Gambar dalam Cerita
Ammara menyandarkan tubuhnya pada sebatang pohon oak yang paling besar di Fairyfarm. Ia sedang melamun sambil memilin-milin ujung rambutnya yang berwarna keemasan. Saat itu, langit telah beranjak senja di Fairyverse, tetapi Ammara masih enggan untuk pulang. Di sampingnya, Selly sesekali menguap seraya mengunyah buah plumnya dengan malas.
"Jadi, kau benar-benar tidak akan datang ke pesta ulang tahun Putri Tatianna?" Marybell bertanya dengan suara melengkingnya. Suara pixie yang bertengger di punggung Selly itu memecahkan lamunan Ammara.
"Entahlah, Marybell. Aku merasa tidak pantas saja. Lagi pula aku merasa sangat malu kalau harus bertemu mereka lagi karena waktu itu aku dengan lancangnya memasuki taman istana." Ammara menerawang mengingat kejadian di taman Istana Avery. Peri perempuan itu menyesal sekaligus merasa malu.
"Tapi sepertinya kau sangat ingin datang ..." ucap Marybell seraya menopang dagunya dengan kedua tangan. Ia telah berpindah ke atas pangkuan Ammara. Matanya yang bulat besar menyorot Ammara penuh selidik.
Ammara mengembuskan napas kasar. "Sudahlah, Marybell, jangan menggangguku ...."
Ketiga makhluk itu terdiam. Hening kembali menyergap kebun Ailfryd. Namun, tiba-tiba seberkas cahaya keunguan berpendar dari kalung zamrud milik Ammara. Ammara dan Marybell sontak terkejut. Rasanya peri perempuan itu tidak pernah melihat pendar aneh itu muncul pada mata kalung sebelumnya. Tubuhnya menegang. Ia meraih mata kalung itu dan mengamatinya dengan seksama. Sementara, Marybell terbang bersembunyi di balik bahu Ammara.
Pendar cahaya pada mata kalung zamrud itu semakin lama semakin jelas. Setelah berukuran sekepalan tangan peri elf , cahaya keunguan itu lantas melayang keluar dari mata kalung zamrud Ammara. Cahaya itu kemudian melesat cepat meninggalkan Ammara dan Marybell yang masih terdiam dalam keterkejutan mereka. Netra kedua peri itu mengikuti kemana arah cahaya itu pergi dengan takjub.
Ammara yang telah reda rasa terkejutnya, bergegas berlari mengikuti cahaya keunguan itu dengan penasaran. Di belakangnya Marybell terbang mengiringi dengan panik. Melihat kedua peri itu berlari meninggalkan Fairyfarm, Selly pun segera bangkit dan mengejar kedua sahabatnya.
Ammara tanpa sadar melewati gerbang kebun Ailfryd, menerobos semak dalam keremangan senja. Napasnya memburu dan keringat dingin mulai bercucuran membasahi pelipisnya. Satu hal yang terus menggelayuti pikirannya adalah pertanyaan mengenai ke mana cahaya itu akan pergi.
"Ammara, berhenti!" Samar-samar teriakan Marybell terdengar di belakang punggungnya.
Derap langkah Selly pun terdengar mendekat dan dalam sepersekian detik berhasil menyusul di sisinya. Marybell bertengger pada punggung makhluk itu dengan wajah khawatir. Sementara, Selly meringkik, meminta Ammara berhenti dan segera naik ke punggungnya.
Peri perempuan itu mengangguk sekilas, sebelum melompat naik ke atas punggung Selly. Bersamaan dengan itu, Marybell terbang menyingkir.
Peri perempuan itu lantas menoleh pada Marybell. "Katakan pada ibu, aku akan segera kembali! Aku harus tahu cahaya apa yang keluar dari mata kalungku itu dan ke mana dia akan pergi! " jerit Ammara di tengah riuhnya suara derap langkah unicorn.
Marybell mengangguk, sebelum menghentikan terbangnya, membiarkan sahabatnya menjauh meninggalkan Firyfarm.
* * *
Putri Tatianna menyunggingkan senyum terbaiknya. Bibir merahnya merekah menyambut tamu-tamu undangan yang mulai berdatangan. Malam itu adalah malam pesta perayaan ulang tahunnya. Semua peri membungkuk dan memberikan senyum terbaik kepadanya. Ia memang tak mengundang banyak tamu, hanya keluarga dan beberapa teman dekat. Peri cantik itu memakai gaun yang terbuat dari kelopak bunga asli yang memancarkan kelip-kelip indah aneka warna. Rambutnya yang berwarna perak dikuncir ke atas dengan beberapa bunga mawar putih sebagai pengikat dan sebuah tiara kecil bertakhta di atas kepala. Iris mata cokelat terangnya tampak bercahaya memantulkan cahaya dari kelopak bunga yang memenuhi seluruh penjuru Istana Avery malam itu.
Semua peri telah berkumpul di aula, menikmati alunan musik dan tarian para nimfa yang berkumandang dari atas sebuah panggung yang dikelilingi tiga kolam air mancur. Namun, semua itu tak berarti apa-apa bagi Tatianna karena sesosok peri yang dinanti belum menampakkan batang hidung. Netranya menyusuri balai pesta, mencari satu sosok itu.
"Pangeran Archibald!" Beruntung, netranya segera menemukan rupa familier yang selama ini selalu menggenggam tangannya. Kali ini senyumnya kembali merekah, disertai rona kemerahan yang muncul di kedua belah pipinya begitu saja.
"Di mana yang lain?" Archibald mendekat. Wajah rupawan itu membalas tatapannya tanpa ekspresi. Pandangan sang pangeran peri menyapu kerumunan tamu undangan yang bercengkerama di salah satu sudut aula Istana Avery.
"Mereka sedang menyicipi sari buah plum di meja hidangan," sahut Tatianna semringah. Archibald hendak berbalik menuju meja hidangan yang dimaksud Tatianna, tetapi peri perempuan itu terlebih dahulu meraih pergelangan tangannya.
Archibald tersentak. "Ada apa?"
"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu," sahut Tatianna pelan. Ia sempat ragu, sebelum akhirnya melanjutkan ucapan. "Mari kita bicara berdua saja. Ayo ikut denganku sebentar."
Archibald mengernyit, seolah menangkap sesuatu yang aneh dari gelagat saudara tirinya. Setelah menimbang sejenak, peri laki-laki itu lantas bersedia mengikuti Tatianna yang menggiringnya menuju balkon istana yang sepi.
"Ada apa?" tanya Archibald sembari melemparkan pandangan ke arah rerimbunan bunga lavender yang bercahaya di bawah balkon istana.
Wajah Tatianna mendadak bersemu merah di bawah keremangan cahaya tempat itu. Ia telah melepaskan genggaman tangannya dari pergelangan tangan Archibald. Kini tangan Tatianna sedang menggenggam pergelangan tangannya sendiri, berusaha mengenyahkan gemetar yang seketika menyerangnya.
Sang putri peri menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya sendiri, sebelum akhirnya membuka suara. "Archibald, sebenarnya ... Aku sudah lama .... "
Archibald menatap mata peri perempuan itu lekat-lekat, "Hei, tenanglah. Apa yang sebenarnya ingin kau katakan?"
Tatianna semakin gugup. Jantungnya berdegup tidak karuan, tetapi perasaan itu harus tetap ia sampaikan. "Aku menyukaimu, Archibald." Kata-kata itu akhirnya terucap dari mulut Tatianna.
Archibald terpana mendengar ucapan Tatianna. Ia seakan tidak percaya bahwa peri perempuan itu telah menyatakan cinta padanya. Archibald menggeleng, sementara mulutnya bungkam.
Hening menggantung di antara mereka, menyisakan perasaan yang canggung bagi Tatianna. "Aku sudah lama sekali menyukaimu," ungkap Tatianna pelan. Matanya menumbuk pada lantai batu di bawah kaki, berusaha mencari kekuatan.
"Aku tidak percaya kau mengucapkan ini," respon Archibald sejurus kemudian. Ia masih menggeleng perlahan. Sementara iris matanya menatap Tatianna yang sedang menunduk. "Maafkan aku, Tatianna. Aku bukanlah orang yang tepat untuk kau sukai. Aku tidak bisa. Aku hanya menganggapmu sebagai adik perempuanku."
Sebulir air bening mengalir di pipi Tatianna. Ia perlahan mengangkat wajahnya dan menatap Archibald nanar. Iris mata mereka beradu dalam keremangan balkon istana. "Begitu tidak pantaskah aku menjadi pendampingmu, Archibald?" tanya Tatianna dengan suara yang nyaris menghilang ditelan isak tangis.
Archibald hanya diam. Ia takut jika jawabannya akan semakin melukai Tatianna.
"Apa kau masih mengharapkan gadis manusia itu? Apa kau masih mempercayai bahwa gadis itu akan datang dan menemuimu di sini?!"
Archibald tersentak mendengar pertanyaan Tatianna. Sebuah kisah masa lalu sontak terbayang di benaknya. Sebuah kisah lama yang menyebabkan ibunya terusir dari kerajaan Avery. Archibald menghela napas panjang berusaha untuk menahan emosi yang mulai menguasainya setiap kali ia mengingat kejadian itu.
"Tatianna, aku bukanlah peri yang pantas untuk mendampingimu. Kau berhak untuk mendapatkan pendamping terbaik," ucap Archibald pelan. Ia kemudian melanjutkan. "Ini tidak ada hubungannya dengan apapun atau siapa pun. Aku hanya tidak bisa. Aku tidak ingin menyakitimu Tatianna."
Tatianna menggeleng pelan, mencoba menahan hatinya yang perih. "Kau sudah sangat menyakitiku sekarang," lirihnya.
"Maafkan aku, Tatianna." Archibald mendekat, kemudian mengecup puncak kepala sang putri peri sekilas. Setelah itu, ia pergi meninggalkan Tatianna yang patah hati begitu saja.
Sepeninggal Archibald, peri perempuan itu menghempaskan lututnya ke lantai sambil menutup wajah dengan kedua tangan. Bahu peri itu berguncang. Ia menangisi hatinya yang hancur dan cintanya yang tidak terbalas. Ia menangisi Archibald yang telah ia cintai sejak lama, tetapi nyatanya tidak dapat ia miliki.
Sedetik kemudian, Tatianna bangkit dengan berpegangan pada pagar balkon. Matanya yang bersimbah air mata menatap nanar pada rerimbunan bunga lavender di bawah balkon istana. Ia mencoba menahan sakit hatinya, seraya merapalkan mantra pelan. Manik matanya menghilang dan memutih beberapa saat. Ia mengangkat tangan kanannya ke arah rerimbunan lavender itu. Seberkas cahaya putih memancar dari telapak tangannya dan menyambar ke arah rerimbunan lavender. Bersamaan dengan itu, sebuah ledakan kecil menghancurkan rerimbunan lavender, menyisakan bunga-bunga hangus dan dedaunan yang rusak.
Tatianna melakukannya lagi dan lagi. Ledakan demi ledakan memecah keheningan taman. Sang putri peri bahkan menghancurkan rerimbunan lavender dan pohon-pohon lainnya di sekitar balkon istana. Peri itu berharap, dengan merusak makhluk lain, maka sakit hatinya dapat sedikit berkurang.
* * *
Elwood memandang gusar ke arah pintu aula Istana Avery. Tamu-tamu telah berdatangan, tetapi satu sosok yang ia tunggu tak kunjung tiba. Elwood beberapa kali menatap pintu istana dengan berakhir kecewa. Peri laki-laki itu lantas merutuki dirinya sendiri. Seikat bunga Camellia putih yang sedari tadi ia genggam di balik punggung sudah mulai rusak di beberapa bagian.
"Selamat malam, Pangeran Elwood!" Sapa sebuah suara yang sudah lama ia tunggu-tunggu.
Elwood menatap sosok yang datang menyapanya dengan senyum terkembang di bibir. Peri tampan itu terpana melihat Ammara yang tampil tidak biasa pada malam itu. Ammara memakai gaun merah muda lembut selutut yang terbuat dari kelopak bunga mawar, sementara rambut pirang keemasannya dikuncir tinggi ke atas dengan ikatan dari bunga mawar berwarna senada dengan gaunnya.
"Ammara, kau ... terlihat berbeda!" ucapnya tertahan. Matanya masih menatap Ammara terpesona. Sementara, di hadapannya peri perempuan itu mengulum senyum dengan pipi putihnya bersemu kemerahan.
"Terima kasih, Pangeran Elwood." Ammara membungkuk sekilas memberi hormat.
"Tolong, jangan panggil aku pangeran. Panggil saja Elwood ... seperti biasanya." Elwood berkata pelan. Pangeran peri itu lantas mengacungkan seikat bunga Camellia putih ke arah Ammara. Peri perempuan itu tampak terkejut dan dengan ragu meraihnya.
"Untukmu," ucap Elwood. "Aku minta maaf karena tidak jujur dari awal. Aku tidak bermaksud membohongimu. Aku ... aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk mengatakannya kepadamu. Aku takut kalau kau tidak mau bertemu denganku lagi, jika kau tahu siapa aku sebenarnya."
Ammara tersenyum sambil menggelengkan kepalanya perlahan. "Kuakui aku sakit hati awalnya, Elwood. Namun, setelah kupikir-pikir, siapa pun dirimu, itu tidak akan mengubah apapun."
"Maukah kau menjadi temanku lagi?" Elwood bertanya lembut sambil menatap dalam iris hijau Ammara.
Peri cantik itu tersenyum dan mengangguk. Namun, tiba-tiba sesosok ogre yang sangat besar dan mengerikan muncul dari permukaan marmer aula Istana Avery. Lantai marmer pecah berderai hingga membuat garis retakan yang menjalar ke segala penjuru lantai. Makhluk itu berdiri tepat di hadapan Ammara dan dengan cepat meraih pinggang Ammara dengan kedua tangannya yang kekar.
Ammara berteriak, meronta-ronta, sementara kedua lengannya menggapai-gapai ke arah Elwood. Elwood dengan panik berusaha menarik tangan Ammara dari cengkeraman ogre itu, tetapi gagal. Ogre berwarna hitam itu memanggul Ammara dengan mudah di atas salah satu pundaknya yang kekar. Sementara, tubuh Ammara yang kecil terayun-ayun mengikuti gerak tubuh ogre yang berjalan menuju pintu aula istana Avery.
Para tamu undangan serta-merta menjerit dan berlarian mencari pintu keluar dari aula istana Avery. Suasana aula yang indah dan menenangkan mendadak berubah menjadi mengerikan dan porak-poranda akibat ogre yang mengamuk dan hendak menculik Ammara.
Dalam keadaan panik, Elwood menjentikkan jarinya dan memunculkan sebilah tongkat sihir berwarna perak. Ia kemudian mengarahkan tongkat sihirnya ke arah ogre hitam yang sedang memanggul Ammara sambil merapal sebuah mantra singkat. Tongkat sihir perak itu memercikan sebuah bunga api, tetapi kemudian padam. Elwood mencoba lagi beberapa kali. Namun, tetap gagal. Wajah peri tampan itu menjadi pucat. Ia melemparkan tongkat sihirnya begitu saja, kemudian berlari mengejar ogre hitam itu.
Di pintu utama menuju aula Istana Avery telah tampak sepasukan kesatria elf dengan pedang perak terhunus di tangan mereka menghalangi ogre hitam yang ingin keluar. Makhluk mengerikan itu menyeringai menampakkan gigi-giginya yang tajam ke arah para pengepung, kemudian mengibaskan sebelah tangan yang mengeluarkan lidah api ke arah para kesatria elf . Seketika itu juga para kesatria elf yang menghalangi pintu terlempar ke segala arah.
Sebelum melangkah melewati pintu aula istana, sang ogre menoleh ke arah Elwood yang jatuh tersungkur akibat salah satu kesatria elf yang menubruk tubuhnya. Tatapan mata ogre yang merah menyala itu mengejek Elwood. "Sungguh pangeran peri yang menyedihkan!" desisnya meremehkan. "Kau bahkan tidak bisa menyelamatkan peri yang kau sukai. Kau juga tidak bisa menggunakan tongkat sihirmu. Sungguh menyedihkan. Kau tidak pantas menjadi pangeran dari Kerajaan Avery!"
Setelah menyelesaikan kalimatnya, Ogre hitam segera menghilang bersama Ammara yang terkulai lemas di pundaknya. Elwood membelalak. Mulutnya menganga. Tubuhnya menggigil, menahan kecewa dan tangis yang akan pecah. Ia mengepalkan tangannya, menekan pada lantai marmer yang retak. Kedua tangannya itu meneteskan darah kental, "Ammara ..." desisnya lemah.
* * *
Putra Mahkota Albert memasuki ruangan aula Istana Avery tempat akan dilangsungkannya pesta ulang tahun Putri Tatianna dengan tergesa-gesa. Namun, peri tampan itu sangat terkejut saat mendapati ruangan aula yang kosong. Padahal seharusnya undangan telah ramai berdatangan. Ia berjalan mondar-mandir mencari kesatria elf atau pixie kerajaan yang harusnya berjaga di ruangan itu, tetapi tak ada siapa pun yang dapat ia temukan. Dengan putus asa, akhirnya Putra Mahkota Albert duduk di kursi singgasananya yang tepat berada di sebelah singgasana Raja Brian.
Tiba-tiba, Pangeran Archibald dan Pangeran Elijah masuk dari pintu aula yang terbuka. Pangeran Elijah bahkan sempat menutup pintu utama aula, sebelum mereka mendekat ke singgasana putra mahkota Albert. Albert mengangkat wajah menatap Archibald dan Elijah dengan kening mengerut. Wajah keduanya juga terlihat dingin, tidak seperti biasanya.
"Aku pikir malam ini adalah pesta ulang tahun Putri Tatianna. Apakah aku salah?" tanya Albert sambil menatap Archibald dan Elijah bergantian. Ia melanjutkan, "Apakah pestanya telah di pindahkan ke tempat lain?"
"Ada pesta lain yang harus kita rayakan di sini," sahut Archibald sarkas.
"Apa maksudmu?!" Putra Mahkota Albert mulai gusar.
Archibald dan Elijah tak menjawab. Sejurus kemudian, mereka serempak menghunus pedang peraknya ke arah Putra Mahkota Albert dan menyorot nyalang sang Putra Mahkota. Sementara, Albert yang merasa terancam juga menghunus pedang peraknya ke arah kedua pangeran itu.
"Aku akan menganggap ini sebagai pengkhianatan!" bentak Albert.
"Cih! Kami sama sekali tidak takut dengan Putra Mahkota yang tidak kompeten sepertimu," desis Elijah.
"Beraninya kau menghina Putra Mahkota!" Wajah Albert memerah, tangannya yang menggenggam sebilah pedang perak dengan gemetar karena emosi. "Kalian akan diadili sebagai unsheelie sama seperti ibu kalian dan kalian akan dibuang ke Hutan Larangan seumur hidup!"
Elijah terbahak. "Sebelum melaporkan kami ke Dewan Peri, Kau bahkan tidak akan pernah bisa keluar dari aula ini hidup-hidup!"
Putra Mahkota Albert terkejut mendengar perkataan saudara tirinya itu. Emosinya semakin memuncak. Ia tidak menyangka bahwa kedua saudaranya itu berniat untuk merebut takhtanya.
"Albert, aku memberimu kesempatan untuk mempertahankan posisimu secara terhormat. Kau harus melawanku. Buktikan kau layak menjadi Putra Mahkota," ucap Archibald seraya maju mendekati Albert dengan pedang perak masih terhunus di tangannya. "Namun, jika kau ingin hidup lebih lama, maka serahkan takhtamu sekarang!"
"Kurang Ajar!" Albert berteriak marah. "Aku tidak akan menyerah demi apapun ...!"
Albert maju, mengayunkan pedangnya ke arah Archibald. Dengan sigap Archibald menangkis serangan Albert. Seketika bunyi pedang berdesing memecah keheningan aula Istana Avery.
* * *
Pangeran Elijah menunggangi unicornnya secepat kilat, meninggalkan pesta ulang tahun Putri Tatianna yang sedang berlangsung di Istana Avery malam itu. Napasnya memburu dan matanya berkilat nyalang dalam kegelapan malam. Setelah ia rasa berada cukup jauh dari Istana Avery, ia merapalkan mantra singkat setengah berteriak, lalu serta merta unicorn yang ia tunggangi memunculkan sepasang sayap besar yang bercahaya. Unicorn itu membawanya terbang dengan cepat melintasi Fairyverse menuju perbatasan Hutan Larangan.
Sesampainya di perbatasan Hutan Larangan, unicorn itu melayang turun dan sayapnya menghilang. Sesesok berjubah hitam telah menanti, berdiri menghadap ke arah Hutan Larangan.
"Kau menerima pesanku?" tanya suara yang berasal dari sosok berjubah hitam di perbatasan Hutan Larangan itu.
Elijah terkesiap, tetapi ia segera saja turun dari tunggangannya dan mendekati sosok berjubah hitam itu. Ia menghentikan langkah tepat sebelum memasuki perbatasan Hutan Larangan.
"Jadi kau yang mengirim mimpi dan menyuruhku datang ke sini. Aku tidak punya banyak waktu, aku hanya ingin tahu siapa ibuku sebenarnya? Apakah benar ibuku adalah peri unsheelie?" Elijah bertanya dengan suara gemetar yang sarat emosi. Salah satu tangannya menggenggam erat gagang pedang perak yang masih tersampir di sisi tubuhnya.
Sosok berjubah hitam itu kemudian berbalik perlahan, menatap Archibald dengan iris matanya yang ungu menyala. Sosok itu adalah peri perempuan yang sangat cantik, tetapi berparas kejam. Peri perempuan itu menyeringai. "Akulah ibumu, Elijah."
"Ti-tidak mungkin!" Elijah terkejut dengan mata membelalak. Ia mundur beberapa langkah sambil menggeleng pelan. Tubuh tingginya menggigil menahan emosi yang menguasai dirinya.
Peri berjubah hitam itu memunculkan sebuah bola cahaya dari telapak tangannya. Bulatan cahaya putih itu kemudian menampilkan bayangan masa lalu saat Elijah dilahirkan oleh sesosok peri perempuan yang semula merupakan peri sheelie. Sebuah kejadian menimpanya, hingga peri perempuan itu dibuang ke Hutan Larangan dan berubah menjadi peri unsheelie. Setelah menampilkan bayangan masa lalu, bola cahaya itu seketika menghilang.
Elijah menggelengkan frustrasi. Ia tidak dapat menerima apa yang baru saja ia lihat.
"Ini tidak mungkin ... Kau pasti berbohong dan merekayasa semuanya!" desis sang pangeran peri pelan. Ia menatap sosok perempuan peri itu dengan mata nanar, menolak untuk mempercayai kenyataan bahwa ia adalah anak dari peri unsheelie. Kenyataan yang selama ini sangat ia takutkan. Elijah merasa sangat kecewa. Peri lain pasti akan merendahkannya karena ia adalah pangeran dari ibu yang dibuang di Hutan Larangan.
"Inilah kenyataannya Elijah. Aku tahu apa yang kau pikirkan ... tetapi, apapun yang kau inginkan, aku akan mewujudkannya untukmu Elijah karena aku adalah ibumu."
"Tidak ... Kau bukan ibuku ....!"
* * *
Pangeran Claude menatap bingung ke arah Putra Mahkota Albert, Putri Tatianna dan para pangeran lainnya yang bertingkah sangat aneh. Putra Mahkota Albert bahkan terlihat sedang beradu pedang dengan pangeran Archibald. Sementara Putri Tatianna sedang menghancurkan seluruh isi aula dengan sinar putih yang ada di tangannya. Tidak jauh dari tempatnya berdiri, Pangeran Elwood juga tampak menghancurkan sisa atribut pesta serta menyerang para kesatria elf yang berusaha mengamankannya. Di sisi lain aula Istana Avery, Pangeran Elijah juga mengamuk dan menyerang para kesatria elf dan pixie kerajaan.
Pesta ulang tahun Putri Tatianna telah dibatalkan sedari tadi. Para tamu undangan telah berlarian meninggalkan aula istana saat keanehan mulai terjadi pada putri, putra mahkota dan para pangeran. Pangeran Claude yang datang terlambat karena ketiduran saat membaca di ruang baca Istana Avery begitu kaget melihat kekacauan itu.
"Mereka terkena sihir, Pangeran. Sihir hitam," tutur Maurelle, peri cenayang istana yang tiba-tiba telah berdiri di samping Pangeran Claude.
"Apa kau tidak bisa menyadarkan mereka, Maurelle?" tanya Claude tanpa mengalihkan pandangan khawatirnya dari saudara-saudaranya. Mata batin Claude yang lebih tajam dari siapapun di Kerajaan Avery itu sedang melihat apa yang tak terlihat. Seberkas cahaya keunguan berpendar di dada mereka. "Sihir apa itu?" tanyanya lagi.
"Kau bisa melihatnya, Pangeran Claude? Itu adalah sihir hitam milik peri penyihir unsheelie. Aku tidak memiliki kemampuan untuk menyadarkan mereka, Pangeran Claude. Namun, aku tahu siapa yang bisa menyadarkan mereka."
"Iya, aku bisa melihat ...."
"Pangeran, maafkan aku, apa yang terjadi di sini? Aku melihat cahaya ungu masuk ke sini." Suara panik perempuan tiba-tiba menyela pembicaraan antara Claude dan Maurelle.
Ammara terengah-engah, berusaha mengatur napasnya yang memburu karena berlari saat memasuki Istana Avery.
Claude menatap Ammara dengan curiga. "Apa yang kau lakukan di sini? Apa maksudmu dengan cahaya ungu masuk ke istana Avery?"
Maurelle menatap peri perempuan itu dengan sebelah alis terangkat. Mata hitamnya yang tajam menyorot mata kalung zamrud di leher Ammara. "Siapa dirimu sebenarnya?" tanya Maurelle dengan tidak ramah.
"Aku ... Aku sebenarnya ... cahaya ungu itu ..." Ammara tergagap. Ia merasa terintimidasi oleh Maurelle. Ia lantas memutuskan untuk tidak menceritakan yang sebenarnya. "Cahaya ungu itu, aku melihatnya terbang dan memasuki istana Avery. Aku ... mengikuti cahaya ungu itu dan sampai ke sini. Apa yang terjadi sebenarnya?"
Belum sempat Claude atau Maurelle menjawab, Ammara telah mendapati kenyataan mengerikan itu di depan matanya. Peri perempuan itu refleks menutup mulut saat melihat kekacauan di hadapannya.
"Kita harus menghentikan mereka!" jerit Ammara panik. Ia hendak berlari mendekati putri dan pangeran lainnya, tetapi Claude serta-merta menarik tangannya.
"Kau pikir apa yang bisa kau lakukan? Jangan ikut campur!" Claude memperingatkan.
"Aku tahu dari mana asal sihir itu, Pangeran Claude," potong Maurelle.
"Dari mana, Maurelle?"
"Dari mata kalung zamrud peri perempuan ini. Mata kalung itu adalah mata sekaligus jendela dari Hutan Larangan!" sahut Maurell sambil menatap Ammara dingin. "Peri ini harus menjelaskan semuanya di hadapan para Dewan Peri!"
"Apa?"
Dua sosok kesatria elf dengan sigap menghampiri Ammara dan menahan kedua lengannya. Ammara memberontak, tetapi tenaga kedua kesatria elf itu jauh lebih kuat darinya.
"Bawa peri ini ke penjara bawah tanah!" titah Maurelle pada kedua kesatria elf .
"Tidak. Tunggu. Aku bisa jelaskan. Bukan aku yang melakukannya ... !" jerit Ammara seraya terus meronta. Namun, kedua kesatria elf itu telah menyeretnya pergi menjauh dari hadapan Maurelle dan Pangeran Claude.
"Tidak! Lepaskan aku!"
"Maurelle, aku rasa bukan dia yang melakukannya," ucap Claude. Ia menatap kepergian Ammara dengan khawatir.
"Mata kalung zamrud itu berasal dari Hutan Larangan, Pangeran. Dan, dia adalah pemiliknya. Biarkan Dewan Peri yang akan memutuskannya," sahut Maurelle tegas. "Sekarang aku akan meminta seseorang menjemput Ella dari Fairyfarm. Dia adalah penyihir penyembuh terbaik yang memiliki segala penawar untuk sihir hitam."
Maurelle membungkuk hormat, sebelum meninggalkan Pangeran Claude yang masih bergeming menatap kepergian Ammara. Claude memang merasa ada yang berbeda dengan peri perempuan itu, tetapi ia yakin Ammara bukan peri yang jahat.