Gambar dalam Cerita
Agatha sedang menatapi kanvas kosong di depannya. Tangan kirinya menggenggam sebuah kuas cat minyak. Kemudian ia menggoreskan kuas tersebut di kanvas, tapi tangan kirinya terlalu kaku sehingga hasilnya jelek sekali. Ia memindahkan kuasnya ke tangan kanannya dan berusaha mengangkat tangan kananya dengan tangan kirinya. Ketika kuasnya sudah menyentuh kanvas, perlahan-lahan ia melepaskan genggaman tangan kirinya pada tangan kanannya. Tapi tiba-tiba tangan kanannya pun terjatuh dengan lemas dan kuasnya terjatuh di lantai.
Agatha menatap tangan kanannya dengan frustrasi.
"Aaaaaaahhhhh!" Agatha berteriak dengan frustrasi dan menendang kanvasnya keras-keras. Kemudian Agatha menangis.
***
Gavin memainkan pianonya sambil memejamkan mata. Jemarinya menari dengan lincah di atas tuts piano. Walaupun ia sering mencurahkan perasaannya dengan bermain piano, tetapi belum pernah ia begitu menghayatinya. Suasana hatinya yang sedih menyebabkan iringan piano yang ia mainkan semakin terdengar memilukan. Kemudian seorang wanita masuk sambil memainkan biolanya mengikuti irama piano Gavin.
"Sejak kapan kau masuk ke kamarku?" Gavin berhenti memainkan pianonya dan menoleh ke Lucy.
"Maaf, Vin. Ibumu yang menyuruhku masuk," Lucy menurunkan biolanya, "aku tahu kau sedang sedih, Vin. Makanya aku ingin menghiburmu,"
"Terima kasih, Lucy," Gavin berbalik menatap pianonya
"Ayo kita mainkan lagu yang lebih gembira!" Lucy tersenyum sambil mengangkat biolanya.
Kemudian mereka memainkan lagu yang lebih gembira, walaupun Gavin masih sedikit galau.
***
Suatu pagi di sekolah, semua aktivitas sekolah tampak berjalan seperti biasa. Suasana kelas memang selalu ribut saat sebelum bel. Tetapi pada pagi hari itu, kelas Gavin lebih ribut dari biasanya. Sebuah kabar telah menggemparkan satu sekolah itu. Semua siswa tampak berkumpul di tengah kelas dan membicarakan gosip itu.
"Nah, itu dia sang pembunuh!" Chester berkata dengan suara keras sambil melirik Gavin yang baru saja memasuki kelas.
"Heh, dia tidak membunuh!" teriak Lucy.
"Tapi sama aja, Agatha jadi cacat!" kata Hester, saudari kembar Chester.
"Kalau aku sih lebih memilih mati daripada hidup dengan satu tangan," sambung Chester.
Gavin tidak memedulikan sekelilingnya dan kemudian duduk di samping Lucy.
"Gavin, kau tidak boleh diam aja!" bisik Lucy.
Gavin menatap Lucy tanpa ekspresi, "Sudahlah."
Sebelum Lucy membantah, bel berbunyi dan Mr. Howell pun masuk ke dalam kelas.
***
Agatha meraba satu per satu lukisan yang ia pajang di rumahnya dengan sedih. Semua lukisan itu dilukisnya sendiri. Ia memang hobi melukis. Melukis adalah hidupnya. Dan ia sangat terpukul mengetahui kalau tangan kanannya lumpuh.
Agatha melihat sebuah gunting di atas meja di dekatnya. Sebuah pikiran yang gila terbersit dalam benaknya. Ia menggambil gunting tersebut dengan gemetaran.
"Agatha!" Maria berteriak menghampiri Agatha dengan panik, "kamu mau ngapain, Ta!" Kemudian Maria merebut gunting dari tangan Agatha.
"Tidak ada gunanya Atha hidup lagi, Ma.." Agatha berjongkok sambil menangis.
Maria berjongkok dan memeluk Agatha, "Mama gak mau kamu bilang gitu, saying. Jangan pernah sekalipun kamu berpikir yang enggak-enggak, Nak!"
Agatha tidak menghiraukan Ibunya, "Atha gak bisa melukis lagi, Ma,"
Kemudian Maria menangis, " Yang sabar, Nak. Kamu pasti bisa sembuh! Mama dan Papa janji bakal nemuin dokter yang paling bagus buat nyembuhin tangan kamu!"
Agatha jadi merasa bersalah melihat ibunya menangis. "Maafin Atha, Ma,"
"Jangan pernah lakuin itu lagi, Nak.. Mama mohon.."
Kemudian Agatha memeluk ibunya, "Maafin Agatha, Ma. Agatha janji gak bakal lakuin itu lagi."
***
Hari itu adalah hari yang suram bagi Gavin. Semua orang menyalahkan dan membencinya, kecuali Lucy. Agatha sangat cantik dan disayangi semua orang, wajar saja kalau semua orang membencinya. Dan yang paling menyakitkan adalah, Agatha pun sangat membencinya sekarang.
Saat pulang sekolah, Gavin dan Lucy berjalan di koridor kelas. Kemudian Chester dan Hester mencegat mereka.
"Lihatlah, berani sekali dia menampakkan diri di sekolah. Dasar pembunuh!" Chester menatap Gavin dengan jijik.
"Aku tidak membunuh," kata Gavin datar.
"Membiarkan orang hidup dengan menderita bahkan lebih parah daripada membunuh!" desis Chester.
Lucy yang tidak tahan lagi kemudian menarik kerah Chester, "Kalau kau ngomong satu huruf lagi, kupatahkan lenganmu!"
"Lepasin, bodoh!" Teriak Chester sambil berusaha melepaskan cengkraman Lucy di kerahnya. Kemudian Lucy mengunci lengan Chester sampai Chester berteriak kesakitan.
"Lucy! Lepaskan saudaraku! Untuk apa kau membela Gavin? Aku tahu, kau mencintainya kan? Tapi apakah dia mencintaimu? Taruhan, dia pasti mencintai Agatha, kan?" teriak Hester.
Kemudian Lucy melepaskan Chester dan menghampiri Hester sampai Hester mundur dengan ketakutan.
Hester memberanikan diri untuk berbicara. "Sadar, Luc. Gavin tidak akan pernah mencintaimu!"
"Hester!" teriak Gavin.
Lucy mematung sejenak kemudian berlari meninggalkan mereka. Ia memang menyukai Gavin. Ia juga tahu kalau Gavin menyukai Agatha. Awalnya ia sama sekali tidak memedulikan hal ini. Tapi entah kenapa hatinya sakit sekali saat Hester mengucapkan kalimat yang menyakitkan itu. Lucy berlari sampai di depan ruang musik yang merupakan ruangan favoritnya di sekolah. Saat ia membuka pintu ruang music, ia kaget saat menemukan Marvin yang sedang menari di dalamnya.
"Kok gak di ruang dance?" Tanya Lucy sambil memasuki ruang musik.
Marvin berhenti menari dan mematikan musik dancenya.
"Oh, maaf, tadi kunci ruang dancenya kebawa temanku. Kamu kenapa?" tanya Marvin.
Lucy tidak menghiraukan Marvin dan duduk di kursi piano menghadap Marvin.
"Ada apa Lucy? Kamu kayaknya sedih banget," kata Marvin sambil mengambil kursi dan duduk di samping Lucy.
"Kenapa cinta begitu rumit, Vin? Kenapa aku harus jatuh cinta kepada orang yang tidak mencintaiku sama sekali?" kata Lucy sambil menahan tangis.
"Jadi kau benar-benar mencintai Gavin.." Marvin menyimpulkan dengan nada datar.
"Aku hanya akan selalu menjadi sahabatnya. Walaupun aku berusaha dengan cara apapun, dia tetap menganggapku sahabat. Dan walaupun Agatha membencinya, dia masih tetap mencintai Agatha. Hati ini.." Lucy menyentuh dadanya, " sakit sekali, Vin," kemudian sebutir air mata mengalir di pipinya.
"Aku mengerti," kata Gavin.
"Kau tidak mengerti," kata Lucy sambil mengusap air matanya dan mengambil sebuah tas biola di dekatnya kemudian membukanya.
"Karena orang yang kucintai juga menganggapku sebagai sahabat, Luc,"
Lucy baru saja ingin memainkan biola, tetapi ia berhenti ketika mendengar perkataan Marvin.
"Oh ya? Siapa?" Tanya Lucy.
"Kamu tahu apa maksudku, Luc," Marvin menatap Lucy lekat-lekat sampai Lucy menjadi salah tingkah.
Lucy tersadar kalau orang yang dimaksud Marvin adalah dirinya. Ia terkejut dan tidak tahu harus berkata apa.
"Vin, aku..."
"Aku tahu kau menyukai Gavin. Tapi aku akan selalu menunggumu, Luc."
Lucy menurunkan biolanya, "Vin.."
"Sudah, Luc. Tidak usah ngomong apa-apa lagi. Ayo kita main musik," Gavin mengambil sebuah gitar di dekatnya.
"Ehm, mungkin sebaiknya aku main piano," Lucy meletakkan biolanya dan berbalik menghadap pianonya. Sebenarnya Lucy ingin menghindari Marvin dan ingin menghilangkan suasana canggung ini.
"River Flows?" tanya Marvin.
Lucy mengangguk.
Kemudian mereka mulai memainkan River Flows yang terdengar sedih.
***
"Pergi kamu! Aku benci kamu!" Agatha melempar barang-barang di sekitarnya ke Gavin.
"Agatha, aku.. aku minta maaf," kata Gavin lirih.
"Kamu udah menhancurkan hidupku, Vin! Aku gak akan pernah maafin kamu!"
"Maafin aku.." rasanya Gavin ingin mati seketika itu juga.
"Apa gunanya minta maaf, Vin? Kamu kira dengan minta maaf tanganku bisa kembali seperti semula?" Agatha berteriak sambil menangis.
"Aku-"
"Pergi kamu! Aku gak mau melihatmu lagi! Aku gak akan maafin kamu selama-lamanya!!!"
Gavin terbaring di tempat tidurnya sambil memejamkan matanya. Rasanya ia ingin tertidur dan mendapati semua ini hanyalah mimpi. Seandainya ia lebih berhati-hati. Seandainya ia tidak membawa motor saat itu. Seandainya yang ditabraknya saat itu bukan Agatha, wanita yang sangat dicintainya.
Sebutir air mata mengalir di pipinya. Ini adalah pertama kalinya ia menangis sejak ayahnya meninggal saat ia masih kecil.
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarnya.
"Vin, ada telepon untukmu," panggil Ibu Gavin.
***
Keesokan harinya, Gavin tidak masuk sekolah. Hal ini membuat Lucy sedikit khawatir. Ia takut kalau Gavin berpikir yang tidak-tidak dan...
'Ah! Gavin tidak mungkin seperti itu!' kata Lucy kepada dirinya sendiri
"Apa? Gavin tidak ada di rumah?" kata Lucy kaget ketika ia menelepon Ibu Gavin pada saat istirahat.
"Iya, Luc. Kemarin malam katanya dia mau ke rumah Agatha, dan sampai sekarang dia belum pulang. Bagaimana ini, Luc? Apa jangan-jangan dia diapa-apain sama Agatha?" kata Ibu Gavin panik.
"Tidak mungkin, Tante. Kalau gitu sekarang aku ke rumah Agatha. Makasih, Tante," Lucy buru-buru mematikan teleponnya dan berlari ke parkiran. Ia tidak peduli lagi kalau ia mungkin saja diskors karena bolos.
Sesampai di parkiran, ia mengemudikan mobilnya dan melesat ke rumah Agatha.
***
Gavin terbangun dan mendapati dirinya sedang berada di ruangan yang agak gelap dan pengap. Ia sedang duduk di sebuah kursi dan kedua tangannya terikat ke belakang kursi. Kepalanya berdenyut sakit saat ia mencoba untuk bergerak. Hal terakhir yang ia ingat adalah kemarin malam Agatha meminta ia untuk menemuinya di rumahnya, dan saat ia masuk ke dalam rumah Agatha yang ternyata kosong, tiba-tiba ada yang memukulnya dari belakang dan ia jatuh pingsan.
Tiba-tiba terdengar suara pintu dibuka dan sebuah sosok masuk ke dalam ruangan.
"Agatha? Kenapa kau melakukan ini?" tanya Gavin tidak percaya.
Agatha berjalan mendekati Gavin. Di tangan kirinya terdapat sebuah tongkat pemukul.
"Aku ingin kau merasakan apa yang aku rasakan, Vin," kata Agatha dingin.
Gavin terkejut. Ia tidak menyangka Agatha akan melakukan ini. Sejenak ia membayangkan apa yang akan terjadi jika sebelah tangannya lumpuh. Ia tidak akan bisa bermain piano lagi. Tapi sekarang ia rela jika itu terjadi, asalkan Agatha mau memaafkannya dan mereka bisa bersama-sama lagi seperti dulu.
"Aku rela, Ta. Aku rela melakukan apa saja asal kau mau memaafkanku," jawab Gavin lirih.
Agatha terdiam sejenak. Ia tidak menyangka Gavin akan menjawab seperti itu. Mendadak ia merasa tersentuh dan ingin memeluk Gavin dan memaafkannya. Tapi ia segera membuang jauh-jauh perasaan itu. Yang harus ia lakukan sekarang adalah membalas dendam. Gavin harus merasakan apa yang telah ia rasakan.
"Jangan kira aku akan tersentuh," kata Agatha sedingin mungkin.
Agatha melepaskan ikatan pada tangan Gavin di belakang kursi. Dan Gavin langsung memberikan tangan kanannya kepada Agatha sambil memejamkan matanya. Gavin siap jika harus kehilangan tangannya. Ia siap kalau ia tidak akan bisa bermain piano lagi. Ia mencintai Agatha lebih dari apapun. Ia siap menerima segala konsekuensinya asalkan Agatha bisa memaafkannya.
Agatha menatap tangan kanan Gavin. Ia tidak menyangka Gavin akan merelakan tangannya. Ia mengalami dilema sesaat. Ia sangat membenci Gavin yang telah menghancurkan hidupnya, tetapi di sisi lain, ia masih mencintai Gavin. Apakah Gavin juga mencintainya?
'Tidak!' sebuah suara muncul di pikiran Agatha.
'Dia pasti sengaja meluluhkan hatiku! Aku tidak boleh terperdaya olehnya! Aku harus membalas dendam!'
Maka Agatha mengangkat tongkat pemukulnya.
***
Lucy sampai di depan rumah Agatha. Ia membuka gerbang rumahnya yang tidak terkunci dan berlari menuju pintu rumahnya.
"Sial! Pintunya dikunci!" maki Lucy.
Tiba-tiba Lucy teringat kalau Agatha sering menyembunyikan kunci cadangan rumahnya di balik keset kaki di teras rumahnya. Maka ia segera mengambil kunci cadangannya dan membuka pintu rumahnya.
Lucy melesat masuk ke dalam rumah Agatha. Rumahnya kosong. Semua ruangan di dalam rumahnya kosong. Berarti hanya ada satu tempat yang tersisa. Ruang bawah tanah.
Tiba-tiba Lucy mendapat firasat yang tidak enak, maka ia segera berlari menuju ruang bawah tanah. Betapa kagetnya ia ketika melihat Agatha sedang hendak memukul tangan kanan Gavin dengan tongkat pemukul.
"Jangan, Ta!" teriak Lucy.
Agatha dan Gavin menoleh ke Lucy dengan kaget.
"Ngapain kamu ke sini?" tanya Agatha kasar. Kemudian ia menoleh ke Gavin dengan marah.
"Aku.. tidak..." kata Gavin bingung.
"Agatha! Kenapa kamu melakukan ini pada Gavin? Dia teman kita, Ta!" kata Lucy tidak percaya.
"Kau sebaiknya jangan ikut campur, Luc," kata Agatha dingin. Kemudian Agatha mengangkat tongkatnya untuk memukul tangan Gavin.
"Agatha! Sebenarnya Gavin sangat mencintaimu!" teriak Lucy.
Kata-kata itu membuat Agatha terdiam sejenak.
"Masa kau lupa, Ta! Masa kau lupa masa-masa kalian dulu!" kata Lucy agak sedikit sakit hati.
Agatha menurunkan tongkatnya.
"Gavin sangat merasa bersalah, Ta. Dia lebih memilih mati daripada dibenci kamu selama-lamanya," air mata mengucur keluar dari mata Lucy.
Hati Agatha luluh. Kemudian Agatha berlutut dan menangis. Ia merasa bersalah kepada Gavin. Tega sekali ia melakukan itu padanya.
"Gavin sangat mencintaimu, Ta. Dan dia akan selalu mencintaimu, Ta. Dia bahkan rela kalau tangannya lumpuh demi kamu,"
Agatha menangis semakin keras. Tiba-tiba sekelilingnya menjadi semakin gelap dan hal terakhir yang ia ingat adalah Gavin memeluknya.
***
Beberapa bulan kemudian...
Agatha melirik jam tangannya. Gavin dan Lucy belum datang juga. Padahal mereka sudah telat lima belas menit.
Tiba-tiba ia melihat Gavin masuk ke kafe dan melambaikan tangannya kepada Agatha sambil tersenyum lebar.
Agatha melambaikan tangan kanannya perlahan. Setelah menjalani terapi, tangan kanan Agatha sudah bisa digerakkan sekarang, dan beberapa bulan lagi, tangan Agatha akan sembuh total.
"Aku punya sesuatu untukmu," Agatha mengeluarkan sebuah kertas bergambar wajah Gavin yang sedang tersenyum manis.
"Keren!" Gavin menatap gambar tersebut dengan kagum sambil duduk di sebelah Agatha.
"Aku gambar pakai tangan kiri loh!" kata Agatha bangga. Sekarang tangan kirinya sudah bisa menggambar, dan yang lebih menakjubkan adalah, tangan kirinya bahkan bisa menggambar lebih bagus dari tangan kanannya.
Kemudian Lucy dan Marvin menghampiri mereka.
"Wah, keren banget, Ta," kata Lucy dan Marvin bersamaan.
Gavin dan Agatha menatap mereka sambil tersenyum penuh arti. Kemudian Lucy dan Marvin duduk di depan mereka dengan canggung.
"Sepertinya terjadi sesuatu," kata Gavin sambil tersenyum jail.
"Wahh, bakalan PJ dong!" goda Agatha.
Marvin tersenyum, "Nah, kawan, jadi kalian sudah bisa menebaknya, ya. Kami memang barusan jadian kemarin."
Wajah Lucy memerah.
"Wah, jadi benar ya? Ciee selamat lah ya!" kata Agatha.
"Bagus, kalau begitu nanti Marvin yang bayar," kata Gavin senang.
Mereka berempat bercanda dan tertawa. Dan mereka semua percaya, setiap pahitnya hidup yang mereka alami akan berbuah manis di kemudian hari.
THE END