Temukan Cerita Inspiratif

Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.

Total Cerita

1144

Genre Romance

230

Genre Folklore

228

Genre Horror

228

Genre Fantasy

230

Genre Teen

228

Reset
Heartthrob
Fantasy
16 Feb 2026

Heartthrob

Archibald bergeming. Iris mata hazel kehijauannya menatap lurus ke depan, ke arah lawan bicaranya. Wajahnya datar, tak menunjukkan ekspresi apa pun. Sementara kedua tangannya terlipat di dada menunjukkan superioritasnya.Di hadapannya, Ammara menatap Archibald sengit. Matanya memicing penuh kecurigaan terhadap pangeran peri yang sekarang sedang duduk di hadapannya. Ammara cukup terkejut karena Archibald dan Claude adalah peri pertama yang mengunjunginya sejak ia dipindahkan Sang Ratu ke kastel sebelah Timur.Claude yang duduk tepat di samping Archibald merasa tidak nyaman dengan suasana saat itu. Ia menatap kedua peri yang bersitegang di hadapannya dengan kening berkerut. Claude menghembuskan napas keras seraya mengucek surai hitam yang jatuh menutupi dahi dengan kesal. Ia mengira segala sesuatunya akan berjalan lancar. Namun, ternyata ia salah. Dua peri di hadapannya ini adalah sepasang peri paling keras kepala yang pernah dikenalnya."Tolong, hentikan sikap kalian yang kekanak-kanakan ini!" sergah Claude sambil mendengkus."Dia yang tidak sopan! Dia menutup pintu di hadapan tamu yang datang untuk menolongnya," desis Archibald dengan salah satu alis yang terangkat."Lihatlah sikapnya, Claude! Begitu kasar dan arogan. Aku ragu jika ia datang ke sini untuk menolongku. Jangan-jangan dia hanya ingin menyombongkan diri!" balas Ammara tak kalah sengit. Matanya menatap tidak suka ke arah Archibald."Aku tidak sombong, peri aneh! Aku memang hebat. Hampir seluruh peri di Fairyverse mengenalku sebagai peri terbaik di medan perang. Aku bahkan dapat keluar masuk Hutan Larangan tanpa terkena sihir atau kutukan. Jadi apa yang salah dari sikapku?!""Kau bilang membanggakan diri seperti itu tidak sombong? Di mana hatimu peri hebat? Apa kehebatanmu telah menutup hatimu atau kau memang tidak punya hati?!"Dasar peri aneh! Aku kemari untuk membantumu. Bukan untuk mendengarmu merendahkanku. Sepertinya menolongmu adalah keputusan yang salah!"Archibald menggebrak meja pualam hingga menimbulkan retakan-retakan halus. Dengan gerakan cepat, peri laki-laki itu hendak beranjak dari duduknya, tetapi Claude menahan lengannya. Sementara, Ammara yang tampak ingin membalas ucapan Archibald jadi mengurungkan niatnya setelah melihat wajah putus asa Claude."Aku tidak tahu apa masalah kalian sebenarnya. Kalian tampak saling membenci. Namun, aku mohon dengan sangat, untuk saat ini tolong lupakan dulu kebencian kalian masing-masing. Kita harus menyelamatkan Ammara. Kalau tidak, Ammara bisa saja dibuang ke Hutan Larangan. Aku mohon fokuslah kali ini saja ..." ucap Claude sambil menatap Archibald dan Ammara bergantian.Ammara dan Archibald bergeming. Mereka menunduk, sama-sama menghindari tatapan Claude yang terlihat menghakimi. Suasana yang tadinya memanas, kini mendadak hening."Baiklah." Claude menghela napas. "Aku akan mempertegas situasinya. Archibald, apakah kau benar-benar bersedia membantu Ammara?" Iris mata Claude yang hitam menyorot pada Archibald.Archibald menatap Claude sekilas. Kemudian, ia mencuri pandang ke arah peri perempuan yang sedang tertunduk di hadapannya. Entah mengapa, Archibald merasa sangat iba pada peri itu meskipun Ammara sering membuatnya kesal tanpa alasan."Ya, aku bersedia," sahutnya dengan datar.Ammara melirik Archibald, meyakinkan dirinya bahwa ia tidak salah dengar. Ia hampir tidak percaya bahwa peri sombong dan kasar seperti Archibald bersedia menolongnya. Ammara mengingatkan dirinya sendiri untuk tetap waspada terhadap peri itu."Bagus!" Claude menyeringai, kemudian mengalihkan pandangannya pada Ammara. "Apakah tidak masalah bagimu jika Archibald ikut terlibat untuk menolongmu?""Ya, tidak masalah kalau dia memang benar-benar ingin menolongku,"sahut Ammara ketus."Apa maksudmu?!" Archibald tampak tersinggung."Aku tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya meyakinkan bahwa kau memang tulus ingin menolongku. Itu saja.""Kau ingin mulai lagi?!""Oh, ternyata selain sombong kau juga mudah tersinggung, ya.""Tutup mulutmu! Kau sungguh membuat kesabaranku habis!""Hentikan!"Claude berdiri sambil menggebrak meja di hadapannya. Meja itu semakin retak, bahkan mengepulkan asap putih dari celah retakannya."Aku tidak tahan dengan kalian berdua. Apa kalian ingin aku pergi?!"Ammara dan Archibald serentak mendengkus. Mereka sama-sama membuang muka ke arah berlawanan. Tanpa mereka sadari, mereka saling mengerling saat salah satu di antaranya sedang menatap ke arah lain.Claude melihat tingkah kedua peri itu seraya mengembuskan napas panjang. Ia berusaha menenangkan dirinya sendiri yang mulai tersulut emosi melihat tingkah dua peri keras kepala yang sama-sama tak mau mengalah. Setelah membiarkan suasana hening untuk beberapa saat, Claude akhirnya kembali buka suara. "Jadi, sebenarnya, kedatangan kami kemari ingin membantumu, Ammara. Aku belum sempat berkata apa-apa dan kalian sudah bertengkar."Wajah Ammara memerah, ia merasa tidak enak dan malu kepada Claude karena menyadari sikapnya yang kasar dan emosional tadi. Dalam hati, ia merutuki dirinya sendiri yang bersikap berlebihan terhadap Archibald."Ma-maafkan aku," ucap Ammara lirih. "Maksudmu membantu bagaimana, Claude?""Jadi, kami kemari untuk mengetahui cerita lengkap tentang kalung zamrud yang kau miliki. Bagaimana kau mendapatkannya? Dan, dari mana kau mendapatkan kalung zamrud itu?"Ammara tampak berpikir sejenak. Ia berusaha mengingat-ingat segala hal tentang kalung zamrud yang dimaksud Claude. Kalung zamrud yang seingatnya memang telah melingkar di lehernya sejak lama. Apakah ia mendapatkan kalung zamrud itu dari seseorang ataukah kalung zamrud itu merupakan pemberian dari orang tuanya? Ia tidak tahu pasti. Ia tak dapat mengingat apapun tentang asal-muasal kalung itu. Tiba-tiba kepalanya terasa sedikit pusing. Ammara menyentuh pelipisnya sambil meringis."A-aku tidak ingat apapun," sahut Ammara pelan."Jangan permainkan kami, Ammara. Tidak mungkin kau tidak mengingatnya. Aku hanya ingin kau mengatakan yang sejujurnya?" desak Claude.Ammara menggeleng pelan. "Maafkan aku. Aku sama sekali tidak bisa mengingat dari mana kalung itu berasal."Archibald menghela napas dengan kasar. Peri tampan itu hendak mengatakan sesuatu, tetapi Claude dengan tatapannya memberi isyarat kepada Archibald untuk menahan diri."Apa maksudmu dengan tidak bisa mengingat dari mana kalung itu berasal? Apakah kalung itu bukan pemberian orang tuamu?" Claude bertanya lagi penuh selidik.Ammara menggeleng. Ia menatap Claude dengan sorot frustrasi. Peri perempuan itu menggenggam tangannya sendiri dengan keras sehingga kulit telapak tangannya memucat. Bagaimanapun Ammara mencoba, ia tidak dapat mengingat apapun tentang kalung zamrudnya."Aku tidak percaya ini!" decak Archibald frustrasi.Claude yang berada di sampingnya menggeleng pelan, menampakkan raut yang sama frustrasinya dengan Archibald."Bagaimana kalau kau menggunakan kemampuan retrokognisimu, Claude?" Tiba-tiba Archibald mendapatkan sebuah ide. Ia menatap Claude, kemudian mengalihkan pandangannya kepada Ammara sekilas.Claude mengangguk pelan. Iris mata hitamnya tak lepas menyoroti sosok Ammara. "Kau benar Archibald, aku lupa kalau sebenarnya aku bisa saja dengan mudah mengetahui masa lalu peri ini. Terima kasih telah mengingatkan!" sahut Claude yang mendadak antusias."Ammara, tolong izinkan aku untuk membaca ingatan masa lalumu, ya?" tanya Claude lembut.Ammara mengangguk ragu. Dia sebenarnya tidak mengerti apa yang dibicarakan Claude dan Archibald, tetapi apa pun itu, Ammara akan menurutinya."Baiklah, Ammara. bolehkah aku menggenggam tanganmu?"Ammara mengangguk lagi. Ia mengulurkan salah satu tangannya ke atas permukaan meja.Dengan hati-hati, Claude meraih dan menggenggam tangan peri itu. Setelahnya, Claude berkomat-kamit melafalkan mantra dalam lirih. Iris mata kelamnya seketika menghilang, menyisakan putih mata yang berpendar. Dalam alam pikirannya, Claude sedang menjelajah mencari memori masa lalu Ammara tentang mata kalung zamrud yang dimilikinya.Claude terkesiap hanya beberapa detik setelah perjalanannya menjelajah ingatan Ammara. Peri laki-laki itu sontak melepaskan genggaman tangannya, kemudian menatap Ammara dengan tatapan tidak percaya. Lebih tepatnya, ia syok."Ada apa?" tanya Ammara dan Archibald hampir bersamaan. Kedua peri itu tampak bertukar pandang untuk beberapa detik, sebelum akhirnya menatap Claude dengan penuh tanya.Claude menggeleng pelan seraya menatap Ammara dengan tatapan tidak percaya. "Aku tidak bisa melihat apa pun!" serunya dengan suara meninggi."Apa maksudmu, Claude?" tanya Archibald dengan sedikit panik. Baginya, raut wajah Claude saat itu menunjukkan ekspresi yang tidak biasa."Ini aneh. Aku tidak pernah melihat yang seperti ini. A-aku tidak bisa melihat masa lalunya," sahut Claude dengan suara tercekat."Apa? Bagaimana bisa? Bukankah kau selalu bisa membaca masa lalu para peri hanya dengan menggenggam telapak tangan mereka? Apa kau mendadak kehilangan kemampuanmu?"Pertanyaan-pertanyaan Archibald itu terasa sangat menyudutkannya. Sedikit rasa kecewa terbit di hati Claude. Claude menatap iris hijau Ammara, seolah mencari kebenaran di sana. Bagaimana mungkin, peri cenayang seperti dirinya tidak mampu membaca masa lalu peri biasa seperti Ammara."Si-siapa sebenarnya dirimu?" tanya Claude dengan tatapan yang tidak dapat Ammara artikan.Ammara membuka mulutnya hendak menjawab pertanyaan Claude, tetapi sebuah suara yang datang dari arah pintu membuat Ammara mengurungkan niatnya."Selamat pagi, Ammara! Wah, ternyata ada yang bertamu lebih awal dari pada kami!" sapa sebuah suara berwibawa peri laki-laki yang kini berdiri tepat di depan pintu kastel Timur.Ammara, Claude, dan Archibald serentak mengangkat wajah mereka, menatap sosok yang berdiri di depan pintu kastel. Ketiga peri elf itu tampak terkejut melihat kehadiran Putra Mahkota Albert di ambang pintu."Selamat pagi, Putra Mahkota Albert!" sapa Claude seraya berdiri dari duduknya untuk menyambut Albert. Ternyata Albert tidak datang sendiri. Dari balik tubuh jangkungnya yang menutupi ambang pintu muncul Pangeran Elwood dan Pangeran Elijah."Wah, ternyata ada yang telah mendahului kita. Claude dan ... Archibald?" Suara Elijah yang semula riang berubah terkejut saat melihat Archibald yang duduk membelakangi mereka. "Apa yang kau lakukan di sini, heh? Setahuku kau tidak menyukai Ammara? Atau aku melewatkan sesuatu?" tanyanya dengan penuh selidik."Bukan urusanmu!" Desis Archibald tidak ramah."Sudahlah, Elijah. Kau merusak suasana damai di kastel ini. Bukankah kita kemari untuk menyapa dan memberi dukungan kepada Ammara?" Sergah Albert, mengurai ketegangan yang mulai muncul perlahan di antara Archibald dan Elijah. Setelah itu, ia mengulas senyum pada Ammara. "Bagaimana keadaanmu, Ammara? Apa kau merasa lebih baik setelah berada di kastel ini?"Ammara mengedikkan bahu seraya tersenyum kecut. "Tidak ada tempat terbaik selain rumah."Putra Mahkota Albert tergelak. "Ah, ya! Maafkan aku Ammara. Semuanya akan baik-baik saja. Dan, aku berjanji bahwa kau akan segera kembali ke Fairyfarm. Jadi, kedatanganku, Pangeran Elwood, dan Pangeran Elijah adalah untuk membantumu Ammara. Kami percaya kau tidak bersalah, pasti telah terjadi kesalah pahamanan di sini."Claude berdeham. "Kami juga berpikir demikian. Kami kemari untuk membantu Ammara.""Wah, aku senang sekali ternyata saudara-saudaraku juga sangat peduli pada Ammara," sahut Albert. Ia mengambil posisi duduk di kursi tepat di samping Archibald yang bersidekap. Elwood dan Elijah mengikuti Albert. Mereka masing-masing duduk di sisi kanan dan kiri Ammara. Claude kembali duduk ke posisinya semula di samping Albert. Kini Ammara dan Para Pangeran duduk mengelilingi sebuah meja bundar yang nyaris hancur dengan suasana yang sedikit canggung."Kau baik-baik saja, Ammara?" Elwood menyapa Ammara dengan tatapan sendu. Iris mata biru peri tampan itu menyiratkan kekhawatiran yang berusaha ia tutupi dengan senyumnya.Ammara mengangguk sambil tersenyum kecil pada Elwood. "Aku baik-baik saja, terima kasih telah mengkhawatirkanku."Ammara mengalihkan pandangannya kepada Albert, yang kini menatapnya dengan pandangan yang sama. "Terima kasih, Putra Mahkota Albert karena kau telah meminta Ratu Serenity untuk memindahkanku ke kastel yang indah ini. Setidaknya, tempat ini jauh lebih baik dari pada ruang tahanan bawah tanah kerajaan Avery."Putra Mahkota Albert tersenyum lagi. Entah mengapa, apa pun yang peri perempuan itu ucapkan selalu dapat menerbitkan senyumnya. "Kau tidak pantas berada di ruang tahanan bawah tanah yang gelap dan dingin itu. Kau belum tentu bersalah. Lagi pula, Ibumu telah membantu kami semua dari pengaruh sihir hitam. Jadi, sudah selayaknya, kami memperlakukanmu dengan baik," jelasnya semringah. "Oh, dan satu lagi ... cukup panggil aku Albert saja."Sontak keempat pangeran lainnya terkejut mendengar ucapan Albert yang terakhir. Elwood berdeham dengan ekspresi seperti orang yang tersedak. Sementara, Archibald membuang muka. Di sampingnya, Claude menatap Albert tidak percaya dengan tangan menutupi mulutnya yang ternganga. Sedangkan Elijah tampak menahan tawanya yang hampir meledak. Kecanggungan di antara mereka seketika mencair."Putra Mahkota, katamu tadi kalian kemari akan membantu Ammara, bukan? Apakah kalian sudah punya rencana?" tanya Archibald dengan nada serius.Suasana kembali hening dan serius, sebelum akhirnya Albert menjawab. "Kami berencana akan menyelidiki dari mana kalung zamrud itu berasal dan kami juga akan pergi ke Hutan Larangan.""Kau tidak bercanda kan, Albert? Akan sangat berbahaya jika Putra Mahkota dan Para Pangeran yang tidak pernah masuk ke Hutan Larangan pergi ke sana. Tempat itu penuh kutukan dan sihir hitam. Aku takut kalian tidak akan bisa keluar dengan selamat dari Hutan Larangan," bantah Claude khawatir."Jadi apa rencanamu, Claude?" tanya Elwood seraya menatap Claude dan Archibald bergantian."Menurutku, lebih baik, Archibald saja yang masuk ke Hutan Larangan," sahut Claude penuh keyakinan. "Lebih baik kita mencari petunjuk di Fairyhill dekat perbatasan Hutan Larangan. Kita harus mencari tahu, apakah ada makhluk Hutan Larangan yang pernah menembus segel sihir putih di perbatasan.""Ternyata strategi kalian lebih matang!" komentar Albert dengan mata berbinar. "Baiklah aku setuju. Aku pikir lebih baik kita bergabung. Sudah lama sekali rasanya sejak terakhir kali kita menyelesaikan misi bersama sebagai saudara."Mendengar kata-kata Albert, para pangeran tersenyum. Pikiran mereka serentak mengingat memori saat mereka berburu di Fairyhill ratusan tahun yang lalu. Saat mereka hanyalah remaja peri yang sangat gemar bermain dan berpetualang. Saat tak ada prasangka di antara mereka."Aku setuju!""Ya, aku ikut!""Baiklah. Kita harus mempersiapkan senjata dan unicorn yang akan kita gunakan be —"Kau melupakan sesuatu!" potong Archibald tiba-tiba."Apa maksudmu?" tanya Claude dengan alis bertaut."Aku bukanlah satu-satunya pangeran yang bisa memasuki Hutan Larangan." Archibald menyeringai. Sementara, para pangeran lainnya tampak saling melempar pandangan dan dugaan satu sama lain dengan tegang."A-apa? Siapa maksudmu pangeran yang juga bisa masuk ke Hutan Larangan?" tanya Albert sedikit panik. Setahunya, tidak sembarang peri bisa masuk ke Hutan Larangan dan keluar lagi dengan selamat. Hutan itu dikutuk oleh para peri unsheelie yang menyimpan dendam pada peri sheelie, sehingga para peri sheelie tidak dapat keluar masuk Hutan Larangan dengan leluasa.Di Istana Avery, hanya Archibald yang bisa keluar masuk Hutan Larangan karena ia adalah keturunan peri penyihir paling sakti yang ada di Fairyverse. Selain peri yang merupakan keturunan peri penyihir, peri keturunan unsheelie juga dapat keluar masuk Hutan Larangan tanpa terkena sihir dan kutukan. Berdasarkan asumsi tersebut, terdapat satu kemungkinan yang paling masuk akal yaitu, salah satu di antara pangeran peri memiliki darah unsheelie."Mengakulah atau aku yang akan mengatakannya pada mereka," ucap Archibald dengan seringai yang sama. Ia mengedarkan pandangan kepada seluruh pangeran secara bergantian."Baiklah, aku akan ikut denganmu masuk ke Hutan Larangan!"Ammara dan seluruh pangeran terkejut mendengar jawaban yang terlontar dari Elijah. Para pangeran tidak menyangka bahwa Elijah ternyata juga bisa keluar masuk Hutan Larangan tanpa terkena kutukan. Seluruh mata kini menatap pada sosok peri tampan beriris biru dengan rambut kelam yang bergelombang itu. Yang ditatap hanya tersenyum getir menahan gejolak emosi yang kini tengah malandanya."Ja-jadi kau?""Elijah?!""Ya, aku memang bukan anak kandung Putri Aurora. Aku sama sekali tidak tahu siapa ibu kandungku yang sebenarnya. Aku harap kalian masih mau menjadi saudaraku.""Cukup, Elijah. Kita bahas ini nanti," potong Albert. Tidak pantas rasanya membahas tentang keluarga Kerajaan Avery di depan orang asing.Albert mengembuskan napas panjang sebelum melanjutkan ucapannya. "Mari kita fokus pada permasalahan Ammara. Jadi, kita telah menyepakati untuk melakukan penyelidikan bersama. Aku, Elwood dan Claude beserta beberapa kesatria peri terbaik akan memeriksa Fairyhill, terutama di daerah perbatasan Hutan Larangan. Sementara Archibald dan Elijah akan menyelidiki Hutan Larangan. Apakah kalian memerlukan bantuan para Gnomes kerajaan?"Archibald menyunggingkan senyum miring. "Aku tidak membutuhkan siapapun. Aku bisa melakukannya sendiri."Lagi-lagi Albert harus mengembuskan napas panjang. Sekali lagi ia menegaskan. "Elijah akan membantumu.""Terserah!""Namun, sebelumnya aku ingin bertanya padamu, Ammara. Dan, aku harap kau menjawab dengan jujur. Dari mana kau mendapatkan kalung zamrud itu?" tanya Albert. Iris mata cokelat terangnya menyorot Ammara dengan penuh selidik.Ammara terkesiap. Pertanyaan itu lagi. Ia berusaha mengingat-ingat dari mana kalung zamrud itu berasal, mencari memori yang berkaitan dengan kalung itu. Namun, lagi-lagi hasilnya nihil. Ia tidak menemukan apa pun. Ammara menggeleng pelan, dengan iris mata hijau yang menunjukan kekecewaan."Maafkan aku, Albert. Aku benar-benar tidak dapat mengingat apa pun. Yang aku ketahui hanyalah kalung itu sudah ada sejak lama di leherku," ucapnya lirih."Kami sudah menanyakannya tadi." Claude menimpali."Gunakan kemampuan retrokognisimu, Claude?""Sudah. Namun, aku tidak dapat membaca masa lalunya juga, Albert. Sesuatu pasti terjadi padanya."Albert dan para pangeran tampak terkejut. Mereka saling bertukar pandang. Claude termasuk salah satu peri cenayang dengan kemampuan retrokognisi yang baik. Jika peri itu tidak dapat melihat masa lalu Ammara, pasti ada yang tidak beres dengan peri perempuan berambut keemasan itu. Albert menatap Ammara dengan iba. Tangan kananya terulur ke arah punggung tangan Ammara yang bertumpu di atas meja, memberikan dukungan pada peri perempuan itu.Setetes air bening terbit di pelupuk mata Ammara. Ia sedih memikirkan nasibnya yang terjebak oleh sesuatu yang tidak ia pahami. Namun, ia juga merasa terharu akan kebaikan Putra Mahkota Albert dan para pangeran Kerajaan Avery yang belum lama ia kenal."Jangan khawatir, Ammara. Semua akan baik-baik saja. Kami pasti bisa membuktikan kalau kau tidak bersalah," ucap Albert menenangkan. Iris matanya menatap Ammara intens, ia seakan ingin mengenyahkan seluruh kesedihan yang melingkupi perasaan peri perempuan itu."Kami bersamamu," tutur Elwood seraya merangkul Ammara lembut."Aku akan mengusahakan yang terbaik untuk membebaskanmu, jangan khawatir Ammara!" Claude menimpali."Peri cantik sepertimu tidak pantas bersedih." Elijah tersenyum simpati, turut memberi semangat pada Ammara.Archibald tidak mengatakan apa-apa. Namun, ketika pandangan matanya dan Ammara bertemu, ia menatap peri perempuan itu lekat-lekat. Sesuatu yang familier menyusup perlahan pada perasaan Archibald. Sesuatu yang pernah terjadi di masa lalu. Iris mata hijau yang terasa sama dan detak jantungnya yang terasa aneh. Ia telah menetapkan hati. Ia akan menjaga Ammara, apa pun yang terjadi.* * *Cottingley, 1856, Pinggiran Kota Bradford, West Yorkshire, Inggris (Dunia Manusia).Archibald berlari kencang membelah semak dandelion yang bergoyang seiring embusan angin. Benih-benih bunga Dandelion yang sangat ringan itu berterbangan setelah bergesekan dengan tubuh Archibald.Pada satu titik, di tengah semak dandelion, Archibald berhenti dan mengatur napasnya. Matanya menangkap sosok seorang gadis kecil berambut keemasan yang sedang meniup benih bunga dandelion. Gadis itu berteriak kegirangan setiap kali benih bunga dandelion terbang sangat tinggi dan menghilang ditelan birunya langit.Archibald terpana menatap gadis kecil dengan gaun selutut berwarna lilac yang berdiri tak jauh di hadapannya. Ia tidak pernah melihat pemandangan seindah dan sepolos itu di Fairyverse. Gadis Dandelion seumpama memiliki sihir yang menarik seluruh atensinya dan membuat dunianya berhenti pada titik itu.Tiba-tiba iris mata hijau gadis itu menangkap sosok Archibald yang bergeming. Gadis itu melambaikan tangannya seraya tersenyum ceria. Senyum terindah yang pernah Archibald lihat selama hidupnya."Hei, apa yang kau lakukan di situ? Kemarilah!" Sapa gadis itu riang."Siapa kau?" tanya Archibald tanpa beranjak dari tempatnya berdiri. Betapa pun ia ingin menghampiri gadis kecil itu, nalurinya untuk waspada terhadap makhluk asing memintanya untuk tetap menjaga jarak."Aku, Chiara. Siapa namamu?""Aku Archie. Apa kau seorang manusia?""Tentu saja, Archie! Kau pikir aku ini apa? Hantu?" Gadis kecil bernama Chiara itu tergelak mendengar pertanyaan Archibald yang dianggapnya aneh. Derai tawanya membuat jantung Archibald berdetak dengan aneh."Ka-kau sangat cantik," gumam Archibald. Beruntung, gadis di hadapannya tidak mendengar ucapan Archibald barusan dengan jelas. Suara Archibald tertelan desau angin yang mendadak bertiup membelai semak dandelion. Benih-benih halusnya kembali terbang menembus langit."Ada apa dengan telingamu?" tanya Chiara sedikit berteriak. Iris mata hijau gadis itu menatap lurus pada telinga runcing Archibald.Archibald menyentuh kedua telinga runcingnya yang sangat mencolok. Tentu saja gadis kecil itu merasa heran, karena telinganya berbeda dengan telinga Archibald.Archibald menimbang beberapa saat sebelum menjawab pertanyaan Chiara. "Telingaku memang seperti ini.""Benarkah? Telingaku tidak seperti telingamu," gumam gadis itu sambil menyentuh kedua telinga kecilnya. Dahinya berkerut dalam.Archibald mengulum senyum melihat tingkah Chiara. Baginya, gadis manusia itu terlihat sangatlah menggemaskan."Tentu saja telinga kita berbeda, karena aku adalah peri," sahut Archibald."Kau seorang peri?" Mata Chiara membulat antusias. "Apakah kau peri seperti Rumpelstilstskin? Nenek selalu menceritakan dongeng Rumpelstilstskin setiap menjelang tidur."Archibald berpikir sebentar. Ia sama sekali tidak mengenal nama peri yang disebutkan Chiara. Terlebih lagi, gadis itu menyebutkan tentang dongeng atau apa pun itu. Namun, ia tidak ingin terlihat tidak tahu di hadapan gadis dandelionnya. Ia harus memikirkan jawaban yang diplomatis untuk pertanyaan Chiara."Bisa dibilang begitu," sahut Archibald dengan nada menggantung menutupi ragunya.Mata Chiara tampak berbinar menyiratkan kekaguman. "Apa kau bisa mengubah jerami menjadi emas seperti yang dilakukan Rumpelstilstskin?!""Aku bisa melakukan hal yang lebih baik dari itu," sahut Archibald bangga. Dia sangat senang karena telah berhasil membuat Chiara kagum."Wow, kau sangat keren!" Puji gadis kecil itu tulus. "Aku akan mengenalkanmu pada nenekku. Dia pasti senang jika bertemu dengan peri seperti Rumpelstilstskin."Archibald mendadak panik. Ia tidak ingin Chiara memberitahu tentang keberadaanya pada manusia lain."Ti-tidak. Tunggu dulu. Jangan beritahu orang lain. Cukup kita berdua saja yang tahu!"Chiara melipat tangannya di depan dada, tampak berpikir. "Baiklah, aku akan merahasiakan ini. Namun, kau harus memberiku sesuatu sebagai balas jasa?""Baiklah." Archibald menyanggupi.Archibald menengadahkan telapak tangannya seraya merapalkan sebuah mantra. Tiba-tiba beberapa kuntum bunga dandelion mekar yang berwarna kuning berterbangan membentuk lingkaran di atas telapak tangan Archibald yang terbuka. Bunga-bunga itu saling bertaut dengan ajaib membentuk sebuah mahkota bunga yang cantik.Ammara menatap apa yang dilakukan Archibald itu tanpa berkedip. Mulutnya bahkan menganga tidak percaya.Archibald menyunggingkan senyum miring. Ia mendekati Chiara perlahan, memusnahkan jarak beberapa depa di antara mereka. Setelah jaraknya dan Chiara hanya tinggal sejengkal, Archibald memasangkan mahkota dandelion buatannya ke atas kepala Chiara.Gadis itu tersenyum menatap manik mata Archibald. "Ini indah sekali," ucapnya lirih. Archibald hanya membalas ucapan Chiara dengan senyuman.Andai waktu dapat dihentikan saat itu, maka Archibald akan mengerahkan seluruh kekuatan sihirnya untuk menghentikannya. Ia berharap ia tidak perlu kembali ke Fairyverse dan meninggalkan gadis dandelion yang diam-diam telah mencuri hatinya."Aku harus segera pulang atau nenek akan menjemputku ke sini," ucap Chiara tiba-tiba. Archibald segera tersadar dari suasana yang membuatnya terlena."Apa aku akan menemukanmu lagi di sini?" tanya Chiara sambil membetulkan posisi mahkota bunganya."Tentu saja," sahut Archibald pelan."Baiklah, sampai bertemu besok!" pamitnya. Chiara meninggalkan Archibald dengan langkah cepat. Sesekali gadis itu menoleh ke belakang sambil melambai ke arah Archibald.Archibald bergeming seraya menatap punggung Chiara yang semakin menjauh. Ia mengulum senyum, merasakan sesuatu menghangat di dalam dadanya. Sementara jantungnya berdetak dengan irama yang berbeda dari biasanya.

The Queen
Fantasy
16 Feb 2026

The Queen

Pintu besi tahanan berderit keras, menyadarkan Ammara yang sedang tertidur meringkuk di atas permukaan lantai batu yang dingin. Tubuh ringkihnya menggigil beberapa saat, sebelum akhirnya ia bangkit dan menatap waspada ke arah pintu besi di hadapan.Pintu besi itu terbuka dan beberapa kesatria elf memasuki ruangan tahanan dengan langkah formal. Mereka berdiri berjajar di samping kiri dan kanan pintu tahanan. Setelahnya, seorang peri elf dengan jubah merah marun berlambang Kerajaan Avery masuk. Peri laki-laki berambut kelabu itu menganggukan kepala kepada Ammara memberi salam."Ammara, Ratu Kerajaan Avery, Ratu Serenity ingin bertemu denganmu," tutur Maurelle dengan nada formal.Ammara menyipitkan matanya menatap sosok Maurelle. Matanya tidak mampu melihat wajah peri itu dengan jelas. Ia mengangguk pelan sambil berusaha menopang tubuh lemahnya dengan kedua tangan.Maurelle mengangguk kepada dua kesatria elf yang berdiri paling dekat dengannya, memberi titah untuk membantu Ammara berdiri. Dengan sigap, kedua kesatria elf itu mendekati Ammara dan meraih kedua lengannya.Ammara menurut. Setelah berhasil menegakkan sepasang tungkainya, ia lantas melangkah dengan tertatih sambil digiring oleh kedua kesatria elf di sisi kanan dan kirinya. Mereka membimbing Ammara keluar dari ruang tahanan yang gelap itu. Sementara, Maurelle mengekor di belakangnya.Ammara mengernyit lagi saat mereka memasuki bagian lain istana yang terang benderang karena cahaya matahari. Matanya tidak terbiasa melihat terang setelah dua hari terkurung di dalam ruangan tahanan yang gelap. Ia tidak begitu peduli ke mana ia akan dibawa, yang terpenting adalah ia merasa sangat lega telah keluar dari ruangan gelap itu.Mereka berhenti di depan istana utama Kerjaan Avery yang memiliki sebuah pintu besar terbuat dari emas. Istana paling besar di Kerajaan Avery. Gagang pintunya berkilap membentuk sepasang siluet peri bersayap kupu-kupu yang merupakan lambang Kerajaan Avery.Sepasang kesatria elf dari balik pintu membuka pintu emas itu dari dalam. Maurelle mendahului masuk untuk memberi salam dan memberitahu kedatangan Ammara. Sementara, Ammara yang dibimbing oleh sepasang kesatria elf mengikutinya melewati pintu balairung setelah seorang peri mempersilahkannya masuk.Ammara terpana. Bibir mungilnya mendesiskan kekaguman tanpa ia sadari, begitu masuk ke dalam istana utama tersebut. Balairung itu adalah sebuah ruangan maha luas yang sangat indah, hampir keseluruhannya terbuat dari emas dengan langit-langit tinggi berbentuk kubah yang terbuat dari kaca. Langit-langit istana itu menampakkan pemandangan langit biru Fairyverse dengan sinar matahari yang masuk dan menjadikan ruangan itu terang benderang. Sementara jika malam hari, hamparan langit berbintanglah yang akan menjadi pemandangan dari langit-langit yang terbuat dari kaca transparan itu.Beberapa meter di hadapan Ammara tampaklah sebuah singgasana indah terbuat dari emas. Permata-permata yang berkilauan menghiasi di beberapa bagian singgasana. Singgasana itu dilapisi beludru berwarna merah marun. Sementara bunga-bunga beraneka warna mendominasi sisi kiri dan kanan singgasana.Di atas singgasana emas, sesosok peri perempuan sedang duduk dengan anggun. Rambutnya yang sedikit bergelombang berwarna perak dan panjangnya hingga mencapai betis. Rambut perak sang ratu terjalin sebagian dengan hiasan bunga mawar putih sebagai ikatannya. Di atas kepalanya berkhtahta sebuah mahkota perak dengan batu-batu permata putih yang menghiasinya. Di tengah keningnya tampak sebuah hiasan berkilauan berbentuk bulan sabit berwarna perak.Ratu Serenity menyambut kedatangan Ammara dengan seulas senyum simpati. Iris matanya yang berwarna perak menyorotkan kekhawatiran yang kentara.Ammara dibimbing oleh kedua kesatria elf untuk duduk bersimpuh di hadapan singgasana sang Ratu. Peri perempuan itu sedikit membungkuk dengan canggung, memberi salam kepada Ratu Kerajaan Avery. Setelahnya, Ammara duduk bersimpuh sembari menunduk gugup, sama sekali tak berani menatap mata sang Ratu dengan segala keindahannya."Aku telah mendengar apa yang terjadi padamu dari Maurelle," ucap sang Ratu dengan nada formal. Suaranya yang mengalun merdu sedikit meredakan kegugupan Ammara."Aku juga telah mendengar kejadian yang menimpa Putri Tatianna dan para Pangeran pada saat pesta perayaan ulang tahun Putri Tatianna," lanjutnya. Mata peraknya tetap menyorot pada Ammara, seakan sedang menilai kepribadian peri perempuan di hadapannya itu.Ammara tetap bungkam sambil menunggu Sang Ratu melanjutkan ucapannya. Ia menatap hamparan permadani berbulu lembut yang melapisi lantai istana. Susah payah ia melawan keinginan untuk mendongak dan menatap sang ratu yang intimidatif."Sebagai seorang ibu, aku sangat sedih dan sangat marah dengan apa yang menimpa putri dan putra-putraku." Sang Ratu menghela napas pelan seraya membuang pandangan sedihnya ke langit-langit istana. "Namun, aku juga harus berlaku adil juga padamu. Terlebih, karena ibumulah yang menyelamatkan anak-anakku."Pandangan Sang Ratu kembali kepada Ammara. Sementara Ammara masih menunduk sambil sesekali mencuri pandang ke arah Sang Ratu."Ammara ... Ada yang ingin kutanyakan padamu," sapa Ratu Serenity pelan. Ammara mengangkat wajahnya, menatap Sang Ratu dengan sorot ragu. "Kau tampak sangat polos. Pantas saja Putra Mahkota Albert dan Pangeran Elwood memohon kepadaku untuk menyelamatkanmu. Aku penasaran, bagaimana kau bisa mengenal anak-anakku?"Ammara terkesiap. Ternyata Putra Mahkota Albert dan Elwood yang meminta sang Ratu untuk meringankan hukumannya. Sebenarnya ia ingin menanyakan kepada Sang Ratu mengenai hal tersebut, tetapi ia urungkan karena ia merasa segan."Aku ... aku tidak sengaja bertemu dengan Elwood, maksudku Pangeran Elwood dan Pangeran Archibald di Fairyhill. Mereka menyelamatkanku saat aku hampir tenggelam di sungai," sahut Ammara dengan suara tercekat. Ia berusaha menekan kegugupannya sekuat tenaga."Fairyhill? Tempat itu cukup berbahaya bagi peri yang tidak memiliki kekuatan bela diri ataupun kekuatan sihir. Tempat itu adalah tempat paling liar di Fairyverse, setelah Hutan Larangan. Apa yang kau lakukan di tempat itu?""Maaf Yang Mulia Ratu, aku hanya berjalan-jalan di Fairyhill. Aku rasa para nimfa memang mengerjaiku saat itu, sehingga aku terjatuh ke sungai. Kalau tidak ada Pangeran Elwood dan Pangeran Archibald mungkin aku sudah mati, Ratu. Aku memang tidak pernah berjalan jauh keluar dari Fairyfarm. Saat itu adalah pertama kalinya aku keluar dari Fairyfarm."Ratu Serenity tampak terkejut, "Kau tidak pernah keluar dari Fairyfarm sebelumnya?"Ammara menggeleng pelan. Matanya bertemu pandang dengan Sang Ratu selama beberapa detik. Kemudian, peri perempuan itu menunduk lagi.Netra perak sang ratu lekat mengamati sosok Ammara yang ramping dan berambut keemasan. "Lalu, bagaimana kau mengenal Putra Mahkota Albert?" tanyanya lagi. Kali ini iris matanya yang berwarna keperakan melebar menunjukan ketertarikan yang lebih tinggi terhadap jawaban yang akan diutarakan Ammara.Ammara berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan sang Ratu. Gugupnya telah sedikit berkurang. Baginya Ratu Serenity terbilang cukup bersahabat walaupun ia memang terlihat sedang menyelidiki Ammara."Aku belum lama mengenal Putra Mahkota Albert, Yang Mulia Ratu. Kami bertemu pertama kali sehari sebelum perayaan pesta ulang tahun Putri Tatianna. Ayahku, Ailfryd dari Fairyfarm mengantarkan buah-buahan plum dan jeruk ke istana.""Kukira kalian sudah lama saling kenal," timpal Sang Ratu. Ia menopang dagunya dengan sebelah tangan yang bertumpu pada salah satu sisi singgasana.Ammara menggeleng. "Tidak, Yang Mulia Ratu. Kami baru pertama kali bertemu."Sang Ratu tampak menimbang jawaban Ammara. Kemudian ia tersenyum. Senyum yang tidak dapat Ammara artikan. Sementara Ammara kembali menekuri lantai marmer tempatnya bersimpuh."Baiklah, sudah kuputuskan," ucap Sang Ratu. Ucapannya membuat Maurelle yang sedari tadi menunduk, mengangkat wajahnya untuk mendengar titah Sang Ratu dengan takzim."Ammara tidak akan ditempatkan di penjara bawah tanah lagi. Sementara menunggu pengadilan Dewan Peri, Ammara akan tinggal di kastel sebelah timur yang akan disegel dengan sihir dan dijaga ketat oleh para kesatria Peri. Dewan Peri akan menyelidiki kasusmu terlebih dahulu dan aku yakin ini akan memakan waktu. Terlebih, Raja Brian saat ini sedang sakit. Sidang Dewan Peri akan dilaksanakan setelah kondisi Raja Brian membaik. Aku juga akan memberi izin kepada Ella dari Fairyfarm untuk bertemu denganmu. Namun, kau tidak boleh bertemu dengan peri lain yang berasal dari luar Istana Avery. Kau juga tidak bisa keluar masuk dengan leluasa dari kastel sebelah timur, seorang peri akan melaporkan setiap gerak-gerikmu padaku. Aku harap kau mengerti."Ammara tampak berkaca-kaca mendengar beberapa keringanan yang baru saja diberikan oleh Sang Ratu, terlebih izin untuk dapat bertemu dengan ibunya. Ibu yang sudah sangat dirindukannya. Namun, sesuatu masih mengganjal perasaannya."Yang Mulia Ratu . ...""Ada yang ingin kau sampaikan?" tanya Sang Ratu seraya menaikkan salah satu alisnya."Aku hanya ingin mengatakan bahwa aku tidak melakukan sihir kepada putri dan para pangeran. Kalung itu ... aku juga tidak mengetahui kalau kalung itu berasal dari Hutan Larangan," ucap Ammara dengan suara bergetar. "Aku tidak ber---Ratu Serenity membelalak. Ia mengangkat salah satu tangannya, menginstruksikan Ammara untuk menghentikan ucapannya."Kau tidak perlu mengatakannya padaku di sini. Tunggulah saat sidang Para Dewan Peri untuk mengatakan pembelaanmu."Ammara menggigit bibir bawahnya menahan rasa sakit yang menghampiri hatinya saat itu. Ia terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya memaksakan seulas senyum tersungging di bibir."Yang Mulia Ratu, terima kasih atas segenap kebaikanmu. Sekali lagi, terima kasih," tuturnya lirih.Sang Ratu menyunggingkan seulas senyum dan mengangguk dengan anggun. Ratu Serenity lantas mengalihkan pandangan pada Maurelle seraya mengangguk tegas, memberi instruksi dalam diam. Peri cenayang itu membalas dengan anggukan takzim, terlihat telah memahami perintah Sang Ratu.Maurelle membungkukkan badannya ke arah Ratu, kemudian berjalan mendekati Ammara."Mari, Ammara. Aku akan mengantarmu ke kastel sebelah timur."Kedua kesatria elf membantu Ammara berdiri dari posisi berlututnya. Ammara membungkuk lalu tersenyum dan memberi salam kepada Sang Ratu sebelum keluar dari istana utama itu. Langkahnya tertatih mengikuti Maurelle menuju ke kastel di sebelah timur Kerajaan Avery. Namun, sebuah pengharapan terbit di dalam dadanya bahwa ia akan dapat bertemu dengan sang ibu.

Plester Cinta
Romance
16 Feb 2026

Plester Cinta

Gema bola basket yang memantul di lapangan parket terdengar berirama, membaur dengan derap kaki para pemain yang berlari kesana-kemari. Bola cokelat itu seolah hidup, melesat cepat mengikuti arahan tangan-tangan terampil para remaja yang sedang asyik berebut dan berlari. Di bangku penonton, suasana tidak kalah panas. Sorak-sorai gembira serta pekikan histeris silih berganti, menciptakan atmosfer yang begitu hidup di gedung olahraga sekolah.Walaupun hari ini merupakan pertandingan basket antar kelas untuk kategori remaja putri, pertandingan ini tetap saja tak kalah seru saat remaja putra yang bertanding. Semua itu karena para pemainnya memang sudah cukup jago dan memiliki kemampuan yang mumpuni untuk membuat siapa pun yang menonton terpesona. Gerakan-gerakan lincah, umpan-umpan akurat, dan strategi yang diterapkan di lapangan membuktikan bahwa basket putri juga punya daya tarik yang luar biasa.Di tengah hiruk-pikuk pertandingan, perhatian penonton tertuju pada seorang cewek dengan rambut panjang terikat rapi ke belakang. Dengan konsentrasi penuh, ia berusaha membawa bola menerobos pertahanan lawan menuju ring. Namanya Tania, kapten tim basket putri kelas XII IPA 2 yang dikenal sebagai pemain andalan. Namun lawan tidak tinggal diam. Hadangan demi hadangan terus terjadi, membuat pergerakan Tania semakin terhimpit. Dengan sisa tenaga dan tekad bulat, ia melompat mencoba melakukan shoot meskipun dalam posisi tidak seimbang. Bola pun berhasil masuk ring dengan sempurna, tetapi tubuh jangkung Tania harus jatuh tersungkur keras setelah berbenturan dengan lawan yang berusaha menghadangnya dari arah berlawanan."Priiiitt!" Suara peluit wasit yang memimpin pertandingan menggema memecah hiruk-pikuk sorak penonton. Wasit segera mengangkat tangan memberi isyarat."Medis! Medis! Cepat, Tania luka! Tolong bantu!" teriak wasit dengan suara keras penuh cemas.Dari pinggir lapangan, seorang pria dengan tubuh mungil namun gerakannya gesit datang berlari membawa kotak P3K besar. Wajahnya tampak pucat pasi, campuran antara khawatir dan panik. Pertandingan pun mau tak mau akhirnya dijeda terlebih dulu. Para pemain dari kedua tim berkumpul mengelilingi Tania yang meringis kesakitan, sebelum akhirnya ia dituntun untuk dibawa ke pinggir lapangan agar pertandingan bisa segera berjalan lagi.Di area pinggir lapangan yang sedikit lebih tenang, Rido—pria mungil yang tak lain adalah kekasih Tania—dengan cekatan membuka kotak P3K-nya. Tangannya yang sedikit gemetar berusaha tetap tenang saat membersihkan luka lecet di siku dan lutut Tania dengan cairan antiseptik. Tania meringis kecil, tetapi berusaha tegar."Aku nggak kenapa-napa kok, Do," ucap Tania pelan, berusaha meyakinkan Rido yang terlihat sangat khawatir.Rido menghela napas panjang, mencoba menahan emosi campur aduk yang memenuhi dadanya. "Iya aku tahu. Tapi hati-hati kan bisa dong, Tan. Kamu tuh cewek, masak banyak lecet di mana-mana begini. Nanti lukanya lama sembuh, terus bekasnya hitam."Tania cemberut, bibirnya mengerucut lucu meskipun dagunya baru saja ditempeli plester. "Terus... kalau aku penuh luka kayak gini, kamu bakal nggak suka sama aku lagi, gitu?" nada bicaranya bercanda tetapi ada kerutan khawatir di matanya.Rido berhenti sejenak dari aktivitasnya membalut luka. Ia menatap wajah Tania dengan serius, kemudian melanjutkan tugasnya menempelkan plester dengan hati-hati pada dagu dan lutut Tania. Setelah selesai, tanpa banyak bicara, Rido mengulurkan tangannya dan mengacak-acak rambut panjang Tania dengan lembut. Wajahnya yang biasanya datar kini tersungging senyum tipis penuh ketenangan."Tenang aja, Tan. Aku bakal jadi plester kamu. Setiap kali kamu luka, aku yang akan obatin. Setiap kali kamu sakit, aku yang jagain. Jadi nggak usah khawatir." Suaranya pelan tetapi penuh keyakinan, seperti janji yang diukir dalam hati.Tania tersenyum, namun sebelum sempat membalas ucapan Rido, sebuah teriakan usil datang dari pinggir lapangan. Seorang pemain tim lawan yang kebetulan berada sedikit ke pinggir sambil minum, berteriak dengan nada menggoda."Heh! Kalau udah kelar diobatin, bisa kalian pacarannya nanti dulu aja! Ini pertandingan penting, lho! Masih semifinal, Tan!"Tania dan Rido sama-sama tersipu. Tania segera menepuk-nepuk pipinya yang terasa panas, lalu berdiri dan berlari kecil mendekati wasit sambil mengangkat tangan, memberi isyarat bahwa dirinya sudah siap kembali bertanding. Wasit mengangguk, dan pertandingan pun dilanjutkan dengan semangat baru.Dari kejauhan, Rido duduk di bangku cadangan tim medis, tersenyum bangga melihat Tania kembali berlincah di lapangan. Mereka berdua sangat jelas berbeda, bahkan nyaris semua orang di sekolah tahu dan sering meledek pasangan ini. Bagaimana tidak, mereka ternyata mempunyai tinggi badan yang bisa dibilang outlier di antara pasangan pada umumnya. Tania, dengan postur jangkung atletisnya, menjulang sekitar 172 cm. Sementara Rido... yah, Rido hanya sekitar 163 cm. Perbedaan mencolok itu sering menjadi bahan candaan, baik di kantin, di kelas, bahkan di grup obrolan siswa. "Si Cemiti sama Si Menara," begitu kira-kira julukan yang kadang terdengar.Tetapi Rido sudah bertekad bulat dalam hatinya. Sejak pertama kali jatuh cinta pada Tania di kelas X, saat melihat Tania berlari di lapangan dengan semangat membara, Rido tahu bahwa perbedaan tinggi bukanlah halangan. Bahkan saat ia memutuskan untuk mengikuti ekstrakurikuler Palang Merah Remaja (PMR) di awal tahun ajaran, semua temannya heran. Rido yang dikenal pendiam dan tidak terlalu suka keramaian, tiba-tiba bergabung dengan ekskul yang penuh dengan kegiatan sosial dan pertolongan pertama.Namun hanya Rido yang tahu alasan sebenarnya. Itu semua untuk Tania. Supaya Rido bisa selalu ada di dekatnya, di setiap pertandingan, di setiap latihan, di setiap kemungkinan Tania jatuh dan terluka. Ia ingin menjadi orang pertama yang akan mengobati lukanya, bukan hanya luka fisik di lapangan, tetapi juga luka hati jika suatu saat Tania membutuhkan tempat bersandar. Dan hari ini, tekad itu terbayar sudah. Melihat senyum Tania setelah dibalut, mendengar candaannya yang manis, Rido merasa bahwa perbedaan tinggi bukanlah apa-apa dibandingkan dengan besarnya cinta yang ia rasakan.Pertandingan berakhir dengan kemenangan tim Tania. Dengan semangat meluap-luap, Tania berlari ke arah Rido dan tanpa ragu memeluknya erat, membuat Rido hampir terhuyung. Sorak-sorai penonton kembali bergemuruh, kali ini bercampur dengan siulan dan teriakan menggoda. Tania hanya tertawa, lalu berbisik pelan di telinga Rido."Makasih udah jadi plester aku hari ini, dan setiap hari."Rido tersipu, memeluk balik pinggang Tania dengan erat. Dalam hati ia bersyukur pada takdir yang mempertemukannya dengan perempuan luar biasa ini. Dan pada keputusannya untuk mengikuti PMR, yang ternyata membawanya bukan hanya pada keterampilan pertolongan pertama, tetapi juga pada kebahagiaan sejati.

Truth or Dare
Romance
16 Feb 2026

Truth or Dare

Saat itu, tahun terakhir di sekolah menengah. Udara terasa berbeda, ada semacam getaran campur aduk antara euforia dan kecemasan yang menyelimuti lorong-lorong sekolah. Prom night, malam dansa kelulusan yang paling ditunggu-tunggu, semakin dekat. Setiap sudut sekolah dipenuhi bisik-bisik tentang gaun, mobil yang akan disewa, dan tentu saja, pasangan kencan. Mike, seorang remaja dengan rambut yang selalu sedikit berantakan meski sudah disisir rapi, merasa dirinya seperti sebuah pulau kecil di tengah lautan persiapan pesta. Semua gadis tampaknya sudah, atau sedang dalam proses, berkencan dengan seorang pria tampan. Sementara Mike, yang menyadari dirinya tidak setampan model di majalah remaja dan tidak sepandai Bruce membual di kantin, merasa seperti tidak memiliki magnet sama sekali untuk menarik perhatian lawan jenis.Suatu sore sepulang sekolah, saat Mike sibuk mengunci lokernya yang berisik, sahabatnya, Joe, datang dengan langkah gembira dan menyenggol pinggangnya."Hei, Mike! Kurasa aku sudah menemukan solusi untuk masalah prom night-mu," kata Joe dengan nada penuh teka-teki dan senyum yang sedikit menyeringai.Mike menghela napas panjang. Dia sudah hafal dengan ide-ide gila Joe. "Apa lagi kali ini?""Mengapa kamu tidak mengajak Rita berkencan? Sejauh yang aku tahu, belum ada satu pun pria di sekolah ini yang menanyainya," ujar Joe, seringainya kini melebar.Mike tahu persis alasan di balik seringai Joe. Rita. Gadis yang selalu duduk paling pojok di perpustakaan itu. Bayangan Rita langsung melintas di benaknya: kacamata tebal dengan bingkai hitam yang tampak terlalu besar untuk wajahnya, kawat gigi yang sesekali berkilau terkena sinar mataja, dan rambut cokelatnya yang selalu diikat asal-asalan. Di mata siswa lain, Rita adalah definisi dari "gadis paling tidak populer." Mike mengerang pelan, suaranya bercampur frustrasi dan rasa kasihan yang aneh. "Oh, tidak! Bukan Rita!" Namun, di lubuk hatinya yang paling dalam, dia tahu Joe tidak sepenuhnya salah.Waktu terus berjalan dengan cepat, bagaikan pasir yang mengalir di sela-sela jari. Poster-poster prom night dengan warna-warna cerahnya semakin sering terpampang di dinding, dan Mike merasa seolah-olah poster-poster itu sedang menatapnya dengan tatapan menghakimi. Dia tahu dia harus melakukan sesuatu dengan cepat, atau dia akan menjadi satu-satunya lelaki di angkatannya yang duduk termenung di rumah pada malam istimewa itu. Perasaan malu yang membayangi itu lebih berat daripada rasa gengsinya. Maka, dengan desahan panjang yang keluar dari lubuk hati yang paling dalam, dan dengan langkah gontai yang penuh gemetar karena gugup, dia memberanikan diri mendekati Rita di perpustakaan. Di sela-sela tumpukan buku, dengan suara terbata-bata, dia mengajaknya kencan. Di luar dugaannya, Rita mengangkat wajahnya dari buku, tersenyum tipis yang sedikit canggung karena kawat giginya, dan mengangguk setuju.Malam prom night pun tiba. Ketika Mike tiba di depan rumah Rita yang sederhana, jantungnya berdebar lebih kencang dari biasanya. Bukan karena gugup, tapi karena rasa penasaran. Dan saat pintu depan terbuka, semua ekspektasi Mike buyar seketika.Rita berdiri di ambang pintu, dan Mike hampir tidak bisa bernapas. Dia mengenakan gaun berwarna biru dongker yang jatuh indah hingga mata kaki, dengan potongan sederhana namun elegan yang membuatnya tampak begitu berbeda. Seseorang—mungkin Rita sendiri—telah melakukan sesuatu yang ajaib pada rambutnya. Rambut cokelat yang biasanya tak teratur itu kini tersusun dalam gelombang lembut yang membingkai wajahnya dengan sempurna. Yang paling mengejutkan, Rita melepas kacamatanya yang tebal. Tanpa kacamata itu, mata cokelatnya yang hangat dan jernih tampak bersinar. Mike bergumam dalam hati, andai Rita memutuskan untuk mengabaikan kacamatanya yang besar malam itu, dia mungkin akan mengatakan—tidak, dia harus mengakui—bahwa Rita terlihat menakjubkan. Matanya sedikit melebar, dan dia terpaku sejenak sebelum bisa berkata, "Kamu... kamu terlihat cantik, Rita."Rita tersipu, dan untuk pertama kalinya, Mike melihat bahwa di balik kawat gigi itu ada senyuman yang sangat manis.Begitu tiba di aula pesta yang gemerlap dengan lampu disko dan dekorasi mewah, mereka hampir segera ditarik ke lantai dansa oleh irama musik yang ceria. Awalnya, Mike merasa canggung, kakinya seperti dua batang kayu yang kaku. Tapi Rita meraih tangannya dengan lembut, dan mereka mulai bergerak mengikuti irama. Saat mereka menari, Mike menyadari dengan penuh keheranan bahwa Rita sebenarnya adalah penari yang luar biasa. Gerakannya luwes dan penuh percaya diri, benar-benar berbeda dari sosok pendiam yang selama ini dikenalnya di sekolah. Di sela-sela lagu yang berganti, mereka mulai mengobrol. Rita ternyata bisa bercakap-cakap dengan sangat menyenangkan. Bukan obrolan basa-basi, tapi percakapan yang hangat dan cerdas, penuh dengan pertanyaan-pertanyaan tulus tentang minat Mike, dan cerita-cerita lucu tentang buku-buku yang dia baca. Mike, yang biasanya kesulitan mencari topik pembicaraan, mendapati dirinya tertawa lepas karena sebuah komentar Rita yang jenaka. Tawanya ringan dan menular, seperti suara lonceng kecil yang berdering di malam yang hening. Mike menyadari dengan sedikit keterkejutan bahwa dia sangat menikmati suara tawa itu.Prom night itu, yang awalnya dia bayangkan akan menjadi malam penuh keringat dingin dan rasa canggung, justru memuncak menjadi sebuah pengalaman yang begitu indah dan tak terduga. Malam dansa itu menjadi awal dari segalanya. Mike dan Rita mulai sering menghabiskan waktu bersama, pergi ke bioskop, ngobrol panjang lebar di telepon hingga larut malam, atau sekadar duduk di taman sambil berbagi es krim. Tak lama kemudian, persahabatan yang baru terjalin itu berkembang menjadi hubungan yang serius, sebuah hubungan yang dibangun di atas fondasi saling menghargai dan menemukan keindahan di balik lapisan luar seseorang.Kini, lima tahun telah berlalu. Mike duduk di kursi pengemudi, tangannya sedikit berkeringat memegang setir. Dia melirik ke kursi penumpang, di mana Rita duduk dengan gaun biru dongker kesayangannya—gaun yang sama saat pertama kali dia benar-benar melihat Rita. Malam ini, dia berencana untuk mengulangi keajaiban itu. Mike mencintai Rita lebih dari apa pun di dunia ini. Dia mencintai cara Rita tersenyum, cara Rita memeluknya saat dia sedih, dan caranya yang khas saat mengoreksi buku catatan lamanya. Cincin pertunangan itu tersimpan rapat di saku jaketnya, terasa berat namun penuh makna. Dia berencana untuk mengajukan pertanyaan paling penting dalam hidupnya malam ini, tepat di tempat yang sama di mana dia untuk pertama kalinya melihat Rita yang sesungguhnya: di ambang pintu rumah Rita, di bawah cahaya lampu teras yang hangat.Sambil menunggu lampu merah menyala, Mike bergidik membayangkan apa yang akan terjadi jika lima tahun lalu dia terlalu gengsi untuk mengajak Rita kencan. Dia membayangkan dirinya duduk sendirian di kamar pada malam prom, dikelilingi keheningan, dan kehilangan kesempatan untuk menemukan belahan jiwanya. Senyum kecil merekah di bibirnya. Kadang, keberuntungan terbesar dalam hidup datang dalam paket yang paling tidak kita duga, dan seringai jahil seorang sahabat.

Tidak Semua Seberuntung Kita
Teen
16 Feb 2026

Tidak Semua Seberuntung Kita

Malam minggu sehabis pulang dari rumah teman, ibu mengajakku ke pasar tradisional yang letaknya di perempatan, kira-kira sekitar 500 meter dari rumah."Ky, besok pagi temani Ibu ke pasar ya, mumpung besok kamu libur sekolah. Bapak kamu pengen dimasakin sayur buncis dan ikan asin...", ucap ibu."Baik bu...," jawabku sembari membaringkan badan di tempat tidur.Keesokan harinya, sehabis mandi aku memanaskan motor dan mengisi bensin di warung sebelah sebelum menuju pasar, aku pun melihat ibu sudah bersiap-siap untuk berangkat.Sesampainya di pasar, sungguh tersentuh hatiku melihat seorang peminta-minta di samping tempat parkir, memegang sebuah buku bertuliskan "Belajar Menulis dan Membaca".Sontak saja air mataku mengalir perlahan menyaksikan kenyataan tersebut. Aku mulai menyadari betapa banyaknya orang-orang di luar sana yang tidak punya kesempatan bersekolah secara formal.Karena merasa iba dan kasihan, aku berinisiatif untuk memberikannya makanan serta beberapa buku pembelajaran, tanpa sepengetahuan ibu.Sembari menunggu ibu selesai belanja, aku bergegas membeli beberapa jenis makanan serta buku bahan bacaan untuk si peminta-minta tersebut.Di tengah obrolan dengan anak itu, aku melihat ibu sudah sampai di parkiran. Aku pun pamit dari anak tersebut dan dia benar-benar berterima kasih kepadaku."Bu, udah lama...?" Tanyaku."Belum. Kamu dari mana aja tadi...?" Tanya ibu penasaran."Dari situ, Bu...." ucapku sambil menunjuk ke arah anak tersebut."Aku membelikannya makanan dan buku. Aku sangat kasihan dengannya yang kurang beruntung baik dari segi ekonomi maupun pendidikan," sambungku."Bagus, akhirnya kamu menyadari bagaimana dunia ini menciptakan perbedaan, dan itulah yang harus selalu disyukuri setiap manusia. Jadikan kenyataan pagi ini sebagai motivasi dan inspirasi bagi kamu, untuk tidak bermalas-malasan dalam menuntut ilmu..." tuntas ibu."Baik bu, aku tidak akan menyia-nyiakan setiap kesempatan yang ada.." tutupku.Kemudian aku dan ibu langsung pulang menuju rumah

Kisah Dua Sahabat dan Waktu
Teen
16 Feb 2026

Kisah Dua Sahabat dan Waktu

Dikisahkan ada dua sahabat yang berasal dari kampung yang sama. Mereka seumuran dan sejak SD sampai SMA selalu sekelas. Hal ini pun membuat bumbu kedekatan mereka samakin kuat.Meskipun mereka akur, namun ada perbedaan dalam prinsip menggunakan waktu. Aldo adalah pemuda rajin yang selalu optimis menyambut masa depan. Sedangkan Doni, adalah pemuda yang selalau mengedepankan "nyelow" dalam hidupnya.Aldo rajin membaca buku utuk investasi masa depan, ia berfikir bahwa ilmu yang ia dapat dari buku akan berguna bagi hidupnya di masa depan. Sedangkan Doni, ia pebih suka main sosmed, baginya hidup itu simpel, jalani dan juga nikmati.Saat SMA, Aldo sudah memberanikan diri untuk berinvestasi. Uang yang ia dapat dari orang tunya ia belikan emas. Sedikit demi sedikit, emas Aldo sudah membukit. Sedangkan Doni lebih suka membeli pakaian, handphone baru dan lainya.Tibalah saat masa kuliah. Keduanya berpisah. Aldo mengambil jurusan kehutanan dan Doni mengambil jurusan manajemen bisnis. Walau beda kampus, mereka selalu menyempatkan berkomunikasi, bahkan setuap sebulan sekali mereka sering ngobrol di warung kopi.Sifat keduanya tidak berubah. Aldo tetap dengan optomisme menyambut masa depan, sedangkan Doni selalu "nyelow". Hingga kemudian secara perlahan mulai terlihat beberapa perbedaan atas apa yang mereka miliki.Saat kuliah Aldo sudah bisa membeli tanah untuk kebun kayu dari uang tabungan emasnya. Sedangkan Doni masih 0 besar, hidupnya masih tergantung dari kiriman orang tua.Aldo pun berhasil mendapat beasiswa, berkat ia rajin membaca buku. Sedangkan Doni justru sering mengulang mata kuliah sehingga haru membayar SPP 2 tambahan. Kemudian beberapa tahun kemudian mereka pun lulus.Singkat cerita, 15 tahun kemudian kondisi sudah sangat berbeda. Aldo menjadi orang yang sukses dengan segudang usaha. Sedangkan Doni menjadi karyawan di salah satu perusahaan swasta. Dititik inilah Doni kemudian sadar bahwa dia telah menyianyiakan waktu, dia mengaku tidak belajar dari Aldo dan terlalu "nyelow" menyukapi hidup.Aldo sudah menabung sejak muda, kini beberapa tabungan yang ia investasikan di kebun kayu pun menuai hasil miliyaran. Emas di tabungan Aldo juga sudah sangat banyak. Sedangkan Doni hanya mengandalkan gaji untuk memenuhi kebutuhan hidup.Dari cerita ini kita bisa mengambil pelajaran berharga tentang memakai waktu saat ini untuk merencanakan dan membantu masa depan. Dengan tabungan dan investasi, kita bisa mengunduh penghasilan berlipat dimasa depan. Namun jika kita hanya leha leha saya, maka masa depan menjadi taruhan nya. Kesimpulanya, waktu adalah modal terbaik dalam menjemput suskes, dengan catatan memaksimalkan penggunaan waktu.

Outlet
Horror
15 Feb 2026

Outlet

Pertama aku menyadarinya adalah saat pacarku datang untuk membantu membersihkan kamar apartemenku yang berantakan. Aku orangnya sangat pemalas sehingga seringkali aku membiarkan kamarku terisi dengan sampah-sampah yang berserakan. Yah, apa boleh buat. Aku adalah lelaki lajang yang tinggal sendirian di kamar apartemen yang sempit.Karena itu, pacarku kadangkala datang dan membantuku bersih-bersih. Hari itu seperti biasa pacarku mengumpulkan benda-benda yang ia temukan berserakan, entah di atas meja, di lantai, atau bahkan di belakang lemari. Kemudian ia akan menunjukkan padaku dan aku yang akan menentukan apakah barang itu harus dibuang ataukah masih kuperlukan. Kamarku mulai terlihat rapi ketika pacarku memperhatikan sesuatu yang tergeletak di lantai."Hei, tunggu sebentar!" ia berjongkok di depan stop kontak dan menunjuk ke seutas rambut hitam panjang yang menjulur keluar dari stop kontak. "Rambut siapa ini?"Aku menatap rambut itu seperti orang dungu, lalu menatap wajah pacarku. Matanya penuh dengan rasa curiga dan ekspresinya terasa dingin. Ia tahu semua temanku adalah laki-laki dan tak perlu peramal hebat untuk menebak apa yang ada di pikirannya. Rambutku benar-benar pendek dan rambutnya pun tak sepanjang itu. Masalahnya adalah, aku tak pernah mengundang gadis lain masuk ke kamarku, selain kekasihku itu.Tatapannya mulai membuatku merasa tak nyaman, jadi aku meraih ujung rambut itu dan berusaha menariknya keluar dari soket. Rambut itu terputus. Namun sensasi yang kurasakan saat aku menariknya keluar dari lubang stop kontak itu sama dengan sensasi saat menarik rambut manusia yang sesungguhnya.Perasaan itu membuatku tidak nyaman. Aku menjatuhkan rambut itu di lantai tanpa berpikir. Rambut itu terjatuh di atas lantai kayu apartemenku dan mulai menari tertiup angin hingga akhirnya terbang keluar melalui jendela. Aku berbaring dengan dadaku menyentuh lantai, mencoba melihat apa yang ada di dalam soket. Namun mataku tak menemui apapun kecuali kegelapan.Setelah kejadian itu, baik aku maupun pacarku sudah melupakannya. Suatu malam kami pergi ke tempat karaoke hingga larut malam. Karena kelelahan, aku tertidur di atas sofa. Begitu terbangun, aku sadar bahwa aku sudah terlambat kerja. Dengan panik, akupun lekas mandi dan segera meraih ranselku yang tergeletak dekat dinding. Ketika aku mengangkat tas itu, mataku tanpa sengaja melihat ke arah stop kontak itu.Keluar dari salah satu lubang itu adalah seutas rambut panjang berwarna hitam. Ujungnya tergeletak di atas lantai, sedangkan ujung lainnya masih tertelan lubang stop kontak itu. Seolah-olah rambut itu tumbuh dari dalam lubang yang gelap itu.Entah mengapa, aku merasa rambut itu adalah rambut yang sama dengan yang ditemukan pacarku kemarin. Bahkan aku merasa rambut itu berasal dari orang yang sama. Rambut itu mulai membuatku takut, sehingga sama seperti yang dulu kulakukan, aku menarik rambut itu dan, "Pluk!" seolah-olah aku mencabut rambut itu dari kepala seseorang."Apa-apaan ini?" Aku segera membuang rambut itu dan menancapkan steker radio ke dalam stop kontak itu, mencoba menghalanginya. Aku segera mengambil tasku dan berangkat kerja.Radio yang kutancapkan ke stop kontak itu cukup besar dan lama-kelamaan akupun melupakannya. Apartemenku perlahan-lahan menjadi berantakan lagi. Akupun membereskan buku-buku komik yang berserakan dan menatanya menjadi tumpukan di dekat tempat tidurku. Pada malam itulah aku mengalami kejadian yang sangat menakutkan.Pada tengah malam, aku terbangun karena suara gemeretak yang aneh. Aku menyalakan lampu dan mencoba mencari asal suara itu. Ternyata suara itu berasal dari radioku, lebih tepatnya dari pemutar kasetnya. Anehnya lagi, sebelumnya radio itu tak terlihat dari ranjangku karena tertutup oleh tumpukan komik yang tadi kutata. Namun kini tumpukan komik itu sudah ambruk di lantai, sehingga aku bisa melihat radio itu dengan jelas dari tempatku berada sekarang.Ini tak masuk akal. Apa yang tiba-tiba membuat tumpukan komik itu tiba-tiba ambruk? Angin? Mustahil. Apa mungkin tumpukan buku tadi tak seimbang saat aku menatanya?Pemutar kaset itu kembali mengeluarkan suara gemeretak. Aku kemudian bangun dan berusaha mematikannya. Namun begitu tanganku hampir menyentuh tombol off, aku baru tersadar.Radio itu dalam keadaan mati.Akupun berpikir radio itu mungkin rusak. Aku kemudian mengangkat radio dan membaliknya. Saat aku menariknya, aku merasakan sesuatu menariknya kembali.Aku hampir saja menjatuhkan radio itu saat melihat rambut.. banyak sekali rambut.. meliliti kabel belakang radio itu. Asalnya dari stop kontak itu. Rambut itu sangatlah banyak, hingga seakan-akan aku melihat bagian belakang kepala seseorang keluar dari stop kontak itu.Aku menarik radio itu lebih keras, namun tolakan yang kurasakan juga semakin kuat. Akupun menaruh kembali radio itu dan mencoba menarik rambut-rambut yang keluar dari lubang stop kontak itu.Aku menarik sekuat tenaga, tak peduli sekuat apapun ia mencoba melawan. Aku merasa seakan aku mencoba menarik rambut dari kepala seseorang. Dan akhirnya aku menang. Dengan segenap kekuatanku aku berhasil mencabut rambut-rambut itu dari stop kontak.. Dan darah terciprat dari dalam soket itu. Aku menjerit sebelum akhirnya aku pingsan karena ketakutan.Saat aku tebangun paginya, aku tahu apa yang kualami tadi malam bukanlah mimpi. Cipratan darah tampak di dekat soket itu. Rambut bertebaran dimana-mana. Aku membersihkannya sendirian dan mengepaki semua barang-barangku pagi itu juga. Aku tak bisa lagi tinggal di sini. Kalian tahu mengapa.Mungkin rasa penasaran yang kuat menarikku untuk melihat sekali lagi ke arah stop kontak itu. Kali ini tak ada lagi rambut. Melainkan.. Sebuah jari keluar dari lubang soket itu, seakan mencari sesuatu.

Count to Ten
Horror
15 Feb 2026

Count to Ten

Aku tak pernah menginginkan anak-anak. Aku tak pernah menyukai mereka. Bahkan aku tak ingin menikah. Aku lebih suka tinggal sendirian.Bahkan ketika adikku memiliki anak, aku tak begitu tertarik. Tentu, aku pergi ke pesta ulang tahun keponakanku dan memberinya hadiah. Aku mungkin sedikit menyayanginya, namun tak lebih dari itu. Aku masih tak menyukai anak-anak dan takkan mengubah pendirianku.Di umurku yang baru 20-an, aku sudah memiliki karier yang mapan dan keputusan investasi yang bagus. Bahkan mungkin aku bisa pensiun di usia dini dan masih memiliki banyak tabungan.Namun kehidupanku berubah setelah adikku dan istrinya meninggal dalam kecelakaan. Aku menjadi yang bertanggung jawab atas keponakan. Tak ada saudara yang lain, dan tentu saja, dengan pendidikan tinggi dan kondisi finansial yang mapan, aku menjadi satu-satunya pilihan. Walaupun aku tak pernah menyukai gagasan untuk menjadi seorang ayah, tentu saja aku masih punya hati dan takkan membiarkan keponakanku dikirim ke panti asuhan. Jadi, akupun resmi mengadopsinya.Secara mengejutkan, ternyata kondisi ini tak seburuk dugaanku. Memang sangat menyusahkan pada awalnya, namun aku mulai terbiasa. Kami menghabiskan waktu kami bermain. Permainan favoritnya adalah petak umpet. Aku membiarkan menghitung dan mencari tempat untuk bersembunyi. Kami sangat bersenang-senang saat itu.Namun tentu saja, perjalanan ini tak selalu lancar. Kadang ia melakukan hal-hal yang membuatku marah. Kadang ia melanggar aturan dan membuat rumahku berantakan. Aku sudah mengatakannya berkali-kali untuk tidak melakukannya, namun kalian tahu lah yang namanya anak kecil.Suatu saat aku sadar, aku harus menghukumnya. Aku tak suka menghukum anak kecil, namun kau tahu apa yang orang bilang. Kita harus mendisplinkan anak kecil. Pada akhirnya dia mengerti untuk tidak melakukan hal yang dilarang. Itulah yang penting bagi kehidupannya.Hari ini kami kembali memainkan game favoritnya. Aku harus bersembunyi dengan cepat, sebab sekarang dia hanya bisa menghitung sampai delapan.

Hammer
Horror
14 Feb 2026

Hammer

Entah sejak kapan ada rental video kecil di dekat stasiun-mungkin hanya karena aku jarang datang kesini- tapi ini terlalu usang untuk sebuah toko baru. Sekedar iseng aku memutuskan untuk menyewa sesuatu untuk ditonton nanti.Di dalam aku menemukan sebuah kaset VHS yang tidak memiliki kotak hanya sebuah label putih bertuliskan "Hammer ". Aku tak tahu apa yang ada di dalamnya tapi karena benda itu hanya 1$, aku memutuskan untuk menyewanya.Ketika aku sampai di rumah malam itu, aku ingin tahu video apa itu . Aku memasukkannya ke dalam VCR, dan menekan tombol play.Suasana malam hari dengan sudut pandang seseorang sedang berlari menyusuri jalan di suatu tempat, dan selama beberapa menit satu-satunya yang kulihat hanyalah goncangan kamera yang dibawa oleh entah-siapa-itu menyusuri jalan" Pfft , bahkan 1$ terlalu mahal untuk omong kosong ini ... " gumamku, kemudian aku membuka laptop meninggalkan video itu tetap berjalan. Dari sudut mataku aku bisa melihat video tersebut masih menayangkan keadaan yang sama, dan siapa pun yang memegangnya tampaknya mulai lelah. Aku bisa mendengar ia terengah-engah, tapi ia terus berjalan pada kecepatan yang sama.Awalnya semua terus begitu, tapi kemudian aku merasa ada yang salah dengan gambar yang ditayangkan."Tunggu ..Aku pikir aku tahu jalan ini!" Aku menutup layar laptop dan meletakkannya di sofa di sampingku. Jika video itu merekam daerah yang aku tahu, mungkin cukup menyenangkan untuk menontonnya . Akhirnya kamera berbelok ke sebuah jalan perumahan ." Hah? Apa? Bukankah itu jalan rumahku ... " Video itu berhenti selama beberapa detik dan tampaknya berada di depan sebuah kompleks apartemen.Ketika mulai bermain lagi, kamera berjalan perlahan dan berdiri di depan pintu seseorang, kemudian menyorot ke pelat nama di sebelah pintu" Itu apartemenku! "Jantungku terasa hampir lepas ketika suara dobrakan keras datang dari pintu depan.Aku kembali menatap layar dan melihat bahwa juru kamera itu menggedor pintu dengan palu. Dengan setiap detak pada video, aku mendengar suara yang lebih keras datang dari pintu. Sinkornasi yang sempurna. Aku melihat palu itu dan terkejut setiap kali suara keras mencapai telingaku.Aku terlalu takut untuk bergerak. Pintu yang tak jauh dari tempatku duduk terus menerus bergetar hebat dan sekarang memiliki lubang kecil di permukaanya dari apapun yang ada di luar sana. Aku berani bersumpah aku melihat mata merah melalui lubang itu.Aku memalingkan mataku jauh dari pintu dan kembali menatap layar TV. Dari celah pintu yang terekam aku melihat diriku duduk di sofa.Aku menjerit dan melompat mundur, menabrak dinding di belakangku menjauh dari TV dan pintu. Entah tombol apa yang tanpa sengaja kutekan pada remote VCR karena video itu tiba-tiba berhenti.Sunyi. Aku tidak mendengar apa-apa kecuali detak jantungku sendiri yang berdetak begitu cepat.Aku perlahan-lahan berjalan ke pintu dan membukanya. Tak seorang pun ada di sana. Aku kembali duduk di depan VCR dan menekan tombol eject. Video itu masih ada dan masih memiliki kata "Hammer"Aku berlari ke tempat penyewaan di mana video ini kusewa, tapi begitu sampai di sana yang kulihat hanyalah sebuah ruko kecil yang nampaknya sudah ditinggalkan selama bertahun-tahun, lewat jendela yang sudah retak aku tak melihat apapun di dalamnya kecuali debu, sarang laba-laba dan sebuah palu.****

The Thing That Will Kill Me
Horror
14 Feb 2026

The Thing That Will Kill Me

Creepypasta ini menceritakan seorang gadis yang mendapatkan ramalan tak masuk akal tentang kematiannya dari seorang ahli nujum. Dia tak mempercayainya hingga suatu hari ramalan itu menjadi nyata.Aku tumbuh di sebuah kota kecil di Vermont. Kecil dalam ukuran populasi, bukan dalam ukuran wilayah. Ada ladang berhektar-hektar dan area hutan yang tak terhingga luasnya. Lebih banyak sapi daripada manusia di sini, sebuah standar bagi kebanyakan kota kecil di Vermont. Jadi, bisa kalian bayangkan, tidaklah terlalu menyenangkan tumbuh di sini. Hanya satu kata saja cukup untuk menggambarkan kondisi di sini: membosankan.Tak banyak anak2 seumuran di kota ini. Sahabat terbaikku adalah Lisa, yang berumur setahun lebih tua dariku. Kami menghabiskan sebagian besar waktu kami bermimpi tentang hidup di luar kota Vermont. Orang2 di desa kami benar2 aneh. Berbeda dengan di tempat lain. Satu hal yang tak kusadari tentang penduduk kota kecil adalah betapa percayanya mereka terhadap hal2 yang berbau takhyul. Mereka percaya dengan hal2 gaib, termasuk paranormal. Mereka percaya pada Luvia.Luvia adalah perempuan tua berdarah Prancis-Kanada yang pindah ke vermont bersama suaminya. Ada yang bilang ia gypsi. Ada yang bilang ia adalah peramal. Bahkan, orang tuaku sendiri percaya padanya. Suatu hari, ibuku kehilangan cincinnya. Ibuku sudah mencarinya kemana-mana. Mereka memanggil Luvia dan ia mengatakan cincin itu berada “di bawah kayu tua yang membusuk”. Mereka mencari ke halaman belakang dan ayahku menemukannya di bawah sebuah piano kayu tua yang teronggok dan sudah ditumbuhi jamur.Setelah mendengar banyak mengenai Luvia dari penduduk kota lainnya yang menganggap dia 100% dapat dipercaya, Tina dan aku memutuskan untuk menemuinya suatu sore. Kami ingin ia memberitahu kami tentang “masa depan” kami. Namun aku sendiri sebenarnya skeptis. Saat itu, semuanya terlihat seperti sebuah lelucon atau hiburan bagi kami.Jadi, kami pergi ke rumahnya sore itu dan ia membuka pintu di saat kami masih berjalan mendekati halaman depan rumahnya. Bahkan kami belum sempat sampai ke depan pintu dan mengetuk. Tina menyikut rusukku dan berbisik bahwa Luvia pasti benar2 peramal tulen. Ia bahkan sudah tahu kami datang sebelum kami tiba di rumahnya! Aku berbisik balik padanya dan mengatakan bahwa itu mungkin karena rumahnya punya banyak jendela dan ia bisa melihat kami datang dari kejauhan.Aku merasa agak aneh ketika mendekatinya. Ia wanita tua yang menakutkan, hampir tampak seperti nenek sihir. Namun ia tersenyum dengan ramah menyambut kami. Kami kemudian mengatakan bahwa kami tertarik dengan kemampuannya “membaca masa depan” dan menyerahkan padanya uang 20 dolar. Ia setuju dan mengatakan siapa yang akan lebih dulu.“Apa yang bisa Anda katakan mengenai kehidupan cintaku?” tanya Tina.Luvia tak memiliki bola kristal ataupun kartu tarot. Ia hanya menutup matanya sejenak dan diam selama 2 menit, kemudian mengambil napas dalam-dalam dan berkata, “Michael Carten.”Tina menatapnya selama beberapa detik dan Luvia mengulang, “Michael Carten. Itu nama pria yang akan menjadi suamimu.”Tina berterima kasih dan mengulangi nama itu berkali-kali. Michael Carten. Michael Carten. Michael Carten. Kemudian Luvia berpaling ke arahku.“Apapun yang Anda katakan, saya ingin mendengarnya dengan senang hati.” Katanya, “Tidak harus tentang kehidupan asmaraku.”Luvia menutup matanya selama beberapa detik, namun wangsit yang ia dapatkan tampaknya datang lebih cepat ketimbang visinya tentang suami Tina. Ia menatapku tajam ke dalam mataku, menggenggam tanganku, dan mengatakan.“Sesuatu yang akan membunuhnya sedang menanggalkan kulitnya.”“Sesuatu yang akan membunuhnmu sedang mengasah giginya.”“Sesuatu yang akan membunuhnmu sedang membersihkan darah dari antara cakar-cakarnya.”“Sesuatu yang akan membunuhnmu sedang mengumpulkan kulit.”“Sesuatu yang akan membunuhmu ... kau takkan melihatnya datang.”Kami beriga membisu selama sejenak. Aku merasa sakit. Gemetar. Luvia menatap kami seolah ia menyesal mengatakan hal itu kepada kami.“A ... apa ada yang bisa kulakukan untuk menghentikannya?” tanyaku.Luvia mengembalikan uang kami. “Aku takkan menarik uang untuk ramalan kali ini. Kalian berdua, cepatlah pulang!”Aku dan Tina segera meninggalkan rumah Luvia tanpa mengatakan sepatah katapun. Dalam perjalanan pulang pun kami masih membisu. Tina baru saja menemukan nama cinta sejatinya dan aku mendapatkan pesan penuh teka-teki tentang kematianku. Aku masih berumur 12 tahun saat itu. Aku ketakutan setengah mati.Ketika Tina meninggalkan serambi rumahku, ia mencoba menghiburku, “Bagaimana dia bisa tahu dengan siapa aku menikah,” katanya sambil tertawa, “Dan seekor monster tidak akan memakanmu. Berganti kulit, mengasah gigi, darah di cakarnya, itu sama sekali tak masuk akal. Lupakan saja omong kosong nenek itu!”Selama bertahun-tahun aku memikirkan ramalan itu. Makhluk yang menanggalkan kulitnya. Makhluk dengan gigi yang tajam. Makhluk yang berlumuran darah. Makhluk dengan cakar yang runcing. Makhluk yang akan membunuhku, aku selalu merasa ia mengawasiku dari mana-mana. Dari antara pepohonan saat malam. Dari bawah timbunan salju. Menunggu di luar jendela kamarku. Setiap malam sebelum aku tidur, aku selalu merasa melihatnya. Kulit, gigi taring, darah, cakar, aku selalu mencarinya.Tapi aku tak pernah menemukannya.Ketika aku berumur 18 tahun, aku pindah ke California untuk kuliah, untuk menjauh dari Vermont dan apapun yang akan membunuhku. Akupun berhenti merasakannya dimana-mana. Mungkin, apapun itu, ia tetap tinggal di Vermont. Bahkan mungkin, ia tak pernah ada. Semua orang di California yang kuceritakan tentang hal itu selalu tertawa, dan akupun berhenti mempercayai ramalan itu. Itu hanya igauan seorang wanita gipsy, tak mungkin nyata.Ketika aku berumur 27 tahun, sebuah undangan pernikahan tergeletak di kotak suratku. Tina ternyata akan menikah! Aku saat itu tinggal di California dan hampir tak pernah ada kontak dengan Tina semenjak aku pergi. Ia terasa seperti bagian dari masa laluku.“Anda diundang ke pernikahan Tina dan Michael Carten ...”Tunggu. Tidak. Tidak mungkin!Ini pasti tidak ada hubungannya dengan ramalan Luvia. Ramalannya tak mungkin nyata. Tidak ada yang namanya peramal atau kemampuan melihat masa depan!Aku pergi ke pernikahan mereka. Tina, aku, dan Michael, semuanya tertawa dengan semua ramalan itu. Tentu saja ramalan itu tak mungkin benar. Tina dan Michael menganggap semuanya hanyalah lelucon yang akan mereka ceritakan pada anak2 mereka di masa depan.“Beritahu kami kalau kau bertemu dengan monster bergigi tajam yang berganti kulit, oke?” kata Tina sambil bercanda. Kami semua berpikir bahwa ini semua hanyalah kebetulan belaka ia bisa menikah dengan seorang pria bernama sama seperti yang diramalkan Luvia.Aku meninggalkan pesta pernikahan dengan berusaha mempercayai bahwa “sesuatu yang akan membunuhku” tak mungkin sungguhan. Monster itu tak ada. Aku melihat di balik pohon, di balik mobil. Tak ada yang sedang menantiku di sana. Tak ada yang bersiap-siap untuk mengulitiku. Aku tak tahu kenapa aku begitu takut sekian lama.Salah satu hal hebat dari pernikahan Tina adalah peristiwa itu membawa kami kembali dekat seperti dulu. Dia bahagia hidup bersama Michael di Vermont. Ia selalu mengirim email kepadaku, mengatakan tentang segala hal yang terjadi di kota kecil itu. Populasinya dengan perlahan meningkat. Mereka membangun sekolah2 baru. Dan juga gosip2 lainnya.Juga berita kalau Luvia meninggal.Bertahun-tahun kemudian, aku semakin jarang menerima email dan telepon darinya. Ia terlihat sangat sibuk. Hingga suatu titik aku mulai merindukannya karena tak mendapatkan sedikitpun kabar darinya. Pada malam natal, aku memutuskan mengunjungi rumah orang tuaku untuk liburan dan mampir sebentar di kediaman Tina dan suaminya. Aku biasanya tak melakukan ini, namun ia tak pernah menjawab teleponku dan aku sangat ingin menemuinya saat itu.Aku memarkirkan mobilku di depan rumah mereka. Ada dua mobil di parkiran sehingga aku menduga mereka berdua ada di rumah. Aku turun dari mobil dan menekan bel pintu. Michael membukanya, berpakaian dengan jas tebal, seolah-olah ia baru saja berasal dari luar. Ia mengundangku masuk. Ia tampak sangat terkejut melihatku dan bertanya apakah aku berbicara dengan Tina akhir2 ini.“Belum, bahkan selama beberapa bulan kami tak pernah berkomunikasi. Maaf tiba2 mengunjungi kalian seperti ini, tapi apakah aku bisa bertemu dengannya?”“Oh, aku pikir kau sudah tahu,” jawab Michael, “Dia meninggalkanku. Beberapa bulan lalu. Ia pergi dan tak pernah lagi berbicara denganku sejak saat itu.”“Oh, Tuhan ... Maaf, aku benar2 tidak tahu ...”Ia melepaskan mantelnya dan menggantungkannya dekat pintu.“Maaf, aku harus mandi dulu sekarang. Aku baru saja dari luar. Bisakah kau menunggu sebentar?”Ia melepaskan sepatunya lalu menanggalkan sweaternya. Lalu ia berjalan menuju ke kamar mandi. Aku duduk, melihat-lihat rumah mereka.“Tentu saja tidak. Apa kau tahu kemana ia pergi?”“Tidak,” teriaknya dari dalam kamar mandi, dengan mulut penuh busa pasta gigi, “ia tak pernah meneleponku sekalipun semenjak ia pergi.”“Aku sedih mendengarnya.”Aku mendengarnya berkumur dan ketika ia melihatku memandanginya dari kaca kamar mandi, ia menutup pintu kamar mandi untuk mendapatkan privasi. Ketika aku mendengar suara shower dinyalakan, aku berniat mengambil handphone untuk melihat SMS terakhir yang ia kirimkan. Mungkin saja itu akan memberikan petunjuk dimana ia berada. Namun ketika aku mengambilnya dari dalam tas, benda itu terjatuh. Ketika aku berusaha mengambilnya, aku melihat sesuatu di bawah sofa.Gumpalan rambut.Warnanya cokelat, sama seperti rambut Tina.Namun anehnya, rambut2 itu tampak seperti dicabut dari kulit kepalanya.Dan ada sedikit noda darah di sana.“Sesuatu yang akan membunuhnya sedang menanggalkan kulit.”Aku melihat pintu kamar mandi yang tertutup.“Sesuatu yang akan membunuhnmu sedang mengasah giginya.”Aku mendengarnya tadi menggosok gigi.“Sesuatu yang akan membunuhnmu sedang membersihkan darah dari antara cakar-cakarnya.”Aku sedang mendengarnya membersihkan diri di bawah pancuran.“Sesuatu yang akan membunuhnmu sedang mengumpulkan kulit.”Aku menatap sedikit kulit yang masih menempel di gumpalan rambut itu.Ya Tuhan ... Sesuatu yang akan membunuhku !Aku mendengar suara pancuran berhenti. Gerakan dari dalam kamar mandi.Aku lari. Keluar dari pintu. Membanting pintu. Berlari sekuat tenaga ke mobil. Masuk ke mobil. Gemetar. Memperhatikan pintu. Tanganku berjuang dengan kencang. Gemetar. Gemetar. Pintu rumah terbuka. Mobilku menyala. Aku mengendarainya secepat mungkin. Aku tak menoleh ke belakang. Sepanjang malam. Aku yak tahu apa ia mengikutiku. Aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku tak tahu apa yang kulihat tadi. jantungku tak lagi berdetak dengan normal hingga aku tiba di rumah, berkendara sepanjang malam hingga melintasi dua negara bagian. Aku pulang.Itu sebulan yang lalu. Aku menelepon polisi. Mereka menyelidiki, namun tak menemukan apapun. Mereka yakin Tina hanya meninggalkannya dan pindah ke tempat lain.Mungkin memang begitu. Mungkin ia sudah kabur dan aman sekarang. Mungkin takkan ada yang mengejarku. Mungkin Michael adalah pria malang yang ditinggalkan istrinya. Mungkin tak ada sesuatu yang berada di belakang pepohonan, di bawah salju, di bawah mobil, di luar pintuku saat malam, di luar jendela. Mungkin tak ada. Tak ada.Aku selalu teringat kalimat terakhir dalam ramalan Luvia.“Sesuatu yang akan membunuhmu ... kau takkan melihatnya datang.”

Pelukis Bertarif Mahal
Teen
14 Feb 2026

Pelukis Bertarif Mahal

Ada cerita seorang ibu dengan anaknya umur 7 tahun sedang makan di restoran mewah. Tiba-tiba anak tersebut menangis dan merengek-rengek pada orang tuanya itu. Barang saja mamanya langsung kebingungan dan gugup. Makan baru saja mau selesai, belum juga minum sudah ada gangguan.Sambil celingukan ibunya pandang sana-sini, selain untuk memastikan keadaan di sekitar juga hendak mencari solusi. Siapa tahu ada hal yang bisa membuat anaknya terdiam. Tak dinyana, ternyata ia menemukan seorang pelukis terkenal yang juga ikut makan. Duduknya di meja ujung ruangan.Tanpa pikir panjang dan basa-basi ibu itu menghampiri si pelukis bersama anaknya yang masih sesenggukan. Anaknya berhasil dirayu untuk mengakhiri tangisan dengan iming-iming akan memperoleh lukisan. Akhirnya muka melasnya mulai sedikit hilang. Ia tergoda rayuan maut mamanya.Setelah menyapa, mama muda itu bertanya pada pelukis "Pak, boleh minta tolong menggambar untuk anak saya ini? Maaf, nanti saya beri uang sebagai gantinya untuk menghormati Bapak."Pelukis itu menanggapi "Baik Bu, kebetulan saya sedang menunggu pesanan makan. Akan saya buatkan lukisan indah khusus untuk usia anak anda."Ibu itu gembira mendapat kehormatan tersebut. Ia berucap penuh syukur "Terima kasih banyak Pak, jadi tidak enak nih."Setelah 10 menit-an akhirnya lukisan itu selesai. Pelukis itu penuh semangat memberi tahu "Ini bu, lukisan untuk anak anda telah selesai. Silakan... ini."Ibu itu ikut melihat hasil akhirnya "Wah bagus banget Pak, anak saya pasti senang.... ooh iyaa.. biayanya berapa pak?"Dengan enteng pelukis itu bilang "500 ribu saja bu, harga khusus untuk anak anda."Ibu itu sungguh kaget. Wajahnya lebih pucat dari saat anaknya tadi menangis. Sekonyong-konyong ia bilang "Loh Pak, kok mahal banget? Kan bapak melukisnya cuma kurang dari 10 menit. Cepat banget dan terlihat begitu mudah."Pelukis itu tidak tersinggung dan tak emosi. Ia tahu risikonya. Ia menjawab sambil berusaha memberi "inspirasi" bagi ibunya. Lagian pelukis itu menyadari bahwa mereka berada di tempat makan ekslusif. Tujuan orang-orang kaya berkumpul. Menurutnya harga sebesar itu sudah wajar. Sesuai dompet.Lintas ia memberi penjelasan pada si Ibu "Begini bu, memang saat membuat lukisan ini saya lakukan dengan cepat dan terlihat mudah. Namun, agar mempunyai kemampuan melukis seperti ini saya butuh waktu lama. Butuh mencari ilmu yang tak mudah. Serta butuh kerja keras di masa lalu yang tak bisa dibilang gampang."Pelukis itu menambahi "Sejatinya, ibu tidak membayar apa yang sedang saya lakukan sekarang ini. Begitu pula tidak membayar waktu 10 menit saya untuk melukis. Ibu membayar apa yang saya lakukan di masa lalu. Ibu membayar semua yang telah saya lakukan untuk bisa menjadi pelukis seperti sekarang ini... Lagian uang 500 ribu untuk ibu sangat sedikit. Ibu mampu makan di restoran mewah ini tentu akan jauh lebih mampu ketika membayar lukisan saya ini."

Ingin Kamu Yang Dulu
Teen
14 Feb 2026

Ingin Kamu Yang Dulu

Menatap langit yang hanya dipenuhi asap gelap. Rintikan hujan turun membasahi tiap sudut kota. Udara dingin serentak memeluk erat tubuhnya. Acha menghela nafas. Helaan nafas berat yang selalu ia hembuskan setiap kali air dari langit itu turun. Helaan nafas sesak yang selalu terasa dua tahun ini.dirogohnya ponsel hitam polos miliknya di saku seragam sekolahnya. Ditekannya salah satu tombolnya. Menyala, dan Acha tersenyum hambar. Wallpaper ponsel itu bahkan masih belum mau berubah. Tetap wajah seorang lelaki tampan yang tiba-tiba menghilang entah ke mana."Aku kangen kamu Zy , aku kangen kamu yang dulu .." ujar AchaDua tahun berlalu , kini Acha sudah duduk di bangku kelas 1 SMA , masih teringat jelas dibenaknya masa-masa dua tahun yang lalu saat ia bersama lelaki itu"Cha , gua janji sama lo gak akan buat lo sedih apalagi sampai meneteskan air mata , gua janji bakal jagain lo selamanya Cha .." Ujar lelaki ituTapi itu hanyalah sebuah masa lalu , kini sosok lelaki itu telah menghilang . bukan lelaki itu yang menghilang tapi sifat lelaki itu yang kini menghilang . Perubahan itu terjadi saat Ozy melihat Acha sedang bersama seorang lelaki padahal saat itu Ozy dan Acha masih berstatus berpacaran . Ozy terlihat sangat marah terhadap Acha mulai sejak saat itulah Ozy memendam rasa benci dan selalu bersikap semena – semena kepada Acha , dan Acha hanya bisa sabar menerima perlakuan kasar dari Ozy ."Tuhan .. kembalikan Ozy seperti yang dulu .." Lirih Acha"Hey Cha , lo kenapa ??" Ujar seorang temannya seraya menepuk pundaknya"Eh elo Ik .. enggak kenapa-kenapa kok Ik ..!""gua tau kok Cha , pasti lo sedih liat Ozy yang sekarang kan ??"Acha hanya bisa mengangguk pelan , air mata Acha perlahan mulai turun . ia hanya bisa menangis seraya memeluk erat tubuh sahabatnya itu , tangisannya seakan menjadi bukti bahwa ia sangat merasakan kesedihan mendalam terhadap perubahan sifat Ozy yang seperti ini."Cha lo yang sabar ya . gua janji kok sama lo bakal bantuin lo ""Makasih ya Oik ..""Iya sama – sama . ya udah gua keluar dulu ya ..""Iya .."Dari kejauhan dilihatnya lelaki itu sedang bercanda tawa dengan teman – temannya , Acha hanya bisa tersenyum miris melihat Ozy bisa tertawa lepas seperti itu , Acha mulai berjalan keluar kelas nya menuju suatu tempat yang bisa memberikan ketenangan baginya ."Biasanya gua sama Ozy selalu bercanda bareng disini , tapi itu dulu . Tuhan , sampai kapan gua harus kaya gini .." Gumam AchaHembusan angin terasa sangat menyejukan suasana hari ini , daun – daun pepohonan mulai berjatuhan meninggalkan batangnya , Acha hanya bisa memeluk lututnya untuk melampiasan rasa sedihnya tersebut . bendungan kecil di matanya pun tak mampu tertahan lagi"Dreetthh .." Handphone Acha bergetar dilihatnya ada 1 pesan dari Oik , setelah membaca pesan tersebut Acha segera berlari kembali kesekolahnya"Ada apa sih Ik ..?? " Tanya Acha saat sudah berada di depan Oik"Panjang ceritanya , ayo lo ikut gua ke UKS .." Ujar Oik menarik tangan AchaSesampainya di UKS dilihatnya seorang lelaki berpostur tinggi dan berkulit hitam manis itu sudah terbaring kaku dengan beberapa memar di bagian wajahnya , Acha terlihat sangat shock , mata Acha mulai berbinar dan segera mendekati lelaki tersebut"Ozy , lo kenapa ?? Ozy bangun .. jangan bikin aku khawatir .." Lirih Acha"Cha , dari pada lo goyang – goyangin tubuh Ozy kaya gini , mending lo obatin luka dia aja , kasian dia , liat mukanya berdarah babak belur .." Ujar Oik"Iya Ik .."Acha bangkit dari duduknya dan segera mencari air hangat untuk membersihkan sisa – sisa darah di wajah Ozy , sesaat kemudian Acha sudah kembali dengan membawa air hangat"Ik , kok bisa kaya gini sih , gimana ceritanya ??" Tanya Acha seraya membersihkan luka Ozy"Tadi kata deva , ozy berantem sama ray cha .." jawab Oik"Kok bisa ??""Gua gak tau cha , lo Tanya aja deh nanti sama ray .."Acha hanya mengangguk pelan , dengan perasaan yang lembut dan penuh kasih sayang Acha dengan hati – hati mengobati luka Ozy . Air mata Acha mulai terbendung di pelupuk mata nya , Acha menatap miris wajah lelaki yang masih berstatus pacarnya itu ."Aku tetep sayang sama kamu zy , walaupun kamu udah benci sama aku tapi sampai kapan pun kamu tetep pacar aku .." Lirih AchaAcha menghapus air mata nya yang perlahan mulai mengalir di wajah cantik nya , acha menengadah melihat langit langit UKS , melintas sejenak di pikirannya saat ia dan ozy sedang berada di sebuah pantai sedang membuat istana pasir mereka secara bersamaan ."Yee , Istana nya udah jadi .." Girang Acha"Iya cha , nanti kalo kita udah nikah , nanti kamu aku buatin istana yang nyata , bukan cuma istana pasir seperti ini .." ujar Ozy memeluk tubuh Acha dari belakang"Makasih ya zy .. aku sayang banget sama kamu ..""Aku juga sayang sama kamu , Sampai kapan pun kamu akan tetap jadi pacar aku walaupun nanti kamu nikah sama orang lain pokoknya kamu tetep pacar aku , dan aku janji bakal rebut kamu lagi dari orang itu kalo itu sampe terjadi .." Tegas ozy mencium pipi AchaAcha hanya bisa tersenyum miris saat mengingat hal tersebut , bendungan kecil itu tak mampu ia tahan lagi , dengan derasnya bendungan tersebut mengalir membasahi wajah manis gadis ini . dengan cepat Acha lansung menghapusnya dengan tangannya , di lihatnya ozy masih belum sadarkan diri ."Andaikan aja kamu tau zy kenyataan yang sebenarnya , orang itu bukan pacar aku atau pun selingkuhan aku , dia itu kakak aku zy . kakak aku dari malang , tapi kamu gak pernah mau dengerin penjelasan aku . apa kamu emang udah benci banget sama aku .." Lirih Acha seraya menyentuh lembut wajah ozy"Sabar ya Cha .. Gua janji sama lo bakal bantuin lo , bakal buat ozy kaya dulu lagi . lo jangan nangis , gua gak mau liat lo nangis gini .." Ujar Oik memeluk tubuh sahabatnya ini"Iya , makasih ya ik .."Oik melepaskan pelukannya , kemudian pergi meninggalkan UKS mebiarkan Acha bersama Ozy . Hanya ini lah kesempatan Acha untuk bisa melihat wajah ozy sedetail ini untuk melampiaskan rasa rindu nya selama ini kepada Ozy . Acha tersenyum manis menahan pahit yang ia rasakan ."Aku percaya , suatu saat kamu bakal berubah kaya dulu lagi . Aku cuma buat kamu , dan aku gak mau yang lain karena aku cuma mau kamu .." Lirih Acha mencium kening OzyTak bisa aku berdiri tegap sampai hari iniBukan karna kuat da hebat dan hebatkuSemua karena cinta , semua karena cintaTak mampu diriku dapat berdiri tegap"Aku jaga hati ini cuma buat kamu , sampai kapan pun aku akan slalu ada buat kamu , dan hati ku selalu akan menerima mu.." Ujar AchaSudah setengah jam berlalu tapi ozy tak kunjung sadarkan diri , Acha masih tetap setia menemani ozy yang masih tak sadarkan diri itu . Acha menyandarkan tubuh nya di dinding UKS, air mata nya terus mengalir tanpa henti nya , hanya selang beberapa saat tangan tangan mungil ozy mulai bergerak , Acha yang menyadari hal itu lansung mendekati ozy ."Ozy .. Kamu udah sadar . lo gak apa – apa kan ??" Ujar Acha dengan meta berbinar"Gue dimana ..??" Lirh Ozy dengan nada yang masih lemas"kamu di UKS , tadi kamu pingsan .." jawab Acha lembut"Ngapain lo disini .. pergi lo sana .." Bentak ozyDengan sisa sisa tenaga nya yang masih terkumpul Ozy lansung mendorong tubuh Acha sampai acha terhempas di lantai dan kepala nya membentur tembok , Ozy terlihat sangat murka saat melihat Acha tadi . Acha meringis kesakitan tapi ozy tak memperdulikannya , Ozy hanya diam menatap acha sinis ."Aww .." Rintih Acha memegangi kepala bagian belakangnya yang terbentur tembok"Ya allah , .." Lirih AchaTangan Acha telah berlumuran cairan merah yang bersumber dari bagian belakang kepalanya yang terbentur tembok tadi , Badan Acha mulai melemas , Acha menangis menahan sakit akan benturan di kepalanya , darah itu telah mengalir di leher dan di baju Acha ."Udah gak usah Ackting , gua gak kasian liat muka melas lo .." Ketus Ozy"Udah cepet lo pergi dari sini .." Tambah OzyAcha tak menghiraukan ucapan Ozy tadi , Acha terus menangis menahan rasa sakit yang ia rasakan , Acha memejamkan matanya seraya berdoa meminta pertolangan dari yang maha kuasa , tubuh acha benar – benar sudah tak berdaya , tubuhnya terkulai lemah di lantai tak sadarkan diri , menyadari hal itu Ozy lansung bangkit dari kasur dan mendekati Acha ."Lo kenapa ?? Bangun ! jangan ngerepotin gua kenapa .." Kesal Ozy"Ahh , sialan ini anak . kalo aja gua gak kasian sama lo udah gua biarin deh lo , biar lo mati .." Dumel OzyOzy menganggkat tubuh Acha ke atas kasur , Ozy lansung berlari keluar UKS untuk mencari Oik , Ozy berlari sekencang mungkin tanpa memperhatikan keadaan sekitar dan memperdulikan keadaanya , setelah sampai di kelas Oik Ozy lansung menghampiri Oik ."Kok lo disini Zy ..??" Tanya Oik heran"Udah deh gak usah bawel , itu temen lo sekarang udah mau mati di UKS .." Cerocos OzyOik kaget bukan main saat mendengar ucapan Ozy yang sangat kasar itu , Oik sudah sangat murka dengan ucapan Ozy , Emosi telah merasuki tubuh Oik tanpa pikir panjang tangan mungil Oik lansung mendarat keras di wajah Ozy ."Jaga ya omongan lo , lo itu biadab tau gak zy . Acha itu udah bela – belain ngobatin luka – luka lo tadi , lo malah ngomong kaya gitu .." Bentak Oik dengan nada yang sangat tinggiOzy masih tak percaya melihat oik semarah ini kepada nya , Ozy terus memegangi wajahnya yang di tampar Oik tadi , Oik memalingkan tubuhnya dari Ozy melenggang akan pergi menjauh dari lelaki tersebut , Oik benar – benar murka dengan lelaki tersebut ."Dan asal lo tau ya , yang nyelamatin lo pas lo hampir mati di tabrak mobil itu Acha . dan akibat nya dia 1 bulan di rawat di rumah sakit , dan itu cuma demi lo yang gak punya hati ini .." Bentak oik meletakan jari telunjuknya di kening Ozy"Dasar manusia gak tau terima kasih .." tambah oikKali ini oik benar – benar pergi meninggalkan Ozy yang masih tercengang melihat amarah Oik , sementara Oik sudah berlari menuju UKS untuk melihat keadaan sahabat nya itu . kaget bukan main , saat Acha melihat baju dan tangan Acha sudah berlumuran darah ,"Acha , lo kenapa ?? bangun cha bangun .." Histeris Oik"Lo sabar ya , gua bakal cari bantuan buat lo Cha .." tambah oikOik lansung berhamburan keluar dari dalam UKS mencari bantuan dengan wajah yang sudah di penuhin oleh air mata , setelah menemukan bantuan Acha pun lansung di bawa kerumah sakit sekitar , Oik tak lansung ikut kerumah sakit tak melainkan pergi ke kelas dahulu untuk mengambil tas acha . dilihatnya masih ada Ozy di sana , Dengan emosi yang meledak ledak Oik kembali medaratkan tangan nya ke wajah ozy dan kali ini lebih keras dari pada yang tadi ."Biadab lo ya , apa yang lo lakuin ke Acha haa ??" Bentak Oik"Gua gak ngapa – ngapain dia , gua cuma dorong dia pelan .." jawab ozy dengan ekspresi tanpa dosa"Lo memang bener – bener biadap . gak punya hati , lo liat aja gua bakal aduin kelakuan lo sama kakak lo , kak dayat biar lo tau rasa .." Ujar OikOzy kaget bukan main saat mendengar Oik akan memberitahukan hal ini kepada Kak Dayat kakak kandung Ozy , kak dayat memang orang nya keras dan kasar Ozy sudah membayangkan apa yang akan terjadi padanya selanjutnya , Ozy mencoba menahan Oik tapi oik sudah berlari jauh meninggalkan Ozy ."Argghhhh .." Ozy mengacak frustasi rambutnyaOik sudah di perjalanan menuju ke rumah sakit bersama dengan deva sepupu Acha , tak lama kemudian Deva dan Oik telah sampai dirumah sakit mereka dengan sesegera mungkin langsung berlari menuju UGD melihat keadaan Acha ."Acha tidak apa - apa , untung saja benturan itu tidak terlalu keras , kalau saja itu terjadi terlalu keras nyawa nya pasti tidak akan terselamat kan .." Ujar sang dokter kepada Oik dan Deva"Jadi Acha gak perlu di rawat dok ??" tanya Oik"Enggak perlu , Acha bisa lansung pulang tapi sebaiknya dia harus istrihat yang cukup bila dirumah nanti .." Saran dokter"baiklah dok terima kasih .." ujar OikDokter itu hanya tersenyum kemudian berlalu meninggalka oik bersama teman - temannya , dari dalam ruangan terlihat Acha tersenyum manis kearah teman - temannya yang sedang menunggunya di luar , dengan di temani oleh seorang dokter Acha pun keluar dari ruangan tersebut ."Lo gak apa - apa kan Cha ?? Gua Khawatir tau sama lo .." Ujar Oik memeluk sahabatnya ini"Iya gua gak apa apa kok Ik , Kita pulang yuk . gua gak betah sama bau' obat disini .." Pinta AchaTeman - temannya hanya mengangguk meng-iyakan permintaan Acha , Oik Acha dan Deva pun lansung pulang kerumah deva sedangkan yang lainnya kembali ke sekolahan . Acha memang sudah sejak lama tinggal di rumah deva dan keluarga nya karena kedua orang tua Acha tinggal di luar negri ." Aku yakin yang nolongin aku tadi kamu zy , walaupun kamu tadi gak ikut ke rumah sakit .." Batin Acha"Cha , kok lo bisa kaya gini sih ??" Tanya Oik"Tadi gua kepleset Ik , kepala gua ngebentur tembok .." Alibi AchaOik hanya bisa menggeleng mendengarkan kebohongan dari sahabat nya itu , sementara Acha hanya tersenyum kecil . Oik masih tak mengerti mengapa Acha tak mau mengatakan sebenarnya , cinta nya kepada ozy telah membutakannya ." Lo terlalu baik Cha , Lo sampe tega bohongin gua cuma demi ngelindungin Ozy . Gua kasian liat lo cha , kenapa lo harus selalu berkorban buat lelaki gak punya hati itu ??" batin OikAkhirnya kini mereka telah sampai dirumah Deva , keadaan rumah deva terlihat sangat sepi . ya wajar saja mereka disini hanya tinggal berempat deva acha dan kedua orang tua Deva , dan sudah beberapa hari yang lalu sampai hari ini kedua orang tua deva sedang ada tugas di luar kota ."Lo baik - baik ya disini . gua mau pulang dulu , nanti kalo ada apa - apa lo telfon gua aja .." Ujar Oik"Iya ik , makasih ya ik udah banyak berkorban buat gua .." Ucap acha"Iya sama - sama Cha .."Oik pun pergi meninggalkan rumah deva menggunakan mobil berwarna merah miliknya , Oik tak lansung pulang , ia sebelumnya mampir ke rumah ozy untuk terlebih dahulu , dilihatnya dari luar mobil ozy belum ada disana , yang ada hanya mobil kak dayat , Oik pun lansung memencet bel rumah Ozy tak lama kemudian kak dayat pun keluar dari dalam rumah ."Ehh Oik , tumben kesini . ayo masuk , tapi ozy nya belum pulang .." Ujar kak dayat ramah"Iya kak , lagian oik bukan mau ketemu ozy . oik ada perlu nya sama kakak .." Ucap OikSetelah berada di ruang tamu dan kak dayat sudah mempersilahkan Oik untuk duduk , oik lansung duduk tepat di depan kak dayat . Oik tak mau berlama - lama , oik lansung to the point dan menceritakan hal yang sebenarnya kepada kak dayat tentang perlakuan ozy kepada Acha selama ini ."Astaga .. kasian Acha . lo tenang aja , kakak bakal kasih perhitungan buat bocah satu itu . kakak ikut prihatin ya atas keadaan acha .." Ujar kak dayat"Iya kak .. Ya udah kalo gitu Oik pulang dulu ya kak . Maaf udah ganggu waktu nya .." Ucap Oik"Iya .. Enggak kok ik . hati - hati di jalan .."Oik hanya tersenyum kemudian pergi meninggalkan rumah ozy , sementaria Acha tengah terbaring di kasur nya memeluk erat sebuah photo nya saat bersama Ozy . Pikiran nya mulai kembai ke masa lalu nya saat bersama Ozy ."Aww .." Lirih Acha"Kamu kenapa Cha ??" Tanya Ozy khawatir"Kaki aku berdarah Zy , kena batu karang .." Manja Acha"ya udah sini aku obatin ya .."Ozy membawa Acha ke pinggiran pantai dan mengobati luka yang ada di kaki Acha dengan penuh rasa kasih sayang , Acha hanya bisa tersenyum saat melihat ozy mengobati lukanya ."Aku janji gak akan biarin kamu di jahati apalagi sampai di celakain sama orang lain . aku bakalan selalu jagain kamu cha .." ujar Ozy memeluk AchaTapi itu hanyalah sebuah masa lalu , masa lalu yang indah bagi Acha . tapi sekarang semua nya telah berbalik , Ozy malah mengingkari janji nya bahkan dia sendiri yang mencelakai Acha , Kini acha hanya bisa menangis menerima perlakuan dari Ozy ."Zy , andai kamu tau yang ada di benak ku , aku rela kehilangan segalanya bahkan nyawaku sekali pun demi kamu zy . aku terlalu sayang sama kamu .." Lirih AchaAcha terus menangis tersendu memeluk photo itu , sementara Ozy sedang tertidur pulas di sofa ruang tamu rumah nya . tak lama kemudian kak dayat keluar dari kamar nya dan melihat ozy dalam keadaan seperti itu , Kak dayat lansung menarik Ozy dari kursi tersebut dan bangkit berdiri ."Lo enak - enakan tidur disini , gak mikirin acha yang ke sakitan gara - gara ulah lo . manusia macam apa lo ini zy ?? lo cowok atau bukan .." bentak kak dayat"Kakak apa - apaan sih . tiba - tiba marah , ungkit - ungkit cewek itu pula .." Heran Ozy"Lo gak usah pura - pura begok . gua udah tau semua nya . Gua malu punya adek kaya lo , dan bukan hanya gue yang malu bahkan kalo mama sama papa tau tentang kelakuan lo pasti mereka juga malu punya anak kaya lo .." Ujar kak dayat panjang lebar dengan nada yang sangat tinggi dan tempo yang beraturanOzy hanya diam tak berani menjawab kata kata ka dayat , ozy hanya menunduk tak mempunyai nyali untuk menatap kak dayat yang sepertinya sudah marah besar kepada nya ."Lo bukan adek gua , Gua gak punya adek yang biadap kaya lo .." tegas kak dayatJantung Ozy berdegup kencang , matanya membulat mendengar ucapan yang keluar dari mulut kakak nya yang kini telah lenyap dari pandangannya , Ozy hanya bisa mengacak frustasi rambutnya . keesokan hari nya ozy telah berada di depan kelas Acha , ntah angin apa yang menggiringnya ke sini ."Ehh itu ozy kan ik ??" Tanya Acha kepada oik"Iya .. ngapain ya tu anak di depan kelas kita .." heran Oik"tau deh ik , udah yuk cepetan . gua mau ngejauh dulu dari dia .." Ujar AchaAcha dan Oik pun kini sudah mendekat dengan Ozy setelah berada tepat di depan Ozy mereka berdua lansung berlari masuk kedalam kelas tanpa memperdulikan kehadiran ozy di depan kelas nya ."Tumben lo ngejauh dari ozy ??" Tanya Oik"hehehe , lagi gak mood aja Ik .." Jawab Acha"dasar lo ini .."Saat jam istirahat Acha tengah berada di dalam kelasnya sendirian karena oik sedang pergi ke perpustakaan , di ambang pintung acha melihat ada seseorng yang tak asing lagi bagi nya . orang tersebut pun mendekati Acha , acha seakan acuh melihat kedatangan orang tersebut ."mau apa kamu kesini ?? mau marah - marahin aku lagi ?? Mau ngebenturin kepala aku di tembok lagi ?? atau mau bunuh aku ?? Silahkan , asal kamu seneng .." Ujar Acha"udah diem deh lo gak usah sok di depan gua . asal lo tau ya , gara - gara lo kak dayat marah sama gua . cewek sialan lo itu , ngapa lo gak mati aja sih kemaren ??" Bentak ozy menjambak rambut Acha"Sakit zy .. Sakit . lepasin rambut gua zy ,," lirih Acha menahan Sakit"gak akan gua lepasin .."Ozy terus menjambak rambut Acha padahal kepala Acha masih di perban gara - gara kemarin , Acha hanya bisa menangis menahan sakit di kepala nya . air mata nya telah mengalir deras tak ada henti nya , Acha memegangi kepalanya semakin keras acha menagis semakin keras juga Ozy menjambak rambut Acha ."Ozyyy .. Berhenti .." Ujar oikOik berlari menghempaskan buku nya kelantai mendekati ozy dan Acha , Emosi nya mulai memuncak Oik mendorong keras tubuh ozy menjauh dari Acha , Oik lansung memeluk erat tubuh sahabat nya ini , untung saja darah d kepala acha tidak kembali mengalir ."Lo gak apa - apa kan Cha ??" Tanya Oik yang merasa khawatir dengan Acha"Gua enggak apa - apa kok .." jawab AchaOik melepaskan pelukannya dari tubuh Acha kemudian mendekati Ozy yang masih terkulai di lantai kelas , Emosi benar - benar sudah menguasai diri Oik sehingga ia tak mampu mengendalikannya lagi , oik sangat murka melihat perlakuan semena - mena Ozy kepada Acha ."bangun lo bangsat . kemaren gua cukup sabar sama lo , sekarang kesadaran gua udah abis . lo itu gak pantes idup , mending lo itu mati .." bentak Oik"Oik udah , lo gak boleh kaya gitu . gua gak apa - apa kok .. kita pergi aja dari kelas ini .." ujar Acha bangkit dari tempat duduk nyaAcha menarik paksa tangan Oik meninggalkan kelas tersebut . lapangan basket terlihat sepi tak ada yang berlatih disana , Oik dan Acha pun duduk di pinggir lapangan tersebut , Acha menyenderkan kepalanya di bahu Oik . Air matanya terus mengalir tanpa henti ."Udah lo gak usah nangis lagi Cha , dia itu gak pantes buat lo tangisin .. " hibur Oik"Tapi gua sayang sama dia Ik .." jawab AchaOik hanya diam tak bisa menjawab perkataan yang keluar dari mulut sahabat nya ini , telukis indah dibenak Acha kejadian beberapa tahun silam saat kedua orang tua nya akan pergi ke luar negri , saat itu Acha dan Ozy tengah berada di bandara mengiringi kepergian kedua orang tua Acha keluar negri ."Udah dong cantik jangan nangis lagi . kan disini ada aku yang slalu sayang sama kamu , aku gak suka liat kamu nangis gini , pokok nya aku gak akan biarin kamu nangis lagi . aku janji .." Ujar Ozy mengenggam erat kedua tangan AchaTapi kenyataan yang terjadi apa ?? sekarang ozy sudah lupa dengan kata katanya , dia malah membiarkan acha menangis dan parahnya lagi Acha menangis karena Ozy . memang sakit , sangat sakit tapi Acha selalu berusaha untuk tegar .Menangis aku kenang saat hati ku kau tinggalkanHanya sakit yang aku pendam dalam rindu yang semakin dalamTak tau harus dimana ku temukan jawabnyaKau pujaan ku dimana , ku sakit harus menunggu lamaMerana hati merana dan rindu aku bertanyaKekasih kau yang ku kenang , jatuhkan ku dalam rintanganWalau sakit yang aku pendam , rindu ini tak kunjung padamTak tau harus dimana ku temukan .."Tuhan berikan aku kekuatan untuk menghadapi semua ini tuhan , Bantu lah aku aku untuk mengembalikannya seperti dulu .." batin kuKini acha telah berada di rumah deva , kini ia sedang duduk termenung di teras depan rumah acha ditemani Gitar kesayangan pemberian dari ozy saat ulang tahunnya . di peluknya erat - erat gitar tersebut , masih teringat jelas di benak nya saat Ozy mengajarkan nya cari bermain gitar ."Gini lo cha .. Aduh susah deh ngajarin kamu .." Ujar OzyOzy duduk tepat berada dibelakang Acha jika dilihat dari belakang mereka seperti sedang berpelukan , Ozy memegang kedua tangan Acha dan mengrahkan Acha ke kunci dan cara memetik gitar yang benar , ozy dengan sabar mengajarkan Acha , sampai Akhirya Acha sudah mahir bermain gitar ."Zy aku kangen kamu yang dulu .." gumam AchaAcha diam duduk mematung menatap kosong kedepan ,ia sadar dari lamunnya setelah mendengar ponselnya berbunyi , dilihatnya ada telfon dari nomor baru , dengan sedikir ragu Acha akhirnya mengangkat telfon tersebut ."Halo ..." Ujar Acha lembut"Ehh cewek sialan , gua harep lo besok udah gak ada di dunia ini lagi . mending lo bunuh diri deh sana , dari pada lo hidup bisanya cuma nangis doang . mending lo mati sana , setan - setan pasti seneng deh kalo lo mati kan mereka daper temen baru .."Acha sangat mengenal suara itu , ya itu suara Ozy . Acha hanya diam dan terus mendengarkan ocehan ozy yang sebenarnya sudah sangat keterlaluan itu dan bisa di bilang sudah tidak pantas untuk di dengar , tapi Acha tetap sabar padahal kata - kata ozy itu sangat menyayat - nyayat hatinya ."Kenapa lo diem ?? apa lo udah mati ?? bagus deh kalo lo udah mati biar ngurangin manusia manusia yang tidak berguna di dunia ini . jangan ngarep kalo gue bakal baik sama lo ..""Thanks saran nya .." Jawab AchaAcha lansung memutuskan sambungan telfon dari Ozy , ia langsung berlari masuk kedalam kamar nya , di banting nya kuar kuat pintu kamar tersebut untuk melampiaskan rasa kesal dan rasa sakit yang tengah mengisi hati nya saat ini . sementara ozy hanya tertawa renyah merasa puas akan perlakuannya terhadap Acha ."mampus lo .. hahaha . dasar cewek gak berguna , coba aja ya tu cewek bener - bener mati , pasti aman banget hidup gua .." cerocos Ozy"Plakkkk .." Kak dayat yang murka mendengar ucapan ozy lansung mendarat kan tangannya di wajah Ozy dengan sangat keras . sebenarnya kak dayart tidak tega melakukan hal ini kepada Ozy tapi ini demi kebaikan ozy agar setan yang menempel di tubuh ozy cepat keluar dari tubuhnya ."Mulut lo emang ga punya aturan lagi , hati lo udah gak ada . mending lo pergi dari rumah ini , gua gak sudi tinggal satu rumah sama setan kaya lo .." bentak Kak dayat"Kakak gak ada hak buat ngusir gua ,." Protes Ozy"Gua punya hak , gua anak tertua di rumah ini . mama dan papa pun pasti setuju jika tau yang sebernarnya . liat aja gua bakal kasih tau semua ini sama mama sama papa .." Ancam kak dayat"jangan kak , jangan kasih tau mama papa tentang semua ini , gua janji besok bakal minta maaf sama Acha . Gua janji kak gua bakal berubah .." ujar ozy"gua janji kak .." tambah nuaKak dayat menatap ozy dengan tatapan tak percaya , lama kelamaan ekspresi Ozy semakin lucu yang membuat kak dayat menahan tawa nya , karena sudah tak kuat menahan tawa lagi kak Dayat lansung menggangguk percaya kemudian masuk kedalam kamarnya tertawa lepas mengingat wajah ozy tadi .***Sang mentari pagi mulai menampakkan dirinya , ia bergerak perlahan namun pasti , terlihat malu-malu ia ingin muncul namun akhirnya ia memberanikan dirinya menampakan wujud nya untuk menyinari seluruh alam semesta , Cahaya nya membuat udara terasa sedikit hangat , di sudut kelas terlihat oik dan Acha tengah asik membicarakan sesuatu ."Achaaa .."Acha melihat kearah sumber suara tepatnya di ambang pintu kelas nya , Acha sudah tau orang itu siapa dan tebakannya benar . Acha dan Oik memandang acuh bahkan merasa tidak senang akan kehadiran orang tersebut ."Gua bener - bener mau minta maaf sama lo Cha , gua janji bakal nebus semua kesalahan gua sama lo . gua janji bakal memperbaiki semua kelakuan gua buat lo ..""basi tau zy .. " ketus Acha"Tapi gua serius Cha , ini bener - bener dari hati gua . jujur gua masih sayang banget sama lo , gua minta maaf , gua udah tau yang sebenernya , gua minta maaf Cha ..""Udah ah Ik bosen gua di kelas ini . Pergi yukk .." Ujar Acha tanpa menghiraukan perkataan OzyAcha telah berlalu dari kelas itu begitupun dengan oik , Ozy mengacak frustasi rambutnya . mungkin kali ini giliran acha yang marah dengan ozy , ya wajar saja kata - kata ozy selama ini terlalu menyakitkan bagi Acha , semua orang pasti akan bersikap seperti itu jika menerima perlakuan kasar seperti ini dari orang lain ."Gua emang bodoh , selama nya gua terlalu dendam sama rasa cemburu gua . gua terlalu bodoh udah nyia - nyiain cewek sebaik Acha , gua terlalu bodoh nyakitin cewek sepolos dia . gua memang bodoh , mungin ini hukum karma bagi gua .." Lirih Ozy"Sabar bro , gua yakin Acha gak akan lama kok marah sama lo , gua tau dia cewek yang baik . lo sabar aja .." Ujar seseorang"Ray ?? Ray maafin gua waktu itu udah bikin lo masuk rumah sakit gua bener - bener minta maaf ray .." Ujar Ozy"Iya gak apa - apa kok bro .." Jawab raySaat sesudah pulang sekolah Ozy sudah bersiap - siap untuk pergi kerumah deva untuk kembali menemui Acha . Setelah sampai dirumah Deva , Ozy lansung memencet bel di rumah Deva , hanya selang beberapa saat saja deva keluar dari dalam rumahnya ."Mau ngapain lo disini ?? kurang puas lo nyakitin Acha ??" bentak Deva"Enggak dev , gua cuma mau minta maaf sama Acha .." Ujar Ozy"Acha udah pergi , dia udah di bandara mau pergi ke Sidney nyusul mami papi nya .." jawab Deva"Lo serius ..??" Tanya Ozy tak percaya"Iya lah , mendingan lo cepetan ke bandara deh sebelum acha pergi .." Saran DevaOzy lansung mengangguk kemudian lansung memasuki mobilnya dengan secepat kilat Ozy telah meninggalkan rumah deva dan lansung menuju bandara , setelah sesampainya di bandara Ozy lansung mencari Acha ."Lo dimana sih Cha ?? apa lo udah bener - bener pergi . Pliss kasih gua kesempatan buat ngungkapin semua ini .." lirih ozyOzy mulai putus asa saat sudah sekian lama mengelilingi bandara dan tidak menemukan Acha , Ozy kembali mengedarkan pandagannya . seorang gadis dengan tas ungu miliknya tengah berdiri di dekat pintu keberangkatan , dengan langkah cepat ozy lansung mengjampiri wanita tersebut ."Achaa tunggu .." teriak ozyAcha lansung menoleh kearah ozy mengangangkat sebelah alisnya , Ozy lansung menghampiri Acha dan lansung memerat tubuh mungil gadis yang masih berstatus pacar nya ini ,"Pliss Cha jangan pergi , gua sayang sama lo . gua gak mau kehilangan lo lagi untuk yang kedua kali nya , gua minta maaf atas perlakuan gua selama ini ke elo . itu semua gua lakuin karena gua sakit hati sama lo , tapi gua udah tau kebenarannya dari oik , gua bener - bener minta maaf Cha , pliss jangan pergi . jangan tinggalin gua disini .." Ucap ozy panjang lebar"Gua rela ngelakuin apa aja asal lo mau maafin gua dan asal lo tetep di Indonesia jangan pergi dari Indonesia , gua mohon Cha jangan pergi , gua sayang sama lo .." tambah ozy"kamu kenapa sih zy ?? siapa yang mau pergi ??" heran Acha"Bukannya lo mau pergi ke Sidney mau ikut mami papi lo ..??" ujar OzyAcha tertawa mendengarkan ucapan Ozy kemudian melepaskan pelukan ozy dari tubuhnya , di tatapnya dalam- dalam kedua bola mata lelaki yang ada di depannya itu . kedua tangannya ia letakan di atas bahu Ozy , Acha mulai tersenyum manis kepada Ozy ."Aku itu gak mau ke Sidney , yang mau ke Sidney itu kak Zahra kakak aku . aku ke bandara cuma mau nganterin dia aja .." jelas acha"kok kata Deva tadi ..??" Ujar Ozy"Oh deva yang ngasih tau kamu , hahaha dia cuma ngerjain kamu doang . lagian mana mungkin aku bisa ninggalin Indonesia mana tega aku ninggalin kamu disini , kan kita udah janji bakal sama - sama terus sampai kapan pun .." Ujar Acha"Lo beneran kan gak ke Sidney ..??" Tanya ozy memastikan"Iya beneran ozy .." jawab AchaOzy tersenyum bahagia sekaligus tersenyum lega , kembali di peluknya tubuh gadis pujaan hatinya ini . Ozy tak perduli lagi bahwa ini tempat umum , sementara Acha hanya bisa tersenyum Bahagia karena ozy telah kembali kepadanya ."Aku sayang banget sama kamu . aku minta maaf ya atas semua nya sama kamu .." ujar Ozy"Iya , aku juga sayang kamu .. sebelum kamu minta maaf aku pasti udah maafin kamu kok . ya udah kita pulang yuk .." Ujar AchaOzy mengangguk mengiyakan perkataan Acha , kedua insan itu kini telah kembali bersama . meniti hidup berdua seperti dahulu , mereka membiarkan kejadianhari kemarin sebagai pelajaran dan sebagai kenangan yang akan selalu mereka ingat selama nya .

Kiss Me, Please! I know you love, but why you didn't kiss me???
Teen
14 Feb 2026

Kiss Me, Please! I know you love, but why you didn't kiss me???

Seorang gadis berlari memecah keheningan malam. Membuat nada antara langkah kaki dan deru nafas yang sudah tersenggal.Berkali-kali ia sambil menoleh kebelakang. Sosok bayangan hitam di belakangnya masih mengikutinya membuatnya semakin melebarkan langkahnya.Hoss... hosss...Ia berhenti disebuah pertigaan jalan. Ia sudah tidak tahu dimana dirinya berada. Malam semakin larut dan ia semakin ketakutan.Sosok hitam itu masih mengikutinya, semakin lama semakin dekat.Bulu kuduknya meregang. Ia menyeret kedua kakinya yang sudah sangat kelelahan. Ia berpegangan pada tembok menyusuri jalan dingin yang sepi itu.Ia mengedarkan padangannya. Bangunan tua bekas kebakaran. Ia membekap tangannya mencoba meredam tangisnya.Pluk...Ia menoleh dan mendapati bayangan hitam itu menepuk bahunya.Bayangan hitam itu kini jelas dalam matanya. Seseorang yang bukan karena gelap jadi terlihat hitam. Tapi dia benar-benar hitam. Matanya berkilat merah dan dari seringainya keluar dua buah taring."Hentikan ku mohon." Ucap gadis itu penuh takut."Semuanya akan berakhir, jika kamu mencium seorang pria yang berusia 25tahun sebelum kamu menginjak 20tahun." Sosok hitam itu semakin mendekat.Gadis itu bisa menemukan panas nafas sang monster hingga ia merasakan sesuatu yang tajam menusuk lengannya."Kenapa kamu lakukan ini padaku?" Ucap gadis itu saat melihat tanda dilengan kirinya."Kamu pernah dengar bila seorang yang sudah patah hati akan melakukan apapun untuk balas dendam?" Sosok hitam itu mengecup luka dilengan sang gadis, "Dan aku terjerumus ke lembah hitam ini karena kamu. Tapi apa yang ku dapat kamu malah tidak memperdulikanku."Gadis itu terdiam menatap sang monster, "Sudah ku katakan padamu, aku tidak menyukaimu.""TAPI AKU MENCINTAIMU."Gadis itu terdiam menatap sang monster, air matanya sudah jatuh membanjiri bumi."Tidak ada yang mencintaimu setulus aku.""Ta... tapi...""Aku hanya ingin bertaruh." Makhluk itu menatap tajam mata sang gadis, "Adakah pria yang mencintaimu lebih dari aku? Dan jika kamu tidak menemukannya maka kamu milikku seutuhnya."Makhluk hitam itu menghilang, menyisakan tangis sang gadis.29 Januari 2011"Dia mengamuk lagi." Ucap seorang gadis saat melihat seorang gadis yang sedang menangis histeris di ruang kesehatan."Dia siapa? Memangnya kenapa dia?" Tanya pria disampingnya."Alyssa Saufika atau Ify. Dulu katanya saat SMA, dia pernah pulang malam dan tersesat saat itu ia sering berteriak histeris jika berada di ruangan gelap atau melihat bayangan atau benda hitam yang besar."Pria itu membulatkan bibirnya. "Oo... beruntung sekali pria yang menjemputnya.""Alvin Sindhunata... dia itu kalau mengamuk sangat mengerikan, seperti monster." Ucap sang gadis."Tapi dia cantik Ashilla Zahrantiara." Pria bernama Alvin itu tidak lepas menatap gadis yang sedang menangis tersedu itu, "Mana ada monster secantik itu.""Ya ya ya... terserah elo aja tuan Sindhunata. Tapi dia gak akan milih lo." Ucap Shilla enteng."Kenapa? Gue tampan... kaya..."Shilla mencibir, "Dia hanya mau pacaran dengan pria yang usianya 25tahun."Alvin menatap Shilla tidak percaya."Ayolah gue gak mau Angel marah karna lo telat nganter gue." Shilla berjalan di depan Alvin.Alvin melirik gadis yang masih menangis itu, "Gadis yang menarik."---**---"Siapa dia?" seorang wanita paruh baya melipat tangannya di depan dada saat melihat anaknya tersenyum manis dengan pria yang mengantarnya."Dia temanku." Ucap sang anak santai."Kamu tidak akan melakukan hal semesra itu dengan pria jika itu bukan pacarmu Alyssa Saufika ."Ify menghela nafasnya, "Iya dia pacarku Bunda."Sang ibu menggeleng melihat perlakuan anaknya, "Pria berbeda lagi. Seminggu yang lalu juga kamu membawa pria yang berbeda.""Aku hanya sedang memilih pria yang cocok denganku.""Bunda sudah bosan dengan ucapanmu itu. Bunda juga sudah bosan mendengar cibiran tetangga. Mereka menganggapmu bukan perempuan baik-baik. Bunda malu Ify."Ify memeluk sang ibu."Maaf bunda tapi aku harus menemukan pria yang tepat sebelum ulang tahunku yang ke 20. Aku tidak ingin hidup bersama monster itu." Batin Ify."Sebentar lagi ulang tahunmu yang ke 20. Bunda akan mengenalkanmu pada anak teman Bunda."Ify menatap ibunya tidak percaya."Dia masih muda, usianya masih 24tahun. Bunda sudah bertemu dengannya, dia sangat sopan dan ramah.""24tahun." Ucap Ify lirih."Iya kalian hanya beda 5tahun. Cocok kan?"Ify tidak bisa menjawab pertanyaan dari ibunya. Pikirannya berkelebat ke mana-mana.Kau harus mencium pria berusia 25tahun yang mencintaimu sebelum usiamu 20 tahun.Ify memandang ibunya yang berbinar saat membicarakan calon menantu idamannya. Ify tidak tega untuk menolaknya, tapi disisi lain ia takut melihat makhluk itu.Ify merasa kepalanya berputar. Setiap kali ia membayangkan makhluk itu. Ia merasa perutnya mual dan kejadian empat tahun yang lalu kembali teringat dikepalanya.Ia berlari dan berteriak tapi tidak ada seorang yang mendengarkan.Nafasnya tersenggal dan ia kembali melihat makhluk itu."Aaarrrrghhhhh....""Fy... Ify..." Nyonya Gina menepuk pipi putrinya yang memucat, "Ify."3 February 2011Alvin duduk di meja yang merupakan tempat strategis untuk melihat keseluruh penjuru perpustakan.Matanya terus terpaku pada gadis yang sedang sibuk dengan buku tentang mitos, dongeng dan cerita Beauty and the Beast. Alvin mengerutkan keningnya sesaat, untuk apa seorang mahasiswa membaca dongeng seperti itu.Dari jam ke jam Alvin terus memperhatikan gadis itu dengan seksama. Setiap gerak tubuhnya cara dia bicara. Cara dia tersenyum bahkan cara dia bernafas membuat Alvin tertarik."Apa yang akan dia lakukan jika dia tahu bahwa aku tunangannya?" Batin Alvin.Alvin tidak berani mendekat atau berbicara pada gadis itu. Ia takut gadis itu akan berteriak histeris, karena dia punya trauma masa lalu.Alvin mempelajari sesuatu tentang gadis itu. Ada sesuatu yang janggal dengan gadis itu. Tapi ia tidak tahu.Ia tidak ingin berpikiran buruk pada gadis itu.---**---Ify memandangi buku-buku tentang mitos dan sebagainya. Mungkin orang-orang akan mengira dia sedang mengumpulkan tugas beritanya tapi ia bukan mencari berita. Ia ingin mencari fakta.Ia mencari fakta untuk mengalahkan monster itu.Ify menemukan fakta bahwa makhluk itu tidak bisa menahan serangan pisau perak. Karena makhluk itu masih berupa makhluk setengah manusia.Masih bisa diselamatkan meski keseimbangannya akan rusak dengan kata lain hidup tapi jiwanya sudah terbagi dua.Untuk makhluk yang dikutuknya.Tidak ada jalan keluar selain mengambulkan syarat yang diminta atau mati. Mati sebelum kutukan itu tercapai.Ify menghela nafasnya dalam. Bagaimana cara ia mendapatkan pria 25tahun yang mencintainya."Apakah ada yang mencintaiku tulus tanpa ada yang berusaha menyakitiku." keluh Ify dalam hati.4 Maret 2011Alvin menarik bibirnya saat melihat gadis bergaun ungu itu berjalan kehadapannya. Gadis itu sama sekali tidak memberikan kesempatan padanya untuk mendekat. Tapi justru itulah membuat Alvin semakin penasaran."Ify, ini calon suamimu, Alvin Sindhunata." Ucap Nyonya Gina saat melihat Ify menghindari Alvin terus, "Kalian mengobrolah."Ify menarik senyum tipisnya. Matanya kembali menatap hampa gelas-gelas dihadapannya."Hai..." Alvin mencoba mendekati Ify saat Nyonya Gina pergi, tapi Ify malah berbalik dan meninggalkanya sendirian.Alvin menatap Ify dengan penuh tanya. Gadis itu sangat dingin. Alvin mencium parfumnya. Ia ingat ia sudah menyemprotkan parfum termahal yang ia punya.Alvin melihat dirinya dalam pantulan gelas. Tidak ada yang salah dengan penampilannya.Alvin mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru pesta. Pesta pertunangannya ini terasa neraka baginya.Ia mendekati Shilla yang tengah berbicara dengan teman-temannya. Ia menarik Shilla menjauhi teman-temannya."Shill, lo kenal dekat sama Ify?"Shilla menggeleng, "Nggak deket, cuma pernah satu sekolah di sekolah menengah dulu.""Kenapa dia ngehindar terus yah?" Tanya Alvin polos."Udah gue bilang, dia hanya tertarik dengan pria 25tahun.""Gue serius Shill.." Ucap Alvin penuh nada frustasi."Entahlah, sejak kejadian itu dia sedikit menyendiri, dia hanya akan dekat dengan pria-pria dewasa.""Kenapa dengan pria dewasa?"Shilla tampak berpikir, "Dulu gue dan teman-teman gue penasaran dengan sikap Ify terus kita mengadakan survei kecil-kecilan dan hasilnya Ify hanya akan berpacaran dengan pria yang usianya 25tahun.""Semua pacarnya berusia 25 tahun?"Shilla mengangguk.Alvin mengerutkan, ia semakin penasaran dengan sikap Ify.---**---Ify terduduk di sudut kamarnya. Ia memandang fotonya yang diapit seorang perempuan dan laki-laki.Ia benci foto itu. Ia sangat benci. Tapi ia tidak sanggup untuk membuang foto itu.Ia melihat tanggal yang di lingkari di kalendernya. 8 April 2011 tepat saat usianya 20 tahun dan kutukan itu menjadi nyata."Sivia... bagaimana ini? Apa yang harus gue lakukin? Katakan pada gue.." Isak Ify sambil memeluk bingkai fotonya."Kenapa kamu menghindariku terus?"Ify menoleh dan mendapati Alvin sudah berdiri di pintu kamarnya.Ify menghapus pipinya yang sudah basah lalu memalingkan wajahnya dari Alvin. Ia tidak ingin Alvin melihatnya menangis."Kenapa kamu malah menangis disini, apa kamu tidak suka bertunangan denganku?"Ify tidak menjawab."Fy... katakanlah sesuatu." Alvin duduk dihadapan Ify, "Kenapa kamu begitu membenciku?"Ify menatap Alvin untuk pertama kalinya. Ia akui wajah Alvin sangat tampan. Senyumnya sangat manis.Ify menghela nafasnya berat. Ia tidak tega melihat Alvin berurai air mata."Aku monster." Ucap Ify dinginAlvin terkekeh, "Kau monster tercantik yang pernah aku temui."Ify menatap Alvin tajam, "Aku serius tuan Sindhunata."Alvin memegang pipi Ify, "Disetiap diri manusia ada sisi buruk dan baiknya. Karena kita bukan malaikat yang selalu sempurna dan bukan setan yang selalu salah. Yang jadi permasalahannya adalah bagaimana cara kita untuk menjadi yang lebih baik.""Kamu tidak mengenalku" Ify menepis tangan Alvin, "Aku punya trauma pada beberapa pria. Aku takut itu terulang lagi."Alvin memiringkan kepalanya, "Iya aku paham, kamu boleh waspada pada siapapun, tapi bukan berarti kamu dapat berpikiran negatif pada orang lain."Ify memandang Alvin, seandainya lo pria berusia 25 tahun.11 Maret 2011Alvin mengepal tangannya mencoba tetap berjalan di samping Ify meski ia sangat ingin menggenggam tangan gadis itu. Ia mencoba untuk bersabar. Ia tidak ingin Ify kabur lagi. Ia juga merasa sangat berterimakasih saat Ify mau menerima ajakannya untuk jalan-jalan ditaman."Fy..." panggilnya lembutIfy menoleh danKrek...Lampu blizt mengenai wajah mulus Ify. Alvin terkekeh saat melihat hasil jepretannya.Ify hendak marah tapi Alvin sudah mengenggam tangannya meredam amarahnya."Kamu tahu kisah Beauty and the Beast?" Alvin menarik Ify duduk di sebuah bangku taman.Ify menggangguk, "Siapapun tau cerita itu."Alvin menatap Ify lembut membuat gadis itu kehabisan nafas, "Seperti Beast aku juga akan menunggumu mencintaiku."Ify tertegun mendengar kata-kata Alvin, kau bukan beast akulah beastnya."Aku butuh waktu, Alvin." Ucap Ify."Untuk itu aku menikahimu."Ify menatap kedua mata Alvin mencari kebohongan di kedua celahnya tapi ia tidak menemukan apapun."Aku sudah menyiapkan tanggal yang bagus, 7 April 2011." Alvin menyunggingkan senyum khasnya yang bisa membuat wanita manapun jatuh cinta.7 April.Itu artinya sehari sebelum ulang tahunnya yang ke 20. Ify menghela nafasnya. Tidak dipungkiri jika Alvin itu tampan dan ia jatuh cinta pada pria itu. Tapi dirinya sendirilah yang tidak mampu untuk membalas semua cinta Alvin."Kenapa kamu tetap mempertahankanku?" ucap Ify putus asa."Karena aku mencintaimu, aku ingin melindungimu, aku ingin selalu disisimu."Ify melemparkan tatapan dinginnya, masih bisakah Alvin berkata seperti itu jika ia tahu hal sebenarnya, "Aku mencintaimu ataupun tidak, kamu tetap tidak bisa memilikiku."Ify meninggalkan Alvin yang masih duduk di taman sendirian.Alvin melihat sosok Ify yang sudah menjauh. Ia rogoh sakunya mengambil sebuah kotak berwarna transparan. Ia membuka kotak itu lalu mengambil sebuah cincin di dalamnya."Aku mencintaimu Ify."31 Maret 2011Ify tidak menolak atau berkomentar saat keluarga Alvin melamarnya. Banyak teman-temannya di kampus yang bertanya tentang kabar itu. Wajar saja Alvin adalah anak magister (S2) yang sering jadi sasaran kecengan teman-teman Ify.Tapi Ify tidak berniat sama sekali. Ia hanya mencari pria yang berusia 25tahun untuk melepas semua kutukannya.Kini harapannya untuk terbebas dari kutukan itu sudah musnah.Mencintai Alvin ataupun tidak, tidak akan merubah apapun. Yang bisa merubahnya adalah ciuman dari seorang yang mencintainya, pria berusia 25tahun.Masalahnya kini, bagaimana dia bisa mencari pria itu jika Alvin terus disampingnya.Ify melihat luka dilengannya. Luka itu tidak hilang, kutukan itu masih.Waktu yang tersisa tinggal 9 hari lagi, dan Alvin akan menikahinya tetap sebelum ia menjadi monster.Ify mengambil bingkai fotonya. Ia mencopot fotonya dengan paksa. Ia merobek foto itu menjadi dua bagian. Ia menatap bagian foto pria tersebut lalu merobeknya menjadi beberapa bagian.Ify kemudian menatap fotonya dan seorang gadis dengan sedu."Sivia.." lirihnya.Ify mengambil spidol lalu menuliskan sesuatu. Ini adalah jalan terakhir yang dia punya.7 April 2011Alvin menatap Ify yang sudah resmi jadi istrinya. Ify memeluk ibunya sangat erat seolah akan berpisah jauh sekali.Alvin sedikit heran saat Ify tidak menolak atau mengeluh dengan rencana pernikahan mereka. Ify lebih banyak terdiam dari pada menghindar membuat Alvin menjadi serba salah. Dia ingin melepaskan Ify jika Ify merasa terbebani dengan pernikahan ini.Ify selalu menjawab bahwa ia gugup jika ada yang bertanya tentang keadaannya.Alvin tahu Ify tidak gugup, Ify ketakutan.Pesta pernikahan telah selesai, selama itu Alvin terus menutupi tingkah laku Ify meski ia sendiri bertanya-tanya tentang tingkah Ify. Berkali-kali Ify melihat ke jam. Ia seperti menunggu sesuatu. Ia juga sering mengedarkan pandangannya tidak menentu seakan sedang mencari seseorang."Bunda... kami pergi dulu." Pamit Alvin pada mertuanya."Hati-hati ya, Ify ingat jaga suamimu." Ucap Bunda.Alvin membukakan pintu mobilnya untuk dimasuki Ify.Ify tidak melepaskan pandangannya saat mobil yang dikendarai Alvin melaju meninggalkan rumah Ify."Jika ada waktu aku pasti mengantarmu ke rumah Bunda." Ucap Alvin seolah memberi jawaban tatapan Ify, "Kalau kamu merindukannya kamu juga boleh menginap disana.""Aku hanya memikirkan bagaimana mereka jika aku meninggalkan mereka selamanya.""Apa yang kamu katakan?""Aku menikahimu, tapi kamu juga masih anak mereka. Aku tidak akan menghapuskan tali keluarga itu.""Kamu tahu hidup dan mati itu ditangan Tuhan, kita tidak pernah tahu kapan kita mati.""Hentikan Ify!" Alvin membanting lengannya ke stir. "Hentikan pembicaraan yang seolah aku mengantarmu ke neraka."Ify terdiam, ia menahan air matanya sekali saja."Aku ingin ke toilet." Ucap Ify saat mereka berhenti untuk mengisi bensin.Alvin hanya menggangguk.Alvin tidak banyak bicara lagi sejak ia membanting stirnya.Tapi itu membuat Ify merasa sedikit tega, ia ingin Alvin membencinya. Dengan begitu ia bisa dengan tenang melepas Alvin.Ify sengaja tidak membawa ponsel atau dompetnya. Ify menuliskan sebuah pesan di dalam dompetnya kemudian dia pergi.Ia melihat Alvin sebelum pergi meninggalkan pria itu.Ify mengeratkan tali sepatunya sebelum ia pergi dari sana. Dengan mengendap-endap ia berhasil lolos dari perhatian Alvin.Ify segera menyetopkan sebuah bis. Ia melihat Alvin yang kaget saat menyadari dirinya sudah tidak ada lagi."Maaf." hanya itu yang diucapkan oleh Ify.---**---Alvin berlari disepanjang rumah sakit. Ia tidak perduli dengan para perawat yang meperingatinya agar tidak mengganggu pasien yang sedang dirawat."Suster dimana saya bisa menemui Sivia Azizah?""Ada keperluan apa?"Alvin memandang suster itu dengan ragu. Ia sendiri tidak tahu kenapa ia pergi ke Rumah Sakit Jiwa ini.Alvin memegang kepalanya dengan frustasi saat ia tidak menemukan Ify di toilet. Ia sudah mengecek keseluruh toilet tapi tidak menemukan Ify. Gadis itu seolah raib seketika.Alvin mencoba menghubungi ponsel Ify. Ia kaget saat mendengar ponsel Ify di mobilnya. Ia membuka tas kecil Ify dan mendapati sebuah pesan dan secarik foto yang sudah robek.Jangan tunggu aku. Hiduplah dengan perempuan yang mencintaimu.Alvin memperhatikan foto itu dengan seksama, Sivia Azizah. Itu nama yang terbaca di name tag gadis itu.Alvin meraih ponselnya lalu mecari sebuah nama."Hallo?" ucap suara jernih di seberang sana."Shill, lo kenal dengan Sivia Azizah ?""Sivia?"Alvin mengangguk meski ia tahu Shilla tidak mungkin melihatnya."Oh... Dia ada di Rumah Sakit Jiwa Harapan."Alvin mengerutkan keningnya, "Rumah sakit Jiwa?""Kenapa lo..."Alvin langsung mematikan ponselnya tanpa menjawab pertanyaan Shilla. Ia memutar stirnya menuju Rumah Sakit Jiwa Harapan. Ia tidak berhenti berfikir tentang tingkah laku Ify yang semakin aneh.Alvin menadang suster dihadapannya, "Please, katakan dimana dia?""Kamu ingin bertemu denganku?" Alvin menoleh dan mendapati seorang gadis seumuran Ify memakai jas lab putih."Sivia Azizah?" tanya Alvin ragu. Ia melihat foto yang dibawanya sedikit berbeda dengan keadaan gadis itu sekarang."Iya itu aku.""Bisa aku bicara denganmu, dokter Sivia."Sivia terkekeh, "Gue belum jadi dokter, gue masih praktek."Alvin menghembuskan nafas lega.FlashbackSeptember 2008Musim gugur hampir tiba. Daun berguguran perlahan menjatuhkan satu per satu kenangan."Wah gak kerasa tahun depan kitalah yang akan merayakan kelulusan." Ucap Sivia sambil menghidrup udara sebanyak-banyaknya."Lo yakin akan lulus tahun depan? gue ragu." Ucap Ify."Ya, gue akan jadi dokter spesialis dan gue akan ngerawat lo.""Heh! Lo pikir gue gila..." Ify menjitak kepala Sivia."Tapi lo bikin cowok-cowok jatuh cinta dan mencampakannya, bikin mereka gila.""Sivia Azizah, gue bersumpah, gue hanya nganggap mereka teman gak lebih. Gue cuma ingin berteman.""Lo yakin cuma berteman?"Ify menatap sahabatnya, "Suatu saat gue akan milih seorang cowok yang benar-benar mencintai gue.""Woii!" seorang anak laki-laki merangkul Ify dan Sivia, "Ngomongin gue yah?""Dih PeDe banget lo.." Ify mencubit hidung anak laki-laki itu."Kalian tega ninggalin gue di kelas." Anak laki-laki itu mengembungkan pipinya.Mereka berjalan dengan santai bertukar cerita. Menceritakan cerita yang tak pernah habisnya untuk diceritakan. Kadang-kadang mereka menggerakan tubuh untuk meniru sesuatu yang aneh."Kenapa lo nyenggol gue.." Ucap seorang gadis saat anak laki-laki itu tanpa sengaja menyenggolnya."Maaf." Anak laki-laki itu membungkuk."Gue gak mau disentuh sama anak pembunuh." Ucap gadis itu sebelum pergi.Anak laki-laki itu menatap si gadis dengan tatapan dingin, Keceriaan, canda, tawa yang tadi menghiasi wajahnya seakan musnah begitu saja."Gabriel kita makan eskrim." Ify menarik Gabriel ke sebuah kedai.Gabriel menatap Ify, gadis itu masih mau berteman dengannya meski gadis itu tahu segala keburukannya."Udahlah jangan dipikirin, kita hidup untuk masa depan bukan untuk melihat masa lalu." Ucap Ify saat Gabriel sedang sedih.Gabriel selalu merasa tenang saat Ify menghiburnya. Kadang-kadang Gabriel menatap dalam kedalam mata Ify tapi Ify hanya mengganggapnya sebagai teman.————-Gabriel merasakan cemburu saat Ify dekat dan tertawa dengan pria lain. Ia takut jika Ify dekat dengan pria lain itu akan membuat Ify melupakannya."Gue suka sama lo, Ify.""Kitakan sahabat." Balas Ify."Tapi gue cinta sama elo. Gue gak mau lo ninggalin gue .""Gue gak akan ninggalin lo. Kita sahabat. Gue, elo, dan juga Sivia."Gabriel tersenyum meski hatinya terluka.————-"Gue nungguin elo, tapi lo malah berduaan bareng ketua OSIS itu." Ucap Gabriel seraya menahan emosi"Gue dan Cakka cuma membicarakan proposal." Ucap Ify."Lo pikir gue buta hah, lo jelas-jelas lagi kencan dengan dia." Gabriel sambil menunjuk Cakka."Lo salah Gabriel, gue...""Kalau kita lagi kencan kenapa? Gue suka sama dia dan dia juga suka sama gue."Ify menoleh pada Cakka, "Lo ngomong apa sih?""Kita lagi kencan kan." Cakka memamerkan evil smile nya.Gabriel sudah mengepal tangannya menahan emosi, "Gue pikir lo beda dengan gadis lain tapi lo sama aja." Gabriel mengebrak meja lalu meninggalkan mereka.Flashend7 April 2011"Gue gak tahu apa yang mendasari Gabriel buat ngambil langkah itu. Ia menukar jiwanya dengan sebuah kekuatan mistis yang jahat." Ucap Sivia."Pantas aja, ada hal yang aneh dari sikapnya. Dia gak terlihat kaya orang trauma dia lebih terkesan menjauhi orang-orang.""Lo benar, dia menghindari orang yang ingin dekat dengannya untuk mengantisifasi kemungkinan yang buruk.""Apa gak ada cara untuk menyelamatkan Ify?" tanya Alvin."Hanya ciuman dari seorang pria berusia 25tahun yang mencintainya."Alvin menenggelamkan kepalanya diantara lengannya."Hari ini ulang tahun gue yang ke 25." Lirih Alvin.Sivia tersentak, "Kenapa lo gak menciumnya?""Dia selalu menghindar dan gue gak akan memaksanya."Sivia memutar otaknya untuk mencari jawaban yang terbaik. Ia tahu kondisi psikis Alvin sedang goyah."Besok ulang tahun Ify, lo harus menemukannya terlambat atau lo gak akan kan melihat dia selamanya.""Besok?""Mungkin itu alasan Ify pergi. Ia nggak mau lihat lo terluka. Mungkin juga ify cinta sama lo."Sebuah senyum merekah di bibir Alvin, "Dia mencintaiku."Alvin mengemudikan mobilnya dengan kencang. Sivia memberitahukan tempat yang mungkin Ify datangi saat ini. Sivia juga memberitahunya beberapa trik mengalahkan Gabriel.Alvin memasang aerphonenya dan menyambungkannya dengan sang ibu."Mama..." Begitu teleponnya tersambung."Ada apa Alvin?""Jam berapa aku lahir ke dunia ini?""Hah... kamu kenapa?""Jawab sajalah Ma...""Jam sebelas malam. Kamu kenapa Alvin kenapa suaramu seperti orang panik."Alvin tersenyum, "I love you Ma.."---**---"Kamu masih ingat tempat ini?" Ucap sebuah bayangan hitam dihadapan Ify."Aku ingat wajah yang selalu tersenyum padaku, hangat.""Musim telah berganti, senyum itu sudah berubah menjadi seringai yang jahat.""Setiap manusia mempunyai sisi jahat dan baik. Aku menutup mataku dan aku hanya melihat kebaikan dari sisimu." Ify mengeratkan pisau peraknya dengan erat."Gabriel sudah mati, Alyssa Saufika sayang.""Tidak, dia hidup dihatiku. Dia yang memberikanku rasa percaya bahwa kamu akan kembali berubah menjadi sosok baik seperti dulu."Makhluk itu bergerak ke hadapan Ify dengan cepat. Ify tersentak ia tetap pada posisi siaga.Ify bisa melihat makhluk itu dua kali lebih besar dari tubuhnya. Ia bisa merasakan nafas panas pada tubuh makhluk itu. Ia masih bisa melihat detak jantung makhluk itu. Gabriel masih hidup."Kamu menyesal menyakitiku.. Kamu ingin bersamaku?""Dia sudah menikah, bung..." Ify menoleh dan mendapati seseorang dengan senyum tipisnya berlari kehadapannya.Alvin berjalan terengah-engah, ia mendekati Ify lalu membelai lembut kepala Ify."Katakan kamu mencintaiku, fy." Ucap Alvin lembut.Ify menggeleng."Lihatlah aku sebagai seorang pria yang akan melindungimu selalu, Ify.""Fantastik, tapi itu tidak akan terjadi." Ucap Gabriel yang kembali ke wujud aslinya."Pergilah Alvin, dia bukan tandinganmu." Ucap Ify"Lalu kamu pikir dia sebanding denganmu?" Jawab Alvin, "Berhentilah untuk selalu terlihat kuat dan tegar.""Dia milikku." Ucap Gabriel dingin.Alvin menerjang Gabriel. Ia memberikan pukulan berkali-kali ke arah Gabriel. Gabriel tersenyum tipis. Ia tidak merasakan sakit di setiap pukulan Alvin.Alvin memutar otaknya. Bagaimana ia mengalihkan perhatian Gabriel. Ia melirik jam ditangannya. 10.05 PM. Ia mendesah frustasi.Gabriel mencekram kerah Alvin, ia mengangkat tubuh Alvin kemudian menghempaskannya ke tanah.Alvin meringis saat tubuhnya menerjang tanah. Ia merangkak menghindari Gabriel. Ia hanya bisa menghindari Gabriel tanpa bisa melawannya.Ify hanya bisa pasrah saat melihat Alvin bertahan dari pukulan Gabriel.10.45 PM.Ify menghela nafas panjang. Tidak ada waktu lagi yang tersisa. Ia masih bisa mati hari ini namun jika kutukan itu terjadi ia tidak bisa melakukan apapun."Gabriel, inikan yang lo inginkan?" Ify meletakkan ujung pisau silvernya di atas urat nadinya.Gabriel memicingkan matanya. Jaraknya dan Ify yang jauh membuatnya sulit melihat dengan jelas.Gabriel menggeram saat melihat apa yang berada ditangan Ify ia menerjang Ify. Melemparkan benda perak itu menjauhi Ify.Alvin mengambil kesempatan itu untuk mengambil pisau Ify lalu menerjang Gabriel. Gabriel tersungkur hingga jatuh.Alvin mendekati Gabriel lalu menusukkan pisau itu di lengannya.Gabriel meringis kesakitan pisau perak itu telah melukai darahnya.Alvin meraih Ify, ia melihat kesekujur tubuh Ify, "Kamu tidak apa-apa?"Ify menggeleng, "Berikan pisau itu sekarang."Ify mencoba merebut pisau itu tapi Alvin malah membuangnya, "Katakan kamu mencintaiku.""Nggak.""Katakan kamu mencintaiku, atau kamu tidak akan melihatku lagi."Ify menatap Alvin, "Iya aku mencintaimu, sangat. Aku mencintaimu."Alvin merengkuh leher Ify lalu mencium bibir Ify dalam. Ify memiringkan kepalanya menerima ciuman dari Alvin yang lembut."Arrrrghhhh..." Gabriel mengerang membuat Alvin dan Ify melepaskan ciuman mereka.Ify melihat tanda dilengannya, "Masih ada."Alvin melirik jam ditangannya, "Aissshhh masih lima menit lagi."Alvin menerjang Gabriel, ia mengambil sebungkus garam lalu ditaburkannya ke tubuh Gabriel."Garam?" Tanya Ify."Sivia bilang garam itu bisa sebagai menetral racun, aku harap garam-garam ini cukup untuk menertalkan kutukan Gabriel." Ucap Alvin sambil memamerkan senyum tipisnya.Gabriel mengerang saat ditaburi garam oleh Alvin. Tubuhnya berpendar kembali ke wujudnya sebagai manusia biasa.Alvin menghela nafas saat melihat reaksi Gabriel. Ia menatap Ify, "Sekarang giliranmu."Ify melirik jam 11.02 PM"Sekarang usiaku genap 25 tahun, apa kamu masih menolakku?"Ify mengerutkan keningnya."Cium aku seperti kamu tidak akan menciumku lagi." Alvin merengkuh leher Ify lalu menyapu bibir Ify.Ify membalas ciuman Alvin ia membiarkan lidah Alvin bermain di mulutnya dan mereka saling bertukar air ludah.Gabriel bisa melihat sebuah cahaya yang menghapus tanda kutukannya. Segelnya telah lepas dan Ify tidak akan pernah kembali padanya.Gabriel menutup matanya, pedih tubuhnya tidak sebanding dengan sakit hatinya.Next week"Ciumanmu ganas sekali, beib" Ucap Alvin saat melihat bercak merah di leher dan tubuhnya.Ify menyembunyikan wajahnya di bawah bantal, "Kamu yang mengajariku."Alvin menarik bantal Ify, "Aku pikir kamu sudah ahli berciuman dengan pria 25tahun mu itu."Ify menggeleng, "Kamu yang merebut ciuman pertamaku."Alvin mengerutkan kening meminta penjelasan lebih detail lagi."Aku berpacaran dan dekat dengan mereka, kami selalu putus karna aku merasa mereka tidak benar-benar mencintaiku."Alvin tersenyum puas saat mendengar rahasia kecil dari Ify. Ia menarik selimut Ify.Ify menatap Alvin tajam, "Jangan! aku tidak pakai baju."Alvin mendekatkan wajahnya ke wajah Ify.Ify menahan nafasnya, ia bisa merasakan nafas Alvin diwajahnya, "Katanya kita akan menjenguk Gabriel di tempat Sivia?" Ify mendorong Alvin.Begitu Alvin menjauh, Ify langsung menarik selimutnya lalu pergi ke kamar mandi.Alvin mendengus kesal saat kesempatannya hilang."Beib, kamu yakin mau mandi sendiri?"---**---Flashback"Gabriel, Sivia." Ify melambaikan tangannya kepada sahabatnya, "Ayo kita berfoto bersama."Mereka masuk ke box foto. Gabriel dan Sivia mengapit Ify, mereka memasang wajah tersenyum.Mereka tertawa saat melihat hasilnya."Kita akan menjadi sahabat sampai kapanpun." Ucap Ify.Gabriel menatap Ify. Sekali saja ia tidak ingin berharap Ify bisa menatap kedalam matanya.Namun sialnya ia tidak bisa. Ia terus berharap dan terus berharap.Angin musim gugur berhembus meniupkan berbagai macam daun.Sebuah kertas melayang dihadapan Gabriel. Gabriel mengambil kertas itu.Musim gugur akan berlalu dan tergantikan musim dingin lalu musim semi. Sebelum keinginanmu gugur datanglah dan tukarkan jiwamu dan lihatlah saat musim semi keiinginanmu tercapai.---**---Musim apapun akan terasa indah jika kita bersama dengan orang yang kita cintai. Sahabat, keluarga, teman bahkan seseorang yang spesial.END

Aku dan Dia
Teen
14 Feb 2026

Aku dan Dia

Aku teringat saat itu. Senyumnya, tawa lepasnya, kerutan dahinya, semua tentangnya. Aku ingat dia, seperti setiap momen dengan dia membekas dalam otak dan hatiku. Bukan, dia bukan pacarku. Dia berarti bagiku namun takdir belum membiarkan kita bersatu.**"Cakka, cakka!" panggil Agni setelah melihat sosok bagas mulai terlihat dari gerbang sekolah."Eh,elo, Ag? Ada apa?""Dicariin Alvin tuh. lo abis cari gara-gara apalagi emangnya? Si Alvin marah besar! Dia bikin ultimatum ke gue tadi pagi-pagi banget pas gue piket. Katanya,kalo lo nggak datengin dia pas jam istirahat pertama,dia bakal ngacak-ngacak kelas kita. Lo gila, ya? kalo punya masalah,jangan sama Alvin dong, Kka"Cakka mengerutkan dahinya sejenak, setelah itu ia tersenyum meremehkan. "Tuh anak ya,suka banget maen frontal. Oke, bakal gue ladenin. Liat aja,siapa yang bakal menang nanti.""Kka, lo jangan aneh-aneh sama Alvin. Alvin kan –"Cakka menjitak agni pelan, "Lo jangan cerewet deh. lo kira gue cowok umur 12 tahun? Yang dipukul bakal ngadu ke bonyok? Gue udah tujuh belas tahun,agnI! Dan lo tau itu"Agni meringis. "Iya sih,tapi tetep aja. Lo tau sendiri kan,Alvin itu gangster sekolah kita. Nggak mungkin lah,lo bisa menang lawan dia. apalagi nyentuh sehelai rambutnyapun,gue rasa lo nggak bisa." Remeh agni sambil terkekeh"jadi lo ngeremehin cakka? oke! Lo liat nanti,siapa yang jadi pemenang. Kadang,buat jadi pemenang yang sesungguhnya bukan orang yang bersenang –senang diawal. Pemenang itu cerdas. Dan cerdas itu nggak diperluin otot. Tapi otak.""cih,bahasa lo gaya amat. Kaya lo punya otak aja!" cibir agniCakka melotot kearah agni sambil melipat tangannya.Agni tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi cakka yang menggemaskan. "Piss, kka" ujar agni sambil membentuk tanda V di tangannya."Udah deh ag,ikutin aja permainannya alvin. Gue pengen tau,sejauh mana Alvin bertindak. Dan siapa yg jadi pemenang dari tantangan Alvin itu. Yuk,cabut. Gue belum ngerjain PR bahasa mandarin, nih."Agni menggeleng-geleng. Hampir tiga tahun bersahabat dengan cakka membuatnya sangat hafal rutinitas sahabatnya itu setiap pagi. Dengan langkah yang tak kalah semangatnya dengan cakka, ia berjalan meninggalkan lapangan menuju ruang kelas XII IPS 2.~~"Gimana? Sakit?" tanya Alvin dengan tangan yang dirangkulkan pada tubuh Cakka. "Lo udah rebut Sivia dari gue jadi lo harus terima semua pembalasan gue!" desisnya tajam.Muka cakka sudah biru penuh lebam. Cakka meringis kesakitan saat Alvin menjitak kepala cakka. ia tidak bisa melawan,karena ada 2 orang bodyguard Alvin yang Alvin sebut sebagai bagian dari 'genk'-nya yang siap membuatnya lebih babak belur jika ia melawan Alvin.Hantaman demi hantaman Alvin layangkan pada cakka. dada, perut, hingga wajah. Cakka hanya diam mengikuti seluruh permainan Alvin. Ntah karena nyalinya yang terlalu besar,atau memang dia berniat ingin bunuh diri. Yang pasti,cakka sama sekali tidak melawan Alvin."Gue mau saat ini juga lo putusin sivia! Jauh-jauh dari sivia! Gue nggak akan pernah bikin hidup lo bahagia kalau lo masih pacaran sama sivia! Gue anggap lo pengecut kalo lo nggak mau nurutin omongan gue!" ancam Alvin disela permainannya."Sekarang siapa yang pengecut? Lo? Ato gue?" lirih cakka buka suara setelah terbungkam selama hampir setengah jam di dalam ruang basket.Alvin terperangah,ketika hendak menghantamkan tinjunya ke rahang cakka,cakka kembali berujar, "Lo nggak berani ngutarain perasaan lo ke sivia. Iya? Terus,apa salahnya gue yang akhirnya jadi tempat hati sivia berlabuh? Itu semua salah siapa? Salah gue? Gue nggak pernah ada niatan ngerebut sivia dari lo. Lo terlalu pengecut buat ngelindungi sivia secara terang-terangan. Lo terlalu pengecut buat ngungkapin perasaan lo ke sivia. Apa itu masih salah gue, Alvin Jonathan??"Alvin mengeratkan cengkraman tangannya pada kerah cakka. "ELO!!!""STOP!! STOP!!" pekik sivia saat masuk bersama Agni kedalam ruang basket."Alvin! STOP!!" agni ikut berteriak ketika tangan Alvin hendak melayangkan tinjunya pada cakka.BUKKK....Terlambat. Pukulan terakhir, cakka sudah tak sadarkan diri. Sayup sayup,cakka mendengar suara histeris agni dan sivia memanggil namanya.~~"Cakka, udah sadar?" tanya sivia ketika melihat mata cakka mulai terbuka perlahan.Agni yang duduk dibelakang sivia spontan berdiri ,mendekati cakka."kamu nggak papa? Apa yang sakit?" tanya sivia khawatir. Agni hanya melirik tak senang pada sivia.Cakka menggeleng, lalu tersenyum,"aku nggak apa-apa kok, via. Udah deh,kamu nggak perlu sekhawatir itu.""Beneran nggak papa? Aku ini bener-bener khawatir ,cakka! aku udah aduin Alvin sama pak duta,kali kali aja dia bisa di skors abis bikin kamu babak belur gini. Kamu ada masalah apa sih sama dia?""nanti aja ya jelasinnya,mulut aku masih agak...ehm..sakit" cakka meringisSivia mengangguk dan menggenggam tangan cakka lebih erat. Sebuah pemandangan yang mampu mengundang derai air mata agni,jika tidak di hentikan.Agni menghela napas berat. Menyaksikan pemandangan didepannya tersebut. Cukup memilukan,dan mengiris hatinya. Juga perasaannya. Sebulir air mata jatuh mengalir di pipinya. Dengan buru-buru ia mengusapnya. Dia tak terlihat.**Aneh memang ketika engkau tahu semua tentang dia namun tidak bisa bersama. Terkadang,aku berfikir untuk apa dua orang saling bertemu namun pada akhirnya mereka tidak bisa bersama? Bahagia, sakit hati. Tawa dan tangisan, semuanya sudah kurasakan. Dia pergi lalu datang kembali. Dia menyakiti, lalu memperbaiki.**Cakka menghempaskan napasnya kesal. Sudah satu jam, nomor sivia tidak bisa dihubungi. Bbm nggak deliv. Sms apalagi."dia sebenernya kemana sih,ag?" tanya cakka sambil mengoper bola basketnya pada agni.Agni mendribble bola tersebut dan lay up. Dan sempurna, three point untuk agni. Agni pun berbalik pada cakka yang sudah lebih dulu duduk di pinggir lapangan."Lo udah coba hubungin rumahnya belum?"Cakka menggeleng. "Selama dia belum di bolehin pacaran,mana berani gue telfon rumahnya! Gila aja,bisa di putusin gue. Lo tau sendiri kan gimana sayangnya gue sama sivia?"Agni tersenyum, perih. Dengan terpaksa ia mengangguk. "Tau kka, tau banget." Jawabnya penuh artiCakka lagi lagi menghempaskan napasnya, kali ini lebih berat daripada sebelumnya. "kalo sivia selingkuh, gimana? Kalo anceman Alvin sewaktu seminggu abis gue balik dari rumah sakit kejadian, gimana? Gue belum siap kehilangan sivia, ag..."'dan gue belum siap nangis didepan lo sekarang, cakka...' batin agni pedih. Melihat cakka yang frustasi gara-gara satu gadis bernama Sivia itu sudah mampu membuat batin agni bergejolak menyala-nyala terbakar api cemburu. Apalagi mendengar dai mulut cakka sendiri betapa ia menyayangi Sivia. Rasanya,hati agni tercabik-cabik."udah ah kka, lo nggak boleh suudzon gitu ke sivia. Lo tau sendiri kan,sivia tuh kapten cheers. Lo harus tau kesibukan dia.mungkin hapenya lowbatt dan dia lagi latian cheers. Udah sekarang kita seneng-seneng aja. Lagian, kita udah kelas tiga. Waktu luang buat basketan berdua kaya dulu tuh nggak dateng seminggu sekali, bisa sebulan sekali,atau dua bulan sekali. Kita nikmati aja yang ada,kka. Biarin semuanya mengalir..."Cakka menyendenkan kepalanya pada bahu agni. Membuat jantung agni seperti melompat keluar karena aksi spontan cakka. seperti disengat listrik,tubuh agni pun beraksi cepat. Namun sepertinya,cakka tak mempedulikan itu."Lo ngomong apaan sih ag? Kok jadinya ngelantur kemana-mana"gumam cakka sambil memejamkan matanya.Agni menghembuskan napas gelisah. 'cakka, sampai kapan lo nggak bisa ngeliat gue? Apa perasaan gue begitu buram,sampe lo nggak bisa membacanya?'~~Agni sibuk membolak-balik buku Sosiologi yang belum juga ia temukan jawabannya. Sambil berjalan,ia terus membuka buku yang tebalnya hampir 200 halaman tersebut."Kamu itu pacar aku apa bukan, sih? Aku tuh udah berusaha ngertiin kamu! Kamu nggak pernah ngertiin aku! Aku kurang apa,sih.vi?? apa aku belum sempurna juga di mata kamu? Apa malah,aku nggak ada artinya?""Usaha kamu yang kurang,kka! Kamu bilang,kamu berusaha ngertiin aku? Mana,kka? Mana? Sampe sekarang aku nggak pernah tau kamu 'berusaha ngertiin aku'. Oke, aku terima kamu sahabatan sama agni! Tapi,nggak dengan kamu jalan berdua tiap weekend kan?"Telinga dan mata agni melebar ketika mendengar pertengkaran yang berada di ruang Pecinta Alam yang sepi karena letaknya di ujung koridor kelas X, yang jauh dari gerbang. Bahkan terletak dibelakang sekolah.Agni pun memberanikan diri untuk mendekatkan telinga pada salah satu jendela yang sedikit terbuka. Mengintio sosok cakka yang jakung menggunakan sweeter putih-biru kebanggaanya,dan sivia yang masih dalam balutan seragam cheers."kenapa jadi bawa-bawa agni?!""Aku cemburu, cakka! aku nggak suka kamu sering jalan sama agni...""aku sering jalan sama agni karena kamu nggak pernah ada waktu buat aku. Asal kamu tau aja""tapi tetep aja,kka. Aku tuh cemburu. Awalnya fine fine aja. Aku juga tau sedeket apa kamu sama agni. Tapi,nggak dengan anak-anak yang lain kan? Sakit, kka, saat ada orang lain yang bilang 'siv cowok lo jalan sama cewek lain tuh. kok nggak lo marahin sih? Lo nggak cemburu?'."Dengan tangis yang mulai mengucur,sivia melanjutkan penjealsannya. "awalnya aku abaiin semua kata kata anak-anak,kka. Tapi makin lama mereka tuh makin gencar ngasih aku info. Soal kamu sama agni. Aku pengen nggak percaya,kka. Tapi banyak banget yang tau. Semua orang nuduh kamu sleingkuh. Padahal aku tau maksud kamu nggak gitu.""tapi aku tetep punya batas, kka. Karna aku cewek. Aku...jujur...juga sakit banget. Tapi mau gimana lagi...""kita kan bisa ngomongin ini baik-baik, via. Nggak perlu maen kucing kucingan gini. Aku tuh bingung harus nyari kamu kemana. Nomer kamu jarang aktif kalo pulang sekolah. temen-temen kamu bilangnya juga nggak tau mulu. Kalo aku telfon rumah kamu, nggak mungkin juga,kan?"Isakan sivia makin keras,menggema di dalam ruangan tersebut. Cakka selangkah lebih maju dan dengan sekali kedipan mata,agni melihat cakka sudah merengkuh sivia.Padahal disini, badan agni telah bergetar. Menyaksikan adegan Cuma Cuma yang dipertontonkan takdir untuknya ,secara langsung. Dan mendengar kata demi kata yang terucap dari kedua insan di dalam ruangan itu."aku janji,nggak bakal deket deket agni lagi. tapi,kamu jangan matiin hape kamu lagi ya.."Telak. Setelah mendengar ucapan lirih cakka tersebut,agni langsung berlari dari sana. Menumpahkan segala tangisnya di danau yang tak jauh dari sekolah mereka. Tak peduli tatapan penuh tanya orang-orang yang adai disekitar danau tersebut. Yang ia inginkan hanya sendiri. menangis. Hingga lega."kenapa? Putus cinta? Patah hati? Cinta bertepuk sebelah tangan? Apa diselingkuhi?" tanya sebuah suara yang asing di telinga agni. Agni tak menoleh. Ia masih diposisi yang sama. Menenggelamkan wajahnya pada lututnya."kalo nangis nanti jelek, lho" ujar pemuda yang agni tak tau siapa itu. Agni masih enggan menoleh."lo nggak malu diliatin sama orang orang disini? Apa lo nggak punya malu?""diem lo.. ngeselin banget sih!!" rutuk agni. Agni yang jengah pun akhirnya mengangkat wajahnya,menatap pemuda bermata sipit didepannya itu. Sedikit kaget,mengetahui siapa sosok didepannya."oh, agni tri nubuwati! Cewek yang selalu jadi bodyguard cakka itu? Ckckck. Ternyata,walopun tampang lo sangar gini,lo bisa nangis juga"Agni melirik Alvin kesal,sedikit tak terima dibilang bertampang sangat dan bodyguard cakka. tapi,ia juga tidak ingin merusak imagenya didepan pemuda berkulit putih tersebut yang ia anggap sebagai musuhnya."jadi, lo nangis karena apa? Disakitin cowok? Diselingkuhin cowok? Di PHPin cowok? Di manfaatin cowok? Atau..." Alvin mengamati wajah agni lekat-lekat. Dan berbisik, "...atau ngeliat cakka sama sivia pelukan?"Agni reflek menjauhkan kepalanya dari kepala Alvin,ketika bisikan Alvin mampu membuat bulu kuduknya meremang,berdiri."sepertinya,dari semua opsi,jawabannya udah jelas. Yang terakhir. Ya,kan?"Agni melengos. Tak ingin membongkar aibnya sendiri. apalagi didepan musuh cakka."nona agni, anda nggak perlu sungkan-sungkan buat bercerita kepada saya. Karena saya adalah penjaga rahasia nomor satu didunia." Bangga Alvin sambil merebahkan dirinya diatas rerumputan.Agni tak bergeming ditempatnya. Ia sibuk memandangi wajah pemuda disampingnya ini. tidak menemukan ekspresi licik yang biasanya terpampang jelas pada wajah Alvin. Walaupun rasa-rasanya,apa yang Alvin ucapkan bisa dipegang dan dipertanggung jawabkan,agni masih bungkam. Sama sekali tidak ingin membagi kesedihannya pada siapapun. Termasuk pada orang yang masih berstatus musuh sahabatnya itu."gue sih nggak maksa lo buat cerita. Tapi,gue bakal ada kalo lo butuh gue. Gue disini tiap hari rabu, jumat, sama sabtu. Pulang sekolah,sampe jam 8 malem. Karena ini hari selasa,dan bukan jadwal gue ada disini,jadi...gue pergi dulu. Lo bisa contact gue via twitter,kok. Bye, agni.." Alvin bangkit dan menepuk-nepuk kepala agni lembut.Agni menatap Alvin dengan tatapan bingung, heran, sekaligus aneh.~~Keesokan harinya, agni melangkahkan kakinya gontai. Menatap kebawah,pasrah dengan langkah yang membawanya pergi. Sebenarnya dia tidak ingin masuk hari ini,tapi karena ulangan harian setumpuk ia terpaksa harus masuk.Ia sendiri bingung, sibuk bertanya pada perasaannya. Gimana kalo ketemu cakka? gue harus ngapain? Gue harus gimana? Diem kah? Sok nggak tau apa apa kah? Marah marahin cakka kah? Nangis didepan cakka kah?Ketika agni mengangkat wajahnya,matanya tak sengaja bertumbukan dengan cakka. dengan cepat ia mengalihkan pandangannya. Saat ia melirik cakka yang tengah berjalan kearahnya, sebuah tangan besar dan kokoh menyambar lengannya dan menyapanya riang"pagi agni! Lo keliatan tambah kusem aja? Kebanyakan nang...AWW!!!" dengan kesal agni mencubit pinggang Alvin kuat kuat,takut Alvin kelepasan bicara. Apalagi jarak cakka dan mereka hanya beberapa langkah.Cakka membeku ditempatnya. Melihat agni dan Alvin yang terlihat akrab. Sejak kapan agni begitu akrabnya dengan Alvin?"ag... gue...""Ag, gue laper nih. Kita sarapan dulu yuk di kantin. Yuk ah" Alvin menggeret lengan agni paksa. Agni tak ingin meronta,karena air matanya sendiri berlomba lomba ingin keluar dari pelupuk matanya. Hanya karena pemuda yang sedang berusaha berbicara padanya, cakka.Cakka menatap pemandangan itu bingung. Antara tak suka, dan lega. Melihat gelagat agni yang seperti ingin menjauhinya, ia diam diam merasa lega. Karena bisa menjauhi agni tanpa kentara. Sedangkan tak suka,ketika melihat sosok Alvin ada disamping agni.Alvin menghentikan langkahnya, menoleh kearah agni yang sudah terisak hebat. "sabar, ya. gue tau kok perasaan lo." Ujar Alvin sambil menghela napas."lo nggak tau vin. Lo nggak akan pernah tau..""lo lupa? Gue sama-sama ada dipihak lo. Di posisi lo. Gue dan sivia. Dan lo dengan cakka. sederhana,kan?"Agni menatap Alvin . pandangannya mulai mengabur tertutup selaput bening yang mulai mengalir. Alvin menggenggam tangan agni erat, dan menghembuskan napas berat.**Aku ingat saat pertama kami bertemu,suatu kebetulan yang tak pernah ku ketahui akan begitu membekas dan berarti. Awalnya, hanya sebuah perkenalan singkat,lalu kami berkirim pesan dan kami menjadi cukup dekat. Satu bulan,dua bulan, tiga bulan berlalu tiba-tiba perasaan itu muncul. Perasaan yang berlalu tak bisa aku hindari. Lucu ketika mengingat semuanya terjadi secara tidak sengaja. Sesuatu yang awalnya biasa menjadi begitu berarti. Empat bulan,lima bulan, enam bulan,aku menyadari bahwa aku benar-benar menyayanginya. Namun segala sesuatu tentu berubah bukan? People change, feelings change. Sometimes when people grow, they grow apart. He turned my world upside down .**Sudah hampir dua bulan agni mati-matian menghindari Cakka. dan tentu cakka tidak keberatan, karena sesuai janjinya pada sivia,dia tidak perlu lagi berada dalam jarak dekat dengan agni. Dan selama dua bulan itulah, agni menemukan sahabat baru. Alvin. Walaupun Alvin dan dia mengalami persamaan nasib,Alvin sama sekali tidak terlihat terluka seperti agni.Selama dua bulan terakhir ini agni mendiamkan cakka. bicara jika ada hal penting saja. Dan lebih sering menghabiskan waktu luangnya bersama Alvin. Alvin tidak jago basket seperti cakka. tapi Alvin jago lari. Mungkin karena kebanyakan menjaili orang orang disekitarnya dan menjadi kepala gangster sekolahnya,Alvin menjadi sangat gesit dengan olahraga yang satu itu. Agni bahkan tak percaya bahwa pentolan gangster yang paling ditakuti di sekolahnya kelakuan Alvin bisa seabsurd itu."cakka sama sivia putus ya? wah, berita bagus dong!" pekik dea pada oik yang ada didepannya.Agni dan Alvin yang sedang makan bakso bersama pun menghentikan aktifitasnya. Lalu menoleh bersamaan kearah suara."Iya, mereka putus. Dua hari yang lalu. Kasian ya? si cakka kayaknya stress berat tuh. apalagi sahabatnya, si agni, ngejauhin dia. apa gara-gara cakka keasyikan pacaran sama sivia ya?"Dea mengedikkan bahunya. "tapi bisa jadi .mereka sih,nempel mulu kaya perangko. Siapa juga yang mau deket deket mereka. Gue sih,bakal ngelakuin hal yang sama kaya agni."Agni bangkit dari duduknya. Membuat dea dan oik melotot kaget melihat target yang mereka bicarakan ada dibelakangnya. Alvin langsung mengejar agni."Lo kenapa? Bukannya ini kabar bagus?""kabar bagus?" tanya agni tak berselera"iya,.ini kabar bagus. Lo bisa balik sama cakka. dan gue bisa sama sivia. Bukannya bagus,ya?""lo nggak ngerti vin..." agni menghentikan langkahnya dan menggapai kursi yang tak jauh darinya. "...gue ssayang sama cakka itu tulus,gue lebih milih sahabatan aja. Biar nggak ada kata putus. Biar nggak jauh dari cakka. ""Ag..n..i...?" cakka membeku ditempatnya, tak jauh dari agni dan Alvin yang sedag duduk berdua di lapangan."c...ak..ka..." lirih agni tak kalah kagetnya melihat orang yang menjauhinya selama ini berada didepannya.Alvin hanya menoleh sekilas,lalu melengos."l..o..." cakka meneguk ludahnya. Agni hanya menunduk dalam diam.~~"Jadi lo udah tau perasan gue sekarang. Gue nggak pengen karena lo tau ini,persahabatan kita rusak. Gue pengen kita kaya dulu,nggak usah peduliin perasaan gue. Karena gue udah nggak papa."Cakka menghela napasnya,"maaf ag kalo gue nggak pernah peka""nggak papa. Bukan salah lo. Ini salah gue. Nggak harusnya gue punya perasaan sama lo,sahabat gue sendiri."Cakka menyandarkan kepalanya pada bahu agni,seperti kebiasaannya setiap bersantai dengan agni di lapangan basket rumah cakka."gue salah ag. Gue nggak bisa dibilang sahabat yang baik karena gue nggak bisa ngertiin lo. Nggak bisa tau perasaan lo. Dan gue salah,udah ngejauhin lo beberapa bulan terakhir ini. gue nggak tau harus mulai darimana,gue minder. Lo udah ada Alvin. Sedangkan gue dengan bodoh nya nyia-nyiain lo. Gue...gue...""udah,kka. Gue nggak papa,kok. Lo nggak perlu sungkan gini ,lagi. kita hampir tiga tahun sahabatan. Tiga tahun tuh bukan umur yang panjang, ibaratnya kita masih kaya nasi yang belum mateng. Tapi,tiga tahun juga bukan umur yang singkat. Kita masih sama-sama belajar memahami, dan memaafkan. Mau kita kaya gimanapun,kita tetep sahabat."Cakka tersenyum lalu mengacak-acak rambut agni. "makasih,agni""anytime,kka" agni tersneyum penuh kelegaan. Lalu ia menoleh "jadi,gimana bisa lo putus sama sivia? Mengingat lo dan dia hampir setengah tahun pacaran?""dia selingkuh sama Rio, sepupunya Alvin."Kening agni berkerut, "rio? Sodaranya Alvin?"Cakka mengangguk. "selama ini, sivia terkenal player. Dari SMP, dia nggak pernah cukup kalo punya satu cowok. Mantannya segudang. Mantan gebetannya juga segudang. Alvin adalah korban PHP sivia. Dan gue juga. Bodohnya gue nurutin kemauannya sivia buat ngorbanin persahabatan. Maaf ag. Gue dibutain sama cinta. Maaf ag,beribu maaf"Agni terkekeh "udah lah kka,ngapain lo mintaa maaf terus ke gue. Gue udah maafin lo kok.""sekalii lagi thanks, ag. Gue bukan apa-apa tanpa lo."Agni tersenyum tipis. Mulai menikmati desau angin yang menerpa wajahnya.~~♫ Saat berjumpa dan kau menyapa indah parasmu hangatkan suasanaBuatku tak percaya mimpi indahku jadi nyataSaat sendiri jalani hari bayang bayangmu slalu menghampiriDan aku pun mengerti apa maunya hati ini...♫**Kamu tahu rasanya ketika seseorang yang sangat berarti tiba-tiba pergi dari hidupmu? Kecewa, sedih. Kamu tahu ketika orang itu pergi dan kita berusaha melupakannya namun seketika dia hadir lagi? sulit. Dia selalu begitu,detik ini dia datang,detik berikutnya ia pergi. Tapi aku tidak peduli. Aku masih disini,menunggunya.**"Ag tau nggak anak pindahan di kelas gueitu? Cantik, ya?" ujar cakka suatu hari.Agni hanya menghembuskan napas berat sambil mengangguk tak acuh"kalo gue pedekate sama dia, lo keberatan nggak?"HAH! PEDEKATE? TENTU AJA KEBERATAN!!! Teriak agni dalam hatinya."Ag? Kok diem?"Agni tersneyum tipis,"nggak kok kka. Lagian,dia baik banget sama kita. Kenapa harus keberatan?""beneran ag?? Lo nggak keberatan?"Agni mengangguk terpaksa. Merutuki kebodohannya yang sudah entahlah yang keberapa kalinya menyetujui cakka dekat dengan gadis manapun.Hari ini menginjakk bulan kedua mereka berkuliah di salah satu universitas swasta kota mereka. Agni pada jurusan Ekonomi, dan cakka Hukum. Mereka masih tetap bersahabat. seperti dulu. Cakka yang sering bergonta-ganti pacar. Agni yang masih terus-terusan berharap cakka bisa mengerti perasaannya. Alvin yang masih bersahabat bahkan sekelas dengan agni di kampus.Sejak putusnya cakka dan sivia, cakka berubah. Dia memang tidak menjauhi agni,tapi dia sering bergonta ganti pacar. Karena sepertinya ia terlalu sayang pada sivia. Hingga mencari pengganti sivia sangatlah susah.♫ Namun tiba tiba kau ada yang punya hati ini terlukaSungguh kecewa ingin ku berkata...♫~~"Kenapa lagi? kok kusem terus sih wajah lo akhir akhi ini?" tanya Alvin pada agni setibanya mereka di tepi danau. Seperti setahun yang lalu."cakka suka sama shilla, anak baru dikelasnya"Alvin menyerngit, "kok gitu? Bukannya..""percuma vin. Dia nggak pernah bisa ngehargai perasaan gue. Gue ini bodoh banget. Nggak bisa ngilangin perasaan gue ke dia. bingung deh guenya. Padahal dia berkali kali nyakitin gue. Kenapa ujung ujungnya gue balik ke dia? uurgh pengen banget gue buang hati gue biar nggak berfungsi lagi. biar nggak punya hati."Alvin terkekeh "jangan. Tampang lo aja udah serem. Apalagi kalo lo nggak punya hati""sabodo deh"Alvin menghentikan tawanya lalu menatap agni, "lo fikir fikir dulu,beneran mau ngilangin perasaan ke cakka atau nggak. Lo harus mantep,kalo lo nggak mantep sama keputusan lo,lo bisa goyah dan makin terpuruuk,lho."♫ Kasih maafkan bila aku jatuh cintaMaaf bila saja ku suka saat kau ada yang punyaHaruskah ku pendam rasa ini saja ataukah ku teruskan sajaHingga kau meninggalkannya dan kita bersama...♫"apa...sampe sekarang lo masih punya prasaan sama sivia?"Alvin berdecak "dia udah bahagia sama sepupu gue. So? Buat apa gue terus terusan sedih dibalik kebahagiaan sodara gue sendiri? lagian,cewek kan banyak. Nggak Cuma sivia. Gue nggak mau dong stuck di satu orang aja. Hidup gue masih panjang,kali. Mana mungkin gue sebodoh itu dengan menghabiskan seluruh sisa hidup gue buat nungguin sivia""lo nyindir gue?"Alvin meringis, "piss. Tapi ya ag,gue Cuma heran aja. Cakka selalu dateng disaat dia tengkar sama cewek-ceweknya. Itu kaya manfaatin lo, karena Cakka udah tau perasaan lo yang sebenernya dari mulut lo sendiri. anehnya, kenapa cakka nggak pernah ngerti? Paling nggak, berusaha ngerti. Kenapa cakka cari cewek lain padahal jelas jelas didepannya udah ada cewek yang cinta dia mati matian, ngorbanin perasaannya berkali kali...""udah ahh gue males bahas ini. sekarang,lo ajarin gue move on dari cakka ya?""Oke! Siap jenderal! Hahaha"Mereka menghabiskan sepanjang sore tertawa di tepian danau.♫ Akankah ada kesempatanUntuk diriku menyatakan rasa yang slama ini ada...♫(HIVI! – Orang ketiga)**Enam bulan setelahnya, dia benar-benar pergi. Dia mendapatkan seseorang, namun orang itu bukanlah aku. Sedih? Sudah pasti. Namun rasa sayangku masih lebih kuat untuknya,terlalu naïf memang. Tapi aku merasa dia yang terbaik untukku, dia akan kembali padaku, mungkin tidak saat ini tapi dia pasti kembali padaku. Sugesti-sugesti seperti itu yang selalu aku terapkan, namun kenyataannya seperti memusuhiku. Memang benar terkadang apa yang kita harapkan tidak sesuai dengan kenyaataan. Lalu aku sampai pada titik lelah. Mengetahui kenyataan bahwa ia takkan kembali.**Agni menangis tak henti-hentinya. Membuat Alvin kelimpungan mencari cara membuat agni terdiam. Undagan itu tersebar di seluruh angkatan mereka. Orang orang terdekat cakka selama SMP, SMA , hingga kuliah. Undangan pertunangan cakka dan shilla yang sampai pada tangan agni pagi ini membuat seluruh pertahanan agni runtuh.Ia terima,jika cakka berganti ganti pacar. Ia terima,kalau harus dinomor duakan. Ia terima,jika cakka pacaran didepannya. Tapi pertunangan? Agni bahkan tidak pernah berfikir cakka dan shilla bisa seserius itu.Alvin yang mengetahui perjalanan hidup agni selama hampir dua tahun ini selalu setia berada disamping agni. Menenangkan agni. Menguatkan agni. Segalanya. Alvin punya sesuatu yang tidak dipunyai cakka untuk agni. Kepedulian. Perasaan. Kepekaan. Semuanya.Alvin yang mukai khawatir dengan keadaan agni pun memeluk agni. "ag udah dong ag,lo udah dua hari nangis kaya gini tiap ketemu gue. Lo harus kuat ag. Lo tunjukin sama cakka kalo lo kuat. Kalo cakka bakal nyesel nyianyiain lo. Lo bukan agni yang gue kenal. Gue pengen lo ceria.. lo...""udah cukup vin kepurapuraan gue sama hidup! Gue udah nggak kuat lagi pura pura ceria. Pura pura bahagia. Cukup ngeliat cakka ngabaiin gue dari hatinya aja udah bikin gue sakit banget, lah ini? dia mau tunangan vin! Tunangan!!" agni mulai histeris sendiriAlvin menepuk bahu agni. "ag, gue yakin lo bisa laluin ini semua. Gue aja bisa,masa lo nggak bisa?""vin,lo cowok dan gue cewek.kita beda.""ohya? Oke., gue akuin kita beda. Gue kenal sivia dari lahir,sedangkan lo kenal cakka pas masuk SMA. Gue suka sivia pas kelas 3 SD, lo suka cakka kelas 1 SMA. Gue di buat pelampiasan sama sivia selama hampir 6 tahun, dia dateng dan pergi dari hidup gue gitu aja, sedangkan lo baru 3 tahun. Iya, kita emang beda. Luka yang kita punya juga beda."Agni menatap Alvin lama, bingung mau menanggapi apa. Tangan Alvin bergerak menghapus air matanya. "gue tau lo terluka. Gue juga sama terlukanya sama lo, dulu. Sebelum gue kenal sama lo. Sebelum gue jadi sahabat lo."Agni yang tak mengerti arah pembicaraan Alvin hanya menatap Alvin dalam diam."Gue bisa setegar ini ngejalanin hidup gue,karena lo. Agni. Kalo nggak ada lo,nggak bakal ada Alvin yang sekarang. Kalo nggak ada lo,mungkin gue udah nggak ada lagi didunia ini malah. Apa lo nggak mau ta perasaan gue saat liat lo kaya gini? Lo hancur,gue juga hancur ag. Hancur banget ngeliat orang yang kita sayang nangisin orang lain..."Agni mengerjapkan matanya,bingung dnegan pendengarannya. Apakah ia budek? Atau sedang bermimpi?"agni... lo adalah orang yang Tuhan kirim buat gue, untuk ngisi kekosongan hati gue. Semua udah rencana Tuhan, ketemuin kita berdua sore itu. Bikin kita sahabatan. Bikin kita deket. Dan semuanya. Semua yang kita lalui. Gue tau,Tuhan punya rencana lain di balik itu..."Masih dengan keterdiaman agni,Alvin melanjutkan "Maka dari itu. Maukan lo menata masa depan lo sama gue, ag? Kita bangun semuanya dari nol. Gue tau,ngilangin perasaan ke seseorang nggak semudah membalik telapak tangan. Tapi... gue nggak mau dibilang pengecut karena lebih melindungi persahabatan daripada perassaan gue. Gue Cuma pengen buktiin,kalo gue nggak akan ngulan kesalahan yang sama gue dulu, buat hari ini,detik ini. gue Cuma pengen lo tau,kalo gue disini,juga sayang sama lo. Gue cinta sama lo. Sesuatu yang nggak cakka punya buat lo.""a..l..v..i..n..."Alvin merengkuh agni lagi dalam pelukannya. "Gue nggak mau lihat lo nangis buat cakka, ag"Ntah ada angin apa,agni mengangguk dalam dekapan Alvin. Lalu dengan tekad yang bulat,agni berbisik "ajarin gue... mencintai lo,Alvin..."**Aku terlalu bodoh karena tidak bisa melihat kebahagiaan dalam sisi yang lain. Karena selama ini yang aku tahu, kebahagiaan ku adalah dia. terkadang Tuhan membanting kita jatuh untuk menyadarkan kita bahwa apa yang kita pertahankan selama ini salah. Aku sayang dia,tapi bagaimana dengannya? Dan aku pun sadar bahwa titik puncak tertinggi cinta itu ketika merelakan kepergiannya.**"selamat ya! sahabat gue udah jadi ibu-ibu sekarang hihi" ujar cakka sambil meringis."lo apaan deh kka, hehehe itu istri lo udah punya anak berapa? Sebelas?"Cakka menjitak agni gemas "Lo kira pemaen sepak bola!!"Agni tertawa, "lah lo dulu pernah bilang sama gue,kalo udah nikah,pengen punya anak sebelas""hahaha kalo diinget inget lucu juga ya masalalu kita? Lo berusaha nyadarin gue,gue berusaha menghindar. Gue emang takut persahabatan kita rusak,ag. Bukan karena gue nggak ada perasaan sama lo. Gue ada... tapi...gue nggak rela kalo perasaan gue sama lo berakhir dengan nama CINTA. Gue nggak mau ada hubungan spesial antara kita. Dan gue tau,takdir bener bener memilih kemana cinta itu berlabuh. Gue dengan shilla,lo dan Alvin. Tuhan adil, kan?"Agni tersenyum "iya kka, gue terlalu fokus sama cinta gue ke lo, selalu nyalahin diri gue sendiri yang bodoh mengharap lo,selalu ngeluh karena lo nggak peka. sampe sampe nggak pernah sadar kalo gue sendiri nggak peka. Sampe nggak sadar kalo ada orang bodoh lainnya yang mengharapkan gue. Sebenernya gue sama lo sama aja""nggak lah! Kalo sama aja,aku nggak bakal mau nikah sama kamu" ujar Alvin yang tau-tau sudah berada diambang pintu bersama shilla."kalian..." kaget agni"dengerin semua??" tanya cakka tak kalah kagetnyaAlvin dan shilla meringis lalu mendekat. Shilla bersama seorang anak laki laki kecil berusia satu tahun empat bulan. Sedangkan Alvin dengan sekresek snack ditangannya."sekarang udah tau kan,mana cinta sejati dan jodoh kita masing-masing? Kalopun kita dibuat sakit di awalnya,kita bakal diberi keindahan pada akhirnya. Tuhan nggak buta,nggak tuli kok. Selama kita berusaha,apa yang kita pengen juga tercapai."Cakka agni dan shilla tersenyum kepada Alvin. Alvin hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena salah tingkah ditatap ketiga orang sekaligus."anak kalian mau di namain siapa?""Marsha..." jawab agni dan Alvin kompak"gimana kalo kita jodohin anak kita aja?" usul shilla jahil"jodohin?"Shilla mengangguk "marsha dan rafli... kalian berdua bakal jadi pasangan di masadepan nanti." Ujarnya sambil menerawangAgni cakka dan Alvin mengangguk angguk setuju.END

Secret Admirer
Romance
14 Feb 2026

Secret Admirer

"YEEEEEEAAAAYY!" Terdengar sorak sorai para siswa siswi murid SMA Bina Bangsa. Mereka bersorak gembira pasalnya Tim Basket sekolah mereka memenangkan pertandingan basket melawan SMA Angkasa siang ini. Akhirnya kerja keras Tim Basket SMA Bina Bangsa selama ini membuahkan hasil yang begitu memuaskan. Dua tahun terakhir ini Basket SMA Bina Bangsa memang selalu kalah ketika melawan tim Basket SMA Angkasa. Dan saat ini untuk pertama kalinya mereka dapat mengalahkan kembali lawannya itu. Mungkin ini disebabkan oleh kerja keras kapten Tim Basket yang tidak pernah berhenti menggembleng anggotanya, memang sejak kapten basket di jabat oleh Davindra Gabriel, SMA Bina Bangsa selalu memenangkan lomba termasuk memenangkan pertandingan ini, berbeda dengan kapten basket tahun-tahun lalu.Wajah Gabriel terlihat sangat sumringah, senyum terus terpancar dari wajahnya yang penuh keringat. Namun, hal ini tidak sedikitpun mengurangi ketampanan yang dimilikinya. Siapapun wanita pasti akan terpesona melihatnya, termasuk gadis yang satu ini, Grashilla Andara.Yap! Grashilla Andara atau yang lebih akrab disapa Shilla ini memang tergila-gila akan sosok Gabriel. Shilla mulai jatuh cinta pada kakak kelasnya itu sejak awal dia memulai masa orientasi sebagai siswi baru yang masuk di SMA Bina Bangsa. Apalagi waktu itu Gabriel lah yang mengampuh kelas Shilla. Hingga saat ini, saat Shilla sekarang sudah duduk dibangku kelas sebelas ia masih saja mengagumi sosok Gabriel. Sejak tadi pula, sejak pertandingan basket dimulai hingga Gabriel memenangkan pertandingan, Shilla tidak mengalihkan pandangannya dari Gabriel. Senyum juga terus memancari wajahnya yang cantik.' Ah, andai aja gue bisa deket sama lo gab! ' lagi-lagi hati Shilla terus meminta ingin bersama dengan Gabriel."SHILLAAAA BALIK YUUK!" Sebuah suara menyadarkan Shilla dari lamunannya. Akhirnya Shilla melepaskan pandangannya dari sosok Gabriel dan beralih ke asal suara tersebut."Apasih Fy? Diem deh nggak usah ganggu" ucapnya kemudian beralih lagi kearah Gabriel. Namun, hatinya kecewa, sosok Gabriel sudah tidak ada disana."Tuhkan Fy gara-gara lo sih, Gab ngilang kan Fy, lo pake acara ganggu gue sih Fy, ngeselin deh" Rengek Shilla kepada seseorang yang ia panggil dengan sebutan 'Fy'. Ya, orang yang Shilla panggil 'fy' tadi adalah sahabatnya sejak ia masih duduk di Sekolah Menengah Pertama. Namanya, Marsha Arify. Hingga saat ini pun mereka berdua masih menjalin persahabatan dan bahkan mereka pun selalu satu kelas."Plis deh Shill, sampai kapan lo bakal suka sama dia? Dia aja nggak kenal sama lo Shill, masih aja lo terus-terusan suka sama dia. Oh ya coba lo liat disekeliling lo deh..." Ify tersenyum devil"Lah loh fy.. Kok sepi, kok tinggal kita berdua disini? Kok lo ga bilang gue kalo udah pada pulang?" Wajah Shilla terlihat kebingungan setelah melihat bahwa disana sudah tidak ada siapapun lagi kecuali dirinya dengan Ify. Bukannya menjawab Ify malah menertawai Shilla."HAHAHAHA Shill shill makanya gausah ngeliatin Gabriel terus. Dari tadi gue juga udah ngajak lo balik kali, tapi yang ada gue malah dicuekin. Udah deh sekarang kita balik. Mau lo disini sendiri?" Ucap Ify seraya berlalu dari hadapan Shilla.***Shilla berjalan di koridor sekolahnya yang masih sangat-sangat-sangat sepi. Jelas saja sepi, lihat saja sekarang jam berapa. Jam 05.30! Untuk ukuran orang malas, di jam setengah enam pasti masih asik dengan mimpinya, sedangkan Shilla? Sudah tiba di sekolah! Untuk apalagi jika bukan memberikan 'sesuatu' untuk Gabriel, namun Shilla hanya meletakannya di kolong meja milik Gabriel. Jika hari sebelumnya ia memberikan sebuah puisi –yang ia buat semalaman- hari ini Shilla akan memberikan coklat.Shilla mengeratkan kembali jaket yang ia pakai, sesekali menggosok-gosokan tangannya sendiri. Jelas saja, udara di pagi ini begitu dingin. Akhirnya sampai juga Shilla di depan kelasnya, disana Ify sudah menanti dengan wajah kesal. Siapa coba yang tidak kesal, harus berangkat pagi buta seperti ini. Namun, Ify sudah terbiasa menemani Shilla untuk melakukan hal 'ini. Shilla tersenyum senang melihat Ify sudah setia menunggunya disana."Yuk fy langsung melaksanakan misi" Ujar Shilla. Karena, ruang kelas dua belas ada diatas mereka pun harus menaiki tangga agar samapi di kelas Gabriel. Kebetulan, kelas Ify dan Shilla bersebelahan dengan tangga itu. Setelah sampai dan memastikan kelas itu kosong Shilla pun langsung meletakan coklat ke dalam laci meja Gabriel. Sedangkan Ify bertugas mengawasi siapa tahu tiba-tiba ada yang datang.***Gabriel bersenandung seraya melangkahkan kakinya menuju ke kelasnya. Dia sudah tidak sabar untuk melihat apa yang ada di dalam lacinya setelah sebuah puisi."Pagi bro! Darimana aja lo udah mau bel baru dateng?" Gabriel disambut hangat olehkedua sahabatnya Alvin dan Rio"Males aja, ngapain coba berangkat kesekolah pagi-pagi. Ngga guna" Gabriel menjawab sekenanya."Eh, lu berdua udah liat belum di laci gue ada apaan?" lanjut Gabriel. Alvin dan Rio pun langsung melihat ke dalam laci Gabriel. Tangan Rio mengambil sesuatu dari dalamnya."Waaah coklat bro! Enak nih. Eh ada suratnya nih" Rio pun langsung memberikan surat tersebut kepada Gabriel. Sedangkan coklatnya dimakan Alvin dan Rio. Gabriel segera membaca surat dari penggemar rahasianya tersebut.To : Davindra GabrielSelamat pagi gab! Semangat buat hari ini ya, semoga suka coklat dari aku. Dan aku selalu berdoa supaya kita bisa deket.Fr : S****A"Gue penasaran deh siapa sih orang yang selalu ngasih gue ini itu tiap pagi?" ujar Gabriel setelah melipat surat tersebut dan memasukan ke dalam saku celananya."Kalo gue liat sih itu cewe yel" celetuk Alvin dan langsung mandapat jitakan dari Rio dan Gabriel."yaiyalah Vin cewe, masa iya cowo. Kalo iya berarti cowo itu homo dong ihhh" Rio bergidik. "Yakan gue cuma nebak" Alvin membela diri"Pokoknya lo berdua harus cari tau itu siapa. Enam huruf dengan inisial 'S'" ujar Gabriel dingin. Tak lama kemudian terdengar suara bel***Bel berbunyi kembali. Kali ini menandakan bahwa pelajaran telah usai. Shilla dan Ify segera keluar dari kelasnya, menghirup udara segar setalah berkutan dengan soal-soal fisika yang membingungkan pada jam pelajaran terakhir."Fy, ini hari Rabu kan ya? Seperti biasa dong Fy, nanti gue beliin ice cream deh buat lo" Shilla tersenyum manis. Seperti biasa, hari Rabu adalah hari Tim Basket mengadakan latihan. Ify dan Shilla tidak pernah absen melihat mereka berlatih, ya walaupun Shilla harus membujuk Ify terlebih dahulu agar ia mau menemaninya melihat latihan basket, lebih tepatnya melihat Gabriel. Ify mendesah, sebenarnya hari ini ia sangat malas menemani Shilla tapi ini sebagai tugasnya menjadi sahabat yang s-e-t-i-a."Iya bawel. Cepet deh yuk" Mereka berduapun segera menuju ke lapangan basket. Shilla dan Ify berdiri di pinggir lapangan untuk menyaksikan latihan mereka. Bukan hanya mereka yang menonton, anak-anak lainnya juga banyak yang menyaksikan.Saat mereka sedang asik melihat tiba-tibaaDUGG!Shilla langsung berteriak "Ifyyyyyy!!". Bola basket itu mengenai kepala Ify dan alhasil Ify pun pingsan. Gabriel, Rio, Alvin dan anggota tim basket lainnya langsung menghampiri Ify dan Shilla."Sorry, kita ngga sengaja" ujar salah satu anggota tim basket."Mendingan gini, gue bawa dia ke UKS. Kalian lanjutin latihan dan lo pulang aja dianter Rio, dia aman sama gue. Gue yang bakal anter dia pulang" Gabriel menatap Shilla. Shilla menelan ludah. Hatinya berdebar. Untuk pertama kalinya dia ngobrol dengan orang yang sudah dia taksir selama satu tahun ini. Tapi.... Shilla tidak bisa membiarkan Gabriel berdua dengan ify. Apalagi mengantar Ify pulang."Tapi..gue sahabatnya, guemau nemenin dia" elak Shilla"Nggak lo harus pulang sama Rio! Dan ngga ada tapi-tapian" Gabriel langsung mengangkat Ify dan menuju ke UKS meninggalkan Shilla.'Tau gitu gue aja yang pingsan kena bola, enak banget si Ify!' rutuk Shilla dalam hati. Shilla pun pergi meninggalkan lapangan tersebut dan diantar pulang oleh Rio.***"Lo udah bangun?" ujar Gabriel setelah melihat Ify sadar. Ify membelalakan matanya, tak menyangka siapa yang ada di depannya kini. Sosok yang telah lama dicintai sahabatnya walau dalam diam."Shilla mana shillaaa?!" Ify kebingungan mencari Shilla. Gabriel terdiam sejenak mendengar nama Shilla, dia kemudian menghitung jumlah huruf yang ada dalam nama "SHILLA"'Enam. Apa mungkin? Ah mungkin hanya kebetulan'"Oh Shilla temen lo? Dia udah gue suruh pulang tadi. Dan lo pulang sama gue""HAAAAH?!" Ify hanya membulatkan mulutnya mendengar perkataan Gabriel tadi. Perasaannya menjadi tidak enak, ia teringat kepada Shilla. Tanpa mengucapkan apa-apa lagi Gabriel segera menuntun Ify ke mobil dan mengantar Ify pulang."Gue minta nomer handphone lo" ujar Gabriel singkat setelah sampai di depan rumah Ify."Buat?""Udah cepet kasih ke gue, siapa tau gue bisa minta bantuan lo" Tanpa izin dari Ify, Gabriel segera mengambil handphone yang ada dalam tas Ify."Udah dapet nomer lo nih. Turun gih" Ify pun segera turun dari mobil Gabriel dengan kesal. Gabriel segera menjalankan mobilnya lagi.Ify segera memasuki rumah. Betapa kejutnya ia, ternyata Shilla sudah ada di dalam rumahnya dengan wajah seperti ingin memakan Ify. Ify merasa bersalah. Ify kemudian menceritakan semuanya. Untuk kali ini Shilla bisa memaafkan Ify.***Keesokan harinya Shilla dan Ify melancarkan aksinya lagi. Namun, kali ini tanpa sepengetahuan mereka ada sepasang mata yang mengawasi mereka. Orang –yang mengawasi- itu pun tersenyum.Tiba-tiba handphone di saku Ify bergetar. Ternyata ada sebuah pesan dari nomor tak dikenal. Ify segera membuka pesan ituTo : IfyFr : +6283866582xxxPulang sekolah temui gue di taman belakang sekolah. Ada yang mau gue omongin. Lo kesini sendiri tanpa Shilla! GabrielIfy menarik nafas."Kenapa fy?" Tanya Shilla"Shill, ini nyokap gue sms gue nanti suruh pulang cepet. Nanti lo duluan aja gausah bareng gue ya" jelas Ify. Shilla mengernyitkan dahinya heran. Karena biasanya jika Ify diminta pulang lebih cepat mereka tetap pulang bersama. Tapi kenapa kali ini tidak?***"Jadi gadis itu namanya Shilla?" gumam Gabriel"Kenapa emang?" Ify terlihat bingung.Saat ini Gabriel dan Ify sudah duduk dibangku taman di belakang sekolah mereka. Ify sebenarnya malas sekali bertemu dengan Gabriel. Dia takut shilla akan marah jika mengetahuinya. Lagian ada urusan apa Gabriel dengan dirinya?"Dia gadis yang gue incer selama ini" Lagi-lagi Ify dibuat bingung oleh ucapan Gabriel. Gabriel melanjutkan ceritanya"Gue jatuh cinta sama Shilla sejak kita pertama ketemu. Sejak dia pertama masuk di sekolah ini. Gue lihat dia gadis yang beda. Tapi sayangnya gue ngga punya keberanian buat deketin dia. Untuk kenalan aja gue ngga mampu. Gue juga ngga tau nama dia siapa. Yang gue tau gue jatuh cinta sama dia. Lo tau fy? Gue selalu semangat main basket karena apa? Karena ada dia yang nonton. Mungkin kalian ngga tahu kalo gue sering merhatiin Shilla. Maka dari itu pas kejadian kemaren gue ngga ngebolehin Shilla buat nemenin lo. Karena gue tau lo sahabat dia, dan gue butuh bantuan lo supaya gue bisa deket sama dia. Gue takut fy, gue takut dia nggak suka sama gue. Gue takut di tolak fy. Dan akhirnya gue ngga bisa mendem lagi. Jadi sekarang gue minta tolong sama lo, tolong deketin gue sama dia"Ify tertawa mendengar cerita Gabriel tapi setelah itu ify justru memaki Gabriel. Rasa senang menyelinap di hatinya, berarti selama ini cinta sahabatnya tidak bertepuk sebelah tangan."Lo bego yel! Lo pengecut! Lo cowo harusnya lo berani! Shilla aja berani yel deketin lo tanpa sepengetahuan lo. Shilla aja selama ini bisa yel jadi secret admirer lo! Asal lo tau shilla cinta anget sama lo yel! Dia yang selama ini kasih coklat, puisi ke elo! Dia rela berangkat pagi buta buat lo yel! Tapi kenapa lo ngga pernah berani? Lo cewe apa cowoo?!""Gue udah tau kalo shilla yang kasih itu semua ke gue. Gue tadi pagi ngeliat kalian berdua masuk ke kelas gue. Gue baru tau kalo 'Enam Huruf' itu Shilla. Dan saat gue tau itu gue semakin berniat buat deketin shilla. Maafin gue" Jelas Gabriel. Tiba-tiba ada suara yang memotong pembicaraan mereka"I...i....fy... gue gue ga nyangka lo setega ini sama gue fy! Lo bilang lo mau pulang cepet, eh taunya lo disini sama Gab! Jangan-jangan lo berdua ada yang disembunyiin ya dari gue? Untung gue tadi lewat sini fy. Gue kecewa!" Shilla langsung pergi meninggalkan Ify dan Gabriel dengan air mata yang mengalir di pipinya. Ify langsung mengejar shilla, sedangkan Gabriel hanya diam di tempat.***Drrttt... Drrtt...Handphone Shilla bergetar, sebenarnya Shilla malas sekali membuka handphone itu, air mata masih mengalir di pipi shilla saat ini setelah kejadian tadi siang yang ia alami. Bahkan Shilla tidak mau bertemu dengan Ify.Fr : +6283866582xxxSelamat Malam putri cantik. Hapus air mata mu ya. Aku tidak suka melihat mu menangis xxShilla tidak memperdulikan pesan tersebut. Hati nya terasa sangat sakit sakit sekali! Melihat apa yang dilakukan sahabat dan orang yang sangat di cintainya tersebut.***Sudah seminggu Shilla dan Ify bermusuhan, shilla sudah tak mau mendengar penjelasan Ify. Sudah seminggu pula, nomor asing tersebut terus memberi pesan kepada shilla. Isi pesannya bermacam-macam. Bahkan dalam pesan tersebut bomor itu menyatakan cinta kepadanya! Shilla benar-benar penasaran dengan orang tersebut. Orang itu telah membuatnya risih.Kali ini Ify pergi kerumah Shilla, ia ingin meminta maaf lagi."Shill" panggil Ify"Ngapain lo kesini? Mau nyakitin gue lagi? Belum puas lo pengkhianat?" Shilla tersenyum devil. Sebenarnya hatinya sakit memanggil Ify dengan pengkhianat"Dengerin gue dulu shill. Gue mau jelasin semuanya" Ify kemudian menjelaskan percakapan antara dirinya dengan Gabriel. Shilla yang mendengarnya kemudian menangis. Menangis karena rasa bersalah telah memusuhi Ify dalam waktu seminggu ini."Lo ga bohong kan fy? maafin gue" Shilla menunduk"Buat apa gue bohong sama lo shill? Lo sahabat terbaik gue" Shilla langsung memeluk Ify"Selamat sayang cinta lo berarti terbalaskan..." bisik Ify***Sepulang sekolah lagi-lagi shilla mendapat sebuah pesan dari nomor tersebutFr : +6283866582xxxSiang cantik. Kalo kamu penasaran siapa aku temui aku sekarang di taman belakang sekolahxxShilla mengernyitkan dahinya kemudian menatap Ify. Ify sudah tau bahwa itu adalah Gabriel. Ify lalu tersenyum yang artinya menyetujui bahwa Shilla harus bertemu pemilik nomor tersebut.Shilla kemudian menuju taman belakan sekolah.Sepi. Tidk ada siapa-siapa. Shilla duduk di sebuah bangku disana menunggu orang tersebut. Lama sekali orang itu tidak dating. Shilla hampir saja pergi dari tempat itu. Namun ada sebuah suara yang mencegahnya"Mau kemana cantik?" Shilla menoleh kebelakang. Hatinya berdebar kencang melihat sosok itu, Gabriel."Nggg...ngapain kamu disini?" Shilla menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal untuk mengurangi rasa gugup"Kamu sendiri ngapain disini?""Loh kok balik tanya? Aku mau ketemu sesoran disini""Kamu udah ketemu orang itu kok" Gabriel tersenyum. Apa maksud Gabriel itu? Shilla terlihat bingung"Aku orang itu shill,aku penggemar rahasiamu yang selama ini mengirim pesan-pesan itu. Maaf atas kejadian seminggu yang lalu. Maaf atas sifatku yang pengecut. Aku tahu shill kamu yang selama ini memberiku coklat dan puisi, kamu juga pasti sudah tau atas cerita Ify kan? Maaf shill, aku ngga bisa romantic. Tapi satu hal yang harus kamu tau, aku sayang sama kamu shill. Apa kamu mau nerima aku sebagai pacar kamu shill?"Seketika wajah Shilla memerah. Ternyata yang dikatakan Ify kepadanya benar. Ah bodohnya ia telah memaki Ify waktu itu."Jadi kamu orangnya ya Gab." Shilla memasang wajah kecewa. Melihat wajah shilla, Gabriel menjadi takut bahwa ia akan di tolak oleh Shilla. Kemudian Shilla tersenyum."Aku mau kok jadi pacar kamu" Gabriel langsung memeluk shilla dan mengelus kepala Shilla. Ah akhirnya penantian dia terbayarkan sudah, begitupun shilla tidak sia-sia ia menjadi seorang Secret Admirer untuk Gabriel.END

TROUVAILLE
Romance
14 Feb 2026

TROUVAILLE

" Tin. Kamu di mana? Aku udah di dalem aula. " ucap ku pada sahabat ku Tina saat aku menelepon dirinya.Kami berdua saat ini memang sedang berada di dalam aula sebuah mall. Karena saat ini, sedang ada acara konser Kahitna di aula tersebut. Aku dan Tina memang sudah berencana lama untuk datang ke konser mereka.Tapi masalahnya, aku dan Tina saat ini terpisah. Sedangkan nyaris semua kursi sudah terisi. Apalagi para penonton tidak di tentukan tempat duduknya. Sehingga kami harus mencari tempat yang strategis untuk menonton penampilan mereka semua." aku juga di dalem Ris. Aku udah dapet kursi. Tapi cuma dapet satu. Ini juga agak di tengah. Gimana ya? " sahut Tina di seberang sana." gitu? Ya udah, aku cari kursi ku sendiri ya. Nanti kita chat-an aja kalo mau pulang. Ya? " ucap ku. Sedikit tenang karena Tina sudah mendapat kursi untuk nya dan tinggal mencari untuk diri ku sendiri." oke deh. Kamu sendiri hati - hati Ris. " balas Tina di seberang sana dan membuat ku akhirnya mematikan sambungan telepon kami setelah mengiyakan ucapannya. Sembari mulai mencari - cari tempat duduk untuk ku.Sebenarnya, saat ini aku melihat ada sebuah tempat strategis untuk diri ku duduk. Apalagi kursi itu berada di depan panggung. Membuat kursi itu menjadi kursi yang sangat strategis untuk diri ku melihat konser Kahitna ini.Tapi sayangnya, kursi itu tinggal satu yang kosong. Sedangkan di sampingnya ada seorang pria yang sedikit lebih tua dari ku yang semenjak tadi terus saja memandang ku lekat. Dan di sampingnya lagi ada sepasang muda mudi yang duduk. Membuat ku yakin jika satu kursi itu juga merupakan kursi dari pasangan pria itu.Dan baru saja aku akan beranjak dari tempat ku berdiri saat ini, pria itu memanggil ku. Membuat ku terkejut karena memang aku tak mengenal dirinya." duduk di sini aja. " ujar pria itu." eh, gak usah kak. Nanti kalau temen kakak datang, malah susah. " jawab ku sopan." gak papa. Aku sendiri kok. Di samping ku memang kosong. Dari pada kamu dapet kursi yang di belakang kan. Mending di sini. " ujarnya dan jujur saja, itu terdengar sangat menggiurkan untuk ku. Membuat ku tanpa sadar mulai berjalan guna mendekatinya." beneran gak papa kak? " tanya ku memandang dirinya dengan seksama. Dan baru ku sadari, jika pria yang menegur ku tadi cukup tampan. Dengan senyum yang manis dan tatapannya yang teduh." iya. Gak papa kok. Duduk aja. " jawabnya dengan senyum yang tak berhenti semenjak tadi. Membuat ku akhirnya duduk di sampingnya dengan perlahan seraya terus memandang dirinya." makasih banyak kak. " ucap ku tulus seraya menundukkan tubuh ku sedikit. Berupaya bersikap sopan pada pria yang sudah berbaik hati ini." it's oke. Santai aja. Oh ya. Nama ku Daniel. Daniel Arditya. " sahutnya tenang." nama ku Risna. Samantha Risnalda. " ujar ku membalas ucapannya." kamu datang sendirian? " tanya dirinya memandang ku. Entah perasaan ku saja, atau tidak. Tapi ku lihat dirinya sedikit khawatir." enggak kok. aku sama temen ku. Tapi pas masuk aula tadi, aku sama dia kepisah. Trus dia udah dapet kursi. Kasian kalo harus ku suruh bareng sama aku. " jawab ku." tapi harus tetep hati - hati. Gak baik cewek jalan sendiri - sendiri kayak gitu. Kalo ada apa - apa kan bahaya. " tegur nya sembari menasehati ku." iya kak. " jawab ku sopan.Apalagi mendengar dirinya yang begitu menasehati ku layaknya seorang keluarga. Membuat ku bersyukur karena bisa bertemu dengan orang baik seperti dirinya. Tak lupa aku mengangguk untuk mengiyakan ucapannya tadi. Dan setelah itu, kami berdua pun sibuk dengan kesibukan kami masing - masing.*****Tak berapa lama aku merasakan pria itu memandang ku dengan seksama. Membuat ku mengangkat kepala dari handphone ku dan balas memandangnya dengan raut wajah kebingungan dan setengah penasaran." ada apa kak? Ada yang aneh ya sama muka ku? " tanya ku pada dirinya dan membuat dirinya tersenyum simpul." enggak kok. Tapi, boleh aku minta tolong padamu? " tanyanya dengan sedikit permohonan yang tersirat pada nada suaranya." mau minta tolong apa kak? " tanya ku pada dirinya." bisa aku titip tas kecil ku ini? Aku mau keluar sebentar, nerima telepon dari teman ku. Di sini agak mulai berisik. " ujar pria itu sembari menunjuk tas selempang kecil miliknya yang ada di belakang tubuhnya.Saat ini dirinya sedang memegang handphonenya yang semenjak tadi berdering tanpa henti. Apalagi, suasana di dalam aula ini memang sudah penuh dengan orang - orang yang ini menonton konser Kahitna. Sehingga suasana memang cukup bising dan berisik.Dan berhubung aku sudah di berikan tempat duduk oleh dirinya. Bahkan secara cuma - cuma, Aku pun menyanggupi permintaannya dan menganggukkan kepala ku. Setidaknya itu sebagai balas budi ku pada dirinya." oh. Boleh kok kak. " sahut ku mengangguk. Kebetulan acara akan berlangsung kurang dari sepuluh menit lagi. Sehingga aku berharap sedikit banyak dirinya akan cepat kembali." aku janji hanya sebentar. I promise. " ucapnya berjanji pada ku sebelum dirinya berdiri. Dirinya cukup sadar jika acara akan segera di mulai. Dan membuat ku menganggukkan kepala ku sembari tersenyum menenangkan nya." iya kak. Santai aja. " ujar ku tersenyum. Dan akhirnya dirinya pun meninggalkan ku sendiri.*****" hai cewek. Kok sendirian aja? Temenin om yuk sayang. "" sini aja sama kita. Dari pada sendirian. Kan. Om gak gigit kok. Om suka liat kamu sayang. "" iya. Mending nemenin kita. Kita cuma ada satu cewek nih. Gabung yuk manis. " dapat ku dengar ada beberapa pria paruh baya yang berbicara seperti itu di belakang ku.Ku rasa mereka duduk tak jauh dari barisan tempat duduk ku. Dan aku yakin, mereka menggoda ku. Karena di beberapa baris ini, hanya aku yang duduk sendiri tanpa teman setelah Daniel yang duduk di samping ku pergi.Dan ucapan pria - pria yang terdengar sudah berumur itu amat sangat menakutkan bagi ku. Tanpa sadar membuat tubuh ku bergetar dan membuat ku menutup ke dua mata ku. Berharap jika ada yang akan menolong ku. Jujur saja, dengan aku yang di goda seperti itu kembali mengingat kejadian menyakitkan dan menyeramkan untuk ku beberapa waktu yang lalu.Apalagi, tidak ada seorang pun yang mau membantu ku saat ini. Atau setidaknya menegur pria - pria itu. Semua orang yang mendengar pun sibuk dengan aktivitas mereka masing - masing.Nyaris saja aku terisak karena godaan dari pria - pria itu tak berhenti, bahkan semakin lama justru semakin parah. Tapi tiba - tiba saja, aku di kejutkan dengan keadaan kursi kosong di samping ku yang terasa di duduki seseorang. Dan langsung membuat ucapan - ucapan menggoda dari arah belakang langsung hilang tak berbekas.Aku pun langsung membuka mata dan menemukan Daniel yang duduk di samping ku kini sudah kembali duduk. Dirinya duduk sedikit mendekat ke arah ku sembari memandang ke belakang dengan tatapan tajamnya. Dengan wajah yang sedikit dingin. Bahkan dapat ku rasakan jika paha dan tubuh ku sedikit bersentuhan dengan paha dan juga tubuhnya. Membuat ku tanpa sadar justru bernafas lega karena dirinya yang langsung duduk di samping ku." kamu gak papa? " tanya Daniel pada ku setelah membuat pria - pria hidung belang itu berhenti menggoda ku. Seraya dirinya mengalihkan pandangannya ke arah ku. Dan memandang ku dengan seksama. Dirinya sadar jika aku begitu ketakutan saat ini." enggak. Gak papa. " jawab ku singkat dengan nada bergetar. Masih dengan posisi yang penuh rasa takut.*****" kak. " panggil ku pada Daniel tak berapa lama dari kejadian tadi." ya? Ada apa Ris? " tanya Daniel yang semenjak datang terus memperhatikan diri ku yang ketakutan." boleh aku megang tangan kakak? Aku takut. " cicit ku lirih. Sedikit takut jika pria itu menolak dan berfikir bahwa aku adalah perempuan yang sedikit nakal. Apalagi kami yang belum terlalu kenal." tentu saja. " sahutnya sembari menarik tangan ku ke dalam genggamannya dan menggenggamnya dengan erat.Tak lupa dirinya mengelus punggung tangan ku untuk menenangkan ku. Ulah nya ini jujur saja, dapat menenangkan ku. Dan tanpa sadar membuat ku merapatkan duduk ke arah dirinya." apa kau ingin minum sesuatu? Aku bisa membelikan mu. Di dekat sini ada food court. " ujar Daniel yang tak tega pada ku. Dirinya juga sadar jika aku semakin merapatkan tubuh ku yang gemetar pada dirinya." ja... Jangan. To... Tolong jangan tinggalkan aku lagi kak. Aku takut. " ujar ku menggeleng cepat dan tanpa sadar, aku memeluk lengannya dengan sebelah tangan ku yang bebas dan tak di genggamnya." oke oke. Aku tak akan ke mana - mana. Aku akan di sini saja. Bersandar lah di lengan ku Ris. Wajah mu pucat. Sepertinya kau butuh sandaran. " pinta Daniel seraya mengamati wajah ku yang masih saja terlihat ketakutan. Dirinya pun memilih untuk tak meninggalkan ku lagi." apa tak masalah? Jika aku bersandar? " tanya ku tanpa ada niat untuk menolak. Karena jujur saja, aku saat ini memang sudah terlalu lemah." sure. Biar mereka mengira kau pacar ku. Itu akan membuat mereka tak menganggu mu lagi. " ujarnya meyakinkan ku.Entah kenapa. Ucapannya ini justru membuat ku merasa yakin dan tanpa ada paksaan dari dirinya, aku pun mulai menyandarkan kepala ku di lengannya dengan perlahan. Membuat Daniel mencoba menyamankan posisi ku di samping dirinya. Kini aku dan Daniel benar - benar terlihat seperti pasangan yang tengah di mabuk asmara." maaf merepotkan kakak. Dan terima kasih karna sudah membantu ku. "" santai saja. Aku senang bisa membantu. " sahutnya. Sembari melirik ku sesekali. Memastikan jika aku sedikit lebih tenang.*****Tak terasa, konser yang sudah lama ku nanti kan ini sudah separuh jalan. Dan aku benar - benar menikmati jalannya konser ini. Apalagi dengan Daniel yang berada di sebelah ku. Kami berdua sering kali mengobrol dan saling bertukar cerita. Sehingga membuat kami mulai cukup dekat. Dirinya pun mencoba untuk tidak membuat ku mengingat kejadian tadi.Tapi sayangnya, pembicaraan kami berdua sedikit terhenti karena host acara mulai kembali memasuki panggung." oke. Karena kita sudah di tengah jalan, kami semua ingin memberi kejutan pada kalian. Kami akan memilih satu penonton untuk bernyanyi bersama dengan Kahitna di atas panggung. Dan kami akan mulai memilih penonton yang beruntung. " ucap host tersebut. Membuat ku sedikit tersenyum dengan ucapan host itu. Seraya menerka - nerka siapa orang yang beruntung bisa bernyanyi di panggung bersama Kahitna.Dan dua buah lampu sorot yang berada di sisi kiri dan kanan pun mulai menyoroti kami para penonton. Tiba - tiba saja, tak berapa lama kemudian, lampu itu menyorot ke arah dirinya ku. Membuat ku merasa sedikit silau dan mengubur wajah ku di lengan atas Daniel. Daniel sendiri yang merasa aku kesilauan pun merentangkan jemarinya di depan wajah ku untuk menghalau kilatan lampu dari wajah ku." euggh. "" silau ya? " tanya Daniel paham seraya memandang ku yang mengubur wajah ku di lengan atasnya." iya. Silau banget. " sahut ku menjawab dan tetap menyembunyikan wajah ku di lengannya. Aku pun mengangguk dan menyebabkan wajah ku langsung bergesekan dengan pakaian milik Daniel.Baru saja Daniel ingin bicara dengan ku lagi, tapi MC itu sudah memanggil ku untuk naik ke atas panggung. Membuat ku akhirnya mengangkat wajah ku untuk memandang Daniel dengan seksama. Dan beruntungnya, aku sudah terbiasa dengan sinar dari lampu sorot yang masih menyorot ke arah ku dan Daniel." naiklah. Dan jika mereka bertanya kau dengan siapa. Bilang saja kau pergi dengan aku sebagai pacarmu dan teman mu. " ucap Daniel mencoba membantu ku sekali lagi." gak papa? Bilang kakak pacar ku? " tanya ku memastikan. Aku hanya tak yakin dengan tawarannya ini." gak apa. Supaya pria - pria yang menganggu mu tau kalau kau sudah punya pacar. Dan biar gak ada yang menggoda mu lagi. Bukan gak mungkin keluar dari aula ini kamu masih di ganggu mereka. " jawab Daniel yang membuat ku menganggukkan kepala ku." baiklah. " jawab ku sebelum aku berdiri dan mulai melangkah menaiki panggung dengan canggung.*****" hallo. Siapa nama mu? " tanya host itu pada ku begitu aku sudah berada di tengah panggung. Bersama dengan ke tiga vokalis Kahitna, Hedi Yunus, Carlo Saba dan Mario Ginanjar." erh, hai. Nama ku Risna. Samantha Risnalda. " jawab ku kikuk. Karna jujur saja, ini kali pertama aku berdiri begitu dekat dengan ke tiga penyanyi favorit ku." santai aja. Jangan tegang begitu. " ucap Hedi Yunus sembari tertawa karna melihat diri ku yang begitu kikuk." i... Iya. " sahut ku. Semakin membuat mereka tertawa karena kekikukkan ku ini." ke sini sama siapa Risna? " tanya Mario mencoba mencairkan suasana. Membuat ku beralih memandang dirinya." erg. Bareng temen ku sama pacar ku kak. " jawab ku memutuskan untuk mengikuti permintaan Daniel tadi sebelum aku naik ke atas panggung.Dan ucapan ku ini berhasil membuat suasana aula bergemuruh. Karna ke tiga vokalis Kahitna ini langsung menggoda ku. Bahkan membuat ku memerah malu. Jawaban ku ini pun akhirnya membuat lampu sorot mulai menyoroti Daniel yang notabene duduk di samping ku dan menjadi sandaran ku saat aku terpilih untuk naik ke atas panggung tadi. Apalagi memang, sampai saat lampu menyorot ku tadi, aku terus menerus bersandar pada Daniel. Dan mengobrol dengan dirinya. Sehingga tak kaget jika mereka langsung mengira Daniel adalah pacar ku." ayo ke sini. " suruh mereka bertiga bersama dengan host saat lampu menyorot Daniel.Membuat Daniel langsung mengikuti ku untuk menaiki panggung. Dan kini dirinya berdiri di samping ku dengan sebelah tangannya yang memegang pinggang ku. Aku sendiri sama sekali tak mencoba untuk menyingkirkan tangan Daniel di tubuh ku. Aku justru mendiamkan ulah nya ini dan menikmati rasa tenang yang langsung hinggap di hati ku saat Daniel berdiri di samping ku.*****" katamu kamu bertiga dengan pacar mu dan teman mu? Di mana teman mu? " tanya Carlo pada ku dan Daniel." teman ku berpisah duduk dengan kami berdua. " sahut ku jujur mengingat aku sebenar nya dengan Tina terpisah bahkan semenjak aku belum kenal dengan Daniel." wah, dia gak mau jadi obat nyamuk ya. " ucap Mario tertawa. Membuat seluruh penonton juga ikut tertawa karena kelakarnya ini." kalian sudah lama pacaran? " tanya Hedi Yunus sembari memandang ke arah ku dan Daniel.Membuat ku tertegun bingung harus menjawab seperti apa. Apalagi, aku dan Daniel yang memang baru mengenal beberapa saat yang lalu. Namun aku di kejutkan dengan Daniel yang begitu saja menjawab dengan amat lancar." gak terlalu lama sih. Tapi aku merasa udah klop sama Risna. " jawab Daniel.Dan jawabannya ini semakin membuat para penonton semakin bersorak. Bahkan aku baru sadar jika aku dan Daniel sama - sama memakai baju berwarna putih. Jika Daniel sedang memakai kemeja berwarna putih. Maka aku sendiri saat. Ini memakai blouse lengan pendek berwarna putih juga.*****" oke. Karena yang maju saat ini adalah pasangan kekasih, bagaimana kalau kita ajak mereka bermain game kecocokkan? " tanya host pada para penonton dan langsung di setujui oleh para penonton dan para personel Kahitna.Membuat ku dan Daniel langsung berpandangan. Pasalnya, kami berdua sama sekali tak mengetahui bagaimana pribadi masing - masing. Dan bisa di pastikan kami akan banyak yang tak cocok.Tapi tatapan Daniel begitu menenangkan ku. Apalagi tangannya yang masih di pinggang ku kini mulai bergerak mengelusi pinggang ku dengan teratur. Membuat ku sedikit tenang dan mengikuti alur permainan saat ini.Dan permainan kecocokan antara aku dan Daniel pun mulai berjalan. Aku yang awalnya begitu takut - takut menjalani game ini pun mulai rileks dan bisa menikmati permainan. Bahkan, aku dan Daniel nyaris menjawab semua pertanyaan dengan benar. Aku dan dirinya hanya salah menjawab empat dari sepuluh pertanyaan yang di ajukan oleh host dan ke tiga vokalis Kahitna. Benar - benar sebuah keberuntungan. Mengingat jika aku dan Daniel baru mengenal satu sama lain.*****Setelah aku dan Daniel turun dari panggung, aku merasakan jika handphone ku yang ku simpan di tas kecil ku bergetar semenjak tadi. Dan rupanya Daniel pun merasa jika ada yang menelepon ku, karena aku langsung memegang handphone ku." siapa? " tanya Daniel memandang ku lembut." temen ku kak. Yang tadi ke pisah sama aku. " jawab ku pada Daniel yang membuat dirinya mengangguk pelan." angkat gih. Dia pasti kaget liat kamu naik panggung sama aku. Apalagi denger kita pacaran kan. " ujar Daniel tersenyum seraya menyarankan pada ku dan membuat ku mengiyakan ucapannya ini." ntar aja kak. Berisik di sini. " ucap ku sembari menggelengkan kepala." ngobrolnya di belakang badan ku aja. Kayaknya bakal ketutupan deh suaranya kalo kamu nerima telepon di belakang badan ku. Kasian dia. Pasti khawatir. " balas Daniel yang mulai mencari cara agar aku bisa mengangkat telepon dari Tina.Aku yang memang sudah tak enak pada Tina karena lama mengangkat teleponnya pun akhirnya mau tak mau mengiyakan ucapan Daniel. Aku juga tak mungkin keluar ruangan ini hanya untuk mengangkat telepon dari Tina. Sehingga aku menerima telepon darinya di tempat duduk ku saat ini." iya deh. " sahut ku dan mulai mengangkat telepon dari Tina, sahabat ku.Beruntungnya, Daniel cukup paham jika ruangan itu cukup berisik. Sehingga, dengan gesture tubuhnya, dirinya meminta aku menelpon di belakang tubuhnya dan membuat ku seperti bersandar di punggungnya. Daniel pun memajukan tubuhnya sedikit untuk menutupi ku yang tengah bicara dengan Tina lewat telepon.******" hallo. "" gila. Siapa tuh? Cerita sama aku. " ujar Tina begitu aku mengangkat telepon." iya iya. Nanti ku ceritain abis kita keluar dari aula. " jawab ku." enggak. Gak ada. Cerita sekarang pokoknya. "" astaga. Maksa deh. " kekeh ku." kudu ah, cepet. Aku penasaran. " ucap Tina memaksa.Membuat ku akhirnya menceritakan awal mula pertemuan ku dengan Daniel hingga akhirnya aku naik ke atas panggung bersama dengan dirinya. Aku juga menceritakan bagaimana aku di goda oleh beberapa pria berumur saat acara belum di mulai. Dan cerita ku ini berhasil membuat Tina tak tenang karena khawatir." kamu gimana? Gak papa? Trauma mu? " tanya Tina. Dapat ku rasakan kekhawatirannya pada ku dalam getar suaranya." gak papa. Untung kak Daniel cepet dateng nolongin. " jawab ku tersenyum mengingat bagaimana Daniel menolong ku tadi." syukurlah. Tolong bilangin rasa terima kasih ku sama dia. Udah jagain kamu. " sahut Tina membuat ku tersenyum haru atas perhatian sahabat ku ini." iya. Nanti aku sampein. " balas ku. Aku dan Tina pun masih terlibat pembicaraan sebentar sebelum akhirnya aku memutuskan sambungan telepon ku bersama dirinya.*****" sudah? " tanya Daniel ketika dirinya merasa aku mulai kembali duduk seperti semula." udah kak. Temen ku bilang makasih. "" makasih? Makasih buat apa? " sahut Daniel tak mengerti dengan ucapan ku." makasih karna kakak udah nolong aku tadi. Dari... " ucap ku terhenti sembari melirik ke arah belakang dan membuat Daniel mengerti." its okay. Santai aja. Lagipula sudah seharusnya perempuan itu di jaga. Bukan di lecehin kayak gitu. " jawab Daniel yang tanpa sadar menambah nilai plus dirinya di mata ku." mm iya. Sekali lagi makasih ya kak. " ujar ku lagi. Membuat Daniel menganggukkan kepala nya menghadap diri ku. Kami pun kembali tenggelam dalam keasyikan menonton konser Kahitna ini hingga selesai.*****

ASISTEN DOSEN
Romance
14 Feb 2026

ASISTEN DOSEN

" gimana Key? Mahasiswa udah pada ngumpul semua? " tanya Bu Rahma pada ku yang tengah memegang absensi semua mahasiswa yang mengikuti study tour selama dua minggu di Jogja dan Jawa Tengah.Kebetulan aku dan ke dua teman ku di percaya oleh Bu Rahma, Bu Amy dan Pak Husni untuk mengurusi absensi dan segala keperluan semua mahasiswa yang ikut study tour." masih dua orang yang belum sampe bu. Sama dua temen saya kebetulan juga belum dateng. " sahut ku membalas pertanyaan bu Rahma." nanti kalau Putri dan Haris dateng, tolong kalian bertiga koordinasikan sama Aldy ya untuk urusan tiket sama boarding pass anak – anak. " pinta Pak Husni yang berdiri di dekat ku bersama dengan ke dua dosen ku yang lainnya sembari menyebutkan ke dua teman ku yang ikut menjadi asisten dosen menemani ku kali ini." eh? Aldy siapa pak? " tanya ku bingung. Karena Asisten dosen yang kali ini ikut mengawasi study tour ini hanya kami bertiga, yaitu aku dan ke dua teman ku, Putri dan Haris." Bapak lupa bilang sama kamu, jadi pak Agus selaku tour guide kita gak bisa ikut karena harus ngurus travelnya di sini. Jadi yang ngurusin tour kita kali ini di sana istri sama anak ke duanya. Namanya Aldy, itu. Kalo gak salah dia umuran Hendri sih. " jawab pak Husni sembari menyebutkan nama anak ke tiga beliau yang notabene adalah kakak tingkat ku di kampus. Aku pun menganggukkan kepala ku mengerti." eh iya Key, total kita semua ada berapa? Ibu lupa totalnya. " tanya ibu Amy yang semenjak tadi hanya memperhatikan ku yang heboh sendiri karena mengurusi keperluan mahasiswa sendiri tanpa ada yang membantu." mahasiswanya ada 52 bu, trus dosen 3, asdos 3, sama tour guide 2 orang. Jadi totalnya pas 60 orang bu. " sahut ku setelah mentotal semua yang akan berangkat study tour kali ini." udah di hitung cowok ceweknya buat kamar di Jogja sama di kebun kan Key? " tanya bu Amy kembali yang langsung ku balas dengan anggukan kepala ku." ceweknya ada tiga puluh dua orang bu. Sedangkan cowoknya ada dua puluh orang. Jadi saya, Putri sama Haris ngebagi empat orang satu kamar dan totalnya untuk mahasiswa ada tiga belas kamar buat di Jogja bu. Terus untuk kita semua sama tour guide ada tiga kamar yang kami pesen. " jawab ku setelah melihat semua berkas – berkas yang ada di tangan ku." kamarnya kurang bu? Pak? Buat yang di Jogja? " tanya ku memandang ke tiga dosen ku yang tengah memandang ku lekat." sepertinya cukup aja untuk kita semua. Lagian kan satu kamar buat bapak smaa Haris. Bu Amy sama Bu Rahma trus Bu Listy bisa satu kamar sama Aldy dan kamu sama Putri satu kamar lainnya. " ucap pak Husni menyebutkan nama istri pak Agus yang menemani kami bersama putranya kali ini. Bu Amy dan bu Rahma pun menganggukkan kepala menyetujui ucapan pak Husni barusan.Beruntungnya, aku hanya perlu memikirkan hotel kami semua selama di Jogja saja, karena selama kami berada di Jawa tengah, tempat tinggal kami sementara di sana sudah di atur oleh pak Husni, bu Amy dan juga bu Rahma.*****" gila ya, kalian berdua dari mana sih? Kok bisa mepet banget? Anak – anak yang lain sama dosen udah pada ke ruang tunggu. " semprot ku pada Putri dan Haris yang baru saja tiba di depan ku yang tengah menunggu mereka berdua di depan pintu Bandara." sorry sorry. Tadi kita ngambil pin nama sama tanda pengenal buat kita semua. Trus makanya aku ngebut ke sini. Ini aja mobil langsung di bawa adik ku. " ujar Haris ngos – ngosan di depan ku. Putri pun tak jauh berbeda dari Haris yang ngos – ngosan." ya udah kal... "" Keysha ya? " tiba – tiba saja ada seseorang yang memanggil ku dan membuat ku langsung berbalik tanpa menyelesaikan ucapan ku pada Putri dan Haris yang berada di hadapan ku saat ini." eh iya? " sahut ku kaget." saya Aldy. Tadi Pak Husni minta saya buat ngubungin kamu langsung. " ucap pria itu sembari menyalami ku dan membuat ku balas menyalami dirinya." iya kenapa kak? " tanya ku bingung.Pasalnya, semua sudah menunggu di ruang tunggu dan hanya aku sendiri yang belum masuk untuk boading pass dan semacamnya karena menunggu Putri dan Haris. Apalagi ini kali pertama aku bertemu dengan Aldy. Sehingga aku cukup terkejut karena dia mengetahui nama ku terlebih dahulu." tiket kalian bertiga di tempat saya. Makanya saya cari kalian untuk sekalian Boarding pass. " ucap Aldy dan membuat Putri juga Haris langsung meminta maaf pada Aldy karena membuat aku dan juga Aldy kerepotan karena mereka berdua. Aldy pun tertawa maklum sembari menyerahkan tiket kepada kami bertiga dan mengajak kami semua untuk boarding pass.*****" yah, dapet di belakang. " keluh Putri.Begitu dirinya mendapatkan kursi dan membuat ku melirik kertas yang berada di tangannya untuk mengetahui baris duduknya. Aku pun sedikit bersyukur deret kursi ku berada di tengah sehingga tidak terlalu di belakang seperti Putri. Dan ternyata Haris pun juga berada di deretan belakang bersebelahan dengan Putri." ampun deh, Jodoh banget sampe sampingan gitu. " sindir ku sembari tertawa.Aku sudah terlampau sering menjahili mereka berdua dengan menyindir kelakuan mereka berdua yang terkadang tanpa sadar justru selalu bersama sama dalam setiap kesempatan." mau tukeran gak Key? " tanya Haris khawatir pada ku sembari mengajak ku bertukar tempat duduk yang langsung di setujui oleh Putri." iya, tuker aja sama Haris. Kamu masa duduk sendirian. "" enggak ah. Aku males ganggu orang pacaran. " tolak ku cepat pada mereka berdua. Apalagi aku tahu jika ini kesempatan yang langka untuk mereka berdua bisa liburan berdua sekaligus menjadi asisten dosen." tapi kamu kan sendirian Key. " Putri bersikeras agar aku menerima tawaran Haris untuk bertukar dengannya." tenang saja. Kebetulan saya duduk tepat di samping Keysha. Jadi dia aman sama saya. Jangan khawatir. " ucap Aldy secara tiba – tiba muncul sembari berbicara dan membuat ku menghela nafas lega karena tahu siapa yang duduk di samping ku." tuh, udah ada kak Aldy. Jadi kalian berdua aja. Kapan lagi kan kalian bisa liburan bareng berdua. " ujar ku menambahkan ucapan Aldy dan membuat Haris serta Putri tersenyum malu. Aku pun mengajak mereka bertiga untuk menuju ke ruang tunggu, sembari menyusul yang lain yang sudah menunggu di sana.*****" mereka berdua pacaran? " tanya Aldy pada ku begitu kami berdua sudah hendak take off menuju bandara Achmad Yani Semarang." eh? Siapa kak? " tanya ku balik dengan bingung.Karena semenjak di ruang tunggu dirinya sama sekali tak berbicara sedikit pun. Bahkan saat aku, Putri dan Haris membagikan tanda pengenal untuk semua mahasiswa peserta study tour pun dirinya hanya diam saja." itu. Ke dua teman mu? Putri dan Haris? Bener kan nama mereka? " ucapnya tak yakin dengan nama ke dua teman ku." oh itu. Iya. Udah lama sih sebenernya. Nyaris dua tahunan gitu lah. Kenapa memangnya kak? " sahut ku sembari balas bertanya pada dirinya." enggak. Kirain kalian bertiga temenan biasa aja. Soalnya sampe mereka mau tuker duduk sama kamu. " balasnya." ya gitu. Kami emang bertiga temenan. Tapi mereka terus pacaran. Aku juga gak mau ganggu. Mereka emang gak pernah aja liburan ke luar kota kayak gini berdua. Lagian, orang tua Putri susah ngizinin dia pergi gak ada yang jagain. Tahun kemaren kan cuma aku yang jadi Asdos buat mata kuliah ini. Makanya aku males gangguin. Kapan lagi kan mereka punya waktu liburan berduaan. " sahut ku menjelaskan dan membuat Aldy mengangguk – angguk paham.Aku pun memilih untuk sibuk sendiri membaca mengenai jadwal study tour selama seminggu ini. Karena sebenarnya, jadwal kami lebih di sibukkan saat berada di Jawa Tengah karena kami praktek di kebun teh di daerah Pagilaran.Bahkan kami menginap di sana selama satu minggu walau hanya empat hari efektif untuk tour. Sedangkan di Jogja, kami hanya akan sibuk selama dua hari untuk berkunjung ke Universitas Gadjah Mada dan juga ke daerah pertanian di sekitar Merapi." mau ku bantu? " tanya Aldy begitu dirinya yang melihat ku kerepotan." gak usah kak. Udah biasa ini mah. " jawab ku sembari tersenyum berterima kasih." udah sering ya jadi asdos? " tanya dirinya sedikit tertarik." ini tahun ke tiga aku jadi asdos. " ujar ku menjawab pertanyaannya barusan." udah ke mana aja? " ucapnya penasaran." waktu jaman ku yang pergi, kami ke Malang. Tahun pertama jadi asdos ke Malang lagi, tahun ke dua ke Bandung. Tahun ini ke Semarang sama Jogja deh. "" sering ya. By the way, kamu udah lulus? Atau masih skripsian? " tanyanya lagi." udah lulus kok. Udah satu tahun terakhir ini. Sekarang lagi sibuk ngurus master ku. " jawab ku lagi dengan malu karena aku jarang mengumbar jika aku mengambil master ku." oh ya? Sama dong. Aku juga ngambil master di fakultas ekonomi. Baru aja sidang kemarin. Sekarang tinggal tunggu Wisuda. " ucap dirinya membalas ucapan ku dan membuat kami semakin bertukar cerita selama perjalanan kami.*****" Key, anak - anak di bis udah lengkap? " tanya Ibu Amy begitu aku keluar dari bis dan bergabung bersama Pak Husni, Bu Amy, Bu Listy, Haris dan juga Aldy. Sedangkan Putri dan Bu Rahma sejak tadi izin pergi ke toilet saat kami menuju ke bis yang akan mengantar kami selama kami di sini." kayaknya udah kok bu. Tadi saya juga udah minta baris kursi depan sama satu kursi di belakangnya di kosongkan buat ibu sama bapak duduk nanti sama kak Aldy juga. " sahut ku." lho. Cuma lima kursi aja dong berarti? Kenapa cuma lima aja? Kamu, Haris dan Putri gimana? " tanya Ibu Listy dengan kening berkerut karena kami hanya mengosongkan lima buah kursi di bagian depan bis." Jangan khawatir, kami bertiga santai aja kok bu. Kami bisa duduk di mana aja. Lagian hitungannya masih ada sisa enam kursi yang kosong nanti. Jadi kami bisa duduk di mana aja bu. " kali ini bukan aku yang menyahut. Tapi Haris, teman ku sesama Asdos bersama dengan Putri." gak mabuk memang kalian kalau dapet kursi di belakang? Lapula seingat bapak pas angkatan kalian yang study tour, kalian bertiga kan duduk paling depan. Mana rebutan gitu supaya dapet kursi di depan. Kamu juga Key, biasanya kamu duduk di baris depan kok. Yakin mau duduk di belakang? " tanya pak Husni sembari terkekeh, mengingat bagaimana bar - barnya kami dulu berebut kursi untuk duduk di dalam bus.Apalagi angkatan ku menjadi angkatan dengan jumlah study tour terbanyak. sekitar seratus lima belas orang dengan menggunakan dua bis berukuran besar." sekali - kali pak kami ngerasain duduk di belakang. " sahut ku tertawa mengetahui bagaimana pak Husni mengingat kebiasaan ku selama ini yang nyaris selalu dapat kursi di bagian depan. Bahkan beliau masih mengingat bagaimana rusuhnya angkatan kami study tour beberapa tahun lalu.*****" kak, kak. Kak Keysha. " panggil seorang mahasiswi yang duduk di baris ke empat di bus yang memang sedang ku lewati saat ini dan berhasil membuat ku menghentikan langkah ku dan berbalik memandang dirinya.Sebenarnya sekarang aku tengah memeriksa keadaan mereka, apakah sudah siap berangkat atau belum karena bis sudah siap berangkat. Bahkan ke tiga dosen, ibu Listy, Aldy sudah mulai masuk bis mengikuti aku, Haris dan Putri yang sudah terlebih dahulu masuk untuk mengecek semua mahasiswa." hm? Ya kenapa? " tanya ku sembari memandangnya begitu merasa dirinya memanggil ku sembari menarik tangan ku pelan." itu asdos juga kak? " tanya mahasiswi itu sembari menunjuk Aldy yang baru saja masuk ke dalam bis mengikuti bu Listy, ibunya." bukan. " sahut ku singkat yang langsung berpandangan dengan Haris dan Putri mencoba menebak apa yang ada di pikiran mahasiswi ini. Apalagi mahasiswi itu memandang Aldy dengan penuh rasa minat." terus? " tanyanya lagi tak pantang menyerah." emang tadi di ruang tunggu gak denger? Perasaan dia tadi udah ngenalin diri deh. " ujar ku memandang ke arah dirinya dengan pandangan bingung.Pasalnya, Aldy memang sudah memperkenalkan dirinya dan bu Listy saat di ruang tunggu tadi. Rasanya tak mungkin mahasiswi ini tak mendengar ucapan Aldy di sana." enggak kak. Tadi di ruang tunggu gue sibuk touch up. Kan mau jalan - jalan. Harus cetar dong. Lagian gue ikut study tour ini kan buat jalan - jalan. " ucapnya yang langsung membuat ku menarik nafas panjang dan lelah.Sepertinya study tour kali ini gak akan mudah. Dan ku lihat Putri langsung memutar ke dua bola matanya dengan malas karena mendengar jawaban mahasiswi ini." Kita pergi buat study tour dek. Bukan buat jalan - jalan. Nilai mata kuliah mu bergantung sama study tour ini. " ucap ku sepelan dan sejelas mungkin. Bagaimana pun nilai praktek study tour ini penting untuk kelulusan mata kuliah ini bagi mereka." biarin sih kak. Gue ini. Suka - suka gue dong mau gimana. Lagian kan nilai kami pasti A dong. secara kami udah rela ikut praktek beginian. " ujarnya yang terang saja langsung membuat ku malas meladeni. Aku pun memberi isyarat untuk Haris dan Putri menggantikan aku mengurus mahasiswi ini." siapa nama mu? " tanya Haris langsung mengambil alih.Beruntungnya, Haris langsung mengerti jika aku sudah malas mengurus mahasiswi satu ini sehingga dirinya yang menggantikan aku." Gheanda Safitri. Panggil aja Ghea ya kakak ganteng. " sahutnya dengan senyum - senyum tipis dan mencuri pandang ke arah Haris. Ucapannya ini berhasil menggeleng - gelengkan kepala ku tak mengerti dengan sikap mahasiswi satu ini.Sebenarnya jika di lihat - lihat, Haris cukup tampan dan memiliki banyak penggemar di kampus. wajar banyak yang naksir dengan Haris seperti mahasiswi ini. Tapi semenjak berpacaran dengan Putri dan berteman dengan ku, banyak dari fans - fans Haris mundur teratur. Tapi nampaknya ini tak berlaku untuk gadis ini." kenapa nanya - nanya cowok itu? " tanya Putri dengan nada tak bersahabat. Apalagi melihat pacarnya di goda di depan matanya langsung." ganteng. Gue naksir. " sahutnya lempeng seolah - olah itu adalah hal yang biasa saja." iya kak. Kakaknya cakep. "" iya cakep banget ih kakaknya, berasa pengen aku pacarin. "" pokoknya kudu kita bawa jalan keliling dia nanti. " tambah beberapa mahasiswi ikut menyahut membenarkan ucapan Ghea itu sembari memandang Aldy yang tengah berdiri di lorong sembari ngobrol ringan bersama ibunya dengan tatapan yang amat penuh minat." nih ya adek - adek sekalian. Nilai kalian tuh bergantung sama praktek ini. Serius sedikit. Lulusnya kalian semua tuh bergantung gimana kalian di praktikum ini dan gimana kalian bersikap selama praktikum ini. Kami gak akan segan - segan ngasih kalian nilai C bahkan D kalau kalian malah bikin malu kampus dan gak taat peraturan. Kami bertiga ikut buat bantuin Dosen ngurusin segala keperluan kalian. Jadi kalau kalian gak mau di atur ya jangan salahin kami kalo kami ngasih nilai seadanya. " ujar Putri panjang kali lebar guna menasehati gadis itu dan juga yang lain." jangan ngurusin cowok atau cewek cakep aja. " sindir ku pada beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang dari gelagatnya berencana melakukan pendekatan kepada lawan jenis selama study tour ini berlangsung.Dan begitu mendengar sindiran ku ini, beberapa langsung tersenyum malu karena niat mereka langsung terbaca dengan jelas oleh ku. Apalagi study tour kali ini cukup lama, yaitu sekitar lima belas harian. Sehingga tak menutup kemungkinan ada beberapa mahasiswa yang menjadikan study tour ini sebagai ajang pendekatan dengan kawan mereka satu angkatan sembari berjalan - jalan di daerah tempat study tour." Kalian boleh kok deketin siapa yang kalian taksir. Tapi harus inget waktu. Ada waktunya untuk kalian santai dan senggang, ada waktunya kalian harus serius. " tambah Haris sembari tersenyum tipis.Dapat ku lihat beberapa wajah penuh kelegaan beberapa mahasiswa dan mahasiswi begitu mereka mendengar ucapan Haris barusan. Sepertinya di perjalanan panjang kali ini, Haris mengambil peran Angel dan aku beserta Putri harus mendapat peran Devil. Membuat aku dan Putri yang saat ini berfikiran sama pun kembali menghela nafas panjang.*****" ini kalian semua pada gak ada yang mau duduk di depan apa ya? Masih ada lima kursi lho di depan nih. " tanya ku pada mahasiswa sembari mengedarkan pandangan ku kepada mereka semua begitu aku sudah berdiri di depan. ku lihat mereka sudah mendapat pasangan - pasangan duduk kecuali satu orang.Pasalnya, masih ada enam kursi kosong yang masih tersisa di depan selain kursi milik dosen dan bu Listy. Empat kursi di baris ke dua tepat di belakang dosen, satu kursi di baris ke tiga di sebelah kanan bus yang berada di samping Ghea, mahasiswi yang tadi menegur ku dan satu kursi yang terakhir berada di paling belakang di dekat WC bus.Kebetulan yang belum mendapat tempat duduk saat ini hanya tinggal aku, Aldy, Haris dan Putri saja. Sehingga nanti akan ada dua kursi yang kosong tak berpenghuni. Sedangkan koper - koper kami semua sudah di tata sedemikian rupa di bagasi yang ada di bawah bus." enggak kak. Biar kakak - kakak aja di depan. " tolak Bayu yang ku ketahui sebagai ketua angkatan mereka.Dan ucapan Bayu barusan langsung di iyakan oleh yang lain. Membuat ku, Haris dan Putri langsung duduk di tempat pilihan kami masing - masing.Aku memilih untuk duduk sendiri di dekat jendela sebelah kiri bus tepat di belakang Bu Listy dan Bu Amy, sedangkan Putri dan Haris di kursi sebelah Kanan, tepat di depan tempat duduk Ghea dan di belakang kursi Pak Husni yang duduk di samping Bu Rahma. Sedangkan Aldy masih saja mengobrol bersama ibunya dan ke tiga dosen, entah membahas masalah apa semenjak tadi.*****

BUKA HATI
Romance
14 Feb 2026

BUKA HATI

" Ta, Aji pulang tuh. " ujar kak Dhana pelan yang duduk di hadapan ku bersama dengan kak Abas. Saat aku, kak Dhana, kak Abas dan kak Fikri sedang berkumpul bersama di cafe yang tak jauh dari kantor kami masing - masing." oh. Udah pulang ya. " sahut ku tertunduk dengan senyum tipis. Ke tiga orang di hadapan ku ini pun terdiam karena melihat kelakuan ku saat ini." elo mau ketemu Aji gak? " tanya ka Fikri yang tepat duduk di samping ku sembari mengusap surai lembut ku setelah sekian lama terdiam. Membuat ku menoleh ke arahnya." gak usah deh. Gue gak mau bikin ribut kak. Elo semua kan tau sekarang gue salah satu orang yang paling dia benci. " ujar ku menolak penawaran kak Fikri dengan sedikit senyuman yang ku paksakan untuk ku tampilkan di hadapannya. Aku tau jika mereka semua mengerti ke mana arah ucapan ku ini." enggak lah Ta. Aji gak gitu kok. Lo kan tau gimana dia. Lagian lo sama dia kan punya cerita yang belum selesai. Selesaiin dulu. " sahut kak Abas lembut membantah ucapan ku dan mencoba membuat ku tak berfikiran yang macam - macam." ketemuan aja sama Aji, Ta. Sekalian jalin silatuhrami sama Aji. Nanti ketemuannya sama kami semua aja biar elo gak canggung. " ujar kak Dhana pada ku, mencoba untuk memaksa ku bertemu kak Aji dan membuat ku memikirkan bagaimana jadinya aku bertemu dengan kak Aji setelah empat tahun ini dirinya meninggalkan kota ini.*****Semua ini di mulai saat aku masuk kuliah delapan tahun yang lalu. Saat itu Aji adalah ketua himpunan jurusan ku yang baru saja di angkat. Dan kebetulan ketua himpunan sebelumnya adalah kakak sepupu ku yang berada satu tingkat di atas Aji dan ke tiga orang yang bersama dengan ku saat ini. Sehingga aku sudah cukup saling mengenal dengan Aji sebelum aku mulai kuliah di kampus itu karena aku sering ikut ke kampus saat aku masih duduk di bangku SMA.Semenjak aku mulai masuk kuliah, aku mulai dekat dengan kak Aji dan beberapa temannya. Termasuk ke tiga orang di dekat ku saat ini. Bahkan, tanpa sadar, aku sudah menyukai kak Aji semenjak itu. Dia selalu membantu ku dan memprioritaskan ku di atas semuanya. Dia selalu ada setiap aku memerlukan teman dan lagi – lagi, semua sikapnya ini membuat ku semakin menyukainya.Bahkan, untuk urusan kampus, mata kuliah, praktikum dan segala macam nya urusan kampus. Dirinya selalu membantu ku dan mengajari ku. Kak Bayu juga pernah membantu ku untuk mendapatkan beasiswa prestasi dan membuat ku berhasil untuk mendapatkannya.Nyaris semua teman di angkatan ku dan juga semua orang di angkatan dirinya mengira aku dan kak Aji pacaran. Dan itulah di mulai masalahnya. Kak Aji mulai terkesan menjauhi ku. Bahkan beberapa temannya merasa jika Kak Aji memang menjauhi ku. Aku yang tahu diri jika aku bukan siapa – siapanya pun hanya bisa membiarkan dirinya menjauh dari ku dan mencoba untuk melupakannya. Apalagi saat itu dirinya harus cuti kuliah karena sakit dan harus beristirahat. Hal itu sejujurnya membantu ku untuk melupakannya.Tapi, tiba – tiba dirinya kembali mengubungi ku dan menanyakan kabar ku. Dirinya juga menanyakan mengapa aku sudah tak pernah lagi menghubunginya seperti saat dulu kami berdua dekat. Aku yang bingung harus membalas apa pun hanya mengatakan jika aku sama sekali tak berubah dan aku sedang sibuk sehingga tak pernah menghubunginya.Saat itu kami berdua kembali dekat walau beberapa teman dekatnya mendukung kami berdua hanya setengah hati karena tahu jika kedekatan kami hanya akan menyakiti ku jika hal itu kembali terulang. Dan benar saja. Hal itu terjadi lagi untuk ke dua kalinya. Ketika kami sudah kembali dekat bahkan lebih dekat dari dulu, dirinya mulai menjauhi lagi saat di kampus mulai terdengar gosip – gosip miring mengenai kami berdua.Bukan hanya menjauhi ku, akibat gosip itu, kak Aji mulai membenci ku dan tak menyukai ku. Akhirnya, itu adalah alasan ku untuk ikut menjauh dari dirinya. Aku pun sadar diri untuk mundur teratur dari lingkaran hidup seorang Fahraji Saputra dan mulai menjaga jarak dengan dirinya hingga sampai saat ini.*****" mikirin apa Ta? Kok bengong? " tanya kak Fikir lagi sembari mengusap kepala ku karena aku tak membalas ucapan salah satu sahabatnya tadi dan justru melamun di saat mereka sedang memandang ku saat ini." enggak. Enggak papa kok. Tiba – tiba inget sama kak Aji aja pas jaman kuliah. " jawab ku tersenyum lemah dan membuat mereka bertiga mengatupkan bibir mereka.Mereka bertiga justru yang paling tahu bagaimana dulu aku dan Kak Aji. Mereka juga yang tahu bagaimana nyaris hancurnya aku saat itu. Bahkan IPK ku terjun bebas kalau saja setelah itu aku tak mengejar mata kuliah sisa habis – habisan." kenapa di inget terus sih yang dulu Ta? " tanya kak Fikri kesal." Jangan di inget - inget lagi yang udah dulu. Elo tau kan, kami bertiga dan Rian paling gak suka liat elo sehancur dulu. Walau kami sahabat Aji, elo udah kami anggap adik kami sendiri. Dan masa - masa itu sama sekali bukan hal yang enak buat di inget – inget. " ujar kak Abas tak suka.Dirinya marah karena aku mengingat jaman kuliah dulu sembari mengucapkan nama salah satu sahabatnya juga yang ku rindukan karena aku juga cukup akrab dengannya. Bahkan setelah aku lulus empat tahun yang lalu pun, ingatan bagaimana marahnya kak Aji pada ku itu masih saja terus menganggu dan menghantui ku." kalo elo mau, lusa kita ketemu sama Aji. Gimana? Siapa tau dia juga kangen sama lo kan? Lagian udah lama juga kita gak ketemu sama Aji. " tanya kak Dhana hati – hati pada ku. Aku yang memandang mereka satu persatu pun akhirnya menganggukkan kepala ku pelan menyetujui permintaan kak Dhana barusan." iya deh. " sahut ku pelan." santai aja, jangan tegang. Kan sama kita bertiga ketemuan sama Aji. Kita bertiga gak bakal biarin elo berdua aja ketemu Aji. Apalagi lo gak nyaman gini. " ujar kak Fikri sembari menarik tangan ku pelan untuk mendekat padanya dan membuat ku menyandarkan kepala ku di bahunya dengan nyaman." tau aja lo kalo gue gak nyaman. " ucap ku tersenyum tipis." jelas lah. Apa sih yang gak kita tau dari lo. " ujar kak Abas membalas ucapan ku sembari tersenyum memandang ku yang tengah bersandar di bahu kak Fikri. Membuat ku bersyukur karena sudah di anggap adik oleh mereka bertiga.*****" hai kak Aji. Apa kabar? " ujar ku pelan begitu dirinya duduk di hadapan ku yang tengah duduk bersama dengan kak Fikri dan kak Dhana.Sedangkan dirinya duduk di hadapan kami bertiga bersama dengan kak Abas yang memandang kak Aji dengan sedikit rasa khawatir karena pertemuannya dengan ku setelah empat tahun lamanya." ngapain lo di sini? Masih punya muka lo ketemu gue? " sembur kak Aji pada ku dengan nada tak suka yang sangat terasa oleh ku." Ji. " tegur kak Dhana dan kak Abas yang terkejut secara bersamaan, karena tak menyangka respon seperti ini yang akan keluar dari mulut sahabatnya itu. Sedangkan tangan kak Fikri langsung mengenggam tangan ku di bawah meja begitu mendengar bagaimana dinginnya respon sahabatnya itu." lo lupa? Elo udah bikin masa kuliah gue kayak neraka tau gak. Lo udah bikin gue dapet gosip yang enggak – enggak. Bahkan sampai gue lulus itu gosip gak hilang. Dan sekarang elo berani nampakin muka elo di hadapan gue?! Gak punya malu lo? " tanya kak Aji sarkas pada ku dan membuat genggaman kak Fikri di tangan ku semakin mengencang." sorry kak. Gue ke sini mau ketemu elo cuma mau minta maaf aja. Gue gak tau kalau elo sebenci ini sama gue. Gue gak tau kalau gosip yang tersebar dulu ternyata bikin elo gak nyaman. " sahut ku pelan nyaris berbisik dan tertunduk malu. Pasalnya beberapa pasang mata sedang mengarah ke arah kami berlima yang tengah duduk di salah satu cafe yang ada di kota ini." maaf lo bilang?! Gampang banget lo minta maaf! Gue gak butuh maaf lo. Lo udah rusak masa kuliah gue dan itu gak akan balik lagi. Jadi jangan harap gue mau kenal sama elo lagi. Lebih baik, elo pergi sekarang. Gue gak mau liat muka lo lagi. Gue ke sini mau nemuin sahabat – sahabat gue. Bukan orang yang ngancurin hidup gue. Lebih baik lo pergi dari hadapan gue sekarang. " ucapnya panjang lebar sambil menggebrak meja dan membuat ku terpekik tertahan. Bahkan ulahnya ini membuat kak Abas langsung menahan bahunya untuk tak melakukan hal - hal yang di inginkan.Air mata ku pun mulai merebak keluar karena terkejut dan sedih akibat ucapan dan ulahnya kak Aji ini. Dan satu hal yang aku tau, datang ke sini untuk bertemu dengannya adalah kesalahan yang sangat besar dan menyakitkan hati ku." sabar dong Ji. Merta kan cewek. Jangan kasar sama cewek Ji. " tegur kak Dhana yang mengelus punggung ku yang tertunduk tak berani memandang mereka semua karena dirinya tau aku syok akibat ulah kak Aji ini." buat apa sih elo semua bawa dia ke sini?! Gue mau ketemu elo semua karena elo sahabat gue. Bukannya seneng ketemu temen lama malah makan hati ketemu ini perempuan! " umpat kak Aji di hadapan ku dan membuat tubuh ku sedikit bergetar karena terkejut." Ji! " tegur kak Fikri yang buka suara karena merasakan tangan ku yang semakin bergetar karena ketakutan atas ulah kak Aji barusan.Dapat ku dengar nada suara kak Fikri yang dingin dan marah. Aku tau, dirinya saat ini sedang dalam kondisi hati yang tak baik. Bahkan genggaman tangan kak Fikri tetap menguat. Membuat ku mencoba mengelus tangannya yang menggengam tangan ku untuk menurunkan emosinya. Aku tau emosi tak akan bisa di balas dengan emosi jika dalam keadaan seperti ini. Aku pun memilih untuk mengalah dan meninggalkan mereka berempat." ya udah kalau gitu. Gue pamit aja ya. Suasananya udah gak baik lagi kayaknya. Lebih baik gue pulang duluan aja ya. " ucap ku memahami situasi saat ini yang sudah sangat panas." bagus deh lo pergi. Gak usah nampakin muka lo sekalian di depan gue. " ujar kak Aji kasar dan membuat ku menghela nafas sembari menutup ke dua mata ku guna menetralkan hati ku yang semakin sakit mendengar ucapannya." gue pamit ya kak. Duluan ya. " ucap ku sembari berdiri seraya memaksakan tersenyum tipis di hadapan mereka semua untuk mengatakan jika aku baik - baik saja." elo pulang gimana? Tadi di jemput Fikri kan. Di anter Fikri lagi aja ya? " tanya kak Dhana sembari menahan tangan ku." gak usah kak. Gue gampang kok. Nanti gue naik taksi aja. Lagian elo semua udah lama gak ketemu kan. Ngobrol aja dulu. " tolak ku pelan sembari menggelengkan kepala ku.Aku tau jika kak Fikri, kak Abas dan kak Dhana tau alasan ku sebenarnya menolak usulan kak Dhana ini. Aku pun melepaskan tangan kak Dhana dari tangan ku dan mulai beranjak meninggalkan mereka berempat sembari tertunduk menahan tangis.*****" Ta! Tunggu! " seru kak Abas sembari mengejar ku bersama dengan kak Fikri dan kak Dhana. Meninggalkan kak Aji sendirian di meja." kenapa kak? ngapain ngejar gue? Kasian kak Aji sendirian di sana. Sana gih. Temenin kak Aji. " pinta ku pelan dengan suara bergetar dan membuat kak Abas langsung menarik ku ke dalam pelukannya.Membuat ku akhirnya menyerah dan mulai terisak pelan di dalam pelukan hangatnya sembari melingkarkan tangan ku di tubuhnya. Sakit rasanya harus mendapat perlakuan seperti itu dari seseorang yang pernah menjadi laki – laki spesial di hidup ku. Apalagi, aku tetap menyimpan rasa untuknya nyaris delapan tahun ini." bodoh. Gimana gue bisa tenang kalo liat elo jalan sambil nunduk gitu. Elo tuh susah bohong kalo sama kita - kita Ta. "" i'm fine kak. Gue udah duga gak akan bisa minta maaf sama kak Aji. Apalagi dia segitu bencinya dia sama gue. Jadi ya udah. Gue gak apa. " jawab ku terbatas di sela tangis ku dan mencoba untuk menguatkan diri ku sendiri." tapi lo jadi begini kan. Lo nangis gara - gara Aji. " sahut kak Dhana tak suka." gak papa. Gue beneran gak papa kok. Nanti jangan bahas gue lagi ya pas kalian ngobrol. Kasian kak Aji. " pinta ku pada mereka bertiga." lo kenapa masih mikirin dia sih pas udah kayak gini. " sahut kak Abas marah pada diri ku yang masih saja memikirkan orang yang sudah membuat ku menangis seperti ini." kasian dia kak. Dia pasti kangen sama elo semua. Kalian udah lama gak ketemu kan. Jangan bikin mood dia jadi jelek kak. " ujar ku menggelengkan kepala ku seraya meminta pada mereka dan langsung saja mengiyakan permintaan ku barusan." iya, iya. " ujar kak Abas sembari melepaskan pelukannya pada ku dan mengusak - usai kepala ku dengan lembut." gue anter aja ya? Jangan pulang sendiri. Apalagi lo gini. " tanya kak Fikri begitu aku melepaskan pelukan ku dan kak Abas dan membuat ku menggeleng sembari memandang wajah tampannya." gak usah kak. Bener deh. Gue pulang sendiri aja. Gue lagi pengen sendiri soalnya. Ya? " ujar ku meminta pengertian mereka bertiga dan membuat mereka bertiga mau tak mau akhirnya mengiyakan ucapan ku barusan dan membiarkan aku pergi meninggalkan mereka sembari terus menundukkan kepala ku." ya udah. Tapi kalo lo udah sampe rumah nanti, kabarin kami bertiga. " ujar kak Dhana yang hanya ku balas dengan anggukan kepala dan tetap melanjutkan langkah ku untuk pergi." kalo sampe Merta kayak dulu lagi, gue mungkin bakal ngancurin Aji dari sekarang. Bahkan mungkin ngancurin persahabatan kita semua. " ucap kak Fikri pada ke dua sahabatnya ini sembari menatap diri ku yang mulai berjalan menjauh dengan kepala yang terus menerus menunduk. Dan ucapannya ini berhasil membuat kak Abas dan kak Dhana hanya bisa saling berpandangan. Karena jika kak Fikri sudah bertekad, susah untuk di hentikan atau di lawan.*****" elo kenapa sih Ji. Kasar banget sama Merta. Elo gak harus kan sekasar itu sama dia. Kasian Merta, Ji. Delapan tahun dia nunggu lo, tapi lo malah gini. " tanya kak Abas tak habis fikir begitu mereka kembali duduk bersama dengan kak Aji. Apalagi dirinya tau jika kak Aji bukan orang yang sekasar itu." harusnya gue yang nanya. Elo semua kenapa sih pake acara bawa dia segala. Bukannya seneng ketemu kalian, malah emosi gue. Lagian kalian kasian sama dia, kalian mikir gak gimana gue selama kuliah?! Bisa - bisanya kalian malah bawa dia ke sini! " semprot kak Aji tak suka dengan kelakuan ke tiga sahabatnya ini." elo tuh gimana sih Ji. Jelas - jelas selama kuliah, dia selalu elo bantuin dulu. Apa - apa dia, apa - apa dia. Giliran dia suka sama elo sampe sekarang, kenapa elo marah - marah sih. " tanya kak Dhana yang tak mengerti sikap sahabatnya satu ini sembari menyambung pertanyaan kak Abas pada kak Aji." aneh lo! Sikap elo selama ini ke dia yang bikin dia suka sama elo. Terus kenapa sekarang kasar banget sih. Udah berapa tahun ini dia suka sama elo. Malah lo kasar kayak gini. " kak Fikri ikut menanyai kak Aji dengan nada kesal." lo bertiga gak usah ngarang deh! Mana pernah gue baik - baikin dia. Lagian gue selama ini juga biasa aja sama dia. Dia aja yang terlalu baper sama gue! Cewek Halu! " sahut kak Aji dengan nada ketidaksukaan yang sangat tersirat." alah! Bullshit! Semua orang di kampus juga tau kalo elo terlalu baik dan terlalu memprioritaskan Merta. Bahkan perlakuan elo beda ke orang - orang yang ada selain Merta. Lo tanya aja sama anak - anak kampus dulu. Boong mereka gak tau kalo selalu sama Merta dulu! " sahut kak Fikri geram karena ucapan kak Aji ini tak sesuai dengan apa yang mereka lihat." orang - orang kampus juga tau Ji. Elo gimana sama Merta saat kuliah dulu. Kita bertiga saksi hidupnya elo gimana sama Merta dulu. " ucap Kak Dhana ikut kesal pada sahabatnya ini." lo lupa Ji? Dia yang ada di dekat elo selama elo kuliah. Bahkan pas elo sakit sampe masuk rumah sakit dulu aja Merta yang tiap hari jengukin elo. Pas semua temen - temen lo gak ada yang terlalu perduli sama elo yang di rumah sakit, Merta kan yang ngurusin lo? Tiap hari bolak balik kampus rumah sakit buat siapa?! Buat elo Ji! Kenapa sekarang elo jadi kayak orang gak tau terima kasih sih?! " runtuk kak Abas.Pasalnya mereka tau saat kak Aji sakit dulu, dirinya pernah masuk rumah sakit. Dan aku adalah orang yang sering bergantian dengan mereka bertiga bersama kak Rian untuk menjenguk dan menjaga kak Aji selama di rumah sakit. Apalagi keluarga kak Aji saat itu sudah pindah ke kota lain. Sehingga dirinya sendirian di kota ini dan tak ada yang menjaganya selama terbaring di rumah sakit." udah lah. Gak usah lo bahas tuh cewek. Kalo lo bahas dia terus. Mending gue balik aja. Males gue bahas hal yang gak penting beginian. " ujar kak Aji berbalik kesal pada ke tiga sahabatnya ini.Dan membuat ke tiga sahabatnya ini mau tak mau mengiyakan ucapan kak Aji karena mereka tak ingin membuat mood kak Aji semakin buruk. Apalagi mereka sudah berjanji pada ku untuk tak membahas tentang diri ku saat mereka sedang bersama dengan kak Aji seperti saat ini." iya, iya Ji. "" hmm. "" serah lo deh. " bergantian kak Abas, kak Dhana dan kak Fikri akhirnya memilih untuk tak membahas tentang diri ku lagi. Mereka terpaksa menghentikan membicarakan masalah ku dengan kak Aji dari pada membuat sahabatnya ini benar - benar pergi meninggalkan mereka.*****

Sad Little Fairy
Fantasy
14 Feb 2026

Sad Little Fairy

"Archie, kau kah itu?""Tolong aku, Archie, keluarkan aku dari sini ....""Tempat apa ini Archie? Aku takut sekali."Siluet seorang gadis kecil sedang berdiri di depan jeruji besi di dalam kegelapan. Tubuh gadis itu bergetar, terisak. Kilatan cahaya memantul dari salah satu pipinya yang basah oleh air mata."Chiara, kau kah itu?"Archibald mendekati gadis yang sedang menangis itu perlahan. Iris mata hijau sang gadis menatap Archibald nanar, meminta pertolongan."Archie..." Sapa gadis kecil itu dengan suara serak. "Aku ingin pulang. Tolong, keluarkan aku dari sini, Archie," lirihnya.Archibald hendak meraih tangan gadis itu, tetapi beberapa sosok kesatria elf mendadak muncul membuka jeruji besi dan menarik kasar tangan gadis itu menjauh."Chiara... Tidak! Chiara!"Archibald terbangun dari tidurnya. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Napasnya memburu. Mimpi barusan terasa sangat nyata bagi Archibald."Kau memimpikan gadis manusia itu lagi, Archibald?" sapa Claude yang sedari tadi rupanya telah ada di samping Archibald."Kau...?" Archibald terkejut menyadari salah satu saudaranya telah berada di dalam ruangan pribadinya, bahkan melihat ke dalam mimpinya. "Apa yang tidak kau ketahui, Claude?!" dengusnya sarkas.Claude tergelak. "Kau selalu saja kasar, Archibald. Bahkan, di saat kondisimu seperti ini."Archibald hendak bangkit dari posisinya yang sedang berbaring, tetapi ia mengerang saat merasakan tubuhnya yang terasa nyeri dan kaku. Alhasil, ia kembali merebahkan tubuhnya. Archinald meringis sembari melihat tumpukan dedaunan yang menempel pada beberapa bagian permukaan tubuh. Penghidunya pun mencium aroma herbal yang sangat menyengat. Ia lantas menatap Claude meminta penjelasan."Kau terkena sihir tadi malam. Sihir hitam. Kau dan Elijah menyerang Putra Mahkota. Kalian bertiga mengalami luka-luka luar yang cukup parah. Tatianna dan Elwood juga. Kalian bertingkah sangat aneh tadi malam," ucap Claude hati-hati."Apa? Sihir hitam? Bagaimana bisa sihir hitam menembus segel di perbatasan Hutan Larangan dan menyerang kerajaan Avery?" Archibald mengerutkan alis seolah tidak percaya dengan apa yang diucapkan Claude.Claude menggeleng pelan sambil menatap Archibald dengan putus asa. "Aku tidak tahu pasti bagaimana sihir hitam itu bisa menembus segel, aku melihat cahaya keunguan memancar di dada kalian. Maurelle yakin cahaya itu adalah sihir hitam dan... " Claude agak ragu untuk melanjutkan kata-katanya. Ia melihat Archibald yang meringis saat mengubah posisinya untuk duduk bersandar di atas pembaringan."Lebih baik kau istirahat dulu, Archibald.""Dan, apa?" tanya Archibald sambil memegangi lengan atasnya yang terasa ngilu."Apakah kau tidak mengingat apapun?" Claude balik bertanya.Archibald menggeleng pelan. Ia mencoba mengingat-ingat kejadian malam itu, tetapi ia sama sekali tidak dapat mengingat apapun. Tiba-tiba, ia merasa kepalanya sedikit pusing. Ia memijit pelipisnya pelan untuk meredakan sakit yang dirasakannya.Claude mengembuskan napas panjang. Ia khawatir dengan keadaan saudaranya itu. "Mungkin sebaiknya aku kembali lagi nanti. Kau perlu istirahat yang banyak, Archibald.""Apa yang sebenarnya terjadi, Claude?" Archibald bersikeras ingin mendengar cerita lengkap mengenai kejadian yang tak dapat diingatnya itu. Rahangnya mengeras."Kau mengenal Ammara, bukan? Gadis itu saat ini sedang ditahan di ruangan bawah tanah. Sihir hitam berhasil masuk ke Istana Avery melalui mata kalung yang ia kenakan. Menurut Maurelle, mata kalung itu berasal dari Hutan Larangan," jelas Claude."Apa? Ammara?" Archibald terkejut. "Tidak mungkin, Claude. Maurelle pasti salah paham," ucap Archibald. Ia bangkit dari posisi bersandarnya."Aku kira kau membenci peri perempuan itu." Claude menyunggingkan seulas senyum yang segera sirna saat ia melanjutkan ucapannya. "Peri perempuan itu adalah anak Ailfryd dan Ella dari Fairyfarm. Mereka adalah peri yang baik. Aku juga tidak melihat sesuatu yang buruk dari Ammara, walaupun ia memang tampak sedikit aneh. Entahlah. Aku rasa kita harus menyelamatkannya, Archibald, sebelum sidang Dewan Peri dilakukan."Archibald menatap Claude khawatir. "Sidang Dewan Peri? Apa Maurelle tidak ingin menyelidikinya terlebih dahulu? Tidak mungkin peri ceroboh seperti itu bersekutu dengan para unsheelie."Claude terpana mendengar kata-kata Archibald. Saudaranya itu jelas-jelas mengkhawatirkan Ammara, tetapi ia tetap saja mengatai peri perempuan itu ceroboh."Aku tahu. Maurelle pasti menyelidikinya, Archibald. Namun, Maurelle tidak dapat mengambil keputusan sendiri. Ini tidak akan mudah baginya. Dia juga harus mendengar pertimbangan Dewan Peri lainnya. Aku pikir lebih baik kita bertindak juga. Aku meminta bantuanmu untuk menemukan bukti bahwa Ammara tidak bersalah. Kita harus pergi ke Hutan Larangan. Kau satu-satunya yang bisa masuk ke sana dengan selamat. Kita harus tahu dari mana asal kalung itu, Archibald. Aku harap kau bersedia membantu.""Peri itu benar-benar menyusahkan!" Archibald berdecak. "Aku harus bertemu dengannya dulu, Claude.""Aku tidak yakin kau bisa bertemu dengannya. Peri yang akan disidang oleh Dewan Peri tidak boleh bertemu dengan siapapun. Itu protokol Istana Avery, kau ingat 'kan? Bahkan ibunya sendiri tidak bisa menemuinya."Archibald memiringkan kepalanya, menatap Claude bingung. "Peri yang malang," gumamnya. "Aku akan berbicara pada Maurelle atau ayah. Kita harus mendapatkan cukup banyak keterangan dari peri itu supaya kita bisa menolongnya.""Aku pernah bertemu dengannya di perbatasan Hutan Larangan. Dia bersama Elwood. Namun, aku rasa mereka hanya berjalan-jalan di sekitar sana," lanjut Archibald sambil menerawang."Elwood?""Ya. Aku juga bertemu dengan Elijah saat itu. Dia berhasil keluar dari Hutan Larangan." Archibald melanjutkan. "Jadi, aku bukan satu-satunya peri di kerajaan Avery yang bisa keluar masuk Hutan Larangan dengan leluasa, Claude.""Elijah memasuki Hutan Larangan?" Claude tampak berpikir keras. Setahunya tidak semua peri bisa keluar masuk Hutan Larangan tanpa terkena sihir hitam. Hanya para peri dengan kemampuan khusus seperti Archibald atau peri yang merupakan keturunan langsung dari peri unsheelie. Seingatnya, Elijah hanya peri biasa yang tidak memiliki kemampuan sihir.Archibald mengangguk. "Kami bertemu di perbatasan Hutan Larangan. Entahlah. Sepertinya ada sesuatu yang Elijah sembunyikan dari kita.""Apa Elijah dan Ammara saling kenal?" tanya Claude lagi."Aku rasa tidak. Mereka sepertinya baru bertemu pertama kali di sana."Claude terdiam beberapa saat. Ia sedang mempertimbangkan sesuatu."Kita harus mengumpulkan banyak saksi dan bukti bahwa dia adalah peri yang baik. Secepatnya. Sebelum Ammara disidang oleh para Dewan Peri," ucapnya pelan. "Jika Ammara telah disidang tanpa ada pembelaan yang cukup, aku khawatir ia akan langsung diasingkan ke Hutan Larangan. Bagaimanapun, memiliki batu yang berasal dari Hutan Larangan adalah hal yang tidak dapat diterima para Dewan Peri. Apalagi batu itu telah membahayakan Putri dan para Pangeran."Archibald berusaha berdiri dari duduknya sambil meringis menahan otot pahanya yang terasa nyeri. Claude segera meraih tangannya dan membantunya berdiri."Waktu kita tidak banyak," desis Archibald seraya mencoba berdiri dengan seimbang."Kau masih harus istirahat yang banyak dulu, Archibald," sergah Claude."Aku sudah merasa lebih baik. Aku ingin bertemu dengan Maurelle," ucap Archibald sambil berjalan sedikit tertatih melewati Claude yang masih bergeming menatapnya.Peri tampan bermanik kelam itu menatap punggung Archibald yang berjalan menjauh dari pandangan. Ia menyunggingkan seulas senyum melihat pangeran dingin yang selama ini ia kenal tampak sangat bersemangat untuk menyelamatkan seorang peri.* * *Ammara meringkuk di dalam kegelapan ruang tahanan bawah tanah kerajaan Avery. Seberkas cahaya yang masuk dari celah ventilasi menerpa kelopak matanya yang tertutup. Ia menggeliat, meregangkan otot-ototnya yang kaku karena berbaring di lantai dingin sepanjang malam. Matanya perlahan terbuka, menampakan iris hijaunya yang berkilat diterpa seberkas cahaya matahari.Ammara mengernyit dan bangkit perlahan dari posisinya. Ia menatap sekitar dengan gamang. Ternyata ia masih berada di ruangan itu. Ia tidak bermimpi."Ibu ..." Lirihnya.Ammara membayangkan sosok Ella yang sedang mengolah plum di rumah cendawannya. Ella dengan kedua tangannya yang sibuk sambil bersenandung pelan di atas sebuah dipan. Ella yang menyambutnya dengan senyum penuh kasih saat Ammara bangun tidur setiap pagi. Bayangan itu lantas memudar berganti keremangan dan dingin lantai batu.Ammara sangat merindukan Ella. Ia tidak pernah merasa serindu ini sebelumnya."Ibu ..." lirihnya lagi.Pagi itu tidak ada Ella. Pagi itu hanya ruangan gelap dan dingin yang menyambutnya. Ammara memeluk kedua lutut dan membenamkan wajahnya di sana. Tubuhnya bergetar. Ia menangis lagi. Entah untuk yang keberapa kali.

Asal Mula Nama Palembang
Folklore
14 Feb 2026

Asal Mula Nama Palembang

Pada zaman dahulu, daerah Su­matra Selatan dan sebagian Pro­vinsi Jambi berupa hutan belan­tara yang unik dan indah.Puluhan su­ngai besar dan kecil yang berasal dari Bukit Ba­ris­an, pegunungan sekitar Gunung Dempo, dan Danau Ranau mengalir di wila­yah itu. Maka, wilayah itu dikenal dengan nama Ba­tanghari Sembilan. Sungai besar yang meng­alir di wilayah itu di antaranya Sungai Komering, Sungai Lematang, Sungai Ogan, Su­ngai Rawas, dan beberapa su­ngai yang ber­­mu­ara di Sungai Musi.Ada dua Su­ngai Musi yang ber­muara di laut di da­er­ah yang ber­dekat­an, yaitu Sungai Musi yang me­­lalui Palembang dan Sungai Musi Ba­nyuasin agak di sebelah utara.Karena banyak sungai besar, dataran ren­dah yang melingkar dari daerah Jambi, Su­ma­tra Selatan, sampai Provinsi Lam­­­pung merupakan daerah yang banyak mem­­­­pu­nyai da­nau kecil. Asal mula danau-danau kecil itu ada­lah rawa yang di­ge­nangi air laut saat pasang. Sedangkan kota Palem­bang yang dikenal sekarang me­­nu­rut se­­jarah adalah sebuah pulau di Su­ngai Me­layu. Pulau kecil itu berupa bu­kit yang di­­beri nama Bukit Seguntang Mahameru.Keunikan tempat itu selain hutan rim­ba­­nya yang lebat dan banyaknya danau-danau kecil, dan aneka bunga yang tumbuh subur, sepanjang wilayah itu dihuni oleh seorang dewi bersama dayang-dayangnya. Dewi itu disebut Putri Kah­yangan. Sebenarnya, dia bernama Putri Ayu Sundari. Dewi dan dayang-dayang­­nya itu mendiami hutan rim­ba raya, lereng, dan puncak Bukit Baris­an serta ke­pulauan yang sekarang dikenal dengan Ma­laysia. Mereka gemar da­tang ke daerah Batanghari Sembilan untuk ber­cengke­rama dan mandi di danau, sungai yang jernih, atau pantai yang luas, landai, dan panjang.Karena banyaknya sungai yang ber­­muara ke laut, maka pada zaman itu para pe­layar mudah masuk melalui sungai-sungai itu sampai ke dalam, bah­kan sampai ke kaki pe­gunung­an, yang ter­nyata dae­­rah itu su­bur dan makmur. Maka ter­jadi­­lah ko­muni­­ka­si antara para pe­dagang ter­masuk pedagang dari Cina de­ngan pen­­­duduk setempat. Daerah itu men­jadi ramai oleh per­da­gang­an antara pen­duduk setempat denga­n pe­dagang. Akibat­nya, dewi-dewi dari kah­yangan merasa ter­gang­gu dan men­cari tempat lain.Sementara itu, orang-orang banyak datang di sekitar Sungai Musi untuk mem­buat rumah di sana. Karena Sumatra Sela­tan merupakan dataran rendah yang be­rawa, maka penduduknya membuat rumah yang disebut dengan rakit.Saat itu Bukit Seguntang Mahameru menjadi pusat perhatian manusia karena tanahnya yang subur dan aneka bunga tubuh di daerah itu. Sungai Melayu tempat Bukit Seguntang Mahameru berada juga menjadi terkenal.Oleh karena itu, orang yang telah ber­­­­mukim di Sungai Melayu, terutama pen­duduk kota Palembang, sekarang me­nama­kan diri sebagai penduduk Sungai Melayu, yang kemudian berubah menjadi pen­duduk Melayu.Menurut bahasa Melayu tua, kata lembang berarti dataran rendah yang ba­nyak digenangi air, kadang tenggelam kadang kering. Jadi, penduduk dataran ting­gi yang hendak ke Palembang sering me­ngatakan akan ke Lembang. Begitu juga para pendatang yang masuk ke Sungai Musi mengatakan akan ke Lembang.Alkisah ketika Putri Ayu Sundari dan pengiringnya masih berada di Bukit Segun­tang Mahameru, ada sebuah kapal yang mengalami kecelakaan di pantai Sumatra Selatan. Tiga orang kakak beradik itu ada­lah putra raja Iskandar Zulkarnain. Mere­ka selamat dari kecelakaan dan terdampar di Bukit Seguntang Mahameru.Mereka disambut Putri Ayu Sundari. Putra tertua Raja Iskandar Zulkarnain, Sang Sa­purba kemudian menikah dengan Putri Ayu Sundari dan kedua saudaranya me­nikah dengan keluarga putri itu. Karena Bukit Seguntang Mahameru ber­diam di Sungai Melayu, maka Sang Sa­purba dan istrinya mengaku sebagai orang Melayu. Anak cucu mereka kemudian ber­­­kem­bang dan ikut kegiatan di daerah Lem­bang. Nama Lembang semakin terke­nal. Kemudian ketika orang hendak ke Lembang selalu mengatakan akan ke Pa­lem­bang.dalam bahasa Melayu tua menun­juk­kan daerah atau lokasi. Per­tum­buh­an ekonomi semakin ramai. Sungai Musi dan Su­­­­ngai Musi Banyuasin menjadi jalur per­dagangan kuat terkenal sampai ke negara lain.

Beginde Lubuk Gong
Folklore
13 Feb 2026

Beginde Lubuk Gong

Alkisah, pada zaman dahulu kala, di daerah Sumatra Selatan, ada seorang beginde (kepala desa) yang kaya raya bernama Beginde Lubuk Gong. Ia sangat ketat menjalankan adat dan tidak segan-segan memberi hukuman kepada warganya yang melanggar adat tersebut. Meski demikian, rakyatnya merasa tidak terbebani dengan hal itu. Justru dengan aturan adat itu, rakyatnya dapat hidup aman dan makmur.Beginde Lubuk Gong mempunyai anak gadis yang cantik dan cerdas bernama Putri Lubuk Gong. Kecantikan dan keelokan perangainya senantiasa mengundang decak kagum setiap pemuda yang melihatnya. Tak heran banyak pemuda dari desa-desa lain datang melamarnya. Namun, Beginde Lubuk Gong selalu menolak setiap lamaran yang datang, karena belum satu pun pelamar yang mampu memenuhi persyaratan yang diajukannya.Pada suatu hari, datanglah utusan putra seorang Beginde dari sebuah desa hendak melamar Putri Lubuk Gong. Lamaran itu mereka sampaikan langsung kepada Beginde Lubuk Gong.“Maaf, Tuan! Maksud kedatangan kami kemari adalah ingin menyampaikan lamaran putra Beginde kami,” ungkap juru bicara utusan itu.“Ketahuilah, wahai utusan! Sudah banyak utusan yang datang kemari, tapi belum ada yang sanggup memenuhi persyaratanku,” kata Beginde Lubuk Gong.“Kalau boleh kami tahu, apakah persyaratan Tuan itu?” tanya ketua utusan itu.“Pakaian tujuh pasang, baju kain salinan 42 lusin, itik dan ayam sekandang penuh, merpati *seraban,kayu bakar setinggi bukit, batang tujuh buah, dan serai kunyit seladang lebar,” jawab Beginde Lubuk Gong.“Bagaimana? Apakah kalian sanggup memenuhi syarat tersebut?” Beginde Lubuk Gong balik bertanya kepada utusan itu.“Sesuai dengan pesan Beginde kami, sebesar apapun permintaan yang Tuan ajukan, Beginde kami akan menyanggupinya,” jawab utusan itu.“Baiklah kalau begitu, lamaran kalian aku terima,” kata Beginde Lubuk Gong.“Terima kasih, Tuan! Berita gembira ini akan kami sampaikan kepada Beginde kami,” kata ketua utusan itu.Setelah mendapat persetujuan dari Beginde Lubuk Gong, para utusan putra Beginde kembali ke desanya untuk menyampaikan berita gembira itu kepada Beginde mereka. Alangkah senang hati Beginde mendengar berita gembira itu. Ia pun memerintahkan kepada seluruh warganya untuk mengumpulkan barang-barang bawaan sesuai dengan permintaan Beginde Lubuk Gong. Sudah berminggu-minggu mereka bekerja keras, namun hingga pada hari yang telah ditentukan barang-barang bawaan yang mereka kumpulkan belum memenuhi permintaan Beginde Lubuk Gong.Sementara itu di tempat lain, Beginde Lubuk Gong bersama keluarga dan warganya sibuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyambut kedatangan rombongan dari pihak pelamar yang akan mengantarkan barang-barang bawaan. Sudah seharian penuh mereka menunggu, namun belum ada tanda-tanda kedatangan rombongan tersebut. Pada hari-hari berikutnya, Beginde Lubuk Gong terus menunggu kedatangan rombongan tersebut, namun mereka tak kunjung datang.Hari, pekan, dan bulan, bahkan tahun telah berlalu, rombongan dari pihak pelamar belum juga datang. Pada awal tahun ketiga barulah mereka datang dengan arak-arakan laki-laki dan perempuan yang memikul dan menjunjung barang bawaan. Beginde Lubuk Gong pun menyambut kedatangan mereka secara sederhana. Ia pun segera menerima dan memeriksa barang-barang bawaan dan ternyata semuanya lengkap dan sesuai dengan permintaannya.Hatinya pun sangat senang dan terpukau karena semua permintaannya terpenuhi. Namun satu hal yang membuat hatinya kecewa, karena keterlambatan para utusan mengantar barang-barang bawaan tersebut.“Kalau boleh aku tahu, mengapa kalian terlambat mengantarkan barang-barang bawaan ini kemari, sehingga kami harus menunggu selama dua tahun?” tanya Beginde Lubuk Gong.“Maafkan kami atas keterlambatan ini, Tuan! Untuk memenuhi seluruh permintaan Tuan, ternyata kami memerlukan waktu yang cukup lama. Sudilah Tuan memakluminya dan menerima barang-barang bawaan ini,” jawab ketua rombongan itu.Mulanya Beginde Lubuk Gong ingin marah dan membatalkan pertunangan putrinya dengan Putra Beginde. Namun setelah mendengar penjelasan dari ketua rombongan tersebut, akhirnya ia memakluminya.“Baiklah, barang-barang bawaan ini aku terima. Sekarang tinggal menuggu hari baik untuk melangsungkan pernikahan putriku dengan putra Beginde kalian. Pesta pernikahan ini akan dilangsungkan selama tujuh hari tujuh malam. Untuk itu, aku harus mempersiapkan segala keperluan pesta besar ini,” ungkap Beginde Lubuk Gong.“Baiklah, Tuan! Kami akan menunggu kabar selanjutnya dari Tuan,” kata ketua rombongan itu seraya berpamitan dan meninggalkan rumah Beginde Lubuk Gong.Keesokan harinya, Beginde Lubuk mengumumkan kepada seluruh rakyatnya bahwa dia akan segera menikahkan putrinya. Rakyatnya pun sangat senang karena akan ada pesta besar selama tujuh hari tujuh malam. Mereka pun segera mempersiapkan segala keperluan untuk menyambut pernikahaan Putri Beginde. Mereka mulai menghias jalan-jalan dan rumah Beginde Lubuk Gong.Untuk memenuhi kebutuhan pesta besar itu, Beginde Lubuk Gong harus pergi ke negeri lain untuk berbelanja. Ia berangkat bersama para pembantunya dengan menggunakan **rejung.Karena begitu banyak barang harus dibeli, sehingga sebulan lamanya Beginde Lubuk Gong belum juga kembali.Putra Beginde, calon mempelai laki-laki, tidak sabar lagi menunggu hari pernikahannya. Pada suatu hari, ia mendengar desas-desus bahwa putri Beginde Lubuk Gong telah dipersunting oleh raja negeri yang didatangi oleh Beginde Lubuk Gong. Ia pun percaya begitu saja pada desas desus tersebut, tanpa terlebih dahulu menyelidiki kebenarannya.“Barangkali kabar ini ada benarnya. Sudah sebulan Beginde pergi ke negeri itu, tapi belum juga kembali. Padahal ia memiliki kesaktian yang tinggi, dalam waktu sekejap saja ia dapat berlayar ke negeri sejauh mana pun,” pikirnya.Semakin hari desas-desus tersebut semakin memekakkan telinga Putra Beginde. Ia mendengar kabar bahwa utusan raja yang akan melamar Putri Lubuk Gong telah tiba di Dusun Kertajaya, tidak jauh dari desa tempat tinggal Putri Lubuk Gong. Hati Putra Beginde pun semakin kesal sehingga timbul niatnya untuk membunuh calon istrinya. Tanpa berpikir panjang lagi, ia segera menuju ke rumah Beginde Lubuk Gong dengan membawa sebuah pedang panjang.Sementara itu, Putri Lubuk Gong yang mengetahui kedatangan tunangannya merasa sangat gembira dan segera bersolek dengan hiasan yang menawan. Ia mengira bahwa kedatangan tunangannya itu untuk bersilaturrahmi. Alangkah terkejutnya ia ketika hendak menemuinya di ruang tamu rumahnya, ia melihat calon suaminya itu sedang menggenggam sebuah pedang dengan wajah yang beringas. Tanpa diduganya, tiba-tiba sang Tunangan menebas lehernya. Putri Lubuk Gong pun tewas seketika. Ibu Putri Baginda yang melihat kejadian itu langsung menjerit dan bertanya kepada calon menantunya itu.“Hai, kenapa kamu membunuh calon istrimu? Apa salahnya? Padahal ia sangat mengharap kedatanganmu,” kata ibu Putri Lubuk Gong.“Tidak usah banyak dalih! Kalian telah memperdayaiku. Utusan raja yang akan melamar Putri Lubuk Gong telah tiba di Dusun Kertajaya. Beginde Lubuk Gong telah membuat janji untuk menikahkan Putri Lubuk Gong dengan raja itu!” seru Putra Beginde, calon suami Putri Lubuk Gong.Ibu Putri Lubuk Gong berusaha menjelaskan kepada calon menantunya bahwa desas-desus tersebut hanyalah fitnah. Namun, calon menantunya tidak mau menerima alasan apapun. Ibu Putri Gong pun tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali menangisi kematian putri semata wayangnya. Sementara Putra Beginde itu segera pergi meninggalkan rumah itu. Tak berapa lama kemudian, warga pun berdatangan ke rumah Beginde Lubuk karena mendengar ada suara tangis histeris. Mereka sangat terkejut ketika melihat Putri Lubuk Gong tergeletak bersimbah darah.“Apa yang terjadi dengan Putri Lubuk Gong?” tanya seorang warga kepada ibu Putri Lubuk Gong.Ibu Putri Lubuk Gong pun menceritakan semua kejadian yang menimpa putrinya. Setelah mendengar cerita itu, salah seorang warga segera menyampaikan berita duka itu kepada Beginde Lubuk Gong yang masih berada di negeri lain. Dengan kesaktiannya, Beginde Lubuk Gong memerintahkan angin berhembus, sehingga dalam sekejap rejungnya tiba di pelabuhan negerinya. Sesampainya di rumah, ia bersama warga segera mengebumikan putrinya. Setelah itu, ia memerintahkan para pengawalnya untuk menangkap calon menantunya itu.“Segera tangkap pembunuh itu dan bawa dia kemari hidup-hidup!” seru Beginde Lubuk Gong.Mendengar perintah itu, para pengawal itu segera mencari Putra Beginde. Tak beberapa lama kemudian, mereka pun kembali membawa Putra Beginde dengan tangan terikat.“Hai, Putra Beginde! Kamu telah membunuh putriku. Kamu harus mengganti nyawa putriku. Mulai detik ini, kamu tidak boleh lagi kembali ke rumahmu dan harus tinggal di sini sebagai ganti putriku!” seru Beginde Lubuk Gong.Keesokan harinya, Beginde Lubuk Gong membuang segala barang persiapan pernikahan putrinya ke dalam sungai, termasuk barang-barang bawaan Putra Beginde.

Cerita Putri Kembang Dadar
Folklore
13 Feb 2026

Cerita Putri Kembang Dadar

Ribuan tahun yang lalu sebelum berdiri kerajaan besar, telah berdiri kerajaan-kerajaan kecil, yang memiliki rajanya masing-masing.Salah satu kerajaan itu adalah kerajaan Hulu, juga berdirinya kerajaan yang dinamakan kerajaan Hilir.Diantara kerajaan ini terjadi suatu perselisihan, sehingga tampaknya tak pernah damai diantara keduanya, ada saja keributan yang terjadi diantara mereka.Disebuah pendopo kerajaan Hilir terlihat bersama-sama dengan para penggawanya dan juga para prajurit kerajaan, sepertinya tengah mengadakan rapat.Sepertinya raja Hilir tengah memimpin sebuah rapat, tampak jelas ada masalah yang penting tengah mereka bahas.“Apakah persiapan pasukan sudah betul-betul handal?” tanya raja Hilir yang sedang memimpin rapat tersebut.Seorang Panglima kerajaan berdiri dengan gagahnya,”baginda Raja, pasukan sudah siap untuk berangkat.”Di luar, dihalaman kerajaan, para prajurit tengah berbaris siap untuk menerima suatu perintah dari raja mereka , yaitu dari raja Hilir.Keluarlah Sang Raja dengah penampilan yang sangat perkasa, sembari ia memperhatikan pada semua yang ada, disaat itu ia berkata,”para prajurit sekalian, saya harapkan tugas kalian kali ini untuk mengalahkan kerajaan Hulu itu akan berhasil.” Perintah raja Hilir pada semua prajuritnya yang hadir.Setelah mereka mendengarkan perintah dan seruan itu, mereka berangkat dengan penuh semangat sekali.Pasukan kerajaan Hilir berangkat dengan menggunakan perahu yang besar, kini setiap tahun sekali bentuk perahu ini di meriahkan dengan cara lomba bidar.Yaitu setiap pada hari kemerdekaan republik Indonesia atau hari ulang tahun kota Palembang. Disebut perahu Bidar.Di kerajaan Hulu, seorang prajurit pengintai dengan sangat tergesa-gesa berlari-lari. Sepertinya ia akan menuju atau menghadap raja Hulu yang tengah berada di ruang kumpul istana raja.“Raja yang mulia, terlihat rombongan pasukan datang kemari,”ungkap prajurit itu ketika ia berada di hadapan raja Hulu.Dimana pada saat itu Sang raja tengah mengadakan rapat, karena terlihat semua para penggawa dan juga prajurit, serta  panglimanya juga hadir pada waktu itu.Raja Hulu hanya tersenyum, raja muda yang perkasa itu terdiam sembari ia berkata,”persiapkan pasukan, tunggu mereka datang di perbatasan kerajaan, lalu habisi mereka.”Ternyata benar bahwa kedatangan pasukan kerajaan Hilir itu, sesungguhnya sudah di ketahui oleh Raja Hulu, sehingga mereka telah mempersiapkan untuk penyambutan kedatangan mereka.Terdengar dengan lantang seruan dan teriakan, suatu aba-aba penyerangan yang di perintahkan oleh Raja Hulu, sepertinya pasukan Raja Hilir mendengar seruan itu dari arah kiri mereka.“Kudengar dengan jelas bahwa pasukan itu datang dari arah kiri, ungkap pimpinan pasukan kerajaan Hilir.Disisi lain pasukan prajurit kerajaan Hulu tengah bersiap-siap akan menyerang, sambil mereka mengendap-endap dibalik semak belukar itu, yang tepat berada di belakang mereka.“Aku mendengar langkah yang segera mendekat,”ungkap pemimpin pasukan dari kerajaan Hilir.Mereka merasa yakin bahwa mereka sudah di dekati oleh pasukan dari kerajaan Hulu, jelas menurut mereka itu datang dari sebelah kiri mereka, oleh karena itu mereka tengah mempersiapkan untuk melakukan penyerangan.“Serang.......kawan-kawan, saya akan memberikan tanda lemparan keatas,”seru pemimpin pasukan dari kerajaan Hilir, dengan segera ia memberikan tanda penyerangan.Serentak saja mereka melakukan penyerangan itu sesuai dengan petunjuk yang disampaikan oleh pemimpin mereka pada waktu itu. Segera saja mereka melakukan penyerangan itu.Hanya dengan satu teriakan mereka segera melakukannya, namun serangan itu dilakukan betapa sangat terkejutnya mereka bahwa , penyerangan itu sangat sia-sia sekali.Disaat itulah munculnya serangan dari arah kanan mereka, sehingga dengan sangat kacau balaunya, pasukan Hilir jadi berantakan, sangat tidak terduga sekali bahwa serangan itu akan datang dari sebalah kanan itu, sehingga pasukan kerajaan Hilir tak dapat berbuat apa-apa lagi.Usai perang itu, pemimpin pasukan kerajaan Hulu, hanya dengan mengambil potongan kepala dari pimpinan pasukan kerajaan Hilir saja, hal itu sebagai bukti nyata bahwa pasukan kerajaan Hilir sudah takluk.Dari pihak kerajaan Hilir, sepertinya sudah mengetahui bahwa prajuritnya yang mereka kirim itu mengalami suatu kekalahan, Raja merasa ini suatu kekalahan yang besar.Sepertinya raja Hilir marah besar dengan kekalahan ini, ia menjadi merah padam, bertambah berang hatinya, karena mengalami kekalahan ini, ia juga tahu bahwa pimpinan pasukan yang dia kirim juga mati terbunuh.“Sekarang ingatlah, ini adalah suatu kekalahan yang besar bagi kita, kita harus pikirkan apa yang harus kita lakukan selanjutnya,” seru Raja Hilir.Para prajurit dan juga para pemimpin, dan juga penasehat Raja disaat itu hanya diam seribu bahasa, mereka tanpa ada suara yang terdengar, mereka hanya pandangi tindak tanduk yang dilakukan Raja.Pada saat itu, seorang putri yang cantik jelita, tengah memperhatikan apa yang dilakukan oleh orang tuanya, ia hadir pada saat itu.Putri ini sering dipanggil dengan nama Putri Kembang Dadar, kecantikannya sangat terkenal dipenjuru kerajaan, banyak para raja yang tertarik akan kecantikannya.Sesaat Raja mengatakan, “adakah diantara kalian yang akan sanggup untuk memimpin pasukan, hal ini bukan kita takuti tapi harus kita lawan.”Namun tak seorangpun ada yang berani menyatakan pendapatnya, mereka hanya diam.Raja memandang pada semua arah, pada semua yang hadir pada waktu itu, sehingga ia tertuju pada anak kesayanganya,”wahai anaku, apakah ada pendapatmu tentang kejadian ini, sepertinya kau tampak tenang, tanpa terlihat gelisah apalagi takut.”Putri Kembang Dadar hanya tersenyum mendengar seruan dari orang tuanya itu, sembari ia berkata,”ayah handa ,jika di izinkan ananda mau berpendapat, tentang persoalan ini.”Raja memandangnya dengan sangat penuh perhatian sekali, ia pandangi anak kesayangan itu,”silahkan ananda untuk menyatakan pendapatnya, siapa saja yang akan mengajukan pendapatnya.Mendengar dari ucapan yang disampaikan oleh orang tuanya itu, Putri Kembang Dadar merasa lega, ia senyum dengan lantang ia mengatakan, “ayah izinkan aku untuk berangkat menuju kerajaan Hulu, ananda tak akan pulang jika ananda tidak berhasil.”Suatu pernyataan yang tak terduga dari suara anak kesayanganya itu, apalagi anaknya adalah seorang putri , seakan ia tak percaya itu keluar dari hati dan suara yang keluar seorang yang cantik jelita seperti anaknya itu.“Tidakah ananda sadar apa yang telah di sampaikan ini, apakah ini suara dari lubuk hati yang paling dalam,”ungkap Raja Hilir kepada anak kesayanganya itu.Mendengar itu, Raja dari suara hatinya berbisik, betapa berani anaknya ini, tidak perduli bahwa dia seorang perempuan, tak sedikit pun terlihat bahwa ada rasa takut di raut wajahnya.“Ini aku sampaikan dengan penuh kesadaran, aku sudah bulat tekatku,” ungkap Putri Kembang Dadar , dengan suara yang merdu, sehingga membuat kagum para hadirin yang ada dalam ruang .Raja Hilir merasa sangat yakin, apa yang telah disampaikan oleh anaknya itu,”anaku jika itu sudah menjadi tekatmu, tak dapat aku mengahalanginya, aku hanya berdoa kau akan berhasil nantinya.”Semua yang hadir terkagum-kagum, mereka memandangi Putri Kembang Dadar , yang berangkat meninggalkan kerajaan Hilir, yang hanya didampingi dengan beberapa orang saja.Raja Hilir hanya memandang kepergian anaknya, ia tak menduga sama sekali bahwa anaknya yang akan pergi untuk menyelidik, hal itu juga di iringi oleh para penggawa kerajaan, serta juga disaksikan oleh rakyatnya.Putri Kembang Dadar Hanya menggunakan pakaian layaknya seorang rakyat biasa saja.Ia berjalan  dengan gemulainya, mendekati keramaian, ini berada di sekitar istana Raja Hulu.Walaupun demikian keberadaan Putri Kembang Dadar itu, tetap saja di awasi oleh para prajurit kerajaan dari kejauhan, ia menyamar sebagai seorang penjual sayuran yang berada di pinggiran istana.Tentu saja penyamaran ini dia lakukan agar melihat dengan dekat wajah Raja Hulu, tentu saja meskipun ia menyamar sebagai seorang tukang sayur, kecantikanya tak dapat di sembunyikan.Disaat itu Raja Hulu yang tampan dan muda belia, sekilas ia memandang bahwa ada seorang pedagang sayur yang begitu cantiknya,”Prajurit kau panggil wanita itu, bawa dia kemari!”Tanpa banyak bicara prajurit itu mendakati pedagang , yang tiada lain itu adalah Putri Kembang Dadar, yang menyamar sebagai seorang pedagang sayuran.Putri Kembang Dadar tahu, ia hanya merasa dan berkata dalam hatinya, bahwa Raja Hulu ternyata adalah seorang yang tampan. Tetapi di juga sadar bahwa ini perangkapnya sudah kena.Bukan main terpesonanya Raja Hulu, ia hanya berkata dalam hatinya, begitu cantiknya wanita ini, “kau ikut keistana sekarang juga, kau adalah layak jadi seorang permaisuri saja.”Ternyata bukan hanya Raja yang terpesona, tetapi beberapa pengikutnya, spertinya sadar bahwa benar bahwa wanita itu memang cantik sekali, tidak salah Raja kita memilih wanita ini, seorang prajurit berbisik lembut.Bukan itu saja tetapi Sang Raja juga merasa, bahwa menurut hatinya , wanita ini adalah benar bahwa dia bukan orang sembarang, tapi seorang putri yang datang dari langit.Segera saja raja berserta dengan rombongan dengan memboyong Putri Kembang Dadar ke istana Raja Hulu. Ketika sampai di istana, Raja segera memanggil dayang-dayang,”Hei dayang-dayang ,coba kau ganti pakaian wanita ini lalu kau berikan ia pakaian yang terbaik yang kita punya.Jika tidak ada kau cari di penjuru kerajaan, bila perlu kau beli keluar.”Sehingga di istana tampak terjadi suatu kesibukan yang mendadak, para prajurit, juga rakyat tersebar sudah bahwa Raja mereka telah menemukan seorang putri yang cantik jelita.Pesan Raja yang disampaikan itu, menjadi suatu kesibukan bagi dayang-dayang, penghias raja itu, menjadi terpesona, ketika ia melihat wanita itu , ia juga ikut kagum dengan kecantikan yang di miliki Putri Kembang Dadar itu, sehingga tanpa sadar dayang itu berkata,”pantas raja jadi bersemangat, kecantikan wanita ini luar biasa, tak satupun ada gadis yang ada di kerajaan ini, yang  dapat menandingi kecantikannya.”Ketika Putri Kembang Dadar bagun dari tidur, dan ia dihiasai dengan cantiknya oleh dayang, dengan pakaian yang layaknya seorang putri dan calon seorang permaisuri, para penggawa terpesona melihatnya.Disaat itulah muncul Raja Hulu, tetapi ia tersentak bukan kepalang, ketika ia melihat Putri Kembang Dadar, kecantikan itu kini juga disaksikan oleh semua orang yang ada. Semua yang hadir terpikat memandangnya.Raja Hulu berdiri dengan gagah perkasa, ia memandangi semua prajurit juga para penggawanya, yang juga diwakili oleh rakyatnya yang menyaksikan perayaan itu.“Para hadirin yang hadir, mulai saat ini , kalian telah memiliki seorang putri, wanita yang ada di hadapan kalian ini adalah sebagai permaisurinya. Ia adalah yang bernama Putri Kembang Dadar,”jelas Raja Hulu kepada semua penggawanya, juga pada para prajuritnya, dan rakyatnya yang hadir.Sejak itu Putri Kembang Dadar telah menjadi istri dari Raja Hulu, berita ini sudah sampai pada Raja Hilir. Karena itu dikala Permaisuri Putri Kembang Dadar tengah beristirahat datanglah secara rahasia seorang utusan dari Raja Hilir.“Katakan saja, bahwa aku akan segera datang ,”ungkap Permasuri Raja Hulu itu, yang tida lain adalah Putri Kembang Dadar.Segera saja prajurit itu meninggalkan istana raja Hulu, ia segera menuju pulang, untuk melaporkan keadaan yang terjadi.Belum prajurit itu tiba di istananya, tetapi Putri Kembang Dadar sudah berada di istana orang tuanya, karena ia dapat menghadirkan diri langsung tanpa harus menggunakan jasat yang menjalani secara kasar seperti manusia  biasanya.“Anaku kau tampak makin cantik, aku tahu kalau sudah menjadi istrinya Raja Hulu,”tutur Raja Hilir pada anaknya yang kini menjadi seorang permasuri .“Ayahanda adalah benar, aku bangga dengan perkawinan ini, namun aku hanya memohon, agar tidak lagi terjadinya suatu permusuhan diantara kedua kerajaan ini,’ungkap Putri Kembang Dadar pada orang tuanya itu.Pada akhirnya Putri Kembang Dadar dapat menyatukan kedua kerajaan, sehingga tidak lagi terjadinya permusuhan.Putri Kembang Dadar, mempersembahkan satu tubuhnya untuk istana kerajaan Hilir, namun di lain pihak ia tetap berada di istana kerajaan Hulu, sehingga terjadilah suatu perdamaian, yang tiada lagi terjadinya perselisihan di antara mereka.Perdamaian kedua kerajaan menjadi senangnya para rakyat, karena telah menyatukan dua kerajaan yang selama ini bermusuhan kini menyatu, sungguh besar pengorbanan yang dia berikan untuk ini.Sekian Cerita dari putri kembang dadar semoga bisa dipetik makna yang ada didalamnya.

Asal Muasal Pulau Sangkar
Folklore
13 Feb 2026

Asal Muasal Pulau Sangkar

Di wilayah Indragiri Hilir, hiduplah dua orang pendekar. Pendekar pertama bernama Tuk Solop, ia tinggal di sekitar Pantai Solop. Tuk Solop sudah berusia senja dan rambutnya sudah memutih. Namun, Tuk Solop tidak pernah sombong, ia ramah dan disukai banyak orang.Semula ia mempunyai murid yang banyak, tetapi satu persatu muridnya pergi. Karena tidak ada lagi yang berguru kepadanya, Tuk Salop pun pergi meninggalkan Pantai Solop.Di luar Pantai Solop, ada seorang pendekar lain yang sangat sakti bernama Pendekar Katung. la adalah pendekar yang kaya raya dan sombong. Sebagian besar kekayaannya, didapatnya dari bertaruh dan menyabung ayam. Ayam andalannya sudah mengalahkan banyak ayam petandingan di daerah itu.Pendekar Katung mempunyai adik angkat bernama Suri. la adalah seorang gadis yang cantik jelita. Sebetulnya, Suri adalah anak Iawan sabung ayam Pendekar Katung yang telah tewas.Semenjak ibunya meninggal dunia, Suri dirawat oleh ayahnya. Pendekar Katung membujuk ayah Suri untuk bertarung ayam dengannya. Setelah mengalami berbagai kekalahan dan tidak ada lagi yang dapat dipertaruhkan, ayah Suri mempertaruhkan dirinya sendiri. Ternyata, ayamnya kalah oleh ayam milik Pendekar Katung. Ayah Suri dibuang ke tengah hutan. Hingga kini, Suri diasuh oleh Pendekar Katung.Suatu hari, seorang pengembara bernama Bujang Kelana datang ke Pantai Solop untuk berguru kepada Tuk Solop. Namun, ia mendapati daerah itu kosong dan tidak menemukan siapa pun. Ketika sedang beristirahat, ia bertemu dengan Suri yang sedang melintas di sana, mereka pun berkenalan.Bujang Kelana terpesona dengan kecantikan Suri.°Apa yang Abang cari di sini?" tanya Suri setelah mereka berbincang-bincang."Abang kemari ingin berguru kepada Tuk Solop," kata Bujang Kelana. "Tuk Solop memang telah meninggalkan tempat ini semenjak murid-muridnya pergi berguru kepada Pendekar Katung," jelas Suri."Sepertinya, Abang pernah mendengar nama itu. Apakah adik mengenal Pendekar Katung?" tanya Bujang Kelana.Suri terdiam mendengar pertanyaan Bujang Kelana. la lalu bergegas pergi."Jika Abang ingin bertemu, temui aku lagi besok di sini," kata Suri yang berlari pergi.Bujang Kelana dibuatnya bingung. Ketika sedang termenung itu muncullah seorang tua yang buta dari batik semak-semak ke arahnya."Maaf, siapakah Bapak ini?" tanya Bujang Kelana."Aku Datuk Buta. Kau jangan takut, aku telah mendengar pembicaraan kalian tadi. Suri adalah adik Pendekar Katung.""Mengapa ia pergi ketika aku singgung tentang kakaknya?""Pendekar Katung adalah pendekar dengan ilmu aliran hitam. la menghasut murid-murid Tuk Solop. Sampai akhirnya, Tuk Solop pergi entah ke mana," kata Datuk Buta.Kemudian, Datuk Buta bergegas pergi. la merasa ada yang sedang memata-matainya.Selang beberapa waktu, datanglah Suri berlari ke arah Bujang Kelana."Bang! Tolong aku! Pendekar Katung ingin menikahiku! Bawa aku pergi Bang, nanti aku akan menceritakan yang sebenarnya!" kata Suri panik.Mereka berlari mencari tempat yang aman. Di sanalah Suri menceritakan siapa ia sebenarnya. la juga menjelaskan bahwa ayahnya meninggal dunia karena mempertaruhkan nyawanya dalam pertaruhan sabung ayam.Tiba-tiba, seketika Datuk Buta muncul lagi di hadapan mereka.“Aku mendengar ceritamu, Nak. Jika benar yang kau ceritakan, berarti kau adalah anakku. Akulah orang yang telah mempertaruhkan nyawaku dan dikalahkan oleh Pendekar Katung.""Ayah? Jadi, ayah masih hidup?"Lalu, mereka bertiga menyusun siasat untuk memusnahkan Pendekar Katung. Bujang Kelana akan menantang Pendekar Katung untuk menyabung ayam. Sebelumnya, mereka akan mengganti ayam milik Pendekar Katung dengan seekor ayam milik Datuk Buta yang mirip sekali dengan ayam Pendekar Katung. Pertarungan tersebut disaksikan juga oleh orang-orang dari desa lain.Pendekar Katung mengalami kekalahan. Ayamnya mati. Ayam Bujang Kelana yang sebetulnya adalah ayam Pendekar Katung menang dalam pertarungan tersebut. Pendekar Katung yang tidak terima dengan kekalahannya memerintahkan pengawalnya untuk mengejar Bujang Kelana.Bujang Kelana sempat mendapatkan beberapa pukulan. Ketika Pendekar Katung lengah, Datuk Buta menyergapnya dari belakang."Bujang Kelana, cepat serang orang ini! Dia hanya bisa dikalahkan ketika disergap oleh orang buta!" teriak Datuk Buta. Bujang Kelana tidak menyianyiakan kesempatan itu, ia segera menyerang Pendekar Katung hingga lemas tak berdaya.Datuk Buta berkata kepada Pendekar Katung, “Katung, aku adalah ayah Suri yang kau kalahkan waktu itu. Tuk Sulop yang menyelamatkanku. ia juga yang memberitahukan kepadaku kelemahan ilmumu!"Pendekar Katung lalu tewas. Tiba-tiba, Suri berlari ke arah mereka. Tubuhnya penuh luka. Rupanya ia telah diserang oleh pengawal Pendekar    Katung.Tubuh Suri yang lemah tidak memungkinkan baginya untuk bertahan hidup.Kemudian Suri berkata kepada Bujang Kelana, “Abang, maaf sepertinya takdir tidak mengizinkan kita untuk bersama."Suri meninggal dunia. Hancur hati Bujang Kelana menyaksikan kekasih hatinya pergi selama-lamanya.Setelah menguburkan jasad Suri di dekat pondok Datuk Buta, Bujang Kelana pun pamit untuk meninggalkan desa tersebut. Sebelum pergi, ia mengambil sebuah sangkar ayam yang terletak di pondok Datuk Buta dan melemparkannya ke tengah laut. Untuk menghapus kesedihannya, Bujang Kelana berjanji tidak akan kembali ke Pulau Solop. Lalu, ia pergi mengembara entah kemana.Konon, setelah beberapa tahun kepergian Bujang Kelano, sangkar ayam tersebut pun muncul di permukaan dan menjadi sebuah pulau. Masyarakat menyebutnya dengan Pulau Sangkar Ayam."Pesan moral dari Kumpulan Dongeng Nusantara Pendek : Asal Mula Pulau Sangkar adalah jangan sombong dengan segala kelebihan yang kita miliki. Sesungguhnya setiap orang memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing."

Peri Penyembuh
Fantasy
13 Feb 2026

Peri Penyembuh

"Nyonya Ella, Ammara dan Selly dalam bahaya! Mereka mengikuti sebuah cahaya aneh yang terbang ke utara!" jerit Marybell begitu menghambur masuk ke halaman rumah pemilik Fairyfarm.Ella yang sedang memangku nampan buah plum kering yang telah selesai dijemur refleks menjatuhkan nampannya. Buah-buah plum kering jatuh berhamburan di atas lantai rumah jamur itu. "Cahaya aneh? Ke Utara? Apa mereka pergi ke Kerajaan Avery?" tanya Ella terkejut. Iris mata hijaunya membesar. Kegusaran seketika menyergapnya. "Ini tidak boleh terjadi. Aku harus segera menyelamatkan Ammara.""A-aku tidak tahu, Nyonya Ella. Cahaya ungu itu keluar dari mata kalung Ammara. Kemudian---"Mata kalung?!"Marrybell mengangguk gugup. Ia sedikit takut melihat ekspresi Ella saat itu, tetapi ia sangat khawatir dengan Ammara, sehingga ia mengatakan semua yang diketahuinya pada Ella agar sang peri penyembuh dapat segera bertindak."Baiklah, Marybell. Aku harus segera menjemput Ammara dan Selly. Kau tunggu saja di sini. Jangan katakan ini pada Ailfryd. Aku tidak ingin membuatnya khawatir. Jika ia bertanya, katakan pada saja aku sedang membawa Ammara berkunjung ke istana," ucap Ella cepat.Ella berdiri di ambang pintu rumah cendawan, bersiap untuk mengeluarkan sayap perinya. Ia menggoyangkan sedikit bahunya dan serta merta sepasang sayap kupu-kupu besar yang berwarna dan bermotif biru muncul di punggung. Sebuah pendar hijau yang berkedip-kedip muncul dari bagian atas salah satu sayapnya. Cahaya itu menandakan bahwa dirinya adalah seorang peri dengan kemampuan untuk menyembuhkan. Ella kemudian terbang melesat ke arah utara, menuju kerajaan Avery.Sesampainya di Kerajaan Avery, Ella mendarat di halaman istana yang dipenuhi semak lavender yang rusak, lantas menerawang istana yang berdiri kokoh di hadapan untuk beberapa saat. Ia sedang memastikan keberadaan anaknya di sana. Ella menggoyangkan bahunya dan serta merta sepasang sayap kupu-kupu besarnya menghilang di balik punggung.Sesosok peri elf berjalan tergesa mendekati Ella. Maurelle tersenyum lega saat melihat kedatangan Ella. "Kebetulan sekali kau berkunjung ke sini. Aku baru saja akan mengutus seseorang untuk menjemputmu di Fairyfarm." sapa Maurelle ramah. Namun, sedetik kemudian wajah ramah itu berganti dengan kegusaran.Ella mengerutkan kening. "Apa yang terjadi di tempat ini?""Kau tidak bisa melihatnya? Seorang penyihir hitam telah mengacaukan pesta ulang tahun Putri Tatianna. Putri Tatianna dan Para Pangeran sekarang sedang dalam pengaruh sihir hitam. Mereka sedang berhalusinasi, Ella.""Bagaimana bisa penyihir hitam menembus segel di perbatasan Hutan Larangan? Jangan mengada-ngada Maurelle!" desis Ella tak percaya. Kakinya melangkah cepat mengikuti Maurelle yang menggiringnya memasuki aula istana Avery."Awalnya aku juga tidak percaya. Namun, aku melihatnya sendiri. Pangeran Claude juga dapat melihat tanda sihir itu di dada putri dan para Pangeran," sahut Maurelle gusar."Pangeran Claude? Jadi hanya dia yang tidak terkena sihir?""Sepertinya karena ia adalah keturunan Peri Cenayang. Sihir hitam tidak dapat mempengaruhinya dengan mudah. Sama seperti kita." Maurelle menjelaskan. "Dan, setahuku kaulah satu-satunya peri cenayang dengan kekuatan penyembuhan terbaik di seluruh Fairyverse.""Kau berlebihan, Maurelle. Kaulah yang terbaik. Aku hanyalah istri seorang tukang kebun di Fairyfarm. Dan ,aku kemari untuk menjemput putriku.""Putrimu? Kau mempunyai putri?" Maurelle tampak bingung. Mereka telah sampai di aula Istana Avery. Putri Tatianna dan para pangeran lainnya masih saling serang. Beberapa kesatria elf sedang berusaha melerai mereka, tetapi mereka mulai kewalahan. Terlebih lagi Putri Tatianna mengeluarkan beberapa kekuatan sihirnya menyerang ke segala arah. Sementara Pangeran Claude sedang sibuk memasang selubung bagi para kesatria elf agar tidak terkena dampak serangan sihir dari Putri Tatianna.Ella terbelalak melihat pemandangan di hadapannya, "Ini mengerikan sekali Maurelle!" desisnya. "Apakah Raja Brian mengetahui hal ini?""Aku berharap bisa menyelesaikannya saat ini juga, Ella. Kondisi Raja Brian sedang tidak baik," ucap Maurelle dengan wajah lelah.Ella tampak berpikir untuk beberapa saat. "Aku akan membantumu, Maurelle. Namun, kau harus membantuku menemukan putriku. Putriku ada di suatu tempat di istana ini," ucapnya."Baiklah, Ella. Apapun yang kau inginkan," sahut Maurelle sambil mengembuskan napas lega.Ella mengeluarkan sebuah kantong kain kecil berwarna putih dari balik gaunnya. Ia lantas mengambil segenggam serbuk putih yang sangat halus seperti serbuk sari bunga yang berkilauan saat diterpa cahaya temaram aula istana. Ella kemudian merapal sebuah mantra singkat. Serbuk putih yang berada di genggaman Ella lantas bercahaya. Ella mendekatkan serbuk itu ke mulutnya, lalu perlahan meniupnya ke arah Putri Tatianna dan para pangeran yang sedang saling menyerang.Pangeran Claude mendekati Ella dan memperhatikan peri yang sedang melakukan ritual pengobatannya. Sementara Maurella terlihat menahan napas menantikan reaksi yang ditimbulkan oleh ritual pengobatan Ella. Begitu salah satu partikel serbuk putih itu mengenai tubuh Putri Tatianna dan para pangeran, mereka langsung ambruk dan tak sadarkan diri. Para kesatria elf dengan cekatan mengangkat tubuh mereka satu per satu dan membawanya ke balai pengobatan istana.Ella menepuk-nepuk kedua tangannya untuk membersihkan sisa-sisa serbuk putih yang masih menempel di telapak tangan. Ia berkata pelan. "Sebentar lagi mereka akan sadar dan mereka tidak akan mengingat kejadian malam ini.""Terima kasih, Ella. Kau hebat sekali. Aku ingin belajar padamu dan menjadi muridmu," puji Pangeran Claude. Ia merasa sangat lega karena saudara-saudaranya telah terbebas dari sihir."Pangeran Claude, kau sudah tumbuh besar dan tampan," ucap Ella sambil menatap Pangeran Claude yang kini telah berdiri di sampingnya. "Aku tidak ingin dikenal sebagai peri cenayang ataupun peri penyembuh. Aku tidak bisa menerimamu sebagai murid, maafkan aku, Pangeran Claude. Namun, jika kau ingin belajar membuat makanan olahan dari buah plum, aku akan dengan senang hati menerimamu di Fairyfarm. Lagi pula, kau sudah memiliki guru terbaik di sini, yaitu sahabatku Maurelle."Pangeran Claude mengangguk takzim. "Baiklah, aku akan ke Fairyfarm untuk belajar mengolah Plum," sahutnya."Terima kasih, Ella. Kau hadir di saat yang tepat. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika tidak ada kau," tutur Maurelle lega. "Malam ini benar-benar malam yang panjang," desahnya. "Oh iya, mari kita cari putrimu, bagaimana ciri-cirinya? Siapa namanya?""Putriku berambut pirang keemasan dan bermata hijau. Aku pikir dia mungkin menghadiri pesta Putri Tatianna," sahut Ella hati-hati. Ia tidak ingin mengungkapkan yang sebenarnya pada Maurelle jika Ammara mengikuti cahaya sihir yang masuk ke istana Avery."Ammara?" tanya Pangeran Claude menebak.Ella mengangguk cepat. "Kau mengenal Ammara? Apakah kau bertemu dengannya di sini? Di mana dia sekarang? Aku ingin bertemu dengannya." Ella berdecak khawatir. Berbagai hal berkecamuk dalam pikirannya.Pangeran Claude dan Maurelle saling bertukar pandang. Mereka tidak menyangka bahwa Ammara ternyata adalah anak sang peri penyembuh.Maurelle berdeham beberapa kali sebelum ia menjawab pertanyaan Ella. "Ella, maafkan aku. Aku tidak tahu kalau peri perempuan itu adalah anakmu.""Apa maksudmu, Maurelle. Di mana Ammara?" tanya Ella gusar. Ia membaca raut tidak enak di wajah Maurelle dan Pangeran Claude."Peri itu ... maksudku Ammara. Dia ada di tempat yang aman. Namun, dia harus berhadapan dengan para Dewan Peri terlebih dulu sebelum bisa keluar dari tempat ini," ucap Maurelle hati-hati sambil memperhatikan perubahan air muka Ella."Apa maksudmu? Apa yang terjadi padanya, Maurelle?" tanya Ella sedikit emosional. "Kau harus menyelamatkannya, Maurelle. Dia tidak bersalah!""Ella, aku tahu Ammara peri yang baik. Namun, apakah kau tahu bahwa ia memiliki mata kalung zamrud yang berasal dari Hutan Larangan? Dari mata kalung itulah, sihir hitam berhasil masuk dan menyerang para pangeran dan Putri Tatianna. Para Dewan Peri akan memeriksanya. Jika ia tidak bersalah, ia pasti akan dibebaskan dan akan kembali ke Fairyfarm." Claude menjelaskan."Tidak. Putriku tidak tahu apa-apa, Pangeran Claude," ucap Ella lirih. Setetes air bening terbit di pelupuk matanya. Beberapa saat kemudian, Ella mulai terisak."Tenanglah, Ella. Kami akan melindunginya," bujuk Maurelle berusaha menenangkan Ella. Ia merangkul bahu sahabat lamanya itu."Bisakah aku bertemu dengannya?" tanya Ella di tengah isak tangisnya."Maafkan aku, Ella. Kau tidak bisa menemuinya sebelum ia bertemu dengan Para Dewan Peri. Itu adalah protokol istana yang tidak bisa kita langgar.""Aku ingin bertemu dengannya, Pangeran Claude. Aku mohon. Dia pasti sangat kebingungan saat ini. Dia tidak tahu apa-apa. Aku mohon, aku ingin bertemu putriku. Beri aku kesempatan ..." Ella terisak lebih keras. Ia bersimpuh di lantai, tangannya bertaut memohon ke arah Maurelle dan Pangeran Claude yang berdiri di hadapannya.Pangeran Claude ikut bersimpuh bersama Ella, diikuti dengan Maurelle yang menatap peri perempuan itu dengan simpati. Claude menggenggam kedua tangan Ella, iris mata hitamnya menyiratkan kesedihan dan sebuah tekad. "Aku berjanji, aku akan mengusahakan yang terbaik untuk mempertemukanmu dengan Ammara. Jangan khawatir, Ella. Aku sendiri yang akan mengantar Ammara pulang ke Fairyfarm."

Menampilkan 24 dari 1144 cerita Halaman 5 dari 48
Menampilkan 24 cerita