Temukan Cerita Inspiratif
Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.
Total Cerita
1144
Genre Romance
230
Genre Folklore
228
Genre Horror
228
Genre Fantasy
230
Genre Teen
228
Bola Kristal
Dahulu kala, ada seorang wanita penyihir yang memiliki tiga anak yang saling menyayangi antara satu dengan yang lainnya sebagai saudara, tetapi wanita penyihir tua itu tidak mempercayai anaknya sendiri, dan berpikir bahwa ketiga anaknya ingin mencuri kekuatannya darinya. Penyihir itu lalu mengubah anak sulungnya menjadi burung elang, yang terpaksa tinggal di pegunungan berbatu, dan sering terlihat terbang melayang di langit. Yang kedua, disihir sehingga berubah menjadi seekor ikan paus yang hidup di laut dalam, dan terkadang terlihat di permukaan laut menyemburkan sebuah pancuran air yang besar di udara. Kedua anak ini masing-masing masih bisa berubah bentuk menjadi manusia selama dua jam setiap hari. Anak yang ketiga, karena takut bahwa ibunya yang penyihir ini akan mengubahnya menjadi seekor binatang buas, dengan diam-diam pergi meninggalkan ibunya.Saat itu, di pusat kerajaan, dia mendengar berita tentang seorang putri Raja yang disihir dan dipenjarakan di istana matahari, sedang menanti datangnya pertolongan. Mereka yang mencoba membebaskan sang Putri, mempertaruhkan nyawa mereka karena tugas untuk menyelamatkan sang Putri, tidaklah mudah. Sudah puluhan orang yang mencoba tetapi gagal, dan sekarang tidak ada orang yang berani untuk menyelamatkan sang Putri lagi.Si Putra Ketiga menguatkan hatinya untuk mencoba menyelamatkan sang Putri. Dia lalu melakukan perjalanan untuk mencari istana matahari itu dalam waktu yang cukup lama tanpa bisa menemukannya. Suatu ketika, dia tiba tanpa sengaja di sebuah hutan yang besar, dan menjadi tersesat. Tiba-tiba dia melihat di kejauhan, dua raksasa yang melambaikan tangan mereka kepadanya, dan ketika dia datang kepada raksasa tersebut, mereka berkata,"Kami bertengkar mengenai sebuah topi, siapa di antara kami yang berhak memilikinya, karena kami berdua sama kuatnya, tak ada satupun di antara kami yang lebih kuat dibandingkan yang lain. Manusia kecil lebih pandai dari kami, karena itu, kami menyerahkan keputusan kepada mu.""Bagaimana kamu bisa bertengkar hanya karena sebuah topi tua?" kata si Putra Ketiga."Kamu tidak mengerti keajaiban topi itu! Itu adalah topi yang bisa mengabulkan keinginan kita; barang siapa yang memakainya, dan berharap untuk pergi ke tempat manapun dia mau, dalam sekejap dia akan tiba di tempat tersebut.""Berikanlah topi itu kepadaku," kata si Putra Ketiga, "Saya akan berdiri di sana, ketika saya memanggil kalian, kalian harus berlomba lari, dan topi ini akan menjadi milik orang yang lebih duluan tiba di sana." Dia lalu memakai topi tersebut lalu berjalan pergi, dan saat berjalan, si Putra Ketiga berpikir tentang sang Putri, melupakan para raksasa dan berjalan terus. Akhirnya dia mendesah dalam hatinya dan bersedih, "Ah, jika saja saya bisa tiba di istana matahari," tiba-tiba si Putra Ketiga sudah berdiri di sebuah gunung yang tinggi tepat di depan pintu gerbang istana matahari.Dia lalu masuk dan memeriksa semua kamar, saat sampai pada kamar terakhir dia menemukan putri Raja. Tapi betapa terkejutnya dia ketika melihat wajah sang Putri. Wajahnya pucat abu-abu penuh keriput, mata rabun, dan berambut merah."Apakah kamu adalah putri raja, yang kecantikannya terkenal di seluruh pujian dunia?" tanyanya."Ah," jawabnya," ini bukan bentuk saya yang sebenarnya, mata manusia hanya bisa melihat saya dalam keadaan buruk rupa ini, tetapi kamu mungkin bisa melihat bentuk saya yang sebenarnya, lihat melalui cermin ini, karena cermin ini tidak akan salah dan akan menampilkan wajah saya yang sebenarnya."Dia lalu memberinya cermin yang di pegangnya, dan saat si Putra Ketiga melihat bayangan di dalam cermin, dilihatnya wajah yang paling cantik di seluruh penjuru dunia, dan dia juga melihat butiran air mata yang bergulir di pipi sang Putri.Lalu si Putra Ketiga bertanya, "Bagaimana kamu dapat dibebaskan ? Aku tidak takut akan mara bahaya.Sang Putri berkata, "Dia yang mendapatkan bola kristal, dan mengacungkannya kehadapan penyihir, akan menghancurkan kekuatan sihirnya dengan bola kristal itu, dan saya akan kembali ke bentuk sejati saya. "Ah," dia menambahkan, "sudah banyak yang mencoba dan gagal, kamu begitu muda, saya sangat sedih karena kamu harus menghadapi bahaya yang begitu besar.""Tidak ada yang bisa mencegah saya melakukannya," kata si Putra Ketiga, "coba katakan padaku apa saja yang harus kulakukan.""Kamu harus tahu semuanya," kata sang Putri," ketika kamu menuruni gunung di mana istana ini berdiri, kamu akan menemukan seekor banteng liar di dekat sebuah mata air, dan kamu harus berkelahi dengan banteng itu, dan jika kamu bisa membunuhnya, seekor burung yang berapi-api akan muncul yang membawa sebuah telur yang membara, dan sebuah bola kristal terletak di dalam telur tersebut. burung itu tidak akan membiarkan telur tersebut terlepas kecuali dipaksa untuk melakukannya, dan saat telur itu jatuh di tanah, semuanya akan menyala dan membakar segala sesuatu yang berada dekat telur tersebut, dan dengan bola kristal semua masalahmu akan terselesaikan."Pemuda itu lalu pergi ke mata air, di mana seekor banteng liar mendengus dan berteriak marah padanya. Setelah melalui perjuangan yang panjang, si Putra Ketiga berhasil menusukkan pedangnya ke tubuh hewan itu yang akhirnya jatuh mati. Seketika itu juga, seekor burung api muncul dan hendak terbang, tapi kakak si Putra Ketiga yang berubah bentuk menjadi elang, menukik turun, mengejar burung api tersebut sampai ke laut, dan memukul dengan paruhnya sampai sang Burung Api melepaskan telur yang dipegangnya. Telur tersebut tidak jatuh ke laut, tetapi ke sebuah gubuk nelayan yang berdiri di tepi pantai dan gubuk itu langsung terbakar api. Lalu tiba-tiba muncullah gelombang laut setinggi rumah, menerjang gubuk tersebut hingga seluruh api menjadi padam. Ternyata, saudara lain si Putra Ketiga yang menjadi ikan paus, yang telah mendorong dan menciptakan gelombang laut tersebut. Ketika api itu padam, si Putra Kegita mencari telur itu dan menjadi sangat bahagia saat menemukannya. Kulit telur tersebut menjadi retak dan pecah akibat suhu panas yang tiba-tiba berubah menjadi dingin saat tersiram air, sehingga bola kristal di dalamnya dapat diambil oleh si Putra Ketiga.Ketika pemuda pergi menghadap ke si Penyihir dan mengacungkan bola kristal itu di hadapannya, si Penyihir berkata, "kekuatan sihir saya telah hancur, dan mulai dari saat ini, kamulah yang menjadi raja di istana matahari. Dengan bola kristal itu juga, kamu telah mengembalikan bentuk saudara-saudara-mu ke bentuk manusia seperti semula."Si Putra Ketiga pun bergegas menemui sang Putri, dan ketika dia memasuki ruangan, dia mendapati sang Putri berdiri di sana dengan segala kecantikan dan keindahannya, dan tidak lama, merekapun menikah dan hidup berbahagia selamanya.
Permata - Permata Cornelia
Hari itu pagi yang cerah di kota tua Roma, beratus-ratus tahun lampau. Dalam pondok musim panas berselimut tanaman rambat di tengah taman yang indah, dua anak lelaki berdiri memandangi ibu mereka yang sedang berjalan-jalan dengan tamunya di antara bunga dan pepohonan."Pernahkah kau melihat perempuan secantik tamu ibu kita?" tanya anak lelaki yang lebih muda, sambil menggandeng tangan kakaknya yang berbadan tinggi. "Dia tampak seperti seorang ratu.""Namun dia belum serupawan Ibu," kata sang kakak. "Memang benar, dia mengenakan gaun yang mewah; tapi wajahnya tidak berwibawa dan tidak ramah. Ibu kitalah yang tampak bagaikan ratu.""Betul, betul," jawab adiknya. "Tak ada perempuan di Roma yang lebih mirip seorang ratu dibanding ibu kita tersayang."Tak lama kemudian, Cornelia, ibu mereka itu, menuruni jalan setapak untuk menyapa anak-anaknya. Dia mengenakan gaun putih polos yang sederhana. Kedua tangan dan kakinya dibiarkan telanjang tanpa sarung tangan atau alas kaki, sesuai adat masa itu; tak ada kilau cincin atau rantai kalung di pergelangan tangan dan lehernya. Mahkotanya hanyalah kepangan panjang rambut coklat lembut yang digulung di kepala. Senyuman penuh kasih memancar di wajah anggunnya sementara dia menatap kedua putranya yang sedang memandanginya dengan bangga."Anak-anak," katanya, "Mari kuberitahu kalian sesuatu."Kedua anak itu membungkuk hormat, mengikuti sopan santun yang diajarkan pada setiap pemuda Roma, dan berkata, "Apa itu, Ibu?""Kalian akan menemani kami makan bersama hari ini, di taman ini, lalu sahabat kita akan memperlihatkan kotak berisi segala jenis permata indah yang selama ini telah sering kalian dengar namanya."Kakak-beradik itu mencuri pandang malu-malu ke arah tamu ibu mereka. Mungkinkah nyonya ini masih punya cincin-cincin lagi selain yang dia kenakan di jari-jemarinya? Mungkinkah dia masih punya permata-permata lagi selain yang berkilauan pada kalung-kalung yang menjuntai dari lehernya?Ketika hidangan piknik serba sederhana telah disantap, dari dalam rumah seorang pelayan datang membawakan kotak perhiasan. Nyonya itu membukanya. Wah, betapa semua permata itu menyilaukan mata kedua anak lelaki yang terheran-heran. Ada untaian-untaian mutiara, seputih susu, sehalus satin; setumpuk rubi yang bercahaya, merah laksana batu bara menganga; juga safir yang sebiru langit di musim panas itu; serta berlian-berlian yang mengilat dan berpendar bagaikan sinar matahari.Lama kedua kakak beradik mengagumi permata-permata itu."Duh!" bisik si bungsu, "Andai saja ibu kita bisa memiliki benda-benda seindah ini!"Sayang akhirnya kotak itu ditutup dan dibawa pergi dengan hati-hati."Apa benar kata orang, Cornelia, bahwa kau sama sekali tak punya perhiasan permata?" tanya tamunya. "Apa benar kata orang, seperti yang kudengar dibisik-bisikkan, bahwa kau miskin?""Tidak, aku tidak miskin," sahut Cornelia, dan sembari bicara dia merangkul kedua anak lelaki itu ke sisinya. "Sebab mereka inilah permata-permataku. Mereka jauh lebih berharga ketimbang semua permatamu tadi digabung jadi satu."Aku yakin kedua anak lelaki itu tak akan pernah melupakan nada bangga dan cinta kasih ibu mereka; dan setelah bertahun-tahun kemudian, ketika mereka berdua telah menjadi orang-orang besar di Roma, mereka sering teringat pada peristiwa di taman itu. Dan dunia masih suka mendengar kisah tentang permata-permata Cornelia.
Uget - Uget jadi Nyamuk
Malam itu bulan bersinar terang ketika beberapa uget-uget tertua dalam tong hujan menetapkan hati untuk meninggalkan air. Sejak awal mereka adalah anak-anak yang tak bisa diam dan selalu gelisah, tapi itu bukan salah mereka. Sebagai serangga bernama uget-uget, mana bisa mereka mengapung tenang? Saat Mama Nyamuk meninggalkan telur-telurnya yang panjang-langsing dalam tong hujan, dia telah mengikat semua telur itu jadi satu gumpalan berbentuk kapal. Telur-telur itu terus mengapung di sana sampai beberapa hari kemudian para uget-uget di dalamnya cukup kuat dan siap untuk menerobos bagian bawah telur menuju ke air.Petang dan pagi, petang dan pagi, selama beberapa hari para uget-uget kecil berenang menggantung, kepala di bawah, yang terlihat dari atas tong hanyalah ujung pipa nafas mereka. Kadang kala, kalau ketakutan, uget-uget muda akan lupa cara berenang, lalu membalik badan, berenang dengan kepala di atas, tapi paling lama satu menit. Sesudahnya dia selalu malu mengakui bahwa dia takut, lalu mencari-cari alasan untuk memaafkan dirinya karena berenang seperti itu. Uget-uget muda yang sopan semustinya harus selalu menundukkan kepala dan nyamuk-nyamuk dewasa yang singgah berkunjung tak pernah lupa menasihati mereka: "Uget-uget kecil sombong yang suka mengangkat kepalanya naik bakal tak punya sayap," dan "Naikkan ekormu, tundukkan matamu, kalau kau ingin tetap beradab, sehat, dan bijaksana." Saat masih kecil sekali, uget-uget terus berenang dengan kepala di bawah dan bernafas lewat suatu pipa yang berujung di dekat ujung ekor mereka. Pipa ini punya seperti sejumput sayap kecil di pucuknya, yang menjaga uget-uget bisa terus mengapung di permukaan air. Karena tak punya pekerjaan lain, mereka sehari-harian cuma makan apa yang tersedia di air itu, dan menggeliat-geliut, serta bermain kejar-kejaran. Dan kapan pun mereka takut, mereka akan menyelam ke dasar air dan diam di situ sampai kehabisan nafas. Tak pernah bisa lama. Banyak hal yang membuat mereka takut. Kadang ada kuda yang mampir ke tong dan meminum airnya, kadang seekor burung Robin hinggap di mulut tong untuk menghirup beberapa teguk air, dan sesekali seekor capung dari kolam di dekat situ datang singgah. Tamu yang besar justru bukan yang paling seram. Kuda-kuda biasanya berusaha tidak mengganggu para uget-uget, sementara seekor Robin akan senang jika kebetulan ada seekor yang masuk ke paruhnya bersama air. Para capunglah yang paling berbahaya, karena mereka yang paling lapar, dan karena jauh lebih kecil dibanding kuda atau burung, uget-uget kerap tak sadar akan kehadiran mereka. Kadang ketika berpikir si Capung hinggap agak jauh, beberapa uget-uget berenang ke permukaan air, sampai akhirnya terlambat menyadari bahwa seekor capung bisa bergerak mundur atau menyamping tanpa balik badan.Saat usianya beberapa hari, uget-uget mulai berganti kulit. Mereka bergoyang-goyang melepaskan kulit lama, diganti dengan kulit baru yang sudah tumbuh di bawahnya. Ini membuat mereka merasa jadi hebat, bahkan beberapa ekor mulai menyombong. Ada seekor uget-uget yang tak mau menyelam supaya si Robin melihat baju barunya. Namun justru karena kesombongan ini, hidupnya berakhir, dan dia tak pernah menjadi nyamuk dewasa.Setelah berganti kulit beberapa kali, mereka lantas punya dua pipa nafas, bukan lagi satu. Dua-duanya tumbuh di dekat kepala mereka. Dan kepala mereka jadi jauh lebih besar. Di ujung ekor tubuhnya, setiap uget-uget sekarang punya sesuatu seperti dua lembar daun, yang dia pakai untuk berenang melintasi air. Karena letak pipa-pipa nafasnya sudah berbeda, para uget-uget yang telah beberapa kali berganti kulit ini sekarang mengapung dengan kepala di atas, sedikit di bawah permukaan air, dan ekor mereka ke arah bawah. Uget-uget seumuran ini akan disebut Pupa, atau si setengah dewasa. Seringnya dalam satu tong ada banyak anak nyamuk dengan umur berbeda-beda – telur, uget-uget muda (namanya larva), dan pupa sekaligus. Cukup banyak tempat dan makanan buat semua, namun karena menganggur tak punya pekerjaan, mereka jadi banyak waktu untuk bertengkar dan merecoki satu sama lain.Tahun ini, Kakak Tertuanya begitu congkak sehingga tak ada yang menyukai dia. Beberapa uget-uget muda bilang mereka tak tahan melihatnya. Dia suka bergaya menasihati seperti ini, "Waktu aku masih muda dulu dan harus menundukkan kepala ..." atau berulang-ulang mengingatkan, "Naikkan ekormu, tundukkan matamu, supaya kamu jadi nyamuk sopan, sehat, dan bijaksana." Sampai-sampai seekor uget muda menyilangkan antenanya ke arah si Kakak yang sombong itu – sama seperti kamu menjulurkan lidahmu atau membuat wajah jelek untuk mengejek orang yang tidak kamu suka.Nah, si Kakak Tertua dan beberapa pupa yang menetas dari kawanan telur yang sama dengannya mulai membahas rencana pergi dari tong hujan itu selama-lamanya. Waktu itu bulan bersinar terang dan mereka ingin sayap mereka segera mengembang dan kering, karena itu berarti mereka akan jadi nyamuk dewasa. Kalau sudah dewasa, mereka bisa tiduran sepanjang hari lalu berpesta sepanjang malam.Kakak Tertua menghentak-hentak ke sana kemari secepat-cepatnya, menekuk badannya yang bersegmen-segmen, tiba-tiba ke sini, tiba-tiba ke sana. Dan tiap kali bertemu pupa yang sepantaran dengannya dia berkata, "Ayo ikut aku dan lepas kulitmu. Ini malam yang indah untuk berganti kulit."Kadang mereka menjawab, "Oke!" lalu menghentak-hentak atau bergoyang-goyang atau berenang membarenginya. Tapi kadang ada pupa yang menjawab, "Aku ragu apa aku sudah cukup umur untuk melepaskan kulitku dengan mudah."Maka Kakak Tertua akan menjawab, "Janganlah keraguan membuatmu berhenti. Giliranmu akan segera datang begitu kami mulai." Tentu saja itu benar. Semua anggota keluarga Nyamuk tumbuh dewasa sangat cepat. Maka terjadilah, ketika bulan mengintip dar atas lumbung, menyinarkan wajah cerahnya di antara dua cerobong asap, dua puluh tiga Pupæ mengapung berdekatan satu sama lain dan bersiap-siap mengganti kulit mereka untuk terakhir kalinya.Sangat mendebarkan. Semua uget-uget muda berkerumun untuk menyaksikan apa yang terjadi, dorong-mendorong untuk mendapatkan tempat menonton terbaik. Kakak Tertua sangat kuatir ada pupa lain yang lebih dulu berganti kulit mendahuluinya. Pupa-pupa jantan mengingatkan saudara-saudara betina mereka agar hati-hati menyobek kulit dengan benar dari punggung. Pupa-pupa betina ketus menjawab bahwa mereka sama tahunya soal berganti kulit seperti pupa jantan. Bolak-balik Kakak Tertua akan berseru, "Tunggu ya! Jangan ada satu pun yang melepas kulit lama sampai aku beri aba-aba."Kemudian dua atau tiga saudaranya jadi tak sabar, karena kulit luar mereka terasa makin sesak setiap menit, lalu membalas berseru, "Kenapa tidak boleh?" sambil menggerutu karena disuruh menunggu. Padahal sebenarnya, Kakak Tertua belum berhasil membuat kulitnya merekah, walau dia telah menghentak dan bergoyang dan menghirup nafas dalam-dalam. Dan dia tak mau ada yang mendahuluinya. Akhirnya, kulit itu mulai terbuka, dan dia baru saja memberi aba-aba pada yang lain untuk mulai melepas kulit, waktu seekor Nyamuk Betina besar hinggap untuk meletakkan sejumlah telur di tong itu."Ya ampun!" serunya. "Kalian tidak bermaksud ganti kulit malam ini, kan?""Ya, memang kami sedang ganti kulit," jawab Kakak Tertua, bergoyang lagi sehingga kulitnya makin terbuka, "Kami akan menggigit manusia sebelum pagi tiba.""Sungguh?" jawab si Nyamuk Betina dengan senyum simpul geli. "Aku tak akan berharap tentang itu. Kalian anak muda bakal dapat masalah kalau melepas kulit malam ini, karena sepertinya hujan akan turun."Dia melambaikan antenanya ke atas sambil bicara, dan pupa-pupa itu baru memperhatikan bahwa awam hitam tebal sedang bergulung-gulung di langit. Bahkan saat itu juga, bulan menghilang dan angin mulai mengayun-ayun cabang-cabang pepohonan. "Mau hujan," katanya. "Air akan mengucur dari atap ke dalam tong ini, dan kalau kalian baru saja lepas kulit dan belum bisa terbang, kalian akan tenggelam.""Bleh!" jawab Kakak Tertua. "Kami bisa mengurus diri sendiri. Aku tak takut pada sedikit air." Lalu dia berusaha merangkak keluar dari kulit lamanya.Nyamuk Betina tinggal di tong sampai dia telah menaruh semua telurnya, kemudian terbang pergi. Tak satupun dari Pupæ itu mau mendengar nasihatnya. Sebetulnya semula ada beberapa pupa betina yang ingin menuruti nasihat itu, kalau saja saudara-saudara jantannya tidak mengejek dan menertawakan mereka.Akhirnya, dua puluh tiga nyamuk muda yang masih lembut berdiri di atas kulit pupa yang telah terlepas, menanti sayap mereka mengeras. Merangkak keluar agar lepas dari kulit tak pernah mudah, dan ganti kulit yang terakhir itulah yang terberat. Sekarang mereka tak bisa melakukan apa-apa selain menunggu, sehingga nyamuk-nyamuk muda ini mulai ketakutan. Malam sekarang gelap dan berangin. Terkadang angin kencang tiba-tiba meniup kulit pupa mereka yang terapung ke pinggir tong. Mereka harus berpegangan erat-erat karena kalau sampai terjatuh ke air, mereka akan tenggelam. Kakak Tertua tiba-tiba berharap bisa menjadi uget-uget lagi. "Uget-uget tak akan pernah tenggelam," kenangnya. "Siapa yang mau duluan menggigit?" tanya salah satu saudaranya.Kakak Tertua menjawab sangat judes, "Aku tak tahu dan aku tak peduli. Aku tidak lapar. Apa kau tak bisa memikirkan hal lain kecuali makan?""Kenapa? Memangnya ada hal lain yang perlu dipikirkan?" balas nyamuk-nyamuk lain yang sedang mengapung."Ada. Terbang, misalnya!" jawab si Kakak."Hu-uh! Aku tak melihat gunanya terbang kecuali untuk membawa kita mendekati makanan," jawab seekor saudara betina. Dia nantinya akan mendapati bahwa terbang memang punya manfaat lain.Setelah itu, mereka tidak ingin bercakap-cakap lagi dengan Kakak Tertua. Mereka mengobrol sendiri sambil coba-coba menggerakkan kaki. Seandainya hari cukup terang sehingga mereka bisa melihat sayap-sayap baru itu! Kau tahu, sayap nyamuk itu menarik sekali, tipis dan ringan, dengan jumbai halus di tepiannya dan di sepanjang tiap pembuluh darah. Nyamuk-nyamuk betina juga bangga pada kantong-kantong di bawah sayap mereka, dan ingin segera sayap itu mengeras supaya mereka bisa menggetarkan kantong-kantong itu lalu mendengar suara mendenging indah ketika udara melewati kantong-kantong ini. Mereka tahu saudara-saudara mereka yang jantan tak pernah bisa menyanyi seperti itu, dan merasa senang akhirnya ada kelebihan yang bisa mereka banggakan. Bukan salah mereka kalau merasa seperti itu, karena para jantan itu terlalu sering mengejek dan menertawakan mereka.Lalu menyambarlah kilat dan menggelegarlah guntur panjang. Pohon-pohon menghempas-hempaskan cabang-cabang ke kanan dan ke kiri, sementara tetes-tetes besar hujan berjatuhan ke atap di atas mereka, lalu turun deras, berkumpul, dan mengucur ke arah saluran air yang di bawahnya tong terletak."Terbang!" teriak Kakak Tertua, mengepakkan sayap sebisa-bisanya."Kami belum bisa. Ke mana?" teriak yang lain."Terbang, dengan cara apapun, ke mana pun!" jerit Kakak Tertua, dan ajaib, kedua puluh tiga nyamuk itu berhasil mengepakkan sayap dan merangkak dan terpencar ke sisi bangunan itu. Tetes air hujan jatuh dekat tapi tak mengenai mereka. Mereka berjumpa dengan nyamuk-nyamuk lebih tua yang sedang menunggu curahan hujan itu berhenti. Bahkan si Kakak Tertua begitu ketakutan sampai gemetar. Saat melihat Nyamuk Betina yang tadi menasihatinya untuk menunda berganti kulit, dia sembunyi ke balik dua saudaranya dan diam tak bersuara. Sepertinya Nyamuk Betina itu melihatnya, karena di tempat itu lumayan terang. Nyamuk Betina itu tak mengajaknya bicara, namun Kakak Tertua mendengarnya bicara pada teman-temannya, "Aku sudah beritahu dia," katanya, "lebih baik dia menunda ganti kulit, tapi dia bilang dia bisa mengurus diri sendiri dan akan menggigit manusia pertama sebelum pagi.""Dia bilang begitu?" seru nyamuk-nyamuk tua lain."Iya!" jawab si Nyamuk Betina.Lalu semua nyamuk itu tertawa dan tertawa dan tertawa, dan Kakak Tertua yang sekarang jadi nyamuk muda itu jadi tahu kenapa dia ditertawakan begitu keras. Ternyata dia tak akan pernah menggigit manusia karena dia nyamuk jantan. Nyamuk jantan harus minum madu. Hanya nyamuk betina yang menggigit manusia dan menghisap darah. Duh! Padahal dia sudah sering sekali membayangkan bagaimana dia akan mendenging sekeliling manusia sampai menemukan bagian yang paling manis dan segar, lalu hinggap pelan-pelan dan menusuk serta menghisap sampai badan langsingnya gendut, bulat, dan merah dengan perut penuh darah. Dan ternyata itu mustahil! Tak akan pernah terjadi! Sebagai nyamuk jantan dia tak bisa mendenging. Dia nanti harus duduk-duduk saja dengan perut penuh madu, sambil menonton sebelas saudara betinanya melembung oleh darah dan mendengar mereka mendenging lembut saat terbang. Andai saja ada nyamuk jantan yang pernah mengunjungi mereka di tong, dia mungkin akan tahu lebih cepat tentang ini. Dengan malu, Kakak Tertua mengendap-endap pergi sendiri. Namun malang dia bertemu seekor burung yang bangun pagi dan – ya, kau tahu, burung juga perlu makan, dan kebetulan dia bertemu nyamuk. Sementara itu, saudara-saudara jantan dan betinanya hidup sendiri-sendiri, mengerjakan apa yang mereka suka. Dan sebelas nyamuk betina saudaranya menggigit tiga belas manusia pada malam berikutnya dan menikmati hari-hari indah menjadi nyamuk. (Diterjemahkan bebas oleh Ellen Kristi dari Among the Night People bab 2 "The Wigglers Become Mosquitoes" karya Clara Dillingham Pierson, 1902.)
Si Lugu dan Angsa Emas
Ada seorang pria yang memiliki tiga putra, yang termuda di antaranya disebut si Lugu, dan sering diejek, ditertawakan, bahkan diabaikan keberadaannya pada setiap kesempatan. Pada suatu hari, putra yang tertua ingin pergi ke hutan untuk menebang kayu, dan sebelum dia pergi, ibunya memberinya sebuah kue yang lezat dan sebotol minuman yang segar agar dia tidak menderita kelaparan atau kehausan.Ketika dia tiba di hutan, seorang pria tua kecil berkulit abu-abu bertemu dengannya, yang menyapanya dan berkata, "Berikanlah aku sedikit kue, dan biarkan aku meminum sedikit minumanmu, aku sangat lapar dan haus."Tetapi pemuda ini menjawab, "Apabila aku memberikan kue dan minumanku, maka aku tidak akan dapat makan dan minum apa-apa lagi, pergilah kamu sekarang."Dia pun meninggalkan pria kecil itu berdiri di sana. Kemudian pemuda itu mulai menebang pohon, dan saat itu kapaknya terselip dan melukai tangannya sendiri sehingga dia terpaksa pulang ke rumah untuk membalut lukanya.Ternyata, semua kecelakaan yang terjadi itu adalah hasil perbuatan dari si Pria Tua kecil yang tadi ditemuinya. Putra kedua pun lalu masuk ke dalam hutan untuk menebang pohon, dan ibunya memberikan makanan dan minuman seperti yang diberikan kepada putra tertua, kue lezat dan sebotol minuman segar.Pria tua kecil juga bertemu dengannya, dan memohon untuk diberikan sedikit kue dan minuman, tetapi si Putra Kedua menjawab, "Apabila aku memberikan kue lezat dan minuman segar ini, aku tidak memiliki apa-apa lagi, jadi pergilah kamu."Dia pun lalu meninggalkan si Pria Tua kecil berdiri di sana. Tidak lama kemudian, si Putra Kedua pun mengalami kecelakaan saat menebang pohon, di mana tanpa sengaja kapaknya melukai kakinya sendiri dengan begitu parahnya sehingga dia harus digotong pulang ke rumah.Kemudian si Lugu berkata kepada ayahnya, "Ayah, biarkan aku pergi ke hutan untuk menebang pohon.Namun ayahnya menolaknya, dengan menjawab, "Saudara-saudaramu telah mengalami kecelakaan sampai melukai diri sendiri, apalagi kamu yang tidak mengerti apa-apa tentang bagaimana cara menebang pohon."Tetapi si Lugu terus memohon sampai lama, hingga akhirnya ayahnya berkata, "Baiklah, pergilah kamu jika kamu mau, pengalaman akan membuatmu lebih bijaksana."Kemudian ibunya memberinya kue, tetapi kue ini hanyalah kue sederhana, dan sebotol minuman yang sudah sedikit kecut.Ketika dia tiba di hutan, si Pria Tua kecil itu bertemu dengannya, menyapanya dan berkata, "Berikanlah aku sedikit kuemu, dan minum dari botolmu, aku sangat lapar dan haus."Si Lugu pun menjawab, "Aku hanya memiliki kue tepung yang sederhana dan minuman yang rasanya sedikit kecut, tetapi jika kamu merasa kue dan minuman ini cukup baik bagi kamu, mari kita duduk bersama dan memakannya."Lalu mereka duduk, dan saat si Lugu mengeluarkan kue dan minumannya, kuenya menjadi kue yang lezat dan minumannya menjadi minuman yang sangat segar. Kemudian mereka pun makan dan minum.Tidak lama, si Pria Tua kecil itu berkata, "Kamu memiliki hati yang baik, dan membagi apa yang kamu miliki dengan sukarela, aku akan memberikan kamu suatu keberuntungan. Berdirilah di pohon tua itu, tebanglah, dan di balik akarnya kamu akan menemukan sesuatu."Setelah mengatakan hal itu, si Pria Tua kecil itu pun pergi. Si Lugu pun beranjak, kemudian berdiri di dekat pohon yang ditunjuk, lalu mulai menebang pohon tersebut. Ketika pohon itu tumbang, dia melihat seekor angsa dengan bulu terbuat dari emas murni, duduk di antara akar pohon. Dia pun mengangkatnya dan membawanya pergi ke sebuah penginapan di mana dia bermaksud untuk menginap karena hari telah hampir larut malam.Pemilik penginapan ini memiliki tiga anak perempuan, dan pada saat mereka melihat angsa yang dibawa oleh si Lugu, menjadi penasaran untuk mengetahui apa sebenarnya jenis angsa yang terlihat indah itu.Mereka pun ingin memiliki satu bulu angsa yang berwarna emas. Putri tertua berpikir, "Aku akan menunggu kesempatan yang baik, dan pada saat yang tepat, aku akan mencabut salah satu bulu angsa emas itu untuk diriku sendiri."Ketika si Lugu pergi keluar rumah, putri yang tertua dengan cepat berusaha mencabut sebuah bulu pada sayap angsa itu, akan tetapi jari dan tangannya malah melekat pada angsa itu. Setelah itu, datanglah putri kedua yang memiliki gagasan yang sama untuk mencabut salah satu bulu emas untuk dirinya sendiri, tetapi saat dia menyentuh kakaknya, dia juga ikut melekat pada kakaknya. Terakhir datanglah putri ketiga dengan niat yang sama, tetapi yang lainnya berteriak,"Menjauhlah! jangan mendekat!"Akan tetapi, putri ketiga tidak tahu mengapa kakak-kakaknya menyuruhnya pergi, dan dia pun berpikir, "Jika mereka berniat mencabut satu bulu angsa emas itu, mengapa aku tidak diperbolehkan?"Setelah berpikir begitu, dia pun tetap maju untuk mencabut sebuah bulu angsa. Tetapi ketika dia menyentuh kakak-kakaknya, dia pun melekat pada kakaknya tersebut. Mereka terpaksa harus tinggal bersama angsa emas itu sepanjang malam.Keesokan paginya, si Lugu mengambil angsa emas itu dan mengempitnya di bawah lengannya dan berjalan pergi tanpa mempedulikan mengapa ketiga gadis itumengikutinya ke manapun dia pergi. Ketiga gadis ini selalu mengikutinya, ke mana pun kakinya melangkah.Saat berjalan di tengah-tengah ladang, mereka bertemu seorang pemuka adat yang saat melihat barisan ini, berkata kepada ketiga orang gadis yang mengikuti si Lugu, "Apakah kalian tidak merasa malu? Berjalan mengikuti seorang anak muda melalui jalan-jalan umum seperti ini? Ayo, tinggalkanlah pemuda itu dan pergilah!"Dia pun segera menyambar lengan gadis yang termuda, dan saat itu pula tangannya melekat dan menyeret dia pergi bersama si Lugu. Tidak lama setelah itu, seorang pengurus adat melihat pemuka adat yang dihormati ini berbaris mengikuti si Lugu dan tiga orang gadis, maka dia pun berseru, "Hai, ke manakah Anda akan pergi? Apakah Anda lupa akan ada acara yang harus kita laksanakan?"Lantas, dia memegang jubah sang Pemuka Adat, tetapi setelah dia menyentuhnya, dia pun melekat dan terseret dalam barisan si Lugu. Saat kelima orang ini berjalan beriringan, mereka bertemu dua orang petani yang baru kembali dari ladang, dan sang Pemuka Adat berseru kepada mereka dan meminta mereka untuk datang dan melepaskan mereka dari barisan, tetapi kedua petani ini pun mengalami nasib yang sama dengan yang lainnya, sehingga sekarang ada tujuh orang yang mengikuti si Lugu dan angsa emasnya.Dalam perjalanan ini, si Lugu tiba di sebuah kota di mana raja yang memerintah hanya memiliki seorang putri yang tidak pernah tertawa dan tak ada orang yang pernah bisa membuatnya tertawa. Oleh karena itulah sang Raja memberikan pengumuman bahwa barang siapa yang bisa membuatnya tertawa, diizinkan untuk menikahi sang Putri.Si Lugu, yang mendengar sayembara ini, pergi menghadap ke sang Putri bersama dengan angsa emasnya dan barisan orang yang mengikutinya. Setelah sang Putri melihat tujuh orang yang berjalan beriringan dan terseret-seret antara satu dengan yang lainnya, dia pun tertawa terbahak-bahak, dan seolah-olah sulit untuk berhenti tertawa. Saat itu pula, ketujuh orang yang saling melekat, bisa terbebas.Si Lugu pun menagih janji sang Raja agar sang Putri dinikahkan dengannya, tetapi sang Raja merasa bahwa si Lugu kurang pantas menjadi menantunya, membuat berbagai alasan untuk menolak si Lugu. Sang Raja pun mensyaratkan bahwa si Lugu harus bisa membawakan seorang pria yang mampu meminum seluruh minuman yang ada dalam gudang minuman sang Raja.Si Lugu tiba-tiba teringat pada si Pria Tua kecil di hutan yang dipikirnya akan bisa membantunya. Dia pun pergi menuju hutan, dan di tempat yang sama di mana dia dulu menebang pohon, dia melihat seorang pria duduk dengan wajah sangat sedih.Ketika si Lugu bertanya apa yang terjadi, pria itu menjawab, "Saya sangat haus, dan apapun yang saya minum, tidak bisa memuaskan rasa dahaga saya. Saya tidak senang meminum air dingin, saya lebih senang meminum minuman segar dalam botol kecil ini, tetapi apalah artinya minuman yang hanya sebotol kecil? Rasanya seperti setetes saja bagi pria yang haus seperti saya."Lalu berkatalah si Lugu, "Aku mungkin bisa membantumu, ikutlah denganku, dan rasa dahagamu akan terpuaskan."Si Lugu lalu membawanya langsung ke gudang minuman sang Raja, dan pria itu kemudian duduk sendiri di depan sebuah tong minuman yang besar, lalu minum dan minum, dan sebelum hari menjelang malam, dia telah meminum seluruh minuman yang ada di gudang. Si Lugu lalu menagih janji agar sang Putri bisa menjadi istrinya, tetapi sang Raja menjadi kesal karena si Lugu berhasil memenuhi tugas yang diberikan.Sang Raja pun membuat satu persyaratan baru. Si Lugu harus bisa menemukan orang yang bisa memakan segundukan roti yang sangat banyak. Tanpa bertanya-tanya lagi, si Lugu pun berangkat ke hutan, dan di tempat yang sama duduklah seorang pria yang perutnya dililit dengan tali dan berwajah sedih.Pria itupun berkata kepadanya, "Aku sudah makan seluruh roti dalam oven, tetapi semuanya tidak terasa bagi orang yang sangat lapar seperti aku. Perutku terasa kosong, dan aku terpaksa melilitkan tali di perutku karena terlalu lapar."Si Lugu sangat senang mendengar perkataan orang itu dan berkata, "Bangkitlah segera, dan ikutlah bersamaku. Aku akan memberikan kamu makanan sehingga kamu puas."Dia membawanya langsung ke halaman istana, di mana semua makanan di istana telah dikumpulkan dan dimasukkan ke sebuah gunung roti. Pria dari hutan ini lalu bergegas untuk makan, dan dalam waktu satu hari seluruh tumpukan makanan telah menghilang.Kemudian si Lugu menagih calon istrinya kepada sang Raja untuk ketiga kalinya, tetapi sang Raja, menemukan satu alasan lagi, dan ia pun mengatakan bahwa si Lugu harus membawakan dia sebuah kapal yang mampu berlayar di darat atau di air."Jika kamu menemukan kapal seperti itu, kamu akan aku nikahkan dengan putriku."Si Lugu langsung pergi ke hutan, dan di sana duduklah si Pria Tua kecil berkulit abu-abu, pria tua yang pernah mendapatkan kue dari si Lugu. Si Pria Tua kecil itu pun berkata kepadanya, "Aku sudah menghabiskan minuman dari sebuah gudang istana demi kamu, dan aku telah memakan gunungan roti demi kamu. Aku juga akan memberikan kamu kapal. Semua ini aku lakukan karena kamu sangat baik kepadaku."Lalu si Pria Tua kecil itu pun memberinya kapal yang bisa berlayar di darat dan di air, dan ketika sang Raja melihat kapal ini, dia tahu dia tidak bisa lagi menahan putrinya untuk tidak menikah dengan si Lugu. Pernikahan pun segera dilangsungkan. Saat sang Raja wafat, si Lugu mewarisi tahta kerajaan, dan hidup berbahagia selamanya bersama sang Putri.
Androcles dan Seekor Singa
Dahulu kala di Kota Roma, hiduplah seorang budak bernama Androcles yang melarikan diri dari majikannya dan menyembunyikan diri di dalam hutan. Dia berjalan tak tentu arah di hutan tersebut cukup lama, hingga dia merasa kelelahan dan kelaparan serta mulai berputus asa.Sesaat kemudian, dia mendengar suara seekor singa di dekatnya yang mengaum dengan keras. Androcles yang kelelahan, bangkit dan bergegas untuk pergi karena rasa takutnya kepada singa, tetapi saat dia berjalan menembus semak-semak dia tersandung pada akar pohon dan terjatuh.Ketika dia mencoba untuk bangkit kembali, dia melihat seekor singa yang sangat besar datang ke arahnya, berjalan terpincang-pincang dengan tiga kakinya sambil mengangkat satu kakinya ke depan.Androcles yang malang menjadi putus asa karena dia tidak memiliki kekuatan lagi untuk bangkit dan melarikan diri pada saat sang singa besar berjalan menuju ke arahnya. Ketika hewan besar itu tiba di depannya, Androcles ketakutan setengah mati. Akan tetapi singa tersebut tidak menyerangnya, dan hanya mengeluh serta mendesah sambil menatap Androcles.Androcles pun melihat bahwa kaki kanan yang dijulurkan oleh sang Singa, berlumuran darah dan bengkak. Androcles mencoba melihat lebih dekat, dan saat itu dia melihat sebuah duri besar tertusuk pada kaki kanan sang Singa.Androcles mengumpulkan keberanian dan menarik keluar duri yang menusuk cakar singa, yang saat itu langsung meraung dengan keras karena kesakitan. Tetapi tidak lama setelah itu, sepertinya sang Singa menjadi lebih lega dan tenang, bahkan sang Singa pun menggosok-gosokkan kepala dan badannya ke Androcles sebagai tanda kasih sayang dan terima kasih.Apa yang ditakutkan oleh Androcles menjadi sirna, sang Singa bukan hanya tidak memangsa dirinya, tetapi dalam waktu tidak berapa lama, singa tersebut pergi dan kembali sambil membawa rusa muda yang berhasil ditangkapnya ke hadapan Androcles, sehingga Androcles bisa mendapatkan makanan di saat itu.Untuk beberapa waktu, sang Singa terus membawa hewan hutan yang dimangsanya untuk Androcles yang semakin hari semakin akrab dengan hewan besar tersebut. Namun suatu hari, sejumlah prajurit memasuki hutan dan menemukan Androcles. Ketika itu, dia ia tidak dapat menjelaskan apa yang dia perbuat di dalam hutan. Para prajurit tersebut menahan Androcles, dan membawanya kembali ke kota di mana dia melarikan diri. Di sanalah tuannya mengenali dia dan membawanya ke depan pihak berwenang. Dia pun dijatuhi hukuman mati karena telah melarikan diri dari majikannya.Pada zaman tersebut, telah menjadi kebiasaan bagi bangsa Roma untuk memasukkan tahanan yang akan dihukum mati, seperti para pembunuh dan penjahat lainnya, ke dalam suatu arena besar bersama dengan seekor singa, sehingga di saat para penjahat menerima hukuman matinya di arena, masyarakat bisa menonton pertarungan antara mereka dan binatang buas tersebut.Androcles juga dijatuhi hukuman mati, dan akan tempatkan di arena tarung beserta seekor singa. Pada hari yang telah ditentukan, dia pun ditempatkan di arena sendirian dan hanya berbekal tombak untuk melindungi dirinya dari dari serangan singa yang buas. Kaisar yang berada di barisan kursi untuk kalangan istana, memberikan sinyal untuk melepaskan singa dan memulai pertarungan.Saat sang Singa keluar dari kandangnya dan mendekati Androcles, apa yang terjadi? Bukannya sang Singa melompat ke atasnya untuk menerkam, tetapi sang Singa malah menunjukkan sikap hormat kepadanya, menggosok-gosokkan kepalanya pada Androcles yang dengan segera membelai kepala sang Singa. Ternyata singa tersebut adalah singa yang pernah bertemu dengan Androcles di dalam hutan.Kaisar yang terkejut melihat perilaku aneh dari sang Singa, memanggil Androcles untuk datang kepadanya dan bertanya bagaimana hal itu bisa terjadi, sehingga singa yang terkenal ganas, menjadi jinak di hadapan Androcles.Androcles pun menceritakan semua yang telah terjadi terhadapnya kepada sang Kaisar, dan bagaimana singa itu menunjukkan rasa terima kasihnya setelah dia mencabut duri yang menusuk di telapak kakinya.Sang Kaisar pun mengampuni Androcles dan memerintahkan majikan Androcles untuk membebaskan Androcles dari perbudakan, sementara sang Singa pun dibawa kembali ke hutan untuk dilepaskan sehingga sang Singa bisa menikmati kebebasannya kembali.
Kebaikan Simpleton
Ada seorang pemuda bernama Simpleton. Ia adalah anak bungsu. Ia memiliki dua kakak laki-laki. Mereka bertiga bekerja sebagai tukang kayu. Setiap pagi, mereka selalu pergi untuk menebang kayu di hutan. Tetapi, meskipun bersaudara. Mereka memiliki perangai yang berbeda.Suatu hari, kakak pertama Simpleton pergi ke hutan. Ia membawa bekal makanan dari rumahnya. Sesampainya di dalam hutan, ada manusia kerdil yang mendatanginya."Bolehkah aku meminta sedikit makananmu? Aku sangat lapar," ucap manusia kerdil itu, memelas."Hei, siapa kau? Enak saja, sana pergi! Jangan menggangguku." hardik kakak pertama Simpleton.Manusia kerdil itu lalu pergi. Ia sangat kecewa terhadap kakak pertama Simpleton. Kakak pertama Simpleton sama sekali tak peduli dengannya.Hari berikutnya, kakak kedua Simpleton pergi ke hutan yang sama. Ia juga membawa bekal makanan dari rumahnya. Setelah menebang pohon, ia beristirahat untuk makan siang. Saat itu, manusia kerdil menghampirinya."Maaf aku mengganggu makan siangmu. Bolehkah aku meminta sedikit makan siangmu?" tanya manusia kerdil.Kakak kedua Simpleton memandang tak suka pada manusia kerdil. Lalu ia mengusir manusia kerdil, seperti yang dilakukan oleh kakaknya. Manusia kerdil kembali kecewa. Ia pun pergi meninggalkan kakak kedua Simpleton.Hari berikutnya, Simpleton pergi ke hutan yang sama. Saat hendak makan siang, ia didatangi oleh manusia kerdil. Manusia kerdil itu datang dengan wajah yang murung."Kau pasti juga tak mau membagikan sedikit makananmu untukku," ucap manusia kerdil.Simpleton memandangi manusia kerdil. Ia tersenyum manis pada manusia kerdil itu."Kata siapa? Aku justru senang jika ada yang menemaniku makan siang. Ayo, aku akan membagi separuh makananku untukmu," balas Simpleton.Alangkah senangnya hati manusia kerdil. Ia pun makan dengan lahap bersama Simpleton. Hem... makanan yang sangat enak. Manusia kerdil lalu berterima kasih kepada Simpleton. Ia bahkan membisikkan sebuah rahasia kepada Simpleton."Karena kau sudah berbaik hati membagikan makananmu, aku akan buka sebuah rahasia padamu," ucap manusia kerdil."Rahasia apa?" Simpleton penasaran."Kau tebanglah pohon di ujung sungai sana. Di dalam pohon itu ada angsa bertelur emas. Itu sebagai ucapan terima kasihku karena kau baik hati," balas manusia kerdil.Simpleton lalu menebang pohon yang ditunjukkan oleh manusia kerdil. Benar saja, di dalamnya ada seekor angsa yang bertelur emas. Simpleton pun membawa angsa itu ke rumahnya. Angsa itu setiap hari bertelur emas, membuat Simpleton menjadi kaya raya. Sejak saat itu, Simpleton hidup dengan sejahtera. Ia juga menikahi wanita tercantik di desanya.
Williem dan Irene
Beratus-ratus tahun yang lalu di sebuah desa nelayan bernama Volendam, hiduplah keluarga Jansen dan keluarga Hendrik.Masing masing keluarga ini memiliki anak yang berumur sembilan tahun.Keluarga Jansen mempunyai anak perempuan bernama Irene dan keluarga Hendrik mempunyai anak laki-laki bernama Willem. Willem dan Irene adalah anak-anak yang rajin. Willem selalu membantu ayahnya memperbaiki jala yang rusak. Irene selalu membantu ibunya yang berjualan makanan di pinggir pantai.Suatu hari, seperti biasa Willem dan Irene menunggu kepulangan ayah mereka di pinggir dermaga. Satu per satu nelayan pulang, tapi sampai sore belum terlihat tanda-tanda kepulangan ayah mereka."Pak, apakah Bapak melihat ayah kami?" tanya Irene pada seorang nelayan."Oh, kami melihat ayah kalian menuju ke utara. Katanya, dia mau menangkap ikan tuna lebih banyak lagi," jawab si nelayan.Irene menatap langit di utara. Tampak awan mendung bertumpuk. Sepertinya, akan terjadi badai. Irene sangat khawatir."Ayah," isak Irene."Jangan khawatir, Irene," hibur Willem."Tapi, bagaimana kalau mereka terjebak badai? Kapalnya bisa terbalik dan tenggelam.""Kita bisa menolong ayah kita," kata Willem. "Bagaimana caranya?" tanya Irene."Dengan berdoa," jawab Willem mantap.Irene memandang Willem. "Apakah Tuhan akan mendengar doa kita?" tanyanya."Ya, Tuhan yang mengendalikan alam. Kita harus berdoa semoga Tuhan mau menghentikan hujan dan membuat laut menjadi tenang," kata Willem.Mereka lalu berlutut dan berdoa dengan khusyuk. Tiba-tiba, langit menjadi terang dan angin yang tadinya kencang bertiup lembut. Tidak berapa lama, dari tengah taut nampak sebuah perahu.Ternyata itu memang perahu ayah mereka. Kedua anak itu berseru mengucap syukur. Ternyata, ayah mereka berhasil menangkap seekor ikan tuna yang sangat besar. Belum pernah ada nelayan lain yang pernah menangkap tuna sebesar itu.Ayah mereka membawa ikan tuna itu ke tempat pelelangan ikan dan terjual dengan harga tinggi. Pemuda yang membeli ikan tuna besar itu ingin makan di rurnah keluarga Hendrik dan Jansen. Hendrik dan Jansen setuju.Di rumah, Willem dan Irene membawa ikan itu ke dapur untuk dibersihkan. Saat mengeluarkan isi perut ikan, mereka menemukan sebuah cincin berlian.Willem dan Irene menyerahkan cincin itu ke. pada si pemuda pembeli ikan. Pemuda itu kagum mengetahui kejujuran kedua anak tersebut."Seandainya mereka tidak menyerahkan cincin itu padaku, aku pun tidak akan tahu kalau ada cincin berlian di dalam perut ikan yang kubeli," batin si pemuda.Pemuda itu tersenyum pada Willem dan Irene Lalu, ia membuka jubah yang menutupi pakaiannya. Ternyata, pemuda itu adalah pangeran yang sedang menyamar."Kalian anak yang jujur," katanya."Karenanya, mulai besok aku akan mengangkat Willem sebagai pengawal pribadiku. Dan Irene, bagaimana kalau kau kuangkat sebagai adikku?"Sejak saat itu, Willem dan Irene menjadi anggota kehormatan kerajaan. Berkat kejujuran, mereka bisa hidup mulia.
Enam Serdadu
Pada suatu masa ada seorang pria yang hebat, dia telah membaktikan diri pada negara dalam perang, dan mempunyai keberanian yang luar biasa, tetapi pada akhirnya dia dipecat tanpa alasan apapun dan hanya memiliki 3 keping uang logam sebagai hartanya."Saya tidak akan diam saja melihat hal ini," katanya; "tunggu hingga saya menemukan orang yang tepat untuk membantu saya, dan raja harus memberikan semua harta dari negaranya sebelum masalah saya dengan dia selesai."Kemudian, dengan penuh kemarahan, dia masuk ke dalam hutan, dan melihat satu orang berdiri disana mencabuti enam buah pohon seolah-olah pohon itu adalah tangkai-tangkai jagung. Dan dia berkata kepada orang itu,"Maukah kamu menjadi orangku, dan ikut dengan saya?""Baiklah," jawab orang itu; "Saya harus membawa pulang sedikit kayu-kayu ini terlebih kerumah ayah dan ibuku." Dan mengambil satu persatu pohon tersebut, dan menggabungkannya dengan 5 pohon yang lain dan memanggulnya di pundak, dia lalu berangkat pergi; segera setelah dia datang kembali, dia lalu ikut bersama dengan pimpinannya, yang berkata,"Berdua kita bisa menghadapi seluruh dunia."Dan tidak lama mereka berjalan, mereka bertemu dengan satu orang pemburu yang berlutut pada satu kaki dan dengan hati-hati membidikkan senapannya."Pemburu," kata si pemimpin, "apa yang kamu bidik?""Dua mil dari sini," jawabnya, "ada seekor lalat yang hinggap pada pohon Oak, Saya bermaksud untuk menembak mata kiri dari lalat tersebut.""Oh, ikutlah dengan saya," kata si Pemimpin, "Bertiga kita bisa menghadapi seluruh dunia"Pemburu tersebut sangat ingin ikut dengannya, jadi mereka semua berangkat bersama hingga mereka menemukan tujuh kincir angin, yang baling-baling layarnya berputar dengan kencang, walaupun disana tidak ada angin yang bertiup dari arah manapun, dan tak ada daun-daun yang bergerak."Wah," kata si Pemimpin, "Saya tidak bisa berpikir apa yang menggerakkan kincir angin, berputar tanpa angin;" dan ketika mereka berjalan sekitar dua mil ke depan, mereka bertemu dengan seseorang yang duduk diatas sebuah pohon, sedang menutup satu lubang hidungnya dan meniupkan napasnya melalui lubang hidung yang satu."Sekarang," kata si Pemimpin, "Apa yang kamu lakukan diatas sana?""Dua mil dari sini," jawab orang itu, "disana ada tujuh kincir angin; saya meniupnya hingga mereka dapat berputar.""Oh, ikutlah dengan saya," bujuk si Pemimpin, "Berempat kita bisa menghadapi seluruh dunia."Jadi si Peniup turun dan berangkat bersama mereka, dan setelah beberapa saat, mereka bertemu dengan seseorang yang berdiri diatas satu kaki, dan kaki yang satunya yang dilepas, tergeletak tidak jauh darinya."Kamu terlihat mempunyai cara yang unik saat beristirahat," kata si Pemimpin kepada orang itu."Saya adalah seorang pelari," jawabnya, "dan untuk menjaga agar saya tidak bergerak terlalu cepat Saya telah melepas sebuah kaki saya, Jika saya menggunakan kedua kaki saya, Saya akan jauh lebih cepat dari pada burung yang terbang.""Oh, ikutlah dengan saya," kata si Pemimpin, "Berlima kita bisa menghadapi seluruh dunia."Jadi mereka akhirnya berangkat bersama, dan tidak lama setelahnya, mereka bertemu dengan seseorang yang memakai satu topi kecil, dan dia memakainya hanya tepat diatas satu telinganya saja."Bersikaplah yang benar! bersikaplah yang benar!" kata si Pemimpin; "dengan topi seperti itu, kamu kelihatan seperti orang bodoh.""Saya tidak berani memakai topi ini dengan lurus," jawabnya lagi, "Jika saya memakainya dengan lurus, akan terjadi badai salju dan semua burung yang terbang akan membeku dan jatuh mati dari langit ke tanah."Oh, ikutlah dengan saya," kata si Pemimpin; "Berenam kita bisa menghadapi seluruh dunia."Jadi orang yang keenam ikut berangkat bersama hingga mereka mencapai kota dimana raja yang menyebabkan penderitaannya akan memulai pertandingan dimana siapapun yang jadi pemenang akan dinikahkan dengan putrinya, tetapi siapapun yang kalah akan dibunuh sebagai hukumannya. Lalu si Pemimpin maju kedepan dan berkata bahwa satu dari orangnya akan mewakili dirinya dalam pertandingan tersebut."Kalau begitu," kata raja, "hidupnya harus dipertaruhkan, dan jika dia gagal, dia dan kamu harus dihukum mati."Ketika si Pemimpin telah setuju, dia memanggil si Pelari, dan memasangkan kakinya yang kedua pada si Pelari."Sekarang, lihat baik-baik," katanya, "dan berjuanglah agar kita menang."Telah disepakati bahwa siapapun yang paling pertama bisa membawa pulang air dari anak sungai yang jauh dan telah ditentukan itu akan dianggap sebagai pemenang. Sekarang putri raja dan si Pelari masing-masing mengambil kendi air, dan mereka mulai berlari pada saat yang sama; tetapi dalam sekejap, ketika putri raja tersebut berlari agak jauh, si Pelari sudah hilang dari pandangan karena dia berlari secepat angin. Dalam sekejap dia telah mencapai anak sungai, mengisi kendinya dengan air dan berlari pulang kembali. Ditengah perjalanan pulang, dia mulai merasa kelelahan, dan berhenti, menaruh kendinya dilantai dan berbaring di tanah untuk tidur. Agar dapat terbangun secepatnya dan tidak tertidur pulas, dia mengambil sebuah tulang tengkorak kuda yang tergeletak didekatnya dan menggunakannya sebagai bantal. Sementara itu, putri raja, yang sebenarnya juga pelari yang baik dan cukup baik untuk mengalahkan orang biasa, telah mencapai anak sungai juga, mengisi kendinya dengan air, dan mempercepat larinya pulang kembali, saat itu dia melihat si Pelari yang telah tertidur di tengah jalan."Hari ini adalah milik saya," dia berkata dengan gembira, dan dia mengosongkan dan membuang air dari kendi si Pelari dan berlari pulang. Sekarang hampir semuanya telah hilang tetapi si Pemburu yang juga berdiri di atas dinding kastil, dengan matanya yang tajam dapat melihat semua yang terjadi."Kita tidak boleh kalah dari putri raja," katanya, dan dia mengisi senapannya, mulai membidik dengan teliti dan menembak tengkorak kuda yang dijadikan bantal dibawah kepala si Pelari tanpa melukai si Pelari. Si Pelari terbangun dan meloncat berdiri, dan melihat banya kendinya telah kosong dan putri raja sudah jauh berlari pulang ke tempat pertandingan dimulai. Tanpa kehilangan keberaniannya, dia berlari kembali ke anak sungai, mengisi kendinya kembali dengan air, dan untuk itu, dia berhasil lari pulang kembali 10 menit sebelum putri raja tiba."Lihat," katanya; "ini adalah pertama kalinya saya benar-benar menggunakan kaki saya untuk berlari"Raja menjadi jengkel, dan putrinya lebih jengkel lagi, karena dia telah dikalahkan oleh serdadu biasa yang telah dipecat; adn mereka berdua sepakat untuk menyingkirkan serdadu beserta pengikutnya bersama-sama."Saya punya rencana," jawab sang Raja; "jangan takut tetapi kita harus mendiamkan mereka selama-lamanya." Kemudian mereka menemui serdadu dan pengikutnya, mengundang mereka untuk makan dan minum; dan sang Raja memimpin mereka menuju ke sebuah ruangan, yang lantainya terbuat dari besi, pintunya juga terbuat dari besi, dan di jendelanya terdapat rangka-rangka besi; dalam ruangan itu ada sebuah meja yang penuh dengan makanan."Sekarang, masuklah kedalam dan buatlah dirimu senyaman mungkin," kata sang Raja.Ketika serdadu dan pengikutnya semua masuk, dia mengunci pintu tersebut dari luar. Dia kemudian memanggil tukang masak, dan menyuruhnya untuk membuat api yang sangat besar dibawah ruangan tersebut hingga lantai besi menjadi sangat panas. Dan tukang masak tersebut melakukan apa yang diperintahkan oleh Raja, dan keenam orang didalamnya mulai merasakan ruangan menjadi panas, tapi berpikir bahwa itu karena makanan yang mereka makan, seiring dengan suhu ruangan yang bertambah panas, mreka menyadari bahwa pintu dan jendela telah dikunci rapat, mereka menyadari rencana jahat sang raja untuk membunuh mereka."Bagaimanapun juga, dia tidak akan pernah berhasil," kata laki-laki dengan topi kecil; "Saya akan membawa badai salju yang akan membuat api merasa malu pada dirinya sendiri dan merangkak pergi."Dia lalu memasang topinya lurus diatas kepala, dan secepat itu badai salju datang dan membuat semua udara panas menjadi hilang dan makanan menjadi beku diatas meja. Setelah satu atau dua jam berlalu, Raya menyangka bahwa mereka telah terbunuh karena panas, dan menyuruh untuk membuka kembali pintu ruangan tersebut, dan masuk kedalam untuk melihat keadaan mereka. Ketika pintu terbuka lebar, mereka berenam ternyata selamat dan terlihat mereka telah siap untuk keluar untuk menghangatkan diri karena ruangan tersebut terlalu dingin dan menyebabkan makanan di meja menjadi beku. Dengan penuh kemarahan, raja mendatangi tukang masak, mencaci dan menanyakan mengapa tukang masak itu tidak melaksanakan apa yang diperintahkan."Ruangan tersebut cukup panas; kamu mungkin bisa melihatnya sendiri," kata tukang masak. Sang Raja melihat kebawah ruangan besi tersebut dan melihat api yang berkobar-kobar di bawahnya, dan mulai berpikir bahwa keenam orang itu tidak dapat disingkirkan dengan cara itu. Dia mulai memikirkan rencana baru, jadi dia memanggil serdadu yang menjadi pemimpin tersebut dan berkata kepadanya,"Jika kamu tidak ingin menikahi putri saya dan memilih harta berupa emas, kamu boleh mengambilnya sebanyak yang kamu mau.""Baiklah, tuanku Raja," jawab si Pemimpin; "biarkan saya mengambil emas sebanyak yang dapat dibawa oleh pengikutku, dan saya tidak akan menikahi putrimu." Raja setuju bahwa si Pemimpin akan datang dalam dua minggu untuk mengambil emas yang dijanjikan. Si Pemimpin memanggil semua penjahit yang ada di kerajaan tersebut dan menyuruh mereka untuk membuat karung yang sangat besar dalam dua minggu. Dan ketika karung itu telah siap, orang kuat (yang dijumpai mencabut dan mengikat pohon) memanggul karung tersebut di pundaknya dan menghadap sang Raja."Siapa orang yang membawa buntalan sebesar rumah di pundaknya ini?" teriak sang Raja, ketakutan karena memikirkan banyaknya emas yang bisa dibawa pergi. Dan satu ton emas yang biasanya diseret oleh 16 orang kuat, hanya di panggulnya di pundak dengan satu tangan."Mengapa tidak kamu bawa lebih banyak lagi? emas ini hanya menutupi dasar dari kantung ini!" Jadi raja menyuruh untuk mengisinya perlahan-lahan dengan seluruh kekayaannya, dan walaupun begitu, kantung tersebut belum terisi setengah penuh."Bawa lebih banyak lagi!" teriak si Kuat; "harta-harta ini belum berarti apa-apa!" Kemudian akhirnya 7000 kereta yang dimuati dengan emas yang dikumpulkan dari seluruh kerajaan berakhir masuk dalam karungnya."Kelihatannya belum terlalu penuh," katanya, "tetapi saya akan membawa apa yang bisa saya bawa." walaupun dalam karung tersebut masih tersedia ruangan yang kosong."Saya harus mengakhirinya sekarang," katanya; "Jika tidak penuh, sepertinya lebih mudah untuk mengikatnya." Dan orang kuat itu lalu menaikkan karung tersebut dipunggungnya dan berangkat pergi bersama dengan teman-temannya.Ketika sang Raja melihat semua kekayaan dari kerajaanya dibawa oleh hanya satu orang, dia merasa sangat marah, dan dia memerintahkan pasukannya untuk mengejar keenam orang itu dan merampas kembali karung itu dari si Kuat.Dua pasukan kuda segera dapat mengejar mereka, memerintahkan keenam orang itu untuk menyerah dan menjadi tawanan, dan mengembalikan kembali karung harta itu atau dibunuh."Menjadi tawanan, katamu?" kata orang yang bisa meniup, "mungkin kalian perlu menari-nari di udara bersama-sama," dan menutup satu lubang hidungnya, dan meniupkan napas melalui lubang yang satunya, pasukan tersebut beterbangan melewati atas gunung. Tetapi komandan yang memiliki sembilan luka dan merupakan orang yang pemberani, memohon agar mereka tidak dipermalukan. Si Peniup kemudian menurunkannya perlahan-lahan dan memerintahkan agar mereka melaporkan ke sang Raja bahwa pasukan apapun yang dikirim kan untuk mengejar mereka, akan mengalami nasib yang sama dengan pasukan ini. Dan ketika sang Raja mendapat pesan tersebut, berkata,"Biarkanlah mereka; mereka mempunyai hak atas harta itu." Jadi keenam orang itu membawa pulang harta mereka, membagi-bagikannya dan hidup senang sampai akhir hayat mereka.
Petualangan Sheila di negeri peri
Di sebuah desa, ada seorang anak perempuan yang baik dan polos bernama Sheila. Ia senang sekali bermain di hutan.Ibunya selalu mengingatkannya agar tak terlalu jauh masuk ke hutan. Menurut kepercayaan para penduduk, orang yang terlalu jauh masuk ke hutan, tak akan pernah kembali.Sheila sering datang ke tempat perbatasan kabut di hutan. Setiap kali Sheila pergi bermain, ibunya selalu membekalinya dengan sekantong kue, permen cokelat, dan sebotol jus buah. Di sana, Sheila duduk di bawah pohon dan menikmati bekalnya.Suatu kali, seperti biasa Sheila duduk menikmati bekalnya. Tiba-tiba, Sheila merasa ada beberapa pasang mata memerhatikannya. la memandang berkeliling untuk mencari tahu. Namun, ia tak meliihat siapa-siapa."Heil Siapa pun itu, keluarlah! Jika kalian mau, kalian boleh makan kue bersamaku," teriak Sheila.Mendengar tawaran Sheila, tiga peri muncul di depan Sheila. Tubuh mereka hanya separuh tinggi badan Sheila. Mereka memiliki sayap di punggung dan telinga mereka berujung lancip. Peri-peri itu bernama Plo, Plea, dan Plop. Ketiga peri itu bersaudara. Mereka mau menikmati kue bersama Sheila.Suatu hari, Sheila bertanya kepada ketiga temannya, "Pio, Plea, dan Plop. Mengapa ada daerah berkabut di hutan ini? Apa isinya?" tanya Sheila penuh rasa ingin tahu.Mendengar pertanyaan Sheila, ketiga peri ragu untuk memberi tahu Sheila. Setelah berpikir sejenak, akhirnya mereka memberitahu rahasia hutan berkabut."Para peri tinggal di balik hutan berkabut, termasuk kami. Kabut itu adalah pelindung agar tak seorang pun dapat masuk ke wilayah kami tanpa izin. Kami adalah peri penjaga daerah berkabut. Jika kabut menipis, kami akan meniupkannya lagi banyak-banyak. Jika ada tamu yang tak diundang masuk ke wilayah kami, kami membuatnya tersesat," jelas Pio, Plea, dan Plop."Bisakah aku datang ke negeri kalian?' tanya Sheila berharap.Ketiga peri berdiskusi. "Baiklah. Kami akan mengusahakannya," kata mereka.Tak lama kemudian, Sheila diajak Pio, Plea, dan Plop ke negeri mereka. Hari itu, Sheila membawa kue, cokelat, dan permen banyak-banyak. Sebelumnya, Sheila didandani seperti peri oleh ketiga temannya agar bisa mengelabui pare peri lain. Sebab, manusia dilarang masuk ke wilayah peri.Ketiga teman Sheila ini juga memberi kacamata khusus pada Sheila. Dengan kacamata itu, Sheila dapat melihat dengan jelas.Kemudian, dengan bimbingan Pio, Plea, dan Plop, akhirnya Sheila sampai ke negeri peri. Di sana, banyak rumah mungil yang bentuknya aneh-aneh.Ada rumah berbentuk jamur, berbentuk sepatu, bahkan ada yang berbentuk teko. Pakaian mereka seperti kostum karnaval. Kegiatan para peri pun bermacam-macam. Ada yang mengumpulkan madu, bernyanyi, membuat baju dari kelopak bunga, dan sebagainya. Semua tampak riang gembira.Sheila sangat senang. la diperkenalkan pada anak peri lainnya. Mereka sangat terkejut mengetahui Sheila adalah manusia. Namun, mereka senang dapat bertemu dan berjanji tidak akan memberi tahu ratu para peri.Tiba-tiba, ratu para peri datang. "Siapa itu?" tanyanya penuh selidik."Ratu, dia adalah teman hamba dari hutan utara," jawab Plop ketakutan.Sang ratu memerhatikan Sheila dari ujung rambut sampai ujung kaki. Setelah itu, ia pergi. Namun sayang, cuping telinga palsu Sheila copot. sang ratu melihat hal itu dan murka."Manusia! Bagaimana ia bisa sampai kemari? Siapa yang membawanya?" teriak sang ratu.Pio, Plea, dan Plop maju ke depan dengap gemetar. "Kami, Ratu," jawab mereka gugup.Namun, sebelum Ratu Peri memarahi Pio, Plea, dan Plop, Sheila berkata, "Mereka tidak bersalah, Ratu. Akulah yang memaksa mereka agar membawaku kemari.""Kalau begitu, kau harus dihukum menggantikan mereka," kata sang ratu.Sheila dimasukkan ke dalam panci raksasa. la akan direbus selama setengah jam. Namun, Sheila ternyata tidak apa-apa.Ternyata, kebaikan hati Sheila membuat ia lolos dari hukuman. Akhirnya, ia diperbolehkan pulang dan tiga teman perinya bebas dari hukuman. Ratu para peri membuat Sheila mengantuk dan tertidur. la menghapus ingatan Sheila tentang negeri peri. Ketika terbangun, Sheila telah berada di tempat tidurnya.
Gadis Berbaju Hijau
Dahulu kala, hiduplah seorang anak pelajar yang sangat pintar dan rajin bernama Yu. Sejak kecil, Yu dikenal sebagai anak yang gemar membaca dan belajar. Ia bercita-cita menjadi orang bijak yang dapat menolong banyak orang dengan ilmunya. Karena itulah, ia tidak pernah menyia-nyiakan waktunya.Suatu hari, Yu memutuskan pergi ke sebuah kuil tua yang terletak di puncak bukit yang sunyi. Tempat itu jauh dari keramaian desa dan dikelilingi pepohonan yang rimbun. Yu memilih kuil itu agar ia bisa belajar dengan tenang tanpa gangguan apa pun.Hari demi hari berlalu. Yu belajar dengan sangat rajin. Sejak pagi hingga malam, ia membaca kitab-kitab, menulis catatan, dan merenungkan pelajaran yang ia pelajari. Ia hampir tidak pernah beristirahat, karena semangat belajarnya begitu besar.Namun pada suatu malam, tubuh Yu akhirnya tidak sanggup lagi menahan rasa lelah. Saat sedang menulis di meja belajarnya, matanya terasa sangat berat. Tanpa disadari, kepalanya tertunduk dan ia pun tertidur pulas di atas meja.Tidurnya sangat lelap hingga ia terjatuh ke dalam sebuah mimpi yang terasa begitu nyata.Dalam mimpinya, Yu melihat seorang gadis cantik mengenakan baju berwarna hijau. Wajah gadis itu tampak lembut, tetapi penuh dengan rasa takut dan harap. Ia melangkah mendekati Yu, lalu membungkuk dengan sopan.“Tolonglah aku,” kata gadis itu dengan suara gemetar. “Aku mohon, tolonglah aku…”Yu terkejut mendengar permohonan itu. Sebelum sempat bertanya lebih jauh, mimpi itu pun menghilang.Yu terbangun dengan kaget. Tangannya tanpa sengaja menyenggol botol tinta hingga tinta tumpah di atas meja dan kertasnya. Jantungnya berdebar kencang.Beberapa saat kemudian, ia mendengar suara mendengung pelan dari luar ruangan. Suara itu berasal dari arah jendela. Merasa penasaran, Yu bangkit dan menghampiri jendela, lalu membukanya perlahan.Di sanalah ia melihat seekor lebah kecil yang terperangkap dalam jaring laba-laba. Lebah itu berusaha keras melepaskan diri, tetapi semakin bergerak, semakin terjerat. Sementara itu, seekor laba-laba sudah mendekat, bersiap memangsa lebah tersebut.Yu teringat akan mimpinya. Hatinya tergerak. “Apakah ini yang dimaksud gadis dalam mimpiku?” gumamnya.Tanpa ragu, Yu segera memetik sehelai daun dan dengan hati-hati mengambil lebah itu dari jaring laba-laba. Ia berhasil menyelamatkannya tepat sebelum laba-laba itu menyerang.Yu membawa lebah tersebut ke dalam kuil dan meletakkannya di atas meja. Lebah itu tampak lemah dan berjalan sempoyongan. Kakinya tanpa sengaja menginjak tinta yang tumpah sebelumnya.Perlahan-lahan, lebah itu mulai bergerak lebih tenang. Setelah tampak pulih, lebah tersebut berjalan menuju selembar kertas putih di atas meja. Yu memperhatikannya dengan heran.Lebah itu berjalan berkeliling di atas kertas, meninggalkan jejak tinta dari kakinya. Jejak-jejak itu tampak seperti goresan yang tidak beraturan. Namun, setelah Yu mengamati dengan saksama, ia terkejut.Di atas kertas itu kini tertulis dua kata yang jelas:“Terima kasih.”Yu terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil. “Lebah ajaib,” kata Yu pelan sambil menatap kertas itu penuh takjub.Saat Yu mengangkat wajahnya, lebah itu sudah terbang keluar jendela dan menghilang ke malam yang sunyi. Sejak hari itu, Yu semakin percaya bahwa setiap perbuatan baik, sekecil apa pun, pasti akan membawa keajaiban.
Enam Serdadu
Pada suatu masa ada seorang pria yang hebat, dia telah membaktikan diri pada negara dalam perang, dan mempunyai keberanian yang luar biasa, tetapi pada akhirnya dia dipecat tanpa alasan apapun dan hanya memiliki 3 keping uang logam sebagai hartanya."Saya tidak akan diam saja melihat hal ini," katanya; "tunggu hingga saya menemukan orang yang tepat untuk membantu saya, dan raja harus memberikan semua harta dari negaranya sebelum masalah saya dengan dia selesai."Kemudian, dengan penuh kemarahan, dia masuk ke dalam hutan, dan melihat satu orang berdiri disana mencabuti enam buah pohon seolah-olah pohon itu adalah tangkai-tangkai jagung. Dan dia berkata kepada orang itu,"Maukah kamu menjadi orangku, dan ikut dengan saya?""Baiklah," jawab orang itu; "Saya harus membawa pulang sedikit kayu-kayu ini terlebih kerumah ayah dan ibuku." Dan mengambil satu persatu pohon tersebut, dan menggabungkannya dengan 5 pohon yang lain dan memanggulnya di pundak, dia lalu berangkat pergi; segera setelah dia datang kembali, dia lalu ikut bersama dengan pimpinannya, yang berkata,"Berdua kita bisa menghadapi seluruh dunia."Dan tidak lama mereka berjalan, mereka bertemu dengan satu orang pemburu yang berlutut pada satu kaki dan dengan hati-hati membidikkan senapannya."Pemburu," kata si pemimpin, "apa yang kamu bidik?""Dua mil dari sini," jawabnya, "ada seekor lalat yang hinggap pada pohon Oak, Saya bermaksud untuk menembak mata kiri dari lalat tersebut.""Oh, ikutlah dengan saya," kata si Pemimpin, "Bertiga kita bisa menghadapi seluruh dunia"Pemburu tersebut sangat ingin ikut dengannya, jadi mereka semua berangkat bersama hingga mereka menemukan tujuh kincir angin, yang baling-baling layarnya berputar dengan kencang, walaupun disana tidak ada angin yang bertiup dari arah manapun, dan tak ada daun-daun yang bergerak."Wah," kata si Pemimpin, "Saya tidak bisa berpikir apa yang menggerakkan kincir angin, berputar tanpa angin;" dan ketika mereka berjalan sekitar dua mil ke depan, mereka bertemu dengan seseorang yang duduk diatas sebuah pohon, sedang menutup satu lubang hidungnya dan meniupkan napasnya melalui lubang hidung yang satu."Sekarang," kata si Pemimpin, "Apa yang kamu lakukan diatas sana?""Dua mil dari sini," jawab orang itu, "disana ada tujuh kincir angin; saya meniupnya hingga mereka dapat berputar.""Oh, ikutlah dengan saya," bujuk si Pemimpin, "Berempat kita bisa menghadapi seluruh dunia."Jadi si Peniup turun dan berangkat bersama mereka, dan setelah beberapa saat, mereka bertemu dengan seseorang yang berdiri diatas satu kaki, dan kaki yang satunya yang dilepas, tergeletak tidak jauh darinya."Kamu terlihat mempunyai cara yang unik saat beristirahat," kata si Pemimpin kepada orang itu."Saya adalah seorang pelari," jawabnya, "dan untuk menjaga agar saya tidak bergerak terlalu cepat Saya telah melepas sebuah kaki saya, Jika saya menggunakan kedua kaki saya, Saya akan jauh lebih cepat dari pada burung yang terbang.""Oh, ikutlah dengan saya," kata si Pemimpin, "Berlima kita bisa menghadapi seluruh dunia."Jadi mereka akhirnya berangkat bersama, dan tidak lama setelahnya, mereka bertemu dengan seseorang yang memakai satu topi kecil, dan dia memakainya hanya tepat diatas satu telinganya saja."Bersikaplah yang benar! bersikaplah yang benar!" kata si Pemimpin; "dengan topi seperti itu, kamu kelihatan seperti orang bodoh.""Saya tidak berani memakai topi ini dengan lurus," jawabnya lagi, "Jika saya memakainya dengan lurus, akan terjadi badai salju dan semua burung yang terbang akan membeku dan jatuh mati dari langit ke tanah."Oh, ikutlah dengan saya," kata si Pemimpin; "Berenam kita bisa menghadapi seluruh dunia."Jadi orang yang keenam ikut berangkat bersama hingga mereka mencapai kota dimana raja yang menyebabkan penderitaannya akan memulai pertandingan dimana siapapun yang jadi pemenang akan dinikahkan dengan putrinya, tetapi siapapun yang kalah akan dibunuh sebagai hukumannya. Lalu si Pemimpin maju kedepan dan berkata bahwa satu dari orangnya akan mewakili dirinya dalam pertandingan tersebut."Kalau begitu," kata raja, "hidupnya harus dipertaruhkan, dan jika dia gagal, dia dan kamu harus dihukum mati."Ketika si Pemimpin telah setuju, dia memanggil si Pelari, dan memasangkan kakinya yang kedua pada si Pelari."Sekarang, lihat baik-baik," katanya, "dan berjuanglah agar kita menang."Telah disepakati bahwa siapapun yang paling pertama bisa membawa pulang air dari anak sungai yang jauh dan telah ditentukan itu akan dianggap sebagai pemenang. Sekarang putri raja dan si Pelari masing-masing mengambil kendi air, dan mereka mulai berlari pada saat yang sama; tetapi dalam sekejap, ketika putri raja tersebut berlari agak jauh, si Pelari sudah hilang dari pandangan karena dia berlari secepat angin. Dalam sekejap dia telah mencapai anak sungai, mengisi kendinya dengan air dan berlari pulang kembali. Ditengah perjalanan pulang, dia mulai merasa kelelahan, dan berhenti, menaruh kendinya dilantai dan berbaring di tanah untuk tidur. Agar dapat terbangun secepatnya dan tidak tertidur pulas, dia mengambil sebuah tulang tengkorak kuda yang tergeletak didekatnya dan menggunakannya sebagai bantal. Sementara itu, putri raja, yang sebenarnya juga pelari yang baik dan cukup baik untuk mengalahkan orang biasa, telah mencapai anak sungai juga, mengisi kendinya dengan air, dan mempercepat larinya pulang kembali, saat itu dia melihat si Pelari yang telah tertidur di tengah jalan."Hari ini adalah milik saya," dia berkata dengan gembira, dan dia mengosongkan dan membuang air dari kendi si Pelari dan berlari pulang. Sekarang hampir semuanya telah hilang tetapi si Pemburu yang juga berdiri di atas dinding kastil, dengan matanya yang tajam dapat melihat semua yang terjadi."Kita tidak boleh kalah dari putri raja," katanya, dan dia mengisi senapannya, mulai membidik dengan teliti dan menembak tengkorak kuda yang dijadikan bantal dibawah kepala si Pelari tanpa melukai si Pelari. Si Pelari terbangun dan meloncat berdiri, dan melihat banya kendinya telah kosong dan putri raja sudah jauh berlari pulang ke tempat pertandingan dimulai. Tanpa kehilangan keberaniannya, dia berlari kembali ke anak sungai, mengisi kendinya kembali dengan air, dan untuk itu, dia berhasil lari pulang kembali 10 menit sebelum putri raja tiba."Lihat," katanya; "ini adalah pertama kalinya saya benar-benar menggunakan kaki saya untuk berlari"Raja menjadi jengkel, dan putrinya lebih jengkel lagi, karena dia telah dikalahkan oleh serdadu biasa yang telah dipecat; adn mereka berdua sepakat untuk menyingkirkan serdadu beserta pengikutnya bersama-sama."Saya punya rencana," jawab sang Raja; "jangan takut tetapi kita harus mendiamkan mereka selama-lamanya." Kemudian mereka menemui serdadu dan pengikutnya, mengundang mereka untuk makan dan minum; dan sang Raja memimpin mereka menuju ke sebuah ruangan, yang lantainya terbuat dari besi, pintunya juga terbuat dari besi, dan di jendelanya terdapat rangka-rangka besi; dalam ruangan itu ada sebuah meja yang penuh dengan makanan."Sekarang, masuklah kedalam dan buatlah dirimu senyaman mungkin," kata sang Raja.Ketika serdadu dan pengikutnya semua masuk, dia mengunci pintu tersebut dari luar. Dia kemudian memanggil tukang masak, dan menyuruhnya untuk membuat api yang sangat besar dibawah ruangan tersebut hingga lantai besi menjadi sangat panas. Dan tukang masak tersebut melakukan apa yang diperintahkan oleh Raja, dan keenam orang didalamnya mulai merasakan ruangan menjadi panas, tapi berpikir bahwa itu karena makanan yang mereka makan, seiring dengan suhu ruangan yang bertambah panas, mreka menyadari bahwa pintu dan jendela telah dikunci rapat, mereka menyadari rencana jahat sang raja untuk membunuh mereka."Bagaimanapun juga, dia tidak akan pernah berhasil," kata laki-laki dengan topi kecil; "Saya akan membawa badai salju yang akan membuat api merasa malu pada dirinya sendiri dan merangkak pergi."Dia lalu memasang topinya lurus diatas kepala, dan secepat itu badai salju datang dan membuat semua udara panas menjadi hilang dan makanan menjadi beku diatas meja. Setelah satu atau dua jam berlalu, Raya menyangka bahwa mereka telah terbunuh karena panas, dan menyuruh untuk membuka kembali pintu ruangan tersebut, dan masuk kedalam untuk melihat keadaan mereka. Ketika pintu terbuka lebar, mereka berenam ternyata selamat dan terlihat mereka telah siap untuk keluar untuk menghangatkan diri karena ruangan tersebut terlalu dingin dan menyebabkan makanan di meja menjadi beku. Dengan penuh kemarahan, raja mendatangi tukang masak, mencaci dan menanyakan mengapa tukang masak itu tidak melaksanakan apa yang diperintahkan."Ruangan tersebut cukup panas; kamu mungkin bisa melihatnya sendiri," kata tukang masak. Sang Raja melihat kebawah ruangan besi tersebut dan melihat api yang berkobar-kobar di bawahnya, dan mulai berpikir bahwa keenam orang itu tidak dapat disingkirkan dengan cara itu. Dia mulai memikirkan rencana baru, jadi dia memanggil serdadu yang menjadi pemimpin tersebut dan berkata kepadanya,"Jika kamu tidak ingin menikahi putri saya dan memilih harta berupa emas, kamu boleh mengambilnya sebanyak yang kamu mau.""Baiklah, tuanku Raja," jawab si Pemimpin; "biarkan saya mengambil emas sebanyak yang dapat dibawa oleh pengikutku, dan saya tidak akan menikahi putrimu." Raja setuju bahwa si Pemimpin akan datang dalam dua minggu untuk mengambil emas yang dijanjikan. Si Pemimpin memanggil semua penjahit yang ada di kerajaan tersebut dan menyuruh mereka untuk membuat karung yang sangat besar dalam dua minggu. Dan ketika karung itu telah siap, orang kuat (yang dijumpai mencabut dan mengikat pohon) memanggul karung tersebut di pundaknya dan menghadap sang Raja."Siapa orang yang membawa buntalan sebesar rumah di pundaknya ini?" teriak sang Raja, ketakutan karena memikirkan banyaknya emas yang bisa dibawa pergi. Dan satu ton emas yang biasanya diseret oleh 16 orang kuat, hanya di panggulnya di pundak dengan satu tangan."Mengapa tidak kamu bawa lebih banyak lagi? emas ini hanya menutupi dasar dari kantung ini!" Jadi raja menyuruh untuk mengisinya perlahan-lahan dengan seluruh kekayaannya, dan walaupun begitu, kantung tersebut belum terisi setengah penuh."Bawa lebih banyak lagi!" teriak si Kuat; "harta-harta ini belum berarti apa-apa!" Kemudian akhirnya 7000 kereta yang dimuati dengan emas yang dikumpulkan dari seluruh kerajaan berakhir masuk dalam karungnya."Kelihatannya belum terlalu penuh," katanya, "tetapi saya akan membawa apa yang bisa saya bawa." walaupun dalam karung tersebut masih tersedia ruangan yang kosong."Saya harus mengakhirinya sekarang," katanya; "Jika tidak penuh, sepertinya lebih mudah untuk mengikatnya." Dan orang kuat itu lalu menaikkan karung tersebut dipunggungnya dan berangkat pergi bersama dengan teman-temannya.Ketika sang Raja melihat semua kekayaan dari kerajaanya dibawa oleh hanya satu orang, dia merasa sangat marah, dan dia memerintahkan pasukannya untuk mengejar keenam orang itu dan merampas kembali karung itu dari si Kuat.Dua pasukan kuda segera dapat mengejar mereka, memerintahkan keenam orang itu untuk menyerah dan menjadi tawanan, dan mengembalikan kembali karung harta itu atau dibunuh."Menjadi tawanan, katamu?" kata orang yang bisa meniup, "mungkin kalian perlu menari-nari di udara bersama-sama," dan menutup satu lubang hidungnya, dan meniupkan napas melalui lubang yang satunya, pasukan tersebut beterbangan melewati atas gunung. Tetapi komandan yang memiliki sembilan luka dan merupakan orang yang pemberani, memohon agar mereka tidak dipermalukan. Si Peniup kemudian menurunkannya perlahan-lahan dan memerintahkan agar mereka melaporkan ke sang Raja bahwa pasukan apapun yang dikirim kan untuk mengejar mereka, akan mengalami nasib yang sama dengan pasukan ini. Dan ketika sang Raja mendapat pesan tersebut, berkata,"Biarkanlah mereka; mereka mempunyai hak atas harta itu." Jadi keenam orang itu membawa pulang harta mereka, membagi-bagikannya dan hidup senang sampai akhir hayat mereka.
Peri Danau Wildsee
Pada suatu hari yang cerah, seorang penggembala muda sedang menggembalakan kawanan biri-birinya di padang rumput yang luas. Angin sepoi-sepoi bertiup lembut, dan suasana alam terasa sangat damai. Untuk mengusir rasa bosan, ia memainkan suling kecilnya sambil berjalan perlahan mengikuti ternaknya. Nada suling itu mengalun sederhana namun penuh ketenangan.Tiba-tiba, alunan sulingnya terhenti. Dari kejauhan, terdengar suara lain yang jauh lebih indah dan menawan. Itu adalah suara harpa yang merdu, mengalun lembut dari arah Danau Wildsee. Bunyi harpa itu begitu halus, seakan-akan mampu menyentuh hati siapa pun yang mendengarnya.Penggembala itu merasa sangat penasaran. “Suara apakah itu?” gumamnya.Tanpa berpikir panjang, ia meninggalkan kawanan biri-birinya dan melangkah mengikuti arah suara harpa tersebut. Semakin dekat ia melangkah, suara harpa itu terdengar semakin jelas dan indah. Bukan hanya itu, ia juga mencium aroma bunga mawar yang sangat harum, seolah-olah danau itu dipenuhi oleh ribuan bunga yang sedang bermekaran.Akhirnya, ia sampai di tepi Danau Wildsee. Air danau tampak tenang dan berkilauan, memantulkan cahaya matahari sore. Di sana, ia melihat sosok yang belum pernah ia lihat sebelumnya—seorang peri yang sangat cantik. Rambutnya panjang berkilau, wajahnya lembut, dan matanya memancarkan cahaya misterius. Di tangannya, ia memegang sebuah harpa dan memainkannya dengan penuh perasaan.Penggembala itu terpaku. Ia tidak mampu berkata apa-apa. Namun, ketika peri itu menyadari kehadirannya, ia berhenti bermain harpa dan mengangkat tangannya, memberi isyarat agar penggembala itu tidak mendekat.“Namaku Meline,” kata peri itu dengan suara lembut namun dingin. “Tapi ingatlah baik-baik. Danau ini akan menjadi kuburanmu jika kau memanggil namaku.”Setelah mengucapkan kata-kata itu, peri tersebut menghilang perlahan bersama suara harpanya. Danau kembali sunyi, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.Sejak hari itu, penggembala tidak pernah bisa melupakan peri bernama Meline. Wajah cantiknya selalu terbayang di benaknya, begitu pula suara harpa yang memikat hatinya. Ia jatuh cinta, meski tahu bahwa cinta itu berbahaya dan terlarang.Hari demi hari berlalu, dan penggembala itu menjadi murung. Ia sering melamun dan kehilangan semangat. Suatu sore, seorang laki-laki tua menghampirinya. Wajahnya tampak bijaksana dan penuh pengalaman.“Pergilah jauh dari tempat ini, anak muda,” kata laki-laki tua itu dengan suara serius. “Aku tahu apa yang kau alami. Peri di danau itu membawa kematian. Kau akan mati di tangannya jika terus mendekatinya.”Namun, nasihat itu tidak mampu menghapus perasaan penggembala. Kerinduannya semakin besar. Hatinya gelisah dan pikirannya selalu tertuju pada Meline. Ia merasa harus kembali ke danau itu, meskipun nyawanya menjadi taruhan.Pada suatu sore yang sunyi, penggembala itu kembali ke tepi Danau Wildsee. Angin bertiup pelan, dan suasana terasa mencekam.“Meline… Meline… di manakah engkau berada?” panggilnya dengan suara penuh harap.Danau tetap sunyi. Tidak ada jawaban, tidak ada suara harpa. Namun tiba-tiba, dari tengah danau muncul setangkai bunga mawar yang sangat indah. Mawar itu tampak bersinar dan mengapung di atas air.Penggembala itu merasa penasaran. Ia melangkah mendekat, mencoba meraih bunga tersebut. Namun tanah di tepi danau licin. Kakinya terpeleset, tubuhnya terjatuh, dan ia tenggelam ke dalam air danau yang dalam.Danau Wildsee kembali tenang. Setangkai mawar itu perlahan menghilang, seakan membawa serta jiwa penggembala yang telah melanggar peringatan.
Seorang Raja dan Nelayan
Kerajaan yang dialiri oleh sungai Tigris dan Euphrates pernah di perintah oleh seorang raja yang sangat gemar dan menyukai ikan.Suatu hari dia duduk bersama Sherem, sang Ratu, di taman istana yang berhadapan langsung dengan tepi sungai Tigris, yang pada saat itu terentang jajaran perahu yang indah; dan dengan pandangan yang penuh selidik pada perahu-perahu yang meluncur, dimana pada satu perahu duduk seorang nelayan yang mempunyai tangkapan ikan yang besar.Menyadari bahwa sang Raja mengamatinya, dan tahu bahwa sang Raja ini sangat menggemari ikan tertentu, nelayan tersebut memberi hormat pada sang Raja dan dengan ahlinya membawa perahunya ketepian, datang dan berlutut pada sang Raja dan memohon agar sang Raja mau menerima ikan tersebut sebagai hadiah. Sang Raja sangat senang dengan hal ini, dan memerintahkan agar sejumlah besar uang diberikan kepada nelayan tersebut.Tetapi sebelum nelayan tersebut meninggalkan taman istana, Ratu berputar menghadap sang Raja dan berkata: "Kamu telah melakukan sesuatu yang bodoh." Sang Raja terkejut mendengar Ratu berkata demikian dan bertanya bagaimana bisa. Sang Ratu membalas:"Berita bahwa kamu memberikan sejumlah besar hadiah untuk hadiah yang begitu kecil akan cepat menyebar ke seluruh kerajaan dan akan dikenal sebagai hadiah nelayan. Semua nelayan yang mungkin berhasil menangkap ikan yang besar akan membawanya ke istana, dan apabila mereka tidak dibayar sebesar nelayan yang pertama, mereka akan pergi dengan rasa tidak puas, dan dengan diam-diam akan berbicara jelek tentang kamu diantara teman-temannya.""Kamu berkata benar, dan ini membuka mata saya," kata sang Raja, "tetapi tidakkah kamu melihat apa artinya menjadi Raja, apabila untuk alasan tersebut dia menarik kembali hadiah yang telah diberikan?" Kemudian setelah merasa bahwa sang Ratu siap untuk membantah hal itu, dia membalikkan badan dengan marah dan berkata "Hal ini sudah selesai dan tidak usah dibicarakan lagi."Bagaimanapun juga, dihari berikutnya, ketika pikiran sang Raja sedang senang, Ratu menghampirinya dan berkata bahwa jika dengan alasan itu sang Raja tidak dapat menarik kembali hadiah yang telah diberikan, dia sendiri yang akan mengaturnya. "Kamu harus memanggil nelayan itu kembali," katanya, "dan kemudian tanyakan, 'Apakah ikan ini jantan atau betina?' Jika dia berkata jantan, lalu kamu katankan bahwa yang kamu inginkan adalah ikan betina, tetapi bila nelayan tersebut berkata bahwa ikan tersebut betina, kamu akan membalasnya dengan mengatakan bahwa kamu menginginkan ikan jantan. Dengan cara ini hal tersebut dapat kita sesuaikan dengan baik."Raja berpendapat bahwa ini adalah jalan yang terbaik untuk keluar dari kesulitan, dan memerintahkan agar nelayan tadi dibawa ke hadapannya. Ketika nelayan tersebut, yang ternyata adalah orang yang sangat pandai, berlutut di hadapan raja, sang Raja berkata kepadanya: "Hai nelayan, katakan padaku, ikan yang kamu bawa kemarin adalah jantan atau betina?"Nelayan tersebut menjawab, "Ikan tersebut bukan jantan dan bukan betina." Saat itu sang Raja tersenyum mendengar jawaban yang sangat cerdik, dan untuk menambah kejengkelan sang Rau, memerintahkan bendahara istana untuk memberikan sejumlah uang yang lebih banyak kepada nelayan tersebut.Kemudian nelayan itu menyimpan uang tersebut dalam kantong kulitnya, berterima kasih kepada Raja, dan memanggul kantong tersebut diatas bahunya, bergegas pergi, tetapi tidak lama kemudian, dia menyadari bahwa dia telah menjatuhkan satu koin kecil. Dengan menaruh kantong tersebut kembali ke tanah, dia membungkuk dan memungut koin itu dan kembali melanjutkan perjalanannya, diikuti dengan pandangan mata Raja dan Ratu yang mengawasi semua tindakannya."Lihat! betapa pelitnya dia!" kata Sherem, sang Ratu, dengan bangga atas kemenangannya. "Dia benar-benar menurunkan kantongnya hanya untuk memungut satu buah koin kecil karena mungkin dia akan sangat merasa kehilangan hanya dengan berpikir bahwa koin tersebut akan diambil oleh salah seorang pelayan Raja, atau seseorang yang lebih miskin, yang membutuhkannya untuk membeli sebuah roti dan yang memohon agar raja dikaruniai umur panjang.""Sekali lagi kamu berbicara benar," balas sang Raja, merasakan kebenaran dari komentar Ratu; dan sekali lagi nelayan tersebut dibawa untuk menghadap ke istana. "Apakah kamu ini manusia atau binatang buas?" Raja bertanya kepadanya. "Walaupun kamu mungkin sudah kaya tanpa harus bekerja keras lagi, tetapi sifat pelit dalam dirimu tidak membiarkan kamu untuk meninggalkan satu koin kecil untuk orang lain." Lalu sang Raja memerintahkan nelayan tersebut untuk pergi dan tidak menampakkan lagi wajahnya di dalam kota kerajaannya.Saat itu nelayan tersebut berlutut pada kedua kakinya dan menangis: "Dengarkanlah hamba, Oh sang Raja, pelindung rakyat miskin! Semoga Tuhan memberkahi Tuanku dengan umur panjang. Bukan nilai dari koin tersebut yang hamba pungut, tetapi karena pada satu sisi koin tersebut tertera tulisan pujian atas nama Tuhan, dan disisi lainnya tergambar wajah Raja. Hamba takut bahwa seseorang, mungkin dengan tidak sengaja karena tidak melihat koin tersebut, akan menginjaknya. Biarlah sang Raja yang menentukan apakah yang saya lakukan ini pantas untuk dicela atau tidak."Jawaban tersebut membuat sang Raja sangat senang tidak terhingga, dan memberikan lagi nelayan terseut sejumlah besar uang. Dan kemarahan Ratu saat itu juga menjadi reda, dan dia menjadi sadar dan melihat dengan ramah terhadap nelayan tersebut yang pergi dengan kantung yang dimuati dengan uang.
Dick Si Nakal
Suara berisik terdengar dari atas atap rumah Harry hampir setiap malam. Bunyi langkah kecil yang berlarian, disertai suara gesekan dan decitan, membuat suasana malam menjadi tidak tenang.“Berisik sekali suara di atas atap itu. Itu pasti suara tikus yang sedang berkejaran,” ucap Harry sambil menutup telinganya dengan bantal.Benar saja, di rumahnya memang sudah lama banyak tikus. Tikus-tikus itu sering berlarian di atap dan di langit-langit rumah. Akibatnya, Harry sering sulit tidur dan kelelahan keesokan harinya.“Besok akan aku tangkap tikus-tikus itu,” ucapnya dengan tekad kuat sebelum akhirnya tertidur.Keesokan paginya, Harry menemui ibunya di dapur. Dengan wajah sungguh-sungguh, ia menyampaikan keinginannya.“Ibu, bolehkah aku dibelikan perangkap tikus?” tanya Harry.Ibunya menoleh dan tersenyum. “Aku akan membelikannya untukmu,” ujar ibunya dengan lembut.Namun Harry segera menambahkan, “Aku tidak mau perangkap yang bisa membunuh tikus-tikus itu, Bu. Aku ingin merawat mereka dengan baik.”Ibunya sedikit terkejut, tetapi ia bangga melihat hati Harry yang penuh kasih. “Baiklah,” katanya, “Ibu akan membelikan perangkap berbentuk kandang saja.”Ibunya pun membeli perangkap tikus yang aman. Perangkap itu berbentuk kandang kecil sehingga tikus yang masuk tidak akan terluka. Malam harinya, Harry memasang perangkap tersebut di beberapa sudut rumah. Ia meletakkan keju di dalamnya sebagai umpan.Tak lama kemudian, tikus-tikus mulai masuk ke perangkap. Pagi harinya, Harry sangat terkejut sekaligus senang melihat banyak tikus tertangkap dengan selamat.Dengan hati-hati, Harry memindahkan tikus-tikus itu ke sebuah kandang khusus di kamarnya. Ia berjanji akan merawat mereka dengan baik. Setiap sepulang sekolah, Harry selalu membersihkan kandang dan memberi makan tikus-tikus itu. Ia berbicara pada mereka seolah-olah mereka adalah teman-temannya. Harry sangat menyayangi tikus-tikus itu.Suatu hari di sekolah, Harry bertemu dengan seorang anak bernama Dick. Dick adalah anak yang terkenal nakal dan suka membuat onar. Ia sering mengganggu teman-temannya dan tidak disukai banyak orang.Dick tidak menyukai Harry karena sikap Harry yang tenang dan selalu berbuat baik. Suatu hari, Dick menantang Harry untuk bermain sebuah permainan. Tanpa diduga, Harry berhasil mengalahkan Dick dengan jujur.Kekalahan itu membuat Dick sangat kesal. “Akan kubalas kau,” dengus Dick penuh amarah.Sepulang sekolah, Dick diam-diam pergi ke rumah Harry. Ia tahu bahwa Harry masih berada di sekolah dan tidak ada di rumah. Dick juga tahu bahwa Harry memelihara banyak tikus di kamarnya. Dengan niat jahat, Dick membawa beberapa kucing peliharaannya.Setibanya di rumah Harry, Dick menemui ibu Harry. “Aku ke sini mau mengambil sesuatu. Aku disuruh Harry,” ucap Dick dengan nada meyakinkan.Ibu Harry sama sekali tidak menaruh curiga. Ia mengizinkan Dick masuk ke kamar Harry. Begitu masuk, Dick langsung memasukkan kucing-kucingnya ke dalam kandang tikus milik Harry. Dalam waktu singkat, semua tikus kesayangan Harry dimangsa oleh kucing-kucing itu.Setelah melakukan perbuatan jahat tersebut, Dick segera pamit dan pergi seolah tidak terjadi apa-apa.Sore harinya, Harry pulang dari sekolah. Ia langsung menuju kamarnya untuk memberi makan tikus-tikusnya. Namun, langkahnya terhenti. Kandang itu kosong. Tidak ada satu pun tikus di dalamnya.Harry sangat terkejut dan sedih. “Ibu, siapa yang masuk ke kamarku?” tanya Harry dengan suara bergetar.“Tadi Dick ke sini,” jawab ibunya. “Ia bilang kau yang menyuruhnya.”Mendengar itu, Harry langsung mengerti. Air mata mengalir di pipinya. Rupanya Dick membalas kekalahannya dengan cara yang sangat kejam, yaitu membunuh tikus-tikus kesayangannya.Tak lama kemudian, teman-teman sekolah mereka mengetahui perbuatan Dick. Mereka sangat kecewa dan marah atas tindakan jahat itu. Sejak saat itu, tidak ada lagi yang mau berteman dengan Dick. Ia dijauhi oleh semua teman di sekolah.Kini, Dick selalu sendirian. Ia tidak memiliki teman bermain seperti dulu. Ia baru menyadari bahwa perbuatan jahat hanya akan membawa kesepian dan penyesalan.
Nimmy Nimmy Not, Namaku Tom Tit Tot
Pada suatu masa, ada seorang wanita yang memasak 5 buah kue. Dan saat kue itu dikeluarkan dari oven, terdapat sedikit bagian pinggiran yang keras karena hangus. Karena itu dia berkata kepada putrinya:"Putriku, simpanlah kue-kue ini ke atas rak, dan biarkanlah kue itu disana sementara waktu, karena bagian yang sedikit hangus, akan perlahan-lahan menjadi lunak nantinya."Tetapi putrinya salah mendengarkan perintah ibunya dan menyangka ibunya menyuruh ia untuk memakan semua kue tersebut sehingga Ia pun memakan semua kue-kue itu sekaligus.Saat makan siang tiba, sang Ibu meminta agar anaknya mengambil kue yang berada di atas rak, tetapi putrinya berkata bahwa kue tersebut telah habis di makannya. Sang Ibu menjadi sedikit kecewa, mengambil alat pemintalnya dan mulai memintal sambil bernyanyi:"Putriku memakan 5 buah kue, 5 buah kue hari ini.""Putriku memakan 5 buah kue, 5 buah kue hari ini."Seorang raja yang kebetulan lewat dan mendengarnya menyanyi, datang mendekat karena ingin mendengar lebih jelas syair lagu yang dinyanyikan oleh sang Ibu. Sang Raja pun bertanya,"Apa yang engkau nyanyikan, wahai ibu yang baik?"Sang Ibu yang merasa malu apabila sang Raja mendengar apa yang diperbuat oleh putrinya, mengubah syair lagunya menjadi:"Putriku memintal 5 gulungan emas, 5 gulungan benang emas hari ini.""Putriku memintal 5 gulungan emas, 5 gulungan benang emas hari ini.""Wah!" kata sang Raja, "Saya tidak pernah mendengar ada orang yang mampu berbuat seperti itu."Kemudian dia berkata lagi: "Saya sudah lama ingin mencari pendamping hidup, dan saya akan menikahi putrimu dengan beberapa persyaratan," katanya lebih lanjut, "sebelas bulan pertama, dia boleh memakan apapun yang dia inginkan dan memakai pakaian dan gaun apapun yang dia sukai, memiliki pelayan berapapun yang dia inginkan; tetapi pada akhir bulan, dia harus memintal 5 gulungan emas setiap hari, jika tidak, putrimu akan saya hukum dan penjarakan di menara selama-lamanya.""Baiklah," kata sang Ibu; sambil berpikir betapa mewahnya pernikahan putrinya nanti. Dan mengenai 5 gulungan emas, saat waktunya tiba, bermacam-macam alasan akan dicari untuk menghindari kewajiban tersebut dan sepertinya sang Raja juga akan melupakan persyaratannya.Tidak berapa lama, menikahlah putrinya dengan sang Raja. Dan selama sebelas bulan, sang Putri makan apapun yang diinginkan, mengenakan pakaian dan gaun yang dia sukai, dan memiliki pelayan sebanyak yang diiginkannya.Waktu tidak terasa berlalu hingga bulan ke-sebelas hampir tiba, dan sang Putri mulai menebak-nebak pikiran sang Raja yang telah menjadi suaminya mengenai gulungan benang emas yang dijanjikannya. Tetapi sang Raja tidak pernah menyinggung apapun hal mengenai benang emas.Akhirnya di hari terakhir di bulan ke-sebelas, sang Raja membawanya ke suatu ruangan yang tidak pernah dilihatnya sama sekali, dan di ruangan tersebut hanya terdapat alat pemintal dan bangku tempat duduk. Lalu sang Raja berkata, "Sekarang telah tiba saatnya, mulai hari esok, pelayan akan membawakan kamu jerami untuk dipintal dan kamu harus tetap berada di ruangan ini untuk memintal 5 gulungan benang emas setiap malam atau kamu akan mendapatkan hukuman."Saat itu, sang Putri menjadi sangat takut karena dia sendiri tidak terlalu tahu memintal. Apa yang bisa diperbuat besok apabila tidak ada orang yang datang menolongnya? Dia lalu ke dapur, duduk di sebuah bangku dan menangis.Saat itu didengarlah sebuah suara yang mengetuk pintu dapur, dan saat dia berdiri dan membuka pintu, dia melihat satu makhluk hitam yang aneh dan memiliki ekor panjang, memandangnya dan bertanya kepadanya:"Apa yang engkau tangisi?""Mengapa engkau menanyakan hal itu?" kata sang Putri."Tidak apa-apa," katanya makhuluk itu lagi, "kamu dapat menceritakannya kepadaku.""Tapi ini tidak akan merubah keadaan walaupun saya menceritakannya," kata sang Putri."Kamu belum tentu benar," katanya sambil memutar-mutarkan ekornya."Baiklah," kata sang Putri sembari menceritakan semua kisahnya tentang kue, gulungan benang emas dan lainnya."Ini yang akan saya lakukan," kata makhluk hitam itu, "Saya akan datang ke jendelamu setiap pagi dan membawa pergi jerami untuk saya pintal menjadi benang emas dan setiap malam saya akan memberikan kamu hasil pintalanku.""Apa yang kamu minta sebagai pembayaran?" kata sang Putri."Saya akan memberi kamu kesempatan 3 kali menebak namaku, dan jika kamu tidak bisa menebaknya dalam 1 bulan, kamu akan menjadi milik saya."Karena sang Putri berpikir bahwa dia akan berhasil menebak sebelum bulan 12 berakhir, dia menyetujui persyaratan itu.Keesokan harinya, sang Raja membawanya kembali ke ruangan pintal yang telah penuh dengan jerami."Itu adalah jerami yang harus kamu pintal menjadi gulungan benang emas," katanya, "apabila tidak selesai, kamu akan saya hukum." Sang Raja pun beranjak pergi dan mengunci pintu.Tidak terlalu lama kemudian, sang Putri mendengarkan ketukan pada jendelanya.Sang Putri lalu berdiri dan membuka jendela, saat itu dilihatnya makhluk hitam yang ditemui kemarin."Mana jeraminya?" tanya makhluk itu."Ini dia," kata sang Putri sambil memberikan jerami kepadanya.Saat malam tiba, makhluk tersebut datang dan mengetuk kembali jendelanya, lalu memberikannya 5 gulungan benang emas."Ini yang saya janjikan," katanya."Sekarang, tebaklah siapa namaku?" katanya kembali."Apakah namamu Bill?" tebak sang Putri."Bukan, namaku bukan itu," kata makhluk hitam sambil memutar-mutarkan ekornya."Apakah namamu Ned?" tebak sang Putri lagi."Bukan, namaku bukan itu," kata makhluk hitam sambil memutar-mutarkan ekornya."Apakah namamu Mark?" tebak sang Putri lagi."Bukan, bukan itu," katanya lalu pergi.Saat sang Raja masuk ke dalam ruangan, dilihatnya 5 buah gulungan benang emas telah siap. "Saya lihat kamu telah menjalankan tugasmu," katanya, "Kamu akan mendapatkan jerami dan makanan lagi pada keesokan pagi," katanya sambil beranjak pergi.Kejadian tersebut berulang terus-menerus, setiap hari jerami dan makanan dibawa masuk ke ruang pintal, setiap hari makhluk itu datang mengambil jerami dan malamnya memberikan gulungan benang emas, dan setiap kali pula sang Putri tidak pernah menebak dengan benar nama makhluk hitam itu, hingga tiba pada hari sebelum hari terakhir di bulan tersebut, sang Makhluk itu datang membawakan 5 gulungan benang emas. Wajah makhluk itu menjadi terlihat sangat jahat, dengan mata yang menyala seperti bara api, makhluk itu berkata: "Besok adalah hari terakhir, dan kamu akan menjadi milik saya!" lalu sang Makhluk berangkat pergi.Sang Putri menjadi sangat ketakutan, tapi malam itu juga sang Raja datang ke ruang pintal dan setelah melihat 5 gulungan telah tersedia, sang Raja berkata:"Sayangku, saya lihat kamu telah menyelesaikan janji mu, setelah keesokan hari, kamu akan terbebas dari hukuman. Mari kita rayakan dengan makan malam bersama."Saat mereka makan, sang Raja tiba-tiba berhenti makan lalu tertawa."Apa yang membuat paduka tertawa?" tanya sang Putri."Beberapa hari yang lalu, saya berburu dan tiba di suatu hutan yang tidak pernah saya lihat sebelumnya. Dan di hutan itu saya menemukan sebuah gua kecil. Dari dalam gua tersebut, saya mendengar sebuah nyanyian. Dengan diam-diam saya masuk ke dalam gua tersebut dan melihat ke dalamnya. Saya melihat makhluk terlucu yang pernah saya lihat seumur hidup, sedang memintal dengan ekornya yang berputar cepat, sambil menyanyi:"Nimmy nimmy notNamaku Tom Tit Tot."Saat sang Putri mendengar hal ini, dia merasa sangat gembira dan ingin melompat kegirangan, tetapi dia berusaha untuk menahan diri dan tidak berkata apa-apa.Hari berikutnya saat sang Makhluk Hitam datang pada malam hari, terlihat senyum jahatnya yang sangat lebar dan ekornya yang berputar kencang."Siapa nama saya?" tanyanya sambil memberikan gulungan benang emas ke sang Putri."Apakah Solomon?" jawab sang Putri sambil berpura-pura ketakutan."Bukan, namaku bukan itu," katanya sambil melangkah masuk ke dalam ruangan."Apakah Zebedee?" tebak sang Putri kembali."Bukan, namaku bukan itu," kata sang Makhluk Hitam sambil tertawa."Berpikirlah baik-baik, katanya kembali; "setelah tebakan berikut, kamu akan menjadi milikku." Lalu tangannya mulai menggapai untuk memegang sang Putri.Sang Putri mundur satu-dua langkah, menatap makhluk tersebut, kemudian tertawa dan berkata:"Nimmy nimmy not, namamu adalah Tom Tit Tot!"Saat makhluk itu mendengarnya, makhluk itu berteriak marah dan pergi menjauh ke dalam kegelapan, dan semenjak saat itu, sang Putri tidak pernah melihatnya lagi, dan sang Putri dapat hidup berbahagia selama-lamanya dengan sang Raja.
Pemakaman Raja Kucing
Pada zaman dahulu kala, hiduplah seekor burung yang terlahir dengan keadaan berbeda dari burung-burung lainnya. Ia tidak memiliki kemampuan untuk terbang. Sayapnya lemah dan tak pernah mampu membawanya terangkat ke udara. Karena keadaannya itu, ia hidup sendirian di sebuah padang rumput yang luas, jauh dari kawanan burung lain.Setiap hari, ia hanya bisa memandangi burung-burung lain yang terbang bebas di langit biru. Mereka beterbangan bersama, bernyanyi, dan saling bercengkerama. Namun, tidak satu pun dari mereka yang mau mendekatinya atau mengajaknya berteman. Burung itu sering merasa sangat kesepian. Saat malam tiba, ia tidur sendirian dengan hati yang penuh rasa sepi dan rindu akan kehadiran seseorang yang bisa menemaninya.Suatu hari, ketika sedang mencari makanan di tanah, burung itu menemukan sesuatu yang aneh. Di antara rerumputan, tergeletak sebuah telur yang tampak terbengkalai. Ia menatap telur itu lama sekali.“Ah, telur ini pasti milik seekor burung yang terjatuh dari sarangnya,” pikirnya. “Kasihan sekali. Jika tidak ada yang mengeraminya, telur ini pasti tidak akan menetas.”Setelah berpikir sejenak, timbul sebuah harapan di hatinya. “Aku akan mengerami telur ini sampai menetas. Anak burung yang lahir nanti akan menjadi anakku. Aku tidak akan sendirian lagi.”Dengan penuh kasih sayang, burung itu menjaga telur tersebut. Ia mengeraminya siang dan malam, melindunginya dari hujan, angin, dan binatang buas. Ia rela menahan lapar demi memastikan telur itu tetap hangat dan aman.Hari demi hari berlalu. Hingga akhirnya, setelah seminggu, terdengarlah bunyi retakan kecil. Telur itu menetas. Dari dalamnya keluar seekor anak burung dengan paruh tajam dan mata yang tajam pula. Ternyata, anak burung itu adalah seekor elang.Namun, sang induk burung tidak peduli. Ia merasa sangat bahagia. “Anakku… akhirnya kau lahir,” katanya dengan mata berbinar.Ia merawat anak elang itu dengan sepenuh hati, memberinya makan, mengajarinya berjalan, dan menjaganya dengan penuh cinta, seolah-olah anak itu benar-benar darah dagingnya sendiri. Anak elang itu pun tumbuh sehat dan kuat.Hari berganti hari, anak elang semakin besar. Sayapnya semakin kuat, dan naluri alaminya mulai muncul. Ia sering mengepak-ngepakkan sayapnya dan menatap langit dengan penuh rasa ingin tahu.Suatu hari, anak elang bertanya, “Ibu, bagaimana caranya terbang?”Pertanyaan itu membuat induk burung terdiam. Hatinya terasa perih. Ia tahu, anak yang ia besarkan bukanlah burung biasa. Ia adalah seekor elang yang ditakdirkan untuk terbang tinggi di langit. Namun, ia sendiri tidak bisa terbang dan tidak tahu bagaimana cara mengajarinya.Dengan suara lembut namun penuh kesedihan, ia berkata, “Kau harus mencoba sendiri, Nak. Ibu tidak bisa terbang.”Sejak saat itu, setiap hari anak elang mencoba belajar terbang. Ia melompat, mengepakkan sayapnya, dan jatuh berkali-kali. Sang ibu selalu memperhatikannya dari kejauhan dengan hati yang campur aduk—bangga, namun juga sedih. Ia tahu, saat anaknya bisa terbang, saat itu pula ia akan ditinggalkan sendirian lagi.Anak elang menyadari kesedihan ibunya. Ia sering melihat mata ibunya yang berkaca-kaca setiap kali ia mencoba terbang. Hatinya pun dipenuhi rasa bimbang.Ia berpikir, “Jika saja ibuku tidak mengeramiku, aku tidak akan lahir ke dunia ini. Ibu telah merawatku dengan penuh kasih. Namun sekarang, setelah aku bisa terbang, aku akan meninggalkannya. Betapa sedihnya ibu nanti.”Setelah berpikir panjang, anak elang membuat sebuah keputusan besar. Ia menghentikan usahanya untuk terbang dan memilih tetap tinggal di darat bersama ibunya.“Ibu,” katanya suatu hari, “aku tidak akan terbang. Aku ingin tetap bersama ibu.”Mendengar itu, induk burung sangat terharu. Hatinya dipenuhi kebahagiaan. Sejak saat itu, ia tidak pernah lagi merasa kesepian. Mereka hidup bersama dengan penuh kasih sayang hingga akhir hidup sang induk burung.
Nimmy Nimmy Not, Namaku Tom Tit Tot
Pada suatu masa, ada seorang wanita yang memasak 5 buah kue. Dan saat kue itu dikeluarkan dari oven, terdapat sedikit bagian pinggiran yang keras karena hangus. Karena itu dia berkata kepada putrinya:"Putriku, simpanlah kue-kue ini ke atas rak, dan biarkanlah kue itu disana sementara waktu, karena bagian yang sedikit hangus, akan perlahan-lahan menjadi lunak nantinya."Tetapi putrinya salah mendengarkan perintah ibunya dan menyangka ibunya menyuruh ia untuk memakan semua kue tersebut sehingga Ia pun memakan semua kue-kue itu sekaligus.Saat makan siang tiba, sang Ibu meminta agar anaknya mengambil kue yang berada di atas rak, tetapi putrinya berkata bahwa kue tersebut telah habis di makannya. Sang Ibu menjadi sedikit kecewa, mengambil alat pemintalnya dan mulai memintal sambil bernyanyi:"Putriku memakan 5 buah kue, 5 buah kue hari ini.""Putriku memakan 5 buah kue, 5 buah kue hari ini."Seorang raja yang kebetulan lewat dan mendengarnya menyanyi, datang mendekat karena ingin mendengar lebih jelas syair lagu yang dinyanyikan oleh sang Ibu. Sang Raja pun bertanya,"Apa yang engkau nyanyikan, wahai ibu yang baik?"Sang Ibu yang merasa malu apabila sang Raja mendengar apa yang diperbuat oleh putrinya, mengubah syair lagunya menjadi:"Putriku memintal 5 gulungan emas, 5 gulungan benang emas hari ini.""Putriku memintal 5 gulungan emas, 5 gulungan benang emas hari ini.""Wah!" kata sang Raja, "Saya tidak pernah mendengar ada orang yang mampu berbuat seperti itu."Kemudian dia berkata lagi: "Saya sudah lama ingin mencari pendamping hidup, dan saya akan menikahi putrimu dengan beberapa persyaratan," katanya lebih lanjut, "sebelas bulan pertama, dia boleh memakan apapun yang dia inginkan dan memakai pakaian dan gaun apapun yang dia sukai, memiliki pelayan berapapun yang dia inginkan; tetapi pada akhir bulan, dia harus memintal 5 gulungan emas setiap hari, jika tidak, putrimu akan saya hukum dan penjarakan di menara selama-lamanya.""Baiklah," kata sang Ibu; sambil berpikir betapa mewahnya pernikahan putrinya nanti. Dan mengenai 5 gulungan emas, saat waktunya tiba, bermacam-macam alasan akan dicari untuk menghindari kewajiban tersebut dan sepertinya sang Raja juga akan melupakan persyaratannya.Tidak berapa lama, menikahlah putrinya dengan sang Raja. Dan selama sebelas bulan, sang Putri makan apapun yang diinginkan, mengenakan pakaian dan gaun yang dia sukai, dan memiliki pelayan sebanyak yang diiginkannya.Waktu tidak terasa berlalu hingga bulan ke-sebelas hampir tiba, dan sang Putri mulai menebak-nebak pikiran sang Raja yang telah menjadi suaminya mengenai gulungan benang emas yang dijanjikannya. Tetapi sang Raja tidak pernah menyinggung apapun hal mengenai benang emas.Akhirnya di hari terakhir di bulan ke-sebelas, sang Raja membawanya ke suatu ruangan yang tidak pernah dilihatnya sama sekali, dan di ruangan tersebut hanya terdapat alat pemintal dan bangku tempat duduk. Lalu sang Raja berkata, "Sekarang telah tiba saatnya, mulai hari esok, pelayan akan membawakan kamu jerami untuk dipintal dan kamu harus tetap berada di ruangan ini untuk memintal 5 gulungan benang emas setiap malam atau kamu akan mendapatkan hukuman."Saat itu, sang Putri menjadi sangat takut karena dia sendiri tidak terlalu tahu memintal. Apa yang bisa diperbuat besok apabila tidak ada orang yang datang menolongnya? Dia lalu ke dapur, duduk di sebuah bangku dan menangis.Saat itu didengarlah sebuah suara yang mengetuk pintu dapur, dan saat dia berdiri dan membuka pintu, dia melihat satu makhluk hitam yang aneh dan memiliki ekor panjang, memandangnya dan bertanya kepadanya:"Apa yang engkau tangisi?""Mengapa engkau menanyakan hal itu?" kata sang Putri."Tidak apa-apa," katanya makhuluk itu lagi, "kamu dapat menceritakannya kepadaku.""Tapi ini tidak akan merubah keadaan walaupun saya menceritakannya," kata sang Putri."Kamu belum tentu benar," katanya sambil memutar-mutarkan ekornya."Baiklah," kata sang Putri sembari menceritakan semua kisahnya tentang kue, gulungan benang emas dan lainnya."Ini yang akan saya lakukan," kata makhluk hitam itu, "Saya akan datang ke jendelamu setiap pagi dan membawa pergi jerami untuk saya pintal menjadi benang emas dan setiap malam saya akan memberikan kamu hasil pintalanku.""Apa yang kamu minta sebagai pembayaran?" kata sang Putri."Saya akan memberi kamu kesempatan 3 kali menebak namaku, dan jika kamu tidak bisa menebaknya dalam 1 bulan, kamu akan menjadi milik saya."Karena sang Putri berpikir bahwa dia akan berhasil menebak sebelum bulan 12 berakhir, dia menyetujui persyaratan itu.Keesokan harinya, sang Raja membawanya kembali ke ruangan pintal yang telah penuh dengan jerami."Itu adalah jerami yang harus kamu pintal menjadi gulungan benang emas," katanya, "apabila tidak selesai, kamu akan saya hukum." Sang Raja pun beranjak pergi dan mengunci pintu.Tidak terlalu lama kemudian, sang Putri mendengarkan ketukan pada jendelanya.Sang Putri lalu berdiri dan membuka jendela, saat itu dilihatnya makhluk hitam yang ditemui kemarin."Mana jeraminya?" tanya makhluk itu."Ini dia," kata sang Putri sambil memberikan jerami kepadanya.Saat malam tiba, makhluk tersebut datang dan mengetuk kembali jendelanya, lalu memberikannya 5 gulungan benang emas."Ini yang saya janjikan," katanya."Sekarang, tebaklah siapa namaku?" katanya kembali."Apakah namamu Bill?" tebak sang Putri."Bukan, namaku bukan itu," kata makhluk hitam sambil memutar-mutarkan ekornya."Apakah namamu Ned?" tebak sang Putri lagi."Bukan, namaku bukan itu," kata makhluk hitam sambil memutar-mutarkan ekornya."Apakah namamu Mark?" tebak sang Putri lagi."Bukan, bukan itu," katanya lalu pergi.Saat sang Raja masuk ke dalam ruangan, dilihatnya 5 buah gulungan benang emas telah siap. "Saya lihat kamu telah menjalankan tugasmu," katanya, "Kamu akan mendapatkan jerami dan makanan lagi pada keesokan pagi," katanya sambil beranjak pergi.Kejadian tersebut berulang terus-menerus, setiap hari jerami dan makanan dibawa masuk ke ruang pintal, setiap hari makhluk itu datang mengambil jerami dan malamnya memberikan gulungan benang emas, dan setiap kali pula sang Putri tidak pernah menebak dengan benar nama makhluk hitam itu, hingga tiba pada hari sebelum hari terakhir di bulan tersebut, sang Makhluk itu datang membawakan 5 gulungan benang emas. Wajah makhluk itu menjadi terlihat sangat jahat, dengan mata yang menyala seperti bara api, makhluk itu berkata: "Besok adalah hari terakhir, dan kamu akan menjadi milik saya!" lalu sang Makhluk berangkat pergi.Sang Putri menjadi sangat ketakutan, tapi malam itu juga sang Raja datang ke ruang pintal dan setelah melihat 5 gulungan telah tersedia, sang Raja berkata:"Sayangku, saya lihat kamu telah menyelesaikan janji mu, setelah keesokan hari, kamu akan terbebas dari hukuman. Mari kita rayakan dengan makan malam bersama."Saat mereka makan, sang Raja tiba-tiba berhenti makan lalu tertawa."Apa yang membuat paduka tertawa?" tanya sang Putri."Beberapa hari yang lalu, saya berburu dan tiba di suatu hutan yang tidak pernah saya lihat sebelumnya. Dan di hutan itu saya menemukan sebuah gua kecil. Dari dalam gua tersebut, saya mendengar sebuah nyanyian. Dengan diam-diam saya masuk ke dalam gua tersebut dan melihat ke dalamnya. Saya melihat makhluk terlucu yang pernah saya lihat seumur hidup, sedang memintal dengan ekornya yang berputar cepat, sambil menyanyi:"Nimmy nimmy notNamaku Tom Tit Tot."Saat sang Putri mendengar hal ini, dia merasa sangat gembira dan ingin melompat kegirangan, tetapi dia berusaha untuk menahan diri dan tidak berkata apa-apa.Hari berikutnya saat sang Makhluk Hitam datang pada malam hari, terlihat senyum jahatnya yang sangat lebar dan ekornya yang berputar kencang."Siapa nama saya?" tanyanya sambil memberikan gulungan benang emas ke sang Putri."Apakah Solomon?" jawab sang Putri sambil berpura-pura ketakutan."Bukan, namaku bukan itu," katanya sambil melangkah masuk ke dalam ruangan."Apakah Zebedee?" tebak sang Putri kembali."Bukan, namaku bukan itu," kata sang Makhluk Hitam sambil tertawa."Berpikirlah baik-baik, katanya kembali; "setelah tebakan berikut, kamu akan menjadi milikku." Lalu tangannya mulai menggapai untuk memegang sang Putri.Sang Putri mundur satu-dua langkah, menatap makhluk tersebut, kemudian tertawa dan berkata:"Nimmy nimmy not, namamu adalah Tom Tit Tot!"Saat makhluk itu mendengarnya, makhluk itu berteriak marah dan pergi menjauh ke dalam kegelapan, dan semenjak saat itu, sang Putri tidak pernah melihatnya lagi, dan sang Putri dapat hidup berbahagia selama-lamanya dengan sang Raja.
Grethel yang cerdik
Dahulu kala ada seorang tukang masak yang bernama Grethel yang suka memakai sepatu bertumit merah, yang ketika keluar rumah selalu merasa bebas dan memiliki perasaan yang sangat baik. Ketika dia kembali ke rumah lagi, dia selalu meminum segelas anggur untuk menyegarkan diri, dan ketika minuman anggur tersebut memberi nafsu makan kepadanya, dia akan memakan makanan yang terbaik dari apapun yang dimasaknya hingga dia merasa cukup kenyang. Untuk itu dia selalu berkata "Seorang tukang masak harus tahu mencicipi apapun".Suatu hari tuannya berkata kepadanya "Grethel, saya menunggu kedatangan tamu pada malam ini, kamu harus menyiapkan sepasang masakan ayam"."Tentu saja tuan" jawab Grethel. Lalu dia memotong ayam, membersihkannya dan kemudian mencabuti bulunya, lalu ketika menjelang malam, dia memanggang ayam tersebut di api hingga matang. Ketika ayam tersebut mulai berwarna coklat dan hampir selesai dipanggang, tamu tersebut belum juga datang."Jika tamu tersebut tidak datang cepat" kata Grethel kepada tuannya, "Saya harus mengeluarkan ayam tersebut dari api, sayang sekali apabila kita tidak memakannya sekarang justru pada saat ayam tersebut hampir siap." Dan tuannya berkata dia sendiri akan berlari mengundang tamunya. Saat tuannya mulai membalikkan badannya, Grethel mengambil ayam tersebut dari api."Berdiri begitu lama dekat api," kata Grethel, "membuat kita menjadi panas dan kehausan, dan siapa yang tahu apabila mereka akan datang atau tidak! sementara ini saya akan turun ke ruang penyimpanan dan mengambil segelas minuman." Jadi dia lari kebawah, mengambil sebuah mug, dan berkata, "Ini dia!" dengan satu tegukan besar. "Satu minuman yang baik sepantasnya tidak disia-siakan," dia berkata lagi "dan tidak seharusnya berakhir dengan cepat," jadi dia mengambil tegukan yang besar kembali. Kemudian dia pergi keatas dan menaruh ayam tadi di panggangan api kembali, mengolesinya dengan mentega. Sekarang begitu mencium bau yang sangat sedap, Grethel berkata, "Saya harus tahu apakah rasanya memang seenak baunya," Dia mulai menjilati jarinya dan berkata lagi sendiri, "Ya.. ayam ini sangat sedap, sayang sekali bila tidak ada orang disini yang memakannya!"Jadi dia menengok keluar jendela untuk melihat apakah tuan dan tamunya sudah datang, tapi dia tidak melihat siapapun yang datang jadi dia kembali ke ayam tersebut. "Aduh, satu sayapnya mulai hangus!" dan berkata lagi, "Sebaiknya bagian itu saya makan." Jadia dia memotong sayap ayam panggang tersebut dan mulai memakannya, rasanya memang enak, kemudian dia berpikir,"Saya sebaiknya memotong sayap yang satunya lagi, agar tuanku tidak akan menyadari bahwa ayam panggang tersebut kehilangan sayap disebelah." Dan ketika kedua sayap telah dimakan, dia kembali melihat keluar jendela untuk mencari tuannya, tetapi masih belum juga ada yang datang."Siapa yang tahu, apakah mereka akan datang atau tidak? mungkin mereka bermalam di penginapan."Setelah berpikir sejenak, dia berkata lagi "Saya harus membuat diri saya senang, dan pertama kali saya harus minum minuman yang enak dan kemudian makan makanan yang lezat, semua hal ini tidak bisa disia-siakan." Jadia dia lari ke ruang penyimpanan dan mengambil minuman yang sangat besar, dan mulai memakan ayam tersebut dengan rasa kenikmatan yang besar. Ketika semua sudah selesai, dan tuannya masih belum datang, mata Grethel mengarah ke ayam yang satunya lagi, dan berkata, "Apa yang didapat oleh ayam yang satu, harus didapat pula oleh ayam yang lain, sungguh tidak adil apabila mereka tidak mendapat perlakuan yang sama; mungkin sambil minum saya bisa menyelesaikan ayam yang satunya lagi." Jadi dia meneguk minumannya kembali dan mulai memakan ayam yang satunya lagi.Tepat ketika dia sedang makan, dia mendengar tuannya datang. "Cepat Grethel," tuannya berteriak dari luar, "tamu tersebut sudah datang!" "Baik tuan," dia menjawab, "makanan tersebut sudah siap." Tuannya pergi ke meja makan dan mengambil pisau pemotong yang sudah disiapkan untuk memotong ayam dan mulai menajamkannya. Saat itu, tamu tersebut datang dan mengetuk pintu dengan halus. Grethel berlari keluar untuk melihat siapa yang datang, dan ketika dia berpapasan dengan tamu tersebut, dia meletakkan jarinya di bibir dan berkata, "Hush! cepat lari dari sini, jika tuan saya menangkapmu, ini akan membawa akibat yang buruk untuk kamu; dia mengundangmu untuk makan, tetapi sebenarnya dia ingin memotong telingamu! Coba dengar, dia sedang mengasah pisaunya!"Tamu tersebut, mendengarkan suara pisau yang diasah, berbalik pergi secepatnya. Dan Grethel berteriak ke tuannya, "Tamu tersebut telah pergi membawa sesuatu dari rumah ini!"."Apa yang terjadi, Grethel? apa maksud mu?" dia bertanya."Dia telah pergi dan membawa lari dua buah ayam yang telah saya siapkan tadi.""Itu adalah sifat yang buruk!" kata tuannya, dia merasa sayang pada ayam panggang tersebut; "dia mungkin mau menyisakan satu untuk saya makan." Dan dia memanggil tamunya dan menyuruhnya untuk berhenti, tetapi tamu tersebut seolah-olah tidak mendengarnya; kemudian tuannya tersebut mulai berlari mengejar tamunya dengan pisau masih ditangan dan berteriak,"hanya satu! hanya satu!" dia bermaksud agar tamu tersebut setidak-tidaknya memberikan dia satu ayam panggang dan tidak membawa kedua-duanya, tetapi tamu tersebut mengira bahwa dia menginginkan satu telinganya, jadi dia berlari semakin kencang menuju kerumahnya sendiri.
Orang Sakit dan Petugas Pemadam Kebakaran
Pernah ada sebuah rumah tua di sudut kota yang suatu malam dilalap api. Asap tebal membumbung ke langit, dan suara kayu terbakar bercampur dengan teriakan orang-orang yang meminta tolong. Di dalam salah satu kamar rumah itu, terbaring seorang pria yang sedang sakit keras. Tubuhnya lemah, kakinya tak mampu digerakkan, dan napasnya tersengal-sengal.Ketika seorang petugas pemadam kebakaran berhasil menerobos masuk ke kamar itu, sang pria justru tersenyum tipis dan berkata dengan suara pelan, “Tidak usah pedulikan saya. Selamatkanlah orang yang sehat terlebih dahulu.”Petugas itu terdiam sejenak. Api semakin mendekat, panasnya terasa menyengat kulit. “Bisakah Anda memberi tahu saya mengapa Anda berkata demikian?” tanyanya sambil tetap bersiaga.“Saya rasa itu pilihan yang paling baik dan adil,” jawab si Orang Sakit. “Orang yang kuat dan sehat bisa bekerja, bisa menolong orang lain, dan memberi manfaat lebih besar bagi dunia ini. Saya hanyalah beban.”Petugas pemadam kebakaran menatapnya dalam-dalam. Ia lalu bertanya, “Menurut Anda, apa sebenarnya tugas dan jasa orang yang kuat dan sehat?”Orang Sakit terdiam sejenak, lalu menjawab lirih, “Tugas orang yang lebih kuat adalah membantu orang yang lemah.”Petugas itu tersenyum kecil, meski wajahnya dipenuhi jelaga. “Kalau begitu,” katanya, “bukankah justru Anda yang harus saya selamatkan terlebih dahulu?”Api kini mulai menjilat dinding kamar. Tanpa menunggu jawaban, petugas itu mengangkat tubuh si Orang Sakit ke pundaknya. “Saya mengerti Anda sedang sakit,” katanya tegas, “tapi saya tidak mengerti mengapa Anda meremehkan nilai hidup Anda sendiri.”Dengan susah payah, ia membawa pria itu keluar dari rumah yang hampir roboh. Beberapa menit kemudian, rumah itu pun runtuh sepenuhnya.Di luar, si Orang Sakit terbatuk-batuk, namun air matanya jatuh bukan karena asap—melainkan karena kesadaran baru yang muncul di hatinya. Ia akhirnya mengerti bahwa hidupnya tetap berharga, bukan karena seberapa banyak tenaga yang ia miliki, tetapi karena ia adalah manusia.Petugas pemadam kebakaran berdiri dan berkata pelan, “Nilai seseorang tidak ditentukan oleh kekuatannya, tetapi oleh kemanusiaannya. Dan kekuatan sejati ada untuk melindungi, bukan untuk membandingkan.”Sejak hari itu, si Orang Sakit tidak lagi menganggap dirinya beban. Meski tubuhnya lemah, ia belajar memberi kekuatan dengan cara lain: lewat kata-kata, kebijaksanaan, dan empati.
Balas Budi
Pada zaman dahulu kala, hiduplah seekor burung yang terlahir dengan keadaan berbeda dari burung-burung lainnya. Ia tidak memiliki kemampuan untuk terbang. Sayapnya lemah dan tak pernah mampu membawanya terangkat ke udara. Karena keadaannya itu, ia hidup sendirian di sebuah padang rumput yang luas, jauh dari kawanan burung lain.Setiap hari, ia hanya bisa memandangi burung-burung lain yang terbang bebas di langit biru. Mereka beterbangan bersama, bernyanyi, dan saling bercengkerama. Namun, tidak satu pun dari mereka yang mau mendekatinya atau mengajaknya berteman. Burung itu sering merasa sangat kesepian. Saat malam tiba, ia tidur sendirian dengan hati yang penuh rasa sepi dan rindu akan kehadiran seseorang yang bisa menemaninya.Suatu hari, ketika sedang mencari makanan di tanah, burung itu menemukan sesuatu yang aneh. Di antara rerumputan, tergeletak sebuah telur yang tampak terbengkalai. Ia menatap telur itu lama sekali.“Ah, telur ini pasti milik seekor burung yang terjatuh dari sarangnya,” pikirnya. “Kasihan sekali. Jika tidak ada yang mengeraminya, telur ini pasti tidak akan menetas.”Setelah berpikir sejenak, timbul sebuah harapan di hatinya. “Aku akan mengerami telur ini sampai menetas. Anak burung yang lahir nanti akan menjadi anakku. Aku tidak akan sendirian lagi.”Dengan penuh kasih sayang, burung itu menjaga telur tersebut. Ia mengeraminya siang dan malam, melindunginya dari hujan, angin, dan binatang buas. Ia rela menahan lapar demi memastikan telur itu tetap hangat dan aman.Hari demi hari berlalu. Hingga akhirnya, setelah seminggu, terdengarlah bunyi retakan kecil. Telur itu menetas. Dari dalamnya keluar seekor anak burung dengan paruh tajam dan mata yang tajam pula. Ternyata, anak burung itu adalah seekor elang.Namun, sang induk burung tidak peduli. Ia merasa sangat bahagia. “Anakku… akhirnya kau lahir,” katanya dengan mata berbinar.Ia merawat anak elang itu dengan sepenuh hati, memberinya makan, mengajarinya berjalan, dan menjaganya dengan penuh cinta, seolah-olah anak itu benar-benar darah dagingnya sendiri. Anak elang itu pun tumbuh sehat dan kuat.Hari berganti hari, anak elang semakin besar. Sayapnya semakin kuat, dan naluri alaminya mulai muncul. Ia sering mengepak-ngepakkan sayapnya dan menatap langit dengan penuh rasa ingin tahu.Suatu hari, anak elang bertanya, “Ibu, bagaimana caranya terbang?”Pertanyaan itu membuat induk burung terdiam. Hatinya terasa perih. Ia tahu, anak yang ia besarkan bukanlah burung biasa. Ia adalah seekor elang yang ditakdirkan untuk terbang tinggi di langit. Namun, ia sendiri tidak bisa terbang dan tidak tahu bagaimana cara mengajarinya.Dengan suara lembut namun penuh kesedihan, ia berkata, “Kau harus mencoba sendiri, Nak. Ibu tidak bisa terbang.”Sejak saat itu, setiap hari anak elang mencoba belajar terbang. Ia melompat, mengepakkan sayapnya, dan jatuh berkali-kali. Sang ibu selalu memperhatikannya dari kejauhan dengan hati yang campur aduk—bangga, namun juga sedih. Ia tahu, saat anaknya bisa terbang, saat itu pula ia akan ditinggalkan sendirian lagi.Anak elang menyadari kesedihan ibunya. Ia sering melihat mata ibunya yang berkaca-kaca setiap kali ia mencoba terbang. Hatinya pun dipenuhi rasa bimbang.Ia berpikir, “Jika saja ibuku tidak mengeramiku, aku tidak akan lahir ke dunia ini. Ibu telah merawatku dengan penuh kasih. Namun sekarang, setelah aku bisa terbang, aku akan meninggalkannya. Betapa sedihnya ibu nanti.”Setelah berpikir panjang, anak elang membuat sebuah keputusan besar. Ia menghentikan usahanya untuk terbang dan memilih tetap tinggal di darat bersama ibunya.“Ibu,” katanya suatu hari, “aku tidak akan terbang. Aku ingin tetap bersama ibu.”Mendengar itu, induk burung sangat terharu. Hatinya dipenuhi kebahagiaan. Sejak saat itu, ia tidak pernah lagi merasa kesepian. Mereka hidup bersama dengan penuh kasih sayang hingga akhir hidup sang induk burung.
Nelayan dan Guru Bahasa
Seorang nelayan muda bernama Arya dikenal sebagai pemuda yang tangguh dan sangat memahami laut. Sejak kecil, ia sudah terbiasa mengikuti ayahnya melaut, membaca arah angin, mengenali awan, dan merasakan perubahan cuaca hanya dari gerak ombak. Meski begitu, Arya tidak pernah mengenyam pendidikan tinggi dan tidak begitu memahami tata bahasa dengan baik.Suatu hari, Arya mengundang seorang guru bahasa yang terkenal pandai dan terpelajar di desanya untuk ikut melaut bersamanya di Laut Kaspia. Guru bahasa itu menerima undangan Arya dengan senang hati, merasa perjalanan laut bisa menjadi pengalaman baru baginya.Di atas perahu milik Arya, guru bahasa duduk santai di kursi empuk sambil menikmati angin laut. Sementara itu, Arya sibuk memeriksa layar perahu, memperhatikan arah angin, dan menatap langit dengan wajah serius.Dengan nada penasaran, guru bahasa bertanya, “Akan seperti apa cuaca hari ini?”Arya menoleh sebentar, mengerutkan dahinya, lalu menjawab, “Aku menurut, hari ini mau ada badai.”Mendengar jawaban itu, guru bahasa langsung terkejut. Ia mengernyitkan dahi dan berkata dengan nada menggurui, “Arya, kamu seharusnya berkata menurutku, bukan aku menurut. Tata bahasamu benar-benar kacau. Kamu tidak pernah belajar tata bahasa, ya?”Arya hanya mengangkat kedua bahunya sambil tertawa kecil. “Aku tidak peduli dengan tata bahasa,” jawabnya santai.Guru bahasa menggelengkan kepala dengan wajah kecewa. “Jika kau tidak memahami tata bahasa dengan benar, sisa hidupmu akan sia-sia nantinya,” katanya dengan penuh keyakinan.Tak lama setelah itu, perkataan Arya mulai terbukti. Langit yang tadinya cerah perlahan berubah gelap. Awan hitam berkumpul semakin tebal. Angin bertiup kencang dan ombak besar mulai menghantam perahu. Air laut masuk ke dalam perahu, membuatnya oleng.Arya segera bergerak cepat, berusaha mengendalikan perahu. Sementara itu, wajah guru bahasa berubah pucat. Tubuhnya gemetar melihat ganasnya laut yang tiba-tiba berubah murka.Di tengah kekacauan itu, Arya menoleh dan bertanya dengan suara tegas, “Apakah Anda pernah belajar berenang?”Guru bahasa menelan ludah, lalu menjawab dengan gugup, “Tidak. Untuk apa aku belajar berenang?”Arya menatapnya serius dan berkata, “Kalau begitu, sisa hidup Anda akan sia-sia, karena perahu kita akan tenggelam ke dasar laut dalam beberapa menit lagi.”Mendengar itu, guru bahasa sangat ketakutan. Semua pengetahuan dan kepandaiannya tentang tata bahasa seolah tidak ada artinya di hadapan bahaya laut. Ia akhirnya menyadari bahwa kepintaran saja tidak cukup. Dalam situasi tertentu, keterampilan hidup jauh lebih penting.Beruntung, Arya dengan pengalamannya berhasil membawa perahu mendekati daratan dan menyelamatkan mereka berdua.Sejak hari itu, guru bahasa tidak pernah lagi meremehkan Arya. Ia belajar bahwa setiap orang memiliki keahlian yang berbeda, dan tidak semua kebijaksanaan berasal dari buku.
Serigala dan Anak Kambing yang Berhati-hati
Setelah sang Serigala pergi dan hutan kembali sunyi, anak kambing menutup rapat jendela dan pintu. Ia menarik napas panjang, jantungnya masih berdebar kencang. Untuk menenangkan diri, ia duduk di kursi kecil dekat perapian sambil memeluk lututnya.“Nyaris saja,” gumamnya. “Kalau aku hanya percaya pada kata sandi, mungkin sekarang aku sudah celaka.”Tak lama kemudian, hujan gerimis mulai turun. Suara tetesan air di atap membuat rumah terasa sepi, tetapi anak kambing tetap berusaha waspada. Ia berkeliling rumah, memastikan semua pintu terkunci, dan bahkan menaruh kursi di balik pintu sebagai pengaman tambahan—seperti yang pernah diajarkan induknya.Di tengah kesunyian itu, terdengar ketukan lagi di pintu.Tok… tok… tok…Anak kambing terkejut, namun kali ini ia tidak panik. Ia berdiri dengan tenang dan berkata dari balik pintu, “Siapa di luar?”Suara lembut menjawab, “Aku tetangga kita, Kambing Tua dari seberang bukit. Aku ingin menitipkan sayuran untuk ibumu.”Anak kambing teringat pesan induknya: jangan pernah langsung percaya. “Maaf,” katanya sopan, “bisakah kau menyebutkan kata sandi yang diajarkan ibuku?”“Kata sandinya: Serigala adalah musuh kita!” jawab suara itu.Namun anak kambing tidak langsung membuka pintu. Ia mengintip lewat celah kecil dan melihat tapak kaki di luar. Kali ini benar—itu tapak kaki kambing, bulat dan kecil, bukan runcing seperti serigala. Barulah ia membuka pintu sedikit, cukup untuk memastikan semuanya aman.Ternyata benar, Kambing Tua tersenyum ramah sambil membawa keranjang sayuran segar. “Kau anak yang sangat cerdas dan berhati-hati,” katanya. “Tidak semua orang seusiamu mau memeriksa dua kali.”Anak kambing tersenyum bangga.Ketika sore tiba, induk kambing pulang dari pasar. Anak kambing segera menceritakan semua kejadian hari itu. Sang induk memeluk anaknya dengan penuh haru.“Ibu sangat bangga padamu,” katanya. “Kepintaran saja tidak cukup. Kehati-hatianlah yang menyelamatkanmu.”Sejak hari itu, anak kambing semakin memahami bahwa di dunia ini tidak semua yang terdengar benar itu aman, dan tidak semua yang terlihat ramah itu bisa dipercaya. Ia belajar bahwa memeriksa, berpikir, dan tidak terburu-buru adalah kunci untuk melindungi diri.Dan jauh di dalam hutan, sang Serigala hanya bisa menyesali kegagalannya, sementara rumah kecil itu tetap aman dan hangat.
Putri Salju dan Tujuh Kurcaci (Snow White)
Di suatu pertengahan musim dingin, ketika salju berjatuhan dari langit seperti bulu, seorang ratu duduk menjahit di dekat jendela. Rangka kayu yang digunakan untuk membordir terbuat dari kayu ebony yang hitam pekat. Sambil membordir, sang Ratu menatap salju yang turun dan tanpa sengaja jarinya tertusuk oleh jarum sehingga tiga tetes darahnya jatuh membasahi salju. Saat ia melihat betapa terang warna merahnya, ia berkata kepada dirinya sendiri, "Saya berharap mempunyai anak yang putih seperti salju, merah seperti darah, dan hitam seperti kayu ebony!".Tidak lama setelah itu, sang Ratu melahirkan seorang putri yang kulitnya putih seputih salju, bibirnya merah semerah darah, dan rambutnya hitam sehitam kayu ebony , dan diberinya nama Putri Salju. Saat sang Putri lahir, sang Ratu pun meninggal dunia.Setelah setahun berlalu, sang Raja menikah kembali dengan seorang wanita yang sangat cantik, tetapi angkuh dan tidak senang apabila ada yang melebihi kecantikannya. Sang Ratu yang baru memiliki sebuah cermin ajaib, di mana sang Ratu sering berdiri memandang ke dalam cermin dan berkata:"Cermin di dinding, Siapa yang tercantik diantara semua?"Dan sang Cermin selalu menjawab, "Anda adalah yang tercantik dari semuanya".Dan sang Ratu pun merasa puas, karena tahu bahwa Cermin ajaibnya tidak pernah berkata bohong.Putri Salju sekarang tumbuh makin lama makin cantik, dan saat ia dewasa, kecantikannya jauh melebihi kecantikan sang Ratu sendiri. Sehingga suatu hari ketika sang Ratu bertanya kepada cerminnya:"Cermin di dinding, Siapa yang tercantik diantara semua?"Sang Cermin menjawab, "Ratu, anda cantik, tetapi Putri Salju lebih cantik dari anda."Sang Ratu menjadi terkejut dan warna mukanya menjadi kuning lalu hijau oleh rasa cemburu, dan semenjak saat itu, ia berbalik membenci Putri Salju. Semakin lama, rasa cemburunya bertambah besar, hingga dia tidak memiliki kedamaian lagi. Ia lalu memerintahkan seorang pemburu untuk membinasakan Putri Salju."Bawalah Putri Salju ke suatu hutan, sehingga saya tidak akan pernah melihatnya lagi. Kamu harus membinasakannya dan membawa hatinya sebagai bukti kepadaku.Sang pemburu setuju, membawa Putri Salju ke suatu hutan; akan tetapi saat ia menarik pedangnya, Putri Salju menangis, dan berkata:"Wahai, pemburu, janganlah membunuhku, saya akan pergi dan masuk ke dalam hutan liar, dan tidak akan kembali lagi."Pemburu yang menaruh rasa kasihan, berkata:"Pergilah kalau begitu, putri yang malang;" karena sang Pemburu berpikir bahwa binatang liar di hutan akan memangsa Putri Salju, dan saat ia melepaskan Putri Salju, hatinya menjadi lebih ringan seolah-olah terbebas dari gencetan batu yang berat. Saat itu juga dilihatnya seekor babi hutan berlalu, dan sang Pemburu menangkap babi hutan tersebut lalu mengeluarkan hatinya untuk dibawa ke sang Ratu sebagai bukti.Putri Salju yang sekarang berada dalam hutan liar, merasa ketakutan yang luar biasa dan tidak tahu harus mengambil tindakan apa saat ketakutan melanda. Kemudian dia mulai berlari, berlari di atas batu-batuan yang tajam dan berlari menembus semak-semak yang berduri, dan binatang liar pun mengerjarnya, tetapi tidak untuk menyakiti Putri Salju. Ia berlari selama kakinya mampu membawa ia pergi, dan saat malam hampir tiba, ia tiba di sebuah rumah kecil. Putri Salju pun masuk ke dalam untuk beristirahat. Segala sesuatu yang berada di dalam rumah, berukuran sangat kecil, tetapi indah dan bersih. Di rumah tersebut terdapat bangku dan meja yang di alas dengan taplak putih, dan di atasnya terdapat tujuh buah piring, pisau makan, garpu dan cangkir minum. Di dekat dinding, terlihat tujuh ranjang tidur kecil, saling bersebelahan, dan dilapisi dengan seprei putih juga. Putri Salju menjadi sangat lapar dan haus, makan dari tiap-tiap piring sedikit bubur dan roti, dan minum sedikit dari tiap-tiap cangkir, agar ia tidak menghabiskan satu piring saja. Akhirnya Putri Salju merasa lelah dan membaringkan dirinya di satu ranjang, tetapi ranjang tersebut ada yang terlalu pendek, ada yang terlalu panjang, untungnya, ranjang yang ke-tujuh sangat sesuai dengan tinggi badannya; dan ia pun tertidur di tempat tidur tersebut.Saat malam tiba, pemilik rumah pulang ke rumah dan mereka adalah tujuh orang kurcaci yang pekerjaannya menggali terowongan bawah tanah di pegunungan. Saat mereka menyalakan tujuh lilin yang menerangi seluruh rumah, mereka sadar bahwa ada orang yang telah masuk ke dalam rumah tersebut karena beberapa hal telah berpindah tempat, tidak seperti saat mereka meninggalkan rumah.Yang pertama berkata, "Siapa yang telah duduk di kursi kecilku?"Yang kedua berkata, "Siapa yang telah makan dari piring kecilku?"Yang ketiga berkata, "Siapa yang mengambil roti kecilku?"Yang keempat berkata, "Siapa yang telah memakan buburku?"Yang kelima berkata, "Siapa yang telah menggunakan garpuku?"Yang keenam berkata, "Siapa yang telah memotong dengan pisauku?"Yang ketujuh berkata, "Siapa yang telah minum dari cangkirku?"Kemudian yang pertama, melihat ke sekeliling rumah dan melihat tanda-tanda bahwa kasurnya telah ditiduri, berteriak, "Siapa yang telah tidur di ranjangku?"Dan saat yang lainnya juga datang, mereka berkata, "Seseorang juga telah tidur di tempat tidurku!"Ketika kurcaci yang ketujuh melihat ranjangnya, dia melihat Putri Salju yang tertidur di sana, kemudian dia menyampaikan ke kurcaci lain, yang datang tergesa-gesa untuk melihat Putri Salju, dan dalam keterkejutan mereka, mereka masing-masing mengangkat lilinnya untuk melihat Putri Salju dengan lebih jelas."Ya Tuhan! kata mereka, "siapakah putri yang cantik ini?" dan karena mereka gembira melihat Putri Salju, mereka tidak tega untuk membangunkannya. Kurcaci yang ketujuh terpaksa tidur bergantian dengan teman-temannya, setiap satu jam, di tiap-tiap ranjang temannya sampai malam berlalu.Menjelang pagi, ketika Putri Salju terbangun dan melihat ketujuh kurcaci, Putri Salju menjadi ketakutan, tetapi mereka terlihat bersahabat dan bahkan menanyakan namanya dan bagaimana dia bisa tiba di rumah mereka. Putri Salju pun bercerita bagaimana ibunya berharap agar dia meninggal, bagaimana sang Pemburu membiarkannya hidup, bagaimana ia lari sepanjang hari, hingga tiba ke rumah mereka.Para kurcaci kemudian berkata, "Jika kamu mau membersihkan rumah, memasak, mencuci, merapihkan tempat tidur, menjahit, dan mengatur semuanya agar tetap rapih dan bersih, kamu bisa tinggal di sini, dan kamu tidak akan kekurangan apapun.""Saya sangat setuju," katan Putri Salu, dan ia pun tinggal di rumah tersebut sambil mengatur rumah. Pada pagi hari para kurcaci ke gunung untuk menggali emas, pada malam hari saat mereka pulang, mereka telah disiapkan makan malam. Setiap Putri Salju ditinggal sendiri, para kurcaci sering memberi nasehat:"Berhati-hatilah pada ibu tiri mu, dia akan tahu bahwa kamu ada di sini. Jangan biarkan seorangpun masuk ke dalam rumah."Ratu yang telah melihat bukti kematian Putri Salju yang berupa hati, yang dibawa oleh pemburu, menjadi tenang, berdiri di depan cermin dan berkata:"Cermin di dinding, Siapa yang tercantik diantara semua?"Dan sang Cermin menjawab, "Ratu, walaupun kecantikanmu hampir tidak ada bandingannya, Putri Salju yang hidup di sebuah rumah kecil beserta tujuh orang kurcaci, seribu kali lebih cantik."Ratu menjadi terkejut saat mendengarkannya, dan ia akhirnya tahu bahwa sang Pemburu telah menipunya, dan Putri Salju masih hidup. Ia pun berpikir keras untuk menghabisi Putri Salu, karena selama ia bukanlah wanita tercantik diantara semua, rasa cemburunya tidak akan bisa membuat ia bisa beristirahat dengan tenang. Akhirnya ia pun mendapatkan rencana, ia menyamarkan wajahnya dan memakai pakaian yang biasa dipakai oleh wanita tua agar tidak ada yang bisa mengenalinya. Dalam penyamarannya, ia melalui tujuh gunung hingga akhirnya tiba di rumah milik tujuh kurcaci. Ia pun mengetuk pintu dan berkata:"Barang bagus untuk dijual! barang bagus untuk dijual!"Putri Salju mengintip dari jendela dan menjawab:"Selamat siang, apa yang anda jual?""Barang bagus," katanya, "Pita berbagai macam warna" dan dia kemudian menyerahkan sebuah pita yang terbuat dari sutera."Saya tidak perlu takut untuk membiarkan wanita tua ini masuk," pikir Putri Salju, lalu ia pun membuka pintu dan membeli pita yang indah."Betapa cantiknya kamu, anakku!" kata wanita tua, "kemarilah dan biarkan saya membantu kamu untuk memakaikan pita ini."Putri Salju yang tidak curiga, berdiri di depannya dan membiarkan wanita tua itu memasangkan pita untuknya, tetapi wanita tua itu dengan cepat mencekik Putri Salju dengan pita hingga Putri Salju jatuh dan seolah-olah meninggal dunia."Sekarang saatnya kamu berhenti sebagai wanita tercantik," kata wanita tua sambil berlalu pergi.Tidak lama setelah itu, menjelang malam, para kurcaci pulang ke rumah, dan mereka semua terkejut melihat Putri Salu terbaring di tanah, tidak bergerak; mereka mengangkatnya dan saat mereka melihat pita yang melilit leher Putri Salju, mereka memotongnya dan saat itu Putri Salju bernapas kembali. Saat kurcaci mendengar cerita dari Putri Salju, mereka berkata,"Wanita tua yang menjadi penjual keliling, pastilah tidak lain dari ratu yang jahat, kamu harus berhati-hati saat kami tidak berada di sini!"Ketika ratu yang jahat tiba di rumah dan bertanya kepada sang Cermin:"Cermin di dinding, Siapa yang tercantik diantara semua?"Jawabannya sama dengan sebelumnya, "Ratu, walaupun kecantikanmu hampir tidak ada bandingannya, Putri Salju yang hidup di sebuah rumah kecil beserta tujuh orang kurcaci, seribu kali lebih cantik."Saat mendengar jawaban tersebut, ia menjadi terkejut karena tahu bahwa Putri Salju masih hidup."Sekarang, saya harus memikirkan cara lain untuk membinasakan Putri Salju." Dan dengan sihirnya, ia membuat sisir yang mengandung racun. Kemudian dia menyamar menjadi seorang perempuan tua yang lain. Lalu pergi menyeberangi tujuh gunung dan datang ke rumah tujuh kurcaci. Ia mengetuk pintu dan berkata,"Barang bagus untuk dijual! barang bagus untuk dijual!"Putri Salju melihat keluar dan berkata,"Pergilah, Saya tidak akan membiarkan siapapun masuk.""Tapi kamu tidak dilarang untuk melihat-lihat," kata si wanita tua sambil mengeluarkan sisir beracun dan memegangnya. Sisir tersebut sangat menggoda Putri Salju sehingga ia akhirnya membuka pintu dan membeli sisir itu, dan kemudian wanita tua itu berkata:"Sekarang, rambutmu harus disisir dengan benar."Putri Salju yang malang tidak berpikir akan adanya mara-bahaya, membiarkan wanita itu menyisir rambutnya, dan tidak lama kemudian, sisir pada racun mulai bekerja dan Putri Salju pun terjatuh tanpa daya."Ini adalah akhir bagimu," kata si wanita tua sambil berlalu. Untungnya hari sudah hampir malam dan para kurcaci pulang tidak lama setelah kejadian itu. Saat mereka melihat Putri Salju terbaring di tanah seperti telah meninggal, mereka langsung berpikir bahwa ini adalah perbuatan ibu tiri yang jahat. Secepatnya mereka menarik sisir yang masih melekat di rambut Putri Salju dan saat itupun Putri Salju terbangun, lalu menceritakan semua kejadian yang dialaminya. Para kurcaci memperingatkan ia untuk lebih berhati-hati lagi dan jangan pernah membiarkan orang masuk.Saat ratu tiba di rumah, ia berdiri di depan cermin dan berkata,"Cermin di dinding, Siapa yang tercantik diantara semua?"Jawabannya sama dengan sebelumnya, "Ratu, walaupun kecantikanmu hampir tidak ada bandingannya, Putri Salju yang hidup di sebuah rumah kecil beserta tujuh orang kurcaci, seribu kali lebih cantik."Ketika ratu mendengar ini, ia menjadi gemetar karena marah, "Putri Salju harus mati, walaupun saya juga harus mati!" Lalu ia masuk ke kamar rahasianya dan di sana ia membuat sebuah apel racun. Apel yang cantik dan menggiurkan, berwarna putih dan merah. Siapapun yang melihatnya pasti tergiur dan siapapun yang memakannya walaupun sedikit, akan mati keracunan. Saat apel itu telah siap, ia pun menyamar kembali dan berpakaian seperti wanita petani, lalu ia menyeberangi tujuh gunung di mana tujuh kurcaci tinggal. Dan ketika ia mengetuk pintu, Putri Salju melongokkan kepala melalui jendela dan berkata,"Saya tidak berani membiarkan siapapun masuk, tujuh kurcaci sudah melarang saya.""Baiklah," kata si wanita, "Saya hanya ingin memberikan sebuah apel ini kepadamu.""Tidak," kata Putri Salju, "Saya tidak berani mengambil apapun.""Apakah kamu takut akan racun?" tanya si wanita, "lihatlah, saya akan membelah apel ini menjadi dua bagian, kamu akan mendapatkan bagian yang berwarna merah, dan saya bagian yang putih."Apel tersebut dibuat dengan cerdiknya, sehingga bagian yang beracun adalah bagian yang berwarna merah. Putri Salju menjadi tergiur akan kecantikan apel itu, dan ketika ia melihat si wanita petani memakan apel bagiannya, Putri Salju menjadi tidak tahan lagi, ia mengulurkan tangannya keluar dan mengambil bagian apel yang beracun. Tidak lama setelah ia memakan apel tersebut, ia pun terjatuh dan sepertinya meninggal. Sang Ratu jahat, tertawa keras dan berkata,"Putih seperti salju, merah seperti darah, hitam seperti ebony! kali ini, kurcaci takkan dapat menghidupkan kamu kembali."Lalu ia pun pulang dan bertanya kepada cerminnya,"Cermin di dinding, Siapa yang tercantik diantara semua?"Cermin menjawab, "Anda adalah yang tercantik dari semuanya".Hati ratu yang tadinya penuh dengan kecemburuan, akhirnya menjadi tenang dan bahagia.Para kurcaci, saat pulang di malam hari, menemukan Putri Salju terbaring di tanah, dan tak ada nafas lagi yang keluar dari hidungnya. Mereka mengangkatnya, mencari-cari racun yang membunuh Putri Salju, memotong pitanya, menyisir rambutnya, mencucinya dengan air dan anggur, tetapi semua sia-sia, putri malang itu telah meninggal. Mereka akhirnya menaruh Putri Salju dalam sebuah peti, dan mereka semua duduk mengelilinginya, menangisi kematiannya selama tiga hari penuh. Walaupun meninggal, Putri salju terlihat seolah-olah masih hidup dengan pipinya yang merona. Para kurcaci kemudian berkata,"Kita tidak akan menguburnya di tanah yang gelap." Lalu merekapun membuat peti yang terbuat dari gelas yang bening sehingga mereka dapat melihat Putri Salju dari segala sisi. Putri Salju dibaringkan di peti tersebut, dan di peti itu ditulislah nama Putri Salju dengan tulisan emas, beserta kisah bahwa ia adalah putri seorang raja. Kemudian mereka meletakkan peti itu di atas gunung, dan salah satu dari mereka selalu tinggal untuk mengawasinya. Burung-burung pun datang berkunjung dan turut berduka, yang datang pertama adalah burung hantu, lalu burung gagak, lalu seekor burung merpati.Untuk beberapa lama, Putri Salju terbaring di peti gelas itu dan tidak pernah berubah, terlihat seolah-olah tidur. Ia masih tetap seputih salju, semerah darah dan rambutnya sehitam ebony. Suatu ketika seorang pangeran lewat di hutan yang menuju ke rumah kurcaci. Saat ia melihat peti di puncak gunung beserta Putri Salju yang cantik di dalamnya, ia menjadi jatuh cinta, dan setelah ia membaca tulisan yang ada pada peti itu. Ia berkata kepada para kurcaci,"Biarkan saya memiliki peti beserta Putri Salju ini, saya akan memberikan apapun yang kalian minta."Tetapi kurcaci menolak dan mengatakan bahwa mereka tidak mau berpisah dengan Putri Salju walaupun dibayar dengan emas yang ada di seluruh dunia. Tetapi sang Pangeran berkata,"Saya memintanya dengan amat sangat, karena saya tidak akan bisa hidup tanpa melihat Putri Salju; Jika kalian setuju, saya akan serta merta membawa kalian semua dan menganggap kalian seperti saudaraku sendiri."Saat sang Pangeran berbicara dengan sungguh hati, para kurcaci menjadi iba dan memberikan sang Pangeran peti yang berisikan Putri Salju, dan sang Pangeran pun memanggil pelayan-pelayannya untuk mengangkat peti tersebut ke istana. Di perjalanan, seorang pelayan terantuk pada semak-semak sehingga peti yang diangkatnya menjadi terguncang dan sedikit miring. Saat itulah apel beracun yang ada pada kerongkongan Putri Salju, keluar dari mulutnya. Putri Salju membuka matanya dan membuka penutup peti, turun dan berdiri dalam keadaan sehat-walafiat."Oh, dimanakah saya berada?" tanyanya. Sang Pangeran secepatnya menjawab dengan hati riang, "Kamu aman di dekatku," dan menceritakan semua yang terjadi. Sang Pangeran lalu berkata lagi,"Saya lebih memilih kamu dibandingkan dengan apapun yang ditawarkan oleh dunia; ikutlah bersama saya menuju istana ayahku dan jadilah pengantinku."Putri Salju yang baik hati, ikut bersama pangeran dan direncanakanlah pesta perkawinan yang meriah untuk mereka berdua.Ibu tiri Putri Salju juga ikut diundang menghadiri pesta dan saat berhias di cermin, ia pun bertanya pada cermin ajaibnya:"Cermin di dinding, Siapa yang tercantik diantara semua?"Cermin menjawab, "Ratu, walaupun kecantikanmu hampir tidak ada bandingannya, Pengantin yang baru ini seribu kali lebih cantik."Sang Ratu menjadi marah dan mengutuk karena kecewa, ia hampir saja membatalkan kehadirannya di pesta pernikahan Putri Salju, tetapi rasa penasarannya membuat ia tetap pergi. Saat ia melihat pengantin wanita, ia menjadi terkejut karena pengantin wanita tersebut tidak lain adalah Putri Salju. Kemarahan serta ketakutan bercampur aduk menjadi satu dan saat itu juga, sang Ratu yang jahat tersedak karena marahnya, terjatuh dan meninggal, sedangkan Putri Salju dan pangeran, hidup bahagia selama-lamanya.
Dada Burung Murai
Dahulu kala, pada suatu malam di penghujung akhir tahun, angin jahat berembus sangat kencang. Angin itu membawa hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Langit gelap pekat, dan bintang-bintang pun seakan bersembunyi di balik awan tebal.Malam itu terasa sangat menyiksa bagi seorang bapak dan anaknya yang sedang melakukan perjalanan jauh. Mereka telah berjalan sejak pagi, menyusuri jalan sunyi yang membentang di antara hutan dan padang rumput. Padahal, perjalanan mereka esok hari masih sangat panjang dan melelahkan.Dengan tubuh gemetar, mereka berusaha mencari tempat berlindung. Mereka berharap menemukan sebuah pondok tua, peternakan, atau setidaknya sebatang pohon besar yang dapat melindungi mereka dari terjangan angin. Namun sejauh mata memandang, tak ada apa pun selain semak-semak belukar yang kering dan bergoyang tertiup angin.Tak ada pilihan lain. Sang bapak mengumpulkan ranting-ranting kering dan menyalakan api unggun kecil. Cahaya api itu memberi sedikit kehangatan dan rasa aman di tengah malam yang kejam. Ia menyelimuti anaknya dengan pakaian seadanya dan berkata, “Tidurlah dulu, Nak. Kita akan berjaga bergantian.”Anaknya pun berbaring di dekat api. Sang bapak duduk terjaga, menatap nyala api sambil melawan rasa dingin dan lelah. Namun, malam semakin larut, dan angin semakin menusuk. Kelopak mata sang bapak terasa semakin berat. Akhirnya, ia membangunkan anaknya untuk bergantian berjaga.Kini giliran anak itu yang terjaga. Ia duduk memeluk lututnya, berusaha melawan kantuk. Namun tubuhnya sangat lelah setelah berjalan jauh seharian. Angin dingin terus menerpa wajahnya, membuat matanya perlahan terpejam.Api unggun pun semakin kecil. Bara merahnya mulai redup, dan kayu-kayu bakar hampir habis terbakar.Tanpa disadari bapak dan anak itu, dari balik kegelapan, sepasang mata mengintai. Serigala-serigala lapar mulai mengelilingi mereka. Tubuh-tubuh mereka bergerak perlahan, mengendap-endap, menunggu saat api benar-benar padam sebelum menyerang mangsa mereka.Apakah bapak dan anak itu akan mati diterkam serigala-serigala lapar itu? Tidak!Di atas sebuah dahan, seekor burung murai kecil terbangun dari tidurnya. Ia melihat pemandangan mengerikan di bawah sana. Dengan hati penuh rasa iba, burung murai itu merasa kasihan kepada bapak dan anak yang tertidur pulas tanpa menyadari bahaya.Tanpa ragu, burung murai itu terbang mendekati api unggun. Dengan sayap kecilnya, ia mulai mengipasi api yang hampir padam. Perlahan, api kembali menyala. Namun angin dingin segera melemahkannya lagi.Burung murai itu tidak menyerah. Ia terus mengipasi api, lagi dan lagi. Dadanya terasa panas karena api yang menjilat tubuhnya, tetapi ia tetap bertahan. Demi menyelamatkan bapak dan anak itu, burung murai rela menahan rasa sakit.Akhirnya, api unggun kembali menyala terang. Melihat nyala api yang membesar, serigala-serigala lapar itu menggeram kecewa dan perlahan menjauh, menghilang ke dalam kegelapan malam.Tak lama kemudian, fajar menyingsing. Matahari terbit perlahan, mengusir dingin malam. Bapak dan anak itu terbangun dengan selamat, tanpa pernah mengetahui bahaya besar yang mengintai mereka semalam.Burung murai itu terbang menjauh dengan dada yang kini berwarna merah. Sejak saat itulah, burung murai dikenal memiliki dada merah, sebagai tanda pengorbanannya yang mulia karena “terjilat” panas api.