gelagat ketidaknyamanan dalam ekspresi Ammara, ia kemudian melanjutkan perkataannya. "Tolong, jauhi para pangeran. Segala sesuatunya berubah jadi tak terkendali karena pertemuan mereka denganmu. Kembalilah dengan tenang ke Fairyhill. Dan, jangan pernah menginjakkan kakimu ke istana ini lagi." Setelah menyelesaikan kalimatnya, peri cantik itu segera berlalu begitu saja dari hadapan Ammara. Ia meninggalkan Ammara yang masih tampak syok dengan semua perkataannya.Putra Mahkota Albert di culik. Para pangeran Kerajaan Avery terluka dan Pangeran Archibald juga menghilang. Batin Ammara terus mengulang-ulang pernyataan itu hingga raut wajahnya berubah menjadi panik seketika.Dini hari itu juga, Ammara menunggang unicornnya keluar dari Istana Avery, menembus embun yang masih menggantung pekat di langit Fairyverse. Tujuannya hanya satu, yaitu Hutan Larangan.

A Warning To Those Thinking About Accessing The Shadow Web
Horror
17 Feb 2026

A Warning To Those Thinking About Accessing The Shadow Web

Seberapa banyak pengetahuanmu mengenai internet? Sebelum 2 minggu yang lalu, aku kira aku sangat ahli dalam hal internet. Bagaimanapun, aku memboroskan seporsi besar waktuku untuk membrowse reddit dan 4chan, dan aku selalu terpasang dengan informasi dan tren baru. Aku sudah menjadi penduduk internet sejak hari hari pertama Fortune City dan saluran IRC dibangun, selanjutnya aku benar benar sering berselancar di internet.Lalu kira kira sekitar 1 tahun yang lampau, seseorang mengenalkanku pada "Shadow Web" ( web bayangan )--Sejenis bagian rahasia dari internet yang takkan kau temui dengan menggoogle, atau mencari tautan ke bagian tertutup itu. Tidak ada 'link masuk' dari web biasa ke shadow web. Dan ini bukan deepnet, ini jauh dari deepnet, kalau saja kau membayangkan shadow web adalah semacam deep net. Bukan laman dengan gunungan video gore berdarah darah karena kecelakaan, aku sudah pernah melihatnya. Aku bersumpah shadow web ini sesuatu yang jauh lebih mengerikan.Aku tak pernah menanyai namanya. Dia adalah seseorang yang rutin datang ke stasiun gas di mana aku berprofesi menjadi petugas kasir tahun lalu. Tiap kali ia datang, ia selalu memborong 20 sampai 50 dollar voucher UKASH, yang aku terka untuk website porno. Mungkin paduan kemeja polo kremnya dan garis rambutnya yang tipis membuatnya tampak seperti seorang mesum menyeramkan.Satu hari, dia menanyakan 300 dollar voucher UKASH, sialnya aku segera mencetak kesalahan pertamaku dengan menanyakan : untuk apa?"Apa kau pernah mendengar yang namanya web bayangan?" Aku ingat dia membalas pertanyaanku dengan santai, sambil menghitung uang 300 dollar dari kumpulan kertas uang 20 dollar. Aku belum pernah, jadi kugelengkan kepalaku dengan ragu. Lalu dia mengecek dompetnya dan menarik keluar secarik kertas kecil seukuran kartu kredit. "Kalau kau mau tahu," bisiknya. Ia mencondongkan posturnya ke arahku dan menyelipkan potongan kertas itu ke dalam kantong saku di bajuku. Aku memberikannya vouchernya, dia melangkah keluar, dan aku tak pernah melihatnya lagi.Tak lama selanjutnya aku meninggalkan pekerjaan itu untuk membagi waktu bersekolah. Tak sampai beberapa minggu kemudian, aku kembali mengecek seragam kerja kuningku yang kumal, dengan kertas kecil itu masih dalam saku depannya. Tempo aku membukanya dan membaca lampirannya, aku segera menyadari pertemuan terakhirku dengan pembeli yang menyeramkan itu.Lampiran kertas itu punya cara bagaimana untuk menembus "gerbang" shadow web. Panduan itu punya banyak langkah langkah, beberapa lebih rumit dibanding langkah lainnya. Sayangnya, aku pintar teknologi dan cukup penasaran untuk mengikuti aba aba di kertas itu.Hal pertama yang kau ingin tahu tentang "shadow web" adalah kau TAKKAN mau ke sana. Aku sudah banyak melihat konten yang benar benar di luar ambang normal di internet, tetapi tidak ada satupun yang semengerikan dan sama persis dengan SW. Merenung ulang, aku seharusnya langsung menutup halaman sialan itu secepat mungkin begitu aku pertama kali melihat tampilan gerbang web terbuka. Aku tak tahu kenapa aku malah melanjutkan browsing. Mungkin ada yang salah denganku waktu itu.Ketika aku tiba di "gerbang shadow web" yang layoutnya seperti salah satu halaman selamat datang--ketika kau menggunakan wifi gratis di bandara atau di mall, hal pertama yang mencuri sorot mataku adalah kata "Memperkosa mayat". Kata itu terpampang di bawah sebuah bar pencarian, dan diatas 30an atau lebih kata kata lain--yang ku asumsikan adalah pencarian terbanyak di shadow web, hal hal seperti pengulitan dan mutilasi. Benda benda mengerikan itu seharusnya menjadi petunjuk untuk mengklik X pada browserku.Banyak hal hal lain juga, terpisah dari konten sexual dan video gore yang menjijikkan. Seperti cara untuk membuat bom jalan raya. Sesuatu seperti barisan iklan untuk para kanibal dan orang orang sinting yang ingin dimakan oleh kanibal. Hal seperti pasar gelap untuk membeli dan menjual orang, secara individu ataupun secara massal.Aku memboroskan waktuku hampir sejam untuk membaca bocoran dokumen perang dan perjanjian perdamaian rahasia pada sebuah website yang bernama avenge.shweb. website itu terlihat sangat retro, kalau kau tahu maksudku. Tampilan depannya punya beberapa bingkai dan tiap bingkai punya bar bergulirnya sendiri. Ketika aku menyadari aku mulai mengklik tautan tautan tanpa berkompromi dengan otakku lagi, aku tahu aku telah merasa nyaman di shadow web.Jangan tanya bagaimana aku menerobos masuk ke website selanjutnya. Rasa penasaran memenangkan gerak gerikku, dan aku mengklik hal hal yang seharusnya tidak kubuka. Aku tidak akan menyebutkan nama web aslinya karena aku tahu beberapa dari kalian akan melakukan kesalahan fatal yang sama denganku karena berpikir ini tidak akan berakhir buruk. Ini berakhir buruk.Saat aku ada di halaman itu, aku nenangkap logo UKASH di bagian paling bawah dari website, menandakan laman ini punya layanan berbayar. Faktanya itu adalah sebuah rekaman webcam live, tapi kau harus membayar jika ingin jadi direktur. Hanya menonton tidak akan dibebankan biaya. Disamping tayangan live webcam ada sebuah halaman log-in untuk ruang chat. Ruang chat itu mengharuskan sebuah nama saat aku mengklik tombol 'join' (ikut), jadi aku mengetikkan asdfasdfg seperti yang biasaku cetakkan di layar ketika aku berkomen di pornhub atau xvideos.Sekian detik saat aku melewati log-innya, segunung pesan membanjiri layar. Kebanyakan pesannya berbahasa inggris, beberapa China dan Jepang, dan ada beberapa yang kupikir Arab atau Farsi. Jumlah komentator di ruang chat melonjak antara 150-200 orang, tapi itu hanya jumlah orang yang masuk ke ruang chat. Ku asumsikan lebih banyak yang memilih menonton diam diam. Sebagian besar pesan yang menumpuk adalah "STARTTTTT" atau "GOGOGO" atau pesan yang tidak jauh artinya dari 2 kata itu.Sekitar 1 menit kemudian, seorang pria yang mukanya terhalang oleh topi olahraga hockey merangsek kedalam layar. Aku ingat dia punya kulit hitam coklat dan benar benar kurus. Seperti seorang penduduk Ethiophia yang kelaparan. Tak lama sehabis itu, semua pengirim pesan di-mute sehingga tidak bisa mengirim pesan--semua orang kecuali seorang pengguna berlabel italiangoat yang kutebak adalah direktur dari acara live ini.Itulah saat teriakan itu dimulai.Wanita itu ditutup matanya oleh ikatan kain dan terikat ke sebuah kursi kayu dengan tangannya terpasang di belakangnya. Seorang pria yang lebih gelap dan besar menarik rambutnya dengan paksa sampai wanita itu duduk membisu persis di tengah layarku. Aku menyaksikannya berjuang hendak meloloskan diri dari ikatan tali itu, tapi ia benar benar terikat sangat erat--sampai sampai kau bisa melihat lecet dan memar di pergelangan tangannya. Hanya Tuhan yang tahu seberapa lama dia diikat seperti itu.Akhirnya, pria yang lebih besar menurunkan kain penutup mata gadis itu, dan dia berhenti menjerit. Saat dia menatap ke penjuru kamera, dia mulai menyadari apa yang akan terjadi selanjutnya pada dirinya. Dia mulai menangis dan memohon mohon pada kedua pria yang kupikir punya ras Arab. Dan kemudian ada pesan yang muncul pada chat.Italiangoat : baringkan dia di lantai dengan tiarap.Si direktur meluncurkan perintah pertamanya. Si pria kurus membacanya dan menginstruksikannya pada si pria bongsor dalam bahasa mereka sendiri.Italiangoat : Tendang perutnya.Si pria melanjutkan dengan terjemahan pada temannya.Teriakan itu kian nyaring dan nyaring. Apa apaan yang sedang kutonton ini? Itulah pikiran yang pertama kali memenuhi otakku yang kaget. Aku menggapai ponselku, siap untuk memanggil 911.Italiangoat : injak v*ginanya.Italiangoat : beritahu temanmu untuk menendang lebih keras, aku membayar banyak uang hanya untuk ini.Saat itu aku benar benar shock dan kaget hingga aku tidak bisa melepaskan mataku dari layar. Penyiksaan itu berjalan untuk 10, 20, 30 detik. Yang bagiku seakan akan berlangsung selamanya.Italiangoat : Sekarang potong lehernya.Ketika aku membaca pesan terakhir, perasaan tegangku semakin instens dan liar. Tanganku bergetar tak terkendali saat aku memegang mouse. Tidak, tidak, tidak, pikirku, seseorang harus menghentikannya. Aku mencoba untuk mengetik ke chat room, tapi area pesan diblokir. Perempuan itu semakin terisak isak ketika dia mendengar perintah terakhir direktur.Italiangoat : Tunggu, jangan, masih belum waktunya.Si lelaki ceking menangkat satu tangannya untuk menandakan penundaan pada mitranya untuk berhenti.Pernapasanku kembali teratur untuk sebentar, berpikir kalau wanita itu masih diberi kesempatan hidup. Setidaknya untuk sekejap saja. Dan kemudian si direktur melanjutkan:Italiangoat : Keluarkan matanya dulu.Si lelaki ceking menatap tajam kedalam webcam. Aku tidak bisa melihat keseluruhan rautnya, hanya matanya dan kulit dekat lingkar masing masing mata topeng. Aku menerawang dengan putus asa untuk bisa menemukan setitik saja keraguan di mata hitamnya. Tolong, hentikan permainan ini, doaku, tapi aku menahan kursor mouseku berputar di atas tombol close jika seandainya mereka tetap melanjutkannya.Dan selanjutnya, si pria kurus mulai mengetik dan ada nama kedua yang tertangkap di log pesan:Admin : Tambahkan $500Otakku membeku saat kulihat angka itu. 500 dollar. Wanita ini sedang disiksa dan bahkan mungkin dibunuh untuk sejumlah 500 dollar. Aku bekerja sekeras mungkin di pom bensin dan aku selalu mendapat upah pas pasan. Jika aku bisa menawarkan 1000 dollar untuk menghentikan ini, aku akan melakukannya. Aku akan mengosongkan semua tabunganku kalau bisa menyelamatkan nyawanya. Aku akan melakukannya, aku bersumpah demi hidupku. Aku akan membayar apapun untuk menghentikan kegilaan ini.Italiangoat : OK.Aku cepat cepat mematikan monitor sebelum aku menonton lebih banyak lagi. Aku harap akal sehatku bekerja lebih awal. Aku berlari ke pekarangan dimana aku memuntahkan sebanyak 2 porsi makan. Sudah lama aku tak merasa semual ini gara gara menonton sesuatu. Saat aku di SMP seorang teman memperlihatkanku sebuah klip video dari rotten.com. Video itu menayangkan seorang pria yang kepalanya terbelah dua oleh baling baling helikopter yang tengah ia bersihkan. Dan kemudian, setelah bertahun tahun, aku sudah sering menyaksikan video sejenis itu--sampai sampai aku tak merasa ingin muntah lagi saat menontonnya. Tapi biarkan aku memberitahukanmu sesuatu : melihat penayangan live secara langsung dari seseorang yang sedang disiksa itu benar benar membawamu ke tingkat kengerian yang jauh berbeda.Saat aku telah selesai memuntahkan tiap gigitan makanan yang telah kumakan, aku mendengar lolongan panjang dari arah kamarku. Dan kemudian aku baru teringat, tempo aku mematikan layar monitor dengan begitu ketakutan, aku lupa mematikan speakernya juga.Teriakkannya semakin parah dan buruk, sampai akhirnya aku berhasil mencapai belakang meja dan menarik lepas speaker dari komputer. Keheningan yang menyusul setelahnya benar benar terasa menyakitkan. Seakan akan oleh tanganku sendiri aku telah membungkam suara wanita itu, membunuhnya.Aku merasakan penyesalan yang mencekam dan tak pernah kurasakan sebelumnya. Aku membunuhnya, bisikku pada diri sendiri berkali kali. Aku MEMBUNUHnya. Perasaan itu tidak nyata namun sangat asli.Aku harus mencari tahu apakah dia masih bernapas atau tidak. Sembari aku meraih untuk menghidupkan kembali layarnya, sebuah suara dala. kepalaku memohonku agar berhenti. Aku tak ingin melihat apa yang akan kulihat.Tapi sebelum aku bisa menghentikan diriku sendiri, tanganku telah bertindak. Gambar live di layar itu adalah sebuah gambar yang takkan pernah bisa kulupakan, SELAMANYA.Kepala yang terpisah dari wanita itu terdiam lurus menghadap padaku, kedua matanya lenyap dari tempat mereka seharusnya. Darah meleleh dari dua lubang itu. Wajah itu… wajah yang rusak dan sudah tak berbentuk itu menghantuiku sejak saat itu. Bahkan sekarang, saat aku menuliskan ini, aku bisa merasakan mata penuh horrornya menatapku dari belakang. Ia selalu mengikutiku. Aku tahu. Aku tidur dengan semua lampu menyala, TV hidup, tapi sama sekali tak membantu.Tepat sebelum aku memadamkan browser dan mulai mengutak ngatik jaringan untuk kembali mengakses bagian internet biasa yang membosankan, aku ingat aku melihat kalimat terakhir di ruang chat itu. Tertuliskan :Admin : Terima kasih telah menonton. Tayangan live selanjutnya dalam 1 jam kedepan.

Four Minutes
Horror
17 Feb 2026

Four Minutes

Ricky punya obsesi yang benar benar ganjil. Obsesi terbarunya benar benar gila, aku bahkan tak bisa menyingkirkan pikiran itu dari benakku. Efek aneh pasca kepala terpotong dari tubuh: setelah terpisah, kepala bisa mendengar, melihat, membuat mimik muka dan berkomunikasi.Ya, kau membacanya dengan benar. Orang orang yang kepalanya dipenggal bisa melihat dan mendengarkanmu. Ricky menjadi terlalu maniak akan hal itu, ia melakukan penelitian, kebanyakan meneliti tentang tikus, dimana saat kepala tikus itu terpisah dari tubuhnya, binatang menjijikan itu masih sadar selama 4 menit atau kurang.Ricky anak baru diinstitut sekolah kami, dan dia dibully karena ia terlihat aneh. Penyebabnya adalah mata julingnya, dan kulit, rambut dan matanya juga mempunyai bercak kuning. Dalam fisik seperti itu, tentu saja ia dibully. Ricky tidak sibuk memikirkan mereka. Cara balas dendamnya sungguh unik dan 'wow'. Ia tak mengatai ngatai, atau adu tinju dengan mereka. Apa yang ia lakukan hanya melukis sebuah gambar sadis yang seram. Mahakarya seni yang meramalkan hari terakhir para pembullynya, atau rahasia tergelap mereka yang tak seorangpun tahu.Yang sebenarnya tidak perlu aku tulis, sampai sekarang, kalau saja Ricky belum meninggal. Kematian yang paling menyedihkan dan mendebarkan dalam 4 menit jalan hidupku.Segalanya bermula pada tempo aku menghampiri rumah Ricky yang mirip peternakan. Tak pernah setitikpun terpikirkan olehku ini adalah hari terakhir dalam hidupnya, ataupun hari terakhir kami bersama. Saat ia membawaku ke garasi dan menunjukkan alat pisau guillotine yang ia buat sendiri--yang benar benar bagus, aku tahu, ia akan melakukannya."Kau takkan melakukannya, ok?" Ia melanjutkan,"Pisaunya akan jatuh dan membelah saat ku tarik tuasnya," Ia lalu menariknya, dan pisau diagonal besar yang berat itu jatuh kebawah dan menciptakan hempasan angin, hawa dingin yang tidak enak naik ke sekujur kakiku, membuatku bergidik ngeri. "Bung, yang kau harus lakukan hanya duduk dan menontonku.""Sialan, aku takkan melakukannya." Aku berbalik untuk pergi dari kegilaan ini. Ketika aku sudah meraih gagang pintu ke dapur, ia mengatakan sesuatu dalam intonasi yang putus asa, yang membuatku mematung."Aku tak mau mati sendiri. Kau satu satunya orang yang kupunya." Tapi ia benar. Ayah dan ibunya meninggal saat ia kuliah, ia tak punya saudara. Dan anjing kesayangannya, Rukus, mati bulan lalu, yang berarti, hanya akulah teman satu satunya."Kau boleh duduk di sebelah sana dan tunggu sebentar... jadi aku tidak sendiri, lalu kau boleh pergi, maka tak seorangpun akan tahu." Aku berbalik kemudian duduk dan menatap kedalam matanya, mata yang menyimpan terlalu banyak kepahitan."Lalu apa, Rick?""Caranya gampang, satu kedipan berarti ya, dua kedipan berarti tidak. Dan kalau aku membuka mulutku berarti rasanya mengagumkan. Kalau rasanya buruk, aku takkan memberitahumu, cukup aku saja yang tahu."Aku benar benar kehabisan kata kata, dan aku dipenuhi pikiran bahwa aku akan segera kehilangan sobatku hari ini. Tubuhku berguncang dengan hebat, yang bahkan belum pernah kurasakan sebelumnya. Kemudian aku menatap Ricky dan melihatnya sedang mengembangkan senyum, ia bahagia."Tanyakan aku pertanyaan 'ya atau tidak', bicaralah padaku, tanyakan apa saja. Ini kesempatan yang benar benar jarang. Ini sesuatu yang harus kuketahui. Dalam semua eksperimen yang telah kulakukan, paling tidak aku punya waktu 4 menit setelah kepalaku terpisah, jadi tanyakan padaku apakah terasa sakit, atau apakah aku melihat cahaya putih, atau malaikat atau apa aku tahu rahasia kehidupan dan semesta.""Oh Ricky, pemenggalan? Bung, ini benar benar sudah terlalu jauh." Ricky menunduk dan mengangguk, kemudian ia menengadah kepadaku, kali ini ada sungai bening yang berlabuh di mata kuningnya yang aneh dan aku tahu, aku tak sanggup menolak permintaannya, tak peduli betapa tak warasnya itu."Aku ingin melakukannya sebelum penyakitku kambuh lagi. Penyakit sialan itu, akan membuatku kesakitan dan menderita. Aku benar benar ingin memenangkan penyakit ini, dengan mencurangi kematian."Kami duduk beberapa jangka waktu di garasi yang aneh itu sebelum Ricky akan pergi selamanya. Ia telah merencanakan dan mempersiapkan segalanya, kepalanya akan mendarat di tempat tidur Rukus--anjingnya yang merupakan teman lain yang ia miliki selain aku.Ricky melemaskan kepalanya di atas pisau guillotine, menghadap ke kiri, seperti berbaring ke kiri di kasur. Aku duduk menghadapnya dilantai dan kita akan melakukan percobaan ini."Kau tidak tahu, kau membuat hidupku yang hancur lebih berwarna. Aku tak pernah memberitahumu. Itu menggangguku dan aku tak jago dalam hal emosi dan perasaan, tapi bertemu denganmu di perguruan tinggi membuat semua masalah ku lebih ringan."Mataku benar benar penuh oleh bendungan air bening dan rasanya langit hampir saja akan runtuh, aku tak bisa menjawab Rick. Semua yang kutahu hanyalah aku menyayanginya tetapi aku tak pernah bisa memberitahunya.Kemudian Ricky berlutut didepan pisau berat itu, berbaring dan membalikkan kepalanya. Ia melayangkan kepalanya dengan lembut di atas alat buatannya sendiri. Kemudian, sebelum aku mengerjapkan mataku, pisau sialan itu luruh kebawah saat Ricky berkata,"Terima k--"Tapi pernafasan Ricky terpotong dan kalimat terakhirnya terinterupsi. Dalam sepersekian detik yang ganjil, kepala temanku mendarat di tempat tidur Rukus dan matanya menatap tajam kearahku. Bukan tatapan orang mati, belum. Ya, tatapan mata kuningnya yang masih hidup.Kucoba mengabaikan lehernya, tapi aku menyaksikan darah merah dari potongan lehernya meluncur deras, dan juga bagian putih dari tulang belakangnya. Tanganku bergetar tak terkendali saat kupaksakan diriku menatap kedalam matanya."Ricky, kau bisa mendengarku?" Satu kedipan yang cepat, artinya ya.Oh Tuhan, ini tak mungkin nyata."Apa rasanya menyakitkan, apa kau merasakan sakit?" Seruku. Ia mengerjap dua kali untuk tidak."Bisakah kau melihatku?"Satu kedipan."Apa kau melihat malaikat? Atau sejenisnya?"Dua kedipan."Apa rasanya aneh?" Lagi lagi ia mengerjap dua kali yang berarti tidak. Ia kemudian tertegun dan kemudian membuka mulutnya, memamerkan barisan giginya, meskipun ekspresinya lebih menyerupai pantomim yang meringis kesakitan, aku tahu itu berarti terasa keren dan mengagumkan, bukan sesuatu yang seharusnya ditakuti."Jadi, kau tidak takut?" Dua kerjapan mata, dan kemudian ia membuka mulutnya. Aku merasa lebih lega.Tiba tiba, aku merasa kehabisan pertanyaan, walau kami masih berkomunikasi. Ricky mengunci tatapannya dalam mataku, dan aku merasa nyaman dan tenang--meskipun aku tahu itu tidak masuk logika. Kemudian ia memejamkan mata, tiba tiba aku panik, bahwa inilah waktunya, dan ia telah ditepuk oleh Sang Pencipta. Aku perlu menanyakan sesuatu, jadi aku menukas,"Ricky, apa sekarang kau tahu rahasia alam semesta, atau rahasia kehidupan dan semacamnya?"Matanya membuka lebih lamban kali ini, lalu ia berkedip satu kali. Dan aku bersumpah mulutnya bergerak seolah ingin mengatakan sesuatu padaku, tapi itu membuatku panik karena berbicara hampir tidak mungkin tanpa kerja paru paru, jadi aku meluncurkan pertanyaanku lagi, "Apa rasanya buruk? Apa mati itu buruk?"Lagi lagi matanya membuka lebih lambat dan ia berkedip dua kali untuk tidak."Apa ada orang lain didekatmu? Apa mereka orang baik?Ia mengerjap sekali untuk ya, tapi aku tak tahu cara menanyakan siapakah orang orang itu, kalaupun ia tahu orang orang tersebut.Aku tak punya pertanyaan lagi, karena pada titik ini, tidak ada pertanyaan yang penting lagi.Setelah itu, aku dan Ricky mengunci mata dan waktu terasa membeku. Kemudian matanya membesar dan ia melihat kebelakangku, dan aku melihatnya ketakutan. Aku belum pernah melihatnya setakut itu seumur hidupku. Mukanya benar benar menunjukkan kehorroran yang tak bisa dilukiskan, seolah ia telah bertemu dengan sesuatu yang mengerikan dan tak pernah dilihatnya. Ada sesuatu dibelakangku, sesuatu yang ia lihat tetapi tidak bisa kulihat, dan aku tahu, itu bukan sesuatu yang bagus. Dan kemudian Ricky melakukan sesuatu diluar rencana.Mulutnya bergerak gerak dengan cepat dan berulang ulang, ia melebarkan matanya dan menatapku."Ada apa Ricky? Apa yang kau lihat?!" Aku tak mendapat respon darinya karena ia masih berusaha berbicara. Raut mukanya tidak tenang seperti tadi, dan telah berubah menjadi tegang dan shock. Sialnya aku tak tahu apa yang ingin disampaikannya padaku.Dengan ketakutan dan bulu kudukku yang meroma tiba tiba, aku mendekatkan kepalaku padanya. Ia berusaha mengeja beberapa kata, walau tak ada suara yang keluar, aku bisa menerka dari gerakan mulutnya yang mudah ditebak.'BERJANJILAH PADAKU'"Ya, aku janji." Mataku kembali penuh dengan air mata. Hatiku benar benar hancur.'JANGAN MATI'Kemudian Ricky menutup mata selamanya.

The Orc
Fantasy
16 Feb 2026

The Orc

Archibald menggenggam beberapa buah apel merah, kemudian mengarahkan lemparan pada seekor unicorn putih yang sedang terdiam lesu di sudut taman Istana Avery. Unicorn itu sepertinya tidak tertarik sedikit pun dengan apel ranum di hadapannya.Archibald mendengus kesal seraya melempar apel itu ke sembarang arah. Ia sudah menawarkan unicorn itu beberapa jenis buah yang ada di Istana Avery, tetapi tampaknya unicorn itu tak tertarik sama sekali. Padahal unicorn berwarna putih itu telah berdiam di sana untuk beberapa hari tanpa makan."Apa maumu, hah?!" desis Archibald sambil memelototkan matanya ke arah unicorn malang di hadapannya. Unicorn putih itu meringkik pelan. Sebuah ringkikan yang bernada sedih."Sayang sekali sepertinya unicorn itu tidak dapat berbicara," ucap sebuah suara lembut yang datang mendekati Archibald. Sesosok peri cantik bersurai panjang berwarna perak telah berdiri tepat di sampingnya.Archibald menoleh sekilas, kemudian kembali fokus menatap unicorn putih di hadapannya. "Kau sudah sembuh?" tanyanya datar."Aku sudah merasa jauh lebih baik," sahut Tatianna. "Aku dengar kau akan pergi ke Hutan Larangan dengan para pangeran lainnya?""Iya," sahut Archibald tanpa minat."Kalian rela menantang bahaya demi peri dari Fairyfarm itu? Begitu istimewakah peri itu bagi kalian?"Pertanyaan Tatianna itu membuat Archibald tertegun. Ia menatap iris cokelat peri cantik itu sejenak. "Dia tidak bersalah. Aku merasa harus menolongnya. Yang lain juga merasa seperti itu.""Kalau aku yang ada di posisi peri Fairyfarm itu, apakah kau akan menolongku?""Putra Mahkota Albert tidak akan membiarkan itu terjadi," sahut Archibald singkat.Entah mengapa Tatianna merasa sedikit kecewa dengan jawaban itu. Satu bagian di dalam dadanya terasa sakit."A-aku hanya ingin memberikan ini padamu." Tatianna menyerahkan sebuah gelang perak dengan mata berbentuk daun semanggi berdaun empat. "Ini untuk keberuntungan dan cinta. Para leluhur kita membawa ini ketika berhadapan dengan peri jahat," tuturnya pelan.Archibald menatap gelang perak yang diulurkan Tatianna padanya. Kemudian, tatapannya beralih pada peri perempuan itu. Archibald menggeleng seraya menyunggingkan seulas senyum miring. "Kau berikan saja pada kakakmu. Aku tidak memerlukan benda seperti itu."Archibald hendak beranjak pergi meninggalkan Tatianna, tetapi langkahnya terhenti. Ia teringat sesuatu. "Boleh aku meminta tolong?"Tatianna mengangkat wajah muramnya dengan sorot mata berbinar antusias. "Tentu saja. Apa yang bisa kubantu?""Tolong, sediakan buah plum yang banyak untuk unicorn itu. Sepertinya ia hanya menginginkan buah plum," ucap Archibald datar. Kemudian, peri tampan itu berlalu dari hadapan Tatianna. Ia bergabung bersama Claude dan Elwood yang telah datang dengan menuntun unicorn masing-masing.Tatianna masih bergeming. Sesuatu terasa sangat sakit dan menyesakkan di dalam dadanya. Peri perempuan itu meremas gelang peraknya kuat-kuat, menahan kesedihan dan amarah yang nyaris terbit menjadi air mata di pelupuk matanya."Untuk siapa itu? Apa itu untuk Archibald?" sapa Elijah yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya.Tatianna terkejut. Wajah cantiknya memerah karena merasa tertangkap basah oleh Elijah. "Bukan urusanmu!" desis Tatianna mengalihkan rasa malunya.Elijah terkekeh."Aku merasa iri dengan saudaraku itu. Bahkan, Adik putra mahkota pun menaruh hati padanya."Tatianna memandang Elijah dengan tatapan tidak suka. "Jangan berpikir yang tidak-tidak!" katanya ketus.Elijah masih terkekeh melihat tingkah Tatianna yang berusaha menyembunyikan perasaannya. Ia hendak menyambung ucapannya lagi, tetapi urung karena Albert tiba-tiba datang dan berdiri di dekatnya."Kau sudah siap, Elijah?" sapa Albert seraya menepuk pundak Elijah sekilas."Siap, Putra Mahkota!""Bagus, mari kita berangkat. Jangan buang-buang waktu lagi. Tampaknya Archibald, Elwood dan Claude juga sudah siap," ucap Albert. Ia mengulas senyum seraya melambaikan tangan pada para pangeran yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Para pangeran itu sedang mempersiapkan unicorn mereka."Kakak!" panggil Tatianna.Albert menghentikan langkahnya yang hendak menyusul para pangeran dan menoleh ke arah Tatianna. Ia tersenyum melihat adiknya. "Ada apa?""Ini untukmu," bisik Tatianna seraya menyerahkan gelang perak bermata daun semanggi yang tadi hendak diberikamnya kepada Archibald.Elijah yang berada di sisi Albert sontak menutupi mulutnya dengan tangan, menahan tawa sekuatnya. Sementara, Tatianna sekilas mendelik tidak suka pada Elijah."Terima kasih, adikku. Kau perhatian sekali!" pujinya senang. Wajah rupawan Albert semringah begitu menerima gelang peruntungan dari adiknya.Tawa Elijah akhirnya pecah, tak dapat dibendung lagi. Tatianna mendengkus sebal seraya melemparkan tatapan sengit ke arah sang pangeran peri.Albert, Elwood dan Claude memandang ke arah mereka dengan bingung. Sementara Archibald hanya melirik sekilas pada Tatianna dan Elijah, kemudian bersiap-siap menunggang unicornnya.* * *Lima ekor unicorn terbang membelah langit Fairyhill. Sayap besar mereka mengepak perlahan begitu mendekati perbatasan Hutan Larangan. Para unicorn menukik pelan, nyaris serentak, sebelum mendarat perlahan pada sebuah padang rumput yang berbatasan tepat dengan Hutan Larangan.Putra Mahkota Albert dan para pangeran turun satu per satu dari unicorn tunggangan mereka, kemudian menyorot sekeliling tempat itu dengan heran dan waspada."Ada yang tidak beres dengan tempat ini." Archibald membuka suara."Kau benar, Fairyhill tidak biasanya setenang ini." Elwood menimpali. Ia mengarahkan pandangan pada deretan pohon besar yang letaknya agak jauh memasuki hutan Fairyhill. Biasanya para peri pohon akan menampakan diri jika ada peri lain yang mendekati perbatasan Hutan Larangan. Namun, kali ini, para dryad tak satu pun ada yang menampakkan diri.Padang rumput tempat mereka berhenti pun sangat hening. Biasanya sepagi itu para peri pixie akan terbang hilir mudik dengan riuh di atas permukaan rerumputan. Namun, kali ini tempat itu kelewat sepi."Bagaimana menurutmu, Claude?" tanya Putra Mahkota Albert. Ia meminta Claude untuk membaca situasi dengan mata batinnya. Alih-alih menanggapi ucapannya, Claude rupanya telah menggunakan kemampuannya tersebut dalam diam.Peri tampan bersurai hitam itu bergeming. Ia sedang berkonsentrasi melihat tempat itu dengan mata batinnya. Iris mata hitamnya menghilang menyisakan bola mata yang memutih.Tiba-tiba tubuh Claude terpental jauh dari posisinya berdiri tanpa ada apa pun yang menyerangnya. Ia meringis kesakitan dan terbatuk karena merasakan nyeri di dada. Sebuah kekuatan tak terlihat seolah menendang tubuh Claude dengan keras. Sontak para pangeran memasang posisi siaga, menghunus senjata mereka masing-masing."Claude?!" teriak Elwood seraya berlari menghampiri Claude. Ia membantu Claude bangun dari posisinya."Apa yang kau lihat?" tanya Elijah tegang. Ia menoleh ke arah Claude sekilas. Tangan kanannya memegang erat gagang sebilah pedang panjang. Posisinya siaga, siap menebas apa saja yang datang menyerang.Belum sempat Claude menjawab, tiba-tiba beberapa sosok orc muncul di hadapan mereka dari ketiadaan. Para orc berwajah monster itu menyeringai menampakkan gigi-gigi mereka yang tajam. Liur kental menetes dari mulut-mulut mereka yang menyeringai. Seketika suara raungan para orc memecah keheningan Fairyhill.Salah satu makhluk mengerikan itu merangsek maju ke arah Putra Mahkota Albert. Orc itu mengayunkan sebuah palu godam yang terbuat dari besi hitam berkarat ke arah Albert. Albert menangkis serangan tersebut dengan sebilah pedang sihir yang ia genggam. Pedang yang sekilas tampak kecil itu bercahaya kebiruan, mengeluarkan kekuatannya menghalau serangan orc sehingga palu godam itu gagal mengenai kepala Albert. Peri elf itu mendorong pedang peraknya sekuat tenaga, hingga orc dengan palu godam itu mundur beberapa langkah.Orc lainnya melesat maju mengayunkan sebilah pedang pada Albert, tanpa memberi jeda baginya untuk mengumpulkan tenaga. Albert menangkis sigap. Namun, orc itu menyerang lagi dengan gesit. Beruntung, Albert masih bisa menangkis. Napasnya tersengal dan ia mulai merasa kelelahan.Salah satu orc hendak mengayunkan kapaknya pada Albert dari arah belakang di luar sepengetahuan Albert. Namun, dengan sigap Archibald mengangkis kapak itu dengan pedangnya. Sementara orc dengan palu godam kembali mengayunkan senjatanya ke arah Albert, kali ini Elijah ikut menangkis dan membalikan posisi palu Godam itu ke empunya senjata. Orc nahas itu terpental sambil berteriak meraung.Archibald dan Elijah bersiaga melindungi Albert saat menyadari jika para orc ternyata menyerang sang Putra Mahkota.Akan tetapi, tak berapa lama orc yang terluka itu bangkit dan menggandakan diri. Mereka langsung menyerang Albert secara bersamaan.Archibald dan Elijah dengan sigap memainkan pedang mereka, menangkis setiap serangan yang mencoba melukai Albert. Beruntung, mereka adalah ahli pedang terbaik di Kerajaan Avery. Sementara, Claude dan Elwood yang tidak terlalu mahir bertarung mencoba membantu lewat sihir yang mereka miliki."Mereka mengincar Putra Mahkota Albert!" teriak Elwood."Aku tahu," sahut Archibald di antara desing senjata yang beradu. Ia berada di belakang Albert, menangkis tiap serangan yang mengarah pada Albert dari arah itu dengan sigap.Lima orc muncul lagi entah dari mana. Mereka berlari menuju Albert dari berbagai penjuru. Demi melihat itu, Claude yang telah merasa sedikit baikan mulai mengeluarkan tongkat sihirnya. Ia mengibas-ngibaskan tongkat tersebut seraya merapal sebuah mantra. Serbuk-serbuk peri berwarna putih keluar dari ujung tongkatnya dan memercik ke arah lima orc yang baru muncul. Begitu serbuk peri mengenai tubuh orc , monster-monster itu terpental sejauh beberapa meter.Namun, lagi-lagi para orc bertambah banyak. Lima orc yang terluka, kemudian memunculkan sepuluh orc baru."Apa ini?! Mereka sangat kuat dan jumlah mereka terus bertambah!" gumam Claude panik.Di sisi lain, salah satu orc dengan sebilah tombak bermata runcing mendekati Claude yang lengah. Orc itu hendak menancapkan tongkatnya di dada Claude. Elwood yang menyaksikan itu serta merta menahan tongkat orc . Orc bermata merah itu mendelik marah seraya mendorong tongkatnya kuat ke arah Elwood yang setengah mati menahannya. Ujung tombak yang runcing tersebut hanya berjarak satu jari dari dada Elwood.Elwood memejamkan mata. Tubuhnya bergetar ketakutan. Napasnya memburu dan jantungnya berdetak di luar kendali. Ia merasa nyaris menyerah. Namun, tiba-tiba, Claude berbalik dan menendang kepala orc itu hingga membuat tombak yang dipegangnya jatuh terpental. Makhluk itu meringis, memegangi kepalanya yang kesakitan. Pada detik berikutnya, orc itu menggandakan dirinya.Kini jumlah orc telah tiga kali lipat dari jumlah awal kedatangan mereka. Claude dan Elwood telah bergabung bersama Archibald, Albert dan Elijah. Mereka terperangkap. Para orc yang brutal dan beringas itu telah mengepung mereka dalam lingkaran."Makhluk apa mereka?!" tanya Archibald setengah berteriak. Tangannya menangkis serangan palu godam yang mencoba menghantamnya."Seorang unsheelie telah menciptakan pasukan monster. Lagi pula, Fairyhill ini sudah tersegel oleh kekuatan sihir hitam. Kita telah dijebak!" jawab Claude seraya meringis menahan sakit di pergelangan tangannya akibat tinjuan orc . Tongkat sihirnya terlepas dari genggaman hingga terlempar beberapa meter jauh dari jangkauan. Claude merasa putus asa karena tongkat sihir adalah kekuatan satu-satunya yang ia miliki untuk melawan para monster ini.Kabut tebal tiba-tiba muncul dari arah perbatasan Hutan Larangan. Perlahan-lahan, kabut yang awalnya hanya sebuah kepulan asap tipis itu lambat-laun menebal dan meluas, menutupi hampir seluruh wilayah Fairyhill. Para pangeran terjebak di dalam kabut.Raungan para orc mendadak hilang tertelan kabut. Para monster yang mengepung para pangeran menghilang ditelan kabut yang semakin pekat.Archibald berusaha menajamkan pandangannya di dalam kabut, tetapi rasanya sia-sia. Matanya perih. Dadanya juga terasa terbakar. Ia terbatuk beberapa kali. Archibald tidak menyerah, ia kembali menajamkan penglihatan, mencari celah di antara kabut untuk mengetahui posisinya. Tak jauh dari tempatnya berdiri, Claude dan Elwood tampak terkapar tak sadarkan diri. Para orc tidak terlihat lagi."Archibald!" sapa sebuah suara lirih dari balik kabut.Archibald mencari-cari keberadaan suara tersebut, hingga menemukan Elijah yang jatuh tersungkur sambil memegangi dadanya. Peri laki-laki itu terlihat sangat kepayahan."Elijah!" Archibald mendekati peri laki-laki itu, berusaha membantunya berdiri."Putra Mahkota Albert menghilang!" ucap Elijah parau di sela-sela batuknya. Setelahnya Elijah terbatuk hebat, sebelum akhirnya hilang kesadaran."Tidak! Elijah!" Archibald mengguncang tubuh saudaranya, berusaha menyadarkan. Namun, semua itu sia-sia belaka. Sang pangeran peri terus bergerak laksana sosok buta guna mencari saudaranya yang lain.Setelah beberapa saat yang terasa sangat lama, perlahan-lahan kabut tebal mulai menipis. Kabut itu seakan tersedot ke arah perbatasan Hutan Larangan, menyisakan Archibald yang bergeming frustrasi karena mendapati ketiga pangeran yang tergeletak tak sadarkan diri dan Putra Mahkota yang menghilang.Orc adalah salah satu ras peri yang brutal, jahat dan senang berperang. Fisiknya seperti manusia hanya berukuran sedikit lebih besar, kadangkala membawa senjata berupa palu. Di Fairyverse, orc termasuk golongan peri unsheelie.

Farewell
Fantasy
16 Feb 2026

Farewell

Hari beranjak petang. Kunang-kunang mulai keluar dari persembunyian, memendarkan cahaya kekuningan di sela-sela pepohonan di Fairyverse. Tak lama lagi, kelopak-kelopak bunga pun akan mengeluarkan cahaya pertanda malam telah tiba.Ammara duduk termenung menghadap keluar jendela biliknya di Kastel Timur. Matanya menatap langit lembayung yang hampir gelap, tetapi nyatanya pikiran sang peri sedang berkelana menuju Fairyfam, ke rumah cendawan. Ia tak beranjak dari tempat itu barang sejenak pun sejak kepergian para pangeran peri siang tadi.Ammara sangat merindukan ibunya. Bayangan Ella yang sedang melakukan aktivitas di setiap penjuru rumah cendawan seakan menari-nari di pelupuk mata hingga tetes-tetes air bening bergulir di pipinya yang pucat.Setelahnya, bayangan Ella berganti dengan kejadian terakhir di kebun plum Ailfryd. Kemarahan sang ayah justru menjadi sesuatu yang ia rindukan sekarang. Ammara juga merindukan Marybell dan Tally yang menyebalkan, serta kebisuan Selly yang menenangkan, dan Fairyfarm yang damai. Ammara mendadak mengingat unicornnya yang ia tinggalkan di halaman Istana Avery begitu saja saat mengikuti cahaya berwarna ungu. Ia berharap ada yang berbaik hati mengurus dan memberi buah-buahan pada unicorn berwarna putih itu.Ammara mengembuskan napas panjang. Ia merasa sesak memikirkan nasib yang menimpanya. Ia merasa dijebak. Hidupnya yang aman dan tenang di Fairyfarm mendadak berubah jadi petaka gara-gara kalung zamrud yang ia miliki, dan anehnya ia tak dapat mengingat sama sekali dari mana kalung zamrud itu berasal. Ia juga tidak tahu bagaimana kalung itu bisa mengeluarkan cahaya ungu.Apakah kalung itu pemberian orang tuanya? Ataukah ada peri lain yang memberikannya? Ammara tidak tahu pasti. Satu hal yang sangat ia yakini adalah orang tuanya tidak mungkin melakukan hal yang dapat mencelakakannya.Tiba-tiba terdengar suara derit pintu bilik Ammara. Peri perempuan bersurai keemasan itu sontak menoleh seraya menghapus sisa air mata di pipinya.Ella, ibunya, secara mengejutkan, berdiri dengan mata sembab yang sama di depan pintu bilik. Seorang peri kesatria elf penjaga bilik telah membukakannya pintu. Sementara, sesosok peri pixie dengan sayap kupu-kupu mengekor di belakang Ella."Ibu! Marybell!" jerit Ammara senang. Ia langsung menghambur ke pelukan Ella. Tangisnya mendadak pecah.Untuk beberapa saat lamanya Ammara melepaskan raungannya, seumpama anak kecil kehilangan permen. Sementara, Ella pecah dalam kesedihan yang sama sembari mengusap punggung anaknya lembut. Kedua peri perempuan itu larut dalam keharuan dan kesedihan yang serupa.Marybell yang mengambang di samping Ella turut menitikkan air mata. Bahu peri kecil itu bergetar. Pemandangan pertemuan ibu dan anak di hadapannya itu benar-benar mengoyak hatinya. Benar-benar senja yang penuh haru."Kau terlihat sangat menyedihkan, Nak," gumam Ella pelan setelah melepaskan pelukannya dari Ammara. Iris mata hijaunya menatap Ammara lekat dan kedua tangannya menyeka pipi peri perempuan itu lembut."A-aku merindukan ibu," ucap Ammara lirih. Ia kembali membenamkan wajahnya di dada sang ibu, meminta untuk dipeluk lagi.Ella memeluk putrinya lagi seraya mengelus surai emas Ammara. Wajahnya sendu, tetapi ia memaksa dirinya untuk tersenyum tegar agar putrinya tidak bertambah sedih."Apa kau tidak merindukanku, Ammara?" celetuk Marybell di antara isak tangisnya.Ammara mengangkat wajahnya dari pelukan Ella demi mendengar suara melengking Marybell yang parau. Ia tersadar bahwa Marybell sedari tadi terbang mengambang di sebelah ibunya. Ia menatap Marybell, kemudian memeluk erat peri pixie itu.Marybell terkejut. Tangisnya terhenti seketika. Bukannya ia tidak senang dipeluk Ammara yang dirindukannya. Akan tetapi, pelukan peri elf pada tubuh kecilnya itu terlalu erat hingga membuatnya susah bernapas."Le-lepaskan aku Ammara! Lepaskan! LEPASKAN!" jeritnya sambil berusaha mengeluarkan diri dari dekapan Ammara.Ammara sontak terkekeh dan melepaskan pelukannya. "Maafkan aku Marybell. Aku sangat merindukanmu.""Aku juga. Fairyfarm terasa sepi tanpa kehadiran Ammaraku yang cantik!" sahutnya seraya mengembuskan napas lega karena telah terbebas dari dekapan Ammara."Kau tidak mengajak Tally? Apa dwarf itu sudah melupakanku?" Ammara mengerucutkan bibirnya memasang tampang kecewa karena Tally tidak ikut menjenguknya."Dia sangat ingin menjengukmu. Dwarf tua yang malang itu mengumpat sepanjang waktu sejak kau ditahan pihak Kerajaan Avery. Sebenarnya dia dan Tuan Ailfryd ikut kemari, tetapi pihak istana hanya memperbolehkan ibumu masuk. Dan aku, aku mengaku sebagai asisten ibumu, sehingga aku bisa masuk."Ammara tersenyum dan mengangguk pelan menanggapi penjelasan Marybell yang panjang lebar. Suara melengking peri pixie itu sedikit mengobati kesedihan Ammara. Namun, di sisi lain juga menambah kerinduan Ammara pada Fairyfarm.Ammara mengusap sisa-sisa air mata yang menggenang di pipinya. Tangisnya telah berhenti. Ia menuntun ibunya dan Marybell untuk menduduki kursi yang mengelilingi meja bundar di tengah biliknya."Aku membawakanmu ini," ucap ibunya seraya menghaturkan keranjang-keranjang rotan kecil yang ditutupi dengan daun ke atas meja.Ella menyingkap daun yang menutupi keranjang-keranjang rotan tersebut, sehingga tampaklah buah-buah plum, jeruk dan apel yang ranum. Buah-buahan itu ia petik dari kebunnya sendiri di Fairyfarm. Ia tahu Ammara sangat merindukan Fairyfarm, ia berharap buah-buahan itu dapat sedikit mengobati kerinduan Ammara."Bagaimana, kau suka, Nak?" Tanya Ella lembut.Ammara menatap buah-buahan ranum itu dengan berselera. Ia mencomot sebuah plum yang paling besar dan menggigitnya."Terima kasih, Bu," sahut Ammara dengan mulut penuh.Ella menatap peri perempuan di hadapannya dengan tatapan sendu. Ada kesedihan mendalam yang coba ia sembunyikan dari Ammara."Aku senang sekali Ratu memberikanku izin untuk menemuimu, Nak. Aku sangat mengkhawatirkanmu. Aku merasa bersalah karena tidak dapat menjagamu dengan baik. Maafkan aku." Ella berucap lirih. Ia meraih tangan Ammara dan meremasnya pelan."Ibu tidak salah," sergah Ammara. "Akulah yang bersalah. Aku tidak mendengarkan ibu. Seharusnya aku tidak pernah keluar dari Fairyfarm. Aku bahkan pernah pergi ke Fairyfall dan Fairyhill tanpa seizin ayah dan ibu. Aku sangat menyesal. Maafkan aku, bu."Ammara kembali terisak. Ella mengelus punggung tangan Ammara untuk menenangkannya."Harusnya ibu tidak perlu mengekangmu seperti itu 'kan? Kau gadisku yang punya rasa ingin tahu tinggi. Harusnya aku tahu bahwa semakin aku mengekangmu, rasa ingin tahumu akan semakin besar dan kau akan melakukan apa pun untuk memuaskannya. Salah satunya adalah dengan melanggar laranganku."Ammara tertunduk menekuri meja kayu bundar di hadapannya. Ia mencerna setiap perkataan ibunya."Bu, tetapi bukan aku yang menyihir putri dan para pangeran. Aku tidak tahu kenapa kalung itu bisa mengeluarkan cahaya berwarna ungu. Aku hanya berusaha mencari tahu ke mana cahaya itu pergi. Aku mengikutinya, ternyata cahaya itu menuju Istana Avery.""Ibu percaya padamu, Nak," sahut Ella seraya menatap Ammara lekat-lekat. "Ibu menyesal tidak menjagamu dengan baik. Apa pun yang terjadi, ibu janji ibu akan selalu melindungimu. Ibu benar-benar menyayangimu, Nak.""Ke-kenapa ibu bicara seperti ini?"Ella menggenggam kedua tangan putrinya erat-erat. "Ada sesuatu yang harusnya ibu sampaikan sejak lama padamu, Nak. Ibu sengaja menutupinya untuk melindungimu. Namun, ibu rasa ... sudah saatnya kamu mengetahui kebenaran ini."Suara Ella seolah menggantung di udara. Di hadapannya Ammara menatap dengan sorot tegang. Marybell yang sedari tadi duduk santai mengunyah plum sontak membuang sisa potongan kecil plum yang digenggamnya. Tubuh mungil peri pixie itu kini ikut menegang. Telinga kecilnya yang runcing bergerak-gerak.Ella menyadari reaksi Marybell. Ia teringat bahwa ada peri lain yang akan mendengarkan pembicaraan rahasianya dengan sang anak.Ella berdeham. "Marybell, tolong cari Ailfryd dan Tally. Katakan pada mereka untuk mempersiapkan kereta. Kita tak lama lagi akan pulang ke Fairyfarm.""Ta-tapi, Nyonya Ella, aku ...""Cepat susul mereka. Aku takut mereka lupa dengan kita karena keluyuran di taman istana!" tegas Ella sambil membelalakan mata memberi kode agar Marybell segera pergi."Baik, Nyonya Ella. Sampai ketemu lagi Ammara!" Marybell mendengkus sedikit kecewa. Namun, ia menuruti juga permintaan Ella. Di ambang pintu bilik, Marybell menoleh dan memberikan fly kiss dengan gaya genit ke arah Ammara. Ammara mendelik, sementara Marybell melanjutkan terbangnya sambil mengikik geli.Suasana menjadi hening kembali sepeninggal Marybell. Ella beralih duduk tepat di samping Ammara."Apa sebenarnya yang harus aku ketahui, Bu?" tanya Ammara tidak sabar. Iris mata hijaunya menatap mata Ella, berusaha mencari kebenaran.Ella masih diam. Ia memainkan rambut pirang keemasan Ammara dengan lembut. Peri itu tampak berpikir keras merangkai kata-kata terbaik."Aku ingin kau berjanji, anakku. Apa pun yang terjadi, tetaplah menjadi jadi dirimu sendiri. Tetaplah jadi peri kecilku yang jujur, baik hati, dan pemberani. Berjanjilah kau tidak akan berubah, anakku? Karena setelah ini, sesuatu yang besar akan kau hadapi. Apa pun atau siapa pun yang membawamu ke dalam lingkaran ini, tidak akan berhenti sampai di sini.""Aku berjanji, Bu. Akan tetapi, a-apa maksud ibu?""Saat ini mungkin kau tidak mengerti. Namun, kelak kau akan memahami semuanya, Nak.""Jadi, apa ibu tahu siapa pemilik kalung zamrud yang aku pakai dan cahaya ungu apa yang keluar dari mata kalung itu, Bu? Para pangeran menanyaiku. A-aku sama sekali tidak tahu, Bu."Ella menggeleng pelan. "Setahu ibu cahaya ungu itu biasanya hanya dimiliki oleh para penyihir hitam di Hutan Larangan. Mereka adalah peri unsheelie."Ammara mengerutkan alis, mencoba mencerna setiap perkataan ibunya. "Aku sama sekali tidak mengenal dan terlibat dengan para penyihir hitam, Bu. Aku juga tidak pernah ke Hutan Larangan.""Ibu percaya padamu, Ammara. Pesan ibu, jangan pernah melihat segala sesuatu hanya dengan mata. Namun, lihat juga dengan mata hatimu. Karena mata hatimu yang akan menuntunmu pada kebenaran.""Ibu, kenapa dari tadi ibu memberiku pesan-pesan seolah akan pergi jauh?" tanya Ammara lirih.Ella menunduk menahan air mata yang sebentar lagi akan runtuh. Setetes air mata lolos dan mengalir di salah satu pipinya. Ia mengembuskan napas panjang, kemudian kembali menatap manik mata Ammara."Harusnya aku mengatakan ini dari awal, Ammara. Sebenarnya, aku dan Ailfryd bukanlah orang tua kandungmu," ucap Ella dengan suara bergetar."Apa ... ?"Pernyataan Ella sontak meruntuhkan kedamaian hati yang baru saja kembali Ammara reguk senja itu. Ia menatap Ella tak percaya. Ia berharap apa yang didengar telinganya adalah sebuah kesalahan."Maafkan kami yang merahasiakan ini dari awal. Kami tahu, kami bersalah Ammara. Kami hanya ingin melindungimu."Ammara bergeming. Ternyata telinganya tidak salah dengar. Pelupuk matanya perih, tetapi tak setetes air mata pun keluar. Kenyataan yang diungkapkan Ella seakan menamparnya. Ammara tersenyum getir, mencium kedua tangan ibunya seraya menahan sakit. Sesuatu di dalam dadanya terasa hancur.* * *Ella berjalan perlahan menyusuri lorong Kastel Timur, menuju gerbang keluar. Temaram cahaya senja menyamarkan pipinya yang berkilat karena air mata.Hatinya sedikit lega karena telah mengungkapkan kebenaran yang selama ini ia pendam kepada Ammara. Namun, masih ada satu rahasia besar yang akan tetap ia simpan. Ia bertekad untuk menyimpan rahasia itu sampai mati."Ella, kaukah itu?" tanya sebuah suara yang muncul di hadapan Ella dari arah berlawanan.Ella mengangkat wajahnya dan menyunggingkan seulas senyum. "Maurelle? Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini.""Aku sengaja ingin menemuimu. Aku tahu kau akan datang ke mari," sahut peri cenayang istana itu seraya membalas senyum Ella."Ada apa, Maurelle?""Aku juga tahu apa yang kau rencanakan, Ella."Ella tertegun mendengar kata-kata Maurelle. "A-aku tidak tahu apa maksudmu.""Aku sudah tahu siapa Ammara.""Apa maksudmu?" tanya Ella terkejut."Aku menanyai hampir seluruh dwarf dan pixie pekerja di Fairyfarm. Mereka bilang Ammara bukan anakmu. Kau dan Ailfryd hanya mengangkatnya sebagai anak." Maurelle berhenti sejenak sebelum melanjutkan ucapannya dengan nada ancaman. "Jangan pernah melindunginya, Ella. Jangan pernah!" desis Maurelle sambil menatap Ella tajam."Kau memata-mataiku, Maurelle? Kau tidak mempercayai temanmu sendiri?!" Emosi Ella tersulut."Tidak, Ella. Aku bukannya tidak mempercayaimu. Aku berusaha melindungimu. Jangan sampai kau berurusan dengan Dewan Peri, Ella. Karena jika terbukti bersalah pilihannya hanya dua, mati atau dibuang ke Hutan Larangan!""Anakku tidak bersalah, Maurelle!""Dia bukan anakmu, Ella! Berhentilah melindungi peri itu. Jangan bersikap sebagai lilin yang merelakan dirinya habis demi sebuah nyala kecil. Keberadaanmu lebih berharga dari pada peri itu!"Ella menatap Maurelle dengan sorot mata penuh kemarahan. "Apa pun yang terjadi dia adalah anakku, Maurelle. Kau tidak berhak menilai apa yang berharga atau tidak untukku. Aku akan melindunginya dan kau tidak akan bisa mencegahku!"Maurelle terdiam. Matanya menatap nanar peri perempuan yang ada di hadapannya. Begitu juga sebaliknya. Dua peri yang dulunya bersahabat erat, kini tampak saling bertentangan. Suasana menjadi hening dengan aura kebencian dan kemarahan yang melingkupinya."Ella sayang, kami sudah siap, kata Marybell kau su---Ailfryd yang tiba-tiba datang menyusul Ella terkejut dan tidak jadi melanjutkan kata-katanya saat melihat Ella dan Maurelle bersitegang dengan sorot mata saling membenci. Ailfryd merasa tidak nyaman."Aku sudah selesai, Sayang. Mari kita pulang!" sahut Ella. Ia menggandeng lengan Ailfryd meninggalkan Maurelle yang masih bergeming dalam kemarahannya.

Masa Indah Waktu Sekolah
Teen
16 Feb 2026

Masa Indah Waktu Sekolah

Umur 5 tahun aku masuk sekolah TK. Aku disekolahkan di TK paramitha, sekolah dekat rumahku biar gak repot kali ya buat orangtuaku yang harus antar jemput aku tiap hari hehe. Waktu masih TK aku manja banget kalau ditinggal ibuku pulang aku selalu rewel bahkan nangis. Jadi kalau ibuku mau pulang harus ngumpet-ngumpet biar gak ketahuan aku. Nah alhasil aku selalu di marahi ibu, bahkan pernah dicubit. Seneng banget waktu masih TK tau kenapa? karena masih belum tau apa-apa jadi mikirnya gak terlalu berlebihan gitu deh. Dulu waktu TK sering diajarin menyanyi, menggambar, menulis bahkan pada hari tertentu diadakan gosok gigi bareng-bareng sama teman-teman, pokoknya seru, asyik. guru yang paling aku suka dari TK itu Bu Min, guru yang agak gendut tapi orangnya baik banget sampai-sampai Bu Min kenal dekat sama ibuku.Umur 7 tahun aku masuk sekolah SD. Aku sekolah di SDN Gading II. Dulu waktu pertama masuk SD kan ada tesnya nah waktu tes aku sakit jadinya nyusul deh. Jaman SD sama kayak jaman TK sama-sama serunya. Waktu SD aku senang banget karena aku mempunyai banyak teman cewek ataupun cowok. SD juga aku masih sering diantar jemput sama orangtua padahal ya gak jauh-jauh amat dari rumahku.Waktu aku duduk di kelas 2 atau kelas 3 gitu, aku pernah naksir temanku sebut saja namanya igon. Dia cakep terus rambutnya jabrik pokoknya bagiku dia cakep banget. Terus waktu aku duduk di kelas 4, aku juga pernah naksir kakak kelas namanya ijal. Jadi dulu kalau dia masuk pagi, aku selalu naruh surat di sepedanya ijal tapi aku selalu ditemenin temanku namanya Dila. Terkadang suratku gak dibaca sama dia, dia itu cuek banget. Jadi ya sudah aku sama dila sudah jarang naruh surat lagi di sepedanya ijal.Waktu kelas 5, aku pernah buat masalah sama temanku cewek namanya nadia. Masalahnya sih menurut aku tapi mungkin nadia ngadu ke orangtuanya jadi aku dinasihatin bla.. blaaa.. blaa hahaha.Menginjak kelas 6, aku mulai banyak teman bahkan aku hafal nama temen-temenku yang sekelas sama aku. Mereka seru banget, gokil dan asyik. Di kelas 6 inilah aku punya banyak sahabat, mulai dari bella, dilla, sella, gabby, audy, dian, elky, rere dan masih banyak lagi. Aku senang plus bahagia kenal sama mereka semua karena berteman sama mereka gak bakalan jadi jenuh adanya ketawa terus. oh iya, kelasku dulu sempat tawuran (ceweknya) sama SDN Gading I, kan Gading I sama Gading II itu sehalaman gitu, gak tau apa masalahnya. Jadi pulang sekolah itu menuju gang sepi, terus disitu deh tawuran mulut sama-sama ceweknya (gak anarkis kok, Cuma mulut aja yang main).Kelas 6, aku baru pergi ke sekolah bareng teman-teman naik sepeda. Kadang aku jemput teman dan terkadang aku yang dijemput sama mereka. Aku juga pernah suka sama temanku namanya erik, sampai-sampai kau benci sama orang yang dekat sama dia meskipun dia temanku sendiri. Padahal tuh ya dia jelek item tapi gak tau kenapa aku suka sama dia ya?, pertanyaan yang aku gak tau jawabannya hehhe. Namanya anak SD paling juga cintanya cinta Monyet kan anak SD gak tau apa-apa masih rada polos. UN pun datang, aku waktu SD gak pernah tau apa UN itu dan waktu dilaksanakan UN aku kira itu ulangan biasa hahah. dan waktu danem keluar, danemku kecil deh.Umur 13 aku sekolah swasta di sekolah islam ternama di Surabaya utara. Pertama masuk aku sama temanku SD namanya tira. Aku disekolahkan satu sekolah sama dia karena orangtuaku sama orangtua tira itu sangat dekat jadi kaya saudara gitu. Masuk awal sudah dimulai MOSnya. Waktu di kelas kan ditanya sama kakak OSIS “yang belum dapet topi angkat tangan?” ya sudah aku angkat tangan, terus ada yang bilang “kalau cewek gak pakai topi”. duh sumpah aku malu banget.Aku menjalani MOS selama 3 hari dan pulangnya itu sore banget, benar-benar tega tuh kakak OSIS. Waktu kelas 1, aku duduk satu bangku sama yeni, dia gendut tapi hatinya baik banget, selalu ngasih solusi kalau aku curhat sama dia. Dulu aku pernah dihajar habis-habisan sama orangtua gara-gara aku mokong bahasa jawanya. Aku pernah gak dikasih uang saku sama orangtuaku, yeni baik sampai aku dibeliin jajan sama dia. Dulu aku juga pernah tengkar sama temenku namanya dwi Cuma gara-gara cowok yang gak jelas asal-usulnya hahaha.Kelas 2, aku duduk sama anak yang namanya alviola. Dia baik sih tapi terkadang pelit banget. kelas 2, kelasku itu kaya kelas neraka. Anak cowoknya bandel-bandel sampai wali kelasku yang cowok aja dibikin nangis sama anak-anak, benar-benar terlalu memang mereka. Aku juga banyak teman kayak entik, indah, Zahra dan ada lagi di lain kelas. Kalau entik, dia baik banget kadang aku diajak sholat bareng dia dan gengnya, malu sih kalau pertama kali tapi sudah keseringan jadinya gak malu lagi. Kalau indah itu, dia sering main ke rumahku sama bawa pacarnya. Aku juga pernah ribut sama kakak kelas hahha (aku memang selalu cari ribut ya).Kelas 3, aku duduk sama mitha, dia baik banget curhat ya sama dia istirahat juga bareng sama dia tapi gara-gara ada konflik musuhan deh sama dia hahhaha, trus cari temen lagi. Sampai kau punya 2 sahabat cowok yang setia sama aku, namanya hoki sama roni. Mereka kalau ada apa-apa biasanya sering main ke rumahku.Umur 16, lagi-lagi aku sekolah di sekolah swasta islam ternama di Surabaya utara. Waktu MOS, sumpah susah banget, disuruhnya bawa yang aneh-aneh sama OSISnya dan OSISnya itu galak banget. Tapi untung saja masih ketemu teman SMP jadinya gak kayak orang bego yang gak punya teman hahha…Waktu kelas 1 aku masuk ke geng x tapi gak tau kenapa dimusuhi sama mereka semua, ya sudah aku ngejauh dan deket sama temen yang lainnnya dan untungnya mereka menerima aku tapi lama-lama aku juga musuhan sama mereka semua hahaha..Naik kelas 2, aku kayak orang bego yang gak punya teman. Tapi aku duduk sama rosa, dia baik dia cerewet tapi asyik. Lama kelamaan aku mengenal teman sekelasku mulai dari eka, nanda, nita dan lain lain. Aku pernah naksir sama wicak, smsan manggilnya beb kalau gak sayang hehe padahal wicak sudah punya pacar dan pacarnya ya sama sekelas sama kita. Tapi lama-kelomaan aku udah gak naksir sama wicak. Kelas 2 ini, aku mulai nyaman sama mereka, mereka gak tau kenapa aku cocok temenan sama mereka. Kalau lagi jam kosong atau gak ada gurunya, tujuan utama kita selalu ke kantin makan kalu gak ya Cuma beli jajan dan dimakan di kelas.Dulu aku dekatnya sama rosa, kalu ada apa-apa aku selalu cerita ke dia begitupun sebaliknya tapi setelah aku tau dia seperti apa akhirnya aku cerita ke teman yang lain kalu rosa anaknya seperti itu (jahatnya aku hahaah) dan anak-anak juga ngejauhi dia karena di sisi lain, dia juga lenjeh terus malesan. Dulu juga pernah buber (buka bareng) sama mereka semua, mblakrak kemana-mana. Kelas 2 juga sering buat guru jadi ngambek, marah dan gak mau ngajar kelas kami lagi sebelum kami semua buat surat pernyataanNaik kelas 3, kami pun pisah kelas. di kelas 3 juga sama kaya kelas 2 yang sering membuat jengkel semua guru yang mengajar di kelas. Sampai-samapi wali kelas kewalahan buat ngatur kelas. Waktu menjelang UNAS kelas kami jarang serius, bimbel pun jarang masuk hhaa.. Aku dekat banget sama nita, rumah kita dekat jadi kalau aku gak ada yang jemput biasanya aku nebeng ke dia. Tapi kita juga pernah tengkar gak tau aku punya salah apa sama nita tiba-tiba dia gak menyapa aku dan menjauh dari aku ya sudah aku diem aja, untung teman kalau gak sudah aku ajak berantem tuh orang!. gak tau kesambet apa, tiba-tiba dia minta maaf sama aku dan ngejelasin semuanya, akhirnya kita balik lagi jadi temen dekat kaya sahabat.UNAS datang dan kamipun harus belajar giat dan mengurangi main-main. Setelah UNAS baru kami bermain lagi sambil menunggu pengumuman danem dan hasil SNMPTN. Akhir cerita, aku ketrima di SNMPTN dan teman-teman gak ada yang ketrima.Singkat cerita, jangan pernah sia-siakan masa sekolahmu karena masa sekolah gak akan pernah terlupakan. Apalagi masa SMA, memang bener kata orang masa SMA adalah masa yang paling seru, bahagia, merdeka. Apalagi teman-teman yang sudah ngebuat kita senyum, marah, jengkel, senang. Teman SMA gak bakalan ditemuin di jenjang manapun

Bangku Sisi Jendela
Romance
16 Feb 2026

Bangku Sisi Jendela

Tampak sosok lelaki bertubuh agak gelap duduk menghadap ke arah jendela. Sesekali mengaduk sendok pada jusnya. Sesekali pun mengecek handphone untuk menantikan kabar. Posisi yang benar-benar menunggu."Ale...!!"Terdengar suara perempuan dari arah pintu masuk cafe. Yang dipanggil pun menengok dan melambaikan tangan dengan girang. Sang perempuan, Mala namanya, segera menuju Ale. Aroma lavender tercium oleh Ale dari tubuh Mala. Perempuan cantik nan anggun itu entah mengapa telah menjatuhkan hati kepada Ale-lelaki kosan sederhana.Menjadi mahasiswa baru di ibukota, membuat mereka saling jatuh cinta. Pertemuan pertama mereka adalah gerbang menuju kehidupan Ale dan Mala yang baru. Dan aku, selalu sendiri melihat mereka di pojok dunia yang tak tampak. Memandang dengan iba apa yang telah terjadi pada Ale selepas kecelakaan itu."Mal, ada yang mau aku omongin," Ale bersua menatap Mala yang masih memesan makanan."Hmm," Mala bergumam lalu menutup buku pesanan dan menatap Ale. "Kamu nggak bakal ngomongin putus kan?"Ale menatap lekat pancaran nanar mata Mala. Pikiran negatifnya justru hal tersebut akan terjadi, meski Ale pun tak mau itu terjadi. Sesungguhnya ia hanya ingin menyampaikan kebenaran, walau justru hal itu sangatlah menyakitkan."Aku tak bisa melupakan Jinan. Ia amat melekat di aku, di hatiku. Apakah lebih baik...""Stop! Aku tahu maksud kamu apa. Jinan sudah tenang dan itu bukan salah kamu, bukan, Le."Aku tersenyum mendengar ucapan Mala. Benar, kecelakaan yang kami alami berdua bukanlah salahnya, bukan salah siapa-siapa. Tapi, Ale selalu berpikir itu salahnya dan ia tak bisa melupakanku, walaupun ia sudah berusaha mencobanya dengan Mala."Mala, terima kasih sudah membantuku sejauh ini. Kamu yang tahu rasa sakitku seperti apa. Tetapi, aku yang tahu sendiri batas kesanggupanku seperti apa. Dan aku nggak mau berbagi rasa sakit itu denganmu. Aku nggak mau nyakitin kamu. Jadi, hargai keputusanku untuk tak pernah bisa melupakan Jinan."Satu per satu air mata Mala terjatuh. Sementara Ale bangkit berdiri, menepuk pundak Mala lembut, dan pergi meninggalkannya. Entah aku harus sedih atau senang Ale tak bisa melupakanku. Tetapi, sementara ada air mata wanita lain yang ditinggal Ale pergi. Di ujung dunia, aku berharap Ale menemukan kebahagiaanku, walau tanpaku.

Hargai Waktu Dengan Hari Yang Layak
Teen
16 Feb 2026

Hargai Waktu Dengan Hari Yang Layak

Saat jam istirahat sekolah, Bulan membaca buku novel berjudul The Magician's Nephew di perpustakaan. Bulan sudah hampir selesai membaca novel tersebut dan rencana akan melanjutkan membaca seri kedua dari novel The Magician's Nephew. Perpustakaan SMA N 1 Pengasih menyediakan buku lengkap dari buku non fiksi maupun fiksi. Tidak sulit untukmencari Bulan karena setiap waktu jam istirahat berada di perpustakaan. Bulan senang membaca buku fiksi maupun non fiksi tidak heran jika Bulan peringkat satu dikelas.Bulan baru saja selesai membaca novel dan hendak mengembalikan novel tersebut ke rak buku. Saat itu juga suara riang menyapanya, "Bulan!" begitu Bulan menoleh, ia melihat Amel kawan sekelasnya. "Halo... Amel!" Bulan membalas sapaanya. "Kamu nanti mau ikut ke rumah Asri tidak? Kita mau memasak kue bersama lho! Ikut ya..." Amel membujuk Bulan dengan muka memelas. "Maaf aku tidak bisa ikut, hari ini aku ada les sore" Terang Bulan. "Kamu tidak capek setiap hari les terus?", "Sebenarnya sih capek, tapi ini demi kebaikanku juga, aku harus belajar keras supaya bisa masuk di Harvard" Bulan berkata sambil memijit kepalanya karena terasa pusing. "'Tapi kamu juga butuh refreshing, mungkin kamu bisa ijin tidak ikut les sekali saja." saran Amel. "Tidak bisa aku harus konsisten, jika sejak awal aku ingin masuk ke Harvard maka aku harus belajar dengan giat." Bulan berbicara sambil bersandar di rak buku. "Oke baiklah jika kamu tidak mau ikut, kita ke kelas saja yuk sudah bel nih." Ajak Amel. "Oke baiklah." Kata Bulan menggandeng tangan Amel kawannya menuju ke kelas.Di kelas, Bulan mengikuti pelajaran matematika hari ini dengan tidak semangat. Bulan merasa letih dan pusing tanganya menyangga kepalanya agar tidak tertidur saat pelajaran."Kamu kok terlihat pucat Bulan kamu sakit?" tanya Amel teman sebangkunya. "Iya nih kepalaku dari tadi pusing."" "Mau aku antar ke UKS supaya kamu bisa istirahat?" Ajak Amel denganmuka khawatir karena takut terjadi hal buruk pada sahabatnya seperti pingsan di kelas. "Tidak terima kasih aku harus mengikuti pelajaran matematika."Bel pulang berbunyi semua murid memasukkan buku kedalam tas untuk berkemas pulang. Sebelum pulang Pak Solihin mengumumkan informasi. "Baik siswa-siswa sekarang kelas sudahberakhir. Saya berharap kalian semua bisa ikut seleksi olimpiade matematikayang diadakan besok pukul empat sore di sekolah. Siswa terpilih akan mengikuti olimpiade matematika yang diselenggarakan tiga bulan lagi di Jakarta. Sekian pengumuman hari iniselamat siang." Kata Pak Solihin sambil pergi meninggalkan kelas.Bulan dan siswa lainpun pulang. Sesampainya di rumah Bulan berencana akan mengikuti seleksi tersebut karena yakin bahwa Bulan yang akan terpilih. Bulan sangat suka pelajaran matematika Bulan pernah juara beberapa kali olimpiade matematika saat SMP. Saat akan belajar untuk persiapan seleksi tiba-tiba kepalanya pusing kembali dan badannya sangatlemas sekali Bulanpun memutuskan untuk tidur siang dan terbangun sorenya karena di sorehari Bulan ada les privat.Esoknya di sekolah Bulan berjalan dengan lambat menaiki tangga sekolah. Tiba-tiba kepalanya sakit lagi, Bulanpun terjatuh dari tangga dan semua buku yang ada ditangannya ikut jatuh pula. Namun untungnya Bulan dapat menyelamatkan diri, Bulan melihat kseluruh tubuhya apakah ada yang terluka atau tidak. Semuanya baik-baik saja."Bulan, kok bisa terjatuh, kamu tidak apa-apa? Sini aku bantu." Asri bertanya sambil membantu mengambil buku Bulan yang terjatuh. "Emm aku tidak apa-apa. Terima kasih ya Asri, sudah ya aku pergi dulu." Bulan berusaha berdiri dan lalu pergi ke kelasnya. Sesampainya di kelas Bulan langsung duduk di bangkunya. "Hai Bulan, kamu kok masihterlihat pucat kamu masih sakit?" tanya Amel sahabat Bulan. "'Aku sehat kok." Jawab Bulan singkat. "Kamu yakin?" Amel bertanya lagi. "Iya aku yakin."Tanya Amel lagi. "Aku baik-baik saja Amel. Berhenti terlalu mengkhawatirkanku!" Bulan berkata dengan keras. "Mmm maaf, aku sangat khawatir padamu karena kau sahabat terbaikku. Aku tidak ingin hal burukterjadi padamu." Amel berkata meninggalkan Bulan. Bulan merasa bersalah karena telah memarahi Amel. Bulan bisa melihat kekecewaan Amel dari raut mukanya.Bel pulang berbunyi, Bulan dan Amel tidak berbicara sepatah katapun sedari pelajaran pertama tadi. Bulan ingin meminta maaf pada Amel tapi mungkin ini belum waktu yang tepat. Semua siswa telah pulang ke rumah masing-masing, tapi Bulan masih menunggu ibunya menjemput. Beberapa lama kemudian ibunya datang dengan mobil segera Bulan menghampiri ibunya. Di dalam mobil Bulan merasa ada sesuatu yang berbeda pada tubuhnya, Bulan merasa sangat letih. "Bulan kamu baik-baik saja?" tanya ibunya. "Ya Bu aku baik-baiksaja!"jawab Bulan. " Kamu tidak boleh berbohong pada ibu Bulan, kamu sangat lelah pasti. Mukamu terlihat pucat sampai dirumah nanti kamu harus tidur oke!" suruh ibu Bulan. "Tidak tidak Bu aku harus belajar lagi di rumah lalu pergi ke sekolah jam empat sore untuk ikut seleksi olimpiade matematika." Terang Bulan. "Bulan Ibu tahu kamu sangat suka matematika. ibu mengjinkanmu ikut seleksi tapi kamu harus tetap sehat. Dan kamu juga harus pintar membagi waktu." Ibu Bulan memberi saran lagi. "Terima kasih Bu, aku akan tidur siang nanti." Kata Bulan sambil memeluk ibunya.Sesampainya di rumah Bulan segera menuju kamarnya untuk istirahat. Tiba-tiba kepalanya pusing kembali, ibunya benar bahwa Bulan harus istrirahat. Bulanpun tidur siang di kamarnya."Ya ampun aku terlambat!' Bulan berkata dengan keras. Jam telah menunjuk pukul tepat empat sore. Bulan segera mandi dengan cepat. Setelah selesai mandi lalu mengenakan baju yang rapi dan menyiapkan buku matematika kedalam tas. Saat keluar kamar Bulan merasa lelah dan bibirnya sangat pucat, badanya panas Bulan berjalan lambat. Dan Bulan pingsan di ruang tamu. "Bulan!"teriak ibu dan ayah Bulan. "Cepat bawa ke rumah sakit." ibu Bulan berkata dengan keras karena sangat khawatir pada anaknya. Bulan membuka mata perlahan, pertama-tama penglihatannya kabur namun beberapasaat kemudian penglihatannya semakin jelas. Bulan melihat sekeliling, ruang yang tampak asing serta ibu dan ayahnya, juga Amel serta teman-teman yang lain ada di sampingnya."Ibu aku dimana? kenapa teman-temanku disini?" Bulan berkata dengan lirih. "Kamu berada di rumah sakit sekarang, teman-teman menjengukmu. Dokter bilang kamu terkena tipes." kata ibu Bulan merasa lega karena Bulan telah sadar dari pingsan. "Oh ya ampun aku lupa, aku harus pergi ikut seleksi!" ucap Bulan dengan panik. "Tenang, tenang Bulan, seleksinya telah berakhir enam jam yang lalu Asri yang terpilih untuk mengikuti olimpiade matematika."Terang ayah Bulan. "Apa itu tidak mungkin, ayah hanya bercanda kan?Hiks...hiks...bagaimana bisa aku melewatkan seleksi itu?" Bulan berkata sambil menngis kecewa. "Ayahmu tidak bercanda Bulan, yang sabar oke. Kamu masih punya banyak waktu untuk meraih mimpimu setinggi langit jadi jangan menyerah. Sekarang yang paling penting kamu harus sehat dulu sehingga kamu bisa meraih cita-citamu dengan mudah." ucap Amel sambil memeluk Bulan.Kemudian Bulan tersadar bahwa dirinya salah. Bulan terlalu fokus pada belajarnya hingga lupa akan kesehatan tubuhnya. "Amel, terima kasih telah mendukungku. Aku minta maaf, aku terlalu egois, sehingga aku lupa pada yang lainnya. Bahkan sampai-sampai akumemarahimu padahal kamu peduli denganku. Maafkan aku Amel." Terang Bulan sambil memeluk Amel dengan erat. "Tidak apa-apa aku sudah memaafkanmu duluan, aku paham bahwa kamu sangat ingin ikut olimpiade tersebut. Ini aku membawa novel The Magician's Nephew untuk kamu baca selama dirawat di rumah sakit." Amel membawakan Bulan buku novel. "Wahhh terimakasih, kamu memang shabat terbaikku." Ucap Bulan dengan sangat senangSemenjak kejadian itu Bulan berjanji akan lebih menghargai waktu, karena waktulah yang mengetahui segalanya tentang apa yang akan terjadi dan yang sudah terjadi. Bulan ingin waktu itu dimanfaatkan sebaik-baiknya serta menjadi hari yang layak. Tidak hanya untuk dirinya namun juga orang lain terutama orang tuanya dan sahabatnya.

Cinta Tak Bisa Ditebak
Romance
16 Feb 2026

Cinta Tak Bisa Ditebak

Aku siswa baru kelas X SMA. Semua temanku memanggil aku Tari. Meskipun aku baru, namun di hari pertama aku sekolah, aku telah menemukan teman yang sekarang menjadi sahabat baikku, yaitu Lili dan Fani. Mereka selalu mengajariku banyak hal dan selalu mau berbagi cerita denganku.Siang itu, saat jam istirahat tiba, aku mendapatkan tugas dari guru untuk mencari novel kemudian aku harus menulis resensinya. Aku mengajak Lili ke perpustakaan untuk mencari novel.Ketika aku sedang berjalan menyusuri rak demi rak, aku melihat seorang pria yang sedang membaca buku di bagian kiri sebelah rak dengan raut wajah yang serius. Entah apa yang terjadi, jantungku seakan ingin berhenti ketika aku melihatnya, sosok wajahya yang tampan dan kalem, membuatku kagum padanya.Setelah aku perhatikan, aku bisa membaca name tag-nya, ternyata ia bernama Faid. Ia adalah murid satu angkatan dengan ku. Seketika itu aku menceritakan apa yang ku alami kepada Lili, Lili pun menanggapi cerita ku dengan antusias.Hingga aku memperoleh informasi bahwa, Faid mengikuti olimpiade. Seketika itu, aku langsung belajar dengan giat, agar aku bisa mengikuti olimpiade yang sama dengan Faid. Akhirnya aku pun lolos seleksi olimpiade, dan aku selalu belajar bersama sebelum olimpiade dengan Faid.Namun, di pertengahan ketika waktu olimpiade telah dekat, aku baru tahu bahwa Faid telah menjalin hubungan dengan adik kelas. Perasaanku pun menjadi hancur kala itu. Dan akhirnya aku pun berusaha menjauhi Faid.Waktu pun berganti, setelah aku belajar 3 tahun lamanya, aku sekarang tengah mengikuti acara lepas pisah kelas XII, tanpa mengetahui kabar Faid, aku tetap tidak bisa melupakannya. Aku juga tidak berusaha mencarinya. Aku sendiri termenung melamun di gazebo."Tari, aku sudah mencarimu ke mana-mana, ternyata kamu ada di sini," ucap Faid, membuyarkan lamunanku. Aku agak sedikit gugup sebenarnya jika harus bertemu secara langsung dengannya."eh... iya," jawabku"Tari, aku tahu kamu mau pergi, aku tahu kamu dapat beasiswa. Aku ingin mengatakan hal yang sangat penting padamu. Kumohon dengarkan aku. Apakah kamu bersedia untuk menungguku hingga nanti aku menikahimu," ucap Faid.Seakan tubuhku lemas tak percaya, dengan cepat kubalas, "Iya". Aku tidak menduga, perasaan yang selalu kusimpan selama 3 tahun, ternyata mendapat balasan yang sangat indah.

The Angel of Industry
Horror
16 Feb 2026

The Angel of Industry

Di pegunungan tandus di Eropa Utara, ada sebuah gua purbakala. Di dalam gua itu, ada ruang besar yang nampaknya dulu pernah digunakan sebagai tempat melakukan ritual. Ruang itu berbentuk nyaris seperti lingkaran, dan dindingnya penuh ditutupi lukisan purba. Sepintas, gua itu nampak seperti gua-gua lainnya di Eropa yang juga memiliki lukisan dinding purbakala yang dibuat dengan pewarna merah dan coklat.Akan tetapi, jika kau perhatikan dengan seksama, sosok-sosok yang digambarkan di lukisan dinding gua tersebut kebanyakan bukan manusia. Mereka bisa dibilang masih mirip manusia, namun nampaknya berpunggung sedikit menonjol, dan sepertinya memiliki sepasang tanduk serta ekor.Lihat lagi dengan lebih seksama, dan kau akan melihat gambar-gambar yang menggambarkan manusia. Akan tetapi, para manusia ini digambarkan saling memburu, ditusuk dengan tombak, dan dihajar dengan kapak. Ada beberapa adegan dimana makhluk-makhluk bertanduk itu nampak sedang memanggang manusia di atas kobaran api, atau berpesta menyantap potongan-potongan tubuh mereka.Gambar-gambar itu memang mengerikan, tapi itu dari jaman purbakala, 'kan? Tak ada yang tahu juga apakah adegan-adegan itu benar-benar terjadi atau tidak. Nah, kalau ada pengelana tersesat yang masuk ke gua itu untuk berlindung dari badai salju, dia mungkin berpikir sama. Mungkin dia tak akan menghiraukan lukisan purba itu, dan memutuskan untuk berkemah di dalam gua tersebut. Dia mungkin juga akan menyalakan api unggun di tengah gua.Di tengah gua tersebut, ada sebuah cekungan yang dibuat untuk menyalakan api. Kalau api unggun dinyalakan di situ, cahayanya akan menerangi lukisan gua tersebut. Bayangan si pengelana akan nampak seolah tertimpa gambar-gambar mengerikan di dinding gua, yang seolah bergerak-gerak terkena cahaya kobaran api. Beberapa orang yang lebih penakut mungkin akan bergidik melihatnya, dan memutuskan untuk lebih baik mencoba menerjang badai saja.Tapi, yang lebih pemberani mungkin akan tetap tinggal.Terkadang, tak ada yang terjadi. Si pengelana ini mungkin akan bangun lagi keesokan harinya, sedikit pucat karena mimpi buruk, namun dia tak apa-apa.Kali lain, api akan memantulkan bayangan-bayangan kabur yang bergerak-gerak, bayangan yang bukan milik siapapun di dalam gua itu, dan bukan milik si pengelana. Bayangan ini begitu samar hingga mungkin akan disangka sebagai tipuan cahaya, namun jika diperhatikan, kau mungkin akan melihat bentuk-bentuk seperti manusia, namun dengan punggung menonjol, sepasang tanduk, dan ekor. Bayangan aneh ini kemudian akan mendekati bayangan si pengelana yang sedang tidur. Terkadang, bayangan asing ini akan nampak seolah memegang tombak atau mengangkat kapak.Pengelana yang tidur sendirian di gua itu seringkali menghilang tak tentu rimbanya.Akan tetapi, mereka yang berkelana dalam kelompok dan memutuskan tidur di gua itu kerap terbangun di malam hari karena mendengar jeritan keras. Mereka kemudian akan menyadari bahwa satu orang rekan mereka hilang. Jika mereka kebetulan mengarahkan pandangan ke titik yang tepat di dinding, mereka mungkin akan melihat bayang-bayang samar aneh yang bergerak-gerak, dan bukan bayangan mereka.Api unggun mereka akan menyala lemah, namun dengan cahaya kemerahan, dan dengan cahaya itu, mereka mungkin akan melihat bayangan samar sesosok manusia yang sedang meronta, ditikam tombak, dipukuli berkali-kali oleh beberapa sosok asing. Bayangan sosok-sosok ini kemudian akan menyeret bayangan si manusia yang sudah tidak bergerak, keluar dari jangkauan cahaya, sampai tidak terlihat lagi.Apakah itu lukisan dinding baru? Rasanya tidak mungkin; pewarna merahnya nampak sudah setua lukisan-lukisan lainnya. Tidak, lukisan manusia yang tubuhnya dikoyak sepasang tanduk tajam itu pasti sudah lama ada di sana.

I Want to be A Vampire
Horror
16 Feb 2026

I Want to be A Vampire

Ada seorang anak remaja bernama Lorcan yang mengatakan ia ingin menjadi seorang vampir. Semua orang mengira ia hanya mencari perhatian. Dia tidak punya teman. Semua anak-anak di sekolah takut kepadanya.Dia tampak aneh dan kepalanya tampak terlalu besar untuk tubuhnya. Wajahnya tidak wajar, tipis, matanya cekung dan memiliki lingkaran hitam. Pipinya cekung dan kulitnya bewarna pucat. Dia berpakaian hitam dari kepala sampai kaki. Dia mengenakan jas hitam panjang yang menyerupai jubah.Ketika anak-anak lain sedang bermain olahraga, Lorcan akan duduk di sudut halaman sekolah, asyik dalam salah satu bukunya. Dia mengumpulkan buku-buku tentang vampir, pemujaan setan dan ritual setan. Dia membaca setiap lembar berulang, menggaris bawahi ayat-ayat dan mengambil catatan.Selalu ada rumor aneh tentang dirinya yang beredar di sekitar lingkungannya. Beberapa anak muda mengaku mereka telah melihat dia membunuh anjing dan meminum darahnya. Lainnya mengatakan bahwa ia menculik kucing di lingkungan dan membawa mereka pulang sehingga ia bisa melakukan eksperimen aneh kepada mereka.Orangtuanya khawatir tentang perilaku aneh Lorcan. Mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan dengannya. Mereka sudah membawanya ke dokter dan psikolog, tapi tak satu pun yang ada gunanya.Suatu malam, ibunya menemukan beberapa bukunya. Ketika dia menyadari tentang satanisme, dia merasa ngeri dan melemparkan buku-buku itu ke tempat sampah. Lorcan tidak marah atau protes, namun ketika orang tuanya pergi ke tempat tidur, dia merayap turun dan pergi ke luar untuk mengambil kembali buku kesayangannya dari tempat sampah.Keesokan harinya, ia membuat lubang besar di langit-langit lemarinya. Itu jalan rahasia dan itu memungkinkan dia untuk merangkak naik ke loteng tanpa diketahui. Ia menyimpan semua buku-bukunya, secara aman. Loteng menjadi tempat rahasianya.Dia bahkan membangun sebuah altar darurat dan dihiasi dengan simbol setan, salib terbalik dan gambar setan. Suatu malam, ia masuk ke gereja lokal dan mencuri piala perak dan beberapa wafer komuni. Dia membawanya pulang dan menempatkannya di atas mezbah-nya.Siang hari, Lorcan mengantuk dan lesu, tetapi pada malam hari, dia akan datang hidup. Sementara ibu dan ayahnya sedang tidur, ia akan merayap di sekitar rumah tanpa alas kaki, berusaha untuk tidak membuat suara sedikit pun. Kadang-kadang ia akan merayap tanpa suara ke kamar tidur mereka dan berdiri di atas mereka, menonton orang tuanya tidur damai.Suatu hari, guru memberi semua murid di kelas tugas. Mereka harus menulis sebuah esai berjudul “When I Grow Up.” Guru bertanya apakah ada yang ingin membaca esai mereka keras-keras ke kelas dan Lorcan mengangkat tangannya. Dia berdiri di depan papan tulis memegang gumpalan kertas dan berdehem.“Ketika aku tumbuh,” ia mulai, “Aku ingin menjadi seorang vampir.”Anak-anak lainnya memutar mata mereka dan tertawa. Lorcan begitu semangat, kertas gemetar di tangannya.“Aku ingin tidur di peti mati,” lanjutnya. “Aku ingin mengelilingi diriku dengan kematian. Aku ingin mendedikasikan diri untuk kejahatan dan membalas dendam pada semua musuhku. Aku akan menyerahkan jiwaku untuk setan dan menerima dia sebagai Tuhan dan Juru selamat ku ... ”“Sudah cukup, Lorcan!” Guru terganggu.Lorcan mengabaikannya dan suaranya semakin keras.“Aku ingin minum darah anak-anak kecil dan perempuan dan merasakannya mengalir melalui pembuluh darahku. Ingin aku tenggelamkan gigiku ke dalam daging yang lembut dan merasakan darah panas mereka menetes ke tenggorokan ... ”“Hentikan, Lorcan!” Guru membentak. “Duduk!”“Aku ingin merobek mereka, menarik keluar bagian dalam dan memakan isi perut mereka. Aku ingin menghancurkan segala sesuatu yang hidup. Aku ingin membakar dunia. Aku ingin membunuh semua orang!”Guru menerjang dia, menyambar kertas dari tangannya. Lorcan mencakar dan berteriak seperti orang gila. Saat ia mencengkeram leher, ia berteriak, “Aku ingin menjadi seorang vampir! Aku ingin membunuh kalian semua! Aku INGIN MEMBUNUH KALIAN SEMUA!”Lorcan diskors dari sekolah dan orang tuanya harus bertemu dengan guru dan kepala sekolah. Setelah itu, semua orang melihat dia seperti elang. Tetangga akan menarik anak-anak mereka dari jalan jika mereka melihatnya datang. Rumor tentangnya menyebar dengan cepat dan tak seorang pun ingin berhubungan dengannya.Suatu hari, seorang anak kecil yang tinggal di lingkungan itu hilang. Orang tuanya mencari kesana-kemari, tapi tidak ada tanda-tanda di mana keberadaannya. Seolah-olah dia telah menghilang tanpa jejak. Polisi pun dipanggil dan mereka mengetuk setiap pintu di daerah itu, mengajukan pertanyaan.Salah satu petugas bertanya pada Lorcan dan melihat dia bertindak sangat gugup. Polisi itu punya perasaan buruk tentangnya dan Polisi bersikeras berbicara dengan ibu dan ayah Lorcan. Orang tua Lorcan membiarkan polisi dan setuju untuk membiarkan polisi mencari dirumah mereka. Lorcan menjadi gugup dan bahkan lebih gugup.Petugas polisi menggeledah kamar Lorcan, tetapi tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan. Kemudian, membuka lemari dan melihat sebuah lubang di langit-langit. Ketika polisi menjulurkan kepalanya melalui lubang dan mengintip ke loteng, matanya disambut oleh pemandangan yang mengerikan. Petugas Polisi mengatakan itu adalah hal yang paling mengganggu yang pernah dilihat dalam hidupnya.Mayat anak yang hilang tergantung di atap. Tangan dan kakinya diikat ke langit-langit loteng dalam bentuk salib. Di bawahnya adalah sebuah altar setan, dikelilingi oleh buku-buku tentang pemujaan setan. Pada altar terdapat piala perak, penuh dengan darah.Polisi bergegas turun dan membunyikan alarm. Dia berbicara kepada rekan-rekannya dan mengatakan kepada mereka apa yang telah dilihatnya, mereka mulai putus asa mencari Lorcan, tapi remaja itu tak bisa ditemukan. Orang tuanya tidak tahu di mana ia berada.Polisi diluar bersumpah mereka tidak melihat siapa pun meninggalkan rumah tersebut. Tidak ada yang bisa menemukan jejak Lorcan. Polisi bingung. Mereka yakin tidak ada cara anak itu bisa lolos tanpa diketahui. Itu adalah misteri.Kemudian, salah satu petugas menyaksikan sesuatu yang aneh. Dia mengatakan bahwa setelah semua keributan itu dimulai, ia merasa melihat sesuatu yang terbang keluar dari salah satu jendela di lantai atas. Mahkluk itu mengepakkan sayapnya dan menghilang dalam kegelapan malam.Dia pikir matanya salah, atau sedang bermain trik pada dirinya sendiri, tapi ia berani bersumpah, itu kelelawar hitam yang besar.***Note: Cerita ini sebenarnya terinspirasi oleh pembunuhan kehidupan nyata yang terjadi di Irlandia pada tahun 1973. Seorang anak muda bernama John Horgan hilang. Ketika polisi menyelidiki, mereka mulai menduga remaja laki-laki yang tinggal di sebelah. Mereka menggeledah rumahnya dan di loteng, mereka menemukan mayat dari anak muda. Dia telah di ikat di loteng pada pose penyaliban. Dbawahnya, ada sebuah altar, piala perak dan beberapa buku setan. Tentu saja, dalam kehidupan nyata, anak remaja tidak berubah menjadi kelelawar vampir dan melarikan diri. Dia ditangkap dan dimasukan ke penjara untuk kejahatan yang mengerikan.

Persahabatan Androcles dan Singa
Folklore
16 Feb 2026

Persahabatan Androcles dan Singa

Dahulu kala, pada masa kejayaan Kekaisaran Romawi yang membentang luas dari Britania hingga Mesopotamia, hiduplah seorang budak asal Yunani bernama Androcles. Ia adalah seorang pemuda dengan rambut ikal cokelat dan mata yang selalu tampak lelah, hasil dari kerja keras tanpa henti di rumah seorang perwira Romawi yang kejam. Tuannya, seorang senator bernama Lucius, dikenal sebagai pria yang mudah marah dan suka menghukum budak-budaknya untuk kesalahan sekecil apa pun.Setiap hari, Androcles bekerja dari pagi buta hingga larut malam. Ia membersihkan kandang kuda, menyapu halaman istana yang luas, dan kadang dipukuli jika tuannya sedang dalam suasana hati buruk. Hidupnya terasa seperti neraka di dunia. Tak ada hari tanpa rasa sakit, tak ada malam tanpa air mata.Hingga suatu malam, ketika bulan bersinar terang dan seluruh penghuni istana tertidur lelap, Androcles mengambil keputusan berani. Ia akan melarikan diri.Dengan jantung berdebar kencang, Androcles merayap keluar dari kamar budak yang sempit. Ia mengambil sepotong roti basi dan sebotol air yang disembunyikannya selama berminggu-minggu. Dengan langkah hati-hati, ia melewati pintu belakang, memanjat pagar batu, dan mulai berlari.Pelarian ke dalam HutanAndrocles berlari sekuat tenaga menjauhi kota Roma yang gemerlap. Kaki-kakinya yang telanjang terasa perih menginjak batu-batu tajam, tetapi rasa takut tertangkap lebih besar dari rasa sakit. Ia terus berlari melewati ladang gandum, melewati sungai kecil, hingga akhirnya sampailah ia di tepi sebuah hutan lebat yang tampak menyeramkan.Hutan itu dikenal oleh penduduk sekitar sebagai Hutan Gelap, tempat tinggal binatang-binatang buas dan roh-roh jahat. Namun bagi Androcles, hutan itu adalah harapan terakhirnya.Setelah lama berlari menembus kegelapan hutan, Androcles keletihan. Badannya sudah tidak kuat lagi. Otot-ototnya terasa remuk, napasnya tersengal-sengal. Perutnya juga sangat lapar, tetapi roti basi yang ia bawa sudah habis dimakan saat istirahat sebentar tadi. Ia mencari tempat untuk beristirahat dan menemukan sebuah pohon besar dengan akar-akar menjulang dan daun-daun rindang yang menaungi area di sekitarnya.Dengan susah payah, Androcles duduk bersandar di batang pohon itu. Matanya mulai terasa berat. Angin malam berdesir lembut, membawa aroma tanah basah dan dedaunan. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Androcles merasa sedikit aman. Ia mulai terlelap.Namun tiba-tiba, keheningan malam dipecahkan oleh suara yang membuat bulu kuduknya berdiri."Aurgghhhh... Aurgghhhhh!"Suara auman singa menggema di seluruh hutan. Begitu kerasnya hingga dedaunan berguncang dan burung-burung malam terbang panik dari sarang mereka.Androcles tersentak bangun. Jantungnya berdebar begitu kencang seakan ingin melompat keluar dari dadanya. Ia tahu betul suara itu: suara singa, raja hutan, binatang buas pemakan daging yang bisa mencabik-cabiknya dalam hitungan detik.Dengan sisa tenaga yang ada, Androcles bangkit dan berlari lagi. Kali ini ia berlari bukan karena dikejar majikannya, tetapi karena dikejar rasa takut yang mencekik. Namun malang, di tengah pelariannya yang panik, kakinya tersandung sebuah akar pohon yang besar. Tubuhnya terhempas keras ke tanah.Pertemuan yang Tak TerdugaSaat Androcles berusaha bangkit, ia mendengar suara langkah berat mendekat. Perlahan ia mendongak, dan apa yang dilihatnya membuat darahnya seolah membeku.Di hadapannya, berdiri seekor singa besar dengan bulu cokelat keemasan yang lebat. Matanya bersinar di kegelapan, dan dari mulutnya yang sedikit terbuka, tampak taring-taring tajam yang mengkilat. Singa itu jauh lebih besar dari yang pernah ia bayangkan. Androcles yakin inilah saat terakhirnya.Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, pasrah menanti ajal. Namun detik demi detik berlalu, dan tidak terjadi apa-apa. Tidak ada cakaran, tidak ada gigitan.Dengan hati-hati, Androcles membuka matanya dan melihat pemandangan aneh. Singa itu tidak menyerangnya. Ia justru duduk di tanah, mengangkat satu kaki depannya ke arah Androcles. Dari sela-sela jari kakinya, tampak luka besar yang menganga, penuh nanah dan darah kering. Seekor duri besar menusuk di sela jari kakinya, membuat singa itu tak bisa berjalan dengan normal.Androcles, yang seharusnya ketakutan, justru merasakan gelombang kasihan. Di matanya, singa yang besar dan buas itu kini tampak seperti makhluk lemah yang membutuhkan pertolongan. Dan sebagai manusia yang pernah merasakan sakit, Androcles tahu bagaimana rasanya terluka tanpa ada yang menolong.Dengan hati-hati, Androcles mengulurkan tangannya. Singa itu hanya menggeram kecil, seolah memberi isyarat bahwa ia boleh mendekat. Perlahan, Androcles meraih kaki singa itu. Kaki itu hangat dan kasar, tetapi singa itu tetap diam, hanya sesekali menggeram pelan saat Androcles menyentuh bagian yang sakit.Androcles melihat duri besar yang tertancap dalam di sela jari singa. Ia tahu ia harus mencabutnya, tetapi itu akan menyakitkan. Dengan napas tertahan, ia menjepit duri itu dengan jari-jarinya dan menariknya kuat-kuat.Singa itu mengaum keras, suara yang menggema di seluruh hutan, tetapi tidak ada serangan balasan. Ia hanya menjilati lukanya yang mulai mengeluarkan darah segar. Androcles kemudian merobek sedikit kain dari bajunya yang sudah compang-camping dan dengan hati-hati membalut luka itu sebisanya.Setelah selesai, Androcles duduk lagi bersandar di pohon. Tubuhnya masih lelah, tetapi anehnya, ia merasa sedikit lebih tenang. Singa itu berbaring tidak jauh darinya, menjilati lukanya sesekali sambil mengawasi Androcles dengan mata yang kini tampak lebih lembut.Kelelahan akhirnya mengalahkan ketakutan Androcles. Ia terlelap di bawah pohon itu, ditemani oleh seekor singa di dekatnya.Persahabatan di Tengah HutanSaat matahari pagi mulai menyinari hutan, Androcles terbangun. Tubuhnya pegal, tetapi ia masih hidup. Ia menoleh dan melihat singa itu masih berbaring di tempat yang sama. Namun kali ini, di samping singa itu, tergeletak bangkai seekor rusa yang cukup besar.Androcles terkejut. Ia mendekati singa itu dengan hati-hati. Singa itu hanya mendengkur pelan, lalu mendorong bangkai rusa itu ke arah Androcles dengan hidungnya. Saat itulah Androcles mengerti: singa itu telah berburu untuknya. Ini adalah cara singa itu berterima kasih atas pertolongannya semalam.Androcles tersenyum. "Kau benar-benar makhluk yang luar biasa," bisiknya sambil mengelus kepala singa itu. Bulunya lembut di telapak tangannya. Singa itu menggeram pelan, terdengar seperti dengkuran kucing raksasa yang puas.Sejak hari itu, Androcles dan singa itu hidup bersama di hutan. Androcles belajar membuat api dari batu dan kayu kering. Ia memasak daging rusa itu dan berbagi dengan singanya. Mereka tidur berdekatan di malam hari, saling menghangatkan. Di siang hari, Androcles merawat luka singa itu hingga sembuh total, sementara singa itu kadang pergi berburu dan membawa pulang hasil buruannya untuk dimakan bersama.Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Androcles yang tadinya budak yang ketakutan kini hidup sebagai "penghuni hutan" dengan seekor singa sebagai sahabat karibnya. Ia tidak lagi merasa takut atau kesepian. Di matanya, singa itu bukan binatang buas, melainkan teman setia yang takkan pernah menyakitinya.Kembali ke Dunia ManusiaNamun kebahagiaan Androcles tidak bertahan selamanya. Suatu hari, saat Androcles sedang duduk di tepi sungai membersihkan diri, rombongan prajurit Romawi yang sedang berburu babi hutan melintas di dekat situ. Mereka melihat Androcles dari kejauhan."Hei! Ada orang di sana!" teriak salah satu prajurit.Androcles panik. Ia bangkit dan berlari, tetapi prajurit-prajurit yang menunggang kuda jauh lebih cepat. Dalam hitungan menit, Androcles sudah dikepung. Ia berteriak memanggil singa sahabatnya, tetapi singa itu sedang pergi jauh berburu.Prajurit-prajurit itu mengikat tangan Androcles dan menyeretnya kembali ke Roma. Singa itu, yang pulang dan mendapati sahabatnya hilang, hanya bisa mengaung pilu di tengah hutan.Androcles dibawa kembali ke hadapan tuannya, Senator Lucius. Lucius marah besar melihat budaknya yang kabur."Budak durhaka! Kau pikir kau bisa lari dari tuanku?" Lucius berteriak dengan wajah merah padam. "Kau akan kuhukum dengan cara paling kejam! Masukkan dia ke arena! Biar singa-singa yang menghabisinya!"Di Arena MautHari eksekusi tiba. Colosseum, arena raksasa di tengah kota Roma, dipenuhi ribuan penonton yang bersorak-sorai. Mereka datang untuk menyaksikan tontonan berdarah: manusia melawan binatang buas. Di kotak khusus, Senator Lucius duduk dengan sombongnya, menanti balas dendamnya.Androcles didorong masuk ke tengah arena. Pasir putih di bawah kakinya terasa panas. Di sekelilingnya, tembok tinggi menjulang, menghalangi semua jalan keluar. Ia hanya bisa pasrah. Di dadanya, ia berdoa kepada para dewa Yunani, memohon agar kematiannya cepat dan tidak terlalu menyakitkan.Gerbang besi di seberang arena mulai terangkat dengan suara berderit. Dari balik gerbang itu, terdengar auman yang menggema. Seekor singa besar melompat keluar.Penonton bersorak histeris. Mereka menanti pertumpahan darah.Namun Androcles tertegun. Singa itu... ia mengenali singa itu. Bulu cokelat keemasan yang lebat, mata yang hangat, dan cara ia berlari. Itu adalah singa sahabatnya!Singa itu juga berhenti sejenak. Ia menatap Androcles, lalu perlahan berjalan mendekat. Androcles berlari ke arahnya. Mereka bertemu di tengah arena, dan alih-alih menerkam, singa itu justru menjilati wajah Androcles dengan lidah kasarnya, mengibas-ngibaskan ekornya seperti anjing gembira.Seluruh Colosseum hening. Penonton yang sedetik tadi bersorak kini terpaku diam. Mereka tidak percaya dengan apa yang mereka saksikan. Singa buas itu tidak memakan manusia itu, ia justru bersikap jinak seperti anak kucing.Senator Lucius bangkit dari duduknya. Wajahnya campuran antara marah dan bingung. "Apa artinya ini?!" teriaknya.Kebenaran yang MengharukanLucius memerintahkan pengawalnya untuk membawa Androcles ke hadapannya. Dengan suara gemetar, ia bertanya, "Budak, katakan padaku! Bagaimana bisa singa itu tidak menyerangmu? Apa kau seorang penyihir?"Androcles menunduk sopan, lalu mulai bercerita. Ia menceritakan pelariannya ke hutan, pertemuannya dengan singa yang terluka, pertolongannya mencabut duri, dan persahabatan mereka selama berbulan-bulan di hutan. Air mata mengalir di pipinya saat bercerita, bukan karena takut, tetapi karena haru bertemu lagi dengan sahabat setianya."Ia bukan binatang buas, Tuanku," kata Androcles di akhir ceritanya. "Ia adalah sahabatku. Ia lebih setia dari kebanyakan manusia yang pernah kukenal. Ia tidak pernah menyakitiku, dan kini, bahkan di arena ini, ia memilih untuk menjilatiku daripada menerkammu."Seluruh arena sunyi. Banyak penonton, terutama para wanita, menangis mendengar kisah itu. Bahkan beberapa prajurit yang biasanya keras hati terlihat mengusap mata.Senator Lucius terdiam lama. Ia menatap Androcles, lalu menatap singa itu yang duduk tenang di samping tuannya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa malu. Malu karena selama ini ia memperlakukan budaknya seperti binatang, sementara binatang ini justru menunjukkan kesetiaan yang luar biasa."Androcles," panggil Lucius dengan suara yang berubah lembut. "Kau telah menunjukkan padaku arti kebaikan dan kesetiaan yang sejati. Kau bukan budak biasa. Kau manusia dengan hati mulia."Lucius berdiri dan mengumumkan di depan ribuan orang, "Dengan kekuasaan yang diberikan kepadaku sebagai senator Romawi, aku bebaskan Androcles dari status perbudakannya! Ia sekarang adalah warga negara merdeka! Dan sebagai hadiah atas pelajaran berharga yang ia berikan, aku berikan ia kebebasan penuh dan cukup emas untuk kembali ke tanah kelahirannya!"Sorak-sorai bergemuruh di seluruh Colosseum. Kali ini bukan sorak haus darah, tetapi sorak kebahagiaan dan kekaguman.Kembali ke YunaniAndrocles dan singa sahabatnya diizinkan meninggalkan arena bersama-sama. Mereka berjalan melewati kerumunan yang bersorak dan bertepuk tangan. Anak-anak kecil mendekat dengan takjub melihat singa yang jinak itu. Beberapa bahkan berani mengelus bulunya.Beberapa hari kemudian, Androcles bersiap untuk kembali ke Yunani, tanah kelahirannya yang telah lama ia rindukan. Sebuah kapal dagang setuju membawanya pulang, dan dengan sedikit negoisasi—serta bujukan emas—kapten kapal setuju untuk membawa serta singa itu.Saat kapal berlayar meninggalkan pelabuhan Roma, Androcles berdiri di geladak sambil memeluk leher singa sahabatnya. Angin laut berhembus lembut, matahari terbenam di ufuk barat. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Androcles merasa benar-benar bebas dan bahagia."Kau tahu, sahabatku," bisiknya pada singa itu. "Aku dulu berpikir bahwa kebebasan adalah ketika tidak ada yang memerintahku. Tapi sekarang aku tahu, kebebasan sejati adalah ketika kita memiliki teman setia yang selalu ada, apa pun yang terjadi."Singa itu menggeram pelan, seolah mengerti.Hidup Bahagia SelamanyaDi Yunani, Androcles menetap di sebuah desa kecil di pinggir pantai. Ia membangun rumah sederhana dengan kayu dan batu. Singa itu tinggal bersamanya, berkeliaran bebas di sekitar desa. Awalnya penduduk desa ketakutan, tetapi setelah melihat sendiri betapa jinaknya singa itu, mereka mulai terbiasa. Anak-anak bahkan sering bermain di dekat singa itu, yang dengan sabar membiarkan mereka menarik-narik ekornya.Androcles menjadi semacam legenda lokal. Orang-orang dari desa tetangga datang untuk melihat sendiri "manusia yang bersahabat dengan singa." Namun Androcles tidak pernah sombong. Ia selalu menceritakan kisahnya dengan rendah hati, menekankan bahwa kebaikan kecil yang ia lakukan pada singa yang terluka telah berbalas seribu kali lipat.Sampai akhir hayatnya, Androcles hidup dengan damai. Ketika ia meninggal di usia tua, singa itu dikabarkan tidak mau makan selama berhari-hari. Ia berbaring di samping makam Androcles, dan beberapa hari kemudian, ia pun ditemukan telah mati dengan tenang, seolah memilih untuk mengikuti sahabatnya ke alam baka.Penduduk desa memakamkan singa itu di samping makam Androcles, dan di atas kedua makam itu, mereka menanam pohon zaitun yang tumbuh besar dan rindang. Konon, hingga kini, jika angin berdesir di antara dedaunan pohon itu, orang-orang bisa mendengar suara seperti auman lembut bercampur tawa manusia—tawa dua sahabat sejati yang telah bersatu kembali di alam keabadian.

Pangeran Berhidung Besar
Folklore
16 Feb 2026

Pangeran Berhidung Besar

Dahulu kala, di sebuah kerajaan yang subur dan makmur bernama Kerajaan Aldovia, hiduplah seorang raja yang dikenal bijaksana namun juga memiliki satu kelemahan besar: ia terlalu suka bercanda, bahkan kadang melewati batas. Raja Aldovian, yang bernama Raja Leon, adalah pemimpin yang dicintai rakyatnya karena keadilannya, tetapi di balik itu ia sering melontarkan lelucon yang melukai perasaan orang lain tanpa ia sadari.Suatu hari, saat mengadakan jamuan makan besar di istana untuk merayakan panen raya, Raja Leon duduk di singgasana dikelilingi para bangsawan dan tamu kehormatan. Di antara para tamu itu, hadir seorang penyihir tua bernama Magda. Magda dikenal sebagai penyihir yang sakti tetapi juga sangat sensitif. Ia telah membantu kerajaan berkali-kali dengan ramuan dan mantranya, namun fisiknya sering menjadi bahan ejekan karena hidungnya yang memang besar dan bengkok.Di tengah jamuan yang meriah, Raja Leon yang mulai dipengaruhi anggur melontarkan candaan. "Lihatlah hidung penyihir Magda! Hidungnya sebesar belalai gajah! Mungkin dengan hidung sebesar itu ia bisa mencium bau musuh dari seberang lautan!" Para bangsawan tertawa terbahak-bahak, mengikuti candaan raja.Magda yang mendengar itu langsung bangkit dari tempat duduknya. Wajahnya merah padam menahan amarah. Dengan mata menyala-nyala, ia menunjuk ke arah Raja Leon dan mengucapkan kutukan dengan suara yang menggema di seluruh ruangan."Raja Leon! Karena kau telah menghina fisikku di depan seluruh kerajaan, aku kutuk kau dan keturunanmu! Suatu saat, kau akan memiliki anak yang berhidung besar, lebih besar dari hidungku! Dan hidung itu tidak akan pernah mengecil kecuali anakmu dengan jujur mengakui keanehannya sendiri!"Semua orang di ruangan itu terdiam membeku. Sebelum Raja Leon sempat berkata apa-apa, Magda menghilang dalam kepulan asap ungu, meninggalkan suasana canggung yang mencekik. Raja Leon hanya bisa tertunduk, menyadari bahwa candaannya telah membawa petaka.Kelahiran Pangeran Berhidung BesarBeberapa bulan kemudian, tepat seperti kutukan Magda, Ratu Elara melahirkan seorang bayi laki-laki yang tampan, sehat, dan sempurna—kecuali satu hal. Bayi itu memiliki hidung yang sangat besar, jauh lebih besar dari hidung bayi normal. Bahkan bidan yang membantu persalinan terkejut melihatnya.Raja Leon memeluk bayinya dengan perasaan campur aduk: cinta, penyesalan, dan tekad. Ia tidak akan membiarkan kutukan penyihir itu menghancurkan masa kecil putranya. Maka, ia memanggil para penasihat dan pembantu istana."Dengarkan perintahku," kata Raja Leon dengan tegas. "Mulai hari ini, kalian semua akan mengajarkan kepada Pangeran Andre bahwa hidung besar adalah hidung yang normal, indah, dan ideal. Sebaliknya, hidung kecil adalah hidung yang aneh, tidak normal, dan jelek. Tidak boleh ada satu pun orang di istana ini yang mengatakan sebaliknya. Pangeran Andre harus tumbuh dengan keyakinan itu."Para pembantu dan penasihat saling pandang, tetapi mereka menurut. Mulai hari itu, Pangeran Andre dibesarkan dalam lingkungan yang sepenuhnya membalikkan realitas. Setiap kali ia bertanya tentang hidungnya, para pembantu akan berkata, "Hidung Anda sangat indah, Pangeran. Hidung besar adalah tanda kebangsawanan, kekuatan, dan ketampanan. Orang-orang dengan hidung kecillah yang patut dikasihani."Pangeran Andre tumbuh menjadi pemuda yang ceria, percaya diri, dan tampan—setidaknya di matanya sendiri. Ia tidak pernah merasa aneh dengan hidung besarnya karena ia tidak pernah tahu ada ukuran hidung lain yang dianggap normal. Dalam pikirannya, hidung besar adalah standar kecantikan, sementara hidung kecil adalah kelainan.Perjalanan Menuju LamaranTahun-tahun berlalu. Pangeran Andre kini telah berusia dua puluh tahun, seorang pemuda gagah dengan hidung yang semakin besar seiring pertumbuhannya. Raja Leon memutuskan sudah waktunya putranya menikah. Ia memilih Putri Rosebud dari Kerajaan Tetangga, Floravia, seorang putri yang terkenal karena kecantikan dan kebaikan hatinya."Anakku, kau akan pergi ke Istana Floravia untuk melamar Putri Rosebud. Bawalah rombongan terbaik dan hadiah-hadiah termewah. Tunjukkan siapa dirimu," perintah Raja Leon.Pangeran Andre berangkat dengan rombongan besar. Ia didampingi oleh beberapa pembantu setia, termasuk kepala pelayan istana yang bernama Jafar—orang yang paling setia menjalankan perintah raja untuk selalu meyakinkan Andre tentang kenormalan hidungnya.Di sepanjang jalan menuju Floravia, rombongan melewati desa-desa dan kota-kota kecil. Di setiap tempat yang mereka lewati, penduduk berhenti dan menatap Pangeran Andre dengan pandangan aneh. Beberapa tersenyum kecil, beberapa berbisik-bisik, beberapa bahkan terbahak-bahak tetapi segera menutup mulut mereka. Pangeran Andre yang melihat reaksi-reaksi itu mulai kebingungan."Jafar, mengapa orang-orang itu tersenyum dan berbisik ketika melihatku?" tanya Andre polos.Jafar yang sudah siap dengan jawabannya segera berkata, "Oh, Yang Mulia, mereka pasti iri melihat hidung Anda yang begitu agung. Lihatlah hidung mereka yang kecil dan pesek—sungguh tidak normal dan memprihatinkan. Wajar jika mereka iri dan berbisik mengagumi Anda."Andre mengangguk-angguk, menerima penjelasan itu. Namun di dalam hatinya, ada sedikit ganjalan. Mengapa orang yang iri tersenyum seperti mengejek? Mengapa tidak ada satu pun yang datang memuji secara langsung?Kedatangan di Istana FloraviaAkhirnya, setelah perjalanan berhari-hari, rombongan Pangeran Andre tiba di Istana Floravia. Istana itu megah dengan menara-menara putih menjulang dan taman-taman yang dipenuhi bunga mawar merah. Pangeran Andre disambut dengan upacara kebesaran, tetapi saat ia melangkah masuk ke ruang singgasana, suasana berubah.Raja Floravia, Raja Gustav, dan para pembesar istana yang berkumpul di ruangan itu melihat Pangeran Andre. Untuk sesaat, hening. Lalu, satu per satu, mereka mulai tersenyum. Beberapa menutup mulut dengan tangan. Yang lainnya terbatuk-batuk menahan tawa. Akhirnya, seorang bangsawan muda tidak kuasa menahan tawanya dan terbahak-bahak, diikuti yang lainnya. Ruangan singgasana dipenuhi tawa yang berusaha disembunyikan tetapi gagal.Pangeran Andre berdiri di tengah ruangan dengan perasaan sangat aneh. Ia melihat ke arah Jafar yang hanya bisa menunduk. Kemudian ia melihat ke arah raja dan para bangsawan yang tertawa. Hidung mereka kecil, sangat kecil dibandingkan hidungnya. Tapi mengapa mereka yang berhidung kecil menertawakannya? Bukankah seharusnya sebaliknya?"Selamat datang, Pangeran Andre," sapa Raja Gustav akhirnya setelah meredakan tawanya. "Silakan duduk. Kita akan segera memulai perjamuan."Pangeran Andre duduk dengan perasaan tidak nyaman. Sepanjang perjamuan, ia merasa semua mata tertuju padanya, terutama pada hidungnya. Para pelayan yang membawa makanan juga tidak bisa menyembunyikan senyum mereka. Andre mulai sadar bahwa ada sesuatu yang tidak beres, tetapi ia masih berpegang pada apa yang selama ini diajarkan di istananya.Saat Kebenaran TerungkapSetelah perjamuan, Pangeran Andre dipertemukan dengan Putri Rosebud di taman istana. Saat pertama kali melihat putri itu, Andre terpesona. Rosebud begitu cantik dengan rambut panjang keemasan dan mata biru sebening danau. Senyumnya lembut, meskipun ada sedikit kebingungan di matanya saat melihat hidung Andre."Selamat datang, Pangeran Andre. Aku senang akhirnya bisa bertemu denganmu," sapa Rosebud dengan sopan.Andre membalas salam dan kemudian, mengikuti protokol kerajaan, ia hendak mencium tangan sang putri sebagai tanda hormat. Ia membungkuk, mengulurkan tangannya untuk meraih tangan Rosebud, tetapi... hidungnya yang besar menghalangi. Ia mencoba memiringkan kepala ke kiri, tetap tidak bisa. Ke kanan, juga tidak bisa. Ia mencoba menjulurkan leher, tetapi hidungnya seperti tembok yang tak bisa ditembus. Beberapa kali ia mencoba dengan berbagai sudut, namun selalu gagal. Rosebud menutup mulutnya menahan tawa, sementara para dayang yang menemani sudah tidak kuasa menahan geli.Pangeran Andre berhenti. Ia menegakkan badannya dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia melihat dirinya sendiri dari sudut pandang orang lain. Ia melihat betapa sulitnya melakukan hal sederhana seperti mencium tangan karena hidungnya sendiri. Ia melihat tawa orang-orang di sekitarnya, tawa yang tidak mungkin palsu. Ia mendengar bisik-bisik para dayang, "Kasihan sekali, hidungnya sebesar itu."Dan pada saat itu, seperti petir di siang bolong, kesadaran menghantamnya."Ah... rupanya hidungkulah yang tidak normal," gumamnya pelan, hampir tidak terdengar.Seketika itu juga, keajaiban terjadi. Hidung besar Pangeran Andre perlahan mengecil, menyusut, hingga akhirnya menjadi hidung yang proporsional dan normal seperti orang kebanyakan. Semua orang di taman itu terkesima, tidak percaya dengan apa yang mereka saksikan.Pangeran Andre meraba hidungnya dengan kedua tangan. Hidungnya kini kecil, halus, dan tidak menghalangi apa pun. Air mata haru menggenang di matanya. Selama ini ia hidup dalam kebohongan, dan kebenaran telah membebaskannya—secara harfiah.Dari balik semak-semak taman, sosok penyihir Magda muncul dengan senyum puas. "Akhirnya kau jujur pada dirimu sendiri, Pangeran. Kutukanku tidak akan pernah hilang selama kau terus membohongi diri dengan berpikir bahwa hidung besarmu normal. Kejujuran, bahkan pada hal yang pahit sekalipun, adalah kunci kebebasan."Magda kemudian menghilang, meninggalkan taman yang sunyi tetapi penuh keajaiban.Akhir yang BahagiaPutri Rosebud yang sejak tadi terpana, akhirnya tersenyum lebar. Ia berjalan mendekati Andre dan mengulurkan tangannya. Kali ini, tanpa halangan apa pun, Andre mencium tangan Rosebud dengan lembut. Semua orang bertepuk tangan.Raja Gustav yang mendapat laporan tentang kejadian itu segera datang ke taman. Ia memeluk Andre dan berkata, "Anak muda, kau telah membuktikan bahwa kau bukan hanya pangeran tampan, tetapi juga pribadi yang jujur dan rendah hati. Itu lebih berharga daripada bentuk hidung mana pun."Pernikahan Pangeran Andre dan Putri Rosebud dilangsungkan sebulan kemudian dengan kemeriahan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kedua kerajaan bersatu dalam ikatan persahabatan dan cinta. Andre dan Rosebud hidup bahagia selamanya, dikaruniai anak-anak yang cantik dan tampan dengan hidung yang normal.Raja Leon, ayah Andre, datang ke pernikahan itu dengan perasaan bersalah. Ia memeluk putranya erat dan berbisik, "Maafkan Ayah, Nak. Ayah hanya ingin melindungimu, tetapi justru menjebakmu dalam kebohongan. Syukurlah kau menemukan kebenaran sendiri."Andre menjawab dengan bijaksana, "Ayah, perlindungan Ayah adalah bentuk cinta. Tapi kadang cinta sejati adalah membiarkan seseorang melihat kenyataan, bukan menciptakan ilusi. Aku memaafkan Ayah, dan aku bersyukur karena semua ini membuatku mengerti arti kejujuran."Pesan MoralKisah Pangeran Andre mengajarkan kita bahwa kejujuran, terutama kejujuran pada diri sendiri, adalah kunci kebahagiaan dan kebebasan. Berlindung di balik kebohongan, meskipun dimaksudkan untuk melindungi, hanya akan menjauhkan kita dari realitas dan membuat kita sulit berkembang. Ketika kita dengan rendah hati mengakui kekurangan atau keanehan diri kita sendiri, di situlah kita menemukan kedamaian sejati.Selain itu, cerita ini juga mengingatkan kita untuk berhati-hati dalam berkata-kata, karena kata-kata yang menyakiti orang lain dapat berakibat panjang, bahkan melintasi generasi. Namun di atas segalanya, cinta dan kejujuran selalu dapat memperbaiki kesalahan masa lalu dan membawa kita menuju masa depan yang lebih cerah.

Nilai Sebuah Kehormatan
Folklore
16 Feb 2026

Nilai Sebuah Kehormatan

Pada suatu ketika, di negeri Arab yang luas dengan padang pasir membentang dan langit yang selalu cerah, hiduplah seorang saudagar kaya raya bernama Hashim. Ia dikenal bukan hanya karena kekayaannya yang melimpah, tetapi juga karena kebijaksanaan dan kejujurannya dalam berdagang. Setiap bulan, Hashim selalu pergi ke pasar besar di kota tetangga untuk berbisnis, membawa kafilah unta yang sarat dengan muatan rempah-rempah, kain sutra, dan permata berharga.Suatu pagi yang cerah, saat mentari baru saja muncul dari ufuk timur, Hashim bersiap untuk perjalanan dagangnya yang rutin. Namun kali ini berbeda. Putra semata wayangnya, seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun bernama Karim, memohon dengan sangat untuk ikut serta."Ayah, aku sudah besar. Aku ingin belajar berdagang seperti Ayah. Bolehkah aku ikut?" pinta Karim dengan mata berbinar penuh harap.Hashim menatap putranya dengan bangga. Karim memang anak yang cerdas dan pemberani. Meskipun sang istri sempat khawatit, Hashim akhirnya mengizinkan. "Baiklah, Nak. Tapi kau harus selalu dekat dengan Ayah. Pasar sangat ramai dan kau bisa tersesat."Karim melompat gembira dan segera bersiap. Tak lama kemudian, berangkatlah mereka berdua menuju pasar, ditemani beberapa kafilah dan pembantu.Hilang di Keramaian PasarPasar di kota itu memang luar biasa ramainya. Ribuan orang lalu-lalang di antara lapak-lapak pedagang yang menjajakan berbagai macam barang. Suara tawar-menawar bercampur dengan ringkik keledai, lenguh unta, dan teriakan anak-anak kecil yang bermain di sela-sela keramaian. Karim yang pertama kali merasakan suasana pasar sebesar itu terkesima. Matanya tak henti-hentinya memandangi ke sana ke mari, melihat barang-barang yang belum pernah ia lihat sebelumnya."Ayah, lihat! Ada pedagang karpet terbang! Itu benar-benar bisa terbang?" tanya Karim setengah bercanda sambil menunjuk seorang pedagang yang menjajakan karpet-karpet indah.Hashim tertawa. "Itu hanya dongeng, Nak. Tapi karpet-karpet itu memang buatan tangan terbaik dari negeri Persia."Sayangnya, saat Hashim sedang asyik menawar rempah-rempah dengan seorang pedagang tua, Karim melihat seekor kucing kecil yang lucu berlari di antara kerumunan. Tanpa berpikir panjang, Karim mengejar kucing itu, menerobos sela-sela orang dewasa yang berdesakan. Beberapa saat kemudian, ketika ia sadar, ayahnya sudah tidak ada di mana-mana. Yang ada hanyalah lautan wajah asing yang lalu-lalang tanpa mengenalnya."Ayah! Ayah!" teriak Karim panik. Namun suaranya tenggelam dalam hiruk-pikuk pasar.Seorang pria berjubah hitam dengan sorban yang menutupi hampir seluruh wajahnya melihat Karim yang kebingungan. Dengan pura-pura ramah, ia mendekati Karim."Nak, kau tersesat? Mari, paman antar mencari ayahmu," katanya dengan suara lembut tetapi matanya menyipit licik.Karim yang masih polos dan ketakutan langsung percaya. Ia mengulurkan tangannya, dan pria itu menggenggamnya erat. Namun bukannya membawanya ke tempat yang aman, pria itu justru menyeret Karim ke gang sempit di belakang pasar, lalu dengan paksa membawanya pergi ke sebuah rumah tua di pinggir kota. Karim baru sadar bahwa ia telah diculik.Strategi Sang SaudagarHashim yang baru selesai bertransaksi dan berbalik untuk berbicara dengan Karim, terkejut bukan main karena putranya tidak ada di sampingnya. Ia segera mencari ke sana kemari, bertanya kepada setiap pedagang, tetapi tak seorang pun melihat Karim. Jantung Hashim berdegup kencang. Ia seorang saudagar kaya, dan ia tahu bahwa orang kaya sering menjadi target kejahatan. Pikiran terburuk langsung menghampirinya: penculikan.Dengan sigap, Hashim mengumpulkan beberapa orang kepercayaannya. "Cari informasi diam-diam. Tanyakan kepada para pedagang apakah ada yang melihat anak kecil dibawa paksa atau mencurigakan. Sementara itu, aku akan menyiapkan uang tebusan."Tak butuh waktu lama bagi Hashim untuk memastikan bahwa Karim memang diculik. Seorang pengemis tua yang duduk di dekat gang buntu melihat seorang pria berjubah hitam membawa anak kecil yang meronta-ronta. Hashim menghela napas lega sekaligus cemas. Lega karena anaknya masih hidup, cemas karena tidak tahu kondisi Karim.Hashim memanggil seorang pembantunya yang setia, seorang pemuda bernama Zayd. "Zayd, kau akan pergi ke pasar dan lakukan persis seperti yang aku perintahkan. Jangan kurang dan jangan lebih."Keesokan harinya, Zayd pergi ke pasar. Ia berdiri di tengah keramaian, tepat di tempat yang paling sering dilalui orang. Dengan suara lantang, ia berteriak, "Dengarkan! Bagi penculik anak saudagar Hashim, ketahuilah! Seribu dinar telah disiapkan sebagai uang tebusan! Seribu dinar! Ambillah uang itu dan kembalikan anak itu dengan selamat!"Orang-orang pasar terkejut dan mulai bergunjing. "Wah, saudagar Hashim benar-benar kaya raya. Seribu dinar tebusan untuk anaknya!" bisik mereka.Di rumah tua tempat Karim ditahan, penculik yang bernama Jabir itu mendengar berita dari kaki tangannya yang ada di pasar. Ia tersenyum puas. Mulutnya melebar membayangkan tumpukan emas seribu dinar."Bagus. Tapi tunggu dulu," pikirnya serakah. "Saudagar itu pasti sangat menyayangi anaknya. Mungkin ia akan menambah tebusan jika aku tunggu sehari lagi. Siapa tahu jadi dua ribu dinar?"Jabir memutuskan untuk diam dan menunggu.Esok harinya, Zayd kembali ke pasar. Kali ini, ia berteriak dengan suara tak kalah lantang, "Dengarkan! Bagi penculik anak saudagar Hashim! Lima ratus dinar telah disiapkan sebagai uang tebusan! Lima ratus dinar!"Orang-orang pasar terperanjat. "Apa? Kok malah turun? Kemarin seribu, sekarang lima ratus? Aneh sekali saudagar itu!"Kabar itu sampai ke telinga Jabir. Ia terkejut setengah mati. "Apa? Lima ratus? Kok malah turun?" pikirnya geram. Namun keserakahannya masih berbicara. "Mungkin ini strategi. Mungkin besok dia naikkan lagi. Aku tunggu sehari lagi."Hari ketiga pun tiba. Zayd kembali ke pasar dengan setia menjalankan perintah majikannya. Kali ini teriakannya mengagetkan semua orang yang mendengar."Dengarkan! Bagi penculik anak saudagar Hashim! Seratus dinar telah disiapkan sebagai uang tebusan! Seratus dinar!"Orang-orang pasar tertawa, ada yang menggeleng-geleng heran. "Saudagar Hashim ini gila atau bagaimana? Masa tebusan anak sendiri malah diturunkan jadi seratus dinar?"Namun Jabir yang mendengar kabar ini langsung pucat pasi. Ia tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Seratus dinar lebih baik daripada tidak sama sekali, pikirnya. Jika ia tunggu lagi, bisa jadi besok saudagar itu hanya menebus sepuluh dinar, atau bahkan tidak sama sekali. Dengan perasaan kesal dan kecewa, ia segera membawa Karim ke tempat yang sudah disepakati.Pertemuan yang MenegangkanHashim menerima kepulangan Karim dengan suka cita. Ia memeluk putranya erat-erat, meneteskan air mata haru. Karim juga menangis di pelukan ayahnya. Namun di balik kebahagiaan itu, ada satu sosok yang masih berdiri dengan perasaan campur aduk: Jabir, sang penculik. Ia tidak bisa menerima kenyataan bahwa tebusan yang ia terima hanya seratus dinar, padahal di hari pertama ia bisa mendapat seribu."Tuan Hashim," panggil Jabir dengan nada setengah menuntut. "Sebelum aku pergi, aku ingin bertanya sesuatu. Aku sangat penasaran. Mengapa tuan justru menurunkan jumlah tebusan setiap harinya? Bukankah seharusnya tuan menaikkannya karena cemas anak tuan dalam bahaya? Atau jangan-jangan tuan tidak benar-benar menyayangi anak tuan?"Hashim menatap penculik itu dengan sorot mata tajam namun tenang. Ia tersenyum kecil, senyum yang membuat Jabir merinding. Hashim tidak menjawab langsung. Sebaliknya, ia mengajukan pertanyaan lebih dulu."Katakan padaku, penculik. Pada hari pertama anakku bersamamu, apakah ia mau makan makanan yang kau berikan?"Jabir mengerutkan kening, sedikit heran dengan pertanyaan itu. "Tidak. Ia menolak. Ia memalingkan muka dan tidak mau menyentuh makanan sama sekali."Hashim mengangguk, seolah sudah menduga. "Lalu hari kedua? Apakah ia masih menolak?"Jabir berpikir sejenak. "Hari kedua... ia mulai terlihat lapar. Tatapannya kosong ke arah makanan, dan akhirnya ia mengambil roti yang kusediakan. Ia makan, meskipun dengan ragu-ragu.""Dan hari ketiga?" tanya Hashim lagi.Jabir menghela napas, mulai mengerti arah pembicaraan ini. "Hari ketiga... ia meminta makanan sendiri. Ia bilang, 'Paman, aku lapar. Beri aku makan.'"Hashim mengangguk pelan, matanya berkaca-kaca tetapi juga bersinar bangga. Lalu ia berkata dengan suara tegas namun penuh hikmah:"Dengarkan baik-baik, penculik. Aku tidak menebus anakku, aku menilai kehormatannya.Pada hari pertama, anakku menolak makan dari orang yang menculiknya, dari musuhnya. Itu artinya ia masih memegang teguh harga diri, ia masih tahu siapa dirinya. Ia lebih memilih lapar daripada menerima belas kasihan orang yang menyakitinya. Itulah kehormatan sejati. Maka, pada hari itu aku menilai ia pantas ditebus seribu dinar.Pada hari kedua, rasa lapar mulai mengalahkan harga dirinya. Ia menerima makanan dari penculiknya. Ia mulai berkompromi dengan situasi. Ia mungkin berpikir, 'Ah, sekali-sekali tidak apa-apa, aku sangat lapar.' Kehormatannya mulai luntur. Maka, pada hari itu aku hanya menilai ia pantas ditebus lima ratus dinar.Pada hari ketiga, ia justru meminta makanan. Ia merendahkan diri di hadapan orang yang menyakitinya. Ia sudah tidak punya malu, tidak punya kehormatan lagi. Jika ia rela meminta-minta kepada musuhnya, maka ia pantas ditebus hanya seratus dinar."Jabir terpaku mendengar penjelasan itu. Dadanya sesak, bukan karena marah, tetapi karena malu. Ia baru menyadari bahwa selama ini ia hanya melihat anak itu sebagai komoditas, sebagai alat untuk mendapatkan uang. Namun di mata ayahnya, anak itu adalah cerminan nilai-nilai luhur yang diajarkan sejak kecil.Hashim melanjutkan, "Uang seribu, lima ratus, atau seratus itu sebenarnya bukan untukmu. Itu untukku sendiri, untuk mengukur seberapa besar nilai kehormatan anakku di mataku. Dan ternyata benar dugaanku. Hari pertama ia bertahan, hari kedua ia mulai goyah, hari ketiga ia jatuh. Syukurlah kau mengembalikannya di hari ketiga, karena jika sampai hari keempat, mungkin aku hanya akan menebusnya dengan segenggam kurma."Jabir tertunduk malu. Ia tidak bisa berkata-kata. Perlahan, ia meletakkan uang seratus dinar itu di atas meja."Aku tidak pantas menerima uang ini, Tuan. Ambil kembali. Aku sudah belajar sesuatu yang lebih berharga dari seribu dinar hari ini. Maafkan aku."Namun Hashim mengangkat tangannya. "Tidak. Uang itu untukmu. Seperti yang kukatakan, itu adalah tebusan untuk anakku yang sudah kehilangan kehormatan di hari ketiga. Tapi ingatlah, penculik. Ada pelajaran yang bisa kau petik dari sini. Seperti anakku yang belajar tentang harga diri di saat sulit, kau juga bisa belajar bahwa keserakahan hanya akan membawamu pada kerugian. Jika kau menerima tebusan di hari pertama, kau akan mendapat seribu dinar dan pergi dengan puas. Karena keserakahanmu, kau hanya mendapat seratus."Jabir menghela napas panjang. Ia mengambil uang itu dengan tangan gemetar, lalu berbalik dan pergi meninggalkan rumah saudagar. Langkahnya gontai, pikirannya penuh dengan penyesalan. Namun di sudut hatinya, ada secercah cahaya baru. Mungkin, pikirnya, inilah saatnya ia berhenti menjadi penculik dan memulai hidup baru yang lebih terhormat.Pelajaran BerhargaSetelah kejadian itu, Hashim mengajari Karim tentang arti kehormatan yang sesungguhnya. Bukan hanya dalam situasi sulit seperti penculikan, tetapi dalam kehidupan sehari-hari."Anakku," kata Hashim suatu malam sambil duduk di samping Karim yang sedang menatap bintang-bintang. "Kehormatan adalah sesuatu yang mudah hilang tetapi sulit didapatkan kembali. Ia seperti vas kristal yang indah. Begitu jatuh dan pecah, meskipun kau rekatkan kembali, retak-retaknya akan tetap terlihat. Maka jagalah selalu kehormatanmu, dalam keadaan lapar maupun kenyang, dalam keadaan sulit maupun senang."Karim mengangguk dengan mata berbinar. "Aku mengerti, Ayah. Mulai sekarang, aku akan selalu ingat bahwa meminta-minta kepada musuh adalah kehinaan. Lebih baik sabar dan bertahan, karena Allah pasti akan memberi jalan keluar."Hashim tersenyum bangga. Ia memeluk putranya erat. Di kejauhan, bintang-bintang berkelip seolah menyetujui kata-kata bijak yang baru saja diucapkan.Sejak saat itu, hubungan ayah dan anak itu semakin erat. Karim tumbuh menjadi pemuda yang tidak hanya cerdas dalam berdagang, tetapi juga teguh memegang prinsip dan kehormatan. Dan cerita tentang tebusan yang menurun ini pun menyebar ke seluruh penjuru negeri, menjadi pelajaran berharga bagi siapa pun yang mendengarnya: bahwa kehormatan manusia tidak bisa diukur dengan uang, dan bahwa kesabaran serta prinsip yang teguh pada akhirnya akan membawa kemenangan, meskipun harus melalui ujian yang berat terlebih dahulu.

Ito dan Laba-laba
Folklore
16 Feb 2026

Ito dan Laba-laba

Pada zaman dahulu kala, di sebuah desa kecil yang tersembunyi di antara perbukitan hijau dan hamparan sawah yang menghijau, hiduplah seorang petani bernama Ito. Ia adalah seorang lelaki paruh baya yang hidup sederhana seorang diri di sebuah gubuk bambu di pinggir desa. Kesehariannya dihabiskan dengan membajak sawah, menanam padi, dan kadang-kadang pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar. Meskipun hidupnya pas-pasan, Ito dikenal sebagai pria yang baik hati dan tidak pernah tega melihat makhluk lain dalam kesusahan.Suatu hari, saat sedang membersihkan rumput liar di pinggir ladangnya, Ito mendengar suara gemerisik yang tidak biasa dari semak-semak terdekat. Ia menghentikan pekerjaannya dan mengendap-endap mendekati sumber suara. Di sela-sela dedaunan, ia menyaksikan pemandangan yang membuat jantungnya berdegup kencang. Seekor ular berbisa dengan sisik hijau gelap dan mata yang tajam sedang melingkar di ranting, siap menerkam. Dan di hadapan ular itu, di atas sehelai daun, seekor laba-laba kecil berwarna keemasan tengah terpaku ketakutan. Laba-laba itu mencoba bergerak mundur, tetapi kakinya yang mungil tak mampu berlari lebih cepat dari ancaman maut di depannya.Tanpa berpikir panjang, Ito mengangkat parang yang selalu ia bawa ke ladang. Dengan sekuat tenaga, ia memukul-mukulkan parangnya ke batang pohon sambil berteriak nyaring."Hus! Pergi kau, ular jahat! Jangan kau sakiti makhluk kecil itu!"Suara bising dan kilatan parang di bawah sinar matahari membuat ular itu terkejut. Dengan desisan marah, ular itu akhirnya mengendurkan lilitannya dan merayap pergi menjauh, menghilang ke dalam semak-semak yang lebih dalam. Ito menghela napas lega. Ia menunduk dan melihat laba-laba kecil itu masih gemetar di atas daun, seolah belum percaya bahwa nyawanya baru saja terselamatkan."Sudah, sudah. Tenanglah, kau sudah aman sekarang," gumam Ito dengan suara lembut.Yang mengejutkan, laba-laba itu seolah mengerti perkataannya. Ia berdiri diam di atas daun, menggerakkan kedua kaki depannya seolah sedang membungkukkan badan, memberi hormat dan berterima kasih. Beberapa detik kemudian, laba-laba itu melompat ringan dan menghilang di balik rerumputan hijau. Ito hanya tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya, menganggap kejadian itu sebagai pertemuan kecil yang tak akan berarti banyak.Hari-hari berlalu seperti biasa. Ito terus bekerja di ladang dari pagi hingga petang, pulang ke gubuknya yang sunyi, memasak makanan sederhana, lalu tidur untuk kembali bekerja esok hari. Namun ada satu hal yang mulai mengusik pikirannya akhir-akhir ini: pakaiannya yang mulai usang. Kimono katun yang ia pakai setiap hari sudah penuh tambalan dan warnanya memudar. Ia sebenarnya ingin memesan kain baru dari penenun desa, tetapi ongkosnya mahal dan Ito tidak punya cukup uang. Ia juga tidak pandai menenun, pekerjaan yang biasanya dilakukan para wanita di desa.Suatu pagi yang cerah, tidak lama setelah kejadian penyelamatan laba-laba, Ito sedang duduk di beranda rumahnya sambil menikmati secangkir teh hangat. Matahari baru saja naik di ufuk timur, menyinari embun di dedaunan. Tiba-tiba, ia mendengar suara kecil yang memanggil-manggil namanya dari luar pagar bambu."Tuan Ito... Tuan Ito..."Suara itu lembut bagaikan aliran sungai di musim semi, merdu dan menenangkan. Ito menaruh cangkir tehnya, bangkit, dan berjalan menuju pintu. Saat membuka pintu kayu yang sedikit berderit, matanya membelalak tak percaya.Di halaman rumahnya, berdiri seorang gadis dengan kecantikan yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Gadis itu mengenakan kimono sederhana berwarna krem dengan motif bunga-bunga kecil yang tampak seperti ditenun dari cahaya bulan. Rambutnya hitam legam terurai lembut hingga ke pinggang, dihiasi jepit bambu sederhana. Wajahnya putih bersih dengan mata yang bulat dan bersinar, seperti dua buah batu giok yang jernih. Ada senyum tipis mengembang di bibirnya yang kemerahan.Ito tertegun sejenak, hampir tidak percaya bahwa seorang gadis secantik itu berdiri di depan gubuk reotnya."Maaf mengganggu pagimu, Tuan Ito," ucap gadis itu dengan suara merdunya. "Aku dengar dari orang-orang di desa bahwa engkau sedang mencari seseorang untuk menenunkan baju dan kain untukmu."Ito mengangguk perlahan, masih setengah terpana. "Be-benar. Aku memang membutuhkan kain baru. Punyaku sudah usang semua."Gadis itu tersenyum lebih lebar. "Kalau begitu, bolehkah aku tinggal di rumahmu dan menenun untukmu? Aku bisa menenun. Aku berjanji akan bekerja dengan baik."Kebahagiaan meluap di hati Ito. Selama ini ia tinggal sendirian, dan kehadiran seseorang—apalagi seorang gadis yang menawarkan bantuan yang sangat ia butuhkan—terasa seperti jawaban atas doa-doanya yang tak pernah ia ucapkan."Tentu! Tentu saja boleh!" seru Ito dengan wajah berseri. "Mari, masuklah. Aku akan menunjukkan ruang tenunnya."Ito membawa gadis itu masuk ke bagian belakang rumah, di mana terdapat sebuah ruangan kecil berdebu yang sudah lama tidak digunakan. Di sudut ruangan, berdiri sebuah alat tenun kayu tua warisan mendiang ibunya. Ito membersihkannya sesekali, tetapi sudah bertahun-tahun tidak dipakai."Maafkan keadaan ruangan ini. Sudah lama tidak diurus," kata Ito sedikit malu.Gadis itu menggeleng lembut. "Tidak apa-apa, Tuan. Ini sempurna. Aku akan membersihkannya dan mulai bekerja."Ito mengangguk dan meninggalkan gadis itu di ruang tenun. Ia kembali ke ladangnya, namun pikirannya tidak bisa lepas dari kehadiran sang tamu misterius. Siapa sebenarnya gadis itu? Dari mana asalnya? Namun ia memilih untuk tidak bertanya lebih jauh, bersyukur atas bantuan yang datang.Sore harinya, saat matahari mulai condong ke barat dan langit berwarna jingga keemasan, Ito pulang dari ladang dengan langkah lelah. Begitu membuka pintu, ia mencium aroma teh hangat dan makanan sederhana yang tersaji di atas meja. Namun perhatiannya segera beralih ke suara berirama dari ruang belakang: tek… tek… tek… suara alat tenun bekerja.Ito berjalan mendekati ruang tenun dan membuka pintu sedikit. Apa yang dilihatnya membuatnya terkesima. Di dalam ruangan yang pagi tadi masih berdebu dan berantakan, kini tergantung delapan lembar kain kimono yang indah. Kain-kain itu berwarna-warni: ada yang biru seperti langit sore, hijau seperti dedaunan, merah seperti bunga sakura, dan krem seperti bulir padi. Motifnya rumit dan halus, seolah ditenun oleh peri.Gadis itu sedang duduk di depan alat tenun, namun ia segera berdiri ketika melihat Ito. Wajahnya sedikit berkeringat, tetapi tersenyum ramah."Selamat sore, Tuan Ito. Bagaimana menurutmu?" tanyanya sambil menunjuk kain-kain yang tergantung.Ito melangkah masuk dengan mata masih terbelalak. Ia mengelus salah satu kain dengan tangannya yang kasar dan kapalan. Kain itu begitu halus, lebih halus dari kain apa pun yang pernah ia lihat di pasar desa."Bagaimana... bagaimana bisa engkau menenun sebanyak ini hanya dalam waktu setengah hari?" tanya Ito tidak percaya. "Delapan kain dalam waktu singkat? Ini seperti... sulap!"Bukannya menjawab pertanyaan dengan penjelasan, gadis itu justru memasang wajah serius. Matanya yang lembut tiba-tiba berubah tajam, namun tetap tenang. Ia menatap Ito dalam-dalam."Tuan Ito, aku mohon. Jangan pernah menanyakan hal itu kepadaku," ucapnya pelan tapi tegas. "Dan yang terpenting, jangan pernah masuk ke ruang tenun ini saat aku sedang bekerja menenun. Apakah Tuan mengerti?"Ito mengerjapkan mata, sedikit terkejut dengan permintaan aneh itu. Namun ia mengangguk patuh. "Baiklah, aku mengerti. Aku tidak akan bertanya dan tidak akan masuk saat kau menenun."Gadis itu tersenyum lega. "Terima kasih, Tuan Ito."Hari-hari berikutnya berjalan dengan damai. Setiap pagi, Ito pergi ke ladang, dan setiap sore ia pulang menemukan makanan tersedia serta kain-kain baru yang indah tergantung di ruang tenun. Kadang dua kain, kadang tiga, kadang bahkan lima. Ito mulai menjual kain-kain itu ke pasar, dan permintaannya luar biasa. Para pedagang dari desa tetangga bahkan datang khusus untuk membeli kain tenunan dari "gadis misterius" di rumah Ito. Kehidupan Ito perlahan berubah. Dari petani miskin yang hidup pas-pasan, ia mulai memiliki simpanan uang, dapat memperbaiki atap bocor, dan membeli perabotan baru.Namun rasa penasaran terus menggerogoti hatinya. Siapa sebenarnya gadis itu? Bagaimana ia bisa menenun begitu cepat? Mengapa ia melarangnya masuk ke ruang tenun? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar-putar di kepalanya setiap malam, seperti kaset rusak yang diputar berulang-ulang.Suatu sore, saat matahari mulai tenggelam dan langit berwarna jingga, Ito pulang lebih awal dari biasanya. Ia bermaksud membawakan beberapa buah kesemek segar untuk gadis itu sebagai tanda terima kasih. Namun begitu memasuki halaman, ia mendengar suara alat tenun bekerja sangat cepat, lebih cepat dari biasanya. Rasa penasaran yang selama ini tertahan akhirnya memuncak.Hanya mengintip sedikit, pikirnya. Hanya sedikit. Untuk memuaskan rasa ingin tahu.Dengan hati-hati, ia mengendap-endap mendekati ruang tenun. Jendela kayu ruangan itu sedikit terbuka. Ito menjulurkan leher dan mengintip melalui celah sempit.Apa yang dilihatnya membuat darahnya seolah membeku.Di dalam ruangan, bukan gadis cantik itu yang duduk di depan alat tenun. Yang ada adalah seekor laba-laba raksasa dengan tubuh sebesar dua kepalan tangan manusia. Bulu-bulu halus berwarna keemasan menutupi seluruh tubuhnya, dan delapan matanya yang hitam berkilat fokus pada pekerjaannya. Delapan kakinya yang panjang dan ramping bergerak lincah dengan kecepatan luar biasa.Ito menyaksikan dengan napas tertahan bagaimana laba-laba itu mengambil kapas yang tersimpan di keranjang. Dengan mulutnya, ia memakan kapas itu sedikit demi sedikit. Lalu, dari dalam perutnya yang tembus pandang, kapas itu berubah menjadi benang halus berwarna-warni, seolah dicelup oleh pelangi di dalam tubuhnya. Benang itu kemudian keluar dari mulutnya, dan dengan delapan kakinya yang cekatan, laba-laba itu menenun benang menjadi kain dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Gerakannya begitu sinkron dan indah, seperti orkestra yang dimainkan oleh delapan tangan sekaligus.Ito menutup mulutnya sendiri agar tidak berteriak kaget. Namun setelah keterkejutan pertamanya reda, ia mulai memperhatikan lebih detail. Warna keemasan pada tubuh laba-laba itu... matanya yang bulat... cara ia menggerakkan kaki depan seolah membungkuk... Tiba-tiba, ingatan itu kembali.Laba-laba kecil di ladang. Yang diselamatkannya dari ular. Yang membungkuk berterima kasih sebelum menghilang."Itu dia..." bisik Ito pelan. "Itu laba-laba yang dulu kuselamatkan."Gadis cantik yang menawarkan diri menenun, yang merawat rumahnya, yang memasak untuknya setiap hari, adalah jelmaan dari laba-laba kecil itu. Ia datang bukan karena kebetulan, tetapi karena ingin membalas budi atas kebaikan Ito yang telah menyelamatkan nyawanya.Perlahan, tanpa membuat suara, Ito menjauh dari jendela. Ia kembali ke beranda dan duduk termenung lama, memandangi langit senja yang mulai gelap. Air mata haru menggenang di sudut matanya. Selama ini ia hanya melakukan kebaikan kecil tanpa mengharapkan imbalan, namun alam memberinya balasan yang tak terduga.Ketika gadis itu keluar dari ruang tenun dengan senyum lelah namun puas, ia melihat Ito duduk di beranda. Untuk sesaat, ada kilatan kekhawatiran di matanya. Apakah Tuan Ito tahu? Apakah ia melihat?Namun Ito hanya tersenyum seperti biasa, bangkit, dan menyodorkan buah kesemek yang ia bawa."Ini untukmu. Kerjamu hari ini pasti melelahkan."Gadis itu menerima buah itu dengan ragu, tetapi senyum lega segera menghias wajahnya. "Terima kasih, Tuan Ito. Kau sangat baik."Malam itu, saat mereka makan malam bersama, Ito tidak mengatakan sepatah kata pun tentang apa yang dilihatnya. Ia hanya bersyukur dalam hati. Dan mulai saat itu, ia tidak pernah lagi melanggar larangan gadis laba-laba itu. Ia tidak pernah masuk ke ruang tenun saat gadis itu bekerja. Ia juga tidak pernah lagi bertanya tentang asal-usulnya.Tahun-tahun berlalu. Kain tenunan dari rumah Ito menjadi terkenal di seluruh provinsi. Orang-orang menyebutnya "Kain Laba-laba Keemasan" karena kehalusan dan keindahannya yang tak tertandingi. Ito hidup berkecukupan, bahkan kaya raya, namun ia tetap rendah hati. Ia membangun kembali gubuknya menjadi rumah yang lebih besar dan nyaman, menyisakan satu ruangan khusus di belakang yang tidak pernah dimasuki siapa pun: ruang tenun ajaib itu.Gadis laba-laba itu tetap tinggal bersamanya, menenun setiap hari, dan merawat Ito hingga tua. Mereka tidak pernah menikah, tetapi ikatan antara mereka lebih dalam dari sekadar hubungan darah atau pernikahan. Itu adalah ikatan antara dua makhluk yang saling menyelamatkan: satu menyelamatkan nyawa, satu lagi menyelamatkan dari kesepian dan kemiskinan.Dan ketika suatu hari Ito terbaring lemah karena usia, di ambang ajalnya, gadis laba-laba itu duduk di sampingnya sambil memegang tangannya. Untuk pertama kalinya, tanpa diminta, ia berkata dengan suara bergetar."Tuan Ito... aku tahu kau tahu siapa aku sebenarnya. Aku melihatmu mengintip waktu itu, bertahun-tahun lalu."Ito tersenyum lemah. Matanya yang sayu menatap wajah cantik di depannya. "Aku tahu. Dan aku tidak pernah menyesal menyelamatkanmu, atau merahasiakanmu. Kau telah memberiku lebih dari yang pantas kuterima."Gadis laba-laba itu menangis, air matanya yang jernih jatuh membasahi tangan Ito yang keriput. "Terima kasih, Tuan Ito. Terima kasih untuk semuanya. Untuk nyawaku, untuk kebaikanmu, untuk tidak pernah mengusirku meski kau tahu aku hanya seekor laba-laba."Ito menggeleng pelan. "Kau bukan 'hanya' laba-laba. Kau adalah teman. Kau adalah keluargaku."Beberapa saat kemudian, dengan senyum damai di wajahnya, Ito menghembuskan napas terakhir. Gadis laba-laba itu tetap duduk di sampingnya hingga fajar menyingsing, lalu perlahan, tubuhnya berubah kembali menjadi laba-laba kecil berwarna keemasan. Ia merayap ke atas bahu Ito yang sudah tak bergerak, duduk di sana sejenak, lalu menghilang melalui celah jendela, kembali ke alamnya.Keesokan paginya, penduduk desa menemukan Ito telah berpulang. Namun di sampingnya, tergantung sebuah kain kimono yang paling indah yang pernah mereka lihat. Kain itu bercerita tentang seekor laba-laba kecil yang diselamatkan, tentang seorang petani tua yang baik hati, dan tentang ikatan persahabatan yang melampaui batas antara manusia dan makhluk lain.Kain itu kemudian disimpan sebagai pusaka desa, dan cerita tentang Ito dan laba-laba penenun diceritakan turun-temurun, sebagai pengingat bahwa kebaikan sekecil apa pun, pada makhluk sekecil apa pun, dapat kembali kepada kita dalam bentuk keajaiban yang tak terduga.

Menampilkan 24 dari 1144 cerita Halaman 4 dari 48
Menampilkan 24 cerita